<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0"><id>tag:blogger.com,1999:blog-1756756116987703705</id><updated>2024-11-08T22:29:04.853+07:00</updated><category term="religious"/><category term="artikel"/><category term="renungan"/><category term="seputar minang"/><category term="sejarah"/><category term="OPINI"/><category term="ceramah agama"/><category term="news"/><category term="Ranah Minang"/><category term="cilotehan"/><category term="sastra minang"/><category term="tokoh minang"/><category term="widget"/><category term="Berita minang"/><category term="MOTIVASI"/><category term="nasional"/><category term="pepatah"/><category term="pituah"/><category term="sastra"/><category term="Budaya minang"/><category term="kato pusako"/><category term="minang Saisuak"/><category term="pantun"/><category term="sejarah Islam"/><category term="tokoh"/><category term="internasional"/><category term="media online"/><category term="sambah"/><category term="sungai pua"/><category term="Agamo"/><category term="Video minang"/><category term="asal usul"/><category term="pituah minang mp3"/><category term="puisi"/><category term="sambah manyambah"/><category term="tambo"/><title type="text">ciloteh pagarak</title><subtitle type="html">selamat datang di ciloteh-pagarak.blogspot.com</subtitle><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/feeds/posts/default" rel="http://schemas.google.com/g/2005#feed" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default?redirect=false" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/" rel="alternate" type="text/html"/><link href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" rel="hub"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false" rel="next" type="application/atom+xml"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01974128379563667848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><generator uri="http://www.blogger.com" version="7.00">Blogger</generator><openSearch:totalResults>117</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1756756116987703705.post-8214606937058749660</id><published>2013-08-21T12:07:00.000+07:00</published><updated>2013-08-21T12:07:36.377+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ranah Minang"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sejarah Islam"/><title type="text">ISLAM DAN ADAT DI MINANGKABAU</title><content type="html">Masyarakat Minangkabau adalah sebuah suku bangsa yang mendiami wilayah Sumatera Barat. Suku di Minangkabau diperintah oleh seorang penghulu yang dipilih karena seorang penghulu akan menjadi orang yang besar dalam kaumnya. “Nan tinggi tampak jauah, nan terberombong jolong basuo, kayu gadang di tangah padang, tampek balinduang kapanehan, tampek bataduh kahujanan, ureknyo tampek baselo, batangnyo tampek basanda, pai tampek batanyo, pulang tampek babarito”&lt;br /&gt;
Penghulu dalam adat Minangkabau bergelar “datuak”. Biasanya, para penghulu tersebut disebut “niniak mamak”, yang merupakan pemimpin dalam sebuah kaum. Masyarakat adat Minangkabau sangat memegang teguh adatnya. Di Minangkabau, adat yang telah lama dipakai terdiri dari empat macam, yaitu:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.Adat nan sabana adat (adat yang sebenar adat)&lt;br /&gt;
Adalah segala sesuatu yang telah demikian terjadi menurut kehendak Allah. Menjadi undang-undang alam, yang selalu abadi dan tidak berubah-&lt;br /&gt;
ubah. Ada juga yang menyebut bahwa “adat nan sabana adat ini sama dengan adat yang datang dari Allah SWT.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Adat nan diadatkan&lt;br /&gt;
Adalah adat yang dibuat oleh pengatur tata alam Minangkabau, yaitu Dt. Katumanggungan dan Dt. Parpatiah nan Sabatang. Adat ini juga bersifat&lt;br /&gt;
abadi dan tidak berubah-ubah, seperti kata pepatah “indak lakang dek paneh, indak lapuak dek ujan”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Adat nan teradat&lt;br /&gt;
Adat yang dipakai, tetapi berbeda-beda di setiap daerah. Aturan adat ini disesuaikan menurut keadaan dan tempat, serta merupakan aturan untuk menyesuaikan diri dengan kehendak zaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Adat istiadat&lt;br /&gt;
Dikiaskan dalam pepatah “di mano aia urang disauak,disinan adat urang diturut”. Jadi adat istiadat adalah penyesuaian diri terhadap adat setempat yang berbeda-beda. Selain memegang teguh adatnya, masyarakat Minangkabau juga sangat mentaati agamanya. Pada waktu Islam masuk ke daerah Minangkabau, Islam menemukan adat Minangkabau dalam bentuknya yang terpadu dengan membawa sedikit pengaruh dari kebudayaan Hindu/Budha. Islam membawa ajaran tentang keyakinan dan tatanan kehidupan masyarakat (Syariah). Di Minangkabau berlakunorma adat yang berisi aturan tentang kehidupan sosial umat manusia. Dengan begitu, terjadilah persentuhandi antara dua norma tersebut.&lt;br /&gt;
Dalam tahap pertama, adat dan syara’ berjalan sendiri-sendiri dalam batas yang tidak saling mempengaruhi. Ini berarti bahwa masyarakat Minangkabau menjalankan agamanya dalam bidang akidah dan ibadah, tetapi dalam kehidupan sosial, hukum adat masih berlaku. Dalam tahap kedua, dalam pelaksanaannya salah satu menyandar pada pihak yanglain. Dalam tahap ini, berarti bahwa adat tetap berlangsung, sedangkan agama Islam diterima adanya oleh adat.&lt;br /&gt;
Tahap ketiga adalah tahap tercapainya penyiaran Islam. Pada masa ini timbullah rasa tidak puas di antara para pemukaagama terhadap toleransi yang berlebihan terhadap kelompok adat.Berawal dari konflik tersebutlah akhirnya diadakan konsensus Marapalam yang diadakan antara para pemuka agama dengan kelompok adat. Isi penting dari konsensus tersebut adalah “adat basyandi Syara’, syara’ basandi Kitabullah, Syara’ mangato, adat mamakai.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber : http://digilib.sunan-ampel.ac.id</content><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/feeds/8214606937058749660/comments/default" rel="replies" title="Posting Komentar" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2013/08/islam-dan-adat-di-minangkabau.html#comment-form" rel="replies" title="0 Komentar" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default/8214606937058749660" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default/8214606937058749660" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2013/08/islam-dan-adat-di-minangkabau.html" rel="alternate" title="ISLAM DAN ADAT DI MINANGKABAU" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01974128379563667848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1756756116987703705.post-2962054455930087818</id><published>2012-08-21T22:45:00.000+07:00</published><updated>2012-08-21T22:45:15.415+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="artikel"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ceramah agama"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="religious"/><title type="text">Keutamaan Puasa Syawal</title><content type="html">&lt;strong&gt;&lt;span&gt;KEUTAMAAN PUASA ENAM HARI DI BULAN SYAWAL&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;    &lt;br /&gt;
&lt;span&gt;Abu Ayyub Al-Anshari radhiallahu 'anhu meriwayatkan, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
  &lt;span&gt;"Barangsiapa
 berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam
 hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu 
tahun . (HR. Muslim). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
  &lt;span&gt;Imam Ahmad dan An-Nasa'i, meriwayatkan dari Tsauban, Nabi shallallahu 'alaihi wasalllam bersabda:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
  &lt;span&gt;"Puasa
 Ramadhan (ganjarannya) sebanding dengan (puasa) sepuluh bulan, 
sedangkan puasa enam hari (di bulan Syawal, pahalanya) sebanding dengan 
(puasa) dua bulan, maka itulah bagaikan berpuasa selama setahun penuh." (
 Hadits riwayat Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam "Shahih" mereka.) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
  &lt;span&gt;Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;
  &lt;span&gt;"Barangsiapa
 berpuasa Ramadham lantas disambung dengan enam hari di bulan Syawal, 
maka ia bagaikan telah berpuasa selama setahun. " (HR. Al-Bazzar) (Al 
Mundziri berkata: "Salah satu sanad yang befiau miliki adalah shahih.") &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
  &lt;span&gt;Pahala
 puasa Ramadhan yang dilanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal 
menyamai pahala puasa satu tahun penuh, karena setiap hasanah (tebaikan)
 diganjar sepuluh kali lipatnya, sebagaimana telah disinggung dalam 
hadits Tsauban di muka. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
  &lt;span&gt;Membiasakan puasa setelah Ramadhan memiliki banyak manfaat, di antaranya : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
  &lt;span&gt;1. Puasa enam hari di buian Syawal setelah Ramadhan, merupakan pelengkap dan penyempurna pahala dari puasa setahun penuh. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
  &lt;span&gt;2.
 Puasa Syawal dan Sya'ban bagaikan shalat sunnah rawatib, berfungsi 
sebagai penyempurna dari kekurangan, karena pada hari Kiamat nanti 
perbuatan-perbuatan fardhu akan disempurnakan (dilengkapi) dengan 
perbuatan-perbuatan sunnah. Sebagaimana keterangan yang datang dari Nabi
 shallallahu 'alaihi wasallam di berbagai riwayat. Mayoritas puasa 
fardhu yang dilakukan kaum muslimin memiliki kekurangan dan ketidak 
sempurnaan, maka hal itu membutuhkan sesuatu yang menutupi dan 
menyempurnakannya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
  &lt;span&gt;3. Membiasakan puasa setelah 
Ramadhan menandakan diterimanya puasa Ramadhan, karena apabila Allah 
Ta'ala menerima amal seorang hamba, pasti Dia menolongnya dalam 
meningkatkan perbuatan baik setelahnya. Sebagian orang bijak mengatakan:
 "Pahala'amal kebaikan adalah kebaikan yang ada sesudahnya." Oleh karena
 itu barangsiapa mengerjakan kebaikan kemudian melanjutkannya dengan 
kebaikan lain, maka hal itu merupakan tanda atas terkabulnya amal 
pertama. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
  &lt;span&gt;Demikian pula sebaliknya, jika seseorang 
melakukan suatu kebaikan lalu diikuti dengan yang buruk maka hal itu 
merupakan tanda tertolaknya amal yang pertama. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
  &lt;span&gt;4. 
Puasa Ramadhan -sebagaimana disebutkan di muka- dapat mendatangkan 
maghfirah atas dosa-dosa masa lain. Orang yang berpuasa Ramadhan akan 
mendapatkan pahalanya pada hari Raya'ldul Fitri yang merupakan hari 
pembagian hadiah, maka membiasakan puasa setelah 'Idul Fitri merupakan 
bentuk rasa syukur atas nikmat ini. Dan sungguh tak ada nikmat yang 
lebih agung dari pengampunan dosa-dosa. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
  &lt;span&gt;Oleh 
karena itu termasuk sebagian ungkapan rasa syukur seorang hamba atas 
pertolongan dan ampunan yang telah dianugerahkan kepadanya adalah dengan
 berpuasa setelah Ramadhan. Tetapi jika ia malah menggantinya dengan 
perbuatan maksiat maka ia termasuk kelompok orang yang membalas 
kenikmatan dengan kekufuran. Apabila ia berniat pada saat melakukan 
puasa untuk kembali melakukan maksiat lagi, maka puasanya tidak akan 
terkabul, ia bagaikan orang yang membangun sebuah bangunan megah lantas 
menghancurkannya kembali. Allah Ta'ala berfirman:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
  &lt;span&gt;"Dan
 janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya 
yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai berai kembali "(An-Nahl: 
92) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
  &lt;span&gt;5. Dan di antara manfaat puasa enam hari bulan
 Syawal adalah amal-amal yang dikerjakan seorang hamba untuk mendekatkan
 diri kepada Tuhannya pada bulan Ramadhan tidak terputus dengan 
berlalunya bulan mulia ini, selama ia masih hidup. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
  &lt;span&gt;Orang
 yang setelah Ramadhan berpuasa bagaikan orang yang cepat-cepat kembali 
dari pelariannya, yakni orang yang baru lari dari peperangan fi 
sabilillah lantas kembali lagi. Sebab tidak sedikit manusia yang 
berbahagia dengan berlalunya Ramadhan sebab mereka merasa berat, jenuh 
dan lama berpuasa Ramadhan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
  &lt;span&gt;Barangsiapa merasa 
demikian maka sulit baginya untuk bersegera kembali melaksanakan puasa, 
padahal orang yang bersegera kembali melaksanakan puasa setelah 'Idul 
Fitri merupakan bukti kecintaannya terhadap ibadah puasa, ia tidak 
merasa bosam dan berat apalagi benci. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
  &lt;span&gt;Seorang 
Ulama salaf ditanya tentang kaum yang bersungguh-sungguh dalam ibadahnya
 pada bulan Ramadhan tetapi jika Ramadhan berlalu mereka tidak 
bersungguh-sungguh lagi, beliau berkomentar: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
  &lt;span&gt;"Seburuk-buruk
 kaum adalah yang tidak mengenal Allah secara benar kecuali di bulan 
Ramadhan saja, padahal orang shalih adalah yang beribadah dengan 
sungguh-sunggguh di sepanjang tahun." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
  Oleh karena itu 
sebaiknya orang yang memiliki hutang puasa Ramadhan memulai membayarnya 
di bulan Syawal, karena hal itu mempercepat proses pembebasan dirinya 
dari tanggungan hutangnya. Kemudian dilanjutkan dengan enam hari puasa 
Syawal, dengan demikian ia telah melakukan puasa Ramadhan dan 
mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal. &lt;br /&gt;
  Ketahuilah, amal perbuatan seorang mukmin itu tidak ada batasnya hingga maut menjemputnya. Allah Ta'ala berfirman :&lt;br /&gt;
  "Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal) " (Al-Hijr: 99) &lt;br /&gt;
  Dan
 perlu diingat pula bahwa shalat-shalat dan puasa sunnah serta sedekah 
yang dipergunakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah 
Ta'ala pada bulan Ramadhan adalah disyari'atkan sepanjang tahun, karena 
hal itu mengandung berbagai macam manfaat, di antaranya; ia sebagai 
pelengkap dari kekurangan yang terdapat pada fardhu, merupakan salah 
satu faktor yang mendatangkan mahabbah (kecintaan) Allah kepada 
hamba-Nya, sebab terkabulnya doa, demikian pula sebagai sebab dihapusnya
 dosa dan dilipatgandakannya pahala kebaikan dan ditinggikannya 
kedudukan. &lt;br /&gt;
  Hanya kepada Allah tempat memohon pertolongan, 
shalawat dan salam semoga tercurahkan selalu ke haribaan Nabi, segenap 
keluarga dan sahabatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber : http://www.muslimdaily.net/ </content><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/feeds/2962054455930087818/comments/default" rel="replies" title="Posting Komentar" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2012/08/keutamaan-puasa-syawal.html#comment-form" rel="replies" title="0 Komentar" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default/2962054455930087818" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default/2962054455930087818" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2012/08/keutamaan-puasa-syawal.html" rel="alternate" title="Keutamaan Puasa Syawal" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01974128379563667848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1756756116987703705.post-5702564677706101098</id><published>2012-08-21T22:43:00.000+07:00</published><updated>2013-11-27T01:30:23.487+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Agamo"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sejarah Islam"/><title type="text">Hikmah Puasa di Bulan Syawal</title><content type="html">&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://akhdian.files.wordpress.com/2009/09/image-200.jpg?w=360&amp;amp;h=240" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="Image" border="0" height="240" src="http://akhdian.files.wordpress.com/2009/09/image-200.jpg?w=360&amp;amp;h=240" width="360" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya  dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia  berpuasa selama satu tahun.&lt;/em&gt; (HR. Muslim).&lt;br /&gt;Imam Ahmad dan An-Nasai, meriwayatkan dari Tsauban, Nabi shallallahu alaihi wasalllam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Puasa Ramadhan (ganjarannya) sebanding dengan (puasa) sepuluh bulan,  sedangkan puasa enam hari (di bulan Syawal, pahalanya) sebanding dengan  (puasa) dua bulan, maka itulah bagaikan berpuasa selama setahun penuh.&lt;/em&gt; ( Hadits riwayat Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam Shahih mereka)&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Barangsiapa berpuasa Ramadhan lantas disambung dengan enam hari di  bulan Syawal, maka ia bagaikan telah berpuasa selama setahun. &lt;/em&gt; (HR. Al-Bazzar) (Al Mundziri berkata: Salah satu sanad yang beliau miliki adalah shahih.)&lt;br /&gt;&lt;span id="more-356"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pahala puasa Ramadhan yang dilanjutkan dengan puasa enam hari di bulan  Syawal menyamai pahala puasa satu tahun penuh, karena setiap hasanah  (kebaikan) diganjar sepuluh kali lipatnya, sebagaimana telah disinggung  dalam hadits Tsauban di muka.&lt;br /&gt;Membiasakan puasa setelah Ramadhan memiliki banyak manfaat, di antaranya :&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Puasa enam hari di bulan Syawal setelah Ramadhan, merupakan pelengkap dan penyempurna pahala dari puasa setahun penuh.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Puasa Syawal dan Syaban bagaikan shalat sunnah rawatib, berfungsi  sebagai penyempurna dari kekurangan, karena pada hari Kiamat nanti  perbuatan-perbuatan fardhu akan disempurnakan (dilengkapi) dengan  perbuatan-perbuatan sunnah. Sebagaimana keterangan yang datang dari Nabi  shallallahu alaihi wasallam di berbagai riwayat. Mayoritas puasa fardhu  yang dilakukan kaum muslimin memiliki kekurangan dan ketidak  sempurnaan, maka hal itu membutuhkan sesuatu yang menutupi dan  menyempurnakannya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Membiasakan puasa setelah Ramadhan menandakan diterimanya puasa  Ramadhan, karena apabila Allah Taala menerima amal seorang hamba, pasti  Dia menolongnya dalam meningkatkan perbuatan baik setelahnya. Sebagian  orang bijak mengatakan: Pahala amal kebaikan adalah kebaikan yang ada  sesudahnya. Oleh karena itu barangsiapa mengerjakan kebaikan kemudian  melanjutkannya dengan kebaikan lain, maka hal itu merupakan tanda atas  terkabulnya amal pertama.&lt;br /&gt;Demikian pula sebaliknya, jika seseorang melakukan suatu kebaikan lalu  diikuti dengan yang buruk maka hal itu merupakan tanda tertolaknya amal  yang pertama.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Puasa Ramadhan -sebagaimana disebutkan di muka- dapat mendatangkan  maghfirah atas dosa-dosa masa lain. Orang yang berpuasa Ramadhan akan  mendapatkan pahalanya pada hari Raya ldul Fitri yang merupakan hari  pembagian hadiah, maka membiasakan puasa setelah Idul Fitri merupakan  bentuk rasa syukur atas nikmat ini. Dan sungguh tak ada nikmat yang  lebih agung dari pengampunan dosa-dosa.&lt;br /&gt;Oleh karena itu termasuk sebagian ungkapan rasa syukur seorang hamba  atas pertolongan dan ampunan yang telah dianugerahkan kepadanya adalah  dengan berpuasa setelah Ramadhan. Tetapi jika ia malah menggantinya  dengan perbuatan maksiat maka ia termasuk kelompok orang yang membalas  kenikmatan dengan kekufuran. Apabila ia berniat pada saat melakukan  puasa untuk kembali melakukan maksiat lagi, maka puasanya tidak akan  terkabul, ia bagaikan orang yang membangun sebuah bangunan megah lantas  menghancurkannya kembali. Allah Taala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan  benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai berai kembali (&lt;/em&gt;An-Nahl: 92)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dan di antara manfaat puasa enam hari bulan Syawal adalah amal-amal  yang dikerjakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya  pada bulan Ramadhan tidak terputus dengan berlalunya bulan mulia ini,  selama ia masih hidup.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://masyulis.blogdetik.com &lt;br /&gt;</content><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/feeds/5702564677706101098/comments/default" rel="replies" title="Posting Komentar" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2012/08/hikmah-puasa-di-bulan-syawal.html#comment-form" rel="replies" title="0 Komentar" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default/5702564677706101098" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default/5702564677706101098" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2012/08/hikmah-puasa-di-bulan-syawal.html" rel="alternate" title="Hikmah Puasa di Bulan Syawal" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01974128379563667848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1756756116987703705.post-9058430147435247675</id><published>2012-07-16T00:38:00.002+07:00</published><updated>2012-07-16T00:47:40.816+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="artikel"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ceramah agama"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="MOTIVASI"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="religious"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="renungan"/><title type="text">Risalah Shalat</title><content type="html">&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Segala puji hanya milik Allah semata, shala-wat dan salam semoga tetap dicurahkan kepada hamba dan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
utusanNya, yaitu Nabi Muhammad, keluarga dan para shahabatnya. Amma ba'du: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Berikut ini adalah uraian singkat tentang sifat (tata cara) shalat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
wasallam . Penulis ingin menyajikannya kepada setiap muslim, baik laki-laki ataupun perempuan, agar &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
siapa saja yang membaca-Nya dapat bersungguh-sungguh dalam mencontoh (berqudwah) kepada Nabi &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
shallallahu 'alaihi wasallam. di dalam masalah shalat, sebagaimana sabda beliau: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat." (HR. Al-Bukhari). &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Kepada para pembaca, berikut ini uraiannya: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
1. Menyempurnakan wudlu; &lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
(Seseorang yang yang hendak melakukan shalat) hendaknya berwudlu sebagaimana yang diperintahkan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Allah; sebagai peng-amalan terhadap firmanNya: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak melakukan shalat, maka cucilah muka &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
kalian, kedua tangan kalian hingga siku, dan usaplah kepala kalian, dan (cucilah) kedua kaki kalian &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
hingga kedua mata kaki..." (Al-Ma'idah: 6). &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
dan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Tidak diterima shalat tanpa bersuci dan shadaqah dari penipuan." (HR. Muslim ). &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan sabdanya kepada orang yang tidak betul shalatnya: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Apabila kamu hendak melakukan shalat, maka sempurnakanlah wudhu". &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
2. Menghadap ke kiblat: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Yaitu Ka'bah, di mana saja ia berada dengan seluruh tubuhnya (secara sempurna), sambil berniat di &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
dalam hatinya untuk melakukan shalat sesuai yang ia inginkan, apakah shalat wajib atau shalat sunnah, &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
tanpa mengucapkan niat tersebut dengan lisannya, karena mengucapkan niat dengan lisan itu tidak &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
dibenarkan (oleh syara'), bahkan hal tersebut merupakan perbuatan bid'ah. Sebab Rasulullah &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah melafadzkan niat begitu juga para sahabat. Disunnahkan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
meletakkan sutrah (pembatas) baik sebagai imam atau shalat sendirian karena demikian itu termasuk &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Shalat harus menghadap kiblat sebab tidak sah shalat seseorang jika tidak menghadap kiblat kecuali &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
dalam kondisi tertentu yang telah banyak dijelaskan dalam kitab-kitab fikih. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
3. Takbiratul ihram dengan mengangkat ke-dua tangan hingga sejajar dengan pundak &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
sambil mengucap Allahu Akbar lalu mengarahkan pandangan ke tempat sujud. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
4. Mengangkat kedua tangan di saat bertak-bir hingga sejajar dengan kedua pundak &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
atau sejajar dengan kedua telinganya. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
5. Meletakkan kedua tangan di atas dada-nya, &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Yaitu dengan meletakkan tangan kanan pada punggung tangan kiri, atau pada pergelangan tangan kiri, &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
atau pada lengan tangan kiri, karena hal tersebut ada haditsnya, (seperti) hadits yang bersumber dari &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Wa'il bin Hujr dan Qubaishah bin Hulb Al-Tha'iy yang ia riwaratkan dari ayahnya radhiyallahu 'anhu. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
6. Disunnahkan membaca do'a istiftah: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Ya Allah, jauhkanlah antaraku dengan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana Engkau telah &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
menjauhkan antara timur dan barat; Ya Allah, sucikanlah aku dari kesalahan-kesalahanku &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
seba-gaimana pakaian putih disucikan dari segala kotoran; Ya Allah, bersihkanlah aku dari &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
kesa-lahan-kesalahanku dengan air, es dan salju" (Muttafaq 'alaih yang bersumber dari Abu &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Hurairah radhiyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam). &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Boleh juga membaca do'a yang lain sebagai gantinya, seperti: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
" Maha Suci Engkau, Ya Allah, dengan segala puji bagiMu, Maha Mulia NamaMu, dan Maha Tinggi &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
kemuliaanMu, tiada Tuhan yang yang berhak disembah selain Engkau". &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Karena do'a ini ada dalil shahih dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Dan diperbolehkan membaca &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
do'a istiftah lain dari keduanya yang ada dalil shahihnya dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Namun yang lebih afdhal (utama) adalah pada suatu saat membaca do'a istiftah yang pertama dan pada &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
saat yang lain membaca yang kedua atau yang lainnya yang ada dalil shahihnya, karena yang demikian &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
itu lebih sempurna dalam ber-ittiba' (mencontoh Rasu-lullah shallallahu 'alaihi wasallam). &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Kemudian membaca: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk " "Dan dengan nama Allah Yang Maha &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Pengasih lagi Maha Penyayang". &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan dilanjutkan dengan membaca Surat Al-Fatihah, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
wasallam: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Tidak syah shalat seseorang yang tidak membaca Surat Al-Fatihah ", dan sesudah itu membaca "Amin" &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
secara jelas (nyaring) dalam shalat jahriyah, dan sirr (tersembunyi) dalam shalat sirriyah. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Kemudian membaca ayat-ayat Al-Qur'an, dan diutamakan bacaan dalam shalat Zhuhur, Ashar dan Isya' &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
dari surat-surat yang agak panjang, dan pada shalat Shubuh surat-surat yang panjang, sedangkan pada &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
shalat Maghrib surat-surat pendek dan pada suatu saat boleh juga membaca surah yang panjang atau &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
setengah panjang, maksudnya pada shalat Maghrib, sebagaimana yang diriwayatkan dari Rasulullah &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
shallallahu 'alaihi wasallam. Dan pada shalat Ashar hendaknya membaca surat yang lebih pendek dari &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
pada bacaan shalat dzuhur &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
7. Ruku' sambil bertakbir dan mengangkat kedua tangan hingga sejajar &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
dengan kedua pun-dak atau kedua telinga, dengan menjadikan kepala sejajar dengan punggung dan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
meletakkan kedua tangan pada kedua lutut dengan jari-jari terbuka sambil thuma'ninah di saat ruku' dan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
mengucapkan: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Maha suci RabbKu Yang Maha Agung" &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan lebih diutamakan membacanya tiga kali atau lebih, dan di samping itu dianjurkan pula membaca: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Maha Suci Engkau, Wahai Rabb kami dan dengan segala puji bagiMu, Ya Allah, ampunilah aku". &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
8. Mengangkat kepala dari ruku', &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
sambil mengangkat kedua tangan hingga sejajar dengan kedua pundak atau kedua telinga &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
sambil membaca: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Semoga Allah mendengar orang yang memuji-Nya". &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
baik sebagai imam atau shalat sendirian. Lalu di saat berdiri mengucapkan: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Wahai Rabb kami, milikMu segala pujian sebanyak-banyaknya lagi baik dan penuh berkah, sepenuh &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
langit dan bumi, sepenuh apa yang ada di antara keduanya dan sepenuh apa saja yang Engkau &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
kehendaki kelak". &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan jika ditambah lagi sesudah itu dengan do'a: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
" Pemilik puja dan puji, ucapan yang paling haq yang diucapkan oleh seorang hamba; dan semua kami &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
adalah hamba bagiMu; Ya Allah, tiada penghalang terhadap apa yang Engkau berikan, dan tiada yang &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
dapat memberikan terhadap apa yang Engkau halangi, tiada berguna bagi orang yang memiliki &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
kemuliaan, karena dariMu lah kemuliaan". &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Maka hal tersebut baik, karena yang demikian itu ada dasarnya dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
dalam beberapa hadits shahih. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Adapun jika ia sebagai ma'mum, maka di saat mengangkat kepala membaca: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Wahai Rabb kami, milikMu lah segala puji-an"... hingga akhir bacaan di atas. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan dianjurkan meletakkan kedua tangannya di atas dadanya, sebagaimana yang ia lakukan pada saat &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
berdiri sebelum ruku', karena keshahihan hadits dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
menunjukkan demikian, yaitu hadits yang bersumber dari Wa'il bin Hujr dan Sahal bin Sa'ad &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
radhiyallahu 'anhu. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
9. Sujud sambil bertakbir dengan meletak-kan kedua lutut sebelum kedua tangan, jika hal tersebut &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
memungkinkan. Dan jika tidak, maka men-dahulukan kedua tangan sebelum kedua lutut, sambil &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
menghadapkan jari-jari kedua telapak kaki dan jari jari kedua telapak tangan ke qiblat, dengan posisi &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
jari-jari telapak tangan rapat. Dan sujud di atas tujuh anggota tubuh, yaitu dahi bersama hidung, kedua &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
telapak tangan, kedua lutut dan ujung jari kedua telapak kaki, sambil membaca do'a: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Maha Suci Rabbku Yang Maha Tinggi." tiga kali atau lebih: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dianjurkan pula membaca: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Maha Suci Engkau, Ya Allah Rabb kami, dengan segala puji bagiMu. Ya Allah ampunilah aku ". &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan memperbanyak do'a, sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Adapun ruku', maka agungkanlah Tuhan pada saat itu, dan adapun sujud, maka &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
bersungguh-sungguhlah kalian dalam berdo'a, sebab layak untuk diterima bagi kalian." &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan juga sabda beliau shallallahu 'alaihi wasallam: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
" Posisi terdekat seorang hamba dari Tuhannya adalah di saat ia sedang sujud, maka dari itu &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
perbanyaklah do'a." &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Kedua hadis tersebut diriwayatkan oleh Muslim di dalam Shahihnya. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Hendaknya (diwaktu sujud) ia memohon kepa-da Tuhannya kebaikan dunia dan akhirat untuk dirinya &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
dan untuk orang lain dari kaum muslimin, baik itu dalam shalat wajib maupun dalam shalat sunnah. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan (diwaktu sujud) hendaknya mereng-gangkan kedua lengan tangan dari kedua lambung dan perut &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
dari kedua pahanya sambil mengangkat kedua hasta/lengah tangannya dari tanah, sebab Nabi shallallahu &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
'alaihi wasallam bersabda: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
" Tegak luruslah kalian di saat sujud dan jangan ada seorang dari kalian meletakkan kedua lengan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
tangannya seperti anjing meletakkan kedua lengan tangannya." (Muttafaq 'alaih). &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
10. Mengangkat kepala sambil bertakbir, &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
bertumpu pada kaki kiri dan mendudukinya, sedang-kan kaki kanan ditegakkan, meletakkan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
kedua tangan di atas ujung kedua paha dan kedua lutut, lalu mem-baca: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Wahai Rabbku, ampunilah aku; wahai Rabbku, ampunilah aku; wahai Rabbku, ampunilah aku. Ya &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Allah, ampunilah aku, belas kasihilah aku, berilah aku petunjuk, berilah aku rizki, berilah aku &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
kesehatan dan tutupilah kekuranganku." &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Hendaknya thuma'ninah (berhenti sebentar) di waktu duduk, hingga setiap persendian benar-benar &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
berada pada posisinya, sebagaimana di saat ia berdiri i'tidal sebelum ruku', karena Nabi shallallahu &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
'alaihi wasallam memanjangkan (waktu) i'tidalnya sesudah ruku' dan ketika duduk di antara dua sujud. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
11. Sujud yang kedua sambil bertakbir, &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
dalam melakukannya sebagaimana ia melakukan pada sujud pertama. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
12. Mengangkat kepala (bangun) sambil bertakbir, &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
dan duduk sejenak seperti duduk antara dua sujud. Ini disebut duduk istirahat, hukumnya sunnah &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
menurut pendapat yang lebih kuat dari dua pendapat para ulama, dan jika ditinggalkan maka tidak &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
apa-apa. Dan pada duduk ini tidak ada bacaan atau pun do'a. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Lalu bangkit dan berdiri untuk melakukan raka'at yang kedua dengan bersanggah pada kedua lutut jika &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
memungkinkan, dan jika tidak memung-kinkan, maka bersanggah kepada kedua tangan di atas lantai, &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
kemudian membaca Al-Fatihah dan sete-rusnya seperti apa yang dilakukan pada raka'at yang pertama. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Tidak boleh bagi seorang ma'mum menda-hului imam, karena Nabi shallallahu 'alaihi wasallam &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
melarang umatnya dari tindakan seperti itu, demikian juga dibenci memba-rengi imam. Sunnahnya bagi &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
ma'mum, gerakan-gerakannya harus sesudah gerakan-gerakan imam-nya dengan tidak berbarengan, dan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
harus setelah terhentinya suara imam, karena Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
" Sesungguhnya imam itu dijadikan sebagai imam agar diikuti, maka janganlah kalian menyelisihinya, &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
oleh karena itu, jika ia bertakbir maka bertakbirlah kalian, dan jika ia ruku' maka ruku'lah kalian, dan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
apabila ia membaca: "Sami'allahu liman hamidah", maka bacalah: "Rabbana wa lakal-hamdu", dan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
apabila ia sujud, maka sujudlah kalian" (Muttafaq 'alaih). &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Jika shalat itu adalah shalat dua raka'at, seperti shalat Subuh, shalat Jum'at dan shalat 'Id, maka &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
duduk iftirasy setelah bangkit dari sujud kedua, yaitu dengan menegakkan kaki kanan, dan bertumpu &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
pada kaki kiri, tangan kanan diletakkan di atas paha kanan dengan menggenggam semua jari kecuali jari &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
telujuk untuk berisyarat kepada tauhid di saat meng-ingat Allah shallallahu 'alaihi wasallam dan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
berdo'a. Jika jari manis dan jari kelingking tangan kanan digenggamkan, sedangkan ibu jari dibentuk &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
lingkaran dengan jari tengah dan berisyarat dengan jari telunjuk, maka hal tersebut sangat baik sekali, &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
karena kedua cara tersebut ada di dalam hadits shahih dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Dan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
afdhalnya melakukan cara yang pertama pada suatu saat dan cara yang kedua pada saat yang lain. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Sedangkan tangan kiri diletakkan di atas (ujung) paha kiri dan lutut; lalu membaca Tasyahhud, yaitu: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Kemudian dilanjutkan dengan membaca: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Lalu memohon perlindungan kepada Allah dari empat hal dengan membaca: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Kemudian berdo'a, memohon kepada Allah untuk kebaikan dunia dan akhirat. Dan apabila berdo'a &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
untuk kedua orang tua atau untuk kaum muslimin, maka dibolehkan, baik di waktu shalat wa-jib &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
ataupun shalat sunnah, berdasarkan hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dari Ibnu Mas'ud &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
radhiyallahu 'anhu ketika Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya Tasyahhud, beliu bersabda: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Kemudian hendaknya ia memilih do'a yang lebih disukai, lalu berdo'a" &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Do'a yang disebutkan dalam hadist di atas men-cakup semua apa saja yang berguna bagi seseorang &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
dalam kehidupan dunia dan akhirat. Setelah itu memberi salam dengan menoleh ke kanan dan salam &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
dengan menoleh ke kiri, seraya mengucapkan: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
14. Jika shalat yang dikerjakan adalah tiga raka'at, seperti shalat Maghrib, atau empat raka'at, &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
seperti shalat Zhuhur, 'Ashar dan Isya', maka hendak-nya ia membaca tasyahhud tersebut di atas &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
dengan membaca shalawat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, kemudian bang-kit dengan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
bersanggah kepada kedua lututnya, sambil mengangkat kedua tangan sampai sejajar dengan kedua &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
pundak dan membaca Allahu Akbar, lalu mele-takkan kedua tangan di dada sebagaimana diterang-kan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
di atas kemudian membaca Al-Fatihah saja. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Jika ia membaca surah atau ayat pada raka'at ketiga dan keempat dalam shalat dzuhur sesudah &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
al-Fatihah pada saat-saat tertentu, maka tidak apa-apa. Karena ada hadits shahih yang menunjukkan hal &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
tersebut dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang bersumber dari Abu Sa'id radhiyallahu 'anhu. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan jika tidak membaca shalawat pada tasyah-hud pertama, maka tidak apa-apa, karena hukumnya &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
sunnah, tidak wajib dalam tasyahhud awal. Kemudian membaca tasyahhud setelah raka'at ketiga pada &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
shalat Maghrib, dan setelah raka'at keempat dari shalat Zhuhur, Ashar dan Isya', berikut dengan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
shalawat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam , dan memohon perlindungan kepada Allah dari &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
empat perkara yang disebutkan di atas (adzab Neraka Jahannam, siksa kubur, fitnah kehi-dupan dan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
kematian dan dari kejahatan fitnah Dajjal), lalu perbanyak berdo'a. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan di antara do'a yang diajarkan pada akhir tahiyyat (tasyahhud) dan juga dalam &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
kesempatan-kesempatan lainnya adalah: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
" Ya Rabb kami, karuniakan kepada kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat dan peliharalah &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
kami dari adzab api Neraka". &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Karena ada hadits shahih yang bersumber dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Kebanyakan dari do'a-do'a Nabi shallallahu 'alaihi wasallam itu adalah Rabbana atina fiddunya &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
hasanah wafil akhirati hasanah wa qina adzaban nar. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Sebagaimana telah disebutkan di atas dalam shalat yang dua raka'at, hanya saja posisi duduk saat ini &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
adalah duduk tawarruk, yaitu duduk dengan meletakkan telapak kaki kiri di bawah betis kaki kanan dan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
kemudian mendudukkan pantat di atas tanah, sedangkan kaki kanan tegak, berdasarkan hadits yang &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
bersumber dari Abu Humaid. Kemudian memberi salam ke kanan sambil mengucapkan: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
kiri seraya mengucapkan: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Sehabis itu beristighfar (memohon ampun) kepada Allah tiga kali, membaca: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
dan salam ke &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Selamat dan dariMu-lah keselamatan, Maha Suci Engkau, wahai &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Tuhan Pemilik keagungan dan kemulia-an; tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
tiada sekutu bagiNya, milikNya lah kerajaan, dan milikNya-lah segala pujian, dan Dia Maha Kuasa &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
atas segala sesuatu; tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Ya Allah, tiada yang dapat &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
menghalangi terhadap apa yang Engkau berikan, dan tiada yang dapat memberi terhadap apa yang &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Engkau halangi, tidaklah bermanfaat kemuliaan bagi pemiliknya kecuali kemuliaan itu dari Engkau. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan kami tidak menyembah kecuali hanya kepadaNya; &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
kepunyaanNya lah kenikmatan dan milikNya lah karunia, dan bagiNya-lah sanjungan yang baik, tiada &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
tuhan yang berhak disembah selain Allah, dengan tulus ikhlas tunduk kepadaNya sekalipun &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
orang-orang kafir tidak suka". &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Kemudian bertasbih (mengucapkan Subhanallah ) sebanyak 33 kali, memuji Allah (mengucapkan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Alhamdulillah) 33 kali dan bertakbir (mengucapkan Allahu akbar) 33 kali, serta digenapkan menjadi &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
seratus dengan mengucapkan: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagiNya, kepunyaan-Nya-lah &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
kerajaan, dan milikNya-lah segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu". &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Lalu membaca ayat Kursi, Surat Al-Ikhlash, surat Al-Falaq dan Surah An-Nas pada setiap kali selesai &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
shalat. Dan dianjurkan (disunnahkan) meng-ulang tiga surat tersebut sebanyak 3 kali setelah selesai &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
shalat Maghrib dan shalat subuh, berdasarkan hadits shahih dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
yang menganjurkan tentang hal itu, begitu pula dianjurkan (disunnahkan) menambah dzikir tersebut di &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
atas, terutama setelah shalat Maghrib dan shalat Subuh dengan dzikir berikut 10 kali: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tiada sekutu bagiNya, kepunyaan-Nya-lah &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
kerajaan, dan milikNya-lah segala pujian, Dia menghidupkan dan mematikan dan Dia Maha Kuasa &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
atas segala sesuatu". &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Semua itu berdasarkan hadits shahih dari Rasu-lullah shallallahu 'alaihi wasallam. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Jika ia sebagai imam, maka hendaknya berbalik menghadap para ma'mum sesudah beristighfar 3 kali &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
dan mengucapkan: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Ya Allah, Engkau Yang Maha selamat dan dariMu lah keselamatan, Maha Tinggi lagi Maha Suci &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Engkau, wahai Pemilik keagungan dan kemuliaan". &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Kemudian membaca dzikir-dzikir sebagaimana tersebut di atas, yang banyak disebutkan dalam &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
hadits-hadits dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, di antaranya adalah hadits shahih yang dari 'Aisyah &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
radhiyallahu 'anhu yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Semua dzikir di atas hukumnya sunnah, &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
tidak wajib. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Disunnahkan pula bagi setiap muslim, baik laki-laki atau perempuan shalat sunnah 4 raka'at sebelum &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Zhuhur dan 2 raka'at sesudahnya, 2 raka'at sesudah shalat Maghrib, 2 raka'at sesudah Isya dan 2 raka'at &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
sebelum shalat Subuh. Jumlah kesemuanya 12 raka'at, yang dinamakan shalat rawatib; Nabi shallallahu &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
'alaihi wasallam selalu menjaganya di waktu muqim, adapun di waktu beper-gian beliau hanya &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
melakukan shalat sunnat Subuh dan witir. Untuk kedua shalat sunnah tersebut Rasulullah shallallahu &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
'alaihi wasallam tidak pernah meninggalkannya baik di waktu muqim maupun di waktu bepergian. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Beliau adalah teladan bagi kita, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik". (Al-Ahzab: 21). &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan juga sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat".(HR. Bukhari). &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan lebih utama (afdhal) shalat-shalat rawatib dan shalat witir dilakukan di rumah, namun jika &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
dilakukan di masjid, maka tidak apa-apa sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Sebaik-baik shalat seseorang adalah di rumah, kecuali shalat wajib." (Hadits ini disepakati &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
keshahihannya oleh Bukhari dan Muslim) &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Menjaga shalat rawatib dengan sungguh-sung-guh merupakan bagian dari sebab seseorang masuk &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Surga, sebagaimana yang diriwayatkan di dalam Shahih Muslim dari Ummi Habibah radhiyallahu 'anhu &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
sesungguh-nya dia berkata: Saya telah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Tiada seorang hamba muslim pun yang selalu melakukan shalat sunnat 12 raka'at selain dari shalat &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
wajib pada setiap hari, melainkan Allah bangun untuknya sebuah istana di Surga." &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan sesungguhnya Imam At-Tirmidzi di dalam riwayat haditsnya juga menjelaskan (menafsirkan) &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
hadits di atas sebagaimana yang kami sebutkan tadi. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Jika ia melakukan 4 raka'at sebelum shalat Ashar, 2 raka'at sebelum Maghrib, dan dua raka'at sebelum &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
shalat Isya', maka itu lebih baik sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Allah akan memberi rahmat kepada seseorang yang selalu shalat 4 raka'at sebelum Ashar". (HR. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Imam Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, dan ia menghasankannya; dishahihkan Ibnu Huzaimah, &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
sanad hadits tersebut shahih). &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan juga sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
" Di antara dua adzan (adzan dan iqamah) ada shalatnya, di antara dua adzan ada shalatnya, -Lalu &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
beliau bersabda untuk ketiga kalinya: Bagi yang menghendaki." (HR. Al-Bukhari) &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan jika shalat 4 raka'at setelah shalat Zhuhur dan 4 raka'at sebelumnya, maka itu pun baik pula, &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Barangsiapa yang menjaga 4 raka'at sebelum Zhuhur dan 4 raka'at sesudahnya, maka ia diharamkan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
oleh Allah atas api Neraka." (HR. Ahmad dan Ahlus Sunan dengan sanad shahih dari Ummi &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Habi-bah radhiyallahu 'anhu) &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Maksudnya adalah, ia menambah 2 raka'at atas shalat sunnat rawatib sesudah Zhuhur, karena shalat &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
sunnat rawatib Zhuhur itu 4 raka'at sebelumnya dan 2 raka'at sesudahnya. Maka jika ia melakukan dua &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
rak'at shalat sunnat lagi sesudahnya, tercapailah apa yang disebutkan di dalam hadits Ummi Habibah &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
tersebut. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan Allahlah Pemberi taufiq, dan semoga Allah tetap mencurahkan shalawat dan salam kepada nabi kita &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Nabi Muhammad bin Abdullah shallallahu 'alaihi wasallam, kepada ke-luarga dan para shahabatnya &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
serta para pengikutnya hingga hari Kiamat. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
KEHARUSAN MELAKSANAKAN SHALAT FARDHU &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
DENGAN BERJAMA'AH &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dari Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditujukan kepada siapa saja yang melihat buku ini dari kaum &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
muslimin .. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh, waba'du: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Telah sampai berita kepadaku bahwasanya banyak kaum muslimin yang mengabaikan dalam melakukan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
shalat wajib secara berjama'ah, mereka berdalih dengan pendapat sebagian ulama yang &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
menggampangkan hal ini. Maka saya berkewajiban untuk menjelaskan betapa besarnya permasalahan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
ini dan betapa sangat penting; dan tidak diragukan lagi bahwa mengabaikan shalat berjamaah adalah &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
suatu kemungkaran yang sangat besar dan bahayanya pun fatal. Maka tugas dan kewajiban para ulama &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
adalah memberikan penjelasan dan peringatan, terhadap pengabaian tersebut yang merupakan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
kemungkaran nyata, yang tidak boleh didiamkan. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan sudah dimaklumi bersama, bahwasanya tidaklah layak bagi seorang muslim menganggap remeh &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
suatu perkara yang kedudukannya dimuliakan oleh Allah di dalam Kitab Sucinya, dan diagungkan oleh &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
RasulNya yang mulia shallallahu 'alaihi wasallam. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Berulang kali Allah Ta'ala menyebutkan shalat di dalam Kitab Sucinya, Dia tinggikan kedudukannya, &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dia perintahkan agar memelihara dan melaksanakan-nya dengan berjama'ah. Dan Dia peringatkan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
bahwa meremehkan dan bermalas-malasan dalam melaku-kannya merupakan ciri (sifat) orang-orang &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
munafiq, sebagaimana firmanNya: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Peliharalah segala shalat (mu) dan peliharalah shalat wustha. Berdirilah karena Allah (dalam &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
shalatmu) dengan khusyu'. (Al-Baqarah; 238). &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan bagaimana manusia akan mengetahui bahwa seorang hamba memelihara shalat dan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
mengagungkannya, padahal ia telah meninggalkan shalat berjama'ah bersama-sama suadara-saudaranya &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
(kaum muslimin) dan menganggap remeh kedudukannya. Padahal Allah telah berfirman: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Dan dirikanlah shalat, tunaikan zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku'. (Al-Baqarah: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Ayat di atas secara tegas menjelaskan kewajiban melakukan shalat wajib dengan berjama'ah dan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
me-nyertai shalat orang-orang yang shalat; dan sekiranya yang dimaksud oleh ayat tersebut hanya &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
menegak-kannya saja, maka tidak jelaslah korelasi gamblang pada ujung ayat (dan ruku'lah kalian &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
bersama-sama orang-orang yang ruku'), karena Allah telah mem-erintahkan agar menegakkannya pada &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
awal ayat. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan Dia pun berfirman: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Dan apabila kamu berada di tengah-tengah me-reka (shahabatmu) lalu kamu hendak mendiri-kan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
shalat bersama-sama mereka, maka hendak-lah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
menyandang senjata, kemudian apa bila mereka(yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
seraka'at), maka hen-daklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
hendaklah datang golongan yang kedua yang belum shalat, lalu shalatlah mereka denganmu, dan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
hendaklah mereka bersiap-siaga dan menyandang senjata. (An-Nisa': 102). &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Pada ayat di atas Allah mewajibkan shalat berjama'ah dalam kondisi perang dan penuh keta-kutan, &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
maka bagaimana dalam kondisi damai? Kalau sekiranya seseorang diperbolehkan meninggalkan shalat &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
berjama'ah, niscaya para tentara yang berbaris menghadang musuh dan orang-orang yang terancam &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
serangan musuh itu lebih berhak untuk diperboleh-kan meninggalkan shalat berjama'ah. Oleh karena &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
hal itu tidak terjadi (Baca: tidak diperbolehkan mening-galkan shalat berjama'ah), maka dapat kita &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
ketahui bahwa shalat berjama'ah itu termasuk kewajiban yang sangat penting, dan tidak diperbolehkan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
bagi seorang pun meninggalkannya. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan di dalam Shahih Bukhari dan Muslim ter-dapat hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
bahwasanya Ra-sulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Sungguh, aku telah bertekad untuk menyuruh (para shahabat) melakukan shalat, dan aku suruh &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
seseorang untuk mengimaminya, kemudian aku pergi bersama beberapa orang yang membawa &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
beberapa ikat kayu bakar menuju orang-orang yang tidak ikut shalat berjama'ah, untuk membakar &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
rumah mereka dengan api. (Al-Hadits). &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Di dalam kitab Musnad Imam Ahmad meriwayatkan bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
wasallam bersabda: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Kalau sekiranya tidak karena istri-istri dan anak-anak berada di dalam rumah mereka, niscaya aku &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
bakar rumah mereka." &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Di dalam Shahih Muslim dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu mengatakan: "Sesungguhnya &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
kami telah menyaksikan, bahwa tidak ada yang meninggalkan shalat berjama'ah (di masa kami) &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
kecuali orang munafiq yang telah jelas kemunafikannya, atau orang sakit. Padahal ada di antara yang &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
sakit berjalan de-ngan diapit oleh dua orang untuk mendatangi shalat berjama'ah". &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan dia juga berkata: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
" Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah mengajari kami sunnah-sunnah agama, &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
dan di antara sunnah-sunnah tersebut adalah shalat di masjid yang dikumandangkan adzan di &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
dalamnya". &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan di dalam Shahih Muslim juga dia berkata: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Barangsiapa yang ingin berjumpa Allah di kemudian hari dalam keadaan muslim, maka hendaklah ia &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
memelihara shalat lima waktu ini dengan melakukannya dimana saja ada seruan adzan, karena &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
sesungguhnya Allah telah menetapkan (mensyari'atkan) jalan-jalan menuju hidayah (petunjuk-petunjuk &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
agama), dan sesungguhnya melakukan shalat lima waktu dengan berja-ma'ah adalah termasuk &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
jalan-jalan menuju hidayah. Maka sekiranya kalian shalat di rumah-rumah kalian sebagaimana orang &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
yang lalai melakukannya di rumah, maka berarti kalian te-lah meninggalkan sunnah (ajaran) nabi &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
kalian, dan jika kalian meninggalkan sunnah nabi kali-an, niscaya kalian sesat. Dan tiada seseorang &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
bersuci (berwudhu), lalu melakukannya dengan baik (sempurna), kemudian ia datang ke salah satu &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
masjid dari masjid-masjid yang ada ini, melainkan Allah mencatat baginya satu keba-jikan untuk setiap &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
langkah yang ia ayunkan, dan Dia mengangkatnya satu derajat karena langkah itu, serta Dia hapuskan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
dari padanya satu dosa. Sesungguhnya, kami telah menyaksikan, bahwa tiada seorang pun yang &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
meninggalkan shalat berjama'ah (di masa kami), kecuali orang munafiq yang sudah jelas &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
kemunafikannya. Dan sesungguhnya ada orang yang diapit oleh dua orang menuju masjid hingga &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
didirikan di shaf." &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Di dalam shahih Muslim juga diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwasanya ada seorang buta yang &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya tidak ada orang yang menuntunku ke masjid, apakah ada &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
keringanan bagiku untuk shalat di rumahku? Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Apakah kamu mendengar seruan adzan? Orang itu menjawab: Ya. Maka Nabi bersabda: Kalau begitu &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
penuhi seruan itu." &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan juga ada hadits shahih yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
bersabda: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Barangsiapa yang mendengar seruan adzan, lalu ia tidak datang (memenuhi seruan shalat berjama'ah &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
itu), maka tidak sah shalatnya, kecuali karena ada udzur". &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Suatu ketika Ibnu Abbas ditanya: Apa udzur itu? Ia menjawab: Takut (serangan musuh) atau sakit. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan hadits-hadits yang menunjukkan tentang kewajiban shalat berjama'ah dan kewajiban &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
melaku-kannya di masjid-masjid yang diizinkan Allah untuk ditinggikan dan disebutkan namaNya, &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
sangat banyak sekali. Maka kewajiban setiap muslim adalah mem-perhatikan masalah ini dan segera &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
melakukannya serta menganjurkan dan menasihati anak-anak, keluarga dan para tetangga serta &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
saudara-saudaranya yang seiman untuk melakukan perkara ini, sebagai ketaatan kepada perintah Allah &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
dan RasulNya, dan supaya terhindar dari perbuatan yang dilarang oleh Allah dan RasulNya, dan jauh &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
dari sifat-sifat orang-orang munafiq yang dinyatakan oleh Allah dengan sifat-sifat yang tercela, yang di &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
antaranya adalah kela-laian mereka dalam melakukan shalat. Sebagaimana firman Allah Ta'ala: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Sesungguhnya orang-orang munafiq itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya' (dengan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
shalat) di hadapan manusia. Dan tidak-lah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. Mereka &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
ini(orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu(orang-orang kafir). Barangsiapa yang &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
disesatkan Allah, maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
(An-Nisa': 142-143) &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan sesungguhnya meninggalkan shalat ber-jama'ah merupakan penyebab utama dari pengabaian &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
pelaksanaan shalat secara keseluruhan. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Sudah dimaklumi bahwa meninggalkan shalat adalah suatu kekafiran dan kesesatan serta keluar dari &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Islam, karena Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"(Pembatas) antara seorang muslim dengan kemusrikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat." &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
(HR. Muslim di da-lam kitab Shahihnya bersumber dari Jabir radhiyallahu 'anhu) &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Perjanjian antara kita dengan mereka (orang munafik) adalah shalat, barangsiapa meninggalkannya &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
maka sesungguhnya ia telah kafir". (HR. Imam Ahmad dan Ashabus sunan dengan sanad shahih). &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits-hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang menjelaskan tentang &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
kedudukan shalat, kewajib-an memeliharanya dan mendirikannya sebagaimana yang disyari'atkan Allah &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
serta peringatan keras terha-dap pengabaiannya sangat banyak. Maka kewajiban setiap muslim adalah &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
memelihara (pelaksanaan)nya tepat pada waktunya dan mendirikannya sebagaimana yang disyari'atkan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Allah bersama saudara-saudaranya di masjid-masjid, sebagai tanda kepatuhan kepada Allah Ta'ala dan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
rasulNya, dan agar terhindar dari murka Allah dan kepedihan adzabNya. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan apabila kebenaran dan dalil-dalinya telah jelas, maka tidak boleh bagi seorang pun menyim-pang &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
darinya karena pendapat si Fulan atau si Fulan. Sebab Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Kemudian jika kamu berlainan pendapat ten-tang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
(Al-Qur'an) dan Rasul (Sunnahnya) jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari Kemudian. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Yang demikian itu utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (An-Nisa': 59) &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan firmanNya: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
adzab yang pedih." (An-Nur: 63). &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Sudah tidak diragukan lagi bahwa shalat berja-a'ah itu mengandung faidah yang sangat banyak dan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
maslahat yang sangat jelas di antaranya adalah saling mengenal (ta'aruf&amp;nbsp; ), saling menolong dalam &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
kebajikan dan ketaqwaan, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, memberi dorongan kepada &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
orang yang lalai, mengajar orang yang bodoh, mem-bongkar kemarahan orang-orang munafiq dan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
men-jauhi jalan mereka, menampakkan syi'ar-sy'iar agama kepada segenap hamba-hambaNya, &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
berdakwah di jalan Allah dengan lisan amal, dan faidah lain yang masih banyak. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Sebagian orang ada yang bergadang di malam hari sehingga terlambat melakukan shalat Subuh, dan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
sebagian lagi ada yang meninggalkan shalat Isya'. Tentu, hal seperti itu merupakan kemungkaran besar &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
dan tasyabbuh (meniru perbuatan) orang-orang munafiq, sebagaimana firman Allah Ta'ala: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Sesungguhnya orang-orang munafiq itu (ditem-patkan) pada tingkatan yang paling bawah dari &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan men-dapat seorang penolong pun bagi mereka. (An-Nisa: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
145). &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan juga firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Orang-orang munafiq laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sa-ma, &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
mereka menyuruh berbuat yang mungkar dan melarang berbuat yang ma'ruf, dan mereka &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
menggenggamkan tangannya, mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Sesungguhnya orang-orang munafiq itulah orang-orang yang fasiq. Allah mengancam orang-orang &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
munafiq laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan Neraka Jahannam. Mereka kekal di &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
dalamnya. Cukuplah Neraka itu bagi mereka; dan Allah melaknati mereka; dan bagi mereka adzab &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
yang kekal. (At-Taubah 67-68). &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan Allah berfirman tentang mereka: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melain-kan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
karena mereka kafir kepada Allah dan RasulNya dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
dengan malas dan tidak pula menaf-kahkan harta mereka, melainkan dengan rasa enggan. Maka &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
dengan memberi harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir. (At-Taubah-54-55). &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Maka wajib bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan waspada dari menyerupai (meniru-niru) &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
orang-orang munafiq baik perbuatan, perkataan dan kemalasan mereka dalam menunaikan shalat dan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
pengabaian mereka dalam melakukan shalat Isya' dan Subuh dengan berjama'ah, agar tidak dihimpun &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
ber-sama mereka. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dalam riwayat hadits shahih Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ber-sabda: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
" Shalat yang paling berat menurut orang-orang munafiq adalah shalat Isya' dan shalat Shubuh. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Sekiranya mereka mengetahui pahala yang ter-kandung pada keduanya, niscaya mereka akan datang &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
untuk melakukannya (secara berja-ma'ah) sekalipun dengan merangkak". (Muttafaq alaih). &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan sabdanya: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Barangsiapa meniru-niru (menyerupai) suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka". (HR. Imam &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Ahmad, bersumber dari Abdullah bin Umar shallallahu 'alaihi wasallam dengan sanad hasan). &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Semoga Allah memberi taufiq kepadaku dan kepada pembaca menuju keridhaanNya dan kebaikan di &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
dunia dan akhirat, dan semoga Dia melindungi kita dari kejahatan nafsu, amal-amal buruk kita dan dari &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
perbuatan yang menyerupai orang-orang kafir dan munafiq. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Maha Mulia. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
HUKUM SHALAT DAN BERSUCI BAGI ORANG SAKIT &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, sha-lawat dan salam semoga tetap dicurahkan kepada nabi &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
dan rasul yang termulia, nabi kita Muhammad, dan kepada keluarga serta segenap para shahabatnya, wa &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
ba'du: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Berikut ini adalah uraian singkat yang berhu-bungan dengan beberapa hukum bersuci dan shalat bagi &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
orang sakit. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menetapkan kewa-jiban bersuci untuk setiap shalat, &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
karena sesungguh-nya menghilangkan hadats dan najis, baik pada tu-buh, pakaian atau tempat shalat, &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
keduanya merupa-kan bagian dari syarat-syarat sahnya shalat. Maka apabila seorang muslim hendak &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
melakukan shalat, ia wajib berwudhu (bersuci) dari hadats kecil, atau mandi terlebih dahulu jika ia &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
berhadats besar. Dan sebelum berwudhu ia harus beristinja' (bersuci) dengan air atau beristijmar &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
dengan batu jika kencing atau buang air besar, agar kesucian dan kebersihan menjadi sempurna. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan berikut ini uraian tentang berapa hukum yang berkaitan dengan hal di atas: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Bersuci dengan air dari apa saja yang keluar dari qubul atau dubur, seperti air kencing atau berak adalah &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
wajib. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan tidak diwajibkan (kepada seseorang) ber-istinja karena tidur atau keluar angin (kentut), yang wajib &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
baginya adalah berwudlu. Sebab, istinja' itu disyari'atkan untuk menghilangkan najis. Sementara, tidur &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
dan keluar angin itu tidak ada najis. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Istijmar adalah pengganti istinja (bersuci) de-ngan air. Dan istijmar dengan batu atau sesuatu yang &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
serupa dengannya. Dalam beristijmar harus meng-gunakan tiga buah batu yang suci dan bersih, sebab &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam hadits shahihnya bersabda: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Barangsiapa beristijmar hendaklah ia mengganjilkannya". &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan beliu juga bersabda: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Apabila seorang diantara kalian pergi kebela-kang untuk buang air besar, maka hendaklah membawa &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
tiga batu, karena sesungguhnya hal itu cukup baginya" (HR. Abu Daud). &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melarang beristijmar dengan kurang dari tiga batu, &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Tidak boleh beristijmar dengan kotoran (manusia atau hewan), tulang atau makanan, atau apa saja yang &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
haram. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Afdhalnya adalah beristijmar dengan batu atau apa saja yang serupa dengannya, seperti tissue dan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
lain-lain, kemudian diakhiri dengan air. Karena batu berfungsi menghilangkan materi najis, sedangkan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
air mensucikan tempat (najis). Maka yang demikian ini lebih suci. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Seseorang boleh memilih antara beristinja' dengan air atau beristijmar dengan batu dan benda yang &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
serupa dengannya, atau menggabungkan antara keduanya. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dari Anas radhiyallahu 'anhu bahwa dia berkata: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah masuk ke jamban, dan aku bersama anak &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
sebaya denganku memba-wa bejana berisi air dan tongkatnya. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
beristinja dengan air itu". (Muttafaq alaih). &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan dari 'Aisyah radhiyallahu 'anhu bahwa ia berkata kepada sekelompok orang: "Suruhlah &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
suami-suami kalian ber-suci dengan air, karena sesungguhnya aku malu kepada mereka, dan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
sesungguhnya Rasulullah radhiyallahu 'anhu selalu melakukannya". Imam At-Tirmidzi mengatakan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
bahwa hadits ini shahih". &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Apabila memilih salah satunya, maka (dengan) air itu lebih afdhal, karena air dapat mensucikan tempat &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
(najis) dan menghilangkan materi dan bekas najis. Air itu lebih sempurna dalam membersihkan. Dan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
seandainya memilih bersuci dengan mengguna-kan batu, maka boleh dengan syarat menggunakan tiga &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
batu yang dapat membersihkan tempat (najis). &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Jika tiga batu tidak cukup untuk (membersih-kan), maka ditambah satu atau dua lagi hingga tempat &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
najis benar-benar bersih. Dan afdhalnya disudahi dengan hitungan ganjil, karena Nabi shallallahu 'alaihi &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
wasallam bersabda: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Barangsiapa beristijmar hendaklah mengganjilkan". &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan tidak boleh beristijmar dengan tangan kanan, karena Salman berkata di dalam haditsnya: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah melarang siapa saja dari kami beristinja dengan tangan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
kanan". &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan beliau bersabda: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
" Jangan ada seorang di antara kamu memegang kemaluannya dengan tangan kanan di saat ia kencing, &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
dan jangan pula mengusap (meng-lap) setelah buang air besar dengan tangan kanan". &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Jika tangannya patah atau sakit atau karena hal lain, maka boleh beristijmar dengan tangan kanan, &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
karena terpaksa, dan tidak apa-apa. Jika bersuci dengan melakukan keduanya, istijmar dan istinja &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
dengan air, maka yang demikian itu lebih afdhal dan lebih sempurna. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Ajaran Islam (Syari'at Islam) dibangun berlan-dasan kemudahan dan keringanan, maka dari itulah Allah &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
memberikan keringanan bagi orang-orang yang mempunyai udzur di dalam peribadatan sesuai dengan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
udzurnya, sehingga mereka dapat beribadah kepada-Nya tanpa kesulitan. Allah Ta'ala berfirman: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan". (Al-Hajj: 78). &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan firmanNya: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Allah menghendaki kemudahan bagimu dan Dia tidak menghendaki kesulitan bagimu". (Al-Baqarah: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
185). &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan firmanNya: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menu-rut kesanggupanmu". (At-Taghabun:16). &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Apabila aku perintah kalian dengan sesuatu, maka lakukanlah ia sesuai dengan kemampuan kalian". &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan beliau juga bersabda: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Sesungguhnya agama itu mudah". &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Orang sakit, apabila ia tidak memungkinkan bersuci dengan menggunakan air, seperti berwudhu dari &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
hadits kecil atau mandi dari hadats besar, karena lemah atau khawatir akan bertambah parah atau &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
kesembuhannya akan tertunda, maka ia boleh ber-tayammum, yaitu menepukkan kedua telapak tangan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
ke tanah yang suci satu kali, lalu menyapu mukanya dengan telapak jari-jari dan kedua tangan dengan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
telapak tangannya; karena Allah berfirman: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kalian tidak memperoleh air, maka &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu de-ngan tanah itu. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
(Al-Ma'idah: 6). &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Orang yang tidak mampu menggunakan air kedudukannya (hukumnya) sama dengan kedudukan orang &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
yang tidak memperoleh air, karena firman Allah Ta'ala: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Bertaqwalah kalian kepada Allah menurut ke-mampuan kalian". (At-Taghabun: 16). &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan juga sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepada Ammar bin Yasir: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Sesungguhnya cukup bagimu melakukan dengan kedua tanganmu seperti ini". Rasulullah shallallahu &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
'alaihi wasallam sam-bil menepukkan kedua tangannya ke tanah satu kali, lalu menyapukannya ke muka &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
dan kedua telapak tangannya. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan tidak boleh bertayamum kecuali dengan tanah bersih yang berdebu. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan tayamum tidak sah kecuali dengan niat, karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Sesungguhnya amal ibadah itu (tergantung) dengan niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
mendapat (pahala atau tidak) sesuai de-ngan niatnya". &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Ada beberapa kondisi orang sakit dalam hal bersuci: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
1. Apabila sakitnya ringan dan tidak dikhawatir-kan akan bertambah parah jika menggunakan air, atau &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
penyakitnya tidak mengkhawatirkan dan tidak memperlambat proses penyembuhannya, atau tidak &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
menambah rasa sakit, atau penyakit yang serius seperti pusing, sakit gigi atau penyakit lainnya yang &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
serupa; atau orang sakit itu masih dapat mengguna-kan air hangat dan tidak berbahaya karenanya, maka &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
dalam kondisi seperti itu ia tidak boleh bertayamum. Sebab tayamum itu dibolehkan untuk menghindari &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
bahaya, padahal dalam kondisi seperti ini tidak ada sesuatu yang membahayakan; dan karena ia juga &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
memperoleh air. Dengan demikian, ia wajib meng-gunakan air. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
2. Jika ia mengidap penyakit yang dapat mem-bahayakan jiwanya, atau membahayakan salah satu &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
anggota tubuhnya, atau penyakit yang mengkha-watirkan akan timbulnya penyakit lain yang dapat &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
membahayakan jiwanya, atau membahayakan salah satu anggota tubuhnya atau mengkhawatirkan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
hilang-nya manfa'at, maka dalam kondisi seperti ini ia boleh bertayamum, karena Allah berfirman: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Dan janganlah kamu membunuh dirimu, se-sungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu". &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
(An-Nisa': 29). &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
3. Jika ia mengidap penyakit yang membuatnya tidak dapat bergerak. Sementara, tidak ada orang yang &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
mengantarkan air kepadanya, maka boleh bagi-nya bertayamum. Kalau dia tidak dapat bertayamum, &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
maka ditayamumkan oleh orang lain. Dan jika tubuh, pakaian atau tempat tidurnya terkena najis, &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
sementara ia tidak mampu menghilangkan atau bersuci darinya, maka ia diperbolehkan melakukan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
shalat dalam keadaan seperti itu. Sebagaimana firman Allah Ta'ala: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Maka bertaqwalah kalian kepada Allah menu-rut kemampuan kalian". &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan tidak boleh baginya menunda waktu shalat dalam keadaan bagaimanapun atau disebabkan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
keti-dakmampuannya bersuci atau menghilangkan najis. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
4. Bagi orang yang luka parah, berbisul, patah tulang atau penyakit apa saja yang dapat mem-bahayakan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
dirinya bila menggunakan air, lalu junub, maka boleh bertayamum, karena dalil-dalil di atas; akan tetapi &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
jika ia memungkinkan untuk mencuci bagian yang sehat dari tubuhnya, maka mencuci yang demikian &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
itu wajib dan bagian yang lain disucikan dengan tayamum. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
5. Apabila si sakit berada di suatu tempat yang tidak ada air dan tanah dan tidak ada orang yang &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
mendatangkan kepadanya, maka harus shalat (tanpa wudhu atau tayamum), dan tidak ada alasan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
baginya untuk menunda waktu shalat, karena firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Maka bertaqwalah kalian kepada Allah menurut kemampuan kalian". &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
6. Bagi orang yang menderita penyakit beser (kencing terus menerus) atau pendarahan yang &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
terus-menerus atau selalu buang angin, sedangkan pengobatan tidak pernah menyembuhkannya, maka ia &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
wajib berwudhu pada setiap kali shalat sesudah masuk waktu, dan mencuci bagian tubuh atau pakaian &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
yang terkena kotorannya, atau memakai pakaian bersih pada setiap kali shalat, jika hal itu &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
memungkinkan; sebab Allah telah berfirman: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Al-Haj: 78). &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan firmanNya: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesulitan bagi kalian". &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
(Al-Baqarah: 185). &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Apabila aku perintah kalian melakukan suatu perkara, maka lakukanlah ia menurut kemam-puan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
kalian". &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan hendaklah ia mengambil sikap hati-hati untuk mencegah tersebarnya air seni atau darah ke pakaian, &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
tubuh atau tempat shalatnya. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan diperbolehkan baginya sesudah shalat hingga habis waktunya untuk melakukan shalat sunnat apa &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
saja atau membaca Al-Qur'an. Lalu apabila waktu telah habis, wajib berwudhu' lagi atau ber-tayamum &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
jika tidak dapat berwudhu', karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyuruh wanita yang &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
menderita istihadhah (keluar darah terus menerus dari rahim-nya selain darah haid) agar berwudhu' &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
pada setiap kali akan shalat wajib. Adapun air seni atau darah yang keluar pada waktu itu tidak apa-apa &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
asalkan ia berwudhu' sesudah masuk waktu (shalat). &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Jika pada anggota tubuh ada yang masih dibalut (pada anggota wudhu atau tubuh) maka cukup &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
mengusap di atas pembalut tersebut pada saat berwudhu' atau mandi dan mencuci bagian anggota yang &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
lainnya. Namun jika mengusap pembalut atau mencuci anggota yang dibalut itu membahayakan, maka &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
cukup bertayamum pada tempat itu dan bagian yang tersisa dari anggota yang berbahaya bila dicuci. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Tayamum batal dengan setiap hal yang mem-batalkan wudhu' atau karena adanya kemampuan untuk &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
menggunakan air atau karena adanya air, jika sebelumnya tidak ada air. Wallahu a'lam. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
TATA CARA SHALAT ORANG SAKIT: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Para ulama sepakat bahwa barangsiapa yang tidak mampu melakukan shalat dengan berdiri hen-daknya &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
shalat sambil duduk, dan jika tidak mampu dengan duduk, maka shalat sambil berbaring dengan posisi &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
tubuh miring dan menghadapkan muka ke kiblat. Disunnatkan miring dengan posisi tubuh miring di &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
atas tubuh bagian kanan. Dan jika tidak mampu melaksanakan shalat dengan berbaring mi-ring, maka ia &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
boleh shalat dengan berbaring telen-tang, sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kepada &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
'Imran bin Hushain: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Shalatlah kamu sambil berdiri, dan jika kamu tidak mampu, maka sambil duduk, dan jika tidak &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
mampu, maka dengan berbaring". (HR. Bukhari). &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan Imam An-Nasa'i menambahkan: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"... lalu jika tidak mampu, maka sambil telentang". &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan barangsiapa mampu berdiri, akan tetapi tidak mampu ruku' atau sujud, maka kewajiban berdiri &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
tidak gugur darinya. Ia harus shalat sambil berdiri, lalu ruku' dengan isyarat (menundukkan kepala), &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
kemudian duduk dan sujud dengan berisya-rat; karena firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"...Dan berdirilah karena Allah (dalam shalat-mu) dengan khusyu'.'". (Al-Baqarah: 238). &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Shalatlah kamu sambil berdiri". &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan juga firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menu-rut kesanggupanmu". (At-Taghabun: 16). &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan jika pada matanya terdapat penyakit, se-mentara para ahli kedokteran yang terpercaya menga-takan: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Jika kamu shalat bertelentang lebih memu-dahkan pengobatanmu", maka boleh shalat telentang. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Barangsiapa tidak mampu ruku' dan sujud, maka cukup berisyarat dengan menundukkan kepala pada &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
saat ruku' dan sujud, dan hendaknya ketika sujud lebih rendah daripada ruku'. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan jika hanya tidak mampu sujud saja, maka ruku' (seperti lazimnya) dan sujud dengan berisyarat. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Jika ia tidak dapat membungkukkan pung-gungnya, maka ia membungkukkan lehernya; dan jika &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
punggungnya memang bungkuk sehingga seolah-olah ia sedang ruku', maka apabila hendak ruku', ia &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
lebih membungkukkan lagi sedikit, dan di waktu sujud ia lebih membungkukkan lagi semam-punya &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
hingga mukanya lebih mendekati tanah se-mampunya. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan barangsiapa tidak mampu berisyarat de-ngan kepala, maka dengan niat dan bacaan saja, dan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
kewajiban shalat tetap tidak gugur darinya dalam keadaan bagaimanapun selagi ia masih sadar &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
(ber-akal), karena dalil-dalil tersebut di atas. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan apabila ditengah-tengah shalat si penderita mampu melakukan apa yang tidak mampu ia lakukan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
sebelumnya, seperti berdiri, ruku', sujud atau ber-isyarat dengan kepala, maka ia berpindah kepadanya &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
(melakukan apa yang ia mampu) dengan meneruskan shalat tersebut. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan apabila si sakit tertidur atau lupa melaku-kan shalat atau karena lainnya, ia wajib menunaikan-nya &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
di saat ia bangun atau di saat ia ingat, dan tidak boleh menundanya kepada waktu berikutnya. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Seba-gaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Barangsiapa tertidur atau lupa melakukan shalat, maka hendaknya ia menunaikannya pada saat ia &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
ingat, tidak ada tebusan lain baginya kecuali hanya itu". Lalu beliau mem-baca firman Allah: "dan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
dirikanlah shalat untuk mengingatKu". (Thaha: 14). &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Tidak boleh meninggalkan shalat dalam keada-an bagaimanapun; bahkan setiap mukallaf&amp;nbsp; wajib &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
bersungguh-sungguh untuk menunaikan shalat pada hari-hari sakitnya melebihi hari-hari ketika ia sehat. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Jadi, tidak boleh baginya meninggalkan shalat wajib hingga lewat waktunya, sekalipun ia sakit selagi ia &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
masih sadar (kesadarannya utuh). Ia wajib menunai-kan shalat tersebut menurut kemampuannya. Dan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
apabila ia meninggalkannya dengan sengaja, sedang-kan ia sadar (masih berakal) lagi mukallaf&amp;nbsp; serta &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
mampu melakukannya, walaupun hanya dengan isyarat, maka dia adalah orang yang berbuat dosa. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Bahkan ada sebagian dari para Ahlul 'ilm (ulama) yang mengkafirkannya berdasarkan sabda Nabi &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
shallallahu 'alaihi wasallam: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Perjanjian antara kita dengan mereka (orang munafiq) adalah shalat, barangsiapa meninggalkannya &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
maka kafirlah ia". &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan sabdanya: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"Pokok segala perkara adalah Al-Islam, tiangnya Islam adalah shalat dan puncak Islam adalah jihad di &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
jalan Allah" &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Begitu pula sabda beliau shallallahu 'alaihi wasallam: &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
"(Pembatas) antara seorang muslim dengan kemusyrikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat" &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
(HR. Muslim di dalam Shahih-nya). &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan pendapat ini yang lebih shahih, sebagai-mana yang dijelaskan di dalam ayat-ayat Al-Qur'an &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
tentang shalat dan hadits-hadits tersebut. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Dan jika ia kesulitan untuk melakukan shalat pada waktunya, maka boleh menjama' antara shalat &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Zhuhur dengan shalat Ashar dan shalat Maghrib dengan shalat Isya', baik jama' taqdim maupun jama' &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
ta'khir, sesuai kemampuannya. Dan jika ia mau boleh memajukan shalat Asharnya digabung dengan &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
shalat Zhuhur atau mengakhirkan Zhuhur bersama Ashar di waktu Ashar. Atau jika ia menghendaki, &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
boleh mema-jukan Isya' bersama Maghrib atau mengakhirkan Maghrib bersama Isya'. Adapun shalat &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Subuh, (tetap dilakukan seperti biasa) tidak bisa dijama' dengan shalat sebelum atau sesudahnya, karena &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
waktunya terpisah dari shalat sebelum dan sesudahnya. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Inilah hal-hal yang berhubungan dengan orang sakit dalam bersuci dan melakukan shalat. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Aku memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. semoga menyembuhkan orang-orang sakit dari &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
kaum muslim dan menghapus dosa-dosa mereka, dan mengaruniakan ma'af dan afiat kepada kita semua &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia. &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Sumber :Mufti Umum Kerajaan Saudi Arabia, &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Pimpinan Dewan Tokoh-tokoh Ulama dan Kajian Ilmiyah dan Fatwa, &lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: medium none; color: black; overflow: hidden; text-align: left; text-decoration: none;"&gt;
&lt;br /&gt;
Di Kutip Dari: http://www.karisiakmalang.com/&lt;/div&gt;</content><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/feeds/9058430147435247675/comments/default" rel="replies" title="Posting Komentar" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2012/07/risalah-shalat.html#comment-form" rel="replies" title="0 Komentar" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default/9058430147435247675" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default/9058430147435247675" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2012/07/risalah-shalat.html" rel="alternate" title="Risalah Shalat" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01974128379563667848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1756756116987703705.post-935747286201044718</id><published>2012-07-16T00:30:00.001+07:00</published><updated>2012-07-16T00:48:25.982+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ceramah agama"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="religious"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="renungan"/><title type="text">Panduan lengkap ramadhan</title><content type="html">MARHABAN YA RAMADHAN &lt;br /&gt;
Marhaban&amp;nbsp;&amp;nbsp; barasal&amp;nbsp;&amp;nbsp; dari&amp;nbsp;&amp;nbsp; kata&amp;nbsp;&amp;nbsp; rahb&amp;nbsp;&amp;nbsp; yang&amp;nbsp;&amp;nbsp; berarti&amp;nbsp;&amp;nbsp; luas&amp;nbsp;&amp;nbsp; atau&amp;nbsp;&amp;nbsp; lapang.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Marhaban &lt;br /&gt;
menggambarkan&amp;nbsp; suasana&amp;nbsp; penerimaan&amp;nbsp; tetamu&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; disambut&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; diterima&amp;nbsp; dengan &lt;br /&gt;
lapang&amp;nbsp; dada,&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; penuh&amp;nbsp; kegembiraan.&amp;nbsp; Marhaban&amp;nbsp; ya&amp;nbsp; Ramadhan (selamat&amp;nbsp; datang &lt;br /&gt;
Ramadhan), mengandungi arti bahwa kita menyambut Ramadhan dengan lapang dada, &lt;br /&gt;
penuh kegembiraan, tidak dengan keluhan. &lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Rasulullah sendiri senantiasa menyambut gembira setiap datangnya Ramadhan. Dan &lt;br /&gt;
berita&amp;nbsp; gembira&amp;nbsp; itu&amp;nbsp; disampaikan&amp;nbsp; pula&amp;nbsp; kepada&amp;nbsp; para&amp;nbsp; sahabatnya&amp;nbsp; seraya&amp;nbsp; bersabda: &lt;br /&gt;
"Sungguh&amp;nbsp; telah&amp;nbsp; datang&amp;nbsp; kepadamu&amp;nbsp; bulan&amp;nbsp; Ramadhan,&amp;nbsp; bulan&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; penuh&amp;nbsp; keberkatan. &lt;br /&gt;
Allah&amp;nbsp; telah&amp;nbsp; memfardlukan&amp;nbsp; atas&amp;nbsp; kamu&amp;nbsp; puasanya.&amp;nbsp; Di&amp;nbsp; dalam&amp;nbsp; bulan&amp;nbsp; Ramadhan&amp;nbsp; dibuka &lt;br /&gt;
segala&amp;nbsp; pintu&amp;nbsp; surga&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; dikunci&amp;nbsp; segala&amp;nbsp; pintu&amp;nbsp; neraka&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; dibelenggu&amp;nbsp; seluruh setan. &lt;br /&gt;
Padanya&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; suatu&amp;nbsp; malam&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; lebih&amp;nbsp; baik&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; seribu&amp;nbsp; bulan.&amp;nbsp; Barangsiapa&amp;nbsp; tidak &lt;br /&gt;
diberikan kepadanya kebaikan malam itu maka sesungguhnya dia telah dijauhkan dari &lt;br /&gt;
kebajikan" (Hr. Ahmad) &lt;br /&gt;
Marhaban&amp;nbsp; Ramadhan,&amp;nbsp; kita&amp;nbsp; ucapkan&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp; bulan&amp;nbsp; suci&amp;nbsp; itu,&amp;nbsp; karena kita mengharapkan &lt;br /&gt;
agar jiwa raga kita diasah dan diasuh guna melanjutkan perjalanan menuju Allah swt. &lt;br /&gt;
Perjalanan menuju Allah swt itu dilukiskan oleh para ulama salaf sebagai perjalanan &lt;br /&gt;
yang&amp;nbsp; banyak&amp;nbsp; ujian&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; tentangan.&amp;nbsp; Ada&amp;nbsp; gunung&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; harus&amp;nbsp; didaki,&amp;nbsp; itulah&amp;nbsp;&amp;nbsp; nafsu. &lt;br /&gt;
Digunung itu ada lereng yang curam, belukar yang hebat, bahkan banyak perompak &lt;br /&gt;
yang&amp;nbsp;&amp;nbsp; mengancam,&amp;nbsp;&amp;nbsp; serta&amp;nbsp;&amp;nbsp; iblis&amp;nbsp;&amp;nbsp; yang&amp;nbsp;&amp;nbsp; merayu,&amp;nbsp;&amp;nbsp; agar&amp;nbsp;&amp;nbsp; perjalanan&amp;nbsp;&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp;&amp;nbsp; dilanjutkan. &lt;br /&gt;
