<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3620016964474130753</id><updated>2024-12-19T10:32:55.394+07:00</updated><category term="Jawa Tengah"/><category term="A"/><category term="K"/><category term="R"/><category term="S"/><category term="T"/><category term="D"/><category term="E"/><category term="G"/><category term="J"/><title type='text'>Cerita Rakyat Jateng</title><subtitle type='html'>Kumpulan Cerita Rakyat Jawa Tengah dan Nusantara</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatjateng.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3620016964474130753/posts/default'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatjateng.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Android90</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02757444968399701178</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhAZqk3b2PzPFqvdCvNyUUBlCAoRqOm26ikQuhnRY4UcF0CVGFrMgwke-yoJ2GnjRLHTFSYcq8LHiSJTZnChRcUy4iUzfr4T0ozIgGUjR9eNyomLTE21wvBYfQJ1ejMChs/s115/Android.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>10</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3620016964474130753.post-4982630170297822388</id><published>2012-05-30T10:50:00.000+07:00</published><updated>2012-05-30T10:50:08.896+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="A"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Jawa Tengah"/><title type='text'>Arya Penangsang</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;240&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjogv_DJ3EhoQTxneGjwDAjb-O9cICInJ62UwB2NWlpaGSHlycFaKhWSPHX6rjoECbzf_l15QNc2X_heYqNSHZXNTIIXRDZ-qOMuaSZ9I7nDeMAg3tKkuGMXeNr8L8fQEaKCKbguHaikuA/s320/arya+penangsang.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%; text-align: justify;&quot;&gt;Arya Penangsang adalah seorang adiati di Jipang Panolan yang sakti dan memiliki sifat pendendam. Dengan sifatnya itu, ia memerintahkan anak buahnya untuk menghabisi nyawa Raja&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%; text-align: justify;&quot;&gt; Kerajaan&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%; text-align: justify;&quot;&gt; Demak, Sunan Prawata. Tidak puas dengan itu, Arya Penangsang pun berniat untuk membinasakan Sultan Hadiwijaya yang berkedudukan di Pajang. Mengapa Arya Penangsang mendendam kepada Sunan Prawata? Lalu, berhasilkah ia membinasakan Sultan Hadiwijaya? Jawabannya dapat Anda temukan dalam cerita &lt;/span&gt;&lt;em style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%; text-align: justify;&quot;&gt;Arya Penangsang&lt;/em&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%; text-align: justify;&quot;&gt; berikut ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin: 6pt 0cm 0.0001pt; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;* * *&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;line-height: 150%; margin: 6pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Pada masa pemerintahaan Kesultanan Demak, tersebutlah seorang adipati yang bernama Arya Penangsang. Ia berkedudukan di Kadipaten Jipang Panolan, Jawa Tengah. Arya Penangsang adalah putra Raden Kikin atau yang biasa dikenal dengan sebutan &lt;em&gt;Pangeran Sekar Seda ing Lepen &lt;/em&gt;(bunga yang tewas di tepi sungai Bengawan Solo).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;line-height: 150%; margin: 6pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Menurut cerita, Raden Kikin tewas di tangan Raden Mukmin atau Sunan Prawata dalam sebuah peperangan karena memperebutkan tahta Kerajaan Demak untuk menggantikan Sultan Trenggana yang telah wafat (1546 M). Setelah itu, Sunan Prawata pun dinobatkan sebagai Sultan Demak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;line-height: 150%; margin: 6pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Adipati Arya Penangsang yang mendapatkan dukungan gurunya, Sunan Kudus, berniat untuk merebut tahta Kesultanan Demak dari tangan Sunan Prawata. Keinginan tersebut muncul bukan saja karena ia ingin menguasai Kerajaan Demak, tetapi juga untuk membalas dendam atas kematian ayahnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;line-height: 150%; margin: 6pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Pada suatu malam di tahun 1549 M, Arya Penangsang memerintahkan pasukan khusus Jipang Panolan yang dikenal dengan nama &lt;em&gt;Pasukan Sureng&lt;/em&gt;&amp;nbsp;untuk membinasakan Sunan Prawata. Pasukan itu dipimpin oleh Rangkud. Setibanya di kediaman Sunan Prawata, Rangkut berhasil menyelinap masuk ke dalam kamar tidur Sunan Prawata sementara para anak buahnya berjaga-jaga di luar.&lt;/span&gt;/p&amp;gt;  &lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;line-height: 150%; margin: 6pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Ketika itu, Sunan Prawata sedang menderita sakit sehingga tidak dapat berbuat banyak selain pasrah. Ia pun mengakui kesalahannya dan rela untuk diakhiri hidupnya oleh orang yang tidak dikenalnya itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;line-height: 150%; margin: 6pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;“Hai, Kisanak, habisilah nyawaku! Aku akan bertanggung jawab atas kematian Raden Kikin. Tapi, tolong kamu jangan melukai istriku!” iba Sunan Prawata.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;line-height: 150%; margin: 6pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Rangkud mengabulkan permintaan itu. Namun, ketika ia menghujamkan kerisnya ke tubuh Sunan Prawata, ternyata keris itu tembus hingga mengenai tubuh istri Sunan Prawata yang berlindung di balik punggung suaminya. Tak ayal lagi, istri Sunan Prawata pun tewas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;line-height: 150%; margin: 6pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Melihat istrinya meninggal, Sunan Prawata menjadi marah. Dalam keadaan terluka parah, ia segera mencabut keris yang menancap di tubuhnya lalu dilemparkannya ke arah Rangkud. Sunan Prawata pun berhasil membinasakan Rangkud sebelum dirinya menghembuskan nafas terakhir.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;line-height: 150%; margin: 6pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Sementara itu, Arya Penangsang yang telah menguasai Demak semakin bengis. Ia pun berniat membinasakan menantu Sultan Trenggana yang bernama Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir di Pajang. Untuk itu, ia mengutus empat orang anak buahnya ke Pajang. Setibanya di sana, keempat utusan tersebut justru tertangkap oleh Sultan Hadiwijaya. Namun, mereka tidak dihukum melainkan diberi hadiah dan disuruh kembali ke Jipang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;line-height: 150%; margin: 6pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Kepulangan keempat utusan yang membawa hadiah tersebut tentu saja membuat Arya Penangsang tersinggung dan sangat marah. Ia pun memutuskan untuk menghabisi nyawa Hadiwijaya dengan tangannya sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;line-height: 150%; margin: 6pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Sultan Hadiwijaya yang mengetahui kabar tersebut menganggap Arya Penangsang telah memberontak terhadap Pajang. Namun, ia tidak ingin memerangi Arya Penangsang secara langsung karena mereka sama-sama anggota keluarga Demak dan saudara seperguruan, yaitu sama-sama murid Sunan Kudus. Untuk menghadapi pemberontak itu, Sultan Hadiwijaya mengadakan sayembara. Barang siapa mampu membinasakan Arya Penangsang, maka ia akan diberi hadiah tanah di daerah Pati dan hutan Mataram.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;line-height: 150%; margin: 6pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Atas desakan Ki Juru Martani, Ki Ageng Pamanahan dan adik angkatnya, Ki Penjawi, yang merupakan &lt;em&gt;abdi dalem&lt;/em&gt; Sultan Hadiwijaya, pun ikut dalam sayembara tersebut. Ki Ageng Pamanahan dan Ki Juru Martani segera menyusun rencana dan taktik peperangan melawan Arya Penangsang. Ki Juru Martani menyarankan kepada Ki Ageng Pamanahan untuk mengusahakan agar mereka dapat membawa tombak pusaka Kyai Plered milik Sultan Hadiwijaya ke medan perang karena hanya tombak itulah yang mampu melukai Arya Penangsang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;line-height: 150%; margin: 6pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Atas saran Ki Juru Martani, Ki Ageng Pamanahan memohon kepada Sultan Hadiwijaya untuk membawa serta anak angkat sang Sultan yang bernama Danang Sutawijaya ke medan perang. Dengan begitu, Sultan Hadiwijaya akan meminjamkan keris pusakanya kepada putra angkatnya itu. Sultan Hadiwijaya pun menyetujuinya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;line-height: 150%; margin: 6pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Pada hari yang telah ditentukan, Ki Ageng Pamanahan bersama rombongannya berangkat menuju daerah Jipang. Penyerangan itu dipimpin oleh Ki Juru Martani. Setibanya di tepi sungai Bengawan Solo yang merupakan tapal batas wilayah Sela dan Jipang, Ki Juru Martani segera mengatur siasat. Danang Sutawijaya tampak berdiri di samping seekor kuda putih yang akan ditungganginya untuk menghadapi Arya Penangsang. Di tangannya tergenggam tombak pusaka Kyai Plered yang ujungnya ditutupi kain putih dan diberi rangkaian bunga melati.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;line-height: 150%; margin: 6pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Tak jauh dari tempat pasukan Pajang bersembunyi, tampak seorang &lt;em&gt;pekatik&lt;/em&gt; (pemelihara kuda) yang sedang mencari rumput untuk kuda milik Arya Penangsang. Ki Juru Martani pun segera menangkap &lt;em&gt;pekatik&lt;/em&gt; itu lalu melukai telinganya dan mengalunginya surat tantangan. Setelah itu, si &lt;em&gt;pekatik&lt;/em&gt; disuruh segera kembali ke Jipang untuk menghadap Arya Penangsang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;line-height: 150%; margin: 6pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Setibanya di Jipang, &lt;em&gt;pekatik&lt;/em&gt; itu segera menyerahkan surat itu kepada Patih Matahun untuk dibaca di hadapan Arya Penangsang. Isi surat itu berbunyi seperti berikut:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;line-height: 150%; margin: 6pt 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;“&lt;em&gt;Hei, Penangsang! Yen sira nyata lanang sejati, payo tandhing lawan ingsun. Dak anti sapinggiring bengawan tapel wates. Yen ora wani nekani, nyata sira wandu kang memba rupa! Budhala tanpa rowang! Ingsun wong Sela wus tan bisa suwe nahan sedyaning tyas kapeing nigas janggamu&lt;/em&gt;!”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;line-height: 150%; margin: 6pt 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Artinya: “Hai, Penangsang! Jika kamu nyata lelaki sejati, mari bertanding denganku! Aku tunggu di pinggir sungai tapal batas. Jika tidak berani datang, jelaslah kamu seorang banci yang menyamar sebagai lelaki! Berangkatlah tanpa prajurit! Aku orang Sela sudah gatal ingin memenggal kepalamu!”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;line-height: 150%; margin: 6pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Mengetahui isi surat itu, Arya Penangsang langsung menggebrak meja di sampingnya. Ia lalau segera mengenakan pakaian perang dan keris pusakanya yang bernama Kyai Setan Kober.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;line-height: 150%; margin: 6pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;“Prajurit! Siapkan Kyai Gagak Rimang!” seru Arya Penangsang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;line-height: 150%; margin: 6pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Kyai Gagak Rimang adalah kuda andalan Arya Penangsang yang biasa dipakai untuk mengalahkan musuh-musuhnya dalam peperangan. Gagak Rimang perawakannya gagah dan tegap, badannya tinggi dan besar serta sangat lincah. Warna bulunya yang hitam mengkilap membuatnya tampak berwibawa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;line-height: 150%; margin: 6pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Dengan mata merah penuh amarah, Arya Penangsang segera menunggangi Kyai Gagak Rimang menuju sungai tapal batas wilayah Jipang. Setibanya di tepi sungai, Arya Penangsang melihat seorang anak kecil yang sedang menunggang kuda putih di seberang sungai. Anak kecil itu tak lain adalah Sutawijaya yang sudah siap dengan tombak pusakanya. Melihat kedatangan Arya Penangsang, Danang Sutawijaya berteriak dengan suara nyaring.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;line-height: 150%; margin: 6pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;“Hai, Penangsang! Lawanlah aku kalau kamu berani!”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;line-height: 150%; margin: 6pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Dada Arya Panangsang bagai dibakar api mendengar suara anak kecil yang menantangnya itu. Ia tidak sanggup lagi menahan emosinya. Dengan segera ia menarik tali kekang Kyai Gagak Rimang sehingga kuda itu meringkik dan berlari menapaki dasar Sungai Bengawan yang hanya setinggi lutut. Betapa senangnya hati Danang Sutawijaya melihat Arya Penangsang mendahuluinya mencebur ke sungai. Konon, jika terjadi peperangan atau pertarungan di Sungai Bengawan, pihak yang lebih dahulu turun ke sungai pasti akan kalah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;line-height: 150%; margin: 6pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Tanpa ragu lagi, Sutawijaya segera menghela kuda putihnya turun ke sungai. Begitu ia berhadap-hadapan dengan Arya Penangsang, putra Ki Ageng Pamanahan itu segera memutar arah kudanya sehingga membelakangi kuda Arya Penangsang. Kuda hitam kesayangan Arya penangsang pun tiba-tiba bertingkah aneh dan menjadi liar karena kuda yang ditunggangi Sutawijaya ternyata kuda betina. Kemaluan kuda putih terlihat dengan jelas karena ekornya sengaja diikat ke atas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;line-height: 150%; margin: 6pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Semakin lama Kyai Gagak Rimang semakin liar dan berontak hingga Arya Penangsang kerepotan mengendalikannya. Melihat Arya Penangsang sibuk mengendalikan kudanya, Sutawijaya tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia segera menusukkan tombak pusaka Kyai Plered ke perut Arya Penangsang hingga robek hingga sebagian ususnya terburai.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;line-height: 150%; margin: 6pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Meski demikian, Arya Penangsang yang sakti itu masih hidup. Ia berusaha meraih ususnya yang terburai itu lalu dikalungkannya pada warangka keris pusaknya. Setelah itu, ia segera menarik tali kekang kudanya untuk mengejar Sutawijaya. Begitu mendekat, Arya Penangsang meraih tubuh Sutawijaya yang kecil itu dan membantingnya ke tanah hingga tak berdaya. Arya Penangsang segera turun dari kudanya lalu menginjak dada Sutawijaya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;line-height: 150%; margin: 6pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Melihat putranya dalam keadaan bahaya, Ki Ageng Pamanahan segera keluar dari tempat persembunyiannya. Ia segera menggunakan siasatnya dengan berpura-pura memihak kepada Arya Penangsang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;line-height: 150%; margin: 6pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;“Hai, Arya Penangsang! Habisi saja nyawa putra Sultan Hadiwijaya itu!” teriak Ki Ageng Pamanahan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;line-height: 150%; margin: 6pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Arya Penangsang pun baru sadar bahwa ternyata anak kecil yang diinjak dadanya itu adalah putra musuhnya. Dengan geram, ia segera mencabut keris Kyai Brongot Setan Kober dari pinggangnya. Namun, ia lupa jika sebagian ususnya tersampir di warangka keris pusaka itu. Begitu ia mengangkat keris itu, seketika itu pula ususnya terputus. Tak ayal lagi, tubuh Adipati Jipang itu tersungkur ke tanah dan tewas seketika.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;line-height: 150%; margin: 6pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Setelah Arya Penangsang tewas, Ki Ageng Pemanahan beserta rombongannya kembali ke Pajang untuk melapor kepada Sultan Hadiwijaya bahwa Arya Penangsang telah tewas. Sultan Hadiwijaya sangat gembira mendengar kabar gembira itu. Sesuai dengan janjinya, maka ia pun menghadiahi Ki Ageng Pamanahan dan Ki Penjawi tanah di Pati dan tanah di hutan Mataram.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;line-height: 150%; margin: 6pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Setelah melalui perundingan, Ki Ageng Pamanahan mendapatkan bagian tanah di hutan Mataram sedangkan Ki Penjawi mendapatkan bagian tanah di Pati. Atas restu Sultan Hadiwijaya, keduanya menuju ke bagian masing-masing. Ki Ageng Pamanahan pun mengajak putranya, Danang Sutawijaya, untuk ikut serta pindah dan menetap di daerah yang menjadi bagiannya. Di sana, mereka mengubah hutan belantara itu menjadi pusat kerajaan besar yang bernama Kerajaan Mataram.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin: 6pt 0cm 0.0001pt; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;* * *&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;line-height: 150%; margin: 6pt 0cm 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Demikian cerita sejarah &lt;em&gt;Arya Penangsang&lt;/em&gt; dari daerah Jawa Tengah, Indonesia. Pelajaran yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa orang yang memiliki sifat bengis dan pendendam seperti Arya Penangsang pada akhirnya akan mendapatkan musibah. Arya Penangsang tewas dalam pertarungan karena selalu kurang perhitungan dalam bertindak. Hal ini terjadi karena hati dan pikirannya telah digerogoti oleh sifat dendam sehingga ia menjadi kalap.