<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>DARUL MANTHIQ</title><description>Bening Hati Cemerlang Akal Di Sini dan Di Sana</description><managingEditor>noreply@blogger.com (Sobar Alghazal)</managingEditor><pubDate>Fri, 1 Nov 2024 03:47:02 -0700</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">33</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>http://darulmanthiq.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Bening Hati Cemerlang Akal Di Sini dan Di Sana</itunes:subtitle><itunes:category text="Education"><itunes:category text="Educational Technology"/></itunes:category><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><title>SEKARANG MASIH YANG DI BELAKANG KE DEPAN AKAN SAMA</title><link>http://darulmanthiq.blogspot.com/2012/03/sekarang-masih-yang-di-belakang-ke.html</link><author>noreply@blogger.com (Sobar Alghazal)</author><pubDate>Wed, 21 Mar 2012 02:16:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6406819688840670115.post-4630713652044138935</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;Sejak semula, tepatnya sadar akan ada, kita bertanya&lt;br /&gt;
Bertanya seputar ada&lt;br /&gt;
Kubu kedua berlainan dengan yang pertama&lt;br /&gt;
Pertama, ada itu realita itu di indera&lt;br /&gt;
Yang kedua justeru di idea&lt;br /&gt;
Persoalan realita memang sudah setua umur manusia&lt;br /&gt;
Hingga ke depan tinggal bertanya,&lt;br /&gt;
Apakah realita?&lt;br /&gt;
Abad kini abad 21 mengandung pandangan bahwa realita itu tanpa bentuk, dan bahasa adalah cetakannya&lt;br /&gt;
Kalau bahasa cetakan realita?&lt;br /&gt;
Masih adakah ada?&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>BAHASA HAMPIR MENJADI YANG NYATA</title><link>http://darulmanthiq.blogspot.com/2012/02/bahasa-hampir-menjadi-yang-nyata.html</link><author>noreply@blogger.com (Sobar Alghazal)</author><pubDate>Sun, 19 Feb 2012 12:12:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6406819688840670115.post-5085033731443394920</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengalaman diekspresikan melalui bahasa. Bahasa bisa merumuskan sebuah pengalaman hingga menembus ke arah jantung realitas (kenyataan) yang paling sejati. Bahasa menjadi kesadaran yang mampu menghadirkan cahaya Tuhan ke dunia empiris; lalu kesadaran itu merumuskan dalam ungkapan-ungkapan pengalaman keruhanian yang bersifat subjektif dan karena itu, memiliki keterbatasan-keterbatasan. Sungguh posisi kesadaran subjektif dan personal itu terakui dalam bangunan epistemologi Islam.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keterpautan bahasa dengan kenyataan ini bila meresap pada pemikiran dialektika seseorang, maka mengakibatakan orang bersangkutan itu menjadi pribadi yang gelisah, mengakibatkan pada diri orang tersebut terdapat &lt;i&gt;&lt;b&gt;Contradictio Interminis&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;, yakni "pertentangan diametral sejati dan berlangsung terus menerus". Tidak saja bertentangan dan saling meniadakan satu sama lain, tetapi bahkan menandai lahirnya, sekaligus menggambarkan sebuah gaya pikiran mendasar yang mendukung kepada kebijaksanaan yang sama sekali baru. Di sisi lain mengarah kepada gaya pikir analitik yang dibangun di atas proses bahasa melakukan pengobatan pikiran mendasar dan kebermaknaan bahasa tersebut. Bahasa merupakan salah satu bentuk ekspresi pengalaman yang lalu dipersoalkan kebermaknaannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bahasa memang berfungsi menggambarkan fakta; di mana sebuah bahasa menjadi bermakna manakala memiliki sandaran faktualnya pada dunia empirik. Dengan demikian ungkapan-ungkapan yang tak bersandarkan faktual pada dunia empiris, ia merupakan bahasa sebagai tidak bermakna dan omong kosong, alias non-sense, karena tidak memiliki sandaran faktualnya secara empirik itu tadi. Namun di sisi lain, bahwa lalu lintas bahasa dalam kehidupan sangat banyak; karena itu, aturan main bahasa yang secara inhern melekat pada setiap jenis bahasa dengan sendirinya pun beragam. Jadi fungsi bahasa tidak tunggal tetapi jamak; sangat tergantung kepada jenis-jenis kehidupan yang digambarkannya. Bahasa dapat dipandang sebagai salah satu jenis kenyataan yang tumbuh dalam forma kehidupan tertentu, yang pada urutannya memiliki keabsahannya sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari sisi itu tadi, bahasa masuk kedalam tataran epistemologis; di mana bahasa mempunyai aturan main bahasa sendiri yang mesti dihormati. &lt;i&gt;&lt;b&gt;Wa 'l-Ll&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;hu A'lam bi 'l-Shaww&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;b&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>GURU YANG BERUPAYA MAUNYA DIGUGU DAN DITIRU</title><link>http://darulmanthiq.blogspot.com/2012/02/guru-yang-berupaya-maunya-digugu-dan.html</link><author>noreply@blogger.com (Sobar Alghazal)</author><pubDate>Sat, 18 Feb 2012 01:04:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6406819688840670115.post-4981118165093495718</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku seorang guru. Guru yang kehilangan daya tarik dan ditinggalkan (peminat menjadi) murid. Aku patut disalahkan; bukan guru yang layak disalahkan, namun aku sebagai orang guru. Bukan pula (para peminat mejadi) murid, juga bukan pula masyarakat keguruan dan keilmu-pendidikanan atau masyarakat umum dan pada umumnya. Daya tarik guru datang dan menyebul dari aku sebagai orang guru. Daya tarik guru diciptakan dan diupayakan oleh aku, orang guru. Murid yang dituntun, yang menyimak dan mencerap melalui indera, rasa, akal, dan hati (qalb), yang kemudian membenci atau memuji, atau menghargai dan berbagi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika tak ada lagi yang berminat mempelajari sesuatu dariku sebagai orang guru, maka yang patut disalahkan adalah aku pula, yang menjadi orang guru, bukan guru itu sendiri atau anggota masyarakat yang tak berminat datang berkunjung untuk berguru kepadaku sebagai orang guru. Guru hadir dan bergulir bersama komunitas. Hakikat guru serta keguruan dan keilmu-pendidikanan adalah kebersamaan. Dunia guru serta pikiran dan tindakan keguruan itu dibangun secara kolektif. Keterjadian guru menyebul muncul dari kegiatan bersama. Peribadatan dan pembatian bersama dan persahabatan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Guru, yang dimaksud aku sebagai orang guru mesti menciptakan komunitas kebersamaan dan persahabatan, lalu memeliharanya, dan bukan malah mempertajam kesendirian. Guru dalam sistem sosial, yang tak pernah berlangsung di ruang yang kosong. Guru merupakan pertemuan yang padu utuh seutuhnya dari panca indera, rasa (dzauq), pikiran, dan tindakan. Indera penghasil sains yang mendukung praktek yang bersifat operasional, dzauq mempertajam kepekaan, pikiran melahirakan teori, dan tindakan menyatukan serta membuahkan hasil nyata.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Barangkali aku dalam banyak penyimpangan, aku melulu kemenyendirian; yang mengakibatkannya aku dalam keserba kemandegan. Bisa-bisa berkat aku, guru dalam posisi teraliensi; guru dijadikan atau dengan sendirinya menjadi monster, ririwa yang mengerikan, egoistis, rumit memperumit, kompleksitas yang pepal absurditas, tidak menarik karena aku sebagai orang guru berfokus hanya kepada diri pribadi-personal, sangat subjektif. Jangan-jangan karena aku yang berperilaku seperti itu, mengakibatkan guru dan peristiwa keguruan juga segala kegiatan dan aktivitasnya tersudutkan pada ujung bahwa guru dan peristiwa keguruan itu hanya buang waktu dan buang energi belaka. Lalu, guru pun, termasuk aku sebagai orang guru itu akan dihindari. Yang akibatnya, guru dan aku terpinggirkan dan tersingkirkan oleh masyarakat itu sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk itu, aku setiap saat harus menemukan jawaban dan pemecahan permasalahan 1). apa yang perlu aku berupaya tatkala aku sebagai orang guru kehilangan daya tarik, 2). langkah apa yang segera perlu aku lakukan tatkala aku sebagai orang guru mulai kehilangan (peminat menjadi) murid, 3). apa yang perlu dilakukan agar aku sebagai orang guru kembali memiliki daya tarik, tatkala aku sebagai orang guru tidak menarik lagi untuk digugu dan ditiru.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sikap responsifitas aku akan berupa jawaban dan pemecahan masalah-masalah itu perlu dalam kesegeraan; desakan permasalahan itu sangat terang; permasalahan saat kini dan di sini, harus dipecahkan sekarang sesegera mungkin juga. Permasalahan kemarin atau esok hari, pemecahannya akan lain lagi. Jiwa zaman, wawasan, dan kawasan menuntut dan menuntun penyelesaian dan pemecahan permasalahan berlainan dan berbeda-beda serta secara sendiri-sendiri, serta masing-masingnya bersifat spesifik; sehingga menggambarkan tindakan penanggulangannya pun berbeda.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku perlu hadir secara bersama dan bersahabat pada suatu waktu tertentu dan bertemu pada sebuah ruang yang menjadi tempatnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku mesti terus menerus mempelajari, mengamati, menakar, menilik, menimbang, dan memperhitungkan aku sebagai pelaku sebagai orang guru, tempatnya, dan komunitasnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku mesti memiliki impian, gagasan atau idea yang dikonsepkan menjadi sebuah rancangan tindakan; aku mesti menguasai pengetahuan dan keterampilan bermenjadi guru, yang kemudian dikembangkan bahkan dibuahkan secara optimal selaras kebutuhan; aku mesti membiasakan kreatif; aku mesti membangkitkan tindakan keguruan dari orang, atau sejumlah orang yang berhasrat serta berminat; dan aku mesti dalam kebersamaan dan kebersahabatan degan masyarakat sekaligus saling berbagi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aku bermenjadi guru karena hendak mengungkapkan rasa terimakasih kepada sama sama manusia, kehidupan, alam, dan yang tertinggi kepada Tuhan, Allah Swt Awj. Aku berupaya berupa kemencarian dan pencapaian kebahagiaan dunia-akhirat melalui cermin jujur (al-&lt;u&gt;A&lt;/u&gt;m&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;n) yang bersumber dari akal, daya budi (qalb), dan hati nurani (dzauq) sebagai anugerah dari Tuhan, Allah Swt Awj. &lt;b&gt;&lt;i&gt;Wa 'l-Ll&lt;/i&gt;&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;&lt;i&gt;hu a'lam&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>MAKNA SENANDUNG HARAPAN IKATAN PROPETIK KEABADIAN</title><link>http://darulmanthiq.blogspot.com/2012/02/makna-senandung-harapan-ikatan-propetik.html</link><author>noreply@blogger.com (Sobar Alghazal)</author><pubDate>Fri, 17 Feb 2012 08:03:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6406819688840670115.post-3437966890328926113</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kudisuruh dan diseru untuk bertaf&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;'ul kepada rasul lewat persembahan du'a pembuka firman Tuhan Yang Bernama Allah Swt Awj yang terkumpul dalam catatan Al-Qur'an. Persembahan kepada Nabi terpilih, yakni utusan Allah; persembahan itu pun kuperhadapkan kepada keluarga, para sahabat, dan para kekasihnya; kuhadapkan pula persembahan du'a tersebut kepada para wali beserta para sahabatnya, juga kepada pucuk pemimpin wali-wali.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Permulaan, termasuk berdu'a hanyalah atas Nama Allah Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang. Segala puji dan puja hanyalah milik Allah, Rabb, yang segala-Nya termasuk meliputi seluruh alam semesta. Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang. Pemilik hari pembalasan. Hanyalah kepada Engkau, kami beribadah dan hanyalah kepada Engkau, kami mohon pertolongan. Tunjukkan jalan lurus kepada kami sekaligus tuntunlah kami ke arah jalan yang lurus itu. Jalan orang-orang yang Engkau berikan ni'mat kepada mereka; bukanlah jalan orang-orang yang Engkau membeci mereka; dan bukanlah pula jalan orang-orang yang sesat. Semoga Engkau berkenan menjawab serta menyahut berupa mengkabulkan harapan kami.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keluh dipadu-utuhkan dengan jeritan berupa seruan pada diriku memunculkan pengagungan akan-Mu sungguh aku ajukan permohonan kepada-Mu berupa pemecahan problematika yang lengket dengan diriku, permohonan yang kuajukan itu melalui tanda-tanda keuasaan dan keberadaan-Mu yang Teragung yang tertetapkan pada bercakan cahaya Dzat-Mu yang tertangkap pada permukaan-Mu yang Tertinggi, yang terabadikan, yang menenatap, mantap, lagi diterusmeneruskan selama-lamanya dalam pergolakan hidup nabi dan utusan-Mu, yakni Nabi Muhammad; dan sungguh aku ajukan permohonan kepada-Mu melalui tanda-tanda kekuasaan dan keberadaan-Mu yang &amp;nbsp;Teragung, yang Tunggal dengan kesatu-utuhan ketunggalan yang tunggal, lagi terenyahkan dari susunan terpadu kuantitas berupa jumlah dan bilangan serta hitungan yang terkikis-habiskan dari seluruh dan setiap satu sebagai jumlah dan bilangan apa dan siapa pun; dan dengan dimensi kebenaran Permulaan, termasuk kerja ibadah berdu'a atas Nama Allah Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang. Katakanlah Allah itu Tunggal. Allah itu Tambatan semua dan segala. Dia tak beranak dan tidak diperanapinakkan. Dan Dia tidak memiliki keserupaan dan kesetimbangan dengan satu apa dan siapa pun. Semoga Engkau melimpahkan rahmat kepada Jungjungan dan Pemimpin kami, yakni Nabi Muhammad Saw, beliau misteri berupa rahasia kehidupan yang wuj&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;d; dan beliau pangkal, causa yang teragung bagi semua dan seluruh yang mauj&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;d, suatu rahmat yang berfungsi memantapkan iman dalam hatinuraniku, membuat dan menjadikanku hafal Al-Qur'an, membuat dan menjadikan aku memahami segala yang berpusat dan bersumber dari Al-Qur'an itu berupa tanda-tanda kekuasaan dan keberadaan Allah Swt Awj, yang membukakan bagiku kilatan serta kilauan cahaya sejumlah surga, cahaya surga keni'matan, dan cahaya yang mengarahkanku mampu melihat Dzat-Mu Yang Mahamulia; dan semoga rahmat termaksud itu Engkau limpahkan kepada keluarga dan para sahabat beliau; dan kesejahteraan pun Engkau melimpahkannya kepada kami semua. Wallahu bi '-Shawwab.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>FUNDASI PENDIDIKAN</title><link>http://darulmanthiq.blogspot.com/2012/02/fundasi-pendidikan.html</link><author>noreply@blogger.com (Sobar Alghazal)</author><pubDate>Tue, 14 Feb 2012 10:24:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6406819688840670115.post-1873457427294880967</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pendidikan mengandung adanya upaya dari pihak luar diri manusia, yaitu pengaruh lingkungan; baik berupa manusia, lingkungan itu sendiri, dan budaya. Namun yang paling pokok adalah pengaruh dari pihak manusia itu sendiri, mengingat bahwa pendidikan itu adalah ciri khas perbuatan atau tindakan manusia. Bila pendidikan itu upaya, maka pendidikan itu di samping perlu proses juga yang esensial adalah bertujuan; di mana tujuan pendidikan secara pokok adalah menghasilkan lulusan yang bagus, baik, dan benar, serta yang paling inti ada. Gambaran pendidikan seperti ini menunjukkan bahwa pendidikan harus dirancang atau didesain sebagus-bagus, sebaik-baik, sebenar-benar, dan sehakikinya. Perancangan itu guna menghasilkan lulusan yang bagus, baik, benar, dan ada, yaitu menghasilkan manusia yang ideal sepanjang yang dapat diusahakan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rancangan pendidikan tentu di samping harus diletakkan pada dan harus dapat dipertanggungjawabkan dasar yang melandasinya sebagai fundasi pendidikan; juga dasar yang dijadikan landasan perancangan tersebut secara kokoh melandasi perancangan itu sendiri dan mendasari pelaksanaan pendidikan itu sendiri. Dengan demikian, dasar itu secara sisi etika mesti menjamin hasil keluaran pendidikan itu, yaitu lulusan yang menjadi manusia yang sebaik-baiknya. Sisi estetika menjamin lulusan pendidikan itu menjadi manusia yang sebagus-bagusnya dan seindah mungkin.Sisi logika menjamin lulusan pendidikan itu menjadi manusia yang sebenar-benarnya. Dan secara esensial, sisi ontologis menjamin lulusan pendidikan menjadi manusia Tuhan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pandangan hidup di samping sebagai pangkal tolak dalam peletakan dasar yang melandasi perancangan dan pekerjaan pendidikan, juga mewarnai perancangan dan pekerajaan pendidikan. Orang muslim memiliki pandangan bahwa manusia itu intinya adalah ruh. Al-Syaikhu 'l-Akbar, Syaikh Muhyi 'l-Din Ibnu Arabi berpendapat bahwa &lt;b&gt;Ar-R&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;h wa 'l-Nafs wa 'l-Qalb wa 'l-'Aql wa 'l-Haww&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;s wa 'l-Ark&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;n wa 'l-A'dh&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;' Kalimah W&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;hidah&lt;/b&gt;: &lt;i&gt;Ruh, jiwa, qalb, akal, panca indera, anggota tubuh, dan anggota badan fungsional adalah konsep yang sama&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pandangan yang dapat dijadikan dasar yang melandasi perancangan pendidikan, adalah pandangan yang mendudukkan mausia sebagai manusia; dan yang dapat menjembatani manusia kepada tujuan hidupnya yang dituju. Apakah pandangan Ibnu Arabi itu mendudukkan manusia sebagai manusia atau tidak? Apakah pandangan Ibnu Arabi itu menjembati manusia menuju tujuannya yang dituju atau tidak?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pandangan Ibnu Arabi di atas menunjukkan bahwa manusia dididik untuk menjadi manusia Tuhan; yaitu manusia yang berpandangan dan bersikap hidup selaras dengan akhlak Allah Swat Awj. Kemampuan manusia yang memungkinkan untuk menjadi manusia Tuhan adalah terletak pada inti manusia itu sendiri. Sedangkan inti manusia itu ruh. Ciri manusia itu ruhnya tertangkap bahwa manusia itu berjiwa (nafs). Nafs tertangkap pada adanyanya qalb. Qalb tertangkap oleh adanya akal. Akal tertangkap dengan adanya panca indera. Panca indera tertangkap dengan adanya anggota tubuh. Sedangkan anggota tubuh tertangkap melalui adanya anggota badan yang fungsional. &amp;nbsp;Yang ini semua menunjukkan konsep yang sama yaitu, bahwa manusia itu berintuisi, berakal, dan berpanca indera. Bukankah pendidikan itu dirancang dan dikerjakan berfundasi pada intuisi, akal, dan panca indera; yang memungkinkan mengantarkan dan menghasilkan manusia yang integral yang diharapkan itu?&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>TILIKAN GHAIB TENTANG SISI MANUSIAWI MANUSIA TUHAN</title><link>http://darulmanthiq.blogspot.com/2012/02/tilikan-ghaib-tentang-sisi-manusiawi.html</link><author>noreply@blogger.com (Sobar Alghazal)</author><pubDate>Tue, 14 Feb 2012 07:47:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6406819688840670115.post-7609493961301272135</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tampilan manusia manakala diamati secara seksama, maka yang tertangkap sebagian terbesar berupa cahaya ketuhanan dibanding bercakan kilauan secercah cahaya alam, demikian juga diri manusianya itu sendiri. Sisi yang tak tertangkap daya jangkau mata yang kasat lebih banyak. Tampaknya manusia itu justru ghaib, bahkan lebih ghaib ketimbang yang ghaib. Karena hingga hari ini, bahkan ke depan manusia masih misteri. Bahkan yang mengakui manusia kebanyakan tidak mengetahui siapa manusia itu?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang mula tertangkap adalah badan. Badan tertangkap itu merupakan korper (bagian penutup). Badan ini di samping penutup juga menutupi sisi hakiki dari diri manusia. Ia bagaikan kedok atau topeng, yang pada saat saat tertentu menipu, namun pada saat tertentu pula perlu. Kedok inilah di samping berganti ganti juga sering menjadi yang hakiki; dan yang hakiki itu sendiri melenyap alatan tertindih oleh yang dianggap hakiki tadi. Di sini kelihatan ada badan yang mengelak. Badan ini sering disebut Leib.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Leib sebenarnya yang pandai berperan dan pembuat serta pengendali peran. Peran yang diigeulkan (diperankan) &amp;nbsp;tentu perlu perantara atau alat. Alat berperan itulah badan korper. Badan Korper yang dialati oleh Leib ini berposisi kedok yang menjadi cangkang (wadah yang memperpanjang) Leib. Jadi tampilan yang tertangkap berupa kedok itu mengada bukan berada. Sedangkan "mengada" terbatas bahkan harus pada batas batas; sedangkan yang terbatas dan dalam batas batas adalah tidak ada. Untuk itu, Badan Korper tidak ada. Adapun kelihatan itu adalah jebakan belaka. Penjebaknya adalah Leib. Jadi, yang ada adalah Leib. Dengan demikian inti tampilan manusia adalah jutru yang tidak tampil ke permukaan, tetapi yang ada di belangkang tampilan itu, yaitu Leib.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Leib adalah semacam daya hidup yang berkemungkinan menyebar ke berbagai arah. Karena itu, Dunia, yakni pendapat yang berpusat dari akal menjadi daya arah intensionalitas (kemengarahan) Leib. Leib yang terarahi oleh daya intensionalitas akal, yaitu Dunia (aqidah, pendapat, atau pandangan), menjadi bekerja secara fungsional. Kerja fungsional ialah berbuat selaras dengan dan ditujukan kepada tujuan. Dengan demikian, dunialah yang mengatur dan mengarahkan Badan, baik Badan Korper maupun Badan Leib. Sehingga jungtrungan (jelmaan) manusia itu adalah Dunianya atau pendapatnya, bukan sekedar badannya. Dan karena itu pula, yang berada dan mengada adalah Dunia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dunia yang turut tampil dan menampilkan dirinya pada dan lewat badan itu, bersifat keterpengaruhan oleh dirinya sendiri dan juga di luar dirinya, sehingga Dunia itu terbelenggu oleh ruang dan waktu sekaligus mampu menata ruang dan waktu itu. Bila Dunia meruang dan mewaktu, maka Dunia terkenai tema Historisitas. Tema Historisitas inilah yang mengendalikan Dunia, yang tak jarang Dunia itu adalah historistas itu sendiri. Tak ada dunia yang kosong tema historisitas. Dunia (pendapat, pemikiran, pandangan) atak lepas dan tak dapat melepaskan tema historisitas; segala dunia berada dan mengada dalam jiwa zamannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jiwa tersebut bersifat individualitas. Jiwa secara singularitas sangat erat dengan dirinya sendiri sekaligus dengan dirinya sendiri yang ngateung (laten membentang berkaitan erat dengan) sang Pencipata, yaitu Tuhan. Daya laten berdialog dengan Tuhan ini, mengakibatkan jiwa tadi bersisi komunitas dan partikularitas, sehingga tak adalah manusia yang tidak berkomunikasi baik secara vertikal maupun horizontal. Namun jiwa tauhid menandaskan semua komunikasi itu pada pangkal, proses, dan penghujungnya adalah vertikal, yaitu pertautan tali dengan Allah Swt Awj.