<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>DETAK HIDUP</title><description>Spirit membaca dan mengamati detak hidup</description><managingEditor>noreply@blogger.com (Unknown)</managingEditor><pubDate>Fri, 1 Nov 2024 18:41:17 +0700</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">81</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>http://detakhidup.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:keywords>Enlightment,Spiritual,Transcendent,Moment,Wise,News,Abu,Sangkan,Yusdeka,Deka,Shalat,Khusyu,Dzikrullah,Allah,Tuhan,Semesta,Alam,Universal,Kesadaran,Detak,Hidup,Nafas,Rasulullah,Rasa,Badan,Jasad,Ramadhan,Puasa,Fitrah,Idul,Fitri</itunes:keywords><itunes:summary>From zero to zero</itunes:summary><itunes:subtitle>DETAK HIDUP</itunes:subtitle><itunes:category text="Religion &amp; Spirituality"><itunes:category text="Islam"/></itunes:category><itunes:author>Abdul</itunes:author><itunes:owner><itunes:email>detak.hidup@gmail.com</itunes:email><itunes:name>Abdul</itunes:name></itunes:owner><item><title>DETAK HIDUP tidak punya FACEBOOK</title><link>http://detakhidup.blogspot.com/2014/03/detak-hidup-tidak-punya-facebook.html</link><category>Detak Hidup</category><category>Facebook</category><pubDate>Wed, 12 Mar 2014 14:30:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8899763873990236347.post-1317506766512145879</guid><description>
Sudah lama nga nulis, karena banyak yang kudu dikerjain, baik yang wajib, yang seperlunya dan yang sebisanya. Mumpung masih diinggatkan, jadi langsung saja saya segerakan. Hanya sekedar pembuka kabar, bahwa blog DETAK HIDUP ini tidak memiliki FACEBOOK.&lt;span class="fullpost"&gt;

DETAK HIDUP yang saya kelola hanya di blogspot.com, dan selebihnya bila ada kesamaan nama "DETAK HIDUP" itu berarti bukanlah saya orangnya.
&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>detak.hidup@gmail.com (Abdul)</author></item><item><title>Proses Sedang Berjalan</title><link>http://detakhidup.blogspot.com/2012/05/proses-sedang-berjalan.html</link><category>baik</category><category>buruk</category><category>manusia</category><category>prasangka</category><category>sifat</category><category>sunatullah</category><category>terburu-buru</category><category>waktu</category><pubDate>Wed, 23 May 2012 11:59:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8899763873990236347.post-6132849571396632481</guid><description>Salah satu sifat manusia dalam katagori buruk adalah “terburu-buru”; seperti terburu-buru ingin cepat sampai, terburu ingin cepat selesai, terburu-buru ingin lekas ini dan itu, atau bisa juga tidak kuat berlama-lama, kurang tekun,  atau tidak sabaran nunggu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Padahal kita tahu, bahwa bumi itu setengahnya malam dan setengahnya lagi siang.  Di bumi ini kita dapat giliran bertemu malam dan siang. Bila bertemu siang, maka waktu siang itu tidak bisa dipercepat atau diperlambat menjadi malam, dan bila kita berada di waktu malam, maka waktu malampun tidak bisa dipercepat maupun diperlambat menjadi siang. Semuanya kudu antri, kudu giliran, dan semuanya kudu mau nunggu proses yang sedang berjalan dengan rela ataupun terpaksa.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau jarum jam bisa diputar sekehendak kita, namun sang “waktu” tidak akan mengikuti kehendak si pemutar jarum jam.  Karena sang “waktu” tidak bisa dipercepat dan tidak bisa diperlambat. 

Mengingat sunatullah yang berlaku di alam semesta ini, menghormatinya akan lebih adem ketimbang mengikuti prasangka dan menurut diri, karena “apa yang menurut diri itu baik, belum tentu baik menurut Allah, dan apa-apa yang menurut diri itu tidak baik, juga belum tentu menurut Allah tidak baik.  &lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>detak.hidup@gmail.com (Abdul)</author></item><item><title>Ladang Kebaikan</title><link>http://detakhidup.blogspot.com/2011/09/lahan.html</link><category>Afal</category><category>Berbagi</category><category>Ihsan</category><category>Kebaikan</category><category>Ladang</category><category>Menanam</category><category>Nikmat</category><category>Pertolongan</category><category>Sedekah</category><category>Tasbih</category><pubDate>Wed, 28 Sep 2011 15:48:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8899763873990236347.post-4463338103281951644</guid><description>Seumpama ladang. Kefakiran, kemiskinan,  … merupakan ladang berbuat kebaikan bagi dermawan. Kejahilan, ketaktahuan, … merupakan ladang berbuat kebaikan bagi ilmuwan atau pengajar. Pekerja, buruh, … merupakan ladang berbuat kebaikan bagi usahawan. Pembeli, merupakan ladang berbuat kebaikan bagi pedagang. Tanah subur adalah ladang kebaikan bagi para penanam&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kapanpun dan dimanapun, sebenarnya kita dapat berbuat kebaikan. Bisa dengan tenaga, bisa dengan pikiran dan harta, karena memang dunia adalah ladang menuju akhirat. Sebagaimana tercantum dalam doa sapujagat yaitu memohon hidup di dunia baik dan  di akhiratnya juga baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seumpama ladang bila ditanam sebenih biji sawi saja&lt;br /&gt;
lalu ia tumbuh, maka... siapakah yang menumbuhkannya?&lt;br /&gt;
lalu ia berbatang ranting, maka.. siapakah yang membatang rantingkannya?&lt;br /&gt;
lalu ia berdaun hijau, maka… siapakah yang mendaunkan dan mewarnainya?&lt;br /&gt;
lalu ia berbunga indah, maka… siapakah yg membungakan &amp; mengindahkannya?&lt;br /&gt;
lalu ia berbuah, maka.. siapakah yang membuahkannya?&lt;br /&gt;
lalu ia mengeluarkan aroma, maka… siapakah yang mengharumkannya?&lt;br /&gt;
lalu ia berasa manis, maka… siapakah yang memaniskannya?&lt;br /&gt;
lalu ia tiada, maka.. siapakah yang bisa meniadakannya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Laa ilaha illa Allah&lt;br /&gt;
Tidak ada yang bisa menumbuhkan, kecuali hanya  Allah&lt;br /&gt;
Tidak ada yang bisa membatang rantingkan, kecuali hanya  Allah&lt;br /&gt;
Tidak ada yang bisa mendaunkan dan mewarnainya, kecuali hanya Allah&lt;br /&gt;
Tidak ada yang bisa membungakan, kecuali hanya Allah&lt;br /&gt;
Tidak ada yang bisa membuahkan, kecuali hanya Allah&lt;br /&gt;
Tidak ada yang bisa membuat rasa, kecuali hanya Allah&lt;br /&gt;
Tidak ada yang bisa meniadakan, kecuali hanya Allah&lt;br /&gt;
karenanya "Fasabbih bismi robbikal’adhiim" Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Besar.QS. al-Waqi’ah (56) : 74&lt;br /&gt;
Subhanallahil a’dhimi wa bihamdih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang.., berbagi itu berat kalau berbaginya terpaksa&lt;br /&gt;
Memang.., berbagi itu susah kalau berbaginya jarang &lt;br /&gt;
Memang.., berbagi itu sulit kalau tidak mau berbagi&lt;br /&gt;
Padahal berbagi itu tak ubahnya dengan menanam&lt;br /&gt;
Iya... seperti menanam&lt;br /&gt;
Ingatlah bahwa "Hal Jaza-ul Ihsan Illal Ihsan" Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula). QS. ar-Rahman (55) : 60&lt;br /&gt;
Meskipun banyak tahu tentang berbagi kebaikan, namun belum tentu mau berbagi kebaikan.&lt;br /&gt;
Kalaupun banyak punya ini itu, itupun tak menjamin bisa berbagi.&lt;br /&gt;
Kecuali....&lt;br /&gt;
Allah Swt kasih pertolongannya &lt;br /&gt;
Allah Swt kasih kehendak berbagi ke dadanya&lt;br /&gt;
Allah Swt kasih mau berbagi di hatinya&lt;br /&gt;
Laa haula wa laa quwwata illa billah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>detak.hidup@gmail.com (Abdul)</author></item><item><title>Menyelami Syukur</title><link>http://detakhidup.blogspot.com/2010/04/menyelami-syukur.html</link><category>Nikmat</category><category>Syukur</category><category>Tolong-menolong</category><pubDate>Wed, 7 Apr 2010 10:28:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8899763873990236347.post-1806077191036319405</guid><description>Yang di tolong akan merasakan pertolongan, yang merasakan pertolongan biasanya pasti akan menyampaikan rasa terima kasih kepada penolongnya. Namun bila yang tertolong tidak merasakan pertolongan, maka tiada mungkin keluar terima kasihnya yang menandakan kesyukurannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ungkapan terima kasih ini merupakan tanda bahwa tertolong telah berada di rasa yang nikmat dari rasa sebelumnya yang tidak nikmat rasanya. Seperti sulit jadi mudah, tenggelam jadi mentas, terancam jadi aman, sempit jadi lapang, dan seterusnya dan sebagainya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“… dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran ...” [Al-Maa'idah: 2]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang menolong bersyukur kepada Allah karena bisa menolong, dan yang tertolong berterima kasih kepada penolongnya. ”Man lam yaskurinnas lam yaskurillah” Siapa saja yang tidak berterima kasih kepada manusia, tidak bersyukur kepada Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertolongan dapat dari berbagai macam sebab. Namun hakikatnya hanya Allah yang bisa menolong, karena Dia yang maha menolong. Maha Cepat pertolongannya karena Allah maha dekat. Tiada yang lebih dekat pertolongannya kecuali Allah yang lebih dekat pertolongannya, karena Dia lebih dekat dari urat leher kita.&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">3</thr:total><author>detak.hidup@gmail.com (Abdul)</author></item><item><title>Mengamati Syukur</title><link>http://detakhidup.blogspot.com/2010/03/mengamati-syukur.html</link><category>Nikmat</category><category>Syukur</category><pubDate>Tue, 9 Mar 2010 23:24:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8899763873990236347.post-8923343738984165523</guid><description>Yang terpengaruh oleh peristiwa akan ketarik masuk dalam pengaruhnya peristiwa itu, kalau kejadiannya itu sedih, maka yang terpengaruh akan ikut sedih, kalau peristiwannya itu gembira, maka yang terpengaruh akan turut gembira. Seperti rasa yang hanyut dalam alunan gesekan biola yang meliuk-liuk iramanya. Padahal sebelumnya biasa-biasa saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang mudah dipengaruhi akan mudah dipermainkan, salah satu keadaannya mirip dengan anak-anak melihat tukang balon. Bila sudah terpengaruhi maka hasratnya akan tumbuh, bila telah tumbuh maka si anak akan mengikuti maunya hasrat, dan jika hasratnya tidak dipenuhi maka si anak akan kecewa, nangis, atau marah dan berbagai macam ekspresi lainnya yang menunjuk pada sikap-sikap ketaksukaan dan ketakrelaan atas keadaan yang menimpa dirinya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disinilah posisi konsennya kita, yaitu keluar dari sikap hidup kekanak-kanakan menuju sikap hidup kedewasaan, dengan terus berupaya menerima bahwa hidup itu merupakan anugerah Ilahi yang tiada banding dan tiada tanding nilai dan harganya, yang sudah semestinya dan sepantasnya patut kita syukuri keberadaannya, agar nikmatnya hidup itu terus tumbuh dan berkembang hingga berbuah manis rasanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika ada sisi yang terpengaruh kesadarannya, maka sudah pasti ada juga sisi sebelahnya yang tidak terpengaruh kesadarannya, bila ada yang terombang-ambing rasa perasaannya, sebaliknya pasti ada pula yang tidak terombang-ambing rasa perasaannya, keadaan ini disebut sebagai diri yang tenang, dalam suasana tenang, dalam suasana nikmat, dalam suasana kebersyukuran. "Wahai Jiwa yang tenang kembalilah kepada Robmu dengan ridho dan diridhoi, maka masuklah ke dalam golongan hamba-Ku dan masuklah kedalam surga-Ku". [Al-Fajr: 27-30]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang terombang-ambing rasa perasaannya merupakan akibat dari sebab kesadarannya tidak berpegang teguh pada Allah. Sedangkan yang tenang, yang rela  kembali kepada Allah, pegangannya amat teguh kepada Allah ”WA’TASHIMU BILLAH...”