Bertambah&amp;nbsp; tinggi&amp;nbsp; gunung&amp;nbsp; didaki,&amp;nbsp; bertambah&amp;nbsp; hebat&amp;nbsp; ancaman&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; rayuan,&amp;nbsp; semakin &lt;br /&gt;
curam dan ganas pula perjalanan. &lt;br /&gt;
Tetapi, bila tekad tetap membaja, sebentar lagi akan tampak cahaya benderang, dan &lt;br /&gt;
saat&amp;nbsp; itu&amp;nbsp; akan&amp;nbsp; tampak&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; jelas&amp;nbsp; rambu-rambu&amp;nbsp; jalan,&amp;nbsp; tampak&amp;nbsp; tempat-tempat&amp;nbsp; yang &lt;br /&gt;
indah untuk berteduh, serta telaga-telaga&amp;nbsp; jernih&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp; melepaskan&amp;nbsp; dahaga.&amp;nbsp; Dan bila &lt;br /&gt;
perjalanan dilanjutkan akan ditemukan kendaraan Ar-Rahman untuk mengantar sang &lt;br /&gt;
musafir bertemu dengan kekasihnya. Untuk sampai pada tujuan tentu diperlukankan &lt;br /&gt;
bekal yang cukup. Bekal itu adalah benih-benih kebajikan yang harus kita tabur didalam &lt;br /&gt;
jiwa kita. Tekad yang keras dan membaja untuk memerangi nafsu, agar kita mampu &lt;br /&gt;
menghidupkan malam Ramadhan dengan shalat dan tadarrus, serta siangnya dengan &lt;br /&gt;
ibadah kepada Allah melalui pengabdian untuk agama. &lt;br /&gt;
Ikhwati&amp;nbsp; wa&amp;nbsp; akhowati&amp;nbsp; fillaah,&amp;nbsp; Salah&amp;nbsp; satu&amp;nbsp; sifat&amp;nbsp; Allah&amp;nbsp; SWT&amp;nbsp; adalah&amp;nbsp; Ia&amp;nbsp; memiliki&amp;nbsp; irodah &lt;br /&gt;
(kehendak), sebagaimana firman-Nya: &lt;br /&gt;
"Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak &lt;br /&gt;
ada&amp;nbsp; pilihan&amp;nbsp; bagi&amp;nbsp; mereka.&amp;nbsp; Maha&amp;nbsp; Suci&amp;nbsp; Allah&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; Maha&amp;nbsp; Tinggi&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; apa&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; mereka &lt;br /&gt;
persekutukan (dengan Dia)." (QS Al Qoshosh [28]:68). &lt;br /&gt;
Allah&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; memilih&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; sesuatu&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; yang&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; dikehendakiNya.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Allah&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; memilih&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; tempat&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; yang &lt;br /&gt;
dikehendakiNya. Allah memilih manusia yang dikehendakiNya, pilihanNya sendiri ada &lt;br /&gt;
yang menjadi Rasul, pemimpin negara, cendekia, dsb. Allah memilih gua Hiro' yang &lt;br /&gt;
dikehendakiNya&amp;nbsp; sebagai&amp;nbsp; tempat&amp;nbsp; pertemuan&amp;nbsp; Rasul&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; Malaikat&amp;nbsp; Jibril.&amp;nbsp; Allah&amp;nbsp; memilih &lt;br /&gt;
Mekkah&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; dikehendakiNya&amp;nbsp; sebagai&amp;nbsp; kiblat&amp;nbsp; kaum&amp;nbsp; Muslimin&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; memilih&amp;nbsp; pula&amp;nbsp; kota &lt;br /&gt;
Madinah sebagai basis pertahanan Rasulullah dalam menyebarkan risalah Ilahi. &lt;br /&gt;
Begitu pula halnya dengan bulan-bulan dalam setahun, Allah telah memilih Ramadhan &lt;br /&gt;
sebagai bulan yang istimewa, yang namanya disebutkan dalam Al Qur-an. &lt;br /&gt;
Firman Allah: &lt;br /&gt;
"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya &lt;br /&gt;
diturunkan&amp;nbsp; (permulaan)&amp;nbsp; Al&amp;nbsp; Qur'an&amp;nbsp; sebagai&amp;nbsp; petunjuk&amp;nbsp; bagi&amp;nbsp; manusia&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; penjelasan- &lt;br /&gt;
penjelasan&amp;nbsp; mengenai&amp;nbsp; petunjuk&amp;nbsp; itu&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; pembeda&amp;nbsp; (antara&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; hak&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; bathil). &lt;br /&gt;
Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, &lt;br /&gt;
maka&amp;nbsp; hendaklah&amp;nbsp; ia&amp;nbsp; berpuasa&amp;nbsp; pada&amp;nbsp; bulan&amp;nbsp; itu,&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; barangsiapa&amp;nbsp; sakit&amp;nbsp; atau&amp;nbsp; dalam &lt;br /&gt;
perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang &lt;br /&gt;
ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, &lt;br /&gt;
dan&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; menghendaki&amp;nbsp; kesukaran&amp;nbsp; bagimu.&amp;nbsp; Dan&amp;nbsp; hendaklah&amp;nbsp; kamu&amp;nbsp; mencukupkan &lt;br /&gt;
bilangannya&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; hendaklah&amp;nbsp; kamu&amp;nbsp; mengagungkan&amp;nbsp; Allah&amp;nbsp; atas&amp;nbsp; petunjuk-Nya&amp;nbsp;&amp;nbsp; yang &lt;br /&gt;
diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." QS Al Baqoroh [2]:185. &lt;br /&gt;
Jika Allah berkehendak, tentu ada suatu maksud tertentu dibalik kehendakNya itu. Allah &lt;br /&gt;
mengutus Rasulullah dengan satu maksud, untuk menyampaikan risalah-Nya. &lt;br /&gt;
Begitu&amp;nbsp;&amp;nbsp; halnya&amp;nbsp;&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp;&amp;nbsp; bulan&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ramadhan,&amp;nbsp;&amp;nbsp; sebab&amp;nbsp;&amp;nbsp; Allah&amp;nbsp;&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp;&amp;nbsp; akan&amp;nbsp;&amp;nbsp; mengatakan &lt;br /&gt;
Ramadhan&amp;nbsp; sebagai&amp;nbsp; bulan&amp;nbsp; istimewa&amp;nbsp; jika&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; sesuatu&amp;nbsp; dibalik&amp;nbsp; itu.&amp;nbsp; Baginda &lt;br /&gt;
Rasulullah&amp;nbsp; SAW,&amp;nbsp; ketika&amp;nbsp; berada&amp;nbsp; di&amp;nbsp; penghujung&amp;nbsp; bulan&amp;nbsp; Sya'ban,&amp;nbsp; selalu&amp;nbsp; mengatakan &lt;br /&gt;
kepada sahabatnya: &lt;br /&gt;
"Telah&amp;nbsp; datang&amp;nbsp; padamu&amp;nbsp; bulan&amp;nbsp; Ramadhan,&amp;nbsp; penghulu&amp;nbsp; segala&amp;nbsp; bulan.&amp;nbsp; Maka&amp;nbsp; sambutlah &lt;br /&gt;
kedatangannya.&amp;nbsp; Telah&amp;nbsp; datang&amp;nbsp; bulan&amp;nbsp; shiyam&amp;nbsp; membawa&amp;nbsp; segala&amp;nbsp; keberkahan,&amp;nbsp; maka &lt;br /&gt;
alangkah mulianya tamu yang datang itu." (HR. Ath Thabrani). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam sabdanya yang lain: &lt;br /&gt;
"Sesungguhnya&amp;nbsp; telah&amp;nbsp; datang&amp;nbsp; padamu&amp;nbsp; bulan&amp;nbsp; Ramadhan,&amp;nbsp; bulan&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; diberkahi,&amp;nbsp; Allah &lt;br /&gt;
memerintahkan berpuasa di dalamnya. Pada bulan itu, dibukakan segala pintu Surga, &lt;br /&gt;
dikunci&amp;nbsp; segala&amp;nbsp; pintu&amp;nbsp; neraka&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; dibelenggu&amp;nbsp; syetan-syetan. Di dalamnya ada suatu &lt;br /&gt;
malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Barangsiapa yang tidak diberikan kebajikan &lt;br /&gt;
malam itu, berarti telah diharamkan baginya segala rupa kebajikan." (HR. An Nasai dan &lt;br /&gt;
Al Baihaqi) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika&amp;nbsp; kita&amp;nbsp; menengok&amp;nbsp; ke&amp;nbsp; belakang,&amp;nbsp; melihat&amp;nbsp; sirah&amp;nbsp; Rasulullah&amp;nbsp; SAW&amp;nbsp; kita&amp;nbsp; akan&amp;nbsp; melihat &lt;br /&gt;
betapa banyaknya kejadian penting terjadi pada bulan Ramadhan, di antaranya: &lt;br /&gt;
1.&amp;nbsp; Bulan diturunkannya Al Qur-an. &lt;br /&gt;
Firman Allah: &lt;br /&gt;
"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya &lt;br /&gt;
diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan- &lt;br /&gt;
penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)." &lt;br /&gt;
(QS Al Baqarah [2]:185) &lt;br /&gt;
Dalam tafsir Mafatihul Ghaib, berkenaan dengan ayat diatas, Ar Razi berkata: "Allah &lt;br /&gt;
telah&amp;nbsp; mengistimewakan&amp;nbsp; bulan&amp;nbsp; Ramadhan&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; jalan&amp;nbsp; menurunkan&amp;nbsp; Al&amp;nbsp; Qur-an. &lt;br /&gt;
Karenanya, Allah SWT mengkhususkannya dengan satu ibadah yang sangat besar &lt;br /&gt;
nilainya, yakni puasa (shaum). Shaum adalah satu senjata yang mengungkapkan &lt;br /&gt;
tabir-tabir&amp;nbsp;&amp;nbsp; yang&amp;nbsp;&amp;nbsp; menghalangi&amp;nbsp;&amp;nbsp; kita&amp;nbsp;&amp;nbsp; manusia&amp;nbsp;&amp;nbsp; memandang&amp;nbsp;&amp;nbsp; nur&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ilahi&amp;nbsp;&amp;nbsp; yang&amp;nbsp;&amp;nbsp; Maha &lt;br /&gt;
Quddus. Al Qur-an adalah suatu kitab yang tiada bandingannya, pemisah yang haq &lt;br /&gt;
dan bathil, berlaku sepanjang masa, dan menjadi pengikat seluruh ummat Islam di &lt;br /&gt;
seluruh dunia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.&amp;nbsp; Bulan diturunkannya kitab-kitab suci lainnya. &lt;br /&gt;
Di bulan ini pula, Allah menurunkan kitab-kitabNya yang lain kepada para Rasul, &lt;br /&gt;
sebagaimana diriwayatkan dalam hadits: &lt;br /&gt;
"Shuhuf&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ibrahim&amp;nbsp;&amp;nbsp; diturunkan&amp;nbsp;&amp;nbsp; pada&amp;nbsp;&amp;nbsp; malam&amp;nbsp;&amp;nbsp; pertama&amp;nbsp;&amp;nbsp; bulan&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ramadhan,&amp;nbsp;&amp;nbsp; Taurat &lt;br /&gt;
diturunkan pada 6 Ramadhan dan Injil diturunkan pada 13 Ramadhan sedangkan Al &lt;br /&gt;
Qur-an diturunkan pada 24 Ramadhan." (HR. Ahmad) &lt;br /&gt;
Itulah keberkahan bulan Ramadhan, bulan turunnya ayat-ayat Qouliyyah, minhajul &lt;br /&gt;
hayah bagi keberadaan manusia di muka bumi, penunjuk jalan bagi orang-orang &lt;br /&gt;
yang mau mensucikan dirinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.&amp;nbsp; Bulan pilihan Allah bagi terjadinya perang Badar. &lt;br /&gt;
Perang pertama yang dilakukan kaum Muslimin, dimana perang ini menjadi penentu &lt;br /&gt;
kelangsungan&amp;nbsp; perjuangan&amp;nbsp; da'wah&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; dilakukan&amp;nbsp; oleh&amp;nbsp; Rasulullah&amp;nbsp; SAW&amp;nbsp; bersama &lt;br /&gt;
para sahabatnya. Perang Badr dinamakan Allah dengan sebutan "yaumul furqon" &lt;br /&gt;
(hari pembeda antara yang haq dan bathil), sebagaimana firmanNya: &lt;br /&gt;
"Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan &lt;br /&gt;
perang,&amp;nbsp; maka&amp;nbsp; sesungguhnya&amp;nbsp; seperlima&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp; Allah,&amp;nbsp; Rasul,&amp;nbsp; kerabat&amp;nbsp; Rasul,&amp;nbsp; anak- &lt;br /&gt;
anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan &lt;br /&gt;
kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, &lt;br /&gt;
yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." &lt;br /&gt;
QS Al Anfal [8]:41. &lt;br /&gt;
Muhammad Qutb mengatakan dalam tafsirnya bahwa perang ini dari awal hingga &lt;br /&gt;
akhirnya&amp;nbsp; adalah&amp;nbsp; rencana&amp;nbsp; Allah&amp;nbsp; SWT&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; dilaksanakan&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; pimpinan&amp;nbsp; dan &lt;br /&gt;
bantuanNya. Dimana dalam jalannya pertempuran, Allah SWT memenangkan kaum &lt;br /&gt;
Muslimin yang mempunyai personil dan persenjataan minim, ditambah kondisi fisik &lt;br /&gt;
kaum Muslimin yang secara lahiriah lebih lemah karena sedang berpuasa, setelah &lt;br /&gt;
menerima&amp;nbsp; perintah&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; baru&amp;nbsp; beberapa&amp;nbsp; saat&amp;nbsp; diterimanya.&amp;nbsp; Namun&amp;nbsp; itu&amp;nbsp; bukanlah &lt;br /&gt;
hambatan untuk menang, karena kekuatan utama kaum Muslimin adalah kekuatan &lt;br /&gt;
ruhiyyah mereka dengan keyakinan akan kebenaran janji Allah SWT. Peperangan &lt;br /&gt;
ini&amp;nbsp;&amp;nbsp; membuahkan&amp;nbsp;&amp;nbsp; babakan&amp;nbsp;&amp;nbsp; baru&amp;nbsp;&amp;nbsp; dalam&amp;nbsp;&amp;nbsp; sistem&amp;nbsp;&amp;nbsp; gerakan&amp;nbsp;&amp;nbsp; Islam.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Perang&amp;nbsp;&amp;nbsp; ini &lt;br /&gt;
memperbaharui kondisi ummat Islam, setelah dengan sabar dan tabah menempuh &lt;br /&gt;
tahapan-tahapan perjuangan da'wah. Lahir tatanan baru dalam kehidupan manusia, &lt;br /&gt;
bagi penerapan hak-hak asasi serta sistem dan struktur baru bagi masyarakat dan &lt;br /&gt;
negara. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4.&amp;nbsp; Bulan yang dipilih bagi terbukanya kota Mekkah. &lt;br /&gt;
Peristiwa "fathul makkah" terjadi pada pertengahan bulan Ramadhan, sekitar 10000 &lt;br /&gt;
kaum&amp;nbsp; Muslim&amp;nbsp; mendatangi&amp;nbsp; Makkah&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; segala&amp;nbsp; penjuru.&amp;nbsp; Pada&amp;nbsp; saat&amp;nbsp; itulah&amp;nbsp; terjadi &lt;br /&gt;
fenomena&amp;nbsp; kemenangan&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; bandingannya&amp;nbsp; dalam&amp;nbsp; sejarah&amp;nbsp; manapun, &lt;br /&gt;
dimana semua musuh, hingga para pemimpinnya menerima dan mengikuti agama &lt;br /&gt;
lawan. Ini tidak terjadi melainkan dalam sejarah Islam. Kemenangan ini hakikatnya &lt;br /&gt;
adalah kemenangan akidah, kalimat tauhid dan bukan kemenangan individual atau &lt;br /&gt;
balas dendam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5.&amp;nbsp; Bulan yang dipilih Allah untuk Lailatul Qadar. &lt;br /&gt;
Dijelaskan dalam firman Allah SWT: &lt;br /&gt;
"Sesungguhnya&amp;nbsp; Kami&amp;nbsp; telah&amp;nbsp; menurunkannya&amp;nbsp; (Al&amp;nbsp; Qur'an)&amp;nbsp; pada&amp;nbsp; malam&amp;nbsp; kemuliaan. &lt;br /&gt;
Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu ? Malam kemuliaan itu lebih baik &lt;br /&gt;
dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan &lt;br /&gt;
izin&amp;nbsp; Tuhannya&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp; mengatur&amp;nbsp; segala&amp;nbsp; urusan.&amp;nbsp; Malam&amp;nbsp; itu&amp;nbsp; (penuh)&amp;nbsp; kesejahteraan &lt;br /&gt;
sampai terbit fajar." (QS Al Qadr [97]:1-5) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6.&amp;nbsp; Bulan yang dipilih untuk pelaksanaan puasa dan pemindahan qiblat. &lt;br /&gt;
Firman Allah: &lt;br /&gt;
"Hai&amp;nbsp; orang-orang&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; beriman,&amp;nbsp; diwajibkan&amp;nbsp; atas&amp;nbsp; kamu&amp;nbsp; berpuasa&amp;nbsp; sebagaimana &lt;br /&gt;
diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. " QS Al Baqarah &lt;br /&gt;
[2]: 183. &lt;br /&gt;
Bersamaan&amp;nbsp;&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp;&amp;nbsp; turunnya&amp;nbsp;&amp;nbsp; ayat&amp;nbsp;&amp;nbsp; perintah&amp;nbsp;&amp;nbsp; berpuasa&amp;nbsp;&amp;nbsp; di&amp;nbsp;&amp;nbsp; bulan&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ramadhan, &lt;br /&gt;
pemindahan qiblat ummat Islam dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram inipun menjadi &lt;br /&gt;
pembeda antara yang haq dan bathil, dimana pada saat sebelumnya orang Yahudi &lt;br /&gt;
merasa lebih benar karena puasa mereka dan kiblat mereka diikuti kaum Muslimin. &lt;br /&gt;
Namun dengan perintah itu, maka berbedalah kaum Muslimin dengan ahlul kitab. &lt;br /&gt;
Berbeda&amp;nbsp; pula&amp;nbsp; kiblat&amp;nbsp; Muslimin&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; mereka,&amp;nbsp; serta&amp;nbsp; puasa&amp;nbsp; Muslimin&amp;nbsp; dengan &lt;br /&gt;
mereka. Kecongkakan merekapun berakhir dengan barokah bulan ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keutamaan beramal di bulan ramadhan&lt;br /&gt;
1.&amp;nbsp; "Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra: Bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. pernah &lt;br /&gt;
bersabda: Ketika datang bulan Ramadhan: Sungguh telah datang kepadamu bulan &lt;br /&gt;
yang&amp;nbsp; penuh&amp;nbsp; berkat,&amp;nbsp; diwajibkan&amp;nbsp; atas&amp;nbsp; kamu&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp; shaum,&amp;nbsp; dalam&amp;nbsp; bulan&amp;nbsp; ini&amp;nbsp; pintu &lt;br /&gt;
Jannah dibuka, pintu Neraka ditutup, Setan- Setan dibelenggu. Dalam bulan ini ada &lt;br /&gt;
suatu&amp;nbsp;&amp;nbsp; malam&amp;nbsp;&amp;nbsp; yang&amp;nbsp;&amp;nbsp; nilanya&amp;nbsp;&amp;nbsp; sama&amp;nbsp;&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp;&amp;nbsp; seribu&amp;nbsp;&amp;nbsp; bulan,&amp;nbsp;&amp;nbsp; maka&amp;nbsp;&amp;nbsp; barangsiapa &lt;br /&gt;
diharamkan&amp;nbsp;&amp;nbsp; kebaikannya&amp;nbsp;&amp;nbsp; (tidak&amp;nbsp;&amp;nbsp; beramal&amp;nbsp;&amp;nbsp; baik&amp;nbsp;&amp;nbsp; didalamnya),&amp;nbsp;&amp;nbsp; sungguh&amp;nbsp;&amp;nbsp; telah &lt;br /&gt;
diharamkan&amp;nbsp; (tidak&amp;nbsp; mendapat&amp;nbsp; kebaikan&amp;nbsp; di&amp;nbsp; bulan&amp;nbsp; lain&amp;nbsp; seperti&amp;nbsp; di&amp;nbsp; bulan&amp;nbsp; ini)."&amp;nbsp; (HR. &lt;br /&gt;
Ahmad, Nasai dan Baihaqy. Hadits Shahih Ligwahairihi). &lt;br /&gt;
2.&amp;nbsp; "Diriwayatkan&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; Urfujah,&amp;nbsp; ia&amp;nbsp; berkata:&amp;nbsp; Aku&amp;nbsp; berada&amp;nbsp; di&amp;nbsp; tempat&amp;nbsp; 'Uqbah&amp;nbsp; bin&amp;nbsp; Furqad, &lt;br /&gt;
maka&amp;nbsp; masuklah&amp;nbsp; ke&amp;nbsp; tempat&amp;nbsp; kami&amp;nbsp; seorang&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; Sahabat&amp;nbsp; Nabi&amp;nbsp; saw.&amp;nbsp; ketika&amp;nbsp; Utbah &lt;br /&gt;
melihatnya&amp;nbsp;&amp;nbsp; ia&amp;nbsp;&amp;nbsp; merasa&amp;nbsp;&amp;nbsp; takut&amp;nbsp;&amp;nbsp; padanya,&amp;nbsp;&amp;nbsp; maka&amp;nbsp;&amp;nbsp; ia&amp;nbsp;&amp;nbsp; diam.&amp;nbsp;&amp;nbsp; ia&amp;nbsp;&amp;nbsp; berkata:&amp;nbsp;&amp;nbsp; maka&amp;nbsp;&amp;nbsp; ia &lt;br /&gt;
menerangkan&amp;nbsp;&amp;nbsp; tentang&amp;nbsp;&amp;nbsp; shaum&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ramadhan&amp;nbsp;&amp;nbsp; ia&amp;nbsp;&amp;nbsp; berkata:&amp;nbsp;&amp;nbsp; Saya&amp;nbsp;&amp;nbsp; telah&amp;nbsp;&amp;nbsp; mendengar &lt;br /&gt;
Rasulullah&amp;nbsp; saw&amp;nbsp; bersabda&amp;nbsp; tentang&amp;nbsp; bulan&amp;nbsp; Ramadhan:&amp;nbsp; Di&amp;nbsp; bulan&amp;nbsp; Ramadhan&amp;nbsp; ditutup &lt;br /&gt;
seluruh&amp;nbsp; pintu&amp;nbsp; Neraka,&amp;nbsp; dibuka&amp;nbsp; seluruh&amp;nbsp; pintu&amp;nbsp; Jannah,&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; dalam&amp;nbsp; bulan&amp;nbsp; ini&amp;nbsp; Setan &lt;br /&gt;
dibelenggu. Selanjutnya ia berkata: Dan dalam bulan ini ada malaikat yang selalu &lt;br /&gt;
menyeru: Wahai orang yang selalu mencari/ beramal kebaikan bergembiralah anda, &lt;br /&gt;
dan wahai orang-orang yang mencari/berbuat kejelekan berhentilah (dari perbuatan &lt;br /&gt;
jahat)&amp;nbsp; .&amp;nbsp; Seruan&amp;nbsp; ini&amp;nbsp; terus&amp;nbsp; didengungkan&amp;nbsp; sampai&amp;nbsp; akhir&amp;nbsp; bulan&amp;nbsp; Ramadhan."&amp;nbsp; (Riwayat &lt;br /&gt;
Ahmad dan Nasai) &lt;br /&gt;
3.&amp;nbsp; "Diriwayatkan dari Abi Hurairah ra. Sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda: Shalat &lt;br /&gt;
Lima&amp;nbsp; waktu,&amp;nbsp; Shalat&amp;nbsp; Jum'at&amp;nbsp; sampai&amp;nbsp; Shalat&amp;nbsp; Jum'at&amp;nbsp; berikutnya,&amp;nbsp; Shaum&amp;nbsp; Ramadhan &lt;br /&gt;
sampai&amp;nbsp; Shaum&amp;nbsp; Ramadhan&amp;nbsp; berikutnya,&amp;nbsp; adalah&amp;nbsp; menutup&amp;nbsp; dosa-dosa&amp;nbsp; (kecil)&amp;nbsp; yang &lt;br /&gt;
diperbuat diantara keduanya, bila dosa-dosa besar dijauhi."(H.R.Muslim) &lt;br /&gt;
4.&amp;nbsp; "Diriwayatkan&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; Abdullah&amp;nbsp; bin&amp;nbsp; Amru,&amp;nbsp; bahwa&amp;nbsp; sesungguhnya&amp;nbsp; Nabi&amp;nbsp; saw.&amp;nbsp; telah &lt;br /&gt;
bersabda:&amp;nbsp; Shaum&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; Qur'an&amp;nbsp; itu&amp;nbsp; memintakan&amp;nbsp; syafa?at&amp;nbsp; seseorang&amp;nbsp; hamba&amp;nbsp; di&amp;nbsp; hari &lt;br /&gt;
Kiamat&amp;nbsp; nanti.&amp;nbsp; Shaum&amp;nbsp; berkata:&amp;nbsp; Wahai&amp;nbsp; Rabbku,aku&amp;nbsp; telah mencegah dia memakan &lt;br /&gt;
makanan dan menyalurkan syahwatnya di siang hari, maka berilah aku hak untuk &lt;br /&gt;
memintakan syafa'at baginya. Dan berkata pula AL-Qur'an: Wahai Rabbku aku telah &lt;br /&gt;
mencegah dia tidur di malam hari (karena membacaku), maka berilah aku hak untuk &lt;br /&gt;
memintakan&amp;nbsp; syafaat&amp;nbsp; baginya.&amp;nbsp; Maka&amp;nbsp; keduanya&amp;nbsp; diberi&amp;nbsp; hak&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp; memmintakan &lt;br /&gt;
syafaat." (H.R. Ahmad, Hadits Hasan). &lt;br /&gt;
5.&amp;nbsp; "Diriwayatkan dari Sahal bin Sa'ad: Sesungguhnya Nabi saw telah bersabda: bahwa &lt;br /&gt;
sesungguhnya bagi Jannah itu ada sebuah pintu yang disebut&amp;nbsp; " Rayyaan". Pada &lt;br /&gt;
hari kiamat dikatakan: Dimana orang yang shaum?&amp;nbsp; (untuk masuk Jannah melalui &lt;br /&gt;
pintu&amp;nbsp; itu),&amp;nbsp; jika&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; terakhir&amp;nbsp; diantara&amp;nbsp; mereka&amp;nbsp; sudah&amp;nbsp; memasuki&amp;nbsp; pintu&amp;nbsp; itu,&amp;nbsp; maka &lt;br /&gt;
ditutuplah pintu itu." (HR. Bukhary Muslim). &lt;br /&gt;
6.&amp;nbsp; Rasulullah&amp;nbsp; saw.&amp;nbsp; bersabda: Barangsiapa&amp;nbsp; shaum&amp;nbsp; Ramadhan&amp;nbsp; karena&amp;nbsp; beriman&amp;nbsp; dan &lt;br /&gt;
ikhlas,&amp;nbsp; maka&amp;nbsp; diampuni&amp;nbsp; dosanya&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; telah&amp;nbsp; lalu&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; sekarang&amp;nbsp; (HR.Bukhary &lt;br /&gt;
Muslim). &lt;br /&gt;
Kesemua&amp;nbsp; Hadits&amp;nbsp; di&amp;nbsp; atas&amp;nbsp; memberi&amp;nbsp; pelajaran&amp;nbsp; kepada&amp;nbsp; kita,&amp;nbsp; tentang&amp;nbsp; keutamaan&amp;nbsp; bulan &lt;br /&gt;
Ramadhan dan keutamaan beramal didalamnya, di antaranya: &lt;br /&gt;
1.&amp;nbsp; Bulan Ramadhan adalah: &lt;br /&gt;
a.&amp;nbsp; Bulan yang penuh Barakah. &lt;br /&gt;
b.&amp;nbsp; Pada bulan ini pintu Jannah dibuka dan pintu neraka ditutup. &lt;br /&gt;
c.&amp;nbsp; Pada bulan ini Setan-Setan dibelenggu. &lt;br /&gt;
d.&amp;nbsp; Dalam bulan ini ada satu malam yang keutamaan beramal didalamnya lebih baik &lt;br /&gt;
daripada beramal seribu bulan di bulan lain, yakni malam LAILATUL QADR. &lt;br /&gt;
e.&amp;nbsp; Pada bulan ini setiap hari ada malaikat yang menyeru menasehati siapa yang &lt;br /&gt;
berbuat baik agar bergembira dan yang berbuat ma'shiyat agar menahan diri. &lt;br /&gt;
(dalil 1 &amp;amp; 2). &lt;br /&gt;
2.&amp;nbsp; Keutamaan beramal di bulan Ramadhan antara lain: &lt;br /&gt;
a.&amp;nbsp; Amal itu dapat menutup dosa-dosa kecil antara setelah Ramadhan yang lewat &lt;br /&gt;
sampai dengan Ramadhan berikutnya. &lt;br /&gt;
b.&amp;nbsp; Menjadikan bulan Ramadhan memintakan syfaa't. &lt;br /&gt;
c.&amp;nbsp; Khusus bagi yang shaum disediakan pintu khusus yang bernama Rayyaan untuk &lt;br /&gt;
memasuki Jannah. (dalil 3, 4, 5 dan 6). &lt;br /&gt;
Ramadhan bagi umat Islam bukan sekedar salah satu nama bulan qomariyah, tapi dia &lt;br /&gt;
mempunyai&amp;nbsp; makna&amp;nbsp; tersendiri.&amp;nbsp; Ramadhan&amp;nbsp; bagi&amp;nbsp; seorang&amp;nbsp; muslim&amp;nbsp; adalah&amp;nbsp; rihlah&amp;nbsp; dari &lt;br /&gt;
kehidupan materialistis kepada kehidupan ruhiyah, dari kehidupan yang penuh berbagai &lt;br /&gt;
masalah&amp;nbsp; keduniaan&amp;nbsp; menuju&amp;nbsp; kehidupan&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; penuh&amp;nbsp; tazkiyatus&amp;nbsp; nafs&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; riyadhotur &lt;br /&gt;
ruhiyah. Kehidupan yang penuh dengan amal taqorrub kepada Allah, mulai dari tilawah &lt;br /&gt;
Al-Qur'an,&amp;nbsp; menahan&amp;nbsp; syahwat&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; shiyam,&amp;nbsp; sujud&amp;nbsp; dalam&amp;nbsp; qiyamul&amp;nbsp; lail,&amp;nbsp; ber'itikaf&amp;nbsp; di &lt;br /&gt;
masjid,&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; lain-lain. Semua ini dalam rangka merealisasikan inti ajaran dan hikmah &lt;br /&gt;
puasa Ramadhan yaitu: Agar kalian menjadi orang yang bertaqwa. (Al-Baqoroh: 183 &lt;br /&gt;
dan akhir Al-Hijr) &lt;br /&gt;
Ramadhan&amp;nbsp; juga&amp;nbsp; merupakan&amp;nbsp; bulan&amp;nbsp; latihan&amp;nbsp; bagi&amp;nbsp; peningkatan&amp;nbsp; kualitas&amp;nbsp; pribadi&amp;nbsp; seorang &lt;br /&gt;
mulism.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hal&amp;nbsp;&amp;nbsp; itu&amp;nbsp;&amp;nbsp; terlihat&amp;nbsp;&amp;nbsp; pada&amp;nbsp;&amp;nbsp; esensi&amp;nbsp;&amp;nbsp; puasa&amp;nbsp;&amp;nbsp; yakni&amp;nbsp;&amp;nbsp; agar&amp;nbsp;&amp;nbsp; manusia&amp;nbsp;&amp;nbsp; selalu&amp;nbsp;&amp;nbsp; dapat &lt;br /&gt;
meningkatkan&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; nilainya&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; dihadapan&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Allah&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; SWT&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; bertaqwa,&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; disamping &lt;br /&gt;
melaksanakan&amp;nbsp; amaliyah-amaliyah&amp;nbsp; positif&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; pada&amp;nbsp; bulan&amp;nbsp; Ramadhan.&amp;nbsp; Diantara &lt;br /&gt;
amaliyah-amaliyah&amp;nbsp; Ramadhan&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; telah&amp;nbsp; dicontohkan&amp;nbsp; oleh&amp;nbsp; Rasulullah&amp;nbsp; SAW&amp;nbsp; baik&amp;nbsp; itu &lt;br /&gt;
amaliyah ibadah maupun amaliyah ijtijma'iyah adalah sebagai berikut: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shiyam (puasa) &lt;br /&gt;
Amaliyah&amp;nbsp; terpenting&amp;nbsp; selama&amp;nbsp; bulan&amp;nbsp; Ramadhan&amp;nbsp; tentu&amp;nbsp; saja&amp;nbsp; adalah&amp;nbsp; shiyam&amp;nbsp; (puasa), &lt;br /&gt;
sebagaimana&amp;nbsp; termaktub&amp;nbsp; dalam&amp;nbsp; firman&amp;nbsp; Allah&amp;nbsp; pada&amp;nbsp; surat&amp;nbsp; al&amp;nbsp; Baqoroh:&amp;nbsp; 183-187. Dan &lt;br /&gt;
diantara amaliyah shiyam Ramadhan yang diajarkan oleh Rasulullah ialah: &lt;br /&gt;
a.&amp;nbsp; Berwawasan yang benar tentang puasa dengan mengetahui dan menjaga rambu- &lt;br /&gt;
rambunya.&amp;nbsp;&amp;nbsp; "Barangsiapa&amp;nbsp;&amp;nbsp; berpuasa&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ramadhan&amp;nbsp;&amp;nbsp; kemudian&amp;nbsp;&amp;nbsp; mengetahui&amp;nbsp;&amp;nbsp; rambu- &lt;br /&gt;
rambunya dan memperhatikan apa yang semestinya diperhatikan, maka hal itu akan &lt;br /&gt;
menjadi pelebur dosa-dosa yang pernah dilakukan sebelumnya" (HR. Ibnu Hibban &lt;br /&gt;
dan Al Baihaqi). &lt;br /&gt;
b.&amp;nbsp; Tidak meninggalkan shiyam, walaupun sehari, dengan sengaja tanpa alasan yang &lt;br /&gt;
dibenarkan&amp;nbsp; oleh&amp;nbsp; syari'at&amp;nbsp; Islam.&amp;nbsp; Rasulullah&amp;nbsp; SAW&amp;nbsp; bersabda&amp;nbsp; bahwa: "Barangsiapa &lt;br /&gt;
tidak puasa pada bulan Ramadhan sekalipun sehari tanpa alasan rukhshoh atau &lt;br /&gt;
sakit, hal itu (merupakan dosa besar) yang tidak bisa ditebus bahkan seandainya ia &lt;br /&gt;
berpuasa selama hidup" (HR At Turmudzi). &lt;br /&gt;
c.&amp;nbsp; Menjauhi hal-hal yang dapat mengurangi atau bahkan menggugurkan nilai shiyam. &lt;br /&gt;
Rasulullah&amp;nbsp;&amp;nbsp; SAW&amp;nbsp;&amp;nbsp; pernah&amp;nbsp;&amp;nbsp; bersabda:&amp;nbsp; "&amp;nbsp; Bukanlah&amp;nbsp; (hakikat)&amp;nbsp; shiyam&amp;nbsp; itu&amp;nbsp; sekedar &lt;br /&gt;
meninggalkn&amp;nbsp; makan&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; minum,&amp;nbsp; melainkan&amp;nbsp; meninggalkan&amp;nbsp; pekerti&amp;nbsp; sia-sia&amp;nbsp; (tak &lt;br /&gt;
bernilai) dan kata-kata bohong" (HR Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah). Rasulullah &lt;br /&gt;
juga&amp;nbsp; pernah&amp;nbsp; bersabda&amp;nbsp; bahwa:&amp;nbsp; "&amp;nbsp; Barangsiapa&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; selama&amp;nbsp; berpuasa&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; juga &lt;br /&gt;
meninggalkan&amp;nbsp;&amp;nbsp; kata-kata&amp;nbsp;&amp;nbsp; bohong&amp;nbsp;&amp;nbsp; bahkan&amp;nbsp;&amp;nbsp; mempraktekkannya,&amp;nbsp;&amp;nbsp; maka&amp;nbsp;&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp;&amp;nbsp; ada &lt;br /&gt;
nilainya&amp;nbsp;&amp;nbsp; bagi&amp;nbsp;&amp;nbsp; Allah&amp;nbsp;&amp;nbsp; apa&amp;nbsp;&amp;nbsp; yang&amp;nbsp;&amp;nbsp; ia&amp;nbsp;&amp;nbsp; sangkakan&amp;nbsp;&amp;nbsp; sebagai&amp;nbsp;&amp;nbsp; puasa,&amp;nbsp;&amp;nbsp; yaitu&amp;nbsp;&amp;nbsp; sekedar &lt;br /&gt;
meninggalkan makan dan minum " (Hr Bukhori dan Muslim). &lt;br /&gt;
d.&amp;nbsp; Bersungguh&amp;nbsp; -&amp;nbsp; sungguh&amp;nbsp; melakukan&amp;nbsp; shiyam&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; menepati&amp;nbsp; aturan-aturannya. &lt;br /&gt;
Rasulullah&amp;nbsp; SAW&amp;nbsp; bersabda:&amp;nbsp; "&amp;nbsp; Barangsiapa&amp;nbsp; berpuasa&amp;nbsp; Ramadhan&amp;nbsp; dengan sepenuh &lt;br /&gt;
Iman&amp;nbsp;&amp;nbsp; dan&amp;nbsp;&amp;nbsp; kesungguhan,&amp;nbsp;&amp;nbsp; maka&amp;nbsp;&amp;nbsp; akan&amp;nbsp;&amp;nbsp; diampunkanlah&amp;nbsp;&amp;nbsp; dosa-dosa&amp;nbsp;&amp;nbsp; yang&amp;nbsp;&amp;nbsp; pernah &lt;br /&gt;
dilakukan " (HR. Bukhori, Muslim dan Abu Daud). &lt;br /&gt;
e.&amp;nbsp; Bersahur, makanan yang berkah (al ghoda' al mubarok). Dalam hal ini Rasulullah &lt;br /&gt;
pernah bersabda bahwa: " Makanan sahur semuanya bernilai berkah, maka jangan &lt;br /&gt;
anda&amp;nbsp; tinggalkan,&amp;nbsp; sekalipun&amp;nbsp; hanya&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; seteguk&amp;nbsp; air.&amp;nbsp; Allah&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; para&amp;nbsp; Malaikat &lt;br /&gt;
mengucapkan salam kepada orang-orang yang makan sahur" (HR. Ahmad). Dan &lt;br /&gt;
disunnahkan mengakhirkan waktu makan sahur . &lt;br /&gt;
f.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ifthor, berbuka puasa. Rasululah pernah menyampaikan bahwa salah satu indikasi &lt;br /&gt;
kebaikan&amp;nbsp; umat&amp;nbsp; manakala&amp;nbsp; mereka&amp;nbsp; mengikuti&amp;nbsp; sunnah&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; mendahulukan&amp;nbsp; ifthor &lt;br /&gt;
(berbuka&amp;nbsp; puasa)&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; mengakhirkan&amp;nbsp; sahur.&amp;nbsp; Dalam&amp;nbsp; hal&amp;nbsp; berbuka&amp;nbsp; puasa&amp;nbsp; Rasulullah &lt;br /&gt;
SAW juga pernah bersabda bahwa: " Sesungguhnya termasuk hamba Allah yang &lt;br /&gt;
paling dicintai olehNya, ialah mereka yang bersegera berbuka puasa. " (HR. Ahmad &lt;br /&gt;
dan Tirmidzi). Bahkan beliau mendahulukan ifthor walaupun hanya dengan ruthob &lt;br /&gt;
(kurma mengkal), atau tamr (kurma) atau air saja " (HR. Abu Daud dan Ahmad). &lt;br /&gt;
g.&amp;nbsp; Berdo'a. Sesudah hari itu menyelesaikan ibadah puasa dengan berifthor, Rasulullah &lt;br /&gt;
SAW seperti prilaku yang beliau lakukan sesudah menyelesaikan suatu ibadah, dan &lt;br /&gt;
sebagai&amp;nbsp; wujud&amp;nbsp; syukur&amp;nbsp; kepada&amp;nbsp; Allah,&amp;nbsp; beliau&amp;nbsp; membaca&amp;nbsp; do'a&amp;nbsp; sebagai&amp;nbsp; berikut&amp;nbsp; ; &lt;br /&gt;
Rasulullah&amp;nbsp;&amp;nbsp; bahkan&amp;nbsp;&amp;nbsp; mensyari'atkan&amp;nbsp;&amp;nbsp; agar&amp;nbsp;&amp;nbsp; orang-orang&amp;nbsp;&amp;nbsp; yang&amp;nbsp;&amp;nbsp; berpuasa&amp;nbsp;&amp;nbsp; banyak &lt;br /&gt;
memanjatkan do'a, sebab do'a mereka akan dikabulkan oleh Allah. Dalam hal ini &lt;br /&gt;
beliau pernah bersabda bahwa: " Ada tiga kelompok manusia yang do'anya tidak &lt;br /&gt;
ditolak&amp;nbsp; oleh&amp;nbsp; Allah.&amp;nbsp; Yang&amp;nbsp; pertama&amp;nbsp; ialah&amp;nbsp; do'a&amp;nbsp; orang-rang&amp;nbsp; yang berpuasa sehingga &lt;br /&gt;
mereka berbuka" (HR. Ahmad dan Turmudzi). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tilawah (membaca) al Qur'an &lt;br /&gt;
Ramadhan adalah bulan diturunkannya al Qur'an. (QS. Al Baqoroh: 185). Pada bulan &lt;br /&gt;
ini Malaikat Jibril pernah turun dan menderas al Qur'an dengan Rasulullah SAW (HR. &lt;br /&gt;
Bukhori).&amp;nbsp; Maka&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; aneh&amp;nbsp; kalau&amp;nbsp; Rasulullah&amp;nbsp; SAW&amp;nbsp; (yang&amp;nbsp; selalu&amp;nbsp; menderas&amp;nbsp; al&amp;nbsp; Qur'an &lt;br /&gt;
disepanjang tahun itu) lebih sering menderasnya pada bulan Ramadhan. &lt;br /&gt;
Imam az Zuhri pernah berkata: " Apabila datang Ramadhan maka kegiatan utama kita &lt;br /&gt;
(selain shiyam) ialah membaca al Qur'an". Hal ini tentu saja dilakukan dengan tetap &lt;br /&gt;
memperhatikan tajwid (kaedah membaca al Qur'an) dan esensi dasar diturunkannya al &lt;br /&gt;
Qur'an untuk ditadabburi, dipahami dan diamalkan (QS. Shod: 29). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ith'am ath tho'am (memberikan makanan dan shodaqoh lainnya) &lt;br /&gt;
Salah satu amaliyah Ramadhan Rasulullah ialah memberikan ifthor (santapan berbuka &lt;br /&gt;
puasa) kepada orang-orang&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; berpuasa.&amp;nbsp; Seperti&amp;nbsp; beliau&amp;nbsp; sabdakan:&amp;nbsp; "Barangsiapa &lt;br /&gt;
yang&amp;nbsp; memberi&amp;nbsp; ifthor&amp;nbsp; kepada&amp;nbsp; orang-orang&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; berpuasa,&amp;nbsp; maka&amp;nbsp; ia&amp;nbsp; mendapat&amp;nbsp; pahala &lt;br /&gt;
senilai pahala orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa &lt;br /&gt;
tersebut " (HR. Turmudzi dan an Nasa'i). &lt;br /&gt;
Hal&amp;nbsp; memberi&amp;nbsp; makan&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; sedekah&amp;nbsp; selama&amp;nbsp; bulan&amp;nbsp; Ramadhan&amp;nbsp; ini&amp;nbsp; bukan&amp;nbsp; hanya&amp;nbsp; untuk &lt;br /&gt;
keperluan&amp;nbsp;&amp;nbsp; iftor&amp;nbsp;&amp;nbsp; melainkan&amp;nbsp;&amp;nbsp; juga&amp;nbsp;&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp;&amp;nbsp; segala&amp;nbsp;&amp;nbsp; kebajikan,&amp;nbsp; Rasulullah&amp;nbsp;&amp;nbsp; yang&amp;nbsp;&amp;nbsp; dikenal &lt;br /&gt;
dermawan&amp;nbsp;&amp;nbsp; dan&amp;nbsp;&amp;nbsp; penuh&amp;nbsp;&amp;nbsp; peduli&amp;nbsp;&amp;nbsp; terhadap&amp;nbsp;&amp;nbsp; nasib&amp;nbsp;&amp;nbsp; umat,&amp;nbsp;&amp;nbsp; pada&amp;nbsp;&amp;nbsp; bulan&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ramadhan &lt;br /&gt;
kedermawanan dan keperduliannya tampil lebih menonjol, kesigapan beliau dalam hal &lt;br /&gt;
ini bahkan dimisalkan sebagai " lebih cepat dari angin " (HR Bukhori). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memperhatikan kesehatan. &lt;br /&gt;
Shaum memang termasuk kategori ibadah mahdhoh (murni), sekalipun demikian agar &lt;br /&gt;
nilai maksimal ibadah puasa dapat diraih, Rasulullah justru mencontohkan kepada umat &lt;br /&gt;
agar selama berpuasa tetap memperhatikan kesehatan. Hal ini terlihat dari beberapa &lt;br /&gt;
peristiwa dibawah ini: &lt;br /&gt;
a.&amp;nbsp; Menyikat gigi dengan siwak (HR. Bukhori dan Abu Daud). &lt;br /&gt;
b.&amp;nbsp; Berobat&amp;nbsp; seperti&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; berbekam&amp;nbsp; (al&amp;nbsp; hijamah)&amp;nbsp; seperti&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; diriwayatkan&amp;nbsp; oleh &lt;br /&gt;
Bukhori dan Muslim. &lt;br /&gt;
c.&amp;nbsp; Memperhatikan&amp;nbsp; penampilan,&amp;nbsp; seperti&amp;nbsp; pernah&amp;nbsp; diwasiatkan&amp;nbsp; oleh&amp;nbsp; Rasulullah&amp;nbsp; SAw &lt;br /&gt;
kepada sahabat Abdullah ibnu Mas'ud RA, agar memulai puasa dengan penampilan &lt;br /&gt;
baik dan tidak dengan wajah yang cemberut. (HR. AL Haitsami) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memperhatikan harmoni keluarga &lt;br /&gt;
Sekalipun&amp;nbsp; puasa&amp;nbsp; adalah&amp;nbsp; ibadah&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; khusus&amp;nbsp; diperuntukkan&amp;nbsp; kepada&amp;nbsp; Allah,&amp;nbsp; yang &lt;br /&gt;
memang juga mempunyai nilai khusus dihadapan Allah, tetapi agar hal tersebut diatas &lt;br /&gt;
dapat terealisir dengan lebih baik, maka Rasulullah justru mensyari'atkan agar selama &lt;br /&gt;
berpuasa&amp;nbsp; umat&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; mengabaikan&amp;nbsp; harmoni&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; hak-hak&amp;nbsp; keluarga.&amp;nbsp; Seperti&amp;nbsp; yang &lt;br /&gt;
diriwayatkan&amp;nbsp; oleh&amp;nbsp; istri-istri&amp;nbsp; beliau,&amp;nbsp; Aisyah&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; Ummu&amp;nbsp; Salamah&amp;nbsp; RA,&amp;nbsp; Rasulullah&amp;nbsp; tokoh &lt;br /&gt;
yang paling baik untuk keluarga itu, selama bulan Ramadhan tetap selalu memenuhi &lt;br /&gt;
hak-hak&amp;nbsp; keluarga&amp;nbsp; beliau.&amp;nbsp; Bahkan&amp;nbsp; ketika&amp;nbsp; Rasulullah&amp;nbsp; berada&amp;nbsp; dalam&amp;nbsp; puncak&amp;nbsp; praktek &lt;br /&gt;
ibadah shaum yakni i'tikaf, harmoni itu tetap terjaga. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memperhatikan aktivitas da'wah dan sosial &lt;br /&gt;
Kontradiksi dengan kesan dan perilaku umum tentang berpuasa, Rasulullah SAW justru &lt;br /&gt;
menjadikan&amp;nbsp; bulan&amp;nbsp; puasa&amp;nbsp; sebagai&amp;nbsp; bulan&amp;nbsp; penuh&amp;nbsp; amaliyah&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; aktivitas&amp;nbsp; positif.&amp;nbsp; Selain &lt;br /&gt;
yang&amp;nbsp; telah&amp;nbsp; tergambar&amp;nbsp; seperti&amp;nbsp; tersebut&amp;nbsp; dimuka,&amp;nbsp; beliau&amp;nbsp; juga&amp;nbsp; aktif&amp;nbsp; melakukan&amp;nbsp; da'wah, &lt;br /&gt;
kegiatan sosial, perjalanan jauh dan jihad. Dalam sembilan kali Ramadhan yang pernah &lt;br /&gt;
beliau alami, beliau misalnya melakukan perjalanan ke Badr (tahun 2 H), Mekah (tahun &lt;br /&gt;
8&amp;nbsp; H),&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; ke&amp;nbsp; Tabuk&amp;nbsp; (tahun&amp;nbsp; 9 H),&amp;nbsp; mengirimkan&amp;nbsp; 6&amp;nbsp; sariyah&amp;nbsp; (pasukan&amp;nbsp; jihad&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; tidak &lt;br /&gt;
secara&amp;nbsp; langsung&amp;nbsp; beliau&amp;nbsp; ikuti/pimpin),&amp;nbsp; melaksanakan&amp;nbsp; perkawinan&amp;nbsp; putrinya&amp;nbsp; (Fathimah) &lt;br /&gt;
dengan&amp;nbsp; Ali&amp;nbsp; RA,&amp;nbsp; beliau&amp;nbsp; berkeluarga&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; Hafshoh&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; Zainab&amp;nbsp; RA,&amp;nbsp; meruntuhkan &lt;br /&gt;
berhala-berhala Arab seperti Lata, Manat dan&amp;nbsp; Suwa', meruntuhkan masjid adh Dhiror, &lt;br /&gt;
dll. &lt;br /&gt;
Qiyam Ramadhan (sholat tarawih) &lt;br /&gt;
Di antara kegiatan ibadah Rasulullah selama bulan Ramadhan ialah ibadah qiyam al &lt;br /&gt;
lail,&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; belakangan&amp;nbsp; lebih&amp;nbsp; populer&amp;nbsp; disebut&amp;nbsp; sebagai&amp;nbsp; sholat&amp;nbsp; tarowih.&amp;nbsp; Hal&amp;nbsp; demikian&amp;nbsp; ini &lt;br /&gt;
beliau lakukan bersama dengan para sahabat beliau. Sekalipun karena kekhawatiran &lt;br /&gt;
bila akhirnya sholat tarawih (berjama'ah) itu menjadi diwajibkan oleh Allah, Rasulullah &lt;br /&gt;
kemudian meninggalkannya. (HR. Bukhori Muslim). &lt;br /&gt;
Dalam situasi itu riwayat yang shohih menyebutkan bahwa Rasulullah shalat tarowih &lt;br /&gt;
dalam 11 reka'at dengan bacaan-bacaan yang panjang (HR. Bukhori Muslim). Tetapi &lt;br /&gt;
ketika kekhawatiran tentang pewajiban sholat tarowih itu tidak ada lagi, kita dapatkan &lt;br /&gt;
riwayat-riwayat&amp;nbsp; lain,&amp;nbsp; juga&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; Umar&amp;nbsp; ibn&amp;nbsp; al&amp;nbsp; Khothob&amp;nbsp; RA, yang&amp;nbsp; menyebutkan&amp;nbsp; jumlah &lt;br /&gt;
reka'at shalat tarowih adalah 21 atau 23 reka'at. (HR. Abdur Razaq dan al Baihaqi). &lt;br /&gt;
Mensikapi perbedaan reka'at ini bagus juga bila kita cermati pendapat dan kajian dari &lt;br /&gt;
Ibnu&amp;nbsp; hajar&amp;nbsp; al&amp;nbsp; Asqolani&amp;nbsp; asy&amp;nbsp; Syafi'i,&amp;nbsp; seorang&amp;nbsp; tokoh&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; juga&amp;nbsp; dijuluki sebagai amirul &lt;br /&gt;
mu'minin&amp;nbsp; fi&amp;nbsp; hadits,&amp;nbsp; beliau&amp;nbsp; menyampaikan&amp;nbsp; bahwa: Beberapa&amp;nbsp; informasi&amp;nbsp; tentang&amp;nbsp; jumlah &lt;br /&gt;
reka'at tarowih itu menyiratkan ragam sholat sesuai dengan keadaan dan kemampuan &lt;br /&gt;
masing-masing, kadang ia mampu melaksanakan shalat dalam 11 reka'at, kadang 21 &lt;br /&gt;
dan terkadang 23 reka'at pula. Hal demikian itu kembali juga semangat dan antusiasme &lt;br /&gt;
masing-masing. Dahulu mereka yang sholat dengan 11 reka'at itu dilakukan dengan &lt;br /&gt;
bacaan&amp;nbsp;&amp;nbsp; yang&amp;nbsp;&amp;nbsp; panjang&amp;nbsp;&amp;nbsp; sehingga&amp;nbsp;&amp;nbsp; mereka&amp;nbsp;&amp;nbsp; bertelekan&amp;nbsp;&amp;nbsp; diatas&amp;nbsp;&amp;nbsp; tongkat&amp;nbsp;&amp;nbsp; penyangga, &lt;br /&gt;
sementara mereka yang sholat dengan 21 atau 23 reka'at mereka membaca bacaan- &lt;br /&gt;
bacaan yang pendek (dengan tetap memperhatikan thoma'ninah sholat) sehingga tidak &lt;br /&gt;
menyulitkan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I'tikaf. &lt;br /&gt;
Diantara&amp;nbsp; amaliyah&amp;nbsp; sunnah&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; selalu&amp;nbsp; dilakukan&amp;nbsp; oleh&amp;nbsp; Rasulullah&amp;nbsp; SAw&amp;nbsp; dalam&amp;nbsp; bulan &lt;br /&gt;
Ramadhan&amp;nbsp; ialah&amp;nbsp; i'tikaf,&amp;nbsp; yakni&amp;nbsp; berdiam&amp;nbsp; diri&amp;nbsp; di&amp;nbsp; dalam&amp;nbsp; masjid&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; niat&amp;nbsp; beribadah &lt;br /&gt;
kepada Allah. Seperti dilaporkan oleh Abu Sa'id al Khudlri RA, hal demikiam ini pernah &lt;br /&gt;
beliau lakukan pada awal Ramadhan, pertengahan Ramadhan dan terutama pada 10 &lt;br /&gt;
hari terakhir bulan Ramadhan. Ibadah yang demikian penting ini sering dianggap berat &lt;br /&gt;
sehingga ditinggalkan oleh orang-orang Islam, maka tidak aneh kalau Imam az Zuhri &lt;br /&gt;
berkomentar ; Aneh benar keadaan orang Islam, mereka meninggalkan ibadah i'tikaf, &lt;br /&gt;
padahal&amp;nbsp; Rasulullah&amp;nbsp; SAW&amp;nbsp; tak&amp;nbsp; pernah&amp;nbsp; meninggalkannya&amp;nbsp; semenjak&amp;nbsp; beliau&amp;nbsp; datang&amp;nbsp; ke &lt;br /&gt;
madinah sehingga wafatnya disana. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lailat al Qodr &lt;br /&gt;
Selama bulan Ramadhan ini terdapat satu malam yang sangat berkah, yang populer &lt;br /&gt;
disebut sebagai lailat al Qodr, malam yang lebih berharga dari seribu&amp;nbsp; bulan (QS. Al &lt;br /&gt;
Qodr: 1-5). Rasululah tidak pernah melewatkan kesempatan untuk meraih lailat al qodr &lt;br /&gt;
terutama&amp;nbsp; pada&amp;nbsp; malam-malam&amp;nbsp; ganjil&amp;nbsp; pada&amp;nbsp; 10&amp;nbsp; hari&amp;nbsp; terakhir&amp;nbsp; bulan&amp;nbsp; puasa&amp;nbsp; (HR.&amp;nbsp; Bukhori &lt;br /&gt;
Muslim).&amp;nbsp; Dalam&amp;nbsp; hal&amp;nbsp; ini&amp;nbsp; Rasulullah&amp;nbsp; menyampaikan&amp;nbsp; bahwa: "Barangsiapa&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; sholat &lt;br /&gt;
pada malam lailatul qodr berdasarkan iman dan ihtisab, maka Allah akan mengampuni &lt;br /&gt;
dosa-dosanya yang telah lalu. " (Hr. Bukhori Muslim). Dalam keadaan ini Rasulullah &lt;br /&gt;
mengajarkan do'a sebagai berikut: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umroh &lt;br /&gt;
Umroh&amp;nbsp; atau&amp;nbsp; haji&amp;nbsp; kecil&amp;nbsp; itu&amp;nbsp; bagus&amp;nbsp; juga&amp;nbsp; apabila&amp;nbsp; dilaksanakan&amp;nbsp; pada&amp;nbsp; bulan&amp;nbsp; Ramadhan, &lt;br /&gt;
sebab&amp;nbsp; nilainya&amp;nbsp; bisa&amp;nbsp; berlipat-lipat,&amp;nbsp; sebagaimana&amp;nbsp; pernah&amp;nbsp; disabdakan&amp;nbsp; oleh&amp;nbsp; Rasulullah &lt;br /&gt;
kepada seorang wanita dari anshor bernama Ummu Sinan: " Agar apabila datang bulan &lt;br /&gt;
Ramadhan&amp;nbsp;&amp;nbsp; ia&amp;nbsp;&amp;nbsp; melakukan&amp;nbsp;&amp;nbsp; umroh,&amp;nbsp;&amp;nbsp; karena&amp;nbsp;&amp;nbsp; nilainya&amp;nbsp;&amp;nbsp; setara&amp;nbsp;&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp;&amp;nbsp; haji&amp;nbsp;&amp;nbsp; bersama &lt;br /&gt;
Rasulullah SAW. (Hr. Bukhori Muslim) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Zakat Fitrah &lt;br /&gt;
Pada hari-hari terakhir bulan Ramadhan amaliyah yang disunnahkan oleh Rasulullah &lt;br /&gt;
SAW ialah membayarkan zakat fithr, suatu kewajiban yang harus dipenuhi oleh umat &lt;br /&gt;
Islam baik laik-laki maupun perempuan, baik dewasa maupun anak-anak (HR. Bukhori &lt;br /&gt;
Muslim). Zakat fithr ini juga berfungsi sebagai pelengkap penyucian untuk pelaku puasa &lt;br /&gt;
dan untuk membantu kaum fakir miskin. (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah) &lt;br /&gt;
Ramadhan bulan taubat menuju fithroh &lt;br /&gt;
Selama sebulan penuh, secara berduyun-duyun umat kembali kepada Allah yang Maha &lt;br /&gt;
Pemurah juga Maha Pengampun. Dia Dzat yang menyampaikan bahwa pada setiap &lt;br /&gt;
malam bulan Ramadhan Allah membebaskan banyak hambaNya dari api nereka (HR. &lt;br /&gt;
Tirmidzi&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; Ibnu&amp;nbsp; Majah).&amp;nbsp; Karenanya inilah satu kesempatan emas agar umat dapat &lt;br /&gt;
kembali,&amp;nbsp; bertaubat&amp;nbsp; agar&amp;nbsp; ketika&amp;nbsp; mereka&amp;nbsp; selesai&amp;nbsp; melaksanakan&amp;nbsp; ibadah&amp;nbsp; puasa&amp;nbsp; mereka &lt;br /&gt;
benar-benar&amp;nbsp; kembali&amp;nbsp; kepada&amp;nbsp; fithrohnya.&amp;nbsp; Khotimah&amp;nbsp; Demikianlah&amp;nbsp; sebagian&amp;nbsp; amaliyah &lt;br /&gt;
Ramadhan yang mudah dan bisa dilakukan oleh setiap muslim. Dan dengan demikian &lt;br /&gt;
Ramadhan&amp;nbsp; juga&amp;nbsp; menyiratkan&amp;nbsp; salah&amp;nbsp; satu&amp;nbsp; prinsip&amp;nbsp; dasar&amp;nbsp; Islam&amp;nbsp; tentang&amp;nbsp; moderasi&amp;nbsp; dan &lt;br /&gt;
integralitas ajarannya. Ramadhan memang bulan penuh kebaikan, sehingga Rasulullah &lt;br /&gt;
pernah&amp;nbsp; bersabda&amp;nbsp; ;&amp;nbsp; "Apabila&amp;nbsp; orang-orang&amp;nbsp; mengetahui&amp;nbsp; nilai&amp;nbsp; lebih&amp;nbsp; Ramadhan, mereka &lt;br /&gt;
akan&amp;nbsp; berharap&amp;nbsp; agar&amp;nbsp; semua&amp;nbsp; bulan&amp;nbsp; dijadikan&amp;nbsp; sebagai&amp;nbsp; bulan&amp;nbsp; Ramadhan".&amp;nbsp; (HR.&amp;nbsp; Ibnu &lt;br /&gt;
Huzaimah). Semoga Allah menerima amaliyah shiyam dan qiyam kita sekalian, amin. &lt;br /&gt;
5.&amp;nbsp; PANDUAN SHAUM RAMADHAN &lt;br /&gt;
Diriwayatkan dari Anas ra. ia berkata: Telah&amp;nbsp; bersabda&amp;nbsp; Rasulullah saw.:&amp;nbsp; Apabila ada &lt;br /&gt;
sesuatu dari urusan duniamu, maka kamu lebih tahu tentang hal itu. Jika ada urusan &lt;br /&gt;
dienmu, maka akulah tempat kembalinya (ikuti aku). (H.R Ahmad). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dirwayatkan dari 'Aisyah ra: Rasulullah saw. telah bersabda: Barangsiapa melakukan &lt;br /&gt;
perbuatan&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; bukan&amp;nbsp; perintah&amp;nbsp; kami,&amp;nbsp; maka&amp;nbsp; ia&amp;nbsp; tertolak&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; diterima).&amp;nbsp; Dan&amp;nbsp; dalam &lt;br /&gt;
riwayat lain: Barangsiapa yang mengada-adakan dalam perintah kami ini yang bukan &lt;br /&gt;
dari&amp;nbsp; padanya,&amp;nbsp; maka&amp;nbsp; ia&amp;nbsp; tertolak.&amp;nbsp; Sementara&amp;nbsp; dalam&amp;nbsp; riwayat&amp;nbsp; lain:&amp;nbsp; Barangsiapa&amp;nbsp; yang &lt;br /&gt;
berbuat sesuatu urusan yang lain daripada perintah kami, maka ia tertolak. (HR.Ahmad. &lt;br /&gt;
Bukhary dan Abu Dawud). &lt;br /&gt;
Kandungan&amp;nbsp; dua&amp;nbsp; hadits&amp;nbsp; shahih&amp;nbsp; di&amp;nbsp; atas&amp;nbsp; menerangkan&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; jelas&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; tegas&amp;nbsp; bahwa &lt;br /&gt;
segala&amp;nbsp; perbuatan,&amp;nbsp; amalan-amalan&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; hubungannya&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; dien/syari'at&amp;nbsp; terutama &lt;br /&gt;
dalam masalah ubudiyah wajib menurut panduan dan petunjuk yang telah digariskan &lt;br /&gt;
oleh Rasulullah saw. Tidak boleh ditambah dan/atau dikurangi meskipun menurut fikiran &lt;br /&gt;
seolah-olah lebih baik. &lt;br /&gt;
Di antara&amp;nbsp; cara&amp;nbsp; syaithan&amp;nbsp; menggoda&amp;nbsp; ummat&amp;nbsp; Islam&amp;nbsp; ialah&amp;nbsp; membisikkan&amp;nbsp; suatu tambahan &lt;br /&gt;
dalam urusan Dien. Sayangnya, perkara ini dianggap soal sepele, enteng dan remeh. &lt;br /&gt;
Padahal perbuatan seperti itu adalah merupakan suatu kerusakan yang amat fatal dan &lt;br /&gt;
berbahaya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Diriwayatkan&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; Ibnu&amp;nbsp; Abbas&amp;nbsp; ra,&amp;nbsp; katanya:&amp;nbsp; Bahwa&amp;nbsp; sesungguhnya&amp;nbsp; Rasulullah saw. &lt;br /&gt;
berkhutbah&amp;nbsp;&amp;nbsp; kepada&amp;nbsp;&amp;nbsp; manusia&amp;nbsp;&amp;nbsp; pada&amp;nbsp;&amp;nbsp; waktu&amp;nbsp;&amp;nbsp; haji&amp;nbsp;&amp;nbsp; Wada'&amp;nbsp;&amp;nbsp; .&amp;nbsp;&amp;nbsp; Maka&amp;nbsp;&amp;nbsp; beliau&amp;nbsp;&amp;nbsp; bersabda: &lt;br /&gt;
Sesungguhnya&amp;nbsp; Syaithan&amp;nbsp; telah&amp;nbsp; berputus&amp;nbsp; asa&amp;nbsp; (dalam&amp;nbsp; berusaha)&amp;nbsp; agar&amp;nbsp; ia&amp;nbsp; disembah&amp;nbsp; di &lt;br /&gt;
bumimu ini. Tetapi ia ridha apabila (bisikannya) ditaati dalam hal selain itu; yakni suatu &lt;br /&gt;
amalan&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; kamu&amp;nbsp; anggap&amp;nbsp; remeh&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; amalan-amalan&amp;nbsp; kamu,&amp;nbsp; berhati-hatilah kamu &lt;br /&gt;
sekalian. Sesungguhnya aku telah meninggalkan untukmu , yang jika kamu berpegang &lt;br /&gt;
kepadanya&amp;nbsp; niscaya&amp;nbsp; kalian&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; akan&amp;nbsp; sesat&amp;nbsp; selama-lamanya.&amp;nbsp; Yaitu:&amp;nbsp; Kitab&amp;nbsp; Allah&amp;nbsp; dan &lt;br /&gt;
sunnah NabiNya. " (HR. Hakim). &lt;br /&gt;
Dengan demikian dapat difahami bagaimana Rasulullah saw. mengingatkan kita agar &lt;br /&gt;
selalu waspada terhadap provokasi setan untuk beramal dengan menyalahi tuntunan &lt;br /&gt;
Nabi sekalipun hal itu nampak remeh. "Diriwayatkan dari Ghudwahaif bin Al-Harits ra: ia &lt;br /&gt;
berkata: Telah bersabda Rasulullah saw.: Setiap suatu kaum mengadakan Bid'ah, pasti &lt;br /&gt;
saat&amp;nbsp; itu&amp;nbsp; diangkat&amp;nbsp; (dihilangkan)&amp;nbsp; sunnah&amp;nbsp; semisalnya.&amp;nbsp; Maka&amp;nbsp; berpegang&amp;nbsp; teguh&amp;nbsp; kepda &lt;br /&gt;
sunnah itu lebih baik daripada mengadakan bid'ah "(HR.Ahmad). Jadi, ketika amalan &lt;br /&gt;
bid'ah&amp;nbsp; ditimbulkan&amp;nbsp; betapapun&amp;nbsp; kecilnya,&amp;nbsp; maka&amp;nbsp; pada&amp;nbsp; saat&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; sama&amp;nbsp; Sunnah&amp;nbsp; telah &lt;br /&gt;
dimusnahkan.&amp;nbsp; Pada&amp;nbsp; akhirnya&amp;nbsp; lama&amp;nbsp; kelamaan&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; nampak&amp;nbsp; dalam&amp;nbsp; dien&amp;nbsp; ini&amp;nbsp; hanyalah &lt;br /&gt;
perkara bid'ah sedangkan yang Sunnah dan original telah tertutup. Pada saat itulah &lt;br /&gt;
ummat Islam akan menjadi lemah dan dikuasai musuh. Insya Allah tak lama lagi kita &lt;br /&gt;
akan&amp;nbsp; menyambut&amp;nbsp; kedatangan&amp;nbsp; Ramadhan,dalam&amp;nbsp; bulan&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; penuh&amp;nbsp; berkat&amp;nbsp; ini&amp;nbsp; kita &lt;br /&gt;
diwajibkan&amp;nbsp; menjalankan&amp;nbsp; ibadah&amp;nbsp; Shaum&amp;nbsp; Ramadhan&amp;nbsp; sebulan&amp;nbsp; penuh&amp;nbsp; ,&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; mana&amp;nbsp; hal &lt;br /&gt;
tersebut merupakan salah satu bagian dari rukun Islam.&amp;nbsp; Karenanya hal tersebut amat &lt;br /&gt;
penting. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkaitan dengan hal di atas, maka kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk &lt;br /&gt;
dapat menunaikan ibadah Shaum ini sesempurna mungkin , benar-benar bebas dari &lt;br /&gt;
bid'ah&amp;nbsp; sesuai&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; panduan&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; telah&amp;nbsp; digariskan&amp;nbsp; oleh&amp;nbsp; Rasulullah&amp;nbsp; saw.&amp;nbsp; Untuk &lt;br /&gt;
keperluan&amp;nbsp; itulah&amp;nbsp; dalam&amp;nbsp; risalah&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; sederhana&amp;nbsp; ini&amp;nbsp; diterangkan&amp;nbsp; beberapa&amp;nbsp; hal&amp;nbsp; yang &lt;br /&gt;
berkaitan dengan amaliah shaum Ramadhan, zakat fithrah, dan Shalat 'Ied berdasarkan &lt;br /&gt;
Nash-nash yang Shariih (jelas). &lt;br /&gt;
Dalil - dalil dan kesimpulan dibuat agar mudah difahami antara hubungan amal dengan &lt;br /&gt;
dalilnya. Dan -tak ada gading yang tak retak- kata pepatah, sudah barang tentu risalah &lt;br /&gt;
ini sangat jauh dari sempurna, untuk menuju kesempurnaannya bantuan dari pemakai &lt;br /&gt;
amat&amp;nbsp; diharapkan.&amp;nbsp; Semoga&amp;nbsp; risalah&amp;nbsp; ini&amp;nbsp; diterima&amp;nbsp; oleh&amp;nbsp; Allah&amp;nbsp; sebagai&amp;nbsp; Amal&amp;nbsp; Shalih&amp;nbsp; yang &lt;br /&gt;
bermanfaat terutama di akhirat nanti. &lt;br /&gt;
1.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Diriwayatkan dari Umar bin Khaththab ra. telah bersabda Rasulullah saw: Apabila &lt;br /&gt;
malam&amp;nbsp; sudah&amp;nbsp; tiba&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; arah&amp;nbsp; sini&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; siang&amp;nbsp; telah&amp;nbsp; pergi&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; arah&amp;nbsp; sini,&amp;nbsp; sedang &lt;br /&gt;
matahari&amp;nbsp; sudah&amp;nbsp; terbenam,&amp;nbsp; maka&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; shaum&amp;nbsp; boleh&amp;nbsp; berbuka.&amp;nbsp; (H.R:&amp;nbsp; Al- &lt;br /&gt;
Bukhary dan Muslim) &lt;br /&gt;
2.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Diriwayatkan&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; Sahal&amp;nbsp; bin&amp;nbsp; Sa?ad:&amp;nbsp; Sesungguhnya&amp;nbsp; Nabi&amp;nbsp; saw&amp;nbsp; telah&amp;nbsp; bersabda: &lt;br /&gt;
Manusia&amp;nbsp;&amp;nbsp; (ummat&amp;nbsp;&amp;nbsp; Islam)&amp;nbsp;&amp;nbsp; masih&amp;nbsp;&amp;nbsp; dalam&amp;nbsp;&amp;nbsp; keadaan&amp;nbsp;&amp;nbsp; baik&amp;nbsp;&amp;nbsp; selama&amp;nbsp;&amp;nbsp; mentakjilkan &lt;br /&gt;
(menyegerakan) berbuka. (H.R: Al-Bukhary dan Muslim) &lt;br /&gt;
3.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Diriwayatakan&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; Anas&amp;nbsp; ra.,&amp;nbsp; ia&amp;nbsp; berkata:&amp;nbsp; Rasulullah&amp;nbsp; saw&amp;nbsp; berbuka&amp;nbsp; denganmakan &lt;br /&gt;
beberapa ruthaab&amp;nbsp; (kurma basah)&amp;nbsp; sebelum&amp;nbsp; shalat,&amp;nbsp; kalau&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; makadengan &lt;br /&gt;
kurma kering, kalau tidak ada maka dengan meneguk air beberapa teguk.(H.R: Abu &lt;br /&gt;
Daud dan Al-Hakiem) &lt;br /&gt;
4.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Diriwayatkan&amp;nbsp;&amp;nbsp; dari&amp;nbsp;&amp;nbsp; Salman&amp;nbsp;&amp;nbsp; bin&amp;nbsp;&amp;nbsp; Amir,&amp;nbsp;&amp;nbsp; bahwa&amp;nbsp;&amp;nbsp; sesungguhnya&amp;nbsp;&amp;nbsp; Nabi&amp;nbsp;&amp;nbsp; saw.&amp;nbsp;&amp;nbsp; telah &lt;br /&gt;
bersabda: Apabila salah seorang diantara kamu shaum hendaklah berbuka dengan &lt;br /&gt;
kurma,&amp;nbsp; bila&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; kurma&amp;nbsp; hendaklah&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; air,&amp;nbsp; sesungguhnya&amp;nbsp; airitu&amp;nbsp; bersih. &lt;br /&gt;
(H.R: Ahmad danAt-Tirmidzi) &lt;br /&gt;
5.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Diriwayatkan&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; Ibnu&amp;nbsp; Umar:&amp;nbsp; Adalah&amp;nbsp; Nabi&amp;nbsp; saw.&amp;nbsp; selesai&amp;nbsp; berbuka&amp;nbsp; Beliau&amp;nbsp; berdo'a &lt;br /&gt;
(artinya) telah pergi rasa haus dan menjadi basah semua urat-urat dan pahala tetap &lt;br /&gt;
ada Insya Allah. (H.R: Ad-Daaruquthni dan Abu Daud hadits hasan) &lt;br /&gt;
6.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Diriwayatkan dari Anas, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah saw:Apabila makan &lt;br /&gt;
malam telah disediakan, maka mulailah makan sebelum shalat Maghrib, janganlah &lt;br /&gt;
mendahulukan shalat daripada makan malam itu (yang sudah terhidang). (H.R: Al- &lt;br /&gt;
Bukhary dan Muslim) &lt;br /&gt;
7.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra: Sesungguhnya Rasulullah saw.telah bersabda: &lt;br /&gt;
Makan sahurlah kalian karena sesungguhnya makan sahur itu berkah.&amp;nbsp; (H.R:&amp;nbsp; Al- &lt;br /&gt;
Bukhary) &lt;br /&gt;
8.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Diriwayatkan dari Al-Miqdam bin Ma'di Yaqrib, dari Nabi saw.bersabda: Hendaklah &lt;br /&gt;
kamu&amp;nbsp; semua&amp;nbsp; makan&amp;nbsp; sahur,&amp;nbsp; karena&amp;nbsp; sahur&amp;nbsp; adalah&amp;nbsp; makanan&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; penuh&amp;nbsp; berkah. &lt;br /&gt;
(H.R: An-Nasa'i) &lt;br /&gt;
9.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Diriwayatkan&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; Zaid&amp;nbsp; bin&amp;nbsp; Tsabit&amp;nbsp; t&amp;nbsp; berkata: Kami&amp;nbsp; bersahur&amp;nbsp; bersama&amp;nbsp; Rasulullah &lt;br /&gt;
saw.&amp;nbsp; kemudian&amp;nbsp; kami&amp;nbsp; bangkit&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp; menunaikan&amp;nbsp; shalat&amp;nbsp; (Shubuh).&amp;nbsp; Saya&amp;nbsp; berkata: &lt;br /&gt;
Berapa&amp;nbsp; saat&amp;nbsp; jarak&amp;nbsp; antara keduanya&amp;nbsp; (antara&amp;nbsp; waktu&amp;nbsp; sahur&amp;nbsp; danwaktu&amp;nbsp; Shubuh)?Ia &lt;br /&gt;
berkata: Selama orang membaca limapuluh ayat. (H.R:Al-Bukhary dan Muslim) &lt;br /&gt;
10.&amp;nbsp; Diriwayatkan dari Amru bin Maimun, ia berkata: Adalah para sahabat Muhammad &lt;br /&gt;
saw. adalah orang yang paling menyegerakan berbuka&amp;nbsp; dan melambatkan makan &lt;br /&gt;
sahur.(H.R: Al-Baihaqi) &lt;br /&gt;
11.&amp;nbsp; Telah bersabda Rasulullah saw: Apabila salah seorang diantara kamu&amp;nbsp; mendengar &lt;br /&gt;
adzan&amp;nbsp;&amp;nbsp; dan&amp;nbsp;&amp;nbsp; piring&amp;nbsp;&amp;nbsp; masih&amp;nbsp;&amp;nbsp; di&amp;nbsp;&amp;nbsp; tangannya&amp;nbsp;&amp;nbsp; janganlah&amp;nbsp;&amp;nbsp; diletakkan&amp;nbsp;&amp;nbsp; hendaklah&amp;nbsp;&amp;nbsp; ia &lt;br /&gt;
menyelesaikan hajatnya (makan/ minum sahur) daripadanya. (H.R:Ahmad dan Abu &lt;br /&gt;
Daud dan Al-Hakiem) &lt;br /&gt;
12.&amp;nbsp; Diriwayatkan dari Abu Usamah ra. ia berkata: Shalat telah di'iqamahkan, sedang &lt;br /&gt;
segelas minuman masih di tangan Umar ra. beliau bertanya: Apakah ini boleh saya &lt;br /&gt;
minum wahai Rasulullah ? Beliau r. menjawab: ya, lalu ia meminumnya. (H.R Ibnu &lt;br /&gt;
Jarir) &lt;br /&gt;
13.&amp;nbsp; Diriwayatkan&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; Ibnu&amp;nbsp; Abbas&amp;nbsp; ra.&amp;nbsp; ia&amp;nbsp; berkata:&amp;nbsp; Adalah&amp;nbsp; Rasulullah&amp;nbsp; saw.orang&amp;nbsp; yang &lt;br /&gt;
paling&amp;nbsp; dermawan&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; beliau&amp;nbsp; lebih&amp;nbsp; dermawan&amp;nbsp; lagi&amp;nbsp; pada&amp;nbsp; bulan&amp;nbsp; Ramadhan&amp;nbsp; ketika &lt;br /&gt;
Jibril&amp;nbsp;&amp;nbsp; menemuinya,&amp;nbsp;&amp;nbsp; dan&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jibril&amp;nbsp;&amp;nbsp; menemuinya&amp;nbsp;&amp;nbsp; pada&amp;nbsp;&amp;nbsp; setiap&amp;nbsp;&amp;nbsp; malam&amp;nbsp;&amp;nbsp; pada&amp;nbsp;&amp;nbsp; bulan &lt;br /&gt;
Ramadhan untuk mentadaruskan beliau saw. al-qur'an dan benar-benar Rasulullah &lt;br /&gt;
saw.&amp;nbsp; lebih&amp;nbsp; dermawan&amp;nbsp; tentang&amp;nbsp; kebajikan(cepat&amp;nbsp; berbuat&amp;nbsp; kebaikan) daripada angin &lt;br /&gt;
yang dikirim.(HR Al-Bukhary) &lt;br /&gt;
14.&amp;nbsp; Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata: Adalah Rasulullah saw.menggalakkan &lt;br /&gt;
qiyamullail (shalat malam) di bulan Ramadhan tanpa memerintahkan secara wajib, &lt;br /&gt;
maka&amp;nbsp; beliau&amp;nbsp; bersabda:&amp;nbsp; Barang&amp;nbsp; siapa&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; shalat&amp;nbsp; malam&amp;nbsp; di&amp;nbsp; bulan&amp;nbsp; Ramadhan &lt;br /&gt;
karena&amp;nbsp; beriman&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; mengharapkan&amp;nbsp; pahala&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; Allah,&amp;nbsp; maka&amp;nbsp; diampuni&amp;nbsp; baginya &lt;br /&gt;
dosanya yang telah lalu. (H.R: Jama'ah) &lt;br /&gt;
15.&amp;nbsp; Diriwayatkan dari Aisyah ra. Sesungguhnya Nabi saw. Apabila memasuki sepuluh &lt;br /&gt;
hari terakhir&amp;nbsp; (bulan Ramadhan)&amp;nbsp; beliau&amp;nbsp; benar-benar menghidupkan malam&amp;nbsp; (untuk &lt;br /&gt;
beribadah) dan membangunkan istrinya&amp;nbsp; (agar beribadah) dengan mengencangkan &lt;br /&gt;
ikatan sarungnya (tidak mengumpuli istrinya). (H.R:Al-Bukhary dan Muslim) &lt;br /&gt;
16.&amp;nbsp; Diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata: Adalah Nabi saw. bersungguh-sungguh shalat &lt;br /&gt;
malam&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; pada&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; sepuluh&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; hari&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; terakhir&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; (di&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; bulan&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ramadhan)&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; seperti &lt;br /&gt;
kesungguhannya dalam bulan selainnya. (H.R: Muslim) &lt;br /&gt;
17.&amp;nbsp; Diriwayatkan&amp;nbsp;&amp;nbsp; dari&amp;nbsp;&amp;nbsp; Abu&amp;nbsp;&amp;nbsp; salamah&amp;nbsp;&amp;nbsp; din&amp;nbsp;&amp;nbsp; Abdur&amp;nbsp;&amp;nbsp; Rahman,&amp;nbsp;&amp;nbsp; sesungguhnya&amp;nbsp;&amp;nbsp; ia&amp;nbsp;&amp;nbsp; telah &lt;br /&gt;
bertanya kepada Aisyah ra: Bagaimana shalat malamnya Rasulullah saw di bulan &lt;br /&gt;
Ramadhan? maka ia menjawab: Rasulullah saw tidak pernah shalat malam lebih &lt;br /&gt;
dari sebelas&amp;nbsp; raka'at&amp;nbsp; baik&amp;nbsp; di&amp;nbsp; bulan&amp;nbsp; Ramadhan&amp;nbsp; maupun&amp;nbsp; di&amp;nbsp; bulan&amp;nbsp; lainnya,&amp;nbsp; caranya: &lt;br /&gt;
Beliau shalat empat raka'at jangan tanya baik dan panjangnya, kemudian shalat &lt;br /&gt;
lagi&amp;nbsp; empat&amp;nbsp; raka'at&amp;nbsp; jangan&amp;nbsp; ditanya&amp;nbsp; baik&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; panjangnya,&amp;nbsp; kemudian&amp;nbsp; shalat&amp;nbsp; tiga &lt;br /&gt;
raka?at. (H.R: Al-Bukhary,Muslim danlainnya) &lt;br /&gt;
18.&amp;nbsp; Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata: Adalah Rasulullah saw. Apabila bangun &lt;br /&gt;
shalat malam, beliau membuka dengan shalat dua raka'at yang ringan, kemudian &lt;br /&gt;
shalat delapan raka'at, kemudian shalat witir. (H.R: Muslim) &lt;br /&gt;
19.&amp;nbsp; Diriwayatkan dari Ibnu Umar ia berkata: Ada seorang laki-laki berdiri lalu ia berkata: &lt;br /&gt;
Wahai Rasulullah bagaimana cara shalat malam ? Maka Rasulullah r. menjawab: &lt;br /&gt;
Shalat&amp;nbsp; malam&amp;nbsp; itu&amp;nbsp; dua&amp;nbsp; raka'at&amp;nbsp; dua&amp;nbsp; raka'at.&amp;nbsp; Apabila&amp;nbsp; kamu&amp;nbsp; khawatir&amp;nbsp; masuk&amp;nbsp; shalat &lt;br /&gt;
Shubuh, maka berwitirlah satu raka'at. (H.R:Jama'ah) &lt;br /&gt;
20.&amp;nbsp; Dari&amp;nbsp; Aisyah&amp;nbsp; ra.&amp;nbsp; ia&amp;nbsp; berkata:&amp;nbsp; Sesungguhnya&amp;nbsp; Nabi&amp;nbsp; saw&amp;nbsp; shalat&amp;nbsp; di&amp;nbsp; masjid,&amp;nbsp; lalu&amp;nbsp; para &lt;br /&gt;
sahabat shalat sesuai dengan shalat beliau&amp;nbsp; (bermakmum di belakang), lalu beliau &lt;br /&gt;
shalat&amp;nbsp;&amp;nbsp; pada&amp;nbsp;&amp;nbsp; malam&amp;nbsp;&amp;nbsp; kedua&amp;nbsp;&amp;nbsp; dan&amp;nbsp;&amp;nbsp; para&amp;nbsp;&amp;nbsp; sahabat&amp;nbsp;&amp;nbsp; bermakmum&amp;nbsp;&amp;nbsp; dibelakangnya &lt;br /&gt;
bertambah banyak, kemudian pada malam yang ketiga atau yang keempat mereka &lt;br /&gt;
berkumpul,&amp;nbsp; maka&amp;nbsp; Rasulullah&amp;nbsp; saw&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; keluar&amp;nbsp; mengimami&amp;nbsp; mereka.&amp;nbsp; Setelah&amp;nbsp; pagi &lt;br /&gt;
hari&amp;nbsp; beliau&amp;nbsp; bersabda:&amp;nbsp; Saya&amp;nbsp; telah&amp;nbsp; tahu&amp;nbsp; apa&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; kalian&amp;nbsp; perbuat,&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; yang &lt;br /&gt;
menghalangi aku untuk keluar kepada kalian (untuk mengimami shalat) melainkan &lt;br /&gt;
aku&amp;nbsp; khawatir&amp;nbsp; shalat&amp;nbsp; malam&amp;nbsp; ini&amp;nbsp; difardhukan&amp;nbsp; atas&amp;nbsp; kalian.&amp;nbsp; Ini&amp;nbsp; terjadi&amp;nbsp; pada&amp;nbsp; bulan &lt;br /&gt;
Ramadhan. (H.R: Al-Bukhary dan Muslim) &lt;br /&gt;
21.&amp;nbsp; Dari&amp;nbsp; Ubay&amp;nbsp; bin&amp;nbsp; Ka'ab&amp;nbsp; t.&amp;nbsp; ia&amp;nbsp; berkata :&amp;nbsp; Adalah&amp;nbsp; Rasulullah&amp;nbsp; saw.&amp;nbsp; Shalat&amp;nbsp; witir&amp;nbsp; dengan &lt;br /&gt;
membaca:&amp;nbsp; Sabihisma&amp;nbsp; Rabbikal&amp;nbsp; A'la)dan&amp;nbsp; (Qul&amp;nbsp; ya&amp;nbsp; ayyuhal&amp;nbsp; kafirun)&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; (Qulhu &lt;br /&gt;
wallahu ahad). (H.R: Ahmad, Abu Daud, Annasa'i dan Ibnu Majah) &lt;br /&gt;
22.&amp;nbsp; Diriwayatkan dari Hasan bin Ali t. ia berkata: Rasulullah saw. Telah mengajarkan &lt;br /&gt;
kepadaku beberapa kata yang aku baca dalam qunut witir:&amp;nbsp; artinya) Ya Allah berilah &lt;br /&gt;
aku&amp;nbsp; petunjuk&amp;nbsp; beserta&amp;nbsp; orang-orang&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; telah&amp;nbsp; engkau&amp;nbsp; beri&amp;nbsp; petunjuk,&amp;nbsp; berilah&amp;nbsp; aku &lt;br /&gt;
kesehatan yang sempurna beserta orang yang telah engkau beri kesehatan yang &lt;br /&gt;
sempurna,&amp;nbsp; pimpinlah&amp;nbsp; aku&amp;nbsp; beserta&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; telah&amp;nbsp; Engkau&amp;nbsp; pimpin,&amp;nbsp; Berkatilah &lt;br /&gt;
untukku&amp;nbsp; apa&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; telah&amp;nbsp; Engkau&amp;nbsp; berikan,&amp;nbsp; peliharalah&amp;nbsp; aku&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; apa&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; telah &lt;br /&gt;
Engkau&amp;nbsp; tentukan.&amp;nbsp; Maka&amp;nbsp; sesungguhnya&amp;nbsp; Engkaulah&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; memutuskan&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; tiada &lt;br /&gt;
yang dapat memutuskan atas Engkau, bahwa tidak akan hina siapa saja yang telah &lt;br /&gt;
Engkau pimpin dan tidak akan mulia siapa saja yang Engkau musuhi. Maha agung &lt;br /&gt;
Engkau&amp;nbsp; wahai&amp;nbsp; Rabb&amp;nbsp; kami&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; Maha&amp;nbsp; Tinggi&amp;nbsp; Engkau. (H.R:&amp;nbsp; Ahmad,&amp;nbsp; Abu&amp;nbsp; Daud, &lt;br /&gt;
Annasa'i, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah) &lt;br /&gt;
23.&amp;nbsp; Dari Abu Hurairah ra. bahwa Nabi saw. bersabda: Barang siapa yang shalat malam &lt;br /&gt;
menepati lailatul qadar, maka diampuni dosanya yang telah lalu. (H.R: Jama'ah) &lt;br /&gt;
24.&amp;nbsp; Diriwayatkan&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; Aisyah&amp;nbsp; ra.&amp;nbsp; Sesungguhnya&amp;nbsp; Rasulullah&amp;nbsp; saw.&amp;nbsp; Telah&amp;nbsp; bersabda: &lt;br /&gt;
berusahalah&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp; mencari&amp;nbsp; lailatul&amp;nbsp; qadar&amp;nbsp; pada&amp;nbsp; sepuluh&amp;nbsp; malam&amp;nbsp; terakhir.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; H.R: &lt;br /&gt;
Muslim) &lt;br /&gt;
25.&amp;nbsp; Diriwayatkan&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; Ibnu&amp;nbsp; Umar&amp;nbsp; ra. ia berkata:&amp;nbsp; Dinampakkan dalam mimpi seorang &lt;br /&gt;
laki-laki bahwa lailatul qadar pada malam kedua puluh tujuh, maka Rasulullah saw. &lt;br /&gt;
bersabda: Sayapun bermimpi seperti mimpimu, (ditampakkan pada sepuluh malam &lt;br /&gt;
terakhir, maka carilah ia (lailatul qadar) pada malam-malam ganjil. (H.R: Muslim) &lt;br /&gt;
26.&amp;nbsp; Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata: Saya berkata kepada Rasulullah saw. Ya &lt;br /&gt;
Rasulullah, bagaimana pendapat tuan bila saya mengetahui lailatul qadar,apa yang &lt;br /&gt;
saya harus baca pada malam itu ? Beliau bersabda: Bacalah&amp;nbsp;&amp;nbsp; artinya) Yaa Allah &lt;br /&gt;
sesungguhnya&amp;nbsp; Engkau&amp;nbsp; maha&amp;nbsp; pemberi&amp;nbsp; ampun,&amp;nbsp; Engkau&amp;nbsp; suka&amp;nbsp; kepada&amp;nbsp; keampunan &lt;br /&gt;
maka ampunilah daku. (H.R: At-Tirmidzi dan Ahmad) &lt;br /&gt;
27.&amp;nbsp; Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata: Adalah Rasulullah saw mengamalkan i'tikaf &lt;br /&gt;
pada sepuluh hari terakhir pada&amp;nbsp; bulan Ramadhan sampai beliau diwafatkan oleh &lt;br /&gt;
Allah Azza wa Jalla.(H.R: Al-Bukhary dan Muslim) &lt;br /&gt;
28.&amp;nbsp; Diriwayatkan&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; Aisyah&amp;nbsp; ra.&amp;nbsp; ia&amp;nbsp; berkata:&amp;nbsp; Adalah&amp;nbsp; Rasulullah&amp;nbsp; saw.&amp;nbsp; Apabila&amp;nbsp; hendak &lt;br /&gt;
beri'tikaf,&amp;nbsp;&amp;nbsp; beliau&amp;nbsp;&amp;nbsp; shalat&amp;nbsp;&amp;nbsp; shubuh&amp;nbsp;&amp;nbsp; kemudian&amp;nbsp;&amp;nbsp; memasuki&amp;nbsp;&amp;nbsp; tempat&amp;nbsp;&amp;nbsp; i'tikafnya.......... &lt;br /&gt;
(H.R:Jama'ah kecuali At-Tirmidzi) &lt;br /&gt;
29.&amp;nbsp; Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata: Adalah Rasulullah saw. Apabila beri'tikaf , &lt;br /&gt;
beliau&amp;nbsp; mendekatkan&amp;nbsp; kepalanya&amp;nbsp; kepadaku,&amp;nbsp; maka&amp;nbsp; aku&amp;nbsp; menyisirnya,&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; adalah &lt;br /&gt;
beliau tidak masuk ke rumah kecuali karena untuk memenuhi hajat manusia (buang &lt;br /&gt;
air, mandi dll...) (H.R: Al-Bukhary dan Muslim) &lt;br /&gt;
30.&amp;nbsp; Allah ta'ala berfirman: (artinya) Janganlah kalian mencampuri ereka(istri-istri kalian) &lt;br /&gt;
sedang&amp;nbsp; kalian&amp;nbsp; dalam&amp;nbsp; keadaan&amp;nbsp; i'tikaf&amp;nbsp; dalam&amp;nbsp; masjid.&amp;nbsp; Itulah&amp;nbsp; batas-batas ketentuan &lt;br /&gt;
Allah, maka jangan di dekati... Al-Baqarah: 187) &lt;br /&gt;
31.&amp;nbsp; Diriwayatkan&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; Abu&amp;nbsp; Hurairah&amp;nbsp; ra.&amp;nbsp; ia&amp;nbsp; berkata:&amp;nbsp; Telah&amp;nbsp; bersabda&amp;nbsp; Rasulullah&amp;nbsp; saw: &lt;br /&gt;
Setiap amal anak bani Adam adalah untuknya kecuali shaum, ia adalah untukku &lt;br /&gt;
dan&amp;nbsp; aku&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; memberikan&amp;nbsp; pahala&amp;nbsp; dengannya.&amp;nbsp; Dan&amp;nbsp; sesungguhnya&amp;nbsp; shaum&amp;nbsp; itu &lt;br /&gt;
adalah benteng pertahanan, pada hari ketika kamu shaum janganlah berbuat keji , &lt;br /&gt;
jangan&amp;nbsp; berteriak-teriak&amp;nbsp; (pertengkaran),&amp;nbsp; apabila&amp;nbsp; seorang&amp;nbsp; memakinya&amp;nbsp; sedang&amp;nbsp; ia &lt;br /&gt;
shaum maka hendaklah ia katakan: " sesungguhnya saya sedang shaum" . Demi &lt;br /&gt;
jiwa Muhammad yang ada di tanganNya sungguh bau busuknya mulut orang yang &lt;br /&gt;
sedang shaum itu lebih wangi disisi Allah pada hari kiamat daripada kasturi. Dan &lt;br /&gt;
bagi&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; shaum&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; dua&amp;nbsp; kegembiraan,&amp;nbsp; apabila&amp;nbsp; ia&amp;nbsp; berbuka&amp;nbsp; ia&amp;nbsp; gembira &lt;br /&gt;
dengan&amp;nbsp; bukanya&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; apabila&amp;nbsp; ia&amp;nbsp; berjumpa&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; Rabbnya&amp;nbsp; ia&amp;nbsp; gembira&amp;nbsp; karena &lt;br /&gt;
shaumnya.(H.R: Al-Bukhary dan Muslim) &lt;br /&gt;
32.&amp;nbsp; Diriwayatkan&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; Abu&amp;nbsp; Hurairah&amp;nbsp; ia&amp;nbsp; berkata:&amp;nbsp; Sesungguhnya&amp;nbsp; Nabi&amp;nbsp; saw.&amp;nbsp; Telah &lt;br /&gt;
bersabda: Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan bohong dan amalan &lt;br /&gt;
kebohongan,&amp;nbsp; maka&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; bagi&amp;nbsp; Allah&amp;nbsp; hajat&amp;nbsp; (untuk&amp;nbsp; menerima)&amp;nbsp; dalam&amp;nbsp; hal&amp;nbsp; ia &lt;br /&gt;
meninggalkan makan dan minumnya.&amp;nbsp; (H.R: Jama'ah Kecuali Muslim) Maksudnya &lt;br /&gt;
Allah tidak merasa perlu memberi pahala shaumnya. &lt;br /&gt;
33.&amp;nbsp; Bahwa sesungguhnya Nabi saw. bersabda kepada seorang wanita Anshar yang &lt;br /&gt;
sering&amp;nbsp; di&amp;nbsp; panggil&amp;nbsp; Ummu&amp;nbsp; Sinan:&amp;nbsp; Apa&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; menghalangimu&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp; melakukan&amp;nbsp; haji &lt;br /&gt;
bersama kami ? Ia menjawab: Keledai yang ada pada kami yang satu dipakai oleh &lt;br /&gt;
ayahnya si fulan&amp;nbsp; (suaminya) untuk berhaji bersama anaknya sedang yang lain di &lt;br /&gt;
pakai&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp; memberi&amp;nbsp; minum&amp;nbsp; anak-anak kami. Nabipun bersabda lagi&amp;nbsp;&amp;nbsp; Umrah di &lt;br /&gt;
bulan&amp;nbsp; Ramadhan&amp;nbsp; sama&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; mengerjakan&amp;nbsp; haji&amp;nbsp; atau&amp;nbsp; haji&amp;nbsp; bersamaku. &lt;br /&gt;
Muslim) &lt;br /&gt;
H.R: &lt;br /&gt;
34.&amp;nbsp; Rasulullah&amp;nbsp; sw.&amp;nbsp; bersabda:&amp;nbsp; Apabila&amp;nbsp; datang&amp;nbsp; bulan&amp;nbsp; Ramadhan&amp;nbsp; kerjakanlah&amp;nbsp; umrah &lt;br /&gt;
karena umrah di dalamnya (bulan Ramadhan) setingkat dengan haji. (H.R: Muslim) &lt;br /&gt;
Ayat&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; hadits-hadits tersebut di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa dalam &lt;br /&gt;
mengamalkan shaum Ramadhan kita perlu melaksanakan adab-adab sbb: &lt;br /&gt;
1.&amp;nbsp; Berbuka apabila sudah masuk waktu Maghrib. (dalil: 6) &lt;br /&gt;
Sunnah berbuka adalah sbb: &lt;br /&gt;
a.&amp;nbsp; Disegerakan&amp;nbsp; yakni&amp;nbsp; sebelum&amp;nbsp; melaksanakan&amp;nbsp; shalat&amp;nbsp; Maghrib&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; makanan &lt;br /&gt;
yang ringan seperti kurma, air saja, setelah itu baru melaksanakan shalat.&amp;nbsp; dalil: &lt;br /&gt;
2,3 dan 4) &lt;br /&gt;
b.&amp;nbsp; Tetapi apabila makan malam sudah dihidangkan, maka terus dimakan, jangan &lt;br /&gt;
shalat dahulu. (dalil: 6) &lt;br /&gt;
c.&amp;nbsp; Setelah berbuka berdo'a dengan do'a sbb: Artinya: Telah hilang rasa haus, dan &lt;br /&gt;
menjadi basah semua urat-urat dan pahala tetap wujud insya Allah. (dalil: 5) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.&amp;nbsp; Makan sahur. (dalil: 7 dan 8) &lt;br /&gt;
Adab-adab sahur: &lt;br /&gt;
a.&amp;nbsp; Dilambatkan sampai akhir malam mendekati Shubuh. (dalil 9 dan 10) &lt;br /&gt;
b.&amp;nbsp; Apabila pada tengah makan atau minum sahur lalu mendengar adzan Shubuh, &lt;br /&gt;
maka sahur boleh diteruskan sampai selesai, tidak perlu dihentikan di tengah &lt;br /&gt;
sahur karena sudah masuk waktu Shubuh.&amp;nbsp; (dalil 11 dan 12) * Imsak tidak ada &lt;br /&gt;
sunnahnya dan tidak pernah diamalkan pada zaman sahabat maupun tabi'in. &lt;br /&gt;
3.&amp;nbsp; Lebih&amp;nbsp;&amp;nbsp; bersifat&amp;nbsp;&amp;nbsp; dermawan&amp;nbsp;&amp;nbsp; (banyak&amp;nbsp;&amp;nbsp; memberi,&amp;nbsp;&amp;nbsp; banyak&amp;nbsp;&amp;nbsp; bershadaqah,&amp;nbsp;&amp;nbsp; banyak &lt;br /&gt;
menolong) dan banyak membaca al-qur'an (dalil: 13) &lt;br /&gt;
4.&amp;nbsp; Menegakkan&amp;nbsp; shalat&amp;nbsp; malam&amp;nbsp; /&amp;nbsp; shalat&amp;nbsp; Tarawih&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; berjama'ah.&amp;nbsp; Dan&amp;nbsp; shalat &lt;br /&gt;
Tarawih ini lebih digiatkan lagi pada sepuluh malam terakhir(20 hb. Sampai akhir &lt;br /&gt;
Ramadhan). (dalil: 14,15 dan 16) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara shalat Tarawih adalah: &lt;br /&gt;
a.&amp;nbsp; Dengan berjama'ah. (dalil: 19) &lt;br /&gt;
b.&amp;nbsp; Tidak lebih dari sebelas raka'at yakni salam tiap dua raka'at dikerjakan&amp;nbsp; empat &lt;br /&gt;
kali, atau salam tiap empat raka'at dikerjakan dua kali dan ditutup dengan witir &lt;br /&gt;
tiga raka'at. (dalil: 17) &lt;br /&gt;
c.&amp;nbsp; Dibuka dengan dua raka'at yang ringan. (dalil: 18) &lt;br /&gt;
d.&amp;nbsp; Bacaan dalam witir: Raka'at pertama: Sabihisma Rabbika. Roka't kedua:Qul yaa &lt;br /&gt;
ayyuhal kafirun. Raka'at ketiga: Qulhuwallahu ahad. (dalil: 21) &lt;br /&gt;
e.&amp;nbsp; Membaca do'a qunut dalam shalat witir. (dalil 22) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5.&amp;nbsp; Berusaha menepati lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir, terutama pada &lt;br /&gt;
malam-malam&amp;nbsp; ganjil.&amp;nbsp; Bila&amp;nbsp; dirasakan&amp;nbsp; menepati&amp;nbsp; lailatul&amp;nbsp; qadar&amp;nbsp; hendaklah lebih giat &lt;br /&gt;
beribadah&amp;nbsp;&amp;nbsp; dan&amp;nbsp;&amp;nbsp; membaca:&amp;nbsp;&amp;nbsp; Yaa&amp;nbsp;&amp;nbsp; Allah&amp;nbsp;&amp;nbsp; Engkaulah&amp;nbsp;&amp;nbsp; pengampun,&amp;nbsp;&amp;nbsp; suka&amp;nbsp;&amp;nbsp; kepada &lt;br /&gt;
keampunan maka ampunilah aku.(dalil: 25 dan 26) &lt;br /&gt;
6.&amp;nbsp; Mengerjakan i'tikaf pada sepuluh malam terakhir. (dalil: 27) 7. &lt;br /&gt;
Cara i'tikaf: &lt;br /&gt;
a.&amp;nbsp; Setelah shalat Shubuh lalu masuk ke tempat i'tikaf di masjid. (dalil 28) &lt;br /&gt;
b.&amp;nbsp; Tidak keluar dari tempat i'tikaf kecuali ada keperluan yang mendesak.(dalil: 29) &lt;br /&gt;
a. Tidak mencampuri istri dimasa i'tikaf. (dalil: 30) &lt;br /&gt;
7.&amp;nbsp; Mengerjakan&amp;nbsp; umrah. (dalil: 33 dan 34) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8.&amp;nbsp; Menjauhi perkataan dan perbuatan keji dan menjauhi pertengkaran. (dalil: 31 &lt;br /&gt;
dan 32) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
FIQIH SHAUM &lt;br /&gt;
Cara Menetapkan Awal dan Akhir Bulan &lt;br /&gt;
1.&amp;nbsp; "Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. beliau berkata: Manusia sama melihat Hilal (bulan &lt;br /&gt;
sabit), maka akupun mengabarkan hal itu kepada Rasululullah saw. Saya katakan: &lt;br /&gt;
sesungguhnya&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; saya&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; telah&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; melihat&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hilal.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Maka&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; beliau&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; saw.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; shaum&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; dan &lt;br /&gt;
memerintahkan semua orang agar shaum."&amp;nbsp; (H.R Abu Dawud, Al-Hakim dan Ibnu &lt;br /&gt;
Hibban).(Hadits Shahih). &lt;br /&gt;
2.&amp;nbsp; "Diriwayatkan&amp;nbsp;&amp;nbsp; dari&amp;nbsp;&amp;nbsp; Abu&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hurairah&amp;nbsp;&amp;nbsp; ra.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bahwa&amp;nbsp;&amp;nbsp; sesungguhnya&amp;nbsp;&amp;nbsp; Nabi&amp;nbsp;&amp;nbsp; saw.&amp;nbsp;&amp;nbsp; telah &lt;br /&gt;
bersabda: Mulailah shaum karena melihat ru'yah dan berbukalah (akhirilah shaum &lt;br /&gt;
Ramadhan) dengan&amp;nbsp; melihat&amp;nbsp; ru'yah.&amp;nbsp; Apabila&amp;nbsp; awan&amp;nbsp; menutupi&amp;nbsp; pandanganmu,&amp;nbsp; maka &lt;br /&gt;
sempurnakanlah bulan Sya'ban selama Tiga Puluh hari. "(HR. Bukhary Muslim). &lt;br /&gt;
a.&amp;nbsp; Menetapkan awal dan akhir bulan Ramadhan dengan melihat ru'yah, meskipun &lt;br /&gt;
bersumber dari laporan seseorang, yag penting adil (dapat dipercaya). &lt;br /&gt;
b.&amp;nbsp; Jika&amp;nbsp; bulan&amp;nbsp; sabit&amp;nbsp; (Hilal)&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; terlihat&amp;nbsp; karena&amp;nbsp; tertutup&amp;nbsp; awan,&amp;nbsp; misalnya,&amp;nbsp; maka &lt;br /&gt;
bilangan bulan Sya'ban digenapkan menjadi Tiga Puluh hari. (dalil 1 dan 2). &lt;br /&gt;
c.&amp;nbsp; Pada dasarnya ru'yah y ang dilihat oleh penduduk di suatu negara, berlaku untuk &lt;br /&gt;
seluruh dunia. Hal ini akan berlaku jika Khilafah ' Ala Minhaajinnabiy sudah tegak &lt;br /&gt;
(dalil 2). &lt;br /&gt;
4.&amp;nbsp; Selama&amp;nbsp;&amp;nbsp; khilafah&amp;nbsp;&amp;nbsp; belum&amp;nbsp;&amp;nbsp; tegak,&amp;nbsp;&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp;&amp;nbsp; menghindarkan&amp;nbsp;&amp;nbsp; meluasnya&amp;nbsp;&amp;nbsp; perbedaan &lt;br /&gt;
pendapat ummat Islam tentang hal ini, sebaiknya ummat Islam mengikuti ru'yah yag &lt;br /&gt;
nampak di negeri masing-masing. (ini hanya pendapat sebagian ulama). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rukun Shaum &lt;br /&gt;
1.&amp;nbsp; "... dan makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, &lt;br /&gt;
yaitu fajar, kemudian sempurnakanlah shaum itu sampai alam...(AL-Baqarah: 187). &lt;br /&gt;
2.&amp;nbsp;&amp;nbsp; "Adiy bin Hatim berkata: Ketika turun ayat ; artinya (...hingga jelas bagimu benang &lt;br /&gt;
putih dari benang hitam...), lalu aku mengambil seutas benang hitam dan seutas &lt;br /&gt;
benanag putih, lalu kedua utas benang itu akau simpan dibawah bantalku. Maka &lt;br /&gt;
pada waktu malam saya amati, tetapi tidak tampak jelas, maka saya pergi menemui &lt;br /&gt;
Rasulullah saw. dan saya ceritakan hal ini kepada beliau. Beliapun bersabda: Yang &lt;br /&gt;
dimaksud&amp;nbsp; adalah&amp;nbsp; gelapnya&amp;nbsp; malam&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; terangnya&amp;nbsp; siang&amp;nbsp; (fajar).&amp;nbsp; "&amp;nbsp;&amp;nbsp; (H.R.&amp;nbsp; Bukhary &lt;br /&gt;
Muslim). &lt;br /&gt;
3.&amp;nbsp; "Allah&amp;nbsp; Ta'ala&amp;nbsp; berfirman:&amp;nbsp; "&amp;nbsp; Dan&amp;nbsp; tidaklah&amp;nbsp; mereka&amp;nbsp; disuruh,&amp;nbsp; kecuali&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp; beribadah &lt;br /&gt;
kepada Allah dengan mengikhlashkan ketaatan untukNya " Al-Bayyinah:5) &lt;br /&gt;
4.&amp;nbsp;&amp;nbsp; "Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya semua amal itu harus dengan niat, dan &lt;br /&gt;
setiap orang mendapat balasan sesuai dengan apa yang diniatkan." H.R Bukhary &lt;br /&gt;
dan Muslim). &lt;br /&gt;
5.&amp;nbsp; "Diriwayatkan&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; Hafshah&amp;nbsp; ,&amp;nbsp; ia&amp;nbsp; berkata: Telah&amp;nbsp; bersabda&amp;nbsp; Nabi&amp;nbsp; saw.: Barangsiapa &lt;br /&gt;
yang tidak beniat (shaum Ramadhan) sejak malam, maka tidak ada shaum baginya &lt;br /&gt;
." (HR. Abu Dawud) Hadits Shahih. &lt;br /&gt;
Keterangan ayat dan hadit di atas memberi pelajaran kepada kita bahawa rukun &lt;br /&gt;
shaum Ramadhan adalah sebagai - berikut: &lt;br /&gt;
a.&amp;nbsp; Berniat sejak malam hari (dalil 3,4 dan 5). &lt;br /&gt;
b.&amp;nbsp; Menahan makan, minum koitus (Jima') dengan istri di siang hari sejak terbit fajar &lt;br /&gt;
sampai terbenam matahari (Maghrib), (dalil 1 dan 2). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang Diwajibkan Shaum Ramadhan &lt;br /&gt;
1.&amp;nbsp; "Wahai&amp;nbsp; orang-orang&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; beriman&amp;nbsp; diwajibkan&amp;nbsp; atas&amp;nbsp; kamu&amp;nbsp; sekalian&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp; shaum, &lt;br /&gt;
sebagaimana&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; telah&amp;nbsp; diwajibkan&amp;nbsp; atas&amp;nbsp; orang-orang&amp;nbsp; sebelum&amp;nbsp; kamu&amp;nbsp; agar&amp;nbsp; kamu &lt;br /&gt;
sekalian bertaqwa. "(Al-Baqarah: 183) &lt;br /&gt;
2.&amp;nbsp;&amp;nbsp; "Diriwayatkan dari Ali ra., ia berkata: Sesungguhnya nabi saw telah bersabda: telah &lt;br /&gt;
diangkat pena (kewajiban syar'i/ taklif) dari tiga golongan . - Dari orang gila sehingga &lt;br /&gt;
dia&amp;nbsp; sembuh&amp;nbsp; -&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; tidur&amp;nbsp; sehingga&amp;nbsp; bangun&amp;nbsp; -&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; anak-anak&amp;nbsp; sampai&amp;nbsp; ia&amp;nbsp; ia &lt;br /&gt;
bermimpi / dewasa."(H.R.Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi). &lt;br /&gt;
Keterangan&amp;nbsp; di&amp;nbsp; atas&amp;nbsp; mengajarkan&amp;nbsp; kepada&amp;nbsp; kita&amp;nbsp; bahwa:&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; diwajibkan&amp;nbsp; shaum &lt;br /&gt;
Ramadhan&amp;nbsp; adalah:&amp;nbsp; setiap&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; beriman&amp;nbsp; baik&amp;nbsp; lelaki&amp;nbsp; maupun&amp;nbsp; wanita&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; sudah &lt;br /&gt;
baligh/dewasa dan sehat akal /sadar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang Dilarang Shaum &lt;br /&gt;
1.&amp;nbsp; "Diriwayatkan dari 'Aisyah ra. ia berkata: Disaat kami haidh di masa Rasulullah saw, &lt;br /&gt;
kami dilarang shaum dan diperintahkan mengqadhanya, dan kami tidak diperintah &lt;br /&gt;
mengqadha Shalat "(H.R Bukhary Muslim). &lt;br /&gt;
Keterangan di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa wanita yang sedang haidh &lt;br /&gt;
dilarang shaum sampai habis masa haidhnya, lalu melanjutkan shaumnya. Di luar &lt;br /&gt;
Ramadhan ia wajib mengqadha shaum yag ditinggalkannya selama dalam haidh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang Diberi Kelonggaran untuk Tidak Shaum Ramadhan &lt;br /&gt;
1.&amp;nbsp; "(Masa&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; diwajibkan&amp;nbsp; kamu&amp;nbsp; shaum&amp;nbsp; itu&amp;nbsp; ialah)&amp;nbsp; bulan&amp;nbsp; Ramadhan&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; padanya &lt;br /&gt;
diturunkan&amp;nbsp; Al-Qur'an,&amp;nbsp;&amp;nbsp; menjadi&amp;nbsp;&amp;nbsp; pertunjuk&amp;nbsp;&amp;nbsp; bagi&amp;nbsp;&amp;nbsp; sekalian&amp;nbsp;&amp;nbsp; manusia,&amp;nbsp;&amp;nbsp; dan&amp;nbsp;&amp;nbsp; menjadi &lt;br /&gt;
keterangan-keterangan yang menjelaskan pertunjuk, dan (menjelaskan) antara yang &lt;br /&gt;
haq dengan yang bathil. Karenanya, siapa saja dari antara kamu yang menyaksikan &lt;br /&gt;
anak bulan Ramadhan (atau mengetahuinya), maka hendaklah ia shaum di bulan &lt;br /&gt;
itu;&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; siapa&amp;nbsp; saja&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; sakit&amp;nbsp; atau&amp;nbsp; dalam&amp;nbsp; musafir&amp;nbsp; maka&amp;nbsp; (bolehlah&amp;nbsp; ia&amp;nbsp; berbuka, &lt;br /&gt;
kemudian&amp;nbsp; wajiblah&amp;nbsp; ia&amp;nbsp; shaum)&amp;nbsp; sebanyak&amp;nbsp; hari&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; ditinggalkan&amp;nbsp; itu&amp;nbsp; pada&amp;nbsp; hari-hari &lt;br /&gt;
yang lain. (Dengan ketetapan yang demikian itu) Allah menghendaki kamu beroleh &lt;br /&gt;
kemudahan,&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; Ia&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; menghendaki&amp;nbsp; kamu&amp;nbsp; menanggung&amp;nbsp; kesukaran.&amp;nbsp; Dan&amp;nbsp; juga &lt;br /&gt;
supaya kamu cukupkan bilangan shaum (sebulan Ramadhan), dan supaya kamu &lt;br /&gt;
membesarkan Allah karena mendapat pertunjukNya, dan supaya kamu bersyukur." &lt;br /&gt;
(Al-Baqarah:185.) &lt;br /&gt;
2.&amp;nbsp;&amp;nbsp; "Diriwayatkan dari Mu'adz , ia berkata: Sesungguhnya Allah swt telah mewajibkan &lt;br /&gt;
atas&amp;nbsp; nabi&amp;nbsp; untuk shaum, maka DIA turunkan ayat&amp;nbsp; (dalam&amp;nbsp; surat&amp;nbsp; AL-Baqarah:&amp;nbsp; 183- &lt;br /&gt;
184), maka pada saat itu barangsiapa mau shaum dan barangsiapa mau memberi &lt;br /&gt;
makan seorang miskin, keduanya diterima. Kemudian Allah menurunkan ayat lain &lt;br /&gt;
(AL-Baqarah:&amp;nbsp; 185), maka ditetapkanlah kewajiban shaum bagi setiap orang yang &lt;br /&gt;
mukim&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; sehat&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; diberi&amp;nbsp; rukhsah&amp;nbsp; keringanan)&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; sakit&amp;nbsp; dan &lt;br /&gt;
bermusafir&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; ditetapkan&amp;nbsp; cukup&amp;nbsp; memberi&amp;nbsp; makan&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; misikin&amp;nbsp; bagi&amp;nbsp; oran&amp;nbsp; yang &lt;br /&gt;
sudah sangat tua dan tidak mampu shaum. " (HR. Ahmad, Abu Dawud, AL-Baihaqi &lt;br /&gt;
dengan sanad shahih). &lt;br /&gt;
3.&amp;nbsp; "Diriwayatkan dari Hamzah Al-Islamy: Wahai Rasulullah, aku dapati bahwa diriku &lt;br /&gt;
kuat untuk shaum dalam safar, berdosakah saya ? Maka beliau bersabda: hal itu &lt;br /&gt;
adalah&amp;nbsp;&amp;nbsp; merupakan&amp;nbsp;&amp;nbsp; kemurahan&amp;nbsp;&amp;nbsp; dari&amp;nbsp;&amp;nbsp; Allah&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ta'ala,&amp;nbsp;&amp;nbsp; maka&amp;nbsp;&amp;nbsp; barangsiapa&amp;nbsp;&amp;nbsp; yang &lt;br /&gt;
menggunakannya maka itu suatu kebaikan dan barangsiapa yang lebih suka untuk &lt;br /&gt;
terus shaum maka tidak ada dosa baginya " (H.R.Muslim) &lt;br /&gt;
4.&amp;nbsp; "Diriwayatkan&amp;nbsp;&amp;nbsp; dari&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sa'id&amp;nbsp;&amp;nbsp; Al-Khudry&amp;nbsp;&amp;nbsp; ra.&amp;nbsp;&amp;nbsp; ia&amp;nbsp;&amp;nbsp; berkata:&amp;nbsp; Kami&amp;nbsp;&amp;nbsp; bepergian&amp;nbsp;&amp;nbsp; bersama &lt;br /&gt;
Rasulullah saw. ke Makkah, sedang kami dalam keadaan&amp;nbsp; shaum. Selanjutnya ia &lt;br /&gt;
berkata:&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kami&amp;nbsp;&amp;nbsp; berhenti&amp;nbsp;&amp;nbsp; di&amp;nbsp;&amp;nbsp; suatu&amp;nbsp;&amp;nbsp; tempat.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Maka&amp;nbsp;&amp;nbsp; Rasulullah&amp;nbsp;&amp;nbsp; saw.&amp;nbsp;&amp;nbsp; bersabda: &lt;br /&gt;
Sesungguhnya kamu sekalian sudah berada ditempat yang dekat dengan musuh &lt;br /&gt;
kalian, dan berbuka lebih memberi kekuatan kepada kamu. Ini merupakan rukhsah, &lt;br /&gt;
maka diantara kami ada yang masih shaum dan ada juga yang berbuka. Kemudian &lt;br /&gt;
kami&amp;nbsp; berhenti&amp;nbsp; di&amp;nbsp; tempat&amp;nbsp; lain.&amp;nbsp; Maka&amp;nbsp; beliau&amp;nbsp; juga&amp;nbsp; bersabda:&amp;nbsp; Sesungguhnya&amp;nbsp; besoak &lt;br /&gt;
kamu&amp;nbsp; akan&amp;nbsp; bertemu&amp;nbsp; musuh,&amp;nbsp; berbuka&amp;nbsp; lebih&amp;nbsp; memberi&amp;nbsp; kekuatan&amp;nbsp; kepada&amp;nbsp; kamu &lt;br /&gt;
sekalian,maka&amp;nbsp; berbukalah.&amp;nbsp; Maka&amp;nbsp; ini&amp;nbsp; merupakan&amp;nbsp; kemestian,&amp;nbsp; kamipun&amp;nbsp; semuanya &lt;br /&gt;
berbuka. Selanjutnya bila kami bepergian beserta Rasulullah saw. kami shaum ." &lt;br /&gt;
(H.R Ahmad, Muslim dan Abu Dawud). &lt;br /&gt;
5.&amp;nbsp; "Diriwayatkan&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; Sa'id&amp;nbsp; Al-Khudry&amp;nbsp; ra.&amp;nbsp; ia&amp;nbsp; berkata:&amp;nbsp; Pada&amp;nbsp; suatu&amp;nbsp; hari&amp;nbsp; kami&amp;nbsp; pergi &lt;br /&gt;
berperang&amp;nbsp; beserta&amp;nbsp; Rasulullah&amp;nbsp; saw.&amp;nbsp; di&amp;nbsp; bulan&amp;nbsp; Ramadhan.&amp;nbsp; Diantara&amp;nbsp; kami&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; yang &lt;br /&gt;
shaum&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; diantara&amp;nbsp; kami&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; berbuka&amp;nbsp; .&amp;nbsp; Yang&amp;nbsp; shaum&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; mencela&amp;nbsp; yang &lt;br /&gt;
berbuka ,dan yang berbuka tidak mencela yang shaum. Mereka berpendapat bahwa &lt;br /&gt;
siapa&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; mendapati&amp;nbsp; dirinya&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; kekuatan&amp;nbsp; lalu&amp;nbsp; shaum,&amp;nbsp; hal&amp;nbsp; itu&amp;nbsp; adalah baik dan &lt;br /&gt;
barangsiapa&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; mendapati&amp;nbsp; dirinya&amp;nbsp; lemah&amp;nbsp; lalu&amp;nbsp; berbuka,maka&amp;nbsp; hal&amp;nbsp; ini&amp;nbsp; juga&amp;nbsp; baik&amp;nbsp; " &lt;br /&gt;
(HR. Ahmad dan Muslim) &lt;br /&gt;
6.&amp;nbsp; "Dari&amp;nbsp; Jabir&amp;nbsp; bin&amp;nbsp; Abdullah: Bahwa&amp;nbsp; sesungguhnya&amp;nbsp; Rasulullah&amp;nbsp; saw.&amp;nbsp; pergi&amp;nbsp; menuju&amp;nbsp; ke &lt;br /&gt;
Makkah pada waktu fathu Makkah, beliau shaum sampai ke Kurraa?il Ghamiim dan &lt;br /&gt;
semua manusia yang menyertai beliau juga shaum. Lalu dilaporkan kepada beliau &lt;br /&gt;
bahwa manusia yang menyertai beliau merasa berat , tetapi mereka tetap shaum &lt;br /&gt;
karena&amp;nbsp; mereka&amp;nbsp; melihat&amp;nbsp; apa&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; tuan&amp;nbsp; amalkan&amp;nbsp; (shaum).&amp;nbsp; Maka&amp;nbsp; beliau&amp;nbsp; meminta &lt;br /&gt;
segelas air lalu diminumnya. Sedang manusia melihat beliau, lalu sebagian berbuka &lt;br /&gt;
dan sebagian lainnya tetap shaum. Kemudian sampai ke telinga beliau bahwa masih &lt;br /&gt;
ada&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; nekad&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp; shaum.&amp;nbsp; Maka&amp;nbsp; beliaupun&amp;nbsp; bersabda:&amp;nbsp; mereka&amp;nbsp; itu&amp;nbsp; adalah &lt;br /&gt;
durhaka. "(HR.Tirmidzy) &lt;br /&gt;
7.&amp;nbsp; "Ucapan Ibnu Abbas: wanita yang hamil dan wanita yang menyusui apabila khawatir &lt;br /&gt;
atas kesehatan anak-anak mereka, maka boleh tidak shaum dan cukup membayar &lt;br /&gt;
fidyah memberi makan orang miskin "(Riwayat Abu Dawud). Shahih &lt;br /&gt;
8.&amp;nbsp; "Diriwayatkan&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; Nafi'&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; Ibnu&amp;nbsp; Umar:&amp;nbsp; Bahwa&amp;nbsp; sesungguhnya&amp;nbsp; istrinya&amp;nbsp; bertanya &lt;br /&gt;
kepadanya (tentang shaum Ramadhan), sedang ia dalam keadaan hamil. Maka ia &lt;br /&gt;
menjawab:&amp;nbsp; Berbukalah&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; berilah&amp;nbsp; makan&amp;nbsp; sehari&amp;nbsp; seorang&amp;nbsp; miskin&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; usah &lt;br /&gt;
mengqadha shaum ." (Riwayat Baihaqi) Shahih. &lt;br /&gt;
9.&amp;nbsp; "Diriwayatkan&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; Sa'id&amp;nbsp; bin&amp;nbsp; Abi&amp;nbsp; 'Urwah&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; Ibnu&amp;nbsp; Abbas&amp;nbsp; beliau&amp;nbsp; berkata: Apabila &lt;br /&gt;
seorang wanita hamil khawatir akan kesehatan dirinya dan wanita yang menyusui &lt;br /&gt;
khawatir&amp;nbsp; akan&amp;nbsp; kesehatan&amp;nbsp; anaknya&amp;nbsp; jika&amp;nbsp; shaum&amp;nbsp; Ramadhan.&amp;nbsp; Belberkata: Keduanya &lt;br /&gt;
boleh berbuka (tidak shaum)dan harus memberi makan sehari seorang miskin dan &lt;br /&gt;
tidak perlu mengqadha shaum" (HR.Ath-Thabari dengan sanad shahih di atas syarat &lt;br /&gt;
Muslim , kitab AL-irwa jilid IV hal 19). &lt;br /&gt;
10.KESIMPULAN: Pelajaran yang dapat diambil dari keterangan di atas adalah: &lt;br /&gt;
1)&amp;nbsp; Orang&amp;nbsp; Mu'min&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; diberi&amp;nbsp; kelonggaran&amp;nbsp;&amp;nbsp; diperbolehkan&amp;nbsp;&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp;&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp;&amp;nbsp; shaum &lt;br /&gt;
Ramadhan, tetapi wajib mengqadha di bulan lain, mereka itu ialah: &lt;br /&gt;
a)&amp;nbsp; Orang sakit yang masih ada harapan sembuh. &lt;br /&gt;
b)&amp;nbsp; Orang yang bepergian(Musafir). &lt;br /&gt;
Musafir yang merasa kuat boleh meneruskan shaum dalam safarnya, tetapi &lt;br /&gt;
yang merasa lemah dan berat lebih baik berbuka, dan makruh memaksakan &lt;br /&gt;
diri untuk shaum. &lt;br /&gt;
2)&amp;nbsp; Orang Mu'min yang diberi kelonggaran diperbolehkan untuk tidak mengerjakan &lt;br /&gt;
shaum dan tidak wajib mengqadha, tetapi wajib fidyah (memberi makan sehari &lt;br /&gt;
seorang&amp;nbsp; miskin).&amp;nbsp; Mereka&amp;nbsp; adalah&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; lagi&amp;nbsp; mampu&amp;nbsp; mengerjakan &lt;br /&gt;
shaumkarena: &lt;br /&gt;
a). Umurnya sangat tua dan lemah. &lt;br /&gt;
b). Wanita yang menyusui dan khawatir akan kesehatan anaknya. &lt;br /&gt;
c). Karena mengandung dan khawatir akan kesehatan dirinya. &lt;br /&gt;
d). Sakit menahun yang tidak ada harapan sembuh. &lt;br /&gt;
e). Orang yang sehari-hari kerjanya berat yang tidak mungkin mampu dikerjakan &lt;br /&gt;
sambil shaum, dan tidak mendapat pekerjaan lain yang ringan.&amp;nbsp; (dalil 2,7,8, dan 9). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal-Hal yang Membatalkan Shaum &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.&amp;nbsp; "...dan makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam &lt;br /&gt;
(fajar), kemudian sempurnakanlah shaum itu sampai malam..." Al-Baqarah: 187). &lt;br /&gt;
2.&amp;nbsp; "Dari&amp;nbsp;&amp;nbsp; Abu&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hurairah&amp;nbsp;&amp;nbsp; ra.:&amp;nbsp;&amp;nbsp; bahwa&amp;nbsp;&amp;nbsp; sesungguhnya&amp;nbsp;&amp;nbsp; nabi&amp;nbsp;&amp;nbsp; saw.&amp;nbsp;&amp;nbsp; telah&amp;nbsp;&amp;nbsp; bersabda: &lt;br /&gt;
Barangsiapa yang terlupa, sedang dia dalam keadaan shaum, kemudian ia makan &lt;br /&gt;
atau&amp;nbsp;&amp;nbsp; minum,&amp;nbsp;&amp;nbsp; maka&amp;nbsp;&amp;nbsp; hendaklah&amp;nbsp;&amp;nbsp; ia&amp;nbsp;&amp;nbsp; sempurnakan&amp;nbsp;&amp;nbsp; shaumnya.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Hal&amp;nbsp;&amp;nbsp; itu&amp;nbsp;&amp;nbsp; karena &lt;br /&gt;
sesungguhnya&amp;nbsp; Allah&amp;nbsp; hendak&amp;nbsp; memberinya&amp;nbsp; karunia&amp;nbsp; makan&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; minum&amp;nbsp; "&amp;nbsp; (Hadits &lt;br /&gt;
Shahih, riwayat Al-Jama'ah kecuali An-Nasai). &lt;br /&gt;
3.&amp;nbsp; Dari Abu Hurairah ra. bahwa sesungguhnya Nabi saw telah bersabda: Barang siapa &lt;br /&gt;
yang muntah dengan tidak sengaja, padahal ia sedang shaum&amp;nbsp; - maka tidak wajib &lt;br /&gt;
qadha&amp;nbsp; (shaumnya&amp;nbsp; tetap&amp;nbsp; sah),&amp;nbsp; sedang&amp;nbsp; barang&amp;nbsp; siapa&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; berusaha&amp;nbsp; sehinggga &lt;br /&gt;
muntah dengan sengaja, maka hendaklah ia mengqadha&amp;nbsp; (shaumnya batal). (H.R: &lt;br /&gt;
Abu Daud dan At-Tirmidziy) &lt;br /&gt;
4.&amp;nbsp; Diriwayatkan dari Aisyah ra ia berkata: Disaat kami berhaidh (datang bulan) dimasa &lt;br /&gt;
Rasulullah saw. kami dilarang shaum dan diperintah untuk mengqadhanya dan kami &lt;br /&gt;
tidak diperintah untuk mengqadha shalat. (H.R: Al-Bukhary dan Muslim) &lt;br /&gt;
5.&amp;nbsp; Diriwayatkan dari Hafshah, ia berkata: Telah bersabda Nabi saw. Barang siapa yang &lt;br /&gt;
tidak&amp;nbsp; berniat&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp; shaum&amp;nbsp; (Ramadhan)&amp;nbsp; sejak&amp;nbsp; malam,&amp;nbsp; maka&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; shaum &lt;br /&gt;
baginya. (H.R: Abu Daud) hadits shahih. &lt;br /&gt;
6.&amp;nbsp; Telah&amp;nbsp; bersabda&amp;nbsp; Rasulullah&amp;nbsp; saw:&amp;nbsp; Bahwa&amp;nbsp; sesungguhnya&amp;nbsp; semua&amp;nbsp; amal&amp;nbsp; itu&amp;nbsp; harus &lt;br /&gt;
dengan niat ......... (H.R: Al-Bukhary dan Muslim) &lt;br /&gt;
7.&amp;nbsp; Diriwayatkan&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; Abu&amp;nbsp; Hurairah&amp;nbsp; ra.&amp;nbsp; ia&amp;nbsp; berkata:&amp;nbsp; Sesungguhnya&amp;nbsp; seorang&amp;nbsp; laki-laki &lt;br /&gt;
berkata kepada Rasulullah saw: Ya Rasulullah saya terlanjur menyetubuhi istri saya &lt;br /&gt;
(di siang hari) padahal saya dalam keadaan shaum Ramadhan), maka Rasulullah &lt;br /&gt;
saw. bersabda: Punyakah kamu seorang budak untuk dimerdekakan ? Ia menjawab: &lt;br /&gt;
Tidak. Rasulullah saw bersabda: Mampukah kamu shaum dua bulan berturut-turut ? &lt;br /&gt;
Lelaki&amp;nbsp; itu&amp;nbsp; menjawab:&amp;nbsp; Tidak.&amp;nbsp; Beliau&amp;nbsp; bersabda&amp;nbsp; lagi:&amp;nbsp; Punyakah&amp;nbsp; kamu&amp;nbsp; persediaan &lt;br /&gt;
makanan untuk memberi makan enam puluh orang miskin ? Lelaki itu menjawab: &lt;br /&gt;
Tidak. Lalu beliau diam, maka ketika kami dalam keadaan semacam itu, Rasulullah &lt;br /&gt;
datang dengan membawa satu keranjang kurma, lalu bertanya: dimana orang yang &lt;br /&gt;
bertanya&amp;nbsp; tadi&amp;nbsp; ?&amp;nbsp; ambilah&amp;nbsp; kurma&amp;nbsp; ini&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; shadaqahkan&amp;nbsp; dia.&amp;nbsp; Maka&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; tersebut &lt;br /&gt;
bertanya: Apakah kepada orang yang lebih miskin dari padaku ya Rasulullah ? Demi &lt;br /&gt;
Allah&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; diantara&amp;nbsp; sudut-sudutnya&amp;nbsp; (Madinah)&amp;nbsp; keluarga&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; lebih&amp;nbsp; miskin &lt;br /&gt;
daripada&amp;nbsp; keluargaku.&amp;nbsp; Maka&amp;nbsp; Nabi&amp;nbsp; saw.&amp;nbsp; lalu&amp;nbsp; tertawa&amp;nbsp; sampai&amp;nbsp; terlihat&amp;nbsp; gigi&amp;nbsp; serinya &lt;br /&gt;
kemudian bersabda: Ambillah untuk memberi makan keluargamu.&amp;nbsp; (H.R: Al-Bukhary &lt;br /&gt;
dasn Muslim) &lt;br /&gt;
8.&amp;nbsp; KESIMPULAN &lt;br /&gt;
Ayat&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; hadits-hadits&amp;nbsp; tersebut&amp;nbsp; di&amp;nbsp; atas&amp;nbsp; menerangkan&amp;nbsp; kepada&amp;nbsp; kita&amp;nbsp; bahwa&amp;nbsp; hal-hal &lt;br /&gt;
yang dapat membatalkan shaum (Ramadhan) ialah sbb: &lt;br /&gt;
a.&amp;nbsp; Sengaja makan dan minum di siang hari. Bila terlupa makan dan minum di siang &lt;br /&gt;
hari, maka tidak membatalkan shaum. (dalil: 2) &lt;br /&gt;
b.&amp;nbsp; Sengaja membikin muntah, bila muntah dengan tidak disengajakan, maka tidak &lt;br /&gt;
membatalkan shaum. (dalil: 3) &lt;br /&gt;
c.&amp;nbsp; Pada siang hari terdetik niat untuk berbuka. (dalil: 5 dan 6) &lt;br /&gt;
d.&amp;nbsp; Dengan&amp;nbsp; sengaja&amp;nbsp; menyetubuhi&amp;nbsp; istri&amp;nbsp; di&amp;nbsp; siang&amp;nbsp; hari&amp;nbsp; Ramadhan,&amp;nbsp; ini&amp;nbsp; disamping &lt;br /&gt;
shaumnya batal ia terkena hukum yang berupa: memerdekakan seorang hamba, &lt;br /&gt;
bila tidak mampu maka shaum dua bulan berturut-turut, dan bila tidak mampu, &lt;br /&gt;
maka memberi makan enam puluh orang miskin.(dalil: 7) &lt;br /&gt;
e.&amp;nbsp; Datang bulan di siang hari Ramadhan (sebelum waktu masuk aghrib).(dalil: 4) &lt;br /&gt;
Hal-Hal yang Boleh Dikerjakan Waktu Ibadah Shaum &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.&amp;nbsp; Diriwayatkan dari Aisyah ra Bahwa sesungguhnya Nabi saw. dalam keadaan junub &lt;br /&gt;
sampai&amp;nbsp; waktu&amp;nbsp; Shubuh&amp;nbsp; sedang&amp;nbsp; beliau&amp;nbsp; sedang&amp;nbsp; dalam&amp;nbsp; keadaan&amp;nbsp; shaum,&amp;nbsp; kemudian &lt;br /&gt;
mandi. (H.R: Al-Bukhary dan Muslim) &lt;br /&gt;
2.&amp;nbsp; Diriwayatkan dari Abi Bakar bin Abdurrahman, dari sebagian sahabat-sahabat Nabi &lt;br /&gt;
saw. ia berkata kepadanya: Dan sungguh telah saya lihat Rasulullah saw. menyiram &lt;br /&gt;
air di atas kepala beliau padahal beliau dalam keadaan shaum karena haus dan &lt;br /&gt;
karena udara panas. (H.R:Ahmad, Malik dan Abu Daud) &lt;br /&gt;
3.&amp;nbsp; Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. Bahwa sesungguhnya Nabi saw berbekam sedang &lt;br /&gt;
beliau dalam keadaan shaum. (H.R: Al-Bukhary) . &lt;br /&gt;
4.&amp;nbsp; Diriwayatkan dari Aisyah ra Adalah Rasulullah saw mencium (istrinya) sedang beliau &lt;br /&gt;
dalam keadaan shaum dan menggauli dan bercumbu rayu dengan istrinya&amp;nbsp; (tidak &lt;br /&gt;
sampai bersetubuh) sedang beliau dalam keadaan shaum, akan tetbeliau adalah &lt;br /&gt;
orang yang paling kuat menahan birahinya. (H.R: Al-Jama'ah kecuali Nasa'i) hadits &lt;br /&gt;
shahih. &lt;br /&gt;
5.&amp;nbsp; Diriwayatkan dari Abdullah bin Furuuj: Bahwa sesungguhnya ada seorang wanita &lt;br /&gt;
bertanya kepada Ummu Salamah ra. Wanita itu berkata: Sesungguhnya suami saya &lt;br /&gt;
mencium&amp;nbsp;&amp;nbsp; saya&amp;nbsp;&amp;nbsp; sedang&amp;nbsp;&amp;nbsp; dia&amp;nbsp;&amp;nbsp; dan&amp;nbsp;&amp;nbsp; saya&amp;nbsp;&amp;nbsp; dalam&amp;nbsp;&amp;nbsp; keadaan&amp;nbsp;&amp;nbsp; shaum,&amp;nbsp;&amp;nbsp; bagaimana &lt;br /&gt;
pendapatmu&amp;nbsp; ?&amp;nbsp; Maka&amp;nbsp; ia&amp;nbsp; menjawab:&amp;nbsp; Adalah&amp;nbsp; Rasulullah&amp;nbsp; r&amp;nbsp; pernah&amp;nbsp; mencium&amp;nbsp; saya &lt;br /&gt;
sedang&amp;nbsp; beliau&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; saya&amp;nbsp; dalam&amp;nbsp; keadaan&amp;nbsp; shaum.&amp;nbsp; (H.R:&amp;nbsp; Aththahawi&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; Ahmad &lt;br /&gt;
dengan sanad yang baik dengan mengikut syarat Muslim). &lt;br /&gt;
6.&amp;nbsp; Diriwayatkan dari Luqaidh bin Shabrah: Sesungguhnya Nabi saw bersabda: Apabila &lt;br /&gt;
kamu&amp;nbsp; beristinsyaaq&amp;nbsp; (menghisap&amp;nbsp; air&amp;nbsp; ke&amp;nbsp; hidung)&amp;nbsp; keraskan&amp;nbsp; kecuali&amp;nbsp; kamu&amp;nbsp; dalam &lt;br /&gt;
keadaan shaum. (H.R: Ashhabus Sunan) &lt;br /&gt;
7.&amp;nbsp; Perkataan&amp;nbsp; ibnu&amp;nbsp; Abbas:&amp;nbsp; Tidak&amp;nbsp; mengapa&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; shaum&amp;nbsp; mencicipi&amp;nbsp; cuka&amp;nbsp; dan &lt;br /&gt;
sesuatu yang akan dibelinya (Ahmad dan Al-Bukhary). &lt;br /&gt;
8.&amp;nbsp; KESIMPULAN &lt;br /&gt;
Hadits-hadits tersebut di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa hal-hal tersebut &lt;br /&gt;
di bawah ini bila diamalkan tidak membatalkan shaum: &lt;br /&gt;
a.&amp;nbsp; Menyiram air ke atas kepala pada siang hari karena haus ataupun udara panas, &lt;br /&gt;
demikian pula menyelam kedalam air pada siang hari. &lt;br /&gt;
b.&amp;nbsp; Menta'khirkan mandi junub setelah adzan Shubuh. (dalil: 1) &lt;br /&gt;
c.&amp;nbsp; Berbekam pada siang hari. (dalil: 3) &lt;br /&gt;
d.&amp;nbsp; Mencium,&amp;nbsp; menggauli,&amp;nbsp; mencumbu&amp;nbsp; istri&amp;nbsp; tetapi&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; sampai&amp;nbsp; bersetubuh&amp;nbsp; di&amp;nbsp; siang &lt;br /&gt;
hari.(dalil 4 dan 5) &lt;br /&gt;
e.&amp;nbsp; Beristinsyak (menghirup air kedalam hidung)terutama bila akan berwudhu, asal &lt;br /&gt;
tidak dikuatkan menghirupnya. (dalil: 6) &lt;br /&gt;
f.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Disuntik di siang hari &lt;br /&gt;
g.&amp;nbsp; Mencicipi makanan asal tidak ditelan.(dalil:7) &lt;br /&gt;
