<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>DESA KRAJANKULON</title><description>Kampung Santri</description><managingEditor>noreply@blogger.com (KRAJANKULON)</managingEditor><pubDate>Fri, 8 Nov 2024 07:40:18 -0800</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">14</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>http://desakrajankulon.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Kampung Santri</itunes:subtitle><itunes:category text="Government &amp; Organizations"><itunes:category text="Regional"/></itunes:category><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><title>ORANG GILA</title><link>http://desakrajankulon.blogspot.com/2014/12/orang-gila.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Wed, 17 Dec 2014 02:46:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6745753759021198922.post-3059700756666566945</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px; margin-bottom: 6px;"&gt;
Syaikh Abdullah Al-Ghazali dalam Risalah Tafsir menyampaikan sebuah riwayat (hadis) sebagai berikut:&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; color: #141823; font-family: Helvetica, Arial, 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 19.3199996948242px; margin-bottom: 6px; margin-top: 6px;"&gt;
“Pada suatu hari Rasulullah SAW ber-jalan melewati sekelompok sahabat yang sedang ber-kumpul. Lalu beliau bertanya kepada mereka: “Mengapa kalian berkumpul disini” Para sahabat tersebut lalu menjawab: “Ya Rasulullah, ada orang gila yang sedang mengamuk. Oleh sebab itulah kami ber-kumpul disini.” MenanggapI hal itu Rasulullah SAW lalu bersabda: “Sesungguhnya orang ini tida&lt;span class="text_exposed_show" style="display: inline;"&gt;klah gila (al-majnun), tapi orang ini hanya sedang mendapat musibah. Tahukah kalian, siapakah orang gila yang sebenar-benarnya disebut gila (al-majnuun haqqul majnuun) “. Para sahabat lalu menjawab: Tidak ya Rasulullah. Hanya Allah dan rasul-Nya jualah yang mengetahuinya.” Kemudian Rasulullah SAW menjelaskan: “Orang gila yang sesungguhnya gila (al-majnun haqqul majnun) adalah orang yang berjalan dengan penuh kesombongan; yang membusungkan dadanya; yang memandang orang dengan pandangan yang merendahkan; lalu berharap Tuhan akan memberinya surga; padahal ia selalu berbuat maksiat kepada-Nya. Selain itu orang-orang yang ada di sekitarnya, tidak pernah merasa aman dari kelakuan buruknya. Dan di sisi yang lain, orang juga tak pernah mengharapkan perbuatan baiknya. Nah, orang semacam inilah yang disebut sebagai orang gila yang sebenar-benarnya gila (al-majnuun haqqul majnuun). Adapun orang yang kalian tonton ini hanyalah sedang mendapat musibah dari Allah.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>REKAP HASIL PILKADES KRAJANKULON 2013</title><link>http://desakrajankulon.blogspot.com/2013/08/rekap-hasil-pilkades-krajankulon-2013.html</link><category>P4KD</category><category>Pilkades</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Tue, 27 Aug 2013 21:38:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6745753759021198922.post-294654246307871872</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;h5 class="uiStreamMessage userContentWrapper" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:1,&amp;quot;tn&amp;quot;:&amp;quot;K&amp;quot;}"&gt;
&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3,&amp;quot;tn&amp;quot;:&amp;quot;K&amp;quot;}"&gt;&lt;span class="userContent"&gt;Rekapitulasi hasil Pilkades Krajankulon 2013 &lt;br /&gt; 1. Zaenul Arifin ( Bos Pin ) mendapatkan suara 3.588&lt;br /&gt; 2. H. Abdul Latif mendapatkan suara 2.462&lt;br /&gt; suara yang tidak sah 113&lt;br /&gt; Total suara 6.163&lt;br /&gt; Source : P4KD Desa Krajankulon&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h5&gt;
&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Pesta Demokrasi Rakyat</title><link>http://desakrajankulon.blogspot.com/2013/07/pesta-demokrasi-rakyat.html</link><category>BPD</category><category>P4KD</category><category>Pilkades</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Wed, 3 Jul 2013 22:22:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6745753759021198922.post-6793000335618195583</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh_9kjwNuZhUEZVhnuGgfqWlrUU5dBqX5L6zwG0rfidUth_R5xQH9F61RFNWCVv9RNTc0nRqszKR45SOFWIMdy5bbhboEkA2BgEncfXg3bt4mBoz9bTkjzKnDy-vnLm-qeetR0j1SF_86Ib/s1600/masa+depan.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="124" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh_9kjwNuZhUEZVhnuGgfqWlrUU5dBqX5L6zwG0rfidUth_R5xQH9F61RFNWCVv9RNTc0nRqszKR45SOFWIMdy5bbhboEkA2BgEncfXg3bt4mBoz9bTkjzKnDy-vnLm-qeetR0j1SF_86Ib/s200/masa+depan.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Pada tahun 2013 ini di Desa Krajankulon Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kendal akan diadakan pesta demokrasi masyarakat untuk memilih calon Kepala Desa yang terkenal dengan istilah Pilkades. Untuk melaksanakan kegiatan tersebut Badan Permusyawaratan Desa ( BPD) yang dikoordinasi oleh ketua terpilih yaitu Bp.H.Moh Abbas, M.Pd segera membentuk Panitia Pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa atau yang disingkat dengan istilah P4KD.&lt;br /&gt;
Dengan kondisi yang sangat mendesak akhirnya BPD bekerja sama dengan Bp.H.Abdul Latief selaku Kepala Desa Krajankulon segera membentuk P4KD untuk kegiatan suksesnya Pilkades desa Krajankulon pada tahun 2013, atas beberapa masukan serta hasil rapat koordinasi antara BPD serta perangkat desa terpilih Ketua P4KD desa Krajankulon tahun 2013 yaitu: Bp. Zumarul Faizin yang juga selama ini menjabat sebagai ketua BKM&amp;nbsp; di Desa Krajan Kulon.&lt;br /&gt;
Sesuai dengan perda di Kabupaten Kendal bahwa massa kepemimpinan Bp.H.Abdul Latief selaku Kepala Desa Krajankulon akan berakhir pada tanggal 17 September 2013 maka Panitia P4KD berkoordinasi dengan Panitia Pemilihan Kecamatan Kaliwungu Kab Kendal. Alhamdulillah bahwa Pilkades di Desa Krajankulon sudah ditetapkan oleh Panitia pemilihan di Kecamatan menurut Perda Kab Kendal yaitu pada Hari Senin, tanggal 26 Agustus 2013.&lt;br /&gt;
Semoga P4KD Desa krajankulon segera bisa membentuk kepanitia Pilkades di desa Krajankulon Kec Kaliwungu Kab Kendal sehingga akan segera terpilih Kepala Desa Krajankulon yang memang dipilih oleh rakyat serta mengerti akan kekuatan - kelemahan dan peluang yang ada di Desa Krajan Kulon &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh_9kjwNuZhUEZVhnuGgfqWlrUU5dBqX5L6zwG0rfidUth_R5xQH9F61RFNWCVv9RNTc0nRqszKR45SOFWIMdy5bbhboEkA2BgEncfXg3bt4mBoz9bTkjzKnDy-vnLm-qeetR0j1SF_86Ib/s72-c/masa+depan.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Sejarah Kendal </title><link>http://desakrajankulon.blogspot.com/2013/03/sejarah-kendal.html</link><category>Artikel</category><category>Sejarah Kendal</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Fri, 8 Mar 2013 02:50:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6745753759021198922.post-4032096603361198186</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;h2 class="itemTitle"&gt;
						
	  	Sejarah Kendal
	  	
	  &lt;/h2&gt;
&lt;span class="itemAuthor"&gt;
			&lt;/span&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXn7fhSlYRCZn8eZlujZBjC38gZ-32gTzfRQgobdG1TlNTSRxVzyYJsJKZXtpk_O_KNsAP9vHcwHavjCxopCaCsXoUysEDXA-6q3xQc2BKaH2qtxEX0Hq1h95gOhTONtJ65DgMVQshsZue/s1600/kendal.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXn7fhSlYRCZn8eZlujZBjC38gZ-32gTzfRQgobdG1TlNTSRxVzyYJsJKZXtpk_O_KNsAP9vHcwHavjCxopCaCsXoUysEDXA-6q3xQc2BKaH2qtxEX0Hq1h95gOhTONtJ65DgMVQshsZue/s200/kendal.jpg" width="172" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Nama Kendal diambil dari nama sebuah 
pohon yakni Pohon Kendal. Pohon yang berdaun rimbun itu sudah dikenal 
sejak masa Kerajaan Demak pada tahun 1500 - 1546 M yaitu pada masa 
Pemerintahan Sultan Trenggono. Pada awal pemerintahannya tahun 1521 M, 
Sultan Trenggono pernah memerintah Sunan Katong untuk memesan Pusaka 
kepada Pakuwojo.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;a href="http://www.blogger.com/blogger.g?blogID=6745753759021198922" name="system-readmore"&gt;&lt;/a&gt; Peristiwa
 yang menimbulkan pertentangan dan mengakibatkan pertentangan dan 
mengakibatkan kematian itu tercatat dalam Prasasti. Bahkan hingga 
sekarang makam kedua tokoh dalam sejarah Kendal yang berada di Desa 
Protomulyo Kecamatan Kaliwungu itu masih dikeramatkan masyarakat secara 
luas. Menurut kisah, Sunan Katong pernah terpana memandang keindahan dan
 kerindangan pohon Kendal yang tumbuh di lingkungan sekitar. Sambil 
menikmati pemandangan pohon Kendal yang nampak "sari" itu, Beliau 
menyebut bahwa di daerah tersebut kelak bakal disebut "Kendalsari". 
Pohon besar yang oleh warga masyarakat disebut-sebut berada di pinggir 
Jln Pemuda Kendal itu juga dikenal dengan nama Kendal Growong karena 
batangnya berlubang atau growong.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;

&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari kisah tersebut diketahui bahwa nama
 Kendal dipakai untuk menyebutkan suatu wilayah atau daerah setelah 
Sunan Katong menyebutnya. Kisah penyebutan nama itu didukung oleh 
berita-berita perjalanan Orang-orang Portugis yang oleh Tom Peres 
dikatakan bahwa pada abad ke 15 di Pantai Utara Jawa terdapat Pelabuhan 
terkenal yaitu Semarang, Tegal dan Kendal. Bahkan oleh Dr. H.J. Graaf 
dikatakan bahwa pada abad 15 dan 16 sejarah Pesisir Tanah Jawa itu 
memiliki yang arti sangat penting. Sejarah Berdirinya Kabupaten Kendal&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Adalah seorang pemuda bernama Joko Bahu 
putra dari Ki Ageng Cempaluk yang bertempat tinggal di Daerah Kesesi 
Kabupaten Pekalongan. Joko Bahu dikenal sebagai seorang yang mencintai 
sesama dan pekerja keras hingga Joko Bahu pun berhasil memajukan 
daerahnya. Atas keberhasilan itulah akhirnya Sultan Agung Hanyokrokusumo
 mengangkatnya menjadi Bupati Kendal bergelar Tumenggung Bahurekso. 
Selain itu Tumenggung Bahurekso juga diangkat sebagai Panglima Perang 
Mataram pada tanggal 26 Agustus 1628 untuk memimpin puluhan ribu 
prajurit menyerbu VOC di Batavia. Pada pertempuran tanggal 21 Oktober 
1628 di Batavia Tumenggung Bahurekso beserta ke dua putranya gugur 
sebagai Kusuma Bangsa. Dari perjalanan Sang Tumenggung Bahurekso 
memimpin penyerangan VOC di Batavia pada tanggal 26 Agustus 1628 itulah 
kemudian dijadikan patokan sejarah lahirnya Kabupaten Kendal.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Perkembangan lebih lanjut dengan 
momentum gugurnya Tumenggung Bahurekso sebagi penentuan Hari jadi 
dinilai beberapa kalangan kurang tepat. Karena momentum tersebut 
merupakan sejarah kelam bagi seorang tokoh yang bernama Bahurekso. 
Sehingga bila tanggal tersebut diambil sebagai momentum hari jadi 
dikhawatirkan akan membawa efek psikologis. Munculnya istilah "gagal dan
 gugur" dalam mitologi Jawa dikawatirkan akan membentuk bias-bias 
kejiwaan yang berpengaruh pada perilaku pola rasa, cipta dan karsa warga
 Kabupaten Kendal, sehingga dirasa kurang tepat jika dijadikan sebagai 
pertanda awal mula munculnya Kabupaten Kendal.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari Hasil Seminar yang diadakan tanggal
 15 Agustus 2006, dengan mengundang para pakar dan pelaku sejarah, 
seperti Prof. Dr. Djuliati Suroyo ( guru besar Fakultas sastra Undip 
Semarang ), Dr. Wasino, M.Hum ( dosen Pasca Sarjana Unnes ) H. Moenadi (
 Tokoh Masyarakat Kendal dengan moderator Dr. Singgih Tri Sulistiyono. 
serta setelah diadakan penelitian dan pengkajian secara komprehensip 
menyepakati dan menyimpulkan bahwa momentum pengangkatan Bahurekso 
sebagai Bupati Kendal, dijadikan titik tolak diterapkannya hari jadi. 
Pengangkatan bertepatan pada 12 Rabiul Awal 1014 H atau 28 Juli 1605. 