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan berpegang teguhlah kamu sekalian dengan tali Allah dan janganlah kamu sekalian berpecah belah, dan ingatlah nikmat Allah atas kamu...” [Ali Imron ayat 103]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”... Barangsiapa yang berpegang teguh kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus”. [Ali 'Imran: 101]. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus kepada-Nya". [An Nisaa': 175]. &lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>detak.hidup@gmail.com (Abdul)</author></item><item><title>Menggapai Syukur</title><link>http://detakhidup.blogspot.com/2010/03/menggapai-syukur.html</link><category>Nikmat</category><category>Syukur</category><pubDate>Fri, 5 Mar 2010 16:26:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8899763873990236347.post-9206193336493150185</guid><description>Tanpa merasakan nikmat-nikmat-Nya, maka tak bisa dipungkiri lagi diri kita tidaklah mungkin dapat menyampaikan terima kasih dengan rasa kebersyukuran yang sesungguhnya.  Boleh jadi lisan mampu berkata namun hati tetap kokoh menolaknya. Ini lantaran hati tak tersentuh oleh nikmat-nikmat karena ditutup oleh keangkuhan diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menggapai syukur, ada baiknya kita mulai kembali peduli terhadap peristiwa riil yang terjadi di sekeliling kita. Dengan sikap mau belajar dan bersedia menerima pembelajaran sebagai awal buka kesiapan bertadabbur alam.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Persiapkan indera penglihatan, sediakan pendengaran serta libatkan penginderaan lainnya secara aktif sebagai pintu utama masuknya informasi ke dalam wadahnya yaitu otak.  Dengan membaca tanda-tanda kekuasaan [af’al] Nya yang tergelar dalam kehidupan nyata. ”Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu fungsi dari otak kita adalah berfikir. Berfikir bila diperhatikan memiliki kecenderungan sulit diistirahatkan keberfikirannya, dan kecenderungan ke arah negatif berfikirnya. Akibatnya arah pikir lebih cenderung kepada buruk sangka ketimbang sangka baiknya, lebih cenderung kepada tidak suka daripada sukanya, dan lebih cederung kepada jeleknya dibanding baiknya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Stop jangan diteruskan, kalau itu reka-reka pikiran saja. Hentikan dan jangan dilanjutkan, karena semua itu hanya sebatas kira-kira pikiran saja. Karena yang namanya kira-kira dan reka-reka itu bukanlah yang sebenarnya. Sebab yang benar itu bukanlah kira-kira atau reka-reka. Maka, seyogyanya jangan dituruti nafsunya, hentikanlah sifat kenegatifannya, jangan dipersempit kenetralannya dan jangan pula memasung sikap positif thinkingnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berikan kesempatan pada hati kita untuk memahami dengan kelembutan rasa kasih sayang. Adalah suatu kenyataan rasa yang tiada lagi didalamnya terdapat rasa kebencian, rasa kedengkian dan rasa keangkuhan diri. Ini akan lebih bijak dan lebih sehat [positif] bagi diri dalam menangkap nikmat-nikmat Nya yang tak terbatas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah saw bersabda: Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat kepada orang yang berada di atasmu karena yang demikian itu lebih layak supaya kamu tidak meremehkan nikmat Allah kepadamu” &lt;br /&gt;
[Bukhari – Muslim].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih aktualnya lagi, mari kita amati perilaku orang yang diberi sesuatu dan atau orang yang ditolong. Karena dari keduanya pasti akan keluar ucapan kata terima kasih kepada yang memberinya dan atau kepada yang menolongnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam konteks diatas sesungguhnya telah terjadi perubahan keadaan [kenyataan] yang mempengaruhi rasa diri, pertama adalah  keadaan sebelum diberi dengan rasa tiada memiliki sesuatu, kedua keadaan setelah diberi sesuatu dengan rasa memiliki sesuatu. Dan ketiga adalah keadaan berterima kasih dengan rasa syukur.&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>detak.hidup@gmail.com (Abdul)</author></item><item><title>Menuju Syukur</title><link>http://detakhidup.blogspot.com/2010/02/menuju-syukur.html</link><category>Nikmat</category><category>Rugi</category><category>Syukur</category><category>Untung</category><category>Wajah</category><pubDate>Wed, 10 Feb 2010 16:55:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8899763873990236347.post-5041794004211411543</guid><description>Bersyukur buat orang-orang seperti kita mungkin baru sebatas pada keadaan yang enak-enak saja.  Tapi tidakkah kita perhatikan bahwa hidup di dunia ini pasti akan bertemu dengan siang dan malam, terkadang terasa manis, kadang juga rasanya pahit.  Tidaklah mungkin seseorang hidup dapatnya malam terus atau siang terus, manis terus atau pahit terus.  Bilamana saat gilirannya datang, kita bertemu dengan keadaan yang tak enak, dan pahit rasanya, maka mungkinkah kita masih bisa bersyukur? &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersyukur atas keadaan yang enak itu biasa-biasa saja, karena memang keadaannya lagi enak dan gak ada yang dianggap masalah, maka sudah sewajarnya dan wajar-wajar saja kalau kita bisa mengucapkan terima kasih dengan fasih atau alhamdulillah sekalipun.  Tetapi akan jadi luar biasa bila keadaan tidak enak menyinggahi, tapi kita bisa bersyukur. Lho kok bisa? Ya bisa saja, karena memang bersyukur itu tidak akan rugi, dan lagi pun tidak ada sejarahnya yang mengatakan bahwa ada orang merugi gara-gara bersyukur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demi masa [1]. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian [2]. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. [3] {al-‘Ashr:1-3}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang-orang yang beriman pasti bersyukur, mengapa? Karena mereka tahu dan merasakannya bahwa tidak akan pernah ada di kolong jagat raya ini yang bisa menurunkan ketenangan ke dalam hati, kecuali hanya Allah saja. Dan mereka akan sangat merasa malu sekali kepada Allah bila tak bersyukur. Karena rasa malu mereka adalah bagian dari iman mereka. Itulah ciri khasnya orang-orang yang beriman kepada Allah, yaitu punya rasa malu kepada Allah. Kemudian  bila disebut nama Allah, hatinya orang-orang beriman bergetar, lalu menjadi tenang karena diturunkan ketenangan ke dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[dikasih enak, nikmat, bahagia, tenang, tentram, kok... enggak mau bersyukur... jadi kita ini maunya apa? kok berani-beraninya kita dustai nikmat-nikmat-Nya? bukankah kita tahu akibatnya? KONTAN! tidak enak, tidak nikmat, tidak bahagia, tidak tenang, tidak tentram, dst.]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu sikap yang harus ditanam menuju bersyukur kepada Allah adalah sikap merasa untung, beruntung atau diuntungkan, pokoknya semua yang tidak terdefinisi oleh diri kita sebagai rugi, merugi atau dirugikan. Karena yang rugi, yang merugi atau yang dirugikan, jelas tidak enak, jelas tidak nikmat, tidak bahagia, tidak tenang, tidak tentram, dst.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Merasa rugi sebenarnya menjauhkan diri kita dari kesyukuran, karena dengan bersikap seperti ini sama saja kita sudah mendustai nikmat-nikmat Nya yang tak terhitung jumlah bilangan beserta uriannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari, kita coba buka jendelanya agar kita dapat melihat keluar sana, yang luas, yang sangat luas, yang mungkin belum pernah terlihat oleh mata, terdengar  telinga, dan terasakan oleh rasa kita. Mungkin lho..., karena kadang untuk membuka jendela saja susah banget. Ya.. sudahlah. Kita mohon saja rahmat Nya, amin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menjawab pertanyaan diatas. Enaknya kita gunakan ilustrasi. Semisal kecopetan. Dompetnya raib dari kantong celana saat di mall. Pemiliknya tersadar saat public information memberitakan temuannya melalui pengeras suara. Singkatnya, dompet diambil kembali oleh pemiliknya dan ternyata uangnya telah melayang. Meski raib uangnya, pak tua itu berucap ”alhamdulillah untung  ktp dan sim-nya tidak ikut hilang”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila arah pikir kita tertuju kepada sesuatu yang hilang maka jelas kita akan merasakan kehilangan. Dan bila raibnya uang itu diartikan sebagai rugi maka kita pun akan berada di suasana rasa seperti itu. Semestinya hilang ya hilang saja, jangan ditambah-tambah artinya, karena semakin banyak tautannya kita akan semakin tersika dibuatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti gelap ya gelap saja, jangan diartikan jadi seram, horor, takut dan seterusnya.  Manakala kita terlanjur mengartikan gelap seperti diatas, maka jangan heran saat bertemu dengan gelap kita akan merasakan seram, jadi horor, takut dan seterusnya. Ini namanya dipermainkan oleh pikirannya sendiri, ada orang bilang terhipnotis oleh dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ungkapan pak tua adalah ungkapan tersirat dan bukan tersurat.  Pak tua hanya mau memandang yang selalu ada, yang tidak akan hilang, yang tidak akan musnah, yaitu wajah Nya, ”inni wajjahtu wajhia lilladzi fathoros samawati wal ardo hanifa”.  Orang-orang yang macamnya seperti pak tua ini yang bakal dikasih keuntungan oleh Allah. Karena wajah kesadarannya  selalu hadir menghadap kepada Wajah Abadi dengan selurus-lurusnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sehingga apa pun kejadiannya, pak tua bisa dengan rela dan merelakan apa pun ketentuan Nya. Karena kerelaan bagi pak tua adalah nikmat, maka baginya pula tiada rasa sakit meski tampak tersakiti. Jika semuanya sudah menjadi nikmat, maka apapun ketentuan Nya akan menjadi nikmat pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, kebersyukurannya pak tua bukan karena ktp dan sim tidak hilang, akan tetapi karena nikmatnya Allah yang diturunkan lewat kejadian itu.  Alhamdulillah.&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;</description><enclosure length="0" type="text/html" url="http://detakhidup.blogspot.com/2010/03/mengamati-syukur.html"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>detak.hidup@gmail.com (Abdul)</author><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Bersyukur buat orang-orang seperti kita mungkin baru sebatas pada keadaan yang enak-enak saja. Tapi tidakkah kita perhatikan bahwa hidup di dunia ini pasti akan bertemu dengan siang dan malam, terkadang terasa manis, kadang juga rasanya pahit. Tidaklah mungkin seseorang hidup dapatnya malam terus atau siang terus, manis terus atau pahit terus. Bilamana saat gilirannya datang, kita bertemu dengan keadaan yang tak enak, dan pahit rasanya, maka mungkinkah kita masih bisa bersyukur? Bersyukur atas keadaan yang enak itu biasa-biasa saja, karena memang keadaannya lagi enak dan gak ada yang dianggap masalah, maka sudah sewajarnya dan wajar-wajar saja kalau kita bisa mengucapkan terima kasih dengan fasih atau alhamdulillah sekalipun. Tetapi akan jadi luar biasa bila keadaan tidak enak menyinggahi, tapi kita bisa bersyukur. Lho kok bisa? Ya bisa saja, karena memang bersyukur itu tidak akan rugi, dan lagi pun tidak ada sejarahnya yang mengatakan bahwa ada orang merugi gara-gara bersyukur. Demi masa [1]. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian [2]. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. [3] {al-‘Ashr:1-3} Orang-orang yang beriman pasti bersyukur, mengapa? Karena mereka tahu dan merasakannya bahwa tidak akan pernah ada di kolong jagat raya ini yang bisa menurunkan ketenangan ke dalam hati, kecuali hanya Allah saja. Dan mereka akan sangat merasa malu sekali kepada Allah bila tak bersyukur. Karena rasa malu mereka adalah bagian dari iman mereka. Itulah ciri khasnya orang-orang yang beriman kepada Allah, yaitu punya rasa malu kepada Allah. Kemudian bila disebut nama Allah, hatinya orang-orang beriman bergetar, lalu menjadi tenang karena diturunkan ketenangan ke dalamnya. [dikasih enak, nikmat, bahagia, tenang, tentram, kok... enggak mau bersyukur... jadi kita ini maunya apa? kok berani-beraninya kita dustai nikmat-nikmat-Nya? bukankah kita tahu akibatnya? KONTAN! tidak enak, tidak nikmat, tidak bahagia, tidak tenang, tidak tentram, dst.] Salah satu sikap yang harus ditanam menuju bersyukur kepada Allah adalah sikap merasa untung, beruntung atau diuntungkan, pokoknya semua yang tidak terdefinisi oleh diri kita sebagai rugi, merugi atau dirugikan. Karena yang rugi, yang merugi atau yang dirugikan, jelas tidak enak, jelas tidak nikmat, tidak bahagia, tidak tenang, tidak tentram, dst. Merasa rugi sebenarnya menjauhkan diri kita dari kesyukuran, karena dengan bersikap seperti ini sama saja kita sudah mendustai nikmat-nikmat Nya yang tak terhitung jumlah bilangan beserta uriannya. Mari, kita coba buka jendelanya agar kita dapat melihat keluar sana, yang luas, yang sangat luas, yang mungkin belum pernah terlihat oleh mata, terdengar telinga, dan terasakan oleh rasa kita. Mungkin lho..., karena kadang untuk membuka jendela saja susah banget. Ya.. sudahlah. Kita mohon saja rahmat Nya, amin. Untuk menjawab pertanyaan diatas. Enaknya kita gunakan ilustrasi. Semisal kecopetan. Dompetnya raib dari kantong celana saat di mall. Pemiliknya tersadar saat public information memberitakan temuannya melalui pengeras suara. Singkatnya, dompet diambil kembali oleh pemiliknya dan ternyata uangnya telah melayang. Meski raib uangnya, pak tua itu berucap ”alhamdulillah untung ktp dan sim-nya tidak ikut hilang”. Bila arah pikir kita tertuju kepada sesuatu yang hilang maka jelas kita akan merasakan kehilangan. Dan bila raibnya uang itu diartikan sebagai rugi maka kita pun akan berada di suasana rasa seperti itu. Semestinya hilang ya hilang saja, jangan ditambah-tambah artinya, karena semakin banyak tautannya kita akan semakin tersika dibuatnya. Seperti gelap ya gelap saja, jangan diartikan jadi seram, horor, takut dan seterusnya. Manakala kita terlanjur mengartikan gelap seperti diatas, maka jangan heran saat bertemu dengan gelap kita akan merasakan seram, jadi horor, takut dan seterusnya. Ini namanya dipermainkan oleh pikirannya sendiri, ada orang bilang terhipnotis oleh dirinya sendiri. Ungkapan pak tua adalah ungkapan tersirat dan bukan tersurat. Pak tua hanya mau memandang yang selalu ada, yang tidak akan hilang, yang tidak akan musnah, yaitu wajah Nya, ”inni wajjahtu wajhia lilladzi fathoros samawati wal ardo hanifa”. Orang-orang yang macamnya seperti pak tua ini yang bakal dikasih keuntungan oleh Allah. Karena wajah kesadarannya selalu hadir menghadap kepada Wajah Abadi dengan selurus-lurusnya. Sehingga apa pun kejadiannya, pak tua bisa dengan rela dan merelakan apa pun ketentuan Nya. Karena kerelaan bagi pak tua adalah nikmat, maka baginya pula tiada rasa sakit meski tampak tersakiti. Jika semuanya sudah menjadi nikmat, maka apapun ketentuan Nya akan menjadi nikmat pula. Jadi, kebersyukurannya pak tua bukan karena ktp dan sim tidak hilang, akan tetapi karena nikmatnya Allah yang diturunkan lewat kejadian itu. Alhamdulillah.</itunes:subtitle><itunes:author>Abdul</itunes:author><itunes:summary>Bersyukur buat orang-orang seperti kita mungkin baru sebatas pada keadaan yang enak-enak saja. Tapi tidakkah kita perhatikan bahwa hidup di dunia ini pasti akan bertemu dengan siang dan malam, terkadang terasa manis, kadang juga rasanya pahit. Tidaklah mungkin seseorang hidup dapatnya malam terus atau siang terus, manis terus atau pahit terus. Bilamana saat gilirannya datang, kita bertemu dengan keadaan yang tak enak, dan pahit rasanya, maka mungkinkah kita masih bisa bersyukur? Bersyukur atas keadaan yang enak itu biasa-biasa saja, karena memang keadaannya lagi enak dan gak ada yang dianggap masalah, maka sudah sewajarnya dan wajar-wajar saja kalau kita bisa mengucapkan terima kasih dengan fasih atau alhamdulillah sekalipun. Tetapi akan jadi luar biasa bila keadaan tidak enak menyinggahi, tapi kita bisa bersyukur. Lho kok bisa? Ya bisa saja, karena memang bersyukur itu tidak akan rugi, dan lagi pun tidak ada sejarahnya yang mengatakan bahwa ada orang merugi gara-gara bersyukur. Demi masa [1]. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian [2]. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. [3] {al-‘Ashr:1-3} Orang-orang yang beriman pasti bersyukur, mengapa? Karena mereka tahu dan merasakannya bahwa tidak akan pernah ada di kolong jagat raya ini yang bisa menurunkan ketenangan ke dalam hati, kecuali hanya Allah saja. Dan mereka akan sangat merasa malu sekali kepada Allah bila tak bersyukur. Karena rasa malu mereka adalah bagian dari iman mereka. Itulah ciri khasnya orang-orang yang beriman kepada Allah, yaitu punya rasa malu kepada Allah. Kemudian bila disebut nama Allah, hatinya orang-orang beriman bergetar, lalu menjadi tenang karena diturunkan ketenangan ke dalamnya. [dikasih enak, nikmat, bahagia, tenang, tentram, kok... enggak mau bersyukur... jadi kita ini maunya apa? kok berani-beraninya kita dustai nikmat-nikmat-Nya? bukankah kita tahu akibatnya? KONTAN! tidak enak, tidak nikmat, tidak bahagia, tidak tenang, tidak tentram, dst.] Salah satu sikap yang harus ditanam menuju bersyukur kepada Allah adalah sikap merasa untung, beruntung atau diuntungkan, pokoknya semua yang tidak terdefinisi oleh diri kita sebagai rugi, merugi atau dirugikan. Karena yang rugi, yang merugi atau yang dirugikan, jelas tidak enak, jelas tidak nikmat, tidak bahagia, tidak tenang, tidak tentram, dst. Merasa rugi sebenarnya menjauhkan diri kita dari kesyukuran, karena dengan bersikap seperti ini sama saja kita sudah mendustai nikmat-nikmat Nya yang tak terhitung jumlah bilangan beserta uriannya. Mari, kita coba buka jendelanya agar kita dapat melihat keluar sana, yang luas, yang sangat luas, yang mungkin belum pernah terlihat oleh mata, terdengar telinga, dan terasakan oleh rasa kita. Mungkin lho..., karena kadang untuk membuka jendela saja susah banget. Ya.. sudahlah. Kita mohon saja rahmat Nya, amin. Untuk menjawab pertanyaan diatas. Enaknya kita gunakan ilustrasi. Semisal kecopetan. Dompetnya raib dari kantong celana saat di mall. Pemiliknya tersadar saat public information memberitakan temuannya melalui pengeras suara. Singkatnya, dompet diambil kembali oleh pemiliknya dan ternyata uangnya telah melayang. Meski raib uangnya, pak tua itu berucap ”alhamdulillah untung ktp dan sim-nya tidak ikut hilang”. Bila arah pikir kita tertuju kepada sesuatu yang hilang maka jelas kita akan merasakan kehilangan. Dan bila raibnya uang itu diartikan sebagai rugi maka kita pun akan berada di suasana rasa seperti itu. Semestinya hilang ya hilang saja, jangan ditambah-tambah artinya, karena semakin banyak tautannya kita akan semakin tersika dibuatnya. Seperti gelap ya gelap saja, jangan diartikan jadi seram, horor, takut dan seterusnya. Manakala kita terlanjur mengartikan gelap seperti diatas, maka jangan heran saat bertemu dengan gelap kita akan merasakan seram, jadi horor, takut dan seterusnya. Ini namanya dipermainkan oleh pikirannya sendiri, ada orang bilang terhipnotis oleh dirinya sendiri. Ungkapan pak tua adalah ungkapan tersirat dan bukan tersurat. Pak tua hanya mau memandang yang selalu ada, yang tidak akan hilang, yang tidak akan musnah, yaitu wajah Nya, ”inni wajjahtu wajhia lilladzi fathoros samawati wal ardo hanifa”. Orang-orang yang macamnya seperti pak tua ini yang bakal dikasih keuntungan oleh Allah. Karena wajah kesadarannya selalu hadir menghadap kepada Wajah Abadi dengan selurus-lurusnya. Sehingga apa pun kejadiannya, pak tua bisa dengan rela dan merelakan apa pun ketentuan Nya. Karena kerelaan bagi pak tua adalah nikmat, maka baginya pula tiada rasa sakit meski tampak tersakiti. Jika semuanya sudah menjadi nikmat, maka apapun ketentuan Nya akan menjadi nikmat pula. Jadi, kebersyukurannya pak tua bukan karena ktp dan sim tidak hilang, akan tetapi karena nikmatnya Allah yang diturunkan lewat kejadian itu. Alhamdulillah.</itunes:summary><itunes:keywords>Enlightment,Spiritual,Transcendent,Moment,Wise,News,Abu,Sangkan,Yusdeka,Deka,Shalat,Khusyu,Dzikrullah,Allah,Tuhan,Semesta,Alam,Universal,Kesadaran,Detak,Hidup,Nafas,Rasulullah,Rasa,Badan,Jasad,Ramadhan,Puasa,Fitrah,Idul,Fitri</itunes:keywords></item><item><title>Bila Lapar dan Haus Memanggil</title><link>http://detakhidup.blogspot.com/2009/10/bila-lapar-dan-haus-memanggil.html</link><category>Ingat</category><category>Ingin</category><category>Memanggil</category><category>Sadar</category><pubDate>Fri, 9 Oct 2009 14:29:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8899763873990236347.post-7362219635120570181</guid><description>Ketika muadzin memanggil dengan kumandang adzan ingatan kita pasti akan tertuju kepada shalat atau saat ramadhan menjelang kita langsung ingat puasa, zakat dan idul fitri, begitupun dengan idul adha kita akan teringat dengan qurban dan begitu seterusnya akan saling mengkait serta menyambung dari tahu terkini ke informasi berikutnya sampai habis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan bila lapar dan haus memanggil kemanakah ingatan kita tertuju? Sudah tentu akan teringat dengan makan dan minum, bukan?&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tubuh raga sebagai bagian dari alam semesata akan senantiasa tunduk dan patuh atas segala titah Sang Maha Raja Pencipta jagat raya. Ketundukan dan kepatuhannya [tubuh] tak dapat disangsikan lagi. Selama duapuluh empat jam dalam sehari dia bekerja full tanpa henti bahkan dikala tidur dan sakit sekalipun dia tetap mempersembahkan layanan terbaiknya kepada Sang Penciptanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kapanpun kita mau dan kapapun kita ingini untuk makan dan minum. Perut akan hayo saja “siap laksanakan segala perintah bos dan tuannya”. Dia siap menampung segala jenis makanan dan minuman seperti layaknya gudang saja begitu. Tak peduli barang tersebut halal atau haram, tak peduli waktu malam atau siang, tak penting siapa orangnya, tak pandang apa jabatannya, apalagi kelakuannya macam apa, perut... nrima saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lapar dan haus memanggil-manggil mengingatkan kepada tuannya, memberitahu kepada tuannya bahwa ring tone berbunyi merupakan tanda telah masuknya pesan-pesan ke dalam inbox kita. Lalu,  siapakah pengirim pesan-pesan itu? Bacalah!!!, Iqra bismi robbika ladzi khalaq. khalaqol insana min alaq.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Al A'raaf:31].&lt;br /&gt;
Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Thaahaa:81].&lt;br /&gt;
Makanlah di antara rezki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas padanya, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Dan barangsiapa ditimpa oleh kemurkaan-Ku, maka sesungguhnya binasalah ia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[An Nahl:114].&lt;br /&gt;
Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Al An'aam:142].&lt;br /&gt;
Dan di antara hewan ternak itu ada yang dijadikan untuk pengangkutan dan ada yang untuk disembelih. Makanlah dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Al Baqarah:168].&lt;br /&gt;
Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Al Baqarah:172].&lt;br /&gt;
Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Al Maa'idah:88].&lt;br /&gt;
Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">4</thr:total><author>detak.hidup@gmail.com (Abdul)</author></item><item><title>Kasih Sayang</title><link>http://detakhidup.blogspot.com/2009/10/kasih-sayang.html</link><category>Kasih</category><category>Sayang</category><pubDate>Tue, 6 Oct 2009 15:38:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8899763873990236347.post-6234889386398704879</guid><description>Potret kemiskinan, kefakiran dan kepapaan merupakan daya-daya pendobrak yang menembus ke dalam relung jiwa-jiwa, agar jiwa-jiwa itu terdorong dan mau dengan kerelaan mendermakan hartanya, supaya jiwa-jiwa itu terdorong untuk peduli mengorbankan waktunya, tenaganya dan juga pikirannya,  adalah jiwa-jiwa yang tergerak dan terpanggil untuk mengalirkan kasih sayang ke dalam wadah yang tepat dengan sikap lembut dan baik.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitupun dengan bencana alam, gampa bumi, tsunami, tanah longsor, banjir, yang memporak-porandakan, yang meluluh-lantahkan sarana dan prasarana, merengut jiwa, anak-anak menjadi yatim dan piatu, orang tua kehilangan anaknya, kehilangan saudaranya dan rumahpun hancur luluh dalam sekejab. Pun sebagai daya dobrak, pendorong kasih sayang yang masih bersemayam di dalam hati agar mau keluar, agar mau peduli, agar mau berbagi, agar mau mengalirkan kasih sayangnya kepada saudara-saudarinya yang sangat membutuhkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap kejadian yang memilukan berdaya menyentuh jiwa, tak peduli siapapun orangnya, si kaya, si miskin, si pedagang, si pembeli, si pintar, si bodoh, si guru, si murid, pokoknya semua orang yang melihat, yang mendengar dan yang merasakan singkatnya adalah “mereka yang berhati”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya orang-orang yang berhati lunaklah yang tidak keras membatu dapat merasakan getaran kasih sayang-Nya, gerakan kasih sayang-Nya, yang langsung bersegera menyambut getaran dan gerakan dihatinya itu dengan mengalirkan kasih dalam mengasihi, mengalirkan sayang dalam menyayangi dan mengalirkan santun dalam menyantuni kepada sesamanya, kepada saudara-saudaranya yang sedang merasakan darita dengan linangan air mata dan kepiluan yang mendayu di hatinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk itu, mari saudaraku kita berbagi sesuai dengan kapasitas dan kemampuan kita masing-masing. Mari kita ulurkan tangan atau memotivasi dengan lisan ataupun tulisan agar mereka tetap tegar dalam melewati episode hidupnya atau mendoakan mereka agar pulih sedia dari deritanya. “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kasih-mengasihinya, sayang-menyayanginya dan santun-menyantuninya, bagaikan satu tubuh yang jika satu anggotanya menderita sakit maka menderita pula keseluruhan tubuh”. [al-hadist]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>detak.hidup@gmail.com (Abdul)</author></item><item><title>Ubahlah</title><link>http://detakhidup.blogspot.com/2009/09/ubahlah.html</link><category>Daya</category><category>Ingat</category><category>Lalai</category><category>Ubah</category><pubDate>Mon, 14 Sep 2009 13:07:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8899763873990236347.post-3474118996317179862</guid><description>Informasi yang tersimpan dalam otak dapat di reload karena kita ingini dan dapat juga di ulang kembali aktivitasnya karena disukai. Me reload dan mengulang kembali bila dilakukan secara terus-menerus akan tertanam dan terprogram dalam bawah sadar yang secara otomatis akan bekerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila otak lebih banyak menyimpan informasi positif maka responnya biasanya positif, sedangkan bila otak lebih banyak menyimpan informasi negatif maka responnya pun akan negative.  Seperti poci, bila diisi air teh maka keluarnya air teh, bila diisi air kelapa maka keluarnya air kelapa, bila diisi air kopi maka keluarnya air kopi, dst.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kecendrungan kerja alam bawah sadar adalah mengkases informasi yang sering digunakan. Contoh, seseorang tidak mungkin bisa sabar jika sabar serta suasananya belum/tidak tersimpan di dalam otaknya. Alih-alih  ingin bersabar yang dipilih namun malang malah marah yang diraih. Pasalnya sederhana bawah sadar hanya akan mengakses informasi yang kuat dan yang sering digunakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari keinginan timbul rasa ingat, dari rasa ingat timbul untuk mewujudkan yang diingatnya itu.  Siapapun kita dapat menggunakan dan mengoptimalkan rasa ingat ini untuk kepentingan pribadi atau non pribadi.  &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Karena bermula dari rasa ingatlah manusia memulai perubahan hidupnya di dunia dan akhiratnya. &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sebagai informasi tambahan terkait rasa ingat ini, di barat ada hukum tarik menarik [law of attraction] dan di timur ada quantum ikhlas. Adakah keterkaitan  dari kedua temuan tersebut terhadap rasa ingat...? silahkan dikaji lebih lanjut sendiri-sendir saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perubahan Individu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengubahan diri dimulai dari upaya mengingat Allah sebanyak-banyak agar Allah pun ingat kepada para pengingat-Nya [ingatlah AKU maka AKU ingat kamu].  Harus disadari pula bahwa daya upaya kita tiada yang sia-sia karena Allah bakal merespon sesuai dengan janji-Nya. Siapapun orangnya jika ingin mengubah dirinya ter-upgrade menjadi pribadi baru maka gunakanlah rasa ingat ini sebagai power [daya ubah] untuk mengubahnya.  Nantinya berpulang kembali kepada individu terkait, mau kemana diarahkan rasa ingatnya itu kepada yang materi atau yang bukan materi, kepada Tuhan atau selain tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Perubahan Kolektif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lapar datang tidak setahun sekali, namun rasa lapar datang setiap hari, bisa pagi, siang dan malam. Sedangkan datangnya rasa kenyang sebenarnya tak jauh beda. Pada sisi lainnya ada juga yang merasakan laparnya sama persis seperti diatas tetapi merasakan kenyangnya kadang cuma dua kali atau sekali saja dalam sehari.  Sungguh kontras memang..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Istilahnya..., kita lapar dilaparkan dan kenyang dikenyangkan. Pasalnya sederhana saja, kita tidak akan bisa membuat rasa lapar dan tidak bisa bisa membuat rasa kenyang. Kecuali hanya Allah saja yang membuatnya sang Maha Pencipta alam semesta. Sedangkan kita dikasih berdaya upaya MENELAN tok. Selanjutnya di dalam berdaya upaya pun kita diwanti-wanti untuk tidak mengakauinya karena “la haula wala quwwata illa billah”. Tiada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan nyatanya yang bisa menelan ini tak cuma kita-kita saja tetapi para hewan pun dapat melakukannya yang tak jauh beda caranya. Lalu dimana posisinya bahwa kita lebih mulia dari binatang-binatang itu? Yup, yaitu pada caranya siapa yang bakal kita tauladani. Caranya para Nabi yang berahlak mulia atau caranya hewan yang teridak berahlaq.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ingin mengubah rasa lapar menjadi rasa kenyang saja kita-kita mesti dipancing dahulu oleh rasa lapar baru kemudian kita tergerak berupaya kerja keras untuk memenuhi kebutuhan jasmani tersebut. Namun sekali lagi bahwa rasa kenyang itu bukan karya cipta kita para manusia, tetapi Allah lah yang menciptakannya rasa itu juga perubahan atas rasa itu. Allah tidak merubah rasa lapar dan haus menjadi rasa sebaliknya bila orang-orang yang lapar dan haus tidak mau merubahnya dengan makan dan minum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitupun dengan perubahan dari masa penjajahan ke masa kemerdekaan. Suatu perubahan kolektif tidak mungkin sekonyong-konyong terjadi seperti perubahan rasa lapar ke rasa kenyang. Semisal perubahan dari posisi A [Penjajahan] ke B [Kemerdekaan]. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika pahit getirnya penjajahan dirasakan oleh banyak orang [rakyat], maka suasana rasa pahit dan getirnya itu sebenarnya yang menjadi pemicu serta mendorong timbulnya keinginan untuk berubah ke rasa sebaliknya yaitu rasa kemerdekaan yang tidak ada rasa pahit dan getirnya karena memang rasanya dijajah itu tidak enak. Lalu muncul keinginan kolektif untuk berubah menuju ke posisi B. Selanjutnya bergerak dan berubah menuju ke posisi B. “Suara rakyat itu adalah suara Tuhan”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Allah tidak merubah nasib suatu kaum bila kaum itu tidak mau mengubahnya”. [Ar-ra’d:11].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setidaknya dari ayat diatas kita digugah dan diajak untuk menjadi agent off change, menjadi orang-orang yang peduli, menjadi orang-orang yang mau mengubah keadaan diri ataupun keadaan kolektif menuju keadaan yang lebih baik dari sebelumnya.  Dengan cara yang baik agar memperoleh hasil [perubahan] yang sebaik-baiknya. Semoga…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>detak.hidup@gmail.com (Abdul)</author></item><item><title>Daya Ubah</title><link>http://detakhidup.blogspot.com/2009/09/daya-ubah.html</link><category>Daya</category><category>Ingin</category><category>Ubah</category><pubDate>Sun, 13 Sep 2009 11:42:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8899763873990236347.post-6971663064104420816</guid><description>Semua orang pasti berkinginan untuk berubah, yang miskin ingin menjadi kaya, yang bodoh ingin menjadi pintar, yang sakit ingin menjadi sehat, yang jahat ingin menjadi baik,  yang lalai ingin jadi ingat, dan seterusnya. Memang kita sekedar “ingin” saja tak bisa membuatnya. Ya, cuma sekedar ingin saja terkadang kita harus dipancing-pancing dahulu, harus dikasih informasi awal dahulu, mungkin juga harus merasakan tekanan-tekanan dahulu, dan bisa juga harus merasakan pahit getir dahulu, baru kemudian tumbuh  daya ubah dalam hati yang bergerak ingin berubah dari sebelumnya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti halnya ingin makan tidak mungkin ada jika sebelumnya tidak merasakan lapar.  Lapar merupakan informasi awal yang memicu dan mendorong keluarnya daya ubah rasa ingin  makan.  Bisa dibayangkan jika rasa ingin itu tidak ada maka entahlah, namun demikian rasa ingin harus diarahkan kepada jalan yang baik lagi mulia dan bukannya jalan sebaliknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, mau kemanakah daya ubah itu kita arahkan, dan akan kemanakah daya ubah itu kita alamatkan, dan caranya siapa yang akan kita gunakan untuk sampai ke alamat itu, caranya manusia kah yang menggunakan perasaan atau caranya binatang kah yang menggunakan kebuasan [al insan haewanun natiq], lalu bernilai baik kah atau bernilai tidak baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita makan dan minum, binatang pun demkian [dst]. Memang sepintas tiada beda tapi ada yang membedakannya antara makan dan minumnya kita dangan binatang, yaitu caranya. Lalu caranya siapa yang kita gunakan saat makan dan minum? Caranya suri tauladan kah atau caranya selainnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disinilah kita harus cermat memilih cara, yang pada intinya hanya ada dua cara  saja yang kita dijalankan. Pertama adalah cara yang baik dan yang kedua adalah cara yang tidak baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara yang baik adalah cara yang tidak bertentangan dengan kefitrahan manusia itu sendiri, baik secara hukum alam maupun hukum yang berlaku, cara ini selain berdaya guna bagi pelakunya, bagi keluarganya, saudaranya, juga masyarakat serta lingkungannya akan dapat kebaikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan cara yang tidak baik merupakan kebalikannya dari cara yang baik. Pelakunya akan dapat ketidak-baikannya dan efek ketidak-baikannya dapat mengenai  yang turut mendukung ketidak-baikan, yang turut dalam ketidak-baikannya, yang turut menikmati hasil ketidak-baikannya dan  bisa jadi dapat lebih luas lagi dampak ketidak-baikannya, seperti penggundulan hutan bila tidak dibarengi dengan penghijauan bisa berakibat bencana longsor yang bakal menimpa masyarakat yang tidak melakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ingatlah bahwa Allah maha tahu atas segala gerak [daya] hidup perbuatan yang terlahir maupun yang kita sembunyikan. Dan posisi disini kita butuh ihsan.