<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129</atom:id><lastBuildDate>Fri, 24 Jul 2026 06:04:13 +0000</lastBuildDate><category>esei</category><category>politik</category><category>soliloqui</category><category>bisnis</category><category>ihwal buku</category><category>teknologi</category><category>intermeso</category><category>lelucon</category><title>Confessions of Nothing</title><description></description><link>http://savicali.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (savic)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>55</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129.post-886732334988357733</guid><pubDate>Thu, 04 Sep 2008 06:58:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-09-04T14:13:31.570+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">teknologi</category><title>chrome: google&#39;s browser</title><description>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgJoB4HJUEUmprd7wd-Ph3lN32ExdvTFxZGb6vrACPAB3DqYtzZwOhf9HmopKqJfFrbeGLDR0Oe1Or8rXEpK7z4XnlyZ_GAX-EhtGzpGYMCFHU8iTh81PMtVUkfQ9LInTTUjhcbh25S_A8/s1600-h/google+crhome.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgJoB4HJUEUmprd7wd-Ph3lN32ExdvTFxZGb6vrACPAB3DqYtzZwOhf9HmopKqJfFrbeGLDR0Oe1Or8rXEpK7z4XnlyZ_GAX-EhtGzpGYMCFHU8iTh81PMtVUkfQ9LInTTUjhcbh25S_A8/s320/google+crhome.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5242059818935689058&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;The killer feature of Google’s new Chrome web browser – combined search and address bar – will conquer IE.&quot; demikian kalimat yang terpampang di kotak TheBigIdea Fastcompany.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, baru-baru ini Google memang meluncurkan web browser. Chrome, demikian namanya. Oleh Google, Chrome diklaim lebih powerful ketimbang browser-browser yang ada sekarang, baik Internet Explorer (IE) maupun Firefox. Keunggulan Chrome, sebagaimana dikemukakan Google dalam release-nya, karena ia menyertakan banyak toolbar yang memudahkan pengguna. Chrome juga dibekali JavaScript baru, V8, yang membuat ia &#39;kompatible&#39; dengan berbagai aplikasi web terbaru.&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;Aku sendiri belum mencobanya. Ketika menulis posting ini, aku sedang mendownload-nya. Tapi semoga kliam Google tidak berlebihan. Karena Firefox 3 yang aku pake sekarang menurutku sudah sangat powerful--dengan berbagai macam feature-nya. Kalo IE, maaf saja, aku memang hanya menggunakannya untuk mengakses KlikBCA. Jadi jika Chrome diprediksi akan menaklukkan IE, maka itu mungkin. Tapi apakah ia bisa lebih bagus dari Firefox? Aku belum yakin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini dulu, mungkin nantu akan melanjutkan review--setelah mencobanya. Jika kamu juga ingin mencobanya, silakan download Chrome di &lt;a href=&quot;http://www.blogger.com/www.google.com/chrome&quot;&gt;link ini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Savic Alielha
StreetWise Advisory Group&lt;/div&gt;</description><link>http://savicali.blogspot.com/2008/09/chrome-googles-browsel.html</link><author>noreply@blogger.com (savic)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgJoB4HJUEUmprd7wd-Ph3lN32ExdvTFxZGb6vrACPAB3DqYtzZwOhf9HmopKqJfFrbeGLDR0Oe1Or8rXEpK7z4XnlyZ_GAX-EhtGzpGYMCFHU8iTh81PMtVUkfQ9LInTTUjhcbh25S_A8/s72-c/google+crhome.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129.post-6002712090892428965</guid><pubDate>Sat, 23 Aug 2008 08:01:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-08-23T15:57:45.323+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">bisnis</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">esei</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">teknologi</category><title>network effect</title><description>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhXxdR3Ebm59-bFowILHifgzYDMqQRqAwvbcdedzd2x2A0gpG8cyQ-a5hk8cysD5QIZvGkxQtC31JhZ1YaCFQKQ1DrWuMoPTisgnWtcMUOPjwM-Q6XOl0HxpiNgae6Vab27uNP3eMRNw9U/s1600-h/network_effect.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhXxdR3Ebm59-bFowILHifgzYDMqQRqAwvbcdedzd2x2A0gpG8cyQ-a5hk8cysD5QIZvGkxQtC31JhZ1YaCFQKQ1DrWuMoPTisgnWtcMUOPjwM-Q6XOl0HxpiNgae6Vab27uNP3eMRNw9U/s320/network_effect.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5237630865575205122&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Network can change the world. And in the network era, every node matters,&quot; kata Michael Dulworth dalam bukunya, &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;The Connect Effect&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;Selama ini, perubahan dalam sejarah sering dinisbahkan pada orang-orang besar yang jumlahnya hanya beberapa. Tapi awal abad 21 menandai tren perubahan yang digerakkan oleh massa. Dan network adalah kuncinya. Network memungkinkan orang-orang kecil, &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;nobody&lt;/span&gt;, warga biasa, melakukan perubahan yang tak kalah signifikannya dengan perubahan yang dihasilkan oleh orang-orang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam 2-3 tahun terakhir ini, peran &#39;orang-orang biasa&#39; dalam membentuk dunia masa depan kian menojol. Hal itu tak lain karena kian lazimnya pola networking. Banyak temuan lahir karena kekuatan networking. Linux adalah salah satu contohnya. Atau browser Mozilla--yang kedua-duanya dibangun dan disempurnakan oleh ribuan programmer dari seluruh dunia lewat skema networking (&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;open source&lt;/span&gt;). Kini, untuk membuat sesuatu yang &#39;luar biasa&#39; tidak lagi mensyaratkan kekuatan/kemampuan personal atau dana yang juga luar biasa. Cukup Anda cari teman yang tepat, maka Anda bisa melahirkan sesuatu yang mungkin &#39;luar biasa&#39;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia bisnis, skema networking sebenarnya sudah lama dikenal. Keberhasilan bisnis--khususnya dalam menghimpun klien dan order, sering ditentukan oleh kuat tidaknya network. Bahkan ada bisnis yang ujung tombaknya adalah network, yaitu multi-level marketing atau MLM. Namun network yang berkembang di abad 21 lebih dari itu. Network abad 21 punya kekuatan lebih dari sekedar dalam dunia bisnis dan komersial, tapi benar-benar sanggup mempengaruhi dan membentuk dunia (&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;shaping the world&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah apa yang terjadi di dunia maya. Kini, portal-portal yang paling banyak dikunjungi bukan portal-portal berita searah seperti &lt;a target=&quot;new&quot; href=&quot;http://time.com/&quot;&gt;Time&lt;/a&gt;, &lt;a target=&quot;new&quot; href=&quot;http://economist.com/&quot;&gt;The Economist&lt;/a&gt; atau &lt;a target=&quot;new&quot; href=&quot;http://newsweek.com/&quot;&gt;Newsweek&lt;/a&gt;, melainkan situs-situs &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;social networking&lt;/span&gt; seperti &lt;a target=&quot;new&quot; href=&quot;http://friendster.com/&quot;&gt;Friendster&lt;/a&gt;, &lt;a target=&quot;new&quot; href=&quot;http://myspace.com/&quot;&gt;MySpace&lt;/a&gt;, &lt;a target=&quot;new&quot; href=&quot;http://facebook.com/&quot;&gt;Facebook&lt;/a&gt;, &lt;a target=&quot;new&quot; href=&quot;http://youtube.com/&quot;&gt;Youtube&lt;/a&gt; serta blog. &lt;a target=&quot;new&quot; href=&quot;http://digg.com/&quot;&gt;Digg.com&lt;/a&gt; yang berbasis pada kontribusi anggota (&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;citizen journalism&lt;/span&gt;) trafiknya mengalahkan New York Times. Di Indonesia, situs yang paling banyak diklik juga bukan Detik.com sebagaimana dipahami banyak orang, melainkan &lt;a target=&quot;new&quot; href=&quot;http://kaskus.us/&quot;&gt;Kaskus.us&lt;/a&gt;--yang notabene juga berbasis &#39;citizen journalism&#39;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, situs-situs web bukan hanya menempatkan pengunjungnya sebagai pembaca/reader tetapi juga melibatkannya sebagai content provider/writer. Istilah pembaca/reader pun bergeser menjadi pengguna/user. Dan inilah model yang berlaku dalam dunia Friendster, Facebook, blog atau Youtube--yang dalam dunia internet disebut konsep Web 2.0.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan era Web 1.0 yang pernah mengalami kejatuhan, Web 2.0 boleh dikata kian eksis. Tiap tahun, pengguna Friendster, Facebook, Youtube atau blogger terus meningkat. Internet kini dipenuhi berbagai macam profil, foto, tulisan, lagu atau video dari para warga dunia maya. Mereka semua menyumbangkan gagasannya, karyanya--dan juga &#39;kenakalan&#39;-nya via world wide web. Sampai-sampai, majalah TIME edisisi 2006 menobatkan kamu, yaa.. sekali lagi kamu (YOU) sebagai &lt;a target=&quot;new&quot; href=&quot;http://www.time.com/time/magazine/article/0,9171,1569514,00.html&quot;&gt;Person of the Year&lt;/a&gt;--sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, apakah kamu ingin berbagung dengan komunitas YOU yang dinobatkan TIME sebagai Person of the Year? Jika iya, segera gabung di Friendster, Facebook, blog atau Youtube, dan upload karya-karya kamu di sana. Saat ini adalah era di mana network adalah pilihan yang paling masuk akal agar kita bisa ikut membentuk dan mempengaruhi dunia. &quot;Network or die,&quot; demikian tulis Businessweek dalam salah satu laporannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Savic Alielha
StreetWise Advisory Group&lt;/div&gt;</description><link>http://savicali.blogspot.com/2008/08/network-effect.html</link><author>noreply@blogger.com (savic)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhXxdR3Ebm59-bFowILHifgzYDMqQRqAwvbcdedzd2x2A0gpG8cyQ-a5hk8cysD5QIZvGkxQtC31JhZ1YaCFQKQ1DrWuMoPTisgnWtcMUOPjwM-Q6XOl0HxpiNgae6Vab27uNP3eMRNw9U/s72-c/network_effect.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129.post-7408261048472588716</guid><pubDate>Mon, 18 Aug 2008 06:15:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-08-18T14:03:36.738+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">esei</category><title>get up, stand up</title><description>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgLwZWkqSwpSs1cMwlUzZPKqoOmeJLpYWDvJc4JQHkr-YQPHizvHI46n_kRBG-n6A-XhE6pwJrfzk006pbgAP9__XNoI8sxti-Z0c2EHhq3KZr0mDoGSjvu5ksNn1OnvfYVkDgKHRj8orM/s1600-h/kembangapi.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgLwZWkqSwpSs1cMwlUzZPKqoOmeJLpYWDvJc4JQHkr-YQPHizvHI46n_kRBG-n6A-XhE6pwJrfzk006pbgAP9__XNoI8sxti-Z0c2EHhq3KZr0mDoGSjvu5ksNn1OnvfYVkDgKHRj8orM/s320/kembangapi.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5235749783972452994&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17 Agustus 1945. 63 tahun yang lalu, &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;founding fathers&lt;/span&gt; kita lewat Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan negeri ini. Dan seperti biasa, ultah kemerdekaan selalu dirayakan dengan berbagai cara: lomba, pagelaran, diskusi dan seterusnya. Aku sendiri menghabiskan malam 17-an dengan cara nonton pagelaran band Reggae di Taman Ismail Marzuki (TIM). Ada banyak band yang tampil, kurang lebih belasan.&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;Namun di tengah semaraknya perayaan ultah kemerdekaan yang selalu berlangsung tiap tahun itu, tidak ada salahnya berefleksi sedikit. Apakah setelah 1945 kita memang sudah merdeka? Secara legal iya, tapi secara substansial sepertinya belum. Karena paska 45, masih banyak penindasan dan penjajahan yang menimpa bangsa ini. Baik oleh bangsa asing asing atau bangsa sendiri, baik oleh kapitalis asing maupun kapitalis pribumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga saat ini, sebagian besar bangsa Indonesia masih terjerat dalam kemiskinan. Padahal kemerdekaan semestinya juga berarti kebebasan ekonomi atau kebebasan finsial (financial freedom) -- menurut penulis buku Rich Dad Poor Dad Robert Kiyosaki. Merdeka seharusnya berarti berdaulat bukan hanya secara politik, tetapi juga ekonomi--bahkan budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara sampai saat ini, kita boleh dikata belum berdaulat secara ekonomi. Lihat saja. Selain miskin, aset-aset bangsa ini juga banyak dikuasai asing. Freeport contohnya. Meski beroperasi di Indonesia dan mengeruk hasil bumi Indonesia, tapi ia bukan milik kita. Kita memang punya saham di sana, tapi hanya 9.28 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau jika kita pengguna telpon seluler, harap diketahui bahwa sebagian besar uang yang kita bayarkan selama menggunakan jasa seluler juga tidak masuk ke kantong pemerintah atau bangsa Indonesia. Karena perusahaan-poerusahaan seluler sahamnya dikuasai bukan oleh Indonesia. Telkomsel mislnya. 35% sahamnya dikuasai Singtel Singapore. Trus Indosat, 40.8% dimiliki QTel Qatar--setelah sebelumnya dimiliki Singtel juga. Sementara Excelcomindo, praktis asing semua, di mana 83.8% dikuasai Indocel Holding Malaysia serta 16% milik Emirates.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses pembangunan infrastruktur pun, tender-tender telekomunikasi selalu dimenangkan asing:  Ericsson, Nokia-Siemens, Alcatel-Lucent, Huawei dan beberapa lagi yang lain. Menurut majalah T&amp;amp;T, dari anggaran belanja telekomunikasi yang pada tahun 2008 mencapai Rp 41 trilyun, yang dinikmati pemain lokal tidak sampai 1 persen. Ironis bukan? Seperti zaman VOC, hasil bumi dan uang kita disedot dan &#39;disumbangkan&#39; kepada negara-negara yang sudah jauh lebih makmur dari kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu sampai kapan ini berlangsung? Kita tidak tahu. Sampai para pemimpin negeri ini menyadarinya dan berbuat sesuatu untuk mengatasinya. Dan agar para pemimpin menyadarinya, kita warga negara harus tidak boleh berhenti untuk berteriak membangunkannya. Seperti kata Bob Marley dalam salah satu lagunya yang dinyanyikan oleh salah satu band yang manggung di TIM,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Get up, stand up&lt;br /&gt;Stand up for your right&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Savic Alielha
