<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129</atom:id><lastBuildDate>Thu, 01 Sep 2011 19:30:24 +0000</lastBuildDate><category>lelucon</category><category>politik</category><category>teknologi</category><category>soliloqui</category><category>esei</category><category>bisnis</category><category>intermeso</category><category>ihwal buku</category><title>Confessions of Nothing</title><description /><link>http://savicali.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (savic)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>101</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/ConfessionsOfNothing" /><feedburner:info xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" uri="confessionsofnothing" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129.post-8888277309756003484</guid><pubDate>Tue, 19 Oct 2010 19:32:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-10-20T02:33:14.098+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">ihwal buku</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">teknologi</category><title>the future of the book video by ideo</title><description>&lt;iframe src="http://player.vimeo.com/video/15142335" width="400" height="225" frameborder="0"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://vimeo.com/15142335"&gt;The Future of the Book.&lt;/a&gt; from &lt;a href="http://vimeo.com/ideo"&gt;IDEO&lt;/a&gt; on &lt;a href="http://vimeo.com"&gt;Vimeo&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Savic Alielha
StreetWise Advisory Group&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8078711676833785129-8888277309756003484?l=savicali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://savicali.blogspot.com/2010/10/future-of-book-video-by-ideo.html</link><author>noreply@blogger.com (savic)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129.post-7162602128412273724</guid><pubDate>Tue, 05 Jan 2010 17:36:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-01-06T23:29:55.672+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">esei</category><title>gus dur: kyai pencerahan</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_HVeqKFSf5nQ/S0N6WlLr8-I/AAAAAAAAAUw/glhnAIYtzjA/s1600-h/gus_dur.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_HVeqKFSf5nQ/S0N6WlLr8-I/AAAAAAAAAUw/glhnAIYtzjA/s320/gus_dur.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5423312904641049570" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdurrahman Wahid Addakhil atau lebih dikenal Gus Dur telah pergi. Namun ia meninggalkan warisan, pengaruh dan kenangan yang tak akan pernah pupus bagi banyak orang. Bukan hanya bagi warga NU, tapi bagi rakyat Indonesia pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Lahir di Denanyar Jombang 69 tahun yang lalu, Gus Dur adalah sosok yang unik dan kontroversial. Humornya sering mengundang gelaktawa, dan gagasan-gagasannya sering mengejutkan dan memicu perdebatan. Namun semua itu seolah semakin mengukuhkan kecerdasan, wawasan serta visinya yang jauh ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi generasi muda NU, Gus Dur adalah sosok pembaharu, kyai pendobrak, yang membawakan obor pencerahan (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;aufklärung&lt;/span&gt;) di tengah kebutaan banyak warga NU atas dunia. Keteguhan dan keberaniannya dalam menentang ketidakadilan dan membela yang lemah juga menjadi inspirasi lahirnya aktivis-aktivis muda NU di era 80 dan 90-an, dan pergaulannya yang lintas sektoral membantu kyai-kyai untuk mengembangkan sikap terbuka dan menanamkan watak kosmopolitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gus Dur tak ubahnya meteor kaum nahdliyyin yang sulit dicari bandingannya. Ia adalah pemikir yang brilian, menguasai dengan baik khazanah pemikiran Islam tetapi juga akrab dengan khazanah Barat. Ia menguasai bahasa Arab, Inggris dan Perancis dengan baik, fasih membaca kitab kuning namun juga akrab dengan ilmu sosial dan buku-buku kiri, serta pecandu sastra dan musik—selain sepakbola. Masa remajanya boleh dikata dipenuhi gabungan tiga hal: kegilaan atas sepakbola, kecintaan akan buku dan kegandrungan terhadap musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat santri-santri NU di seantero negeri hanya berkutat dengan tafsir, hadits dan ushul fiqh (kitab kuning), ia sudah membaca Das Kapital-nya Marx, What is To Be Done-nya Lenin dan Prison Notebook-nya Gramsci, serta bercumbu dengan novel-novelnya John Steinbeck, Hemingway, Tolstoy dan Dostoevsky. Di saat warga NU hanya akrab dengan rebana dan kasidahan serta para kyai masih berselisih paham soal hukum sejumlah alat musik, Gus Dur sudah menenggelamkan diri dalam kemerduan suara Ummi Kultsum dan kemegahan aransemen Beethoven serta Bach, dan berjingkrak dalam entakan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Summertime&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Me and Bobby McGee&lt;/span&gt;-nya Janis Joplin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya, Gus Dur adalah orang NU pertama yang memiliki minat yang sedemikian luas atas kebudayaan dunia, atau bahkan mungkin satu-satunya. Ia mengetahui dengan baik sejarah Amerika, Eropa, Timur Tengah dan tentu saja Indonesia. Ia sangat tertarik dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aera Europa&lt;/span&gt;-nya Jan Romein, dan mengagumi Franklin D. Roosevelt yang ia anggap punya visi dan semangat hidup yang luar biasa. Berdasar pengetahuan penulis, hanya adik bungsunya, Hasyim Wahid atau lebih dikenal Gus Im, yang memiliki minat yang kurang lebih sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persentuhan Gus Dur dengan beragam bacaan itulah yang melatari keterbukaan sikap dan pikirannya, selain didikan orang tuanya, K.H. Wahid Hasyim. Sejak kecil ia sering menyaksikan ayahnya berbincang akrab dengan tokoh-tokoh yang dianggap berseberangan dengannya, termasuk Tan Malaka, di mana Gus Dur sering membukakan pintu sang tamu malam ayahnya itu. Ketika menempuh SMEP di Jogja, alih-alih ditempatkan di pesantren NU yang cukup banyak jumlahnya di Jogja, Gus Dur justru dititipkan oleh ayahnya pada K.H. Juneidi yang notabene anggota Majlis Tarjih Muhammadiyah, organisasi yang sering dianggap berseberangan dengan NU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isyarat sang ayah dari berbagai sikap dan perlakuannya itu membuat Gus Dur tidak pernah punya ketakutan untuk berhubungan dengan siapa pun dan mempelajari apa pun. Ia tidak pernah tabu untuk membaca buku, namun selalu mendudukkan diri sebagai pembaca yang kritis. Ia, misalnya, mengkritik V.S. Naipaul karena dianggap memberi gambaran yang keliru atas Islam dan pesantren di Indonesia dalam bukunya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Among the Believers&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca, bagi Gus Dur, tidak sama dengan persetujuan. Justru dengan membaca buku-buku yang tidak kita setujuilah kita bisa memperkuat gagasan kita. Ada dialektika gagasan di sana, dan itu bisa membawa pada pemikiran baru yang lebih maju. Sebagaimana para filsuf pencerahan di Eropa, Gus Dur berusaha membangun ruang publik (public sphere) dan iklim diskursif di mana gagasan-gagasan dan tabu diperdebatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterbukaan Gus Dur bukan hanya dalam soal pemikiran, tapi juga tercermin dalam sikap keimanannya. Tak segan-segan Gus Dur melontarkan kritik atas kejumudan berfikir dan ortodoksi umat Islam, yang hal itu membuat ia sering dihujani cercaan, bahkan dicap kafir oleh sejumlah golongan. Bagi Gus Dur, ikhtiar mempertebal keimanan bukan dengan cara membentengi diri dengan tembok tebal konservatisme dan menutup mata atas kekeliruan, namun dengan keberanian mengoreksi keyakinan dan penafsiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaran orang tuanya, petualangannya atas berbagai macam buku dan aliran serta sejumlah pengalaman hidupnya (diantaranya pertemuannya dengan sahabat Yahudinya, Ramin, di Irak) pada gilirannya membawa Gus Dur pada satu sikap yang tak pernah tergoyahkan: menegakkan Islam yang mengayomi semuanya (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;rahmatan lil alamin&lt;/span&gt;). Gus Dur sering mendapat serangan karena sikap rahmatan lil alamin-nya ini, namun sebagaimana namanya, Addakhil yang berarti sang penakluk, Gus Dur tidak pernah gentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam berbagai kesempatan, Gus Dur sering mengingatkan agar umat Islam selalu bersikap adil kepada siapa pun, termasuk kepada mereka yang non-muslim, kaum minoritas tak berkuasa, karena minoritas tak berkuasalah yang biasa menjadi korban ketidakadilan. Ia pun menyitir ayat Qur’an yang berbunyi, “Jangan sampai ketidaksukaanmu terhadap suatu kaum membuat kamu bertindak tidak adil.” (Al-Maidah ayat 8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat keadilan ini pula yang mendasari sikap Gus Dur terhadap kaum Yahudi, yang membuat ia acap disebut agen zionis. Namun tentu saja semua itu gugur, karena sepanjang hidupnya Gus Dur tidak pernah mengecilkan diri menjadi agen kelompok atau aliran mana pun. Banyak orang tidak tahu, bahwa sewaktu kuliah di Mesir, Gus Dur terlibat demo membela pemimpin Ikhwanul Muslimin, Sayyid Quthb, yang dijatuhi hukuman mati oleh Gamal Abdel Nasser.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gus Dur tidak menyukai kesewenang-wenangan, baik atas nama agama maupun negara. Ia juga tidak menyukai jalan kekerasan, dan oleh karenanya begitu prihatin dan terpukul atas keterlibatan NU dalam pembantaian 65-66. Untuk menebusnya, Gus Dur bertekad menyebarkan sikap toleran dan anti-kekerasan, yang ia buktikan ketika menjadi Ketua Tanfidziyah NU maupun ketika menjadi presiden dengan meminta maaf dan mengusulkan pencabutan TAP MPRS Nomor XXV/1966 Tentang Pelarangan PKI dan ajaran Marxisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiprah dan komitmennya terhadap pluralisme dan keberagaman membuat ia dianugerahi gelar Bapak Pluralisme oleh banyak kalangan, namun Gus Dur bukan hanya bapak pluralisme. Ia juga pembela kaum lemah dan penentang otoritarianisme yang gigih dan pemberani. Semasa hidupnya ia terlibat aktif dalam advokasi warga dan pernah mengomandani kelompok aktivis penentang Orde Baru yang tergabung dalam Forum Demokrasi. Sejarah politiknya diwarnai perseteruan dengan Soeharto, khususnya ketika ia menjabat sebagai Ketua PBNU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini sang pendobrak, pembawa obor pencerahan dan penentang kedikatoran itu telah pergi, atau lebih tepatnya kembali. Karena kita manusia berasal dari-Nya, dan akan kembali kepada-Nya (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;inna lillahi wa inna ilaihi raji’un&lt;/span&gt;). Sementara, kita yang ditinggalkannya punya kewajiban untuk mencontoh hal-hal baik yang diperbuatnya, meniru semangat belajarnya, mengikuti keterbukaan pikirannya, memelihara semangat pluralisnya dan melanjutkan perjuangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat jalan, Gus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Savic Alielha
StreetWise Advisory Group&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8078711676833785129-7162602128412273724?l=savicali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://savicali.blogspot.com/2010/01/kyai-pencerahan.html</link><author>noreply@blogger.com (savic)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_HVeqKFSf5nQ/S0N6WlLr8-I/AAAAAAAAAUw/glhnAIYtzjA/s72-c/gus_dur.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129.post-229317994379780920</guid><pubDate>Wed, 30 Dec 2009 05:22:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-12-30T12:35:33.374+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">politik</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">ihwal buku</category><title>membongkar gurita cikeas</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_HVeqKFSf5nQ/Szrlh852RmI/AAAAAAAAAUo/Bzsc9ta_dRg/s1600-h/cikeas.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 149px; height: 220px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_HVeqKFSf5nQ/Szrlh852RmI/AAAAAAAAAUo/Bzsc9ta_dRg/s320/cikeas.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5420897472941016674" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu ini jagad media, politik dan perbukuan Indonesia diributkan oleh buku karya Dr. George Junus Aditjondro, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Membongkar Gurita Cikeas&lt;/span&gt;. Toko online-ku, &lt;a style="font-weight: bold;" href="http://khatlistiwa.net/"&gt;khatulistiwa.net&lt;/a&gt;, mendapat banyak pesanan untuk buku tersebut, tapi hingga saat ini stok kosong.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tapi versi PDF dari buku tersebut bisa didownload di sejumlah sumber internet, meski tidak sama persis dengan edisi cetaknya. So, silakan download &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Membongkar Gurita Cikeas&lt;/span&gt; di link berikut ini: &lt;a style="font-weight: bold;" href="http://www.4shared.com/file/183669490/d349ffd9/Gurita_Cikeas.html"&gt;source&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Savic Alielha
