<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>deathlock</title>
	<atom:link href="https://deathlock.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://deathlock.wordpress.com</link>
	<description>[blog ini tak terurus dan berubah jalur sejak 2011 &#124; hingga kini hanya digunakan untuk menampung tulisan sampai penulisnya mau merapikan atau pindah blog sekalian]</description>
	<lastBuildDate>Fri, 23 May 2014 14:29:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>id-ID</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='deathlock.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>https://secure.gravatar.com/blavatar/26d3d1f074ac3fc685a167418fedc52a42338fd727272a101f74cfe82acf2e01?s=96&#038;d=https%3A%2F%2Fs0.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>deathlock</title>
		<link>https://deathlock.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="https://deathlock.wordpress.com/osd.xml" title="deathlock" />
	<atom:link rel='hub' href='https://deathlock.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
	<item>
		<title>Kenapa Membungkus Miku dalam Sayembara Online?</title>
		<link>https://deathlock.wordpress.com/2014/05/23/tentang-hatsune-miku-dan-sayembara-online/</link>
					<comments>https://deathlock.wordpress.com/2014/05/23/tentang-hatsune-miku-dan-sayembara-online/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Pradipa PR (@xaliber)]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 May 2014 17:52:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Culture]]></category>
		<category><![CDATA[budaya pop]]></category>
		<category><![CDATA[Hatsune Miku]]></category>
		<category><![CDATA[MikuExpo]]></category>
		<category><![CDATA[online voting]]></category>
		<category><![CDATA[otaku]]></category>
		<category><![CDATA[polling]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://deathlock.wordpress.com/?p=1106</guid>

					<description><![CDATA[Paling tidak hampir sebulan ini saya melihat grasak-grusuk yang terus beredar di lingkar otaku sekitar saya perihal konser Miku Expo 2014. Kisah pendeknya kira-kira begini: dari paruh akhir tahun 2013 lalu, diadakan sayembara online untuk memutuskan di kota manakah konser Miku bakal digelar tahun 2014. Prosesnya sederhana: isi saja formulir yang sudah disediakan (yang mencantumkan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Paling tidak hampir sebulan ini saya melihat <em>grasak-grusuk</em> yang terus beredar di lingkar otaku sekitar saya perihal konser Miku Expo 2014. Kisah pendeknya kira-kira begini: dari paruh akhir tahun 2013 lalu, <a title="Mikubook" href="http://www.mikubook.com/findme">diadakan sayembara online</a> untuk memutuskan di kota manakah konser Miku bakal digelar tahun 2014. Prosesnya sederhana: isi saja formulir yang sudah disediakan (yang mencantumkan domisili negara), kemudian kirim. Kiriman Anda, yang memuat informasi negara, akan menentukan di mana Miku akan menggelar konsernya.</p>
<p>Kalangan otaku di Indonesia nampak begitu antusias, dan mengingat popularitas Miku beserta jajaran Vocaloid-nya, hal ini tak begitu mengherankan. Jadilah, berdasarkan hasil pengiriman, akhirnya diputuskan MikuExpo 2014 bakal diselenggarakan di <a href="http://jurnalotaku.com/2014/02/27/sudah-siapkah-kalian-untuk-konser-hatsune-miku-mikuexpo-akan-hadir-di-jakarta/">Jakarta pada 29 Mei 2014</a>.</p>
<p>Masalahnya kemudian, begitu harga tiket diumumkan, rupanya cukup banyak suara yang keberatan &#8211; harganya ternyata kurang sesuai dengan kocek. Alhasil banyak yang mengeluh, &#8220;lebih baik menonton dari YouTube saja!&#8221;</p>
<div data-shortcode="caption" id="attachment_1108" style="width: 519px" class="wp-caption aligncenter"><a href="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/05/tulisan-miku2-komik-cyu.jpg"><img aria-describedby="caption-attachment-1108" data-attachment-id="1108" data-permalink="https://deathlock.wordpress.com/2014/05/23/tentang-hatsune-miku-dan-sayembara-online/tulisan-miku2-komik-cyu/#main" data-orig-file="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/05/tulisan-miku2-komik-cyu.jpg" data-orig-size="509,720" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="tulisan-miku2-komik-cyu" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/05/tulisan-miku2-komik-cyu.jpg?w=212" data-large-file="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/05/tulisan-miku2-komik-cyu.jpg?w=509" class="wp-image-1108 size-full" src="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/05/tulisan-miku2-komik-cyu.jpg?w=630" alt="tulisan-miku2-komik-cyu"   srcset="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/05/tulisan-miku2-komik-cyu.jpg 509w, https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/05/tulisan-miku2-komik-cyu.jpg?w=106&amp;h=150 106w, https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/05/tulisan-miku2-komik-cyu.jpg?w=212&amp;h=300 212w" sizes="(max-width: 509px) 100vw, 509px" /></a><p id="caption-attachment-1108" class="wp-caption-text">Situasinya kurang lebih dipersepsikan seperti ini.</p></div>
<p>Ini kemudian jadi prahara &#8211; banyak otaku yang geram terhadap sikap sesama penggemar budaya pop Jepang ini, apalagi perkara ini dianggap terkait dengan martabat Indonesia di mata internasional. Banyak kegusaran dan tak sedikit pula kecaman. Reaksinya kerap kali berujung pada dua (yang bisa jadi saling bertautan): pertama mengecam kebiasaan orang Indonesia, secara umum, yang terlalu terbiasa berasyik-mahsyuk menikmati bajakan, dan kedua <a href="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/05/tulisan-miku1.png">membeda-bedakan antara</a> otaku sejati yang punya uang untuk ke konser dengan otaku karbitan yang berkocek tipis.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Balada Sayembara Online</strong></p>
<p>Setahun lalu juga ada <em>wara-wiri</em> yang melibatkan lingkar-lingkar otaku pada ranah yang menyinggung kebijakan domestik, lantaran melibatkan sarana publik: kontes <a href="http://www.jakartamonorail.com/berita/detail/ini-dia-pemenang-jakarta-monorail-naming-competition">pemilihan nama untuk proyek Monorail Jakarta</a>. Ini proyek garapan Gubernur DKI Jakarta Jokowi untuk mengatasi masalah transportasi. Singkat cerita, dua nama terbesar yang bersaing, &#8220;JET&#8221; dan &#8220;NTR&#8221;, disokong oleh komunitas-komunitas otaku. Pendukung &#8220;JET&#8221; disebut mengejar uang hadiah untuk keperluan pengelolaan server komunitas; sementara &#8220;NTR&#8221;, meski diduga diprakarsai oleh tujuan mulia, punya dukungan besar karena nama tersebut sebetulnya memiliki konotasi mesum.</p>
<p>Saya tidak akan bicara terlalu banyak mengenai kontes Monorel Jakarta atau polemik yang meliputinya (untuk itu ada baiknya menyimak <a title="Dibingungkan Kontes Monorel Jakarta" href="http://www.banalitas.org/2013/07/13/dibingungkan-kontes-monorel-jakarta/">tulisan Saudara Difo Aldiaz</a>).</p>
<p>Kita bandingkan metode panitia Monorel Jakarta dengan metode yang diambil panitia Miku Expo, maka dapat dilihat metode pemilihannya kurang lebih serupa: siapapun punya kesempatan untuk berulang kali mengirimkan suaranya. Di kasus Monorel Jakarta, hanya dibutuhkan akun Facebook dan sedikit tambahan niat untuk mendukung pilihan nama yang diunggulkan. Di kasus Miku Expo bahkan lebih mudah: cukup isi saja formulir yang disediakan, lalu kirim. Dari sini, dua-duanya dihadapi oleh masalah yang serupa.</p>
<p>Masalah terbesar jelas adalah verifikasi. Metode seperti ini menihilkan kemungkinan <em>one man one vote</em>; tidak ada yang memverifikasi apakah suara yang terkirim merupakan suara yang sah atau bukan. Bagi yang cukup melek teknologi, apalagi kalau ternyata sistem sayembaranya kurang mumpuni, jumlah suara bisa diakali dengan menggunakan <em>bot</em>. Bagi kasus seperti Monorel Jakarta, <em>one man one vote</em> ini signifikan sekali (saya akan mengambil contoh lain lagi: lomba gambar karikatur Aburizal Bakrie yang hasilnya&#8230; <a href="http://media.kompasiana.com/mainstream-media/2013/06/06/kontroversi-lomba-avatar-arb-566358.html">cukup mengejutkan</a>)</p>
<p>Implikasi dari ketiadaan verifikasi itu, yang saya kira lebih relevan bagi Miku Expo &#8211; bagi sebuah sayembara yang diadakan untuk penyelenggaran acara sejenis konser &#8211; adalah tiadanya pembatas yang membedakan antara peserta yang memang berkomitmen untuk datang dengan yang tidak.</p>
<p>Pihak-pihak yang geram memang menyalahkan pihak-pihak yang dianggap sembrono mengikuti sayembara dan tidak berkomitmen. Tapi saya pikir bidikan ini agak meleset.</p>
<p>Membeda-bedakan antara otaku kaya dengan otaku miskin, penggemar sejati dengan penggemar palsu, ini kesannya malah pongah sekali, serta justru membuat dikotomi yang tidak jelas juga apa signifikansinya; Indonesia sudah punya jurang menganga antara si kaya dan si miskin, kenapa pula mesti dibuat juga di kalangan penggemar budaya pop? Di sisi lain, sikap-sikap yang terlalu mengandalkan konsumsi bajakan dengan berharap menonton dari YouTube saja memang bukan tindakan terpuji &#8211; apalagi ketika disampaikan dengan <a href="https://www.facebook.com/VocaloidLoversIndonesia/photos/a.391760694210462.104776.391556867564178/652844344768761">keluhan lantang</a> di halaman resmi panitianya segala.</p>
<p>Yang saya kira semestinya ditelusuri adalah masalah ketiadaan pembatas yang saya sebut tadi.</p>
<p>Doug McAdam, seorang sosiolog, menggolongkan dua tipe aktivisme: aktivisme dengan aktivisme dengan resiko tinggi (<em>high-risk activism</em>) dan resiko rendah (<em>low-risk activism</em>). Pemahaman aktivisme menurut McAdam cukup luas; ia bisa berupa revolusi, demonstrasi, terorisme, kegiatan sekte-sekte agama, &#8230; sampai dengan mengisi formulir dan petisi di internet. Cakupannya yang luas inilah yang kemudian penting untuk dikategorisasi sebagai resiko tinggi dan resiko rendah.</p>
<p>Aktivisme resiko tinggi adalah aktivisme yang berpotensi mengancam nyawa orang-orang yang terlibat di dalamnya; semisal revolusi seperti di Mesir tahun 2011 kemarin atau demonstrasi politik besar-besaran seperti Reformasi Indonesia 1998. Aktivisme seperti ini sungguh intens; pergolakan emosi antar-individu di dalamnya dan komitmen peserta terhadap tujuan aktivismenya begitu melekat sehingga hanya peserta yang betul-betul berdedikasi lah yang pasti akan terlibat &#8211; dan mereka yang terlibat kemungkinan kecil akan mundur.</p>
<p>Sementara aktivisme resiko rendah, sesuai namanya, tidak memiliki potensi ancaman yang terlalu besar. Membantu mencari anak yang hilang dari sayembara koran, menyumbang pembangunan masjid di kompleks, atau me-<em>like</em> halaman Facebook aktivisme digital seperti #KoinUntukPrita. Internet pada umumnya &#8211; dan media sosial pada khususnya &#8211; memungkinkan aktivisme resiko rendah seperti ini. Ikatan emosi antar-individu begitu renggang, dan begitu juga komitmen individu yang terlibat di dalamnya. Perkaranya mudah saja: ancamannya rendah, serta mereka tidak perlu keluar usaha terlalu banyak untuk ikut terlibat!</p>
<p>Kalau boleh meminjam istilah ekonomi, <em>ongkosnya</em> kecil &#8211; atau kadang bahkan tak ada sama sekali. Tidak mengherankan bila kemudian keterikatan dan komitmen, serta kiranya tanggung jawab, untuk terus terlibat pada aktivisme tersebut juga menjadi kecil.</p>
<p>Saya pikir inilah yang juga terjadi pada kasus Miku Expo. Bisa dibilang hampir tidak ada ongkos yang perlu dikeluarkan sama sekali untuk mengekspresikan keinginan &#8211; sekedar keinginan, tanpa perlu disertai komitmen &#8211; akan kehadiran Miku di Indonesia. Formulir sudah disediakan dan pengiriman serta konfirmasi pun tidak merepotkan. Agak berbeda dengan kasus Monorel Jakarta yang masih membutuhkan sedikit niat lebih untuk menggandakan suara sendiri (membuat akun Facebook baru dan verifikasi lewat e-mail lagi), keterlibatan dalam sayembara Mikubook betul-betul kecil ongkos.</p>
<p>Hemat saya, begitu banyaknya suara yang mengisi formulir MikuExpo tanpa diikuti dengan komitmen untuk membeli tiketnya, bisa jadi dikarenakan kecilnya &#8220;ongkos&#8221; yang diperlukan untuk berpartisipasi.</p>
<p>Andai &#8220;ongkos&#8221;-nya diperbesar, barangkali dengan perlu mencantumkan identitas pengenal (seperti KTP), atau perlu memverifikasi keikutsertaan (konfirmasi lewat e-mail atau nomor telpon), atau metode-metode lain yang membuat partisipasi pada sayembara online seperti ini terasa lebih sulit &#8211; terasa lebih butuh perjuangan &#8211; mungkin hasilnya akan berbeda.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Jadi?</strong></p>
<p>Dengan segala hormat kepada pihak penyelenggara, juga untuk pertimbangan sesama otaku, barangkali ada baiknya untuk lebih mengevaluasi penggunaan sayembara online semacam ini. Paling tidak, dalam kasus Miku Expo, kiranya perlu ada verifikasi terlebih dahulu sebelum menentukan keputusan penyelenggaraan acara. Karena, tentu saja, angka-angka kuantitatif yang menunjukkan besarnya kelas menengah dan tingkat konsumsi di Indonesia tidak melulu dapat menjadi indikator yang baik untuk menggambarkan pola perilaku lingkar-lingkar otaku yang unik. Tambah lagi mengingat segmen konsumen ini merupakan segmen konsumen baru; barangkali terlalu cepat untuk membuat klaim tegas bahwa konser ini bisa jadi adalah &#8220;<a href="https://www.facebook.com/notes/hatsune-miku-expo-2014-in-indonesia/faq/211050402425306">konser terakhir Miku di Indonesia</a>&#8220;.</p>
<p>Tentu saja saya pikir pertimbangan mengenai sayembara online ini perlu dilakukan bukan hanya dalam kasus ini, tapi juga kasus-kasus lainnya &#8211; khususnya yang punya skala begitu besar atau malahan melibatkan sarana publik.</p>
<p>Membangkitkan kesadaran individu, mengajarkan untuk &#8220;bertanggung jawab&#8221; atau &#8220;menjadi penggemar setia&#8221; itu ada perlunya memang, tapi saya kira, ketika dihadapkan pada kondisi-kondisi seperti ini &#8211; ruang-ruang bebas tempat bertindak tanpa adanya konsekuensi langsung yang signifikan &#8211; usaha itu kerapkali menjadi kurang relevan. Pada ruang-ruang yang dimediasi hanya oleh teks dan didasari pada sikap alamiah kita sebagai <a href="https://www.princeton.edu/~achaney/tmve/wiki100k/docs/Homo_economicus.html"><em>homo economicus</em></a> &#8211; makhluk rasional yang <em>nggak mau rugi</em>, sebuah hakekat yang tidak bisa dijadikan kambing hitam &#8211; saya kira pihak penyelenggaralah yang ada baiknya memasang pagar-pagar tegas pembatas itu.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Mungkin terkait:</strong></p>
<ul>
<li><a title="Indonesian Fans’ Love for Hatsune Miku: Like a Bootleg" href="https://ahotaku39.wordpress.com/2014/05/18/indonesian-fans-love-for-hatsune-miku-like-a-bootleg/">Indonesian Fans’ Love for Hatsune Miku: Like a Bootleg</a> &#8211; kegusaran salah seorang penggemar yang sempat menyebar secara viral</li>
<li><a title="Menantikan Video Di Youtube, Tiket Konser Miku Dianggap Mahal" href="http://j-cul.com/menantikan-video-di-youtube-tiket-konser-miku-dianggap-mahal/">Menantikan Video Di Youtube, Tiket Konser Miku Dianggap Mahal</a> &#8211; liputan di salah satu <em>new media</em> (J-Culture)</li>
<li><a href="https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10202165281909648&amp;set=a.1132885998468.2019529.1116832668&amp;type=1&amp;ref=nf">Don&#8217;t Lose Your Way, Miku!</a> &#8211; tautan asli komik yang dimuat di atas</li>
</ul>
<p><strong>Referensi:</strong></p>
<ul>
<li>McAdam, Doug. &#8220;High and Low Risk/Cost Activism,&#8221; dalam <em>The Wiley-Blackwell Encyclopedia of Social and Political Movements</em> (New Jersey: Wiley-Blackwell Publishing, 2013).</li>
</ul>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://deathlock.wordpress.com/2014/05/23/tentang-hatsune-miku-dan-sayembara-online/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>3</slash:comments>
		
		
		
		<media:content url="https://0.gravatar.com/avatar/3db057c473b91a6c4360c367a9d83a096bed45dcbe4d0d48ed05d3a1aac69c59?s=96&#38;d=https%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Xaliber von Reginhild</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/05/tulisan-miku2-komik-cyu.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">tulisan-miku2-komik-cyu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Valentine</title>
		<link>https://deathlock.wordpress.com/2014/02/14/valentine/</link>
					<comments>https://deathlock.wordpress.com/2014/02/14/valentine/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Pradipa PR (@xaliber)]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 13 Feb 2014 21:29:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Culture]]></category>
		<category><![CDATA[antropologi]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kristen]]></category>
		<category><![CDATA[valentine]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://deathlock.wordpress.com/?p=1084</guid>

					<description><![CDATA[Tiap pertengahan Februari begini, sewaktu saya masih rajin mengikuti buletin Hizbut Tahrir yang dibagikan tiap hari Jum&#8217;at, saya kadang bertanya-tanya kenapa bahasan sejarah Hari Valentine selalu punya porsi yang nyaris satu lembar di buletin yang tebalnya cuma dua lembar itu (sudah termasuk iklan). Bukannya kenapa, tapi pembahasan kerap jadi habis di bagian pembahasan latar belakang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/02/st-valentine.gif"><img class=" wp-image alignleft" id="i-1100" alt="Image" src="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/02/st-valentine.gif?w=186&#038;h=229" width="186" height="229" srcset="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/02/st-valentine.gif?w=186 186w, https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/02/st-valentine.gif?w=122 122w, https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/02/st-valentine.gif 243w" sizes="(max-width: 186px) 100vw, 186px" /></a>Tiap pertengahan Februari begini, sewaktu saya masih rajin mengikuti buletin Hizbut Tahrir yang dibagikan tiap hari Jum&#8217;at, saya kadang bertanya-tanya kenapa bahasan sejarah Hari Valentine selalu punya porsi yang nyaris satu lembar di buletin yang tebalnya cuma dua lembar itu (sudah termasuk iklan). Bukannya kenapa, tapi pembahasan kerap jadi habis di bagian pembahasan latar belakang sejarahnya saja.</p>
<p>Buletin Hizbut Tahrir bukan satu-satunya &#8211; di internet juga tidak sulit menemukan media dakwah online semacam, katakanlah, VOA Islam atau EraMuslim, yang mendedikasikan tulisannya untuk mengupas kejahilan Valentine melalui riwayatnya. Ada yang mengatribusikannya ke &#8220;budaya pagan&#8221;, ada yang mengatribusikan ke martirnya seorang Santo di abad ke-4, ada yang mengatribusikan ke kisah cinta pendeta di abad pertengahan, dan lain-lain. Riwayat itu hampir selalu menjadi sebab mengapa Valentine merupakan nubuat buruk bagi umat Islam.</p>
<p>Bung Karno memang selalu bilang JASMERAH, tapi dari dulu saya masih bertanya-tanya apa sejarah beratus tahun lalu itu juga masih dipedulikan oleh orang yang berpartisipasi pada Hari Valentine.</p>
<p>Baru belakangan saya paham apa signifikansinya.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Archetype Sebagai Pengulangan Sejarah</strong></p>
<p>Dalam setahun, Hari Valentine tentu bukan satu-satunya perayaan yang kita kenal. Sepanjang sejarah, riwayat umat manusia mungkin merupakan kisah yang sangat gemar dengan perayaan, baik itu bernuansa agama maupun yang cenderung non-agama. Dalam tradisi keagamaan, agama Kristen mengenal Natal. Agama Islam mengenal Idul Fitri dan Idul Adha. Buddha mengenal Waisak. Dalam tradisi yang cenderung non-keagamaan, ada upacara kemerdekaan, tahun baru, ulang tahun, dan sebagainya. Itu hanya sedikit sekali dari seluruh perayaan di dunia.</p>
<p>Tapi apa artinya? Mengapa kita tampak gemar sekali dengan perayaan?</p>
<p>Mircea Eliade, seorang antropolog, pernah menyebutkan konsep mengenai archetype. Menurut Eliade, pada pandangan manusia tradisional, dalam setiap hal terdapat sebuah model yang dianggap sebagai bentuk atau keadaan paling ideal umat manusia. Misalnya, kisah tentang Adam dan Hawa di surga adalah model kehidupan manusia yang ideal. Kisah tentang pengorbananan Ibrahim dengan menyembelih anaknya, Ismail, adalah model pengorbanan yang ideal. Kisah tentang perjuangan pahlawan bangsa merebut kemerdekaan Indonesia, pun, adalah model nasionalisme yang ideal.</p>
<p>Oleh Eliade, &#8220;model yang ideal&#8221; ini disebut sebagai archetype. Ia adalah model yang paling asali (exemplary model), paling cocok untuk dijadikan acuan kehidupan.</p>
<p>Nah, perayaan merupakan cara manusia untuk membawa kembali model yang ideal tersebut. Sebagai seorang antropolog, Eliade menyadari bahwa di tiap tindakan manusia terdapat fungsi laten yang kadang tidak disadari oleh si pelaku sendiri. Fungsi tersebut membantu manusia untuk memaknai tindakan yang dilakukannya.</p>
<p>Melalui perayaan, manusia tidak hanya mencoba melakukan suatu hal just for the sake of doing it. Perayaan mencoba membawa kembali archetype yang diperingati oleh perayaan tersebut. Perayaan berusaha untuk membawa kembali kenangan dari exemplary model yang dimiliki oleh archetype. Perayaan berusaha mereplikasi apa yang terjadi di masa itu. Bisa dibilang, perayaan merupakan upaya manusia untuk mewujudkan ungkapan &#8220;sejarah berulang&#8221;.</p>
<p>Oleh karena itu, mungkin tidak mengherankan bila kita kadang merasakan gairah nasionalisme dalam 17 Agustus-an atau menjumpai ceramah seperti ceramah Pak Quraish Shihab mengenai Idul Adha. Karena pada esensinya memang gairah seperti itulah yang kita rasakan dalam perayaan.</p>
<p>Pada titik inilah, bagi buletin Hizbut Tahrir atau media dakwah online seperti VOA Islam, latar belakang Valentine yang diasosiasikan dengan kisah pengorbanan seorang tokoh Kristen menjadi sebab yang dianggap cukup mumpuni untuk mengupas kejahilan Valentine bagi umat Islam.</p>
<p>Sebabnya jelas: bila ditilik dari kacamata ini, Valentine berarti mereplikasi archetype pengorbanan seorang tokoh Kristen. Model yang ideal (archetype) dalam Hari Valentine adalah model yang sangat Kristiani. Apalagi tokohnya adalah seorang santo, yang kematian dan peringatannya pun didedikasikan untuk agama Kristen. Untuk dijabarkan di media dakwah, tidak perlu berpikir repot untuk kemudian menyimpulkan bahwa tentu ini bukanlah panutan yang baik bagi seorang Muslim! Hadis ”Barangsiapa yang meniru suatu kaum maka dia termasuk dari mereka” menjadi sangat relevan.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Memaknai Perayaan Valentine</strong></p>
<p>Tentu saja, bila Anda tidak akrab dengan lingkungan dakwah atau mungkin sekedar menganggap perayaan Valentine itu sah-sah saja, argumentasi semacam itu rasanya bisa jadi terdengar sangat janggal.</p>
<p>Hari Valentine bukan Hari Natal &#8211; tidak ada orang yang mengatur misa atau pergi ke gereja untuk merayakan Valentine. Bisa disangsikan pula bila zaman sekarang ada seorang Kristiani di Indonesia yang memperingati Valentine atas nama Santo Valentine yang dimartirkan lebih dari satu milenium lalu. Bagi yang merayakannya, lebih penting menyiapkan kocek untuk membelikan coklat atau bunga bagi pasangan daripada mengenang hidup seorang santo yang jasanya juga terlalu jauh untuk dirasakan.</p>
<p>Karena itu juga, mungkin bagi Anda, klaim seperti Hari Valentine mempromosikan seks di luar nikah akan terdengar sangat membingungkan; berangkat dari anggapan bahwa di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat, Valentine dirayakan dengan aktivitas seksual antar-pasangan. Bila Anda memaknai Valentine hanya sebagai hari bertukar kado, berbagi coklat, atau menyayangi pasangan, tentunya Anda cukup cermat untuk tidak serta-merta mengadopsi begitu saja pemaknaan lain yang tidak Anda inginkan.</p>
<p>Perayaan, tak peduli seberapa religius nilainya, merupakan bagian dari kebudayaan. Karena perayaan selalu erat terkait dengan bagaimana manusia yang melakukannya menyelenggarakannya. Dan seperti halnya dengan berbagai hal lain dalam kebudayaan, seiring dengan waktu dan tempat, praktek dan makna sebuah perayaan bisa berubah. Perayaan menjadi penting dalam cara bagaimana orang yang merayakannya memaknainya.</p>
<p>Dalam memaknai hari kemerdekaan saja kita bisa lihat ragam ekspresi yang berbeda. Bagi sebagian dari kita yang terbiasa tinggal di kota, mungkin upacara terlalu seremonial, terlalu kaku dan membosankan. Mungkin dalam memaknai hari kemerdekaan, lebih membanggakan dengan membaca biografi Soekarno, atau mengenakan batik sebagai identitas nasional. Tapi bagi sebagian yang lain yang tinggal<a href="http://hetifah.com/artikel/peringatan-hari-sumpah-pemuda-di-kukar-bangun-karakter-pemuda-demi-bangsa.html"> di perbatasan</a>, upacara bendera merupakan cara bagi mereka untuk membawa kembali sejarah perjuangan &#8211; meski berada di pelosok terluar Indonesia, mereka masih merupakan bagian dari bangsa ini.</p>
<p>Seperti yang pernah diingatkan oleh Talal Asad, juga seorang antropolog, bahwa praktek kebudayaan menjadi praktek kebudayaan bukan karena ia berdiri sendiri, tapi karena struktur dan pemaknaan yang melatarbelakanginya.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Penutup: Valentine bagi yang Tidak Merayakannya</strong></p>
<p>Mungkin yang kemudian berkembang di media sosial belakangan adalah amplifikasi dari kebingungan yang pernah saya alami dulu. Sebagai reaksi dari pelarangan atas perayaan Valentine, yang muncul bukan hanya ekspresi independen untuk merayakan Valentine, tapi juga meledek atau justru balik melarang pelarangan perayaan Valentine. Kebutuhan ekspresi untuk merayakan Valentine kadang justru juga disertai dengan keperluan untuk menjatuhkan pihak lain yang berseberangan pendapat.</p>
<p>Di media sosial seperti Facebook dan Twitter, kadang terdapat komentar-komentar sumbang yang menanggapi penolakan atas Valentine. <a title="Sample diambil secara acak" href="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/02/valentin.png">Beberapa mengklaim</a> penolakan terhadap Valentine sebagai sikap yang &#8220;sok suci&#8221;, atau menggunakan peyoratif &#8220;bigot&#8221; untuk merujuk pada pihak-pihak yang menolak Valentine.</p>
<p>Padahal, John Rawls, filosof politik, jauh-jauh hari mengingatkan bahwa sebuah masyarakat yang toleran semestinya menoleransi pandangan-pandangan yang dianggap sebagai tidak toleran. Gagasan utama dari masyarakat toleran yang liberal adalah bahwa tidak perlu ada gagasan yang disikapi secara bermusuhan; melainkan yang ada hanyalah ruang tempat gagasan-gagasan tersebut berkompetisi (market of ideas). Sebagaimana gagasan Voltaire, seorang filosof politik lain, mengenai liberalisme dimaktubkan oleh penulis biografinya, &#8220;Saya mungkin tidak sepakat dengan pendapat Anda, namun saya akan membela mati-matian hak Anda untuk mengucapkannya.&#8221;</p>
<p>Khususnya bila kita mempertimbangkan bahwa pandangan bahwa haramnya Valentine itu merupakan bagian dari paradigma keagamaannya. Bila archetype yang disebut oleh Eliade erat kaitannya dengan pandangan manusia tradisional sebagai <a href="http://zenosphere.wordpress.com/2011/02/11/ada-berapa-banyak-agama-di-dunia-ini-sebuah-renungan-filosofis/">manusia yang beragama</a>, maka sebagai masyarakat yang toleran semestinya kita juga menoleransi pandangan agamanya yang mungkin berbeda dengan apa yang kita pahami &#8211; selama ia tak bertindak dalam perilaku yang tak sah menurut hukum.</p>
<p>Lagipula, bila Anda merayakan hari Valentine sebagai hari kasih sayang, bukankah adalah kasih sayang yang indah bila diberikan kepada yang berseberangan dengan kita?</p>
<p>.</p>
<p>***</p>
<p><strong>Referensi:</strong></p>
<p>Asad, Talal. 1968. <em>The Idea of An Anthropology of Islam</em>. Washington D.C.: Center for Contemporary Arab Studies Georgetown University.</p>
<p>Eliade, Mircea. 2005. <em>The Myth of Eternal Return</em>. New Jersey: Princeton University Press.</p>
<p>Walzer, Michael. 1997. <em>On Toleration.</em> New Haven: Yale University Press.</p>
<p><strong>Ilustrasi dari: </strong><a href="http://www.lonekeep.com/lki_home/valentine.htm">Lonekeep.com, Saint Valentine</a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://deathlock.wordpress.com/2014/02/14/valentine/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>4</slash:comments>
		