StreetWise Advisory Group&lt;/div&gt;</description><link>http://savicali.blogspot.com/2008/08/get-up-stand-up.html</link><author>noreply@blogger.com (savic)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgLwZWkqSwpSs1cMwlUzZPKqoOmeJLpYWDvJc4JQHkr-YQPHizvHI46n_kRBG-n6A-XhE6pwJrfzk006pbgAP9__XNoI8sxti-Z0c2EHhq3KZr0mDoGSjvu5ksNn1OnvfYVkDgKHRj8orM/s72-c/kembangapi.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129.post-3761766790447202300</guid><pubDate>Mon, 11 Aug 2008 03:25:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-08-11T11:31:01.197+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">esei</category><title>alexander solzhenitsyn</title><description>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgfPmwIlv9jG9f9WRb0_hWp9rcbB6WeJ0lIClKVoLShWNfFuhUXkHDPR8Q1WVdUApQznhQ2OKcEFj6gQ2JzJdkDBvnG0htFmFKOnY17CUaSTimLa_sTD6FaKnytAUI-ZMVgZTzf1iWicM8/s1600-h/alex_solz.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgfPmwIlv9jG9f9WRb0_hWp9rcbB6WeJ0lIClKVoLShWNfFuhUXkHDPR8Q1WVdUApQznhQ2OKcEFj6gQ2JzJdkDBvnG0htFmFKOnY17CUaSTimLa_sTD6FaKnytAUI-ZMVgZTzf1iWicM8/s320/alex_solz.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5233107836042413442&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia seorang komunis. Tapi diusir oleh penguasa komunis. Ia &#39;anti&#39; kapitalisme. Tapi selama bertahun-tahun harus hidup di negeri kaum kapitalis. Itulah Alexandre Solzhenitsyn, sastrawan besar Rusia, sang penulis &lt;a target=&quot;new&quot; style=&quot;font-weight: bold; font-style: italic;&quot; href=&quot;http://khatulistiwa.net/khatulistiwa.php?c=0&amp;amp;p=1034&quot;&gt;The Gulag Archipelago&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;Ya, Solzhenitsyn adalah tokoh ikonoklastik. Ia pernah menolak penganugerahan Nobel--yang kelak ditiru Sartre. Ia dikenal &#39;sangat komunis&#39;, tapi dengan penuh keberanian mengkritik rezim komunis Stalin yang memang tidak manusiawi. Akibatnya, ia pun dijebloskan ke dalam penjara selama 8 tahun. Baru setelah Kruschev berkuasa, Solzhenitsyn dibebaskan. Namun keluar penjara tak lantas berarti kebebasan sepenuhnya. Karena dianggap bisa membahayakan lewat tulisan-tulisannya, tahun 1974 Solzhenitsyn dipaksa meninggalkan Rusia. Ia pergi ke Swiss, lalu ke Vermont Amerika Serikat hingga tahun 1994.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu kemaren, 3 Agustus 2008, sang penulis gagah berani itu meninggal. Dalam usianya yang ke-89. Dalam ucapan belasungkawanya, perdana menteri Rusia, Vladimir Putin, menyatakan bahwa kematian Solzhenitsyn adalah sebuah kehilangan besar bagi Rusia. &quot;Kita mengenang dia sebagai orang yang kuat, berani, dengan martabat luar biasa,” kata Putin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu Putin tidak melebih-lebihkan. Solzhenitsyn memang salah satu tokoh besar dalam sejarah Rusia. Lebih dari seorang sastrawan, ia adalah orang yang punya dedikasi terhadap negerinya, bangsanya--dan terutama kaum petaninya. &quot;He was not simply a writer, but a visionary who would mend Russia,&quot; kata &lt;a style=&quot;font-style: italic;&quot; target=&quot;new&quot; href=&quot;http://economist.com/&quot;&gt;The Economist&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Savic Alielha
StreetWise Advisory Group&lt;/div&gt;</description><link>http://savicali.blogspot.com/2008/08/alexandre-solzhenitsyn.html</link><author>noreply@blogger.com (savic)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgfPmwIlv9jG9f9WRb0_hWp9rcbB6WeJ0lIClKVoLShWNfFuhUXkHDPR8Q1WVdUApQznhQ2OKcEFj6gQ2JzJdkDBvnG0htFmFKOnY17CUaSTimLa_sTD6FaKnytAUI-ZMVgZTzf1iWicM8/s72-c/alex_solz.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129.post-7234634080703654546</guid><pubDate>Sat, 09 Aug 2008 08:42:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-08-09T16:28:10.228+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">esei</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">teknologi</category><title>cuil.com</title><description>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgjP8NdWz6TYhnESbqNKdvzgdsOhX1m856al7sSJOESkLIuOwryozEJAfgG9UTV7-vn8kyt6jq-VLMVpN_VSRXrsEscOCG8UUMtZxEfX7eu12wUdeuSUlK9f2sR0HSxUX1TDdaFL63oNfs/s1600-h/cuil.png&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgjP8NdWz6TYhnESbqNKdvzgdsOhX1m856al7sSJOESkLIuOwryozEJAfgG9UTV7-vn8kyt6jq-VLMVpN_VSRXrsEscOCG8UUMtZxEfX7eu12wUdeuSUlK9f2sR0HSxUX1TDdaFL63oNfs/s320/cuil.png&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5232436024596256290&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi mesin pencari (&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;search engine&lt;/span&gt;) telah lahir. Namanya lucu: &lt;a target=&quot;new&quot; href=&quot;http://cuil.com/&quot;&gt;cuil.com&lt;/a&gt; (baca: cool). Hal ini menambah daftar mesin pencari di dunia maya setelah Yahoo!, Google, MSN Search, Baidu dan beberapa lagi yang lain.&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;Dikembangkan oleh Anna Patterson, Russel Power dan Louis Monier yang ketiganya adalah mantan karyawan Google, Cuil mengklaim memiliki database web lebih banyak dari Google: 12O milyar halaman web. Ia--sekali lagi menurut klaimnya, sanggup melakukan search lebih banyak dari search engine mana pun. Dalam situsnya bahkan secara jelas para pendiri menyatakan kemampuan Cuil: three times as many as Google and ten times as many as Microsoft.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah benar demikian? Aku sendiri tidak tahu. Tapi yang jelas, kehadiran Cuil dengan klaimnya yang melebihi kemampuan Google telah memicu kepenasaranan yang luar biasa di kalangan penggemar teknologi. Sehingga belum sampai satu bulan dilaunching, ia sudah meraih jutaan kunjungan dan menduduki peringkat 5000-an berdasar Alexa.com--sesuatu yang sulit dicapai oleh situs lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan Google, Cuil menampilkan hasil pencariannya berdasar format layout tabloid--dengan keterangan situs yang lebih panjang. Sekilas desainnya memang lebih menarik ketimbang Google, namun menurutku kurang efektif. Karena mata dipaksa menyapu seluruh bidang monitor untuk melihat hasil pencarian, yang mana hal itu lebih melelahkan. Aku merasa tampilan pencarian Google tetap lebih enak dan efektif. Di sini aku menyadari kebenaran ucapan Craig Newmark, pendiri &lt;a target=&quot;new&quot; href=&quot;http://craigslist.org/&quot;&gt;Craiglist&lt;/a&gt;, bahwa simple and functional is beautiful.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apa pun, gut luck untuk Cuil--yang diambil dari sebuah kata Irlandia yang berarti pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Savic Alielha
StreetWise Advisory Group&lt;/div&gt;</description><link>http://savicali.blogspot.com/2008/08/cuilcom.html</link><author>noreply@blogger.com (savic)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgjP8NdWz6TYhnESbqNKdvzgdsOhX1m856al7sSJOESkLIuOwryozEJAfgG9UTV7-vn8kyt6jq-VLMVpN_VSRXrsEscOCG8UUMtZxEfX7eu12wUdeuSUlK9f2sR0HSxUX1TDdaFL63oNfs/s72-c/cuil.png" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129.post-6220600819514540243</guid><pubDate>Sat, 09 Aug 2008 06:14:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-10-26T23:39:08.943+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">esei</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">teknologi</category><title>google earth: sang mata malaikat</title><description>&quot;Get inside, get inside. Everyone can see you,&quot; teriak Marge Simpson ke suaminya, Homer Simpson, ketika ia menyadari bahwa orang-orang bisa melihat suaminya yang sedang telanjang di buaian tempat tidur gantung di luar rumahnya. Bukan melihatnya secara langsung, melainkan lewat Google Earth.&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;Yah, dengan Google Earth, kita memang bisa menyaksikan banyak belahan bumi. Entah itu Eropa, Amerika, Afrika atau Asia. Kita juga bisa menyaksikan kota-kota besar dunia: Paris, New York, London, Jakarta. Bahkan kita bisa menyaksikan atap dan halaman rumah kita, meski tidak sejelas Marge Simpson yang bisa melihat halaman rumah--beserta suaminya, karena itu hanya adegan dalam The Simpsons yang berbau sindiran--dan mengingatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita ceritakan kepada orang-orang tua kita bahwa kita bisa menyaksikan berbagai belahan dunia cukup dari dalam rumah saja, tentu mereka tidak akan percaya. Karena banyak orang tua yang pasti tidak sanggup membayangkannya. Tapi itulah yang terjadi. Dunia sudah berubah, dan banyak orang yang tidak menyadarinya. Dulu, orang-orang juga tidak bisa membayangkan bahwa mereka akan bisa bicara dengan orang yang ada di belahan bumi lainnya. Tiga dekade lalu pun, yang bisa bicara lintas benua lewat handphone sebagaimana sekarang hanya satuan-satuan khusus intelijen yang bisa dihitung jumlahnya. Namun kini, teknologi militer itu sudah bisa diakses siapa saja, termasuk kita--asal punya handphone dan sanggup membayar pulsanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kini, satu lagi teknologi intelijen yang bisa kita nikmati. Teknologi satelit Google Earth, sang mata malaikat (the eye of angel) yang bisa melayangkan pandangan ke seluruh dunia. Ketika aku mencobanya pertama kali beberapa bulan lalu untuk melihat Jakarta, aku sungguh terkejut luar biasa. Karena gambaran Jakarta terlihat cukup jelas hingga sungai dan jalan-jalannya. Monas, HI, istana, DPR, Plaza Senayan, semua tampak cukup nyata. Atap kantor Fresh Book pun bisa terlihat, meski dengan kejelasan yang kurang nyata. Sungguh kemajuan yang tak terbayangkan sebelumnya. Satelit militer Indonesia pun sepertinya tidak bisa melakukannya. Tengok saja kasus jatuhnya pesawat Adam Air yang hingga kini tidak ketahuan rongsokannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun itu belum cukup. Google Inc. yang memiliki Google Earth berencana akan membuat peta detil kota-kota di Amerika, lengkap dengan bangunan-bangunan dan pusat perbelanjaannya. Setelah itu, konsumen bisa mendaftar untuk mendapatkan account agar bisa jalan-jalan di kota quasi-real-nya Google. Tanpa perlu beranjak dari dalam rumah dan kamar, kita--lewat avatar yang kita kendalikan dari komputer, bisa bebas keluyuran ke mana-mana, ngopi dan nongkrong di taman-taman yang ada di sana. Bahkan kita juga bisa janjian ama teman yang juga punya account--dan avatar--untuk ketemu di sebuah tempat atau kafe maya yang ada. Kita bisa ngobrol dan berceng- krama layaknya ketika telpon atau chatting, dengan avatar kita tampak di layar komputer sedang duduk berhadapan laiknya dua makhluk yang