<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>COEIL</title><description>Cinta itu seperti kupu kupu, semakin dikejar semakin dia lari, tapi kalo dibiarkan terbang dia akan datang disaat kamu tidak menginginkannya.cinta dapat membuat kamu bahagia tapi sering juga bikin kamu sedih.</description><managingEditor>noreply@blogger.com (OggiCoeil)</managingEditor><pubDate>Mon, 9 Sep 2024 19:15:58 -0700</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">11</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>http://oggidwi.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Cinta itu seperti kupu kupu, semakin dikejar semakin dia lari, tapi kalo dibiarkan terbang dia akan datang disaat kamu tidak menginginkannya.cinta dapat membuat kamu bahagia tapi sering juga bikin kamu sedih.</itunes:subtitle><itunes:category text="Music"/><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><title>Puisi-puisiku</title><link>http://oggidwi.blogspot.com/2008/08/puisi-puisiku_12.html</link><author>noreply@blogger.com (OggiCoeil)</author><pubDate>Tue, 12 Aug 2008 09:16:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1538575891077355640.post-5161079650241647604</guid><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pujaanku&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wahai engkau...&lt;br /&gt;kau bagaikan embun dipagi hari..&lt;br /&gt;kau bagai bintang di malam hari..&lt;br /&gt;kau bagai matahai yang selalu menyinari&lt;br /&gt;seluruh isi bumi ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bagai mana aku bisa melupaan mu&lt;br /&gt;bagai mana juga aku mengabaikan mu&lt;br /&gt;karna kau lah aku bisa hidup&lt;br /&gt;karna kau lah aku bisa seperti ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karna kau begitu berarti untuk ku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Salah menilaimu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apa aku salah&lt;br /&gt;apa cinta ini salah&lt;br /&gt;apa sayang ini salah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku tulus cintaimu&lt;br /&gt;aku tulus sayangimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;begitu besanya cintaku pdmu&lt;br /&gt;begitu besarnya sayang ini hanya untuk km&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi....&lt;br /&gt;apa yang aku dapat....&lt;br /&gt;sakit....&lt;br /&gt;sakit....&lt;br /&gt;dan sakit hati.......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mungkin aku salah menilaimu&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>&amp;#39;Kutu&amp;#39; Sang Penyelamat</title><link>http://oggidwi.blogspot.com/2008/04/sang-penyelamat.html</link><author>noreply@blogger.com (OggiCoeil)</author><pubDate>Fri, 4 Apr 2008 23:33:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1538575891077355640.post-2346143446988660221</guid><description>&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;"Kutu apa yang paling menguntungkan," tanya seorang rekan di &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:City w:st="on"&gt;Balikpapan&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; beberapa hari yang lalu. Bah, sekenanyalah saya menjawab pertanyaan konyol tersebut. Mungkin saja hanya sebuah pertanyaan bercanda, pikirku.     &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Kutu, bagi saya, itu menyebalkan, bikin stress, bikin orang gak pede, jorok, tengik, dan sejumlah kata yang menggambarkan segudang kebencian akan hewan hitam kecil mungil itu. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Kutu, kata rekan saya tersebut, telah menolong hidupnya dari keterpurukan. Dia hewan penyelamat dalam kesesakan yang dialaminya bertahun-tahun. Mendengar perkataan itu, saya cekikikan. Sedikit emosi, akhirnya rekan seangkatan saat menempuh studi di perguruan tinggi tersebut, menceritakan kisah kutu si penyelamat tersebut. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;"Saya telah mengalami hal yang sama dengan cerita tentang kutu Jerman pada zaman Nazi, dan karena kutu itulah saya merasa sebagai orang yang benar-benar merdeka, " tuturnya. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Saat Nazi memegang kendali di pemerintahan Jerman, yang saat itu menjadi negara 'super power', kaum Yahudi yang berada di negara tersebut harus menelan pil pahit. Semua golongan Yahudi laki-laki dibantai habis-habisan oleh tentara Nazi, sedangkan para perempuan dipenjara dalam sel. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br&gt;Wanita Yahudi selain menerima siksaan, juga diperlakukan tidak senonoh oleh Tentara Nazi yang memperkosa satu demi satu perempuan Yahudi. Dua kakak beradik yang tinggal di sebuah desa pun tidak luput dari incaran tentara Nazi yang 'haus seks'. Berdua ditangkap dan dijebloskan dalam penjara. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Saat itu, karena banyaknya perempuan yang ditangkap, hampir semua isi penjara itu penuh. Hanya satu ruang penjara saja yang masih tersisa, yaitu dibawah tanah. Ruang inilah akhirnya menjadi Tempat pesakitan bagi pasangan kakak beradik ini. Ruangan sel yang tersisa itu, berbeda dengan ruangan lain. Tempat itulah dikenal sebagai ruangan terjorok dibandingkan yang lain. Lembab, dan Banyak kutu dan tikus. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Melihat ruangan yang menjadi bagian hidup yang 'tak bermasa depan' itu, membuat kedua perempuan kakak beradik itu berkeluh kesah karena merasa paling hina dibandingkan dengan tahanan yang lain. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Hampir setiap hari, keduanya menangis. Orang tua dan saudara laki-laki mereka dibunuh, sementara hidupnya penuh dengan kutu. Bisa dibayangkan betapa naifnya kehidupan dua bersaudara itu. Berbeda dengan tahanan perempuan Yahudi lainnya, kedua kakak beradik ini dikenal soleh. Ia sering berpuasa, beribadah, menjalankan 10 hukum Taurat, bahkan memberikan sepersepuluh dari penghasilannya kepada Tuhan. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dalam kesesakannya dalam penjara yang penuh dengan kutu tersebut, keduanya 'memprotes' Allah yang tidak pernah membalas apa yang diperbuatnya. Allah dianggap telah meninggalkan dirinya, bahkan muncul ketidakpercayaan akan kehadiran Allah. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Beberapa tahun kemudian, perempuan-perempuan dalam tahanan dikumpulkan dalam sebuah lapangan oleh komandan Nazi yang memperoleh laporan bahwa banyak wanita Yahudi yang telah diperkosa oleh anak buahnya. Komandan tersebut ingin mengetahui bukti dari kebenaran tersebut, dan menghukum prajuritnya yang melakukan perbuatan cabul tersebut. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;"Siapa diantara kamu yang pernah diperkosa harap berdiri, " teriak komandan tersebut. Semua wanita berdiri, hanya dua kakak beradik tersebut yang tetap duduk bersila. Dengan heran, komandan tersebut berkata kepada salah satu anak buahnya. "Mengapa hanya dua wanita yang masih perawan, dan paling montok itu tidak kamu perkosa, dan malah perempuan tua tak berbentuk yang dipilih. Bukankah, ia lebih nikmat dibandingkan yang lain, " kata komandan tersebut. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tentara yang ditunjuk segera menjawab, "Bagaimana memperkosanya, wong badannya dipenuhi kutu. Belum 'dimasukkan' sudah gatal semua, " katanya. Kedua wanita itu baru mengerti, kutu yang menyebalkan itu telah menolongnya. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Rupanya, Tuhan yang dianggap meninggalkannya, mempunyai rencana besar dan terindah meskipun terlihat buruk dalam pandangannya. Oh, ternyata itu cerita sang kutu item yang dipetik rekan saya dalam karangan penulis besar di Amerika, yang namanya sendiri lupa disebutkannya.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Dari cerita tersebut, rekan saya bercerita dirinya mengalami hal serupa. 'Kutu' masalah yang melilit kehidupannya hampir membuat dirinya putus asa dan ia merasa tiada hari depan yang lebih baik. Namun, dengan kutu kini ia mendapatkan sebuah harapan besar dalam kehidupannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;5 tahun lalu, rekan saya menderita sakit parah. Belum sembuh dari penyakit itu, salah satu keluarganya meninggal. Beberapa tahun kemudian, rencana pernikahan dengan seorang wanita asal &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:City w:st="on"&gt;Manado&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; pun gagal setelah tahu apabila pacarnya itu telah memilih pria yang lebih sehat dibandingkan dirinya. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Sebelum bertemu beberapa hari yang lalu di sebuah cafe? di kawasan dekat pantai Bunaken. Saya tidak pernah terpikirkan akan bertemu dengannya, karena menurut rekan yang lain, ia sedikit strees dan pergi ke daerah &lt;st1:place w:st="on"&gt;Kalimantan&lt;/st1:place&gt; untuk berobat. Pertemuan yang tidak terduga itu membuat saya kaget dan terheran-heran, ia sehat, gemuk dan kini punya pasangan cantik dan sebuah mobil plat hitam miliknya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Padahal, sewaktu sama-sama di kampus, ia dikenal kering kerontang. Tanpa basa-basi, ia menjabat tangan saya dan berkata 'kutu' saya yang dulu telah mendatangkan keuntungan. Ia bertemu dengan gadis &lt;st1:place w:st="on"&gt;Kalimantan&lt;/st1:place&gt;, yang kini akan dilamarnya. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;"Setelah bertemu dengan impian hati, tiba-tiba saya serasa sembuh dan hasil medis mengatakan penyakit saya sudah sembuh sebelum diobati. Bahkan saya telah mendapatkan rejeki secara materi, " katanya. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;Pertemuan itu pun juga menjadi obat bagi saya, yang beberapa pekan lalu ada sedikit masalah keluarga yang sedikit mempengaruhi konsentrasi saya dalam bekerja. Namun, masalah tersebut kini usai, dan ternyata 'kutu' dalam cerita zaman Nazi itu telah ada. Bagaimana dengan anda, rindukah akan 'kutu' yang akan membawa anda terbang dalam kesuksesan? bukankah "RencanaKu (Allah) bukanlah rencana yang mencelakakan, melainkan rencanaKu adalah rencana yang melegakan"&lt;/p&gt;    &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>GIRL..........