		
		
		<media:content url="https://0.gravatar.com/avatar/3db057c473b91a6c4360c367a9d83a096bed45dcbe4d0d48ed05d3a1aac69c59?s=96&#38;d=https%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Xaliber von Reginhild</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/02/st-valentine.gif?w=233" medium="image">
			<media:title type="html">Image</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tentang Soldatenkaffee dalam The Jakarta Globe</title>
		<link>https://deathlock.wordpress.com/2013/07/24/soldatenkaffee-dalam-the-jakarta-globe/</link>
					<comments>https://deathlock.wordpress.com/2013/07/24/soldatenkaffee-dalam-the-jakarta-globe/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Pradipa PR (@xaliber)]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 23 Jul 2013 17:01:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[History]]></category>
		<category><![CDATA[Social]]></category>
		<category><![CDATA[Henry Mulyana]]></category>
		<category><![CDATA[IDR]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia Reenactor]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta Globe]]></category>
		<category><![CDATA[Kafe Nazi]]></category>
		<category><![CDATA[Kafe Soldatenkaffee]]></category>
		<category><![CDATA[nazi]]></category>
		<category><![CDATA[Soldatenkaffee]]></category>
		<category><![CDATA[The Jakarta Globe]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://deathlock.wordpress.com/?p=1059</guid>

					<description><![CDATA[Mungkin saya termasuk salah satu di antara sebagian orang yang gusar sewaktu mendengar kabar bahwa Soldatenkaffee ditutup. Selama seminggu terakhir, banyak kicauan dan komentar bernada miring yang keluar dari warga internet mengenai Soldatenkaffee ini; dari kecaman soal etika hingga tudingan bahwa si pemilik kafe &#8220;buta sejarah&#8221; dan &#8220;idiot&#8221;. Memang Soldatenkaffee ini cukup mencolok karena membawa tema [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Mungkin saya termasuk salah satu di antara sebagian orang yang gusar sewaktu mendengar <a href="http://berita.plasa.msn.com/nasional/sctv/heboh-di-media-massa-kafe-nazi-bandung-ditutup">kabar bahwa Soldatenkaffee ditutup</a>. Selama seminggu terakhir, banyak kicauan dan komentar bernada miring yang keluar dari warga internet mengenai Soldatenkaffee ini; dari kecaman soal etika hingga tudingan bahwa si pemilik kafe &#8220;buta sejarah&#8221; dan &#8220;idiot&#8221;.</p>
<p>Memang Soldatenkaffee ini cukup mencolok karena membawa tema yang tidak biasa: memorabilia militer Jerman dan atribut Nazi di saat Perang Dunia II.</p>
<p>Saya sendiri sudah dengar tentang kafe ini kira-kira sekitar satu setengah tahun lalu, sewaktu ada teman yang berkunjung. Aslinya saya biasa saja; tidak begitu heran kalau ada kafe seperti ini di Bandung, berhubung dulu sempat beberapa kali dapat e-mail dari komunitas peminat serupa sewaktu masih rajin menggeluti seluk-beluk PD II dan pernak-pernik Nazi, dan kedua, ya sekarang sudah tidak begitu berminat lagi, jadi semangatnya sudah tidak sebesar dulu.</p>
<p>Yang mengusik saya adalah sebab si pemilik kafe terpaksa menutup bisnisnya yang sudah berjalan dari 2011:  &#8220;tekanan media internasional&#8221; dan &#8220;protes dan ancaman&#8221;. Memang tidak main-main &#8211; Soldatenkaffee ini betulan diliput oleh <a href="http://www.huffingtonpost.com/2013/07/22/nazi-themed-cafe-closed_n_3634415.html">HuffingtonPost</a>, <a href="http://www.lemonde.fr/asie-pacifique/article/2013/07/21/en-indonesie-un-cafe-rend-hommage-au-regime-nazi_3450653_3216.html">LeMonde</a>, dan <a href="http://www.jpost.com/Breaking-News/Indonesian-Nazi-themed-cafe-gets-rap-320370">JerusalemPost</a>.</p>
<p>Selidik punya selidik, gara-garanya konon datang dari sepucuk artikel besutan The Jakarta Globe, &#8220;<a href="http://www.thejakartaglobe.com/features/bandung-cafes-nazi-kitsch-theme-sparks-some-uncomfortable-questions/" target="_blank" rel="nofollow">Bandung Cafe’s Nazi-Kitsch Theme Sparks Some Uncomfortable Questions</a><strong>&#8220;. </strong>Selang berapa hari setelah liputan itu terbit, liputan serupa dengan nada yang lebih tendensius juga terbit di media internasional.</p>
<p>Selang lima hari, Soldatenkaffee ditutup.</p>
<p>Dan sehari lagi setelahnya, The Jakarta Globe <a href="http://www.thejakartaglobe.com/opinion/from-the-editor-a-response-to-soldatenkaffee-owners-claims/">menulis tanggapan untuk pemilik Soldatenkaffee</a> [yang kabarnya akan menuntut The Jakarta Globe karena telah mengganggu bisnisnya].</p>
<h2><strong>&#8220;Kami Tidak Mereka-reka Fakta, Tapi Memberikan Konteks&#8221;</strong></h2>
<p>Banyak yang bisa dikomentari mengenai perkara ini, misalnya seperti kericuhan warga internet<a href="http://id.berita.yahoo.com/blogs/newsroom-blog/soldattenkafe-dan-trauma-ke-indonesia-an-114545852.html"> Indonesia yang trauma dengan peristiwa yang tidak pernah dialaminya</a>.  Pun yang lebih mengusik saya sejak awal adalah pihak redaksi The Jakarta Globe.</p>
<p>Di tanggapannya terhadap pemilik kafe Soldatenkaffee, redaksi The Jakarta Globe menuliskan beberapa poin yang membantah tudingan yang, menurut redaksi, dituduhkan ke mereka atas liputan berita yang jadi sumber perkara. Ada satu poin yang menarik untuk disimak,</p>
<blockquote>
<p><em>As editors, we have a duty to add context to a story, and not to make up facts. And that was precisely what we did for this story.</em></p>
</blockquote>
<p>Di media sosial, saya memang sempat melihat ada beberapa pihak yang menuding The Jakarta Globe &#8220;mereka-reka fakta&#8221; terkait wawancara mereka dengan Henry Mulyana, pemilik Soldatenkaffee. Tudingan ini ditujukan pada bagian di mana The Jakarta Globe memuat: 1) bahwa Henry merasa tidak ada bukti terjadinya Holocaust di Perang Dunia II; 2) Henry menyatakan memasang foto Hitler hanya untuk melengkapi tema restorannya; 3) Henry mengaku tidak begitu akrab dengan ideologi Nazi.</p>
<p>Tudingan sebagian pihak terhadap Jakarta Globe yang &#8220;merekayasa fakta&#8221; memang salah &#8211; tidak ada yang lebih tercela dalam jurnalisme selain merekayasa liputan berita. Bisa dilihat sendiri kesalahan fatal yang dilakukan <a href="http://m.tribunnews.com/nasional/2010/04/09/inilah-kronologi-munculnya-markus-palsu-tv-one">TVone dengan memalsukan narasumber</a> tempo hari.</p>
<p>Tapi poin yang dikemukakan Jakarta Globe juga tidak bernilai lebih dari sekedar dalih. Masalahnya, justru perkara ini timbul lantaran Jakarta Globe &#8220;memberikan konteks&#8221;.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/07/jakglobe-nazi-cafe.png"><img data-attachment-id="1062" data-permalink="https://deathlock.wordpress.com/2013/07/24/soldatenkaffee-dalam-the-jakarta-globe/jakglobe-nazi-cafe/#main" data-orig-file="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/07/jakglobe-nazi-cafe.png" data-orig-size="633,134" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="JakGlobe-Nazi-Cafe" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/07/jakglobe-nazi-cafe.png?w=300" data-large-file="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/07/jakglobe-nazi-cafe.png?w=630" class="aligncenter size-full wp-image-1062" alt="JakGlobe-Nazi-Cafe" src="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/07/jakglobe-nazi-cafe.png?w=630"   srcset="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/07/jakglobe-nazi-cafe.png?w=600&amp;h=127 600w, https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/07/jakglobe-nazi-cafe.png?w=150&amp;h=32 150w, https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/07/jakglobe-nazi-cafe.png?w=300&amp;h=64 300w, https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/07/jakglobe-nazi-cafe.png 633w" sizes="(max-width: 600px) 100vw, 600px" /></a></p>
<p>Dari awal liputan, redaksi Jakarta Globe sudah menggiring opini dengan menuliskan, &#8220;ketiadaan pelajaran sejarah yang diajarkan di sekolah [&#8230;] dianggap menjadi penyebab diterimanya restoran yang berselera buruk.&#8221; <em>Heading </em>ini ditulis persis di bawah judul yang menyebutkan soal &#8220;Bandung Nazi Cafe&#8221;. Setelah <em>heading</em>, di paragraf-paragraf awal, Jakarta Globe melanjutkan dengan memuat justifikasi Henry untuk mendirikan kafe ini, bahwa &#8220;semua pihak saling membunuh dalam perang.&#8221;</p>
<p>Pun yang menjadi penentu terletak di bagian tengah artikel, di mana redaksi Jakarta Globe memuat dua pernyataan Henry yang, bila dimuat tanpa tendeng aling-aling, bisa menjadi pernyataan yang paling konyol: Henry &#8220;memasang foto Hitler hanya untuk melengkapi tema kafenya&#8221; dan &#8220;sebenarnya tidak begitu akrab dengan ideologi Nazi&#8221;. Dua pernyataan ini dipasang berdekatan untuk memberikan kontinuitas.</p>
<p>Kemudian di bagian selanjutnya, The Jakarta Globe menutupnya dengan pamungkas melalui wawancara dengan orang lain yang tidak berhubungan sama sekali dengan Soldatenkaffee &#8211; seorang <em>regular joe, </em>yang bisa jadi merepresentasikan saya, Anda, tetangga Anda, atau siapa saja &#8211; di mana yang bersangkutan menyatakan bahwa dalam pendidikan di Indonesia, tidak pernah ada pengajaran tentang ketegangan antar-etnis di tanah air. Di tanah air saja lewat, bagaimana pula dengan yang di Auschwitz di sana?</p>
<p>Dan paragraf sisanya hanya pemanis.</p>
<p>Dengan &#8220;memberikan konteks&#8221; yang sedemikian rupa, Jakarta Globe berupaya membentuk narasi yang mengesankan bahwa sang pemilik kafe, Henry Mulyana, hanyalah &#8220;seorang Indonesia biasa&#8221; yang &#8220;tidak akrab dengan sejarah dunia&#8221; dan &#8220;mengomersialisasikan simbol-simbol kekejaman untuk alasan murahan.&#8221; Ditambah lagi, baru seminggu sebelumnya, media internasional sempat mengungkit soal <a href="http://www.guardian.co.uk/world/2013/jul/15/thai-university-superhero-hitler">grafiti Hitler bersama para superhero</a> dan <a href="http://www.dailymail.co.uk/news/article-2356705/Fried-chicken-takeaway-called-Hitler-opens-Thailand-comes-complete-logo-Nazi-leader-bow-tie.html">Hitler Fried Chicken</a> di Thailand.</p>
<p>Apakah upaya The Jakarta Globe berhasil?</p>
<p>Sukses berat. Komentar-komentar yang membawa sentimen seperti itu bertebaran; baik di kolom komentar Jakarta Globe, maupun di kicauan media sosial.</p>
<h2><strong>Sepintas Soal <em>Framing</em> Media</strong></h2>
<p style="text-align:center;"><a href="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/07/2013-jakglobe-media-framing.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="1063" data-permalink="https://deathlock.wordpress.com/2013/07/24/soldatenkaffee-dalam-the-jakarta-globe/2013-jakglobe-media-framing/#main" data-orig-file="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/07/2013-jakglobe-media-framing.jpg" data-orig-size="540,365" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="2013-JakGlobe-Media-Framing" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/07/2013-jakglobe-media-framing.jpg?w=300" data-large-file="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/07/2013-jakglobe-media-framing.jpg?w=540" class="aligncenter size-full wp-image-1063" alt="2013-JakGlobe-Media-Framing" src="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/07/2013-jakglobe-media-framing.jpg?w=630"   srcset="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/07/2013-jakglobe-media-framing.jpg 540w, https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/07/2013-jakglobe-media-framing.jpg?w=150&amp;h=101 150w, https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/07/2013-jakglobe-media-framing.jpg?w=300&amp;h=203 300w" sizes="(max-width: 540px) 100vw, 540px" /></a></p>
<p>Gambar di atas ini adalah salah satu gambar yang sering beredar di internet untuk menggambarkan situasi yang terjadi pada pemberitaan Soldatenkaffee oleh The Jakarta Globe.</p>
<p>Yang dilakukan oleh The Jakarta Globe tidak salah. Justru sebaliknya &#8211; ini adalah cara yang sah bagi media untuk mengambil posisi pemberitaan mereka. Media memang tidak dianjurkan untuk memihak, namun media boleh untuk menampilkan apa yang ingin mereka tampilkan, dan tidak menampilkan apa yang tidak ingin mereka tampilkan. Media bisa menampilkan hanya sepotong kutipan saja dan menampilkan kutipan lain yang seakan mengisi kutipan tersebut &#8211; seperti yang dilakukan The Jakarta Globe. Media juga bisa mengubah diksi &#8211; seperti halnya sebagian media yang menyebut Hamas di kasus Palestina sebagai &#8220;pejuang Hamas&#8221;, sementara sebagian media lain menyebutnya sebagai &#8220;teroris Hamas&#8221; atau &#8220;pemberontak Hamas&#8221;.</p>
<p>Dalam studi media, ini disebut <em>framing</em>. Seperti halnya <em>frame, </em>cara narasi yang seperti inilah yang membingkai pembaca pada sudut-sudut yang ingin media tampilkan kepada pembaca. <em>Framing </em>ditujukan untuk menyelaraskan dengan agenda yang dibawa oleh media (<em>agenda setting</em>) yang bersangkutan.</p>
<p>Dengan melihat pemberitaan tentang Hitler di Thailand, jumlah pembaca The Jakarta Globe yang merupakan ekspatriat dan/atau kelas menengah, serta isu mengenai hubungan antar-etnis dan minoritas yang kerap dibawa oleh The Jakarta Globe, wacana tentang Soldatenkaffee ini jelas merupakan wacana menarik bagi redaksi.</p>
<p><strong> </strong></p>
<h2><strong>Tidak &#8220;Buta Sejarah&#8221;</strong></h2>
<p>Bila yang nomor satu mengusik saya adalah The Jakarta Globe, yang kedua adalah celaan bahwa sang pemilik Soldatenkaffee dapat dipersepsikan sebagai &#8220;seorang Indonesia biasa&#8221; yang &#8220;tidak akrab dengan sejarah dunia&#8221; dan &#8220;mengomersialisasikan simbol-simbol kekejaman untuk alasan murahan.&#8221;</p>
<p>Masalahnya: tuduhan itu sangat tidak adil. Sang empunya kafe, Henry Mulyana, merupakan bagian dari komunitas Indonesia Reenactor (IDR). Komunitas ini bisa dibilang sebagai salah satu komunitas yang khatam segala pernak-pernik Perang Dunia II, khususnya sejarah militer Jerman. Awalnya berasal dari nama Indonesisch Das Reich, yang mendedikasikan diri spesifik hanya pada Jerman saja. Pun kemudian jadi lebih luas dan juga mencakup sejarah militer kawasan lain.</p>
<p>IDR sebagai <em>reenactor </em>bukan cuma khatam sejarah militer, tapi juga mengoleksi memorabilia dan mengenakan seragam di acara-acara umum. Beberapa di antaranya bisa dijumpai di pekan hobby seperti Toys Fair Jakarta tempo hari. Kalau tidak salah sempat hadir juga di HelloFest. Soldatenkaffee ini pun dibuat sebagai perpanjangan dari hobi <em>reenactment</em> tersebut.</p>
<p>Mengingat <a href="http://agenmossad.wordpress.com/2013/07/09/nazi-jerman-itu-kejam-tapi-keren/">latar belakang yang demikian</a>, apa bisa menilai Henry Mulyana sebagai pihak yang buta sejarah, seperti ditudingkan beberapa komentar?</p>
<p>Memang saya secara pribadi tidak kenal dengan yang bersangkutan. Saya hanya &#8220;mengenal&#8221; yang bersangkutan melalui intipan serampangan diskusi di milis dulu atau mendengar namanya dari beberapa pihak yang saya ikuti di Twitter. Tapi sangat ganjil rasanya bila orang yang diklaim &#8220;buta sejarah&#8221; bisa mengikuti komunitas sedemikian &#8211; yang tingkatnya sendiri sudah jauh di atas yang saya kuasai.</p>
<p>Mungkin kemudian akan ada pertanyaan: jikalau yang bersangkutan memang fasih, kenapa bisa keluar pernyataan &#8220;tidak begitu akrab dengan ideologi Nazi?&#8221;</p>
<p>Kalau yang dilakukan The Jakarta Globe memang cuma <em>framing</em>, bukannya pernyataan itu seharusnya niscaya?</p>
<p>Untuk ini, saya memang hanya bisa menduga, tapi saya kira satu hal: mengakrabkan diri dengan Nazisme itu tidak mudah.</p>
<p>Perlu diketahui: Nazisme adalah ideologi politik yang menyebalkan dan sulit untuk dipelajari. Pertanyaan mudah bisa diujikan ke pihak-pihak yang merasa tahu: berapa yang masih kerap kali menyamakan gagasan mengenai Nazisme dan Fasisme?</p>
<p>Di lingkar akademisi, Roger Griffin pernah berujar bahwa Nazisme tidak melulu konsisten dengan keranga kerja fasisme. Aspek korporatisme ala fasisme Italia, misalnya. Korporatisme yang ditengarai Jonah Goldberg berakar dari industrialisme Fordisme &#8211; yang mungkin kerap juga kita jumpai pada gagasan ekonomi liberalisme klasik &#8211; sama sekali tidak ditemui dalam Nazisme yang diterapkan oleh Hitler. Dalam hal kontrol ekonomi, Hitler lebih percaya dengan kekuatan mandiri dan membuang jauh-jauh pengaruh besar industrialis. Yang disebut Mussolini bahwa &#8220;fasisme adalah sebuah penyatuan antara para korporat dengan negara&#8221; tidak terjadi dalam Reich Ketiga Jerman.</p>
<p>Dalam hal diskriminasi rasial juga sama. Apa yang kerap disebut sifat fasis yang anti-semitik, yang memacu ketegangan antar-etnis, lebih tepat bila dijatuhkan pada Nazisme. Kadang orang lupa bahwa fasisme bukan cuma berputar di poros Axis Perang Dunia II, namun juga di Brazil dan Spanyol. Tapi jangankan di Brazil dan Spanyol; korporatisme-fasis Mussolini saja tidak mencakup diskriminasi Yahudi hingga<a href="http://books.google.co.id/books?id=nvD2rZSVau4C&amp;pg=PA340&amp;lpg=PA340&amp;dq=fascist+international+congress+1934&amp;source=bl&amp;ots=vwlRVfXxTo&amp;sig=K6wJyoopUxaoIG5HDu3gurwxUyI&amp;hl=en&amp;sa=X&amp;ei=WbXuUauBHoSQrQfSz4GYBA&amp;redir_esc=y#v=onepage&amp;q=fascist%20international%20congress%201934&amp;f=false"> kongres internasional di tahun 1934</a>. Apa yang kerap dikenal orang sebagai Nazisme itu lebih menyerupai seperangkat ideologi yang lebih banyak didengungkan Goebbels dan Himmler ketimbang Hitler sendiri.</p>
<p>Ini yang kemudian bagi saya menjadi cukup masuk akal bila pemilik Soldatenkaffe berujar &#8211; atau mungkin silap &#8211; bahwa yang bersangkutan &#8220;tidak begitu akrab dengan Naziisme&#8221;. Karena toh Henry Mulyana, sebagai bagian dari komunitas Indonesia Reenactor, lebih merupakan antusias militer Jerman ketimbang pendalam Nazisme.</p>
<p>Memang khusus pada bagian ini saya baru bisa menduga. Namun saya kira juga tidak bijak menilai kredibilitas penikmat sejarah secara terburu-buru hanya dari reportase media yang sebingkai saja.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://deathlock.wordpress.com/2013/07/24/soldatenkaffee-dalam-the-jakarta-globe/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>9</slash:comments>
		
