<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1618947400959277823</id><updated>2026-11-03T18:03:32.261+08:00</updated><category term="Safety"/><category term="Regulasi Pemerintah"/><category term="Permen"/><category term="Coretan Kecil"/><category term="Ulasan K3LH"/><category term="environment"/><category term="Health"/><category term="SNI"/><category term="PP"/><category term="Bekerja di ketinggian"/><category term="Safety and health"/><category term="Tentang SMKP"/><category term="HIRA / IBPR"/><category term="SMKP Minerba"/><category term="Artikel Keselamatan dan Kesehatan Kerja"/><category term="Fatigue"/><category term="Improvement (PDCA)"/><category term="Materi Safety Talk"/><category term="Relax (Guyon)"/><category term="SMKP"/><category term="Silabus"/><category term="Audit SMKP"/><category term="Manajemen Risiko"/><category term="Office Ergonomi"/><category term="Reklamasi"/><category term="Sistem Manajemen"/><category term="Tindakan tidak aman"/><category term="reklamasi Lahan pasca tambang"/><category term="Kaizen"/><category term="Keselamatan dan kesehatan kerja"/><category term="UU"/><category term="8 Steps 7 Tools"/><category term="Pengelasan"/><category term="Tangga Portable"/><category term="AAT"/><category term="Air Asam Tambang"/><category term="Artikel kolesterol"/><category term="Audit"/><category term="Belajar Keselamatan dan Kesehatan Kerja"/><category term="Contoh bahan Safety Talk"/><category term="JSA"/><category term="Leading &amp; Lagging Indicators Safety"/><category term="Lock Out Tag Out"/><category term="Office Ergonomi Tips"/><category term="Penyebab kecelakaan"/><category term="Safety tips"/><category term="cara membuat jsa"/><category term="elemen SMKP"/><category term="human error"/><category term="pengertian amdal"/><category term="piramida kecelakaan"/><category term="prosedur bekerja di ketinggian"/><category term="tips ergonomi bagi pengguna komputer"/><category term="Artikel tentang Management of Change (MOC)"/><category term="Artikel tentang keselamatan kerja"/><category term="Baku mutu air Limbah tambang bauksit"/><category term="Baku mutu emisi tidak bergerak"/><category term="Cerita lucu"/><category term="Difficult People"/><category term="Eksplorasi bahan galian"/><category term="Faktor fisik"/><category term="Fatigue Management"/><category term="Fire Risk Assessment"/><category term="GMP"/><category term="HFACS"/><category term="IBPR"/><category term="Identifikasi Bahaya dan pengendalian risiko"/><category term="Investigasi"/><category term="Investigasi kecelakaan kerja"/><category term="Kebijakan SMKP"/><category term="Kepmenaker No 254 tahun 2007"/><category term="Kepmenakertrans No 254 Tahun 2007 Tentang Penetapan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Sektor Migas dan Pabum"/><category term="Kepmenkes No 1405 Tahun 2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran Dan Industri"/><category term="Lean Thinking"/><category term="Lebih sering Minta dari pada Bersyukur"/><category term="Limbah B3"/><category term="Lingkungan Hidup"/><category term="Motivasi kepemimpinan"/><category term="Pekerjaan yang seharusnya"/><category term="Pemantauan Lingkungan"/><category term="Pemeriksaan Kecelakaan (Investigasi)"/><category term="Pemeriksaan kecelakaan"/><category term="Pengelolaan Air Asam Tambang"/><category term="Pengelolaan Lingkungan"/><category term="Penjelasan Atas Perda Kaltim No 14 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Air Tanah"/><category term="Peraturan tentang SMKP"/><category term="Peraturan tentang UKL dan UPL"/><category term="Perda Bajarmasin No 7 Tahun 2010 ijin Pembuangan dan Pengolahan Limbah Cair"/><category term="Perda Kabupaten Tanah Bumbu No 12 Tahun 2012 Tentang Reklamasi dan Pasca Tambang"/><category term="Perda Kalsel No 1 Tahun 2013 Tentang Reklamasi Lahan Pasca Tambang Batubara"/><category term="Perda Kaltim No 02 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air (LAMPIRAN )"/><category term="Perda Kaltim Nomor 02 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air"/><category term="Perda Kaltim Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup"/><category term="Perda Kaltim Nomor 10 Tahun 2012 tentang Jalan umum dan Jalan Khusus untuk Kegiatan Pengangkutan Batubara dan Kelapa Sawit"/><category term="Perda Kaltim Nomor 14 Tahun 2012 Tentang Pengelolaan Air Tanah"/><category term="Permen ESDM 07 2014 tentang Pelaksanaan Reklamasi dan Pasca tambang pada Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara"/><category term="Permen LH No 13 Tahun 2010 Tentang UKL dan UPL"/><category term="Permen LH No 17 Tahun 2012 tentang Pedoman Keterlibatan Masyarakat dalam Proses Amdal dan Izin Lingkungan"/><category term="PermenLH No 34 Tahun 2009 tentang Baku Mutu Air Limbah Pertambangan Bijih Bauksit"/><category term="Prosedur Kerja"/><category term="SNI eksplorasi bahan galian"/><category term="SNI_ 13_6676_2002_Evaluasi Laporan Penyelidikan Umum dan Eksplorasi Bahan Galian"/><category term="Standar Kompetensi"/><category term="Teori piramida kecelakaan"/><category term="Tulisan Pembaca"/><category term="Tyre Safety"/><category term="alat pelindung diri bekerja di ketinggian"/><category term="artikel lingkungan hidup"/><category term="bagaimana cara kita bersyukur"/><category term="bahaya di area timbunan"/><category term="bahaya fatigue"/><category term="cara melakukan improvement"/><category term="cara memotivasi bawahan"/><category term="cara mencegah kerusakan mata"/><category term="cara menemukan passion"/><category term="cara mengidentifikasi bahaya"/><category term="cara menjaga kesehatan mata"/><category term="cara menurunkan kolesterol"/><category term="contoh ijin bekerja diatas ketinggian"/><category term="contoh jsa"/><category term="ekspresi kecewa"/><category term="gambar piramida kecelakaan"/><category term="hirarki pengendalian risiko"/><category term="iso 9001 versi terbaru"/><category term="kecelakaan tambang"/><category term="kejadian berbahaya"/><category term="kepmen 555 tahun 1995"/><category term="keselamatan penggunaan forklift"/><category term="keselamatan penggunaan tangga"/><category term="keterlibatan masyarakan dalam amdal"/><category term="kewajiban pekerja terhadap keselamatan"/><category term="motivasi menurun"/><category term="orang menyebalkan"/><category term="passion"/><category term="pencegahan kecelakaan"/><category term="peraturan kaltim tentang pengelolaan air Tanah"/><category term="perda kalsel"/><category term="perda kalsel tentang air"/><category term="perda kalsel tentang limbah cair"/><category term="perda kaltim"/><category term="perda kaltim tentang air"/><category term="perda kaltim tentang air tanah"/><category term="program kerja pencegahan kecelakaan"/><category term="prosedur isolasi"/><category term="simbol dan label limbah b3"/><category term="simbol limbah b3"/><category term="tata cara eksplorasi"/><category term="tentang disposal"/><category term="teori perilaku"/><category term="working at height permit"/><category term="world water day theme"/><category term="10 pertanyaan terkait safety"/><category term="5 kriteria kecelakaan tambang"/><category term="A Guide to Safety in Confined Spaces"/><category term="ABC Model"/><category term="AS/NZS 4360:1999 Risk Management"/><category term="Abnormal"/><category term="Air tanah"/><category term="Akses Tali (Rope Access)"/><category term="Alat Pelindung jatuh"/><category term="Alergi"/><category term="Analisa yang digunakan dalam Identifikasi Bahaya"/><category term="Apa itu P2K3"/><category term="Artikel pencemaran lingkungan"/><category term="Artikel tentang Kaizen (Continuous Improvement)"/><category term="Aturan Pekerjaan di atas Ketinggian"/><category term="Audit Sistem"/><category term="BK3N2020"/><category term="Bagaimana ISO 9001 versi 2015"/><category term="Bagaimana LCP di dalam SML"/><category term="Bagaimana melakukan manajemen risiko"/><category term="Bagaimana melindungi jari tangan"/><category term="Bagaimana membangun Sistem manajemen K3"/><category term="Bagaimana membuat JSA"/><category term="Bagaimana terjadinya kecelakaan"/><category term="Bahan Bakar Cair"/><category term="Bahasa Isyarat Crane"/><category term="Bahasa tubuh yang mewakili keramahan"/><category term="Bahaya Suspension Trauma"/><category term="Bahaya bekerja di tambang"/><category term="Bahaya mengemudi di area tambang"/><category term="Bahaya saat melakukan pengelasan"/><category term="Bahaya terjatuh di area kerja"/><category term="Bahaya terpeleset di area kerja"/><category term="Bahaya yang ada pada eye wash"/><category term="Bahaya-bahaya pengelasan"/><category term="Bakteri yang sering muncul dalam eye wash"/><category term="Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha Pertambangan Batu bara"/><category term="Baku Mutu Limbah Domestik"/><category term="Bangsa yang minder"/><category term="Bekerja di Tambang"/><category term="Berkendara di Tambang"/><category term="Best Practice"/><category term="Biaya Keselamatan Kerja"/><category term="Biaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja"/><category term="Biaya langsung dan biaya tidak langsung akibat kecelakaan kerja"/><category term="Budget untuk safety"/><category term="Bukan K3"/><category term="Bukti Audit"/><category term="Bulan K3 Nasional"/><category term="BulanK32021"/><category term="Cadangan sumber daya air"/><category term="Cara Menjaga House Keeping"/><category term="Cara Merawat Sepatu safety"/><category term="Cara aman bekerja di confined space"/><category term="Cara melakukan analisa risiko dalam manajemen risiko"/><category term="Cara melakukan pemeriksaan kecelakaan kerja"/><category term="Cara melaporkan Keselamatan operasi Pertambangan"/><category term="Cara membangun budaya K3"/><category term="Cara membersihkan eye wash"/><category term="Cara membuat SOP"/><category term="Cara mencegah kebakaran"/><category term="Cara mencegah kecelakaan pada pekerja baru"/><category term="Cara menganalisa risiko"/><category term="Cara menganilas akar penyebab masalah"/><category term="Cara mengatasi alergi makanan"/><category term="Cara mengendarai kendaraan yang aman"/><category term="Cara menggunakan keyboard yang benar"/><category term="Cara mengukur kadar debu"/><category term="Cara meningkatkan kesadaran mekanik dalam K3"/><category term="Cara menjaga kebersihan tempat kerja"/><category term="Cara pemasangan simbol limbah B3"/><category term="Cara penambangan yang baik"/><category term="Cara pengajuan ijin gudang bahan peledak"/><category term="Cara penyelamatan pekerja di ketinggian"/><category term="Cerita tentang Keselamatan Kerja"/><category term="Change management"/><category term="Cidera Jari Tangan"/><category term="Confined Space"/><category term="Continuous Improvement"/><category term="Contoh Artikel Keselamatan Kerja"/><category term="Contoh Kecelakaan tambang"/><category term="Contoh best Praktice Keselamatan dan kesehatan Kerja"/><category term="Contoh best praktice safety"/><category term="Contoh laporan SMKP"/><category term="Contoh tindakan tidak aman"/><category term="Contractor Safety Management System"/><category term="Daerah Bebas Rintangan"/><category term="Dampak alergi makanan"/><category term="Dampak terlalu lama di depan komputer"/><category term="Definisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja"/><category term="Definisi kaizen"/><category term="Direct cost and indirect cost incident"/><category term="Disposal/timbunan"/><category term="Download E-book"/><category term="Elemen Tinjauan Manajemen dalam SMKP Minerba"/><category term="Emergency"/><category term="Evidence Audit"/><category term="Fakotr yang mempengaruhi human error"/><category term="Faktor Fisika"/><category term="Faktor fisik tempat kerja"/><category term="Fall Arrester Equioment"/><category term="Fall Protection"/><category term="Fatigue management plan"/><category term="Fatigue manajemen"/><category term="Fire Rescue"/><category term="Format laporan Ko Pertambangan"/><category term="Gambar tambang"/><category term="Gejala-gejala alergi"/><category term="Geotube Dewatering Technology"/><category term="HIRA"/><category term="HIRADC"/><category term="Hal yang perlu diperhatikan saat melakukan perubahan"/><category term="Hepatitis"/><category term="IBRP"/><category term="IFRC"/><category term="ISO 14001"/><category term="ISO 14001 versi 2015"/><category term="ISO 14001:2015"/><category term="ISO 45001:2018"/><category term="ISO 9001;2015"/><category term="Iceberg thoery incident cost"/><category term="Ijin TPS"/><category term="Ijin-ijin untuk kelistrikan"/><category term="Imlementasi Ide perbaikan dalam Improvement"/><category term="Indeks standar pencemar udara"/><category term="Indikator keberhasilan Penerpan Keselamatan Kerja"/><category term="Indonesia berbudaya K3 tahun 2015"/><category term="Instalasi Alarm Kebakaran Automatik"/><category term="Isi Kebijakan SMKP"/><category term="Isolasi"/><category term="Jalan Lintas"/><category term="Jalan Tambang"/><category term="Jarak aman tangki fuel dengan bangunan"/><category term="Jarak aman tangki penimbunan bahan bakar cair"/><category term="Jenis cidera akibat kecelakaan tambang"/><category term="Jenis pelanggaran yang mengakibatkan kecelakaan"/><category term="Jumlah hari hilang akibat kecelakaan"/><category term="K3"/><category term="K3 Bejana Tekanan dan Tangki Timbun"/><category term="K3 Lingkungan Kerja"/><category term="K32020"/><category term="KEPMEN 555.K/26/M.PE/1995 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pertambangan Umum"/><category term="KEPMEN-LH-113 Tahun 2003-Tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha dan atau Kegiatan Pertambangan Batu Bara"/><category term="KO pertambangan"/><category term="Kadar debu"/><category term="Kaizen dengan Total Quality Management"/><category term="Kebijakan"/><category term="Kebisingan"/><category term="Kelas KTT"/><category term="Kelelahan"/><category term="Kendaraan Ringan di Tambang"/><category term="Kepdirjen Minerba 185"/><category term="Kepdirjen No 45 Tahun 2008 Pedoman Bekerja di Ketinggian dengan Menggunakan Akses Tali (rope Akses)"/><category term="Kepdirjen No 84-PPK-X-2012 Tentang tata cara Penyusunan Dokumen Pengendalian Potensi Bahaya Besar dan Menengah"/><category term="Kepdirjen No-53-DJPPK-VIII-2009 Tentang Lisensi Petugas P3K"/><category term="Kepmen ESDM 3261 2011 Pelimpahan wewenang Mentri ESDM kepada Kepala Badan Geologi Izin pemakaian Air Tanah"/><category term="Kepmen LH 48 Tahun 1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan"/><category term="Kepmen Lh No 113 Tahun 2003 Tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha Pertambangan Batu bara"/><category term="KepmenLH No 48 Tahun 1996 Tentang Tingkat Kebisingan"/><category term="Kepmenaker 1135.men.1987 tentang Bendera K3"/><category term="Kepmennaker No Kep-51-MEN-1999 Tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika di Tempat Kerja"/><category term="Kepmentamben No 2555.K Tahun 1993 Tentang Pelaksanaan Inspeksi Tambang Pertambangan Umum"/><category term="Kesadaran Situasional"/><category term="Kesalahan JSA"/><category term="Kesalahan dalampresentasi"/><category term="Keselamatan Disposal"/><category term="Keselamatan Kerja Perkantoran"/><category term="Keselamatan Operasi pertambangan"/><category term="Keselamatan Pertambangan"/><category term="Keselamatan di area disposal"/><category term="Keselamatan jari tangan"/><category term="Keselamatan operasi adalah"/><category term="Komite Keselamatan Pertambangan"/><category term="Kondisi jalan berbahaya"/><category term="Konteks Organisasi"/><category term="Kriteria kecelakaan tambang"/><category term="Kualifikasi menjadi KTT"/><category term="Kumpulan Peraturan K3"/><category term="Langkah ke 6 dalam QCC"/><category term="Langkah membuat MOC"/><category term="Langkah perbaikan"/><category term="Life Cycle Perspective ISO 14001 2015"/><category term="Lisensi Petugas P3K"/><category term="Logo hari lingkungan 2016"/><category term="Makna dari Go Wild For Life"/><category term="Manajemen Risiko Perusahaan"/><category term="Manual Handling"/><category term="Manual handling tips and techniques"/><category term="Melalui penerapan SMK3 kita wujudkan Indonesia Berbudaya K3 dalam Menghadapi Pasar Bebas"/><category term="Membangun Budaya K3 perusahaan"/><category term="Membangun budaya keselamatan dan kesehatan Kerja di tempat kerja"/><category term="Mencari Kerja di Tambang"/><category term="Menentukan ide perbaikan dalam qcc"/><category term="Mengenal kolesterol"/><category term="Menjalankan program house keeping di tempat Kerja"/><category term="Metode Kuantitatif Kualitatif dan Semi Kuantitatif"/><category term="Metode analisa dalam IBPR"/><category term="Meyakinkan manajemen tentang keselamatan kerja"/><category term="Mitigasi risiko"/><category term="Modifikasi Ganjal Ban"/><category term="NAB Faktor Kimia"/><category term="Nomal"/><category term="OHSAS 18001-2007 Sistem Manajemen K3"/><category term="Obat Alergi"/><category term="Orientasi pekerja baru untuk keselamatan kerja"/><category term="PAK"/><category term="PDCA adalah"/><category term="PERMEN ESDM No.15 Tahun 2012 Penghematan Penggunaan Air Tanah"/><category term="PERMEN LH 08 Tahun 2006-Pedoman Penyusunan AMDAL"/><category term="PERMEN LH 11 Tahun 2006 Jenis Usaha dan atau Kegiatan yang Wajib AMDAL"/><category term="PERMEN LH No 04 Tahun 2006-Baku Mutu Air Limbah Kegiatan Pertambangan Bijih Timah"/><category term="PERMEN LH18 Tahun 2009 Tentang Tata Cara Perizinan Pengelolaan Limbah B3"/><category term="PERMENAKERTRANS No PER.13-MEN-X-2011 Tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja"/><category term="PERMENHUT P.4 Tahun 2011 Tentang Pedoman Reklamasi Hutan"/><category term="PLOR"/><category term="PP 22 Tahun 2010 Tentang Wilayah Pertambangan"/><category term="PP 23 Tahun 2010- Tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan"/><category term="PP 41 Tahun1999 Pengendalian Pencemaran Udara"/><category term="PP 78 Tahun 2010 Tentang Reklamasi dan Pasca Tambang"/><category term="PP NO 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara"/><category term="PP No 27 Tahun 2012 Tentang Izin Lingkungan"/><category term="PP No 42 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sumber Daya Air"/><category term="PP No 43 Tahun 2008 Tentang Air Tanah"/><category term="PP No 50 Tahun 2012 Penerapan SMK3"/><category term="PP No 55 Tahun 2010 Tentang Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pengelolaan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara"/><category term="PP No 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air"/><category term="PP No. 85 Tahun 1999 Pengelolaan Limbah B3"/><category term="PP Nomor 101 Tahun 2014 tentang pengelolaan limbah B3"/><category term="PP no 19 Tahun 1973"/><category term="Panduan bekerja di ruang terbatas"/><category term="Parkir Kendaraan"/><category term="Parkir Kendaraan di Area Tambang"/><category term="Pedoman  Keselamatan dan Kesehatan Kerja  di Ruang Terbatas (confined spaces)"/><category term="Pekerjaan di ketinggian"/><category term="Pelatihan hygiene paramedic perusahaan"/><category term="Pelatihan teknisi akses tali"/><category term="Peledakan (blasting)"/><category term="Pemanfaatan air hujan"/><category term="Pencegahan bahaya terpeleset tersandung dan terjatuh"/><category term="Penerapan Siklus Hidup dalam ISO 14001 versi baru"/><category term="Penetapan Kebijakan"/><category term="Pengelolaan Limbah B3"/><category term="Pengelolaan alergi makanan di tempat kerja"/><category term="Pengelolaan terhadap perubahan"/><category term="Pengendalian Potensi Bahaya Besar dan Menengah"/><category term="Pengendalian pencemaran udara"/><category term="Pengertian Kaizen"/><category term="Pengertian manajemen risiko"/><category term="Pengertian ruang terbatas"/><category term="Penggunaan helm keselematan saat bekerja"/><category term="Penggunaan pesawat angkat untuk mengangkat orang"/><category term="Penilaian penerapan SMK3"/><category term="Penilaian risiko pada saat bekerja diatas ketinggian"/><category term="Penyakit akibat kolesterol"/><category term="Penyebab dehidrasi"/><category term="Penyebab kolesterol pada pekerja tambang"/><category term="Penyebab seseorang melakukan kesalahan"/><category term="Penyebab terjadinya kebakaran"/><category term="Peralatan angkat angkut"/><category term="Perancah (Scaffolding)"/><category term="Peraturan K3"/><category term="Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 21 Tahun 2008"/><category term="Peraturan air Tanah"/><category term="Peraturan limbah B3 terbaru"/><category term="Peraturan pemerintah tentang proper"/><category term="Peraturan tentang Audit SMK3"/><category term="Peraturan tentang Rambu tambang"/><category term="Peraturan tentang SMK3"/><category term="Peraturan tentang TPS"/><category term="Peraturan tentang bejana tekan"/><category term="Peraturan tentang komite K3"/><category term="Peraturan tentang pemanfaatan air hujan"/><category term="Peraturan tentang penerapan SMK3"/><category term="Peraturan tentang proper"/><category term="Peraturan terbaru tentang Limbah Domestik"/><category term="Peraturan terbaru tentang kesehatan lingkungan kerja"/><category term="Peraturan terkait baku mutu emisi sumber tidak bergerak"/><category term="Perbedaan antara Fall Restraint  dan Fall Arrest"/><category term="Perda Kalsel 3-2008 Pengaturan Penggunaan Jalan Umum dan Jalan Khusus untuk Angkutan Hasil Tambang"/><category term="Perda Kalsel No 2 Tahun 2006 Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air"/><category term="Perda kalsel tentang penggunaan jalan umum dan jalan khusus"/><category term="Perijinan Gudang handak"/><category term="Peringatan hari air sedunia tahun 2015"/><category term="Perkakas tangan"/><category term="Permen ESDM No 18 Tahun 2008 Tentang Reklamasi dan Penutupan Tambang"/><category term="Permen ESDM No 35 tahun 2013"/><category term="Permen ESDM No. 11 Tahun 2012 Perubahan atas PERMEN ESDM Nomor 07 Tahun 2012 tentang Peningkatan Nilai Tambah Mineral Melalui Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian Mineral"/><category term="Permen ESDM No. 24 Tahun 2012 Perubahan Atas Peraturan Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral Nomor 28 Tahun 2009"/><category term="Permen LH 14 Tahun 2013 Simbol dan Label Limbah B3"/><category term="Permen LH No 03 Tahun 2014 Tentang PROPER"/><category term="Permen LH No 05 Tahun 2012 tentang Jenis Usaha Yang Wajib Amdal"/><category term="Permen LH No 09 Tahun 2006 Tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha dan atauKegiatan Pertambangan Bijih Nikel"/><category term="Permen LH No 13 Tahun 2009 tentang Baku mutu emisi Tidak Bergerak"/><category term="Permen LH No.12 Tahun 2009-Pemanfaatan Air Hujan"/><category term="Permen Lh No 68 Tahun 2016"/><category term="Permen tentang amdal"/><category term="Permenaker Bulan K3 Tahun 2023"/><category term="Permenaker No 02 Tahun 1983 Tentang Instalasi Alarm Kebakaran Automatik"/><category term="Permenaker No 03 Tahun 1985 Tentang K3 Pemakaian Asbes"/><category term="Permenaker No 03 Tahun 1998 Tentang tata cara Pelaporan dan Pemeriksaan Kecelakaan"/><category term="Permenaker No 04 Tahun 1985 Tentang Pesawat Tenaga dan Produksi"/><category term="Permenaker No 04 Tahun 1987 Tentang P2K3"/><category term="Permenaker No 05 Tahun 1985 Tentang Pesawat Angkat Angkut"/><category term="Permenaker No 37 Tahun 2016"/><category term="Permenaker no 09 tahun 2016"/><category term="Permenaker no 26 tahun 2014 tentang audit SMK3"/><category term="Permenaker no 38 tahun 2016 tentang pesawat tenaga dan produksi"/><category term="Permenakertrans No 02 Tahun 1980 Tentang Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja"/><category term="Permenakertrans No 04 Tahun 1980 Tentang Syarat Pemasangan dan Pemeliharaan APAR"/><category term="Permenakertrans No 1 Tahun 1976 tentang Kewajiban Latihan Hiperkes Bagi Dokter Perusahaan"/><category term="Permenkes No 416 Tahun 1990 tentang Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air"/><category term="Permenkes no 48 Tahun 2016 Tentang Standar K3 Perkantoran"/><category term="Permenkes no 48 tahun 2016 pdf"/><category term="Permenkes no 70 tahun 2016"/><category term="Perpres No 7 Tahun 2019"/><category term="Perspektif Siklus Hidup dalam ISO 14001 2015"/><category term="Perubahan yang memerlukan Management of Change"/><category term="Pesan bagi anak perempuan"/><category term="Piramida Heinrich"/><category term="Piramida Safety"/><category term="Plan Do Check Action"/><category term="Preventif dan Mitigasi Risiko"/><category term="Preventing Slips Trips and Falls at Work"/><category term="Program K3 untuk membangun budaya safety"/><category term="Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja"/><category term="Proper"/><category term="Prosedur Bekerja di Atas Ketinggian"/><category term="Prosedur Kerja Yang Benar"/><category term="Prosedur Keselamatan Kerja"/><category term="Prosedur bejana tekan"/><category term="Prosedur lock out tag out"/><category term="Proses identifikasi Risiko"/><category term="Proses manajemen risiko"/><category term="Proses terjadinya hujan asam"/><category term="QCC dan TQM"/><category term="QCDSM dalam QCC"/><category term="Rambu tambang"/><category term="Reguasi tentang Audit SMK3"/><category term="Regulasi pemerintah tentang pekerjaan di atas ketinggian"/><category term="Regulasi tentang penerapan SMK3"/><category term="Rencana perbaikan selanjunya dalam QCC"/><category term="Risiko bekerja di Tambang"/><category term="Risiko menggantung di safety harness"/><category term="Risk"/><category term="Riskperception"/><category term="Rutin"/><category term="SMK3"/><category term="SMK3 Perkantoran"/><category term="SNI 03-6575-2001- Tata Cara Perancangan Sistem Pencahayaan buatan"/><category term="SNI 03-7166-2006 Manajemen Tanggap Siaga untuk Keadaan Darurat di Kegiatan Usaha Pertambangan; Keadaan Darurat; SNI"/><category term="SNI 03-7167-2006 Delineator di Jalan Wilayah Pertambangan; SNI"/><category term="SNI 13 6619 2001 Penggolongan dan Pencatatan Cedera Akibat Kerja di Pertambangan Umum"/><category term="SNI 13-3619-1994 Penanganan Tabung Bertekanan"/><category term="SNI 13-3620-1994 Cara Pemakaian Perkakas Tangan Dengan Aman"/><category term="SNI 13-4000-1995 Bekerja di jalur operasi grader"/><category term="SNI 13-4123-1996 Tata pengukuran gas metana pada tambang batubara bawah tanah"/><category term="SNI 13-4124-1996 Tata pengukuran gas karbon monoksida pada tambang batubara bawah tanah"/><category term="SNI 13-4125-1996 Tata pengukuran gas karbon dioksida pada tambang batubara bawah tanah"/><category term="SNI 13-4126-1996 Penyumbuan detonator biasa pada kegiatan pertambangan umum"/><category term="SNI 13-4127-1996 Bahasa Isyarat Pengoperasian Pesawat Angkat-Crane"/><category term="SNI 13-4703-1998 tentang Penentuan Kadar Debu di Udara dengan Penangkap debu Jatuh"/><category term="SNI 13-6350-2000 Demarkasi di Lorong"/><category term="SNI 13-6351-2000 - Rambu-Rambu Jalan di Area Pertambangan"/><category term="SNI 13-6618-2001-Metode Penghitungan Tingkat Kekerapan dan Tingkat Keparahan Cidera Akibat Kerja di Pertambangan Umum"/><category term="SNI 13-6673-2002 Tentang Persyaratan Pengoperasian Kendaraan Ringan di Daerah Tambang"/><category term="SNI 16-7062-2004 Pengukuran Intensitas Penerangan Tempat kerja"/><category term="SNI 19-6728.1-2002 Penyusunan Neraca Sumber Daya Air Spasial"/><category term="SNI investigasi kecelakaan"/><category term="Safer food for better bussiness"/><category term="Sanksi dan denda bagi yang melakukan pencemaran lingkungan"/><category term="Sanksi jika tidak menerapkan SMKP"/><category term="Sanksi pelanggaran uu no 32 tahun 2009"/><category term="Standar Jalan Tambang"/><category term="Standar bejana tekan"/><category term="Standarisasi dalam Improvement"/><category term="Struktur Komite Keselamatan Pertambangan"/><category term="Suka duka Bagian Keselamatan Kerja"/><category term="Syarat Bejana Tekan"/><category term="Syarat Bejana Tekanan"/><category term="Syarat Tangki Timbun Bahan Bakar"/><category term="Syarat menjadi KTT"/><category term="Syarat operator pesawat tenaga dan produksi"/><category term="Tabung Bertekanan"/><category term="Tambang barubara"/><category term="Tanda budaya K3 yang berhasil"/><category term="Tantangan Safety Officer"/><category term="Tata Cara Perancangan Sistem Pencahayaan Buatan"/><category term="Tema Hari Lingkungan Hidup 2017"/><category term="Tema bulan K3 Nasional tahun 2023; Tema bulan K3tahun 2023"/><category term="Tema hari air sedunia 2015"/><category term="Tema hari lingkungan hidup sedunia 2015"/><category term="Tema peringatan hari Lingkungan Hidup 2016"/><category term="TemabulanK3"/><category term="Tentang Amdal"/><category term="Teori Perilaku ABC Model"/><category term="Teori gunung es biaya kecelakaan"/><category term="Teori terjadinya kecelakaan"/><category term="Three point contact safety"/><category term="Tips bagi pekerja baru di tempat kerja"/><category term="Tips kerja aman saat puasa; penyebab orang mengantuk saat puasa"/><category term="Tips mengemudi di tambang"/><category term="Tips menghindari cidera pada jari tangan"/><category term="Tips perawatan APD"/><category term="Topik hari Lingkungan sedunia 2017"/><category term="Training K3 yang wajib"/><category term="Training bagi petugas keselamatan dan kesehatan Kerja"/><category term="Tugas Safety Officer"/><category term="Tugas bagian K3 pertambangan"/><category term="Tujuan Keselamatan Kerja"/><category term="UU / PP"/><category term="UU 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup"/><category term="UU No 04  Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan Batubara"/><category term="UU No 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja"/><category term="UU No 27 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air"/><category term="Uji karakteristik limbah"/><category term="Uji toksikologi limbah B3"/><category term="Uncategorized"/><category term="Undang-Undang No 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah"/><category term="WED 2017 theme"/><category term="WED2018"/><category term="WED2019"/><category term="Water and Jobs"/><category term="World Environment Day 2016 theme"/><category term="World Environment day 2017"/><category term="Zero Accident Mindset"/><category term="Zero accident"/><category term="agar tidak jatuh saat bekerja diatas"/><category term="agat tidak mengantuk saat puasa"/><category term="air tambang"/><category term="akibat salah dalam memegang mouse"/><category term="akses tali adalah"/><category term="alasan pekerja tidak mengakui jika fatigue"/><category term="alat Pelindung Diri"/><category term="amdal adalah"/><category term="anak perempuanku"/><category term="apa itu 5R"/><category term="apa itu CSMS"/><category term="apa itu keselamatan operasi"/><category term="apa itu lean thinking"/><category term="apa itu perancah"/><category term="apa itu scaffolding"/><category term="apa saja yang perlu diperiksa pada apar"/><category term="apa tema Tema Hari Air Sedunia 2016"/><category term="apa tema hari lingkungan 2017"/><category term="apa yang dimaksud dengan ruang terbatas"/><category term="apa yang perlu diinspeksi"/><category term="area berbahaya pekerjaan di ketinggian"/><category term="artikel lean thinking"/><category term="artikel tentang 5R atau 5S"/><category term="artikel tentang CSMS"/><category term="artikel tentang lean manufacturing"/><category term="artikel tentang three point contact"/><category term="asbestos"/><category term="asbestos cancer"/><category term="aturan tentang bekerja di ketinggian"/><category term="aturan tentang pencemar udara"/><category term="bagaimana cara memasang loto"/><category term="bagaimana cara membuat jsa"/><category term="bagaimana menerapkan iso 9001:2015"/><category term="bagaimana meyakinkan manajemen tentang safety"/><category term="bagaimmana melakukan pengendalian kebakaran"/><category term="bagian bagian perancah"/><category term="bagian-bagian tabung las"/><category term="bahaya apa saja pada pengelasan"/><category term="bahaya asap pengelasan"/><category term="bahaya asbes"/><category term="bahaya confined space"/><category term="bahaya dan risiko k3"/><category term="bahaya dari jalan licin"/><category term="bahaya gerinda pada mata"/><category term="bahaya hujan asam"/><category term="bahaya infra merah pada mata"/><category term="bahaya kebakaran pada proses pengelasan"/><category term="bahaya kebocoran gas"/><category term="bahaya kelelahan dalam bekerja"/><category term="bahaya kondisi jalan menikung"/><category term="bahaya ledakan pada ban"/><category term="bahaya listrik di area timbunan"/><category term="bahaya mata kelilipan"/><category term="bahaya perilaku terhadap kecelakaan"/><category term="bahaya radiasi pada mata"/><category term="bahaya softlens pada mata"/><category term="bahaya superelevasi terbalik"/><category term="bahaya uap dalam pengelasan"/><category term="bahaya uap pengelasan logam"/><category term="bahaya-bahaya pada pergantian ban"/><category term="bahayamicrosleep"/><category term="baku mutu emisi pengolahan bijih nikel"/><category term="bakumutu pencemar udara"/><category term="bekerja diatas ketinggian yang benar"/><category term="berapa meter bekerja di ketinggian"/><category term="bulan k3 nasional tahun 2015"/><category term="byford Dolphin"/><category term="cara agar tetap selamat selama bekerja"/><category term="cara bekerja diatas ketinggian yang aman"/><category term="cara investigasi kecelakaan kerja di tambang"/><category term="cara melakukan identifikasi risiko"/><category term="cara melakukan isolasi"/><category term="cara melakukan manajemen risiko"/><category term="cara melakukan pekerjaan di ketinggian yang benar"/><category term="cara melakukan pengelasan dengan acetylene dan oksigen"/><category term="cara melakukan penilaian risiko"/><category term="cara melaporkan kegiatan Bulan k3"/><category term="cara melihat tanggal produksi helm"/><category term="cara memakai tangga yang aman"/><category term="cara memasang loto"/><category term="cara memasang tangga"/><category term="cara memasang tangga yang benar dan aman"/><category term="cara memastikan kelayakan full body harness"/><category term="cara memastikan kelayakan unit"/><category term="cara membaca tachograph"/><category term="cara membuat continuous improvement"/><category term="cara membuat hira yang benar"/><category term="cara membuat kebijakan perusahaan"/><category term="cara membuat manajemen risiko"/><category term="cara membuat presentasi yang benar"/><category term="cara memegang mouse yang benar"/><category term="cara memeriksa apar"/><category term="cara memeriksa full body harness"/><category term="cara memeriksa kebocoran gas"/><category term="cara memeriksa kondisi apar"/><category term="cara memeriksa perkakas tangan"/><category term="cara memeriksa safety harness"/><category term="cara memeriksa tangga"/><category term="cara memilih alat pelindung diri untuk bekerja di ketinggian"/><category term="cara memilih tangga"/><category term="cara menanggulangi fatigue"/><category term="cara menanggulangi kebakaran"/><category term="cara menanggulangi penyakit DBD"/><category term="cara mencegah hepatitis"/><category term="cara mencegah kebakaran saat pengelasan"/><category term="cara mencegah terjadinya kebakaran"/><category term="cara mendapatkan kebahagiaan"/><category term="cara menentukan leading indikator"/><category term="cara menentukan target improvement"/><category term="cara menerapkan ISO 9001 dan OHSAS 18001"/><category term="cara menerapkan integrated management system"/><category term="cara mengajukan kim"/><category term="cara mengangkat manual yang baik dan benar"/><category term="cara mengantisipasi kebocoran gas"/><category term="cara mengatasi lumpur dengan geotube"/><category term="cara mengatur kursi agar lebih ergonomi"/><category term="cara mengelola kebisingan di area kerja"/><category term="cara mengendalikan bahaya pada pekerjaan diatas ketinggian"/><category term="cara mengendalikan risiko"/><category term="cara mengetahui apakah apar masih bisa digunakan"/><category term="cara mengetahui kadaluarsa helm"/><category term="cara mengganti ban yang benar"/><category term="cara menggnati ban yang pecah"/><category term="cara menggunakan apar"/><category term="cara menggunakan diagram fishbone"/><category term="cara menggunakan forklift yang benar"/><category term="cara menggunakan full body harness"/><category term="cara menggunakan gerinda yang benar"/><category term="cara menggunakan perkakas tangan yang aman"/><category term="cara menggunakan tangga dengan selamat"/><category term="cara menggunakan tangga yang benar"/><category term="cara menghilangkan potensi jatuh pada pekerjaan diatas ketinggian"/><category term="cara mengidentifikasi bahaya pekerjaan di ketinggian"/><category term="cara mengidentifikasi fatigue"/><category term="cara mengoperasikan mobil yang benar"/><category term="cara mengoperasikan truk"/><category term="cara mengukur gas di ruang terbatas"/><category term="cara mengukur keberhasilan leading indicator"/><category term="cara menjaga makanan agar tetap higienis"/><category term="cara mensetting tangga"/><category term="cara menyusun IBPR atau HIRA"/><category term="cara menyusun csms"/><category term="cara merawat apd"/><category term="cara merawat helm"/><category term="cara merawat helm safety"/><category term="cara merencanakan pekerjaan diatas ketinggian"/><category term="cara merubah ISO 9001 versi 2008 ke ISO 9001 versi 2015"/><category term="cara pemasangan label limbah b3"/><category term="cara penempatan apar"/><category term="cara pengelolaan sampah"/><category term="cara setting kursi kantor"/><category term="checklist pemeriksaan tangga"/><category term="cidera pada mata"/><category term="ciri-ciri nyamuk aedes aegypti"/><category term="contoh 5R budaya kerja jepang"/><category term="contoh audit smkp"/><category term="contoh csms"/><category term="contoh form jsa"/><category term="contoh kegiatan pada bulan k3"/><category term="contoh kejadian berbahaya"/><category term="contoh lagging indikator"/><category term="contoh laporan Ko pertambangan"/><category term="contoh laporan audit smkp"/><category term="contoh laporan bulan k3"/><category term="contoh leading indicators safety"/><category term="contoh leading indikator"/><category term="contoh lean thinking"/><category term="contoh olah raga untuk mengurangi fatigue"/><category term="contoh peregangan tangan bagi pengguna komputer"/><category term="contoh surat pengajuan kim"/><category term="contoh symbol dan label limbah b3"/><category term="daftar harga forklift"/><category term="daftar harga sepatu safety"/><category term="daftar pekerjaan yang memiliki risiko tinggi"/><category term="dampak debu tambang bagi kesehatan"/><category term="dampak fatigue terhadap kecelakaan"/><category term="dampak hujan asam"/><category term="dampak kebisingan di area kerja"/><category term="dampak kesehatan kekurangan tidur"/><category term="dampak negatif menggunakan komputer"/><category term="dampak pencemaran bagi kesehatan"/><category term="dan Tempat Penyimpanan Barang"/><category term="dasar hukum smkp"/><category term="data kecelakaan kerja"/><category term="data yang diperlukan saat invstogasi"/><category term="debu yang beracun"/><category term="defensive driving di area tambang"/><category term="definisi Keselamatan Kerja"/><category term="definisi change management"/><category term="definisi daya dukung dan daya tampung lingkungan"/><category term="definisi risk management"/><category term="definisimicrosleep"/><category term="demarkasi"/><category term="dokumen"/><category term="download bejana tekan"/><category term="download ohsas pdf"/><category term="download smkp"/><category term="elemen kebijakan dalam smkp"/><category term="eliminasi bahaya jatuh"/><category term="ergonomi"/><category term="factor kimia"/><category term="fakta lapangan saat kecelakaan"/><category term="faktor kimia"/><category term="fatigue causes"/><category term="form audit smkp"/><category term="form ijin bekerja di ketinggian"/><category term="gambar HD"/><category term="gambar forklift"/><category term="gap analysis dalam keselamatan"/><category term="gap analysis sistem manajemen keselamatan"/><category term="gejala hepatitis"/><category term="gejala penyakit demam berdarah"/><category term="golongan api"/><category term="good mining practice"/><category term="guru kencing berdiri murid kencing berlari"/><category term="hak dan kewajiban karyawan"/><category term="hal yang harus dilakukan untuk keselamatan"/><category term="hal yang perlu diperiksa pada tangga"/><category term="hal-hal sepele yang berakibat kecelakaan"/><category term="hal-hal yang perlu diperhatikan dalam presentasi"/><category term="hal-hal yang perlu diperhatikan saat mengelas"/><category term="harga safety shoes"/><category term="hari lingkungan 2019"/><category term="hari lingkungan hidup sedunia"/><category term="hira 2 dimensi dan 3 dimensi"/><category term="hirarki pengendalian bahaya"/><category term="hirarki pengendalian risiko k3"/><category term="how to create company policy"/><category term="how to create job safety analysis"/><category term="how to identify fall hazard"/><category term="how to measure leading indicators"/><category term="how to safer food manual"/><category term="hubungan kaizen dalam Lean Manufacturing"/><category term="human factors"/><category term="human failure"/><category term="identifikasi sumber api"/><category term="investigasi kecelakaan"/><category term="investigasi kecelakaan tambang"/><category term="ispu 98"/><category term="istilah dalam dunia tambang"/><category term="izin lingkungan"/><category term="jenis bahaya"/><category term="jenis biaya kecelakaan kerja"/><category term="jenis debu tambang"/><category term="jenis kejadian berbahaya"/><category term="jenis pekerjaan yang beresiko"/><category term="jenis usaha yang wajib amdal"/><category term="jsa yang benar"/><category term="juknis bahan bakar cair"/><category term="juknis bahan peledak"/><category term="jumlah hari hilang kecelakaan fatal"/><category term="kaidahpertambanganyangbaik"/><category term="kamus istilah tambang batubara"/><category term="kapasitas genset yang perlu ijin"/><category term="kebakaran akibat pengelasan"/><category term="kebijakan sesuai smkp"/><category term="kebisingan di area kerja"/><category term="kebocoran pada selang las"/><category term="kecelakaan di jam istirahat apakah kecelakaan tambang"/><category term="kecelakaan forklift"/><category term="kecelakaan freeport"/><category term="kecelakaan karena kondisi jalan"/><category term="kecelakaan kerja"/><category term="kecelakaan kerja forklift"/><category term="kecelakaan kerja terkait 3 titik tumpu"/><category term="kejadian berbahaya sesuai kepmen 555"/><category term="kelas-kelas bahan bakar cair"/><category term="kelelamatan penggunaan crane"/><category term="kesehatan makanan bagi keluarga"/><category term="keselamatan bahan pangan"/><category term="keselamatan dalam pengelasan"/><category term="keselamatan dalam pengoperasian forklift"/><category term="keselamatan di area dumpingan"/><category term="keselamatan di area stock pile"/><category term="keselamatan di area timbunan"/><category term="keselamatan kerja"/><category term="keselamatan saat mengganti ban"/><category term="keselamatan tambang"/><category term="ketentuan operator menurut kepmen 555"/><category term="ketentuan pemasangan simbol limbah b3"/><category term="kewajiban menggunakan helm safety saat bekerja"/><category term="kewajiban pekerja dalam keselamatan kerja"/><category term="kewajiban pekerja tambang"/><category term="kewajiban pengawas mekanik"/><category term="kewajiban pengawas operasional"/><category term="kewajiban pengawas tambang"/><category term="kewajiban pengawas teknis"/><category term="kewajiban sebagai karyawan"/><category term="kewajiban tenaga kerja sesuai uu no 1 tahun 1970"/><category term="kolesterol pdf"/><category term="kompetensi"/><category term="kondisi apar yang baik"/><category term="kondisi tidak aman"/><category term="konsentrasi debu"/><category term="konsep lean"/><category term="konsep lean dalam safety"/><category term="kontraktor"/><category term="kontrol pekerjaan diatas ketinggian"/><category term="konversi kerugian kecelakaan dengan penjualan"/><category term="kualitas udara yang baik"/><category term="kursi kantor"/><category term="label limbah b3"/><category term="lagging indicators safety"/><category term="lama paparan terhadap kebisingan"/><category term="langkah agar tetap selamat"/><category term="langkah ke 3 dalam qcc"/><category term="langkah pdca"/><category term="langkah pencegahan kebakaran"/><category term="langkah-langkah dalam manajemen risiko"/><category term="langkah-langkah iprovement dalam qcc"/><category term="langkah-langkah membangun budaya safety di perusahaan"/><category term="laporan audit smkp"/><category term="leading indicators safety"/><category term="lean manufacturing"/><category term="lean thinking adalah"/><category term="lean thinking model"/><category term="ledakan karena gas oksigen"/><category term="letak keyboard yang benar"/><category term="lifetime safety helmet"/><category term="lock out tag out kit"/><category term="logo hari air sedunia 2015"/><category term="macam-macam pelindung jatuh"/><category term="makalah konsep 5R"/><category term="management improvement"/><category term="manfaat positif kolesterol"/><category term="masa expired helm safety"/><category term="mata terbentul benda tumpul"/><category term="mcu untuk tenaga kerja"/><category term="medical checkup"/><category term="membangun budaya 5R di perusahaan"/><category term="membangun budaya K3"/><category term="membuat gap analysis di k3"/><category term="membuat jsa"/><category term="mencari ide perbaikan dalam kaizen"/><category term="menentukan akar masalah"/><category term="menentukan objective safety"/><category term="mengatur ketinggian kursi"/><category term="mengejar kebahagiaan"/><category term="menggunakan fishbone untuk analisa masalah"/><category term="menghitung biaya kecelakaan"/><category term="meningkatkan budaya K3 di level menajamen"/><category term="menyiapkan data investigasi kecelakaan"/><category term="menyusun program safety"/><category term="mesothelioma pleural"/><category term="metode pelaksanaan geotube atau geotekstil"/><category term="metode penambangan yang benar"/><category term="metodologi dalam analisa risiko"/><category term="microsleep"/><category term="nama bagian perancah"/><category term="nasihat untuk anak perempuan"/><category term="neraca sumberdaya air"/><category term="nilai kebisingan"/><category term="non rutin"/><category term="objek inspeksi"/><category term="organisasi dan personil smkp"/><category term="outsourcing"/><category term="p2k3"/><category term="panduan mengoperasikan HD"/><category term="pedoman bekerja di ketinggian"/><category term="pekerjaan beresiko tinggi"/><category term="pekerjaan yang berisiko tinggi"/><category term="pelatihan hygiene bagi dokter"/><category term="pemantauan emisi sumber tidak bergerak"/><category term="pembahasan smkp"/><category term="pembuatan kebijakan perusahaan"/><category term="pemeriksaan unit"/><category term="pencabutan sertifikast ISO dan OHSAS"/><category term="pencegahan sambaran petir pada mobil"/><category term="pencemaran udara"/><category term="penentuan hari hilang"/><category term="penentuan objective k3"/><category term="penerapan K3 dalam perusahaan"/><category term="penerapan csms yang benar"/><category term="pengajuan ijin bekerja di ketinggian"/><category term="pengangkatan manual yang benar"/><category term="pengelolaan air"/><category term="pengendalian kebakaran di area kerja"/><category term="pengendalian pencemaran air"/><category term="pengengertian analisa risiko"/><category term="pengertian 5R"/><category term="pengertian bahaya"/><category term="pengertian disposal"/><category term="pengertian fatigue"/><category term="pengertian forklift"/><category term="pengertian hujan asam"/><category term="pengertian kerusakan lingkungan"/><category term="pengertian keselamatan kerja"/><category term="pengertian lean thinking"/><category term="pengertian lingkungan hidup"/><category term="pengertian loto"/><category term="pengertian management of change"/><category term="pengertian risiko"/><category term="penggolongan cidera akibat kecelakaan tambang"/><category term="penggolongan cidera kecelakaan tambang"/><category term="penggunaan jaring pada konstruksi"/><category term="penggunaan soft landing system"/><category term="pengurangan risiko jatuh pada pekerjaan diatas ketinggian"/><category term="penilaian audit smkp"/><category term="penilaian kinerja lingkungan hidup"/><category term="penyebab chronic fatigue syndrome"/><category term="penyebab cidera pada jari tangan"/><category term="penyebab fatigue"/><category term="penyebab hepatitis"/><category term="penyebab kebakaran ban mobil"/><category term="penyebab kerusakan mata"/><category term="penyebab terjadinya api"/><category term="penyebab terjadinya fatigue"/><category term="penyebab terjadinya ledakan pada ban"/><category term="penyebab-penyebab kecelakaan"/><category term="peralatan bekerja di ketinggian"/><category term="peralatan isolasi"/><category term="peraturan pengoperasian forklift"/><category term="peraturan proper lingkungan hidup"/><category term="peraturan tentang MCU karyawan"/><category term="peraturan tentang amdal"/><category term="peraturan tentang ijin lingkungan"/><category term="peraturan tentang kapal keruk"/><category term="peraturan tentang pesawat angkat"/><category term="peraturan tentang proper hijau"/><category term="peraturan terbaru tentang proper"/><category term="perayaan bulan k3"/><category term="perbedaan iso 9001:2015 dengan iso 9001:2008"/><category term="perbedaan risiko dan bahaya"/><category term="pergerakan untuk pengguna komputer"/><category term="pericardian mesothelioma"/><category term="peringkat penilaian proper"/><category term="peritoneal mesothelioma"/><category term="perlengkapan loto"/><category term="perlu tidak POP bagi safety officer"/><category term="permen esdm no 38 tahun 2014 tentang penerapan smkp"/><category term="permen esdm tentang smkp"/><category term="permen lh nomor 4 tahun 2014"/><category term="permenLHK"/><category term="permenesdm"/><category term="persyaratan penggunaan akses tali"/><category term="pertambangan"/><category term="pertambangan yang baik"/><category term="perubahan iso 9001 versi 2015"/><category term="perubahan-perubahan iso 9001"/><category term="pesona keramahan melalui Bahasa tubuh"/><category term="portable ladder tips"/><category term="posisi  salah di keyboard"/><category term="posisi duduk yang benar di depan komputer"/><category term="posisi yang salah di depan komputer"/><category term="potensi bahaya di ruang terbatas"/><category term="pp 22 tahun 2021"/><category term="prinsip lean thinking"/><category term="program kerja safety"/><category term="program pencegahan fatigue"/><category term="program perusahaan untuk menurunkan kolesterol"/><category term="prosedur bekerja di ruang terbatas"/><category term="prosedur manual handling"/><category term="prosedur parker kendaraan di tambang"/><category term="prosedur pengangkatan manual"/><category term="prosedur penggunaan forklift"/><category term="prosedur pengoperasian crane"/><category term="proses pemeriksaan kecelakaan tambang"/><category term="rambu jalan tambang"/><category term="regulasi tentang standar dan persyaratan kesehatan lingkungan kerja"/><category term="regulasi terbaru tentang pesawat tenaga dan produksi"/><category term="rekaman"/><category term="risiko"/><category term="risiko bekerja diatas ketinggian"/><category term="rope access training"/><category term="ruang terbatas"/><category term="safe use portable ladder"/><category term="safety itu biaya atau investasi"/><category term="safety maturity level"/><category term="safty shoes"/><category term="salah posisi pada keyboard"/><category term="sejarah sistem manajemen keselamatan pertambangan"/><category term="sepatu safety murah"/><category term="sertifikat hygiene paramedic"/><category term="sistem akses tali"/><category term="situational awareness"/><category term="smkp pdf"/><category term="standar ISO dan OHSAS"/><category term="standar ohsas pdf"/><category term="standar pencemar udara"/><category term="standar warna tabung bertekanan"/><category term="stress dalam bekerja"/><category term="stress kerja dalam perilaku organisasi"/><category term="struktur organisasi SMKP"/><category term="sustainable mining"/><category term="syarat Proper hijau"/><category term="syarat crane untuk mengangkat pekerja"/><category term="syarat harness yang aman"/><category term="syarat k3 pesawat tenaga dan produksi"/><category term="syarat kerja di tambang"/><category term="syarat mengajukan kim"/><category term="syarat menjadi driver dan operator di tambang"/><category term="syarat pekerja menggunakan akses tali"/><category term="syarat proper biru"/><category term="syarat proper emas"/><category term="syarat proper hitam"/><category term="tachometer adalah"/><category term="tahapan manajemen risiko"/><category term="tambang indonesia"/><category term="tambang terbuka"/><category term="tanda-tanda dehidrasi"/><category term="tata cara Pelaporan kecelakaan"/><category term="tata cara audit smkp"/><category term="tata cara bekerja di ruang terbatas"/><category term="tata cara pemasangan alarm kebakaran"/><category term="tata cara penambangan yang berkelanjutan"/><category term="tata cara penggunaan asbes"/><category term="tata cara perizinan usaha ketenagalistrikan"/><category term="tema bulan k3 nasional tahun 2015"/><category term="tema bulan k3 tahun 2015"/><category term="tema bulan k3 tahun 2016"/><category term="tema bulan k3 tahun 2017"/><category term="tema bulan k3 tahun 2018"/><category term="tema bulan k3 tahun 2019"/><category term="tema hari air sedunia 2016"/><category term="tema hari lingkungan 2018"/><category term="temabulank3nasional2021"/><category term="teori domino"/><category term="teori segitiga api"/><category term="tiga titik tumpu saat naik turun truk"/><category term="tindakan yang sering menyebabkan kecelakaan"/><category term="tingkat dehidrasi"/><category term="tips ergonomi di kantor"/><category term="tips keselamatan berkendara di Tambang"/><category term="tips keselamatan di area disposal"/><category term="tips keselamtan di area timbunan"/><category term="tips membuat jsa"/><category term="tips mengatasi stress kerja"/><category term="tips mengganti ban yang benar"/><category term="tips menghindari rasa kantuk saat puasa"/><category term="tips mengoperasikan HD"/><category term="tips mengoperasikan unit di tambang"/><category term="tips menjaga mata"/><category term="tips merawat sepatu"/><category term="topik yang dibahas dalam rapat tinjauan manajemen."/><category term="tugas bagian KO pertambangan"/><category term="tugas p2K3"/><category term="ukuran simbol limbah b3"/><category term="unsafe Act"/><category term="urutan pengendalian risiko"/><category term="usia minimum menjadi operator di tambang"/><category term="welding tips"/><category term="world environment day 2015"/><category term="world water day theme 2016"/><category term="yang dimaksud dengan perancah"/><category term="yang perlu dilakukan untuk pemenuhan KO pertambangan"/><category term="yang seharusnya dipersiapkan sebelum bekerja"/><category term="yang termasuk kecelakaan tambang"/><title type='text'>DarmawanSaputra.Com</title><subtitle type='html'>The Life You Safe, May be Your Own</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://www.darmawansaputra.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default?redirect=false'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false'/><author><name>Darmawan Saputra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17849717183874773210</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjlPx9pCEdz6RPYkPOwbtZ3tYdlxMTP7JsZxxRbCP0OaCaoDKrRUmO5BcxljHxtMEg5fhUXS3ujCbX_O3-iSDPFnVYRpktmLdQRvMkLL5P80SBiq-33kDVrviWFqL6mPuzEvX0YkzDdcBLOpj5mWwWu3gmbYsUO8JAjunEKdcoLyht8sw/s220/Picture1.png'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>433</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1618947400959277823.post-5192678299222775735</id><published>2026-04-28T10:22:00.004+08:00</published><updated>2026-04-28T10:58:12.372+08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Audit SMKP"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Safety"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Safety and health"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="SMKP"/><title type='text'>Implementasi Pendidikan dan Pelatihan Berdasarkan Kepdirjen Minerba 185 Tahun 2019: Dari Konsep ke Praktik Nyata di Lapangan</title><content type='html'>&lt;p&gt;Dalam industri pertambangan, keselamatan kerja tidak pernah berdiri sendiri. Ia dibangun dari kompetensi dan kompetensi lahir dari pendidikan serta pelatihan yang dirancang dengan benar. Di sinilah peran &lt;a href=&quot;https://www.darmawansaputra.com/2019/08/kepdirjen-minerba-no-185-tentang-smkp.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Kepdirjen Minerba No. 185 Tahun 2019&lt;/a&gt; menjadi krusial, khususnya dalam mengatur bagaimana program pendidikan dan pelatihan harus direncanakan, dilaksanakan, hingga didokumentasikan.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhHowYBpdKX8ZoXMeYNr44ueWPAD-bsCn7Ne2BzhQzHQTuZOkbopkgV5PPcuTK1ArOHYW7AKF-4aOnwioIMOBLHiKgYjKP9HN6EmeEW2cRVeLSKaoyGTe_Qj23zXukGpU3GthKyDJBja45EJ3tPOpFWyeUuK8Va1T66TS4FHNBetq5d-DSfY5Th04UulS8/s1408/Pendidikan%20dan%20pelatihan.png&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Implementasi pendidikan dan pelatihan, contoh on the job training, apa beda on the job dan off the job, pelatihan di pertambangan, K3 Pertambangan,&quot; border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;768&quot; data-original-width=&quot;1408&quot; height=&quot;350&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhHowYBpdKX8ZoXMeYNr44ueWPAD-bsCn7Ne2BzhQzHQTuZOkbopkgV5PPcuTK1ArOHYW7AKF-4aOnwioIMOBLHiKgYjKP9HN6EmeEW2cRVeLSKaoyGTe_Qj23zXukGpU3GthKyDJBja45EJ3tPOpFWyeUuK8Va1T66TS4FHNBetq5d-DSfY5Th04UulS8/w640-h350/Pendidikan%20dan%20pelatihan.png&quot; title=&quot;Implementasi pendidikan dan pelatihan, contoh on the job training, apa beda on the job dan off the job, pelatihan di pertambangan, K3 Pertambangan,&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Artikel ini akan membahas secara praktis bagaimana implementasi pendidikan dan pelatihan berdasarkan regulasi tersebut, akan dilengkapi dengan contoh nyata di lapangan dari ketentuan pendidikan dan pelatihan dalam &lt;a href=&quot;https://www.darmawansaputra.com/2019/08/kepdirjen-minerba-no-185-tentang-smkp.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Kepdirjen Minerba No 185.K/37.04/DJB/2019 tentang Petunjuk Teknik Pelaksanaan Keselamatan Pertambangan dan Palaksanaan, Penilaian dan Pelaporan Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan Mineral dan Batubara&lt;/a&gt; berikut.&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg0XvCX9RSdlRMYfzCSvOsTLvK6EmIlfpLm11NXcMCElhyul3PH8Ap3cfFvYrkbbcU54TX1sNTWaUUlyEH4r0a_uFqOniZO3gk7qYJC1peeNE8BuL51p80ObsPpAZgF6dHbARfcDRKQpHMVSirwpG0BS9hi2xo25tOzPNpBIzZ7joh0FOIyKZJoMKb2pLk/s756/On%20the%20Job.png&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Implementasi pendidikan dan pelatihan, contoh on the job training, apa beda on the job dan off the job, pelatihan di pertambangan, K3 Pertambangan,&quot; border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;756&quot; data-original-width=&quot;685&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg0XvCX9RSdlRMYfzCSvOsTLvK6EmIlfpLm11NXcMCElhyul3PH8Ap3cfFvYrkbbcU54TX1sNTWaUUlyEH4r0a_uFqOniZO3gk7qYJC1peeNE8BuL51p80ObsPpAZgF6dHbARfcDRKQpHMVSirwpG0BS9hi2xo25tOzPNpBIzZ7joh0FOIyKZJoMKb2pLk/w363-h400/On%20the%20Job.png&quot; title=&quot;Ketentuan dalam Kepdirjen Minerba no 185 tahun 2019&quot; width=&quot;363&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Ketentuan Pendidikan &amp;amp; Pelatihan Kepdirjen 185&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;h4 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;1. Fondasi Utama: Training Need Analysis (TNA) &lt;/h4&gt;&lt;p&gt;Sebelum pelatihan dilakukan, regulasi menekankan bahwa seluruh program harus berbasis Training Need Analysis (TNA) atau analisis kebutuhan pelatihan.&amp;nbsp;Artinya, pelatihan tidak boleh sekadar formalitas atau “ikut tren”, tetapi harus menjawab kebutuhan nyata di lapangan. &lt;br /&gt;Contoh: Jika sering terjadi near miss pada haul road, maka TNA mengarah pada:&lt;/p&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Defensive driving&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Fatigue management&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hazard awareness di jalan tambang&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;Jika banyak kesalahan prosedur di workshop:&lt;/p&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Pelatihan SOP maintenance&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lock Out Tag Out (LOTO)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;👉 Tanpa TNA, pelatihan hanya jadi kegiatan administratif, bukan solusi. &lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;h4 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;2. Metode Pelatihan: On The Job Training (OJT)&amp;nbsp;&lt;/h4&gt;&lt;p&gt;Pelatihan dilakukan langsung di tempat kerja, tanpa meninggalkan aktivitas rutin. Biasanya dibimbing oleh atasan atau pengawas yang kompeten. &lt;br /&gt;Karakteristik:&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Praktis dan kontekstual&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berbasis pengalaman nyata&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dilakukan saat pekerjaan berlangsung &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;Contoh Nyata di Tambang:&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Operator baru dump truck didampingi senior saat hauling&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mekanik belajar troubleshooting langsung di unit breakdown&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pengawas melakukan coaching saat inspeksi lapangan &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;Kelebihan:&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Cepat meningkatkan skill praktis&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lebih relevan dengan kondisi nyata&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Biaya rendah &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;Risiko jika salah:&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Jika pengawas tidak kompeten → ilmu yang diturunkan salah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jika tidak terstruktur → hanya jadi “ikut-ikutan kerja” &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;👉 OJT yang buruk = replikasi kesalahan lama. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. Metode Pelatihan: Off The Job Training &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pelatihan dilakukan di luar area kerja oleh lembaga yang memiliki akreditasi dan kompetensi yang sesuai. &lt;br /&gt;Karakteristik:&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Lebih formal dan terstruktur&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menggunakan kurikulum standar&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Trainer bersertifikasi &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;Contoh:&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Pelatihan POP/POM/Pengawas Operasional oleh lembaga resmi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sertifikasi operator alat berat&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pelatihan K3 umum dari lembaga pemerintah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Simulasi emergency response di training center &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;Kelebihan:&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Standar materi terjamin&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mendapat perspektif baru&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sertifikasi resmi &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;Risiko jika salah:&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Tidak relevan dengan kondisi lapangan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hanya jadi formalitas untuk compliance &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;👉 Off the job tanpa integrasi ke lapangan = ilmu tidak terpakai. &lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;h4 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;4. Peran KTT atau PTL: Bukan Sekadar Menyetujui &lt;/h4&gt;&lt;p&gt;Dalam regulasi, Kepala Teknik Tambang (KTT) atau Penanggung Jawab Teknik dan Lingkungan (PTL) memiliki tanggung jawab langsung untuk:&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Melaksanakan program pelatihan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Memastikan kesesuaian dengan jadwal&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mendokumentasikan seluruh kegiatan&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;Ini bukan tugas administratif—ini adalah kontrol kualitas kompetensi. &lt;br /&gt;Contoh Implementasi:&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;KTT melakukan review bulanan program pelatihan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;PTL memastikan pelatihan sesuai dengan risiko operasional&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Audit internal terhadap efektivitas pelatihan &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;👉 Jika KTT hanya tanda tangan, sistem pasti gagal. &lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;h4 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;5. Dokumentasi: Lebih dari Sekadar Absensi &lt;/h4&gt;&lt;p&gt;Regulasi mewajibkan dokumentasi lengkap dari setiap kegiatan pelatihan. &lt;br /&gt;Bentuk Dokumentasi:&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Absensi peserta&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Foto kegiatan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Video pelatihan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Rekaman audio (jika ada)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Materi pelatihan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Evaluasi hasil pelatihan &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;Contoh Praktis:&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Pelatihan defensive driving direkam video → digunakan untuk evaluasi perilaku&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Toolbox meeting difoto dan disimpan sebagai bukti pelaksanaan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Simulasi emergency direkam untuk analisis respons tim &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;Kenapa ini penting?&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Bukti kepatuhan regulasi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Data untuk evaluasi efektivitas&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Materi pembelajaran ulang, untuk perbaikan kedepannya&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;👉 Tanpa dokumentasi, pelatihan “tidak pernah terjadi” secara sistem. &lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;h4 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;6. Masalah yang Sering Terjadi di Lapangan &lt;/h4&gt;&lt;p&gt;Mari jujur. Banyak implementasi pelatihan gagal bukan karena tidak ada aturan, tetapi karena:&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;TNA hanya copy-paste tahun sebelumnya&lt;/li&gt;&lt;li&gt;OJT dilakukan tanpa struktur&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Off the job hanya untuk “sertifikat”&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dokumentasi hanya formalitas audit &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;Akibatnya:&lt;br /&gt; 👉 Kompetensi tidak meningkat&lt;br /&gt; 👉 Risiko tetap sama&lt;br /&gt; 👉 Kecelakaan terus berulang &lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;h4 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;7. Cara Membuat Sistem Pelatihan yang Benar-Benar Efektif &lt;/h4&gt;&lt;p&gt;Berikut pendekatan yang lebih realistis: &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Hubungkan TNA dengan data kecelakaan Gunakan incident, near miss, dan unsafe act sebagai dasar &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Integrasikan OJT &amp;amp; Off The Job Teori di kelas → praktik di lapangan &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Gunakan pengawas sebagai coach, bukan hanya supervisor Fokus pada pembinaan, bukan hanya kontrol &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dokumentasi sebagai alat belajar, bukan arsip Gunakan video/foto untuk refleksi tim &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Evaluasi hasil, bukan hanya kehadiran, tapi &quot;Apakah perilaku berubah?&quot;, &quot;Apakah risiko menurun?&quot;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;Kepdirjen Minerba 185 Tahun 2019 sudah memberikan kerangka yang jelas. Tantangannya bukan pada “apa yang harus dilakukan”, tetapi pada bagaimana melakukannya dengan benar. Pelatihan bukan sekadar program—ia adalah investasi langsung terhadap keselamatan. Dan satu hal yang perlu diingat:&amp;nbsp;Pelatihan yang tidak mengubah perilaku, hanyalah aktivitas.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Demikian pembahasan pendidikan dan pelatihan sesuai Kepdirjen Minerba 185, Jika ada pertanyaan bisa dikolom komentar atau bisa juga ke Instagram &lt;a href=&quot;https://www.instagram.com/darmawans_setiawan/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;@darmawans_setiawan&lt;/a&gt;, jangan lupa juga Subscribe Channel Youtube &quot;&lt;a href=&quot;https://www.youtube.com/@tanyasafety&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Tanya Safety&lt;/a&gt;&quot; untuk mendukung kami..terima kasih..&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.darmawansaputra.com/feeds/5192678299222775735/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/2026/04/implementasi-pendidikan-dan-pelatihan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default/5192678299222775735'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default/5192678299222775735'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/2026/04/implementasi-pendidikan-dan-pelatihan.html' title='Implementasi Pendidikan dan Pelatihan Berdasarkan Kepdirjen Minerba 185 Tahun 2019: Dari Konsep ke Praktik Nyata di Lapangan'/><author><name>Darmawan Saputra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17849717183874773210</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjlPx9pCEdz6RPYkPOwbtZ3tYdlxMTP7JsZxxRbCP0OaCaoDKrRUmO5BcxljHxtMEg5fhUXS3ujCbX_O3-iSDPFnVYRpktmLdQRvMkLL5P80SBiq-33kDVrviWFqL6mPuzEvX0YkzDdcBLOpj5mWwWu3gmbYsUO8JAjunEKdcoLyht8sw/s220/Picture1.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhHowYBpdKX8ZoXMeYNr44ueWPAD-bsCn7Ne2BzhQzHQTuZOkbopkgV5PPcuTK1ArOHYW7AKF-4aOnwioIMOBLHiKgYjKP9HN6EmeEW2cRVeLSKaoyGTe_Qj23zXukGpU3GthKyDJBja45EJ3tPOpFWyeUuK8Va1T66TS4FHNBetq5d-DSfY5Th04UulS8/s72-w640-h350-c/Pendidikan%20dan%20pelatihan.png" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1618947400959277823.post-3742337522051773035</id><published>2026-04-19T21:01:00.000+08:00</published><updated>2026-04-19T21:01:12.942+08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Safety"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Safety and health"/><title type='text'>Empat Faktor Utama Yang Dapat Meningkatkan Keselamatan Kerja</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;i&gt;Meningkatkan Keselamatan Kerja &lt;/i&gt;- Keselamatan kerja bukan sekadar aturan atau prosedur yang tertulis di buku pedoman. Menurut pandangan pakar keselamatan seperti Drew Rae, fokus utama dalam menjaga keselamatan pekerja justru terletak pada beberapa faktor praktis yang langsung memengaruhi cara kerja sehari-hari di lapangan.&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXW2O6IB0bLsUVaqziCuOLPgjmB6EA-2_2rb9aDF6rdt0bFgGzyxdGBxWgvXe7CfSavDGA2hyphenhyphen05PAI5FGjtZeXnE3qkZ0Wkvlv-Uhhuau7xWisCj98U8CxYGiYmnvM_IuorMYTjXUX0r3TvPqbMzZ1ZU2St1LDKNko4g2_D9sCO_qEjX30-kDEzLPFzaY/s1376/Faktor%20Budaya%20Keselamatan%20Kerja.png&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;cara meningkatkan budaya keselamatan, faktor yang mempengaruhi keselamatan, elemen yang berpengaruh pada keselamatan kerja, keselamatan pertambangan&quot; border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;768&quot; data-original-width=&quot;1376&quot; height=&quot;358&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXW2O6IB0bLsUVaqziCuOLPgjmB6EA-2_2rb9aDF6rdt0bFgGzyxdGBxWgvXe7CfSavDGA2hyphenhyphen05PAI5FGjtZeXnE3qkZ0Wkvlv-Uhhuau7xWisCj98U8CxYGiYmnvM_IuorMYTjXUX0r3TvPqbMzZ1ZU2St1LDKNko4g2_D9sCO_qEjX30-kDEzLPFzaY/w640-h358/Faktor%20Budaya%20Keselamatan%20Kerja.png&quot; title=&quot;cara meningkatkan budaya keselamatan, faktor yang mempengaruhi keselamatan, elemen yang berpengaruh pada keselamatan kerja, keselamatan pertambangan&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Drew Rae memaparkan bahwa ada empat elemen penting yang harus dipertimbangkan oleh organisasi untuk menciptakan lingkungan kerja yang benar-benar aman dan melindungi pekerja dari cedera atau fatalitas.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;1. Lingkungan Kerja Fisik dan Peralatan (Physical Environment &amp;amp; Equipment)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lingkungan kerja itu sendiri sering kali menjadi faktor terbesar yang menentukan risiko. Contohnya:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Bekerja di ketinggian&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bekerja di dekat lalu lintas alat berat&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sumber energi berbahaya (listrik, tekanan tinggi)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mesin besar dan peralatan berat&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Semua kondisi tersebut menghadirkan bahaya inheren yang bukan sekadar bisa diatasi dengan prosedur saja — karena sifat risiko itu datang dari kondisi fisik tempat kerja.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Intinya: Lingkungan fisik harus dilihat sebagai dasar dari risiko keselamatan — semakin berbahaya lingkungan, semakin besar kebutuhan mitigasinya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;2. Orang yang Ada di Sekitar (&lt;i&gt;The People Around You&lt;/i&gt;)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bukan hanya hubungan sosial atau pertemanan, “orang di sekitar” di sini berarti dua hal penting:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Kompetensi mereka: Apakah mereka punya pengalaman dan kemampuan untuk mengidentifikasi situasi berbahaya?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kepercayaan &amp;amp; hubungan interpersonal: Apakah pekerja merasa nyaman dan aman untuk bertanya, memberi tahu, atau menghentikan pekerjaan ketika sesuatu tidak terlihat benar?&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Keberadaan orang yang dipercaya dapat membuat perbedaan besar — terutama dalam situasi berbahaya di mana keputusan cepat diperlukan.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Intinya: Pekerja sering tidak bekerja sendiri — mereka bergantung pada rekan kerja atau supervisor untuk saling mengingatkan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;3. Alat yang Sesuai dan Tepat (&lt;i&gt;Right Tools for the Job&lt;/i&gt;)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Alat yang salah, rusak, atau tidak tepat akan secara langsung meningkatkan risiko saat tugas dilakukan. Contohnya:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Menggunakan alat sementara yang tidak stabil atau sesuai peruntukannya&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Peralatan kerja tidak dirawat dengan baik&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tidak ada akses ke peralatan yang benar untuk pekerjaan khusus&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jika tujuan pekerjaan tetap berjalan (misalnya target produksi), sementara alat tidak tersedia, pekerja sering tetap mencoba menyelesaikan pekerjaan hanya demi tidak disebut gagal atau malas dan bahaya meningkat karena kondisi alat yang buruk.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Intinya: Alat yang tepat bukan hanya soal kenyamanan — tetapi soal mencegah kecelakaan yang bisa terjadi saat pekerja memaksa pekerjaan tetap berjalan tanpa alat yang sesuai.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;4. Cara Kerja Sebenarnya di Lapangan (&lt;i&gt;How Work Is Actually Performed&lt;/i&gt;)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ini adalah faktor yang sering luput dari perhatian manajemen: cara kerja di lapangan kadang jauh berbeda dari prosedur tertulis.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Work as Imagined: Bagaimana organisasi berpikir pekerjaan dilakukan (prosedur/sop)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Work as Done: Bagaimana pekerjaan benar-benar dilakukan di lapangan&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jika desain tugas tidak mempertimbangkan realitas atau tantangan nyata pekerja, para pekerja akan menemukan cara sendiri yang sering kali lebih berisiko.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Intinya: Organisasi perlu memahami bagaimana pekerjaan benar-benar berlangsung dan memperbaiki desain kerja, bukan hanya mendokumentasikan aturan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mengapa Keempat Faktor Ini Penting?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut pandangan ini:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;✅ Fokus hanya pada prosedur dan dokumen tidak selalu membuat pekerjaan lebih aman.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;✅ Keselamatan yang kuat berasal dari mengubah kondisi nyata kerja, bukan sekadar memenuhi checklist atau persyaratan administratif.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebagai contoh, terlalu banyak fokus pada dokumen seperti risk assessment, audit keselamatan, atau take-five checklists tanpa memastikan faktor-faktor praktis di atas justru bisa membuat keselamatan “terlihat baik di atas kertas” tapi tetap berbahaya di lapangan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kesimpulan&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menghadapi tantangan keselamatan kerja bukan hanya tentang melengkapi buku prosedur. Organisasi perlu memahami dan memperhatikan:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;1. Lingkungan kerja fisik&lt;/p&gt;&lt;p&gt;2. Lingkungan sosial dan hubungan antar pekerja&lt;/p&gt;&lt;p&gt;3. Ketersediaan alat yang memadai&lt;/p&gt;&lt;p&gt;4. Bagaimana pekerjaan sesungguhnya dilakukan&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dengan fokus pada faktor-faktor ini secara terpadu, peluang untuk mencegah kecelakaan kerja, luka serius, atau bahkan fatalitas menjadi jauh lebih besar — bukan karena kita punya lebih banyak dokumen, tetapi karena ancaman fisik dan sosial di lapangan benar-benar dikendalikan dengan baik.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;referensi:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;https://www.linkedin.com/posts/garethlock_safety-risk-assurance-activity-7430328766872256512-5_7A?utm_source=chatgpt.com &quot;Drew Rae&#39;s 4 Critical Factors for Safe Work Environments&quot;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;https://www.therockwrangler.com/article/when-safety-paperwork-piles-up-but-safety-doesnt-improve-cutting-clutter-could-be-the-smartest-move-mining-can-make&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.darmawansaputra.com/feeds/3742337522051773035/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/2026/04/meningkatkan-keselamatan-kerja.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default/3742337522051773035'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default/3742337522051773035'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/2026/04/meningkatkan-keselamatan-kerja.html' title='Empat Faktor Utama Yang Dapat Meningkatkan Keselamatan Kerja'/><author><name>Darmawan Saputra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17849717183874773210</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjlPx9pCEdz6RPYkPOwbtZ3tYdlxMTP7JsZxxRbCP0OaCaoDKrRUmO5BcxljHxtMEg5fhUXS3ujCbX_O3-iSDPFnVYRpktmLdQRvMkLL5P80SBiq-33kDVrviWFqL6mPuzEvX0YkzDdcBLOpj5mWwWu3gmbYsUO8JAjunEKdcoLyht8sw/s220/Picture1.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXW2O6IB0bLsUVaqziCuOLPgjmB6EA-2_2rb9aDF6rdt0bFgGzyxdGBxWgvXe7CfSavDGA2hyphenhyphen05PAI5FGjtZeXnE3qkZ0Wkvlv-Uhhuau7xWisCj98U8CxYGiYmnvM_IuorMYTjXUX0r3TvPqbMzZ1ZU2St1LDKNko4g2_D9sCO_qEjX30-kDEzLPFzaY/s72-w640-h358-c/Faktor%20Budaya%20Keselamatan%20Kerja.png" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1618947400959277823.post-1165704648622627670</id><published>2026-04-17T09:11:00.004+08:00</published><updated>2026-04-19T21:09:34.913+08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Safety"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Safety and health"/><title type='text'>Membangun Perilaku Aman: Pengkondisian untuk Meningkatkan Safety Reporting &amp; Safety Voice</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Ringkasan:&lt;/strong&gt; Artikel ini merangkum teori dan bukti empiris bagaimana pengkondisian (operant conditioning), pembelajaran sosial, dan psychological safety dapat dipakai untuk mengubah perilaku pekerja dari tidak taat aturan menjadi aktif melaporkan bahaya dan memberi masukan keselamatan. Termasuk rekomendasi intervensi praktis, contoh desain implementasi 6-bulan, dan metrik evaluasi.&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhRc0mJ3LJY8pjz4DoA7A8jJ421YAmKeUVh9esZSb1Expdp4Bqpo4lZocXQQTdbe0cH5-Mf0bovsQmgBtdEC7ZIjn1NxNzV1QDCvBNZw__txMnjve31sVKoHIr4PnN2_gkInhGdQHopujJLuU_HC-KS-RG3xrbNbI7ymanCX7XnznDw_nTHPhVneN9voEY/s1376/Pengkondisian%20perilaku.png&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Teori pengkondisian, bagaimana merubah perilaku pekerja, teori skinner berkaitan dengan keselamatan kerja&quot; border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;768&quot; data-original-width=&quot;1376&quot; height=&quot;358&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhRc0mJ3LJY8pjz4DoA7A8jJ421YAmKeUVh9esZSb1Expdp4Bqpo4lZocXQQTdbe0cH5-Mf0bovsQmgBtdEC7ZIjn1NxNzV1QDCvBNZw__txMnjve31sVKoHIr4PnN2_gkInhGdQHopujJLuU_HC-KS-RG3xrbNbI7ymanCX7XnznDw_nTHPhVneN9voEY/w640-h358/Pengkondisian%20perilaku.png&quot; title=&quot;Teori pengkondisian, bagaimana merubah perilaku pekerja, teori skinner berkaitan dengan keselamatan kerja&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;