</title><link>http://oggidwi.blogspot.com/2008/04/girl.html</link><author>noreply@blogger.com (OggiCoeil)</author><pubDate>Fri, 4 Apr 2008 23:10:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1538575891077355640.post-5506824257373014452</guid><description> &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Boy &lt;/span&gt;adalah seorang cowo yg menjadi buta karena&lt;br&gt;sebuah kecelakaan..&lt;br&gt;Sejak ia menjadi buta..ia merasa terasing dari&lt;br&gt;lingkungannya..&lt;br&gt;Ia merasa tidak ada seorang pun yg&lt;br&gt;memperhatikan atau menyayanginya..&lt;br&gt;Hingga kemudian hadirlah Girl dalam hidupnya..&lt;br&gt;Girl sangat sayang dan perhatian pada Boy..&lt;br&gt;Ia tidak pernah mempermasalahkan kebutaan Boy&lt;br&gt;sebagai suatu kekurangan yg berarti..&lt;br&gt;Ia sungguh-sungguh mencintai Boy dengan tulus...&lt;br&gt;Suatu hari berkatalah Boy kepada Girl..&lt;br&gt;B : Girl...mengapa kamu begitu menyayangiku..?&lt;br&gt;G: hmmm..entahlah..aku tidak pernah tau alasan&lt;br&gt;mengapa aku begitu menyayangimu..yg aku&lt;br&gt;tahu..aku benar-benar tulus menyayangimu Boy..&lt;br&gt;(tersenyum)&lt;br&gt;B : tapi..aku kan buta..apa yg bisa aku perbuat&lt;br&gt;untukmu..? apa yg bisa aku berikan buatmu..?&lt;br&gt;G : Boy..aku tidak mengharap apapun&lt;br&gt;darimu..buatku..kamu bisa ceria setiap hari dan&lt;br&gt;menyayangiku dengan tulus itu sudah cukup..aku&lt;br&gt;senang ketika kau merasa senang..&lt;br&gt;B : (terharu) belum pernah ada orang yg begitu&lt;br&gt;menyayangi aku yg buta seperti ini..&lt;br&gt;G : (menggenggam tangan Boy sambil tersenyum)&lt;br&gt;B : Girl..kalo sampai suatu saat nanti aku bisa&lt;br&gt;melihat lagi..aku pasti akan menikahimu..karena&lt;br&gt;hanya kamu satu-satunya orang yg dengan tulus&lt;br&gt;menyayangiku...&lt;br&gt;G : benarkah..?&lt;br&gt;B : iya..aku janji..kalau suatu saat nanti aku bisa&lt;br&gt;melihat, PASTI aku akan menikahimu..&lt;br&gt;G : (terharu) terima kasih Boy..aku sangat&lt;br&gt;menyayangimu...&lt;br&gt;B : (tersenyum) ya..aku tahu itu..aku juga sangat&lt;br&gt;menyayangimu Girl..&lt;br&gt;singkat cerita..&lt;br&gt;Boy melakukan operasi cangkok mata dan&lt;br&gt;berhasil..ia mampu melihat lagi..&lt;br&gt;Ia pun tidak sabar untuk segera menemui Girl..&lt;br&gt;Pergilah ia mencari Girl..&lt;br&gt;sampai ia berhasil menemukannya...&lt;br&gt;Namun...&lt;br&gt;alangkah terkejutnya ia mengetahui bahwa&lt;br&gt;ternyata Girl adalah seorang gadis buta..&lt;br&gt;Ia tidak bisa menerimanya..Ia pun menolak Girl..&lt;br&gt;Ia lupa akan semua janjinya...&lt;br&gt;G : Boy..bukankah kamu sudah berjanji akan&lt;br&gt;menikah denganku..?&lt;br&gt;B : ummm....(bimbang) ya memang aku pernah&lt;br&gt;berkata begitu..tapi tidak dengan keadaanmu yg&lt;br&gt;seperti ini..&lt;br&gt;G : Bagaimana mungkin kamu mengingkari&lt;br&gt;janjimu sendiri..? bukankah kau bilang hanya aku&lt;br&gt;satu-satunya orang yg menyayangimu..?&lt;br&gt;B : eeeerr...maaf Girl..tapi aku tidak bisa menikah&lt;br&gt;dengan gadis buta..maaf..&lt;br&gt;Boy pun pergi meninggalkan Girl..&lt;br&gt;Girl yang kecewa dan merasa dikhianati..memilih&lt;br&gt;untuk bunuh diri..&lt;br&gt;Saat ia ditemukan meninggal..ada sepucuk surat&lt;br&gt;disakunya..&lt;br&gt;"Dear Boy...&lt;br&gt;Memang tidak banyak yg bisa aku berikan&lt;br&gt;padamu..tidak banyak yg bisa aku lakukan&lt;br&gt;untukmu...&lt;br&gt;Namun..aku sungguh-sungguh tulus&lt;br&gt;menyayangimu...&lt;br&gt;Semoga kedua mataku itu bisa berguna&lt;br&gt;bagimu..bisa membawakan terang dan keceriaan&lt;br&gt;dalam hidupmu kembali.."&lt;br&gt;~Kadang kala kita tidak boleh melihat sesuatu&lt;br&gt;hanya dengan mata..melainkan juga dengan hati&lt;br&gt;kita.. Mata itu bisa menipu..namun hati tidak..kata&lt;br&gt;hati selalu merupakan kejujuran terdalam dalam&lt;br&gt;hidup manusia..~&lt;br&gt;&lt;br&gt;Mohon berikan Nilai Moral yg anda tangkap&lt;br&gt;atau pendapat / pengalaman pribadi.(.&lt;img src="http://images.multiply.com/common/smiles/thumbs_down.png"&gt;&lt;img src="http://images.multiply.com/common/smiles/thumbs_up.png"&gt;)&lt;br&gt;&lt;br&gt;Saya  :  Nikmati setiap waktu yg kita lewati dgn kekasih kita,&lt;br&gt;banyak sekali anugrah dan kasih dari Tuhan kita yg ditunjukkan dari&lt;br&gt;pasangan kita yang mengasihi kita, hanya sering kita (saya) tidak sadari,&lt;br&gt;Time goes by.... Dan waktu yang menyadarkan kita semua.... tapi kita tidak dapat mengubah awal cerita kehidupan ini, tetapi Ingat ! Kita bisa mengubah akhir cerita... sadarilah bahwa kita setiap laki2 adalah egois, mulai berubah, jangan seperti Boy yang sudah terlambat.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Saya adalah laki2 yang sudah kecewa dan menyesal akan egoisnya saya sbg laki2, tetapi saya sudah berjanji pada diri saya sendiri untuk mengasihinya setiap waktu dan tidak akan menyia-nyiakan waktu lagi. Percayalah hai para lelaki, segera berubah ego anda terhadap kekasih / istri anda dan jangan sia-siakan waktu yg ada. Saya berbicara karena saya mengalami.&lt;br&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Gombloh Lirik</title><link>http://oggidwi.blogspot.com/2007/12/gombloh-lirik.html</link><author>noreply@blogger.com (OggiCoeil)</author><pubDate>Thu, 13 Dec 2007 19:03:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1538575891077355640.post-6744649787436337606</guid><description>&lt;h1 style="text-align: center;" align="center"&gt;Berita Cuaca&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Artist: &lt;a href="http://www.ilirik.com/gombloh.html" title="Gombloh"&gt;&lt;strong&gt;Gombloh&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Lestari alamku lestari desaku&lt;br /&gt;Dimana Tuhanku menitipkan aku&lt;br /&gt;Nyanyi bocah-bocah di kala purnama&lt;br /&gt;Nyanyikan pujaan untuk nusa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Damai saudaraku suburlah bumiku&lt;br /&gt;Kuingat ibuku dongengkan cerita&lt;br /&gt;Kisah tentang jaya nusantara lama&lt;br /&gt;Tentram kartaraharja di sana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa tanahku rawan ini&lt;br /&gt;Bukit bukit telanjang berdiri&lt;br /&gt;Pohon dan rumput enggan bersemi kembali&lt;br /&gt;Burung-burung pun malu bernyanyi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuingin bukitku hijau kembali&lt;br /&gt;Semenung pun tak sabar menanti&lt;br /&gt;Doa kan kuucapkan hari demi hari&lt;br /&gt;Kapankah hati ini kapan lagi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h1 style="text-align: center;" align="center"&gt;Hong Wilaheng&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Artist: &lt;a href="http://www.ilirik.com/gombloh.html" title="Gombloh"&gt;&lt;strong&gt;Gombloh&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;mingkar mingkuring angkoro&lt;br /&gt;akarono karnan mardi siwi&lt;br /&gt;sinawung resmining kidung&lt;br /&gt;sinubo sinukarto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aduh gusti, pakertining ngilmu&lt;br /&gt;ingkang tumrap ning ngalam dunyo&lt;br /&gt;agomo ageming aji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sopo entuk wahyuning Allah&lt;br /&gt;gyoh dumilah mangulah ngilmu bangkit&lt;br /&gt;bangkit mikat reh mangukut&lt;br /&gt;kukutaning jiwanggo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yen mangkono, keno sinebut wong sepuh&lt;br /&gt;liring sepuh, sepi howo ... awas loro ning atunggil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hong wilaheng sekareng bawono langgeng ... sekar mayang&lt;br /&gt;hong wilaheng sekareng bawono langgeng ... sekar kajang&lt;br /&gt;hong wilaheng sekareng bawono&lt;br /&gt;hong wilaheng sekareng bawono&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h1 style="text-align: center;" align="center"&gt;Jawabnya ada di Timur Timor&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Artist: &lt;a href="http://www.ilirik.com/gombloh.html" title="Gombloh"&gt;&lt;strong&gt;Gombloh&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Kala mentari menampakkan wajah&lt;br /&gt;kutanya kapan engkau tiba&lt;br /&gt;di kala angin mengelusku manja&lt;br /&gt;kutanya dimana kau berada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kutengadah ke langit&lt;br /&gt;kubisikkan sebaris kata&lt;br /&gt;dimanakah kau permata&lt;br /&gt;engkau berangkat dengan wajah bangga&lt;br /&gt;tanpa terselip rasa yang memaksa&lt;br /&gt;kuiringkan kau dengan butir doa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di sela-sela gerimis senja&lt;br /&gt;kutengadah ke langit&lt;br /&gt;kubisikkan sebaris kata&lt;br /&gt;dimanakah kau permata&lt;br /&gt;berangkat kau permataku&lt;br /&gt;di timur Timor menunggumu&lt;br /&gt;berangkat kau permataku&lt;br /&gt;di timur Timor menunggumu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setahun sudah aku menantimu&lt;br /&gt;tak sebait nada menghibur&lt;br /&gt;kuhanya kemarin kuterima pesankau&lt;br /&gt;tiada di medan juang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kutengadah ke langit&lt;br /&gt;kubisikkan sebaris kata&lt;br /&gt;dimanakah kau permata&lt;br /&gt;berangkat kau permataku&lt;br /&gt;di timur Timor menunggumu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berangkat kau permataku&lt;br /&gt;di timur Timor menunggumu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h1 style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;h1 style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;h1 style="text-align: center;" align="center"&gt;Kedamaian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Artist: &lt;a href="http://www.ilirik.com/gombloh.html" title="Gombloh"&gt;&lt;strong&gt;Gombloh&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Berserak di mega putih&lt;br /&gt;anganku menerawang&lt;br /&gt;di leher merpati putih&lt;br /&gt;harapan kutitipkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berdebar rasa hatiku&lt;br /&gt;bergetar rasa naduku&lt;br /&gt;tersentuh rasa rinduku&lt;br /&gt;padamu kedamaian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tercecer berkas puisi&lt;br /&gt;terlampir tak bertanggal&lt;br /&gt;tergugah iman hati ini&lt;br /&gt;selubung