sedang berkencan, namun menyeruput kopi yang ada di kamar masing-masing, hehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika itu benar terjadi, maka itu akan mengubah cara hidup manusia. Mungkin jalanan akan sepi, karena semua orang asyik di depan komputernya. Kafe-kafe akan kosong, karena semua cukup ngopi di warung maya. Deal-deal bisa diselesaikan di sana, karena kita bisa bicara dan avatar kita bisa bertatap muka. Bahkan kita juga bisa menggoda avatar-avatar yang berlalu-lalang di jalan-jalan maya, jika kita tertarik terhadap salah satunya. Tanpa diketahui siapa orang di balik avatar itu sesungguhnya. Sungguh benar-benar akan menjadi Second Life kita, karena kita bisa punya diri yang lain (other self) di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa bisa dielakkan, dunia nyata tampaknya memang akan mengalami pergeseran yang luar biasa dalam sepuluh tahun ke depan. Karena banyak hal yang bisa dipindahkan ke dunia maya. Dan setiap pergeseran, perubahan, selalu memiliki dua sisi mata uang yang berbeda. Satu sisi menggembirakan, satu sisi meng- khawatirkan. Seperti Google Earth. Ia membuat kita lebih mudah memahami belahan dunia kita, namun juga menyisakan persoalan privasi di dalamnya. Jika Google--lewat layanan gratisnya saja bisa melihat atap rumah kita, jalanan kita, tentu ia bisa melakukan lebih dari itu lewat teknologi yang disembunyikannya. Mungkin ia benar-benar bisa melihat kita secara nyata ketika sedang jalan-jalan, sedang olah raga di lapangan, sedang berenang di pantai dan seterusnya. Melihat apa pun yang kita lakukan di alam terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika demikian halnya, maka jangan pernah berfikir tentang privasi dan kebebasan. Boleh jadi ia sudah tidak ada. Karena Google Earth bisa melihat dan mematai-mati kita kapan saja, lewat mata malaikatnya. Sehingga tidak heran jika Edward Felten, pakar masalah privasi dari Princeton University mengatakan bahwa fenomena ini boleh jadi merupakan masalah paling problematis sepanjang masa. &quot;This presents perhaps the most difficult privacy issues in all of human history,” katanya, sebagaimana dikutip The Economist.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Savic Alielha
StreetWise Advisory Group&lt;/div&gt;</description><link>http://savicali.blogspot.com/2008/08/google-earth-sang-mata-malaikat.html</link><author>noreply@blogger.com (savic)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129.post-8478547856551941266</guid><pubDate>Sat, 09 Aug 2008 06:09:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-08-09T16:28:10.230+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">bisnis</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">esei</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">teknologi</category><title>silicon valley</title><description>&quot;Silicon Valley doesn&#39;t have better ideas and isn&#39;t smarter than the rest of the world, but it has the edge in filtering ideas and executing them,&quot; kata Sergey Brin, salah satu pendiri Google. Oleh karena itu, lanjut Brin, Silicon Valley mampu menyedot orang-orang kreatif untuk datang dan mempertaruhkan kemampuannya di sana.&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;Barangkali, apa yang dikatakan Brin memang benar. Silicon Valley memang pusat lahirnya temuan-temuan teknologi canggih dunia. Google bertempat di sana. Begitu juga Apple, YouTube, Intel, Yahoo!, Cisco, Adobe dan banyak lagi yang lainnya.  Tapi sesungguhnya ia &#39;mungkin&#39; bukan tempat bermukimnya ide-ide terbaik dunia. Karena ada banyak generasi di luar Silicon Valley atau di luar Amerika pada umumnya yang tampaknya tidak kalah cerdas dan briliannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat saja Cina. Generasi Cina yang melek dan jago komputer tumbuh luar biasa. Di Cina ada Baidu.com, situs mesin pencari yang popularitasnya di Cina mengalahkan Google--yang merupakan satu-satunya kasus di dunia. Atau Indonesia. Anak-anak negeri ini mampu membuat IGOS (Indonesia Go Open Source), seperangkat software &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;open source&lt;/span&gt; berbasis Linux yang tak kalah canggih dari temuan teknologi dunia. Dan baru-baru ini dikabarkan bahwa generasi kita juga sedang menyempurnakan WiMax versi Indonesia--teknologi komunikasi dan internet yang lebih canggih&lt;br /&gt;dari 3G.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kenapa yang sanggup berkembang dan mendunia masih saja temuan-temuan dan produk-produk yang dihasilkan anak-anak Silicon Valley?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak penjelasan di sana. Silicon Valley yang berada di kawasan pantai bagian utara California itu boleh dikata merupakan inkubator terbaik dunia. Di sana ada Stanford Univeristy, yang berperan besar dalam melahirkan generasi cerdas dan kreatif Amerika. Sergey Brin dan Larry Page adalah lulusan sana. Di sana juga banyak perusahaan terkemuka yang siap menampung dan memberikan ruang eksperimentasi anak-anak muda. Dan buat mereka yang enggan bergabung dengan perusahaan-perusahaan yang ada dan memilih membangun bisnisnya sendiri, di sana ada cukup banyak perusahaan modal ventura yang siap mengucurkan dana buat ide-ide brilian mereka. Dan lebih dari itu, jaringan kreatif dan bisnis di sana sudah tercipta dan melembaga. Itulah yang tidak ada di belahan lain dunia, di tempat lain--termasuk Jakarta, Bandung, Jogja atau kota-kota lain di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah ide bisa tumbuh dan mengemuka jika mendapat lingkungan yang mendukung dan memadai. Jika tidak, ia akan bernasib seperti benih bagus yang tersemai di tanah gersang. Ia tidak akan bisa tumbuh dengan semestinya. Atau bahkan mungkin mati. Ada banyak anak cerdas dan kreatif di Indonesia--di mana aku berharap bisa selalu bekerja dengan mereka--yang pada akhirnya frustasi karena gagasannya tidak mendapatkan peluang dan kemungkinan untuk tumbuh. Akhirnya mereka pun menyerah, memilih hidup sebagaimana orang pada umumnya, ketimbang menggawangi ide cerdas mereka agar menjadi kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jika sudah begini persoalannya, maka itu kembali pada pemerintahannya. Jika pemerintah sanggup melahirkan kebijakan yang memungkinkan lingkungan seperti Silicon Valley tercipta, maka sebuah kota atau sebuah negara mungkin akan sanggup melahirkan generasi cerdas dan kreatif seperti Amerika. Bagaimana dengan Indonesia? Anda bisa menjawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Savic Alielha
StreetWise Advisory Group&lt;/div&gt;</description><link>http://savicali.blogspot.com/2008/08/silicon-valley.html</link><author>noreply@blogger.com (savic)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129.post-7642140290927485461</guid><pubDate>Tue, 05 Aug 2008 17:03:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-08-06T00:10:42.033+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">bisnis</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">esei</category><title>butterfly effect</title><description>Tremors in one place can now cause trouble everywhere. Demikian diktum teori chaos. Hukum ini juga sering disebut dengan efek kupu-kupu, dengan tesisnya yang berbunyi, &quot;Kepak sayap kupu-kupu di Afrika bisa mengakibatkan tornado di New York.&quot;&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;Efek kupu-kupu atau butterfly effect pada adasarnya adalah pemikiran yang menyatakan bahwa sesuatu yang kecil, sepele, remeh-temeh, seringkali bisa memiliki dampak yang luar biasa di tempat lain, di waktu yang berbeda. Sejumlah trend seringkali muncul dari hal hal-hal yang &#39;sepele&#39;. Coba baca &lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Tipping Point&lt;/span&gt;. Di mana segerombolan anak-anak penggemar skateboard bisa membuat sepatu yang old-fashioned menjadi terkenal dan digemari kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Savic Alielha
StreetWise Advisory Group&lt;/div&gt;</description><link>http://savicali.blogspot.com/2008/08/tremors-in-one-place-can-now-cause.html</link><author>noreply@blogger.com (savic)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129.post-3645315431293694602</guid><pubDate>Wed, 11 Jun 2008 02:08:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-06-11T09:11:14.989+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">politik</category><title>triliunan aset negara bisa raib</title><description>&lt;p&gt;Jakarta, Kompas, 10 Juni 2008&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK mengkhawatirkan ratusan, bahkan ribuan, triliun rupiah aset negara akan raib bila tidak segera dibenahi. Wakil Ketua KPK Haryono Umar menyampaikan kekhawatiran itu dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat, Senin (9/6).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Setiap instansi, badan usaha milik negara (BUMN), dan pemerintah daerah memiliki aturan masing-masing yang memungkinkan penyalahgunaan aset negara,” ujar Haryono.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saat ditemui di sela rapat, Haryono mengatakan, aset Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) saja, yang semula dikuasai pihak asing, dari senilai Rp 225 triliun sekarang tinggal Rp 25 triliun.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada April lalu, KPK menemukan triliunan rupiah aset yang dibeli dari dana dekonsentrasi ternyata tidak jelas. Saat dicek KPK, aset negara itu bahkan sama sekali tidak tercatat di pemerintah pusat maupun daerah. Dana dekonsentrasi yang dialirkan pemerintah pusat ke daerah sangat besar setiap tahunnya, sekitar Rp 200 triliun.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut Haryono, banyak aset PT Perkebunan Nusantara pun tidak jelas. Dia mencontohkan, di perkebunan teh Gunung Mas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, banyak aset negara berupa tanah yang dikuasai pejabat dan masyarakat sehingga, selain merugikan negara, kini juga merusak lingkungan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Aset rumah dinas PT Kereta Api juga banyak yang dikuasai mantan pejabat. Data sementara, ada 41 rumah yang masing-masing nilainya Rp 8 miliar dikuasai mantan pejabat. Ada belasan ribu rumah dinas lain, yang ukurannya lebih kecil, juga dikuasai pihak luar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Berapa banyak total aset negara yang hilang, KPK belum bisa memastikan. Ini karena KPK baru konsentrasi pada persoalan aset negara ini beberapa bulan belakangan, yaitu di 11 kementerian, 10 BUMN, dan satu pemerintah daerah. Total aset yang ditangani Departemen Keuangan (pemerintah pusat) sekitar Rp 1.200 triliun. Selain itu, masih ada yang ditangani Kementerian Negara BUMN.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Kalau dibiarkan, ratusan triliun, bahkan seribuan triliun aset itu bisa hilang,” kata Haryono.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;KPK jangan eforia&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam rapat dengar pendapat, tidak banyak anggota Komisi III yang memberi tanggapan terkait keberadaan aset negara itu. Fahri Hamzah dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera justru meminta KPK tak menangani persoalan itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Kami menghormati kepercayaan masyarakat yang tinggi pada KPK. Namun, KPK jangan eforia. Jangan semua ditangani. Ada lembaga lain yang berwenang, yaitu Depkeu,” kata Fahri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Anggota Dewan juga lebih banyak mempersoalkan pemeriksaan KPK dalam pesta pernikahan keluarga pejabat negara, terkait gratifikasi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Willa Candrawila dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, misalnya, menilai KPK berlebihan karena, sesuai UU, seharusnya lembaga itu bersifat pasif. Ia juga khawatir gerakan itu hanya dilakukan KPK pada pejabat negara tertentu dan bisa dijadikan alat kampanye. (sut)&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Savic Alielha