    &lt;section&gt;
      &lt;h2&gt;1. Landasan Teori Psikologi&lt;/h2&gt;
      &lt;p&gt;Perubahan perilaku yang tahan lama tidak hanya bergantung pada aturan tetapi pada bagaimana perilaku itu &lt;em&gt;diperkuat&lt;/em&gt;. Ada tiga kerangka teori utama yang relevan:&lt;/p&gt;
      &lt;ul&gt;
        &lt;li&gt;&lt;strong&gt;Operant Conditioning (B.F. Skinner)&lt;/strong&gt; — perilaku yang diberi penguatan positif cenderung meningkat; penguatan harus cepat, kontingen, dan konsisten.&lt;/li&gt;
        &lt;li&gt;&lt;strong&gt;Social Learning (Albert Bandura)&lt;/strong&gt; — orang meniru perilaku yang mereka lihat dipuji atau diberi penghargaan; pemodelan oleh pemimpin sangat efektif.&lt;/li&gt;
        &lt;li&gt;&lt;strong&gt;Psychological Safety (Amy Edmondson)&lt;/strong&gt; — pekerja perlu merasa aman secara psikologis untuk menyampaikan ide, mengakui kesalahan, dan melaporkan bahaya tanpa takut dihukum.&lt;/li&gt;
      &lt;/ul&gt;

      &lt;blockquote&gt;
        “What gets reinforced gets repeated, what gets ignored disappears.” — Prinsip ringkas pengkondisian perilaku.
      &lt;/blockquote&gt;
    &lt;/section&gt;

    &lt;section&gt;
      &lt;h2&gt;2. Bukti Intervensi di Lingkungan Kerja&lt;/h2&gt;
      &lt;p&gt;Penelitian dan review terapan menunjukkan bahwa intervensi berbasis penguatan positif (&lt;a data-preview=&quot;&quot; href=&quot;https://www.google.com/search?ved=1t:260882&amp;amp;q=define+behavior+based+safety&amp;amp;bbid=1618947400959277823&amp;amp;bpid=1165704648622627670&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Behaviour-Based Safety&lt;/a&gt;) seringkali efektif menurunkan perilaku berisiko dan meningkatkan kepatuhan. Namun efektivitasnya meningkat secara signifikan jika digabungkan dengan perbaikan sistemik dan kebijakan &lt;em&gt;&lt;a data-preview=&quot;&quot; href=&quot;https://www.google.com/search?ved=1t:260882&amp;amp;q=define+just+culture&amp;amp;bbid=1618947400959277823&amp;amp;bpid=1165704648622627670&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Just Culture&lt;/a&gt;&lt;/em&gt; (akan menjamin pelapor tidak langsung dihukum).&lt;/p&gt;
      &lt;p&gt;Studi meta-analitik pada &lt;a data-preview=&quot;&quot; href=&quot;https://www.google.com/search?ved=1t:260882&amp;amp;q=define+safety+voice&amp;amp;bbid=1618947400959277823&amp;amp;bpid=1165704648622627670&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;safety voice&lt;/a&gt; menegaskan peran krusial &lt;em&gt;psychological safety&lt;/em&gt;, iklim keselamatan, dan kepemimpinan suportif sebagai prediktor utama terjadinya pelaporan dan pemberian masukan.&lt;/p&gt;
      &lt;p&gt;Contoh lapangan: perusahaan yang menerapkan umpan balik cepat dan pengakuan publik melihat kenaikan laporan &lt;a data-preview=&quot;&quot; href=&quot;https://www.google.com/search?ved=1t:260882&amp;amp;q=define+near+miss+safety&amp;amp;bbid=1618947400959277823&amp;amp;bpid=1165704648622627670&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;near-miss&lt;/a&gt; hingga ratusan persen dalam beberapa bulan tanpa lonjakan laporan palsu.&lt;/p&gt;
    &lt;/section&gt;

    &lt;section&gt;
      &lt;h2&gt;3. Mekanisme Praktis Pengkondisian &amp;amp; Intervensi yang Direkomendasikan&lt;/h2&gt;
      &lt;h3&gt;a. Penguatan Positif&lt;/h3&gt;
      &lt;p&gt;Berikan umpan balik cepat setiap kali ada laporan—minimal ucapan terima kasih dan ringkasan tindak lanjut. Gunakan pula apresiasi publik (rapat, papan pengumuman) dan reward kecil bermakna (voucher, poin tim).&lt;/p&gt;

      &lt;h3&gt;b. Modeling &amp;amp; Kepemimpinan&lt;/h3&gt;
      &lt;p&gt;Supervisor harus memodelkan perilaku—melaporkan sendiri, menanggapi laporan secara konstruktif, dan menceritakan kasus-kasus perbaikan.&lt;/p&gt;

      &lt;h3&gt;c. Penghilangan Hukuman (Just Culture)&lt;/h3&gt;
      &lt;p&gt;Terapkan kebijakan yang jelas agar pelapor tidak otomatis mendapat sanksi. Bedakan antara kesalahan yang disengaja dan yang tidak disengaja.&lt;/p&gt;

      &lt;h3&gt;d. Jadwal Penguatan&lt;/h3&gt;
      &lt;p&gt;Mula-mula gunakan penguatan kontinu (setiap perilaku dihargai), lalu transisi ke penguatan variabel (reward acak namun konsisten) untuk membuat perilaku menjadi kebiasaan.&lt;/p&gt;