StreetWise Advisory Group&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8078711676833785129-229317994379780920?l=savicali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://savicali.blogspot.com/2009/12/membongkar-gurita-cikeas.html</link><author>noreply@blogger.com (savic)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/_HVeqKFSf5nQ/Szrlh852RmI/AAAAAAAAAUo/Bzsc9ta_dRg/s72-c/cikeas.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129.post-1055955356101120878</guid><pubDate>Sat, 26 Dec 2009 09:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-12-26T16:21:16.526+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">bisnis</category><title>bezon on amazon</title><description>Since founding Amazon in 1994, he has revolutionized retailing. Now he's out to transform how we read.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No one has been more surprised by the success of the Kindle than Amazon CEO Jeff Bezos. The electronic book reader has become the online retailer's best-selling product. Bezos spoke to Newsweek's Daniel Lyons about the device, how the Apple tablet might affect it, and the next phase of digital distribution. Here are excerpts from their talk with Daniel Lyons from NewsWeek, Dec 2009:&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lyons: Amazon had an amazing year despite the bad economy. How did you do it?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bezos: It is the basics. It is focusing on selection, low prices, and reliable, convenient, fast delivery. It's the cumulative effect of having this approach for 14 years. I always tell people, if we have a good quarter it's because of the work we did three, four, and five years ago. It's not because we did a good job this quarter. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Amazon started off as a retailer. Now you're also selling computing services, and you're in the consumer-electronics business with the Kindle. How do you define what Amazon is today?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;We start with the customer and we work backward. We learn whatever skills we need to service the customer. We build whatever technology we need to service the customer. The second thing is, we are inventors, so you won't see us focusing on "me too" areas. We like to go down unexplored alleys and see what's at the end. Sometimes they're dead ends. Sometimes they open up into broad avenues and we find something really exciting. And then the third thing is, we're willing to be long-term-oriented, which I think is one of the rarest characteristics. If you look at the corporate world, a genuine focus on the long term is not that common. But a lot of the most important things we've done have taken a long time.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;You've talked about Kindle being this example of working backward from the customer. Can you explain that?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;There are two ways that companies can extend what they're doing. One is they can take an inventory of their skills and competencies, and then they can say, "OK, with this set of skills and competencies, what else can we do?" And that's a very useful technique that all companies should use. But there's a second method, which takes a longer-term orientation. It is to say, rather than ask what are we good at and what else can we do with that skill, you ask, who are our customers? What do they need? And then you say we're going to give that to them regardless of whether we currently have the skills to do so, and we will learn those skills no matter how long it takes. Kindle is a great example of that. It's been on the market for two years, but we worked on it for three years in earnest before that. We talked about it for a year before that. We had to go hire people to build a hardware--engineering team to build the device. We had to acquire new skills. There's a tendency, I think, for executives to think that the right course of action is to stick to the knitting—stick with what you're good at. That may be a generally good rule, but the problem is the world changes out from under you if you're not constantly adding to your skill set.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Have you been surprised by the Kindle's success?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Astonished. Two years ago, none of us expected what has happened so far. It is [our] No. 1 bestselling product. It's the No. 1 most-wished-for product as measured by people putting it on their wish list. It's the No. 1 most-gifted item on Amazon. And I'm not just talking in electronics—that's true across all product categories. We've spent years working on our physical books business, and today, for titles that have a Kindle edition, Kindle book sales are 48 percent of the physical sales. That's up from 35 percent in May. The business is growing very quickly. This is not just a business for us. There is missionary zeal. We feel like Kindle is bigger than we are.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Steve Jobs once predicted Kindle would fail because "people don't read anymore."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Well, I believe that reading deserves a dedicated device. For people who are readers, reading is important to them. And you don't want to read for three hours on a backlit LCD screen. It's great for short form. This is a really important point—that we humans co-evolve with our tools. We change the tools, and the tools change us, and that cycle repeats. For the last 20 years network-connected tools like smart phones, BlackBerrys, and desktop PCs connected to the Internet have been shifting us as a civilization toward short-form reading. I love my BlackBerry. It's great for reading e-mails. Same thing with my desktop computer. I'm very happy to read short articles, blog posts. But I don't want to read a 300-page book on my computer. And so what Kindle is doing is it's bringing the convenience of wireless connectivity to long form. I believe that we learn different things from long form than we learn from short form. Both are important. If you read The Remains of the Day, which is one of my favorite books, you can't help but come away and think, I just spent 10 hours living an alternate life and I learned something about life and about regret. You can't do that in a blog post.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Is there a next phase where the novel gets reinvented and the new digital medium gives rise to new art forms?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;I'm skeptical that the novel will be "re-invented." If you start thinking about a medical textbook or something, then, yes, I think that's ripe for reinvention. You can imagine animations of a beating heart. But I think the novel will thrive in its current form. That doesn't mean that there won't be new narrative inventions as well. There very well may be. In fact, there probably will be. But I don't think they'll displace the novel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;So an Apple tablet would be a companion to the Kindle?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Absolutely. We've got Kindle for PC. And we're working on Kindle for the Mac. Our vision is that we want you to be able to read Kindle books wherever you want to read your Kindle books.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ultimately do you not even care about selling the physical Kindle itself?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;No, we do care. Our goal with the Kindle device is separate from the Kindle bookstore. With the Kindle bookstore, wherever you want to read we're going to support you. And then for the Kindle device, we want that to be the world's best purpose-built reading device. It's not a Swiss Army knife. It's not going to do a bunch of different things. We believe that reading deserves a dedicated device, and we want Kindle to be that device. It's like a digital camera. I like having the digital camera on my smart phone, but I also like having a dedicated camera for when I want to take real pictures.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Do you think that the ink-on-paper book will eventually go away?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;I do. I don't know how long it will take. You know, we love stories and we love narrative; we love to get lost in an author's world. That's not going to go away; that's going to thrive. But the physical book really has had a 500-year run. It's probably the most successful technology ever. It's hard to come up with things that have had a longer run. If Gutenberg were alive today, he would recognize the physical book and know how to operate it immediately. Given how much change there has been everywhere else, what's remarkable is how stable the book has been for so long. But no technology, not even one as elegant as the book, lasts forever.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Do you still read books on paper?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Not if I can help it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Savic Alielha
StreetWise Advisory Group&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8078711676833785129-1055955356101120878?l=savicali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://savicali.blogspot.com/2009/12/bezon-on-amazon.html</link><author>noreply@blogger.com (savic)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129.post-4535662499494017758</guid><pubDate>Mon, 16 Nov 2009 16:56:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-11-17T00:00:21.941+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">politik</category><title>politik yang membuat marah dan skeptis</title><description>Oleh filsafat aku diajar kritis. Oleh bisnis aku diajar kreatif. Tapi oleh politik aku (hanya) diajar marah dan skeptis.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Savic Alielha
StreetWise Advisory Group&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8078711676833785129-4535662499494017758?l=savicali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://savicali.blogspot.com/2009/11/politik-yang-membuat-marah-dn-skeptis.html</link><author>noreply@blogger.com (savic)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129.post-6747867363398780823</guid><pubDate>Sat, 14 Nov 2009 05:38:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-11-14T13:20:47.071+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">teknologi</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">bisnis</category><title>40 under 40</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_HVeqKFSf5nQ/Sv5DfBi3-lI/AAAAAAAAAUg/we4-1h8LWcI/s1600-h/40_under_40_splash.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 240px; height: 185px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_HVeqKFSf5nQ/Sv5DfBi3-lI/AAAAAAAAAUg/we4-1h8LWcI/s320/40_under_40_splash.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5403830803160889938" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In its newest edition, Fortune Magazine released 40 people under 40 who drive success and change. They are smartest people on their area, from duo Google until duo Twitter and Kiva. Here is &lt;a href="http://money.cnn.com/magazines/fortune/40under40/2009/"&gt;the list&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Savic Alielha
StreetWise Advisory Group&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8078711676833785129-6747867363398780823?l=savicali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://savicali.blogspot.com/2009/11/40-under-40.html</link><author>noreply@blogger.com (savic)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_HVeqKFSf5nQ/Sv5DfBi3-lI/AAAAAAAAAUg/we4-1h8LWcI/s72-c/40_under_40_splash.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129.post-7968061495945813192</guid><pubDate>Sat, 31 Oct 2009 05:21:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-10-31T12:57:30.937+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">politik</category><title>ayo dukung kpk</title><description>Penahanan dua (mantan) pimpinan KPK oleh polisi memicu reaksi besar dari masyarakat. Sejumlah lembaga dan tokoh masyarakat mengecam tindakan tersebut. ICW mengecam polisi dan juga presiden, bahkan mantan presiden Gus Dur dengan berkursi roda menyempatkan diri menyambangi KPK untuk menyatakan dukungan moralnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal, pemeriksaaan Chandra dan Bibit memang sudah bermasalah. Alasan yang digunakan polisi hampir-hampir tidak masuk akal: Bibit dan Chandra dianggap menyalahgunakan wewenang terkait pencekalan tersangka korupsi Anggoro Widjojo. Belakangan, polisi menambahinya dengan menyangka dua pimpinan KPK tersebut terlibat suap, yang dalam perkembangan pemeriksaan dianggap lemah, karena saksi Ari Mauladi yang sebelumnya mengaku menyerahkan uang suap menarik kesaksiannya karena tidak benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, berbagai pihak kecewa, bahkan muak dan marah. Di Facebook, ribuan orang menyatakan dukungan terhadap dua pimpinan KPK yang ditahan lewat ribuan status dan grup. Banyak dari kita mengkhawatirkan semua itu hanya skenario untuk melemahkan KPK, untuk melemahkan pemberantasan korupsi di Indonesia. Apalagi terakhir ada kasus besar Bank Century yang melenyapkan uang negara 6.7 trilyun, yang dicurigai sejumlah kalangan melibatkan kampanye presiden, kepentingan keluarga dan kolega-kolega politiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sendiri banyak dihubungi teman-teman dan juga wartawan. Apa reaksi kalangan (mantan) aktivis '98 atas kasus ini. Reaksi tentu jelas: mengecam langkah kepolisian. Namun langkah masih dipikirkan. Banyak yang mendorong dan berharap ada tekanan lewat aksi jalanan. Tapi situasi kami (aku) sudah berbeda. Kami tidak lagi berada di kampus, di tengah-tengah ribuan mahasiswa, sehingga agak sulit membayangkan bisa menggalang ratusan atau bahkan ribuan orang seperti dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sendiri menunggu-nunggu reaksi mahasiswa sekarang. Entah kenapa kok nyaris tidak ada suara. Padahal koran, televisi dan internet sudah heboh dengan kasus ini. Sepertinya, kampus sudah kembali seperti tahun 80-an lagi, di mana hanya sedikit yang peduli terhadap politik. Apalagi, Jakarta kian dipenuhi mall yang membuat mahasiswa mungkin lebih nyaman menghabiskan waktu luangnya di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;test in the water&lt;/span&gt;, aku membuat grup &lt;a style="font-weight: bold;" href="http://www.facebook.com/savic.alielha?v=feed&amp;amp;story_fbid=208867096744#/pages/GERAKAN-MASSA-DUKUNG-KPK/178401903584?ref=mf"&gt;Gerakan Massa Mendukung KPK&lt;/a&gt; di Facebook. Aku ingin melihat bagaimana respon masyarakat khususnya kelas menengah Jakarta  pengguna Facebook dan Twitter, jika disodorin opsi turun ke jalan. Jika banyak yang siap, aku--dan sejumlah kawan--yang sekarang lebih banyak berkutat dengan urusan mencari nafkah dan oleh karenanya hanya punya sedikit waktu luang, akan oke-oke saja jika diharuskan turun jalan kembali, karena saat ini tekanan seperti itu memang dibutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika aparat negara sudah berubah menjadi alat kekuasaan semata, maka Anda tidak bisa memperbaikinya dengan hanya bersuara di ruang maya. Butuh tekanan lebih dari itu, yang bisa membuat mereka berpikir ulang untuk melanjutkan perilaku sewenang-wenangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Savic Alielha
