<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" version="2.0">

<channel>
	<title>Dadang Kadarusman</title>
	
	<link>http://www.dadangkadarusman.com</link>
	<description>Institute of Fun Learning, Smart Working, and Hard Playing</description>
	<lastBuildDate>Sun, 22 Aug 2010 02:40:14 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/DadangKadarusman" /><feedburner:info xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" uri="dadangkadarusman" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><feedburner:emailServiceId xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0">DadangKadarusman</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0">http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><item>
		<title>Mengapa Kita Tidak Merasa Sedang Melakukan Keburukan?</title>
		<link>http://www.dadangkadarusman.com/2010/08/22/mengapa-kita-tidak-merasa-melakukan-keburukan/</link>
		<comments>http://www.dadangkadarusman.com/2010/08/22/mengapa-kita-tidak-merasa-melakukan-keburukan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Aug 2010 02:38:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kadard</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirational]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dadangkadarusman.com/?p=493</guid>
		<description><![CDATA[Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
Tidak punya hati. Begitu biasanya kita menyebut orang-orang yang tega melakukan sesuatu yang melampaui batas. Nyaris setiap hari, di televisi dan media masa lainnya kita menyaksikan orang-orang saling berdebat membela diri. Para pengacara ngeyel soal ketidakterlibatan kliennya. Kita sangat jarang mendengar seseorang yang bersalah secara jantan mengatakan;”Benar, saya telah mengambil sesuatu yang bukan hak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.dadangkadarusman.com/apps/wp-content/uploads/2010/08/pinochio-300x294.png"><img src="http://www.dadangkadarusman.com/apps/wp-content/uploads/2010/08/pinochio-300x294.png" alt="" title="pinochio-300x294" width="300" height="294" class="alignleft size-full wp-image-495" /></a>Hore,<br />
Hari Baru!<br />
Teman-teman.</p>
<p>Tidak punya hati. Begitu biasanya kita menyebut orang-orang yang tega melakukan sesuatu yang melampaui batas. Nyaris setiap hari, di televisi dan media masa lainnya kita menyaksikan orang-orang saling berdebat membela diri. Para pengacara ngeyel soal ketidakterlibatan kliennya. Kita sangat jarang mendengar seseorang yang bersalah secara jantan mengatakan;”<em>Benar, saya telah mengambil sesuatu yang bukan hak saya.” </em>Bahkan saat berbohong, keseluruhan bahasa tubuhnya seolah mengatakan bahwa itulah kebenaran yang sesungguhnya. Mengapa bisa begitu ya?   <span id="more-493"></span></p>
<p>Salah satu mata pelajaran yang saya sukai ketika bersekolah adalah tentang anatomi dan fisiologi tubuh manusia. Khususnya, tentang bagaimana tubuh melakukan metabolisme di tingkat selular sehingga setiap sel didalam tubuh kita bisa hidup. Anda tentu masih ingat bahwa setiap makanan yang kita telan mengalami proses digesti dalam saluran cerna. Setelah dicerna, kemudian saripati makanan masuk ke dalam usus kecil atau intestin. Sedangkan usus 12 jari adalah tempat utama dimana proses penyerapan sari makanan melalui vili-vili terjadi. Sari makanan menembus membran sel vili untuk kemudian dilarutkan dalam darah. </p>
<p>Jika proses itu kita sederhanakan, darah yang sudah berisi sari makanan itu mengalir menuju ke jantung. Lalu jantung berkontraksi hingga darah mengalir sampai ke pembuluh kapiler. Pembuluh darah di perifer ini memiliki kemampuan untuk melepaskan sari-sari makanan dan memberikannya kepada setiap sel yang dilintasinya. Kira-kira mirip dengan tukang koran yang melemparkan korannya ke depan pintu rumah kita. Setelah itu, sel-sel tubuh mengambil sari makanan, lalu dengan bantuan oksigen memetabolismenya. Proses metabolisme menghasilkan enerji untuk beraktivitas atau material lain untuk tumbuh atau regenerasi sel. Sel hasil regenerasi itu akan menjadi matang, sedangkan sel sebelumnya menjadi tua dan mati. Proses ini berjalan terus menerus sehingga sel-sel dalam tubuh kita merupakan hasil dari segala sesuatu yang kita makan. </p>
<p>Jika kita perhatikan, setiap tindakan buruk memiliki ’alasan ekonomi’. Artinya, ada unsur materi yang terlibat. Misalnya, ketika seseorang mencuri, merampok, korupsi atau menipu. Setelah tangan kita mengambil, kemudian kita memakannya. Jadi, setelah tangan, maka organ paling penting yang tercemar berikutnya adalah lidah. Makanya tidak mengherankan jika setelah mengambil sesuatu yang bukan hak kita, maka dosa kita berikutnya adalah ’berbohong’. Mengapa kita berbohong? Karena lidah kita sudah dibentuk dari makanan yang buruk. Makanya, kata-katanya juga menjadi buruk. Semakin banyak kita mengambil, semakin terampil kita berbohong. Semakin sulit untuk mengakui perbuatan buruk kita.</p>
<p>Orang bilang, jika kita punya hati nurani maka tidak mungkin bisa berbohong berkali-kali. Itu benar. Ada yang belum saya ceritakan tentang proses peredaran darah itu. Jika Anda membaca literatur, maka Anda akan tahu bahwa setelah menyerap sari makanan di usus halus, darah yang berisi makanan dari nafkah bukan hak kita itu tidak langsung menuju ke jantung. Tidak langsung menuju ke jantung? Iya. Kemana dong jika demikian? Darah itu terlebih dahulu menuju ke hati. Jadi, hati tidak perlu menunggu kiriman dari hasil pompaan jantung untuk mendapatkan darah yang kaya nutrisi. Artinya, hati adalah organ penting pertama yang dikunjungi darah berisi makanan tak halal itu. Jadi, sel-sel baik dalam hati segera diganti oleh sel-sel baru yang tumbuh dari makanan yang buruk. Oleh sebab itu, setelah lidah kita berdusta; selanjutnya hati mengiringi kebohongan-kebohongan yang kita katakan.  Padahal, hati adalah benteng pertahanan terakhir yang bisa menjaga kita dari perbuatan-perbuatan yang tidak pantas dilakukan. </p>
<p>Bisakah Anda membayangkan apa yang terjadi jika ’benteng terakhir’ penjaga kebaikan dan keluhuran budi itu sudah tercemar juga? Tentunya kita tidak lagi bisa membedakan antara baik dan buruk. Makanya, kita akan merasa benar meskipun tengah melakukan perbuatan nista. Tapi kan tidak semua perbuatan buruk bermuatan ekonomi. Misalnya? Membolos. Mengkhianati pasangan. Berpura-pura sakit kepada atasan. Mengganggu istri orang lain. Dan sebagainya. Tidak ada faktor ekonomi bukan? </p>
<p>Coba perhatikan, biasanya seseorang tidak langsung melakukan perbuatan nista seperti itu. Artinya itu semua itu bukanlah dosa pertama. Dosa pertama manusia biasanya selalu berurusan dengan faktor ekonomi. Jadi mari kita sebut semua hal diatas itu sebagai ’dosa level kedua’. Tanyalah orang-orang yang melakukan tindakan asusila, misalnya; pernahkah dia memakan nafkah tidak halal? Biasanya pernah. Bagaimana melihat kaitan dosa ’level pertama’ dengan dosa ’level kedua’? </p>
<p>Setelah darah berisi nutrisi tidak berkah itu mencapai jantung, dia dipompa ke sekujur tubuh, bukan? Organ penting apa yang dekat dengan Jantung? Paru-paru. Seluruh sel paru-paru diganti dengan sel-sel dari nafkah buruk. Itulah sebabnya, setiap tarikan nafas kita selalu dipengaruhi oleh perilaku buruk. Selama kita bernafas dengan sel-sel buruk itu, selama itu pula kita hidup dengan spirit yang buruk. Jadi, selama hayat masih dikandung badan; kita akan selamanya bernafas dalam keburukan.</p>
<p>Organ penting berikutnya yang dekat ke jantung adalah otak. Tepat ketika darah berisi nutrisi buruk itu menghidupi sel otak, maka pikiran kita pasti cenderung kepada ide dan pemikiran yang buruk. Jangan heran jika setelah sukses melakukan dosa ’level pertama’ kita semakin jago untuk merencanakan dosa di ’level-level berikutnya’. Bukankah otak kita sudah dijejali nutrisi yang buruk? Sebentar dulu, bukankah sel otak itu tidak melakukan regenerasi setelah dia mati? Menurut literatur memang begitu. Tetapi, otak itu bekerja dengan energi yang dihasilkan oleh proses metabolisme nafkah tidak berkah. Makanya, dia sangat sulit menghasilkan pemikiran yang positif dan baik. Otak kita semakin cerdas mencari akal untuk melakukan keburukan-keburukan lainnya.</p>
<p>Guru mengaji saya pernah mengatakan pesan Nabi bahwa keburukan itu kalau baru sampai kepada niat belum dicatat oleh malaikat sebagai maksiat. Baru menjadi dosa jika sudah dilakukan. Jadi aman, bukan? Aman. Tetapi, coba perhatikan. Dari jantung darah bernutrisi laknat itu dikirim ke sel-sel di tangan dan kaki kita. Kulit kita. Mata kita. Hidung kita. Telinga kita. Seluruh sel didalam tubuh kita. Kira-kira, perilaku dan tindakan seperti apa yang akan dilakukan oleh sekujur tubuh kita jika demikian? Pastilah sekujur tubuh kita akan bersekongkol dengan otak yang sudah menjadi kotor itu agar setiap gagasan buruk itu dapat dilaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Jika sudah demikian, kita tidak ubahnya menjadi seperti monster. Tubuh kita saja yang masih berujud manusia, tapi seluruh daleman sel-selnya sudah tidak lagi memiliki sifat manusiawi. Asalnya dari mana? Dari nafkah tidak berkah yang kita makan.</p>
<p>Jadi, sekarang kita mengerti mengapa para pencuri atau ahli korupsi dan pengemplang BLBI bersikeras mengatakan;”<em>Saya tidak melakukannya!” </em>meskipun ada cukup bukti. Karena seluruh sel-sel hidup dalam tubuh yang tumbuh dari nafkah yang buruk tidak memiliki kesadaran lain selain berpikir, barkata, dan bertindak yang buruk-buruk. </p>
<p>Ada orang yang ngotot mengatakan; ”<em>Dosa pertama saya tidak berkaitan dengan faktor ekonomi. Jadi, saya menjadi orang jahat pasti karena Tuhan salah mendisain sel-sel tubuh saya.</em>” Ada yang seperti itu? Ada. Lantas bagaimana caranya kita memahami fenomena itu? Sederhana. Tanyakan kepada Ayah atau Ibu kita; apakah mereka pernah memberi kita makanan dari hasil korupsi, mencuri, menipu atau apapun yang bukan menjadi hak kita?  Setiap manusia itu lahir dalam keadaan suci. Namun, jika setelah lahir kita diberi nutrisi oleh orang tua dengan nafkah yang kotor, maka kesucian itu akan segera berganti. Makanya, tidak mengherankan jika sejak kecil pun kita bisa melakukan perbuatan-perbuatan nista. Oleh sebab itu juga, jika kita korupsi, maka anak dan istri kita akan kompak membela kita. Meskipun logika pembelaan mereka sudah terbalik-balik. Pantaslah jika guru mengaji saya mengatakan bahwa Sang Nabi suci mewanti-wanti agar kita <em>memberi anak dan istri nafkah yang baik&#8230;.. </em></p>
<p>Kita tahu bahwa kebenaran tidak bisa bercamur aduk dengan kebatilan. Kabaikan tidak senang berteman dengan keburukan. Ini menjelaskan, mengapa sekujur tubuh kita begitu kompak untuk melakukan kebejatan-kebejatan. Lidah kita terampil berdusta. Mimik wajah kita pandai memasang roman kesungguhan. Dan hati kita, seolah-olah tidak lagi berisi nurani. Karena, sel-sel tubuh yang dibangun dari nutrisi buruk akan dengan suka cita besekongkol dengan gagasan-gagasan buruk, dan tindakan terkutuk. Sebaliknya, beraaaaaaat sekali rasanya untuk berbuat baik. Karena tubuh yang dibangun dengan nafkah yang buruk tidak suka bergaul dengan segala hal yang baik. Persis seperti firman Tuhan melalui Sang Nabi; ”&#8230;.<em>bahkan kamu mengira Allah tidak mengetahui tentang apa yang kamu kerjakan</em>.” Semua itu berasal dari hal sepele; memakan makanan yang bukan hak kita. </p>
<p>Semoga Tuhan berkenan memaafkan dosa-dosa kita dimasa lalu. Dan memberi kita nafkah yang berkah. Setelah nafkah itu berkah, semoga juga jumlahnya melimpah.</p>
<p>Mari Berbagi Semangat!<br />
Dadang Kadarusman<br />
www.bukudadang.com dan www.dadangkadarusman.com </p>
<p><strong>Catatan Kaki:</strong><br />
Berpuasa adalah salah satu cara untuk mensucikan sel-sel tubuh kita dari nafkah yang buruk. Karena dalam sahur ada berkah. Dalam buka ada ampunan. Kalau puasanya benar, semoga kita bisa kembali kepada fitrah. </p>
<p>Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul ”Belajar Sukses Kepada Alam” versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan kunjungi petunjuknya di www.bukudadang.com  </p>