      &lt;h3&gt;e. Memudahkan Pelaporan &amp;amp; Feedback Loop&lt;/h3&gt;
      &lt;p&gt;Sistem pelaporan harus mudah (&lt;a data-preview=&quot;&quot; href=&quot;https://www.google.com/search?ved=1t:260882&amp;amp;q=QR+form+aplikasi+kotak+saran+safety+reporting&amp;amp;bbid=1618947400959277823&amp;amp;bpid=1165704648622627670&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;QR form / aplikasi / kotak saran&lt;/a&gt;) dan setiap laporan memberi informasi tindak lanjut sehingga pelapor melihat hasil nyata.&lt;/p&gt;
    &lt;/section&gt;

    &lt;section&gt;
      &lt;h2&gt;4. Desain Implementasi Contoh (Rencana 6 Bulan)&lt;/h2&gt;
      &lt;table aria-label=&quot;Rencana implementasi 6 bulan&quot;&gt;
        &lt;thead&gt;
          &lt;tr&gt;&lt;th&gt;Bulan&lt;/th&gt;&lt;th&gt;Langkah&lt;/th&gt;&lt;th&gt;Tujuan&lt;/th&gt;&lt;/tr&gt;
        &lt;/thead&gt;
        &lt;tbody&gt;
          &lt;tr&gt;&lt;td&gt;0–1&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Survei baseline (&lt;a data-preview=&quot;&quot; href=&quot;https://www.google.com/search?ved=1t:260882&amp;amp;q=define+safety+climate&amp;amp;bbid=1618947400959277823&amp;amp;bpid=1165704648622627670&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;safety climate&lt;/a&gt; &amp;amp; psychological safety), publikasi Just Culture&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Mengetahui titik awal &amp;amp; membangun kepercayaan&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
          &lt;tr&gt;&lt;td&gt;2&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Pelatihan supervisor: umpan balik &amp;amp; pemodelan&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Menjamin konsistensi perilaku kepemimpinan&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
          &lt;tr&gt;&lt;td&gt;3&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Peluncuran sistem pelaporan sederhana (QR / form singkat)&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Kurangi friction untuk melapor&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
          &lt;tr&gt;&lt;td&gt;4&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Kampanye apresiasi &amp;amp; publikasi kisah penanganan&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Penguatan sosial dan outcome visibility&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
          &lt;tr&gt;&lt;td&gt;5&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Evaluasi menengah: jumlah &amp;amp; kualitas laporan&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Menilai efektivitas intervensi&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
          &lt;tr&gt;&lt;td&gt;6&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Penghargaan bulanan berdasarkan kualitas laporan&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Memperkuat kebiasaan jangka panjang&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
        &lt;/tbody&gt;
      &lt;/table&gt;
      &lt;p&gt;Catatan: fokus bukan sekadar jumlah laporan—tetapi kualitas laporan dan tindak lanjutnya.&lt;/p&gt;
    &lt;/section&gt;

    &lt;section&gt;
      &lt;h2&gt;5. Cara Evaluasi &amp;amp; Metrik&lt;/h2&gt;
      &lt;h3&gt;Lead indicators (indikator awal):&lt;/h3&gt;
      &lt;ul&gt;
        &lt;li&gt;Jumlah laporan hazard / near-miss per bulan (per 100 pekerja).&lt;/li&gt;
        &lt;li&gt;Proporsi laporan yang mendapat tindak lanjut ≤72 jam.&lt;/li&gt;
        &lt;li&gt;Skor psychological safety &amp;amp; safety climate (survei).&lt;/li&gt;
        &lt;li&gt;Kualitas laporan (skor berdasarkan detail + tindakan yang dihasilkan).&lt;/li&gt;
      &lt;/ul&gt;

      &lt;h3&gt;Lag indicators (hasil akhir):&lt;/h3&gt;
      &lt;ul&gt;
        &lt;li&gt;Frekuensi kecelakaan (TRIR / LTIR).&lt;/li&gt;
        &lt;li&gt;Rasio near-miss terhadap insiden aktual (idealnya meningkat seiring pelaporan aktif).&lt;/li&gt;
      &lt;/ul&gt;

      &lt;h3&gt;Evaluasi kualitatif:&lt;/h3&gt;
      &lt;p&gt;Wawancara &amp;amp; analisis isi laporan untuk melihat apakah muncul ide preventif, bukti pembelajaran, dan kepercayaan terhadap manajemen.&lt;/p&gt;
    &lt;/section&gt;

    &lt;section&gt;
      &lt;h2&gt;Risiko &amp;amp; Mitigasi Singkat&lt;/h2&gt;
      &lt;ul&gt;
        &lt;li&gt;&lt;strong&gt;Over-reporting kuantitas tanpa kualitas:&lt;/strong&gt; ukur kualitas &amp;amp; outcome, bukan jumlah semata.&lt;/li&gt;
        &lt;li&gt;&lt;strong&gt;Fokus berlebihan pada individu:&lt;/strong&gt; kombinasikan BBS dengan perbaikan sistemik (&lt;a data-preview=&quot;&quot; href=&quot;https://www.google.com/search?ved=1t:260882&amp;amp;q=define+engineering+control+safety&amp;amp;bbid=1618947400959277823&amp;amp;bpid=1165704648622627670&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;engineering control&lt;/a&gt;, prosedur).&lt;/li&gt;
        &lt;li&gt;&lt;strong&gt;Rasa takut masih ada:&lt;/strong&gt; buktikan kebijakan Just Culture lewat kasus nyata dan komunikasi berulang.&lt;/li&gt;
      &lt;/ul&gt;
    &lt;/section&gt;

    &lt;section&gt;
      &lt;h2&gt;Kesimpulan&lt;/h2&gt;
      &lt;p&gt;Mengubah perilaku pekerja bukan sekadar penegakan aturan. Dengan menggabungkan pengkondisian (penguatan positif), pemodelan kepemimpinan, dan lingkungan yang aman secara psikologis, organisasi dapat membangun budaya di mana pekerja secara aktif melaporkan bahaya dan memberi masukan keselamatan. Perubahan ini memerlukan strategi terukur, komitmen manajemen, dan pengukuran berkelanjutan.&lt;/p&gt;
    &lt;/section&gt;

    &lt;section&gt;
      &lt;h2&gt;Referensi (APA)&lt;/h2&gt;
      &lt;div class=&quot;refs&quot;&gt;
        &lt;p&gt;Bandura, A. (1977). &lt;em&gt;&lt;a data-preview=&quot;&quot; href=&quot;https://www.google.com/search?ved=1t:260882&amp;amp;q=Social+Learning+Theory+Albert+Bandura&amp;amp;bbid=1618947400959277823&amp;amp;bpid=1165704648622627670&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Social Learning Theory&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;. Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall.&lt;/p&gt;
        &lt;p&gt;Dekker, S. (2012). &lt;em&gt;&lt;a data-preview=&quot;&quot; href=&quot;https://www.google.com/search?ved=1t:260882&amp;amp;q=Just+Culture:+Balancing+Safety+and+Accountability+Dekker&amp;amp;bbid=1618947400959277823&amp;amp;bpid=1165704648622627670&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Just Culture: Balancing Safety and Accountability&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;. Farnham: Ashgate Publishing.&lt;/p&gt;
        &lt;p&gt;Edmondson, A. C. (1999). Psychological safety and learning behavior in work teams. &lt;em&gt;&lt;a data-preview=&quot;&quot; href=&quot;https://www.google.com/search?ved=1t:260882&amp;amp;q=Administrative+Science+Quarterly&amp;amp;bbid=1618947400959277823&amp;amp;bpid=1165704648622627670&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Administrative Science Quarterly&lt;/a&gt;, 44&lt;/em&gt;(2), 350–383.&lt;/p&gt;
        &lt;p&gt;Hofmann, D. A., &amp;amp; Morgeson, F. P. (1999). Safety-related behavior as a social exchange: The role of perceived organizational support and leader–member exchange. &lt;em&gt;&lt;a data-preview=&quot;&quot; href=&quot;https://www.google.com/search?ved=1t:260882&amp;amp;q=Journal+of+Applied+Psychology&amp;amp;bbid=1618947400959277823&amp;amp;bpid=1165704648622627670&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Journal of Applied Psychology&lt;/a&gt;, 84&lt;/em&gt;(2), 286–296.&lt;/p&gt;
        &lt;p&gt;Skinner, B. F. (1953). &lt;em&gt;&lt;a data-preview=&quot;&quot; href=&quot;https://www.google.com/search?ved=1t:260882&amp;amp;q=Science+and+Human+Behavior+Skinner&amp;amp;bbid=1618947400959277823&amp;amp;bpid=1165704648622627670&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Science and Human Behavior&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;. New York: Macmillan.&lt;/p&gt;
        &lt;p&gt;Tuncel, S., Lotlikar, H., Salem, S., &amp;amp; Daraiseh, N. (2006). Effectiveness of behavior-based safety interventions to reduce accidents and injuries in workplaces: Critical review. &lt;em&gt;&lt;a data-preview=&quot;&quot; href=&quot;https://www.google.com/search?ved=1t:260882&amp;amp;q=Theoretical+Issues+in+Ergonomics+Science&amp;amp;bbid=1618947400959277823&amp;amp;bpid=1165704648622627670&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Theoretical Issues in Ergonomics Science&lt;/a&gt;, 7&lt;/em&gt;(3), 191–209.&lt;/p&gt;
        &lt;p&gt;Liang, J., Farh, C. I. C., &amp;amp; Farh, J.-L. (2012). Psychological antecedents of promotive and prohibitive voice: A meta-analytic review. &lt;em&gt;Journal of Applied Psychology, 97&lt;/em&gt;(5), 871–882.&lt;/p&gt;
      &lt;/div&gt;
    &lt;/section&gt;

    
  


</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.darmawansaputra.com/feeds/1165704648622627670/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/2026/04/membangun-perilaku-aman-pengkondisian.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default/1165704648622627670'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default/1165704648622627670'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/2026/04/membangun-perilaku-aman-pengkondisian.html' title='Membangun Perilaku Aman: Pengkondisian untuk Meningkatkan Safety Reporting &amp; Safety Voice'/><author><name>Darmawan Saputra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17849717183874773210</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjlPx9pCEdz6RPYkPOwbtZ3tYdlxMTP7JsZxxRbCP0OaCaoDKrRUmO5BcxljHxtMEg5fhUXS3ujCbX_O3-iSDPFnVYRpktmLdQRvMkLL5P80SBiq-33kDVrviWFqL6mPuzEvX0YkzDdcBLOpj5mWwWu3gmbYsUO8JAjunEKdcoLyht8sw/s220/Picture1.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhRc0mJ3LJY8pjz4DoA7A8jJ421YAmKeUVh9esZSb1Expdp4Bqpo4lZocXQQTdbe0cH5-Mf0bovsQmgBtdEC7ZIjn1NxNzV1QDCvBNZw__txMnjve31sVKoHIr4PnN2_gkInhGdQHopujJLuU_HC-KS-RG3xrbNbI7ymanCX7XnznDw_nTHPhVneN9voEY/s72-w640-h358-c/Pengkondisian%20perilaku.png" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1618947400959277823.post-3847244395880148187</id><published>2025-11-11T16:33:00.002+08:00</published><updated>2025-11-11T16:33:28.922+08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Safety"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Safety and health"/><title type='text'>Semakin Banyak Bawahan, Semakin Rawan Kecelakaan? Sains di Balik Angka Dunbar Menjelaskan!</title><content type='html'>&lt;p data-end=&quot;662&quot; data-start=&quot;248&quot;&gt;Pernah dengar teori bahwa manusia hanya bisa punya sekitar &lt;strong data-end=&quot;353&quot; data-start=&quot;307&quot;&gt;150 hubungan sosial yang benar-benar dekat&lt;/strong&gt;?&lt;br data-end=&quot;357&quot; data-start=&quot;354&quot; /&gt;
Teori ini dikenal sebagai &lt;strong data-end=&quot;399&quot; data-start=&quot;383&quot;&gt;Angka Dunbar&lt;/strong&gt; (&lt;em data-end=&quot;418&quot; data-start=&quot;401&quot;&gt;Dunbar’s Number&lt;/em&gt;), dan sudah lama jadi bahan diskusi di dunia psikologi, manajemen, hingga media sosial. Tapi apakah angka ini masih relevan di zaman digital sekarang, ketika kita bisa punya ribuan teman di Facebook atau pengikut di Instagram? Yuk, kita bahas!&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhNnPe0rjS-cmWvHtxl0KGbfhSv0HIFoyIqXCwVliyStFQGo_bUwMAGm4M0VGcjayiSDeoZhJlTSPhpDMpn8fKc-Bb1nadi5V3u54s0jNipFHmHBzTp921fXx_1XCoq6Liw2t3NDAIFeYomgKkwAKZaOpthOhx2goxUYkTN9KtNXxnydVOxRh2Pa76Qc9o/s1187/DunbarsNumber.webp&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Konsep angka Dunbar menjelaskan batas alami manusia dalam menjalin hubungan sosial, sekitar 150 orang. Dalam dunia kerja, keterbatasan ini bisa diantisipasi dengan sistem berjenjang yang membagi pengawasan ke dalam unit-unit kecil. Pelajari bagaimana struktur organisasi bertingkat dapat menjaga efektivitas komunikasi, kepercayaan, dan keselamatan kerja di lingkungan industri.&quot; border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;636&quot; data-original-width=&quot;1187&quot; height=&quot;342&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhNnPe0rjS-cmWvHtxl0KGbfhSv0HIFoyIqXCwVliyStFQGo_bUwMAGm4M0VGcjayiSDeoZhJlTSPhpDMpn8fKc-Bb1nadi5V3u54s0jNipFHmHBzTp921fXx_1XCoq6Liw2t3NDAIFeYomgKkwAKZaOpthOhx2goxUYkTN9KtNXxnydVOxRh2Pa76Qc9o/w640-h342/DunbarsNumber.webp&quot; title=&quot;Konsep angka Dunbar menjelaskan batas alami manusia dalam menjalin hubungan sosial, sekitar 150 orang. Dalam dunia kerja, keterbatasan ini bisa diantisipasi dengan sistem berjenjang yang membagi pengawasan ke dalam unit-unit kecil. Pelajari bagaimana struktur organisasi bertingkat dapat menjaga efektivitas komunikasi, kepercayaan, dan keselamatan kerja di lingkungan industri.&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p data-end=&quot;662&quot; data-start=&quot;248&quot;&gt;&lt;strong data-end=&quot;697&quot; data-start=&quot;672&quot;&gt;Apa Itu Angka Dunbar?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p data-end=&quot;1191&quot; data-start=&quot;699&quot;&gt;Konsep ini pertama kali dikemukakan oleh &lt;strong data-end=&quot;756&quot; data-start=&quot;740&quot;&gt;Robin Dunbar&lt;/strong&gt;, seorang antropolog asal Inggris, pada awal tahun 1990-an. Ia menemukan hubungan menarik antara &lt;strong data-end=&quot;891&quot; data-start=&quot;855&quot;&gt;ukuran otak primata (neokorteks)&lt;/strong&gt; dan &lt;strong data-end=&quot;925&quot; data-start=&quot;896&quot;&gt;ukuran kelompok sosialnya&lt;/strong&gt;.&lt;br data-end=&quot;929&quot; data-start=&quot;926&quot; /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p data-end=&quot;1191&quot; data-start=&quot;699&quot;&gt;
Ketika hasil riset itu diterapkan pada manusia, muncul perkiraan bahwa manusia rata-rata hanya bisa menjaga &lt;strong data-end=&quot;1077&quot; data-start=&quot;1037&quot;&gt;sekitar 150 hubungan sosial bermakna&lt;/strong&gt; — yaitu hubungan di mana kita masih mengenal orang itu secara pribadi dan bisa merasa terhubung secara emosional.&lt;/p&gt;&lt;p data-end=&quot;662&quot; data-start=&quot;248&quot;&gt;

&lt;/p&gt;&lt;p data-end=&quot;1399&quot; data-start=&quot;1193&quot;&gt;Angka 150 ini bukan berarti kita cuma boleh punya 150 teman, tapi lebih ke batas &lt;strong data-end=&quot;1353&quot; data-start=&quot;1274&quot;&gt;kemampuan otak kita untuk menjaga hubungan sosial yang benar-benar bermakna&lt;/strong&gt;, bukan sekadar kenalan atau kontak di ponsel.&lt;/p&gt;
&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;hr data-end=&quot;766&quot; data-start=&quot;763&quot; /&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;strong data-end=&quot;827&quot; data-start=&quot;771&quot;&gt;Angka Dunbar dan Kapasitas Sosial di Tempat Kerja&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;p data-end=&quot;1021&quot; data-start=&quot;829&quot;&gt;Dunbar menemukan bahwa kemampuan otak manusia untuk menjaga hubungan sosial &lt;strong data-end=&quot;955&quot; data-start=&quot;905&quot;&gt;terbatas oleh kapasitas kognitif dan emosional&lt;/strong&gt;.&lt;br data-end=&quot;959&quot; data-start=&quot;956&quot; /&gt;
Dalam konteks pekerjaan, hal ini berarti ada batas alami bagi:&lt;/p&gt;
&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Seberapa banyak rekan kerja yang bisa kita kenal dengan baik,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Seberapa banyak orang yang bisa diawasi atau dikelola secara efektif,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;dan seberapa luas tim bisa berfungsi dengan rasa saling percaya yang kuat.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p data-end=&quot;1568&quot; data-start=&quot;1242&quot;&gt;Studi lanjutan menunjukkan bahwa &lt;strong data-end=&quot;1387&quot; data-start=&quot;1275&quot;&gt;tim yang terlalu besar sering kehilangan keakraban, komunikasi terbuka, dan kecepatan pengambilan keputusan.&lt;/strong&gt;&lt;br data-end=&quot;1390&quot; data-start=&quot;1387&quot; /&gt;
Itulah sebabnya organisasi modern biasanya membagi unit kerja dalam kelompok kecil, antara &lt;strong data-end=&quot;1495&quot; data-start=&quot;1481&quot;&gt;5–15 orang&lt;/strong&gt;, dengan satu supervisor yang mengenal setiap anggotanya secara personal.&lt;/p&gt;
&lt;hr data-end=&quot;1573&quot; data-start=&quot;1570&quot; /&gt;
&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;strong data-end=&quot;1630&quot; data-start=&quot;1578&quot;&gt;Mengapa Angka Dunbar Penting untuk Pengawasan&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;p data-end=&quot;1818&quot; data-start=&quot;1632&quot;&gt;Dalam sistem pengawasan (terutama di industri seperti pertambangan, migas, atau konstruksi), efektivitas sangat bergantung pada &lt;strong data-end=&quot;1818&quot; data-start=&quot;1760&quot;&gt;kedekatan dan kepercayaan antara pengawas dan pekerja.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p data-end=&quot;1913&quot; data-start=&quot;1820&quot;&gt;Jika satu pengawas bertanggung jawab atas terlalu banyak orang — misalnya 300 pekerja — maka:&lt;/p&gt;
&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Komunikasi menjadi jarang,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Masukan dari pekerja sering terlewat,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Potensi pelanggaran keselamatan lebih sulit dideteksi.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p data-end=&quot;2257&quot; data-start=&quot;2049&quot;&gt;Namun, jika satu pengawas hanya menangani &lt;strong data-end=&quot;2116&quot; data-start=&quot;2091&quot;&gt;sekitar 100–150 orang&lt;/strong&gt; (atau lebih ideal lagi dibagi menjadi kelompok kecil dengan pengawas lapangan), maka hubungan sosial dan komunikasi akan jauh lebih efektif.&lt;/p&gt;
&lt;p data-end=&quot;2562&quot; data-start=&quot;2259&quot;&gt;Itu sebabnya banyak sistem manajemen keselamatan (seperti &lt;em data-end=&quot;2336&quot; data-start=&quot;2317&quot;&gt;Safety Leadership&lt;/em&gt; atau &lt;em data-end=&quot;2356&quot; data-start=&quot;2342&quot;&gt;Just Culture&lt;/em&gt;) menekankan pentingnya &lt;strong data-end=&quot;2400&quot; data-start=&quot;2380&quot;&gt;kedekatan sosial&lt;/strong&gt; — bukan sekadar struktur formal.&lt;br data-end=&quot;2436&quot; data-start=&quot;2433&quot; /&gt;
Pengawasan yang efektif bukan hanya soal laporan dan checklist, tapi juga soal &lt;strong data-end=&quot;2561&quot; data-start=&quot;2515&quot;&gt;rasa saling kenal dan keterhubungan sosial&lt;/strong&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;hr data-end=&quot;2567&quot; data-start=&quot;2564&quot; /&gt;
&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;strong data-end=&quot;2631&quot; data-start=&quot;2572&quot;&gt;Keterbukaan dan Pelaporan Keselamatan&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;p data-end=&quot;2773&quot; data-start=&quot;2633&quot;&gt;Angka Dunbar juga membantu menjelaskan kenapa &lt;strong data-end=&quot;2711&quot; data-start=&quot;2679&quot;&gt;budaya pelaporan keselamatan&lt;/strong&gt; sulit tumbuh di organisasi yang terlalu besar dan impersonal.&lt;/p&gt;
&lt;p data-end=&quot;2822&quot; data-start=&quot;2775&quot;&gt;Ketika orang tidak saling mengenal dengan baik:&lt;/p&gt;
&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Mereka lebih enggan berbicara tentang masalah,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Takut salah paham atau disalahkan,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kurang adanya rasa memiliki terhadap kelompoknya.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;p data-end=&quot;3259&quot; data-start=&quot;2972&quot;&gt;Sebaliknya, dalam kelompok kecil (di bawah 150 orang), hubungan sosial lebih kuat dan terbuka.&lt;br data-end=&quot;3069&quot; data-start=&quot;3066&quot; /&gt;
Pekerja lebih berani menyampaikan keluhan, memberi masukan, dan bahkan melapor ketika melihat potensi bahaya — karena mereka &lt;strong data-end=&quot;3205&quot; data-start=&quot;3194&quot;&gt;percaya&lt;/strong&gt; pengawas atau manajernya akan menanggapi dengan baik.&lt;/p&gt;
&lt;p data-end=&quot;3371&quot; data-start=&quot;3261&quot;&gt;Dengan kata lain, &lt;strong data-end=&quot;3371&quot; data-start=&quot;3279&quot;&gt;Angka Dunbar memberi dasar ilmiah bagi budaya komunikasi terbuka dan pengawasan efektif.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;hr data-end=&quot;3376&quot; data-start=&quot;3373&quot; /&gt;
&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;strong data-end=&quot;3442&quot; data-start=&quot;3381&quot;&gt;Lapisan Hubungan Sosial Manusia&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;p data-end=&quot;3522&quot; data-start=&quot;3444&quot;&gt;Menurut Dunbar, hubungan sosial manusia tersusun dalam lapisan konsentris berdasarkan kedekatan emosional dan frekuensi interaksi:&lt;/p&gt;&lt;table border=&quot;1&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;MsoNormalTable&quot; style=&quot;border-collapse: collapse; border: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-insideh: .5pt solid windowtext; mso-border-insidev: .5pt solid windowtext; mso-padding-alt: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-yfti-tbllook: 1184;&quot;&gt;
 &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;
  &lt;td style=&quot;border: solid windowtext 1.0pt; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;
  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot;&gt;Lapisan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
  &lt;/td&gt;
  &lt;td style=&quot;border-left: none; border: solid windowtext 1.0pt; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;
  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot;&gt;Jumlah Rata-rata&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
  &lt;/td&gt;
  &lt;td style=&quot;border-left: none; border: solid windowtext 1.0pt; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;
  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot;&gt;Jenis Hubungan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
  &lt;/td&gt;
  &lt;td style=&quot;border-left: none; border: solid windowtext 1.0pt; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;
  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot;&gt;Contoh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
  &lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
 &lt;tr&gt;
  &lt;td style=&quot;border-top: none; border: solid windowtext 1.0pt; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;
  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot;&gt;1. Intimate Circle&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
  &lt;/td&gt;
  &lt;td style=&quot;border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;
  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot;&gt;5 orang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
  &lt;/td&gt;
  &lt;td style=&quot;border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;
  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot;&gt;Hubungan sangat dekat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
  &lt;/td&gt;
  &lt;td style=&quot;border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;
  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot;&gt;Pasangan, sahabat, keluarga inti&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
  &lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
 &lt;tr&gt;
  &lt;td style=&quot;border-top: none; border: solid windowtext 1.0pt; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;
  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot;&gt;2. Close Friends&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
  &lt;/td&gt;
  &lt;td style=&quot;border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;
  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot;&gt;15 orang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
  &lt;/td&gt;
  &lt;td style=&quot;border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;
  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot;&gt;Teman dekat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
  &lt;/td&gt;
  &lt;td style=&quot;border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;
  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot;&gt;Rekan kerja atau sahabat utama&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
  &lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
 &lt;tr&gt;
  &lt;td style=&quot;border-top: none; border: solid windowtext 1.0pt; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;
  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot;&gt;3. Sympathy Group&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
  &lt;/td&gt;
  &lt;td style=&quot;border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;
  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot;&gt;50 orang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
  &lt;/td&gt;
  &lt;td style=&quot;border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;
  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot;&gt;Kenalan personal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
  &lt;/td&gt;
  &lt;td style=&quot;border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;
  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot;&gt;Tetangga akrab, teman komunitas&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
  &lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
 &lt;tr&gt;
  &lt;td style=&quot;border-top: none; border: solid windowtext 1.0pt; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;
  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot;&gt;4. Active Network&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
  &lt;/td&gt;
  &lt;td style=&quot;border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;
  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot;&gt;150 orang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
  &lt;/td&gt;
  &lt;td style=&quot;border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;
  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot;&gt;Hubungan sosial stabil&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
  &lt;/td&gt;
  &lt;td style=&quot;border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;
  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot;&gt;Komunitas, unit kerja, organisasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
  &lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
 &lt;tr&gt;
  &lt;td style=&quot;border-top: none; border: solid windowtext 1.0pt; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;
  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot;&gt;5. Acquaintances&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
  &lt;/td&gt;
  &lt;td style=&quot;border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;
  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot;&gt;500 orang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
  &lt;/td&gt;
  &lt;td style=&quot;border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;
  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot;&gt;Kenalan lemah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
  &lt;/td&gt;
  &lt;td style=&quot;border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;
  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot;&gt;Relasi umum, kenalan profesional&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
  &lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
 &lt;tr&gt;
  &lt;td style=&quot;border-top: none; border: solid windowtext 1.0pt; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;
  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot;&gt;6. Recognizable Faces&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
  &lt;/td&gt;
  &lt;td style=&quot;border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;
  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot;&gt;1.500 orang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
  &lt;/td&gt;
  &lt;td style=&quot;border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;
  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot;&gt;Dikenali wajah/nama saja&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
  &lt;/td&gt;
  &lt;td style=&quot;border-bottom: solid windowtext 1.0pt; border-left: none; border-right: solid windowtext 1.0pt; border-top: none; mso-border-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-left-alt: solid windowtext .5pt; mso-border-top-alt: solid windowtext .5pt; padding: 0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; width: 108.0pt;&quot; valign=&quot;top&quot; width=&quot;144&quot;&gt;
  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;EN-US&quot;&gt;Lingkungan luas, media sosial&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
  &lt;/td&gt;
 &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;p data-end=&quot;4117&quot; data-start=&quot;3990&quot;&gt;Dengan memahami batas sosial alami ini, manajer bisa mendesain struktur pengawasan yang &lt;strong data-end=&quot;4117&quot; data-start=&quot;4078&quot;&gt;lebih manusiawi, efisien, dan aman.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;hr data-end=&quot;4122&quot; data-start=&quot;4119&quot; /&gt;
&lt;h3 data-end=&quot;748&quot; data-start=&quot;701&quot;&gt;&lt;strong data-end=&quot;748&quot; data-start=&quot;712&quot;&gt;Sistem Berjenjang Sebagai Solusi&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt;Sistem berjenjang membagi kelompok besar menjadi unit-unit kecil yang masih bisa berfungsi dengan baik secara sosial dan kognitif.&lt;br /&gt; Setiap jenjang hanya menangani jumlah orang yang sesuai dengan kapasitas Dunbar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya: &lt;br /&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Supervisor → 10 pekerja langsung &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Manager → 5–7 supervisor &lt;/li&gt;&lt;li&gt;General Manager → 3–5 manager&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; Dengan pola ini: &lt;br /&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Hubungan personal tetap terjaga pada tiap level.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Arus komunikasi dan pengawasan tetap lancar.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Keputusan dan masalah dapat diselesaikan lebih cepat di level terdekat.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;h3 data-end=&quot;1347&quot; data-start=&quot;1289&quot;&gt;&lt;span data-end=&quot;1347&quot; data-start=&quot;1299&quot;&gt;Efek Positif untuk Pengawasan dan Organisasi&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;Sistem berjenjang membuat:&lt;br /&gt;Kontrol sosial informal tetap berfungsi, karena setiap kelompok kecil saling mengenal.&lt;br /&gt;Rantai pengawasan efektif, karena tiap atasan hanya perlu memantau sedikit orang.&lt;br /&gt;Kepercayaan dan budaya keselamatan (safety culture) lebih kuat, karena ada interaksi sosial yang bermakna di setiap lapisan.&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span data-end=&quot;1719&quot; data-start=&quot;1703&quot; style=&quot;font-weight: normal;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span data-end=&quot;1719&quot; data-start=&quot;1703&quot; style=&quot;font-weight: normal;&quot;&gt;Contoh praktinya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Militer: Setiap pemimpin memimpin pasukan kecil dalam struktur bertingkat (regu–peleton–kompi–batalyon).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Industri migas &amp;amp; tambang: Sistem “crew leader – supervisor – superintendent – manager” digunakan agar komunikasi dan pengawasan tetap dalam jangkauan manusiawi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Organisasi perusahaan: Span of control (jumlah bawahan langsung) dijaga agar tidak lebih dari 7–10 orang.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;strong data-end=&quot;4195&quot; data-start=&quot;4127&quot;&gt;Kesimpulan: Bukan Sekadar Teori, Tapi Panduan Manajemen Nyata&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt;
Angka Dunbar bukan hanya teori psikologi sosial.&lt;br /&gt; Dalam praktik organisasi, angka ini menjadi panduan realistis untuk membangun hubungan kerja yang efektif, pengawasan yang dekat, dan budaya keselamatan yang hidup. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi :
&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Dunbar, R. (1992). Neocortex size as a constraint on group size in primates. Journal of Human Evolution.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lindenfors, P., Wartel, A., &amp;amp; Lind, J. (2021). Dunbar’s number deconstructed. Biology Letters.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;De Ruiter, J., Weston, G., &amp;amp; Lyon, S. (2011). Dunbar’s Number reexamined. American Anthropologist.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;MacCarron, P. et al. (2016). The Elastic Dunbar Number. Royal Society Open Science.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dekker, S. (2012). Just Culture: Balancing Safety and Accountability. Ashgate.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;    </content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.darmawansaputra.com/feeds/3847244395880148187/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/2025/11/rasio-pengawas-di-tambang-dengan-angka-dunbar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default/3847244395880148187'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default/3847244395880148187'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/2025/11/rasio-pengawas-di-tambang-dengan-angka-dunbar.html' title='Semakin Banyak Bawahan, Semakin Rawan Kecelakaan? Sains di Balik Angka Dunbar Menjelaskan!'/><author><name>Darmawan Saputra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17849717183874773210</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjlPx9pCEdz6RPYkPOwbtZ3tYdlxMTP7JsZxxRbCP0OaCaoDKrRUmO5BcxljHxtMEg5fhUXS3ujCbX_O3-iSDPFnVYRpktmLdQRvMkLL5P80SBiq-33kDVrviWFqL6mPuzEvX0YkzDdcBLOpj5mWwWu3gmbYsUO8JAjunEKdcoLyht8sw/s220/Picture1.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhNnPe0rjS-cmWvHtxl0KGbfhSv0HIFoyIqXCwVliyStFQGo_bUwMAGm4M0VGcjayiSDeoZhJlTSPhpDMpn8fKc-Bb1nadi5V3u54s0jNipFHmHBzTp921fXx_1XCoq6Liw2t3NDAIFeYomgKkwAKZaOpthOhx2goxUYkTN9KtNXxnydVOxRh2Pa76Qc9o/s72-w640-h342-c/DunbarsNumber.webp" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1618947400959277823.post-47099738318348963</id><published>2025-10-26T22:55:00.001+08:00</published><updated>2025-10-26T22:58:46.128+08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Artikel Keselamatan dan Kesehatan Kerja"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Belajar Keselamatan dan Kesehatan Kerja"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Manajemen Risiko"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="risiko"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Safety"/><title type='text'>Merasa Aman, Justru Celaka: Bahaya Tersembunyi dari Rasa Aman Palsu di Tempat Kerja</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;i&gt;Risk Compensation&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; - Dalam dunia kerja modern, terutama di sektor berisiko tinggi seperti pertambangan, migas, dan konstruksi, teknologi keselamatan berkembang sangat pesat. Peralatan canggih, sensor otomatis, sistem alarm, hingga kendaraan dengan fitur keamanan tinggi kini menjadi standar operasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, di balik semua kemajuan itu, muncul fenomena psikologis yang berbahaya: risk compensation atau kompensasi risiko.&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Fenomena ini menjelaskan bagaimana manusia cenderung berperilaku lebih berisiko saat merasa lebih aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya, niat baik untuk melindungi pekerja justru bisa menciptakan kondisi yang mendorong terjadinya kecelakaan besar.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEifu3iKliJ0OgfYNqX11hgPog7iuTQA9Nfwtif-buzYNcsY5M2wXiNrIS8cQR7wsoJUuTRIviMc2N5201v7Hbd1j3dUKAeAelU83MMKJdv2w3MWoDqaMEaNTOg9i23KDzcG_qQPpBL1ogK5Cw8NHuG1tg9z_7bGRk3qUg4VbVyf738jAXPEYGuxbaUDIkI/s1280/Risk_20251026_224614_0000.png&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEifu3iKliJ0OgfYNqX11hgPog7iuTQA9Nfwtif-buzYNcsY5M2wXiNrIS8cQR7wsoJUuTRIviMc2N5201v7Hbd1j3dUKAeAelU83MMKJdv2w3MWoDqaMEaNTOg9i23KDzcG_qQPpBL1ogK5Cw8NHuG1tg9z_7bGRk3qUg4VbVyf738jAXPEYGuxbaUDIkI/w400-h253/Risk_20251026_224614_0000.png&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Apa Itu Risk Compensation?&lt;/h3&gt;Risk compensation adalah teori perilaku yang menyatakan bahwa ketika seseorang merasa tingkat risikonya berkurang karena adanya perlindungan atau teknologi keselamatan, ia cenderung meningkatkan perilaku berisiko untuk mencapai “tingkat risiko yang dirasa nyaman.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh ekonom Sam Peltzman (1975) yang meneliti dampak peraturan keselamatan mobil di Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menemukan bahwa walau fitur keselamatan meningkat (sabuk pengaman, bumper kuat, rem ABS), jumlah kecelakaan fatal tidak menurun secara signifikan karena pengemudi merasa lebih aman dan berkendara lebih agresif.&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Risk Compensation di Dunia Kerja dan Pertambangan&lt;/h3&gt;&lt;p&gt;Dalam konteks industri pertambangan, fenomena ini sangat relevan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Peralatan tambang semakin aman dan otomatis, tapi perilaku manusia tetap menjadi titik rawan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Berikut beberapa contoh bentuk risk compensation di tambang:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Operator truk tambang yang menggunakan unit dengan sistem kamera 360° dan sensor otomatis menjadi lebih berani mengebut di jalan hauling. Mereka merasa aman karena yakin sistem akan “menyelamatkan” mereka dari tabrakan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pekerja bawah tanah yang mengenakan alat deteksi gas pribadi (gas detector) kadang menyepelekan prosedur ventilasi manual.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tim pemeliharaan alat berat yang memakai APD lengkap (helm, harness, safety boots) bisa merasa terlalu percaya diri dan bekerja di ketinggian tanpa pengawasan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Fenomena ini tidak selalu disadari. Ia tumbuh perlahan dan berujung fatal ketika sistem teknis gagal atau faktor lain ikut berperan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ilustrasi Kasus: Ketika Risk Compensation Menelan Korban&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kasus 1: Kecelakaan Haul Truck di Tambang Batu Bara&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebuah unit truk tambang seberat 240 ton terguling di jalan menurun setelah menabrak tebing.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Investigasi internal menunjukkan bahwa sistem rem dan alarm berfungsi normal. Namun operator terlalu percaya diri karena unit baru dilengkapi sistem sensor tabrakan otomatis dan kamera blind spot.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia menurunkan kecepatan lebih lambat dari standar aman, mengira sistem akan memberi peringatan dini. Akibatnya, truk kehilangan kendali dan terguling menewaskan operator dan menyebabkan kerugian material lebih dari Rp20 miliar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;👉 Pelajaran: Rasa aman palsu dari fitur teknologi membuat operator mengabaikan batas fisik kendaraan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ilustrasi kasus 2: Ledakan Tambang Bawah Tanah&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebanyak 29 pekerja meninggal dunia akibat ledakan gas metana.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Salah satu faktor yang diidentifikasi adalah rasa aman berlebihan terhadap sistem deteksi gas otomatis.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pekerja dan pengawas mengandalkan pembacaan sensor tanpa memverifikasi ventilasi aktual di lorong tambang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sistem sensor sendiri kemudian gagal mendeteksi peningkatan gas tepat waktu karena posisi alat yang tidak optimal.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;👉 Pelajaran: Ketika manusia terlalu bergantung pada sistem, kewaspadaan alami berkurang inilah bentuk risk compensation yang paling berbahaya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ilustrasi kasus 3: Insiden Pekerja Tertabrak Alat Berat&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Seorang pengawas lapangan tertabrak loader saat melakukan inspeksi di area kerja.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia tidak menggunakan spotter (pengarah alat) karena merasa aman dengan sistem alarm mundur otomatis pada kendaraan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sayangnya, sistem tersebut terganggu oleh kebisingan lingkungan dan tidak terdengar jelas.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;👉 Pelajaran: Ketika sistem proteksi dianggap pengganti kewaspadaan manusia, risiko justru meningkat.&lt;/p&gt;&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Mengapa Risk Compensation Terjadi?&lt;/h3&gt;&lt;p&gt;Ada beberapa penyebab utama:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;1. Persepsi risiko menurun.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Manusia menilai bahaya bukan dari fakta, tapi dari perasaan aman.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;2. Overconfidence.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kepercayaan diri berlebihan terhadap alat atau sistem membuat pekerja mengabaikan SOP.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;3. Tekanan produksi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pekerja kadang menggunakan alasan “alat sudah aman” untuk mempercepat pekerjaan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;4. Budaya organisasi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jika manajemen lebih menilai hasil produksi dibanding kepatuhan K3, pekerja cenderung mengikuti pola itu.&lt;/p&gt;&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Strategi Mengendalikan Risk Compensation&lt;/h3&gt;&lt;p&gt;Untuk mencegah fenomena ini, organisasi perlu menggabungkan pendekatan teknis dan perilaku:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;1. Pelatihan kesadaran risiko.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ajarkan pekerja untuk memahami batas kemampuan alat dan pentingnya kewaspadaan pribadi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;2. Evaluasi perubahan perilaku.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setelah teknologi keselamatan baru diterapkan, amati apakah perilaku kerja ikut berubah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;3. Komunikasi risiko yang jujur.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jangan hanya menjual “fitur aman”, tapi tekankan keterbatasan alat dan pentingnya tanggung jawab manusia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;4. Pemimpin sebagai teladan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Supervisor harus menunjukkan bahwa kepatuhan lebih dihargai daripada kecepatan produksi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;5. Safety culture yang konsisten.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Budaya keselamatan bukan slogan; ia dibangun dari pengawasan, konsistensi, dan keadilan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kesimpulan&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Risk compensation menunjukkan bahwa teknologi saja tidak cukup membuat kerja menjadi aman.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Keselamatan sejati tercapai ketika rasa aman diimbangi dengan kesadaran risiko dan disiplin perilaku.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam dunia pertambangan, di mana setiap kesalahan kecil bisa berdampak besar, memahami fenomena ini sangat penting.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Rasa aman yang berlebihan bisa sama berbahayanya dengan rasa takut yang berlebihan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Oleh karena itu, setiap pekerja tambang harus belajar satu hal penting:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Teknologi melindungi kita, tapi hanya kesadaran yang menyelamatkan kita.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Daftar Referensi&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Adams, J. (1995). Risk. London: UCL Press.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hedlund, J. (2000). Risky business: Safety regulations, risk compensation, and individual behavior. Injury Prevention, 6(2), 82–89.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hopkins, A. (2000). Lessons from Longford: The Esso gas plant explosion.Sydney: CCH Australia.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Peltzman, S. (1975). The effects of automobile safety regulation. Journal of Political Economy, 83(4), 677–725.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Reason, J. (1997). Managing the risks of organizational accidents. Aldershot: Ashgate.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Wilde, G. J. S. (1982). The theory of risk homeostasis: Implications for safety and health. Risk Analysis, 2(4), 209–225.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Wilde, G. J. S. (1994). Target risk: Dealing with the danger of death, disease and damage in everyday decisions. Toronto: PDE Publications.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.darmawansaputra.com/feeds/47099738318348963/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/2025/10/bahaya-risk-compensation-di-tambang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default/47099738318348963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default/47099738318348963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/2025/10/bahaya-risk-compensation-di-tambang.html' title='Merasa Aman, Justru Celaka: Bahaya Tersembunyi dari Rasa Aman Palsu di Tempat Kerja'/><author><name>Darmawan Saputra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17849717183874773210</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjlPx9pCEdz6RPYkPOwbtZ3tYdlxMTP7JsZxxRbCP0OaCaoDKrRUmO5BcxljHxtMEg5fhUXS3ujCbX_O3-iSDPFnVYRpktmLdQRvMkLL5P80SBiq-33kDVrviWFqL6mPuzEvX0YkzDdcBLOpj5mWwWu3gmbYsUO8JAjunEKdcoLyht8sw/s220/Picture1.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEifu3iKliJ0OgfYNqX11hgPog7iuTQA9Nfwtif-buzYNcsY5M2wXiNrIS8cQR7wsoJUuTRIviMc2N5201v7Hbd1j3dUKAeAelU83MMKJdv2w3MWoDqaMEaNTOg9i23KDzcG_qQPpBL1ogK5Cw8NHuG1tg9z_7bGRk3qUg4VbVyf738jAXPEYGuxbaUDIkI/s72-w400-h253-c/Risk_20251026_224614_0000.png" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1618947400959277823.post-4078171377073918248</id><published>2025-10-05T21:43:00.000+08:00</published><updated>2025-10-05T21:43:18.891+08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Artikel Keselamatan dan Kesehatan Kerja"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Safety"/><title type='text'>Dua Sisi Tambang: Mengejar Produksi Tanpa Melupakan Perlindungan</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Keselamatan Pertambangan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; - Setiap perusahaan yang memakai teknologi pasti menghasilkan sesuatu. Ada yang membuat barang, mengangkut orang, memberi layanan, atau mengambil bahan mentah dari alam — seperti perusahaan tambang.&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjt0W7n-olzVVKoyve6s8-b2AGemDTgMyWuGt0uSazpC5SlfvZ0iAgoattz8kU6a12ffeKjw1kHQ_9bIfMk9y5Ao75Qj049hMWyMAqBW6ncnKNNtSBgS-X6FHrpXMhyvikXyNN2JEDhfByAUf2eqb1KzYcDIMaZ07wGpRwhz_07BDXs3u6A9xhcX13O0Dg/s1280/rocks-7354363_1280.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Keseimbangan produksi dan keselamatan kerja  Keselamatan kerja di industri pertambangan  Manajemen risiko di pertambangan  Produksi versus keselamatan  Budaya keselamatan di tambang  Pentingnya K3 dalam operasional tambang  Konflik antara target produksi dan keselamatan kerja&quot; border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;960&quot; data-original-width=&quot;1280&quot; height=&quot;240&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjt0W7n-olzVVKoyve6s8-b2AGemDTgMyWuGt0uSazpC5SlfvZ0iAgoattz8kU6a12ffeKjw1kHQ_9bIfMk9y5Ao75Qj049hMWyMAqBW6ncnKNNtSBgS-X6FHrpXMhyvikXyNN2JEDhfByAUf2eqb1KzYcDIMaZ07wGpRwhz_07BDXs3u6A9xhcX13O0Dg/w320-h240/rocks-7354363_1280.jpg&quot; title=&quot;Keseimbangan produksi dan keselamatan kerja  Keselamatan kerja di industri pertambangan  Manajemen risiko di pertambangan  Produksi versus keselamatan  Budaya keselamatan di tambang  Pentingnya K3 dalam operasional tambang  Konflik antara target produksi dan keselamatan kerja&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;Namun, di balik semua kegiatan itu, selalu ada risiko bahaya yang bisa mengancam pekerja, alat, dan lingkungan. Karena itu, setiap organisasi, termasuk tambang, butuh perlindungan atau sistem keselamatan kerja. Tujuannya agar bahaya tidak berubah menjadi kecelakaan atau kerugian besar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bagian produksi biasanya mudah dipahami: menggali batu bara, mengangkut nikel, atau memecah batu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sedangkan bagian perlindungan lebih rumit. Perlindungan mencakup hal-hal seperti inspeksi alat, pelatihan K3, prosedur kerja aman, dan sistem darurat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam kondisi ideal, produksi dan perlindungan harus seimbang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Semakin besar kegiatan produksi, semakin tinggi juga risikonya, sehingga perlindungan yang dibutuhkan harus lebih kuat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Contohnya, tambang terbuka yang memakai alat berat besar butuh perlindungan lebih ketat daripada tambang kecil yang dikerjakan manual.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jika perlindungan terlalu berlebihan, misalnya setiap pekerjaan harus melalui banyak izin yang tidak perlu, waktu produksi bisa terhambat dan biaya membengkak. Akibatnya, perusahaan bisa rugi atau bahkan bangkrut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebaliknya, kalau perlindungan terlalu lemah, seperti alat pelindung diri (APD) jarang dipakai atau area berbahaya tidak diberi tanda, maka risiko kecelakaan besar meningkat. Sekali terjadi kecelakaan serius, kerugian bisa jauh lebih besar termasuk kehilangan nyawa dan reputasi perusahaan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jadi, tantangan utama perusahaan tambang adalah menjaga keseimbangan antara tuntutan produksi dan kebutuhan perlindungan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam kenyataan, keseimbangan ini jarang sempurna. Biasanya, produksi lebih diutamakan karena hasilnya langsung terlihat: tonase batu bara naik, target tercapai, atau keuntungan meningkat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sementara hasil dari perlindungan sulit diukur. Tidak ada kecelakaan sering dianggap “tidak ada masalah”, padahal bisa jadi karena keberuntungan, bukan karena sistemnya benar-benar aman.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Banyak manajer tambang memahami bahwa keselamatan itu penting. Mereka tahu produksi dan keselamatan harus berjalan bersama. Namun dalam tekanan target harian, mereka kadang terpaksa memilih: mengejar target cepat atau tetap mengikuti aturan aman.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Masalah muncul ketika pemotongan standar keselamatan ini tidak langsung menimbulkan akibat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Misalnya, operator tidak melakukan pemeriksaan alat harian karena ingin cepat berproduksi. Kalau tidak terjadi kecelakaan, kebiasaan itu bisa dianggap “aman-aman saja”.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Padahal, lama-kelamaan, cadangan keselamatan sistem menipis, sampai akhirnya terjadi insiden serius.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kita bisa bayangkan perjalanan sebuah perusahaan tambang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Awalnya, mereka bekerja dengan standar keselamatan tinggi. Setelah lama tidak ada kecelakaan, pengawasan mulai longgar. Lalu terjadi kecelakaan kecil. Perusahaan pun memperkuat kembali perlindungan. Namun, setelah beberapa waktu, fokus kembali ke target produksi. Akhirnya, kecelakaan besar pun terjadi, baru kemudian sistem keselamatan diperbaiki lagi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Siklus seperti ini sering terjadi di dunia tambang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karena itu, penting bagi semua pihak untuk tidak hanya memperkuat perlindungan setelah ada kecelakaan, tapi menjaganya terus, bahkan saat semuanya terlihat “aman”.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Referensi:&lt;/p&gt;&lt;p data-end=&quot;352&quot; data-start=&quot;227&quot;&gt;Dekker, S. (2011). &lt;em data-end=&quot;332&quot; data-start=&quot;246&quot;&gt;Drift into failure: From hunting broken components to understanding complex systems.&lt;/em&gt; Farnham: Ashgate.&lt;/p&gt;&lt;p data-end=&quot;483&quot; data-start=&quot;354&quot;&gt;Hollnagel, E., Woods, D. D., &amp;amp; Leveson, N. (Eds.). (2006). &lt;em data-end=&quot;461&quot; data-start=&quot;413&quot;&gt;Resilience engineering: Concepts and precepts.&lt;/em&gt; Aldershot: Ashgate.&lt;/p&gt;&lt;p data-end=&quot;584&quot; data-start=&quot;485&quot;&gt;Hopkins, A. (2000). &lt;em data-end=&quot;559&quot; data-start=&quot;505&quot;&gt;Lessons from Longford: The Esso gas plant explosion.&lt;/em&gt; Sydney: CCH Australia.&lt;/p&gt;&lt;p data-end=&quot;719&quot; data-start=&quot;586&quot;&gt;International Council on Mining and Metals (ICMM). (2019). &lt;em data-end=&quot;703&quot; data-start=&quot;645&quot;&gt;Health and safety performance indicators: Annual report.&lt;/em&gt; London: ICMM.&lt;/p&gt;&lt;p data-end=&quot;835&quot; data-start=&quot;721&quot;&gt;International Labour Organization (ILO). (1995). &lt;em data-end=&quot;820&quot; data-start=&quot;770&quot;&gt;Safety and Health in Mines Convention (No. 176).&lt;/em&gt; Geneva: ILO.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;




