<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/atom10full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" gd:etag="W/&quot;D0IMQn48cCp7ImA9WhRUGEw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-643697286673093681</id><updated>2012-01-29T12:39:43.078+07:00</updated><category term="Puisi" /><category term="Activities" /><category term="Sejarah" /><category term="Reflection" /><category term="Research" /><category term="bedah film" /><category term="My Notes" /><category term="Karaeng Galesong" /><category term="Resolusi Juara" /><category term="Article" /><category term="urusan kuliah" /><category term="ikami sulsel" /><category term="Uncategorized" /><category term="kabar" /><category term="Popular" /><category term="Religion" /><title>Alternative Road</title><subtitle type="html">Everyone is Meant to Make a Difference</subtitle><link rel="http://schemas.google.com/g/2005#feed" type="application/atom+xml" href="http://chengxplore.blogspot.com/feeds/posts/default" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://chengxplore.blogspot.com/" /><link rel="next" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false&amp;v=2" /><author><name>Cheng Prudjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03932155262964597384</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_7Y4frbrIS4A/S1VOeDG9uUI/AAAAAAAAAYY/zliayXfpJds/S220/mash+muda+dl.jpg" /></author><generator version="7.00" uri="http://www.blogger.com">Blogger</generator><openSearch:totalResults>135</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/atom+xml" href="http://feeds.feedburner.com/ChengXplore" /><feedburner:info uri="chengxplore" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><link rel="license" type="text/html" href="http://creativecommons.org/licenses/by/2.0/" /><logo>http://creativecommons.org/images/public/somerights20.gif</logo><feedburner:emailServiceId>ChengXplore</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><entry gd:etag="W/&quot;A0cHQ34-fyp7ImA9WhRUFU8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-643697286673093681.post-4341973430138846606</id><published>2012-01-26T04:17:00.006+07:00</published><updated>2012-01-26T05:03:52.057+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-26T05:03:52.057+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Article" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ikami sulsel" /><title>Semangat Merantau Transformatif &amp; Eksistensi IKAMI Sulsel</title><content type="html">Judul asli : &lt;b&gt;Rantau Transformatif dan Eksistensi IKAMI Sulsel&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Penulis : &lt;b&gt;Shadikin Suhidin&lt;/b&gt;*&lt;br /&gt;
Diterbitkan di : Lintas-kabar.com (21 Januari 2012)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Merantau dan Legitimasi Langit&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Kitab suci di samping memberikan informasi penting kepada manusia, juga memberikan pemahaman penting yang berbuah nilai kecerdasan. Letak signifikansi kitab suci bukan saja sebagai pelengkap kepercayaan kita kepada Tuhan, tapi lebih pada nilai inspiratif dan legitimasi psikologis kepada orang-orang tertentu yang mempercayainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Mengapa tidak sebagian kamu, pergi/keluar memperdalam ilmu agamanya untuk selanjutnya memberikan bimbingan kepada khalayak. Bimbingan kepada kaum dan umatnya…”, demikian kutipan lepas yang bersumber dari firman Tuhan dalam kumpulan info langit tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-f9WAm99bfJg/TyB0v_u86mI/AAAAAAAAAwQ/8y6FW1Lxz_s/s1600/perantau.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-f9WAm99bfJg/TyB0v_u86mI/AAAAAAAAAwQ/8y6FW1Lxz_s/s320/perantau.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Walaupun anjuran ataupun kewajiban ini lebih bersifat fardu kifayah, namun sangat inspiratif dan penting sebagai landasan justifikasi kepada semua sebagai anak rantau. Juga, dalam beberapa hikayat, disebutkan bahwa salah satu bukti akan kenabian Muhammad Ibnu Abdullah tidak lain karena keinginan dan kemampuan beliau kembali ke bumi setelah bertemu dengan Tuhan-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Singkat kata, bahwa banyak hal yang menjadi nilai positif dalam perspektif Qur’anik tentang manusia – manusia yang melakukan safar. Mulia, dalam paradigma Qur’anik – bagi manusia yang menjelajah dunia untuk menemukan nilai–nilai transendental. Bahkan sakral nan suci bagi yang mampu menembus hakikat perjalanan itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tulisan ini tentang Mahasiswa Rantau. Khususnya mahasiswa rantau dari Tanah Sebrang, Sulawesi Selatan (dalam kacamata manusia jawa). Dan, tidak berpretensi mencari pembenaran keberadaan dan status kita sebagai anak rantau—bukan untuk dikatakan lebih mulia daripada saudara yang tetap melanjutkan studi di Makassar.Tulisan ini bukan alat pembenar dan seolah mulia. Toh, belum tentu semua kita mempunyai pandangan Quranik. Toh tidak sedikit yang sudah lupa baca tulis quran. Tulisan atau dialog ini tentang merantau “bagaimana menjadi”. Sebuah rantau transformatif. Rantau yang mencoba menemukan titik ideal sebagai musafir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Rantau-merantau : Jalan Menembus Hakikat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata rantau mempunyai makna cukup luas; 1. Pantai sepanjang teluk (sungai); 2. Daerah (negeri) di luar daerah (negeri) sendiri atau daerah di luar kampung halaman; negeri asing. Menambahkan awalan me-rantau, bentuk kata kerja, yang dapat diartikan sebagai pergi ke negeri lain untuk mencari kehidupan, ilmu dan seterusnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hakikat merantau adalah untuk menjadi, bukan mempunyai. Menjadi (to be) berarti memaknai perjalanan sebagai anak rantau untuk melakukan metaforfosa diri ke arah yang lebih baik dan konstruktif. Sedang mempunyai (to have) hanyalah selancar bayang-bayang profan yang tidak mengantar pada hakikat perantaun yang ideal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam perspektif reflektif jalan panjang ini , secara garis besar, mahasiswa rantau dapat dibagi dalam dua arus besar. Pertama, mahasiswa rantau yang mampu memaknai perjalanan panjang, dan melahirkan kesadaran akan posisi sebagai kaum intelektual. Kedua, mahasiswa rantau yang termotivasi dengan bayang-bayang profan. Termotivasi oleh nilai-nilai material; Merantau untuk mendapatkan harta melimpah, merantau untuk mendapatkan gadis desa tercantik atau merantau untuk menjadi yang “terbaik” di bumi masing-masing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalangan besar kedua ini, kita lihat masih terjebak pada status tanpa nilai transendental. Tidak ada pemaknaan lebih tinggi, tidak mampu menembus ruang dibalik ruang material. Pada titik ini pula, didapatkan reduksi nilai yang sangat besar dalam kamus anak rantau tentang tellu cappa atau tiga ujung pamungkas yang dimiliki perantau bugis-makassar. Tiga ujung yang dimaksud adalah ujung lidah, ujung badik, dan ujung kemaluan. Dalam pandangan arus besar kedua di atas, substansi spirit kultural telah hilang dan tergantikan dengan hal yang bernilai material belaka; ujung lidah tidak lebih sebagai perangkat negosiasi untuk kepentingan pribadi; ujung badik juga direduksi hanya pada keberanian memamerkan kehebatan fisik; dan ujung kemaluan juga hanya perangkat mengelabui pribumi demi kepentingan sesaat. Hemat penulis, ujung ketiga inilah yang paling sering disalahartikan oleh perantau bugis-makassar hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-JVKzxSG11lk/TyB5_yVkw4I/AAAAAAAAAww/JQ-7pHtb58s/s1600/perantau-senja.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-JVKzxSG11lk/TyB5_yVkw4I/AAAAAAAAAww/JQ-7pHtb58s/s1600/perantau-senja.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Gambar ini mengingatkan kisah romantika Saijah dan Adinda dalam Multatulu karya Max Havelar&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Revolusi Dari Luar, Dari Kita Untuk Umat &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, Merantau akan berarti ketika sang musafir mampu memaknai tiga lingkaran hidupnya; Tuhan, alam dan manusia sekitar. Kewajiban saling mengingatkan sesama perantau bugis-makassar “dimana langit dijunjung, disana bumi dipijak” pada saat bersamaan saling memasyrakatkan dalam komunitas sesama perantau akan kata bijak lainnya “seekor burung akan selalu kembali ke sarangnya”. Artinya, kemampuan adaptasi perantau bugis-makassar di negeri orang harus diimbangi dengan spirit pembangunan rumah besarnya sendiri yang bernama Sulawesi Selatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adakalanya penghuni balla’ lompoa yang bernama Sulawesi Selatan perlu memotret rumah secara utuh, dan itu hanya bisa dilakukan dari luar. Tidak jarang pula, dinamika rumah memerlukan pandangan-pandangan pihak eksternal untuk selanjutnya mengambil solusi cerdas bahkan langkah preventif terhadap gejolak sosial yang sangat mungkin terjadi. Memandang dari titik jauh adalah tugas perantau bugis-makassar. Dan ketika perantau ini mengayauh langkah secara bersama dalam bingkai organisasi paguyuban seperti IKAMI SULSEL dan KKSS peran seperti di atas jatuh ke pundak kita semua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Eksistensi Ikatatan Kekeluargaan Mahasiswa/pelajar Indonesia (IKAMI) Sulawesi Selatan dapat dilihat dari kerja-kerja nyata untuk masyarakat Sulawesi selatan itu sendiri. Wacana Revolusi dari luar, dari kita untuk umat bukan sekedar wacana di atas kertas ketika serangkaian program strategis mampu dibumikan sesegara mungkin. Dalam konteks ini pula kecerdasan ilahiyat serta sense of critis akan mewujud setelah oleh para perantau mampu memaknai sabda tuhan di atas bahwa “mengapa tidak sebagian kamu keluar (baca, merantau) dalam rangka memperdalam pengetahuan dan ilmu agamanya untuk selanjutnya memberikan pencerahan dan pembaharuan kepada kaumnya. Maka merantau pun alih-alih hanya mencari penghidupan material semata tapi mampu menembus hakikat bagai sebagai napak tilas perjalanan kenabian yang dianjurkan, bahkan dalam konteks tertentu, diwajibkan kepada semua manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*) Kandidat Ketua Umum PB IKAMI Sulsel dan Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-GkIpTnezZU4/TyB5XMbwJkI/AAAAAAAAAwg/lYVH12HpLHA/s1600/mengantar+brek+ke+jakarta+2.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="417" src="http://3.bp.blogspot.com/-GkIpTnezZU4/TyB5XMbwJkI/AAAAAAAAAwg/lYVH12HpLHA/s400/mengantar+brek+ke+jakarta+2.jpg" width="530" alt="shadikin suhidin"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;kunjungi juga;
www.kalsumedia.co.nr&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/643697286673093681-4341973430138846606?l=chengxplore.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/y_oGIpFLjksjtxsk-utcqjA9L_E/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/y_oGIpFLjksjtxsk-utcqjA9L_E/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/y_oGIpFLjksjtxsk-utcqjA9L_E/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/y_oGIpFLjksjtxsk-utcqjA9L_E/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ChengXplore/~4/bd7YWREzT9g" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://chengxplore.blogspot.com/feeds/4341973430138846606/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://chengxplore.blogspot.com/2012/01/semangat-merantau-transformatif.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default/4341973430138846606?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default/4341973430138846606?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ChengXplore/~3/bd7YWREzT9g/semangat-merantau-transformatif.html" title="Semangat Merantau Transformatif &amp; Eksistensi IKAMI Sulsel" /><author><name>Cheng Prudjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03932155262964597384</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_7Y4frbrIS4A/S1VOeDG9uUI/AAAAAAAAAYY/zliayXfpJds/S220/mash+muda+dl.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-f9WAm99bfJg/TyB0v_u86mI/AAAAAAAAAwQ/8y6FW1Lxz_s/s72-c/perantau.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://chengxplore.blogspot.com/2012/01/semangat-merantau-transformatif.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEYFQH08eip7ImA9WhRUFUw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-643697286673093681.post-2920860224852905380</id><published>2012-01-26T01:28:00.000+07:00</published><updated>2012-01-26T01:28:31.372+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-26T01:28:31.372+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="urusan kuliah" /><title>Posisi Teori dalam Riset Audiens</title><content type="html">&lt;b&gt;Macam-macam Logika sebagai Cara Befikir dalam Riset Audiens&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
1.       Logika deduktif:&lt;/b&gt; dipakai dalam riset yang mengandung “pengujian teori atau konsep”, logika ini digunakan pada riset dengan metode survey kuantitatif. &lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
2.       Logika induktif&lt;/b&gt;: jika digunakan secara sempurna, akan dijalani sebuah penelitian grounded (grounded research) yyakni penelitian dalam rangka menemukan teori. &lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
3.       Logika dialektik&lt;/b&gt;: prosedur berfikir yang menggunakan logika deduktif dan induktid secara bergantian  dalam suatu paket penelitian. Istilah lainnya, dengan cara berfikir yang disebut “lingkaran hermeneutic” yakni ‘rute’ berfikir yang melingkar-lingkar diantara data, teori dan konsep, sehingga kadang logika yang digunakan dalam riset tampak deduktif di  satu sisi atau putaran dan pada putaran lainnya tampak induktif, bahkan kadang analogis (usaha memahami sesuatu menggunakan analogi). Penelitian dengan logika semacam ini dijumpai pada penelitian kualitatif. Oleh karena itu dalam penelitian semacam ini, teori yang disertakan lebih dari satu teori atau berlapis-lapis demi optimalisasi pemahaman hasil penelitian. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Teori dalam Kegiatan Riset Audiens &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Contoh riset audiens untuk uji teori: Misalnya mempersoalkan pengaruh terpaan televisi terhadap waktu belajar anak-anak. Teori dalam kegiatan penelitian ini dibahas dalam “kerangka Teori” (Theoretical framework) dengan (berisi) beberapa pokok-pokok bahasan misalnya seperti ini: &lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Anak-anak dan waktu belajar. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Faktor (bukan fear faktor) yang mempengaruhi waktu belajar anak-anak. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Terpaan televisi di kalangan anak-anaka. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Pengaruh terpaan televisi terhadap waktu belajar anak-anak. &lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;
Dari kerangka teoritis (theoretical framework) di atas, dapat dijelaskan bahwa pendefinisian anak-anak dan waktu belajar masuk di poin pertaman (1). Sementara itu, poin kedua (2) mengidentifkasi atau mengexplorasi factor-faktor yang secara teoritis dianggap berpengaruh terhadap anak-anak, termasuk di dalamnya media massa atau televisi. Pendefinisian terpaan televisi ada pada poin ketiga (3). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kerangka teoritis dalam contoh di atas memiliki dua variable yakni variabel derajat terpaan televisi (vaariabel X) dan jumlah waktu belajar (variabel Y). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Contoh di atas menunjukkan posisi teori untuk diuji kebenarannya secara empiris. Berikut satu contoh lagi yang menempatkan teori sebagai “partner diskusi” sang peneliti dalam memahami dan memaknai suatu data. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlu diperhatikan sebelumnya bahwa ada saat dimana teori dipakai sebagai titik-tolak untuk menentukan data (deduktif), di saat lain data dipakai untuk merumuskan konsep (induktif), ada pula saat peneliti memperoleh pengukuhan makna dan data dari suatu teori atau memperoleh pemahaman akan data penelitian dengan memakai suatu teori atau konsep sebagai analogi yang berfungsi membantu pemahaman (teori-teori yang biasanya menggunakan analogi dalam tradisi ilmu komunikasi seperti: konsep/ teori jarum hipodermik, medan magnit, panggung pertunjukan (dramaturgi), dll). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah, contoh penelitian misalnya mempermasalahkan bagaimana audien perempuan memaknai Sinetron Cinta Fitri. Teorinya dinamai “tinjauan teoritis” (berbeda pada contoh di atas yang teorinya dinama kerangka teoritis) dengan pokok-pokok bahasa seperti ini (misalnya): &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Televisi sebagai industry. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Sinetron sebagai program hiburan di televisi. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Program hiburan dan budaya massa. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Audiens dan budaya menonton. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Perempuan, cinta dan opera sabun di televisi. &lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga bermanfaat :D&lt;br /&gt;
Postingan ini merupakan catatan perkuliahan Riset Audiens, dosen Farid Rusman, M.Si&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;kunjungi juga;
www.kalsumedia.co.nr&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/643697286673093681-2920860224852905380?l=chengxplore.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/lfLnquLh2a73MtPYiKjFsFKaIyg/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/lfLnquLh2a73MtPYiKjFsFKaIyg/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/lfLnquLh2a73MtPYiKjFsFKaIyg/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/lfLnquLh2a73MtPYiKjFsFKaIyg/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ChengXplore/~4/OewCswUklZY" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://chengxplore.blogspot.com/feeds/2920860224852905380/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://chengxplore.blogspot.com/2012/01/posisi-teori-dalam-riset-audiens.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default/2920860224852905380?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default/2920860224852905380?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ChengXplore/~3/OewCswUklZY/posisi-teori-dalam-riset-audiens.html" title="Posisi Teori dalam Riset Audiens" /><author><name>Cheng Prudjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03932155262964597384</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_7Y4frbrIS4A/S1VOeDG9uUI/AAAAAAAAAYY/zliayXfpJds/S220/mash+muda+dl.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://chengxplore.blogspot.com/2012/01/posisi-teori-dalam-riset-audiens.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkMMRH4-eip7ImA9WhRUFUw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-643697286673093681.post-6405551835390213130</id><published>2012-01-25T23:54:00.000+07:00</published><updated>2012-01-25T23:54:45.052+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-25T23:54:45.052+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="urusan kuliah" /><title>Televisi dan Fantasi Perempuan</title><content type="html">Judul asli Makalah: &lt;b&gt;TELEVISION FICTION AND WOMEN FANTACY: Perempuan dan Opera Sabun*&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu kajian jurnalisme televisi yang amat menarik perhatian dalam tahun-tahun 70-an akhir dan awal 80-an, adalah kajian yang menyorot tampilnya opera sabun sebagai program andalan saluran televise di berbagai negara. Meski program berita menjadi arena yang kentara bagi kepentingan politis dan ideologis, namun serial Cultural Studies banyak memberi perhatian pada jurnalisme televisi popular dengan game show, musical show, variety show, soap opera dan lain sebagainya. Dan biasanya, program jenis ini dikait-kaitkan dengan perempuan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-hGYLyts_3Qo/TyAzHyI8osI/AAAAAAAAAwA/2N7hqTGPWYA/s1600/fantasi+perempuan.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-hGYLyts_3Qo/TyAzHyI8osI/AAAAAAAAAwA/2N7hqTGPWYA/s320/fantasi+perempuan.jpg" width="254" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Serial opera sabun umumnya menampilkan tema-tema seputar hubungan interpersonal: perkawinan, perselingkuhan, perceraian, jalinan baru, intrik warisan keluarga, balas dendam dan sebagainya. Karena opera sabun menekankan kepada wilayah personal, maka konteks keluarga membentuk arena di mana kebanyakan tokoh yang ada di dalam cerita menjalankan peran-perannya. Kondisi ideal dalam keluarga yang diimajinasikan ditandai dengan percekcokan, perselingkuhan, penindasan, kebohongan, menjadi bagian penting dalam opera sabun. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fokus kajian tentang representasi perempuan telah diupayakan oleh sejumlah penulis feminisme terhadap opera sabun, karena sering dikatakan bahwa opera sabun merupakan ruang di mana motivasi perempuan disahkan dan dirayakan. Menurut Ang, tema sentral opera sabun memang cocok dengan persoalan perempuan yang lebih konsens terhadap wilayah domestik. Sehingga opera sabun merupakan ruang di mana perhatian dan sudut pandang perempuan ditegaskan, dan menjadi arena perempuan bersenang-senang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Opera sabun memanfaatkan berbagai tokoh perempuan yang kuat dan berpikir independen. Tapi kendati ruang privat bisa saja dirayakan, perempuan kerapkali terpenjara. Misal, perempuan yang mandiri secara finansial dalam opera sabun adalah fenomena baru, dan amat terbatas. Lebih dari itu, ditampilkannya keglamoran dan penampakan fisik perempuan untuk memperindah pemandangan dalam opera sabun, menuai kritik yakni representasi perempuan hanyalah untuk tatapan mata laki-laki. Perempuan kadang tampak kuat dalam cerita opera sabun, namun kekuatan itu hanya diletakkan pada pelayanan terhadap keluarga dan laki-laki yang ada di dalamnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penekanan pada keluarga dalam opera sabun bisa mengarah kepada penyingkiran atau penghirauan secara umum isu-isu yang berkembang dalam ruang publik. Implikasi ideologis hal ini adalah bahwa hubungan interpersonal dan hubungan keluarga cenderung dianggap lebih penting ketimbang isu sosial dan isu struktural yang mencakup kehidupan lebih luas. Seolah, jika kita bahagia di dalam keluarga, tidak ada lagi persoalan dalam kehidupan manusia. Padahal ”di luar sana”, persoalan bencana alam, pengangguran, pelayanan kesehatan masyarakat dan persoalan publik lainnya tetap tak terselesaikan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam menonton tayangan-tayangan fiksi, perempuan bukanlah audiens yang pasif melainkan cenderung aktif, dalam arti mereka melakukan produksi atau reproduksi makna-makna beberapa aspek cerita dalam opera sabun. Meski cerita-cerita itu fiksi, mereka mampu menghubungkan cerita rekaan itu dengan cerita dalam kehidupan nyata. Mereka memaknai bahwa cerita opera sabun merefleksikan kehidupan nyata (real). Dalam studinya terhadap penonton serial Dallas, Ang menemukan adanya proses selektif yang berlangsung dalam aktivitas menonton serial ini, yang melintas dari pembacaan teks secara denotatif hingga konotatif, dan merangkai pemahaman akan diri (sang penonton) di dalam dan di luar narasi (cerita dalam Dallas). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti diutarakan subyek penelitian: ”tahukah anda kenapa saya suka menontonnya? Saya kira lantaran masalah dan intrik-intriknya, yang juga terjadi dalam kehidupan kita. Dalam kehidupan nyata, saya kenal orang jahat macam J.R. (tokoh dalam Dallas), walau ia orang biasa (J.R. pengusaha kaya)”. Kemampuan penonton untuk menghubungkan ”kehidupan kita” dengan kehidupan ”milyarder Texas” ini menjadikan program itu layak disebut beraliran ”realisme emosional”. Subyek penelitian lainnya mengatakan, ”kadang saya sungguh menikmati saat-saat menangis ketika menonton. Dengan cara ini, emosi saya yang lainnya, seperti menemukan jalan keluar”. Pemirsa yang ”melarikan diri” dengan cara ini tak banyak sibuk dengan ”penyangkalan terhadap realitas saat bermain bersama (dalam cerita)”.  Dalam permainan itu, suatu partisipasi imajiner dalam dunia fiksional dialami sebagai sesuatu yang menyenangkan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Ang, imajinasi melodramatik yang berkembang dalam menonton Dallas menghidupkan apa yang dipahami dalam teks sebagai struktur perasaan yang tragis, yang pada gilirannya menghasilkan kesenangan terhadap realisme emosional. Ketika imajinasi melodramatik pada praktiknya adalah sebuah ”formasi pembacaan”, maka tak semua pemirsa mengambil posisi pembacaan dengan cara ini. Sikap aktif penonton dalam memproduksi makna teks memungkinkan macam-macam formasi pembacaan bisa berkembang, turut dipengaruhi oleh konteks pengalaman masing-masing penonton. Para penonton perempuan dengan pengalaman hubungan personal dan pengalaman di wilayah domestik masing-masing, mengartikulasikan kisah opera sabun dan program-program fiksi lainnya, bisa berbeda antara satu dengan lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Makalah/ bacaan Mahasiswa pada mata kuliah Riset Audiens (Jurnalistik), dosen: Pak Farid Rusman&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Note: Semoga postingannya bermanfaat buat jadi bahan bacaan. Salam Blogger Kampus Putih&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;kunjungi juga;