<p>Foto: abduzeedo.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dadangkadarusman.com/2010/08/22/mengapa-kita-tidak-merasa-melakukan-keburukan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saatnya Berkiblat Kepada Kompetensi</title>
		<link>http://www.dadangkadarusman.com/2010/08/15/saatnya-berkiblat-kepada-kompetensi/</link>
		<comments>http://www.dadangkadarusman.com/2010/08/15/saatnya-berkiblat-kepada-kompetensi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Aug 2010 02:49:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kadard</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indonesiaku]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirational]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dadangkadarusman.com/?p=488</guid>
		<description><![CDATA[Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
Saya bertanya-tanya; ’apakah kita bisa menggunakan momentum peringatan Hari Kemerdekaan RI tahun ini untuk mulai sungguh-sungguh berkiblat kepada kompetensi’. Artikel saya sebelumnya yang berjudul ”Apakah Gelar Seseorang Menentukan Kualitas Dirinya?” mendapatkan tanggapan yang beragam. Baik melalui milis maupun email japri. Pada awalnya, saya mampu merespon tanggapan-tanggapan tersebut satu persatu. Namun, karena banyak diantaranya yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.dadangkadarusman.com/apps/wp-content/uploads/2010/08/bendera_indonesia.jpg"><img src="http://www.dadangkadarusman.com/apps/wp-content/uploads/2010/08/bendera_indonesia-300x232.jpg" alt="" title="bendera_indonesia" width="300" height="232" class="alignleft size-medium wp-image-489" /></a>Hore,<br />
Hari Baru!<br />
Teman-teman.</p>
<p>Saya bertanya-tanya; ’apakah kita bisa menggunakan momentum peringatan Hari Kemerdekaan RI tahun ini untuk mulai sungguh-sungguh berkiblat kepada kompetensi’. Artikel saya sebelumnya yang berjudul ”Apakah Gelar Seseorang Menentukan Kualitas Dirinya?” mendapatkan tanggapan yang beragam. Baik melalui milis maupun email japri. Pada awalnya, saya mampu merespon tanggapan-tanggapan tersebut satu persatu. Namun, karena banyak diantaranya yang senada, maka saya memutuskan menulis artikel ini untuk merangkumnya, sekaligus merespon kepada semuanya.   <span id="more-488"></span></p>
<p>Salah satu fakta tak terbantahkan adalah bahwa gelar itu penting sekali ketika mengajukan proposal proyek, melamar pekerjaan, atau meyakinkan calon klien untuk jasa konsultasi yang kita tawarkan. Sungguh, ini lho fungsinya gelar kita. Justru pada saat seperti itu kita tidak perlu ragu untuk menggunakannya. Perlihatkan semua yang kita miliki. Karena inilah saatnya jerih payah kita untuk meraih gelar itu membuahkan hasil. Go, and get it!</p>
<p>Dalam konteks yang lain, saya masih ingat sebuah forum dimana Tony Robbins menceritakan pengalamannya dihujat oleh orang-orang pintar pemegang gelar PhD dibidang psikologi. Intinya mereka mempertanyakan; <em>’siapa elo berani-beraninya ngomong soal jiwa manusia?’</em> Respon santai dan urakan Robbins kira-kira begini; <em>”Sebenarnya saya ini seorang PhD psikologi seperti Anda. Bedanya Anda mendapatkannya di bangku kuliah, sedangkan saya memperolehnya dari universitas kehidupan nyata.” </em></p>
<p>Dengan pernyataannya, Robbins ingin menyadarkan kita; ’kenapa sih masih harus tanya gelarmu sekeren apa, bukannya kemampuanmu setinggi apa?’ Ini benar-benar menohok para pemuja gelar itu. Terlepas dari siapa dan bagaimana sepak terjang Tony, bagi saya ini merupakan salah satu contoh klasik pergulatan soal gelar yang tidak hanya terjadi di Indonesia. Di dunia barat pun demikian.  </p>
<p>Setelah membaca beragam tanggapan yang muncul, saya mencoba membuat sebuah peta yang membagi perilaku kita dalam penggunaan gelar ini menjadi 4 kelompok:</p>
<p><em><strong>Pertama, Banyak gelar-tinggi kompetensi.</strong></em> Budaya terbuka dan sifat ekstrovert mendasari munculnya karakter kelompok seperti ini. Jika Anda terbiasa dengan pergaulan atau forum-forum internasional, tentu tidak merasa asing dengan fenomena seperti ini. Sungguh sangat mengasyikan berada ditengah-tengah forum seperti itu. Kita seolah tengah bertamasya di dunia intelektual yang penuh makna. Kita bisa secara leluasa menunjukkan siapa diri kita atau memperlihatkan gelar-gelar kita tanpa ada kekhawatiran dinilai secara negatif. Semakin lama kita bergaul dalam lingkungan seperti ini, semakin termotivasi kita untuk terus meningkatkan diri serta menambah gelar-gelar yang kita miliki. </p>
<p>Bahkan, di kalangan ilmuwan yang tulus seperti mereka ini, kita melihat penghargaan yang mencengangkan. Misalnya, mereka tidak segan-segan menyebut koleganya sebagai Professor, padahal orang itu belum dianugerahi gelar professor. Atau, mungkin Anda pernah mendengar ilmuwan-ilmuwan kelas dunia berkata;”<em>Dengan keluasan pengetahuan yang Anda miliki, seharusnya Anda sudah bergelar PhD.” </em></p>
<p>Orang-orang yang benar-benar pintar justru sangat mengerti jika tengah berhadapan dengan orang berilmu tinggi lainnya. Dan mereka berani melampaui sekat-sekat sempit bernama sertifikat. Oleh sebab itu, kita sering melihat orang-orang yang bergelar mentereng, DAN berkompetensi tinggi. Saya selalu terpesona oleh keluhuran ilmu sosok orang-orang seperti ini. Saya melihat mereka sebagai orang-orang “<em>Excellent and confident</em>”.</p>
<p><strong><em>Kedua, Sedikit gembar gembor gelar-tinggi kompetensi. </em></strong>Sifat menahan diri dan introvert mendasari sikap seperti ini. Banyak orang yang sebenarnya memiliki gelar yang tinggi. Mereka juga mempunyai kompetensi tinggi. Tapi, mereka tidak mengumbar gelarnya. Di kalangan masyarakat timur, kita sering menemukan orang-orang yang seperti ini. Bergaul dengan mereka menjadikan kita sadar bahwa yang paling penting itu adalah kemampuan dan karya yang bisa kita hasilkan, bukan sebutan yang kita sematkan. Bukan pula baju-baju kebesaran yang kita kenakan. Saya pribadi, tidak pernah kehilangan rasa hormat kepada orang-orang seperti ini. Saya melihat mereka sebagai orang-orang “<em>Great and humble</em>”.</p>
<p><strong><em>Ketiga, Sedikit gelar-rendah kompetensi</em></strong>. Secara jujur kita bisa melihat orang-orang yang kompetensinya biasa-biasanya saja. Mereka juga tidak terlampau mengagung-agungkan gelar yang dimilikinya. Mereka tidak mengklaim gelar-gelar yang tinggi, apa lagi yang aneh-aneh. Betapa mereka bersedia menerima kenyataan bahwa beginilah diri mereka adanya. Saya tidak pernah kehilangan rasa kagum kepada mereka yang berbesar hati dengan segala kejujuran dan kebersahajaannya. Saya melihat mereka sebagai orang-orang “<em>Realistic</em>”.</p>
<p><strong><em>Keempat, Banyak gelar-rendah kompetensi. </em></strong>Sudah bukan rahasia lagi jika banyak gelar yang bisa dibeli atau ditempel-tempelkan sendiri tanpa memperhitungkan kompetensi. Inilah jadinya jika kita terlampau mengagung-agungkan gelar seseorang. Hal ini berlaku mulai dari gelar <em>ecek-ecek </em>yang dikarang-karang sendiri, sampai kepada gelar formal yang tidak memiliki isi. Saya melihat kelompok ke-empat ini sebagai “<em>Misleading</em>”.</p>
<p>Kita semua turut bertanggungjawb untuk mengurangi ekses dari kelompok yang nomor 4 (misleading) ini. Kita bisa memulainya dengan menempatkan ‘kesakralan’ gelar itu dalam batas-batas kewajaran. Konkritnya bisa bermacam-macam, misalnya: </p>
<p><em>Gelar akademis</em> yang benar-benar diperoleh melalui proses pendidikan dengan sistem pengawasan para guru bermutu. Kurikulum bukanlah jaminan. Jika para gurunya kurang telaten, mahasiswa yang menjiplak hasil penelitian orang lain bisa kelolosan. Guru, tidak bisa berlepas tangan dengan fenomena seperti ini. Mengatakan ‘<em>kami juga merasa kecolongan’ </em>sama sekali bukan cerminan pertanggungjawaban. </p>
<p><em>Gelar keahlian</em> yang dikeluarkan oleh lembaga-lembaga yang kompeten. Apakah siapapun boleh mengeluarkan sertifikasi apapun? Lembaga seperti apa yang berhak mengeluarkan gelar penanda standard keahlian? Kadang-kadang kita sudah merasa berhak menuliskan kata ‘certified’ begitu kita mendapatkan selembar kertas bertuliskan ‘Sertifikat’. Setiap kali mengikuti sebuah training, kita mendapatkan sertifikat. Tetapi, perlu kita lihat, apakah kertas itu berisi sertifikat ‘mengikuti sebuah training’ atau ‘sertifikasi pencapaian standard kualifikasi’ tertentu. Beda? Sangat beda sekali.</p>
<p><em>Gelar lain-lain</em>. Tidak ada yang melarang seseorang untuk mengenakan gelar-gelar dirinya. Jaman dahulu, kita menggunakan gelar kebangsawanan. Tidak menjadi soal, jika memang kita ini bangsawan. Jaman sekarang, kita menggunakan gelar juga. Sekedar self-introspection; penggunaan gelar lain-lain yang paling parah, mungkin terjadi di dunia pelatihan. Menurut hemat saya, tidak masalah jika gelar-gelar yang digunakan itu masih relevan dan tidak over klaim. Diluar konteks itu, sudah saatnya bagi kita untuk mulai menahan diri. Sekaligus menjadi contoh dalam proses edukasi kepada masyarakat, bahwa gelar itu memang penting. Namun, jauh lebih penting dari semua itu adalah; kompetensi. </p>
<p>Apa untungnya jika kita berkiblat kepada kompetensi? Banyak. Antara lain, setiap kali selesai melakukan suatu hal penting, kita berkesempatan untuk menanyakan kepada diri sendiri;”<em>apa yang bagus dan yang kurang tepat dari aktivitas tadi itu?” </em>Dengan begitu, kita selalu melihat ruang untuk melakukan perbaikan. Selain itu, dengan kompetensi yang tinggi kita memiliki daya saing yang tinggi. Bicara soal realitas? Tengok saja bagaimana kiprah generasi muda Indonesia di kancah olimpiade fisika, matematika, biologi dan science tingkat dunia. Begitu pula dengan tenaga terdidik pekerja professional asal Indonesia di dunia kerja internasional. Kita masih bisa lebih baik lagi.</p>
<p>Sebaliknya, jika kita masih berkiblat kepada ’gelar’ maka kita akan terbelenggu oleh begitu banyak keterbatasan. Kita akan merasa tidak berdaya karena kekurangan gelar. Lalu kita menyerah, dan membiarkan orang lain yang mengambil kesempatan. Atau sebaliknya, kita melawan dengan menempuh cara apa saja untuk sekedar meraih gelar. Jika kita masih bersikap begitu, tandanya kita masih terjajah oleh belenggu pemikiran dan paradigma yang sempit. Sudah saatnya untuk memerdekakan diri dari jenis penjajahan mental seperti itu. Lagi pula, bukankah esensi dari kemerdekaan itu adalah membebaskan diri dari belenggu persepsi-persepsi mental yang tidak perlu? Mumpung kita memiliki momentum hari Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2010. Mari sama-sama belajar memerdekakan diri untuk mulai berkiblat kepada kompetensi. Selamat Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-65.</p>
<p>Mari Berbagi Semangat!<br />
Dadang Kadarusman<br />
Writer, Trainer, and Speaker<br />
www.bukudadang.com dan www.dadangkadarusman.com </p>
<p><strong>Catatan Kaki:</strong><br />
Tetaplah berpikir positif kepada orang-orang yang berkiblat kepada kompetensi. Jika hari ini Anda menilainya ’biasa-biasa saja’, mungkin tahun depan mereka bisa berubah menjadi ’sangat mengagumkan’.</p>
<p>Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul ”Belajar Sukses Kepada Alam” versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan kunjungi petunjuknya di www.bukudadang.com  </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dadangkadarusman.com/2010/08/15/saatnya-berkiblat-kepada-kompetensi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Mengembangkan SDM Di Bulan Ramadhan?</title>
		<link>http://www.dadangkadarusman.com/2010/08/11/bagaimana-mengembangkan-sdm-di-bulan-ramadhan/</link>
		<comments>http://www.dadangkadarusman.com/2010/08/11/bagaimana-mengembangkan-sdm-di-bulan-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Aug 2010 05:13:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kadard</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirational]]></category>
		<category><![CDATA[Miscellaneous]]></category>
		<category><![CDATA[Social Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dadangkadarusman.com/?p=482</guid>
		<description><![CDATA[Hore,
Hari Baru!
Teman-Teman.