7.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; FIQIH SHAUM BAGI MUSLIMAH &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Muqoddimah &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam&amp;nbsp; surat&amp;nbsp; Al-Baqoroh:&amp;nbsp; 183,&amp;nbsp; Allah&amp;nbsp; SWT&amp;nbsp; memerintahkan&amp;nbsp; umat&amp;nbsp; Islam&amp;nbsp; melaksanakan &lt;br /&gt;
shiyam,&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp; mencapai&amp;nbsp; derajat&amp;nbsp; taqwa.&amp;nbsp; Perintah&amp;nbsp; ini&amp;nbsp; adalah&amp;nbsp; umum,&amp;nbsp; baik&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp; pria &lt;br /&gt;
maupun&amp;nbsp; wanita.&amp;nbsp; Tetapi&amp;nbsp; dalam&amp;nbsp; perincian&amp;nbsp; pelaksanaan&amp;nbsp; shiyam,&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; beberapa&amp;nbsp; hukum &lt;br /&gt;
khusus bagi wanita. Hal ini terjadi karena perbedaan fithrah yang ada pada wanita yang &lt;br /&gt;
tidak dimiliki oleh pria. Dalam kajian ini- insya Allah- akan dibahas hukum-hukum yang &lt;br /&gt;
berkaitan dengan wanita secara khusus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Panduan Umum &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.&amp;nbsp; Wanita sebagaimana pria disyari'atkan memanfaatkan bulan suci ini untuk hal-hal &lt;br /&gt;
yang&amp;nbsp;&amp;nbsp; bermanfaat,&amp;nbsp;&amp;nbsp; dan&amp;nbsp;&amp;nbsp; memperbanyak&amp;nbsp;&amp;nbsp; menggunakan&amp;nbsp;&amp;nbsp; waktu&amp;nbsp;&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp;&amp;nbsp; beribadah. &lt;br /&gt;
Seperti&amp;nbsp;&amp;nbsp; memperbanyak&amp;nbsp;&amp;nbsp; bacaan&amp;nbsp;&amp;nbsp; Al-Qur'an,&amp;nbsp;&amp;nbsp; dzikir,&amp;nbsp;&amp;nbsp; do'a,&amp;nbsp;&amp;nbsp; shodaqoh&amp;nbsp;&amp;nbsp; dan&amp;nbsp;&amp;nbsp; lain &lt;br /&gt;
sebagainya, karena pada bulan ini amal sholeh dilipatgandakan pahalanya. &lt;br /&gt;
2.&amp;nbsp; Mengajarkan kepada anak-anaknya akan nilai bulan Ramadhan bagi umat Islam, &lt;br /&gt;
dan membiasakan mereka berpuasa secara bertahap (tadarruj), serta menerangkan &lt;br /&gt;
hukum-hukum&amp;nbsp; puasa&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; bisa&amp;nbsp; mereka&amp;nbsp; cerna&amp;nbsp; sesuai&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; tingkat&amp;nbsp; kefahaman &lt;br /&gt;
yang mereka miliki. &lt;br /&gt;
3.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tidak&amp;nbsp; mengabiskan&amp;nbsp; waktu&amp;nbsp; hanya&amp;nbsp; di&amp;nbsp; dapur,&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; membuat&amp;nbsp; berbagai&amp;nbsp; variasi &lt;br /&gt;
makanan untuk berbuka. Memang wanita perlu menyiapkan makanan, tetapi jangan &lt;br /&gt;
sampai hal itu menguras seluruh waktunya, karena ia juga dituntut untuk mengisi &lt;br /&gt;
waktunya dengan beribadah dan bertaqorrub kepada Allah. &lt;br /&gt;
4.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Melaksanakan&amp;nbsp; shalat&amp;nbsp; pada&amp;nbsp; waktunya&amp;nbsp; (awal&amp;nbsp; waktu)&amp;nbsp; III.&amp;nbsp; Hukum&amp;nbsp; Berpuasa&amp;nbsp; bagi &lt;br /&gt;
Muslimah&amp;nbsp; Berdasarkan&amp;nbsp; umumnya&amp;nbsp; firman&amp;nbsp; Allah&amp;nbsp; SWT&amp;nbsp; (QS.&amp;nbsp; Al-Baqoroh: 183) serta &lt;br /&gt;
hadits Rasulullah SAW (HR.Bukhori &amp;amp; Muslim), maka para ulama' ber-ijma' bahwa &lt;br /&gt;
hukum puasa bagi muslimah adalah wajib, apabila memenuhi syarat-syarat; antara &lt;br /&gt;
lain:&amp;nbsp; Islam,&amp;nbsp; akil&amp;nbsp; baligh,&amp;nbsp; muqim,&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; hal-hal&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; menghalangi&amp;nbsp; untuk &lt;br /&gt;
berpuasa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wanita Shalat Tarawih, I'tikaf dan Lailat al Qodr &lt;br /&gt;
Wanita&amp;nbsp; diperbolehkan&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp; melaksanakan&amp;nbsp; shalat&amp;nbsp; tarawih&amp;nbsp; di&amp;nbsp; masjid&amp;nbsp; jika&amp;nbsp; aman&amp;nbsp; dari &lt;br /&gt;
fitnah. &lt;br /&gt;
Rasulullah SAW bersabda: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Janganlah&amp;nbsp; kalian&amp;nbsp; melarang&amp;nbsp; wanita&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp; mengunjungi&amp;nbsp; masjid-masjid&amp;nbsp; Allah"&amp;nbsp; (HR. &lt;br /&gt;
Bukhori). &lt;br /&gt;
Perilaku&amp;nbsp; ini&amp;nbsp; juga&amp;nbsp; dalakukan&amp;nbsp; oleh&amp;nbsp; para&amp;nbsp; salafush&amp;nbsp; shaleh.&amp;nbsp; Namun&amp;nbsp; demikian,&amp;nbsp; wanita &lt;br /&gt;
diharuskan untuk berhijab (memakai busana muslimah), tidak mengeraskan suaranya, &lt;br /&gt;
tidak menampakkan perhiasan- perhiasannya, tidak memakai angi-wangian, dan keluar &lt;br /&gt;
dengan izin (ridlo) suami atau orang tua. Shof wanita berada dibelakang shof pria, dan &lt;br /&gt;
sebaik-baik shof wanita adalah shof yang di belakang (HR. Muslim). &lt;br /&gt;
Tetapi&amp;nbsp; jika&amp;nbsp; ia&amp;nbsp; ke&amp;nbsp; masjid&amp;nbsp; hanya&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp; shalat,&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; lainnya,&amp;nbsp; seperti &lt;br /&gt;
mendengarkan&amp;nbsp; pengajian,&amp;nbsp; mendengarkan&amp;nbsp; bacaan&amp;nbsp; Al-Qur'an (yang dialunkan dengan &lt;br /&gt;
baik),&amp;nbsp; maka&amp;nbsp; shalat&amp;nbsp; di&amp;nbsp; rumahnya&amp;nbsp; adalah&amp;nbsp; lebih&amp;nbsp; afdlol.&amp;nbsp; Wanita&amp;nbsp; juga&amp;nbsp; diperbolehkan &lt;br /&gt;
melakukan&amp;nbsp; i'tikaf&amp;nbsp; baik&amp;nbsp; di&amp;nbsp; masjid&amp;nbsp; rumahnya&amp;nbsp; maupun&amp;nbsp; di&amp;nbsp; masjid&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; lain&amp;nbsp; bila&amp;nbsp; tidak &lt;br /&gt;
menimbulkan fitnah, dan dengan mendapatkan izin suami, dan sebaiknya masjid yang &lt;br /&gt;
dipakai&amp;nbsp; i'tikaf&amp;nbsp; menempel&amp;nbsp; atau&amp;nbsp; sangat&amp;nbsp; berdekatan&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; rumahnya&amp;nbsp; serta&amp;nbsp; terdapat &lt;br /&gt;
fasilitas khusus bagi wanita. Disamping itu wanita juga di perbolehkan menggapai 'lailat &lt;br /&gt;
al qodr', sebagaimana hal tersebut dicontohkan Rasulullah SAW dengan sebagian isteri &lt;br /&gt;
beliau. (Lebih lanjut lihat panduan tentang i'tikaf dan lailat al qodr). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wanita Haidh dan Nifas &lt;br /&gt;
Shiyam dalam kondisi ini hukumnya haram. &lt;br /&gt;
Apabila haid atau nifas keluar meski sesaat sebelum maghrib, ia wajib membatalkan &lt;br /&gt;
puasanya dan mengqodo'nya (mengganti) pada waktu yang lain. &lt;br /&gt;
Apabila ia suci pada siang hari, maka untuk hari itu ia tidak boleh berpuasa, sebab pada &lt;br /&gt;
pagi harinya ia tidak dalam keadaan suci. &lt;br /&gt;
Apabila&amp;nbsp; ia&amp;nbsp; suci&amp;nbsp; pada&amp;nbsp; malam&amp;nbsp; hari&amp;nbsp; Ramadhan&amp;nbsp; meskipun&amp;nbsp; sesaat&amp;nbsp; sebelum&amp;nbsp; fajar,&amp;nbsp; maka &lt;br /&gt;
puasa pada hari itu wajib atasnya, walaupun ia mandi setelah terbit fajar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wanita Hamil dan Menyusui &lt;br /&gt;
•&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jika wanita hamil itu takut akan keselamatan kandungannya, ia boleh berbuka. &lt;br /&gt;
•&amp;nbsp;&amp;nbsp; Apabila kekhawatiran ini terbukti dengan pemeriksaan secara medis dari dua dokter &lt;br /&gt;
yang&amp;nbsp; terpercaya,&amp;nbsp; berbuka&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp; ibu&amp;nbsp; ini&amp;nbsp; hukumnya&amp;nbsp; wajib,&amp;nbsp; demi&amp;nbsp; keselamatan&amp;nbsp; janin &lt;br /&gt;
yang ada dikandungannya. &lt;br /&gt;
•&amp;nbsp;&amp;nbsp; Apabila ibu hamil atau menyusui khawatir akan kesehatan dirinya, bukan kesehatan &lt;br /&gt;
anak&amp;nbsp; atau&amp;nbsp; janin,&amp;nbsp; mayoritas&amp;nbsp; ulama'&amp;nbsp; membolehkan&amp;nbsp; ia&amp;nbsp; berbuka,&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; ia&amp;nbsp; hanya&amp;nbsp; wajib &lt;br /&gt;
mengqodo' (mengganti) puasanya. Dalam keadaan ini ia laksana orang sakit. &lt;br /&gt;
•&amp;nbsp;&amp;nbsp; Apabila&amp;nbsp; ibu&amp;nbsp; hamil&amp;nbsp; atau&amp;nbsp; menyusui&amp;nbsp; khawatir&amp;nbsp; akan&amp;nbsp; keselamatan&amp;nbsp; janin&amp;nbsp; atau&amp;nbsp; anaknya &lt;br /&gt;
(setelah&amp;nbsp; para&amp;nbsp; ulama'&amp;nbsp; sepakat&amp;nbsp; bahwa&amp;nbsp; sang&amp;nbsp; ibu&amp;nbsp; boleh&amp;nbsp; berbuka),&amp;nbsp; mereka&amp;nbsp; berbeda &lt;br /&gt;
pendapat&amp;nbsp; dalam&amp;nbsp; hal:&amp;nbsp; Apakah&amp;nbsp; ia&amp;nbsp; hanya&amp;nbsp; wajib&amp;nbsp; mengqodo'&amp;nbsp; ?&amp;nbsp; atau&amp;nbsp; hanya&amp;nbsp; wajib &lt;br /&gt;
membayar fidyah (memberi makan orang miskin setiap hari sejumlah hari yang ia &lt;br /&gt;
tinggalkan) ? atau kedua-duanya qodho' dan fidyah (memberi makan): &lt;br /&gt;
•&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ibnu&amp;nbsp; Umar&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; Ibnu&amp;nbsp; Abbas&amp;nbsp; membolehkan&amp;nbsp; hanya&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; memberi&amp;nbsp; makan&amp;nbsp; orang &lt;br /&gt;
miskin setiap hari sejumlah hari yang ditinggalkan. &lt;br /&gt;
•&amp;nbsp;&amp;nbsp; Mayoritas ulama' mewajibkan hanya mengqodho'. &lt;br /&gt;
•&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sebagian yang lain mewajibkan kedua-duanya; qodho' dan fidyah. &lt;br /&gt;
•&amp;nbsp;&amp;nbsp; DR. Yusuf Qordhowi dalam Fatawa Mu'ashiroh mengatakan bahwa ia cenderung &lt;br /&gt;
kepada&amp;nbsp; pendapat&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; mengatakan&amp;nbsp; cukup&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp; membanyar&amp;nbsp; fidyah&amp;nbsp; (memberi &lt;br /&gt;
makan&amp;nbsp;&amp;nbsp; orang&amp;nbsp;&amp;nbsp; setiap&amp;nbsp;&amp;nbsp; hari),&amp;nbsp;&amp;nbsp; bagi&amp;nbsp;&amp;nbsp; wanita&amp;nbsp;&amp;nbsp; yang&amp;nbsp;&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp;&amp;nbsp; henti-hentinya&amp;nbsp;&amp;nbsp; hamil&amp;nbsp;&amp;nbsp; dan &lt;br /&gt;
menyusui.&amp;nbsp; Tahun&amp;nbsp; ini&amp;nbsp; hamil,&amp;nbsp; tahun&amp;nbsp; berikutnya&amp;nbsp; menyusui,&amp;nbsp; kemudian&amp;nbsp; hamil&amp;nbsp; dan &lt;br /&gt;
menyusui,&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; seterusnya,&amp;nbsp; sehingga&amp;nbsp; ia&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; mendapatkan&amp;nbsp; kesempatan&amp;nbsp; untuk &lt;br /&gt;
mengqodho'&amp;nbsp; puasanya.&amp;nbsp; Lanjut&amp;nbsp; DR.&amp;nbsp; Yusuf&amp;nbsp; al-Qordlowi;&amp;nbsp; apabila&amp;nbsp; kita&amp;nbsp; membebani &lt;br /&gt;
dengan&amp;nbsp; mengqodho'&amp;nbsp; puasa&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; tertinggal,&amp;nbsp; berarti&amp;nbsp; ia&amp;nbsp; harus&amp;nbsp; berbuasa&amp;nbsp; beberapa &lt;br /&gt;
tahun&amp;nbsp; berturut-turut&amp;nbsp; sertelah&amp;nbsp; itu,&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; itu&amp;nbsp; sangat&amp;nbsp; memberatkan&amp;nbsp; ,&amp;nbsp; sedangkan&amp;nbsp; Allah &lt;br /&gt;
tidak menghendaki kesulitan bagi hambaNya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wanita yang Berusia Lanjut &lt;br /&gt;
Apabila&amp;nbsp; puasa&amp;nbsp; membuatnya&amp;nbsp; sakit,&amp;nbsp; maka&amp;nbsp; dalam&amp;nbsp; kondisi&amp;nbsp; ini&amp;nbsp; ia&amp;nbsp; boleh&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; berpuasa. &lt;br /&gt;
Secara&amp;nbsp;&amp;nbsp; umum,&amp;nbsp;&amp;nbsp; orang&amp;nbsp;&amp;nbsp; yang&amp;nbsp;&amp;nbsp; sudah&amp;nbsp;&amp;nbsp; berusia&amp;nbsp;&amp;nbsp; lanjut&amp;nbsp;&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp;&amp;nbsp; bisa&amp;nbsp;&amp;nbsp; diharapkan&amp;nbsp;&amp;nbsp; untuk &lt;br /&gt;
melaksanakan (mengqodho') puasa pada tahun-tahun berikutnya, karena itu ia hanya &lt;br /&gt;
wajib membayar fidyah (memberi makan orang miskin). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wanita dan Tablet Pengentas Haidh &lt;br /&gt;
Syekh Ibnu Utsaimin menfatwakan bahwa penggunaan obat tersebut tidak dianjurkan. &lt;br /&gt;
Bahkan bisa berakibat tidak baik bagi kesehatan wanita. Karena haid adalah hal yang &lt;br /&gt;
telah ditakdirkan bagi wanita, dan kaum wanita di masa Rasulullah SAW tidak pernah &lt;br /&gt;
membebani&amp;nbsp; diri&amp;nbsp; mereka&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp; melakukan&amp;nbsp; hal&amp;nbsp; tersebut.&amp;nbsp; Namun&amp;nbsp; apabila&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; yang &lt;br /&gt;
melakukan, bagaimana hukumnya ?. Jawabnya:&amp;nbsp; - Apabila darah benar-benar terhenti, &lt;br /&gt;
puasanya&amp;nbsp; sah&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; diperintahkan&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp; mengulang.&amp;nbsp; -&amp;nbsp; Tetapi&amp;nbsp; apabila&amp;nbsp; ia&amp;nbsp; ragu, &lt;br /&gt;
apakah darah benar-benar berhenti atau tidak,maka hukumnya seperti wanita haid, ia &lt;br /&gt;
tidak boleh melakukan puasa.&amp;nbsp; (Masa'il&amp;nbsp; ash&amp;nbsp; Shiyam&amp;nbsp; h.&amp;nbsp; 63&amp;nbsp; &amp;amp;&amp;nbsp; Jami'u&amp;nbsp; Ahkam&amp;nbsp; an&amp;nbsp; Nisa' &lt;br /&gt;
2/393) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mencicipi Masakan &lt;br /&gt;
Wanita yang bekerja di dapur mungkin khawatir akan masakan yang diolahnya pada &lt;br /&gt;
bulan puasa, karena ia tidak dapat merasakan apakah masakan tersebut keasinan atau &lt;br /&gt;
tidak atau yang lain-lainnya. Maka bolehkah ia mencicipi masakannya ?. Para ulama' &lt;br /&gt;
memfatwakan tidak mengapa wanita mencicipi rasa masakannya, asal sekedarnya dan &lt;br /&gt;
tidak sampai di tenggorokan, dalam hal ini diqiyaskan dengan berkumur. (Jami'u Ahkam &lt;br /&gt;
an Nisa'). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Khotimah &lt;br /&gt;
Demikian panduan ringkas ini, semoga para wanita muslimah dapat memaksimalkan &lt;br /&gt;
diri beribadah selama bulan Ramadhan tahun ini, untukmeraih nilai taqwa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; PANDUAN SHALAT DAN SHAUM DALAM BEPERGIAN &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hukum-hukum&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; berkaitan&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; safar&amp;nbsp; (perjalanan)&amp;nbsp; ialah&amp;nbsp; mengkoshor&amp;nbsp; shalat, &lt;br /&gt;
menjama'&amp;nbsp; shalat,&amp;nbsp; menyapu&amp;nbsp; sepatu&amp;nbsp; saat&amp;nbsp; wadhu'&amp;nbsp; selama&amp;nbsp; tiga&amp;nbsp; hari,&amp;nbsp; berbuka&amp;nbsp; di&amp;nbsp; bulan &lt;br /&gt;
Ramadhan,&amp;nbsp; boleh&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; shalat&amp;nbsp; jam'at&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; sunnat&amp;nbsp; 'ied,&amp;nbsp; shalat&amp;nbsp; di&amp;nbsp; atas&amp;nbsp; kendaraan&amp;nbsp; dan &lt;br /&gt;
tayammum.&amp;nbsp; Dalam&amp;nbsp; kesempatan&amp;nbsp; ini&amp;nbsp; -&amp;nbsp; insya&amp;nbsp; Allah&amp;nbsp; -&amp;nbsp; akan&amp;nbsp; dikemukakan&amp;nbsp; lebih&amp;nbsp; lanjut &lt;br /&gt;
tentang ketentuan shalat dan shaum dalam safar, yang sekaligus menegaskan bahwa &lt;br /&gt;
bahkan dalam keadaan safar (bepergian) pun&amp;nbsp; Islam memberikan panduan agar umat &lt;br /&gt;
selalu selamat dan sejahtera. &lt;br /&gt;
Shalatdalam Safar &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkenaan&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; shalat,&amp;nbsp; illah&amp;nbsp; (sebab)&amp;nbsp; adanya&amp;nbsp; perjalanan&amp;nbsp; membolehkan&amp;nbsp; hal-hal &lt;br /&gt;
berikut: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.&amp;nbsp; Mengqoshor (memendekkan) shalat: &lt;br /&gt;
a&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pada&amp;nbsp; dasarnya&amp;nbsp; qoshor&amp;nbsp; merupakan&amp;nbsp; keringanan&amp;nbsp; (rukhshoh)&amp;nbsp; bagi&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; yang &lt;br /&gt;
bepergian&amp;nbsp;&amp;nbsp; (musafir),&amp;nbsp;&amp;nbsp; jika&amp;nbsp;&amp;nbsp; bukan&amp;nbsp;&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp;&amp;nbsp; tujuan&amp;nbsp;&amp;nbsp; maksiat.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Manyoritas&amp;nbsp;&amp;nbsp; ulama' &lt;br /&gt;
berkesimupulan&amp;nbsp;&amp;nbsp; bahwa&amp;nbsp;&amp;nbsp; qoshor&amp;nbsp;&amp;nbsp; adalah&amp;nbsp;&amp;nbsp; afdhol.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Sebagaimana&amp;nbsp;&amp;nbsp; sunnah&amp;nbsp;&amp;nbsp; dan &lt;br /&gt;
kebiasaan Rasulullah SAW kemudian para shahabat beliau. Diriwayatkan oleh &lt;br /&gt;
Imam Bukhori dan Muslim dari Ibnu Umar Rasulullah SAW katanya: " Aku sering &lt;br /&gt;
menyertai Rasulullah SAW dan beliau menunaikan shalat yang asalnya empat &lt;br /&gt;
rekaat&amp;nbsp; menjadi&amp;nbsp; dua&amp;nbsp; rekaat,&amp;nbsp; demikian&amp;nbsp; pula&amp;nbsp; Abu&amp;nbsp; Bakar,&amp;nbsp; Umar&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; Ustman &lt;br /&gt;
Rasulullah SAW. &lt;br /&gt;
b.&amp;nbsp; Jarak perjalanan yang membolehkan qoshor adalah yang menurut ukuran urf di &lt;br /&gt;
zamannya dan dikatagorikan safar atau bepergiaan/ melakukan perjalanan. &lt;br /&gt;
c.&amp;nbsp; Persyaratan teknis melaksanakan qoshor, dikemukakan fuqoha' sebagai berikut: &lt;br /&gt;
1)&amp;nbsp; Bukan safar untuk maksiat, menurut mayoritas ulama'. &lt;br /&gt;
2)&amp;nbsp; Mempunyai tujuan tempat tertentu dalam jarak qoshor &lt;br /&gt;
3)&amp;nbsp; Telah keluar rumah dan wilayah dimana ia tinggal &lt;br /&gt;
4)&amp;nbsp; Tidak berniat untuk tinggal menetap di tempat ia mengqoshor &lt;br /&gt;
5)&amp;nbsp; Tidak menjadi makmun bagi imam yang tidak mengqoshor &lt;br /&gt;
6)&amp;nbsp; Niat qoshor saat takbirotul ikhrom . &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.&amp;nbsp; Menjama' (mengumpulkan) shalat &lt;br /&gt;
Menjama' shalat dhuhur dengan ashar atau naghrib dengan isya' dibolehkan dalam &lt;br /&gt;
safar,&amp;nbsp; baik&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; jama'&amp;nbsp; taqdim&amp;nbsp; (didahulukan)&amp;nbsp; maupun&amp;nbsp; jama'&amp;nbsp; ta'khir&amp;nbsp; (diakhirkan). &lt;br /&gt;
Asal sudah berniat untuk safar boleh menjama' taqdim menjelang keberangkatan &lt;br /&gt;
tanpa keluar rumah terlebih dahulu. Sedang untuk jama' ta'khir diharuskan berniat &lt;br /&gt;
sejak&amp;nbsp; tibanya&amp;nbsp; waktu&amp;nbsp; shalat&amp;nbsp; pertama.&amp;nbsp; Sesudah&amp;nbsp; adzan&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp; tiap&amp;nbsp; shalat&amp;nbsp; dilakukan &lt;br /&gt;
iqomah&amp;nbsp; (qomat)&amp;nbsp; masing-masing.&amp;nbsp; Dan&amp;nbsp; antara&amp;nbsp; kedua&amp;nbsp; shalat&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; dijama'&amp;nbsp; tidak &lt;br /&gt;
diselingi dengan shalat sunnat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.&amp;nbsp; Menjama' dan mengqoshor shalat &lt;br /&gt;
Selain&amp;nbsp; kedua&amp;nbsp; hal&amp;nbsp; diatas&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; disebabkan&amp;nbsp; oleh&amp;nbsp; alasan-alasan&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; sama,&amp;nbsp; syari'at &lt;br /&gt;
Islam juga membolehkan adanya jama' dan qoshor sekaligus, baik secara taqdim &lt;br /&gt;
maupun ta'khir, yaitu dengan menjama' qoshor antara shalat dhuhur dengan ashar, &lt;br /&gt;
masing-masing&amp;nbsp; dua&amp;nbsp; reka'at&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; menjama'&amp;nbsp; qoshor&amp;nbsp; antara&amp;nbsp; shalat&amp;nbsp; maghrib&amp;nbsp; (tetap&amp;nbsp; 3 &lt;br /&gt;
reka'at) dengan isya' dua rekaat. &lt;br /&gt;
4.&amp;nbsp; Shalat di atas kendaraan &lt;br /&gt;
Jika tiba waktu shalat sedang di atas kendaraan dan tidak memungkinkan untuk &lt;br /&gt;
berhenti&amp;nbsp; dulu,&amp;nbsp; maka&amp;nbsp; boleh&amp;nbsp; menunaikan&amp;nbsp; shalat&amp;nbsp; di&amp;nbsp; atas&amp;nbsp; kendaraan&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; tetap &lt;br /&gt;
menghadap qiblat, minimal saat takbirotul ikhrom jika untuk sampai selesai shalat &lt;br /&gt;
tidak memungkinkan. Dan jika sejak awal sudah tidak memungkinkan menghadap &lt;br /&gt;
qiblat,&amp;nbsp; boleh&amp;nbsp; menunaikannya&amp;nbsp; sesuai&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; arah&amp;nbsp; kendaraan.&amp;nbsp; Dan&amp;nbsp; boleh&amp;nbsp; sambil &lt;br /&gt;
duduk jika tidak memungkinkan melaksanakannya sambil berdiri. Diriwayatkan dari &lt;br /&gt;
Maemun bin Mahron dari Ibnu Umar RA.katanya: " Aku bertanya kepada Rasulullah &lt;br /&gt;
SAW bagaimana caranya shalat di atas kapal laut? jawab beliau: "Shalatlah berdiri &lt;br /&gt;
kecuali jika dikhawatirkan akan tenggelam&amp;nbsp; (karena oleng). Riwayat ad Daraquthni &lt;br /&gt;
menurut&amp;nbsp; syarat&amp;nbsp; Bukhori&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; Muslim.Asy&amp;nbsp; Syaukani&amp;nbsp; berkomentar:&amp;nbsp; Diqiyaskan&amp;nbsp; atas &lt;br /&gt;
khawatir&amp;nbsp;&amp;nbsp; tenggelam,&amp;nbsp;&amp;nbsp; adanya&amp;nbsp;&amp;nbsp; udzur&amp;nbsp;&amp;nbsp; atau&amp;nbsp;&amp;nbsp; kesulitan&amp;nbsp;&amp;nbsp; lainnya&amp;nbsp;&amp;nbsp; termasuk&amp;nbsp;&amp;nbsp; kesulitan &lt;br /&gt;
menghadap ke arah qiblat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shaum dalam Safar &lt;br /&gt;
1.&amp;nbsp; Safar (bepergian) termasuk kondisi yang membolehkan ifthor atau berbuka, artinya &lt;br /&gt;
boleh tidak menunaikan shaum meski hukumnya wajib, seperti shaum Ramadhan, &lt;br /&gt;
shaum&amp;nbsp; nadzar,&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; kafarot.&amp;nbsp; Sekalipun&amp;nbsp; tetap&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; ketentuan&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp; mengganti &lt;br /&gt;
(mengqodho') di waktu lain. Dalil syar'i yang mengaturnya; Al-Qur'an suarat Allah &lt;br /&gt;
SWT&amp;nbsp; Baqoroh:&amp;nbsp; 185:&amp;nbsp; "...&amp;nbsp; Maka&amp;nbsp; barangsiapa&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; sakit&amp;nbsp; atau&amp;nbsp; dalam&amp;nbsp; safar,&amp;nbsp; (jika &lt;br /&gt;
berbuka)&amp;nbsp;&amp;nbsp; maka&amp;nbsp;&amp;nbsp; hendaklah&amp;nbsp;&amp;nbsp; menggantinya&amp;nbsp;&amp;nbsp; pada&amp;nbsp;&amp;nbsp; hari-hari&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; yang&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; lain.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Allah &lt;br /&gt;
menghendaki kemudahan bagi kamu sekalian dan tidak menghendaki kesulitan... ". &lt;br /&gt;
2.&amp;nbsp; Ukuran safar yang populer dikalangan ulama' adalah pada jarak perjalanan yang &lt;br /&gt;
boleh&amp;nbsp; mengqoshor&amp;nbsp; shalat.&amp;nbsp; Dan&amp;nbsp; jika&amp;nbsp; memperhatikan&amp;nbsp; isyarat&amp;nbsp; ayat,&amp;nbsp; bahwa&amp;nbsp; "&amp;nbsp; Allah &lt;br /&gt;
menghendaki&amp;nbsp; kemudahan&amp;nbsp; bagi&amp;nbsp; kamu&amp;nbsp; sekalian&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; tidak menghendaki kesulitan", &lt;br /&gt;
dapat difahami bahwa keringan (rukhshoh) dibolehkannya berbuka saat safar agar &lt;br /&gt;
tidak terjadi kondisi yang menyulitkan&amp;nbsp; (al usr) atau memberatkan (al masyaqqoh). &lt;br /&gt;
Sebagaimana yang difahami oleh ulama Hanafiyah, Malikiyah dan Syafi'iyah. &lt;br /&gt;
3.&amp;nbsp; Dengan&amp;nbsp; mempertimbangkan&amp;nbsp; (mura'at)&amp;nbsp; terjadi&amp;nbsp; tidaknya&amp;nbsp; masyaqqoh,&amp;nbsp; maka&amp;nbsp; shaum &lt;br /&gt;
dalam safar dapat dibedakan sebagai berikut: &lt;br /&gt;
a.&amp;nbsp; Shaum&amp;nbsp;&amp;nbsp; lebih&amp;nbsp;&amp;nbsp; utama&amp;nbsp;&amp;nbsp; (afdhol)&amp;nbsp;&amp;nbsp; dari&amp;nbsp;&amp;nbsp; pada&amp;nbsp;&amp;nbsp; berbuka: &lt;br /&gt;
Bagi&amp;nbsp;&amp;nbsp; orang&amp;nbsp;&amp;nbsp; yang&amp;nbsp;&amp;nbsp; kuat &lt;br /&gt;
menjalaninya&amp;nbsp; tanpa&amp;nbsp; suatu&amp;nbsp; masyaqqoh.&amp;nbsp; Demikian&amp;nbsp; pendapat&amp;nbsp; jumhurul&amp;nbsp; ulama' &lt;br /&gt;
sesuai dengan taujih ayat: " .... Dan bahwa kamu sekalian melaksanakan shaum &lt;br /&gt;
adalah lebih baik jika kamu sekalian mengetahui nilai keutamaannya" (QS:2:184) &lt;br /&gt;
Shaum lebih baik walaupun terasa sedikit berat, jika untuk mengqodho'nya akan &lt;br /&gt;
terasa berat. Demikian difatwakan oleh Umar bin Abdul Aziz. &lt;br /&gt;
Shaum lebih utama bagi yang sudah biasa dan rutin bepergian relatif jauh tanpa &lt;br /&gt;
merasakan&amp;nbsp; adanya&amp;nbsp; rasa&amp;nbsp; berat&amp;nbsp; (masyaqqoh).&amp;nbsp; Dalam&amp;nbsp; soal&amp;nbsp; masyaqqoh,&amp;nbsp; kecuali &lt;br /&gt;
fisik&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; harus&amp;nbsp; dipertimbangkan,&amp;nbsp; tapi&amp;nbsp; kondisi&amp;nbsp; ruhiyah&amp;nbsp; atau&amp;nbsp; kejiwaan&amp;nbsp; lebih &lt;br /&gt;
menentukan.&amp;nbsp; Adalah&amp;nbsp; para&amp;nbsp; shahabat&amp;nbsp; Rasulullah&amp;nbsp; SAW&amp;nbsp; biasa&amp;nbsp; tetap&amp;nbsp; menjalani &lt;br /&gt;
shaum walaupun dalam keadaan perang, tanpa merasakan adanya masyaqqoh &lt;br /&gt;
yang berarti. &lt;br /&gt;
b.&amp;nbsp; Berbuka lebih baik: &lt;br /&gt;
Bagi&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; kuat&amp;nbsp; shaum&amp;nbsp; tapi&amp;nbsp; dikhawatirkan&amp;nbsp; terganggu&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; rasa&amp;nbsp; ujub &lt;br /&gt;
(bangga) atau riya'. Sebagaimana difatwakan oleh Ibnu Umar RA. Imam Bukhori &lt;br /&gt;
meriwayatkan hadits dari shahabat Anas RA bahwa Rasulullah SAW bersabda &lt;br /&gt;
kepada&amp;nbsp; mereka&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; berbuka&amp;nbsp; ketika&amp;nbsp; melayani&amp;nbsp; mereka&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; shaum:&amp;nbsp; "&amp;nbsp; Orang- &lt;br /&gt;
orang yang berbuka hari ini meraih pahala". &lt;br /&gt;
Demikian&amp;nbsp; pula&amp;nbsp; berbuka&amp;nbsp; lebih&amp;nbsp; baik&amp;nbsp; bagi&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; belum&amp;nbsp; pernah&amp;nbsp; mengambil &lt;br /&gt;
rukhshoh&amp;nbsp; (keringanan&amp;nbsp; ini).&amp;nbsp; Sebagaimana&amp;nbsp; kesimpulan&amp;nbsp; Asy&amp;nbsp; Syaukani&amp;nbsp; tentang &lt;br /&gt;
hadits riwayat Muslim dan an Nasa'i bahwa shahabat Hamzah bin Amr as Aslami &lt;br /&gt;
berkata kepada Rasulullah SAW: ya Rasulullah saya kuat menjalankan shaum &lt;br /&gt;
dalam safar bolehkah saya lakukan ? jawab beliau: " Ini merupakan rukhshoh &lt;br /&gt;
dari&amp;nbsp; Allah&amp;nbsp; ta'ala,&amp;nbsp; siapa&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; mengambilnya&amp;nbsp; adalah&amp;nbsp; baik&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; siapa&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; ingin &lt;br /&gt;
shaum tidak apa-apa". &lt;br /&gt;
Berbuka adalah afdhol bahkan shaum menjadi makruh, bagi yang memaksakan &lt;br /&gt;
shaum&amp;nbsp; diperjalanan&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; terdapat&amp;nbsp; masyaqqoh.&amp;nbsp; Dalam&amp;nbsp; kontek&amp;nbsp; ini&amp;nbsp; Rasulullah &lt;br /&gt;
SAW bersabda tentang musafir yang tetap shaum dalam kepayahan sehingga &lt;br /&gt;
dikerumuni dan diteduhi orang banyak: " Tidak merupakan kebaikan (al birr) as &lt;br /&gt;
shaum dalam safar ". Demikian Imam Bukhori menyimpulkan. &lt;br /&gt;
Bebrbuka dalam safar lebih baik jika akan lebih kuat untuk mengadapi musuh &lt;br /&gt;
dalam jihad. &lt;br /&gt;
Bahkan berbuka menjadi wajib hukumnya apabila panglima jihad memerintahkan &lt;br /&gt;
untuk berbuka demi kepentingan jihad &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kajian fiqhiyah, ulama' menyim-pulkan sejumlah persyaratan untuk mengambil &lt;br /&gt;
rukhshoh ifthor (berbuka) dalam safar. Yaitu: &lt;br /&gt;
a.&amp;nbsp; Merupakan perjalanan yang halal atau mubah, bukan safar untuk tujuan maksiat &lt;br /&gt;
b.&amp;nbsp; Perjalanan relatif jauh menurut ukuran zamannya &lt;br /&gt;
c.&amp;nbsp; Tidak memulai perjalanan dalam keadaan shaum agar tidak sampai membatalkan &lt;br /&gt;
amal ibadah yang sudah dimulai. &lt;br /&gt;
Bukan merupakan perjalanan yang biasa dan rutin (seperti perjalanan supir) kecuali jika &lt;br /&gt;
terjadi masyaqqoh. Para ulama' cenderung bahwa untuk pengamalan sendiri memilih &lt;br /&gt;
yang afdhol dan yang ahwath (lebih berhati-hati) dari pilihan yang ada. Wallahu ta'ala &lt;br /&gt;
'alam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PANDUAN MENGGAPAI LAILATUL QODAR &lt;br /&gt;
Muqadimah &lt;br /&gt;
Sesudah&amp;nbsp; disyariatkannya&amp;nbsp; ibadah&amp;nbsp; shaum,&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; agar&amp;nbsp; umat&amp;nbsp; Islam&amp;nbsp; dapat&amp;nbsp; merealisasikan &lt;br /&gt;
nilai taqwa, Allah SWT melengkapi nikmat-Nya dengan memberikan adanya "Lailat al &lt;br /&gt;
qodr". Allah berfirman: &lt;br /&gt;
"Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur'an pada "Lailat al qodr". Tahukah kalian &lt;br /&gt;
apakah " Lailat al qodr" ?. Itulah malam yang lebih utama dari pada seribu bulan" (QS. &lt;br /&gt;
AlQodr: 1-3) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keutamaan Lailat al Qodr &lt;br /&gt;
Ayat&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; dikutip&amp;nbsp; di&amp;nbsp; atas&amp;nbsp; jelas&amp;nbsp; menunjukkan&amp;nbsp; nilai&amp;nbsp; utama&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; "&amp;nbsp; Lailat&amp;nbsp; al&amp;nbsp; qodr". &lt;br /&gt;
Mengomentari&amp;nbsp; ayat&amp;nbsp; di&amp;nbsp; atas&amp;nbsp; Anas&amp;nbsp; bin&amp;nbsp; Malik&amp;nbsp; ra&amp;nbsp; menyebutkan&amp;nbsp; bahwa&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; dimaksud &lt;br /&gt;
dengan keutamaan disitu adalah bahwa amal ibadah seperti shalat, tilawah al-Qur'an, &lt;br /&gt;
dan dzikir serta amal sosial (seperti shodaqoh dana zakat), yang dilakukan pada malam &lt;br /&gt;
itu lebih baik dibandingkan amal serupa selama seribu bulan (tentu di luar malam lailat &lt;br /&gt;
al&amp;nbsp; qodr&amp;nbsp; sendiri).&amp;nbsp; Dalam&amp;nbsp; riwayat&amp;nbsp; lain&amp;nbsp; Anas&amp;nbsp; bin&amp;nbsp; Malik&amp;nbsp; juga&amp;nbsp; menyampaikan&amp;nbsp; keterangan &lt;br /&gt;
Rasulullah SAW bahwa sesungguhnya Allah mengkaruniakan " Lailat al qodr" untuk &lt;br /&gt;
umatku, dan tidak memberikannya kepada umat-umat sebelumnya. &lt;br /&gt;
Sementara&amp;nbsp;&amp;nbsp; berkenaan&amp;nbsp;&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp;&amp;nbsp; ayat&amp;nbsp;&amp;nbsp; 4&amp;nbsp;&amp;nbsp; surat&amp;nbsp;&amp;nbsp; al&amp;nbsp;&amp;nbsp; qodr,&amp;nbsp;&amp;nbsp; Abdullah&amp;nbsp;&amp;nbsp; bin&amp;nbsp;&amp;nbsp; Abbas&amp;nbsp;&amp;nbsp; ra &lt;br /&gt;
menyampaikan&amp;nbsp; sabda&amp;nbsp; Rasulullah&amp;nbsp; bahwa&amp;nbsp; pada&amp;nbsp; saat&amp;nbsp; terjadinya&amp;nbsp; lailat&amp;nbsp; al&amp;nbsp; qodr,&amp;nbsp; para &lt;br /&gt;
malaikat&amp;nbsp; turun&amp;nbsp; kebumi&amp;nbsp; menghampiri&amp;nbsp; hamba-hamba&amp;nbsp; Allah&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; sedang&amp;nbsp; qiyam&amp;nbsp; al&amp;nbsp; lail, &lt;br /&gt;
atau&amp;nbsp; melakukan&amp;nbsp; dzikir,&amp;nbsp; para&amp;nbsp; malaikat&amp;nbsp; mengucapkan&amp;nbsp; salam&amp;nbsp; kepada&amp;nbsp; mereka.&amp;nbsp; Pada &lt;br /&gt;
malam itu pintu-pintu langit dibuka, dan Allah menerima taubat dari para hambaNya &lt;br /&gt;
yang bertaubat. Dalam riwayat Abu Hurairah ra, seperti dilaporkan oleh Bukhori, Muslim &lt;br /&gt;
dan al Baihaqi, Rasulullah SAW juga pernah menyampaikan , "barangsiapa melakukan &lt;br /&gt;
qiyam (shalat malam) pada lailat al qodr, atas dasar iman serta semata-mata mencari &lt;br /&gt;
keridloan Allah, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa yang pernah dilakukannya". &lt;br /&gt;
Demikian&amp;nbsp; banyaknya&amp;nbsp; keutamaan&amp;nbsp; lailat&amp;nbsp; al&amp;nbsp; qodr,&amp;nbsp; sehingga&amp;nbsp; Ibnu&amp;nbsp; Abi&amp;nbsp; Syaibah&amp;nbsp; pernah &lt;br /&gt;
menyampaikan ungkapan al Hasan al Bashri, katanya: " Saya tidak pernah tahu adanya &lt;br /&gt;
hari atau malam yang lebih utama dari malam yang lainnya, kecuali ' Lailat al qodr', &lt;br /&gt;
karena lailat al qodr lebih utama dari (amalan) seribu bulan". &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hukum "Menggapai" Lailat al Qodr. &lt;br /&gt;
Memperhatikan&amp;nbsp; pada&amp;nbsp; arahan&amp;nbsp; (taujih)&amp;nbsp; Rasulullah&amp;nbsp; SAW,&amp;nbsp; serta&amp;nbsp; contoh&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; beliau &lt;br /&gt;
tampilkan dalam upaya "menggapai" lailat al qodr, dalam hal ini misalnya Umar pernah &lt;br /&gt;
menyampaikan&amp;nbsp;&amp;nbsp; sabda&amp;nbsp;&amp;nbsp; Rasulullah&amp;nbsp;&amp;nbsp; SAW:&amp;nbsp;&amp;nbsp; "&amp;nbsp;&amp;nbsp; Barangsiapa&amp;nbsp;&amp;nbsp; mencari&amp;nbsp;&amp;nbsp; lailat&amp;nbsp;&amp;nbsp; al&amp;nbsp;&amp;nbsp; qodr, &lt;br /&gt;
hendaknya ia mencarinya pada malam kedua puluh tujuh" (HR. Ahmad). Maka para &lt;br /&gt;
ulama' berkesimpulan bahwa berupaya menggapai lailat al qodr hukumnya sunnah. IV. &lt;br /&gt;
Kapankah&amp;nbsp; terjadinya&amp;nbsp; Lailat&amp;nbsp; al&amp;nbsp; Qodr&amp;nbsp; Sesuai&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; firman&amp;nbsp; Allah&amp;nbsp; pada&amp;nbsp; awal&amp;nbsp; surat&amp;nbsp; Al &lt;br /&gt;
Qodr, serta pada ayat 185 surat Al Baqoroh, dan hadits Rasulullah SAW. Maka para &lt;br /&gt;
ulama' bersepakat bahwa " Lailat al qodr" terjadi pada malam bulan Ramadhan. Bahkan &lt;br /&gt;
seperti&amp;nbsp; diriwayatkan&amp;nbsp; oleh&amp;nbsp; Ibnu&amp;nbsp; Umar,&amp;nbsp; Abu&amp;nbsp; Dzar,&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; Abu&amp;nbsp; Hurairah,&amp;nbsp; lailat&amp;nbsp; al&amp;nbsp; qodr &lt;br /&gt;
bukannya&amp;nbsp;&amp;nbsp; sekali&amp;nbsp;&amp;nbsp; terjadi&amp;nbsp;&amp;nbsp; pada&amp;nbsp;&amp;nbsp; masa&amp;nbsp;&amp;nbsp; Rasulullah&amp;nbsp;&amp;nbsp; SAW&amp;nbsp;&amp;nbsp; saja,&amp;nbsp;&amp;nbsp; malainkan&amp;nbsp;&amp;nbsp; ia&amp;nbsp;&amp;nbsp; terus &lt;br /&gt;
berlangsung pada setiap bulan Ramadhan untuk mashlahat umat Muhammad, sampai &lt;br /&gt;
terjadinya&amp;nbsp; hari&amp;nbsp; qiyamat.&amp;nbsp; Adapun&amp;nbsp; tentang&amp;nbsp; penentuan&amp;nbsp; kapan&amp;nbsp; persis&amp;nbsp; terjadinya&amp;nbsp; lailat&amp;nbsp; al &lt;br /&gt;
qodr,&amp;nbsp;&amp;nbsp; para&amp;nbsp;&amp;nbsp; ulama&amp;nbsp;&amp;nbsp; berbeda&amp;nbsp;&amp;nbsp; pendapat&amp;nbsp;&amp;nbsp; disebabkan&amp;nbsp;&amp;nbsp; beragamnya&amp;nbsp;&amp;nbsp; informasi&amp;nbsp;&amp;nbsp; hadits &lt;br /&gt;
Rasulullah, serta pemahaman para shahabat tentang hal tersebut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagaimana tersebut di bawah ini: &lt;br /&gt;
1.&amp;nbsp; Lailat al qodr terjadi pada malam 17 Ramadhan, malam diturunkannya Al Qur'an. &lt;br /&gt;
Hal ini disampaikan oleh Zaid bin Arqom, dan Abdullah bin Zubair ra. (HR. Ibnu Abi &lt;br /&gt;
Syaibah, Baihaqi dan Bukhori dalam tarikh). &lt;br /&gt;
2.&amp;nbsp; Lailat&amp;nbsp; al&amp;nbsp; qodr&amp;nbsp; terjadi&amp;nbsp; pada&amp;nbsp; malam-malam&amp;nbsp; ganjil&amp;nbsp; disepuluh&amp;nbsp; hari&amp;nbsp; terakhir&amp;nbsp; bulan &lt;br /&gt;
Ramadhan. Diriwayatkan oleh Aisyah dari sabda Rasululah SAW: "Carilah lailat al &lt;br /&gt;
qodr&amp;nbsp; pada&amp;nbsp; malam-malam&amp;nbsp; ganjil&amp;nbsp; disepuluh&amp;nbsp; hari&amp;nbsp; terakhir&amp;nbsp; bulan&amp;nbsp; Ramadhan"&amp;nbsp; (HR. &lt;br /&gt;
Bukhori, Muslim dan Baihaqi) &lt;br /&gt;
3.&amp;nbsp; Lailat al qodr terjadi pada malam tanggal 21 Ramadhan, berdasarkan hadits riwayat &lt;br /&gt;
Abi Said al Khudri yang dilaporkan oleh Bukhori dan Muslim. &lt;br /&gt;
4.&amp;nbsp; Lailat al qodr terjadi pada malam tanggal 23 bulan Ramadhan, berdasarkan hadits &lt;br /&gt;
riwayat Abdullah bin Unais al Juhany, seperti dilaporkan oleh Bukhori dan Muslim. &lt;br /&gt;
5.&amp;nbsp; Lailat al qodr terjadi pada malam tanggal 27 bulan Ramadhan, berdasarkan hadits &lt;br /&gt;
riwayat Ibnu Umar, seperti dikutip oleh Ahmad. Dan seperti diriwayatkan oleh Ibnu &lt;br /&gt;
Abi&amp;nbsp; Syaibah,&amp;nbsp; bahwa&amp;nbsp; Umar&amp;nbsp; bin&amp;nbsp; al&amp;nbsp; Khoththob,&amp;nbsp; Hudzaifah&amp;nbsp; serta&amp;nbsp; sekumpulan&amp;nbsp; besar &lt;br /&gt;
shahabat,&amp;nbsp; yakin&amp;nbsp; bahwa&amp;nbsp; lailat&amp;nbsp; al&amp;nbsp; qodr&amp;nbsp; terjadi&amp;nbsp; pada&amp;nbsp; malam&amp;nbsp; 27&amp;nbsp; bulan&amp;nbsp; Ramadhan. &lt;br /&gt;
Rasulullah SAW seperti diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, juga pernah menyampaikan &lt;br /&gt;
kepada&amp;nbsp; shahabat&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; telah&amp;nbsp; tua&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; lemah&amp;nbsp; tak&amp;nbsp; mampu&amp;nbsp; qiyam&amp;nbsp; berlama-lama dan &lt;br /&gt;
meminta&amp;nbsp;&amp;nbsp; nasehat&amp;nbsp;&amp;nbsp; kepada&amp;nbsp;&amp;nbsp; beliau&amp;nbsp;&amp;nbsp; kapan&amp;nbsp;&amp;nbsp; ia&amp;nbsp;&amp;nbsp; bisa&amp;nbsp;&amp;nbsp; mendapatkan&amp;nbsp;&amp;nbsp; lailat&amp;nbsp;&amp;nbsp; al&amp;nbsp;&amp;nbsp; qodr, &lt;br /&gt;
Rasulullah SAW kemudian menasehati agar ia mencarinya pada malam ke 27 bulan &lt;br /&gt;
Ramadhan (HR. Thabroni dan Baihaqi). &lt;br /&gt;
6.&amp;nbsp; Seperti&amp;nbsp; difahami&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; riwayat&amp;nbsp; Ibnu&amp;nbsp; Umar&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; Abi&amp;nbsp; Bakrah&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; dilaporkan&amp;nbsp; oleh &lt;br /&gt;
Bukhori&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; Muslim,&amp;nbsp; terjadinya&amp;nbsp; lailat&amp;nbsp; al&amp;nbsp; qodr&amp;nbsp; mungkin&amp;nbsp; berpindah-pindah&amp;nbsp; pada &lt;br /&gt;
malam-malam&amp;nbsp; ganjil&amp;nbsp; sepanjang&amp;nbsp; sepuluh&amp;nbsp; hari&amp;nbsp; terakhir&amp;nbsp; bulan&amp;nbsp; Ramadhan.&amp;nbsp; Sesuai &lt;br /&gt;
dengan informasi terakhir ini, dan karena langka dan pentingnya lailat al qodr, maka &lt;br /&gt;
selayaknya&amp;nbsp;&amp;nbsp; setiap&amp;nbsp;&amp;nbsp; muslim&amp;nbsp;&amp;nbsp; berupaya&amp;nbsp;&amp;nbsp; selalu&amp;nbsp;&amp;nbsp; mendapatkan&amp;nbsp;&amp;nbsp; lailat&amp;nbsp;&amp;nbsp; al&amp;nbsp;&amp;nbsp; qodr&amp;nbsp;&amp;nbsp; pada &lt;br /&gt;
sepanjang sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanda-Tanda Terjadinya Lailat al Qodr &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti&amp;nbsp; diriwayatkan&amp;nbsp; Oleh&amp;nbsp; Imam&amp;nbsp; Muslim,&amp;nbsp; Ahmad,&amp;nbsp; Abu&amp;nbsp; Daud&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; Tirmidzi,&amp;nbsp; bahwa &lt;br /&gt;
Rasulullah SAW pernah bersabda: &lt;br /&gt;
"Pada saat terjadinya lailat al qodr itu, malam terasa jernih, terang, tenang, cuaca sejuk &lt;br /&gt;
tidak&amp;nbsp; terasa&amp;nbsp; panas&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; juga&amp;nbsp; dingin.&amp;nbsp; Dan&amp;nbsp; pada&amp;nbsp; pagi&amp;nbsp; harinya&amp;nbsp; matahari&amp;nbsp; terbit&amp;nbsp; dengan &lt;br /&gt;
jernih terang benderang tanpa tertutup sesuatuawan". &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang Perlu Dilakukan pada Lailat Al Qodr dan Agar Dapat Menggapai Lailat &lt;br /&gt;
Al Qodr &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.&amp;nbsp; Lebih bersungguh-sungguh dalam menjalankan semua bentuk ibadah pada hari-hari &lt;br /&gt;
Ramadhan,&amp;nbsp; menjauhkan&amp;nbsp; diri&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; semua&amp;nbsp; hal&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; dapat&amp;nbsp; mengurangi&amp;nbsp; keseriusan &lt;br /&gt;
beribadah pada hari-hari itu. Dalam peribadatan ini juga dengan mengikutsertakan &lt;br /&gt;
keluarga. Hal itulah yang dahulu dicontohkan Rasulullah SAW. &lt;br /&gt;
2.&amp;nbsp; Melakukan&amp;nbsp; i'tikaf&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; berupaya&amp;nbsp; sekuat&amp;nbsp; tenaga.&amp;nbsp; Itulah&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; dilakukan&amp;nbsp; oleh &lt;br /&gt;
Rasulullah SAW. &lt;br /&gt;
3.&amp;nbsp; Melakukan qiyamu al lail berjama'ah, sampai dengan rekaat terakhir yang dilakukan &lt;br /&gt;
imam, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dzar ra. &lt;br /&gt;
4.&amp;nbsp; Memperbanyak&amp;nbsp; do'a&amp;nbsp; memohon&amp;nbsp; ampunan&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; keselamatan&amp;nbsp; kepada&amp;nbsp; Allah&amp;nbsp; dengan &lt;br /&gt;
lafal: "Allahumma innaka 'afuwun tuhibul afwa fa'fu 'anni". Hal inilah yang diajarkan &lt;br /&gt;
oleh Rasulullah SAW kepada Aisyah ra ketika beliau bertanya: ' wahai Rasulullah, &lt;br /&gt;
bila&amp;nbsp; aku&amp;nbsp; ketahui&amp;nbsp; kedatangan&amp;nbsp; lailat&amp;nbsp; al&amp;nbsp; qodr,&amp;nbsp; apa&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; mesti&amp;nbsp; aku&amp;nbsp; ucapkan"?&amp;nbsp; (HR. &lt;br /&gt;
Ahmad, Ibnu Majah dan Tirmidzi) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menggapai " Lailat al Qodr" bagi Muslimah &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagaimana tersirat dari dialog Rasulullah SAW dengan Aisyah, istri beliau itu, maka &lt;br /&gt;
mudah&amp;nbsp;&amp;nbsp; disimpulkan&amp;nbsp;&amp;nbsp; bahwa&amp;nbsp;&amp;nbsp; kaum&amp;nbsp;&amp;nbsp; muslimah-pun&amp;nbsp;&amp;nbsp; disyari'atkan&amp;nbsp;&amp;nbsp; dan&amp;nbsp;&amp;nbsp; diperbolehkan &lt;br /&gt;
menggapai&amp;nbsp; lailat&amp;nbsp; al&amp;nbsp; qodr&amp;nbsp; .&amp;nbsp; Dengan&amp;nbsp; melakukan&amp;nbsp; maksimalisasi&amp;nbsp; ibadah&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; memang &lt;br /&gt;
diperbolehkan&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp; dilakukan&amp;nbsp; seorang&amp;nbsp; muslimah.&amp;nbsp; VIII.&amp;nbsp; Khotimah&amp;nbsp; Demikian&amp;nbsp; panduan &lt;br /&gt;
ringkas ini, mudah-mudahan pada bulan Ramadhan tahun ini Allah memperkenankan &lt;br /&gt;
kita meraih " Lailat al qodr", malam yang utama dari 1000 bulan alias 83 tahun itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
10.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; PANDUAN I'TIKAF RAMADHAN &lt;br /&gt;
Di antara rangkaian ibadah-ibadah dalam bulan suci Ramadhan yang dangat dipelihara &lt;br /&gt;
sekaligus diperintahkan (dianjurkan) oleh Rasulullah SAW adalah i'tikaf. setiap muslim &lt;br /&gt;
dianjurkan (disunnatkan) untuk beri'tikaf di masjid, terutama pada 10 hari terakhir bulan &lt;br /&gt;
Ramadhan. I'tikaf merupakan sarana meditasi dan kontemplasi yang sangat efektif bagi &lt;br /&gt;
muslim dalam memelihara keislamannya khususnya dalam era globalisasi, materialisasi &lt;br /&gt;
dan informasi kontemporer. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Definisi I'tikaf &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para ulama mendefinisikan i'tikaf yaitu berdiam atau&amp;nbsp; tinggal di masjid dengan adab- &lt;br /&gt;
adab tertentu, pada masa tertentu dengan niat ibadah dan taqorrub kepada Allah SWT . &lt;br /&gt;
Ibnu Hazm berkata: I'tikaf adalah berdiam di masjid dengan niat taqorrub kepada Allah &lt;br /&gt;
SWT pada waktu tertentu pada siang atau malam hari. (al Muhalla V/179) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hukum I'tikaf &lt;br /&gt;
Para ulama telah berijma' bahwa i'tikaf khususnya 10 hari terakhir bulan Ramadhan &lt;br /&gt;
merupakan&amp;nbsp; suatu&amp;nbsp; ibadah&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; disyariatkan&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; disunnatkan&amp;nbsp; oleh&amp;nbsp; Rasulullah&amp;nbsp; SAW. &lt;br /&gt;
Rasulullah&amp;nbsp; SAW&amp;nbsp; sendiri&amp;nbsp; senantiasa&amp;nbsp; beri'tikaf&amp;nbsp; pada&amp;nbsp; bulan&amp;nbsp; Ramadhan&amp;nbsp; selama&amp;nbsp; 10&amp;nbsp; hari. &lt;br /&gt;
A'isyah, Ibnu Umar dan Anas ra meriwayatkan: "Adalah Rasulullah SAW beri'tikaf pada &lt;br /&gt;
10 hari terakhir bulan Ramadhan" (HR. Bukhori &amp;amp; Muslim). Hal ini dilakukan oleh beliau &lt;br /&gt;
hingga wafat, kecuali pada tahun wafatnya beliau beri'tikaf selama&amp;nbsp; 20 hari. Demikian &lt;br /&gt;
halnya&amp;nbsp; para&amp;nbsp; shahabat&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; istri&amp;nbsp; beliau&amp;nbsp; senantiasa&amp;nbsp; melaksanakan&amp;nbsp; ibadah&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; amat &lt;br /&gt;
agung&amp;nbsp; ini.&amp;nbsp; Imam&amp;nbsp; Ahmad&amp;nbsp; berkata:&amp;nbsp; "Sepengetahuan&amp;nbsp; saya&amp;nbsp; tak&amp;nbsp; seorang&amp;nbsp; pun&amp;nbsp; ulama &lt;br /&gt;
mengatakan i'tikaf bukan sunnat". &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fadhilah (keutamaan) I'tikaf &lt;br /&gt;
Abu&amp;nbsp; Daud&amp;nbsp; pernah&amp;nbsp; bertanya&amp;nbsp;&amp;nbsp; kepada&amp;nbsp;&amp;nbsp; Imam&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ahmad:&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tahukan&amp;nbsp;&amp;nbsp; anda&amp;nbsp;&amp;nbsp; hadits&amp;nbsp;&amp;nbsp; yang &lt;br /&gt;
menunjukkan keutamaan I'tikaf? Ahmad menjawab: tidak kecuali hadits lemah. Namun &lt;br /&gt;
demikian&amp;nbsp; tidaklah&amp;nbsp; mengurangi&amp;nbsp; nilai&amp;nbsp; ibadah&amp;nbsp; I'tikaf&amp;nbsp; itu&amp;nbsp; sendiri&amp;nbsp; sebagai&amp;nbsp; taqorrub&amp;nbsp; kepada &lt;br /&gt;
Allah SWT. Dan cukuplah keuatamaanya bahwa Rasulullah SAW, para shahabat, para &lt;br /&gt;
istri Rasulullah SAW dan para ulama' salafus sholeh senantiasa melakukan ibadah ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Macam-macam I'tikaf &lt;br /&gt;
I'tikaf yang disyariatkan ada dua macam; satu sunnah, dan dua wajib. I'tikaf sunnah &lt;br /&gt;
yaitu&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; dilakukan&amp;nbsp; secara&amp;nbsp; sukarela&amp;nbsp; semata-mata&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp; bertaqorrub&amp;nbsp; kepada&amp;nbsp; Allah &lt;br /&gt;
SWT seperti i'tikaf 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Dan I'tikaf yang wajib yaitu yang &lt;br /&gt;
didahului dengan nadzar (janji), seperti: "Kalau Allah SWT menyembuhkan sakitku ini, &lt;br /&gt;
maka aku akan beri'tikaf. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu I'tikaf &lt;br /&gt;
Untuk i'tikaf wajib tergantung pada berapa lama waktu yang dinadzarkan , sedangkan &lt;br /&gt;
i'tikaf sunnah tidak ada batasan waktu tertentu. Kapan saja pada malam atau siang hari, &lt;br /&gt;
waktunya bisa lama dan juga bisa singkat. Ya'la bin Umayyah berkata: " Sesungguhnya &lt;br /&gt;
aku berdiam satu jam di masjid tak lain hanya untuk i'tikaf". &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syarat-Syarat I'tikaf &lt;br /&gt;
Orang yang i'tikaf harus memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut: &lt;br /&gt;
1.&amp;nbsp; Muslim. &lt;br /&gt;
2.&amp;nbsp; Berakal &lt;br /&gt;
3.&amp;nbsp; Suci dari janabah (junub), haidh dan nifas. &lt;br /&gt;
Oleh karena itu i'tikaf&amp;nbsp; tidak diperbolehkan bagi orang kafir, anak yang belum mumaiyiz &lt;br /&gt;
(mampu membedakan), orang junub, wanita haidh dan nifas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rukun-Rukun I'tikaf &lt;br /&gt;
1.&amp;nbsp; Niat (QS. Al Bayyinah: 5), (HR: Bukhori &amp;amp; Muslim tentang niat) &lt;br /&gt;
2.&amp;nbsp; Berdiam di masjid (QS. Al Baqoroh: 187) &lt;br /&gt;
Disini&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; dua&amp;nbsp; pendapat&amp;nbsp; ulama&amp;nbsp; tentang&amp;nbsp; masjid&amp;nbsp; tempat&amp;nbsp; i'tikaf&amp;nbsp; .&amp;nbsp; Sebagian&amp;nbsp; ulama &lt;br /&gt;
membolehkan i'tikaf disetiap masjid yang dipakai shalat berjama'ah lima waktu. Hal &lt;br /&gt;
itu&amp;nbsp;&amp;nbsp; dalam&amp;nbsp;&amp;nbsp; rangka&amp;nbsp;&amp;nbsp; menghindari&amp;nbsp;&amp;nbsp; seringnya&amp;nbsp;&amp;nbsp; keluar&amp;nbsp;&amp;nbsp; masjid&amp;nbsp;&amp;nbsp; dan&amp;nbsp;&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp;&amp;nbsp; menjaga &lt;br /&gt;
pelaksanaan shalat jama'ah setiap&amp;nbsp; waktu. Ulama lain mensyaratkan agar i'tikaf itu &lt;br /&gt;
dilaksanakan di masjid yang dipakai buat shalat jum'at, sehingga orang yang i'tikaf &lt;br /&gt;
tidak perlu meninggalkan tempat i'tikafnya menuju masjid lain untuk shalat jum'at. &lt;br /&gt;
Pendapat ini dikuatkan oleh para ulama Syafi'iyah bahwa yang afdhol yaitu i'tikaf di &lt;br /&gt;
masjid&amp;nbsp; jami',&amp;nbsp; karena&amp;nbsp; Rasulullah&amp;nbsp; SAW&amp;nbsp; i'tikaf&amp;nbsp; di&amp;nbsp; masjid&amp;nbsp; jami'.&amp;nbsp; Lebih&amp;nbsp; afdhol&amp;nbsp; di&amp;nbsp; tiga &lt;br /&gt;
masjid; masjid al-Haram, masjij Nabawi, dan masjid Aqsho. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Awal danAkhir I'tikaf &lt;br /&gt;
Khusus i'tikaf Ramadhan waktunya dimulai sebelum terbenam matahari malam ke 21. &lt;br /&gt;
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: &lt;br /&gt;
"Barangsiapa yang ingin i'tikaf dengan ku, hendaklah ia beri'tikaf pada 10 hari terakhir &lt;br /&gt;
Ramadhan" (HR. Bukhori). &lt;br /&gt;
10 (sepuluh) disini adalah jumlah malam, sedangkan malam pertama dari sepuluh itu &lt;br /&gt;
adalah malam ke 21 atau 20. Adapun waktu keluarnya atau berakhirnya, kalau i'tikaf &lt;br /&gt;
dilakukan&amp;nbsp; 10&amp;nbsp; malam&amp;nbsp; terakhir,&amp;nbsp; yaitu&amp;nbsp; setelah&amp;nbsp; terbenam&amp;nbsp; matahari,&amp;nbsp; hari&amp;nbsp; terakhir&amp;nbsp; bulan &lt;br /&gt;
Ramadhan. Akan tetapi beberapa kalangan ulama mengatakan yang lebih mustahab &lt;br /&gt;
(disenangi) adalah menuggu sampai shalat ied. &lt;br /&gt;
Hal-hal yang Disunnahkan Waktu I'tikaf &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disunnahkan agar orang yang i'tikaf memperbanyak ibadah dan taqorrub kepada Allah &lt;br /&gt;
SWT&amp;nbsp; ,&amp;nbsp; seperti&amp;nbsp; shalat,&amp;nbsp; membaca&amp;nbsp; al-Qur'an,&amp;nbsp; tasbih,&amp;nbsp; tahmid,&amp;nbsp; tahlil,&amp;nbsp; takbir,&amp;nbsp; istighfar, &lt;br /&gt;
shalawat&amp;nbsp;&amp;nbsp; kepada&amp;nbsp;&amp;nbsp; Nabi&amp;nbsp;&amp;nbsp; SAW,&amp;nbsp;&amp;nbsp; do'a&amp;nbsp;&amp;nbsp; dan&amp;nbsp;&amp;nbsp; sebagainya.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Termasuk&amp;nbsp;&amp;nbsp; juga&amp;nbsp;&amp;nbsp; didalamnya &lt;br /&gt;
pengajian,&amp;nbsp;&amp;nbsp; ceramah,&amp;nbsp;&amp;nbsp; ta'lim,&amp;nbsp;&amp;nbsp; diskusi&amp;nbsp;&amp;nbsp; ilmiah,&amp;nbsp;&amp;nbsp; tela'ah&amp;nbsp;&amp;nbsp; buku&amp;nbsp;&amp;nbsp; tafsir,&amp;nbsp;&amp;nbsp; hadits,&amp;nbsp;&amp;nbsp; siroh&amp;nbsp;&amp;nbsp; dan &lt;br /&gt;
sebagainya.&amp;nbsp; Namun&amp;nbsp; demikian&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; menjadi&amp;nbsp; prioritas&amp;nbsp; utama&amp;nbsp; adalah&amp;nbsp; ibadah-ibadah &lt;br /&gt;
mahdhah.&amp;nbsp; Bahkan&amp;nbsp; sebagian&amp;nbsp; ulama&amp;nbsp; meninggalkan&amp;nbsp; segala&amp;nbsp; aktifitas&amp;nbsp; ilmiah&amp;nbsp; lainnya&amp;nbsp; dan &lt;br /&gt;
berkonsentrasi penuh pada ibadah-ibadah mahdhah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal-hal yang Diperbolehkan bagi Mu'takif(Orang yang Beri'tikaf) &lt;br /&gt;
1.&amp;nbsp; Keluar dari tempat i'tikaf untuk mengantar istri, sebagaimana yang dilakukan oleh &lt;br /&gt;
Rasulullah SAW terhadap istrinya Shofiyah ra. (HR. Riwayat Bukhori Muslim) &lt;br /&gt;
2.&amp;nbsp; Menyisir atau mencukur rambut, memotong kuku, membersihkan tubuh dari kotoran &lt;br /&gt;
dan bau badan. &lt;br /&gt;
3.&amp;nbsp; Keluar dari tempat keperluan yang harus dipenuhi, seperti membuang air besar dan &lt;br /&gt;
kecil, makan, minum (jika tidak ada yang mengantarkannya), dan segala sesuatu &lt;br /&gt;
yang&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; mungkin&amp;nbsp; dilakukan&amp;nbsp; di&amp;nbsp; masjid.&amp;nbsp; Tetapi&amp;nbsp; ia&amp;nbsp; harus&amp;nbsp; segera&amp;nbsp; kembali&amp;nbsp; setelah &lt;br /&gt;
menyelesaikan keperluanya . &lt;br /&gt;
4.&amp;nbsp; Makan,&amp;nbsp; minum,&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; tidur&amp;nbsp; di&amp;nbsp; masjid&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; senantiasa&amp;nbsp; menjaga&amp;nbsp; kesucian&amp;nbsp; dan &lt;br /&gt;
kebersihan masjid. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal-hal yang Membatalkan I'tikaf &lt;br /&gt;
1.&amp;nbsp; Meninggalkan&amp;nbsp; masjid&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; sengaja&amp;nbsp; tanpa&amp;nbsp; keperluan,&amp;nbsp; meski&amp;nbsp; sebentar,&amp;nbsp; karena &lt;br /&gt;
meninggalkan salah satu rukun i'tikaf yaitu berdiam di masjid. &lt;br /&gt;
2.&amp;nbsp; Murtad (keluar dari agama Islam) (QS. 39: 65 &lt;br /&gt;
3.&amp;nbsp; Hilangnya akal, karena gila atau mabuk &lt;br /&gt;
4.&amp;nbsp; Haidh &lt;br /&gt;
5.&amp;nbsp; Nifas &lt;br /&gt;
6.&amp;nbsp; Berjima'&amp;nbsp; (bersetubuh&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; istri)&amp;nbsp; (QS.&amp;nbsp; 2:&amp;nbsp; 187).&amp;nbsp; Akan&amp;nbsp; tetapi&amp;nbsp; memegang&amp;nbsp; tanpa &lt;br /&gt;
syahwat, tidak apa-apa sebagaimana yang dilakukan Nabi dengan istri- istrinya. &lt;br /&gt;
7.&amp;nbsp; Pergi shalat jum'at&amp;nbsp; (bagi mereka yang membolehkan i'tikaf di mushalla yang tidak &lt;br /&gt;
dipakai shalat jum'at) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I'tikaf bagi Muslimah &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I'tkaf&amp;nbsp; disunnahkan&amp;nbsp; bagi&amp;nbsp; wanita&amp;nbsp; sebagaimana&amp;nbsp; disunnahkan&amp;nbsp; bagi&amp;nbsp; pria.&amp;nbsp; Selain&amp;nbsp; syarat- &lt;br /&gt;
syarat yang disebutkan tadi, i'tikaf bagi kaum wanita harus memenuhi syarat-syarat lain &lt;br /&gt;
sbb: &lt;br /&gt;
1.&amp;nbsp; Mendapat&amp;nbsp; izin&amp;nbsp; (ridlo) suami atau orang tua. Hal itu disebabkan karena ketinggian &lt;br /&gt;
hak suami bagi istri yang wajib ditaati, dan juga dalam rangka menghindari fitnah &lt;br /&gt;
yang mungkin terjadi. &lt;br /&gt;
2.&amp;nbsp; Agar tempat i'tikaf wanita memenuhi kriteria syari'at. &lt;br /&gt;
Kita telah mengetahui bahwa salah satu rukun atau syarat i'tikaf adalah masjid. Untuk &lt;br /&gt;
kaum&amp;nbsp; wanita,&amp;nbsp; ulama&amp;nbsp; sedikit&amp;nbsp; berbeda&amp;nbsp; pendapat&amp;nbsp; tentang&amp;nbsp; masjid&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; dapat&amp;nbsp; dipakai &lt;br /&gt;
wanita&amp;nbsp; beri'tikaf.&amp;nbsp; Tetapi&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; lebih&amp;nbsp; afdhol-&amp;nbsp; wallahu&amp;nbsp; 'alam-&amp;nbsp; ialah&amp;nbsp; tempat&amp;nbsp; shalat&amp;nbsp; di &lt;br /&gt;
rumahnya. Oleh karena bagi wanita tempat shalat dirumahnya lebih afdhol dari masjid &lt;br /&gt;
wilayahnya.&amp;nbsp; Dan&amp;nbsp; masjid&amp;nbsp; di&amp;nbsp; wilayahnya&amp;nbsp; lebih&amp;nbsp; afdhol&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; masjid&amp;nbsp; raya.&amp;nbsp; Selain&amp;nbsp; itu&amp;nbsp; lebih &lt;br /&gt;
seiring&amp;nbsp;&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp;&amp;nbsp; tujuan&amp;nbsp;&amp;nbsp; umum&amp;nbsp;&amp;nbsp; syari'at&amp;nbsp;&amp;nbsp; Islamiyah,&amp;nbsp;&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp;&amp;nbsp; menghindarkan&amp;nbsp;&amp;nbsp; wanita &lt;br /&gt;
semaksimal mungkin dari tempat keramaian kaum pria, seperti tempat ibadah di masjid. &lt;br /&gt;
Itulah sebabnya wanita tidak diwajibkan shalat jum'at dan shalat jama'ah di masjid. Dan &lt;br /&gt;
seandainya ke masjid ia harus berada di belakang. Kalau demikian, maka i'tikaf yang &lt;br /&gt;
justru&amp;nbsp;&amp;nbsp; membutuhkan&amp;nbsp;&amp;nbsp; waktu&amp;nbsp;&amp;nbsp; lama&amp;nbsp;&amp;nbsp; di&amp;nbsp;&amp;nbsp; masjid&amp;nbsp;&amp;nbsp; ,&amp;nbsp;&amp;nbsp; seperti&amp;nbsp;&amp;nbsp; tidur,&amp;nbsp;&amp;nbsp; makan,&amp;nbsp;&amp;nbsp; minum,&amp;nbsp;&amp;nbsp; dan &lt;br /&gt;
sebagainya lebih dipertimbangkan. Ini tidak berarti i'tikaf bagi wanita tidak diperboleh di &lt;br /&gt;
masjid. Wanita bisa saja i'tikaf di masjid dan bahkan lebih afdhol apabila masjid tersebut &lt;br /&gt;
menempel dengan rumahnya, jama'ahnya hanya wanita, terdapat tempat buang air dan &lt;br /&gt;
kamar mandi khusus dan sebagainya. Wallahu 'alam. &lt;br /&gt;
11.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; PANDUAN MENGELUARKAN ZAKAT FITRAH &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.&amp;nbsp; Diriwayatkan dari Ibnu Umar t.ia berkata: Rasulullah telah mewajibkan zakat fithrah &lt;br /&gt;
dari bulan Ramadhan satu sha' dari kurma, atau satu sha' dari sya'iir. atas seorang &lt;br /&gt;
hamba, seorang merdeka, laki-laki, wanita, anak kecil dan orang dewasa dari kaum &lt;br /&gt;
muslilmin. (H.R: Al-Bukhary dan Muslim) &lt;br /&gt;
2.&amp;nbsp; Diriwayatkan dari Umar bin Nafi' dari ayahnya dari Ibnu Umar ia berkata ; Rasulullah &lt;br /&gt;
telah mewajibkan zakat fithrah satu sha' dari kurma atau satu sha' dari sya'iir atas &lt;br /&gt;
seorang hamba, merdeka, laki-laki, wanita, anak kecil dan orang dewasa dari kaum &lt;br /&gt;
muslimin dan beliau memerintahkan agar di tunaikan / dikeluarkan sebelum manusia &lt;br /&gt;
keluar untuk shalat 'ied. (H.R: Al-Bukhary, Abu Daud dan Nasa'i) &lt;br /&gt;
3.&amp;nbsp; Diriwayatkan&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; Ibnu&amp;nbsp; Abbas&amp;nbsp; ra.&amp;nbsp; ia&amp;nbsp; berkata: Rasulullah saw telah memfardhukan &lt;br /&gt;
zakat fithrah untuk membersihkan orang yang shaum dari perbuatan sia-sia dan dari &lt;br /&gt;
perkataan&amp;nbsp; keji&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp; memberi&amp;nbsp; makan&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; miskin.&amp;nbsp; Barang&amp;nbsp; siapa&amp;nbsp; yang &lt;br /&gt;
mengeluarkannya sebelum shalat, maka ia berarti zakat yang di terima dan barang &lt;br /&gt;
siapa yang mengeluarkannya sesudah shalat 'ied, maka itu berarti shadaqah seperti &lt;br /&gt;
shadaqah&amp;nbsp;&amp;nbsp; biasa&amp;nbsp;&amp;nbsp; (bukan&amp;nbsp;&amp;nbsp; zakat&amp;nbsp;&amp;nbsp; fithrah).&amp;nbsp;&amp;nbsp; (H.R:&amp;nbsp;&amp;nbsp; Abu&amp;nbsp;&amp;nbsp; Daud,&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ibnu&amp;nbsp;&amp;nbsp; Majah&amp;nbsp;&amp;nbsp; dan &lt;br /&gt;
Daaruquthni) &lt;br /&gt;
4.&amp;nbsp; Diriwayatkan dari Hisyam bin urwah dari ayahnya dari Abu Hurairah ra. dari Nabi &lt;br /&gt;
saw. bersabda: Tangan di atas (memberi dan menolong) lebih baik daripada tangan &lt;br /&gt;
di bawah&amp;nbsp; (meminta-minta), mulailah orang yang menjadi tanggunganmu&amp;nbsp; (keluarga &lt;br /&gt;
dll) dan&amp;nbsp; sebaik-baik shadaqah adalah yang di keluarkan dari kelebihan kekayaan &lt;br /&gt;
(yang di perlukan oleh keluarga) (H.R: Al-Bukhary dan Ahmad) &lt;br /&gt;
5.&amp;nbsp; Diriwayatkan&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; Ibnu&amp;nbsp; Umar&amp;nbsp; ra.&amp;nbsp; ia&amp;nbsp; berkata:&amp;nbsp; Rasulullah sw. memerintahkan untuk &lt;br /&gt;
mengeluarkan&amp;nbsp; zakat&amp;nbsp; fithrah&amp;nbsp; unutk&amp;nbsp; anak&amp;nbsp; kecil,&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; dewasa,&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; merdeka&amp;nbsp; dan &lt;br /&gt;
hamba sahaya dari orang yang kamu sediakan makanan mereka (tanggunganmu). &lt;br /&gt;
(H.R: Daaruquthni, hadits hasan) &lt;br /&gt;
6.&amp;nbsp; Artinya: Diriwayatkan dari Nafi' t. berkata: Adalah Ibnu Umar menyerahkan (zakat &lt;br /&gt;
fithrah) kepada mereka yang menerimanya&amp;nbsp; (panitia&amp;nbsp; penerima&amp;nbsp; zakat&amp;nbsp; fithrah&amp;nbsp; /&amp;nbsp; amil) &lt;br /&gt;
dan mereka (para sahabat) menyerahkan zakat fithrah sehari atau dua hari sebelum &lt;br /&gt;
'iedil fitri. (H.R.Al-Bukhary) &lt;br /&gt;
7.&amp;nbsp; Diriwayatkan dari Nafi': Bahwa sesungguhnya Abdullah bin Umar menyuruh orang &lt;br /&gt;
mengeluarkan&amp;nbsp; zakat&amp;nbsp; fithrah&amp;nbsp; kepada&amp;nbsp; petugas&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; kepadanya&amp;nbsp; zakat&amp;nbsp; fithrah&amp;nbsp; di &lt;br /&gt;
kumpulkan (amil)&amp;nbsp; dua hari atau tiga hari sebelum hari raya fitri. (H.R: Malik) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits-hadits tersebut di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa: &lt;br /&gt;
1.&amp;nbsp; Wajib&amp;nbsp; bagi&amp;nbsp; tiap&amp;nbsp; kaum&amp;nbsp; muslimin&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp; mengeluarkan&amp;nbsp; zakat&amp;nbsp; fithrah&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp; dirinya&amp;nbsp; , &lt;br /&gt;
keluarganya dan orang lain yang menjadi tanggungannya baik orang dewasa, anak &lt;br /&gt;
kecil, laki-laki maupun wanita. (dalil: 1,2 dan 5) &lt;br /&gt;
2.&amp;nbsp; Yang&amp;nbsp; wajib&amp;nbsp; mengeluarkan&amp;nbsp; zakat&amp;nbsp; fithrah&amp;nbsp; adalah&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; mempunyai&amp;nbsp; kelebihan&amp;nbsp; dari &lt;br /&gt;
keperluan untuk dirinya dan keluarganya. (dalil: 4) &lt;br /&gt;
3.&amp;nbsp; Sasaran zakat fithrah adalah dibagikan kepada kaum miskin dari kalangan kaum &lt;br /&gt;
muslimin. (dalil: 3) &lt;br /&gt;
4.&amp;nbsp; Zakat fithrah dikeluarkan dari makanan pokok(di negeri kita adalah beras) sebanyak &lt;br /&gt;
lebih kurang 3,1 liter untuk seorang. (dalil: 1 dan 2) &lt;br /&gt;
5.&amp;nbsp; Cara menyerahkan zakat fithrah adalah sebagai berikut: &lt;br /&gt;
a.&amp;nbsp; Bila&amp;nbsp; diserahkan&amp;nbsp; langsung&amp;nbsp; kepada&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; berhak&amp;nbsp; (fakir&amp;nbsp; miskin&amp;nbsp; muslim)&amp;nbsp; waktu &lt;br /&gt;
penyerahannya adalah sebelum shalat 'ied yakni malam hari raya atau setelah &lt;br /&gt;
shalat Shubuh sebelum shalat 'iedul fitri. (dalil: 2 dan 3) &lt;br /&gt;
b.&amp;nbsp; Bila diserahkan kepada amil zakat fithrah&amp;nbsp; (orang yang bertugas mengumpulkan &lt;br /&gt;
zakat&amp;nbsp; fithrah), boleh diserahkan tiga,dua atau satu hari sebelum hari raya 'iedul &lt;br /&gt;
fitri. (dalil: 6 dan 7) &lt;br /&gt;
6.&amp;nbsp; Zakat fithrah disyari'atkan untuk membersihkan pelaksanaan shaum Ramadhan dari &lt;br /&gt;
perbuatan sia-sia dan perkataan keji di waktu shaum. (dalil: 3&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
12.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; PANDUAN SHALAT 'IEDUL FITHRI DAN 'IEDUL ADHHA &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.&amp;nbsp; Diriwayatkan dari Abu Said, ia berkata: Adalah Nabi saw. pada hari raya 'iedul fitri &lt;br /&gt;
dan&amp;nbsp; 'iedul&amp;nbsp; adhha&amp;nbsp; keluar&amp;nbsp; ke&amp;nbsp; mushalla&amp;nbsp; (padang&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp; shalat),&amp;nbsp; maka&amp;nbsp; pertama&amp;nbsp; yang &lt;br /&gt;
beliau kerjakan adalah shalat, kemudian setelah selesai beliau berdiri menghadap &lt;br /&gt;
kepada manusia sedang manusia masih duduk tertib pada shof mereka, lalu beliau &lt;br /&gt;
memberi nasihat dan wasiat (khutbah) apabila beliau hendak mengutus tentara atau &lt;br /&gt;
ingin memerintahkan sesuatu yang telah beliau putuskan,beliau perintahkan setelah &lt;br /&gt;
selesai beliu pergi. (H.R: Al-Bukhary dan Muslim) &lt;br /&gt;
2.&amp;nbsp; Telah berkata Jaabir ra: Saya menyaksikan shalat 'ied bersama Nabi saw. beliau &lt;br /&gt;
memulai shalat sebelum khutbah tanpa adzan dan tanpa iqamah, setelah selesai &lt;br /&gt;
beliau&amp;nbsp; berdiri&amp;nbsp; bertekan&amp;nbsp; atas&amp;nbsp; Bilal,&amp;nbsp; lalu&amp;nbsp; memerintahkan&amp;nbsp; manusia&amp;nbsp; supaya&amp;nbsp; bertaqwa &lt;br /&gt;
kepada&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Allah,&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; mendorong&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; mereka&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; taat,&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; menasihati&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; manusia&amp;nbsp;&amp;nbsp; dan &lt;br /&gt;
memperingakan mereka, setelah selesai beliau turun mendatangai shaf wanita dan &lt;br /&gt;
selanjutnya beliau memperingatkan mereka. (H.R: Muslim) &lt;br /&gt;
3.&amp;nbsp; Diriwayatkan&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; Ibnu&amp;nbsp; Umar&amp;nbsp; ra.&amp;nbsp; ia&amp;nbsp; berkata:&amp;nbsp; Umar&amp;nbsp; mendapati&amp;nbsp; pakaian&amp;nbsp; tebal&amp;nbsp; dari &lt;br /&gt;
sutera yang dijual, lalu beliau mengambilnya dan membawa kepada Rasulullah saw. &lt;br /&gt;
lalu berkata: Yaa Rasulullah belilah pakaian ini dan berhiaslah dengannya untuk hari &lt;br /&gt;
raya&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp; menerima&amp;nbsp; utusan.&amp;nbsp; Maka&amp;nbsp; beliaupun&amp;nbsp; menjawab:&amp;nbsp; Sesungguhnya &lt;br /&gt;
pakaian ini adalah bagian orang-orang&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; punya bagian di akherat&amp;nbsp; (yakni &lt;br /&gt;
orang kafir). (H.R Bukhary dan Muslim) &lt;br /&gt;
4.&amp;nbsp; Diriwayatkan dari Ummu 'Atiyah ra. ia berkata: Rasulullah saw. memerintahkan kami &lt;br /&gt;
keluar&amp;nbsp; pada&amp;nbsp; 'iedul&amp;nbsp; fitri&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; 'iedul&amp;nbsp; adhha&amp;nbsp; semua&amp;nbsp; gadis-gadis,&amp;nbsp; wanita-wanita yang &lt;br /&gt;
haidh, wanita-wanita&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; tinggal&amp;nbsp; dalam&amp;nbsp; kamarnya.&amp;nbsp; Adapun&amp;nbsp; wanita&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; sedang &lt;br /&gt;
haidh&amp;nbsp; mengasingkan&amp;nbsp; diri&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; mushalla&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; tempat&amp;nbsp; shalat&amp;nbsp; 'ied),&amp;nbsp; mereka&amp;nbsp; meyaksikan &lt;br /&gt;
kebaikan&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; mendengarkan&amp;nbsp; da'wah&amp;nbsp; kaum&amp;nbsp; muslimin&amp;nbsp; (mendengarkan&amp;nbsp; khutbah). &lt;br /&gt;
Saya&amp;nbsp; berkata:&amp;nbsp; Yaa&amp;nbsp; Rasulullah&amp;nbsp; bagaimana&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; kami&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; mempunyai &lt;br /&gt;
jilbab?&amp;nbsp;&amp;nbsp; Beliau&amp;nbsp;&amp;nbsp; bersabda:&amp;nbsp;&amp;nbsp; Supaya&amp;nbsp;&amp;nbsp; saudaranya&amp;nbsp;&amp;nbsp; meminjamkan&amp;nbsp;&amp;nbsp; kepadanya&amp;nbsp;&amp;nbsp; dari &lt;br /&gt;
jilbabnya. (H.R: Jama'ah) &lt;br /&gt;
5.&amp;nbsp; Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra. ia berkata: Adalah Nabi saw. Tidak berangkat &lt;br /&gt;
menuju&amp;nbsp;&amp;nbsp; mushalla&amp;nbsp;&amp;nbsp; kecuali&amp;nbsp;&amp;nbsp; beliau&amp;nbsp;&amp;nbsp; memakan&amp;nbsp;&amp;nbsp; beberapa&amp;nbsp;&amp;nbsp; biji&amp;nbsp;&amp;nbsp; kurma,&amp;nbsp;&amp;nbsp; dan&amp;nbsp;&amp;nbsp; beliau &lt;br /&gt;
memakannya dalam jumlah bilangan ganjil. (H.R: Al-Bukhary dan Muslim) &lt;br /&gt;
6.&amp;nbsp; Diriwayatkan dari Buraidah ra. ia berkata: Adalah Nabi saw keluar untuk shalat 'iedul &lt;br /&gt;
fitri&amp;nbsp; sehingga&amp;nbsp; makan&amp;nbsp; terlebih&amp;nbsp; dahulu&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; makan&amp;nbsp; pada&amp;nbsp; shalat&amp;nbsp; 'iedul&amp;nbsp; adhha &lt;br /&gt;
sehingga beliau kembali dari shalat 'ied. (H.R:Ibnu Majah, At-Tirmidzi dan Ahmad) &lt;br /&gt;
7.&amp;nbsp; Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. ia berkata: Bahwasanya Nabi saw. Keluar untuk &lt;br /&gt;
shalat&amp;nbsp; 'iedul&amp;nbsp; fitri&amp;nbsp; dua&amp;nbsp; raka'at,&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; shalat&amp;nbsp; sunah&amp;nbsp; sebelumnya&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; pula &lt;br /&gt;
sesudahnya. (H.R: Bukhary dan Muslim) &lt;br /&gt;
8.&amp;nbsp; Diriwayatkan dari Jaabir ra. ia berkata: Adalah Nabi saw apabila keluar untuk shalat &lt;br /&gt;
'ied&amp;nbsp; ke&amp;nbsp; mushalla,&amp;nbsp; beliau&amp;nbsp; menyelisihkan&amp;nbsp; jalan&amp;nbsp; (yakni&amp;nbsp; waktu&amp;nbsp; berangkat&amp;nbsp; melalui&amp;nbsp; satu &lt;br /&gt;
jalan dan waktu kembali melalui jalan yang lain (H.R: Bukhary) &lt;br /&gt;
9.&amp;nbsp; Diriwayatkan&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; Yazid&amp;nbsp; bin&amp;nbsp; Khumair&amp;nbsp; Arrahbiyyi&amp;nbsp; ra.&amp;nbsp; ia&amp;nbsp; berkata:&amp;nbsp; Sesungguhnya &lt;br /&gt;
Abdullah bin Busri seorang sahabat nabi saw. Keluar bersama manusia untuk shalat &lt;br /&gt;
'iedul&amp;nbsp; fitri&amp;nbsp; atau&amp;nbsp; 'iedul&amp;nbsp; adhha,&amp;nbsp; maka&amp;nbsp; beliau&amp;nbsp; mengingkari&amp;nbsp; keterlambatan&amp;nbsp; imam,&amp;nbsp; lalu &lt;br /&gt;
berkata: Sesungguhnya kami dahulu (pada zaman Nabi saw.) pada jam-jam seperti &lt;br /&gt;
ini sudah selesai mengerjakan shalat 'ied. Pada waktu ia berkata demikian adalah &lt;br /&gt;
pada shalat dhuha. (H.R: Abu Daud dan Ibnu Majah) &lt;br /&gt;
10. Diriwayatkan dari Abi Umair bin Anas, diriwayatkan dari&amp;nbsp; seorang pamannya dari &lt;br /&gt;
golongan&amp;nbsp; Anshar,&amp;nbsp; ia&amp;nbsp; berkata:&amp;nbsp; Mereka&amp;nbsp; berkata:&amp;nbsp; Karena&amp;nbsp; tertutup&amp;nbsp; awan&amp;nbsp; maka&amp;nbsp; tidak &lt;br /&gt;
terlihat oleh kami hilal syawal, maka pada pagi harinya kami masih tetap shaum, &lt;br /&gt;
kemudian&amp;nbsp; datanglah&amp;nbsp; satu&amp;nbsp; kafilah&amp;nbsp; berkendaraan&amp;nbsp; di&amp;nbsp; akhir&amp;nbsp; siang,&amp;nbsp; mereka&amp;nbsp; bersaksi &lt;br /&gt;
dihadapan&amp;nbsp; Rasulullah&amp;nbsp; saw.bahwa&amp;nbsp; mereka&amp;nbsp; kemarin&amp;nbsp; melihat&amp;nbsp; hilal.&amp;nbsp; Maka&amp;nbsp; Rasulullah &lt;br /&gt;
saw. memerintahkan semua manusia (ummat Islam) agar berbuka pada hari itu dan &lt;br /&gt;
keluar menunaikan shalat 'ied pada hari esoknya. (H.R: Lima kecuali At-Tirmidzi) &lt;br /&gt;
11.&amp;nbsp; Diriwayatkan&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; Azzuhri,&amp;nbsp; ia&amp;nbsp; berkata:&amp;nbsp; Adalah manusia&amp;nbsp; (para&amp;nbsp; sahabat) bertakbir &lt;br /&gt;
pada&amp;nbsp; hari&amp;nbsp; raya&amp;nbsp; ketika&amp;nbsp; mereka&amp;nbsp; keluar&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; rumah-rumah&amp;nbsp; mereka&amp;nbsp; menuju&amp;nbsp; tempat &lt;br /&gt;
shalat 'ied sampai mereka tiba di mushalla&amp;nbsp; (tempat shalat 'ied) dan terus bertakbir &lt;br /&gt;
sampai imam datang, apabila imam telah datang, mereka diam dan apabila imam &lt;br /&gt;
ber takbir maka merekapun ikut bertakbir. (H.R: Ibnu Abi Syaibah) &lt;br /&gt;
12. Diriwayatkan bahwa Ibnu Mas'ud ra. bertakbir pada hari-hari tasyriq dengan lafadz &lt;br /&gt;
sbb: (artinya): Allah maha besar, Allah maha besar, tidak ada Illah melainkan Allah &lt;br /&gt;
dan Allah maha besar, Allah maha besar dan bagiNya segala puji. (H.R Ibnu Abi &lt;br /&gt;
Syaibah dengan sanad shahih) &lt;br /&gt;
13.&amp;nbsp; Diriwayatkan&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; Amru&amp;nbsp; bin&amp;nbsp; Syu'aib,&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; ayahnya,&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; neneknya,&amp;nbsp; ia&amp;nbsp; berkata: &lt;br /&gt;
Sesungguhnya&amp;nbsp; Nabi&amp;nbsp; saw.&amp;nbsp; bertakbir&amp;nbsp; pada&amp;nbsp; shalat&amp;nbsp; 'ied&amp;nbsp; dua&amp;nbsp; belas&amp;nbsp; kali&amp;nbsp; takbir.&amp;nbsp; dalam &lt;br /&gt;
raka'at pertama tujuh kali takbir dan pada raka'at yang kedua lima kali takbir dan &lt;br /&gt;
tidak&amp;nbsp; shalat&amp;nbsp; sunnah&amp;nbsp; sebelumnya&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; juga&amp;nbsp; sesudahnya.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; (H.R:&amp;nbsp; Amad&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; Ibnu &lt;br /&gt;
Majah) &lt;br /&gt;
14.Diriwayatkan dari Samuroh, ia berkata: Adalah Nabi saw.&amp;nbsp; Dalam shalat kedua hari &lt;br /&gt;
raya&amp;nbsp; beliau&amp;nbsp; membaca:&amp;nbsp; Sabihisma&amp;nbsp; Rabbikal&amp;nbsp; A'la&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; hal&amp;nbsp; ataka&amp;nbsp; haditsul&amp;nbsp; ghosiah. &lt;br /&gt;
(H.R: Ahmad) &lt;br /&gt;
15.&amp;nbsp; Diriwayatkan&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; Abu&amp;nbsp; Waqid&amp;nbsp; Allaitsi,&amp;nbsp; ia&amp;nbsp; berkata:&amp;nbsp; Umar&amp;nbsp; bin&amp;nbsp; Khaththab&amp;nbsp; telah &lt;br /&gt;
menanyakan kepadaku tentang apa yang dibaca oleh Nabi saw. Waktu shalat 'ied . &lt;br /&gt;
Aku&amp;nbsp; menjawab:&amp;nbsp; beliau&amp;nbsp; membaca&amp;nbsp; surat&amp;nbsp; (Iqtarabatissa'ah)&amp;nbsp; dan&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Qaaf&amp;nbsp; walqur'anul &lt;br /&gt;
majid). (H.R: Muslim) &lt;br /&gt;
16.Diriwayatkan dari Zaid bin Arqom ra. ia berkata: Nabi saw. Mendirikan shalat 'ied, &lt;br /&gt;
kemudian&amp;nbsp; beliau&amp;nbsp; memberikan&amp;nbsp; ruhkshah&amp;nbsp; /&amp;nbsp; kemudahan&amp;nbsp; dalam&amp;nbsp; menunaikan shalat &lt;br /&gt;
jum'at,&amp;nbsp; kemudian&amp;nbsp; beliau&amp;nbsp; bersabda:&amp;nbsp; Barang&amp;nbsp; siapa&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; mau&amp;nbsp; shalat&amp;nbsp; jum'ah,&amp;nbsp; maka &lt;br /&gt;
kerjakanlah. (H.R: Imam yang lima kecuali At-Tirmidzi) &lt;br /&gt;
17.Diriwayatkan&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; Abu&amp;nbsp; Hurairah&amp;nbsp; ra.&amp;nbsp; bahwasanya&amp;nbsp; Nabi&amp;nbsp; saw.&amp;nbsp; Bersabda&amp;nbsp; pada&amp;nbsp; hari &lt;br /&gt;
kamu ini, telah berkumpul dua&amp;nbsp; hari raya&amp;nbsp; (hari jum'ah dan hari raya), maka barang &lt;br /&gt;
siapa&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; suka&amp;nbsp; shalat&amp;nbsp; jum'ah,&amp;nbsp; maka&amp;nbsp; shalatnya&amp;nbsp; diberi&amp;nbsp; pahala&amp;nbsp; sedang&amp;nbsp; kami&amp;nbsp; akan &lt;br /&gt;
melaksanakan shalat jum'ah. (H.R: Abu Daud) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
KESIMPULAN &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits-hadits&amp;nbsp; tersebut&amp;nbsp; memberi&amp;nbsp; pelajaran&amp;nbsp; kepada&amp;nbsp; kita&amp;nbsp; tentang&amp;nbsp; adab-adab shalat hari &lt;br /&gt;
raya sbb: &lt;br /&gt;
Pakaian &lt;br /&gt;
Pada&amp;nbsp; saat&amp;nbsp; mendirikan&amp;nbsp; shalat&amp;nbsp; kedua&amp;nbsp; hari&amp;nbsp; raya&amp;nbsp; disunnahkan&amp;nbsp; memakai&amp;nbsp; pakaian&amp;nbsp; yang &lt;br /&gt;
paling bagus. (dalil: 3) &lt;br /&gt;
Makan &lt;br /&gt;
a.&amp;nbsp; Sebelum&amp;nbsp; berangkat&amp;nbsp; shalat&amp;nbsp; hari&amp;nbsp; raya&amp;nbsp; fitri&amp;nbsp; disunnahkan&amp;nbsp; makan&amp;nbsp; terlebih&amp;nbsp; dahulu,&amp;nbsp; jika &lt;br /&gt;
terdapat beberapa butir kurma , jika tidak ada maka makanan apa saja. &lt;br /&gt;
b.&amp;nbsp; Sebaliknya pada hari raya 'iedul adhha, disunnahkan tidak makan terlebih dahulu &lt;br /&gt;
sampai selesai shalat 'iedul adhha. (dalil: 5 dan 6) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengungkan Takbir &lt;br /&gt;
a.&amp;nbsp; Pada hari raya 'iedul fitri, takbir didengungkan sejak keluar dari rumah menuju ke &lt;br /&gt;
tempat&amp;nbsp;&amp;nbsp; shalat&amp;nbsp;&amp;nbsp; dan&amp;nbsp;&amp;nbsp; sesampainya&amp;nbsp;&amp;nbsp; di&amp;nbsp;&amp;nbsp; tempat&amp;nbsp;&amp;nbsp; shalat&amp;nbsp;&amp;nbsp; terus&amp;nbsp;&amp;nbsp; dilanjutkan&amp;nbsp;&amp;nbsp; takbir &lt;br /&gt;
didengungkan sampai shalat dimulai. (dalil: 11) &lt;br /&gt;
b.&amp;nbsp; Pada hari raya 'iedul adhha, takbir boleh didengungkan sejak Shubuh hari Arafah (9 &lt;br /&gt;
Dzul Hijjah) hingga akhir hari tasyriq (13 Dzul Hijjah). (dalil: 12) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jalan yang Dilalui &lt;br /&gt;
Disunnahkan membedakan jalan yang dilalui waktu berangkat shalat hari raya dengan &lt;br /&gt;
jalan yang dilalui di waktu pulang dari shalat 'ied (yakni waktu berangkat melalui satu &lt;br /&gt;
jalan, sedang waktu pulang melalui jalan yang lain). (dalil: 8) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila Terlambat Mengetahui Tibanya Hari Raya &lt;br /&gt;
Apabila datangnya berita tibanya hari raya sudah tengah hari atau petang hari, maka &lt;br /&gt;
hari itu diwajibkan berbuka sedang pelaksanaan shalat hari raya dilakukan pada hari &lt;br /&gt;
esoknya. dalil: 10) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
YangMenghadiri Shalat 'Ied &lt;br /&gt;
Shalat 'ied disunnahkan untuk dihadiri oleh orang dewasa baik laki-laki maupun wanita, &lt;br /&gt;
baik wanita yang suci dari haidh maupun wanita yang sedang haidh dan juga kanak- &lt;br /&gt;
kanak baik laki-laki maupun wanita.&amp;nbsp; Wanita yang sedang haidh tidak ikut shalat, tetapi &lt;br /&gt;
hadir untuk mendengarkan khutbah 'ied. (dalil:4) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tempat Shalat 'Ied &lt;br /&gt;
Shalat&amp;nbsp; 'ied&amp;nbsp; lebih&amp;nbsp; afdhal&amp;nbsp; (utama)&amp;nbsp; diadakan&amp;nbsp; di&amp;nbsp; mushalla&amp;nbsp; yaitu&amp;nbsp; suatu&amp;nbsp; padang&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; di &lt;br /&gt;
sediakan&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp; shalat&amp;nbsp; 'ied,&amp;nbsp; kecuali&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; uzur&amp;nbsp; hujan&amp;nbsp; maka shalat diadakan di masjid. &lt;br /&gt;
Mengadakan&amp;nbsp; shalat&amp;nbsp; 'ied&amp;nbsp; di&amp;nbsp; masjid&amp;nbsp; padahal&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; hujan&amp;nbsp; sementara&amp;nbsp; lapangan &lt;br /&gt;
(padang) tersedia, maka ini kurang afdhal karena menyelisihi amalan Rasulullah saw. &lt;br /&gt;
yang selalu mengadakan shalat 'ied di mushalla&amp;nbsp; (padang tempat shalat), kecuali sekali &lt;br /&gt;
dua kali beliau mengadakan di masjid karena hujan.(dalil: 1 dan 8) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara Shalat 'Ied &lt;br /&gt;
a.&amp;nbsp; Shalat&amp;nbsp; 'ied&amp;nbsp; dua&amp;nbsp; raka'at,&amp;nbsp; tanpa&amp;nbsp; adzan&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; iqamah&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; tanpa&amp;nbsp; shalat&amp;nbsp; sunnah &lt;br /&gt;
sebelumnya dan sesudahnya. (dalil: 1,2 dan 7) &lt;br /&gt;
b.&amp;nbsp; Pada&amp;nbsp; raka'at&amp;nbsp; pertama&amp;nbsp; setelah&amp;nbsp; takbiratul&amp;nbsp; ihram&amp;nbsp; sebelum&amp;nbsp; membaca&amp;nbsp; Al-Fatihah, &lt;br /&gt;
ditambah&amp;nbsp; 7&amp;nbsp; kali&amp;nbsp; takbir.&amp;nbsp; Sedang&amp;nbsp; pada&amp;nbsp; raka'at&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; kedua&amp;nbsp; sebelum&amp;nbsp; membaca&amp;nbsp; Al- &lt;br /&gt;
Fatihah dengan takbir lima kali. (dalil 13) &lt;br /&gt;
c.&amp;nbsp; Setelah&amp;nbsp; membaca&amp;nbsp; Fatihah&amp;nbsp; pada&amp;nbsp; raka'at&amp;nbsp; pertama&amp;nbsp; di&amp;nbsp; sunnahkan&amp;nbsp; membaca&amp;nbsp; surat &lt;br /&gt;
(sabihisma Rabbikal a'la / surat ke 87) atau surat iqtarabatissa'ah / surat ke 54). Dan &lt;br /&gt;
setelah membaca alFatihah pada raka'at yang kedua disunnahkan membaca surat &lt;br /&gt;
(Hal&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ataka&amp;nbsp;&amp;nbsp; Haditsul&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ghaasyiyah&amp;nbsp;&amp;nbsp; /&amp;nbsp;&amp;nbsp; surat&amp;nbsp;&amp;nbsp; ke&amp;nbsp;&amp;nbsp; 88)&amp;nbsp; atau&amp;nbsp; membaca&amp;nbsp; surat&amp;nbsp;&amp;nbsp; (Qaaf &lt;br /&gt;
walqur'anul majid / surat ke 50).(dalil: 15) &lt;br /&gt;
d.&amp;nbsp; Setelah selesai shalat , imam berdiri menghadap makmum dan berkhutbah memberi &lt;br /&gt;
nasihat-nasihat dan wasiat-wasiat, atau perintah-perintah penting. &lt;br /&gt;
e.&amp;nbsp; Khutbah hari raya ini boleh diadakan khusus untuk laki-laki kemudian khusus untuk &lt;br /&gt;
wanita. &lt;br /&gt;
f.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Khutbah hari raya ini tidak diselingi duduk .(dalil: 1 dan 2 ) &lt;br /&gt;
WaktuShalat &lt;br /&gt;
Shalat 'ied diadakan setelah matahari naik, tetapi sebelum masuk waktu shalat dhuha. &lt;br /&gt;
(dalil: 9) &lt;br /&gt;
Hari&amp;nbsp; raya&amp;nbsp; jatuh&amp;nbsp; pada&amp;nbsp; hari&amp;nbsp; jum'ah&amp;nbsp; Bila&amp;nbsp; hari&amp;nbsp; raya&amp;nbsp; jatuh&amp;nbsp; pada&amp;nbsp; hari&amp;nbsp; jum'ah,&amp;nbsp; maka shalat &lt;br /&gt;
jum'ah menjadi sunnah, boleh diadakan dan boleh tidak, tetapi untuk pemuka umat atau &lt;br /&gt;
imam masjid jami' sebaiknya tetap mengadakan shalat jum'at. (dalil: 16 dan 17) &lt;br /&gt;
13.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; SPIRITUALISME DAN MATERIALISME &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Puasa Ramadhan hakekatnya adalah melatih dan&amp;nbsp; mengajari naluri (instink) manusia &lt;br /&gt;
yang cenderung tak terkontrol. Naluri yang sulit terkotrol dan terkendali itu adalah naluri &lt;br /&gt;
perut&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; selalu&amp;nbsp; menuntut&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp; makan&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; minum&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; naluri&amp;nbsp; seks&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; selalu &lt;br /&gt;
bergelora sehingga manusia kewalahan untuk mengekang dua naluri ini. Dalam sejarah &lt;br /&gt;
manusia didapatkan dua falsafah yang dapat menguasai dan mendominasi kebanyakan &lt;br /&gt;
manusia, yakni falsafah materialisme yang berorientsi pada materi saja, dan falsafah &lt;br /&gt;
spiritualisme yang hanya berorientasi pada rohaniah saja. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang-orang yang berorientasi materi&amp;nbsp; -&amp;nbsp; terdiri&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; orang-orang atheis, komunis dan &lt;br /&gt;
animisme dan berhalaisme&amp;nbsp; - mereka hidup untuk dunianya saja. Mereka melepaskan &lt;br /&gt;
kenhendak&amp;nbsp; nalurinya&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; tak&amp;nbsp; pernah&amp;nbsp; puas.&amp;nbsp; Bila&amp;nbsp; terpenuhi&amp;nbsp; satu&amp;nbsp; keinginannya,&amp;nbsp; timbul &lt;br /&gt;
keinginan&amp;nbsp; baru&amp;nbsp; begitu&amp;nbsp; seterusnya.&amp;nbsp; Sahwat&amp;nbsp; manusia&amp;nbsp; bila&amp;nbsp; sudah&amp;nbsp; terbakar&amp;nbsp; maka&amp;nbsp; akan &lt;br /&gt;
mengheret&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; sedikit&amp;nbsp; ke&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; banyak,&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; banyak&amp;nbsp; ke&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; terbanyak.&amp;nbsp; Allah &lt;br /&gt;
mengecamorang-orang seperti ini: &lt;br /&gt;
"Biarkanlah&amp;nbsp; mereka&amp;nbsp; makan,&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; bersenang-senang,&amp;nbsp; mereka&amp;nbsp; dilalaikan&amp;nbsp; oleh&amp;nbsp; angan- &lt;br /&gt;
angan dan mereka akan mengetahui akibatnya".(QS Al Hijr 3). &lt;br /&gt;
Ayat lain: &lt;br /&gt;
"Orang-orang&amp;nbsp; kafir&amp;nbsp; mereka&amp;nbsp; bersenang-senang&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; makan&amp;nbsp; seperti&amp;nbsp; binatang&amp;nbsp; ternak &lt;br /&gt;
makan. Dan neraka adalah tempat tinggalnya".(QS Muhammad 12) Mereka hidup di &lt;br /&gt;
dunia&amp;nbsp; ini&amp;nbsp; dalam&amp;nbsp; keadaan&amp;nbsp; kosong. Jiwanya dikuasai nafsunya, m enghalalkan segala &lt;br /&gt;
cara, dan dihari kiamat nanti mereka mendapat balasan yang setimpal. "Demikian itu &lt;br /&gt;
bersenang-senang di bumi tanpa haq dan mereka sombong".(QS Ghofir 75) &lt;br /&gt;
Sementara filsafat spiritualisme yang didasarkan pada kerahiban, berpandangan bahwa &lt;br /&gt;
pengabdian&amp;nbsp; kepada&amp;nbsp; Tuhan&amp;nbsp; harus&amp;nbsp; menekan&amp;nbsp; naluri&amp;nbsp; seks&amp;nbsp; mengikis&amp;nbsp; habis&amp;nbsp; pendorong- &lt;br /&gt;
pendorongnya&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; mematikannya&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; juga&amp;nbsp; diatasi&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; mengurangi&amp;nbsp; makan. &lt;br /&gt;
Dengan&amp;nbsp;&amp;nbsp; kata&amp;nbsp;&amp;nbsp; lain&amp;nbsp;&amp;nbsp; mereka&amp;nbsp;&amp;nbsp; masuk&amp;nbsp;&amp;nbsp; dalam&amp;nbsp;&amp;nbsp; kancah&amp;nbsp;&amp;nbsp; peperangan&amp;nbsp;&amp;nbsp; melawan&amp;nbsp;&amp;nbsp; jasad &lt;br /&gt;
manusiawinya. Filsafat ini dilakukan oleh gereja sejak dahulu kala. Orang-orang Barat &lt;br /&gt;
dewasaa ini melepaskan diri dari filsafat gereja, mereka menggunakan waktu dan harta &lt;br /&gt;
kekayaannya&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp; memenuhi&amp;nbsp; sahwat&amp;nbsp; jasmaninya.&amp;nbsp; Filsafat&amp;nbsp; spiritualismenya&amp;nbsp; telah &lt;br /&gt;
lenyap,&amp;nbsp; bahkan&amp;nbsp; gereja-gereja&amp;nbsp; sudah&amp;nbsp; tiada&amp;nbsp; lagi&amp;nbsp; pengunjungnya&amp;nbsp; walaupun&amp;nbsp; pada&amp;nbsp; hari &lt;br /&gt;
Minggu. Seandainya masih ada, itu hanya sekelompok minoritas yang hidup di dunia &lt;br /&gt;
Islam. &lt;br /&gt;
Agama&amp;nbsp; Islam&amp;nbsp; adalah&amp;nbsp; agama&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; seimbang.&amp;nbsp; Ia&amp;nbsp; menghormati&amp;nbsp; rohani&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; jasmani &lt;br /&gt;
sekaligus,&amp;nbsp; ia&amp;nbsp; memperhatikan&amp;nbsp; nilai-nilai&amp;nbsp; ideal&amp;nbsp; manusia,&amp;nbsp; tapi&amp;nbsp; juga&amp;nbsp; menjamin&amp;nbsp; kebutuhan &lt;br /&gt;
hidup&amp;nbsp; naluri&amp;nbsp; duniawinya&amp;nbsp; asal&amp;nbsp; dalam&amp;nbsp; ruang&amp;nbsp; keutamaan,&amp;nbsp; ketaatan,&amp;nbsp; kehormatan.&amp;nbsp; Ia &lt;br /&gt;
membolehkan&amp;nbsp;&amp;nbsp; manusia&amp;nbsp;&amp;nbsp; makan&amp;nbsp;&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp;&amp;nbsp; catatan&amp;nbsp;&amp;nbsp; dalam&amp;nbsp;&amp;nbsp; batas&amp;nbsp;&amp;nbsp; kewajaran&amp;nbsp;&amp;nbsp; dan &lt;br /&gt;
kehormatan. &lt;br /&gt;
"Makanlah dan minumlah, berpakaianlah dan bersedekahlah tanpa berlebih-lebihan dan &lt;br /&gt;
tidak diiringi kesombongan".(HR Bikhari) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Islam mengimbangkan antara ruhani dan jasmani. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ya Allah, a ku berlindung kepadamu dari lapar, karena sesungguhnya seburuk- buruk &lt;br /&gt;
tidur adalah dalam keadaan lapar. Dan&amp;nbsp; aku berlindung kepadamu dari khianat, karena &lt;br /&gt;
itu adalah seburuk-buruk suasana kejiwaan".(HR Abu Daud) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Islam memperhatikan kehidupan dunia dan akherat, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertaqwa: Apa yang Tuhan kalian turunkan? &lt;br /&gt;
mereka&amp;nbsp; berkata:&amp;nbsp; 'Keuntungan&amp;nbsp; bagi&amp;nbsp; orang-orang&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; berbuat&amp;nbsp; baik&amp;nbsp; di&amp;nbsp; dunia&amp;nbsp; ini&amp;nbsp; dan &lt;br /&gt;
akherat lebih baik, dan sebaik tempat bagi orang-orang yang bertaqwa".(QS AN Nahl &lt;br /&gt;
Ajaran Islam datang untuk mensucikan manusia, mengangkat darjatnya, ia mensucikan &lt;br /&gt;
fisikalnya&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; mandi&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; berwudlu,&amp;nbsp; mensucikan&amp;nbsp; jiwanya&amp;nbsp; denga&amp;nbsp; ruku'&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; sujud. &lt;br /&gt;
Islam&amp;nbsp; adalah&amp;nbsp; jasmani&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; ruhani,&amp;nbsp; dunia&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; akherat&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; falsafah&amp;nbsp; puasa.&amp;nbsp; Islam &lt;br /&gt;
menegaskan bahwa manusia terdiri dari jasmani dan ruhani. Nilai manusia tidak terletak &lt;br /&gt;
pada jasadnya, akan tetapi terletak pada ruhani yang menggerakkannya. Kerena ruhani &lt;br /&gt;
inilah, Allah memerintahkan pada malaikatnya untuk hormat kepada manusia, karena &lt;br /&gt;
ruhani datangnya dari Allah swt. Firman Allah: &lt;br /&gt;
"Ingatlah&amp;nbsp;&amp;nbsp; di&amp;nbsp;&amp;nbsp; waktu&amp;nbsp; Tuhanmu&amp;nbsp; berkata&amp;nbsp; kepada&amp;nbsp; para&amp;nbsp; malaiakat:&amp;nbsp; "Aku&amp;nbsp; menciptakan &lt;br /&gt;
manusia&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; tanah,&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; setelah&amp;nbsp; aku&amp;nbsp; sempurnakan&amp;nbsp; aku&amp;nbsp; tiupkan&amp;nbsp; kedalamnya&amp;nbsp; ruh-Ku, &lt;br /&gt;
maka hormatlah kalian kepadanya".(QS ShAd 71-72) &lt;br /&gt;
Setelah itu manusia ada yang mengenali siapa yang meniupkan ruh kapadanya dan &lt;br /&gt;
yang&amp;nbsp; memuliakannya&amp;nbsp; atas&amp;nbsp; seluruh&amp;nbsp; makhluknya.&amp;nbsp; Mereka&amp;nbsp; itu&amp;nbsp; akan&amp;nbsp; bersyukkur&amp;nbsp; kepada &lt;br /&gt;
pemberi&amp;nbsp;&amp;nbsp; nikmat,&amp;nbsp;&amp;nbsp; sementara&amp;nbsp;&amp;nbsp; ada&amp;nbsp;&amp;nbsp; manusia-manusia&amp;nbsp;&amp;nbsp; yang&amp;nbsp;&amp;nbsp; melupakan&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tuhannya, &lt;br /&gt;
melupakan kepada dzat yang meniupkan ruh kepadanya. &lt;br /&gt;
Demikian&amp;nbsp;&amp;nbsp; juga&amp;nbsp;&amp;nbsp; halnya&amp;nbsp;&amp;nbsp; kebudayaan.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kebudayaan&amp;nbsp;&amp;nbsp; yang&amp;nbsp;&amp;nbsp; memegang&amp;nbsp;&amp;nbsp; kendali&amp;nbsp;&amp;nbsp; alam &lt;br /&gt;
sekarang&amp;nbsp; ini&amp;nbsp; telah&amp;nbsp; melupakan&amp;nbsp; Tuhannya, melalaikan haknya. Dunia ini tidak memiliki &lt;br /&gt;
kebudayaan yang mengakui ruhani dan jasmani, berorientasi dunia dan akherat dan &lt;br /&gt;
menentukan&amp;nbsp; hak-hak&amp;nbsp; manusia&amp;nbsp; disamping&amp;nbsp; hak-hak Allah&amp;nbsp; -kebudayaan&amp;nbsp; Islam-. Puasa &lt;br /&gt;
Ramadhan&amp;nbsp; sebagaimana&amp;nbsp; Rasulullah&amp;nbsp; jelaskan&amp;nbsp; dapat&amp;nbsp; mengangkat&amp;nbsp; derajat&amp;nbsp; pelakunya &lt;br /&gt;
menjadi unsur rahmat, kedamaian, ketenangan, kesucian jiwa, aklaq mulia dan perilaku &lt;br /&gt;
yang indah ditengah-tengah masyarakat. &lt;br /&gt;
"Bila salah seorang dari kalian berpuasa maka hendaknya ia tidakberbicara buruk dan &lt;br /&gt;
aib.&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; jangan&amp;nbsp; berbicara&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; tiada&amp;nbsp; manfaatnya&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; bila&amp;nbsp; dimaki&amp;nbsp; seseorang&amp;nbsp; maka &lt;br /&gt;
berkatalah, 'Aku berpuasa'". (HR. Bukhori). &lt;br /&gt;
Dalam bulan Ramadhan terdapat filsafat Islam yang mengaitkan dunia dengan akhirat, &lt;br /&gt;
mengaitkan jasmani dan ruhani, mengaitkan bumi dengan langit, mengaitkan manusia &lt;br /&gt;
dengan&amp;nbsp; wahyu,&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; mengaitkan&amp;nbsp; dunia&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; kitab&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; menerangi&amp;nbsp; jalannya&amp;nbsp; dan &lt;br /&gt;
menetukantujuannya &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
14.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; SEJENAK BERSAMA PEMUDA &lt;br /&gt;
Wahai&amp;nbsp; pemuda&amp;nbsp; Islam!&amp;nbsp; Jalanmu&amp;nbsp; penuh&amp;nbsp; rintangan,&amp;nbsp; laut&amp;nbsp; jiwamu&amp;nbsp; dalam&amp;nbsp; tak&amp;nbsp; berhingga. &lt;br /&gt;
Puasa bagimu merupakan benteng penahan. Tidak seorang pun yang mampu kecuali &lt;br /&gt;
mereka yang perkasa, terpercaya, penuh waspada serta mawas diri, serius, tangkas, &lt;br /&gt;
dan&amp;nbsp; rela&amp;nbsp; berkorban.&amp;nbsp; Peliharalah&amp;nbsp; lidahmu,&amp;nbsp; karena&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; ada&amp;nbsp; sesuatu&amp;nbsp; pun&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; dapat &lt;br /&gt;
membuat manusia tersungkur ke dalam api neraka kecuali karena buah mulut mereka &lt;br /&gt;
sendiri. Jangan berghibah, kendalikanlah matamu dari pandangan was-was al-khonnas &lt;br /&gt;
Bukankah kamu tahu bahwa Rasul Saw pernah bersabda: &lt;br /&gt;
"Siapa yang berpuasa, hendaklah mengendalikan pendengaran dan penglihatannya". &lt;br /&gt;
Oleh karena itu, jadikanlah ucapanmu berupa dakwah ilallah, pendengaranmu hanya &lt;br /&gt;
untuk mengingat Allah. Dengan begitu di dalam dirimu terhimpunlah kesenangan dunia &lt;br /&gt;
dan kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat. &lt;br /&gt;
Sesungguhnya&amp;nbsp; puasa&amp;nbsp; zhohir&amp;nbsp; ditandai&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; berakhirnya&amp;nbsp; siang,&amp;nbsp; yaitu&amp;nbsp; ketika&amp;nbsp; mulai &lt;br /&gt;
tenggelamnya&amp;nbsp; matahari&amp;nbsp; di&amp;nbsp; tempat&amp;nbsp; istirahnya.&amp;nbsp; Shoum&amp;nbsp; kembali&amp;nbsp; ke&amp;nbsp; keadaan&amp;nbsp; semula &lt;br /&gt;
dengan&amp;nbsp; rasa&amp;nbsp; gembira&amp;nbsp; tatkala&amp;nbsp; berbuka.&amp;nbsp; Ini&amp;nbsp; dialami&amp;nbsp; semua&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; shoum.&amp;nbsp; Akan &lt;br /&gt;
tetapi puasa orang-orang yang muttaqin yang penuh keikhlasan, tidak berujung. Tidak &lt;br /&gt;
berakhir dengan ghurub dan tidak dimulai dengan syuruq. Tidak dapat dihitung dengan &lt;br /&gt;
bilangan jam dan tidak pula mempunyai batas waktu. &lt;br /&gt;
Engkaulah pengendali yang terpercaya atas dirimu dan atas diri saudara-saudaramu. &lt;br /&gt;
Itulah 'amanah' dari ujian itu. Bagaimana seandainya engkau melalaikannya, terlepas &lt;br /&gt;
dari&amp;nbsp; ceruk&amp;nbsp; hatimu&amp;nbsp; di&amp;nbsp; tengah-tengah&amp;nbsp; bersliwerannya&amp;nbsp; berbagai&amp;nbsp; godaan&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; pemikat- &lt;br /&gt;
pemikat? Apakah akan kau biarkan berlalu dan bahkan terlepas dari dirimu? Tidakkah &lt;br /&gt;
kau merasa perlu kembali memperhatikan janjimu kepada Allah, yang mendatangkan &lt;br /&gt;
pahala begitu besar? Ialah amanah puasa yang sebenar-benarnya. &lt;br /&gt;
Wahai pemuda yang amil! Kita berpuasa jika telah melihat bulan. Tetapi sesungguhnya &lt;br /&gt;
yang kuinginkan darimu wahai pemuda, lebih dari sekadar itu, sedikit atau banyak di &lt;br /&gt;
atas mustawa (level) itu tadi jika memang kamu mampu. Mintalah tolong kepada Maha &lt;br /&gt;
Pemberi&amp;nbsp; Kemampuan,&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; memberi&amp;nbsp; apa&amp;nbsp; saja&amp;nbsp; kepada&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; dikehendakiNya. &lt;br /&gt;
Aku mengharap agar engkau sebelum melihat bulan, melihat pencipta dari bulan itu. &lt;br /&gt;
Sungguh, alangkah tingginya martabat ini, dimana banyak orang yang tak kuasa untuk &lt;br /&gt;
meraihnya.&amp;nbsp; Tetapi&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; izin&amp;nbsp; Allahjugalah&amp;nbsp; mereka&amp;nbsp; berhasil&amp;nbsp; melampauinya.&amp;nbsp; Jika &lt;br /&gt;
memang engkau telah berazam (bertekad), maka tawakkallah. Engkau, wahai pemuda! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika berpuasa karena melihat bulan, memang akan mendapatkan pahala sebagaimana &lt;br /&gt;
halnya kebanyakan orang. Akan tetapi, engkau mempersiapkan dirimu dengan shoum &lt;br /&gt;
itu&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp; beramal&amp;nbsp; (bekerja)&amp;nbsp; fi&amp;nbsp; sabilillah,&amp;nbsp; menyebarkan&amp;nbsp; misi(risalah)Nya,&amp;nbsp; mengemban &lt;br /&gt;
dakwah, serta jihad yang begitu malah lagi mulia. Tempatkanlah segala sesuatunya di &lt;br /&gt;
jalan Allah, pasti segala kesulitan yang ada akan menjadi ringan, dan agar kau selalu &lt;br /&gt;
berada di dalam barisanNya. &lt;br /&gt;
Aturlah barisan. Pemuda di samping pemuda, pemudi beriringan dengan pemudi, orang &lt;br /&gt;
tua&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; tua.&amp;nbsp; Aku&amp;nbsp; menginginkan&amp;nbsp; sekali&amp;nbsp; agar&amp;nbsp; engkau&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; sampai&amp;nbsp; hanya &lt;br /&gt;
sekedar&amp;nbsp;&amp;nbsp; melihat&amp;nbsp;&amp;nbsp; bulan,&amp;nbsp;&amp;nbsp; akan&amp;nbsp;&amp;nbsp; tetapi&amp;nbsp;&amp;nbsp; terus&amp;nbsp;&amp;nbsp; dan&amp;nbsp;&amp;nbsp; teruslah&amp;nbsp;&amp;nbsp; melangkah&amp;nbsp;&amp;nbsp; lebih&amp;nbsp;&amp;nbsp; jauh. &lt;br /&gt;
Bersihkanlah hati dan sinarilah keyakinanmu itu, agar kau dapat menyaksikan pencipta &lt;br /&gt;
dari&amp;nbsp; bulan&amp;nbsp; itu.&amp;nbsp; Inilah&amp;nbsp; rencana&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; tujuan,&amp;nbsp; awal&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; akhir.&amp;nbsp; KepadaNya&amp;nbsp; jugalah&amp;nbsp; kita &lt;br /&gt;
kembalikan segala urusan. &lt;br /&gt;
Sesungguhnya berpuasa karena melihat bulan memang betul menurut ibadah. Tetapi &lt;br /&gt;
berpuasa&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; hati&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; bersinar,&amp;nbsp; ruh&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; tenang,&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; nurani&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; cemerlang &lt;br /&gt;
adalah puncak kekuatan ibadah yang dituntut dari dirimu. Yaitu irodah yang apabila &lt;br /&gt;
disertai tekad dan ketulusan tujuan, sesaat pun tidak akan pernah menjadi lemah dan &lt;br /&gt;
pudar.&amp;nbsp; Tak&amp;nbsp; sedetik&amp;nbsp; pun&amp;nbsp; mundur&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; kewajiban-kewajiban&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; sulit&amp;nbsp; diukur&amp;nbsp; dengan &lt;br /&gt;
bilangan waktu itu. Irodah yang senantiasa beriringan dengan amal untuk menanggung &lt;br /&gt;
kesulitan dengan hati yang penuh, bersama melakukan jihad di tengah beragamnya &lt;br /&gt;
medan-medan jihad; jihadun-nafs, jihad melawan musuh yang zholim. &lt;br /&gt;
Dengan melalui jenjang-jenjang jihad tersebut, dengan tangan bila mampu dan dengan &lt;br /&gt;
lisan bila sanggup, berarti dirimu telah berhasil menjaga keutuhan imanmu. Hingga tak &lt;br /&gt;
sesuatu pun yang bisa mengikisnya. Adalah sesuatu yang begitu menggembirakan saat &lt;br /&gt;
kita berbuka, lapar telah terobati, haus telah pergi. Tetapi ada yang lebih dari sekedar &lt;br /&gt;
itu, lebih menyenangkan dan menggembirakan, yaitu bertemunya diri kita dengan Allah&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
pada&amp;nbsp; hari&amp;nbsp; perhitungan&amp;nbsp; (Yaumul&amp;nbsp; Hisab)&amp;nbsp; kelak.&amp;nbsp; Tidak&amp;nbsp; mungkin&amp;nbsp; dicapai&amp;nbsp; tingkatan&amp;nbsp; ini &lt;br /&gt;
kecuali oleh orang-orang yang berpuasa karena Allah dan hanya untuk Allah. &lt;br /&gt;
Sungguh,&amp;nbsp; aku&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; berbicara&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; telinga&amp;nbsp; kasatmu,&amp;nbsp; tapi&amp;nbsp; aku&amp;nbsp; bicara&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; hati &lt;br /&gt;
sanubarimu.&amp;nbsp; Dengan&amp;nbsp; persamaanmu&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; paling&amp;nbsp; dalam&amp;nbsp; agar&amp;nbsp; rela&amp;nbsp; berkorban&amp;nbsp; di&amp;nbsp; jalan &lt;br /&gt;
Allah,&amp;nbsp; tanpa&amp;nbsp; mengharap&amp;nbsp; upah&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; pamrih.&amp;nbsp; Puasalah,&amp;nbsp; karena&amp;nbsp; Allah&amp;nbsp; menghendakimu &lt;br /&gt;
untuk berpuasa, hanya itu. Beban ini sungguh berat bagimu, tanggung jawab ini begitu &lt;br /&gt;
besar, dan hambatannya penuh ranjau serta tingkat kesulitannya begitu tinggi. Tidak &lt;br /&gt;
akan&amp;nbsp; berhasil&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; akan&amp;nbsp; menang&amp;nbsp; terkecuali&amp;nbsp; hatimu&amp;nbsp; telah&amp;nbsp; tergetar&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp; hanya &lt;br /&gt;
mengharap ridho Allah, serta perasaanmu telah terdorong untuk mendapatkan husnul &lt;br /&gt;
khotimah. &lt;br /&gt;
Aku menginginkan pengorbanan yang cukup mahal darimu, di mana kemenangan bagi &lt;br /&gt;
dienmu&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; akan&amp;nbsp; tercapai&amp;nbsp; tanpa&amp;nbsp; melalui&amp;nbsp; jalan&amp;nbsp; ini.&amp;nbsp; Sungguh,&amp;nbsp; sesungguhnya&amp;nbsp; musuh- &lt;br /&gt;
musuh&amp;nbsp; Islam&amp;nbsp; akan&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; segala&amp;nbsp; daya&amp;nbsp; upaya&amp;nbsp; ingin&amp;nbsp; menghancurkan&amp;nbsp; segala&amp;nbsp; yang &lt;br /&gt;
berharga yang ada pada dirimu. Dan aku ingin sekali melihat dirimu berada pada posisi &lt;br /&gt;
As-Shiddiqie, Syuhada dan Sholihin. Sungguh, apakah ada nilai yang lebih tinggi dari &lt;br /&gt;
itu? Allah Yang Maha Pemurah mengetahui betul bahwa puasa itu sulit, tidak mungkin &lt;br /&gt;
dapat dilakukan kecuali oleh orang-orang yang jiwanya bersih dari kotoran-kotoran dan &lt;br /&gt;
virus. &lt;br /&gt;
Karena rahmatNya jugalah Allah memberikan rukhshoh kepada orang yang sakit, orang &lt;br /&gt;
yang&amp;nbsp; bepergian&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; haidh&amp;nbsp; agar&amp;nbsp; berbuka.&amp;nbsp; Tetapi&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; syarat&amp;nbsp; untuk &lt;br /&gt;
mengqodhonya bila telah memungkinkan. Demikian alternatif daripada dispensasi yang &lt;br /&gt;
diberikan&amp;nbsp; Allah,&amp;nbsp; seperti&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; tertulis&amp;nbsp; dari&amp;nbsp; firmanNya:"Dan&amp;nbsp; puasa&amp;nbsp; kamu&amp;nbsp; itu&amp;nbsp; lebih&amp;nbsp; baik &lt;br /&gt;
untuk&amp;nbsp; kamu,&amp;nbsp; jika&amp;nbsp; kamu&amp;nbsp; mengetahui".&amp;nbsp; Berbukalah&amp;nbsp; kamu&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; rukhshohKU,&amp;nbsp; tidak &lt;br /&gt;
mengapa,&amp;nbsp; karena&amp;nbsp; AKU&amp;nbsp; senang.&amp;nbsp; Manfaatkanlah&amp;nbsp; rukhsohKU&amp;nbsp; sebagaimana&amp;nbsp; engkau &lt;br /&gt;
melaksanakan azimahKU. Tetapi yang Kuinginkan darimu itu adalah yang lebih baik, &lt;br /&gt;
lebih&amp;nbsp; utama,&amp;nbsp; lebih&amp;nbsp; mulia&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; lebih&amp;nbsp; bermanfaat&amp;nbsp; bagi&amp;nbsp; kamu. Yaitu berpuasa, walaupun &lt;br /&gt;
syarat-syarat&amp;nbsp; rukhsoh&amp;nbsp; itu&amp;nbsp; telah&amp;nbsp; terpenuhi,&amp;nbsp; terkecuali&amp;nbsp; orang&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; haidh,&amp;nbsp; tanpa&amp;nbsp; ada &lt;br /&gt;
penyakit yang menimbulkan bahaya. &lt;br /&gt;
Diprioritaskannya&amp;nbsp; ibadah&amp;nbsp; puasa&amp;nbsp; karena&amp;nbsp; itu&amp;nbsp; lebih&amp;nbsp; baik&amp;nbsp; bagi&amp;nbsp; kita.&amp;nbsp; Di&amp;nbsp; mana&amp;nbsp; letaknya &lt;br /&gt;
kelebihan-kelebihannya&amp;nbsp; itu?&amp;nbsp; Hanya&amp;nbsp; Allahlah&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; tahu,&amp;nbsp; ketika&amp;nbsp; Dia&amp;nbsp; mengakhiri&amp;nbsp; ayat &lt;br /&gt;
tersebut dengan firmanNya: "Jika kamu mengetahuinya". &lt;br /&gt;
Yang&amp;nbsp; jelas&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; pasti,&amp;nbsp; kita&amp;nbsp; mengakui&amp;nbsp; bahwa&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; terbaik&amp;nbsp; itu&amp;nbsp; adalah&amp;nbsp; apa-apa&amp;nbsp; yang &lt;br /&gt;
dipilihkan&amp;nbsp; Allah&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp; kita.&amp;nbsp; Karena&amp;nbsp; hanya&amp;nbsp; Dialah&amp;nbsp; Yang&amp;nbsp; Maha&amp;nbsp; Mengetahui.&amp;nbsp; Tidak ada &lt;br /&gt;
satu pun yang dapat menyamai dan menyaingiNya. Maka untuk dirimu, pilihlah yang &lt;br /&gt;
terbaik&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; terindah,&amp;nbsp; karena&amp;nbsp; Allah&amp;nbsp; tidak&amp;nbsp; menjadikan&amp;nbsp; kesulitan&amp;nbsp; bagi&amp;nbsp; kita&amp;nbsp; di&amp;nbsp; dalam &lt;br /&gt;
beribadah&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; kepadaNya.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kewajiban-kewajiban&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; itu&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; dibebankan&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; sesuai&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; dengan &lt;br /&gt;
kemampuan yang ada pada diri masing-masing. Nah, di sinilah medan uji coba itu. &lt;br /&gt;
Di&amp;nbsp; depan&amp;nbsp; kita&amp;nbsp; terbentang&amp;nbsp; beberapa&amp;nbsp; tingkatan-tingkatan&amp;nbsp; kemuliaan&amp;nbsp; beserta&amp;nbsp; rangking- &lt;br /&gt;
rangking&amp;nbsp; penghargaanNya.&amp;nbsp; Silahkan&amp;nbsp; kita&amp;nbsp; akan&amp;nbsp; memilih&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; mana,&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; dimana&amp;nbsp; kita &lt;br /&gt;
mau menempatkan diri. Nun di sana ada Syurga Na'im, siapa saja yang memasukinya &lt;br /&gt;
pasti merasa aman dan nyaman. Ada pula Al-Firdaus,&amp;nbsp; Al-A'la. Dan ada pula syurga &lt;br /&gt;
yang tak mungkin dapat dilukiskan oleh hanya sekedar pena. Kita saat ini hanya bisa &lt;br /&gt;
menyebutkan nama-namanya saja, tidak lebih. Ada pun hakekat dari nama-nama yang &lt;br /&gt;
begitu indah itu masih ada di dalam impian dan harapan. Sejenak saja, aku ingin selalu &lt;br /&gt;
bersamamu wahai pemuda, di dunia ini banyak sekali hiasan pemikat yang berkaitan &lt;br /&gt;
dengan tuntutan hidup. Tuntutan mencari popularitas, jabatan, harta dan kesenangan &lt;br /&gt;
duniawi&amp;nbsp; yang&amp;nbsp; begitu&amp;nbsp; semu&amp;nbsp; dan&amp;nbsp; melenakan.&amp;nbsp; Maka&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; puasa,&amp;nbsp; kuharapkan&amp;nbsp; dirimu &lt;br /&gt;
mampu&amp;nbsp; untuk&amp;nbsp; menahan&amp;nbsp; semua&amp;nbsp; pemikat-pemikat&amp;nbsp; semu&amp;nbsp; itu.&amp;nbsp; Kembali&amp;nbsp; bersama-sama &lt;br /&gt;
menegakkan Islam.&lt;br /&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: medium none; color: black; overflow: hidden; text-align: left; text-decoration: none;"&gt;
&lt;br /&gt;
Di Kutip: http://www.karisiakmalang.com/&lt;/div&gt;</content><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/feeds/935747286201044718/comments/default" rel="replies" title="Posting Komentar" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2012/07/panduan-lengkap-ramadhan.html#comment-form" rel="replies" title="0 Komentar" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default/935747286201044718" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default/935747286201044718" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2012/07/panduan-lengkap-ramadhan.html" rel="alternate" title="Panduan lengkap ramadhan" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01974128379563667848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1756756116987703705.post-6336454865851316448</id><published>2012-07-15T13:30:00.000+07:00</published><updated>2012-07-15T13:30:53.499+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ceramah agama"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="religious"/><title type="text">Panduan Praktis “Menghitung Zakat”</title><content type="html">Betapa indahnya Islam memilih kalimat zakat untuk mengungkapkan hak 
harta yang wajib dibayarkan oleh orang yang kaya kepada orang yang 
miskin. Secara etimologi zakat berarti pensucian sebagaimana firman 
Allah :”Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu”. 
(Asy-Syams: 9). Dan zakat berarti memuji dan menghargai seperti firman 
Allah :”Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci”. (An-Najm: 32)&lt;br /&gt;