Tangal tersebut persis hari Kamis Legi malam jumat pahing tahun 1527 
Caka. Penentuan Hari Jadi ini selanjutnya ditetapkan melalui Peraturan 
Daerah ( PERDA ) Kabupaten Kendal Nomor 20 Tahun 2006, tentang Penetapan
 Hari Jadi Kabupaten Kendal ( Lembaran Daerah no 20 Tahun 2006 Seri E 
nomor 15 )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="color: #ff6600;"&gt;&lt;strong&gt;Pemerintahan Kabupaten Kendal Sekarang dan Jaman Doeloe&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kaiwungu pernah berjaya sebagai pusat 
pemerintahan sejak awal berdirinya Kabupaten Kendal. Namun karena 
kondisi perpolitikan di pusat Mataram pada waktu itu dan adanya 
pertimbangan untuk perkembangan pemerintahan, menyebabkan pusat 
pemerintahan tersebut pindah ke kota Kendal hingga sekarang. Sehingga 
akhirnya Kaliwungu hanya digunakan untuk tempat tinggal kerabat Ayahanda
 Bupati yang sering disebut sebagai Kasepuhan. Sedangkan pemerintahannya
 dijadikan sebagai daerah administrasi yaitu Distrik Kaliwungu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
Bupati Kendal dan Pusat Pemerintahan dari Masa ke Masa&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;

&lt;ol style="margin-top: 0cm;" type="1"&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ki Tumenggung Bahurekso, 1605 - 1628.&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ki Ngabei Wiraseca, 1629 -1641.&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ki Ngabei Mertayuda, 1641 - 1649.&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ki Ngabei Wangsadipradja, 1649 - 1650.&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ki Ngabei Wangsawirapradja, 1650 - 1661.&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ki Ngabei Wangsawirasraya, 1661 - 1663.&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;KRT. Singawijaya, 1663 - 1668.&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;KRT. Mertawijaya 1668 - 1694.&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kompang ( Wakil ) 1694 - 1700.&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;KRT. Mertawijaya II 1700 - 1725.&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;KRT. Mertawijaya III 1725 - 1730.&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;KRT. Singawijaya II ( Kendilwesi ) 1730 - 1755.&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;KRT. Sumanegara I 1755 - 1780.&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;KRT. Sumanegara II 1780 - 1785.&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;KRT. Surahadinegara 1785 - 1805.&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;KRT. Adipati Prawirodiningrat I 1805 - 1811.&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;KRT. Adipati Prawiradiningrat II (Bupati terakhir Kendal dengan Pusat Pemerintahan masih di Kaliwungu) 1811-1830.&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;KRT. Adipati Purbadiningrat ( Asal Gresik ) Menantu Bupati P. Ario Prawirodingrat II 1830 -1850.&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;KRT. Adipati Sasrahadiningrat 1850 - 1857.&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;KR. Adipati&amp;nbsp; Ario Notohamiprojo 1857 -1890.&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;KRT. Adipati Ario Notonegoro Putra Bupati Pangeran Ario Notohamiprojo 1890 - 1911.&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;KRT . Adipati Natahanipradja 1911 - 1938.&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;KRT. Adipati Parwitz Purbanegara 1938 - 1942.&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;RM. Kusumahudaya 1942 - 1945.&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;R. Sukarno 1945 - 1948.&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;R. Ruslan 1948 - 1950.&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;R. Prayirno 1950 - 1957.&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;R. Sujono 1957 - 1960.&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;R. Salatun 1960 - 1965.&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mayor Infantri R. Sunardi 1965 - 1967.&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Letkol RM. Suryosusena 1967 - 1972.&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Drs. H Abdoes Saleh Ranawidjaja 1972 - 1979.&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Drs. H Herman Soemarmo 1979 - 1984.&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;H. Soedono Yusuf 1984 - 1989.&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;H. Soemojo Hadiwinoto, SH 1989 - 1999.&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Drs. H. Jumadi 1999 - 1999.&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;H. Hendy Boedoro SH, M.Si - Drs. H. Masdiki Yusak, Mpd 2000 - 2005.&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Drs. Suwarto Nasucha, M.Si - Pj. Bupati Kendal 2005 - 2005.&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;H. Hendy Boedoro SH, M.Si - Dra. Hj. Siti Nurmarkesi, Masa Jabatan 2005 - 2010.&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dra. Hj. Siti Nurmarkesi - Wakil Bupati Kendal yang melaksanakan tugas dan kewajiban Bupati Kendal, 2007 - 2009.&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dra. Hj. Siti Nurmarkesi, Masa Jabatan tgl 22 Juli 2009 s/d 22 Agustus 2010.&lt;/li&gt;
&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;dr. Hj. Widya Kandi Susanti, MM. Terhitung mulai tgl. 23 Agustus 2010 s/d sekarang.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;strong&gt;Ketua DPRD Kabupaten Kendal&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;

&lt;div class="MsoNormal" style="text-indent: 17.85pt;"&gt;
&lt;span&gt;Sejak Pemilu Tahun 1955 sampai sekarang DPRD Kabupaten Kendal dipimpin 13 orang, yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-indent: 17.85pt;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 53.85pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;span&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span style="font: 7pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Mardi Hady, 1955-1957&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 53.85pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;span&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span style="font: 7pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Waluyo Wignjonijoso, 1957-1962&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 53.85pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;span&gt;&lt;span&gt;3.&lt;span style="font: 7pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Mardi Hady, 1965-1967&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 53.85pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;span&gt;&lt;span&gt;4.&lt;span style="font: 7pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;H. Macfudz Amin, 1967-1972&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 53.85pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;span&gt;&lt;span&gt;5.&lt;span style="font: 7pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Urip Ischak, 1972-1977&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 53.85pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;span&gt;&lt;span&gt;6.&lt;span style="font: 7pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Drs. Hasan Basari, 1977-1980&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 53.85pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;span&gt;&lt;span&gt;7.&lt;span style="font: 7pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Achmad Soetrisno, 1980-1982&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 53.85pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;span&gt;&lt;span&gt;8.&lt;span style="font: 7pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Achmad Soetrisno, 1982-1987&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 53.85pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;span&gt;&lt;span&gt;9.&lt;span style="font: 7pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Sofian Purwosubroto, 1987-1992&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 53.85pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;span&gt;&lt;span&gt;10.&lt;span style="font: 7pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Kol. Infantri Kusnadi, 1992-1997&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 53.85pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;span&gt;&lt;span&gt;11.&lt;span style="font: 7pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Abu Bakar Wakkano, 1997-1999&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 53.85pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;span&gt;&lt;span&gt;12.&lt;span style="font: 7pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Sutrimo, 1999-2004&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 53.85pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;span&gt;&lt;span&gt;13.&lt;span style="font: 7pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Drs. H. Ahmat Suyuti, 2004-2009&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 53.85pt; text-indent: -18pt;"&gt;
&lt;span&gt;&lt;span&gt;14.&lt;span style="font: 7pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Anik Kasiyani, 2009-2014&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;div class="MsoNormal"&gt;
Sumber: Buku Refleksi Hari Jadi Ke-405 Kabupaten Kendal Tahun 2010.&lt;/div&gt;
&lt;h2 class="itemTitle"&gt;
	  	
	  &lt;/h2&gt;
&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXn7fhSlYRCZn8eZlujZBjC38gZ-32gTzfRQgobdG1TlNTSRxVzyYJsJKZXtpk_O_KNsAP9vHcwHavjCxopCaCsXoUysEDXA-6q3xQc2BKaH2qtxEX0Hq1h95gOhTONtJ65DgMVQshsZue/s72-c/kendal.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>KH.MAHFUDZ SARBINI</title><link>http://desakrajankulon.blogspot.com/2013/03/khmahfudz-sarbini.html</link><category>Artikel</category><category>Tokoh</category><category>Ulama</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Thu, 7 Mar 2013 21:42:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6745753759021198922.post-5738827099740926543</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;
&lt;a href="http://jasmidakaliwungu.files.wordpress.com/2012/07/kh-makhfudz-sarbini1.jpg?w=300&amp;amp;h=300" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="" border="0" class="alignleft size-medium wp-image-44" height="200" src="http://jasmidakaliwungu.files.wordpress.com/2012/07/kh-makhfudz-sarbini1.jpg?w=300&amp;amp;h=300" title="kh.makhfudz sarbini" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;Tidak lengkap rasanya mengulas tentang kotasantri di Kaliwungu tanpa membicarakan para Ulama dan para Kyai-nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
KH.Mahfudz sarbini yang biasa dipanggil dengan Mbah kaji merupakan salah
 satu sosok Ulama kaliwungu yang memiliki karismatik, beliau lahir 
sekitar tahun 1920 anak pasangan dari H.sarbini dan Hj.Romlah.beliau 
dijuluki oleh para ulama disekitar kaliwungu sebagai bapaknya 
alqur’an,karna sejak sebelum nikah sudah menjadi imam tarawih dimasjid 
al mutaqqin Kaliwungu kendal bersama KH.Asror ridwan,KH Mahfudz madian, 
Kyai Nasikhin, dan KH.Toha(es). Sejak kecil Beliau sudah menampakan 
kecerdasannya dan keshalihannya, pada umur 12 th beliau sudah rampung 
disimak 30jus bil ghoib secara langsung oleh gurunya yang bernama KH 
.A.Badawi Abdurrosyid yang merupakan guru besar tahafudzul qur’an sekota
 kaliwungu.
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Mbah kaji sosok ulama yang cukup sempurna dalam menjalankan perintah 
agama, beliau bukan saja mengajarkan alqur’an, namun juga dalam 
menjalankan kehidupanya,alqur’an seakan-akan sudah menjadi bagian dari 
dirinya. Maka wajar jika dalam perilaku sehari-hari beliau penuh 
tawadhu’,istiqomah ,zuhud dan ikhlas. Banyak dari beberapa pihak maupun 
para santri beliau yang coba untuk mempublikasikan kegiatannya selalu di
 tolak dengan halus oleh Mbah Kaji.&lt;br /&gt;
Banyak yang pernah menjadi murid beliau yang sekarang menjadi 
ulama-ulama ternama dikota kaliwungu seperti KH.Aqib umar,KH.Nujumudin 
badawi, KH. Munawirudin badawi, KH. Baduhun badawi,dan masih banyak lagi
 murid beliau yang menjadi ulama-ulama besar disekitar kota kaliwungu 
bahkan sampai ada diluar jawa.&lt;br /&gt;
Masa kecil Mbah Kaji dihabiskan di kampung kelahirannya; Krajan kulon
 Kaliwungu. Awal menuntut ilmu, beliau menghafalkan alqur’an,yang 
langsung didik oleh KH.A.Badawi.pernah mengaji tafsir dengan kyai 
Ibrahim,ilmu falaknya dengan Kyai Ahmad Hamim dan dengan ulama-ulama 
lainya disekitar kaliwungu, Lalu sempat melanjutkan berkelana menuntut 
ilmu agama didaerah solo,namun karna pada waktu itu sedang terjadi 
kekisruhan didaerah tempatnya mondok beliaupun akhirnya pulang kedaerah 
asalnya&lt;br /&gt;
Kata nara sumber, para kiai sepuh tersebut adalah memiliki kriteria kekhilafahan atau mursyid sempurna.&lt;br /&gt;
Pernah ada suatu kisah yang amat mencengangkan dari beliau sewaktu 
pertama kali mondok dipesantren daerah solo, ketika beliau disuruh untuk
 diantarkan santri kekamarnya, ternyata malah santri tersebut 
mengantarknya ke tempat pembuangan air besar atau wc, beliaupun didalam 
dikunci selama 2 hari, tidak makan ataupun minum, bahkan santri tersebut
 malah tambah ingin mengerjainya, tapi ketika santri tersebut datang ke 
wc, malah seakan-akan yang diliatnya mbah kaji sedang makan- minum 
ditemani oleh kyainya bahkan disitu kyainya sedang belajar alqur’an 
dengan beliau, santri inipun kaget dan langsung pingsan ditempat, ketika
 sadar santri tersebut sudah berada dikamarnya dan dikerubuti oleh para 
santri yang lain.&lt;br /&gt;
Setelah itu sisantri tersebut mencritkan kepada kyainya, namun 
kyainya langsung kaget dan berlari menuju ke wc tersebut, dan dibukalah 
pintu ternyata mbah kaji sedang tidur dengan keadan lisan bersuarak 
ayat-ayat suci alqur’an,subhanallah..&lt;br /&gt;
Tak lama kemudian mbah kajipun dibangunkan oleh kyainya seraya 
dipeluk dan diajak ke kamar kyainya,,,kemudian iapun ditanya dan 
menjawab bahwa ketika beliau dikunci dikamar mandi beliau langsung tak 
sadarkan dri karna terlalu kecapekan karna perjalan jauh.akhirnya mulai 
itula beliau dikenal dan disegani dikalangan pondok pesantren tersebut.&lt;br /&gt;
Wallahu a’lam. Ada banyak cerita tak masuk akal yang menyangkut 
dirinya, namun kadar ”gula-gula” tidaklah terasa sebab penitikberatan 
segala kisah perjuangan mbah kaji lebih diambil dari orang-orang yang 
menjadi saksi hidupnya (kebanyakan dari mereka masih hidup) dan 
dituturkan apa adanya. Almrhum mbah kaji memang sudah masyhur wira’inya.