Hari ini kita memasuki hari pertama puasa (Ramadhan) 1431H. Sayangnya, bulan puasa kadang disalahartikan sebagai bulan ‘slow down’. Padahal, justru sebaliknya bulan Ramadhan merupakan bulan ‘peak performance’ secara lahir dan batin untuk menjadi manusia yang jauh lebih baik dari tahun sebelumnya. Oleh karena itu, bulan Ramadhan bisa menjadi momentum istimewa untuk melakukan training bagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.dadangkadarusman.com/apps/wp-content/uploads/2010/08/ramadhan.jpg"><img src="http://www.dadangkadarusman.com/apps/wp-content/uploads/2010/08/ramadhan-225x300.jpg" alt="" title="ramadhan" width="225" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-485" /></a>Hore,<br />
Hari Baru!<br />
Teman-Teman.</p>
<p>Hari ini kita memasuki hari pertama puasa (Ramadhan) 1431H. Sayangnya, bulan puasa kadang disalahartikan sebagai bulan ‘<em>slow down’</em>. Padahal, justru sebaliknya bulan Ramadhan merupakan bulan ‘<em>peak performance</em>’ secara lahir dan batin untuk menjadi manusia yang jauh lebih baik dari tahun sebelumnya. Oleh karena itu, bulan Ramadhan bisa menjadi momentum istimewa untuk melakukan training bagi karyawan di perusahaan.   <span id="more-482"></span></p>
<p>Beberapa prinsip berikut ini mungkin bisa diterapkan di perusahaan Anda:<br />
<em><strong>Prinsip pertama, Universal</strong></em>. Yakini bahwa momentum pelatihan bulan puasa bukanlah milik kaum muslimin belaka, melainkan seluruh karyawan di perusahaan. Kita bisa mengajak semua orang untuk memiliki semangat perenungan di bulan ini dengan tetap berpegang teguh kepada keyakinan masing-masing. Perenungan itu dibutuhkan oleh setiap insan, setiap hari. Misalnya, setiap malam menjelang tidur pun kan kita bisa dan biasa merenungkan apa yang sudah kita lakukan sepanjang hari ini. Sehingga, kita semua bisa menjadikan bulan Ramadhan sebagai momentum untuk bersama-sama membangun kebiasaan proses perenungan itu. Mumpung suasana dan lingkungannya mendukung. Dengan begitu proses belajar kita bisa lebih berdampak.</p>
<p><em><strong>Prinsip kedua, Terbuka.</strong></em> Pada dasarnya, training apapun bisa dilakukan pada bulan puasa. Hanya saja, porsi tuntutan terhadap kerja atau aktivitas fisik perlu disesuaikan dengan kondisi para peserta yang sedang berpuasa. Porsi rangsangan daya pikir tidak berubah, bahkan bisa lebih tajam. Sedangkan porsi kesiapan mental/emosional/spiritual bisa lebih tinggi dari hari-hari lainnya.</p>
<p><em><strong>Prinsip ketiga, Toleran.</strong></em> Di bulan Ramadhan, prinsip toleran bisa benar-benar diterapkan. Tapi jangan salah kaprah. Tidak berarti pada bulan Ramadhan kaum muslimin yang berpuasa boleh mendapatkan porsi tanggungjawab yang lebih rendah. Justru bulan Ramadhan itu merupakan tempat latihan fisik, mental, emosional, dan spiritual yang paling gigih untuk membekali diri dalam menghadapi 11 bulan lainnya dalam setahun. Toleran di bulan Ramadhan berarti kita bisa belajar saling memahami satu sama lain. Dalam proses belajar, hal ini bisa diwujudkan secara nyata misalnya pada acara buka puasa bersama.</p>
<p>Saya menyarankan acara buka puasa itu dijadikan momen silaturahmi seluruh karyawan di perusahaan. Bukan hanya karyawan muslim. Oleh sebab itu, materi ceramah pada saat buka puasa sebaiknya dibuat general, sehingga teman-teman yang bukan muslim merasa nyaman mendengarnya dan memiliki semangat belajar yang sama untuk menciptakan etos kerja dan kinerja perusahaan yang lebih baik.</p>
<p>Lho, bukankah di bulan Ramadhan kita harus lebih banyak bedzikir, tafakur, mengaji dan mengkaji ilmu-ilmu ke-Islam-an? Benar. Namun kita perlu menyadari bahwa yang disebut sebagai ‘ilmu agama’ itu tidak hanya berkaitan dengan hal-hal ritual belaka, melainkan mencakup seluruh kehidupan kita termasuk bekerja dan besosialisasi. Apa lagi jika kita berpegang teguh kepada firman Tuhan, bahwa Nabi SAW membawa Islam untuk menjadi <em>Rahmatan Lil ‘Alamiin</em>. Menjadi rahmat bagi seluruh alam. </p>
<p>Lho, kalau acara buka puasa diisi oleh ceramah atau seminar bertema umum, kapan kita bertadarrus? Tadarus itu bagian dari Dzikir.  Sedangkan Adz-Dzkir itu memiliki kelapangan yang sungguh sangat luas dan agung. Saking mulianya Dzikr itu, sampai-sampai seorang Muslim diperintahkan untuk melakukannya pada saat berdiri, ketika duduk, maupun sedang berbaring. Tidak ada saat yang terlewat kecuali bersama dzikir. Begitulah Rasulullah menasihatkan. </p>
<p>Ya, itu Dzikir <em>munfarid </em>(pribadi/perorangan). Bagaimana dengan Dzikr berjamaah? Mari kita perhatikan. Setiap hari, kita memiliki waktu sekitar 1 jam untuk beristirahat. Diluar bulan Ramadhan, kita menggunakan waktu  1 jam tersebut untuk memberi diri kita nutrisi fisik, alias makan siang. Bulan suci Ramadhan akan menjadi semakin indah ketika kita setiap hari bisa menggunakan waktu 1 jam itu untuk Dzikr berjamaah di kantor. Mengaji dan mengkaji. Mengundang para alim ‘ulama untuk meningkatkan pemahaman kita terhadap Al-Islam. </p>
<p>Mulailah dari hal sederhana. Misalnya, apa sih arti ‘Islam’ itu? Al-Islam memiliki banyak makna. Salah satunya adalah, ‘<strong>Keselamatan</strong>”. Islam itu diturunkan untuk membawa keselamatan bagi seluruh alam. Jadi, seorang muslim sejati pasti sanggup memastikan keselamatan siapapun yang berada disekitarnya melalui sikap adil dan penyayangnya.</p>
<p>Islam juga berarti “<strong>Kedamaian</strong>”. Kita perlu bertanya kembali, apakah sebagai seorang pemeluk Islam kita sudah mampu memberi kedamaian kepada kolega-kolega kita. Tetangga-tetangga kita. Bahkan kepada pesaing-pesaing kita?</p>
<p>Al-Islam juga berarti <strong>&#8220;Penyerahan Diri&#8221;. </strong>Kepada siapa? Kepada Sang Pemilik segala kebenaran. Dia-lah yang oleh para Bapak Bangsa kita digambarkan sebagai titik pusat ikrar kebangsaan kita: “<em>Ketuhanan Yang Maha Esa.” </em></p>
<p>Hal-hal semacam ini sangat baik untuk dikaji setiap hari pada jam istirahat siang di kantor. Sedangkan acara buka puasa bersama itu apa? Itu bukan momentum milik karyawan yang berpuasa saja. Melainkan kesempatan bagi ummat Islam untuk semakin mendekatkan diri dengan rekan-rekan lainnya. Lagi pula, acara buka puasa bersama cukup dilakukan satu kali selama bulan Ramadhan itu. Sedangkan acara tadarrus dan Dizkr tadi, bisa dilakukan setiap hari pada saat istirahat siang, selama bulan Ramadhan.</p>
<p>Sekarang, ijinkan saya untuk mengambil 2 kesimpulan:<br />
<em>Pertama, </em> istirahat harian 1 jam di kantor bisa digunakan menjadi acara ‘santap ruhani’ seluruh karyawan muslim. Patut sekali jika manajemen atau HRD di kantor memfasilitasi program ‘training keislaman’ dengan memanggil para alim ‘ulama untuk meningkatkan keimanan dan etos kerja karyawan setiap hari. Silakan hitung itu sebagai ‘<em>training hour’ </em>dalam proses pengembangan SDM Anda. Ulama bisa membantu karyawan untuk menemukan bahwa ‘bekerja adalah bagian penting dalam proses peribadatan seseorang’. Sehingga etos kerja orang yang faham terhadap ajaran Islam pasti akan jauh lebih baik lagi.</p>
<p><em>Kedua, </em>acara buka puasa bersama bisa dijadikan ajang silaturahmi dan saling berkasih sayang dengan seluruh karyawan di perusahaan. Pada momen ini, sebaiknya HRD dan menejemen memfasilitasi proses belajar dengan topik yang general dan bisa diterima oleh semua orang yang hadir. Saya yakin Anda bisa menemukan para pembicara yang tepat untuk sesi-sesi seperti ini. Indonesia, memiliki banyak sekali trainer hebat. <em>You can count on them, believe me</em>.</p>
<p>Dengan demikian, aspek vertical maupun horizontal dari makna Ramadhan ini bisa tercapai. Karena Islam, sama sekali bukan hanya tentang urusan penyembahan kepada Allah Yang Esa. Melainkan juga tentang kontribusi dan kepedulian kita semua kepada sesama.</p>
<p>Mari Berbagi Semangat!<br />
Dadang Kadarusman<br />
Writer, Trainer, and Speaker<br />
www.bukudadang.com dan www.dadangkadarusman.com </p>
<p>gambar: diambil dari www.binamuslim.com </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dadangkadarusman.com/2010/08/11/bagaimana-mengembangkan-sdm-di-bulan-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Gelar Seseorang Menentukan Kualitas Dirinya?</title>
		<link>http://www.dadangkadarusman.com/2010/08/08/apakah-gelar-seseorang-menentukan-kualitas-dirinya/</link>
		<comments>http://www.dadangkadarusman.com/2010/08/08/apakah-gelar-seseorang-menentukan-kualitas-dirinya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Aug 2010 06:21:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kadard</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirational]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dadangkadarusman.com/?p=478</guid>
		<description><![CDATA[Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
Berapa banyak gelar yang Anda miliki? Insinyur, Dokter, Doktorandus, Master, PhD, Professor? Semua gelar yang sangat membanggakan, tentunya. Bukankah itu juga yang menjadi alasan utama mengapa kita bersekolah? Mungkin memang demikian. Namun, ada indikasi bahwa kita sudah semakin silau dengan gelar. Bahkan sekarang sering muncul gelar-gelar baru yang hebat-hebat, unik-unik, dan aneh-aneh. Menurut pendapat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.dadangkadarusman.com/apps/wp-content/uploads/2010/08/600px-Education_-_Grad_Hat_svg.png"><img src="http://www.dadangkadarusman.com/apps/wp-content/uploads/2010/08/600px-Education_-_Grad_Hat_svg-300x300.png" alt="" title="600px-Education_-_Grad_Hat_svg" width="300" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-480" /></a>Hore,<br />
Hari Baru!<br />
Teman-teman.</p>
<p>Berapa banyak gelar yang Anda miliki? Insinyur, Dokter, Doktorandus, Master, PhD, Professor? Semua gelar yang sangat membanggakan, tentunya. Bukankah itu juga yang menjadi alasan utama mengapa kita bersekolah? Mungkin memang demikian. Namun, ada indikasi bahwa kita sudah semakin silau dengan gelar. Bahkan sekarang sering muncul gelar-gelar baru yang hebat-hebat, unik-unik, dan aneh-aneh. Menurut pendapat Anda sendiri, seberapa pentingnya sih sebuah gelar itu?   <span id="more-478"></span></p>
<p>Pada awal tahun 2000an saya menghabiskan waktu bersama beberapa teman di Ray Brook, sebuah kota kecil di pinggiran kemilau New York city. Salah satu diantara teman saya itu berkebangsaan Turki. Ketika hendak berpisah, kami saling bertukar cendera mata agar bisa menjadi kenangan kami. Karena dia suka mengoleksi mata uang negara lain, maka saya memberinya beberapa koin mata uang rupiah. Sebagai balasannya teman saya ini memberikan satu lembar uang lira Turki. Saya terkejut ketika dia menyerahkan uang senilai satu juta lira itu.”<em>I couldn’t take it!”, </em>saya bilang. Teman mengatakan bahwa di Turki dia hanya bisa membeli dua potong roti dengan uang satu juta itu. Bukan berarti harga barang-barang di Turki sangat mahal, melainkan karena terlampau rendahnya nilai mata uang mereka. Diam-diam, saya memiliki tekad untuk benar-benar membeli roti di negeri Turki.</p>
<p>Saya beruntung mempunyai momen langka seperti itu. Karena kemudian saya menyadari bahwa kita ternyata tidak jauh berbeda dengan mata uang. Jika kita biasa membanding-bandingkan nilai tukar rupiah dengan dollar, euro, poundsterling dan mata uang dunia lainnya; maka sebaiknya kita juga belajar membandingkan ’nilai diri kita’ dengan orang lain. Sekarang kita menyadari betul bahwa nilai tukar mata uang itu sama sekali tidak ditentukan oleh jumlah angkanya. Melainkan dengan ’nilai benda’ yang bisa dibeli olehnya. Dalam kasus lira Turki yang saya terima dari teman saya di awal tahun 2000an itu, besar nilai nominal yang tertera dalam lembarannya sama sekali tidak memberi arti bermakna. Manusia juga sama. Panjangnya gelar yang menempel didepan atau dibelakang nama kita sama sekali tidak menentukan ’nilai’ kita yang sebenarnya.</p>
<p>Anehnya, kita sering terpukau oleh gelar yang mentereng dan berjajar panjang menghiasi nama kita. Apakah itu salah? Tidak. Silakan saja. Namun, hendaknya kita mendahulukan ’nilai’ sesungguhnya dari diri kita melebihi deretan gelar itu. Apa gunanya suatu mata uang yang memiliki jejeran angka nol yang sangat banyak, namun nilainya hanya setara dengan dua potong roti. Mending mata uang lain yang meskipun angka nolnya hanya satu, bahkan tidak memiliki angka nol sama sekali; namun dia bisa ditukarkan dengan roti dalam jumlah yang sama dengan satu juta yang saya terima dari teman Turki tadi. </p>
<p>Hal ini memberi saya kesadaran bahwa ternyata memang ’bukan’ angka nominal yang panjang yang menentukan nilai uang. Dan, bukan deretan gelar yang panjang yang menentukan nilai seseorang. Apa lagi jika gelar-gelar yang kita tempelkan itu bukan hasil pendidikan, melainkan hasil klaim pribadi atau sekelompok orang. Misalnya, dengan menjadi seorang sopir angkot, saya tentu tidak perlu memberi diri sendiri gelar sebagai <em>’sopir angkot terbaik</em>’ bukan? Selain hal itu sama sekali tidak mewakili kemampuan mengemudi dan perilaku ’berlalulintas’ saya, juga tidak jelas apa ukurannya. Mengapa saya tidak merasa puas dengan gelar <em>’sopir angkot</em>’ saja? Apa lagi kenyataannya tidak ada lembaga apapun yang memberi legitimasi kepada saya untuk menyebut diri sebagai ’sopir angkot terbaik’ itu. Memangnya kapan saya dibandingkan dengan para sopir angkot lainnya?</p>