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan demikian, tampilan manusia adalah wadah sebagai tempat ekspresi Diri Allah Swt Awj. Jadi yang ada adalah Allah Swt Awj. Di luarnya hanyalah wadah yang bersifat sementara dan selama perlu dan diperlukan, butuh atau dibutuhkan. &lt;i&gt;&lt;b&gt;Wa 'l-Ll&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;hu bi 'l-Shaww&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;b&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>CINTA KEPADA NABI MUHAMMAD SAW</title><link>http://darulmanthiq.blogspot.com/2012/02/cinta-kepada-nabi-muhammad-saw.html</link><author>noreply@blogger.com (Sobar Alghazal)</author><pubDate>Mon, 13 Feb 2012 10:51:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6406819688840670115.post-4355570140701915040</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Buku &lt;b&gt;&lt;i&gt;Al-J&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;mi'u 'l-Shagh&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;r&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; mengungkap suatu pernyataan: &lt;i&gt;&lt;b&gt;Man Ahabba Syai-an Aksara Min Dzikrihi &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;'Orang yang mencintai sesuatu, ia banyak mengingat dan menyebutnya'.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagian Umat Muslim Indonesia banyak mengingat dan menyebut Nabi Muhammad Saw, termasuk penyelenggaraan memperingati lahir beliau. Penyelenggaraan peringatan tersebut dilangsungkan pada bulan Rabi'u 'l-Awwal, sehingga bulan ini disebut, khusus di Indonesia, bulan mulud. Bahkan dari ungkapan mulud tersebut dimunculkan istilah tertentu, seperti aki-aki tujuh mulud, kokoro manggih mulud, cangkaruk mulud, dan sebagainya. Ini menunjukkan istimewa dan terkenangnya lahir Nabi Muhammad Saw di bulan termaksud.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pelaksanaan muludan ini dengan bermacam kegiatan. seperti ngabungbang, nyangku, dan bentuk bentuk lainnya. Meskipun beragam bentuk-bentuk kegiatan tersebut; namun maksud dan tujuanya sama, yaitu "memperingati lahir Nabi Muhammad Saw.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maksud dan tujuan muludan, ialah (1) sarana dakwah dan (2) alatan mahabbah, yakni cinta kepada Nabi Muhammad Saw.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Siapa yang mencintai Nabi Muhammad, Rasulullah Saw, maka ia akan bersama-sama dengan Beliau kelak di surga".&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun cinta kepada Nabi Muhammad tidak sekedar memperingati lahirnya dan mencinti pribadinya; yang paling pokok adalah mengakui dan mengikuti kerasulannya, mentaati dan patuh akan ajarannya serta selaras dengan yang digariskan oleh Allah Saw Awj dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bila cinta kepada Nabi Muhammad Saw semata-mata cinta kepada pribadinya saja, maka yang bersangkutan termasuk yang bercinta emosional, yakni manakala Nabi Muhammad Saw direndahkan orang, maka yang bersangkutan marah, namun ajarannya tidak dilaksanakannya, tidak mengikuti, taat, dan mencontohnya dalam segala ucap dan perbuatannya; inilah yang disebut cinta &lt;b&gt;&lt;i&gt;'athfiyah&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. Cinta kepada Nabi Muhammad Saw, dapat dikatakan cinta &lt;i&gt;&lt;b&gt;minhajiyyah&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; yang positif konstruktif, manakala cinta tersebut berupa mengikuti ajarannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sikap manusia kepada Nabi dapat dikelompokkan kepada (1) yang tidak mengakui dan tidak mengikuti Nabi, menolaknya sepenuhnya bahkan memusuhi dan memeranginya; (2) yang mengakui tetapi tidak mengakui kerasulannya, karena gengsi dan intervensi; (3) yang mengakui dan mengikuti, namun tidak selaras karena munafik (hipokrit); dan (4) yang mengakui dan mengikuti serta selaras karena shiddiq.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bila ada pada posisi kelompok yang keempat, maka jadilah penghuni surga bersama-sama Nabi Muhammad Saw.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>PENGETAHUAN SPIRITUAL IBNU ARABI AL-SYAIKHU 'L-AKBAR</title><link>http://darulmanthiq.blogspot.com/2011/12/pengetahuan-spiritual-ibnu-arabi-al.html</link><category>Filsafat</category><category>Tashawuf</category><author>noreply@blogger.com (Sobar Alghazal)</author><pubDate>Fri, 9 Dec 2011 09:31:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6406819688840670115.post-2002042644886627007</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mendengar atau membaca untaian kata Ibnu Arabi yang menjadi nama yang tertuju kepada Filosof Muslim Andalusia, langsung bersentuhan dengan penyimpangan dari ajaran Al-Islam, mengingat Ibnu Arabi menyampaikan ajarannya tentang Wihdatu 'l-Wuj&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;d.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tuduhan penyimpangan tersebut atau penyalahan memahami banyak orang terhadap ajaran Wihdatu 'l-Wuj&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;d Ibnu Arabi ini, telah mengakibatkan beliau hijrah dari Andalusia (Spanyol sekarang) ke Makkah Arab Saudi. Beliau dikejar-kejar dan hendak dipenjarakan, bahkan mungkin dibunuh oleh penguasa saat itu karena ajarannya dianggap sesat dan menyesatkan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebenarnya yang menimpa kepada Ibnu Arabi seperti tersebut di atas, juga menimpa tokoh sufi lainnya, seperti Al-Hallaj dengan ajaran "Aku Allah" (Ana 'l-Haqq); dan Syeikh Siti Jenar dengan konsep "Manungaling Kawula Gusti".&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada hal yang menarik dari Ibnu Arabi itu, yaitu mengenai ajarannya berupa pengetahuan yang sama sekali tidak dapat dibuktikan dengan pengalaman empiris; dan tak terjangkau oleh akal-rasional. Hal ini menjadi suatu tataran yang bersifat ilahiah yang transcendental yang mengandung dan mengundang persengketaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Orang pada umumnya membikin pertentangan mengenai pengetahuan atau mempertentangkan pengetahuan dengan spiritualitas. Mengingat pengetahuan mesti ilmu dalam artian sain yang diproduksi penelitian yang mengandalkan kekuatan indera semata. Padahal ada hal-hal yang bersifat spiritual-ilahiah dalam pengetahuan itu, sehingga Sayyed Hossein Nasr mengemukakan bahwa ada Scientia Sacra, yaitu tentang yang ilahi dan yang suci, yang tidak dapat dijangkau dengan penalaran rasional semata-mata, tetapi juga diperlukan intuisi dan kejernihan hati nurani untuk dapat menggapainya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Fa Wajad&lt;u&gt;a&lt;/u&gt; 'Abdan Min 'Ib&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;din&lt;u&gt;a&lt;/u&gt; Atain&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;hu Rahmatan Min 'Indin&lt;u&gt;a&lt;/u&gt; Wa 'Allamn&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;hu Min Ladunn&lt;u&gt;a&lt;/u&gt; 'Ilman:&lt;i&gt; Lantas mereka berdua bertemu dengan salah seorang dari hamba-hamba Kami yang telah Kami memberikan rahmat kepadanya dari sisi Kami; dan Kami telah mengajarkan suatu ilmu kepadanya dari sisi Kami&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. (QSS. Al-Kahfi, 18 : 65).&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertentangan suatu ajaran pada dasarnya tidaklah, merupakan, hal yang aneh, mengingat al-Kisah mengingatkan bahwa hampir seluruh ajaran baru pada awalnya dianggap sempalan dan ditentang oleh masyarakat setempat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan demikian, ayat tersebut menggambarkan adanya ilmu yang langsung berasal dari Allah Swt Awj berupa ilham atau wahyu. Salah seorang dari hamba-hamba Allah Swt Awj adalah Nabi Khidhir; dan yang dimaksud dengan rahmat adalah wahyu dan kenabian. Sedangkan yang dimaksud ilmu adalah ilmu tentang yang ghaib sebagaimna tercantum dalam kisah Nabi Musa dan Khidhir yang tercantum dalam QSS. Al-Kahfi, 18 : 66 -82). Di mana kisah tersebut menunjukkan bahwa,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;A. Ilmu Laduni&lt;/b&gt;:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Ilmu Mukasyafah: mampu melihat dengan pandangan batin yang berasal dari ilham maupun dari wahyu;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Pengetahuan yang diperoleh seseorang yang shalih dari Allah Swt Awj melalui ilham dan tanpa dipelajari dahulu melalui suatu jenjang pendidikan tertentu;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Ilmu yang bukan hasil dari proses pemikiran, melainkan sepenuhnya tergantung atas kehendak dan karunia Allah Swt Awj;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4. Bukanlah hasil mempelajari suatu ilmu pengetahuan, tetapi merupakan ilham yang diletakkan ke dalam jiwa (qalbu: hati nurani) orang mu'min yang hatinya bersih. Pengetahuan pemberian Allah Swt Awj untuk menangkap suatu kejadian yang sedang terjadi maupun yang akan terjadi; sebab, hati yang bersih dapat melakukan komunikasi kepada sumber ilmu, yaitu Allah Swt Awj Yang Maha Mengetahui segala sesuatu;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;B. Nabi Khidhir As&lt;/b&gt; sebagai orang yang mempunyai ilmu laduni dan Nabi Musa As sebagai orang yang mempunyai pengetahuan biasa serta ilmu lahir.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;C. Namun pada hakikatnya&lt;/b&gt;, semua ilmu makhluk adalah ilmu laduni, yang artinya ilmu yang berasal dari Allah Swt Awj. &lt;i style="font-weight: bold;"&gt;Q&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;l&lt;u&gt;u&lt;/u&gt; Subh&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;naka L&lt;u&gt;a&lt;/u&gt; 'Ilma Lan&lt;u&gt;a&lt;/u&gt; Ill&lt;u&gt;a&lt;/u&gt; M&lt;u&gt;a&lt;/u&gt; 'Allamtan&lt;u&gt;a&lt;/u&gt; Innaka Anta 'l-'Al&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;mu 'l-Hak&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;m: Para malaikat berkata "Mahasuci Engkau, kami tidak memiliki pengetahuan selain ilmu yang Engkau telah mengajarkannya kepada kami; sungguh Engkau Maha benar-benar Mengetahui lagi Maha Bijaksana ."&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(QSS. Al-Baqarah, 2 : 32).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibnu Arabi menjelaskan bahwa:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Ulama Syari'at mengambil ilmu mereka dari generasi terdahulu sampai hari kiamat. Semakin hari, ilmu mereka semakin jauh dari nasab;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Para wali mengambil ilmu mereka langsung dari Allah yang dihujamkan ke dalam dada-dada mereka;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Sesungguhnya seseorang tidak akan sempurna kedudukan ilmunya sampai ilmunya berasal dari Allah Swt Awj secara langsung tanpa melalui perantara, baik dari penukilan ataupun dari gurunya. Sekiranya ilmu tadi diambil melalui penukilan atau seorang guru, maka tidaklah kosong sistem belajar model tersebut dari penambahan-penambahan. Ini merupakan aib bagi Allah Swt Awj;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4. Maka tidak ada ilmu melainkan dari ilmu kasyaf dan ilmu syuhud, bukan dari hasil pebahasan, pemikiran, dugaan, ataupun taksiran belaka.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>SISI GENDER TERSELIP DALAM KONTEMPLASI KETUHANAN IBNU ARABI MELALUI KE-PEREMPUAN-AN</title><link>http://darulmanthiq.blogspot.com/2011/12/sisi-gender-terselip-dalam-kontemplasi.html</link><category>Filsafat</category><category>Tashawuf</category><author>noreply@blogger.com (Sobar Alghazal)</author><pubDate>Sat, 3 Dec 2011 21:30:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6406819688840670115.post-3073093419469021386</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;IBNU ARABI&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Asy-Syaikhu 'l-Akbar menyelinap padaku sesaat dalam waktu yang sebentar&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bekasannya semacam ruang pertemuan untuk belajar berkepanjangan lewat khiwar&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pembuka ruang mengenang Asy-Syaikh kapan dilahirkan; senandung harapan kepada Tuhan lewat Al-F&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;tihah dan dzikir sufistik miragasukma sarana terjadinya i'tib&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;r&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Asmanya kusebutkan sebagaimana firman Tuhan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perlambangnya mesra Peraga Agama di alam semesta Madlhar Tuhan, Muhyi 'l-D&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;n, Abu Bakar Muhammad bin Ali bi Arabi keturunan H&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;tim al-Th&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;iy, dikenal Mahaguru Terbesar, juga Al-Kibr&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;tu 'l-Ahmar&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sang Sumber Api bernisbat Arab turunan heriditas H&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;tim Al-Th&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;iy menjelma pertama di tanah belahan Mursia, jumlah waktu 560 Hijriyah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Api melebar karena berbahan bakar Al-Qur'an dan berbensin Al-Hadits, yang menampak di Seville; menyalalah api semakin membesar menuju mantap menetap selama 30 tahunan di Sevilla tempat ia belajar&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sang Mahamerah berpindah diri menyebar diri ke negeri-negeri timur, demi mengkaji hadits pada Ibnu Asakir dan Ibnu Al-Jauzi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Baghdad, Mosul dan negeri-negeri di Roma ia jelajahi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mahaguru Terbesar berpengetahuan amat luas, meskipun hampir menyaingi Al-Muhith, namun tidak jadi, ia sadar diri bahwa ia berupaya menjadi manusia ilahi, yang penghujung posisinya menjadi Wadah Ilahi, untuk mengilahiyahkan segala diri&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Punahlah fisik wadah diri dan ilahi dipendam di bawah tanah Damaskus tahun 638 Hijriyah menurut khabar pasti; namun kuyakin percikan-percikan api Tuhan tak ikut fisik mati yang terendam padam sebab tak memungkinkan lagi memantulkan cahaya tadi; namun ruhnya bergabung dengan ruh-ruh tak umum dalam Ruh Umum yang tak pernah padam dan susah dikubur; bekas penampakan Tuhan bisa saja memusnah sementara, namun Sang Tuhan tetap ada, kilatan-Nya tak henti memercikkan api&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bercakan cahaya baik yang menempel pada karya tulis Sang Belerang Merah maupun siratan ruhaniyahnya yang tak pernah mati, kusedang sadap ia semoga menyerap&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bila Tuhan berkehendak demikian atau tidak, terjadilah serapan yang diharap sebagai limpahan Tuhan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sang Madlhar Tuhan berbakat besar dianugerahi oleh Tuhan kemampuan sastra yang tinggi, pikirannya amat dalam, dan penuh gagasan imajinatif. Ia penulis karya-karya prosa dan puisi, tak peduli dengan kekayaan dan kekuasaan, sering ekstase dan mena'wil. Karya-karyanya mencapai lebih dari 150 buku dalam berbagai disiplin ilmu yang semuanya berkualitas dan berpengaruh. Buku-buku yang ditulis tentang dirinya begitu banyak tak dapat dapat dihitung. Karyanya yang terpenting adalah Fush&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;shu 'l-Hikam dan Al-Fut&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;h&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;tu 'l-Makkiyyah. Namun kitab yang berkaitan dengan Kontemplasi Ketuhanan Ibnu Arabi melalui ke-perempuan-an, ialah, Kitab Tarjum&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;nu 'l-Asywaq (Tafsir Kerinduan).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;BUKU TAFSIR KERINDUAN&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kekangan Tuhan tidak membuat aku renggang; tak pula membuat aku bercengkraman lengket dekat tergenggam dalam buaian-Nya; di bilang dekat tidak, sebab tak terangkul dan tak merangkul; dibilang jauh tidak, sebab Dia lagi dekat, tetapi masalahnya bersemayam dalam jiwa dan ragaku; namun bila dibilang dekat maupun jauh dapat membawa kepada kepunahan dan kemeniadaan Tuhan, lagi pembukanan dan pengyaan Tuhan, padahal Tuhan nir pebukanan dan pengyaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka inilah barangkali yang disebut rindu. Tapi bila ini rindu, sedangkan objek yang dirindui gelap bagiku; aku bodoh dan memang bodoh di, dari, dalam gelap itu. Maka yang terpancar cahaya dari Makhluk-Nya yang elok dan indah, terutama perempuan dan laki-laki. Semua perempuan dan laki-laki elok dan indah, kecuali laki-laki dan perempuan semuanya elok dan indah. Karena aku laki-laki, maka perempuan kujadikan media penafsiran rinduku kepada Tuhan. Namun bukan berarti Tuhan itu laki-laki atau perempuan atau laki-laki dan perempuan, bukan pula pertengahan; tidak pula gelap karena Tuhan tak jelas jenis kelamin-Nya; dan memang nir kelamin..&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tuhan adalah Tuhan; yang tahu bahwa Dia Tuhan adalah Tuhan. Aku percaya Tuhan bersemayam dalam perempuan, tetapi bukan perempuan yang fisik tampil yang terkenai kepunahan, melainkan ke-perempuan-an, yang di samping meliputi laki-laki dan perempuan juga mengandung dan mengundang rahasia ketuhanan. Nah, kutafsirkan kerinduan akan Tuhan melalui ke-perempuan-an, bukan perempuan juga bukan laki-laki bukan pula laki-laki dan perempuan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kuuntun peristiwa interpretasiku itu dalam bentuk puisi dengan komposisi yang beragam. Lewat kompilasi puisi ini kumemperlihatkan gagasan rinduku kepada Tuhan. Upaya penenunan puisi ini ketika aku bermukim di Makkah; dan di kota suci muslim inilah, aku melihat madlhar Allah berupa beberapa orang perempuan suci. Yang membuat aku tertarik untuk berekspresi berbau interpretsi rindu akan sang elok ada tiga perempuan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Fakhru 'l-Nisa, saudara perempuan Syaikh Abu Syuja' Ibnu Rustam Ibnu Abi Raja'u 'l-Ishbihani. Ia adalah sufi terkemuka dan idola para ulama laki-laki dan perempuan. Aku menkaji kitab hadits Sunanu 'l-Tirmidziy kepadanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Qurratu 'l-'Ain, Aku bertemu dengannya pada saat aku asyik tawwaf, memutari Ka'bah: Ketika aku sibuk sedang begitu asyik tawwaf, pada suatu malam, hatiku gelisah. Aku segera keluar dengan langkah sedikit cepat, melihat-lihat ke luar. Tiba-tiba saja mengalir di otakku bait-bait puisi. Aku lalu menyenandungkannya sendiri dengan suara lirih-lirih,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aduhai, jiwa yang gelisah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apakah mereka tahu&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hati manakah yang mereka miliki&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;O, relung hatiku&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Andai saja engkau tahu&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lorong manakah yang mereka lalui&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adakah engkau tahu&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apakah mereka akan selamat&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Atau binasa&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Para pecinta bingung akan cintanya sendiri&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan menangis tersedu-sedu&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tiba-tiba tangan yang lembut bagai sutra menyentuh pundakku. Aku menoleh. O, seorang gadis jelita dari Romawi. Aku belum pernah melihat perempuan secantik ini. Dia begitu anggun. Suaranya terdengar amat sedap. Tutur-katanya begitu lembut tetapi betapa padat, dan sarat makna. Lirikan matanya amat tajam dan menggetarkan qalbu. Sungguh betapa asyiknya aku bicara dengan dia. Namanya begitu terkenal, budinya begitu halus. Begitu usai aku menyampaikan syair itu di atas, perempuan itu mengatakan kepadaku:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aduhai tuan, kau telah memesonaku&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Engkaulah kearifan zaman&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengalirlah dialog antara aku dan dia dalam suasana mesra, saling memuji, mengagumi, dan dengan keramahan yang anggun. Lalu aku mengenalnya sangat dekat dan aku selalu bersama dengan dia. Aku memandang dia seorang perempuan yang sangat kaya pengetahuan ketuhanan. Pengetahuannya tentang yang ini sungguh sangat luar biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
KH. Hussein Muhammad (2011) &amp;nbsp;menyebutkan bahwa, &lt;i style="font-weight: bold;"&gt;Sang perempuan memberikan komentar-komentar spiritualitas ketuhanan secara spontan atas puisi-puisi Ibnu Arabi di atas, bait demi bait. Sesudah itu, dia memperkenalkan dirinya sebagai Qurrah al-Ain, lalu dia pamit dan melambaikan tangan sambil mengucapkan "salam" perpisahan dan pergi entah ke mana. Dan, Ibnu Arabi pun terpana&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Aku bertemu dengan Sayyidah Nidlam, anak perawan Syaikh Abu Syuja'. Sayyidah Nidlam biasa dipanggil 'Ainu 'l-Syams (mata matahari) dan Syaikhahu 'l-Haramain (Gurubesar untuk wilayah Makkah dan Madinah). Aku begitu terpesona akan dia. Maka aku terus mengalirkan pujian-pujian yang begitu deras tak tertahankan kepadanya. Manakala dia bicara, semua yang ada menjadi bisu. Dia adalah matahari di antara ulama, taman indah di antara para sastrawan. Wajahnya begitu jelita, tutur bahasanya sungguh lembut, otaknya memperlihatkan kecerdasan yang sangat cemerlang, ungkapan-ungkapannya bagaikan untaian kalung yang gemerlap penuh keindahan dan penampilannya benar-benar anggun dan bersahaja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
K.H. Hussein Muhammad (2011) menjelaskan bahwa, &lt;i style="font-weight: bold;"&gt;Banyak komentar orang yang menyatakan bahwa kitab Tarjum&lt;/i&gt;&lt;u style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;a&lt;/u&gt;&lt;i style="font-weight: bold;"&gt;nu 'l-Asywaq merupakan refleksi-refleksi kontemplatif Ibnu Arabi atas keterpesonaannya yang luar biasa pada perempuan perawan mahaelok itu. Keterpesonaan ini, sekaligus pengalaman spiritualitasnya bersama Nidlam, diungkapkan jelas dalam syairnya dalam buku Tarjum&lt;/i&gt;&lt;u style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;a&lt;/u&gt;&lt;i style="font-weight: bold;"&gt;nu 'l-Asywaq ini&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa rinduku begitu panjang&lt;br /&gt;
Pada gadis kecil, penggubah prosa,&lt;br /&gt;
Nidlam (pelantun puisi), mimbar, dan bayan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dialah putri raja-raja Persia&lt;br /&gt;
Negeri megah dari Ashbihan&lt;br /&gt;
Putri Irak, putri guruku&lt;br /&gt;
Sementara aku?&lt;br /&gt;
O, betapa jauhnya&lt;br /&gt;
Mayangku dari Yaman&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Andai saja kalian tahu&lt;br /&gt;
Betapa kami berdua&lt;br /&gt;
Saling menghilangkan&lt;br /&gt;
Cawan-cawan cinta&lt;br /&gt;
Meski tanpa jari-jemari&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adakah, kalian, wahai Tuan-Tuan&lt;br /&gt;
Pernah melihat atau mendengar&lt;br /&gt;
Dua tubuh yang bersaing&lt;br /&gt;
Dapat menyatukan rindu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Andai saja kalian tahu&lt;br /&gt;