		
		
		<media:content url="https://0.gravatar.com/avatar/3db057c473b91a6c4360c367a9d83a096bed45dcbe4d0d48ed05d3a1aac69c59?s=96&#38;d=https%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Xaliber von Reginhild</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/07/jakglobe-nazi-cafe.png" medium="image">
			<media:title type="html">JakGlobe-Nazi-Cafe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/07/2013-jakglobe-media-framing.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">2013-JakGlobe-Media-Framing</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Selebrasi Diri</title>
		<link>https://deathlock.wordpress.com/2012/11/16/selebrasi-diri/</link>
					<comments>https://deathlock.wordpress.com/2012/11/16/selebrasi-diri/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Pradipa PR (@xaliber)]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 16 Nov 2012 09:37:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[From the Blog]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://deathlock.wordpress.com/?p=1046</guid>

					<description><![CDATA[Sejujurnya menyiapkan tulisan yang dikhususkan untuk hari-hari tertentu seperti ini tidak selalu mudah, bagi saya. Ada kalanya memang ada yang ingin disampaikan, tapi ada kala lain di mana hari itu ya berlalu begitu saja seperti hari-hari lainnya. Bisa jadi karena memang tidak ada yang spesial, bisa jadi karena sebenarnya ada&#8211;tapi terlanjur terbenam di kesibukan lain [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sejujurnya menyiapkan tulisan yang dikhususkan untuk hari-hari tertentu seperti ini tidak selalu mudah, bagi saya. Ada kalanya memang ada yang ingin disampaikan, tapi ada kala lain di mana hari itu ya berlalu begitu saja seperti hari-hari lainnya. Bisa jadi karena memang tidak ada yang spesial, bisa jadi karena sebenarnya ada&#8211;tapi terlanjur terbenam di kesibukan lain yang sudah mendahului dari hari-hari sebelumnya. Kalau melihat dari tulisan yang dimaksudkan untuk selebrasi tanggal 16 November saja, <a title="Entri 1015" href="https://deathlock.wordpress.com/2011/11/16/entri-1015/">ada yang cukup </a><em><a title="Entri 1015" href="https://deathlock.wordpress.com/2011/11/16/entri-1015/">thoughtful</a> </em>seperti yang saya tulis tahun lalu, tapi <a title="Entri 564" href="https://deathlock.wordpress.com/2009/11/16/entri-564/">ada pula yang lainnya</a> yang bisa membuat dahi mengernyit lantaran kurang nyaman dibaca (apa sebenarnya  tujuannya saya menulis seperti itu?).</p>
<p>Saya tidak ingin menyalahkan social media/social network sites, meski memang harus diakui bahwa waktu saya untuk berselancar di internet bisa dibilang hampir 50%-nya direbut oleh aktivitas di situs-situs tersebut. Berbeda dengan menulis di blog ini, menulis di media macam itu tak perlu banyak berpikir panjang; lempar saja apa yang ada di pikiran, kalau ternyata susunan kalimatnya seburuk rupa Ephialtes, atau gagasannya seamburadul tulisannya John dari Edessa, tak jadi masalah karena bisa langsung dikoreksi atau dikritik kemudian.</p>
<p>Bukannya saya bilang blog ini tak bisa dijadikan sarana diskusi atau koreksi atau kritik; tentu saja bisa, seperti yang sudah berlangsung selama ini, tapi selain memerlukan gagasan yang lebih matang, penuturan kata per paragraf pun sebaiknya juga mesti saya tulis agar bisa dipahami. Lain dengan Twitter misalnya, yang tak perlu alur yang terlalu baik. Toh juga kultwit juga tidak bisa dibilang enak dibaca. <img src="https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/twemoji/2/72x72/1f61b.png" alt="😛" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> Biasanya saya memang memfasilitasi situs-situs macam itu untuk merampungkan hal-hal yang masih sangat mentah; bila blog ini macam Starbucks (karena sudah tak ada lagi yang minum di warkop), mungkin anggapannya situs-situs itu macam berdialog dengan diri sendiri ketika membuang hajat (komparasinya jelek sekali memang, tapi kira-kira seperti itu). Dan lagi, update status macam itu bisa dilempar secara berurutan tanpa perlu mempunyai korelasi sama sekali antara satu sama lainnya.</p>
<p>Jadi ketika saya memutuskan untuk menulis lagi di blog ini untuk selebrasi tahunan, saya mesti berpikir dulu dengan jernih: apa yang mau saya sampaikan, apa yang mau saya tulis?</p>
<p>Sayangnya memang berhubung sudah tidak menulis secara reguler lagi (selain merampungkan skripsi yang ditulisnya juga seenak maunya saja), kemampuan saya terasa agak-agak mandul. Satu-satunya kegiatan menulis yang masih secara aktif dilakoni cuma bermain <em>text-based RPG</em> (sebenarnya saya kurang nyaman dengan istilah ini, lebih nyaman menyebutnya sekedar <em>roleplay</em>) di beberapa forum saja. Sebutlah forum yang saya urus, <a title="Gotei13 RPF" href="http://bleachindonesia.com/roleplay/">Gotei13 RPF</a>. Dan beberapa forum lain. Meski sama-sama menulis, tapi gaya permainan di forum-forum seperti ini entah kenapa budayanya memang lebih berorientasi ke arah &#8220;bermain&#8221; ketimbang benar-benar menulis (seperti di blog).</p>
<p>Makanya menjadi cukup <em>remarkable </em>ketika saya menulis selebrasi yang masih bisa dibaca untuk beberapa tahun ke depan seperti yang saya tulis tahun lalu itu. Untuk itu&#8211;dan berbagai macam hal lainnya yang tak terhitung, tentu&#8211;mungkin saya harus berterima kasih sangat banyak pada pacar saya (sekarang sudah mantan), karena kalau menilai dari tulisan-tulisan selebrasi saja, cuma itu yang bisa dipandang cukup reflektif sebagai manusia (kalau meminjam ungkapan teman-teman, yang meluluhkan hati seorang robot <img src="https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/twemoji/2/72x72/1f606.png" alt="😆" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> ). Sekarang rasanya tumpul kembali, di-combo dengan hal-hal lain yang sudah saya tinggung di awal tulisan jadinya malah semakin buruk saja.</p>
<p>Padahal pada selebrasi kali ini, saya seharusnya sudah tidak bisa masuk penjara anak-anak lagi kalau berbuat kriminal; dan entah kenapa patokan umur macam ini selalu saya anggap spesial, mungkin karena terlalu sering terpengaruh oleh macam-macam budaya yang merayakan <em>adulthood.</em></p>
<p>Mungkin, seiring dengan umur yang menginjak platform yang baru, blog ini juga akan saya bawa ke platform baru&#8211;hostingan sendiri. Selain supaya untuk memacu produktivitas menulis (rugi dong udah bayar masa ditelantarkan), meyeleksi tulisan-tulisan dan sortir kategori, juga karena kegatelan saya untuk mempersonalisasi wadah tempat saya menuangkan tulisan-tulisan ini. Yah bahkan toilet pun masih dipoles, apa salahnya kalau blog tidak? <img src="https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/twemoji/2/72x72/1f600.png" alt="😀" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
<p>&#8230;tapi tentunya ini masih wacana.</p>
<p>Satu, saya masih khawatir soal <em>blog of the day</em> (meski rasanya makin irelevan karena siapa sih yang masih mengandalkan fitur itu?) dan hasil search engine yang seringkali merujuk pada postingan-postingan mengecewakan di WordPress.com. Kedua, <a title="Balada [Mencoba] Blogging Kembali" href="https://deathlock.wordpress.com/2011/05/27/balada-mencoba-blogging-kembali/"><em>terbukti</em> dari yang sudah-sudah</a>, kalau saya bilang &#8220;saya akan mulai melakukan X lagi!&#8221; yang ada pastinya tertunda. <img width='16' height='16' class='wp-smiley emoji' draggable='false' alt=':mrgreen:' src='https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/mrgreen.svg' style='height: 1em; max-height: 1em;' /></p>
<p>Jadi lebih baik tidak dijadwalkan. <img src="https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/twemoji/2/72x72/1f61b.png" alt="😛" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
<p>&#8212;&#8212;</p>
<p><strong>P.S.:</strong> &#8230;bahkan untuk mempublikasikan tulisan ini sendiri butuh jeda waktu yang sangat lama (29 November). Sudah di-draft sejak sebelum tanggal 16 November, tapi baru dipublikasi sekarang. Namun untuk menjaga konsistensi (dan memudahkan saya <em>tracking</em>) marilah kita sematkan pada tanggal 16 November 2012 saja ya? <img width='16' height='16' class='wp-smiley emoji' draggable='false' alt=':mrgreen:' src='https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/mrgreen.svg' style='height: 1em; max-height: 1em;' /></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://deathlock.wordpress.com/2012/11/16/selebrasi-diri/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
		
		<media:content url="https://0.gravatar.com/avatar/3db057c473b91a6c4360c367a9d83a096bed45dcbe4d0d48ed05d3a1aac69c59?s=96&#38;d=https%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Xaliber von Reginhild</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Entri 1015</title>
		<link>https://deathlock.wordpress.com/2011/11/16/entri-1015/</link>
					<comments>https://deathlock.wordpress.com/2011/11/16/entri-1015/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Pradipa PR (@xaliber)]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 16 Nov 2011 16:16:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[From the Blog]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://deathlock.wordpress.com/?p=1015</guid>

					<description><![CDATA[Dulu, sejauh yang bisa dikenang, saya mengingat hari seperti ini sebagai hari yang menyenangkan. Tengah malam, ayah saya, beserta ibu dan adik, akan masuk ke dalam kamar. Sembari bertepuk tangan, mereka memberi selamat kepada saya, seperti yang selalu ayah saya lakukan dengan bangga ketika anaknya meraih sesuatu&#8211;yang mungkin, saya pikir, sebetulnya tidak begitu signifikan. Kadang, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dulu, sejauh yang bisa dikenang, saya mengingat hari seperti ini sebagai hari yang menyenangkan.</p>
<p>Tengah malam, ayah saya, beserta ibu dan adik, akan masuk ke dalam kamar. Sembari bertepuk tangan, mereka memberi selamat kepada saya, seperti yang selalu ayah saya lakukan dengan bangga ketika anaknya meraih sesuatu&#8211;yang mungkin, saya pikir, sebetulnya tidak begitu signifikan. Kadang, ibu juga membawa kue. Untuk dimakan bersama. Biasanya tidak habis di malam itu&#8211;meski porsi makan saya memang meningkat sejak 10 tahun terakhir&#8211;dan kuenya akan disimpan untuk esok hari. Siapa pun yang ingin santap cemilan, bisa mengambilnya di kulkas. Termasuk asisten rumah tangga di rumah, yang  sudah bekerja sejak saya lahir; serasa seperti kerabat sendiri.</p>
<p>Pagi dan siangnya, kadang saya akan menerima ucap senada. Pemberian selamat dari teman-teman sekolah yang tersenyum penuh rupa. Tentunya, selayaknya orang Indonesia, saat itu pula saya, seakan mematuhi peraturan tidak tertulis, perlu merogoh sedikit kocek dan menyenangkan ibu-bapak penjaga kantin&#8211;paling tidak, dulu saya pikir begitu&#8211;yang tiba-tiba kedapatan pemesanan porsi makan lebih banyak. Tapi memang tidak selalu. Ada tahun-tahun di mana hari seperti ini berlalu begitu saja sekolah. Begitu juga bila hari seperti ini terjadi di hari libur, Sabtu dan Minggu.</p>
<p><span id="more-1015"></span></p>
<p>Walau siang tidak menentu, namun sorenya saya akan selalu teringat senyum hangat nenek. Setelah pulang dari sekolah, rasanya sudah menjadi ritus untuk mengunjngi rumah nenek, memotong kue [lagi], dan mendapatkan bingkisan hadiah besar&#8211;setelah sedikit beranjak dewasa, bingkisan itu berubah wujud menjadi amplop uang saku tambahan&#8211;dari kerabat-kerabat. Meski kesemua hal itu menyenangkan, agaknya kenangan paling menyenangkan adalah ketika merayakannya bersama nenek&#8211;ibu dari ibu. Bahkan saya masih ingat <em>cake </em>coklat serupa dinosaurus yang akan dipotong bersamanya. Beliau, bagi saya, mungkin adalah sosok ibu kedua.</p>
<p>Pada malam harinya, ayah dan ibu akan mengingatkan saya kembali. Tentang apa yang sudah berubah, secara positif, dari diri saya selama satu tahun terakhir. Bagaimana saya dapat terus bertambah baik untuk tahun-tahun ke depannya. Meski seingat saya ayah seringkali bilang, saya berubah secara signifikan, setelah ditimang kembali saat ini rasanya saya terlalu bandel saat itu untuk dibilang berubah secara positif. Kemudian, saya akan tertidur pulas. Dengan puas.</p>
<p>Memang benar. Dulu, sejauh yang bisa dikenang, saya mengingat hari seperti ini sebagai hari yang menyenangkan.</p>
<p>Mungkin karena kesan itu pula, saya, dulu, selalu menganggap spesial tanggal-tanggal yang bertepatan dengan perayaan apa pun. Bahkan, tanggal unik&#8211;seperti 11-11-11&#8211;yang sebenarnya tidak punya perayaan atau makna apa pun.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Saya tidak ingat kapan persisnya. Yang bisa saya ingat saat itu ayah sudah didiagnosis menderita kanker. Saat itu beliau mengajak kami sekeluarga, beserta nenek, tante, dan sepupu&#8211;bila tidak salah ingat&#8211;untuk merayakan tahun baru di sebuah hotel, yang saya juga lupa apa hotelnya.</p>
<p>Seperti ritus tahunan saya dan adik saya untuk merayakan ulang tahun di rumah nenek, kami juga memiliki semacam ritus tahunan untuk merayakan tahun baru juga di rumah nenek. Letaknya di Cipinang. Sejak kecil, saya dan adik saya besar bersama lingkungan di rumah Cipinang ini. Setiap Minggu, dulu, saya mengikuti latihan karate bersama adik dan teman satu sekolah saya, Aditya Irfansyah&#8211;yang kebetulan juga tinggal di kompleks itu. Kadang, sepulang sekolah saya menunggu adik dan ibu di rumah nenek sebelum pulang ke rumah, atau sebaliknya. Rumah ini, pun, berasa bagai rumah kedua.</p>
<p>Wajar bila kemudian akhirnya banyak &#8220;ritus tahunan&#8221; yang terselenggara di rumah nenek&#8211;termasuk tahun baru. Tidak hanya keluarga inti saya&#8211;biasanya keluarga paman dan tante yang juga tinggal di kompleks itu akan turut meramaikan. Setiap akhir tahun, kami akan menyalakan TV, menghitung mundur detik-detik terakhir bersama-sama, sembari membakar sate atau <em>barbeque.</em> Setelah jam berdentang di angka 12, kami akan menyalakan kembang api. Perumahan lain juga seakan tidak mau kalah dengan memasang kembang api yang meriah. Hingga akhir tahun 2008 dan awal tahun 2009, saya masih menikmati ritus tahunan ini. Tidak ada yang bisa menggantikan suasana di kompleks Cipinang itu, yang rasanya selalu menyenangkan setiap tahun.</p>
<p>Namun, di suatu tahun itu, ayah memutuskan untuk mengganti suasana. Merasakan suasana lain. Saya tidak ingat tahunnya, tapi saat itu saya sudah menginjak bangku SMA. Yang berarti antara periode 2005-2008. Seperti berbagai hal lain yang sering ayah ucapkan pada saya, keputusan ini dilakukan agar kami, khususnya saya, &#8220;mencoba pengalaman baru&#8221;. Hingga tahun-tahun belakangan ini, saya memang selalu dikenal sebagai konservatif di kalangan keluarga. Termasuk dalam hal &#8220;mencoba pengalaman baru&#8221;.</p>
<p>Karenanya, saat itu, sebagai remaja konservatif yang sedang dalam gelora pemberontakan, saya awalnya menolak keputusan ayah. Saya sudah terlanjur nyaman dengan &#8220;ritus&#8221; yang berlangsung di rumah nenek setiap tahun. Lingkungan yang sudah dikenal, <em>barbeque </em>bersama keluarga, dan kembang api yang bersinar di malam pergantian tahun. Katakanlah, saya memang anak rumahan. Apalagi, saat itu, di benak saya tertanam pikiran, antara &#8220;pesta&#8221; dan &#8220;hotel&#8221; terpaut erat unsur laten hedonisme&#8211;meskipun saya yakin saat itu saya juga tidak paham betul apa arti kata itu, selain dari yang biasa disebarkan televisi dan buletin dakwah tiap Jum&#8217;at. Pasca-reformasi, remaja mana yang tidak akrab dengan <em>brainwash </em>keburukan hedonisme? Jadi, barangkali yang hanya terpikir di benak saaat saya itu adalah, opsi pengubahan ritus tahunan menjelang pergantian tahun sangatlah tidak masuk akal.</p>
<p>Tapi toh setelah beberapa perdebatan&#8211;yang memang saya sering lakukan dengan ayah, dalam berbagai hal&#8211;saya menyerah juga. Meski dengan penuh keengganan, saya pun pada akhirnya mengepak barang bersama keluarga beberapa hari sebelum keberangkatan, untuk menghabiskan beberapa malam singkat di tempat yang sama sekali asing dengan kegiatan yang sama sekali tidak saya ketahui. Pada nyatanya, saya memang akhirnya banyak menghabiskan waktu di dalam kamar bersama laptop pertama saya, COMPAQ&#8211;yang hingga beberapa hari ini masih sering saya gunakan. Saya masih ingat, sewaktu itu saya menyalakan Yahoo! Messenger dan memasang status &#8220;Happy New Year&#8221; disertai kutipan-kutipan yang-tidak-begitu-bijak dari tokoh berkebangsaan Jerman.</p>
<p>Menjelang menit-menit pergantian tahun, tiba-tiba, ayah mengajak saya, bersama ibu dan adik, turun ke lantai dasar. Menurut ayah, justru inti dari perayaan tahun baru di hotel adalah mengikuti pesta di lantai dasar. Percuma merayakan tahun baru di hotel bila hanya dihabiskan di kamar. Dan seperti yang sudah bisa diduga, saya kembali enggan. Walaupun keengganan saya kali ini tidak bertahan lama; entah bagaimana ayah berhasil membuat saya turun ke lantai dasar.</p>
<p>Lantai dasar hotel pada menit-menit pergantian tahun sangatlah ramai. Tidak terkira. Lagu diputar dengan sangat kencang, orang-orang berseliweran berbincang, menikmati makanan dan minuman yang disediakan. Saat itu antipati saya kembali naik, karena sebagian dari gambaran di benak saya ternyata benar terwujud&#8211;tentang &#8220;pesta&#8221; di &#8220;hotel&#8221; yang hedonis, apa pun artinya hedonis itu, yang agaknya dulu saya asosiasikan dengan bergoyang, meminum minuman keras, dan berbincang riuh-rendah seperti pada film produksi Hollywood. Pandangan saya sudah jauh berubah sejak saat itu&#8211;mungkin ayah saya akan sedikit terkejut bila mengetahuinya&#8211;meski saya masih, sebagian besar, jadi anak rumahan.</p>
<p>Ayah saya, saat itu, agaknya menyadari raut wajah saya yang berubah. Dulu, saya memang tidak banyak berkata-kata di tempat umum, khususnya bila sedang kesal. Tapi sangat mudah untuk mengetahui emosi saya dari gelagat saja. Setidaknya, ayah mahir dalam mengetahui hal ini. Sontak saja, beliau menanyakan pendapat saya tentang pesta tahun baru di hotel ini. Mungkin sekedar retorika, karena saya yakin ayah tahu, saya saat itu tidak dalam kondisi menikmati. Kami sempat berbincang beberapa patah kata&#8211;tidak banyak, mengingat tempatnya yang sangat ramai dan bising&#8211;namun saya masih ingat bagaimana saya menimpali,</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Buat apa sih ada acara mewah-mewah begini?&#8221;</em></p></blockquote>
<p>Bagai seorang Qutb-ist abangan, saat itu mungkin benak saya menganjurkan menentang &#8220;hedonisme&#8221; yang berwujud dalam kemewahan adalah hal yang keren. Saya ingat, ayah saya sempat mengangkat alisnya sejenak. Tapi beliau, seperti yang selalu beliau lakukan acapkali saya mulai dengan bodohnya menunjukkan ketidaktahuan saya, membalas dengan senyum dan tawa pelan. Sewaktu itu mungkin saya sedang direndam emosi. Ditambah, kemeriahan tempat tersebut yang benar-benar tidak biasa. Tapi saya tidak salah ingat ketika ayah menepuk pundak saya dengan halus. Kemudian, beliau membalas,</p>
<blockquote><p><em>&#8220;Orang merayakan tahun baru kayak menutup buku yang lama dan membuka yang baru. Dirayakan meriah karena berhasil menamatkan buku yang lama, dan membuka buku yang baru juga meriah, harapannya, kalau awalnya baik, seterusnya juga mudah-mudahan baik.&#8221;</em></p></blockquote>
<p>Ucapan beliau mungkin tidak persis seperti itu. Meski saya masih mengingat penggunaan analogi ayah tentang buku dan inti pesan &#8220;awal yang baik untuk proses yang baik.&#8221; Saya pikir itu inti pesan yang saya tangkap dari ayah waktu itu.</p>
<p>Agaknya memang sukses untuk mendiamkan anak beliau yang tertua ini selama pesta berlangsung. Toh, pada akhirnya, meski dipenuhi keramaian, saya tidak sepenuhnya rugi. Riuh-rendah yang biasanya hanya saya amati dari balik layar kaca, kini saya amati tanpa melalui perantara&#8211;kecuali mungkin lensa kacamata saya. Semacam MC pesta itu menghitung mundur detik-detik pergantian tahun dan ketika angka mencapai 0, seluruh peserta meniup terompet yang diberikan oleh pelayan, dengan ramai. Kami segera kembali ke kamar seusai penghitungan. Di sana, kami sempat menyaksikan kembang api yang megah dari jendela kamar. Ibu yang selalu terkesima&#8211;pada banyak hal&#8211;mencoba mengabadikan momen tersebut melalui kamera.</p>
<p>Tahun itu adalah tahun baru yang berbeda bagi saya. Tahun yang, mungkin, membuat saya kembali mempertimbangkan apa makna dari peringatan, komemorasi, dan pergantian hari. Mungkin.</p>
<p>Saya tidak benar-benar yakin apa memang hari itu yang mempengaruhi saya. Barangkali, saya juga bisa menyalahkan teman SMA, Annas Azis&#8211;sekarang menekuni Ilmu Filsafat di FIB UI, setelah pindah dari ITB&#8211;karena sikapnya yang selalu antagonistik terhadap hari perayaan, jauh sebelum saya memikirkan hal itu.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p style="text-align:left;">Saya masih tidak begitu paham kenapa ayah meninggalkan kami, tepat di tanggal ini, dua tahun lalu.</p>
<p style="text-align:left;">Saat itu pukul delapan, lewat dua puluh menit. Saya baru saja mencapai fakultas tempat saya menimba ilmu, terlambat dua puluh menit dari jadwal masuk yang seharusnya. Maklum, mahasiswa&#8211;malam sebelumnya, saya tidur larut. Sembari mempercepat langkah kaki, saya masih ingat ketika baru saja melihat jam digital di ponsel kesayangan, selang sekian detik menyadari saat itu pukul berapa, sebuah panggilan masuk ke ponsel saya. &#8220;Ayah sakit keras,&#8221; ujar suara di balik panggilan itu. Sepupu saya. &#8220;Cepat pulang.&#8221;</p>
<p style="text-align:left;">Langkah saya segera terhenti. Saya tidak mengingat apa pun dari menit-menit itu. Yang saya sadari selanjutnya, langkah kaki sudah membawa saya menuju luar fakultas.</p>
<p style="text-align:left;">Mungkin, saya tidak perlu memahaminya.</p>
<p style="text-align:left;">Karena memang tidak ada yang perlu dipahami. Setiap jam, satu nyawa manusia turun ke bumi. Di setiap jam yang sama pula, satu nyawa manusia lain meregang. Ungkapan itu tentu sulit untuk diuji keabsahannya, tapi saya pikir bisa didapat maksudnya: umur manusia tak ada yang dapat menebak. Kita dapat meninggalkan tubuh kita kapan pun&#8211;dan itu proses yang alamiah. Sangat alamiah. Apakah itu di hari kerja, akhir minggu, hari kemerdekaan, tahun baru, atau di hari peringatan lahir seperti ini. Mungkin, saya tidak perlu memahaminya. Mungkin.</p>
<p style="text-align:left;">Teman saya saat SMP, Gemala Zenobia, berpendapat lain.</p>
<p style="text-align:left;">Saya tidak pernah membicarakan hal ini secara pribadi dengannya. Ucapannya hanya terlintas pada sepenggal kalimat di <em>wall </em>Facebook. Di hari seperti ini, Facebook memudahkan kita untuk saling berkomunikasi. Teman baik maupun teman yang sekedar menimpal sapa, tetap akan diingatkan lewat pemberitahuan hari lahir di Facebook. Siapa pun bebas menyampaikan kemudian. Umumnya, yang diperingati hari lahirnya akan ketumpahan <em>wall </em>baru. Termasuk orang seperti saya.</p>
<p style="text-align:left;">Acapkali saya berupaya untuk mencari makna dari hari itu&#8211;yang saya tahu mungkin tidak ada&#8211;saya selalu teringat apa yang ia sampaikan. Di pesan belasungkawanya, Gemala menulis, bahwa kepergian ayah adalah sebuah &#8220;kado&#8221; bagi saya. &#8220;Kado&#8221;, untuk menjadi lebih kuat. &#8220;Kado&#8221;, untuk memaknai hidup.</p>
<p style="text-align:left;">Saya tidak yakin bila saya benar-benar menyerapiarti ucapannya. Tapi tu adalah salah satu dari sedikit yang masih saya ingat dari hari itu, hingga hari ini.</p>
<p style="text-align:left;">Dua bulan sebelumnya, nenek mendahului ayah. Saat itu bulan Oktober. Semester baru saja dimulai, namun saya sudah menghabiskan waktu menyendiri di kamar selama beberapa hari. Di hari-hari itu, suatu sore, ayah menghampiri saya. Ayah, selalu dengan senyumnya yang tipis, menatap saya penuh perhatian. Rambutnya sudah menipis, akibat kemoterapi. Tangannya yang juga kurus, menggapai saya. Beliau berupaya menghibur saya&#8211;seperti yang biasa beliau lakukan bila salah satu dari anaknya sedang mengalami masa yang sulit. Meski kami sering berdebat, berbeda pendapat, dan bahkan bertengkar, ayah tidak pernah terlihat marah lebih dari dua hari. Ibu selalu mengenang ayah sebagai sosok yang penyayang dan penyabar&#8211;begitu pula teman dan rekan kerjanya. &#8220;Pak Eri tidak pernah marah,&#8221; begitu yang pernah saya dengar, dulu sekali. Ketika ada seorang kawan ayah yang berkunjung ke rumah.</p>
<p style="text-align:left;">Saat itu, ayah berujar. Satu lagi ucapan beliau yang masih saya ingat dengan jelas. &#8220;Kalau kamu sayang sama Uti,&#8221; Uti, panggilan sayang kami kepada nenek, &#8220;Teruskan apa yang selama ini selalu bikin Uti bangga, prestasi kamu, cita-cita kamu. Jadi waktu lulus nanti, kamu bisa bilang dengan bangga, <em>&#8216;Uti, aku berhasil.&#8217;</em>&#8221; Saat itu, saya bisa membayangkan diri saya, duduk di antara kursi-kursi balairung, meraih gelar sarjana dengan nilai maksimal, mengucap bangga dalam hati pada nenek. Ayah, seperti biasa, menepuk pelan bahu saya. Saya hanya mengangguk dalam diam dengan bayangan itu, mengamini yang beliau katakan.</p>
<p style="text-align:left;">Waktu itu saya tidak terbayang, bahwa saya juga tidak akan bisa berbagi kebanggaan itu dengan ayah.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p style="text-align:left;">Setahun lalu, saya tidak meninggalkan secarik tulisan apa pun di hari ini.</p>
<p style="text-align:left;">Sejak saya memulai menulis di blog, setiap tahun saya selalu meninggalkan catatan kecil pada hari ini. Tahun <a title="Mengingat Yang Lalu" href="https://deathlock.wordpress.com/2007/11/16/mengingat-yang-lalu/">2007</a>, tahun <a title="One and Seven" href="https://deathlock.wordpress.com/2008/11/16/one-and-seven/">2008</a>, bahkan tahun <a title="Entri 564" href="https://deathlock.wordpress.com/2009/11/16/entri-564/">2009</a> pun saya masih meninggalkan tulisan, meski tidak bermakna. Ada kalanya saya sekedar mencoba puitis, ada kala yang lain saya menulis panjang. Dari tulisan-tulisan kecil itu, saya berharap, mencoba mencari makna dari hari seperti ini. Dari komemorasi. Dari peringatan. Dari perayaan. Dari tahun ke tahun, tulisan saya meninggalkan jejak bagi saya di masa yang akan datang, untuk melihat kembali masa lalu. Namun tahun 2010 saya tidak menulis apa pun.</p>
<p style="text-align:left;">Hari ini, saya kembali menulis. Pencarian saya belum selesai. Hingga kini, saya masih belum menemukan apa makna dari hari seperti ini. Apalagi, sejak tahun lalu, hari seperti ini juga mengingatkan tentang ayah saya.</p>
<p style="text-align:left;">Mungkin, bagai buku yang pernah disebut ayah, hari seperti ini adalah akhir dari buku itu. Hari seperti ini adalah hari ketika apa yang sudah saya telusuri, ditulis ulang, dan dirangkum kembali. Dikoreksi kembali. Sepintas itu, dan saya segera harus membuka buku baru. Untuk juga ditelusuri lagi. Untuk kemudian ditulis ulang dan dirangkum lagi, ketika sudah mencapai akhir. Mungkin, saat ini saya masih berpegang pada pemaknaan ini, sambil mencari, terus mencari. Bukan untuk saya. Namun untuk menjaga rasa bangga yang seharusnya bisa saya bagi dengan ayah. Dengan nenek. Dengan keluarga.</p>
<p style="text-align:left;">Hingga saya tidak mampu menelusuri buku apa pun lagi.</p>
<p style="text-align:left;">.</p>
<p>Selamat tanggal 16 November.</p>
<p>Semoga anda juga menemukan makna dari hari spesial anda.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://deathlock.wordpress.com/2011/11/16/entri-1015/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
		