<p>Bulan Mei 2006, saya duduk di dermaga selat Bosporus, tepat disamping sebuah pelabuhan kapal Feri di Besiktas. Orang-orang Turki menggunakan Feri itu untuk menyeberang ke daratan Eropa di pagi hari, dan kembali ke sisi lain di daratan Asia. Beberapa meter dari tempat duduk saya ada seorang Bapak tua yang menjajakan roti. Saat perut terasa lapar, pedagang roti itupun saya hampiri. Lalu saya membeli sepotong roti. Harganya hanya dua setengah lira. Lho, kok harganya bukan 500 ribu lira? Tentu saja, karena Turki di tahun 2000 berbeda dengan Turki tahun 2006. Tuhan mengijinkan saya mewujudkan tekad untuk membeli roti di Turki, namun uang yang saya gunakan sudah tidak sama lagi. Ketika Turki berhasil melakukan redenominasi mata uangnya, ternyata mereka berhasil memotong deretan angka nol yang tidak memiliki arti. </p>
<p>Jangan-jangan kita juga seperti itu. Ketika kita berhasil ’meredenominasi’ penghargaan yang berlebihan terhadap gelar seseorang, mungkin kita bisa berhasil memotong deretan gelar-gelar yang tidak memiliki arti. Dengan menggunakan nilai nominal baru yang lebih pendek itu, orang Turki sama sekali tidak kehilangan ’nilai’ mata uangnya. Dengan menggunakan paradigma gelar baru yang lebih pendek itu, kita harus yakin tidak akan pernah kehilangan ’nilai diri kita yang sesungguhnya’. Kita sering melihat orang-orang yang bergelar sedemikian panjangnya sehingga namanya sendiri nyaris tenggelam oleh deretan gelar itu. Padahal, jika gelar-gelar yang berentet itu dikurangi, sama sekali tidak akan menurunkan kualitas atau ketinggian nilai dirinya.  </p>
<p>Bukankah setiap orang berhak menggunakan gelarnya? Oh, tentu. Salah seorang sahabat saya mendapatkan gelar ’Professor’ pada usia muda. Banyak sahabat saya yang berhasil meraih gelar PhD. Mereka adalah orang-orang yang kualitas dirinya ’sudah teruji’. Dari mereka saya belajar bahwa ’menempelkan’ gelar perlu didahului oleh ’nilai diri’ yang sesunggunya. Dengan cara itu barulah sebuah gelar memiliki makna. Apa jadinya jika kesilauan kita terhadap gelar akhirnya mendorong kita untuk mendapat gelar ’dengan cara apapun’. Termasuk diantaranya memalsukan tesis atau bahkan membelinya dari sekelompok pedagang ijazah di toko kelontong berlabel kampus.</p>
<p>Ketika menyerahkan uang 1 juta lira-nya, teman saya berkelakar;”<em>Sekarang kamu tahu Dang, kalau gaji saya di Turki bernilai Milyaran&#8230;&#8230;.” </em>Kami terbahak-bahak karena mulai sadar jika angka nominal yang panjang itu tidak lebih dari sekedar guyonan belaka. Ketika kita menempelkan begitu banyak gelar pada nama kita, boleh jadi banyak orang yang mentertawakan kita. Terutama mereka yang benar-benar memiliki ilmunya. Karena mereka tahu bahwa kedalaman ilmu seseorang tidak bisa dilukiskan dengan gelar yang panjang. </p>
<p>Hanya saja, ada bedanya antara uang dengan gelar keilmuan. Saya mengenal beberapa orang yang berpendidikan tinggi. Mendapat gelar dari hasil perjuangannya bersekolah. Kecanggihan ilmunya diakui oleh kalangan industri maupun dunia pendidikan. Namun, orang-orang itu tidak sembarangan menggunakan gelar yang dimilikinya. Mereka hanya menggunakan gelar-gelar itu dalam forum-forum yang relevan. Sedangkan di luar forum itu, mereka memilih untuk menampilkan nama dirinya sendiri. Sungguh, orang-orang itu telah berhasil membangun penghormatan sejati. Gambaran manusia berilmu yang sesungguhnya. Mereka yang berjuang untuk ilmu, bukan semata-mata untuk meraih gelarnya. </p>
<p>Sekarang, masyarakat di negara kita tengah ramai membicarakan wacana redenominasi nilai rupiah. Kita sudah sadar bahwa angka nol yang panjang itu sama sekali bukan jaminan tingginya nilai tukar mata uang kita. Semoga saja, kesadaran ini juga kita imbangi dengan kesadara lain bahwa; gelar kita sama sekali bukanlah faktor penentu kualitas diri kita. Jika kita sudah bosan dengan gelembung nilai rupiah yang kempos, maka mungkin sudah saatnya juga bagi kita untuk ’mulai bosan’ dengan mengagung-agungkan gelar didepan dan belakang nama kita. Apakah itu gelar akademis yang dipakai tidak pada tempatnya, atau pun gelar-gelar lain yang kita dapat dari ranah antah berantah.</p>
<p>Mari Berbagi Semangat!<br />
Dadang Kadarusman<br />
Writer, Trainer, and Speaker<br />
www.bukudadang.com dan www.dadangkadarusman.com </p>
<p><strong>Catatan Kaki:</strong><br />
Nilai seseorang sama sekali tidak ditentukan oleh embel-embel yang menempal pada namanya. Melainkan kepada kemampuan aktual yang bisa disumbangkannya kepada dunia.</p>
<p>Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul ”Belajar Sukses Kepada Alam” versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan kunjungi petunjuknya di www.bukudadang.com  </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dadangkadarusman.com/2010/08/08/apakah-gelar-seseorang-menentukan-kualitas-dirinya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perjalanan Menunggangi Angin</title>
		<link>http://www.dadangkadarusman.com/2010/08/01/perjalanan-menunggangi-angin/</link>
		<comments>http://www.dadangkadarusman.com/2010/08/01/perjalanan-menunggangi-angin/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Aug 2010 14:51:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kadard</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirational]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dadangkadarusman.com/?p=469</guid>
		<description><![CDATA[Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
Jika kita hendak memulai sesuatu, maka sebaiknya terlebih dahulu diperhitungkan baik dan buruknya. Untung dan ruginya. Peluang dan resikonya. Begitulah cara berpikir orang modern di zaman ini. Semakin canggih kita berpikir, mestinya semakin rapi perencanaan yang kita buat. Dan semakin sukses kita ketika menjalaninya. Begitulah teorinya. Faktanya, kita sering tidak jadi melakukan sesuatu setelah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.dadangkadarusman.com/apps/wp-content/uploads/2010/08/IMG_3299.jpg"><img src="http://www.dadangkadarusman.com/apps/wp-content/uploads/2010/08/IMG_3299-300x225.jpg" alt="" title="IMG_3299" width="300" height="225" class="alignleft size-medium wp-image-471" /></a>Hore,<br />
Hari Baru!<br />
Teman-teman.</p>
<p>Jika kita hendak memulai sesuatu, maka sebaiknya terlebih dahulu diperhitungkan baik dan buruknya. Untung dan ruginya. Peluang dan resikonya. Begitulah cara berpikir orang modern di zaman ini. Semakin canggih kita berpikir, mestinya semakin rapi perencanaan yang kita buat. Dan semakin sukses kita ketika menjalaninya. Begitulah teorinya. Faktanya, kita sering tidak jadi melakukan sesuatu setelah melakukan analisis rumit yang menjadikan diri kita terserang paralisis. Sebaliknya, kita mengenal orang-orang sederhana yang sedikit berpikir, namun banyak bertindak. Alih-alih mengalami resiko kerugian yang sering kita takutkan, malah banyak diantara mereka yang memetik keberhasilan. Sementara kita masih berkutat dengan perhitungan-perhitungan yang indah di atas kertas. Apakah Anda juga demikian?  <span id="more-469"></span></p>
<p>Di halaman rumah saya terdapat beberapa jenis tanaman hias. Salah satunya adalah Adenium. Saya yakin banyak sekali orang yang mengenal tanaman berbunga indah itu. Namun, saya tidak begitu yakin jika cukup banyak orang yang mengetahui bagaimana tanaman itu berkembang biak secara alami. Suatu hari saya mendapati tangkai yang menyerupai tanduk tumbuh pada salah satu batang Adenium kami. Karena letaknya persis di jalur masuk ke garasi, maka setiap hari saya memperhatikannya. Beberapa hari kemudian, batang serupa tanduk itu pecah. Lalu dari dalamnya bermunculan beberapa lempengan kecil seperti batang korek api namun ukurannya lebih pendek. Di kedua ujung benda mirip korek api itu terdapat semacam sayap seperti bulu-bulu berwarna putih. Saya belum benar-benar memahami bentuk penciptaan itu sampai suatu sore angin berhembus menerbangkan biji-bijian itu.</p>
<p>Saya benar-benar seperti orang pilon ketika melihat biji-biji itu beterbangan. Bukan hal yang aneh memang, sebab dulu ketika masih kecil sering melihat begitu banyak tanaman perdu yang biji-bijinya beterbangan seperti itu. Sekarang saya terpukau bukan semata-mata karena sudah lama tidak melihat fenomena itu, melainkan karena saya mendapatinya dari tanaman yang tidak pernah saya duga memiliki perilaku berkembang biak serupa itu. Saya sungguh-sungguh mengikuti beberapa biji yang terbang. Diantaranya ada yang melanglangbuana menuju ke tempat yang tidak mampu saya gapai. Lalu sambil mengendarai angin, dia seolah melambai kepada saya yang masih termangu. </p>
<p>Tiba-tiba saja saya merasa tengah mendapatkan sebuah cemoohan. Saya yang mengaku sebagai mahluk yang diciptakan melebihi mahluk lainnya ini ternyata tidak memiliki keberanian seperti yang biji-biji Adenium itu miliki. Sampai seusia ini, rasanya saya masih sering ingin bersembunyi di belakang orang-orang yang saya percaya bisa menjadi sandaran. Sedangkan biji-biji Adenium itu sudah berani menghadapi hidup bahkan sebelum mereka berbentuk. Mereka tidak menggelayuti induk pohonnya. Malah mereka menantang angin untuk datang lalu memperlakukannya laksana seekor naga terbang yang bisa ditunggangi untuk menjelajahi langit. </p>
<p>Mengapa saya begitu takutnya untuk menghadapi hidup dengan diri saya sendiri, padahal mereka yang saya kira rapuh malah memiliki jiwa yang begitu tangguh? Sungguh, sampai saat ini saya masih sering merasa takut untuk menjelajahi dunia yang saya tidak tahu akan berakhir dimana. Logika saya masih terlalu sering memonopoli. Ketika saya memiliki suatu keinginan, maka logika ini membombardir jiwa saya dengan informasi tentang kurangnya ini dan itu. Ditambah lagi dengan resiko berupa seribu satu kemungkinan tidak menyenangkan yang bisa menjadi akhir tragis dari perjalanan saya. Sehingga saya sering berhenti, bahkan sebelum benar-benar memulai sebuah tindakan. Makanya pikiran saya sering dipenuhi oleh beragam gagasan, namun kaki saya tidak pernah berhasil membuat sebuah langkah pertama untuk mewujudkannya.  </p>
<p>Hanya berselang beberapa hari kemudian, saya mendapati objek mirip batang korek api itu di halaman rumah kami. Kali ini, sudah tidak utuh lagi. Sayap bulu putihnya sudah tanggal. Dan kulit berwarna kremnya sudah terkelupas. Dari balik kulit pembungkus itu menyembul sebuah titik berwarna hijau. Saya mengamatinya hari itu. Lalu esok paginya saya mendapati titik hijau itu sudah menyembul berupa tunas dengan dua helai daun-daun mungil. Sekarang saya sudah menemukan dan mengumpulkan 2 tunas Adenium baru kami. Hasil dari sebuah keberanian biji-biji itu untuk mengambil resiko. Saya tidak tahu, apakah saya berani menyerahkan diri kepada angin tanpa harus bertanya;”<em>Kemana engkau akan menerbangkan diriku?”</em></p>
<p>Saya membutuhkan waktu berhari-hari untuk memahami pelajaran ini. Sangat sulit untuk menerimanya dengan seluruh tubuh kasar dan nurani halus saya. Tidak peduli betapa kerasnya saya berusaha mengajak hati ini memiliki nyali seperti yang dimiliki biji-biji korek api Adenium itu, tetap saja logika saya menimpali;”<em>Be logic, please</em>!” Tidak peduli berapa besarnya keinginan saya untuk ’yakin’, namun hitungan matematis saya mengatakan;”<em>calculate the risk, please!”. </em>Saya benar-benar ragu untuk menunggangi angin sebelum memberi kepastian bahwa dia akan menerbangkan saya ke tempat yang indah. Sementara biji korek api Adenium itu seolah kembali mentertawakan keciutan hati ini. ”<em>Tunggangi, angin!” </em>katanya. <em>”Dan biarkan dia menerbangkan dirimu menuju nasibmu&#8230;.”</em> lanjutnya. </p>
<p>”<em>Nasib seperti apa?” </em>begitu saya menyanggah. Bukanlah nasib jika saya tidak tahu akhirnya akan menjadi seperti apa. Sehingga saya memilih untuk tinggal disini saja. Lalu seperti biasanya, memenjarakan diri dalam zona kenyamanan yang memanjakan. </p>
<p>Biji korek api Adenium itu memanggil lagi. ”<em>Tunggani anginmu!</em>” katanya. Angin lagi. Angin lagi. Ada apa sih sebenarnya dengan angin? Mengapa begitu bawelnya dia memanggil-manggil saya?</p>
<p>Sekarang, di tangan saya ada kitab suci. Sungguh, selepas sembahyang magrib ini saya membaca ayat-ayat sekenanya saja. Saya tidak berusaha mencari-cari jawaban apapun selain membaca apa yang ada pada halaman yang saya buka. Namun seolah Tuhan mengantarkan saya kepada sebuah jawaban atas kegundahan yang selama berhari-hari menyelimuti sekujur tubuh dan nurani ini. Saya menemukan sebuah ayat dalam firman Tuhan. Ayat itu berbunyi; <em>”Dan diantara tanda-tanda kebesaran Tuhan adalah bahwa Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira&#8230;.”</em></p>