Zakat juga bermakna tumbuh dan bertambah sebagaimana dikatakan 
zakatuz zar’i artinya tatkala tumbuhan sedang tumbuh merekah dan 
bertambah. Semua makna di atas akan terlihat jelas tatkala seseorang 
telah menunaikan zakat sebagaimana yang akan kami jelaskan dalam kitab 
ini. Ulama syari’ah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan istilah zakat
 adalah hak yang berupa harta yang wajib ditunaikan dalam harta tertentu
 untuk diberikan kepada kelompok tertentu dan dalam waktu tertentu pula.
 Zakat adalah hak orang lain bukan pemberian &amp;amp; karunia dari orang 
kaya kepada orang miskin. Zakat adalah hak harta yang wajib dibayarkan 
dan syari’at Islam telah mengkhususkan harta yg wajib dikeluarkan serta 
kelompok orang yang berhak menerima zakat, juga menjelaskan secara jelas
 tentang waktu yang tepat untuk mengeluarkan kewajiban zakat.&lt;br /&gt;

Allah SWT memberi dorongan untuk berzakat dengan firmanNya :”Ambillah
 zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan 
dan mensucikan mereka.” (At-Taubah: 103). Dan dari hadits Rasulullah SAW
 bahwa beliau bersabda :”Sesungguhnya Allah menerima sodaqah dan 
diambilnya dengan tangan kanan-Nya lalu dikembangkan untuk seseorang di 
antara kalian, seperti seseorang di antara kalian memelihara anak kuda 
yang dimilikinya, hingga sesuap makanan menjadi sebesar gunung Uhud”. 
(HR. Ahmad dan At-Tirmidzi, hadits ini dishahihkan oleh beliau dari Abu 
Hurairah)&lt;br /&gt;