StreetWise Advisory Group&lt;/div&gt;</description><link>http://savicali.blogspot.com/2008/06/triliunan-aset-negara-bisa-raib.html</link><author>noreply@blogger.com (savic)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129.post-8930405436741259884</guid><pubDate>Mon, 02 Jun 2008 10:52:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-13T10:50:45.521+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">politik</category><title>munarman yang sudah berubah</title><description>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi5tVRLqi20BfRv3wKjhv6tWz_aqUBSAEEcdZJa9KGhuWD76vJYahwTNnQQJyRg6hXeTMXsxqclO9rwxna106qtVdEuamDYJjkKAzlt_U1JeZ2NZsUHMkI-vODkOF13Ki1tESOXchFDiHA/s1600-h/munarman.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi5tVRLqi20BfRv3wKjhv6tWz_aqUBSAEEcdZJa9KGhuWD76vJYahwTNnQQJyRg6hXeTMXsxqclO9rwxna106qtVdEuamDYJjkKAzlt_U1JeZ2NZsUHMkI-vODkOF13Ki1tESOXchFDiHA/s320/munarman.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5207237501285401666&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam aksi memperingati hari lahirnya Pancasila 1 Juni kemaren, Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKK-BB) diserang oleh laskar Front Pembela Islam (FPI). Dan dalam rombongan FPI ada Munarman, mantan Direktur Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) yang sekarang anggota Hizbut Tahrir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku cukup mengenal Munarman, dan sebelum dia mundur dari YLBHI aku sempet ngobrol banyak dengannya. Waktu itu sepertinya dia masih &#39;baik-baik&#39; saja, masih &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;wise&lt;/span&gt;. Padahal waktu itu dia sudah dekat dengan Hizbut Tahrir. Tapi melihat fotonya di detik.com, aku sungguh terkejut. Karena dia bukan hanya ikut dalam aksi, tapi juga ikut melakukan penyerangan--yang menimbulkan 20-an orang terluka. Dan yang lebih gila, dalam foto yang dirilis AKK-BB, terlihat Munarman dengan wajah bengis sedang mencekik seorang demonstran AKK-BB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh aku tidak percaya. Memang semua orang berubah, everybody change. Tapi aku gak menyangka Munarman berubah sedrastis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Ralat:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tapi setelah foto itu dirilis beberapa media, Munarman klarifikasi. Ia menyatakan bahwa orang berpakaian hitam-hitam yang ia cekik bukan demonstran AKK-BB, melainkan anak buahnya sendiri. Ia bermaksud mengendalikan sang anak buah agar tidak anarkis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukurlah. Terlepas dari penyerbuan yang mesti dikecam, Munarman yang aku kenal ternyata belum semengerikan yang aku bayangkan. Sehabis liat foto aku sempet mengirim sms yang berbunyi: &quot;Pak, aku liat foto sampeyan sedang mencekik seseorang. Bagaimana bisa begitu?&quot; Tapi ia tidak menjawabnya.&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Savic Alielha
StreetWise Advisory Group&lt;/div&gt;</description><link>http://savicali.blogspot.com/2008/06/munarman-yang-sudah-berubah.html</link><author>noreply@blogger.com (savic)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi5tVRLqi20BfRv3wKjhv6tWz_aqUBSAEEcdZJa9KGhuWD76vJYahwTNnQQJyRg6hXeTMXsxqclO9rwxna106qtVdEuamDYJjkKAzlt_U1JeZ2NZsUHMkI-vODkOF13Ki1tESOXchFDiHA/s72-c/munarman.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129.post-6811943064799510033</guid><pubDate>Tue, 27 May 2008 01:19:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-05-27T08:52:33.478+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">politik</category><title>bbm naik, rakyat ngedumel</title><description>Akhirnya bbm naik. Dan rakyat hanya ngedumel. Sekali lagi hanya ngedumel. Kenyataan ini menjelaskan kenapa kita dulu dijajah Belanda hingga 350 tahun dan Orde Baru hingga 32 tahun. Yakni karena rakyat tidak punya mental perlawanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali, karena tahu rakyat paling hanya &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;ngedumel&lt;/span&gt; itulah yang membuat pemerintah berani menaikkan BBM. Hanya beberapa kelompok kecil mahasiswa dan buruh yang demo. Itupun tidak kunjung membesar. Bahkan oleh aparat, demo di kampus Unas digasak habis sampai ke dalam kampus. Persis jaman-jaman Orde Baru. Ya, tampaknya pelan-pelan kita memang bergeser kembali ke era kekerasan dan otoritarian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah, sepertinya kembali menggunakan pendekatan keamanan (&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;security approach&lt;/span&gt;) dalam menangani demonstrasi. Dan lebih dari itu, mereka bukan sekedar ingin mengamankan, tetapi sudah dipenuhi hasrat kekerasan dan penganiayaan. Sehingga tidak cukup dengan memblokade sebuah aksi tetapi penting untuk menggasaknya, menangkap dan menghajar demonstrannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hal ini terus berlanjut, maka lengkap sudah pemerintahan kali ini. Tidak bisa menciptakan lapangan pekerjaan, &#39;memprovokasi&#39; naiknya harga-harga komoditas pokok, membuat sekolah dan kuliah mahalnya minta ampun--tetapi wakil presiden dan menko kesranya memanfaatkan kekuasaan untuk terus memperkaya diri, ditambah lagi mengembalikan pendekatan kekerasan dalam kamus politik kekuasaan.&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Savic Alielha
StreetWise Advisory Group&lt;/div&gt;</description><link>http://savicali.blogspot.com/2008/05/akhirnya-bbm-naik.html</link><author>noreply@blogger.com (savic)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129.post-3847030138197281683</guid><pubDate>Tue, 20 May 2008 10:13:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-05-20T17:18:02.130+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">politik</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">soliloqui</category><title>serasa hidup di era orde baru</title><description>Hari ini aku serasa hidup di era Orde Baru. Gara-garanya aku menyaksikan SBY ditayangkan semua TV, berpidato tentang kebangkitan nasional layaknya Soeharto jaman dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, sejak Soeharto jatuh, rasa-rasanya belum pernah semua stasiun TV menayangkan pidato presiden secara bersamaan. Ato gw yang jarang nonton TV ya? Ah, kagak. Pengalaman hari ini benar-benar membuatku serasa hidup di era Orde Baru. Karena ke manapun aku memindahkan channel, yang ada hanya pidato presiden--yang tidak kunjung bisa membangkitkan negeri ini.&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Savic Alielha
StreetWise Advisory Group&lt;/div&gt;</description><link>http://savicali.blogspot.com/2008/05/serasa-hidup-di-era-orde-baru.html</link><author>noreply@blogger.com (savic)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129.post-7447351539707652473</guid><pubDate>Fri, 16 May 2008 01:44:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-05-17T11:16:27.614+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">soliloqui</category><title>me in sosok kompas</title><description>Setelah &lt;span style=&quot;font-style: italic; font-weight: bold;&quot;&gt;Koran Tempo&lt;/span&gt;, giliran &lt;a target=&quot;_blank&quot; href=&quot;http://www.kompas.com/kompascetak.php/read/xml/2008/05/16/00271386/syafiq.dan.mimpi.keberagaman&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic; font-weight: bold;&quot;&gt;Kompas&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; yang memuat profile-ku.&lt;br /&gt;Kali ini lebih istimewa, karena dimuat dalam rubrik &lt;a target=&quot;_blank&quot; style=&quot;font-style: italic;&quot; href=&quot;http://www.kompas.com/kompascetak.php/read/xml/2008/05/16/00271386/syafiq.dan.mimpi.keberagaman&quot;&gt;Sosok&lt;/a&gt; yang menempati separo halaman 16. Selain itu, beberapa komentarku terkait reformasi juga dikutip di feature &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;&quot;&lt;a target=&quot;_blank&quot; href=&quot;http://www.kompas.com/kompascetak.php/read/xml/2008/05/16/01510445/repormasi.apaan.sik&quot;&gt;Repormasi&quot; Apa&#39;an Sik?&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; di halaman depan serta rubrik &lt;a target=&quot;_blank&quot; href=&quot;http://www.kompas.com/kompascetak.php/read/xml/2008/05/16/01084377/merawat.harapan.demokrasi&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Fokus&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak hal yang kami perbincangkan ketika wawancara. Paling banyak tentang kondisi setelah 10 tahun Soeharto turun, apa yang aku lakukan sekarang, serta mimpi-mimpiku terkait Indonesia ke depan. Tapi yang diambil dan ditonjolkan oleh Kompas justru asal-usul frame-ku tentang pluralisme, kebhinekaan dan agama lain, yang dalam perbincangan justru tidak terlalu banyak aku &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;explore&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan itu tak ubahnya kisah bagaimana seorang santri tradisional bermetamorfosis menjadi aktivis yang berpandangan pluralis. Tak ada aura militansi di sana. Juga radikalitas. Atau kiri. Ketika ditanya terkait keprihatinan terbesarku terkait Indonesia, aku menjawab dua hal: tendensi fundamentalisme religius dan dominannya fundamentalisme pasar/kapital. Tapi yang dikutip hanya keprihatinanku terhadap fundamentalisme religus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi terlepas dari apa pun, tulisan itu berharga. Karena &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;angle&lt;/span&gt; pluralisme yang diambil mungkin bisa mengajarkan bangsa Indonesia agar tidak mudah mengidap paranoia terhadap umat agama lain--sesuatu yang masih marak hingga hari ini. Dan lebih dari segalanya, gw masuk rubrik khusus &lt;span style=&quot;font-weight: bold; font-style: italic;&quot;&gt;Kompas&lt;/span&gt;, dan &lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Fresh Book&lt;/span&gt; serta &lt;a style=&quot;font-weight: bold;&quot; href=&quot;http://khatulistiwa.net/&quot;&gt;Khatulistiwa Online&lt;/a&gt; dipromosiin gratis, huahuahua....&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Savic Alielha
StreetWise Advisory Group&lt;/div&gt;</description><link>http://savicali.blogspot.com/2008/05/me-in-sosok-kompas.html</link><author>noreply@blogger.com (savic)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129.post-6742878650700654251</guid><pubDate>Tue, 13 May 2008 05:24:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-05-14T00:40:40.013+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">politik</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">soliloqui</category><title>dunia lain para komandan</title><description>Dunia Lain Para Komandan. Demikian judul laporan &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Koran Tempo&lt;/span&gt; edisi 10 tahun reformasi, Senin, 12 Mei 2008, perihal kehidupan mantan-mantan aktivis &#39;98. Ada beberapa aktivis yang dimuat profilnya dalam laporan khusus tersebut, yaitu Alex, Kokom, Adian, Sarbini dan gue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang istimewa dalam laporan tersebut. Tapi justru memang di situlah tujuan Tempo. Ia tidak ingin melaporkan hal-hal yang heroik dan istimewa. Ia ingin menampilkan aktivis sebagaimana adanya. Bahwa aktivis juga manusia, yang tidak melulu pergerakan dan politik tapi juga cari makan, bekerja dan seterusnya sebagaimana orang pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari lima orang yang diprofilin, Adian dan Sarbini adalah yang masih aktif di politik. Adian di PDIP, Sarbini menjadi asisten Sarwono Kusumatmadja.  Sementara Alex dan Kokom murni kerja. Alex bisnis, Kokom karyawan profesional. Sementara gw? Separo aktifis separo pebisnis, hahaha...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi laporan Tempo hanya sebagian kecil menyingkap realitas para mantan aktivis &#39;98. Ada banyak realitas lain yang tidak diungkap--&lt;br /&gt;karena keterbatasan perspektif dan juga halaman. Ada aktivis yang total menjadi politisi di DPR, seperti Rama Pratama mantan Ketua Senat UI &#39;98. Namun ada juga yang sama sekali tidak lagi berurusan ama politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara ekonomi, aktivis juga beragam. Ada yang sudah punya rumah besar dan mobil mewah (Mercy, Audi dan BMW), dan ada yang masih ngekos dan naik angkot. Bahkan tidak sedikit yang masih bergelut dengan urusan perut. Ironis memang. Ada banyak orang yang mengalami mobilitas vertikal (menjadi politisi dan orang kaya baru) karena reformasi, tapi para pelaku sendiri tidak sedikit yang terperangkap dalam masa depan yang tidak pasti. Dan mereka-mereka inilah yang jarang dilihat masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat tahunya hanya aktivis-aktivis yang sudah jadi politisi, dan dari realitas kecil itu mereka menganggap bahwa aktivis &#39;98 tidak ada bedanya sama politisi-politisi yang lebih tua. Sama-sama korup dan haus kekuasaan.  Aku sendiri sering mendengar cibiran tentang aktivis &#39;98. Sebuah generalisasi yang sering menyesakkan. Tapi ya mau apa lagi. Karena memang mereka tidak tahu bahwa dari ribuan mahasiswa yang ikut aksi &#39;98, sebagian besar masih terpuruk dalam kesulitan dan ketiadaan.&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Savic Alielha