StreetWise Advisory Group&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8078711676833785129-7968061495945813192?l=savicali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://savicali.blogspot.com/2009/10/ayo-dukung-kpk.html</link><author>noreply@blogger.com (savic)</author><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129.post-4135076145873784532</guid><pubDate>Tue, 27 Oct 2009 17:46:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-10-28T00:49:58.269+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">teknologi</category><title>mobile web use exploded in 2009</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_HVeqKFSf5nQ/SucyYLmWbiI/AAAAAAAAAUY/i7zPWzGrm18/s1600-h/mobile+web.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 102px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_HVeqKFSf5nQ/SucyYLmWbiI/AAAAAAAAAUY/i7zPWzGrm18/s320/mobile+web.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5397338069438721570" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mobile Web usage has been on the upswing ever since the iPhone leaped onto the stage. But new data form Opera suggests it's not just the iPhone that's delivering the Internet to smartphone users.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Opera, in its Opera Mini format, is simply a downloadable Web browser that works on certain smartphones to replace or augment the users options for accessing the Web--it's free, developed by Opera Software (and, curiously, Google). It works on a variety of phones from handset makers including LG and Nokia--but not the iPhone.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The stats for September from Opera's regular "State of The Mobile Web" report show that traffic flowing through Opera's servers rose by 8.7% over the previous month. So far in October it has netted 26.9% of the global mobile browsing market, beating Apple's iPhone Safari browser into second place with 21.2%. Nokia's not far behind with 20.8%. The number of people using the mobile Opera also went up 11.5% in September versus August figures.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But the number of people using Opera mobile rose by 150% compared to the same period in 2008--a figure which can only be interpreted as an explosion in use. And the growth coming from perhaps some unexpected quarters: The browser is installed mainly on Nokia and Sony Ericsson handsets around the world, and Blackberry units in the U.S., and the list of top 10 countries using the browser includes Ukraine and Vietnam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;These stats, generated by Opera, do kind of make it look like Opera's leading the mobile Web push around the world, but they're skewed in its favor. All of the surveys about smarphone usage show that while many more people may indeed be using Opera instead of Safari, iPhone users use their Internet connection way more than other other smartphone users--a stat reflected in Opera's user figures climbing nearly 12% in the month, while data going through its servers rose just 9%: The conclusion is that Opera users just don't use the browser all that much.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Still, it's undeniably a marker that in 2009 the mobile Web, which has been bubbling under boil for several years now, has finally reached boiling point--thanks to the efforts of Opera, Apple and Nokia. And lets not forget one transformational fact that will change the mobile browsing game forever from this year onwards: Dell's due to launch its smartphone with China's biggest network, and Apple's partnered with the second place network provider. With hundreds of millions of Chinese users soon to join the mobile Web fray (albeit with China's medieval Web censorship in place) this really is the year the Net goes mobile.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taken from Fastcompany.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Savic Alielha
StreetWise Advisory Group&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8078711676833785129-4135076145873784532?l=savicali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://savicali.blogspot.com/2009/10/mobile-web-use-exploded-in-2009.html</link><author>noreply@blogger.com (savic)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_HVeqKFSf5nQ/SucyYLmWbiI/AAAAAAAAAUY/i7zPWzGrm18/s72-c/mobile+web.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129.post-8792060374394553755</guid><pubDate>Tue, 27 Oct 2009 08:54:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-10-27T17:20:31.292+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">politik</category><title>ideologi kelas menengah indonesia (?)</title><description>Kesadaran sering lahir seiring bencana. Itu pula yang terjadi di Amerika. Paska peristiwa 11 September, banyak orang Amerika yang mengubah jalan hidupnya. Mereka yang selama bertahun-tahun memanjakan diri dalam budaya konsumerisme kini mulai banyak yang peduli pada masalah-masalah sosial. Bukan hanya mereka yang dari kalangan biasa, tetapi tak ketinggalan para selebritis kelas dunia: Angelina Jolie, Oprah Winfrey, Jacqueline Novogratz, hingga Warren Buffet dan Bill &amp; Melinda Gates&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa pengeboman WTC yang memakan lebih dari 5000 jiwa itu memang membawa dampak yang luar biasa buat kelas menengah Amerika. Peristiwa itu membuat trauma, sekaligus menyentak kesadaran: bahwa ada yang salah denga perilaku (pemerintahan) mereka. Mereka pun lantas ingin menebusnya, dengan melibatkan diri dalam berbagai upaya mengatasi masalah global: penyakit, kemisikan, kesenjangan pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas bagaimana dengan kelas menengah Indonesia? Sulit untuk menjawabnya. Belasan tahun yang lalu, ketika Indonesia masih dicengkeram rezim Orde Baru, aku memendam kemarahan yang luar biasa terhadap kelas menengah Indonesia. Mengapa? Karena mereka tak lebih dari orang-orang yang hanya memikirkan diri mereka sendiri, yang asyik dalam kehidupan nyaman mereka, tanpa mau menyadari sedikit pun bahwa di luar mereka, tak jauh dari rumah mereka, orang-orang tidur di emperan toko, pinggiran jalan tol, kolong jembatan. Mereka juga tak sadar--dan sekaligus tak begitu peduli--bahwa ada jutaan orang yang tak sanggup sekolah (apalagi kuliah), yang sehari-hari hidup dengan tak lebih dari 20 ribu rupiah per hari, sementara anak-anak kelas menengah uang jajannya sudah lebih dari itu. Mereka seolah merasa bahwa Indonesia baik-baik saja, bahkan beberapa menganggapnya sebagai negara yang lumayan maju, karena mereka menggunakan keluarga mereka sebagai ukuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sekarang, kemarahan itu sudah jauh mereda. Pengalaman '98 di mana banyak mahasiswa berlatar kelas menengah yang bersedia melibatkan diri melawan tirani Soeharto mengubah sebagian pandanganku. Paska '98 aku juga melihat cukup banyak warga kelas menengah (Jakarta) yang peduli dengan masyarakat 'sekitar' mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi belakangan, skeptisisme itu muncul lagi. Aku melihat tendensi kelas menengah Indonesia kembali ke karakter seperti zaman Orde Baru: hanya peduli pada apa yang membuat mereka senang, kelas mapan yang cenderung self-centric, konsumeristik, pro status-quo dan enggan direpotin sama masalah-masalah sosial yang bisa bikin pusing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ada banyak event kelas menengah yang seolah menunjukkan kepedulian mereka: kampanye melawan kemiskinan, pemanasan global, persatuan nasional (Indonesia Unite) dan seterusnya. Tetapi sepertinya itu tak lebih dari slogan. Karena semua dilaksanakan lewat pentas di mall-mall, lapangan, forum internet, dengan berbagai banner, spanduk, kaos, sticker dan tak lupa, sponsor. Bagiku, tentu saja, itu diragukan akan bisa membawa dampak yang nyata. Bahkan aku mencurigai itu tak lebih dari kesenangan baru dan hobi semata, karena dilakukan secara simultan dan tidak berkelanjutan. Padahal semua masalah itu (persatuan nasional, kemiskinan, pemanasan global) hanya bisa diusahakan lewat upaya yang serius dan berkelanjutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justru, sebagaimana jeans yang direbut oleh kapitalis dari kaum bohemian serta jazz yang direbut oleh kelas elit dari tangan kaum budak, domain kampanye sosial (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;social campaign&lt;/span&gt;) yang sebelumnnya digawangi oleh kalangan aktivis mulai direbut oleh kelas menengah borjuis. Jika semua dikerjakan dengan serius dan dengan intensitas yang lebih tinggi, tentu tidak ada masalah. Tapi jika hanya dijadikan ikon dan brand, maka itu tidak ada bedanya dengan Islam yang sekarang di jadikan brand oleh FPI dalam gerakan-gerakan anarkisnya. Bendera dan slogannya islami, tapi perilakunya tidak menunjukkan nilai-nilai islami. Begitu juga kelas menengah: brand dan slogannya peduli, nasionalis, pro green-life, tapi perilakunya tidak menunjukkan bahwa ia peduli, nasionalis dan pro green.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sesungguhnya tidak ada yang aneh dengan semua itu. Kelas menengah kita lahir dari proses politik-ekonomi yang tidak adil, yang membuat sebagian besar orang miskin terpinggirkan dan membuat beberapa makmur gak ketulungan. Kelas menengah kita berbeda dengan kelas menengah Eropa, yang memang lahir dari proses kerja keras yang tanpa henti. Kelas menengah kita, sebagian besar lahir karena orang tua dan keluarga mereka punya kedekatan denga  kekuasaan, sehingga memadapatkan banyak privilige politik dan ekonomi yang membuat mereka jauh dari masyarakat kebanyakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelas menengah kita, tidak seperti kelas menengah Eropa, sangat sedikit yang melek politik dan memiliki kesadaran (ideologi), sehingga sangat sulit diharapkan menjadi penggerak perubahan. Alih-alih penggerak perubahan, mereka bias pro status-quo dan lebih cenderung mendukung kekuasaan. Karena mereka merasa kekuasaan (saat itu dan saat ini) telah membawa kehidupan yang baik dan nyaman buat mereka, tanpa menyadari bahwa kekuasan yang menguntungkan mereka di sisi lain telah menyebabkan penderitaan jutaan keluarga di luar sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku selalu berharap Indonesia menjadi negara yang demokratis namun sekaligus makmur, karena kesenjangan ekonomi di negeri ini begitu tinggi. Dan itu hanya bisa terwujud jika ada lapisan kelas menengah yang menyadari situasi dan melakukan sesuatu. Beberapa tahun ini banyak teman-temanku yang berasal dari kelas menengah, dan mereka telah menunjukkan bahwa mereka peduli. Tapi sebagaimana pengakuan beberapa, mereka juga tidak yakin apakah (kelas menengah) yang lain akan peduli. "Mereka hanya peduli &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shopping&lt;/span&gt; dan Blackberry," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika demikian halnya, apa mau dikata? Mereka yang tidak diuntungkan oleh sistem politik-ekonomi yang berlaku di negeri ini harus memperjuangkan nasibnya sendiri. Atau berdoa agar ada sejenis "bencana" yang membuat kelas menengah Indonesia terbangun dan tersadar akan tanggungjawab sosial mereka, sebagaimana warga Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, aku teringat akan pusisi WS. Rendra, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sajak Orang Kepanasan&lt;/span&gt;, yang dicipta pada masa awal kejayaan Orde Baru, berbarengan dengan lahirnya kelas menengah baru:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kami makan akar&lt;br /&gt;dan terigu menumpuk di gudangmu&lt;br /&gt;Karena kami hidup berhimpitan&lt;br /&gt;dan ruangmu berlebihan&lt;br /&gt;maka kami bukan sekutu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kami kucel&lt;br /&gt;dan kamu gemerlapan&lt;br /&gt;Karena kami sumpek&lt;br /&gt;dan kamu mengunci pintu&lt;br /&gt;maka kami mencurigaimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kami telantar di jalan&lt;br /&gt;dan kamu memiliki semua keteduhan&lt;br /&gt;Karena kami kebanjiran&lt;br /&gt;dan kamu berpesta di kapal pesiar&lt;br /&gt;maka kami tidak menyukaimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kami dibungkam&lt;br /&gt;dan kamu nyerocos bicara&lt;br /&gt;Karena kami diancam&lt;br /&gt;dan kamu memaksakan kekuasaan&lt;br /&gt;maka kami bilang TIDAK kepadamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kami tidak boleh memilih&lt;br /&gt;dan kamu bebas berencana&lt;br /&gt;Karena kami semua bersandal&lt;br /&gt;dan kamu bebas memakai senapan&lt;br /&gt;Karena kami harus sopan&lt;br /&gt;dan kamu punya penjara&lt;br /&gt;maka TIDAK dan TIDAK kepadamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena kami arus kali&lt;br /&gt;dan kamu batu tanpa hati&lt;br /&gt;maka air akan mengikis batu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Savic Alielha
StreetWise Advisory Group&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8078711676833785129-8792060374394553755?l=savicali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://savicali.blogspot.com/2009/10/ideologi-kelas-menengah-indonesia.html</link><author>noreply@blogger.com (savic)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129.post-1768599072836936911</guid><pubDate>Sat, 24 Oct 2009 15:24:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-10-24T23:07:16.481+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">intermeso</category><title>pesta blogger 2009</title><description>Siang tadi perhelatan akbar Pesta Blogger 2009 digelar. Bertempat di gedung SMESCO Gatot Subroto, Jakarta, acara tersebut dihadiri oleh lebih dari 1000 peserta. Sebagaimana perhelatan tahun lalu, Pesta Blogger kali ini juga dihadiri oleh bloger dari kota-kota di luar Jakarta. Aku sendiri kadang tidak habis pikir dengan militansi mereka.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Blogging memang menjadi trend dalam kurun waktu 2-3 tahun yang lalu. Berbarengan dengan munculnya fasilitas blogging gratis seperti Blogspot dan Wordpress, ribuan orang di Indonesia menerjunkan diri dalam dunia blogging. Motifnya bermacam-macam: mengekspresikan diri, menuangkan karya, atau sekedar mencoba-coba teknologi. Sejumlah blogger bahkan membentuk komunitas, organisasi, yang membuat eksistensi dan militansi mereka menguat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun seiring menguatnya Facebook dan Twitter, blogging tampaknya mulai ditinggalkan. Aku sendiri termasuk orang yang tidak lagi aktif dalam urusan blogging. Aku lebih sering menulis note di Facebook ketimbang menulis di blog. Dengan feature Newsfeed-nya yang interaktif, Facebook membuat tulisan kita dengan cepat terdeteksi oleh teman-teman (tanpa capek promosi) dan pada gilirannya akan dibaca oleh mereka yang tertarik dengan subyeknya. Kita pun bisa men-tag beberapa teman yang kita anggap relevan dengan tulisan kita, sehingga kita bisa mendapat respon (feedback) atas isinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ngeblog sesungguhnya membawa kenikmatan tersendiri yang berbeda dengan Facebook. Di blog, kita seolah punya media. Hal itu bagi beberapa orang cukup untuk membalaskan dendam karena tidak sanggup membuat Detik dan Kompas kita sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di blog, kita melihat jajaran tulisan-tulisan kita yang terarsip rapi, mengagumi ide-ide brilian yang sempat tertuang dan memaki tulisan-tulisan bodoh yang terlanjur terpampang. Di blog kita juga bisa menikmati hasil layout kita sendiri, mengagumi selera kita terkait warna, font, banner dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke Pasta Blogger 2009, sepertinya acaranya tidak semeriah yang sebelumnya. Pesertanya pun tidak lebih banyak. Tidak ada performance art dan pameran foto kecil seperti dulu, dan diskusi-diskusinya juga tidak maksimal. Beragam diskusi yang di tempatkan di satu ruangan besar dengan hanya dipisah oleh kain membuat peserta tidak fokus, karena suara speaker masing-masing forum saling mengganggu satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam urusan kehebohan pun tidak seperti tahun lalu. Tahun lalu, ada banyak orang yang tampak excited karena ketemu teman mayanya (mungkin untuk yang pertama kali), lalu foto-foto, tukar kartu nama dan asyik bercengkrama. namun kali ini pemandangan itu nyaris tidak aku jumpai. Mungkin banyak di antaranya yang sudah saling kenal, atau malah tidak tertarik untuk saling mengenal, hehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tema tahun lalu Blogging for Society, tema tahun ini jadi One Spirit One Nation. Namun lazimnya sebuah tema, ia tak lebih dari sebuah harapan, sebuah slogan, yang belum tentu mengena bagi kalangan ditujunya. Dan tampaknya itulah terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak blogger yang sepertinya tidak begitu peduli dengan tema, juga dengan diskusi. Ketika Ibu Pritta berbicara di panggung, lebih banyak peserta yang berlalulalang dan saling berbicara sendiri ketimbang mendengar kisah Ibu yang dituntut pencemaran nama baik oleh rumah sakit Omni Internasional itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, seperti tema Blogging for Society, tema One Spirit One Nation pun hanya indah di banner dan kata-kata. Karena mayoritas blogger di negeri ini tidak begitu peduli dengan itu semua: tema-tema serius yang mereka anggap hanya akan merusak kegembiraan hidup mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Savic Alielha