www.kalsumedia.co.nr&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/643697286673093681-6405551835390213130?l=chengxplore.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/nNWqixT31zDQbkFKQitXIe-KMbs/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/nNWqixT31zDQbkFKQitXIe-KMbs/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/nNWqixT31zDQbkFKQitXIe-KMbs/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/nNWqixT31zDQbkFKQitXIe-KMbs/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ChengXplore/~4/tEa6K17Nl3I" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://chengxplore.blogspot.com/feeds/6405551835390213130/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://chengxplore.blogspot.com/2012/01/televisi-dan-fantasi-perempuan.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default/6405551835390213130?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default/6405551835390213130?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ChengXplore/~3/tEa6K17Nl3I/televisi-dan-fantasi-perempuan.html" title="Televisi dan Fantasi Perempuan" /><author><name>Cheng Prudjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03932155262964597384</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_7Y4frbrIS4A/S1VOeDG9uUI/AAAAAAAAAYY/zliayXfpJds/S220/mash+muda+dl.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-hGYLyts_3Qo/TyAzHyI8osI/AAAAAAAAAwA/2N7hqTGPWYA/s72-c/fantasi+perempuan.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://chengxplore.blogspot.com/2012/01/televisi-dan-fantasi-perempuan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEcBQH86eCp7ImA9WhRUEkw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-643697286673093681.post-7998939889646341454</id><published>2012-01-22T14:07:00.000+07:00</published><updated>2012-01-22T14:07:31.110+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-22T14:07:31.110+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="My Notes" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Reflection" /><title>Ternyata HP Android Belum Kubutuhkan !!!</title><content type="html">Setelah lebih dari seminggu menggunakan &lt;b&gt;HP Android (Sony Ericson Xperia X10 Mini Pro)&lt;/b&gt;, dorongan untuk menyerahkannya ke tangan lain timbul. HP Android berhasil menyenangkanku di awal, namun setelah puncak rasa senang karena memiliki HP keren, Android &lt;i&gt;lagiii&lt;/i&gt;, kebingunganku mulai datang bak penyakit musiman. &lt;i&gt;Ahhh&lt;/i&gt; saya tidak membutuhkan Android.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oia, kebingunganku ini bukan karena bingung menggunakan HP Android, walaupun awalnya sih bingung juga secara teknis bagaimana menggunakan dan memaksimalkannya. Kebingunganku tidak seperti cerita temanku bahwa temannya yang punya HP Android bingung bagaimana cara memanfaatkan Android untuk urusan komunikasinya, walhasil: HP Android itu tak ada bedanya dengan hape pada umumnya yang digunakan untuk menelfon dan &lt;i&gt;texting&lt;/i&gt; (SMS) atau menggunakan opera mini/mobile untuk berselancar di dunia maya, menginstal aplikasi facebook for mobile untuk facebook-an, dan segalanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebingunganku bukan karena kebingungan dengan sistem kodifikasi program linux, saya rasa saya bisa mempelajarinya, &lt;i&gt;toh&lt;/i&gt; ada teman-teman mahasiswa informatika di sekitarku siap membantu. Bukan pula kebingungan aplikasi apa yang menarik diinstal dari jutaan aplikasi yang tersedia di market android (malas shopping).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebingunganku ini tentang rasa ingin memiliki dan pemenuhan kebutuhan. Walaupun telah menginstal berbagai macam aplikasi, mulai dari urusan personalisasi tampilan, catatan pribadi, hiburan (utamanya streaming radio internasional), hobi (utamanya aplikasi blogger di Android), dan berbagai aplikasi pendukung lainnya: GPS, Game, Translator, Ebookdroid, dll. Saya kerap merasa bahwa apakah saya membutuhkan aplikasi tersebut ataukah hanya sekedar menikmati saja. Jika pun saya memang membutuhkan dan memanfaatkan aplikasi tersebut, apakah karena sebenarnya saya butuh ataukah karena aplikasi tersebut terlanjur terinstal di HP dan rajin memanfaatkannya???.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pilihan yang terakhir itulah yang membuatku kebingungan, parahnya ketika mendewakan sebuah aplikasi yang tidak dibutuhkan tapi sebenarnya kerapkali dimanfaatkan. Jika panjang lebar kujelaskan persoalan piliha kedua itu, kemungkinan pembaca akan capek dan kebingungan sendiri, karena disana ada dua sisi yang akan ditelisik dengan dalam untuk dapat menakar kemurnian nilainya. Apakah tanganku yang memegang HP Android ini, ataukah HP Android ini yang sebenarnya memegang tanganku?.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Hmmmm&lt;/i&gt;, sepertinya untuk sementara ini saya hanya membutuhkan hape biasa saja, &lt;i&gt;yaaa&lt;/i&gt; mungkin spesifikasi utamanya adalah: terintegrasi program JAVA, jaringan 3G, Dual Simcard. Oia jelas hapenya bisa digunakan untuk nelpon dan SMS-an. &lt;i&gt;Hehehehe&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;#Siap-siap jual hape :D&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;kunjungi juga;
www.kalsumedia.co.nr&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/643697286673093681-7998939889646341454?l=chengxplore.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/IdIrgjfQJYrrim75o0CO7eVO6kc/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/IdIrgjfQJYrrim75o0CO7eVO6kc/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/IdIrgjfQJYrrim75o0CO7eVO6kc/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/IdIrgjfQJYrrim75o0CO7eVO6kc/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ChengXplore/~4/wnSA0AzK9wo" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://chengxplore.blogspot.com/feeds/7998939889646341454/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://chengxplore.blogspot.com/2012/01/ternyata-hp-android-belum-kubutuhkan.html#comment-form" title="1 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default/7998939889646341454?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default/7998939889646341454?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ChengXplore/~3/wnSA0AzK9wo/ternyata-hp-android-belum-kubutuhkan.html" title="Ternyata HP Android Belum Kubutuhkan !!!" /><author><name>Cheng Prudjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03932155262964597384</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_7Y4frbrIS4A/S1VOeDG9uUI/AAAAAAAAAYY/zliayXfpJds/S220/mash+muda+dl.jpg" /></author><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://chengxplore.blogspot.com/2012/01/ternyata-hp-android-belum-kubutuhkan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEIDQXw_eSp7ImA9WhRUEkw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-643697286673093681.post-6163878375006624568</id><published>2012-01-22T14:03:00.001+07:00</published><updated>2012-01-22T14:16:10.241+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-22T14:16:10.241+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Activities" /><title>Asbak Pecah; Berhenti Merokok!!!</title><content type="html">&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-3EG_Q7SaHPI/TxuzruDGw3I/AAAAAAAAAvo/G4q9nlPgMOM/s1600/pecah+asbak.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-3EG_Q7SaHPI/TxuzruDGw3I/AAAAAAAAAvo/G4q9nlPgMOM/s400/pecah+asbak.jpg" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Saya baru saja menyiapkan kata-kata untuk menulis tentang &lt;a href="http://chengxplore.blogspot.com/2012/01/ternyata-hp-android-belum-kubutuhkan.html"&gt;HP Android&lt;/a&gt; milikku sejak seminggu lalu, tiba-tiba terdengar suara yang tak asing, sebuah benda berbahan kaca jatuh dan pecah di atas permukaan ubin. Suara benda yang pecah dan tetap utuh jelas saja berbeda, benda ini pecah!!!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu-satunya asbak di rumah akhirnya pecah berserakan, asbak bulat dengan bahan dasar kaca tanpa rias pewarna yang mendokumentasika banyak cerita takkan bisa digunakan lagi. Pusing juga melihat kepingan asbak berserakan di laintai, ada tiga kepingan besar yang berpose tak teratur di atas lantai, kemudian kepingan sisanya buyar, menyebar kesana-kemari pasrah oleh energi benturan antar dua benda yang memecahkan dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pikiran yang sedang menyiapkan kalimat pembuka untuk catatan tentang &lt;a href="http://chengxplore.blogspot.com/2012/01/ternyata-hp-android-belum-kubutuhkan.html"&gt;HP Android&lt;/a&gt; milikku, buyar!!! berganti dengan suatu pikiran tentang asbak yang jatuh dan pecah. Semoga dengan musnahnya asbak satu-satunya ini, &lt;a href="http://chengxplore.blogspot.com/2011/10/semoga-bisa-berhenti-merokok-yes-we-can.html"&gt;aku bisa berhenti merokok&lt;/a&gt;. &lt;i&gt;Hahahahaha.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-O2xmbZX5Xok/TxuzvX9mzKI/AAAAAAAAAvw/vRMJfx3f8s0/s1600/asbak+pecah.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-O2xmbZX5Xok/TxuzvX9mzKI/AAAAAAAAAvw/vRMJfx3f8s0/s1600/asbak+pecah.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Oia, kebetulan nuansa imlek, tahun baru china, sedang ramai. Kesehatan&lt;i&gt; &lt;/i&gt;mulai menjadi prioritasku, beberapa liputan tentang kebudayaan China yang terpampang di koran Kompas hari ini mengajarkanku bahwa kesehatan adalah salah satu penopang hidup bahagia. Dengan tubuh yang sehat, seseorang dapat bekerja keras, makin giat dan lebih produktif, dengan kerja keras itu nasib seseorang menjadi baik, pendapatan meningkat dan kehidupan sejahtera.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah, semoga pecahnya asbak satu-satunya di rumah, semakin menguatkanku untuk &lt;a href="http://chengxplore.blogspot.com/2011/10/semoga-bisa-berhenti-merokok-yes-we-can.html"&gt;berhenti merokok&lt;/a&gt;, dan semoga kesehatanku terus membaik. Sukses untuk kita semua, tetap jaga kesehatan dan ayo bekerja keras!!!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-V6LDGWelX9w/Txuz0xGqDWI/AAAAAAAAAv4/P-5pm4IlcUk/s1600/berhenti+merokok.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-V6LDGWelX9w/Txuz0xGqDWI/AAAAAAAAAv4/P-5pm4IlcUk/s1600/berhenti+merokok.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Berhenti Merokok !!!&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;kunjungi juga;
www.kalsumedia.co.nr&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/643697286673093681-6163878375006624568?l=chengxplore.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/nMZ01ZdD0A6f_WD4GwZlYHPrGsU/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/nMZ01ZdD0A6f_WD4GwZlYHPrGsU/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/nMZ01ZdD0A6f_WD4GwZlYHPrGsU/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/nMZ01ZdD0A6f_WD4GwZlYHPrGsU/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ChengXplore/~4/ccV6aj-kv9Q" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://chengxplore.blogspot.com/feeds/6163878375006624568/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://chengxplore.blogspot.com/2012/01/asbak-pecah-berhenti-merokok.html#comment-form" title="1 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default/6163878375006624568?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default/6163878375006624568?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ChengXplore/~3/ccV6aj-kv9Q/asbak-pecah-berhenti-merokok.html" title="Asbak Pecah; Berhenti Merokok!!!" /><author><name>Cheng Prudjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03932155262964597384</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_7Y4frbrIS4A/S1VOeDG9uUI/AAAAAAAAAYY/zliayXfpJds/S220/mash+muda+dl.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-3EG_Q7SaHPI/TxuzruDGw3I/AAAAAAAAAvo/G4q9nlPgMOM/s72-c/pecah+asbak.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://chengxplore.blogspot.com/2012/01/asbak-pecah-berhenti-merokok.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEANR387eyp7ImA9WhRUFUw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-643697286673093681.post-6903788058752783755</id><published>2012-01-21T15:16:00.002+07:00</published><updated>2012-01-26T01:39:56.103+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-26T01:39:56.103+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ikami sulsel" /><title>PB IKAMI Sulsel dan Wawasan Munas</title><content type="html">&lt;b&gt;Pengurus Besar (PB) IKAMI Sulsel&lt;/b&gt; adalah pucuk struktur organisasi, disana segala kehormatan bermuara, jangan harap IKAMI Sulsel di tingkatan cabang memiliki kehormatan sebelum &lt;b&gt;PB IKAMI Sulsel&lt;/b&gt;. Logika begini sudah pasti kita pahami bersama, dan soal kehormatan sudah pasti menjadi pokok perhatian anak-anak Sulsel, toh kehidupan seseorang dilihat dari eksistensinya, dan eksistensi di Sulsel adalah kehormatan dan rasa saling mengasihi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Apa itu Musyawarah Nasional ??? = Ruh Eksistensi Organisasi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk masuk ke dalam dunia PB IKAMI Sulsel, ada gerbang utama yang menjadi forum silaturahmi terbesar yang mempertemukan seluruh anggota IKAMI Sulsel, gerbang itu adalah Musyawarah Nasional (Munas), sebagaimana prinsip dasar permusyawaratan, segala sesuatu (keputusan) harus melewati proses musyawarah yang demokratis. Di IKAMI Sulsel sendiri, demokratisasi dalam bermusyawarah ditunjukkan dengan kesepakatan bahwa setiap cabang memiliki satu suara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artinya, dalam pengambilan keputusan, setiap Pengurus Cabang memiliki jatah berpendapat dan menentukan keputusan tersebut. Apalagi ajang Munas adalah forum milik cabang, sementara Pengurus Besar (PB), &lt;i&gt;Steering Committee&lt;/i&gt;, dan Panitia pelaksana, hanyalah fasilitator yang bekerja untuk mensukseskan terlaksananya permusyawaratan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-8DVYQAQW4qM/TxpzLRukVHI/AAAAAAAAAvg/Z-ieuntwq0U/s1600/DSC00025.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://2.bp.blogspot.com/-8DVYQAQW4qM/TxpzLRukVHI/AAAAAAAAAvg/Z-ieuntwq0U/s400/DSC00025.jpg" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Sebagaimana yang kita ketahui, ada tiga tugas Musyawarah Nasional, yakni Mendengarkan Laporan Pertanggung Jawaban Pengurus Besar IKAMI Sulsel, Membahas Perangkat Lunak Organisasi (AD/ART, GBHO, dan berbagai aturan atau tata kelola organisasi, termasuk rekomendasi), dan Pemilihan Ketua Umum yang akan menjalankan segala keputusan permusyawaratan yang telah diputuskan bersama oleh cabang-cabang secara nasional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiga tugas Munas di atas sejatinya saling mengikat, bahwa laporan pertanggung jawaban dilakukan untuk mengewaluasi kinerja kepengurusan selama satu periode, evaluasi tersebut menjadi bahan pertimbangan dalam pembahasan perangkat lunak organisasi, selain mempertimbangkan berkembangnya kondisi sosial politik yang mempengaruhi organisasi. Sementara itu, perangkat lunak juga menjadi acuan dalam proses pemilihan ketua umum, sehingga pertarungan politik ketua umum sebenarnya terjadi di forum pembahasan aturan-aturan dan konsep pengembangan organisasi. Karena aturan organisasi tidak boleh timpang atau berbeda dengan hasil pembahasan materi di Munas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbedanya keputusan pada pembahasan materi dengan hasil pemilihan ketua umum dapat menjadi ancaman bagi organisasi, walaupun keduanya (keputusan materi dan vis-misi ketua umum) mengusung konsep pengembangan organisasi, namun ancamannya adalah apakah hasil pembahasan materi yang telah diputuskan oleh sidang Musyawarah Nasional dapat dijalankan oleh ketua umum atau dikesampingkan untuk mendahulukan visi-misinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, kandidat ketua umum tidak serta-merta mebangun kekuatan politik dengan melupakan pembahasan konsep pengembangan organisasi yang meliputi AD/ART, GBHO, tata kelola administrasi dan aturan lainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemilihan Ketua Umum dalam suatu permusyawaratan sendiri, berbeda dengan pemilihan ketua umum yang dilaksanakan secara praktis, misalnya pemilihan presiden atau kepala daerah yang secara teknis diurus oleh lembaga independen sebagai penyelenggara proses pemilihan, dalam konteks ini, kita mengenal KPU.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prosesi pemilihan ketua umum dalam sidang Munas harus melewati kesepakatan peserta sidang, sehingga sebelum melaksanakan pemilihan ketua umum, harus dimusyawarahkan dulu tata tertip pemilihan secara bersama, bukan ditentukan oleh sepihak. proses ini perlu diperhatikan dengan baik untuk menghadapi Munas IKAMI Sulsel di Jogja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adanya proses pendaftaran/penjaringan kandidat ketua umum membuat kegiatan Musyawaran Nasional semakin bias, bukankah segala proses yang terjadi dalam Munas adalah keputusan bersama? tidak diatur oleh sekelompok orang dengan kedok panitia pelaksana,&lt;i&gt; steering committee&lt;/i&gt;, bahkan Pengurus Besar sekalipun. Perlu diingat bahwa Sidang Munas adalah forum pengambilan keputusan tertinggi, dan pengambilan keputusan tidak ditentukan oleh sekelompok orang, melainkan bersama-sama dengan cabang dalam gugusan nusantara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Prosesi Pra Munas yang Keliru&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prosesi pelaksanaan Munas IKAMI Sulsel dengan tahapan penjaringan dan penetapan calon pada poster yang disebarkan oleh panitia pelaksana Munas IKAMI Sulsel di atas perlu dikritis dengan cermat. dengan melihat adanya prosesi pra Munas tersebut, forum Musyawarah Nasional seperti kehilangan taringnya, dan kedaulatan cabang-cabang dicederai, parahnya lagi jika pada akhirnya cabang-cabang menyepakati adanya proses tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-qSRxvdFz6zM/TxpyjYE5L-I/AAAAAAAAAvY/GOw6B02C2ck/s1600/DSC00024.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-qSRxvdFz6zM/TxpyjYE5L-I/AAAAAAAAAvY/GOw6B02C2ck/s1600/DSC00024.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Apa pendapat teman-teman tentang prosesi/ tahapan Munas dalam poster ini???&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Dengan jelas, ada tim semacam KPU dalam tubuh IKAMI Sulsel yang tidak pernah disepakati dan diatur kerjanya. Para kandidat yang awalnya patuh terhadap segala kehendak cabang-cabang yang dijawantahkan pada keputusan-keputusan pleno dalam sidang atau musyawarah, kini diarahkan oleh prosesi sebagaimana yang disampaikan dalam poster tersebut di atas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekali lagi, kepekaan dan keterbukaan pemikiran tentu saja sangat dibutuhkan dan harus menjadi senjata kita semua dalam mensukseskan Munas yang dilaksanakan secara cerdas, betapa malunya kita ketika kecerdasan menanggapi suatu proses dikesampingkan untuk suatu urusan yang remeh temeh, seperti pragmatisme kepentingan politik yang memandang Munas hanya sebagai ajang pemilihan nahkoda baru untuk IKAMI Sulsel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita harus punya visi untuk masa mendatang, kita harus punya semangat bekerja keras dalam rangka mewujudkan visi tersebut, dan akhirnya harus ada &lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #990000;"&gt;KEBERANIAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; untuk mengawali kesuksesan organisasi ke depan, bukan hanya sekedar memperjuangkat martabat organisasi, melainkan kehormatan kita sebagai bangsa yang besar, bangsa yang menjunjung tinggi nilai dan kehormatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;EWAKO !!!&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Silahkan baca catatan terkait lainnya disini: &lt;b&gt;&lt;a href="http://chengxplore.blogspot.com/search/label/ikami%20sulsel"&gt;Menuju Munas IKAMI Sulsel&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;kunjungi juga;
www.kalsumedia.co.nr&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/643697286673093681-6903788058752783755?l=chengxplore.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/clmuV1kxn37CoXMNje8gcHsIgsQ/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/clmuV1kxn37CoXMNje8gcHsIgsQ/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/clmuV1kxn37CoXMNje8gcHsIgsQ/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/clmuV1kxn37CoXMNje8gcHsIgsQ/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ChengXplore/~4/gfYcaFf8P5M" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://chengxplore.blogspot.com/feeds/6903788058752783755/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://chengxplore.blogspot.com/2012/01/pb-ikami-sulsel-dan-wawasan-munas.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default/6903788058752783755?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default/6903788058752783755?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ChengXplore/~3/gfYcaFf8P5M/pb-ikami-sulsel-dan-wawasan-munas.html" title="PB IKAMI Sulsel dan Wawasan Munas" /><author><name>Cheng Prudjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03932155262964597384</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_7Y4frbrIS4A/S1VOeDG9uUI/AAAAAAAAAYY/zliayXfpJds/S220/mash+muda+dl.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-8DVYQAQW4qM/TxpzLRukVHI/AAAAAAAAAvg/Z-ieuntwq0U/s72-c/DSC00025.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://chengxplore.blogspot.com/2012/01/pb-ikami-sulsel-dan-wawasan-munas.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0UBRnk4eSp7ImA9WhRVF0w.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-643697286673093681.post-1764809929961897707</id><published>2012-01-16T16:49:00.001+07:00</published><updated>2012-01-16T19:00:57.731+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-16T19:00:57.731+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ikami sulsel" /><title>Gagasan Versus Duit; Kultur Politik IKAMI Sulsel Harus Beda</title><content type="html">&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-K10e5K85CbA/TxPrvMx_GXI/AAAAAAAAAuw/6IPbV0QQ0FM/s1600/politik-uang.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-K10e5K85CbA/TxPrvMx_GXI/AAAAAAAAAuw/6IPbV0QQ0FM/s1600/politik-uang.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Sumber: yustisi.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="color: #38761d;"&gt;&lt;b&gt;Kami tak Punya Uang, tapi Kami Punya Gagasan, Keinginan &amp;amp; Tenaga; Celoteh Kandidat Alternatif&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Ada sebuah hukum alamiah atau aksioma: untuk menjadi pimpinan organisasi yang memiliki bargaining dan peran/ pengaruh besar terhadap kondisi sosial politik bangsa ini, uang adalah persyaratan utama. Jika modal ekonomi sudah kuat, persentase kemenangan sudah mencapai 50%, 50% sisanya adalah kerja-kerja strtategis. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah darimana aksioma ini berasal, namun karena hampir setiap momentum politik, uang selalu menjadi pokok penentu sehingga mau tidak mau, modal ekonomi menjadi persyaratan mutlak seorang kandidat untuk memenangkan persaingan di kontes politik. Parahnya, para konstituen tidak jeli dan larut dalam hukum tersebut, daya tarik yang membuat mereka berkubang tidak lain karena adanya simbiosis mutualisme disana, sang kandidat membutuhkan suara untuk menang, di pihak lain para konstituen membutuhkan dana untuk berpesta. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pihak ketiganya, yakni organisasi menjadi korban yang terus saja dimanfaatkan. Pelan-pelan, kondisi ini merubah konsep organisasi yang disepakati sebagai wadah untuk melakukan gerakan-gerakan pemberdayaan, gerakan memaksimalisasi potensi masyarakat untuk menikmati hidup yang sejatinya adalah indah. Konsep itu beralih, menjadikan organisasi sebagai sarang harimau lapar, mempermainkan konstitusi untuk kepentingan beberapa orang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi memang, uang memegang peranan penting dalam usaha pemenangan kandidat dalam kontes politik. Tak ada usaha yang tak memakan biaya, sehingga &lt;i&gt;cost politic&lt;/i&gt; tidak bisa dikesampingkan. Akan tetapi perlu dibuat garis toleransi sampai dimana uang mempengaruhi proses politik, jangan sampai dunia politik (sepraktis apapun) bermetamorfosa menjadi pasar, dimana uang adalah media komunikasi yang utama. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="margin: 5px 20px 20px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;&lt;b&gt;Perlu Ada Perubahan&lt;/b&gt;: &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = ''; this.innerText = ''; this.value = 'Tutup'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Lihat'; }" style="font-size: 11px; margin: 0px; padding: 0px; width: 55px;" type="button" value="Lihat" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 6px;"&gt;&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-gYaHgC1hfi0/TxPhVPHbP7I/AAAAAAAAAuo/waYUjuJS0HQ/s1600/seratus-ribu-rupiah.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="140" src="http://4.bp.blogspot.com/-gYaHgC1hfi0/TxPhVPHbP7I/AAAAAAAAAuo/waYUjuJS0HQ/s320/seratus-ribu-rupiah.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Perlu ada perubahan. Kita harus sadari baik-baik kondisi (kultur) politik bangsa yang mulai ditunggangi oleh wajah Soekarno-Hatta pada selembar ‘kertas’ berwarna merah. Wacana bahwa masyarakat Indonesia semakin melek politik sehingga tidak mudah lagi mempercayai janji dan upeti (uang) belum masuk di akal saya, rakyat memang tak butuh janji, rakyat memang tak butuh upeti, akan tetapi rakyat/ bangsa ini butuh lebih banyak uang karena melek politik mereka mengantar kesadaran berfikir bahwa suara mereka tidak murah. Suara mereka adalah penentu masa depan bangsa, dan apakah masa depan bangsa dibeli dengan harga 50 ribu rupiah? &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Jangan Mengandalkan Dana!!! Refleksi menuju IKAMI Sulsel Modern &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau dipikir, ujung dari riwayat uang adalah tai, jika bukan, wujudnya berarti sampah yang lambat laun akan dikerumuni lalat, dicakar oleh belatung dan menjadi istana cacing tanah, tikus got, ular dan lainnya. Apa wujud uang yang bisa dibanggakan? Tolong sampaikan pada saya agar derajat ide bisa saya turunkan ke tanah dan mengangkat tinggi-tinggi uang sebagai pedoman hidup. &lt;br /&gt;
&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-VlyAML4SEcM/TxPr2G1PvbI/AAAAAAAAAu4/2LArNEwr4pE/s1600/Politik+Uang+Harus+Dilawan.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-VlyAML4SEcM/TxPr2G1PvbI/AAAAAAAAAu4/2LArNEwr4pE/s1600/Politik+Uang+Harus+Dilawan.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Bebas dari godaan &lt;i&gt;duit&lt;/i&gt;.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;