StreetWise Advisory Group&lt;/div&gt;</description><link>http://savicali.blogspot.com/2008/05/dunia-lain-para-komandan.html</link><author>noreply@blogger.com (savic)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129.post-4220714481169222086</guid><pubDate>Thu, 08 May 2008 02:27:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-05-13T13:09:16.001+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">politik</category><title>mengkambinghitamkan subsidi bbm</title><description>BBM akan naik. Rakyat pun mesti siap mengarungi kehidupan yang lebih berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sebelumnya beberapa kali menyatakan tidak akan menaikkan BBM, minggu kemaren SBY menarik omongannya. BBM akan dinaikkan, hanya besarannya yang masih diperhitungkan. Alasannya harga minyak menembus angka $120 per barel dan cenderung masih akan naik terus. Kalo BBM tidak dinaikkan, APBN akan jebol. Karena subsidi bisa mencapai angka 200 triliun. Padahal APBN kita hanya 890-an triliun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;APBN jebol? Mungkin. APBN defisit? Sudah dari kemaren. Dan semua juga sudah tahu. Semua sudah tahu bahwa APBN kita defisit. Semua juga sudah tahu bahwa harga minyak dan pangan dunia cenderung naik, yang bisa membuat APBN Indonesia dalam bahaya. Tapi apa lantas semua itu mensahkan pemerintah untuk menaikkan BBM? Tidak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa? Karena pemerintah nyaris tidak berbuat &#39;apa pun&#39; untuk mengatasi defisit APBN. Ada banyak sumber pemasukan yang mamsih bisa dikejar, tetapi pemerintah tidak melakukannya. Pemerintah lebih memilih menisbahkan kesalahan pada subsidi.  Padahal sudah menjadi tanggungjawab negara untuk mensubsidi rakyatnya apabila rakyat masih tidak mampu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama 4 tahun berkuasa, kita tidak melihat pemerintah berbuat semestinya untuk meningkatkan ekonomi atau memecahkan masalah defisit APBN. Mereka selalu mengikuti apa yang sarankan IMF: deregulasi ekonomi, privatisasi aset negara, membuat undang-undang yang pro-modal, dan sejenisnya. Beberapa kali kita juga mendengar pejabat DPR meminta kenaikan tunjangan dan gaji, korupsi yang masih merebak di sana-sini, gaya hidup pejabat yang melebihi pemimpin negara maju, atau pejabat BI yang uang saku kunjungannya mencapai ribuan dolar per hari. Singkatnya, mereka menghamburkan uang negara (APBN) yang sudah defisit itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itulah pejabat kita, negeri kita. Sekarang persoalannya adalah kita menghadapi fakta yang tidak bisa dielakkan. Minyak yang menembus angka $120 per barel. Apa yang mesti diperbuat? Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan. &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Pertama&lt;/span&gt; adalah meningkatkan pemasukan pajak. Dalam APBNP, penerimaan pajak ditargetkan Rp 609,2 triliun. Semestinya, penerimaan pajak bisa lebih dari itu. Ada banyak potensi penerimaan pajak yang masih bisa kejar. Buktinya, dalam proses revisi dari APBN  ke APBNP, ada tambahan Rp 9 triliun yang tiba-tiba masuk, yakni dari penerimaan pajak penghasilan (PPh). Ini aneh. Jika memang ada Rp 9 triliun yang semestinya ada, mengapa ia tidak dimasukkan dalam rancangan APBN dan baru dimasukkan ketika APBNP? Seolah ada upaya pemerintah untuk menyembunyikan potensi pemasukan. Entah untuk tujuan apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu, meningkatkan pemasukan pajak baru bisa dilakukan jika departemen perpajakan relatif bersih dan bisa diandalkan. Sementara umum diketahui bahwa departemen pajak adalah sarang siluman yang paling sulit didikte dan diawasi. Bahkan BPK pun tidak sanggup mengauditnya. Dalam konteks ini dibutuhkan komitmen dan ketegasan SBY dalam upaya mereformasi departemen pajak, bukan semata untuk kepentingan jangka pendek mengejar pemasukan 2008, tetapi untuk membangun fondasi peningkatan pemasukan pajak di masa yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, maksimalisasi pajak juga bisa dilakukan dengan bertindak tegas terhadap para pengemplang pajak. Ada banyak pengusaha kelas kakap pengemplang pajak di negeri ini, yang jika orang-orang seperti itu dikejar dan ditindak tegas, maka pemasukan negara dari pajak akan meningkat. Tapi apa yang dilakukan pemerintah Indonesia? Nyaris tidak ada pengusaha pengemplang pajak yang ditangkap. Misalnya Sukanto Tanoto, pemilik Asian Agri yang disinyalir mengemplang pajak lebih dari Rp 1 triliun. Alih-alih bertindak tegas terhadap para pengusaha seperti Sukanto Tanoto, penguasa di negeri ini memilih &#39;menginjak kaki&#39; sang pengusaha agar setor ke kantong pribadi atau kelompok--demi pembiayaan politiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusia adalah contoh yang baik dalam soal ini. Begitu Putin berkuasa, yang dilakukan pertama kali adalah memburu dan menangkap para pengusaha yang dianggap memanfaatkan situasi krisis 1998-2000 untuk memperkaya diri. Salah satu yang ditangkap adalah bos perusahaan minyak kedua terbesar di Rusia, Yukos, Mikhael Khodorkovsky. Khodorkovsky ditangkap dengan tuduhan melakukan penggelapan pajak, sebuah tindakan yang lazim di kalangan pengusaha Rusia--dan juga Indonesia, dan kemudian Yukos-nya diambil alih pemerintah. Dengan kata lain, Rusia berusaha menasionalisasi aset-aset pengusaha korup--yang oleh Putin disebut sebagai &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;oligarch&lt;/span&gt; atau orang-orang yang menggunakan kekuasaan untuk memupuk kepentingan dan kekayaan pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia, jika memang presidennya punya nyali, tentu bisa melakukan hal ini. Ada terlalu banyak pengusaha bermasalah di negeri ini, dan bukan hal yang sulit untuk membuktikan kejahatan mereka. Tapi problemnya SBY bukan Putin. Meski ia sama-sama tentara. Putin berani menghadapi para pengusaha yang berkuasa atas uang tersebut, sementara SBY memilih berdamai--dengan harapan sang pengusaha mendukung tujuan-tujuan politiknya. Padahal jika itu dilakukan, akan ada peningkatan yang signifikan dalam pemasukan APBN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;kedua&lt;/span&gt; selain maksimalisasi pajak adalah efisiensi anggaran. Belanja negara dalam APBNP 2008 sebesar Rp 696,7 untuk pemerintah pusat dan Rp 292,6 untuk belanja daerah. Saat ini, pemerintah sudah berusaha melakukan efisiensi dengan cara memangkas 15 persen anggaran sejumlah departemen--yang menimbulkan banyak komplain pejabat yang bersangnkutan. Namun itu belum cukup. Efisiensi masih bisa ditekan hingga 20-25 persen, karena disinyalir sebagian anggaran selama ini tidak tepat sasaran dan dikorupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pemerintah selalu menuntut rakyat untuk mengetatkan ikat pinggang, maka mereka juga mesti melakukannya. Karena apa? Karena perilaku pejabat kita tidak mencerminkan bahwa negeri ini sedang menghadapi kebangkrutan. Mereka tetap saja menuntut kenaikan gaji, tunjangan ini-itu, studi banding kesana-kemari tanpa hasil dan sejenisnya. Berkali-kali pejabat menyatakan bahwa APBN kita defisit dan bisa jebol, tapi perilaku dan gaya hidup mereka tidak menunjukkan bahwa mereka peduli dengan hal itu. Mereka tetap saja menghambur-hamburkan uang--dan korupsi. Kita lihat saja. Hampir tidak ada APBD yang bebas dari pencurian. Bahkan dana untuk sekolah (pendidikan) pun dikorupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi sebelum pemerintah membebankan naiknya harga minyak dunia ke rakyat, sudah semestinya mereka membebankan itu pada dirinya sendiri. Dengan efisiensi dan keseriusan membangun pemerintahan yang bersih. Jika hal itu belum dilakukan, pemerintah tidak punya legitimasi moral untuk menaikkan BBM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;ketiga&lt;/span&gt; yang sesungguhnya bisa dilakukan untuk mengatasi defisit APBN adalah dengan memaksakan renegosiasi ulang kontrak-kontrak migas kita, sebagaimana dilakukan Rusia dan Venezuela. Sebagaimana kita tahu, kita masih memiliki sejumlah tambang yang bisa menghasilkan dolar. Tapi tambang-tambang dan sumur gas itu lebih banyak dikuasai asing. Ambil kasus Freeport. Saham kita di Freeport hanya 9,36 persen. Bayangkan. Kita yang memiliki lahan tersebut, tapi saham kepemilikan kita tidak lebih dari 10 persen. Sementara Freeport, perusahaan yang berbasis di Amerika dan sudah bercokol di Papua sejak 1967 itu, mengusasi 81.28 persen--dan akan menjadi 90.64 persen karena PT. Indocopper Investama selaku pemegam saham ketiga melepaskan sahamnya tahun kemaren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2007 kemaren, pemasukan Freeport ke Indonesia mencapai Rp 17 triliun, meliputi dividen, pajak dan sebagainya. Jika kepemilikan saham kita lebih dari 9.36 persen atau bisa menjadi mayoritas, maka bisa dibayangkan pemasukan kita dari Freeport bisa lebih dari Rp 20-an triliun. Itu baru Freeport. Belum perusahaan-perusahaan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pemerintah kita tidak punya nyali untuk melakukan renegosiasi kontrak. Padahal dalam perpanjangan kontrak Freeport 1991, disinyalir ada cacat hukum yang membuat kontrak bisa dibatalkan. Tapi tetap saja pemerintah tidak berani. Pemerintah tidak berani berhadapan dengan Amerika. Yang ironisnya kepengecutan itu dibungkus dengan argumen manis: kita tidak bisa melanggar kontrak yang sudah dibuat, dan jika kita melakukannya, kita akan kena sanksi di badan arbitrase internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Absurd. Tidak bisa melanggar kontrak. Padahal di sisi lain, pemerintah selalu melanggar kontrak yang ia bikin, yaitu janji-janji yang ia buat semasa pemilu. Dan apa benar pembatalan akan lebih merugikan kita karena sanksi arbitrase? Tidak juga. Rusia dan Venezuela contohnya. Rusia memaksakan renegosiasi dengan Shell, dan semua berjalan baik-baik saja. Venezuela juga. Upaya Venezuela untu memaksakan renegosiasi memang membuat Exxon Mobil dan ConocoPhilips hengkang dan mengajukannnya ke arbitrase interase internasional, tapi itu tidak cukup mempengaruhi ekonomi negara tersebut. Venezuela terbukti bangkit ekonominya, karena adanya peningkatan pemasukan dari migas. Rusia juga. Meski Indonesia berbeda dengan Rusia dan Venezuela, di mana kedua negara tersebut merupakan salah satu penghasil minyak dan gas terbesar di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski bukan merupakan negeri penghasil minyak, di mana &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;lifting&lt;/span&gt; minyak kita hanya 910 ribu barel per hari (di bawah standar OPEC), tapi kita adalah negara penghasil gas terbesar di Asia Tenggara. Seharusnya, seperti Rusia, kita bisa menghasilkan pemasukan yang signifikan dari pengelolaan ladang gas. Tapi alih-alih memaksimalkan pemasukan dari ladang minyak dan gas, kita justru menyerahkan aset-aset tersebut ke swasta, yang membuat negara kehilangan potensi pemasukan dalam jumlah miliaran dolar. Bahkan dalam posisi yang demikian, kita masih sering mendengar korupsi di Pertamina atau PLN, dua institusi yang paling banyak menerima dana subsidi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal keempat yang mestinya dilakukan untuk menyelamatkan APBN adalah penghapusan utang. Saat ini, utang Indonesia lebih dari Rp 1.300 triliun, dan cicilan bunga utang yang ditanggung APBN 2008 sebesar Rp 94 triliun. Jika pemerintah berani mengajukan penghapusan utang seperti yang dilakukan presiden Argentina Nestor Kirchner pada tahun 2005, niscaya APBN akan longgar. Argumen bahwa penghapuskan utang menurunkan kredibilitas Indonesia dan membuat investor lari tidak terbukti dalam kasus Argentina. Investasi di Argentina tetap jalan, dan anggaran mereka jauh lebih sehat, karena utang meraka terhapus Rp 600-an triliun. Dan untuk menghapus utang 600 triliun itu, Kirchner hanya bilang, &lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;“Kami tak sanggup lagi membayar utang.”&lt;/span&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Savic Alielha