fatamorgana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menangis di dalam hati&lt;br /&gt;tersenyum di tengah sepi&lt;br /&gt;biarkan aku cinta engkau&lt;br /&gt;biarkan dan biarkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terpandang mata telanjang&lt;br /&gt;merah hitam silang menyilang&lt;br /&gt;lembayung di awal senja&lt;br /&gt;mengabur di benakku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memohon di hati ini&lt;br /&gt;bersujud di hari nanti&lt;br /&gt;biarkan aku cinta engkau&lt;br /&gt;biarkan dan biarkan&lt;br /&gt;biarkan dan biarkan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h1 style="text-align: center;" align="center"&gt;Lestari Alamku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Artist: &lt;a href="http://www.ilirik.com/gombloh.html" title="Gombloh"&gt;&lt;strong&gt;Gombloh&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Lestari alamku lestari desaku&lt;br /&gt;Dimana Tuhanku menitipkan aku&lt;br /&gt;Nyanyi bocah-bocah di kala purnama&lt;br /&gt;Nyanyikan pujaan untuk nusa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Damai saudaraku suburlah bumiku&lt;br /&gt;Kuingat ibuku dongengkan cerita&lt;br /&gt;Kisah tentang jaya nusantara lama&lt;br /&gt;Tentram kartaraharja di sana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa tanahku rawan ini&lt;br /&gt;Bukit bukit telanjang berdiri&lt;br /&gt;Pohon dan rumput enggan bersemi kembali&lt;br /&gt;Burung-burung pun malu bernyanyi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuingin bukitku hijau kembali&lt;br /&gt;Semenung pun tak sabar menanti&lt;br /&gt;Doa kan kuucapkan hari demi hari&lt;br /&gt;Kapankah hati ini kapan lagi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h1 style="text-align: center;" align="center"&gt;Selamat Pagi &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Artist: &lt;a href="http://www.ilirik.com/gombloh.html" title="Gombloh"&gt;&lt;strong&gt;Gombloh&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Aku dilahirkan di kota&lt;br /&gt;di bangsal rumah sakit tua&lt;br /&gt;rumahku sebaya umur kakekku&lt;br /&gt;berdinding batu separuh bambu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan aku coba mengerti&lt;br /&gt;walau aku sering memaki&lt;br /&gt;tingkah-tingkuh kotaku yang panas&lt;br /&gt;berbaur debu dan keringat di badanku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;orang bilang kotaku kejam&lt;br /&gt;tak beda usia tak beda warna&lt;br /&gt;bagai tangan hitam cengkeram&lt;br /&gt;tubuh-tubuh tergolek disana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dulu aku tak perduli&lt;br /&gt;walau aku sering kerutkan dahi&lt;br /&gt;detak jantung berpacu dengan nafsu&lt;br /&gt;sering terlihat nyata di depanku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;satu kali ku berkhayal&lt;br /&gt;hidup ini bersinar merata&lt;br /&gt;tapi lamunanku buyar&lt;br /&gt;oleh mimik seorang bocah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gelandangan kecil berdiri&lt;br /&gt;dengan rasa ingin memiliki&lt;br /&gt;sepotong roti di toko yang bersih&lt;br /&gt;dan berjendela kaca&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kulihat seorang perempuan baya&lt;br /&gt;dengan orok di pangkuannya&lt;br /&gt;larut malam di kaki lima&lt;br /&gt;menunggu warung kopi miliknya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak berdinding beratap rumbia&lt;br /&gt;menempel di emper toko megah&lt;br /&gt;esok 'pabila mentari tiba&lt;br /&gt;ku tak tahu ia dimana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ri ... ri ... ri - ri ... ri - ri ... ri ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kepincangan demi kepincangan&lt;br /&gt;tak membuat aku jera&lt;br /&gt;kehidupan yang keras ini&lt;br /&gt;akan kuhadapi jua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tanpa terasa aku tengadah&lt;br /&gt;kepada-Nya aku meminta&lt;br /&gt;kotaku kan tegar berdiri&lt;br /&gt;bukan hanya untuk ... satu generasi ...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h1 style="text-align: center;" align="center"&gt;Kugadaikan Cintaku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Artist: &lt;a href="http://www.ilirik.com/gombloh.html" title="Gombloh"&gt;&lt;strong&gt;Gombloh&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Di radio aku dengar lagu kesayanganmu&lt;br /&gt;Kutelepon di rumahmu sedang apa sayangku&lt;br /&gt;Kuharap engkau mendengar&lt;br /&gt;Dan kukatakan rindu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam minggu pukul tujuh aku apel di rumahmu&lt;br /&gt;Kubersiul dan bernyanyi membayangkan dirimu&lt;br /&gt;Bercanda dan bercumbu duduk berdua denganmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi mimpi apa aku semalam&lt;br /&gt;Kulihat engkau duduk berdua&lt;br /&gt;Bercanda mesra dengan seorang pria&lt;br /&gt;Kau cubit kau peluk kau cium&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di radio aku dengar lagu kesayangan mu&lt;br /&gt;Kututupi telingaku dengan dua tanganku&lt;br /&gt;Biarlah cepat berlalu dan kugadaikan cintaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kugantungkan cintaku yeee..&lt;br /&gt;Kugadaikan cintaku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h1 style="text-align: center;" align="center"&gt;Kebyar - Kebyar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Artist: &lt;a href="http://www.ilirik.com/gombloh.html" title="Gombloh"&gt;&lt;strong&gt;Gombloh&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Indonesia ...&lt;br /&gt;Merah darahku, putih tulangku&lt;br /&gt;Bersatu dalam semangatmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia ...&lt;br /&gt;Debar jantungku, getar nadiku&lt;br /&gt;Berbaur dalam angan-anganmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebyar-kebyar, pelangi jingga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarpun bumi bergoncang&lt;br /&gt;Kau tetap indonesiaku&lt;br /&gt;Andaikan matahari terbit dari barat&lt;br /&gt;Kaupun tetap indonesiaku&lt;br /&gt;Tak sebilah pedang yang tajam&lt;br /&gt;Dapat palingkan daku darimu&lt;br /&gt;Kusingsingkan lengan&lt;br /&gt;Rawe-rawe rantas&lt;br /&gt;Malang-malang tuntas&lt;br /&gt;Denganmu ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia ...&lt;br /&gt;Merah darahku, putih tulangku&lt;br /&gt;Bersatu dalam semangatmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia ...&lt;br /&gt;Debar jantungku, getar nadiku&lt;br /&gt;Berbaur dalam angan-anganmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebyar-kebyar, pelangi jingga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia ...&lt;br /&gt;Merah darahku, putih tulangku&lt;br /&gt;Bersatu dalam semangatmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia ...&lt;br /&gt;Nada laguku, symphoni perteguh&lt;br /&gt;Selaras dengan symphonimu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Gombloh Tutur Sang Trubatur</title><link>http://oggidwi.blogspot.com/2007/12/gombloh-tutur-sang-trubatur.html</link><author>noreply@blogger.com (OggiCoeil)</author><pubDate>Thu, 13 Dec 2007 19:01:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1538575891077355640.post-8761503180188423516</guid><description>&lt;p class="MsoNormal"&gt;Biarpun bumi bergoncang, kau tetap Indonesiaku&lt;br /&gt;Andaikan matahari terbit dari barat, kaupun tetap Indonesiaku&lt;br /&gt;Tak sebilah pedang yang tajam dapat palingkan daku darimu&lt;br /&gt;(Kebyar-Kebyar,1979)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lirik yang terasa menyelinap ke wilayah jingoisme ini nyaris seperempat abad berkumandang di saat persada tercinta merayakan Proklamasi Kemerdekaan di setiap Agustus. Bahkan, tanpa sadar lagu yang ditulis dan dipopulerkan Gombloh kini secara tak resmi berdampingan dengan Padamu Negeri (Kusbini), Berkibarlah Benderaku (Ibu Sud) atau Dari Sabang Sampai Merauke (R Surarjo) sebagai national anthem atau lagu-lagu wajib nasional. Sesuatu yang mungkin tak terpikirkan Gombloh ketika menciptakan lagu ini dipertengahan era 70-an. Tetapi sebetulnya Kebyar-Kebyar bukanlah satu-satunya lagu karya cipta Gombloh yang bermotif nasionalisme. Arkian, Gombloh yang lahir pada tanggal 14 Juli 1948 dengan nama Soedjarwoto Soemarsono, juga banyak menorehkan sederet lagu yang membangkitkan semangat nasionalisme. Simak saja Dewa Ruci (dari album Terimakasih Indonesiaku):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku nyanyikan 'Padamu Negeri'&lt;br /&gt;Berbekal sala kaum sebangsa&lt;br /&gt;Kau terjang aral-aral melanda&lt;br /&gt;Berbekal rasa cinta sesama&lt;br /&gt;Kau tebar rasa cita manusia&lt;br /&gt;Juga simaklah lagu Gugur Gugur Bunga (dari album "Berita Cuaca") :&lt;br /&gt;Kau teriak merdeka, kala peluru melanda&lt;br /&gt;Tersenyum engkau menyongsongnya&lt;br /&gt;Tersenyum engkau dalam darah&lt;br /&gt;Atau simaklah tutur Gombloh bak orator dalam Gaung Mojokerto-Surabaya (dari album 'Nadia dan Atmosphere'):&lt;br /&gt;Bumi rasa bergetar diseling yel-yel menghantar&lt;br /&gt;Nadiku serasa bergeletar&lt;br /&gt;Merdu pekik menggelegar&lt;br /&gt;Senyumlah Surabaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu Gombloh masih menulis banyak lagu bertema cinta negeri mulai dari lagu bertajuk Indonesia Kami, Indonesiaku, Indonesiamu, Pesan Buat Negeriku, hingga BK lagu yang bertutur tentang sosok Bung Karno, sang proklamator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Gombloh memang seolah trubadur komplit. Dia tak hanya memuja-muji tanah kelahiran, tak hanya menafsirkan pesan-pesan alam tapi juga memotret fenomena sosial kalangan working class bahkan mengedepankan kritik sosial yang tajam pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa fasihnya Gombloh menuturkan sketsa kehidupan rakyat jelata sehari-hari memang terlihat dari deretan kata-kata yang dirangkainya dalam lagu-lagu ciptaannya seperti Doa Seorang Pelacur, Kilang-Kilang, Poligami Poligami, Nyanyi Anak Seorang Pencuri, Selamat Pagi Kotaku&lt;br /&gt;Bahkan Martin Hatch seorang peneliti dari Cornell University mempelajari lagu - lagu dalam album Gombloh Berita Cuaca (1982) dan mengangkatnya dalam sebuah karya ilmiah bertajuk Social Criticsm In The Songs Of 1980's Indonesian Pop Country Singers dan dipresentasikan dalam seminar musik The Society of Ethnomusicology yang berlangsung di Toronto Kanada pada 2 hingga 5 November 2000 silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam makalahnya Martin Hatch meneliti kekuatan dan nilai lagu-lagu karya Gombloh dalam perspektif kehidupan sosial seperti Berita Cuaca, Hong Wilaheng Sekareng Bawono Langgeng, Denok-Denok Debleng, Ujung Kulon Baloran, 3600 Detik, Kebayan-Kebayan, Hitam Putih dan Kami dan Alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki era 80-an,Gombloh mulai menorehkan karya-karya yang berkonotasi humor seperti lagu Lepen (singkatan Lelucon Pendek) maupun Selopen (singkatan Seloroh Pendek) yang menghasilkan sebuah idiom yang begitu lekat di khalayak ramai: Kalau cinta melekat, tai kucing rasa coklat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disisi lain, Gombloh yang tercerabut dari budaya pop justru tak bergeming ketika harus menghasilkan lagu seperti Kugadaikan Cintaku yang berhasil terjual diatas jumlah 1 juta keping .