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatjateng.blogspot.com/feeds/4982630170297822388/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatjateng.blogspot.com/2012/05/arya-penangsang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3620016964474130753/posts/default/4982630170297822388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3620016964474130753/posts/default/4982630170297822388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatjateng.blogspot.com/2012/05/arya-penangsang.html' title='Arya Penangsang'/><author><name>Android90</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02757444968399701178</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhAZqk3b2PzPFqvdCvNyUUBlCAoRqOm26ikQuhnRY4UcF0CVGFrMgwke-yoJ2GnjRLHTFSYcq8LHiSJTZnChRcUy4iUzfr4T0ozIgGUjR9eNyomLTE21wvBYfQJ1ejMChs/s115/Android.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjogv_DJ3EhoQTxneGjwDAjb-O9cICInJ62UwB2NWlpaGSHlycFaKhWSPHX6rjoECbzf_l15QNc2X_heYqNSHZXNTIIXRDZ-qOMuaSZ9I7nDeMAg3tKkuGMXeNr8L8fQEaKCKbguHaikuA/s72-c/arya+penangsang.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3620016964474130753.post-6647691608267319575</id><published>2012-05-30T10:42:00.000+07:00</published><updated>2012-05-30T10:42:15.262+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="G"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Jawa Tengah"/><title type='text'>Legenda Gunug Wurung</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;320&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEikcwcFdHx-cc5K_1MXzG2Txyz8H7AJtN5T2iFvGe1P577C1R0QghRmEp5g8ahtxQByqLThequr9h_H_Yrwwa_qVnt_ET1afCV3I-ZwEe_LowwQoIuS3mgOVAw23uPyGbRGt2zEsAje48w/s320/Gunung+Wurung.jpg&quot; width=&quot;241&quot; /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Gunung Wurung adalah sebuah gunung yang terletak di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Indonesia. Bentuk gunung ini cukup unik, karena tingginya hanya berkisar 80 meter dan tidak memiliki puncak tertinggi. Menurut masyarakat setempat, gunung ini dibuat oleh para dewa dari Kahyangan. Namun, mereka telah menghentikan pekerjaannya sebelum gunung itu selesai dibuat. Mengapa para dewa tidak menyelesaikan pembuatan gunung itu hingga tuntas? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita &lt;/span&gt;&lt;em style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Legenda Gunung Wurung&lt;/em&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt; berikut ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;* * *&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;strong&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Alkisah, &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;di sebuah daerah (yang sekarang masuk ke dalam wilayah Kecamatan Karangsambung), terdapat sebuah perkampungan kecil yang wilayahnya terdiri dari hamparan tanah datar. Tak satu pun gundukan tanah atau perbukitan yang terlihat di sekitarnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Di suatu malam yang sunyi senyap, para sesepuh kampung tampak sedang berdoa kepada para dewa di Kahyangan. Dengan penuh khusyuk, mereka memohon agar dibuatkan sebuah gunung di dekat tempat tinggal mereka. Rupanya, doa mereka dikabulkan oleh para dewa. Pembuatan gunung itu akan dimulai besok harinya dan akan dikerjakan dalam waktu semalam. Tetapi dengan syarat, tak seorang pun warga yang boleh melihat pada saat gunung itu dibuat.  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Para&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt; sesepuh kampung menyanggupi persyaratan itu. Keesokan paginya, mereka mengumpulkan para warga untuk menyampaikan berita gembira dan persyaratan tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;“Wahai, seluruh wargaku! Kami menghimbau kepada kalian semua agar pada saat hari menjelang senja, masuklah ke dalam rumah kalian masing-masing dan tak seorang pun yang boleh keluar rumah hingga matahari terbit besok pagi!” ujar seorang sesepuh kampung.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;“Maaf, Tuan! Bencana apa yang akan melanda kampung kita? Kenapa kami dilarang keluar rumah?” tanya seorang warga dengan bingung.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;“Ketahuilah, semua bahwa para dewa akan membuatkan sebuah gunung untuk kita dan tak seorang pun yang boleh melihat ketika mereka sedang bekerja,” jelas seorang sesepuh kampung yang lain.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Setelah mendengar penjelasan itu, barulah para warga mengerti mengapa mereka dilarang keluar rumah. Ketika hari menjelang senja, suasana kampung mulai sepi. Seluruh warga telah masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu rapat-rapat. Tak berapa lama kemudian, para dewa pun turun dari Kahyangan untuk mulai bekerja membangun sebuah gunung di daerah hulu kampung. Mula-mula mereka membangun tiang-tiang yang kokoh. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Setelah separuh malam bekerja, para dewa telah selesai membangun tiang-tiang tersebut. Tiang-tiang tersebut kemudian mereka timbuni dengan tanah hingga nantinya membentuk sebuah gunung. Para dewa bekerja sesuai dengan tugas masing-masing tanpa berbicara sepatah kata pun. Mereka terus bekerja hingga larut malam tanpa mengenal lelah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Ketika hari menjelang pagi, pembuatan gunung itu hampir selesai, tinggal menyelesaikan penimbunannya yang tersisa sedikit lagi. Pada saat para dewa masih sibuk bekerja, tiba-tiba dari arah kampung seorang gadis berjalan menuju ke &lt;em&gt;luk ulo&lt;/em&gt; (sungai) yang berada di sekitar tempat pembuatan gunung tersebut. Rupanya, gadis itu tidak mengetahui pengumuman tentang larangan keluar rumah pada malam itu. Sebab, pada waktu pengumuman itu disampaikan oleh salah seorang sesepuh kampung, ia tidak hadir dan tak seorang pun warga yang memberitahu tentang hal itu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Gadis itu datang ke sungai karena ingin mencuci beras untuk dimasak. Ia berjalan tanpa memperhatikan keadaan di sekelilingnya karena suasana masih gelap. Pada saat akan turun ke sungai, gadis itu terperanjat karena tiba-tiba di hadapannya ada sebuah bukit. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;“Hah, kenapa tiba-tiba ada bukit di tempat ini? Padahal, hari-hari sebelumnya tempat ini masih datar? Ya Tuhan, mimpikah aku ini?” gumam gadis itu seolah tidak percaya terhadap apa yang dilihatnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Namun, begitu melihat beberapa sosok makhluk yang menyeramkan bergerak cepat sambil mengangkat batu besar tanpa sepatah kata pun, gadis itu langsung berlari meninggalkan sungai karena ketakutan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;“Tolooong… Tolooong… Tolong aku!” teriaknya dengan keras.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Gadis itu terus berlari tanpa memperdulikan lagi keadaan dirinya sehingga beras yang hendak dicucinya dilemparkan begitu saja. Tak ayal lagi, beras tersebut berceceran di sekitar bukit. Konon, beras tersebut menjelma menjadi bebatuan yang bentuknya mirip dengan beras. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Para&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt; dewa yang mendengar suara teriakan gadis itu menjadi tersentak. Mereka pun menyadari bahwa ternyata pekerjaan mereka telah disaksikan oleh manusia. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;“Penduduk kampung telah melanggar perjanjian kita. Ayo kita tinggalkan tempat ini!” seru salah satu dewa kepada dewa yang lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Akhirnya, para dewa tersebut menghentikan pekerjaannya. Mereka meninggalkan tempat itu dan bergegas kembali ke Kahyangan. Padahal, pembangunan gunung itu belum selesai. Akhirnya, batallah pembuatan gunung itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;* * *&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Demikianlah cerita &lt;em&gt;Legenda Gunung Wurung&lt;/em&gt; dari daerah Kebumen, Jawa Tengah. Masyarakat setempat menamainya “Gunung Wurung” karena menganggap gunung tersebut belum jadi atau belum selesai. Kata &lt;em&gt;wurung&lt;/em&gt; dalam bahasa Jawa berarti belum jadi atau batal. Secara geologis, Gunung Wurung terbentuk dari batuan intrusi, materi batuan yang sebelumnya berupa bahan cair, pijar, dan panas berasal dari magma di perut bumi yang hendak menerobos permukaan, namun terlanjur membeku sebelum muncul ke permukaan. Sedangkan batuan berwarna yang mirip dengan beras disebut dengan batu diabas. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Dengan membaca cerita ini, setidaknya kita telah mengetahui mengapa Gunung Wurung berbentuk demikian (hanya separuh), karena pembangunannya tidak diselesaikan oleh para dewa, sebagaimana yang diyakini oleh empunya cerita.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatjateng.blogspot.com/feeds/6647691608267319575/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatjateng.blogspot.com/2012/05/legenda-gunug-wurung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3620016964474130753/posts/default/6647691608267319575'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3620016964474130753/posts/default/6647691608267319575'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatjateng.blogspot.com/2012/05/legenda-gunug-wurung.html' title='Legenda Gunug Wurung'/><author><name>Android90</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02757444968399701178</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhAZqk3b2PzPFqvdCvNyUUBlCAoRqOm26ikQuhnRY4UcF0CVGFrMgwke-yoJ2GnjRLHTFSYcq8LHiSJTZnChRcUy4iUzfr4T0ozIgGUjR9eNyomLTE21wvBYfQJ1ejMChs/s115/Android.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEikcwcFdHx-cc5K_1MXzG2Txyz8H7AJtN5T2iFvGe1P577C1R0QghRmEp5g8ahtxQByqLThequr9h_H_Yrwwa_qVnt_ET1afCV3I-ZwEe_LowwQoIuS3mgOVAw23uPyGbRGt2zEsAje48w/s72-c/Gunung+Wurung.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3620016964474130753.post-49970268893676444</id><published>2012-02-15T20:47:00.000+07:00</published><updated>2012-02-15T20:47:13.501+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="J"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Jawa Tengah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="T"/><title type='text'>Jaka Tarub</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj9A3r1CA1htK7bgsrWDiVtBXpYRaiEr577t3ZtIBQqVb5NGgKaLpxG1-AHml5IAS9bHsYs6CAFDxskvb-HF6imINDRv_LXASjBkHL0dmcmW7g1t-uYng4nTIBIQl6HuT1sUka8Z5pUWeA/s1600/LEGENDA+JAKA+TARUB.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;252&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj9A3r1CA1htK7bgsrWDiVtBXpYRaiEr577t3ZtIBQqVb5NGgKaLpxG1-AHml5IAS9bHsYs6CAFDxskvb-HF6imINDRv_LXASjBkHL0dmcmW7g1t-uYng4nTIBIQl6HuT1sUka8Z5pUWeA/s400/LEGENDA+JAKA+TARUB.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Dahulu kala, di Desa Tarub, tinggal­lah seorang janda bernama &lt;em&gt;Mbok&lt;/em&gt; Randa Tarub. Sejak suaminya me­­ninggal dunia, ia mengangkat seorang bo­­­cah laki-laki sebagai anaknya. Setelah dewa­sa, anak itu dipanggilnya Jaka Tarub.&lt;span style=&quot;font-size: 9pt; letter-spacing: -0.1pt; line-height: 150%;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;ISI&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0cm;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Jaka Tarub anak yang baik. Tangannya ringan melakukan pekerjaan. Setiap hari, ia membantu Mbok Randha mengerjakan sawah ladangnya. Dari hasil sawah ladang itulah mereka hidup. Mbok Randha amat mengasihi Jaka Tarub seperti anaknya sendiri. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;ISI&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0cm;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 9pt; letter-spacing: -0.1pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Waktu terus berlalu. Jaka Tarub ber­anjak dewasa. &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 9pt; letter-spacing: -0.1pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Wajahnya tampan, tingkah lakunya pun sopan. &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 9pt; letter-spacing: -0.1pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Banyak gadis yang men­dambakan untuk menjadi istrinya. Na­mun Jaka Tarub belum ingin beristri. Ia ingin berbakti kepada Mbok Randha yang di­anggap­nya sebagai ibunya sendiri. Ia be­ker­ja se­makin tekun, sehingga hasil sawah ladang­nya melimpah. Mbok Randha yang pe­­murah akan membaginya dengan te­tang­ga­nya yang kekurangan. “Jaka Tarub, Anakku. Mbok lihat kamu sudah de­wasa. Sudah pantas meminang gadis. Lekaslah me­nikah, Simbok ingin menimang cucu,” kata Mbok Randha suatu hari.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;ISI&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0cm;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;“Tarub belum ingin, Mbok,” jawab Jaka Tarub.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;ISI&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0cm;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;“Tapi jika &lt;em&gt;Simbok&lt;/em&gt; tiada kelak, siapa yang akan mengurusmu?” tanya Mbok Randha lagi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;ISI&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0cm;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;“Sudahlah, Mbok. Semoga saja Sim­bok berumur panjang,” jawab Jaka Tarub singkat. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;ISI&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0cm;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;“Hari sudah siang, tetapi Simbok be­lum bangun. &lt;em&gt;Kadingaren&lt;/em&gt; ...,” gumam Jaka Tarub suatu pagi. “Simbok sakit ya?” tanya Jaka Tarub meraba kening simboknya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;ISI&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0cm;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;“Iya, &lt;em&gt;Le&lt;/em&gt;,” jawab Mbok Randha lemah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;ISI&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0cm;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;“Badan Simbok panas sekali,” kata Jaka Tarub cemas. &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Ia segera mencari daun dhadhap serep untuk mengompres simbok­nya. Namun rupanya umur Mbok Randha ha­nya sampai hari itu. Menjelang siang, Mbok Randha menghembuskan napas ter­akhirnya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;ISI&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0cm;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;S&lt;span style=&quot;letter-spacing: -0.2pt;&quot;&gt;ejak kematian Mbok Randha, Jaka Tarub sering melamun. Kini sawah ladang­nya terbengkalai. “Sia-sia aku bekerja. &lt;/span&gt;Un­­&lt;span style=&quot;letter-spacing: -0.1pt;&quot;&gt;tuk siapa hasilnya?” demikian gumam Jaka Tarub.&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;ISI&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0cm;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Suatu malam, Jaka Tarub bermimpi me­makan daging rusa. Saat terbangun dari mimpinya, Jaka Tarub menjadi ber­se­­lera ingin makan daging rusa. Maka pagi itu, Jaka Tarub pergi ke hutan sambil mem­bawa sumpitnya. Ia ingin menyumpit rusa. Hingga siang ia berjalan, namun tak seekor rusa pun dijumpainya. Jangankan rusa, kancil pun tak ada. Padahal Jaka Tarub sudah masuk ke hutan yang jarang &lt;em&gt;diambah&lt;/em&gt; manusia. Ia kemudian duduk di bawah pohon dekat telaga melepas lelah. Angin sepoi-sepoi membuatnya tertidur. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;ISI&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0cm;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 9pt; letter-spacing: -0.1pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Tiba-tiba, sayup-sayup terdengar de­rai tawa perempuan yang bersuka ria. Jaka Tarub tergagap. “Suara orangkah itu?” gu­mamnya. Pandangannya ditujukan ke te­la­­­ga. Di telaga tampak tujuh perempuan can­­tik tengah bermain-main air, bercanda, ber­­suka ria. Jaka Tarub menganga melihat ke­­cantikan mereka. Tak jauh dari telaga, ter­geletak selendang mereka. Tanpa pikir panjang, diambilnya satu selendang, ke­mu­di­­an disembunyikannya.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;ISI&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0cm;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 9pt; letter-spacing: -0.1pt; line-height: 150%;&quot;&gt;“&lt;em&gt;Nimas&lt;/em&gt;, ayo cepat naik ke darat. Hari su­dah sore. Kita harus segera kembali ke kah­yangan,” kata Bidadari tertua. Bidadari yang lain pun naik ke darat. Mereka kem­bali mengenakan selendang masing-masing. Na­­­mun salah satu bidadari itu tak mene­­mu­kan selendangnya. &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;ISI&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0cm;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 9pt; letter-spacing: -0.2pt; line-height: 150%;&quot;&gt;“&lt;em&gt;Kakangmbok&lt;/em&gt;, selendangku tidak ada,” katanya.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;ISI&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0cm;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 9pt; letter-spacing: -0.1pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Keenam kakaknya turut membantu men­­cari, namun hingga senja tak ditemu­kan juga. “Nimas Nawang Wulan, kami tak bi­sa menunggumu lama-lama. Mungkin &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 9pt; letter-spacing: -0.2pt; line-height: 150%;&quot;&gt;su­­dah nasibmu tinggal di &lt;em&gt;mayapada&lt;/em&gt;,” &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 9pt; letter-spacing: -0.1pt; line-height: 150%;&quot;&gt;kata Bidadari tertua. “Kami kembali ke kah­ya­ngan,” tambahnya.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;ISI&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0cm;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Nawang Wulan menangis sendirian meratapi nasibnya. &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Saat itulah Jaka Tarub menolongnya. Diajaknya Nawang Wulan pulang ke rumah. Kini hidup Jaka Tarub kembali cerah. Beberapa bulan kemudian, Jaka Tarub menikahi Nawang Wulan. Keduanya hidup berbahagia. Tak lama kemudian Nawang Wulan melahirkan Nawangsih, anak mereka.