StreetWise Advisory Group&lt;/div&gt;</description><link>http://savicali.blogspot.com/2008/05/mengkambinghitamkan-subsidi-bbm.html</link><author>noreply@blogger.com (savic)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129.post-1331493710491405852</guid><pubDate>Fri, 02 May 2008 02:49:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-05-02T15:42:12.766+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">politik</category><title>reformasi gagal?</title><description>Bulan Mei ini reformasi memasuki usia 10 tahun. Dan dalam dua hari kemaren, aku diminta mengisi diskusi di Kontras dan Sekolah Tinggi Agama Buddha, Nalanda. Dalam dua diskusi tersebut, banyak peserta menganggap reformasi gagal--pun demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak penjelasan kenapa reformasi dianggap gagal. Kemakmuran belum tercipta, pemerintahan yang bersih belum terwujud, penegakan hukum masih setengah-setengah, dan kekerasan masih terjadi di banyak tempat. Satu-satunya hal yang patut dibanggakan dari reformasi adalah adanya kebebasan yang lebih luas ketimbang jaman Orde Baru--baik kebebasan berpendapat, berorganisasi, berkumpul, berekspresi. Dulu, jaman Orde Baru, nyaris kebebasan yang seperti itu tidak ada. Kita bisa ditangkap hanya karena &quot;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;nggremengi&lt;/span&gt;&quot; (ngomongin buruk) pemerintah. Kita juga bisa ditangkap karena bikin diskusi atau seminar tanpa ijin. Mata-mata ada di mana-mana, bahkan tembok pun seolah punya telinga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun semua itu kini tinggal kenangan. Kita sekarang jauh lebih bebas. Buat mereka yang tidak mengeyam tirani masa Orde Baru, mungkin kebebasan yang ada sekarang dianggap biasa saja. Tapi tidak buatku atau aktivis-aktivis pada umumnya. Dulu, temen-temen dikejar-kejar tentara sampai kos hanya karena menyatakan golput. Padahal saat ini sebagian besar orang golput. Kami juga sering menghentikan diskusi dan membubarkan acara kumpul-kumpul karena ada indikasi akan digrebek. Semua tindakan seolah punya risiko dipenjara. Bahkan diam pun bisa masuk penjara, kalo ada indikasi ke-&#39;diam&#39;-an tersebut merupakan bentuk perlawanan terhadap pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dengan kebebasan seperti sekarang, di mana semua orang&lt;br /&gt;bisa ngomong dan bikin diskusi tanpa takut ditangkap, itu sungguh membahagiakan. Namun kebebasan tidak datang dari langit, ia harus selalu diperjuangkan. Kebebasan tidak dengan sendirinya ada. Ia adalah hasil jerih payah dan ikhtiar kita. Namun jika kita semua acuh, bukan hal yang tidak mungkin kita akan mengalami kondisi seperti era Orde Baru, atau jatuh dalam realitas yang dialami warga Burma atau Tibet--di mana warganya tidak punya kebebasan seperti yang kita miliki hari ini.&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Savic Alielha
StreetWise Advisory Group&lt;/div&gt;</description><link>http://savicali.blogspot.com/2008/05/demokrasi-gagal.html</link><author>noreply@blogger.com (savic)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129.post-4867049403087908041</guid><pubDate>Thu, 01 May 2008 12:19:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-05-02T09:39:11.550+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">politik</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">soliloqui</category><title>ironi gus dur dan pkb</title><description>Barangkali, belum pernah ada masa yang sedemikian memalukan buat orang NU kecuali saat-saat ini. Partai yang mereka dirikan, PKB, pecah dua--setelah sebelumnya mengalami beberapa kali pemecatan dan juga perpecahan. Dan lebih dari soal perpecahan, konflik yang terjadi diwarnai dengan sejumlah nuansa kekerasan. Sesuatu yang tidak lazim dalam tradisi politik para santri dan kyai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika membaca detik.com kemaren, aku merasa sangat malu, juga muak. Di situ diberitakan bahwa dalam MLB PKB versi Gus Dur di Parung, nyaris terjadi kekerasan, di mana ada orang yang maju ke meja sidang hendak memukul Ketua DPW Sumut yang sedang berpidato. Sebelumnya, nuansa kekerasan juga terjadi di Jawa Timur. Kantor fraksi PKB Jatim diserbu dan diduduki oleh massa PKB pro-Yenni. Aura kekerasan juga terasa dengan dijaganya kantor DPP PKB oleh puluhan anggota Garda Bangsa--divisi pemudanya PKB, karena khawatir diserbu kubu Muhaimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyaksikan itu semua, terus terang sebagai anak muda NU aku malu bukan main. &quot;Ini benar-benar memalukan,&quot; kataku pada beberapa temen yang juga berlatar NU. &quot;Sama sekali tidak mencerminkan tradisi politik santri,&quot; imbuhku. Aku mengenal Gus Dur, juga Muhaimin, dan tak terfikir mereka terlibat dalam konflik yang sedemikian rendah dan memalukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Politik kekerasan sangat tidak lazim dalam tradisi santri. Ketika&lt;br /&gt;aku kecil, santri identik dengan anak bersarung yang kerjaannya mengaji, dan sikapnya terhadap orang lain selalu lembut dan santun. Anak &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;mbedik&lt;/span&gt; (nakal) sekalipun, jika sudah mengenakan sarung dan kopiah--yang merupakan atribut santri, akan cenderung lebih alim, menjaga sikap dan santun. Dan itulah bayangan yang ada di kepalaku tentang santri, atau tentang orang NU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ketika menyaksikan perpolitikan di PKB yang sama sekali&lt;br /&gt;tidak mencerminkan kelembutan dan kesantunan, aku merasa mereka bukan orang NU. Bukan lagi orang NU. Karena mereka telah melanggar prinsip hidup bersama yang selama ini dipraktekkan para santri. PKB bukan lagi partainya kaum santri, karena tidak mencerminkan kelembutan dan kesantuan kaum santri. PKB sudah tidak ada bedanya dengan partai lain yang juga diisi oleh para preman dan bandit pemburu kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ironisnya, semua perpecahan itu bersumber dari Gus Dur.&lt;br /&gt;Tokoh yang di era 80-an dan 90-an sangat disegani dan menjadi ikon progresif di NU. Tokoh yang juga selama masa Orde Baru menjadi ikon perlawanan--lewat Forum Demokrasi-nya. Tokoh yang sanggup menjembatani NU dengan kelompok lain--terutama katolik dan Tionghoa karena sikap toleran dan pandangan pluralisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat aku sendiri, Gus Dur adalah orang yang ikut membentuk duniaku hari ini. Kecemerlangan gagasan dan keluasan wawasannya membuat aku tertarik belajar ilmu-ilmu sosial--bukan hanya kitab kuning semata. Tanpa Gus Dur, tak terbayangkan aku mengenal dunia buku, tulis-menulis, pergerakan dan politik. Tanpa Gus Dur, kecil kemungkinan aku menaruh perhatian atas dunia, menjadi aktivis, atau kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarakara--yang &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;notabene&lt;/span&gt; sekolah untuk para calon pastor katolik. Gus Dur berperan besar dalam melahirkan &#39;generasi hibrida&#39; NU, generasi yang berani menerabas batas-batas dan pakem santri tradisional--di mana aku termasuk di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun hari ini, Gus Dur yang aku kenal sudah pergi. Gus Dur yang aku kagumi sudah mati. Entah karena apa. Mungkin karena stroke-nya. Atau mungkin dia memang sudah mencapai batasnya.&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Savic Alielha
StreetWise Advisory Group&lt;/div&gt;</description><link>http://savicali.blogspot.com/2008/05/ironi-pkb-dan-gus-dur.html</link><author>noreply@blogger.com (savic)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129.post-3731848467693772426</guid><pubDate>Sun, 27 Apr 2008 11:08:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-10-26T23:40:06.217+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">bisnis</category><title>entrepreneurs on their early businesses</title><description>&lt;embed src=&quot;http://services.brightcove.com/services/viewer/federated_f8/607757611&quot; bgcolor=&quot;#FFFFFF&quot; flashvars=&quot;videoId=1284279038&amp;amp;playerId=607757611&amp;amp;viewerSecureGatewayURL=https://services.brightcove.com/services/amfgateway&amp;amp;servicesURL=http://services.brightcove.com/services&amp;amp;cdnURL=http://admin.brightcove.com&amp;amp;domain=embed&amp;amp;autoStart=false&amp;amp;&quot; base=&quot;http://admin.brightcove.com&quot; name=&quot;flashObj&quot; seamlesstabbing=&quot;false&quot; type=&quot;application/x-shockwave-flash&quot; swliveconnect=&quot;true&quot; pluginspage=&quot;http://www.macromedia.com/shockwave/download/index.cgi?P1_Prod_Version=ShockwaveFlash&quot; width=&quot;390&quot; height=&quot;330&quot;&gt;&lt;/embed&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Savic Alielha
StreetWise Advisory Group&lt;/div&gt;</description><link>http://savicali.blogspot.com/2008/04/what-entrepreneurs-say.html</link><author>noreply@blogger.com (savic)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129.post-3573323597961147440</guid><pubDate>Fri, 25 Apr 2008 10:17:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-04-27T13:40:18.053+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">esei</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">politik</category><title>rezim kontrol</title><description>Pemerintah dalam halam hal ini Depkominfo berencana memblokir sejumlah situs. Pemicunya adalah film &lt;span style=&quot;font-weight: bold; font-style: italic;&quot;&gt;Fitna&lt;/span&gt;, yang dianggap memicu kontroversi. Film yang dibikin oleh anggota parlemen Belanda Geert Wilders itu dianggap menghina Islam. Dan sebagai akibatnya, sejumlah situs yang menyediakan file download film tersebut diblokir. Diantaranya YouTube dan Multiply. Namun beberapa hari kemudian dua situs tersebut bisa dikunjungi kembali, setidaknya hingga hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak bisa membayangkan jika pemerintah memblokir situs seperti YouTube dan Multiply. Dua situs tersebut adalah salah satu favorit orang-orang yang ingin mengupload karya-karyanya--video di YouTube, dan musik serta tulisan/blog di Multiply. Jika kedua situs itu diblokir, maka akan ada ratusan ribu anak Indonesia yang kehilangan kesempatan untuk mengikuti dan menikmati kreativitas warga dunia. Dan hal itu juga akan membuat ratusan ribu--atau mungkin jutaan--anak Indonesia kehilangan apa yang sudah dia rintis berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun, yaitu blog yang ia tulis di Multiply atau video yang ia upload di YouTube.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niat untuk memblokir situs itu mengingatkan gw akan hasrat&lt;br /&gt;kontrol rezim Orde Baru. Dulu, apa-apa dikontrol, diawasi. Dan yang dianggap &quot;tidak pantas&quot; dibredel, dilarang. Seolah-olah, pemerintah punya kuasa untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Argumentasi yang dikemukakan, yaitu memblokir maraknya pornografi serta pelecehan terhadap agama memang bisa diterima. Tetapi jalan yang ditempuh jelas tidak bisa diterima. Di YouTube memang banyak konten yang seksi, tetapi menurutku bukan porno. Apalagi YouTube sebenarnya juga sudah melakukan &#39;pengawasan&#39; atas content di situsnya. Jika ada yang &#39;porno&#39;, biasanya akan didelete. Sementara di Multiply atau RapidShare, terlalu banyak content bermutu dan bermanfaat yang ada di sana. Sehingga jika pemblokiran dilakukan, maka itu sama saja dengan membakar rumah demi untuk melenyapkan seekor tikus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;memang, segala hal yang memicu kebencian dan kemerosotan mesti segera diatasi. Entah itu pelecahan terhadap agama atau pornografi. Meski menurut gw film &lt;span style=&quot;font-style: italic; font-weight: bold;&quot;&gt;Fitna&lt;/span&gt; biasa-biasa aja. Bahkan gw nyinyir waktu menontonnya--karena sebagai film jelek banget. Selain itu, apa yang oleh pemerintah sebagai porno seringkali menurut gw juga gak porno, hehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun terlepas dari relativitas penilaian atas apa yang layak disebut pelecehan dan pornografi, rencana pemerintah akan lebih banyak menimbulkan kerugian daripada manfaat. Alih-alih memblokir situs lewat ISP-nya, lebih baik pemerintah mendidik masyarakat agar dengan sendirinya melakukan proteksi atas dirinya sendiri--dengan mensosialisasikan penggunaan software kontrol dan sejenisnya. Pemblokiran jelas bukan penyelesaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi kalo mo jujur, sinetron dan film-film Indonesia banyak&lt;br /&gt;yang lebih berbahaya ketimbang apa yang ada di YouTube atau Multiply, karena content-nya yang gak mutu dan gak mendidik--kalo bukan menjerumuskan. Sifatnya yang terbuka (ditayangkan televisi umum) membuat film dan sinteron lebih mempengaruhi perilaku remaja dan anak-anak ketimbang YouTube dan Multiply.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi jika pemerinta memblokir YouTube dan Multiply, ada baiknya&lt;br /&gt;ia juga memblokir sinetron-sinetron dan sejumlah tayangan tivi. Sehingga, lengkap sudah negeri ini mempersiapkan diri kembali ke rezim kebenaran, pengawasan dan kontrol ala Orde Baru.&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Savic Alielha