<p>Sampai di ujung ayat itu, saya tidak lagi mampu untuk berkata-kata. Hati saya sekarang telah terisi oleh sesuatu yang saya tidak tahu apa. Namun, rasanya saya mulai memiliki keyakinan. Bahwa angin kehidupan ini pun sengaja dikirimkan Tuhan untuk saya tunggangi. Seperti naga yang liar, angin itupun mungkin akan bisa dijinakkan. Bukan dengan cara mengalahkannya. Melainkan dengan menyatukan diri dengan iramanya. Lalu membiarkan kuasa Tuhan untuk membawa kemana saja Dia menggerakkannya. Menakutkan memang. Namun, seperti kalimat selanjutnya dalam firman Tuhan itu. Dia bertitah<em>;”&#8230;.dan agar kamu merasakan sebagian dari rahmat-Nya&#8230;.”.</em></p>
<p>Tuhan. Jika Engkau menjanjikan rahmat-Mu diujung perjalanan menunggangi angin itu, bagaimana aku bisa membiarkan keraguan dan rasa takut ini menguasai relung-relung hatiku?  </p>
<p>Mari Berbagi Semangat!<br />
Dadang Kadarusman<br />
Writer, Trainer, and Speaker<br />
<a href="www.bukudadang.com">www.bukudadang.com</a> dan www.dadangkadarusman.com </p>
<p><strong>Catatan Kaki:</strong><br />
Tidak seorang pun benar-benar tahu apa yang akan terjadi esok hari. Namun, tidak mungkin Tuhan menyia-nyiakan orang-orang yang gigih  berusaha sambil berserah diri.</p>
<p>Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul ”Belajar Sukses Kepada Alam” versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan kunjungi petunjuknya di<a href=" www.bukudadang.com "> www.bukudadang.com </a> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dadangkadarusman.com/2010/08/01/perjalanan-menunggangi-angin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antara Harga Yang Harus Dibayar Dan Totalitas Diri</title>
		<link>http://www.dadangkadarusman.com/2010/07/21/antara-harga-yang-harus-dibayar-dan-totalitas-diri/</link>
		<comments>http://www.dadangkadarusman.com/2010/07/21/antara-harga-yang-harus-dibayar-dan-totalitas-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jul 2010 04:11:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kadard</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirational]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dadangkadarusman.com/?p=432</guid>
		<description><![CDATA[Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
Berapa banyak hal yang sudah Anda canangkan dalam hidup? Saya memiliki banyak hal serupa itu. Berapa banyak hal yang sudah berhasil Anda capai dalam hidup? Saya memiliki banyak hal yang belum berhasil menyentuh pencapaian serupa itu. Kadang saya menuntut tanggungjawab nasib atas begitu banyaknya hal yang tidak berhasil saya capai. Namun, ketika secara sungguh-sungguh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.dadangkadarusman.com/apps/wp-content/uploads/2010/07/sponge-bob.jpg"><img src="http://www.dadangkadarusman.com/apps/wp-content/uploads/2010/07/sponge-bob.jpg" alt="" title="sponge bob" width="185" height="273" class="alignleft size-full wp-image-433" /></a>Hore,<br />
Hari Baru!<br />
Teman-teman.</p>
<p>Berapa banyak hal yang sudah Anda canangkan dalam hidup? Saya memiliki banyak hal serupa itu. Berapa banyak hal yang sudah berhasil Anda capai dalam hidup? Saya memiliki banyak hal yang belum berhasil menyentuh pencapaian serupa itu. Kadang saya menuntut tanggungjawab nasib atas begitu banyaknya hal yang tidak berhasil saya capai. Namun, ketika secara sungguh-sungguh menengok ke belakang, ternyata kegagalan saya lebih banyak disebabkan karena saya sendiri. Bukan oleh nasib saya. Ada yang karena saya tidak tahu caranya. Atau saya salah melakukannya. Atau saya semberono dalam merencanakannya. Dan yang lebih sering lagi karena saya tidak benar-benar berani membayar harganya dengan totalitas diri saya sendiri. Saya mencanangkan cita-cita besar yang tentunya menuntut harga yang besar untuk dibayar. Sebuah harga yang hanya bisa terbayar dengan totalitas. Apakah Anda juga demikian?  <span id="more-432"></span></p>
<p>Beberapa pekan silam saya bertemu dengan teman-teman lama dalam sebuah acara temu alumni. Rupanya teman-teman saya banyak yang mengira saya masih bekerja sebagai seorang professional untuk sebuah perusahaan multinasional. Atas usulan salah seorang senior saya, maka akhirnya saya mengumumkan bahwa saya sudah mengundurkan diri dari perusahaan itu. </p>
<p>Secara karir dan material saya mendapatkan banyak manfaat dari perusahaan itu. Mungkin lebih banyak dari kebanyakan teman yang dulu sama-sama masuk ke sana pada periode yang sama. Tahun 2004, saya mendapatkan ”William E. Upjohn Award” dari kantor pusat kami di US. Saya tidak tahu apakah ada orang Indonesia lain yang pernah mendapatkan award itu sebelumnya. Tidak terlalu signifikan sih, tapi lumayanlah bisa menempatkan nama kita dibawah radar talent pool head office untuk peluang international career di masa depan. Posisi terakhir saya Strategic Planning Head dimana sebagian besar waktu dan energi saya dialokasikan untuk membantu President Director. Basically, &#8216;hampir&#8217; atau kebanyakan materi presentasi beliau di local, regional dan international &#8216;mampir&#8217; di meja saya. Tidak berarti semua saya yang mengerjakan, karena itu adalah kerja team dari semua divisi. None of us as strong as all of us.</p>
<p style="visibility:visible;"><object type="application/x-shockwave-flash" data="http://widget-d1.slide.com/widgets/slideticker.swf" height="320" width="426" style="width:426px;height:320px"><param name="movie" value="http://widget-d1.slide.com/widgets/slideticker.swf" /><param name="quality" value="high" /><param name="scale" value="noscale" /><param name="salign" value="l" /><param name="wmode" value="transparent"/><param name="flashvars" value="cy=ms&#038;il=1&#038;channel=3530822107904201169&#038;site=widget-d1.slide.com"/></object></p>
<p>Akhir tahun 2008, rancangan proposal kami untuk mendirikan lini bisnis baru disetujui NYHQ, dan usulan membuat satu divisi baru juga di approve. Saya mempunyai peluang/pilihan untuk menangani salah satu diantara kedua hal itu. Namun, hati saya mengajak untuk mengambil pilihan ketiga, yaitu; melakukan sesuatu yang sejak jaman dahulu kala saya inginkan. Menjadi Trainer  dan Public Speaker. </p>
<p>Saya dimarahi banyak orang, termasuk mantan Pres Dir kami yang mendapatkan tugas baru di negara lain sekitar 3 bulan sebelum saya resign. Namun waktu itu saya sudah bulat hati. Apa lagi istri saya yang sudah &#8216;dilobby&#8217; selama bertahun-tahun menyetujui kenekatan saya &#8216;dengan beberapa syarat&#8217;. Saya <em>laa haula. Saya juga </em><em>laa quwwata</em>. Tapi saya yakin Tuhan akan menolong saya. Maka tanggal 16 Januari 2009 saya resmi mengakhiri karir saya di perusahaan hebat itu. </p>
<p>Itu juga berarti saya harus mengakhiri semua &#8216;kenikmatan hidup&#8217; yang telah selama bertahun-tahun memanjakan kami. Juga &#8216;keglamoran&#8217; yang sebenarnya sangat saya sukai. Tapi, saya menginginkan &#8216;lebih&#8217; dari itu, yang saya percaya tidak akan saya temukan jika bekerja disana atau di perusahaan kelas dunia manapun. Bukan karena perusahaan-perusahaan itu kurang baik. Namun karena saya sendiri yang menuntut lebih banyak untuk hidup saya. Bagi saya pribadi perusahaan itu adalah one of great companies to work for. Terutama untuk &#8216;pertumbuhan pribadi saya&#8217; yang terus dipacu untuk mencapai puncak kapasitas diri. Namun, saya merasa belum cukup untuk mendapatkan apa yang ’sesungguhnya’ saya inginkan.</p>
<p>Memang sebenarnya saya memiliki pilihan lain, yaitu; menjadi karyawan sambil nyambi jadi trainer. Tapi sangat sulit bagi saya untuk melakukan hal itu meskipun dalam status cuti. Sebab, saya tidak mungkin bisa berbicara tentang &#8216;profesionalisme kerja&#8217; kepada para trainee sementara saat saya mengatakannya saya sedang mengambil cuti. Padahal boleh jadi pada saat itu perusahaan tempat saya bekerja sedang berjibaku untuk sesuatu yang seharusnya menjadi tanggungjawab saya. Ini bukan soal salah dan benar, melainkan soal &#8216;value pribadi’. Jika saya menjadi trainer technical, misalnya; bagaimana cara mengoperasikan mesin pemintal benang, atau bagaimana cara mengelas pipa bawah laut, bisa jadi &#8216;gaya 2 kaki&#8217; seperti itu bisa dilakukan. Tapi, saya memilih untuk menjadi trainer tentang &#8217;sistem nilai&#8217;. Maka saya ingin memastikan bahwa apa yang saya share kepada trainee saya adalah <em>&#8216;apa yang saya lakukan&#8217;, </em>bukan <em>&#8216;apa yang seharusnya mereka lakukan&#8217;</em>. </p>
<p style="visibility:visible;"><object type="application/x-shockwave-flash" data="http://widget-3e.slide.com/widgets/slideticker.swf" height="320" width="426" style="width:426px;height:320px"><param name="movie" value="http://widget-3e.slide.com/widgets/slideticker.swf" /><param name="quality" value="high" /><param name="scale" value="noscale" /><param name="salign" value="l" /><param name="wmode" value="transparent"/><param name="flashvars" value="cy=ms&#038;il=1&#038;channel=3530822107904199486&#038;site=widget-3e.slide.com"/></object></p>
<p>Saya memulai &#8216;pekerjaan sendiri&#8217;. Tidak ada modal kapital yang secara rasional bakal bisa &#8216;meningkatkan kualitas hidup kami&#8217;, atau sekedar &#8216;menyamai apa yang selama ini pernah kami dapatkan&#8217;. Atau bahkan untuk sekedar &#8216;menyelamatkan&#8217; hidup kami. Kami ini &#8217;single gardan&#8217;. Jika saya gagal, istri dan anak-anak saya mungkin tidak bisa makan. Tapi dengan begitu justru saat saya berdoa bisa lebih khusuk daripada sebelumnya.</p>
<p>Alhamdulillah, sampai hari ini saya masih bisa bertahan. Tidak terlalu buruk untuk ukuran seorang pemula yang bermodal utama kenekatan. Meski masih sering kalah oleh lembaga training besar atau para trainer senior. Lagi pula, saya meyakini benar bahwa hidup bukanlah soal kalah atau menang. Mungkin jika sekarang saya mengalami keadaan &#8217;seolah kalah&#8217;, maka suatu saat nanti saya bisa menemukan banyak hikmah.</p>
<p>Perusahaan-perusahaan sekarang menghadapi banyak tantangan. Misalnya, bagaimana meningkatkan profesionalisme kerja karyawan, bagaimana membangun kegigihan dan semangat pantang menyerah para pegawai, bagaimana membangun integrasi operasional dan aliansi antar departemen, bagaimana membangun kepemimpinan efektif dan sebagainya. Di sisi lain, ada banyak program pelatihan yang ditawarkan namun kebanyakan sangat baku atau generik. Atau bahkan sekedar copy paste. Saya melihat ini sebagai peluang bagi trainer-trainer yang bersedia mendedikasikan diri kepada sesuatu yang memberikan nilai unik. Menggunakan daya pikir dan pengalamannya pribadi. Sehingga, meskipun pakem managemen itu sama; namun warnanya pasti menjadi berbeda dengan sentuhan pribadinya. Atau, meskipun teori kepemimpinan itu relatif tidak berubah. Namun, saya meyakini kalau ada hal-hal pribadi yang bisa mengubah teori dan texbook menjadi sesuatu yang lebih aktual. Saya melihat banyak trainer hebat seperti itu. Dan saya ingin mengikuti jejak mereka. Maka meski tertatih, saya terus berlatih agar tertular kecanggihan mereka.</p>
<p>Ijinkan saya menceritakan tentang pengalaman mendapatkan &#8216;order training&#8217; pertama saya. Sebuah perusahaan Jerman yang dipimpin oleh Pres Dir expat dari Jerman. Beliau gundah karena HR Head-nya merekomendasikan nama saya untuk melakukan training padahal CV saya &#8216;masih kosong&#8217; (maklum, itu akan menjadi order pertama saya&#8230;..). Bahkan saya sendiri tidak mengenal HR Head tersebut sebelumnya. Wajar jika ada yang mempertanyakan dasarnya apa beliau memilih saya?  &#8220;<em>I wonder why did my people reccommend you&#8230;&#8230;&#8221; Saya menjawab pertanyaan beliau begini;&#8221;</em><em>You don&#8217;t pay, if you are not satisfied&#8230;.&#8221; </em></p>
<p>Akhirnya saya mendapatkan order itu. &#8216;Kontrak kerja&#8217; pertama yang saya tanda tangani. Sesi training yang harus dibawakan dengan bahasa Inggris karena diantara peserta ada 5-6 orang expatriate ikut dalam kelas kami. Pak Presiden Komisaris juga hadir dari awal sampai akhir. Beliau orang Indonesia. Setelah sesi training itu selesai, Pak Pres Dir menyalami saya. Ngobrol sebentar, lalu beliau meminta saya untuk memberikan training bagi 2 group lainnya di perusahaan itu.</p>
<p>Anda mungkin mengira saya bisa membawakan sesi training itu karena saya memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik. Keliru. Bahkan, saya salah menggunakan grammar ketika pertemuan pertama saya dengan Pak Pres Dir. Yang sebetulnya saya ucapkan adalah; &#8220;<em>You dont&#8217; pay, if you don&#8217;t satisfy</em>&#8220;. Saya baru menyadari kalau grammar saya salah setelah sharing kepada teman-teman alumni tentang pengalaman saya pindah kuadran. Ada sahabat saya yang bahasa Inggrisnya bagus sekali memberitahu saya yang seharusnya. Bayangkan, dalam keadaan serba terbatas itu saja saya masih ’selamat’ dari kemungkinan gagal. Tuhan tahu benar jika saya akan langsung jatuh tersungkur hingga mungkin tidak mampu bangkit lagi kalau pada order pertama itu saya gagal. Tuhan menolong saya. Bukan hanya sekedar memberikan order pertama yang akan menjadi ’isi’ pada CV saya. Melainkan ’menyelamatkan’ saya dari kegagalan fatal. Semoga hal itu menjadi pertanda bahwa Tuhan mendukung apa yang saya cita-citakan.</p>