&lt;/p&gt;&lt;p data-end=&quot;927&quot; data-start=&quot;837&quot;&gt;Reason, J. (1997). &lt;em data-end=&quot;905&quot; data-start=&quot;856&quot;&gt;Managing the risks of organizational accidents.&lt;/em&gt; Aldershot: Ashgate.&lt;/p&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.darmawansaputra.com/feeds/4078171377073918248/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/2025/10/Keseimbangan-produksi-dan-Keselamatan-kerja-di-industri-pertambangan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default/4078171377073918248'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default/4078171377073918248'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/2025/10/Keseimbangan-produksi-dan-Keselamatan-kerja-di-industri-pertambangan.html' title='Dua Sisi Tambang: Mengejar Produksi Tanpa Melupakan Perlindungan'/><author><name>Darmawan Saputra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17849717183874773210</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjlPx9pCEdz6RPYkPOwbtZ3tYdlxMTP7JsZxxRbCP0OaCaoDKrRUmO5BcxljHxtMEg5fhUXS3ujCbX_O3-iSDPFnVYRpktmLdQRvMkLL5P80SBiq-33kDVrviWFqL6mPuzEvX0YkzDdcBLOpj5mWwWu3gmbYsUO8JAjunEKdcoLyht8sw/s220/Picture1.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjt0W7n-olzVVKoyve6s8-b2AGemDTgMyWuGt0uSazpC5SlfvZ0iAgoattz8kU6a12ffeKjw1kHQ_9bIfMk9y5Ao75Qj049hMWyMAqBW6ncnKNNtSBgS-X6FHrpXMhyvikXyNN2JEDhfByAUf2eqb1KzYcDIMaZ07wGpRwhz_07BDXs3u6A9xhcX13O0Dg/s72-w320-h240-c/rocks-7354363_1280.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1618947400959277823.post-75748971662096867</id><published>2025-09-21T06:52:00.000+08:00</published><updated>2025-09-21T06:52:10.763+08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Keselamatan dan kesehatan kerja"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Safety"/><title type='text'>Ironi Otomatisasi: Ketika Teknologi Justru Menambah Risiko</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Otomatisasi dalam Keselamatan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; - Penyebab kecelakaan sering disebutkan sebagai 80:20 dimana kenyataan bahwa sekitar 80% penyebab kecelakaan berasal dari kesalahan manusia dan hanya 20% dari kegagalan teknis, untuk mengurangi masalah tersebut maka ditambahlah tingkat otomatisasi dalam hubungan antara manusia dan sistem.&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg6Sfao5r3Vry85vOgjeNy3TOHUhuFtuiCkdL5YpZGxFcQd0pw5b7q_sHYpzOMnwAp20codBAOqnb0oRi_RayIWD1SWOriBH8YOYxq28bmQenizRYlFbPBWqP5xtqwPJimDG0B-6wpf8pMnCgOiKd46LHjv0FES_ipYMoQ2o-RjVGRFp9qZgj7K-w19K_w/s1280/plane-6511877_1280.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;853&quot; data-original-width=&quot;1280&quot; height=&quot;213&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg6Sfao5r3Vry85vOgjeNy3TOHUhuFtuiCkdL5YpZGxFcQd0pw5b7q_sHYpzOMnwAp20codBAOqnb0oRi_RayIWD1SWOriBH8YOYxq28bmQenizRYlFbPBWqP5xtqwPJimDG0B-6wpf8pMnCgOiKd46LHjv0FES_ipYMoQ2o-RjVGRFp9qZgj7K-w19K_w/s320/plane-6511877_1280.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;Tentu saja, alasan meningkatkan otomatisasi bukan hanya untuk menjauhkan manusia yang rentan salah dari kendali sistem tetapi ada faktor pendorong lainnya yaitu ketersediaan teknologi komputer murah dalam beberapa dekade terakhir, yang bisa memberikan keuntungan besar secara komersial.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketika konsorsium Eropa Airbus Industri dibentuk pada awal 1970-an, pangsa pasar pesawat jet komersial Eropa hampir nol. Untuk bisa bersaing dengan produsen AS yang dominan, Airbus memilih menggunakan teknologi terbaru dalam desain kokpit otomatis. Walaupun kemudian Boeing dan McDonnell Douglas mengikuti langkah ini, Airbus tetap menjadi pelopor dalam membagi peran antara pilot dan sistem penerbangan berbasis komputer.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Strategi Airbus adalah membuat pesawat lebih sedikit bergantung pada kendali manusia. Filosofi radikal mereka dalam otomatisasi kokpit memberi Airbus memiliki posisi besar di pasar pesawat jet, namun juga menimbulkan berbagai masalah baru terkait faktor manusia. Masalah ini sebenarnya tidak hanya ada pada Airbus atau bahkan penerbangan saja.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebelum membahas lebih jauh masalah di dunia penerbangan, perlu dilihat dulu apa yang disebut psikolog teknik asal Inggris, Lisanne Bainbridge, sebagai “ironi dari otomatisasi”:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Dengan mengambil alih bagian-bagian mudah dari tugas manusia, otomatisasi justru membuat bagian sulit jadi lebih sulit.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Banyak perancang sistem menganggap manusia tidak dapat diandalkan, namun tetap menyerahkan tugas yang tidak bisa diotomatisasi terutama mengembalikan sistem ke kondisi aman setelah kegagalan yang tidak terduga.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dalam sistem yang sangat otomatis, manusia hanya diminta memantau apakah sistem bekerja dengan baik. Tetapi manusia sulit menjaga kewaspadaan dalam waktu lama, sehingga kurang cocok untuk mendeteksi kondisi abnormal yang jarang terjadi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Keterampilan perlu terus dipraktikkan agar tetap terjaga. Namun, jika sistem otomatis jarang gagal, operator kehilangan kesempatan untuk melatih keterampilan yang justru sangat dibutuhkan saat darurat. Akibatnya, kemampuan mereka bisa menurun.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dan, seperti dikatakan Bainbridge, “Ironi terbesar adalah bahwa sistem otomatis yang paling sukses (yang jarang butuh campur tangan manusia) justru membutuhkan investasi paling besar dalam pelatihan operator.”&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Masalah sistem kendali otomatis ini sebenarnya tidak hanya ada di penerbangan, tapi penerbangan adalah bidang yang paling banyak diteliti. Alasannya, setiap kejadian bisa dianalisis lewat rekaman data penerbangan, dan sistem manajemen penerbangan adalah bentuk otomatisasi yang paling canggih saat ini. Karena itu, bagian berikut akan banyak membahas otomatisasi di kokpit pesawat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Otomatisasi kokpit membawa berkah sekaligus masalah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di satu sisi, sistem ini sangat membantu pilot dalam navigasi horizontal (mengetahui posisi pesawat terhadap permukaan bumi), karena peta elektronik tidak hanya menunjukkan posisi pesawat terhadap wilayah geografis, tetapi juga kondisi cuaca di jalur penerbangan. Pilot menganggap ini salah satu fitur paling berguna dari pesawat modern.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di sisi lain, masalah sering muncul dalam navigasi vertikal (perubahan ketinggian), dan beberapa kasus bahkan menyebabkan kecelakaan fatal.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Navigasi vertikal rumit karena dikendalikan oleh kombinasi kendali elevator (kemudi naik-turun) dan daya mesin. Sistem Manajemen Penerbangan (Flight Management System / FMS) menyediakan setidaknya lima cara untuk mengubah ketinggian, dengan tingkat otomatisasi berbeda-beda.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ada mode yang dipilih pilot, dan ada juga yang aktif secara otomatis.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Misalnya, dalam satu mode, FMS mengendalikan kecepatan vertikal; dalam mode lain, FMS menjaga sudut lintasan tertentu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;FMS juga bisa otomatis berpindah mode sesuai kondisi. Contoh: jika pilot menargetkan ketinggian 5.000 kaki, mode mendaki akan aktif hingga ketinggian itu tercapai. Setelahnya, FMS otomatis berpindah ke mode “tahan ketinggian” (altitude hold).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selain itu, beberapa FMS dilengkapi dengan sistem perlindungan otomatis (hard protection), yang mencegah pesawat melebihi batas kecepatan atau tekanan struktur pesawat. Kata “hard” berarti sistem akan mengaktifkan perlindungan ini tanpa perlu input dari pilot. Misalnya, jika kecepatan pesawat turun di bawah batas aman saat mendekati landasan, FMS bisa otomatis meningkatkan daya mesin dan masuk ke mode go-around (membatalkan pendaratan).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, fitur ini kadang berbahaya: ada kasus pilot tidak menyadari perubahan mode dan malah “bertarung” dengan FMS untuk mengendalikan pesawat—kadang berakhir dengan kegagalan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Masalah utama dari sudut pandang faktor manusia adalah: FMS bisa berubah mode karena tindakan pilot atau logika internalnya sendiri. Tidak heran jika pilot bisa bingung mengenai mode apa yang sedang aktif, atau apa yang akan terjadi selanjutnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Untuk tetap “selangkah lebih maju dari pesawat”, pilot tidak hanya harus tahu mode apa yang sedang aktif, tetapi juga bagaimana FMS memilih mode baru. Hal ini sulit, terutama saat beban kerja mental sedang tinggi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Inilah salah satu ironi otomatisasi: sistem manajemen penerbangan yang dirancang untuk meringankan beban mental pilot, justru sering menambah kebingungan dan kerja keras mereka.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Referensi&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Bainbridge, L., 1983. Ironies of automation. Automatica, 19(6), pp.775–779.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Billings, C.E., 1997. Aviation automation: The search for a human-centered approach. Mahwah, NJ: Lawrence Erlbaum Associates.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Reason, J., 1990. Human error. Cambridge: Cambridge University Press.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sarter, N.B. and Woods, D.D., 1995. How in the world did we ever get into that mode? Mode error and awareness in supervisory control. Human Factors, 37(1), pp.5–19.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Wiener, E.L. and Curry, R.E., 1980. Flight-deck automation: Promises and problems. NASA Technical Paper 1109. Washington, DC: NASA.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.darmawansaputra.com/feeds/75748971662096867/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/2025/09/Otomatisasi-dalam-keselamatan-kerja.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default/75748971662096867'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default/75748971662096867'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/2025/09/Otomatisasi-dalam-keselamatan-kerja.html' title='Ironi Otomatisasi: Ketika Teknologi Justru Menambah Risiko'/><author><name>Darmawan Saputra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17849717183874773210</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjlPx9pCEdz6RPYkPOwbtZ3tYdlxMTP7JsZxxRbCP0OaCaoDKrRUmO5BcxljHxtMEg5fhUXS3ujCbX_O3-iSDPFnVYRpktmLdQRvMkLL5P80SBiq-33kDVrviWFqL6mPuzEvX0YkzDdcBLOpj5mWwWu3gmbYsUO8JAjunEKdcoLyht8sw/s220/Picture1.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg6Sfao5r3Vry85vOgjeNy3TOHUhuFtuiCkdL5YpZGxFcQd0pw5b7q_sHYpzOMnwAp20codBAOqnb0oRi_RayIWD1SWOriBH8YOYxq28bmQenizRYlFbPBWqP5xtqwPJimDG0B-6wpf8pMnCgOiKd46LHjv0FES_ipYMoQ2o-RjVGRFp9qZgj7K-w19K_w/s72-c/plane-6511877_1280.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1618947400959277823.post-1658738344669175720</id><published>2025-06-14T16:30:00.000+08:00</published><updated>2025-06-14T16:30:15.877+08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Keselamatan dan kesehatan kerja"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Prosedur Kerja"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Prosedur Keselamatan Kerja"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Safety"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Safety and health"/><title type='text'>6 Jenis Perilaku Pekerja terhadap Prosedur Keselamatan di Tambang Batubara: Kenali Risiko Pelanggaran SOP!</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Pelanggaran prosedur kerja dan risikonya&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;- Di tempat kerja, keselamatan bukan hanya soal alat pelindung diri atau rambu-rambu yang tertempel di dinding. Keselamatan kerja adalah pondasi utama yang memastikan setiap pekerja bisa pulang dengan selamat setiap hari. Salah satu cara paling dasar untuk menjaga keselamatan ini adalah dengan &lt;b&gt;mengikuti prosedur kerja yang telah ditetapkan&lt;/b&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sayangnya, kenyataan di lapangan tidak selalu seideal itu. Masih banyak pekerja yang &lt;b&gt;mengabaikan prosedur keselamatan&lt;/b&gt;, baik karena sudah terbiasa melakukannya dengan cara sendiri, terburu-buru karena tekanan pekerjaan, atau merasa diawasi pun tidak. Akibatnya, risiko kecelakaan meningkat — dan ketika kecelakaan terjadi, dampaknya bisa sangat besar: bukan hanya pada korban, tetapi juga terhadap perusahaan secara keseluruhan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: left;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgkeeCXrr37GXRshj_DVsgS_ElfHJrC3L2PEdwLQH5q1sy7t34w9Ny1KT-hUYaE0qfwmlYRtRRkiBq7m1Vw0P8PNE_5AC_rUmRxf1JPSL3YUWpE-Cp743jHiLjQ1_U3pf7c0kYgZhdqnUfwiU_uVreEuXg9qj3RQ1WOJA8eGqUL7LvsW8-RtoGowc9u-ZI/s1536/ChatGPT%20Image%2014%20Jun%202025,%2011.22.15.png&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;perilaku pekerja terhadap prosedur keselamatan kerja, jenis pelanggaran SOP di tempat kerja, keselamatan kerja di industri pertambangan, kepatuhan terhadap prosedur keselamatan, pelanggaran prosedur kerja dan risikonya&quot; border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;1024&quot; data-original-width=&quot;1536&quot; height=&quot;426&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgkeeCXrr37GXRshj_DVsgS_ElfHJrC3L2PEdwLQH5q1sy7t34w9Ny1KT-hUYaE0qfwmlYRtRRkiBq7m1Vw0P8PNE_5AC_rUmRxf1JPSL3YUWpE-Cp743jHiLjQ1_U3pf7c0kYgZhdqnUfwiU_uVreEuXg9qj3RQ1WOJA8eGqUL7LvsW8-RtoGowc9u-ZI/w640-h426/ChatGPT%20Image%2014%20Jun%202025,%2011.22.15.png&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;Melalui artikel ini, kita akan membahas:&lt;br /&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Mengapa prosedur kerja penting,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Apa yang terjadi jika prosedur tidak diikuti,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bagaimana kebiasaan pekerja terbentuk terhadap prosedur,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dan apa saja tantangan yang sering membuat prosedur sulit diterapkan di lapangan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Enam Jenis Perilaku Pekerja terhadap Prosedur&lt;/h3&gt;Tidak semua pelanggaran terjadi karena niat buruk. Dan tidak semua kepatuhan menjamin hasil yang aman. Karena itu, para ahli mengelompokkan perilaku pekerja dalam kaitannya dengan aturan dan prosedur keselamatan ke dalam **enam jenis utama**. Pemahaman ini penting untuk membantu kita mengenali mana perilaku yang berisiko dan mana yang perlu didukung.&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhOZS_DVO3ICWoe7oUTzDYzPrqQ6pRKZj0YBmOlLCGfaEdNIQwpnSFZS5a8QMksA2c1V8EEVIzqvtUMzv_DIE6ZCra4yxjpjJ7p-yP71VMWCBui_lOURQFMNBfxr1JOdAcWey9rpSjkqlX-SQ2Ee0ausV6cB3RW39wJ5GG_Iry-TVnKhyphenhyphensb1MtieA-dCBk/s798/Six%20Kind%20Rule%20Behavior.PNG&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em; text-align: center;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;311&quot; data-original-width=&quot;798&quot; height=&quot;250&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhOZS_DVO3ICWoe7oUTzDYzPrqQ6pRKZj0YBmOlLCGfaEdNIQwpnSFZS5a8QMksA2c1V8EEVIzqvtUMzv_DIE6ZCra4yxjpjJ7p-yP71VMWCBui_lOURQFMNBfxr1JOdAcWey9rpSjkqlX-SQ2Ee0ausV6cB3RW39wJ5GG_Iry-TVnKhyphenhyphensb1MtieA-dCBk/w640-h250/Six%20Kind%20Rule%20Behavior.PNG&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Matriks Variasi Perilaku Pekerja Terhadap Prosedur Kerja, Reason, J. 1997&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Berikut penjelasannya dengan bahasa yang mudah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1. Kepatuhan yang Benar (&lt;i&gt;Correct Compliance&lt;/i&gt;)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pekerja mengikuti prosedur dengan baik, dan hasilnya aman serta sesuai tujuan. Ini adalah bentuk perilaku yang paling ideal dan paling diharapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;2. Pelanggaran yang Benar (&lt;i&gt;Correct Violation&lt;/i&gt;)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kadang aturan tidak cocok dengan kondisi di lapangan. Pekerja mungkin melanggar aturan, tapi justru berhasil mencapai hasil yang aman. Meskipun niatnya baik, ini tetap perlu evaluasi agar prosedur bisa disesuaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;3. Improvisasi yang Benar (&lt;i&gt;Correct Improvisation&lt;/i&gt;)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tidak semua situasi punya prosedur. Dalam kasus seperti ini, pekerja mengambil inisiatif sendiri dan ternyata berhasil dengan aman. Namun, ini seharusnya jadi pelajaran untuk membuat prosedur baru, bukan jadi kebiasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;4. &lt;i&gt;Misvention &lt;/i&gt;(Pelanggaran + Kesalahan)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ini terjadi saat pekerja melanggar prosedur dan membuat kesalahan, yang akhirnya menyebabkan situasi tidak aman. Biasanya muncul dari niat baik tapi dilakukan tanpa pertimbangan yang matang.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;5. &lt;i&gt;Mispliance&lt;/i&gt; (Kepatuhan yang Keliru)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pekerja mengikuti prosedur, tapi prosedurnya sendiri tidak tepat, atau pemahamannya salah. Akibatnya, hasilnya tetap berbahaya meski niatnya baik. Ini jadi pengingat pentingnya pelatihan dan evaluasi prosedur secara rutin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;6. Kesalahan Murni (&lt;i&gt;Mistake&lt;/i&gt;)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kadang, dalam situasi tanpa aturan yang jelas, pekerja membuat keputusan sendiri dan ternyata salah. Ini biasanya terjadi karena kurang pengetahuan atau pengalaman.&lt;br /&gt;&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Pelanggaran yang Berhasil: Awal dari Masalah yang Lebih Besar&lt;/h3&gt;Ada satu perilaku yang tidak masuk ke enam kategori di atas, yaitu &lt;b&gt;pelanggaran yang berhasil&lt;/b&gt;. Artinya, pekerja tidak mengikuti aturan yang benar, tapi tetap berhasil mencapai tujuannya tanpa celaka. Meskipun tampak &quot;aman-aman saja&quot;, inilah yang berbahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Karena ini bisa menciptakan &lt;b&gt;rasa percaya diri yang berlebihan&lt;/b&gt;, kebiasaan meremehkan risiko, dan pola kerja berbahaya yang sulit diubah. Dari sinilah sering muncul misvention yaitu pelanggaran berbahaya yang dilakukan secara tidak sadar, tapi berulang dan sistematis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Mana Perilaku Yang Sering Muncul?&lt;/h3&gt;Dalam praktiknya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kepatuhan yang benar &lt;/b&gt;adalah jenis perilaku paling umum — karena sebagian besar aturan memang dibuat untuk melindungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pelanggaran yang berhasil&lt;/b&gt;, meski tidak sering, cukup banyak terjadi dan &lt;b&gt;sering dianggap norma&lt;/b&gt;l oleh pekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Improvisasi yang aman&lt;/b&gt;, &lt;b&gt;kesalahan murni&lt;/b&gt;, dan &lt;i&gt;&lt;b&gt;mispliance&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&amp;nbsp;lebih jarang terjadi, tapi tetap berisiko tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara &lt;b&gt;&lt;i&gt;misvention&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; adalah yang paling berbahaya meski jarang, karena dilakukan tanpa disadari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;b&gt;Contoh Kasus: Perilaku terhadap Prosedur di Industri Pertambangan Batubara&lt;/b&gt;&lt;/h3&gt;Industri pertambangan batubara memiliki risiko tinggi: mulai dari longsor, ledakan gas metana, paparan debu batubara, hingga kecelakaan kendaraan tambang. Prosedur keselamatan sangat ketat namun bagaimana pekerja mematuhinya sangat menentukan hasilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini contoh penerapan &lt;b&gt;enam jenis perilaku&amp;nbsp;&lt;/b&gt;dalam situasi nyata di tambang batubara:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1. Kepatuhan yang Benar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;Seorang operator alat berat mengikuti prosedur pre-start checklist (P2H) sebelum menghidupkan Dump Truck. Ia memastikan rem, lampu, dan klakson berfungsi normal. Saat bekerja, dia menjaga kecepatan sesuai standar dan memperhatikan area blind spot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;➡ &lt;b&gt;Hasil:&lt;/b&gt; Operasi berjalan lancar dan aman.&lt;br /&gt;✅ Ini contoh ideal dari kepatuhan yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. Pelanggaran yang Benar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;Seorang mekanik mendapat informasi unit rusak dan harus memperbaiki ban dump truck di area berlumpur, jauh dari workshop. Aturan di prosedur menyebutkan perbaikan hanya boleh dilakukan di area aman dengan alat pelindung lengkap. Tapi kondisi mendesak dan alat berat dibutuhkan segera. Ia menggunakan metode sederhana, dengan tetap menjaga jarak aman dan memastikan alat pendukung cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;➡ &lt;b&gt;Hasil:&lt;/b&gt; Dump truck kembali beroperasi tanpa insiden.&lt;br /&gt;⚠️ Walau melanggar prosedur, hasilnya aman tapi ini tetap perlu evaluasi prosedur agar lebih fleksibel dan realistis.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. Improvisasi yang Benar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;Saat jalur tambang longsor dan &lt;b&gt;belum ada&lt;/b&gt; SOP untuk evakuasi rute alternatif, pengawas lapangan membuat keputusan cepat untuk mengalihkan jalur dengan pengaturan personel keamanan tambahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;➡ &lt;b&gt;Hasil:&lt;/b&gt; Evakuasi lancar dan tidak ada korban.&lt;br /&gt;✅ Tindakan ini tidak tertulis di SOP, tapi dilakukan dengan pertimbangan risiko yang matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;4. &lt;i&gt;Misvention&lt;/i&gt; (Pelanggaran + Kesalahan)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;Seorang operator mengambil jalan pintas dengan mematikan panel sensor gas karena sering mengeluarkan alarm palsu. Ia berpikir akan lebih efisien tanpa &quot;gangguan&quot; tersebut. Tapi suatu hari, terjadi kebocoran gas metana yang tidak terdeteksi, dan nyaris terjadi ledakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;➡ &lt;b&gt;Hasil:&lt;/b&gt; Situasi berbahaya yang nyaris fatal.&lt;br /&gt;❌ Ini contoh klasik dari &lt;i&gt;misvention&lt;/i&gt; — pelanggaran dengan penilaian yang keliru dan hasil yang membahayakan.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;5. &lt;i&gt;Mispliance&lt;/i&gt; (Kepatuhan yang Keliru)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Contoh:&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Seorang pekerja mengikuti prosedur pembersihan belt conveyor sesuai buku panduan lama yang belum diperbarui. Ia tidak tahu bahwa metode tersebut kini dianggap berisiko karena potensi tersangkutnya tangan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;➡ &lt;b&gt;Hasil:&lt;/b&gt;&amp;nbsp;Ia hampir cedera karena informasi yang salah.&lt;br /&gt;⚠️ Ia mengikuti prosedur, tapi prosedurnya salah. Ini menunjukkan pentingnya update SOP secara berkala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;6. Kesalahan Murni (&lt;i&gt;Mistake&lt;/i&gt;)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;Seorang operator baru (crew pompa) mencoba mematikan pompa lumpur saat tekanan tinggi, tanpa tahu bahwa itu bisa menyebabkan semburan balik. &lt;b&gt;Tidak ada SOP khusus&lt;/b&gt; untuk kondisi itu, dan &lt;b&gt;ia belum pernah dilatih&lt;/b&gt; untuk situasi darurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;➡ &lt;b&gt;Hasil: &lt;/b&gt;Air bercampur lumpur menyembur dan membahayakan rekan di dekatnya.&lt;br /&gt;❌ Ini contoh dari kesalahan karena kurang pengetahuan dan kurang pelatihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Pelanggaran yang Berhasil: Bahaya yang Tak Terlihat&lt;/h3&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;Ada satu kategori tindakan tidak aman yang tidak tercakup dalam matriks di atas, yaitu &lt;b&gt;&lt;span data-end=&quot;258&quot; data-start=&quot;199&quot;&gt;pelanggaran terhadap aturan yang sebenarnya sudah benar&lt;/span&gt;, tapi &lt;span data-end=&quot;294&quot; data-start=&quot;265&quot;&gt;secara kebetulan berhasil&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;. Dalam kasus ini, pekerja melanggar aturan, tapi tetap mencapai tujuannya — walaupun &lt;span data-end=&quot;430&quot; data-start=&quot;380&quot;&gt;penilaiannya terhadap risiko sebenarnya keliru&lt;/span&gt;.&lt;/div&gt;
&lt;p data-end=&quot;638&quot; data-start=&quot;433&quot;&gt;&lt;span data-end=&quot;462&quot; data-start=&quot;433&quot;&gt;Pelanggaran yang berhasil&lt;/span&gt; ini berbeda dengan &lt;span data-end=&quot;508&quot; data-start=&quot;482&quot;&gt;pelanggaran yang benar&lt;/span&gt;, dan sering kali menjadi &lt;span data-end=&quot;565&quot; data-start=&quot;534&quot;&gt;awal munculnya &quot;misvention&quot;&lt;/span&gt;, yaitu kebiasaan menyimpang yang berbahaya dan dilakukan tanpa disadari.&lt;/p&gt;
&lt;p data-end=&quot;905&quot; data-start=&quot;640&quot;&gt;Meskipun kelihatannya tidak berdampak langsung, pelanggaran semacam ini &lt;span data-end=&quot;750&quot; data-start=&quot;712&quot;&gt;membentuk kebiasaan yang berbahaya&lt;/span&gt;. Orang jadi &lt;span data-end=&quot;787&quot; data-start=&quot;763&quot;&gt;terlalu percaya diri&lt;/span&gt; dengan caranya sendiri dan &lt;span data-end=&quot;857&quot; data-start=&quot;815&quot;&gt;meremehkan bahaya secara terus-menerus&lt;/span&gt;, padahal risikonya bisa besar di kemudian hari.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;Contoh:&lt;br /&gt;Beberapa pengemudi haul truck terbiasa melewati tikungan tajam dengan kecepatan tinggi karena merasa &quot;sudah hafal medan.&quot; Mereka belum pernah mengalami kecelakaan, sehingga menganggap hal itu aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;➡ Hasil:&lt;/b&gt; Sejauh ini belum ada insiden — tapi risikonya besar.&lt;br /&gt;⚠️ Kebiasaan seperti ini adalah cikal bakal misvention: rasa percaya diri berlebihan yang bisa berujung fatal.&lt;br /&gt;&lt;h3 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Apa yang Bisa Dilakukan Perusahaan Tambang?&lt;/h3&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Evaluasi dan revisi prosedur agar tidak kaku tapi tetap aman.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Libatkan pekerja lapangan dalam penyusunan SOP agar sesuai dengan realitas kerja.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Latih terus-menerus, khususnya pada situasi darurat dan &quot;tanpa prosedur&quot;.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Fokus pada perilaku, bukan hanya dokumen: pahami alasan di balik pelanggaran.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Berdayakan pengawas dan leader sebagai agen perubahan budaya keselamatan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;b&gt;Kesimpulan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prosedur keselamatan bukan sekadar aturan di atas kertas — tapi panduan hidup yang menyelamatkan nyawa. Untuk benar-benar efektif, prosedur tidak hanya perlu dipahami, tapi juga diterapkan dengan sadar. Dan agar itu terjadi, perusahaan harus memahami bagaimana pekerja berperilaku terhadap aturan: mulai dari mereka yang patuh, sampai yang kerap &quot;berimprovisasi&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman ini penting, karena kecelakaan kerja seringkali bukan terjadi karena niat buruk — tapi karena&amp;nbsp;&lt;b&gt;kebiasaan yang salah dibiarkan terlalu lama&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;b&gt;“Bagaimana dengan pengalaman Anda di lapangan? Pernah menghadapi pelanggaran SOP yang justru membahayakan? Ceritakan di komentar.”&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Demikian pembahasan mengenai perilaku pekerja terhadap prosedur keselamatan, semoga bisa membantu sahabat safety dalam memahami kenapa selalu terjadi pelanggaran prosedur dan berdampak pada kecelakaan di tempat kerja.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Jika ada pertanyaan bisa dikolom komentar atau bisa juga ke Instagram &lt;a href=&quot;https://www.instagram.com/@darmawans.setiawan/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;@darmawans_setiawa&lt;/a&gt;n, jangan lupa juga Subscribe Channel Youtube &quot;&lt;a href=&quot;http://www.youtube.com/@tanyasafety&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Tanya Safety&lt;/a&gt;&quot; untuk mendukung kami..terima kasih&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br style=&quot;text-align: left;&quot; /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;p&gt;Referensi:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Reason, J. Managing The Risk of Organizational Accidents. 1997&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Guastello, Stephen. Human Factors Engineering and ergonomic-A system.approach. 2014&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hopkins, A.&amp;nbsp;Risk-management and rule-compliance: Decision-making in hazardous industries.&amp;nbsp;Australian National University.ACT 0200, Australia&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Health and Safety Executive. Human factor : Managing human failures. https://www.hse.gov.uk/humanfactors/topics/humanfail.htm&lt;/li&gt;&lt;li&gt;https://www.thefreelibrary.com/Organizational%2Bcontrols%2Band%2Bsafety%3A%2Bthe%2Bvarieties%2Bof%2Brule-related...-a053590389?utm_source=chatgpt.com&lt;/li&gt;&lt;li&gt;http://aviationknowledge.wikidot.com/aviation%3Arule-based-behaviour?utm_source=chatgpt.com&lt;/li&gt;&lt;li&gt;https://oshwiki.osha.europa.eu/en/themes/violation-osh-rules-and-procedures?utm_source=chatgpt.com&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.darmawansaputra.com/feeds/1658738344669175720/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/2025/06/6-jenis-perilaku-pekerja-prosedur-tambang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default/1658738344669175720'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default/1658738344669175720'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/2025/06/6-jenis-perilaku-pekerja-prosedur-tambang.html' title='6 Jenis Perilaku Pekerja terhadap Prosedur Keselamatan di Tambang Batubara: Kenali Risiko Pelanggaran SOP!'/><author><name>Darmawan Saputra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17849717183874773210</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjlPx9pCEdz6RPYkPOwbtZ3tYdlxMTP7JsZxxRbCP0OaCaoDKrRUmO5BcxljHxtMEg5fhUXS3ujCbX_O3-iSDPFnVYRpktmLdQRvMkLL5P80SBiq-33kDVrviWFqL6mPuzEvX0YkzDdcBLOpj5mWwWu3gmbYsUO8JAjunEKdcoLyht8sw/s220/Picture1.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgkeeCXrr37GXRshj_DVsgS_ElfHJrC3L2PEdwLQH5q1sy7t34w9Ny1KT-hUYaE0qfwmlYRtRRkiBq7m1Vw0P8PNE_5AC_rUmRxf1JPSL3YUWpE-Cp743jHiLjQ1_U3pf7c0kYgZhdqnUfwiU_uVreEuXg9qj3RQ1WOJA8eGqUL7LvsW8-RtoGowc9u-ZI/s72-w640-h426-c/ChatGPT%20Image%2014%20Jun%202025,%2011.22.15.png" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1618947400959277823.post-5000328136026903072</id><published>2025-06-06T20:50:00.002+08:00</published><updated>2025-06-10T06:01:31.128+08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Artikel Keselamatan dan Kesehatan Kerja"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kesadaran Situasional"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Safety"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Safety and health"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="situational awareness"/><title type='text'>Kesadaran Situasional Benteng Terakhir Pengendalian Terhadap Kecelakaan</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Situational Awareness&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; -&amp;nbsp;Apakah Anda sesekali melihat ke belakang saat sedang berjalan? atau Apakah Anda memperhatikan pintu masuk dan keluar saat berada di tempat baru? perilaku-perilaku ini nampaknya sepele namun sebenarnya ini memperlihatkan bahwa Anda memiliki kesadaran tentang sedang apa dan dimana Anda berada. Kesadaran ini sering disebut dengan Kesadaran Situasional (Situational Awareness). Kesadaran situasional (situational awareness) adalah kemampuan untuk memahami apa yang sedang terjadi di sekitar kita, memproyeksikan apa yang mungkin terjadi selanjutnya, dan membuat keputusan yang tepat berdasarkan pemahaman tersebut. Dalam dunia kerja terutama di lingkungan yang berisiko tinggi seperti konstruksi, manufaktur, pertambangan atau industri migas, kesadaran ini menjadi elemen krusial dalam mencegah kecelakaan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiTSURWYLQ9L38JnHL5InsZRK3ICUjnDVowN1aYVyLuK7Vf7twoP_SPQeTbrRsmWG68YDnAfgh4BjKhPhGNoRqzeNtAKfmJJD-l9Y4p6bV5DFj8J9UoqZvIXEiMczCtxw7T6Zvm54frW6a6jr3kWc6zV6oSd7pc8V0lOLtcyS3iIWJiZ5Pw9mqRRs7jDYA/s1280/KESADARAN%20SITUASIONAL_20250606_204009_0000.png&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;kesadaran situasional adalah, apa yang dimaksud situational awareness, faktor yang berpengaruh pada kesadaran situasional, menjaga kesadaran situasion&quot; border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;844&quot; data-original-width=&quot;1280&quot; height=&quot;422&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiTSURWYLQ9L38JnHL5InsZRK3ICUjnDVowN1aYVyLuK7Vf7twoP_SPQeTbrRsmWG68YDnAfgh4BjKhPhGNoRqzeNtAKfmJJD-l9Y4p6bV5DFj8J9UoqZvIXEiMczCtxw7T6Zvm54frW6a6jr3kWc6zV6oSd7pc8V0lOLtcyS3iIWJiZ5Pw9mqRRs7jDYA/w640-h422/KESADARAN%20SITUASIONAL_20250606_204009_0000.png&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;Beberapa Definisi&amp;nbsp;&lt;span face=&quot;Aptos, sans-serif&quot; style=&quot;font-size: 11pt; line-height: 15.6933px;&quot;&gt;Kesadaran Situasional (&lt;i&gt;Situational Awareness&lt;/i&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;&lt;span face=&quot;Aptos, sans-serif&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 14.6667px;&quot;&gt;&quot;Situational awareness is an abstraction that exists within our minds,&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span face=&quot;Aptos, sans-serif&quot; style=&quot;font-size: 14.6667px;&quot;&gt;describing phenomena that we observe in humans performing work in a&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span face=&quot;Aptos, sans-serif&quot; style=&quot;font-size: 14.6667px;&quot;&gt;rich and usually dynamic environment.”- (&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span face=&quot;Aptos, sans-serif&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 14.6667px;&quot;&gt;&lt;i&gt;Billings, C.E. 1995)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span face=&quot;Aptos, sans-serif&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 14.6667px;&quot;&gt;&lt;i&gt;“Situational awareness is the ability to identify, process, and&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;font-family: Aptos, sans-serif; font-size: 14.6667px;&quot;&gt;comprehend the critical elements of information about what is&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;i style=&quot;font-family: Aptos, sans-serif; font-size: 14.6667px;&quot;&gt;happening to the team with regards to the mission. More simply it’s&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;i style=&quot;font-family: Aptos, sans-serif; font-size: 14.6667px;&quot;&gt;knowing what is going on around you.(&lt;/i&gt;&lt;i style=&quot;font-family: Aptos, sans-serif; font-size: 14.6667px;&quot;&gt;USCG.1998)&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span face=&quot;Aptos, sans-serif&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 14.6667px;&quot;&gt;&lt;i&gt;“Situational awareness is being aware of everything that is happening&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;font-family: Aptos, sans-serif; font-size: 14.6667px;&quot;&gt;around oneself and the relative importance of everything observed a&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;i style=&quot;font-family: Aptos, sans-serif; font-size: 14.6667px;&quot;&gt;constantly evolving picture of the state of the environment.” (&lt;/i&gt;&lt;i style=&quot;font-family: Aptos, sans-serif; font-size: 14.6667px;&quot;&gt;Harrald, J., and Jefferson, T. 2007)&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;Secara umum Kesadaran Situasional juga bisa diartikan sebagai kondisi dimana kita tahu apa yang sedang terjadi di sekitar kita, di mana kita berada, seharusnya berada di mana, dan apakah ada hal atau orang di sekitar yang bisa membahayakan kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan, pengalaman, dan pembelajaran kita membantu kita memahami situasi di sekitar dan menilai apakah itu aman. Karena setiap orang punya pengalaman dan pengetahuan yang berbeda, maka kesadaran situasional tiap orang juga bisa berbeda.&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Beberapa contoh kasus yang dipengaruhi oleh terganggunya atau hilangnya kesadaran situasional&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;ol style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Pilot salah menyalin izin ATC dan tidak membacakannya kembali (read-back), dan petugas ATC gagal menangkap kelalaian tersebut. Akibatnya, pesawat naik ke ketinggian yang tidak diizinkan, menyebabkan pelanggaran ketinggian (level bust). Contoh: &lt;a href=&quot;https://skybrary.aero/index.php/C525_/_B773,_vicinity_London_City_UK,_2009&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;C525 / B773, dekat London City, Inggris, 2009&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Saat beriringan dengan unit truk lain di jalan raya, Pengemudi tidak fokus melihat ke depan, pengemudi melihat ke sisi sebelah kanan tanpa menyadari bahwa unit truk yang ada di depannya mengurangi kecepatan. Terjadilah kecelakaan dimana truk menabrak bak unit yang ada di depannya.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;h4 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;b&gt;Perkembangan Teknologi vs Kesadaran Situasional&lt;/b&gt;&lt;/h4&gt;&lt;div&gt;Perkembangan teknologi memiliki pengaruh besar terhadap kesadaran situasional dalam konteks keselamatan kerja—baik secara positif maupun negatif. Berikut ini penjelasan lengkapnya:&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif; font-size: 13.5pt;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;, serif; font-size: 13.5pt;&quot;&gt;Pengaruh
Positif Teknologi terhadap Kesadaran Situasional&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Peningkatan Pemantauan Real-Time&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;