Rasulullah menjelaskan tentang bentuk siksa tersebut dalam haditsnya 
:”Tidaklah seseorang yang memiliki simpanan harta lalu tidak 
mengeluarkan zakatnya melainkan akan dipanaskan dalam Neraka Jahannam, 
lalu dijadikan lempengan-lempengan yang akan disetrikakan di punggung 
dan dahinya hingga Allah memutuskan perkara di antara hamba-Nya pada 
suatu hari yang dihitung sehari sama dengan lima puluh ribu tahun”. 
(Muttafaq ‘alaih dari Abu Hurairah). Pedih dan beratnya siksaan itu 
dikarenakan hak-hak orang miskin yang tertahan sehingga mereka harus 
merasakan kepedihan dan kesengsaraan hidup akibat dari ulah orang-orang 
kaya yang menahan zakat. Islam tidak hanya memberi sanksi di akhirat 
bahkan di dunia Allah memerintahkan kepada negara untuk mengambil dengan
 paksa harta zakat dari mereka yang menghalangi zakat.&lt;br /&gt;

Dan di antara kelebihan negara Islam adalah negara yang pertama kali 
dalam sejarah yang mengobarkan peperangan dalam rangka membela hak orang
 fakir miskin sebagaimana yang terjadi pada zaman pemerintahan Abu Bakar
 Ash-Shiddiq dengan tegas beliau memerangi orang-orang yang menghalangi 
zakat. Zakat adalah peraturan yang menjamin dan memberantas kesenjangan 
sosial yang tidak bisa hanya ditanggulangi dengan mengumpulkan sedekah 
perorangan yang bersifat sunnah belaka. Tujuan utama disyari’atkan zakat
 adalah untuk mengeluarkan orang-orang fakir dari kesulitan hidup yang 
melilit mereka menuju ke kemudahan hidup mereka sehingga mereka bisa 
mempertahankan kehidupannya dan tujuan ini tampak jelas pada kelompok 
penerima zakat dari kalangan gharim (orang terlilit hutang) dan ibnu 
sabil (orang yang sedang dalam bepergian kehabisan bekal). Zakat juga 
berfungsi sebagai pembersih hati bagi para penerima dari penyakit hasad 
dan dengki serta pembersih hati bagi pembayar zakat dari sifat bakhil 
dan kikir.&lt;br /&gt;

Adapun dampak positif bagi perekonomian antara lain mengikis habis 
penimbunan harta yang membuat perekonomian tidak normal, paling tidak 
akan terjadi inflasi tiap tahun sebesar 2½ %, dengan membayar zakat maka
 peredaran keuangan dan transaksinya berjalan secara normal dan akan 
mampu melindungi stabilitas harga pasar walaupun pasar terancam oleh 
penimbunan.&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;Pemasukan Zakat Dalam Islam :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

- Zakat Mata Uang&lt;br /&gt;
- Zakat Utang Piutang&lt;br /&gt;
- Zakat Profesi&lt;br /&gt;
- Zakat Saham dan Kertas Berharga&lt;br /&gt;
- Zakat Perhiasan untuk Wanita&lt;br /&gt;
- Zakat Apartemen, Perkantoran dan Tanah Persewaan&lt;br /&gt;
- Zakat Perdagangan&lt;br /&gt;
- Zakat Hasil Bumi&lt;br /&gt;
- Zakat Peternakan&lt;br /&gt;
- Zakat Madu Tawon&lt;br /&gt;
- Zakat Barang Tambang&lt;br /&gt;
- Zakat Hasil Laut dan Perikanan&lt;br /&gt;
- Zakat Fitrah&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;1- Zakat Mata Uang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Jika harta seseorang senilai 85 gram emas atau 595 gram perak, dengan
 hitungan nilai pd saat dia mengeluarkan zakat sesuai dengan nilai mata 
uang negara orang yang membayar zakat, maka dia keluarkan zakatnya 
sebanyak 2½ %, setelah setiap putaran tahun hijriyah dan harta sampai 
senisab.&lt;br /&gt;

Suatu contoh: Seseorang mempunyai harta sebanyak Rp.10.000.000,-, 
setelah satu tahun putaran, maka dia harus mengeluarkan zakat sebagai 
berikut: Rp.10.000.000,- x 25/1000 = Rp.250.000,-&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;2- Zakat Utang Piutang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Jika seseorang memberi pinjaman kepada orang lain dan masa pinjaman 
berlalu beberapa waktu, maka menurut pendapat ulama yang paling mudah*1,
 orang yang mem beri pinjaman harus mengeluarkan zakat piutang dalam 
jangka setahun saja walaupun hutang tersebut berlalu bertahun-tahun.&lt;br /&gt;

Suatu contoh: Aiman memberi pinjaman uang kepada seseorang yang 
bernama Ahmad sebanyak Rp. 15.000.000,- dan pinjaman tersebut bertahan 
pada Ahmad selama tiga tahun, maka siapa yang wajib mengeluarkan zakat 
dan berapa jumlah zakat yang harus dibayar?&lt;br /&gt;

Yang berkewajiban mengeluarkan zakat adalah Aiman karena dia pemilik 
harta tersebut dan dia wajib mengeluarkan zakat dalam jangka setahun 
saja sebesar:&lt;br /&gt;
Rp.15.000.000,- x 25/1000 x 1 tahun = Rp.375.000,-&lt;br /&gt;

&lt;em&gt;*1 Demikian itu adalah pendapat Imam Malik baik utang yang 
diharapkan pengembaliannya atau tidak dengan syarat tidak diakhirkan 
penyerahannya tersendiri dari zakat. Jika tidak, maka wajib mengeluar 
kan zakat tiap tahun yang telah berlalu dari masa hutang. Sebagaimana 
pendapat Ibnu Qasim Al-Maliki bahwa yang lebih hati-hati adalah 
mengeluarkan zakat piutang setiap tahun sepanjang masa piutang seperti 
pendapat madzhab Hambali.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;3- Zakat Profesi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Jika seorang muslim memperoleh pendapatan dari hasil usaha atau 
profesi tertentu, maka dia boleh mengeluarkan zakatnya langsung 2½ % 
pada saat penerimaan setelah dipotong kebutuhan bulanannya atau menunggu
 putaran satu tahun dan dikeluarkan zakatnya bersama dengan harta benda 
lain yg wajib dizakati senilai 2½ %.&lt;br /&gt;

Suatu contoh: Seseorang memiliki harta yang dizakati setiap tahun di 
awal bulan Muharram, jika dia menerima gaji pada bulan Ramadhan, maka 
dia boleh memilih ketentuan di bawah ini: Mengeluarkan zakat profesi 
dari gaji bulan Rama-dhan tersendiri pada bulan itu *2 atau, Ditunda 
pembayaran zakat profesi digabung dengan harta yang lain dan dikeluarkan
 secara bersama pada bulan Muharram. Secara kaidah bahwa harta itu wajib
 dizakati sekali dalam setahun.&lt;br /&gt;

&lt;em&gt;*2 Termasuk harta profesi antara lain gaji atau pendapatan dari 
suatu profesi atau keahlian, boleh dikeluarkan zakatnya tanpa menunggu 
putaran haul (tahun), tetapi tidak boleh dizakati dua kali dalam 
setahun.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;4- Zakat Saham dan Kertas Berharga&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Saham dan kertas berharga bila telah sampai nisab wajib dikeluarkan 
zakatnya bersama keuntungannya, seperti nisab mata uang dan kadar zakat 
sebesar 2½ %. Suatu contoh: Seseorang memiliki saham, pada saat mau 
mengeluarkan zakatnya, saham tersebut menurut harga pasar senilai 
Rp.50.000.000,- dan tiap tahun mendapat laba sebesar Rp.5.000.000,- 
sehingga jumlah harta keseluruhan sebesar : Rp.50.000.000,- + 
Rp.5.000.000,- = Rp.55.000.000,-.&lt;br /&gt;
Zakatnya: Rp.55.000.000,- x 25/1000 = Rp.1.375.000,-&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;5- Zakat Perhiasan Wanita&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Pendapat tengah-tengah di antara pendapat para ulama adalah pendapat 
yang diriwayatkan dari Anas bin Malik ra, bahwa beliau berfatwa tentang 
wajibnya zakat perhiasan sekali dalam seumur dan bukan setiap putaran 
haul (tahun)*4 , tetapi jika membeli perhiasan lain maka dia harus 
mengeluarkan zakat perhiasan yang baru dibeli itu dengan syarat barang 
tersebut hanya untuk perhiasan*5. Adapun peralatan dan wadah yang 
terbuat dari emas bila telah sampai nisab, maka harus dikeluarkan 
zakatnya. Suatu contoh: Seorang wanita memiliki perhiasan emas seberat 
100 gram yang dipakai untuk perhiasan, bagaimana mengeluarkan zakatnya ?&lt;br /&gt;

Jawab: Wajib bagi wanita mengeluarkan zakat perhiasan tersebut sekali dalam seumur.&lt;br /&gt;
100 x 2½ = 25/100 gr. atau berupa uang senilai 2½ gr.&lt;br /&gt;

Jika dia membeli lagi emas untuk perhiasan seberat 100 gram, maka dia
 harus mengeluarkan zakatnya sebesar 2½ gram sekali saja seumur hidup.&lt;br /&gt;

&lt;em&gt;*4 Pendapat ini terdapat dalam kitab Al-Muhalla 6/78 dan Sunan Kubra 4/138&lt;br /&gt;
*5 Kadar zakat yang wajib dikeluarkan baik emas maupun perak sebesar 2½ %.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;6- Zakat Apartemen, Perkantoran dan Tanah Persewaan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

(A). Barangsiapa yang memiliki apartemen, ruko atau tanah yang 
disewakan, maka dia wajib mengeluarkan zakat dari hasil penyewaan 
sebesar 2½ %, bila telah sampai nisab. Suatu contoh: Seseorang memiliki 
ruko untuk disewakan tahunan dengan nilai sewa sebesar Rp.20.000.000,- 
bagaimana cara mengeluarkan zakatnya ?&lt;br /&gt;
Jawab: Kadar zakatnya 2½%&lt;br /&gt;
Rp.20.000.000,- x 25/1000 = Rp.500.000,-&lt;br /&gt;

Catatan: Jika gedung tersebut belum ada yang menyewa maka belum ada kewajiban mengeluarkan zakat.&lt;br /&gt;

(B). Jika seseorang menjual gedung tersebut, maka dia wajib mengeluarkan zakat dari hasil penjualan sebesar 2½ %.&lt;br /&gt;

Suatu contoh: Seseorang memiliki tanah kosong kemudian dijual dan 
laku seharga Rp.100.000.000,- dan sebelum terjual tanah tersebut berada 
di bawah kepemilikannya selama tiga tahun tanpa mendapatkan keuntungan 
karena tidak ada yang menyewa. Maka dia wajib mengeluarkan zakat dari 
hasil penjualan saja dengan perincian: Rp.100.000.000,- x 25/1000 = 
Rp.2.500.000,-&lt;br /&gt;

Dan dikeluarkan cukup setahun itu saja sesuai dengan pendapat yg paling mudah.*6&lt;br /&gt;

Kaidah: Jika gedung atau tanah tersebut digunakan untuk keperluan pribadi tidak wajib dizakati.&lt;br /&gt;

&lt;em&gt;*6 Demikian itu adalah pendapat dari madzhab Malikiyah, alasan 
mereka bahwa harta persewaan sebelum terjual tidak berkembang sehingga 
tidak harus dizakati. (Lihat Syarh Kabir dan Hasyiyah Dasuqi 1/457).&lt;br /&gt;
Dan untuk lebih hati-hati sebaiknya mengeluarkan zakatnya setiap tahun bila jelas tanah tersebut diproyeksikan untuk niaga.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;7- Zakat Perdagangan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Seorang pedagang hendaknya menghitung jumlah nilai barang dagangan 
dengan harga asli lalu digabungkan dengan keuntungan bersih setelah 
dipotong piutang. Kadar zakatnya 2½%.*7&lt;br /&gt;

Suatu contoh: Seorang pedagang menjumlah barang dagangan di akhir 
tahun dengan jumlah total Rp. 200.000.000,- dan laba bersih sebesar 
Rp.50.000.000,- sementara dia mempunyai hutang sebesar Rp.100.000.000,-.&lt;br /&gt;
Modal dikurangi hutang: Rp.200.000.000,- – Rp. 100.000.000,- = Rp.100.000.000,-&lt;br /&gt;
Jumlah harta zakat: Rp.100.000.000,- + Rp. 50.000.000,- = Rp.150.000.000,-&lt;br /&gt;
Zakatnya: Rp.150.000.000,- x 25/1000 = Rp.3.750.000,-&lt;br /&gt;

&lt;em&gt;*7 Modal tetap tidak wajib dizakati seperti gedung, perkakas dan alat operasional perdagangan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;8- Zakat Tanaman&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Jika biji-bijian atau buah-buahan*8 telah sampai senisab yaitu lima 
wasak atau seberat +/- 670 kg, maka wajib dikeluarkan zakatnya 10% bila 
disiram dengan air hujan dan 5% jika menggunakan alat atau memindah air 
dari tempat lain dengan kendaraan atau yang lainnya. Suatu contoh: 
Seorang petani memetik hasil panen sebanyak lima ton gandum dan dua ton 
korma, maka berapa zakat yang harus dikeluarkan jika dia menggunakan 
alat penyiram tanaman ?&lt;br /&gt;
Zakat gandum: 5000 x 5/100 = 250 kg. dan Zakat korma : 2000 x 5/100 = 100 kg.&lt;br /&gt;

&lt;em&gt;*8 Hasil-hasil pertanian selain biji-bijian dianggap sebagai 
buah-buahan, seperti sayur mayur segar dan buah-buahan masih dalam 
kelompok barang-barang niaga yg kadar zakatnya 2½ %. Meskipun Madzhab 
Hanafi berpendapat wajib mengeluarkan zakat setiap tanaman yang 
ditumbuhkan bumi sekadar 5% atau 10% sebagaimana penjelasan yang telah 
lalu.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;9- Zakat Peternakan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Jika seseorang memiliki lima onta, maka ia wajib mengeluarkan zakat 
seekor kambing dan jika memiliki tiga puluh sapi, maka dia harus 
mengeluarkan tabi’i (sapi yang berumur setahun). Jika memiliki kambing 
empat puluh, maka dia wajib mengeluarkan zakat seekor kambing. Apabila 
jumlah hewan ternak lebih dari hitungan di atas, maka cara mengeluarkan 
zakat seperti pada tabel di bawah ini:&lt;br /&gt;
Selain hewan yang tersebut di atas masuk dalam kelompok barang niaga bila diproyeksikan sebagai barang perdagangan.&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;Tabel Zakat Kambing&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Dari Sampai&lt;br /&gt;
040 sampai 120 nisabnya – 1 Kambing&lt;br /&gt;
121 sampai 200 nisabnya – 2 Kambing&lt;br /&gt;
201 seterusnya nisabnya – 3 Kambing&lt;br /&gt;

Kemudian seterusnya setiap 100 kambing zakatnya seekor kambing&lt;br /&gt;

&lt;em&gt;* Tidak boleh mengambil zakat berupa pejantan, hewan yang sudah tua sekali, cacat atau paling buruk.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;
&lt;em&gt;* Tidak boleh mengambil zakat berupa hewan pincang, hewan betina yang mau melahirkan, hewan potong atau hewan termahal.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;Tabel Zakat Onta&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Dari Sampai&lt;br /&gt;
005 sampai 009 nisabnya 1 Kambing&lt;br /&gt;
010 sampai 014 nisabnya 2 Kambing&lt;br /&gt;
015 sampai 019 nisabnya 3 Kambing&lt;br /&gt;
020 sampai 024 nisabnya 4 Kambing&lt;br /&gt;
025 sampai 035 nisabnya 1 Bintu Makhadh&lt;br /&gt;
036 sampai 045 nisabnya 1 Bintu labun&lt;br /&gt;
046 sampai 060 nisabnya 1 Hiqqah&lt;br /&gt;
061 sampai 075 nisabnya 1 Jad’ah&lt;br /&gt;
076 sampai 090 nisabnya 2 Bintu Labun&lt;br /&gt;
091 sampai 120 nisabnya 2 Hiqqah&lt;br /&gt;
121 seterusnya nisabnya 3 Bintu Labun&lt;br /&gt;

Kemudian setiap 40 onta zakatnya satu Bintu Labun dan setiap 50 onta zakatnya 1 Hiqqah.&lt;br /&gt;

*&lt;em&gt;Bintu Makhadh adalah onta yang telah berumur satu tahun, dinamakan seperti itu karena induknya sedang hamil.&lt;br /&gt;
*Bintu Labun adalah onta yang telah berumur dua tahun, dinamakan seperti itu karena induknya sedang menyusui lagi.&lt;br /&gt;
*Hiqqah adalah onta yang telah berumur tiga tahun, dinamakan seperti itu karena sudah mampu dan berhak dikendarai.&lt;br /&gt;
*Jad’ah adalah onta telah yang berumur empat tahun&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;Tabel Zakat Sapi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Dari Sampai&lt;br /&gt;
30 sampai 39 nisabnya 1 Tabii’ atau Tabii’ah&lt;br /&gt;
40 sampai 59 nisabnya 1 Musinnah&lt;br /&gt;
60 seterusnya nisabnya 2 Tabii’ah&lt;br /&gt;

Kemudian setiap tiga puluh sapi zakatnya satu tabi’i dan setiap empat puluh sapi satu Musinnah.&lt;br /&gt;

&lt;em&gt;* Tabii’ atau Tabii’ah adalah sapi yang telah berumur satu tahun.&lt;br /&gt;
* Musinnah adalah sapi yang telah berumur dua tahun.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;10- Zakat Madu Tawon&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Jika hasil madu mencapai nisab seberat 670 kg, maka harus dikeluarkan
 zakatnya sebesar 10 % dari berat bersih madu setelah dipotong biaya 
produksi.&lt;br /&gt;
Suatu contoh: Zakat 1000 kg madu adalah:&lt;br /&gt;
1000 kg x 10/100 = 100 kg.&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;11- Zakat Barang Tambang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Hasil tambang dan minyak serta gas bumi hasilnya harus disalurkan ke 
Baitul Mal untuk kepentingan umum dan kebutuhan ummat. Jika ada 
seseorang atau perusahaan diberi kesempatan menambang dan mengolah 
barang tambang tersebut, maka dia harus mengeluarkan zakat sebesar 2½ % 
dari penghasilan yang telah dikelola. Termasuk kelompok barang tambang 
yaitu seluruh bahan bangunan seperti batu atau pasir, juga harus 
dikeluarkan zakatnya sebesar 2½ % dari hasil yang telah diperoleh.*9&lt;br /&gt;

&lt;em&gt;*9 Zakat hasil tambang tidak disyaratkan putaran haul (tahun), 
wajib mengeluarkan zakat pada saat barang tambang telah selesai proses 
pengolahan.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;12- Zakat Hasil Laut dan Perikanan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Jika seorang nelayan atau perusahaan pengolah hasil laut menangkap 
ikan kemudian hasil tersebut dijual, maka dia wajib mengeluarkan zakat 
seperti zakat niaga yaitu 2½% (*10) demikian itu bila hasilnya telah 
sampai senisab seperti nisabnya mata uang. Suatu contoh: Suatu 
perusahaan penangkap ikan menghasilkan satu ton, kemudian dijual kepada 
konsumen seharga Rp.4.000.00,-, berapa zakat yang harus di bayar. (*11)&lt;br /&gt;
Zakatnya: Rp.4.000.000,- x 25/1000 = Rp.100.000,-&lt;br /&gt;

&lt;em&gt;*10 Pendapat ini diriwayatkan dari Imam Ahmad seperti yang telah disebutkan dalam kitab Al-Mughni 3/28.&lt;br /&gt;
*11 Artinya nilai jual ikan seharga nisabnya mata uang yaitu 85 gr emas&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;13- Zakat Fitrah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

A. Setiap muslim wajib membayar zakat fitrah setelah matahari 
terbenam akhir bulan Ramadhan dan lebih utama jika dibayarkan sebelum 
keluar shalat Idul Fitri dan boleh dibayarkan dua hari sebelum hari raya
 *12 , demi menjaga kemaslahatan orang fakir.&lt;br /&gt;
Dan haram mengakhirkan pembayaran zakat fitrah hingga habis shalat dan 
barang siapa melakukan perbuatan tersebut, maka harus menggantinya.*13&lt;br /&gt;

B. Seorang muslim wajib membayar zakat untuk dirinya dan orang-orang 
yang menjadi tanggung jawabnya seperti isterinya, anaknya, dan 
pembantunya yang muslim. Akan tetapi boleh bagi seorang isteri atau anak
 atau pembantu membayar zakat sendiri.&lt;br /&gt;

C. Kadar zakat fitrah yang harus dibayar*14 adalah satu sha’ dari 
makanan pokok negara setempat, dan satu sha’ untuk ukuran sekarang 
kira-kira 2,176 kg (ketentuan ini sesuai makanan pokok gandum). Dan kita
 bisa menggunakan tangan untuk menjadi takaran dengan cara kita penuhi 
kedua telapak tangan sebanyak empat kali. Karena satu mud sama dengan 
genggaman dua telapak tangan orang dewasa dan satu sha’ sama dengan 
empat mud.&lt;br /&gt;

Contoh: Seseorang mempunyai satu isteri dan empat orang anak serta 
satu pembantu muslim, berapa dia harus membayar zakat fitrah untuk 
mereka ?&lt;br /&gt;

Dengan ukuran sha’ dia harus membayar 7 x 1 sha’ = 7 sha’&lt;br /&gt;
Dengan takaran atau timbangan sekarang berupa gandum: 7 x 2,176 kg = 
15,232 kg atau lima belas kilo dua ratus tiga puluh dua gram.&lt;br /&gt;
Dan dengan kita meraup gandum dengan dua telapak tangan: 7 x 4 = 28 kali
 raupan dari makanan pokok baik berupa korma, gandum, anggur kering, 
susu kering, jagung atau beras.&lt;br /&gt;

D. Dianjurkan mengeluarkan zakat dengan makanan*15 , Imam Abu Hanifah
 membolehkan membayar dengan uang dan ini pendapat yang lebih mudah 
terlebih bagi lingkungan industri.*16&lt;br /&gt;

Kadar nilai zakat disesuaikan dengan harga makan-an pokok 
masing-masing negara, jika seseorang ingin membayar zakat dengan korma 
sebanyak dua puluh kilo, maka hendaknya dia harus menanyakan harga korma
 per kilo untuk ukuran korma sedang, lalu dihitung dengan mata uang 
setempat.&lt;br /&gt;

&lt;em&gt;*12 Menurut madzhab Hambali boleh mengeluarkan zakat setelah 
pertengahan bulan Ramadhan, pendapat ini lebih mempermudah khususnya 
bagi negara yang menangani langsung pembayaran zakat fitrah, atau jika 
yg menangani itu yayasan-yayasan sosial, sehingga mempermudah mereka 
dalam pengumpulan &amp;amp; pembagiannya pd hari Ied.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;

&lt;em&gt;*13 Lihat Nailul Authar, 4/195. Fiqhuz Zakah: 1/155.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;

&lt;em&gt;*14 Dalam zakat fitrah tidak mengenal nisab, di saat ada 
kelebihan dari kebutuhan makanan pada malam hari raya untuk dirinya dan 
keluarganya, maka seseorang wajib membayar zakat fitrah.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;

&lt;em&gt;*15 Para ulama madzhab tiga (Imam Malik, Syafi’i dan Ahmad) tidak membolehkan mengeluarkan zakat fitrah dengan uang.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;

&lt;em&gt;*16 Fiqhuz Zakah , 1/949.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;

Penulis pernah membuat semacam ide yg disampaikan lewat mimbar pd 
tahun 1404 H. hendaknya zakat fitrah dikelola oleh pemerintah atau 
Lembaga Islam kemudian disalurkan kepada yang berhak dan yang 
membutuhkan baik di dalam maupun luar negeri khususnya negara-negara 
yang terkena krisis seperti negara Afrika atau Asia yang banyak 
menderita kelaparan. Apalagi kristenisasi sangat gencar dengan berkedok 
bantuan sosial berupa makanan atau obat-obatan untuk bantuan kelaparan 
dan bencana alam dimanfaatkan untuk pemurtadan sehingga banyak di antara
 kaum muslim in yang keluar dari Islam hanya karena sesuap nasi seperti 
yang terjadi di Indonesia.&lt;br /&gt;

Jika zakat fitrah tersebut bisa dikumpulkan setelah pertengahan bulan
 Ramadhan, maka sangat mungkin zakat fitrah tersebut disalurkan kepada 
yang berhak pada waktu itu juga. Dengan demikian pada saat hari raya 
orang-orang kelaparan bisa merasa kenyang dan kecukupan, bila tidak apa 
mungkin seseorang dipaksa bergembira di hari raya sementara kelaparan 
melilitnya.&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;Yang Berhak Menerima Zakat itu antara lain :&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

- Kefaqiran dan Kekurangan&lt;br /&gt;
- Orang yang Tidak Mampu Bekerja dan Pengangguran yang Terpaksa&lt;br /&gt;
- Biaya Pengumpulan dan Pembagian Zakat&lt;br /&gt;
- Orang yang Diharapkan Keislamannya&lt;br /&gt;
- Pemerdekaan Budak dan Pembebasan Sandera&lt;br /&gt;
- Membayar Utang Orang-orang yang Terhimpit utang&lt;br /&gt;
- Jihad dan Perang di Jalan Allah&lt;br /&gt;
- Orang yang Sedang Bepergian dan Mendapat Kecelakaan&lt;br /&gt;

&lt;em&gt;* Fakir adalah orang yang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, termasuk para pegawai kelas rendah yang berpenghasilan kecil.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;

&lt;em&gt;* Miskin adalah orang yang tidak mampu berusaha atau berkarya 
lagi*17 karena cacat atau gangguan lain seperti orang buta, lumpuh atau 
pengangguran yang tidak terelakkan.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;

&lt;em&gt;* Amil pengelola zakat yaitu orang yang diangkat oleh pemerintah untuk menangani pengumpulan, penghitungan dan pembagian zakat.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;

&lt;em&gt;* Mu’allaf adalah orang yang diharapkan keIslamannya atau orang 
yang goyah keislamannya. Boleh memberikan zakat kepada non muslim yang 
terlihat ada kecenderungan terhadap Islam atau orang-orang yang baru 
masuk Islam agar tetap teguh dalam memeluk Islam.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;

&lt;em&gt;* Budak untuk sekarang ini bagiannya boleh disalurkan untuk 
melepas tawanan atau sandera*18 Islam yang ditawan oleh musuh Islam 
sebagaimana pendapat Imam Ahmad.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;

&lt;em&gt;* Gharim adalah orang yang terhimpit oleh utang sementara tidak 
ada harta untuk pengembalian utang tersebut, dengan syarat hutang 
tersebut untuk keperluan hal-hal yang mubah.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;

&lt;em&gt;* Fi Sabilillah adalah orang-orang yang tertahan di medan jihad dalam rangka menegakkan agama Allah.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;

&lt;em&gt;* Ibnu Sabil adalah orang yang sedang bepergian yg tidak mampu 
melanjutkan perjalanan karena sedang kehabisan bekal, kehilangan atau 
kecopetan, termasuk juga anak-anak jalanan dan gelandangan.&lt;br /&gt;
&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;(A). Dalil syar’i&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

Dalil syar’i dari pembagian kelompok di atas berdasarkan firman Allah
 : “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, 
orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk 
hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk 
jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu 
ketetapan yg diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha 
Bijaksana”. (At-Taubah: 60)&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;(B). Orang-orang yang tidak boleh menerima zakat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

- Orang kaya, yaitu orang yg berkecukupan atau mempunyai harta yg sampai nisab.&lt;br /&gt;

- Orang yang kuat yang mampu berusaha untuk mencukupi kebutuhannya 
dan jika penghasilannya tidak mencukupi, maka boleh mengambil zakat.&lt;br /&gt;

- Orang kafir di bawah perlindungan negara Islam, kecuali jika diharapkan untuk masuk Islam.&lt;br /&gt;

- Bapak ibu atau kakek nenek hingga ke atas atau anak-anak hingga ke 
bawah atau isteri dari orang yg mengeluarkan zakat, karena nafkah mereka
 di bawah tanggung jawabnya. Dibolehkan menyalurkan zakat kepada selain 
mereka seperti saudara laki-laki, saudara perempuan, paman dan bibi 
dengan syarat mereka dalam keadaan membutuhkan.&lt;br /&gt;

Setiap muslim hendaknya berhati-hati dalam menyalurkan zakatnya dan 
berusaha sesuai dengan anjuran syari’at, setelah berusaha dan 
berhati-hati ternyata keliru atau kurang tepat, maka dia dimaafkan dan 
tidak diperintahkan untuk mengulangi dalam membayar zakat tersebut. Jika
 tidak berhati-hati dalam menyalurkan zakatnya kemudian ternyata salah 
penempatan tidak sampai pada yang berhak, maka dia wajib mengulangi 
dalam membayar zakat.&lt;br /&gt;

Menurut ijma’ para ulama dibolehkan menyalurkan zakat ke daerah lain 
asalkan daerah tempat tinggalnya sudah tidak membutuhkan lagi. Jika 
memang kondisi sangat membutuhkan seperti salah seorang kerabat yang 
tinggal di daerah lain membutuhkan atau daerah lain lebih membutuhkan 
karena kemiskinan atau kelaparan seperti yang terjadi di Afrika atau 
jihad di Afganistan atau kemiskinan yang terjadi di Banglades.&lt;br /&gt;

Dibolehkan mendahulukan pembayaran zakat dua tahun sebelum datang 
waktu haul (putaran tahun zakat)*19. Ada pun mengakhirkan setelah datang
 waktu pembayaran tidak boleh, kecuali ada maslahat tertentu yang jelas,
 seperti mengakhirkan pembayaran zakat karena menunggu orang fakir yang 
sedang merantau jauh atau kerabat yang sedang membutuhkan. Zakat tidak 
gugur karena ditunda-tunda, barang-siapa yang bertahun-tahun tidak 
membayar zakat, maka dia harus membayar zakat seluruh tahun yang telah 
berlalu dan belum dibayarkan zakatnya. Sebaiknya seseorang yang 
memberikan zakat kepada orang fakir tidak memberitahukan kepadanya bahwa
 pemberian tersebut adalah harta zakat, demikian itu untuk menjaga 
perasaannya. Sebagian ulama *20 membolehkan membayar zakat dengan 
piutang, artinya jika seseorang mempunyai piutang pada orang lain 
sementara orang tersebut susah hidup, maka boleh piutang tersebut 
dibebaskan sebagai zakat yang dibayarkan kepada orang tersebut karena 
demikian itu sama halnya membayar zakat kepada orang yang sedang 
membutuhkan.&lt;br /&gt;

&lt;em&gt;*17 Miskin diambil dari kata sukun yang berarti tidak mampu bergerak.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;

&lt;em&gt;*18 Jika ada budak, maka zakat digunakan untuk memerdekakan budak.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;

&lt;em&gt;*19 Demikian itu berdasarkan tindakan Abbas yang pernah 
mendahulukan pembayaran zakat pada zaman Rasulullah. Madzhab Hanafi 
tidak memberi batasan tahun yang boleh didahulukan (lihat Hasyiyah Ibnu 
Abidin 2/29-30).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;

&lt;em&gt;*20 Diantara mereka adalah Al Hasan Al Basr, ‘Atha’ &amp;amp; Ibnu Hazm, lihat Al-Muhalla, 5/105&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;

Zakat adalah kewajiban agama yang memiliki aturan yang sangat teliti 
dan cermat dari mulai sumber pemasukan atau harta yang wajib dizakati 
hingga pihak-pihak yang berhak menerimanya. Zakat sangat berbeda dengan 
pajak yang harus dibayarkan kepada pemerintah karena hasil pajak 
dibelanjakan untuk kepentingan umum sehingga tidak bisa pajak disamakan 
dengan zakat atau dianggap seperti membayar zakat. Rasa keadilan yang 
terdapat pada syari’at wajib zakat antara lain : Membebaskan harta yang 
kurang dari senisab dari kewajiban zakat. Islam menghindari pembayaran 
zakat dobel sebagaimana sabda Rasulullah :”Janganlah kalian menarik 
zakat berulang kali”. Artinya dobel dua kali. (HR.Abu Ubaidah di Kitab 
Al Amwal). Suatu contoh: Seorang pedagang membeli lima onta, maka dia 
hanya wajib membayar zakat sekali saja atau satu jenis zakat yaitu 
memilih salah satu di antara membayar zakat perniagaan yaitu 2½ % atau 
membayar zakat peternakan yaitu satu kambing.&lt;br /&gt;

Syari’at zakat menghargai jerih payah dalam memberi beban pembayaran 
zakat, barangsiapa yang mengeluarkan jerih payah dalam bercocok tanam, 
maka dia wajib mengeluarkan zakat 5% saja dan jika pengairan ladang 
didapatkan dari air hujan, maka zakatnya 10%. Dan zakat barang tambang 
(temuan) adalah 20% jika mendapatkannya tanpa susah payah. Islam tidak 
mewajibkan zakat terhadap barang-barang perabot perlengkapan rumah 
tangga selagi tidak di pergunakan untuk perniagaan.&lt;br /&gt;

Demikianlah kelebihan syari’at Islam yang penuh dengan keadilan, 
karena syari’at Islam adalah syari’at yang penuh dengan nilai rahmat dan
 kemudahan. – [Penulis : Adil Rasyad Ghanim)&lt;br /&gt;

(Referensi : Asy-Syarhul Kabir: Al-Allamah Ahmad bin Muhammad 
Al-’Adawy (Ad-Dardiry) Hasyiyah Ad-Dasuqi: Muhammad bin Arfah Al-Dasuqi.
 Nailul Authar Syarh Muntaqal Akhbar: Imam Syaukani juz I, tahqiq 
Mustafa Albabi Alhalbi. Al-Mughni: Syaikhul Islam Ibnu Qudamah 
Al-Maqdisi. Al-Muhalla: Imam Ibnu Hazm Al Andalusi. Raddul Muhtaar ‘ala 
Durril Mukhtaar: Muhammad Amin (Ibnu ‘Abidin). Fiqhuz Zakah: Dr.Yusuf 
Qaradhawi. Minhajul Muslim: Syaikh Abu Bakar Al Jazairy. Fiqhus Sunnah: 
Syaikh Sayid Sabiq).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
di kutip&amp;nbsp; dari : Website “Yayasan Al-Sofwa” Jl.Raya 
Lenteng Agung Barat, No.35 Jagakarsa, Jakarta – Selatan (12610) Telpon: 
(021)-788363-27 , Fax:(021)-788363-26 www.alsofwah.or.id ; E-mail: 
info@alsofwah.or.id</content><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/feeds/6336454865851316448/comments/default" rel="replies" title="Posting Komentar" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2012/07/panduan-praktis-menghitung-zakat.html#comment-form" rel="replies" title="0 Komentar" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default/6336454865851316448" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default/6336454865851316448" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2012/07/panduan-praktis-menghitung-zakat.html" rel="alternate" title="Panduan Praktis “Menghitung Zakat”" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01974128379563667848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1756756116987703705.post-5116119861728983581</id><published>2012-07-15T13:12:00.000+07:00</published><updated>2012-07-15T13:12:36.622+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ceramah agama"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="religious"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="renungan"/><title type="text">Manfaat Puasa Bagi Kesehatan</title><content type="html">&lt;table class="contentpaneopen"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;span&gt;Puasa                   -      &lt;/span&gt;
      &lt;span&gt;
             Puasa            &lt;/span&gt;
   &lt;/td&gt;
&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;
&lt;td valign="top"&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
- Berpuasa didefinisikan sebagai periode
 tubuh yang pantang mengasup semua jenis makanan atau makanan tertentu. 
Bertolak belakang dengan persepsi bahwa berpuasa memburuk kesehatan 
tubuh, &lt;strong&gt;puasa&lt;/strong&gt; justru memiliki banyak manfaat bagi tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut
 AJ Carlson, Profesor Fisiologi di Universitas Chicago seperti dikutip 
dari MedIndia menyatakan, orang sehat dan tidak memiliki masalah stres 
serta gangguan emosi dapat bertahan tanpa makanan selama 50-75 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap
 pon lemak manusia setara dengan 3.500 kalori yang bisa digunakan untuk 
melakukan aktivitas fisik berat seharian. Berikut beberapa efek positif 
berpuasa.&lt;br /&gt;



&lt;br /&gt;Menyembuhkan dengan cepat&lt;br /&gt;Hari-hari awal berpuasa merupakan fase 
tersulit. Tubuh akan mengeluarkan sejumlah besar racun melalui aliran 
darah, pori dan organ pembuangan lain. Ini terlihat dari menebalnya 
lapisan lidah dan nafas yang biasanya lebih berbau pada hari-hari 
pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah &lt;strong&gt;puasa&lt;/strong&gt;
 berlanjut pada hari-hari setelahnya, proses pembersihan tubuh 
disempurnakan. Lemak tubuh yang tidak bermanfaat, racun yang 
terakumulasi dalam sel tubuh akan dikeluarkan. Sel yang sakit, sel-sel 
mati, lapisan lendir menebal di dinding usus, limbah aliran darah 
dikeluarkan lewat hati, limpa, dan ginjal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh akan menggunakan
 mineral penting dan vitamin untuk membuang racun dan jaringan tua. Saat
 beban racun tubuh berkurang, efisiensi setiap sel ditingkatkan. 
Sehingga mempercepat proses penyembuhan dan sekaligus menghemat energi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih Energik&lt;br /&gt;Mengapa
 orang merasa lebih energik setelah berpuasa? Selain itu, rasa lapar 
orang yang berpuasa berkurang dibandingkan saat normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak banyak yang mengetahui bahwa tubuh memerlukan energi besar untuk mencerna makanan. &lt;strong&gt;Puasa&lt;/strong&gt; mengistirahatkan sistem pencernaan. Sehingga energi disimpan untuk menyembuhkan diri dan memperbaiki sel tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Energi akan digunakan untuk membersihan dan detoksifikasi usus, darah, serta menyembuhkan sel-sel tubuh dari berbagai penyakit. &lt;strong&gt;Puasa&lt;/strong&gt; meningkatkan kekebalan tubuh, meningkatkan kesehatan fisik dan mental serta&amp;nbsp; meremajakan tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaat khusus&lt;br /&gt;- Mengatasi kecanduan kafein, rokok, nikotin, narkoba dan alkohol.&lt;br /&gt;- &lt;strong&gt;Puasa&lt;/strong&gt; membantu menurunkan kadar kolesterol.&lt;br /&gt;- &lt;strong&gt;Puasa&lt;/strong&gt; mengurangi gangguan sistem pencernaan seperti sembelit, kembung, dan gastritis.&lt;br /&gt;- &lt;strong&gt;Puasa&lt;/strong&gt; dengan kontrol pada penderita diabetes membuat perubahan gaya hidup dan pola makan sehingga akan memperbaiki kondisi mereka.&lt;br /&gt;- &lt;strong&gt;Puasa&lt;/strong&gt;
 meningkatkan kewaspadaan mental. Racun yang dibersihkan dari sistem 
limfatik meningkatkan konsentrasi dan energi untuk melakukan aktivitas.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
di kutip: http://www.kabarislam.com &lt;/div&gt;
&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;</content><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/feeds/5116119861728983581/comments/default" rel="replies" title="Posting Komentar" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2012/07/manfaat-puasa-bagi-kesehatan.html#comment-form" rel="replies" title="0 Komentar" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default/5116119861728983581" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default/5116119861728983581" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2012/07/manfaat-puasa-bagi-kesehatan.html" rel="alternate" title="Manfaat Puasa Bagi Kesehatan" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01974128379563667848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1756756116987703705.post-5512147143621468388</id><published>2012-07-15T13:09:00.000+07:00</published><updated>2012-07-15T13:09:08.613+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ceramah agama"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="religious"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="renungan"/><title type="text">Keutamaan Puasa sunah senin &amp; kamis</title><content type="html">&lt;span class="image"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="color: blue; font-family: 'Lucida Grande',Helvetica,Arial,sans-serif; font-size: 13px; line-height: 24px; margin: 20px 0px; padding: 0px; text-align: center;"&gt;

&lt;strong&gt;Dahsyatnya Puasa Senin Kamis.&lt;/strong&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #555555; font-family: 'Lucida Grande', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 24px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 20px; padding: 0px;"&gt;
&lt;a href="http://lp3i.tarbiyah.uin-malang.ac.id/foto_berita/9images.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://lp3i.tarbiyah.uin-malang.ac.id/foto_berita/9images.jpg" width="160" /&gt;&lt;/a&gt;
Siapa sih yang tidak ingin awet muda, bebas penyakit, sekaligus selamat 
dunia akhirat ? Kalau kita ingin mendapatkan semua itu, cobalah berpuasa
 Senin-Kamis secara teratur.
&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #555555; font-family: 'Lucida Grande', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 24px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 20px; padding: 0px;"&gt;

Kebanyakan dari kita tentunya pernah mendengar puasa Senin Kamis sebagai
 puasa sunnah di dalam Islam. Namun, berapa yang benar-benar berusaha 
merutinkan puasa tersebut ?
&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #555555; font-family: 'Lucida Grande', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 24px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 20px; padding: 0px;"&gt;

Kalau hari itu kebetulan ada acara pengajian dan makan-makan, bukannya 
lebih enak makan-makan ketimbang puasa sunnah ? Kalau pagi itu kebetulan
 tidak sempat sahur, bukannya lebih nyaman absen puasa dulu ? 
Bagaimanapun, puasa Senin Kamis itu hanyalah ‘sunnah’ bukan ?
&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #555555; font-family: 'Lucida Grande', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 24px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 20px; padding: 0px;"&gt;

Tak banyak dari kita yang tahu benar hikmah puasa Senin Kamis dari segi 
spiritual, kesehatan dan keutamaannya di hadapan Allah. Karena itu, 
dalam rubrik tadzkirah IMSIS kali ini, ada baiknya kita mengupas hikmah 
puasa Senin Kamis supaya kita lebih semangat menjalaninya.
&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #555555; font-family: 'Lucida Grande', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 24px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 20px; padding: 0px;"&gt;

Alasan utama mengapa puasa Senin Kamis disunahkan dalam Islam ialah karena Rasulullah sering berpuasa di kedua hari tersebut.
&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #555555; font-family: 'Lucida Grande', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 24px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 20px; padding: 0px;"&gt;

Tapi, apa keutamaan Senin dan Kamis ?
&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #555555; font-family: 'Lucida Grande', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 24px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 20px; padding: 0px;"&gt;

Sehubungan dengan hal ini ada 2 hadis dari Rasulullah yg berkenaan dengan pemilihan hari Senin dan Kamis.
&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #555555; font-family: 'Lucida Grande', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 24px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 20px; padding: 0px;"&gt;

Yang pertama, dalam Hadist Riwayat Ahmad disebutkan bahwa Rasulullah 
mengatakan bahwa semua amal dibentangkan di hari Senin dan Kamis. Karena
 itu, sebagai orang beriman, sungguhlah baik bila pada saat malaikat 
melaporkan amalan kita itu kita tengah berpuasa.
&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #555555; font-family: 'Lucida Grande', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 24px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 20px; padding: 0px;"&gt;

Yang kedua, hari Senin Kamis adalah hari istimewa karena pada hari 
itulah Rasulullah dilahirkan, menjadi rasul dan mendapat wahyu (HR 
Muslim).
&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #555555; font-family: 'Lucida Grande', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 24px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 20px; padding: 0px;"&gt;

Jadi terlihat disini bahwa hari Senin dan Kamis adalah hari istimewa dari sisi religius.
&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #555555; font-family: 'Lucida Grande', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 24px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 20px; padding: 0px;"&gt;

Dari sisi logika, bisa dilihat bahwa hari Senin dan Kamis membagi satu 
‘minggu’ menjadi dua bagian yang hampir sama rata. Jadi&amp;nbsp; kentara sekali 
bahwa puasa Senin Kamis mempunyai fungsi maintenance atau pemeliharaan. 
Analoginya mungkin sama dengan pembagian waktu minum obat kala kita 
sakit. Tentu kita ingat, kala kita sakit, kita sering disuruh minum obat
 2x sehari, yaitu 1x di pagi hari dan 1x di malam hari. Kalau dilihat, 
waktu2 dimana kita disuruh minum obat 2x tersebut membagi kurang lebih 
hari itu menjadi 3 bagian yang sama. Hal ini berlaku juga dengan Senin 
dan Kamis yang membagi satu minggu menjadi dua bagian.
&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #555555; font-family: 'Lucida Grande', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 24px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 20px; padding: 0px;"&gt;

Dengan berpuasa di hari Senin dan Kamis, secara tidak langsung kita 
melakukan maintenance untuk diri kita secara rutin baik dari segi 
spiritual maupun jasmani.
&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #555555; font-family: 'Lucida Grande', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 24px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 20px; padding: 0px;"&gt;

Lalu, apakah keutamaan puasa yang berkelanjutan seperti puasa Senin Kamis ini ?
&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #555555; font-family: 'Lucida Grande', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 24px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 20px; padding: 0px;"&gt;

Keutamaan yang pertama ialah karena puasa Senin Kamis melatih kita 
secara teratur untuk menghindarkan diri dari pekerjaan dosa. Kalau ada 
latihan efektif untuk ‘anger management’ atau latihan kesabaran, maka 
itulah puasa. Karena itu, cocoklah jika dikatakan bahwa puasa adalah 
zakat jiwa, dimana pada saat puasa, kita membuang perangai buruk. 
Sehingga sesudah puasa, emosi dan spiritual kita menjadi lebih bersih.
&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #555555; font-family: 'Lucida Grande', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 24px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 20px; padding: 0px;"&gt;

”Segala sesuatu itu ada zakatnya,sedang zakat jiwa itu adalah berpuasa. Dan puasa itu separo kesabaran”.(HR. Ibnu Majah).
&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #555555; font-family: 'Lucida Grande', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 24px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 20px; padding: 0px;"&gt;

Dengan menghilangnya perangai buruk kita, minimal seminggu dua kali, 
maka bisa juga dikatakan bahwa ”Puasa adalah benteng yg membentengi 
seseorang dari api neraka yg membara”.{HR.Ahmad dan Baihaqi}.
&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #555555; font-family: 'Lucida Grande', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 24px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 20px; padding: 0px;"&gt;

Keutamaan yang kedua ialah karena puasa Senin Kamis bisa meningkatkan 
amalan kita. Biasanya, seseorang yang kekenyangan dan keenakan cenderung
 malas beribadah. Puasa menjadikan kita lebih produktif dalam beribadah 
karena selain kita tidak lagi dalam posisi keenakan, orang yang berpuasa
 juga cenderung ingin beribadah ekstra.&amp;nbsp; Disamping itu, puasa bisa 
melembutkan hati. Ini karena dengan puasa, kita cenderung lebih 
berempati dengan orang-orang yang lebih tidak beruntung dibanding kita. 
Karena itu, puasa bisa menjadikan kita lebih dekat dengan Allah dan 
lebih bertakwa.
&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #555555; font-family: 'Lucida Grande', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 24px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 20px; padding: 0px;"&gt;