Cinta kami&lt;br /&gt;
Yang menuntun kami&lt;br /&gt;
Bicara manis,&lt;br /&gt;
bernyanyi riang&lt;br /&gt;
meski tanpa kata-kata&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalian pasti tahu&lt;br /&gt;
Meski hilang akal&lt;br /&gt;
Yaman dan Irak nyatanya&lt;br /&gt;
Bisa berpelukan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;YANG TERSELIP DALAM BUKU TAFSIR KERINDUAN IBNU ARABI&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Perempuan begitu pula laki-laki, kerinduan, birahi, seksual, dan erotisitas tubuh adalah sesak dengan keilahian, sekaligus dapat menjadi sarana penghilangan kesemuaan yang tinggal adalah dimensi spiritualitas, yang justru itulah realitas, yang bila kejadian sangat sulit digambarkan; ia ada dalam tataran das Ding An Sich, secara mahdhoh ada di Tuhan sendiri. Lantas Ibnu Arabi sang pemberani yang justru das Ding An Sich di das Ding fur Mich kan (Tuhan menurut penghayatan aku yang mengsufistik rasionalis lagi empirik) yang sarananya, ya itu lah diri, alam, dan budaya, namun yang terpenting yaitu diri manusia yang dilambangkan laki dan perempuan. Perempuanlah, yakni eksitensial ke-perempuan-an yang benar benar perempuan ajang kepanaan manusia pewujud ketuhanan, sebagai alat ngaboretekeun (ngebrehkeun; ngajelaskeun) bahwa yang ada hanyalah Allah. Makanya ke-perempuan-an di samping meusnahkan segala juga sekaligus mengaffirmasikan secara tegas dan lugas keberadaan dan mengada serta cara mengadakan Allah dalam diri manusia di tengah-tengah alam semesta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu puisi-puisi Ibnu Arabi sesak spiritualitas, bukan sesak religionitas, sehingga bentuk kerinduan Ibnu Arabi kepada seorang perempuan, meskinya lebih dibaca dari sisi menegasikan yang non ilahiyah, yang justru hasilnya jadi affirmasi kebertuhanan yang justru mengikis pemahaman yang dangkal, gersang, dan tanpa makna. Itulah, puisi adalah wadah mengerti dan suatu pengertian yang tak cukup terwadahi oleh kata-kata, namun terpaksa dan memaksakan digunakanlah kata-kata sebagai simbol dari pikiran dan relung hati yang amat dalam; maka ceraplah pengertiannya bukan kata-katanya. Puisi adalah untaian kata-kata yang sarat makna, penuh nuansa pikir dan hati yang sulit ditebak. Maka, memang puisi Ibnu Arabi bisa diberi makna ganda bahkan majmuk: esoterik dan eksoterik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
K.H. Hussein Muhammad (2011) menjelaskan bahwa, &lt;b style="font-style: italic;"&gt;Dalam puisi-puisi di atas, Ibnu Arabi boleh jadi memang sedang dicekam kerinduan yang membara terhadap seorang perempuan dalam arti secara fisik. Dengan kata lain, kecintaan Ibnu Arabi kepadanya tidak hanya secara spiritual dan intelektual, namun juga secara fisik dan psikhis. Katanya, "Jika saja tidak mengkhawatirkan jiwa-jiwa rendah yang selalu siap degan hasrat kebencian, akan aku sebutkan di sini keindahan lahiriah sebagaimana jiwanya yang merupakan taman kedermawanan". kan tetapi, para pengagumnya yang fanatik menolak tafsir ini. Dalam ungkapan-ungkapan Ibnu Arbi, menurut mereka, memang sungguh-sungguh tengah berkontemplasi dan merefleksikan cinta yang menggelora kepda Tuhan. Katanya suatu ketika, "Kontemplasi terhadap Realitas tanpa dukungan formal adalah tidak mungkin, karena Tuhan, Sang Realitas, dalam Essensi-Nya, terlampau jauh dari segala kebutuhan lama semesta. Maka, bentuk dukungan formal yang paling baik adalah kontemplasi akan Tuhan dalam diri perempuan". Dengan kata lain, dapat dicapai dengan merenungkan perempuan&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reflektif dan kontemplasi spiritualitas ketuhanan Ibnu Arabi, lebih merupakan upaya membantu simpanan-simpanan dan rahasia-rahasia, yang justru perlu dan dapat disadari, diketahui, dipahami, dikenali, dan dimaklumi melalui yang tersimpan dan hal rahasia itu sendiri. Simpanan dan rahasia itu adalah misteri diri di hadapan kita sendiri; namun jelas di hadapan Allah Swt Awj. Karena itu, puisi tadi sebenarnya mengelabui diri, sebab yang hakiki bila dinyatakan baik lewat kata maupun ekspresi gerak, maka ia bukan lagi yang hakiki melainkan gambaran tentang yang hakiki. Nah, kata, bahasa, ekspresi diri yang berupa upaya yang menggambarkan yang hakiki tadi, meski kiasan-kiasan, metafora-metafora, simbol-simbol, dan rumus-rumus yang mengandung makna-makna mistis dan sarat dengan embusan-embusan spiritualitas ketuhanan yang menukik dan melampaui, meskipun dimaknai dan ditangkap maknanya oleh sang penulisnya sendiri pasti tak cukup mewakili, baik bagi dirinya sendiri, apalagi pihak lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
K.H. Hussein Muhammad (2011) menguraikan beberapa istilah dari Ibnu Arabi tadi di atas sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;1. Dzat Natsr wa Nidlam merupakan ungkapan tentang Wujud Mutlaq dan Sang Pemilik (Pengatur) alam semesta;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;2. Mimbar bermakna sebagai martabat-martabat (tangga-tangga) dalam alam semesta, alam kosmos, metafisika, atau "mimbar alam semsta";&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;3. Bayan diberi makna "Maqam Risalah" (Tempat Kenabian);&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;4. Ungkapan-ungkapan Ibnu Arabi selalu memperlihatkan dualisme makna: lahir dan batin, tubuh dan ruh, ketuhanan dan makrokosmos, teologis dan kosmologis, fisika dan metafisika;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;5. Semua puisi berkaitan dengan kebenaran-kebenaran ilahi dalam berbagai bentuknya, seperti tema-tema cinta, eulogi, nama-nama dan sifat-sifat perempuan, nama-nama sungai, tempat-tempat, dan binatang-binatang;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;6. Ana Dhidduha (Aku lawannya):&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; a). Jika anda mengetahui keadaan-keadaan kami berdua, niscaya anda mengerti satu tempat (maqam) yang tidak dapat dipahami akal pikiran;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; b). Penyatuan sifat kasar (al-Qahhr) dan kelembutan (al-Luthf);&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; c). Penyatuan dua hal yang berlawanan merupakan cara mengetahui Tuhan, meskipun ini amat sulit untuk dipahami oleh akal (nalar);&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;7. Pengalaman spiritualitas menghanyutkan, sangat ruhaniah dan irrasional;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;8. Gagasan yang berkaitan dengan penyatuan Yin dan Yang atau meskulinitas dan femenimitas, ittihad, dan hulul;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;9. Pengetahuan tentang ketuhanan (Ma'rifah Ilahiyyah) hanya dapat ditempuh melalui kontemplasi pada diri perempuan;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;10.Melalui perempuanlah Tuhan ditemukan dalam Wujud-Nya yang Mahasempurna dan Mahaindah;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;11.Pada diri perempuanlah laki-laki dapat merenungkan keilahian. Ketika laki-laki merenungkan Al-Haqq (Tuhan) dalam dirinya sebagai wujud yang darinya perempuan diciptakan, maka (berarti) dia merenungkan Tuhan dalam modus yang aktif. Namun bagaimanapun juga, jika dia merenungkan Tuhan dalam dirinya tanpa mereferensi pada perempuan, maka dia merenungkan Al-Haqq (Tuhan) dalam modus pasif. Pada diri perempuan dia dapat merenungkan Tuhan baik dalam peran aktif maupun pasif.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi penyebutan nama-nama perempuan dalam kontemplasi ketuhanan Ibnu Arabi menurut K.H. Hussein Muhammad (2011) terseliplah di dalamnya bahwa:&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;1. Ibnu Arabi ingin memperlihatkan pandangannya tentang relasi laki-laki dan perempuan dalam perspektif gender;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;2. Perempuan adalah jiwa yang sempurna;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;3. Antara laki-laki dan perempuan memang ada perbedaan keunggulan satu atas yang lain. Meski demikian, keduanya adalah setara (sama) dalam kesempurnaannya, ini identik dengan makna firman Tuhan, Tilka 'l-Rusul Fadhdhalna Ba'dhahum 'ala Ba'dh (Para utusan itu satu atas yang lain Kami lebihkan, QSS. Al-Baqarah, 2 : 253). Dari aspek kerasulannya keduanya sama, tidak ada yang lebih ungggul. Tapi dari aspek tugas kerasulannya, memang ada perbedaan keunggulan satu atas yang. Memang, karena pada saat lain Tuhan juga menyatakan, La Nufarriqu Baina Ahad min Rusulih (Kami tidak membeda-bedakan di antara utusan-Nya, QSS. Al-Baqarah, 2 : 285). Untuk itu, relasi laki-laki dan perempuan menunjukkan bahwa kedua jenis kelamin ini adalah setara dalam aspek universalitas kemanusiaannya, tetapi berbeda dalam tugas kemanusiaannya dengan kadar yang yang relatif, tergandung konteks sosialnya. Ibnu Arabi menyatakan dalam Al-Futuhatu 'l-Makkiyyah bahwa:&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Perempuan adalah saudara kandung laki-laki&lt;br /&gt;
Di alam ruh dan dalam tubuh kasar&lt;br /&gt;
Keduanya satu dalam eksistensi&lt;br /&gt;
Itulah manusia&lt;br /&gt;
Perbedaan antara mereka aksiden semata&lt;br /&gt;
Perempuan dan laki-laki memang beda.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>KISI-KISI EPISTEMOLOGIS DALAM FILSAFAT ISLAMI</title><link>http://darulmanthiq.blogspot.com/2011/11/kisi-kisi-epistemologis-dalam-filsafat.html</link><category>Filsafat</category><author>noreply@blogger.com (Sobar Alghazal)</author><pubDate>Sun, 27 Nov 2011 18:59:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6406819688840670115.post-7349119595026641653</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada dua pertanyaan mendasar yang merangkengi hakikat ilmu dalam filsafat Islami yang menjadi kisi-kisi epistemologis. Pertama yang berkaitan dengan objek ilmu, yaitu "Apa yang dapat diketahui?"; yang kedua menyangkut metode ilmu, yaitu "Bagaimana mengetahui sesuatu?"&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;OBJEK ILMU&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Objek atau sasaran ilmu tidak lepas dan dilepaskan dari wilayah ada. Ada empat wilayah ada, yaitu (1) Wilayah Ontis Dunia Anorganis; (2) Wilayah Ontis Dunia Organis; (3) Wilayah Ontis Dunia Psikhis; dan (4) Wilayah Ontis Dunia Ruhani. Wilayah Ontis Dunia: (a) Anorganis dan (b) Organis menyangkut wuj&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;d (eksistensi) fisik ('alam syah&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;dah); sedangkan Wilayah Ontis dunia: (a) Psikhis dan (b) Ruhani menyangkut wuj&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;d metafisik ('alam ghaib). Karena itu, Objek Ilmu berpadanan dengan seluruh rangkaian wuj&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;d, baik wuj&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;d ghaib maupun wuj&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;d syah&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;dah. Karena seluruh wuj&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;d masuk kepada tataran metafisis (ontologis, teologis, kosmologis, dan antroplogis) maka persoalan wuj&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;d menjadi world view (pandangan dunia) yang melukiskan susunan wuj&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;d. Nah susunan wuj&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;d &amp;nbsp;itu adalah (1) yang tertinggi adalah Allah Swt Awj yang berkat dan rahmat-Nya turun melalui akal-akal; (2) Akal satu sampai sepuluh yang disebut akal aktif (malaikat); (3) Jiwa-jiwa dan benda-benda angkasa; (4) Alam dunia (wuj&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;d yang terendah), dunia di bawah bulan. Wujud-wujud yang tersusun secara metafisis ini dipilah-pilah menjadi objek-objek ilmu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pemilahan wujud-wujud secara metafisis yang menjadi objek-objek ilmu itu mendukung pemunculan klasifikasi ilmu. Pentingnya klasifikasi ilmu untuk (a) mengetahui ruang lingkup pengetahuan manusia, dan (b) melihat antar hubungan satu cabang ilmu dengan yang lainnya; juga (c) mencerminkan urutan-urutan ilmu ditinjau dari sisi kepentingannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ilmu-ilmu itu sempat dibagi ke dalam Arab dan Ajam (asing); di mana kelompok ajam ini terutama ilmu-ilmu Yunani. Perkembangan proses sintetis ilmu-ilmu menyebabkan ilmu-ilmu itu diklasifikasikan atas dasar yang lebih canggih yang mencerminkan pandangan Dunia Islam. Al-Farabi mengklasifikasi ilmu mengikuti Aristoteles dengan menekankan Ilmu-ilmu linguistik, fiqh (yurisprudens), dan kalam (teologi spekulatif).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Al-Khawarizmi....&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>HAKIKAT PENDIDIKAN</title><link>http://darulmanthiq.blogspot.com/2011/11/hakikat-pendidikan.html</link><category>Filsafat</category><category>Pendidikan</category><author>noreply@blogger.com (Sobar Alghazal)</author><pubDate>Sat, 26 Nov 2011 07:26:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6406819688840670115.post-8745754735984505272</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pembicaraan "Hakikat Pendidikan" mengundang dan mengandung pemikiran yang kritis, metodis, dan sistematis. N. Driyarkara menandaskan pendidikan sebagai suatu ilmu merupakan "Pemikiran ilmiah tentang realitas yang kita sebut pendidikan (mendidik dan dididik). Pemikiran ilmiah bersifat kritis, metodis, dan sistematis. Kritis: Semua pernyataan, semua afirmasi harus mempunyai dasar yang cukup kuat. Orang yang bersifat kritis ingin mengerti betul-betul (tidak hanya membeo), ingin menyelami sesuatu dengan seluk-beluknya dan dasar-dasarnya. Metodis: Dalam proses berpikir dan menyelidiki itu orang menggunakan suatu cara tertentu. Sistematis: Pemikiran ilmiah dalam prosesnya itu dijiwai oleh suatu idea yang menyeluruh dan menyatukan, sehingga pikiran-pikirannya dan pendapat-pendapatnya tidak tanpa hubungan, melainkan merupakan kesatuan."&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Idea yang menopang hakikat pendidikan ialah bahwa manusia pada dasarnya memiliki kemampuan dasar yang memungkinkan berkembang dan dikembangkan ke arah yang selaras dengan kehendak diri sendiri, sesama, lingkungan, dan Tuhan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalau idea bahwa manusia memiliki kemampaun dasar, maka idea tersebut menopang kepada suatu pengertian, dalam hal ini pengertian pendidikan; di mana pengertian pendidikan berdasar idea tersebut, pendidikan adalah "Upaya sadar dari pihak manusia yang telah dewasa berupa pemberian-bantuan kepada pihak manusia yang dianggap belum dewasa agar menjadi manusia dewasa."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Manusia yang telah dewasa ialah manusia yang telah mencapai kemanusiawiannya, yakni telah menjadi manusia. Sedangkan manusia yang dianggap belum dewasa ialah manusia sebelum menjadi manusia, yakni manusia berada dalam wujud potensi. Manusia yang dalam wujud potensi inilah perlu bantuan dari pihak yang menjadi manusia agar ia berhasil menjadi manusia. Namun kapan menjadi manusia itu?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;M.J. Langeveld menjelaskan bahwa manusia dikatakan manusia manakala ia (1) memahami, mengerti, dan mencintai dirinya (individualitas); (2) memahami, mengerti, dan mencintai orang lain (sosialitas); dan (3) menyadari, memiliki norma kesusilaan dan nilai-nilai kemanusiaan; serta bertindak, berbuat sesuai dengan norma kesusilaan, nilai-nilai hidup atas tanggungjawabnya sendiri demi kebahagiaan dirinya dan kebahagiaan masyarakat, orang lain. Sebelum menjadi pribadi dewasa susila, manusia berada dalam wujud potensi. Keadaan ini nampak jelas dialami anak-anak; namun keadaan anak bersama orang lain, memungkinkan dia memperoleh bantuan orang lain, yaitu orang dewasa susila, untuk mengangkat dirinya ke tarap insani, menjadi pribadi dewasa susila. Perbuatan yang menyebabkan manusia menjadi manusia, menjadi pribadi dewasa susila disebut pemanusiaan manusia muda. Inilah hakikat (intisari) pendidikan. Manusia dewasa susila merupakan tujuan umum pendidikan."&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ahmad Tafsir (2006) menandaskan bahwa "dapat dikatakan telah menjadi manusia bila telah memiliki nilai (sifat) kemanusiaan. Tidaklah mudah menjadi manusia; sejak dahulu banyak gagal, banyak manusia gagal, menjadi manusia. Tujuan pendidikan ialah memanusiakan manusia; agar tujuan tesebut dapat dicapai dan agar program dapat disusun, maka ciri-ciri manusia yang telah menjadi manusia itu harus jelas. Kriteria manusia yang menjadi tujuan pendidikan ditentukan oleh filsafat hidup masing-masing orang. Orang-orang Yunani kuno menentukan tiga syarat untuk disebut manusia, yaitu (1) memiliki kemampuan dalam mengendalikan diri, (2) cinta tanah air, dan (3) berpengetahuan. Atas dasar ini inti pendidikan ialah menolong atau membantu, bukan mencetak atau mewujudkan. Pendidik mengetahui bahwa pada manusia itu ada potensi yang dapat dikembangkan untuk menjadi manusia. Pada setiap manusia itu ada potensi untuk menjadi manusia. Pada setiap manusia itu juga ada potensi untuk menjadi bukan manusia. Batu tidak mungkin ditolong menjadi manusia, karena batu tidak memiliki potensi menjadi manusia."&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>MENEROPONG DARI SUDUT KE-ANAK-AN ANAK TERHADAP PENDIDIKAN</title><link>http://darulmanthiq.blogspot.com/2011/11/meneropong-dari-sudut-ke-anak-anak.html</link><category>Filsafat</category><category>Pendidikan</category><author>noreply@blogger.com (Sobar Alghazal)</author><pubDate>Tue, 22 Nov 2011 08:27:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6406819688840670115.post-1591899004654317241</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada tiga terma (istilah) pada topik ini, yaitu 1). Meneropong dari sudut, 2). Ke-anak-an anak, dan 3). pendidikan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terma "Meneropong dari Sudut" merupakan kerja akal berupa mengolah data yang terdapat dan/atau diperoleh dari empiris. Data empiris tersebut menyangkut tentunya hidup dan perikehidupan manusia di lingkungan di dunia ini di mana ia berada dan mengada. Kalau "Menoropong dari Sudut" merupakan kerja akal termaksud, maka ia sarat sisi epistemologis. Sisi epistemologis inilah yang dapat menjembatani antara "alam keharusan/alam keniscayaan" (die Welt der Sollenden) dan "alam kenyataan empirik" (die Welt der Seienden).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;"Alam Keharusan/Alam Keniscayaan" merupakan suasana kejiwaan atau kerohanian yang dalam hubungan tertentu senantiasa, merupakan suasana yang diliputi oleh pemikiran-pemikiran yang bersifat logik. Jadi, "Alam Keharusan/Alam Keniscayaan" &amp;nbsp;sesungguhnya sama dengan alam yang bersifat logik. Sedang "Alam Kenyataan Empirik" menunjuk kepada suasana yang bersifat inderawi dan sekaligus bersifat obyektif-kealaman; Dunia semacam ini tidaklah ditentukan oleh hukum-hukum berpikir dalam logika, melainkan ditentukan oleh prinsip-prinsip metafisik. Dengan adanya kedudukan di antara dua macam semacam ini berarti bahwa di satu pihak obyek atau sasaran peneropongan ("Meneropong dari Sudut") itu diharapkan atau dalam kenyataannya merupakan sesuatu yang dapat dipahami oleh manusia-manusia yang lain (di samping mereka yang langsung memperolehnya), di lain pihak diharapkan atau dalam kenyataannya juga dapat dalam babak terakhir ditangkap secara inderawi. Mengenai masalah kedudukan yang sentral ini dapatlah dikatakan bahwa pemikiran tanpa obyek atau sasaran merupakan sesuatu usaha seperti impian belaka, sedangkan tangkapan inderawi tanpa diolah lebih lanjut oleh akal merupakan suatu usaha yang tidak dapat dipertanggung-jawabkan.. Dengan perkataan lain (seperti yang dikatakan oleh Immanuel Kant), apabila hakikat pendidikan yang diperoleh dari peneropongan itu hendak memperoleh bobot yang bersifat ilmiah, maka haruslah ia mempunyai obyek atau sasaran yang secara langsung maupun secara tidak langsung dapat ditangkap secara inderawi, dan yang kemudian diolah lebih lanjut oleh akal manusia&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. (Soejono Soemargono, 1983 hal. 5).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terma "Ke-anak-an Anak" pepal dengan eksistensial manusiawi manusia. Ke-anak-an menyangkut hakikat keperiadaan anak; anak itu sendiri menunjuk kepada manusia itu sendiri; jadi, "Ke-anak-an Anak" menyiratkan kepatutan penelaahan antropologi (hakikat manusia), khususnya antropologi anak; juga menunjukkan bahwa dalam konsep anak itu terdapat dugaan (pertimbangan) kuat bahwa pada anak itu mengandung kemungkinan (potensia) menjadi manusia atau menjadi tidak/bukan manusia. Anak manusia begitu lahir menunjukkan sebagai makhluk terbuka; beda halnya dengan binatang sebagai makhluk tertutup. Taruh saja itik begitu menetas dari telur secara otomatis hampir tanpa bantuan dia langsung jadi itik, sehingga ia tidak memungkinkan mengitik atau membukanitik; tetapi anak manusia yang tampak takberdaya, sebagai makhluk terbuka, ia memungkinkan memanusia memungkinkan membukanmanusia, membinatang, umpamanya ia dapat mengkambing. Namun kebanyak manusia menginginkan anaknya mejadi manusia; di sini tampak perlu dan dapat manusia itu dididik dan/atau mendidik; sedangkan pendidikan senantiasa maunya mengarah kepada yang baik, lebih baih bahkan terbaik, yakni menjadi manusia (memanusia sebagaimana manusia) bukan menjadi tidak/bukanmanusia (membinatang, mengkambing, dan seterusnya). Itulah pendidikan merupakan situasi atau proses memanusiakan manusia (muda: anak) agar menjadi manusia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk itu, terma "Pendidikan" mengandung pengertian "suatu upaya memberi bantuan manusia kepada mausia agar menjadi manusia".&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Uraian tersebut di atas menuntut dan menuntun ke arah bahwa:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Perlunya pengenalan anak dalam kedudukan dan keterpautannya dengan dan dalam kehidupan masyarakat sebagai atau dijadikan &amp;nbsp;landasan suatu berpikir dan bertindak pendidikan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Ke-anak-an anak patut ditelaah dalam antropologi anak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Untuk kepentingan pendidikan diperlukan suatu pandangan atau pendapat (teori) psikologi sejak semula menunjukkan nisbat (keterpautan) tertentu dengan pedagogik. Di mana pedagogik tidak memerlukan suatu psikologi yang tidak memperhatikan situasi pendidikan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4. Situasi manusiawi yang eksistensial bagi anak menampakkan diri sebagai situasi-perlu-bantuan; anak hanya dengan bantuan (pendidik: orangtua, guru), ia dapat melangsungkan kehidupannya. Situasi tersebut mempertunjukkan bahwa sejak dini kehidupan anak menunjukkan keterpautannya manusia lain (dengan orang dewasa: pendidik: orangtua dan guru) yang, karena rasa tanggungjawab, siap memberikan bantuan kepadanya untuk memungkinkan kelangsungan pelaksanaan kehidupannya. Sejak dini kehidupan anak menunjukkan: a). Keterpautannya dengan anak lain, sebagai rekan sebayanya dalam permainan; b). bahkan ia belajar juga bertemu dengan dirinya sendiri: &lt;i&gt;&lt;b&gt;Het Zijn-met-en-bijde-ander en het Zijn-met-bij-zichzelf&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;. (Beets, 1954 hal. 30).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5. Anak sebagai salah satu dimensi yang sangat penting dari pendidikan; tanpa menempatkannya dalam situasi eksistensial manusiawinya selaras dengan kehidupan ke-anak-annya hanya akan melahirkan suatu abstraksi, suatu FremdKorper belaka dari anak tersebut. (M.I. Soelaeman, 1985).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kehidupan ke-anak-an anak tak dapat lepas dari lingkungan dan situasi di mana: (a) Dia mendapatkan dirinya; (b) Dia melangsungkan kehidupannya; (c) Tempat dari mana anak mendapatkan pengaruh; (d) Lingkungan sebagai tempat anak mendapatkan dirinya dan melangsungkan kehidupannya serta ke arah kehidupan mana anak dibantu pengarahannya secara produktif. (Taba, 1962 hal. 10). Dengan demikian, hendaknya anak tidak ditempatkan dalam suatu abstraksi, yakni lepas dari situasinya; atau tidak diartikan "berdasarkan ukuran dan timbangan: Weegbaar en Meetbaar, tetapi sebagaimana ia benar-benar menampakkan diri dan dialami oleh yang berada di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian, pendidikan dalam peneropongan dari sudut ke-anak-an anak, adalah:&lt;br /&gt;