 &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote style=&quot;border: none; margin: 0px 0px 0px 40px; padding: 0px;&quot;&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Teknologi seperti sensor IoT, kamera CCTV, dan wearable devices memungkinkan pemantauan lingkungan kerja secara langsung, membantu mendeteksi potensi bahaya lebih awal.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Sistem Peringatan Dini (Early Warning System)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote style=&quot;border: none; margin: 0px 0px 0px 40px; padding: 0px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Alarm otomatis, detektor gas, atau sistem peringatan visual/auditori membantu pekerja segera menyadari adanya perubahan situasi berbahaya, bahkan sebelum mereka menyadarinya secara langsung.&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Simulasi &amp;amp; Pelatihan Virtual (VR/AR)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote style=&quot;border: none; margin: 0px 0px 0px 40px; padding: 0px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt; Pelatihan berbasis virtual reality (VR) atau augmented reality (AR) memberikan pengalaman imersif bagi pekerja untuk menghadapi situasi berisiko tinggi secara aman, sehingga meningkatkan kesadaran dan respons mereka terhadap risiko nyata.&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Penggunaan Dashboard Keselamatan dan Data Analytics&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote style=&quot;border: none; margin: 0px 0px 0px 40px; padding: 0px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt; Sistem analitik memberikan informasi berbasis data tentang tren kecelakaan, area berisiko, dan kondisi kerja. Ini meningkatkan kesadaran organisasi dan individu terhadap apa yang perlu diwaspadai.&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Komunikasi Lebih Cepat dan Efektif&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote style=&quot;border: none; margin: 0px 0px 0px 40px; padding: 0px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt; Teknologi komunikasi (radio, mobile apps, push notifications) memudahkan pekerja berbagi informasi penting dengan cepat, menjaga kesadaran tim secara kolektif.&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;Pengaruh Negatif Teknologi terhadap Kesadaran Situasional&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Over-reliance (Ketergantungan Berlebihan)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote style=&quot;border: none; margin: 0px 0px 0px 40px; padding: 0px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt; Ketika pekerja terlalu mengandalkan alat otomatis, mereka bisa kehilangan kewaspadaan pribadi karena merasa &quot;sudah ada sistem yang menjaga.&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Distraksi dari Gadget atau Sistem&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote style=&quot;border: none; margin: 0px 0px 0px 40px; padding: 0px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt; Penggunaan perangkat digital seperti ponsel atau tablet bisa menyebabkan distraksi, terutama jika digunakan di luar konteks pekerjaan.&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Kurangnya Pemahaman terhadap Sistem&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote style=&quot;border: none; margin: 0px 0px 0px 40px; padding: 0px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt; Jika teknologi tidak disosialisasikan dengan baik, bisa terjadi kesalahpahaman atau kepercayaan yang salah terhadap kemampuan sistem, yang akhirnya menurunkan kesadaran situasional.&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div&gt;&lt;ol start=&quot;1&quot; type=&quot;1&quot;&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;Teknik SLAM: Teknik Cepat untuk Menjaga Kesadaran Situasional&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Stop, Look, Assess, Manage (SLAM) adalah teknik cepat yang dapat Anda gunakan saat menghadapi situasi yang membutuhkan tindakan segera, agar Anda tetap menjaga kesadaran situasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tahap 1: Stop dan lihat tugasnya &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Apakah tugasnya berubah? &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Apakah saya familiar dengan tugas ini? &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Apakah saya merasa nyaman melaksanakan tugas ini? &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;b&gt;Tahap 2: Lihat lingkungan sekitar &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Periksa potensi bahaya. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Identifikasi bahaya dan risiko yang berkaitan pada setiap tahap proses. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hilangkan atau kurangi risiko dari bahaya yang telah diidentifikasi. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;b&gt;Tahap 3: Nilai dampak dari bahaya &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Apakah rekan kerja saya kompeten? &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Apakah mereka familiar dengan tugas ini? &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Apakah saya membutuhkan sesuatu untuk menyelesaikan tugas ini dengan aman? &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;b&gt;Tahap 4: Kelola situasinya &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Apakah ada hal tak terduga yang terjadi? &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bagaimana saya bisa lebih siap di masa mendatang?&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div&gt;Demikian pembahasan singkat mengenai kesadaran situasional (situational awareness), yang perlu dipahami bahwa kesadaran situasional sangat berperan besar terhadap keselamatan dan kesehatan kerja. Kehilangan kesadaran situasional dapat mengakibatkan pekerja mengalami kecelakaan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jika ada pertanyaan bisa dikolom komentar atau bisa juga ke Instagram&lt;a href=&quot;https://www.instagram.com/@darmawans_setiawan&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt; @darmawans_setiawan&lt;/a&gt;, jangan lupa juga Subscribe Channel Youtube &quot;&lt;a href=&quot;https://youtube.com/@tanyasafety?si=qE2d5ZxpboggCo1E&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Tanya Safety&lt;/a&gt;&quot; untuk mendukung kami..terima kasih&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.darmawansaputra.com/feeds/5000328136026903072/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/2025/06/kesadaran-situasional-adalah-situational-awareness.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default/5000328136026903072'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default/5000328136026903072'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/2025/06/kesadaran-situasional-adalah-situational-awareness.html' title='Kesadaran Situasional Benteng Terakhir Pengendalian Terhadap Kecelakaan'/><author><name>Darmawan Saputra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17849717183874773210</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjlPx9pCEdz6RPYkPOwbtZ3tYdlxMTP7JsZxxRbCP0OaCaoDKrRUmO5BcxljHxtMEg5fhUXS3ujCbX_O3-iSDPFnVYRpktmLdQRvMkLL5P80SBiq-33kDVrviWFqL6mPuzEvX0YkzDdcBLOpj5mWwWu3gmbYsUO8JAjunEKdcoLyht8sw/s220/Picture1.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiTSURWYLQ9L38JnHL5InsZRK3ICUjnDVowN1aYVyLuK7Vf7twoP_SPQeTbrRsmWG68YDnAfgh4BjKhPhGNoRqzeNtAKfmJJD-l9Y4p6bV5DFj8J9UoqZvIXEiMczCtxw7T6Zvm54frW6a6jr3kWc6zV6oSd7pc8V0lOLtcyS3iIWJiZ5Pw9mqRRs7jDYA/s72-w640-h422-c/KESADARAN%20SITUASIONAL_20250606_204009_0000.png" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1618947400959277823.post-2059564763906495006</id><published>2025-05-31T09:14:00.001+08:00</published><updated>2025-05-31T09:14:15.252+08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Contoh bahan Safety Talk"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Materi Safety Talk"/><title type='text'>Safety Talk - Konsep Takdir dan Ikhtiar Dalam K3 terkait Kelelahan Kerja</title><content type='html'>&lt;p&gt;Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh..&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selamat pagi, teman-teman semua.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hari ini saya ingin berbagi tentang sebuah kejadian yang sangat menyentuh—kecelakaan yang terjadi baru-baru ini karena pengemudi mengantuk. Mobil oleng, menabrak pembatas jalan, dan akhirnya menimbulkan korban. Bukan hanya kerugian materi, tapi juga kehilangan nyawa. Na&#39;udzubillah.&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjnmHDKXfBQypaQ44eedBkR-vy3uXalaLTEW_N7KmKQtyl7Pucz7obCDn6BcessInHnXza8Ge3Kux-bkxbOOe1y9nbvaVCwooGbbBtDFgWg2zgPV1B97VbaRcYvVsDVS0Ic6ZR4AN8f2YtzxRpGU9DG8r3NAbK4e_d0Bzz-EFjZN5egRarwWHT8kXUMB_0/s1280/audit-2823174_1280.png&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Materi safety talk tentang fatigue, bahan safety talk, materi briefing safety talk, materi toolbox pagi&quot; border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;1280&quot; data-original-width=&quot;1280&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjnmHDKXfBQypaQ44eedBkR-vy3uXalaLTEW_N7KmKQtyl7Pucz7obCDn6BcessInHnXza8Ge3Kux-bkxbOOe1y9nbvaVCwooGbbBtDFgWg2zgPV1B97VbaRcYvVsDVS0Ic6ZR4AN8f2YtzxRpGU9DG8r3NAbK4e_d0Bzz-EFjZN5egRarwWHT8kXUMB_0/w400-h400/audit-2823174_1280.png&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mari kita sama-sama renungkan sejenak…&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;Mengemudi: Amanah yang Berat&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setiap kali kita duduk di balik kemudi, kita memegang amanah besar. Di dalam kendaraan bukan cuma kita, ada nyawa orang lain. Bisa penumpang, bisa pengguna jalan lain. Setiap keputusan kita—termasuk soal istirahat—berdampak besar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;Ngantuk Bukan Hal Sepele&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ngantuk itu bukan sekadar “nanti hilang juga”, tapi tanda tubuh kita butuh istirahat. Otak melambat, mata menutup tanpa kita sadari. Bahkan 3 detik saja bisa membuat nyawa melayang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jangan menunggu celaka dulu baru sadar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kelelahan bisa lebih mematikan daripada rem blong&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;Ikhtiar dan Takdir&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebagian orang berkata:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&quot;Kalau sudah takdir, ya pasti terjadi...&quot;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Benar. Tapi takdir itu bukan alasan untuk lalai.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Takdir datang setelah kita berikhtiar sepenuh hati.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;🚫 Kalau kita tahu tubuh lelah tapi tetap memaksakan nyetir,&lt;/p&gt;&lt;p&gt;🚫 Kalau kita abaikan tidur hanya demi kejar waktu,&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Maka kita tidak sedang pasrah pada takdir, tapi kita sedang menjemput musibah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;Jaga Jam Istirahat = Jaga Nyawa&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;1. Tidur cukup sebelum perjalanan – minimal 6 jam.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;2. Berani izin untuk istirahat saat mengantuk, meski hanya 15 menit.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;3. Jangan paksakan mengejar waktu atau produksi kalau kondisi tidak memungkinkan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;4. Laporkan kepada atasan jika merasa tidak fit mengemudi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ingat:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;⛔ Mobil bisa diganti.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;⛔ Barang bisa dicari lagi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;✅ Tapi nyawa? Tidak ada gantinya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hari ini, mari kita jadikan setiap perjalanan sebagai bentuk ibadah dan amanah. Mari kita saling mengingatkan. Jangan malu untuk berkata, “Saya ngantuk, saya butuh istirahat.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lebih baik berhenti sebentar, daripada tidak pernah sampai.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lebih baik pulang terlambat, daripada tidak pulang sama sekali.&lt;/p&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.darmawansaputra.com/feeds/2059564763906495006/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/2025/05/safety-talk-konsep-takdir-dan-ikhtiar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default/2059564763906495006'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default/2059564763906495006'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/2025/05/safety-talk-konsep-takdir-dan-ikhtiar.html' title='Safety Talk - Konsep Takdir dan Ikhtiar Dalam K3 terkait Kelelahan Kerja'/><author><name>Darmawan Saputra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17849717183874773210</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjlPx9pCEdz6RPYkPOwbtZ3tYdlxMTP7JsZxxRbCP0OaCaoDKrRUmO5BcxljHxtMEg5fhUXS3ujCbX_O3-iSDPFnVYRpktmLdQRvMkLL5P80SBiq-33kDVrviWFqL6mPuzEvX0YkzDdcBLOpj5mWwWu3gmbYsUO8JAjunEKdcoLyht8sw/s220/Picture1.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjnmHDKXfBQypaQ44eedBkR-vy3uXalaLTEW_N7KmKQtyl7Pucz7obCDn6BcessInHnXza8Ge3Kux-bkxbOOe1y9nbvaVCwooGbbBtDFgWg2zgPV1B97VbaRcYvVsDVS0Ic6ZR4AN8f2YtzxRpGU9DG8r3NAbK4e_d0Bzz-EFjZN5egRarwWHT8kXUMB_0/s72-w400-h400-c/audit-2823174_1280.png" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1618947400959277823.post-6964906629873362315</id><published>2025-05-22T17:16:00.003+08:00</published><updated>2025-05-27T21:21:23.948+08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Prosedur Kerja Yang Benar"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Safety"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Safety and health"/><title type='text'>Prosedur Keselamatan Itu Selalu Kurang, Tapi Penting Untuk Dibuat</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Kualitas Prosedur K3 -&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&amp;nbsp;Sejauh ini temuan terkait prosedur kerja sering masuk menjadi penyebab kecelakaan, apakah karena prosedurnya tidak tersedia, prosedurnya kurang update, tidak mencantumkan aktivitas kerja tertentu, atau bahkan karena prosedur tidak dijalankan oleh pekerja. Sekarang kita akan mengadopsi perspektif teori kontrol dan mempertimbangkan efektivitas prosedur keselamatan. Dari contoh ketidaksesuaian tadi maka bisa kita kelompokkan ada tiga kemungkinan kondisi terkait prosedur kerja yaitu: prosedur yang baik, prosedur yang buruk, atau prosedur yang tidak ada (tidak ada aturan sama sekali).&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEibo_lzWy2m0hT9BaRLhnDhdj_CcS2q1eLq3efjH8hqKcBL6s4ve0275CQmFTfm7GINvcJqi-_WmHES5QwG24ywntOmyGlbbdAwtGw4Aj4Tx-Xo7SAGyYmk8UHCfDCmKwo4wIiCLTzOI3TLAoG8qdw2d1IbDYuG76WFERI0CaVPt415wuQ7Rx6ev9hEgCE/s1280/PROSEDUR%20K3%20SELALU%20KURANG%20!_20250522_170958_0000.png&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Bagaimana prosedur yang baik itu, prosedur kerja itu apa, bagaimana menyusun prosedur, SOP yang benar itu bagaimana, prosedur kerja, prosedur k3, prosedur keselamatan&quot; border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;853&quot; data-original-width=&quot;1280&quot; height=&quot;266&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEibo_lzWy2m0hT9BaRLhnDhdj_CcS2q1eLq3efjH8hqKcBL6s4ve0275CQmFTfm7GINvcJqi-_WmHES5QwG24ywntOmyGlbbdAwtGw4Aj4Tx-Xo7SAGyYmk8UHCfDCmKwo4wIiCLTzOI3TLAoG8qdw2d1IbDYuG76WFERI0CaVPt415wuQ7Rx6ev9hEgCE/w400-h266/PROSEDUR%20K3%20SELALU%20KURANG%20!_20250522_170958_0000.png&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;h4 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Bagaimana Prosedur yang Baik ?&lt;/h4&gt;&lt;p&gt;Di sini yang dimaksud prosedur yang ‘baik’ berarti baik secara kebenaran maupun dalam mencakup langkah dalam aktivitas. Sedangkan aturan atau prosedur yang buruk adalah yang tidak sesuai dengan keadaan tertentu, tidak benar, atau keduanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Berbeda dengan prosedur yang mengatur aktivitas produksi, prosedur yang dibuat untuk menjamin keselamatan kerja sering kekurangan keragaman skenario yang diperlukan. Seberapa banyak skenario langkah kerja aman yang kita buat akan selalu lebih sedikit dibandingkan variasi situasi tidak aman yang mungkin terjadi.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kita bisa menggambarkan masalah ini dengan contoh sederhana di rumah tangga. Prosedur untuk membuat makanan misalnya, bisa dijelaskan hanya dalam beberapa kalimat. Tapi prosedur yang diperlukan untuk menjamin bahwa tugas membuat makanan ini dilakukan dengan benar-benar aman bisa sampai beberapa lembar, dan bahkan sudah panjang pun masih kecil kemungkinannya semua potensi bahaya dan skenario kecelakaan bisa tercakup.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tentu saja, kita bisa memperkirakan beberapa bahaya yang mungkin terjadi (bakteri berbahaya, pisau tajam, air panas, sengatan listrik, gas mudah terbakar atau beracun, dan sebagainya), dan berusaha mengatur perilaku juru masak kita agar aman terhadap bahaya-bahaya tersebut. Inilah yang juga coba dilakukan oleh organisasi dalam menghadapi bahaya operasional tertentu. Namun tidak mungkin semua kombinasi bahaya dan skenario kecelakaan terkait dapat diprediksi.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada dasarnya, perilaku yang sepenuhnya aman tidak bisa dikendalikan hanya melalui petunjuk langsung (prosedur). Akan selalu ada situasi yang tidak tercakup oleh prosedur, atau di mana aturan yang ada tidak berlaku secara lokal (pekerjaan tertentu). Dengan kata lain, akan selalu ada situasi dengan “prosedur buruk” dan situasi tanpa aturan sama sekali.&lt;/p&gt;&lt;h4 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Apakah Prosedur Masih Perlu Dibuat?&lt;/h4&gt;&lt;p&gt;Namun, hal ini tentu tidak berarti bahwa organisasi harus menyerah dalam upaya merumuskan aturan keselamatan. Aturan semacam itu tidak hanya penting untuk membimbing perilaku aman terhadap bahaya yang sudah dikenali dan dipahami, tapi juga merupakan catatan penting dari pembelajaran organisasi tentang bahaya operasionalnya. Karena manusia berubah lebih cepat daripada pekerjaan, catatan ini sangat penting untuk menyebarkan pengetahuan keselamatan ke seluruh lini organisasi. Tetapi, masalah keragaman yang dibutuhkan berarti bahwa kumpulan prosedur operasi yang aman ini tidak akan pernah sepenuhnya lengkap maupun berlaku secara universal.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Demikian artikel tentang prosedur Keselamatan dan Kesehatan Kerja, prosedur kerja masih sangat perlu untuk dibuat, namun jangan terlalu menggantungkan prosedur sebagai salah satu barier pengendalian untuk tetap selamat, kondisi pekerjaan sangat kompleks dan banyak ketidakpastian yang bisa muncul yang bisa jadi tidak mampu diatur oleh prosedur. Perlu juga ditingkatkan kegesitan (agility) dalam menghadapi kondisi yang kompleks tersebut. Jika ada pertanyaan bisa dikolom komentar atau bisa juga ke Instagram&lt;a href=&quot;https://www.instagram.com/darmawans_setiawan&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt; @darmawans_setiawan&lt;/a&gt;, jangan lupa juga Subscribe Channel Youtube &quot;&lt;a href=&quot;https://youtube.com/@tanyasafety&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Tanya Safety&lt;/a&gt;&quot; untuk mendukung kami..terima kasih&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Referensi:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Reason, J. Managing The Risk of Organizational Accidents. 1997&lt;/li&gt;&lt;li&gt;https://taproot.com/good-procedure-evaluating-procedures/&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.darmawansaputra.com/feeds/6964906629873362315/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/2025/05/contoh-prosedur-kerja-menurut-ahli.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default/6964906629873362315'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default/6964906629873362315'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/2025/05/contoh-prosedur-kerja-menurut-ahli.html' title='Prosedur Keselamatan Itu Selalu Kurang, Tapi Penting Untuk Dibuat'/><author><name>Darmawan Saputra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17849717183874773210</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjlPx9pCEdz6RPYkPOwbtZ3tYdlxMTP7JsZxxRbCP0OaCaoDKrRUmO5BcxljHxtMEg5fhUXS3ujCbX_O3-iSDPFnVYRpktmLdQRvMkLL5P80SBiq-33kDVrviWFqL6mPuzEvX0YkzDdcBLOpj5mWwWu3gmbYsUO8JAjunEKdcoLyht8sw/s220/Picture1.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEibo_lzWy2m0hT9BaRLhnDhdj_CcS2q1eLq3efjH8hqKcBL6s4ve0275CQmFTfm7GINvcJqi-_WmHES5QwG24ywntOmyGlbbdAwtGw4Aj4Tx-Xo7SAGyYmk8UHCfDCmKwo4wIiCLTzOI3TLAoG8qdw2d1IbDYuG76WFERI0CaVPt415wuQ7Rx6ev9hEgCE/s72-w400-h266-c/PROSEDUR%20K3%20SELALU%20KURANG%20!_20250522_170958_0000.png" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1618947400959277823.post-3385500273365163683</id><published>2025-05-19T17:37:00.004+08:00</published><updated>2025-06-10T06:02:45.605+08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Investigasi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Safety"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Safety and health"/><title type='text'>Awas Rekomendasi Investigasi Bisa Menyebabkan Kecelakaan Juga</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Investigasi Kecelakaan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; - Seorang Penyelidik kecelakaan (investigator) tidak hanya ditugaskan untuk menentukan penyebab suatu kejadian, tetapi juga untuk merekomendasikan tindakan pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Seringkali, tindakan pencegahan ini berbentuk “perbaikan” teknis atau perbaikan aturan (prosedur) yang dirancang untuk mengatasi masalah tertentu atau kelemahan sistemik yang menonjol di antara faktor penyebab. Sayangnya, “perbaikan” yang sama ini terkadang justru bisa memainkan peran besar dalam menyebabkan kecelakaan berikutnya. Dua contoh berikut akan mengilustrasikan hal ini.&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjOen_243unqkBa1fNKQlXxDypl5XNwkrh79Jv2_Psu979uBgphRuMJRrgXff2tDXFqu-31C0MyCpF8wzj8Nv9_AtaZX38aln-Niagzer_slFlEU4CBgyHHCTnlC67VN5ZlUgahICEtpv8BsRCbb5pRdz6xbyz_mnJCISxFh-q28lLaUd3yFCM6Vy2ovLA/s1280/Rekomendasi_20250519_172938_0000.png&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Cara menentukan rekomendasi investigasi, penyelidikan kecelakaan, kecelakaan tambang, bagaimana investigasi yang benar, rekomendasi kecelakaan,&quot; border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;724&quot; data-original-width=&quot;1280&quot; height=&quot;362&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjOen_243unqkBa1fNKQlXxDypl5XNwkrh79Jv2_Psu979uBgphRuMJRrgXff2tDXFqu-31C0MyCpF8wzj8Nv9_AtaZX38aln-Niagzer_slFlEU4CBgyHHCTnlC67VN5ZlUgahICEtpv8BsRCbb5pRdz6xbyz_mnJCISxFh-q28lLaUd3yFCM6Vy2ovLA/w640-h362/Rekomendasi_20250519_172938_0000.png&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;Sebelum lanjut baca juga &lt;a href=&quot;https://www.darmawansaputra.com/2025/05/Kecelakaan-Tambang-Berbasis-Risiko-SNI-7081-Tahun-2023.html?m=1&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Investigasi berbasis risiko sesuai SNI 7081 tahun 2023.&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;Contoh kasus pertama&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setelah sejumlah kecelakaan pesawat di tahun 1950-an, di mana pesawat jatuh saat lepas landas dari landasan yang berlumpur atau terkontaminasi, sebuah instrumen baru diperkenalkan di kokpit yaitu&amp;nbsp;&lt;b&gt;monitor lepas landas&lt;/b&gt;. Alat ini mengarahkan pilot untuk menyesuaikan sudut pendakian pesawat agar sesuai dengan posisi penanda target yang ditampilkan pada instrumen. Pilot mengatur kendali throttle dan elevator hingga kursor yang menunjukkan sudut pendakian pesawat saat ini berimpit dengan penanda target pada skala vertikal. Ini adalah instrumen perintah yang relatif baru, yang menghitung sudut pendakian yang sesuai untuk kondisi saat itu dan kemudian “memerintahkan” kru penerbangan untuk mencocokkannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tak lama setelah monitor lepas landas ini diperkenalkan, sebuah pesawat menerapkan sudut pendakian yang terlalu curam saat lepas landas. Karena tidak mampu mempertahankannya, pesawat stall dan jatuh kembali ke landasan. Penyelidik kecelakaan kemudian menemukan bahwa sebuah sekrup penahan kecil di dalam monitor lepas landas gagal, sehingga alat tersebut “memerintahkan” sudut pendakian yang sama sekali tidak tepat. Meskipun instrumen penerbangan lainnya masih berfungsi, para pilot tetap mengikuti indikator yang rusak tersebut. Seperti yang ditemukan di tempat lain, instrumen yang mengambil alih sebagian pemikiran pilot cenderung menarik perhatian secara berlebihan masalah ini dulu disebut sebagai “&lt;b&gt;fascination&lt;/b&gt;” meskipun ada sumber informasi alternatif di kokpit yang tersedia, walau lebih sulit diproses.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;Contoh kasus kedua&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Contoh kedua ini berasal dari peristiwa penting dalam sejarah pembangkit listrik tenaga nuklir. Pada pukul 04.00 tanggal 28 Maret 1979, turbin di salah satu dari dua reaktor air bertekanan (PWR) milik Metropolitan Edison di &lt;b&gt;Three Mile Island&lt;/b&gt; dekat Harrisburg, Pennsylvania berhenti secara otomatis. Penyebabnya adalah kebocoran sedikit air akibat segel rusak selama pemeliharaan. Kelembapan tersebut mengganggu tekanan udara yang diterapkan ke dua katup yang terhubung ke pompa air pengisi, yang kemudian secara otomatis tertutup. Aliran air ke generator uap pun terputus dan menyebabkan turbin mati. Tanpa pompa, panas dari sistem pendingin primer yang bersirkulasi melalui inti reaktor tidak dapat ditransfer ke air dalam sirkuit sekunder yang lebih dingin.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada saat itu, ratusan alarm dan indikator menyala di ruang kontrol dan pompa air darurat menyala secara otomatis. Pompa ini dirancang untuk mengambil air dari tangki penyimpanan darurat dan mengalirkannya melalui sistem pendingin sekunder untuk menggantikan air yang menguap saat tidak bersirkulasi. Keadaan darurat ini berlangsung selama 16 jam dan mengakibatkan pelepasan sejumlah kecil material radioaktif ke atmosfer sekitar. Para operator yang bertugas saat itu membuat beberapa kesalahan yang telah terdokumentasi dengan baik, namun yang paling relevan dalam konteks ini adalah &lt;b&gt;pengurangan tekanan tinggi dari suntikan air ke sistem pendingin reaktor&lt;/b&gt;, dari sekitar 1000 galon per menit menjadi sekitar 25 galon per menit. Pengurangan ini menyebabkan kerusakan serius pada inti reaktor. Kita tidak perlu membahas alasan di balik tindakan ini—hal itu sudah banyak dibahas. Yang penting di sini adalah tindakan yang diambil oleh &lt;b&gt;Komisi Regulasi Nuklir AS &lt;/b&gt;(US NRC) untuk mencegah terulangnya langkah tersebut di masa depan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setelah insiden Three Mile Island (TMI), regulator nuklir AS mewajibkan bahwa operator tidak boleh mengurangi suntikan tekanan tinggi selama tahap pemulihan dari kejadian tidak normal. Namun, tiga tahun kemudian, kru ruang kontrol di PWR lain, kali ini di Ginna, menghadapi situasi darurat di mana &lt;b&gt;mengurangi suntikan tekanan tinggi sebenarnya merupakan langkah yang tepat&lt;/b&gt;. Karena menyadari larangan regulasi pasca-TMI, mereka tidak melakukannya, yang justru memperpanjang keadaan darurat selama beberapa jam.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kedua contoh ini menunjukkan bahaya yang bisa timbul dari upaya “masuk akal” untuk memperbaiki penyebab kecelakaan sebelumnya. Ada dua masalah utama:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;1. &lt;b&gt;Seperti yang ditunjukkan kasus monitor lepas landas&lt;/b&gt;, memperkenalkan fitur pertahanan teknis baru menambah kompleksitas sistem dan menambah komponen yang juga dapat gagal. Selain itu, upaya untuk menjauhkan pilot dari kendali langsung dapat menciptakan bentuk kesalahan manusia yang tak terduga.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;2. &lt;b&gt;Seperti yang ditunjukkan dalam kejadian Ginna&lt;/b&gt;, regulator maupun perancang sistem tidak dapat meramalkan semua kemungkinan skenario kegagalan dalam sistem yang kompleks, saling terkait, dan sangat responsif seperti pembangkit listrik tenaga nuklir. Oleh karena itu, mereka tidak dapat secara universal melarang jenis respons manusia tertentu. Apa yang terbukti sebagai kesalahan dalam kejadian TMI ternyata menjadi langkah penting di Ginna.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pelajaran yang bisa diambil dari kedua kasus kecelakaan di atas bahwa dalam menentukan rekomendasi kecelakaan perlu juga diidentifikasi risiko ikutannya atau risiko baru yang mungkin muncul dari rekomendasi tersebut. Jika ada perubahan secara teknis, proses, atau bahkan perubahan struktur organisasi maka perlu dibuat pengelolaan perubahan (management of change). Perubahan prosedur atau aturan lainnya juga perlu pertimbangan risiko lain dari masalah umum regulasi dan prosedur yaitu bahwa aturan-aturan ini tidak ada pernah mampu mengakomodir semua kondisi lokal pekerjaan karena setiap aktivitas memiliki kompleksitas berbeda.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Referensi:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Reason, J. Managing The Risk of Organizational Accidents. 1997&lt;/li&gt;&lt;li&gt;https://en.m.wikipedia.org/wiki/Three_Mile_Island:_Thirty_Minutes_to_Meltdown&lt;/li&gt;&lt;li&gt;https://www.nrc.gov/reading-rm/doc-collections/fact-sheets/3mile-isle.html&lt;/li&gt;&lt;li&gt;https://en.m.wikipedia.org/wiki/R._E._Ginna_Nuclear_Power_Plant&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.darmawansaputra.com/feeds/3385500273365163683/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/2025/05/menentukan-rekomendasi-investigasi-yang-baik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default/3385500273365163683'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default/3385500273365163683'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/2025/05/menentukan-rekomendasi-investigasi-yang-baik.html' title='Awas Rekomendasi Investigasi Bisa Menyebabkan Kecelakaan Juga'/><author><name>Darmawan Saputra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17849717183874773210</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjlPx9pCEdz6RPYkPOwbtZ3tYdlxMTP7JsZxxRbCP0OaCaoDKrRUmO5BcxljHxtMEg5fhUXS3ujCbX_O3-iSDPFnVYRpktmLdQRvMkLL5P80SBiq-33kDVrviWFqL6mPuzEvX0YkzDdcBLOpj5mWwWu3gmbYsUO8JAjunEKdcoLyht8sw/s220/Picture1.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjOen_243unqkBa1fNKQlXxDypl5XNwkrh79Jv2_Psu979uBgphRuMJRrgXff2tDXFqu-31C0MyCpF8wzj8Nv9_AtaZX38aln-Niagzer_slFlEU4CBgyHHCTnlC67VN5ZlUgahICEtpv8BsRCbb5pRdz6xbyz_mnJCISxFh-q28lLaUd3yFCM6Vy2ovLA/s72-w640-h362-c/Rekomendasi_20250519_172938_0000.png" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1618947400959277823.post-6698310775741086397</id><published>2025-05-17T13:31:00.000+08:00</published><updated>2025-05-17T13:31:00.725+08:00</updated><title type='text'>Permenaker 11 tahun 2023 Tentang Persyaratan K3 Ruang Terbatas</title><content type='html'>&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;color: #212121; font-family: Aptos, sans-serif; font-size: 11pt; margin: 0cm;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Confined Space&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; - Ruang Terbatas adalah ruangan yang cukup luas dan memiliki konfigurasi sedemikian rupa sehingga pekerja dapat masuk dan melakukan pekerjaan di dalamnya, mempunyai akses keluar masuk yang terbatas dan tidak dirancang untuk bekerja secara berkelanjutan atau terus-menerus di dalamnya.&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;color: #212121; font-family: Aptos, sans-serif; font-size: 11pt; margin: 0cm;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;color: #212121; font-family: Aptos, sans-serif; font-size: 11pt; margin: 0cm;&quot;&gt;Selama pekerja bisa masuk dan dapat melakukan pekerjaan maka masuk ruang terbatas.&amp;nbsp;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt;&quot;&gt;Pada pasal 2 pengusaha diminta untuk merapkan syarat K3 di ruang terbatas&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;color: #212121; font-family: Aptos, sans-serif; font-size: 11pt; margin: 0cm;&quot;&gt;“Pengusaha dan/atau Pengurus yang melaksanakan pekerjaan pada Ruang Terbatas wajib menerapkan syarat K3 di Ruang Terbatas”.&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;color: #212121; font-family: Aptos, sans-serif; font-size: 11pt; margin: 0cm;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgc1nLE8HjNdQWF4GpX_lodJobUOR77TBUikvqtOT76yD8QYz8H13e_dXz1RyM_PdbWihxu8iwzIWlxyIUDNKE2BMy4eY3Xy4yMPOsr_GoTRTO7djIZYw3_c0RPlkvV0Q0zTVAlBATn6fRCGmZ8ixG_HLDyIIDfRawv33BvPdu4v2kq8XYo4UCiPUXMhbE/s1280/Ruang%20Terbatas_20250517_070830_0000.png&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Regulasi ruang terbatas, peraturan confined space, kompetensi personil confined space, persyaratan K3 ruang terbatas&quot; border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;1280&quot; data-original-width=&quot;1280&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgc1nLE8HjNdQWF4GpX_lodJobUOR77TBUikvqtOT76yD8QYz8H13e_dXz1RyM_PdbWihxu8iwzIWlxyIUDNKE2BMy4eY3Xy4yMPOsr_GoTRTO7djIZYw3_c0RPlkvV0Q0zTVAlBATn6fRCGmZ8ixG_HLDyIIDfRawv33BvPdu4v2kq8XYo4UCiPUXMhbE/w400-h400/Ruang%20Terbatas_20250517_070830_0000.png&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;color: #212121; font-family: Aptos, sans-serif; font-size: 11pt; margin: 0cm;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;color: #212121; font-family: Aptos, sans-serif; font-size: 11pt; margin: 0cm;&quot;&gt;Apa saja yang termasuk dalam Ruang Terbatas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 permenaker 11 tahun 2023?&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;color: #212121; font-family: Aptos, sans-serif; font-size: 11pt; margin: 0cm;&quot;&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;tangki dan/atau bejana, pesawat uap, dapur/tanur, silo, cerobong;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;jaringan perpipaan, terowongan, dan konstruksi bawah tanah lainnya yang serupa;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;sumur atau lubang yang memiliki bukaan di bagian atasnya, baik alamiah ataupun buatan yang melebihi kedalaman 1,5 (satu koma lima) meter; dan/atau&lt;/li&gt;&lt;li&gt;ruangan lainnya yang ditentukan sebagai Ruang Terbatas oleh Pengurus dan/atau Pengusaha.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;color: #212121; font-family: Aptos, sans-serif; font-size: 11pt; margin: 0cm;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt;&quot;&gt;Syarat K3 diterapkan pada pekerjaan pemeriksaan dan pengujian, pemeliharaan/perawatan, perbaikan, dan penyelamatan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;color: #212121; font-family: Aptos, sans-serif; font-size: 11pt; margin: 0cm;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 11pt;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;color: #212121; font-family: Aptos, sans-serif; font-size: 11pt; margin: 0cm;&quot;&gt;Pelaksanaan syarat K3 di Ruang Terbatas yang dimaksud meliputi:&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;color: #212121; font-family: Aptos, sans-serif; font-size: 11pt; margin: 0cm;&quot;&gt;a. penetapan klasifikasi;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;color: #212121; font-family: Aptos, sans-serif; font-size: 11pt; margin: 0cm;&quot;&gt;b. pembatasan akses Memasuki Ruang Terbatas;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;color: #212121; font-family: Aptos, sans-serif; font-size: 11pt; margin: 0cm;&quot;&gt;c. Izin Masuk;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;color: #212121; font-family: Aptos, sans-serif; font-size: 11pt; margin: 0cm;&quot;&gt;d. prosedur kerja aman;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;color: #212121; font-family: Aptos, sans-serif; font-size: 11pt; margin: 0cm;&quot;&gt;e. peralatan dan perlengkapan; dan&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;color: #212121; font-family: Aptos, sans-serif; font-size: 11pt; margin: 0cm;&quot;&gt;f. personel K3&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;color: #212121; font-family: Aptos, sans-serif; font-size: 11pt; margin: 0cm;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;color: #212121; font-family: Aptos, sans-serif; font-size: 11pt; margin: 0cm;&quot;&gt;Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada &lt;a href=&quot;https://drive.google.com/file/d/1MY3h0wC6eVDfcFMwdsgbjLt4GuBCukSQ/view?usp=drivesdk&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Permenaker 11 tahun 2023 tentang K3 di Ruang Terbatas&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;color: #212121; font-family: Aptos, sans-serif; font-size: 11pt; margin: 0cm;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;color: #212121; font-family: Aptos, sans-serif; font-size: 11pt; margin: 0cm;&quot;&gt;Jika ada pertanyaan bisa dikolom komentar atau bisa juga ke Instagram &lt;a href=&quot;https://www.instagram.com/darmawans_setiawan/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;@darmawans_setiawan&lt;/a&gt;, jangan lupa juga Subscribe Channel Youtube &quot;&lt;a href=&quot;https://youtube.com/@tanyasafety?si=Wubjz4GOxYKgw2ql&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Tanya Safety&lt;/a&gt;&quot; untuk mendukung kami..terima kasih&lt;/p&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.darmawansaputra.com/feeds/6698310775741086397/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/2025/05/permenaker-11-tahun-2023-tentang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default/6698310775741086397'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default/6698310775741086397'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/2025/05/permenaker-11-tahun-2023-tentang.html' title='Permenaker 11 tahun 2023 Tentang Persyaratan K3 Ruang Terbatas'/><author><name>Darmawan Saputra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17849717183874773210</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjlPx9pCEdz6RPYkPOwbtZ3tYdlxMTP7JsZxxRbCP0OaCaoDKrRUmO5BcxljHxtMEg5fhUXS3ujCbX_O3-iSDPFnVYRpktmLdQRvMkLL5P80SBiq-33kDVrviWFqL6mPuzEvX0YkzDdcBLOpj5mWwWu3gmbYsUO8JAjunEKdcoLyht8sw/s220/Picture1.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgc1nLE8HjNdQWF4GpX_lodJobUOR77TBUikvqtOT76yD8QYz8H13e_dXz1RyM_PdbWihxu8iwzIWlxyIUDNKE2BMy4eY3Xy4yMPOsr_GoTRTO7djIZYw3_c0RPlkvV0Q0zTVAlBATn6fRCGmZ8ixG_HLDyIIDfRawv33BvPdu4v2kq8XYo4UCiPUXMhbE/s72-w400-h400-c/Ruang%20Terbatas_20250517_070830_0000.png" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1618947400959277823.post-5196398658817509898</id><published>2025-05-15T22:28:00.001+08:00</published><updated>2025-06-14T14:15:14.365+08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="human error"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="human factors"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Safety"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Safety and health"/><title type='text'>Benarkah Human Factors (Faktor Manusia) Menjadi Penyebab Insiden Terbanyak di Tempat Kerja?</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Human Factors&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; - Di dunia kerja sebagian besar atau boleh dibilang semua sektor industri sangat bergantung pada manusia. Manusia yang merancang, membangun, mengoperasikan, memelihara, mengelola, dan melindungi bahaya-bahaya dari teknologi yang digunakan. Maka tidak mengherankan jika faktor manusia memainkan peran utama, baik dalam menyebabkan maupun mencegah kecelakaan dalam suatu organisasi.&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhQ3nBh0FmSesejLjMSZ-T-hXdvOaAOAk0K9QpU8ot47vP3w_qE6OT082ddWqWpTxT_AmvviagQ2hH2lBRl8R-V6dpH1jSL4YRqs4ZckPqi0MQS6ksEa47J07qhroM69DeXq0Kt1vKO1oiU-oKwHaSde9SY0Q5LCTuqE_OwHls8RYK0I9QpMl7DWmWYwjs/s1280/Cheers_20250515_213024_0000.png&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Apa itu Human factor, seberapa besar pengaruh human factor, human error dalam kecelakaan, teori human factor, apa saja human factor&quot; border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;720&quot; data-original-width=&quot;1280&quot; height=&quot;360&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhQ3nBh0FmSesejLjMSZ-T-hXdvOaAOAk0K9QpU8ot47vP3w_qE6OT082ddWqWpTxT_AmvviagQ2hH2lBRl8R-V6dpH1jSL4YRqs4ZckPqi0MQS6ksEa47J07qhroM69DeXq0Kt1vKO1oiU-oKwHaSde9SY0Q5LCTuqE_OwHls8RYK0I9QpMl7DWmWYwjs/w640-h360/Cheers_20250515_213024_0000.png&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Artikel ini akan membahas tentang bagaimana sebenarnya kontribusi manusia terhadap keselamatan.&lt;/p&gt;&lt;h4 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Faktor Manusia Berkontribusi Besar&lt;/h4&gt;&lt;p&gt;Sering kita dengar atau kita juga salah satu yang percaya pernyataan bahwa kesalahan atau kegagalan manusia menyumbang sebesar 80-90 persen dari semua kecelakaan yang terjadi. Meskipun kemungkinan besar pernyataan ini memang mendekati kebenaran karena yang dijelaskan di atas bahwa manusia ada dalam setiap proses industri. Namun pemahaman ini sebenarnya tidak banyak membantu dalam menjelaskan bagaimana dan mengapa kecelakaan dalam organisasi bisa terjadi.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ada beberapa alasan, yang pertama, hal tersebut memang hampir tidak bisa dihindari, mengingat besarnya keterlibatan manusia dalam suatu sistem, dalam sebuah organisasi, dalam setiap proses pekerjaan dari hulu sampai hilir.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kedua, istilah &#39;kesalahan atau kegagalan manusia&#39; memberikan kesan bahwa semua tindakan yang tidak aman dapat dimasukkan ke dalam satu kategori yang sama. Apapun yang berkaitan dengan tindakan manusia (&lt;i&gt;human act&lt;/i&gt;) yang berkontribusi langsung dimasukkan dalam label &quot;&lt;i&gt;Human Error&lt;/i&gt;&quot;. Padahal, kesalahan manusia atau kegagalan manusia memiliki berbagai bentuk, asal-usul psikologis yang berbeda yang melatarinya, terjadi di berbagai bagian atau level dari sistem dalam suatu organisasi, bisa dilakukan oleh pekerja di garda depan tapi bisa juga dilakukan oleh pekerja di level pengambil keputusan (manajemen).&lt;/p&gt;&lt;p data-end=&quot;469&quot; data-start=&quot;65&quot;&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;Selain &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;itu, &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;pernyataan &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;tersebut tidak menjelaskan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;bahwa &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;perilaku &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;manusia &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;dalam suatu&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;sistem&amp;nbsp; atau di pekerjaan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;jauh &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;lebih &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;dibatasi &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;dibandingkan &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;dengan &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;kehidupan &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;sehari-&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;hari. Ada aturan yang membentengi gerak gerik pekerja.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;Tindakan &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;para &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;pilot, &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;awak &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;kapal, &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;operator &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;ruang &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;kendali, mekanik, pengemudi, operator alat berat&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;dan &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;sejenisnya &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;sangat &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;dikendalikan &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;oleh &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;kontrol &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;manajerial &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;dan &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;regulasi. &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;Kontrol &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;administratif &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;ini&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;merupakan &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;bagian &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;utama &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;dari langkah pengendalian dari risiko yang sudah dilakukan identifikasi untuk mengamankan sistem (serangkaian perangkat operasional) yang dijalankan. Biasanya pengendalian yang dilakukan dibagi menjadi 2 jenis utama, yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;