<p style="visibility:visible;"><object type="application/x-shockwave-flash" data="http://widget-7e.slide.com/widgets/slideticker.swf" height="320" width="426" style="width:426px;height:320px"><param name="movie" value="http://widget-7e.slide.com/widgets/slideticker.swf" /><param name="quality" value="high" /><param name="scale" value="noscale" /><param name="salign" value="l" /><param name="wmode" value="transparent"/><param name="flashvars" value="cy=ms&#038;il=1&#038;channel=3530822107904199294&#038;site=widget-7e.slide.com"/></object></p>
<p>Saya terkesan dengan semangat sahabat-sahabat saya yang begitu gigih memperjuangkan mimpi-mimpinya. Tentu tidak mudah bagi mereka yang tengah menduduki puncak kenikmatan untuk menceburkan diri kedalam gelombang lautan perjuangan yang penuh dengan ketidakpastian. Jika Anda termasuk orang-orang seperti mereka, maka ketahuilah bahwa; saya bersama Anda. Semoga jalan mendaki yang kini Anda lalui akan berbuah manis menjadi senyuman yang indah di kemudian hari. Jika kita sudah menunjukkan totalitas diri atas apa yang sudah kita canangkan, semoga Tuhan berkenan mengijinkan alam untuk mendukung. Sehingga cepat atau lambat totalitas yang kita berikan bisa menutupi harga yang harus kita bayar. Setelah semuanya terbayar lunas, semoga kiranya kita masih memiliki sisa-sisa tenaga untuk mencapai BEP. Setelah itu, barulah kita mendapatkan laba yang sepadan. </p>
<p>Satu hal yang ingin saya himbau kepada teman-teman seperjuangan. Mari membebaskan diri dari anggapan bahwa pilihan hidup kita lebih baik daripada teman-teman yang memilih untuk terus menjadi professional. Sama sekali tidak. Sebab di mata Tuhan, nilai kita tidak ditentukan oleh status pekerjaan. Melainkan oleh ketulusan kita untuk mensyukuri seluruh potensi diri yang telah diberikan-Nya. Dalam bentuk kesediaan untuk mendayagunakannya dalam apapun pilihan hidup yang kita buat. Dan jika kita bersedia menjalaninya dengan totalitas diri, semoga Tuhan berkenan mengijinkan kita untuk mendapatkan imbalannya. Langsung dari tangan-Nya. </p>
<p>Mari Berbagi Semangat!<br />
Dadang Kadarusman<br />
Writer, Trainer, and Speaker<br />
<a href="www.bukudadang.com ">www.bukudadang.com</a> dan www.dadangkadarusman.com </p>
<p><strong>Catatan Kaki:</strong><br />
Tuhan menghamparkan bumi sedemikian luasnya. Dan membentangkan langit yang nyaris tanpa batas. Bagaimana mungkin kita yang kecil ini merasa terhimpit dalam ruang yang sempit? Tidak. Karena karunia Tuhan luasnya melampaui langit dan bumi. </p>
<p>Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul ”<em>Belajar Sukses Kepada Alam”</em> versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan kunjungi petunjuknya di <a href="www.bukudadang.com ">www.bukudadang.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dadangkadarusman.com/2010/07/21/antara-harga-yang-harus-dibayar-dan-totalitas-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cara Pengembangan SDM Yang Murah Dan Praktis</title>
		<link>http://www.dadangkadarusman.com/2010/07/14/cara-pengembangan-sdm-yang-murah-dan-praktis/</link>
		<comments>http://www.dadangkadarusman.com/2010/07/14/cara-pengembangan-sdm-yang-murah-dan-praktis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Jul 2010 01:16:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kadard</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirational]]></category>
		<category><![CDATA[Miscellaneous]]></category>
		<category><![CDATA[Social Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dadangkadarusman.com/?p=427</guid>
		<description><![CDATA[Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
Berapa % pendapatan perusahaan Anda yang dialokasikan untuk anggaran pengembangan sumber daya manusia? Jawaban atas pertanyaan itu merupakan salah satu parameter atas komitmen managemen untuk secara nyata memperlakukan karyawan sebagai aset penting perusahaan. Kenyataannya, masih banyak perusahaan yang belum menempatkan budget pengembangan SDM sebagai prioritas penting. Sekalipun begitu, kewajiban kita sebagai atasan untuk mengembangkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.dadangkadarusman.com/apps/wp-content/uploads/2010/07/KKSGB-front-Cover.jpg"><img src="http://www.dadangkadarusman.com/apps/wp-content/uploads/2010/07/KKSGB-front-Cover-225x300.jpg" alt="" title="KKSGB front Cover" width="225" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-429" /></a>Hore,<br />
Hari Baru!<br />
Teman-teman.</p>
<p>Berapa % pendapatan perusahaan Anda yang dialokasikan untuk anggaran pengembangan sumber daya manusia? Jawaban atas pertanyaan itu merupakan salah satu parameter atas komitmen managemen untuk secara nyata memperlakukan karyawan sebagai aset penting perusahaan. Kenyataannya, masih banyak perusahaan yang belum menempatkan budget pengembangan SDM sebagai prioritas penting. Sekalipun begitu, kewajiban kita sebagai atasan untuk mengembangkan staf tetap harus dijalankan. Jika berada pada posisi seperti itu, apakah ada cara yang murah dan praktis untuk upaya pengembangan orang-orang yang kita pimpin?   <span id="more-427"></span></p>
<p>Sebelum menjadi trainer dan pembicara publik, saya bekerja dengan beberapa orang dalam team. Saya merasa beruntung sebab dalam perjalanan karir itu saya berkesempatan untuk menjadi Training Manager internal yang bertanggungjawab dalam kegiatan training untuk karyawan kami. Ketika mendapatkan tugas kepemimpinan, ’ruh sebagai trainer’ tidak mau hengkang dari dalam diri saya. Namun, apa daya; ada banyak keterbatasan sehingga saya tidak mungkin untuk selalu bisa memberikan training kepada team saya. Di sisi lain, anggaran pelatihan yang ada tidak bisa memenuhi ’seluruh’ gagasan ideal yang ingin saya berikan untuk staf saya. </p>
<p>Situasi itu membawa saya kepada gagasan yang murah dan praktis. Saya memposisikan seluruh staf di team saya sebagai trainer bagi semua anggota team. Walhasil, kami memiliki jadwal rutin untuk mengadakan ’training’. Trainernya? Kami sendiri. Topiknya? Suka-suka kami. Suka-suka? Ya, kami menentukan sendiri topik apa yang ingin kami pelajari, atau yang kami mampu lakukan. Hal ini berlaku untuk semua lapisan karyawan di team kami. Apakah mereka operator, staf, Manager, Senior Manager. Semua mempunyai jadwal untuk menjadi trainer. Sekaligus memiliki kewajiban untuk menjadi trainee, sekalipun yang akan menjadi trainernya adalah anak buahnya sendiri.</p>
<p>Kami bahkan melakukan penilaian untuk memilih topik terbaik. Saya menugaskan  para manager dan staf senior di team kami untuk menjadi juri. Lalu dari rekomendasi dan penilaian mereka itu saya membuat keputusan tentang para pemenang. Bagi mereka yang terpilih sebagai yang terbaik, kami menyediakan hadiah berupa voucher belanja di supermarket. </p>
<p>Apakah hasilnya efektif? Selalu ada kemungkinan orang yang mencibir atau meragukan efektivitas kegiatan seperti ini. Tetapi, coba bayangkan ketika staf administrasi kami membawakan topik diskusi tentang ’Blue Ocean Strategy’. Padahal saya tahu kalau saat itu, bahkan banyak orang yang bertitel Manager tapi belum mengenal apa itu ’Blue Ocean Strategy’. Kami sudah membahasnya di team, lho. Dan faciltator utamanya adalah seorang staf administrasi. Efektif atau tidak? Silakan Anda nilai sendiri. Bagi saya pribadi, ’manfaatnya’ banyak sekali. </p>
<p>Jika Anda tertarik untuk mencobanya, Anda bisa mulai dengan menyediakan buku-buku bermutu untuk dibaca oleh staf Anda. Lalu Anda dorong mereka untuk belajar membagikan ’ilmu’ yang didapatkannya dari buku itu kepada teman-temannya. Namun, saya bisa pastikan bahwa proses itu tidak bisa berjalan tanpa komitmen Anda sebagai atasan untuk mengawal pelaksanaannya. Sebaliknya, jika Anda sendiri bersedia BERHENTI dari kesibukan kerja untuk ikut hadir dalam forum itu; maka Anda bisa berharap team Anda untuk juga berkomitmen menjalankannya. </p>
<p>Bagi anggota team yang jauh, tentu tidak mungkin untuk selalu hadir di tengah-tengah mereka. Apa lagi jika mereka bukan anak buah langsung bagi kita. Tapi, jika kinerja mereka mempengaruhi kinerja kita, maka kita ikut berkepentingan dalam proses pengembangan diri mereka. Sampai sebelum mengakhiri masa kerja, saya mengalokasikan puluhan atau belasan juta rupiah hanya untuk membeli ratusan judul buku. Lalu buku-buku itu saya berikan sebagai hadiah bagi pencapaian mereka. Jika kita bisa memberi mereka buku-buku yang menginspirasi, dan meningkatkan kualitas kepribadian mereka; maka mereka akan meresponnya secara positif. </p>
<p>Jika Anda seorang atasan, saya menganjurkan untuk mencobanya bersama bawahan Anda. Tetapi, jika Anda seorang bawahan; saya menganjurkan untuk mengajak atasan Anda untuk mencobanya bersama Anda. Jika Anda merasa artikel ini layak untuk dibaca oleh atasan Anda, saya mendukung Anda untuk memforwardnya kepada beliau. Bisa jadi beliau memang tidak menyukainya. Tenang saja. Toh tidak ada resiko bagi Anda. Boleh jadi malah beliau menyambut baik gagasan ini, bukan? Lakukan saja. </p>
<p>Perjalanan saya mengajak anggota team untuk terus mengembangkan diri tidak selamanya mulus. Misalnya, ketika ada yang mengembalikan buku yang kami hadiahkan. ”Saya minta ditukar dengan buku yang lebih bagus.” katanya. Ini benar-benar terjadi. Dan dari kejadian itu saya menyadari bahwa ’pemilihan buku’ menjadi salah satu faktor kunci. Sekarang saya bisa menyarankan para Manager untuk membaca bukunya terlebih dahulu sebelum memberikannya kepada staffnya. Setidak-tidaknya, mengetahui daftar isinya. Sebagai contoh, disini saya uraikan daftar isi salah satu buku yang layak untuk diberikan kepada staf Anda. Buku ini berjudul ”<strong>Ketika Kuda, Semut, dan Gajah Bekerja</strong>” yang merupakan buku #2 dari Trilogi Natural Intelligence terbitan RAS Group Penebar Swadaya.</p>
<p>Pendahuluan &#8211; Menerima Dengan Sepenuh Hati, Atau Tinggalkan Saja</p>
<p><strong>Bab-1: Mungkin ini bukan pekerjaan idaman, tapi tidak berarti boleh disia-siakan</strong><br />
1. Apa Definisi Anda Tentang Pekerjaan Idaman?<br />
2. Pengusaha Atau Pekerja?<br />
3. Apakah Anda Dibayar Terlalu Murah?<br />
4. Apakah Pekerjaan Ini Layak Untuk Disyukuri?<br />
5. Bagaimana Mengukur Rasa Cinta Kita Kepada Pekerjaan?<br />
6. Mana Yang Lebih Anda Cintai, Pekerjaan Atau Kaos Oblong?<br />
7. Terlalu Banyak Pekerjaan Atau Kecanduan Hal Yang Tak Perlu?<br />
8. Pertanda Apakah Kejemuan Terhadap Pekerjaan Itu?<br />
9. Sebagai Individu, Apakah Kita Juga Sudah Merdeka?<br />
10. Mari Berbagi Semangat!</p>
<p><strong>Bab-2:Semua orang ingin memimpin, tapi sedikit yang bisa memimpin diri sendiri </strong><br />
1. Ingin Menjadi Pemimpin?<br />
2. Andakah Sang Talenta Langka Itu?<br />
3. Andakah Si Pemimpin Karbitan Itu ?<br />
4. Tolong, Kami Kekurangan Karyawan Handal<br />
5. Apakah Nilai Diri Anda Lebih Tinggi Dari Uang Seribu Rupiah?<br />
6. Masih Adakah Dedikasi Disaat Kantor Sepi?<br />
7. Hari Ini Bawahan, Besok Atasan<br />
8. Seberapa Jauh Sikap Luwes Meningkatkan Nilai Anda?<br />
9. Disukai Semua Orang Atau Respek<br />
10. Benarkah Atasan Anda Menyebalkan? </p>
<p><strong>Bab-3:Situasi kita berbeda, tapi semua mempunyai kesempatan yang sama</strong><br />
1. Sesama Bis Kota Dilarang Saling Mendahului<br />
2. Benarkah Para Perempuan Bisa Diandalkan?<br />
3. Bersediakah Kita Melapangkan Jalan Sang Lawan?<br />
4. Seberapa Besar Kapasitas Diri Anda?<br />
5. Sudah Layakkah Kita Untuk Mengenakan Dasi ?<br />
6. Seberapa Pentingkah Kata Urgent Bagi Anda?<br />
7. Sebaik Apakah Anda Sebagai Anggota Team?<br />
8. Simply A Terimakasih<br />
9. Saatnya Untuk Unjuk Gigi<br />
10. Menjadi Pegawai Kelas Dunia</p>
<p><strong>Bab-4:Kita dilingkupi ketidakpastian, tapi tidak berarti masa depan menjadi suram</strong><br />
1. Selamat Pagi, Anda Kena PHK!<br />
2. Dibawah Ancaman Kehilangan Pekerjaan<br />
3. Menolong Perusahaan Keluar Dari Krisis<br />
4. Seberapa Pentingkah Anda Bagi Perusahaan?<br />
5. 8S &#8211; Setia Serta Seia Sekata Saat Situasi Sedang Sulit<br />
6. Gajah Bertarung, Pelanduk Mati Ditengah-tengah<br />
7. Apa Yang Bisa Diberikan Oleh Sebuah Harapan?<br />
8. Keluhan Karyawan Dan Proses Penyelesaian Masalah Hubungan Kerja<br />
9. Bisakah Serikat Pekerja Menjadi Mitra Bagi Manajemen?<br />
10. Siapakah Yang Seharusnya Lebih Siap Pakai Itu?</p>
<p><strong>Bab-5:Bekerja itu orientasinya material, tetapi tidak berarti nihil nilai spiritual</strong><br />
1. Apakah Kesuksesan Sanggup Memberikan Kebahagiaan?<br />