Janganki berfikir bahwa saya mencoba membangun wacana dan mempengaruhi corak berfikir teman-teman, silahkanmi dipikir sendiri apakah gunanya itu uang? Dibandingkan dengan gagasan besar untuk membangun gerakan pemberdayaan dan pengembangan potensi manusia. Apalagi dalam konseks IKAMI Sulsel sekarang ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan anak SD-nya, apakah IKAMI butuh pemimpin berdompet tebal agar kondisi semakin membaik? Ataukah seorang pemimpin yang mengusung gagasan cemerlang dan realistis, belum lagi semangat dan tenaga untuk bekerja keras masih unggul. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan anak SD-jie itu di atas, tapi kita perlu jawab pertanyaan itu dengan kepala (fikiran) professor, ilmuan, filosof (pencinta kebijaksanaan), bahkan nabi kalau bisa. Jawabanta adalah milikta, dan benar salahnya adalah urusanta, tanggunganta sendiri. Semoga tidak adaji yang menjawab lalu meninggalkan tanggung jawab atas jawabannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Gagasan, Semangat, Tenaga dan Tanggung Tawab. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejago apapun gagasannya, sepanas apapun semangatnya, dan sekassa’ apapun tenaganya (bahkan seperti Hulk) kalau tidak bertanggung jawab, dia hanyalah manusia kerdil dimana mulut, dada, dan tubuhnya hanyalah rongsokan, mirip seperti sebilah badik sakti yang tak bertuan: tidak ada manfaatnya sama sekali. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanggung jawab adalah ruh, dia adalah nyawa dalam eksistensi manusia. Petuah-petuah bijak sudah menyarankan kita kesana, &lt;b&gt;“Taro ada’, taro gau’”&lt;/b&gt; menyesuaikan perkataan dan perbuatan. (Bagaimanami kalo orang bisu, nenek???). Petuah di atas perlu menjadi pedoman untuk menjelaskan apakah seseorang dikatan manusia  atau tidak. Bangunan tubuh manusia memungkinkan adanya kesesuaian atau kerjasama antar organ secara terorganisir, itulah hukum alam manusia, kaki kita ada untuk menginjak bumi dan tangan kita ada untuk menggapai angkasa, sementara hati yang berada di tengah menjadi penyeimbang agar tanah dan angkasa tidak berjarak. Apakah yang membatasi tanah dengan angkasa? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya kira begitu, sehingga untuk menjadi manusia kata tak boleh kontra dengan perbuatan, kapangi pisah kata dan perbuatanta, secara istilah tappisa tommi itu kepala dengan badanta, jadi kalau tappisami badan dengan kepala, manusiaka itu? Kalau setan mungkin, atau robot-robot yang patah leherna. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Emmmm, itu fikiran saya! Entah bagaimana teman-teman yang masih berkutat di IKAMI Sulsel memikirkan oraganisasi yang besar ini. Kalau masih berfikir: “apa untung atau rugiku di’ selama di IKAMI Sulsel atau berapami uang yang kudapat atau kuhabiskan di IKAMI Sulsel di’???” mending ke laut aja, pi boker (kalau cari tude masi mending). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-LylA9QyGr1c/TxPuwtBI1hI/AAAAAAAAAvA/RYC5QfZ-BPY/s1600/berani-bertanggung-jawab.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-LylA9QyGr1c/TxPuwtBI1hI/AAAAAAAAAvA/RYC5QfZ-BPY/s1600/berani-bertanggung-jawab.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: #990000;"&gt;Bertanggung jawab. Berani???&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Saya mencitakan IKAMI Sulsel maju, organisasi ini menjadi potongan &lt;i&gt;puzzle&lt;/i&gt; kebesaran dan keagungan citraannya (Segala kehidupan di Sulsel). Jika sedikit saja kita melowongkan waktu membaca sejarah, astaga… sedih rasanya kehidupan jaman materi ini, malah sistem kehidupan kita berulang ke jaman batu, untung saja ada gedung tinggi, ada bandara dan pesawatnya, ada Kapal laut besi, ada komputer dengan internet dan teman-temannya, ada pabrik kain, ada Spiderman-nya, ada James Bond-nya, ada Iron Man-nya, ada Transformer-nya, sehingga kehidupan kita yang seperti jaman batu ini tidak ketahuan oleh nenek moyang yang berperan sebagai aktor pencerahan (aufklarung). Kalau dia tau, mungkin akan terpingkal-pingkal dan merasa geli, tak ada alas an lain kecuali kita hanyalah boneka bagi mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="margin: 5px 20px 20px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;&lt;b&gt;Abu Nawas &amp;amp; Ikami Sulsel&lt;/b&gt;: &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = ''; this.innerText = ''; this.value = 'Tutup'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Lihat'; }" style="font-size: 11px; margin: 0px; padding: 0px; width: 55px;" type="button" value="Lihat" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 6px;"&gt;&lt;div style="display: none;"&gt;Coba Abu Nawas hidup di jaman kita dan mengetahui kondisi IKAMI Sulsel, mungkin ada sebuah lelucon untuk kita, atau paling tidak teka-teki: &lt;i&gt;Berbentuk tapi tak dapat dilihat, banyak yang terlibat tapi ternyata hanya sedikit yang ada, dia berwarna sesuai bentuknya, jika disadari keberadaannya maka banyak yang akan sakit walaupun sedikit yang kesakitan, berapakah satu ditambah satu?. &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="margin: 5px 20px 20px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;&lt;b&gt;Penasaran yahhh ????&lt;/b&gt;: &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = ''; this.innerText = ''; this.value = 'Tutup'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Lihat'; }" style="font-size: 11px; margin: 0px; padding: 0px; width: 55px;" type="button" value="Lihat" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 6px;"&gt;&lt;div style="display: none;"&gt;Intinya, IKAMI Sulsel ini mBulet, ujung-ujungnya pasti pertanyaannya berapa. Hahahaha. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="margin: 5px 20px 20px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;&lt;b&gt;Lalu???&lt;/b&gt;: &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = ''; this.innerText = ''; this.value = 'Tutup'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Lihat'; }" style="font-size: 11px; margin: 0px; padding: 0px; width: 55px;" type="button" value="Lihat" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 6px;"&gt;&lt;div style="display: none;"&gt;Ada yang berani menyangkal? Atau merubahnya? &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Tabe’&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;kunjungi juga;
www.kalsumedia.co.nr&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/643697286673093681-1764809929961897707?l=chengxplore.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/bbyBjMWajqHMZP0ac3tVNGrrBRg/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/bbyBjMWajqHMZP0ac3tVNGrrBRg/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/bbyBjMWajqHMZP0ac3tVNGrrBRg/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/bbyBjMWajqHMZP0ac3tVNGrrBRg/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ChengXplore/~4/YMS1pxI2aDY" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://chengxplore.blogspot.com/feeds/1764809929961897707/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://chengxplore.blogspot.com/2012/01/gagasan-versus-duit-kultur-politik.html#comment-form" title="1 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default/1764809929961897707?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default/1764809929961897707?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ChengXplore/~3/YMS1pxI2aDY/gagasan-versus-duit-kultur-politik.html" title="Gagasan Versus Duit; Kultur Politik IKAMI Sulsel Harus Beda" /><author><name>Cheng Prudjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03932155262964597384</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_7Y4frbrIS4A/S1VOeDG9uUI/AAAAAAAAAYY/zliayXfpJds/S220/mash+muda+dl.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-K10e5K85CbA/TxPrvMx_GXI/AAAAAAAAAuw/6IPbV0QQ0FM/s72-c/politik-uang.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://chengxplore.blogspot.com/2012/01/gagasan-versus-duit-kultur-politik.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkIAQ3w6fyp7ImA9WhRVEko.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-643697286673093681.post-1299083013999634752</id><published>2012-01-11T15:29:00.000+07:00</published><updated>2012-01-11T15:29:02.217+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-11T15:29:02.217+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Uncategorized" /><title>Telanjang aja yukkkk !!!</title><content type="html">&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;"Apa gunanya busana? Jika kita menginginkan kondisi telanjang bersama!"&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Pernahkah terlintas di kepala kita sebuah pertanyaan, kenapa kita (saya dan para pembaca) tidak pernah ingin bertelanjang bulat di ruang publik?.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika pertanyaan lain: Kenapa harus bela-belain kerja keras untuk berbelanja pakaian? pasti selalu tersampir di benak dan jawabannya mudah, salah satunya mungkin agar kita bisa menampilkan kesan atau citra di benar orang-orang di sekitar kita. Hanya citrakah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada juga jawaban, khususnya kaum Hawa, misalkan dengan berpakaian indah, pandangan mata pria dapat ditarik secara paksa. hanya perhatiankah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa kita tidak telanjang saja? &lt;i&gt;toh&lt;/i&gt; setiap orang senang menatap tubuh yang telanjang, busana paling indah adalah tubuh tanpa sehelai kain, asumsinya: semakin busana minim kain, semakin indah dan menarik pandangan tentunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Postingan ini tidak ada gunanya dibaca oleh orang bermoral dan dangkal fikiran. kalau ada yang menuntut saya, ingin kusampaikan bahwa kehidupan ini betul-betul canda tawa, guyonan semata! #Jika ingin menampilkan tubuh tanpa balutan kain, tampilkanlah semua agar keindahanmu purna, jika tidak; tutupilah seluruhnya, agar kita mencari keindahan lainnya#&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;kunjungi juga;
www.kalsumedia.co.nr&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/643697286673093681-1299083013999634752?l=chengxplore.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/DpnGxZ2VUlnFVy-ayEXLntiltRo/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/DpnGxZ2VUlnFVy-ayEXLntiltRo/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/DpnGxZ2VUlnFVy-ayEXLntiltRo/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/DpnGxZ2VUlnFVy-ayEXLntiltRo/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ChengXplore/~4/FIaEndpQIuw" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://chengxplore.blogspot.com/feeds/1299083013999634752/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://chengxplore.blogspot.com/2012/01/telanjang-aja-yukkkk.html#comment-form" title="4 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default/1299083013999634752?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default/1299083013999634752?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ChengXplore/~3/FIaEndpQIuw/telanjang-aja-yukkkk.html" title="Telanjang aja yukkkk !!!" /><author><name>Cheng Prudjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03932155262964597384</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_7Y4frbrIS4A/S1VOeDG9uUI/AAAAAAAAAYY/zliayXfpJds/S220/mash+muda+dl.jpg" /></author><thr:total>4</thr:total><feedburner:origLink>http://chengxplore.blogspot.com/2012/01/telanjang-aja-yukkkk.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0QAR304cSp7ImA9WhRVEUQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-643697286673093681.post-136067782713702715</id><published>2012-01-10T17:16:00.003+07:00</published><updated>2012-01-10T17:29:06.339+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-10T17:29:06.339+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="My Notes" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="urusan kuliah" /><title>Open Google; Wujud Perkembangan Teknologi Komunikasi</title><content type="html">Pagi tadi, sepulang dari kampus, saya bersama beberapa teman menyempatkan diri menikmati secankir kopi susu di warung kopi depan &lt;b&gt;terminal Landungsari&lt;/b&gt;. Disana, beberapa teman sudah mendahului, beberapa batang rokok telah habis, secangkir beberapa cangkir kopi susu pun tandas tersisa ampas dan cerita lepas. Salah satu diantaranya adalah Jaka, temanku yang berkuliah di jurusan psikologi UMM. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah tulisanku “&lt;a href="http://chengxplore.blogspot.com/2011/12/pengen-punya-ipad.html"&gt;&lt;b&gt;Pengen Punya iPad&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;”, kali ini saya ingin kembali menulis tentang iPad. Perbincangan soal iPad di warung kopi (Warkop) tersebut memberikan pandangan baru bagiku, sangat biasa tapi tak disangka. Perkembangan teknologi komunikasi tidak hanya menawarkan benda dan segala manfaatnya, kebiasaan (behavior) baru pun tentu saja ikut secara diam-diam, dan tanpa disadari akan menjadi suatu kultur. &lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
Tentang Perkembangan Teknologi Komunikasi &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Perkembangan Teknologi Komunikasi sejatinya bukan hanya perkembangan materi/bendawi, sebagai teknologi komunikasi, dampak dan konsekuensi tentu saja menjadi satu bagian yang tak terpisahkan. Teknologi komunikasi memungkinkan adanya interaksi antar manusia dalam penggunaannya, teknologi komunikasi seperti jembatan yang menghubungkan antara komunikator dan komunikan, merupakan medium dimana ide antara beberapa orang bertemu dan saling dipertukarkan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-Mj0N4NWlN10/TwwRWmt5cQI/AAAAAAAAAtM/iDvazhuihv4/s1600/google-ipad.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://3.bp.blogspot.com/-Mj0N4NWlN10/TwwRWmt5cQI/AAAAAAAAAtM/iDvazhuihv4/s320/google-ipad.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;i&gt;So&lt;/i&gt;, penggunaan teknologi komunikasi perlu penelaahan yang lebih detail dibandingkan penggunaan teknologi lainnya (yang tidak termasuk teknologi komunikasi). Banyak sudut pandang yang dikandungnya, karena perilaku manusia tidak lagi dipengaruhi oleh manusia, baik individu yang mempengaruhi komunitas maupun sebaliknya, atau terjadi saling mempengaruhi antara individu dan komunitas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam ranah kajian teknologi komunikasi, teknologi sebagai &lt;i&gt;tools&lt;/i&gt; atau indra diluar tubuh manusia memegang peranan penting dalam pola berperilaku, sangat mudah ditemui contohnya. Apa yang akan saya ceritakan ini adalah salah satu dari berbagai contoh konkret lainnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Open Google, Cerita Biasa &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Sebenarnya, sekarang ini kami sedang disibukkan oleh ujian akhir semester di kampus. Beberapa teman yang menikmati waktu luang di warkop ini baru saja selesai menjalani rutinitas semester itu. Salah satu diantara mahasiswa berkostum putih hitam adalah Jaka, teman yang kemana-mana selalu bersama iPad-nya. &lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;b&gt;“iPad-mu mana, Jak?”, tanyaku spontan. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Ada di tas!”. &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;“Wah, masa waktu ujian aja bawa iPad. Sok skali kamu!”. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Nggak, siapatau nanti ujiannya open book kan saya bisa manfaatkan iPad”. &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;“Oooo, asik juga yah, catatan kuliah disimpan di iPad semua”. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;“Nggak gitu, Cheng! Pakai iPad kan bisa buka google”. &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;“Hahahahahaha, iya juga yah…. Malah lebih bagus!”. &lt;/b&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;
Tawaku bukan hanya sekedar lucu, tapi ada kesadaran yang tersampir disana. &lt;b&gt;Open Google!. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di UMM (Universitas Muhammadiyah Malang), ujian tulis biasanya bersifat &lt;i&gt;close book&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;open book&lt;/i&gt;, tergantung kebijaksanaan dosen. Mahasiswa tentunya senang dengan ujian tulis yang bersifat &lt;i&gt;open book&lt;/i&gt;, beban menjawab soal bisa semakin mudah, walaupun buku hanya menjadi panduang saja. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagiku sendiri, &lt;i&gt;open&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;close book&lt;/i&gt; tidak berarti apa-apa. Ujian yang bersifat &lt;i&gt;open book&lt;/i&gt; biasanya jika soal meminta pendapat atau opini mahasiswa tentang suatu kasus, dan untuk hal ini buku catatan kuliah hanya (sekali lagi) menjadi panduan karena disana biasanya tercatat penjelasan teoritis, tidak lebih dari sekadar definisi atau teori sebagai perangkat analisis kasus. Sementara cara belajarku tidak pernah mematok pada teks yang ditampilkan melalui &lt;i&gt;slide&lt;/i&gt; yang biasanya disalin ulang oleh mahasiswa. Saya hanya mencatat kata kunci saja dalam setiap perkuliahan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata kunci itu yang nantinya kukembangkan sendiri, salah satu pengembangannya adalah menggunakan google. Dengan mengetik kata kunci dan mengklik tombol search, berbagai penjelasan tentang kata kunci tersebut tentu saja berjuta-juta. Kekuarangan metodeku ini adalah: kadang pemahamanku tentang materi kuliah berbeda dengan yang disampaikan oleh dosen di depan kelas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah, kembali ke persoalan &lt;b&gt;open google&lt;/b&gt;. Saya mencoba membayangkan sendiri, bagaimana jadinya jika saya memiliki iPad dan mengandalkan om google di waktu ujian seperti temanku ini, sebenarnya bukan hanya di waktu ujian, di perkuliahan pun tentu saja akan kupergunakan untuk mengembangkan kata kunci materi kuliah secara langsung. Betapa tidak bergunanya pembelajaran di kelas, betapa tidak bergunanya buku catatan, betapa tidak bergunanya slide presentasi, dan betapa tidak bergunanya universitas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesannya sepele mengganti &lt;i&gt;open book&lt;/i&gt; dengan &lt;b&gt;open google&lt;/b&gt;, apalagi iPad memungkinkan memanfaatkan google di masa ujian yang bersifat &lt;i&gt;open book&lt;/i&gt;, iPad tidak ribet dan aksesnya cepat. Sisa kemampuan membaca secara random yang dibutuhkan untuk mencari kalimat yang pas dan siap dipindahkan ke lembar jawaban. Pengawas ujian yang tidak jeli sepertinya tak akan acuh terhadap hal ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ujian semakin enteng bagi temanku, walaupun ujian bersifat &lt;i&gt;close book&lt;/i&gt;, tentu iPad masih tetap membantu. Menunggu pengawas datang ke ruangan ujian sambil “berdiskusi” dengan om google adalah kegiatan cerdas untuk menghadapi ujian. Akhirnya, tak perlu takut dengan ujian jika anda memiliki iPad, sisa mengingat materi mata kuliah dan mengakses google, mencari penjelasa-penjelasan tentang kata kunci tersebut sebelum memasuki ruangan ujian. Hitung-hitung untuk pamer &lt;i&gt;&lt;b&gt;gadget&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; juga, &lt;i&gt;hehehehe&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-DHhIC5aftac/TwwRi_h9erI/AAAAAAAAAtU/32-qLyiCdIM/s1600/Menyontek.gif" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-DHhIC5aftac/TwwRi_h9erI/AAAAAAAAAtU/32-qLyiCdIM/s1600/Menyontek.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Nyontek ??? Gak jaman lagi gan !!! hahahahaha | Sumber: nanopertapan.blogspot.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Akan tetapi . . . &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Namun, sebagai teknologi komunikasi, apakah demikian cara memperlakukan &lt;i&gt;&lt;b&gt;gadget&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; (perkakas) atau teknologi sehingga maksud berkembangnya teknologi untuk membantu manusia terwujud?. Sisi lainnya, bukankah perilaku mengandalkan teknologi komunikasi untuk berbagai hal yang bisa kita lakukan dengan mudah (tanpa bantuan teknologi), adalah perbuatan membodohi diri kita sendiri? Dalam tradisi akademis, otak kita berpindah secara pelan-pelan dari kepala ke &lt;i&gt;&lt;b&gt;gadget&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Parahnya jika indra kita yang berpindah secara tidak sadar. Sehingga panasnya api dirasakan bukan lagi ketika dia menyentuh tangan, tapi ketika api membakar &lt;b&gt;&lt;i&gt;gadget&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Hahahahaha&lt;/i&gt;, kehidupan makin lucu saja! Bukankan Malaikat dan Setan harus bersujud kepada manusia? Sementara manusia harus bersujud di hadapan teknologi komunikasi, padahal mereka adalah ciptaan kita. Kalaupun manusia adalah tuhan, pasti kita adalah tuhan yang bodoh!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;kunjungi juga;
www.kalsumedia.co.nr&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/643697286673093681-136067782713702715?l=chengxplore.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/7sdOGAu6utGWVRkQMEu-EjLgyh4/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/7sdOGAu6utGWVRkQMEu-EjLgyh4/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/7sdOGAu6utGWVRkQMEu-EjLgyh4/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/7sdOGAu6utGWVRkQMEu-EjLgyh4/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ChengXplore/~4/5U6MEKVaU7g" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://chengxplore.blogspot.com/feeds/136067782713702715/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://chengxplore.blogspot.com/2012/01/open-google-wujud-perkembangan.html#comment-form" title="1 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default/136067782713702715?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default/136067782713702715?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ChengXplore/~3/5U6MEKVaU7g/open-google-wujud-perkembangan.html" title="Open Google; Wujud Perkembangan Teknologi Komunikasi" /><author><name>Cheng Prudjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03932155262964597384</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_7Y4frbrIS4A/S1VOeDG9uUI/AAAAAAAAAYY/zliayXfpJds/S220/mash+muda+dl.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-Mj0N4NWlN10/TwwRWmt5cQI/AAAAAAAAAtM/iDvazhuihv4/s72-c/google-ipad.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://chengxplore.blogspot.com/2012/01/open-google-wujud-perkembangan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEEEQHo5eip7ImA9WhRVEEo.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-643697286673093681.post-2839108560455750498</id><published>2012-01-08T04:10:00.006+07:00</published><updated>2012-01-09T08:30:01.422+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-09T08:30:01.422+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Activities" /><title>Coto Makassar itu Menunggumu Datang Kanda</title><content type="html">Pagi itu, suasana sangat damai. Ketika lamat-lamat adzan subuh diusir mentari, segala aktifitas segera dimulai. Saya dibangunkan oleh aroma abon sapi yang diolah (produksi) di depan Asrama Bawakaraeng, Jl. Lesti 58, Surabaya, tempatku menghabiskan Jum’at malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruang tengah asrama segera dipersiapkan untuk kegiatan pelantikan Pengurus IKAMI Sulsel Cabang Surabaya 7 Januari 2012. Kegiatan bersih-bersih sungguh damai hingga detik-detik pelaksanaan kegiatan semakin dekat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika sang Ketua Umum IKAMI Sulsel Cabang Surabaya (Masih status ketua umum terpilih karena belum dilantik) tiba di tempat, kabar buruk memecah kedamaian pagi yang langka di kota besar seperti Surabaya. &lt;b&gt;Pengurus Besar (PB) IKAMI Sulsel&lt;/b&gt; yang dikabarkan akan hadir melantik generasi muda pelanjut cita IKAMI Sulsel di Surabaya, mengalami peristiwa buruk. sebagaimana rencana, dia seharusnya berangkat dari Jakarta jam 7 pagi dengan pesawat terbang menuju Surabaya. Sayangnya dia ketinggalan pesawat dan akhirnya mencari jadwal penerbangan di siang hari. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teman-teman calon pengurus cabang IKAMI Sulsel Surabaya tampak begitu segar hari itu (salahnya saya tidak membawa kamera), di wajah mereka belum ada dosa, bersih tanpa prasangka buruk. Sayang sekali, ketika kabar buruk ini mereka ketahui, kekecewaan mulai menjalari rona segar mereka. Untung saja, pelantikan tidak batal dilaksanakan hari itu, karena delegasi dari PB IKAMI Sulsel menyatakan akan berangkat dengan penerbangan di siang hari. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak semua untung dapat dipercayai. Siangnya, ketika acara silaturahmi antara IKAMI Sulsel Cabang Surabaya (Cabang Malang juga hadir) dengan KKSS Surabaya telah usai, masalah baru muncul, malah tepat setelah semangkuk coto Makassar telah dinikmati. Kakanda utusan PB ini tidak bisa hadir di Surabaya, ikut menghangatkan suasana dengan kemeriahan pelantikan dan bincang silaturahim diantara irisan dadu hati sapi. Alasannya tidak ada penerbangan yang bisa membawanya ke Surabaya siang itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alternatifnya, Surat Keputusan (SK) akan discan dan dikirimkan via BB (Blackberry), namun hingga sore hari scan SK yang dijanjikan belum juga tiba. Parahnya, SMS dan telefon yang ditujukan kepadanya tidak mendapatkan respon. Teman-teman seperantauan di Asrama Bawakaraeng mulai kebingungan dan mulai mencemoh pelan-pelan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oia, seharusnya kusebutkan nama, karena tanpa menyebut nama sepertinya rasa hormat kita terhadap kakanda ini begitu kurang. Namanya &lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; font-size: large;"&gt;&lt;a href="http://id-id.facebook.com/people/Sofyan-Sopi-M-S/100000116147315"&gt;Sofyan&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;, hanya itu yang kuketahui walaupun sempat bertatap muka ketika dia bersilaturahmi ke Malang, sisanya silahkan cari informasinya di google.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="margin: 5px 20px 20px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;&lt;b&gt;Wajah di balik nama&lt;/b&gt;: &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = ''; this.innerText = ''; this.value = 'Tutup'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Lihat'; }" style="font-size: 11px; margin: 0px; padding: 0px; width: 55px;" type="button" value="Lihat" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 6px;"&gt;&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-UYiXpkrQwp0/Twizb9x1sfI/AAAAAAAAAs8/RmETkgP_f90/s1600/sofyan.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://3.bp.blogspot.com/-UYiXpkrQwp0/Twizb9x1sfI/AAAAAAAAAs8/RmETkgP_f90/s320/sofyan.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Kanda Sofyan, Kabid Kewirausahaan &lt;b&gt;PB IKAMI Sulsel&lt;/b&gt; | Sumber Foto: &lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=100000116147315"&gt;Facebook&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;= Malam Sebelum Pelantikan = &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Besok makan coto!”, Kata Sidik, ketua umum IKAMI Sulsel Cabang Surabaya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami yang mendengarnya sumringah, makan coto bukan hal biasa di tanah rantau tentunya, apalagi coto hadir di dalam suasana acara pelantikan. Teman-teman IKAMI Sulsel Cab. Surabaya jelas sekali mempersiapkan acara ini dengan matang. Keesokannya ketika wajah segar mereka kuperhatikan, ada kesan bahagia akan dilantik di rona wajah mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;= Waktunya Coto Makassar = &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun sayang (lebih dari seribu sayang) hidangan coto Makassar yang diniatkan akan dinikmati setelah mereka dilantik hanya harapan hampa belaka. Bagi saya, seorang penikmat sensasi, coto ini adalah bentuk kesyukuran mereka, bukan hanya sekedar hidangan untuk menghormati tamu, tapi apa yang bisa disyukuri jika tak ada yang dilantik hari itu?. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah keterlambatan pesawat yang disyukuri? apakah sms dan telfon yang tak berbalas yang harus disyukuri? dan apakah imaji kekecewaan yang patut disyukuri? Jawabannya ada di tangan kanda &lt;a href="http://sofyan-mypie.blogspot.com/"&gt;Sofyan&lt;/a&gt;, sepertinya begitu, karena lama kuperhatikan teman-teman di Asrama Bawakaraeng, tak ada lagi yang mau membahasnya. Coto berlalu di lidah, tenggelam ke dalam tenggorokan dan menjadi onggokan cacing di perut lalu menjadi tai yang entah dibuang kemana. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedih rasanya kawan. Lebih sedih dibandingkau kau mengajak temanmu datang ke warung coto di jalan Gagak Makassar, lalu memesan dua mangkuk coto, setelah makan, kalian ternyata tak punya uang sehingga harus menjadi tukang cuci Selama seharian disana. Lebih sedih, jauhhhhhhh lebih sedih. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semangkuk coto itu seharusnya tidak hanya diisi oleh potongan beberapa bagian tubuh sapi, kuah dengan rempah-rempah, kecap, garam, jeruk nipis, sambal, dan daun bawang. dalam semangkuk coto itu seharusnya ada kebahagiaan, kesyukuran atas keberhasilah IKAMI Sulsel cabang Surabaya membangun regenerasinya, dan tentu saja memori suara kanda Sofyan ketika menyebut nama tobarani-tobarani Surabaya ini satu per satu dan melantiknya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-kuEDKoxSjuc/Twizo4W-FpI/AAAAAAAAAtE/owiWGAmCfPI/s1600/sofyan2.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-kuEDKoxSjuc/Twizo4W-FpI/AAAAAAAAAtE/owiWGAmCfPI/s320/sofyan2.jpg" width="262" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Sumber: &lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=100000116147315"&gt;Facebook&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Bagi kanda Sofyan, jika saya boleh bertanya, apakah kakanda hafal dengan semboyang manusia Sulawesi: "&lt;i&gt;Punna alla'bammi sombalaka...., &lt;b&gt;kualleangi&lt;/b&gt; &lt;b&gt;tallanga&lt;/b&gt;&lt;b&gt;natoalia&lt;/b&gt;...????&lt;/i&gt; " Mengertikah maknanya duhai kakandaku yang menawan? Jika hatimu telah meniatkan, dan kakimu telah melangkah, Surabaya harus kau injak sebelum kembali ke atas kasurmu. Jika tidak, anak-anak muda Surabaya ini pantas menginjak-injak niatmu untuk berkunjung dan melantik pengurus IKAMI Sulsel Cabang Surabaya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mohon maaf kanda jika terlalu lancang. Di Makassar, seorang Raja atau Pemimpin yang salah memang harus diluruskan oleh rakyatnya. Seharusnya kusampaikan kemarahan ini dalam bait kecapi seperti dahulu itu, tetapi saya seorang hanya rakyatmu yang punya kata tanpa kecapi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudahkah kemarahan ini menusuk jiwamu kanda? jika belum, datanglah ke Surabaya! Carilah mangkuk coto kotor yang masih tersisa dan cucilah. Semoga keikhlasanmu itu mengobati kekecewaan teman-teman disana. Memang bukan saya yang mengalami, tapi sekali lagi: sebagai pencinta sensasi, saya sedih menikmati semangkuk coto. Bahkan saat meninggalkan Surabaya untuk kembali ke Malang, Kata “Selamat atas pelantikannya, pak ketum!!!” pun tak lunas, dalam hati: biar kuscan saja kata itu lalu kukirimkan melalui BB atau lewat jasa Pos. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Coto itu belum keluar dari perutku, kanda!!!”. Dalam hatiku!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;b&gt;"Reso temmangingi namalomo naletei pammase dewata"&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Kerja keras dengan penuh keikhlasan dan tak lupa berdoa agar tujuan kita dapat tercapai.&lt;/i&gt; &lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;kunjungi juga;