&lt;/p&gt;&lt;ol data-end=&quot;888&quot; data-start=&quot;471&quot;&gt;
&lt;li data-end=&quot;763&quot; data-start=&quot;471&quot;&gt;
&lt;p data-end=&quot;763&quot; data-start=&quot;474&quot;&gt;&lt;strong data-end=&quot;495&quot; data-start=&quot;474&quot;&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;Kontrol &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;eksternal&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;yang &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;terdiri &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;dari &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;aturan, &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;regulasi, &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;dan &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;prosedur &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;yang &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;secara &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;rinci &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;menentukan &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;tindakan &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;apa &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;yang &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;boleh &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;dilakukan &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;dan &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;bagaimana &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;cara &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;melakukannya. &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;Kontrol &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;berbasis &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;dokumen &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;ini &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;mencerminkan &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;kebijaksanaan &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;kolektif &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;sistem &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;tentang &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;bagaimana &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;pekerjaan &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;seharusnya &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;dilakukan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li data-end=&quot;888&quot; data-start=&quot;765&quot;&gt;
&lt;p data-end=&quot;888&quot; data-start=&quot;768&quot;&gt;&lt;strong data-end=&quot;788&quot; data-start=&quot;768&quot;&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;Kontrol &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;internal&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;, &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;yang &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;berasal &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;dari &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;pengetahuan &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;dan &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;prinsip-&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;prinsip &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;yang &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;diperoleh &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;melalui &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;pelatihan &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;dan &lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_fadeIn_m1hgl_8&quot;&gt;pengalaman pekerja.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;Kontrol eksternal harus dituliskan dan perlu tersedia di tempat kerja atau mudah diakses saat pekerja menjalankan aktivitas pekerjaan yang telah ditentukan. Sementara itu, kontrol internal sebagian besar berada di dalam pikiran individu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jadi benar bahwa faktor manusia (&lt;i&gt;human factor&lt;/i&gt;) memang berkontribusi banyak pada penyebab terjadinya kecelakaan, namun dalam pengelompokannya perlu dibedakan mana yang dilakukan oleh pekerja garda depan dan juga mana yang dilakukan oleh pekerja di level lain yang mungkin saja pada saat keputusan atau tindakan dilakukan tidak langsung berdampak pada terjadinya kecelakaan (&lt;i&gt;latent error&lt;/i&gt;). Selain itu perlu mempertimbangkan bagaimana berbagai pengendalian di atas tadi juga mempengaruhi tindakan pekerja. Bisa jadi kontribusi pekerja di garda depan lebih kecil jika dibanding kegagalan-kegagalan organisasi tidak disadari sudah berangsur lama dan efeknya baru terasa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Referensi:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Guastello, Stephen. Human Factors Engineering and ergonomic-A system.approach. 2014&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Reason, J. Managing The Risk of Organizational Accidents. 1997&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Health and Safety Executive. Human factor : Managing human failures. https://www.hse.gov.uk/humanfactors/topics/humanfail.htm&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.darmawansaputra.com/feeds/5196398658817509898/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/2025/05/Human-faktor-penyebab-kecelakaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default/5196398658817509898'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default/5196398658817509898'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/2025/05/Human-faktor-penyebab-kecelakaan.html' title='Benarkah Human Factors (Faktor Manusia) Menjadi Penyebab Insiden Terbanyak di Tempat Kerja?'/><author><name>Darmawan Saputra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17849717183874773210</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjlPx9pCEdz6RPYkPOwbtZ3tYdlxMTP7JsZxxRbCP0OaCaoDKrRUmO5BcxljHxtMEg5fhUXS3ujCbX_O3-iSDPFnVYRpktmLdQRvMkLL5P80SBiq-33kDVrviWFqL6mPuzEvX0YkzDdcBLOpj5mWwWu3gmbYsUO8JAjunEKdcoLyht8sw/s220/Picture1.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhQ3nBh0FmSesejLjMSZ-T-hXdvOaAOAk0K9QpU8ot47vP3w_qE6OT082ddWqWpTxT_AmvviagQ2hH2lBRl8R-V6dpH1jSL4YRqs4ZckPqi0MQS6ksEa47J07qhroM69DeXq0Kt1vKO1oiU-oKwHaSde9SY0Q5LCTuqE_OwHls8RYK0I9QpMl7DWmWYwjs/s72-w640-h360-c/Cheers_20250515_213024_0000.png" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1618947400959277823.post-7725578947935125442</id><published>2025-05-14T18:09:00.003+08:00</published><updated>2025-06-14T14:20:18.253+08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Safety"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Safety and health"/><title type='text'>Data Yang Diperlukan Saat Investigasi Kecelakaan</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Investigasi Kecelakaan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; - Melakukan penyelidikan kecelakaan sangat memerlukan data-data yang memadai sehingga kesimpulan yang diambil bisa lebih akurat menjawab kenapa suatu kecelakaan bisa terjadi, hal ini juga akan berguna untuk memberikan opsi-opsi rekomendasi tindakan perbaikan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Data yang salah akan menggiring pada pengambilan kesimpulan yang kurang tepat juga, sehingga langkah pengumpulan data menjadi sangat krusial untuk diperhatikan.&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: left;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgExKg-U1RKpdlijTkSVF8OR2R-BaJltt6S9V_UCtk5ewDEG_YXpj4V0vlEmdDcquGkGy6a9jjmlqfhXXAUNTAzOkUsGAjyLrhgO_BSv7sXVxTYFYH7HjJH6vnholLW5E86xk0wPBa2WPIFp9ONbXppnTV48V3eviR1tY96fNOAJelLMzv0dWCyWmP3t4o/s1280/alien-6587324_1280.jpg&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Data investigasi kecelakaan, persiapan penyelidikan kecelakaan, data apa saja untuk investigasi, kecelakaan tambang, cara investigasi&quot; border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;907&quot; data-original-width=&quot;1280&quot; height=&quot;227&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgExKg-U1RKpdlijTkSVF8OR2R-BaJltt6S9V_UCtk5ewDEG_YXpj4V0vlEmdDcquGkGy6a9jjmlqfhXXAUNTAzOkUsGAjyLrhgO_BSv7sXVxTYFYH7HjJH6vnholLW5E86xk0wPBa2WPIFp9ONbXppnTV48V3eviR1tY96fNOAJelLMzv0dWCyWmP3t4o/w320-h227/alien-6587324_1280.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;Apa saja data yang diperlukan pada saat akan melakukan penyelidikan kecelakaan?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Berikut minimum data yang perlu dikumpulkan untuk dilakukan analisa:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Sketsa dan foto lokasi insiden dilengkapi dengan data survei,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kondisi fisik lokasi insiden dan kondisi lingkungan kerja (debu, pencahayaan, kebisingan, dll) lokasi insiden,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Biodata korban, saksi langsung, dan saksi tidak langsung,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Data kondisi fisik SPIP dan/atau material yang terkait dalam insiden (kerusakan, dimensi, suku cadang peralatan, bahan peledak, bahan kimia, instalasi, dan lainlain),&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Data elektronik,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Norma, standar, prosedur, kriteria tentang keselamatan pertambangan, data pendidikan dan pelatihan, daftar hadir karyawan, hasil kajian teknis, pola kerja, pemeliharaan perbaikan/penggantian, spesifikasi peralatan, serta dokumen lainnya yang terkait dengan insiden&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Laporan awal dari penanggung jawab area kerja tempat insiden.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div&gt;Daftar di atas mengacu pada SNI 7081 Tahun 2023 tentang Penyelidikan insiden pertambangan, walaupun spesifik untuk kecelakaan diindustri pertambangan namun sebenarnya bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan sektor industri lainnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;1. Sketsa dan foto lokasi insiden dilengkapi dengan data survey&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Foto lokasi insiden sesaat setelah terjadi kecelakaan sangat diperlukan untuk membantu melihat kondisi aktual saat kejadian, pengawas harus mendokumentasikan sebelum terjadi perubahan. Buat sketsa dan dilengkapi data pengukuran survey sehingga gambaran lokasi kejadian lebih jelas. Sebaiknya tim investogator datang ke lokasi kejadian juga agar analisa yang dilakukan sesuai atau mendekati dengan kondisi pekerja saat mengalami kecelakaan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;2. Kondisi fisik lokasi kejadian&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Hampir sama dengan nomor 1, sebagai tim investigator harus mengetahui dan meminta data kondisi fisik, hal ini untuk membantu analisa apakah ada faktor lingkungan yang mempengaruhi terjadinya kecelakaan. Lokasi insiden biasanya akan sangat cepat mengalami perubahan, maka pengamanan lokasi dan pengambilan saat awal kejadian sangat diperlukan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;3. Biodata saksi&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saat di lokasi insiden, kita langsung saja membuat list nama-nama saksi. Minimal saksi langsung. Setelah itu bisa dikembangkan ke saksi tidak langsung. Catat semua yang berkaitan dengan biodata korban dan saksi, seperti nama, pendidikan, masa kerja, hasil MCU, pelatihan yang pernah diikuti, dan lain sebagainya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;4. Data kondisi fisik SPIP&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Data Sarana Prasarana Instalasi dan peralatan (SPIP) juga harus dikumpulkan untuk menganalisa apakah ada kegagalan teknis dari SPIP sehingga kecelakaan terjadi, termasuk historikal pembelian suku cadang, daftar perbaikan yang dilakukan, dan lain-lain.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;5. Data elektronik&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Segala macam data hasil dari peralatan elektronik dikumpulkan, seperti record CCTV, data GPS, data pengunaan Handphone, dan data lainnya yang dapat digunakan untuk membantu dalam menganalisa dari gejala atau symtom sebelum atau saat insiden terjadi.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;6. Norma, standar dan dokumen lainnya&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Investigator harus mengumpulkan dokumen-dokumen pendukung yang bisa memberikan informasi yang diperlukan dalam melakukan analisa dalam penyelidikan insiden, seperti norma atau aturan, standar, prosedur, kriteria tentang keselamatan pertambangan, data pendidikan dan pelatihan, daftar hadir karyawan, hasil kajian teknis, pola kerja, pemeliharaan perbaikan/penggantian, spesifikasi peralatan, serta dokumen lainnya yang terkait dengan insiden. Termasuk catatan kecelakaan berulang.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Semakin banyak dokumen pendukung yang dikumpulkan akan semakin baik, nanti bisa dipilah mana yang relevan dan mana yang bisa disingkirkan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;7. Laporan Awal dari penanggung jawab area&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pengawas atau penanggung jawab harus membuat laporan awal, tim investigator perlu mendapatkan laporan ini untuk memberi gambaran singkat atas insiden yang terjadi.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Demikian pembahasan mengenai data-data yang diperlukan dalam melakukan penyelidikan insiden, semoga bisa membantu sahabat safety dalam mempersiapkan proses investigasi kecelakaan di tempat kerja.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jika ada pertanyaan bisa dikolom komentar atau bisa juga ke Instagram &lt;a href=&quot;https://www.instagram.com/@darmawans.setiawan/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;@darmawans_setiawan&lt;/a&gt;, jangan lupa juga Subscribe Channel Youtube &quot;&lt;a href=&quot;http://www.youtube.com/@tanyasafety&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Tanya Safety&lt;/a&gt;&quot; untuk mendukung kami..terima kasih&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Referensi:&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;SNI 7081:2023 tentang penyelidikan insiden pertambangan&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.darmawansaputra.com/feeds/7725578947935125442/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/2025/05/data-yang-diperlukan-saat-investigasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default/7725578947935125442'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default/7725578947935125442'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/2025/05/data-yang-diperlukan-saat-investigasi.html' title='Data Yang Diperlukan Saat Investigasi Kecelakaan'/><author><name>Darmawan Saputra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17849717183874773210</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjlPx9pCEdz6RPYkPOwbtZ3tYdlxMTP7JsZxxRbCP0OaCaoDKrRUmO5BcxljHxtMEg5fhUXS3ujCbX_O3-iSDPFnVYRpktmLdQRvMkLL5P80SBiq-33kDVrviWFqL6mPuzEvX0YkzDdcBLOpj5mWwWu3gmbYsUO8JAjunEKdcoLyht8sw/s220/Picture1.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgExKg-U1RKpdlijTkSVF8OR2R-BaJltt6S9V_UCtk5ewDEG_YXpj4V0vlEmdDcquGkGy6a9jjmlqfhXXAUNTAzOkUsGAjyLrhgO_BSv7sXVxTYFYH7HjJH6vnholLW5E86xk0wPBa2WPIFp9ONbXppnTV48V3eviR1tY96fNOAJelLMzv0dWCyWmP3t4o/s72-w320-h227-c/alien-6587324_1280.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1618947400959277823.post-996461556688380001</id><published>2025-05-12T16:39:00.001+08:00</published><updated>2025-05-12T16:39:43.502+08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Artikel tentang keselamatan kerja"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Safety"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Safety and health"/><title type='text'>Line Of Fire Sering Menyebabkan Kecelakaan Tapi Jarang Disadari</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Line of Fire&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; - Dalam konteks Keselamatan dan Kesehatan Kerja jangan sampai salah dalam mengartikan kata-kata ini, sebagian memang salah dalam mengartikan line of fire sebagai Jalur Api. Sebenarnya tidak salah jika diartikan seperti itu dalam konteks harian, hanya saja kurang tepat saat digunakan dalam&amp;nbsp; konteks dunia kerja. Line of fire diadobsi dari istilah militer yang menggambarkan jalur tembakan atau rudal, anggota militer yang berada pada radius bahaya tembakan atau garis tembak. Namun, karena banyak yang tidak mengerti kontek dari “line of fire” sehingga sering diterjemahkan dengan “jalur api”.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Definisi secara pasti dari Line of fire memang tidak ada yang pas untuk menggambarkan konteks aslinya seperti di militer sehingga lebih baik di tulis saja dengan Line Of Fire. Di tempat kerja, istilah Line of Fire lebih tepat menggambarkan pada pekerja yang menempatkan diri mereka dalam bahaya dengan berada di tempat yang salah pada waktu yang salah yang dapat mengakibatkan terjadi kontak dengan suatu bentuk energi yang melebihi batas ambang ketahanan tubuhnya atau menyebabkan kecelakaan.&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhmppBFsrQNMy9R_H2rz4mQBiuvGadL1ScecKTE_NRio74zYcD8WNqPvv0pOcc_Q-sBU2SiKzdRE8d4mc1saBttqV0JeXDkD1ka2g3GlX1omnQHVMANok-_cIa9STUBbnO-3yqtx5PC3MaiNDalwDuZyWRWbZDp-T84FzqbMWPUyQGqE3QzeaB1cqbshyo/s1280/Line%20of%20Fire%20on%20Safety.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Line of Fire Safety, Posisi pekerja yang berbahaya, apa itu line of fire, cara mencegah kecelakaan line of fire, posisi pekerja yang berbahaya, keselamatan kerja, keselamatan dan kesehatan kerja&quot; border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;853&quot; data-original-width=&quot;1280&quot; height=&quot;266&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhmppBFsrQNMy9R_H2rz4mQBiuvGadL1ScecKTE_NRio74zYcD8WNqPvv0pOcc_Q-sBU2SiKzdRE8d4mc1saBttqV0JeXDkD1ka2g3GlX1omnQHVMANok-_cIa9STUBbnO-3yqtx5PC3MaiNDalwDuZyWRWbZDp-T84FzqbMWPUyQGqE3QzeaB1cqbshyo/w400-h266/Line%20of%20Fire%20on%20Safety.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;SUMBER ENERGI LINE OF FIRE&lt;/h4&gt;&lt;p&gt;Berikut beberapa sumber energi yang dapat membahayakan pekerja jika berada dalam radiusnya (Line of Fire).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Terbentur oleh atau terjepit diantara atau berada dibawah obyek yang bergerak ataupun sumber energi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tertabrak oleh mesin atau kendaraan yang bergerak&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Terbentur atau tertimpa bagian dari peralatan yang jatuh atau runtuh.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Terhantam ketika tekanan ataupun energi terlepas dengan tidak terduga&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Konsep dari line of fire adalah risiko dari pekerjaan, dimana pekerja berada pada posisi dan waktu tertentu yang berpotensi menyebakan kecelakaan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jumlah kondisi line of fire di tempat kerja bisa sedikit bisa juga banyak tergantung dari jenis pekerjaan yang dilakukan. Oleh karena itu pada saat membuat manajemen risiko harus mempertimbangkan skenario pekerja berada pada ljne of fire. Beberapa kegiatan yang berisiko tinggi seperti pekerjaan pengakatan memiliki banyak sekali line of fire sehingga tidak boleh ada orang di sekitar pekerjaan tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Penting bagi kita untuk memahami apa line of fire itu dan bagaimana cara menghindarinya untuk menghindari cidera.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;Contoh Situasi &quot;Line of Fire&quot;:&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;b&gt;Berdiri di bawah beban yang tergantung&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Jika seorang pekerja berdiri tepat di bawah radius jatuh benda yang sedang diangkat atau diangkut, ia berisiko terkena benda tersebut jika terjadi kecelakaan.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;Berjalan di depan atau di belakang peralatan bergerak&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Pekerja yang berjalan di jalur peralatan yang bergerak seperti forklift, truk, atau kereta api berisiko mengalami kecelakaan.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;Berada di dekat saluran bertekanan yang dapat pecah&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Jika saluran yang bertekanan tinggi tiba-tiba pecah, pekerja yang berada di dekatnya akan berisiko mengalami luka berat. Misal pemompaan ban.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;Berada Pada Radius Benda yang jatuh&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Pekerja yang berada di bawah area kerja yang tinggi berisiko terkena benda yang jatuh dari atas.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;Berada pada radius hantaman benda ketika tekanan ataupun energi terlepas&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Seseorang yang bekerja dekat mooring rope yang tegang karena dipakai untuk menarik kapal.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjF8ewdhVr6N95aexRWF7SL8ISUYpHUv_wlENZEUhTEevT8_KpyiLqSsFN7mB5c8M-CEtnXDYOUT1_L80DTxiVcF1vn3qWxVBcM6-wtQazDvbJvu5B0GAb4NMbpRadqO5Z6-qd5UISp7oGGsAg998LTDtsyNekK0it5IlJudM6simiROXo1ztT1nirRWPk/s1280/lINE%20OF%20FIRE%20MOORING%20ROPE.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Line of Fire Safety, Posisi pekerja yang berbahaya, apa itu line of fire, cara mencegah kecelakaan line of fire, posisi pekerja yang berbahaya, keselamatan kerja, keselamatan dan kesehatan kerja&quot; border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;960&quot; data-original-width=&quot;1280&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjF8ewdhVr6N95aexRWF7SL8ISUYpHUv_wlENZEUhTEevT8_KpyiLqSsFN7mB5c8M-CEtnXDYOUT1_L80DTxiVcF1vn3qWxVBcM6-wtQazDvbJvu5B0GAb4NMbpRadqO5Z6-qd5UISp7oGGsAg998LTDtsyNekK0it5IlJudM6simiROXo1ztT1nirRWPk/w400-h300/lINE%20OF%20FIRE%20MOORING%20ROPE.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;LANGKAH PENGENDALIAN RISIKO LINE OF FIRE DI TEMPAT KERJA&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;Langkah sederhana yang bisa kita lakukan untuk mencegah kecelakaan yang diakibatkan oleh kondisi line of fire&lt;br /&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Lakukan kajian risiko yang menyeluruh, pastikan risiko Line of Fire sudah masuk dalam identifikasi bahaya dan penilaian risiko&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lakukan pendidikan dan pelatihan kepada pekerja (penagwas dan pekerja garda depan)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lakukan chek kondisi risiko yang dibuat masih berlaku sebelum melakukan pekerjaan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tambahkan pengendalian risiko jika ada kondisi yang berubah atau meningkat risikonya saat pekerjaan akan dilakukan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lakukan pengendalian risiko dengan hirarki control.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ikuti prosedur yang ada&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pengawas harus terlihat dan terasa kehadirannya di tempat kerja (felt visible leadership)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hentikan pekerjaan jika melihat ada kondisi line of fire, kaji ulang risikonya dan jika aman lanjutkan pekerjaan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pasang rambu-rambu pada area yang teridentifikasi Line of Fire sehingga pekerja tidak memasuki area tersebut.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div&gt;Demikian artikel tentang Line of Fire dalam Keselamatan dan Kesehatan Kerja, secara definisi line of fire mungkin tidak terlalu presisi namun beberapa contoh-contoh di atas harapannya dapat memberikan kejelasan bagi pembaca. Jika ada pertanyaan bisa dikolom komentar atau bisa juga ke Instagram&amp;nbsp;&lt;a href=&quot;https://www.instagram.com/darmawans_setiawan/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;@darmawans_setiawan&lt;/a&gt;, jangan lupa juga Subscribe Channel Youtube &quot;&lt;a href=&quot;https://www.youtube.com/@tanyasafety&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Tanya Safety&lt;/a&gt;&quot; untuk mendukung kami..terima kasih&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Referensi:&lt;br /&gt;&lt;ul style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;https://nusantaratraisser.co.id/responsiveweb/blog/2019/02/18/apa-itu-line-of-fire/&lt;/li&gt;&lt;li&gt;https://konsultansafety.com/line-of-fire/&lt;/li&gt;&lt;li&gt;https://www.northwoodtech.edu/sites/default/files/inline-files/Line%20of%20Fire%20Awareness%20(Safety%20Day).pdf&lt;/li&gt;&lt;li&gt;https://safety4sea.com/imca-line-of-fire-incidents-most-common-accidents-during-2022/&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span&gt;https://safetyculture.com/topics/line-of-fire-hazards/&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.darmawansaputra.com/feeds/996461556688380001/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/2025/05/apa-itu-line-of-fire-sering-menyebabkan-kecelakaan-kerja.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default/996461556688380001'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default/996461556688380001'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/2025/05/apa-itu-line-of-fire-sering-menyebabkan-kecelakaan-kerja.html' title='Line Of Fire Sering Menyebabkan Kecelakaan Tapi Jarang Disadari'/><author><name>Darmawan Saputra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17849717183874773210</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjlPx9pCEdz6RPYkPOwbtZ3tYdlxMTP7JsZxxRbCP0OaCaoDKrRUmO5BcxljHxtMEg5fhUXS3ujCbX_O3-iSDPFnVYRpktmLdQRvMkLL5P80SBiq-33kDVrviWFqL6mPuzEvX0YkzDdcBLOpj5mWwWu3gmbYsUO8JAjunEKdcoLyht8sw/s220/Picture1.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhmppBFsrQNMy9R_H2rz4mQBiuvGadL1ScecKTE_NRio74zYcD8WNqPvv0pOcc_Q-sBU2SiKzdRE8d4mc1saBttqV0JeXDkD1ka2g3GlX1omnQHVMANok-_cIa9STUBbnO-3yqtx5PC3MaiNDalwDuZyWRWbZDp-T84FzqbMWPUyQGqE3QzeaB1cqbshyo/s72-w400-h266-c/Line%20of%20Fire%20on%20Safety.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1618947400959277823.post-5216800414256440826</id><published>2025-05-10T23:49:00.000+08:00</published><updated>2025-05-10T23:49:08.131+08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Safety"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Safety and health"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="SNI"/><title type='text'>Investigasi Kecelakaan Tambang Berbasis Risiko Dalam SNI 7081 Tahun 2023</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;b&gt;Investigasi Kecelakaan&lt;/b&gt; - Kegiatan usaha pertambangan memiliki risiko tinggi terjadinya insiden yang melibatkan manusia, peralatan dan teknologi, lingkungan, organisasi dan sistem.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Meskipun upaya mengendalikan risiko bahaya dengan cara melakukan pengelolaan keselamatan pertambangan yang baik dan benar sudah dilakukan, insiden pertambangan masih sering terjadi dan terulang kembali.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Insiden pertambangan yang mencakup hampir celaka, kejadian berbahaya, dan kecelakaan tambang. Kecelakaan tambang dan kejadian berbahaya akan selalu mengakibatkan kerugian terhadap produksi yang meliputi manusia, peralatan dan teknologi, lingkungan, organisasi dan sistem sehingga diperlukan penyelidikan secara baik dan benar.&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgy-tsRPvH2mJjLakHg7RaPvrhGyFCOy4AjOJ4sZKLgrWEKcnYScOXqQoCIuZvU2rnqdRvpnYw_hlnxUkH2R4MZTkcbv_qfZfMLGbCjVoSJPdQMGsqVcQr2zq2OggQ_j-ZEy_HSHRl494UVzjcNsMpkyD5gfAtOpfzcaD6UetjW5SAslIpiJxcd1y9dtOE/s1280/Kecelakaan%20Tambang%20Berbasis%20Risiko.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Sni 7081 tahun 2023 tentang penyelidikan kecelakaan tambang, kriteria kecelakaan tambang, cara melakukan investigasi kecelakaan tambang, kerangka penyelidikan insiden tambang berbasis risiko SNI7081, kecelakaan tambang&quot; border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;848&quot; data-original-width=&quot;1280&quot; height=&quot;265&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgy-tsRPvH2mJjLakHg7RaPvrhGyFCOy4AjOJ4sZKLgrWEKcnYScOXqQoCIuZvU2rnqdRvpnYw_hlnxUkH2R4MZTkcbv_qfZfMLGbCjVoSJPdQMGsqVcQr2zq2OggQ_j-ZEy_HSHRl494UVzjcNsMpkyD5gfAtOpfzcaD6UetjW5SAslIpiJxcd1y9dtOE/w400-h265/Kecelakaan%20Tambang%20Berbasis%20Risiko.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Penyelidikan insiden pertambangan dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana insiden terjadi dan menyusun rekomendasi agar kejadian serupa tidak terulang kembali, serta meningkatkan komitmen dan kesungguhan perusahaan dalam menerapkan pengelolaan keselamatan pertambangan.&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kalau belum tahu apa itu kececelakaan tambang, baca pada artikel ini:&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;p style=&quot;background-color: white; color: #595959; font-family: Roboto, Arial, sans-serif; margin: 0px 0px 1.25rem; text-align: left;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://www.darmawansaputra.com/2025/05/terbaru-5-kriteria-kecelakaan-tambang.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;TERBARU 5 Kriteria Kecelakaan Tambang Sesuai 1827, No 3 Harus Benar-Benar Jeli&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;Standar untuk melakukan penyelidikan kecelakaan tambang diatur pada SNI 7081 tahun 2023 tentang Penyelidikan insiden pertambangan yang merupakan pembaharuan dari SNI 7081 tahun 2016 tentang Penyelidikan kecelakaan tambang dan berbahaya di pertambangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada perbedaan yang signifikan dari kedua versi standar Penyelidikan kecelakaan ini, namun pada artikel ini akan dibahas mengenai pendekatan analisa penyelidikan insiden.&lt;h4 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Analisa Penyelidikan Insiden pada SNI 7081:2016&lt;/h4&gt;&lt;div&gt;Pada SNI 7018 versi 2016,&amp;nbsp;Penyelidikan insiden pertambangan semua data dan informasi dianalisis dan disimpulkan untuk menetapkan penyebab langsung, penyebab dasar, dan kegagalan kendali manajemen dan faktor lainnya yang memberikan kontribusi terhadap kejadian hampir celaka, kecelakaan tambang, atau kejadian berbahaya. Metode analisis dalam melaksanakan penyelidikan sekurang-kurangnya mampu menjelaskan teori penyebab kecelakaan terjadap kejadian hampir celaka, kecelakaan tambang, atau kejadian berbahaya yang terjadi.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://www.darmawansaputra.com/2021/01/tindakan-tidak-aman-dan-kondisi-tidak.html&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Sni 7081 tahun 2023 tentang penyelidikan kecelakaan tambang, kriteria kecelakaan tambang, cara melakukan investigasi kecelakaan tambang, standar investigasi kecelakaan tambang, keselamatan pertambangan&quot; border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;945&quot; data-original-width=&quot;756&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi23U7YYTB2uLPqxd-cH0OiOueYdRJu4eQvPuY4KBxigY51eK-QyrntYhhKz4xSXf4Ep6JIRpCqgohONrlLs8IlIYz_aoniN76hPcmG4EIIhTVVHMi65d0FZ-s8CYUiWapeP0hDmkGSfGbaObxVybxZs9AqgTXnPtsxul-2DQhBenGpqvvgvyI3r2TQBeg/w320-h400/Lack%20of%20Control%20(2).PNG&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Pendekatan analisa yang diambil dalam SNI 7081 versi 2016 adalah pendekatan Loss Causation Model yang dikemukakan oleh Frank bird atau sering kita kenal dengan istilah teori domino. Dimana Kerugian disebabkan karena kontak, kontak disebabkan karena penyebab langsung (Kondisi/tindakan tidak aman), Penyebab langsung disebabkan karena penyebab dasar (Faktor pribadi &amp;amp; pekerjaan), dan penyebab dasar disebabkan oleh kurangnya kontrol pada manajemen.&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;h4&gt;Analisa Penyelidikan Insiden pada SNI 7081:2023&lt;/h4&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;Sedangkan pada versi SNI terbari yaitu SNI 7081 versi 2023, pendekatan yang diambil adalah pendekatan berbasis risiko. Tim investigasi insiden menetapkan penyebab atau faktor-faktor yang memberikan kontribusi terhadap insiden dengan menggunakan model atau metode analisis penyelidikan insiden.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;Model atau metode analisis penyelidikan insiden sekurang-kurangnya mampu menjelaskan kerugian, bentuk insiden, analisis mitigasi risiko insiden, dan analisis pencegahan insiden sebagai faktor-faktor yang berkontribusi terhadap insiden yang mencakup: gejala, manajemen risiko keselamatan, sistem dan standar keselamatan, serta organisasi perusahaan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgCAQPyUC1Tt02pbrKnac4BhMoq_odAOGl2b6xP7pik_KY6VFfzBNgKhdCKGip75gYwcfckyx1HRh60k74BeU-o8lMoWQ7HmoEwNS4eZe5KOvrYuZmhEX7JNlw1o5zJDaUl7S46zRUHPGiHJKXGiPX0OcGsOX-gPPwJPEt6-WqQ546vL2Q6jbKGwaia-cc/s1138/Analisa%20berbasis%20risiko%20Insiden%20Kecelakaan%20Tambang.PNG&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Sni 7081 tahun 2023 tentang penyelidikan kecelakaan tambang, kriteria kecelakaan tambang, cara melakukan investigasi kecelakaan tambang, kerangka penyelidikan insiden tambang berbasis risiko SNI7081, kecelakaan tambang&quot; border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;527&quot; data-original-width=&quot;1138&quot; height=&quot;296&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgCAQPyUC1Tt02pbrKnac4BhMoq_odAOGl2b6xP7pik_KY6VFfzBNgKhdCKGip75gYwcfckyx1HRh60k74BeU-o8lMoWQ7HmoEwNS4eZe5KOvrYuZmhEX7JNlw1o5zJDaUl7S46zRUHPGiHJKXGiPX0OcGsOX-gPPwJPEt6-WqQ546vL2Q6jbKGwaia-cc/w640-h296/Analisa%20berbasis%20risiko%20Insiden%20Kecelakaan%20Tambang.PNG&quot; title=&quot;SNI 7081tahun 2023 penyelidikan insiden pertambangan&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Kerangka penyelidikan insiden berbasis risiko (sumber SNI 7081:2023)&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pada kerangka di atas menunjukkan bahwa saat risiko bisa dikelola dengan baik maka terjasdi proses produksi, namun jika tidak terkelola dengan baik maka dapat berdampak pada kerugian. Pada saat melakukan penyelidikan insiden atau investigasi dimulai dari melihat adanya kerugian yang disebabkan oleh adanya bentuk insiden (bentuk kontak atau kombinasinya dari bahaya-bahaya yang mengakibatkan terjadinya insiden), insiden ini disebabkan karena adanya gejala (symtom) yang berupa Tindakan Manusia dan Kegagalan Teknis.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tindakan Manusia dan Kegagalan Teknis ini muncul karena adanya kondisi dan atau situasi (keadaan yang mendahului atau mendukung munculnya tindakan manusia dan/atau kegagalan teknis). Gejala (symtom) muncul karena adanya kelemahan pada Sistem dan standar keselamatan yang berupa kegagalan manajemen risiko keselamatan, kegagalan manajemen risiko keselamatan disebabkan karena adanya faktor organisasi yang berkontribusi.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pendekatan berbasis risiko yang ada pada SNI 7081:2023 ini selaras dengan pandangan-pandangan Keselamatan modern saat ini, dimana penekanan keberhasilan atau kegagalan dalam pengelolaan keselamatan tidak berada pada pekerja di garda depan, melainkan dilihat dari kehandalan dalam melakukan pengelolaan risiko dan faktor organisasi. Seperti yang dikatakan oleh Sidney Dekker&amp;nbsp; &quot;&lt;i&gt;Accident are not longger accidents at all, they are failures of risk management&lt;/i&gt;&quot;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Demikian pembahasan Investigasi Kecelakaan Tambang Berbasis Risiko Dalam SNI 7081 Tahun 2023, Jika ada pertanyaan bisa dikolom komentar atau bisa juga ke Instagram &lt;a href=&quot;https://www.instagram.com/darmawans_setiawan/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;@darmawans_setiawan&lt;/a&gt;, jangan lupa juga Subscribe Channel Youtube &quot;&lt;a href=&quot;https://www.youtube.com/@tanyasafety&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Tanya Safety&lt;/a&gt;&quot; untuk mendukung kami..terima kasih&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Referensi:&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;SNI 7081:2023 Penyelidikan Insiden Pertambangan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;SNI 7081:2016 Penyelidikan Kecelakaan Tambang dan Kejadian Berbahaya di Pertambangan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sidney Dekker. 2014. The Field Guide to Understanding ‘Human Error’&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sidney Dekker. The Field Guide to Human Error Investigations&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Reason, J. Managing The Risk of Organizational Accidents. 1997.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.darmawansaputra.com/feeds/5216800414256440826/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/2025/05/Kecelakaan-Tambang-Berbasis-Risiko-SNI-7081-Tahun-2023.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default/5216800414256440826'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default/5216800414256440826'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/2025/05/Kecelakaan-Tambang-Berbasis-Risiko-SNI-7081-Tahun-2023.html' title='Investigasi Kecelakaan Tambang Berbasis Risiko Dalam SNI 7081 Tahun 2023'/><author><name>Darmawan Saputra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17849717183874773210</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjlPx9pCEdz6RPYkPOwbtZ3tYdlxMTP7JsZxxRbCP0OaCaoDKrRUmO5BcxljHxtMEg5fhUXS3ujCbX_O3-iSDPFnVYRpktmLdQRvMkLL5P80SBiq-33kDVrviWFqL6mPuzEvX0YkzDdcBLOpj5mWwWu3gmbYsUO8JAjunEKdcoLyht8sw/s220/Picture1.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgy-tsRPvH2mJjLakHg7RaPvrhGyFCOy4AjOJ4sZKLgrWEKcnYScOXqQoCIuZvU2rnqdRvpnYw_hlnxUkH2R4MZTkcbv_qfZfMLGbCjVoSJPdQMGsqVcQr2zq2OggQ_j-ZEy_HSHRl494UVzjcNsMpkyD5gfAtOpfzcaD6UetjW5SAslIpiJxcd1y9dtOE/s72-w400-h265-c/Kecelakaan%20Tambang%20Berbasis%20Risiko.