2. Biarkan Roda Kehidupan Itu Terus Berputar<br />
3. Mengapa Tuhan Sampai Bersumpah Atas Nama Waktu?<br />
4. Etos Kerja dan Kehidupan Beragama<br />
5. Apakah Anda Bekerja Untuk Uang, Atau Kemuliaan?<br />
6. Kepada Siapa Penghargaan Itu Layak Diberikan?<br />
7. Bukti Bahwa Kita Pernah Ada<br />
8. Bekerjalah Sesuai Dengan Kemampuan<br />
9. Apa Yang Akan Terjadi Setelah Ini?<br />
10. Anggap Saja Kita Sedang Melayani Tuhan</p>
<p>Ada banyak buku lain yang bisa kita pertimbangkan. Jika sebagai atasan kita melihat isinya bermanfaat bagi orang-orang yang kita pimpin, maka memberikannya sebagai hadiah kepada mereka bisa menjadi salah satu cara mengembangkan SDM yang murah dan praktis. Jika Anda mengenal penulisnya, mungkin Anda bisa meminta potongan harga supaya bisa lebih ekonomis. Mungkin para penulis buku bagus bersedia membantu jika Anda mengatakan hendak membelinya untuk staf Anda. Anda boleh bilang; ”Bisakah Anda memberi kami diskon 10% jika kami membeli 100 copy buku Anda?” Bahkan, jika Anda bisa ’sok kenal’ dengan mereka mungkin Anda bisa bertanya; ”Bisakah Anda memberikan training gratis selama 2 jam jika saya membeli 200 copy Buku Anda untuk staf saya?”. Coba saja.</p>
<p>200 copy? Itu kan banyak? Anda mengira saya bercanda. Tidak. Sekarang ini banyak penulis di Indonesia yang mempunyai banyak buku bermutu. Jika mereka punya 4 judul buku misalnya, maka 200 copy itu sama dengan 50 copy untuk setiap judulnya. Bayangkan jika 50 orang staf yang Anda pimpin bisa mendapatkan kesempatan untuk memperoleh insight dari buku-buku itu. Apalagi jika Anda berhasil merayu penulisnya untuk memberikan training gratis tadi. Memangnya mereka mau? Saya tidak tahu pasti. Tapi layak untuk dicoba. </p>
<p>Mari Berbagi Semangat!<br />
Dadang Kadarusman<br />
Writer, Trainer, and Speaker<br />
<a href="www.bukudadang.com">www.bukudadang.com</a> dan www.dadangkadarusman.com </p>
<p><strong>Catatan Kaki:</strong><br />
Tak seorang pun atasan yang bisa memenuhi semua kebutuhan pengembangan anak buahnya. Namun, setiap atasan berkesempatan untuk menyediakan cukup ruang bagi mereka yang ingin berkembang. Karena itu adalah kewajibannya kepada bawahannya. </p>
<p>Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul ”Belajar Sukses Kepada Alam” versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan kunjungi <a href="www.bukudadang.com">www.bukudadang.com</a>  </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dadangkadarusman.com/2010/07/14/cara-pengembangan-sdm-yang-murah-dan-praktis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tips: Bagaimana Caranya Agar Tidak Menyesal Telah Membeli Buku?</title>
		<link>http://www.dadangkadarusman.com/2010/07/06/tips-bagaimana-caranya-agar-tidak-menyesal-telah-membeli-buku/</link>
		<comments>http://www.dadangkadarusman.com/2010/07/06/tips-bagaimana-caranya-agar-tidak-menyesal-telah-membeli-buku/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Jul 2010 00:58:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kadard</dc:creator>
				<category><![CDATA[Books]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesiaku]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirational]]></category>
		<category><![CDATA[Miscellaneous]]></category>
		<category><![CDATA[Social Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dadangkadarusman.com/?p=423</guid>
		<description><![CDATA[Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
”Don’t judge the book from the cover.”  Selain memiliki makna kiasan, pepatah itu juga memiliki makna sebenarnya. Kadang-kadang kita menyesal telah membeli buku namun ternyata isinya tidak sesuai dengan harapan semula. Bahkan nama besar seorang penulis pun tidak menjamin kita akan menyukai bukunya. Sekalipun demikian, kita tidak bisa menyalahkan penulisnya hanya karena isi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.dadangkadarusman.com/apps/wp-content/uploads/2010/07/MKSN-Front-Cover.jpg"><img src="http://www.dadangkadarusman.com/apps/wp-content/uploads/2010/07/MKSN-Front-Cover-221x300.jpg" alt="" title="MKSN-Front Cover" width="221" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-425" /></a>Hore,<br />
Hari Baru!<br />
Teman-teman.</p>
<p>”<em>Don’t judge the book from the cover.”  </em>Selain memiliki makna kiasan, pepatah itu juga memiliki makna sebenarnya. Kadang-kadang kita menyesal telah membeli buku namun ternyata isinya tidak sesuai dengan harapan semula. Bahkan nama besar seorang penulis pun tidak menjamin kita akan menyukai bukunya. Sekalipun demikian, kita tidak bisa menyalahkan penulisnya hanya karena isi buku tidak sesuai dengan harapan. Di sisi lain, saya juga yakin bahwa di dunia ini tidak ada satu pun penulis yang ingin pembeli atau pembaca bukunya kecewa dengan isi buku yang ditulisnya. Jadi, ini bukan soal salah dan benar. Curang atau jujur. Ini adalah soal bagaimana seorang penulis memposisikan buku untuk segmen pasar yang tepat. Juga, bagaimana seorang calon pembeli memilih buku yang paling tepat untuk dibelinya. <span id="more-423"></span></p>
<p>Sebagai konsumen saya berkali-kali ’keliru’ membeli buku. Namun semakin sering saya keliru, semakin pandai saya dalam memilih buku. Nama besar penulis, judul yang bombastis, tampilan gambar yang manis, sama sekali bukanlah jaminan bahwa saya akan merasa cocok dengan apa yang ditulis. Sebaliknya, banyak sekali buku yang saya beli namun memuaskan hati. Padahal, penulisnya tidak memiliki nama yang berkibar dimana-mana. Penerbitnya tidak besar. Namun, saya merasa beruntung telah membeli buku itu.</p>
<p>Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk meneliti apakah buku yang akan kita beli ’sesuai’ dengan harapan kita atau tidak. Misalnya, membaca resensi atau membaca komentar orang lain yang tertera dalam sampul buku itu. Namun, buku terbitan terbaru biasanya belum direview, jadi belum tersedia resensinya. Bagaimana dengan ’komentar’ pembaca? Memang ada banyak buku yang dihiasi oleh endorsement atau komentar positif tentang isinya. Namun, semakin sering saya membeli buku saya semakin sadar bahwa ’BOLEH JADI’ ada buku-buku yang dikomentari secara tidak tulus. Saya kadang bertanya dalam hati; ”Apakah beliau yang berkomentar itu benar-benar membaca naskah buku tersebut sampai tuntas?”.  Saya pribadi, merasa bahwa endorsement tidak selalu benar-benar menggambarkan kualitas buku.</p>
<p>Cara lain yang lebih saya sukai adalah; membaca buku contoh yang tersedia di toko buku. Saya membaca beberapa bagian secara acak, lalu menanyakan kepada diri sendiri;”Buku ini cocok apa tidak untuk gue?” Jika setelah membaca beberapa bagian itu saya merasa cocok. Saya membelinya. </p>
<p>Diantara bagian paling penting yang saya harus baca sebelum membeli buku adalah halaman ’Daftar Isi’. Bagian ini tidak pernah saya lewatkan. Karena dari daftar isi itu saya bisa memperkirakan ’buku ini akan membahas tentang apa’? Ini benar. Sebab, judul buku sering terlampau indah untuk menjelaskan isi buku. Atau sebaliknya, terlalu sederhana untuk memuat betapa bagusnya buku itu. Tapi daftar isi, memiliki informasi yang jauh lebih mewakili isinya.</p>
<p>Saya yakin Anda juga bersikap demikian ketika membeli buku. Jika daftar isinya tidak membuat Anda tertarik, mengapa Anda harus membelinya? Toh buku itu hanya akan teronggok di lemari, atau tercecer tanpa arti. Sebagai contohnya, di sini saya akan memperlihatkan daftar isi dalam buku Trilogi Natural Intelligence yang diterbitkan oleh Group Penerbar Swadaya. </p>
<p><strong>Buku #1: ”MELAMPAUI KESERAKAHAN SEEKOR NYAMUK”<br />
Daftar Isi:<br />
Pendahuluan &#8211; Membaca Naskah Tentang Segumpal Darah</strong></p>
<p>A.<strong>Kita ini mahluk sempurna, tapi tidak berarti tanpa cela</strong><br />
1.Anda Memiliki Kelebihan, Itu Pasti.<br />
2.Fokus Kepada Kekuatan Diri<br />
3.Berry Jati Diri<br />
4.Sebenarnya Apa Sih Bakat Kita Ini?<br />
5.Krisis Identitas Diri – Siapa Sih Loe?<br />
6.Inferiority Complex Dan Superiority Complex; Sama-sama Jelex<br />
7.Apa Bedanya Rasa Percaya Diri Dan Takabur?<br />
8.Sekali Lagi Tentang Gajah Dan Semut<br />
9.Kerendahan Hati Seorang Pembelajar<br />
10.Siapakah Kita Hingga Pantas Mengklaim Diri Sempurna?</p>
<p>B.<strong>Kita tidak memiliki segalanya, tapi tidak berarti tak punya apa-apa</strong><br />
1.Benarkah Kita Hidup Dalam Serba Kekurangan?<br />
2.Kapan Terakhir Kali Doa Anda Dikabulkan Seketika?<br />
3.Apakah Hidup Anda Diliputi Oleh Keberuntungan?<br />
4.Ketika Segala Sesuatunya Tidak Berjalan Sesuai Rencana<br />
5.Sudahkah Anda Menemukan Garis Horison Kehidupan?<br />
6.Ternyata, Ikhlas Itu Memiliki Saudara Kembar<br />
7.Menjadi Yang Terbaik Itu Urusan Pribadi<br />
8.Benarkah Kita Harus Membuang Rasa Malu?<br />
9.Balada Sepotong Roti Dan Sepercik Api<br />
10.Benarkah Dalam Setiap Kesulitan Terdapat Kemudahan?</p>
<p>C.<strong>Kita terikat aturan, tapi tidak berarti diperbudak</strong><br />
1.Menjadi Diri Kita Sendiri<br />
2.Membesarkan Ukuran Hati<br />
3.Mengusir Gelisah Hati<br />
4.Paku Yang Berserakan Di Jalan<br />
5.Terus Berlari, Atau Selamanya Terhenti<br />
6.Menyelami Samudera Kehidupan<br />
7.Perlukah Kita Membawa-bawa Dendam Ini?<br />
8.Masuk Telinga Kiri, Keluar Telingan Kanan<br />
9.Bahkan Dijalanpun Berserakan Kebijaksanaan<br />
10.Perjalanan Menuju Kesejatian</p>
<p>D.<strong>Kita tunduk pada takdir, tapi tidak berarti tanpa daya</strong><br />
1.Membentuk Takdirmu Sendiri<br />
2.Menjalani Takdirmu Sendiri<br />
3.Apakah Nasib Seseorang Bisa Berubah?<br />
4.Memadukan Kekuatan Akal Dan Kelembutan Hati<br />
5.Bertahan Dari Terjangan Tsunami Kehidupan<br />
6.Melirik Kemasa Silam, Menatap Kemasa Depan<br />
7.Hukum Memberi Dan Menerima<br />
8.Dua Elemen Pemberdayaan Diri<br />
9.Duduk Dimeja Makan Atau Menjadi Menu Untuk Dimakan?<br />
10.Kapan Kita Boleh Menyerah?</p>
<p>E.<strong>Kita bukan mahluk suci, tapi tidak berarti selalu berdebu </strong><br />
1.Tak Ada Gading Yang Tak Retak<br />
2.Malu Mengeluh<br />
3.Menjadi Manusia Yang Lebih Baik Dari Hari Kemarin<br />
4.Saham Yang Tidak Pernah Turun Nilainya<br />
5.Yang Menjadikan Kita Manusia Seutuhnya<br />
6.Saya Menemukan Hati Itu Kembali<br />
7.Menjadi Manusia Baru Di Hari Baru<br />
8.Melampaui Keserakahan Seekor Nyamuk<br />
9.Pertarungan Terakhir Sang Pendekar Nomor Wahid<br />
10.Berapa Lama Lagi Waktu Yang Kita Miliki?</p>
<p>Buku #2 dari Trilogi itu berjudul: ”<strong>KETIKA KUDA, SEMUT, DAN GAJAH BEKERJA</strong>”, dan buku #3-nya berjudul:  ”<strong>TERNYATA SEMUTNYA ADA DI SINI</strong>”. Saya tidak akan menuliskan daftar isinya disini. Mudah-mudah di lain kesempatan bisa melakukannya. Sebagai informasi, ada jadwal diskusi buku ini pada hari Sabtu tgl 10 July jam 11.45-13.15 WIB di Pesta Buku Jakarta Istora Senayan. Terbuka untuk umum dan gratis. Kalau Anda ada waktu, mengikuti acara itu juga bisa menjadi alternatif.</p>
<p>Dengan terlebih dahulu mengetahui daftar isi, kita bisa memutuskan apakah jadi membeli buku itu atau tidak. Jika daftar isinya tidak menyebabkan Anda tertarik, maka sebaiknya urungkan niat untuk membeli buku itu. Lalu carilah buku lain yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan kesukaan Anda. Dengan begitu, minat baca Anda yang tinggi tidak dirusak oleh jenis buku yang tidak cocok dengan Anda. </p>
<p>Sekali lagi, ini bukan soal salah atau benar. Melainkan soal preferensi kita masing-masing. Jadi, sekalipun kita pernah kecewa karena membeli buku yang salah, kita tetap perlu menaruh hormat kepada penulisnya yang sudah berusaha sekuat tenaga.</p>
<p>Mari Berbagi Semangat<br />
Dadang Kadarusman<br />
<a href="www.bukudadang.com ">www.bukudadang.com </a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dadangkadarusman.com/2010/07/06/tips-bagaimana-caranya-agar-tidak-menyesal-telah-membeli-buku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pesta Buku Jakarta 2010 – Pestanya Para Penyuka Buku</title>
		<link>http://www.dadangkadarusman.com/2010/06/30/pesta-buku-jakarta-2010-%e2%80%93-pestanya-para-penyuka-buku/</link>
		<comments>http://www.dadangkadarusman.com/2010/06/30/pesta-buku-jakarta-2010-%e2%80%93-pestanya-para-penyuka-buku/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Jun 2010 07:55:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kadard</dc:creator>
				<category><![CDATA[Books]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirational]]></category>
		<category><![CDATA[Miscellaneous]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dadangkadarusman.com/?p=417</guid>
		<description><![CDATA[Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
Pesta Buku Jakarta 2010 tinggal 2 hari lagi. Bagi para pecinta buku khususnya yang tinggal di Jakarta acara ini menambah kecintaan kepada buku. Ayolah, kita sama-sama tingkatkan minat baca dikalangan masyarakat Indonesia. Biar bangsa kita tambah cerdas. Meskipun yang dibaca Novel atau dongeng tidak apa-apa. Yang penting baca buku bagus. 