StreetWise Advisory Group&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8078711676833785129-1768599072836936911?l=savicali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://savicali.blogspot.com/2009/10/pesta-blogger-2009.html</link><author>noreply@blogger.com (savic)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129.post-3908151374149484821</guid><pubDate>Sun, 18 Oct 2009 06:40:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-10-18T13:53:36.465+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">bisnis</category><title>blogging dan kisah tentang dolar</title><description>"This is an incredible and humbling honor. The Internet holds the promise to improve lives and empower people. I feel very lucky to be involved in this time of rapid and amazing change," kata Jeff Bezos, mengomentari perannya dalam revolusi internet akhir abad 20.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kita semua yang aktif menggunakan internet tentu tahu siapa Jeff Bezos. Pendiri Amazon.com, situs yang mengubah cara orang Amerika dan juga belahan lainnya dalam bertransaksi buku--serta produk-produk lainnya. Bezos adalah salah satu orang yang dengan cerdas mampu melihat peluang dan berani mengambil risiko di tengah demam internet menjelang abad 21. Selain Bezos ada Kevin Rose (Digg.com), Steve Chang cs (Youtube), Mark Zukerberg (Facebook) dan banyak lagi yang lainnya. Mereka adalah orang-orang yang dengan kemampuannya sanggup mengambil peran dan menciptakan sesuatu yang relevan bagi masyarakat zaman sekarang, selain duo Google tentunya--Sergey Brin dan Larry Page.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan kita? Peluang apa yang bisa kita manfaatkan di era teknologi ini? Banyak dari kita tidak tahu, atau tepatnya, tidak peduli. Kita hidup di dunia (negara) di mana kita tidak terbiasa berfikir tentang apa yang kiranya bisa kita ciptakan. Meminjam istilah psikoanalis Erich Fromm, kita hidup di negeri di mana mindset utamanya adalah memiliki (to have), bukan menjadi/berkarya (to be). Kita tenggelam dalam kultur konsumsi, yang cenderung asyik sebagai pembeli, penikmat, pengguna, alih-alih sebagai pencipta. Padahal, ada banyak peluang yang bisa dicreate di era teknologi internet sekarang ini. Salah satunya blogging, subyek yang semalam aku "presentasikan" ke seorang teman yang nota bene adalah wartawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak orang yang tidak tahu potensi di balik blogging. Bahwa selain bisa membuat kita memiliki media, blog juga bisa membuat kita memperoleh penghasilan dalam dolar. Mungkin banyak orang yang sudah mendengarnya, tapi tidak tahu bagaimana caranya. Sementara beberapa orang (lewat beragam buku dan situs) memberitakannya secara bombastis, dengan tagline "Meraih Dolar Secara Gampang", "Menjadi Jutawan Lewat Online" dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait itu semua, saya ingin bilang, tidak ada yang gampang untuk sesuatu yang bernilai. Namun yang jelas, ngeblog itu gampang, dan saya yakin banyak dari kita (pernah) melakukannya. Membuat blog tidak butuh kemampuan IT yang tinggi. Ia selayaknya membuat akun facebook. "Siapa pun" bisa, karena cukup mendaftar dan mengisi form yang disediakan, dan kemudian menulis/posting. Untuk urusan desain/layout pun tinggal pilih. Kecuali jika kita ingin melay-out sesuai kemauan dan selera desain kita, baru kita butuh kemampuan programming dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun lalu, blogging menjadi fenomena yang marak di dunia, termasuk di Indonesia. Tapi saat ini, berbarengan dengan demam facebook dalam 2-3 tahun ini, blogging sepertinya sudah mulai ditinggalkan banyak orang. Kemampuan Facebook yang luar biasa dengan beragam fiturnya telah menyedot jutaan orang berasyik-masyuk di dalamnya. Dalam sehari, tidak sedikit orang yang--kalau dihitung--menghabiskan lebih dari 2 jam sehari untuk fesbukan. Aku membayangkan betapa dampaknya akan berbeda jika kita ngeblog 1-2 jam dalam sehari--konstan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak teman yang selama ini punya tradisi menulis, tapi sejak aktif Facebook ia tidak lagi menulis. Ada banyak teman yang punya kemampuan menulis, tapi ia tidak tahu mau menulis apa dan untuk siapa (kecuali yang berprofesi sebagai jurnalis). Banyak dari kita yang punya kemampuan menulis, tapi tidak tahu apa yang bisa kita perbuat dan hasilkan lewat menulis. Sebagian dari kita bahkan tidak tahu relevansi kemampuan/kompetensi menulis kita dengan dunia/masyarakat sekarang, sehingga kemudian mengambil profesi lain yang tidak ada kaitannya dengan dunia tulis-menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di era internet sekarang ini, punya kemampuan menulis adalah adalah "anugerah" yang tidak kecil. Karena dengan menulis, kita bisa mengungkapkan gagasan-gagasan kita, mendapat apresiasi dari orang lain, dan mendapatkan penghasilan tambahan. Waktu saya mahasiswa, para penulis harus mengirimkan tulisannya ke media massa agar bisa mendapat honor. Jika tidak, tulisan itu hanya menjadi kliping yang hanya kami sendiri yang membacanya--dan meratapinya karena ditolak koran/majalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sekarang hal itu tidak perlu terjadi. Saat ini, kita tidak harus mengirimkan tulisan ke media massa untuk bisa dibaca orang dan mendapatkan honor. Bagaimana caranya? Lewat blog. Ya, lewat blog. Dengan menulis blog, kita bisa memiliki media sendiri, mendapatkan pembaca kita sendiri, dan memungkinkan kita meraih penghasilan tambahan tadi. Dengan ketekunan yang sama seperti jurnalis, pelaku MLM, Facebookers, siapa pun akan bisa menghasilkan penghasilan ($) dari internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuncinya hanya satu: ketekunan meng-update. Jika kita sanggup mengupdate status Facebook kita tiap hari--bahkan tiap jam, semestinya kita juga sanggup menulis blog tiap hari. Karena tidak seperti tulisan media yang umumnya agak panjang dan serius, menulis blog tidak perlu terlalu panjang, bisa pendek dan sesuka-suka kita. Dengan menulis tema-tema yang menarik, entah secara individu atau kelompok, maka kita bisa mendapatkan pembaca, dan pada gilirannya mendapatkan traffic.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak orang yang blog-nya telah dikunjungi oleh ribuan bahkan jutaan orang, yang pada gilirannya membuat ia mendapatkan penghasilan. Diantaranya adalah Boingboing.net/Directory of Wonderful Things yang dibuat oleh Mark Frauenfelder dan istrinya, Carla Sinclair, serta TalkingPointsMemo.com, blog milik wartawan politik Josh Marshall. Mereka adalah orang-orang yang tanpa diduga sanggup mendapatkan $500.000 lebih dalam setahun dari blognya, sebagaimana pernah dilaporkan oleh BusinessWeek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kita di Indonesia mungkin melakukannya? Mungkin. Ada sejumlah blogger di negeri ini yang juga punya penghasilan di atas gaji pegawai negeri ($300 dalam sebulan) dari aktivitas blogging. Dibanding Mark Frauenfelder dan Josh Marshall memang masih jauh, tetapi jumlah itu cukup signifikan untuk ukuran Indonesia yang UMR-nya dibawah $100--apalagi dihasilkan lewat aktivitas sambilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua hal yang memainkan peranan kunci dalam upaya memperoleh penghasilan lewat online. Pertama TRAFFIC, yang kedua PAGERANK. Traffic adalah jumlah kunjungan yang masuk ke situs/blog kita, dan Pagerank adalah peringkat yang diberikan Google terhadap web/blog kita. Traffic dan Pagerank tinggi akan membuat kita mendapatkan dolar ($) dengan mudah. Namun traffic dan Pagerank tinggi hanya bisa dihasilkan jika kita rajin mengupdate blog kita (serajin mengupdate facebook) dan mempromosikannya, serta rajin mengusahakan agar blog kita di-link oleh blog/web lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunci mendapatkan traffic adalah menulis sesuatu yang kiranya dibutuhkan orang, bermanfaat, atau lagi trend, dan lalu mempromosikannya--entah lewat email, milis, Twitter, Digg, Youtube, StumbleUpon, Lintasberita.com, Kaskus, grup, page atau status Facebook. Begitu traffic situs/blog kita lumayan tinggi (ratusan per hari), maka peluang kita untuk memperoleh penghasilan online mulai terbuka, yaitu lewat iklan afiliasi seperti Google Adsense dan sejenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun peluang untuk mendapatkan ratusan dollar akan lebih mudah jika blog/situs kita memiliki Pagerank tinggi. Ada banyak program afiliasi--seperti TextLinkAds, Adbrite, Bidvertiser dll--yang menawarkan kerjasama iklan dengan bagi hasil hingga ratusan dolar (per bulan) bagi blog/web yang ber-Pagerank di atas 4 (peringkat Pagerank 1-10). Dan berbeda dengan Google Adsense yang membayar pemilik blog berdasar klik (pay per click), TextLinkAds membayar pemilik blog berdasar kontrak bulanan. Tanpa ada yang meng-klik pun, asal iklan itu nongol di halaman blog/situs kita, maka kita akan dibayar oleh TextLinkAds.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ya itu tadi, TextLinkAds dan sejenisnya hanya mau bekerjasama dengan blog-blog yang ber-Pagerank di atas 3, yang mana hal itu baru bisa diraih jika blog dikunjungi paling tidak oleh 500 orang per hari dan di-link oleh cukup banyak blog lain. Ada rumus (rule) berapa link yang mesti didapat untuk menghasilkan blog ber-Pagerank 3. Namun sederhananya, rumus Pagerank tak ubahnya rumus akademik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita seorang intelektual, reputasi kita sering ditentukan oleh karya kita, dalam hal ini anggap saja buku. Jika kita menulis buku (web) yang kemudian buku itu dikutip atau dijadikan referensi oleh buku (web) lain, maka buku kita dianggap berbobot. Makin banyak buku lain yang mengutip buku kita, maka itu pengakuan bahwa buku kita bagus. Tapi nilai kutipan juga berbeda. Jika yang mengutip adalah seorang mahasiswa S-1 dalam sebuah skripsinya, maka nilainya berbeda dengan jika yang mengutip adalah seorang doktor terkemuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Web/blog juga begitu. Jika blog kita di-link oleh blog lain, maka itu akan mendongkrak Pagerank kita. Makin banyak yang me-link, peringkatnya akan makin tinggi. Dan Pagerank akan lebih cepat naik jika blog kita di-link oleh web-web atau blog yang sudah memiliki Pagerank tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha untuk mendapatkan link memang tidak mudah, namun dengan membuat blog secara bersama-sama, berbarengan, kita bisa mendongkrak Pagerank lewat cara saling bertukar link. Buat kalangan blogger profesional yang memang ngeblog untuk mengejar uang, mereka bahkan berani membeli link dari blog/web yang ber-Pagerank tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, semua memang tidak mudah. Untuk bisa menghasilkan, petani harus menyirami tanamannya tiap hari, dan peternak juga harus memberi makan-minum ternaknya tiap hari. Begitu juga dengan blog. Agar blog kita bisa menghasilkan, kita juga mesti mengupdate blog kita sesering mungkin dan langkah-langkah yang sudah dijelaskan di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dengan kerja sambilan kurang lebih satu tahun secara konsisten, semua itu bisa diraih. Buat teman-teman yang pada dasarnya suka menulis--apalagi yang berprofesi sebagai jurnalis--hal itu tentu bukan hal yang sulit. Anggap saja kita menyalurkan hobi menulis alih-alih menabung. Jika kita bisa menghasilkan $50 saja dalam sebulan, maka setahun akan berjumlah $600. Apalagi jika $100 lebih per bulan. Bayangkan saja kita ini para petani yang berusaha menabung dengan memelihara kambing atau kelinci. :-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By the end and by the way, harga sebuah banner kecil di web/blog ber-Pagerank 4 bisa mencapai $50 sebulan, dan nilai sebuah link yang hanya sebaris bisa $30 per bulan. Dan bahkan menulis review sebuah produk bisa membuat kita mendapat bayaran $10 per post.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasar iklan online sangat besar sekali, dan itulah yang membuat Google kaya raya, berdaya dan meraksasa. Saya kira tidak ada salahnya teman-teman ikut mengais sedikit bagian darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gut luck!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Savic Alielha
StreetWise Advisory Group&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8078711676833785129-3908151374149484821?l=savicali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://savicali.blogspot.com/2009/10/blogging-dan-kisah-tentang-dolar.html</link><author>noreply@blogger.com (savic)</author><thr:total>5</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129.post-598913379677437642</guid><pubDate>Tue, 13 Oct 2009 05:43:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-10-13T13:00:04.334+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">bisnis</category><title>paypal unverified</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_HVeqKFSf5nQ/StQWUFQFOFI/AAAAAAAAAUI/HILspNbVVhc/s1600-h/paypal.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 135px; height: 53px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_HVeqKFSf5nQ/StQWUFQFOFI/AAAAAAAAAUI/HILspNbVVhc/s320/paypal.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5391959188132149330" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan ini aku dapet $104 dari iklan afiliasi, dan aku bermaksud membuat account Paypal untuk menerima pembayarannya--ketimbang cek. Namun entah kenapa kartu kredit-ku ditolak oleh Paypal. Keterangan yang tertera di Paypal menjelaskan bahwa kartu kreditku (Master Card) ditolak oleh bank penerbit (BCA).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Aku pun lantas menghubungi BCA untuk menanyakan kenapa. Tapi setelah dicek, mereka bilang tidak ada masalah dengan Master Card-ku dan diminta mengulangi registrasi. Selang satu hari kemudian aku pun mengulangi registrasi, namun tetap tidak berhasil dengan keterangan "Your credit card has been denied by the bank issued bla bla bla..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun menghubungi BCA lagi, lalu dicek lagi, dibilang tidak ada masalah lagi, dan diminta mengisikan nomor kartu kembali. Aku pun mengulanginya lagi, namun respons tetap sama, sehingga status Paypal-ku tetap "unverified". Ada yang tahu kenapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Savic Alielha