www.kalsumedia.co.nr&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/643697286673093681-2839108560455750498?l=chengxplore.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/vdwrWgwUJqsVSy79CVk8hm-M69I/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/vdwrWgwUJqsVSy79CVk8hm-M69I/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/vdwrWgwUJqsVSy79CVk8hm-M69I/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/vdwrWgwUJqsVSy79CVk8hm-M69I/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ChengXplore/~4/cAWt4ebqsoE" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://chengxplore.blogspot.com/feeds/2839108560455750498/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://chengxplore.blogspot.com/2012/01/coto-makassar-itu-menunggumu-datang.html#comment-form" title="7 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default/2839108560455750498?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default/2839108560455750498?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ChengXplore/~3/cAWt4ebqsoE/coto-makassar-itu-menunggumu-datang.html" title="Coto Makassar itu Menunggumu Datang Kanda" /><author><name>Cheng Prudjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03932155262964597384</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_7Y4frbrIS4A/S1VOeDG9uUI/AAAAAAAAAYY/zliayXfpJds/S220/mash+muda+dl.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-UYiXpkrQwp0/Twizb9x1sfI/AAAAAAAAAs8/RmETkgP_f90/s72-c/sofyan.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>7</thr:total><feedburner:origLink>http://chengxplore.blogspot.com/2012/01/coto-makassar-itu-menunggumu-datang.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0UNSX86cCp7ImA9WhRWFk0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-643697286673093681.post-5798261275160392460</id><published>2012-01-03T22:13:00.003+07:00</published><updated>2012-01-03T22:41:38.118+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-03T22:41:38.118+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Reflection" /><title>Happy Birthday Komunitas Blogger Makassar: Anging Mammiri</title><content type="html">Sebenarnya tak ada niat mengunjungi situs angingmammiri.org, walaupun telah menjadi anggota di &lt;b&gt;komunitas blogger Makassar&lt;/b&gt; ini, saya jarang sekali mengunjungi situs tersebut. Bukan hanya situs tersebut, membuka &lt;i&gt;gmail&lt;/i&gt; dan memeriksa email yang masuk dan merespon diskusi-diskusi di milis &lt;b&gt;Anging Mammiri&lt;/b&gt; jarang kulakukan, malah dua bulan terakhir hampir tidak pernah menyapa lagi teman-teman disana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-YTDD1wYVRvM/TwMWOe6fQfI/AAAAAAAAAsg/e7QcMQ7wPlI/s1600/ultah+Anging+mamiri.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="350" src="http://1.bp.blogspot.com/-YTDD1wYVRvM/TwMWOe6fQfI/AAAAAAAAAsg/e7QcMQ7wPlI/s640/ultah+Anging+mamiri.jpg" width="500" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Ulang Tahun Anging Mammiri ke 5, 25 November 2011 | sumber foto: angingmammiri.org&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Di angingmammiri.org, saya baru tahu bahwa bulan kemarin &lt;b&gt;Anging Mammiri&lt;/b&gt; berpesta memperingati kelahirannya dan kini telah berumur lima tahun, ada kesan tersendiri  di benakku. Pelan-pelan, kuingat lagi seorang teman dekat sesama blogger yang juga anggota Anging Mammiri walaupun tidak aktif. Mengetahui para blogger Makassar selesai berpesta, entah apakah piring dan gelas kotor sudah dibersihkan atau belum, saya ingin sekali merasakan kehangatan di tengah blogger Makassar, saat bertemu dengan catatan “&lt;a href="http://angingmammiri.org/ultah-ke-5-angingmammiri-kesunyian-tak-punya-tempat-di-sana/"&gt;Ultah ke-5 AngingMammiri: Kesunyian Tak Punya Tempat di Sana!&lt;/a&gt;”. Kemudian saya mulai meraba sebuah pertanyaan, “Benarkah, guru????”. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya, dua kali saya mendaftar sebagai anggota di Anging Mammiri, entah pertama kali pada tahun kapan (2005 atau 2006), saat itu saya masih kebingungan bagaimana bergabung dengan komunitas tersebut, saya tetap memajang banner Anging Mammiri walaupun tidak pernah ikut serta dalam aktifitas komunitas, baik bercengkrama atau sekedar berucap salam di milis, apalagi kegiatan kopdar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kali keduanya, adalah 2011. Ketika disarankan oleh seorang teman untuk membuat blog dan bergabung bersama blogger Makassar di Anging Mammiri, sang teman ini tertarik melihat &lt;a href="http://www.facebook.com/cheng.prudjung?sk=notes"&gt;catatanku di facebook&lt;/a&gt; dan menyarankan agar lebih intens di &lt;a href="http://chengxplore.blogspot.com/"&gt;blog&lt;/a&gt; dibandingkan di facebook. Akhirnya, blog ku yang mulai mengudara sejak tahun 2008 kini mulai aktif kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak bergabung dengan &lt;b&gt;komunitas blogger Anging Mammiri&lt;/b&gt;, semangat menulis kian menjadi-jadi, saya selalu mendapatkan semangat dari teman-teman Anging Mammiri melalui postingan-postingan blog mereka yang kuintip secara diam-diam, malah pernah suatu kala kebingungan rasanya mengunjungi dan menikmati update blog mereka yang diumumkan melalui trit posting di milis. Ingin rasanya membuat kliping dari postingan pilihan yang “nendang”, penuh semangat dan inspiratif, sayang saya kurang telaten mengelola managemen file di laptop sehingga banyak “saved page” yang berhamburan dan akhirnya kubersihkan saja, pusing juga melihatnya. &lt;i&gt;Hehehehe &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga tidak terlambat menulis catatan seperti ini, toh pesta telah lewat sebulan lebih, piring dan gelas kotor sudah bersih, dan mungkin kesan pesta yang seharusnya tetap di dinding benda itu tetap menempel juga telah ikut bersih. Namun semoga tidak ada yang marah akan catatan ini karena sebagai anggota Anging Mammiri, tentu saya termasuk dalam kategori anggota nakal yang tidak tahun kapan Anging Mammiri berulang tahun, sekarang saya sudah tahu walaupun terlambat. Di tahun kelima Anging Mammiri, saya terdorong untuk berkeluh kesah alias curhat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;“Anu skaliiii”, Katanya! &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Teman dekat sesama blogger, anggap saja namanya Yandu’, yang kusebutkan di atas pernah mengeluh, tidak hanya sekali, terhadap komunitas blogger Anging Mammiri. Entah sejak kapan dia bergabung di &lt;b&gt;komunitas kebanggaan blogger Makassar&lt;/b&gt; ini, tetapi ocehan-ocehannya tentang suasana berkomunitas di blogger Makassar membuatku tahu bahwa dia telah bergabung disana. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bingung juga menanggapi temanku ini, dia adalah anak muda yang penuh semangat dan baik hati, dalam hal komunikasi dia tergolong person yang &lt;i&gt;individualis&lt;/i&gt;, yaitu mudah berinteraksi dan bergaul dengan siapa saja dan komunitas mana saja karena tingkat kecemasan dan &lt;i&gt;power distance&lt;/i&gt;-nya kurang. Dia mengikuti banyak komunitas, sehingga saya sendiri kadang kebingungan dimana dia aktif bergaul pada suatu saat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kecuali di &lt;b&gt;komunitas blogger Anging Mammiri&lt;/b&gt;, kesannya berbeda. Kaget juga ketika mendengarnya berkomentar “Emmdede, anu skali disana, Cheng!!”. Hari-hari selanjutnya, dia mulai memancing dengan mengajakku membangun komunitas blogger Makassar sendiri, saya hanya tertawa dan kebingungan, anak muda ini terlalu bersemangat!. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kuajak berdiskusi tentang &lt;b&gt;komunitas blogger&lt;/b&gt;, dia mulai banyak mengungkapkan perasaannya ketiga mencoba bergaul disana, kata yang kuingat dari mulutnya adalah: “Kapara diaji, Ucheng!”. Kata itu menghentakku, pelan-pelan saya juga mulai membenarkan kata itu. &lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq" style="color: #274e13;"&gt;Kekecewaanku masih membekas, saat itu idul fitri 2011 telah usai tapi suasana silaturahmi masih membekas lama setelahnya, teman-teman di Anging Mammiri merencanakan kopdar atau &lt;i&gt;gathering&lt;/i&gt; atau apalah namanya saat itu, tujuannya adalah berwisata di pulau Kodingareng Keke. Entah tiga atau dua hari sebelum keberangkatan (saat itu sebenarnya jadwal keberangkatan belum pasti), saya mengecek email dan melihat infonya, lalu kusiapkan uang untuk turut serta (&lt;b&gt;hitung-hitung ingin juga rasanya bertemu teman-teman sesama blogger Makassar&lt;/b&gt;). Sayangnya, saat itu saya sedang di sawah membantu orang tua, siang itu di tengah istirahat di bawah pohon pisang hambil menikmati sebotol sirup dan bangke-bangke, kucek email melalui hape, dan ternyata rombongan wisatawan telah beraksi, mengunjungi pulau Kodingareng Keke pagi itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Andai saja pagi sebelum mereka berangkat saya mengetahui infonya, pasti akan kukebut motorku untuk mengejar. &lt;b&gt;Tapi apalah&lt;/b&gt;, siang itu terik matahari tidak hanya memudahkan bulir padi lepas dari batang jerami, niat bersilaturahmi dan berwisata pun lepas. “Kenapa infonya tidak lewat sms saja???, berapakah harganya sms ke semua anggota?”, kurang lebih begitu kataku dalam hati.&lt;br /&gt;
&lt;div style="margin: 5px 20px 20px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;&lt;b&gt;Pulau Kodingareng Keke&lt;/b&gt;: &lt;input onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = ''; this.innerText = ''; this.value = 'Tutup'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Lihat'; }" style="font-size: 11px; margin: 0px; padding: 0px; width: 55px;" type="button" value="Lihat" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset; margin: 0px; padding: 6px;"&gt;&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-XczVrDnKAaI/TwMY94trxeI/AAAAAAAAAs0/uSqApktqHqY/s1600/kodingareng+keke.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="281" src="http://3.bp.blogspot.com/-XczVrDnKAaI/TwMY94trxeI/AAAAAAAAAs0/uSqApktqHqY/s400/kodingareng+keke.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Pulau Kodingareng Keke di Kecamatan Ujung Tanah Kota Makassar&lt;br /&gt;
Sumber foto: darimakassar.com&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;Melalui Yandu’, saya juga mulai ikut-ikut &lt;b&gt;menerawang Anging Mammiri&lt;/b&gt;, sebenarnya tidak pantas karena saya tidak mengenali sama sekali komunitas dan anggotanya, kecuali tulisan dan foto-foto anggotanya yang dipublikasikan melalui blog. Saya belum pernah bertatap muka, baik kopdar atau berpapasan di jalan atau via webcam, saya tidak kenal sama sekali. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi sebagai anggota, saya dan Yandu tentunya punya kesempatan untuk angkat bicara juga kan? Hahahaha. Sebenarnya, lebih parah lagi ketika Yandu mengungkapkan bahwa selain ikatan emaosional sesama blogger (passion-nya sama), kedekatan emosi institusional juga mempengaruhi, sehingga anak baru yang bergabung di Anging Mammiri (yang) tidak kenal sistem pergaulan institusional mereka kesulitan untuk &lt;i&gt;coddo&lt;/i&gt;. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurutku, bukan persoalan institusional (kami menyebut satu isntitusi, tapi tak perlulah kuungkap dalam catatan ini) yang menyulitkan proses akrab kita (saya dan Yandu’) dengan teman-teman disana. “Kalau saya, persoalan beda umurjaki sama mereka, Yan”, kataku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendapat tersebut ceritanya (argumentasi) begini: selain anggota di Anging Mammiri, saya juga anggota di Komunitas Blogger Malang (Ngalam). Berbeda dengan Anging Mammiri, blogger Ngalam diramaikan oleh anggota-anggota yang mayoritas mahasiswa dan SMA, di milis kuperhatikan banyak perkenalan dari anggota baru yang nyatanya adalah anak SMA. Saat mengikuti kegiatan blogger Ngalam yang bekerja sama dengan salingsilang.com (setelah di Malang, acara seperti ini juga dilaksanakan di Makassar), saya sedikit kaget, saya merasa sebagai peserta tertua diantara ratusan anak SMA, bahkan SMP yang diantara mereka didampingin oleh (entah) orang tua atau guru mereka. &lt;i&gt;Waaaawww&lt;/i&gt;… &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari pengalaman tersebut, dapat kubandingkan bahwa Anging Mammiri tetap jagonya posting berkualitas dan semangat menulis tinggi yang mapan, sementara di blogger Ngalam (tidak termasuk sesepuhnya) sangat menjanjikan untuk hidup lama karena proses regenerasi menjanjikan, sumberdaya anggota mereka adalah anak muda calon penyokong bangsa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan sistem pergaulan tentu saja dipengaruhi oleh rentang umur, gaya berkomunikasi, tingkat kesulitan wacana dankepentingan jelas sekali berbeda. Itulah salah satu alasan bagiku mengapa si Yandu’ ini kesal, hahaha. Saya sendiri, menanggapi persoalan rentang umur ini pernah juga kuperkenalkan bahwa saya adalah bapak dari seorang anak, tapi tetap saja tidak terpengaruh, mungkin mereka telah punya lebih banyak anak atau tidak sama sekali. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;Capekma ....&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Haaaahhhh&lt;/i&gt;, lelah juga menuliskan ini. Ada banyak pokok diskusi yang sebenarnya harus kuungkapkan di hadapan sidang Anging Mammiri yang kini telah berumur 5 tahun. Di momen atau di umur 5 tahun inilah rasanya cocok menyampaikan apa kata anggota sebagai bahan refleksi. Kuingat lagi catatan Daeng Rusle berjudul “Ultah ke-5 Anging Mammiri: Kesunyian Tak Punya Tempat di Sana!”, dan mulai merasa gele’-gele’ malu mencernanya. “Tabe daeng, kalau bisa saya bertanya:  Kita’ kenal Yandu’???”. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Selamat ulang tahun ke 5 Anging Mammiri&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; | selamat beramai-ramai buat teman-teman yang membenci kesunyian, atau malah membenci kami karena sudah terlanjur merasa sunyi. Makassar memang tidak kasar, tapi &lt;b style="color: #cc0000;"&gt;PACCEI&lt;/b&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;kunjungi juga;
www.kalsumedia.co.nr&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/643697286673093681-5798261275160392460?l=chengxplore.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/bemAFKkA0BxrxwSFxm6jsev2zSI/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/bemAFKkA0BxrxwSFxm6jsev2zSI/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/bemAFKkA0BxrxwSFxm6jsev2zSI/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/bemAFKkA0BxrxwSFxm6jsev2zSI/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ChengXplore/~4/hA1DlvbKWLk" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://chengxplore.blogspot.com/feeds/5798261275160392460/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://chengxplore.blogspot.com/2012/01/happy-birthday-komunitas-blogger.html#comment-form" title="17 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default/5798261275160392460?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default/5798261275160392460?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ChengXplore/~3/hA1DlvbKWLk/happy-birthday-komunitas-blogger.html" title="Happy Birthday Komunitas Blogger Makassar: Anging Mammiri" /><author><name>Cheng Prudjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03932155262964597384</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_7Y4frbrIS4A/S1VOeDG9uUI/AAAAAAAAAYY/zliayXfpJds/S220/mash+muda+dl.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-YTDD1wYVRvM/TwMWOe6fQfI/AAAAAAAAAsg/e7QcMQ7wPlI/s72-c/ultah+Anging+mamiri.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>17</thr:total><feedburner:origLink>http://chengxplore.blogspot.com/2012/01/happy-birthday-komunitas-blogger.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEANQHsyeCp7ImA9WhRWFU4.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-643697286673093681.post-6361330914654933824</id><published>2012-01-03T02:21:00.001+07:00</published><updated>2012-01-03T02:33:11.590+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-03T02:33:11.590+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Uncategorized" /><title>Merindukan Diriku yang Dulu</title><content type="html">Ingin rasanya kembali menikmati kesendirianku, ketika bebas memilih buku bacaan apa yang nikmat untuk menghisi waktuku, menjejaki jalan di malam hari dan menyaksikan segala kesederhanaan hidup, bertemu dengan wajah-wajah klasik, tradisional, dan tenang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rindu aku pada dunia ketika aku tidak menghawatirkan siapapun saat aku terkena musibah... rindu aku merindukan bayang halus sebuah cita... rindu aku pada rambut dan bau badan yang tidak mengharapkan kesan elit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rindu aku dengan puisiku, rindu aku dengan ceritaku, rindu aku dengan dialog kontemplatifku, rindu aku pada keajaiban-keajaiban yang tak sadar kutemukan dalam diriku...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;kunjungi juga;
www.kalsumedia.co.nr&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/643697286673093681-6361330914654933824?l=chengxplore.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/tCKtb27DBcAO5fd3fLbMFhZJksY/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/tCKtb27DBcAO5fd3fLbMFhZJksY/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/tCKtb27DBcAO5fd3fLbMFhZJksY/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/tCKtb27DBcAO5fd3fLbMFhZJksY/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ChengXplore/~4/83Js6ausoDk" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://chengxplore.blogspot.com/feeds/6361330914654933824/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://chengxplore.blogspot.com/2012/01/merindukan-diriku-yang-dulu.html#comment-form" title="3 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default/6361330914654933824?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default/6361330914654933824?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ChengXplore/~3/83Js6ausoDk/merindukan-diriku-yang-dulu.html" title="Merindukan Diriku yang Dulu" /><author><name>Cheng Prudjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03932155262964597384</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_7Y4frbrIS4A/S1VOeDG9uUI/AAAAAAAAAYY/zliayXfpJds/S220/mash+muda+dl.jpg" /></author><thr:total>3</thr:total><feedburner:origLink>http://chengxplore.blogspot.com/2012/01/merindukan-diriku-yang-dulu.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEYDRHg8eCp7ImA9WhRWFE0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-643697286673093681.post-3598331407031704703</id><published>2012-01-01T15:16:00.004+07:00</published><updated>2012-01-01T15:22:55.670+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-01T15:22:55.670+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Activities" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Reflection" /><title>Harga Ikan Gurami</title><content type="html">&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-iZDzVcJ1JKc/TwAVLDaKfkI/AAAAAAAAAsQ/Z44v0h2Fk4w/s1600/harga+ikan+gurami.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-iZDzVcJ1JKc/TwAVLDaKfkI/AAAAAAAAAsQ/Z44v0h2Fk4w/s1600/harga+ikan+gurami.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Pernah &lt;i&gt;gak&lt;/i&gt; kamu ke pasar dan membeli ikan?, saya pernah! Ke pasar dan membeli ikan bukan hal asing bagiku, keluargaku adalah pedagang pasar tradisional di Galesong (Kabupaten Takalar), dan Galesong merupakan salah satu Bandar ikan terbesar di Sulawesi. So, pasar dan ikan bukan hal asing buatku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bau amis, lagak dan penampilan penjual ikan yang khas tidak pernah menggangguku, malah saya senang melihat para pedagang ikan di pasar, gayanya tidak beda dengan pedagang ikan di (pasar) kampung halaman, hanya berbeda suara dan semangat tawar menawar saja. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari kemarin, hal baru kutemukan di pasar saat mendampingi teman membeli ikan di pasar. Sore itu, beberapa penjual ikan berjejer di depan pasar Blimbing, di pinggir jalan raya. Beberapa diantara ikan yang tersedia di sana adalah bandeng, patin, gurami, kakap,&lt;span style="color: #bf9000;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;i style="color: #bf9000; font-family: Georgia,&amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif;"&gt;hiu, lumba-lumba dan paus&lt;/i&gt;. Diantara ikan-ikan itu, saya tertarik dan senang rasanya menyaksikan ikan gurami yang masih hidup berenang sesukan hati di dalam &lt;i&gt;box&lt;/i&gt; ikan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“&lt;i&gt;Iwak urip, iwak urip!!!&lt;/i&gt; (Ikan hidup)”, teriak penjual ikan yang berbadan kekar dengan beberapa tato di kedua lengannya kepada jalanan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa pengguna jalan singgah, mereka yang naik motor melintah pelan dan singgah sebentar menyaksikan ikan gurami hidup tanpa trun dari motor. Seseorang datang, perawakannya biasa saja, jelas ekali kalau dia penganut ekonomi lemah yang pada pemilu kemarin memilih SBY. Spontan sambil tersenyum bahagia, dia berkata: &lt;i&gt;Senneng aku ndeluk iwak urip !!!&lt;/i&gt; (Aku senang melihat ikan yang masih hidup). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya tersenyum kepadanya, menyaksikan senyumnya sangat menyenangkan. Pria tua dengan kaos oblong hijau tua dan celana &lt;i&gt;levis&lt;/i&gt; urakan, mungkin di saku belakannya tersampir dompet yang isinya kurang dari lima puluh ribu, atau kurang dari dua puluh ribu malah, berdiri lama di samping&lt;i&gt; box&lt;/i&gt; ikan tanpa bertanya berapa harga ikannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senang rasanya. Senang melihat pria tua miskin ini tersenyum bahagia hanya karena menyaksikan ikan hidup. Saya membayangkan andai saja dia diundang berkunjung ke istana dan bertemu langsung dengan SBY, dia pasti lebih memilih melihat ke arah ikan yang berenang di dalam akuarium istana dibandingkan memperhatikan wajah SBY yang banyak bicara. Tapi itni kalau istana Negara punya akuarium di ruang penerimaan tamu miskin seperti pak tua ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Syukurlah kalau mereka masih punya kebahagiaan, walaupun sumbernya dari beberapa ekor ikan yang berenang di dalam &lt;i&gt;box&lt;/i&gt; itu, bukan dari pemimpin yang telah menjanjikan kebahagiaan kepada mereka sejak 2004 lalu”, kataku dalam hati. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Harganya berapa, pak?”. Tanya temanku kepada penjual ikan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang mati: 30.000. Yang hidup: 32.000”, kata penjual ikan sambil menunjuk ke tumpukan ikan gurami yang telah mati dan ke ikan gurami yang masih hidup di dalam &lt;i&gt;box&lt;/i&gt;. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lucu rasanya mendengar harga tersebut, nyawa itu harganya cuma 2000 saja. Ouh, begitukah??? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlintas bayang-bayang kelam kehidupan, perdagangan manusia, peperangan, hingga kejahatan hak asasi manusia. Jangan-jangan kita sudah tidak lagi menganggap bahwa nyawa itu adalah perangkat paling berharga dalam kehidupan selain kehormatan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cuma ikan memang, tapi harga ikan itu menjadi cermin bagiku, cermin melihat perilaku manusia sepertiku yang lebih memperhatikan tampang, penampilan seseorang atau hal-hal materialistis lainnya tanpa menengok esensi eksistensinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-pP1hPXZZdmI/TwAUUnz4TwI/AAAAAAAAAsE/qsN1iXnKT0g/s1600/low+price.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-pP1hPXZZdmI/TwAUUnz4TwI/AAAAAAAAAsE/qsN1iXnKT0g/s1600/low+price.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Berapa harga nyawaku sendiri? &lt;i&gt;Hahahaha &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia ini bukan pasar, dimana kepentingan atau kebutuhan dipertukarkan, kemampuan atau kecakapan diperjual belikan sehingga citra hidup manusia yang awalnya sangat social bergeser menjadi sangat ekonomis. Kau akan dianggap hidup dan bernyawa jika memiliki tenaga, kecakapan, dan jaringan. Tanpa itu semua, kau adalah mayat hidup yang dipermainkan tuhan, diciptakan dan ditinggalkan begitu saja menjadi bahan ejekan manusia yang berharga mahal. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berapa harga nyawaku??? &lt;i&gt;Hahahahaha &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tergantung bagaimana sang bos mengupahi, tergantung berapa isi amplop yang diterima saat pemilu. Dan tergantung berapa banyak duit yang ada di dalam dompetku. Itulah harga kita, harga manusia. Aihhh, pedih rasanya memikirkan ini terlalu lama, menulis pun menjadi tidak konsen lagi memikirkan beta lalimnya manusia di hadaan harga, betapa rendah dan datarnya kehidupan dengan tuhan uang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berapa harga nyawaku???? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tergantung seberapa kuat tubuhku mengolah sawah dan menjual hasilnya, tergantung seberapa cerdik para politisi mempermainkan opini dan meramu wacana. Harga hidup yang dahulu kala tak pernah disentuh harga, kini mulai dihargai dan harga itu adalah sudut pandang paling utama dalam memandang manusia lainnya yang mempengaruhi kita dalam memberikan atau merespon orang lain dalam kehidupan sosial. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang cuman ikan kawan, tapi ikan gurami dan pedagangnya itu menjadi cermin bagiku membangun refleksi di akhir tahun, sungguh materialism telah menguasai kehidupan kita, sehingga cinta tidak lagi disimbolkan dengan bunga mawar, tetapi pertamina (bensin): motor dan mobil, parahnya lagi jika disimbolkan oleh kondom: &lt;i&gt;Ahhhhh&lt;/i&gt; betapa harga anak-anak di generasi mendatang lebih murah dari kondom di pasar, karena mereka lahir dari kondom produk gagal. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berapa harga nyawaku? Silahkan menawar kawan !!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;kunjungi juga;