&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>detak.hidup@gmail.com (Abdul)</author></item><item><title>Berpuasa Agar Bertaqwa</title><link>http://detakhidup.blogspot.com/2009/09/berpuasa-agar-bertaqwa.html</link><category>Berpuasa</category><category>Bertaqwa</category><pubDate>Thu, 10 Sep 2009 12:52:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8899763873990236347.post-2474077804490671378</guid><description>Berpuasa merupakan wujud perjuangan jiwa dalam menundukan hawa nafsu dengan melepaskan ikatannya agar tidak membelenggu keluasan jiwa. Puasa dengan kata lain berjuang tidak meresponi keinginan-keinginan, seperti: tidak menuruti keinginan perut, tidak menuruti keinginan sahwat dan tidak menuruti keinginan pikiran liar. Singkatnya, mengabaikan semua keinginan kecuali tujuan, seperti orang lewat yang menuju ke arah tujuan maka semuanya akan dilewati kecuali tujuannya.&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
Jika diibaratkan berpuasa itu seperti kusir delman yang sedang berupaya [berjuang] dengan segenap kemampuannya menundukkan si kuda delmannya yang belum jinak agar mau tunduk dan patuh kepada perintah dan maunya pak kusir delman itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Singkat cerita pak kusir pun berhasil menjinakkan si kuda delman hingga mau menuruti segala perintah tuannya. Hingga kemanapun tuannya mau maka kesanalah delman akan berlari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernah Abu Hurairah ditanya oleh seseorang tentang taqwa yang dijawab dengan balik bertanya, “Apakah engkau pernah melalui jalan yang penuh duri?” orang itu menjawab “Tentu saja”. “Lalu apa yang engkau lakukan?” ia menjawab, “Jika aku melihat duri, aku akan menyingkirkannya atau menghindarinya”, kata Abu Hurairah, “demikian itulah takwa”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berpuasa adalah jalan singkat menuju taqwa sedangkan taqwa merupakan jalan cepat menuju kefitrahan jiwa agar dapat kembali kepada fitrah asalnya [idul fitri]. Kefitrahan sejati tandanya adalah nafas, yang selalu bergerak, tidak tidur, tidak ngantuk, tidak makan, tidak minum, tidak wanita dan tidak pula pria, maka tidak ada perubahan pada kefitrahan jiwa itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitupun dengan fitrah Allah, &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; [tetaplah atas] fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. [Itulah] agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui" [ArRuum: 30].&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kefitrahan jiwa yang sudah tidak berubah-ubah, tidak terombang-ambing, tidak maju-mundur dan tidak terbolak-balik lagi oleh instrumennya alias jiwanya telah berada diposisi mutmainnah [jiwa yang tenang]. Jiwa-jiwa yang demikian akan  ikut, akan melok, akan selaras  &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;[in-line dan online] dengan perintah Allah, selaras dengan tuntunan Allah, selaras dengan bimbingan Allah dan selaras dengan maunya Allah. Wa'allahu a'lam.&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>detak.hidup@gmail.com (Abdul)</author></item><item><title>Memberi Dengan Kasih Sayang</title><link>http://detakhidup.blogspot.com/2009/08/memberi-dengan-kasih-sayang.html</link><category>Kasih</category><category>Memberi</category><category>Sayang</category><pubDate>Fri, 7 Aug 2009 14:39:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8899763873990236347.post-8750185515408486797</guid><description>Seperti orang tua yang penuh kasih sayang kepada anak-anaknya. Mereka akan berupaya dengan segenap kemampuan untuk mencukupi segala kebutuhan dan keperluannya, mulai makanan, minuman [yang halal, baik juga sehat], pakaian, memelihara kesehatan serta menyiapkan pendidikannya [knowledge, skill, language and attitude] sampai jenjang yang tertinggi, bahkan ada pula yang telah menyiapkan tempat tinggalnya kelak bila telah berkeluarga.&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
Memberi dengan kasih sayang semata-mata karena Allah mengalirkan kasih sayang-Nya kepada orang tua dan begitupun orang tua mengalirkan pula kasih sayangnya kepada anak-anaknya dan seterusnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Singkatnya, memberi jangan cuma materi saja tetapi barengi dengan kasih sayang. Walaupun hanya sedikit [semampunya] bila dengan kasih sayang, maka kasih sayangnya akan dipancarkan kembali oleh penerimanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu hal yang wajar bila seseorang “lagi punya” ia mampu memberi. Ya…, memberi karena memang “lagi ada”, memberi karena memang ada hak orang lain di dalamnya. Namun akan jadi beda dan luar biasa jika seseorang “tidak punya” kemudian dia mampu memberi, maka sudah pasti memberinya itu tak sekedar memberi tetapi karena adanya aliran kasih sayang Ilahi untuk memberi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memberi tak sekedar memberi, karena memberi selalu diawali adanya kehendak [daya] yang dialirkan yang Maha Pengasih lagi Penyayang ke dalam dada. Dan saat kehendak memberi itu dilaksanakan maka rasa bahagia dan plong meresap ke dalam dadanya.  Hal ini senada dengan tausiahnya Habib Abdullah Assegaf di masjid Nurul Haq Jakarta Timur pada peringatan Isra Mi’raj [Rabu, 29 Juli 2009], beliau mengatakan; “sungguh, memberi itu lebih nikmat dari pada menerima”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keyakinan Habib memang sangat beralasan. Pasalnya, beliau terjun langsung bersama ayahnya [alm] memberi makan kepada siapapun yang singgah dikediamannya. “Ini benar dan tak bohong”, ujar habib dengan semangat tausiyah. Karena beliau telah merasakannya sendiri kalau memberi itu nikmat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memberi seperti ini tak hanya dapat dinikmati manfaatnya oleh penerima tetapi pemberinya pun dapat merasakan kebahagiaan dan kenikmatan tersendiri dari kebaikannya yang ia lakukan.  Dan sungguh, rahmat Allah amat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu bagaimana bila memberi dapat langsung dirasakan kenikmatannya [kebahagiaan] dan seterusnya bagi para pemberinya?  Mungkin, akan ada banyak orang yang berlomba-lomba mengabdi kepada Allah, berlomba-lomba mendistribusian karunianya Allah, berlomba-lomba menebarkan rahmatnya Allah, berlomba-lomba mengalirkan kasih sayangnya Allah, berlomba-lomba memberi kebaikan dan berbagi kemaslahatan karena Allah. Karena memang sebaik-baiknya manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi kemaslahatan hidup manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total><author>detak.hidup@gmail.com (Abdul)</author></item><item><title>Pemberi dan Penerima</title><link>http://detakhidup.blogspot.com/2009/07/pemberi-dan-penerima.html</link><category>Pemberi</category><category>Penerima</category><pubDate>Mon, 27 Jul 2009 16:21:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8899763873990236347.post-3235446703739520524</guid><description>Memberi dengan kasih sayang, memberi yang diminta, memberi yang tak diminta, memberi tanpa hitungan, memberi dengan kesempurnaan memberi, sejatinya hanya Allah Tuhan semesta alam, Dzat yang Maha Hidup, Dzat yang Maha Meliputi segala sesuatu, Dzat yang Maha Mengetahui segala kebutuhan makhluk-Nya, Dzat yang Maha Mengabulkan dengan Maha  cara-Nya. "Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan" [Ar Rahman:29].&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
Rela tak rela manusia adalah mahluk penerima [amanah]. “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim lagi bodoh.”[Al-Ahzab:72 ].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejatinya penerima adalah sang khalifah wakil Allah di bumi, yang menjadi wakil-Nya dalam memakmurkan kehidupan manusia dan melestarian alam di planet bumi ini dengan kasih sayang, yang menjadi wakil-Nya dalam me-regenerasi keturunan dengan berupaya  membangun: generasi yang sidik [jujur/bersih dari tindak keji dan munkar]; generasi yang amanah [lurus / tidak membuat kerusakan di muka bumi]; generasi yang tablig [outputnya bermanfaat bagi kehidupan dan kelestarian alam]; dan generasi yang fathonah [cerdas spiritual], kecerdasannya bermanfaat,  kecerdasannya menjadi rahmat, kecerdasannya bermartabat di sisi Tuhan [taqwa].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendek kata, menerima itu untuk memberi, menerima itu untuk menyalurkan, menerima itu untuk mengalirkan dan menerima itu untuk menyampaikan. Karena si penerima layaknya sang distributor, seperti si kurir sang abdi, sang wakil [khalifah] yang siap mengalirkan air ke area persawahan kering.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan bagi penolak mengalirkan air kehidupan sama saja dengan menolak menjadi distributor-Nya, menolak menjadi kurir-Nya dan menolak menjadi abdi-Nya. Maka menolaknya itu berarti mengingkari [amanah-Nya] dan jika mengingkari [amanah-Nya] berarti juga  mengkhianati Tuhan-nya, singkatnya para penolak [amanah] ini disebut dengan si pengkhianat Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>detak.hidup@gmail.com (Abdul)</author></item><item><title>Tingkat Percaya  VS  Tingkat Menerima</title><link>http://detakhidup.blogspot.com/2009/06/tingkat-percaya-vs-tingkat-menerima.html</link><category>Amanah</category><category>Fathonah</category><category>Menerima</category><category>Percaya</category><category>Sidik</category><category>Tabligh</category><pubDate>Tue, 23 Jun 2009 14:21:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8899763873990236347.post-4484803046367499659</guid><description>Tulisan ini hanya ulasan singkat mengenai tingkat percaya dan tingkat menerima yang dimiliki seseorang.  Tingkat percaya  bersifat kritis  dan mudah cidera [luka] bahkan bisa menjadi gugur percayanya atau menjadi tidak percaya lagi [runtuh]. Sedangkan tingkat menerima bersifat luas lagi tidak mudah cidera [luka], namun demikian akan menjadi bumerang bila tidak dapat menerimanya atau tidak terima. Tingkat percaya seseorang bisa saja diberikan kepada barang/jasa [layanan] dan dapat juga kepada orang lain. Sedangkan tingkat menerima seseorang akan disandarkan kepada wadahnya [dada/sudur] dengan sifatnya yang khas yaitu luas atau sempit di dalam menerimanya.&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tingkat Percaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terhadap barang/jasa [layanan], tingkat percaya seseorang akan sangat bergatung sekali dengan kepuasan yang diterima. Sebanding atau lebih [untung] dari nilai tukar yang dikeluarkan untuk barang/jasa [layanan] yang bersangkutan. Jika tak sebanding atau kurang [rugi] akan berakibat pada cidera/runtuhnya percaya pada barang/jasa [layanan] terkait.