 Di waktu ia kecil,ia sudah terbiasa tirakat, tidak pernah terlihat 
tidur dan istimewanya adalah menu makanya yang hanya sekedar. Beliau 
selalu menghabiskan waktu untuk menimba ilmu, baik dengan mengaji, 
mengajar atau mutola’ah. Sampai sudah tuapun, mbah kaji masih 
menjalankan keistiqamahannya itu dan tidak dikurangi bahkan ditambah.&lt;br /&gt;
.&lt;br /&gt;
Tanggal 27 rajab tahun 1993 tepatnya pada hari ahad sore hari 
KH.Mahfudz dipanggil oleh Alloh SWt keharibaannya.di RS.Soewondo 
Kendal.narasumber mengatakan sewaktu beliau sakit dan hampir menjelang 
ajal beliau sering merintih, namun anehnya rintihan itu tak slayaknya 
seperti rintihan orang keskitan karna ternyata suara yang dianggapan 
rintihan tersebut ternyata adalah suara ayat-ayat suci alqur’an. fakbut 
rabaka hatta yaktiyakal yaqin merupan pesan terakhir yang terdengar dari
 mulutnya seblum meninggal dunia, Kaliwungu telah kehilangan sosok ulama
 yang karismatik dan tawadhu’yang menjadi tumpuan berbagai kalangan 
masyarakat untuk dimintai nasihatnya bukan hanya dari masyarakat 
kaliwungu saja saja tapi juga umat islam pada umumnya.Beliau di maqomkan
 tak jauh dari rumahnya tepatnya daerah kampung tridasari. .&lt;br /&gt;
Atas meninggalnya ulama krismatik di Desa Krajan Kulon,Kaliwungu 
Kendal KH .Mahfudz Sarbini, hari ahad sedikit banyak umat Islam sangat 
kehilangan. Ulama besar yang jadi tumpuan berbagai kalangan masyarakat 
untuk dimintai nasihatnya bukan saja masyarakat kaliwungu yang 
kehilangan, namun umat Islam disekitarnya pada umumnya.&lt;br /&gt;
sumber :majalah alkisah&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>KALIWUNGU KOTA SANTRI</title><link>http://desakrajankulon.blogspot.com/2013/03/kaliwungu-kota-santri_2.html</link><category>Artikel</category><category>Kota Santri</category><category>Sejarah Kaliwungu</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Sat, 2 Mar 2013 21:50:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6745753759021198922.post-2925597345147293715</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiPmq4PIRs9Tair9wnKTWq_6DXl1VAoFNzpAnqULvgcZUhFB5OoS-iFMiGXvrZ92IAtiwHWHbWR6jXSvvYEn5PTYipxtM7R7GE-uAYiDOkTrjsgP7vTp7wTsxVmSkS8j-sTBEoZgfvmDyf6/s1600/gedung+NU.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="237" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiPmq4PIRs9Tair9wnKTWq_6DXl1VAoFNzpAnqULvgcZUhFB5OoS-iFMiGXvrZ92IAtiwHWHbWR6jXSvvYEn5PTYipxtM7R7GE-uAYiDOkTrjsgP7vTp7wTsxVmSkS8j-sTBEoZgfvmDyf6/s320/gedung+NU.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Kaliwungu adalah sebuah kecamatan di Kabupaten
Kendal, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Kecamatan ini berbatasan langsung
dengan Semarang, tepatnya di sebelah barat Kota Semarang, Indonesia.&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;Kaliwungu terkenal dengan sebutan kota santri
dikarenakan di kecamatan tersebut terdapat puluhan pondok pesantren. Pemberian
nama Kaliwungu diambil dari peristiwa seorang guru (Sunan Katong) dan muridnya
(Pakuwojo) yang berkelahi di dekat sungai karena perbedaan prinsip. Dari
pertengkaran itu terjadi pertumpahan darah yang menurut cerita, Sunan Katong
berdarah biru dan Pakuwojo berdarah merah, keduanya wafat dalam perkelahian itu
dan darahnya mengalir di sungai sehingga berubah menjadi ungu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Dan berikut ini adalah sejarah singkat masuknya islam di kaliwungu :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;

&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;1. &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;SULTAN
DEMAK KE II&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Setelah sultan Demak ke I Raden Patah mangkat,
digantikan putera sulungnya bernama pangeran Surya atau adipati Yunus (Jepara)
atau disebut juga pangeran Sabrang Lor.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;2.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;KI
PANDANARANG I&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Setelah Sultan Demak II (Pati Yunus) mangkat,
puteranya yang tertua, pangeran Made Pandan tidak bersedia menggantikan tahta
kesultanan Demak. Di pulau Tirang inilah beliau sebagai mubaligh mulai
menyebarkan agama Islam terhadap penduduk yang masih memeluk agama Hindu/Budha,
di samping mengajarkan pula bercocok taman. Karena ketekunannya Pangeran Made
Pandan dapat menundukkan mereka dan akhirnya masuk Islam. Di pulau Tirang
terdapat tanaman pandan tetapi jarang (arang-arang-jawa), akhirnya di tempat
tersebut disebut pandanarang, adapun pangeran Made Pandan disebut Ki
Pandanarang. (I).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Pangeran Made Pandan kawin dengan Sejanila, menurut
sementara sejarah adalah putera Pangeran Panduruan di Sumenep (keturunan Raden
Patah). Ki Pandanarang, sekarang disebut Pragota atau Bregoto; makam Nyi
Sejanila juga berada di Bregoto.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;3. JUMENENGAN BUPATI SEMARANG KE –I&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Di sekitar Pragota(Bregoto) terdapat tanaman asam
tetapi jarang-jarang (arang-arang); akhirnya wilayah ini di sebut semarang,
asal dari kata-kata Asem-arang, dan disini sudah mulai banyak penduduknya. Sunan
Kalijogo (Raden Sahid) seorang wali yang terkenal namanya diantara Sembilan
Wali dari Demak berkehendak mengangkat putra sulung Ki Pndanarang I (Made
Pandan) yang bernama pangeran kasepuhan untuk menjabat bupati di Semarang;
maksud ini direstui oleh Sultan Pajang Hadiwijoyo, terlaksana pangeran
kasepuhan diangkat menjadi bupati di semarang yang pertama dengan gelar Ki
Pandanarang II. Bupati Semarang ke I ini wataknya kikir dan silau akan harta,
akan tetapi Sunan Kalijaga dapat meramalkan bahwa di kemudian hari Ki
Pandanarang II dapat menjadi wali sebagai ganti Syeh Siti Jenar. Dengan
tindakan dan cara yang bijaksana sunan Kalijaga dapat menyadarkan Ki
Pandanarang II akan wataknya yang tidak baik itu, dan akhirnya beliau
menyerahkan diri dan bertaubat. Selanjutnya Sunan Kalijaga beliau diperintahkan
supaya meninggalakan kamukten sebagai Bupati; akhirnya beliau bersama
keluarganya hijrah dan menetap di Tembayat;disini beliau di tugaskan sebagai
mubaligh menyebarkan agama Islam, akhirnya disebut sunan Tembayat. Kira-kira
tahun 1563 H. beliau wafat, dimakamkan di gunung jabalkat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Setelah Ki Pandanarang II hijrah, kedudukan Bupati
Semarang dig anti adiknya, pangeran Kanoman, dengan gelar Ki Pandanarang III
sebagai Bupati Semarang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;4. BATARA KATONG MASUK ISLAM&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Batara Katong adalah adipati Ponorogo; menurut
sementara sejarah/cerita, beliau adalah putera yang ke 24 dari prabu Browijoyo
V dari Majapahit (Kertobumi), jadi adik raden Patah Sultan Bintoro Demak.
Batara Katong memeluk agama Hindu;Batara Katong menerma anjuran dari Raden
Patah untuk memeluk Islam, anjuran itu diterima tetapi akan dipenuhi setalah
ayahandanya mangkat; setelah ayahanda mangkat, Batara Katong tidak menepati
janjinya dan selalu menagguhkan waktunya. Akhirnya Batara Katong menerima Ilham
( wangsit) dari Tuhan dan dapat petunjuk supaya meninggalkan kamukten sebagai
adipati dan supaya berguru ke Pulau Tirang, maka berangkatlah Batara Katong
menuju kearah yang du tunjukkan&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;menurut
wangsit itu, yaitu ke Pulau Tirang, berguru kepada Ki Pandanarang I (Made
Pandan) dan masuk Islam setelah dianggap cukup dalam mempelajari agama Islam.
Dalam perjalanannya beliau sampai di suatu sungai (Kali), berhenti
beristirahat, akhirnya tiduran tepat dibawah pohon yang warnanya ungu (wungu);
akhirnya di tempat itu di sebut desa kaliwungu, sedang sungainya disebut kali
sarean, masih ada hingga sekarang. Jadi itulah asal usul nama desa Kaliwungu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;5. PENYIARAN AGAMA ISLAM DI KALIWUNGU&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Karena desa kaliwungu dan sekitarnya penduduknya
belum memeluk agama Islam, maka Batara Katong mulai mengembangkan agama Islam,
beliau bermukim dibukit Penjor. Setelah tugas penyiaran agama Islam Nampak
berhasil dan banyak muridnya, maka beliau mendirikan mesjid ditempat yang
disebut sawah jati, tempat ini sekarang tidak Nampak bekasnya. Sejak itulah
Batara Katong di sebut sunan Katong. Di tengah kota Kaliwungu sekarang ada
jalan yang diberi nama Sawah jati ; mungkin nama jalan ini mengambil dari
sejarah bahwa distitu&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;dahulunya tempat
didirikan masjid yang permata oleh Batara Katong. Setelah Sunan Katong wafat
dimakamkan ditempat yang dulu disebut togal sawah, yang dikenal sekarang adalah
makam Protowetan termasuk desa Protomulyo; makam tersebut tidak jauh dari bukit
Penjor. Di komplek makam ini dimakamkan pula para tokoh Islam, makam tersebut
dimuliakan oleh rakyat dan tiap than di ziarahi besar besaran oleh rakyat
kaliwungu dan dari lain daerah tiap tiap tanggal 7 syawwal, disbut syawwalan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Mengenai sunan Katong atau Batara Katong dan
makamnya yang ada di protowetan kec. Kaliwungu sering timbul pertanyaan dan
keraguan, benarkan tokoh Islam yang disebut Sunan Katong itu identitas dengan
Batara katong Adipati Ponorogo? Karena Diponegoro terdapat pusara/kubur Batara
Katong.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Karena menurut catatan atau Memorires van Pangeran
Ario Notohamiprojo Ragent van Kendal, halaman 91 menunjukkan pada waktu mudanya
P.A. Notohamiprojo pernah mengikiti perjalanan dalam rangka peninjauan Prins
Frederik Henderik cucuu raja Nederland ke pulau jawa bulan juni 1837, sehingga
meninjau kuburnya Batara Katong di ponorogo. Jadi istilah kubur di artikan
adalah tempat jenazah di kebumikan. Hanya menurut kepercayaan rakyat di
Kaliwungu sangat percaya bahwa pusara Sunan Katong adalah di Protowetan, lepas
dari pemikiran apakah Sunan Katong itu identitas dengan Batara Katong atau
bukan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;6. KYAI GURU PENERUS PENYIARAN AGAMA ISLAM&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Setelah sunan Katong wafat, maka datanglah pada
tahun 1560 M. di kaliwungu seorang ulama asal mataram bernama Kyai Haji
Asy’ari, beliau pernah bermukim di mekkah untuk memperdalam ajaran Islam. Di
Kaliwungu beliau menyiarkan agama Islam, jadi beliau adalah seorang yang
pertama kali debagai penerus pengembangan Islam setelah Sunan Katong wafat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Kyai Asy’ari dalam penyarannya agama Islam di
Kaliwungu mendapat kemajuan, muridnya bertambah banyak, tidak saja dari desa
Kaliwungu tetapi juga dari lain desa. Selanjutnya Kyai Asy’ari mendirikan rumah
pesantren dan juga sebagai tempat tinggalnya yang tetap; akhirnya Kyai H.