StreetWise Advisory Group&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8078711676833785129-598913379677437642?l=savicali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://savicali.blogspot.com/2009/10/paypal-unverified.html</link><author>noreply@blogger.com (savic)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_HVeqKFSf5nQ/StQWUFQFOFI/AAAAAAAAAUI/HILspNbVVhc/s72-c/paypal.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129.post-8864546593929938003</guid><pubDate>Tue, 06 Oct 2009 16:21:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-10-06T23:26:45.450+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">politik</category><title>michael moore: 'capitalism is anti-jesus'</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_HVeqKFSf5nQ/Sstu1w6RySI/AAAAAAAAAUA/Lgufbar_s1Q/s1600-h/moore.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 220px; height: 172px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_HVeqKFSf5nQ/Sstu1w6RySI/AAAAAAAAAUA/Lgufbar_s1Q/s320/moore.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5389523249020389666" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NEW YORK (Fortune) -- The title of Michael Moore's latest film, "Capitalism: A Love Story," may be ironic, but there's nothing subtle about the message, right from the opening scenes. In a Fortune interview, the flame-throwing director explains why his new film brings his religion into the picture for the first time.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;The two-hour documentary begins with footage of a family being evicted from their foreclosed home by a half dozen police officers. Then he presents more incriminating evidence: a bankrupt Chicago factory where workers are denied pay, a privately run juvenile prison that paid off judges to give convicts longer sentences, and last year's $700 billion bailout of the banking system.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moore, 55, ends with this conclusion: "Capitalism is an evil and you can't regulate evil. You have to replace it with something that is good for everyone."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The writer-director-partisan, who rose to prominence after his 1989 takedown of GM in the documentary "Roger &amp;amp; Me" and his mainstream hit "Fahrenheit 9/11" in 2004, spoke with Fortune on the eve of his film's Wednesday opening in New York City and Los Angeles (it opens nationwide on Oct. 2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moore talked about how his Catholic upbringing influenced the film, why Corporate America still irks him, and how to fix his economically troubled home state of Michigan. Excerpts:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You've said you started filming "Capitalism: A Love story" a year and a half ago. Did the film change after Lehman went bankrupt and the stock market crashed?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I've thought about this for 20 years. Ever since "Roger and Me," I've felt the problem here is an economic system that is unjust and unfair. It's not democratic. And I keep making these films but I dance around the subject: it's General Motors here, the health-care industry there, and I started thinking, "Why don't I just name it?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I started out wanting to explore the premise of capitalism being anti-American, and anti-Jesus, meaning it's not a Democratic economy. And it's not run with a moral or ethical code. But when the crash happened, it added a third plot line: not only is capitalism anti-American and anti-Jesus, it doesn't work.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[The wealthiest Americans] proved that the free market is something they really don't believe in, they don't believe in competition, they actually do believe in socialism, that we the people should use our tax dollars to keep them in their mansions and their yachts.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I think they exposed themselves to a lot of middle class people who did believe in their system and they showed everybody the Ponzi scheme that it is. It's set up like a pyramid, so that the richest 1% at the top have more financial wealth than the 95% beneath them.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But the trick here is to get the 95% believing that if they work hard and slave away, they would get to the top of the pyramid. Of course, as we know, only a few people can stand on top of a pyramid. The fact that this crash exposed our economic system as a corrupt scam was something I didn't intend on happening while I was making the movie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;How is this film different from your previous ones?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I talk about my religion, which I have never talked about. I think religion should be a private matter. But I thought it was important to this discussion. I'm not a proselytizer, but I do have very strong beliefs and these beliefs were formed not in the school of Karl Marx, but in the Catholic Church. Priests and nuns taught me these lessons of how we're to treat each other, how we're to treat the poor, and how we're to divide up the pie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I'm one of the few people on the left who's been fortunate to have access to a mainstream audience. I'm always thinking about ways to communicate with them and stay true to myself, because I am them, and I come from Middle America. I have very conservative values that go contrary to the fictional character that's been created of me by Bill O'Reilly, Rush Limbaugh, and the Fox News Channel. I've been with the same woman for 30 years, I don't invest my money in anything but a savings account.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Has your view of corporate America changed since your first film, "Roger &amp;amp; Me," opened in 1989?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I've become all the more agitated, especially with what I've seen and with having a peak behind the curtain. Having the life I do, working in an industry that's owned by major corporations. [Moore's film is distributed by a unit of Liberty Media, whose CEO John Malone is a formidable capitalist.]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Just a couple weeks ago, the film was going to debut in the Toronto Film Festival in the Elgin Theatre. Visa sponsors the theater, so during the festival it's called the Visa Screening Room. So they had [the film studio] call me to ask, Is there any reference against Visa in the movie? And this is while they're still deciding whether to put the movie in the festival.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Are there any good things happening in American business?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I see very little support for the things we really need to be investing in. Where's the cure for cancer? Where's the bullet train to take us from New York to L.A. in 10 hours? Where are the alternative energy systems to save us when we run out of oil?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I wish these were the priorities. But when Wall Street sucks up our best mathematicians, physicists, engineers, when they should be working on these other things and instead they're working to create derivatives ... c'mon. We're in deep, deep trouble. We need the best minds working on these things.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You live in Michigan, where you were born and raised. How can Detroit be saved?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It revolves around good-paying jobs. We've allowed the middle class to be decimated over the last 30 years. We've allowed our industrial infrastructure to collapse. So instead of initially giving bailout money to a General Motors that was never going to change or to banks so they can cover losses from crazy betting schemes, this money should be going to helping to create jobs in places like Detroit. People need to work. There are so many things we need to build and create for the 21st century.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I would do what my friend Dan Kildee is doing in Flint, Michigan. He's the county treasurer and he's taken over 9,000 homes that have been abandoned. He's tearing them down and his idea essentially shrank the city in physical size. They restored neighborhoods by building parks, fields and woods.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For crime in Detroit: what is the chance, if the person down the street is making $50,000 to $60,000 a year, [that he would] break into your home to steal your TV?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You tried to get Hank Paulson on the phone in the film, but weren't successful. If you got him on the phone today, what would you ask?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If I had a chance to talk to him, I'd want him to come clean and tell me the truth about how he rigged this whole thing. Tell us what happened because we don't know the details. How did so many Goldman people end up in the administration? How is it that Goldman's chief competitors are left to die -- not bailing out Lehman Bros., Bear Stearns falls apart, Merrill Lynch is absorbed into Bank of America -- and look who's left standing: the company that's got all their boys inside the administration.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If capitalism is evil, what's the solution?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Some people say to me, democracy is not an economic system, it's a political system. My answer to that is, you think capitalism has nothing to do with politics?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Let's quit talking like we're back in Economics 101. Capitalism is not only an economic system that legalizes greed, it also has at its foundation a political system of capitalism that is, "We have to buy the political system because we don't have enough votes. We're only 1% of the votes. We have to buy the people, and we have to buy the people by convincing them if they work hard, they too can be rich one day." [Americans] have gone along with it for the last 30 years.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fortune Magazine, September 23, 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Savic Alielha
StreetWise Advisory Group&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8078711676833785129-8864546593929938003?l=savicali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://savicali.blogspot.com/2009/10/michael-moore-capitalism-is-anti-jesus.html</link><author>noreply@blogger.com (savic)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/_HVeqKFSf5nQ/Sstu1w6RySI/AAAAAAAAAUA/Lgufbar_s1Q/s72-c/moore.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129.post-2183752161234136908</guid><pubDate>Sat, 03 Oct 2009 05:49:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-10-03T12:50:45.792+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">bisnis</category><title>how top bloggers earn money</title><description>From cat pictures and celebrity gossip to tech news and politics, the stars of the blogosphere earn plenty of dough, regardless of subject. Some bloggers start their sites intending to make big profits. But most of the bloggers we talked to had more modest expectations, and saw their blogs unexpectedly turn into businesses as traffic picked up and ad dollars rolled in. Here's a look at how some of the most popular blogs make their money.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Click &lt;a href="http://images.businessweek.com/ss/07/07/0714_bloggers/index_01.htm"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;BusinessWeek&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; report on this.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Savic Alielha
StreetWise Advisory Group&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8078711676833785129-2183752161234136908?l=savicali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://savicali.blogspot.com/2009/10/how-top-bloggers-earn-money.html</link><author>noreply@blogger.com (savic)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129.post-1994549558520236309</guid><pubDate>Fri, 02 Oct 2009 08:07:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-10-02T15:12:27.126+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">bisnis</category><title>zukerberberg on the list of wealthiest americans</title><description>Forbes released its list of the wealthiest Americans last night. Technology's usual suspects are all present: Gates, Ellison, Allen, Bezos, the Google duo, and so on. But there, at number 158 and tied with Donald Trump and Sumner Redstone, is a newcomer: Mark Zuckerberg, with an approximate net worth of $2 billion.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Slightly detracting from his position as 158 are two dozen others who share the same rank. Gordon Moore of Intel shows up at number 80, and Apple founder Steve Jobs at number 43. Eric Schmidt, Google's president, comes in at number 40. One surprise: Number 94 is Ty Warner, maker of the once-popular Beanie Babies stuffed animals.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Read complete list on &lt;a href="http://www.forbes.com/lists/2009/54/rich-list-09_The-400-Richest-Americans_Rank_8.html"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Forbes&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Savic Alielha
StreetWise Advisory Group&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8078711676833785129-1994549558520236309?l=savicali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://savicali.blogspot.com/2009/10/mark-zukerberberg-on-list-of-wealthiest.html</link><author>noreply@blogger.com (savic)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129.post-4264154181526428291</guid><pubDate>Thu, 17 Sep 2009 08:51:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-09-17T16:06:21.933+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">bisnis</category><title>free: price of now</title><description>"Thanks to all the people that have donated for PocketCM software, and due to the lack of free time, I've decided to remove the time limitation in PocketCM Keyboard, you can now use it for free (personal use), without any restriction in feature or timing. Of course, donations are still appreciated," demikian kalimat yang tertera di halam web PocketCM, keyboard virtual yang bisa diinstal di gadget berbasis Windows Mobile.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir ini, kian banyak pengembang software yang memberikan program yang ia ciptakan secara cuma-cuma. PocketCM adalah salah satu diantaranya. Software ini dimaksudkan bagi mereka yang tidak puas dengan keyboard virtual bawaan Windows Mobile, yang memang merepotkan--karena tidak memungkinkan disentuh pake jari. Dengan PocketCM, pengguna PDA tidak perlu menggunakan stylus dan dua tangan untuk mengetik, tapi cukup dengan satu tangan dan mengetik dengan jari--kemampuan yang menyerupai iPhone.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendowload dan menggunakan software ini sudah lama, di saat PDA/PDA Phone belum dilengkapi keyboard virtual tambahan dari pabrikan yang sekarang lazim di gadget-gadget terbaru. Diantara sekian keyoard virtual yang ada, PocketCM menurutku adalah tyang terbaik. Besar font sangat pas untuk jari orang Indonesia. Halam pertama berisi deretan huruf QWERTY, dan halaman kedua berisi dereta angka-angka dan simbol. Hanya satu yang terasa mengganggu, yakni letal titik (.) tidak berada di deratan huruf QWERTY, melainkan di halaman simbol. Sehhingga jika kita ingin mengakhiri sebuah kalimat dengan titik, kita perlu menekan tombol simbol--sesuatu yang memakan waktu dua kali lebih banyak. Namun di luar kelemahan itu, PocketCM memenuhi kebutuhan dan kemudahan mengetik di layar kecil, dan hebatnya lagi gratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Savic Alielha