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biasanya seseorang yang tingkat percayanya tinggi / rendah [puas / tidak puas] terhadap barang / jasa [layanan] akan secara langsung  mengkomentari [memberi tahu orang lain] rasa puas dan tidak puasnya itu, yang dapat berakibat pada meningkatnya percaya atau runtuhnya percaya seseorang kepada barang/jasa [layanan] itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan kepada seseorang, tingkat percaya dapat didasarkan kepada sidik [jujur / bersih dari tindak keji dan munkar], amanah [tindakannya jujur / bersih terhadap amanah yang diembannya], tablig [penyampaiannya jelas / yang sulit jadi mudah] dan fathonah [cerdas dalam menyelesaikan tugas &amp;amp; masalah bila ada].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tingkat percaya seseorang dapat diciderai oleh prilaku diri yang busuk seperti kizib [dusta / tidak jujur], khianat [ingkar / tidak bersih dalam mengemban tugas / amanah], kitman [penyampaiannya menutupi / pemutar balik “salah jadi benar dan benar jadi salah”], baladah [bodoh / tidak mampu menyelesaikan tugas dengan baik / bermasalah]. Jika dibiarkan sifat-sifat tersebut dapat  berimbas kepada runtuhnya tingkat percaya seseorang sekaligus menjerumuskan diri dalam kenistaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tingkat percaya seseorang kepada seseorang pun dapat diciderai oleh pihak ketiga melalui hembusan iri, dengki dan fitnah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu bagaimana, jika tingkat percaya seseorang dihubungkan dengan percaya kepada Tuhan? Apakah kondisinya tetap kritis atau tidak? Dan mengapa ada orang yang tidak percaya adanya Tuhan?. [perlu dikaji lebih lanjut]. Dimanakah letaknya percaya itu, di otak atau di dada? Samakah Iman dengan Percaya? Silahkan pertanyaan-pertanyaan ini dijawab saja masing-masing supaya lebih mengena dan sesuai dengan pengalamannya yang dialami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tingkat Menerima&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tingkat menerima dengan wadah yang sempit akan berakibat pada meluapnya marah, kesal, juengkel dan seterusnya singkatnya EMOSI meluap dan meledak-letak dapat berbentuk verbalisasi maupun aksi yang tidak terkontrol. Ini disebabkan karena wadah menerimanya sempit alias tidak menerima alias menolak menerima alias TIDAK TERIMA. Dan kalau sudah tidak terima kaya gini buntutnya bisa jadi bakal lebih panjang lagi. Bakal ada adu hebat, bakal ada adu kuat, dan bakal ada yang tidak terima lagi, bahkan bisa sampai turun-temurun tidak terimanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan tingkat menerima dengan wadah yang luas ini tidak mudah untuk diciderai oleh yang diterimanya itu. Seperti dikasih sedikit diterima, dikasih banyak diterima, tidak dikasih diterima, diberi cacian diterima, dikasih hinaan diterima, dan dikasih apapun sama Yang Maha Pengasih diterima dengan keluasan dada sang penerima itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang penerima yang bisa menerima segala Pemberian Tuhan ini,  sejatinya tidak lagi melihat awannya, tetapi yang dilihatnya adalah yang menggerakkan awan itu, yang menggerakkan hidup itu dan ketika gerak itu semakin nyata maka “inna lillahi wa inna ilaihi rojiun”, yang asalnya pemberian Allah akan kembali kepada Allah. Dan inilah sabar, sabar yang sulit untuk urai menjadi kata-kata, kecuali dirasakan sendiri realitasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Al Baqarah:155-156]&lt;br /&gt;
[155] Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;sabar&lt;/span&gt;. [156] (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun”.&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">7</thr:total><author>detak.hidup@gmail.com (Abdul)</author></item><item><title>Rela Atau Terpaksa Menerima</title><link>http://detakhidup.blogspot.com/2009/06/rela-atau-terpaksa-menerima.html</link><category>Menerima</category><category>Rela</category><category>Terpaksa</category><pubDate>Fri, 19 Jun 2009 15:10:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8899763873990236347.post-103326062095813817</guid><description>Manusia sebagai khalifah dibekali otak untuk memakmurkan kehidupan di dunia, dibekali kelamin untuk berkembang biak dan dibekali dada/hati agar dapat merasakan secara langsung akibat dari perbuatannya berupa derita atau bahagia. Dan derita atau bahagia merupakan cermin dari adanya neraka dan surga di hari pembalasan kelak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak hanya itu para Rasulullah pun diutus Allah sebagai suri tauladan dengan membawa Burhan untuk membedakan mana yang gelap dan mana yang terang, mana yang buruk dan mana yang baik, agar dalam menjalani hidup sang khalifah dapat bermanfaat bagi sesamanya “khairunnas anfau’hum linnas” bahkan lebih dari itu,  “inna akromakum inda’allahi atsqokum”.&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
Tubuh manusia tak ubahnya wadah yang dialiri gerak hidup [ruh] untuk menjadi wakil Allah di dunia. Yang namanya wadah tarpaksa atapun rela tetap saja wadah sebagai tempat menerima. Nah menerima ini kalau diibaratkan seperti sungai mengalirkan air dari hulu hingga ke hilir, mengalir dari ketinggian hingga sampai ke tempat-tempat yang lebih rendah dibawahnya yang  pada akhirnya akan bermuara kelautan yang luas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kondisi wadah inilah yang perlu diperhatikan agar selalu dalam kondisi rela menerima kebaruan dan kekinian yang diterima oleh otaknya yang masuk melalui cerapan indera mata dan telinga yang selanjutnya dipersepsi [dirasa-rasa/dikira-kira] yang bersumber dari rekaman otaknya, lalu dibandingkan, dinilai dan dijatuhkan fonis.  Ditolak karena dianggap salah atau diterima karena dianggap benar. Posisinya “benar/salah” adalah relatif tergantung dari sudut mana dan siapa yang memandangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Contoh relatifnya adalah “babi itu haram untuk dikonsumsi”, kalimat ini diterima oleh orang-orang Islam karena adanya perintah untuk meninggalkannya. Namun ada juga yang menolaknya kalimat tersebut karena tidak adanya perintah yang melarangnya. Inilah yang saya maksud dengan “benar/salah” adalah relatif.  Karena memang tiada kebenaran mutlak kecuali yang Maha Benar itu sendiri yang Mutlak Benarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keterpaksaan dalam menerima akan berdampak pada perubahan suasana [reciever/dada/hati/rasa] menjadi ketidak nyamanan dari sebelumnya. Inilah kenyataan yang seringkali terjadi.  Alih-alih ingin berada di suasana yang nyaman tetapi karena ketidak relaan wadah dalam menerima yang di dapat malah rasa sebaliknya. Yaitu rasa prahara, rasa derita, rasa pedih, rasa kesal, rasa gundah, rasa marah dst. dan sungguh rasa-rasa itu begitu amat menyiksa alias berada dalam miniatur neraka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak dapat dipungkiri lagi bahwa rela menerima itu tak semudah membalikkan telapak tangan dan tidak seperti mengedipkan kedua belah mata. Ya, ikuti saja pergerakan hidup dengan rela dari menerima yang satu ke menerima yang lainnya agar tidak menjadi beban bagi si wadah itu. Alirkan saja seperti air yang mengalir di sungai hingga sampai ke lautan yang luas. Maka, yang air akan bermuara ke air, yang tanah akan terurai kembali dengan tanah, yang udara akan menyatu dengan udara, dan yang asalnya dari Allah akan kembali kepada Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Al Fushshilat:11]&lt;br /&gt;
Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". Keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati".&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">4</thr:total><author>detak.hidup@gmail.com (Abdul)</author></item><item><title>Teguh</title><link>http://detakhidup.blogspot.com/2009/06/teguh.html</link><category>On-line</category><category>Rapuh</category><category>Teguh</category><pubDate>Tue, 16 Jun 2009 16:23:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8899763873990236347.post-8444305118208002431</guid><description>Sebagai ilustrasi singkat seperti sebuah komputer yang dikoneksikan [kabel/nirkabel] ke dalam jaringan luas tanpa sekat batas alias internet. Koneksi internet [on-line] akan di dapat bila perangkat modemnya dalam kondisi aktif atau on.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teguh orientasinya hanya kepada tujuan. Teguh kebergantungan kesadaran hanya kepada yang Maha Menyadarkan [adzkuruni adzkurkum – ingatlah Aku maka Aku ingat kamu]. Teguh atau istiqamah atau tiada khawatir atau tiada ragu alias tiada gamang sedikitpun atau ketetapan hatinya  tetap [mantap] dan tidak berubah-ubah lagi karena cahaya iman menerangi dadanya&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
Lalu dari mana teguh itu timbul. Teguh timbul dari buah pembuktian seperti contoh “manisnya gula”. Teguh, tak cuma percaya pada kalimat yang mengatakan bahwa “gula itu manis“. Namun dibuktikannya dengan sungguh-sungguh. Dan ternyata memang benar adanya, “Ooo gula itu manis ya…”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika manisnya gula didapat dan dirasakan benar adanya manis, maka keteguhan atas manisnya gula ini tidak dapat dipengaruhi oleh berbagai macam inputan yang bersifat eksternal. Seperti pengaruh berikut ini “gula itu pahit”, maka penikmat gula hanya terseyum-seyum saja dibuatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Al Ahqaaf:13]&lt;br /&gt;
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah [teguh pendirian] maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Fushshilat:30]&lt;br /&gt;
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Maryam:65]&lt;br /&gt;
Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Luqman :22]&lt;br /&gt;
Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[An Nisaa':175]&lt;br /&gt;
Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total><author>detak.hidup@gmail.com (Abdul)</author></item><item><title>Sungguh-sungguh</title><link>http://detakhidup.blogspot.com/2009/06/sungguh-sungguh.html</link><category>Bermain-main</category><category>Sungguh-sungguh</category><pubDate>Tue, 9 Jun 2009 13:09:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8899763873990236347.post-8647013931274134690</guid><description>Menurut KBBI&lt;a href="http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php" target="_blank"&gt; [Kamus Besar Bahasa Indonesia]&lt;/a&gt;. Sungguh berarti benar atau betul (cocok dengan keadaan yang sebenarnya, tidak bohong). Selanjutnya  sungguh-sungguh berarti tidak main-main; dengan segenap hati; dengan tekun; benar-benar: pekerjaan itu dilaksanakan.  Sedangkan bersungguh-sungguh v [1] berusaha dengan sekuat-kuatnya (dengan segenap hati, dengan sepenuh minat): jika bersungguh-sungguh pasti tercapai juga cita-citamu itu; [2] sungguh-sungguh: saya yakin dia bersungguh-sungguh dengan ucapannya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitupun dengan berbagai aktivitas yang kita lakukan hanya memiliki dua pilihan, yang pertama adalah sungguh-sungguh sedangkan yang kedua main-main. Singkatnya, mau yang sungguhan [benaran] atau mau mainan [bohongan]. Dan ketika kita tidak mampu melakukan aktivitas ibadah dengan bersungguh-sungguh maka secara sadar maupun tak sadar kita sedang beribadah dengan bermain-main.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada baiknya kita renungi kembali tingkat kesungguhan kita dalam beribadah kepada Allah, sudah sungguh-sungguh kah atau masih main-main.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Al Anbiyaa' :55]&lt;br /&gt;
