<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" version="2.0">

<channel>
	<title>Cerita Kecil</title>
	
	<link>http://ceritakecil.wordpress.com</link>
	<description>Episode Kehidupan</description>
	<lastBuildDate>Mon, 28 Sep 2009 00:20:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain="ceritakecil.wordpress.com" port="80" path="/?rsscloud=notify" registerProcedure="" protocol="http-post" />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Cerita Kecil</title>
		<link>http://ceritakecil.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ceritakecil.wordpress.com/osd.xml" title="Cerita Kecil" />
	
		<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/CeritaKecil" /><feedburner:info xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" uri="ceritakecil" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://ceritakecil.wordpress.com/?pushpress=hub" /><item>
		<title>Sulaiman Jatuh Cinta (#4)</title>
		<link>http://ceritakecil.wordpress.com/2009/09/28/sulai-jatuh-cinta-4/</link>
		<comments>http://ceritakecil.wordpress.com/2009/09/28/sulai-jatuh-cinta-4/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Sep 2009 20:16:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syaifi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Bersambung]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[SMA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritakecil.wordpress.com/?p=195</guid>
		<description><![CDATA[Surat Pak Bahtiar Siang itu, matahari berdiri tegak di atas kepala memancarkan sinar kemarahan pada makhluk dunia. Bayangan hitam terpatri di bawah kaki dan hanya siluet tubuh bulat terpeta di permukaan. Langit biru jernih bermahkota awan putih yang berjalan beriringan mencari teman-temannya yang tak kunjung menjelma menjadi hitam tanda hujan. Nun jauh di sana terlihat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritakecil.wordpress.com&amp;blog=3893095&amp;post=195&amp;subd=ceritakecil&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Surat Pak Bahtiar</strong></p>
<p>Siang itu, matahari berdiri tegak di atas kepala memancarkan sinar kemarahan pada makhluk dunia. Bayangan hitam terpatri di bawah kaki dan hanya siluet tubuh bulat terpeta di permukaan.  Langit biru jernih bermahkota awan putih yang berjalan beriringan mencari teman-temannya yang tak kunjung menjelma menjadi hitam tanda hujan. Nun jauh di sana terlihat pepohonan merintih kehausan dan terpaksa merontokkan rambut demi menghemat air yang diminumnya.  Sementara rumput-rumput menguning melambai lesu memohon ampun pada matahari garang .  Dalam suasana terik ini, setiap makhluk enggan menantang kekuatan matahari yang sombong, bahkan semutpun lebih memilih tidur di dalam sarangnya yang sejuk dan lembab.</p>
<p>Pak Erwandi baru saja keluar dari kelas kami ketika Awet masuk dengan wajah muram menyimpan kekesalan. Tidak perlu seorang ahli untuk mengetahui apakah Awet sedang kesal atau tidak sebab wajahnya yang tidak seberapa itu memang gampang ditebak. Walaupun usia kemarahannya seperti usia embun di pagi hari, gampang hilang tertelan sinar matahari yang hangat sekalipun. Awet dipanggil salah seorang anak kelas dua biologi untuk menghadap guru ketika Pak Erwandi sedang asyik mengajar, dan kupikir dia dipanggil oleh Pak Sunardi, mengingat hubungan antara Awet sebagai ketua OSIS dan Pak Sunardi sebagai kepala sekolah sangat erat. Bahkan walaupun tidak memiliki SIM A, dia diperbolehkan membawa mobil kesayangan beliau. Ah, Awet emang jagonya kalau merebut hati orang, cuma hati calon mertua saja yang paling sulit dia rebut.</p>
<p>Aku baru saja memasukkan buku Fisika ke dalam tas kainku ketika dia menghentak tempat duduk kami. Mulutnya masih tertekuk dan mata agak nanar. Aku tahu ada masalah yang sedikit rumit &#8211; tidak serumit masalah OSIS.</p>
<p>“Kenapa Wet?”, tanyaku sambil mengambil buku Geography. Pak Budi guru funky sedikit sableng sebentar lagi akan mengisi pelajaran itu.</p>
<p>“Habis dipanggil Pak Bahtiar, nanyain Sulai”</p>
<p>“Lho, emang ada apa dengan Sulai?”, tanyaku tidak mengerti. Aku memang jarang melihat Sulai di sekolah dalam beberapa hari ini, tapi aku tidak menyangka bisa sampai seserius itu. Mungkin dia sedang masuk angin (biasalah penyakit anak masjid), lagipula menurut anak-anak, Sulai memang sedang sakit. Aku tahu tak satupun menjenguknya di rumahnya atau di rumah sakit. “Besok juga sembuh sendiri”, pikir mereka, “Lagipula ayahnya yang bekerja di apotek Rumah Sakit Timah, jadi stok obatnya tidak terbatas”</p>
<p><strong>“Dia sudah tidak masuk hampir tiga minggu!”</strong></p>
<p>“Hah?!”, Aku terkejut mendengarnya. “Dia tidak sekolah sudah selama itu? Aku pikir dia cuma sakit beberapa hari saja”</p>
<p>“Tidak kalau melihat absensi”</p>
<p>“Jadi gimana?”</p>
<p>“Aku sebagai ketua kelas harus mencari dan menyampaikan surat dari beliau ke Sulai”</p>
<p>“Mungkin ada anak-anak ada yang tahu dia dimana”, ujarku komentar seadanya. Kalau dipikir-pikir memang berat jadi ketua kelas, apalagi bagi Awet menjadi ketua kelas karena populer. Sebagai seorang selebritis sekolah dia memang luar biasa populer. Masalahnya, dia memimpin kelas yang berisi kaum Adam dan tidak tahu aturan. Ada cewek pun sedang dalam proses mutasi menjadi cowok, untung saja cuma dua tahun, hingga proses mutasi bisa segera terhenti.</p>
<p>“Iya, juga”, dia bergegas menuju ke depan kelas. “mumpung Pak Budi belum masuk”</p>
<p>“PERHATIAN!”, teriaknya. Anak-anak yang sedang asyik bercengkrama sambil menunggu pak Budi masih belum mendengar dan menggubris. Awet mangambil penggaris kayu berwarna kuning dengan panjang satu meter dan memukul-mukulkan ke atas meja seperti Pak Jack sedang mengajar, hingga seluruh mata tertuju ke arahnya di depan.</p>
<p>“Kawan-kawan”, sambungnya. “Teman kita Sulaiman sudah hampir tiga minggu tidak masuk sekolah!”<br />
Suasana riuh membahana ke seluruh kelas. Ada yang kaget ada pula yang tertawa kecil, seolah hal itu memang sudah biasa. “Ada yang tahu keadaannya?”</p>
<p>Anak-anak menggeleng, suara gumam mengisi ruangan bagai suara kumbang yang berjumlah ribuan. Namun semuanya tidak ada yang dapat menjawab pertanyaan Awet di muka kelas.</p>
<p>“Paling juga dimasjid, udah jadi pak kiyai kali”, celetuk salah satu anak di dekat dinding, disambut tawa kecil beberapa anak di dekatnya.  Awet tidak mengindahkannya, demikian juga yang lain. Namun setelah beberapa saat menanti, tiba-tiba pak Budi tampak di depan pintu sambil tersenyum memperlihatkan giginya yang mulai rontok. Awet mengangguk kecil dan segera kembali ke tempat duduknya di sampingku.</p>
<p>“Fi, kamu harus bantu aku mencari Sulai.  Pesan dari pak Bahtiar harus disampaikan hari ini”</p>
<p>“Beres Boss!”, ucapku sambil mulai melihat pak Budi melucu di depan kelas.</p>
<p>“Suratnya harus langsung ke tangan Sulai”, ujar Awet lagi.</p>
<p>“Lho koq mesti gitu?”</p>
<p>“Aku mencium masalah sama anak itu”</p>
<p>“Jadi..kita harus nyari Sulai sampai dapet donk”</p>
<p>“Iya!”</p>
<p>“Wadduh, mudah-mudahan saja masih hidup”, ujarku terkekeh-kekeh.</p>
<p>“Tenang, dia masih idup. Kalau tidak, kita pasti tidak akan dapat masalah”, Awet mulai bisa senyum sedikit.</p>
<p>Sebagai teman baik memang kadang-kadang kami sangat keterlaluan. Lucu memang, teman tidak masuk sekolah selama tiga minggu tidak terasa, namun kalau tidak ada pesta dalam dua minggu sangat terasa. Tapi Sulaiman memang unik, dia bisa rajin sekolah, sering juga hilang seperti hantu kapan dia mau. Yang pantas diacungi jempol dia memang terkenal di masjid Jamik, sebagai markas besarnya. “Jangan-jangan dia diangkat jadi Imam besar di sana”, ujarku ke Awet sambil senyum nakal.</p>
<p>“Imam besar apanya?”</p>
<p>“Emang Sulai besar apanya?”, balik aku yang bertanya ke Awet. Kami berdua menahan tawa kuatir pak Budi yang sedang asyik bercerita di depan mendengar. Sebab walau funky, kalau sudah marah kemarahannya lebih gawat daripada singa marah.</p>
<p>“Udah ah, ntar aja kita cari”</p>
<p>“Oke, abis itu kita makan mie di deket bioskop Gunung Tajam oke?”, tanyaku.</p>
<p>“Beresss”</p>
<p>- &#8211; -</p>
<p>Masih ada beberapa anak berseragam putih biru berjalan di bawah terik matahari siang ketika kami sampai di masjid Jami&#8217;. Masjid tampak sepi, yang ada hanya segelintir manusia beribadah dan beberapa diantaranya ada yang duduk beristirahat menghilangkan lelah atau menghindar dari panas matahari yang membakar sambil berkipas menggunakan peci lusuhnya.  Kuperhatikan satu per satu, tak terlihat sosok Sulai di antara mereka. Lalu kukelilingi tempat wudu di bawah, sekalian mengambil wudu, masih saja batang hidung anak satu itu tidak nampak.  Aku kembali ke atas, melakukan sholat sejenak kemudian melangkah naik ke arah balcon. Aku tahu, Sulai seringkali nongkrong di atas dalam mencari inspirasi atau hanya untuk tidur sejenak sebelum sholat jumat tiba,  namun sayang sekali, sehelai rambut keriting Sulai yang selalu dibanggakannya karena mirip dengan rambut Rhoma Irama sang pujaan tidak nampak juga.</p>
<p>“Hh&#8230; anak itu kemana ya?”, tanyaku pada diri sendiri.</p>
<p>“Wet!, dia gak ada di sini”, ucapku ketika berada di dekat Awet yang menunggu di dekat masjid dibawah pohon yang agak rindang.</p>
<p>“Udah rata semua tempat?”</p>
<p>“Udah. Pengurus masjid nya gak ada”, ujarku. “Gimana kalau kita coba rumahnya saja?”</p>
<p>“Rumahnya?”, tanya Awet ragu. Memang agak riskan kalau menanyakan keberadaan Sulai di rumahnya jam segini. Kalau orang tuanya curiga gimana, kami masih pakai baju seragam sekolah, kan seharusnya bertemu di sekolah.</p>
<p>“Kita bikin alasan lain saja”, ujarku memecah keraguan Awet. “Pokoknya jangan sampai orang tuannya curiga”</p>
<p>“Hm&#8230;oke. Kamu yang ngomong”, ujar Awet kepadaku.</p>
<p>“Gak masalah”, jawabku.</p>
<p>Aku meloncat ke atas sepeda motor dan kami berdua terbang ke rumah Sulai yang tidak terlalu jauh dari komplek Masjid Jami&#8217;.</p>
<p>“Permisi&#8230; ”, ucap kami ketika sampai di rumah Sulai pelan. Rumah terlihat sepi dan yang ada hanya beberapa anak bermain diteras. “Dek, ada bang Sulai?”, tanya Awet ke salah satu anak di sana.</p>
<p>“Barusan keluar bang!”, jawab salah satu anak yang berpakaian coklat kusam sambil terus bermain.</p>
<p>“Aduh! Kita nyari di mana lagi Fi?”, gumam Awet kesal.</p>
<p>Kami berdua diam sejenak berpikir di sela-sela perut yang mulai bernyanyi lagu lama. Aku semakin merasa berdosa sama ketidaktahuan kami. Aku baru sadar tenyata kami tidak banyak mengenal dunia Sulai. Kami hanya tahu dia memiliki dua dunia yakni masjid dan musik dangdut. Mencari Sulai di kala siang seperti ini lebih rumit dibandingkan mencarinya di malam senin – malam pentas dangdut. Tetapi kami tidak mungkin menunda hingga malam senin tiba dan Pak Bahtiar tentu tidak terima jika tugas yang diberikan kepada kami tidak segera terselesaikan. Apa harus kami tunggu sampai malam tiba? Ah, kalau ada pekerjaan yang tidak tuntas masih saja terasa kurang enak menjalani hidup. Tapi kami harus kemana?</p>
<p>Sesosok remaja tanggung keluar dari rumah hanya mengenakan kaos singlet. “Mencari Sulai Wet?”, tanyanya.</p>
<p>“Iya Ded. Ada?”</p>
<p>“Oh!, dia baru keluar pake sepeda”, ujar Deddy . “Katanya dia ke Tanjungpendam”</p>
<p>“Apa?? Panas-panas begini ke Tanjungpendam?”</p>
<p>“Kamu tahu kan Sulai?. Agak aneh, selalu mencari inspirasi”, ujar Deddy sambil tersenyum penuh arti.</p>
<p>“Yah&#8230;Oke deh Thanks”, ucap Awet. “Kami akan mencarinya ke sana”</p>
<p>“Oke”</p>
<p>
Untung saja Deddy tidak curiga, atau yang memergoki kami bukan orang tua Sulai. Bayangkan apa yang harus kami jawab jika ditanya, tentang Sulai. Bohong sama orang tuanya? Kalau terpaksa gimana lagi?<br />
Kami berdua bergerak menuju ke Tanjungpendam, tempat pengasingan Sulai. Tanjungpendam memang tempat yang cocok untuk mencari inspirasi, atau berduaan dikala dilanda asmara – yang tentu bukan Sulai &#8211; daerahnya sepi dan penuh dengan pohon – pohon rindang. Di tanjungpendam ini ada sebuah lapangan luas yang baru saja dibuka dan ditanami pohon-pohon kecil namun sudah cukup untuk tempat nongkrong dan memang kami seringkali bolos ke sana. Kalau sore, aku dan Ivan sering datang ke sini untuk mengabadikan keindahan pantai di saat sore atau saat hujan baru saja reda.</p>
<p>Kami hanya membutuhkan waktu lima menit saja untuk sampai di tanjungpendam, dan kami langsung menuju tempat kami biasa nongkrong. Tapi tidak ada, kami coba mengintari lapangan luas ini di bawah terik matahari dan keadaan lapar namun sesosok manusia tidak nampak. Bahkan orang bugispun tidak ada.</p>
<p>“Dimana lagi ya Fi?”</p>
<p>Aku terdiam sejenak berpikir tempat lain yang cocok untuk orang seperti Sulai. Di tanjungpendam ini banyak tempat nongkrong yang asyik, tapi kalau siang dengan panas terik membakar seperti sekarang ini, tempat nongkrong itu manjadi lebih sedikit. Tempat – tempat seperti pinggiran pantai berpasir akan ramai orang ketika menjelang magrib saja. Tempat lainnya hampir sama, bahkan tempat kami nongkrong pun tak layak menjadi tempat berteduh di siang bolong seperti ini. Namun&#8230;</p>
<p>“Aku tahu Wet!”, ujarku semangat. “Dia di depan Wisma Timah!”</p>
<p>“Ya!, bener”, ujar Awet penuh sukacita. “Yuk kita kesana!”</p>
<p>Beberapa menit kemudian kami tiba di tempat sebuah batu setinggi rumah. Di bawah batu besar itu terdapat banyak pohon – pohon rindang bahkan ada pohon tumbang sehingga cocok untuk tempat duduk dan berteduh dikala terik. Dari kejauhan kulihat Sulai sedang duduk tafakur di puncak batu tinggi dan dipayungi oleh pohon berdaun lebat, bertingkah bagai pujangga menanti inspirasi dari sang pencipta.</p>
<p>“Wet! Tuh dia di atas!”, ujarku menunjuk ke arah Sulai yang sedang duduk.</p>
<p>“Iya..yuk kita naik”</p>
<p>“Lai!”, kami naik bebatuan sambil berteriak. Sulai menoleh dengan mata kosong tak bergairah.  Awet senang seperti anak yang baru mendapatkan hadiah.</p>
<p>“Kamu kemana aja, udah tiga minggu tidak masuk? Pak Bahtiar nanyain tuh!”, ujar Awet dengan nada kesal sambil duduk di sebelah Sulai.  Dia mengambil amplop dan diserahkan ke tangan Sulai.</p>
<p>“Ah&#8230; Pak Bahtiar”, ujarnya lirih tak peduli, matanya masih menatap laut di kejauhan. “Aku lagi menunggu jawaban cinta dari Melati, Wet. Waktu sehari serasa telah sewindu, rasa hati penuh dengan rindu, namun&#8230;”</p>
<p>“Oops, Oke! Lai. Aku mau cabut dulu bareng Syaifi”, ujar Awet memotong pembicaraan. Dia sudah tahu tanda-tanda Sulai akan mulai membacakan ratusan puisi cinta, dan dia tidak dalam suasana ingin mendengarkan puisi itu di hari yang panas terik seperti ini dengan perut yang keroncongan. “Besok kamu ditunggu di kantor guru”.  Awet bangkit, “Yuk Fi, kita cari Mie, laper nih.!”</p>
<p>“Tancap&#8230;”</p>
<p>Kami berlari turun dari batu besar itu, dan langsung menaiki sepeda motor hitam menuju ke Bioskop Gunung Tajam. Kami tinggalkan Sulai dalam kesendiriannya memimpikan cinta yang kini berada diambang matanya. Aku tahu dia memang sedang jatuh cinta. Walaupun dalam hidupku hingga kini aku hanya mengenal satu cinta yang telah pergi, namun aku masih bisa membedakan antara mata jatuh cinta atau mata elang seperti Dicky.  Diam-diam aku berdoa, “Semoga kali ini kamu beruntung teman&#8230;”</p>
<p><strong>bersambung menuju akhir&#8230;</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritakecil.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritakecil.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritakecil.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritakecil.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ceritakecil.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ceritakecil.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ceritakecil.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ceritakecil.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritakecil.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritakecil.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritakecil.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritakecil.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritakecil.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritakecil.wordpress.com/195/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritakecil.wordpress.com&amp;blog=3893095&amp;post=195&amp;subd=ceritakecil&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritakecil.wordpress.com/2009/09/28/sulai-jatuh-cinta-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cd1063d1f8533dd0b2b9aa44615a508c?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Syaifi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sulaiman Jatuh Cinta (#3)</title>
		<link>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/12/21/sulaiman-jatuh-cinta-3/</link>
		<comments>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/12/21/sulaiman-jatuh-cinta-3/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Dec 2008 13:31:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syaifi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Bersambung]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[SMA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritakecil.wordpress.com/?p=168</guid>
		<description><![CDATA[Pertemuan Kedua Sulai duduk termangu di balkon masjid, menanti sang dambaan hati dengan sebuah amplop merah muda di tangan. Sudah beberapa hari dia duduk sendiri berteman sunyi bersama buku tulis dan beberapa majalah sebagai penghilang rasa jenuh di hati. Sesekali dia turun ke ruangan masjid untuk berbincang dengan orang-orang yang singgah dan akan kembali ke [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritakecil.wordpress.com&amp;blog=3893095&amp;post=168&amp;subd=ceritakecil&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertemuan Kedua</strong></p>
<p>Sulai duduk termangu di balkon masjid, menanti sang dambaan hati dengan sebuah amplop merah muda di tangan. Sudah beberapa hari dia duduk sendiri berteman sunyi bersama buku tulis dan beberapa majalah sebagai penghilang rasa jenuh di hati. Sesekali dia turun ke ruangan masjid untuk berbincang dengan orang-orang yang singgah dan akan kembali ke peraduannya di lantai II jika saat break belajar tiba.  Selama pengintaian ini, dahaga kerinduannya beberapa kali terpuaskan walau sejenak saat Melati berjalan menuju perpustakaan bersama beberapa temanya. “Dia memang sempurna, cantik dan cerdas”, puji Sulai. “Cara berjalan seperti puteri raja, dan saat rambutnya berkibar keharuman rambutnya semerbak hingga tercium dari sini”</p>
<p>“Kemarin dia sempat melemparkan senyum terindahnya padaku. Dan kini kunanti senyum itu merekah kembali hanya untukku seorang. Kutunggu dirinya, berharap bibir dan mata mendendangkan lagu yang indah sebagai tanda hari baru bagiku yang akan kuisi dengan kebahagiaan di setiap waktunya”</p>
<p>Sebagai salah seorang siswa terbaik yang pernah singgah di SMP satu, Sulai tentu mengenal seluk beluk almamaternya itu. Waktu masuk, istirahat dan pulang sekolah sudah menjadi bagian dari nadinya dan setiap aliran darahnya menjadi penunjuk waktu yang lebih tepat daripada arloji di tangannya. Tempat-tempat berkumpul pada saat-saat tertentu – seperti perpustakaan dan kantin Bu Roso, sudah dikenal seperti dia mengenal ruangan di rumahnya.  Sayang kantin bu Roso tidak dapat terlihat dari arah balkon masjid karena terhalang oleh perpustakaan.  “Ingin kunantikan Melati di sana, tetapi tentu akan menjadi pertanyaan yang besar mengapa aku berada di sana saat-saat belajar seperti ini”, Sulai menarik nafas panjang. Dia berpikir tentang hutang yang belum terbayar walau sudah dua tahun tidak duduk di sekolah itu, hal itu membuatnya ngeri dan akhirnya mengurungkan niatnya untuk nongkrong di sana.</p>