StreetWise Advisory Group&lt;/div&gt;</description><link>http://savicali.blogspot.com/2008/04/rezim-kontrol.html</link><author>noreply@blogger.com (savic)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129.post-1124988862574236889</guid><pubDate>Tue, 22 Apr 2008 05:15:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-04-22T23:13:19.405+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">esei</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">politik</category><title>green campaign dan budaya latah</title><description>Minggu kemaren adalah hari bumi. Dan sejak tanggal 18, di&lt;br /&gt;Parkir Timur Senayan diselenggarakan Green Festival. Acara ini dimaksudkan untuk kampanye penyelamatan bumi, menghambat laju pemanasan global, peningkatan kesadaran lingkungan. Berbagai acara digelar. Pameran kartun, seminar, workshop, pagelaran musik. Banyak yang bermanfaat, tapi banyak juga yang sekedar pertunjukan dan selebrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana disadari oleh banyak kalangan, dunia memang kian dalam bahaya. Suhu makin panas, iklim tidak menentu, badai dan banjir tidak bisa diprediksikan. Gunung-gunung es di kutub mencair, yang dalam beberapa tahun disinyalir akan membuat air laut makin pasang dan menenggelamkan sejumlah daratan. Kiamat yang mungkin terjadi akibat pemanasan global secara piawai ditampilkan Al Gore dalam filmnya, &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;An Inconvenient Truth&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mana-mana, banyak orang berkampanye pro-green. Berbagai&lt;br /&gt;LSM membuat program anti global warming. Kampanye sana-sini, bikin acara tanpa henti. Namun apakah semua itu akan berhasil menyelamatkan bumi? Karena di sisi lain sebagian besar kita masih hidup dalam cara-cara yang merusak alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak dari kita yang terkesan latah. Karena tokoh-tokoh dunia berkampanye anti global waming, kita jadi ikut-ikutan. Berbagai lembaga dibuat, beragam acara digelar. Namun seperti banyak program yang lain, ia sering hanya menjadi sekedar pertunjukan dan selebrasi. Karena gaya hidup di level pribadi tetap: pake AC, mobil pribadi dan seterusnya. Banyak dari kita yang ambivalen. Termasuk saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampanye memang jauh lebih mudah daripada mempraktekkan.&lt;br /&gt;Dan kita lebih senang berkampanye ketimbang mempraktekkan. Banyak orang, misalnya, ikut gembar-gembor kampanye anti korupsi. Tetapi ia melakukan korupsi juga. Ngentit sana-sini, meski dengan skala yang lebih kecil. Namun anehnya, kita sering merasa pahlawan karena sebuah kebaikan kecil, padahal di sisi lain kita tetap melakukan perusakan--yang mungkin lebih besar. Kita memang ikut menanam satu dua-pohon, tetapi hal itu tidak sebanding dengan praktek hidup kita yang selalu pake mobil pribadi dan pake AC--dengan alasan tak punya pilihan. Lucunya, ada saja orang yang merasa telah sangat berpartisipasi hanya karena menanam satu-dua pohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi begitulah kita, orang kota. Karena tidak pernah menanam pohon, maka ketika ikut kegiatan menanam satu-dua pohon, kita sudah merasa berada dalam pasukan penyelamat bumi. Kita merasa tindakan kecil itu sangat bernilai. Kita merasa heroik. Padahal buat orang kampung, menanam pohon--lebih dari kesadaran akan lingkungan--telah menjadi kebiasaan, menjadi &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;way of life&lt;/span&gt;. Dan orang-orang kampung itu tidak pernah merasa menjadi pasukan penyelemat bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, jika benar kita ingin menyelamatkan bumi, kita harus menjadikan hidup pro-green sebagai &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;way of life&lt;/span&gt;, yang kita batinkan dan kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Bukan sekedar isu untuk kampanye atau tema untuk kegiatan. Karena jika tidak, jika kita tetap bersikap ambivalen, maka jangan berharap bumi ini akan selamat. Kita akan kalah.  &quot;Dan kita memang sudah kalah,&quot; kata novelis kocak asal Amerika, Kurt Vonnegut.&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Savic Alielha
StreetWise Advisory Group&lt;/div&gt;</description><link>http://savicali.blogspot.com/2008/04/green-campaign-dan-budaya-latah.html</link><author>noreply@blogger.com (savic)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129.post-2181659489062359717</guid><pubDate>Mon, 21 Apr 2008 15:27:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-08-16T14:48:37.453+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">bisnis</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">esei</category><title>entrepreneurship? what is it, what is it for?</title><description>&lt;span style=&quot;;font-family:georgia;font-size:100%;&quot;  &gt;&lt;span style=&quot;font-family:trebuchet ms;&quot;&gt;Entrepreneurship. Itulah tema yang aku bawakan di workshop BSI Career Centre hari ini. Pesertanya 150-an orang, hampir semuanya mahasiswa BSI. Tidak biasanya aku ngomong soal bisnis. Biasanya selalu soal politik. Ampe bosen.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family:trebuchet ms;&quot;&gt;Entrepreneurship sering dipahami sebagai tindakan menciptakan bisnis/usaha sendiri. Sebentuk usaha mandiri. Biasanya, ia di-&lt;br /&gt;lawankan dengan karyawan--orang yang bekerja dalam bisnis orang lain. Hal itu diakibatkan karena penerjemahan yang memang tidak tepat, dimana entrepreneurship diterjemahkan menjadi kewirausahaan, dan seorang &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;font-family:trebuchet ms;&quot; &gt;entrepreneurs&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family:trebuchet ms;&quot;&gt; disebut sebagai wiraswastawan atau wirausahawan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family:trebuchet ms;&quot;&gt;Sesungguhnya, entrepreneur lebih dari orang yang mencipta&lt;br /&gt;bisnis sendiri, dan lebih dari sekedar bekerja untuk diri sendiri. Entrepreneurship mesti melibatkan kreativitas dan inovasi. Ia mengandaikan adanya penciptaan. Jadi mereka yang membangun bisnis yang cuma meniru bisnis orang lain sebenarnya belum layak disebut entrepreneurs. Sebagaimana definisi awal yang diajukan oleh ekonom Joseph Schumpeter, &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;font-family:trebuchet ms;&quot; &gt;&quot;an entrepreneur is a person who is willing and able to convert a new idea or invention into a successful innovation&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family:trebuchet ms;&quot;&gt;.&quot;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family:trebuchet ms;&quot;&gt;Dengan pengertian di atas, barangkali di Indonesia tidak banyak&lt;br /&gt;yang layak disebut entrepreneur. Memang banyak wirausahawan yang sukses, tetapi produk/jasa mereka tidak banyak yang baru dan inovatif. Dalam list &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;&quot; &gt;America&#39;s 25 Most Fascinating Entrepreneurs&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family:trebuchet ms;&quot;&gt; yang dirilis majalah &lt;/span&gt;&lt;a style=&quot;font-family: trebuchet ms;&quot; href=&quot;http://inc.com/&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic; font-weight: bold;&quot;&gt;Inc&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;font-family:trebuchet ms;&quot;&gt;, nyaris tidak ada yang sekedar pebisnis sukses. Melainkan, mereka yang masuk list adalah orang-orang yang telah menciptakan produk inovatif atau terobosan kreatif. Dianta-&lt;br /&gt;ranya pendiri Amazon, Jeff Bezos, serta pendiri Google, Larry Page dan Sergey Brin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family:trebuchet ms;&quot;&gt;Sebagaimana dikatakan Bezos, &quot;entrepreneurship is really more about a state of mind than it is about working for yoursel. It&#39;s&lt;br /&gt;about being resourceful, it&#39;s about solving problem.&quot; Dan Bezos telah membuktikannya. Begitu juga Page dan Brin. Mereka cerdik.&lt;br /&gt;Banyak akal. Kreatif. Dan karakter itu mendarahdaging dalam diri mereka, menjadi &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;state of mind&lt;/span&gt;. Mereka bukan sekedar membuat bisnis, tetapi menciptakan terobosan. Mereka memecahkan persoalan. Amazon memecahkan persoalan kerumitan pembelian buku, dan Google memecahkan kerumitan pencarian data.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family:trebuchet ms;&quot;&gt;Nah, dengan pengertian di atas, dimana entrepreneurs mensyaratkan kreativitas penciptaan dan inovasi, bukan sekedar membangun usaha sendiri dan berani mengambil tanggungjawab dan risiko atas usaha tersebut--sebagaimana definisi &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;risk taker&lt;/span&gt; yang dibuat Peter Drucker, apakah sebagian besar kita masih sanggup menjadi entrepreneur? Mungkin tidak. Atau kalo toh iya, mungkin hanya beberapa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family:trebuchet ms;&quot;&gt;Mengapa? Karena negeri ini didominasi oleh orang-orang yang hanya punya mental plagiat dan meniru. Meniru dan mengekor apa saja yang dianggap membawa &quot;kesuksesan&quot;, tanpa mau capek mikir bagaimana melahirkan sebuah produk atau ciptaan yang brilian. Masyarakat ini lebih terobsesi sama hasil, tanpa peduli proses. Bukankah demikian? Saya mungkin, entah Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, di tengah krisis ekonomi, ancaman kemiskinan, kian sulitnya bertahan hidup dan meraih kemakmuran, jalan pintas sering menjadi pilihan. Termasuk dalam hal ini plagiat dan meniru. Padahal plagiat 100% justru bisa membawa pada kehancuran. Pasar selalu berubah, dan oleh karena itu kita tidak bisa semata menjiplak bisnis orang lain yang kita anggap berhasil. Mesti ada semacam pengembangan dan inovasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencipta tidak selalu mengandaikan membuat sesuatu yang benar-benar baru. Mengembangkan sesuatu yang sudah ada juga merupakan sebentuk penciptaan. Beberapa tahun lalu, handphone hanya bisa dipake nelpon dan sms. Kini handphone juga bisa dipake motret, mendengarkan radio, musik dan lain-lain. Inilah yang disebut inovasi. Dan aku yakin banyak generasi muda di negeri yang bisa melakukan hal-hal semacam ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Savic Alielha