www.kalsumedia.co.nr&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/643697286673093681-3598331407031704703?l=chengxplore.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_MQBANxc_GBelk_9SDvbbOOyDAo/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_MQBANxc_GBelk_9SDvbbOOyDAo/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_MQBANxc_GBelk_9SDvbbOOyDAo/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_MQBANxc_GBelk_9SDvbbOOyDAo/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ChengXplore/~4/sGyU8FB1iUw" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://chengxplore.blogspot.com/feeds/3598331407031704703/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://chengxplore.blogspot.com/2012/01/harga-ikan-gurami.html#comment-form" title="1 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default/3598331407031704703?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default/3598331407031704703?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ChengXplore/~3/sGyU8FB1iUw/harga-ikan-gurami.html" title="Harga Ikan Gurami" /><author><name>Cheng Prudjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03932155262964597384</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_7Y4frbrIS4A/S1VOeDG9uUI/AAAAAAAAAYY/zliayXfpJds/S220/mash+muda+dl.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-iZDzVcJ1JKc/TwAVLDaKfkI/AAAAAAAAAsQ/Z44v0h2Fk4w/s72-c/harga+ikan+gurami.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://chengxplore.blogspot.com/2012/01/harga-ikan-gurami.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUUEQXo4cCp7ImA9WhRWEkg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-643697286673093681.post-4776454626023155394</id><published>2011-12-30T21:51:00.002+07:00</published><updated>2011-12-30T22:00:00.438+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-30T22:00:00.438+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="My Notes" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Activities" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Reflection" /><title>Pengen Punya iPad !!!</title><content type="html">Sejak semalam, saya mulai bercita-cita memiliki iPad, walaupun sebelumnya saya memandang sebelah mata gadget yang ikut mempopulerkan nana Steve Jobs (CEO Aple yang pertama kali memperkenalkan iPad). Sebelumnya, iPad kuanggap teknologi digital baru yang belum diperlukan oleh masyarakat luas, mahasiswa sepertiku belum memenuhi kriteria untuk masuk daftar konsumen iPad. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
iPad yang kini hadir dalam dua generasi menggoda minatku, ceritanya kurang lebih seperti ini: Tadi malam saya menemui beberapa teman yang sedang menikmati suasana warung kopi Garasi. Salah seorang teman (Jaka) sedang asik dengan barang baru yang mengaburkan mataku. Karena dia duduk sambil menundukkan kepala, saya ikut menundukkan kepala untuk memeriksa wajahnya, apakah dia benar-benar Jaka?. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dialah yang pertama memperkenalkan iPad kepadaku, gadget imut yang manis, sangat sensitif dan dalam (entah layarnya memiliki berapa bit warna). Saya mengambil posisi duduk tepat disebelahnya kemudian memaksanya meminjamkan gadget itu. Ratusan pertanyaan terlontar bagaimana menggunakan dan menikmatinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika dalam genggamanku, beberapa kali tampilan layar yang&lt;i&gt; landscape&lt;/i&gt; berubah menjadi &lt;i&gt;portrait&lt;/i&gt; tanpa kusengaja, saya harus memutar-mutar layarnya agar tampilan kembali ke mode &lt;i&gt;landscape&lt;/i&gt; seperti yang kuinginkan, walaupun memang ada aplikasi yang harus dijalankan dengan mode &lt;i&gt;portrait&lt;/i&gt;. Jaka kebingungan melihat tingkahku memutar-mutar layarnya, &lt;i&gt;hahahahaha&lt;/i&gt;. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kugesekkan jariku dengan lembut di atas permukaan layarnya yang halus, secara otomatis gambar-gambar yang merupakan ikon aplikasi dalam layar tersebut bergerak, berpindah, bertukar tempat dengan ikon aplikasi yang sebenarnya dipanggil oleh gesekan jariku. Saya menikmati gesekan demi gesekan di atas layar kaca yang halus itu, tanganku terasa (nyaris) tidak menyentuh apa-apa, seperti membuat gerakan menggesek sebagai isyarat saja, dan dengan pintar para ikon aplikasi ini bergerak sesuai isyarat jariku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-fIqVfrPB5to/Tv3OvIqp3mI/AAAAAAAAArU/iBZXiCgnnZ0/s1600/marilyn_monroe.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="ipad and marlyn monroe" border="0" height="640" src="http://3.bp.blogspot.com/-fIqVfrPB5to/Tv3OvIqp3mI/AAAAAAAAArU/iBZXiCgnnZ0/s640/marilyn_monroe.jpg" width="454" alt="marilyn monroe and ipad"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Marilyn Monroe dan iPad&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Lelucon Lima Jari &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Teman-teman pasti tidak asing lagi dengan istilah mengetik dengan sepuluh jari. Istilah tersebut kian usang oleh berkembangnya teknologi yang memfasilitasi dunia tulis menulis. Mengetik dengan sepuluh jari menandakan zaman kerja keras, kedua tangan diletakkan di atas keyboard dan siap untuk menekan tuts-tutsnya, sementara pandangan mata terfokus ke layar monitor menyaksikan tuts apa saja yang ditik oleh kesepuluh jari itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gaya mengetik semakin maju, saya sudah merasakannya saat iPad milik Jaka itu berada di tanganku. Saya tertawa kecil sambil menggeleng memuju kecanggihan iPad serta kreatifitas &lt;b&gt;Steve Jobs&lt;/b&gt; dalam merancang gadget digital yang sangat manja. Bayangkan saja pemirsa, saat tanga kiri anda memegang gadget ini, sementara lima jari di tangan kanan anda sibuk menari di &lt;i&gt;keyboard screen&lt;/i&gt; iPad, dan pandangan anda tak perlu lagi terganggu karena harus bolak balik memandang monitor dan &lt;i&gt;keyboard&lt;/i&gt;. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ahhhhh, sepulang dari Garasi, kuhampiri teman di kontrakan dan mengatakan padanya bahwa saya &lt;b&gt;pengen punya iPad&lt;/b&gt;, temanku hanya tertawa. Saat dia sibuk mengetik, merangkai kata untuk &lt;i&gt;update&lt;/i&gt; status di &lt;i&gt;facebook&lt;/i&gt;, kusindir dia: Aduhhhhh skarang tidak jaman lagi mengetik dengan sepuluh jari dinda. &lt;b&gt;LIMA JARI donggg !!!!&lt;/b&gt;. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami terbahak-bahak dan pelan-pelan kembali ke dunia nyata!. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Semuanya adalah Sensasi &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Semalaman, sentuhan-sentuhanku pada layar iPad tak bisa kulupakan, entah apakah si iPad juga tak bisa melupakan sentuhanku atau sebaliknya. Perasaan senang saat memangku iPad dengan kedua tanganku, membukanya, mengayunkannya, memutar layarnya, menaksir berapa beratnya...&amp;nbsp;&lt;i&gt;ouhhhhhhh&lt;/i&gt; sensasi itu indah sekali. Belum lagi ketika kubuka Safari dan mengetikkan alamat blogku disana, aku hampir berjingkrak sambil berteriak karena kegirangan melihat blogku dibuka dan tampil di layar iPad yang memukau. &lt;i&gt;Swinggggg swingggg, #terbanggggggggggggg! &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Ouh&lt;/i&gt; dunia, &lt;i&gt;ouhhh&lt;/i&gt; teknologi, &lt;i&gt;ouhhhh&lt;/i&gt; perkakas digital yang kian tahun kian memanjakan perasaan, merangsang titik-titik sensasi dalam diri hingga rasanya ada yang berpendar berpendar seperti permukaan laut yang berlinang cahaya. Sejenak kesadaranku hampir hilang didorong keinginan untuk memiliki iPad, tujuanku hanya satu yakni untuk memaksimalkan kegiatan menulis dan &lt;i&gt;update&lt;/i&gt; blog. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Belakangan baru kusadari bahwa ada sekitar 60.000 aplikasi yang &lt;i&gt;available&lt;/i&gt;, menunggu para pengguna iPad memaksimalkannya, sementara saya hanya memimpikan iPad untuk kegiatan menulis? Hanya 1 aplikasi yang ingin kupenuhi diantara 60.000 aplikasi digital yang tersedia. Ahhhh saya mulai gila, sensasi sudah mulai menjadi monster berbusana cantik, mirip Camilla belle dalam gaun latin yang indah, atau seperty Mary Elizabeth Winstead dalam busana sporty sambil tersenyum dengan matanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benarkah saya benar-benar menginginkan iPad??? Jawabannya tentu saja YA saya benar-benar menginginkannya, akan tetapi saat pulang dari menyaksikan konser Kirsten Dunts dan bertemu dengan seorang yang misterius, berambut keriting dan berkulit hitam dan penuh senyum keramahan (mungkin dia adalah Morgan Freeman) bertanya kepadaku, &lt;span style="color: #990000;"&gt;&lt;b&gt;“APAKAH KAU BENAR-BENAR MEMBUTUHKANNYA???”&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;, saya terperanjat dan mulai berfikir lebih jernih.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;kunjungi juga;
www.kalsumedia.co.nr&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/643697286673093681-4776454626023155394?l=chengxplore.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/e9jxLlqxqUt7kbi-lVhHITji-v8/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/e9jxLlqxqUt7kbi-lVhHITji-v8/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/e9jxLlqxqUt7kbi-lVhHITji-v8/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/e9jxLlqxqUt7kbi-lVhHITji-v8/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ChengXplore/~4/L5t1c09GWLo" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://chengxplore.blogspot.com/feeds/4776454626023155394/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://chengxplore.blogspot.com/2011/12/pengen-punya-ipad.html#comment-form" title="3 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default/4776454626023155394?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default/4776454626023155394?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ChengXplore/~3/L5t1c09GWLo/pengen-punya-ipad.html" title="Pengen Punya iPad !!!" /><author><name>Cheng Prudjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03932155262964597384</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_7Y4frbrIS4A/S1VOeDG9uUI/AAAAAAAAAYY/zliayXfpJds/S220/mash+muda+dl.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-fIqVfrPB5to/Tv3OvIqp3mI/AAAAAAAAArU/iBZXiCgnnZ0/s72-c/marilyn_monroe.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>3</thr:total><feedburner:origLink>http://chengxplore.blogspot.com/2011/12/pengen-punya-ipad.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0IEQXwyeip7ImA9WhRWEUo.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-643697286673093681.post-6736137670969735674</id><published>2011-12-30T00:25:00.001+07:00</published><updated>2011-12-30T00:25:00.292+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-30T00:25:00.292+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="urusan kuliah" /><title>Konsekuensi Sosial dan Kultural Televisi</title><content type="html">&lt;m:smallfrac m:val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:rmargin m:val="0"&gt;    &lt;m:defjc m:val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent m:val="1440"&gt;    &lt;m:intlim m:val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim m:val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;  &lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-IX6e6O78p78/Tvn-8chkZtI/AAAAAAAAAq0/qDfQC37N130/s1600/televisi+sosial.jpeg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-IX6e6O78p78/Tvn-8chkZtI/AAAAAAAAAq0/qDfQC37N130/s1600/televisi+sosial.jpeg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 6pt 0in 3pt;"&gt;&lt;b&gt;Konsekuensi Sosial Televisi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 6pt 0in 3pt;"&gt;Konsekuensi sosial televisi sebagai teknologi komunikasi bisa dilihat pada berubahnya hubungan individu dengan individu, individu dengan komunitas, individu dengan lembaga sosial (seperti kelurahan, kecamatan, kabupaten propinsi dan negara), individu dengan media massa, komunitas dan media massa, komunitas dengan lembaga sosial, tentu saja setelah pemakaian teknologi komunikasi. Adanya perubahan hubungan tersebut, tidak pernah direncanakan oleh konsumen, hanya saja para pengguna atau masyarakat beradaptasi atas perubahan hubungan sebagai pengalamannya berinteraksi dengan televise sebagai media massa yang juga diakses oleh oreng lain (massa). Adaptasi tersebut akhirnya mewujudkan suatu system makna sendiri kemudian direkonstruksi ke dalam kehidupan sehari-harinya sehingga perubahan hubungan yang terjadi seolah-olah datang begitu saja. Sehubungan dengan kenyataan di atas terdapat dua konsekuensi sosial televisi yang penting, yaitu:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 6pt 0in 3pt 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Berubahnya (sensitifitas) Hubungan Sosial&lt;br /&gt;
Jika hubungan antara dua komponen masyarakat berubah, katakanlah antara seorang individu dan individu lain karena televisi, maka sudah terjadi konsekuensi sosial. Bisa saja perubahan itu berawal dari sense dia mengenai orang lain. Tetapi, pada saat seorang individu mulai memikirkan sensenya tentang orang lain, menurut Steven G. Jones, sesungguhnya dia juga mernikirkan sense dia tentang siapa dirinya, siapa dirinya di antara orang-orang lain dan ingin menjadi apa dirinya (1998:2). Kalau sudah begini, perubahan hubungan sosial tersebut berasal dari konstruksi seorang individu tentang individu lain, tentu saja sebagaimana representasi suatu masyarakat dalam tayangan acara televisi.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 6pt 0in 3pt 0.5in;"&gt;Persoalan yang barangkali muncul adalah, apakah perubahan hubungan sosial karena pemakaian teknologi komunikasi mengarah pada kebaikan? Tidak mudah menjawabnya. Yang jelas, sebuah teknologi komunikasi (tentu saja televise salah satunya) selalu memiliki efek samping. Misalnya, pengaruh televisi dengan program hiburan lawak, atau sejenisnya banyak mengandung umpatan atau ejekan kepada orang jelek rupa, sehingga dalam keseharian audiens, penonton bias jadi membatasi pergaulan mereka hanya pada orang-orang yang baik rupa saja.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 6pt 0in 3pt 0.5in;"&gt;Atau dalam kehidupan matrialistik ala televisi, keterbatasan hubungan atau keterbukaan hubungan seseorang dipengaruhi oleh gaya hidup dan pengaruhnya di tengah masyarakat atau komunitas. Perbedaan gaya hidup sangat mempengaruhi sensitifitas hubungan sosial.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 6pt 0in 3pt 0.5in;"&gt;Konsekuensi sosial lainnya adalah melalui bantuan komputer dengan bantuan internet, televise makin mudah menjadi referensi, sehingga untuk proses pembelajaran atau pendidikan mengenai suatu hubungan antar masyarakat atau komunitas, audiens dengan mudah dapat mengimitasi perilaku dari apa yang ditontonnya di televisi. Hal ini mendorong rusaknya pemahaman atas realitas semu yang mengakibatkan biasnya dunia nyara dan dunia fantasi/kreasi manusia yang ditampilkan oleh televisi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 6pt 0in 3pt 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;2.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Transformasi Sosial.&lt;br /&gt;
Televisi mendorong munculnya transformasi sosial dari tradisionalisme menuju keterbukaan informasi (demoktarisme). &lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 6pt 0in 3pt 0.5in;"&gt;Dengan keterbukaan informasi, pelan-pelan masyarakat akan terbuka untuk dunia luar sehingga interaksi antar masyarakat pun terjadi, dalam proses interaksi ini, saling mempengaruhi atau penyetuan budaya (akulturasi) membuat suatu nilai yang dianut oleh masyarakat tertentu tentu saja akan berubah.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 6pt 0in 3pt 0.5in;"&gt;Hadirnya masyarakat yang yang terbuka dan mulai demokratis, akan bersikap pluralistic menanggapi setiap fenomena sosial yang mencerminkan keterlibatannya dalam masyarakat. Misalnya posisi atau peran masyarakat dalam politik pemerintahan (proses terwujudnya demokrasi) akan mendorong terbentuknya pemerintahan yang terbuka (open government) pula. Pemerintahan yang terbuka sudah dianut oleh banyak Negara demokratis. la ditandai dengan, seluruh kegiatan pemerintah harus bisa diikuti dan dipantau oleh khalayak melalui televisi (dan media lain tentu saja) dan &amp;nbsp;informasi yang dikuasai oleh pemerintah dapat disaksikan oleh audiens atau khalayak. Dengan demikian, tiga parameter utama pengelolaan negara yang baik (Goodgovernance), seperti akuntabilitas, transparansi dan partisipasi dipenuhi oleh pemerintahan yang terbuka. Goodgovernance sendiri sekarang sudah menjadi salah satu ukuran eksistensi sebuah negara.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 6pt 0in 3pt 0.5in;"&gt;Transformasi sosial lainnya adalah berubahnya pandangan masyarakat terhadap pemahaman akan Gender, eksistensi kaum wanita menunjukkan bahwa mereka dapat tampil eksis, walaupun banyak perdebatan yang menyebutkan bahwa televisi memanfaatkan kecantikan perempuan untuk menarik perhatian penonton demi kepentingan rating/iklan. Sebenarnya ada banyak pengaruh ideologis yang mendorong terjadinya transformasi sosial di masyarakat.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 6pt 0in 3pt 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 6pt 0in 3pt;"&gt;&lt;b&gt;Konsekuensi Kultural Televisi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 6pt 0in 3pt;"&gt;Sebagaimana telah sering diulangi dalam catatan analitis ini, bahwa televisi berperan atas hadirnya realitas semu yang membuat penonton atau khalayak kebingungan menentukan mana kenyataan yang benar dan mana yang semu, pelan-pelan fantasi realitas televisi mulai menjadi keinginan atau mendorong halayak muntuk mengadaptasi nilai yang ilutif ala televisi ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 6pt 0in 3pt;"&gt;Lebih jauh, konsekuensi cultural televisi juga akan dipaparkan dengan mengajukan dua konsekuensi besar.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 6pt 0in 3pt 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Perubahan Sistem Nilai dan Norma&lt;br /&gt;
Ada banyak sekali nilai dan norma yang ditawarkan oleh televisi untuk para penontonnya, banyaknya program acara dan beragamnya production house yang menancapkan idenya kepada penonton, menjadikan penonton bak pengebara di hutan rimba.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 6pt 0in 3pt 0.5in;"&gt;Dengan banyaknya realitas yang terpanpang di kotak ajaib tersebut, pera penonton jika memahaminya dapat saja memilih dengan indicator penilaian tersendiri, mana nilai atau norma yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata, namun jika lalai, perilaku atas imitasi dari realitas semu ini akan merubah kehidupan kita.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 6pt 0in 3pt 0.5in;"&gt;Contohlah misalnya popularitas boyband yang kian marak, setiap remaja mulai ditarik memasuki pusaran tersebut, sehingga setiap remaja seperti ingin membuat atau menjadi boyband dibandingkan jadi presiden dan mengembangkan Negara Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 6pt 0in 3pt 0.5in; text-indent: -0.25in;"&gt;2.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Dehumanisasi&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 6pt 0in 3pt 0.5in;"&gt;Ada kemungkinan konsekuensi televisi mendorong lahirnya dehumanisasi atau kurangnya penghormatan seseorang terhadap orang lain. Konsekuensi ini dipengaruhi oleh konsekuensi di atas. Dehumanisasi dapat dilihat dengan jelas ketika pengaruh iklan atau tayangan komersial atau kriminal ditayangkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 6pt 0in 3pt 0.5in;"&gt;Jika di ranah sosial dikenal istilah perubahan perilaku, secara cultural perubahan ini didorong oleh perubahan pemahaman. Dengan televisi terjadi perubahan pemahaman terhadap manusia itu sendiri. Dalam memandang manusia, seseorang akan mengikutkan aspek lain untuk memutuskan bagaimana menanggapi orang tersebut. Misalnya, jika penonton film action, penonton akan melihat bahwa si penjahat pasti tak akan pernah menyesali perbuatannya dan akan terus bersikap jahat hingga dia mati, dan si pahlawan akan menjadi pujaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 6pt 0in 3pt 0.5in;"&gt;Pikiran bahwa penjahat tidak akan berubah dan selamanya akan menjadi penjahat adalah pikiran yang dehumanis yang menjadikan manusia hidup menerima kenyataan bahwa dia tak dapat merubah nasib, padahal kemungkinan si penjahat untuk menjadi baik akan tetap ada.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin: 6pt 0in 3pt 0.5in;"&gt;Dapat dilihat perilaku masyarakat di kehidupan nyata, pesan orang tua terhadap anaknya biasanya mengingatkan bahwa jangan berteman dengan anak yang nakal. Sehingga orang jahat dihindari, termarginalkan dan tidak lagi diajak dalam suatu aktifitas sosial.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;kunjungi juga;
www.kalsumedia.co.nr&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/643697286673093681-6736137670969735674?l=chengxplore.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ZXK5tbKQTjrL5HI3v1X-D3qe4a0/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ZXK5tbKQTjrL5HI3v1X-D3qe4a0/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ZXK5tbKQTjrL5HI3v1X-D3qe4a0/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ZXK5tbKQTjrL5HI3v1X-D3qe4a0/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ChengXplore/~4/HVHFrLafXMI" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://chengxplore.blogspot.com/feeds/6736137670969735674/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://chengxplore.blogspot.com/2011/12/konsekuensi-sosial-dan-kultural_30.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default/6736137670969735674?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default/6736137670969735674?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ChengXplore/~3/HVHFrLafXMI/konsekuensi-sosial-dan-kultural_30.html" title="Konsekuensi Sosial dan Kultural Televisi" /><author><name>Cheng Prudjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03932155262964597384</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_7Y4frbrIS4A/S1VOeDG9uUI/AAAAAAAAAYY/zliayXfpJds/S220/mash+muda+dl.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-IX6e6O78p78/Tvn-8chkZtI/AAAAAAAAAq0/qDfQC37N130/s72-c/televisi+sosial.jpeg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://chengxplore.blogspot.com/2011/12/konsekuensi-sosial-dan-kultural_30.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUAHQ3o6cSp7ImA9WhRVGEs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-643697286673093681.post-1188674452313558722</id><published>2011-12-28T23:25:00.012+07:00</published><updated>2012-01-18T13:22:12.419+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-18T13:22:12.419+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Resolusi Juara" /><title>Menyadarkan Manusia untuk Memaksimalkan Internet (Resolusi Juara 2012)</title><content type="html">&lt;b&gt;Perkembangan internet di Indonesia kian pesat&lt;/b&gt;, murahnya harga laptop dan tersedianya jaringan &lt;i&gt;wifi &lt;/i&gt;membuat akses ke dunia internet makin mudah, belum lagi gencarnya konsumsi &lt;i&gt;handphone&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;gadget&lt;/i&gt; yang menawarkan fasilitas berinternet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-m5TFu2K3wEA/TvtNRkdplzI/AAAAAAAAArA/90nbun7JwEY/s1600/internet+dan+manusia.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="memaksimalkan internet" border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-m5TFu2K3wEA/TvtNRkdplzI/AAAAAAAAArA/90nbun7JwEY/s1600/internet+dan+manusia.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Kita pun butuh nuansa reflektif dalam berinternet !!!&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Namun harus disayangkan, interaksi antara manusia dengan internet belum maksimal, internet masih dikonsumsi (secara buta) sebagai wahana hiburan yang kaku, para pengguna internet kurang produktif dan tidak menyadari bahwa internet dapat "berbuah manis" dalam kehidupan. Maraknya kegiatan &lt;i&gt;Internet Marketing&lt;/i&gt; menjadi salah satu bukti bahwa internet bukan sekedar hiburan, media membagikan dan mengunduh data atau sekedar membaca berita. Perlu disayangkan, aktifitas berinternet yang kaku dan buta, apalagi ketika secara pelan-pelan &lt;b&gt;kesadaran manusia&lt;/b&gt; dipengaruhi oleh kenyataan yang dibentuk oleh dunia internet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bayangkan jika internet digunakan dengan penuh kesadaran dan sebuah visi (rencana). Di sisi kemanusiaan (humaniora), &lt;b&gt;&lt;span style="color: #0b5394;"&gt;internet dapat menjadi media untuk menyuarakan panggilan kemanusiaan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; untuk membantu atau menolong manusia yang kesulitan, dengan internet suara kemanusiaan akan didengar oleh lebih banyak orang bahkan melewati batas-batas antar Negara. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Belum lagi jika internet menjadi penyatu dimana informasi dan identitas kebudayaan dipertukarkan disana, sehingga kita dapat belajar tentang budaya masyarakat tertentu langsung dari pelakunya, tidak mesti lagi melalui buku atau media pendidikan lainnya, &lt;i&gt;ohhh&lt;/i&gt; betapa indahnya jika internet dimaksimalkan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Persoalannya, banyak diantara pengguna internet yang tidak memiliki visi dalam berinternet, sehingga mereka memanfaatkan internet secara buta, tidak ada usaha membangun suatu cita kemanusiaan yang jelas. Mereka sibuk mengupdate status di facebook, &lt;i&gt;ngobrol&lt;/i&gt; dengan santai di twitter, memanfaatkan google untuk menyelesaikan tugas kuliah secara &lt;i&gt;instant&lt;/i&gt;, mengunjungi daerah lain dan berkenalan dengan situs porno, membandingkan mana wanita paling seksi diantara ratusan Negara atau jutaan ras manusia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://telkomspeedy.com/" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img alt="resolusi internet" src="http://telkomspeedy.com/gambar/blogcontestspeedy.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Maka perlu dibangun sebuah visi (resolusi) atau sebuah pencapaian dalam pemanfaatan internet sebagai salah satu teknologi komunikasi yang hadir untuk membantu kemudahan berkomunikasi dan &lt;i&gt;sharing&lt;/i&gt; data.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b style="color: red;"&gt;Resolusi Juara 2012 dan Jutaan Kata Semoga!&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Memasuki tahun 2012 (jadi &lt;i&gt;inget&lt;/i&gt; film 2012, &lt;i&gt;ngeriiii&lt;/i&gt;) saya mencoba membangun resolusi yang realistis khusus di bidang internet. Beberapa resolusi atau pencapaian dalam dunia internet antara lain;&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;b&gt;1.       Semakin produktif dan aktif dalam pengelolaan blog sehingga target pengunjung minimal seribu per hari dapat tercapai&lt;/b&gt;. Saya selalu membayangkan blogku dikunjungi minimal 1000 pengunjung setiap hari. Tanpa adanya klik iklan yang mereka lakukan di blog, saya pasti senang sekali, apalagi keseribu pembaca atau pengunjung tersebut adalah pembaca loyal yang bersedia berbagi pemikiran di blogku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2.       Membangun komunitas online&lt;/b&gt;, salah satunya adalah komunitas &lt;b style="color: lime;"&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/groups/144453465664787/"&gt;Blogger Kampus Putih&lt;/a&gt; &lt;/b&gt;&lt;span style="color: lime;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;(&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Universitas Muhammadiyah Malang), blogger ini sudah harus &lt;i&gt;booming&lt;/i&gt; dalam 2 bulan ke depan dan semakin remai dibicarakan sebelum penerimaan mahasiswa baru di Universitas Muhammadiyah Malang. Dengan adanya komunitas online, berbagai kegiatan dapat dilakukan, misalnya dengan kampanye melek media/internet, kampanye blogging atau kampanye blokir situs porno dan lainnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3.       Memahami pola komunikasi interaktif di dunia internet&lt;/b&gt;. Sebenarnya sudah lama pertanyaan tentang pola atau metode komunikasi yang terjadi secara interaktif di media internet mengawang di fikiranku. Sebagai mahasiswa ilmu komunikasi, pertanyaan ini adalah PR yang sangat besar. Komunikasi antar personal yang banyak dijelaskan adalah ketika komunikasi tersebut berlangsung dengan tatap muka, sementara interaksi melalui &lt;i&gt;videocall&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;voicecall&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;chating&lt;/i&gt; belum mendapatkan penjelasan. Hal paling sulit kupahami adalah persoalan identitas personal dalam dunia internet. Semoga sebuah karya ilmiah tentang pola, metode dan proses komunikasi di internet dapat berhasil dan mendapatkan tempat di tengah pembaca. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Lalu apa yang akan dilakukan setelah memahami?&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;Tentu saja dengan adanya penjelasan ilmiah terkait hal ini, kita dapat mengelola wacana dan opini publik di dunia komunikasi, mengidentifikasi kata kunci yang berkembang dan menaksir suatu masa depan. Dengan usaha ini, kita dapat menyelamatkan pikiran manusia dari jeratan realitas palsu yang antisosial. &lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;br /&gt;