StreetWise Advisory Group&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8078711676833785129-4264154181526428291?l=savicali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://savicali.blogspot.com/2009/09/free-price-of-now.html</link><author>noreply@blogger.com (savic)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129.post-7889144258901745008</guid><pubDate>Fri, 11 Sep 2009 12:54:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-09-11T21:41:58.109+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">bisnis</category><title>entrepreneur muda dan hasrat mengubah dunia</title><description>"I've always had an interest in how we improve people's ecosystems--wheter it's civic or education or economics," demikian kata Reid Hoffman, punggawa awal Paypal serta pendiri situs &lt;span style="font-style:italic;"&gt;social networking&lt;/span&gt; untuk kalangan profesional dan entrepreneur, &lt;a href="http://linkedin.com/"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;LinkedIn&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Apa yang bisa kita ambil dari perkataan tersebut? Tak lain adalah hasrat untuk menjadi relevan bagi kehidupan manusia, hasrat untuk memperbaiki dan mengubah dunia. Menilik yang mengucapkannya adalah seorang pebisnis, entrepreneur, di telinga sejumlah orang barangkali terdengar aneh. Karena pebisnis identik dengan hasrat akan penumpukan kekayaan, yang menjadi ciri kaum kapitalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi jika kita perhatikan orang-orang IT Amerika sekarang (yang rata-rata masih muda), mereka sepertinya berbeda dengan generasi pendahulunya. Anak-anak muda itu seolah dipenuhi hasrat yang sangat besar untuk membuat dunia lebih baik. Mereka ingin menjadi bagian dari ikhtiar manusia untuk memperbaiki dan meningkatkan kebudayaan, pengetahuan dan peradaban. Mereka ingin memengaruhi dunia. Dalam tingkat tertentu, cara berfikir dan berperilaku mereka lebih tampak seperti aktivis ketimbang pebisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tengok saja Larry Page dan Sergey Brin, duo pendiri Google. Mereka mencipta mesin yang membuat kita dengan mudah menemukan "apa pun" yang kita cari, dan gratis! Gaya hidupnya pun tak tampak seperti pebisnis. Mereka lebih sering barpakaian casual ketimbang pakai jas dan dasi. Meski milyuner, mereka tidak menggunakan BMW, Mercy atau Jaguar, tetapi mencukupkan diri dengan Toyota Prius, mobil ramah lingkungan yang "hanya" berharga US$20-an ribu. Bandingkan dengan orang-orang kaya Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga Mark Zuckerberg, pendiri Facebook. Facebook telah memainkan peran yang luar biasa dalam menjembatani persahabatan dan hubungan antar kita semua di dunia modern yang serba terbatas waktu ini, dan meski dinobatkan sebagai salah satu pemuda terkaya di dunia, ia lebih senang tinggal di apartemen sewaan sederhana ketimbang di kondominium mewah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga Bram Cohen, penemu protokol BitTorrent yang membuat kita bisa menikmati sharing file lewat software semacam Limewire atau Vuze. Anak muda yang mengidap sindrom Asperger ini juga tak tampak seperti pebisnis, tetapi lebih seperti aktivis--dan autis. Ia seolah sengaja menciptakan BitTorrent untuk melawan hegemoni dan monopoli industri musik dan film Amerika. Ia merasa praktek saling-meminjamkan adalah salah satu tonggak kehidupan bersama umat manusia, dan itu tidak boleh dihapuskan begitu saja atas nama copyright dan sejenisnya. Di monitor komputernya sewaktu remaja, bahkan tertempel kata-kata: Destroy Capitalism.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain duo Google, Mark Zuckerberg serta Bram Cohen, masih ada Jimmy Wales, pendiri Wikipedia, Linus Torvalds, penemu Linux, dan masih banyak lagi. Secara bisnis dan finansial, mereka boleh dikata sudah cukup sukses. Tetapi mereka tidak pernah membanggakan kesuksesan finansialnya. Dari sejumlah perkataan di berbagai wawancara yang pernah aku baca, tampak bahwa orang-orang ini tidak terobsesi pada uang dan kekayaan, tetapi lebih terobsesi pada kreativitas inovasi dan penciptaan, serta hasrat untuk mengubah dunia. Dan sebagaimana pernah dikatakan COO Facebook, Sheryl Sandberg, "the right decision and the right investment in business can change the world."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sepuluh tahun terakhir ini, banyak sekali lahir orang-orang yang punya mimpi dan obsesi seperti mereka. Diantaranya Reid Hoffman. Nama yang terakhir ini bahkan unik, karena ia mahasiswa jurusan filsafat, bidang yang sama sekali tak ada kaitannya dengan dunia teknologi. Tetapi karena hasrat untuk menjadi (lebih) relevan dengan kehidupan manusia, ia menekuni IT (bergabung dengan Paypal, bekerja di Apple dan Fujitsu) dan lalu mendirikan LinkedIn, yang telah mempertemukan ribuan pebisnis dan entrepreneur muda sehingga bisa saling bekerjasama menggarap proyek-proyek bisnis yang punya dampak bagi perbaikan perdaban manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hoffman, yang adalah mahasiswa S2 Oxford merasa bahwa filsafat bukanlah bidang yang tepat jika kita ingin bisa memengaruhi kehidupan orang banyak. "When I was undergrad at Standford, I thought the way to do that was to be an academic. Then I saw that wasn't the right way. At Oxford when studying philosophy, I decided software entrepreneurship was the way," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sepertinya, aku pun merasa begitu. Huhuhuhuuu....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Savic Alielha
StreetWise Advisory Group&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8078711676833785129-7889144258901745008?l=savicali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://savicali.blogspot.com/2009/09/entrepreneur-muda-dan-hasrat-mengubah.html</link><author>noreply@blogger.com (savic)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129.post-6516524193496514411</guid><pubDate>Sat, 05 Sep 2009 17:38:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-09-06T00:40:55.158+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">bisnis</category><title>The Most Influential Women in Technology</title><description>Women who have succeeded in technology deserve recognition: They are an inspiration for everyone, demonstrating what can be achieved through creativity and hard work.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Klik &lt;a href="http://www.fastcompany.com/magazine/132/the-most-influential-women-in-technology.html"&gt;this link&lt;/a&gt; for more.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Savic Alielha
StreetWise Advisory Group&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8078711676833785129-6516524193496514411?l=savicali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://savicali.blogspot.com/2009/09/most-influential-women-in-technology.html</link><author>noreply@blogger.com (savic)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129.post-7094333696440887436</guid><pubDate>Thu, 23 Jul 2009 14:03:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-07-23T21:06:26.004+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">politik</category><title>Resep Neoliberal Gagal</title><description>Kompas, 18 Juli 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritik kepada IMF dan Bank Dunia makin solid. Kali ini UNCTAD menegaskan bahwa kebijakan ekonomi 49 negara termiskin di dunia gagal memajukan pembangunan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Konferensi Perdagangan dan Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNCTAD) di Geneva, Swiss, Kamis (16/7), mengeluarkan laporan. Isinya, antara lain, menegaskan bahwa selama tiga dekade terakhir pemerintahan di negara-negara termiskin pada umumnya menjalankan kebijakan ekonomi yang disarankan IMF dan Bank Dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan itu lebih fokus kepada liberalisasi, seperti deregulasi perbankan. Namun resep kebijakan ekonomi, yang didorong aliran neoliberal, kurang memberi perhatian kepada pembangunan infrastruktur. Neoliberal merujuk kepada aliran pemikiran yang mendorong deregulasi dan liberalisasi. Paradigma ini berkembang pasca-Perang Dunia II.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UNCTAD menyarankan pemerintahan di 49 negara paling terbelakang (least develoved countries/LDCs) memainkan peranan lebih besar dari sebelumnya dalam pembangunan dan peluncuran kebijakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UNCTAD mengasumsikan pertumbuhan ekonomi di 49 negara termiskin tidak dapat mengimbangi pertumbuhan penduduk tahun ini. Alasannya, 49 negara termiskin itu hampir bisa dipastikan tidak mendapatkan dana signifikan dari negara maju karena krisis. Karena itu, pertumbuhan ekonomi akan lebih rendah dari biasanya, bahkan lebih rendah dari pertumbuhan penduduk. Pendapatan per kapita sebuah negara akan meningkat jika pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dari pertumbuhan penduduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ini merupakan kondisi serius. Untuk mengatasi hal itu, diperlukan tindakan bersama dalam kerangka internasional maupun nasional,” ujar Charles Gore, salah seorang ekonom yang menulis laporan UNCTAD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Krisis ekonomi global sekarang telah menimbulkan kerugian yang belum pernah diderita sebelumnya. LDCs harus menggunakan krisis ini sebagai sebuah kesempatan untuk perubahan paradigma kebijakan pembangunan,” ujarnya Gore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UNCTAD mengatakan, negara berkembang perlu melakukan langkah lain yang lebih luas dari sekadar melakukan reformasi kelembagaan. UNCTAD meminta LDCs mulai fokus kepada tata kelola pemerintahan yang baik. Hal itu harus didasarkan pada partisipasi rakyat, disertai dengan asas keadilan, akuntabilitas, transparansi dan efisiensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UNCTAD menegaskan peluncuran kebijakan harus berpijak pada input domestik ketimbang luar, yang terbukti gagal mengatasi kemiskinan di LDCs.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Peran anggaran negara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujian yang paling nyata, menurut UNCTAD, antara lain apakah LDCs dapat menggunakan pendekatan baru sebagai pijakan kebijakan untuk meraih kinerja ekonomi yang lebih baik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UNCTAD mengingatkan pentingnya investasi pada infrastruktur sehingga memudahkan mobilitas. Dana asing juga diperlukan, termasuk untuk membiayai defisit anggaran negara. Namun, bantuan asing tetap dialokasikan berdasarkan kebutuhkan domestik, bukan berdasarkan usulan kaum neoliberal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, langkah lain yang perlu diambil adalah meningkatkan peranan swasta dalam memobilisasi sumber-sumber daya. UNCTAD tidak mengharamkan modal dan peran swasta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UNCTAD mengatakan, negara berkembang harus berinvestasi di sektor pertanian. Hal ini perlu agar hasil pertanian bertambah, dalam rangka ketahanan pangan. Negara-negara kaya yang tergabung dalam G-8 (Inggris, Jerman, Perancis, Italia, AS, Jepang, Kanada, Rusia) berkomitmen menyumbang 20 miliar dollar AS untuk membantu investasi di sektor pertanian di negara miskin. Semua ini masih berupa komitmen dan belum ada realisasi. Berapa jatah bantuan G-8 untuk setiap negara terbelakang itu juga belum jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mulai berhasil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gore mengatakan, pemerintahan di negara berkembang belakangan ini mulai menemukan kebijakan yang membuat mereka dapat meningkatkan produksi dan menciptakan kesempatan kerja. LDCs sudah mulai memperkenalkan pendekatan yang disarankan UNCTAD. Saran UNCTAD tersebut dirancang untuk dapat menggerakkan koalisi pertumbuhan domestik antara sektor swasta dan sektor pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara negara yang melakukan itu, misalnya Rwanda, telah memformulasikan kembali strategi nasional. Zambia sudah mengidentifikasi sektor mana yang diprioritaskan, khususnya sektor yang dianggap kompetitif. Banglades sudah mampu meningkatkan produksi pertanian dan ekspor. Malawi telah beralih dari importir neto pangan menjadi eksportir berkat subsidi pupuk. (Reuters/joe)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Savic Alielha
StreetWise Advisory Group&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8078711676833785129-7094333696440887436?l=savicali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><enclosure type="" url="http://koran.kompas.com/read/xml/2009/07/18/03333940/resep.neoliberal.gagal." length="0" /><link>http://savicali.blogspot.com/2009/07/resep-neoliberal-gagal.html</link><author>noreply@blogger.com (savic)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129.post-5589311229786858570</guid><pubDate>Tue, 02 Jun 2009 03:21:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-06-09T09:46:06.912+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">politik</category><title>neoliberalisme</title><description>Neo-Liberalisme. Istilah itu tiba-tiba saja menyeruak menjelang kampanye pilpres. Entah siapa yang memulai, namun yang jelas pihak SBY-Boediono menjadi pihak yang merasa dipojokkan dengan stigma tersebut. Sehingga dalam sejumlah kesempatan, SBY maupun Boediono berusaha mengklarifikasi bahwa diri mereka bukan neolib.