StreetWise Advisory Group&lt;/div&gt;</description><link>http://savicali.blogspot.com/2008/04/entrepreneurship-what-is-it-and-what-is.html</link><author>noreply@blogger.com (savic)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129.post-2059191042513549545</guid><pubDate>Tue, 15 Apr 2008 04:38:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-04-21T23:46:20.521+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">esei</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">politik</category><title>no policy is bad policy</title><description>Menjelang Mei, seperti biasa, aku dihubungi sejumlah wartawan. Mereka hendak membuat laporan tentang reformasi. Tentang apa yang terjadi 10 tahun yang lalu, 1998, tahun di mana Soeharto mundur dari kekuasaannya, untuk kemudian menyandingkannya dengan kenyataan kini. Salah satunya wartawan dari Australia Network.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti beberapa wartawan lain, Australia Network mengajukan pertanyaan yang relatif sama: bagaimana dulu proses reformasi terjadi--mulai dari situsasi sosial-ekonomi-politik hingga demo-demo. Lalu ia menanyakan apakah situasi hari ini sudah seperti yang dituntut dan diharapkan waktu demonstrasi. Jawabanku jelas: absolutely not. Not yet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu jaman demonstrasi, tuntutan kami jelas: Turunkan harga, Soeharto turun. Tentu ada beberapa isu lain seperti pencabutan dwifungsi ABRI, reformasi hukum dan birokrasi serta beberapa hal lainnya. Dalam tuntutan pertama, argumentasinya jelas. Waktu itu harga-harga naik, dan agar masyarakat sanggup melangsungkan hidupnya butuh diturunkannya harga-harga. Tuntutan turunnya harga juga bentuk ringkas dari tuntutan reformasi/perbaikan ekonomi. Sementara tuntutan kedua, argumen lebih jelas lagi. Soeharto, karena berbagai hal, memang tidak layak berkuasa lagi. Ia sudah berkuasa 32 tahun, melebihi kekuasaan raja-raja--yang meski menurut pakem seumur hidup namun tidak sampai 32 tahun karena pendeknya umur, dan selama 32 tahun berkuasa Soeharto menjalankan hukum tangan besi dan ekonomi kroni. Banyak orang dihukum dan dibunuh tanpa jelas kesalahannya, dan ekonomi terkonsentrasi pada keluarga dan kroni-kroni Cendana--lewat berbagai manipulasi dan korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kini, 10 tahun setelah reformasi, keadaan tidak lebih baik.&lt;br /&gt;Di luar urusan kebebasan politik dan berekpresi, kondisi barangkali lebih buruk. Ekonomi tidak beranjak lebih baik, lapangan kerja kian sulit, pendidikan makin mahal, dan sebagian besar masyarakat tetap miskin dan tanpa pengharapan. Dan yang membuat kian muak, para pejabat tetap korup, tak ubahnya jaman Orde Baru. Bahkan mungkin, tikus-tikus politik jaman sekarang lebih banyak dari jaman Orde Baru--karena menjamurnya partai-partai, dengan lahan jarahan yang merata dari pusat hingga daerah-daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu terjadi karena pemerintah saat ini tidak jelas kebijakannya. Pada awal kampanye, ia gembar-gembor soal menghidupkan kembali sektor pertanian. Tapi sampai sekarang tidak jelas usaha dan realisasinya, padahal dunia tengah dihantui krisis bahan pangan. Ia juga gembar-gembor perang melawan korupsi, tapi semua tahu korupsi masih merajalela di mana-mana, termasuk lingkungan istana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam soal ekonomi, pemerintah lebih tidak jelas lagi. Kita nyaris tidak tahu apa kebijakan ekonomi pemerintah dan hendak ke mana negeri ini akan dibawa. Pemerintah seolah hanya ingin sekedar duduk di kursi nahkoda dan membiarkan angin membawa kapal ke mana aja. Alih-alih merevitalisasi pertanian dan kelautan yang relatif jelas kemungkinan dan harapannya, pemerintah justru mengemis utang dan investasi asing yang juga tak kunjung datang--dan dalam jangka panjang lebih punya potensi menjerumuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, boleh dikata pemerintah saat ini tidak punya kebijakan (&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;no policy&lt;/span&gt;) sama sekali. Tidak memiliki gagasan dan leadership. Lihat saja kebijakannya soal Lapindo. Ribuan warga Sidoarjo kehilangan rumah dan sawah serta sedemikian menderita di kamp-kamp pengungsi, namun SBY nyaris tidak pernah komentar dan mengeluarkan kebijakan yang tegas soal Lapindo. Justru lucunya, di tengah kondisi yang parah ini (Lapindo, ibu-anak mati kelaparan, anak bunuh diri karena gak sanggup bayar sekolah serta kengerian-kengerian lainnya), presiden kita ini (presiden lo kalee...) lebih antusias rekaman musik, tersedu-sedu oleh film Ayat-ayat Cinta dan entah apa lagi berikutnya. Absurd. Kita tidak pernah mendengar presiden kita ini menangis karena hantu kelaparan dan kemiskinan yang menyelimuti warganya, tapi tiba-tiba karena sebuah film ia meneteskan air mata. Melo amat?! Heran. Entah apa yang bersemayam dalam kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali soal &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;policy&lt;/span&gt;, terlihat SBY enggan mengambil kebijakan yang memicu konflik dan perlawanan. Karena tidak mau memicu konflik dengan Aburizal Bakrie, ia memilih diam soal Lapindo. Karena tidak berani konflik sama Bank Dunia dan IMF, ia memilih mengikuti jalan liberal dalam ekonomi. Karena tidak berani ditegur Amerika, ia tidak mau menegosiasi ulang kontrak-kontrak asing seperti Freeport dan lainnya--dan dengan enteng mengkuasakan Blok Cepu ke Exxon-Mobil. SBY juga sering tidak berani konflik dengan DPR, dengan cara tidak menghadiri rapat-rapat dengan DPR yang seharusnya ia hadiri: misalnya kasus BLBI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SBY terkesan ingin &quot;baik&quot; sama siapa aja. Termasuk dengan para penjahat yang semestinya ia basmi. Kepekaannya terhadap citra diri yang berlebihan juga membuat ia memilih berkompromi, dengan harapan mendapat dukungan dari sana-sini. Seperti Mega dulu, SBY juga sering menggunakan jurus diam terkait masalah-masalah pelik yang bisa memicu konfrontasi dan kontroversi. Padahal kita tahu, diam tidak selalu emas. No policy is bad policy. Apalagi di tengah situasi Indonesia yang butuh tindakan dan terobosan.&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Savic Alielha
StreetWise Advisory Group&lt;/div&gt;</description><link>http://savicali.blogspot.com/2008/04/no-policy-is-not-good-policy.html</link><author>noreply@blogger.com (savic)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129.post-4446488479393209965</guid><pubDate>Mon, 14 Apr 2008 10:19:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-04-14T18:13:36.310+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">intermeso</category><title>nonton liga inggris di internet</title><description>Hidup di Indonesia kian hari kian susah, demikian kata banyak orang. Tak terkecuali para penggila bola. Di awal musim Liga Inggris, kami dibikin tidak bisa nonton Fabregas cs., Ronaldo cs. de el el. Apes gak?! Padahal liga Inggris sudah menjadi bagian dari hidup kami. Jaman gw masih pacaran (sekarang tidak lagi, kesian ya...), gw bela-belain mulangin pacar lebih sore kalo ada pertandingan yang menarik. Apalagi kalo Arsenal lagi maen. Gw bisa hapus jadwal malem mingguan, haha...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua gara-gara Astro. Karena hak ekslusif Liga Inggris dipegang Astro, maka yang pengen nonton mesti berlangganan Astro. Kontan semua penggemar bola teriak. Tapi apa mau dikata?! Jadi orang miskin emang susah. Gak sanggup langganan TV berbayar. Gw pun kena imbasnya. Gak bisa lagi nonton Liga Inggris di kamar. So tiap ada pertandingan menarik gw nyari-nyari kafe yang muter Liga Inggris. Untuk sementara persoalan pun beres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi minggu kemaren, kiamat kecil menimpa lagi. Astro dilarang mengudara oleh pemerintah. Gak tau alasannya apa, tapi itu gak penting. Yang penting gimana tetep bisa nonton Liga Inggris. Apalagi yang mau maen Arsenal vs MU. Maka gw pun cari-cari info. Google pun jadi tumpuan. Setelah buka halaman sana-sini, gw pun nemu &quot;petunjuk&quot; cara nonton Liga Inggris via internet--sehingga gw tetep bisa nonton Arsenal-MU, meski kadang ngadat karena gw cuma pake Speedy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau tau? Nih caranya. Download software &lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Sopcast&lt;/span&gt; di &lt;a style=&quot;font-weight: bold;&quot; href=&quot;http://www.sopcast.com/download/&quot;&gt;link ini&lt;/a&gt; ato&lt;br /&gt;yang &lt;a style=&quot;font-weight: bold;&quot; href=&quot;http://www.download.com/SopCast/3000-13632_4-10601520.html&quot;&gt;ini&lt;/a&gt;. Abis download buka pake Winrar ato Winzip, trus install. Begitu instalasi selesai, buka Windows Media Player, trus klik menu Tools, Option, Performance, nilai buffer ubah jadi 30 seconds. Jika sudah, silakan jalanin Sopcast. Di sebelah kiri akan ada daftar channel, pilih yang nyiarin pertandingan yang lo maksud. Beres.&lt;br /&gt;Kamu akan bisa nonton Liga Inggris. Gratis. Hanya bayar internet. Tentu saja dengan kualitas gambar yang berbeda dari TV. Tapi sekali lagi, kalo internet lo lemot, siap-siap aja menikmati gambar yang patah-patah. Dan nonton gambar patah-patah sangat berbeda&lt;br /&gt;dengan nonton goyang patah-patah, hehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gut luck!&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Savic Alielha
StreetWise Advisory Group&lt;/div&gt;</description><link>http://savicali.blogspot.com/2008/04/premiere-league-on-internet.html</link><author>noreply@blogger.com (savic)</author><thr:total>4</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129.post-5913970190669705869</guid><pubDate>Mon, 14 Apr 2008 05:54:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-13T10:50:45.784+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">esei</category><title>homo mobilis</title><description>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiL7aGGwu3Xq0yau6DfWZWxoLBF0oGhRgVjRZ9YWD3nn3JbizubtIxs36Vro5GekOGNxKE854zHACbE4QjpLnx-cKRpMDGpIEpl1iqX5xCnjemuYTBMwVcrz7bwSccLPaHqrwcFWroPdiM/s1600-h/homo+mobilis.gif&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiL7aGGwu3Xq0yau6DfWZWxoLBF0oGhRgVjRZ9YWD3nn3JbizubtIxs36Vro5GekOGNxKE854zHACbE4QjpLnx-cKRpMDGpIEpl1iqX5xCnjemuYTBMwVcrz7bwSccLPaHqrwcFWroPdiM/s320/homo+mobilis.gif&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5189009748457374178&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarahnya, evolusi manusia melahirkan sejumlah kategori: Homo habilis, Homo erectus, Homo sapiens. Namun kini, diyakini tengah lahir tipe baru manusia: Homo mobilis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bersambung. ntar kalo sempet sempet, hehe...&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Savic Alielha
StreetWise Advisory Group&lt;/div&gt;</description><link>http://savicali.blogspot.com/2008/04/homo-mobilis.html</link><author>noreply@blogger.com (savic)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiL7aGGwu3Xq0yau6DfWZWxoLBF0oGhRgVjRZ9YWD3nn3JbizubtIxs36Vro5GekOGNxKE854zHACbE4QjpLnx-cKRpMDGpIEpl1iqX5xCnjemuYTBMwVcrz7bwSccLPaHqrwcFWroPdiM/s72-c/homo+mobilis.gif" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8078711676833785129.post-6506196544760096183</guid><pubDate>Mon, 10 Mar 2008 14:51:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-13T10:50:45.891+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">esei</category><title>century of change?</title><description>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZYmdu7owhEgWW7hzXTPyJNCief1VRKlXf-ZUU96H0MqWz_iNl5c_TlgGYyhQ5XOpEUslx6E-2ux3nVenhsQtVjxtBuByfv3LTSaovCt6seAiBRcsA09w2kh-eUhw7eeDnRcrUU9p2kgw/s1600-h/change.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZYmdu7owhEgWW7hzXTPyJNCief1VRKlXf-ZUU96H0MqWz_iNl5c_TlgGYyhQ5XOpEUslx6E-2ux3nVenhsQtVjxtBuByfv3LTSaovCt6seAiBRcsA09w2kh-eUhw7eeDnRcrUU9p2kgw/s320/change.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5189008726255157714&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;The 21st century will be the century of change.  More things will change in more places in the next 10 years than in the previous 100.  Most countries aren’t ready for this dizzying ride--certainly not the United States of America,&quot; demikian kata Fareed Zakaria dalam tulisannya di NewsWeek edisi Mei 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bersambung, kalo sempet, hehe...&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;Savic Alielha
StreetWise Advisory Group&lt;/div&gt;</description><link>http://savicali.blogspot.com/2008/03/century-of-change.html</link><author>noreply@blogger.com (savic)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZYmdu7owhEgWW7hzXTPyJNCief1VRKlXf-ZUU96H0MqWz_iNl5c_TlgGYyhQ5XOpEUslx6E-2ux3nVenhsQtVjxtBuByfv3LTSaovCt6seAiBRcsA09w2kh-eUhw7eeDnRcrUU9p2kgw/s72-c/change.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>