Asy’ari di sebut Kyai Guru. Karena bekal ilmu yang di peroleh selama bermukim
di mekkah, maka dalam memberikan pelajaran agama Islam juga lebih luas; tidak
hanya di bidang ketauhidan saja tetapi juga dibidang lain mengenai syariat
agama Islam, sedang masa Sunan katong yang di tanamkan khusus di bidang ketaukhidan/keimanan
pada Tuhan Yang Maha Esa, sesuai pada keadaan pada masa itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;7. &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;KYAI GURU
PENDIRI MASJID JAMI’ KALIWUNGU&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Menurut kisah yang di muat dalam brosur Syawalan
terbitan 1977 menyebutkan bahwa Kyai Guru adalah pendiri masjid Jami’ di
Kaliwungu. Dahulu bentuk masjid itu tentu saja masih sangat sederhana
bangunannya. Sekarang sudah mengalami pemugaran lima kali di bawah pimpinan
keturunan Kyai Guru.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormal"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Pemugaran pertama pada tahun 1653 di bawah pimpinan
Kyai Haji Mohammad, pada sekitar zamannya Bupati kaliwungu Tmg. Wirosoco atau
masa ngabei Metoyudo dan Tmg. Wongsodiprojo.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;

&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiPmq4PIRs9Tair9wnKTWq_6DXl1VAoFNzpAnqULvgcZUhFB5OoS-iFMiGXvrZ92IAtiwHWHbWR6jXSvvYEn5PTYipxtM7R7GE-uAYiDOkTrjsgP7vTp7wTsxVmSkS8j-sTBEoZgfvmDyf6/s72-c/gedung+NU.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>LAMBANG DAERAH KABUPATEN KENDAL</title><link>http://desakrajankulon.blogspot.com/2013/03/lambang-daerah-kabupaten-kendal.html</link><category>Lambang Daerah Kendal</category><category>Logo Baru</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Fri, 1 Mar 2013 02:55:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6745753759021198922.post-6771753866680548870</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;h2 class="itemTitle"&gt;
						
	  	Lambang Daerah
	  	
	  &lt;/h2&gt;
&lt;span class="itemAuthor"&gt;&lt;/span&gt;&lt;a class="jcepopup noicon" href="http://www.kendalkab.go.id/images/Selayang_Pandang/Tentang_Kendal/logobaru_ukuran_kecil.jpg" target="_blank"&gt;&lt;img class="img-polaroid" data-src="/images/Selayang_Pandang/Tentang_Kendal/logobaru_ukuran_kecil.jpg" src="http://www.kendalkab.go.id/images/Selayang_Pandang/Tentang_Kendal/logobaru_ukuran_kecil.jpg" style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto; opacity: 1; visibility: visible;" /&gt;&lt;/a&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;code&gt;&lt;samp&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;LOGO KABUPATEN&lt;/span&gt; &lt;span style="color: black;"&gt;KENDAL&lt;/span&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;
					&lt;/samp&gt;
					&lt;/code&gt; &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;code&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;/code&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;a class="jcepopup noicon" href="http://www.kendalkab.go.id/images/Selayang_Pandang/Tentang_Kendal/perisai.jpg" target="_blank"&gt;&lt;span style="font-size: 14pt;"&gt;&lt;img class="img-polaroid" data-src="/images/Selayang_Pandang/Tentang_Kendal/perisai.jpg" src="http://www.kendalkab.go.id/images/Selayang_Pandang/Tentang_Kendal/perisai.jpg" style="opacity: 1; visibility: visible;" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;dl&gt;
&lt;dt&gt;&lt;code&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt; &lt;/code&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;samp&gt;Bentuk Dasar&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&amp;nbsp;&lt;/samp&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/dt&gt;
&lt;/dl&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;&lt;code&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;samp&gt;Berbentuk perisai.&lt;/samp&gt;&lt;/span&gt;&lt;/code&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;code&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;samp&gt;Warna kuning sebagai back ground dimaknai masyarakat Kendal mempunyai kerukunan,&lt;/samp&gt;&lt;/span&gt;&lt;/code&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;code&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;samp&gt;kemuliaan akhlaq dengan bertuliskan “NGESTI WIDDHI” menandakan bahwa niat usaha dilandasi karena mencari Ridlo-Nya.&lt;/samp&gt;&lt;/span&gt;&lt;/code&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;code&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;samp&gt; Warna merah di dalam roda
 bergerigi dikandung maksud masyarakat Kendal mempunyai makna keberanian
 dan ketegasan dalam menghadapi tantangan yang menghadang.&lt;/samp&gt;&lt;/span&gt;&lt;/code&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;code&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;samp&gt; Warna putih di tengah lingkaran merah adalah cahaya kemuliaan, dan keagungan.&lt;/samp&gt;&lt;/span&gt;&lt;/code&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;code&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt; Warna biru 
pada bagian bawah perisai dimaknai sebagai jiwa masyarakat Kendal suka 
damai, optimis mencapai harapan, warna biru juga melambangkan bahwa 
Kendal adalah termasuk daerah maritim yang kaya dengan hasil laut dan 
memiliki pelabuhan yang strategis.&lt;/samp&gt;&lt;/span&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;/code&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;dl&gt;
&lt;dt&gt;&lt;code&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;strong&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/samp&gt;&lt;a class="jcepopup noicon" href="http://www.kendalkab.go.id/images/Selayang_Pandang/Tentang_Kendal/bintang.jpg" target="_blank"&gt;&lt;samp&gt;&lt;strong&gt;&lt;img class="img-polaroid" data-src="/images/Selayang_Pandang/Tentang_Kendal/bintang.jpg" src="http://www.kendalkab.go.id/images/Selayang_Pandang/Tentang_Kendal/bintang.jpg" style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto; opacity: 1; visibility: visible;" /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/samp&gt;&lt;/a&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/samp&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;samp&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Bintang&lt;/samp&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;/span&gt;&lt;/code&gt;&lt;/dt&gt;
&lt;/dl&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;&lt;code&gt;&lt;samp&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Melambangkan&lt;/span&gt; &lt;span style="color: black;"&gt;masyarakat Kendal memiliki jiwa religius dan taat menjalankan agamanya.&lt;/span&gt;&lt;/samp&gt;&lt;/code&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;code&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt; Bintang bersudut lima juga melambangkan Pancasila sebagai landasan kehidupan berbangsa dan bernegara.&lt;/samp&gt;&lt;/span&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;/code&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;dl&gt;
&lt;dt&gt;&lt;code&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;/code&gt;&lt;samp&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/samp&gt;&lt;a class="jcepopup noicon" href="http://www.kendalkab.go.id/images/Selayang_Pandang/Tentang_Kendal/pita_merah_putih.jpg" target="_blank"&gt;&lt;samp&gt;&lt;strong&gt;&lt;img class="img-polaroid" data-src="/images/Selayang_Pandang/Tentang_Kendal/pita_merah_putih.jpg" src="http://www.kendalkab.go.id/images/Selayang_Pandang/Tentang_Kendal/pita_merah_putih.jpg" style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto; opacity: 1; visibility: visible;" /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/samp&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;strong&gt;Pita Merah Putih&lt;/strong&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;Menggambarkan bahwa Kabupaten Kendal adalah bagian dari wilayah Negara Kesatuan Republik&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&amp;nbsp;Indonesia.&lt;/samp&gt;&lt;/span&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;a class="jcepopup noicon" href="http://www.kendalkab.go.id/images/Selayang_Pandang/Tentang_Kendal/selendang_hijau.jpg" target="_blank"&gt;&lt;samp&gt;&lt;img class="img-polaroid" data-src="/images/Selayang_Pandang/Tentang_Kendal/selendang_hijau.jpg" src="http://www.kendalkab.go.id/images/Selayang_Pandang/Tentang_Kendal/selendang_hijau.jpg" style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto; opacity: 1; visibility: visible;" /&gt;&lt;/samp&gt;&lt;/a&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;samp&gt;&lt;strong&gt;Selendang Hijau&lt;/strong&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;Menggambarkan
 Kendal sebagai kota seni budaya, juga dimaknai Kendal memiliki wilayah 
dataran tinggi dan dataran rendah dengan beraneka hasil alamnya baik 
tanaman pangan maupun perkebunan.&lt;/samp&gt;&lt;/span&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;strong&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;a class="jcepopup noicon" href="http://www.kendalkab.go.id/images/Selayang_Pandang/Tentang_Kendal/keris.jpg" target="_blank"&gt;&lt;samp&gt;&lt;strong&gt;&lt;img class="img-polaroid" data-src="/images/Selayang_Pandang/Tentang_Kendal/keris.jpg" src="http://www.kendalkab.go.id/images/Selayang_Pandang/Tentang_Kendal/keris.jpg" style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto; opacity: 1; visibility: visible;" /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/samp&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;samp&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;Keris&lt;/samp&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;Keris
 memiliki maksud sifat-sifat perjuangan Tumenggung Bahurekso yang lihai,
 ulet, pemberani, dan pantang menyerah. Keris dengan memiliki bengkok 
(jawa : luk) berjumlah 9 (sembilan) merupakan perwujudan angka sembilan 
sebagai&amp;nbsp; angka tertinggi dalam hitungan yang didalamnya memiliki arti 
kesempurnaan, utama, tertinggi, cita-cita luhur yang menjadi tujuan 
hidup seluruh masyarakat Kendal.&lt;/samp&gt;&lt;/span&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;/dt&gt;
&lt;/dl&gt;
&lt;dl&gt;
&lt;dt&gt;&lt;strong&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/samp&gt;&lt;a class="jcepopup noicon" href="http://www.kendalkab.go.id/images/Selayang_Pandang/Tentang_Kendal/padi_kapas.jpg" target="_blank"&gt;&lt;samp&gt;&lt;strong&gt;&lt;img class="img-polaroid" data-src="/images/Selayang_Pandang/Tentang_Kendal/padi_kapas.jpg" src="http://www.kendalkab.go.id/images/Selayang_Pandang/Tentang_Kendal/padi_kapas.jpg" style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto; opacity: 1; visibility: visible;" /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/samp&gt;&lt;/a&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;a class="jcepopup noicon" href="http://www.kendalkab.go.id/images/Selayang_Pandang/Tentang_Kendal/kendal_1605.jpg" target="_blank"&gt;&lt;samp&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;img class="img-polaroid" data-src="/images/Selayang_Pandang/Tentang_Kendal/kendal_1605.jpg" src="http://www.kendalkab.go.id/images/Selayang_Pandang/Tentang_Kendal/kendal_1605.jpg" style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto; opacity: 1; visibility: visible;" /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/samp&gt;&lt;/a&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;/samp&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;samp&gt;Padi Kapas&lt;/samp&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;/span&gt;&lt;/dt&gt;
&lt;/dl&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;&lt;samp&gt;&lt;code&gt;&lt;samp&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Bermakna&lt;/span&gt; &lt;span style="color: black;"&gt;masyarakat Kendal yang makmur sejahtera berkecukupan sandang dan pangan&lt;/span&gt;.&lt;/samp&gt;&lt;/code&gt;&lt;/samp&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;samp&gt;&lt;code&gt;
						&lt;/code&gt;&lt;/samp&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;samp&gt;&lt;code&gt;&lt;samp&gt; &lt;span style="color: black;"&gt;Makna&lt;/span&gt; &lt;span style="color: black;"&gt;padi, kapas, dan angka 1605 :&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/samp&gt;&lt;/code&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;code&gt;
						&lt;/code&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;Bila dirangkaikan antara gambar padi, kapas, 
dan angka 1605, maka akan memiliki arti bahwa hari jadi Kendal yaitu 
pada tanggal 28 Juli 1605&lt;/samp&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;samp&gt;.&lt;/samp&gt;&lt;/span&gt;&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;&lt;samp&gt;&lt;code&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Padi&lt;/span&gt; &lt;span style="color: black;"&gt;berjumlah 28 butir, merupakan simbol dari tanggal&lt;/span&gt; &lt;span style="color: black;"&gt;28&lt;/span&gt;.&lt;/code&gt;&lt;/samp&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;samp&gt;Kapas berjumlah 7 buah, memiliki maksud simbol dari bulan ke 7 (juli) dalam kalender Masehi.&lt;/samp&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;samp&gt;Angka bertuliskan 1605, merupakan tahun 1605 masehi.&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;samp&gt;Warna putih diantara padi dan kapas juga menggambarkan pohon Kendal yang bermakna cahaya kemuliaan dan keagungan.&lt;/samp&gt;&lt;/span&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;a class="jcepopup noicon" href="http://www.kendalkab.go.id/images/Selayang_Pandang/Tentang_Kendal/roda_bergerigi.jpg" target="_blank"&gt;&lt;samp&gt;&lt;img class="img-polaroid" data-src="/images/Selayang_Pandang/Tentang_Kendal/roda_bergerigi.jpg" src="http://www.kendalkab.go.id/images/Selayang_Pandang/Tentang_Kendal/roda_bergerigi.jpg" style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto; opacity: 1; visibility: visible;" /&gt;&lt;/samp&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;strong&gt;Bentuk Roda Bergerigi&lt;/strong&gt;&lt;/samp&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;samp&gt;Menggambarkan roda pembangunan di segala bidang 
berjalan terus. Bermakna Kendal mempunyai jalur transportasi darat dan 
laut serta sebagai penghubung lintas Pantura.Mengandung arti silaturahmi