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;ISI&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0cm;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 9pt; letter-spacing: 0.05pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Pada suatu hari, Nawang wulan ber­pesan kepada Jaka Tarub, “&lt;em&gt;Kakang&lt;/em&gt;, aku sedang memasak nasi. Tolong jagakan apinya, aku hendak ke &lt;em&gt;kali&lt;/em&gt;. Tapi jangan dibuka tutup &lt;em&gt;kukusan&lt;/em&gt; itu,” pinta Nawang Wu­lan. &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 9pt; letter-spacing: 0.05pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Sepeninggal istrinya, Jaka Tarub pe­­na­saran dengan larangan istrinya. Ma­ka dibukanya kukusan itu. Setangkai padi tampak berada di dalam kukusan. “Pan­tas padi di lumbung tak pernah habis. Rupa­nya istriku dapat memasak setangkai padi menjadi nasi satu kukusan penuh,” gumam­nya. Saat Nawang Wulan pulang, ia mem­buka tutup kukusan. Setangkai padi ma­sih tergolek di dalamnya. Tahulah ia bahwa suaminya telah membuka kukusan hingga hilanglah kesaktiannya. Sejak saat itu, Na­wang Wulan harus menumbuk dan me­nam­pi beras untuk dimasak, seperti wa­ni­ta umumnya. Karena tumpukan pa­di­­nya terus berkurang, suatu waktu, Na­­wang Wulan menemukan selendang bi­da­­­da­ri­nya terselip di antara tumpukan pa­di. Tahulah ia bahwa suaminyalah yang me­­nyem­bu­nyi­kan selendang itu. Dengan se­ge­ra dipakainya selendang itu dan pergi menemui suaminya.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;ISI&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0cm;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;“Kakang, aku harus kembali ke kah­yangan. Jagalah Nawangsih. Buatkan da­ngau di sekitar rumah. Setiap malam letak­­kan Nawangsih di sana. Aku akan datang me­nyusuinya. Namun Kakang ja­nganlah mendekat,” kata Nawang Wulan, kemu­di­an terbang ke menuju kahyangan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;ISI&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0cm;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Jaka Tarub menuruti pesan istrinya. &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Ia buat dangau di dekat rumahnya. Setiap malam ia memandangi anaknya ber­­­­main-main dengan ibunya. Setelah Na­wang­sih tertidur, Nawang Wulan kem­bali ke kah­ya­ngan. Demikian hal itu ter­jadi berulang-ulang hingga Nawangsih besar. Walaupun de­mikian, Jaka Tarub dan Nawangsih me­­­­­­rasa Na­wang Wulan selalu menjaga me­reka. Di saat ke­duanya mengalami ke­sulit­­an, ban­­tu­­an akan datang tiba-tiba. Ko­non itu ada­lah bantuan dari Nawang Wulan. &lt;span style=&quot;letter-spacing: -0.1pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;CAPTION&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Mbok, simbok&amp;nbsp;&amp;nbsp; :&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bu, ibu. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;CAPTION&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Kadingaren&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; :&amp;nbsp; tumben.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;CAPTION&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Le, thole&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; :&amp;nbsp; panggilan untuk anak lelaki di Jawa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;CAPTION&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Diambah&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; :&amp;nbsp; dijamah, diinjak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;CAPTION&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Nimas&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; :&amp;nbsp; adik; panggilan untuk adik perempuan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;CAPTION&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Kakangmbok&amp;nbsp; :&amp;nbsp; kakak; panggilan untuk kakak perem­puan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;CAPTION&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Mayapada&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; :&amp;nbsp; bumi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;CAPTION&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Kakang&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; :&amp;nbsp; span&amp;gt;kakak; panggilan untuk kakak laki-laki/ untuk suami.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;CAPTION&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Kali&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; :&amp;nbsp; sungai.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;em&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt;&quot;&gt;Kukusan&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; :&amp;nbsp; alat pengukus berbentuk kerucut, ter­­buat dari bambu yang dianyam.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatjateng.blogspot.com/feeds/49970268893676444/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatjateng.blogspot.com/2012/02/jaka-tarub.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3620016964474130753/posts/default/49970268893676444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3620016964474130753/posts/default/49970268893676444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatjateng.blogspot.com/2012/02/jaka-tarub.html' title='Jaka Tarub'/><author><name>Android90</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02757444968399701178</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhAZqk3b2PzPFqvdCvNyUUBlCAoRqOm26ikQuhnRY4UcF0CVGFrMgwke-yoJ2GnjRLHTFSYcq8LHiSJTZnChRcUy4iUzfr4T0ozIgGUjR9eNyomLTE21wvBYfQJ1ejMChs/s115/Android.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj9A3r1CA1htK7bgsrWDiVtBXpYRaiEr577t3ZtIBQqVb5NGgKaLpxG1-AHml5IAS9bHsYs6CAFDxskvb-HF6imINDRv_LXASjBkHL0dmcmW7g1t-uYng4nTIBIQl6HuT1sUka8Z5pUWeA/s72-c/LEGENDA+JAKA+TARUB.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3620016964474130753.post-3315749513626076237</id><published>2012-02-15T20:40:00.000+07:00</published><updated>2012-02-15T20:40:44.540+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="E"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Jawa Tengah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="T"/><title type='text'>Timun Emas</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhVe-6urtXbsj_G749jjZ7Exc-PDOhkeGqv0FVHDAkRksGeFbd5E8grwzBiILDnxbBB8Kb1t4FbcHiJQYVHHhKmEb0YNMJsMSHfXG0UygB_SAn-n_Cl5OYmgDBJfbJv0UkHKDpNXR1msFw/s1600/graphic11.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhVe-6urtXbsj_G749jjZ7Exc-PDOhkeGqv0FVHDAkRksGeFbd5E8grwzBiILDnxbBB8Kb1t4FbcHiJQYVHHhKmEb0YNMJsMSHfXG0UygB_SAn-n_Cl5OYmgDBJfbJv0UkHKDpNXR1msFw/s1600/graphic11.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Timun Mas adalah seorang gadis cantik yang baik hati, cerdas, dan pemberani. Itulah sebabnya, ia sangat disayangi oleh ibunya yang bernama Mbok Srini. Suatu ketika, sesosok raksasa jahat ingin menyantap Timun Mas. Berkat keberaniannya, ia bersama ibunya berhasil melumpuhkan raksasa jahat itu. Kenapa raksasa itu hendak memangsa Timun Mas? Lalu, bagaimana Timun Mas dan ibunya mengalahkan raksasa itu? Kisah menarik ini dapat Anda ikuti dalam cerita &lt;em&gt;Timun Mas&lt;/em&gt; berikut ini. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: center;&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;* * *&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Alkisah,&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt; di sebuah kampung di daerah Jawa Tengah, hiduplah seorang janda paruh baya yang bernama Mbok Srini. Sejak ditinggal mati oleh suaminya beberapa tahun silam, ia hidup sebatang kara, karena tidak mempunyai anak. Ia sangat mengharapkan kehadiran seorang anak untuk mengisi kesepiannya. Namun, harapan itu telah pupus, karena suaminya telah meninggal dunia. Ia hanya menunggu keajaiban untuk bisa mendapatkan seorang anak. Ia sangat berharap keajaiban itu akan terjadi padanya. Untuk meraih harapan itu, siang malam ia selalu berdoa kepada Tuhan Yang Mahakuasa agar diberi anak. &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Pada suatu malam, harapan itu datang melalui mimpinya. Dalam mimpinya, ia didatangi oleh sesosok makhluk raksasa yang menyuruhnya pergi ke hutan tempat biasanya ia mencari kayu bakar untuk mengambil sebuah bungkusan di bawah sebuah pohon besar. Saat terbangun di pagi hari, Mbok Srini hampir tidak percaya dengan mimpinya semalam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;“Mungkinkah keajaiban itu benar-benar akan terjadi padaku?” tanyanya dalam hati dengan ragu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Namun, perempuan paruh baya itu berusaha menepis keraguan hatinya. Dengan penuh harapan, ia bergegas menuju ke tempat yang ditunjuk oleh raksasa itu. Setibanya di hutan, ia segera mencari bungkusan itu di bawah pohon besar. Betapa terkejutnya ia ketika menemukan bungkusan yang dikiranya berisi seorang bayi, tapi ternyata hanyalah sebutir biji timun. Hatinya pun kembali bertanya-tanya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;“Apa maksud raksasa itu memberiku sebutir biji timun?” gumam janda itu dengan bingung.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Di tengah kebingungannya, tanpa ia sadari tiba-tiba sesosok makhluk raksasa berdiri di belakangnya sambil tertawa terbahak-bahak. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;“Ha... ha... ha...!” demikian suara tawa raksasa itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Mbok Srini pun tersentak kaget seraya membalikkan badannya. Betapa terkejutnya ia karena raksasa itulah yang hadir dalam mimpinya. Ia pun menjadi ketakutan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;“Ampun, Tuan Raksasa! Jangan memakanku! Aku masih ingin hidup,” pinta Mbok Srini dengan muka pucat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;“Jangan takut, hai perempuan tua! Aku tidak akan memakanmu. Bukankah kamu menginginkan seorang anak?” tanya raksasa itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;“Be... benar, Tuan Raksasa!” jawab Mbok Srini dengan gugup.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;“Kalau begitu, segera tanam biji timun itu! Kelak kamu akan mendapatkan seorang anak perempuan. Tapi, ingat! Kamu harus menyerahkan anak itu kepadaku saat ia sudah dewasa. Anak itu akan kujadikan santapanku,” ujar raksasa itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Karena begitu besar keinginannya untuk memiliki anak, tanpa sadar Mbok Srini menjawab, “Baiklah, Raksasa! Aku bersedia menyerahkan anak itu kepadamu.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Begitu Mbok Srini selesai menyatakan kesediaannya, raksasa itu pun menghilang. Perempuan itu segera menanam biji timun itu di ladangnya. Dengan penuh harapan, setiap hari ia merawat tanaman itu dengan baik. Dua bulan kemudian, tanaman itu pun mulai berbuah. Namun anehnya, tanaman timun itu hanya berbuah satu. Semakin hari buah timun semakin besar melebihi buah timun pada umumnya. Warnanya pun sangat berbeda, yaitu berwarna kuning keemasan. Ketika buah timun masak, Mbok Srini memetiknya, lalu membawanya pulang ke gubuknya dengan susah payah, karena berat. Betapa terkejutnya ia setelah membelah buah timun itu. Ia mendapati seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Saat akan menggendongnya, bayi itu tiba-tiba menangis.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;“Ngoa... ngoa... ngoa... !!!” demikian suara bayi itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Alangkah bahagianya hati Mbok Srini mendengar suara tangisan bayi yang sudah lama dirindukannya itu. Ia pun memberi nama bayi itu Timun Mas. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;“Cup... cup... cup..!!! Jangan menangis anakku sayang... Timun Mas!” hibur Mbok Srini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Perempuan paruh baya itu tak mampu lagi menyembuyikan kebahagiaannya. Tak terasa, air matanya menetes membasahi kedua pipinya yang sudah mulai keriput. Perasaan bahagia itu membuatnya lupa kepada janjinya bahwa dia akan menyerahkan bayi itu kepada raksasa itu suatu saat kelak. Ia merawat dan mendidik Timun Mas dengan penuh kasih sayang hingga tumbuh menjadi gadis yang cantik jelita. Janda tua itu sangat bangga, karena selaing cantik, putrinya juga memiliki kecerdasan yang luar biasa dan perangai yang baik. Oleh karena itu, ia sangat sayang kepadanya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Suatu malam, Mbok Srini kembali bermimpi didatangi oleh raksasa itu dan berpesan kepadanya bahwa seminggu lagi ia akan datang menjemput Timun Mas. Sejak itu, ia selalu duduk termenung seorang diri. Hatinya sedih, karena ia akan berpisah dengan anak yang sangat disayanginya itu. Ia baru menyadari bahwa raksasa itu ternyata jahat, karena Timun Mas akan dijadikan santapannya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Melihat ibunya sering duduk termenung, Timun Mas pun bertanya-tanya dalam hati. Suatu sore, Timun Emas memberanikan diri untuk menanyakan kegundahan hati ibunya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;“Bu, mengapa akhir-akhir ini Ibu selalu tampak sedih?” tanya Timun Mas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Sebenarnya Mbok Srini tidak ingin menceritakan penyebab kegundahan hatinya, karena dia tidak ingin anak semata wayangnya itu ikut bersedih. Namun, karena terus didesak, akhirnya ia pun menceritakan perihal asal-usul Timun Mas yang selama ini ia rahasiakan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;“Maafkan Ibu, Anakku! Selama ini Ibu merahasiakan sesuatu kepadamu,” kata Mbok Srini dengan wajah sedih.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;“Rahasia apa, Bu?” tanya Timun Mas penasaran.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;“Ketahuilah, Timun Mas! Sebenarnya, kamu bukanlah anak kandung Ibu yang lahir dari rahim Ibu.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Belum selesai ibunya bicara, Timun Mas tiba-tiba menyela.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;“Apa maksud, Ibu?” tanya Timun Mas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Mbok Srini pun menceritakan semua rahasia tersebut hingga mimpinya semalam bahwa sesosok raksasa akan datang menjemput anaknya itu untuk dijadikan santapan. Mendengar cerita itu, Timun Mas tersentak kaget seolah-olah tidak percaya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;“Timun tidak mau ikut bersama raksasa itu. Timun sangat sayang kepada Ibu yang telah mendidik dan membesarkan Timun,” kata Timun Mas. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Mendengar perkataan Timun Mas, Mbok Srini kembali termenung. Ia bingung mencari cara agar anaknya selamat dari santapan raksasa itu. Sampai pada hari yang telah dijanjikan oleh raksasa itu, Mbok Srini belum juga menemukan jalan keluar. Hatinya pun mulai cemas. Dalam kecemasannya, tiba-tiba ia menemukan sebuah akal. Ia menyuruh Timun Mas berpura-pura sakit. Dengan begitu, tentu raksasa itu tidak akan mau menyantapnya. Saat matahari mulai senja, raksasa itu pun mendatangi gubuk Mbok Srini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;“Hai, Perempuan Tua! Mana anak itu? Aku akan membawanya sekarang,” pinta raksasa itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;“Maaf, Tuan Raksasa! Anak itu sedang sakit keras. Jika kamu menyantapnya sekarang, tentu dagingnya tidak enak. Bagaimana kalau tiga hari lagi kamu datang kemari? Saya akan menyembuhkan penyakitnya terlebih dahulu,” bujuk Mbok Srini mengulur-ulur waktu hingga ia menemukan cara agar Timur Mas bisa selamat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;“Baiklah, kalau begitu! Tapi, kamu harus berjanji akan menyerahkan anak itu kepadaku,” kata raksasa itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Setelah Mbok Srini menyatakan berjanji, raksasa itu pun menghilang. Mbok Srini kembali bingung mencari cara lain. Setelah berpikir keras, akhirnya ia menemukan cara yang menurutnya dapat menyelamatkan anaknya dari santapan raksasa itu. Ia akan meminta bantuan kepada seorang pertapa yang tinggal di sebuah gunung. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;“Anakku! Besok pagi-pagi sekali Ibu akan pergi ke gunung untuk menemui seorang pertapa. Dia adalah teman almarhum suami Ibu. Barangkali dia bisa membantu kita untuk menghentikan niat jahat raksasa itu,” ungkap Mbok Srini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;“Benar, Bu! Kita harus membinasakan raksasa itu. Timun tidak mau menjadi santapannya,” imbuh Timun Mas. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, berangkatlah Mbok Srini ke gunung itu. Sesampainya di sana, ia langsung menemui pertapa itu dan menyampaikan maksud kedatangannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;“Maaf, Tuan Pertapa! Maksud kedatangan saya kemari ingin meminta bantuan kepada Tuan,” kata Mbok Srini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;“Apa yang bisa kubantu, Mbok Srini?” tanya pertapa itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Mbok Srini pun menceritakan masalah yang sedang dihadapi anaknya. Mendengar cerita Mbok Srini, pertapa itu pun bersedia membantu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;“Baiklah, kamu tunggu di sini sebentar!” seru pertapa itu seraya berjalan masuk ke dalam ruang rahasianya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Tak berapa lama, pertapa itu kembali sambil membawa empat buah bungkusan kecil, lalu menyerahkannya kepada Mbok Srini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;“Berikanlah bungkusan ini kepada anakmu. Keempat bungkusan ini masing-masing berisi biji timun, jarum, garam dan terasi. Jika raksasa itu mengejarnya, suruh sebarkan isi bungkusan ini!” jelas pertapa itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Setelah mendapat penjelasan itu, Mbok Srini pulang membawa keempat bungkusan tersebut. Setiba di gubuknya, Mbok Srini menyerahkan keempat bungkusan itu dan menjelaskan tujuannya kepada Timun Mas. Kini, hati Mbok Srini mulai agak tenang, karena anaknya sudah mempunyai senjata untuk melawan raksasa itu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Dua hari kemudian, Raksasa itu pun datang untuk menagih janjinya kepada Mbok Srini. Ia sudah tidak sabar lagi ingin membawa dan menyantap daging Timun Mas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;“Hai, perempuan tua! Kali ini kamu harus menepati janjimu. Jika tidak, kamu juga akan kujadikan santapanku!” ancam raksasa itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Mbok Srini tidak gentar lagi menghadapi ancaman itu. Dengan tenang, ia memanggil Timun Mas agar keluar dari dalam gubuk. Tak berapa lama, Timun Emas pun keluar lalu berdiri di samping ibunya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;“Jangan takut, Anakku! Jika raksasa itu akan menangkapmu, segera lari dan ikuti petunjuk yang telah kusamapaikan kepadamu,” Mbok Srini membisik Timun Mas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;“Baik, Bu!” jawab Timun Mas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Melihat Timun Mas yang benar-benar sudah dewasa, rakasasa itu semakin tidak sabar ingin segera menyantapnya. Ketika ia hendak menangkapnya, Timun Mas segera berlari sekencang-kencangnya. Raksasa itu pun mengejarnya. Tak ayal lagi, terjadilah kejar-kerajaan antara makhluk raksasa itu dengan Timun Mas. Setelah berlari jauh, Timun Mas mulai kecapaian, sementara raksasa itu semakin mendekat. Akhirnya, ia pun mengeluarkan bungkusan pemberian pertapa itu. &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Pertama-tama Timun Mas menebar biji timun yang diberikan oleh ibunya. Sungguh ajaib, hutan di sekelilingnya tiba-tiba berubah menjadi ladang timun. Dalam sekejap, batang timun tersebut menjalar dan melilit seluruh tubuh raksasa itu. Namun, raksasa itu mampu melepaskan diri dan kembali mengejar Timun Mas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Timun Emas pun segera melemparkan bungkusan yang berisi jarum. Dalam sekejap, jarum-jarum tersebut berubah menjadi rerumbunan pohon bambu yang tinggi dan runcing. Namun, raksasa itu mampu melewatinya dan terus mengejar Timun Mas, walaupun kakinya berdarah-darah karena tertusuk bambu tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Melihat usahanya belum berhasil, Timun Mas membuka bungkusan ketiga yang berisi garam lalu menebarkannya. Seketika itu pula, hutan yang telah dilewatinya tiba-tiba berubah menjadi lautan luas dan dalam, namun raksasa itu tetap berhasil melaluinya dengan mudah. Timun Emas pun mulai cemas, karena senjatanya hanya tersisa satu. Jika senjata tersebut tidak berhasil melumpuhkan raksasa itu, maka tamatlah riwayatnya. Dengan penuh keyakinan, ia pun melemparkan bungkusan terakhir yang berisi terasi. Seketika itu pula, tempat jatuhnya terasi itu tiba-tiba menjelma menjadi lautan lumpur yang mendidih. Alhasil, raksasa itu pun tercebur ke dalamnya dan tewas seketika. Maka selamatlah Timun Emas dari kejaran dan santapan raksasa itu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Dengan sekuat tenaga, Timun Emas berjalan menuju ke gubuknya untuk menemui ibunya. Melihat anaknya selamat, Mbok Srini pun langsung berucap syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Sejak itu, Mbok Srini dan Timun Mas hidup berbahagia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: center;&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;* * *&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: 9pt; line-height: 150%;&quot;&gt;Demikian dongeng &lt;em&gt;Timun Mas&lt;/em&gt; dari daerah Jawa   Tengah, Indonesia. Cerita di atas memberikan pelajaran bahwa orang yang selalu berniat jahat terhadap orang lain seperti raksasa itu, pada akhirnya akan celaka. Selain itu, cerita di atas juga mengandung pelajaran bahwa dengan usaha dan kerja keras segala rintangan dan cobaan dalam hidup ini dapat diselesaikan dengan baik. Hal ini ditunjukkan oleh Mbok Srini dan Timun Mas. Berkat usaha dan kerja kerasnya, mereka dapat membinasakan raksasa jahat yang hendak memangsa Timun Mas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatjateng.blogspot.com/feeds/3315749513626076237/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatjateng.blogspot.com/2012/02/timun-emas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3620016964474130753/posts/default/3315749513626076237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3620016964474130753/posts/default/3315749513626076237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatjateng.blogspot.com/2012/02/timun-emas.html' title='Timun Emas'/><author><name>Android90</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02757444968399701178</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhAZqk3b2PzPFqvdCvNyUUBlCAoRqOm26ikQuhnRY4UcF0CVGFrMgwke-yoJ2GnjRLHTFSYcq8LHiSJTZnChRcUy4iUzfr4T0ozIgGUjR9eNyomLTE21wvBYfQJ1ejMChs/s115/Android.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhVe-6urtXbsj_G749jjZ7Exc-PDOhkeGqv0FVHDAkRksGeFbd5E8grwzBiILDnxbBB8Kb1t4FbcHiJQYVHHhKmEb0YNMJsMSHfXG0UygB_SAn-n_Cl5OYmgDBJfbJv0UkHKDpNXR1msFw/s72-c/graphic11.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3620016964474130753.post-3011368685616309256</id><published>2012-02-15T20:37:00.000+07:00</published><updated>2013-10-27T19:06:30.959+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Jawa Tengah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="K"/><title type='text'>Jaka Kendhil</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiAClNws2SAeygvsotqJ0w_R4QjoYKWU1u6SmniySjM1hx_cRLvb8CpeZyi0HfspTAptu9kcqtkobCExeTFmYI6GrnxnXLTfWTpNNtG4Bz6-wVyx3HNr8enCUxC3H6QIhIRCZOmrnM9am0/s1600/Jaka+Kendil+1.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;320&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiAClNws2SAeygvsotqJ0w_R4QjoYKWU1u6SmniySjM1hx_cRLvb8CpeZyi0HfspTAptu9kcqtkobCExeTFmYI6GrnxnXLTfWTpNNtG4Bz6-wVyx3HNr8enCUxC3H6QIhIRCZOmrnM9am0/s320/Jaka+Kendil+1.jpg&quot; width=&quot;222&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a href=&quot;http:&quot;&gt;Jaka Kendhil&lt;/a&gt; adalah putra raja Asmawikana dari Kerajaan Ngambar Arum, Jawa Tengah, Indonesia, yang lahir dalam keadaan cacat, yaitu kepalanya berbentuk kendhil. Kedhil dalam bahasa Jawa berarti panci atau periuk. Menurut cerita, Jaka Kendhil mengalami cacat akibat disihir oleh seorang dukun sejak ia masih dalam rahim ibundanya. Meski keadaannya demikian, Jaka Kendhil berhasil menikah dengan seorang putri raja yang cantik nan rupawan. Mengapa dukun itu menyihir Jaka Kendhil sehingga menjadi cacat? Lalu, bagaimana Jaka Kendhil berhasil menikahi putri raja yang cantik? Ikuti kisah selengkapnya dalam cerita Jaka Kendhil berikut ini! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* * *&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alkisah, di daerah Jawa Tengah, Indonesia, hiduplah seorang raja bernama Asmawikana yang bertahta di Kerajaan Ngambar Arum. Raja Asmawikana mempunyai seorang permaisuri bernama Prameswari dan seorang selir bernama Dewi Dursilawati. Namun ia belum mempunyai seorang putra mahkota yang kelak akan meneruskan tahta kerajaan. Hal ini membuat hati sang Raja menjadi sedih. Setiap hari ia selalu duduk termenung di singgasananya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya, Prameswari sudah dua kali mengandung, tetapi dua kali juga keguguran. Penyebab Prameswari keguguran karena ulah Dewi Dursilawati yang iri hati kepadanya. Ia mencampuri racun ke dalam makanan dan minuman Prameswari secara diam-diam. Dewi Dursilawati melakukan hal itu karena ia menginginkan putra yang lahir dari rahimnyalah yang akan menggantikan kedudukan Raja Asmawikana kelak. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada suatu sore, ketika Raja Asmawikana sedang duduk termenung di singgasananya, tiba-tiba muncul perasaan curiga terhadap selirnya Dewi Dursilawati. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wah, jangan-jangan Dewi Dursilawati telah mencampurkan racun ke dalam makanan Prameswari,” pikirnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak itu, Raja Asmawikana selalu memperhatikan kesehatan Prameswari, khususnya dalam hal makanan. Ketika Prameswari mengandung putranya yang ketiga, ia pun memerintahkan kepada para dayang-dayang istana agar memeriksa makanan dan minuman yang akan dihidangkan kepada Prameswari dan mengawasi sang permaisuri pada saat makan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wahai, Dayang-dayang! Ingat, jangan biarkan permaisuri Prameswari makan dan minum tanpa sepengetahuan kalian! Kalian harus mengawasi semua hidangan yang akan disantapnya!” titah Raja Asmawikana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baik, Baginda!” jawab dayang-dayang tersebut serentak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak itu, segala kebutuhan makanan dan minuman Prameswari senantiasa dalam pengawasan para dayang-dayang istana. Dengan demikian, Dewi Dursilawati tidak dapat lagi meracuni Prameswari. Namun, selir raja yang licik itu tidak kehabisan akal. Ia pergi ke seorang nenek dukun untuk meminta bantuan agar menyihir bayi yang ada di dalam kandungan Prameswari.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai, Nenek Dukun! Aku ingin meminta bantuanmu! Sihirlah bayi yang ada di dalam kandungan Prameswari supaya menjadi cacat!” pinta Dewi Dursilawati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nenek sihir itu pun bersedia mengabulkan permintaan Dewi Dursilawati. Begitu kandungan Prameswari berusia sembilan bulan, dukun itu menyihir bayi yang tak berdosa itu. Tak berapa lama kemudian, Prameswari pun melahirkan seorang anak laki-laki. Alangkah terkejutnya keluarga istana, terutama Raja Asmawikana, ketika melihat putranya lahir dalam keadaan cacat, yaitu kepalanya berbentuk kendhil (panci). Ia dan permaisurinya sangat sedih melihat keadaan putra mereka. Sang Permaisuri menangis siang dan malam. Meski demikian, mereka tetap menerima keadaan itu dengan lapang dada. Bayi yang diberi nama Jaka Kendhil itu mereka rawat dengan penuh kasih sayang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, Raja Amawikana tidak ingin putranya cacat seumur hidup. Untuk itu, ia pun memerintahkan pengawalnya untuk memanggil seorang pertapa yang terkenal sakti mandraguna untuk melihat keadaan putranya. Pada suatu hari, pertapa itu pun datang ke istana menghadap kepada Raja Asmawikana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ampun, Gusti! Apa yang bisa hamba bantu?” tanya pertapa itu sambil memberi hormat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Raja Asmawikana pun menceritakan perihal keadaan putranya yang lahir dalam keadaan cacat itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wahai, Pertapa! Apakah kamu mengetahui penyebab penyakit yang diderita putraku? Apakah penyakitnya masih bisa disembuhkan?” tanya Raja Asmawikana dengan perasaan haru. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ampun, Gusti! Menurut pengetahuan hamba, putra paduka terkena sihir. Sebaiknya paduka menitipkan putra paduka kepada seorang nenek yang bernama Mbok Rondho. Ia tinggal di pinggir sungai di wilayah perbatasan kerajaan paduka. Suatu hari kelak, putra paduka akan menjadi kesatria setelah menikah dengan seorang putri raja,” ramal pertapa itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih atas bantuanmu, Pertapa!” ucap Raja Asmawikana. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mendapat saran dari sang pertapa, Raja Asmawikana segera mengirim utusan untuk menitipkan putranya kepada Mbok Rondho. Ia juga memerintahkan beberapa pengawalnya yang lain untuk menangkap dukun yang telah menyihir putranya untuk dihukum pancung. Namun sayang, dukun itu telah kabur dari rumahnya untuk menyelamatkan diri. Rupanya, Dewi Dursilawati telah memberitahu perihal penangkapan itu kepada si dukun. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara itu di tempat lain, para utusan raja telah tiba di rumah Mbok Rondho untuk menyerahkan Jaka Kendhil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mbok Rondho! Kami adalah utusan Raja Asmawikana. Kanjeng Gusti memerintahkan kami untuk menitipkan putranya kepada Mbok. Sebagai ucapan terima kasih, Kanjeng Gusti juga menitipkan emas, intan, dan permata untuk bekal hidup Mbok bersama Jaka Kendhil,” pesan salah seorang utusan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mbok Rondho pun menerima Jaka Kendhil dengan senang hati. Ia berjanji akan merawat dan membesarkan Jaka Kendhil dengang penuh kasih sayang. Sejak itu, Jaka Kendhil berada di bawah asuhan Mbok Rondho. Ketika Jaka Kendhil berumur belasan tahun, Mbok Rondho sering mengajaknya ke pasar dan ke ladang. Jaka Kendhil adalah anak yang rajin, baik hati, dan suka membantu orang-orang yang sedang kesusahan. Tak heran, jika semua orang sayang kepadanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu berjalan begitu cepat. Jaka Kendhil pun tumbuh menjadi pemuda dewasa. Ia pun semakin rajin membantu ibu angkatnya bekerja di ladang. Ia juga suka membantu masyarakat di sekitarnya yang membutuhkan tenaganya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada suatu hari, raja dari negeri seberang dengan rombongannya sedang mengadakan rekreasi di sungai di dekat Dusun Kasihan tempat tinggal Mbok Rondho dan Jaka Kendhil. Dalam rombongan tersebut hadir pula permaisuri dan putrinya yang jelita bernama Putri Ngapunten. Masyarakat Dusun Kasihan pun berbondong-bondong untuk melihat rombongan raja yang sedang berekreasi tersebut. Tak terkecuali Jaka Kendhil dan Mbok Rondho.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat pertama kali melihat Putri Ngapunten, Jaka Kendhil pun langsung jatuh hati. Ia terus menatap wajah putri raja yang cantik nan rupawan itu hingga rombongan raja tersebut kembali ke negerinya. Bahkan, di sepanjang perjalanan pulang ke rumahnya, wajah cantik Putri Ngapunten selalu terbayang-bayang di hadapannya. Jaka Kendhil benar-benar jatuh hati kepada Putri Ngapunten dan berniat untuk meminangnya. Setibanya di rumah, ia pun menyampaikan niat tersebut kepada ibu angkatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bu! Jaka jatuh hati kepada putri raja dari negeri seberang itu. Bersediakah Ibu melamarnya untukku?” pinta Jaka Kendhil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alangkah terkejutnya Mbok Rondho mendengar permintaan putra angkatnya itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ah, kamu jangan meminta yang aneh-aneh, Putraku! Mana mungkin Raja Negeri Seberang itu akan menerima pinanganmu dengan keadaanmu seperti ini. Apalagi dia itu putri raja satu-satunya. Sebaiknya, kamu urungkan saja niatmu itu, Putraku!” kata Mbok Rondho menasehati Jaka Kendhil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, Bu! Apa salahnya jika Ibu mencobanya dulu,” desak Jaka Kendhil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mulanya, Mbok Rondho menolak untuk memenuhi permintaan Jaka Kendhil. Namun, karena terus didesak, akhirnya ia pun bersedia untuk memenuhi permintaan putra kesayangannya itu. Ia pun segera ke istana untuk menyampaikan niat Jaka Kendhil kepada Raja Asmawikana. Penguasa Kerajaan Ngambar Arum yang bijak itu pun menyetujuinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah, Mbok Rondho! Aku merestui putraku menikah dengan Raja Ngapunten. Tapi, aku mohon Mbok Rondho yang datang ke Kerajaan Seberang untuk meminang putri raja itu. Aku akan menyiapkan segala keperluan pinangan ini dan mengutus beberapa pengawalku untuk mendampingimu ke sana,” pinta Raja Asmawikana. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mbok Rondho pun tidak kuasa untuk menolak permintaan Raja Asmawikana. Pada hari yang telah ditentukan, Mbok Rondo bersama utusan raja pun berangkat ke Kerajaan Seberang dengan membawa perhiasan emas dan intan permata untuk dipersembahkan kepada putri raja. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada malam sebelum Mbok Rondho berangkat ke Kerajaan Seberang, Jaka Kendhil berdoa kepada Tuhan Yang Mahakuasa agar pinangannya diterima. Berkat doanya tersebut, Tuhan pun membuka hati Raja Negeri Seberang melalui mimpi. Suatu malam, sang Raja bermimpi kejatuhan sebuah kendhil. Ajaibnya, ketika kendhil itu diberikan kepada putrinya, kendhil itu tiba-tiba berubah menjadi seorang kesatria yang gagah dan tampan. Raja Negeri Seberang pun berharap mimpi tersebut menjadi kenyataan. Maka, ketika Mbok Rondho bersama utusan Raja Asmawikana datang meminang putrinya, ia pun langsung menerimanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pinangan Jaka Kendhil saya terima. Kembalilah ke negeri kalian untuk menyampaikan berita gembira ini kepada Raja Asmawikana! Sampaikan kepadanya bahwa pesta pernikahan Jaka Kendhil dengan putriku akan dilaksanakan pekan depan!” seru Raja Negeri Seberang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baik, Gusti!” ucap Mbok Rondho dengan senang hati. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mbok Rondho bersama utusan raja pun mohon diri kembali ke istana untuk menemui Raja Asmawikana. Mendengar berita gembira tersebut, Raja Asmawikana segera memerintahkan seluruh pengawalnya untuk menyiapkan segala keperluan pesta pernikahan putranya. Pada hari yang telah ditentukan, pesta pernikahan Jaka Kendhil dengan Raja Ngapunten pun dilangsungkan dengan meriah di istana Negeri Seberang. Pesta tersebut dimeriahkan oleh berbagai pertunjukan seni dan tari. Undangan yang hadir pun datang dari berbagai penjuru negeri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Jaka Kendhil dan Raja Ngapunten sedang duduk bersanding di atas pelaminan, para undangan tiba-tiba menjadi gaduh. Banyak di antara mereka yang menyesali atas pernikahan tersebut, karena kedua mempelai bukanlah pasangan yang serasi. Raja Ngapunten adalah seorang putri raja yang cantik nan rupawan, sedangkan Jaka Kendhil putra raja yang memiliki bentuk kepala yang sangat buruk, yakni menyerupai kendhil. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di tengah kegaduhan tersebut, tiba-tiba terjadi peristiwa ajaib. Jaka Kendhil tiba-tiba menghilang entah ke mana, sehingga Raja Ngapunten tampak duduk seorang diri di atas pelaminan. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba seorang pemuda tampan dan gagah muncul di antara kerumunan undangan, lalu berjalan menuju ke pelaminan dan duduk di samping Raja Ngapunten. Para undangan tersentak kaget bercampur rasa senang ketika menyaksikan peristiwa ajaib itu. Mereka baru menyadari bahwa ternyata Jaka Kendhil adalah seorang putra raja yang tampan dan gagah. Akhirnya, pesta pernikahan berlanjut dengan suasana meriah. Para undangan pun merasa senang dan gembira menyaksikan kedua mempelai pengantin yang duduk di pelaminan. Kini, kedua mempelai tersebut telah menjadi pasangan yang sangat serasi. Mereka hidup bahagia dan harmonis dalam menjalani bahtera rumah tangga. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak lama setelah menikah, Jaka Kendhil dinobatkan menjadi raja untuk menggantikan ayahandanya yang usianya sudah mulai udzur. Seluruh keluarga istana merasa sangat bahagia atas penobatan Jaka Kendhil sebagai raja, kecuali Dewi Dursilawati. Ia merasa dengki dan iri hati, karena belum mendapat seorang putra yang diharapkannya untuk menjadi raja. Karena perasaan dengki itu, ia berniat untuk mencelekai istri Jaka Kendhil. Namun, niat busuk itu terlebih diketahui oleh Raja Asmawikana melalui petunjuk dari sang pertapa, sehingga ia gagal melaksanakannya. Ia melarikan diri masuk ke dalam hutan, karena takut mendapat hukuman dari Raja Asmawikana. Pada saat itulah, ia terperosok masuk ke dalam jurang dan tewas seketika. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* * *&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian cerita Jaka Kendhil dari daerah Jawa Tengah, Indonesia. Cerita di atas termasuk kategori dongeng yang di dalam terkandung nilai-nilai moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Nilai moral yang terkandung di dalam cerita di atas adalah sifat dengki, yaitu suatu sifat yang tidak senang atas keberhasilan atau kenikmatan yang diperoleh orang lain dan berusaha untuk mecelakainya. Sifat dengki ini harus kita jauhi, karena ia bagaikan racun yang dapat mengubah rasa kasih sayang menjadi kebencian, bahkan hingga ke pembunuhan sekalipun. Hal ini ditunjukkan oleh sifat Dewi Dursilawati yang merasa iri dan dengki terhadap Prameswari, sehingga ia selalu berusaha untuk mencelakai Prameswari dan bayinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kehidupan orang Melayu, sifat iri dan dengki termasuk sifat tercela yang sangat dipantangkan. Orang yang memiliki sifat ini akan dijauhi dan dibenci oleh orang lain. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class=&quot;tr_bq&quot;&gt;
kalau suka iri mengiri,&lt;br /&gt;
sahabat menjauh, saudara pun lari&lt;br /&gt;
kalau suka dengki mendengki,&lt;br /&gt;
orang muak Tuhan pun benci&lt;/blockquote&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatjateng.blogspot.com/feeds/3011368685616309256/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatjateng.blogspot.com/2012/02/jaka-kendhil.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3620016964474130753/posts/default/3011368685616309256'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3620016964474130753/posts/default/3011368685616309256'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatjateng.blogspot.com/2012/02/jaka-kendhil.html' title='Jaka Kendhil'/><author><name>Android90</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02757444968399701178</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhAZqk3b2PzPFqvdCvNyUUBlCAoRqOm26ikQuhnRY4UcF0CVGFrMgwke-yoJ2GnjRLHTFSYcq8LHiSJTZnChRcUy4iUzfr4T0ozIgGUjR9eNyomLTE21wvBYfQJ1ejMChs/s115/Android.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiAClNws2SAeygvsotqJ0w_R4QjoYKWU1u6SmniySjM1hx_cRLvb8CpeZyi0HfspTAptu9kcqtkobCExeTFmYI6GrnxnXLTfWTpNNtG4Bz6-wVyx3HNr8enCUxC3H6QIhIRCZOmrnM9am0/s72-c/Jaka+Kendil+1.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3620016964474130753.post-5278403921625830752</id><published>2012-02-15T20:30:00.000+07:00</published><updated>2013-10-27T18:45:10.146+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="A"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Jawa Tengah"/><title type='text'>Aji Saka</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhX0139oH9Pci6j3kv7n-XvEs0iuieiRU_cTAEOrvlkt_BhDSq1I3RVnj4EpADdUGgDhBzwUi30weKrcO83U1belJWcBmZWo0hi6M7FSNOQMU4EalNwcP0NAFj0KxdjOKJ_bhH82FO7MNY/s1600/DPT_Aji_Saka_Pencipta_Huruf_Jawa-500x500.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;202&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhX0139oH9Pci6j3kv7n-XvEs0iuieiRU_cTAEOrvlkt_BhDSq1I3RVnj4EpADdUGgDhBzwUi30weKrcO83U1belJWcBmZWo0hi6M7FSNOQMU4EalNwcP0NAFj0KxdjOKJ_bhH82FO7MNY/s320/DPT_Aji_Saka_Pencipta_Huruf_Jawa-500x500.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a href=&quot;http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=3620016964474130753&quot;&gt;Aji Saka&lt;/a&gt; adalah seorang kesatria yang sakti mandraguna dari daerah Jawa Tengah, Indonesia. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, Aji Saka merupakan orang yang kali pertama menciptakan aksara Jawa yang dikenal dengan istilah dhentawyanjana atau carakan. Aji saka menciptakan aksara Jawa tersebut ketika ia sedang mengembara bersama seorang abdinya yang bernama Dora. Peristiwa apakah yang terjadi dalam pengembaraannya, sehingga Aji Saka menciptakan aksara Jawa tersebut? Ikuti kisahnya dalam cerita Aji Saka: Asal Mula Huruf Jawa berikut ini!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* * *&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alkisah, di Dusun Medang Kawit, Desa Majethi, Jawa Tengah, hiduplah seorang pendekar tampan yang sakti mandraguna bernama Aji Saka. Ia mempunyai sebuah keris pusaka dan serban sakti. Selain sakti, ia juga rajin dan baik hati. Ia senantiasa membantu ayahnya bekerja di ladang, dan menolong orang-orang yang membutuhkan pertolongannya. Ke mana pun pergi, ia selalu ditemani oleh dua orang abdinya yang bernama Dora dan Sembada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada suatu hari, Aji Saka meminta izin kepada ayahnya untuk pergi mengembara bersama Dora. Sementara, Sembada ditugaskan untuk membawa dan menjaga keris pusaka miliknya ke Pegunungan Kendeng. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sembada! Bawa keris pusaka ini ke Pegunungan Kendeng. Kamu harus menjaganya dengan baik dan jangan berikan kepada siapa pun sampai aku sendiri yang mengambilnya!” pesan Aji Saka kepada Sembada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baik, Tuan! Saya berjanji akan menjaga dan merawat keris pusaka Tuan!” jawab Sembada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu, berangkatlah Sembada ke arah utara menuju Gunung Kendeng, sedangkan Aji Saka dan Dora berangkat mengembara menuju ke arah selatan. Mereka tidak membawa bekal pakaian kecuali yang melekat pada tubuh mereka. Setelah setengah hari berjalan, sampailah mereka di sebuah hutan yang sangat lebat. Ketika akan melintasi hutan tersebut, tiba-tiba Aji Saka mendengar teriakan seorang laki-laki meminta tolong. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tolong...!!! Tolong...!!! Tolong...!!!” demikian suara itu terdengar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar teriakan itu, Aji Saka dan Dora segera menuju ke sumber suara tersebut. Tak lama kemudian, mereka mendapati seorang laki-laki paruh baya sedang dipukuli oleh dua orang perampok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hei, hentikan perbuatan kalian!” seru Aji Saka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua perampok itu tidak menghiraukan teriakan Aji Saka. Mereka tetap memukuli laki-laki itu. Melihat tindakan kedua perampok tersebut, Aji Saka pun naik pitam. Dengan secepat kilat, ia melayangkan sebuah tendangan keras ke kepala kedua perampok tersebut hingga tersungkur ke tanah dan tidak sadarkan diri. Setelah itu, ia dan abdinya segera menghampiri laki-laki itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf, Pak! Kalau boleh kami tahu, Bapak dari mana dan kenapa berada di tengah hutan ini?” tanya Aji Saka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lelaki paruh baya itu pun bercerita bahwa dia seorang pengungsi dari Negeri Medang Kamukan. Ia mengungsi karena raja di negerinya yang bernama Prabu Dewata Cengkar suka memakan daging manusia. Setiap hari ia memakan daging seorang manusia yang dipersembahkan oleh Patihnya yang bernama Jugul Muda. Karena takut menjadi mangsa sang Raja, sebagian rakyat mengungsi secara diam-diam ke daerah lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aji Saka dan abdinya tersentak kaget mendengar cerita laki-laki tua yang baru saja ditolongnya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana itu bisa terjadi, Pak?” tanya Aji Saka dengan heran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Begini, Tuan! Kegemaran Prabu Dewata Cengkar memakan daging manusia bermula ketika seorang juru masak istana teriris jarinya, lalu potongan jari itu masuk ke dalam sup yang disajikan untuk sang Prabu. Rupanya, beliau sangat menyukainya. Sejak itulah sang Prabu menjadi senang makan daging manusia dan sifatnya pun berubah menjadi bengis,” jelas lelaki itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar pejelasan itu, Aji Saka dan abdinya memutuskan untuk pergi ke Negeri Medang Kamukan. Ia ingin menolong rakyat Medang Kamukan dari kebengisan Prabu Dewata Cengkar. Setelah sehari semalam berjalan keluar masuk hutan, menyebarangi sungai, serta menaiki dan menuruni bukit, akhirnya mereka sampai di kota Kerajaan Medang Kamukan. Suasana kota itu tampak sepi. Kota itu bagaikan kota mati. Tak seorang pun yang terlihat lalu lalang di jalan. Semua pintu rumah tertutup rapat. Para penduduk tidak mau keluar rumah, karena takut dimangsa oleh sang Prabu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang harus kita lakukan, Tuan?” tanya Dora.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu tunggu di luar saja! Biarlah aku sendiri yang masuk ke istana menemui Raja bengis itu,” jawab Aji Saka dengan tegas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan gagahnya, Aji Saka berjalan menuju ke istana. Suasana di sekitar istana tampak sepi. Hanya ada beberapa orang pengawal yang sedang mondar-mandir di depan pintu gerbang istana. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berhenti, Anak Muda!” cegat seorang pengawal ketika Aji Saka berada di depan pintu gerbang istana. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu siap dan apa tujuanmu kemari?” tanya pengawal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya Aji Saka dari Medang Kawit ingin bertemu dengan sang Prabu,” jawab Aji Saka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai, Anak Muda! Apakah kamu tidak takut dimangsa sang Prabu?” sahut seorang pengawal yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ketahuilah, Tuan-Tuan! Tujuan saya kemari memang untuk menyerahkan diri saya kepada sang Prabu untuk dimangsa,” jawab Aji Saka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para pengawal istana terkejut mendengar jawaban Aji Saka. Tanpa banyak tanya, mereka pun mengizinkan Aji Saka masuk ke dalam istana. Saat berada di dalam istana, ia mendapati Prabu Dewata Cengkar sedang murka, karena Patih Jugul tidak membawa mangsa untuknya. Tanpa rasa takut sedikit pun, ia langsung menghadap kepada sang Prabu dan menyerahkan diri untuk dimangsa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ampun, Gusti Prabu! Hamba Aji Saka. Jika Baginda berkenan, hamba siap menjadi santapan Baginda hari ini,” kata Aji Saka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa senangnya hati sang Prabu mendapat tawaran makanan. Dengan tidak sabar, ia segera memerintahkan Patih Jugul untuk menangkap dan memotong-motong tubuh Aji Saka untuk dimasak. Ketika Patih Jugul akan menangkapnya, Aji Saka mundur selangkah, lalu berkata: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ampun, Gusti! Sebelum ditangkap, Hamba ada satu permintaan. Hamba mohon imbalan sebidang tanah seluas serban hamba ini,” pinta Aji Saka sambil menunjukkan serban yang dikenakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hanya itu permintaanmu, hai Anak Muda! Apakah kamu tidak ingin meminta yang lebih luas lagi?” sang Prabu menawarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah cukup Gusti. Hamba hanya menginginkan seluas serban ini,” jawab Aji Saka dengan tegas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah kalau begitu, Anak Muda! Sebelum memakanmu, akan kupenuhi permintaanmu terlebih dahulu,” kata sang Prabu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aji Saka pun melepas serban yang melilit di kepalanya dan menyerahkannya kepada sang Prabu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ampun, Gusti! Untuk menghindari kecurangan, alangkah baiknya jika Gusti sendiri yang mengukurnya,” ujar Aji Saka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prabu Dewata Cengkar pun setuju. Perlahan-lahan, ia melangkah mundur sambil mengulur serban itu. Anehnya, setiap diulur, serban itu terus memanjang dan meluas hingga meliputi seluruh wilayah Kerajaan Medang Kamulan. Karena saking senangnya mendapat mangsa yang masih muda dan segar, sang Prabu terus mengulur serban itu sampai di pantai Laut Selatan tanpa disadarinya,. Ketika ia masuk ke tengah laut, Aji Saka segera menyentakkan serbannya, sehingga sang Prabu terjungkal dan seketika itu pula berubah menjadi seekor buaya putih. Mengetahui kabar tersebut, seluruh rakyat Medang Kamulan kembali dari tempat pengungsian mereka. Aji Saka kemudian dinobatkan menjadi Raja Medang Kamulan menggantikan Prabu Dewata Cengkar dengan gelar Prabu Anom Aji Saka. Ia memimpin Kerajaan Medang Kamulan dengan arif dan bijaksana, sehingga seluruh rakyatnya hidup tenang, aman, makmur, dan sentosa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada suatu hari, Aji Saka memanggil Dora untuk menghadap kepadanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dora! Pergilah ke Pegunungan Kendeng untuk mengambil kerisku. Katakan kepada Sembada bahwa aku yang menyuruhmu,” titah Raja yang baru itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Daulah, Gusti!” jawab Dora seraya memohon diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah berhari-hari berjalan, sampailah Dora di Pegunungan Gendeng. Ketika kedua sahabat tersebut bertemu, mereka saling rangkul untuk melepas rasa rindu. Setelah itu, Dora pun menyampaikan maksud kedatangannya kepada Sembada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sembada, sahabatku! Kini Tuan Aji Saka telah menjadi raja Negeri Medang Kamulan. Beliau mengutusku kemari untuk mengambil keris pusakanya untuk dibawa ke istana,” ungkap Dora.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak, sabahatku! Tuan Aji berpesan kepadaku bahwa keris ini tidak boleh diberikan kepada siapa pun, kecuali beliau sendiri yang datang mengambilnya,” kata Sembada dengan tegas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena merasa mendapat tanggungjawab dari Aji Saka, Dora pun harus mengambil keris itu dari tangan Sembada untuk dibawa ke istana. Kedua dua orang abdi bersahabat tersebut tidak ada yang mau mengalah. Mereka bersikeras mempertahankan tanggungjawab masing-masing dari Aji Saka. Mereka bertekad lebih baik mati daripada menghianati perintah tuannya. Akhirnya, terjadilah pertarungan sengit antara kedua orang bersahabat tersebut. Mereka sama kuat dan tangguhnya, sehingga mereka pun mati bersama. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara itu, Aji Saka sudah mulai gelisah menunggu kedatangan Dora dari Pegunung Gendeng membawa kerisnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang terjadi dengan Dora? Kenapa sampai saat ini dia belum juga kembali?” gumam Aji Saka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah dua hari Aji Saka menunggu, namun Dora tak kunjung tiba. Akhirnya, ia memutuskan untuk menyusul abdinya itu ke Pegunungan Gendeng seorang diri. Betapa terkejutnya ia saat tiba di sana. Ia mendapati kedua abdi setianya telah tewas. Mereka tewas karena ingin membuktikan kesetiaannya kepada tuan mereka. Untuk mengenang kesetiaan kedua abdinya tersebut, Aji Saka menciptakan aksara Jawa atau  dikenal dengan istilah dhentawyanjana, yang mengisahkan pertarungan antara dua abdinya yang memiliki kesaktiaan yang sama dan tewas bersama. Huruf-huruf tersebut juga dikenal dengan istilah carakan. Adapun susunan hurufnya sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;img src=&quot;http://www.melayuonline.com/image/cerita/huruf-jawa.jpg&quot; /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Artinya:&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Ha na ca ra ka&lt;/i&gt;      : Ada utusan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Da ta sa wa la &lt;/i&gt;     : Saling bertengkar&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Pa dha ja ya nya &lt;/i&gt;: Sama saktinya&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Ma ga ba tha nga &lt;/i&gt;: Mati bersama&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
* * *&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian legenda Aji Saka: Asal Mula Huruf Jawa, dari daerah Jawa Tengah. Pesan moral yang dapat dipetik dari legenda di atas adalah bahwa orang yang suka menolong akan mendapat ganjaran yang setimpal, seperti Aji Saka. Ia telah menyelamatkan rakyat Negeri Medang Kamulan dari keberingasan Prabu Dewata Cengkar yang suka memangsa manusia itu. Berkat pertolongannya, rakya Negeri Medang Kamulan pun menobatkannya menjadi raja untuk menggantikan Prabu Dewata Cengkar. Dalam kehidupan orang Melayu, sifat suka menolong ini sangatlah dijunjung tinggi. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class=&quot;tr_bq&quot;&gt;