Menurut release dari panitia, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://www.dadangkadarusman.com/apps/wp-content/uploads/2010/06/4-front-Cover-225x300.jpg" alt="" title="4 front Cover" width="225" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-420" />Hore,<br />
Hari Baru!<br />
Teman-teman.</p>
<p>Pesta Buku Jakarta 2010 tinggal 2 hari lagi. Bagi para pecinta buku khususnya yang tinggal di Jakarta acara ini menambah kecintaan kepada buku. Ayolah, kita sama-sama tingkatkan minat baca dikalangan masyarakat Indonesia. Biar bangsa kita tambah cerdas. Meskipun yang dibaca Novel atau dongeng tidak apa-apa. Yang penting baca buku bagus. <span id="more-417"></span></p>
<p>Menurut release dari panitia, disana akan digelar buku baru dan buku lama. Plus hadiah dan diskon dari para penerbit. Satu lagi, penulis-penulis Indonesia sudah semakin bagus. Banyak buku karya putra-putri Indonesia yang patut dikoleleksi.  Ayo buktikan karya tulis dan pemikiran penulis Indonesia tidak kalah kualitasnya dengan para penulis dari Luar Negeri.</p>
<p>Inilah buku-buku terbitan terbaru yang dijagokan di Pesta Buku Jakarta kali ini:<br />
<strong>#1. Melampaui Keserakahan Seekor Nyamuk, </strong></p>
<div><embed align="middle" type="application/x-shockwave-flash" name="flashticker" flashvars="cy=lt&amp;il=1&amp;channel=2666130979435996384&amp;site=widget-e0.slide.com" wmode="transparent" salign="l" scale="noscale" quality="high" src="http://widget-e0.slide.com/widgets/slideticker.swf" style="width: 426px; height: 320px"></embed></div>
<p><strong>#2. Ketika Kuda, Semut dan Gajah Bekerja, </strong></p>
<p style="visibility:visible;"><object type="application/x-shockwave-flash" data="http://widget-78.slide.com/widgets/slideticker.swf" height="320" width="426" style="width:426px;height:320px"><param name="movie" value="http://widget-78.slide.com/widgets/slideticker.swf" /><param name="quality" value="high" /><param name="scale" value="noscale" /><param name="salign" value="l" /><param name="wmode" value="transparent"/><param name="flashvars" value="cy=ms&#038;il=1&#038;channel=3530822107903965816&#038;site=widget-78.slide.com"/></object></p>
<p><strong>#3. Ternyata Semutnya Ada Di Sini)</strong></p>
<p style="visibility:visible;"><object type="application/x-shockwave-flash" data="http://widget-05.slide.com/widgets/slideticker.swf" height="320" width="426" style="width:426px;height:320px"><param name="movie" value="http://widget-05.slide.com/widgets/slideticker.swf" /><param name="quality" value="high" /><param name="scale" value="noscale" /><param name="salign" value="l" /><param name="wmode" value="transparent"/><param name="flashvars" value="cy=ms&#038;il=1&#038;channel=3530822107904079621&#038;site=widget-05.slide.com"/></object></p>
<p> <strong>#4.“OUTSHINE – Bersinarlah Seperti Bintang”</strong></p>
<p style="visibility:visible;"><object type="application/x-shockwave-flash" data="http://widget-3e.slide.com/widgets/slideticker.swf" height="320" width="426" style="width:426px;height:320px"><param name="movie" value="http://widget-3e.slide.com/widgets/slideticker.swf" /><param name="quality" value="high" /><param name="scale" value="noscale" /><param name="salign" value="l" /><param name="wmode" value="transparent"/><param name="flashvars" value="cy=ms&#038;il=1&#038;channel=3530822107903966270&#038;site=widget-3e.slide.com"/></object></p>
<p Siap-siap. Istora Senayan Jakarta tanggal 2-11 Juli 2010.</p>
<p>Mari Berbagi Semangat!<br />
Dadang<br />
Quality Books for All!<br />
<a href="www.bukudadang.com ">www.bukudadang.com </p>
<p><strong>Catatan Kaki:</strong><br />
Dapatkan kesempatan memperoleh Buku GRATIS karya terbaru Dadang Kadarusman. Keterangan lengkap di <a href="http://www.bukudadang.com/?Forums&#038;normal">www.bukudadang.com (Forum).</a></p>
<p style="visibility:visible;"><object type="application/x-shockwave-flash" data="http://widget-3e.slide.com/widgets/slideticker.swf" height="320" width="426" style="width:426px;height:320px"><param name="movie" value="http://widget-3e.slide.com/widgets/slideticker.swf" /><param name="quality" value="high" /><param name="scale" value="noscale" /><param name="salign" value="l" /><param name="wmode" value="transparent"/><param name="flashvars" value="cy=ms&#038;il=1&#038;channel=3530822107904199486&#038;site=widget-3e.slide.com"/></object></p>
<p </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dadangkadarusman.com/2010/06/30/pesta-buku-jakarta-2010-%e2%80%93-pestanya-para-penyuka-buku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cara Terbaik Untuk Menutupi Aib Diri Sendiri</title>
		<link>http://www.dadangkadarusman.com/2010/06/12/cara-terbaik-untuk-menutupi-aib-diri-sendiri/</link>
		<comments>http://www.dadangkadarusman.com/2010/06/12/cara-terbaik-untuk-menutupi-aib-diri-sendiri/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Jun 2010 12:35:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kadard</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirational]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.dadangkadarusman.com/2010/06/12/cara-terbaik-untuk-menutupi-aib-diri-sendiri/</guid>
		<description><![CDATA[Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
Apakah Anda mempunyai sebuah rahasia yang tidak ingin diketahui oleh orang lain?  Saya yakin sekali bahwa setiap orang memiliki hal serupa itu. Yang termasuk kedalam rahasia itu bisa bermacam-macam. Namun, kita boleh memfokuskan konteksnya kepada suatu kekurangan atau kelemahan yang jika sampai ketahuan oleh orang lain, maka kita akan merasa malu sekali. Bahkan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.dadangkadarusman.com/apps/wp-content/uploads/2010/06/Shy.png"><img src="http://www.dadangkadarusman.com/apps/wp-content/uploads/2010/06/Shy-300x300.png" alt="" title="Shy" width="300" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-405" /></a>Hore,<br />
Hari Baru!<br />
Teman-teman.</p>
<p>Apakah Anda mempunyai sebuah rahasia yang tidak ingin diketahui oleh orang lain?  Saya yakin sekali bahwa setiap orang memiliki hal serupa itu. Yang termasuk kedalam rahasia itu bisa bermacam-macam. Namun, kita boleh memfokuskan konteksnya kepada suatu kekurangan atau kelemahan yang jika sampai ketahuan oleh orang lain, maka kita akan merasa malu sekali. Bahkan, bisa jadi rusak pula kita punya reputasi. Saya memiliki hal seperti itu lebih dari satu. Soalnya, begitu banyak hal yang kalau mengingat semua itu; kepada diri sendiri pun saya malu. Apalagi kalau harus sampai ketahuan oleh orang lain. Apakah Anda juga demikian?  <span id="more-398"></span></p>
<p>Ketika saya masih kecil, suasana di kampung kami begitu sederhananya sehingga Ibu-Ibu sering berkumpul di depan rumah panggung yang terbuat dari kayu. Dalam situasi seperti itu tidak jarang pembicaraan mereka melenceng. Lalu tanpa disadari berubah tema untuk menggunjingkan orang lain. Biasanya, keburukan seseorang akan segera beredar ke seluruh penjuru kampung. Di zaman ketika teknologi informasi sudah sedemikian canggihnya seperti saat ini, setiap kebocoran rahasia tentang aib orang lain bisa menyeruak keseluruh penjuru bumi hanya dalam hitungan detik saja. Sedemikian mudahnya informasi menyebar. Dan sedemikian mudahnya aib seseorang menjelajah dari teritori yang satu ke wilayah lainnya. Apa lagi di zaman ini keburukan seseorang bisa menjadi komoditas baru yang bisa dieksploitasi untuk menghasilkan keuntungan material. Kita bisa mengupas tuntas aib seseorang sambil cekikikan didepan jutaan pasang mata yang ikut terhanyut dalam sensasi yang dihasilkan. </p>
<p>Padahal, siapa sih yang bisa luput dari kelemahan? Tidak ada. Kita semua mempunyai dosa. Memiliki aib. Diliputi oleh aurat yang kita ingin semua itu tertutup rapat-rapat. Anehnya, ketika kita melihat cacat orang lain; kita tiba-tiba saja menjadi kaki tangan sang penyebar kabar buruk. Lalu ikut-ikutan menyebarkannya kesana kemari. Tidak lupa ditambah dengan bumbu disana sini. Sehingga segala sesuatunya menjadi semakin bias, dan semakin tidak karuan saja. Hey, hati-hati. Bagaimana seandainya yang tengah ditelanjangi dihadapan publik itu adalah diri kita sendiri? Apakah kira-kira kita akan merasa senang? Teman saya bilang; ”Biasa saja lagi, ini kan nggak serius-serius amat.” Mungkin kita baru menganggap serius jika diri kitalah yang menjadi objeknya.</p>
<p>Guru mengaji saya menceritakan kisah Rasulullah yang menasihatkan bahwa ”Tuhan akan menutup aib seorang hamba yang berkenan menutupi aib sesamanya”.  Jadi, agak aneh juga kita ini. Di satu sisi kita ingin agar aib-aib kita tidak terbuka. Kita ingin itu tetap menjadi rahasia kita. Tetapi, di sisi yang lain kita doyan sekali memperbincangkan serta menyebar-nyebarkan aib-aib orang lain. Ketika dulu mendengarnya, saya mengira apa yang dinasihatkan Nabi itu hanya berkatian dengan urusan akhirat saja. Maksudnya, seseorang yang selama hidupnya didunia bersedia menjaga aib orang lain, maka di akhirat kelak akan ditutupi aibnya. Ternyata nasihat itu bukan semata-mata soal akhirat, melainkan berlaku sejak kini di dunia juga. Ada banyak bukti jika orang-orang yang gemar membuka aib orang lain itu tidak ditutupi Tuhan aib-aib mereka sendiri. Bahkan sepintar apapun kita menyembunyikan aib itu. Ketika kita sibuk mengaduk-aduk keburukan pribadi orang lain, tiba-tiba saja Tuhan meruntuhkan seluruh dinding yang melindungi semua aib kita. </p>
<p style="visibility:visible;"><object type="application/x-shockwave-flash" data="http://widget-05.slide.com/widgets/slideticker.swf" height="320" width="426" style="width:426px;height:320px"><param name="movie" value="http://widget-05.slide.com/widgets/slideticker.swf" /><param name="quality" value="high" /><param name="scale" value="noscale" /><param name="salign" value="l" /><param name="wmode" value="transparent"/><param name="flashvars" value="cy=ms&#038;il=1&#038;channel=3530822107904079621&#038;site=widget-05.slide.com"/></object></p>
<p>Di sisi lain, nasihat Nabi itu juga merupakan sebuah penghiburan kepada siapa saja yang mau menahan diri dari keterlibatan dalam lingkaran peredaran aib-aib yang dieksploitasi dan diperdagangkan. Seolah beliau tengah bertanya; ”Apakah engkau tidak malu jika keburukan-keburukanmu diketahui oleh orang lain?”  Jika kita merasa malu, maka begitu pula halnya dengan orang lain yang kita permalukan. Maka sungguh tidak adil jika kita malu dengan aib-aib pribadi kita, namun begitu getolnya membongkar-bongkar aib orang lain. Tapi, bagaimana seandainya aib kita dibongkar dan diedar-edar oleh orang lain? Bukankah kita berhak untuk melakukan pembalasan?</p>
<p>Melakukan pembalasan? Hmmh, kedengarannya masuk akal. Tapi sebentar dulu. Siapa sih yang lebih tahu aib-aib pribadi kita selain Tuhan dan kita sendiri? Kalaupun ada orang yang tahu, pasti hanya sebagian kecilnya saja. Jadi, jika ada orang yang mengklaim diri mengetahui aib kita; pasti itu hanya sedikit saja. Sebab, masih banyak aib lain yang kita miliki namun tidak mereka ketahui. Kalaupun orang itu harus menerima pembalasan berupa terbongkarnya aib mereka sendiri, mengapa kita harus melakukannya dengan mengotori diri kita lagi? Biarkan saja. Sebab cepat atau lambat orang itu akan merasakan bagaimana seandainya aib dia sendiri yang dipertontonkan dihadapan publik. Lagi pula, saat ada seseorang yang membongkar aib kita adalah saat terbaik untuk mengatakan kepada diri sendiri;”Gue kapok! Tidak akan melakukannya lagi.”  Dengan begitu, kita bisa bertobat dengan sungguh-sungguh. Lalu berubah menjadi manusia yang lebih baik. </p>
<p>Pertanyaannya kemudian adalah, apakah kita harus mengganggap sesuatu yang terjadi di sekitar kita sebagai angin lalu? Mestikah kita menjadi manusia apatis yang tidak memperdulikan apapun yang dilakukan oleh orang lain? Tidak juga. Tidak termasuk menyebarkan aib jika kita melaporkan tindakan kriminal seseorang kepada aparat penegak hukum. Justru sudah menjadi kewajiban kita untuk mencegah orang-orang disekitar kita melakukan atau mengulangi tindakan-tindakan yang merugikan orang lain. Juga tidak termasuk menyebarkan aib jika kita menjadi saksi di pengadilan. Kalau begitu, bagaimana membedakan mana menggunjing dan mana yang bukan?</p>
<p>Sekurang-kurangnya, ada tiga hal yang perlu diperhatikan. Pertama, niat kita. Niat adalah segala-galanya. Berniat menjatuhkan atau mempermalukan orang lain sudah pasti mengundang kemarahan Tuhan. Sebab, seperti pesan Nabi; Tuhan tidak menyukai orang-orang yang gemar menyebar-nyebarkan aib orang lain. Maka pantaslah jika suatu saat kelak Tuhan membalasnya juga. Kedua, manfaat yang dihasilkan dari mengungkapkan hal itu. Apakah jika kita melakukannya akan menghasilkan kemanfaatan dan kemaslahatan? Jika tidak, mengapa kita mesti ikut-ikutan melakukannya juga? Ketiga, identitas orang lain. Banyak orang yang mengorek-ngorek aib dan kesalahan orang lain lalu mempertontonkan mereka dihadapan publik sambil bersembunyi dibalik kedok ’belajar dari kesalahan orang lain’.  Padahal jika kita ingin mengambil pelajaran dari kesalahan orang lain, maka kita bisa melakukannya tanpa harus menjadikannya sebagai tontonan dan tertawaan. Jika ada aib orang lain yang sampai ke tangan kita, tidak berarti kita diberi hak dan kewenangan untuk menyebarkannya juga.   </p>
<p>Adalah benar bahwa kita bisa saling belajar satu sama lain. Tapi tidak berarti kita harus saling membuka kebusukan masing-masing. Jika kita perlu menggunakan kesalahan orang lain untuk belajar memperbaiki diri demi kemaslahatan banyak orang, maka kita tidak harus menguliti sekujur tubuh orang itu dengan membuka identitasnya sedemikian gamblang. Dengan menutup aib orang lain, maka kita menjaga nama baik orang lain. Ehm, maksud saya; maka kita menjaga nama baik kita sendiri. Sebab seperti pesan Nabi, Tuhan akan menutupi aib siapa saja yang menutupi aib orang lain. Sehingga cara terbaik untuk menutupi aib diri sendiri adalah dengan menjaga aib orang lain yang terlanjur kita ketahui.</p>
<p><strong>Mari Berbagi Semangat!<br />
Dadang Kadarusman<br />
Writer, Trainer, and Speaker<br />
Quality Books for All : <a href="www.bukudadang.com">www.bukudadang.com</a> dan www.dadangkadarusman.com </p>
<p></strong><strong>Catatan Kaki:</strong><br />
Tidak ada manusia yang terbebas dari aib. Sehingga ketika kita membeberkan aib orang lain, bersiap-siaplah untuk menerima perlakuan yang sama dari orang lain.</p>
<p>Melalui project Mari Berbagi Semangat! (MBS!) sekarang buku saya yang berjudul ”Belajar Sukses Kepada Alam” versi Bahasa Indonesia dapat diperoleh secara GRATIS. Jika Anda ingin mendapatkan ebook tersebut secara gratis silakan perkenalkan diri disertai dengan alamat email kantor dan email pribadi (yahoo atau gmail) lalu kirim ke bukudadang@yahoo.com </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.dadangkadarusman.com/2010/06/12/cara-terbaik-untuk-menutupi-aib-diri-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