<p>Sejak bolos bersama Dicky beberapa hari yang lalu, Sulai tidak pernah menginjakkan kakinya di sekolah. Dia tidak peduli dengan pelajaran sekolah yang akan terus melangkah maju meninggalkannya, dia tak lagi peduli dengan absensi yang akan menumpuk dan jadi bahan evaluasi Pak Bahtiar. “Semoga Pak Bahtiar mengerti arti cinta yang kini melanda diriku. Tak mungkin aku bisa belajar jika cinta ini terus merenggut kesadaranku. Diriku tidak jauh berbeda dengan kondisi Dicky yang tidak pernah memperhatikan pelajaran. Hanya saja Dicky memelihara begitu banyak cinta di hatinya, sedangkan aku hanya satu saja”</p>
<p>Kini, hari – hari Sulai terisi dengan jantung yang berdetak riang. Setiap waktu mendekati pukul tujuh pagi, Sulai mendatangi masjid sambil membawa atribut sekolahnya, lalu duduk tenang di balkon. Pada saat-saat tertentu dia akan turun sebentar dan akan kembali ke tempat peraduannya ketika waktu yang dinanti telah tiba. Dia berkelakuan seperti seorang sufi yang duduk tenang mengharap setetes cinta Ilahi, hanya saja Sulai mengharapkan setitik cinta dari Melati.</p>
<p>Sudah berlembar-lembar puisi yang digubahnya, semuanya berisi nada-nada cinta semerbak wangi bunga – mengingat Melati adalah nama bunga.  Begitulah memang, cinta adalah suatu anugerah yang membuat orang bisa melakukan apapun untuk meraihnya, menjadi apapun yang diinginkannya. “Akan kuberikan segalanya padanya, sebagai tanda begitu besar cintaku untuknya”, gumamnya suatu kali.</p>
<p>Dibukanya amplop wangi berisi lembaran surat cinta yang telah dipersiapkan tadi malam. Ditulis di atas kertas aroma strowberry berwarna pink – terpaksa dibelinya di Toko Ramai – dan berhiaskan tinta biru pena parker palsu miliknya. Semuanya dalam bahasa sajak yang menggambarkan perasaan cinta yang demikian dalam – setidaknya begitulah menurut dia.</p>
<p>Sulai membaca surat itu untuk ke sekian kalinya, agar tidak ada tulisan yang salah atau kurang tepat yang akan membuat cintanya ditampik, dan berharap ada kata-kata di dalamnya bisa meluluhkan hati sang bidadari. Kemudian diciumnya keharuman kertas itu seperti seorang ibu mencium kening anaknya, meresapi dan membayangkan sebuah tangan halus memegang lalu membaca dengan penuh rasa cinta. Perasaan damai kembali menyelimuti hatinya. “Semoga dia mengerti segala yang tertuang di lembaran cinta ini”</p>
<p>“Namun&#8230;”, Sulai berhenti sejenak dan berpikir keras. ”Bagaimana caraku menyerahkan surat ini? Aku ingin surat ini langsung jatuh di tangan Melati. Aku tidak bisa menitipkan lewat salah seorang temannya, karena bagiku itu akan berbahaya dan dia akan jadi bahan olok-olok. Lagipula tidak ada rahasia antar teman &#8216;kan?”</p>
<p>“Apakah aku harus mengirimkah lewat POS? Ahh&#8230; Surat yang masuk biasanya akan diumumkan dan belum tentu surat akan langsung sampai ke tangan Melati. Masalah yang sama akan terjadi jika bukan Melati yang mengambilnya”, Sulai menarik nafas panjang&#8230;panjang sekali. Alisnya menyatu dan beberapa kali dia mengusap hidung dan mulutnya menandakan dia sedang berpikir.</p>
<p>Tiba – tiba lonceng break berbunyi, telinga Sulai meninggi dan lehernya memanjang seperti leher kura – kura menjulur keluar dari cangkang.  Detak jantung bertambah kencang, semangat meningkat dan mata berbinar mengiringi seringai kecil saat mendengar nada indah lonceng tanda istirahat itu. Terlihat anak-anak SMP berhamburan keluar kelas dengan tingkah beragam, ada yang memilih hanya duduk di depan kelas sambil melihat tanaman hijau, menuju kantin Bu Roso dan ada pula yang memilih perpustakaan sebagai tempat melepas kejenuhan belajar. Semua wajah mereka menyiratkan rasa lega dan menggambarkan keceriaan yang tak dapat digambarkan dengan kata-kata.</p>
<p>Sesosok tubuh mungil dengan rambut sebahu dan berjalan ringan bagai peri terlihat melenggak menuju ke perpustaan sekolah bersama seorang temannya sambil berkelakar tentang sesuatu dan sesekali tertawa renyah. Sulai memperhatikan anak yang sedang berbicara dengan Melati, dan dia yakin mengenal anak itu. “Mungkin aku bisa meminta tolong padanya”, pikirnya “tapi&#8230;tak ada rahasia antar teman?. Ahhh&#8230;.”</p>
<p>“Andai aku masuk ke perpustakaan”, ujarnya pada diri sendiri, “Mungkin aku bisa menyerahkan surat ini langsung kepadanya”. Wajah Sulai menampakkan keceriaan seperti ketika archimedes menemukan hukum fluida– eureka! &#8211; dan mulai bergerak bangun dari peraduannya. Dia sangat yakin telah menemukan cara terbaik memberikan surat kepada sang terkasih, “Deddy?&#8230;.Ahh sudahlah apapun katanya aku tidak akan menyurutkan langkah hari ini, dan ini cara yang terbaik”</p>
<p>Diambilnya sebuah buku tulis kumal dan amplop yang sedari tadi dipegangnya, diselipkan di dalamnya. Sulai tersenyum dan dunia terasa berada di pihaknya kini. Dengan langkah gagah bagai seorang tentara yang akan berperang, Sulai berjalan menuju sekolah paling top di kota Tanjungpandan itu. Dia merasa mendengar musik mars mengiringi langkahnya, dan senyum tak lepas dari bibirnya yang tipis. Namun, tak urung detak jantungnya semakin kencang dan lututnya agak gemetar tak beraturan walaupun sudah ditutupi dengan langkah yang dibuat seolah-olah tegap.  Perjalanan ke gerbang SMP seperti perjalanan ke tiang gantungan para terpidana, dan waktu bergerak serasa sangat lambat dan jarak yang ditempuh serasa jauh sekali. “Seharusnya aku masuk ketika belum istirahat seperti ini”, Dia menyesali tidak bertindak lebih dulu. “Kadang-kadang ide hebat datangnya terlambat”</p>
<p>Sesampai di gerbang, wajah Sulai serasa bertambah tebal 3 sentimeter, dan senyum sumringah berubah menjadi senyum kecut, mengingat perjalanan dari gerbang menuju perpustakaan membutuhkan mental baja. Memang perjalanan hanya tinggal beberapa meter saja, tetapi tantangan lebih berat daripada langkah awal menuju gerbang tadi. Melewati sebelah kelas 3 adalah tantangan terberatnya – Deddy kelas 3 – dan semua anak – anak kelas tiga mengenalnya dengan baik. Bagaimanapun dia adalah ketua OSIS saat anak – anak itu kelas satu. “Deddy, semoga dia berada di kantin bu Roso”, ujarnya berharap.</p>
<p>Langkah gagah berubah langkah cepat setengah berlari. Keringat dingin menetes di keningnya dan mata Sulai jelalatan kuatir Deddy atau guru yang memergokinya sedang menuju perpustakaan.  Dia takut bertemu Bu Mala yang cantik, manis dan judes – rasa sakit cubitannya seperti sengatan kalajengking dan akan terus bertahan selama beberapa minggu – yang akan mencegahnya masuk.</p>
<p>“Lai!, ngapain kamu ke Sini?”, tanya Ali, salah seorang adek Awet. Sulai kaget. “Ini nih yang seharusnya dia hindari”</p>
<p>“Mau ke perpustakaan Li, ada tugas”, jawab Sulai cepat, merasa terganggu. “Lagi ngapain?”</p>
<p>“Biasa istirahat. Lai, Ngomong-ngomong&#8230;”</p>
<p>“Aku duluan ya!”, potong Sulai segera.</p>
<p>“Oke deh”, kata Ali menjauh dan kembali ke teman – temannya. Sulai lega dan berharap Ali tidak melaporkan kejadian ini kepada Deddy.</p>
<p>Jarak perpustakaan hanya tinggal beberapa meter saja. Sulai merasa seperti seorang Atlit yang hendak sampai di garis finish, matanya berbinar melihat pintu perpustakaan yang terbuka seakan – akan di sanalah segala kehidupannya bermula. Dia melangkah lebih lebar lagi, mengharap tiba di perpustakaan hanya beberapa langkah saja.</p>
<p>Seperti di SMA Negeri, nasib perpustakaan di sini tidaklah berbeda jauh. Pengunjungnya selalu saja lebih sedikit dibandingkan dengan pengunjung kantin, dan isinya orang-orang tertentu yang mungkin tidak punya uang untuk berbelanja di kantin sekolah. Sulai lebih sering menghindar dari perpustakaan daripada berteman dengannya, karena bau buku perpustakaan membuatnya pusing apalagi membaca isinya, dan kini dia harus sedikit toleransi dengan aturannya sendiri, demi seutas tali cinta yang akan dijalinnya.</p>
<p>Sulai melangkah pelan masuk menghampiri penjaga yang duduk di sebelah kiri pintu. Matanya menerawang ke seluruh ruangan terutama ruangan Ibu Atik – salah seorang guru penjaga perpustakaan – yang dikhawatirkan melihatnya lalu mengajaknya ngobrol. Bu Atik memang salah satu guru yang menjadi penggemarnya, dulu.</p>
<p>“Bang Rahman”, ujar Sulai menyapa penjaga pintu masuk perpustakaan ramah. “Apa kabar bang?”</p>
<p>“Ahh&#8230;Sulai. Baik Lai”, jawab Bang Rahman tak kalah ramah. Beliau mengenal Sulai dengan baik dan baginya Sulai adalah seorang anak yang sangat menyenangkan. “Gimana kabarnya Lai?”</p>
<p>“Biasalah bang”, jawab Sulai. “Banyak tugas dari sekolah”</p>
<p>“Namanya juga sekolah Lai. Apalagi kalau bukan tugas dan PR. he&#8230;he&#8230;he&#8230;”</p>
<p>“Ya gitu deh bang. Saya mau lihat – lihat buku di sini boleh kan?”</p>
<p>“Oh&#8230; Silakan, Orang luar saja boleh apalagi kamu yang lulusan sini. Tapi sayang tidak bisa minjem”</p>
<p>“Tidak apa – apa. Terima kasih bang”, ucap Sulai. “Kalau begitu, saya masuk ya bang. Maaf bang, kita belum bisa ngobrol lama. Lain kali ya”</p>
<p>Bang Rahman mengangguk tersenyum dan Sulai melangkah mendekati barisan buku – buku yang terletak di rak-rak berwarna coklat. Suara degub jantung yang bertambah keras sekeras suara gendang orkes melayu. Rasanya setiap orang di perpustaakan melihatnya dan memandangnya dengan ganjil, seolah – olah dia seekor makhluk yang bermata satu dan mengeluarkan asap dari mulutnya. Sulai menerawang seluruh ruangan sambil menjaga jarak dari ruangan guru yang hanya dibatasi dengan kaca.</p>
<p>Ruangan perpustakaan tidak terlalu besar, seluruh dindingnya berisi rak-rak buku dan di tengahnya terletak meja-meja panjang tempat anak – anak membaca. Beberapa siswa telah duduk dengan tenang asik membolak-balik halaman buku yang ada di depannya. Sebuah rak buku menyisip di tengah di antara meja membelah ruang baca menjadi dua bagian. Sulai melangkah, menerawang dan mencari sesosok wajah yang amat dinantinya, dengan hati penuh harap dan jantung bergemuruh.</p>
<p>Sinar cerah matahari yang menyilaukan seolah bersumber dari sudut ruangan perpustakaan saat Sulai menemukan satu wajah yang dirindukannya. Detak jantungnya serasa seperti deburan ombak malam di pantai tanjung tinggi dan kakinya serasa menginjak perahu oleng yang terbawa arus. Keringat dingin menetes bagaikan tetesan air di dahan sehabis hujan dan sejenak kesadarannya hilang terbawa angin dan ruangan serasa sepi tanpa manusia selain dirinya dan sang bidadari.</p>
<p>Tanpa sadar Sulai mengambil sebuah buku terdekat yang bisa diraihnya tanpa melihat judul ataupun warna, lalu menyisipkan amplop pink ke dalamnya – terlebih dahulu mengambil dari dalam buku tulisnya. Dia berjalan pelan mendekat sang mentari yang sedang melihat buku. Deburan ombak di jantungnya kini semakin ketara dan perahu di kakinya serasa semakin oleng disebabkan oleh ombak itu.</p>
<p>“Hai&#8230;”, sapa Sulai gemetar lemah dengan senyum yang paling manis yang dimilikinya sambil berusaha menutupi detak jantungnya.</p>
<p>“Oh, bang Sulai!”, ujar Melati terkejut melihat Sulai di perpustakaan yang dikhususkan untuk anak-anak SMP satu. “Mencari buku bang?”</p>
<p>“Yah&#8230;gitu deh. Ada tugas dari sekolah”, katanya sambil pura-pura memilih-milih buku di rak. “Aku dulu pernah melihat salah satu buku bagus di sini”, ujarnya dengan sedikit bumbu kebohongan. “Kamu lagi mencari buku apaan?”</p>
<p>“Cari buku untuk baca-baca aja bang. Tidak ada yang spesial”</p>
<p>“Sukanya buku apa?”</p>
<p>“Macem – macem”</p>
<p>“Novel, Sastra, majalah, atau&#8230;?”</p>
<p>“Ya&#8230;kalau ada yang menarik. Kenapa tidak?”, Melati tersenyum sambil melirik ke arah Sulai.</p>
<p>Sulai merasa berada di atas angin. Senyum menyejukkan itu kini berada dekat denganya dan dia bisa melihat gigi – gigi putihnya yang berderet rapi. Matanya berbinar seperti sinar bulan purnama. Sempurna!.</p>
<p>“Coba saja buku yang ini”, ujar Sulai sambil menjulurkan buku di tangannya. Dadanya seolah membengkak dan kakinya serasa berpijak pada angin dan kulit wajah bertambah tebal.</p>
<p>“Pengantar Elektronika?!”, ujar Melati dengan mata penuh tanda tanya. Sulai terkejut melihat buku yang tidak sengaja diambilnya.</p>
<p>“Sial!, mengapa aku tidak melihat judulnya?. Mati aku”, pikirnya.</p>
<p>“Ini yang abang cari?”, tanya Melati kembali.</p>
<p>“eh&#8230;eh&#8230;”, Sulai gugup. “Yah&#8230;ya&#8230;e&#8230;tugas dari Pak Jack. Lihat aja isinya”</p>
<p>“hm&#8230;?”, Melati membuka buku elektronika itu dengan setengah hati. “Laki – laki seperti bang Sulai mungkin menganggap buku ini menarik”</p>
<p>Tiba – tiba amplop yang terselip di dalamnya jatuh, serta – merta Melati mengambilnya dari lantai. Jantung Sulai seolah berhenti berdetak, bumi serasa berhenti berputar dan waktu berhenti berjalan. Kini kakinya serasa hilang separoh dan kesunyian perpustakaan seperti kesunyian kuburan di waktu malam.</p>
<p>Kini, surat cinta itu telah berada di jari-jari mungil Melati yang memandang dengan curiga. Dia membalik surat itu, mencari alamat sang pemilik surat itu, dan dengan mata terbelalak tak percaya Dia membaca setengah berbisik:</p>
<p style="text-align:center;"><em>Untukmu<br />Bunga  tercantik yang pernah kujumpa – Melati</p>
<p></em></p>
<p>Wajah Melati memerah dan secara tak sadar dia menoleh ke arah Sulai dengan sinar mata curiga, dan Sulai hanya bias berdiri tegak bagai patung <i>mannequin</i> di pertokoan. Mulutnya terkunci rapat, kakinya kaku tak dapat bergerak, pikirannya buntu tak tahu akan berbuat apa. Seluruh raganya serasa beku dan semua orang seolah – olah memandang dan rasa malu tak tertahankan menerpa bagai angin ribut dikala hujan.</p>
<p>“Jadi&#8230;”, Melati memecah kesunyian di antara mereka – dengan gemetar pula dan bertanya. “Surat ini untuk Melati, Bang?”</p>
<p>“Yah&#8230;”, jawab Sulai terbebas dari rasa beku dengan suara lemah. Wajahnya masih setebal dinding perpustakaan dan matanya berair menahan malu. “Itu memang untuk kamu. Maaf”</p>
<p>“Terima kasih bang Sulai, dan&#8230;maaf saya harus segera masuk kelas”, Melati berlalu sambil tertunduk tak berani menatap. Dia memasukkan surat itu ke dalam kantong depan roknya yang berwarna biru tua. Suara lonceng memang telah memanggil siswa untuk kembali ke kelas, dan seperti anak ayam yang dipanggil induknya, mereka berkelompok menuju kelas masing-masing.</p>
<p>Kini, kesunyian menyelimuti perpustakaan. Sulai tercenung sendiri memandang melati yang lenyap di balik pintu bersama siswa yang lain. Ada rasa lega yang menghias hatinya, setelah suara hatinya telah tersampaikan. “Paling tidak, dia telah mengetahui semuanya”, ujarnya. “Semoga dia mengerti dan membalas perasaanku itu”.</p>
<p>Tak berapa lama kemudian, Sulai keluar menuju masjid dengan perasaan yang bercampur aduk antara rasa suka cita dan takut. Suka cita karena semua ganjalan di hati telah terangkat, takut sebab mungkin cintanya hanya bertepuk sebelah tangan saja.</p>
<p><strong>Maaf nyambung lagi&#8230;</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritakecil.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritakecil.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritakecil.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritakecil.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ceritakecil.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ceritakecil.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ceritakecil.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ceritakecil.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritakecil.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritakecil.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritakecil.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritakecil.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritakecil.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritakecil.wordpress.com/168/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritakecil.wordpress.com&amp;blog=3893095&amp;post=168&amp;subd=ceritakecil&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/12/21/sulaiman-jatuh-cinta-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cd1063d1f8533dd0b2b9aa44615a508c?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Syaifi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sulaiman Jatuh Cinta (#2)</title>
		<link>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/12/13/154/</link>
		<comments>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/12/13/154/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Dec 2008 06:58:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syaifi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Bersambung]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[SMA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritakecil.wordpress.com/?p=154</guid>
		<description><![CDATA[Balkon Masjid Jami&#8217; “Wet!, kamu kenal Melati anak baru SMP satu?”, tanya Sulai ketika kami sedang break pertama sambil melahap tempe goreng Bu Darno yang masih panas. Saat – saat break seperti ini merupakan saat yang selalu dinanti oleh anak – anak, karena mereka dapat bercengkrama, bercanda dan melupakan pelajaran yang berat di kelas. Bagi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritakecil.wordpress.com&amp;blog=3893095&amp;post=154&amp;subd=ceritakecil&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Balkon Masjid Jami&#8217;</strong></p>
<p>“Wet!, kamu kenal Melati anak baru SMP satu?”, tanya Sulai ketika kami sedang <i>break</i> pertama sambil melahap tempe goreng Bu Darno yang masih panas. </p>
<p>
Saat – saat break seperti ini merupakan saat yang selalu dinanti oleh anak – anak, karena mereka dapat bercengkrama, bercanda dan melupakan pelajaran yang berat di kelas. Bagi yang memiliki pasangan, mereka akan mencari tempat yang teduh seperti di bawah rindahnya pohon kelapa untuk memadu kasih &#8211; walaupun cuma beberapa menit saja. Untuk yang <i>bokek</i>, terpaksa harus gigit jari atau minta traktir temannya yang tajir, dan&#8230;Sulai sepertinya cocok untuk kategori ini.  </p>
<p>
“Nggak, aku gak kenal Lai. Emangnya kenapa? ”, jawab Awet sambil mengunyah bakwan. </p>
<p>
“Gak apa-apa. Cuma nanya aja”, ujar Sulai tanpa bisa menyembunyikan nada lega. Setidaknya satu saingan berat sudah tersingkirkan, dan Sulai berharap akan tetap seperti itu.  Dia heran juga kalau Awet tidak mengenal gadis secantik Melati, karena Awet dikenal sebagai seorang yang memiliki reputasi luar biasa dalam menaklukkan bunga-bunga belia. </p>
<p>
“Cewek baru ya Lai?”, tanya Awet penuh curiga. Awet mengenal Sulai sejak duduk di bangku SMP kelas I, dan mengetahui setiap langkah perjalanan romantismenya. Awet masih ingat ketika Sulai menaruh hati pada Netty dan membuat Awet pusing mendengar syair <i>dunia masih berputar</i> yang diulang-ulang dengan suara seperti kaset rusak – karena Sulai tidak bisa memainkan gitar.  Masih tergambar jelas di kepalanya ketika Sulai menuliskan ratusan puisi hanya karena dia naksir Widya, dan diam selama dua minggu saat dia tidak diajak mencari <i>kijing</i> ketika dia naksir Ame. Belum lagi gadis – gadis lain, seperti Yanti, Vista, Ayu, Noni yang selalu saja pada akhirnya akan menyisakan kepedihan yang dituangkan ke dalam syair puisi atau nyanyian lagu yang memilukan &#8211; bukan karena putus tetapi karena ditolak atau terlambat.  Dan itu semua terpaksa dinikmati Awet sebagai sahabatnya. </p>
<p>