 yang terjalin erat antara masyarakat Kendal.&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;a class="jcepopup noicon" href="http://www.kendalkab.go.id/images/Selayang_Pandang/Tentang_Kendal/perahu_bermotif_batik.jpg" target="_blank"&gt;&lt;samp&gt;&lt;img class="img-polaroid" data-src="/images/Selayang_Pandang/Tentang_Kendal/perahu_bermotif_batik.jpg" src="http://www.kendalkab.go.id/images/Selayang_Pandang/Tentang_Kendal/perahu_bermotif_batik.jpg" style="display: block; margin-left: auto; margin-right: auto; opacity: 1; visibility: visible;" /&gt;&lt;/samp&gt;&lt;/a&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;/samp&gt;&lt;samp&gt;&lt;strong&gt;Perahu Bermotif Batik&lt;/strong&gt;&lt;/samp&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;samp&gt;melambangkan Kabupaten Kendal sebagai kota pelabuhan 
yang mempunyai peran penting di Jawa Tengah dalam dunia transportasi dan
 perdagangan. melambangkan mata pencaharian sebagian warga masyarakat 
Kabupaten Kendal sebagai nelayan. Perahu bermotif batik bermakna Kendal 
punya seni batik yang khas dengan nilai budaya yang tinggi.&lt;/samp&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Sifat Rasulullah SAW</title><link>http://desakrajankulon.blogspot.com/2013/02/sifat-rasulullah-saw.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Wed, 6 Feb 2013 09:53:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6745753759021198922.post-9146757738630916312</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah..... Manusia Agung yang selalu berpihak dan sangat hormat kepada yang tua, suka menjenguk orang yang sakit, dan mengasihani orang miskin.&lt;br /&gt;
Beliau bantu orang-orang yang lemah. Tidak segan bercengkrama dan bergurau dengan anak-anak, Beliaupun suka bermain-main dengan keluarganya.&lt;br /&gt;
Beliau sudi berbincang dengan orang biasa yang terdapat di kalangan umat serta rakyat jelata. Beliau bersedia duduk di atas tanah. Tidur di atas pasir, bertilamkan tanah, dan beralaskan tikar kasar yang terbuat dari pelapah kurma.&lt;br /&gt;
Beliau merasa puas dengan ketentuan Tuhannya. Beliau tidak pernah tamak terhadap kemasyhuran, kedudukan, atau jabatan yang menggiurkan atau tujuan-tujuan yang bersifat duniawi.&lt;br /&gt;
Beliau selalu tersenyum bila berjumpa para shahabatnya. Bila berjabatan tangan, beliau tidak hendak melepaskan sebelum sahabat itu melepaskan tangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Sahabat Abdurrahman Ibn Shakr yang lebih dikenal dengan Abu Hurairah ra. bercerita: Suatu ketika aku masuk pasar bersama Rasulullah SAW. Rasulullah berhenti, membeli celana. Mendengar suara Rasulullah SAW, si pedagang celanapun melompat mencium tangan beliau. Rasulullah menarik tangan beliau sambil bersabda: "ltu tindakan orang-orang asing terhadap raja mereka. Aku bukan raja, Aku hanyalah laki-laki biasa seperti kamu." Kemudian, beliau ambil celana yang sudah beliau beli. Aku berniat akan membawakannya, tapi... Beliau buru-buru bersabda: ''Pemilik barang lebih berhak membawa barangnya."&lt;br /&gt;
Dari 'Umar bin al-Khaththab, dia berkata, Rasulullah saw. bersabda: "Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku sebagaimana orang-orang Nashrani memuji Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku hanya hamba-Nya maka katakanlah (tentang aku) hamba Allah dan Rasul-Nya." (HR. Al-Bukhari).&lt;br /&gt;
Dari Sahabat Anas bin Malik ra. berkata: "Dahulu ada budak kecil perempuan dari penduduk Madinah meraih tangan Rasulullah SAW, lalu anak kecil itu mengajak beliau pergi ke mana saja ia suka." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;
Dari al-Aswad (bin Yazid), dia berkata: "Aku pernah bertanya kepada Aisyah: "Apakah yang biasa dilakukan Rasulullah SAW di rumahnya? Aisyah menjawab: Beliau biasa membantu pekerjaan keluarga, apabila mendengar suara adzan, beliau segera keluar (untuk menunaikan) shalat." (HR. Al-Bukhari).&lt;br /&gt;
Manakala seseorang melihatnya gemetar karena karismanya, maka baginda berkata: "Tenangkanlah dirimu, sebab saya adalah anak seorang perempuan biasa yang memakan daging dendeng di Mekkah."&lt;br /&gt;
Tidak ada seorangpun yang lebih mereka cintai daripada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam . Walaupun begitu, apabila mereka melihat Beliau, mereka tidak berdiri untuk menyambut beliau, karena mereka mengetahui bahwa Beliau Shalallaahu alaihi wasalam tidak menyukai cara seperti itu. (HR. Ahmad).&lt;br /&gt;
Rasulullah SAW bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan, walaupun seberat biji sawi.” (HR. Muslim).&lt;br /&gt;
Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang bersikap tawadhu karena mencari ridho Allah maka Allah akan meninggikan derajatnya. Ia menganggap dirinya tiada berharga, namun dalam pandangan orang lain ia sangat terhormat. Barang siapa yang menyombongkan diri maka Allah akan menghinakannya.Ia menganggap dirinya terhormat, padahal dalam pandangan orang lain ia sangat hina, bahkan lebih hina daripada anjing dan babi.” (HR. Al Baihaqi)&lt;br /&gt;
Dalam sebuah kesempatan sahabat Abu Dzar a-Ghifffari r.a pernah bercakap-cakap dalam waktu yang cukup lama dengan Rasulullah SAW. Diantara isi percakapan tersebut adalah wasiat Beliau kepadanya. Berikut petikannya ; Aku berkata kepada Nabi SAW, "Ya Rasulullah, berwasiatlah kepadaku." Beliau bersabda, "Aku wasiatkan kepadamu untuk bertaqwa kepada Allah, karena ia adalah pokok segala urusan." "Ya Rasulullah, tambahkanlah." pintaku. "Hendaklah engkau senantiasa membaca Al Qur`an dan berdzikir kepada Allah azza wa jalla, karena hal itu merupakan cahaya bagimu dibumi dan simpananmu dilangit." "Ya Rasulullah, tambahkanlah." kataku. "Janganlah engkau banyak tertawa, karena banyak tawa itu akan mematikan hati dan menghilangkan cahaya wajah."&lt;br /&gt;
"Lagi ya Rasulullah." "Hendaklah engkau pergi berjihad karena jihad adalah kependetaan ummatku." "Lagi ya Rasulullah."&lt;br /&gt;
"Cintailah orang-orang miskin dan bergaullah dengan mereka." "Tambahilah lagi." "Katakanlah yang benar walaupun pahit akibatnya." "Tambahlah lagi untukku." "Hendaklah engkau sampaikan kepada manusia apa yang telah engkau ketahui dan mereka belum mendapatkan apa yang engkau sampaikan. Cukup sebagai kekurangan bagimu jika engkau tidak mengetahui apa yang telah diketahui manusia dan engkau membawa sesuatu yang telah mereka dapati (ketahui)."&lt;br /&gt;
Kemudian beliau memukulkan tangannya ke dadaku seraya bersabda,"Wahai Abu Dzar, Tidaklah ada orang yang berakal sebagaimana orang yang mau bertadabbur (berfikir), tidak ada wara’ sebagaimana orang yang menahan diri (dari keserakahan), tidaklah disebut introspeksi diri kalau seseorang kurang baik akhlaqnya."&lt;br /&gt;
Itulah beberapa wasiat emas yang disampaikan Rasulullah SAW kepada salah seorang sahabat terdekatnya. Semoga kita dapat meresapi dan mengamalkan wasiat beliau. Wallahu A’lam.&lt;br /&gt;
Ya Rasulullah, Salam alaika.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>PAWAI TA'ARUF 1 MUHARRAM 1434 H</title><link>http://desakrajankulon.blogspot.com/2012/11/pawai-taaruf-1-muharram-1434-h.html</link><category>Artikel</category><category>Kegiatan Keagamaan</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Tue, 20 Nov 2012 21:59:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6745753759021198922.post-3984612413298982600</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiUY3OTaum3qNPIVw-KL_o8Mk6d8JOmtxe_zp7vvBJkKLOdFW0kHnAGA77_CjncVPB_bNuAlVu_XT6NEcA0wdl_FEzT4xxC3JmVmTA23Ey05QzNU_zLrh0UsljjZQWrJNFRXtN173hDtVFx/s1600/ansor+1.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="133" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiUY3OTaum3qNPIVw-KL_o8Mk6d8JOmtxe_zp7vvBJkKLOdFW0kHnAGA77_CjncVPB_bNuAlVu_XT6NEcA0wdl_FEzT4xxC3JmVmTA23Ey05QzNU_zLrh0UsljjZQWrJNFRXtN173hDtVFx/s200/ansor+1.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;Ada yang berbeda dengan peringatan 1 Muharram di Kaliwungu, Kendal tahun
 ini. Menyambut tahun baru Hijriyah 1434, keluarga besar NU Kaliwungu 
menyelenggarakan pawai taaruf atau karnaval, tradisi penyambutan tahun 
baru hijriyah yang belum pernah diinisiasikan sebelumnya.Keluarga besar NU terdiri dari&amp;nbsp;yang terdiri atas MWC NU, Muslimat, Fatayat, IPNU, IPPNU, serta LP Maarif Kaliwungu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pawai
 taaruf yang turut menghadirkan kelompok barongsai dari Semarang 
tersebut dilaksanakan pada Kamis (15/12) siang serta disupport penuh 
oleh seluruh keluarga besar NU Kaliwungu, terbukti, pawai taaruf diikuti
 oleh seratusan kontingen yang terdiri atas 11 pondok pesantren 
salafiyah, 20 Madrasah, 25 TPQ, dan 10 sekolah LP Maarif di Kaliwungu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak
 hanya diikuti oleh lembaga-lembaga pendidikan NU, pawai taaruf juga 
diikuti oleh pasukan dari seluruh BANOM (Badan Otonom) NU dari 10 
ranting yang ada di Kaliwungu, total keseluruhan peserta pawai taaruf 
berjumlah dua-ribuan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ajang Promosi dan Kreativitas&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pawai
 taaruf tersebut disambut meriah oleh seluruh warga Kaliwungu yang 
berduyun-duyun memadati trotoar di Kaliwungu, mereka berdesak-desakan 
demi turut serta merasakan kegembiraan dan kemeriahan penyambutan 1 
Muharram oleh peserta karnaval.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu dimanfaatkan oleh 
kontingen karnaval sebagai ruang untuk mempromosikan produk/program 
mereka, seperti yang dilakukan oleh kontingen dari PAC Muslimat NU 
Kaliwungu yang mempromosikan Rumah Bersalin sebagai kebanggaan terbesar 
ibu-ibu Muslimat NU Kaliwungu yang memang beberapa bulan terakhir ini 
memeras keringat demi terbangunnya Rumah Bersalin Muslimat NU ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak
 mau kalah dengan ibu-ibu Muslimat, PAC GP. Ansor Kaliwungu juga turut 
mempromosikan program mereka dengan membagi-bagikan brosur pelatihan 
kerja kepada para warga Kaliwungu yang menonton karnaval.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meriahnya
 pawai taaruf yang arak-arakannya melebihi 3 km tersebut didukung pula 
oleh bermacam kreativitas para peserta karnaval, seperti marching band 
yang bahkan dimainkan oleh salah satu rombongan santri putri, rebana, 
pramuka, pencak silat, hingga menari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepuluh tahun lalu, warga 
NU Kaliwungu pernah melaksanakan pawai semacam ini, meskipun bukan pada 
event suronan, karena lamanya kita tidak punya wadah berkreasi semacam 
ini, sehingga pelaksanaan pawai taaruf sekarang ini sangat meriah, 
kreativitas muncul dengan penuh totalitas” Tutur Saiful Hadi selaku 
ketua panitia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Barongsai dan Gus Dur&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan
 membawa semangat tahun baru hijriyah, pawai taaruf tersebut mengusung 
isu-isu toleransi beragama sebagai bagian dari usaha peningkatan sikap 
toleransi di kalangan warga Kaliwungu. Beberapa spanduk yang dibawa oleh
 kontingen pun bercorak khas ke-Gus Dur-an sebagai ikon toleransi 
beragama, spanduk-spanduk tersebut berisi pesan-pesan seperti “NU Siap 
Bela Minoritas”, “Ngaji yang Bener, Supaya Tidak Jadi Teroris”, “STOP 
Kekerasan Atas Nama Agama”, dan masih banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya 
kelompok barongsai dari Satya Budi Dharma, Semarang yang turut menjadi 
kontingen dalam pawai taaruf tersebut juga menguatkan pesan toleransi 
beragama yang diangkat. Bahkan, di beberapa titik jalan yang dilewati, 
terlihat beberapa orang Tionghoa yang ada di Kaliwungu turut menikmati 
kemeriahan pawai taaruf tersebut dan memberikan Angpao kepada Barongsai 
yang melewatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai isu-isu toleransi beragama yang 
diangkat pada tema pawai taaruf tersebut, Saiful Hadi menuturkan bahwa 
Muharram tahun ini penuh dengan kerinduan terhadap Gus Dur. Lebih 
lanjut, ia mengatakan bahwa Muharram tidak hanya dimaknai sebagai 
peningkatan kualitas keimanan semata, tetapi juga harus selaras dengan 
peningkatan nilai-nilai kemanusiaan.&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiUY3OTaum3qNPIVw-KL_o8Mk6d8JOmtxe_zp7vvBJkKLOdFW0kHnAGA77_CjncVPB_bNuAlVu_XT6NEcA0wdl_FEzT4xxC3JmVmTA23Ey05QzNU_zLrh0UsljjZQWrJNFRXtN173hDtVFx/s72-c/ansor+1.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Sejarah Syawalan Kaliwungu di Kendal</title><link>http://desakrajankulon.blogspot.com/2012/08/syawalan-kaliwungu-di-kendal.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Fri, 24 Aug 2012 10:38:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6745753759021198922.post-5324257265696983412</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #555555; font-family: Verdana, 'BitStream vera Sans', Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-left: 1.27cm; padding: 0px;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #555555; font-family: Verdana, 'BitStream vera Sans', Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-left: 1.27cm; padding: 0px; text-indent: 0.73cm;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;Koentjaraningrat dalam Kebudayaan Jawa (1984: 328) menerangkan bahwa salah satu tradisi dan budaya Islam Jawa yang masih hidup adalah adanya penghormatan kepada makam-makam orang suci, baik ulama atau kyai. Jika kaum santri datang ke makam untuk mendoakan orang yang telah meninggal agar diampuni dosanya oleh Allah SWT, maka kaum Islam abangan mendatangi makam sebagai tempat Pepundhen. Yaitu menjadikan makam sebagai sesembahan, yang dipui-puji, diberi sesaji, dan dimintai pertolongan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgQJ8qwyhWVTZmLwjNbjBSq-DihmKQzwT_rdyBYOnUh8Bt6JUM0bM0MdI9JY75tMO0x-UIcDdgF7rYfX4hvuk0M-0zVWJFnU7AWxwN9q7eAPX5n6LB2KbX4ijJ5QVwZlDAfFp7vA18jKZID/s1600/makam+kyai+guru+asyari+kaliwungu+1.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgQJ8qwyhWVTZmLwjNbjBSq-DihmKQzwT_rdyBYOnUh8Bt6JUM0bM0MdI9JY75tMO0x-UIcDdgF7rYfX4hvuk0M-0zVWJFnU7AWxwN9q7eAPX5n6LB2KbX4ijJ5QVwZlDAfFp7vA18jKZID/s320/makam+kyai+guru+asyari+kaliwungu+1.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #555555; font-family: Verdana, 'BitStream vera Sans', Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-left: 1.27cm; padding: 0px; text-indent: 0.73cm;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;Salah satu bentuk penghormatan terhadap makam orang-orang saleh itu di Kaliwungu lahir apa yang disebut sebagai Syawalan. Salah satu tradisi keagamaan yang berupa peringatan wafatnya (khoul) ulama dalam masyarakat masa lalu, yang diadakan pada setiap tanggal 8 Syawal, yakni satu minggu setelah Hari Raya Idul Fitri, setiap tahun.