1. Lingkungan dan situasi anak dalam artian (a) di mana anak mendapatkan dirinya; (b) di mana anak melangsungkan kehidupan; (c) selaras dengan situasi eksistensial ke-anak-an anak, sebagai manusia yang sedang berkembang dan dalam status perlu bantuan. (M.J. Langeveld, 1957 hal. 214).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Merupakan lingkungan dan situasi yang membantu anak dapat berpartisipasi dalam kehidupan termaksud secara produktif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Sebagai lingkungan dan situasi yang tidak saja tampil sebagai lingkungan dan situasi kehidupan melainkan adakalanya lingkungan dan situasi mendidik bagi anak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Pemikiran dan tindakan yang bertolak dari pandangan bahwa anak dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga. Kalau ia dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga, maka ia (a) mendapatkan pendidikan pertama dalam lingkungan keluarga dalam situasi kasih sayang; (b) berbarengan dengan kelahirnya yang telah tersedia wadah yang mendukung pertumbuhan dan perkembangannya berupa situasi kasih sayang di lingkungan keluarga tersebut, ia (anak) berkemampuan memperoleh sendiri pendidikan, di mana perolehan sendiri itu, yang diperoleh dan diolahnya sendiri; (c) perolehannya sendiri itu menjadi bekal yang didapatkannya dalam lingkungan dari situasi kehidupan keluarganya, oleh ia (anak) bekal tersebut menjadi bekal memasuki sekolah, berpartisipasi dengan dan dalam kehidupan sekolah mendapatkan pengaruh (pendidikan) dari dan dalam sekolah itu; (d) guna pelaksanaan pendidikan anak di sekolah itu telah direncanakan dan dikembangkan kurikulum yang dengan khusus dan sengaja dirancang untuk keperluan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, tidak ada pendidikan yang berlangsung dalam suatu abstrak, melainkan selalu dalam dan untuk suatu masyarakat tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlu suatu integral concept of curriculum yang dipandang sebagai konsekuensi dari tilikan psikologis yang mendalam dan yang memandang kepribadian anak sebagai satu dan tak terbagi: "the personality is one and indivisible." (Mannhein, 1954 hal. 55).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sifat integral dari pendidikan berkaitan dengan dua aspek, yaitu bahwa kegiatan pendidikan berkaitan dengan (1) lembaga-lembaga sosial di mana anak itu mendapatkan dirinya seperti keluarga dan sekolah; (2) keseluruhan pribadi anak, termasuk di dalamnya jenjang perkembangannya.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>MENDEKATI ANAK DALAM UPAYA MENDIDIK</title><link>http://darulmanthiq.blogspot.com/2011/11/mendekati-anak-dalam-upaya-mendidik.html</link><category>Pendidikan</category><author>noreply@blogger.com (Sobar Alghazal)</author><pubDate>Tue, 22 Nov 2011 01:05:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6406819688840670115.post-5147505139573899095</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tindakan mendekati anak (murid, siswa) dalam upaya mendidik berkaitan erat dengan pandangan atau pendapat. Berbagai pendapat mengenai mendekati anak (murid, siswa) perlu dipilih suatu pendapat yang tidak melihat anak (murid, siswa) sebagai sekedar "objek" mendidik, melainkan:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. benar-benar sebagai anak (murid, siswa), dengan segala ke-anak-an (dan ke-murid-an, ke-siswa-an) yang terlihat dalam situasi pendidikan di sekolah;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. benar-benar anak yang "eksistensial-manusiawi" dan bukan sebagai &lt;i&gt;&lt;b&gt;fremdkorper&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;. Dengan demikian pendapat yang dipilih mengenai mendekati anak dalam mendidik, adalah pendapat yang menempatkan anak (murid, siswa) dalam &lt;b&gt;&lt;i&gt;a total life orientation. That is, that one should respond as a whole person &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;(&lt;i style="font-weight: bold;"&gt;including feeling, ideas, and emotions&lt;/i&gt;). (McNeil, 1977, h. 3).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Realitas anak (murid, siswa) adalah realita sebagaimana yang dialami dan dihayati anak (murid, siswa) bersangkutan dalam situasi kehidupan dan pendidikan di lingkungan pendidikan tersebut. Mendekati anak (murid, siswa) dalam mendidik menyangkut pengenalan akan anak (murid, siswa) sebagai suatu realitas anak (murid, siswa) sebagaimana ia alami dan hayati dalam situasi, khususnya situasi pendidikan di mana ia berada dan mengada di dalamnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pendapat mengenai mendekati anak dalam mendidik itu, adalah pendapat yang mendukung bahwa:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Pendidikan, termasuk tindakan mendidik, dirancang dan diupayakan bagi kepentingan anak (murid, siswa) dalam rangka menyongsong kehidupannya sebagai manusia dewasa dalam masyarakatnya;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Keseluruhan tindakan mendidik dikerahkan dan diarahkan &lt;i style="font-weight: bold;"&gt;het kind monding te helpen worden, bekwaam te helpen maken zelfstanding zijn levenstaak te volbrengen &lt;/i&gt;(M.J. Langeveld)&lt;i style="font-weight: bold;"&gt;; ...a way of preparing young people to participate as productive members of our society&lt;/i&gt;.&lt;i style="font-weight: bold;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kepedulian tindakan mendidik yang berpihak kepada anak (murid, siswa) hendaknya tampak jelas pada tujuan, perancangan, maupun pengupayaan tindakan mendidik itu. Adapun indikator mendekati anak (murid, siswa) dalam mendidik yang berkepedulian terhadap anak (murid, siswa) bersangkutan antara lain, adalah:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Pemahamannya berpusat pada anak (murid, siswa: childcentered);&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Berazaskan anak aktif, umpamanya Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA);&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Memasukan program bimbingan dan penyuluhan dalam kurikulum pendidikan;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4. Menerapkan sistem modul;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5. Berorientasi kepada tujuan, di mana tujuan instruksional khususnya berpusat pada anak (murid, siswa);&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;6. Proses "Belajar-mengajar" (pembelajaran)nya dilaksanakan dengan lebih banyak mengacu kepada bagaimana seseorang belajar, selain kepada apa yang dipelajari;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;7. Berazas keluwesan dalam pengembangan program atau kurikulum pendidikannya dengan mempertimbangkan kebutuhan anak (murid, siswa) pada umumnya secara perorangan sesuai dengan minat dan bakatnya serta kebutuhan lingkungan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>SISI GENEALOGIS ILMU MANTHIQ</title><link>http://darulmanthiq.blogspot.com/2011/11/sisi-genealogis-ilmu-manthiq.html</link><category>Filsafat</category><category>Manthiq</category><author>noreply@blogger.com (Sobar Alghazal)</author><pubDate>Thu, 17 Nov 2011 02:59:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6406819688840670115.post-6444497242635594158</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akar yang diduga menjadi latar belakang munculnya Ilmu Manthiq, ialah perdebatan antara Abu Sa'id Al-Syirafi (893-950 M) dengan Abu Bisyr Matta (870-940 M), dalam khazanah Peradaban Islam, tentang kata dan makna; bahasa dan logika.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Abu Sa'id Al-Syirafi, yang ahli bahasa, berpandangan bahwa kata muncul lebih dahulu daripada makna. Kalau "kata lebih dahulu muncul daripada makna", maka berkonsekuensi logis bahwa "Setiap bahasa lebih merupakan cerminan dari budaya masyarakat masing-masing".&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Abu Bisyr Matta memandang bahwa justeru makna ada lebih dahulu dibanding kata; karenanya Logika (Ilmu Manthiq) muncul lebih dahulu daripada bahasa. Manakala Logika (Ilmu Manthiq) muncul lebih dahulu daripada bahasa, maka implikasi-logisnya bahwa makna dan logika (Ilmu Manthiq) inilah yang menentukan kata dan bahasa, bukan sebaliknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sisi nativistik menempatkan makna (manthiq; logika) pada posisi dasar, mengingat bahwa manusia dilahirkan dengan dibekali bakat/pembawaan (makna, manthiq, logika), yang menentukan dan menciptakan garis-garis kata (bahasa); di mana perkembangan dan pengembangan kata (bahasa) berlanjut atas ketentuan makna (manthiq, logika).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sisi empiris justeru kata (bahasa) terlebih dahulu ada dalam dan dari lingkungan; di mana perkembangan dan pengembangan kata dan bahasa yang sarat makna (manthiq, logika) itu ditentukan oleh pengaruh yang dialimi dalam dan dari lingkungan, termasuk ajaran Ilmu Manthiq atau logika. Walhashil kata atau bahasa sebagai lingkungan yang menentukan makna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dasar yang berkaitan dengan sisi nativistik mengakibatkan bahwa manthiq (logika), yaitu makna telah ada sejak sebelum dan semenjak lahir, sehingga Ilmu Manthiq (logika) atau kata dan bahasa yang artifisial itu sebagai sarana perkembangan dan pengembangan manthiq (logika; makna) potesial.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rene Descartes berpendapat bahwa dalam pertautannya dengan lingkungannya, orang menggunakan pengertian-pengertian tertentu yang tidak dapat dikatakan sebagai abstraksi dari pengalaman yang dialaminya dari lingkungan. Ia menunjuk misalnya kepada pengertian Tuhan yang tidak muncul karena pengamatan inderiah dan karenanya pengertian seperti itu harus disimpulkan didapat manusia sejak kelahirannya. (M.I. Soelaeman, 1988 p. 50).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Leibniz berpikir lebih jauh dari itu. Bagi Leibniz pengertian yang harus dikembalikan kepada idea-idea yang dibawa lahir, bukan hanya beberapa pengertian saja, melainkan semuanya harus dikembalikan kepada idea-idea yang dibawa lahir. Realita yang sehari-hari nampak secara material sebenarnya adalah idea.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perdebatan tersebut baik langsung ataupun tidak langsung bersentuhan dengan masalah ajar dan dasar. Yang tentunya menyinggung persoalan-persoalan:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Apakah kata atau bahasa seseorang itu merupakan bawaan atau hasil pengaruh lingkungan (orang, ajaran, kebudayaan), termasuk kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip Ilmu Manthiq (logika) yang dibukukan dan dibakukan; dibakukan dan dibukukan secara sistematik oleh Aristoteles sebagai Guru Pertama, dan oleh Al-Farabi sebagai Guru Kedua?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Manakala dalam kata dan bahasa itu ada faktor bawaan dan ada faktor pengaruh dari lingkungan termasuk Ilmu Manthiq (logika) yang telah terbukukan dan terbakukan, yang manakah yang bawaan dan yang manakah yang pengaruh lingkungan?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Seberapa jauhkah faktor bawaan dan seberapa jauh pula faktor lingkungan dapat mempengaruhi kata dan bahasa seseorang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Schopenhauer berpendapat bahwa "The world is my idea, the world, like man, is through and through will and &amp;nbsp;through idea...". Segala kejadian di dunia dipandangnya sebagai manifestasi dari benih yang ada padanya sejak semula. Hal ini tidak saja berlaku bagi tanaman, melainkan juga bagi segala organisme, termasuk manusia. Oleh karena itu, maka yang penting adalah prokreasinya. Perkembangan manusia hanya merupakan semacam penjabaran dari yang telah disiapkan semula, yang telah dibawakan sejak kelahirannya. (M.I. Soelaeman, 1988 p. 50).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian, makna dan kata, logika (manthiq) dan bahasa, manthiq (logika) potensial dan Ilmu Manthiq (Ilmu Logika) sebagai manthiq 9logika) artifisial dimulai sejak jauh sebelum kelahiran manusia (yang berlogika dan berbahasa). Manusia dalam bentuk zygote yang terbentuk melalui pertemuan sel ibu dengan sel ayah (sperma). Dalam zat hidup ini terkandung potensi bermanthiq sekaligus berbarengan berbahasa yang menimbulkan berlogika yang mengakibatkan berbahasa yang beragam itu; bahkan dimulai sejak sebelum manusia dan alam diciptakan dan berada sebagaimana sekarang adanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, akallah yang pertama diciptakan Allah Swt Awj sebelum diciptakan segala yang ada dan yang mungkin ada. Dan akal inilah gen dari manthiq (logika) potensial juga manthiq (logika) artifisial yang tak terpisahkan dari kata dan bahasa yang juga artifisial.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akal sebagai gen manthiq (logika) itu menjadi zat hidup yang mengandung manthiq (logika) potensial yang berpasangan dengan manthiq (logika) artifisial yang berimbang kelak dalam eksistensial manusia di dunia, yang mengandung dan mengundang manthiq (logika) artifisial yang berpasangan dengan bahasa atau makna dengan kata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akal yang pertama diciptakan itu bukanlah akal yang melekat pada seseorang atau kelompok orang-orang, atau manusia yang telah, sedang, dan akan (pernah) berada di bumi ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akal yang melekat pada manusia di bumi ini sepenuhnya ditentukan oleh akal yang pertama diciptakan itu; akal yang menjadi gen manthiq (logika) tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akal yang pertama diciptakan yang menjadi gen manthiq (logika) tadi pada saat menyelinap ke dalam akal yang melakat pada manusia ini, ia berubah dan mengubah dirinya menjadi akal yang utuh dan penuh. Akal yang pertama diciptakan dan penyelinapannya tidak dapat diketahui oleh manusia. Akal yang utuh penuh itu disebut genotype dari akal yang tidak diketahui tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akal yang melekat pada manusia yang menjadi wadah dari akal yang utuh penuh tadi, mengubah dirinya menjadi fenotype dari akal yang tidak diketahui tadi. Karena itu, ia merupakan atau dapat disebut akal yang telah mencerap pengaruh lingkungan di mana manusia hidup. Nah, manusia yang berakal, yang akalnya itu menjadi wadah akal yang tidak diketahui itu yang melahirkan genotype dan fenotype dari akal itu, seolah-olah tampak berakalnya bukan badannya. Akal fenomenal inilah yang disebut akal utuh (genotype dari akal) &amp;nbsp;akal sebagaimana telah berkembang dalam lingkungan tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Denagn demikian, manusia dalam kehidupan sehari-hari dapat berinteraksi secara aktif dan melakukan transformasi dengan sesamanya; hal ini tak ayal lagi karena ia memiliki akal untuk berpikir. Al-Qur'an menunjukkan bahwa manusia sangat dihargai karena peranan akalnya. Dan Al-Qur'an juga memuat seruan Allah Swt Awj kepada manusia, agar ia selalu berpikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akal manusia bagi manusia merupakan suatu sarana super canggih, sebagai yang dikaruniakan oleh Allah Swt Awj kepadanya, tidak kepada makhluk lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manusia dengan akalnya dapat mengetahui sesuatu yang belum diketahuinya. Ia dapat memahami lebih mendalam bagi sesuatu yang telah diketahuinya, baik tentang dirinya maupun hakikat alam dan rahasia yang terkandung di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manusia karena akalnya menjadi makhluk unik yang senantiasa terdorong untuk berpikir sepanjang hayatnya sesuai dengan kemampuan berpikir yang dimilikinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manusia ketika masih diberi kehidupan dan hidup dalam keadaan normal, selama itu pula manusia akan beraktivitas berpikir yang akan terlepaskan dan melapaskannya. Ia berambisi untuk mencari kebenaran dengan jalan berpikir. Pada saat mencari kebenaran dengan jalan berpikir itulah Ilmu Manthiq (logika) berperan penting dalam mencari suatu kebenaran itu. Rene Descartes menandaskan cogito ergo sum (Aku berpikir, karena itu aku ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teori manthiq (logika), yang jelas menggunakan nalar, dalam pensyari'atan Hukum Islam, sama sekali tak dapat melepaskan diri dari apa yang disebut sebagai Ilmu Manthiq. Karena itu, Ahlu 'l-Ra'yi (Manthiq, Logika) dan Ahlu 'l-Qiyas (Analogi) memandang bahwa syari'at itu sebagai pengertian yang masuk akal dan dipandangnya sebagai akal yang universal yang disyari'atkan oleh Al-Qur'anu 'l-Karim. Al-Imam Al-Syafi'i, dalam teori ijtihad, ketika memahami Al-Qur'an maupun sunnah ada istilah Dilalah Ghair Mandhum (petuunjuk kalimat terhadap makna dengan menggunakan lafadl yang tidak sharih) yang tentunya dibutuhkan analisis berpikir tepat dalam memahaminya. Untuk itu, signifikansi akal teramat krusial sebagai langkah untuk memperoleh kredibilitas dan akuntabilitas dalam memecahkan dan membuat kesimpulan pada setiap persoalan hidup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang perlu diakui bahwa hasil pemikiran manusia meskipun menggunakan akal tidak selalu benar. Hasil pemikirannya, kadang-kadang salah meskipun ia telah bersungguh-sungguh berupaya mencari yang benar. Kesalahan itu bisa saja terjadi tanpa unsur kesengajaan. Jika hal itu memang terjadi, maka ia telah mendapat pengetahuan yang salah meskipun ia yakin akan kebenarannya. Oleh karena itu, supaya manusia aman dari kekeliruan berpikir dan selamat dari mendapat kesimpulan yang salah, perlulah ajar berupa kaidah-kaidah berpikir atau metodologi berpikir ilmiah yang dikenal Ilmu Manthiq (logika). Peran Ilmu Manthiq (logika) seperti halnya Nahwi li 'l-Lisan (Grammar dalam pengucapan). (Sullamu 'l-Munauwraq, Syekh Abdurrahman Al-Akhdhari).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>MANTHIQ SEBAGAI ILMU</title><link>http://darulmanthiq.blogspot.com/2011/11/manthiq-sebagai-ilmu.html</link><category>Filsafat</category><category>Manthiq</category><author>noreply@blogger.com (Sobar Alghazal)</author><pubDate>Mon, 14 Nov 2011 06:57:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6406819688840670115.post-2052271587748412193</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;Ada dua pertanyaan mengenai Manthiq sebagai ilmu, yaitu:&lt;br /&gt;
1. Apakah Manthiq itu benar-benar suatu ilmu?&lt;br /&gt;