&lt;br /&gt;Di era inilah Gombloh seolah terjerembab pada karya-karya yang berorientasi ke pasar. Lalu bermunculanlah lagu-lagu seperti Apel, Hey Kamu, Percayalah Cintaku Tetap Hangat, Karena Iseng, Arjuna Cari Cinta, Konsumsi Cinta hingga Tari Kejang. Gombloh pun mulai menulis lagu-lagu bertema pop untuk penyanyi Tyas Drastiana hingga Vicky Vendi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sedikit yang menyayangkan sikap Gombloh dalam bermusik seperti ini. Gombloh seperti tak kuat lagi mempertahankan idealisme dalam berkarya. Walhasil Gombloh memang seolah terpilah pada dua kepribadian dalam karya-karya ciptanya, antara karya-karya idealis dan karya-karya yang bermuara di wilayah komersial. Mungkin ini adalah pilihan Gombloh yang pragmatis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ini sah-sah saja. Namun justru membaurnya Gombloh dengan tema populis membuat sosoknya semakin dikenal masyarakat luas. Kini siapa yang tak mengenal Gombloh ketika tampil di layar TVRI pada acara-acara musik seperti Aneka Ria Safari dan Selekta Pop dengan dandanan yang menjadi trademark: tubuh kerempeng bersepatu kets, pakai topi, rambut dikuncir, kacamata hitam dan setelan putih-putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gombloh sang trubadur yang menghembuskan nafas terakhir pada 9 Januari 1988, tak lagi hanya didengar oleh kelompok tertentu saja. Ia telah menjadi milik masyarakat banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan pada 20 Juni 2003 sekelompok pemusik Surabaya tergabung dalam Kelompok Pemusik Jalanan Surabaya yang mengunjungi makam Gombloh menobatkan Gombloh sebagai Pahlawan Pemusik Jalanan. Pada 2005 oleh PAPPRI (Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu dan Penata Musik Rekaman Indonesia), Gombloh dianugerahkan penghargaan Nugraha Bhakti Musik atas jasa-jasanya untuk dunia musik di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayup-sayup suara Gombloh sang trubadur menggaung dari kaset lawas Nadia &amp;amp; Atmosphere yang telah berusia 28 tahun. Lagu bertajuk Silhoutte Kuda Jantan ini seperti menyibak jatidiri Gombloh yang sesungguhnya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lekang hempasan zaman&lt;br /&gt;Dan satu jalur pandang mataku&lt;br /&gt;Idealisme kehidupan&lt;br /&gt;Kemurnian yang kukuh tanpa ragu&lt;br /&gt;yang menyengat harian karya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DISKOGRAFI GOMBLOH&lt;br /&gt;1.Nadia dan Atmosphere (Golden Hand,1978)&lt;br /&gt;2.Mawar Desa (Golden Hand,1978)&lt;br /&gt;3.Kadar Bangsaku (Golden Hand,1979)&lt;br /&gt;4.Kebyar Kebyar (Golden Hand,1979)&lt;br /&gt;5.Pesan Buat Negeriku (Golden Hand,1980)&lt;br /&gt;6.Sekar Mayang (Golden Hand,1981)&lt;br /&gt;7.Terimakasih Indonesiaku (Chandra Recording,1981)&lt;br /&gt;9.Pesan Buat Kaum Belia (Chandra Recording,1982)&lt;br /&gt;10.Berita Cuaca (Chandra Recording,1982)&lt;br /&gt;11.Kami Anak Negeri Ini (Chandra Recording,1983)&lt;br /&gt;12.Gila (Nirwana,1983)&lt;br /&gt;13.1/2 Gila (Nirwana,1984)&lt;br /&gt;14.Semakin Gila (Nirwana,1986)&lt;br /&gt;15.Apel (Nirwana,1986)&lt;br /&gt;16.Apa Itu Tidak Edan (Nirwana,1987)&lt;/p&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>KEBYAR - KEBYAR</title><link>http://oggidwi.blogspot.com/2007/11/kebyar-kebyar.html</link><author>noreply@blogger.com (OggiCoeil)</author><pubDate>Sat, 17 Nov 2007 07:45:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1538575891077355640.post-8259508852475679232</guid><description>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;Indonesia, merah darahku, putih tulangku&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;bersatu dalam semangatmu!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;, debar jantungku getar nadiku&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;berbaur dalang angan-anganmu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;Kebyar-kebyar pelangi jingga....&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;Indonesia, nada laguku, simfoni berteduh&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;selaras dengan simfonimu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;Kebyar-kebyar pelangi jingga....&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;[Biarpun bumi berguncang kau tetap Indonesiaku.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;Andaikan matahari terbit dari barat, kau pun Indonesiaku.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tak sebilah pedang yang tajam dapat palingkan aku darimu.]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;Kusingsingkan lengan, rawe-rawe rantas&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style=""&gt;malang-malang tuntas denganmu. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Silhouette Kuda Jantan Itu Adalah GOMBLOH</title><link>http://oggidwi.blogspot.com/2007/11/silhouette-kuda-jantan-itu-adalah.html</link><author>noreply@blogger.com (OggiCoeil)</author><pubDate>Sat, 17 Nov 2007 07:31:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1538575891077355640.post-2415917645201463051</guid><description>&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;Soedjarwoto Soemarsono&lt;/em&gt;, mungkin nama ini&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tidak terlalu familiar ditelinga kita. Namun bila &lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;kita mendengar nama &lt;em&gt;Gombloh&lt;/em&gt;, tentu yang seketika terbayang adalah seorang lelaki kerempeng dengan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; khas kacamata dan topinya. Ya, itulah nama asli Gombloh, lelaki kelahiran Jombang 14 Juli 1948 yang telah meninggal dunia di Surabaya 9 Januari 1988 tentu tidak asing lagi bagi kita terutama generasi 70-80-an. Karya-karya penyanyi Gombloh sangat monumental dan selalu didendangkan di televisi maupun acara seremonial bertema perjuangan. Seperti lagu &lt;em&gt;‘Kebyar-Kebyar’&lt;/em&gt; yang sekarang menjelma menjadi lagu wajib setelah lagu-lagu perjuangan lainnya.  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kebanyakan orang lebih mengenal Gombloh sebagai penyanyi berpenampilan &lt;em&gt;nyentrik&lt;/em&gt; dengan lagu-lagu percintaan nakal dan lucu. Seperti lagu &lt;em&gt;‘Di Radio’&lt;/em&gt; maupun &lt;em&gt;‘Apel’&lt;/em&gt; yang pada masanya menjadi top hits dan seakan menjadi lagu resmi bagi pasangan yang patah hati. Gombloh juga menciptakan idiom singkat pada sebuah lagu dengan judul &lt;em&gt;‘Lepen’&lt;/em&gt; (lelucon pendek) yang begitu terkenal dan menjadi populer di masyarakat bahkan hingga saat ini masih sering terdengar, yaitu &lt;i&gt;“kalau cinta sudah melekat, tai kucing rasa coklat”.&lt;/i&gt; Gombloh sudah lama tiada namun karyanya masih merdu didengar dan masih menarik untuk dipelajari.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tidak banyak yang saya ketahui tentang Gombloh. Referensi yang didapatkan tentang penyanyi yang satu ini sangat minim. Yang paling teringat adalah semasa saya kecil di suatu sore saat orang tua suka mengajak jalan-jalan dengan motor keliling sekitar daerah tempat tinggalku. Saat itu terlihat seorang lelaki berambut panjang dikuncir dan bertopi hitam, sedang duduk-duduk bersama beberapa orang di teras sebuah depot. Kata orang tua saya lelaki itu Gombloh. Saat itu saya tidak mengerti apa yang dijelaskan, namun wajah lelaki itu terus terbayang. Dan ketika lagu &lt;em&gt;‘Di Radio’&lt;/em&gt; menjadi heboh, barulah saya menyadari ternyata penyanyi lagu itu adalah lelaki yang pernah saya lihat beberapa tahun yang lalu.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Dan momen yang sampai saat ini masih jelas terbayang adalah saat Gombloh meninggal dunia pada tahun 1988. Saya menyaksikan begitu banyak sepeda motor dan mobil yang beriringan memadati jalanan di sekitar rumah. Saat itu yang saya dengar dari orang-orang yang ikut berdiri menyaksikan ditepi jalan, rombongan itu sedang mengantarkan jenazah Gombloh ke tempat peristirahatan terakhirnya. Saya baru sadar bahwa penyanyi yang saat itu baru mulai saya gemari lagu-lagunya telah tiada.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;/span&gt;Sekian tahun saya melewatinya dan sering cuma mendengar lagu-&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;lagu bertema perjuangan dari Gombloh seperti &lt;em&gt;‘Kebyar-Kebyar’&lt;/em&gt; ditelevisi dan radio. Hanya lagu itu dan beberapa lagu percintaan nakal yang saya ketahui dari karya Gombloh, saya sama sekali tidak mengenal karya-karyanya yang lain. Ketika suatu hari seorang teman meminjamkan kaset hasil rekaman tanpa cover yang katanya adalah album Gombloh yang berbahasa Jawa. Pertama kali mendengarkannya terasa cukup asing. Musik yang aneh menurut saya yang saat itu sedang tergila-gila dengan &lt;em&gt;Scorpions&lt;/em&gt;. Cukup memutar satu sisi dan mendengarkan sambil lalu, kemudian kaset itu saya letakkan begitu saja. Membosankan menurut saya apalagi bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa yang meskipun saya lahir dan besar di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Surabaya&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, namun sama sekali tidak mengerti artinya. Lagu dalam kaset itu terasa malah mirip lagu-lagu daerah. (belakangan saya ketahui kaset itu adalah album &lt;em&gt;Sekar Mayang&lt;/em&gt;).