		<media:content url="https://0.gravatar.com/avatar/3db057c473b91a6c4360c367a9d83a096bed45dcbe4d0d48ed05d3a1aac69c59?s=96&#38;d=https%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Xaliber von Reginhild</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Revolusi Media Sosial dan Angan-angan Perubahan</title>
		<link>https://deathlock.wordpress.com/2011/10/03/revolusi-media-sosial-mesir/</link>
					<comments>https://deathlock.wordpress.com/2011/10/03/revolusi-media-sosial-mesir/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Pradipa PR (@xaliber)]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 03 Oct 2011 11:05:49 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Interweb]]></category>
		<category><![CDATA[Social]]></category>
		<category><![CDATA[egypt]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>
		<category><![CDATA[media sosial]]></category>
		<category><![CDATA[mesir]]></category>
		<category><![CDATA[political protest]]></category>
		<category><![CDATA[revolution]]></category>
		<category><![CDATA[social media]]></category>
		<category><![CDATA[social movement]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://deathlock.wordpress.com/?p=965</guid>

					<description><![CDATA[Kebetulan, nampaknya minggu-minggu ini sedang ramai perkara media sosial (social media; macamnya Twitter dan Facebook, kalau mengambil dua contoh yang paling populer). Kamis hingga Sabtu kemarin, digelar acara Social Media Festival di fX Jakarta. Masih di hari Kamis juga, ada pula International Conference on Social Media Cultures di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, yang syukurlah saya [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div data-shortcode="caption" id="attachment_1005" style="width: 452px" class="wp-caption aligncenter"><a href="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/twitter1.jpg"><img aria-describedby="caption-attachment-1005" loading="lazy" data-attachment-id="1005" data-permalink="https://deathlock.wordpress.com/2011/10/03/revolusi-media-sosial-mesir/twitter1/#main" data-orig-file="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/twitter1.jpg" data-orig-size="553,248" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="twitter1" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/twitter1.jpg?w=300" data-large-file="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/twitter1.jpg?w=553" class="size-full wp-image-1005" title="twitter1" src="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/twitter1.jpg?w=630" alt="Viva la Revolucion..?"   srcset="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/twitter1.jpg?w=442&amp;h=198 442w, https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/twitter1.jpg?w=150&amp;h=67 150w, https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/twitter1.jpg?w=300&amp;h=135 300w, https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/twitter1.jpg 553w" sizes="(max-width: 442px) 100vw, 442px" /></a><p id="caption-attachment-1005" class="wp-caption-text">Viva la Revolucion...?!</p></div>
<p>Kebetulan, nampaknya minggu-minggu ini sedang ramai perkara media sosial (<em>social media; </em>macamnya Twitter dan Facebook, kalau mengambil dua contoh yang paling populer). Kamis hingga Sabtu kemarin, digelar acara <a href="http://socmedfest.com/">Social Media Festival</a> di fX Jakarta. Masih di hari Kamis juga, ada pula <a title="ICSMC 2011" href="http://fisip.uajy.ac.id/ic2011/">International Conference on Social Media Cultures</a> di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, yang syukurlah saya diberi kesempatan untuk menghadiri (bersama <a title="annasophia" href="http://catatatan.wordpress.com/">Lemon S. Sile</a>).</p>
<p>Dari Sabtu kemarin (24/9) hingga entri ini ditulis (26/9), saya lihat di <em>timeline</em> Twitter masih ramai membahas tentang pengaruh besar media sosial. Maka dari itu, pikir saya, mungkin untuk sekedar menambah perspektif tentang riuh-rendah media sosial masih belum terlalu terlambat. <del>Lagipula, supaya blog ini tidak melompong melulu (beberapa waktu lalu juga sempat ditagih <a href="http://xpga.wordpress.com/">bung reinhart</a> <img src="https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/twemoji/2/72x72/1f61b.png" alt="😛" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> )</del>.</p>
<p>Saya hendak menyoroti satu aspek yang nampaknya jadi salah satu alasan kenapa media sosial nampak begitu besar pengaruhnya bagi kemaslahatan umat manusia: <em>social media activism</em>. Aktivisme melalui media sosial.</p>
<p><span id="more-965"></span></p>
<p>Yang paling mencolok adalah pergolakan di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara pada awal 2011 lalu. Khususnya di Mesir: yang berhasil menumbangkan Hosni Mobarak, penguasa selama tiga dekade.</p>
<p><a title="New York Times" href="http://www.nytimes.com/2011/02/06/world/middleeast/06face.html?_r=1#h[]">Tidak</a> <a title="Atlantic Wire" href="http://www.theatlanticwire.com/global/2011/01/how-the-egyptian-government-turned-off-the-internet/21324/">sedikit</a> <a title="Detik.com" href="http://www.detiknews.com/read/2011/02/18/155409/1573767/10/revolusi-mesir-sukses-twitter-facebook-lebih-dipantau-as?nd992203605">media</a><a title="The Daily Beast" href="http://www.thedailybeast.com/articles/2011/01/22/we-are-all-khaled-said-will-the-revolution-come-to-egypt.html"> massa</a> <a title="CNN" href="TECH">yang</a> <a title="Mashable" href="http://mashable.com/2011/02/25/facebook-egypt/">menyoroti</a> peran media sosial dalam pergolakan tersebut. Hasil dari sebaran <a title="Seberapa besar peran media sosial?" href="http://www.facebook.com/questions/10150275020978543/?qa_ref=pt"><em>polling</em> kecil-kecilan</a> di Facebook tempo hari dan tulisan <a href="http://www.sudutpandang.com/2011/04/internet-twitter-demokrasi-dan-revolusi/">om Nukman di majalah Rolling Stone</a> juga menunjukkan ada perhatian kita pada teknologi yang &#8220;relatif&#8221; baru ini. Wael Ghonim, orang yang dilihat sebagai salah satu kunci revolusi oleh <a title="Huffington Post" href="http://www.huffingtonpost.com/2011/02/11/egypt-facebook-revolution-wael-ghonim_n_822078.html">Huffington Post</a>, bahkan menggunakan jargon-jargon internet seperti &#8220;Revolusi 2.0 yang menyerupai Wikipedia&#8221; untuk menjelaskan fenomena tempo hari.</p>
<p>Populeritas ini mungkin tidak begitu mengherankan. Apalagi, mediumnya adalah perangkat yang dekat dengan keseharian kita&#8211;yang biasa digunakan untuk bergosip bersama kawan, <em>stalking c</em>urhat harian selebritis, atau bermain menanam jagung di <abbr title="FarmVille">sawah virtual</abbr>. Siapa sangka ternyata bisa digunakan untuk menggulingkan diktator besar dari tahtanya?</p>
<p><strong></strong>Konon &#8220;Twitter Revolution&#8221; [baca: revolusi dengan media sosial] ini bukan yang pertama. Dua tahun sebelumnya, <a title="Washington Times" href="http://www.washingtontimes.com/news/2009/jun/16/irans-twitter-revolution/">Iran</a> dan <a title="Foreign Policy" href="http://neteffect.foreignpolicy.com/posts/2009/04/07/moldovas_twitter_revolution">Moldova</a> juga tercatat telah menggelar revolusi serupa. Para demonstran menggalang aksi massa dan mengumpulkan ribuan peserta, kabarnya, dengan kekuatan dari media sosial.</p>
<p>Meskipun kasus Iran dan Moldova tidak berhasil menumbangkan pemerintahan Ahmadinejad maupun partai Komunis Moldova yang <a title="The New York Times" href="http://www.nytimes.com/2009/06/23/world/middleeast/23iran.html">disinyalir mencurangi pemilu</a>, namun aktivisme melalui media sosial-nya itulah yang dikenang sebagai jejak yang luar biasa. Kedengarannya, pergolakan politik abad ke-21 tidak bisa lepas dari tumpuan teknologi informasi.</p>
<p>Dan bila bicara tentang teknologi informasi dan politik, siapa yang bisa lupa dengan kampanye Barack Obama pada 2008? Kampanye yang sampai bisa membuat generasi <a title="TIME" href="http://www.time.com/time/politics/article/0,8599,1700525,00.html">muda apatis politik untuk memilih</a>&#8212;<em>thanks to the internet</em>.</p>
<p>Tapi, justru di sini perkaranya. <img src="https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/twemoji/2/72x72/1f615.png" alt="😕" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
<p><strong>Aktivisme Digital: Di Mana Peran Media Sosial?</strong></p>
<p>Terima kasih pada media massa, Facebook dan Twitter kembali terdengar gaungnya pada revolusi di Timur Tengah-Afrika Utara. Paling tidak ada <a title="New York Times" href="http://www.nytimes.com/2009/01/25/magazine/25bloggers-t.html?pagewanted=all">NY Times</a> dan <a title="Voice of America" href="http://www.voanews.com/learningenglish/home/How-a-Social-Media-Service-Used-by-Stars-Gave-Egyptians-a-Voice-115430564.html">Voice of Americae</a> yang sudah menyoroti bagaimana para aktivis demonstran tidak bisa lepas dari genggaman internet; mulai dari foto yang diunggah, penyebaran video untuk menggalang peserta, hingga <em>page </em>dan <em>group </em>Facebook yang dibentuk.</p>
<p>Salah satu <em>page </em>Facebook yang paling mendapat sorotan adalah &#8220;<a title="Versi Inggris/Internasional-nya. Saya belum berhasil mendapat versi aslinya." href="http://www.facebook.com/elshaheeed.co.uk">We Are All Khaled Said</a>&#8220;&#8211;muncul sebagai reaksi atas kematian Mohammad Khaled Said; pemuda Mesir yang dipukuli sampai mati oleh polisi karena diduga menyimpan video transaksi ilegal polisi. Pembuatnya adalah Wael Ghonim. Aktivitas serupa juga dilakukan oleh Asmaa Mahfouz. Mahfouz merupakan salah satu aktivis yang membuat video blog mendorong masyarakat Mesir untuk berdemonstrasi pada tanggal 25 Januari.</p>
<p>Maka ketika yang laporan bahwa pemerintahan Mesir rupanya <a title="Telegraph" href="http://www.telegraph.co.uk/news/worldnews/africaandindianocean/egypt/8288163/How-Egypt-shut-down-the-internet.html">mematikan jaringan internet</a> ketika protes berlangsung, kesan yang terlihat adalah: internet&#8211;melalui media sosial&#8211;benar-benar mampu menjelma jadi marabahaya besar bagi rezim Mubarak.</p>
<div style="width: 276px" class="wp-caption aligncenter"><img class="  " title="E-G-Y-P-T" src="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/egypt.jpg?w=266&#038;h=270" alt="" width="266" height="270" /><p class="wp-caption-text">Dari IE sampai Twitter; membentuk Mesir</p></div>
<p>Namun media massa tidak membedakan antara &#8220;menyebarkan informasi&#8221; dengan &#8220;mengorganisasi gerakan&#8221; melalui media sosial.</p>
<p><a href="http://www.thenation.com/blog/158159/whos-behind-egypts-revolt">The Nation</a> menarasikan pengalaman masyarakat Mesir dengan internet dari tahun-tahun sebelumnya, dalam kaitannya dengan protes. Sementara <a href="http://www.nytimes.com/2011/02/06/world/middleeast/06face.html?_r=2#h[]">New York Times</a> secara eksplisit menyebutkan Facebook dan YouTube berperan dalam mengorganisasi protes tempo hari.</p>
<p>Padahal, &#8220;mengorganisasi gerakan&#8221; berarti melibatkan hubungan resiprokal antara sesama pengguna media sosial. Misalnya, menyusun kapan gerakan akan dilakukan, mengatur strategi demonstrasi. Kegiatan ini butuh interaksi timbal-balik di antara orang-orang yang berdiskusi&#8211;sifatnya dua arah.</p>
<p>Sementara, &#8220;menyebarkan informasi&#8221; lebih bersifat satu arah. Ada satu narasi yang kemudian disebar ke khalayak luas, tanpa membutuhkan timbal balik. Misalnya, contoh klasik penyebaran informasi adalah ketika kita sedang menonton berita di TV. Satu arah&#8211;kita hanya menerima informasi tapi tidak membalas balik secara langsung.</p>
<p>Terkait media sosial, ada pengalaman menarik yang bisa dipetik dari &#8220;Revolusi Twitter&#8221; Iran dua tahun sebelumnya.</p>
<p>&#8220;Revolusi Twitter&#8221; Iran berhasil diamati oleh khalayak luas dan terungkap dalam liputan media karena maraknya penggunaan <em>hashtag</em>/tagar #iranelection di ranah timeline Twitter. Lebih dari 200 ribu tweet, <a href="http://mashable.com/2009/06/17/iranelection-crisis-numbers/">kalau menurut data dari Mashable</a>. Nampaknya di jalan-jalan di Tehran sana, ribuan orang sedang sibuk membawa panji Revolusi Hijau di tangan kiri, dan genggaman teknologi di tangan kanan. Luar biasa sekali.</p>
<p>Namun tunggu dulu.</p>
<p>Sebentar, sebentar.</p>
<p>Tampaknya ada yang aneh. Ketika ditelusuri, kenapa <em>hashtag </em>#iranelection banyak yang berbahasa Inggris? <img src="https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/twemoji/2/72x72/1f615.png" alt="😕" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> Bukannya lebih mudah kalau berkomunikasi dengan sesama demonstran Iran menggunakan bahasa Farsi?</p>
<p>Rupanya, menurut Sean Aday, dkk, mayoritas pengguna internet Iran tidak menggunakan Twitter. Data dari laporan Sysomos juga menunjukkan, hanya 19.235 akun Twitter Iran yang terdaftar (hanya 0.0295% dari populasi Iran), sementara ada lebih dari 100.000 demonstran di jalanan Tehran di sana! <img src="https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/twemoji/2/72x72/1f62e.png" alt="😮" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
<p>Kalau begitu, siapa yang berkomunikasi dengan <em>hashtag</em> #iranelection?</p>
<p>Adalah akun bernama <a href="twitter.com/oxfordgirl">@oxfordgirl</a>, seorang kelahiran Iran yang tinggal di Inggris, yang mempopulerisasikan <em>hashtag </em>#iranelection. Jelas tidak cukup hanya seorang untuk membuat sebuah <em>hashtag </em>menjadi trending topics. Pengguna Twitter Iran lain juga mencoba mempopulerisasikan&#8211;tapi untuk siapa?</p>
<p>Rupanya, <em>hashtag </em>#iranelection itu bukan untuk berkomunikasi dengan sesama demonstran. Namun, untuk mengabarkan berita <em>Green Revolution </em>Iran kepada seluruh dunia, mengingat gerak media massa di Iran sangat dibatasi oleh Ahmadinejad, sehingga sulit bila harus mengandalkan media massa untuk melaporkan berita demonstrasi terhadap pemerintah. <em>Hashtag </em>#cnnfail yang muncul kemudian, dilihat sebagai<a title="Menurut wawancara dengan Gaurav Mishra" href="http://worldfocus.org/blog/2009/06/18/irans-twitter-revolution-myth-or-reality/5869/"> tanda kekecewaan para demonstran</a> kepada CNN: kenapa CNN tidak berhasil meliput kejadian di Iran ini.</p>
<p>&#8230;</p>
<p><img src="https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/twemoji/2/72x72/1f615.png" alt="😕" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
<p>Lalu bagaimana dengan Mesir?</p>
<p>Mari sedikit melihat data. <img src="https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/twemoji/2/72x72/1f642.png" alt="🙂" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
<div style="width: 410px" class="wp-caption aligncenter"><a href="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/data2.jpg"><img title="data2" src="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/data2.jpg?w=400&#038;h=263" alt="Data pengguna Facebook Mesir" width="400" height="263" /></a><p class="wp-caption-text">Bandingkan dengan Indonesia: 98%!</p></div>
<p>Ini data yang dikompilasi dari <a title="Diakses pada September 2011" href="http://www.unicef.org/egypt/">UNICEF</a>, <a title="Diakses pada September 2011" href="http://www.internetworldstats.com/">Internet World Stats</a>, dan eMarketing Egypt. Data yang diambil berdasarkan data di penghujung Desember 2010.</p>
<p>Facebook, yang disoroti sebagai penggerak demonstran, ternyata hanya memiliki 18.9% pengguna dari total pengguna internet Mesir&#8211;yang berarti hanya 4.7% pengguna Facebook dari total populasi penduduk Mesir.</p>
<p>Dari demonstrasi besar-besaran kemarin, <a title="Al-JAzeera" href="http://english.aljazeera.net/news/middleeast/2011/02/20112113115442982.html">ada</a> <a title="New York Times" href="http://www.nytimes.com/2011/02/02/world/middleeast/02egypt.html?_r=1&amp;hp">beberapa</a> <a title="Associated Press" href="http://old.news.yahoo.com/s/ap/ml_egypt">laporan</a> yang berbeda-beda mengenai berapa sebetulnya jumlah demonstran yang memadati Mesir&#8211;dari pelosok jalanan hingga lapangan Tahrir. Rata-rata melihat demonstrasi kemarin dipadati hingga ratusan ribu hingga jutaan orang.</p>
<p>Kalau dibanding Iran, 3 juta pengguna Facebook tampaknya masih lebih meyakinkan, ya? Tapi tunggu sebentar&#8211;apakah mereka menggunakan Facebook memang untuk mengorganisasi demonstrasi, dengan adanya hubungan timbal-balik?</p>
<div style="width: 410px" class="wp-caption aligncenter"><a href="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/data3.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="999" data-permalink="https://deathlock.wordpress.com/2011/10/03/revolusi-media-sosial-mesir/data3/#main" data-orig-file="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/data3.jpg" data-orig-size="500,303" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="Aktivitas Pengguna Facebook Mesir" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/data3.jpg?w=300" data-large-file="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/data3.jpg?w=500" class="size-full wp-image-999" title="Aktivitas Pengguna Facebook Mesir" src="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/data3.jpg?w=630" alt="Aktivitas Pengguna Facebook Mesir"   srcset="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/data3.jpg?w=400&amp;h=242 400w, https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/data3.jpg?w=150&amp;h=91 150w, https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/data3.jpg?w=300&amp;h=182 300w, https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/data3.jpg 500w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" /></a><p class="wp-caption-text">Lebih banyak mengandalkan traditional media</p></div>
<p>Data ini diambil dari survei selama protes berlangsung (Januari-Maret 2011) Rupanya, 56% pengguna Facebook Mesir tidak berpartisipasi dalam diskusi terkait revolusi, dan 68% bahkan tidak memonitor berita dari Facebook sama sekali. Mereka justru mendapatkan informasi dan berita dari media massa tradisional seperti Al-Jazeera.</p>
<p>Lalu bagaimana kabar dan strategi protes diorganisasi? Tampaknya, <a title="Pengamatan Marc Lynch" href="http://www.marclynch.com/2011/06/20/pop-the-limits-and-promise-of-the-online-challenges-to-the-arab-state/">masjid</a> dan <a title="Laporan Haaretz" href="http://www.haaretz.com/news/international/from-the-mosques-to-the-streets-thousands-protest-in-cairo-elbaradei-joins-demonstrations-1.339792">pertemuan secara langsung</a> masih menjadi cara yang paling efektif. <img src="https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/twemoji/2/72x72/1f615.png" alt="😕" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
<p>&#8230;</p>
<p><img src="https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/twemoji/2/72x72/1f615.png" alt="😕" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
<p>Jadi, mungkinkah media sosial menopang demonstrasi dan revolusi? Jawaban dari Mesir, mungkin revolusi media sosial belum dapat terwujud.</p>
<p>Oke lah&#8211;barangkali bila infrastruktur masih kurang memadai, atau penetrasi internet masih kurang tinggi, seperti kasus di Mesir 2011 atau Iran 2009, agaknya sulit untuk mengandalkan media sosial sebagai pendorong protes. Lagipula, esensi dari demonstrasi justru terletak di proses komunikasinya.</p>
<p>Tapi bagaimana dengan negara yang memiliki basis pengguna internet yang kuat; seperti, Cina, misalnya?</p>
<p><strong>Tentang Demonstrasi, Media Sosial, dan <em>Strong-Tie</em></strong></p>
<p>Salah satu contoh klasik yang sering diungkit dalam menyoroti keberhasilan media sosial dalam perubahan politik barangkali adalah keberhasilan kampanye Barack Obama pada tahun 2008. Bayangkan, kampanye yang berbasiskan pada internet itu mampu membuat generasi muda Amerika Serikat yang apatis politik selama bertahun-tahun untuk mengikuti pemilu presiden pada tahun itu. Contoh klasik lain adalah penggalangan dana pada kasus gempa Haiti di tahun 2010.</p>
<p>Dua keberhasilan cerita aktivisme media sosial itu kemudian sering dikait-kaitkan dengan cerita revolusi. Dalam konteks ini, cerita Revolusi Mesir 2011. Tapi, ada beberapa permasalahan kenapa contoh tersebut sangat tidak relevan dengan kondisi Mesir pada 2011.</p>
<p>Yang harus dicatat: kampanye Obama dan penggalan dana Haiti <em>bukanlah sebuah protes politik/demonstrasi</em>.</p>
<p>Adalah Clay Shirky <a title="Artikel di Foreign Affairs" href="http://www.foreignaffairs.com/articles/67038/clay-shirky/the-political-power-of-social-media">yang mengamati</a> bahwa media sosial mampu membangun <em>civil society </em>yang kuat dengan adanya komunikasi yang intens di antara penggunanya. Menurut Shirky, media sosial bukanlah pengganti gerakan di dunia nyata, tapi adalah cara untuk mengoordinasi gerakan di dunia nyata. Pernyataan Shirky ada benarnya, namun pengaplikasian media sosial untuk &#8220;mengoordinasi gerakan&#8221; ini yang kemudian punya penerapan yang berbeda-beda.</p>
<p>Koordinasi pada kampanye Obama dan penggalangan dana Haiti bisa cukup berhasil melalui media sosial karena mereka bukanlah sebuah demonstrasi. Mengapa demonstrasi tidak bisa mengandalkan koordinasi melalui media sosial adalah karena satu hal <a title="Artikel di The New Yorker" href="http://newyorker.com/reporting/2010/10/04/101004fa_fact_gladwell">yang disoroti oleh Malcolm Gladwell</a>: demonstrasi adalah aktivisme dengan tingkat resiko tinggi. Dan aktivisme dengan tingkat resiko tinggi membutuhkan ikatan yang kuat di antara pesertanya.</p>
<p>Tidak seperti penggalangan dana atau berpartisipasi dalam pemilu di negara yang demokratis, demonstrasi di rezim otoriter seperti Mesir&#8211;atau Cina&#8211;punya resiko yang lebih tinggi: resiko kehilangan nyawa.</p>
<div data-shortcode="caption" id="attachment_1002" style="width: 430px" class="wp-caption aligncenter"><a href="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/egypt1.jpg"><img aria-describedby="caption-attachment-1002" loading="lazy" data-attachment-id="1002" data-permalink="https://deathlock.wordpress.com/2011/10/03/revolusi-media-sosial-mesir/egypt-2/#main" data-orig-file="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/egypt1.jpg" data-orig-size="500,180" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="Kontras" data-image-description="" data-image-caption="&lt;p&gt;Dua hal yang sangat berbeda, bukan?&lt;/p&gt;
" data-medium-file="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/egypt1.jpg?w=300" data-large-file="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/egypt1.jpg?w=500" class="size-full wp-image-1002  " title="Kontras" src="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/egypt1.jpg?w=630" alt="Kontras?"   srcset="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/egypt1.jpg?w=420&amp;h=151 420w, https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/egypt1.jpg?w=150&amp;h=54 150w, https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/egypt1.jpg?w=300&amp;h=108 300w, https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/egypt1.jpg 500w" sizes="(max-width: 420px) 100vw, 420px" /></a><p id="caption-attachment-1002" class="wp-caption-text">Dua hal yang sangat berbeda, bukan?</p></div>
<p>Menurut Malcolm Gladwell, menggalang peserta protes melalui media sosial <em>from the ground up </em>tidak akan cukup. Faktor terbesarnya adalah karena tidak adanya ikatan yang kuat (<em>strong-tie</em>) di antara satu pengguna media sosial dengan pengguna yang lainnya. Karena pengguna media sosial, dalam bahasa Wael Ghonim yang tampak semangat dengan ide Revolusi 2.0-nya, tidak benar-benar saling mengenal. Dalam artian Gladwell, ikatan di media sosial&#8211;di internet&#8211;adalah ikatan yang lemah, dan tidak cukup untuk membuat sebuah demonstrasi.</p>
<p>Faktor yang membuat ikatan di internet tergolong <em>weak-tie </em>menurut Gladwell adalah karena tidak adanya interaksi secara fisik. Dalam artian, individu yang dikenal melalui internet tidak hidup di rumah yang sama, tidak tinggal di kamar asrama yang sama, tidak sekolah di tempat yang sama, dst.&#8211;tidak seperti individu dengan <em>strong-tie </em>seperti anggota keluarga atau sahabat kampus. Jadi teman sekolah yang aktif di internet tidak terhitung dalam kasus ini.</p>
<p>Gladwell mengilustrasikannya dengan mengangkat demonstrasi di Greensboro, North Carolina, pada tahun 1960-an. Demonstrasi yang berawal dari <em>sit-in </em>empat sahabat berkulit hitam yang tinggal di satu asrama yang sama, berkembang menjadi protes besar-besaran terhadap diskriminasi terhadap masyarakat kulit hitam. Ketika ditelusuri, setiap peserta demonstrasi tersebut ternyata punya ikatan kuat antara satu dengan yang lainnya&#8211;ada yang punya sahabat yang ikut demonstrasi, lalu sahabat tersebut mengajak anggota keluarganya, lalu anggota keluarganya itu mengajak temannya lagi, dan seterusnya.</p>
<p>Jadi, dalam hipotesis Gladwell, bila misalnya saya mengajak follower Twitter saya&#8211;yang hanya dikenal melalui internet dan tidak pernah bertemu&#8211;untuk berdemonstrasi menentang rezim otoriter, maka kemungkinan besar tidak akan berhasil. Karena, <em>weak-tie</em>.</p>
<p>Gladwell memang menyoroti bahwa <em>weak-tie </em>dalam internet punya keunggulannya tersendiri. Misalnya, mengambil contoh dari studi Mark Granovetter, <em>weak-tie </em>bisa dipakai dalam mencari pekerjaan. Gladwell juga mencontohkan bahwa <em>weak-tie </em>dalam internet juga bisa mendorong individu untuk menyumbangkan sumsum tulang. <em>Weak-tie </em>unggul dalam narasi informasi. Maka apabila <a title="Tentang Media Sosial dan Revolusi" href="http://yuswohady.blogdetik.com/2011/02/05/media-sosial-dan-revolusi-horizontal-mesir/">pak Yuswo Hady menyoroti faktor E = wMC2</a>, nampaknya itu hanya berhasil sebagai penyebar informasi saja, namun tidak serta-merta membuat individu mau turun ke jalan.</p>
<div style="width: 393px" class="wp-caption aligncenter"><img class=" " title="To do or to tweet..." src="https://mthruf.files.wordpress.com/2011/01/job-fails-slacktivism-look-it-up.jpg?w=383&#038;h=227" alt="To do or to tweet..." width="383" height="227" /><p class="wp-caption-text">To do or to tweet...</p></div>
<p>Hipotesis Gladwell didukung oleh penelitian dari Gilbert dan Kalaharios (2009) dan Marsden dan Campbell (1984). Bahwasanya, dalam salah satu indikator penentu kedekatan ikatan (menentukan <em>weak-tie </em>atau <em>strong-tie</em>), faktor bertemu secara langsung, atau kedekatan secara fisik, memang menjadi salah satu variabel penentu.</p>
<p>Hipotesis Gladwell juga didukung oleh teori <em>rational choice </em>dalam protes politik yang digagas Karl-Dieter Opp.</p>
<p>Menurut Opp, sewajarnya seorang individu tidak akan mengikuti demonstrasi karena adanya <em>free-rider dilemma</em>: &#8220;apabila saya bisa mengambil keuntungan dari hasil demonstrasi, kenapa saya harus ikut?&#8221; Dalam pandangan tradisional, dilemma ini bisa dijawab melalui adanya insentif; bila ada imbalan yang lebih besar dari pengorbanan yang harus dilakukan, maka individu akan tetap berpartisipasi. Misalnya, uang atau insuransi jiwa.</p>
<p>Opp mengembangkan gagasan ini dengan juga memasukkan faktor yang lebih abstrak: yaitu jaringan pertemanan. Seorang individu akan ikut berpartisipasi dalam sebuah demonstrasi bila ada temannya&#8211;seorang dengan ikatan yang kuat (<em>strong-tie</em>)&#8211;yang juga ikut berpartisipasi. Dalam perspektif ini, sebuah <em>high-risk activism </em>bisa dipandang menjadi lebih rendah karena adanya keterlibatan seseorang dengan <em>strong-tie</em>.</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Akhirnya tulisan ini selesai juga ya? Saya juga tidak menduga ternyata pada akhirnya tetap jadi cukup panjang. <img src="https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/twemoji/2/72x72/1f61b.png" alt="😛" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
<p>Media sosial sejauh ini menunjukkan, bahwa prosesnya masih terbatas sebagai sarana narasi informasi. Gagasan Gladwell tentang lemahnya media sosial dalam membentuk demonstrasi barangkali bisa dimaknai sebagai pengingat bahwa sebuah aksi massa tidak akan terbentuk tanpa adanya tindakan nyata secara <em>offline</em>&#8211;suatu hal yang selalu diwanti-wanti oleh <a title="Zenosphere" href="http://zenosphere.wordpress.com">mas So Hakim</a> akan kelemahan media sosial: bisa membawa &#8220;aktivis internet&#8221; terjerembab dalam jurang <em>slacktivism, </em>di mana aktivisme dimaknai hanya dari jempol &#8220;like&#8221; Facebook atau &#8220;retweet&#8221; Twitter.</p>
<p>Besarnya akses terhadap informasi tidak melulu akan menopang kemungkinan dilancarkannya aksi kolektif bila tidak memiliki pondasi yang kuat. Bagaimana pun, sejarah gerakan sosial dalam satu abad terakhir masih membutuhkan jaringan dan ikatan sosial yang kuat di antara pesertanya. Di Mesir pun, jalur tradisional seperti ceramah pasca-sholat Jum&#8217;at justru lebih efektif.</p>
<p>Saya bukannya mau bilang media sosial tidak ada gunanya sama sekali&#8211;bukan begitu. Toh kita sudah melihat efektivitasnya pada kampanye Obama, pada Koin untuk Prita, pada penggalangan dana Haiti&#8211;apabila memang ada kombinasi yang efektif antara informasi dan gerakan sungguhan.</p>
<p>Narasi informasi yang tersebar dari media sosial <em>mungkin </em>bisa mendorong terciptanya demonstrasi; namun untuk mengorganisasi <em>unknown people </em>dengan gaya Wikipedia seperti yang dibilang Wael Ghonim? Mungkin belum.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><em>Versi lengkap tulisan ini dimuat dalam seminar </em>&#8220;International Conference on Social Media Cultures 2011&#8221;, <em>dengan judul </em>&#8220;Reconsidering Social Media Activism: Organizing Movements or Speading Ideas?&#8221;</p>
<p><em><strong>Gambar dari: </strong></em><em><a href="http://www.ritholtz.com/blog/2011/01/twitter-revolution/">The Big Picture</a></em><em>, akun Twitter <a href="twicsy.com/i/4guqx">@LatefaaM</a>, situs <a href="http://ahok.org/laporan-kerja/baleg/rdpu-baleg-terkait-dengan-ruu-perubahan-uu-pemilu/">Basuki T. Purnama</a>, <a href="http://onemansblog.com/2011/02/03/a-first-hand-account-of-the-egyptian-revolution/">One Man&#8217;s Blog</a>, <a href="http://greeneggsandfish.wordpress.com/2011/03/20/2-2-4-not-5/">Green Eggs and Fish</a>, dan data olahan sendiri dalam seminar ICMSCM.</em></p>
<p><strong>Referensi (non-internet):</strong></p>
<p>Aday, Sean; Farrell, Henry; Lynch, Marc; Sides, John; Kelly, John; and Zuckerman,Ethan. “Blogs and Bullets: New Media in Contentious Politics”, in US Institute of Peace (2010).</p>
<p>eMarketing Egypt, &#8220;Facebook in Egypt&#8221;, in Online Competitive Intelligence Report, 2ndEdition (August, 2011).</p>
<p>Gilbert, Eric, and Karahalios, Karrie. “Predicting Tie Strength With Social Media”, inCHI 2009 (April 2009).</p>
<p>Lohmann, Susanne. “Why Did East Germans Rebel?” in The Independent Review, Vol.II, No. 2 (Fall 1997).</p>
<p>Lynch, Marc. “After Egypt: The Limits and Promise of Online Challenges to the Authoritarian Arab State”, in Perspectives on Politics, Vol.9, No.2 (June 2011).</p>
<p>Marsden, Peter V., and Campbell, Karen E. “Measuring Tie Strength” in Social Forces(1984).</p>
<p>Opp, Karl-Dieter. Theories of Political Protest and Social Movements (Hachette: Little,Brown, 1966).</p>
<p>Opp, Karl-Dieter. “Collective Political Action”, in Analyse &amp; Kritik (2001).</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://deathlock.wordpress.com/2011/10/03/revolusi-media-sosial-mesir/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>12</slash:comments>
		