“Yah&#8230; begitu deh”, Sulai tersenyum sumringah dan membuat kumisnya sedikit terangkat serta hidungnya mengembang, terlihat bulu hidungnya sedikit berkibar. Dia paling suka kalau teman-temannya menggapnya sudah memiliki pacar. Apalagi seorang cowok keren seperti dirinya, rasanya tidak mungkin ada cewek mampu menolak pesonanya.  Ditambah suaranya yang merdu semerdu suara Mansyus S, saat menyanyikan lagu irama padang pasir.  Sulai merasa lebih berhak menjadi penyanyi utama group musik dangdut idolanya – Orkes Melayu Kencana.</p>
<p>
“Kenal di mana Lai?”, tanya Dicky</p>
<p>
“Dia temennya Deddy. Ceweknya manis banget. Sempurna buat aku”, ujar Sulai dengan semangat membara. </p>
<p>
“Ceweknya Deddy kali?”, celetuk Atuk yang sedang melahap bakso pedasnya sambil mendesis.</p>
<p>
“BUKAN!. Beberapa hari yang lalu, dia ke rumahku mau pinjem buku Deddy, dan yah&#8230;kita ngobrol banyak”, ujar Sulai bercerita dengan wajah penuh sinar kebahagiaan, “dan aku yakin sekali dia belahan jiwaku” </p>
<p>
“Udah ngomong belum?”</p>
<p>
“Rencanaku, besok mau mengajak dia  jalan dan ngomong”</p>
<p>
Mudah – mudahan kali ini nasib Sulai berubah, pikir Awet pesimis. Siapa tahu, kali ini akan berakhir dengan bahagia dan Sulai tidak akan mengganggunya lagi. Tapi Awet merasa tetap harus mempersiapkan diri untuk menjadi tumpahan kesedihan Sulai saat merana kembali mendera hatinya. Memikirkan hal itu, Awet bergidik sendiri. “Hh&#8230;.”, Awet menarik nafas panjang.</p>
<p>
Suara bell masuk berbunyi memekakkan telinga dan semua siswa terpaksa berhamburan keluar kantin kecil yang sempit itu. Beberapa diantaranya segera membayar makanan yang telah dilahapnya dan Sulai dengan cepat menghilang seperti hantu– Sulai tidak pernah merasa memesan makanan dan apa yang dimakannya pasti milik temannya. Atuk, seperti biasa selalu terlambat menyelesaikan santapan bakso yang menjadi makanan favoritnya, dan selalu menjadi orang yang terakhir keluar dari kantin. </p>
<p>
Selama pelajaran sejarah, Sulai lebih banyak melamun daripada mendengarkan apa yang diajarkan hari itu. Syukurlah Pak Amran tidak terlalu memperdulikannya. Toh memang hampir semua anak-anak tidak memperhatikan dan sibuk dengan urusannya masing-masing. Sejarah memang tidak pernah menjadi pelajaran favorit di Kelas II Fisik dan Pak Amran juga bukan merupakan guru yang dipuja. Sesekali Sulai menarik nafas panjang membayangkan Melati bersamanya menghabiskan waktu di Tanjungpendam dan berjalan-jalan sore mengelilingi kota Tanjungpandan. </p>
<p>
Pertemuan pertama telah membuat Sulai tidak berdaya melupakan bidadari itu. Makan tidak enak, tidur tidak nyenyak bahkan di toilet pun tidak tuntas, well walaupun tidak pantas rasanya mengingat wajah seseorang ketika di toilet. Yang diingatnya hanyalah sebuah wajah mungil dengan rambut sebahu yang beberapa waktu lalu mulai mengisi kekosongan hatinya. Bahkan Wangi tangannya pun masih terasa hingga saat ini. Hhhh&#8230;., sekali lagi Sulai menarik nafas panjang. </p>
<p>
“Kalau saja aku bisa melihat nya sekali saja”, pikirnya dengan kalimat yang puitis. “Cukup kiranya untuk mengobati penyakit rindu yang kuderita”</p>
<p>
Masalahnya, hingga kini wajah itu tak pernah muncul lagi di pintu rumahnya, walaupun setiap sore Sulai menanti penuh harap dengan berdebar di teras rumah. Alamat rumahnya, hobby, warna kesukaannya, semua tentang Melati, Sulai tidak tahu. Ingin rasanya dia bertanya kepada Deddy tetapi perlu pemikiran yang lebih matang cara bertanya, karena Deddy selalu mengejek jika tahu dia naksir salah seorang temannya. Ingin rasanya dia langsung masuk ke SMP I dan menatapnya walau hanya sedetik saja, namun dia sadar, hal itu akan membuat Melati menjauhinya. Haruskah dia menantinya di gerbang hingga sang pujaan keluar? Akankah itu akan membuat Melati malu di antara kawan-kawannya? </p>
<p>
“Andai ada sebuah tempat yang sangat strategis” pikirnya lama. ”Mungkin aku harus menunggunya di dekat Masjid Jami&#8217; sambil menunggunya pulang. Tidak ada seorangpun tahu dan akan menertawakanku”</p>
<p>
“Aha! Aku akan mengamatinya dari balkon masjid yang tidak pernah ada orang. Ya, ide yang brilliant. Setiap saat aku bisa mencari dan walaupun cuma sedetik sehari aku akan melihatnya dan melepaskan rasa rindu”, wajah suram Sulai berubah menjadi ceria seperti matahari yang bersinar setelah hujan yang panjang.  Kerinduan tak tertahan akan terobati. Wajah manis Melati kini menari – nari di pelupuk mata, menggoda. </p>
<p>
Tak berapa lama kemudian, suara lonceng mengisi siang yang panas terik, tanda istirahat kedua telah tiba. Mata – mata ngantuk kembali terang seterang mentari di pagi hari. Suara – suara lega dan canda segera menggantikan suasana sunyi, sepi dan rasa bosan. Anak-anak segera berhamburan keluar menuju kantin Bu Darno, mengkhawatirkan tempe dan bakwan enak buatan Bu Darno yang biasanya ludes dengan cepat oleh mulut-mulut rakus yang kelaparan. </p>
<p>
“Dick, pulang yuk!”, Sulai mengajak Dicky bolos pelajaran terakhir sesaat sebelum Dicky keluar kelas. Dia harus bisa membujuk Dicky untuk bolos agar bisa sampai di masjid dengan cepat. Sulai tidak pernah merasakan kemewahan dengan memiliki kendaraan sendiri, selalu saja ada teman yang baik yang menjemput atau mengantarnya pulang. Namun kali ini, memiliki kendaraan sendiri rasanya merupakan ide yang terbaik agar dia bisa pulang kapan saja dia mau. </p>
<p>
“Hmm&#8230;”, Dicky berpikir sejenak. Sebenarnya tidak sulit membujuk Dicky untuk membolos, toh di kelas Dicky tidak pernah memperhatikan pelajaran apapun juga. Sulai kadang-kadang bingung dengan sikap Dicky yang tak acuh pada pelajaran dan entah apa jadinya dia nanti.  </p>
<p>
“Ayo dong. Kamu tahu Pak Jack yang super cuek. Pelajarannya ngabisin waktu saja”</p>
<p>
“Tapi.. aku udah beberapa kali bolos pelajaran Pak Jack”</p>
<p>
“Alah&#8230; nanti kita urus itu. Cuma Pak Jack. Gampang dah”, ujar Sulai memaksa.</p>
<p>
“Iya juga ya. Oke deh”, ujar Dicky luluh. Dia mengulurkan tasnya ke arah Sulai, ”Kamu tunggu aku di seberang lapangan bola, nanti kujemput di sana. Jangan lupa bawa tasku”</p>
<p>
Cahaya kemenangan terpancar di wajah Sulai ketika bujukan mautnya mengena. Senyum sumringah kembali menghiasi wajahnya dan kini terasa semua beban telah terangkat dari dadanya. Memang, kalau ada niat selalu saja ada jalan, pikirnya. </p>
<p>
Sulai harus menunggu beberapa saat sampai semua guru masuk ke ruangan guru, untuk memulai dosanya di siang itu. Dengan mengendap – endap sambil membawa tas Dicky, Sulai berlari menuju seberang lapangan sepak bola, yang berbatasan dengan rumah-rumah penduduk. Siang yang terik seperti ini, tak seorang guru pun yang rela berpatroli mengintai anak – anak  liar seperti Sulai. Terlihat dari balik pagar, Awet, Allyn dan kawan – kawannya baru saja masuk ke kantin Bu Darno. Beberapa anak kelas 3 melihat ke arahnya, tak peduli dan lalu meneruskan aktifitasnya masing-masing. Panas terik terasa menyejukkan bagi Sulai, mengingat beberapa saat lagi dia akan mengobati rasa rindu yang begitu dalam. </p>
<p>
Beberapa saat kemudian, Dicky muncul dengan sepeda motornya yang gagah. Sepeda motor Dicky memang paling bagus di antara seluruh sepeda motor yang dikendarai anak-anak. Dicky selalu bersikap seperti film <i>Catatan Si Boy</i> dan menganggap dirinya adalah pemeran utama film itu di kehidupan nyata. </p>
<p>
“Ayo Lai!”, teriak Dicky dan serta merta Sulai melompat ke belakang Dicky yang langsung tancap gas menuju ke jalan pulang.<br />
Perjalanan yang ditempuh terasa lama dan melelahkan. Panas terik tak kunjung berbelas kasihan dan  perjalanan menjadi sangat menyiksa. Beberapa kali Sulai melirik ke speedometer dan Sulai tidak bisa melakukan protes karena Dicky mengendarai motor sudah seperti di arena balap motor. Hanya saja, setiap putaran roda, serasa seperti putaran roda sepeda atau langkah kaki kakek  &#8211; kakek tua. Dan jarak yang ditempuh serasa seperti menuju ke Desa Sijuk yang berjarak 40 kilometer.</p>
<p>
“Dick, Aku diantar ke Masjid Jami&#8217; aja yah. Ada perlu nih”, ujar Sulai setelah melihat sosok kokoh bangunan masjid dari jauh.  Dicky mengangguk dibalik helmnya. </p>
<p>
Senyum Sulai semakin mengembang sejalan dengan makin dekatnya jarak masjid. Nyanyian hatinya semakin riang sejalan dengan gambar masjid yang semakin terang. Jantungnya semakin berdegub sejalan dengan niatnya yang akan terwujud. Matanya semakin cerah secerah mentari sinar mentari yang menuju tengah hari. </p>
<p>
“Thanks ya Dick”, ujar Sulai setelah turun dari sepeda motor, sambil mengulurkan tas ke arah Dicky.</p>
<p>
“Oke Lai, aku cabut”, Dicky mengambil tasnya dan langsung kabur entah kemana dengan kecepatan penuh. </p>
<p>
Sulai melirik jam tangannya dan waktu menunjukkan pukul dua belas kurang beberapa menit saja. “Masih cukup banyak waktu”, pikirnya girang. Dengan langkah cepat dia berjalan menuju tangga naik ke lantai II masjid yang disebutnya balkon.  Sebuah tempat yang cukup sempurna untuk mengamati tingkah laku anak – anak SMP Negeri satu. Dari balkon ini, seluruh lapangan bisa terpantau walaupun beberapa tempat ditutupi oleh pepohonan yang tumbuh di pinggir jalan raya. </p>
<p>
Sulai segera memandang ke arah SMP Negeri satu. Terlihat beberapa guru dan siswa SMP yang sedang di luar dan berjalan terburu – buru masuk ke kelas. Tetapi kesunyian menyelimuti almamaternya itu. Hanya suara angin dan beberapa kendaraan yang lalu lalang menandakan hari masih siang. </p>
<p>
“Ah.. anak-anak masih belajar di kelas”, ujarnya sambil melirik arloji di tangannya. “Aku akan menunggu hingga mereka bubar sekolah” </p>
<p>
Sesekali Sulai berteduh di dalam mesjid menghindari panas yang menyerang, tanpa melepaskan pandangan dari lapangan SMP satu, berharap sang kupu-kupu keluar dari sarangnya. Sayang hanya beberapa gelintir manusia lain yang selalu muncul, dan bukan sang pujaan. Kebosanan menanti tidak terasa, yang ada hanyalah rasa rindu yang harus diobati di hatinya. </p>
<p>
Samar-samar terdengar suara radio korpri menyanykan lagu <i>I Just Can&#8217;t Stop Loving You </i>yang dinyanyikan <i>Michael Jackson</i>. Sulai merasa lagu itu lebih buruk dibandingkan dengan lagu <i>Ani</i> yang dibawakan Oma Irama. Oma Irama lebih mengerti dengan suasana hatiku sekarang ini dibandingkan dengan Michael Jackson, pikirnya sambil bersenandung – yang tentu saja nama Ani diubah jadi Mlati.</p>
<p>
<i>Mlati..Mlati&#8230;<br />
Kucinta padamu&#8230;<br />
Kusayang padamu&#8230;</i></p>
<p>
Sesekali diliriknya Arloji dan waktu berjalan sangat lambat. Satu detik seperti satu hari lamanya dan setiap menit serasa seperti berminggu-minggu. Siksaan rindu telah memuncak. Dan tiada jawaban lain selain menunggu di sini. Sulai menanti&#8230;, menanti&#8230;, dan menanti&#8230; hingga akhirnya Adzan menggema memekakkan telinga. Saatnya sholat dhuhur dan penantiannya pun harus berhenti sejenak.</p>
<p>
Sesaat Sulai berada di ambang keraguan, antara menanti sang pujaan atau segera manghadap sang Kuasa. Menanti, berarti dia harus menunda urusan pada yang kuasa dan itu sangat riskan, karena kini dia berada di rumahNya dan semuanya berada di bawah kekuasaannya. Bisa – bisa aku tidak akan dijodohkan dengan Melati kalau begini, ujarnya. Memilih mengikuti panggilan, bearti harus mengorbankan penantian yang tinggal selangkah lagi. Ah&#8230; suatu pilihan yang sulit sekali, antara idealisme dan rindu.</p>
<p>
“Ya, udah deh. Aku sholat aja dulu”, ujarnya mengalah pada panggilan sholat dengan lesu. “Yah.. Kuharap SMP belum bubar setelah aku selesai sholat”</p>
<p><b>Bersambung lagi </b></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritakecil.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritakecil.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritakecil.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritakecil.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ceritakecil.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ceritakecil.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ceritakecil.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ceritakecil.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritakecil.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritakecil.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritakecil.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritakecil.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritakecil.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritakecil.wordpress.com/154/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritakecil.wordpress.com&amp;blog=3893095&amp;post=154&amp;subd=ceritakecil&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/12/13/154/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cd1063d1f8533dd0b2b9aa44615a508c?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Syaifi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sulaiman Jatuh Cinta (#1)</title>
		<link>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/12/10/sulaiman-jatuh-cinta-bag-1/</link>
		<comments>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/12/10/sulaiman-jatuh-cinta-bag-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Dec 2008 07:39:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syaifi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Bersambung]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[SMA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritakecil.wordpress.com/?p=146</guid>
		<description><![CDATA[Pertemuan Pertama Senja memerah, angin sejuk menerpa menjadikan suasana penuh kedamaian, hingga ketenangan pun menyelimuti hati orang – orang yang sedang duduk santai menanti magrib tiba. Suara ramai cicit anak ayam yang mengikuti induknya ke kandang mengalun indah di sore itu. Tawa canda anak – anak yang kembali segar, menyiapkan diri untuk mengaji di masjid. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritakecil.wordpress.com&amp;blog=3893095&amp;post=146&amp;subd=ceritakecil&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertemuan Pertama</strong></p>
<p>Senja memerah, angin sejuk menerpa menjadikan suasana penuh kedamaian, hingga ketenangan pun menyelimuti hati orang – orang yang sedang duduk santai menanti magrib tiba. Suara ramai cicit anak ayam yang mengikuti induknya ke kandang mengalun indah di sore itu. Tawa canda anak – anak yang kembali segar, menyiapkan diri untuk mengaji di masjid. Ah.. masa kanak-kanak memang masa yang tidak mengenal beban kecuali kesenangan.</p>
<p>Di suasana sore seperti ini, tegil pabrik es – begitu orang menyebutnya – ramai dengan anak-anak SMA yang tertatih mengayuh sepeda di tanjakan curam itu. Kadang-kadang ada yang terpaksa turun dan menarik sepedanya hingga tanjakan habis, tentu sambil bercanda dengan kawan-kawan satu sekolah. Tak sedikit pula anak-anak SMA yang mengendarai motor lalu lalang sambil menggoda gadis – gadis belia yang tengah kesusahan. Berharap salah satu dari mereka ada yang mengajaknya bercengkrama dan bercanda.</p>
<p>Beberapa meter dari jalan raya menanjak itu, ada sebuah rumah sederhana berwarna putih kusam dimakan cuaca dengan cat yang telah terkelupas di sana-sini. Rumah itu memiliki teras yang luas hingga sering digunakan untuk bersantai keluarga atau arena bermain bagi anak-anak. Kadang-kadang digunakan untuk pertemuan kecil warga sekitar. Dipinggir teras itu berdiri batas yang dibuat dari beton setinggi pinggang orang dewasa yang diatasnya dibuat sedemikian rupa supaya dapat diduduki.</p>
<p>Sulaiman – temanku &#8211; tinggal di rumah sederhana berteras luas itu. Di sore indah seperti ini, biasanya dia sudah mulai menyiapkan diri untuk ke mesjid jami&#8217; yang letaknya memang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Sulai – panggilan keren Sulaiman- salah seorang yang aktif di kegiatan remaja mesjid terbesar di kota Tanjungpandan itu, yang diresmikan oleh Pak Sudarsono saat menjabat wakil presiden. Berbekal ajaran yand didapat di pengajian mesjid, Sulai acapkali berceramah di depan kami, hingga aku merasa Sulai melebihi usia yang seharusnya dia miliki. Dengan bakat juara pidato ketika masih SMP, sulai memang seorang orator yang unggul di antara kami semua, yah.. cocok jadi seorang politikus atau ustadz.</p>
<p>Sore ini, Sulai mengenakan baju muslim hijau kusam karena sering dipakai dengan peci hitam kecoklatan kebanggaan di kepalanya. Kesegaran sore terpancar di wajahnya yang tampak selalu tersenyum sore yang sejuk ini. Beberapa kali dia mencoba memperindah kumis tipis yang hanya mengandung beberapa lembar bulu dengan menarik-nariknya ke arah mulutnya dan sesekali di sisir jenggotnya yang hanya selembar itu, berharap tumbuh banyak seperti jenggot Oma Irama penyanyi kesayangannya. Rambutnya yang ikal hitam tertutup oleh peci kusam kecoklatan, menambah kesan sifat kesalehan yang dimiliki oleh Sulai, mirip seperti film si Pitung atau Jaka Sembung. Kembali Sulai tersenyum puas sendiri, menatap dirinya di cermin. “Aku memang Oke juga”, katanya memuji dirinya sendiri.</p>
<p>“Permisi&#8230;”, sebuah suara merdu memecah konsentrasi Sulai saat mengagumi dirinya sendiri. “Ah.. selalu saja ada yang mengganggu. Waktu sudah menuju magrib seperti ini, masih ada saja tamu yang berkunjung. Apakah mereka tidak mengerti bahwa kita semua harus sholat saat magrib tiba? Yang sering lupa waktu seperti ini biasanya adalah teman-teman Deddy!”, gerutu Sulai dalam hati sambil melangkah ke arah pintu. Deddy adalah adik laki-laki Sulai yang sekolah kini duduk di SMP kelas 3.</p>
<p>“Maaf bang&#8230; Deddy ada?”, suara manis itu kembali mengisi telinga Sulai. Namun kali ini suara itu menjadi lebih merdu daripada kicau burung di pagi hari dan lebih merdu dari gemercik air di gunung tajam, bahkan lebih sejuk daripada angin sore ini. Sesosok gadis cantik yang mungil sedang memegang sepedanya, sambil menarik nafas kelelahan karena harus mengayuh melawan tanjakan.</p>
<p>Sulai terpana, dan merasakan adanya sesuatu yang ingin segera meloncat dari dadanya. Matanya tak bisa lepas dari gadis berwajah bidadari yang berdiri kelelahan di depannya.  Dengan rambut hitam sebahu, kulit putih dan mata jernih bercahaya bagai mata bayi. Bibir mungil dihiasi dengan gigi-gigi putih berderet rapi seperti untaian mutiara. Hidungnya bangir menyempurnakan seluruh sosok cantik di depan rumahnya.</p>
<p>“Bidadari ternyata memang ada”, batin Sulai.</p>
<p>“Bang?&#8230; Deddy ada di rumah”, suara sehalus sutera kembali meluncur dari bibir mungil di depannya. Sulai tersadar dari lamunannya dan dia melepas peci yang baru saja dikenakannya. Dia tidak ingin gadis di depannya ini menganggapnya seumur dengan ayahnya. Lagipula peci itu sudah kusam sehingga akan memperburuk penampilannya.</p>
<p>“Oh&#8230;. mm&#8230; Ada”, ujar Sulai gagap. “Tunggu sebentar ya, Deddy lagi di kamar mandi”.</p>
<p>“Baik bang”</p>
<p>“Mari masuk”, Sulai mempersilakan sang dewi untuk masuk dan duduk di kursi teras.</p>
<p>“Terima kasih” gadis itu melangkah masuk ke teras setelah terlebih dahulu menambatkan sepedanya. Dengan gugup Sulai masuk dan menuju kamar Deddy.</p>
<p>“Ded!”, panggil Sulai pelan, saat melihat adiknya Deddy baru saja berganti pakaian. Deddy menoleh. “Ada cewek tuch diluar nyari kamu. Cakep banget Ded!. Kalo ada temen cakap, bagi-bagi donk”</p>
<p>Deddy melangkah ke arah jendela dan mengintip dari jendela,“Oh.. cewek itu namanya Melati”, ujarnya.  Namanya sesuai dengan keindahan melati yang mungil dan putih, pikir Sulai. “Ntar aku kenalin deh”. Deddy segera masuk ke dalam kamarnya, dan Sulai segera keluar tanpa menunggu Deddy.</p>
<p>“Tu..Tunggu bentar ya”, ujar Sulai segera mengambil duduk. “Saya Sulaiman, abangnya Deddy. Panggil saja Sulai”, ujarnya sambil mengulurkan tangan, tanpa menunggu ijin dari Deddy. Tak peduli dengan Wudlu yang akan batal jika menyentuh wanita. Ah Wudlu bisa diambil lagi saat mau sholat sedangkan kesempatan bersalaman dengan cewek cakep seperti yang di depannya ini sangat langka. Semoga Tuhan mengampuninya atas kelancangannya saat ini.</p>
