<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1343252316495620752</id><updated>2025-10-17T15:07:43.909+07:00</updated><title type='text'>Classica Life</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://classicalife.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1343252316495620752/posts/default?redirect=false'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://classicalife.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Mas Catur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17047629628010882515</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj0MOoFy2JG1rLcCt74MsCGNN9cXGks6TpWW6ho_JxZyVCuK9sBxbceY4igseMEI2vT99EnADgk9EG9C4ouG70C3kba7owi-Yi5mOeScMNOy6a23jdSVPXExsgXG-gcslva-32a3REBEMvACHY5Byc2U2VbN4H4ppcT8ZbO1LLCOGly/s220/LA%20Birthday.png'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>1</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1343252316495620752.post-7733638552224590720</id><published>2012-04-18T19:49:00.002+07:00</published><updated>2022-10-19T14:18:03.837+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;



Sistem peringatan dini tsunami Indonesia yang diluncurkan tahun 
2008 kini ditingkatkan kemampuannya dengan piranti lunak aplikasi &lt;em&gt;decision 
support system&lt;/em&gt;. Sistem ini selain memberikan informasi gempa bumi 
berpotensi tsunami, juga ketinggian dan waktu tiba tsunami.&lt;/h3&gt;
&lt;div align=&quot;left&quot;&gt;
Sistem peringatan dini tsunami, biasa disebut &lt;em&gt;Indonesia 
Tsunami Early Warning System&lt;/em&gt; (Ina TEWS), mulai dibangun tahun 2005, pasca 
tsunami besar di Aceh dan Nias, 26 Desember 2004.&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;left&quot;&gt;
Pembangunan jejaring pemantau tsunami itu melibatkan beberapa 
negara, antara lain, Amerika Serikat, Jerman, dan China. Pemerintah Jerman 
melalui Pusat Antariksa Jerman (DLR) dan Pusat Riset Kebumian (GFZ) menjadi 
pendukung utama pemasangan jejaring.&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;left&quot;&gt;
Tahun 2010, Ina TEWS beroperasi penuh. Sistem itu terdiri dari 160 
unit seismograf, 500 unit akselerograf, dan 140 unit &lt;em&gt;radio and internet for 
the communication of hydro-meteorogical and climate related information&lt;/em&gt; 
yang dikelola Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kata Kepala 
BMKG Sri Woro B Harijono.&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;left&quot;&gt;
Selain itu, dalam Ina TEWS juga ada 10 stasiun pasang surut dan 50 
stasiun &lt;em&gt;global positioning system&lt;/em&gt; (GPS) yang dikelola Bakosurtanal 
(kini Badan Informasi Geospasial/BIG). Ada pula 23 pelampung pemantau tsunami di 
beberapa lokasi&amp;nbsp; rawan tsunami yang dioperasikan Badan Pengkajian dan Penerapan 
Teknologi (BPPT) masuk ke jaringan ini.&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;left&quot;&gt;
Dengan jejaring alat pemantau itu, hasil pantauan gempa yang 
berpotensi tsunami dapat disampaikan dalam 5 menit sejak guncangan utama terekan 
seismograf. Namun, informasi yang disampaikan hanya sebatas data kegempaan dan 
kemungkinan tsunami setelah gempa besar lebih dari 7 skala Richter.&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;left&quot;&gt;
Pada 23 Maret 2012, bertepatan dengan Hari Meteorologi Dunia, BMKG 
meresmikan pengoperasian piranti lunak Ina TEWS generasi baru. Sistem ini 
dilengkapi piranti lunak penganalisis data yang disebut &lt;em&gt;decision support 
system&lt;/em&gt; (DSS).&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;left&quot;&gt;
Piranti yang dipasang pada &lt;em&gt;server&lt;/em&gt; di Ruang Operasional 
Ina TEWS BMKG, kata Kepala Pusat Gempa dan Tsunami BMKG Suhardjono, merupakan 
rancangan peneliti dari tiga lembaga yang dikoordinasikan DLR.&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;left&quot;&gt;
Adapun basis data dan analisis seismik masing-masing dikerjakan 
peneliti dari Alfred Wegner Institute dan GFZ. Pengoperasian dan pemeliharaan 
sistem dilakukan petugas BMKG yang dilatih di Jerman.&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;left&quot;&gt;
Pengembangan selanjutnya sesuai Keputusan Menko Kesra Nomor 21 
Tahun 2006 tentang Pengembangan Sistem Peringatan Dini Tsunami di Indonesia akan 
mendayagunakan peneliti dan perekayasa dari Indonesia. Sejak tahun 2010, 
pembuatan &lt;em&gt;buoy&lt;/em&gt; (pelampung) dilakukan perekayasa dari BPPT.&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;left&quot;&gt;
&lt;img alt=&quot;Sistem Kerja DSS&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;404&quot; src=&quot;file:///C:/Users/Fajar/AppData/Local/Temp/WindowsLiveWriter-429641856/supfilesDF91D/image[3].png&quot; style=&quot;background-image: none; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-right-width: 0px; border-top-width: 0px; display: block; float: none; margin: 5px auto; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;&quot; title=&quot;Sistem Kerja DSS&quot; width=&quot;442&quot; /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;left&quot;&gt;
Keunggulan DSS&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;left&quot;&gt;
Penerapan DSS memiliki beberapa kelebihan dibandingkan generasi 
peranti lunak terdahulu. Informasi bukan sebatas potensi gempa, melainkan juga 
analisis ketinggian tsunami di beberapa kawasan berdampan pasca gempa besar. 