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1618947400959277823.post-1067737336387002568</id><published>2025-05-06T23:15:00.002+08:00</published><updated>2025-05-09T22:12:22.066+08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Safety"/><title type='text'>TERBARU 5 Kriteria Kecelakaan Tambang Sesuai 1827, No 3 Harus Benar-Benar Jeli</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Kecelakaan Tambang &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;-&amp;nbsp;Pada artikel sebelumnya, saya pernah menulis juga mengenai Kriteria Kecelakaan Tambang, namun masih mengacu pada Kepmen 555 Tahun 1995 (baca artikelnya &lt;a href=&quot;https://www.darmawansaputra.com/2014/11/kecelakaan-tambang.html&quot;&gt;disini&lt;/a&gt;). Sekarang regulasi ini telah dicabut dan tidak berlaku dengan dikeluarkannya  &lt;a href=&quot;https://darmawansaputra.com/permen-esdm-no-26-tahun-2018/&quot;&gt;Permen ESDM No 26 Tahun 2018&lt;/a&gt; Tentang Pelaksanaan Kaidah Teknik Pertambangan Yang Baik dan Pengawasan Pertambangan Minerba. Bagaimana dengan acuan untuk menentukan kecelakaan tambang dengan tidak berlakunya KepMen 555?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dengan dikeluarkannya Permen ESDM no 26 tahun 2018, pemerintah juga mengeluarkan regulasi turunannya&amp;nbsp;yaitu&amp;nbsp;&lt;a href=&quot;https://darmawansaputra.com/kepmen-esdm-no-1827-2018/&quot;&gt;KepMen ESDM No 1827 K/30/MEM/2018&lt;/a&gt; Tentang Pedoman Pelaksanaan Kaidah Pertambangan Yang Baik, namun ternyata hal-hal yang diatur pada Kepmen 555 tidak banyak di bahas. Kabar baik bagi semua perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan minerba, bahwa pemerintah melalui Dirjen Minerba mengeluarkan &lt;a href=&quot;https://darmawansaputra.com/petunjuk-teknis-smkp/&quot;&gt;Keputusan Direktur Jenderal Minerba No 185.K/37.04/DJB/2019&lt;/a&gt; tentang Petunjuk Teknik Pelaksanaan Keselamatan Pertambangan dan Palaksanaan, Penilaian dan Pelaporan Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan Mineral dan Batubara. Di sini diatur lebih detail dalam 609 halaman, termasuk salah satunya mengenai Kriteria Kecelakaan Tambang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhjC_LZwjXVNqCOXBlqVSQomyk1TKW18FQjQedp3ir9mFpPwRHcIX_gdZvoE7w7OWkPy_ofSqnRFuFYUHhIhq5chuXgWKnxAicdM0LMs3Tb9lEDfe6jMrdoIXwJZZ1pFfoqtJX-cCc9vWbV10iuOATIcr0lsQHZJDIzwBytaENGYkC2xgMmz3betKRenbI/s1024/Kecelakaan%20Tambang.jpg&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Kecelakaan tambang, menentukan kecelakaan tambang, kecelakaan di pertambangan, keselamatan di pertambangan, regulasi tentang kecelakaan tambang&quot; border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;768&quot; data-original-width=&quot;1024&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhjC_LZwjXVNqCOXBlqVSQomyk1TKW18FQjQedp3ir9mFpPwRHcIX_gdZvoE7w7OWkPy_ofSqnRFuFYUHhIhq5chuXgWKnxAicdM0LMs3Tb9lEDfe6jMrdoIXwJZZ1pFfoqtJX-cCc9vWbV10iuOATIcr0lsQHZJDIzwBytaENGYkC2xgMmz3betKRenbI/w400-h300/Kecelakaan%20Tambang.jpg&quot; title=&quot;Kecelakaan tambang, menentukan kecelakaan tambang, kecelakaan di pertambangan, keselamatan di pertambangan, regulasi tentang kecelakaan tambang&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Definisi dan Kriteria Kecelakaan Tambang&amp;nbsp;&lt;/h4&gt;&lt;div&gt;Kecelakaan Tambang adalah kecelakaan yang memenuhi 5 (lima) kriteria sebagaimana diatur dalam peraturan perundangan.&lt;p&gt;Kecelakaan tambang harus memenuhi 5 (lima) unsur, terdiri atas:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Benar-benar terjadi, yaitu tidak diinginkan, tidak direncanakan, dan tanpa unsur kesengajaan;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengakibatkan cidera pekerja tambang atau orang yang diberi izin oleh kepala teknik tambang (KTT) atau penanggungjawab teknik dan lingkungan (PTL);&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Akibat kegiatan usaha pertambangan atau pengolahan dan/atau pemurnian atau akibat kegiatan penunjang lainnya;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Terjadi pada jam kerja pekerja tambang yang mendapat cidera atau setiap saat orang yang diberi izin; dan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Terjadi di dalam wilayah kegiatan usaha pertambangan atau wilayah proyek.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;bisa dilihat di Kepmen ESDM no 1827, Lamp III-Hal 146&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;h4 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Apa Perbedaan Dengan Kriteria Kecelakaan Tambang Versi Kepmen 555?&lt;/h4&gt;&lt;p&gt;berikut perubahan dari versi lama dari Kriteria Kecelakaan Tambang pada Kepmen 1827.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li&gt;Kriteria &quot;Benar-Benar Terjadi&quot; ditulis lebih detail jika dibanding dengan Kepmen 555&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ada penggunaan istilah PTL (Penanggung Jawab Teknik dan Lingkungan) yang diperuntukkan pada Pengolahan dan Pemurnian&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tidak hanya Akibat kegiatan usaha Pertambangan tapi ditambahkan juga kegiatan penunjang sehingga ini lebih luas cakupannya&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kriteria no 4 dan no 5 tidak berbeda dengan versi lama&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;h4 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Penjelasan Masing-Masing Kriteria&lt;/h4&gt;&lt;div&gt;Sebelum membahas penjelasan setiap kriteria, saya Disclaimer dulu bahwa ini pendapat pribadi penulis, tentu penentuan suatu kecelakaan masuk kategori Kecelakaan Tambang atau tidak adalah wewenang Kepala Inspektur Tambang (KaIT).&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;b&gt;1. Benar-benar terjadi, yaitu tidak diinginkan, tidak direncanakan, dan tanpa unsur kesengajaan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Bahwa kecelakaan ini memang benar terjadi, dapat dibuktikan, ada korbannya, dan bukan merupakan kecelakaan yang disengaja (kriminal). Bagaimana cara mengetahui itu kriminal atau bukan, sengaja atau tidak? Itu tugas investigator untuk mencari penyebab kecelakaan tersebut, dan jika terbukti ada unsur kriminal, maka tidak memenuhi keriteria ini.&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;2. Mengakibatkan cidera pekerja tambang atau orang yang diberi izin oleh kepala teknik tambang (KTT) atau penanggungjawab teknik dan lingkungan (PTL)&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;Agar kecelakaan itu dikategorikan kecelakaan tambang maka orang yang cidera harus pekerja tambang, jika yang mengalami cidera adalah orang luar (selain karyawan perusahaan tambang) maka kecelakaan itu tidak dapat dikategorikan kecelakaan tambang. Selain pekerja tambang, tamu yang memasuki area konsesi dan telah mendapat ijin dari KTT atau PTL apabila mengalami kecelakaan yang mengakibatkan cidera terhadap tamu tersebut maka bisa dikategorikan kecelakaan tambang (jika memenuhi kriteria lainnya juga).&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;3. Akibat kegiatan usaha pertambangan atau pengolahan dan/atau pemurnian atau akibat kegiatan penunjang lainnya;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kriteria no 3 ini memerlukan kejelian dalam menentukan, kata &quot;Akibat kegiatan usaha Pertambangan atau Kegiatan penunjang lainnya&quot; berarti disebabkan oleh kegiatan usaha pertambangan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;blockquote&gt;Akibat :&amp;nbsp;&lt;span face=&quot;&amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif&quot; style=&quot;background-color: white; font-size: 13px;&quot;&gt;persyaratan atau keadaan yang mendahuluinya (KBBI)&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;i&gt;contoh : akibat gempa bumi itu ratusan penduduk kehilangan tempat tinggalnya&lt;/i&gt;&lt;span face=&quot;&amp;quot;Helvetica Neue&amp;quot;, Helvetica, Arial, sans-serif&quot; style=&quot;background-color: white; font-size: 13px;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;jadi Kecelakaan yang disebabkan oleh Kegiatan Usaha Pertambangan atau kegiatan penunjang lah yang bisa masuk kategori Kecelakaan Tambang. Bukan semata saat pekerja melakukan kegiatan usaha pertambangan. Kita kasih contoh kasus biar mudah memahami.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Case 1 : Seorang pekerja tambang sedang melakukan pengawasan kegiatan dumping material OB di Waste dump (disposal), kemudian tertabrak truk tambang dan mengalami cidera patah tulang kaki.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Case 2 : Seorang pekerja tambang sedang melakukan pengawasan kegiatan dumping material OB di Wastedump (disposal), kemudian tertabrak pesawat jatuh dan mengalami cidera patah tulang kaki.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kedua case ini menceritakan Pekerja Tambang sedang melakukan kegiatan usaha Pertambangan, tetapi penyebabnya berbeda. Tertabrak truk tambang masuk unsur akibat kegiatan usaha pertambangan atau kegiatan penunjang, sedangkan tertabrak pesawat yang jatuh tidak masuk unsur akibat kegiatan usaha pertambangan atau kegiatan penunjang.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Case 1 bisa masuk kriteria no 3 dari kecelakaan tambang, tapi case 2 tidak masuk kriteria no 3 dari kecelakaan tambang. semoga tidak bingung..karena Kegiatan Usaha Pertambangan dan Kegiatan Penunjang berperan sebagai sumber kecelakaan, kecuali kalau kalimatnya &quot;Sedang melakukan kegiatan usaha pertambangan dan kegiatan penunjang lainnya&quot;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;4. Terjadi pada jam kerja pekerja tambang yang mendapat cidera atau setiap saat orang yang diberi izin; dan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kriteria ini cukup jelas, jam kerja diatur dengan jelas kapan masuk dan kapan pulang. Untuk tamu yang diberi izin ini tidak ada batasan waktu, jika terjadi kecelakaan kapan pun selama memenuhi 4 kriteria lainnya bisa masuk kecelakaan tambang.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;5. Terjadi di dalam wilayah kegiatan usaha pertambangan atau wilayah proyek.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;ini juga jelas, Kecelakaan yang dikategorikan kecelakaan tambang harus terjadi pada wilayah kegiatan usaha pertambangan atau wilayah proyek. Wilayah kegiatan usaha pertambangan adalah sesuai dengan luasan yang tertera pada ijin penambangan (PKP2B, KP, KK, IUP, IUPK, dan lainnya)&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Demikian artikel ini ditulis, semoga bisa membantu rekan-rekan pekerja tambang dalam memahami Kriteria Kecelakaan Tambang. Sekali lagi penentuan Kecelakaan Tambang ini adalah wewenang regulator, maka perlu didiskusikan dengan Inpekstur Tambang.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sepertinya Sahabat Safety juga perlu membaca bagaimana menentukan Kejadian Berbahaya di Pertambangan, baca disini ya&amp;nbsp;&lt;a href=&quot;https://www.darmawansaputra.com/2019/09/kejadiannya-memenuhi-4-unsur-ini.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Kejadiannya Memenuhi 4 Unsur Ini ? Mungkin Saja Kejadian Berbahaya&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jika ada pertanyaan bisa dikolom komentar atau bisa juga ke Instagram, jangan lupa juga Subscribe Channel Youtube &quot;&lt;a href=&quot;https://www.youtube.com/@tanyasafety&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Tanya Safety&lt;/a&gt;&quot; untuk mendukung kami..terima kasih&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.darmawansaputra.com/feeds/1067737336387002568/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/2025/05/terbaru-5-kriteria-kecelakaan-tambang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default/1067737336387002568'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default/1067737336387002568'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/2025/05/terbaru-5-kriteria-kecelakaan-tambang.html' title='TERBARU 5 Kriteria Kecelakaan Tambang Sesuai 1827, No 3 Harus Benar-Benar Jeli'/><author><name>Darmawan Saputra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17849717183874773210</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjlPx9pCEdz6RPYkPOwbtZ3tYdlxMTP7JsZxxRbCP0OaCaoDKrRUmO5BcxljHxtMEg5fhUXS3ujCbX_O3-iSDPFnVYRpktmLdQRvMkLL5P80SBiq-33kDVrviWFqL6mPuzEvX0YkzDdcBLOpj5mWwWu3gmbYsUO8JAjunEKdcoLyht8sw/s220/Picture1.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhjC_LZwjXVNqCOXBlqVSQomyk1TKW18FQjQedp3ir9mFpPwRHcIX_gdZvoE7w7OWkPy_ofSqnRFuFYUHhIhq5chuXgWKnxAicdM0LMs3Tb9lEDfe6jMrdoIXwJZZ1pFfoqtJX-cCc9vWbV10iuOATIcr0lsQHZJDIzwBytaENGYkC2xgMmz3betKRenbI/s72-w400-h300-c/Kecelakaan%20Tambang.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1618947400959277823.post-877481169156803839</id><published>2024-07-23T21:52:00.000+08:00</published><updated>2024-07-23T21:52:08.367+08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Safety"/><title type='text'>Definisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja, JANGAN SALAH</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Definisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;- Sahabat safety tentu sudah sering dengan keselamatan dan Kesehatan kerja, baik saat masih di kuliah atau pun saat bekerja..&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Apa sebenarnya yang dimaksud dengan Keselamatan dan Kesehatan Kerja?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Untuk menjawab itu kita perlu mempelajari referensi-referensi yang membahas mengenai Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Yang pertama, kita lihat dari regulasi pemerintah yang menaungi penerapan keselatan dan Kesehatan kerja&amp;nbsp; di Indonesia. Regulasi yang mengatur Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah UU no 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, regulasi ini sudah sangat tua ya, namun masih juga menjadi dasar penerapan K3. Tapi kalau sahabat safety baca pada Bab 1 tentang istilah-istilah pada pasal 1 justru tidak ada defini dari Keselamatan dan Kesehatan Kerja.. Yang ada adalah tempat kerja, pengurus, pengusaha, direktur, pegawai pengawas, dan ahli keselamatan kerja.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh1Q1yKy-WLzl59ws_7bclFzcz2sn4N71wflsotLB20t5WiztiqnNWt8P6j1MGFD1gkH-9IjVSvBUZ6IOv1Ka_drQAOBIFz4Tgz4WJ1LWDn5-Re3dv3I4LLNAAb1bwDWIGchLe19cnYNHHGocnUKuVE0CsN0w4sjBgyGGG1IzkZha7Zd3VDcaqggKE2hX0/s1280/Keselamatan%20dan%20Kesehatan%20Kerja.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Definisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Apa itu K3?, Definisi Safety adalah, Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Regulasi tentang Keselamatan Kerja&quot; border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;738&quot; data-original-width=&quot;1280&quot; height=&quot;255&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh1Q1yKy-WLzl59ws_7bclFzcz2sn4N71wflsotLB20t5WiztiqnNWt8P6j1MGFD1gkH-9IjVSvBUZ6IOv1Ka_drQAOBIFz4Tgz4WJ1LWDn5-Re3dv3I4LLNAAb1bwDWIGchLe19cnYNHHGocnUKuVE0CsN0w4sjBgyGGG1IzkZha7Zd3VDcaqggKE2hX0/w442-h255/Keselamatan%20dan%20Kesehatan%20Kerja.jpg&quot; title=&quot;Definisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Apa itu K3?, Definisi Safety adalah, Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Regulasi tentang Keselamatan Kerja&quot; width=&quot;442&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Terus Dimana kita bisa mencari definisi keselamatan dan Kesehatan kerja&lt;/div&gt;&lt;p&gt;Baik, kita cari lagi regulasi yang mengatur mengenai K3&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sekarang kita lihat regulasi yang mengatur system manajemen keselamatan dan Kesehatan kerja yaitu PP 50 tahun 2012 tentang penerapan system manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kita lihat di Bab 1 Ketentuan Umum, disini ada beberapa definisi yang salah satunya adalah definisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dikutip dari PP no 50 Tahun 2012 tentang Penerapaan SMK3, &lt;b&gt;Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang selanjutnya disingkat K3 adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi keselamatan dan kesehatan tenaga kerja melalui Upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja&lt;/b&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Definisi ini juga dipakai pada regulasi lain seperti Permenkes no 48 tahun 2016 tentang Standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja Perkantoran atau peraturan Menteri ketenagakerjaan no 9 tahun 2016 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam pekerjaan di atas ketinggian.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Menurut ILO, Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) adalah sebuah ilmu untuk antisipasi, rekognisi, evaluasi dan pengendalian bahaya yang muncul di tempat kerja yang dapat berdampak pada kesehatan dan kesejahteraan pekerja, serta dampak yang mungkin bisa dirasakan oleh komunitas sekitar dan lingkungan umum&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Secara umum definisi K3 menurut referensi yang ada adalah sama, hanya saja kalau ILO lebih mengarah ke Kesehatan karena memang berada di bawah WHO. Sebenarnya masih banyak defisini K3 yang dikemukakan oleh ahli-ahli pemerhati keselamatan dan Kesehatan kerja, tapi kita fokus saja berdasarkan regulasi pemerintah Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Terus yang dimaksud dengan “segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi keselamatan dan kesehatan tenaga kerja melalui Upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja”, ini bisa diartikan bahwa semua Upaya bisa berupa program kerja, bisa berupa pemeliharaan kelaikan peralatan, kelaikan infrastruktur, kebersihan tempat kerja, ergonomic, pengelolaan Kesehatan pekerja dan lain sebagainya yang memang bertujuan untuk mencegah kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Termasuk didalamnya pengelolaan kegawat daruratan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Lebih lengkapnya dibahas pada Video pada channel Youtube berikut:&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://youtu.be/P8Rb2QNFi0Q?si=qrVFgEpo5sBh1OFn&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Definisi K3 Menurut Regulasi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;iframe allowfullscreen=&quot;&quot; class=&quot;BLOG_video_class&quot; height=&quot;337&quot; src=&quot;https://www.youtube.com/embed/P8Rb2QNFi0Q&quot; width=&quot;476&quot; youtube-src-id=&quot;P8Rb2QNFi0Q&quot;&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;h4 style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Terus yang benar itu Keselamatan dan Kesehatan Kerja atau Kesehatan dan Keselamatan Kerja?&lt;/h4&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pasti sahabat safety sering menjumpai perdebatan yang membahas kedua hal ini, kalau pendapat saya Pribadi hal itu bukan hal substantial yang perlu diperdebatkan, tidak ada untungnya mana yang didulukan. Keselamatan dan Kesehatan adalah 2 hal yang harus secara simultan dijalankan. Tidak ada satu lebih dari yang lain..&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.darmawansaputra.com/feeds/877481169156803839/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/2024/07/definisi-keselamatan-dan-kesehatan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default/877481169156803839'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default/877481169156803839'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/2024/07/definisi-keselamatan-dan-kesehatan.html' title='Definisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja, JANGAN SALAH'/><author><name>Darmawan Saputra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17849717183874773210</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjlPx9pCEdz6RPYkPOwbtZ3tYdlxMTP7JsZxxRbCP0OaCaoDKrRUmO5BcxljHxtMEg5fhUXS3ujCbX_O3-iSDPFnVYRpktmLdQRvMkLL5P80SBiq-33kDVrviWFqL6mPuzEvX0YkzDdcBLOpj5mWwWu3gmbYsUO8JAjunEKdcoLyht8sw/s220/Picture1.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh1Q1yKy-WLzl59ws_7bclFzcz2sn4N71wflsotLB20t5WiztiqnNWt8P6j1MGFD1gkH-9IjVSvBUZ6IOv1Ka_drQAOBIFz4Tgz4WJ1LWDn5-Re3dv3I4LLNAAb1bwDWIGchLe19cnYNHHGocnUKuVE0CsN0w4sjBgyGGG1IzkZha7Zd3VDcaqggKE2hX0/s72-w442-h255-c/Keselamatan%20dan%20Kesehatan%20Kerja.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1618947400959277823.post-3628380479071260399</id><published>2024-06-12T21:16:00.001+08:00</published><updated>2024-06-12T21:17:47.362+08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Artikel Keselamatan dan Kesehatan Kerja"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="HIRA / IBPR"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="IBPR"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Identifikasi Bahaya dan pengendalian risiko"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Keselamatan dan kesehatan kerja"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Mitigasi risiko"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Preventif dan Mitigasi Risiko"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Safety"/><title type='text'>STOP Hanya Memikirkan Pencegahan Kecelakaan, Mulailah Memikirkan Hal Penting Lain Ini</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;b&gt;Pencegahan Kecelakaan&lt;/b&gt; - Kecelakaan kerja merupakan salah satu risiko bisnis yang harus dikendalikan karena dapat menimbulkan banyak kerugian. Langkah-langkah pencegahan diidentifikasi dengan tujuan agar kecelakaan kerja dapat dihilangkan.&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEju20F0WtJo0OdmU0a0Ouw8jjU8AEM9rA0BcwYA_SZ2ucVYhCRYLHtedDSccAoP8tRR0L-mHHmbO7XupLVwsXwAl8WaTjbKvgLaA0JJV2YHUU7JFRq8tv0IwHqzESucGe70sKGe190c09N5aNIwNXIHEMwwYQ6HSRlXUMrHE9cLwzI7yQvrbvjIA06RaEs/s1280/car-accident-337764_1280.jpg&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Mitigasi risiko,Identifikasi Bahaya dan pengendalian risiko,HIRA / IBPR, IBPR, Preventif dan Mitigasi Risiko,Artikel Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Pertambangan Batubara, Keselamatan Pertambangan&quot; border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;720&quot; data-original-width=&quot;1280&quot; height=&quot;358&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEju20F0WtJo0OdmU0a0Ouw8jjU8AEM9rA0BcwYA_SZ2ucVYhCRYLHtedDSccAoP8tRR0L-mHHmbO7XupLVwsXwAl8WaTjbKvgLaA0JJV2YHUU7JFRq8tv0IwHqzESucGe70sKGe190c09N5aNIwNXIHEMwwYQ6HSRlXUMrHE9cLwzI7yQvrbvjIA06RaEs/w640-h358/car-accident-337764_1280.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Identifikasi bahaya dari setiap aktivitas pekerjaan menjadi langkah yang diambil untuk bisa melakukan intervensi sebelum bahaya-bahaya tersebut berubah menjadi kecelakaan. Pada kenyataannya ada intervensi yang berhasil, tapi tidak jarang juga kecelakaan kerja tetap terjadi walaupun sudah dilakukan pengendalian pada risiko-risiko yang telah diperhitungkan.&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kurang memadainya identifikasi bahaya dapat berdampak pada langkah pengendalian tidak efektif dan bisa berujung pada kecelakaan kerja. Hal ini bisa dipengaruhi karena minimnya pengetahuan akan bahaya-bahaya yang dapat muncul dari aktivitas pekerjaan, bisa disebabkan karena belum pernah memiliki pengalaman kecelakaan atau risiko yang muncul sebelumnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Selain itu, keberhasilan dalam pengendalian risiko terasa semu. Tidak adanya kecelakaan yang terjadi apakah memang dari risiko yang sudah terkendali atau hanya bahaya laten yang tersembunyi yang mana suatu saat akan muncul. Ketidaktahuan akan ke-efektivitasan pengendalian sehingga kita beranggapan risiko telah terkendali, padahal bisa jadi risiko tetap pada level yang sama tapi memang kecelakaan tidak terjadi (karena belum berinteraksi dengan risiko lainnya atau belum sampai pada tingkat yang bisa menimbulkan kerugian bisa berupa celaka atau pencemaran).&lt;br /&gt;&lt;h4 style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;Pengendalian yang sering dilakukan&lt;/h4&gt;&lt;div&gt;Bahaya dari setiap aktivitas pekerjaan dilakukan identifikasi dan dibuat program pengendalian yang bertujuan untuk mencegah suatu kecelakaan terjadi yang sering disebut dengan preventif.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sebagai contoh, pada aktivitas mengemudikan mobil memiliki risiko mengalami kelelahan kerja. Langkah yang sering diambil adalah membuat program kerja yang hanya berfokus pada bagaimana kecelakaan akibat fatigue tidak terjadi seperti monitoring kecukupan jam tidur pekerja, melakukan pemeriksaan kebugaran sebelum bekerja. Langkah yang bagus untuk melakukan pengelolaan kelelahan kerja.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Namun yang perlu disadari bahwa pengendalian tersebut sangat tergantung dari kejujuran pekerja yang kita tahu bahwa pengendalian yang menitik beratkan pada ketaatan pekerja masih diperlu pengawasan dan sangat rentan terjadi kegagalan.&lt;/div&gt;&lt;h4&gt;Langkah Mitigasi&lt;/h4&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: left;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGsVtHXFADzf0WfhMDHK6M4W2h_6qxG-cPzJFsBx-H8sslto8NMc5vE5882-H71eSsCSO_ospBEQmjdPs6S5YfB0OHcUEExnup20hGXJiAbMZvON6RH6WZZBh2mp4Q1IjPKD3dnF672e_UzU8jnvZ5XmPbJDCPYZs66s_MRCQ8GM7lQUQsPBDwsGjK9es/s1280/crash-test-1620608_1280.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Mitigasi risiko,Identifikasi Bahaya dan pengendalian risiko,HIRA / IBPR, IBPR, Preventif dan Mitigasi Risiko,Artikel Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Pertambangan Batubara, Keselamatan Pertambangan&quot; border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;853&quot; data-original-width=&quot;1280&quot; height=&quot;426&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiGsVtHXFADzf0WfhMDHK6M4W2h_6qxG-cPzJFsBx-H8sslto8NMc5vE5882-H71eSsCSO_ospBEQmjdPs6S5YfB0OHcUEExnup20hGXJiAbMZvON6RH6WZZBh2mp4Q1IjPKD3dnF672e_UzU8jnvZ5XmPbJDCPYZs66s_MRCQ8GM7lQUQsPBDwsGjK9es/w640-h426/crash-test-1620608_1280.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;Upaya pencegahan yang dilakukan kadang masih juga mengalami kegagalan sehingga kecelakaan masih juga terjadi. Data statistik juga menyatakan bahwa kecelakaan kerja masih juga terjadi walaupun langkah-langkah pencegahan dilakukan, hal ini menjadi indikator bahwa kecelakaan merupakan faktor dependen yang sangat dipengaruhi banyak hal. Sebagian dari praktisi lebih mengalokasikan sumberdaya dalam pencegahan namun sedikit melupakan upaya mitigasi.&lt;/p&gt;Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Mitigasi adalah tindakan mengurangi dampak bencana, sementara menurut Kamus Oxford, mitigasi adalah tindakan mengurangi keparahan, keseriusan atau penderitaan dari sesuatu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dengan kata lain, mitigasi bekerja setelah kecelakaan terjadi dengan tujuan mengurangi dampak dari kecelakaan atau lebih berorientasi pada severity.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jika kita percaya bahwa kecelakaan masih memiliki peluang terjadi dengan pengendalian yang dilakukan, kenapa kita masih juga alokasi sumberdaya tidak diarahkan juga untuk mengurangi dampak keparahannya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Misal pada contoh di atas, saat pencegahan kelelahan kerja (fatigue) dalam mengemudi masih mengalami kegagalan maka perlu difikirkan langkah mitigasinya sehingga saat driver hilang kendali dan kendaraan menabrak maka dampak dari tabrakan tidak membuat driver terluka parah atau kerusakan kendaraan yang parah. Misal langkah mitigasi dengan memastikan AirBag berfungsi baik, menambahkan seatbelt 4 titik, memasang ROPS (Rollover Protection Structure) atau FOPS (Falling-Object Protective Structures).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang perlu untuk dipertimbangkan adalah bagaimana memastikan langkah pencegahan dan langkah mitigasi yang ditentukan benar-benar kan efektif mengurangi risiko yang ada. Jika Anda ada saran atau best practice di tempat kerja Anda dalam memastikan keefektivitasan langkah preventif dan mitigasi risiko, sila comment di bawah...terima kasih&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saran masukan atau diskusi bisa di kolom komentar atau Follow Instagram Saya di&amp;nbsp;&lt;a href=&quot;https://www.instagram.com/darmawans_setiawan/&quot;&gt;@darmawans_setiawan&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.darmawansaputra.com/feeds/3628380479071260399/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/2024/06/pencegahan-kecelakaan-dan-mitigasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default/3628380479071260399'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default/3628380479071260399'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/2024/06/pencegahan-kecelakaan-dan-mitigasi.html' title='STOP Hanya Memikirkan Pencegahan Kecelakaan, Mulailah Memikirkan Hal Penting Lain Ini'/><author><name>Darmawan Saputra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17849717183874773210</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjlPx9pCEdz6RPYkPOwbtZ3tYdlxMTP7JsZxxRbCP0OaCaoDKrRUmO5BcxljHxtMEg5fhUXS3ujCbX_O3-iSDPFnVYRpktmLdQRvMkLL5P80SBiq-33kDVrviWFqL6mPuzEvX0YkzDdcBLOpj5mWwWu3gmbYsUO8JAjunEKdcoLyht8sw/s220/Picture1.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEju20F0WtJo0OdmU0a0Ouw8jjU8AEM9rA0BcwYA_SZ2ucVYhCRYLHtedDSccAoP8tRR0L-mHHmbO7XupLVwsXwAl8WaTjbKvgLaA0JJV2YHUU7JFRq8tv0IwHqzESucGe70sKGe190c09N5aNIwNXIHEMwwYQ6HSRlXUMrHE9cLwzI7yQvrbvjIA06RaEs/s72-w640-h358-c/car-accident-337764_1280.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1618947400959277823.post-7499550210724977430</id><published>2024-06-10T21:58:00.000+08:00</published><updated>2024-06-10T21:58:26.205+08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Audit SMKP"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="elemen SMKP"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kebijakan SMKP"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Safety"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="SMKP"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="SMKP Minerba"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tentang SMKP"/><title type='text'>Komunikasi Kebijakan - Sub Elemen 1.4 SMKP Minerba</title><content type='html'>&lt;p&gt;Komunikasi kebijakan SMKP Minerba – Artikel kali ini melanjutkan sharing mengenai Sub elemen 1.4 dari SMKP Minerba yaitu Komunikasi Kebijakan. Sebelumnya telah dibahas mengenai Sub Elemen 1.1 Penyusunan Kebijakan, 1.2 Isi Kebijakan, dan 1.3 Penetapan Kebijakan. Apakah sudah membaca ? jika belum silakan &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Sub elemen&amp;nbsp;&lt;a href=&quot;https://darmawansaputra.com/penyusunan-kebijakan-smkp-minerba/&quot;&gt;1.1 Penyusunan Kebijakan&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sub elemen&amp;nbsp;&lt;a href=&quot;https://darmawansaputra.com/isi-kebijakan-smkp-minerba/&quot;&gt;1.2 Isi Kebijakan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sub elemen &lt;a href=&quot;https://darmawansaputra.com/penetapan-kebijakan-smkp-minerba/&quot;&gt;1.3 Penetapan Kebijakan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjLARTtaS8TYIKK6qefWtq_tX82esoP47SyTJea86QM-hcvGSDVJbBvDOWtK5qGd22iiBT32jBzikusGXcvWFYCA4ZyuLSxVzp_SoAAM1Kzj99VlS8QnwapLXtQq-lsDWAqmqOFnhStg7yPxkO2E2hWpGjI97r5AQiYqXzpX0K3uqVPGQCff7meNrEFKKQ/s1280/coffee-break-1177540_1280.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;891&quot; data-original-width=&quot;1280&quot; height=&quot;223&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjLARTtaS8TYIKK6qefWtq_tX82esoP47SyTJea86QM-hcvGSDVJbBvDOWtK5qGd22iiBT32jBzikusGXcvWFYCA4ZyuLSxVzp_SoAAM1Kzj99VlS8QnwapLXtQq-lsDWAqmqOFnhStg7yPxkO2E2hWpGjI97r5AQiYqXzpX0K3uqVPGQCff7meNrEFKKQ/s320/coffee-break-1177540_1280.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Oke kita langsung bahas mengenai Sub elemen 1.4 Komunikasi Kebijakan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut KBBI makna dari Komunikasi adalah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;jadi kunci dari komunikasi adalah ada transfer informasi dan dapat dipahami&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bagaimana dengan Sub elemen 1.4 SMKP Minerba&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Komunikasi Kebijakan pada SMKP memiliki 3 hal yang perlu dipenuhi (baca kepdirjen Minerba 185 halaman 337), yaitu:&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Menggunakan bahasa yang dapat dipahami oleh Pekerja&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menggunakan beberapa media&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Melakukan evaluasi ketersampaian informasi&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;h3 class=&quot;wp-block-heading&quot;&gt;Menggunakan bahasa yang dapat dipahami oleh Pekerja&lt;/h3&gt;&lt;p&gt;Kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemimpin tertinggi perusahaan harus dikomunikasikan kepada semua pekerja, dengan bahasa yang mudah dipahami. Kenapa harus mudah dipahami ?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebagai auditor SMKP kita harus menyadari bahwa tidak semua perusahaan dimiliki oleh pemodal dalam negeri saja, ada juga yang yang dimiliki pemodal asing atau penanaman modal asing (PMA) sehingga tidak jarang kebijkan ditulis dalam bahasa asing, padahal pekerjanya banyak orang Indonesia. Atau kebijakan dalam bahasa Indonesia tapi banyak pekerja asing, maka harus disesuaikan dengan bahasa pekerja agar mudah dipahami.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kalau ada pekerja lokal dan asing, auditor harus menanyakan bukti bagaimana penyampaian kebijakan kepada pekerja-pekerja tersebut sehingga mudah dipahami.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selain itu, bahasa kebijakan adalah bahasa pemimpin puncak, bahasa yang bisa jadi sulit dipahami oleh pekerja yang ada di barisan depan pekerjaan (walaupun sudah dengan bahasa lokal kadang penggunaan kata-kata dalam kebijakan adalah kalimat yang tinggi, multi tafsir) maka penyampaian kebijakan harus diterjemahkan atau menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh pekerja, dijabarkan dalam kalimat yang mudah dipahami oleh pekerja.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;h3 class=&quot;wp-block-heading&quot;&gt;Menggunakan beberapa media&lt;/h3&gt;&lt;p&gt;Lazimnya Komunikasi dilakukan secara verbal atau omongan, namun dengan perkembangan saat ini sudah banyak media yang bisa digunakan maka komunikasi kebijakan akan lebih mudah sampai ke semua pekerja jika menggunakan banyak media.  Misal jika komunikasi kebijakan dibacakan saat safety talk, belum tentu semua pekerja mengikuti kegiatan tersebut, sehingga bisa disosialisasikan dengan video penjelasan kebijakan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Komunikasi kebijakan dapat dilakukan dengan papan pengumuman, brosur, verbal dalam apel (briefing), video induksi, video animasi dan lain sebagainya. Semakin banyak cara yang digunakan perusahaan untuk mengkomunikasikan kebijakan kepada pekerjanya maka nilainya akan semakin bagus.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;h3 class=&quot;wp-block-heading&quot;&gt;Melakukan evaluasi ketersampaian informasi&lt;/h3&gt;&lt;p&gt;Setelah melakukan komunikasi kebijakan, perlu dilakukan evaluasi ketersampaian informasi. Ini untuk mengetahui apakah pekerja sudah memahami Kebijakan Keselamatan Pertambangan yang disosialisasikan. Lihat kalimat yang digunakan di Kepdirjen Minerba 185 “…melakukan evaluasi ketersampaian informasi kepada seluruh departemen/bagian dari Pekerja”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jadi yang diminta oleh SMKP Minerba adalah sampai kepada semua departemen, semua bagian, semua section atau apapun penyebutannya. `berarti tidak boleh ada departemen atau section yang tidak mendapat sosialisasi kebijakan. Yang jadi pertanyaan evaluasi ketersampaian informasi ini bentuknya bagaimana, eviden pemenuhannya apa, itu yang sering muncul.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;evaluasi ini dapat dilakukan dengan menampilkan data perbandingan jumlah pekerja di departemen (bisa di section, di bagian) dibanding dengan pekerja yang yang sudah mendapatkan sosialisasi. Misal di Departemen Engineering ada 30 orang, kemudian yang mendapat sosialisasi 15 pekerja (pencapaiannya 50%).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selain evaluasi terhadap jumlah yang telah mendapatkan sosialisasi, evaluasi juga harus dilakukan untuk mengetahui pemahaman terhadap informasi yang disampaikan terkait kebijakan, bisa dilakukan dengan membuat daftar pertanyaan yang berkaitan dengan kebijakan, minta pekerja yang telah mendapatkan sosialisasi untuk melakukan pengisian, akan terlihat apakah pekerja tersebut memahami informasi yang disampaikan. Berapa persen yang lulus atau yang belum lulus.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Oke, demikian pembahasan mengenai Sub elemen 1.4 Komuniasi Kebijakan dalam SMKP Minerba, Walaupun tidak harus diikuti namun semoga ini bisa memberikan insight kepada pembaca.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tunggu artikel selanjutnya ya..&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saran masukan atau diskusi bisa di kolom komentar atau Follow Instagram Saya di&amp;nbsp;&lt;a href=&quot;https://www.instagram.com/darmawans_setiawan/&quot;&gt;@darmawans_setiawan&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.darmawansaputra.com/feeds/7499550210724977430/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/2024/06/komunikasi-kebijakan-smkp-sub-elemen-14.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default/7499550210724977430'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default/7499550210724977430'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/2024/06/komunikasi-kebijakan-smkp-sub-elemen-14.html' title='Komunikasi Kebijakan - Sub Elemen 1.4 SMKP Minerba'/><author><name>Darmawan Saputra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17849717183874773210</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjlPx9pCEdz6RPYkPOwbtZ3tYdlxMTP7JsZxxRbCP0OaCaoDKrRUmO5BcxljHxtMEg5fhUXS3ujCbX_O3-iSDPFnVYRpktmLdQRvMkLL5P80SBiq-33kDVrviWFqL6mPuzEvX0YkzDdcBLOpj5mWwWu3gmbYsUO8JAjunEKdcoLyht8sw/s220/Picture1.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjLARTtaS8TYIKK6qefWtq_tX82esoP47SyTJea86QM-hcvGSDVJbBvDOWtK5qGd22iiBT32jBzikusGXcvWFYCA4ZyuLSxVzp_SoAAM1Kzj99VlS8QnwapLXtQq-lsDWAqmqOFnhStg7yPxkO2E2hWpGjI97r5AQiYqXzpX0K3uqVPGQCff7meNrEFKKQ/s72-c/coffee-break-1177540_1280.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1618947400959277823.post-4360723986040035705</id><published>2023-09-20T17:14:00.000+08:00</published><updated>2024-06-10T20:39:13.141+08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="byford Dolphin"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="human error"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Safety"/><title type='text'>Byford Dolphin Insiden Yang Menegaskan Bahwa &amp;quot;Orang Terbaik Pun Bisa&#xa;Salah&amp;quot;</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Byford Dolphin&lt;/strong&gt; – Byford Dolphin adalah anjungan minyak lepas pantai semi-submersible yang dibangun oleh Aker Engineering dari Oslo pada tahun 1974. Dengan berat 3.000 ton dan diawaki oleh 100 awak, kapal ini mampu melakukan pengeboran di perairan hingga kedalaman 460 meter.&amp;nbsp;Untuk memungkinkan konstruksi dan pemeliharaan kepala sumur pada kedalaman ini, rig tersebut dilengkapi dengan sistem Saturation Diving canggih yang dibangun oleh perusahaan Perancis COMEX.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi5a2PE5F5kPXjXA5KkufINzgyH2RhndcuSecF4Zm4YQ5PEWzzhYH7_Fy3MkEn2ebg8nCEs59Vnm1LwMW_VKc7va7ToHQlaNr0AUppzQNTERqmyfolpvJOIfcDn7yNsFjrmWRyocsSLgJNpDUThE03DZzExdPPc1Gpz77U-n3svsF6KydZLszm8tJ49Na4/s450/Byford%20Dolphin.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;human error; human failure; kegagalan manusia; byord dolphin; keselamatan dan kesehatan kerja, kecelakaan kerja, K3 Pertambangan; byford dolphin&quot; border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;337&quot; data-original-width=&quot;450&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi5a2PE5F5kPXjXA5KkufINzgyH2RhndcuSecF4Zm4YQ5PEWzzhYH7_Fy3MkEn2ebg8nCEs59Vnm1LwMW_VKc7va7ToHQlaNr0AUppzQNTERqmyfolpvJOIfcDn7yNsFjrmWRyocsSLgJNpDUThE03DZzExdPPc1Gpz77U-n3svsF6KydZLszm8tJ49Na4/s16000/Byford%20Dolphin.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;figure class=&quot;wp-block-image aligncenter size-large is-resized&quot;&gt;&lt;figcaption class=&quot;wp-element-caption&quot;&gt;Byford Dolphin oil exploration rig in dry dock at Invergordon (Scotland) on 2008 – Sumber https://en.wikipedia.org/wiki/Byford_Dolphin&lt;/figcaption&gt;&lt;/figure&gt;&lt;p&gt;Saturation diving&amp;nbsp;adalah penyelam laut dalam profesional yang turun ke kedalaman 500 kaki (152 meter) atau lebih untuk memperbaiki peralatan di anjungan minyak lepas pantai dan jaringan pipa bawah laut.&amp;nbsp;Namun tidak seperti kebanyakan penyelam komersial, yang melakukan beberapa jam kerja di bawah air dan kembali ke permukaan, para penyelam akan menghabiskan waktu hingga&amp;nbsp;28 hari&amp;nbsp;dalam satu pekerjaan, tinggal di ruang sempit bertekanan tinggi tempat mereka makan dan tidur di sela-sela shift.&lt;/p&gt;&lt;h4 class=&quot;wp-block-heading&quot;&gt;BAGAIMANA KECELAKAAN INI TERJADI &lt;/h4&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhptpi3GSmeqZPax6Q_1BFW0UWPEIZLWXPIsxk0Sej0jG1q43nfMetmVQ0GCymKk3YyKuTqDK7TmyOpem6P_c4RhAV0w5O7teHxmYgwdBlaCYRnlMb8ca28Vyy7jN0c0ydpWAPrvcLwu_MJCDuzEWl9uzr7jJTRMNWjUgKFL0SyFx6RpDhg04O5QVEgxeo/s400/Byford_Dolphin_Accident.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;human error; human failure; kegagalan manusia; byord dolphin; keselamatan dan kesehatan kerja, kecelakaan kerja, K3 Pertambangan&quot; border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;198&quot; data-original-width=&quot;400&quot; height=&quot;198&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhptpi3GSmeqZPax6Q_1BFW0UWPEIZLWXPIsxk0Sej0jG1q43nfMetmVQ0GCymKk3YyKuTqDK7TmyOpem6P_c4RhAV0w5O7teHxmYgwdBlaCYRnlMb8ca28Vyy7jN0c0ydpWAPrvcLwu_MJCDuzEWl9uzr7jJTRMNWjUgKFL0SyFx6RpDhg04O5QVEgxeo/w400-h198/Byford_Dolphin_Accident.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;figure class=&quot;wp-block-image size-full is-resized&quot;&gt;&lt;figcaption class=&quot;wp-element-caption&quot;&gt;Sketsa Ruang Dekompresi Yang Digunakan Para Penyelam di Byford Dolphin&lt;/figcaption&gt;&lt;/figure&gt;&lt;p&gt;Cara kerja alat ini adalah secara perlahan menurunkan atau menaikkan tekanan udara di dalam ruangan, dengan catatan bahwa semua ruangan harus tertutup rapat tanpa celah. Apabila tekanan dinaikkan atau diturunkan secara perlahan maka tubuh akan bisa menyesuaikan dengan baik, sebaliknya jika terjadi secara cepat maka tubuh manusia akan pecah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada hari Sabtu, 5 November 1983, di mana empat penyelam kembali dari penyelaman dan keluar dari bel penyelaman ke chamber yang terkompresi.