&lt;i&gt;adat hidup Melayu terpilih:&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt; sesama makhluk berbagi kasih&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt; menolong dengan muka yang jernih&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt; menolong dengan hati yang bersih&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt; pantang mencari silang selisih&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;taat serta tiada beralih&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatjateng.blogspot.com/feeds/5278403921625830752/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatjateng.blogspot.com/2012/02/aji-saka.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3620016964474130753/posts/default/5278403921625830752'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3620016964474130753/posts/default/5278403921625830752'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatjateng.blogspot.com/2012/02/aji-saka.html' title='Aji Saka'/><author><name>Android90</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02757444968399701178</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhAZqk3b2PzPFqvdCvNyUUBlCAoRqOm26ikQuhnRY4UcF0CVGFrMgwke-yoJ2GnjRLHTFSYcq8LHiSJTZnChRcUy4iUzfr4T0ozIgGUjR9eNyomLTE21wvBYfQJ1ejMChs/s115/Android.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhX0139oH9Pci6j3kv7n-XvEs0iuieiRU_cTAEOrvlkt_BhDSq1I3RVnj4EpADdUGgDhBzwUi30weKrcO83U1belJWcBmZWo0hi6M7FSNOQMU4EalNwcP0NAFj0KxdjOKJ_bhH82FO7MNY/s72-c/DPT_Aji_Saka_Pencipta_Huruf_Jawa-500x500.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3620016964474130753.post-730846078586936454</id><published>2012-02-15T20:24:00.000+07:00</published><updated>2013-10-27T18:33:15.465+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Jawa Tengah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="K"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="S"/><title type='text'>Legenda Kawah Sikidang</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi91Huj-c4vMzHnI47-fHtUY-WY2vDybs72-rvrqjcIHuG6zsF9dotyTNBF7sqfjjbsQ1W0hyphenhyphenPpx317jbdJIr04ZaFIz80ki3VA866DmTNzIS2dgWqkbu_clfERzsDWTD55S64KVgcAv5w/s1600/kawah+sikidang.png&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;248&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi91Huj-c4vMzHnI47-fHtUY-WY2vDybs72-rvrqjcIHuG6zsF9dotyTNBF7sqfjjbsQ1W0hyphenhyphenPpx317jbdJIr04ZaFIz80ki3VA866DmTNzIS2dgWqkbu_clfERzsDWTD55S64KVgcAv5w/s320/kawah+sikidang.png&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Di sejumlah desa di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, banyak anak asli Dieng yang memiliki rambut gembel atau gimbal. Oleh karena itu, anak-anak tersebut biasa dipanggil sebagai anak gembel. Rambut gimbal itu terjadi ketika mereka berumur 40 hari sampai sekitar enam tahun yang diawali dengan gejala demam yang sangat tinggi dan suka mengigau saat tidur. Uniknya, rambut gimbal itu baru boleh dipotong setelah adanya permintaan dari anak itu sendiri. Ada beberapa versi mengenai asal mula anak gembel ini, salah satu di antaranya adalah versi cerita rakyat yang dikenal dengan &lt;a href=&quot;http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=3620016964474130753&quot;&gt;Legenda Kawah Sikidang&lt;/a&gt;. Berikut kisahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* * *&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ratusan tahun yang silam, di Dataran Tinggi Dieng ada seorang putri cantik jelita nan rupawan bernama Shinta Dewi. Ia tinggal di sebuah istana megah yang dikelilingi taman bunga yang indah. Kecantikan Shinta Dewi mengundang decak kagum bagi setiap pangeran yang melihatnya. Banyak pangeran yang sudah melamarnya, namun tidak ada satu orang pun yang sanggup mendapatkannya karena Shinta Dewi meminta mas kawin yang jumlahnya sangat banyak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu ketika, seorang pangeran yang kaya-raya bernama Kidang Garungan bermaksud melamar Shinta Dewi. Sang Pangeran merasa bahwa dengan harta kekayaannya, ia dapat memenuhi mas kawin yang diminta oleh sang Putri. Maka, ia pun mengutus beberapa orang pengawalnya untuk menyampaikan lamarannya kepada Shinta Dewi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sampaikan lamaranku kepada Putri Shinta Dewi,” titah Pangeran Kidang kepada para pengawalnya. “Katakan kepadanya bahwa aku sanggup memenuhi berapa pun mas kawin yang dia minta.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baik, Pangeran! Perintah Pangeran segera hamba laksanakan,” jawab salah seorang utusan seraya berpamitan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiba di kediaman Shinta Dewi, para utusan Pangeran Kidang Garungan segera menyampaikan lamaran tuan mereka mereka kepada sang Putri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ampun, Tuan Putri! Kami adalah utusan Pangeran Kidang Garungan. Kedatangan kami ke mari adalah untuk menyampaikan lamaran beliau kepada Tuan Putri,” kata salah seorang utusan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hai, utusan Pangeran Kidang! Berapa banyak mas kawin yang disanggupi tuan kalian untuk melamarku?” tanya Putri Shinta Dewi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ampun, Tuan Putri! Pangeran kami memiliki harta kekayaan yang melimpah. Berapa pun mas kawin yang Tuan Putri minta, pangeran kami bersedia memenuhinya,” jawab utusan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar keterangan itu, Putri Shinta Dewi terdiam sejenak sambil membayangkan wajah Pangeran Kidang Garungan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dia seorang pangeran yang kaya raya. Aku yakin, pastilah ia tampan dan gagah perkasa,” pikirnya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Putri Shinta Dewi akhirnya menerima lamaran Pangeran Kidang Garungan. Sementara itu, para utusan segera kembali untuk menyampaikan berita gembira tersebut kepada sang Pangeran. Alangkah senangnya hati Pangeran Kidang Garungan mendengar berita tersebut. Ia pun segera memerintahkan para pejabat istana untuk mengadakan persiapan kunjungan ke istana Putri Shinta Dewi dalam rangka membahas rencana pernikahannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wahai para pejabat istana, tolong siapkan segala sesuatunya, termasuk mas kawin yang diminta oleh Putri Shinta Dewi,” perintah Pangeran Kidang Garungan. “Besok pagi-pagi sekali, kita berangkat bersama-sama menuju ke istana sang Putri.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar perintah itu, para pejabat dan seluruh isi istana tampak sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Ada yang sibuk menyiapkan mas kawin berupa emas, intan, dan berlian. Sebagian yang lain sibuk menyiapkan berbagai macam hadiah lainnya untuk sang Putri. Sementara itu, beberapa pengawal menyiapkan kuda yang akan dikendarai oleh Pangeran Kidang Garungan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keesokan harinya, Pangeran Kidang Kidang Garungan bersama rombongannya pun berangkat ke istana Putri Shinta Dewi. Setiba di sana, mereka disambut meriah oleh sang Putri dengan aneka hiburan. Namun, ketika bertemu dengan Pangeran Kidang Garungan, sang Putri tersentak kaget karena sang Pangeran ternyata bukanlah pria tampan seperti yang ada dalam bayangannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, Tuhan. Mampuslah aku,” ucap Putri Shinta Dewi, “Ternyata, pangeran itu bertubuh manusia tapi berkepala kidang&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;[1]&lt;/span&gt;!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Putri Shinta Dewi merasa amat kecewa. Namun, nasi telah menjadi bubur. Ia sudah terlanjur menerima lamaran Pangeran Kidang Garungan. Sang Putri sudah berusaha ingin menerimanya, tapi hatinya tetap menolak. Maka, ia pun berpikir keras untuk mencari jalan keluar agar pernikahannya dengan pangeran berwajah kijang itu batal. Sebelum pernikahan dilaksanakan, ia memberikan satu syarat yang amat berat kepada Pangeran Kidang Garungan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ketahuilah, Pangeran! Kami yang tinggal di daerah ini amat kesulitan mendapatkan air untuk keperluan sehari-hari. Maka itu, Dinda ingin dibuatkan sebuah sumur yang besar dan dalam. Dinda tidak mau menikah dengan Kanda sebelum sumur itu selesai,“ pinta Putri Shinta Dewi, “Tapi, pembuatan sumur itu harus dikerjakan sendiri oleh Pangeran dalam waktu sehari.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan syarat yang berat itu, Putri Shinta Dewi berpikir bahwa sang Pangeran tidak mungkin bisa memenuhinya sehingga mereka pun batal menikah. Namun, di luar dugaannya, ternyata Pangeran Kidang Garungan memiliki kesaktian yang tinggi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah, Dinda. Kanda siap memenuhi syarat itu,” kata Pangeran Kidang Garungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada hari itu juga, sang Pangeran membuat sumur di sebuah tempat sepi yang telah ditunjuk oleh sang Putri. Dengan kesaktiannya, ia menggali tanah itu dengan tangannya sedikit demi sedikit. Sesekali ia menggunakan tanduknya untuk menggali tanah yang keras. Ia bekerja dengan cepat dan tanpa mengenal lelah. Ketika sumur itu hampir selesai, sang Putri pun mulai panik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pangeran Kidang Gurangan ternyata sakti. Bagaimana jadinya jika ia benar-benar dapat menyelesaikan sumur itu?” gumam sang Putri, “Ah, tidak. Aku tidak mau menikah dengannya. Aku tidak akan membiarkan dia menyelesaikan sumur itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Putri Shinta Dewi pun segera memerintahkan para pengawal dan dayang-dayangnya untuk menimbun sumur itu. Pangeran Kidang Garungan yang berada di dalamnya tidak sadar jika dirinya telah ditipu. Ia baru menyadari hal itu setelah kerukan-kerukan tanah menimpa dirinya. Ia pun berteriak agar sang Putri berhenti menimbun dirinya di dalam sumur itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Putri, hentikan! Hentikan...!” teriaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semakin keras sang Pangeran berteriak, semakin cepat pula para pengawal dan dayang-dayang itu menimbuninya. Ketika seluruh tubuhnya telah tertimbun tanah, pangeran itu segera mengerahkan kesaktiannya agar bisa keluar. Tak ayal, sumur itu meledak sehingga tanah berhamburan keluar. Ketika ia ingin keluar, sumur itu terus ditumbuni. Akhirnya, Pangeran Kidang Garungan pun tewas tertimbun tanah di dalam sumur itu. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, ia bersumpah bahwa seluruh keturunan Shinta Dewi akan berambut gembel. Sementara itu, sumur yang meledak itu lama-kelamaan menjadi kawah yang dan diberi nama Kawah Sikadang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* * *&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian cerita Legenda Kawah Sikadang dari Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah. Hingga kini, Kawah Sikidang masih aktif mengeluarkan uap panas yang mengandung belerang. Sementara itu, anak berambut gembel akibat kutukan Pangeran Kidang Garungan juga masih dapat kita temukan di daerah ini. Adapun pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa Putri Shinta Dewi menerima lamaran Pangeran Kidang Garungan bagai “membeli kucing dalam karung”. Akibatnya, timbullah penyesalan dan perasaan kecewa pada diri sang Putri sehingga mengakibatkan nyawa Pangeran Kidang Garungan melayang. Jadi, sebelum menerima lamaran seseorang sebaiknya kita teliti terlebih dahulu keturunan dan silsilah si pelamar, serta mengetahui atau melihat langsung bentuk fisiknya sehingga tidak menimbulkan rasa penyesalan di kemudian hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;[1] &lt;/span&gt;Kidang (Jawa) artinya kijang.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatjateng.blogspot.com/feeds/730846078586936454/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatjateng.blogspot.com/2012/02/legenda-kawah-sikidang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3620016964474130753/posts/default/730846078586936454'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3620016964474130753/posts/default/730846078586936454'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatjateng.blogspot.com/2012/02/legenda-kawah-sikidang.html' title='Legenda Kawah Sikidang'/><author><name>Android90</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02757444968399701178</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhAZqk3b2PzPFqvdCvNyUUBlCAoRqOm26ikQuhnRY4UcF0CVGFrMgwke-yoJ2GnjRLHTFSYcq8LHiSJTZnChRcUy4iUzfr4T0ozIgGUjR9eNyomLTE21wvBYfQJ1ejMChs/s115/Android.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi91Huj-c4vMzHnI47-fHtUY-WY2vDybs72-rvrqjcIHuG6zsF9dotyTNBF7sqfjjbsQ1W0hyphenhyphenPpx317jbdJIr04ZaFIz80ki3VA866DmTNzIS2dgWqkbu_clfERzsDWTD55S64KVgcAv5w/s72-c/kawah+sikidang.png" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3620016964474130753.post-4415570625323932841</id><published>2012-02-15T20:19:00.000+07:00</published><updated>2013-10-27T18:22:42.020+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="D"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Jawa Tengah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="S"/><title type='text'>Dewi Sri, Dewi Kesuburan</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgE1VbPtehjOhWUUo6RitPQH6N0dNxb6plzv0Be220flAIEBbwD9f7tVOoxocl2QnYulGv5ghtHDoUJnZaCJgh3J4SJMXL697q05KHIq8yJ3hfF40ZSaqZEw6jLcUKmHcFR_ncUgvkHvzA/s1600/Kisah_Dewi_Sri_4cafa73e59a9a.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;320&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgE1VbPtehjOhWUUo6RitPQH6N0dNxb6plzv0Be220flAIEBbwD9f7tVOoxocl2QnYulGv5ghtHDoUJnZaCJgh3J4SJMXL697q05KHIq8yJ3hfF40ZSaqZEw6jLcUKmHcFR_ncUgvkHvzA/s320/Kisah_Dewi_Sri_4cafa73e59a9a.jpg&quot; width=&quot;207&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;a href=&quot;http:&quot;&gt;Dewi Sri&lt;/a&gt; adalah seorang putri dari seorang raja yang bernama Prabu Mahapunggung. Oleh masyarakat petani di Jawa Tengah, Dewi Sri dipercaya sebagai lambang kemakmuran dan kesuburan. Dewi Sri diyakini sebagai sosok suci yang mengatur kesejahteraan manusia di bumi. Bagaimanakah kisah tentang Dewi Sri yang sangat dihormati sebagai ibu kehidupan itu? Jawabannya dapat Anda temukan dalam cerita Dewi Sri, Dewi Kesuburan berikut ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahulu, di sebuah tempat di Jawa tengah, tersebutlah seorang raja bernama Prabu Sri Mahapunggung atau Bathara Srigati yang bertahta di sebuah kerajaan bernama Kerajaan Medang Kamulan. Bathara Srigati adalah putra Sanghyang Wisnu dan Dewi Sri Sekar atau Bathari Sri Widowati yang diutus ke bumi untuk menjaga kelestarian dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prabu Sri Mahapunggung mempunyai seorang putri bernama Dewi Sri. Ia adalah putri sulung sang Prabu yang diyakini sebagai titisan neneknya, Bathari Sri Widowati. Selain cantik dan rupawan, Dewi Sri adalah seorang putri yang cerdas, baik hati, lemah lembut, sabar, halus tutur katanya, luhur budi bahasanya, dan bijaksana. Dewi Sri mempunyai tiga adik kandung yaitu Sadana, Wandu, dan Oya. Ia bersama adiknya, Sadana, dikenal sebagai lambang kemakmuran hasil bumi. Dewi Sri sebagai dewi padi, sedangkan Sadana sebagai dewa hasil bumi lainnya seperti umbi-umbian, kentang, sayur-sayuran, dan buah-buahan. Oleh karena itu, keduanya tidak pernah dipisahkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika, Sadana diminta oleh ayah dan ibunya untuk menikahi seorang putri bernama Dewi Panitra, cucu Eyang Pancareshi. Namun, Sadana menolak karena tidak ingin mendahului kakaknya dengan alasan bahwa hal itu kerap menjadi penyebab terjadinya berbagai kesulitan di kemudian hari. Melihat sikap putranya itu, Prabu Sri Mahapunggung berupaya membujuknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sadana, Putraku. Jika kamu menikah dengan Dewi Panitra, Ayah akan menobatkanmu menjadi Putra Mahkota. Kamulah yang akan menggantikan Ayah menjadi raja negeri ini,” bujuk sang Prabu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadana hanya terdiam. Hatinya sedang gundah gulana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudahlah, Putraku. Kamu tidak usah memikirkan kakakmu. Sudah menjadi kewajiban kami untuk menikahkannya jika kelak menemukan jodohnya,” ujar sang Prabu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun berkali-kali dibujuk, Sadana tetap bersikukuh menolak pernikahan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan Sadana, Ayahanda Prabu. Tidak sepantasnya seorang adik mendahului kakaknya menikah,” kata Sadana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya, perkataan Sadana itu membuat marah ayahandanya. Ia dianggap sudah berani bersikap lancang karena tidak patuh pada nasehat orang tua. Untung sang Ibu berhasil meredam kemarahan ayah Sadana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada malam harinya, Sadana sulit memejamkan mata. Pikirannya sangat kacau, sedih, dan bingung. Baginya, perjodohan itu bertentangan dengan perinsip hidupnya. Setelah memikirkan segala resikonya, akhirnya malam itu Sadana pergi meninggalkan istana secara diam-diam. Alangkah murkanya sang Prabu saat mengetahui hal itu. Kemarahannya pun ia lampiaskan kepada Dewi Sri karena dianggap sebagai penyebab minggatnya Sadana. Tuduhan itu membuat sedih hati sang Putri. Karena merasa serba salah hidup di istana, akhirnya ia pun ikut kabur dari istana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perginya Dewi Seri dari istana membuat Prabu Sri Mahapunggung semakin murka. Saking marahnya, sang Prabu mengutuk Dewi Sri menjadi ular sawah, sedangkan Sadana dikutuk menjadi burung sriti. Dewi Sri berjalan ke arah timur tanpa tujuan yang pasti, sedangkan Sadana terbang tanpa arah dan tujuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika, ular sawah penjelmaan Dewi Sri tiba di Dusun Wasutira. Karena lelah, ular sawah itu kemudian tidur melingkar di lumbung padi milik seorang penduduk bernama Kyai Brikhu. Petani itu memiliki seorang istri bernama Ken Sanggi yang sedang mengandung bayi pertama mereka. Pada malam harinya, Kyai Brikhu bermimpi mendapat petunjuk bahwa bayi yang dikandung istrinya adalah titisan Dewi