<p>“Melati”, sang bidadari pun mengulurkan tangannya. Dengan segera Sulai menyalaminya dan merasakan kehalusan tangan seorang gadis belia. Diresapinya kehalusan kulit itu dan kini Sulai tenggelam ke dalam ketenangan jiwa yang selama ini selalu dicarinya.  Segera Melati menarik tangannya, wajahnya memerah malu.</p>
<p>“Sekelas sama Deddy ya?”, tanya Sulai sekenanya. Dia sudah tahu jawabannya, tapi yang penting saat ini dia harus mulai membuka pembicaraan. Bagaimanapun komunikasi awal dari hubungan yang lebih jauh.</p>
<p>“Iya. Bang Sulai di SMA Negeri ya? Deddy sedikit cerita”, ujar Melati.</p>
<p>“Sialan! Deddy udah cerita apa saja? Jangan-jangan dia cerita yang bukan – bukan tentang Aku”, kembali Sulai berbicara dalam harinya.</p>
<p>“Ya. Abang di SMA Negeri kebetulan sekarang masuk kelas <em>Fisik</em>”, kata Sulai dengan menekankan kata Fisik. Memang di kelas Fisik berkumpul orang-orang yang pintar walaupun tidak semuanya. Paling tidak bagi orang umum, Kelas Fisik adalah kumpulan orang-orang yang memiliki otak cemerlang. Mudah – mudahan Melati mengetahui hal itu.</p>
<p>“Kalo begitu, sekelas dengan Bang Awet donk”, ujar Melati menarik kesimpulan. Awet! Memang nama itu sudah menjadi legenda di kalangan civitas SMP satu, padahal sudah hampir dua tahun mereka tidak lagi sekolah di SMP itu, sisa-sisa kejayaannya masih saja dikenang. Jangan-jangan Awet&#8230;</p>
<p>“Ya!. Dia temen baik abang di SMA”, Sulai berusaha membuang jauh pikiran buruk itu dan berusaha memanfaatkan situasi yang ada. “Kayaknya kamu baru di sini ya?”</p>
<p>“Iya bang”, ujar Melati. “Kami baru saja pindah ke sini. Biasalah Ayah kerjaannya pindah-pindah terus”</p>
<p>“Oh.. begitu. Enak donk ya, bisa mengenal daerah – daerah yang ada”, ujar Sulai berusaha menangkap pembicaraan biar nyambung. “Kalau dia masih baru di sini, berarti dia belum punya cowok donk. hm.. masih ada kesempatan nih, sebelum di ambil si Awet atau si Deddy. Tidak terbayang kalau Melati jadian dengan Deddy, Aku cuma bisa gigit jari sambil menangis menyesali diri”</p>
<p>“Nggak jugalah bang. Kalo kita sering pindah-pindah begini, mata pelajaran seringkali ketinggalan. Apalagi kita susah mendapatkan teman baik atau sahabat”</p>
<p>“Iya juga sih. Tapi kita lihat sisi baiknya saja. Kalau begitu, sebentar lagi ujian donk ya”</p>
<p>“Begitulah kira-kira. Makanya Melati mau pinjem catetan sama Deddy, biar nggak ketinggalan dan mampu ngerjain soal ujian nanti”</p>
<p>“Bang Sulai bisa membantu kalo Melati mau”, ujar Sulai mencoba memancing lebih jauh. Yang namanya usaha harus dilaksanakan segera sebelum diambil orang lain. Sulai tidak mau mengulang kesalahan yang sama ketika dia naksir Netty dulu, hingga sempat merana sebulan penuh dengan menyanyikan lagu &#8216;dunia masih berputar&#8217; hanya untuk menghibur dan menyadarkan dirinya bahwa dunia itu masih berrotasi.</p>
<p>“Ah.. bang Sulai baik sekali”, ujar Melati. Sulai merasa sangat tersanjung hingga hidung berserta bulunya melambai-lambai karena bangga. “Tapi.. terima kasih deh Bang. Melati tidak mau merepotkan”. Bulu hidung yang berkibar kembali melemah mendengar penolakan halus itu.</p>
<p>“Ah.. nggak juga koq. Tapi&#8230; oke deh. Bang Sulai siap membantu kapan saja Melati mau. Lagipula abang Sulai sudah SMA kelas dua, mungkin bisa membantu lebih banyak dibandingkan dengan kawan-kawan sekelas Melati”, Sulai berusaha main halus supaya tidak ketara bahwa dia sangat menyukai gadis di depan matanya ini. Cewek biasanya tidak suka kalau cowok main terlalu kasar. Dan niat membantu menjadi alasan yang tepat untuk saat ini.</p>
<p>“Terima kasih banyak deh bang Sulai”, ujar Melati. “Nanti kalau Melati butuh bantuan abang, Melati akan titip pesan ke Deddy”</p>
<p>“Ini abangku Mel”, ujar Deddy tiba-tiba, dia membawa sebuah buku tulis. “Sialan!, aku belum apa-apa sudah main potong aja si Deddy” gumam Sulai.</p>
<p>“Udah kenal kan?”, tambah Deddy.</p>
<p>“Ya! Barusan saja”, Melati bangun dari tempat duduknya. “Jadi mana catatannya?”</p>
<p>“Nih!”, Deddy menyerahkan catatannya yang disambut antusias oleh Melati. “Catatan ini dulu ya!. Yang lainnya nanti aja, pas di sekolah”</p>
<p>“Thanks Ded”, ujar Melati. “Kalo gitu aku pulang dulu ya! Udah mau magrib nih”</p>
<p>“Iya&#8230;deh, mau dianter?”, ujar Deddy.</p>
<p>“Gak deh. Thanks atas bukunya. Aku balikin di kelas besok lusa ya?”</p>
<p>“Oke!”</p>
<p>“Bang Sulai Melati pamit dulu. Sampai jumpa lagi”, Melati melangkah ke luar teras dan mengambil sepedanya. Sulai mengikuti seluruh gerakan gemulai Melati tak melepaskan sedetikpun. Kata Pak Ustadz kalau memandang wanita cukup pada pandangan pertamanya saja, karena itu adalah rejeki. Kalau yang kedua sudah berupa nafsu. Karena itulah Sulai tidak pernah melepaskan pandangan pertamanya, setidaknya begitu.</p>
<p>Sulai masuk ke dalam rumah mengulang Wudlunya yang sudah batal karena bersalaman dengan Melati. Pikirannya berkecamuk dalam merasakan gejolak yang ada di hatinya.  Tidak pernah dia merasakan seperti  ini, jatuh cinta pada pandangan pertama. Perjumpaan pertama ini telah meyisakan kesan yang dalam yang patut dipertahankan. Wajah Melati dengan mata bagai bayi dan gigi berderet rapi masih terbayang hingga Adzan magrib memanggil.</p>
<p>“Melati&#8230;”, sekali lagi Sulai berucap dengan kata dan pandangan kosong.</p>
<p><strong>Bersambung&#8230;</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritakecil.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritakecil.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritakecil.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritakecil.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ceritakecil.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ceritakecil.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ceritakecil.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ceritakecil.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritakecil.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritakecil.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritakecil.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritakecil.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritakecil.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritakecil.wordpress.com/146/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritakecil.wordpress.com&amp;blog=3893095&amp;post=146&amp;subd=ceritakecil&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/12/10/sulaiman-jatuh-cinta-bag-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cd1063d1f8533dd0b2b9aa44615a508c?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Syaifi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Adi dan Ayu (#9)</title>
		<link>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/08/18/kisah-adi-dan-ayu-bag-9/</link>
		<comments>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/08/18/kisah-adi-dan-ayu-bag-9/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Aug 2008 17:03:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syaifi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritakecil.wordpress.com/?p=142</guid>
		<description><![CDATA[Malam yang dinanti oleh seluruh komunitas roh gentayangan tawanan Romo akhirnya tiba. Langit berawan sedikit sehingga diperlukan upaya keras untuk mengumpulkannya dan membuat hujan lebat. Hal tersebut juga menguntungkan, karena para penghuni kerajaan gaib bisa meramal keadaan cuaca secara alami, persis seperti hewan-hewan yang mampu mendeteksi kebakaran di hutan. Jika mereka merasakan hal akan turunnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritakecil.wordpress.com&amp;blog=3893095&amp;post=142&amp;subd=ceritakecil&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Malam yang dinanti oleh seluruh komunitas roh gentayangan tawanan Romo akhirnya tiba. Langit berawan sedikit sehingga diperlukan upaya keras untuk mengumpulkannya dan membuat hujan lebat. Hal tersebut juga menguntungkan, karena para penghuni kerajaan gaib bisa meramal keadaan cuaca secara alami, persis seperti hewan-hewan yang mampu mendeteksi kebakaran di hutan. Jika mereka merasakan hal akan turunnya hujan, mereka tidak akan mengadakan pesta malam ini, dan rencana para roh akan tertunda.</p>
<p>Menurut Adi, perjuangan roh manusia melawan Jin seharusnya telah dilakukan sejak dulu. Mereka memiliki kelebihan dibandingkan dengan pasukan Romo Suryo. Pembangkangan manusia akan melemahkan posisi Romo di mata Jin lainnya, karena Romo Suryo mendapatkan kekuatan dari roh manusia yang takut padanya dan rela menyembahnya, sedangkan manusia hidup masih menghamba pada Jin lain selain Romo. Bagi manusia yang masih hidup Romo hanyalah salah satu Dewa yang memiliki kedudukan yang sama dengan Dewa lainnya.</p>
<p>“Tawa bahagia roh gentayangan akan kebebasan mereka juga akan melemahkan para pemangsa roh yang kekuatannya di dapat dari kemarahan manusia. Dalam pemberontakan ini, para tawanan tidak boleh membenci dan mengungkapkan emosi”, kata Adi. Dia menyadari hal ini sangatlah sulit, setelah bertahun – tahun mereka disiksa menggunakan cambuk api yang menyala oleh para pemangsa roh.</p>
<p>Semua roh manusia telah terkumpul seperti malam-malam sebelumnya. Jiwa – jiwa yang baru ditangkap dan enggan menghamba kembali dipertontonkan oleh Romo. Mereka akan menerima cambukan pembukaan yang sangat dinanti oleh para penduduk tanah gaib ini. Sedangkan ratusan jiwa lainnya dengan harap-harap cemas menanti cambukan yang mereka rasakan setiap malam. Hanya sebagian kecil roh yang menyadari bahwa malam ini adalah malam yang bersejaran bagi mereka, malam yang mereka nanti selama bertahun – tahun. Sementara itu roh tawanan yang sadar akan hal ini, menanti cemas kuatir akan terjadinya kegagalan mereka. Tetapi Adi mengatakan, setiap perjuangan mesti diawali dengan usaha.</p>
<p>Kini para roh mulai menunggu aba-aba Romo. Adi mengatakan ketika Romo mengatakan aba-aba itu, mereka akan memulai pemberontakan, diawali dengan pengumpulan kabut yang ada disekitar mereka dan memadamkan belenggu rantai api yang ada ditangan mereka secara sembunyi – sembunyi dan pelan-pelan agar perubahan tidak terasa oleh para jin.</p>
<p>“MULAI!”, dengan suara yang menggelegar Romo memberikan aba-aba. Jiwa – jiwa yang terikat  mulai terlihat ngeri dan meringis menanti siksaan.</p>
<p>“Splash&#8230;”, satu persatu pukulan cambuk menyalak dijawab dengan lolongan sedih dan panjang dari jiwa yang tak berdosa dan kemudian disambut dengan sorak sorai suka cita para penduduk negeri gaib.<br />
Di sela sorak sorai itu, dengan pelan para tahanan mulai mengumpulkan uap air dan membasahi rantai api hingga padam. Hal itu kemudian diikuti oleh beberapa roh lainnya, dan mereka rupanya tahu diri untuk tidak melakukan tindakan bodoh. Akhirnya sebagian besar roh telah bebas tanpa disadari oleh para jin yang sedang berpesta pora.</p>
<p>Roh yang telah terbebas dari rantai api, kini makin giat mengumpulkan kabut dan membuat suhu bertambah dingin. Para jin dan pengikutnya mulai gelisah akan perubahan cuaca yang secara tiba-tiba ini. Mereka tahu Romo Suryo tidak akan gegabah menyelenggarakan pesta di hari hujan dan itu sedikit menenangkan mereka.</p>
<p>Tak berapa lama kemudian di sekeliling mereka telah berkumpul kabut yang sangat tebal. Romo mulai menyadari apa yang terjadi. Dia memanggil beberapa anak buahnya untuk memperbesar kobaran api di beberapa tempat untuk mengusir kabut. Tetapi hal itu tidak berhasil. Roh yang mendapat instruksi untuk menguasai awan kini terbang ke atas dan mengumpulkan awan guna menurunkan hujan. Kepanikan melanda kerajaan jin. Sebagian besar tidak bisa melewati kabut yang padat dan dingin ini, mereka memilih menunggu hingga kabut menipis. Suara – suara pesta pora kini berubah menjadi suara jeritan takut para jin dan pemangsa roh. Bahkan suara cambuk api pun tidak terdengar lagi.</p>
<p>“Rakyat kerajaan gaib, harap tenang. Keadaan yang tidak terkendalikan ini akan segera berakhir dan kita akan melanjutkan pesta kita”, Romo berusaha menenangkan mereka, tetapi hal itu sia – sia belaka. Penduduk menjerit panik. Beberapa diantara mereka bahkan saling bertengkar dan membuat keributan sendiri.</p>
<p>Tetes – tetes air hujan mulai turun.  Kepanikan berubah menjadi kekacauan yang tidak terbayangkan. Para jin berlarian mencari perlindungan dengan pandangan yang terbatas. Mereka tabrakan satu sama lain yang berakhir dengan pertengkaran dan bentrok. Makin lama – tetes hujan semakin besar, tanda hujan akan lebat.</p>
<p>Romo yang duduk di pendopo mulai merasakan lemah. Dia sadar bahwa para tawanan telah menentangnya dan itu merupakan pertanda yang tidak baik. Untung dia masih di atas kerajaannya sehingga terlindung dari kabut dan air yang menjadi kelemahan mereka. Adi melihat kesempatan itu dan mulai mendekati Romo.</p>
<p>Sementara itu, tawa bahagia sang tawanan mulai terdengar membahana membelah hujan yang deras. Penduduk tanah gaib mulai tersungkur satu persatu di tanah yang basah. Beberapa dari mereka tertembus oleh bongkahan es yang dibuat oleh roh gentayangan dan menjadikannya seperti sebuah panah atau peluru. Kematian telah menjemput mereka. Para pemangsa roh yang lemah tidak bisa berbuat banyak dan menerima kematian mereka dengan mata yang tidak percaya.</p>
<p>“Kerajaanmu sudah musnah hai Raja Jin”, ujar Adi menahan. “Kini hanya dirimu yang tersisa mengais kejayaan yang tertinggal”</p>
<p>Ayu, Nyai, Martuani, Umar dan beberapa roh lainnya mendekat di belakang, melihat Romo sang raja jin mulai tua dan terbatuk – batuk tak berdaya ditinggal oleh para ponggawa.</p>
<p>“Aku belum kalah. Akan kubangun kembali kerajaanku dan kembali menggoda dan menyiksa manusia agar tersesat dan sudi menjadi pasukanku”, ujar Romo.</p>
<p>“Tetapi kami kini telah menang, dan sampai kapanpun manusia akan selalu menang”, kata Adi dengan senyum kemenangan. “Kami tidak akan membunuhmu, kami akan pergi”</p>
<p>“Sebelum pergi, terimalah pembalasanku!”, ujar Romo mengeluarkan api besar dari tangannya, Adi mengelak dengan cepat.</p>
<p>“Ahhh&#8230;”, Ayu menjerit keras dan terjatuh. Dadanya terbakar akibat api dari Romo. Tiba-tiba bongkahan es berbentuk anak panah mengenai tubuh Romo yang renta. Romo mati seketika.</p>
<p>“Ayuuuuuu!”, Adi mendekati Ayu dengan hati pedih. “Maafkan mas”. Dengan segera diambil air dan diusapkan di dada sang kekasih, tetapi hasilnya tidak memuaskan. Adi melolong sedih. Perlahan Ayu membuka mata dan berkata lemah, “Mas kita berhasil. Kini bawa Ayu pulang, Ayu masih ingin hidup. Maafkan Ayu tidak bisa mendampingimu”</p>
<p>Adi menangis sedih dan langsung terbang tinggi meninggalkan kerajaan gaib sambil membawa Ayu di tangannya. Dia memandang kekasihnya yang lemah sambil mengeluarkan air mata yang tak terbendung. Ayu tersenyum bahagia. Mereka menjauh hingga kerajaan gaib tidak tampak lagi.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;</p>
<p>Atas bantuan Martuani dan Umar yang menyusul kemudian Adi dan Ayu tiba di rumah sakit Otorita Batam. Malam sudah larut, terlihat Arini masih sabar menanti jazad Ayu yang terbaring lemah dengan luka yang sudah mengering.</p>
<p>“Apa yang terjadi dengan Ayu Di?”, tanya Arini cemas.</p>
<p>“Nanti akan aku ceritakan Ar”, jawab Adi. “Yang penting, Ayu kini harus disatukan dengan tubuh kasarnya. Dia masih ingin hidup”</p>
<p>Dengan hati-hati Ayu dibaringkan di dekat jazadnya. Adi memandang Ayu dengan penuh cinta, tetapi dia harus rela berpisah dan berkorban demi masa depan Ayu yang masih panjang. Dia sudah mati dan saatnya bagi Adi mati dengan tenang, tanpa memikirkan Ayu lagi. Melupakan Ayu adalah hal yang terbaik yang harus dilakukannya. Adi meneteskan air mata perpisahan.</p>
<p>“Aku mencintai kamu sayang. Kutunggu engkau di pintu akhirat”</p>
<p>“Mas Adi sayang. Ayu juga mencintai Mas Adi. Perpisahan ini harus kita jalani. Ayu tidak ingin Mas Adi memikirkan Ayu lagi. Setelah ini, dunia kita berbeda dan tidak ada satupun yang akan mempertemukan kita&#8217;, Ayu berkata lemah dan sedih. “Kepergian Mas Adi akan Ayu relakan, demikian juga kepergian Ayu harus Mas Adi relakan. Tidak baik Mas Adi bergentayangan seperti ini&#8217;.</p>
<p>Adi mengangguk menahan air mata. Arini haru dan Martuani terlihat sedih akan perpisahan ini. Ayu memandang mereka satu persatu. “Aku tidak akan melupakan kalian”, katanya. “Arini, akan kucari jawaban orang tuamu, terima kasih telah menjaga jazadku”</p>
<p>Ayu menoleh kepada Martuani dan Umar. “Pertemuan singkat kita penuh dengan kenangan yang tidak dapat kulupakan. Terima kasih pada kalian berdua Martuani dan Umar. Maafkan kami berdua jika ada hal yang tidak mengenakkan hati”</p>
<p>Martuani dan Umar mengangguk. Perkenalan singkat mereka telah membawa mereka ke dalam kisah yang tidak mungkin dapat dilupakan. Walaupun diawali dengan niat yang buruk, tetapi toh akhir yang baik telah dicapai.</p>
<p>“Mas, Ayu pulang”, itulah kata-kata terakhir Ayu sebelum menyatu dengan jazadnya. Adi tersenyum sedih. Kini dia sendiri menanti hari akhir tiba. Sudah saatnya dia juga pulang.</p>
<p>“Selamat tinggal sayangku”</p>
<p style="text-align:center;">- Selesai -</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ceritakecil.wordpress.com/142/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ceritakecil.wordpress.com/142/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritakecil.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritakecil.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritakecil.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritakecil.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ceritakecil.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ceritakecil.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ceritakecil.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ceritakecil.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritakecil.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritakecil.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritakecil.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritakecil.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritakecil.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritakecil.wordpress.com/142/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritakecil.wordpress.com&amp;blog=3893095&amp;post=142&amp;subd=ceritakecil&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/08/18/kisah-adi-dan-ayu-bag-9/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cd1063d1f8533dd0b2b9aa44615a508c?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Syaifi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Adi dan Ayu (#8)</title>
		<link>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/08/12/kisah-adi-dan-ayu-bag-8/</link>
		<comments>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/08/12/kisah-adi-dan-ayu-bag-8/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Aug 2008 10:22:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syaifi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritakecil.wordpress.com/?p=138</guid>