4.       Resolusi selanjutnya adalah &lt;b&gt;berlatih untuk menjadi manusia yang merdeka dari penjajahan internet&lt;/b&gt;, saya tidak mau dunia internet lebih menyenangkan dibanding dunia nyata, sehingga aktifitas sosialku terhambat dan tidak berguna bagi banyak orang, sementara di luar sana (di dunia nyata) banyak orang membutuhkan pertolongan. Saya harus tetap kuat menghadapi godaan hidup bebas di dunia internet yang memungkinkan kita menjelajahi dunia dengan beribu identitas yang berbeda. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Oia, resolusi lainnya mungkin soal hal teknis, &lt;b&gt;ingin punya komputer yang terus terhubung ke internet, dan tentu saja ingin koneksi internet yang seperti di iklan&lt;/b&gt;, bukan seperti kenyataannya (&lt;i&gt;hehehehe&lt;/i&gt;).  &lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Ahhh&lt;/i&gt;, semoga resolusi ini dapat mewujud dan menjadi awal dari semangat bekerja keras menghadapi kerasnya kehidupan. Hingga saat ini, banyak refleksi dibutuhkan untuk sadar bahwa “&lt;i&gt;KITA SEDANG BERINTERNET&lt;/i&gt;”, sehingga kita tahu ribuan konsekuensi (baik positif maupun negatif) mengancam kepala kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="color: #990000;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Lalu apa resolusi berinternetmu di tahun 2012?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;kunjungi juga;
www.kalsumedia.co.nr&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/643697286673093681-1188674452313558722?l=chengxplore.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_VqOfeemwzY7MV5YOhUTZMwYq0o/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_VqOfeemwzY7MV5YOhUTZMwYq0o/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_VqOfeemwzY7MV5YOhUTZMwYq0o/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/_VqOfeemwzY7MV5YOhUTZMwYq0o/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ChengXplore/~4/ycqFnXo7YYY" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://chengxplore.blogspot.com/feeds/1188674452313558722/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://chengxplore.blogspot.com/2011/12/menyadarkan-manusia-untuk-memaksimalkan.html#comment-form" title="161 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default/1188674452313558722?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default/1188674452313558722?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ChengXplore/~3/ycqFnXo7YYY/menyadarkan-manusia-untuk-memaksimalkan.html" title="Menyadarkan Manusia untuk Memaksimalkan Internet (Resolusi Juara 2012)" /><author><name>Cheng Prudjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03932155262964597384</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_7Y4frbrIS4A/S1VOeDG9uUI/AAAAAAAAAYY/zliayXfpJds/S220/mash+muda+dl.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-m5TFu2K3wEA/TvtNRkdplzI/AAAAAAAAArA/90nbun7JwEY/s72-c/internet+dan+manusia.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>161</thr:total><feedburner:origLink>http://chengxplore.blogspot.com/2011/12/menyadarkan-manusia-untuk-memaksimalkan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkUMQX07fSp7ImA9WhRWEEk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-643697286673093681.post-4932136877574749464</id><published>2011-12-28T11:58:00.001+07:00</published><updated>2011-12-28T11:58:00.305+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-28T11:58:00.305+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="My Notes" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Activities" /><title>Teater dan Politik adalah Seni (?)</title><content type="html">Suatu sore, seorang teman tampak sedang bersemangat mendiskusikan teater. Diskusi mereka semakin luas dan akhirnya menyerempet ke dunia politik. Walaupun diskusi itu agak kabur, tapi alur yang dimulai dengan ocehan soal teater hingga politik tentu saja tetap saling berkaitan. Tidak jarang panggung teater menjadi media penyampai keresahan “rakyat” atas suatu realias politik. Teater merupakan dunia dimana kehidupan direfleksikan dan disimulasikan dengan rangkaian simbol dalam menyampaikan “teriakan reflektifnya”. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-P5rM-dzinNM/Tvn3I_4ssuI/AAAAAAAAAqo/AZtNau7Xopw/s1600/teater+dan+politik.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="241" src="http://4.bp.blogspot.com/-P5rM-dzinNM/Tvn3I_4ssuI/AAAAAAAAAqo/AZtNau7Xopw/s320/teater+dan+politik.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Bangsa yang demokratis harus punya semangat membangun dunia teater yang merdeka, hidup dan memiliki keterlibatan atau posisi strategis dalam kehidupan kita, salah satunya sebagai media berpolitik. Dapat disaksikan bagaimana jalanan dijadikan panggung dan tembok atau pagar besi (dan pagar betis) menjadi penonton dalam suatu pertunjukan teatrikal oleh para demonstran, aksi teatrikal hingga saat ini masih menjadi strategi yang pas untuk menyuarakan keresahan pemerhati atas kondisi bangsa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setidaknya demikian erat jalinan kasih antara dunia teater atau dunia seni (secara umum) dalam realitas politik. Sayangnya, banyak simbol yang tidak berhasil diterjemahkan oleh “&lt;i&gt;target man&lt;/i&gt;” dalam teater yang dipertunjukkan, alasannya banyak yang menghakimi bahwa pemerintah buta dan tuli bahkan mati rasa, kecuali pemeran teater adalah rupiah barulah mereka peduli. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kembali kepada dua teman yang tetap asik berdiskusi sembari diselingi dengan tegukan segelas kopi. Saya tertarik juga dengan diskusi itu ketika salah satunya mengucapkan bahwa politik itu seni. Politik menuntut permainan peran ketika dituntut oleh kondisi tertentu, dunia politik penuh &lt;i&gt;ackting&lt;/i&gt; dan kebijaksanaan pribadi. Politik itu seni, katanya sekali lagi, seni pengambilan keputusan strategis untuk menanggapi suatu kondisi tertentu termasuk memainkan opini publik, misalkan dalam satu ronde permainan catur, politik adalah segala usaha mematikan lawan (merebut kekuasaan) sekaligus mempertahankan kekuasaan, setiap keputusan memindahkan bidak adalah proses kesenian. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlu diketahui bahwa kedua teman ini adalah penggemar catur, walaupun ada yang masih amatiran. Namun mereka berdua jelas berbeda dalam hal minat, teman yang bernama Sandro (Alexandro) memiliki minat dalam dunia kesenian khususnya teater, sementara Brek (Brekele) memiliki minat dan kecakapan di dunia politik. Saya sendiri, selaku penonton atas pentas teater yang mereka mainkan, hanyalah babu kapitalisme yang sudah puas memperhatikan diskusi mereka berdua sambil menikmati sebatang Sampoerna. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menanggapi diskusi mereka berdua, teater dan politik merupakan saudara kembar, hanya karakteristik saja yang membedakan, misalnya dalam dunia teater sang artis mendalami peran dan makna yang dimainkannya, agar penonton menemukan makna (semangat) atas refleksi simbolik tersebut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara politik adalah permainan peran dimana pelakunya mempermainkan peran untuk mempengaruhi bahkan membentuk suatu citra real penontonnya. Kegiatan politik (praktis) merupakan prosesi menghipnosi penonton agar tepuk tangan, senyum, tawa, ya atau tidak dapat diputuskan oleh sang pemeran. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oia, dalam dunia teater, segala laku aktor adalah usaha menghibur para penonton dengan memaksimalkan kemampuannya merepresentasika ide sutradara menjadi gerak interpretatif. Sementara dalam dunia politik, sang pemeran berusaha dengan sekuat tenaga memainkan segala bentuk citra agar dia dan sang sutradara merasa terhibur dan puas atas respon audiens yang telah dihipnotisnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pikiran di atas membuatku mematung, seorang teman lain menyapa dengan komentar mengapa saya tampak lemas, tidak bersemangat dan seperti kebingungan membayar hutang trilyunan sementara dapur di rumah sendiri tidak pernah berasap. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya bingung!”, Kataku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bingung kenapa?”. Taya teman dengan empati. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bayangkan jika politik benar-benar seni, bayangkan jika politik adalah saudara teater! Bukankah selama ini kita hidup dalam dunia yang palsu? Entah sebagai penonton atau pemeran atau bahkan sutradara. Tidak mungkin dunia yang palsu memiliki Negara makmur, damai, dan sentosa. Semua yang palsu adalah rongsokan!”. Kataku dalam hati, temanku ikut bingung memperhatikan kebingunganku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;kunjungi juga;
www.kalsumedia.co.nr&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/643697286673093681-4932136877574749464?l=chengxplore.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Q8bqROExdpk-6etQWygX6RNwI_I/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Q8bqROExdpk-6etQWygX6RNwI_I/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Q8bqROExdpk-6etQWygX6RNwI_I/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/Q8bqROExdpk-6etQWygX6RNwI_I/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ChengXplore/~4/7pbF6lOKg9E" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://chengxplore.blogspot.com/feeds/4932136877574749464/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://chengxplore.blogspot.com/2011/12/teater-dan-politik-adalah-seni_28.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default/4932136877574749464?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default/4932136877574749464?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ChengXplore/~3/7pbF6lOKg9E/teater-dan-politik-adalah-seni_28.html" title="Teater dan Politik adalah Seni (?)" /><author><name>Cheng Prudjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03932155262964597384</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_7Y4frbrIS4A/S1VOeDG9uUI/AAAAAAAAAYY/zliayXfpJds/S220/mash+muda+dl.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-P5rM-dzinNM/Tvn3I_4ssuI/AAAAAAAAAqo/AZtNau7Xopw/s72-c/teater+dan+politik.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://chengxplore.blogspot.com/2011/12/teater-dan-politik-adalah-seni_28.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0IBSXw4fSp7ImA9WhRWEE0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-643697286673093681.post-2462907583911524885</id><published>2011-12-27T23:34:00.002+07:00</published><updated>2011-12-28T00:05:58.235+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-28T00:05:58.235+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="My Notes" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ikami sulsel" /><title>Meninggikan Konsep di atas Ketua Umum; Menuju Munas IKAMI Sulsel</title><content type="html">&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-dU23cfUXJTM/Tvn2_t_ZvWI/AAAAAAAAAqc/HcmERJkhBT8/s1600/konsep+ikami+sulsel.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img alt="munas ikami sulsel" border="0" height="275" src="http://4.bp.blogspot.com/-dU23cfUXJTM/Tvn2_t_ZvWI/AAAAAAAAAqc/HcmERJkhBT8/s320/konsep+ikami+sulsel.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Musyawarah Nasional (Munas) IKAMI Sulsel semakin dekat di depan mata, forum permusyawaratan yang biasanya bermetamorfosa menjadi forum silaturahmi tahunan antar perantau di berbagai daerah di Indonesia, menuntut perhatian yang besar. Munas adalah kegiatan sacral yang menentukan gerak organisasi selama dua tahun ke depan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam ajang Munas ini, setiap cabang yang menjadi peserta dan pemilik hak musyawarah tentu akan berhadapan dengan tiga agenda besar, yakni mendengarkan Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) dan meminta klarifikasi atas kinerja Pengurus Besar (PB) IKAMI Sulsel, merancang “perangkat lunak” organisasi seperti AD/ART dan konsep pelaksanaan ata tata kelola organisasi yang mendasar serta rekomendasi, dan tentu saja memilih punggawa yang akan bertanggung jawab atas keputusan-keputusan Munas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja kita mengetahui bahwa ketiganya memiliki peran yang penting dalam menentukan berlangsungnya organisasi professional yang modern. LPJ dibutuhkan guna meminta pertanggung jawaban dari para pengurus atas seluruh gerak-geriknya atas nama IKAMI Sulsel berdasarkan pada keputusan Munas sebelumnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rumusan “Perangkat lunak” organisasi menjadi bagian paling krusial dalam kegiatan permusyawaratan, “Perangkat lunak” inilah yang menuntun para aktivis IKAMI Sulsel dalam menghidupkan organisasi, tanpa rumusan ini, IKAMI Sulsel bak petualang yang menjelajahi rimba tanpa bantuan kompas. Dan agenda terakhir adalah pemilihan Ketua Umum. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang terakhir ini sangat sulit dijelaskan, sebenarnya Ketua Umum dalam organisasi modern seperti IKAMI Sulsel hanya bertindak sebagai pengarah, mengakumuliasi segala ide dan kepentingan antar kelompok (cabang misalnya) dan memanfaatkannya utuk keuntungan bersama dan kemajuan organisasi. Persoalan penentuan kebijakan organisasi, Ketua Umum tidak mandiri dan bebas bertindak semena-mena, kebijakan harus berlandaskan pada rumusan konsep pengelolaan organisasi yang telah digodok dan disepakati sebagai bersama. Memang tak salah jika mensejajarkan Ketua Umum dengan pelayan dalam hal kerja pelayanannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun walaupun begitu, agenda pemilihan Ketua Umum seperti menjadi puncak dari perayaan Munas, kesibukan menghadapi Munas di Cabang jangan sampai adalah kegiatan membaca dan membuat peluang untuk menduduki jabatan tertinggi di PB IKAMI Sulsel. Sementara perumusan konsep gerakan organisasi ditelantarkan, parahnya lagi jika panitia pelaksana juga (larut) lebih memfokuskan agenda pencalonan dan pemilihan Ketua Umum, dibandingkan perumusan “Perangkat lunak” organisasi. IKAMI Sulsel yang kita cintai ini hanya &lt;i&gt;jolloro&lt;/i&gt; yang terombang-ambing di tengah samudra. Hanya &lt;i&gt;jolloro&lt;/i&gt; (bahkan mungkin &lt;i&gt;lepa-lepa&lt;/i&gt;), bukan kapal atau pinisi !!!. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Musyawarah Nasiona IKAMI Sulsel semakin dekat dengan ambang mata. Setiap gerakan mata untuk membaca catatan ini mengantarkan kita semakin dekat ke ajang sakral itu. Mungkin rindu saling bertatap di forum Munas semakin membuncah, atau rasa penasaran sudah kelewat besar untuk mengetahui siapa sosok dibalik eksistensi dan cemerlangnya IKAMI Sulsel di cabang pada suatu daerah tertentu. Namun semoga kita tetap ingat bahwa Munas adalah satu langkah menuju semesta kesuksesan, langkah lainnya adalah kerja keras. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Mari meninggikan konsep di atas Ketua Umum !!! &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-_YpDCo1ZjaI/Tvn2UaziIJI/AAAAAAAAAqQ/1iYkZUKOaQU/s1600/rumah.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="ikami sulsel adalah rumah" border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-_YpDCo1ZjaI/Tvn2UaziIJI/AAAAAAAAAqQ/1iYkZUKOaQU/s1600/rumah.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Munas dan Perjamuan Keluarga Besar &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Pernahkah terbayang di benak pembaca bahwa IKAMI Sulsel adalah sebuah keluarga? Pernahkah terbersit di hayalan bahwa Munas IKAMI Sulsel, adalah perjamuan keluarga besar yang anggotanya duduk mengelilingi meja bundar dan membicarakan kegiatan liburan di akhir pekan tanpa memusingkan siapa yang harus menjadi sopir? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kondisi di atas, bukankah pembicaraan soal rencana liburan menjadi topik utama? Misalnya menentukan tujuan kemana kita akan berlibur, bagaimana konsep kegiatan agar liburan jadi menyenangkan, atau tentang apa saja yang perlu disediakan, dll. Sementara soal pemimpin rombongan keluarga atau sopir ditentukan dengan bebas, tanpa banyak embel-embel dan saling berebut, sehingga forum mulai terpecah karena dukungan yang berbeda. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Marilah kita saling menjamu dan menjadi anggota keluarga yang baik dan cerdas, menghindari pertengkaran karena dipecah oleh keberpihakan anggota keluarga terhadap seorang kandidat. Biarkanlah kandidat hidup dalam dunia politiknya sendiri, merayu kita dengan kata-kata manis, sementara cabang-cabang (sebagai anggota keluarga) fokus pada pengembangan konsep organisasi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Toh, kita semua sudah mulai besar sebagai sebuah keluarga dan semakin matang dalam menentukan pilihan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;kunjungi juga;
www.kalsumedia.co.nr&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/643697286673093681-2462907583911524885?l=chengxplore.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/px98ZEB8rnL5Fnv_749fSviXQZg/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/px98ZEB8rnL5Fnv_749fSviXQZg/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/px98ZEB8rnL5Fnv_749fSviXQZg/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/px98ZEB8rnL5Fnv_749fSviXQZg/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ChengXplore/~4/3G46ZMyBkCw" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://chengxplore.blogspot.com/feeds/2462907583911524885/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://chengxplore.blogspot.com/2011/12/meninggikan-konsep-di-atas-ketua-umum.html#comment-form" title="3 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default/2462907583911524885?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default/2462907583911524885?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ChengXplore/~3/3G46ZMyBkCw/meninggikan-konsep-di-atas-ketua-umum.html" title="Meninggikan Konsep di atas Ketua Umum; Menuju Munas IKAMI Sulsel" /><author><name>Cheng Prudjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03932155262964597384</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_7Y4frbrIS4A/S1VOeDG9uUI/AAAAAAAAAYY/zliayXfpJds/S220/mash+muda+dl.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-dU23cfUXJTM/Tvn2_t_ZvWI/AAAAAAAAAqc/HcmERJkhBT8/s72-c/konsep+ikami+sulsel.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>3</thr:total><feedburner:origLink>http://chengxplore.blogspot.com/2011/12/meninggikan-konsep-di-atas-ketua-umum.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DE8CQ3g7fSp7ImA9WhRXGE4.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-643697286673093681.post-4292656683098388652</id><published>2011-12-25T15:55:00.004+07:00</published><updated>2011-12-26T01:14:22.605+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-26T01:14:22.605+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Activities" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ikami sulsel" /><title>Menuju Munas IKAMI Sulsel; Doa Sang Pertapa</title><content type="html">&lt;b&gt;Sinopsis &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Suatu kala, seorang anggota IKAMI Sulsel mengasingkan diri diakibatkan kebimbangannya terhadap kondisi di sekitarnya. Di pengasingan, dia bertapa, melantunkan doa-doa untuk keselamatan, kesejahteraan dan kemajuan lingkungan di sekitarnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Utang dimana-mana, setiap orang saling berebut kekuasaan, janji tak ada yang ditepati malah diobral dengan murah, kepentingan untuk keuntungan rupiah. Resahlah hati anggota IKAMI Sulsel yang memilih jadi seorang Pertapa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan khusyuk dia membatinkan semesta, mensakralkan IKAMI Sulsel dan mencoba membangun organisasi melalui doa, mungkin dia pikir bahwa organisasi ini jarang didoakan sehingga gerak majunya terhalang, tapi tetap saja doa tidak banyak berguna tanpa kerja keras. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, saat sang Pertapa sedang dibuai kedamaian tapa, datanglah sesosok makhluk mengganggu, lalu terjadilah pertarungan sengit diantara mereka….&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;center&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="390" src="http://www.youtube.com/embed/Nu9g_p32Ixw" width="550"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan lupa berkomentar !!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;kunjungi juga;
www.kalsumedia.co.nr&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/643697286673093681-4292656683098388652?l=chengxplore.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/prgGbqsIkp7ToRn33KHQjc7CEag/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/prgGbqsIkp7ToRn33KHQjc7CEag/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/prgGbqsIkp7ToRn33KHQjc7CEag/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/prgGbqsIkp7ToRn33KHQjc7CEag/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ChengXplore/~4/aZMMREPnDSA" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://chengxplore.blogspot.com/feeds/4292656683098388652/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://chengxplore.blogspot.com/2011/12/menuju-munas-ikami-sulsel-doa-sang.html#comment-form" title="7 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default/4292656683098388652?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default/4292656683098388652?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ChengXplore/~3/aZMMREPnDSA/menuju-munas-ikami-sulsel-doa-sang.html" title="Menuju Munas IKAMI Sulsel; Doa Sang Pertapa" /><author><name>Cheng Prudjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03932155262964597384</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_7Y4frbrIS4A/S1VOeDG9uUI/AAAAAAAAAYY/zliayXfpJds/S220/mash+muda+dl.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://img.youtube.com/vi/Nu9g_p32Ixw/default.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>7</thr:total><feedburner:origLink>http://chengxplore.blogspot.com/2011/12/menuju-munas-ikami-sulsel-doa-sang.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CUAHSXkycCp7ImA9WhRXFUo.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-643697286673093681.post-9043177381571844855</id><published>2011-12-22T23:57:00.002+07:00</published><updated>2011-12-23T00:08:58.798+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-23T00:08:58.798+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Activities" /><title>Nyammanna Coto Makassar !!!</title><content type="html">&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-OP43kVPCvOs/TvNg7rKnL7I/AAAAAAAAAqE/U85EKJ2h6qQ/s1600/makan+coto.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://3.bp.blogspot.com/-OP43kVPCvOs/TvNg7rKnL7I/AAAAAAAAAqE/U85EKJ2h6qQ/s400/makan+coto.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Penulis menikmati Coto di Jl. Gagak&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Coto cukup populer sebagai makanan khas dari Makassar. Di Malang, beberapa warung Coto mengenalkan budaya kuliner dari Makassar. Berbeda dengan asalnya, Coto di Malang banyak mengenakan label Makassar, hanya ada satu label coto yang berbeda yakni Coto Paraikatte di Saujajar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setidaknya label ini menjadi salah satu bahan pembicaraanku dengan seorang teman ketika menikmati coto di bilangan Jl. Galunggung No. 65 (lampu merah Galunggung). Coto Makassar populer di luar Sulawesi, sementara di daerah asal makanan khas ini, istilah Coto Makassar sulit didapati, contoh saja Coto Je’ne Berang, Coto Paraikatte, Coto Maros, dll. Penggunaan label Makassar ini dipengaruhi oleh kondisi Coto secara umum belum dikenal, sehingga dengan menggunakan nama Makassar, para calon pelanggan dapat mengerti bahwa coto merupakan salah satu makanan khas Makassar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Warung coto tempat saya dan seorang teman asli Malang (Arema) yang baru kali itu menikmati menu ini, adalah warung milik Dg. Rudi. Dia sudah memulai usaha kuliner dengan membuka warung Coto Makassar sejak 2003 di Batu. Kondisi usaha kuliner di batu, apalagi warung dengan segmentasi tertentu tidak mendukung, sehingga Dg. Rudi melirik Malang, perkembangan usaha di Kota Malang cukup menjanjikan, dia mengakui bahwa mayoritas pelanggannya adalah orang-orang yang sebelumnya pernah menikmati Coto Makassar, apalagi mereka yang secara langsung berasal dari Sulewesi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dg. Rudi terbantu oleh Mahasiswa asal Sulawesi yang biasanya datang membawa teman untuk menikmati menu Coto Makassar di warungnya. Walaupun agak aneh bagi lidah orang Malang (mungkin) Coto Makassar cukup memberi kesan bagi mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat temanku serius menikmati hidangan Coto Makassar, kukatakan padanya bahwa salah satu yang membuat orang Makassar dinilai kasar disebabkan oleh makanan ini. Temanku kebingungan, ia berhenti memperhatikan mangkuk cotonya dan menatapku penuh tanya. “Setelah makan coto Makassar ini, orang-orang biasanya merasa ingin sekali berkelahi”, kataku padanya. Karena tidak yakin, dia menuntut “ Ohh ya?!!!”. Aku diam saja. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menikmati Coto Makassar bersama teman berbeda budaya yang baru pertama kali menikmatinya membuatku tidak bisa berkonsentrasi menikmati semangkuk coto. Setiap suapan diselingi oleh penjelasan dan pertanyaan tentang coto. Untung saja ada Dg. Rudi yang membantu menjelaskan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam hal budaya kuliner (tata cara makan), Malang (Jawa) dan Makassar tentu saja berbeda, kata Dg. Rudi. Hal ini yang membuat warung Makassar cukup sulit untuk berkembang. Dalam hal budaya misalnya, orang Jawa terbiasa mencampur makanan berkuah dengan nasi secara langsung dalam satu wadah, sementara bagi orang Makassar hal tersebut dipandang kurang pas bahkan dianggap makanan itik (Kanre kiti), penyajian makanan di Makassar memisahkan nasi dan menu berkuah, perbedaan ini lebih jelasnya dengan contoh berikut; jika anda memesan soto si sebuah warung, maka pelayan akan menyajikan semangkuk soto yang telah dicampur nasi, sementara jika memesan sop saudara (misalnya), salah satu menu berkuah khas Makassar, si pelayan akan menyajikan sop saudara dalam satu mangkuk atau wadah tersendiri, dan nasi dalam piring sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dg. Rudi terus melanjutkan bahwa bentuk mangkuk yang lebih cekung (dalam) dan sendok bebek menyulitkan orang-orang Jawa dalam menikmati hidangan. Apalagi saat makan coto dengan ketupat, jika tidak diperhatikan, pelanggan pasti mencampur ketupat ke dalam mangkuk yang sudah berisi coto, padahal seharusnya, ketupat dibelah dua dan dicuil dengan sendok bebek kemudian dicelupkan ke dalam kuah coto. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengan penjelasan ini, temanku Cuma bisa mengangguk. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semangkuk Coto di warung milik Dg. Rudi menunjukkan suatu kenyataan menarik bagiku. Perbedaan cara makan ala orang Jawa dan Makassar mungkin telah sering ditemui, damun baru kusadari saat Dg. Rudi menjelaskannya. Coto Makassar semakin nikmat olehku, sekali lagi aku tergugah olehnya. Aku dilirik teman sambil bertanya, “Bahasa Makassar sedap apa?”. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nyammanna!”, kataku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;center&gt;&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="390" src="http://www.youtube.com/embed/ylvy7l_7J04" width="500"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/center&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;kunjungi juga;