		
		
		<media:content url="https://0.gravatar.com/avatar/3db057c473b91a6c4360c367a9d83a096bed45dcbe4d0d48ed05d3a1aac69c59?s=96&#38;d=https%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Xaliber von Reginhild</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/twitter1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">twitter1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/egypt.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">E-G-Y-P-T</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/data2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">data2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/data3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Aktivitas Pengguna Facebook Mesir</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/10/egypt1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Kontras</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://mthruf.files.wordpress.com/2011/01/job-fails-slacktivism-look-it-up.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">To do or to tweet...</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Balada [Mencoba] Blogging Kembali</title>
		<link>https://deathlock.wordpress.com/2011/05/27/balada-mencoba-blogging-kembali/</link>
					<comments>https://deathlock.wordpress.com/2011/05/27/balada-mencoba-blogging-kembali/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Pradipa PR (@xaliber)]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 27 May 2011 09:30:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Update & Notifs]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://deathlock.wordpress.com/?p=873</guid>

					<description><![CDATA[Jadi, ceritanya, beberapa waktu lalu saya sudah menulis materi baru lagi di blog. Sebelumnya saya absen selama hampir setahun penuh. Adapun berkunjung ke blog ini cuma untuk membalas komentar-komentar lucu yang marah-marah (misalnya soal satire PKS atau jenggot teori Darwin). Itu pun angin-anginan. Kebanyakan waktu saya di internet cuma dihabiskan di situs microblogging macam Plurk [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Jadi, ceritanya, beberapa waktu lalu saya sudah <a title="Osama and friends" href="https://deathlock.wordpress.com/2011/05/18/al-qaeda-osama-bin-laden-dan-riwayat-singkatnya/">menulis materi baru lagi di blog</a>. Sebelumnya saya absen selama hampir setahun penuh. Adapun berkunjung ke blog ini cuma untuk membalas komentar-komentar lucu yang marah-marah (misalnya soal <a href="https://deathlock.wordpress.com/2009/02/07/partai-kebangkitan-sionisme/">satire PKS</a> atau <del>jenggot</del> <a href="https://deathlock.wordpress.com/2007/07/02/teori-darwin-dan-nabi-adam/">teori Darwin</a>). Itu pun angin-anginan. Kebanyakan waktu saya di internet cuma dihabiskan di situs <em>microblogging </em>macam Plurk dan Twitter.</p>
<p>Februari kemarin sempat coba menulis lagi, tapi gagal di tengah jalan. Cuma satu entri dihasilkan (sebenarnya dua, dengan <a title="ACHTUNG!" href="https://deathlock.wordpress.com/2011/02/15/disclaimer/">satu disclaimer</a>); blogwalking pun tiada dijalankan. Padahal tidak afdhol itu blogging kalau tidak blogwalking; ibaratnya cuma meracau di kamar sendiri saja.</p>
<p>Pasalnya, [mencoba] blogging lagi setelah vakum berbulan-bulan itu ternyata, bagi saya, memang sulit. Terutama karena saya melanjutkan blog lama.</p>
<p><span id="more-873"></span><br />
.</p>
<p><strong>Kategorisasi yang Ngawur</strong></p>
<p>Ini kesulitan pertama saya. Sebelum mulai menulis, saya mesti mengira-ngira dulu, kira-kira ini tulisannya cocok masuk di kategori mana. Jadilah, karena lama tak membuka ini blog, saya cek dulu satu per satu kategori yang ada. Melalui entri-entri lama yang sudah karatan.</p>
<p>Eh walhasil, ditemukan ternyata saya dulu itu ngawur mengategorikan entrinya. Masa <a href="https://deathlock.wordpress.com/2007/12/15/kecewa/">tulisan curhat</a> <del>yang sebetulnya ditujukan ke &#8216;seseorang&#8217;</del> saja masuk kategori &#8220;sosial&#8221;? Kalau dikilas balik, nampaknya ini gara-gara saya sendiri, yang asal-cantum kategori berdasarkan <em>mood</em>. Berbau &#8220;sosial&#8221; dikit, contreng. Berbau budaya dikit, contreng. Akhirnya jadi amburadul.</p>
<p>Maka dari itulah saya jadi menghabiskan waktu menyortir ulang entri-entri yang kategorinya berantakan ini, plus <em>renaming</em> supaya sesuai konteks. Lucunya, seperti yang sempat dibilang <a href="http://sora9n.wordpress.com">mas sora</a>, rupanya sebagian besar entri yang dulu saya tulis masuk ke kategori <a href="https://deathlock.wordpress.com/category/person-al/"><em>Ramblings </em>(sekarang <em>Person-al</em>)</a>. <img src="https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/twemoji/2/72x72/1f606.png" alt="😆" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> Tak heran kalau akhirnya saya jadi kehabisan materi buat blogging, wong sebagian besar sudah terpuaskan di racauan <em>microblog</em>.</p>
<p>Bahkan, jujur saja, tadinya tulisan ini cuma mau saya jadikan racauan di Plurk. <img src="https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/twemoji/2/72x72/1f61b.png" alt="😛" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
<p>.</p>
<p><strong>Cara Tulis a la <em>Microblog</em></strong></p>
<p>Entah, mungkin karena memang terlalu lama berkutat di dunia itu&#8211;<em>microblog&#8211;</em>tanpa mengimbangi dengan kebiasaan menulis panjang (kecuali makalah dan <em>paper </em>untuk tugas, serta esai-esai lain, yang, anehnya, justru bisa saya tulis dengan lancar). Akhirnya, ketika mesti menulis &#8220;normal&#8221; lagi untuk blog, saya justru kagok.</p>
<p>Begitu membuka <em>microblog </em>seperti Plurk, misalnya, yang saya pikirkan adalah bagaimana menyampaikan pesan yang panjang dalam bahasa yang singkat dan mudah dimengerti. Gara-gara masalah pembatasan karakter/jumlah huruf (sekitar 140 karakter, maksimal), yang saya usahakan adalah memotong kata-kata yang tidak perlu, supaya ringkas. Kalau ternyata setelah dipotong masih tembus juga, terpaksa memotong spasi dan membuat singkatan-singkatan.</p>
<p>Dan kalau ternyata masih tembus juga, apa boleh buat: #kultwit (kuliah twitter) atau kulplurk (kuliah plurk). Maksudnya ini adalah posting secara berantai, ibarat dosen memberi kuliah. Kultwit ini juga diusahakan untuk ditulis sesingkat-singkatnya. Dan akhirnya jadi terbawa-bawa kalau mau <em>blogging</em>. Seakan kehilangan kalimat-kalimat penjelas&#8211;terpaku pada kalimat inti saja.</p>
<p>Yang saya herankan, kalau tugas kuliah, atau esai-esai lain, atau <em>roleplaying </em>di forum roleplay (macam <a title="Komunitas BLEACH Indonesia: Roleplay section" href="http://bleachindonesia.com/forum/index.php?c=5">Gotei 13</a>), cara menulis saya lancar-lancar saja. <img src="https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/twemoji/2/72x72/1f615.png" alt="😕" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
<p>.</p>
<p><strong>Zaman Berubah: Cara Pandang Saya Juga Berubah, Tapi Blog&#8230;?</strong></p>
<p>&#8230;tapi blog menetap. Tulisan-tulisan zaman purba masih tersimpan.</p>
<p>Ini dia masalah besarnya: saya melanjutkan blog lama yang masih dinistai pemikiran-pemikiran kacangan zaman SMA. <img src="https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/twemoji/2/72x72/1f606.png" alt="😆" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> Kalau dibaca-baca lagi cuma bisa mencoreng wajah dengan arang. Parahnya itu, kalau masih ada orang yang mengungkit-ungkit tulisan yang sudah saya anggap basi, atau saya anggap sudah tak sesuai dengan pemahaman saya yang sekarang.</p>
<p>Memang, sebetulnya solusinya mudah saja: pindah blog. Ini yang dilakukan beberapa Peleton 2007, seperti <a title="Banalitas.ORG" href="http://banalitas.org">Kopral Geddoe</a> dan <a title="Zenosphere" href="http://zenosphere.wordpress.com">mas sora</a>. Atau mengkhususkan blog sesuai temanya, seperti Lemon S. Sile (di <a title="Catatatan - Bahasa Indonesia" href="http://catatatan.wordpress.com/">[sini]</a> dan di <a title="elNotion - Bahasa Inggris" href="http://elnotion.wordpress.com/">[sini]</a>). Tampilan baru, imej baru.</p>
<p>Tapi, itu juga sama sulitnya. Saya tak bisa itu meninggalkan blog yang bertahun-tahun dihidupi. Ibarat kekasih: sekali terpaut, terikatlah sudah. Saya pun juga tak sudi menghapus entri-entrinya.</p>
<p>Sebetulnya bisa saja dilindungi kata sandi, tapi akan repot kalau mau dilihat-lihat kembali (mungkin untuk alasan nostalgia, atau <a href="http://www.plurk.com/p/21sex8/I-dont-want-to-keep-my-thoughts-to-myself-because-I-would-lost-so">mencari bahan lawakan</a>). <del>Lagipula tidak bagus untuk alasan SEO</del>. Terpikir juga untuk memasang pengumuman besar-besar soal disclaimer di tiap entri (bahwa entri ini sudah tidak relevan), tapi jelas bakal jauh lebih repot ketimbang sekedar mengurus kategori saja. Kalau ada fitur di WordPress.com (gratisan) untuk memasang yang seperti itu sih, bisa sangat membantu.</p>
<p>.</p>
<p>&#8230;</p>
<p><strong>Akhir Kata</strong></p>
<p>Yaa, memang ada tantangan-tantangan untuk memulai blog ini kembali. Tapi dari yang sudah-sudah, bagi saya paling sulit itu memang untuk memulai awalnya. Nanti kalau sudah enak ya asik sendiri. Walaupun, memang, jujur saja, saya agak buta dengan <em>blogosphere </em>sekarang, mengingat kebanyakan tampaknya sudah terakumulasi di Twitter&#8211;dengan beragam #kultwit-nya (termasuk saya, <em>guilty as charged </em><img src="https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/twemoji/2/72x72/1f61b.png" alt="😛" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> ).</p>
<p>Barangkali entri ini bakal jadi entri berkategori <em>Person-al </em>terakhir saya. Untuk selanjut-selanjutnya, mungkin perlu diupayakan bagi tulisan-tulisan yang lebih berisi. Yaa, kalau pun ada yang personal, yang agak berkualitas dikit lah. Racauan-racauan pribadi, curhat-curhat galau, barangkali ada baiknya kalau disimpan di media sosial yang lain saja (dan lebih bagus kalau curhat sama pacar <img src="https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/twemoji/2/72x72/1f615.png" alt="😕" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> <em>*halah*</em> ).</p>
<p>.</p>
<p>Demikian. Selamat berakhir bulan.</p>
<p><del>Semoga ini tidak sekedar jadi &#8220;cita-cita mulia&#8221; saya, karena <a href="https://deathlock.wordpress.com/2009/10/03/ploork/">dari yang</a> <a href="https://deathlock.wordpress.com/2009/06/15/quo-vadis/">sudah</a>&#8211;<a href="https://deathlock.wordpress.com/2008/12/24/saya-belum-mati/">sudah</a>, selalu begitu :ninja: </del></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://deathlock.wordpress.com/2011/05/27/balada-mencoba-blogging-kembali/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>8</slash:comments>
		