		<description><![CDATA[Tiba – tiba mereka berlima telah berada di suatu tempat yang luas dan dipenuhi dengan orang – orang yang sedang berkumpul seperti menonton suatu acara. Bau kemenyan dan wangi dupa menyatu dengan bau bangkai yang busuk dan wangi hutan yang dingin. Cahaya obor terang benderang menerangi lapangan. Adi memandang pada teman-temannya satu persatu, terutama Ayu. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritakecil.wordpress.com&amp;blog=3893095&amp;post=138&amp;subd=ceritakecil&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tiba – tiba mereka berlima telah berada di suatu tempat yang luas dan dipenuhi dengan orang – orang yang sedang berkumpul seperti menonton suatu acara. Bau kemenyan dan wangi dupa menyatu dengan bau bangkai yang busuk dan wangi hutan yang dingin. Cahaya obor terang benderang menerangi lapangan. Adi memandang pada teman-temannya satu persatu, terutama Ayu. Suara sorak – sorai para penghuni dunia gaib mengisi malam. </p>
<p>
Ayu memandang Adi dengan penuh cinta dan kengerian karena tidak tahu apa yang akan terjadi. Dengan mata dia berbicara meminta perlindungan dan dukungan, tetapi Adi merasa tak berdaya karena dia juga tak tahu apa – apa. Rasa sesal terlihat jelas pada wajah dan matanya. Bagi Ayu walau kesusahan yang mereka hadapi kini tidak berujung, masih tidak sebanding dengan suka cita berdampingan dengan sang kekasih hati, dan itu cukup membuatnya sedikit tenang.</p>
<p>
Ayu menoleh ke arah seorang wanita yang cantik, muda dan segar yang diyakininya adalah Nyai. Ayu bertanya – tanya mengapa penampilan Nyai jauh berbeda dengan seseorang yang dia jumpai tadi pagi, seolah – olah dua orang yang berbeda.  Wajah tua renta dan beruban kini berubah menjadi muda dan cantik. </p>
<p>
Selanjutnya Ayu menoleh melihat seorang lelaki yang baru dikenalnya – Umar. Dia adalah seorang lelaki yang tegap, berkulit putih lebih dan rambut sedikit ikal dan berwarna coklat tua, perawakannya yang lebih pendek daripada abangnya Martuani membuatnya seperti orang kerdil.</p>
<p>
Sementara itu Martuani hanya bisa tertunduk lesu dan tidak berani memandang Adi dan Ayu. Rasa bersalah menggerogoti hatinya kini, dan dia tidak peduli apapun yang akan terjadi pada dirinya. Bagaimanapun dia telah gagal melaksanakan tugas yang diberikan Romo. Dan dia bisa mengerti jika Adi akan membencinya sampai kapanpun jua. </p>
<p>
Beberapa makhluk Pemangsa Roh datang dan memisahkan mereka masing – masing. Nyai dibawa menjauh dan dikumpulkan dengan roh tawanan lainnya, sedangkan mereka berempat masing-masing dibawa ke sebuah batu yang besar yang bentuknya seperti batu persembahan orang-orang primitif, yang permukaannya datar. Kemudian mereka dibaringkan di atas batu dan diikat menggunakan rantai berbahan inti api yang panas. Jeritan tawanan saat diikat terdengar memilukan mengisi malam. Kini wajah mereka berempat menyiratkan kengerian dan ketakutan yang amat mendalam.</p>
<p>
Adi merasa berdosa membiarkan hal ini terjadi pada Ayu. Tidak pernah sama sekali terlintas di benaknya jika harus membuat Ayu tersiksa begini. Gadis secantik Ayu tidak tepat jika menderita, dan Adi rela mengorbankan apapun juga demi Ayu, tetapi sayang pengorbanan yang diminta oleh Romo terlalu mahal. “Maafkan aku sayang”, adi berbisik sendiri. “Tahan sayang, kita akan mencari cara agar bisa terbebas dari belenggu ini” </p>
<p>
Hingga beberapa saat waktu serasa berhenti. Penantian mereka terasa lama, dan ikatan rantai di kaki dan tangan mereka semakin menyiksa. Ayu terlihat meringis dan mengigit bibirnya, sementara Umar dan Martuani mulai menjerit kesakitan, minta pengampunan yang tidak mungkin diberikan. Adi merasa kasihan melihat mereka berdua. Memang Martuani mencoba menjebaknya, tetapi bagaimanapun juga banyak membantu. Lagipula hukuman ini mereka jalankan bersama-sama. Semoga tersedia waktu untuk bermaafan. </p>
<p>
Satu makhluk berbadan tegap berwajah banteng lengkap dengan tanduk kekar di kepalanya berdiri di atas sebuah panggung dekat pendopo istana yang letaknya cukup jauh dari batu persembahan. Matanya merah menyala dan tentakel yang tidak pernah diam, sesekali dia mendengus dan mengeluarkan api dari hidungnya. Dia mengangkat tangannya, dan serentak seluruh pesta berhenti yang ada hanyalah keheningan menunggu apa yang akan dikatakan oleh Sang Pemimpin.</p>
<p>
“Wahai penghuni kerajaan gaib”, makhluk itu mulai angkat suara. Adi mengenali benar suara itu, suara yang sempat beridalog dengannya ketika dia meminta pertolongan Romo. Dia ingat ciri – ciri Romo seperti yang diceritakan oleh Martuani dan kesemuanya persis seperti yang dilihatnya di atas panggung kecil itu. </p>
<p>
“Malam ini, kita akan menikmati daging manusia yang masih segar”, ujar Romo yang disambut sorak-sorai suka cita para penghuni kerajaan gaib ini. “Lolongan mereka akan menjadi santapan utama dan jeritan akan menjadi lauknya”, Romo mengangkat tangannya kembali sambil mendengus sejenak. “Kita membutuhkan pengakuan manusia agar mengakui bahwa kita lebih baik dalam mengelola dunia, dan kita sadari selama ini manusia selalu menolak dan menganggap kita adalah makhluk – makhluk yang membawa kepada kesesatan”, Romo diam sejenak melihat reaksi rakyatnya. “Kita akan memberikan pelajaran bagaimana kesesatan itu. SEKARANG!” </p>
<p>
Suara hiruk – pikuk dan sorak tanda setuju menghiasi malam yang diterangi cahaya obor dari patung – patung raksasa berperut buncit dan mata melotot. Makin malam, cahaya obor semakin terang.</p>
<p>
“Dan sekarang, silakan nikmati raungan derita anak manusia hina ini, hingga mereka mengakui kita – penghuni kerajaan gaib – sebagai pemenang yang wajib menjadi junjungan mereka”</p>
<p>
Romo turun dari panggung dan kembali ke kursi kebesarannya. Tingkahnya bagai seorang raja yang bijaksana dan berwibawa. Para Pemangsa Roh mengambil tempat di dekat batu persembahan dengan cambuk api di tangan. Ayu bergidik ngeri membayangkan apa yang akan diterimanya. Dia belum pernah dipukul oleh Ayah selama hidup, sementara ini, dia harus menghadapi lecutan cambuk api yang dia yakin rasanya jauh lebih sakit dibandingkan luka terkena pisau. Adi memandang Ayu dan berusaha menenangkannya tetapi tidak berhasil. Dia lebih mengkhawatirkan Ayu dibandingkan dirinya sendiri dan bersumpah akan mencoba mencari cara agar keluar dari belenggu Romo Suryo. Belum saatnya Ayu menghadapi kematian, dan Adi akan mewujudkan hal itu. </p>
<p>
“MULAI!”</p>
<p>
“Splash&#8230;&#8230;..!”, suara cambuk api dipukulkan ke para tahanan.</p>
<p>
“AAHHHHH&#8230;&#8230;&#8230;”, suara jeritan pilu setiap tawanan mengisi malam yang diterangi obor. Sorak – sorak kemenangan membahana ke seluruh negeri. </p>
<p>
“Splash&#8230;&#8230;&#8230;”</p>
<p>
“AHHH&#8230;&#8230;”</p>
<p>
Pasangan suara itu selalu diakhiri dengan sorakan kemenangan para penghuni kerajaan gaib. Adi melihat Romo tersenyum mengejek ke arahnya. Dendam Adi semakin mengental, dan dia akan mencari jalan untuk membalasnya. Bukan hanya terhadap Romo, tetapi semua komunitas kerajaan gaib yang telah menyiksa mereka, manusia memiliki kedudukan lebih tinggi dari bangsa Jin, karena manusia memiliki kewajiban menjaga dan mengeloa dunia.</p>
<p>
“Splash&#8230;.AHHH&#8230;.Horeeee&#8230;.Lagi&#8230;.”, suara – suara itu bersahut – sahutan. Suara sorak – sorai penghuni kerajaan gaib penuh suka cita ditambah dengan kata – kata peghinaan yang tak senonoh membuat para tahanan tambah tersiksa. </p>
<p>
Wajah – wajah menderita para tawanan membuat mereka semakin tua. Rambut hitam kini telah menjadi putih, kulit kencang menjadi keriput seperti pakaian yang belum disetrika. Inilah makanan para pemangsa Roh, derita dan jeritan tangis para Roh, hingga tidak tersisa apapun juga.</p>
<p>
Selama setengah jam mereka disiksa dan selama itu pula mereka dihisap hingga ke tulang. Akhirnya mereka dilepaskan dari atas batu penyiksaan dan dikembalikan ke dalam kunjara yang berbau busuk bangkai. Kelegaan membuat rasa sakit tidak terasa. Mereka kini telah menjadi renta dan tidak bisa berbuat banyak lagi. Mungkinkah ini akhir penderitaan mereka?. </p>
<p>
“Maafkan Aku telah membuatmu tersiksa Adi”, ujar Martuani dengan suara tua dan lelah penuh dengan nada penyesalan yang mendalam. “Aku menyesal melibatkan kalian dengan permasalahan kami”
</p>
<p>
“Sudahlah Martuani, memang sudah nasib mempertemukan kita begini”, Adi tak percaya kata-kata itu keluar dari mulutnya. “Yang penting adalah bagaimana supaya kita bisa keluar dari penyiksaan Romo Suryo dan penduduk negeri gaib ini. Satu kali saja sudah cukup bagiku. Aku tidak kuat lagi, dan aku tidak ingin menjadi budaknya”</p>
<p>
“Kita tidak akan bisa keluar dari sini Di. Usia muda kita telah dihisap oleh para Pemangsa Roh, dan kini kita menanti saat – saat kita menjadi salah satu dari mereka”</p>
<p>
“Tidak harus seperti itu!”, ujar Ayu dengan nada yang lemah. “Tadi pagi, ketika aku berjumpa dengan Nyai, usianya sudah seperti ratusan tahun. Rambut beruban dan gigi ompong. Tetapi bisa kalian lihat sore tadi. Dia menjadi muda kembali”</p>
<p>
“Ya! Itu dia”, terdengar Adi dengan suara sedikit bersemangat. “Apakah yang menyebabkan Nyai kembali muda?”</p>
<p>
“Istirahat?”</p>
<p>
“Istirahat bisa jadi. Tetapi kita harus melihat kemungkinan adanya faktor lain yang membuatnya menjadi muda dalam satu hari saja”</p>
<p>
Mereka terdiam tidak tahu apa jawabannya. Di dalam sumur busuk ini, mereka merasa lebih segar dan bertenaga dibandingkan ketika mereka berada di luar sana. “Mungkinkah sumur in memiliki khasiat yang belum diketahui?”, guman Adi. “Udara dan kelembaban sumur ini memberikan nuansa energi yang menyegarkan bagi kami. Romo mengetahui hal ini, karenanya dia memenjarakan kami di sini”<br />
“Martuani!, Roh gentayangan lainnya di sekap dimana?”</p>
<p>
“Ada banyak tempat yang menjadi penjara bagi para Roh. Di sumur ini, di pohon kayu tua yang lembab dan bebebrapa lobang kecil, jumlah tahanannya hampir mencapai seribu. Dan setiap malam mereka dikumpulkan dan diberikan hadiah siksaan untuk memberikan kepuasan bagi para pemangsa Roh dan rakyat kerajaan gaib. Tujuan akhirnya adalah pengakuan manusia terhadap superioritas bangsa Jin”, ujar Martuani panjang.</p>
<p>
“Kalau begitu banyak tahanan, maka kita bisa bersatu melawan tirani yang ditebarkan oleh Romo”</p>
<p>
“Gimana cara kita menghubungi yang lainnya?”, tanya Martuani. “Masing – masing penjara diikat dengan suatu medan energi yang kuat hingga makhluk seperti kita tidak dapat menembus atau berkomunikasi dengan tawanan lainnya di luar sumur ini”</p>
<p>
Semuanya terdiam tenggelam dalam pikiran mereka masing – masing. Menerawang jauh mencoba mencari setitik keajaiban yang ada di luar sana. Kelelahan akibat siksaan kini telah hilang, tetapi kejenuhan mulai menghinggap. Martuani memilih untuk meringkuk di dekat dinding sumur yang berlumut dan Umar bermain – main dengan air yang diambilnya dari udara lembab, dan membentuknya menjadi berbagai benda, seperti balon, kuda – kudaan dan lain-lain.</p>
<p>
Adi menceburkan diri ke dalam air sumur yang tidak terlalu dalam. Rasanya sejuk dan menyegarkan menambah kekuatan yang telah dihisap oleh Pemangsa Roh. Ayu menyusul dan mereka akhirnya berenang berdua saja, berenang dan bersenang – senang sambil bercanda dan tertawa. Resah dan susah yang barusan mereka terima kini hilang sudah. </p>
<p>
Perlahan-lahan, Adi melihat perubahan pada penampilan Ayu. Rambutnya yang putih berubah menjadi hitam dan kulitnya yang keriput menjadi lebih kencang. Adi melihat tangannya, dan dengan sedikit – sedikit tangannya yang kurus dan renta kini berisi lagi. Adi sangat gembira dengan perubahan yang mereka dapatkan, kini dia terus bermain air dengan riang. </p>
<p>
“MARTUANI!”, panggilnya keras. “Turun!, kamu harus merasakan ini!”</p>
<p>
“Apaan Di?”, ujarnya tak kalah keras. Beberapa roh yang bergayut di bawah daun liar cemberut dengan wajah yang semakin tua. Martuani turun ke dasar sumur dan melihat Adi dengan penuh keheranan. Dengan penuh tawa dia menceburkan diri ke dalam air. Martuani mengumpulkan air dari udara dan menjatuhkannya ke dalam sumur hingga terkesan hujan turun rintik &#8211; rintik. </p>
<p>
“HEI!”, tiba-tiba Adi berteriak. Dia mendapat ide yang menurutnya cemerlang. Ayu dan Umar terdiam ingin mendengar apa yang dipikirkan oleh Adi. “Manusia terbuat dari lumpur yang mengandung tanah dan air. Kekuatan manusia juga bersandar pada kekuatan tanah dan air pula, karena itulah kita merasa segar di dalam air sumur ini. Air di dalam sumur ini mengandung mineral yang tinggi yang membuat kita manusia menjadi berenergi kembali”</p>
<p>
“Bagaimana dengan roh di tempat lain?”</p>
<p>
“Mereka mendapatkan kekuatan dari pohon dan kelembaban udara. Karena itulah mereka menjadi berenergi kembali ketika sore tiba dan energi itu dihisap oleh para pemangsa roh. Begitulah siklus yang terjadi”</p>
<p>
“Lalu?”</p>
<p>
“Mengacu pada asal kejadiannya, maka makhluk sebangsa Jin tercipta dari elemen Api. Untuk memadamkan api, maka dibutuhkan air dengan volume yang besar”</p>
<p>
“Bagaimana dengan Pemangsa Roh? Mereka membutuhkan jeritan dan lolongan kita untuk bertahan hidup”</p>
<p>
“Bukan jeritan dan lolongan yang dibutuhkan mereka, tetapi kemarahan dan emosi yang mereka cari. Emosi manusia membuat mereka merasakan adanya api di dalam diri manusia. Air bagaimanapun juga bisa membuat api menyala lebih besar, dan bisa pula membuat api padam seketika. Proses kemarahan dan emosi seolah – olah air menyalakan api”, ujar Adi. “Kita akan melawan mereka dengan memberikan air yang besar hingga membanjiri kerajaan ini. Manusia akan bertahan dan jin akan tenggelam. Tetapi tidak boleh ada dendam dan marah kepada makhluk itu, karena akan membuat mereka kembali kuat”, Adi kembali ke peraduannya.</p>
<p>
“Martuani!”, panggil Adi setelah mereka kembali ke sarang mereka. Kini Nyai telah bergabung kembali. Wajahnya telah muda kembali setelah mencoba menceburkan diri ke dalam air dangkal di dalam sumur ini, bersama mereka.</p>
<p>
“Ada apa Di”</p>
<p>
“Apakah setiap roh mampu mengendalikan air, walaupun dari udara?”</p>
<p>
“Ya. Kecuali udara yang sangat panas, karena kandungan airnya sangat sedikit”</p>
<p>
“Sepertinya besok malam kita akan bebas”, ujar Adi bersemangat. Dia bangkit dan kembali turun ke dasar sumur.</p>
<p>
“Wahai Roh manusia yang bergentayangan”, Adi berteriak lantang. “Telah tiba saatnya kita bebas dari cengkraman si Raja Jin. Kita lebih baik dari mereka semua” Suara berguman semangat terdengar di sana-sini. Tetapi tak sedikit pula yang mencemooh.</p>
<p>
“Kita tidak akan bisa bebas dari cengkraman bangsa Jin”, ujar salah satu roh. “Kami sudah mencoba beberapa kali dan selalu gagal”</p>
<p>
“Saya yakin kita akan berhasil jika besok kita bisa bersatu melawannya”, ujar Adi.</p>
<p>
“Caranya?”, ujar salah satu Roh yang berada di puncak sumur.</p>
<p>
“Bersama, kita akan menurunkan hujan yang lebat hingga membanjiri kerajaan Jin”, Adi berkata lantang. “Gunakan kemampuan khusus kalian”</p>
<p>
“Kemampuan seperti apa?”</p>
<p>
“Kemampuan mengendalikan air”, kata Adi. Beberapa Roh turun dari sarangnya, ingin mendengarkan lebih jelas. “Bersatulah dan gunakan kemampuan kalian dalam mengumpulkan elemen air dari udara. Jika kita bersama – sama mengumpulkan air dan melemparkan ke pasukan serta penduduk kerajaan gaib ini, saya yakin mereka akan ketakutan dan berlari tunggang langgang. Kekuatan api mereka akan segera hilang sebagaimana air memadamkan api dan kita akan menang”. Adi diam sejenak menunggu reaksi para penghuni sumur. “Bagaimana?”</p>
<p>
“Setuju!!!!”, sebuah suara lantang berteriak dan diikuti oleh suara lain yang meneriakkan perkataan yang sama. </p>
<p>
“Kini sudah saatnya kita menyusun strategi, saya meminta kalian semua turun dan kita akan memusyawarahkan strategi penyerangan, dan menyebarkan berita ini ke teman-teman yang berada di tempat lainnya”. Beberapa Roh gentayangan turun, dan mereka berembuk membuat strategi. Kini semua roh memiliki semangat baru, dan menanti hari esok dengan penuh percaya diri.</p>
<p>
“Semoga besok tidak terlalu panas dan tidak pula terlalu lembab, agar kita bisa bertindak dengan segera”, ujar Adi setelah bermusyawarah. “Mari kita laksanakan!”</p>
<p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ceritakecil.wordpress.com/138/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ceritakecil.wordpress.com/138/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritakecil.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritakecil.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritakecil.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritakecil.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ceritakecil.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ceritakecil.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ceritakecil.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ceritakecil.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritakecil.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritakecil.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritakecil.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritakecil.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritakecil.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritakecil.wordpress.com/138/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritakecil.wordpress.com&amp;blog=3893095&amp;post=138&amp;subd=ceritakecil&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/08/12/kisah-adi-dan-ayu-bag-8/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cd1063d1f8533dd0b2b9aa44615a508c?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Syaifi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Adi dan Ayu (#7)</title>
		<link>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/08/10/kisah-adi-dan-ayu-bag-7/</link>
		<comments>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/08/10/kisah-adi-dan-ayu-bag-7/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Aug 2008 03:41:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syaifi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritakecil.wordpress.com/?p=123</guid>
		<description><![CDATA[“Apa maksud dan tujuan engkau kemari?” “Saya momohon dengan hormat, sudilah kiranya Romo menolong saya membebaskan kekasih saya Ayu yang diculik oleh Pemangsa Roh”, ujar Adi dengan suara pelan dan penuh kesopanan. “Apa yang engkau berikan sebagai imbalan jika Romo telah menunaikan janji?” Adi terdiam sejenak. Setelah melalui jalan yang berputar, melewati hutan yang lebat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritakecil.wordpress.com&amp;blog=3893095&amp;post=123&amp;subd=ceritakecil&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Apa maksud dan tujuan engkau kemari?”</p>
<p>“Saya momohon dengan hormat, sudilah kiranya Romo menolong saya membebaskan kekasih saya Ayu yang diculik oleh Pemangsa Roh”, ujar Adi dengan suara pelan dan penuh kesopanan.</p>
<p>“Apa yang engkau berikan sebagai imbalan jika Romo telah menunaikan janji?”</p>
<p>Adi terdiam sejenak. Setelah melalui jalan yang berputar, melewati hutan yang lebat singgah di beberapa tempat akhirnya tiba di tempat yang tidak tergambarkan dalam peta pulau Batam ini, sendiri tanpa teman. Banteng muda yang menjadi teman seperjalanannya hanya sanggup mengantar hingga gerbang istana. Lalu dua orang pengawal kerajaan yang menggunakan kostum jawa menjemput di depan gerbang dan membawanya ke ruangan mewah ini. Selanjutnya dia ditinggal sendiri beberapa saat menanti sesuatu atau seseorang datang sambil mendengarkan alunan musik jawa dan suara merdu sinden bernyanyi. Saat itulah dia mendengar sebuah suara menggelegar mengisi ruangan.</p>
<p>“Menurut Romo apa yang harus saya persembahkan?”</p>
<p>“Engkau harus menjadi hambaku yang setia dan rela berkorban demi Aku!”, ujar suara itu. “Apakah engkau rela mengorbankan apapun yang engkau miliki dan diserahkan padaku jika aku bersedia membantumu?”</p>
<p>“Saya bersedia Romo, asal Saya bisa menyelamatkan Ayu dari tangan Pemangsa Roh dan mengembalikan ke jazadnya”, ujar Adi dengan penuh hormat.</p>