Tidaklah salah kalau dalam Quran disebutkan bahwa puasa diperintahkan 
pada kita dan orang2 sebelum kita supaya kita menjadi orang yang 
bertakwa (Al Baqarah 183).
&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #555555; font-family: 'Lucida Grande', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 24px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 20px; padding: 0px;"&gt;

Selain dari keuntungan dari segi emosional spiritual seperti yang 
dijelaskan diatas, puasa juga memiliki keutamaan dari segi kesehatan. 
Sudah bukan rahasia lagi bahwa saat ini sudah ada banyak riset yang 
menyimpulkan bahwa puasa yang teratur itu baik untuk kesehatan.
&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #555555; font-family: 'Lucida Grande', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 24px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 20px; padding: 0px;"&gt;

Manfaat kesehatan dari puasa yang paling populer adalah puasa bisa 
dibilang sebagai cara ampuh untuk membatasi kalori yang masuk ke tubuh 
kita. Dalam Islam dan bidang kedokteran, dianjurkan untuk tidak makan 
berlebihan, karena makanan yang berlebih dan tidak sehat bisa 
menimbulkan penyakit. Lihat saja masyarakat di negara makmur yang mana 
makanan berlimpah. Selain tingkat obesitas tinggi, masyarakat 
negara-negara tersebut banyak yang mengidap diabetes dan jantung yang 
notabene sering dijuluki sebagai penyakit orang kaya.&amp;nbsp; Dengan puasa 
Senin Kamis, paling tidak, dalam dua kali seminggu, kita membatasi 
kalori yang masuk dalam tubuh kita.
&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #555555; font-family: 'Lucida Grande', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 24px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 20px; padding: 0px;"&gt;

Manfaat lain dari puasa ditinjau dari segi kesehatan yang juga banyak 
dipopulerkan adalah fungsi pembersihan dan penyembuhan. Dengan 
istirahatnya sistem&lt;br /&gt;
pencernaan kita selama puasa, maka memungkinkan sistem2 lain di tubuh 
kita untuk bekerja dengan lebih baik, misalnya sistem imunitas. Inilah 
sebabnya mengapa orang yang sakit atau binatang yang terluka suka 
menolak makan. Andaikata kita tidak sedang sakit pun, polisi imunitas 
bekerja keras saat kita puasa. Jika polisi-polisi ini mendeteksi hal-hal
 yang kira-kira nanti bisa membuat kita sakit atau hal-hal abnormal, 
seperti tumbuhnya kista atau tumor, maka pada hari kita puasa, mereka 
bisa memberantasnya.
&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #555555; font-family: 'Lucida Grande', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 24px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 20px; padding: 0px;"&gt;

Sistem detoksifikasi tubuh juga bekerja lebih lancar jika kita tidak 
menerima asupan lagi. Disini, mungkin kita bisa membayangkan sistem 
pembersihan tubuh kita seperti pegawai yang kewalahan mengerjakan 
tugasnya kalau tugas datang bertubi2. Akibatnya, fungsi pembersihan 
tubuh tidak terkerjakan dengan maksimal dan sangat mungkin luput 
mengeliminasi beberapa zat-zat yang kurang baik untuk tubuh kita. Dengan
 berhentinya asupan, maka tugas dari sistem pembersihan tubuh kita 
menjadi lebih manageable sehingga kinerjanya menjadi lebih maksimal.
&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #555555; font-family: 'Lucida Grande', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 24px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 20px; padding: 0px;"&gt;

Sistem peremajaan juga bekerja dengan maksimal saat kita puasa karena 
Allah mendesain tubuh kita untuk mengeluarkan hormon yang erat kaitannya
 dengan anti-aging kala kita puasa. Karena itu tidaklah mengherankan 
jika pada suatu eksperimen ditemukan bahwa cacing yang berpuasa bisa 
hidup 19 generasi lebih lama dibanding cacing yang tidak berpuasa. Kalau
 ada obat anti aging yang ampuh, itulah puasa. Bisa jadi puasa Senin 
Kamis secara teratur nantinya menjadikan kita awet muda dan bebas 
penyakit di hari tua.
&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #555555; font-family: 'Lucida Grande', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 24px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 20px; padding: 0px;"&gt;

Lalu bagaimana dengan orang yang sering mengeluhkan tidak bisa bekerja 
karena kelaparan dan lemas pada saat puasa seperti yg terlihat jelas di 
Indonesia dimana kinerja orang menjadi turun saat puasa? Jika hal ini 
terjadi,&amp;nbsp; bisa jadi kelaparan itu terjadi karena kita tidak bekerja 
dengan baik atau kurang konsentrasi. Yang jelas, puasa tidak mempunyai 
pengaruh buruk terhadap otak dan daya pikir kita. Malahan, sudah ada 
penelitian yang membuktikan bahwa puasa malah meningkatkan daya pikir 
kita.
&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #555555; font-family: 'Lucida Grande', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 24px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 20px; padding: 0px;"&gt;

Masih banyak lagi manfaat kesehatan dari puasa,misalnya puasa bisa&amp;nbsp; 
menghindari atau mengurangi diabetes dan penyakit vascular seperti 
jantung. Yang jelas, kala Sang Pencipta kita mewajibkan kita puasa 
minimum setahun sekali selama Ramadhan , Dia tahu bahwa puasa itu baik 
bagi kita. Bayangkan dahsyatnya puasa kala kita bisa merutinkannya 
seminggu dua kali seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah.
&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #555555; font-family: 'Lucida Grande', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 24px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 20px; padding: 0px;"&gt;

Walaupun begitu, perlu diingat dan digarisbawahi bahwa semua amal 
tergantung niat. Jika niat puasa kita hanyalah dari segi kesehatan, maka
 itulah yang kita dapat. Namun kala niat puasa kita adalah dalam rangka 
meningkatkan kualitas spiritualitas kita dan mendekatkan diri pada Allah
 maka tidak hanya kita mendapat fisik yang prima, namun juga ridho Allah
 dan keselamatan dunia akhirat. Sebagai muslim, ridha Allah terletak di 
atas segala-galanya. Allah sangat menyukai orang yang berpuasa karena 
Allah, sehingga Allah menjanjikan gerbang khusus di surga bagi yang 
gemar berpuasa, yaitu Ar-Rayyan (H.R Muslim).
&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #555555; font-family: 'Lucida Grande', Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 24px; margin-bottom: 20px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 20px; padding: 0px;"&gt;