www.kalsumedia.co.nr&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/643697286673093681-9043177381571844855?l=chengxplore.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1tX8yVIURCTXaJJGWb7noAB50-M/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1tX8yVIURCTXaJJGWb7noAB50-M/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1tX8yVIURCTXaJJGWb7noAB50-M/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1tX8yVIURCTXaJJGWb7noAB50-M/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ChengXplore/~4/jOffn_8Xh7Q" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://chengxplore.blogspot.com/feeds/9043177381571844855/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://chengxplore.blogspot.com/2011/12/nyammanna-coto-makassar.html#comment-form" title="2 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default/9043177381571844855?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default/9043177381571844855?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ChengXplore/~3/jOffn_8Xh7Q/nyammanna-coto-makassar.html" title="Nyammanna Coto Makassar !!!" /><author><name>Cheng Prudjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03932155262964597384</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_7Y4frbrIS4A/S1VOeDG9uUI/AAAAAAAAAYY/zliayXfpJds/S220/mash+muda+dl.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-OP43kVPCvOs/TvNg7rKnL7I/AAAAAAAAAqE/U85EKJ2h6qQ/s72-c/makan+coto.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://chengxplore.blogspot.com/2011/12/nyammanna-coto-makassar.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkIGRng6eyp7ImA9WhRQGEo.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-643697286673093681.post-6176592337060008041</id><published>2011-12-13T17:05:00.001+07:00</published><updated>2011-12-14T20:48:47.613+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-14T20:48:47.613+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Activities" /><title>Anak Rantau, Tongkrongan dan Kecantikan</title><content type="html">Ini soal biasa saja, dahulu saya dan beberapa teman senang menghabiskan waktu santai di depan kampus III UMM (sebenarnya di depan Kios Galesong yang memang terletak di depan Kampus III UMM). Disana ada banyak kata, karena menghabiskan waktu dengan kata-kata alias ngobrol adalah pilihan yang paling murah dibandingkan yang lain seperti berselancar di dunia maya, menonton atau mendengarkan musik. &lt;i&gt;Oia&lt;/i&gt; hampir lupa, sebenarnya ngobrol bukan kegiatan menghabiskan waktu kosong yang paling murah, karena yang paling murah adalah duduk diam (bengong) atau malah tidur. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diantara obrolan teman-teman di depan Kios Galesong, tema kecantikan adalah yang paling populer. Pembahasan perihal cantik ini selalu menjadi alternatif paling &lt;i&gt;cihui&lt;/i&gt; ketika tak ada lagi bahan obrolan. Akhirnya diantara perbincangan wanita ini, tersebutlah suatu rumus dimana pagi, siang, sore dan malam hari dapat dibedakan tanpa melihat jam, atau tanpa berpandu dari letak matahari atau kondisi cahaya. Keempat waktu tersebut dapat diketahui dengan melihat dandanan para mahasiswi yang lalu lalang di depan Kios Galesong. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di pagi hari, kebanyakan diantara mereka terlihat segar dan kesannya begitu damai, tanda-tanda istirahat malam yang sempurna terpancar dari  wajah mereka yang masih belum bercampur dengan beban akademik atau urusan lainnya. Di siang hari, kedamaian itu mulai pecah mungkin karena ada tugas atau kepentingan yang saling berkejaran dengan waktu, sehingga siang menjadi puncak stres yang berpengaruh terhadap wajah tentunya. Wajah cemberut menunjukkan si pemiliknya sedang berkeluh kesah, mungkin karena panasnya siang atau padatnya jadwal kuliah sehingga mereka telat menikmati makan siang yang sudah diatur dengan membuat janji untuk makan siang bersama teman, atau lainnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pokoknya siang adalah jadwal pertarungan antara kecantikan tubuh (fisik) dan kecantikan pribadi (&lt;i&gt;inner beauty&lt;/i&gt;). Sehingga banyak diantara teman-teman yang punya hobi nongkrong di depan Kios Galesong memilih siang hari sebagai waktu favorit memantau para mahasiswi. Siapa yang tetap terlihat cantik di siang hari, berjalan dengan tenang dan wajah damai adalah objek pujian, mereka pintar mengatur penampilan sehingga ritme kehidupan tidak mempengaruhi kecantikan fisik mereka, dari dalam kecantikan itu menebar aura yang  mengagumkan, itulah hiburan dari pendar kecantikan yang makin langka di siang hari. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhatian teman-teman akhirnya tertular kepadaku, sehingga kadang kala jika sedang sepi dan kebingungan di kios, saya akan duduk di depan dan menikmati suasana, &lt;i&gt;ahhh&lt;/i&gt; mirip seorang pengangguran berharap dewi fortuna datang menawar  pekerjaan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Oia&lt;/i&gt;, ada pula sore dan malam hari, para mahhasiswi sudah semakin ceria. Di sore hari romantika kehidupan dihidupkan, beberapa pasangan tampak menikmati sore dengan berjalan kaki, mereka yang berkendara tentu saja akan mengunjungi suatu tempat untuk melepas malam. Yang jelas sore adalah masanya kebebasan, dimana manusia lepas dari jeratan urusan duniawi. Kondisi ini tentu saja sangat romantik, mirip sepasang kekasih yang bertemu kembali setelah lama tak bertemu, sementara usaha mereka untuk bertemu sangat memberatkan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sore hari itulah romantika, bukan malam hari. Alasannya malam terlalu bingar untuk suasana romantis, canda-tawa, pesta dan berkumpul dengan komunitas masing-masing adalah kegiatan yang mencerminkan kebingaran tersebut. Di depan kios Galesong berbaris beberapa warung nasi yang biasanya menjadi destinasi mahasiswa dan mahasiswi menikmati pesta, para wanita itu mulai menunjukkan siapa diri mereka, lepaslah citra yang dibentuknya dengan kosmetik yang bertarung bersama terik matahari. Mereka tertawa, terbahak malah. Para wanita yang terbiasa merokok melepas asap dengan penuh kebebasan, atau wanita yang alim saling bercengkrama biasa saja, mengambil tema-tema humor dan tersenyum lepas. Jika ingin mengenali siapa lawan bicaramu, bertemulah mereka di malam hari dan jika ingin menyatakan cinta pada seseorang, cobalah ungkapkan kepada si dia di sore hari. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlu diketahui, bahwa tema cantik ini tidak melulu dibatasi oleh penampilan fisik atau semangat seorang wanita, tentu saja cantik meliputi hal lain diluar wanita, misalnya penampilan mobil yang menarik hati dan memang cantik, melintas di depan kios, selain mobil ada juga motor. Intinya, banyak yang menjadi objek tema obrolan tentang kecantikan, hanya saja (memang) wanita adalah yang paling dominan karena dalam menilai kecantikannya, perangkat citra dalam tubuh kita dipengaruhi oleh libido lelaki normal yang seksual, sehingga diantara wanita cantik yang lewat di depan Kios Galesong, wanita sensuallah yang manduduki peringkat nomor satu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikianlah suatu aktifitas diceritakan ulang, serajin dan sedalam-dalamnya para tukang nongkrong ini membuah-bibirkan kecantikan wanita, tak ada diantara kami yang berhasil menggaet salah satu diantaranya untuk menjadi pacar, pun untuk bercengkrama atau saling menyapa saja tidak. Entah apa alasannya, selain akibat teguranku karena takut Kios Galesong yang segmentasinya adalah mahasiswi akan kena imbas, mungkin dengan menyapa atau mengajak ngobrol, pemantauan dan obrolan perihal cantik ini akan sedikit hambar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nongkrong selalu punya cerita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;kunjungi juga;
www.kalsumedia.co.nr&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/643697286673093681-6176592337060008041?l=chengxplore.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/EBcFgcCmV1lGCrGYaAD-dJWiesg/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/EBcFgcCmV1lGCrGYaAD-dJWiesg/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/EBcFgcCmV1lGCrGYaAD-dJWiesg/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/EBcFgcCmV1lGCrGYaAD-dJWiesg/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ChengXplore/~4/yuHU-rXGC2M" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://chengxplore.blogspot.com/feeds/6176592337060008041/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://chengxplore.blogspot.com/2011/12/anak-rantau-tongkrongan-dan-kecantikan.html#comment-form" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default/6176592337060008041?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default/6176592337060008041?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ChengXplore/~3/yuHU-rXGC2M/anak-rantau-tongkrongan-dan-kecantikan.html" title="Anak Rantau, Tongkrongan dan Kecantikan" /><author><name>Cheng Prudjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03932155262964597384</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_7Y4frbrIS4A/S1VOeDG9uUI/AAAAAAAAAYY/zliayXfpJds/S220/mash+muda+dl.jpg" /></author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://chengxplore.blogspot.com/2011/12/anak-rantau-tongkrongan-dan-kecantikan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A08AQ386eSp7ImA9WhRQGEs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-643697286673093681.post-6659115993970103637</id><published>2011-12-10T14:43:00.004+07:00</published><updated>2011-12-14T20:37:22.111+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-14T20:37:22.111+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Activities" /><title>Mereka Menyanyi Happy Birthday untuk Siapa?</title><content type="html">&lt;b&gt;Al-Kautsar 58 Nyaris Berpesta!&lt;br /&gt;
&lt;/b&gt;Permainan catur antara saya dan Yusran (Siro) belum selesai, masih di tengah perjalanan, kami masih sibuk menysun bidak untuk saling menyerang dan bertahan mengantisipasi serangan. Saat bersiap menggerakkan kuda untuk melakukan skak (dan steer), beberapa perantau berwajah masam, dekil dan bau datang menghampiri sambil menyanyikan lagu “&lt;i&gt;Happy Birthday&lt;/i&gt;”. Saya terharu dan nyaris menitikkan air mata, dengan senyum saya menuntut agar permainan catur kami dilanjutkan karena tadi mereka langsung melipat papan catur tanpa menghiraukan posisi bidak yang menguntungkanku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah menyelesaikan lagu &lt;i&gt;Happy Birthday&lt;/i&gt;, saya dituntut untuk meniup lilin yang ditanam di buah pisang, pisang itu harganya 500 perak, dijual di warung sebelah. Saya masih tetap menuntut untuk dibiarkan melanjutkan permainan catur, lagu &lt;i&gt;happy birthday&lt;/i&gt; dikumandangkan sekali lagi, lebih keras dan dibumbui dengan teriakan &lt;i&gt;eaa eaaa&lt;/i&gt; ala penonton Empat mata yang dipandu Thukul Arwana, para perantau yang berasal dari beberapa daerah di Sulawesi selatan ini semakin gila, mulai beringas dengan teriakan mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja saya dapat menaksir apa yang akan terjadi saat lilin kutiup, sepasang tangan dan kaki akan ramai-ramai dipegang oleh  mereka lalu jadi bulan-bulanan naluri humor, jam masih menunjukkan pukul 09.00, masih pagi sehingga masa siksaan yang mengancam di depan pasti akan sangat panjang, akan berlangsung lebih dari 12 jam, apalagi hari ini adalah hari sabtu, jelas mereka tahu bahwa saya tidak punya jadwal kuliah yang bisa menghambat pesta para monster  berwajah memalukan yang tak pernah dipoles sabun mandi, perlu pembaca ketahui bahwa sebagian diantara mereka adalah makhluk tak teridentifikasi, dia hanya dikenal sebagai ciptaan tuhan yang menyeramkan karena cirri-cirinya, giginya menyedihkan karena dua kali sehari harus digosok dengan batu bata, jika simpanan batu bata habis, mereka tak segan menggosokkan gigi mereka langsung di permukaan tembok yang belum diplester. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kuku tangan mereka menyeramkan, tangan mereka seperti dikutuk karena bentuknya  yang menjijikkan seperti luka bakar yang diserang virus gatal sehingga mengeluarkan nanah. Aih, untung saya baru saja bersantap siang, jika belum pasti tulisan ini tak akan sanggup kuhadirkan untuk teman-teman. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makhluk yang sebagian lagi tidak kalah seram, tubuh mereka besar, seperti balon yang dipompa melebihi tekanan udara normal. Bukan hanya itu, tubuh besar itu dipenuhi tonjolan aneh yang tentu saja bukan otot, jika memang otot pastilah otot cacing di perut mereka yang saking banyaknya tidak dapat ditampung diperut. Jika mereka tersenyum, alamak kiamat sudah dekat. Ingin raasanya mati saja!. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kengerian ini beradu dengan perasaan haru, makhluk aneh ini masih punya hati karena tergerak untuk mengucapkan selamat ulang tahun, tapi saya meragukan dorongan hati mereka. Saya berfikir bahwa ucapan selamat ulang tahun itu hanya omong kosong belaka, hanya peringatan bahwa makhluk-makhluk liar ini akan melakukan sebuah pesta pengorbanan untuk nafsu humor mereka, dan hari ini saya terancam menjadi tumbal. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya sendiri dalam urusan ulang tahun, punya banyak ide yang patut untuk direalisasikan, pernah kusampaikan pada teman, bahwa jika ada yang berulang tahun biarkan saya yang menjadi &lt;i&gt;play maker&lt;/i&gt;nya, saya akan menyiapkan katrol dan tali untuk menggantung si korban di pohon, kebetulan di dekat kontrakan Ikami Sulsel, Al-kautsar 58, ada sebuah pohon keres yang menjadi tempat bertenggernya ayam untuk beristirahat malam. Saya akan menggantungnya disana, sepanjang malam sambil menyanyikan tembang manusia jaman batu, &lt;i&gt;hullala hulalla&lt;/i&gt;. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada juga ide yang lain, kebetulan ada selokan yang tertutup di samping kontrakan para perantau asal Sulsel ini, selokan itu kering dan cukup bersih, namun karena tertutup (bagian atasnya tidak terbuka seperti biasanya) selokan itu jadi mengerikan, tapi bukan teror kengerian yang kuharapkan, saat sang korban dikurung di dalam selokan tersebut, saya akan menyuruh peserta pesta untuk beramai-ramai membuang air kecil dari mulut selokan bagian atas, membiarkan air itu mengalir perlahan-lahan. Dan tentu saja itu tidak cukup, harus ada beberapa ekor tikus yang dikurung disana, kalau perlu lengkap dengan seekor kucing betina. &lt;i&gt;Aih&lt;/i&gt; betapa indahnya jika seorang teman berulang tahun. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan hari ini, saya terancam menjadi korban, para kanibal sudah berteriak garang menuntut agar lilin yang tertancap di buah pisang itu kutiup lalu pesta segera dimulai, seorang raksasa mengabadikan momen dengan merekam suasana itu menggunakan &lt;i&gt;blackberry&lt;/i&gt; pinjaman, dan tentu saja para pembaca tahu apa yang saya lakukan, saya tidak meniup lilin itu, alasannya tentu saja karena saya adalah manusia yang berfikir. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kuberitahu pada kalian, bahwa saya bukan sosok yang mudah dijadikan tumbal untuk melepas stress dengan tawa kepuasan menyiksa manusia, rugi saya datang ke Malang dan mengambil jurusan ilmu komunikasi di UMM jika terpancing oleh ide basi seperti ini, dan saya pantang lari sebagai pengecut, saya putra Makassar! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tiupmi cepat e!!!”. Teriak seorang  monster sambil terbahak gemas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya tertawa lebih bahak lagi, kutundukkan kepala sejenak karena takut ketahuan kalau mataku berkaca-kaca, sebentar lagi air mata haru akan jatuh. Kehabisan akal menanggapi mereka, saya mencoba diam dan menguji darimana mereka tahu bahwa saya berulang tahun hari ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Facebook!&lt;/b&gt; adalah sumber informasi mereka, setelah mengetahui informasi ulang tahunku, mereka memulai prosesi pesta ulang tahun yang menggelikan ini. Disana memang sudah ada beberapa ucapan selamat ulang tahun dari beberapa kerabat, tentu saja karena mereka diberitahukan dan disuruh oleh &lt;i&gt;Facebook&lt;/i&gt; untuk memberikan ucapan selamat ulang tahun padaku. Parahnya lagi, baru saja saya menggunakan fasilitas internet dan mengakses &lt;i&gt;Facebook&lt;/i&gt; tapi lupa &lt;i&gt;log out&lt;/i&gt; apalagi status &lt;i&gt;Facebook&lt;/i&gt; yang kuupdate begitu meyakinkan: &lt;b&gt;Like one day in heaven… Catch me if you can!...&lt;/b&gt; 10 Desember begitu membahagiakan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saking bahagianya, saya harus menulis lagi 10 Desember. Tak ada orang sebahagia diriku karena beberapa perantau berkumpul dan merencanakan makar mempermainkan seorang manusia sepertiku, &lt;i&gt;saya hargai kerja keras kalian&lt;/i&gt;. Marilah kujelaskan pokok kebahagiaanku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kamu dalam posisiku, nyaris dikerjai oleh segerombol monster aneh, tapi keadaannya terbalik malah kamu yang berhasil mengerjai mereka, telak! Maka apa yang kamu rasakan? Tawaku lebih terbahak lagi daripada mereka saat berteriak memasuki kemenangan walaupun akhirnya diam setrilyun bahasa. Mulut bau mereka kubungkam dengan mengeluarkan kartu identitas di hadapan mereka. Betul-betul seperti di surga!. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka tidak cukup jeli untuk membuat pesta, informasi yang diterima oleh mereka tidak diferivikasi dengan seksama, sehingga mereka harus menerima rasa malu dari tawaku. Tak ada yang mengerti kebiasaanku merubah tanggal kelahiran di informasi akun &lt;i&gt;Facebook&lt;/i&gt;, di tahun 2008 saya sering mengupdate informasi tanggal lahir, bahkan seminggu sekali hingga tak ada yang percaya bahwa pada suatu hari, informasi tentang ulang tahunku memag betul dan pesta penyiksaan yang seharusnya menjadi malam paling tragis bagiku terlewat begitu saja dengan sangat menyedihkan, karena hanya beberapa orang saja yang mengucapkan selamat ulang tahun kala itu, bahkan tanpa seremoni. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak mudah mempermainkan manusia berfikir, sekali lagi tak mudah. Malah beberapa tahun yang lalu saya memanfaatkan beberapa teman untuk merayakan ulang tahunku di tempat dan kondisi yang kuinginkan, berturut turut selama 2 tahun saya merayakan ulang tahun di pegunungan, sesuai dengan yang kuinginkan saya disiksa di pegunungan. Menyenangkan sekali bisa mengatur skenario agar teman-teman merayakan ulang tahunku dengan keinginanku sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, saya memohon maaf kepada pihak yang merasa dirugikan oleh informasi keliru yang sengaja kusebarkan di &lt;i&gt;Facebook&lt;/i&gt;, sebagai pelajaran berhaga, perlu diingat bahwa Internet adalah &lt;i&gt;second reality&lt;/i&gt;, dunia dimana identitas kita berubah, citra kita berbeda dengan dunia nyata sehingga butuk verifikasi dengan menyatukan informasi yang didapatkan dari internet dengan informasi di dunia nyata. Saya sengaja melakukan pemalsuan identitas tersebut karena berharap suatu saat bias menikmati sensasi menjadi korban pesta ulang tahun yang beringas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, selamat menikmati buah pisang itu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-z2A9wQ8Nj2Q/TuMMsTbYpCI/AAAAAAAAAp4/Uxksd1V_GF0/s1600/IMG0093A.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="ikami sulsel cabang malang" border="0" height="300" src="http://2.bp.blogspot.com/-z2A9wQ8Nj2Q/TuMMsTbYpCI/AAAAAAAAAp4/Uxksd1V_GF0/s320/IMG0093A.jpg" width="420" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Biar ndak kecewako semua, ini saya hiburko!!! Silahkan calla ditempat, ndak usahmi dipajang d group ini foto!!!... Hahahahaha&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;kunjungi juga;
www.kalsumedia.co.nr&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/643697286673093681-6659115993970103637?l=chengxplore.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/u_gfAly6N1vw9DD5EqgpqD4_DPo/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/u_gfAly6N1vw9DD5EqgpqD4_DPo/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/u_gfAly6N1vw9DD5EqgpqD4_DPo/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/u_gfAly6N1vw9DD5EqgpqD4_DPo/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ChengXplore/~4/erEF8AKByxM" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://chengxplore.blogspot.com/feeds/6659115993970103637/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://chengxplore.blogspot.com/2011/12/mereka-menyanyi-happy-birthday-untuk.html#comment-form" title="2 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default/6659115993970103637?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default/6659115993970103637?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ChengXplore/~3/erEF8AKByxM/mereka-menyanyi-happy-birthday-untuk.html" title="Mereka Menyanyi Happy Birthday untuk Siapa?" /><author><name>Cheng Prudjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03932155262964597384</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_7Y4frbrIS4A/S1VOeDG9uUI/AAAAAAAAAYY/zliayXfpJds/S220/mash+muda+dl.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-z2A9wQ8Nj2Q/TuMMsTbYpCI/AAAAAAAAAp4/Uxksd1V_GF0/s72-c/IMG0093A.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://chengxplore.blogspot.com/2011/12/mereka-menyanyi-happy-birthday-untuk.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEYDQnoyeCp7ImA9WhRQFU0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-643697286673093681.post-2712409627009320546</id><published>2011-12-10T14:29:00.000+07:00</published><updated>2011-12-10T14:29:33.490+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-10T14:29:33.490+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kabar" /><title>Apa yang Mendorong Sondang Hutagalung Membakar Diri????</title><content type="html">&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-PLiHI5jm4Pg/TuMGwlcnwDI/AAAAAAAAApw/fk2qxu9voT0/s1600/Sondang+Hutagalung.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-PLiHI5jm4Pg/TuMGwlcnwDI/AAAAAAAAApw/fk2qxu9voT0/s1600/Sondang+Hutagalung.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Sondang Hutagalung&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Baru saja sebuah SMS kukirimkan untuk seorang teman yang masih aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), lewat SMS itu kupesankan padanya untuk menghubungiku jika ada rencana teman-teman PMII atau organisasi mahasiswa lain turun ke jalan melakukan aksi solidaritas terhadap Sondang Hutagalung, Aktivis Hammurabi (Himpunan Advokasi Studi Marhaenis Muda untuk Rakyat dan Bangsa Indonesia) yang membakar diri di depan istana negara dan meninggal setelah dirawat di RSCM (kompas.com), kemarin. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