<p>“Bersediakah engkau menjadikan Romo sebagai sesembahanmu dan membuang sesembahan yang lainnya?”</p>
<p>Adi berpikir sejenak dengan rasa ragu. Sesembahan? Tidak pernah terpikirkan olehnya jika harus menyembah Jin dan membebaskan Ayu. Menyerahkan seluruh jiwa dan raga untuk diperbudak oleh Romo bukanlah masalah bagi Adi, toh dia tidak memiliki urusan lagi di dunia. Ayu memang lebih baik kembali ke dalam tubuhnya dan menjalani hidupnya sendiri. Tetapi semahal itukah Ayu? Apakah dia cukup berharga?</p>
<p>Teringat dengan kata-kata orang tuanya di kampung nun jauh di sana. Bagaimana mereka berpesan agar memegang teguh ajaran agama dan menjauhkan diri dari godaan Setan yang ingin memperdaya manusia. Adi jadi tambah bingung dengan pilihan yang ada. Dia mencintai Ayu dan rela memberikan nyawanya demi kebahagiaan dia. Tetapi apakah dia rela memberikan kepercayaannya?</p>
<p>“Saya minta waktu untuk berpikir Romo. Masalah ini harus saya pikirkan matang-matang, karena ada aspek lain yang harus saya pertimbangkan”, ujar Adi.</p>
<p>“Baiklah. Aku tidak memiliki kekuasaan terhadap hati manusia yang belum menjadi bagian dari ponggawaku. Kamu diterima sebagai tamu di sini. Lagipula, hari hampir pagi dan sudah saatnya kita beristirahat hingga sore tiba”, ujar Romo. “Pengawal, perlakukan anak muda ini dengan baik, berikan tempat beristirahat di salah satu joglo”</p>
<p>“Baik Romo”, ujar suara pengawal yang tiba-tiba saja muncul di belakang Adi. “Mari mas”</p>
<p>Adi berjalan pelan diiringi langkah para pengawal yang berdiri sopan di belakangnya, mengantar keluar gerbang, lalu menempatkannya ke salah satu joglo di luar istana. Memang pagi telah tiba dan matahari terbit di ufuk timur diiringi suara kokok ayam dan sautan burung-burung yang berkicau riang.</p>
<p>“Pagi yang indah”, komentar Adi, sambil melangkah masuk ke pintu joglo.</p>
<p>“Mas tidak diperbolehkan keluar dari dalam joglo, hingga malam nanti”, ujar pengawal.</p>
<p>“Mengapa?”</p>
<p>“Itu perintah dari Romo”</p>
<p>“Oh..”, adi tersenyum pendek. “Baiklah, aku ingin beristirahat saja”</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;</p>
<p>Suara gong, gamelan dan gendang yang mengiringi sinden bernyanyi merdu memperdengarkan lagu jawa yang kental, membangunkan Adi dari tidurnya. Dari jendela joglo dia melihat matahari telah tenggelam dan berganti cahaya obor memenuhi daerah sekitar istana, persis saat dia tiba di kerajaan gaib ini semalam.</p>
<p>Adi melangkah pelan keluar dan memandang kerumunan makhluk berbagai ukuran, usia dan bentuk sedang beraktifitas memenuhi jalanan menuju istana, penuh dengan suka cita. Ada makhluk berkepala kuda dengan tangan manusia, ada pula makhluk kecil berbadan laba-laba dengan kepala manusia dan macam – macam makhluk lain yang tidak pernah dijumpai Adi selama hidupnya. Bagi Adi makhluk itu semua menjijikkan dan mengerikan sekali.</p>
<p>Pengawal istana mendekati Adi yang sedang kebingungan, lengkap dengan pakaian kebesarannya yang berupa pakaian ala jawa lengkap dengan blangkon dan keris kecil di bagian belakang pinggangnya.</p>
<p>“Sedang ada perayaan apa Mas?”, tanya Adi.</p>
<p>“Setiap malam kami mengadakan pesta. Romo menyukai keramaian dan senang sekali memberikan hadiah indah bagi para pemujanya. Romo penuh dengan kasih sayang, dan sangat lemah lembut”</p>
<p>“Oh.. begitu”</p>
<p>“Ya. Bagi para penyembahnya Romo akan memberikan kedudukan yang terbaik dan menjanjikan hidup sejahtera hingga akhir jaman, tak akan berkurang sedikitpun”</p>
<p>Jalanan penuh dengan penduduk kerajaan yang bersuka cita. Minuman yang memabukkan, judi dan bermacam – macam makanan selalu tersedia. Tempat ini bagai sebuah tempat hiburan malam yang ada di dunia manusia. “Bagi makhluk – makhluk halus seperti mereka mungkin waktu bukanlah hambatan, karena usia mereka bisa mencapai ribuan tahun. Untuk menghilangkan kejenuhan, mereka mencoba mencontoh kelakuan manusia”, pikir Adi mencoba menarik kesimpulan sendiri.</p>
<p>“Mas Adi diminta untuk menghadap Romo”.</p>
<p>Mereka berjalan di sela-sela makhluk yang sedang pesta pora menghabiskan waktu malam. Sesekali Adi menghindar dari makhluk yang mulai dihinggapi ketidaksadaran. Beberapa di antaranya melihat dan mengajaknya berpesta, tetapi seketika mengurungkan niatnya setelah melihat pengawal yang membawa Adi.</p>
<p>“Bagaimana dengan tawaran Romo anakku?”, suara Romo terdengar setelah Adi tiba di pertengahan aula istana. Sangat berwibawa.</p>
<p>“Saya sudah memikirkannya matang-matang Romo”, kata Adi santun. ”Saya mencintai Ayu dan tentunya saya sangat mengharapkan Romo dapat membantu Saya membebaskan Ayu dari cengkraman Pemangsa Roh”</p>
<p>“Lalu?”</p>
<p>“Persyaratan yang Romo minta terlalu berat bagi saya. Saya bisa menyerahkan jiwa saya kepada Romo dan dijadikan saya budak dan menghamba pada Romo sampai kapanpun juga. Tetapi saya tidak bisa menyembah Romo”, Adi berkata dengan penuh perhitungan dan kehati-hatian.</p>
<p>“Romo mengerti maksud engkau anakku. Romo sangat mengerti. Tetapi persyaratan Romo sudah bulat dan tidak bisa ditawar lagi. Jika engkau menginginkan Romo membantu melepaskan Ayu kekasihmu dari tangan Pemangsa Roh, hanya sedikit itu yang Romo inginkan. Setelah itu Ayu akan bebas dan engkau boleh menjadi penduduk negeri ini dan berbahagia selamanya, seperti makhluk-makhluk yang ada di luar sana. Suka cita dan pesta pora tiada habisnya”</p>
<p>Adi terdiam sejenak. Dia masih memikirkan cara lain agar Romo bersedia membantunya membebaskan Ayu yang kini entah di mana.</p>
<p>“Adakah pilihan lain Romo yang bijaksana?”, Adi mencoba mengambil hati Romo.</p>
<p>“Tentu saja ada anakku. Engkau memiliki pilihan lain yang lebih ringan daripada yang saya sebutkan semalam”, Romo berhenti sejenak. “Kamu harus membawakan aku satu jiwa manusia sebagai bayaran pertolongan yang Romo berikan. Dan jiwa itu harus bisa menjadikan Romo sesembahannya”</p>
<p>“Hah?!”, Adi terkejut dengan permintaan Romo. “Permintaan sebuah jiwa sebagai pembayaran pertolongan yang diminta. Apakah aku harus mengantarkan Roh anak manusia yang tidak tahu apa-apa agar bisa membebaskan Ayu”, pikir Adi</p>
<p>Ayu memiliki arti yang begitu dalam bagi Adi. Tetapi menghamba pada Jin bukanlah harga yang pas untuk dibayar demi kebebasan itu. Dan kini Romo meminta sebuah jiwa yang tidak berdosa, sesuatu yang tidak pernah dipikirkan oleh Adi. “Maafkan aku Ayu, kita tidak berjumpa dalam waktu yang lebih lama. Mas akan mencari cara lain untuk membebaskan dirimu”</p>
<p>“Kalau demikian, Saya tidak sanggup membayarnya Romo. Maafkan Saya telah menghabiskan waktu Romo, dengan permasalahan yang tidak penting ini”</p>
<p>“Baiklah. Kalau begitu Romo pun tidak bisa berbuat banyak”, nada kekecewaan terpancar dari suaranya yang melemah. “Pengawal, bawa anak manusia ini ke kunjara!, huk..huk..”, kini suara gemuruh kemarahan mulai terasa. “Juga Ki Mantra dan Adiknya yang tidak bisa melaksanakan tugas dengan baik. SEKARANG!”</p>
<p>Adi terkejut dengan perubahan suasana hati Romo yang begitu mendadak. Tak sempat dia berpikir sejenak, tiba-tiba saja dia telah berada di dalam sebuah tempat yang berbau bangkai busuk dan gelap gulita. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, tak terlihat satu makhluk pun di tempat ini. Dia terdiam beberapa saat, merasakan kesunyian tempat ini.</p>
<p>“Eh&#8230; Halooo&#8230;?”, Adi berusaha mencari teman.</p>
<p>“MAS ADI?!”, sebuah suara yang selalu mengisi hatinya terdengar lembut dan ragu. Adi berpikir suara itu adalah suara ilusi dari pikirannya. “Hallooo&#8230;”</p>
<p>“MAS ADI!”, suara itu semakin jelas. Dan Adi yakin bahwa suara itu bukan suara hatinya.</p>
<p>“Ayu?”</p>
<p>“Ya. Mas. Di sini Ayu” sebuah tangan memegang wajahnya dan dengan segera Adi memeluknya.</p>
<p>“Ayu, Mas Adimu ada di sini!”, ujar makhluk yang dipeluk Adi. Adi jadi malu sendiri, karena memeluk orang yang salah.</p>
<p>“Mas!”, kini tangan mungil lain telah memeluk Adi. Adi balas memeluknya dengan penuh suka cita dibalik kunjara yang busuk dan menyengsarakan ini. “Ayu tidak menyangka Mas Adi sampai sejauh ini untuk mencari Ayu. Ayu sayang Mas”</p>
<p>“Mas juga mencintai Ayu”</p>
<p>Ayu dan Adi kini telah bersama lagi. Perpisahan mereka yang tidak begitu lama memberikan perasaan saling memiliki yang lebih dalam. Dalam gelap keduanya melepaskan rindu.</p>
<p>“Oh ya Mas”, ujar Ayu tersadar. “Ini adalah Nyai”</p>
<p>“Salam kenal Nyai. Saya Adi”</p>
<p>Adi tidak bisa melihat teman Ayu dengan jelas, tetapi samar-samar dalam keremangan Adi melihat seorang wanita muda yang cantik yang umurnya tidak terlalu jauh dari umur mereka berdua.</p>
<p>“Ada orang di sini?”, ujar satu suara laki-laki yang dikenal Adi, membuat mereka terkejut.</p>
<p>“Mar. Martuani?!”</p>
<p>“Adi? Kamu disini juga?”</p>
<p>“Ya!. Mar ternyata yang menculik Ayu adalah Romo Suryo”</p>
<p>“Hah? Romo Suryo?”</p>
<p>“Ya. Dia ingin kita semuanya menganggapnya sebagai sesembahan”</p>
<p>“Ahhh&#8230; begitu..”, ujar sebuah suara lain lebih berat.</p>
<p>“Umar!, adikku Umar!”, kini suara Martuani penuh dengan suka cita. “Maafkan abang telah mengecewakan kamu Mar”</p>
<p>“Tidak perlu meminta maaf abang. Abang telah berbuat maksimal dan beruntunglah abang telah gagal”, ujar Umar bijak. “Karena Umar tidak ingin bebas di atas belenggu orang lain”</p>
<p>“<em>Kamu harus membawakan aku satu jiwa manusia sebagai bayaran pertolongan yang Romo berikan</em>”, Adi teringat kata-kata Romo. Adi mulai mengerti. Jadi selama ini Martuani berusaha menolong adiknya dengan mencoba menjebloskan dia ke dalam belenggu Romo.</p>
<p>“MARTUANI. AKU TIDAK MENYANGKA”, nada suara Adi mulai menunjukkan ketidaksenangannya “Kamu berusaha menjadikan aku dan ayu tumbal untuk kebebasan adikmu?”</p>
<p>“Maafkan aku Adi. Aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak ingin Adikku dijadikan makanan Pemangsa Roh. Yang kuinginkan hanyalah kematian yang tenang bagi adikku dan diriku.”</p>
<p>“APAKAH KAMU TIDAK BERPIKIR KALAU AKU JUGA INGIN MATI DENGAN TENANG?”</p>
<p>“Maafkan Aku Adi, Ayu”</p>
<p>“Enak saja kamu minta maaf setelah kejadian ini”, Suara Adi memenuhi kunjara. “Aku mempercayai kamu dan kamu menghianatiaku. Apakah kamu juga yang membunuhku?”</p>
<p>“NGAKU!”, Ayu menimpali.</p>
<p>“TIDAK!”, ujar Umar membantu. “Bukan Abang Martuani”</p>
<p>“LALU SIAPA?”</p>
<p>“Kecelakaan adalah kecelakaan, dan itu adalah takdir. Tak usah dipikirkan lagi”</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ceritakecil.wordpress.com/123/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ceritakecil.wordpress.com/123/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritakecil.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritakecil.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritakecil.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritakecil.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ceritakecil.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ceritakecil.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ceritakecil.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ceritakecil.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritakecil.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritakecil.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritakecil.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritakecil.wordpress.com/123/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritakecil.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritakecil.wordpress.com/123/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritakecil.wordpress.com&amp;blog=3893095&amp;post=123&amp;subd=ceritakecil&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/08/10/kisah-adi-dan-ayu-bag-7/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cd1063d1f8533dd0b2b9aa44615a508c?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Syaifi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Adi dan Ayu (#6)</title>
		<link>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/08/09/kisah-adi-dan-ayu-bag-6/</link>
		<comments>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/08/09/kisah-adi-dan-ayu-bag-6/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Aug 2008 10:20:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syaifi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritakecil.wordpress.com/?p=113</guid>
		<description><![CDATA[Sejak terpisah dengan Adi, Ayu dibawa berputar – putar ke sana kemari oleh penculik bermata merah menyeramkan ini. Lidahnya yang bercabang menambah deretan kengerian yang terpatri di wajahnya. Ayu memohon kepada makhluk aneh ini agar dilepaskan, tetapi permohonannya sia-sia, sepertinya makhluk ini tidak mengerti kata – kata kasihan. Kadang-kadang dia menjerit sekeras – kerasnya meminta [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritakecil.wordpress.com&amp;blog=3893095&amp;post=113&amp;subd=ceritakecil&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak terpisah dengan Adi, Ayu dibawa berputar – putar ke sana kemari oleh penculik bermata merah menyeramkan ini. Lidahnya yang bercabang menambah deretan kengerian yang terpatri di wajahnya. Ayu memohon kepada makhluk aneh ini agar dilepaskan, tetapi permohonannya sia-sia, sepertinya makhluk ini tidak mengerti kata – kata kasihan. Kadang-kadang dia menjerit sekeras – kerasnya meminta pertolongan, tetapi tak seorangpun yang datang memberikan pertolongan yang diharapkannya. Malahan belalai makhluk mengeratkan pegangannya. </p>
<p>
Beberapa jam kemudian mereka terbang menuju ke suatu tempat yang jauh dari perkotaan. Daerah yang dingin dan sepi, dan bertaburan makhluk halus seperti hantu, Jin dan roh &#8211;  roh yang begentayangan. Mungkin daerah ini adalah daerah khusus yang ditempati para dedemit. </p>
<p>
Di atas langit, ayu masih tidak berdaya dililit dengan tangan berbentuk belalai gajah. Beberapa kali Ayu mencoba meronta, tetapi pegangan makhluk ini semakin kencang saja, dan akhirnya Ayu menyerah dan terdiam menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. </p>
<p>
Tanda – tanda pertolongan Mas Adi tidak terlihat, dan Ayu semakin ragu ketika jejak mereka semakin jauh tak terlacak. Harapan pertolongan cuma tinggal setitik, dan Ayu kini semakin tenggelam di dalam keputusasaan. Ayu kembali merenungi nasibnya yang malang sejak kejadian di Sei Ladi. “Andaikan aku tidak egois dan memilih menyatu dengan tubuhku, mungkin aku tidak akan mendapatkan masalah besar seperti ini“, kata Ayu pelan dan lesu. </p>
<p>
Beberapa saat kemudian, makhluk mengerikan ini menukik bagai elang melihat ayam di daratan menyambar ke arah hutan lebat di bawahnya. Melalui hutan lebat dan semak belukar mereka terbang tidak tentu arah. Ayu menoleh ke kiri dan ke kanan, terlihat makhluk – makhluk halus bermain di dalam hutan dengan riang. Ada beberapa yang menyendiri di pohon-pohon dan ada pula yang bermain dan bercengkrama dengan bebasnya. Mereka tinggal di atas pohon – pohon rindang dan bermain berlompatan seperti monyet dari pohon yang satu ke pohon lainnya, banyak pula yang bersembuyi di balik dedaunan dan pohon-pohon kecil. </p>
<p>
Beberapa saat kemudian, mereka berdua berhenti di sebuah pohon besar dengan daun yang lebat, mirip seperti pohon beringin. Juntaian pohon – pohon yang merambat, tempat para kuntilanak bermain tali menghiasi dahan-dahannya yang rindang. Tetapi Ayu tidak melihat satu makhluk halus pun di sekitar pohon ini. Bahkan roh gentayang yang bermain-main pun tidak kelihatan sama sekali. Hanya ada dua makhluk halus berjaga di pohon ini, dan keduanya nampak tak peduli dengan kahadiran mereka. Tampaknya mereka adalah penjaga pohon besar ini. Tapi Ayu yakin keduanya mengawasi dengan seksama apa yang mereka lakukan. </p>
<p>
Makhluk penculik Ayu mengendorkan pegangannya. Tangannya yang berbentuk belalai tidak lagi melilit erat, mungkin dia menganggap Ayu tidak akan bisa melepaskan diri lagi. Lagipula, Ayu tidak tahu arah mana yang harus ditempuh jika melarikan diri. Mereka berdua melayang tidak peduli dengan pohon besar yang menghadang. Bahkan makhluk ini pun seolah tidak melihat adanya pohon yang besar dan keras ini dan dia terus menarik Ayu hingga mereka menabrak pohon keramat ini. Ayu menurup mata sejenak seolah bisa menghindar dari pohon, walaupun dia tahu bahwa dia tidak akan merasakan sakitnya. </p>
<p>
Ketika Ayu membuka mata, terlihat sebuah pedesaan yang damai dan tenteram berhias obor di pinggir – pinggir jalannya. Rumah – rumah joglo kecil di sepanjang jalan yang dibuat dengan ukiran indah ala jawa dan terbuat dari kayu jati yang tentu mahal harganya. Di depan joglo ada sebuah patung penjaga berbentuk raksasa melotot dengan gigi taring yang keluar sambil membawa obor. Kali ini obornya adalah obor sungguhan yang menerangi jalan. Ayu merasa patung raksasa itu mengawasinya dengan seksama. Ayu bergidik ngeri.</p>
<p>
Tak berapa lama kemudian, samar – samar Ayu mendengar musik jawa mengalum sederhana menghiasi malam. Suara merdu sinden bernyanyi meninabobokkan pendengarnya di malam yang semakin renta. Ayu kebingungan menghadapi situasi seperti ini. “Apakah aku berada di sisi lain dunia?”, pikirnya. Dia hanya bisa membisu melihat makhluk berekor masih juga mengapitnya, sambil menggeretnya mengikuti jalan yang lurus ini, entah menuju kemana.</p>
<p>
Makin lama suara indah sinden makin dekat, hingga akhirnya mereka berdua berhenti di depan sebuah istana megah berbentuk istana raja-raja jawa. Ayu dihempaskan ke lantai yang mengkilat yang terbuat dari marmer putih, lalu makhluk itu pergi meninggalkan Ayu begitu saja di depan gerbang istana. Terhempas, merasa sangat direndahkan dan terhina Ayu menanti apa yang akan terjadi. Suara sinden semakin jelas terdengar. Sepertinya dari balik gerbang ini.</p>
<p>
“Apakah yang akan terjadi pada aku selanjutnya? Aku tak mampu pulang dan tak tahu dimana berada”, ayu berpikir lirih. “Mas Adi tidak akan bisa menemui aku” </p>
<p>
Istana jawa ini dikelilingi dengan patung-patung berbentuk singa yang sedang mengaum garang dan dinding berhiaskan gambar wayang yang indah sekali. Pintu depan berukir cantik dan terbuat dari kayu jati yang kokoh dihiasi emas-emas berukir indah di pinggirnya.  </p>
<p>
Selang beberapa saat kemudian, dua orang penjaga berpakaian ala jawa lengkap dengan blangkon dan keris di pinggang bagian belakangnya datang tergesa menjemput Ayu. Kedua orang itu mengangkat dan menyeret Ayu dengan kasar membawanya masuk ke dalam ruangan melewati pintu berukir emas. Di balik pintu jati yang indah ini, terdapat ruangan yang lebih megah dan dihiasi dengan lampu kristal indah dan cantik. Kanan kirinya berdiri tiang-tiang penyangga yang terukir indah terbuat dari beton berkualitas tinggi dan juga dilapisi ukiran emas yang bertahta mutiara cantik. Ayu dihempaskan dan duduk di tengah ruangan besar, sementara para penjaga berdiri tegak di belakangnya. Suara nyanyian Sinden makin terasa nuansa magisnya tetapi Ayu tidak melihat satupun alat musik di ruangan ini.</p>
<p>
“Romo, manusia ini merupakan persembahan dari Ki Mantra”, ujar salah seorang pengawal dengan santun. Ayu tidak melihat adanya orang lain selain mereka bertiga.</p>
<p>
“Apakah dia sudah jinak?”, sebuah suara wibawa terdengar memecah kesunyian ruangan. Kini tembang sinden menyurut dan kesunyian menyelimuti ruangan. Ayu tidak melihat adanya makhluk yang bersuara seperti itu. </p>
<p>
“Menurut Pemangsa Roh yang menjemputnya, dia belum dijinakkan Romo, tetapi sepertinya dia sudah tidak terlalu liar”</p>
<p>
“Hm&#8230; kalau begitu kita akan menjinakkannya nanti. Kita harus menunggu pasangannya, agar bisa lebih mudah.”</p>