		
		
		<media:content url="https://0.gravatar.com/avatar/3db057c473b91a6c4360c367a9d83a096bed45dcbe4d0d48ed05d3a1aac69c59?s=96&#38;d=https%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Xaliber von Reginhild</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Al-Qaeda, Osama bin Laden, dan Riwayat Singkatnya</title>
		<link>https://deathlock.wordpress.com/2011/05/18/al-qaeda-osama-bin-laden-dan-riwayat-singkatnya/</link>
					<comments>https://deathlock.wordpress.com/2011/05/18/al-qaeda-osama-bin-laden-dan-riwayat-singkatnya/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Pradipa PR (@xaliber)]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 May 2011 16:30:59 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Defense and Security]]></category>
		<category><![CDATA[History]]></category>
		<category><![CDATA[al-Qaeda]]></category>
		<category><![CDATA[Ayman al-Zawahiri]]></category>
		<category><![CDATA[keamanan]]></category>
		<category><![CDATA[Osama bin Laden]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[terorisme]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://deathlock.wordpress.com/?p=854</guid>

					<description><![CDATA[&#8220;Kover majalah TIME bulan Mei 2011&#8221; Hari Senin, awal Mei kemarin, Osama bin Laden diumumkan tewas. Seperti tokoh-tokoh lain yang punya nama besar, kematian bin Laden juga memunculkan dua kutub reaksi: antara yang percaya dan yang tidak. Di ranah Twitter, akun-akun seperti @benny_israel (yang gemar berkonspirasi) langsung menyusun bantahan-bantahan kematian bin Laden; dan saya kira [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter" src="https://i0.wp.com/www.radaronline.com/sites/radaronline.com/files/imagecache/350width/OSAMA-TIME-COVER.jpg" alt="" width="196" height="261" /><em>&#8220;Kover majalah TIME bulan Mei 2011&#8221;</em></p>
<p>Hari Senin, awal Mei kemarin, <a href="http://www.cbsnews.com/stories/2011/05/01/national/main20058777.shtml">Osama bin Laden diumumkan tewas</a>. Seperti tokoh-tokoh lain yang punya nama besar, kematian bin Laden juga memunculkan dua kutub reaksi: antara yang percaya dan yang tidak. Di ranah Twitter, akun-akun seperti <a href="mobile.twitter.com/benny_israel">@benny_israel</a> (yang gemar berkonspirasi) langsung menyusun bantahan-bantahan kematian bin Laden; dan saya kira cukup beralasan kalau muncul sejumlah kecurigaan atas kematian bin Laden (walau saya tidak sepakat dengan argumen-argumennya).</p>
<p>Kontroversi dan berbagai praduga seputar kematian bin Laden bukan yang ingin saya bahas kali ini; sebaliknya, saya kira justru lebih relevan kalau <a title="Seperti yang 4 tahun lalu pernah saya lakukan dengan Jerman Nazi." href="https://deathlock.wordpress.com/2007/12/16/anggapan-keliru-mengenai-jerman-nazi/">memperjelas</a> dan mengenal siapakah sebetulnya si Osama bin Laden ini.</p>
<p>Sebelum pengumuman tentang kematiannya, sering ada orang-orang yang menampik sosok bin Laden sebagai &#8220;buatan Amerika Serikat&#8221;; tapi dalam riwayat perjalanannya, bin Laden berinteraksi dengan berbagai orang, dari kerabat sampai wartawan. &#8216;Kan tidak mungkin orang-orang itu berhalusinasi sedang berinteraksi dengan bayangan imajiner bin Laden?</p>
<p>Jadi, mengikuti slogan khas lembaga dakwah, &#8220;tak kenal maka ta&#8217;aruf&#8221;, mari telusuri dulu perjalanan hidup si <em>America&#8217;s Public Enemy #1</em> ini.</p>
<p><span id="more-854"></span></p>
<p>.</p>
<p><strong>Osama bin Laden: Dari Mana Dia Berasal</strong></p>
<p>Ayah Osama bin Laden, Muhammad bin Laden, adalah usahawan kaya dari bin Laden Group di Arab Saudi. Mulai berusaha pada tahun 1930, sejak usahanya dikenal oleh kalangan keluarga kerajaan Saud, bin Laden Group menjadi salah satu grup usaha sangat kaya dan sangat dekat dengan keluarga kerajaan Saudi.</p>
<p>Proyek bin Laden Group yang terkenal adalah proyek konstruksi di Arab Saudi pada tahun 1960-an&#8211;termasuk konstruksi pembangunan masjid. Kalau akrab dengan nama Masjidil Aqsha yang ada di Yerusalem&#8211;yang beberapa waktu lalu sempat diributkan karena kasus Israel&#8211;proyek rekonstruksi Masjidil Aqsha ini juga merupakan tanggung jawab bin Laden Group sampai tahun 1967, atas perintah Raja Saud.</p>
<p>Nah, Osama bin Laden adalah anak kesekian (kabarnya anak ke-17) dari Muhammad bin Laden. Sebagai anak dari usahawan kaya, Osama juga ditargetkan untuk meneruskan usaha ayahnya ini dengan menempuh pendidikan ekonomi. Setelah beranjak dewasa, Osama kuliah di King Abdul Aziz University, jurusan Ekonomi dan Manajemen. Ada beberapa sumber lain yang mengatakan kalau Osama kuliah di jurusan Teknik, tapi yang paling kuat nampaknya yang di jurusan Ekonomi (terutama karena ini didapatkan dari wawancara langsung dengan kerabat Osama).</p>
<p>Meskipun besar di lingkungan Wahhabi (ayah Osama adalah Wahhabist tulen, istrinya juga banyak <img src="https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/twemoji/2/72x72/1f61b.png" alt="😛" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> ) dan memang dididik di lingkungan sedemikian, tapi bukan itu penyebab sikap radikal Osama. Wahhabisme yang sering disebut sebagai penyebab radikalisme Osama, justru tidak begitu signifikan ketimbang apa yang ia dapat ketika kuliah di King Abdulaziz University.</p>
<p>Di King Abdulaziz University, Osama mengenal Muhammad Qutb, saudara dari Sayyid Qutb&#8211;seorang pemikir Islam radikal. Dari Muhammad Qutb, bin Laden mengenal pemikiran-pemikiran Sayyid Qutb melalui ceramah-ceramahnya. Bin Laden biasa ditemani Jamal Khalifa, teman kuliahnya di King Abdulaziz University. Menurut Jamal Khalifa, mereka&#8211;bersama pemuda lain&#8211;rutin mendatangi ceramah Muhammad Qutb tiap minggunya. Pemikiran Qutb yang mereka terima ini begitu populer, hingga disebut Khalifa sebagai &#8220;yang paling berpengaruh bagi generasi kami.&#8221;</p>
<p>Salah satu ide dari ceramah Qutb yang paling signifikan adalah ide tentang perlunya sebuah <em>Islamic vanguard </em>(<em>tali&#8217;a</em>). <em>Tali&#8217;a </em>ini merupakan suatu wadah, wujud dari aspirasi Muslim untuk melawan kondisi dunia yang ada dalam keadaan <em>jahiliyah </em>(dalam artian, jahiliyah seperti pada masa Muhammad dulu). Melalui <em>tali&#8217;a</em>, kekerasan diperbolehkan. Konsep <em>tali&#8217;a </em>ini bukan ide orisinil Qutb, karena akarnya sudah ada pada pemikir Islam yang jauh lebih kuno, Ibn Taimiyyah. Ide konkretnya sendiri kadang dikaitkan dengan ide <a title="Political vanguard" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Vanguard_party"><em>political vanguard </em>a l a Karl Marx</a>, yang berkembangnya memang sezaman dengan zaman Sayyid Qutb (awal abad ke-20).</p>
<p style="text-align:center;"><a href="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/marxladen2.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="859" data-permalink="https://deathlock.wordpress.com/2011/05/18/al-qaeda-osama-bin-laden-dan-riwayat-singkatnya/marxladen2/#main" data-orig-file="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/marxladen2.jpg" data-orig-size="414,204" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="marxladen2" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/marxladen2.jpg?w=300" data-large-file="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/marxladen2.jpg?w=414" class="aligncenter size-medium wp-image-859" title="marxladen2" src="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/marxladen2.jpg?w=300&#038;h=147" alt="bin Laden - Marx" width="300" height="147" srcset="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/marxladen2.jpg?w=300 300w, https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/marxladen2.jpg?w=150 150w, https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/marxladen2.jpg 414w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></a><em>&#8220;Yaa&#8230; Memang sama-sama jenggotan sih&#8230;&#8221;</em></p>
<p>Nah, tapi ini baru awal.</p>
<p>Titik nadir radikalisasi bin Laden ada pada ketika Perang Afghanistan tahun 1980-an. Memang perang ini sering dirujuk sebagai masa penting dalam radikalisasi teroris&#8211;<a title="Paragraf paling bawah" href="http://www.foxnews.com/world/2011/04/22/mosque-attack-shows-changes-indonesia-terrorism/">termasuk di Indonesia</a>, yang membekali calon-calon terorisnya dengan kemampuan merakit bom&#8211;tapi bagi bin Laden, perang ini lebih dari sekedar belajar membuat bom atau mengalami &#8220;perjuangan umat Islam&#8221; dengan mata kepala sendiri.</p>
<p>Di Perang Afghanistan, bin Laden berkembang bersama dua sosok penting; yang mengajarkannya&#8211;dan melatihnya&#8211;praktek tentang <em>jihad</em>: Abdullah Azzam dan Ayman al-Zawahiri. Nama yang kedua yang belakangan ini sering disebut sebagai pengganti bin Laden dan &#8220;tangan kanan&#8221;nya.</p>
<p>Osama bin Laden turun ke medan perang sebagai <a title="Bukan mujahidin dalam artian luas." href="http://en.wikipedia.org/wiki/Mujahideen#Afghan_civil_war">kelompok mujahidin</a> bersama Abdullah Azzam. Azzam sendiri sempat dikenal bin Laden ketika kuliah di King Abdulaziz University, sebagai salah satu pengajar. Selama di medan tempur, Azzam menjadi sosok mentor bagi bin Laden. Azzam tak hanya mengajarkan kemampuan dan teknik tempur (dan hal-hal operasional lain seperti bom dan persenjataan), tapi juga menyumbang landasan pemikiran bagi bin Laden.</p>
<p>Menurut Azzam, jihad harus dilakukan ketika nasib umat Islam dipertaruhkan oleh adanya serangan dari non-Muslim&#8211;dalam bahasa Azzam, dari bangsa kafir. Dalam konteks Perang Afghanistan, umat Islam dianggap sedang berada dalam serangan kafir. Ide ini diterima dengan baik oleh bin Laden, tapi, setelah usainya Perang Afghanitan, bin Laden bersimpang jalan dengan Azzam.</p>
<p>Satu ciri penting yang membedakan Azzam dengan bin Laden adalah posisi Azzam yang memandang jihad sebagai suatu sikap yang defensif. Meski sama-sama terinspirasi oleh pemikiran Sayyid Qutb&#8211;Azzam sendiri membangun beberapa gerakan militan Islam&#8211;namun Azzam mensyaratkan adanya posisi bertahan. Azzam menolak dialog dengan para &#8220;kafir&#8221; (dalam bahasanya); Azzam hanya mengenal jihad. Namun posisinya jelas: jangan menyerang bila tidak diserang duluan. Posisi Azzam ini diistilahkan sebagai <em>defensive jihad</em>.</p>
<p>Jadi pada tahun 1988, bin Laden berpisah jalan dengan Abdullah Azzam. Ia dirangkul oleh Ayman al-Zawahiri, yang ia kenal ketika Perang Afghanistan dulu. Di bawah bimbingan al-Zawahiri inilah, bin Laden menjadi benar-benar radikal. Dalam bahasa Muntasir al-Zayyat, pengacara yang pernah dipenjara bersama al-Zawahiri, &#8220;Osama berubah dari seorang mujahid menjadi seorang teroris.&#8221;</p>
<p style="text-align:center;"><img class="aligncenter" title="al-Zawahiri" src="https://i0.wp.com/www.foxnews.com/images/297106/0_61_zawahri_ayman.jpg" alt="" width="256" height="192" /><em>&#8220;Ayman al-Zawahiri:<br />
&#8216;Harry Potter&#8217; yang &#8216;menyihir&#8217; bin Laden&#8221;</em></p>
<p>.</p>
<p><strong>Osama bin Laden, Ayman al-Zawahiri, dan Al-Qaeda</strong></p>
<p>Pada 1987, Soviet mulai menarik mundur pasukannya dari Afghanistan. Tanda-tanda berakhirnya perang mulai terlihat. Satu hal positif di satu sisi, tapi di sisi lain&#8211;di sisi bin Laden&#8211;ini satu hal yang buruk. Bila kaum kuffar sudah pergi, lalu mau dibawa ke mana jihad mereka? Apakah ini berarti perjuangan Muslim melawan Barat yang&#8211;dipersepsikan sebagai&#8211;kafir sudah usai?</p>
<p>Di masa-masa ini, bin Laden berbeda pendapat dengan Azzam. Karena posisi Azzam yang defensif, bin Laden merapat ke Ayman al-Zawahiri yang lebih ofensif.</p>
<p>Al-Zawahiri adalah seorang Mesir yang, secara umur, lebih junior ketimbang Abdullah Azzam&#8211;ia 10 tahun lebih muda. Tapi, sama halnya dengan bin Laden dan Azzam, al-Zawahiri pun seorang pengagum Sayyid Qutb. Lebih-lebih, al-Zawahiri mengenal ajaran ulama Qutb yang terkemuka ini juga dari Muhammad Qutb, seperti bin Laden. Al-Zawahiri dikenalkan ke Muhammad Qutb oleh pamannya, seorang murid setia dari Sayyid Qutb.</p>
<p>Al-Zawahiri tercatat sebagai orang yang paling berpengaruh bagi Osama bin Laden, bahkan hingga sekarang pun ia masih orang yang menonjol. Di setiap waktu Osama bin Laden tampil di depan umum, <a title="Pasangan serasi." href="http://maddycool.com/wp-content/uploads/2011/05/1592142896editor_Osama_Bin_Laden_and_Ayman_al-Zawahiri1.jpg">misalnya saat diwawancara</a>, atau proses rekaman propaganda, al-Zawahiri selalu tampil mendampingibin Laden. Kesan yang ditimbulkan dari al-Zawahiri terhadap bin Laden di umum selalu seperti &#8220;tangan kanan&#8221; atau wakil bin Laden.</p>
<p>Padahal, sebaliknya, justru al-Zawahiri yang sebenarnya bisa dibilang sebagai <em>mastermind&#8211;</em>yang mempengaruhi bin Laden, sebelum dan sesudah Al-Qaeda terbentuk.</p>
<p>Al-Qaeda dibentuk pada akhir tahun 1980-an&#8211;menjelang 1990-an&#8211;selepas Perang Afghanistan, ketika bin Laden berniat melanjutkan perjuangan jihad yang ia lakukan ketika di Afghanistan. Ide dibentuknya al-Qaeda sendiri datang dari al-Zawahiri, meskipun untuk selanjutnya disusun oleh bin Laden.</p>
<p>Peran besar al-Zawahiri misalnya terlihat di masa-masa awal aktivitas Al-Qaeda. Ali al-Rashidi, salah satu komandan militer di masa awal, adalah orang yang dekat dengan al-Zawahiri. Ia dipilih sebagai komandan militer oleh bin Laden atas nasehat al-Zawahiri. Demikian pula, ajakan Hasan al-Turabi, militan asal Sudan, untuk bergabung bersama al-Qaeda, juga merupakan salah satu bentuk perencanaan strategis oleh al-Zawahiri&#8211;meskipun kesepakatannya diputuskan oleh bin Laden.</p>
<p>Al-Zawahiri berkembang sebagai orang di belakang layar yang menjadi sosok penting bagi bin Laden. Karena sosoknya yang tak sekharismatik dan tak begitu ideal sebagai propagandis, al-Zawahiri tetap berada di belakang. Sementara bin Laden yang tampil di depan, menjadi figur pemimpin ideal.</p>
<p>Dalam hal pemikiran, al-Zawahiri menginspirasi konsep jihad ofensif yang lebih ganas ketimbang Abdullah Azzam. Radikalisme al-Zawahiri timbul dari kekecewaannya terhadap keberadaan Israel di Timur Tengah, sejak berdirinya di tahun 1948. Menurutnya, Israel (yang dipersepsikan sebagai &#8220;komunitas Yahudi&#8221;) adalah duri dalam daging bagi Timur Tengah (yang dipersepsikan sebagai &#8220;komunitas Islam&#8221;).</p>
<p>Keberadaan Israel, menurut al-Zawahiri, adalah keberadaan komunitas kafir di tengah-tengah komunitas Muslim. Memang, di antara negara-negara Timur Tengah sendiri juga banyak terdapat umat beragama lain, seperti Kristen Ortodoks Timur, atau bahkan Yudais sendiri. Tapi bagi al-Zawahiri, mereka tidak seberapa. Israel ini &#8220;spesial&#8221;, karena sudah memiliki satu negara sendiri. Keberadaan Israel di wilayah negara-negara Muslim ini dilihat al-Zawahiri sebagai kegagalan pemerintah negara-negara Muslim&#8211;baginya, ini berarti membiarkan keberadaan pemerintahan kafir. Oleh karena itu, menjadi tanggung jawab bagi setiap Muslim untuk menyingkirkan pemerintahan kafir ini dengan berjihad. Jihad di sini, tentu maksudnya adalah berjihad secara fisik&#8211;dengan senjata, seperti yang sejauh ini sudah dilakukan al-Qaeda.</p>
<p>Dalam salah satu ceramahnya&#8211;yang tidak sepopuler bin Laden&#8211;al-Zawahiri juga menyebutkan kalau ada perempuan dan anak-anak yang terbunuh dalam proses jihad (pengeboman, tembakan senjata, dsb), maka itu dianggap sebagai korban yang wajar. Di <a href="http://news.bbc.co.uk/2/hi/middle_east/2455845.stm">ceramah bin Laden kemudian hari</a>, bin Laden menggunakan alasan pengeboman terhadap anak-anak dan perempuan di Palestina sebagai justifikasi pengeboman-pengeboman oleh al-Qaeda.</p>
<p>.</p>
<p><strong>Al-Qaeda: Menara yang Menjulang</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong><a href="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/loomingtower.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="864" data-permalink="https://deathlock.wordpress.com/2011/05/18/al-qaeda-osama-bin-laden-dan-riwayat-singkatnya/loomingtower/#main" data-orig-file="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/loomingtower.jpg" data-orig-size="399,255" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="loomingtower" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/loomingtower.jpg?w=300" data-large-file="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/loomingtower.jpg?w=399" class="aligncenter size-medium wp-image-864" title="loomingtower" src="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/loomingtower.jpg?w=300&#038;h=191" alt="" width="300" height="191" srcset="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/loomingtower.jpg?w=300 300w, https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/loomingtower.jpg?w=150 150w, https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/loomingtower.jpg 399w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></a></strong><em>&#8220;Semakin ke atas, semakin buram&#8230;&#8221;</em></p>
<p><a title="Dead." href="http://www.dailymail.co.uk/news/article-1384260/Al-Qaeda-confirm-Osama-Bin-Laden-death-vow-continue-US-terrorist-attacks.html">Al-Qaeda telah mengkonfirmasi kematian Osama bin Laden.</a> Terlepas dari benar-tidaknya konfirmasi itu, serta masih beredarnya kontroversi mengenai kematian <em>America&#8217;s Public Enemy #1 </em>ini, jaringan al-Qaeda masih terlihat sebagai struktur yang rumit&#8211;bak jaring laba-laba yang tembus pandang. Dalam bahasa Lawrene Wright: menara yang menjulang tinggi, yang dasarnya kelihatan, namun semakin ke atas semakin buram.</p>
<p>Tapi paling tidak ada sebagian kejelasan mengenai perihal hubungan Amerika Serikat dengan al-Qaeda, yang barangkali paling sering disorot orang.</p>
<p>Seringkali ada kekeliruan memahami Al-Qaeda sebagai bentukan Amerika Serikat (atau &#8220;bentukan Barat&#8221;). Memang betul, kalau disebut itu <em>awalnya </em>Al-Qaeda adalah &#8220;bentukan Amerika Serikat&#8221;, karena berasal dari kelompok mujahidin yang melawan Soviet. Awalnya, kelompok ini digunakan dan diradikalisasi sebagai pasukan berani-mati demi menyingkirkan Soviet dari Afghanistan. Tapi, selepas Perang Afghan, al-Qaeda menjadi organisasi independen yang biayanya sebagian besar datang dari kekayaan bin Laden&#8211;lepas dari keterlibatan Amerika Serikat.</p>
<p>Menurut <a title="The name of Al-Qaeda" href="http://archives.cnn.com/2002/WORLD/asiapcf/south/02/05/binladen.transcript/index.html">wawancara Osama bin Laden</a>, nama al-Qaeda diambil dari pangkalan militer tempat pelatihan mereka dulu, &#8220;<em>qaeda&#8221;</em>, yang diterjemahkan sebagai&#8221;<em>the base&#8221; </em>(pangkalan). Bin Laden menganggap al-Qaeda ini sebagai kelanjutan langsung dari perjuangannya di Afghanistan dulu.</p>
<p>Kekeliruan umum dalam memahami Al-Qaeda sebagai &#8220;bentukan AS&#8221; saya kira terletak di sini&#8211;karena dianggap masih sebagai keterlibatan AS, padahal sudah bukan. Saya ingat sempat baca di <a title="Largest Indonesian community, slogannya" href="http://kaskus.us">salah satu forum</a> ada yang berargumen demikian, dengan mengutip Hillary Clinton. Clinton menyebutkan kalau Al-Qaeda adalah &#8220;kesalahan kita [Amerika Serikat]&#8221;. Maksudnya bukan AS yang terlibat langsung dengan al-Qaeda, atau al-Qaeda adalah boneka bayang-bayang AS. Yang sebetulnya dimaksud itu adalah Al-Qaeda sebagai, bisa dibilang, &#8220;senjata makan tuan&#8221;.</p>
<p>Dengan demikian, saya kira agak mustahil kalau Osama bin Laden&#8211;dan al-Qaeda&#8211;dicap sebagai &#8220;rekaan Amerika Serikat&#8221;.</p>
<p>Melihat sejarahnya, bin Laden sudah bertukar pandang dengan Abdullah Azzam, al-Zawahiri; lalu al-Qaeda juga berinteraksi dengan kelompok teror kelas tinggi lain, seperti yang dipimpin oleh <a href="http://articles.cnn.com/2005-11-11/world/zarqawi.jordan_1_al-zarqawi-qaeda-hotel-attacks?_s=PM:WORLD">Al-Zarqawi</a> (Irak), <a href="http://abcnews.go.com/International/story?id=79205&amp;page=1">Abu Sayyaf</a> (Filipina), atau <a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/politik/2011/05/03/brk,20110503-331905,id.html">Jafar Umar Thalib</a> (Indonesia). <a href="http://www.theonion.com/articles/bin-ladens-mother-worried-sick,2062/">Ibunya pun khawatir</a> akan nasib bin Laden. Tentunya mereka selama ini tak sedang berhalusinasi, &#8216;kan?</p>
<p>.</p>
<p style="text-align:right;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p style="text-align:left;"><strong>Daftar Referensi</strong></p>
<p>Wright, Lawrence. <em>The </em><em>Looming Tower: Al-Qaeda and the Road to 9/11</em>. New York: Vintage Books, 2006.</p>
<p>Gunaratna, Rohan. <em>Inside Al-Qaeda: Global Network of Terror</em>.New York:ColumbiaUniversity Press, 2002.</p>
<p>Greenberg, Karen J. <em>Al-Qaeda Now: Understanding Today’s Terrorists. </em>Cambridge: Cambridge University Press, 2005.</p>
<p>.</p>
<p style="text-align:right;"><em>Entri ini juga sempat di-kultwit-kan dengan akun <a title="@Xaliber" href="http://twitter.com/Xaliber">@Xaliber</a></em><br />
<em>dan diarsipkan dengan format seadanya di <a title="xaliber.tumblr.com" href="http://xaliber.tumblr.com/post/5164730567/kultwit-binladen-dan-alqaeda">tumblr</a>. </em></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://deathlock.wordpress.com/2011/05/18/al-qaeda-osama-bin-laden-dan-riwayat-singkatnya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>4</slash:comments>
		