Hasil analisis selain ditampilkan dalam bentuk tabel, juga data spasial, kata 
Wandono, Kepala Bidang Informasi Dini Gempa Bumi dan Tsunami BMKG.&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;left&quot;&gt;
Ada tiga tingkatan status ancaman tsunami, tingkat rendah (di 
bawah 0,5 m) digambarkan berwarna kuning pada peta. Bagian ini berstatus 
waspada. Tingkat ancaman menengah (berpotensi dilanda tsunami 0,5 – 3 meter) 
berwarna jingga, berstatus waspada. Adapun kawasan berstatus awas diwarnai merah 
(terancam tsunami lebih dari 3 meter). “Peta daerah ancaman tsunami dihasilkan 
DSS dalam 5 – 10 menit pascagempa,” katanya.&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;left&quot;&gt;
DSS juga melaporkan waktu sampainya tsunami di pantai terdampak, 
demikian Tiar Prasetya, Kepala Sub Bidang Peringatan Dini Tsunami BMKG. Pada 
tahap selanjutnya dikeluarkan hasil verifikasi data hasil pantauan pelampung 
dari BPPT dan pasang air laut dari BIG.&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;left&quot;&gt;
Informasi hasil analisis diteruskan ke ASEAN Earthquake 
Information Center di menit ke-10 dan &lt;em&gt;region tsunami center&lt;/em&gt; untuk 
kawasan Samudra Hindia 15 menit kemudian.&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;left&quot;&gt;
Penerapan sistem otomatis ini, menurut Suhardjono, dapat 
meminimalkan kesalahan interpretasi operator. Dengan DSS, campur tangan operator 
dalam menentukan peringatan dini tsunami dapat dikurangi.&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;left&quot;&gt;
Untuk hasil analisis yang akurat, kata Wandono, DSS ditunjang 
basis data sejarah tsunami tiap wilayah. Pada basis data itu, ada lebih dari 
3.000 skenario dihasilkan. Simulasi kemudian menghitung berapa kemungkinan 
disalokasi, berupa subduksi (bergerak vertikal) dan bergeser (horizontal).&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;left&quot;&gt;
Pada gempa Rabu (11/4), simulasi menunjukkan, Banda Aceh hingga 
Meulaboh berwarna merah (berpotensi terkena tsunami di atas 3 meter), semakin ke 
tenggara semakin rendah.&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;left&quot;&gt;
Menurut Wandono, untuk meningkatkan akurasi prediksi tsunami 
diperlukan lebih banyak sensor. Saat ini di Indonesia hanya ada 160 sensor. 
Bandingkan dengan Jepang yang wilayahnya lebih kecil memiliki 2.000 sensor 
seismograf.&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://classicalife.blogspot.com/feeds/7733638552224590720/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://classicalife.blogspot.com/2012/04/sistem-peringatan-dini-tsunami.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1343252316495620752/posts/default/7733638552224590720'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1343252316495620752/posts/default/7733638552224590720'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://classicalife.blogspot.com/2012/04/sistem-peringatan-dini-tsunami.html' title=''/><author><name>Mas Catur</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17047629628010882515</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='20' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj0MOoFy2JG1rLcCt74MsCGNN9cXGks6TpWW6ho_JxZyVCuK9sBxbceY4igseMEI2vT99EnADgk9EG9C4ouG70C3kba7owi-Yi5mOeScMNOy6a23jdSVPXExsgXG-gcslva-32a3REBEMvACHY5Byc2U2VbN4H4ppcT8ZbO1LLCOGly/s220/LA%20Birthday.png'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>