<p>
“Baik Romo”</p>
<p>
“Sekarang bawa manusia ini ke dalam kunjara”</p>
<p>
“Baik Romo”, ujar pengawal sambil kembali menarik Ayu menjauh dari ruangan suci ini.</p>
<p>
“ROMO SAYA TIDAK BERSALAH”, teriak Ayu keras. “Bebaskanlah Saya Romo, Saya mohon dengan sangat” </p>
<p>
“Manusia tidak luput dari kesalahan”, suara Romo kembali mengisi ruangan. “Bawa manusia ini ke tempatnya” </p>
<p>
Tiba-tiba saja Ayu telah berada di tempat yang berbau busuk bangkai dan daging terpanggang dengan sedikit cahaya api merah dari puncaknya. Perubahan secara tiba-tiba seperti ini bukan hal yang aneh lagi bagi Ayu, tetapi berada di kegelapan dengan bau busuk menerpa seperti ini sungguh mengejutkan. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri yang terlihat hanyalah dinding batu yang berlumut basah yang menyebarkan bau bangkai busuk. </p>
<p>
“Selamat datang di dunia persinggahan menuju neraka”, sebuah suara berbisik halus menyeramkan. Ayu ngeri dan berusaha mencari sumber suara, tetapi tak satupun terlihat olehnya, yang ada hanyalah kegelapan dan kesuraman ruangan kunjara ini. </p>
<p>
“Nyai di sini!”, suara itu kembali berbisik tajam semakin dekat. Ayu masih belum yakin apakah itu suara hatinya atau suaranya seseorang lain yang tinggal di kunjara ini. Dia kembali menoleh ke belakang dan dia tetap tidak melihat satu makhluk pun. </p>
<p>
“DI SINI!” </p>
<p>
“AHHHH&#8230;..”, Ayu terkejut karena merasakan hawa dingin di wajahnya. Samar – samar dilihatnya  seorang nenek renta di depan matanya, dengan uban yang sudah tak terkira. Giginya yang sudah ompong, mata menonjol dan rambut yang awut-awutan, mirip dengan nenek sihir dari negeri dongeng, hanya ini lebih kotor lagi. Andaikan Ayu bukan Roh, pastilah dia sudah jantungan dan mati mendadak melihatnya. </p>
<p>
“Maafkan Nyai cucuku, telah membuatmu terkejut. Hehehe&#8230;hehehehe&#8230;hehehe&#8230;”, ujar nenek seram itu sambil terkekeh. </p>
<p>
“Ah&#8230; ee&#8230; maaf Nyai. Saya sangat terkejut melihat Nyai berada di sini. Nama Saya Ayu, dan saya tidak mengerti mengapa saya ada di sini”</p>
<p>
“Semua orang tidak akan mengerti mengapa ada di sini, karena kematian datang selalu tiba-tiba. Nyai bahkan sudah tidak bisa menghitung berapa lama Nyai di sini dengan alasan yang masih belum jelas”, ujar Nyai. “Beberapa waktu yang lalu ada yang masuk ke penjara ini, dan kini sepertinya telah menjadi salah satu dari mereka”</p>
<p>
“Salah satu dari mereka??”, tanya Ayu heran.</p>
<p>
“Yah, cucu akan dijadikan bagian dari mereka”, ujar Nyai sudah agak lebih baik daripada sebelumnya, tetapi tetap dengan suara serak menyeramkan.</p>
<p>
Ayu terdiam sejenak dan memikirkan rasa nyaman yang dirasakannya ketika memasuki gerbang istana tadi. Mungkinkah itu yang akan dirasakannya jika dia menjadi salah satu anggota dari kerajaan ajaib ini?. Suasana damai, tenteram dan alunan lembut para sinden menyanyikan lagu akan menjadi bagian dari hari-harinya. “Tidak perlu menyiksa sampai parah begini kalau hanya membuatku menjadi salah satu penduduk di kerajaan yang penuh damai ini”, ujarnya lirih.</p>
<p>
“Saat kita memasuki dunia gaib ini, semuanya serba Indah. Damai, sejahtera, musik yang indah dll. Semuanya keindahan itu hanyalah godaan agar menjadi salah satu dari penduduk dunia gaib”, ujar Nyai seolah mengerti apa yang dipikirkan oleh Ayu. “Tetapi, kamu harus menghamba pada Jin yang dipanggil Romo hingga kiamat, yang berarti harus mengingkari seluruh kehidupan yang telah kamu jalani dan meninggalkan apapun yang kamu percaya. Kamu akan diminta mengorbankan salah satu orang yang kamu cintai sebagai bukti bahwa dirimu adalah seorang hamba yang taat”</p>
<p>
“Jika orang – orang yang kamu cintai telah tiada &#8211; seperti Nyai – mereka meminta agar mencari manusia untuk dikorbankan. Kamu diperbolehkan keluar dari lobang busuk ini sejenak untuk mencari mangsa, dibawah pengawasan dua Pemangsa Roh”</p>
<p>
“Bagaimana kalau kita menolak?”</p>
<p>
“Kamu akan menjadi makanan pemangsa Roh yang suka menyiksa manusia hingga titik penderitaan tertinggi” Nyai terdiam sejenak. “Dan setiap aliran darah di nadi derita manusia, kekuatan pemangsa Roh akan bertambah. Hingga akhirnya menua hanya dalam satu malam. Hal itu akan terus dilalui hingga kiamat tiba”</p>
<p>
Ayu tentu tidak ingin menjadi bagian dari Romo yang haus akan pujian dan ingin menjadi Tuhan. Apalagi harus mengorbankan orang – orang yang dikasihinya. Ayu kembali mengingat ayahnya yang sudah mulai beruban dimakan usia, bunda dengan kasih sayang yang tulus dan Iwan walaupun seringkali menyebalkan tetapi dia tetap menyayanginya. Bagaimana pun mereka adalah keluarganya. Tetapi Ayu tidak ingin menghabiskan waktu dalam siksaan dan penjara seperti ini. “Aku harus keluar dari sini”, pikirnya.</p>
<p>
“Setiap kenikmatan harganya, yang jadi pertanyaan adalah sejauh apa kamu akan mengejar kenikmatan ini”, Nyai menjauh dari Ayu. Dari atas terlihat cahaya pagi memasuki lubang tempat mereka dipenjara. Nyala lampu mulai meredup.</p>
<p>
Penjara ini adalah sebuah lubang sumur tua yang sudah lama tidak terurus. Umur lubang ini mungkin sudah puluhan tahun dan sudah lama tidak digunakan manusia. Di atas sumur terlihat cahaya matahari pagi masuk dan menerangi dasar sumur yang airnya tidak terlalu dalam. Ayu berusaha terbang ke arah puncak sumur tapi dia tidak mampu. </p>
<p>
“Sumur ini adalah penjara, yang telah dijaga menggunakan mantera yang sangat kuat, hingga kita tak akan mampu menembusnya. Nikmati saja sisa kehidupanmu sebagai manusia”, Nyai berkata lirih. </p>
<p>
“Bagaimana caranya keluar dari sini Nyai”</p>
<p>
“Andai Nyai tahu, Nyai sudah lebih dulu kabur dari sumur ini. Hhhh&#8230; Andai Nyai tidak keras kepala..” Nyai menatap dinding kosong, mengingat masa lalu ketika masih hidup. “Sudahlah, saatnya kita tidur dan menanti malam yang kembali panjang”</p>
<p>
Ayu terdiam tak tahu akan berbuat apa. Semuanya kini gelap gulita, nasibnya semakin tidak jelas dan Adi entah dimana. Ayu semakin bergolak dan hanya bisa menunggu suratan takdir terhadap dirinya. Samar – samar terdengar suara burung bernyanyi menyambut pagi bersahut-sahutan di atas sana, menyambut pagi dengan suka cita.</p>
<p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ceritakecil.wordpress.com/113/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ceritakecil.wordpress.com/113/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritakecil.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritakecil.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritakecil.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritakecil.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ceritakecil.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ceritakecil.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ceritakecil.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ceritakecil.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritakecil.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritakecil.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritakecil.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritakecil.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritakecil.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritakecil.wordpress.com/113/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritakecil.wordpress.com&amp;blog=3893095&amp;post=113&amp;subd=ceritakecil&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/08/09/kisah-adi-dan-ayu-bag-6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cd1063d1f8533dd0b2b9aa44615a508c?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Syaifi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Adi dan Ayu (#5)</title>
		<link>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/08/03/kisah-adi-dan-ayu-bag-5/</link>
		<comments>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/08/03/kisah-adi-dan-ayu-bag-5/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Aug 2008 11:31:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syaifi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritakecil.wordpress.com/?p=91</guid>
		<description><![CDATA[Sepasang mata merah mengintip liar dari tengah kegelapan hutan mengawasi mereka bertiga yang sedang berjalan santai. Mulutnya menyeringai ngeri menampakkan taring buasnya. Sesekali mata merah itu berpindah tempat lebih mendekat. Malam kelam, gelap dan pekat menyelubungi tubuh sang pengintai dengan sempurna membuat mangsa tidak menyadari bahaya yang akan menerpa. “Adi, aku duluan ke Sei Ladi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritakecil.wordpress.com&amp;blog=3893095&amp;post=91&amp;subd=ceritakecil&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sepasang mata merah mengintip liar dari tengah kegelapan hutan mengawasi mereka bertiga yang sedang berjalan santai. Mulutnya menyeringai ngeri menampakkan taring buasnya. Sesekali mata merah itu berpindah tempat lebih mendekat. Malam kelam, gelap dan pekat menyelubungi tubuh sang pengintai dengan sempurna membuat mangsa tidak menyadari bahaya yang akan menerpa.</p>
<p>
“Adi, aku duluan ke Sei Ladi ya. Nikmati saja malam minggu kalian”, ujar Martuani setelah diperkenalkan dengan Ayu  oleh Adi. “Lagipula aku tidak ingin menjadi kambing congek di sini”, ujarnya sambil mengerjapkan sebelah mata ke arah Ayu. Ayu dan Adi tersenyum. Martuani memang seorang sahabat yang sangat mengerti. Bagi seorang sahabat baru, Martuani memang pantas mendapatkan acungan jempol.</p>
<p>
“Ok, thanks ya. Sampai jumpa di Sei Ladi”, ujar Adi. Martuani melesat cepat ke angkasa dan beberapa detik kemudian hilang di telan kegelapan malam.</p>
<p>
“Mas, Ayu kira kita tidak akan berjumpa lagi.”, ujar Ayu memecah kesunyian sambil berjalan di trotoat pinggiran jalan yang gelap.</p>
<p>
“Mas Adi tidak tahu kalau Ayu sedang sakit. Andai Mas tahu, Mas akan langsung ke sini dan menunggu Ayu sampai kapanpun juga.”</p>
<p>
Terlihat beberapa pasangan duduk di kegelapan malam menikmati malam panjang. Mereka memilih berduaan di tempat yang remang-remang, tanpa peduli dengan keadaan sekitarnya. Memang kalau sudah cinta, gelap terasa terang semuanya. Adi memperhatikan pasangan-pasangan itu, dan tersenyum sendiri mengingat ketika mereka berdua masih hidup dan sering menghabiskan waktu bersama seperti ini ketika uang menipis di tanggal tua.</p>
<p>
“Bahkan, Mas Adi tidak menyangka kalau Mas Adi sudah mati. Mas Adi mengira mendapatkan anugrah menjadi manusia super yang bisa terbang, tembus dinding dan &#8230;” Adi berkata menambahkan. </p>
<p>
“Mas Adi terlalu banyak nonton film”, Ayu tersenyum. Dia sangat mengerti karakter Adi yang suka sekali nonton film – film futuristik dan manusia super.</p>
<p>
“Hehehe&#8230; Martuani juga ngomong seperti itu”, ujar Adi. “Yuk kita terbang melihat bumi dari atas!?”</p>
<p>
“Nanti saja deh Mas. Aku pernah juga terbang bersama Arini beberapa waktu lalu, saat kami ke rumah Wahyu”</p>
<p>
“Wahyu?”</p>
<p>
“Ya. Wahyu adalah pacar Arini. Dia sekarang masih hidup”</p>
<p>
“Ooh..gitu. Trus gimana rasanya?”</p>
<p>
“Awalnya takut juga. Takut jatuh..”, ujar Ayu yang disambut dengan tawa Adi yang menggelegar. Beberapa pasangan yang sedang merajut asmara tiba-tiba berdiri dan menjauh dengan terburu-buru, ketakutan. </p>
<p>
“Mas, menakutkan orang saja nih. Kalo tertawa jangan keras-keras donk”</p>
<p>
“Kirain gak ada yang akan denger”</p>
<p>
“Kita gak tahu mas”, kata Rini lembut. “Pendengaran orang beda-beda”</p>
<p>
“Iya juga. Tapi paling tidak di sini cuma tinggal kita berdua. Tidak ada yang mengganggu”</p>
<p>
“Dari tadi juga berdua. Orang-orang itu kan tidak melihat kita di sini. Mari kita duduk di sini saja Mas”, ujar Ayu ketika mereka mendapatkan tempat yang cocok untuk menikmati malam. Gelap, kelam dan dinginnya malam merupakan nuansa yang sempurna bagi mereka berdua, tanpa menyadari bahaya yang terkandung di dalamnya. </p>
<p>
Adi mengambil tempat duduk di sebelah kanan Ayu, melingkarkan tangannya di pinggang Ayu. Ayu tersenyum bahagia, merasakan keadaan yang tidak akan berubah selamanya. Menatap bintang yang ada di langit tanpa perlu berpikir hari esok atau nanti.</p>
<p>
Mata merah sang pemangsa semakin mendekat. Seringai taring tajam yang tertutupi gelapnya malam semakin menyeramkan. Kedua insan yang sedang memadu kasih di kegelapan yang menjadi incarannya, terutama roh kedua insan manusia yang baru keluar dari rumah sakit tadi.  Kini mangsa sudah tepat duduk di tempat yang diinginkannya. Waktu yang dinanti sejak sore sudah diambang mata. </p>
<p>
“Swoooopppppp!”, mata merah itu terbang pesat ke arah Adi dan Ayu yang tidak menyadari bahaya yang mengancam. Menyambar ke arah Ayu bagai elang menangkap anak Ayam dan terbang cepat ke atas angkasa. Ayu tak sadar jika dia telah terbawa ke angkasa.</p>
<p>
“Mas Adiiiiiiiiiiiiiii&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..!”, suara Ayu melengking membelah kegelapan malam. </p>
<p>
“Ayuu&#8230;&#8230;.!”, Adi mengejar makhluk mengerikan itu dengan cepat. Suara tawa makhluk menyeramkan itu membahana di seluruh angkasa, membuat suara Ayu tidak terdengar sama sekali. Adi melompat dan mengejar makhluk sialan itu, dan dengan cepat dia mengambil kecepatan penuh.  </p>
<p>
Kejar – kejaran di angkasa pun menjadi seru. Dari jauh Adi bisa melihat sebuah makhluk berekor panjang dengan taring mencuap tajam dan tangan yang seperti belalai. “Apakah itu Romo Suryo?”, tanya adi dalam hati. “Ah!, Aku tidak peduli, aku harus mendapatkan Ayu kembali bagaimanapun keadaannya” Makhluk itu semakin menjauh, Adi tidak bisa mengimbangi kemampaun terbang makhluk berwujud setan itu.</p>
<p>
“Wuuuuuuuuuuuuuushhhhhhhh”, tiba-tiba seekor makhluk yang mirip seperti penculik Ayu kini menerjang Adi dari atas ke arah lehernya. Adi terjatuh hingga ke jalan raya, dan meninggalkan lobang yang besar di jalanan. Untunglah Adi cuma Roh gentayangan yang tidak memiliki tulang. Beberapa orang yang sedang berjalan terkejut dan merasakan adanya gempa dan sebuah lobang besar menganga di tengah jalan. Adi bangkit dan terbang ke arah hutan yang terletak tak jauh dari tempat mereka sekarang. Dilihatnya makhluk bertaring itu mengejar dan berusaha menyemburkan api ke arah Adi. Adi menghindar dan api mengenai sebuah ruko tua yang tidak terawat. Ruko itu terbakar hebat. Adi merasa bersalah dan dengan cepat dia melarikan diri ke arah Sei Ladi, mencari teman baiknya yang mau membantu. </p>
<p>
Makhluk itu terus mengejar dan menembakkan api – api panasnya. Beberapa orang menatap ke atas dan menganggap hanyalah beberapa meteor jatuh dari langit. Tetapi bagi Adi &#8216;meteor&#8217; itu sangat berbahaya dan patut di hindari. Beberapa kali api terbang itu hampir mengenainya, tetapi untunglah dia masih mampu menghindar dengan tangkas. Hingga akhirnya Adi sampai di atas Sungai Sei Ladi, dia menukik tajam ke bawah hingga masuk ke dalam sungai. Makhluk Api itu masih terus mengejar, tetapi ketika beberapa meter di atas permukaan air dia berhenti, lalu Adi mengumpulkan Air dan menyemburkannya ke arah pemangsa itu. Pemangsa itu terkejut dan terbang terbirit-birit pergi entah kemana. </p>
<p>
Adi sedikit lega dan muncul di permukaan, karena terhindar dari ancaman makhluk aneh itu. Tetapi Ayu kini menjadi tawanannya dan Adi harus menolongnya dengan segera. Adi bingung harus kemana, dan meminta tolong kepada siapa. Dia baru sore tadi masuk dalam kelompok roh gentayangan dan harus merasakan kembali pahitnya kehilangan Ayu.</p>
<p>
“Aku harus mencari Martuani”, ujarnya lirih. “Heran, mengapa orang-orang gentayangan itu tidak berusaha menolongku ya?”, Adi terdiam sejenak. “Apakah makhluk itu begitu menakutkan?” Adi terbang mendekat ke arah jembatan Sei Ladi. Roh gentayangan semakin ramai, tetapi tak satupun peduli dengan kejadian yang baru terjadi. Lagipula Adi memang anak baru. Adi mendarat di pinggir jembatan dan duduk terdiam. Untuk sesaat dia tidak tahu harus berbuat apa. “Hhhhhhh&#8230;.”</p>
<p>
“Adi?!”, sebuah suara yang sangat dikenal menyapanya lembut dengan nada heran. “Koq kamu di sini? Bukankah kamu akan menghabiskan malam bersama Ayu? Mana dia?”</p>
<p>
“Martuani!”, Adi berdiri gembira. Mendengar suara sahabat barunya ini membuat beban di pundaknya sedikit ringan. “Aku senang sekali melihatmu. Kami berdua tertimpa musibah”</p>
<p>
“Ha?? Musibah apaan?”</p>
<p>
“Ayu diculik seekor makhluk menyeramkan bermata merah dan memiliki ekor yang panjang.”</p>
<p>
“APA??”, Martuani terkejut dan shock mendengar hal itu. “Ayu diculik?” Martuani terdiam sejenak berpikir. “Kita harus membebaskan dia sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan”, ujarnya cepat.</p>
<p>
Adi tidak bisa berpikir jernih. Terbayang kekasihnya di siksa oleh makhluk berwajah setan itu dan dijadikan budak. “Ayuuu&#8230;Maafkah aku”</p>
<p>
“Sepertinya kita harus menghadap Romo Suryo”, ujar Martuani lemah. “Dia adalah penguasa paling kuat dan berpengaruh di sini. Pasukannya banyak dan dengan segera dapat melepaskan Ayu dari genggaman makhluk buas itu”</p>
<p>
“Buas????”, tanya Adi ngeri sambil membayangkan kekasihnya dalam cengkraman makhluk itu.</p>
<p>
“Ya!!!. Makhluk yang menculik Ayu adalah Jin yang memiliki kekuatan menaklukkan Roh dan suka menyiksa Roh manusia gentayangan. Makhluk itu dikenal dengan Pemangsa Roh”</p>
<p>
“Pemangsa Roh?”, suara Adi berdenyit dengan nada tinggi. </p>
<p>
“Ya.  Roh yang ditangkap oleh Pemangsa Roh itu akan terus disiksa dengan cambuk api yang menyala-nyala hingga berteriak pilu tak terkira oleh manusia biasa. Kekuatan Pemangsa Roh di dapat dari jeritan roh manusia. Makin tinggi jeritan roh, kekuatan sang Pemangsa Roh akan bertambah” </p>
<p>
“Kalau begitu, kita harus segera meminta pertolongan Romo Suryo. Aku tidak ingin Ayu tersiksa selamanya. SEKARANG KITA PERGI.”</p>
<p>
“Tunggu dulu!”, kata Martuani. “Menghadap Romo tidaklah gampang. Romo tidak tersentuh oleh roh seperti kita, kita tidak akan bisa menghadapnya tanpa restu dari Romo sendiri”</p>
<p>
“Jadi apa yang harus kita lakukan?”</p>
<p>
“Aku tidak tahu!”, ujar Martuani. </p>
<p>
Otak Adi buntu. Dia tidak mengenali dunia tempatnya bernaung sekarang. Aturan dan tatakrama dunia gaib ini tidak diketahuinya sama sekali. “Ah&#8230; tak usah berpikir banyak lah. Aku melangkah ke tempat kekuasaan Romo. Biar mereka menangkapku dan aku meminta mereka agar memberikan kesempatan menghadapi Romo”. Adi bangkit, diikuti oleh Martuani. “Kamu tidak usah ikutan. Biar aku yang menanganinya. Aku tidak ingin sahabat baikku menjadi korban Pemangsa Roh lainnya”</p>
<p>
“Tapi&#8230; aku ingin membantu”, ujar Martuani memaksa.</p>
<p>
“Tidak usah”, Adi menepuk bahu Martuani. “Kamu tunggu saja di sini dan mudah-mudahan kami berdua tidak apa-apa”, kata Adi sambil terbang ke arah Nagoya. Martuani memandang lesu dan lirih dari jauh, hingga Adi hilang di kegelapan malam yang menua.</p>
<p>
Adi berputar – putar mengelilingi daerah sekitar Nagoya dan Jodoh. Malam semakin larut dan waktu telah menunjukkan pukul dua pagi. Beberapa orang sudah mulai keluar dari tempat hiburan malam yang banyak terhampar di daerah ini. Segelintir wanita penghibur murahan menjajakan diri di tempat sepi, dengan dandanan menor ala bintang film. Jalan terlihat hening, hanya sedikit kendaraan taksi yang mencoba mengais rejeki. </p>
<p>
Suara sirene pemadam kebakaran memecah malam. Adi menoleh dan dilihatnya ruko yang terbakar akibat perbuatan Pemangsa Roh saat menembakkan bola api ke arahnya. Adi hanya bisa melihat dengan  rasa bersalah yang dalam. Namun tak ada yang mampu dilakukannya. Dia hanyalah sebuah Roh yang tak berdaya.