Tiksnawati. Kelak setelah lahir, bayi itu akan dijaga oleh seekor ular sawah. Jika ular sawah itu mati, maka bayinya pun akan mati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, alangkah bahagianya hidupku jika mimpi itu kelak menjadi kenyataan. Aku pun berjanji akan menjaga dan merawat ular sawah itu,” gumam Kyai Brikhu dengan perasaan gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu, persediaan beras Kyai Brikhu untuk dimasak oleh istrinya telah habis. Ketika hendak mengambil padi di lumbungnya, ia dikejutkan oleh seekor ular sawah yang melingkar di atas tumpukan padinya. Petani itu pun langsung teringat pada mimpinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin ular inilah yang menjaga anakku kelak,” gumamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kyai Brikhu pun akhirnya merawat ular sawah itu dengan baik. Ketika istrinya telah melahirkan seorang anak perempuan, ia kemudian meletakkan ular sawah itu di dekat bayinya yang berada di kamar tengah di rumahnya. Sejak itulah, Kyai Brikhu bersama sang Istri merawat anak mereka bersama ular sawah itu dengan hati-hati. Setiap hari, mereka memberi makan ular itu dengan katak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam, Kyai Brikhu kembali bermimpi. Dalam mimpinya, ular sawah itu menolak diberi makan katak. Ular itu minta diberi sesajen berupa sedah ayu, yakni sirih beserta perlengkapannya, bunga, dan lampu yang harus selalu dinyalakan. Ketika terbangun, Kyai Brikhu pun langsung menyiapkan sesaji sebagaimana permintaan ular sawah itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Dewi Tiksnawati yang menitis pada tubuh anak Kyai Brikhu membuat huru-hara di kediaman para dewa. Hal itu membuat Sang Hyang Jagadnata atau Batara Guru murka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai, para dewa! Pergilah ke bumi, beri bencana pada bayi tempat Dewi Tiksnawati menitis!” titah sang Batara Guru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para dewa pun segera meluncur ke bumi. Namun, usaha mereka memberi bencana pada bayi itu gagal karena pengaruh tolak bala dari Kyai Brikhu dan ular sawah. Berkali-kali para dewa itu berupaya melakukan hal itu, namun mereka tetap saja gagal. Setelah melakukan penyelidikan, para dewa dan Batara Guru pun mengetahui bahwa kegagalan mereka disebabkan oleh Dewi Sri yang setia melindungi bayi itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas perintah Batara Guru, para bidadari pun turun ke bumi untuk membujuk Dewi Sri agar mau menjadi bidadari di Kahyangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai, Dewi Sri! Kami diutus oleh Batara Guru untuk memintamu ke Kahyangan. Sang Batara Guru akan menjadikanmu bidadari untuk melengkapi kami para bidadari yang ada di Kahyangan,” bujuk salah satu bidadari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, para bidadari. Saya bersedia menerima permintaan Batara Guru, tapi dengan satu syarat,” ujar Dewi Sri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah syarat itu, wahai Dewi Sri?” tanya bidadari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya mohon adik saya, Sadana, yang telah dikutuk menjadi burung sriti agar dikembalikan wujudnya menjadi manusia,” pinta Dewi Sri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para bidadari pun menyanggupi permintaan Dewi Seri. Namun, ketika mereka hendak memenuhi permintaan tersebut, ternyata Sadana telah dikembalikan menjadi manusia oleh sosok yang sakti, yaitu Bagawan Brahmana Marhaesi, putra Sang Hyang Brahma. Bahkan, Sadana telah dinikahkan dengan seorang putri bernama Dewi Laksmitawahni. Kelak bila mereka telah memiliki putra, Sadana akan diangkat menjadi dewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita tentang Sadana kemudian disampaikan kepada Dewi Sri. Dewi Sri pun menyambutnya dengan perasaan senang. Karena keinginannya telah terkabulkan, akhirnya Dewi Sri yang berwujud ular sawah itu dikembalikan ke wujud aslinya oleh para bidadari ke wujud aslinya, yakni seorang gadis yang cantik jelita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Kyai Brikhu amat terkejut karena ular sawah di petanen-nya telah lenyap. Yang dilihatnya hanya seorang gadis cantik yang sedang duduk di samping bayinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai, anak gadis. Kamu siapa dan kenapa berada di sini?” tanya Khai Brikhu heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi Sri pun memperkenalkan dirinya lalu menceritakan peristiwa yang baru saja terjadi di rumah itu. Akhirnya, Kyai Brikhu pun tahu bahwa Dewi Sri adalah putri Prabu Mahapunggung dari Kerajaan Medang Kamulan. Sesuai dengan janjinya, Dewi Sri pun akan segera ke Kahyangan untuk dijadikan bidadari. Sebelum pergi, Dewi Sri tidak lupa berterima kasih dan berpesan kepada Kyai Brikhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih, Kyai Brikhu atas segala bantuannya selama saya tinggal di rumah ini,” ucap Dewi Sri, “Agar sandang dan pangan keluargamu selalu tercukupi, jangan lupa untuk memberi memberikan sesajen di ruang tengah rumahmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai berpesan, Dewi Sri pun moksa dan kemudian menuju ke Kahyangan. Sepeninggal Dewi Sri, Kyai Brikhu pun langsung menyediakan sesajen di ruang tengah rumahnya. Sejak itulah, orang Jawa selalu menyimpan atau memajang gambar ular di kamar tengah rumah mereka sebagai perlambangan sosok Dewi Sri yang telah memberikan kemakmuran dan kesuburan dalam kehidupan mereka. Tidak hanya itu, orang juga percaya bahwa jika ada ular masuk ke dalam rumah, itu berarti pertanda sawahnya akan memberikan hasil atau rezeki yang baik. Itulah sebabnya, masyarakat petani di Jawa amat menghargai ular sawah dengan cara memberinya sesaji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian cerita Dewi Sri, Dewi Kesuburan dari daerah Jawa Tengah. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa sifat suka memaksakan kehendak seperti Prabu Mahapunggung akan mengakibatkan bencana bagi diri dan keluarganya, yaitu minggatnya Raden Sadana dan Dewi Sri dari istana.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatjateng.blogspot.com/feeds/4415570625323932841/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatjateng.blogspot.com/2012/02/dewi-sri-dewi-kesuburan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3620016964474130753/posts/default/4415570625323932841'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3620016964474130753/posts/default/4415570625323932841'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatjateng.blogspot.com/2012/02/dewi-sri-dewi-kesuburan.html' title='Dewi Sri, Dewi Kesuburan'/><author><name>Android90</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02757444968399701178</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhAZqk3b2PzPFqvdCvNyUUBlCAoRqOm26ikQuhnRY4UcF0CVGFrMgwke-yoJ2GnjRLHTFSYcq8LHiSJTZnChRcUy4iUzfr4T0ozIgGUjR9eNyomLTE21wvBYfQJ1ejMChs/s115/Android.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgE1VbPtehjOhWUUo6RitPQH6N0dNxb6plzv0Be220flAIEBbwD9f7tVOoxocl2QnYulGv5ghtHDoUJnZaCJgh3J4SJMXL697q05KHIq8yJ3hfF40ZSaqZEw6jLcUKmHcFR_ncUgvkHvzA/s72-c/Kisah_Dewi_Sri_4cafa73e59a9a.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3620016964474130753.post-3156109147154982301</id><published>2012-02-15T20:13:00.000+07:00</published><updated>2013-10-27T18:17:45.192+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Jawa Tengah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="R"/><title type='text'>Legenda Rawa Pening</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgX4Txo68sX9h-p-qqlH0jHuXJXqjh3PHZAA0dvsl6gcqmzsNmRUGt0K11VXISC-QSDCnez-yLAMX9Sx-sWetLN0LZUDUbu0fs1fiMvzxwbABJDCiHVcWI5J9fT6r1I3bTvPr7gJ17sOTQ/s1600/rawa+pening.png&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;181&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgX4Txo68sX9h-p-qqlH0jHuXJXqjh3PHZAA0dvsl6gcqmzsNmRUGt0K11VXISC-QSDCnez-yLAMX9Sx-sWetLN0LZUDUbu0fs1fiMvzxwbABJDCiHVcWI5J9fT6r1I3bTvPr7gJ17sOTQ/s320/rawa+pening.png&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;Rawa Pening adalah sebuah danau yang merupakan salah satu obyek wisata air di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Danau ini tepatnya berada di cekungan terendah antara Gunung Merbabu, Telomoyo, dan Ungaran. Rawa Pening memiliki ukuran sekitar 2.670 hektar yang menempati empat wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan Ambarawa, Bawen, Tuntang, dan Banyubiru. Menurut cerita, danau ini terbentuk akibat suatu peristiwa yang pernah terjadi di daerah tersebut. Peristiwa apakah itu? Berikut kisahnya dalam cerita Legenda Rawa Pening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahulu, di lembah antara Gunung Merbabu dan Telomoyo terdapat sebuah desa bernama Ngasem. Di desa itu tinggal sepasang suami-istri yang bernama Ki Hajar dan Nyai Selakanta yang dikenal pemurah dan suka menolong sehingga sangat dihormati oleh masyarakat. Sayangnya, mereka belum mempunyai anak. Meskipun demikian, Ki Hajar dan istrinya selalu hidup rukun. Setiap menghadapi permasalahan, mereka selalu menyelesaikannya melalui musyawarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, Nyai Selakanta duduk termenung seorang diri di depan rumahnya. Tak lama kemudian, Ki Hajar datang menghampiri dan duduk di sampingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Istriku, kenapa kamu terlihat sedih begitu?” tanya Ki Hajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyai Selakanta masih saja terdiam. Ia rupanya masih tenggelam dalam lamunannya sehingga tidak menyadari keberadaan sang suami di sampingnya. Ia baru tersadar setelah Ki Hajar memegang pundaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, Kanda,” ucapnya dengan terkejut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Istriku, apa yang sedang kamu pikirkan?” Ki Hajar kembali bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak memikirkan apa-apa, Kanda. Dinda hanya merasa kesepian, apalagi jika Kanda sedang pergi. Sekiranya di rumah ini selalu terdengar suara tangis dan rengekan seorang bayi, tentu hidup ini tidak sesepi ini,” ungkap Nyai Selakanta, “Sejujurnya Kanda, Dinda ingin sekali mempunyai anak. Dinda ingin merawat dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar ungkapan isi hati istrinya, Ki Hajar menghela nafas panjang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudahlah, Dinda. Barangkali belum waktunya Tuhan memberi kita anak. Yang penting kita harus berusaha dan terus berdoa kepada-Nya,” ujar Ki Hajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, Kanda,” jawab Nyai Selakanta sambil meneteskan air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Hajar pun tak kuasa menahan air matanya melihat kesedihan istri yang amat dicintainya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, Dinda. Jika memang Dinda sangat menginginkan anak, izinkanlah Kanda pergi bertapa untuk memohon kepada Yang Mahakuasa,” kata Ki Hajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyai Selakanta pun memenuhi keinginan suaminya, meskipun berat untuk berpisah. Keesokan harinya, berangkatlah Ki Hajar ke lereng Gunung Telomoyo. Tinggallah kini Nyai Selakanta seorang diri dengan hati semakin sepi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berminggu-minggu, bahkan sudah berbulan-bulan Nyai Selakanta menunggu, namun sang suami belum juga kembali dari pertapaannya. Hati wanita itu pun mulai diselimuti perasaan cemas kalau-kalau terjadi sesuatu pada suaminya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, Nyai Selakanta merasa mual dan kemudian muntah-muntah. Ia pun berpikir bahwa dirinya sedang hamil. Ternyata dugaannya benar. Semakin hari perutnya semakin membesar. Setelah tiba saatnya, ia pun melahirkan. Namun, alangkah terkejutnya ia karena anak yang dilahirkan bukanlah seorang manusia, melainkan seekor naga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menamai anak itu Baru Klinthing. Nama ini diambil dari nama tombak milik suaminya yang bernama Baru Klinthing. Kata “baru” berasal dari kata bra yang artinya keturunan Brahmana, yaitu seorang resi yang kedudukannya lebih tinggi dari pendeta. Sementara kata “Klinthing” berarti lonceng. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaibnya, meskipun berwujud naga, Baru Klinthing dapat berbicara seperti manusia. Nyai Selakanta pun terheran-heran bercampur haru melihat keajaiban itu. Namun di sisi lain, ia juga sedikit merasa kecewa. Sebab, betapa malunya ia jika warga mengetahui bahwa dirinya melahirkan seekor naga. Untuk menutupi hal tersebut, ia pun berniat untuk mengasingkan Baru Klinthing ke Bukit Tugur. Tapi sebelum itu, ia harus merawatnya terlebih dahulu hingga besar agar dapat menempuh perjalanan menuju ke lereng Gunung Telomoyo yang jaraknya cukup jauh. Tentu saja, Nyai Selakanta merawat Baru Klinthing dengan sembunyi-sembunyi, tanpa sepengetahuan warga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu terus berjalan. Baru Klinthing pun tumbuh menjadi remaja. Suatu hari, anak itu bertanya kepada ibunya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bu, apakah aku mempunyai ayah?” tanyanya dengan polos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyai Selakanta tersentak kaget. Ia benar-benar tidak pernah menduga pertanyaan itu keluar dari mulut anaknya. Namun, hal itu telah menyadarkan dirinya bahwa sudah saatnya Baru Klinthing mengetahui siapa ayahnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, anakku. Ayahmu bernama Ki Hajar. Tapi, ayahmu saat ini sedang bertapa di lereng Gunung Telomoyo. Pergilah temui dia dan katakan padanya bahwa engkau adalah putranya,” kata Nyai Selakanta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, Bu. Apakah ayah mau mempercayaiku dengan tubuhku seperti ini?” tanya Baru Klinthing dengan ragu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan khawatir, Anakku! Bawalah pusaka tombak Baru Klinthing ini sebagai bukti,” ujar Nyai Selakanta, “Pusaka itu milik ayahmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memohon restu dan menerima pusaka dari ibunya, Baru Klinthing berangkat menuju lereng Gunung Telomoyo. Setiba di sana, masuklah ia ke dalam gua dan mendapati seorang laki-laki sedang duduk bersemedi. Kedatangan Baru Klinting rupanya mengusik ketenangan pertapa itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai, siapa itu?” tanya pertapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan saya, tuan, jika kedatangan saya mengganggu ketenangan Tuan,” kata Baru Klinting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa terkejutnya pertapa itu saat melihat seekor naga yang dapat berbicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa kamu dan kenapa kamu bisa berbicara seperti manusia?” tanya pertapa itu dengan heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya Baru Klinthing,” jawab Baru Klinthing. “Kalau boleh tahu, apakah benar ini tempat pertapaan Ki Hajar?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, aku Ki Hajar. Tapi, bagaimana kamu tahu namaku? Siapa kamu sebenarnya?” tanya pertapa itu penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar jawaban itu, Baru Klinthing langsung bersembah sujud di hadapan ayahnya. Ia kemudian menjelaskan siapa dirinya. Awalnya, Ki Hajar tidak percaya jika dirinya memiliki anak berujud seekor naga. Ketika naga itu menunjukkan pusaka Baru Klinthing kepadanya, Ki Hajar pun mulai percaya. Namun, ia belum yakin sepenuhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, aku percaya jika pusaka Baru Klinthing itu adalah milikku. Tapi, bukti itu belum cukup bagiku. Jika kamu memang benar-benar anakku, coba kamu lingkari Gunung Telomoyo ini!” ujar Ki Hajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru Klinthing segera melaksanakan perintah tersebut untuk meyakinkan sang ayah. Berbekal kesaktian yang dimiliki, Baru Klinting berhasil melingkari Gunung Telomoyo. Akhirnya, Ki Hajar pun mengakui bahwa naga itu adalah anaknya. Setelah itu, ia kemudian memerintahkan anaknya untuk bertapa di Bukit Tugur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pergilah bertapa ke Bukit Tugur!” ujar Ki Hajar, “Suatu saat kelak, tubuhmu akan berubah menjadi manusia.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik,” jawab Baru Klinthing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, tersebutlah sebuah desa bernama Pathok. Desa ini sangat makmur, namun sayang penduduk desa ini sangat angkuh. Suatu ketika, penduduk Desa Pathok bermaksud mengadakan merti dusun (bersih desa), yaitu pesta sedekah bumi setelah panen. Untuk memeriahkan pesta, akan digelar berbagai pertunjukan seni dan tari. Berbagai makanan lezat pun akan disajikan sebagai hidangan bersama dan jamuan untuk para tamu undangan. Untuk itulah, para warga beramai-ramai berburu binatang di Bukit Tugur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah hampir seharian mereka berburu, namun belum satu pun binatang yang tertangkap. Ketika hendak kembali ke desa, tiba-tiba mereka melihat seekor naga sedang bertapa. Naga ini tak lain adalah Baru Klinthing. Mereka pun beramai-ramai menangkap dan memotong-motong daging naga itu lalu membawanya pulang. Setiba di desa, daging naga itu mereka masak untuk dijadikan hidangan dalam pesta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika para warga sedang asyik berpesta, datanglah seorang anak laki-laki yang tubuhnya penuh dengan luka sehingga menimbulkan bau amis. Rupanya, anak laki-laki itu adalah penjelmaan Baru Klinthing. Oleh karena lapar, Baru Klinthing pun ikut bergabung dalam keramaian itu. Saat ia meminta makanan kepada warga, tak satu pun yang mau memberi makan. Mereka justru memaki-maki, bahkan mengusirnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai, pengemis. Cepat pergi dari sini!” usir para warga, “Tubuhmu bau amis sekali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh malang nasib Baru Klinthing. Dengan perut keroncongan, ia pun berjalan sempoyongan hendak meninggalkan desa. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seorang janda tua bernama Nyi Latung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai, anak muda. Kenapa kamu tidak ikut berpesta?” tanya Nyi Latung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semua orang menolak kehadiranku di pesta itu. Mereka jijik melihat tubuhku,” jawab Baru Klinthing, “Padahal, saya lapar sekali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyi Latung yang baik hati itu pun mengajak Baru Klinthing ke rumahnya. Nenek itu segera menghidangkan makanan lezat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih, Nek,” ucap Baru Klinthing, “Ternyata masih ada warga yang baik hati di desa ini.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, cucuku. Semua warga di sini memiliki sifat angkuh. Mereka pun tidak mengundang Nenek ke pesta karena jijik melihatku,” ungkap Nyi Latung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau, begitu. Mereka harus diberi pelajaran,” ujar Baru Klinthing. “Jika nanti Nenek mendengar suara gemuruh, segeralah siapkan lesung kayu (lumpang: alat menumbuk padi)!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru Klinthing kembali ke pesta dengan membawa sebatang lidi. Setiba di tengah keramaian, ia menancapkan lidi itu ke tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai, kalian semua. Jika kalian merasa hebat, cabutlah lidi yang kutancapkan ini!” tantang Baru Klinthing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa diremehkan, warga pun beramai-ramai hendak mencabut lidi itu. Mula-mula, para anak kecil disuruh mencabutnya, tapi tak seorang pun yang berhasil. Ketika giliran para kaum perempuan, semuanya tetap saja gagal. Akhirnya, kaum laki-laki yang dianggap kuat pun maju satu persatu. Namun, tak seorang pun dari mereka yang mampu mencabut lidi tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, kalian semua payah. Mencabut lidi saja tidak bisa,” kata Baru Klinthing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru Klinthing segera mencabut lidi itu. Karena kesaktiannya, ia pun mampu mencabut lidi itu dengan mudahnya. Begitu lidi itu tercabut, suara gemuruh pun menggentarkan seluruh isi desa. Beberapa saat kemudian, air menyembur keluar dari bekas tancapan lidi itu. Semakin lama semburan air semakin besar sehingga terjadilah banjir besar. Semua penduduk kalang kabut hendak menyelamatkan diri. Namun, usaha mereka sudah terlambat karena banjir telah menenggelamkan mereka. Seketika, desa itu pun berubah menjadi rawa atau danau, yang kini dikenal dengan Rawa Pening. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, usai mencabut lidi, Baru Klinthing segera berlari menemui Nyi Latung yang sudah menunggu di atas lesung yang berfungsi sebagai perahu. Maka, selamatlah ia bersama nenek itu. Setelah peristiwa itu, Baru Klinthing kembali menjadi naga untuk menjaga Rawa Pening. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian cerita Legenda Rawa Pening dari Jawa Tengah. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah sifat angkuh, sombong, dan tidak menghargai orang lain adalah sifat tidak terpuji. Saling membantu dan saling tolong menolong merupakan perbuatan baik yang patut untuk dicontoh, tanpa memandang latar belakang status sosial, agama, asal, dan kondisi fisik orang yang ditolong.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatjateng.blogspot.com/feeds/3156109147154982301/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatjateng.blogspot.com/2012/02/legenda-rawa-pening.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3620016964474130753/posts/default/3156109147154982301'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3620016964474130753/posts/default/3156109147154982301'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatjateng.blogspot.com/2012/02/legenda-rawa-pening.html' title='Legenda Rawa Pening'/><author><name>Android90</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02757444968399701178</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhAZqk3b2PzPFqvdCvNyUUBlCAoRqOm26ikQuhnRY4UcF0CVGFrMgwke-yoJ2GnjRLHTFSYcq8LHiSJTZnChRcUy4iUzfr4T0ozIgGUjR9eNyomLTE21wvBYfQJ1ejMChs/s115/Android.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgX4Txo68sX9h-p-qqlH0jHuXJXqjh3PHZAA0dvsl6gcqmzsNmRUGt0K11VXISC-QSDCnez-yLAMX9Sx-sWetLN0LZUDUbu0fs1fiMvzxwbABJDCiHVcWI5J9fT6r1I3bTvPr7gJ17sOTQ/s72-c/rawa+pening.png" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3620016964474130753.post-6254747265998393658</id><published>2012-02-15T19:53:00.000+07:00</published><updated>2013-10-27T18:23:27.169+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Jawa Tengah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="R"/><title type='text'>Kisah Rara Mendut</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;margin: 6pt 0in 0.0001pt;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjKIKe3hPypASfW0J5eGtIIpvYcFay8YGkTQz_trPqOe7ynWeTFrzt2bWGyflqmTEXswaJtkInQvgqsIDgrpxsnWc53rri9Sqef5q8oARoscvAQ_nRx-Cb_ExuSVaZPC2b7920rSlJkCHo/s1600/Rara_Mendut_novel_2008.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;320&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjKIKe3hPypASfW0J5eGtIIpvYcFay8YGkTQz_trPqOe7ynWeTFrzt2bWGyflqmTEXswaJtkInQvgqsIDgrpxsnWc53rri9Sqef5q8oARoscvAQ_nRx-Cb_ExuSVaZPC2b7920rSlJkCHo/s320/Rara_Mendut_novel_2008.jpg&quot; width=&quot;205&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Rara Mendut atau Roro Mendut (dalam bahasa Jawa) adalah seorang gadis cantik yang berpendirian teguh. Karunia kecantikan yang luar biasa membuat  Rara Mendut menjadi rebutan para pria, mulai dari kalangan rakyat biasa, bangsawan, hingga panglima perang. Suatu ketika, Rara Mendut diculik oleh Adipati Pragolo II, penguasa Kadipaten Pati untuk dijadikan selir. Namun, sebelum menjadi selir Adipati Pragolo II, Rara Mendut direbut oleh panglima perang Kerajaan Mataram, Tumenggung Wiraguna untuk dijadikan selir pula. Bagaimana nasib Rara Mendut selanjutnya? Berikut kisahnya dalam cerita &lt;a href=&quot;http:&quot;&gt;Kisah Rara Mendut&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* * *&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dahulu, di pesisir pantai utara Pulau Jawa, tepatnya di daerah Pati, Jawa Tengah, tersebutlah sebuah desa nelayan bernama Teluk Cikal. Desa itu termasuk ke dalam wilayah Kadipaten Pati yang diperintah oleh Adipati Pragolo II. Kadipaten Pati sendiri merupakan salah satu wilayah taklukan dari Kesultanan Mataram yang dipimpin oleh Sultan Agung. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Teluk Cikal, hidup seorang gadis anak nelayan bernama Rara Mendut. Ia seorang gadis yang cantik dan rupawan. Rara Mendut juga dikenal sebagai seorang gadis yang teguh pendirian. Ia tidak sungkan-sungkan menolak para lelaki yang datang melamarnya sebab ia sudah memiliki calon suami, yakni seorang pemuda desa yang tampan bernama Pranacitra, putra Nyai Singabarong, seorang saudagar kaya-raya.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu hari, berita tentang kecantikan dan kemolekan Rara Mendut terdengar oleh Adipati Pragolo II. Penguasa Kadipaten Pati itu pun bermaksud menjadikannya sebagai selir. Sudah berkali-kali ia membujuknya, namun Rara Mendut tetap menolak. Merasa dikecewakan, Adipati Pragolo II mengutus beberapa pengawalnya untuk menculik Rara Mendut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari itu, ketika Rara Mendut sedang asyik menjemur ikan di pantai seorang diri, datanglah utusan Adipati Progolo.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ayo gadis cantik, ikut kami ke keraton!” seru para pengawal itu sambil menarik kedua tangan Rara Mendut dengan kasar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lepaskan, aku!” teriak Rara Mendut sambil meronta-ronta, “Aku tidak mau menjadi selir Adipati Pragolo. Aku sudah punya kekasih!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para pengawal itu tidak peduli dengan rengekan Rara Mendut. Mereka terus menyeret gadis itu naik ke kuda lalu membawanya ke keraton. Sebagai calon selir, Rara Mendut dipingit di dalam Puri Kadipaten Pati di bawah asuhan seorang dayang bernama Ni Semangka dengan dibantu oleh seorang dayang yang lebih muda bernama Genduk Duku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara Rara Mendut dalam masa pingitan, di Kadipaten Pati sedang terjadi gejolak. Sultan Agung menuding Adipati Pragolo II sebagai pemberontak karena tidak mau membayar upeti kepada Kesultanan Mataram. Sultan Agung pun memimpin langsung penyerangan ke Kadipaten Pati. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut cerita, Sultan Agung tidak mampu melukai Adipati Pragolo II karena penguasa Pati itu memakai kere waja (baju zirah) yang tidak mempan senjata apapun. Melihat hal itu, abdi pemegang payung sang Sultan yang bernama Ki Nayadarma pun berkata, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ampun, Gusti Prabu. Perkenankanlah hamba yang menghadapi Adipati Pragolo!” pinta Ki Nayadarma seraya memberi sembah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah, Abdiku. Gunakanlah tombak Baru Klinting ini!” ujar sang Sultan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbekal tombak pusaka Baru Klinting, Ki Nayadarma langsung menyerang Adipati Pragolo II. Namun, serangannya masih mampu ditepis oleh Adipati Pragolo II. Saat Adipati itu lengah, Ki Nayadarma dengan cepat menikamkan pusaka Baru Klinting ke bagian tubuh sang Adipati yang tidak terlindungi oleh baju zirah. Adipati Pragolo II pun tewas seketika. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara itu, para prajurit yang dikomandani panglima perang Mataram, Tumenggung Wiraguna, segera merampas harta kekayaan Kadipaten Pati, termasuk Rara Mendut. Tumenggung Wiraguna langsung terpesona saat melihat kecantikan Rara Mendut. Ia pun memboyong Rara Mendut ke Mataram untuk dijadikan selirnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tumenggung Wiraguna berkali-kali membujuk Rara Mendut untuk dijadikan selir, namun selalu ditolak. Bahkan, di hadapan panglima itu, ia berani terang-terangan menyatakan bahwa dirinya telah memiliki kekasih bernama Pranacitra. Sikap Rara Mendut yang keras kepala itu membuat Tumenggung Wiraguna murka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Baiklah, Rara Mendut. Jika kamu tidak ingin menjadi selirku, maka sebagai gantinya kamu harus membayar pajak kepada Mataram!” ancam Tumenggung Wiraguna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rara Mendut tidak gentar mendengar ancaman itu. Ia lebih memilih membayar pajak daripada harus menjadi selir Tumenggung Wiraguna. Oleh karena masih dalam pengawasan prajurit Mataram, Rara Mendut kemudian meminta izin untuk berdagang rokok di pasar. Tumenggung Wiraguna pun menyetujuinya. Ternyata, dagangan rokoknya laku keras, bahkan, orang juga beramai-ramai membeli puntung rokok bekas isapan Rara Mendut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu hari, ketika sedang berjualan di pasar, Rara Mendut bertemu dengan Pranacitra yang sengaja datang mencari kekasihnya itu. Pranacitra berusaha mencari jalan untuk bisa melarikan Rara Mendut dari Mataram. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiba di istana, Rara Mendut menceritakan perihal pertemuannya dengan Pranacitra kepada Putri Arumardi, salah seorang selir Wiraguna, dengan harapan dapat membantunya keluar dari istana. Rara Mendut tahu persis bahwa Putri Arumardi tidak setuju jika Wiraguna menambah selir lagi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Putri Arumardi dan selir Wiraguna lainnya yang bernama Nyai Ajeng menyusun siasat untuk mengeluarkan Rara Mendut ke luar dari istana. Bersama dengan Pranacitra, Rara Mendut berusaha untuk kembali ke kampung halamannya di Kadipaten Pati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun sungguh disayangkan, pelarian Rara Mendut dan Pranacitra diketahui oleh Wiraguna. Pasangan ini akhirnya berhasil ditemukan oleh para prajurit Wiraguna. Rara Mendut pun dibawa kembali ke Mataram, sedangkan secara diam-diam, Wiraguna memerintahkan abdi kepercayaannya untuk menghabisi nyawa Pranacitra. Alhasil, kekasih Rara Mendut itu tewas dan dikuburkan di sebuah hutan terpencil di Ceporan, Desa Gandhu, terletak kurang lebih 9 kilometer sebelah timur Kota Yogyakarta. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepeninggal Pranacitra, Tumenggung Wiraguna kembali membujuk Rara Mendut agar mau menjadi selirnya. Namun, usahanya tetap sia-sia, gadis cantik itu tetap menolak. Sang Panglima pun tidak kehabisan akal. Ia kemudian menceritakan perihal kematian Pranacitra kepada Rara Mendut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudahlah, Rara Mendut. Percuma saja kamu menikah dengan Pranacitra,” ujar Tumenggung Wiraguna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa maksud Tuan?” tanya Rara Mendut mulai cemas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pemuda yang kamu kasihi itu sudah tidak ada lagi,” jawab Tumenggung Wiraguna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kanda Pranacitra sudah tidak ada? Ah, itu tidak mungkin terjadi. Aku baru saja bertemu dengannya kemarin,” kata Rara Mendut tidak percaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika kamu tidak percaya, ikutlah bersamaku, akan kutunjukkan kuburnya,” ujar Tumenggung Wiraguna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rara Mendut pun menurut untuk membuktikan perkataan Tumenggung Wiraguna. Betapa terkejutnya Rara Mendut begitu sampai di tempat Pranacitra dikuburkan. Ia berteriak histeris di hadapan makam kekasihnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kanda, jangan tinggalkan Dinda!” tangis Rara Mendut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudahlah, Mendut! Tak ada lagi gunanya meratapi orang yang sudah mati,” ujar Wiraguna, “Ayo, kita tinggalkan tempat ini!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rara Mendut pun bangkit lalu mengikuti Tumenggung Wiraguna sambil terus menangis. Belum jauh mereka meninggalkan tempat pemakaman itu, Rara Mendut pun murka dan mengancam akan melaporkan perbuatan Wiraguna kepada Raja Mataram, Sultan Agung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tuan jahat sekali. Perbuatan Tuan akan kulaporkan kepada Raja Mataram agar mendapat hukuman yang setimpal!” ancam Rara Mendut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seketika, Tumenggung Wiraguna menjadi sangat marah. Ia kemudian menarik tangan Rara Mendut untuk dibawa pulang ke rumahnya. Namun, gadis itu menolak dan meronta-ronta untuk melepaskan diri. Begitu tangannya terlepas, ia menarik keris milik Tumenggung Wiraguna yang terselip di pinggangnya. Rara Mendut kemudian berlari menuju makam kekasihnya. Panglima itu pun berusaha mengejarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berhenti, Mendut!” teriaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiba di makam Pranacitra, Rara Mendut bermaksud untuk bunuh diri.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan, Mendut! Jangan lakukan itu!” teriak Tumenggung Wiraguna yang baru saja sampai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, semuanya sudah terlambat. Rara Mendut telah menikam perutnya dengan keris yang dibawanya. Tubuhnya pun langsung roboh dan tewas di samping makam kekasihnya. Melihat peristiwa itu, Tumenggung Wiraguna merasa amat menyesal atas perbuatannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, Tuhan. Sekiranya aku tidak memaksanya menjadi selirku, tentu Rara Mendut tidak akan nekad bunuh diri,” sesal Tumenggung Wiraguna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penyesalan itu tak ada gunanya karena semuanya sudah terjadi. Untuk menebus kesalahannya, Tumenggung Wiraguna menguburkan Rara Mendut satu liang dengan Pranacitra. Begitulah kisah perjuangan Rara Mendut dalam mempertahankan harga diri dan kesetiaannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* * *&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian cerita Kisah Rara Mendut dari Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Hingga kini, kisah ini masih dikenang dan menjadi simbol cinta yang abadi dalam masyarakat Jawa. Oleh YB. Mangunwijaya, cerita ini telah ditulis dalam trilogi karya sastra klasik berjudul Rara Mendut, Genduk Duku, dan Lusi Lindri yang dimuat di harian Kompas secara bersambung. Sekitar tahun 1983, novel ini kemudian diadaptasi menjadi sebuah film yang berjudul “Roro Mendut” yang disutradarai oleh Ami Prijono. Tahun 2008, novel trilogi ini kembali diterbitkan ke dalam gabungan sebuah novel yang berjudul Rara Mendut: Sebuah Trilogi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun pesan moral yang dapat dipetik dari kisah di atas adalah bahwa harta, pangkat, dan jabatan bukanlah jaminan untuk mendapatkan cinta sejati seseorang. Cinta sejati tidak selamanya bisa dinilai dengan materi, namun justru cinta itu hadir karena perasaan saling memberi-menerima dan memiliki sebagaimana kisah Rara Mendut dan Pranacitra.&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritarakyatjateng.blogspot.com/feeds/6254747265998393658/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritarakyatjateng.blogspot.com/2012/02/kisah-rara-mendut.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3620016964474130753/posts/default/6254747265998393658'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3620016964474130753/posts/default/6254747265998393658'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritarakyatjateng.blogspot.com/2012/02/kisah-rara-mendut.html' title='Kisah Rara Mendut'/><author><name>Android90</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02757444968399701178</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='31' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhAZqk3b2PzPFqvdCvNyUUBlCAoRqOm26ikQuhnRY4UcF0CVGFrMgwke-yoJ2GnjRLHTFSYcq8LHiSJTZnChRcUy4iUzfr4T0ozIgGUjR9eNyomLTE21wvBYfQJ1ejMChs/s115/Android.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjKIKe3hPypASfW0J5eGtIIpvYcFay8YGkTQz_trPqOe7ynWeTFrzt2bWGyflqmTEXswaJtkInQvgqsIDgrpxsnWc53rri9Sqef5q8oARoscvAQ_nRx-Cb_ExuSVaZPC2b7920rSlJkCHo/s72-c/Rara_Mendut_novel_2008.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>