		
		
		<media:content url="https://0.gravatar.com/avatar/3db057c473b91a6c4360c367a9d83a096bed45dcbe4d0d48ed05d3a1aac69c59?s=96&#38;d=https%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Xaliber von Reginhild</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.radaronline.com/sites/radaronline.com/files/imagecache/350width/OSAMA-TIME-COVER.jpg" medium="image" />

		<media:content url="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/marxladen2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">marxladen2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.foxnews.com/images/297106/0_61_zawahri_ayman.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">al-Zawahiri</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/05/loomingtower.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">loomingtower</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DISCLAIMER</title>
		<link>https://deathlock.wordpress.com/2011/02/15/disclaimer/</link>
					<comments>https://deathlock.wordpress.com/2011/02/15/disclaimer/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Pradipa PR (@xaliber)]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 15 Feb 2011 05:21:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Update & Notifs]]></category>
		<category><![CDATA[disclaimer]]></category>
		<category><![CDATA[kabar berita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://deathlock.wordpress.com/?p=651</guid>

					<description><![CDATA[. . Starting from 2011, anything written before 2010 may or may not reflect the author&#8217;s current views. Consider this disclaimer as a sort of new refurnishing, as I am too attached to this blog (and not opted to move to a new one). 😛 . ~xaliber . . . .]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p>Starting from 2011, anything written before 2010 may or may not reflect the author&#8217;s current views. Consider this disclaimer as a sort of new refurnishing, as I am too attached to this blog (and not opted to move to a new one). <img src="https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/twemoji/2/72x72/1f61b.png" alt="😛" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
<p><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p>~xaliber</p>
<p><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
<p><span style="color:#ffffff;">.</span></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://deathlock.wordpress.com/2011/02/15/disclaimer/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>4</slash:comments>
		
		
		
		<media:content url="https://0.gravatar.com/avatar/3db057c473b91a6c4360c367a9d83a096bed45dcbe4d0d48ed05d3a1aac69c59?s=96&#38;d=https%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Xaliber von Reginhild</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sepotong Kebijakan dari MPS</title>
		<link>https://deathlock.wordpress.com/2010/03/13/sepotong-kebijakan-dari-mps/</link>
					<comments>https://deathlock.wordpress.com/2010/03/13/sepotong-kebijakan-dari-mps/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Pradipa PR (@xaliber)]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 12 Mar 2010 18:00:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Social]]></category>
		<category><![CDATA[kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[Metode Penelitian Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[MPS]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://deathlock.wordpress.com/?p=576</guid>

					<description><![CDATA[Kalau di antara pembaca masih ada yang ingat, di salah satu pelajaran ketika SMA (Sosiologi, tapi katanya juga ada di Biologi), pernah diajarkan sepintas mengenai metode penelitian. Ada dua metode yang diajarkan di SMA: metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Ceritanya, di jurusan saya (ketika kuliah tentunya), dua metode ini dibahas lebih mendetil lagi di mata [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kalau di antara pembaca masih ada yang ingat, di salah satu pelajaran ketika SMA (Sosiologi, tapi <a title="menurut Lemon S. Sile" href="http://catatatan.wordpress.com">katanya juga ada di Biologi</a>), pernah diajarkan sepintas mengenai metode penelitian. Ada dua metode yang diajarkan di SMA: metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Ceritanya, di jurusan saya (ketika kuliah tentunya), dua metode ini dibahas lebih mendetil lagi di mata kuliah yang bernama Metode Penelitian Sosial (MPS).</p>
<p>Di salah satu pembahasan mengenai metode kuantitatif, dibahas mengenai cara membuat kuesioner. Ya, bagi yang belum tahu, metode kuantitatif ini memang erat kaitannya dengan kuesioner, data-data survei, sampel, dan&#8211;menurut kesan sebagian orang&#8211;angka. <img src="https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/twemoji/2/72x72/1f642.png" alt="🙂" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> Penelitian metode kuantitatif melibatkan peneliti hanya sebagai peneliti. Ia tidak bersifat seperti metode kualitatif, di mana sang peneliti harus melibatkan dirinya bersama dengan &#8220;yang diteliti&#8221; melalui observasi langsung, misalnya. Perkara detil lebih lanjutnya, <a title="Courtesy mas sora9n" href="http://sora9n.wordpress.com/?s=%22+itu+cerita+lain+untuk+saat+ini%22">itu cerita lain untuk saat ini</a>. <img src="https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/twemoji/2/72x72/1f61b.png" alt="😛" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
<p>Kembali ke topik.</p>
<p>Untuk membantu membuat kuesioner yang akurat, peneliti dianjurkan untuk membedakan tipe-tipe dari isi pertanyaan yang akan ia ajukan menjadi lima bagian: <em>behaviour</em>, <em>beliefs</em>, <em>knowledge</em>, <em>attitudes</em>, dan <em>attributes</em>. Jadi, suatu pertanyaan itu ada tipe-tipenya sendiri; tipe pertanyaan yang berbeda akan menghasilkan tipe jawaban yang berbeda pula. Masing-masing sudah dibagi dalam lima bagian tersebut.</p>
<ul>
<li>Tipe pertanyaan <em>behaviour</em> menyelidiki &#8220;apa yang responden lakukan&#8221;. Pertanyaan ini didesain untuk mengetahui kegiatan apa yang dilakukan oleh responden. Contoh mudahnya, pertanyaan seperti &#8220;apakah Anda bekerja di perusahaan swasta?&#8221; termasuk tipe pertanyaan <em>behaviour</em>.</li>
<li>Tipe lainnya, yaitu tipe <em>belief</em>, didesain untuk menyelidiki &#8220;apa yang responden percaya&#8221;. &#8220;Yang mereka percaya&#8221; dalam hal ini bukanlah mengenai kepercayaan atau agama mereka, namun lebih mengenai &#8220;apa pandangan mereka akan suatu hal&#8221;. Pertanyaan &#8220;apakah Facebook memengaruhi prestasi anak?&#8221; adalah contoh pertanyaan <em>belief</em>.</li>
<li>Tipe pertanyaan <em>knowledge</em> menyelidiki &#8220;apa yang responden ketahui&#8221;. Pertanyaan tipe ini ingin melihat pengetahuan responden mengenai situasi-situasi tertentu, misalnya seperti, &#8220;apa yang Anda ketahui tentang kebijakan kenaikan harga BBM?&#8221;</li>
<li>Sementara, tipe pertanyaan <em>attitude</em> ingin mengetahui &#8220;apa yang diinginkan oleh responden&#8221;. Pertanyaan jenis ini melihat tanggapan responden mengenai &#8220;sebaiknya bagaimana&#8221; dalam melihat kasus-kasus tertentu&#8211;ia menyelidiki bagaimana responden melihat orang lain secara umum. &#8220;Apakah <em>single-parent</em> sebaiknya bekerja?&#8221; adalah contoh pertanyaan <em>attitude</em>.</li>
<li>Terakhir, tipe pertanyaan <em>attribute</em> menanyakan data diri dari si responden. Ibaratnya game RPG, ia menanyakan level, status STR, VIT, DEX, dan AGI responden. <img src="https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/twemoji/2/72x72/1f61b.png" alt="😛" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> Pertanyaan-pertanyaan yang menanyakan umur, tingkat pendidikan, atau tingkat pendapatan adalah tipe pertanyaan <em>attribute</em>.</li>
</ul>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Nah, dalam pembahasan kelima hal tersebut, saya menemukan satu poin yang agak &#8220;menyentil&#8221;. Dalam <a title="Surveys in Social Research, David de Vaus" href="http://www.google.com/search?q=surveys+in+social+research&amp;ie=utf-8&amp;oe=utf-8&amp;aq=t">buku karya David de Vaus yang saya baca tersebut</a>, pada bagian pertanyaan <em>behaviour</em>, dituliskan oleh si penulis,</p>
<blockquote><p>&#8220;[&#8230;] Tapi, peneliti terlalu sering menggunakan pengukuran <em>behaviour</em> untuk mengukur <em>belief</em> dan <em>attitude</em>. Ini bisa menyebabkan salah penafsiran besar-besaran [&#8230;] karena orang bisa jadi tidak memiliki kesempatan untuk bersikap seperti apa yang mereka inginkan.&#8221;</p></blockquote>
<p>Pertama kali membaca paragraf tersebut, tidak ada yang terbesit di benak saya. Biasa saja. Tapi setelah membaca kedua dan ketiga kalinya&#8230; hei, benar juga ya? <img src="https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/twemoji/2/72x72/1f615.png" alt="😕" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
<p>Mari terlebih dahulu kita lepaskan diri kita dari kerangka &#8220;akademis&#8221;. <img src="https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/twemoji/2/72x72/1f642.png" alt="🙂" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> Lupakan sejenak bahwa hal ini dipelajari dalam suatu mata kuliah&#8211;yang notabene membuat sebagian orang jenuh karena pakem-pakemnya&#8211;dan anggaplah sebagai bacaan biasa. Lima tipe tadi, jangan dianggap sebagai &#8220;tipe-tipe pertanyaan dalam membuat kuesioner&#8221;.</p>
<p>Pada dasarnya, lima tipe pertanyaan tadi&#8211;yang menurut saya filosofis&#8211;sebenarnya justru dapat menuntun bagaimana kita sebaiknya menilai orang lain. Tipe-tipe pertanyaan tersebut bukan semata &#8220;alat&#8221; yang digunakan untuk membantu pembuatan kuesioner demi penelitian saja, tapi <em>rupanya</em> juga bisa digunakan di kehidupan sehari-hari! <img src="https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/twemoji/2/72x72/1f62e.png" alt="😮" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
<p>Mengapa demikian?</p>
<p>Mari kita lihat kembali peringatan yang ditulis oleh David de Vaus dalam bukunya itu, seperti yang telah saya kutip di atas.</p>
<blockquote><p>&#8220;[&#8230;] peneliti terlalu sering menggunakan pengukuran <em>behaviour</em> untuk mengukur <em>belief</em> dan <em>attitude</em>. Ini bisa menyebabkan salah penafsiran besar-besaran [&#8230;]&#8221;</p></blockquote>
<p>Apa yang bisa disimpulkan dari pernyataan tersebut?</p>
<p>Sederhana saja: suatu pengukuran tidak bisa dipakai untuk mengukur hal lainnya. David de Vaus mencontohkannya sendiri dengan sederhana: pengukuran <em>behaviour</em> tidak bisa digunakan untuk mengukur <em>belief </em>dan <em>attitude</em>. Ibarat mau <abbr title="Contoh yang buruk, tapi you get my point, lah :P">mengukur kecepatan cahaya, yang digunakan malah rumus untuk mengukur massa benda</abbr>.</p>
<p>Bila masih terlalu abstrak, mari kita gunakan contoh. <img src="https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/twemoji/2/72x72/1f642.png" alt="🙂" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /> Ambil lah persoalan <em>behaviour</em> itu tadi. Katakanlah, si Bambang terdaftar di suatu Kerohanian Islam. Ini berarti, secara <em>behaviourial </em>(apa yang Bambang lakukan), Bambang adalah anggota Kerohanian Islam. Nah, tapi, apakah fakta bahwa Bambang terdaftar sebagai anggota Rohani Islam berarti serta-merta hal tersebut memengaruhi <em>belief </em>(pandangan) dan <em>attitude</em> (sebaiknya bagaimana) Bambang? Memang, <strong>asumsinya</strong>, seorang anggota Rohis mestinya memiliki <em>belief </em>dan <em>attitude</em> yang bernuansa Rohis pula. Tapi <strong>faktanya</strong>?</p>
<p>Oh, <strong>belum tentu</strong>! <img width='16' height='16' class='wp-smiley emoji' draggable='false' alt=':mrgreen:' src='https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/mrgreen.svg' style='height: 1em; max-height: 1em;' /></p>
<p>Banyak faktor mengapa si Bambang mendaftar ke dalam Rohis. Memang, bisa jadi, motivasi agama adalah salah satunya&#8211;dan barangkali yang paling sering ditengarai orang. Tapi, tidak tertutup kemungkinan adanya faktor-faktor lain. Seperti, misalnya, ternyata teman-teman Bambang ingin mendaftar jadi anggota Rohis. Karena itu si Bambang ikut-ikutan. Atau, si Bambang ini ingin menambah pengalaman berorganisasi, dan kebetulan yang paling gampang adalah dengan jadi Rohis. Atauuu, di Rohis ini ada gadis cantik muda belia yang Bambang senangi; jadi, supaya lebih mudah PDKT, kenapa tidak jadi Rohis juga? <img width='16' height='16' class='wp-smiley emoji' draggable='false' alt=':mrgreen:' src='https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/mrgreen.svg' style='height: 1em; max-height: 1em;' /></p>
<p>Bila dilihat, kemungkinan-kemungkinan tersebut bisa dibilang <em>hampir sama sekali</em> tidak ada hubungannya dengan organisasi itu sendiri: agama. Lha, iya, yang lainnya itu kan pengaruh psikologis dan sosiologis semua. Tidak ada hubungannya sama sekali dengan agama. Oleh karena itu, si Bambang yang anggota Rohis ini, belum tentu akan bersikap <em>seperti yang diasumsikan</em> oleh orang lain layaknya anggota Rohis. <img src="https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/twemoji/2/72x72/1f600.png" alt="😀" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
<p>Nah, itu satu hal contoh dari <em>behaviour</em>. Apakah tipe lain seperti <em>knowledge, attitude, </em>atau <em>attribute</em> juga bisa diterapkan ke kehidupan sehari-hari? Tentu saja bisa!</p>
<p>Kita ambil contoh <em>knowledge</em>. Misalnya saja, si Rudi ini mengetahui banyak hal mengenai Marxisme. Ditanya sejarah perkembangannya, dia lancar menjawab. Ditanya teori pos-Marxisme, dia fasih menjelaskan. Secara <em>knowledge</em> (apa yang diketahui), si Rudi mapan. Nah, tapi, apakah serta-merta pengetahuannya itu menjadikannya seorang Marxis&#8211;atau bahkan komunis? Oh belum tentu.  Secara <em>behaviour</em>, ia tidak tergabung di partai buruh manapun. <em>Belief</em>-nya malah sangat liberal; mendukung pasar bebas! <img width='16' height='16' class='wp-smiley emoji' draggable='false' alt=':mrgreen:' src='https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/mrgreen.svg' style='height: 1em; max-height: 1em;' /></p>
<p>Contoh lain: <em>attribute</em>. Yang ini lebih sederhana lagi. Bila ada seorang beragama Islam (<em>attribute</em>-nya Islam), apakah ia pasti berarti menganggap khilafah Islamiyah cocok bagi Indonesia (<em>belief</em>-nya Islam politik)? Apakah ia pasti berarti ikut organisasi Islam (<em>behaviour</em>-nya organisasi Islam)? Atauuu, apakah bila ada seseorang ber<em>attribute</em> agama Yahudi, apakah ia pasti memiliki <em>belief </em>Zionisme Yahudi? <img width='16' height='16' class='wp-smiley emoji' draggable='false' alt=':mrgreen:' src='https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/mrgreen.svg' style='height: 1em; max-height: 1em;' /> Belum tentu, &#8216;kan?</p>
<p>Begitu pula dengan <em>belief</em> dan <em>attitude. </em>Orang dengan <em>belief </em>Facebook dapat membuat orang malas belum tentu <em>knowledge</em>-nya tentang Facebook sedikit&#8211;ia bisa jadi sangat ahli; atau orang dengan <em>attitude</em> merasa bahwa sebaiknya anak SMA tidak menyontek juga belum tentu <em>behaviour</em>nya tidak menyontek&#8211;karena alasan apapun.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Demikian, sesi pembelajaran metode penelitian kuantitatif pada mata kuliah MPS justru mengingatkan saya pada satu hal: bahwasanya kita tidak bisa menilai orang semata dari salah satu karakteristiknya. Yah, meminjam ringkasan bahasa de Vaus sendiri: &#8220;suatu pengukuran tidak bisa dipakai untuk mengukur hal lainnya&#8221;. <img src="https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/twemoji/2/72x72/1f609.png" alt="😉" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
<p>Seorang koruptor bisa jadi memiliki pandangan ideal mengenai keadilan dan kesejahteraan negara, namun terpaksa terjerat dalam lingkar korupsi karena lingkungan memaksanya berbuat begitu. Seorang yang berjenggot tebal dan panjang bisa saja semata memanjangkan jenggotnya itu karena tren, bukan karena ia seorang pengunjung mesjid yang rajin. Seorang yang<a title="Non-Muslim" href="http://gun.web.id/non-muslim.html"> tidak tahu-menahu mengenai agama selain Islam,</a> belum tentu ia berarti jadi seorang radikal yang membenci umat agama lain. Seorang yang mendukung gerakan sejuta Facebooker di Facebook belum tentu benar-benar berpandangan sesuai dengan visi gerakan itu, bisa jadi ia hanya ingin numpang komentar atau asal menerima ajakan saja. Dan seterusnya, dan seterusnya, dan seterusnya&#8230;</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Sudahkah Anda memastikan metode pengukuran Anda sesuai hari ini? <img src="https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/twemoji/2/72x72/1f642.png" alt="🙂" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://deathlock.wordpress.com/2010/03/13/sepotong-kebijakan-dari-mps/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>20</slash:comments>
		
		
		
		<media:content url="https://0.gravatar.com/avatar/3db057c473b91a6c4360c367a9d83a096bed45dcbe4d0d48ed05d3a1aac69c59?s=96&#38;d=https%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Xaliber von Reginhild</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Retraktil</title>
		<link>https://deathlock.wordpress.com/2009/12/31/retraktil/</link>
					<comments>https://deathlock.wordpress.com/2009/12/31/retraktil/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Pradipa PR (@xaliber)]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 31 Dec 2009 16:54:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[From the Blog]]></category>
		<category><![CDATA[tahun baru]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://deathlock.wordpress.com/2009/12/31/retraktil/</guid>

					<description><![CDATA[Satu dekade dari milenium kedua dan abad ke-21 dari yang ditempuh kalender Masehi tak lama lagi akan tiba. Kalau kata sebagian orang yang percaya, sebentar lagi akan dekat ke 2012, tahun yang konon diramalkan akan terjadi bencana besar &#8212; bila tak mau disebut kiamat. Saatnya bertobat beramai-ramai. Kalau bagi sebagian orang lainnya, pergantian hari Kamis [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Satu dekade dari milenium kedua dan abad ke-21 dari yang ditempuh kalender Masehi tak lama lagi akan tiba. Kalau kata sebagian orang yang percaya, sebentar lagi akan dekat ke 2012, tahun yang konon diramalkan akan terjadi bencana besar &#8212; bila tak mau disebut kiamat. Saatnya bertobat beramai-ramai. Kalau bagi sebagian orang lainnya, pergantian hari Kamis menuju Jum&#8217;at ini hanya sekedar pergantian hari biasa &#8212; seperti hari-hari sebelumnya. Tidak ada yang spesial sama sekali. Kalau bagi sebagian lainnya lagi, ini pertanda umur bumi makin tua, umur kita makin tua pula. Pertanda semakin berkurangnya sisa waktu hidup di dunia.</p>
<p>Para sebagian dari sebagian-sebagian itu setidaknya sepakat&#8211;terlihat demikian&#8211;untuk setuju pada satu pertanyaan (atau pernyataan) yang sama: untuk apa merayakan tahun baru?</p>
<p>Dua tahun lalu, ketika itu saya masih SMA. Barangkali sudah bagai ritual tahunan keluarga, saya biasa berkumpul di rumah nenek bersama saudara-saudara lainnya, menunggu bersama hari berganti sembari menyalakan kembang api. Tapi dua tahun lalu, atas inisiatif ayah, saya &#8211;kami&#8211; merayakannya dengan sedikit berbeda, yaitu pergi ke tempat lain. Di mana orang merayakannya dengan makan dan, mungkin seperti yang dikatakan oleh yang merasa relijius, berfoya-foya.</p>
<p>Saya biasanya tidak melihat ritual tahun baru a la keluarga selain sebagai kebiasaan; bila tidak dilaksanakan, maka rasanya tidak nyaman. Terutama perihal kembang apinya. Itu saja. Demikian, saat itu saya tak melihat inti dari diadakannya &#8220;ritual&#8221; yang agak berbeda. Dan saya pun saat itu bertanya-tanya, untuk apa merayakannya dengan berpesta?</p>
<p>Mungkin pertanyaan demikian juga yang terlintas, bila merasa perayaan tahun baru&#8211;apapun wujudnya&#8211;tak dirasa perlu. Perihal tidak perlu memeringati umur yang berkurang, tidak perlu memeringati akhir yang sudah dekat, atau merasa bahwa pergantian hari ini sama artinya dengan pergantian hari lain. Mungkin.</p>
<p>Dua tahun yang lalu itu, saya bertanya-tanya. Untuk apa perayaan tahun baru. Dan ayah saya yang menjawab. &#8220;Orang merayakan tahun baru,&#8221; ujarnya, &#8220;untuk berharap, supaya tahun yang datangnya dirayakan dengan meriah dan semenyenangkan itu, bisa berjalan semeriah dan semenyenangkan itu pula. Sampai tahun berikutnya datang lagi.&#8221;</p>
<p>Saya awalnya tidak begitu meresapi kalimat beliau. Tapi saat ini saya kira ayah ada benarnya. Bila tahu bahwa dengan tahun baru umur kita akan berkurang, bahwa hidup di tempat ini tak bisa selamanya, maka setiap kali hal itu &#8211;pasti&#8211; akan datang, sambutlah dengan gembira. Untuk menghadapi hal tak terelakkan itu dengan gembira pula. Tentu, dengan cara masing-masing. Dengan kembang api, dengan berpesta, dengan berjalan-jalan, dengan berzikir, atau dengan berdoa. Karena apa yang menggembirakan satu orang belum tentu berlaku pada yang lainnya.</p>
<p>Tahun yang akan datang ini, bagi saya, akan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Yang selalu semangat menolong persiapan tahun baru, yang biasa merekam awal tahun, sudah tak bisa melakukan kebiasaannya. Alasan untuk bersedih diri tapi tak semestinya dilakukan, karena, perayaan tahun baru tidak ditujukan supaya membentuk tahun yang sedih. Namun justru sebaliknya.</p>
<p>Selamat tahun baru 2010.<br />
Semoga segala hal yang tak diinginkan tertinggal di saat sebelumnya.<br />
Semoga segala hal yang lebih baik menyambut di saat berikutnya.</p>
<p>Salam. <img src="https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/twemoji/2/72x72/1f642.png" alt="🙂" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://deathlock.wordpress.com/2009/12/31/retraktil/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>11</slash:comments>
		
		
		
		<media:content url="https://0.gravatar.com/avatar/3db057c473b91a6c4360c367a9d83a096bed45dcbe4d0d48ed05d3a1aac69c59?s=96&#38;d=https%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Xaliber von Reginhild</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>bahana suara</title>
		<link>https://deathlock.wordpress.com/2009/12/14/bahana-suara/</link>
					<comments>https://deathlock.wordpress.com/2009/12/14/bahana-suara/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Pradipa PR (@xaliber)]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 14 Dec 2009 12:35:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Entertainment]]></category>
		<category><![CDATA[From the Blog]]></category>
		<category><![CDATA[konser]]></category>
		<category><![CDATA[mahawaditra]]></category>
		<category><![CDATA[orkestra]]></category>
		<category><![CDATA[promosi]]></category>
		<category><![CDATA[simfoni]]></category>
		<category><![CDATA[universitas indonesia]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://deathlock.wordpress.com/?p=569</guid>