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt; Selang beberapa tahun hingga suatu hari datang lagi seorang teman yang membawakan sekumpulan CD berisi mp3 lagu-lagu Gombloh. Tentu saja yang pertama kali saya dengarkan dan copy di komputer adalah lagu-lagu hitsnya sekedar mengenang memori manis saat itu. Adanya waktu luang membuat saya penasaran dengan lagu-lagu yang lain. Rasa penasaran saya semakin memuncak ketika mengamati lagu-lagu lamanya kok terasa tidak asing lagi. Saat itu saya sedang asik mendengarkan lagu-lagu dari &lt;em&gt;Shadow Gallery&lt;/em&gt; juga &lt;em&gt;Pain Of Salvation&lt;/em&gt;, yang sekarang puluhan koleksi cd progressive rock barat milik saya yang belum sempat dinikmati sepuasnya telah hilang melayang di bagasi pesawat. Ya, sepertinya lagu-lagu Gombloh dari album-album lamanya lebih terasa sebagai &lt;em&gt;art songs&lt;/em&gt;. Banyak yang mengarah ke &lt;em&gt;progressive rock&lt;/em&gt; asli &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Dengan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; khas tahun 70-an, Gombloh bersama grup &lt;em&gt;Lemon Tree’s&lt;/em&gt; sudah menerapkan seni bermusik tingkat tinggi yang mungkin saat itu hanya dilirik sebelah mata.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Ketika di tahun 2007 ini saya mengumpulkan dan memutar lagi lagu-lagu lamanya meski bukan dari kaset aslinya, barulah saya berpikir, &lt;em&gt;luar biasa!.&lt;/em&gt; Lagu-lagu Gombloh saya katakan adalah karya seni tingkat tinggi yang mungkin saat ini tidak ada lagi yang bisa menyamainya. Saya coba membandingkan dengan lagu-lagunya &lt;em&gt;God Bless&lt;/em&gt;. &lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt; sedikit kesamaan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; disitu, hanya God Bless lebih &lt;em&gt;nge-rock&lt;/em&gt; dan terkesan modern.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt; Lagu-lagu Gombloh dari album lamanya saat ini saya rasakan begitu indah begitu &lt;em&gt;nyeni&lt;/em&gt;. Musiknya istimewa, begitu juga liriknya yang penuh permainan kata-kata tingkat tinggi yang sampai saat ini saya cukup kesulitan memahaminya. Bahkan seorang &lt;em&gt;&lt;a href="http://www.iwanfalsmania.blogspot.com/"&gt;Iwan Fals&lt;/a&gt;&lt;/em&gt; menurut saya kalah jauh dari kejeniusan Gombloh dalam hal lirik. Dibandingkan album-album terakhirnya yang begitu pop dan sarat unsur komersialnya, album-album awalnya benar-benar hebat dan sungguh menunjukkan bahwa unsur seni yang diterapkan sangat berkelas tidak asal enak didengar, &lt;em&gt;mengagumkan!&lt;/em&gt;. Saya baru menyadari bahwa di tahun 70-an sudah ada musisi yang berani menerapkan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; art-rock pada lagu-lagunya yang pada saat itu tentu tidak bakalan laku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt; Banyak lagu yang membuat saya terpukau dan terkagum-kagum, diantaranya adalah&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;/span&gt; &lt;em&gt;‘Tetralogi Fallot’&lt;/em&gt;, ‘&lt;em&gt;Hong Wilaheng’&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;‘3600 detik’&lt;/em&gt;. Begitu juga lagu &lt;em&gt;‘Ujung Kulon &lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Baluran’&lt;/em&gt; yang durasinya lumayan panjang 7 menit lebih sungguh memuaskan telinga saya walaupun lagu-lagu itu sudah berusia 25 tahun lebih. Meskipun lagu yang menjadi terkenal adalah lagu-lagu pop bertema percintaan, saya mengapresiasinya dengan biasa saja. Justru karya-karya pada album awalnya yang terasa jelas memiliki nilai seni yang tinggi pada musik dan lirik. Dan ini adalah ciri khas Gombloh sebelum dunia industri musik mempengaruhi &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; pada album-album terakhirnya. Tidak salah apabila beberapa lagunya seperti &lt;em&gt;‘Hong Wilaheng’&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;‘Kebyar-Kebya&lt;/em&gt;r’ menjadi obyek penelitian yang menarik oleh pengamat musik di Amerika. Dan para pengamat musik itu ternyata kesulitan untuk menentukan &lt;em&gt;genre&lt;/em&gt; kedua lagu tersebut. Bukti bahwa Gombloh tidak sekedar membuat lagu dan dinyanyikan, tapi entah sadar atau tidak nyatanya dia telah menciptakan karya seni tingkat &lt;em&gt;dunia!.&lt;/em&gt; Lagu-lagu itu kini diabadikan dalam sebuah &lt;em&gt;museum musik&lt;/em&gt; di Amerika Serikat.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Gombloh memang telah tiada, dan rasanya butuh waktu sekian tahun untuk kembali mengingatkan pada dunia musik &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; bahwa karya-karyanya sungguh luar biasa. Saya termasuk ketinggalan dalam mengamati kualitas lagu-lagu Gombloh. Bahkan ketika beberapa tahun yang lalu menjumpai patung dirinya dari perunggu seberat 200 kilogram terpajang di &lt;em&gt;Taman Hiburan Rakyat Surabaya&lt;/em&gt; yang sekarang disulap menjadi &lt;em&gt;Hi-Tech Mall&lt;/em&gt;, saya masih menganggap dia hanyalah penyanyi lagu-lagu cinta biasa yang kebetulan hidup di Surabaya, sehingga sekedar sebuah penghargaan baginya untuk dibuat patung. Ternyata anggapan itu sekarang sirna. Gombloh memang pantas dikenang sebagai musisi yang hebat. Sikap &lt;em&gt;idealis&lt;/em&gt; seorang Gombloh saya acungi jempol. Saat namanya melambung tinggi berkat kesuksesan lagu &lt;em&gt;‘Di Radio’&lt;/em&gt;, Gombloh tidak tergiur untuk hijrah ke ibu &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; seperti yang dilakukan oleh kebanyakan musisi. Dia masih bangga dengan komunitasnya di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Surabaya&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, dia masih cinta dengan tanah yang membesarkannya. Maka rekaman selanjutnya dia tetap melakukan di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Surabaya&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; di kawasan &lt;em&gt;Tunjungan&lt;/em&gt;. Gombloh seperti ingin membuktikan pada &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; bahwa kesuksesan dan ketenaran bukan hanya bisa didapat di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Gombloh menjadi istimewa bagi saya saat ini ketika banyak bermunculan lagu-lagu baru baik dari penyanyi maupun grup band baru yang terkesan asal enak didengar dan tidak terlalu peduli dimana letak seni bermusik yang berkelas. Mungkin karya &lt;em&gt;Dewa 19&lt;/em&gt; akhir-akhir ini agak bisa mewakili unsur seni musik yang berkelas, tapi kok terkesan memaksakan dan tidak lepas hanya bermodal &lt;em&gt;popularitas&lt;/em&gt; dan&lt;em&gt; fasilitas&lt;/em&gt;. Saya rindu karya musik yang &lt;em&gt;idealis&lt;/em&gt; tidak terlalu disetir oleh industri. Lebih bebas dan lepas, lebih kreatif tidak terikat aturan pemilik modal. Aku rindu insan musik seperti era 70-80an yang rasanya lebih mengutamakan kualitas dibandingkan nilai jual atau sekedar mencari popularitas. Yah, dunia berubah, namun apakah yang baik tidak perlu ditingkatkan menjadi lebih baik. Mengapa musik-musik sekarang menjadi datar dan berjalan ditempat seperti tidak menemukan arah tujuan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt; &lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;/span&gt;Sedikit mengingat bahwa dimasa lalu kita sudah mempunyai individu-individu yang luar biasa seperti Gombloh. Terima kasih kepada almarhum dan orang-orang terdekatnya yang telah memberi nilai keindahan dunia musik &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Memang Gombloh sudah lama tiada, namun karya-karyanya selalu dikenang. Seperti salah satu judul lagunya &lt;em&gt;‘Silhouette Kuda Jantan’&lt;/em&gt;, Gombloh perlambang keberanian dan penggebrak sejarah seni musik Indonesia meskipun awalnya dia tidak begitu dikenal luas, bersolo karir yang menjadikannya sangat populer dan pada akhirnya menyerah pada industri.&lt;b&gt; (sb)&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Gombloh Masuk Museum USA</title><link>http://oggidwi.blogspot.com/2007/11/gombloh-masuk-museum-usa.html</link><author>noreply@blogger.com (OggiCoeil)</author><pubDate>Sat, 17 Nov 2007 06:32:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1538575891077355640.post-2424017634713211700</guid><description>&lt;p&gt;&lt;img src="http://img486.imageshack.us/img486/9203/gombloh69nz2.jpg" height="243" alt="gombloh69" width="228" align="left" border="0" /&gt;Biodata Singkat :&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;- Nama Lengkap : Sujarwoto alias Gombloh&lt;br /&gt;- Tempat Tanggal Lahir : Jombang, 14 Juli 1948&lt;br /&gt;- Wafat : Surabaya, 9 Januari 1988&lt;br /&gt;- Pendidikan : SMAN 5 Surabaya, ITS Jurusan Arsitektur [ tidak tamat] &lt;br /&gt;- Orang tua : Slamet dan Tatoekah&lt;br /&gt;- Kekerabatan : Anak ke-4 dari enam saudara (Anwar Sujono, Siti Alifah, Askur Prayitno, Sujarwoto alias Gombloh, dr Sujari, Sujarwati)&lt;br /&gt;- Alamat : Kebangsren I/48 Surabaya&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Almarhum Sujarwoto yang lebih populer dengan sapaan Gombloh merupakan anak ke-4 dari enam bersaudara pasangan suami-istri Slamet dan Tatoekah. Pak Slamet bekerja sebagai pedagang ayam di Pasar Genteng, Surabaya. Setiap hari Slamet dengan tekun menjual ayam-ayam potong di pasar tradisional dalam kota tersebut.&lt;br /&gt;Hasil berjualan ayam cukup lumayan untuk membiayai hidup keluarga. Bagi Pak Slamet, keenam anaknya harus bisa sekolah, setinggi mungkin, agar kelak bisa menjadi manusia yang punya masa depan cerah. “Bapak tidak ingin anak-anaknya punya pendidikan pas-pasan kayak beliau,” cerita Sujarwati, anak bungsu, yang paling dekat dengan almarhum Gombloh.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Alhamdulillah, semua anak Pak Slamet ternyata dikaruniai kemampuan inteligensia di atas rata-rata. Tak heran, mereka semua bisa menempuh pendidikan di sekolah favorit atau unggulan di Surabaya pada masa itu. SMA Kompleks, yang favorit itu, bisa ditembus anak-anak Pak Slamet dengan mudah. Bagaimana dengan Sujarwoto alias Gombloh? “Wah, dia itu otaknya encer sekali,” tutur Sujarwati. Maka, bisa dipahami Gombloh masuk SMAN 5 Surabaya dan lulus dengan nilai bagus.