SMS tersebut kukirim dengan penuh harapan agar teman-teman PMII atau organisasi mahasiswa lainnya melakukan aksi solidaritas, menjawab panggilan Sondang yang harus mengorbankan dirinya untuk didengar. Keinginanku untuk ikut serta dalam aksi solidaritas sangat besar dan didorong, memang, oleh kebencianku terhadap rezim yang berjalan ini. Sondang melampauiku, dengan berani dia keluar dari kebiasaannya melakukan aksi teatrikal kepada pertunjukan ekstrim, mungkin keputusannya itu dikarenakan tidak bergunanya lagi konsep teatrikal sehingga dia terdorong untuk melakukan aksi bakar diri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Dorongan Membakar Diri dan Representasi Berita&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Kupantau koran KOMPAS, kuikuti berita tentang Sondang yang membuatku sedikit kecewa, pasalnya berita yang diangkat tidak terfokus pada motivasi seorang sondang melakukan aksi yang hebat itu. Walaupun penulis tetap menerima bahwa berita tentang identitas dan kondisi kesehatannya penting untuk diketahui, saya tetap menghargai dorongan manusia itu, lebih memperhatikan kabar manusianya daripada latar belakang yang mendorong terjadinya aksi bakar diri tersebut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagaimana pemantauan penulis, muatan aksi Sondang Hutagalung memang masih kabur, di KOMPAS sendiri tidak banyak yang dapat disampaikan, disana hanya dituliskan bahwa Jaringan Kampus yang dengan cepat terkordinasi melakukan aksi damai, doa bersama dan renungan di RSCM, merasa bahwa Sondang Hutagalung membawa pesan penting, yaitu keprihatinan terhadap kondisi bangsa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sondang Hutagalung, mahasiswa jurusan Hukum di Universitas Bung Karno angkatan 2007, adalah aktivis Hammurabi yang sering melakukan aksi teatrikal, kerabatnya tidak menyangka jika dia melakukan aksi yang ekstrim dalam mengkritisi kepemimpinan bangsa. Sebagaimana diberitakan KOMPAS bahwa sebulan sebelumnya Sondang mengirimkan pesan kepada rekannya di Kontras yang berisi ingin menitipkan Hammurabi, tiga hari sebelum aksi bakar diri yang dilakukannya, dia menitipkan identitas dan telepon selulernya kepada seseorang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal tersebut di atas, bagi penulis, jelas  sebuah pertanda bahwa Sondang sudah merencanakan aksinya. Dan tentu hal yang terpenting bagi media pemberitaan untuk menggali lebih dalam apa yang diinginkan Sondang, anak bungsu dari empat bersaudara pasangan Victor hutagalung dan Dame Sipahutar mengorbankan tubuhnya untuk menuntut apa?, beberapa media tidak menyampaikan ini secara jelas. Penulis malah takut dengan kondisi ini, jangan sampai aksi bakar diri ini "patah" akibat respon media yang tidak memberikan perhatian penuh atau malah takut menggali lebih dalam. Padahal bias dibayangkan, aksi bakar diri adalah berita besar, kejadian luar biasa di masa sekarang. Penulis malah berfikir bahwa dengan membakar foto SBY, tuntutan hanya singgah di meja DPR, tidak cukup sehingga yang lain perlu dibakar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Budiarto Shambazy, menulis kolom berjudul Sondang Hutagalung di KOMPAS terbitan sabtu, 10 Desember 2011. Dalaam kolom tersebut, Budiarto Shambazy mengisahkan kembali aksi bakar diri yang dilakukan oleh &lt;b&gt;Mohamed Bouazizi&lt;/b&gt; agar tuntutannya diperhatikan pemerintah Tunisia Tengah. Kisah ini kemudian dijadikan batu loncatan oleh Budiarto Shambazy untuk mengulas fenomena bakar diri yang dilakukan Sondang Hutagalung baru-baru ini. &lt;i&gt;Aih&lt;/i&gt; aku sangat prihatin!.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Sondang Hutagalung dan Kebangkitan Rakyat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Dalam kolom tersebut, Budiarto menulis bahwa pembakar diri seperti Bouazizi dan Sondang bukan pencari sensasi yang haus perhatian dan ingin dikenang sebagai “pahlawan”. Mereka disebut “korban” yang ingin agar rakyat “Bangkit”. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penulis merasa bahwa disanalah seharusnya kita fokus, mencari pesan dibalik kobaran api atau dibalik bau angin terbakar, sehingga pengorbanan dengan harapan agar rakyat bangkit, tidak sia-sia. Sekali lagi, kita tentu saja harus turut prihatin dengan kondisi kesehaatan Sondang. Dia telah memutuskan melakukan aksi ini sebagaimanaa keyakinan penulis, walaupun kerabatnya tercengang karena Sondang dikenal tidak &lt;i&gt;ngeh &lt;/i&gt;terhadap aksi yang ekstrim. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga media mengabarkan dengan baik, dan rakyat dapat memperhatikan dan memperdulikannya, toh memang bangsa ini butuh gerakan yang didorong oleh keinginan bersama untuk memajukan Negara. Momentum hari anti korupsi tahun ini harus diingat baik-baik dan menjadi batu loncattan kita semua untuk aksi, sekali lagi menjawab panggilan simbolik Sondang. Aku prihatin!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mohon komentar teman-teman!.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;kunjungi juga;
www.kalsumedia.co.nr&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/643697286673093681-2712409627009320546?l=chengxplore.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/c8zsWW4ZnnY3zk1dSY9dm5Us1WM/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/c8zsWW4ZnnY3zk1dSY9dm5Us1WM/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/c8zsWW4ZnnY3zk1dSY9dm5Us1WM/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/c8zsWW4ZnnY3zk1dSY9dm5Us1WM/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ChengXplore/~4/752oPMlnf9o" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://chengxplore.blogspot.com/feeds/2712409627009320546/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://chengxplore.blogspot.com/2011/12/apa-yang-mendorong-sondang-hutagalung.html#comment-form" title="2 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default/2712409627009320546?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default/2712409627009320546?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ChengXplore/~3/752oPMlnf9o/apa-yang-mendorong-sondang-hutagalung.html" title="Apa yang Mendorong Sondang Hutagalung Membakar Diri????" /><author><name>Cheng Prudjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03932155262964597384</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_7Y4frbrIS4A/S1VOeDG9uUI/AAAAAAAAAYY/zliayXfpJds/S220/mash+muda+dl.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-PLiHI5jm4Pg/TuMGwlcnwDI/AAAAAAAAApw/fk2qxu9voT0/s72-c/Sondang+Hutagalung.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>2</thr:total><feedburner:origLink>http://chengxplore.blogspot.com/2011/12/apa-yang-mendorong-sondang-hutagalung.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkQMQno-eSp7ImA9WhRQEE8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-643697286673093681.post-6606554897622278730</id><published>2011-12-05T00:19:00.008+07:00</published><updated>2011-12-05T01:46:23.451+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-05T01:46:23.451+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kabar" /><title>Dukungan Luar Negri untuk OPM; Atribut OPM di Sebuah Toko di Belanda</title><content type="html">&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-7la0ETJwlLE/TtuzXX_NY2I/AAAAAAAAApg/uXIIgZjEaHU/s1600/IPWP+di+Skotlandia.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="298" src="http://3.bp.blogspot.com/-7la0ETJwlLE/TtuzXX_NY2I/AAAAAAAAApg/uXIIgZjEaHU/s400/IPWP+di+Skotlandia.jpg" width="400" al="dukungan parlemen skotlandia untuk OPM"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Peluncuran IPWP di Parlemen Skotlandia | Sumber foto: wartapapuabarat.org&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Kampanye penggalangan dukungan untuk kemerdekaan Papua terus terjadi. Kemerdekaan Skotlandia yang dinikmati oleh rakyat Skotland Mei 2011 juga dinikmati oleh Benny Wenda yang berperan sebagai penggalang dukungan internasional untuk Kemerdekaan Papua Barat. Beberapa bulan setelah itu, tepatnya pada semptember 2011, dilaksanakan peluncuran International Parliamentarian untuk West Papua (IPWP) di gedung parlemen Skotlandia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kampanye-kampanye yang mengajak dunia untuk prihatin terhadap kondisi Papua selain terjadi di Skotlandia dan Inggris, juga mulai marak di Belanda. Organisasi Papua Merdeka (OPM) makin menunjukkan keberadaannya di negeri   kincir angin ini. Disana, sebuah toko di Filiaal 0024  Kalverstraat 71  Amsterdam, Belanda memasang bendera dan atribut OPM. Bahkan toko yang  berdiri di sebuah ruko tua itu juga mengumpulkan donasi dan  tanda  tangan untuk memberikan dukungan OPM memerdekakan Papua dari  Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berikut beberapa foto Jackson Kumaat yang sebelumnya telah dipublikasikan di Viva News [dot] com.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="margin: 5px 20px 20px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;Foto atribut OPM di Belanda: &lt;input value="Lihat" style="margin: 0px; padding: 0px; width: 55px; font-size: 11px;" onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = ''; this.innerText = ''; this.value = 'Tutup'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Lihat'; }" type="button"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset ; margin: 0px; padding: 6px;"&gt;&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-spFmMBbUm5Q/TtuzGDXvBhI/AAAAAAAAAow/TutIHtNyZCs/s1600/sarang-opm-di-belanda-01.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="350" src="http://4.bp.blogspot.com/-spFmMBbUm5Q/TtuzGDXvBhI/AAAAAAAAAow/TutIHtNyZCs/s640/sarang-opm-di-belanda-01.jpg" width="440" alt="dukungan internasional OPM dan benny wenda"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="margin: 5px 20px 20px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;Foto atribut OPM di Belanda: &lt;input value="Lihat" style="margin: 0px; padding: 0px; width: 55px; font-size: 11px;" onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = ''; this.innerText = ''; this.value = 'Tutup'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Lihat'; }" type="button"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset ; margin: 0px; padding: 6px;"&gt;&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-sP4PNhX_30k/TtuzH8g9fyI/AAAAAAAAAo8/DLX16-QbyqI/s1600/sarang-opm-di-belanda-03.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="350" src="http://4.bp.blogspot.com/-sP4PNhX_30k/TtuzH8g9fyI/AAAAAAAAAo8/DLX16-QbyqI/s640/sarang-opm-di-belanda-03.jpg" width="440" alt="dukungan internasional OPM dan benny wenda"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="margin: 5px 20px 20px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;Foto atribut OPM di Belanda: &lt;input value="Lihat" style="margin: 0px; padding: 0px; width: 55px; font-size: 11px;" onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = ''; this.innerText = ''; this.value = 'Tutup'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Lihat'; }" type="button"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset ; margin: 0px; padding: 6px;"&gt;&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-sKvkQQQ7nio/TtuzIa9GgLI/AAAAAAAAApE/7t354HFwWU8/s1600/sarang-opm-di-belanda-04.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="350" src="http://3.bp.blogspot.com/-sKvkQQQ7nio/TtuzIa9GgLI/AAAAAAAAApE/7t354HFwWU8/s640/sarang-opm-di-belanda-04.jpg" width="440" alt="dukungan internasional OPM dan benny wenda"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="margin: 5px 20px 20px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;Foto atribut OPM di Belanda: &lt;input value="Lihat" style="margin: 0px; padding: 0px; width: 55px; font-size: 11px;" onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = ''; this.innerText = ''; this.value = 'Tutup'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Lihat'; }" type="button"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset ; margin: 0px; padding: 6px;"&gt;&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-OzwVW79mE1Q/TtuzJXwSU1I/AAAAAAAAApM/Y0UQ7oxfnD8/s1600/sarang-opm-di-belanda-05.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="350" src="http://2.bp.blogspot.com/-OzwVW79mE1Q/TtuzJXwSU1I/AAAAAAAAApM/Y0UQ7oxfnD8/s640/sarang-opm-di-belanda-05.jpg" width="440" alt="dukungan internasional OPM dan benny wenda"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="margin: 5px 20px 20px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;Foto atribut OPM di Belanda: &lt;input value="Lihat" style="margin: 0px; padding: 0px; width: 55px; font-size: 11px;" onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = ''; this.innerText = ''; this.value = 'Tutup'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Lihat'; }" type="button"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset ; margin: 0px; padding: 6px;"&gt;&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-N-cr4e2dydA/TtuzG5AwvQI/AAAAAAAAAo4/gd-32qyL7QU/s1600/sarang-opm-di-belanda-02.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="350" src="http://1.bp.blogspot.com/-N-cr4e2dydA/TtuzG5AwvQI/AAAAAAAAAo4/gd-32qyL7QU/s640/sarang-opm-di-belanda-02.jpg" width="440" alt="dukungan internasional OPM dan benny wenda"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="margin: 5px 20px 20px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;Foto atribut OPM di Belanda: &lt;input value="Lihat" style="margin: 0px; padding: 0px; width: 55px; font-size: 11px;" onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = ''; this.innerText = ''; this.value = 'Tutup'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Lihat'; }" type="button"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset ; margin: 0px; padding: 6px;"&gt;&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-2bp2K6sZjh4/TtuzFKs_cRI/AAAAAAAAAoo/-_LH0xQfCnk/s1600/sarang-opm-di-belanda-07.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="350" src="http://4.bp.blogspot.com/-2bp2K6sZjh4/TtuzFKs_cRI/AAAAAAAAAoo/-_LH0xQfCnk/s640/sarang-opm-di-belanda-07.jpg" width="440" alt="dukungan internasional OPM dan benny wenda"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="margin: 5px 20px 20px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;Foto atribut OPM di Belanda: &lt;input value="Lihat" style="margin: 0px; padding: 0px; width: 55px; font-size: 11px;" onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = ''; this.innerText = ''; this.value = 'Tutup'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Lihat'; }" type="button"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset ; margin: 0px; padding: 6px;"&gt;&lt;div style="display: none;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-iu-cY8Ua6FM/TtuzKMW8i4I/AAAAAAAAApY/VvEhustKE2o/s1600/sarang-opm-di-belanda-06.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="350" src="http://2.bp.blogspot.com/-iu-cY8Ua6FM/TtuzKMW8i4I/AAAAAAAAApY/VvEhustKE2o/s640/sarang-opm-di-belanda-06.jpg" width="440" alt="dukungan internasional OPM dan benny wenda"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="margin: 5px 20px 20px;"&gt;&lt;div class="smallfont" style="margin-bottom: 2px;"&gt;Lainnya: &lt;input value="Lihat" style="margin: 0px; padding: 0px; width: 55px; font-size: 11px;" onclick="if (this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display != '') { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = ''; this.innerText = ''; this.value = 'Tutup'; } else { this.parentNode.parentNode.getElementsByTagName('div')[1].getElementsByTagName('div')[0].style.display = 'none'; this.innerText = ''; this.value = 'Lihat'; }" type="button"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="alt2" style="border: 1px inset ; margin: 0px; padding: 6px;"&gt;&lt;div style="display: none;"&gt;Baca dan komentari postingan yang lain dong &gt;&gt; &lt;a href="http://chengxplore.blogspot.com/2011/12/jurusan-ilmu-komunikasi-umm-terancam.html" title="Jurusan Ilmu Komunikasi UMM"&gt;Jurusan Ilmu Komunikasi UMM Ketinggalan Zaman&lt;/a&gt;...&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;kunjungi juga;
www.kalsumedia.co.nr&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/643697286673093681-6606554897622278730?l=chengxplore.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/tKwB2WP-pt1r_CENRXr14haMAdA/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/tKwB2WP-pt1r_CENRXr14haMAdA/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/tKwB2WP-pt1r_CENRXr14haMAdA/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/tKwB2WP-pt1r_CENRXr14haMAdA/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ChengXplore/~4/aNiv5qCLLiY" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://chengxplore.blogspot.com/feeds/6606554897622278730/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://chengxplore.blogspot.com/2011/12/dukungan-luar-negri-untuk-opm-atribut.html#comment-form" title="4 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default/6606554897622278730?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default/6606554897622278730?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ChengXplore/~3/aNiv5qCLLiY/dukungan-luar-negri-untuk-opm-atribut.html" title="Dukungan Luar Negri untuk OPM; Atribut OPM di Sebuah Toko di Belanda" /><author><name>Cheng Prudjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03932155262964597384</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_7Y4frbrIS4A/S1VOeDG9uUI/AAAAAAAAAYY/zliayXfpJds/S220/mash+muda+dl.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-7la0ETJwlLE/TtuzXX_NY2I/AAAAAAAAApg/uXIIgZjEaHU/s72-c/IPWP+di+Skotlandia.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>4</thr:total><feedburner:origLink>http://chengxplore.blogspot.com/2011/12/dukungan-luar-negri-untuk-opm-atribut.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkQHRnwycSp7ImA9WhRQEUw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-643697286673093681.post-2082481394154361653</id><published>2011-12-04T00:52:00.003+07:00</published><updated>2011-12-06T01:38:57.299+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-06T01:38:57.299+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="urusan kuliah" /><title>Jurusan Ilmu Komunikasi UMM Terancam Ketinggalan Zaman !!!</title><content type="html">&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-xuIg-hImpsM/TtphK7t2sDI/AAAAAAAAAog/4LodB8fbNFY/s1600/Flintstone.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="The Flinstone" border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-xuIg-hImpsM/TtphK7t2sDI/AAAAAAAAAog/4LodB8fbNFY/s1600/Flintstone.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Jaman Batu; &lt;i&gt;Barney dan Fred Flinstone dalam film kartun berjudul &lt;b&gt;The Flinstone&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Sebagai Jurusan Ilmu Komunikasi yang terancam maju  dan diunggulkan, Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang  (UMM) harus memperhatikan ancaman ketertinggalan zaman yang mulai  menjalari, jika tidak ejekan ketinggalan zaman akan sulit ditepis.  Ejekan ketinggalan zaman bagi institusi pendidikan dimana ilmu  pengetahuan bersumber, tentu saja terasa tajam, seperti seekor kera yang  kalah tanding memanjat pohon dari manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Wawasan Umum&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Jurusan ilmu komunikasi, baik di UMM maupun di universitas, harus  memantapkan peran dan posisinya, terlepas dari perannya sebagai salah  satu cabang ilmu pengetahuan dengan fungsi untuk memajukan masyarakat  dan melepaskan mereka dari belenggu keterasingan jaman akibat  terbatasnya pasokan informasi yang memang dibatasi oleh kondisi  tertentu, geografi misalnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kemantapan peran  dalam perkembangan zaman, ilmu komunikasi diharapkan semakin bersinar  dan terus mencerahkan, melepaskan belenggu kebutaan masyarakat akan  dunia dimana mereka hidup, kebutaan yang diakibatkan oleh banyaknya  realitas yang susun-menyusun sehingga kita mulai tidak mengerti realitas  yang sesungguhnya. Penulis memiliki cita-cita dan harapan besar dimana  ilmu komunikasi adalah jendral perang baru yang mengantar umat manusia  meraih kemenangan akal budi, dimana setiap orang dapat mandiri dalam  beropini dengan bekal akal budinya tersebut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemandirian  mengambil keputusan atau membangun opini tergerak atas pembacaan zaman  dimana interaksi mulai makin luas dan makin interaktif, jika sebelum populernya media  internet, interaksi hanya sebatas komunikasi antar personal melalui  tatap muka, telefon, surat-menyurat dengan tetangga atau kerabat, maka  dengan internet jangkauan komunikasi akan lebih luas, dan sistem  interaksi akan semakin ramai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Menuju Media Interaktif &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Everett M. Rogers dalam bukunya "&lt;i&gt;Communication Technology; The New Media in Society&lt;/i&gt;"  (dalam Mulyana, 1999), mengatakan bahwa dalam hubungan komunikasi di  masyarakat, dikenal empat era komunikasi yaitu era tulis, era media  cetak, era media telekomunikasi dan era media komunikasi interaktif. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari  keempat era atau zaman (dalam pembahasan catatan ini), jurusan ilmu  komunikasi UMM masih sibuk membekali mahasiswa dengan kecakapan menulis,  memproduksi karya jurnalistik (cetak maupun elektronik), atau  memproduksi film-film pendek, dokumenter, iklan atau media kampanye  lainnya. Selain itu, kegiatan-kegiatan organizer juga tak kalah ramainya  dan sepertinya cukup memusingkan mahasiswa yang fokus pada pengembangan  kecakapan Public Relation. Bercermin dari Rogers, Jurusan ilmu  Komunikasi UMM dan sepertinya di universitas lain (entahlah) telah  ketinggalan zaman, statusnya bukan lagi ancaman. Media internet yang  interaktif belum dimaksimalkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di jurusan Ilmu Komunikasi UMM, ada 1 mata kuliah yang bersinggungan langsung  dengan dunia maya, judulnya; ”&lt;i&gt;Online Journalism&lt;/i&gt;”, saat penulis  memprogram mata kuliah ini dan berhasil meraih poin yang sempurna, ada  sedikit kejanggalan yang kiranya menjadi alasan mengapa Jurnalistik Online atau pemanfaatan media online tidak begitu giat di UMM,  kejanggalan tersebut tentunya soal dosen pengempu yang secara langsung  menyadari kemampuannya mengempu mata kuliah ini tidak dapat dia  banggakannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara itu, beberapa mata kuliah (di  jurusan Ilmu Komunikasi UMM) mendorong mahasiswa untuk betul-betul cakap  dalam pemanfaatan teknologi untuk memproduksi karya media cetak maupun  elektronik, berbagai tugas peliputan dan penulisan berita atau tugas  bersama (kelompok) untuk membuat Buletin, bahkan Majalah/Tabloid. Dalam  urusan media elektronik, mahasiswa harus bersusah payah melakukan  peliputan, pengeditan dan penayangan karya jurnalistik dalam bentuk  audio visual, masih ada juga yang audio (radio). Di Jurusan Ilmu  Komunikasi, mata kuliah (khusus konsentrasi Jurnalistik) seperti &lt;i&gt;Print Journalism, Journalism, News production, Depth Reporting, On Air Journalism,&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Praktek Produksi Karya Jurnalistik&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mata kuliah di atas, jika tidak jeli membangun benteng pembeda, akan saling tindih menindih atau malah bercampur baur. Akibatnya, seorang atau sekelompok mahasiswa bisa mengerjakan tugas untuk memenuhi beberapa penugasan dari mata kuliah yang berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penulis sendiri pernah mengalaminya, membuat satu  tugas untuk memenuhi tiga penugasan dari mata kuliah dan dosen pengempu  yang berbeda. Kejadian ini perlu diperhatikan, bukankah saya sebagai  mahasiswa telah dikerjain oleh para dosen atau bahkan pengurus jurusan? &lt;b&gt;Untuk  apa memprogram mata kuliah dengan grit bahkan penugasan yang menentukan  nilai itu sama. Kenapa tidak dilebur saja agar kuliah bisa diselesaikan  selama &lt;span style="color: #cc0000;"&gt;dua setengah tahun&lt;/span&gt;?. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Akhirnya . . . &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, tanggung jawab pihak &lt;i&gt;civitas akademika &lt;/i&gt;di  jurusan ilmu komunikasi UMM perlu dituntut lebih serius untuk  mengembangkan dan memajukan Jurusan Ilmu Komunikasi UMM yang tercinta.  Pengembangan fasilitas labolatorium, kelengkapan referensi dengan adanya  perpustakaan jurusan, media website (walaupun masih ikut dengan website  universitas), beberapa kelompok karya berisi mahasiswa yang dikompori  untuk berprestasi, kegiatan-kegiatan jurusan yang seremonial dan tidak  berdayaguna, serta kepala para dosen tidak menjamin majunya jurusan ilmu  komunikasi, bahkan berfungsinya ilmu komunikasi sebagai salah satu  cabang ilmu pengetahuan dengan peran pencerahannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut  hemat penulis, jika bisa berpendapat, perlu adanya pembacaan atas  realitas/ perkembangan zaman (aspek sosial dan teknologi) sehingga ada  skala prioritas yang menjadi fokus pengembangan kecakapan. Pembacaan  atas realitas ini juga harus tajam, bersih/ holistik dan tidak  mekanistik atau bebas dari pengaruh semangat kapitalistime yang  menjadikan universitas menjadi pusat karantina atau kawah candradimuka  babu-babu kapitalisme. Kiranya, para dosen telah mengerti maksud Tri  Guntur Narwaya dalam ”Matinya Ilmu Komunikasi”. Jika tidak, Ilmu  Komunikasi memang telah mati. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ancaman ketinggalan  zaman Ilmu Komunikasi UMM perlu diantisipasi, sebelum banyak orang  mengetahui/menyadari dan mulai berani mengejek Ilmu Komunikasi UMM yang  tertinggal oleh perkembangan zaman. Media internet masih sangat bersih  dari sentuhan mahasiswa ilmu komunikasi UMM yang telah dibekali berbagai  jurus&amp;nbsp; menaklukkan selembar kertas dengan tinta dan jutaan ide. Secara  pribadi, penulis tentu saja tidak mau ikut-ikut menerima ejekan sebagai  mahasiswa ilmu komunikasi yang ketinggalan zaman, sebagai manusia dan  mahasiswa, saya betul-betul akan merasa malu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oia,  komposisi sumber daya manusia (dosen) juga perlu diperhatikan untuk  diseimbangkan, khusus untuk konsentrasi Jurnalistik di Jurusan Ilmu  Komunikasi, perlu ditakar kembali berat atau kuantitas/kualitas antara  pengempu kecakapan pemanfaatan media cetak, elektronik, hingga internet.  Tidak asal tunjuk dosen saja pastinya, toh kualitas dosen juga menjadi  syarat mutlak berkembangnya suatu lembaga pengetahuan seperti Jurusan  Ilmu Komunikasi UMM. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di akhir, penulis merasa harus  memohon maaf jika terlalu dini menuai kritik, sebenarnya bukan kritik.  Ini hanyalah ide, pembacaan atas wacana, realitas, dan proyeksi jurusan  ilmu komunikasi dengan harapan terwujudnya lembaga pengetahuan yang  maju, murni dan mencerahkan. Kehadiran catatan ini didasari oleh  dorongan partisipasi penulis untuk mempublikasikan buah pikiran, mengacu  pada sebuah motto yang akrab di Jurusan Ilmu Komunikasi. &lt;b&gt;Publikasikan atau Menyingkirlah&lt;/b&gt; !!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;kunjungi juga;
www.kalsumedia.co.nr&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/643697286673093681-2082481394154361653?l=chengxplore.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;p&gt;&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1q67Br7tMEEc5x5aOM5-QGqm8nQ/0/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1q67Br7tMEEc5x5aOM5-QGqm8nQ/0/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;
&lt;a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1q67Br7tMEEc5x5aOM5-QGqm8nQ/1/da"&gt;&lt;img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/1q67Br7tMEEc5x5aOM5-QGqm8nQ/1/di" border="0" ismap="true"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/ChengXplore/~4/8O-17DDUdf8" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://chengxplore.blogspot.com/feeds/2082481394154361653/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://chengxplore.blogspot.com/2011/12/jurusan-ilmu-komunikasi-umm-terancam.html#comment-form" title="5 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default/2082481394154361653?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/643697286673093681/posts/default/2082481394154361653?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/ChengXplore/~3/8O-17DDUdf8/jurusan-ilmu-komunikasi-umm-terancam.html" title="Jurusan Ilmu Komunikasi UMM Terancam Ketinggalan Zaman !!!" /><author><name>Cheng Prudjung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03932155262964597384</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="24" height="32" src="http://1.bp.blogspot.com/_7Y4frbrIS4A/S1VOeDG9uUI/AAAAAAAAAYY/zliayXfpJds/S220/mash+muda+dl.jpg" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-xuIg-hImpsM/TtphK7t2sDI/AAAAAAAAAog/4LodB8fbNFY/s72-c/Flintstone.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>5</thr:total><feedburner:origLink>http://chengxplore.blogspot.com/2011/12/jurusan-ilmu-komunikasi-umm-terancam.html</feedburner:origLink></entry></feed>