2. Ilmu yang bagaimanakah Manthiq itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kedua pertanyaan tersebut di atas berkaitan dengan syarat-syarat ilmu. Adapun syarat-syarat ilmu, adalah objek, metode, dan struktur organis ilmu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bila Manthiq memenuhi syarat-syarat ilmu termaksud di atas, maka Manthiq benar-benar merupakan ilmu; atau Manthiq sebagai ilmu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Objek Material Ilmu Manthiq adalah pikiran manusia; sedangkan Objek Formal Ilmu Manthiq adalah alur jalannya pikiran; atau berpikir dengan lurus.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Metode Ilmu Manthiq adalah Metode Analitis dan Metode Sintetis. Bila seseorang memperhatikan pikirannya sendiri, maka ia sedang mengadakan analisis guna mendapatkan hukum-hukum atau patokan-patokan berpikir. Ia setelah memperoleh patokan-patokan berpikir itu, lalu ia menyusun dan menjadikan sekumpulan hukum, yakni &amp;nbsp;hukum berpikir. Kerja menyusun dan menjadikan sekumpulan hukum berpikir inilah yang disebut aktivitas sintetis.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Olah pikir berbentuk kerja analitis dan sintetis berkaitan dengan struktur yang organis, yaitu bahwa "Manthiq di dalam memberikan uraian, ia secara berturut-turut memberikan kupasan segala aspek berpikir dari yang paling sedarhana sampai yang paling kompleks, tanpa ada pertentangan di antara aspek-aspek tersebut, melainkan saling melengkapi".&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Manthiq menguraikan dari masalah mengerti, kemudian berpendapat, dan akhirnya sampai pada penyimpulannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ilmu terinci atas dasar objek, kegunaan, cara bekerja, dan cara berpikirnya. Ilmu atas dasar:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;a). Objeknya terperinci 1). Ilmu Alamiah dan 2) Ilmu Rohaniah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;b). Kegunaannya terperincilah 1). Ilmu Teoretis dan 2). Ilmu Praktis.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;c). Cara Kerjanya terperincilah 1). Ilmu Normatif dan 2). Ilmu Deskriptif atau Empirik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;d). Cara Berpikirnya terperincilah 1). Ilmu Finalistis atau Teleologis dan 2). Ilmu Kausalistis.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nah, Manthiq masuk ke dalam Ilmu Rohanian, Teoretis-Praktis, Normatif-Deskriptif, dan Finalistis.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;REFERENSI&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;A. Soedomo Hadi, &lt;i&gt;&lt;b&gt;Logika Filsafat Berpikir&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Khalimi, &lt;b&gt;&lt;i&gt;Logika Teori dan Aplikasi&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>SISI FILOSOFIS MENGENAI TUJUAN PENDIDIKAN</title><link>http://darulmanthiq.blogspot.com/2011/11/sisi-filosofis-mengenai-tujuan.html</link><category>Filsafat</category><category>Pendidikan</category><author>noreply@blogger.com (Sobar Alghazal)</author><pubDate>Sat, 5 Nov 2011 06:40:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6406819688840670115.post-1590688805568980791</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tujuan pendidikan menyangkut persoalan dan pemecahan mengenai "apa yang harus dikerjakan?". Lingkup yang mengandung dan mengundang pemecahan "apa yang harus dikerjakan?" adalah bidang filsafat yang disebut aksiologis. Tiga pertanyaan lain yang sangat erat dengan pertanyaan "apa yang harus dikerjakan?", adalah, "apa yang dapat diketahui?", "apa yang boleh diharapkan?", dan "apa manusia itu?".&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Apa yang dapat diketahui?" pemecahannya dapat dibuka dalam bidang metafisika, yang menurut sebagian bahwa metafisika itu adalah epistemologi itu sendiri. "Apa yang boleh diharapkan?" terdapat dalam religi; dan "Apa itu manusia?" terdapat dalam antropologi-filsafi. Keempat pertanyaan itu intinya dan tertumpu pada pertanyaan "Apa itu manusia?'".&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perumusan tujuan pendidikan menjadi aktivitas prinsipil lagi kerja pertama sekali bagi disainer pendidikan. Karena itu yang mendisain pendidikan dalam merumuskan tujuan pendidikan mesti berpangkaltolak dari pandangan hidupnya yang mendasar. Dengan demikian perumusan tujuan pendidikan berdasarkan philosophy of life atau secara politis berdasarkan pada way of life.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rumusan tujuan pendidikan menentukan rancangan, pembuatan program, dan evaluasi pendidikan; tujuan pendidikan menentukan program, rancangbangun, dan penilaian pendidikan itu sendiri; walhashil mutu pendidikan cepat terlihat pada dan dalam rumusan tujuan pendidikan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Philosophy of life atau way of life yang menentukan rumusan tujuan pendidikan itu juga mengakibatkan berbeda-bedanya rumusan tujuan pendidikan itu. Di sisi lain tujuan pendidikan itu menyangkut tujuan hidup manusia; sehingga rumusan tujuan pendidikan menyangkut gambaran manusia ideal; manusia yang diharapkan; dengan demikian posisi tujuan pendidikan itu sebagai alat pencapaian manusia ideal termaksud.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Manakala way of life itu adalah agama, maka rumusan tujuan pendidikan bertolak dari pandangan agama; sekaligus manusia yang ideal sebagai yang terdapat dalam rumusan tujuan pendidikan yang hendak dicapai oleh tujuan pendidikan itu sendiri, adalah, manusia ideal menurut ajaran agama tertentu. Manakala way of lifenya dalam suatu madzhab dari filsafat, maka rumusan dan manusia ideal tujuan pendidikan itu ditentukan sebagaimana penentuan ajaran madzhab filsafat tersebut; demikian juga way of life yang diperoleh dari nilai-nilai waris nenek moyang. Namun dalam real-faktis terdapat campuran dari ketiga pandangan hidup itu baik dalam merumuskan tujuan pendidikan maupun manusia yang ideal.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Uraian tersebut menyentuh bahwa rumusan tujuan pendidikan mengacu kepada persoalan metafisik, epistemologi, religi, dan aksiologi yang seluruh dan keseluruhan bidang-bidang tersebut merupakan persoalan pokok filosofis; sedangkan filsafat bersifat radikal dan universal. Namun pendidikan termasuk tujuan dan situasi pendidikan itu, bersentuhan dengan masalah yang spesifik. Yang mengakibatkannya rumusan tujuan pendidikan disempitkan oleh keberlangsungan pendidikan itu yang terjadi dalam situasi tertentu dalam wilayah atau negara tertentu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bila negara tertentu yang menentukan rumusan tujuan pendidikan dengan berdasarkan filsafat atau pandangan hidup negaranya, maka rumusan tujuan pendidikan itu terbatas; hal ini membawa ke arah saintifik atau ilmu pendidikan. Karena itu tujuan pendidikan pada setiap negara akan berbeda-beda satu sama lain mengingat setiap negara memiliki filsafat negara masing-masing. Perbedaan itu juga terjadi pada satu negara tertentu; mengingat yang merumuskan adalah perwakilan dari masyarakat atau bangsa; yang pangkal dan penghujungnya ada kemungkinan rumusan tujuan pendidikan tidak sama sebagai yang dikehendaki atau menyimpang dari filsafat negaranya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun sifat yang menetap atau sifat universal dan radikal sebagai issue inti filsafat masih melekat dalam perumusan tujuan pendidikan di segala negara, yaitu prinsip antropologis - normatif - yang praktis. Dan bahwa selulurh mausia di mana pun dan kapanpun serta apa dan siapa pun menghendaki manusia yang terbaik; manusia odeal atau manusia yang diharapkan. Dan dalam hal ini tipis hampir tidak ada perbedaan. Namun manakala muncul upaya pemecahan "apa dan siapa manusia yang terbaik itu; apa pula ciri manusia terbaik itu?", akan membawa dan mengakibatkan perbedaan selaras dengan pandangan dunianya, baik menyangkut hakikat manusia, yaitu sisi antropologis, menyangkut sistem nilai, yaitu sisi normatif, maupun pelakasanaannya yang menyangkut sisi praktis.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ahmad Tafsir (2006) menggariskan bahwa manusia ideal yang perlu ada dalam rumusan tujuan pendidikan itu, adalah, manusia yang tenang dan produktif dalam menjalani hidup bersama; dengan penguraiannya sebagai berikut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manusia ideal dalam rumusan tujuan pendidikan yang hendak dicapai melalui pendidikan itu, ialah, karakteristik lulusan yang diharapkan, yakni lulusan yang merupakan manusia terbaik, yang cirinya adalah (1) tenang dan (2) produktif dalam kehidupan bersama; spesifikasi dari kedua ciri tersebut meliputi tiga indikator, yaitu: I. Berbadan sehat serta kuat, yang memungkinkan tenang dan produktif. Kuat menyangkut kemampuan otot dan non-otot dalam penyelesaian pekerjaan, yang mengakibatkan berproduksi maksimal. II. Otaknya cerdas serta pandai. Cerdas ialah pintar, yang di dalamnya mengandung kemampuan menyelesaikan masalah secara cepat dan tepat; biasanya orang pintar jarang memerintah atau menyuruh orang lain. Cerdas merupakan kemampuan dibawa sejak lahir, biasanya ukurannya adalah intellegence quotient (IQ); karena itu cerdas tidak dapat ditingkatkan; namun dapat dilatih agar aktual efektif. Pendidikan di antaranya metatih kecerdasan subjek didik. Sedang padai, cirinya adalah banyak pengetahuan; sedangkan banyak yang diketahui diperlukan IQ. Bila IQ tinggi tapi kurang banyak pengetahuan, maka IQ itu seperti kekurangan onderdil; IQ yang tinggi itu kurang dapat diaktualkan secara maksimal. Kepandaian dapat ditingkatkan. Kepandaian dengan kecerdasan seperti ilmu dan paham yang terdapat dalam ungkapan: Rabbiy Zidniy 'Ilman wa Urzuqniy Fahman... III. Beriman kuat, yang intinya adalah kemampuan mengendalikan diri yang tinggi dan tahan banting; ini berkaitan dengan konsep emotional quotient (EQ). Ketiga indikator dari tenang dan produktif dalam kehidupan bersama tersebut mencakup rincian ciri-cirinya, yaitu 1). disiplin, 2). sifat jujur, 3). kreatif, 4). ulet, 5). berdaya saing tinggi, 6). mampu hidup berdampingan dengan orang lain, 7). demokratis, 8). menghargai waktu, dan 9). memiliki kemampuan mengendalikan diri yang tinggi. Rumusan tujuan pendidikan juga menyangkut I. Pendidikan Berorientasi Kompetensi dan II. Pembangunan Masyarakat Madani. Pendidikan berorientasi kompetensi menyangkut tuntutan dan tuntunan agar pedidikan dilakukan dengan benar; dan menyangkut keterampilan mengalami hidup, yaitu harus mengetahui (knowing), harus tahu cara melaksanakan suatu yang diketahui (doing), dan mengalami hidup seperti yang diketahui itu. Sedangkan pembangunan masyarakat madani mencakup 1). adanya hukum yang mengatur kehidupan masyarakat manusia sesuai dengan kemanusiaannya, 2). hukum itu ditaati, dan 3). ada penegak hukum. Adapun langkah-langkahnya: 1). membuat hukum yang manusiawi, yakni hukum yang sesuai dengan dengan hakikat manusia, 2). menciptakan masyarakat yang taat hukum, dan 3). pengadaan dan kemengadaan hingga adanya penegak hukum. &amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>TUJUAN DAN KEGUNAAN MEMPELAJARI ILMU MANTHIQ</title><link>http://darulmanthiq.blogspot.com/2011/10/tujuan-dan-kegunaan-mempelajari-ilmu.html</link><category>Filsafat</category><category>Manthiq</category><author>noreply@blogger.com (Sobar Alghazal)</author><pubDate>Mon, 31 Oct 2011 00:18:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6406819688840670115.post-1145279954534035630</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;Kerja keras sekaligus yang menentukan manusia sebagai manusia, tentunya ada pelibatan Allah Swt Awj, adalah olah pikir dalam menemukan kebenaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Socrates meyakini bahwa "tanpa teruji (penderitaan) hidup tak bermakna". Bagi Socrates --seperti halnya para bapak filsafat dari Yunani-- Martabat manusia ditentukan oleh olah pikir dalam menemukan kebenaran. Namun perlu disadari bahwa manusia juga makhluk yang penuh rasa ingin tahu. Hal yang merisaukan, seperti ditulis oleh Aristoteles, ketika manusia berfilsafat. Filsafat merupakan induk dari dan sejalan dengan ilmu pengetahuan (sains). Bahkan, filsafat secara umum merupakan ilmu pengetahuan dari seluruh ilmu pengetahuan yang ada&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;. (Milton D. Hunnex, terj., 2004 p. 1-2).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Olah pikir merupakan aktualisasi potensi akal, sehingga menyiratkan perlu dan dapat dididikan hal yang berkaitan dengan olah pikir tersebut. Ilmu Manthiq (logika) merupakan alat berpikir agar pemikiran itu benar, baik, dan tepat, yang memungkinkan turut mendukung ke arah perolehan kebenaran.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pencarian dalam kerangka penemuan kebenaran adalah salah satu kerja pikir filsafi; yang pangkal-penghujungnya pengetahuan tentang ilmu (pengetahuan), yakni pengetahuan filsfat, di mana pengetahuan filsafat itu adalah ilmu (pengetahuan) yang utuh dan menyeluruh itu sendiri, yang bersifat untuh menyeluruh dari seluruh ilmu pengetahuan yang ada.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Uraian tersebut di atas menunjukkan perlu dan dapatnya "Mempelajari Ilmu Manthiq (Logika)". Sedangkan "Mempelajari Ilmu Manthiq (logika), seperti halnya mempelajari ilmu-ilmu lainnya, tidak terlepas dari tujuan dan kegunaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tujuan "Mempelajari Ilmu Manthiq (Logika)", dilihat dari karakter yang terkandung dalam Ilmu Manthiq (logika) itu sendiri, ialah "Memelihara, melatih, mengajar, dan memdidik yang bermuatan mengembangkan potensi akal dalam mengkaji objek pikir dengan menggunakan metodologi berpikir".&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tujuan "Mempelajari Ilmu Manthiq (Logika)" &amp;nbsp;yang diajukan oleh Muhammad Nur Al-Ibarahim tersebut di atas (Khalimi, 2011 p. 18) menunjukkan bahwa,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Ilmu Manthiq (logika) sebagai ilmu buatan (artifisial) sebagai hasil pengembangan dari potensi akal, dapat memelihara kemampuan dasar akal yang bersifat potensial tadi dari pengaruh luar (lingkungan) yang memungkinkan potensi akal tadi ke arah kesesatan; untuk itu, metodologi berpikir sebagai produk dan terdapat secara inhern dalam Ilmu Manthiq (logika) turut menjaga dan mengurusnya serta meluruskan potensi akal dalam mengkaji objek pikirnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Ilmu Manthiq (logika) yang memuat prinsip-prinsip berpikir benar, baik, dan tepat, kerangka pikir benar, baik, dan tepat, serta rancangbangun (sitematika) berpikir, dengan sendirinya, melatih orang berpikir sehingga suatu ketika orang tersebut berketerampilan mengapliksikan prinsip, rangka, dam sistematika berpikir dalam mengkaji objek pikir; lantas setelah begitu itu orang tersebut terbiasa berpikir teoritis dan praktis: aplikasi - praktris - mekanistik bermanthiq.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Ilmu Manthiq (logika) yang memuat format berpikir seperti tashawwur (pengertian), tashd&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;q (keputusan), dn istidl&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;l (penuturan) memiliki sisI dinamis, sehingga memungkinkan mengajar kepada orang dalam kerangka mempertajam potensi akal (intelektualitas) serta pengetahuan, kemauan, dan kemampuan berpikir itu sendiri secara actus. Walh&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;shil, Ilmu Manthiq (logika) mengajar manusia menuju kemahiran intelektualitas sebagai hasil pengajaran Ilmu Manthiq (logika) tersebut berupa berpikir ilmiah baik bersifat saintifik, logis-filosofis, mupun mistik-sufistik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4. Ilmu Manthiq (logika) sebagai ilmu yanag bertolak dari pengembangan potensi akal; sedangkan akal mencakup akal potentia maupun akal actus, yang keduanya merupakan alat kerja ruhani yang menjadikan jasmani sebagai jembatan untuk merealisasikan berpikir di tengah-tengah alam semesta sekaligus berhadapan denagan diri sendiri dan Allah Swt Awj, maka Ilmu Manthiq (logika) dengan hal berkaitan dengannya seperti telah disinggung di atas, pada sisi dasar dan fungsinya bagi manusia sebagai diri sendiri (individu), sosial, dan makhluk Allah Swt Awj, mendidik manusia dapat berpikir secara universal, sistematis, dan radikal. Ilmu Manthiq (logika) disebut mendidik ke arah mewujud pribadi yang berpikir secara universal, sistematis, dan radikal, bahkan total, komprehensif, dan integral, karena Ilmu Manthiq (logika) itu di samping sebagai alat yang memungkinkan dapat turut mengembangkan manusia ke arah itu juga sebagai filsafat berpikir. Sedangkan filsafat itu sendiri berpikir universal, sistematis, dan radikal, yang berfungsi sebagai cara berpikir kritik dan konstruktif.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Filsafat, tentu logika (Ilmu Manthiq) di dalamnya, berusaha untuk memhami kehidupan dan dunia secara keseluruhan. Metode yang digunakan adalah metode kritik dan konstruktif. Dalam fungsinya sebagai alat kritik, filsafat, logika (Ilmu Manthiq) berusaha menguji asumsi-asumsi dan ide-ide dengan tujuan untuk mengklarifikasi dan memahaminya. Fungsi kritik ini banyak digunakan dalam masalah-masalah seperti teori ilmu pengetahuan dan teori tentang nilai. Intinya adalah analisis. Sementara dalam fungsinya yang konstruktif, filsafat (logika, Ilmu Manthiq) berusaha menelaah dan mengorganisir seluruh fakta yang ada supaya dapatt menemukan satu pandangan tentang dunia secara keseluruhan. Pada dasarnya kedua fungsi ini bersifat sinopsis dan spekulatif. Hal ini akan melibatkan sejumlah kajian seperti kajian metafisika dan teori tentang realitas. Sejumlah filosof meyakini bahwa filsafat (logika, Ilmu Manthiq) membatasi diri hanya dalam fungsinya sebagai alat kritik saja. Biasanya, filsafat (logika, Ilmu Manthiq) memberi semacam ekspresi pada kepentingan &amp;nbsp;spekulatif manusia --suatu usaha untuk memahami dirinya sendiri dalam hubungannya dengan alam semesta sebagai satu kesatuan&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;. (Milton D. Hunnex, &lt;i&gt;&lt;b&gt;terj&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;., 2004 p.3).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian pantaslah "mendidik dalam kerangka mengembangkan potensi akal dalam mengkaji objek berpikirnya dengan menggunakan metodologi berpikir" itu, menjadi tujuan "mempelajari Ilmu Manthiq (logika)".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuan dari sisi keperiadaan manusia itu sendiri, yang dituntut untuk tahu, mau, dan mampu berpikir kritis dan konstruktif yang sinoptik lagi kontemplatif, maka tujuan "Mempelajari Ilmu Manthiq (logika)" &amp;nbsp;bagi manusia digambarkan tersebut berikut, adalah: Orang yang mempelajari Ilmu Manthiq (logika) diharapkan dapat:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Menempatkan persoalan dan menunaikan tugas pada situasi dan kondisi yang tepat dan benar;&lt;br /&gt;
2. Membedakan proses dan kesimpulan berpikir yang benar dari yang salah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ilmu Manthiq (logika), seperti telah disebutkan di muka, merupakan Ilmu Alat berpikir teoretis dan praktis secara baik, benar, dan tepat untuk mencari kebenaran dan menemukannya, maka sisi kegunaan mempelajari Ilmu Manthiq (logika) tidak bersifat langsung; artinya kegunaannya terasa ada tatkala kita menimbang ilmu-ilmu apakah benar, berbobot ilmiah atau tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Khalimi (2011 p. 18-19) menjelasakan bahwa, &lt;b&gt;&lt;i&gt;Jadi, mempelajari Ilmu Manthiq (logika) itu sama dengan mempelajari Ilmu Pasti dalam arti sama-sama tidak langsung memperoleh faedah dengan ilmu itu sendiri, tetapi ilmu-ilmu itu sebagai perantara yang merupakan suatu jembatan untuk ilmu-ilmu yang lain juga untuk menimbang sampai di mana kebenaran ilmu-ilmu itu. Dengan demikian, maka Ilmu Manthiq (logika) juga boleh disebut Ilmu Pertimbangan atau Ukuran, dalam bahasa Arab disebut 'Ilmu Miz&lt;/i&gt;&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;&lt;i&gt;n atau Mi'yaru 'l-'Ul&lt;/i&gt;&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;&lt;i&gt;m... Ilmu Manthiq (logika) merupakan lampu obor penerang jalan menuju arah yang dituju; yang karenanya Ilmu Manthiq (logika) dinamakan ilmu dari segala ilmu, Ilmu Timbangan dan Ukuran dari segala ilmu.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kegunaan Mempelajari Ilmu Manthiq (logika) berdasarkan beberapa ahlinya adalah bahwa, Ilmu Manthiq (logika) itu dapat:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Membantu manusia untuk dapat tahu, mau, dan mampu berpikir rasional, kritis, lurus, tetap, tertib, metodis, dan koheren;&lt;br /&gt;
2. Melatih jiwa manusia, sehingga menjadikan ia mampu memperhalus jiwa pikirannya;&lt;br /&gt;
3. Mendidik kekuatan akal pikiran serta memperkembangkannya ke arah wujud yang terbaik; yang diperolehnya melalui pelatihan dan pembiasaan mengadakan penyelidikan-penyelidikan tentang cara berpikir yang digariskan Ilmu Manthiq (logika). Pelatihan dan pembiasaan berpikir sebagaimana yang dituntut dan dituntun Ilmu Manthiq (logika), manusia akan mudah dan cepat mengetahui di mana letak kesalahan yang menggelincirkannya dalam upaya menuju hukum-hukum yang diperbolehkan dengan pemikiran itu;&lt;br /&gt;
4. Meningkatkan pengetahuan, kemauan, dan kemampuan manusia dalam berpikir secara abstrak, cermat, dan objektif;&lt;br /&gt;
5. Menambah kecerdasan dan meningkatkan pengetahuan, kemauan, dan kemampuan berpikir secara tajam dan mandiri;&lt;br /&gt;
6. Menjadi tuntutan dan tuntunan serta pendorong manusia untuk berpikir sendiri dengan menggunakan asas-asas sistematis;&lt;br /&gt;
7. Meningkatkan rasa cinta manusia akan kebenaran sekaligus menghindari kesalahan-kesalahan berpikir serta kekeliruan dan kesesatannya;&lt;br /&gt;
8. Menjadi tuntutan dan tuntunan kepada manusia agar tahu, mau, dan mampu melakukan analisis terhadap suatu kejadian, sehingga menghindari klenik;&lt;br /&gt;
9. Meningkatkan citra diri manusia sebagai konsekuensi tahu, mau, dan mampu berpikir rasional, kritis, lurus, metodis, dan analitis sebagaimana dituntut dan dituntun oleh Ilmu Manthiq (logika).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Imam Al-Ahdhari bersenandung bahwa, &lt;b&gt;&lt;i&gt;Fa Ya'shimu 'l-Afk&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;ra 'an Ghayyi 'l-Khath&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;-i; wa 'an Daq&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;qi 'l-Fahmi &amp;nbsp;Yaksyifu 'l-Ghith&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;-a&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;: Manthiq (logika) dapat memelihara pikiran dari kesalahan berpikir; memperdalam pemahaman dan menyingkap selimut kebodohan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Imam Al-Ghazali menandaskan bahwa, &lt;b&gt;&lt;i&gt;Anna Man L&lt;u&gt;a&lt;/u&gt; Ma'rifata lahu bi 'l-Manthiqi L&lt;u&gt;a&lt;/u&gt; Yuwtsaqu bi 'Ilmihi&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;: Sungguh orang yang tidak memiliki pengetahuan dalam Ilmu Manthiq (logika) tidak dapat dipercaya ilmunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernyataan Al-Imam Al-Ghazali tersebut di atas manakala dipertautkan dengan uraian mengenai tujuan dan kegunaan "mempelajari Ilmu Manthiq (logika)', maka:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Ilmu Manthiq (logika dapat memenuhi harapan orang yang mempelajarinya, yakni orang mempelajari Ilmu Manthiq (logika) berharapan dapat bernalar dengan baik, benar, dan tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Prinsip-prinsip abstrak dari dan dalam Ilmu Manthiq (logika) dapat diaplikasikan atau diimplementasikan dalam semua bidang ilmu bahkan pada seluruh lapangan kehidupan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Ilmu Manthiq (logika) yang memuat prinsip-prinsip abstrak itu dapat membantu kita untuk tahu, mau, dan mampu berpikir abstrak, yang menjadi tuntutan dan tuntunan guna mengembangkan pemikiran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Ilmu Manthiq (logika) bila dipelajari secara tepat dapat membantu kita untuk berpikir lurus, tepat, dan teratur; di samping itu Ilmu Manthiq (logika) juga dapat membantu kita untuk:&lt;br /&gt;
a). menginterpretasikan secara tepat fakta dan persepsi orang lain;&lt;br /&gt;
b). melacak penalaran yang sesat dan tidak logis kemudian menunjukkan di mana letak kesalahannya;&lt;br /&gt;
c). mengembangkan pemikiran ilmiah dan reflektif dengan tetap setia pada kebenaran, yang merupakn ciri khas pencari kebenaran atau pencinta kebijaksanaan;&lt;br /&gt;
d). menjalani suatu disiplin intelektual yang perlu untuk memandu kita dalam proses menarik kesimpulan (natijah, konklusi);&lt;br /&gt;