Maka dari itu, marilah kita galakkan dan rutinkan puasa-puasa sunnah 
seperti puasa Senin Kamis dalam rangka meraih ridha Allah dan salah satu
 cara untuk meraih jannahNya. Insya Allah dengan puasa yang rutin, kita 
tidak hanya mendapat balasan di akhirat nanti, tetapi kita juga mendapat
 keuntungan di dunia berupa kesehatan yang prima dan daya pikir yang 
jernih.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #555555; font-family: 'Lucida Grande',Helvetica,Arial,sans-serif; font-size: 13px; line-height: 24px; margin: 20px 0px; padding: 0px;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: #555555; font-family: 'Lucida Grande',Helvetica,Arial,sans-serif; font-size: 13px; line-height: 24px; margin: 20px 0px; padding: 0px;"&gt;
dikutip dr: http://lp3i.tarbiyah.uin-malang.ac.id &lt;/div&gt;</content><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/feeds/5512147143621468388/comments/default" rel="replies" title="Posting Komentar" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2012/07/keutamaan-puasa-sunah-senin-kamis.html#comment-form" rel="replies" title="0 Komentar" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default/5512147143621468388" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default/5512147143621468388" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2012/07/keutamaan-puasa-sunah-senin-kamis.html" rel="alternate" title="Keutamaan Puasa sunah senin &amp; kamis" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01974128379563667848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1756756116987703705.post-9023592381429679950</id><published>2012-07-15T13:06:00.000+07:00</published><updated>2012-07-15T13:06:21.885+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="artikel"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ceramah agama"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="religious"/><title type="text">HIKMAH PUASA RAMADHAN</title><content type="html">&lt;div style="color: blue;"&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;Oleh Ustaz Syed Hasan Alatas&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="color: blue;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="color: black; font-size: small;"&gt;"Wahai orang-orang yang beriman
! Diwajibkan kepada kamu puasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang
yang sebelum kamu,supaya kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa." (S.al-Baqarah:183)&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: black; font-size: small;"&gt;PUASA menurut syariat ialah menahan
diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa (seperti makan, minum,
hubungan kelamin, dan sebagainya) semenjak terbit fajar sampai terbenamnya
matahari,dengan disertai niat ibadah kepada Allah,karena mengharapkan redho-Nya
dan menyiapkan diri guna meningkatkan Taqwa kepada-Nya.&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: black; font-size: small;"&gt;RAMAHDAH bulan yang banyak mengandung
Hikmah didalamnya.Alangkah gembiranya hati mereka yang beriman dengan kedatangan
bulan Ramadhan. Bukan sahaja telah diarahkan menunaikan Ibadah selama sebulan
penuh dengan balasan pahala yang berlipat ganda,malah dibulan Ramadhan
Allah telah menurunkan kitab suci al-Quranulkarim,yang menjadi petunjuk
bagi seluruh manusia dan untuk membedakan yang benar dengan yang salah.&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: black; font-size: small;"&gt;Puasa Ramadhan akan membersihkan
rohani kita dengan menanamkan perasaan kesabaran, kasih sayang, pemurah,
berkata benar, ikhlas, disiplin, terthindar dari sifat tamak dan rakus,
percaya pada diri sendiri, dsb.&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: black; font-size: small;"&gt;Meskipun makanan dan minuman itu
halal, kita mengawal diri kita untuk tidak makan dan minum dari semenjak
fajar hingga terbenamnya matahari,karena mematuhi perintah Allah.Walaupun
isteri kita sendiri, kita tidak mencampurinya diketika masa berpuasa demi
mematuhi perintah Allah s.w.t.&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: black; font-size: small;"&gt;Ayat puasa itu dimulai dengan firman
Allah:"Wahai orang-orang yang beriman" dan disudahi dengan:" Mudah-mudahan
kamu menjadi orang yang bertaqwa."Jadi jelaslah bagi kita puasa Ramadhan
berdasarkan keimanan dan ketaqwaan.Untuk menjadi orang yang beriman dan
bertaqwa kepada Allah kita diberi kesempatan selama sebulan Ramadhan,melatih
diri kita,menahan hawa nafsu kita dari makan dan minum,mencampuri isteri,menahan
diri dari perkataan dan perbuatan yang sia-sia,seperti berkata bohong,
membuat fitnah dan tipu daya, merasa dengki dan khianat, memecah belah
persatuan ummat, dan berbagai perbuatan jahat lainnya.Rasullah s.a.w.bersabda:&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: black; font-size: small;"&gt;"Bukanlah puasa itu hanya sekedar
menghentikan makan dan minum tetapi puasa itu ialah menghentikan omong-omong
kosong dan kata-kata kotor."&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; font-size: small;"&gt;(H.R.Ibnu Khuzaimah)&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: black; font-size: small;"&gt;Beruntunglah mereka yang dapat berpuasa
selama bulan Ramadhan, karena puasa itu bukan sahaja dapat membersihkan
Rohani manusia juga akan membersihkan Jasmani manusia itu sendiri, puasa
sebagai alat penyembuh yang baik. Semua alat pada tubuh kita senantiasa
digunakan, boleh dikatakan alat-alat itu tidak berehat selama 24 jam. Alhamdulillah
dengan berpuasa kita dapat merehatkan alat pencernaan kita lebih kurang
selama 12 jam setiap harinya. Oleh karena itu dengan berpuasa, organ dalam
tubuh kita dapat bekerja dengan lebih teratur dan berkesan.&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: black; font-size: small;"&gt;Perlu diingat ibadah puasa Ramadhan
akan membawa faaedah bagi kesehatan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; font-size: small;"&gt;rohani dan jasmani kita bila ditunaikan
mengikut panduan yang telah ditetapkan, jika tidak maka hasilnya tidaklah
seberapa malah mungkin ibadah puasa kita sia-sia sahaja.&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: black; font-size: small;"&gt;Allah berfirman yang maksudnya:&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: black; font-size: small;"&gt;"Makan dan minumlah kamu dan janganlah
berlebih-lebihan sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan."
(s.al-A'raf:31)&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: black; font-size: small;"&gt;Nabi s.a.w.juga bersabda:&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: black; font-size: small;"&gt;"Kita ini adalah kaum yang makan
bila lapar, dan makan tidak kenyang."&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: black; font-size: small;"&gt;Tubuh kita memerlukan makanan yang
bergizi mengikut keperluan tubuh kita. Jika kita makan berlebih-lebihan
sudah tentu ia akan membawa muzarat kepada kesehatan kita. Boleh menyebabkan
badan menjadi gemuk, dengan mengakibatkan kepada sakit jantung, darah tinggi,
penyakit kencing manis, dan berbagai penyakit lainnya. Oleh itu makanlah
secara sederhana, terutama sekali ketika berbuka, mudah-mudahan Puasa dibulan
Ramadhan akan membawa kesehatan bagi rohani dan jasmani kita. Insy Allah
kita akan bertemu kembali.&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: black; font-size: small;"&gt;Allah berfirman yang maksudnya:
"Pada bulan Ramadhan diturunkan al-Quran&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; font-size: small;"&gt;pimpinan untuk manusia dan penjelasan
keterangan dari pimpinan kebenaran&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span style="color: black; font-size: small;"&gt;itu, dan yang memisahkan antara
kebenaran dan kebathilan. Barangsiapa menyaksikan (bulan) Ramadhan, hendaklah
ia mengerjakan puasa.&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: black; font-size: small;"&gt;(s.al-Baqarah:185)&lt;/span&gt;</content><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/feeds/9023592381429679950/comments/default" rel="replies" title="Posting Komentar" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2012/07/hikmah-puasa-ramadhan.html#comment-form" rel="replies" title="0 Komentar" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default/9023592381429679950" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default/9023592381429679950" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2012/07/hikmah-puasa-ramadhan.html" rel="alternate" title="HIKMAH PUASA RAMADHAN" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01974128379563667848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1756756116987703705.post-6124857068621125375</id><published>2012-07-15T12:11:00.003+07:00</published><updated>2013-08-21T12:10:53.922+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="media online"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="widget"/><title type="text">Cara Memasang Widget Radio Online Multy Chanel Di Blog/Website</title><content type="html">&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjlsfndA23wP3xMD0T7qqmOfnJv8_PVo55Q3BGnEU_AeXtbHxqEF496X8dCcUe93YQAxkhVE5Pi8I5D8BHPKGuGraiSjSG0kKvdF7YjbtjQ1d4sH_h6zPTGXZNuiZf8gmrmHNg3kS9hzxo/s1600/internet_radio_250x251.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjlsfndA23wP3xMD0T7qqmOfnJv8_PVo55Q3BGnEU_AeXtbHxqEF496X8dCcUe93YQAxkhVE5Pi8I5D8BHPKGuGraiSjSG0kKvdF7YjbtjQ1d4sH_h6zPTGXZNuiZf8gmrmHNg3kS9hzxo/s200/internet_radio_250x251.jpg" width="199" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan memasang radio online di blog memang bisa membuat pengunjung  berlama-lama berada di blog kita,membaca artikel sambil mendengarkan  siaran radio memang menjadi keasyikan tersendiri bagi para  pengunjung.Tapi,adakalanya radio online yang kita pasang di blog justru  membuat pengunjung merasa terganggu karena koneksi yang lambat akan  membuat blog menjadi berat,selain itu pengunjung tidak selalu menyukai  chanel radio online yang kita sediakan oleh sebab itu kita harus  memasang widget radio online yang benar-benar ringan dan tentu saja  tersedia pilihan chanel yang bisa diganti/ Multychanel.Bagi sobat  blogger yang ingin memasang widget radio online multychanel di blog  silakan ikuti langkah - langkah berikut:&lt;/div&gt;&lt;ins style="border: none; display: inline-table; height: 60px; margin: 0px; padding: 0px; position: relative; visibility: visible; width: 468px;"&gt;&lt;/ins&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ins style="border: none; display: block; height: 60px; margin: 0px; padding: 0px; position: relative; visibility: visible; width: 468px;"&gt;&lt;/ins&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Login ke blogger&lt;br /&gt;
2. Pilih tata letak - Add Gadget - HTML/Javascript&lt;br /&gt;
3. Copas Code Berikut&lt;br /&gt;
5. Simpan.&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;code style="color: #330099;"&gt; &lt;/code&gt;&lt;/b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="style1" style="background-color: white; border: 5px solid #000000; overflow: auto; padding: 5px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;b&gt;&lt;code style="color: #330099;"&gt;&lt;span style="color: white;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: blue; font-weight: bold;"&gt;&amp;lt;style type="text/css"&amp;gt;&lt;br /&gt;
#jukebox {&lt;br /&gt;
width: &lt;span style="color: red;"&gt;100%&lt;/span&gt;;&lt;br /&gt;
&amp;lt;/style&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;script type="text/javascript"src="http://radio-minang-multy.googlecode.com/files/radiominangfull.js"&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;/script&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;div id="jukebox" style="height: 86px"&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;select id="cancion" onchange="song()" style="width: 100%; height: 30px" &amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;option selected value="none" /&amp;gt;__Choose Radio here:_ &lt;br /&gt;
&amp;lt;optgroup label="------------------------"&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;option value="http://free.freeshoutcast.com:43488/;stream" /&amp;gt;1.Radio Online Pagarak&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/code&gt;&lt;/b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;b&gt;&lt;code style="color: #330099;"&gt;&lt;span style="color: white;"&gt;&lt;span style="background-color: white; color: blue; font-weight: bold;"&gt;&amp;lt;option value="http://199.167.134.163:7002/;stream" /&amp;gt;2. Radio &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/code&gt;&lt;/b&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;b&gt;&lt;code style="color: #330099;"&gt;&lt;span style="color: white;"&gt;&lt;span style="background-color: white; color: blue; font-weight: bold;"&gt;Serunai Palembang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/code&gt;&lt;/b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;b&gt;&lt;code style="color: #330099;"&gt;&lt;span style="color: white;"&gt;&lt;span style="background-color: white; color: blue; font-weight: bold;"&gt;&amp;lt;option value="http://cast1.onlivestreaming.net:9595/;stream" /&amp;gt;3. Radio Rang Minang&lt;br /&gt;
&amp;lt;option value="http://cast1.onlivestreaming.net:8686/;stream" /&amp;gt;4. Radio Minang Saiyo Online&lt;br /&gt;
&amp;lt;option value="http://96.44.147.234:7094/;stream" /&amp;gt;5. Radio Cimbuak&lt;br /&gt;
&amp;lt;option classyfm.onlivestreaming.net:1034 /;stream" /&amp;gt;4. classyfm&lt;br /&gt;
&amp;lt;option value="http://live.jelitafmbukittinggi.com:8068/;stream" /&amp;gt;5. Jelita FM Bukittinggi&lt;br /&gt;
&amp;lt;option value="http://178.159.0.11:7082" /&amp;gt;6. RADIO ONLINE SULITA (ROS)&lt;br /&gt;
&amp;lt;option value="http://i.klikhost.com:8196" /&amp;gt;7. Radio Online Pasisia&lt;br /&gt;
&amp;lt;option value="http://live.radiosushifm.com:8110" /&amp;gt;8. radio sushi fm&lt;br /&gt;
&amp;lt;option value="http://live.skfmbukittinggi.com:8014" /&amp;gt;9. sk FM Bukittinggi&lt;br /&gt;
&amp;lt;option value="http://starradiofm.indostreamserver.com:8074" /&amp;gt;10. star radio fm&lt;br /&gt;
&amp;lt;option value="http://i.klikhost.net:8150" /&amp;gt;11. Radio Dhara Perbawa Swara Pariaman-Sumbar &lt;br /&gt;
&amp;lt;option value="http://live2.indostreamserver.com:8074" /&amp;gt;12. Radio Dar El Iman&lt;br /&gt;
&amp;lt;option value="http://103.28.148.18:8248" /&amp;gt;13. Radio Swara Andalas Solok&lt;br /&gt;
&amp;lt;option value="http://31.193.140.14:32056" /&amp;gt;14. Radio info Sumbar &lt;br /&gt;
&amp;lt;option value="http://streaming.elsifm.com:1031" /&amp;gt;15. Elsi FM &lt;br /&gt;
&amp;lt;option value="http://103.28.148.18:9016" /&amp;gt;16. Luhak Nan Tuo 102.5 FM&lt;br /&gt;
&amp;lt;option value="http://202.58.243.252:999" /&amp;gt;17. 93,1 Total FM Lima Puluh Kota&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&amp;lt;option value="http://202.129.186.43:7045" /&amp;gt;18. 93.0 FM Respon Radio&lt;br /&gt;
&amp;lt;option value=" " /&amp;gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&amp;lt;/optgroup&amp;gt;&amp;lt;/select&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;span id="music1" style="height: 45px; width: 100%;"&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;object classid="clsid:6BF52A52-394A-11d3-B153-00C04F79FAA6" codebase="http://www.microsoft.com/Windows/MediaPlayer/" id="Player" style="height: 45px; width: 100%;"&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;embed autostart="true" loop="true" showstatusbar="1" showcontrols="true" type="application/x-mplayer2" pluginspage="http://www.microsoft.com/Windows/MediaPlayer/" enablecontextmenu="false" height="65" width="100%"&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;/embed&amp;gt;&amp;lt;/object&amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: white;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/code&gt;&lt;/b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;code style="color: #330099;"&gt; &lt;/code&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;NB:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Untuk kode yang berwarna &lt;span style="color: #cc0000;"&gt;merah&lt;/span&gt; adalah lebar radio,bisa disesuaikan dengan ukuran template &amp;nbsp;&amp;nbsp; sobat.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Untuk pilihan chanel bisa di ganti maupun di tambah sesuai  keinginan sobat,untuk alamat streaming chanel radio lainnya silakan  googling saja.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;Demikian tutorial &lt;a href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2012/07/cara-memasang-widget-radio-online-multy_15.html" rel="nofollow" target="" title=""&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cara Memasang Widget Radio Online Multy Chanel Di Blog&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; semoga bermanfaat dan terima kasih telah berkunjung</content><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/feeds/6124857068621125375/comments/default" rel="replies" title="Posting Komentar" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2012/07/cara-memasang-widget-radio-online-multy_15.html#comment-form" rel="replies" title="5 Komentar" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default/6124857068621125375" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default/6124857068621125375" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2012/07/cara-memasang-widget-radio-online-multy_15.html" rel="alternate" title="Cara Memasang Widget Radio Online Multy Chanel Di Blog/Website" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01974128379563667848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjlsfndA23wP3xMD0T7qqmOfnJv8_PVo55Q3BGnEU_AeXtbHxqEF496X8dCcUe93YQAxkhVE5Pi8I5D8BHPKGuGraiSjSG0kKvdF7YjbtjQ1d4sH_h6zPTGXZNuiZf8gmrmHNg3kS9hzxo/s72-c/internet_radio_250x251.jpg" width="72"/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1756756116987703705.post-8966090548470558487</id><published>2012-06-28T16:19:00.000+07:00</published><updated>2013-11-27T01:30:23.504+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Berita minang"/><title type="text">KAN Motor Penggerak Pembangunan</title><content type="html">&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjNUzTNsrZQMEhwoMVLQfhX-ruRMPQ0lCxn3JH3VDfUZMItA2ekqKuHv81HQySlI5slQ6TCF8o8Trj4SbJVCuV_-ClQSASvepNi-SVZL1HVEhQzy3sE8HczjMCEULVdZAEWwwriLHy9tJY/s1600/Indra+Catri.jpg" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjNUzTNsrZQMEhwoMVLQfhX-ruRMPQ0lCxn3JH3VDfUZMItA2ekqKuHv81HQySlI5slQ6TCF8o8Trj4SbJVCuV_-ClQSASvepNi-SVZL1HVEhQzy3sE8HczjMCEULVdZAEWwwriLHy9tJY/s200/Indra+Catri.jpg" width="137" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Bupati  Agam Indra Catri mengatakan, ninik maka atau penghulu yang ada dalam  Kerapatan Adat Nagari (KAN), merupakan motor penggerak masyarakat,  karena mereka memupunyai peranan penting dalam kelancaran dan kemajuan  pembangunan dalam nagari itu sendiri.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0in; text-align: justify;"&gt;Hal  itu disampaikan Indra Catri Dt.Malako Nan Putiah saat membuka acara  Mubes LKAAM dan Bundo Kanduang Kecamatan Palembayan di Aula UPT Dinas  Pendidikan Kecamatan Palembayan, Rabu (27/6).&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0in; text-align: justify;"&gt;Bupati  menambahkan pembangunan adat dan budaya Minangkabau merupakan salah  satu fasilitas dalam rencana strategi Pemerintah Kabupaten Agam sebagai  perwujudan visi Agam Mandiri dan Berprestasi Yang Madani, yang  selanjutnya visi ini dalam RPJM 2011 sampai dengan 2015 dirumuskan  menjadi Agam yang Agamais, Lestari, Aman, Madani dan Indah.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0in; text-align: justify;"&gt;Kabupaten  Agam dalam RPJM 2011 sampai dengan 2015 telah melaksanakan berbagai  program seperti, pelatihan adat terhadap Pemangku Adat, Alim Ulama,  Bundu Kanduang, Generasi Muda, membentuk kelompok Pasambahan Adat di  Nagari-nagari yang kesemua bertujuan meningkatkan pemahaman pengetahuan  adat minangkabau bagi seluruh komponen masyarakt minangkabau secara umum  dan secara khusus masyarakat Kabupaten Agam.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: .0001pt; margin: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Bupati  berharap dengan selesainya mubes LKAAM dan Bundo Kanduang ini akan  dapat lebih memaikan peranan penting di berbagai plosok nagari di  Kecamatan Palembayan, sehingga sanak kemenakan mengerti akan makna  kehidupan di minangkabau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di kutip dr: http://www.agammediacenter.com</content><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/feeds/8966090548470558487/comments/default" rel="replies" title="Posting Komentar" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2012/06/kan-motor-penggerak-pembangunan.html#comment-form" rel="replies" title="0 Komentar" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default/8966090548470558487" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default/8966090548470558487" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2012/06/kan-motor-penggerak-pembangunan.html" rel="alternate" title="KAN Motor Penggerak Pembangunan" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01974128379563667848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjNUzTNsrZQMEhwoMVLQfhX-ruRMPQ0lCxn3JH3VDfUZMItA2ekqKuHv81HQySlI5slQ6TCF8o8Trj4SbJVCuV_-ClQSASvepNi-SVZL1HVEhQzy3sE8HczjMCEULVdZAEWwwriLHy9tJY/s72-c/Indra+Catri.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1756756116987703705.post-2714579649302212500</id><published>2012-05-30T17:39:00.000+07:00</published><updated>2013-11-27T01:30:23.470+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Budaya minang"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ranah Minang"/><title type="text">MINANG KABAU DALAM TAMBO</title><content type="html">&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjq68rfiYMEBJIAjD9QJSPC5GBFHlRw8stCvqNELawdO50uoIrM0my44KL3H3PF1L8LYQlsH-uzANDkvnZGJCWWZifRwsU2G_KG3RaYU4gs91C0u2mCAZWYS5zHZMuEm5MIRoBRYvpltmtb/s1600/rm.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjq68rfiYMEBJIAjD9QJSPC5GBFHlRw8stCvqNELawdO50uoIrM0my44KL3H3PF1L8LYQlsH-uzANDkvnZGJCWWZifRwsU2G_KG3RaYU4gs91C0u2mCAZWYS5zHZMuEm5MIRoBRYvpltmtb/s1600/rm.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Wilayah budaya Minangkabau  adalah wilayah tempat hidup, tumbuh, dan berkembangnya kebudayaan Minangkabau. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Dalam tambo alam Minangkabau dikatakan wilayah Minangkabau adalah    sebagai berikut:&lt;br /&gt;Nan salilik gunuang Marapi : Daerah luhak nan tigo&lt;br /&gt;Saedaran gunuang Pasaman : Daerah di sekeliling gunung Pasaman&lt;br /&gt;Sajajaran Sago jo Singgalang : Daerah sekitar gunung Sago dan gunung Singgalang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;Saputaran Talang jo Kurinci : Daerah sekitar gunung Talang dan gunung Kerinci&lt;br /&gt;Dari Sirangkak nan badangkang : Daerah Pariangan Padang Panjang dan sekitarnya      &lt;/span&gt; &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Hinggo buayo putiah daguak : Daerah di Pesisir Selatan hingga    Muko-Muko&lt;br /&gt;Sampai ka pintu rajo hilia : Daerah Jambi sebelah barat&lt;br /&gt;Hinggo durian ditakuak rajo : Daerah yang berbatasan dengan Jambi&lt;br /&gt;Sipisau-pisau hanyuik : Daerah sekitar Indragiri Hulu hingga gunung Sailan&lt;br /&gt;Sialang balantak basi : Daerah sekitar gunung Sailan dan Singingi&lt;br /&gt;Hinggo aia babaliak mudiak : Daerah hingga ke rantau pesisir sebelah timur&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Sailiran batang Bangkaweh : Daerah sekitar danau Singkarak dan    batang Ombilin&lt;br /&gt;Sampai ka ombak nan badabua : Daerah hingga Samudra Indonesia&lt;br /&gt;Sailiran batang Sikilang : Daerah sepanjang pinggiran batang Sikilang&lt;br /&gt;Hinggo lauik nan sadidieh : Daerah yang berbatasan dengan Samudra Indonesia&lt;br /&gt;Ka timua Ranah Aia Bangih : Daerah sebelah timur Air Bangis&lt;br /&gt;Rao jo Mapat Tunggua : Daerah di kawasan Rao dan Mapat Tunggua&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Gunuang Mahalintang : Daerah perbatasan dengan Tapanuli selatan&lt;br /&gt;Pasisia banda sapuluah : Daerah sepanjang pantai barat Sumatra&lt;br /&gt;Taratak aia itam : Daerah sekitar Silauik dan Lunang Sampai ka Tanjuang Simalidu&lt;br /&gt;Pucuak Jambi Sambilan Lurah : Daerah hingga Tanjung Simalidu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Batas wilayah Minangkabau menurut tambo:&lt;br /&gt;Utara : Sikilang Aia Bangih&lt;br /&gt;Timur : Durian ditakuak rajo, buayo putiah daguak, sialang balantak basi&lt;br /&gt;Selatan : Taratak aia itam, Muko-Muko&lt;br /&gt;Barat : Ombak nan badabua&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Wilayah Minangkabau dibagi tiga, yaitu daerah darek, daerah    rantau, dan daerah pasisia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;WILAYAH DAREK&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Wilayah darek adalah daerah asli Minangkabau, yakni Luhak Nan    Tigo. Dalam kisah tambo, luhak artinya berkurang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;I. Luhak Tanah Datar&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Luhak Tanah Datar disebut juga luhak nan tuo karena luhak ini adalah  luhak yang    mula-mula ada di Minangkabau. Ungkapan khas luhak ini  “buminyo lembang,    aianyo tawa, ikannyo banyak”. Ini menggambarkan  masyarakatnya yang ramai,    statusnya tidak merata.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Asal usul Luhak Tanah Datar:&lt;br /&gt;Dahulu kala, ketika nenek moyang orang Minangkabau masih tinggal di  puncak gunung    Merapi, ada tiga sumur (luhak). Salah satu dari ketiga  sumur itu ada terletak    di tanah yang datar. Orang yang biasa minum  dari sumur tersebut pindah ke suatu    tempat, yang kemudian dinamakan  Luhak Tanah Datar, sesuai tempat sumur mereka.&lt;br /&gt;Nenek moyang orang  Minangkabau pertama-tama membuat nagari di Pariangan Padang    Panjang.  Lama-kelamaan nagari itu terasa sempit karena penduduk berkembang juga,     dan akhirnya mereka mencari daerah baru. Salah satu daerah itu adalah  daerah    yang tidak datar. Tanahnya berbukit-bukit dan  berlembah-lembah. Nama tempat    itu mereka tetapkan sesuai dengan  kondisi daerahnya, yakni Luhak Tanah Datar.    Luhak disini mengandung  makna “kurang”, jadi daerah yang tanahnya    kurang datar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Nagari-nagari yang termasuk Luhak Tanah Datar:&lt;br /&gt;1. Tampuak Tangkai Pariangan Salapan Koto&lt;br /&gt;Pariangan, Padang Panjang, Guguak, Sikaladi, Koto Tuo, Tanjuang Limau, Sialahan,    Batu Basa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;2. Tujuah Langgam di Hilia&lt;br /&gt;Turawan, Padang Lua, Padang Magek, Sawah Kareh, Kinawai, Balimbiang, Bukik Tamusu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;3. Limo Kaum Duo Baleh Koto&lt;br /&gt;Dusun  Tuo, Balah Labuah, Balai Batu, Kubu Rajo, Piliang, Ngungun, Panti,  Silabuak    Ampalu, Parambahan, Cubadak, Supanjang, Pabalutan, Sawah  Jauah, Rambatan, Tabek    Sawah Tangah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;4. Sambilan Koto di Dalam&lt;br /&gt;Tabek Boto, Salagondo, Baringin, Koto, Baranjak, Lantai Batu, Bukik Gombak,    Sungai Ameh, Ambacang Baririk, Rajo Dani.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;5. Tanjuang Nan Tigo, Lubuak Nan Tigo&lt;br /&gt;Tanjuang Alam, Tanjuang Sungayang, Tanjuang Barulak, Lubuak Sikarah, Lubuak    Simauang, Lubuak Sipurai.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;6. Sungai Tarab Tujuah Batu&lt;br /&gt;Limo  Batu, Tigo Batu, Ikua Kapalo Kapak, Randai Gombak Katitiran, Koto Tuo  Pasia    Laweh, Koto Baru, Rao-Rao, Salo Patir Sumaniak, Supayang,  Situmbuak, Gurun Ampalu,    Sijangek Koto Badampiang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;7. Langgam Nan Tujuah&lt;br /&gt;Labutan,  Sungai Jambu, Batipuah Nagari Gadang, Tanjuang Balik Sulik Aia,  Singkarak,    Saniang Baka, Silungkang, Padang Sibusuak, Sumaniak,  Suraso.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;8. Batipuah Sapuluah Koto&lt;br /&gt;Batipuah, Koto Baru Aia Angek, Koto Laweh Pandai Sikek, Panyalaian,  Bukik Suruangan,    Gunuang, Paninjauan, Jaho Tambangan, Pitalah Bungo  Tanjuang, Sumpu Malalo, Singgalang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;9. Lintau Buo Sambilan Koto&lt;br /&gt;Batu Bulek, Balai Tangah, Tanjuang Bonai, Tapi Selo Lubuak Jantan, Buo, Pangian,    Taluak Tigo Jangko.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;strong&gt;II. Luhak Agam&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Luhak Agam disebut juga luhak nan tangah karena setelah berdirinya  Luhak Tanah    datar, luhak Agam-lah yang berdiri. Ungkapan khas luhak  ini “buminyo angek,    aianyo karuah, ikannyo lia”. Ini menggambarkan  masyarakatnya yang berwatak    keras, masyarakatnya heterogen,  persaingan hidup tajam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Asal usul Luhak Agam:&lt;br /&gt;Di gunung  Merapi terdapat pula sumur (luhak) yang ditumbuhi rumput mensiang     (agam). Mereka yang biasa minum di sumur itu pindah ke suatu tempat.  Tempat    pindahnya itu kemudian dinamakan sesuai nama sumur tempat  mereka biasa minum,    yakni Luhak Agam.&lt;br /&gt;Setelah rombongan ke Tanah  Datar berangkat dari Pariangan Padang Panjang, berangkat    pulalah  rombongan kedua menuju utara. Di tempat tujuannya itu mereka menemukan     daerah yang dipenuhi oleh tumbuhan mensiang (agam). Akhirnya tempat  itu dinamakan    Lubuak Agam yang kemudian berubah menjadi Luhak Agam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Nagari-nagari yang termasuk Luhak Agam:&lt;br /&gt;1. Ampek-Ampek Angkek&lt;br /&gt;Agam Biaro Balai Gurah jo Lambah Panampuang, Canduang Koto Laweh jo  Lasi Bukik    Batabuah, Parik Putuih jo Tanjuang Alam, Pasia jo Ampang  Gadang, Kurai Banuhampu    jo Sianok Koto Gadang, Sariak jo sungai Pua,  Batagak Batu Palano, Balingka Koto    Pambatan jo Guguak Tabek, Sirajo,  Kamang Hilia jo Kamang Mudiak, Tilatang jo    Parik Rantang, Kapau jo  Magek, Salo jo Koto Baru, Sungai Janiah jo Tabek Panjang,    Ujuang  Guguak jo Padang Tarok, Sungai Angek jo Sungai Cubadak, Koto Tinggi jo     Kubang Pipik, Koto Gadang Pincuran Puti.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;2. Lawang Nan Tigo Balai&lt;br /&gt;Matua Palembayan, Malalak, Sungai Landie.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;3. Nagari Sakaliliang Danau Maninjau&lt;br /&gt;Maninjau jo Sungai Batang, Sigiran jo Tanjuang Sani, Bayua jo Koto  Kaciak, Koto    Gadang Koto Malintang, Paninjauan jo Batu Kambiang,  Lubuak Basuang jo Manggopoh.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;III. Luhak Limo Puluah Koto&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Luhak Limo Puluah Koto disebut juga luhak nan bungsu karena luhak ini  adalah    luhak yang terakhir berdiri di Minangkabau. Ungkapan khas  luhak ini “buminyo    sajuak, aianyo janiah, ikannyo jinak”. Ini  menggambarkan masyarakatnya    yang homogen dan penuh kerukunan,  memiliki ketenangan dalam berpikir.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Asal usul Luhak Limo Puluah Koto:&lt;br /&gt;Sumur yang ketiga di puncak gunung Merapi menjadi tempat minum 50  keluarga.    Kemudian mereka pindah ke sebelah timur gunung Merapi dan  memberi nama tempat    baru itu dengan Luhak Limo Puluah, kemudian  ditambah dengan kata “koto”    di belakangnya.&lt;br /&gt;Berangkat sebanyak 50  orang dari Pariangan. Sampai di suatu tempat mereka bermalam.     Pagi-pagi ternyata anggota rombongan kurang lima orang, entah ke mana.  Jadi    anggota rombongan telah berkurang (luhak). Lalu anggota  rombongan yang tinggal    membuat daerah baru yang diberi nama Luhak  Limo Puluah Koto.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;Menurut tambo, Luhak Limo Puluah Koto terdiri dari lima bagian:&lt;br /&gt;Sandi : Koto Nan Gadang, Koto Nan Ampek.&lt;br /&gt;Luhak : Mungo, Koto Kaciak, Andaleh, Tanjuang Kubu, Banda Tunggang,  Sungai Kumuyang,    Aua Kuniang, Tanjuang pati, Gadih Angik, Limbukan,  Padang Karambia, Limau Kapeh,    Aia Tabik Limo.&lt;br /&gt;Lareh : Sitanang Muaro Lakin, Ampalu, Halaban, Labuah Gunuang, Tanjuang Gadang,    Unggan, Gunuang Sahilan.&lt;br /&gt;Ranah : Gantiang, Koto Laweh, Suliki, Sungai Rimbang, Tiakar, Balai  Mansiro,    Balai Talang, Balai Kubang, Taeh, Simalanggang, Piobang,  Sungai Baringin, Gurun,    Lubuak Batingkok, Tarantang, Sari Lamak,  Solok, Padang Laweh.&lt;br /&gt;Hulu : Padang Laweh, Sungai Patai, Suliki, Gunuang Sago, Labuah Gunuang, Balai    Koto Tinggi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue; font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: blue; font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;WILAYAH    RANTAU&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;IV.    Rantau Nan Sambilan (Negeri Sembilan)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Daerah  rantau ini terletak    di Malaysia sekarang. Nagarinya adalah Sungai  Ujong, Jelebu, Jehol, Rembau,    Segamat, Naniang, Kelang, Pasir Besar,  dan Jelai.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: blue; font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="color: blue; font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;WILAYAH    PASISIA&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Wilayah  pasisia adalah daerah    sepanjang pantai barat Pulau Sumatra bagian  tengah, membentang dari perbatasan    Minangkabau dengan Tapanuli  selatan hingga Muko-Muko (Bengkulu).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Wilayah pasisia lazim dibagi    dua:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;I.    Pasisia Tiku Pariaman&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;1. Ranah Pasisia&lt;br /&gt;Silauik jo Lunang, Indropuro jo Aia Haji, Pungasan jo Sunagai Tunu,  Labuan Balai    Salasa, Surantiah jo Sungai Sirah, Lakitan jo Koto Baru,  Kambang jo Ampiang    Parak, Taratak jo Batang Kapeh, Salido jo Painan,  Lumpo jo Asam Kumbang, Bayang    Koto Barapak, Tarusan Koto Sabaleh.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;2. Padang Salapan Suku&lt;br /&gt;Lubuak Kilangan, Nan Duo Puluah, Pauah Limo, Pauah Sambilan, Sungai Sapiah,    Lubuak Minturun, Koto Tangah, Lubuak Buayo.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;3. Piaman Laweh&lt;br /&gt;Kasang jo Duku, Sintuak jo Lubuak Aluang, Sunua jo kurai Taji, Toboh jo  Pakandangan,    Tiku jo Pariaman, Nareh jo Sungai Limau, Malai Sungai  Garinggiang, Limo Koto    jo Kampuang Dalam, Sungai Sariak Nan Sabarih,  Duo Kali Sabaleh Anam Lingkuang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;II.    Pasisia Pasaman&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sasak  jo Kinali, Parik Batu    jo Koto Baru, Padang Tujuah jo Aua Kuniang,  Lubuak Pudiang jo Aia Gadang, Sontang    Muaro Kiawai, Sungai Aua jo  Ujuang Gadiang, Parik jo Aia Bangih, Pinaga jo Kajai,    Talu jo  Sinurut, Cubadak jo Simpang Tonang, Rao jo Padang Nunang, Panti Lubuak     Sikapiang, Bonjo jo Kumpalan, Malampeh Alahan Mati Cadang Panjang jo  Aia Manggi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Suku  Minangkabau atau Minang    atau seringkali disebut Orang Padang adalah  suku yang berasal dari provinsi    Sumatera Barat. Suku ini terutama  terkenal karena adatnya yang matrilineal walau    orang-orang Minang  sangat kuat memeluk agama Islam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Suku  Minang terutama menonjol    dalam bidang perdagangan dan pemerintahan.  Kurang lebih dua pertiga dari jumlah    keseluruhan anggota suku ini  berada dalam perantauan. Minang perantauan pada    umumnya bermukim di  kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Pekanbaru, Medan,Batam,     Palembang, dan Surabaya. Untuk di luar wilayah Indonesia, suku Minang  banyak    terdapat di Malaysia (terutama Negeri Sembilan) dan Singapura.  Di seluruh Indonesia    dan bahkan di mancanegara, masakan khas suku  ini, populer dengan sebutan,masakan    Padang sangat terkenal.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Suku  Minang pada masa kolonial    Belanda juga terkenal sebagai suku yang  terpelajar. Oleh sebab itu pula mereka    menyebar di seluruh  Hindia-Belanda sebagai pengajar, ulama dan menjadi pegawai     pemerintah. Di samping itu, mereka juga aktif dalam mengembangkan sastra  Indonesia    modern, dimana hal ini tampak dari banyaknya sastrawan  Indonesia di pada masa    1920 - 1960 yang berasal dari suku Minang.  Pada masa kolonial, kebanyakan dari    mereka yang terpelajar ini datang  dari suatu tempat bernama Koto Gadang, suatu    nagari yang dipisahkan  dari kota Bukittinggi oleh lembah yang bernama Ngarai    Sianok. Sampai  sekarang mayoritas suku Minang menyukai pendidikan, disamping     tentunya perdagangan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;Suku-suku    dalam Etnik Minangkabau&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Dalam  etnis Minangkabau    terdapat banyak lagi klan, yang oleh orang Minang  sendiri hanya disebut dengan    istilah suku. Beberapa suku besar mereka  adalah suku Piliang, Bodi Caniago,    Tanjuang, Koto, Sikumbang,  Malayu, Jambak; selain terdapat pula suku pecahan    dari suku-suku  utama tersebut. Kadang beberapa keluarga dari suku yang sama,    tinggal  dalam suatu rumah yang disebut Rumah Gadang.&lt;br /&gt;Di masa awal Minangkabau mengemuka, hanya ada empat suku dari dua lareh atau    kelarasan (laras). Suku-suku tersebut adalah:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Suku Koto&lt;br /&gt;Suku Piliang&lt;br /&gt;Suku Bodi&lt;br /&gt;Suku Caniago&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Dan dua kelarasan    itu adalah :&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Lareh Koto Piliang yang digagas oleh Datuk Ketumanggungan&lt;br /&gt;Lareh Bodi Caniago, digagas oleh Datuk Perpatih Nan Sebatang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Perbedaan antara    dua kelarasan itu adalah:&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Lareh Koto Piliang menganut sistem budaya Aristokrasi Militeristik&lt;br /&gt;Lareh Bodi Caniago menganut sistem budaya Demokrasi Sosialis&lt;br /&gt;Dalam masa selanjutnya, muncullah satu kelarasan baru bernama Lareh Nan  Panjang,    diprakarsai oleh Datuk Sakalok Dunia Nan Bamego-mego.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Sekarang,  suku-suku dalam    Minangkabau berkembang terus dan sudah mencapai  ratusan suku, yang terkadang    sudah sulit untuk mencari persamaannya  dengan suku induk. Di antara suku-suku    tersebut adalah:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Suku Tanjung&lt;br /&gt;Suku Sikumbang&lt;br /&gt;Suku Sipisang&lt;br /&gt;Suku Bendang&lt;br /&gt;Suku Melayu (Minang)&lt;br /&gt;Suku Guci&lt;br /&gt;Suku Panai&lt;br /&gt;Suku Jambak&lt;br /&gt;Suku Kutianyie&lt;br /&gt;Suku Kampai&lt;br /&gt;Suku Payobada&lt;br /&gt;Suku Pitopang&lt;br /&gt;Suku Mandailiang&lt;br /&gt;Suku Mandaliko&lt;br /&gt;Suku Sumagek&lt;br /&gt;Suku Dalimo&lt;br /&gt;Suku Simabua&lt;br /&gt;Suku Salo&lt;br /&gt;Suku Singkumbang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;strong&gt;Sosial    Kemasyarakatan&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Daerah  Minangkabau terdiri    atas banyak nagari. Nagari ini merupakan daerah  otonom dengan kekuasaan tertinggi    di Minangkabau. Tidak ada kekuasaan  sosial dan politik lainnya yang dapat mencampuri    adat di sebuah  nagari. Nagari yang berbeda akan mungkin sekali mempunyai tipikal     adat yang berbeda. Tiap Nagari dipimpin oleh sebuah dewan yang terdiri  dari    pemimpin-pemimpin suku dari semua suku yang ada di nagari  tersebut. Dewan ini    disebut dengan KAN (Kerapatan Adat Nagari). Dari  hasil musyawarah dan mufakat    dalam dewan inilah sebuah keputusan dan  peraturan yang mengikat untuk nagari    itu dihasilkan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;em&gt;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;em&gt;Kebudayaan&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Dalam  pola keturunan dan    pewarisan adat, suku Minang menganut pola  matrilineal, yang mana hal ini sangatlah    berlainan dari mayoritas  masyarakat dunia menganut pola patrilineal. Terdapat    kontradiksi  antara pola matrilineal dengan pola pewarisan yang diajarkan oleh     agama Islam yang menjadi anutan hampir seluruh suku Minang. Oleh sebab  itu dalam    pola pewarisan suku Minang, dikenallah harta pusaka tinggi  dan harta pusaka    rendah. Harta pusaka tinggi merupakan harta turun  temurun yang diwariskan berdasarkan    garis keturunan ibu, sedangkan  harta pusaka rendah merupakan harta pencarian    yang diwariskan secara  faraidh berdasarkan hukum Islam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Meskipun  menganut pola matrilineal,    masyarakat suku Minang mendasarkan adat  budayanya pada syariah Islam. "Adat    basandi syarak, syarak basandi  kitabullah. Syarak mangato adat mamakai."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;strong&gt;Upacara    dan Festival&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Turun mandi&lt;br /&gt;Batagak pangulu&lt;br /&gt;Turun ka sawah&lt;br /&gt;Manyabik&lt;br /&gt;Hari Rayo&lt;br /&gt;Tabuik&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;em&gt;Kesenian&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Randai&lt;br /&gt;Pencak Silat&lt;br /&gt;Saluang&lt;br /&gt;Talempong&lt;br /&gt;Tari Piring&lt;br /&gt;Tari Payung&lt;br /&gt;Tari Pasambahan&lt;br /&gt;Tari Indang&lt;br /&gt;Sambah manyambah&lt;br /&gt;Nasi Kapau&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;strong&gt;Kerajinan    Tangan&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Songket yang dikerjakan    oleh Pandai Sikek&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;strong&gt;Makanan&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Rendang&lt;br /&gt;Sambal Balado&lt;br /&gt;Kalio&lt;br /&gt;Gulai Cancang&lt;br /&gt;Samba Lado Tanak&lt;br /&gt;Palai&lt;br /&gt;Lamang&lt;br /&gt;Bubur Kampiun&lt;br /&gt;Es Tebak&lt;br /&gt;Gulai Itik&lt;br /&gt;Gulai Kepala Ikan Kakap Merah&lt;br /&gt;Sate Padang&lt;br /&gt;Soto Padang&lt;br /&gt;Asam Padeh&lt;br /&gt;Keripik Jangek&lt;br /&gt;Keripik Balado&lt;br /&gt;Keripik Sanjai&lt;br /&gt;Dakak-dakak&lt;br /&gt;Galamai&lt;br /&gt;Amping Badadih&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;&lt;strong&gt;Minang    Perantauan&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Rumah  Gadang Minang perantauan    merupakan istilah untuk suku Minangkabau  yang hidup di luar provinsi Sumatera    Barat, Indonesia. Etos merantau  orang Minangkabau sangatlah tinggi, bahkan diperkirakan    tertinggi di  Indonesia. Dari hasil studi yang pernah dilakukan oleh Mohctar    Naim,  1973 (Merantau, Minangkabau Voluntary Migration, University of  Singapore),    pada tahun 1961 terdapat sekitar 32 % orang Minang yang  berdomisili di luar    Sumatera Barat, tetapi pada tahun 1971, jumlah  itu meningkat menjadi 44 %. Berarti    hampir separuh orang Minang  berada di luar Sumatra Barat. Melihat data tersebut,    maka berarti ada  perubahan cukup besar pada etos merantau orang Minangkabau    dibanding  suku lainnya di Indonesia. Sebab menurut sensus tahun 1930, perantau     tertinggi di Indonesia adalah orang Bawean (35,9 %), kemudian suku  Batak (14,3    %), lalu Banjar (14,2 %), sedangkan suku Minang hanya  sebesar 10,5 %.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Saat  ini diperkirakan jumlah    Minang perantauan bisa mencapai 70 %, bahkan  lebih. Hal ini berdasarkan penelitian    acak, yang menyebutkan setiap  keluarga di ranah Minang, dua pertiga saudaranya    hidup di  perantauan[rujukan?]. Kini wanita Minangkabau pun sudah lazim merantau.     Tidak hanya karena alasan ikut suami, tapi juga karena ingin  berdagang, meniti    karier dan melanjutkan pendidikan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Merantau  pada etnis Minang    telah berlangsung cukup lama. Migrasi  besar-besaran pertama terjadi pada abad    ke-15, dimana banyak keluarga  Minang yang berpindah ke Negeri Sembilan, Malaysia.    Kemudian  gelombang migrasi berikutnya terjadi pada abad ke-19, yaitu ketika     Minangkabau mendapatkan hak privelese untuk mendiami kawasan kerajaan  Riau-Lingga.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif;"&gt;Di kutip: dr: http://kumbangnago.blogspot.com/&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;</content><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/feeds/2714579649302212500/comments/default" rel="replies" title="Posting Komentar" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2012/05/minang-kabau-dalam-tambo.html#comment-form" rel="replies" title="0 Komentar" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default/2714579649302212500" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default/2714579649302212500" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2012/05/minang-kabau-dalam-tambo.html" rel="alternate" title="MINANG KABAU DALAM TAMBO" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01974128379563667848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjq68rfiYMEBJIAjD9QJSPC5GBFHlRw8stCvqNELawdO50uoIrM0my44KL3H3PF1L8LYQlsH-uzANDkvnZGJCWWZifRwsU2G_KG3RaYU4gs91C0u2mCAZWYS5zHZMuEm5MIRoBRYvpltmtb/s72-c/rm.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1756756116987703705.post-8764728169154370737</id><published>2012-05-30T17:23:00.000+07:00</published><updated>2013-11-27T01:30:23.501+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Budaya minang"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sambah manyambah"/><title type="text">Sambah Manyambah</title><content type="html">Sambah Manyambah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambah-manyambah adalah satu tata cara menurut  adat istiadat Minangkabau, yang mengatur tata tertib dan sopan santun  pembicaraan orang dalam sebuah pertemuan. Kata-kata sambah yang dalam  bahasa Indonesia berarti sembah, diambil dari semacam sikap awal yang  dilakukan oleh setiap orang yang akan melaksanakan pasambahan. Sebelum  memulai pembicaraannya ia harus terlebih dahulu mengangkat dan  mempertemukan kedua telapak tangannya lurus diantara kening dan hidung  bagaikan orang menyembah. Begitu pula sebaliknya sikap yang dilakukan  lawan bicara ketika menerima sembah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap ini saja sudah  menjelaskan intu hakikat dari acara tersebut, yaitu bagaimana  masing-masing pihak yang bertemu dalam satu pertemuan bisa saling  menghormati saling memperlihatkan adat sopan santun dan budi bahasa yang  baik, termasuk dalam mengatur kata-kata yang akan diucapkan. Dan dalam  sambah-manyambah ini bahasa Minang yang dipergunakan memang agak berbeda  dengan bahasa yang diucapkan orang sehari-hari. Bahasa yang dipakai  diambil dari bahasa kesusasteraan Minang lama yang liris prosais, penuh  pepatah petitih dan dalam kalimat-kalimatnya banyak menjajarkan berbagai  ungkapan dan sinonim untuk mempertegas maksud yang disampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didalam  aturan adat Minangkabau, tata cara sambah manyambah ini justru  diletakkan sebagai lembaga pertama tentang adab sopan santun basa basi  yang harus dilakukan oleh setiap orang yang bertemu dalam satu  musyawarah. Sebagaimana gurindam adat menyebut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tasasak putiang ka huluDibawah kiliaran tajiAso mulo rundiang dahuluTigo limbago nan tajali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Partamo  sambah manyambah, kaduo baso jo basi, katigo siriah jo pinang. Sambah  manyambah dalam adaik, tali batali undang-undang, tasabuik bamuluik  manih, muluik manih talempong kato, baso baiak gulo dibibia, pandai  batimbang baso-basi, pandai bamain ereng gendeng, di dalam adaik nan  bapakai, banamo adaik sopan santun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga Tingkat Pasambahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk  zaman sekarang dengan mobilitas dan dinamika kehidupan yang begitu  tinggi, terutama bagi orang-orang yang sudah biasa dikejar-kejar waktu  dikota-kota besar, mendengarkan orang melakukan sambah-manyambah dalam  bentuknya yang masih asli seperti yang terdapat dikampung-kampung di  Sumatera Barat, sering mengundang kebosanan karena panjang dan lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun  menurut tata cara sambah-manyambah tidak ada peraturan yang menetapkan  bahwa orang yang akan melakukan pasambahan harus bisa melafaskan tambo,  yaitu sejarah nenek moyang dan pepatah petitih Minang didalam  pembicaraannya. Karena tujuannya yang utama adalah untuk melihatkan  basa-basi sopan-santun. Jika sikap itu sudah tidak tercermin dalam  tiga-empat kalimat prosais yang disampaikan secara tepat, maka itupun  sudah sah disebut sebagai pasambahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didalam tata cara  sambah-manyambah disebutkan ada tiga macam tingkat pasambahan dengan  tiga macam gaya yang dapat dilakukan dalam tiga acara yang berbeda pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, pidato adat, kedua pasambahan penghulu dan ketiga pasambahan pangka batang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pidato  adat. Ini adalah tingkat yang paling tertinggi yang umumnya cuma  dikuasai oleh para ahlinya dikalangan Penghulu Pucuk. Pembicara bukan  saja sangat mengetahui tentang Undang-undang dan Hukum Adat Minangkabau  tetapi juga sangat hafal mengenai tambo dan sejarah serta sangat fasih  menyebut pepatah petitih lama. Penyampaian kalimat-kalimatnya pun selain  mengikuti gaya liris prosais Minang dengan empat-empat suku kata tiap  kalimat, sering juga mampu membawakannya dalam gaya setengah senandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pidato  adat ini biasanya ditampilkan dalam musyawarah-musyawarah besar para  penghulu yang diadakan dibalairung adat. Yang menguasai gaya dan  kemahiran ini nampaknya sekarang ini tidak banyak lagi bisa ditemukan di  Sumatera Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasambahan Penghulu. Walaupun kemampuan  melakukan pasambahan penghulu ini dahulunya merupakan salah satu syarat  yang harus dimiliki oleh seorang penghulu adat, tapi kenyataan sekarang  tidak semua orang Minang yang menyandang gelar Datuk bisa melakukannya.  Beberapa acara sesuai dengan siklus kehidupan manusia sejak dari  kelahiran sampai kematian, terutama yang menyangkut kehidupan seorang  penghulu, di Minangkabau upacaranya juga harus dilakukan oleh para  penghulu. Akan sangat janggal rasanya jika di dalam upacara semacam itu  ada penghulu yang tidak mampu melakukan pembicaraan dalam gaya  pasambahan. Sehingga lahir idiom lama yang mengatakan Indak panghulu  manulak sambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi dalam upacara pengangkatan seorang atau  sejumlah penghulu baru yang sering dilakukan secara istimewa di  kampung-kampung, maka kemahiran seorang Datuk dalam sambah-manyambah  akan sangat teruji di gelanggang tsb. Malah sering kali gelanggang  semacam itu menjadi ajang bagi para penghulu untuk saling memperagakan  kemahiran masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk acara adat batagak penghulu  inilah, tata cara sambah-manyambah memang diharuskan untuk mengikuti  ketentuan-ketentuan sesuai dengan peraturan yang berlaku menurut luhak  adat masing-masing. Dan sering bagi orang awam nampak panjang  bertele-tele, karena tidak mengerti peraturannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap  pembicaraan harus disampaikan kepada sejumlah orang yang menerima  pembicaraan harus selalu mengulangi pembicaraan orang itu, setiap  menyampaikannya kepada orang lain lagi. Dan pemulangan jawabannya pun  harus melalui siklus yang sama sehingga sampai kembali kepada pembicara  pertama. Inilah yang didalam pepatah-petitih disebut :&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Lamak kato dipakatokan,Lamak samba dikunyah-kunyah,Bakato indak sadang sapatah,Bajalan indak sadang salangkah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasambahan  Pangka Batang. Ini adalah gaya bahasa pasambahan yang dapat dilakukan  oleh siapa saja. Dan bisa ditampilkan dalam acara-acara lain yang bukan  acara batagak penghulu misalnya seperti dalam acara perkawinan. Menurut  kebiasaan yang berlaku sejak dulu di Minangkabau, kewajiban untuk  melakukan sambah-manyambah dalam acara perkawinan tidaklah terpikul  kepada Datuk-datuk tetapi merupakan kewajibana para menantu atau  orang-orang semenda baru yang ada di atas rumah. Mereka inilah yang  lazim diberi tugas untuk menjemput calon mempelai pria, dan akrena itu  pulalah mereka harus menguasai tata tertib berbicara menurut alur  persembahan walaupun secara sederhana. Tata cara yang sederhana inilah  yang didalam kategori sambah manyambah disebut pangka batang. Artinya  menguasai bagian-bagian yang pokok saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian pokok disini,  adalah dalam cara menyampaikan maksud dan tujuan. Pembicara tidaklah  perlu harus mengungkapkan tambo sejarah nagari, hukum adat dll yang sama  sekali tidak ada hubungannya dengan maksud dan tujuan pembicaraan.  Tetapi kalimat-kalimat yang menyiratkan keramahan, tata tertib, basa  basi dan sopan santun, tetap harus dipertahankan sesuai dengan esensi  adat sambah manyambah itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di kutip dr http://adat-budaya-minang.blogspot.com</content><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/feeds/8764728169154370737/comments/default" rel="replies" title="Posting Komentar" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2012/05/sambah-manyambah.html#comment-form" rel="replies" title="0 Komentar" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default/8764728169154370737" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default/8764728169154370737" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2012/05/sambah-manyambah.html" rel="alternate" title="Sambah Manyambah" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01974128379563667848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1756756116987703705.post-558545895791782420</id><published>2012-05-30T17:21:00.000+07:00</published><updated>2013-11-27T01:30:23.485+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Budaya minang"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kato pusako"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ranah Minang"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sejarah"/><title type="text">Ciri dan Adat Orang Minang</title><content type="html">1. Ciri dan Adat Orang Minang&lt;br /&gt;1. Aman dan Damai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila  dipelajari dengan seksama pepatah-pepatah adat Minang, serta fakta-fakta  yang hidup dalam masyarakat seperti masalah perkawinan,sistem  kekerabatan, kedudukan tanah pusaka tinggi, peranan mamak dan  penghulu,kiranya kita dapat membaca konsep-konsep hidup dan kehidupan  yang ada dalam pikiran nenek-moyang kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari konsep-konsep hidup dan kehidupan itu,kita juga dapat memastikan tujuan hidup yang ingin dicapai oleh nenek-moyang kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan hidup itu adalah:&lt;br /&gt;BUMI SANANG PADI MANJADI&lt;br /&gt;TARANAK BAKAMBANG BIAK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumusan  menurut ada Minang ini, agaknya sama dengan masyarakat yang aman damai  makmur ceria dan berkah,seperti diidamkan oleh ajaran Islam  yaitu"Baldatun Taiyibatun wa Robbun Gafuur". Suatu masyarakat yang aman  damai dan selalu dalam penmgampunan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya  kerukunan dan kedamaian dalam lingkungan kekerabatan, barulah mungkin  diupayakan kehidupan yang lebih makmur. Dengan bahasa kekinian dapat  dikatakan bila telah tercapai stabilitas politik, barulah kita mungkin  melaksanakan pembangunan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Masyarakat nan "Sakato"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau  tujuan akan dicapai sudah jelas, yaitu suatu masyarakat yang aman damai  makmur dan berkah , maka kini tinggal bagaimana cara yang perlu  ditempuh untuk mencapai tujuan itu. Kondisi yang bagaimana yang harus  diciptakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut ketentuan adat Minang, tujuan itu akan dapat dicapai bila dapat disiapkan prasarana dan sarana yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang  dimaksud dengan prasarana disini adalah manusia-manusia pendukung adat  Minang, yang mempunyai sifat dan watak seperti diuraikan diatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia  dengan kualitas seperti itulah yang diyakini adat Minang yang akan  dapat membentuk suatu masyarakat yang akan diandalkan sebagai sarana  (wahana) yang akan membawa kepada tujuan yang diidam-idamkan yaitu suatu  masyarakat yang aman damai makmur dan berkah. Suatu Baldatun Taiyibatun  Wa Robbun Gafuur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Corak masyarakat idaman menurut kacamata adat Minang adalah masyarakat nan "sakato".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Unsur-unsur Masyarakat nan sakato&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat  4 unsur yang harus dipatuhi oleh setiap anggota masyarakat untuk dapat  membentuk masyarakat nan sakato. Sakato artinya  sekata-sependapat-semufakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat unsur itu adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Saiyo Sakato&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghadapi  suatu masalah atau pekerjaan, akan selalu terdapat perbedaan pandangan  dan pendirian antar orang satu dengan yang lain sesuai dengan yang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dengan pepatah "kapalo samo hitam, pikiran ba lain-lain".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan  pendapat semacam ini adalah sangat lumrah dan sangat demokratis. Namun  kalau dibiarkan berlanjut, maka akan berakibat masalah itu takkan  terselasaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerjaan itu akan terkatung-katung. Karena itu  harus selalu dicari jalan keluar. Jalan keluar yang ditunjukkan adat  Minang adalah melakukan musyawarah untuk mufakat, bukan musyawarah untuk  melanjutkan pertengkaran. Keputusan boleh bulat (aklamasi) tapi boleh  juga gepeng atau picak (melalui voting).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adat Minang tidak  mengenal istilah "Sepakat untuk tidak se-Mufakat". Bagaimana proses  keputusan diambil, namun setelah ada kata mufakat maka keputusan itu  harus dilaksanakan oleh semua pihak. Keluar kita tetap utuh dan tetap  satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap individu Minang disarankan untuk selalu menjaga  hubungan dengan lingkungannya. Adat Minang tidak terlalu memuja  kemandirian (privacy) menurut ajaran individualisme barat. Adat Minang  mengajarkan supaya membiasakan berembuk dengan lingkungan kendatipun  menyangkut masalah pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian adat Minang mendorong orang Minang lebih mengutamakan "kebersamaan" kendatipun menyangkut urusan pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendatipun  seorang individu Minang menduduki posisi sebagai penguasa seperti dalam  kedudukan mamak-rumah atau pun Penghulu Andiko maka keputusan tidak  mungkin juga diambil sendiri. Karena itu sikap otoriter tidak pernah  disukai rang-orang Minang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adat Minang sangat mendambakan  persatuan dan kesatuan dalam masyarakat Minang. Orang Minang yakin tanpa  persatuan dan kesatuan itu akan menjauhkan mereka dari tujuan  masyarakat yang ingin dicapai.&lt;br /&gt;Mereka memahami pula dalam hidup  berkelompok dalam masyarakat akan selalu terdapat silang selisih, marah  dan sengketa akan selalu terjadi. Antara sanduak dan periukpun tak  pernah sunyi akan selalu ada kegaduhan. Namun demikian orang Minang  mempunyai dasar filosofi yang kuat untuk mengatasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adat  Minang akan selalu mencoba memelihara komunikasi dan kemungkinan  berdialog. Karena dengan cara itu segala masalah akan selalu dapat  dipecahkan melalui musyawarah. Orang Minang menganggap penyelesaian  masalah diluar musyawarah adalah buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mencapai kata  sepakat kadangkala bukanlah hal yang mudah. Karena itu memerlukan  kesabaran, ketabahan dan kadangkala terpaksa menguras tenaga. Namun  demikian musyawarah tetap diupayakan.&lt;br /&gt;b. Sahino Samalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan  kelompok sesuku sangat erat. Hubungan individu sesama anggota kelompok  kaum sangat dekat. Mereka bagaikan suatu kesatuan yang tunggal-bulat.  Jarak antara "kau dan aku" menjadi hampir tidak ada. Istilah "awak"  menggambarkan kedekatan ini. Kalau urusan yang rumit diselesaikan dengan  cara "awak samo awak", semuanya akan menjadi mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedekatan  hubungan dalam kelompok suku ini, menjadikan harga diri individu,  melebur menjadi satu menjadi harga diri kelompok suku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau  seseorang anggota suku diremehkan dalam pergaulan, seluruh anggota suku  merasa tersinggung. Begitu juga bila suatu suku dipermalukan maka  seluruh anggota suku itu akan serentak membela nama baik sukunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Anggo Tanggo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unsur  ketiga yang dapat membentuk masyarakat nan sakato, adalah dapat  diciptakannya pergaulan yang tertib serta disiplin dalam masyarakat. Hal  ini berarti bahwa setiap anggota masyarakat dituntut untuk mematuhi  aturan dan undang-undang, serta mengindahkan pedoman dan petunjuk yang  diberikan penguasa adat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pergaulan hidup akan selalu ada  kesalahan dan kekhilafan. Kesalahan dan kekhilafan itu harus  diselesaikan sesuai aturan. Dengan demikian ketertiban dan ketentraman  akan selalu terjaga.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;d. Sapikua Sajinjiang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  masyarakat yang komunal, semua tugas menjadi tanggungjawab bersama.  Sifat gotong royong menjadi keharusan. Saling membantu dan menunjang  merupakan kewajiban. Yang berat sama dipikul yang ringan sama dijinjing.  Kehidupan antara anggota kaum, bagaikan aur dengan tebing, saling bantu  membantu, saling dukung mendukung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan masyarakat nan sakato  ini diharapkan akan dapat dicapai tujuan hidup dan kehidupan orang  Minang sesuai konsep yang diciptakan nenek moyang orang Minang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUMI SANANG PADI MANJADI&lt;br /&gt;PADI MASAK JAGUNG MAUPIA&lt;br /&gt;ANAK BUAH SANANG SANTOSA&lt;br /&gt;TARANAK BAKAMBANG BIAK&lt;br /&gt;BAPAK KAYO MANDE BATUAH&lt;br /&gt;MAMAK DISAMBAH URANG PULO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di kutip dr: http://adat-budaya-minang.blogspot.com</content><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/feeds/558545895791782420/comments/default" rel="replies" title="Posting Komentar" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2012/05/ciri-dan-adat-orang-minang.html#comment-form" rel="replies" title="0 Komentar" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default/558545895791782420" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default/558545895791782420" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2012/05/ciri-dan-adat-orang-minang.html" rel="alternate" title="Ciri dan Adat Orang Minang" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01974128379563667848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1756756116987703705.post-6155867237201310778</id><published>2012-05-30T17:19:00.000+07:00</published><updated>2013-11-27T01:30:23.489+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kato pusako"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pituah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ranah Minang"/><title type="text">Kerajaan Pertama di Gunung Merapi</title><content type="html">1. Kerajaan Pertama di Gunung Merapi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Maharaja yang Bermahkota&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakan  pula oleh Tambo, bahwa dalam pelayaran putera-putera Raja Iskandar  Zulkarnain tiga bersaudara, dekat pulau Sailan mahkota emas mereka jatuh  ke dalam laut. Sekalian orang pandai selam telah diperintahkan untuk  mengambilnya. Tetapi tidak berhasil, karena mahkota itu dipalut oleh  ular bidai di dasar laut.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ceti Bilang Pandai memanggil seorang pandai mas. Tukang mas itu diperintahkannya untuk membuat sebuah mahkota yang serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah  mahkota itu selesai dengan pertolongan sebuah alat yang mereka namakan  "camin taruih" untuk dapat menirunya dengan sempurna. Setelah selesai  tukang yang membuatnya pun dibunuh, agar rahasia tidak terbongkar dan  jangan dapat ditiru lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu Sri Maharaja Diraja terbangun,  mahkota itu diambilnya dan dikenakannya diatas kepalanya. Ketika  pangeran yang berdua lagi terbangun bukan main sakit hati mereka melihat  mahkota itu sudah dikuasai oleh si bungsu. Maka terjadilah  pertengkaran, sehingga akhirnya mereka terpisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sri Maharaja  Alif meneruskan pelayarannya ke Barat. Ia mendarat di Tanah Rum,  kemudian berkuasa sampai ke Tanah Perancis dan Inggris. Sri Maharaja  Dipang membelok ke Timur, memerintah negeri Cina dan menaklukkan negeri  Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Galundi Nan Baselo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sri Maharaja Diraja turun  sedikit ke bawah dari puncak Gunung Merapi membuat tempat di Galundi Nan  Baselo. Lebih ke baruh lagi belum dapat ditempuh karena lembah-lembah  masih digenangi air, dan kaki bukit ditutupi oleh hutan rimba raya yang  lebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mula-mula dibuatlah beberapa buah taratak. Kemudian  diangsur-angsur membuka tanah untuk dijadikan huma dan ladang.  Teratak-teratak itu makin lama makin ramai, lalu tumbuh menjadi dusun,  dan Galundi Nan Baselo menjadi ramai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sri Maharaja Diraja  menyuruh membuat sumur untuk masing-masing isterinya mengambil air. Ada  sumur yang dibuat ditempat yang banyak agam tumbuh dan pada tempat yang  ditumbuhi kumbuh, sejenis tumbuh-tumbuhan untuk membuat tikar, karung,  kembut dsb. Ada pula ditempat yang agak datar. Ditengah-tengah daerah  itu mengalir sebuah sungai bernama Batang Bengkawas. Karena sungai  itulah lembah Batang Bengkawas menjadi subur sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beratus-ratus  tahun kemudian setelah Sri Maharaja Diraja wafat, bertebaranlah anak  cucunya kemana-mana, berombongan mencari tanah-tanah baru untuk dibuka,  karena air telah menyusut pula. Dalam tambo dikatakan "Tatkalo bumi  barambuang naiak, aia basintak turun".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keturunan Sri Maharaja  Diraja dengan "Si Harimau Campa" yang bersumur ditumbuhi agam berangkat  ke dataran tinggi yang kemudian bernama "Luhak Agam" (luhak = sumur).  Disana mereka membuka tanah-tanah baru. Huma dan teruka-teruka baru  dikerjakan dengan sekuat tenaga. Bandar-bandar untuk mengairi  sawah-sawah dikerjakan dengan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keturunan "Kambing  Hutan" membuka tanah-tanah baru pula di daerah-daerah Gunung Sago, yang  kemudian diberi nama "Luhak 50 Koto" (Payakumbuh) dari luhak yang banyak  ditumbuhi kumbuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keturunan "Anjing yang Mualim" ke Kubang Tigo  Baleh (Solok), keturunan "Kucing Siam" ke Candung-Lasi dan anak-anak  raja beserta keturunannya dari si Anak Raja bermukim tetap di Luhak  Tanah Datar. Lalu mulailah pembangunan semesta membabat hutan belukar,  membuka tanah, mencencang melateh, meneruka, membuat ladang, mendirikan  teratak, membangun dusun, koto dan kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kedatangan Sang Sapurba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersebutlah  kisah seorang raja bernama Sang Sapurba. Di dalam tambo dikatakan  "Datanglah ruso dari Lauik". Kabarnya dia sangat kaya bergelar Raja  Natan Sang Sita Sangkala dari tanah Hindu. Dia mempunyai mahkota emas  yang berumbai-umbai dihiasai dengan mutiara, bertatahkan permata  berkilauan dan ratna mutu manikam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mula-mula ia datang dari tanah  Hindu. Ia mendarat di Bukit Siguntang Maha Meru dekat Palembang. Disana  dia jadi menantu raja Lebar Daun. Dari perkawinannya di Palembang itu  dia memperoleh empat orang anak, dua laki-laki yaitu Sang Nila Utama,  Sang Maniaka; dua perempuan yaitu Cendera Dewi dan Bilal Daun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada  satu hari Sang Sapurba ingin hendak berlayar menduduki Sungai  Indragiri. Setelah lama berlayar, naiklah dia ke darat, akhirnya sampai  di Galundi Nan Baselo. Waktu itu yang berkuasa di Galundi Nan Baselo  ialah Suri Dirajo, seorang dari keturunan Sri Maharaja Diraja. Suri  Diraja tekenal dengan ilmunya yang tinggi, ia bertarak di gua Gunung  Merapi. Karena ilmunya yang tinggi dan pengetahuannya yang dalam, ia  jadi raja yang sangat dihormati dan disenangi oleh penduduk Galundi Nan  Baselo dan di segenap daerah. Ia juga bergelar Sri Maharaja Diraja,  gelar yang dijadikan gelar keturunan raja-raja Gunung Merapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak  negeri terheran-heran melihat kedatangan Sang Sapurba yang serba mewah  dan gagah. Orang banyak menggelarinya "Rusa Emas", karena mahkotanya  yang bercabang-cabang. Oleh karena kecerdikan Suri Dirajo, Sang Sapurba  dijadikan semenda, dikawinkan dengan adiknya bernama Indo Julito. Sang  Sapurba adalah seorang Hindu yang beragama Hindu. Dia menyembah berhala.  Lalu diadakan tempat beribadat di suatu tempat. Tempat ini sampai  sekarang masih bernama Pariangan (per-Hiyang-an = tempat menyembah  Hiyang / Dewa). Dan disitu juga terdapat sebuah candi buatan dari tanah  tempat orang-orang Hindu beribadat. Ada juga yang mengatakan tempat itu  adalah tempat beriang-riang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Raja yang Hanya Sebagai Lambang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang  Sapurba lalu dirajakan dengan memangku gelar Sri Maharaja Diraja juga.  Tetapi yang memegang kendali kuasa pemerintahan tetap Suri Dirajo  sebagai orang tua, sedangkan sang sapurba hanya sebagai lambang.&lt;br /&gt;Untuk  raja dengan permaisurinya dibuatkan istana "Balairung Panjang"  tempatnya juga memerintah. Istana ini konon kabarnya terbuat dari :  tonggaknya teras jelatang, perannya akar lundang, disana terdapat tabuh  dari batang pulut-pulut dan gendangnya dari batang seleguri, getangnya  jangat tuma, mempunyai cenang dan gung, tikar daun hilalang dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena  Pariangan makin lama makin ramai juga Sang Sapurba pindah ke tempat  yang baru di Batu Gedang. Seorang hulubalang yang diperintahkan  melihat-lihat tanah-tanah baru membawa pedang yang panjang. Banyak orang  kampung yang mengikutinya. Mereka menuju ke arah sebelah kanan  Pariangan. Terdapatlah tanah yang baik, lalu dimulai menebang  kayu-kayuan dan membuka tanah-tanah baru. Selama bekerja hulubalang itu  menyandarkan pedang yang panjang itu pada sebuah batu yang besar. Banyak  sekali orang yang pindah ke tempat yang baru itu. Mereka berkampung  disitu, dan kampung baru tempat menyandarkan pedang yang panjang itu,  sampai sekarang masih bernama Padang Panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama kelamaan  Padang Panjang itu jadi ramai sekali. Dengan demikian Pariangan dengan  Padang Panjang menjadi sebuah negeri, negeri pertama di seedaran Gunung  Merapi di seluruh Batang Bengkawas, yaitu negeri Pariangan Padang  Panjang. Untuk kelancaran pemerintahan perlu diangkat orang-orang yang  akan memerintah dibawah raja. Lalu bermufakatlah raja dengan orang-orang  cerdik pandai. Ditanam dua orang untuk Pariangan dan dua orang pula  untuk Padang Panjang. Masing-masing diberi pangkat "penghulu" dan  bergelar "Datuk". · Dt. Bandaro Kayo dan Dt. Seri Maharajo untuk  Pariangan · Dt. Maharajo Basa dan Dt. Sutan Maharajo Basa untuk Padang  Panjang. Orang-orang yang berempat itulah yang mula-mula sekali  dijadikan penghulu di daerah itu. Untuk rapat dibuat Balai Adat. Itulah  balai pertama yang asal sebelum bernama Minangkabau di Pariangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Sikati Muno&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang  orang jahat yang datang dari negeri seberang tiba pula di daerah itu.  Karena tubuhnya yang besar dan tinggi bagai raksasa ia digelari orang  naga "Sikati Muno" yang keluar dari kawah Gunung Merapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rakyat  sangat kepadanya dan didongengkan mereka, bahwa naga itu tubuhnya besar  dan panjangnya ada 60 depa dan kulitnya keras. Ia membawa bencana besar  yang tidak terperikan lagi oleh penduduk. Kerjanya merampok dan telah  merusak kampung-kampung dan dusun-dusun. Padi dan sawah diladang habis  dibinasakannya. Orang telah banyak yang dibunuhnya, laki-laki, perempuan  dan gadis-gadis dikorbankannya. Keempat penghulu dari Pariangan-padang  Panjang diutus Suri Drajo menghadap Sang Sapurba di Batu Gedang tentang  kekacauan yang ditimbuklan oleh Sikati Muno. Untuk menjaga prestisenya  sebagai seorang semenda, Sang Sapurba lalu pergi memerangi Sikati Muno.  Pertarungan hebat pun terjadi berhari-hari lamanya. Pedang Sang Sapurba  sumbing-sumbing sebanyak seratus sembilan puluh. Akhirnya naga Sikati  Muno itu mati dibunuh oleh Sang Sapurba dengan sebilah keris. Keris  tersebut dinamakan "Keris Sikati Muno", keris bertuah, tak diujung  pangkal mengena, jejak ditikam mati juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu amanlah  negeri Pariangan-Padang Panjang, dan semakin lama semakin bertambah  ramai. Oleh sebab itu Sang Sapurba memerintahkan lagi mencari  tanah-tanah baru. Pada suatu hari raja sendiri pergi keluar,  melihat-lihat daerah yang baik dijadikan negeri. Dia berangkat  bersama-sama dengan pengiring-pengiringnya. Ia sampai pada suatu tempat  mata air yang jernih keluar dari bawah pohon tarab. Sang Sapurba  berpikir, tanah itu tentu akan subur sekali dan baik dijadikan negeri.  Lalu diperintahkannyalah membuka tanah-tanah baru ditempat itu. Sampai  sekarang tanah itu dinamakan Sungai Tarab. Kemudian hari jadi  termasyhur, tempat kedudukan "Pamuncak Koto Piliang" Dt. Bandaharo di  Sungai Tarab. Selain itu raja menemui pula setangkai kembang teratai di  daerah itu, kembang yang jadi pujaan bagi orang-orang Hindu. Raja  menyuruh mendirikan sebuah istana di tempat itu. Setelah istana itu siap  raja lalu pindah bertahta dari Pariangan-Padang Panjang ke tempat yang  baru itu, yang kemudian dinamakan negeri Bungo Satangkai, negeri yang  kedua sesudah Pariangan-Padang Panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sumber : http://adat-budaya-minang.blogspot.com)</content><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/feeds/6155867237201310778/comments/default" rel="replies" title="Posting Komentar" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2012/05/kerajaan-pertama-di-gunung-merapi.html#comment-form" rel="replies" title="0 Komentar" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default/6155867237201310778" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default/6155867237201310778" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2012/05/kerajaan-pertama-di-gunung-merapi.html" rel="alternate" title="Kerajaan Pertama di Gunung Merapi" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01974128379563667848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1756756116987703705.post-4511951542884957688</id><published>2012-05-30T17:17:00.000+07:00</published><updated>2013-11-27T01:30:23.481+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kato pusako"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pituah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ranah Minang"/><title type="text">Alam Minangkabau</title><content type="html">&lt;em&gt;A.B. Dt. Majo Indo&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Disadur dari buku "Kato Pusako"&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Elok ranahnyo Minangkabau&lt;br /&gt;Rupo karambia tinggi tinggi&lt;br /&gt;Cando rumpuik gantie gantielan&lt;br /&gt;Rupo pinangnyo linggayuran&lt;br /&gt;Bukik baririk kiri kanan&lt;br /&gt;Gunuang Marapi jo Singgalang&lt;br /&gt;Tandikek jo gunuang Sago&lt;br /&gt;Pasaman jo gunuang Talang&lt;br /&gt;Aianyo janiah ikannyo jinak&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Laweh alamnyo &lt;a href=""&gt;bakeh&lt;/a&gt; tagak&lt;br /&gt;Sawah batumpuak di &lt;a href=""&gt;nan&lt;/a&gt; data&lt;br /&gt;Ladang babidang di nan lereang&lt;br /&gt;Sawah bajanjang banda buatan&lt;br /&gt;Sawah ladang labuah nan pasa&lt;br /&gt;Taranak kambang padi manjadi&lt;br /&gt;Buah jaguang maampai suto&lt;br /&gt;Padi masak jaguang maupiah&lt;br /&gt;Lah masak padi disawah&lt;br /&gt;Padi diladang manguniang pulo&lt;br /&gt;Ladang tabu amnyintak rueh&lt;br /&gt;Pisang badukuang ditandannyo&lt;br /&gt;Antimun mangarang bungo&lt;br /&gt;Batang labu marangtang tali&lt;br /&gt;Buah taruang ayun ayunan&lt;br /&gt;Buah lado manbintang timue&lt;br /&gt;Buah kacang taji tajian&lt;br /&gt;Anak rancak minantu malin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak durian ditakuak rajo&lt;br /&gt;Sialang balantak basi&lt;br /&gt;Buayo nan putiah &lt;a href=""&gt;daguak&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sirangkak nan badangkang&lt;br /&gt;Sampai taratak &lt;a href=""&gt;aia&lt;/a&gt; hitam&lt;br /&gt;Sampai riak nan badabua&lt;br /&gt;Sampai kabateh indrapuro&lt;br /&gt;Sampai ka siak indragiri&lt;br /&gt;Hinggo sipisak pisau hanyuik&lt;br /&gt;Sampai sikilang aia bangih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dima asa titiak palito&lt;br /&gt;Dibaliak telong nan batali&lt;br /&gt;Dimano asa niniak kito&lt;br /&gt;Dari lereang gunuang marapi&lt;br /&gt;Di galundi nan baselo&lt;br /&gt;Dakek bukik siguntang guntang&lt;br /&gt;Di sinan lurah satungka banang&lt;br /&gt;Sinan lurah ndak baraia&lt;br /&gt;Disinan bukik ndak barangin&lt;br /&gt;Sinanlah banta barayun&lt;br /&gt;Disinan batu hamparan putiah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panakiak pisau sirauik&lt;br /&gt;Ambiak galah batang lintabuang&lt;br /&gt;Salodang ambiak ka nyiru&lt;br /&gt;Nan satitiak jadikan lauik&lt;br /&gt;Nan sakapa jadikan gunuang&lt;br /&gt;Alam takambang jadikan guru&lt;br /&gt;Bungka ganok manahan cubo&lt;br /&gt;Ameh batu manahan uji&lt;br /&gt;Naraco pantang bapaliang&lt;br /&gt;Anak nagari sakato hati&lt;br /&gt;Satapak bapantang suruik&lt;br /&gt;Salangkah pantang kumbali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ado pun kasadonyo kito di Minangkabau&lt;br /&gt;Nan disungkuik &lt;a href=""&gt;langik&lt;/a&gt; nan ditanai bumi&lt;br /&gt;Nan saedaran kuliliang gunuang marapi&lt;br /&gt;Nan mahuni daerah bagian baraik&lt;br /&gt;Samato lah banamo pulau andaleh&lt;br /&gt;Bapandirian bak kato nan tuo tuo&lt;br /&gt;Pulai juo nan batingkek naiak&lt;br /&gt;Maninggakan rueh jo buku&lt;br /&gt;Manusia nan bapangkek turun&lt;br /&gt;Maninggakan &lt;a href=""&gt;adaik&lt;/a&gt; jo limbago&lt;br /&gt;Gajah mati maninggakan gadiang&lt;br /&gt;Harimau mati maninggakan &lt;a href=""&gt;balang&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Manusia mati maninggakan jaso&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lah jadi kabiasaan bagi kito&lt;br /&gt;Rantau nan barajo&lt;br /&gt;Luhak nan bapanghulu&lt;br /&gt;Lah dibiasokan pulo dek adaik kito&lt;br /&gt;Adaik nagari nagari nan batuo&lt;br /&gt;Mambuang sagalo nan buruak&lt;br /&gt;Mamakai sagalo nan baiak&lt;br /&gt;Nan sasuai pulo jo kato nabi&lt;br /&gt;Malarang urang babuek jahek&lt;br /&gt;Manyuruah urang babuek baiak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai sajak maso dahulu&lt;br /&gt;Sampai pulo pado maso kini&lt;br /&gt;Sajak samulo sumua di gali&lt;br /&gt;Sajak mulo nagari dihuni&lt;br /&gt;Adaik dipakai, syarak nan lazim&lt;br /&gt;Duo hukum nan lah digunokan&lt;br /&gt;Hukum adaik jo hukum Syarak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di kutip dr: http://adat-budaya-minang.blogspot.com/</content><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/feeds/4511951542884957688/comments/default" rel="replies" title="Posting Komentar" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2012/05/alam-minangkabau.html#comment-form" rel="replies" title="0 Komentar" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default/4511951542884957688" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default/4511951542884957688" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2012/05/alam-minangkabau.html" rel="alternate" title="Alam Minangkabau" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01974128379563667848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1756756116987703705.post-4109037303021697768</id><published>2012-05-25T15:06:00.000+07:00</published><updated>2013-11-27T01:30:23.479+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Berita minang"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="cilotehan"/><title type="text">Raja Negeri Sembilan Berasal Dari Minangkabau</title><content type="html">&lt;b&gt;Fakta-fakta dan &amp;nbsp; &amp;nbsp;problem&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah Pada sebuah tempat yang bernama &amp;nbsp; &amp;nbsp;Sungai Udang kira-kira 23 mil dari Seremban menuju Port Dickson terdapat sebuah &amp;nbsp; &amp;nbsp;makam keramat. Disana didapati juga beberapa batu bersurat seperti tulisan batu &amp;nbsp; &amp;nbsp;bersurat yang terdapat di Batu Sangkar. Orang yang bermakam disana bernama Syekh &amp;nbsp; &amp;nbsp;Ahmad dan berasal dari Minangkabau. Ia meninggal dalam tahun 872 H atau 1467 &amp;nbsp; &amp;nbsp;Masehi. Dan masih menjadi tebakan yang belum terjawab, mengapa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kedatangan Sekh &amp;nbsp; &amp;nbsp;itu dahulu kesini dan dari luahk mana asalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;]&lt;b&gt;aja Berasal Minangkabau&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam naskah pengiriman raja-raja &amp;nbsp; &amp;nbsp;yang delapan orang antaranya dikirimkan ke Rembau, Negeri Sembilan bernama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malenggang &amp;nbsp; &amp;nbsp;Alam. Tetapi bilamana ditinjau sejarah negeri Sembilan raja Minangkabau pertama &amp;nbsp; &amp;nbsp;dikirimkan kesini Raja Mahmud yang kemudian bergelar Raja Malewar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Malewar memegang kekuasaan antara &amp;nbsp; &amp;nbsp;tahun 1773-1795. Beliau mendapat 2 orang anak Tengku Totok dan puteri bernama &amp;nbsp; &amp;nbsp;Tengku Aisah. Beliau ditabalkan di Penajis Rembau dan kemudian pindah ke istana &amp;nbsp; &amp;nbsp;Seri Menanti. Sehingga sekarang masih populer pepatah yang berbunyi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Be raja ke Johor&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Bertali ke Siak&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Bertuan ke Minangkabau&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedatangan beliau ke Negeri Sembilan &amp;nbsp; &amp;nbsp;membawa selembar rambut yang kalau dimasukkan ke dalam sebuah batil atau cerana &amp;nbsp; &amp;nbsp;akan memenuhi batil atau cerana itu. Benda pusaka itu masuh tetap dipergunakan &amp;nbsp; &amp;nbsp;bila menobatkan seorang raja baru. Yang mengherankan kenapa sesudah meninggalnya &amp;nbsp; &amp;nbsp;Raja Malewar dalam tahun 1795 tidak diangkat puteranya menjadi raja melainkan &amp;nbsp; &amp;nbsp;sekali lagi diminta seorang raja dari Minangkabau. Dan dikirimlah Raja Hitam &amp;nbsp; &amp;nbsp;dan dinobatlkan dalam tahun 1795. Raja Hitam kimpoi dengan puteri Raja Malewar &amp;nbsp; &amp;nbsp;yang bernama Tengku Aisyah sayang beliau tidak dikarunia putera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Hitam kimpoi dengan seorang perempuan lain bernama Encek Jingka. Dari isterinya &amp;nbsp; &amp;nbsp;itu beliau mendapat 4 orang putera/puteri bernama : Tengku alang Husin, Tengku &amp;nbsp; &amp;nbsp;Ngah, Tengku Ibrahim dan Tengku Alwi. Dan ketika beliau wafat dalam tahun 1808 &amp;nbsp; &amp;nbsp;mengherankan pula gantinya tidaklah diangkat salah seorang puteranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sekali lagi dikirimkan perutusan &amp;nbsp; &amp;nbsp;ke Pagaruyung untuk meminta seorang raja baru. Dan dikirimlah Raja Lenggang &amp;nbsp; &amp;nbsp;dari Minagkabau dan besar kemungkinan inilah Raja Melenggang Alam yang dikirimkan &amp;nbsp; &amp;nbsp;dari Minangkabau dan tersebut dalam naskah pengiriman raja-raja yang Delapan &amp;nbsp; &amp;nbsp;di Minangkabau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Lenggang memerintah antara tahun &amp;nbsp; &amp;nbsp;1808 sampai tahun 1824. Raja Lenggang kimpoi dengan kedua puteri anak raja Hitam &amp;nbsp; &amp;nbsp;dan mendapat putera dua orang bernama : Tengku Radin dan Tengku Imam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika raja Lenggang meninggal dinobatkanlah &amp;nbsp; &amp;nbsp;Tengku Radin menggantikan almarhum ayah beliau. Dan inilah raja pertama Negeri &amp;nbsp; &amp;nbsp;Sembilan yang diangkat oleh Pemegang Adat dan Undang yang lahir di Negeri Sembilan. &amp;nbsp; &amp;nbsp;Dan keturunan beliaulah yang turun temurun menjadi raja di Negeri Sembilan. &amp;nbsp; &amp;nbsp;Raja Radin digantikan oleh adiknya Raja Imam (1861-1869). Dan selanjutnya raja-raja &amp;nbsp; &amp;nbsp;yang memerintah di Negeri Sembilan : Tengku Ampuan Intan (Pemangku Pejabat) &amp;nbsp; &amp;nbsp;1869-1872, Yang Dipertuan Antah 1872-1888, Tuanku Muhammad 1888-1933, Tuanku &amp;nbsp; &amp;nbsp;Abdul Rahman 3/8/1933-1/4/1960, Tuanku Munawir 5/4/1960-14/4/1967, Tuanku Ja'far &amp;nbsp; &amp;nbsp;dinobatkan 18/4/1967.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Terbentuknya Negeri &amp;nbsp; &amp;nbsp;Sembilan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semasa dahulu kerajaan negeri Sembilan &amp;nbsp; &amp;nbsp;mempunyai hubungan kekeluargaan dengan Minangkabau. Yang menjadi raja dinegeri &amp;nbsp; &amp;nbsp;ini asal berasal dari keturunan Raja Minangkabau. Istananya bernama Seri Menanti. &amp;nbsp; &amp;nbsp;Adat istiadatnya sama dengan Minangkabau, peraturan-peraturannya sebagiannya &amp;nbsp; &amp;nbsp;menurut undang-undang adat di Minangkabau. Mereka mempunyai suku-suku seperti &amp;nbsp; &amp;nbsp;orang Minangkabau tetapi berbeda cara pemakaiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpindahan penduduk ini terjadi &amp;nbsp; &amp;nbsp;bermula pada abad ke :XIV yaitu ketika pemerintah menyarankan supaya rakyat &amp;nbsp; &amp;nbsp;memperkembang Minangkabau sampai jauh-jauh diluar negeri. Mereka harus mencari &amp;nbsp; &amp;nbsp;tanah-tanah baru, daerah-daerah baru dan kemudian menetap didaerah itu. Setengahnya &amp;nbsp; &amp;nbsp;yang bernasib baik dapat menemui tanah kediaman yang subur dan membuka tanah &amp;nbsp; &amp;nbsp;dan membuat perkampungan disitu. Ada pula yang bersatu dengan rakyat asli yang &amp;nbsp; &amp;nbsp;ditemui merka dan menjadi pemimpin disana. Sudah tentu adat-adat, undang-undang, &amp;nbsp; &amp;nbsp;kelaziman dinegeri asalnya yang dipergunakannya pula dinegeri yang baru itu. &amp;nbsp; &amp;nbsp;Sebagai sudah diuraikan orang-orang Minangkabau itu menjalani seluruh daerah &amp;nbsp; &amp;nbsp;: ke Jambi, Palembang, Indragiri, Taoung Kanan dan Tapung Kiri, Siak dan daerah &amp;nbsp; &amp;nbsp;lainya. Sebagiannya menyeberangi Selat Melaka dan sampai di Negeri Sembilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada abad ke XVI pemerintahan negeri &amp;nbsp; &amp;nbsp;mereka disana sudah mulai tersusun saja. Mereka mendirikan kerajan kecil-kecil &amp;nbsp; &amp;nbsp;sebanyak 9 buah dan kesatuan kerajan kecil-kecil itu mereka namakan NEGERI SEMBILAN. &amp;nbsp; &amp;nbsp;Negara ini terjadi sewaktu Minangkabau mempersatukan kerajaan-kerajaan kecil &amp;nbsp; &amp;nbsp;ini dan diperlindungkan dibawah kerajan Johor. Setelah negara kesatuan ini terbentuk &amp;nbsp; &amp;nbsp;dengan mufakat bersama dengan kerajaan Johor dimintalah seorang anak raja Pagaruyung &amp;nbsp; &amp;nbsp;untuk dinobatkan menjadi raja di Negrei Sembilan itu. Pada waktu itulah bermula &amp;nbsp; &amp;nbsp;pemerintahan Yang Dipertuan Seri Menanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asal usul anak negeri disitu kebanyakan &amp;nbsp; &amp;nbsp;dari Luhak Lima Puluh Kota yaitu dari : Payakumbuh, Sarilamak, Mungka, Batu &amp;nbsp; &amp;nbsp;Balang, Batu Hampar, Simalanggang dan sebagian kecil dari Luhak Tanah Datar. &amp;nbsp; &amp;nbsp;Dari negeri-negeri mana mereka berasal maka nama-nama negeri itulah menjadi &amp;nbsp; &amp;nbsp;suku mereka. Sebagian tanda bukti bahwa rakyat Negeri Sembilan itu kebanyakan &amp;nbsp; &amp;nbsp;berasal dari Luhak Lima Puluh Kota sampai sekarang masih terdapat kata-kata &amp;nbsp; &amp;nbsp;adat yang poluler di Lima Puluh Kota : "Lanun kan datang merompak, Bugis &amp;nbsp; &amp;nbsp;kan datang melanggar". Kata-kata adat ini sering tersebut dalam nyanyian &amp;nbsp; &amp;nbsp;Hikayat Anggun nan Tunggal Magek Jabang. Di tanah Melaka kata-kata ini menjadi &amp;nbsp; &amp;nbsp;kata sindiran atau cercaan bagi anak-anak nakal dan dikatakan mereka "anak &amp;nbsp; &amp;nbsp;lanun" atau anak perompak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dibawa kepada jalan sejarah &amp;nbsp; &amp;nbsp;diatas tadi, maka yang dimaksud dengan "lanun" itu ialah perompak, &amp;nbsp; &amp;nbsp;rakyat dari Raja Daeng Kemboja yang hendak merampas Negeri Sebilan. Dan Bugis &amp;nbsp; &amp;nbsp;adalah nama negeri asal Daeng Kemboja tadi. Dan memang aneh, kata lanun yang &amp;nbsp; &amp;nbsp;jadi buah nyanyian oleh rakyat Lima Puluh Kota ini tidak dikenal oleh rakyat &amp;nbsp; &amp;nbsp;Luhak Agam dan sedikit oleh rakyat rakyat Luhak Tanah Datar. Karena memang fakta &amp;nbsp; &amp;nbsp;sejarah keturunan anak negeri Sembilan itu sebagian besar berasal dari Luhak &amp;nbsp; &amp;nbsp;Lima Puluh Kota. Nama suku-suku rakyat disana menjadi bukti yang jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena Sultan Johor sudah memberikan &amp;nbsp; &amp;nbsp;bantuannya dalam melindungi rakyat Negeri Sembilan ini dari jarahan lanun atau &amp;nbsp; &amp;nbsp;Daeng Kemboja, disebabkan ini pulalah Yang Dipertuan Pagaruyung memberikan bantuan &amp;nbsp; &amp;nbsp;kepada Sultan Johor dalam memberikan bantuan ikut bertempur di Siak untuk memerangi &amp;nbsp; &amp;nbsp;bangsa Aceh. Maka hubungan yang demikian rapat semenjak berabad-abad itu menjadikan &amp;nbsp; &amp;nbsp;hubungan antara negara yang akrab : Negeri Sembilan pada khususnya, Indonesia &amp;nbsp; &amp;nbsp;- Malaysia pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : urangminang.com</content><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/feeds/4109037303021697768/comments/default" rel="replies" title="Posting Komentar" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2012/05/raja-negeri-sembilan-berasal-dari.html#comment-form" rel="replies" title="0 Komentar" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default/4109037303021697768" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default/4109037303021697768" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2012/05/raja-negeri-sembilan-berasal-dari.html" rel="alternate" title="Raja Negeri Sembilan Berasal Dari Minangkabau" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01974128379563667848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1756756116987703705.post-9108478270619402082</id><published>2012-05-25T14:53:00.000+07:00</published><updated>2013-11-27T01:30:23.506+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sejarah Islam"/><title type="text">Pertempuran Balat al-Syuhada</title><content type="html">&lt;span style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px;"&gt;&lt;b&gt;Hidayatullah.com--&lt;/b&gt;KITA tak hanya harus belajar dari kemenangan dan keberhasilan. Kadang kita perlu belajar juga dari kekalahan. Karena dengan demikian kita akan memahami hal-hal yang menjadi penyebab kekalahan itu dan dapat menghindarinya pada masa-masa yang akan datang. Itulah di antara alasan mengapa kita mempelajari Sejarah.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px;"&gt;Pada awal Ramadhan tahun 114 H (732 M), telah terjadi salah satu pertempuran yang paling menentukan sepanjang sejarah. Pertempuran itu terjadi di suatu tempat di Prancis, di antara kota Tours dan Poitiers, dan kemudian dikenal sebagai&lt;i&gt;Balat al-Syuhada, pavements of martyrs.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;Paul K. Davis memasukkan peristiwa ini dalam daftar&amp;nbsp;&lt;i&gt;100 Decisive Battles&lt;/i&gt;-nya. Sementara seorang penulis lain, Edward Creasy, memasukkan pertempuran ini dalam bukunya,&amp;nbsp;&lt;i&gt;Fifteen Decisive Battles of the World.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px;"&gt;Kapan dikatakan sebuah pertempuran bersifat menentukan jalannya sejarah? Menurut Paul K. Davies (1999: xi), sebuah pertempuran dikatakan ’menentukan’ ketika memenuhi salah satu dari tiga kriteria berikut ini.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px;"&gt;&lt;i&gt;Pertama,&amp;nbsp;&lt;/i&gt;pertempuran itu berdampak pada perubahan sosial politik yang sangat penting (&lt;i&gt;brought about a major political or social change&lt;/i&gt;).&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Kedua,&lt;/i&gt;&amp;nbsp;sekiranya hasil dari pertempuran itu berbeda 180 derajat, maka akan terjadi perubahan besar-besaran secara politik dan sosial (&lt;i&gt;had the outcome ... been reversed, major political or social changes would have ensued).&lt;br /&gt;Ketiga,&amp;nbsp;&lt;/i&gt;pertempuran tersebut menandai dimulainya perubahan penting dalam strategi perang (marks the introduction of a major change in warfare). Pertempuran yang tengah kita bicarakan ini, termasuk dalam kategori yang kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Balat al-Syuhada,&amp;nbsp;&lt;/i&gt;dalam sejarah juga dikenal sebagai Pertempuran Tours atau Pertempuran Poitiers, terjadi antara pasukan Muslim dari Andalusia yang dipimpin oleh Abdul Rahman al-Ghafiqi melawan pasukan Perancis yang dipimpin oleh Charles Martel. Pada pertempuran ini kaum Muslimin kalah dan Abdul Rahman sendiri turut gugur sebagai syuhada.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px;"&gt;Muhammad Abdullah Enan dalam bukunya&amp;nbsp;&lt;i&gt;Decisive Moments in the History of Islam&amp;nbsp;&lt;/i&gt;(1983: 43) menyebutkan betapa para ahli sejarah, terutama di Barat, berandai-andai bahwa sekiranya hasil dari pertempuran ini berbeda 180 derajat, yaitu kaum Muslimin menang dan pasukan Perancis kalah, maka ‘tidak akan ada lagi Eropa yang Kristen atau agama Kristen, dan Islam akan mendominasi Eropa.’&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px;"&gt;Ia juga mengutip pendapat Edward Gibbon yang mengatakan bahwa pada titik itu (di daerah antara Poitiers dan Tours, pen.) garis kemenangan kaum Muslimin telah mencapai 1000 mil ke Utara dihitung dari Gibraltar. Sekiranya mereka mampu meneruskan jarak kemenangannya dengan jumlah yang sama, maka mereka akan mampu mencapai Polandia dan Dataran Tinggi Skotlandia. Jika itu benar-benar terjadi, ‘barangkali tafsir al-Qur’an pada masa sekarang ini akan diajarkan di sekolah-sekolah Oxford, dan mimbar-mimbarnya mungkin menunjukkan pada orang yang bersunat akan kesucian dan kebenaran Wahyu Muhammad’ (1983: 48). Kemungkinan-kemungkinan inilah yang membuat para sejarawan memandang pertempuran ini sebagai&amp;nbsp;&lt;i&gt;decisive battle.&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px;"&gt;Enan sendiri dalam pengantar bukunya (1983: iv) memandang pertempuran ini sebagai salah satu dari dua pertempuran paling menentukan antara Islam dan Barat (&lt;i&gt;the greatest decisive encounters of Islam and Christendom).&amp;nbsp;&lt;/i&gt;Pertempuran yang satunya lagi adalah pengepungan Konstantinopel yang telah dimulai sejak 32 H (653 M). Kegagalan kaum Muslimin dalam dua pertempuran tersebut telah menunda, atau menghalangi, penetrasi Islam ke Eropa, masing-masing dari pintu masuk Timur dan Barat-nya.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px;"&gt;Bagaimana jalannya Pertempuran Tours atau Poitiers ini sendiri? Dan apa yang menyebabkan kekalahan kaum Muslimin pada pertempuran tersebut? Kita akan melihatnya lebih jauh.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px;"&gt;Pertempuran ini terjadi sekitar 20 tahun setelah masuknya Islam ke Andalusia di bawah kepemimpinan Tariq ibn Ziyad dan Musa ibn Nusayr. Sejak awal sudah tampak keinginan para pemimpin Muslim ini untuk membuka lebih jauh wilayah Eropa. Musa ibn Nusayr dan Tariq ibn Ziyad sudah menyeberangi Pegunungan Pyrenees yang membatasi wilayah Spanyol dan Perancis untuk memasuki wilayah yang terakhir ini lebih jauh lagi dan, tidak tertutup kemungkinan, untuk mencapai Konstantinopel dari arah Barat (Eropa).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px;"&gt;Namun ketika kedua tokoh ini baru menguasai beberapa bagian Selatan Perancis mereka dipanggil menghadap Khalifah di Damaskus. Sepeninggal Musa ibn Nusayr hingga ke masa Abdul Rahman al-Ghafiqi setidaknya ada lima orang lainnya yang ditunjuk oleh Damaskus untuk memimpin Andalusia (Reinaud, 1964). Sejak memasuki Andalusia, kekuatan kaum Muslimin terus merambah wilayah Selatan, Tengah, dan bahkan Utara Perancis (Davis, 1999: 103). Namun, laju penetrasi pasukan Muslim ke Perancis berjalan relatif lambat disebabkan ketidakstabilan politik di Andalusia pada masa itu.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px;"&gt;Keadaan sosial dan politik menjadi lebih baik saat Abdul Rahman al-Ghafiqi ditunjuk untuk memimpin Andalusia. Kepemimpinannya yang baik dan adil membuatnya disukai oleh orang-orang yang dipimpinnya. Dalam membagikan pampasan perang, ia terbiasa mendahulukan kepentingan anggota pasukannya daripada kepentingannya sendiri. Ia juga merupakan seorang pemimpin yang saleh dan dikenal sebagai salah seorang sahabat Ibn Umar radhiyallahu ’anhu, salah seorang Sahabat Rasulullah shallallhu ’alaihi wasallam (Reinaud, 1964: 43; Alatas: 2007: 151).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enan (1983: 45) menjelaskan bahwa al-Ghafiqi merupakan pemimpin dan administrator yang tangguh, seorang pembaharu yang antusias, seorang yang memiliki kebaikan dan kualitas yang ideal, serta memiliki rasa keadilan, kesabaran, dan relijiusitas yang tinggi. Secara umum Enan melihat sosok al-Ghafiqi sebagai pemimpin (Wali) Andalusia yang terbesar dan paling handal. Sejak era kepemimpinannya, menurut Reinaud (1964: 44), gubernur-gubernur yang tidak amanah diganti dengan orang-orang yang jujur. Orang-orang Islam dan Kristen diperlakukan secara adil, sesuai dengan perjanjian yang terjalin di antara mereka. Gereja-gereja yang dirobohkan secara semena-mena diperbaiki kembali. Demikian juga sebaliknya, gereja yang dibangun dengan cara korupsi, yaitu dengan cara menyogok penguasa setempat, diperintahkan untuk dirobohkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Ghafiqi sangat waspada terhadap potensi konflik internal dan pemberontakan di Andalusia serta terhadap kemungkinan ancaman dari arah Utara. Oleh karena itu, ia segera mengirim pasukannya ke Utara, menyeberangi pegunungan Pyrenees, untuk memerangi salah satu gubernurnya di Perancis Selatan, Uthman ibn Abi Nis’ah, yang menentang kepemimpinannya dan bersekutu dengan penguasa Kristen di wilayah itu, yaitu Eudo, Duke of Acquitaine. Pasukan yang dikirim al-Ghafiqi berhasil menumpas perlawanan Ibn Abi Nis’ah. Al-ghafiqi sendiri kemudian menyusul ke Utara dengan pasukan yang kuat untuk menghadapi ancaman Duke Eudo dan pasukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Ghafiqi memasuki wilayah Perancis pada musim semi 732 M (awal 114 H), kurang lebih satu tahun setelah ia diangkat menjadi Wali Andalusia. Satu persatu wilayah Acquitaine berhasil diduduki pasukannya. Eudo berusaha menahan pasukan al-Ghafiqi di tepi Sungai Dordogne. Namun dalam pertempuran ini Eudo menderita kekalahan telak dan banyak anggota pasukannya yang mati di pertempuran itu. Al-Ghafiqi mengejar Eudo hingga ke ibukota kerajaannya di Burdal, Bordeaux, yang segera takluk ke tangannya setelah pengepungan singkat. Seluruh Acquitaine kemudian jatuh ke tangan Muslim. Sementara Eudo sendiri melarikan diri ke Utara, pasukan Muslim mulai memasuki wilayah Burgundi dan menaklukkan kota-kota seperti Lyon dan Besancon. Sebagian pasukan Muslim bahkan berhasil mencapai Sens yang terletak hanya seratus mil saja dari Paris. Pasukan al-Ghafiqi kemudian bergerak ke arah Barat hingga ke tepi Sungai Loire. Dari sana mereka bersiap untuk ke Utara menuju pusat Kerajaan Frank (Perancis) (Enan, 1983: 47-8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerajaan Frank ketika itu dalam masa transisi antara Dinasti Merovingian dan Dinasti Carolingian. Walaupun secara resmi masih dipimpin oleh seorang raja Merovingian yang sudah tak lagi memiliki kekuasaan riil, Kerajaan Frank ketika itu secara efektif dikendalikan oleh Charles Martel. Kerajaan Frank pada masa itu, dan pada abad-abad setelahnya, dapat dikatakan sebagai kerajaan terkuat di Eropa Barat dan merupakan sekutu paling setia dari kepausan Katholik di Roma. Melihat gerakan pasukan Islam yang semakin berbahaya, Charles Martel menghimpun pasukannya. Eudo sendiri, yang merupakan saingan Charles Martel dan selama sekian lama berusaha melepaskan diri dari kekuasaan pusat, kemudian datang dan meminta bantuan pada Charles Martel. Charles menyetujuinya denga syarat Eudo akan terus loyal kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Pasukan Muslim telah mencapai daerah di antara Poitiers dan Tours. Mereka menyerang dan menguasai kedua kota itu. Tak lama setelah itu, di wilayah antara Poitiers dan Tours, pasukan Muslim mulai berhadapan dengan pasukan Frank yang dipimpin oleh Charles Martel. Laporan tentang jumlah pasukan Muslim beragam, antara 20.000 sampai 80.000. Sementara jumlah pasukan Frank dilaporkan secara beragam juga, ada yang menyatakan lebih sedikit dari pasukan Muslim dan ada yang yang menyebutkan angka yang lebih besar. Pasukan Frank kebanyakannya merupakan pasukan irregular, nyaris telanjang, dengan rambut ikal yang tergerai hingga ke bahu, serta mengenakan kulit serigala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasukan yang dibawa al-Ghafiqi ketika itu merupakan pasukan terkuat dan terbesar yang pernah dibawa ke Perancis. Namun jumlah pasukan sudah agak berkurang setelah melalui berbagai pertempuran. Pada saat itu mereka juga menghadapi ujian yang cukup serius: harta! Sepanjang penaklukkan berbagai kota di Perancis, pasukan Muslim berhasil mengumpulkan banyak pampasan perang. Harta itu bisa menjadi kekuatan ekonomi bagi Muslim selepas perang. Tapi masalahnya perang belum selesai. Dan kini mereka justru sedang dihadapkan dengan kekuatan inti lawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Ghafiqi mulai mengkhawatirkan keberadaan pampasan perang yang ada di tangan pasukannya. Ia khawatir perhatian pasukannya terpecah antara menghadapi musuh dengan menjaga pampasan perang agar tidak jatuh ke tangan musuh. Ia meminta agar sebagian pampasan perang itu ditinggalkan saja, tapi ia tidak mampu memaksakan hal ini karena khawatir anggota pasukan akan menentangnya di saat yang cukup genting tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua pasukan tidak langsung bertempur. Mereka saling mengawasi selama kurang lebih seminggu. Kesempatan ini digunakan oleh pasukan Muslim untuk mengamankan harta yang telah mereka kumpulkan agak jauh ke Selatan. Akhirnya pertempuran bermula pada tanggal 12 atau 13 Oktober 732 (akhir Sha’ban 114). Selama tujuh hingga delapan hari berikutnya kedua pasukan terlibat dalam pertempuran kecil. Kemudian pada hari kesembilan mereka memasuki pertempuran besar yang melibatkan seluruh anggota pasukan. Mereka bertempur hingga malam hari tanpa ada pihak yang menang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari kesepuluh kedua belah pihak saling menyerang lebih keras lagi. Kubu Perancis memperlihatkan strategi pertahanan yang kokoh dan menyulitkan kaum Muslimin untuk menyerang. Enan menyebutkan bahwa pasukan Perancis pada akhirnya mulai kelelahan dan tanda-tanda kemenangan mulai berpihak kepada pasukan Muslim. Tapi sayangnya banyak di antara anggota pasukan Muslim yang terlalu khawatir akan jatuhnya pampasan perang ke tangan musuh. Sehingga ketika mereka mendengar seruan dari tempat penjagaan harta bahwa musuh mulai melakukan penetrasi ke tempat itu, konsentrasi pasukan Muslim menjadi terpecah. Banyak di antara mereka yang meninggalkan tempatnya dan menuju tempat harta pampasan perang berada. Hal ini menimbulkan kekacauan di dalam barisan Muslim dan membuka peluang bagi musuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Ghafiqi berusaha untuk mengembalikan pasukannya pada posisi mereka semula. Tapi semuanya sudah terlambat. Dalam keadaan yang tidak menentu itu, ia terkena anak panah yang dilontarkan musuh. Ia terjatuh dari kudanya dan mati syahid. Keadaan menjadi semakin kacau dan musuh berhasil mendesak pasukan Muslim. Walaupun mendapat pukulan bertubi-tubi dan banyak korban yang gugur, kaum Muslimin masih bisa mempertahankan posisi mereka hingga pertempuran dihentikan pada hari itu. Kedua belah pihak kembali ke posisi masing-masing dan bersiap-siap menyongsong pertempuran baru keesokan harinya. Namun pasukan Muslim tidak bersiap untuk menyongsong pertempuran baru. Mereka menyadari bahwa mereka sudah kalah dan pemimpin mereka sudah gugur. Maka secara diam-diam mereka memutuskan untuk mundur pada malam harinya dan meninggalkan semua pampasan perang yang sejak awal berusaha mereka jaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan paginya pasukan Frank merasa heran dengan kesunyian di kubu Muslim. Mereka kemudian menyadari bahwa lawan mereka sudah pergi meninggalkan pertempuran. Charles Martel dan pasukannya merasa cukup dengan hasil pertempuran itu dan tidak merasa perlu untuk mengejar pasukan Muslim. Mereka mengambil harta pampasan perang yang ditinggalkan pasukan Muslim dan kemudian kembali pulang (Enan, 1983: 56-9; Davis, 1999: 104-6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa itu kemudian dikenal dalam Sejarah Islam sebagai Balat al-Syuhada’ atau Dataran Syuhada. Para Sejarawan hanya bisa berandai-andai atas apa yang akan terjadi sekiranya pertempuran itu dimenangkan oleh pasukan Muslim. Bagaimana keadaan Eropa setelah itu sekiranya Kerajaan Frank dan seluruh wilayah Perancis jatuh ke tangan Muslim? Akankah Paris, dan mungkin juga setelah itu London, dan berbagai kota penting Eropa lainnya, menjadi pusat-pusat kebudayaan Islam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kita tidak perlu berandai-andai. Semuanya sudah ditetapkan Allah dan ketetapan Allah adalah yang terbaik. Kita hanya perlu belajar dari Sejarah, bahwa adakalanya bukan musuh yang kuat yang mampu menaklukkan dan mengalahkan kita. Kita hanya perlu belajar bahwa adakalanya, atau malah seringkali, yang membuat kita takluk dan kalah justru ketidakmampuan kita sendiri dalam mengontrol hawa nafsu yang bersumber pada kecintaan yang berlebihan terhadap harta duniawi.&amp;nbsp;&lt;i&gt;Wallahu a’lam bis showab.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;[Jakarta, 25 Ramadhan 1431/ 4 September 2010]&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px;"&gt;&lt;i&gt;Penulis adalah kolumnis&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.hidayatullah.com/" style="color: purple;"&gt;hidayatullah.com&lt;/a&gt;, kini sedang mengambil program doktoral bidang sejarah di Universiti Islam Antarabangsa, Malaysia&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px;"&gt;Referensi&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px;"&gt;Alatas, Alwi.&amp;nbsp;&lt;i&gt;Sang Penakluk Andalusia: Musa ibn Nusayr dan Tariq ibn Ziyad.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;Jakarta:&lt;br /&gt;Davis, Paul K.&amp;nbsp;&lt;i&gt;100 Decisive Battles: From Ancient Times to the Present.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;Oxford: ABC- CLIO. 1999.&lt;br /&gt;Enan, Muhammad Abdullah.&amp;nbsp;&lt;i&gt;Decisive Moments in the History of Islam.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;Delhi: Idarah-I Adabiyat-I Delli. 1983.&lt;br /&gt;Reinaud,&amp;nbsp;&lt;i&gt;Muslim Colonies in France, Northern Italy and Switzerland,&amp;nbsp;&lt;/i&gt;diterjemahkan oleh Haroon Khan Sherwani dari Invasions des Sarrazins en France, et de France en Savoie, en Piemont et en Suisse. Lahore: Sh. Muhammad Ashraf. 1964.&lt;/span&gt;</content><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/feeds/9108478270619402082/comments/default" rel="replies" title="Posting Komentar" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2012/05/pertempuran-balat-al-syuhada.html#comment-form" rel="replies" title="0 Komentar" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default/9108478270619402082" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default/9108478270619402082" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2012/05/pertempuran-balat-al-syuhada.html" rel="alternate" title="Pertempuran Balat al-Syuhada" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01974128379563667848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1756756116987703705.post-694511533655474929</id><published>2012-05-25T14:44:00.000+07:00</published><updated>2013-11-27T01:30:23.494+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Berita minang"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ranah Minang"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sungai pua"/><title type="text">Urang Sariak — Rang Sungai Pua</title><content type="html">&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Helvetica, Georgia, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; padding: 10px 0px 0px;"&gt;Kata “Urang Sariak” dan “Sungai Pua” acap kali disebut dalam pantun-pantun Minang — baik dalam sampiran maupun dalam isi, baik isi nan tersurat maupun isi nan berupa kiasan.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Helvetica, Georgia, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; padding: 10px 0px 0px;"&gt;Seperti dalam lagu da Alkawi, Mandeh Misramolai, dan Angku Tiar Ramon :&lt;/div&gt;&lt;blockquote style="background-color: #fffada; background-image: url(http://s1.wp.com/wp-content/themes/pub/digg3/images/bg_blockquote.gif); background-position: 5px 7px; background-repeat: no-repeat no-repeat; color: #736926; font-family: Arial, Helvetica, Georgia, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin: 10px 10px 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;div style="padding: 10px 10px 10px 20px;"&gt;Urang Sariak pai ka ladang, ondeh …&lt;br /&gt;Manjinjiang balam jo sangkaknyo, iyo …&lt;br /&gt;Tali ka denai rantang panjang, ondeh …&lt;br /&gt;Usah baniaik mamutuihnyo, iyo …&lt;/div&gt;&lt;div style="padding: 10px 10px 10px 20px;"&gt;Rumah ladang … dindiangnyo palupuah, Diak Kanduang oi&lt;br /&gt;Nan batonggak … batangnyo lansano, Diak Kanduang oi&lt;br /&gt;Bia banang-banang nak basaua&lt;br /&gt;Alang-alang ka den anjuang juo&lt;/div&gt;&lt;div style="padding: 10px 10px 10px 20px;"&gt;&lt;strong&gt;~ da Al &amp;amp; uni Ayu&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote style="background-color: #fffada; background-image: url(http://s1.wp.com/wp-content/themes/pub/digg3/images/bg_blockquote.gif); background-position: 5px 7px; background-repeat: no-repeat no-repeat; color: #736926; font-family: Arial, Helvetica, Georgia, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin: 10px 10px 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;div style="padding: 10px 10px 10px 20px;"&gt;Urang Sariak, Rang Sungai Pua&lt;br /&gt;Nan batagak batu palano&lt;br /&gt;Urang Sariak, Rang Sariak oi&lt;br /&gt;Urang Sariak, Rang Sariak oi&lt;/div&gt;&lt;div style="padding: 10px 10px 10px 20px;"&gt;Abiah lapiak banta dijua&lt;br /&gt;Anak bagadang hati juo&lt;br /&gt;Urang Sariak, Rang Sariak oi&lt;br /&gt;Urang Sariak, Rang Sariak oi&lt;/div&gt;&lt;div style="padding: 10px 10px 10px 20px;"&gt;Anak Kanduang, tolong lah danga&lt;br /&gt;Usah anak bagadang hati&lt;br /&gt;Urang Sariak, Rang Sariak oi&lt;br /&gt;Urang Sariak, Rang Sariak oi&lt;/div&gt;&lt;div style="padding: 10px 10px 10px 20px;"&gt;Oi baguru kapalang aja&lt;br /&gt;Nan bak bungo kambang tak jadi&lt;br /&gt;Urang Sariak, Rang Sariak oi&lt;br /&gt;Urang Sariak, Rang Sariak oi&lt;/div&gt;&lt;div style="padding: 10px 10px 10px 20px;"&gt;Anak Kanduang sibiran tulang&lt;br /&gt;Buah hati, limpo bakuruang&lt;br /&gt;Urang Sariak, Rang Sariak oi&lt;br /&gt;Urang Sariak, Rang Sariak oi&lt;/div&gt;&lt;div style="padding: 10px 10px 10px 20px;"&gt;Nyampang anak isuak ko gadang&lt;br /&gt;Pandai-pandai mambaok untuang&lt;br /&gt;Urang Sariak, Rang Sariak oi&lt;br /&gt;Urang Sariak, Rang Sariak oi&lt;/div&gt;&lt;div style="padding: 10px 10px 10px 20px;"&gt;Oi manangih tasadu-sadu&lt;br /&gt;Dek karano pisang sakuduang&lt;br /&gt;Urang Sariak, Rang Sariak oi&lt;br /&gt;Urang Sariak, Rang Sariak oi&lt;/div&gt;&lt;div style="padding: 10px 10px 10px 20px;"&gt;Sajak ketek didukuang ibu&lt;br /&gt;Nan lah gadang, carikan untuang&lt;br /&gt;Urang Sariak, Rang Sariak oi&lt;br /&gt;Urang Sariak, Rang Sariak oi&lt;/div&gt;&lt;div style="padding: 10px 10px 10px 20px;"&gt;Bia tangih indak babujuak&lt;br /&gt;Usah anak baraja manjo&lt;br /&gt;Urang Sariak, Rang Sariak oi&lt;br /&gt;Urang Sariak, Rang Sariak oi&lt;/div&gt;&lt;div style="padding: 10px 10px 10px 20px;"&gt;Nan kok gadang anak den isuak&lt;br /&gt;Usah untuang bak mande pulo&lt;br /&gt;Urang Sariak, Rang Sariak oi&lt;br /&gt;Urang Sariak, Rang Sariak oi&lt;/div&gt;&lt;div style="padding: 10px 10px 10px 20px;"&gt;Buah hati pamenan mato&lt;br /&gt;Anak Kanduang lakeh lah gadang&lt;br /&gt;Urang Sariak, Rang Sariak oi&lt;br /&gt;Urang Sariak, Rang Sariak oi&lt;/div&gt;&lt;div style="padding: 10px 10px 10px 20px;"&gt;Usah untuang bak mande pulo&lt;br /&gt;Bia mande manangguang surang&lt;br /&gt;Urang Sariak, Rang Sariak oi&lt;br /&gt;Urang Sariak, Rang Sariak oi&lt;/div&gt;&lt;div style="padding: 10px 10px 10px 20px;"&gt;&lt;strong&gt;~ Mandeh Misramolai&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote style="background-color: #fffada; background-image: url(http://s1.wp.com/wp-content/themes/pub/digg3/images/bg_blockquote.gif); background-position: 5px 7px; background-repeat: no-repeat no-repeat; color: #736926; font-family: Arial, Helvetica, Georgia, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin: 10px 10px 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;div style="padding: 10px 10px 10px 20px;"&gt;……….