&amp;nbsp;Kamar-kamar tersebut terdiri dari kamar 1 yang merupakan tempat Edwin Coward dan Roy Lucas beristirahat, dan kamar 2 dimana Bjørn Bergersen dan Truls Helevik masuk setelah bekerja.&amp;nbsp;Ruang 2 (chamber 2) dihubungkan ke Diving Bell yang dipasang dan diamankan dengan klem yang dioperasikan oleh dua tender yaitu William Crammond dan Martin Saunders, mereka merupakan penyelam berpengalaman yang tahu apa yang seharusnya dilakukan. Tekanan di dalam Chamber adalah 9 atmosfer&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Seorang tender berpengalaman bernama William Crammond sedang melakukan prosedur rutin di Byford Dolphin, ia baru saja menghubungkan diving bell ke ruang tamu dan dengan lancar memasukkan dua penyelam ke dalam ruang satu (chamber 1) sedangkan&amp;nbsp;Dua penyelam lainnya sudah beristirahat di kamar kedua (chamber 2).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Singkat cerita, Prosedur normalnya adalah para penyelam yang masuk ke chamber harus terlebih dahulu menutup dan mengisolasi ruangan dengan menutup rapat semua pintu sehingga tender dapat menurunkan tekanan kapsul.&amp;nbsp;Saat itu tekanan di chamber adalah 9 atmosfer dan akan diturunkan secara perlahan ke 1 atmosfer. Untuk menurunkan tekanan itu maka klem atara Diving Bell dengan ruangan dekompresi (chamber) harus dibuka, namun sebelum itu pintu antara Diving Bell dan ruang dekompresi harus ditutup rapat. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun sebelum Helevik mampu menutup pintu dengan sempurna, William Crammond membuka klem antara diving bell dan ruang dekompresi. Hal ini berujung pada ledakan pada ruang dekompresi karena perubahan tekanan yang drastis, pintu Diving Bell terlontar dan mengenai kedua tender. Sedangkan 4 penyelam yang ada di chamber langsung meninggal dan sebagian tubuh ada yang hancur.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hasil Investigasi selanjutnya menyimpulkan bahwa kecelakaan itu disebabkan oleh Human Error.&amp;nbsp;Ketika William Crammond meninggal dalam insiden tersebut, tidak diketahui alasan dia melepaskan klem sebelum pintu kamar ditutup;&amp;nbsp;penyelidik menduga bahwa kombinasi kelelahan dan kebisingan dek mungkin menyebabkan miskomunikasi yang fatal.&amp;nbsp;Namun, faktor kunci lainnya adalah sistem Saturation Diving itu sendiri, yang, meskipun ada rekomendasi dari regulator minyak dan gas Norwegia DNV, belum dilengkapi dengan interlock, pengukur tekanan, atau fitur keselamatan lainnya untuk mencegah ruang penyelaman terputus saat diberi tekanan.&amp;nbsp;Kesalahan pada peralatan ini tidak disebutkan dalam laporan kecelakaan resmi, dan oleh karena itu keluarga penyelam yang tewas tidak menerima kompensasi finansial.&amp;nbsp;Percaya bahwa penyelidikan tersebut hanya untuk menutup-nutupi.&lt;/p&gt;&lt;h4 class=&quot;wp-block-heading&quot;&gt;PELAJARAN YANG DAPAT DIAMBIL&lt;/h4&gt;&lt;p&gt;Manusia itu tempatnya salah dan lupa…to err is human…kegagalan atau kesalahan itu melekat dengan perilaku manusia, bagian hidup, sangat human being.. bahkan orang-orang terbaik pun bisa melakukan kesalahan seperti kasus Byford Dolphin..mereka adalah orang-orang berpengalaman dan sangat terlatih..namun bisa melakukan kegagalan yang sangat fatal. ini menjadi alarm bagi kita semua dan praktisi K3 bahwa human error tidak mengenal batasan, terlepas dari seberapa berpengalaman, profesionalisme, gender, suku, atau kewarganegaraannya, semua orang pasti akan melakukan kesalahan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Untuk dapat mengelola kegagalan manusia dengan baik, yang harus dilakukan adalah bisa memahami human error dengan benar sebelum menentukan program perbaikan (Baca diartikel berikut : &lt;a href=&quot;https://darmawansaputra.com/human-error-dan-pelanggaran-mistake-dalam-keselamatan-kerja/&quot;&gt;Human Failure&lt;/a&gt;). Kemudian kita harus mulai menerima fakta bahwa semua orang rentan berbuat kesalahan, bahkan orang yang terbaik sekalipun akan berbuat salah (&lt;em&gt;people are fallible, and even the best people make mistakes&lt;/em&gt;)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Referensi:&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;https://history.howstuffworks.com/historical-events/byford-dolphin-accident.htm&lt;/li&gt;&lt;li&gt;https://en.wikipedia.org/wiki/Byford_Dolphin&lt;/li&gt;&lt;li&gt;https://web.archive.org/web/20110720154005/http://www.fredolsen-energy.no/arch/_img/9073113.pdf&lt;/li&gt;&lt;li&gt;https://www.iflscience.com/byford-dolphin-accident-how-living-under-intense-pressure-led-to-one-of-the-most-gruesome-accidents-in-history-59230&lt;/li&gt;&lt;li&gt;https://www.todayifoundout.com/index.php/2021/08/the-most-gruesome-death-the-byford-dolphin-accident/&lt;/li&gt;&lt;li&gt;http://www.syamsularifin.org/2021/06/mengenal-human-error-berbuat-salah.html&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sidney Dekker. 2014. The Field Guide to Understanding ‘Human Error’&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sidney Dekker. The Field Guide to Human Error Investigations&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.darmawansaputra.com/feeds/4360723986040035705/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/2023/09/byford-dolphin-insiden-yang-menegaskan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default/4360723986040035705'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default/4360723986040035705'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/2023/09/byford-dolphin-insiden-yang-menegaskan.html' title='Byford Dolphin Insiden Yang Menegaskan Bahwa &amp;quot;Orang Terbaik Pun Bisa&#xa;Salah&amp;quot;'/><author><name>Darmawan Saputra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17849717183874773210</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjlPx9pCEdz6RPYkPOwbtZ3tYdlxMTP7JsZxxRbCP0OaCaoDKrRUmO5BcxljHxtMEg5fhUXS3ujCbX_O3-iSDPFnVYRpktmLdQRvMkLL5P80SBiq-33kDVrviWFqL6mPuzEvX0YkzDdcBLOpj5mWwWu3gmbYsUO8JAjunEKdcoLyht8sw/s220/Picture1.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi5a2PE5F5kPXjXA5KkufINzgyH2RhndcuSecF4Zm4YQ5PEWzzhYH7_Fy3MkEn2ebg8nCEs59Vnm1LwMW_VKc7va7ToHQlaNr0AUppzQNTERqmyfolpvJOIfcDn7yNsFjrmWRyocsSLgJNpDUThE03DZzExdPPc1Gpz77U-n3svsF6KydZLszm8tJ49Na4/s72-c/Byford%20Dolphin.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1618947400959277823.post-3122121744607414548</id><published>2023-09-10T09:53:00.000+08:00</published><updated>2024-06-10T20:52:51.961+08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Audit SMKP"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Prosedur Kerja"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Safety"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tindakan tidak aman"/><title type='text'>Akankah Gap Antara Prosedur dan Praktik Kerja Bisa Hilang di Tempat&#xa;Kerja?</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Pemeriksaan Kecelakaan&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; – Kecelakaan Kerja menjadi salah satu risiko yang harus dikendalikan oleh organisasi untuk dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan, dengan terjadinya kecelakaan akan banyak kerugian yang ditanggung oleh pengusaha yaitu &lt;a href=&quot;https://darmawansaputra.com/biaya-langsung-dan-tidak-langsung-kecelakaan/&quot;&gt;kerugian langsung dan kerugian tidak langsung&lt;/a&gt;. Ketika kecelakaan kerja sudah terjadi, maka untuk mendapat pembelajaran dari kasus tersebut akan dilakukan &lt;a href=&quot;https://darmawansaputra.com/proses-investigasi-kecelakaan-tambang/&quot;&gt;penyelidikan kecelakaan atau investigasi&lt;/a&gt;. Aktivitas ini dilakukan dengan mengidentifikasi penyebab-penyebab kecelakaan yang diperoleh dari analisa terhadap keterangan Saksi (Saksi langsung dan saksi tidak langsung) serta data-data yang telah dikumpulkan yang sering dikenal dengan 4P (&lt;em&gt;People, Part, Position, Paper&lt;/em&gt;). &lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjFQC_CYqGt18cuAMtK4UPqoLi2AwQq2hlz7NbbISgqcH315hxfRVZFelj-bqQiNmp-ymmwRFl7vPSnzsgXAuqVX8Puj4sIBUhWgTRQVTGtpq9WYguV2d3uCvm69ncXCTlMnWJ4VWvlfpTSZYNNmlX65huhtEjxVWNHnAjH_5Vr_6XiK93-Uacp-lWWe-M/s1680/Prosedur%20Kerja%20Tidak%20Memadai.png&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Prosedur kerja, Keselamatan dan Kesehatan Kerja, K3 Pertambangan, Prosedur kurang memadai, K3 Umum, SMK3, SMKP Minerba&quot; border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;945&quot; data-original-width=&quot;1680&quot; height=&quot;225&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjFQC_CYqGt18cuAMtK4UPqoLi2AwQq2hlz7NbbISgqcH315hxfRVZFelj-bqQiNmp-ymmwRFl7vPSnzsgXAuqVX8Puj4sIBUhWgTRQVTGtpq9WYguV2d3uCvm69ncXCTlMnWJ4VWvlfpTSZYNNmlX65huhtEjxVWNHnAjH_5Vr_6XiK93-Uacp-lWWe-M/w400-h225/Prosedur%20Kerja%20Tidak%20Memadai.png&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;figure class=&quot;wp-block-image size-large is-resized&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/figure&gt;&lt;p&gt;Penyebab kecelakaan yang lazim digunakan digolongkan menjadi Penyebab Langsung dan Penyebab Dasar mengacu pada teori &lt;em&gt;Loss Causation Mode&lt;/em&gt;l yang dikembangkan oleh Frank Bird, rekomendasi yang sangat dianjurkan adalah rekomendasi yang dapat memperbaiki penyebab dasar karena sifat dari perbaikan akan lebih permanen. Sedangkan perbaikan untuk penyebab langsung hanyalah sementara karena penyebab langsung hanya gejala saja.&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhII66xUl3Cl9wRUjCE95D1aR04HhG73DpqtSoAFHj9SCz-swSEf9N5tLpV9aX9AeA0t01DZhQSBWvs52mWPXvBQuObO24giDrro8PAQ03fhhlyeh8R4AkGIYwK6fvYQynRS5LE90HpkVWxadN8N8stPIOSO1_CV6cmH9Ze1e3wtR1uaPQLR9Ugs8UPK-s/s945/Lack%20of%20Control%20(2).PNG&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Prosedur kerja, Keselamatan dan Kesehatan Kerja, K3 Pertambangan, Prosedur kurang memadai, K3 Umum, SMK3, SMKP Minerba, Loss Causation  model, Teori Domino&quot; border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;945&quot; data-original-width=&quot;756&quot; height=&quot;640&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhII66xUl3Cl9wRUjCE95D1aR04HhG73DpqtSoAFHj9SCz-swSEf9N5tLpV9aX9AeA0t01DZhQSBWvs52mWPXvBQuObO24giDrro8PAQ03fhhlyeh8R4AkGIYwK6fvYQynRS5LE90HpkVWxadN8N8stPIOSO1_CV6cmH9Ze1e3wtR1uaPQLR9Ugs8UPK-s/w512-h640/Lack%20of%20Control%20(2).PNG&quot; width=&quot;512&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penyebab Langsung&lt;/strong&gt; (Immediate Causes)&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Tindakan Tidak Aman&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kondisi Tidak Aman&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penyebab Dasar&lt;/strong&gt; (Basic Cause)&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Faktor Pribadi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Faktor Pekerjaan&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;h4 class=&quot;wp-block-heading&quot;&gt;Terus Dimana kah Standar Kerja ?&lt;/h4&gt;&lt;p&gt;Standar kerja masuk ke faktor pekerjaan yaitu pada poin Standar Kerja Kurang Memadai, penyebab ini sangat sering muncul pada hasil pemeriksaan kecelakaan dan jika dibuat dalam statistik penyebab  kecelakaan, penyebab ini memiliki porsi yang sangat dominan dibanding penyebab lain di faktor pekerjaan. Sebagai gambaran berikut kami tampilkan statitik tahun 2018 untuk kecelakaan tambang di Minerba.&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiBfg68hcdMSqbmmLvL7VEhL8X2sX4lL7fz0xqZtR2nBrnV7DSO8Vzy-tyfKrTIGZWahVEcqTH5z2T4z0ZrXURLL8E-bz0fcg8uqwbE0dw_UoE9zdgJfVc9GsN6n7ITvYDqDt4KZ-tgj5TYQBI9clQR7vylRd32iyu0QkVOVgpJoA_4WgJN_vuEF4km2Fg/s945/Kecelakaan%20Tambang.PNG&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Prosedur kerja, Keselamatan dan Kesehatan Kerja, K3 Pertambangan, Prosedur kurang memadai, K3 Umum, SMK3, SMKP Minerba, Loss Causation  model, Teori Domino&quot; border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;525&quot; data-original-width=&quot;945&quot; height=&quot;266&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiBfg68hcdMSqbmmLvL7VEhL8X2sX4lL7fz0xqZtR2nBrnV7DSO8Vzy-tyfKrTIGZWahVEcqTH5z2T4z0ZrXURLL8E-bz0fcg8uqwbE0dw_UoE9zdgJfVc9GsN6n7ITvYDqDt4KZ-tgj5TYQBI9clQR7vylRd32iyu0QkVOVgpJoA_4WgJN_vuEF4km2Fg/w478-h266/Kecelakaan%20Tambang.PNG&quot; width=&quot;478&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;figure class=&quot;wp-block-image size-full is-resized&quot;&gt;&lt;figcaption class=&quot;wp-element-caption&quot;&gt;Sumber : https://aspindo-imsa.or.id/?p=849&lt;/figcaption&gt;&lt;/figure&gt;&lt;p&gt;dari grafik pie di atas terlihat bahwa standar kerja kurang memadai berkontribusi sebesar 45% terhadap kecelakaan tambang yang terjadi di tahun 2018. Angaka yang cukup besar jika dibanding dengan penyebab lainnya di Faktor Pekerjaan. Penyebab ini muncul karena Standar Kerja atau prosedur yang tidak sesuai dengan aktivitas pekerjaan yang dilakukan, prosedur sudah tidak update, tidak ada prosedur kerja, tidak disosialisasikan dengan benar, dan lain sebagainya.&lt;/p&gt;&lt;h4 class=&quot;wp-block-heading&quot;&gt;Apakah Dengan Memperbaiki Prosedur/Standar Kerja Bisa Mencegah Ketidaksesuaian Terhadap Prosedur?&lt;/h4&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Reaksi yang sangat sering dilakukan ketika terjadi kecelakaan kerja adalah dengan menambah detil prosedur kerja dengan tujuan menambal lubang-lubang yang belum diakomodir dalam prosedur kerja atau menambah prosedur baru dengan menyeseuaikan kecelakaan yang baru saja terjadi. Yang menjadi pertanyaan “apakah ini Investasi yang baik terhadap keselamatan kerja?”, sekilas akan nampak seeprti itu. Semua akan merasa tenang dan menganggap kejadian yang serupa tidak akan pernah terjadi karena sudah diatur dalam prosedur yang baru saja direvisi atau dibuat baru. Pekerja akan mengikuti prosedur yang dibuat dan bisa mencegah kegagalan-kegagalan yang dapat menjadi kecelakaan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun kenyataan yang sering terjadi adalah dengan memasukkan aturan yang lebih banyak, lebih rinci, atau lebih terkondisi, spesifikasi prosedural yang berlebihan cenderung memperlebar kesenjangan (gap) antara prosedur dan praktik kerja di lapangan, dari pada mempersempitnya. Aturan akan semakin bertentangan dengan sifat praktik kerja yang sangat bergantung pada konteks pekerjaan (apa, dimana, kapan, siapa yang melakukan pekerjaan tersebut) dan perubahan proses pekerjaan yang bisa saja terjadi kapan saja.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Coba tanyakan ke pekerja yang sedang melakukan aktivitas pekerjaan, apakah selalu dibaca prosedur kerjanya (SOP, Instruksi Kerja, Job Safety Analysis, dan lain-lain), apakah selalu sama dengan prosedur kerja yang dibuat. Coba lihat berapa banyak prosedur kerja yang sudah lewat masa reviewnya. Coba tahu berapa orang yang sudah mendapatkan sosialisasi prosedur kerja tertentu atau seberapa paham mereka terhadap prosedur kerja yang disosialisasikan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Prosedur akan tenggelam dalam tumpukan prosedur yang baru, ketidakpatuhan terhadap prosedur disebabkan bukan karena sengaja melanggar melainkan karena banyaknya dan semakin ketatnya prosedur yang dibuat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Prosedur kerja dibuat dengan pola pikir ideal (&lt;em&gt;work as imagined&lt;/em&gt;) bagaimana perkerjaan seharusnya dilakukan, alat kerja lengkap, dan pekerja yang melakukan kompeten. Namun di tempat kerja sangat kompleks, saat pekerjaan dilakukan tidak selalu ideal seperti yang ditulisakan di prosedur. Ada banyak ketidakpastian, ada banyak penyesuaian, ada banyak kekurangan, ada banyak tekanan kerja (harus cepat, harus efisien) yang dapat mempengaruhi bagaimana pekerja melakukan pekerjaannya (&lt;em&gt;work as done&lt;/em&gt;) , ada ketidaknyamanan antar pekerja, ada bahaya yang tersembunyi. Sayangnya kondisi-kondisi ini hampir tidak ada yang tertulis di prosedur kerja, sehingga apa yang dilakukan oleh pekerja untuk menyelesaikan pekerjaan (&lt;em&gt;work as done&lt;/em&gt;) akan berbeda dengan bagaimana pekerjaan seharusnya diselesaikan seperti yang tertulis di prosedur (&lt;em&gt;work as imagined&lt;/em&gt;).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menambah detil prosedur atau membuat prosedur baru tidak bisa menghilangkan kesenjangan antara apa yang ditulis dengan apa yang dipraktikkan saat pekerjaan dilakukan, yang perlu ditingkatkan adalah kemampuan pekerja menyesuaikan dengan kondisi yang tidak menentu di tempat kerja yang tidak sesuai dengan yang tertulis di prosedur. Pekerja harus dilatih untuk melakukan komunikasi dengan pengawas saat terjadi perubahan-perubahan di tempat kerja, harus diberi pemahaman untuk bisa melakukan identifikasi bahaya dan pengendalian risikonya.&lt;/p&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.darmawansaputra.com/feeds/3122121744607414548/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/2023/09/akankah-gap-antara-prosedur-dan-praktik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default/3122121744607414548'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default/3122121744607414548'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/2023/09/akankah-gap-antara-prosedur-dan-praktik.html' title='Akankah Gap Antara Prosedur dan Praktik Kerja Bisa Hilang di Tempat&#xa;Kerja?'/><author><name>Darmawan Saputra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17849717183874773210</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjlPx9pCEdz6RPYkPOwbtZ3tYdlxMTP7JsZxxRbCP0OaCaoDKrRUmO5BcxljHxtMEg5fhUXS3ujCbX_O3-iSDPFnVYRpktmLdQRvMkLL5P80SBiq-33kDVrviWFqL6mPuzEvX0YkzDdcBLOpj5mWwWu3gmbYsUO8JAjunEKdcoLyht8sw/s220/Picture1.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjFQC_CYqGt18cuAMtK4UPqoLi2AwQq2hlz7NbbISgqcH315hxfRVZFelj-bqQiNmp-ymmwRFl7vPSnzsgXAuqVX8Puj4sIBUhWgTRQVTGtpq9WYguV2d3uCvm69ncXCTlMnWJ4VWvlfpTSZYNNmlX65huhtEjxVWNHnAjH_5Vr_6XiK93-Uacp-lWWe-M/s72-w400-h225-c/Prosedur%20Kerja%20Tidak%20Memadai.png" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1618947400959277823.post-7886389968511777676</id><published>2023-09-07T06:58:00.000+08:00</published><updated>2024-06-11T21:36:10.919+08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="human error"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="human failure"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Safety"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tindakan tidak aman"/><title type='text'>Anda Personil K3 ? Sering Bereaksi Seperti ini Ketika Menghadapi&#xa;Kecelakaan Kerja</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Reaksi Saat Menghadapi Kegagalan &lt;/strong&gt;– Kita semua pernah mengalami kegagalan atau mengetahui kegagalan orang lain, tentu sebagai manusia kita semua pernah mengalami. Kegagalan menjadi bagian dari hidup dan proses dalam membentuk diri lebih baik ke depannya. Namun pada artikel ini kata Kegagalan bukanlah Kegagalan dalam mencapai tujuan hidup seperti Gagal Menjadi Presiden, Gagal Masuk Perguruan Tinggi yang diinginkan, Gagal membeli Handphone seri terbaru. Dalam artikel ini yang dimaksud dengan Kegagalan adalah kesalahan atau kegagalan dalam kaitan keselamatan kerja atau sering dikenal dengan &lt;em&gt;human error&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;human failure&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjmbBehio5n7hS4gn06iMycqAIw0Jt-tAi4dKKbHGpCHhXuiJl5JR6M939ZLh-1A2_dPytZIy9xQvnv2_Y7QWWmKCJaMkxxBWZROzEc6ZWO4gkyymTpSgEV0nh5t8VQWWNqJCTkcHy4Hc_HTPrkFTl6CuEsrFvtAsonFr4BAkBn72dcAE5XVDNt6yjbQeA/s1920/pedestrians-1853552_1920.jpg&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Kegagalan manusia, human error, human failure, keselamatan kerja&quot; border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;1275&quot; data-original-width=&quot;1920&quot; height=&quot;334&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjmbBehio5n7hS4gn06iMycqAIw0Jt-tAi4dKKbHGpCHhXuiJl5JR6M939ZLh-1A2_dPytZIy9xQvnv2_Y7QWWmKCJaMkxxBWZROzEc6ZWO4gkyymTpSgEV0nh5t8VQWWNqJCTkcHy4Hc_HTPrkFTl6CuEsrFvtAsonFr4BAkBn72dcAE5XVDNt6yjbQeA/w501-h334/pedestrians-1853552_1920.jpg&quot; width=&quot;501&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;Apa yang terlintas dipikiran Anda saat melihat atau mendengar pekerja lain mengalami kegagalan sehingga terjadi kecelakaan kerja? respon yang sering muncul dalam pikiran atau ucapan kita diantaranya:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“masa begitu aja gak bisa”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“seharusnya jangan begitu?”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“bagaimana mungkin mereka tidak menyadari?”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“…bagaimana mungkin dia tidak tahu?”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“ahh..orangnya aja itu..sudah jelas aturannya kok”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kita semua bereaksi terhadap kegagalan yang dilakukan orang lain, dan faktanya reaksi awal yang muncul justru mengarahkan pada kegagalan manusia (human error) sebagai penyebab kecelakaan yang terjadi. Kita tidak berusaha memahami apa yang terjadi di balik terjadinya kegagalan yang dilakukan pekerja yang mengalami kecelakaan, hal-hal yang mendorong pekerja melakukan aktivitas atau tindakan yang berujung pada kecelakaan, kita seolah menjadi orang yang paling tahu tentang kondisi tersebut.&lt;/p&gt;&lt;blockquote class=&quot;wp-block-quote&quot;&gt;&lt;p&gt;“OJO RUMONGSO BISO, NANGING KUDU BISO RUMONGSO”&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p&gt;Ada pitutur dari Jawa yang berbunyi “OJO RUMONGSO BISO, NANGING KUDU BISO RUMONGSO”. Kata bijak atau pitutur Jawa ini memiliki arti bahwa sebagai manusia kita&amp;nbsp; diminta “Jangan Merasa Bisa, tapi Harus Bisa Merasa (ojo rumongso biso, nanging kudu biso rumongso). Mengingatkan agar kita tetap menjaga kerendahan hati, jangan merasa paling bisa, namun harus bisa merasa atau tahu diri. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebagai pengawas atau investigator, kita sudah mendapati hasil akhir berupa adanya kecelakaan kerja atau kerugian yang melibatkan pekerja lain. Berbeda dengan pekerja yang mengalami kecelakaan tersebut, pekerja itu melakukan aktivitas secara rutin yang mungkin saja sama dengan yang dilakukan sebelumnya yang berjalan lancar dan selamat, atau bisa juga pekerja itu tidak mendapatkan informasi yang lengkap tentang pekerjaan yang sedang dilakukan, situasi area kerja dan kebijakan-kebijakan baru dari perusahaan. Sedangkan pengawas atau tim investigator setelah mendapat informasi adanya kecelakaan akan langsung mencari tahu tantang semua yang berkaitan dengan kecelakaan atau orang yang mengalami kecelakaan. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sidney Dekker dalam bukunya “The Field Guide to Understanding ‘Human Error&#39;” dan “The Field Guide to Human Error Investigations” menyampaikan bahwa untuk memahami kegagalan, kita harus terlebih dahulu memahami reaksi kita terhadap kegagalan”. Pesan yang ingin disampaikan adalah untuk memahami kenapa pekerja melakukan kegagalan sehingga terjadi kecelakaan (akrab disebut dengan tindakan tidak aman), maka kita harus terlebih dahulu memahami bagaimana kita bereaksi ketika kita mendengar atau melihat kegagalan itu.&lt;/p&gt;&lt;figure class=&quot;wp-block-pullquote has-luminous-vivid-orange-color has-cyan-bluish-gray-background-color has-text-color has-background&quot; style=&quot;border-radius: 0px; border-style: none; border-width: 0px; font-size: 0px; font-style: normal; font-weight: 500;&quot;&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;&lt;mark class=&quot;has-inline-color has-luminous-vivid-amber-color&quot; style=&quot;background-color: rgba(0, 0, 0, 0);&quot;&gt;“TO UNDERSTAND FAILUR, WE MUST FIRST UNDERSTAND OUR REACTIONS TO FAILURE”&lt;/mark&gt;&lt;/p&gt;&lt;cite&gt;SIDNEY DEKKER&lt;/cite&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/figure&gt;&lt;p&gt;Reaksi seseorang ketika mendengar atau menganalisis kegagalan manusia dikelompokkan menjadi empat hal, yaitu retrospektif (&lt;strong&gt;Retrospective&lt;/strong&gt;), proksimal (&lt;strong&gt;Proximal&lt;/strong&gt;), Konterfaktual (&lt;strong&gt;Counterfactual&lt;/strong&gt;), dan Menghakimi (&lt;strong&gt;Judgmental&lt;/strong&gt;)&lt;/p&gt;&lt;h4 class=&quot;wp-block-heading&quot;&gt;Retrospeksi (&lt;strong&gt;Retrospective&lt;/strong&gt;)&lt;/h4&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjVdCU1XQYasE-FlmpNl3JOAWDz4dtjwPfXfsIHEH9o14EpBEEF2hFJYaOPKlLdMHqj_fUkWWrch6SMjl8NluVg2DNd_Hc11OdeTAkJzry6uhuv54s0tw5XDsvIf39O2MB1aREh5tSTlkZW-GECvtVULhF7Lq9kJ9LP-aAMmYoFiXERakom9I45zvWKFbo/s756/Retrospeksi.png&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Kegagalan manusia, human error, human failure, keselamatan kerja&quot; border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;245&quot; data-original-width=&quot;756&quot; height=&quot;130&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjVdCU1XQYasE-FlmpNl3JOAWDz4dtjwPfXfsIHEH9o14EpBEEF2hFJYaOPKlLdMHqj_fUkWWrch6SMjl8NluVg2DNd_Hc11OdeTAkJzry6uhuv54s0tw5XDsvIf39O2MB1aREh5tSTlkZW-GECvtVULhF7Lq9kJ9LP-aAMmYoFiXERakom9I45zvWKFbo/w400-h130/Retrospeksi.png&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;Retrospeksi merupakan reaksi terhadap kegagalan dengan melihat kembali urutan kejadian secara berurutan&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebagai pengawas atau investigator akan melakukan olah tempat kejadian kecelakaan, melihat semua prosedur kerja, mencari catatan yang berkaitan dengan pekerja yang mengalami kecelakaan, membuka kembali kasus kecelakaan yang serupa, mencatat semua runutan cerita sebelum kecelakaan terjadi yang hasil akhirnya sudah diketahui yaitu kecelakaan sedang diinvestigasi. Sehingga mudah menandai hal-hal yang ditengarai gagal dan berkontribusi pada kecelakaan (Ini terjadi pada orang yang ada di posisi outside dan hindsight pada gambar di atas)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Yang harus diingat, pekerja yang mengalami kecelakaan belum tentu mendapatkan informasi selengkap pengawas atau tim investigator. Informasinya sepotong-potong bahkan kadang tidak ada seperti gambar di atas (orang di posisi inside), kadang mendadak (“..eh kamu pindah area kerja ya..”; “eh tolong kesana, disana ada tempat baru..”), dia seperti masuk ke terowongan yang sepenggal-penggal, berkelok dan mungkin tidak ada pencahayaan yang cukup.&lt;/p&gt;&lt;h4 class=&quot;wp-block-heading&quot;&gt;Proksimal (&lt;strong&gt;Proximal&lt;/strong&gt;)&lt;/h4&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi99JggGpMO621VAjHdTfyp0qEGAbjcRlvR85whjtEB77zn6E5YEjak3JKXPMxtUa_3iwH2d_AYPgw0fVZiiHi-KKeqYerUTF3kZBj4b_SGvKvD7rNpfu4jAr0D3cwRxOkMxl6JFHLOKQ7TuVBIZ3XojkYAkV41nqU-zB4p3KIUuFsRDhndljCgeK0BoTU/s392/Proximal.png&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;264&quot; data-original-width=&quot;392&quot; height=&quot;216&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi99JggGpMO621VAjHdTfyp0qEGAbjcRlvR85whjtEB77zn6E5YEjak3JKXPMxtUa_3iwH2d_AYPgw0fVZiiHi-KKeqYerUTF3kZBj4b_SGvKvD7rNpfu4jAr0D3cwRxOkMxl6JFHLOKQ7TuVBIZ3XojkYAkV41nqU-zB4p3KIUuFsRDhndljCgeK0BoTU/s320/Proximal.png&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;Proksimal merupakan reaksi yang difokuskan pada orang-orang yang paling dekat (proximal) dengan kegagalan terjadi&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Investigator akan fokus kepada orang-orang yang berada paling dekat dalam konteks ruang dan waktu pada saat kecelakaan terjadi (posisi sharp end gambar di atas). Sebagian akan menganggap bahwa merekalah penyebab kecelakaan itu, jika bukan karena mereka masalah ini tidak terjadi, atau jika mereka melakukan hal yang benar maka kecelakaan ini dapat terhindarkan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Yang perlu diingat, Untuk memahami kegagalan, kita harus memeriksa sistem yang lebih besar tempat orang-orang ini bekerja. Kita sering lupa pada bagian yang jauh dari kecelakaan (distal) yang ditunjukkan oleh Blunt End pada gambar di atas. Orang yang berada di blund end (ujung tumpul) memberikan sumberdaya untuk sharp end bekerja mencapai tujuan, tapi di waktu yang sama memberikan tekanan (“..jangan lambat ya”; “..harus efisien”, “..buat pelanggan senang..”; dan lainnya) sehingga orang-orang di posisi proksimal/sharp end melakukan kegagalan (active error), yang disebabkan oleh kebijakan orang-orang diposisi blunt end/distal (latent error)&lt;/p&gt;&lt;h4 class=&quot;wp-block-heading&quot;&gt;Konterfaktual (&lt;strong&gt;Counterfactual&lt;/strong&gt;)&lt;/h4&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgR03CAVH3Va8GqiIWI4T39hXjdoDyWXrUGGDHJ7UZclRQ9bNgKWQJyfQIFR5EY1xRIVW5B7CTQGCjZnNMf9vOtvNEWBc0AiTIRiSTkRxtuIjadHR2vfacgUPQy92GUICpBqT8LZL8mQGqvGQdvH9F8IhbotRZYVHmOAJ1aDcncZM4DGYo4tZ9hVjKG4O8/s523/Konterfaktual.png&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Kegagalan manusia, human error, human failure, keselamatan kerja&quot; border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;236&quot; data-original-width=&quot;523&quot; height=&quot;144&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgR03CAVH3Va8GqiIWI4T39hXjdoDyWXrUGGDHJ7UZclRQ9bNgKWQJyfQIFR5EY1xRIVW5B7CTQGCjZnNMf9vOtvNEWBc0AiTIRiSTkRxtuIjadHR2vfacgUPQy92GUICpBqT8LZL8mQGqvGQdvH9F8IhbotRZYVHmOAJ1aDcncZM4DGYo4tZ9hVjKG4O8/s320/Konterfaktual.png&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;Konterfaktual merupakan reaksi dengan melihat hal-hal yang dapat mencegah kegagalan terjadi&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Investigator akan memulai menelusuri peristiwa dari kecelakaan yang sudah terjadi, kemudian menelusuri ke balakang apa saja yang mereka lewatkan sehingga kecelakaan terjadi. Jika melihat gambar di atas, ada 2 kemungkinan yang diharapkan sebagai tujuan pekerjaan (possible outcome 1 dan 2), tapi ternyata yang terjadi berbeda (actual outcome). Keseringan Investigator terlalu menyederhanakan kejadian “Kenapa tidak ke kanan (why didn’t they zig?), seharusnya bisa tidak celaka (possible outcome 1)” atau “kenapa dia tidak ke kiri (why didn’t they zag?) sehingga bisa ke possible outcome 2” .&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Yang perlu diingat, kita tidak berada pada situasi yang sama dengan pekerja yang mengalami kecelakaan. Kita cenderung mengubah serangkaian peristiwa yang tidak pasti dan kompleks (sudut pandang dari orang yang mengalami kecelakaan) menjadi serangkaian pilihan yang jelas dan sederhana karena kita sudah tahu hasil akhirnya. Sehingga investigator lebih mudah berkata “seharusnya kamu begini..kalau kamu lakukan yang itu akhirnya celaka”, “seharusnya jangan manuver terlalu jauh..”.&lt;/p&gt;&lt;h4 class=&quot;wp-block-heading&quot;&gt;Menghakimi (&lt;strong&gt;Judgmental&lt;/strong&gt;)&lt;/h4&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhv34YnOLLayQkbicJoX7Qv7_44o63L1890doKAkhJvHI1C9Z4gwKkDrz48PpWmuN5IhsSZ7OI4AsVAh23k2lpZ7XBdMl-lb5WtxYF-pOEeeOPbvW5tfO7pSLp301IJZurYuTooaYS9tHAYmd7YYLBDDS5eityOBokjEqqNNGc369KEHE2e57CDIv8V-7Y/s524/Menghakimi.png&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Kegagalan manusia, human error, human failure, keselamatan kerja&quot; border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;233&quot; data-original-width=&quot;524&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhv34YnOLLayQkbicJoX7Qv7_44o63L1890doKAkhJvHI1C9Z4gwKkDrz48PpWmuN5IhsSZ7OI4AsVAh23k2lpZ7XBdMl-lb5WtxYF-pOEeeOPbvW5tfO7pSLp301IJZurYuTooaYS9tHAYmd7YYLBDDS5eityOBokjEqqNNGc369KEHE2e57CDIv8V-7Y/s16000/Menghakimi.png&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;Menghakimi merupakan reaksi dengan mengatakan apa yang seharusnya mereka lakukan atau yang gagal dilakukan&lt;/p&gt;&lt;p&gt;dengan cara pandang seperti ini “untuk menjelaskan kegagalan, kita mencari kegagalan. Untuk menjelaskan mengapa kegagalan terjadi maka perlu mencari kesalahan, tindakan yang salah, analisa yang salah, persiapan yang tidak baik, dan hal-hal yang gagal dilakukan lainnya”.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Perlu diingat, semua anggapan terhadap keputusan, penilaian, atau persepsi yang salah tadi muncul di belakang setelah ada kecelakaan terjadi. Hampir sama dengan yang sebelumnya, kita tidak berada pada posisi pekerja yang mengalami kecelakaan. Sebagai contoh ringan saat pembuatan roti/bolu berikut&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Rotinya bantet tidak mengembang, baru ditelusur ke proses pembuatan apa saja tadi yang dilakuakn si pembuat roti. Tim investigator menyimpulkan pembuat roti gagal seharusnya memberi pengembang sedikiti lebih banyak, jangan terlalu lama diaduk, waktu pemanggangan lebih lama sedikit”. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kita sering beranggapan bahwa hasil yang buruk selalu diawali oleh proses yang buruk. Padahal tidak begitu adanya. Hal yang mencolok dari banyak kecelakaan adalah bahwa orang-orang melakukan persis seperti hal-hal yang biasanya mereka lakukan. Hal-hal yang biasanya mengarah pada kesuksesan pekerjaan dan keselamatan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mereka melakukan apa yang masuk akal bagi mereka saat itu mengingat indikasi situasional, tekanan operasional, dan norma organisasi yang ada pada saat itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kalau kita berada pada kondisi kerja, tekanan yang sama dan sumberdaya yang sama. Bisa jadi kita juga akan melakukan hal yang sama dengan mereka.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Referensi:&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;•https://satupersen.net/blog/counterfactual-thinking&lt;/li&gt;&lt;li&gt;•Sidney Dekker. 2014. The Field Guide to Understanding ‘Human Error’&lt;/li&gt;&lt;li&gt;•Sidney Dekker. The Field Guide to Human Error Investigations&lt;/li&gt;&lt;li&gt;•https://www.linkedin.com/pulse/principles-human-performance-paradigm-human-performance&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.darmawansaputra.com/feeds/7886389968511777676/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/2023/09/anda-personil-k3-sering-bereaksi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default/7886389968511777676'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default/7886389968511777676'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/2023/09/anda-personil-k3-sering-bereaksi.html' title='Anda Personil K3 ? Sering Bereaksi Seperti ini Ketika Menghadapi&#xa;Kecelakaan Kerja'/><author><name>Darmawan Saputra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17849717183874773210</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjlPx9pCEdz6RPYkPOwbtZ3tYdlxMTP7JsZxxRbCP0OaCaoDKrRUmO5BcxljHxtMEg5fhUXS3ujCbX_O3-iSDPFnVYRpktmLdQRvMkLL5P80SBiq-33kDVrviWFqL6mPuzEvX0YkzDdcBLOpj5mWwWu3gmbYsUO8JAjunEKdcoLyht8sw/s220/Picture1.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjmbBehio5n7hS4gn06iMycqAIw0Jt-tAi4dKKbHGpCHhXuiJl5JR6M939ZLh-1A2_dPytZIy9xQvnv2_Y7QWWmKCJaMkxxBWZROzEc6ZWO4gkyymTpSgEV0nh5t8VQWWNqJCTkcHy4Hc_HTPrkFTl6CuEsrFvtAsonFr4BAkBn72dcAE5XVDNt6yjbQeA/s72-w501-h334-c/pedestrians-1853552_1920.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1618947400959277823.post-2380845938329060650</id><published>2023-08-08T20:47:00.000+08:00</published><updated>2024-06-10T21:09:06.089+08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Audit"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Audit SMKP"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="elemen SMKP"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Peraturan tentang SMKP"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Safety"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="safety maturity level"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="SMKP"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="SMKP Minerba"/><title type='text'>Penilaian Tingkat Pencapaian Kinerja Keselamatan Pertambangan</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Kinerja Keselamatan Pertambangan &lt;/strong&gt;– Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan (SMKP Minerba) telah dijalankan sejak dikeluarkan Permen ESDM No 38 Tahun 2014, seiring berjalannya waktu peraturan ini diganti dengan dikeluarkannya&lt;a href=&quot;https://darmawansaputra.com/permen-esdm-no-26-tahun-2018/&quot; rel=&quot;noreferrer noopener&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&amp;nbsp;Permen ESDm no 26 Tahun 2018 Tentang pelaksanaan kaidah pertambangan yang baik dan pengawasan pertambangan mineral dan batubara&lt;/a&gt;.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setelah mengeluarkan Permen ESDM no 26 tahun 2018 tentang Pelaksanaan Kaidah Pertambangan Yang Baik dan Pengawasan Mineral dan Batubara sekaligus mencabut beberapa regulasi sebelumnya. Pemerintah Indonesia melalui Kementrian ESDM mengeluarkan pedoman pelaksanaannya, salah satunya adalah dengan dikeluarkannya&amp;nbsp;&lt;a href=&quot;https://darmawansaputra.com/kepmen-esdm-no-1827-2018/&quot; rel=&quot;noreferrer noopener&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;KepMen ESDM No 1827 K/30/MEM/2018 tentang Pedoman Pelaksanaan Kaidah Teknik Pertambangan Yang Baik&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiNV7FCIqqvifo1YwtnjBbsCWf1TUAMkFXC3aIv76JMtffpOdrUxdWZF9tnEl-DMnY4y2k4xPUwZ5CSOam7Z-EWgjElDvgaw7zig4ZUfrSfcXfC2tfg7SL1aGWse0tyA4MvU6OwKBUZu6LAhORbsDYt-tcL1mRYUGJAllSYxn9cIyYDXgYmY77Q27X_mJA/s1920/hummingbird-5255827_1920.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Keselamatan Pertambangan, Safety Maturity level, Pencapaian kinerja Keselamatan, K3 Pertambangan, SMKP Minerba&quot; border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;1242&quot; data-original-width=&quot;1920&quot; height=&quot;389&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiNV7FCIqqvifo1YwtnjBbsCWf1TUAMkFXC3aIv76JMtffpOdrUxdWZF9tnEl-DMnY4y2k4xPUwZ5CSOam7Z-EWgjElDvgaw7zig4ZUfrSfcXfC2tfg7SL1aGWse0tyA4MvU6OwKBUZu6LAhORbsDYt-tcL1mRYUGJAllSYxn9cIyYDXgYmY77Q27X_mJA/w601-h389/hummingbird-5255827_1920.jpg&quot; width=&quot;601&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;figure class=&quot;wp-block-image aligncenter size-large&quot;&gt;&lt;figcaption class=&quot;wp-element-caption&quot;&gt;Sumber : Pixabay.com&lt;/figcaption&gt;&lt;/figure&gt;&lt;p&gt;Pada lampiran IV KepMen ESDM No 1827 K/30/MEM/2018 dijelaskan bahwa “ketentuan lebih lanjut mengenai penilaian, penerapan, dan pelaporan SMKP Minerba, SMKP Khusus pada pengelolaan dan/atau pemurnian ditetapkan lebih lanjut dalam petunjuk teknis oleh Direktur Jenderal”, oleh karena itu kelurlah peraturan baru yaitu &amp;nbsp;&lt;a href=&quot;https://darmawansaputra.com/petunjuk-teknis-smkp/&quot; rel=&quot;noreferrer noopener&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Kepdirjen Minerba No 185.K/37.04/DJB/2019 tentang Petunjuk Teknik Pelaksanaan Keselamatan Pertambangan dan Palaksanaan, Penilaian dan Pelaporan Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan Mineral dan Batubara.&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada elemen 2 (perencanaan) diminta untuk melakukan penelaahan awal (Sub elemen 2.1) yang menggambarkan tingkat pencapaian kinerja keselamatan pertambangan berdasarkan partisipasi pekerja, tanggung jawab pemimpin unit kerja, analisis data statistik kecelakaan, penyakit akibat kerja, kejadian akibat penyakit tenaga kerja, dan kejadian berbahaya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan melakukan pengukuran tingkat pencapaian kinerja keselamatan pertambangan dengan cara yang berbeda-beda untuk memenuhi kriteria yang ada pada sub elemen 2.1 tersebut. pengukuran tingkat pencapaian kinerja ini sering disebut dengan Safety Maturity Level atau tingkat kematangan keselamatan kerja.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun saat ini telah dikeluarkan regulasi pemerintah yang mengatur terkait pengukuran Tingkat Pencapaian Kinerja Keselamatan Pertambangan yang dikemas dalam Kepdirjen Minerba No Kepdirjen Minerba NO.10.K/MB.01/DJB.T/2023 Tentang Petunjuk Teknis Penilaian Kinerja Keselamatan Pertambangan.&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;has-regular-font-size&quot;&gt;Pada peraturan baru ini dijelaskan secara detil bagaimana melakukan Penilaian Kinerja Keselamatan Pertambangan dengan membuat skoring pada parameter yang telah ditentukan. Untuk lebih jelasnya silakan dibaca &lt;a href=&quot;https://drive.google.com/file/d/1q18jts9eZnX9VHEaj0JMFcoKDrRaR7tb/view?usp=sharing&quot; rel=&quot;noreferrer noopener&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Kepdirjen Minerba NO.10.K/MB.01/DJB.T/2023 Tentang Petunjuk Teknis Penilaian Kinerja Keselamatan Pertambangan.&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.darmawansaputra.com/feeds/2380845938329060650/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/2023/08/penilaian-tingkat-pencapaian-kinerja.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default/2380845938329060650'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1618947400959277823/posts/default/2380845938329060650'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.darmawansaputra.com/2023/08/penilaian-tingkat-pencapaian-kinerja.html' title='Penilaian Tingkat Pencapaian Kinerja Keselamatan Pertambangan'/><author><name>Darmawan Saputra</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17849717183874773210</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjlPx9pCEdz6RPYkPOwbtZ3tYdlxMTP7JsZxxRbCP0OaCaoDKrRUmO5BcxljHxtMEg5fhUXS3ujCbX_O3-iSDPFnVYRpktmLdQRvMkLL5P80SBiq-33kDVrviWFqL6mPuzEvX0YkzDdcBLOpj5mWwWu3gmbYsUO8JAjunEKdcoLyht8sw/s220/Picture1.png'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiNV7FCIqqvifo1YwtnjBbsCWf1TUAMkFXC3aIv76JMtffpOdrUxdWZF9tnEl-DMnY4y2k4xPUwZ5CSOam7Z-EWgjElDvgaw7zig4ZUfrSfcXfC2tfg7SL1aGWse0tyA4MvU6OwKBUZu6LAhORbsDYt-tcL1mRYUGJAllSYxn9cIyYDXgYmY77Q27X_mJA/s72-w601-h389-c/hummingbird-5255827_1920.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>