Mereka menjawab: "Apakah kamu datang kepada kami dengan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;sungguh-sungguh&lt;/span&gt; ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Al Insyiqaaq :6]&lt;br /&gt;
Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;sungguh-sungguh&lt;/span&gt; menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Al Israa' :19]&lt;br /&gt;
Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;sungguh-sungguh&lt;/span&gt; sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Thaahaa :75-76]&lt;br /&gt;
[75]. Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;sungguh-sungguh&lt;/span&gt; telah beramal saleh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia), [76]. (yaitu) syurga 'Adn yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Dan itu adalah balasan bagi orang yang bersih (dari kekafiran dan kemaksiatan).&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>detak.hidup@gmail.com (Abdul)</author></item><item><title>Memanggil-manggil Asma-Nya</title><link>http://detakhidup.blogspot.com/2009/05/memanggil-manggil-asma-nya.html</link><category>Asma</category><category>Memanggil</category><category>Menyebut</category><category>Menyeru</category><pubDate>Wed, 27 May 2009 16:31:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8899763873990236347.post-202416521217277354</guid><description>Ketika menyebut sebuah nama atau nama panggilan untuk ibu kita mungkin arah pikir kita akan langsung mengarah dan berada tepat pada sosok ibu kita masing-masing.  Yaitu sosok yang lemah lembut, yang halus, yang penyabar, yang kasih sayang, yang tiada pamrih sedikitpun di dalam mengurus, menuntun, membimbing, mendidik anak-anaknya hingga dewasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun menjadi berbeda ketika kita dihadapkan kepada sebuah nama pencipta alam semesta yang para Rosul menyebutnya ALLAH.  Kemanakah arah pikir kita tertuju? Kemanakah arah kesadaran kita mengarah? Di saat kita menyeru, dikala menyebut, dan saat mana kita manggil-manggil nama-Nya, kemanakah arah kesadaran kita berada?&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
Nah untuk bisa berada dan duduk dikesadaran memanggil-menyebut-menyeru Allah, tentunya harus banyak berlatih dengan sungguh-sungguh [jahadu], memanggil-manggil yang benaran dan bukan memanggil yang asal-asalan memanggil, tetapi memanggil yang serius, serius memanggil dengan teguh, teguh dalam memanggil, total dalam memanggil, dengan setotal-totalnya: ya Allah, ya Allah, ya Allah…, tidak perlu dihitung jumlahnya yang terpenting adalah kesungguhannya, kesungguhan kita dalam memanggil-memanggil-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kesadaran kita saat memanggil-manggil nama-Nya itu jangan diarahkan kepada yang sesuatu, baik yang rupa, yang warna, yang huruf, pokoknya semua yang masih sesuatu wajib tiada kecuali yang bukan sesuatu wajib adanya. Yaitu Zat yang berbeda dengan segala sesuatu, Zat yang maha meliputi segala sesuatu, Zat yang maha dekat bahkan lebih dekat dari urat leher kita, Zat yang maha mendengar, Zat yang maha merespon atas segala  panggilan-panggilan hambanya, saat itu panggillah Dia: “Allah” dengan rasa, “Allah” dengan jahadu, “Allah” dengan teguh, sampai terasa sambutan-Nya yang menggetarkan hati [wajilats qulubuhum].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari kita renungi beberapa ayat di bawah ini dengan hati dan pikiran yang jernih. Karena di setiap tarikan dan hembusan nafas yang berlalu, berarti nafas kita semakin dekat dan semakin lebih dekat tidak bernafas lagi. Sayang nafas kita yang tiada ternilai harganya terbuang percuma. Semoga Allah merahmati kita semua. Amin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Al Israa':110].&lt;br /&gt;
Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Fushshilat:33].&lt;br /&gt;
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Az Zumar:38].&lt;br /&gt;
Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka menjawab: "Allah." Katakanlah: "Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmatNya?. Katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku." Kepada- Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Al An'aam:71-72].&lt;br /&gt;
[71]. Katakanlah: "Apakah kita akan menyeru selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak mendatangkan kemudharatan kepada kita dan kita akan kembali ke belakang, sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah disesatkan oleh syaitan di pesawangan yang menakutkan; dalam keadaan bingung, dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus (dengan mengatakan): "Marilah ikuti kami." Katakanlah:"Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk; dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam.  [72].  Dan agar mendirikan sembahyang serta bertakwa kepadaNya". Dan Dialah Tuhan yang kepadaNyalah kamu akan dihimpunkan.&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">5</thr:total><author>detak.hidup@gmail.com (Abdul)</author></item><item><title>Bersyukur Atau Mengingkari</title><link>http://detakhidup.blogspot.com/2009/05/bersyukur-atau-mengingkari.html</link><category>Bersyukur</category><category>Mengingkari</category><category>Nikmat</category><pubDate>Mon, 25 May 2009 16:05:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8899763873990236347.post-5606844666938350245</guid><description>Ingin bertambah nikmat dan bertambah-tambah nikmatnya kuncinya adalah bersyukur dan bersyukur. Menurut Ibnu Faris, kata na‘ima mengandung makna pokok ‘kelapangan’ dan ‘kehidupan yang baik’. Kata ini juga bermakna segala sesuatu yang diberikan seperti rezeki, harta, atau lainnya. &lt;a href="http://www.psq.or.id/ensiklopedia_detail.asp?mnid=34&amp;amp;id=108%20" target="_blank"&gt;[Ensiklopedia PSQ]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah hal yang logis saja bila kita memperoleh nikmat [kelapangan] dada kitapun turut menjadi lapang. Semakin kita syukuri nikmat-nikmat maka semakin lapang dada ini. [An Naml:40] “barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri”.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun sebaliknya jika kita mengingkari [tidak mensyukuri] atau mengingkari atau tidak menerima nikmat-nimat itu, maka sebagai akibatnya dada kita menjadi semakin sepit, semakin menjadi tidak menerima, menjadi sakit dan serterusnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Ibrahim:7].&lt;br /&gt;
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Ali 'Imran:145]&lt;br /&gt;
[145]. Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Luqman:12]&lt;br /&gt;
Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[An Naml:40]&lt;br /&gt;
Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip." Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Az Zumar:7].&lt;br /&gt;
Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada)mu.&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>detak.hidup@gmail.com (Abdul)</author></item><item><title>Mengapa Tidak Bersyukur?</title><link>http://detakhidup.blogspot.com/2009/05/mengapa-tidak-bersyukur.html</link><category>Bersyukur</category><category>Mengingkari</category><category>Nikmat</category><pubDate>Sun, 24 May 2009 15:59:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8899763873990236347.post-6191907166672881460</guid><description>Rasulullah adalah abdan syakuura, Beliau pernah berpesan kepada Muadz bin Jabal: "Hai Muadz, demi Allah sesungguhnya aku amat menyayangimu". Beliau melanjutkan sabdanya, "Wahai Muadz, aku berpesan, janganlah kamu tinggalkan pada tiap-tiap sehabis shalat berdo'a: Allahumma a'innii `alaa dzikrika wa syukrika wa husni `ibaadatika (Ya Allah, ajari aku ingat kepada-Mu, mensyukuri nikmat-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu)".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keterkaitan antara ingat kepada Allah, bersyukur kepada-Nya dan mengabdi kepada-Nya merupakan suatu siklus yang utuh dan tidak terpisahkan satu sama lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
Ingat kepada Allah. Dalam surat Al Waaqi'ah ayat 68-70 “[68]. Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. [69]. Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya? [70]. Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lihatlah air, jangan lihat airnya tetapi lihatlah [ingatlah] yang menciptakan air itu, Dialah Allah dan panggil-panggilah Dia selalu Allah. Ingat air maka ingatlah Allah.&lt;br /&gt;
Saat haus ingat air, saat ingat air, ingatlah yang menciptakan air yaitu Allah&lt;br /&gt;
Saat bertemu air, ingatlah air itu adalah karunia Allah&lt;br /&gt;
Saat bertemu karunia Allah, ingatlah nikmat Allah&lt;br /&gt;
Saat merasakan nikmat Allah, beryukurlah kepada Allah&lt;br /&gt;
Alhamdulillah… Alhamdulillah… Alhamdulillah…&lt;br /&gt;
Karena memang tiada yang bisa mendistribusian air ke seluruh tubuh ini kecuali hanya Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ungkapan bersyukurnya seorang hamba kepada Allah dapat juga dalam bentuk ibadah-ibadah sunah lainnya seperti shalat sunah, sedekah dst. Sebagaimana halnya Rasulullah yang senantiasa melakukan shalat malam untuk bersyukur kepada Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam upaya mensyukuri nikmat-nikmat Allah yang tak terhitung jumlahnya, kita diajarkan agar memohon dan meminta petunjuk-Nya agar dapat mensyukuri nikmat-nikmatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-qur’an mengajak kita berdialog dengan menanyakan nikmat-nikmat yang diberikan namun tidak disyukuri. Mungkinkah kita yang diajaknya berdialog?  Atau siapa? Mari kita renungkan ayat-ayat-Nya berikut ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Yaasiin:71-73]&lt;br /&gt;
[71]. Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakan binatang ternak untuk mereka yaitu sebahagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami sendiri, lalu mereka menguasainya? [72]. Dan Kami tundukkan binatang-binatang itu untuk mereka; maka sebahagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebahagiannya mereka makan. [73]. Dan mereka memperoleh padanya manfaat-manfaat dan minuman. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Yaasiin:34-35]&lt;br /&gt;
[34]. Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, [35]. supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Ibrahim:32-34]&lt;br /&gt;
[32]. Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. [33]. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. [34]. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[QS Alnahl:18]&lt;br /&gt;
Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[An Najm:55]&lt;br /&gt;
Maka terhadap nikmat Tuhanmu yang manakah kamu ragu-ragu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Ar Rahmaan:13].&lt;br /&gt;