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #555555; font-family: Verdana, 'BitStream vera Sans', Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-left: 1.27cm; padding: 0px; text-indent: 0.73cm;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;Pada mulanya Syawalan berasal dari sebuah peringatan meninggalnya (Khoul) ulama besar Kaliwungu, Kyai Asy’ari (Kyai Guru) dengan cara me-ziarahi kuburnya setiap tanggal 8 Syawal, setiap tahun. Sunan Katong hari wafatnya (khoulnya) dirayakan setiap bulan Rajab setiap tahun, biasanya jatuh pada pasaran kliwon, Sayyid Bakhur (Bakir) bin Ahmad bin Sayyid Bakri (Wafat 8 April 1965) dan istrinya Fatimah binti Sayyid Ali Akbari (almarhumah) (wafat 21 Januari 1989) khoulnya setiap bulan Besar (hari Raya Qurban).[1] Sesuai dengan perkembangan masyarakatnya, kemudian lokasi ziarah berkembang ke makam Pangeran Mandurorejo, dan Pangeran Pakuwaja, Kyai Mustofa, Kyai Rukyat, dan Kyai Musyafa’.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #555555; font-family: Verdana, 'BitStream vera Sans', Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-left: 1.27cm; padding: 0px; text-indent: 0.73cm;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;Awalnya kegiatan ziarah mengirim doa di makam Kyai Asy’ari ini hanya dilakukan oleh keluarga dan keturunan Kyai Asy’ari, tetapi lama kelamaan diikuti oleh masyarakat muslim di Kaliwungu dan sekitarnya. Akhirnya, kegiatan itu semakin massif terjadi setiap tahun, bahkan objek lokasi ziarah melebar bukan hanya kepada makam Kyai Asy’ari atau “Kyai Guru”, akan tetapi juga ke makam Sunan Katong, Pangeran Mandurarejo, seorang Panglima Perang Mataram, dan Pangeran Pakuwaja. Belakangan para peziarah merambah juga berziarah ke makam Kyai Mustofa, Kyai Musyafa’, dan Kyai Rukyat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #555555; font-family: Verdana, 'BitStream vera Sans', Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-left: 1.27cm; padding: 0px; text-indent: 0.73cm;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;Makam Kyai Asy’ari, Makam Pangeran Mandurarejo, dan Sunan Katong terletak di jabal sebelah selatan desa Protomulyo, sedang makam Kyai Mustofa dan Kyai Musyafa’ terletak di jabal sebelah utara-barat. Bukan han dibuka oleh Bupati Kendal). Kemudian acara dilanjutkan jalan kaki bersama-sama para kyai dan masyarakat santri Kaliwungu menuju makam Kyai Asy’ari. Agenda acara ritual di makam Kyai Asy’ari adalah (1) Pembukaan, (2) Pembacaan Riwayat hidup singkat Kyai Asy’ari, (3) Pembacaan Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, Al-An-Nas dan tahlil, dan (4) Doa untuk para arwah leluhur, ulama yang dimakamkan di pemakamman Protomulyo dan Kutoharjo.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup style="margin: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" href="http://mazguru.wordpress.com/2009/01/25/kesalehan-kultural-tradisi-syawalan-di-jogjakarta-pekalongan-dan-kendal/#sdfootnote2sym" name="sdfootnote2anc" style="color: #2970a6; margin: 0px; padding: 0px; text-decoration: none;"&gt;&lt;sup style="margin: 0px; padding: 0px;"&gt;2&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #555555; font-family: Verdana, 'BitStream vera Sans', Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-left: 1.27cm; padding: 0px; text-indent: 0.73cm;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;Situs yang menjadi pusat kegiatan Syawalan-pun beragam, mulai dari masjid Al-Muttaqin (peningalan para kiai kharismatik Kabupaten Kaliwungu) hingga Astana Kuntu Layang. Astana yang terletak di Protowetan Kaliwungu ini tak lain adalah makam para kiai sepuh Kaliwungu yang masih keturunn Mataram.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #555555; font-family: Verdana, 'BitStream vera Sans', Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-left: 1.27cm; padding: 0px; text-indent: 0.73cm;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;Semua situs tersebut menyiratkan bukti sisa-sisa kejayaan dan kemasyuran dakwah Islam yang dirintis ulama pendahulu di Kaliwungu. Lihat saja situs Masjid Al-Muttaqin yang berada di antara alun-alun dan pasar Kaliwungu. Bangunan megah ini juga menyiratkan keagungan syiar Islam pada saat itu.Meski perluasan dan penambahan sudah dilakukan di sana sini, keagungan masjid ini tetap tak terhapuskan. Pada perayaan Syawalan yang berlangsung selama tujuh hari, masjid yang dibangun oleh Kyai Guru tersebut menjadi pusat keramaian.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #555555; font-family: Verdana, 'BitStream vera Sans', Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-left: 1.27cm; padding: 0px;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #555555; font-family: Verdana, 'BitStream vera Sans', Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-left: 1.27cm; padding: 0px;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;strong style="margin: 0px; padding: 0px;"&gt;Burung kuntul&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #555555; font-family: Verdana, 'BitStream vera Sans', Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-left: 1.27cm; padding: 0px; text-indent: 0.73cm;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;Situs Astana Kuntul Layang, yang menjadi tujuan kirab kelambu, berada di atas bukit yang membentang di selatan alun-alun Kaliwungu. Sehingga, dari astana ini dapat dilihat pemandangan alun-alun dan kota santri Kaliwungu.Menurut juru kunci makam, Astana Kuntul Layang terdiri atas lima bagian utama yang dianalogikan sebagai bagian dari burung kuntul (bangau) yang sedang melayang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #555555; font-family: Verdana, 'BitStream vera Sans', Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-left: 1.27cm; padding: 0px; text-indent: 0.73cm;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;Bagian pertama adalah dada yang merupakan cungkup kompleks makam Sunan Katong (ulama yang diyakini tertua di Kaliwungu) serta para Bupati Kendal. Bagian kedua adalah sayap kanan yang merupakan kompleks cungkup makam Kyai Musyafak, Kyai Rukyat serta Kyai Mustofa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #555555; font-family: Verdana, 'BitStream vera Sans', Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-left: 1.27cm; padding: 0px; text-indent: 0.73cm;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;Bagian berikutnya adalah sayap kiri, yang merupakan kompleks makam Kyai Mandurorejo, Pangeran Puger dan Kyai Asy’ari (Kyai Guru). Sedangkan bagian ekor merupakan kompleks makam Pakuwojo, serta bagian kepala kompleks makam Pangeran Djoeminah (leluhur bupati Kaliwungu) dan para bupati Kaliwungu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #555555; font-family: Verdana, 'BitStream vera Sans', Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-left: 1.27cm; padding: 0px; text-indent: 0.73cm;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;Pada tiap tanggal 5-9 Syawal, kompleks astana tersebut dibuka dan ramai dikunjungi para peziarah dari berbagai daerah. “Puncak perayaan Syawalan di Kaliwungu adalah pada hari ketujuh Syawal. Kirab dan penggantian kelambu Kyai Guru menjadi daya tarik ribuan peziarah,” jelas KRAT Hamaminata Nitinagoro, kerabat Keraton Surakarta wewengkon Kendal.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #555555; font-family: Verdana, 'BitStream vera Sans', Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-left: 1.27cm; padding: 0px;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #555555; font-family: Verdana, 'BitStream vera Sans', Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-left: 1.27cm; padding: 0px;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;strong style="margin: 0px; padding: 0px;"&gt;Meriam Mataram&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #555555; font-family: Verdana, 'BitStream vera Sans', Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-left: 1.27cm; padding: 0px; text-indent: 0.73cm;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;Peninggalan dakwah dan kejayaan Kabupaten Kaliwungu juga dapat dilihat dari beberapa situs yang masih tersisa. Antara lain, Gapura Pungkuran sebagai lambang supremasi Kabupaten Kaliwungu saat itu. Gapura itu berada di depan Mushala Pungkuran yang dulunya merupakan kantor Bupati Kaliwungu. Di bawah gapura bertuliskan huruf Jawa itu dipasang sebuah meriam peninggalan kerajaan Mataram.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;sup style="margin: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;a class="sdfootnoteanc" href="http://mazguru.wordpress.com/2009/01/25/kesalehan-kultural-tradisi-syawalan-di-jogjakarta-pekalongan-dan-kendal/#sdfootnote3sym" name="sdfootnote3anc" style="color: #2970a6; margin: 0px; padding: 0px; text-decoration: none;"&gt;&lt;sup style="margin: 0px; padding: 0px;"&gt;3&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #555555; font-family: Verdana, 'BitStream vera Sans', Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-left: 1.27cm; padding: 0px; text-indent: 0.73cm;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify" style="background-color: white; color: #555555; font-family: Verdana, 'BitStream vera Sans', Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-left: 1.27cm; padding: 0px; text-indent: 0.73cm;"&gt;
&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small; margin: 0px; padding: 0px;"&gt;Keramaian syawalan tentu saja mengundang orang untuk datang, dan sesuai dengan hukum pasar dimana ada keramaian pastilah disitu juga ada pedagang yang “mremo” di acara syawalan, bahkan pengunjung yang datang sebagian besar bukan untuk berziarah syawalan melainkan untuk menikmati keramaian itu yang dimeriahkan oleh berbagai macam penjual dan aneka permainan anak-anak. Aneka hiburan tersedia dari mulai permainan anak-anak semacam komedi putar, hingga hiburan orang dewasa semacam Tong Setan dan Panggung Dangdutan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgQJ8qwyhWVTZmLwjNbjBSq-DihmKQzwT_rdyBYOnUh8Bt6JUM0bM0MdI9JY75tMO0x-UIcDdgF7rYfX4hvuk0M-0zVWJFnU7AWxwN9q7eAPX5n6LB2KbX4ijJ5QVwZlDAfFp7vA18jKZID/s72-c/makam+kyai+guru+asyari+kaliwungu+1.JPG" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total></item><item><title>Makam Waliyullah</title><link>http://desakrajankulon.blogspot.com/2012/08/makam-waliyullah.html</link><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Fri, 24 Aug 2012 09:42:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6745753759021198922.post-6911169671439611224</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 15px; margin-top: 15px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-size: 14pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;Makam Waliyullah sebagai salah satu benda atau tempat cagar budaya dirasa telah mendapat kepedulian yang cukup dari masyarakat maupun pemerintah daerah Kabupaten Kendal. Salah satu bukti konkritnya adalah seringnya dilakukan pengajian, mujahadah, napak tilas, syawalan, slametan, maupun Khaul Akbar yang dilaksanakan di pelataran kompleks makam wali yang ada di Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kendal.&lt;/span&gt;&lt;strong style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 15px; margin-top: 15px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-size: 14pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;Pada dasarnya keberadaan makam para wali saja sampai sekarang masih terus dirawat dan disakralkan oleh masyarakat Kendal. Tentu saja hal itu terkait dengan masa lampau para wali tersebut yang mempunyai peran sentral bagi pengembangan Islamisasi di wilayah Kabupaten Kendal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhXwBs9EQUAtUaEAEQgp3zM0Xu_592WUIkLXD2E_p0poWb9zDjBAMJk9IH25hwTT-4VmVfQim6QPWsSh6WYlrZYr4dx6rsA2MuG0V356webbDdbCQaz2k4_OS5zPGVp5h53dkwhZovNpNdT/s1600/makam+sunan+katong+kaliwungu+kendal+1.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhXwBs9EQUAtUaEAEQgp3zM0Xu_592WUIkLXD2E_p0poWb9zDjBAMJk9IH25hwTT-4VmVfQim6QPWsSh6WYlrZYr4dx6rsA2MuG0V356webbDdbCQaz2k4_OS5zPGVp5h53dkwhZovNpNdT/s320/makam+sunan+katong+kaliwungu+kendal+1.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 15px; margin-top: 15px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-size: 14pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;Sunan Katong saja misalnya, beliau menyebarkan Islam di Kendal bersama sahabatnya dari Demak yaitu Ten Koe Penjian Lien (Tekuk Penjian) Han Bie Yan (Gembyang) tokoh dari China keduanya masih kerabat Demak. Dalam menyiarkan agama Islam di Kendal Sunan Katong cukup sukses, dia juga mampu mengajak Pakuwaja masuk Islam walaupun dengan adu tanding.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 15px; margin-top: 15px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-size: 14pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;Seperti halnya Sunan Katong, Kiai Haji Asyari juga menyiarkan agama Islam di Kendal. Ada lagi tokoh Kaliwungu yang dikenal sebagai penyebar Islam pada masa sesudah Sunan Katong yaitu Pangeran Puger, Tumenggung Mandurarejo, KH. Asyari, KH. Mustofa, dan KH. Musyafa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 15px; margin-top: 15px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-size: 14pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;Selama ini orang hanya mengenal Sunan Katong dan Kiai Asyari&amp;nbsp;&lt;span style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;sebagai wali dari Kaliwungu. Padahal terdapat pula wali yang tak kalah karomahnya dengan Sunan Katong yaitu Kiai Musyafa.&lt;span style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-size: 14pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;Kiai (waliyullah) Musyafa' bin H. Bahram (almarhum) dimakamkan di bukit Protomulyo.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 15px; margin-top: 15px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-size: 14pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;Masyarakat menyebutnya sebagai makam Jabal (bukit), sebuah kawasan perbukitan. Bukit ini&lt;span class="Apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;terletak di Desa Proto Mulyo, sebelah timur Kampung Gadukan, Kutoarjo, Kaliwungu. Dari atas bukit ini dapat dilihat pemandangan kota Kaliwungu.&lt;span style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Dari jauh terlihat masjid Al-Muttaqin yang berada di pusat kota terlihat sangat dominan dan lebih besar dibanding bangunan lain yang ada di sekitarnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiPmng54ggKkGhRcSo-w1RdCQLqxrIbOiXZ69uMv_NAXbN7V1JiQkN-IadRh9ys8zGAeSeZaB0BTsSEXYkQy7ULPDVHyxT1ivAToGmr2io6DtFMVeBdJMKcwJGY8-Fk1dETOFRP-0L9OgpV/s1600/kiai+musyafa+makam.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiPmng54ggKkGhRcSo-w1RdCQLqxrIbOiXZ69uMv_NAXbN7V1JiQkN-IadRh9ys8zGAeSeZaB0BTsSEXYkQy7ULPDVHyxT1ivAToGmr2io6DtFMVeBdJMKcwJGY8-Fk1dETOFRP-0L9OgpV/s320/kiai+musyafa+makam.