e). menghindarkan: 1. berbagai macam kesalahan berpikir (fallacia) yang muncul etah karena otoritas (kuasa), emosi, prasangka, keindahan, bahasa, atau kebiasaan. Logika (manthiq) adalah logos yang dipertentangkan dan melawan mythos; 2. terlalu gampang melakukan generalisasi dan kecenderungan menarik kesimpulan (natijah, konklusi) yang salah karena melebihi apa yang dinyatakan dalam premis-premis (muqaddamat) sebelumnya.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>EPISTEMOLOGI</title><link>http://darulmanthiq.blogspot.com/2011/10/epistemologi.html</link><author>noreply@blogger.com (Sobar Alghazal)</author><pubDate>Thu, 27 Oct 2011 09:16:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6406819688840670115.post-6467162070037156565</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Istilah epistemologi terbangun dari kata "episteme" dan "logos"; "episteme" yang mengandung arti "pengetahuan atau ilmu" berasal dari bahasa Yunani; begitu juga "lolos" yang berarti "kata", "bahasa", "sabda", "firman", "ajaran", atau "teori". Dengan demikian, epistemologi secara pendekatan kebahasaan (etimologis) adalah teori ilmu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Epistemologi yang menjadi suatu bidang garapan filsafat memperbincangkan teori pengatahuan, teori kebenaran, dan logika.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Teori pengetahuan mencakup pembahasan objek atau sasaran pengetahuan, sumber pengatahuan, dan aliran filsafi mengenai hakikat pengetahuan, cara memperoleh pengetahuan, dan nilai pengetahuan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Paling tidak, ada tiga objek atau sasaran pengetahuan, yaitu objek indriah, objek non-indriah, dan objek di luar jangkauan kemampuan manusia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Objek indriah disebut juga objek manifes, real, dan konkret. Objek indriah ini menuntut dan menuntun manusia untuk menggunakan indera; dan indera itu sendiri menjadi sumber pengetahuan (Al-Hawwasu Abw&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;bu 'l-'Ul&lt;u&gt;u&lt;/u&gt;m: Panca indera itu merupakan pintu-pintu segala pengetahuan).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aliran filsafat yang mengembangkan dan memandang inderalah satu satunya sumber pengetahuan adalah empirisme.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cara memperoleh pengetahuan termaksud melalui eksperimen. Pengetahuan yang diperolehnya disebut aposteriori (pengetahuan yang telah teralami). Sifatnya logis-empiris. Hakikat ilmu adalah sains. Sedangkan nilai pengetahuan tersebut adalah bebas nilai. Saintifik tidak berkaitan dengan sopan atau tidak sopan; saintifik bersifat objektif.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Objek non-indriah disebut juga objek ideal, rasio, intelek, dan bstrak. Objek non-indriah ini menuntut dan menuntun manusia untuk menggunakan akal; dan akal menjadi sumber pengetahuan (Qiw&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;mu 'l-Mar-i 'Aqluhu: garis penuntun seseorang, termasuk dalam perolehan pengetahuan, adalah akalnya).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aliran filsafat yang mengembangkan dan memandang akallah satu-satunya sumber pengetahuan adalah rasionalisme.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cara menperoleh pengetahuan termaksud melalui merenung. Pengetahuan yang diperolehnya disebut pengetahuan a priori (pengetahuan yang belum atau tidak teralami). Sifatnya logis. Hakikat ilmu adalah filsafat. Sedangkan nilai pengetahuan tersebut adalah sarat nilai.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Objek di luar jangkauan kemampuan manusia disebut juga objek transcendental atau spiritual. Objek di luar jangkauan kemampuan manusia ini menuntut dan menuntun manusia untuk menggunakan qalb; dan qalb menjadi sumber pengetahuan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aliran filsafat yang mengembangkan dan memandang qalblah satu satunya sumber pengetahuan adalah intuisisme.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cara memperoleh pengetahuan termaksud melalui riy&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;dhah (latihan). Pengetahuan yang diperolehnya disebut pengetahuan laduni. Sifatnya supra-logis. Hakikat ilmu adalah mistik. Sedangkan nilai pengetahuan tersebut adalah kental esoterik sufistik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Baik pengetahuan sains, pengetahuan filsafi, maupun pengetahuan mistik merupakan penjabaran dari kebenaran; sebab yang hendak diketahui adalah yang benar. Apa benar itu?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Teori Korespondensi membatasi bahwa yang disebut benar, ialah kesesuaian antara pernyataan dengan kenyataan. Teori ini berdampingan erat dengan aliran filsafat empirisme.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Teori Konsistensi (koherensi) membatasi bahwa yang disebut benar, ialah keselarasan antara suatu penyataan dengan pernyataan yang lain. Teori ini berdampingan erat dengan aliran filsafat rasionalisme.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Teori pragmatisme membatasi bahwa yang disebut benar sangat tergantung kepada situasi dan kondisi; dengan demikian inti kebenaran adalah kegunaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aliran filsafat ituisisme berdampingan dengan teori kebenaran yang disebut dan mengembangkan kata hati, yang oleh Immanuel Kant sering disebut dengan Imperative Praktis.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Logika dalah suatu ilmu yang mempelajari tentang cara berpikir yang baik, tepat, dan benar dengan menggunakan akal yang mendapatkan bimbingan dari Allah Swt Awj agar terhindar dari kesalahan.Logika pada pokoknya mencakup pengertian, keputusan, dan penuturan. Terdapat Logika Formal dan Material. Logika Formal mencakup bahasan definisi, klasifikasi, oposisi, eduksi, silogisme, dan delima. Logika Material mencakup generalisasi, analogi, hubungan kausalitas, hipotesis, teori, penjelasan, dan probabilitas &amp;nbsp;yang meliputi mengenai hakikat pengetahuan itu sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>PROSEDUR PENUNTUN BERPIKIR FILSAFI</title><link>http://darulmanthiq.blogspot.com/2011/10/prosedur-penuntun-berpikir-filsafi.html</link><category>Filsafat</category><author>noreply@blogger.com (Sobar Alghazal)</author><pubDate>Wed, 26 Oct 2011 11:19:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6406819688840670115.post-6370257945588073734</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Prosedur tentu mengandung langkah-langkah teknis segaligus pelaksanaan yang tak begitu saja muncul; namun justeru merupakan penjabaran dari manual yang mengacu kepada praktek; dan praktek itu sendiri merupakan aplikasi dari unsur teoritis, sehingga tidak ada teori yang paling baik kecuali praktek itu sendiri sebagai penerapan dari teori.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Paulo Freire lebih senang menggunakan istilah praksis. Di mana praksis tersebut merupakan penerapan secara penuh, padu, dan utuh dari Kata (word) dan Kerja (work), yang keduanya merupakan yang terkonstruk secara terstruktur dari dialektika aksi dan refleksi. Pertautan terus menurus antara aksi (tindakan, perbuatan) dengan refleksi (teori) menunjukkan bahwa praksis itu merupakan aplikasi teori kepada praktek secara sekaligus koresponden - konsisten - intuitif.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karena itu praktek merupakan turunan dari ilmu; sedangkan ilmu itu sendiri menjadi penjabaran dari suatu teori; dan teori itu sendiri tidak muncul begitu saja, namun merupakan buah dari filsafat; filsafat dari kitab kitab suci (agama dalam artian potentia, tidak sekedar actus), yang penghujungnya agama dari wahyu; akhir dan awalnya kita tahu bahwa wahyu itu dari Sang Tuhan. Dengan demikian "prosedur penuntun berpikir filsafi" berujungpangkal kepada/dari Sang Tuhan. Apa yang kepada/dari Sang Tuhan itu, secara tafshili (perincian)nya? ialah manakala kita hendak tahu, mau, dan mampu berpikir filsafi:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Posisikan diri pribadi kita sebagai pelajar. Belajarlah menjadi pemula. Posisi pemula dalam segala hal, termasuk pemula dalam mengarifi hidup ini posisi dasar yang membawa kepada kesadaran; hanya yang berkesadaran sebagai pemulalah yang terpaut harus dan dapat merasa heran; heran akan ada dunia, kok dunia ini ada, saya, anda, dia, kita, dan mereka ada; heran kok Tuhan ada, dan seterusnya. Perwujudan "yang menjadi pemula" dalam segala hal, umpamanya tergambar tatkala seseorang melihat segala yang tentu sepanjang terlihat dan dapat dilihat serta dalam posisi melihat, maka ia melihat segalanya itu seolah-olah pertamakalinya melihat; untuk itu, reaksi yang muncul adalah keheranan. Sedangkan heran, termasuk heran melihat segala hal, merupakan dasar berfilsafat; dan memang filsafat bermula dari rasa heran.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2.Kita membiasakan diri pribadi tidak cepat begitu saja langsung percaya bahwa dunia luar itu ada. Akal sehat &amp;nbsp;(common sense) menyatakan bahwa matahari yang muncul tiap pagi itu ada lepas dari kesadaran kita. Justru filsafat mempersoalkan bahwa, apakah benda yang di luar pikiran kita itu "sungguh berada di luar pikiran" atau merupakan "pantulan dan konstruksi pikiran kita". Apakah yang ada itu benda atau kita; atau justeru yang ada itu pikiran; jangan-jangan kitanya tidak ada? Hal ini menggambarkan kontroversi rumit dan sulit dari dan dalam aliran-aliran filsafat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Kita mesti membiasakan diri pribadi untuk melucuti ciri-ciri fisik konkret yang dilihat; dan hingga &amp;nbsp;kita menemukan ciri umum dalam hal-hal konkret itu. Dalam filsafat fenomenologi terdapat ajaran metodologis: Reduksi fenomenologis - Reduksi Eiditis - Eidos, yakni: Kita menyingkirkan ciri-ciri meja di depan ini; proses penyingkiran itu ada keterlibatan analisis, yang pada analisis terakhir akan menemukan ciri-ciri umum; di mana ciri-ciri umum yang sangat abstrak itu mendukung kepada peraihan makna. Wilayah ciri-ciri umum dan abstrak itu menjadi issue kontroversial di beberapa aliran atau ajaran filsafat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4. Bentuklah kebiasaan dalam diri pribadi kita sadar akan tugas berupa mencari titik atau pangkal tolak dari segala sesuatu yang kita alami atau amati; Manakah yang lebih dahulu, buah durian yang kita lihat itu atau pikiran kita tentang buah durian? Memang pertanyaan ini sulit dijawab? Namun memang dalam berfilsafat yang pokok bukan jawaban, justeru yang terpenting adalah pertanyaan. Ajaran filsafat menuntut dan menuntun kita harus dan dapat memilih salah satu, sehingga akan menentukan posisi dalam menjelaskan segala sesuatu; dan memang pola inilah yang dilakukan oleh berbagai aliran filsafat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5. Kita mesti membiasakan memikirkan bagian-bagian tanpa melepaskannya dari keseluruhan. Pola ilmu spesifik dalam memberikan gambaran mengenai realitas khusus; sedangkan filsafat tidak berkehendak mengisolasi semacam yang dikerjakan saintifik itu; berfilsafat berarti memberi perspektif tentang keseluruhan. Argumen filsafi tidak bermain dengan satu komponen, melainkan dengan totalitas, sehingga menghindari pandangan mata-dekat dan mengupayakan untuk memiliki pandangan mata-jauh. Berpikir filsafi bersifat universal, sistematis, dan radikal.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">5</thr:total></item><item><title>KETERARAHAN PENDIDIKAN MEWUJUD PRIBADI INTEGRAL</title><link>http://darulmanthiq.blogspot.com/2011/10/keterarahan-pendidikan-mewujud-pribadi.html</link><category>Pendidikan</category><author>noreply@blogger.com (Sobar Alghazal)</author><pubDate>Mon, 24 Oct 2011 11:37:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6406819688840670115.post-4054609863381868300</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;Pendidikan harus mengarahkan terdidik (c.q. anak) menjadi pribadi yang mengenal, mengetahui, memahami, bahkan mengarifi nilai (nilai kognisi), meresapi dan berkemauan untuk merealisasikan nilai; nilai telah menjadi miliknya (internalisasi nilai), berkemampuan menjelmakan nilai yang mempribadi (personifikasi nilai), dan merealisasikan nilai itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perealisasian nilai itu karena kata hatinya, si terdidik tadi. Kata hari ialah suatu intasi yang dimiliki terdidik yang mengharuskannya untuk melaksanakannya, ia akan merasa dikejar-kejar oleh dirinya sendiri. Scheler menyebutnya :Suatu panggilan yang muncul dalam diri sendiri, namun diraskan seperti datang dari intansi yang lebih tinggi". Immanuel Kant menyebutnya "imperative Praktis, yang memerintah untuk melaksanakannya, saya --diri sendiri yang menjadi pengawasnya-- merasakan keberharusan melaksanakannya selaras dengan tuntutan dan tuntunan yang seharusnya". &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk itu, pendidikan pada dasarnya "komunikasi dan interkomunikasi --pergaulan sosial terkontrol yang dinamik-- yang terarah kepada perealisasian nilai. Dan harus diingat bahwa komunikasi tersut bukan untuk kepentingan diri sendiri, ia hanya merupakan alat; karenanya harus dilandasai kasih sayang sebagai dasar identifikasi, saling mempercayai (kepercayaan) sebagai dasar kewibawaan, dan bertanggungjawab yang menunjukkan bahwa pendidikan itu tidak dapat dilaksanakan oleh sembarang orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada beberapa term (istilah) yang bertautan dengan pendidikan. Bila uraian tersebut di atas ditinjau secara pola pikir parsial (molekuler, unsuriah), yang kadang-kadang satu sama lainnya diidentikkan, yaitu mendidik, mengajar, melatih, bahkan memelihara dan mengurus terdidik (c.q. anak).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terma (istilah) memelihara dan mengurus terkadang dipertautkan dengan binatang ternak, seperti memelihara kera, mengurus kerbau dan sebagainya. Untuk itu, kurang selaras dipergunakan untuk manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terma (istilah) mengajar terlalu sempit, hanya menekankan pada bidang pengetahuan (pengajaran intelek). Lebih sempit lagi terma (istilah) melatih (latihan) hanya menekankan pada bidang keterampilan yang tidak selalu meminta upaya berpikir seperti halnya dalam mengajar, bahkan latihan dan belajar dapat pula diterapkan terhadap binatang, seperti melatih anjing pelacak bagi kepentingan para polisi, melatih harimau dan singa untuk pertunjukan sirkus, melatih ikan lumba-lumba, dan sebagainya; dan memang secara filosofis ia diangkat ke dalam dunia pendidikan atas dasar eksperimen terhadap binatang di laboratorium psikologi, yang hasil-hasil eksperimentasinya itu diaplikasikan terhadap pelaksanaan (proses) belajar mengajar (manusia seolah-olah dicetak atau dipolakan dengan menggunakan cetakan atau pol untuk mencetak, membentuk, atau mempolakan binatang?).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada sejumlah tokoh yang telah menghasilkan eksperimentasi tersebut di atas, yang pada mula telah dirintis oleh Aristoteles, ia tokoh pendiri paham filsafat realisme yang secara epistemologis dikembangkan oleh John Locke dengan empirismenya yang menekankan pada objek (korespondensi); secara pedagogis (khususnya teori belajar) dikembangkan oleh para psikolog behaviorisme, yang semuanya secara metafisis bermuara pada paham filsafat materialisme, yaitu Pavlov, Thorndike, Skinner, dan para ahli yang sedang trend (beken) sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Eksperimentasi mereka semula diilhami oleh Wundt dengan gagasan dan pendirian laboratorium psikologinya, yang hingga sekarang menghasilkan, dalam pendidika, Teknologi Pendidikan. Hewan-hewan yang pernah dieksperimentasikan oleh mereka itu di antaranya burung merpati, anjing, simpase (kera), dan paling banter manusia sakit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendidikan (mendidik anak) meliput seluruh kepribadiaannya secara integratif dan komprehensif. Sedangkan pengajaran (mengajar) meliputi hanya sebagian dari kepribadian, yaitu segi inteleknya saja; dan latihan hanya menyangkut segi jasmani-jiwani atau psikomotoris kepribadian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karenanya tujuan mendidik (pendidikan) diarahkan pada pencapaian kepribadian yang terpadu, yang terintegrasi yang sering dirumuskan untuk mencapai kepribadian yang dewasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para pedagog pada umumnya sejalan bahwa tujuan poendidikan (mendidik) adalah untuk mencapai kedewasaan; manusia normatif: tahu nilai, mau dan mampu (tersentuh dan tergugah kata hatinya, karena nilai telah terinternalisasi dan mempribadi --terpersonifikasi) merealisasikannya serta perealisasiannya itu selaras dengan tuntutan dan tuntunan yang seharusnya sebagai manusia bertanggungjawab (tanggungjawab merupakan ciri wanci --ciri khas-- bagi dan kemampuan dasar pribadi etis manusia sebagai manusia?).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuan mengajar (pengajaran) hanya diarahkan dan ditekankan pada ranah kognitif (mengenal nilai, kehidupan atau kemampuan intelek, terdidik diarahkan supaya menjadi orang dewasa memiliki kemampuan berpikir ilmiah: Logico-hypothrtico-verificative, seperti mampu berpikir abstrak logis, objektif, kritis, sistematis, analisis, sintesis, integratif, dan innovatif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuan melatih (latihan) diarahkan dan ditekankan hanya pada ranah psikomotor, agar...&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>LAPANGAN ILMU MANTHIQ</title><link>http://darulmanthiq.blogspot.com/2011/10/lapangan-ilmu-manthiq.html</link><category>Filsafat</category><category>Manthiq</category><author>noreply@blogger.com (Sobar Alghazal)</author><pubDate>Mon, 24 Oct 2011 05:25:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6406819688840670115.post-6819867825275385229</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;Kalau Ilmu Manthiq itu alat berpikir, agar dapat berpikir secara syah, maka muncullah "apakah berpikir itu?".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Istilah pikiran tidak asing lagi, dapat dikenal, dan arti berpikir pada umumnya dapat diketahui. "Berpikir adalah suatu kegiatan jiwani untuk mencapai pengetahuan" (Parta SM). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Giebs menjelaskan "berpikir adalah berbicara dengan dirinya sendiri dalam batin, yaitu mempertimbangkan, merenungkan, menganalisa, membutikan sesuatu, menunjukkan alasan-alasannya, menarik kesimpulan, meneliti suatu jalan pemikiran, mencari bagaimana berbagai hal itu berhungan satu sama lain".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu Sina menyebutkan bahwa, "berpikir menurut manusia pada umumnya adalah pelompatan akal budi dengan cara memindahkan suatu gagasan tentang sesuatu yang terdapat dalam akal budi kepada sesuatu yang terdapat di luar akal budi tersebut; lompatan perpindahan tersebut tak pernah kosong dari pengkonstruksian atau penyusunan".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berpikir yang juga disebut refleksi sering disebut "sebagai penataan konsep atau idea yang kompleks dengan jalan perenungan dan penyadaran dengan penuh pertimbangan dalam rangka pencarian makna". Dengan demikian, berpikir adalah "penangkapan inti yang terjadi dalam akal budi". Walhashil, pemikiran berdasarkan uraian tersebut, secara ringkas dapat dikatakan "pencarian sesuatu yang belum diketahui berdasarkan sesuatu yang telah diketahui".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau berpikir itu, Dorongan jiwani untuk menyusun "sesuatu sudah diketahui" guna mencapai "sesuatu yang belum diketahui"; sedangkan Ilmu Manthiq secara lughawi (etimologis, pendekatan kebahasaan) adalah "suatu ilmu yang mempelajari pikiran yang dinyatakan dalam bahasa; maka Ilmu Manthiq mempersoalkan "pemikiran" yang dinyatakan dalam bentuk bahasa, serta beberapa proses pembentukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sesuatu yang telah diketahui" baik berbentuk tshawwur (konsep) maupun tashdiq (penilaian), disebut "bahan" pemikiran; sedangkan "sesuatu yang belum diketahui" yang dapat berbentuk tshawwur atau tashdiq, disebbut natijah (konklusi) yang akan diperoleh dari pemikiran itu. Jadi, "sesuatu yang belum diketahui" disebut natijah (konklusi); sedangkan "sesuatu yang telah diketahui" disebut bahan atau dasar pemikiran (premis dan mediasi).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alam berubah, dari tiada (creatio ex nihilo) menjadi ada (diadakan); maka natijah (konklusi) yang dapat ditarik, bahwa "alam itu baru". Perubahan alam dan memang teramati bahwa alam ini senantiasa berubah, tiada yang menetap di alam ini, bahkan disebutnya juga alam fana, merupakan bahan pemikiran; dan dari bahan pemikiran tersebut dapat ditarik suatu natijah (konklusi) bahwa "alam ini baru". Kalau alur pemikiran ini digambarkan, maka pemikiran ini mempunyai bentuk sebagai berikut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alam itu berubah.&lt;br /&gt;
Setiap yang berubah baru.&lt;br /&gt;
Alam ini baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Uraian tersebut di atas menunjukkan, bahwa pemikiran itu dalam "pengetahuan tak langsung" yang didasarkan atas "pengetahuan langsung". Pemikiran mungkin benar mungkin tak benar; artinya suatu natijah (konklusi) yang ditarik mungkin benar mungkin tak benar. Untuk itu, persoalan kebenaran dan ketakbenaran sangat penting dalam peristiwa pemikiran; dan memang Ilmu Manthiq hanya mempersoalkan "kalimat sempurna berbentuk "pemberitaan". Kalimat sempurna berbentuk pemberitaan itulah yang disebut qaqiyah (proposisi, keputusan). Sedangkan yang disebut kalimat pemberitaan mengandung dua kemungkinan, yaitu kemungkinan benar dan kemungkinan tak benar (dusta). Karena itu pula, bertolak dari pertautan Ilmu Manthiq dan pemikiran, maka Ilmu Manthiq harus mempersoalkan dasar-dasar atau prinsip-prinsip dan kriteria kebenaran itu. Karenanya tidaklah dapat disebut tanpa alasan bila Ilmu Manthiq itu disebut juga Ilmu Mizan (sebagai timbangan untuk mempertimbangkan yang syah dan mana yang tidak, guna peraihan pengetahuan yang benar, terhindar dari pengetahuan yang tak benar).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemikiran konkret di atas, bila ditelusuri secara seksama, maka akan terbaca bahwa pemikiran itu meliputi qudhaya (proposisi-proposisi, keputusan-keputusan) yang disepadankan dengan Kalam atau Jumlah Mufidah (kalimat sempurna) dalam Ilmu Nahwu (Tata Bahasa). Contoh tersebut di atas bila diteliti, maka terdapat atau terdiri atas 3 qadhiyah (proposisi, keputusan), yaitu:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alam itu berubah.&lt;br /&gt;
Setiap yang berubah baru.&lt;br /&gt;
Alam itu baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu Sina menyebutkan bahwa qadhiyah itu, adalah, "Setiap perkataan (keterangan atau ketentuan, juga sering diterjamahkan menjadi keputusan) yang meliput pertautan antara dua lafadh atau ism (term), di mana perkataan itu mengandung hukum pertimbangan benar atau tidak benar"; bahkan terkadang qadhiyah itu disepadankan dengan thesis yang memerlukan antithesis untuk melahirkan thesis lain, di mana thesis yang lahir itu disebut sinthesis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rangkaian dialektika: thesis - atithesis - sinthesis ciptaan Hegel tersebut di atas, berlangsung secara terus menerus dalam rangka perkembangan dan pengembangan pengetahuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Proses dialektika selalu terdiri atas tiga fase. Ada suatu fase pertama (tesis) yang menampilkan lawannya (antitesis), yaitu fase kedua. Akhirnya timbullah fase ketiga yang memperdamaikan fase pertama dan kedua (sintesis). Dalam sintesis itu tesis dan antitesis menjadi "aufgehoben", kata Hegel. Kata Jerman ini mempunyai lebih dari satu arti dan Hegel memaksudkan semua arti itu (dalam bahasa Inggris umumnya diterjamahkan dengan "sublated"). Di satu pihak "aufgehoben" berarti: dicabut, ditiadakan, tidak berlaku lagi. Dan memang dimaksudkan "karena adanya sintesis, maka tesis dan antitesis sudah tidak ada lagi"; sudah lewat. Tetapi di lain pihak kata tersebut berarti juga: diangkat, dibawa ke tahap atau ketaraf lebih tinggi. Dan itu juga dimaksudkan Hegel: dalam sintesis masih terdapat tesis dan antitesis, tetapi kedua-duanya diangkat kepada tingkatan baru. Dengan perkataan lain, dalam sintesis baik tesis maupun antitesis mendapat eksistensi baru. Atau dengan perkataan lain lagi, kebenaran yang terkandung dalam tesis dan antitesis tetap disimpan dalam sintesis, tetapi dalam bentuk lebih sempurna. Dan proses ini akan berlangsung terus. Sintesis yang telah dihasilkan dapat menjadi tesis pula yang menampilkan antitesis lagi dan akhirnya kedua-duanya dapat diperdamaikan menjadi sintesis baru. Maka dari itu, proses dialektika sebaiknya dikiaskan dengan gerak spiral dan bukan dengan gerak lurus. (K. Bertens, 1991).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi bentuk pemikiran pada contoh di atas meliput tiga qadhiyah (proposisi, keputusan). Karena itu, dalam membicarakan pemikiran, Ilmu Manthiq mempersoalkan qadhaya (proposisi-proposisi, keputusan-keputusan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Qadhaya bentuk jamak (plural) dari qadhiyah dapat terbagi kepada beberapa hadd atau term. Setiap ism, lafadh, atau hadd (term) adalah kata; satu kata atau lebih, namun tidak setiap kta merupakan ism, lafadh, atau hadd (term).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian, walaupun Ilmu Manthiq hanya membbicarakan pemikiran; ia juga membicarakan qadhaya (proposisi-proposisi, keputusan-keputusan) dan lafadh, ism, atau hadd (term) yang merupakan persoalan, bagian atau unsur terpenting dalam pemikiran itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Uraian tersebut di atas, menunjukkan bahwa prinsip-prinsip atau peraturan-peraturan yang dibicarakan dalam Ilmu Manthiq terbagi kepada tidak pokok terpenting, yaitu:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Prinsip-prinsip mengenai hadd (term, pengertian);&lt;br /&gt;