					<description><![CDATA[Saudara-saudara, namanya juga bukan entitas maha sempurna layaknya Tuhan, ada saat ketika manusia menjadi khilaf. Berbuat salah, berkeliruan. Alias di antaranya adalah lupa. Tidak ingat &#8212; tidak bisa mengingat kalau ada media yang sudah digenggam sejak usia masih menginjak masa pubertas yang labil. Lantaran beragam prasarana populer lain yang menjamah khalayak luas sedang menjamur, mungkin [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Saudara-saudara, <a href="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/mahawad.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="570" data-permalink="https://deathlock.wordpress.com/2009/12/14/bahana-suara/mahawad/#main" data-orig-file="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/mahawad.jpg" data-orig-size="300,214" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="Mahawaditra" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/mahawad.jpg?w=300" data-large-file="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/mahawad.jpg?w=300" class="alignleft size-full wp-image-570" title="Mahawaditra" src="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/mahawad.jpg?w=630" alt=""   srcset="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/mahawad.jpg?w=202&amp;h=144 202w, https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/mahawad.jpg?w=150&amp;h=107 150w, https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/mahawad.jpg 300w" sizes="(max-width: 202px) 100vw, 202px" /></a>namanya juga bukan entitas maha sempurna layaknya Tuhan, ada saat ketika manusia menjadi khilaf. Berbuat salah, berkeliruan. Alias di antaranya adalah lupa. Tidak ingat &#8212; tidak bisa mengingat kalau ada media yang sudah digenggam sejak usia masih menginjak masa pubertas yang labil. Lantaran beragam prasarana populer lain yang menjamah khalayak luas sedang menjamur, mungkin bisa jadi alasan. Tapi naga-naganya kekhilafan itu ya tetap kembali ke orangnya sendiri.</p>
<p>Jadi begini, saudara-saudara. Baru selang beberapa hari yang lalu, sebuah acara digelar di Balai Sidang BNI Depok, Universitas Indonesia. Bukan perkara membahas penegakan syariah atau pesta hura-hura, melainkan sebuah konser musik dengan tampilan ensembel dan orkestra.</p>
<p>Nah, lantaran gencar promosi di berbagai media, fasilitas yang sudah ditekuni dari tahun 2007 ini justru kemudian terlupa. Berkicau lewat Twitter memang efektif adanya, begitupun ber-SPG melalui Facebook. Plurk sebagai sarana curahan santai tak kemudian ketinggalan. Seakan sudah merajai kontestasi SEO, untaian kata diulang-ulang di dunia maya agar menarik minat pengunjung yang bisa jadi akan setia. Eh kok ya, blog yang katanya jadi kandang sendiri malah tertinggal. Diselingkuhi oleh selir-selir <em>social networking</em> baru yang indah nian parasnya.</p>
<p>Apa lacur, nasi sudah menjadi bubur. Hobi yang setahun lalu gemar digeluti pun hanya bisa icip sedikit remah sisa penjualan. Padahal dulu bagaikan amplop dengan perangko &#8212; gelisah sedikit saja, ratusan kata terketik untuk ditafsir beragam makna. Ibarat proverbia orang Jawa, internet tanpa blogging itu bagai <em>ora sego ora mangan</em> (belum [makan] nasi, belum makan).</p>
<p>Akhirnya, apa yang bisa dipersembahkan? Kampanye poster untuk acara lampau barangkali sudah usang, relevan pun tidak &#8212; macam mana orang akan peduli pula. Atas alasan itu bisa jadi sejak nenek moyang masih melaut, orang gemar menulis jurnal. Kenang-kenangan; riwayat dari serangkaian perjalanan hidup untuk ditengok di masa nanti.</p>
<p>Pun karena masa juga berkembang, maka bukan sekedar jurnal yang bisa saya hadirkan. Kemalasan dan ketidaksempatan barangkali bukan alasan, walau memang gambar konon berujar seribu bahasa. Demikian, saya sajikan konser musik Orkes Simfoni Universitas Indonesia Mahawaditra, pada acara Home Concert &#8220;An Enchanting Evening with Mahawaditra&#8221;, Balai Sidang BNI Depok, Jum&#8217;at 11 Desember 2009.</p>
<iframe class="youtube-player" width="630" height="355" src="https://www.youtube.com/embed/z6mWT9iykXw?version=3&#038;rel=1&#038;showsearch=0&#038;showinfo=1&#038;iv_load_policy=1&#038;fs=1&#038;hl=id&#038;autohide=2&#038;wmode=transparent" allowfullscreen="true" style="border:0;" sandbox="allow-scripts allow-same-origin allow-popups allow-presentation allow-popups-to-escape-sandbox"></iframe>
<iframe class="youtube-player" width="630" height="355" src="https://www.youtube.com/embed/ERDquj_0K8o?version=3&#038;rel=1&#038;showsearch=0&#038;showinfo=1&#038;iv_load_policy=1&#038;fs=1&#038;hl=id&#038;autohide=2&#038;wmode=transparent" allowfullscreen="true" style="border:0;" sandbox="allow-scripts allow-same-origin allow-popups allow-presentation allow-popups-to-escape-sandbox"></iframe>
<p>Bilamana pertanyaan perkara saya bermain atau tidak, maka jawaban yang tersuguh adalah iya &#8212; namun bukan isyarat saya penting yang ahli nian. Masih berlatih, sekedar pendukung dalam orkes yang besar. Mengesampikan ucapan penutup lain, kiranya saya ucapkan: selamat menikmati. <img src="https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/twemoji/2/72x72/1f642.png" alt="🙂" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
<p><img style="border:medium none;position:absolute;z-index:2147483647;opacity:0.6;display:none;" src="image/png;base64,iVBORw0KGgoAAAANSUhEUgAAABgAAAAYCAYAAADgdz34AAADsElEQVR4nK2VTW9VVRSGn33OPgWpYLARbKWhQlCHTogoSkjEkQwclEQcNJEwlfgD/AM6NBo1xjhx5LyJ0cYEDHGkJqhtBGKUpm3SFii3vb2956wPB/t+9raEgSs52fuus89613rftdcNH8/c9q9++oe/Vzb5P+3McyNcfm2CcPj9af9w6gwjTwzvethx3Bx3x8xwd1wNM8dMcTNUHTfFLPnX6nVmZpeIYwf3cWD/PhbrvlPkblAzVFurKS6GmmGqqComaS+qmBoTI0Ncu3mXuGvWnrJ+ZSxweDgnkHf8ndVTdbiT3M7cQp2Z31dRTecHAfqydp4ejhwazh6Zezfnu98E1WIQwB3crEuJ2Y45PBTAQUVR9X4At66AppoEVO1Q8sgAOKJJjw6Am6OquDmvHskZ3R87gW+vlHz98zpmiqphkkRVbQtsfPTOC30lJKFbFTgp83bWh7Zx/uX1B6w3hI3NkkZTqEpBRDBRzG2AQHcwcYwEkOGkTERREbLQ/8HxJwuW7zdYrzfZ2iopy4qqEspKaDYravVm33k1R91Q69FA1VBRzFIVvXbx5AgXT44A8MWP81yfu0utIR2aVK3vfCnGrcUNxp8a7gKYKiLCvY2SUvo/aNtnM3e49ucK9S3p0aDdaT0UAVsKi2tVi6IWwNL9JvdqTdihaz79/l+u/rHMxmaJVMLkS2OoKKLWacdeE3IsSxctc2D5Qcl6vUlVVgNt+fkPPcFFmTw1xruvT7SCd7nuVhDQvECzJH90h0azRKoKFRkAmP5lKTWAGRdefoZL554FQNUxB92WvYeA5UN4PtSqwB2phKqsqMpBgAunRhFR3j49zuU3jnX8k6fHEQKXzh1jbmGDuYU6s4t1rt6socUeLLZHhYO2AHSHmzt19ihTZ48O8Hzl/AmunD/BjTvrvPfNX3hWsNpwJCvwYm+ngug4UilSCSq6k8YPtxDwfA+WRawIWFbgscDiULcCEaWqBFOlrLazurupOSHLqGnEKJAY8TwBEHumqUirAjNm52vEPPRV4p01XXMPAQhUBjcWm9QZwijwokgAeYHlHYA06KR1cT6ZvoV56pDUJQEjw0KeaMgj1hPEY4vz2A4eW0/e1qA7KtQdsxTYAG0H3iG4xyK1Y+xm7XmEPOJZDiENzLi2WZHngeOjj2Pe+sMg4GRYyLAsx7ME4FnsyTD9pr0PEc8zPGRAwKXBkYOPEd96cZRvf11g9MDe7e3R4Z4Q+vyEnn3P4t0XzK/W+ODN5/kPfRLewAJVEQ0AAAAASUVORK5CYII%3D" alt="" width="24" height="24" /></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://deathlock.wordpress.com/2009/12/14/bahana-suara/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>6</slash:comments>
		
		
		
		<media:content url="https://0.gravatar.com/avatar/3db057c473b91a6c4360c367a9d83a096bed45dcbe4d0d48ed05d3a1aac69c59?s=96&#38;d=https%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Xaliber von Reginhild</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://deathlock.wordpress.com/wp-content/uploads/2009/12/mahawad.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Mahawaditra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Entri 564</title>
		<link>https://deathlock.wordpress.com/2009/11/16/entri-564/</link>
					<comments>https://deathlock.wordpress.com/2009/11/16/entri-564/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Pradipa PR (@xaliber)]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 15 Nov 2009 18:21:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[From the Blog]]></category>
		<category><![CDATA[katarsis]]></category>
		<category><![CDATA[omong kosong]]></category>
		<category><![CDATA[ulang tahun]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://deathlock.wordpress.com/?p=564</guid>

					<description><![CDATA[&#8220;What doesn&#8217;t kill you simply makes you&#8230; stranger.&#8221; ~ Heath Ledger as The Joker (Batman: The Dark Knight) . Membuka awal tulisan dengan sebuah kutipan. Bukan hal yang jarang ditemui di berbagai tulisan; bukan suatu hal yang spesial, menakjubkan, atau impresif. Ratusan, atau bahkan ribuan penulis lainnya mungkin sudah sering menggunakan cara ini untuk membuka [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><em>&#8220;What doesn&#8217;t kill you simply makes you&#8230; stranger.&#8221;</em></p></blockquote>
<p style="text-align:right;">~ Heath Ledger as The Joker (Batman: The Dark Knight)</p>
<p>.</p>
<p>Membuka awal tulisan dengan sebuah kutipan. Bukan hal yang jarang ditemui di berbagai tulisan; bukan suatu hal yang spesial, menakjubkan, atau impresif. Ratusan, atau bahkan ribuan penulis lainnya mungkin sudah sering menggunakan cara ini untuk membuka paragraf awal tulisannya. Barangkali cara ini juga dimuat dalam <em>tips and trick</em> buku paket Bahasa Indonesia untuk SMA atau Panduan Cara Menulis yang Baik dan Benar.</p>
<p>Standar.</p>
<p>Tipikal.</p>
<p>Tapi <em>toh</em> orang-orang tetap menggunakannya.</p>
<p>Ada yang bisa menggunakannya dengan baik, sehingga kutipan itu jadi pembuka yang menyentuh bagi romantisme essay yang ditulisnya, ada juga yang menggunakannya dengan buruk sehingga membuat kutipan itu jadi tidak berharga dan cuma seperti tambalan bagi baju kusam yang sudah digerogoti kutu busuk.</p>
<p>Tentunya yang menentukan baik atau buruknya penggunaan itu berdasarkan standar saya. Atau standar Anda, yang membaca.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Secara teknis, blog di WordPress ini sudah dibuat sejak <a title="Hello World!" href="https://deathlock.wordpress.com/2006/06/30/hello-world/">Juni 2006</a>. Tapi saya telantarkan hingga setahun setelahnya, <a title="Finally..." href="https://deathlock.wordpress.com/2007/04/28/finally/">April 2007</a>, karena sebelumnya saya sempat selingkuh dengan Blogspot.</p>
<p>Sudah kurang lebih tiga tahun saya menulis tanpa tujuan yang jelas. Menulis tulisan yang bisa dilacak di internet hingga WordPress.com bangkrut, tidak laku, atau Archive.org sudah tidak bisa menyimpan rekam jejak tingkah laku yang ditinggalkan manusia-manusia yang menjalin hubungan dengan internet. Hah, apa ini maksudnya saya mau pamer pengalaman blogging? Tentu tidak, karena tiga tahun itu bukan apa-apa dibandingkan bloger senior seperti mas <a title="POPsy" href="http://popsy.wordpress.com">Catshade</a>, misalnya. Tiga tahun saya pun tidak sepenuhnya tiga tahun, masih bolong-bolong.</p>
<p>Ini cuma sekedar pengingat.</p>
<p>Pengingat kalau orang seperti saya itu masih terlalu labil, masih berusaha mencari sesuatu yang bisa &#8220;dipegang&#8221;. Orang-orang seperti saya ini belum bisa menciptakan sesuatu yang dianggap orisinil, tapi merasa sudah berbuat demikian&#8211;bah. Orang-orang yang seperti saya ini, masih belum bisa memenuhi tanggung jawab sepenuhnya. Introspeksi? Tidak bisa dianggap begitu kalau cuma merenung tapi tidak mengubah diri jadi lebih baik, kesannya sia-sia&#8211;tidak berguna. Tapi itu terserah Anda.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Ini tahun 2009. Ini <em>sudah</em> tahun 2009.</p>
<p>Kata orang, sebentar lagi kiamat. Tiga tahun lagi kiamat; beritanya begitu heboh sampai-sampai orang gemar menggambarkan akhir hidup mereka sampai diabadikan dengan film yang berjudul &#8220;tahun kiamat&#8221; itu sendiri.</p>
<p>Kata orang, &#8220;kiamat sudah dekat&#8221;. Kalau <a title="StoPlayinGame" href="http://stoplayingame.wordpress.com">kata adik saya</a>, &#8220;kok dari dulu kiamat sudah dekat melulu ya?&#8221;. Seharusnya, &#8220;kiamat makin dekat, bukan sudah dekat. Kalau dari dulu sudah dekat, kenapa nggak kiamat-kiamat?&#8221; Begitu katanya.</p>
<p>Kiamat atau bukan, ya itu bukan urusan saya. Tidak harus membuat saya jadi tobat juga. Masa tobat cuma dimotivasi karena kiamat, kok kesannya kasihan juga si Amat, dia datang malah bikin orang tobat ketakutan.</p>
<p>Halah.</p>
<p>Tapi paragraf barusan itu memang semi-serius. Kenapa orang cuma kembali ke agamanya masing-masing kalau sedang terancam kematian?</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Yah, barangkali itu untuk kontemplasi lain kali saja. Saya tidak begitu tertarik membahas kiamat dan kematian, mau menentukan Tuhan itu seperti bagaimana saja sudah repot.</p>
<p>Setidaknya, secara pribadi, di tiga tahun menjelang gembar-gembor kiamat ini, saya mendapat pengalaman yang baru. Secara teknis, baru. Baru, tapi bukan berarti menyenangkan. Memang tiap hari orang mendapatkan hal yang baru&#8211;seharusnya, seimanen apa pun hari yang dialami orang itu. Karena itu ungkapan &#8220;sejarah berulang&#8221; itu agak omong kosong, karena sepersis apa pun &#8220;plot&#8221; dalam &#8220;sejarah yang berulang&#8221;, &#8220;tokoh&#8221;nya tidak mungkin persis sama.</p>
<p>Saya merangkul &#8220;pengalaman baru&#8221; yang, tidak seperti cerita menye-menye ABG labil yang suka didokumentasikan di jurnal pribadinya, tanpa sengaja tidak terekam dalam blog saya. <a title="Ploork." href="https://deathlock.wordpress.com/2009/10/03/ploork/">Seperti yang sudah saya bilang</a>, tidak biasanya hal itu tidak saya catat di blog ini seperti halnya berbagai katarsis yang sudah-sudah. Salahkanlah <a title="Plurk" href="http://plurk.com/xaliber/invite">Plurk</a>, bila memang perlu mengkambinghitamkan sesuatu. Pengalaman itu, di satu sisi, memang menyenangkan.</p>
<p>Tapi saya juga kehilangan berbagai hal. Berbagai &#8216;hal&#8217; yang secara emosional terikat dengan saya. Yah, lebih dari &#8216;hal&#8217;, sebenarnya. Lebih dari sekedar &#8216;hal&#8217;.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p><em>&#8220;What doesn&#8217;t kill you simply makes you&#8230; stranger.&#8221;</em></p>
<p>Sebelum menutup karir hidupnya, Heath Ledger meninggalkan kesan. Kesan yang terupa dalam wujud film: The Dark Knight, populer pada akhir tahun 2008. Kutipan itu adalah yang diucapkan oleh The Joker, tokoh yang ia perankan, merupakan <a title="What does not kill me, makes me stronger." href="http://www.quotationspage.com/quote/38037.html">alter dari kutipan</a> Friedrich Nietzsche.</p>
<p>Tahun ini, ada berbagai hal yang memang tidak membunuh saya, dan barangkali membuat saya jadi terlihat lebih aneh. Lebih sinis, lebih blak-blak-an? Seperti misalnya dengan mengatakan tidak ada alasan untuk jadi cengeng dan menye bertahun-tahun hanya karena permasalahan cinta antar pasangan lain jenis/sesama jenis.</p>
<p>Atau barangkali jadi terlihat lebih banyak membual?</p>
<p>Seperti halnya entri ini. Bukannya mengkomemorasi hari ini dengan sebaris kalimat sederhana saja, atau sebuah gambar kue &#8212; kwetiau sih harusnya &#8212; sebagai peringatan, saya justru menghadirkan omong-kosong panjang lebar seperti ini. Siapa pula yang mau baca? Sebagian orang mungkin akan memilih untuk melompati bacaan tidak berguna ini dan melompat ke kolom komentar. Atau justru langsung menutup halaman yang sedang ia baca dan membuka bacaan lain yang lebih bermanfaat.</p>
<p>Tapi, yah, kekonyolan semacam ini yang membuat saya masih terus menulis omong-kosong tak bermakna ini. Kekonyolan untuk memperingati hari ini. Tanggal 16 November.</p>
<p>Untuk ditertawakan tahun berikutnya. Ditertawakan sambil bertanya-tanya dalam hati, &#8220;kenapa saya gemar sekali membuat onggokan omong-kosong seperti ini?&#8221;</p>
<p>Yah, seperti halnya sekarang saya menertawakan entri <a title="One and Seven" href="https://deathlock.wordpress.com/2008/11/16/one-and-seven/">setahun</a> dan <a title="Mengingat Yang Lalu" href="https://deathlock.wordpress.com/2007/11/16/mengingat-yang-lalu/">dua tahun</a> yang lalu.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Tahun ini mungkin awal tahun saya bertambah tua dengan lebih hampa daripada sebelumnya. Dan pastinya begitu pula tahun-tahun berikutnya. Makin lama makin hampa, hingga akhirnya saya harus menutup umur saya dengan hampa pula. Entah kapan tanggal pastinya.</p>
<p>Karena tahun ini merupakan pertanda bahwa saya sepenuhnya diakui sebagai suatu individu, maka tidak ada yang perlu ditunggu-tunggu lagi dalam ulang tahun berikutnya. Perayaan-perayaan berikutnya hanyalah penanda, pengingat bahwa akhir hidup saya semakin dekat. Bahwa saya semakin mendekati liang lahat.</p>
<p>Dan sejauh ini tidak ada yang bisa saya hasilkan. Seorang <a title="Severn Suzuki" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Severn_Cullis-Suzuki">Severn Suzuki</a>, pada umur 12 tahun, bisa membuat para anggota PBB terdiam begitu mendengar pidatonya. Itu terjadi 19 tahun yang lalu. Sementara saya, di umur yang sudah setua ini, bahkan tak bisa membuat Pak RT di rumah sebelah bertepuk tangan. Ya tentu saja karena saya memang jarang bermain ke rumah Pak RT, kecuali beberapa tahun silam ketika ayah masih bisa mengemban tugas sebagai Pak RT.</p>
<p>Heheh, tentunya ini bukan bicara tentang saya yang butuh motivasi atau hiburan &#8212; tidak, hanya saja, lucu bisa mencela diri sendiri yang memang tidak pernah sempurna. Dan bila ini diteruskan, barangkali bisa tidak ada habisnya.</p>
<p>Hidup memang menyulitkan, merepotkan.</p>
<p><em>As for that, enjoy it while it lasts.</em></p>
<p>Saya pun harus tunduk pada ungkapan di atas, untuk menikmati hidup selama masih bisa hidup. Meskipun sedetik napas berikutnya berarti selangkah maju ke depan mendekat ke akhir hayat.</p>
<p>&#8230;</p>
<p>Selamat malam.</p>
<p>Terima kasih sudah membaca.</p>
<p>Dan, seperti tahun lalu, sebuah emoticon senyum yang biasa digunakan orang entah untuk berbasa-basi atau memang senyum tulus yang tersungging ketika menulis akhir paragraf, kembali saya gunakan pada akhir tulisan ini. <img src="https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/twemoji/2/72x72/1f642.png" alt="🙂" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
<p><img style="border:medium none;position:absolute;z-index:2147483647;opacity:0.6;display:none;" src="image/png;base64,iVBORw0KGgoAAAANSUhEUgAAABgAAAAYCAYAAADgdz34AAADsElEQVR4nK2VTW9VVRSGn33OPgWpYLARbKWhQlCHTogoSkjEkQwclEQcNJEwlfgD/AM6NBo1xjhx5LyJ0cYEDHGkJqhtBGKUpm3SFii3vb2956wPB/t+9raEgSs52fuus89613rftdcNH8/c9q9++oe/Vzb5P+3McyNcfm2CcPj9af9w6gwjTwzvethx3Bx3x8xwd1wNM8dMcTNUHTfFLPnX6nVmZpeIYwf3cWD/PhbrvlPkblAzVFurKS6GmmGqqComaS+qmBoTI0Ncu3mXuGvWnrJ+ZSxweDgnkHf8ndVTdbiT3M7cQp2Z31dRTecHAfqydp4ejhwazh6Zezfnu98E1WIQwB3crEuJ2Y45PBTAQUVR9X4At66AppoEVO1Q8sgAOKJJjw6Am6OquDmvHskZ3R87gW+vlHz98zpmiqphkkRVbQtsfPTOC30lJKFbFTgp83bWh7Zx/uX1B6w3hI3NkkZTqEpBRDBRzG2AQHcwcYwEkOGkTERREbLQ/8HxJwuW7zdYrzfZ2iopy4qqEspKaDYravVm33k1R91Q69FA1VBRzFIVvXbx5AgXT44A8MWP81yfu0utIR2aVK3vfCnGrcUNxp8a7gKYKiLCvY2SUvo/aNtnM3e49ucK9S3p0aDdaT0UAVsKi2tVi6IWwNL9JvdqTdihaz79/l+u/rHMxmaJVMLkS2OoKKLWacdeE3IsSxctc2D5Qcl6vUlVVgNt+fkPPcFFmTw1xruvT7SCd7nuVhDQvECzJH90h0azRKoKFRkAmP5lKTWAGRdefoZL554FQNUxB92WvYeA5UN4PtSqwB2phKqsqMpBgAunRhFR3j49zuU3jnX8k6fHEQKXzh1jbmGDuYU6s4t1rt6socUeLLZHhYO2AHSHmzt19ihTZ48O8Hzl/AmunD/BjTvrvPfNX3hWsNpwJCvwYm+ngug4UilSCSq6k8YPtxDwfA+WRawIWFbgscDiULcCEaWqBFOlrLazurupOSHLqGnEKJAY8TwBEHumqUirAjNm52vEPPRV4p01XXMPAQhUBjcWm9QZwijwokgAeYHlHYA06KR1cT6ZvoV56pDUJQEjw0KeaMgj1hPEY4vz2A4eW0/e1qA7KtQdsxTYAG0H3iG4xyK1Y+xm7XmEPOJZDiENzLi2WZHngeOjj2Pe+sMg4GRYyLAsx7ME4FnsyTD9pr0PEc8zPGRAwKXBkYOPEd96cZRvf11g9MDe7e3R4Z4Q+vyEnn3P4t0XzK/W+ODN5/kPfRLewAJVEQ0AAAAASUVORK5CYII%3D" alt="" width="24" height="24" /></p>
<div id="_mcePaste" style="overflow:hidden;position:absolute;left:-10000px;top:1913px;width:1px;height:1px;"><a href="https://deathlock.wordpress.com/2007/11/16/mengingat-yang-lalu/">https://deathlock.wordpress.com/2007/11/16/mengingat-yang-lalu/</a></div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://deathlock.wordpress.com/2009/11/16/entri-564/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>9</slash:comments>
		
		
		
		<media:content url="https://0.gravatar.com/avatar/3db057c473b91a6c4360c367a9d83a096bed45dcbe4d0d48ed05d3a1aac69c59?s=96&#38;d=https%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Xaliber von Reginhild</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