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 15px; margin-top: 15px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-size: 14pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;Kiai Musyafa' (wafat 13 maret 1969, seperti tertulis di batu nisannya) semasa hidupnya terkenal sebagai ulama Isalm Kaliwungu yang memiliki karomah dan kesaktian tertentu. Karena beliau dikenal sebagai waliyullah (kekasih Allah), maka tidak heran jika beliau memiliki banyak kelebihan berupa karomah. Kyai Musafa' hidup antara tahun 1920 s.d. 1969.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 15px; margin-top: 15px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-size: 14pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;Seperti halnya makam wali-wali yang lain, makam Mbah Syafa’, demikian beliau biasa disapa, inipun&amp;nbsp; kerap dikunjungi para peziarah, terlebih pada hari Kamis wage sore dan Jumat Kliwon. Pada kedua hari tersebut, ratusan bahkan ribuan peziarah datang kesana. Santri dari beberapa pesantren juga kerap menjadikannya sebagai tempat untuk melaksanakan riadah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 15px; margin-top: 15px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-size: 14pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;Selama hidup (antara tahun 1920 – 1969), Mbah Syafa’ dikenal sebagai sosok yang zuhud. Ia sangat sederhana, baik dalam berpakaian maupun dalam bertutur kata. Kesederhanaannya dalam berpakaian, membuat sebagian orang menganggap Mbah Syafa’ sebagai Kiai yang sangat miskin.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 15px; margin-top: 15px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-size: 14pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;“Bahkan ada orang yang menganggap Mbah Syafa’ adalah orang gila, karena ia memang kerap berperilaku Khawariqul Adah, yaitu berperilaku diluar kebiasaan manusia pada umumnya. Persangkaan orang bahwa Mbah Syafa’ adalah orang gila sudah terdengar sebelum masyarakat mengetahui karomah dan kewaliannya,”ujar Tomo, pengurus makam wali di kota Kaliwungu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 15px; margin-top: 15px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-size: 14pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;Rahasia Mbah Syafa sebagai wali akhirnya terbongkar. Ceritanya pada suatu hari tetangga disekitar rumah Mbah Syafa’ dibuat gempar. Saat itu&lt;span class="Apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;setelah musim haji, ada seorang haji yang datang ke desa Mbah Syafa. Dia mengaku dititipi anggur oleh seseorang di Mekah untuk diserahkan kepada Mbah Syafa’, yang baru saja menunaikan ibadah haji di Mekah. Padahal tetangga Mbah Syafa’ mengetahui sendiri, selama musim haji itu Mbah Syafa’ berada di rumahnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 15px; margin-top: 15px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-size: 14pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;“Tetangga –tetangga menganggap tak mungkin mbah Syafa akan menunaikan ibadah haji. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saja masih kekurangan,”ungkapnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 15px; margin-top: 15px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-size: 14pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;Sejak peristiwa menakjubkan itu pandangan orang pada dirinya berubah, apalagi setelah karomah-karomahnya disaksikan orang-orang disekitarnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 15px; margin-top: 15px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;strong style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-size: 14pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;Kisah Unik&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 15px; margin-top: 15px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-size: 14pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;Banyak cerita menarik seputar kewalian Kiai Musyafa'. Konon di Kendal dahulu pernah ada seorang waliyullah Abdul Hadi namanya. Ketika beliau akan wafat, beliau menyampekan pesan pada Habib Umar, penjaganya kala sakit, yang tak jelas maknanya. Beliau mengatakan,&lt;span class="Apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;em style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;"Nyonya dengklek kidul mesjid Kaliwungu nyambut gawe kulak jaritan"&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;(Artinya :Nyonya Dengklek sebelah selatan masjid Kaliwungu Bekerja sebagai tengkulak kain).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 15px; margin-top: 15px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-size: 14pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;Pada saat waliyullah Abdul Hadi itu meninggal dunia, maka terlihat cahaya (nur) yang bersinar ke arah Kiai Musyafa'. itulah barangkali tanda awal kewalian Kyai Musyafa'.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-size: 14pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 15px; margin-top: 15px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-size: 14pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;Selain itu, ada beberapa cerita orang tua yang merupakan saksi ahli tentang&lt;span class="Apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;em style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;keanehan-keanehan&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;yang diangap merupakan ciri karomah atau kewalian Mbah Kyai Musyafa'.&lt;span class="Apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-size: 14pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;Suatu saat Mbah Syafa’ menjamu tamu yang datang. Masing-masing tamu menuang sendiri air minum dari ceret yang sudah disediakan. Anehnya air minum yang berasal dari satu ceret itu di rasakan berbeda-beda oleh tamu yang minum.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 15px; margin-top: 15px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-size: 14pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;Kisah unik lain ketika Mbah Wali Syafa' memotong pohon kelapa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-size: 14pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;.&lt;span style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;Ceritanya berawal dari seorang tetangga yang resah dan khawatir karena pohon kelapanya condong di atas rumahnya. Mendengar keresahan itu, maka Mbah Syafa' bertandang. Beliau langsung yang naik pohon kelapa untuk memotong pohon yang condong di atas atap rumah tetangganya itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 15px; margin-top: 15px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-size: 14pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;Setelah selesai di potong, ternyata pohon kelapa itu jatuhnya justru berlawanan dengan rumah warga itu. Logikanya pohon itu seharusnya jatuh persis di atas rumah tetangganya itu. Tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Di sinilah orang makin yakin akan kelebihan karomah Mbah Syafa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 15px; margin-top: 15px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-size: 14pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;Sekitar tahun 1960-an, Mbah Syafa’ kedatangan seorang tentara. Tentara itu bermaksud memohon restu, karena sebagai pembela negara dia mendapat tugas ikut dalam rombongan pasukan Trikora yang akan membebaskan Irian Jaya dari pendudukan Belanda. Saat dia sampai di tempat tinggal Mbah Syafa’ dan mengemukakan maksudnya, Mbah Syafa’ tidak menjawab sepatah kata pun. Beliau hanya mengambil sebuah wajan yang telah di bakar hingga merah membara.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 15px; margin-top: 15px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-size: 14pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;Oleh Mbah Syafa’ wajan itu di dekatkan ke kepala orang tersebut sambil dipukul beberapa kali. Sesaat kemudian beliau masuk kedalam rumah dan keluar dengan membawa tiga buah biji randu (Klentheng), lantas menyerahkannya pada orang itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 15px; margin-top: 15px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-size: 14pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;“Orang tersebut tidak mengerti apa maksud Mbah Syafa’, namun ia tetap menyimpan biji randu pemberian Mbah Syafa’. Di belakang hari, isyarat tersebut bisa diketahui setelah kapal yang ditumpangi tentara Indonesia hancur di tengah laut. Namun atas izin Allah orang tersebut selamat,”jelas Tomo.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 15px; margin-top: 15px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-size: 14pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;Dalam kisah yang lain diceritakan pada 1940-an, suatu hari Mbah Syafa’ menggali tanah hingga dalam. Orang-orang disekitarnya merasa heran dengan apa yang dikerjakannya itu. Sebagian mengira tempat itu akan digunakan untuk memelihara ikan, sebagian yang lain menyangka akan dibuat sumur.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 15px; margin-top: 15px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-size: 14pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;Setelah beberapa saat, orang baru sadar bahwa Mbah Syafa’ mengetahui peristiwa yang bakal terjadi belakangan. Karena tidak lama berselang, tentara Jepang menyerbu daerah Kaliwungu, dan lubang itu dipergunakan sebagai tempat persembunyian orang-orang yang ada di sekitarnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 15px; margin-top: 15px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-size: 14pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-size: 14pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;Ketika terjadi serangan tentara Jepang, masyarakat sudah panik dan lari kesana kemari mencari perlindungan. Namun Mbah Wali Syafa' justru tenang-tenang aja di teras rumahnya membaca&lt;span class="Apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;em style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;surat Yasin&lt;/em&gt;. Beberapa kali Mbah Wali membacanya, akhirnya tba-tiba berhentilah serangan montir tentara Jepang tadi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 15px; margin-top: 15px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-size: 14pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;“Ini&lt;span class="Apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;em style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;Barokahnya&lt;/em&gt;&lt;span class="Apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;bacaan surat Yasin yang dibaca Kiai Musyafa',”paparnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 15px; margin-top: 15px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-size: 14pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;Berbagai peristiwa aneh terjadi termasuk setelah ia meninggal dunia pada 13 Maret 1969 (seperti yang tertulis pada nisannya). Suatu ketika Rasyid saat sedang membersihkan Balai Desa Krajan Kulon, Kaliwungu. Rasyid, tukang sapu kantor tersebut, ditemui&amp;nbsp; Mbah Syafa’ tanpa berbincang apapun. Mbah Syafa’ memberinya uang seribu rupiah. Dia tidak mengetahui pada saat itu Mbah Syafa ia telah meninggal dunia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 15px; margin-top: 15px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-size: 14pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;Anehnya, ketika sudah dibelanjakan, uang itu tetap utuh dan tetap ada di saku Rasyid begitu ia sampai di rumah. Hal itu berulang hingga tiga kali, membuat gundah Rasyid. Hatinya baru tenang setelah uang itu ia kembalikan ke kuburan Kiai Syafa’.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 15px; margin-top: 15px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-size: 14pt; line-height: 21px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;“Maka sekarang makam Kiai Musyafa dikenal untuk memperlancar rejeki ,”jelasnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 15px; margin-top: 15px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-size: 14pt; line-height: 21px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;Meski telah terbukti karomhanya, masih terdapat pula orang yang tidak mempercayai bahwa Mbah Syafa adalah wali. Maka suatu saat Kiai Muchid dari Jagalan, Kutoharjo, Kaliwungu berguman, serasa meragukan berita kewalian Mbah Wali Syafa'. Akhirnya dia mempunyai rencana untuk menguji kewalian Mbah Syafa.&lt;span class="Apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;"Apa benar&lt;span class="Apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;/span&gt;Mbah Kyai Musyafa'itu seorang waliyullah? Coba aku aku memncoba karomahnya akan pura-pura meminjam uangnya Kiai"&lt;/span&gt;,niat Kyai Muchid pada dirinya sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 15px; margin-top: 15px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-size: 14pt; line-height: 21px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;Kyai Muchid kemudian sampai di halaman rumah Kiai Musyafa', tiba-tiba Kiai Musyafa' berkata dengan nada perintah,&lt;span style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;"Muchid, ke pasar saja memakai bathok kelapa kalau akan mengemis"&lt;/span&gt;. Padahal saat itu Kiai Muchid belum mengatakakan apapun. Begitu mendengar ucapan Kiai Musyafa, maka Kiai Muchid terdiam, tak berani berkata sepatah kata pun. Dia tidak jadi mengutarakan niatnya akan meminjam uang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 15px; margin-top: 15px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-size: 14pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;Sampai kini, makam Kiai Musyafa ramai dikunjungi peziarah. Apalagi ketika acara syawalan peziarah akan membludak.&lt;span style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Biasanya peziarah mengunjungi makam Kiai Musyafak usai ziarah ke makam Kiai Asy’ari. Seperti diketahui awalnya kegiatan ziarah syawalan mengirim doa di makam Kyai Asy'ari ini hanya dilakukan oleh keluarga dan keturunannya Kyai Asy'ari, tetapi lama kelamaan diikuti oleh masyarakat muslim Kaliwungu dan sekitarnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 15px; margin-top: 15px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-size: 14pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;Akhirny, kegiatan itu semakin membudaya terjadi setiap tahun, bahkan objek lokasi ziarah melebar bukan hanya kepada makam Kyai Asy'ari (Kyai Guru), akan tetapi juga ke makam Sunan Katong, Pangeran Mandurarejo, seorang Panglima Perang Mataram, dan Pangeran Pakuwaja. Belakangan para peziarah merambah juga berziarah ke makam Kyai Rukyat, Kyai Mustofa dan Kyai Musyafa'.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="background-color: white; border: 0px; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12px; margin-bottom: 15px; margin-top: 15px; outline: 0px; padding: 0px; text-align: justify;"&gt;