2. Prinsip-prinsip mengenai qadhiyah (proposisi, keputusan);&lt;br /&gt;
3. Prinsip-prinsip mengenai istidlal (pemikiran atau penuturan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ilmu Manthiq di samping mempersoalkan prinsip-prinsip atau aturan-aturan dan kriteria kebenaran, mabadi (dasar-dasar) tashawwur, mabadi tashdiqat, dan mabadi istidlal, juga mempersoalkan klasifikasi, ta'rif, qismah, dan tashnif sangat diperlukan sekali dalam pemikiran. Unsur-unsur proses pemikiran tersebut perlu dibicarakan lebih lanjut.&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>PERCIKAN ARTI PENDIDIKAN</title><link>http://darulmanthiq.blogspot.com/2011/10/ppercikan-arti-pendidikan.html</link><category>Pendidikan</category><author>noreply@blogger.com (Sobar Alghazal)</author><pubDate>Sun, 23 Oct 2011 14:01:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6406819688840670115.post-686142453341546912</guid><description>&lt;strike&gt;&lt;/strike&gt;&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hampir semua manusia mengenal terma (istilah) pendidikan, setidanya pernah mendengarnya; ia pernah mengalaminya, yakni terlibat dan atau melibatkan diri di dalamnya, baik sebagai orang tua, tokoh masyarakat, guru, anak, anggota masyarakat dan atau murid.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun setiap manusia tidak, belum tentu, mengerti, memahami bahkan mengarifi hakikat pendidikan; dan tidak setiap manusia mengalami atau terlibat dan atau merlibatkan diri dalam dan atau melaksanakan pendidikan sebagaimana seharusnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Persoalan pendidikan merupakan persoalan yang biasa tampil, dihadapi dan ditemui dalam kehidupan sehari-hari; karena persoalannya biasa, kita sering terlena pada dan memandang pendidikan sebagai kegiatan rutin tanpa persoalan; keluarbiasaannya nyaris lepas dan dilepaskan, sehingga kita sering kurang atau tidak menyadari bahwa pendidikan itu pendidikan atau bukan pendidikan, sebagaimana kita memiliki mata dan penglihatannya, kita melihat sesuatu, namun "bilakah kita melihat sesuatu?" baru merenung, memeras otak: "Ya, bilakah kita melihat", tak mudah untuk menjawabnya, atau mata kita atau penglihatannya manakala mendapat kesulian, sakit mata umpamanya, baru kita menyadari bahwa kita bermata.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kita menyadari pendidikan mengandung persoalan, manakala kita sadar ada persoalan di dalamnya. Apakah sebenarnya esensi pendidikan itu? Apakah pelaksanaan pendidikan yang kita sedang melaksanakannya merupakan pendidikan sejalan dengan tuntutan dan tuntunan pendidikan yang semesinya?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Moehammad Isa Soelaeman (1985) dengan mengutip Henderson, mengungkapkan bahwa jawaban terhadap persoalan tersebut, atau setiap masalah pendidikan lainnya, yang diajukan itu pada akhirnya dipengaruhi oleh filsafat atau pandangan hidup, betapapun kita tidak selalu sadar dan menyadarinya serta merumuskannya. Untuk menjawab persoalan seperti diajukan di atas perlu dikaji persoalan esensi manusia. Karena pendidikan itu: "antropologis normatif yang praktis". Selanjutnya Moehammad Isa Soelaeman (1989) menyatakan bahwa adanya berbagai pandangan tentang manusia, tentang perbuatan dan tindakan manusia, tentang tujuan hidup manusia, tentang pertautan manusia dengan lingkungannya (ruang), dengan waktu, dan sebagainya, melahikan berbagai pndangan tentang pendidikan dan berbagai metode, teknik dan atau pelaksanaan pendidikan. Karenanya tampil beberapa pandangan tentang "apa mendidik (pendidikan) itu".&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pelaksanaan (keberlangsungan) pendidikan senantiasa terlibat dan melibatkan dua pihak manusia, yang berbeda satu sama lainnya ditilik dari sudut tema kepribadiannya (badan, dunia, historisitas, dan komunikasi), hanya satu segi saja kesamaannya, yaitu sama-sama manusia, karenanya situasi pendidikan harus merupakan situasi kemanusiawian.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kedua belah pihak itu harus dipandang dan atau memandang sebagai eksistensial kemanusiawian, yaitu pihak yang mengalami pelaksanaan pendidikan, terdidik (murid) sebagai "pihak kepada siapa pendidikan itu dikenakan"; dan karenanya dalam bidang tersebut ia masih berada dalam ikatan pedagogis dan tergantung, secara temporer, kepada pendidiknya, yang diupayakan dan atau berupaya keduanya untuk melpaskan ikatan dan ketergantungan tersebut, yang dalam situasi pedagogis, ikatan itu secara apodiktis laten (senantiasa tampil, ngateung) baik lahiriah-ruhjiwani maupun ruhaniah-lahirbadani, ataupun kedua-duanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan pendidik sebagai pihak yang melaksanakannya kepada terdidik (murid). Untuk keberhasilan upaya pendidikannya itu perlulah ia menerima kenyataan bahwa terdidik (murid) memiliki prinsip emensipasi (momen identifikasi dalam situasi dan komunikasi pendidikan perlu, momen tersebut bermuara pada pembahasan pandangan filosofis "apa dan siapa, dari mana, di mana, dan mau ke mana manusia hidup.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karenanya pemahaman tentang antropologi-filsafi, psikologi, sosiologi yang memenuhi kriteria: "Seberapa jauh pandangan-pandangan tersebut tentang manusia, mendudukkan atau menempatkan manusia sebagai manusia", sangat urgen dan harus serta seharusnya. Namun karena keadaan dan keperiadaan terdidik (murid) itu masih memerlukan bimbingan dan bantuan dari pendidik... (M.I. Soelaeman, 1977)&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Pihak-pihak itu (pendidik dan terdidik) terdiri atas perorangan (individual dan dapat pula terjadi atau berlangsung atas kelompok-kelompok individu, terjadi atau keberlangsungannya peristiwa pendidikan di luar atau di dalam sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Situasi pendidikan dapat berlangsung di mana-mana; namun tidak setiap situasi merupakan pendidikan; situasi pendidikan dan komunikasi pendidikan merupakan suatu ikatan kedua belah pihak dan untuk melepaskan tersebut. Pendidikan merupakan perbuatan atau tindakan yang berlangsung dan bertopang pada dasar dan tujuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara pihak ada yang memaknakan bahwa pendidikan (mendidik) adalah memelihara terdidik (c.q. anak); mendidik adalah memberi perlindungan terhadap terdidik (c.q. anak) supaya lestari hidup dan kehidupannya. Mereka di sisi lain memandang manusia tak ayalnya sederajat dengan binatang, karenanya term (istilah) memelihara terkadang dipertautkan pada binatang, umpanya memelihara kambing, kera, ayam, anjing, dan sebginya sepanjang bertautan dan dipertautkan dengan pemelihraan ternak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada juga yang mencoba memodifikasi terma memelihara tersebut, agar terdapat kejelasan perbedaan manusia (c.q. anak) dengan binatang dengan menawarkan bahwa, mendidik (pendidikan) itu adalah megurus anak, mengurus segala kebutuhan hidup dan kehidupan anak, memberi makan dan pakaian, menjaga kesehatannya, setiap hari dimandikannya, jika sakit dirawatnya, dan sebagainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih maju setingkat daripadanya (mengurus), mendidik (pendidikan) adalah menanamkan sesuatu terhadap terdidik (c.q. anak). Pandangan mereka bermuara kepada paham filsafat evolusionisme-materialistik, mendidik tak aylnya menanam pohon pisang, yang memandang manusia (segala) berkembng selaras dengan dan melewati pasti hukum-hukum perkembangan telah pasti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendidik (dalam hal ini memelihara dan mengurus serta penanaman) yang baik adalah yang mempelancar evolusinya itu. Keterhasilannya tinggal ditinggu. Keterlebatan dan peran pendidik hanya menjaga supaya jangan sampai evolusinya itu terganggu, dan menunggu hasilnya. Pendidik (orangtua, guru, dan sebagainya) adalah petani yang tekun menjaga dan menunggu hasil tanaman (terdidik, anak)nya. Karena dimensi pertumbuhan dan perkembangan telas digariskan dab berjalan secara pas selaras dengan hukum-hukum yang pasti serta sudah semestinya melewati hukum-hukum tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka "Pendidik, pengurus, adan atau penenam (orangtua, guru, dan yang lainnya) hanya dapat melakukan sesuatu supaya terdidik (c.q.anak) dapat tunbuh dan berkembang sebaik-baiknya, dapat tumbuh dan berkembang seoptimal mungkin dengan memberikan kesempatan tumbuh-kembang sesubur-suburnya dan menjaganya dari segala hambatan yang mungkin mengganggunya dalam pertumbuhan dan perkembangannya itu. Terdidik tumbuh dan berkembang sendirinya sejalan dengan hukum evolusi yang berlaku baginya. Peranan pendidik kurang jelas dalam kedudukannya seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana mungkin mendidik (pendidikan) suatu perbuatan dan tindakan yang senantiasa bertopang pada dasar dan mengarah kepada tujuan, manakala terdidik menjadi secara evalutif sendirinya secara pasti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendidik telah menggariskan, menentukan tujuan pendidikannya dan yang kemudian membantu membimbing terdidik (c.q. anak)nya mencapai tujuan tersebut, dengan memperhitungkan kemampuannya dan memperhitungkan pada lingkungan dan situasi pendidikannya, sambil tidak melupakan pula kemampuan maupun kekurangmampuannya sendiri sebagai pendidik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua belah pihak dalam situasi dan komunikasi pedagogis harus memperhitungkan dan mempertautkan tema kepribadian (badan, dunia, historisitas, dan komunikasi)nya masing-masing, sebagaimana telah terungkap di atas, dalam rangka menuju dan meraih tujuan yang telah digariskan itu. Karenanya suatu perbuatan atau tindakan pendidikan hanya dapat disebut perbbuatan atau tindakan pendidikan yang sebenarnya, manakala jelas garisnya, jelas dasar, arah, maksud dan tujuannya, sehingga berlangsung baik dan lancar pelaksanaannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendidik (pendidikan) menurut pandangan lain, cenderung ditekankan pada atau diberi makna melatih. Mendidik adalah melatih terdidik (c.q. anak) supaya memperoleh keterampilan, dengan jalan pendidik membberi instruksi kepada terdidik untuk mengerjakan sesuatu secara berulang-ulang, sehingga terjadi ia (terdidik) berbuat secara mekanis atau pembiasaan. Pendidikn (mendidik) adalah melatih atau memekanisasikan terdidik (c.q. anak), dilatarbelakangi paham (filsafat) yang memandang bahwa "man is built, not born (manusia itu adalah sebagaimana orang membentuknya, dan tidak dipengaruhi apa yang dibawakannya lahir).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika mendidik adalah melatih, maka seluruh pendidikan pada dasar adalah kondisionisasi. Akar pandangan tersebut secara epistemologis adalah empirisme yng dicetuskn oleh John Locke, yang terkenal dengan teori "tabula rasa"nya, yang secara metfisis bermuara pada paham filsafat materialisme. Mendidik (pendidikan) adalah mengubah tingkah laku terdidik (c.q. anak); jelas bahwa mendidik (pendidikan) adalah melatih, menyirtkan paham behaviorisme. Karenanya mendidik (pendidikan) yang menekankan latihan belka, mengarahkan terdidik pada suatu perbuatan yang mekanis. Sekaitan dengan pendidikan afektif (pendidikan nilai atau pendidikan moral), mereka berprinsip "terdidik harus dijejali pengetahuan tentang nilai sehingga ia pasti melakukan, banyak tahu tentang nilai sudah pasti melakukan", sebagaimana digariskan paham positivisme (tempat bermuara behaviorisme) dengan ungkapan A. Comte: "Savoir pour prevoir = Knowing is behaving (mengetahui supaya siap untuk bertindak; tahu pasti berbuat).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pandangan lain memaknakan bahwa mendidik (pendidikan) adalah mengajar. Mendidik (pendidikan) memberi pengajaran berbbagai imu yang bermanfaat bagi perkembangan kemampuan berpikir terdidik (c.q. ank). Johann Friedrick Herbart berpendapat pendidikan adalah pengajaran, semua jenis pengajaran adalah mendidik, yaitu mendidik kemauan. Pengajaran menanamkan kumpulan tanggapan menjadi pengetahuan yang dapat menimbulkan kemauan. Ini terjadi apabila pengetahuan terdidik enimbulkan minat atau perhatian (Waty Soemanto dan Hendyat Soetopo, 1982).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, pendidikan (mendidik) adalah menjajali terdidik dengan pengetahuan; terdidik yangbanyak tahu, otomatis menjadi pribadi yang mau dan mampu berbuat. Mendidik (pendidikan) adalah intelektualisasi (kognitifisasi) dikembangkan dan dipopulerkan oleh J. F. Herbart, Piaget, John Dewey, Kohlberg, dan kawan-kawannya yang lain, bermura pada pola pikir Plato: "Knowledge is virtue (Pengetahuan adalah kebaikan)"' Knowing is doing (tahu pasti melakukan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inti dan fungsi pendidikan adalah membina (pembinaan) kata hati, supaya kata hati terdidik (c.q. anak) tergugah; mendidik (pendidikan) bukan sekedar transformasi pengetahuan dan informasi (pengajaran/mengajar), rekayasa terarahkan pada keterampilan (latihan/melatih; indoktrinisasi), juga bukan sekedar sosialisasi, enkulturisasi, moralisasi, dan humanisasi, apalagi dehumanisasi. Karena pendidikan hanya merupakan dan ditekankan pada ranah (wilayah) kognitif (pengajaran dan informasi) atau ranah psikomotor (pembiasaan, keterampilan), sehingga aspek nilai (ranah atau wilayah afektif) kurang diperhatikan, maka BBloom (1964) memperingatkan bahwa pelaksanaan pendidikan harus meliput 3 (tiga) domain (wilayah) yang masing-masing terbagi menjadi beberapa jangkauan (tingkat) kemampuan (level of competence) sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Tingkat Kemampuan Cognitive:&lt;br /&gt;
Knowledge;&lt;br /&gt;
Comprehension;&lt;br /&gt;
Application;&lt;br /&gt;
Synthesis;&lt;br /&gt;
Analysis;&lt;br /&gt;
Evaluation.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Tingkat Kemampuan Affective:&lt;br /&gt;
Receiving;&lt;br /&gt;
Responding;&lt;br /&gt;
Organisation;&lt;br /&gt;
Characterisation.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Tingkat Kemampuan Psychomotor:&lt;br /&gt;
Initiatoi Level;&lt;br /&gt;
Pre-routine Level;&lt;br /&gt;
Routinized Level.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara pendidikan adalah upaya sengaja yang berpengaruh dari pihak dewasa kepada anak yang dianggap belum dewasa; di mana upaya tersebut sebagai pemberian bantuan menuju pribadi yang integratif.</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>APA MANTHIQ ITU?</title><link>http://darulmanthiq.blogspot.com/2011/10/apa-manthiq-itu.html</link><category>Filsafat</category><category>Manthiq</category><author>noreply@blogger.com (Sobar Alghazal)</author><pubDate>Sun, 23 Oct 2011 07:06:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6406819688840670115.post-5625771820863211622</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bertanya, lebih tepat lagi, masalah merupakan daya pendorong berpikir. Kata &lt;i&gt;&lt;b&gt;manthiq&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; (logic; logika) merupakan &lt;b&gt;&lt;i&gt;Ism Adah&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (kata benda yang menunjukkan kepada alat), yang dapat disepadankan dengan &lt;b&gt;&lt;i&gt;Instrumental Noun&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, bermakna alat berpikir. Jadi, kesan pertama yang bersemayam dalam istilah manthiq, adalah, manusia sebagai makhluk yang berpikir, agar berpikir itu lurus, tepat, dan benar harus sekaligus dapat beralatkan berpikir itu sendiri, yaitu alat berpikir, yakni manthiq yang turut membantu ke arah itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Manthiq dibangun dari kata asal nathaqa yang berarti, secara denotatif adalah berkata atau berbicara, sedangkan secara konotatif berpikir atau meng-kata-kan buah pikiran, sehingga nathiq sebagai Ism Fa'il (kata benda yang menunjukkan kepada pelaku atau subjek) berarti yang berpikir. Dengan demikian, berpikir dengan dikatabendakerjakan mencakup pengertian kelangsungan atau proses berpikir (pemikiran); juga pemikiran tersebut meliputi yang berpikir, alat berpikir, yang dipikirkan atau sasaran berpikir, situasi dan tujuan berpikir. Untuk itu, istilah manthuq sebagai Ism Maf'ul (kata benda yang menunjukkan kepada objek) dapat diartikan "yang dipikirkan atau sasaran berpikir".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau manthiq itu diartikan "pemikiran benar" yang dilambangkan dengan "penuturan yang runut", di mana benar dan runut dalam artian bbaik isi, alat dan sasaran, situasi yang meliput aspek historisitas, ruang, dan waktu serta jiwa zaman maupun tujuan berpikir, maka manthiq adalah Correct Reasoning yang berbicara atau mempersoalkan tentang keruntutan antara premis (muqaddamah) dan konklusi (natijah) sebagai perlambang dari berpikir itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konklusi (Natijah) merupakan pengatahuan baru, yakni pengetahuan yang diperoleh secara tidak langsung dari pengetahuan langsung berupa data atau bahan pemikiran yang dikonstruksi menjadi bentuk premis (muqaddamah). Untuk itu, konklusi (ntijah) harus merupakan pertemuan. Pertemuan yang padu antara bentuk dan isi pemikiran, realitas (sasaran) dan alur pemikiran, serta tujuan dan situasi pemikiran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Situasi meliputi ruang dan waktu atau jiwa zaman dan tempat di mana pemikiran itu berkembang dan dikembangkan (berkelangsungan); juga situasi itu meliputi aspek historisitas yang menyiratkan waktu lalu, sekarang (kini), dan masa datang. Dengan demikian, pemikiran, sang pemikir dalam berpikir, dapat dan harus sadar akan situasi di samping sadar akan tujuan sehingga pengetahuan baru (konklusi atau natijah itu) yang merupakan hasil pemikiran tadi menggambarkan keterpautan antara cita waktu lalu dan cita masa datang yang bertumpu pada saat berpikir itu berlangsung; dan hasil pemikiran itu sekaligus merupakan perkembangan dan pengembangan pengetahuan (yang nantinya menjadi ilmu), yang tidak sejedr menunjukkan kemajuan namun sekaligus menjukkan kelajuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau (dalam) pemiiran itu dapat dan harus sadar akan tujuan, di mana sadar akan tujuan itu menyiratkan keterarahan kepadasasaran (objek) pemikiran (yang dipikirkan), bahkan keterarahan tersebut mampu melampaui sasaran (objek) sekedar sasaran (objek) yang dipikirkan itu, maka pemikiran itu senantiasa merujuk ke Hadapan Yang Ada di balik sasaran (objek) pemikiran yang diadakan oleh Sang Ada itu, yakni Pencipta segala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuan termasuk itu dapat dan harus bertolak dari pandangan dan tujuan hidup; di mana pandangan dan tujuan hidup (philosophy of life) yang kokoh mesti bertolak dari prinsip-prinsip yang bertopang pada (meliputi) diensi insani, baik sebagai pribadi, masyarakat, maupun sebagai mkhluk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dimensi insani baik sebagai pribadi, masyarakat, maupun sebagai makhluk itu dapat dikatakan kokoh manakala bersumber, merujuk, engacu, dan bertumpu pada Sang Khaliq, yaitu Allah Swt Awj, Pencipta segala. Untuk itu, (dalam) berpikir semacam itu dapat dan harus menggambarkan kesejalanan antara dimensi ontis dan dimensi deontis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dimensi ontis menunjukkan hakikat tujuan, dasar, pangkal tolak (pegangan dan pandangan hidup: way of life dan philosophy of life). Sedangkan dimensi deontis menyangkut sasaran (objek), metode, dan alat. Dengan demikian, situasi dan manifes (keberlangsungan tau proses) pemikiran (dalam) pemikiran semacam itu, memungkinkan melahirkan "pumbukaan" (mukasyafah) realitas yang menjadi dan dijadikan motor penggerak dan sasaran pemikiran termaksud itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;Namun,, pada akhirnya, pemikiran itu dengan meliputi prinsip kemenetapan dan kemelajuan menyentuh penghujung persolan "What is Reality? Dan realitas itu, penghujungnya, merupakan suatu misteri, itself, eidos, sei, dzat, jatidiri, "realitas" Realitas, hakikat, atau das Ding an Sich tak dan tak, memang, tersingkap penuh dan sepenuhnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau manusia tercipta pada mulanya ghaib, misteri (rasia Allah Swt Awj), maka manusia pada waktu di alam ghaib itu mampu dimampukan menangkap makna realitas. Namun tatkala penangkapan makna realitas itu diungkapkan, dirumuskn dalam kata-kata atau di-kata-kata-kan, maka ia bukan lagi penangkapan makna realitas yang didapat-tangkapkan itu; dan memang bagaimana cara penangkapan makna realitas pada waktu ghaib tak dapat diketahui; hanya Allah-lah yang tahu sebagai Sang Pencipta; dan keghaiban manusia yang tercipta pada alam ghaib masih melekat atau terbawa dengan tak mungkin terelakkan hingga di alam syahadah ini. Karena itu, bila manusia itu ingin menangkap makna realitas kembali seperti di alam ghaib itu (realitas benar-benar dan sebenarnya realitas), maka ia (berkemungkinan atau disposisi ke arah) dapat dan harus kembali lagi ke alam ghaib atau paling tidak dengan jalan mengghaib.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