</p>
<p>
Adi kini telah berada di atas hutan bukit senyum. Sebuah bukit tempat manusia malam berkeliaran di tempat hiburan murahan. Musik dangdut membahana membelah malam larut memekakkan telinga orang-orang yang mencoba tidur. Untuk wilayah bukit senyum dunia malam sudah menjadi dunia keseharian dan hal di atas tidak mengganggu sama sekali.</p>
<p>
“BERHENTI!!!!”, sebuah suara terdengar mengancam. Adi membeku dan menoleh ke arah suara itu. Terlihat dua makhluk yang merah, besar dan gagah dengan dua tanduk kecil di kepalanya. Cukup menyeramkan bagi orang-orang yang memandangnya. Wajahnya seperti seekor banteng muda.</p>
<p>
“Bapak bicara dengan saya?”, tanya Adi dengan suara yang kelu. </p>
<p>
“YA!”, ujar salah satu dari makhluk itu. “Ada keperluan apa kamu ke sini? Kami adalah pasukan Romo Suryo dan di sini adalah daerah beliau. Di sini adalah posko kami” kedua makhluk itu menunjuk semak-semak di belakangnya.</p>
<p>
“Saya&#8230;”, Adi berkata ragu. </p>
<p>
“APAAAAAAAAAAA&#8230;&#8230;&#8230;.? SINI KAMU!”, suara kembali menggelegar seperti suara polisi. Adi melangkah mendekat. Mereka bertiga masuk ke dalam semak-semak.</p>
<p>
“Saya ingin berjumpa dengan Romo Suryo!”, ujar Adi dengan nyali yang ciut.</p>
<p>
“Hahahaha&#8230;..hahahaha&#8230;.”, kedua makhluk benteng itu tertawa terbahak-bahak dengan nada penuh ejekan. “Kamu mau bertemu dengan Romo?”</p>
<p>
“Saya tidak bisa menjelaskan kepada anda berdua. Saya harus bertemu Romo!”</p>
<p>
“TIDAK BISA!”. Ujar benteng kedua. “Kamu harus menjelaskan apa keperluan kamu bertemu Romo” benteng pertama melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.</p>
<p>
“Baiklah. Saya ingin meminta pertolongan dengan Romo dan hanya Romo yang bisa menolongku”, ujar Adi dengan nada putus asa.</p>
<p>
“Kamu pikir Romo adalah budakmu!”</p>
<p>
“Saya tidak berpikir seperti itu. Tetapi mendapat masalah besar dan hanya Romo lah yang dapat membantu. Saya dengar Romo orang yang kuat dan sangat berpengaruh di sini. Tak satupun kejadian di Batam yang tidak diketahuinya” Adi menambahkan sambil memuji.</p>
<p>
“Ya, tepat sekali. Karena itulah dia tidak akan mau bertemu dengan kamu. PULANGLAH!”, benteng itu mengusir Adi. Adi putus asa. Makhluk – makhluk ini kerjanya seperti polisi. Untuk bertemu dengan sang pemimpin besar tidak bisa sembarangan. Benteng pertama datang dan memanggil benteng kedua. Mereka berbisik – bisik sebentar dan keduanya mendekati Adi. </p>
<p>
“Romo berbaik hati padamu. Dia dengan senang hati akan menerima kamu di dalam istananya yang agung. Mari aku antar”, ujar benteng pertama. Mereka berdua pergi dan terbang melayang menjauh dari bukit senyum. </p>
<p>
Adi merasa lega, karena bisa menghadap Romo dan dia berharap dengan bantuan Romo dia bisa membebaskan Ayu dari Pemangsa Roh. </p>
<p>
“Jangan takut sayang, tabahkan dirimu. Akan kucari engkau walaupun sampai ke ujung samudra”. Mereka menjauh dari kota menuju suatu tempat yang belum pernah dikunjungi oleh Adi sebelumnya. Adi hanya mengikuti sang banteng muda. </p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ceritakecil.wordpress.com/91/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ceritakecil.wordpress.com/91/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritakecil.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritakecil.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritakecil.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritakecil.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ceritakecil.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ceritakecil.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ceritakecil.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ceritakecil.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritakecil.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritakecil.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritakecil.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritakecil.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritakecil.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritakecil.wordpress.com/91/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritakecil.wordpress.com&amp;blog=3893095&amp;post=91&amp;subd=ceritakecil&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/08/03/kisah-adi-dan-ayu-bag-5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cd1063d1f8533dd0b2b9aa44615a508c?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Syaifi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Adi dan Ayu (#4)</title>
		<link>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/08/02/kisah-adi-dan-ayu-bag-4/</link>
		<comments>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/08/02/kisah-adi-dan-ayu-bag-4/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Aug 2008 07:04:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>syaifi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ceritakecil.wordpress.com/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[Ayu duduk termenung dengan tatapan hampa bersandar pada dinding dingin kamar kecil yang berwarna hijau muda tak terawat. Bau obat bercampur keringat pasien yang tidak pernah mandi tercium tajam dalam ruangan sempit ini. Kadang muncul perawat berwajah tak sedap dengan sikap seperti sipir penjara membuat pasien bertambah sengsara. Mungkin karena mereka bekerja seharian dengan gaji [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritakecil.wordpress.com&amp;blog=3893095&amp;post=85&amp;subd=ceritakecil&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ayu duduk termenung dengan tatapan hampa bersandar pada dinding dingin kamar kecil yang berwarna hijau muda tak terawat. Bau obat bercampur keringat pasien yang tidak pernah mandi tercium tajam dalam ruangan sempit ini. Kadang muncul perawat berwajah tak sedap dengan sikap seperti sipir penjara membuat pasien bertambah sengsara. Mungkin karena mereka bekerja seharian dengan gaji mereka tidak cukup. Tetapi menurut Ayah, perlakuan perawat rumah sakit pemerintah memang seperti itu, karena penerimaan pegawai di rumah sakit ini menggunakan rasa kekeluargaan yang kental, sehingga profesionalisme tidak ada sama sekali.  </p>
<p>
Sudah hampir seminggu Ayu berada di rumah sakit pemerintah ini. Tubuhnya lemas tak bisa bergerak sama sekali, kendati dokter terus berusaha, tetapi belum ada tanda-tanda perbaikan kesehatannya. Ayu kasihan melihat Ayah dan Bunda yang bolak-balik dari rumah hanya untuk menjaganya yang sudah tidak ada harapan hidup lagi. Biaya yang harus ditanggung sangat besar yang harus dipinjam dari sana sini, sementara pelayanan yang didapatkan hanya seadanya.  </p>
<p>
Ayu memandangi jazadnya yang terbujur lemah di tempat tidur beralas seprei putih. Tarikan nafas satu-satu masih ada dan mata yang tidak terbuka. Ayahnya mengatakan bahwa Ayu terbaring di rumah sakit ini karena kecelakaan sepeda bermotor malam minggu lalu di Sei Ladi, bersama kekasihnya Adi. Nyawa Adi sudah tidak tertolong lagi dan kini tubuhnya telah bersatu dengan tanah di Sei Temiang. Sejak saat itu, Ayu tahu bahwa dia tidak bisa bertemu Adi kembali. Ayu selalu merasakan sesak jika mengingat hal itu.</p>
<p>
Kini sebagian jiwa Ayu terasa hilang. Tidak pernah terlintas dibenaknya jika harus berpisah selamanya dengan Adi. Hari-hari kebersamaan yang mereka jalin berdua membuat Ayu lupa rasanya hidup sendiri. Kini Ayu hanya bisa menangis lirih, meratapi nasib yang tidak menentu, melihat tubuhnya yang semakin layu menyongsong maut menjemput dan tanpa Adi yang mendampingi.</p>
<p>
“Mengapa aku masih di sini?”, Ayu bertanya lirih pada diri sendiri. “Mengapa aku tidak langsung saja mati lalu dikubur seperti Mas Adi agar kami dapat duduk menunggu pintu akhirat terbuka? MENGAPA AKU TERGANTUNG SEPERTI INI?” Ayu terisak kembali.</p>
<p>
“Masih bingung?”, tanya Arini mendekat menyentuh bahu Ayu dengan lembut. Arini seorang gadis manis berhati lembut dengar tutur kata semanis madu. Menurut Arini, dia sudah lama tinggal di rumah sakit ini, akibat penyakitnya yang tidak kunjung sembuh. Kini dia hanya gentayangan berjalan di lorong rumah sakit menghabisi waktu, menunggu kata ampunan dari orang tuanya yang ada di tanah jawa sana.</p>
<p>
“Begitulah Ar”, ujar Ayu lemah. “Andaikan aku langsung saja meninggal dunia, aku tidak perlu susah hati menahan rinduku terhadap Mas Adi”</p>
<p>
“Sudahlah Ayu, terimalah keadaanmu dengan lapang dada. Selama apapun kamu berkabung, tidak akan mengubah keadaan sama sekali. Tabah saja”</p>
<p>
“Ar, kami telah merencanakan pernikahan dan mencoba merajut masa depan kami berdua. Impianku dengan Mas Adi telah bulat terbina”, ujar Ayu terisak. ”Namun, kini mimpiku hancur menjadi kepingan sehalus debu”</p>
<p>
“Hhh&#8230;”, Arini hanya bisa mendesah mendengar keluh-kesah teman barunya. Arini bisa memahami rasa kehilangan yang dirasakan oleh Ayu. Kesunyian menyelimuti mereka berdua. </p>
<p>
Masih terbayang di wajah Ayu, bagaimana mereka berdua perlahan merajut cinta. Tanjungpinang, Pulau Penyengat, Bioskop, Marina telah menjadi saksi akan kekuatan cinta mereka. Adi selalu setia setiap saat. “Ahh alangkah Indahnya”</p>
<p>
Di sela isakan tangis, Ayu berdiri lalu melangkah pelan ke luar kamar kamar diikuti Arini. Terlihat makhluk – makhluk gentayangan lain bernaung di kegelapan bayangan benda. Di rumah sakit ini memang bergelimang makhluk gentayangan yang belum bisa meninggalkan segala urusan dunia yang mereka tinggalkan. Mereka yang tidak bisa menerima ajal mereka menjemput dan mati dengan ketenangan. Cinta, bencian, sayang dan banyak hal lain yang menghambat mereka menghadapi kematian dengan lapang. Berbeda dengan Ayu yang belum bisa meninggalkan raganya, karena maut masih enggan singgah di kehidupannya. Dia iri dengan orang-orang yang telah mati ini, karena kematianlah yang dia minta. </p>
<p>
“Mari kita jalan ke halaman Ar”, ujar Ayu. Hampir setiap malam mereka berjalan-jalan di taman rumah sakit. Kadang &#8211; kadang mereka jalan hingga ke hutan-hutan kecil yang terletak di sekitar penjara ini. Hanya untuk mengilangkan rasa duka yang dalam dan membuang ingatan terhadap kekasihnya walau hanya sesaat saja.</p>
<p>
Dengan langkah pelan mereka jalan menuruni tangga, berjalan diantara para arwah yang sedang duduk sedih, diam dan menyendiri. Roh gentayangan di rumah sakit pada dasarnya adalah roh-roh yang penuh dengan kesedihan dan lebih suka menyendiri. Menangis dan meratapi kematian menjadi bagian perjalanan mereka menghabisi hari-hari penantian. Roh-roh ini lebih suka berselindung di tempat remang, gelap dan dingin dalam meratapi nasib mereka. Kasihan&#8230;</p>
<p>
Kepekatan malam menyambut mereka berdua, dalam kehampaan pikiran. Di halaman dekat tiang bendera, duduk seorang kakek tua yang sedang meratap, menunggu jemputan cucunya tersayang yang tak kunjung datang. Di kegelapan POS kemananan berdiri sesosok gagah seorang mantan anggota keamanan yang sudah meninggal, dan merasa dirinya masih mampu menjaga rumah sakit. Dengan pakaian seragam putih tanpa tanda pangkat berdiri gagah menyapa orang-orang yang lalu-lalang di lingkungan rumah sakit. Yang menyahut tentulah roh halus saja.</p>
<p>
“Mau ke mana lagi nich Dek?”, tanya petugas keamanan itu, tersenyum manis. Ayu merasakan kehangatan pada sikapnya. Bapak penjaga ini lebih cocok menjadi perawat daripada perawat yang ada di dalam. </p>
<p>
“Biasalah pak, bosan di atas!”, ujar Arini. “Mau jalan-jalan di dekat pepohonan dan jalan setapak yang gelap itu pak”</p>
<p>
“Ok. Selamat menikmati dan jangan lupa, hati-hati”</p>
<p>
“Terima kasih pak”</p>
<p>
Mereka berjalan melangkah keluar halaman rumah sakit yang sempit. Melewati jalan setapak di kegelapan dan sepi, hanya sesekali sepeda motor atau mobil pengunjung rumah sakit melintasi dengan terburu-buru. Keheningan masih menyelimuti mereka berdua. Arini menunggu keheningan di antara mereka berakhir. </p>
<p>
“Ar, menurut kamu bagaimana dengan kelanjutan nasib ku? Apakah akan seperti kamu?”</p>
<p>
“Aku harap kamu tidak perlu seperti ini Yu. Kasus kita berbeda. Kamu masih ada kesempatan hidup, karena tubuhmu hanyalah mati suri. Sedangkan tubuhku sudah menyatu dengan tanah. Aku tidak punya pilihan lain selain menunggu kata ampunan dari orang tuaku. Entah bagaimana caranya agar aku bisa mendengar suara mereka lagi”</p>
<p>
“Tetapi, tanpa Mas Adi hidupku akan terasa seperti hampa. Mati seperti kamu lebih baik daripada hidup tanpa arah yang jelas seperti aku”</p>
<p>
“Tidak bisa begitu Yu, aku pun gentayangan dan belum mencapai kedamaian yang kuharapkan. Ketika seperti ini, kita tidak bisa menyentuh orang-orang yang kita cinta tanpa membuat mereka takut. Mendengar suara kita pun mereka akan lari terbirit-birit, apalagi kita menampakkan diri di depan mereka”</p>
<p>
“Lalu?”</p>
<p>
“Kalau aku menjadi kamu, aku akan memikirkan orang-orang yang kucinta. Ibu, Bapak, Adik bahkan teman-teman lainnya yang telah membuat kita bahagia”, ujar Arini. “Masih banyak limpahan cinta yang akan kamu dapatkan selain dari Mas Adi kamu.” Arini terdiam sejenak. “Kalau aku menjadi dirimu, aku akan melompat ke dalam jasad ku dan memulai hidup yang baru”</p>
<p>
“Tapi tanpa Mas Adi, aku tidak bisa melangkah”</p>
<p>
“Adi bukanlah jodohmu. Kamu harus mampu menerima hal itu. Lagi pula dengan keadaan yang kita alami sekarang, hidup kita menjadi hampa dan tidak menentu.”</p>
<p>
Ayu kembali terdiam. Semua kata-kata yang dikeluarkan oleh Arini banyak benarnya. Dia telah bersikap egois, mengabaikan Ayah, Bunda dan Adiknya hanya karena Mas Adi. Tetapi Ayu tidak dapat membayangkan kehidupan tanpa Adi. Andaikan dia bisa mati sekarang. “Mas Adi, mengapa dirimu tak membawa diriku ?”</p>
<p>
“Lalu mengapa Mas Adi tidak seperti kamu? Mati tapi masih bergentayangan di dunia”</p>
<p>
“Sudah kujelaskan, roh gentayangan seperti aku adalah roh-roh yang belum bisa menerima kematian. Aku masih memiliki beberapa urusan yang harus aku selesaikan. Hingga urusanku selesai, aku akan hilang bersama angin, saat itulah kematian yang tenang kumiliki”</p>
<p>
“Itu berarti Mas Adi sudah menerima kematiannya dan melupakan aku?”</p>
<p>
“Begitulah kira-kira. Adi sudah tenang menunggu waktu akhir tiba”, Arini diam sejenak.</p>
<p>
”Kamu sendiri, bagaimana mengakhiri masa penantian ini?”</p>
<p>
“Entahlah. Aku pun tidak tahu bagaimana menyelesaikannya. Mau pulang ke Ngunut aku tidak mampu, sebab jalan ke sana sangat jauh dan berbelit. Aku ingin sekali bersimpuh di depan ibu dan ayahku yang telah membenciku selama ini dan meminta ampun kepada mereka selagi mereka hidup di dunia”</p>
<p>
“Apakah aku memiliki pilihan?”</p>
<p>
“Kamu memiliki pilihan terbaik Ayu. Kembali ke tubuhmu dan jalani hidup berbakti pada orang tua, sebelum terlambat. Jangan gentayangan seperti kami yang sudah tidak memiliki harapan hidup lagi”</p>
<p>
Ayu terdiam sejenak, memikirkan perkataan Arini. Bersama Adi, dia memiliki episode yang terindah yang sudah menjadi sejarah indah kehidupan. Tetapi dengan orang tuanya serta adik kecilnya, Ayu memiliki memori yang tidak mungkin terlupakan. Masih segar dalam ingatan Ayu ketika dia mulai masuk sekolah dasar di antar ibunya, saat sekolah SMP dengan kenakalan-kenakalan yang selalu dimaafkan ibunya, bermain dengan adiknya dll. Kenangan indah itu tidak mungkin akan dibuang sia-sia dan akan banyak kenangan terbuat jika dia memilih kehidupan bersama mereka dan tidak seperti sekarang ini. </p>
<p>
“Yah.. mungkin aku harus melakukan hal itu”, ujar Ayu. “Aku akan kembali ke keluargaku, toh Mas Adi telah melupakan diriku dan meninggalkan ku serta dunia dengan ketenangan yang abadi”</p>
<p>
“Mari kita kembali ke kamarmu”, ujra Arini cepat. “Jangan sampai terlambat” </p>
<p>
Mereka berdua bergegas kembali ke rumah sakit. Ayu sudah membulatkan tekad ingin kembali ke jasadnya yang sengsara ditinggal rohnya yang gentayangan tidak karuan menyesali kejadian yang telah lalu dengan sikap egois. Kini dia tahu, orang tuanya lah yang paling berharga dan dijaga selama mereka masih bernafas. “Maafkan aku Ayah dan Bunda” </p>
<p>
“Ayu”, ujar Arini setelah mereka berdiri di depan tubuh Ayu yang terbaring pasrah. Ayu sudah siap ingin masuk kembali ke dalam tubunya yang rapuh. </p>
<p>
“Iya Rin”</p>
<p>
“Setelah ini, kamu tidak akan bisa melihatku lagi. Kamu telah menjadi manusia utuh lagi. Kuharap kamu mengingatku”</p>
<p>
“Aku akan selalu mengingatmu, sahabat.”</p>
<p>
“Kalau kamu hidup nanti, titip salam untuk orang tuaku di Ngunut, agar aku bisa mati dengan tenang”</p>
<p>
“Ya. Aku berjanji”</p>
<p>
“Biarkan aku mendengar suara mereka agar aku tahu bahwa mereka telah memaafkan aku. Aku ingin mati dengan ketenangan Yu.”</p>
<p>
“Baiklah. Aku akan mencoba menghubungi mereka”</p>
<p>
“Tanyakan alamatku dengan Wahyu” ujar Arini. Wahyu adalah kekasih Arini. Mereka berdua pernah ke rumah Wahyu ketika dia tidak ada di rumahnya. </p>
<p>
“Ok.”</p>
<p>
“Terima kasih”</p>
<p>
Ayu mulai duduk di dekat tubunya yang terbaring tak berdaya, menanti roh kembali ke jasad. Tekad Ayu sudah bulat karena mengingat Mas Adi adalah kesia-siaan. Mas Adi tak akan pernah kembali lagi bahkan sudah melupakan dirinya. Ayu akan menuliskan episode baru tanpa Mas Adi. Semoga bisa. </p>
<p>
Ayu sudah mulai mengambil posisi sesuai dengan posisi tubuhnya. Perlahan, tapi pasti dia mulai menyatu, dilihat Arini yang menampilkan wajah sedih, melambaikan tangan perpisahan. “Aku tidak akan melupakanmu Arini. Jangan takut. Aku tidak akan melupakanmu” </p>
<p>
“AYU!”, tiba-tiba terdengar suara yang amat dirindukannya. Dilihatnya Adi sedang berdiri di depan pintu kamar dengan wajah penuh ceria. Mata kerinduannya yang memuncak menyorot tajam ke arah Ayu yang hampir menyatu dengan tubuh lemasnya. </p>
<p>
“Mas!”, dengan segera Ayu turun dari tempat tidur melayang ke arah Adi dan memeluk erat seolah tak mau dilepaskan lagi. “Mas tega sekali meninggalkan Ayu sendiri di sini”</p>
<p>
“Maafkan Mas, Ayu. Mas tidak tahu kalau Ayu sedang sakit”, ujar Adi. </p>
<p>
“Ayu tidak saja sakit Mas. Ayu sudah mati. Ayu mati suri”</p>
<p>
“Hah! Kenapa?”</p>
<p>
“Gara-gara kecelakaan di Sei Ladi. Mas Adi sudah mati juga”</p>
<p>
“Kecelakaan?”, Adi masih belum bisa mengingat kapan kecelakaan terjadi. “Aku mati?”</p>
<p>
“Mas Lupa?”, tanya Ayu. Adi mengangguk lesu penuh tanya. Ternyata dia bukan menjadi manusia super, tetapi roh gentayangan seperti Martuani. Martuani yang ada di dibelakangnya, tersenyum puas. </p>
<p>
Ayu menceritakan seluruh kejadian yang menimpa mereka berdua ketika mereka baru pulang dari bioskop. Adi masih belum bisa mengingat kejadiannya tetapi dia percaya apa yang dikatakan oleh Ayu, dan itu tidak perlu dipikirkan lagi. Ayu kini telah berada di sisinya dan mereka berdua tidak akan terpisahkan lagi, bahkan oleh maut sekalipun karena mereka berdua toh telah mati..</p>
<p>
“Ayu, mari kita keluar dari rumah sakit ini”, ajak Adi penuh kemesraan. Ayu menoleh ke arah Arini dengan tatapan ajakan, tetapi Arini menolak karena rumah sakit ini telah menjadi bagian dirinya kini. Lagi pula, dia harus mencari orang lain yang akan menyampaikan kata ampun kepada orang tuanya.</p>
<p>
“Jaga tubuhku ya Ar”</p>
<p>
Arini mengangguk lesu. Kini dia harus menunggu lebih lama agar bisa mati dengan tenang. Kematian yang diidamkannya. Mudah-mudahan suatu saat Ayu sadar bahwa kehidupan lebih baik daripada kematian walaupun berdua bersama kekasih. Sehidup-semati tidak pernah baik bagi kita manusia. </p>
<p>
Ayu, Adi dan Martuani melangkah keluar rumah sakit menuju jembatan Sei Ladi, berkumpul dengan roh yang sedang menikmati dinginnya suasana malam dan keindahan Batam di waktu malam.  </p>
<p>
“Aku sudah mati, dan aku akan menjalani hari berdua dengan Ayu, selamanya”, Adi berkata dalam hati penuh kemenangan.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/ceritakecil.wordpress.com/85/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/ceritakecil.wordpress.com/85/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ceritakecil.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ceritakecil.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ceritakecil.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ceritakecil.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ceritakecil.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ceritakecil.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ceritakecil.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ceritakecil.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ceritakecil.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ceritakecil.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ceritakecil.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ceritakecil.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ceritakecil.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ceritakecil.wordpress.com/85/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ceritakecil.wordpress.com&amp;blog=3893095&amp;post=85&amp;subd=ceritakecil&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ceritakecil.wordpress.com/2008/08/02/kisah-adi-dan-ayu-bag-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cd1063d1f8533dd0b2b9aa44615a508c?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Syaifi</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>