&lt;span style="background-color: transparent; background-position: initial initial; background-repeat: initial initial; border: 0px; font-size: 14pt; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px;"&gt;Makam Kyai Asy'ari, makam Pangeran Mandurarejo dan Sunan Katong terletak di Jabal sebelah selatan desa Protomulya, sedangkan makam Kyai Mustofa dan Kyai Musyafa' terletak di jabal sebelah utara-barat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhXwBs9EQUAtUaEAEQgp3zM0Xu_592WUIkLXD2E_p0poWb9zDjBAMJk9IH25hwTT-4VmVfQim6QPWsSh6WYlrZYr4dx6rsA2MuG0V356webbDdbCQaz2k4_OS5zPGVp5h53dkwhZovNpNdT/s72-c/makam+sunan+katong+kaliwungu+kendal+1.JPG" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>HAUL Wali Musyafak &amp; Mbah Ru'yat</title><link>http://desakrajankulon.blogspot.com/2012/03/warga-kaliwungu-gelar-haul-wali.html</link><category>Kegiatan Keagamaan</category><author>noreply@blogger.com (Unknown)</author><pubDate>Sat, 10 Mar 2012 18:29:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6745753759021198922.post-3288503564975131324</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEju6xQ-FNa9HYDrycaCIMOblVXLxZpQbE-czqokzDpkXkMWlLw1z0negf0NMOT_E6n2kpVRLVMkAgRarzeu-naZlye-E-fhBXoY8X9BFfVMtlg-qBWxP8kUjN6aPjWd9cVMw_FJrlNbjLtq/s1600/haul+mbah+ru%27yat.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="230" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEju6xQ-FNa9HYDrycaCIMOblVXLxZpQbE-czqokzDpkXkMWlLw1z0negf0NMOT_E6n2kpVRLVMkAgRarzeu-naZlye-E-fhBXoY8X9BFfVMtlg-qBWxP8kUjN6aPjWd9cVMw_FJrlNbjLtq/s320/haul+mbah+ru%27yat.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="judul_hijauK" style="background-color: white; color: #006600; font-family: 'trebuchet ms'; font-size: 13px; font-weight: bold; line-height: 16px;"&gt;Warga Kaliwungu Gelar Haul Wali Musyafak dan Mbah Ru'yat&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial,Tahoma,Helvetica,FreeSans,sans-serif; font-size: 15px; line-height: 20px;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span class="text_normal" style="background-color: white; color: #404040; font-family: 'trebuchet ms'; font-size: 13px;"&gt;( Dikutib dari&amp;nbsp;&lt;b&gt;&lt;i&gt;NU Online)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Seperti tahun-tahun sebelumnya, Ta'mir masjid Al Muttaqin Kaliwungu Kendal tahun ini menggelar peringatan haul Wali Musyafak dan Mbah Ru'yat yang merupakan tokoh penting sekaligus ulama dan wali dalam sejarah di Kaliwungu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Haul diikuti ribuan masyarakat dan santri yang ada di Kaliwungu. Bahkan, lembaga pendidikan maarif yang berada di bawah naungan NU diliburkan agar seluruh siswa dapat turut mengikuti haul yang diadakan hari Sabtu (09/3) lalu&amp;nbsp; bertempat di dalam dan di luar masjid besar Kaliwungu.&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=6745753759021198922&amp;amp;postID=3288503564975131324" name="more"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="text_normal" style="background-color: white; color: #404040; font-family: 'trebuchet ms'; font-size: 13px;"&gt;&lt;br /&gt;
Peringatan haul tersebut adalah tradisi keagamaan yang begitu mengakar di Kaliwungu mengingat kaliwungu merupakan basis NU dan pesantren yang besar. Oleh karenanya, peringatan haul wali maupun ulama selalu diikuti seluruh masyarakat dengan antusias. Antusiasme masyarakat akan terlihat ketika masyarakat, utamanya ibu-ibu para aktivis desa bergotong royong dalam menyediakan konsumsi bagi masyarakat dan santri yang mengikuti haul, suasana guyup begitu terasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peringatan haul diisi dengan pembacaan barzanji dan tahlil, serta diisi pula dengan tausiyah dari KH Hafidhin Ahmad Dum (salah satu ulama Kaliwungu) yang membahas tentang sejarah Wali Musyafak dan Mbah Ru'yat. Selain membahas kedua tokoh tersebut, beliau juga menyampaikan tentang manfaat haul itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Wali dan ulama merupakan orang yang dekat dengan Allah, maka dengan mendoakan mereka, kita juga termasuk orang yang dekat dengan Allah,"‌ katanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wali Musyafak sendiri merupakan wali yang makamnya ramai dikunjungi para peziarah hingga saat ini. Kaliwungu menyimpan banyak kisah kewalian Kyai Musyafak, terutama ketika masa penjajahan Jepang. Di suatu kisah diceritakan, pada tahun 1940, Wali Musyafak menggali tanah yang begitu dalam, masyarakat terheran-heran dan mengira tanah itu akan digunakannya untuk membuat sumur. Namun selang beberapa saat, tiba-tiba saja pasukan penjajah dari Jepang menyerbu Kaliwungu, dan lubang tanah yang digali Wali Musyafak itu pun menjadi tempat persembunyian masyarakat yang ada di sekitar rumahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara Mbah Ru'yat juga merupakan wali yang sangat kharismatik dan begitu disegani masyarakat Kaliwungu, nasab Mbah Ru'yat sampai pada Jaka Tarub, leluhur dari raja-raja kesultanan Mataram. Kontribusi besar yang diberikan Mbah Ru'yat untuk masyarakat Kaliwungu adalah berdirinya Pondok Pesantren Putri Pertama Kali di Kaliwungu, yakni Aribatul Islami. Waktu itu, Mbah Ru'yat menginginkan ada kesetaraan hak baik laki-laki maupun perempuan dalam&amp;nbsp;&lt;i&gt;ngangsu kaweruh&lt;/i&gt;&amp;nbsp;di pondok pesantren.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua wali Kaliwungu, Mbah Ru'yat dan Wali Musyafak merupakan tokoh yang memberikan sumbangsih yang begitu banyak dalam sejarah di Kaliwungu, terutama di terkait perkembangan Islam ala&amp;nbsp;&lt;i&gt;Ahlussunah wal Jamaah&amp;nbsp;&lt;/i&gt;dan pondok pesantren.&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEju6xQ-FNa9HYDrycaCIMOblVXLxZpQbE-czqokzDpkXkMWlLw1z0negf0NMOT_E6n2kpVRLVMkAgRarzeu-naZlye-E-fhBXoY8X9BFfVMtlg-qBWxP8kUjN6aPjWd9cVMw_FJrlNbjLtq/s72-c/haul+mbah+ru%27yat.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Wewehan (Sumpil)</title><link>http://desakrajankulon.blogspot.com/2012/03/wewehan.html</link><category>Tradisi</category><author>noreply@blogger.com (KRAJANKULON)</author><pubDate>Tue, 6 Mar 2012 20:37:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6745753759021198922.post-6586936789415983272</guid><description>&lt;div style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="1328763049371867529" class="aligncenter size-medium wp-image-161550" height="225" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/02/1328763049371867529_300x225.jpg" title="1328763049371867529" width="300" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Weh-wehan yang paling meriah, aneka jajan tradisional tersaji di meja,  mulai dari Sumpil (semacam lontong tapi bentuknya segitiga dibungkus  daun bambu dengan bumbu sambal kelapa muda yang pedes), Klepon (makanan  bulat-bulat kecil dari tepung yang ditengahnya ada gula merahnya),  Sriwut (Singkong parut campur gula merah yang dikukus disajikan dengan  kelapa muda parut), Jongkong (singkong parut dalamnya dikasih gula merah  dibungkus daun pisang kemudian dikukus), dan masih banyak lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;-sumpil dan sambal kelapa-&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;img alt="1328763205942395332" class="aligncenter size-medium wp-image-161551" height="225" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/02/1328763205942395332_300x225.jpg" title="1328763205942395332" width="300" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;-jongkong-&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Diharapkan  dari lomba ini muncul kecintaan para siswa terhadap kesenian dan  makanan tradisional sehingga dapat melestarikan kebudayaan asli  Indonesia.&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Tradisi Syawalan Kaliwungu</title><link>http://desakrajankulon.blogspot.com/2012/03/tradisi-kaliwungu.html</link><category>Tradisi</category><author>noreply@blogger.com (KRAJANKULON)</author><pubDate>Tue, 6 Mar 2012 20:35:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-6745753759021198922.post-5076935259905372297</guid><description>&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.in-tips.com/wp-content/uploads/2008/10/syawalan1.jpg" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="132" src="http://www.in-tips.com/wp-content/uploads/2008/10/syawalan1.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt; &lt;b&gt;KALIWUNGU&lt;/b&gt; tak pernah bisa dilepaskan dari potret tradisi Syawalan di  Jateng. Seperti di kota-kota Jawa Tengah lainnya, masyarakat Kaliwungu  masih kental menganut tradisi Syawalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap tahunnya, tujuh hari setelah Idul Fitri tradisi ini dirayakan.  Tradisi Syawalan bagi masyarakat merupakan acara puncak perayaan Idul  Fitri. Sejarah Syawalan di Kaliwungu bermula dari ziarah kubur yang  hanya dilakukan di makam Kyai Guru ( Kyai Asy’ari) oleh keluarga dan  keturunan beliau. Maksudnya untuk mendoakan Kyai Asy’ari yang telah  wafat.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEivPMZL0KEV4dkvok7BPKrF1K3CYAnHSkgN35FIqWkuZrLz6siMZjTUhGeJscnVvZBNY6ypBr9VxS-cju8Pd6qKAnBeHW9bavFTX2kcAi8rvKggHvJ2GfTWNAySCxa4Z59t18WgJ5HH_e1T/s400/DSCF0485.JPG" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEivPMZL0KEV4dkvok7BPKrF1K3CYAnHSkgN35FIqWkuZrLz6siMZjTUhGeJscnVvZBNY6ypBr9VxS-cju8Pd6qKAnBeHW9bavFTX2kcAi8rvKggHvJ2GfTWNAySCxa4Z59t18WgJ5HH_e1T/s200/DSCF0485.JPG" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Namun  kemudian diikuti oleh sebagian besar masyarakat muslim Kaliwungu  sebagai penghormatan memeringati wafatnya Kyai Asy’ari. Hingga sekarang  menjadi sebuah tradisi. Bahkan kini objek lokasi ziarah melebar bukan  hanya kepada makam Kyai Asy’ari tetapi juga ke makam Sunan Katong,  Pangeran Mandurarejo, dan Pangeran Pakuwaja. Belakangan para peziarah  merambah juga berziarah ke makam Kyai Mustofa, Kyai Musyafa’, dan Kyai  Rukyat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tradisi ziarah biasa dipimpin oleh ulama-ulama besar dari Kaliwungu.&lt;br /&gt;
Diikuti para santri dan juga masyarakat amum yang datang dari berbagai  daerah. Biasanya agenda acara ritual ini adalah pembukaan, pembacaan  riwayat hidup singkat Kyai Asy’ari, pembacaan Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq,  Al-An-Nas dan tahlil, dan doa untuk para arwah leluhur, ulama yang  dimakamkan di pemakamman Protomulyo dan Kutoharjo.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Puncak dari acara syawalan ini adalah prosesi penggantian ’’Luwur’’  (Klambu) penutup makam Kyai Asy’ari. Nisan setinggi satu meter milik  Kyai guru yang selalu ditutup klambu putih inilah yang setiap bulan  syawal diganti dengan yang baru. Kemudian yang lama disimpan di masjid  Al-Muttaqin Kaliwungu. Bagi sebagian besar masyarakat percaya bahwa  klambu tersebut dikeramatkan.&lt;br /&gt;
Makam Kyai Asy’ari satu kompleks dengan  makam Sunan Katong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang sering disebut jabal kidul. Bangunan makam ini merupakan bangunan  paling mewah di kompleks pemakamam ini. Ukurannya 16 x 20 meter dan  berlantai keramik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah ritual ini selesai, biasanya, di malam harinya para peziarah  umum dari pelosok Kendal, dan berbagai kota yang jumlahnya hingga  puluhan ribu berdatangan. Selama lima hari, siang malam membaca surat  Yasin dan tahlilan secara bergantian. Selain makam Kyai Asy’ari, makam  Sunan Katong juga selalu dibanjiri para peziarah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak peziarah mendatangi makam para leluhur tersebut untuk  mengharapkan barokah. Termasuk meminta dilancarkan segala usahanya,  dinaikkan pangkat dan jabatannya, dilariskan dagangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari kenyataan ini, banyak masyarakat akhirnya salah mengartikan makna  dari ziarah kubur. Yang mulanya hanya untuk mendoakan para leluhur, kini  doa-doa yang dipanjatkan, juga surah-surah Alquran yang dilafalkan  berubah arti menjadi sesuatu alat untuk mengharapkan berkah duniawi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak masyarakat yang salah mengartikan tradisi ini. Tradisi Syawalan  bagi mereka dirasa sebagai suatu ibadah. Sekarang yang terjadi bukan  agama yang ditradisikan tetapi tradisi yang diagamakan. Apalagi kalau  mereka sampai mengagumi sosok kesalehan para leluhur tersebut dan  meyakini bahwa para leluhur dapat memberikan berkah, rejeki, dan  keselamatan. Ini sangat bertentangan dengan ajaran Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tradisi yang seperti ini dapat mengurangi keyakinan kita akan ketauhitan  Tuhan dan termasuk dari perbuatan syirik. Orang yang mengharap sesuatu  dengan melakukan ritual seperti itu termasuk orang yang merugi karena  mereka menempuh jalan yang sesat. Menyekutukan Allah yang merupakan dosa  terbesar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di lain hal, memegah-megahkan makam seseorang, sekalipun itu makam nabi  dan orang saleh merupakan suatu perbuatan yang berlebih-lebihan.  Termasuk memberikan dan mengeramatkan pernak-pernik pada makamnya.  Sesungguhnya Allah akan memberikan ancaman bagi orang yang  berlebih-lebihan. Seperti yang diterangkan dalam surah At-Takaatsur:1-8.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tradisi syawalan di Kaliwungu selain dijadikan sebagai ibadah yang  keliru juga dijadikan sebagai kegiatan yang bersifat hiburan. Adanya  peziarah yang begitu banyak mengundang para pedagang dan juga jasa  hiburan untuk mengais rezeki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sepanjang jalan dari pasar sore, para pedagang, jasa hiburan dan  mereka masyarakat penikmat hiburan berjubel memadati jalan. Semakin  tahun semakin padat dan tidak karuan. Tradisi yang berlangsung selama  kurang lebih satu minggu itu sering sekali menimbulkan kemacetan lalu  lintas dan juga tindakan kriminal seperti pencopetan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber :&lt;a href="http://blog.smpn2kaliwungu.sch.id/2010/08/tradisi-kaliwungu.html"&gt; TRADISI KALIWUNGU dari blog smp n 2 kaliwungu&lt;/a&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEivPMZL0KEV4dkvok7BPKrF1K3CYAnHSkgN35FIqWkuZrLz6siMZjTUhGeJscnVvZBNY6ypBr9VxS-cju8Pd6qKAnBeHW9bavFTX2kcAi8rvKggHvJ2GfTWNAySCxa4Z59t18WgJ5HH_e1T/s72-c/DSCF0485.JPG" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item></channel></rss>