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bagi para ekonom dan kalangan pergerakan, istilah neo-liberalisme jelas bukan hal yang asing. Tapi buat orang awam, niscaya mereka bertanya-tanya: mahluk apakah itu, sehingga harus diributkan sedemikian rupa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neo-liberalisme mengemuka berbarengan dengan menguatnya gerakan anti-globalisasi. Bahkan istilah neo-liberalisme sering dipertukarkan dengan globalisasi. Kalangan pergerakan menganggap bahwa globalisasi (baik atas barang, jasa, tenaga kerja maupun modal) membuat ketimpangan antar negara kian menguat. Globalisasi yang berarti free trade and free market juga dianggap yang menjadi sumber (kelanggengan) kemiskinan negara-negara dunia ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara filosofis, gagasan neo-liberal sering dirujukkan pada Adam Smith, yang terkenal dengan karyanya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Wealth of Nations&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. Dalam bukunya tersebut, Adam Smith kurang lebih menyatakan bahwa kemakmuran sebuah bangsa akan lebih mudah dicapai kalau negara tersebut meliberalisasi ekonomi/pasarnya. Liberalisasi dalam hal ini adalah "no restriction on manufacturing, no barriers to commerce, no tarrifs." Pasar mesti dibiarkan terbuka, tanpa intervensi, karena hanya dengan keterbukaan dan bebas intervensilah persaingan yang "fair" bisa terwujud yang pada gilirannya membuat pasar/ekonomi bisa tumbuh dan daya cipta individu bisa berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan posisi negara? Karena liberalisme menganggap pasar harus bebas intervensi, maka negara harus mengambil posisi di luar pasar. Negara, atas nama apa pun, tidak boleh mengintervensi, apalagi ikut-ikutan bisnis. Karena sekali negara melakukan intervensi, maka sistem akan kacau--karena tidak adanya rujukan dan kepastian dalam situasi apa dan bagaimana negara boleh mengintervensi, serta sejauh mana. Negara juga tidak boleh ikut terjun di bisnis, karena akan menimbulkan bias dan conflict of interest. Prinsipnya, negara adalah wasit, dan wasit tidak dibenarkan untuk ikut bermain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya, keberadaan BUMN tidak dibenarkan dalam prinsip ekonomi liberal. Dalam hal ini, Amerika dan Inggris adalah contoh sempurna di mana negara tidak memiliki usaha (BUMN). Bahkan perusahaan persenjataan pun dimiliki oleh swasta--meski dengan kontrol yang ketat oleh negara. Pasar yang sehat adalah pasar yang membiarkan persaingan bebas (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;free&lt;/span&gt;), karena hanya persaingan yang bebaslah yang mejamin terjadinya persaingan yang adil (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;fair&lt;/span&gt;). Liberalisme ala Adam Smith percaya akan kemampuan pasar dalam mengelola dan menstabilisasi dirinya sendiri (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;self-regulating market&lt;/span&gt;), jika prinsip-prinsip dasar dipenuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun jika ditilik sejarah bangsa-bangsa--termasuk Inggris dan Amerika, tidak ada yang sepenuhnya mempraktekkan prinsip-prinsip Adam Smith di atas. Inggris, dan juga Amerika, sepanjang tahun 1900-an juga banyak mempraktekkan hal-hal yang bertentangan dengan pasar bebas: proteksi dan semacamnya, sebagaimana ditunjukkan Ha-Joon Chang dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kicking Away the Ladder&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;. Justru, keberhasilan Inggris dan Amerika dalam menjalankan ekonomi liberalnya bertumpu pada praktek-praktek anti-pasar yang mereka lakukan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh dikata, sistem ekonomi pasar liberal mendominasi Amerika Serikat di era 1800-an sampai awal 1900-an. Namun berbarengan dengan krisis yang berujung pada Depresi Besar (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Great Depression&lt;/span&gt;) tahun 1930, Amerika mengubah haluan. Lewat gagasan-gagasan John Maynard Keynes, Amerika merevisi jalan liberalnya. Berpijak pada Keynes, Amerika mulai melakukan intervensi ke pasar--demi alasan stabilisasi. Kebijakan ini dirumuskan dalam apa yang disebut sebagai New Deal Franklin D. Roosevelt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;New Deal inilah yang mendobrak ortodoksi liberal, karena selain berisi berbagai kebijakan untuk mereformasi bisnis dan praktek finansial, New Deal juga berisi program perlindungan terhadap orang miskin/pengangguran. Namun New Deal sama sekali bukan sejenis "sosialisme", karena ia tetap membiarkan kekuasaan korporasi swasta dan free market. Namun boleh dikata pasar bebasnya menjadi terdistorsi (distorted free-market) karena adanya campur tangan negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama bertahun-tahun Amerika dan sebagian Eropa menempuh jalan ini. Termasuk di era menjelang dan paska Perang Dunia II, yang oleh David Harvey disebut sebagai era "&lt;span style="font-style:italic;"&gt;embedded liberalism&lt;/span&gt;". Namun pergeseran mulai terjadi ketika Margareth Thatcher berkuasa di Inggris (1978) dan Ronald Reagan menjadi presiden Amerika (1980). Selama berkuasa, Thatcher menghidupkan kembali semangat dan sistem liberal Adam Smith yang disingkirkan sejak Gret Depression. Dengan berpijak pada The Constitution of Liberty-nya filsuf British-Austria, Friedrich August von Hayek, Thatcher menghidupkan kembali kemurnian pasar bebas. "Inilah yang kami percayai," demikian kata Thatcher dalam sebuah forum, sambil menaruh &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Constitution of Liberty&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; di mejanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, jalan yang diambil Thatcher inilah yang kemudian dianggap sebagai tonggak lahirnya neo-liberalisme. Liberalisme yang sebelumnya mati suri karena terdepak oleh keynesianism kembali dihidupkan. Di era Thatcher, intervensi negara atas pasar berusaha dilenyapkan. Kemurnian pasar berusaha ditegakkan kembali lewat berbagai kebijakan deregulasi, dan pengetatan anggaran ditempuh lewat pemangkasan atas layanan sosial--baik itu layanan kesehatan, pendidikan maupun perumahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Amerika, Reagan juga mengikuti apa yang dicanangkan Tatcher. Ia menghapus Keynesianism dan menggantinya dengan "&lt;span style="font-style:italic;"&gt;new-liberalism&lt;/span&gt;". Kebijakan disiplin fiskal dikukuhkan oleh The Fed yang waktu itu dikepalai Paul Volcker. Dalam sejarah ekonomi, apa yang mereka tempuh dikenal sebagai Thatcherism dan Reaganomics.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama menerapkan kebijakan neo-liberal, Inggris dan Amerika mengalami pertumbuhan yang lebih tinggi dari negara-negara lain di Eropa. Pengangguran juga berhasil dipangkas secara signifikan. Namun kebijakan itu juga berbuah jurang yang makin lebar antara kaum kaya (the have) dan miskin (the have not). Di sinilah kita ditujukkan bahwa pertumbuhan tidak selalu seiring dengan pemerataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Inggris dan Amerika tampaknya tidak cukup peduli dengan hal ini. Mereka bangga atas pencapaiannya dan berusaha mengekspor jalan liberalnya ke negara-negara lain. Bangsa mana pun yang ingin makmur (seperti Inggris dan Amerika) mesti mempraktekkan ekonomi liberal. Maka di akhir 1980-an, dirumuskanlah Washington Consensus, seperangkat kebijakan yang berisi prinsip-prinsip dasar ekonomi liberal: deregulasi, disiplin fiskal, perdagangan bebas, privatisasi. Pada gilirannya, lewat Bank Dunia, IMF dan WTO yang dalam kamus kaum pergerakan disebut sebagai The Unholy Trinity, Washington Consensus mendominasi perekonomian dunia era 1980-an hingga sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sejarah bangkitnya liberalisme (neo-liberalisme) tidak melulu datang dari Barat. Selain perkembangan di Inggris dan Amerika awal 1980, apa yang terjadi di China pada tahun 1979 juga dianggap memicu wabah neo-liberalisme. Ketika Mao Ze Dong meninggal dan digantikan oleh Deng Xioping, terjadi pergeseran "kecil" di China. Terprovokasi oleh kemajuan Jepang, Korsel, Taiwan dan Hongkong, Deng mencoba mengadopsi liberalisme dengan cara membuka zona ekonomi khusus di kawasan pesisir Timur. Ternyata, eksperimen tersebut berhasil--dan dianggap tonggak keberhasilan China hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pragmatisme Deng dikritik banyak kalangan komunis. Namun sosok bertubuh pendek-kecil itu menjwab lewat kalimatnya yang terkenal, "Tidak penting kucing hitam atau putih, yang penting ia bisa menangkap tikus." Di sini, secara ideologis Deng tampak bukan seorang Marxis ortodoks. Bahkan ada yang menganggap Deng adalah seorang neolib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pendapat ini jelas keliru. Deng hanya membuka sekelumit wilayahnya untuk investasi asing, tetapi tetap memelihara kontrol atas ekonomi, korporasi dan pasar uangnya. Bahkan ketika China menswastanisasi sejumlah BUMN-nya pada tahun 1997, Barat tetap tidak menganggap China kapitalis. Karena kontrol dan intervensi negara tetap kuat, yang hal itu bertentangan dengan prinsip pasar bebas. Bahkan sampai China bergabung dalam WTO tahun 2001, ia tetap banyak melindungi kepentingan ekonomi dalam negerinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;China, justru, memanfaatkan WTO untuk melakukan bargaining atas kepentingan ekonominya terhadap negara-negara maju. Sesuatu yang nyaris tidak pernah ditempuh oleh Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bersambung.....&lt;br /&gt;kalo sempet, hehehe...&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Savic Alielha
StreetWise Advisory Group&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8078711676833785129-5589311229786858570?l=savicali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://savicali.blogspot.com/2009/06/neoliberalisme.html</link><author>noreply@blogger.com (savic)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129.post-2166437495481150815</guid><pubDate>Mon, 11 May 2009 12:14:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-05-11T19:21:10.809+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">bisnis</category><title>14 Inventors We Love</title><description>Majalah &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Inc&lt;/span&gt; baru-baru ini mengeluarkan daftar para penemu yang mereka kagumi. Ada 14 penemu, mulai dari Tim Berners-Lee sang penemu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;world wide web&lt;/span&gt; (internet) hingga Hinda Miller dan Lisa Lindahl sang pencipta &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sport bra&lt;/span&gt;. Lihat list lengkapnya di &lt;a href="http://www.inc.com/ss/14-inventors-we-love#0"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Inc.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Savic Alielha
StreetWise Advisory Group&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8078711676833785129-2166437495481150815?l=savicali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://savicali.blogspot.com/2009/05/14-inventors-we-love.html</link><author>noreply@blogger.com (savic)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129.post-3948462633838606674</guid><pubDate>Sun, 03 May 2009 04:29:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-05-03T12:29:13.747+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">politik</category><title>100 juta kemiskinan absolut?</title><description>Di saat para politisi Indonesia sibuk meributkan pemilu dan pilpres 2009, Asian Development Bank (ADB) mengumumkan prakiraannya bahwa 6o juta orang di Asia akan terjebak dalam kemiskian absolut di tahun 2009 ini, dan akan meningkat menjadi 100 juta orang di tahun 2010. Tak terkecuali Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Hal itu diakibatkan oleh dampak krisis global yang belum akan teratasi dalam waktu dekat ini. Ekonomi dunia akan melemah, yang akan berdampak pada menurunnya permintaan (demand) yang pada ujungnya melumpuhkan pabrik-pabrik. Tentu saja, lumpuh dan ambruknya pabrik-pabrik akan meningkatkan hjumlah pengangguran, yang membuat banyak dari kita terjebak dalam kemiskinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak tahu apakah para pemimpin dan calon pemimpin negeri menyadari akan hal ini. Yang jelas tak satupun calon presiden yang mengungkapkan gagasannya perihal bagaimana mengatasi krisis dan membawa Indonesia menuju kemakmuran. Boleh jadi, itu semua gak penting buat mereka. Karena sebagaimana kebanyakan politisi kita, yang terpenting adalah berkuasa. Untuk diri sendiri, untuk keluarga, baru mungkin untuk rakyat semua. Seolah negara ini adalah harta warisan nenek moyang mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Savic Alielha
StreetWise Advisory Group&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8078711676833785129-3948462633838606674?l=savicali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://savicali.blogspot.com/2009/05/100-juta-kemiskinan-absolut.html</link><author>noreply@blogger.com (savic)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129.post-7698678176384947224</guid><pubDate>Sun, 26 Apr 2009 07:38:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-04-26T14:41:35.178+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">politik</category><title>social entrepeneurship sebagai gerakan sosial baru</title><description>Orang-orang idealis selalu ingin mengubah dunia. Martin Luther, Gandhi, Obama, adalah beberapa diantaranya. Atau para nabi-nabi manusia: Mohamad, Isa, Musa dan seterusnya. Dan dalam usahanya untuk mengubah dunia, banyak cara ditempuhnya. Namun yang paling sering diambil tak lain adalah jalan "politik".&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Hingga hari ini, politik memang masih menjadi pilihan utama ketika seseorang ingin memperbaiki dunia, bangsa atau negara. Dan hal itu tentu saja mudah dipahami. Karena dengan politik, seseorang memiliki otoritas atas masyarakat (orang banyak), memiliki kekuasaan untuk mengatur dan memerintah. Dengan politik, seseorang bisa membuat jutaan orang punya akses yang lebih baik terhadap pendidikan, kesehatan--dan juga pekerjaan. Singkat kata: masa depan. Dengan politik, orang bisa membersihkan kotoran-kotaran yang menempel di kulit dan jantung kehidupan sosial kita: para koruptor, mafia, bandit jalanan, atau aparat gadungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dengan politik, seseorang juga bisa merampas itu semua: hak atas pendidikan, kesehatan dan kemakmuran warga. Politik, sebaliknya, juga bisa menciptakan mafia, bandit, koruptor atau aparat-aparat pro-kekuasaan. Dan contoh untuk politik yang seperti ini ada sederet jumlahnya--termasuk Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar temen-teman (aktivis pergerakan) di Indonesia tampaknya masih memilih jalan politik agar bisa tetap memperjuangkan "Indonesia". Selain karena politik lebih membawa efek massal seperti saya sebutkan di atas, juga karena naluri, pengetahuan dan skill teman-teman memang ada di situ. Bertahun-tahun mereka bergulat dengan dinamika pergerakan, membangun naluri, meningkatkan pengetahuan, mengasah keterampilan (diplomasi, pressure dst), dan sudah menjadi keniscayaan jika pada akhirnya mereka bertahan di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di tengah iklim politik yang tak kunjung lebih baik dan krisis kepercayaan masyarakat terhadap institusi politik sedemikian tinggi, berfikir tentang "jalan lain" untuk menciptakan perubahan tampaknya harus mulai diupayakan. Keterpurukan ekonomi masyakarat (bukan negara, karena pemerintah mengklaim berhasil dengan ukuran pertumbuhannya) tak urung membuat orang-orang menjadi lebih pragmatis. Apa yang membawa hasil/efek jangka pendek cenderung lebih dikejar. Orang tidak mau diajak berpanjang-panjang, beridealisme, berimajinasi tentang kemajuan dan kebesaran, karena semua kata-kata dan slogan itulah yang selama ini telah digunakan untuk menipu mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pragmatisme yang melanda masyarakat memang sesuatu yang sangat disayangkan, tetapi ia adalah produk yang masuk akal (reasonable effect) dari politik yang kotor dan tidak berpihak ke rakyat. Dan untuk memperbaikinya butuh waktu yang tidak pendek. Salah satunya dengan membangun gerakan yang punya efek langsung ke kehidupan mereka. Dan dalam kondisi Indonesia sekarang, "gerakan sosial-ekonomi" adalah hal yang paling masuk akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski skala efeknya tidak sebesar politik, tapi hal ini bisa memulihkan kepercayaan dan harapan masyarakat atas negeri mereka: Indonesia. Mohamad Yunus dengan Grameen Bank-nya atau Bono dengan ONE Movement-nya adalah contoh bentuk tindakan sosial yang bisa membawa perubahan signifikan dalam kehidupan seseorang atau masyarakat. Di Indonesia, hal-hal seperti ini pun bukan sesuatu yang tidak ada. Ada cukup banyak tindakan "pemberdayaan" semacam ini, tetapi skalanya belum cukup untuk mendorong perubahan yang signifikan dalam level nasional. Di negeri ini, ada cukup banyak orang serta lembaga yang giat mendirikan sekolah gratis, memberikan beasiswa, membantu pengrajin kecil, pedagang kecil dan seterusnya, tetapi dampaknya masih belum begitu terasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak sebab kenapa semua itu terjadi. Salah satunya karena dalam gerakan pemberdayaan tersebut, dimensi politik justru dinafikan. Padahal seperti saya sebut di atas, politik adalah kekuatan penting dalam perubahan. Ia bisa menggerakkan, namun juga bisa menghancurkan. Maka dimensi politis tetap penting dalam upaya-upaya pemberdayaan sosial. Anda bisa menggelar sekolah gratis atau memberi beasiswa pada ratusan anak, tetapi jika kebijakan pendidikan pemerintah (politik) sangat buruk, apa yang Anda lakukan akan menuai kegagalan. Anda juga bisa memberdayakan dan mendampingi pedagang atau pengrajin kecil dengan memberi pelatihan serta pinjaman, tetapi jika kebijakan pemerintah sama sekali tidak berpihak kepada orang-orang kecil tersebut, cepat atau lambat juga Anda akan berada di jalan buntu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan fenomena tersebut, peran aktivis atau mantan aktivis (atau secara umum orang-orang yang mengerti dan punya keberanian secara politik) dibutuhkan dalam gerakan sosial-ekonomi. Tentu saja, itu berarti bahwa "kaum aktivis" mesti juga mengerti soal ekonomi, bisnis, manajemen, pelatihan praktis dan sejenisnya. Dan jika memang punya tekad, bagi saya, bukan hal yang sulit untuk mengerti itu semua. Dan saat ini, sekarang, di saat orang-orang kian pragmatis dan mengharap ada gerakan yang bisa membawa dampak langsung pada kehidupan mereka, adalah saat yang tepat untuk melakukannya: social entrepreneurship.