...adapun akal, bila ia terhindar dari kekeruhan persangkaan dan khayal, pasti ia tidak akan tersalah. Ia akan melihat ssegala sesuatunya; hal seperti sungguh sulit. Bahkan terhindarnya ia, secara sempurna, dari dorongan--dorongan seperti ini hanya dapat dialaminya kelak. Setelah mati... (Al-Ghazali, terj., Misykatu 'l-Anwar, tt.). Al-Ghazali lebih lanjut menyingkapkan makna tersirat dalam QSS. 32, ayat 12: Telah Kami singkap tirai yang menutupimu... Kini penglihatanmu amat tajam. Tirai itu tidak lain adalah tirai khayal dan wahm (persangkaan) palsu. Pada saat itulah orang yang telah terkelabui oleh persangkaan, kepercayaaan dan khayalnya yang palsu berkata, Wahai Tuhan kami. Kini kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami ke dunia agar dapat beramal shaleh. Kini kami telah menjadi orang-orang yang yakin...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau pengetahuan baru itu merupakan suatu pertemuan atau dialog berkelajuan, maka pengetahuan (konklusi, najijah) itu dapat dan harus tidak menunjukkan pelucutan atau penyusutan hakikat realitas sebagai motor penggerak dan sasaran pemikiran itu; baik pelucutan atau penyusutan realitas itu hingga titik nol dalam artian nihil sehingga terbawa arus pola pikir paham filsafat nihilisme, maupun pelucutan atau penyusutan terwadahinya atau tereduksi atau terkurung hakikat relitas itu oleh paradigma-paradigma, konsep, alat, metode, situasi, jiwa zaman, ruang atau oleh pemikiran itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pencapaian kepada pengetahuan baru (konklusi, natijah) yang merupakan suatu pertemuan atau dialog berkelajuan sebagaimana telah digambar di atas itu, menuntut kestuan dan kesejalanan langkah-langkah pemikiran yang valid, sah, yang benar dan tept sehingga terhindar dari ketakbenaran dan ketidaktepatan. Kesatuan langkah-langkah pemikiran itu adalah Al-Qauwl, Al-Idz'an, dan Al-Idrak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Idz'an (penetapan) merupakan penganalisaan tentang sesuatu, sehingga sesuatu menjadi jelas dan pasti. Langkah ini bertautan dengan konsep atau konsepsi (tashawwur) dan asset atau judgment (tashdiq). Sedangkan Al-Qauwl (penuturan) adalah penggunaan kata-kata, terma (hadd) yang telah dianalisis tadi; dan Al-Idrak (pengertian atau pengetahuan baru) merupakan pelahiran pengetahuan setelah terselenggara kegiatan Al-Idz'an dan Al-Qauwl (sesuatu telah dinalisis dan dikatakan) itu. Karenanya ada sementara pihak yang mendefinisikan manthiq sebagai ilmu, ialah "Suatu ilmu yang mempelajari bagaimana cara berpikir valid, sah atau benar dan tepat, terhidar dari kesalahan dan ketaktepatan melalui penetapan, penuturan, dan pengertian".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Definisi tersebut di atas sepadan dengan definisi logika, yang diajukan oleh Irving M. Copy (1972): "Logic is the of methods and principles used to distinguish good (correct) from bad (incorrect) reasoning: Logika adalah penelaahan metode-metode dan prinsip-prinsip yang digunakan untuk membedakan penalaran yang baik dalam artian benar dari penalaran yang jelek dalam arti tidak benar".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manthiq dalam arti ilmu (logika) di samping sebagai alat berfilsafat (berpikir filosofis), juga sekaligus merupakan sub-divisi dari persoalan dan bidang pembahasan filsafat, tepatnya sub-divisi dari bidang epistemologi. Untuk itu, secara luas dapat dikatakan bahwa manthiq sebagai ilmu (logika) merupakan cabang filsafat yang membicarakan prinsip-prinsip serta norma-norma penyimpulan yang sah; atau secara sederhana, manthiq sebagai ilmu (logika) adalah cabang filsafat yang membahas metode-metode penalaran yang sah dari premis (muqaddamah) ke arah kesimpulan (konklusi, natijah).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau realitas sebagai manthuq (objek atau sasaran berpikir, objek yang dipikirkan) tidak dan memang tak mungkin terungkap penuh dan sepenuhnya, sehingga realitas terungkap berupa pengetahuan tak langsung itu merupakan pertemuan atau dialog, maka manthiq sebagai ilmu (logika), pemikiran dan berpikir itu merupakan suatu alat; dan kelangsungan berpikir itu sendiri merupakan upaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertemuan (dialog) menunjukkan bahwa realitas tertangkap atau pengetahuan tak langsung itu tidak semata-mata sebagai realitas apa adanya, namun sekaligus menunjukkan pembauran dengan pengolahan, penataan dan perekayasaan atau rekonstruksi yang berpikir; sedangkan berpikir yang benar-benar dan sebenarnya berpikir, dan semua serta setiap berpikir adalah interpretasi, dialog; dan dialog itu adalah kelangsungan; jadi kejernihan pengetahuan tak langsung yang dicapai itu, yakni perolehan kebenaran, yaitu pesan realitas yang diartikulasikan adalah, memberitakannya realitas tidak seketika tuntas, tidak sekali selesai tetapi juga suatu kelangsungan, karenanya interprestasi itu bercirikan senanataiasa siap dikoreksi dan senantiasa siap sedia mengkonstruksi dan dikonstruksi kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manthiq sebagai ilmu (logika) dikatakan alat sebab mengingat penjelasan Al-Jurjani bahwa manthiq sebagai ilmu (logik) adalah suatu alat (tool atau instrumen) yang digunakan untuk dapat dan harus berpikir secara sah (valid). Dilihat dari sudut alat ini memang cukup beralasan, karena kenyataannya, secara manifes manthiq sebagai ilmu (logika) dapat membantu orang yang mempelajarinya untuk dapat berpikir logis, bahkan inner logic atau transcendental logic. Dikatakan logis batini atau logis transcendental manakala dalam berpikir itu tidak sekedar terlibat dan melibatkan indera dan akal, namun sekaligus terlibat dan melibatkan qalbu (kesadarn manusia terdalam), bahkan kemanusiawian manusia seutuhnya, yang mampu mengamati dan menghayati yang melampaui dunia fisik ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudut pandang bahwa manthiq sebagai ilmu (logika) itu sebagai alat ada kesejalanan dengan ungkapan Susanne K. Langer bahwa, Logic is to the philosopher what the telescope is to the astronomer; an instrument of vision. Logic is a tool of philosophical thought as mathematics is a tool of physics: Manthiq sebagai ilmu (logika) bagi filosof adalah seperti halnya teropong bagi astronom; suatu alat penglihatan. Manthiq sebagai ilmu (logika) merupakan suatu alat dari pemikiran filsafi sseperti halnya matmatika merupakan suatu alat bagi fisika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manthiq dalam batasan manthiq sebagai ilmu (logika) dapat menjadi dan dijadikan suatu yang dipikirkan atau sasaran berpikir dalam manthiq itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau orang yang pertama kali mempelajari manthiq sebagai ilmu (logika) dengan bertolak dari pendekatan pendefinisiannya yang menjadi atau dijadikan suatu yang dipikirkan, maka orang tersebut wajar mengajukan pertanyaan-pertanyaan atau bertanya tentang pengertian, persoalan pokok, nisbat manthiq sebagai ilmu (logika) dengan cabang-cabang ilmu lainnya, dan sebagainya selama berkaitan dengan pembahasan manthiq sebagai ilmu (logika) termaksud; karena bertanya itu motor pendorong yang menggerakkan berpikir. Tanpa pertanyaan tak mungkin terdapat jawaban (pemecahan masalah); tak mungkin menjawab tanpa bertanya; tiada pertanyaan tiada pemikiran. Jadi dalam pemikiran itu terlebih dahulu harus ditetap secarn jelas dan tajam masalah yang akan dipikirkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sewajarnyalah kalau setiap orang yang ingin mendaptkan pandangan yang jelas tentang sesuatu yang akan dipelajarinya, dalam dirinya timbul bermacam-maca pertanyaan (Partap Sing Mehra, 1980).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau manusia adalah hewan yang berpikir (Al-Insan Hayawanun &amp;nbsp;Nathiqun... man as the animal that reason, William E. Hocking), "Cogito Ergo Sum (Aku berpikir, sebab itu aku ada, Rene Descartes); dan manusia adalah hewan tukang bertanya itu sendiri mencari jawaban. Jawaban yang dicari adalah jawaban yang benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manusia berpikir untuk tahu; kalau ia berpikir tidak semestinya mungkin ia tidak mencapai pengetahuan yang benar. Tak seorangpun mencita-citakan kekeliruan yang benar. Tak seorangpun mencita-citakan kekeliruan, ia ingin mencapai ebenaran dalam tahunya itu... (I.R. Poedjawijatna, 1986).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mencari jawaban, adalah, mencari kebenaran. Jadi, pada akhirnya manusia itu adalah makhluk pencari kebenaran (Endang Saefuddin Anshari, tt.).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau manusia itu makhluk pencari kebenaran, dalam upaya pencarian kebenaran itu tak selamanya sampai kepada kebenaran itu sendiri, sebab keterbatasan, walaupun sampai kepada pencapaian kebenaran, itupun senantiasa dipertanyakan kembali, sebab kebenaran yang diperolehnya itu senantiasa bersifat sementara (tak tuntas); dikatakan sementara (tak tuntas) dan memang tak akan tuntas, sebab yang benar-benar dan sebenarnya tahu benar kebenrn adalah Sang Benar itu sendiri, maka pertanyaan manusia tak kunjung berakhir, tak habis habisnya; sebab kalau dikatakan habis, habislah, lepaslah hakikat manusia itu; manusia senantiasa mengajukan persoalan-persoalan: Apakah manusia itu? Apakah alam itu? Apakah Tuhan itu? dan sebagainya serta timbul sekaitan dengan pembahasan manthiq sebagai ilmu (logika), sebagaimana terungkap pada uaraian di atas, di antaranya:&lt;br /&gt;
1. Apa manthiq itu?&lt;br /&gt;
Apa yang menjadi pokok persoalannya?&lt;br /&gt;
Bagaimana nisbatnya dengan cabang-cabang ilmu lain?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan-pertanyaan di atas, yang bertutan dengan pembahasan manthiq sebagai ilmu (logika), memang benar, relevan, dan tepat, namun dalam tarap permulaan ini, bagi para mubadi' (pemula), jawabannya masih agak sulit diberikan. Kesulitan untuk memecahkan persoalan, menjawab pertanyaan ini pada permulaan suatu pelajaran tidaklah hanya dijumpai dalam lapangan manthiq sebagai ilmu (logika) saja, tetapi selalu akan dijumpai manakala untuk pertamakali mempelajari ilmu itu sebagai sesuatu yang baru. Karena sulit untuk memberikan definisi, batasan, ta'rif, atau hadd yang tepat pada permulaan ini, lebih dahulu akan dimulai atau mengemukakan saja dengan memberikan uraian tentang pokok dan tujuan manthiq sebagai ilmu (logika).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Istilah manthiq sepadan dengan logika, diturunkan dari kata kerja (fi'il madhi) nathaqa berarti berbicara, kata (to speak, word), yaitu "bertutur kata benar", kata sifatnya nathiq (sebagai Ism Fa'il) sepadan dengan lgike (bahasa Yunani, dan perkataan logika sendiri diturunkan dari kata sifat logike itu, yang bertautan erat dengan kata benda logos yang artinya "pemikiran atau kata sebagai pernyataan dari pikiran itu".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau manthiq diartikan pemikiran atau kata sebgai pernyataan dari pikiran itu, sedangkan kata manthiq itu Ism Adah (Instrumental Noun), maka pikiran atau kata itu merupakan alat. Sedangkan "bertutur" bear menuntut aturan untuk mempergunakan alat tersebut, sehingga terdapat keruntutan alur pikiran, bentuk dan isi, serta objek dan tujuan berpikir. Juga menunjukkan adanya pertautan erat antara pikiran dan kata yang merupakan pernyataannya dalam bahasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manthiq sebagai ilmu (logika) adalh sebagai ilmu nahwu (grametika, tatabahasa) bagi lisan, artinya manthiq sebagai ilmu digunakan sebagai alat berpikir atau memikirkan sesuatu, agar jangan sampai cara atau alur berpikir itu keliru; di samping digunakan untuk mengungkap tabir-penutup pengertian yang rumit, seperti halnya Ilmu Nahwu digunakan sebagai alat untuk berbicara (menytakan sesuatu dengan lisan ataupun tulisan), jangan sampai cara pengucapan atau pengungkapannya itu keliru, di samping digunakan untuk menyingkapkan tabir-penutup kata-kata yang memakai bahasa Arab yang rumit itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk secara lughawy (etimologis, pendekatan kebahasaan), manthiq sebagai ilmu (logika) adalah ilmu yang mempelajari pikiran yang dinyatakan dalam bahasa. Dari pengertian (definisi) manthiq sebagai ilmu (logika) secara lughawi (etimologis) tersebut munculllah beberapa definisi manthiq sebagai ilmu (logika) yang beranekaragam sejalan dengan sudut pandang dan pemusatan perhatian sang pemberi definisi. Jadi manthiq sebagai ilmu (logika) dapat diberi batasan sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Ilmu sebagai alat yang merupakan undang-undang dan bila undang-undang itu dipelihara dan diperhatikan, maka hati nurani (akal budi) manusia dapat terhindar dari pikiran yang salah;&lt;br /&gt;
2. Ilmu tentang undang-undang berpikir;&lt;br /&gt;
3. Ilmu yang membahas aktivitas (praktek) berpikir dalam upaya menuju perolehan kebenaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manthiq sebagai ilmu (logika) khusus menjelaskan tentang alur-alur berpikir syah (valid) yang dapat menuju pemikiran yang syah. Jadi manthiq sebagai ilmu (logika) adalah ilmu yang memberikan aturan-aturan berpiir valid, yaitu prinsip-prinsip yang harus diikuti supaya dapat berpikir syah atau valid (menurut aturan yang syah atau valid).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Definisi pertama menunjukkan bahawa manthiq sebagai ilmu (logika) itu suatu ilmu yang mempersoalkan mengenai ketentuan-ketentuan yang dijadikan petunjuk oleh manusia dalam berpikir, sehingga manusia jauh dari kemungkinan keliru. Karena itu, Manthiq sebagai ilmu (logika) disebut juga sebagai ilmu tentang hukum berpikir guna memlihara jalan pemikiran dari setiap kekeliruan. Manthiq itu membimbing dan menuntun seseorang supaya berpikir teliti. Sedangkan definisi ketiga menunjukkan bahwa manthiq sebagai ilmu (logika) sebagai ilmu yang menggerakkan pikiran kepada jalan lurus dalam memperoleh suatu kebenaran yang mendasar. Karenanya, manthiq sebagai ilmu (logika) juga disebut sebagai ilmu tentang mencari dalil, maka manthiq sebagai ilmu (logika) membahas tentang undang-undang umum untuk berpikir benar dan tepat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Manthiq berasal&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>PARADOKS</title><link>http://darulmanthiq.blogspot.com/2011/10/paradoks.html</link><category>Filsafat</category><author>noreply@blogger.com (Sobar Alghazal)</author><pubDate>Fri, 21 Oct 2011 23:21:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6406819688840670115.post-6053766143744262776</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setiap manusia yang tadzakkur, tafakkur, dan tadabbur, katakan saja berpikir logis baik rasional-logis maupun inner atau transcendental-logis, terdorong oleh bimbang, sangsi, dan ragu. Keraguan sebagai keperiadaan khas kemanusiawian manusia.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Al-Qur'an mendorong manusia tadzakkur, tafakkur, dan tadabbur. Katakan saja Al-Qur'an mendorong manusia berpikir logis baik rasional-logis maupun inner atau transcendental-logis.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Al-Qur'an mendorong manusia bimbang, sangsi, dan ragu. Keraguan sebagai keperiadaan khas kemanusiawian manusia.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setiap pertanyaan muncul dari keraguan. Setiap pertanyaan muncul dari permasalahan. Permasalahan muncul dari keraguan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Murtadha Muthahhari (&lt;i&gt;&lt;b&gt;terj.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;, 1981) menyatakan bahwa, keraguan membimbing orang kepada keyakinan. Pertanyaan membawa orang menuju ke arah penetapan. Kegelisahan adalah pengantar ke arah penetapan. Keraguan adalah jembatan yang menakjubkan sekaligus tempat tinggal yang buruk.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Al-Qur'an menganjurkan tadzakkur, tafakkur, dan tadabbur serta memperoleh keyakinan secara mantap. Keperiadaan manusia pada mulanya ragu dan bimbang. Al-Qur'an tidak meliput keraguan; Al-Qur'an pula yang menyatakan secara tegas bahwa manusia pada dasarnya senantiasa ada dalam bimbang dan ragu; karenanya Al-Qur'an menganjurkan manusia berpikir, sebab manusia itu bimbang dan ragu; bagaimana mungkin terjadi pemikiran bila idak ada keraguan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan demikian tak dapat disalahkan sepenuhnya salah satu pihak berpandangan bahwa, aku tidak meragukan keraguanku; aku senantiasa ragu; hanya satu-satunya yang ragu itu rahmat dan ni'mat. Ragu membawa khaf dan raja'.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Khaf dan raja'nya ada pada manusia sekaligus ciri khas manusia sebagai makhluk. Untuk itu manusia pada penghujungnya tidak tahu manusia ada dalam pensampaian pada ketidaktahuan; maka manusia ada dalam keraguan. Keraguan senantiasa menuntut ingin tahu, namun manusia tetap tidak tahu; maka manusia ragu. Ragu mendorong untuk tahu; manusia senantiasa ingin tahu. Bagaimana manusia memiliki ingin tahu kalau tidak memiliki ingin tahu kalau tidak memiliki ragu. Jadi, justeru karena ragu aku menuju-tertujukan pada sang pemberi ragu, yang tak pernah ragu?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya tidak tahu "apa benar itu gambaran ragu?", namun yang jelas perlu dikembalikan kepada persoalan: Apakah itu ragu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang berkecimpung dalam persoalan Ilmu Manthiq (logika) mengungkapkan bahwa, Ilmu Manthiq (logika) mempersoalkan, dianataranya qadhiyah (proposisi). Qadhiyah (proposisi) itu berbentuk dalam Kal&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;m Khabari. Sedangkan Kal&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;m Khabari mengandung kebenaran dan ketidakbenaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kal&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;m Khabari terdiri atas memiliki dua bentuk, yaitu bentuk qath'i (pasti) dan bentuk dhanni (samar). Qath'i menunjukkan keterangan atau keputusan pasti benarnya dan pasti tidak benarnya. Sedangkan dhanni menunjukkan keterangan atau keputusan itu masih diragukan (samar antara benar dan tidak benarnya).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keterangan atau keputusan yang samar (dhanni) terbagi kepada tiga tingkat, yaitu:&lt;br /&gt;
1. Dhann, yaitu keterangan atau keputusan itu masih diragukan (samar) tentang benar dan tidak benarnya, namun sangkaan kebenarannya lebih kuat daripada ketidakbenarannya;&lt;br /&gt;
2. Syakk, yaitu keterangan atau keputusan itu masih diragukan (samar) tentang benar atau tidak benarnya, namun dengan sangkaan yang sama kuatnya;&lt;br /&gt;
3. Wahm, yaitu keterangan atau keputusan itu masih diragukan (samar) tentang benar dan tidak benarnya, namun dengan sangkaan tidak benarnya lebih kuat daripada benarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi ragu itu sangkaan? Bukankah aku hidup tak terlepas dari sangkaan, bahkan hidup itu sendiri, atau aku atau keperiadaanku itu sendiri merupakan sangkaan, yakni suatu misteri, suatu rahasia ilahi, sebab tak tahu pasti, tak dapat dipastikan. Yang pasti tak mungkin dua atau lebih? Yang pasti itu satu, bahkan Mahasatu, yaitu Sang Khaliq, Pencipta, yakni Allah Swt Awj.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi Allah-lah yang pasti dan memang Sang Mahamemastikan segala yang Dia ciptakan, maka manusia tak pasti dan tak mampu memastikan, termasuk memastikan keperiadaannya sendiri. Kalau manusia tak pasti dan tak mampu memastikan, maka berarti ragu dan diragukan? Namun Allah memerintahkan agar manusia itu beriman, yakni agar yakin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manusia harus meyakini bahwa dia makhluq Allah Swt Awj yang diperintahkan untuk meyakini-Nya. Apakah kita sudah meyakini Allh Swt Awj? Kita tak tahu? Untuk sampai kepada keyakinan, tak perlu mempertanyakan suatu yang pasti, sebab itu sudah pasti; yang pasti pasti patut diyakini. Jadi untuk sampai kepada yang pasti, sampai pada pencapaian kepada keyakinan perlu dan patut bertolak dari dan mempersoalkan yang pasti untuk sampai kepada yang pasti di samping tautologi (tahsh&lt;u&gt;i&lt;/u&gt;lu 'l-h&lt;u&gt;a&lt;/u&gt;shil), juga akan sampai pada mentidakpastikan yang pasti. Tak mungkin yang pasti perlu pemastian, apalagi dipertanyakan atau diragukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>TIGA AJARAN YANG MENDASARI ILMU BERKEMBANG</title><link>http://darulmanthiq.blogspot.com/2011/10/tiga-ajaran-yang-mendasari-ilmu.html</link><category>Filsafat</category><author>noreply@blogger.com (Sobar Alghazal)</author><pubDate>Fri, 21 Oct 2011 22:29:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6406819688840670115.post-3075542426856469050</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Pertama Logos&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;, ia membimbing pencari ilmu untuk mengambil keputusan yang lebih mendasarkan diri pada pemikiran yang bersifat rasional, yakni &lt;i&gt;&lt;b&gt;reasonable&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; (yang dapat dinalar). Bertolak dari suatu problem, lantas menetapkan premis dan lalu menetapkan mediasi yang memungkinkan menjadi jembatan dalam kerangka memecahkan problem termaksud. Imam Al-Ghazali menandaskan &lt;i&gt;&lt;b&gt;logos&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; ialah menghadirkan tiga pengetahuan; pengetahuan yang perama sebagai &lt;b&gt;&lt;i&gt;natijah&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (konklusi), kedua dan ketiga adalah premis mayor dan premis minor. Dengan demikian &lt;i&gt;&lt;b&gt;logos&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; itu terdiri atas tiga pengertian dan tiga keputusan. Dua pengertian, yaitu subjek yang menjadi terma minor dan predikat yang menjadi term mayor dalam suatu konklusi. Satu pengertian yang menjadi terma mediasi yang terdapat baik pada premis mayor maupun pada premis minor. Tiga keputusan (proposisi), yaitu 1) konklusi yang terbangun atas terma minor dan terma mayor; 2) Premis Minor yang terdiri atas Term Minor dan Term Mediasi; dan 3) Premis Mayor yang terdiri atas Term Mayor dan Term Mediasi. Bimbingan &lt;i&gt;&lt;b&gt;logos&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; inilah salah satu yang mengakibatkan ilmu itu berkembang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Kedua Ethos&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;, ia mengajar kepada para pencari ilmu bahwa yang penting adalah rambu-rambu normatif dalam pengembangan ilmu, sebab rambu-rambu tersebutlah kunci utama bagi relasi antara produk ilmu dengan mayarakat. Sedangkan yang ketiga adalah &lt;i&gt;&lt;b&gt;Phatos&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; yang menyangkut komponen dan unsur rasa dalam diri manusia sebagai makhluk yang mencintai aspek keindahan, sehingga hidup ini tidak kaku, beku, dan membatu serta monoton; hidup selalu terbuka atas ruang dan peluang untuk mengadakan improvisai bagi pengembangan ilmu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan demikian, ilmu dan pengembangan serta perkembangannya sarat akan nilai; baik nilai benar, baik, dan indah. Norma benar adalah logika; norma baik adalah etika; dan norma indah adalah estetika. Dan yan paling tinggi dan mendasar adalah nilai ada, yaitu norma ontis, sebab apa artinya benar, baik, dan indah kalau tidak ada.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item></channel></rss>