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Lulus SMAN 5, darah seni Gombloh yang selama bertahun-tahun dipendam tak bisa dibendung lagi. Pria kelahiran 14 Juli 1948 di Jombang ini tampaknya lebih memilih menjadi manusia bebas ketimbang harus kuliah seperti tiga kakaknya. Tapi, menurut Sujarwati, sang ayah tetap ingin anaknya itu kuliah demi masa depannya di kemudian hari. Asal tahu saja, profesi seniman (penyanyi, pelukis, penari) dulu masih dianggap aneh oleh masyarakat. Seniman identik dengan pengamen yang tak punya masa depan. &lt;br /&gt;Apa boleh buat, Gombloh pun terpaksa mendaftar ke Institut Teknologi 10 November (ITS) Surabaya yang bergengsi itu. Berbeda dengan remaja lain, Gombloh tidak pernah ikut bimbingan tes, latihan soal, atau belajar. “Gombloh kok disuruh belajar,” kata Sujarwati seraya tertawa kecil. Menurut si bungsu ini, Gombloh hanya melihat buku sepintas kilas--karena terus diawasi oleh ayahnya--pada menjelang ujian masuk di ITS. Hasilnya, Gombloh ternyata lulus, diterima di kampus ITS. Pak Slamet tentu senang, karena ini berarti anak-anaknya masuk perguruan tinggi bergengsi (kakak-kakak Gombloh lebih dulu kuliah di Universitas Airlangga). Dan, seperti di SD hingga SMA dulu, Pak Slamet tetap mengawasi anak-anak belajar pada malam hari sebelum tidur. “Semua harus belajar. Bapak sendiri baca cerita silat Kho Ping Hoo,” tutur Sujarwati yang kini tinggal di kawasan Tanjung Perak, Surabaya.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Namanya juga tak punya niat kuliah di ITS, ‘kenakalan&amp;rsquo; Gombloh makin menjadi. Dia sering bermain sandiwara untuk mengelabui Pak Slamet, ayahnya, seakan-akan dia berangkat kuliah di ITS, Sukolilo. Ternyata, sekitar pukul 10:00 WIB Gombloh kembali lagi ke rumah, dan tidur. Ulah Gombloh ini akhirnya ketahuan setelah Pak Slamet mendapat kiriman surat dari ITS. Di situ disebutkan bahwa Gombloh sudah terlalu banyak bolos kuliah, sehingga dapat peringatan keras. &lt;br /&gt;Di saat itulah Gombloh ‘menghilang&amp;rsquo; ke Bali untuk mengarungi petualangan sebagai seniman. Disiplin ketat, kuliah teratur, dapat titel dan pekerjaan bagus... ternyata tidak cocok untuk jiwa seorang Gombloh. Ia harus drop out (DO) di ITS hanya dalam satu semester.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Gombloh akhirnya menemukan dunianya yang asyik: main musik, jadi seniman bebas. Nama dan kiprahnya mulai dikenal di mana-mana. Bagaimana reaksi sang ayah, Pak Slamet? Biasa-biasa saja.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;“Bapak tetap ingin anaknya kuliah, agar masa depannya lebih baik. Seniman itu apalah,” kata Sujarwati. Sementara itu, adik Gombloh bernama Sujari sudah lulus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, sesuai dengan keinginan orang tua. Masa, Gombloh tidak ingin mengikuti saudara-saudaranya yang sudah sukses? Tapi dunia kesenian sudah sedemikian merasuki jiwa Gombloh.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Rekaman demi rekaman, manggung dari hotel ke hotel, ngamen sana-sini, pun dilakoni Gombloh alias Sujarwoto. Hasilnya lumayan. Gombloh sudah bisa mencari uang sendiri kendati dalam beberapa kesempatan ia masih minta uang pada saudaranya. Bukankah Gombloh sudah mendapat bayaran yang lumayan sebagai penyanyi? Menurut Sujarwati, kakak kandungnya ini termasuk orang yang royal, suka menolong siapa saja tanpa pamrih, sehingga uangnya cepat habis. Ulahnya sering kali menggelikan dan bikin saudara-saudaranya geleng kepala.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Suatu ketika, cerita Sujarwati, Gombloh tiba-tiba menelepon dari Kalimantan. “Saya sakit keras, diopname di rumah sakit. Tolong segera kirim uang, tapi tidak perlu ke Kalimantan,” kata si Gombloh. Keluarga di Surabaya pun kalang-kabut. Mereka pun urunan mengirim uang ke Kalimantan. Eh, uang itu ternyata dipakai untuk membiayai teman-temannya ke Surabaya. “Dia ikut ke Surabaya karena memang nggak sakit,” cerita Sujarwati.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Di balik ‘kenakalannya&amp;rsquo;, Gombloh sangat mengasihi orang tua, khususnya Bu Tatoekah, sang ibunda. Gombloh pernah mengatakan bahwa ia akan mengurus sang ibu sampai tua hingga meninggal dunia. Benar saja. Ketika albumnya meledak di pasaran, Bu Tatoekah sakit keras sehingga harus dirawat di rumah sakit. Gombloh menginstruksikan agar sang ibu dirawat di rumah sakit terbaik, kelas VIP. “Ibu tidak boleh menderita. Saya yang tanggung semua biaya rumah sakit,” kata Gombloh. Begitulah, dedikasi Gombloh untuk ibunya memang luar biasa, sampai Bu Tatoekah meninggal dunia.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;img src="http://img489.imageshack.us/img489/5127/gombbs3.jpg" height="75" alt="gomb" width="77" align="left" border="0" /&gt;Gombloh telah tiada, namun kenangan manis dan pahit tentang sang seniman tak akan pernah hilang. Dan, kenangan itu kian membekas karena belakangan karya-karya Gombloh yang legendaris itu membuat saudara mereka mendapat berbagai penghargaan. Tahun 2005 saja, Sujarwati diundang dua kali ke Jakarta untuk menerima penghargaan sebagai wakil (ahli waris) Gombloh.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;“Saya sangat terharu,” ujar Sujarwati. Karya-karya Gombloh pun beroleh royalti, dan itu bisa dinikmati oleh keluarganya. “Bagi kami, royalti dari karya Mas Gombloh itu untuk diamalkan. Kalau ada keluarga yang paling membutuhkan, ya, dikasihkan ke dia,” kata Sujarwati.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;KEBYAR-KEBYAR&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Indonesia, merah darahku, putih tulangku &lt;br /&gt;bersatu dalam semangatmu!&lt;br /&gt;Indonesia, debar jantungku getar nadiku&lt;br /&gt;berbaur dalang angan-anganmu&lt;br /&gt;kebyar-kebyar pelangi jingga....&lt;br /&gt;Indonesia, nada laguku, simfoni berteduh &lt;br /&gt;selaras dengan simfonimu&lt;br /&gt;kebyar-kebyar pelangi jingga....&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;[Biarpun bumi berguncang kau tetap Indonesiaku.&lt;br /&gt;Andaikan matahari terbit dari barat, kau pun Indonesiaku.&lt;br /&gt;Tak sebilah pedang yang tajam dapat palingkan aku darimu.]&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Kusingsingkan lengan, rawe-rawe rantas&lt;br /&gt;malang-malang tuntas denganmu. &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;- Kebyar-Kebyar karya Gombloh -&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Sabtu, 4 Maret 2006. Malam minggu itu ada hiburan segar bagi bangsa Indonesia. Masyarakat, khususnya penggemar olahraga tinju, ramai-ramai memelototi televisi, stasiun Indosiar. Yah, Chris John, petinju kelahiran Banjarnegara, Jawa Tengah, 14 September 1979, itu akan mempertahankan gelar juara dunia kelas bulu WBA melawan Juan Miguel Marquez, petinju asal Meksiko.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Marquez jelas bukan petinju ayam sayur. Pada 2003 Marquez berhasil menyatukan gelar juara dunia IBF dan WBA hanya dalam waktu sembilan bulan. Namun, gelar bergengsi itu dicopot dari tangan Marquez karena petinju bergaya bokser ini sering berulah. Tak heran, media massa di tanah air umumnya menjagokan Marquez.&lt;br /&gt;Tapi cerita di atas ring tinju lain sama sekali. Chris John bertarung apik, dan akhirnya menang angka mutlak. Masyarakat Indonesia yang masih diliputi berbagai kemelut, untuk sementara, melupakan perbedaan. Lagu ‘Indonesia Raya&amp;rsquo; terdengar mengiringi penyematan sabuk juara dunia untuk Chris John.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Kebetulan Chris ini disokong Extra Joss sebagai sponsor utama. Maka, tak ayal, kemenangan Chris ini menjadi bahan iklan minuman suplemen terkenal itu. Selain cuplikan pertandingan Chris di Tenggarong, Kutai Kartanegara, lagu ‘Kebyar-Kebyar&amp;rsquo; menambah kesan heroik di iklan Extra Joss tadi.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;“Indonesia merah darahku, putih tulangku, bersatu dalam semangatmu.....” Lagu ini dibawakan dengan lantang oleh almarhum Gombloh, sang pencipta ‘Kebyar-Kebyar&amp;rsquo;. Mereka yang belum pernah melihat sosok Gombloh mungkin tak akan percaya kalau seniman asal Surabaya ini bertubuh kerempeng, bahkan superkerempeng.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Yah, Gombloh memang telah meninggalkan kita semua sejak 1988 lalu. Namun, almarhum mewarisi lagu ‘Kebyar-Kebyar&amp;rsquo; sebagai pusaka berharga bukan hanya bagi warga Surabaya atau Jawa Timur, melainkan seluruh bangsa Indonesia. Lagu ‘Kebyar-Kebyar&amp;rsquo; belakangan bahkan dibanding-bandingkan dengan ‘Indonesia Raya&amp;rsquo;, national anthem karya WR Supratman, seniman pejuang yang dimakamkan di Surabaya. Ada yang bilang ‘Kebyar-Kebyar&amp;rsquo; lebih heroik ketimbang ‘Indonesia Raya&amp;rsquo;.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Karena itu, tak berlebihan kalau musikus legendaris asal Surabaya itu menerima penghargaan ‘Nugraha Bhakti Musik Indonesia&amp;rsquo; pada puncak Hari Musik Indonesia III di Jakarta, 30 Maret 2005. menurut Iga Mawarni, Humas Persatuan Artis, Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Penata Musik Rekaman Indonesia (PAPPRI), ada 10 musikus yang menerima penghargaan bergengsi itu. Para penerima ‘Nugraha Bhakti Musik Indonesia&amp;rsquo; pada 2005 itu adalah Gombloh (alm), A Malik BZ (tokoh musik Melayu yang tinggal di Kureksari, Waru, Sidoarjo), Ki Narto Sabdo (alm), Harry Roesli (alm), Pupuk Norobe (penemu sasando), Agusli Taher (seniman tradisi Sumatera Barat), Kristian Tamaela (seniman tradisi Maluku), Khori Ali (seniman tradisi Sumatera Selatan), Nelwan Katuu (pengembang musik Kolintang asal Sulawesi Utara), dan Buya Han (seniman tradisi Maluku).