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu, social entrepreneurship tidak mesti seperti Grameen Bank. Karena untuk itu cukup banyak prasyarat yang harus dipenuhi: sistem, jaringan, modal, kemampuan teknis dst. Ia bisa juga hal-hal yang lebih individual seperti Google atau Facebook. Lewat Google, Sergrey Brin dan Larry telah membantu mencerdaskan jutaan orang dan menghemat biaya untuk pintar, karena ia memudahkan kita mendapatkan informasi. Dan hebatnya lagi: gratis. Begitu juga Facebook. Dengan Facebook, kita bisa tetap terhubung dengan teman-teman lama, jauh, jarang ketemu, sehingga keterhubungan sosial kita (social connectivity) tetap terjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri berfikir untuk bisa berbuat sesuatu di situ: memberi pelatihan pembuatan toko online (website) sederhana serta cara marketing online kepada pengrajin atau para pedagang kecil yang membutuhkannya. Karena itulah yang saya mampu. Dan saya kira, ada banyak orang yang sanggup melakukan hal serupa--bahkan dengan skala yang lebih besar. Tinggal masalahnya adalah apakah kita berani mengambil keputusan ke arah sana atau tidak. Tidak melulu politik tetapi terjun ke domain social entrepreneurship.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada ribuan aktivis mahasiswa pada tahun '98, dan itu adalah kekuatan laten yang akan luar biasa jika bisa digerakkan kembali: lewat model yang berbeda (sosial-ekonomi). Aku pernah bilang ke beberapa teman, "Kita telah sanggup menjadi footnote dalam sejarah penggulingan Soeharto dan pergerakan mahasiswa '98, dan aku yakin kita juga sanggup mendorong perubahan lewat cara yang berbeda: membangun bisnis yang punya dampak sosial." Karena sebagaimana dikatakan Sheryl Sandberg, Chief Operating Officer Facebook yang juga mantan pekerja Google, "The right decisions and the right investments can change the world."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Don't you believe it?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Savic Alielha
StreetWise Advisory Group&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8078711676833785129-7698678176384947224?l=savicali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://savicali.blogspot.com/2009/04/social-entrepeneurship-sebagai-gerakan.html</link><author>noreply@blogger.com (savic)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129.post-6551729334543891175</guid><pubDate>Tue, 21 Apr 2009 05:27:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-04-21T13:10:53.546+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">bisnis</category><title>komplain</title><description>Semalem blog ini dapet komplain. Asal-muasalnya dari &lt;a style="font-weight: bold;" target="new" href="http://khatulistiwa.net/"&gt;Khatulistiwa.net&lt;/a&gt;, toko online yang aku dirikan. Dalam komplain yang masih tertera di shoutbox tersebut (meski beberapa aku delete karena diposting beberapa kali), Khatulistiwa dianggap tidak responsif terkait order dan refund. Aku sendiri tidak tahu masalah ini karena sudah tidak terlibat harian di Khatulistiwa dan sayangnya juga tidak bisa membantu, karena sang pengomplain tidak meninggal jejak, entah itu nama, link atau kontak.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Komplain, namun juga pernyataan puas, telah menjadi unsur baru dalam hari-hariku sejak mendirikan Khatulistiwa. Ada banyak orang yang senang dengan layanan Khatulistiwa, namun juga ada beberapa yang kecewa bahkan marah-marah. Yang senang biasanya orang yang ordernya dikirim dalam waktu cepat, atau orang yang membutuhkan buku yang sulit dicari namun kami bisa mendapatkannya. Dan yang kecewa tentu saja yang tidak segera terlayani, atau yang pada akhirnya tidak mendapatkan buku yang ia pesan (karena stok habis), atau yang terlambat refund.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tim yang kecil, kami memang mulai agak kesulitan memenuhi setiap order yang masuk. Bahkan tim kami sering tercecer terkait kecepatan layanan atau refund. Penyelesain yang masuk akal adalah penambahan pasukan, tapi sayangnya itu belum bisa kami penuhi. Sejak awal, Khatulistiwa didirikan dengan modal sangat cekak (kalau tidak bisa dibilang nekat), dan itu masih berlangsung sampai hari ini. Mimpiku pertama-tama adalah membantu mereka yang sibuk (sehingga tidak sempat ke toko buku) serta mereka yang tinggal di daerah/pedalaman untuk tetap bisa mendapatkan buku yang mereka inginkan. Namun karena ini adalah bisnis, ada banyak konsekuensi yang harus ditanggung, yaitu komplain dan semacamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu, akan sangat menyenangkan jika bisa melayani dengan sebaik-baiknya. Namun kapasitas kami mungkin belum cukup. Selain tim yang kecil, kebijakan penerbit juga membuat layanan Khatulistiwa menjadi lebih lambat. Sebagian besar penerbit tidak bersedia memberikan stok buku (konsinyasi) di kami, sehingga sebagian besar buku yang ter-upload di Khatulistiwa tidak tersedia di stok gudang kami--selain gudang kami juga kecil. Baru kalau ada yang memesan, kami akan mengambilnya di penerbit, dengan pola cash/tunai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun berbagai kenyataan dan keterbatasan itu bukan alasan untuk tidak bisa lebih baik. Hari ini, mungkin banyak penerbit yang tidak mau memberikan kebijkan stok dan konsinyasi di kami, karena kami hanyalah toko kecil. Tapi aku yakin itu tidak akan terjadi jika nilai omset kami sudah besar sehingga bisa memberikan pemasukan yang signifikan buat penerbit. Hukum bisnis tampaknya memang selalu begitu: orang-orang hanya antusias bekerjasama dengan mereka yang sudah besar--dan dianggap punya reputasi. Padahal reputasi akan sulit digapai mereka yang kecil jika tidak ada kebijakan yang mendukung dan memihaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga terkait pelanggan. Ada sejumlah orang yang kecewa, yang mungkin bukan saja tidak kembali tapi menyerukan black campaign, dan kami hanya bisa meminta maaf pada mereka sambil terus berusaha memecahkan kelemahan kami. Inilah dunia internet, surga kebebasan berbicara (freedom of speech), di mana setiap kekecewaan akan dikabarkan pada semua orang. Pada akhirnya, aku menyadari kebenaran sebuah pepatah: orang yang puas hanya akan memberitahukan kepuasannya pada satu-dua orang, namun orang yang kecewa akan mengabarkan kekecewaannya pada semua orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Savic Alielha
StreetWise Advisory Group&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8078711676833785129-6551729334543891175?l=savicali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://savicali.blogspot.com/2009/04/komplain.html</link><author>noreply@blogger.com (savic)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129.post-5411458987648098022</guid><pubDate>Thu, 01 Jan 2009 05:28:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-01T12:30:22.264+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">esei</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">politik</category><title>one movement by jet li</title><description>On Dec. 25, 2004, I arrived very late at night at the Four Seasons hotel in the Maldives with my wife and two youngest daughters, who were then 1 and 4. It was dark out, but you could still sense how beautiful and peaceful the island was.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The next morning, at 7:50, I felt the earth move. I knew it was an earthquake, because I'd already been in several in China and San Francisco, and I didn't really think much about it. My daughters were very excited to go to the beach, so we set off earlier than planned, at around 10:10. We were just outside the hotel, by the pool and slightly above the beach, when I saw the water come.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;It wasn't like in the movies, with a giant wave rolling toward you; the water just rose very fast, covering sunbathers on the sand. People started running toward the hotel, but they were still laughing. I picked up my 4-year-old, Jane, while the nanny took Jada, and we turned toward the hotel. In that instant, the water rose to my knees.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I took two steps and the water was at my hips. Two more, and it was at my chest. Then it was just under my nose. I put Jane on my shoulder and was trying to hold on to the nanny's hand; she was struggling because her head was already underwater. I turned back, and everything—the beach, the swimming pool—was gone. I was just standing in the ocean, in nothing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I tried to hold on to the nanny, but the water was strong and pushed her and Jada away from me. Luckily, I'm famous and people knew I was there. They'd been looking at me. I shouted at the top of my lungs for help, and four guys swam toward us and saved Jada and the nanny. And I was OK; the water didn't go any higher than my mouth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In those few seconds after a disaster strikes, you don't have time to think—you just move forward and instinct kicks in. When the wave was gone, there was nothing left. The electricity was down, all communications were down but for the hotel's satellite phone, and we were told we had water for five days and food for three.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;That night, everybody camped in the hotel lobby. I held Jada as she slept in my arms, but I couldn't sleep myself, and I had a lot of time to think. I thought that if God had saved me, it must mean something. That day in the Maldives was a real turning point for me. I had spent the first 41 years of my life thinking about Jet Li first, wanting to prove I was special, wanting to prove I was a star. Everything I'd done was self-centered. In that lobby, however, I saw people of different colors, speaking different languages, helping each other. It was very much like in the movies, with people putting women, children and the elderly first, and I thought that if everybody helps, if everybody does a little bit, it will make a big difference.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I also realized that all the money and power in the world would not have saved me from the water. That night I decided that I couldn't wait until I was retired; I had to do something right away. A few days later I announced my plans to start the One Foundation. Still, I didn't quite know where to begin. I wanted to do something in China first, because that's my home country, but I also had to do it right. So it took me a couple of years to do some research and talk to people to understand what could be done there.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I finally set up the One Foundation in 2007. My formula is very simple: one person + one yuan per month = one big family. That is, if everyone contributes a little it will unite us. Sure, governments and companies have responsibilities for ordinary people, but I want to spread the belief that every human being has a responsibility too. It's not just when you've made your millions, when you're a captain of industry or a star. It starts with everybody, with just a little help.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The One Foundation at this stage is primarily about helping with disaster relief. Since we started, we've already been involved with seven disasters, including the Sichuan earthquake. I chose disaster relief because of what happened to me in the Maldives. Usually when a disaster strikes, you hear about it, you see the pictures and then you donate. This means it can take days or weeks before help reaches those who need it desperately. I want to be prepared. I want to have some money already set aside, to buy food and water, so we can act immediately.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And it's not only about material things. People need to know that someone will come and help them. I know this from experience. You need to hang on and hope you're going to be rescued; we want to show people that help is on the way. I've taken a year off from filmmaking to dedicate all my time to the foundation. But I plan to go back to work next year, since being an international actor is a good platform for promoting the foundation. For me it's not just about raising money but also about changing people's beliefs, spreading a love virus. I want to use my name to do good, to give back to the world. Nothing is more important than this now.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taken from Newsweek, Sep 27, 2008, with original title A Wave of Love.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;Savic Alielha
StreetWise Advisory Group&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8078711676833785129-5411458987648098022?l=savicali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://savicali.blogspot.com/2009/01/one-movement-by-jet-li.html</link><author>noreply@blogger.com (savic)</author><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>