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>detak.hidup@gmail.com (Abdul)</author></item><item><title>Doa Mohon Ditunjuki Mensyukuri Nikmat</title><link>http://detakhidup.blogspot.com/2009/04/mohon-ditunjuki-mensyukuri-nikmat.html</link><category>Bersyukur</category><category>Doa</category><category>Mohon</category><category>Nikmat</category><category>Petunjuk</category><pubDate>Sat, 11 Apr 2009 12:15:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8899763873990236347.post-8758900747569203138</guid><description>Saat otak kita galau, dada kita sempit, tangan dan kaki kita diseret oleh daya kefujuran untuk berbuat maksiat, begitu juga dengan mata, telinga, lidah, perut, dan kelamin kita yang sangat sering menarik-narik kita mengikuti daya fitrah yang mengalir didalamnya yang cenderung tidak terkendali ke arah perilaku dan perbuatan fujur (tidak baik), kita serahkan pula ke Allah agar dituntun oleh Allah dengan rahmat-Nya: "Ya Allah ini instrumen dan alat-alat kerja saya untuk menjalankan fungsi kekhalifahan saya dimuka bumi ini selalu saja menarik-narik saya menuju perbuatan yang tidak terkendali, mengarahkan saya kekejahatan. Selamanya akan selalu begitu, kecuali kalau Engkau aliri mereka dengan rahmat-Mu. Rahmatilah, kasihilah, sayangilah, ampunilah mataku, telingaku, lidahku, perutku, dan kelaminku, karena dengan rahmat, kasih dan sayang-Mu lah kesemuanya itu bisa tunduk kepadaku, dan membawaku sejalan dengan kehendak-Mu".&lt;a href="http://groups.yahoo.com/group/dzikrullah/message/2306" target="_blank"&gt; [Yusdeka: 2008; Yang Terheran-Heran]&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saudaraku  kini saatnya kita membagunkan jiwa, menghidupkan kesadaran, bukalah penglihatan dan bukalah pendengaran, selaraskan pikiran dengan kehendak didalam dada dan tundukkanlah hati. Bermohonlah  pentunjuk-Nya, mintalah tuntunan-Nya dan ikutilah Bimbingan-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Al-Ahqoof:15]&lt;br /&gt;
"&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu&lt;/span&gt;  yang telah Engkau berikan kepadaku dan kedua orangtuaku  dan supaya aku dapat melakukan amal shalih yang Engkau ridhai.  Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku.  Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[An-Naml:19]&lt;br /&gt;
"&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Wahai Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu&lt;/span&gt;  yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku  dan untuk mengerjakan amal shalih yang Engkau ridhai.  Dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan  hamba-hamba-Mu yang shalih."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ya Allah ajari aku ingat kepada-Mu, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;ajari aku bersyukur kepada-Mu&lt;/span&gt;, dan ajari aku beribadah dengan baik kepada-Mu”.&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">5</thr:total><author>detak.hidup@gmail.com (Abdul)</author></item><item><title>Bersyukurlah Kepada Allah</title><link>http://detakhidup.blogspot.com/2009/04/bersyukurlah-kepada-allah.html</link><category>Bersyukur</category><category>Karunia</category><category>Nikmat</category><pubDate>Fri, 10 Apr 2009 10:14:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8899763873990236347.post-7727456314215285449</guid><description>Menurut &lt;a href="http://www.blogger.com/%20http://www.psq.or.id/ensiklopedia_detail.asp?mnid=34&amp;amp;id=119%20" target="_blank"&gt; M. Quraish Shihab dalam ensiklopedia PSQ &lt;/a&gt; syukur mencakup tiga sisi. Pertama, syukur dengan hati, yakni kepuasaan batin atas anugerah. Kedua, syukur dengan lidah, yakni dengan mengakui anugerah dan memuji pemberinya. Ketiga, syukur dengan perbuatan, yakni dengan memanfaatkan anugerah yang diperoleh sesuai dengan tujuan penganugerahannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diriwayatkan oleh Yahya bin Ya'la dari Abu Khabab, dari Atha' yang berkata, "Aku bersama Ubaid bin Umair mengunjungi Aisyah r.a. dan berkata kepadanya, 'Ceritakanlah kepada kami sesuatu yang paling mengagumkan yang Anda lihat pada Rasulullah. saw.!' Beliau menangis.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian ditanya kembali, 'Adakah yang beliau lakukan, yang tidak mengagumkan? Suatu malam, beliau datang kepadaku, dan kami tidur di tempat tidur hingga tubuh beliau bersentuhan dengan tubuhku. Setelah beberapa saat, beliau berkata, 'Wahai putri Abu Bakr, izinkanlah aku bangun untuk beribadat kepada Tuhanku!' Aku menjawab, "Saya senang berdekatan dengan Anda,' tapi aku mengizinkannya. Kemudian beliau bangun, pergi ke tempat kantong air dan berwudhu dengan mencucurkan banyak air, lalu shalat. Beliau mulai menangis hingga air matanya membasahi dadanya, kemudian beliau ruku' dan terus menangis, lalu sujud dan terus menangis, lalu mengangkat kepala dan terus menangis. Terus menerus beliau dalam keadaan demikian sampai Bilal datang dan memanggil beliau untuk shalat subuh. Aku bertanya kepada beliau, 'Apakah yang menyebabkan Anda menangis wahai Rasulullah, sedangkan Allah telah mengampuni dosa dosa Anda, baik yang dahulu maupun yang akan datang?' Beliau menjawab, 'Tidakkah aku menjadi seorang hamba yang bersyukur? Bagaimana aku tidak akan menangis sedangkan Allah telah menurunkan ayat ini kepadaku: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya siang dan malam, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang diturunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah matinya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, sungguh terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mau menggunakan akal.” [Al Baqarah:164].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Luqman:14]&lt;br /&gt;
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bersyukurlah kepadaKu&lt;/span&gt; dan kepada ibu-bapakmu, hanya kepadaKu lah kembalimu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Al 'Ankabuut :17]&lt;br /&gt;
Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezki kepadamu; maka mintalah rezki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;bersyukurlah kepada-Nya&lt;/span&gt;. Hanya kepadaNya lah kamu akan dikembalikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Al Baqarah :152]&lt;br /&gt;
Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat kepadamu, dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;bersyukurlah kepada-Ku&lt;/span&gt;, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Al Baqarah :172]&lt;br /&gt;
Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;bersyukurlah kepada Allah&lt;/span&gt;, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[An Nah:114]&lt;br /&gt;
Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;syukurilah ni'mat Allah&lt;/span&gt;, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>detak.hidup@gmail.com (Abdul)</author></item><item><title>Mudah-Mudahan Kita Bersyukur</title><link>http://detakhidup.blogspot.com/2009/04/mudah-mudahan-kita-bersyukur.html</link><category>Bersyukur</category><category>Karunia</category><category>Nikmat</category><pubDate>Thu, 9 Apr 2009 16:20:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8899763873990236347.post-2916589910937429453</guid><description>&lt;a href="http://detakhidup.blogspot.com/2009/03/allah-maha-kuasa-atas-segala-sesuatu.html" target="_blank"&gt;Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu &lt;/a&gt; dan bila Dia berkehendak dan menghendakinya maka Allah berfirman kepadanya &lt;a href="http://detakhidup.blogspot.com/2009/03/ayat-ayat-kun-faya-kun.html" target="_blank"&gt; Kun [jadi] maka Fayakun [jadilah]&lt;/a&gt;, mudah-mudahan ayat-ayat tentang kemaha kuasaan Allah atas segala sesuatu dapat menyetuh hati kita yang terdalam, menyentuh "ke-ngeh-an" kesadaran kita sehingga  tanda-tanda   kuasaan-Nya itu menyibakkan tirai penghalang yang  selalu menutupi penglihatan diri untuk mensyukuri karunia-Nya. Semoga kita menjadi orang-orang yang bersyukur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Ar Ruum:46]&lt;br /&gt;
Dan di antara tanda-tanda kekuasan-Nya adalah bahwa Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira dan untuk merasakan kepadamu sebagian dari rahmat-Nya dan supaya kapal dapat berlayar dengan perintah-Nya dan supaya kamu dapat mencari karunia-Nya; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;mudah-mudahan kamu bersyukur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
[Al Jaatsiyah:12]&lt;br /&gt;
Allah-lah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya dan supaya kamu dapat mencari karunia-Nya dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;mudah-mudahan kamu bersyukur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Al Hajj:36]&lt;br /&gt;
Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi'ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan untua-unta itu kepada kamu, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;mudah-mudahan kamu bersyukur&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>detak.hidup@gmail.com (Abdul)</author></item><item><title>Agar Kita Bersyukur</title><link>http://detakhidup.blogspot.com/2009/04/agar-kita-bersyukur.html</link><category>Bersyukur</category><category>Hati</category><category>Nikmat</category><category>Pendengaran</category><category>Penglihatan</category><pubDate>Tue, 7 Apr 2009 15:12:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8899763873990236347.post-5268381739726832264</guid><description>Melihat dan mendengar sebenarnya terasakan oleh hati, karena dengan hati ini kita bisa merasakan penglihatan dan pendengaran yang dicerap melalui indera mata dan indera telinga. Maka pemberian Allah berupa penglihatan dan pendengaran yang terasa sampai ke hati itu seyogyanya dapat menjadi dasar agar kita bersyukur kepada-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari ayat-ayat al-qur’an tentang bersyukur ada yang mengajaknya secara tegas dan lugas, seperti: agar kamu bersyukur; mudah-mudahan kamu bersyukur; bersyukurlah; dan mengapakah kamu tidak bersyukur?. Karena memang untuk bersyukur kita harus melalui proses pembelajaran yang panjang menyangkut abdi sebagai mahluk penerima seutuhnya dan Robbi yang maha pemberi.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[An Nahl:78]&lt;br /&gt;
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;agar kamu bersyukur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Al Maa'idah:6]&lt;br /&gt;
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik; sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;supaya kamu bersyukur&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Az Zumar:66]&lt;br /&gt;
Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Al Qashash:73]&lt;br /&gt;
Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;agar kamu bersyukur kepada-Nya&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Al Anbiyaa':80]&lt;br /&gt;
Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Maka hendaklah kamu bersyukur.&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
[Faathir:12]&lt;br /&gt;
Dan tiada sama (antara) dua laut; yang ini tawar, segar, sedap di minum dan yang lain asin lagi pahit. Dan dari masing-masing laut itu kamu dapat memakan daging yang segar dan kamu dapat mengeluarkan perhiasan yang dapat kamu memakainya, dan pada masing-masingnya kamu lihat kapal-kapal berlayar membelah laut supaya kamu dapat mencari karunia-Nya dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;supaya kamu bersyukur&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[An Nahl:14]&lt;br /&gt;
Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan, agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari dari karunia-Nya, dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;supaya kamu bersyukur&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Al Anfaal:26]&lt;br /&gt;
Dan ingatlah (hai para muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Mekah), kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezeki dari yang baik-baik &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;agar kamu bersyukur&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>detak.hidup@gmail.com (Abdul)</author></item></channel></rss>