&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;“Siapa sih yang nggak kenal Gombloh. Beliau itu pencipta lagu ‘Kebyar-Kebyar&amp;rsquo; yang sudah dianggap sebagai lagu kebangsaan kedua setelah ‘Indonesia Raya&amp;rsquo;,” ujar Iga Mawarni yang dikenal sebagai penyanyi bernuansa jazz (jazzy) itu. Saat menentukan nominee, cerita Iga, praktis nama Gombloh langsung diterima oleh panitia Hari Musik Indonesia III. Tak ada debat, apalagi perlawanan, karena nama Gombloh, berikut karya-karyanya memang sangat dikenal masyarakat dari Sabang sampai Merauke. Ini tentu berbeda dengan sejumlah seniman tradisi yang hanya dikenal di komunitas daerah tertentu. “Almarhum Gombloh itu sudah menjadi milik Indonesia. Jadi, bukan sekadar milik masyarakat Surabaya,” tegas Iga Mawarni saat melakukan sosialisasi Hari Musik Indonesia--yang jatuh pada 9 Maret, bertepatan dengan hari lahir komponis WR Supratman--di Surabaya, awal Maret 2005.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;img src="http://img486.imageshack.us/img486/2305/l22546gu6.jpg" height="150" alt="l_22546" width="148" align="right" border="0" /&gt;Sebagi penyanyi sekaligus penulis lagu, Gombloh boleh dibilang cukup produktif. Ini dibuktikan dari delapan album yang ia rekam bersama Nirwana Record, Surabaya. Lagu-lagu karya Cak Gombloh rata-rata ‘slengekan&amp;rsquo;, spontan, ceplas-ceplos, liriknya banyak yang nakal alias urakan, tapi sangat merakyat. “Dia benar-benar mewakili watak arek Suroboyo. Polos, apa adanya, semuanya keluar begitu saja dari hatinya. Tapi hatinya sangat baik,” kata Pardi Artin, gitaris dan salah satu teman main band almarhum Gombloh, yang tinggal di kawasan Kedungrukem, Surabaya.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Selain ‘Kebyar-Kebyar&amp;rsquo; yang terkenal itu, lagu-lagu Gombloh yang dikenal publik musik Indonesia antara lain Kugadaikan Cintaku, Apel, Di Angan-Angan, Setengah Gila, Selamat Pagi Kotaku, Karena Iseng, Percayalah Cintaku Tetap Hangat, Gila, Semakin Gila, Sumirah, Okelah, Arjuna Cari Cinta, Hey Kamu, Berita Cuaca, Tari Kejang, Lepen, Skala, Konsumsi Cinta, Hong Wila Heng. Sebanyak 20 lagu terpopuler mendiang Gombloh ini terdokumentasi cukup rapi di album khusus berdurasi 90 menit (C-90) produksi Nirwana Record.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Dari judul-judul, apalagi lirik-lirik khasnya, rasanya sulit dipercaya kalau Gombloh masih sempat-sempatnya menulis lagu ‘Kebyar-Kebyar&amp;rsquo; yang sangat heroik itu. Sebuah lagu yang nuansanya jauh berbeda dengan karya-karya lain. “Saya juga heran, kok beliau bisa membuat lagu sehebat itu,” ujar Pardi. Sahabat akrab Gombloh ini belakangan membuat band khusus yang membawakan lagu-lagu tempo doeloe, khususnya lagu-lagu Gombloh dengan Lemon&amp;rsquo;s Tree-nya. “Dari segi komposisi, Kebyar-Kebyar itu sebetulnya biasa saja. Tapi nuansa heroiknya itu yang sangat terasa. Kalau memainkan lagu itu, rasanya kita larut dalam semangat heroik, seperti maksud Cak Gombloh,” tambah Toni Suwanto, drummer asli Surabaya, yang juga teman dekat almarhum Gombloh.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Baik Toni Suwanto, Pardi Artin, Rokhim, serta beberapa musisi sahabat dekat Gombloh mengaku tak pernah menyangka kalau lagu Kebyar-Kebyar menjadi begitu populer, apalagi dianggap sebagai ‘lagu kebangsaan&amp;rsquo; tidak resmi. Gombloh sendiri pun tidak. Sebagai musisi kampung--begitu para seniman Surabaya ini menamakan dirinya--mereka hanya ‘mengamen&amp;rsquo; dari kampung ke kampung, hotel ke hotel, atau panggung satu ke panggung lainnya. Gombloh tidak punya pretensi macam-macam, selain menjadi diri sendiri. Menurut Pardi, sejak dulu Gombloh memang sudah berani tampil beda, dengan identitas dan karakter yang kuat. Rambut panjang, kacamata, topi, jaket.... Koleksi topi dan kacamata Gombloh cukup banyak kendati harganya, ya, biasa saja: khas koleksi orang kampung. “Sederhana banget kayak kita-kita ini. Ketika namanya melambung di tanah air pun gayanya tidak berubah,” kata Rokhim, pemain bass yang pernah menemani Gombloh ‘ngamen&amp;rsquo; dari hotel ke hotel di Bali pada awal 1970-an. Gombloh itu, kenang sehabat-sehabatnya, adalah trend setter, pencipta tren, bukan pengikut tren atau korban mode.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Gombloh, kendati sudah eksis di Kota Surabaya bersama band Lemon&amp;rsquo;s Tree, sebetulnya kurang dikenal di belantika musik nasional. Bisa dipahami karena itu tadi, karya-karya Gombloh, cenderung slengekan, sarat kritik sosial, dan itu bukan mainstream dalam industri musik pop Indonesia saat itu. Entah dapat ilham dari mana, pada 1986 Gombloh menulis lagu Kugadaikan Cintaku. Ceritanya tentang kekecewaan seorang pemuda ketika memergoki pacarnya sedang bercumbu dengan pria lain saat apel malam Minggu. Apa boleh buat, si pria itu (Gombloh?) akhirnya ‘menggadaikan cintanya&amp;rsquo;. Lagu jenaka ini benar-benar meledak. “Setelah Di Radio itu nama Gombloh benar-benar melambung. Rezekinya mengalir deras karena kaset Di Radio laku keras,” tutur Pardi Artun.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Toh, Gombloh tetaplah Gombloh, arek Suroboyo yang sederhana, tidak lupa daratan dengan popularitas yang melambung. Ketika ditawari hijrah ke Jakarta--agar bisa lebih terkenal lagi--Gombloh bergeming. Ia tak ingin didikte oleh cukong-cukong industri musik di Glodok, Jakarta. “Saya kan orang Surabaya. Saya tidak boleh meninggalkan Surabaya karena saya komunitas saya di Surabaya,” ujar Gombloh seperti ditirukan teman-teman dekatnya. Maka, rekaman selanjutnya tetapia lakukan di Surabaya, tepatnya di dekat kawasan Tunjungan.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Ada yang menarik. Ketika berproses di studio rekaman, para sahabat Gombloh dari lingkungan ‘marginal&amp;rsquo; seperti pekerja seks di Gang Dolly dan sekitarnya ikut menyaksikan. Gombloh ibaratnya mendapat suntikan semangat dari sekian banyak PSK itu. Kenapa PSK? “Dia dekat sekali dengan mereka. Ketika PSK dilecehkan masyarakat, dikejar-kejar, Gombloh justru menyapa mereka. Mungkin, karena itu, ketika Gombloh rekaman, gantian para PSK dari Dolly datang memberikan dukungan,” ujar Pardi Artin, serius.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Sebuah koran di Jawa Tengah mencatat sebuah adegan menarik tentang keakraban antara Gombloh dengan PSK binaannya. “Gombloh itu manusia sangat merdeka. Pencinta rakyat kecil dan membaur dalam kehidupan mereka. Pernah honornya dibelikan ratusan BH, dibagi-bagikan di perkampungan prostitusi. Bayangkan, Gombloh naik becak dengan tumpukan keranjang BH. Dia sibuk melemparkan BH itu satu per satu ke setiap rumah prostitusi,” tulis surat kabar harian tersebut.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Seniman bernama asli SUJARWOTO ini memang murah hati. Ketika berada di puncak karier, rezeki mengalir berkat Kugadaikan Cintaku, Gombloh tidak mau melepaskan diri dari komunitas, teman-teman, serta warga kampungnya. Ia tidak membeli rumah mewah di kawasan real estat yang mulai tumbuh di Surabaya, Jakarta, dan kota-kota besar saat itu. Padahal, kalau mau, Gombloh mudah saja melakukannya. Posisi tawarnya sedang di puncak, sehingga ia bisa meminta rumah gedong, mobil mewah, serta fasilitas lain.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Yang paling berkesan bagi Pardi Artun, dan seniman-seniman Surabaya seangkatan, Gombloh senang mentraktir siapa saja yang ia temukan di kampung. Silakan makan apa saja--bakso, nasi goreng, bakmi, tahu tektek--Gombloh yang bayar. Buat Gombloh, rezeki harus dinikmati bersama, dibagi-bagi kepada teman serta sesama warga kampung. “Sisi ini yang sulit saya lupakan dari Gombloh,” kata Pardi, tetangga dekat Gombloh saat aktif bermusik bersama di Surabaya dan sekitarnya.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Yah, Gombloh memang manusia sangat merdeka. Manajemen artis ala industri musik modern praktis tidak bisa dikenakan untuk seorang Gombloh. Dia senang bebas yang tetap berjiwa ‘wong cilik&amp;rsquo;, tak bisa keluar dari akarnya sebagai wong kampung. Bukankah Kota Surabaya ini, meminjam istilah Prof Johan Silas, tak lebih dari aglomerasi kampung-kampung? Dan itu membawa konsekuensi bagi Gombloh dan keluarganya. Setelah Gombloh meninggal dunia pada 1988, sang seniman tak meninggalkan harta apa pun selain karya-karya musik serta kisah hidupnya yang eksentrik dan bersahaja. Lahir sebagai orang kampung, bermain musik secara otodidak bersama teman-temannya di kampung, sempat ngetop... akhirnya pergi untuk selamanya ala orang kampung. “Dia memang seniman rakyat,” kata Pardi Artin.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Ada lagi catatan penting dari Pardi Artin. Menurut pemusik serba bisa ini, sejatinya si Gombloh tidak pernah benar-benar sehat. Tubuhnya yang kerempeng sudah dititipi penyakit macam-macam. Ditambah kebiasaan merokok yang sulit dihilangkan, fisik Gombloh setiap hari digerogoti kuman-kuman penyakit tersebut. “Kalau bicara atau bersin, sering kali keluar darah. Dan itu sudah sangat lama,” cerita Pardi.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Tapi Gombloh bukan tipe manusia yang mudah menyerah pada sakit-penyakit. Daya hidup yang luar biasa ini membuat Gombloh mampu memperpanjang masa baktinya di dunia. “Itu semua karena anugerah dari Allah. Sebab, kalau dipikir-pikir dengan logika biasa, melihat kondisi Gombloh seperti itu, kok dia bisa kuat? Dia main musik, menciptakan lagu, semua dalam kondisi yang tidak sehat-walafiat. Ini luar biasa,” kata Pardi dengan mata berkaca-kaca. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Komunitas Seniman Surabaya, dan warga Surabaya umumnya, sangat kehilangan Gombloh. Seniman sederhana yang dengan lantang, semangat, menyanyikan Kebyar-Kebyar, karyanya sendiri, di nada dasar D. Dengan kunci D, maka nada lagu ini sangat tinggi untuk masyarakat biasa, bahkan penyanyi profesional sekalipun. Orang tentu sulit melupakan almarhum Gombloh.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;“Kita baru benar-benar merasakan betapa pentingnya Gombloh setelah beliau meninggal,” kata Djoko Lelono, pelukis dan penggiat seni rupa di Surabaya dan Sidoarjo. Maka, pada 1996 para seniman Surabaya secara spontan membentuk Slidaritas Seniman Surabaya. Seniman apa saja (musik, rupa, tari, teater, tradisi) bersama-sama menggagas even untuk mengenang Gombloh di Surabaya. Ada sejumlah agenda kesenian dalam rangka menjadikan Gombloh sebagai Pahlawan Seniman Kota Surabaya. “Kita semua sepakat bahwa Gombloh itu pahlawan seniman,” ujar Djoko Lelono, yang waktu itu dipercaya sebagai Ketua Solidaritas Seniman Surabaya.