&lt;/div&gt;&lt;div style="padding: 10px 10px 10px 20px;"&gt;Urang Sariak babaju ganiah&lt;br /&gt;Pai manggaleh ka Padang Lua&lt;br /&gt;Iyo sarik bak ayam putiah&lt;br /&gt;Kok indak sikok, alang manyemba&lt;/div&gt;&lt;div style="padding: 10px 10px 10px 20px;"&gt;……….&lt;/div&gt;&lt;div style="padding: 10px 10px 10px 20px;"&gt;&lt;strong&gt;~ Angku Tiar Ramon dalan lagu “Usah Diratok’i”&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote style="background-color: #fffada; background-image: url(http://s1.wp.com/wp-content/themes/pub/digg3/images/bg_blockquote.gif); background-position: 5px 7px; background-repeat: no-repeat no-repeat; color: #736926; font-family: Arial, Helvetica, Georgia, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin: 10px 10px 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;div style="padding: 10px 10px 10px 20px;"&gt;……….&lt;/div&gt;&lt;div style="padding: 10px 10px 10px 20px;"&gt;Adiak sapantun kain bugih&lt;br /&gt;Dipakai anak Sungai Pua&lt;br /&gt;Uda baniaik nak mambali&lt;br /&gt;Tagah dek Adiak ndak manjua&lt;/div&gt;&lt;div style="padding: 10px 10px 10px 20px;"&gt;……….&lt;/div&gt;&lt;div style="padding: 10px 10px 10px 20px;"&gt;&lt;strong&gt;~ Angku Tiar Ramon &amp;amp; Bundo Elly Kasim dalam lagu “Simpang Ampek”&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Helvetica, Georgia, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; padding: 10px 0px 0px;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Helvetica, Georgia, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; padding: 10px 0px 0px;"&gt;Sungai Pua adalah nagari di Kabupaten Agam nan terletak di arah barat Gunuang Marapi atau sekitar 10 km dari Kota Bukittinggi ke arah Gunuang Marapi. Sebelah utara berbatasan dengan Nagari Kubang Putiah, sebelah selatan dengan Sariak, dan sebelah barat dengan Banuhampu, sehingga sering disebut sepaket :&amp;nbsp;&lt;strong&gt;Urang Sariak — Rang Sungai Pua&lt;/strong&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Helvetica, Georgia, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; padding: 10px 0px 0px;"&gt;Sungai Pua sendiri, pada mulanya adalah satu keselarasan nan terbagi dalam 4 Nagari : Sariak, Sungai Pua, Batagak, dan Batu Palano — sebagaimana nan disebutkan dalam lirik lagu “Urang Sariak” ~ Mandeh Misramolai. Salah satu jorongnya kemudian menjadi nagari pula, yaitu Padang Laweh di Kabupaten Agam.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Helvetica, Georgia, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; padding: 10px 0px 0px;"&gt;Sungai Pua terkenal sebagai daerah penghasil peralatan dari logam, terutama dari besi dan kuningan, salah satu nagari pusat pembuatan alat musik tradisional talempong dan kawan-kawannya. Bahkan, dalam sejarah perjuangan melawan Belanda, daerah ini adalah pemasok peluru.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Helvetica, Georgia, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; padding: 10px 0px 0px;"&gt;Sebuah anekdot pernah terjadi ketika urang Sungai Pua membawa hasil buminya berupa&amp;nbsp;&lt;em&gt;pelo&lt;/em&gt;&amp;nbsp;— pepaya.red dalam gerobak pedatinya. Kemudian Belanda menghentikan gerobak tesebut dan bertanya : “Apa yang kamu orang bawa di dalam ,, haa ??”&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Helvetica, Georgia, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; padding: 10px 0px 0px;"&gt;Dengan gemetaran penduduk pribumi itu berkata : “&lt;em&gt;Pelor&lt;/em&gt;&amp;nbsp;Tuan”. Hal ini tentu saja membuat Belanda terkejut, karena mengira “&lt;em&gt;pelor&lt;/em&gt;” = peluru, dan membongkar gerobak tersebut. Tentu saja tiada dapat apa yang dikira “peluru” itu ,,&amp;nbsp;&lt;img alt=":D" class="wp-smiley" src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif?m=1129645325g" style="background-image: none; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Helvetica, Georgia, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; padding: 10px 0px 0px;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Helvetica, Georgia, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; padding: 10px 0px 0px;"&gt;&lt;strong&gt;Sungai Pua Dalam Sejarah&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Helvetica, Georgia, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; padding: 10px 0px 0px;"&gt;Nagari Sungai Pua adalah nagari yang cukup berperan dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, beberapa tokoh pejuang yang berasal dari nagari ini antara lain :&lt;/div&gt;&lt;blockquote style="background-color: #fffada; background-image: url(http://s1.wp.com/wp-content/themes/pub/digg3/images/bg_blockquote.gif); background-position: 5px 7px; background-repeat: no-repeat no-repeat; color: #736926; font-family: Arial, Helvetica, Georgia, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin: 10px 10px 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;div style="padding: 10px 10px 10px 20px;"&gt;* Angku Lareh Sungai Pua — fotonya dulu pernah dijadikan dalam kotak&lt;em&gt;piapi&lt;/em&gt;&amp;nbsp;(korek api) di jaman Belanda.&lt;br /&gt;* Abdul Muis — penulis&amp;nbsp;&lt;em&gt;Salah Asuhan&lt;/em&gt;, salah satu penggagas Institut Teknologi Bandung dan Universitas Padjadjaran, adalah cucu dari Angku Lareh Sungai Pua&lt;br /&gt;* Pendiri Bank Nasional seperti Anwar Sutan Saidi, Jama’an Tuanku Mudo, dan Haji Syarkawi juga berasal dari Nagari Sungai Pua&lt;br /&gt;* Datuak Sidubalang — salah satu dari Harimau Nan Salapan, tokoh utama Perang Paderi juga berasal dari Nagari Sungai Pua&lt;br /&gt;* Mr. Assa’ad — anak pisang di Kubang Putiah sekaligus menantu Angku Lareh Sungai Pua, pernah menjadi Pejabat Presiden Republik Indonesia dalam Pemerintahan Darurat Republik Indonesia&lt;br /&gt;* Rahmat Saleh — pernah menjadi menteri dalam salah satu kabinet Presiden Soekarno juga putra daerah ini.&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Helvetica, Georgia, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; padding: 10px 0px 0px;"&gt;Beberapa putra daerah ini juga dikenal di beberapa perusahaan besar, antara lain :&lt;/div&gt;&lt;blockquote style="background-color: #fffada; background-image: url(http://s1.wp.com/wp-content/themes/pub/digg3/images/bg_blockquote.gif); background-position: 5px 7px; background-repeat: no-repeat no-repeat; color: #736926; font-family: Arial, Helvetica, Georgia, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin: 10px 10px 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;div style="padding: 10px 10px 10px 20px;"&gt;* Inyiak Sariyun — putra Lamunai, produsen bendi di Kota Padang di jaman Belanda (1870-1930)&lt;br /&gt;* Tarimin Sutan Lembang Alam — putra Pasa Kubang Sariak, distributor besar mesin-mesin dan barang kelontong di wilayah Jambi (1880-1949), bahkan tahun 1908, ybs mendapat penghargaan dari pemerintah Belanda di Batavia atas perannya di bidang ini.&lt;br /&gt;* Abdul Gani Datuak Sidabalang — ex. Dirut Bank Duta.&lt;br /&gt;* Nasfi Patalo — ex. Direktur Cipta Niaga.&lt;br /&gt;* Asril Lamisi — ex. Dirut Derazona Helikopter&lt;br /&gt;* Asra Abdullah — ex. Direktur Semen Gresik)&lt;br /&gt;* Ir. Syu’ib Tajudin — ex. Direktur P.T. Barata Indonesia (Pesero).&lt;br /&gt;* Johnny Swandi Syam — Dirut Indosat (masih ??).&lt;br /&gt;* Aminuddin Nurdin — GM PR Astra.&lt;br /&gt;* Hendra Abubakar — P.T. Inti.&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Helvetica, Georgia, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; padding: 10px 0px 0px;"&gt;Di wilayah ini juga terdapat 3 orang tokoh&amp;nbsp;&lt;em&gt;Silek Tuo Minangkabau&lt;/em&gt;&amp;nbsp;nan berpengaruh di jaman Belanda dalam melatih beladiri bagi para pemuda pejuang melawan pasukan Belanda, yaitu : Inyiak Haji Idris (&lt;em&gt;Inyiak Dirih&lt;/em&gt;), Inyiak Abdul Karim (&lt;em&gt;Tuanku Abdul Karim&lt;/em&gt;), dan Inyiak Murauk.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Helvetica, Georgia, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; padding: 10px 0px 0px;"&gt;Hehee ,, ini baru satu nagari Tuan — belum nagari-nagari nan lain. Nantikan ulasan-ulasan hamba berikutnya ,,&amp;nbsp;&lt;img alt=":D" class="wp-smiley" src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif?m=1129645325g" style="background-image: none; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; padding: 0px;" /&gt;&lt;/div&gt;</content><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/feeds/694511533655474929/comments/default" rel="replies" title="Posting Komentar" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2012/05/urang-sariak-rang-sungai-pua.html#comment-form" rel="replies" title="0 Komentar" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default/694511533655474929" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default/694511533655474929" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2012/05/urang-sariak-rang-sungai-pua.html" rel="alternate" title="Urang Sariak — Rang Sungai Pua" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01974128379563667848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1756756116987703705.post-8837027825692635243</id><published>2012-05-25T14:39:00.000+07:00</published><updated>2013-11-27T01:30:23.503+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sejarah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tambo"/><title type="text">KISAH URANG BUNIAN</title><content type="html">&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Oleh: DASRIEL&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Urang Bunian artinya orang yang bersembunyi. Mereka adalah semacam makhluk manusia rimba dan suka bersembunyi dan tidak mau kelihatan sama orang, dipercaya tinggal dihutan-hutan di kaki Gunung Tandikek di Sumatera Barat.&lt;br /&gt;Keberadaan mereka oleh orang tua-tua dahulu sekitar tahun enampuluhan dipercaya memang ada. Tapi belum pernah ada yang bertemu. Mereka suka dijadikan untuk pertakut kepada anak kecil.&lt;br /&gt;Tahun enempuluhan dulu kampung kami di Kandang Ampek masih lengang. Kendaraan bermotor atau oto disebutnya tidak seramai sekarang. Hanya satu-satu bus dan parahoto lewat di jalan raya. Saya ingat mereknya Chevrolet, dan menghidupkannya searang sitokar atau keneknya menggunakan sebatang besi yang ujungnya bengkok, dan dimasukkan kecelah yang ada didepan grill mobil. Disebut dengan engkol. Si kenek mobil mengengkol beberapa kali sampai mobil berbunyi menderum, dan barulah mesinnya hidup. Kalau mati lagi, akan diengkol ulang oleh sitokar. Kasihan sitokar ini, kalau hari panas dia akan bermandi keringat mengengkol mobil berulang kali. Kalau hari hujan terpaksa ia berbasah-basah mengengkol mobil.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Pada waktu itu listerik belum masuk kedesa. Penerangan memakai lampu minyak tanah atau dibuat dari sebatang bambu sariak yang diberi sumbu dari ijuk atau sabut kelapa yang disebut colok.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Kalau mau tidur, lampu colok ini dimatikan. Kalau dibiarkan hidup, selain memboroskan minyak tanah, ia juga menghasilkan abu atau jelaga yang membuat lubang hidung menjadi hitam pada pagi harinya.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;*&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Anak kecil tidak boleh main jauh dari rumah. Takut diculik oleh orang Bunian kata nenek.&lt;br /&gt;« Siapa urang Bunian itu nek », tanya saya.&lt;br /&gt;”Urang Bunian yang berumah ditengah hutan diatas sebatang pohon, dia suka dengan anak kecil. Kalau ketemu anak kecil akan diculiknya dan dijadikan budak untuk pengusir ayam dan pengayak beras”, kata nenek saya menakuti saya.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Biasanya kami langsung ciut kalau mendengar cerita nenek ini. Tidak berani lagi pergi ke hutan atau ke Batang Anai untuk menangkap burung atau ikan.&lt;br /&gt;Tapi kadang kami acuhkan saja. Dan memang kami tidak pernah diculik oleh Urang Bunian, karena kami belum pernah berjumpa dengan mereka sekalipun.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Nenek saya lalu menceritakan kisah Urang Bunian yang menculik Nenek Timah di Subarang.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Subarang adalah sebuah kampung dibalik Batang Anai yang terletak di pinggir hutan dan kaki bukit. Penduduknya jarang, tapi disana banyak sawah dan luas sekali piringnya. Saya suka ke sana karena ada Anduang saya yang ibu dari ayah saya tinggal di Subarang. Nenek ada saya dua, satu saya panggil Mak Angih, yaitu ibu dari ibu saya. Mak Angih yang memelihara saya sejak kecil karena ibu masih mengikuti ayah saya yang seorang tentara yang tinggal dan suka berpindah-pindah di daerah Riau Kepulauan. Nenek saya dari pihak ayah yaitu yang saya panggil Anduang. Anduanglah yang menceritakan kisah ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Kembali ke cerita penculikan nenek Timah.&lt;br /&gt;Sambil memperbaiki letak suginya atau tembakau isap, Anduang menghirup kopinya sehabis shalat maghrib.&lt;br /&gt;Saya dan seorang teman saya si Amir yang suka tidur di rumah saya mendengar kisah yang sering diceritakan Anduang. Saya pergi ke Subarang dari Kandang Ampek bersama ayah saya dan Amir yang ikut. Kebetulan besok hari minggu kami tidak sekolah. Saya menginap di rumah Anduang.&lt;br /&gt;Begini kisahnya.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;Suatu hari nenek Timah sakit. Ia terbaring lemah di rumahnya di pinggir sawah di Subarang. Nenek Timah hidup hanya berdua dengan cucunya yang masih sekolah dasar. Ibu si anak atau anak dari nenek Timah sudah meninggal dunia.&lt;br /&gt;Pada saat tengah hari tepat, kira-kira jam duabelas, matahari bersinar dengan teriknya. Nenek Timah masih mengerang sakit karena badannya panas.&lt;br /&gt;Tiba-tiba pintu rumahnya terbuka. Ia biarkan saja. Ia sangka cucunya si Nur yang pulang dari sekolah.&lt;br /&gt;Tapi rupanya bukan si Nur yang datang. Tetapi seorang anak muda berpakaian serba hitam dengan sebuah destar hitam menutupi kepalanya. Anak muda yang tampan itu tersenyum kepada nenek Timah.&lt;br /&gt;Dengan lemah nenek Trimah menegur si pemuda.&lt;br /&gt;”Ada apa anak datang kemari?&lt;br /&gt;“Assalamualaikum nek, saya Bujang Selamat datang kesini disuruh raja Dang Putera untuk mengundang nenek ke istananya. Raja mau menikahkan putrinya dengan putra raja dari Jambi. Ia mau minta tolong nenek untuk menghias pengantin”, jelas sang pemuda.&lt;br /&gt;Memang nenek Timah adalah seorang perias penganten di Subarang dan juga sering diundang ke Kandang Ampek kalau ada orang baralek.&lt;br /&gt;“Tapi nenek sedang sakit, tidak mungkinlah nenek meninggalkan rumah, badan nenek masih lemah dan kepala sangat terasa sakit”, kata nenek Timah.&lt;br /&gt;“Tidak usah kawatir nek, saya membawa obat untuk nenek”, katanya sambil menyerahkan sebotol kecil yang berisi cairan bewarna cokelat kepada si nenek. Minumlah air itu niscaya sebentar sakit nenek akan hilang dan badan terasa segar”, kata si pemuda menjelaskan.&lt;br /&gt;“Baiklah, nenek minum”, kata nenek Timah sambil ia membuka tutup botol dan meminum isinya. Rasanya pahit-pahit manis. Rupanya obat itu terbuat dari remasan daun sicerek yang dicampur dengan madu dan pinang sinawa.&lt;br /&gt;Si nenek lalau duduk. Ia merasa heran. Badannya agak terasa enakan. Kemudian si pemuda memberikan sebuah bungkusan kecil buat nenek Timah.&lt;br /&gt;“Makanlah beras itu buat penguat tubuh nenek supaya siap untuk berangkat”, kata si pemuda lagi.&lt;br /&gt;Nenek Timah menerima bungkusan itu dan ia membuka isinya. Tapi nenek Timah heran melihat butiran beras yang halus dan mengkilat putih bersih. Ini bukan beras kata hatinya, tapi ini adalah telur semut.&lt;br /&gt;Dengan ragu nenek meletakkan bungkusan itu diatas meja.&lt;br /&gt;“Makanlah nek jangan ragu, itu adalah beras penguat tubuh”, kata Bujang Selamat lagi.&lt;br /&gt;Akhirnya beras itu dimakan juga oleh nenek Timah. Rasanya manis dan enak serta gurih di lidah.&lt;br /&gt;Benar juga, setelah beras yang telur semut itu masuk perut, sebentar kemudian tubuh terasa kuat dan nenek bisa turn dengan enteng dari tempat tidurnya.&lt;br /&gt;“Mari kita berangkat nek”, kata Bujang Selamat.&lt;br /&gt;“Tapi bagaimana dengan cucu saya yang segera pulang sekolah”, kata nenek.&lt;br /&gt;“Tinggalkan saja dia barang sebentar, nanti sebelum maghrib kita juga sudah kembali kesini. Nanti nenek akan saya antar dengan kereta kuda lagi”, jelas Bujang Selamat.&lt;br /&gt;Kereta kuda? Pikir si nenek. Anak muda ini kesini naik bendi? Kenapa tidakkedengaran ringkik kudanya pikir si nenek lagi.&lt;br /&gt;”Sebenarnya anak siapa ya?, tanya nenek Timah lagi. Ia merasa ragu dengan tampilan si anak muda itu. Belum pernah ia melihat orang muda dan sebaik anak ini di Subarang.&lt;br /&gt;“Saya utusan raja nek”, jelas Bujang Selamat.&lt;br /&gt;“Raja? Raja dimana? Apa raja dari Pagarruyung?, pikiran si nenek mulai dikacaukan mendengar penjelasan si anak muda.&lt;br /&gt;”Bukan raja Pagarruyung, tapi raja negeri kami di kerajaan Beringin Keramat namanya”, kata si anak muda lagi.&lt;br /&gt;”Kerajaan Beringin Keramat?, belum pernah saya mendengar nama kerajaan seperti itu, heran si nenek.&lt;br /&gt;”Iya nek, kerajaan kami ada di atas angin dibalik awan limbubu di puncak sebuah beringin rimbun dan yang paling tinggi di kaki Gunung Tandikek”, jelas si anak muda.&lt;br /&gt;”Nenek tidak mengerti dimana daerahnya itu”, kembali nenek bertanya dengan heran.&lt;br /&gt;”Sekarang memang nenek belum tahu, karena kan belum pernah kesana. Nanti juga nenek akan tahu dan nenek akan menjadi tamu istimewa raja Dang Putera dengan isterinya Dewi Kayangan di istana Beringin nan Indah itu”, jelas si pemuda.&lt;br /&gt;”Baiklah kata nenek Timah, mari kita berangkat”.&lt;br /&gt;Nenek Timah mengambil bungkusan peragatnya untuk menghias penganten yang selalu ia bawa. Ia juga membawa sebuah peti yang berisi alat-alat suntiang dan kembang goyang lengkap dengan inai dan gincu untuk mempercantik seorang penganten.&lt;br /&gt;Ia juga membawa sirih tanya-tanya untuk membantu ia membaca jampi-jampi agar si penganten kelihatan sangat cantik waktu ia hias.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Setelah mengunci pintu, ia dan Bujang Selamat naik kesebuah bendi yang rupanya telah disiapkan di bawah pohon durian di depan rumah.&lt;br /&gt;Bendinya dihias dengan cantik sekali. Kepala kuda yang putih bersih dihias dengan jambul yang terbuat dari benang tujuh ragam. Pegangan kuda dari kayu jati yang mengkilat dengan gagang dari emas. Rumah bendi terbuat dari kayu yang berukir indah sekali. Tempat duduknya dari kapas tebal yang dibungkus kain beledru bewarna biru dan kelihatan masih baru. Nenek Timah naik ke bendi itu. Peragatnya di letakkan di lantai bendi. Bendi itu tercium harum sekali, seperti bau kesturi bercampur kayu kenanga.&lt;br /&gt;Nenek Timah heran. Belum pernah ia melihat bendi demikian indah. Kalau ia ke Padangpanjang, ia juga naik bendi ke pasar. Tapi bendi di Padangpanjang kelihatan kotor dan jorok. Selalu tercium bau ciik kuda. Ini beda sekali. Bendi indah dan harum milik siapa ya? Pikir nenek Timah tidak habis mengerti.&lt;br /&gt;”Nek, kita akan berangkat, tolong nenek duduk yang tenang, karena perjalanan kita cukup jauh, dan bendi ini akan terbang sekali-sekali untuk mempercepat sampai”, kata Bujang Selamat.&lt;br /&gt;Nenek Timah makin bingung mendengar perkataan anak muda itu. Ia hanya diam saja. Bendi akan terbang? Bendi apa pula ini pikirnya. Bagaimana caranya kuda bisa terbang bersama bendinya, tidak mungkinlah. Memang, dulu pernah ia mendengar cerita tentang kuda terbang, atau semacam binatang yang bersayap dan bisa terbang. Burak namanya. Kabarnya burak inilah kendaraan nabi Muhammad sewaktu beliau isra’ dan mi’raj. Terbangnya secepat angin. Apa kuda ini keturunan burak?, pikir nenek Timah. Tapi kelihatannya ia tidak punya sayap. Ia kuda biasa. Tapi memang badannya tegap dan ramping, kepalanya tegak dan pandangan lurus kedepan.&lt;br /&gt;Ah, terserahlah, yang penting aku akan lihat kemana bendi ini berjalan ke kerajaan Beringin Keramat itu.&lt;br /&gt;”Hua...huaa..ayo berangkat Gumarang, kita harus cepat sampai”, kata Bujang Selamat ke kuda putih itu.&lt;br /&gt;”Hiik..hiik..hiik”, kata kuda itu tiga kali.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Bendi terangkat. Nenek Timah terkejut dan ia berpegang erat-erat ke tonggak dibelakang tempat duduknya. Kuda Gumarang itu melompat dan ia melewati pohon durian dengan mudah, dan hup..ia melompati tabek di belakang pohon durian dan melewati sawah dengan kencangnya.&lt;br /&gt;Benar juga bendi ini bukan berjalan di jalan biasa. Tapi bendi ini terbang dan melayang diatas persawahan dan ladang.&lt;br /&gt;Pelan-pelan dan samar-samar Nenek Timah melihat dua sayap muncul dari sebelah kiri-kanan pinggang kuda itu. Ini dia burak itu. Atau ini mungkin cucunya burak itu, pikirnya.&lt;br /&gt;Tidak lama mereka telah berada diatas batang Anai. Samar-samar kelihatan airnya yang memutih dibawah sana. Oh ya itu dia jembatan gadang di dekat bukik pekuburan Pasar Kerambil. Kuda dan bendi itu melayang terbang ke arah mudik mengikuti alur batang Anai. Tak lama kelihatan Bukik Rambai yang juga merupakan pandam pekuburan orang Kampung Apa dan Kandang Ampek. Kemudian kuda itu terbang melintasi batang Anai dan melewati stasiun kereta api Kandang Ampek terus ke barat menuju bekas perkebunan Belanda Bern.&lt;br /&gt;Di bawah kelihatan lubuk jernih mata air Bulakan yang memancarkan air dari celah batu yang berasal dari perut Gunung Tandikek. Mata air ini adalah sumber air bagi orang Kandang Ampek, Kampung Apa, Pasa Kerambil, Guguak, Pasar Surau, Pasar Jua dan terus ke Kayutanam. Airnya jernih sekali. Ia mengairi sawah, tabek, dan mengalir melalui Batang Tarok dan Banda Gadang.&lt;br /&gt;Airnya bisa langsung di minum.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Tidak lama kuda terbang ini telah melewati hutan lebat di kaki gunung Tandikek.&lt;br /&gt;“Nek, siap-siaplah, sebentar lagi kita akan sampai”, kata Bujang Selamat lagi.&lt;br /&gt;Kuda dan bendi itu terbang agak meninggi sekarang. Mereka memasuki awan putih seperti kapas. Udara terasa makin dingin. Nenek Timah memasang baju hangatnya dan melilitkan selendangnya kelehernya. Ia terbatuk-batuk sekarang.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Kemudian kuda itu menukik turun. Dibawah kelihatan samar-samar banyak rumah-rumah yang cantik-cantik. Tapi, modelnya aneh. Semuanya seperti bulat telur. Rumah siapa ini?, pikir nenek Timah.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Tak lama kemudian mereka telah berada di atas tanah lapang dengan rumput hijau dan indah sekali. Kuda dan bendi itu berjalan pelan sekarang. Di kiri kanan kelihatan berjejer tanaman puding segala macam warna. Ada puding gerai dengan warna daunnya kuning campur merah yang cantik sekali. Ada puding gadang dengan warna daun lebar cokelat dan hitam diselingi warna ungu yang kelihatan anggun. Disana bermain kupu-kupu yang sedang mengisap madu dari bunga ros merah, kuning, jingga, ungu, putih yang berkelompok ditanam sesuai dengan warna. Ada juga bougenville yang bewarna merah darah dan bewarna ungu yang sanagt cantik. Semua ditanam di halaman sebuah istana yang dicat putih bersih, di belakang sebuah pohon beringin raksasa dengan daun yang lebat sekali. Ada dua buah pohon beringin ini, dikiri kanan seakan ditanam sebagai tiang gapura pintu masuk ke istana itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;”Nenek turun di sini, nanti akan dijemput oleh dayang-dayang istana”, kata Bujang Selamat.&lt;br /&gt;Memang, kemudian kelihatan dua orang putri dayang-dayang dengan pakaian sulaman yang indah datang menghampiri.&lt;br /&gt;Nenek Timah turun dari bendi. Peragatnya di berikan oleh Bujang Selamat ke salah seorang dayang –dayang.&lt;br /&gt;“Nenek Timah, mari masuk ke istana. Putri Mayang Taurai telah menunggu”, kata salah satu dayang-dayang.&lt;br /&gt;Dengan dibimbing kiri kanan oleh dua dayang-dayang itu nenek Timah berjalan memasuki istana melalui karpet merah menyala. Serambi istana telah dihiasi dengan umbul-umbul pucuk kelapa dan pucuk enau. Sesampai di serambi ia dibimbing memasuki sebuah pintu di samping kiri.&lt;br /&gt;“Nek, kita ke kamar ganti dulu”, kata seorang dayang-dayang.&lt;br /&gt;Di dalam kamar ganti itu banyak sekali bergantungan baju-baju yang indah-indah. Ada baju kurung, ada baju adat berenda-renda. Ada bermacam selendang beraneka warna.&lt;br /&gt;Nenek Timah di pakaikan sebuah baju kurung dari sutera bewarna kuning gading dengan bunga-bunga suplir melingkar. Cantik sekali. Rambutnya disisirkan oleh dayang-dayang tadi. Badannya disemproti dengan minyak parfum dari Arab yang harum sekali. Kepalanya ditutupi dengan sebuah selendang panjang dengan warna yang sama. Dia dipakaikan sebuah terompah dari beledru dengan warna kuning yang sama. Di lehernya digantungkan kalung-kalung emas bercampur batu akik yang dirangkai indah sekali. Juga dipakaikan gelang-gelang keroncong dari emas yang kalau tangannya digerakkan akan berbunyi gemerincing.&lt;br /&gt;Nenek Timah menjelma menjadi seorang wanita yang cantik anggun. Sebenarnya nenek Timah belum tua amat. Umurnya baru empat puluh lima tahun. Namun karena kemiskinan dan turun kesawah tiap hari serta mencari kayu bakar buat memasak, badannya jadi kurus kering dan kelihatan sangat tua.&lt;br /&gt;“Nek, sekarang kita akan memasuki kamar ganti Tuan Putri Mayan Taurai”, kata seorang dayang-dayang.&lt;br /&gt;Melalui sebuah lorong dibalik kamar itu, mereka keluar dan belok ke kiri. Disana ada ruangan yang luas sekali. Ada banyak wanita disana. Mereka merangkai bunga dan menggunting kain paco untuk hiasan kamar penganten putri. Semuanya berpakaian baju kurung warna putih seragam. Belum pernah nenek Timah menyaksikan persiapan perkawinan semeriah ini. Ia membathin, benar-benar raja yang kaya yang sedang bermenantu. Pantas semeriah ini.&lt;br /&gt;Seorang dayang membuka sebuah pintu berukir yang indah sekali. Mereka memasuki sebuah kamar yang luas yang penuh dengan hiasan bergelantungan. Lampu kristal besar kelihatan menggantung persis di tengah ruangan. Mepet ke dinding belakang menempel sebuah tempat tidur besar dari kayu jati dengan ukiran kepala naga dan ular yang sedang berkejaran. Pinggir-pinggir tempat tidur telah ditempeli kain beledru warna pink dan biru selang seling warna hijau lembut. Kasurnya kelihatan tebal sekali dengan bantal-bantal besar dn kecil berselang seling diatus diatas kasur. Rupanya ini kamar pengantenya. Pikir nenek Timah.&lt;br /&gt;Di sebelah kanan menempel lemari besar dan juga dari kayu jati berukir.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Diatas sehelai permadani Persia yang mahal dan indah duduklah seorang putri cantik yang sedang ditemani oleh lima orang dayang-dayang yang sedang mengipasi dan membersihkan kuku-kuku kaki si putri.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Melihat nenek Timah datang, sang putri menoleh.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;“Selamat datang nek di kerajaan, nenek sudah lama saya tunggu”, suara lembut merdu sekali.&lt;br /&gt;“Perkenalkan saya Putri Mayang Taurai, anak raja Dang Putera dan putri Ibunda Dewi Kayangan”, kembali sang putri memperkenalkan.&lt;br /&gt;“Ijinkan hamba yang jelek ini memasuki istana tuan putri. Kalau hamba lancang tolong dimaafkan, maklum hamba hanya orang kampung Subarang yang miskin.&lt;br /&gt;”Nek, kami sudah tahu siapa nenek, dan kami telah menganggap nenek keluarga kami juga”, jelas sang putri.&lt;br /&gt;Supaya nenek tidak canggung akan saya terangkan pada nenek sebuah peristiwa dimana sejak itu nenek masuk orang yang harus diperhatikan oleh ayahanda hamba Raja Dang Putera.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Nenek mungkin ingat, sewaktu suami nenek masih hidup, pak Haji Ahmad yang guru ngaji di Subarang, dia pernah tidak pulang satu hari. Dan kemudian satu bulan setelah itu ia jatuh sakit, dan Tuhan memanggilnya.&lt;br /&gt;Sewaktu beliau hilang satu hari, sebenarnya beliau kami undang kemari atas perintah ayahanda. Saya waktu itu masih kecil. Juga Pangeran Dang Kelana kakak saya masih remaja. Kakak saya punya peliharaan seekor murai yang pandai bicara. Sewaktu kami main-main ke negeri bawah angin, begitu kami menyebut kampung nenek, terjadi sebuah kecelakaan kecil. Karne asyiknya saya main-main di lubuk jernih dipinggir ladang nenek, dan pangeran dang Kelana sedang asyik berburu seekor anak kancil, burung murainya juga terbang bermain-main. Rupanya seorang anak kampung sedang mencari burung dengan katapelnya. Dan ia membedik murai kami. Kenalah sayapnya dan patah.&lt;br /&gt;Pengeran marah sekali. Untung saya bisa menyabarkan.&lt;br /&gt;Saya bilang kita tarok murai ini diatas batu dipinggir lubuk. Sebentar lagi haji Ahmad akan datang dan ia akan mengambil udhuk di sini. Kami bersembunyi dibalik pohon langsat disamping lubuk.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Benar, pak haji Ahmad suami nenek datang. Ia melihat seekor burung murai batu terletak sakit sayapnya patah diatas sebuah batu. Ia nampaknya kasihan. Ia bersihkan luka sayap burung kami. Kemudian ia beri obat daun singkong yang ia kunyah dan dibalutnya dengan sobekan serban hajinya sayap burung itu.&lt;br /&gt;Perbuatannya tidak lepas dari pandangan kami berdua.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Tidak lama setalah pak haji selesai berwudhuk, burung kami siuman dan melompat kebalik pohon. Lalu kami ambil. Kami melihat pak haji tersenyum puas dan ia pulang kerumah nenek.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Kami kembali ke kerajaan dan melapor kepada ayahanda. Ayahanda kelihatannya simpati dengan perbuatan haji Ahmad dan menyuruh pesuruh istana datang ke rumah nenek untuk mengundang pak haji ke istana.&lt;br /&gt;Nah, setelah Pak Haji kami jamu di istana, dan ayahanda berpesan supaya Pak Haji jangan menceritakan pengalamannya di kerajaan kami. Mungkin nenek melihat setelah pulang kembali kerumah, Pak Haji berubah jadi pendiam.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Namun, kami juga turut sedih setelah kemudian Pak Haji meninggal. Nenek mungkin tidak menyadari bahwa pada hari Pak Haji meninggal sebenarnya saya dan kakak saya datang kerumah nenek. Kami membawa bunga tanda dukacita. Namun kehadiran kami pasti tidak terlihat oleh orang kampung Subarang. Karena memang demikianlah takdir kita masing-masing.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Demikian sebagai pembuka pembicaraan sang Putri Mayang Taurai menceritakan beberapa kejadian yang tidak disadari oleh Nenek Timah selama ini.&lt;br /&gt;”Jadi nak Putri ini dari suku mana ya”, tanya nenek Timah.&lt;br /&gt;”Nek, ceritanya panjang sekali”, kata Putri. Dulu kami ini adalah keluarga kerajaan Pagarruyung yang pertama. Karena sesuatu yang tidak terelakkan, karena sudah menjadi nasib pula, maka jadilah kami kaum yang terbuang. Dan karena sumpah kerajaan oleh Raja Pagarruyung yang pertama Dang Tuanku, maka anak keturunan dari nenek kami ”diminta supaya tidak terlihat” oleh semua rakyat Pagarruyung.&lt;br /&gt;”Kenapa demikian tuan Putri”, tanya nenek Timah pula.&lt;br /&gt;”Nenek kami dulunya adalah seorang selir raja Pagarruyung, yang tidak diakui oleh istana. Karena nenek kami adalah seorang dayang-dayang yang diambil dari tanah jajahan kerajaan diseberang sana, dari sebuah pulau di kerajaan Melayu.&lt;br /&gt;Karena kecantikan dayang-dayang itu, diam-diam raja menaruh hati. Dan raja lalu menjadikannya selirnya, tanpa diketahui oleh Bundokanduang sang permaisuri raja.&lt;br /&gt;Ketika diketahui bahwa sang selir hamil, maka ributlah Bundokanduang. Ia menyuruh untuk mengusir si selir. Rajapun cepat mengambil sikap. Ia segera menikahkan sang dayang-dayang yang telah ia peristeri dengan seorang bujang perawat kuda istana, Pandeka Kilek namanya.&lt;br /&gt;Pandeka Kilek dan Sang dayang-dayang diungsikan ke sebuah hutan laranganan di kaki Gunung Tandikek. Dan karena kesaktian sang raja yang bersumpah supaya anaknya yang dikandung oleh si selir diselamatkan, ia menyumpah keturunannya itu tersembunyi dari penglihatan orang banyak.&lt;br /&gt;Suatu saat si selir mau melahirkan, dan terjadilah patuih tungga di siang hari.&lt;br /&gt;Gelegar petir mengagetkan orang semua. Karena hari panas betinting, tidak ada setetes pun hujan, tapi petir tengah hari itu keras luar biasa. Sebatang pohon kelapa sampai hangus terbakar.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Lahirlah seorang putri yang cantik sekali. Dan sejak itu keturunan kami tersembunyi di tengah hutan dan tidak terlihat oleh orang banyak.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Jadilah kami Orang Bunian. Keturunan kami bermukim disini. Dan kami juga sering menjemput orang kampung yang kami nilai baik, namun sering dikucilkan oleh masyarakat karena kemiskinannya. Kami bawa mereka kemari dan kami beri penghidupan di kerajaan Beringin ini. Tapi, mereka segera menjadi orang Bunian juga.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Demikianlah nek, kerajaan ini berkembang. Kami juga sering datang kepasar ke tempat orang biasa berdagang. Kami juga sering ke Malalak, ke Kayutanam, ke Kandang Ampek, ke Padangpanjang, ke Silaing, ke Batipuh, dan ke Sungai Limau dan ke Singkarak.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Cuma kaum kami tidak boleh ke tanah Agam. Karena tanah Agam adalah tanah sakti dan mulia. Ilmu Bunian akan tertolak disini. Kalau ada yang berani keluar dan memijak tanah Agam, maka dirinya akan terlihat dan ia akan mengalami malapetaka.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Dan itu pernah kejadian, seorang pemuda &amp;nbsp;kami memburu kijang sampai ke batas Sungai Buluah, dan rupanya ia terpikat seorang gadis cantik yang sedang menyiang sawah disana. Ia mendekati si gadis, tanpa ia ketahui bahwa dirinya telah nyata, dan ia ditangkap orang kampung, karena penampilannya berbeda. Untunglah ia diselamatkan oleh orang tua si gadis, dan ia akhirnya menikah dengan gadis itu dan tidak pernah balik lagi ke Beringin.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;”Nek, mari hiaslah diri saya, karena nanti sore calon suami saya akan datang dari tanah Jambi”, sang Putri raja meminta nek Timah untuk menghias dirinya.&lt;br /&gt;”Baiklah”, kata nenek Timah.&lt;br /&gt;Sang Putri Mayang Taurai di dandani oleh nenek Timah dengan eloknya. Mukanya yang cantik dan putah itu diberi pupur dari bedak beras halus yang dicampur dengan bungatanjung sehingga harum dan membuat muka si putri raja makin bercahaya. Pipinya dimerahi dengan halusan bunga kesumba dicampur dedak beras pulut yang dihaluskan. Bahan ini diracik oleh nenek Timah sendiri. Itulah kelebihan nenek Timah dalam merias penganten. Ia selalu dicari orang. Bibir sang putri diberi gincu, yang dibeli oleh ayahnya di Persia sewaktu beliau menunaikan ibadah haji.&lt;br /&gt;Jadilah Putri Mayang Taurai seperti seorang dewi yang baru turun dari kayangan.&lt;br /&gt;Ia adalah Putri Raja Urang Bunian.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Demikianlah nenek Timah menghias putri raja Bunian di kerajaan Beringin di kaki Gunung Tandikek, yang segera melangsungkan perkawinannya dengan seorang anak Raja dari Jambi yang juga keturuan dari orang Bunian yang mendiami hutan keramat Bukit Dua Belas.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Sorenya menjelang maghrib ia kembali diantar oleh kuda terbang dan Bujang Selamat kembali ke rumahnya di Subarang. Nenek Timah di hadiahi kalung dan gelang emas buat cucunya oleh sang Putri Raja.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Pagi-pagi sekali si Upik cucu nenek Timah terkejut melihat neneknya teridur di depan tangga rumah.&lt;br /&gt;Ia bangunkan neneknya.&lt;br /&gt;”Nek, bangun hari sudah shubuh. Kenapa nenek tidur di luar”, tanya Upik.&lt;br /&gt;Nek Timah bangun, ia ke pancuran. Ia diam saja. Kemaren ia dipesankan oleh Putri Mayang Taurai, supaya tidak menceritakan kerajaan Bunian itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Cerita Nek Timah tetap tersimpan rapat sampai ia menghembuskan napas terakhirnya, dan cucunya Upik tetap menyimpan rahasia ini. &lt;br /&gt;Hidup Upik kini telah berubah, dan setelah ia menikah dengan Udin petani teman sekampung di Subarang. Perhiasan hadiah kerajaan Bunian yang ia simpan selama ini setelah neneknya meninggal, kemudian ia jual. Dan uangnya mereka pakai untuk modal dagang dan mereka pindah ke Pekanbaru. Disinilah Upik hidup bersama suaminya. Cerita tentang neneknya yang hilang seharian tetap ia simpan, karena ia tidak tahu sampai sekarang kemana neneknya pergi dan dari mana nenek dapat perhiasan itu. Itu tetap jadi teka teki sampai sekarang.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #222222; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 13px; margin-bottom: 1em; margin-top: 1em; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;di kutip:&amp;nbsp;https://groups.google.com/forum/#!msg/rantaunet/ABiOXHCVeFk/9hrt9GI6g1QJ&lt;/div&gt;</content><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/feeds/8837027825692635243/comments/default" rel="replies" title="Posting Komentar" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2012/05/kisah-urang-bunian.html#comment-form" rel="replies" title="0 Komentar" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default/8837027825692635243" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default/8837027825692635243" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2012/05/kisah-urang-bunian.html" rel="alternate" title="KISAH URANG BUNIAN" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01974128379563667848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1756756116987703705.post-2598106789629056778</id><published>2012-05-25T14:11:00.000+07:00</published><updated>2013-11-27T01:30:23.469+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sejarah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tokoh minang"/><title type="text">Syekh Sulaiman Arrasuli atau Inyiak Canduang</title><content type="html">&lt;div style="background-color: white; font-family: sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"&gt;&lt;b&gt;Syekh Sulaiman ar-Rasuly&lt;/b&gt;&amp;nbsp;dilahirkan di Canduang yaitu sebuah desa terletak lebih kurang 8 kilimeter sebelah timur&amp;nbsp;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Bukittinggi" style="background-image: none; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; color: #0b0080; text-decoration: none;" title="Kota Bukittinggi"&gt;kota Bukittinggi&lt;/a&gt;&amp;nbsp;tepatnya di kaki gunung Merapi. Syekh Sulaiman Ar-Rasuly yang lebih populer dengan sebutan&amp;nbsp;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Inyiak Canduang&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&amp;nbsp;dilahirkan dari pasangan seorang ulama yaitu Angku Muhammad Rasul dan Siti Buli’ah.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="background-color: white; font-family: sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"&gt;Inyiak Canduang tercatat sebagai pemuda yang gigih dalam mengasah bakat keagamaan dan mata spritualnya lewat belajar dari berbagai tokoh-tokoh ulama ternama seperti belajar di pesantren Tuanghu Sami Ilmiyah di Baso kemudian belajar agama dengan Syeikh Muhammad Thaib Umar di Sungayang-Batusangkar. Dan selesai belajar dari Syeikh Muhammad Thaid Umar ini Inyiak Canduang melanjutkan belajar agama pada Syeikh Abdullah Halaban. Dan pada masa-masa pematangan religinya tepatnya pada tahun 1903, Inyiak Canduang berangkat ke tanah suci dengan misi Tafaguh Fi al-Din dengan belajar dan memperdalam ilmu agama pada Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawy. Selain pada Syeikh Ahmad Khatib ini Inyiak Canduang juga berupaya memperkaya khazanah pengetahuan agamanya lewat belajar pada ulama-ulama mashur di tanah suci seperti belajar pada Syeikh Mucthar At-Tharid, Syeikh Nawawi Al-Banteny, Sayyid Umar Bajened dan Syeikh Sayid Babas El-Yamani.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; font-family: sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"&gt;Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly kembali ke ranah minang pada tahun 1907 setelah memperkaya pengetahuan agama selama tiga setengah tahun di Tanah Suci. Secara histories kembalinya Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly ke Ranah Minang merupakan warna tersendiri bagi dakwah Islam serta perjuangan rakyat Minangkabau dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Hal ini disebabkan tingkat perjuangan yang dilakoni oleh Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly ini sedikit berbeda dari ulama-ulama minang yang lain seperti halnya Buya Hamka, Syeikh Inrahim Musa yang merupakan golongan ulama muda yang garis perjuangannya bersifat Deaktivasi Kolonial dengan cara membakar jiwa perlawanan rakyat terhadap kolonialisme sedangkan Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly garis perjuangannya lebih bersifat developmetisasi basisi perjuangan rakyat lewat berbagai bidang kehidupan sehingga basisi yang dibangun oleh Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly ini menjadi amunisi yang ampuh dalam megusir kolonialisme di Ranah Minang. Hal ini terbukti pada Agresi Militer Belanda I dan II ke ranah minang, dimana peran masyarakat sipil menjadi basis kekuatan dominan dalam membendung Agresi Belanda tersebut. Dalam hal ini Andrey Kahin berkomentar sebagaimana yang dikunilkannya oleh Djoeir Muhammad bahwa “laskar-laskar desa ini menjadi pasukan keamanan yang paling tangguh di daerah”. Aktualnya komentar Andrey Kahin ini menjadi indicator bahwa basis-bais masyarakat sipil telah dibangun oleh tokoh-tokoh pejuang termasuk di dalammya Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly merupakan amunisi yang paling ampuh dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; font-family: sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"&gt;Sejarah perjuangan Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly adalah sejarahnya mengembangkan masyarakat sipil manangkabau. Secara faktual ada beberapa basis yang dibangun oleh Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly sehingga menjadi piranti bagi perjuangan rakyat Sumatera Barat. Perttama&amp;nbsp;: Reformasi sistem pendidikan agama sebagai modal perjuangan rakyat minangkabau dalam meningkatkan sumberdaya manusia. Sistem pendidikan agama di ranah minang pada zaman sebelum datangnya Inyiak Canduang lebih bersifat klasikal dengan metode halaqah dan hanya diajarkan mampuni. Oleh sebab itu Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly tampil sebagai reformis dalam pendidikan agama dengan mengarahkan metode pendidikan agama tradisional mengajarkan berbagai ilmu-ilmu agama mulai dengan ilmu-ilmu dasar bahasa arab seperti ilmu alat (nahu, syaraf, balaqah, badi’, ilmu hadits, ilmu qur’an dan mantiq) sampai dengan ilmu-ilmu terapan seperti (tafsir, akhlak, fiqh, tauhid) dengan reference utamanya adalah kitab klasik.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; font-family: sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"&gt;Siklus dari reformasi yang dilakoni oleh Inyian Canduang ini ialah terbentuknya Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI), proses berdirinya Madrasah ini didahului oleh proses musyawarah antara ulama-ulama yang mengaku dirinya sebagai penganut Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang bermusyawarah di canduang pada tanggal 5 Mei 1928 dalam musyawarah ini disepakati bahwa ada reformasi sistem pendidikan agama islam dari system klasik ke system Madrasah Tarbiyah Islamiyah. Di antara ulama yang menghadiri rapat ini ialah&amp;nbsp;: Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly, Syeikh Ababs Al-Qadhi,dari Ladang Laweh Bukittinggi, Syeikh Ahmad dari Suliki, Syeikh Jamil Jaho dari Padang Panjang, Syeikh Abdul Wahid Ash-Shaleh dari Suliki, Syeikh Muhammad Arifin dari Batu Hampar, Syeikh Alwi dari Koto Nan Ampek Payakumbuh, Syeikh Jalaluddin dari Sicincin Pariaman, Syeikh Abdul Madjid dari Koto Nan Gadang dan HMS Sulaiman dari Bukittinggi. Madrasah Tarbiyah Islamiyah yang pertama didirikan oleh Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly adalah MTI yang ada di Canduang pada bulan Mei 1928, lantas diberi nama dengan MTI CANDUANG kemudian baru diikuti oleh MTI Jaho di Padang Panjang yang dipimpin oleh Syeikh Jamil Jaho, kemudian disusul dengan berdirinya MTI Tabek Gadang Payakumbuh oleh Syeikh abdul Wahid Shaleh. Secara genetif MTI Canduang merupakan poros dari eksistensi MTI-MTI yang tersebar di Nusantara, tercatat sampai sekarang ada sekitar 216 Madrasah Tarbiyah Islamiyah yang eksis di Sumatera Barat. Langkah yang dilakukan oleh Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly dalam mereformasi sistem pendidikan di Minangkabau merupakan pondasi bagi pengembangan basis perjuangan rakyat yang dipandang sebagai modal untuk mensupply sumberdaya manusia dalam rangka memperkuat kaum cendikia dan ulama yang mampu mengorbankan semangat rakyat dalam mencapai dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; font-family: sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"&gt;Kedua&amp;nbsp;:Formulasi partai politik sebagai manifestasi Political Power (kekuatan Politik) dalam rangka memperkuat perjuangan kemerdekaan. Pada tanggal 28 Mei 1930 Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly memperkasai berdirinya PERTI (Persatuan Tarbiyah Islamiyah) yang berfungsi sebagai pengelola Madrasah-Madrasah Tarbiyah Islamiyah yang berada di bawah naungannya. Namun disebabkan gejolak revormasi pada tahun 1946 Organisasi PERTI yang khitahnya bergerak sebagai organisasi sosial keagamaan beralih fungsi menjadi Partai Politik. Peralihan fungsi PERTI ini menjadi partai politik disebabkan argumen KH. Sirajuddin Abbas murid Inyiak Canduang bahwa “Agama Jaga Harus Memberi Arah Pada Perjuangan Politik Bangsa”. PERTI dalam sejarah perpolitikan di Indonesia mempunyai andil yang cukup besar dalam memobilisasi rakyat dalam mensukseskan misi revolusi kemerdekaan Republik Indonesia. Namun seiring dengan waktu, perpecahan dalam tubuh PERTI tidak dapat dihindari karena adanya perebutan kekuasaan, perpecahan ini men gecewakan pendiri PERTI khususnya Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly sehingga demi menyelamatkan PERTI beliau mengeluarkan Dekrit pada Tanggal 1 Mei 1969 agar PERTI kembali kepada khittahnya sebagai organisasi yang bergerak di bidang social dan keagamaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; font-family: sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"&gt;Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly tercatat sebagai negarawan yang mempunyai visi yang tajam tentang organisasi kemasyarakatan dalam rangka mengemban misi kemerdekaan Indonesia, karier politik Inyiak Canduang ini dimulai pada tahun 1918 hal ini terbukti dengan jabatan yang dipangkunya sebagai presiden anak cabang Serikat Islam untuk kabupaten Agam.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; font-family: sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"&gt;Karier Politik Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly berlanjut pada masa pendudukan Jepang, pada masa pendudukan Jepang kedudukan partai-partai Islam terancam pupus disebabkan intrik Jepang yang berusaha melenyapkan Partai-Partai Islam yang mereka pandang sebagai basis perjuangan rakyat Minangkabau. Dan intrik Jepang ini sempat terlaksana dengan cara meleburkan partai-partai islam yang ada di Sumatera Barat, hal ini dapat kita amati dari terbentuknya Majelis Islam Tinggi Minangkabau (MTIM) pada tahun 1943, dimana Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly di serahi sebagai ketua umum dan A. Ghaffar Jambek sebagai ketua I, HMD Panglimo Kayo sebagai sekretaris umum, MR. Mahmud Yunus memimpin Dewan Pengajaran, AR. Sutan Mansur mewakili Muhammadiyah, sedangkan H. Sirajuddin Abbas mewakili PERTI. Pada zaman kemerdekaan Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly sempat diserahi tugas oleh Soekarno sebagai anggota konstituante RI, dan di tempatkan sebagai Dewan Kehormatan dengan menjadi pemimpin sidang pada sidang-sidang konstituante tersebut. Pada tahun 1947 Mr. Sotan Muhammad Rasyid, menyerahi Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly sebagai kepala Mahkamah Syar’iyah propinsi Sumatera Tengah dalam rangka mengurusi problematika syar’iyah dan sekaligus ulama yang berperan sebagai pengobar semangat perjuangan rakyat dalam rangka mempertahankan kemerdekaan dari agresi militer Belanda.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; font-family: sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"&gt;Ketiga&amp;nbsp;: Mendorong terbentuknya laskar-laskar rakyat yang pada akhirnya menjadi kekuatan dominan dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Peran yang dilakoni oleh Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly tidak terbatas pada skala sosial dan agama saja, namun juga mendorong lahirnya kekuatan-kekuatan pra-militer yang berfungsi sebagai laskar yang menjaga dan mengawal daerah dimana mereka bertugas. Dalam hal sejarah mencatat peran Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly dalam hal ini berawal ketika Jepang mengusulkan dan berdiskusi dengan Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly agar dibentuk laskar-laskar rakyat yang aktualnya Jepang ingin mengambil manfaat sebagai tambahan kekuatan militer dalam rangka menghadapi perang Asia Raya. Terlepas dari itu upaya Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly dalam membentuk laskar-laskar rakyat membawa dampak positif yang cukup besar dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari pendudukan Belanda kembali (Agresi Militer Belanda I dan II) Menyingkapi ususlan Jepang di atas Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly membentuk laskar rakyat Sumatera Barat dan kemudian diusulkan terbentuknya laskar muslim oleh PERTI, Hisbullah oleh Muhammadiyah, Barisan Sabilillah oleh MITM dan disusul dengan terbentuknya GPII, setelah Jepang kalah. Prediksi Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly tentang manfaat pembentukan laskar-laskar rakyat ternukti sebagai kekuatan utama yangmembela kemerdekaan Indonesia, hal ini disebabkan karena kemampuan militer yang di dapat dari Jepang menjadi amunisi tersendiri bagi perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; font-family: sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"&gt;Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly wafat pada tanggal 1 Agustus 1970, wafatnya Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly meningkalkan luka yang dalam bagi rakyat Indonesia, karena hilangnya salah seorang pejuang kemerdekaan dan ulama yang kharismatik dari roda kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun demikian sebagai pejuang dan ulama besar yang memiliki kepribadian yang luhur, garis perjuangannya serta amalannya bagi nusa dan bangsa patut dijadikan teladan bagi generasi muda saat ini. Jasa Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly sebagai perintis kemerdekaan dan pengemban agama Islam tidak akan ternilai hanya dengan penghargaan Oranye Van Nassau dari pemerintahan Belanda, serta menobatkan beliau sebagai pahlawan perintis kemerdekaan dan dianugerahi tanda penghargaan sebagai ulama pendidik. Namun yang lebih penting adalah bagaimana pemerintah dan semua komponen rakyat mengintegrasikan nilai-nilai perjuangan Syeikh Sulaiman Ar-Rasuly dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; font-family: sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; font-family: sans-serif; font-size: 13px; line-height: 19px; margin-bottom: 0.5em; margin-top: 0.4em;"&gt;di kutip:&amp;nbsp;wikipedia.org&lt;/div&gt;</content><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/feeds/2598106789629056778/comments/default" rel="replies" title="Posting Komentar" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2012/05/syekh-sulaiman-arrasuli-atau-inyiak.html#comment-form" rel="replies" title="0 Komentar" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default/2598106789629056778" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default/2598106789629056778" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2012/05/syekh-sulaiman-arrasuli-atau-inyiak.html" rel="alternate" title="Syekh Sulaiman Arrasuli atau Inyiak Canduang" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01974128379563667848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1756756116987703705.post-1815356659863683651</id><published>2012-05-25T14:06:00.000+07:00</published><updated>2013-11-27T01:30:23.465+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sejarah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tokoh minang"/><title type="text">Abdul Karim Amrullah; Tokoh Pembaharuan Minangkabau</title><content type="html">&lt;span style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;Abdul Karim Amrullah lahir pada tanggal 10 Februari 1879 (17 Syafar 1296 Hijriah) di Sungai Batang, Maninjau, Sumatera Barat. Pada waktu kecil ia diberi nama Muhammad Rasul, namun setelah menunaikan ibadah haji namanya diganti menjadi Abdul Karim Amrullah. Ia juga dikenal dengan panggilan Inyiak De-er (Dr.), karena pada tahun 1926 ia mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar di Mesir dalam bidang agama. Ayahnya bernama Syekh Amrullah atau Tuanku Kisai, seorang guru tarekat Naqsyabandiyah di Maninjau.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;Pada usianya yang relatif muda, yakni sekitar usia 10 tahun, ia disuruh mengaji Al-Qur`an kepada Muhammad Shalih dan Haji Hud di Tarusan, Pesisir Selatan. Setahun kemudian, ia belajar berbagai ilmu agama kepada ayahnya, Syekh Amrullah di Sungai Batang, Maninjau. Pada usianya memasuki 15 tahun ia berangkat ke Mekkah untuk memperdalam ilmu agama atas perintah ayahnya. Dalam kepergiannya ini, ia tinggal di Mekkah selama 7 tahun (1894-1901) dan selama di sana ia belajar kepada beberapa orang guru, diantaranya adalah Syekh Ahmad Khatib, Syekh Taher Jalaluddin, Syekh Muhammad Djamil Djambek (ketiga guru itu berasal dari Bukittinggi, Sumatera Barat), Syekh Abdul Hamid, Syekh Usman Serawak, Syekh Umar Bajened, Syekh Shalih Bafadal, Syekh Hamid Jeddah, Syekh Sa’id Yamani. Dari sekian gurunya, Ahmad Khatib merupakan guru yang sangat dikagumi dan disebut-sebutnya, demikian Hamka menceritakan. Setelah ia kembali dari Mekkah tahun 1901, ia dinobatkan sebagai seorang ulama muda dengan gelar Syekh Tuanku Nan Mudo, sedangkan ayahnya, Syekh Muhammad Amrullah diberi gelar Syekh Tuanku Nan Tuo dengan suatu upacara. Tuanku Nan Tuo beraliran lama, sedangkan Tuanku Nan Mudo seorang pemuda yang membawa aliran baru.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;Pada tahun 1904 ia kembali ke Makkah dan kembali ke kampungnya tahun 1906. Kepergian yang kedua kalinya ini, disuruh ayahnya untuk mengantar adiknya belajar di sana. Namun, kesempatan ini dimanfaatkannya untuk mengajar pada halaqah sendiri di rumah Syekh Muhammad Nur al-Khalidi di Samiyah atas izin Ahmad Khatib. Namun demikian, ia sering bertanya kepada gurunya, Syekh Ahmad Khatib mengenai masalah-masalah yang rumit. Di antara murid-muridnya yang sekampung dengannya (Minangkabau) adalah Syekh Ibrahim Musa Parabek dan Syekh Muhammad Zain Simabur. Setelah pulang ke kampung, kedua muridnya itu ikut serta mensponsori gerakan pembaharuan.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;Usaha yang pertama dilakukan setelah kepulangannya dari Makkah untuk kedua kalinya adalah menumpas faham taqlid, bid’ah, dan kurafat yang bercampur-baur dengan ajaran agama. Untuk itu, ia aktif memberikan pengajian, tabligh, diskusi-diskusi atau polemik-polemik dengan orang-orang yang memper-tahankannya. Hal ini dilakukannya, bukan saja di Sungai Batang, Maninjau, kampung halamannya, tetapi juga sampai ke Bukittinggi, Padang Panjang, Matur, Padang, dan berbagai pelosok Minangkabau. Menurut Tamar Djaja, ia adalah seorang yang ahli berpidato dan selalu mendapat sambutan gemuruh dari pendengarnya. Pidatonya keras dan berapi-api membangkitkan semangat dan kesadaran. Oleh karena itu, pendekatan yang dilakukannya bersifat keras, tanpa maaf dan tanpa kompromi dalam mempertahankan kebenaran. Pengajian-pengajiannya ditandai dengan kecaman dan serangan terhadap segala per-buatan yang bertentangan dengan semangat pembaharuan, yang berdasarkan kepada al-Qur`an dan Hadits, baik dalam masalah aqidah, ibadah, maupun dalam masalah mu’amalah. Untuk itu, sasaran dakwahnya selalu mengecam dan menentang perbuatan yang berbau taqlid, bid’ah, dan khurafat. Usahanya dalam menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar, serta mengecam perbuatan bid’ah dilakukannya dengan tidak pilih bulu. Hal ini, terbukti sewaktu ia menentang menyelenggarakan perhelatan (kenduri) selama tujuh hari dari kematian ayahnya. Menurutnya, perbuatan ini adalah perbuatan bid’ah.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;Abdul Karim Amrullah adalah seorang yang sangat tidak setuju dengan ajaran tarekat, meskipun ayahnya sendiri adalah seorang Syekh tarekat Naqsyabandiyah. Perbedaan faham antara ia dengan ayahnya mengenai ajaran tarekat, bukanlah menjadikan ia, secara pribadi, durhaka dan melecehkan ayahnya. Demikian pula sebaliknya, ayahnya tidak merasa disaingi oleh anaknya sendiri, bahkan ia merasa bangga melihat kedalaman ilmu yang dimiliki anaknya. Untuk menjelaskan posisi ajaran tarekat dalam pandangan Islam, ia menulis dua buah buku. Pertama, Izhhaar Asaathir al-Mulhidin fi Tasyabbuhihim bi al-Muhtadiin, tahun 1908, buku ini mengecam tarekat Naqsyabandiyah. Kedua, Qathi’u Riqab al-Mulhidin fi ‘Aqaid al-Mufsidiin, tahun 1914, buku ini menentang ajaran tarekat Syatariyyah.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;Menurutnya, ajaran tarekat dapat memberi peluang untuk tumbuh dan berkembangnya taqlid dan bid’ah dalam agama. Sikap patuh dan mengkultuskan guru akan mengakibatkan tidak berfungsinya akal manusia dalam memikirkan sesuatu. Akibatnya al-Qur`an dan Hadits hanya dijadikan simbol untuk mencari kebenaran. Oleh karena itu, sering terjadi polemik antara dia dengan ulama yang mempertahankan ajaran tarekat. Ulama yang mempertahankan tarekat dan senantiasa berpegang kepada sikap taqlid populer dikenal dengan nama Kaum Tua. Sedangkan ulama yang menentang ajaran tersebut populer dengan nama Kaum Muda. Pemberian nama Kaum Muda dan Kaum Tua ini, sebenarnya, berawal dari jarak usia antara kedua kelompok tersebut. Kaum Muda, pada umumnya, didominasi oleh ulama yang muda-muda (di bawah usia empat puluh tahun) dan membawa pemikiran baru, sedangkan Kaum Tua, didominasi oleh ulama yang tua-tua dan mempertahankan tradisi lama.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;Sejak tahun 1911, Abdul Karim Amrullah menetap di Padang Panjang dan memimpin pengajian surau Jembatan Besi. Atas usaha dan inisiatif yang dilakukannya, pengajian surau Jembatan Besi ini semakin hari semakin berkembang dan semakin banyak muridnya. Mereka bukan saja datang dari daerah Padang Panjang, tetapi juga berasal dari berbagai daerah di seluruh pelosok Minangkabau dan bahkan ada yang dari Aceh, Medan, Riau, Palembang, dan Bengkulu. Dalam mem-berikan pelajaran, ia masih menggunakan sistem lama, yakni sistem halaqah (murid duduk di lantai beserta guru, serta mereka mengelilingi guru yang memberikan penjelasan mengenai pelajaran). Tetapi, metode yang digunakannya sudah dikembangkan ke arah kebebasan berfikir. Ia memberi kesempatan kepada murid-muridnya untuk mendiskusikan berbagai permasalahan keagamaan yang muncul. Dalam diskusi tersebut, masing-masing murid harus dapat meneluarkan pendapatnya yang disertai dengan alasan atau dalil Al-Qur`an dan Hadis.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;Dalam proses perjalanannya, Surau Jembatan Besi tersebut berkembang menjadi lembaga pendidikan modern, Sumatera Thawalib, tahun 1918. Setelah itu berdirilah beberapa Sumatera Thawalib di Parabek, Padang Japang, Sungayang, Maninjau, dan lain sebagainya. Dalam perjalanannya yang panjang itu, baik Surau Jembatan Besi, maupun Sumatera Thawalib Padang Panjang, serta Sumatera Thawalib lainnya di berbagai pelosok Minangkabau telah mencetak kader-kader pembaharuan Islam yang bergerak dalam berbagai aspek kehidupan, seperti menjadi guru, mubaligh, wartawan, pedagang, dan lain sebagainya. Mereka tersebar, bukan saja di seluruh pelosok Minangkabau, tetapi juga ke daerah-daerah Sumatera lainnya, ke Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan lain-lain.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;Bersama-sama Abdullah Ahmad, Abdul Karim Amrullah, mendirikan majalah Al-Munir, tahun 1911-1915 di Padang. Majalah ini bertujuan sebagai ”pemimpin dan memajukan anak-anak bangsa kita pada agama yang lurus dan beriktikat baik dan menambah pengetahuan yang berguna dan mencari nafkah kesenangan hidup supaya sentosa pula mengerjakan seluruh agama. Juga, untuk mempertahankan Islam terhadap segala tuduhan dan salah sangka”. Majalah dua mingguan ini memuat artikel untuk meningkatkan pengetahuan para pembacanya dan sekaligus sebagai pembawa suara kelompok Kaum Muda dalam menyuarakan berbagai pembaharuan dalam rangka perbaikan umat. Kemudian, ia juga menerbitkan majalah Al-Munir Al-Manar di Padang Panjang bersama Zainuddin Labay el-Yunusi tahun 1918.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;Pada tahun 1916 Abdul Karim Amrullah melawat ke Malaya dalam rangka memperluas pandangan dan usaha penerbitan kembali majalah Al-Munir, yang sudah tidak terbit sejak tahun 1915. Ia pergi bersama-sama dengan Syekh Daud Rasyidi dan adiknya, Haji Yusuf Amrullah, serta muridnya Saleh. Namun kehadirannya di sini, ternyata mendapat tantangan dari mufti di sana, yakni Syekh Abdullah Shaleh yang sama-sama belajar di Makkah. Ia dituduh sebagai kaum Wahabi dan Kaum Muda. Tahun berikutnya, yakni tahun 1917, ia pergi melawat ke Jawa. Di Surabaya ia bertemu dengan H.O.S. Cokroaminoto, tokoh Serikat Islam, dan di Yogyakarta bertemu dengan KH. A. Dahlan, pendiri Muhammadiyah. KH. A. Dahlan sudah sering membaca tulisan-tulisannya dalam majalah Al-Munir. Pada tahun 1918, ia bersama-sama Abdullah Ahmad, Syekh Muham-mad Djamil Djambek Bukittinggi, Zainuddin Labay el-Yunusi dan guru-guru lainnya mendirikan Persatuan Guru Agama Islam (PGAI) Sumatera.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;Pada tahun 1925, ia melawat ke Jawa untuk yang kedua kalinya. Di Yogyakarta, ia bertemu dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah, terutama dengan H. Fakhruddin. Dalam per-temuan itu mereka saling mengungkapkan perkembangan Islam di daerah mereka masing-masing. Ia tertarik dengan organisasi Muhammadiyah, karena disamping ideologinya mengacu kepada ajaran al-Qur`an dan Hadis, juga amal usahanya mencakup berbagai aspek ajaran Islam, seperti menyelenggarakan pendidikan dengan mendirikan sekolah-sekolah, melaksanakan amal sosial dengan mendirikan rumah-rumah pemeliharaan anak yatim dan fakir miskin dan lainnya.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;Sekembalinya ke kampung, ia menceritakan pengalamannya kepada kawan-kawannya mengenai organisasi Muhammadiyah dan amal usahanya dalam rangka menegakkan amar ma’ruf nahyi munkar. Ia yakin bahwa organisasi itu dapat berguna untuk melemahkan bekas muridnya, H. Datuk Batuah dan kawan-kawan, yang aktif dalam organisasi komunis. Pada tahun itu juga ia mendirikan Muhammadiyah di Sungai Batang, Maninjau melalui lembaga Sendi Aman yang didirikan tahun 1925. Setelah Sendi Aman menjalankan misi Muhammadiyah, lembaga ini berkembang dengan cepat dan sekaligus menjadi basis pertama Muhammadiyah di Minangkabau. Menurut Taufik Abdullah, usaha Abdul Karim Amrullah dalam memperkenalkan Muhammadiyah di Minangkabau pada tahun 1925 merupakan mata rantai yang tidak dapat dipisahkan dari totalitas per-juangannya dalam pembaharuan Islam di Minangkabau.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;Pada tahun 1926, Abdul Karim Amrullah bersama dengan Abdullah Ahmad sebagai utusan dari Persatuan Guru-Guru Agama Islam (PGAI) di Sumatra pergi ke Mesir untuk menghadiri kongres Islam di Kairo. Kedatangan dua utusan dari PGAI Sumatra (Indonesia) ini, yakni Haji Abdul Karim Amrullah dan Haji Abdullah Ahmad, di Kairo mendapat perhatian khusus dari kongres. Atas penyelidikan sebuah panitia terhadap perjuangan kedua utusan itu di tanah air mereka, maka kongres yang dipimpin oleh Syekh Husain Wali, seorang guru besar Al-Azhar, memberikan penghargaan kepada keduanya dengan gelar kehormatan Doctor (Doctor Honoris Causa) dalam bidang agama Islam. Kemudian, kedua utusan itu dibawa menghadap penganjur Mesir Saat Zaghul Pasya untuk mendengarkan nasihatnya.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;Perjalananya ke luar negeri, seperti pergi ke Malaya tahun 1916, ke Mesir tahun 1926, di samping perjalannya ke Makkah dalam rangka menuntut ilmu tahun 1894-1901 dan 1903-1906, dan juga perjalanannya ke tanah Jawa tahun 1917 dan 1925 telah menggerakkan dan memperkuat semangat pembaharuannya dalam rangka kemajuan Islam di Minangkabau. Di tambah lagi pada saat itu, sedang gencar-gencarnya ide pembaharuan Islam yang dihembuskan dari Mesir, seperti gerakan yang dilakukan oleh Jalaluddin al Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Rida dan lainnya di Timur Tengah dan India. Semuanya itu memperkokoh keinginannya untuk mengadakan pembaharuan dengan cara kembali kepada al-Qur`an dan Hadis.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;Gagasan pembaharuan Islam, bukan saja disampaikannya melalui media dakwah (tabligh, pengajian) dan pendidikan sekolah, tetapi juga melalui karya-karya tulisannya yang tajam. Ia banyak menulis buku, baik yang telah diterbitkan maupun masih dalam tulisan tangan dan beberapa artikel dalam majalah Al-Munir. Ketajaman tulisannya itu menggambarkan kekokohan pendirian dan kedalaman ilmunya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;Dalam memperjuangkan Islam, ia bersama kawan-kawan menentang dilaksanakannya Ordonansi Guru di Minangkabau. Sikap keras dan tegasnya dalam menyuarakan ide pembaharuan Islam dan perbaikan kehidupan masyarakat dari kebodohan dan keterbelakangan kepada kepintaran dan sikap kritis terhadap berbagai masalah kehidupaan, serta berbagai kritikan pedas yang ditujukannya kepada pemerintahan kolonial Belanda menjadikan berbagai pihak benci kepadanya. Pada tanggal 8 Agustus 1941, ia diasingkan oleh pemerintahan kolonial Belanda ke Sukabumi. Ia ditemani oleh istrinya, Dariyah dan putra bungsunya, Abdul Wadud.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;Selama di pengasingan, ia tetap aktif memberikan nasihat dan fatwa kepada masyarakat, khususnya warga dan pimpinan Muhammadiyah/Aisyiyah Sukabumi. Menurut penuturan Abdullah Halim, salah seorang Pimpinan Muhammadiyah Sukabumi, kepada Hamka:&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;Setelah beliau (Abdul Karim Amrullah) mendapat tempat tinggal yang tetap di rumah tuan Iskandar di Cikirai No. 8, Sukabumi saya ajaklah kaum Muhammadiyah dan Aisyiyah menziarahi beliau dan dari sehari ke sehari ramailah kaum Muhammadiyah mendatangi beliau. Saya sendiri pun menjadi muridnya yang terutama.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;Lebih lanjut diceritakannya:&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;Belum lama beliau di Sukabumi pengaruh beliau telah mendalam. Kami Cabang Muhammadiyah mendapat instruksi dari pengurus Besar di Yogya, supaya merapati beliau agar menambah ilmu pengetahuan.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;Selama, lebih kurang, sembilan bulan ia di Sukabumi, ketika Belanda menyerah kepada Jepang pada bulan Maret 1942, ia pindah ke Jakarta. Di Jakarta ia tinggal di Gang Alhamra Sawah Besar dan kemudian pindah ke Gang Kebon Kacang IV No. 22 Tanah Abang. Sebagaimana ia tinggal di Sukabumi, di Jakarta ia juga sering memeberikan pengajian, nasihat, dan fatwa kepada jemaah dan murid-muridnya, baik di rumahnya sendiri maupun di mesjid-mesjid di sekitar tempat tinggalnya. Sementara itu, pemerintahan Jepang juga tengah mendekati orang-orang yang mempunyai pengaruh dalam masyarakat untuk membina hubungan, dan mencari dukungan. Untuk itu, Abdul Karim Amrullah termasuk salah seorang yang sering didatangi oleh para pembesar Jepang, seperti Kolonel Hori (Kepala Urusan Agama), Kolonel Okubo, Ubiko, Tufik Sazaki, Abdul Hamid Ono, Abdul Mun’im Inada (tiga yang terakhir, katanya, beragama Islam), dan lain-lain. Kemudian ia diangkat menjadi penasihat Putera (Pusat Tenaga Rakyat) yang dipimpin oleh Empat Serangkai, yakni Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan K.H. Mas Mansoer. Sementara itu, ia juga diangkat pemerintahan Jepang sebagai penasihat Pusat Kebudayaan dan penasihat Pusat Keagamaan (Sumubu).&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;Ia semakin disegani oleh pemerintah Jepang setelah ia menyatakan secara jujur dan terus terang dalam menjelaskan masalah Sei Keirei (memberi hormat kepada kaisar Jepang, Tenno Heika, dengan membungkukkan badan ke arah Tokyo sejauh 90 derjat) dalam pandangan Islam. Secara tegas di-katakannya, jika kata Maha Esa yang dipakai penulis Wajah Semangat itu sama, tidak berarti lain dari sebutannya yang nyata, tentulah sekali-kali tidak dapat sesuai dengan ajaran Islam.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;Meskipun ia dihormati dan disegani Jepang, namun karena ia tetap menyadari bahwa keberadaan tentara Jepang di Indonesia adalah untuk menyengsarakan dan menjajah bangsa Indonesia, maka ia tetap saja benci dan tidak suka kepada Jepang. Hamka menjelaskan, kalau ada orang datang menganggukkan kepala meniru Jepang, maka berubah (merah) mukanya karena ia benci dengan sikap tersebut. Kemudian ia berkata “Sudah jadi Jepang pula ia”. Lebih kurang 3 tahun 2 bulan ia di Jakarta, dan dalam usia lebih kurang 66 tahun, yakni pada tanggal 2 Juli 1945 ia berpulang ke Rahmatullah. Innalillah wa Inna Ilaihi Raaji’uun. Semoga semua amal dan perjuangannya dalam menegakkan Amar ma’ruf nahyu munkar diterima Allah Swt. di sisi-Nya. Amiin...&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;Berbagai kenyataan kehidupan yang dilalui Abdul Karim Amrullah, baik dalam kehidupan masyarakat Minangkabau dengan segala seluk beluk serta ketentuan-ketentuan adat yang keras dan kehidupan agama yang butuh pembinaan, maupun pengalaman pendidikan dan perjalanannya ke beberapa daerah dan luar negeri, ternyata telah melatarbelakangi ide, gagasan, dan pemikiran keagamaannya dalam usaha pembaharuan dan perbaikan kehidupan masyarakat berdasarkan al-Qur`an dan Hadis.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;Menelusuri Jejak Pembaharuan Pemikiran Abdul Karim Amrullah&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;Abdul Karim Amrullah, yang juga dikenal dengan Haji Rasul, merupakan salah seorang dari tiga serangkai pembaharu Islam di Minangkabau pada awal abad ke-20. Pada dasarnya, munculnya gagasan, ide, dan pemikiran pembaharuan yang ditawarkan oleh Abdul Karim Amrullah merupakan reaksi dan jawaban dari berbagai permasalahan umat yang muncul pada waktu itu.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;Kekalahan kaum Padri 1837 mengakibatkan kemunduran umat Islam di Minangkabau. Dari segi akidah, terlihat bercampurnya antara ajaran keimanan dan kemusyrikan yang berakibat kepada berkembangnya paham takhayul dan khurafat. Dari segi ibadah dan mu’amalah, semakin berkembang ajaran bid’ah dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Suasana keagamaan hanya terlihat sangat menonjol pada upacara kematian, kenduri pengantin, maulud nabi, israk mikraj, dan lainnya yang bersifat seremonial. Di sisi lain, berkembangnya rasa fanatik yang berlebihan kepada guru (syekh) dan imam mazhab (dalam hal ini mazhab Syafi’i), ternyata menimbulkan sikap taqlid. Kondisi yang demikian, merupakan salah satu faktor pemicu bagi para pembaharu untuk mengadakan pembersihan Islam dari daki-daki yang mengotorinya, serta menjadikan al-Qur`an dan Hadis sebagai tempat rujukannya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;Setelah gerakan Padri dikalahkan Belanda tahun 1832, gerakan pembaharuan Islam seakan-akan terhenti di Minangkabau. Namun demikian, menurut Hamka bahwa kefakuman gerakan Islam itu hanya berlangsung beberapa waktu saja. Selang beberapa tahun setelah berakhirnya gerakan Padri, timbullah periode ketekunan belajar bagi putra-putra Minangkabau untuk menyauk ilmu agama Islam ke sumbernya sendiri, yakni ke negeri Mekkah. Diantara mereka adalah Syekh Ahmad Khatib dengan beberapa orang muridnya yang berasal dari Minangkabau, seperti Syekh Taher Jalaluddin, Syekh M. Thaib Umar, Syekh M Jamil Jambek, Syekh Abdullah Ahmad, Syekh Abdul Karim Amrullah, dan lain-lainnya. Mereka inilah yang pada gilirannya menjadi tokoh-tokoh pembaharu di Minangkabau. Dalam istilah Azyumardi Azra, mereka berperan menjadi transmitter utama tradisi intelektual keagamaan Islam dari pusat-pusat keilmuan Islam di Timur Tengah ke Nusantara.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;Gerakan pembaharuan yang dilakukan Abdul Karim Amrullah awal abad ke-20 di Minangkabau juga merupakan respons dari gelombang kebangkitan dunia Islam yang sedang didengungkan secara global (sebagai faktor eksternal). Umpa-manya, gerakkan purifikasi (pemurnian) Muhammad ibn Abd al-Wahab (1703-1792), gerakkan modernis (pembaharuan) oleh Jamaluddin al-Afghani (1839-1897), dan Muhammad Abduh (1849-1905), beserta kawan-kawan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;Media efektif yang membantu penyebaran gagasan pembaharuan itu masuk ke Indonesia adalah melalui jalur pelaksanaan ibadah haji. Umat Islam yang pergi ke tanah suci Mekkah, di samping menunaikan ibadah haji, juga sebagian mereka ada yang bermukim di sana untuk beberapa lama guna mendalami pengetahuan agama. Bahkan, diantara mereka ada yang melanjut-kan petualangan sampai ke Mesir. Pada waktu itu, Mesir merupakan pusat gerakan pembaharuan pemikiran Islam yang dikampayekan oleh Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan kawan-kawan. Demikian pula, telah tersebarnya buku-buku dan majalah-majalah yang berwawasan pembaharuan di Indonesia, seperti Al-Urwah al-Wutsqa, Al-Manar, dan Al-Imam. Pada dasarnya, pembaharuan yang dilakukan Abdul Karim Amrullah tidak terlepas dari jaringan ulama Timur Tengah dengan kepulauan Nusantara. Dalam hal ini Azyumardi Azra mengatakan, gejolak dan dinamika pemikiran yang muncul dari hubungan dan kontak yang begitu intens melalui jaringan ulama memunculkan efek revitalisasi Islam dalam kehidupan pribadi dan kemasyarakatan kebanyakan kaum Muslimin Melayu-Indonesia.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;Dengan demikian, ternyata pembaharuan yang dilakukan Abdul Karim Amrullah tidak terlepas dari keadaan yang mengitarinya dan suasana yang berkembang pada waktu itu. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh T. Ibrahim Alfian, bahwa pemikiran seseorang selalu merefleksikan jiwa zamannya, walaupun formulasinya dapat berupa refleksi yang akomodatif, progresif, dan bahkan reaktif. Di samping itu, H.A.R. Gibb, menjelaskan bahwa tidak ada gerakan pemikiran yang terjadi tanpa adanya tantangan dan pengaruh, baik yang muncul dari dalam (internal) maupun dari luar (eksternal). Besar dan kecil atau kuat dan lemahnya keterpengaruhannya itu tergantung pada kualitas dialektik yang terjadi padanya. Abdul Karim Amrullah juga dikenal sebagai tokoh pelopor dari gerakan Kaum Muda, yang senantiasa berkonsentrasi mengadakan berbagai perubahan untuk perbaikan, terutama dalam bidang pemikiran keagamaan. Dalam perjuangannya, ia mencoba memberikan jawaban dan jalan keluar terhadap berbagai krisis dan keprihatinan kehidupan beragama di Minangkabau saat itu. Ia adalah anak seorang tokoh tarekat Naqsyabandiyah, Syekh Muhammad Amrullah atau Tuanku Kisai, di Sungai Batang Maninjau. Kepergiannya ke Mekkah selama tujuh tahun (1894-1901) untuk mempelajari ilmu agama, telah mengantarkannya kepada puncak kematangan. Salah seorang guru yang sangat berjasa dalam membentuk kepri-badiannya adalah Syekh Ahmad Khatib. Kemudian, ketika kepergiannya yang kedua kalinya ke Mekkah tahun 1904-1906, Abdul Karim Amrullah membuka halaqah sendiri atas reko-mendasi gurunya itu. Sekembalinya dari Mekkah, Abdul Karim Amrullah aktif memberikan pengajian dan ceramah agama di berbagai pelosok Minangkabau. Dalam setiap ceramah dan pengajian yang dipimpinnya, ia senantiasa melontarkan kritik pedas terhadap berbagai praktek-praktek agama yang telah bercampur-baur antara keimanan dan kemusyrikan dan antara ajaran Sunnah dan bid’ah. Ia sangat menentang praktek-praktek keagamaan yang berbau taqlid, bid’ah, dan khurafat. Di samping itu, ia menyerukan agar umat Islam kembali kepada al-Qur`an dan Hadis serta dapat menggunakan pemikiran cerdasnya untuk berijtihad. Untuk itu, ia berusaha mengadakan berbagai perbaikan dalam kehidupan beragama, baik dari segi akidah dan ibadah, maupun dari segi mu’amalah, dengan berpedoman kepada ajaran al-Qur`an dan Hadis. Menurut Nourouzzaman Shiddiqi, Abdul Karim Amrullah, sebagaimana juga para pembaharu Islam Indonesia lainnya, berkeyakinan dan berpendirian bahwa pemurnian akidah, memiliki kebebasan untuk berijtihad, dan menghidupkan kembali nilai-nilai Islam akan membuat Islam mampu menjawab tantangan zaman dan memenuhi kebutuhan masa kini. Bagi mereka, slogan “kembali kepada al-Qur`an dan Sunnah” bukan karena nostalgia masa lalu, yakni hendak kembali mundur ke masa kejayaan pada zaman awal Islam, melainkan merupakan satu pantulan sikap untuk menemukan kembali nilai-nilai Islam. Deliar Noer mengatakan, Abdul Karim Amrullah atau Haji Rasul adalah orang yang berjasa dalam menegakkan fondasi pembaharuan Islam di Minangkabau melalui surau Jembatan Besi, yang kemudian berkembang menjadi Sumatra Thawalib tahun 1918. Selanjutnya, lembaga pendidikan itu melahirkan Persatuan Muslimin Indonesia (Permi), sebuah partai politik pada permulaan tahun 1930.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;Senada dengan itu, Taufik Abdullah mengungkapkan bahwa Abdul Karim Amrullah, bersama-sama dengan Haji Abdullah Ahmad dan Syekh Jamil Jambek, adalah penggagas pertama dan sekaligus pemuka Kaum Muda dalam menyebarkan pembaharuan Islam. Ia juga orang yang berjasa dalam membawa ajaran Muhammadiyah, sebuah organisasi pembaharu yang lahir di Yogyakarta tahun 1912, ke Minangkabau tahun 1925.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;Sementara itu, menurut Van Ronkel, sebagaimana dikutip Karel A. Steenbrink, Abdul Karim Amrullah adalah seorang guru agama yang fanatik memperjuangkan pemurnian agama. Untuk menyebarluaskan gagasan, ide, dan pemikiran, pembaharuan yang dilakukannya, menurut Hamka, Abdul Karim Amrullah bersama-sama Abdullah Ahmad dan kawan-kawan menerbitkan majalah Al-Munir tahun 1911 di Padang. Majalah ini tersebar luas ke berbagai pelosok Sumatra, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, dan Malaya (Malaysia).&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;Murni Djamal menyimpulkan bahwa pembaharuan yang dilakukan Abdul Karim Amrullah tercakup dalam tiga permasalahan, yakni pembersihan agama dari noda yang mengotorinya (taqlid bid’ah, dan khurafat), pembaharuan pendidikan Islam dengan membangun Sumatra Thawalib, dan pembawa ajaran Muhammadiyah ke Minangkabau. Dalam berda’wah, Abdul Karim Amrullah senantiasa bersuara keras dan gigih dalam menegakkan agama, amar makruf nahyi mungkar. Kebiasaannya menurut Hamka adalah pantang dibantah dan lekas marah. Sikapnya yang demikianlah, barangkali, yang dikatakan oleh James L. Peacock sebagai seorang yang bersifat keras dan punya kepribadian yang agresif serta emosional bila dibandingkannya dengan K.H.A. Dahlan, pencetus organisasi Muhammadiyah, yang orang Jawa dan lebih memiliki sifat suka kepada ketertiban dan tidak mudah tersinggung. Namun demikian, pembaharuan yang dilakukan Abdul Karim Amrullah tidak seagressif dan sekeras sifat gerakan Padri sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;Semangat dan sepak terjang pemikiran pembaharuannya tidak pernah padam. Hal ini dilakukannya, bukan saja melalui media tabligh (ceramah) di berbagai daerah Minangkabau serta mengelola pendidikan agama bagi murid-muridnya di Surau Jembatan Besi dan Sumatra Thawalib, melainkan juga melalui karya-karya tulisnya yang tersebar luas di tengah masyarakat. Tulisannya, ada yang berbentuk buku dan ada juga berbentuk artikel yang termuat dalam majalah al-Munir. Melalui karya tulisnya itu, berbagai ide, pemikiran, nasihat, maupun fatwanya dapat dijumpai. Hal ini dapat dijadikan pedoman dan bahan rujukan bagi masyarakat Minangkabau dan bahkan bagi umat Islam di kepulauan Nusantara (Indonesia) pada saat itu, dalam berbagai persoalan keagamaan. Dengan demikian, karya-karyanya tersebut tidak saja tersebar di pelosok Sumatra, tetapi juga di berbagai daerah di pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan lain-lain. Hal ini, ternyata memberikan warna tersendiri bagi perkembangan kehidupan beragama Islam di Minangkabau dan juga Indonesia pada umumnya. Namun demikian, saat ini, karya-karyanya tersebut, sulit dijumpai di tengah-tengah masyarakat, kecuali di beberapa perpustakaan dalam dan luar negeri saja.&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #666666; font-family: 'Trebuchet MS', Trebuchet, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 18px;"&gt;Di kutip:&amp;nbsp;&lt;/span&gt;http://wahyudiugm.blogspot.com</content><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/feeds/1815356659863683651/comments/default" rel="replies" title="Posting Komentar" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2012/05/abdul-karim-amrullah-tokoh-pembaharuan.html#comment-form" rel="replies" title="0 Komentar" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default/1815356659863683651" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default/1815356659863683651" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2012/05/abdul-karim-amrullah-tokoh-pembaharuan.html" rel="alternate" title="Abdul Karim Amrullah; Tokoh Pembaharuan Minangkabau" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01974128379563667848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1756756116987703705.post-6553427677783038506</id><published>2012-05-25T14:04:00.000+07:00</published><updated>2013-11-27T01:30:23.493+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tokoh minang"/><title type="text">Tuanku Nan Renceh, Sang Panglima Syariat Islam</title><content type="html">&lt;div class="featured" style="background-color: white; color: #1e1e1e; font-family: verdana; font-size: 12px; line-height: 19px; margin: 0px; padding: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="credits" style="background-color: white; color: grey; font-family: verdana; font-size: 12px; line-height: 19px; margin: 5px 0px; min-height: 20px; padding: 0px 10px 0px 0px; text-align: right;"&gt;&lt;a href="http://www.fimadani.com/tuanku-nan-renceh-sang-panglima-syariat-islam/" rel="bookmark" style="clear: left; color: #314e96; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;" title="Tuanku Nan Renceh, Sang Panglima Syariat Islam"&gt;&lt;img alt="Tuanku Nan Renceh, Sang Panglima Syariat Islam" height="221" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhsuVjGnp5Yh4WQf6WspMQWGeC8yGtV03TfLyk39St1cyem9eaq9iv0JO7-uvHmCzoKs8AAlclycN4vABniN_cVwQEwRK3f4sdcnkSN6oriZs4hKhpSOdfWndpW8QZPUvB_FTT1KljCZmc/s320/thumbnail_028.jpeg" style="border: 1px solid rgb(223, 223, 223); box-shadow: rgb(238, 238, 238) 0px 0px 5px inset; margin-bottom: 2px; margin-top: 10px; padding: 5px;" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: #1e1e1e; text-align: left; word-spacing: 1px;"&gt;Tuanku Nan Renceh adalah seorang panglima kaum paderi yang tegas dan penuh wibawa. Berhasil melaksanakan pemurnian Islam ke setiap nagari di Ranah Minang, sampai-sampai kewajiban menunaikan shalat dikontrol sangat ketat&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; font-family: verdana; font-size: 12px; line-height: 19px; margin-bottom: 24px; margin-top: 24px; text-align: left; word-spacing: 1px;"&gt;Kejayaan Islam di Ranah Minang (Sumatera Barat) pernah mencapai puncaknya ketika kaum&amp;nbsp;&lt;em&gt;paderi&lt;/em&gt;(ulama) dipimpin oleh ‘Abdullah Tuanku Nan Renceh. Kekuasaannya menghunjam sampai lembaga pemerintahan nagari yang diberi hak otonom oleh Kerajaan Minangkabau. Kerajaan tersebut kala itu berpusat di Pagaruyung.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="background-color: white; font-family: verdana; font-size: 12px; line-height: 19px; margin-bottom: 24px; margin-top: 24px; text-align: left; word-spacing: 1px;"&gt;Pusat kekuasaan kaum paderi sendiri berada di teritorial&amp;nbsp;&lt;em&gt;Luhak&amp;nbsp;&lt;/em&gt;(Kabupaten) Nan Tuo, yakni Luhak Agam, Tanah Datar, dan Luhak Nan Limopuluah Dikoto. Atau, seluas wilayah administrasi pemerintahan Kabupaten Agam, Tanah Datar, dan Kabupaten 50 Kota sekarang.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; font-family: verdana; font-size: 12px; line-height: 19px; margin-bottom: 24px; margin-top: 24px; text-align: left; word-spacing: 1px;"&gt;Pada masa itu, kaum paderi benar-benar memegang kendali pemerintahan dan kemasyarakatan untuk mengamalkan syariat Islam. Kondisinya tak jauh berbeda ketika jazirah Arab dikuasai kaum Wahabi atau Salafi&amp;nbsp; yang dipelopori oleh Muhammad bin Abdul Wahab (1703-1787).&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; font-family: verdana; font-size: 12px; line-height: 19px; margin-bottom: 24px; margin-top: 24px; text-align: left; word-spacing: 1px;"&gt;Sejarah kelahiran pergerakan kaum paderi di Ranah Minang memang tak dapat dilepas dari pergerakan kaum Wahabi di jazirah Arab. Pergerakannya berawal pada tahun 1802 ketika “Tiga Serangkai” pulang dari Makkah, yakni Haji Miskin dari Pandai Sikek (Pandai Sikat) Luhak Agam, Haji Muhammad Arief dari Sumanik, Luhak Tanah Datar (dikenal dengan Haji Sumanik), dan Haji Abdurrahman dari Piobang, Luhak Limopuluah Dikoto (dikenal dengan Haji Piobang). Ketiganya dikenal dengan sebutan Haji Nan Tigo. Mereka mendalami ajaran Wahabi saat belajar di tanah suci Makkah hampir 10 tahun lamanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; font-family: verdana; font-size: 12px; line-height: 19px; margin-bottom: 24px; margin-top: 24px; text-align: left; word-spacing: 1px;"&gt;&lt;strong&gt;Panglima Paderi&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; font-family: verdana; font-size: 12px; line-height: 19px; margin-bottom: 24px; margin-top: 24px; text-align: left; word-spacing: 1px;"&gt;‘Abdullah adalah putra dari Incik Rahmah, pemuka suku Koto Nagari Kamang Mudik, yang lahir di Jorong Bansa, Nagari Kamang Mudik, Luhak Agam, tahun 1762. Sejak kecil, Abdullah senantiasa giat memperdalam ilmu agama.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; font-family: verdana; font-size: 12px; line-height: 19px; margin-bottom: 24px; margin-top: 24px; text-align: left; word-spacing: 1px;"&gt;Ia merasa tidak cukup hanya belajar pada guru mengaji tingkat nagari sebagaimana tradisi anak muda seusianya kala itu. Abdullah melakukan terobosan dengan belajar di kampung lain, tepatnya di surau Tuanku Tuo di Cangkiang, Luhak Agam.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; font-family: verdana; font-size: 12px; line-height: 19px; margin-bottom: 24px; margin-top: 24px; text-align: left; word-spacing: 1px;"&gt;Tamat dari pendidikan model surau, ‘Abdullah masih belum merasa puas. Dia bukannya kambali ke kampung halaman, tetapi meneruskan perjalanan ke Ulakan, Padang Pariaman.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; font-family: verdana; font-size: 12px; line-height: 19px; margin-bottom: 24px; margin-top: 24px; text-align: left; word-spacing: 1px;"&gt;Hampir lima tahun menuntut ilmu, barulah ‘Abdullah kembali ke Jorong Bansa. Begitu sampai di kampung, ‘Abdullah mendengar kabar ada ulama besar di Pandai Sikek yang baru pulang dari Makkah. Namanya Haji Miskin. ‘Abdullah yang saat itu baru tiba di rumah langsung saja berangkat ke Pandai Sikek.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; font-family: verdana; font-size: 12px; line-height: 19px; margin-bottom: 24px; margin-top: 24px; text-align: left; word-spacing: 1px;"&gt;Sesampai di sana, betapa kecewanya ‘Abdullah karena Haji Miskin tak ditemukan. Dia lebih kecewa lagi ketika mengetahui bawa Haji Miskin yang baru pulang itu hanya sebentar berada di Pandai Sikek. Ternyata tokoh yang ia buru itu harus pergi lagi karena dakwahnya tak diterima oleh masyarakat kampungnya sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; font-family: verdana; font-size: 12px; line-height: 19px; margin-bottom: 24px; margin-top: 24px; text-align: left; word-spacing: 1px;"&gt;Bagi ‘Abdullah, kabar “diusirnya” Haji Miskin justru membuat penasaran. Pikirnya, kalaulah apa yang dibawa Haji Miskin tak terlalu istimewa, tentulah perlawanan dari orang kampung sendiri tidak sehebat itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; font-family: verdana; font-size: 12px; line-height: 19px; margin-bottom: 24px; margin-top: 24px; text-align: left; word-spacing: 1px;"&gt;Ternyata benar. Begitu ketemu Haji Miskin di tempat pengungsiannya, Nagari Ampek Angkek (Empat Angkat), Abdullah mendapat pelajaran tentang pemurnian gerakan Islam. Ajaran ini sama dengan yang digerakan oleh kaum Wahabi di jazirah Arab.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; font-family: verdana; font-size: 12px; line-height: 19px; margin-bottom: 24px; margin-top: 24px; text-align: left; word-spacing: 1px;"&gt;Haji Miskin memberikan pengajian secara berkesinambungan, dibantu oleh dua karibnya yakni Haji Piobang dan Haji Sumanik. Lalu, bergabung pula beberapa tokoh Islam lainnya, seperti Tuanku Kubu Sanang, Tuanku Lintau, Tuanku Ladang Laweh (Ladang Luas), Tuanku Dikoto Padang Lua (Padang Luar), Tuanku Galung, Tuanku Dikoto Ambalau, dan Tuanku Dilubuk Aua (Lubuk Aur). Mereka masing-masing adalah ulama di kampungnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; font-family: verdana; font-size: 12px; line-height: 19px; margin-bottom: 24px; margin-top: 24px; text-align: left; word-spacing: 1px;"&gt;Para ulama itu kemudian berbai’at kepada Haji Miskin untuk melancarkan gerakan penegakan syariat Islam yang mereka beri nama gerakan kaum paderi. Mereka ini kemudian dikenal sebagai Dewan Pimpinan Paderi dengan julukan “Harimau Nan Salapan” (Harimau yang Delapan). ‘Abdullah ditunjuk sebagai pimpinan merangkap panglima perang dengan gelar Tuanku Nan Renceh Al-Mujaddid. Sementara Haji Miskin diangkat sebagai hakim.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; font-family: verdana; font-size: 12px; line-height: 19px; margin-bottom: 24px; margin-top: 24px; text-align: left; word-spacing: 1px;"&gt;Menurut Angga Parlindungan dalam bukunya Tuanku Rao, gerakan Paderi pimpinan Nan Renceh adalah gerakan sistemik dengan angkatan perang yang mirip angkatan perang Turki. Memang, Nan Renceh beberapa kali mengirimkan beberapa prajurit terbaiknya untuk belajar bertempur di Kesultanan Turki.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; font-family: verdana; font-size: 12px; line-height: 19px; margin-bottom: 24px; margin-top: 24px; text-align: left; word-spacing: 1px;"&gt;Kala itu ilmu peperangan Kesultanan Turki sudah maju. Pasukan Jenitsar Cavalary Turki pernah menghalau dan menghancurkan tentara Napoleon Bonaparte. Di antara tentara paderi yang dikirim tersebut adalah Tuanku Kulawat. Ia malah sempat berperang bersama tentara Turki melawan tentara Napoleon tahun 1809 sampai 1812. Kemudian, Tuanku Gapuak (1809-183), Tuanku Rao (1812-1815), dan Tuanku Tambusai (1817-1821).&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; font-family: verdana; font-size: 12px; line-height: 19px; margin-bottom: 24px; margin-top: 24px; text-align: left; word-spacing: 1px;"&gt;Perjuangan kaum paderi, seperti dicatat oleh Haji Piobang, memiliki tiga target fase. Pertama, jangka tujuh tahun sudah harus merebut seluruh pulau Andalas dan Semenanjung Malaya. Kedua, jangka tiga tahun kemudian sudah harus merebut kekuasaan di Pulau Jawa dan pulau-pulau kecil di timurnya. Ketiga, merebut seluruh tanah Jawi (Nusantara), kemudian bekerjasama dengan pasukan Dato’ Haji Onn. Pasukan yang terakhir ini kabarnya sudah berhasil merebut kekuasaan di Filipina Selatan, Kalimantan Utara, dan Kepulauan Sangihe.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; font-family: verdana; font-size: 12px; line-height: 19px; margin-bottom: 24px; margin-top: 24px; text-align: left; word-spacing: 1px;"&gt;&lt;strong&gt;Tegas Tegakkan Hukum Islam&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; font-family: verdana; font-size: 12px; line-height: 19px; margin-bottom: 24px; margin-top: 24px; text-align: left; word-spacing: 1px;"&gt;Selama masa kepemimpinan ‘Abdullah Tuanku Nan Renceh (1762-1825), menurut sejarawan Ampera Salim, kaum paderi berhasil melaksanakan pemurnian Islam dan masuk ke setiap ruang lingkup pemerintahan nagari. Sampai-sampai kewajiban menunaikan shalat dalam kehidupan masyarakat setiap nagari dikontrol dengan sangat ketat.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; font-family: verdana; font-size: 12px; line-height: 19px; margin-bottom: 24px; margin-top: 24px; text-align: left; word-spacing: 1px;"&gt;Usai shalat Shubuh di surau-surau, Nan Renceh menurunkan Laskar Paderi keliling kampung. Mereka bertugas memeriksa batu tapakan yang sudah disediakan di setiap pintu masuk rumah penduduk. Apabila batu itu basah, diketahuilah bahwa penghuni rumah sudah melaksakan shalat Shubuh. Tapi bila tidak, penghuni rumah akan langsung diinterogasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; font-family: verdana; font-size: 12px; line-height: 19px; margin-bottom: 24px; margin-top: 24px; text-align: left; word-spacing: 1px;"&gt;Andai belum shalat karena tertidur, maka diperintahkan segera menunaikan shalat. Bila tiga kali didapati tidak juga menunaikan shalat–ditandai dengan batu tapakan yang tidak basah–maka penghuni rumah harus bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akan tetapi bila kemudian terbukti meninggalkan shalat kembali, maka penghuni rumah harus meninggalkan nagari.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; font-family: verdana; font-size: 12px; line-height: 19px; margin-bottom: 24px; margin-top: 24px; text-align: left; word-spacing: 1px;"&gt;Nan Renceh juga berhasil membudayakan pakaian jubah putih bagi laki-laki dan kerudung bagi perempuan. Bagi mereka yang akan dipilih menjadi wali nagari (kepala pemeritahan nagari) harus mampu menjadi imam shalat berjamaah.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; font-family: verdana; font-size: 12px; line-height: 19px; margin-bottom: 24px; margin-top: 24px; text-align: left; word-spacing: 1px;"&gt;Hukum Islam yang ditegakkan kaum Paderi dalam masa kepemimpinan Nan Renceh sangat tegas dan berwibawa. Ampera Salim juga menyebutkan, pernah suatu kali etek (adik ibu/ayah) Nan Renceh sendiri tak mengindahkan aturan yang diberlakukan Pemerintah Negara Darul Islam Minangkabau. Dia enak saja meneruskan kebiasaan minum tuak dan menghisap candu.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; font-family: verdana; font-size: 12px; line-height: 19px; margin-bottom: 24px; margin-top: 24px; text-align: left; word-spacing: 1px;"&gt;Memang, orang dekat Nan Renceh, yakni Hassan Nasution, pernah menegur si etek agar menghentikan kebiasaannya. Tapi dia tetap menolak. Bahkan ketika ditawarkan agar diungsikan ke Kuantan, si etek tegas-tegas menolak.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; font-family: verdana; font-size: 12px; line-height: 19px; margin-bottom: 24px; margin-top: 24px; text-align: left; word-spacing: 1px;"&gt;Demi tegaknya wibawa hukum Islam, si etek divonis hukuman mati. Eksekusi dilakukan dengan pedang oleh Haji Idris dan Haji Hassan. Kejadian ini berlangsung dalam tatapan tenang seorang Tuanku Nan Renceh. Baginya, penegakan wibawa hukum Islam lebih peting daripada saudara sendiri yang mengingkarinya.&amp;nbsp;&lt;em&gt;(hidayatullah)&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; font-family: verdana; font-size: 12px; line-height: 19px; margin-bottom: 24px; margin-top: 24px; text-align: left; word-spacing: 1px;"&gt;*gambar ilustrasi&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; font-family: verdana; font-size: 12px; line-height: 19px; margin-bottom: 24px; margin-top: 24px; text-align: left; word-spacing: 1px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; font-family: verdana; font-size: 12px; line-height: 19px; margin-bottom: 24px; margin-top: 24px; text-align: left; word-spacing: 1px;"&gt;Di kutip :&amp;nbsp;http://www.fimadani.com&lt;/div&gt;</content><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/feeds/6553427677783038506/comments/default" rel="replies" title="Posting Komentar" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2012/05/tuanku-nan-renceh-sang-panglima-syariat.html#comment-form" rel="replies" title="0 Komentar" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default/6553427677783038506" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default/6553427677783038506" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2012/05/tuanku-nan-renceh-sang-panglima-syariat.html" rel="alternate" title="Tuanku Nan Renceh, Sang Panglima Syariat Islam" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01974128379563667848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhsuVjGnp5Yh4WQf6WspMQWGeC8yGtV03TfLyk39St1cyem9eaq9iv0JO7-uvHmCzoKs8AAlclycN4vABniN_cVwQEwRK3f4sdcnkSN6oriZs4hKhpSOdfWndpW8QZPUvB_FTT1KljCZmc/s72-c/thumbnail_028.jpeg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1756756116987703705.post-2757520812134450332</id><published>2012-05-25T14:01:00.000+07:00</published><updated>2013-11-27T01:30:23.472+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sejarah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tokoh minang"/><title type="text">Tuanku Haji Miskin, Pelopor Benih Pembaharuan di Sumatera Barat</title><content type="html">&lt;div style="font-family: 'Varela Round'; line-height: 22px; padding: 0px 0px 15px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;a href="http://www.mediamuslim.org/wp-content/uploads/2011/09/tuanku-haji-miskin.jpg" style="color: #990000; text-decoration: none;"&gt;&lt;img alt="tuanku haji miskin 300x225 Tuanku Haji Miskin, Pelopor Benih Pembaharuan di Sumatera Barat" class="size-medium wp-image-603 alignleft" height="225" src="http://www.mediamuslim.org/wp-content/uploads/2011/09/tuanku-haji-miskin-300x225.jpg" style="border: none; float: left; margin: 5px 20px 20px 0px;" title="tuanku haji miskin" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;Pada tahun 1803,&amp;nbsp;&lt;strong&gt;Tuanku Haji Miskin&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;kembali dari tanah suci Mekah. Pada saat berada di Mekah, gerakan wahabi yang dipelopori oleh Syaikh Muhammad Abdul Ibnu Wahab (1703-1792), memasuki Mekah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'Varela Round'; line-height: 22px; padding: 0px 0px 15px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;Gerakan wahabi adalah gerakan dakwah dengan menyeru umat mengakui dan melaksanakan ajaran keesaan Allah (tauhid), dalam zat, sifat dan perbuatan-Nya. gerakan mereka dinamakan dengan “Muwahidun” Setelah mendapat dukungan politik dan militer dari Ibnu Sa’ud dari Nejed, gerakan Wahabi identik dengan Saudi Arabia dalam keberhasilan dan kegagalannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'Varela Round'; line-height: 22px; padding: 0px 0px 15px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;Tuanku Haji Miskin menerangkan pengalaman mereka masing-masing selama di Mekah kepada tuanku-tuanku dan alim ulama di Luhak Agam, Lima Puluh dan Tanah Datar. pada setiap kesempatan mereka menjelaskan bahwa aliran Wahabi di Mekah melaksanakan pembaharuan agama, menganjurkan kembali ke syariat yang berdasarkan al-qur’an (dan sunnah yang sahih – pen). khutbah haji Miskin berhasil menjadi sebab lahirnya rencana perubahan (di minangkabau).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'Varela Round'; line-height: 22px; padding: 0px 0px 15px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;Misi mereka adalah membersihkan berbagai pengaruh adat yang berlawanan dengan ajaran islam. ide ini timbul ketika mereka berkenalan dengan ajaran kaum wahabi di Mekah saat mereka menunaikan ibadah haji. target mereka tuju adalah puritanisme (pemurnian ) agama secara menyeluruh, yaitu ketaatan mutlak terhadap agama, shalat lima waktu, tidak merokok, berjudi dan menyabung ayam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'Varela Round'; line-height: 22px; padding: 0px 0px 15px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;Haji Miskin yang berasal dari batu tebal, ampek angkek telah ikut serta bersama tuanku Nan Tuo memperbaiki keamanan pedagang. ia berangkat menunaikan ibadah haji pada tahun 1803. kembali dari Mekah, ia melengkapi gagasan-gagasan pembaruan masyarakat minangkabau dengan ajaran qur’an (dan sunnah-pen) sebagai sumber hukum.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'Varela Round'; line-height: 22px; padding: 0px 0px 15px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;Pengalaman di Mekah itu hendak diterapkan di negeri masing-masing. didalam khotbah, Tuanku Haji Miskin tersebut menganjurkan umat islam menentang orang-orang yang melakukan kemungkaran yang tidak mengindahkan agama.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'Varela Round'; line-height: 22px; padding: 0px 0px 15px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;Maka daripada banyak mendengar khabar dari pada pekerjaan orang Mekah dan Madinah bertambah-tambahlah berahi hati ( makin rajin dan bergairah) mendirikan agama Allah dan agama Rasulullah dan bersungguh-sungguhlah orang mendirikan sembahyang sehingga sempurna jum’at 40 orang. maka daripada mula-mula pulang tuanku haji miskin dari negeri mekah dan madinah hingga orang berketambuhan (bertambah banyak).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'Varela Round'; line-height: 22px; padding: 0px 0px 15px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;Haji miskin meninggalkan Pandai Sikek dan pindah ke Koto Laweh, suatu desa di kaki gunung Singgalang. bersama haji miskin, Faqih Saghir menerapkan hukum syariat pendamping adat minangkabau. kemudian ia pindah ke daerah IV koto yang berbatasan dengan Agam bagian selatan. haji miskin ingin menerapkan tuntunan hidup berlandaskan kaidah agama dalam setiap sikap hidup.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'Varela Round'; line-height: 22px; padding: 0px 0px 15px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;pada tahun 1807, Haji Miskin pindah ke Bukit Kamang. bersama Tuanku Nan Renceh ia merencanakan gerakan pembaruan Padri bersama Tuanku Nan Salapan. pada saat itu pula Tuanku Bandaro bersama Peto Syarif datang bersama ke Surau Bansa di Kamang, belajar sendiri hakikat pembaruan yang dilaksanakan Tuanku Nan Renceh bersama Tuanku Haji Miskin.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'Varela Round'; line-height: 22px; padding: 0px 0px 15px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;sesudah diam di Kamang bersama Tuanku Nan Renceh, Tuanku Haji Miskin pindah ke air Tabik, ke Surau Sungai Landai. Haji Miskin melanjutkan usaha pembaruan di Luhak Limapuluh (1811). ia berangkat ke ranah ini untuk menggugah para ulama agar menyebarkan ajaran baru itu. Ia berhasil pula menggerakkan hati Malin Putih di Air Tabik untuk melakukan pembaharuan, suatu hal yang berhasil dengan baik. penduduknya lemah lembut dan mudah menerima pembaruan itu. ia berhasil pula membawa masyarakat untuk mendirikan agama Allah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: 'Varela Round'; line-height: 22px; padding: 0px 0px 15px; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;(Drs. H. syafnir Aboe Nain Dt. Kando Marajo; Tuanku Imam Bonjol,&amp;nbsp; Sejarah Intelektual Islam di Minangkabau (1784 -1832) hal 35-37)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="background-color: white;"&gt;Di kutip dr :&amp;nbsp;http://www.mediamuslim.org/&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/feeds/2757520812134450332/comments/default" rel="replies" title="Posting Komentar" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2012/05/tuanku-haji-miskin-pelopor-benih.html#comment-form" rel="replies" title="0 Komentar" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default/2757520812134450332" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default/2757520812134450332" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2012/05/tuanku-haji-miskin-pelopor-benih.html" rel="alternate" title="Tuanku Haji Miskin, Pelopor Benih Pembaharuan di Sumatera Barat" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01974128379563667848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1756756116987703705.post-6506677468941295507</id><published>2012-05-25T13:53:00.000+07:00</published><updated>2013-11-27T01:30:23.491+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sejarah"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tokoh minang"/><title type="text">Ibrahim Musa : inyiak parabek</title><content type="html">&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #666666; line-height: 18px;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #666666; line-height: 18px;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgK2hPHfcEf23UeBXOFBguRt8vyCgz-8pLfYIoDyWNtuqzd_VdEVnV08IZ1DA7c4jihbPDYKl_IS3QkBnGrDWQ5GP51sCMo4fFf2GLlRFwTOZHRI2ON8os9k8cD8Y-WAfS5Y2hyZiH1qgKh/s1600/inyiak-parabek.JPG" imageanchor="1" style="background-color: transparent; clear: left; display: inline !important; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgK2hPHfcEf23UeBXOFBguRt8vyCgz-8pLfYIoDyWNtuqzd_VdEVnV08IZ1DA7c4jihbPDYKl_IS3QkBnGrDWQ5GP51sCMo4fFf2GLlRFwTOZHRI2ON8os9k8cD8Y-WAfS5Y2hyZiH1qgKh/s320/inyiak-parabek.JPG" style="-webkit-box-shadow: rgba(0, 0, 0, 0.0976563) 1px 1px 5px; border: 1px solid rgb(238, 238, 238); box-shadow: rgba(0, 0, 0, 0.0976563) 1px 1px 5px; padding: 5px; position: relative;" width="190" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: left;"&gt;Syekh Ibrahim Musa Parabek lahir tanggal 12 Syawal 1301 H/1884 M di Desa Parabek . Banuhampu, Bukittinggi. Ayahnya bernama Syekh Muhammad Musa bin Abdul Malik Al Qarhawy, seorang Ulama yang terkenal di kampungnya Karatau, Parabek. Ibu Ibrahim bernama Ureh. Sejak kecil Ibrahim telah belajar Qur'an di bawah bimbingan ayahnya. Pada usia 13 tahun ia sudah Khatam Qur'an.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: left;" /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: left;"&gt;Pada usia yang masih muda itu juga beliau dilepas orang tuanya pergi mengaji ke Surau Tuanku Mato Aia Pakandangan Pariaman. Di sana beliau mempelajari Ilmu Nahwu dan Sharaf. Selanjutnya pindah ke Batu Taba di surau Tuanku Mato Angin, beliau belajar Fiqih . Kemudian ke Ladang Laweh mengaji dengan Tuanku Abdul Samad di surau Biaro Ampek Angkek. Juga beliau belajar dengan Syekh Jalaluddin Alkasai di Sungai Landai Banuhampu. Terakhir beliau belajar dengan Tuanku Abdul Hamid di Suliki Paya Kumbuh.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: left;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: left;"&gt;Dalam usia 19 tahun beliau berangkat ke Mekah untuk mendalami Ilmu agama bersama kakaknya Abdul Malik tepatnya di bulan Rajab th 1320 H/ 1901 M. Di Mekah beliau mengaji pada syekh Ahmad Khatib Al Minang Kabawy (1815 - 1915), yang menjadi imam masjidil haram dari mazhab Syafei. Beliau juga dibimbing oleh Syekh Muhammad Djamil Djambek, Syekh Ali Bin Husein, Syekh Mukhtar Al-Jawi dan Syekh Yusuf Al Hayat.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: left;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: left;"&gt;Sekembalinya beliau dari Mekah yang pertama tahun 1910 M beliau mengadakan pengajian secara halaqah di Parabek. Anak muda pun berdatangan ke Parabek ingin menuntut Ilmu kepada beliau, baik dari daerah - daerah di Minangkabau.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: left;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: left;"&gt;Pada tahun 1914 beliau pergi ke Mekah kali yang kedua untuk menambah Ilmunya bersama istri beliu Syarifah Ghani dan anak beliau Thaher Ibrahim. Beliau pulang ke Bukittinggi tahun 1916. Sementara kepergian beliau ke Mekah selama dua tahaun dua tahun itu, beliau mempercayakan pengajian di Parabek kepada murid - murid beliau .&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: left;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: left;"&gt;Pada tahun 1918 beliau menyatukan murid - muridnya itu dalam satu organisasi diberi nama Muzakaratul Ikhwan dan terakhir diberi nama Jamiatul Ikhwan.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: left;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: left;"&gt;Akhirnya pada tahun dua puluhan, bersama sama dengan Dr. Syekh H. Abdul Karim Amarullah ( Inyiak De-er ), beliau sepakat mendirikan Sumatera Thawalib. Di Padang Panjang didirikan oleh Inyiak De-er, sedangkan di Parabek didirikan oleh beliau sendiri dan diubahlah organisasi pelajar Jamiatul Ikhwan menjadi Sumatera Thawalib .&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: left;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: left;"&gt;Pada awal tahun 1926 membangun gedung Sumatera Thawalib Parabek 7 lokal. Sistim pendidikan yang dikembangkan oleh Syekh Ibrahim Musa menekankan kepada kemandirian murid - murid dalam berbagai lapangan kehidupan dan untuk menunjang proses pendidikan itu didirikanlah perpustakaan, koperasi, asrama , lapangan olah raga dan lainnya. Juga beliau tidak pernah menekankan pada muridnya untuk mengikuti mazhab Syafi'I. Beliau memberikan kebebasan pada murid - muridnya untuk memilih satu mazhab .&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: left;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: left;"&gt;Profil Syekh Ibrahim Musa tercium oleh pihak kolonial beliau terus ditekan dan dicurigai ruang gerak oleh kolonial beliau ikut serta dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia beliau adalah anggota pendiri Lasykar rakyat di Bukittinggi ( 1943 ) dan membentuk barisan Sabilillah ( 1946 ) menjadi Imam Jihad 1946.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: left;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: left;"&gt;Di bidang pemerintahan beliau adalah anggota majelis Syura Wal Fatwa Sumatera Tengah ( 1947 ) dan anggota korespondensi majelis pertimbangan kesehatan dan syarak kementrian kesehatan RI. Pada tahun 1956 beliau menjadi anggota konstituanti no 160. Tahun 1956, beliau merupakan ketua dewan Karatau dan dosen perguruan tinggi Darul Hikmah Bukittinggi dan Dewan Korator Universitas Andalas Padang.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: left;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: left;"&gt;Pada hari Kamis 20 Juli 1963 pukul 21.10 Wib. Syekh Ibrahim Musa berpulang ke rahmatullah di kamar depan rumah beliau di parabek dikebumikan besok harinya Jumat tanggal 26 Juli 1963 setelah shalat jumat seluruh kaum kerabat dan keluarga besar Sumatera thawalib Parabek melepas dengan duka cita yang mendalam.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: left;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: left;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: left;"&gt;Karya-Karya&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: left;"&gt;Di tengah kesibukan mengajar dan kegiatan yang bersifat organisatoris serta kemasyarakatan, Inyiak Parabek menyempatkan diri untuk menulis. Tulisan beliau banyak diterbitkan oleh majalah-majalah terbitan Sumatera Barat kala itu, seperti majalah al-Munir, Al-Munir el-Manar, dan Majalah Bayan (di bawah bimbingan beliau sendiri). Juga ada karya dalam bentuk buku (kitab), sbb:&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: left;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: left;"&gt;* Ijabah al-Sul, Dicetak pada tahun 1934 oleh percetakan Badezt di Padang Panjang. Ijabah al-Sul merupakan syarah (penjelasan) kitab Husnul al-Ma'mul, karangan M. Shiddiq Hasan Khan Bahadir, kitab Ushul Fiqh yang memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi sehingga untuk memahaminya diperlukan pengetahuan ushul fiqh yang baik.&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: left;"&gt;* Hidayah as-Shibyan, Merupakan Kitab ilmu Balaghah. Dicetak oleh percetakan Baroe Fort de Kock, tidak dijelaskan tahun terbitnya. Kitab ini pernah diajarkan di Thawalib Parabek beberapa periode, sebelum diganti dengan kitab-kitab lain yang lebih ringkas dan lebih mudah dipelajari&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: left;" /&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: left;"&gt;* Hidayah Ditulis pada tahun 1912 dalam bahasa Minangkabau, kemudian dterjemahkan oleh murid Inyiak, Muchtar Said (sekarang adalah Pimpinan Madrasah). Berisikan ilmu tauhid aliran Ahlu Sunnah wal Jamaah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Tahoma, Helvetica, FreeSans, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 22px; text-align: left;"&gt;di kutip: dr:&amp;nbsp;&lt;/span&gt;http://aqil-rabbani.blogspot.com&lt;/div&gt;</content><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/feeds/6506677468941295507/comments/default" rel="replies" title="Posting Komentar" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2012/05/ibrahim-musa-inyiak-parabek.html#comment-form" rel="replies" title="0 Komentar" type="text/html"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default/6506677468941295507" rel="edit" type="application/atom+xml"/><link href="http://www.blogger.com/feeds/1756756116987703705/posts/default/6506677468941295507" rel="self" type="application/atom+xml"/><link href="http://ciloteh-pagarak.blogspot.com/2012/05/ibrahim-musa-inyiak-parabek.html" rel="alternate" title="Ibrahim Musa : inyiak parabek" type="text/html"/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01974128379563667848</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image height="16" rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" src="https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" width="16"/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgK2hPHfcEf23UeBXOFBguRt8vyCgz-8pLfYIoDyWNtuqzd_VdEVnV08IZ1DA7c4jihbPDYKl_IS3QkBnGrDWQ5GP51sCMo4fFf2GLlRFwTOZHRI2ON8os9k8cD8Y-WAfS5Y2hyZiH1qgKh/s72-c/inyiak-parabek.JPG" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>