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Nah, untuk mengikonkan Gombloh, Djoko (bersama Oto dan Didit) membuat patung Gombloh seberat 200 kilogram terbuat dari perunggu. “Kita garap selama enam bulan. Kita fokus benar untuk menghasilkan karya terbaik demi mengenang almarhum Gombloh,” cerita Djoko Lelono, yang lebih dikenal sebagai pelukis dan penggiat seni rupa itu. Patung itu kemudian dipasang di halaman Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya. “Sengaja di THR karena (dulu) THR itu salah satu pusat aktivitas kesenian di Kota Surabaya. Agar orang tahu bahwa Mas Gombloh itu seniman besar yang pernah dilahirkan Surabaya,” kata Djoko.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Bagi Djoko Lelono, dan para seniman Surabaya, Gombloh itu tak akan bisa hilang dari memori kolektif warga Surabaya, Jawa Timur, bahkan Indonesia. Bahkan, 100 tahun lagi pun Gombloh tetap akan dikenang oleh bangsa Indonesia. “Sebab, begitu orang mendengar atau menyanyikan lagu Kebyar-Kebyar, maka Gombloh akan hadir. Dia benar-benar pahlawan,” tegas Djoko.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Jumat, 20 Juni 2003. Kelompok Pemusik Jalanan Surabaya, komunitas musisi rock Surabaya, serta musisi lain nyekar ke makam Gombloh di Makam Umum Tembok, Surabaya. Mereka menyanyikan dua lagu karya Gombloh yang paling terkenal: Gebyar-Gebyar dan Berita Cuaca (Lestari Alamku). Dari atas makam Gombloh itu, para musisi jalanan menobatkan Gombloh sebagai Pahlawan Musisi Jalanan Surabaya. Menurut Yus, koordinator rock se-Surabaya, acara nyekar ke makam almarhum Gombloh oleh musisi Surabaya ini sangat mengesankan, apalagi Gombloh adalah sosok musisi idealis. &amp;quot;Ide-idenya pun cukup didengar. Dan kami berpikir layak untuk menjaga idealisme Gombloh dalam bermusik,&amp;quot; katanya.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Catatan Kaki:&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Ada dua lagu Gombloh yang abadi, yaitu: &amp;rsquo;Kebyar-Kebyar&amp;rsquo; dan &amp;rsquo;Hong Wilaheng Sekareng Bawono Langgeng&amp;rsquo;. Kedua lagu itu bukan saja dikenal secara nasional namun sampai level dunia!&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Kedua lagu ini bahkan diteliti pengamat musik yang berpusat di USA untuk dikategorikan sebagai jenis musik apa. Terakhir yang saya baca para pengamat itu belum berhasil memutuskannya, dan kedua lagu tersebut dimasukkan ke dalam museum musik di USA.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;- dari berbagi sumber -&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Technorati Tags: &lt;a href="http://www.technorati.com/tag/Gombloh" rel="tag"&gt;Gombloh&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.technorati.com/tag/Kebyar-Kebyar" rel="tag"&gt;Kebyar-Kebyar&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.technorati.com/tag/Hong%20Wilaheng" rel="tag"&gt;Hong Wilaheng&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.technorati.com/tag/Extra%20Joss" rel="tag"&gt;Extra Joss&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.technorati.com/tag/Apel" rel="tag"&gt;Apel&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.technorati.com/tag/Berita%20Cuaca" rel="tag"&gt;Berita Cuaca&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.technorati.com/tag/Arjuna%20Cari%20Cinta" rel="tag"&gt;Arjuna Cari Cinta&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--&lt;br /&gt;google_ad_client = "pub-6759941680622065";&lt;br /&gt;google_ad_width = 468;&lt;br /&gt;google_ad_height = 60;&lt;br /&gt;google_ad_format = "468x60_as";&lt;br /&gt;google_ad_type = "text";&lt;br /&gt;//2007-06-10: oplet&lt;br /&gt;google_ad_channel = "1036244963";&lt;br /&gt;//--&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;script type="text/javascript"&lt;br /&gt;  src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Selamat menyambut Idul fitri</title><link>http://oggidwi.blogspot.com/2007/10/selamat-menyambut-idul-fitri_14.html</link><author>noreply@blogger.com (OggiCoeil)</author><pubDate>Sun, 14 Oct 2007 22:46:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1538575891077355640.post-7696948003833271215</guid><description>&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;font-family:times new roman;" &gt;Sebelum Hidup Berakhir&lt;/span&gt;&lt;a style="font-family: times new roman; font-weight: bold; font-style: italic;" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Q5mXdHmAZgM/RxL_0T0SckI/AAAAAAAAAAU/O2iIUYQK_0k/s1600-h/raya_ketupat.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 175px; height: 152px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Q5mXdHmAZgM/RxL_0T0SckI/AAAAAAAAAAU/O2iIUYQK_0k/s320/raya_ketupat.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5121437000411542082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;font-family:times new roman;" &gt;Sebelum cahaya ramadhan padam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;font-family:times new roman;" &gt;Sebelum Pintu Tobat Tertutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left; font-family: times new roman; font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;dan sebelum ajal menjemput&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;font-family:times new roman;" &gt;izinkan kami mengucapkan :&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;font-family:times new roman;" &gt;Selamat hari raya Idul Fitri 1428 H&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;font-family:times new roman;" &gt;    Mohon maaf lahir dan batin.&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="http://4.bp.blogspot.com/_Q5mXdHmAZgM/RxL_0T0SckI/AAAAAAAAAAU/O2iIUYQK_0k/s72-c/raya_ketupat.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Puisi Cinta</title><link>http://oggidwi.blogspot.com/2007/10/puisi-cinta_11.html</link><author>noreply@blogger.com (OggiCoeil)</author><pubDate>Thu, 11 Oct 2007 21:24:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1538575891077355640.post-6193283554598920865</guid><description>&lt;p style="text-align: right;"&gt;Cinta itu seperti kupu kupu, semakin dikejar semakin dia lari, tapi kalo dibiarkan terbang dia akan datang disaat kamu tidak menginginkannya.cinta dapat membuat kamu bahagia tapi sering juga bikin kamu sedih.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: right;"&gt;Cinta itu baru berharga kalo dibarikan kepada seseorang yang menghargainya.cinta bukan bagaimana menjadi pasangan yang sempurna, tapi bagaimana menemukan seseorang yang bisa membantu menjadi dirimu sendiri.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: right;"&gt;jangan pernah bilang i love you kalo kamu tidak peduli, jangan pernah membicarakan perasaan yang tidak pernah ada, jangan pernah menyentuh hidup seseorang kalo hal itu hanya akan menghancurkan dirinya, jangan pernah menatap matanya kalo semua itu kebohongan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: right;"&gt;Hal yang paling kejam dilakukan seseorang adalah membiarkan jatuh cinta sementara kamu tidak berniat untuk menangkapnya.... Ukuran yang paling benar bukan berdasarkan berapa lama kalian bersama maupun berapa sering kalian bersama, tapi apakah kalian selama bersama ini saling mengisi satu sama yang lain dan membuat hidup yang berkualitas. Kesedihan dan kerinduan hanya terasa selama yang kamu inginkan dan menyayat sedalam yang kamu izinkan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: right;"&gt;Yang berat bukan bagaimana cara menanggulangi kesedihan dan kesedihan itu, tapi bagaimana cara belajar darinya.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: right;"&gt;cinta akan menyakitkan ketika kamu berpisah dengan seseorang, menyakitkan lagi ketika kamu dilupakan oleh kekasihmu, tapi akan lebih menyakitkan lagi ketika seseorang yang kamu sayangi tidak tahu apa yang sesungguhnya kamu rasakan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt; Sedih memang, sakit memang, tapi jangan pernah simpan sakit dan kesedihan itu.......&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Curahan Hati</title><link>http://oggidwi.blogspot.com/2007/10/curahan-hati.html</link><author>noreply@blogger.com (OggiCoeil)</author><pubDate>Wed, 10 Oct 2007 09:43:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1538575891077355640.post-8007520666675792691</guid><description>&lt;div style="text-align: right; color: rgb(153, 0, 0);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Aq pengen balik jadi orang yg baik2 &amp;amp; aq bisa dapetin seseorang yg terbaik buat gw ,hidup aq, masa depan aq, jg agama aq &amp;amp; skrg aq g mau kcwain cwek lg.alhamdulillah skrng ini aq dah bertemu ma bidadari hatiku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; so buat kamu2 semua yg ngerasa keren jadi seorang playboy, playgirl or play-play yang laen&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; pleasee km pikirin lagi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; jangan kaya aq yg secara batin rusak karena apa yg aq lakuin sendiri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; inget pepatah "kalo km nanem padi ya numbuhnya padi ngga mungkin ubi,kalo km nanem sesuatu yang buat masa depan km dia akan tumbuh seperti niat awal yang km tanem"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; so pelajaran yg aq petik dari hidup aq&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; "jangan sia2in org yang tulus menyayangin km mungkin dia ngga sempurna,mungkin masih&lt;/span&gt; banyak yang lebih ok dari pada dia cuma km ngga akan pernah tau seberapa berati nya dia ketika dia udah ngga ada,dan ketika km sadari itu km udah telat untuk mulai lagi"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; " ketika km sebar hati km buat banyak orang sedikit demi sedikit hati km abis dan km udah ngga bisa ngerasin perasan cinta yg sebenarnya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item></channel></rss>