<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Dewasastra</title>
	<atom:link href="https://dewasastra.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://dewasastra.wordpress.com</link>
	<description>Blog pendidikan, Tutorial, dan Karya Sastra</description>
	<lastBuildDate>Wed, 30 May 2012 15:43:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='dewasastra.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>https://secure.gravatar.com/blavatar/142196257b27db3cb8992c61ff8a81930d9787038be70ac3ac0bdc57dd4f2a11?s=96&#038;d=https%3A%2F%2Fs0.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Dewasastra</title>
		<link>https://dewasastra.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="https://dewasastra.wordpress.com/osd.xml" title="Dewasastra" />
	<atom:link rel='hub' href='https://dewasastra.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
	<item>
		<title>Studi Komparatif Tentang Perbandingan Tingkat Pengamalan Ibadah</title>
		<link>https://dewasastra.wordpress.com/2012/05/30/ibadah-anak-putus-sekolah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dewasastra]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 30 May 2012 15:43:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kumpulan Teori Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Putus Sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[Studi Komparatif]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://dewasastra.wordpress.com/?p=1476</guid>

					<description><![CDATA[Perbandingan Tingkat Pengamalan Ajaran Agama Islam Antara Remaja Putus Sekolah Semakin merosotnya akhlak warga Negara telah menjadi salah satu keprihatinan pemerintah dan masyarakat. Hal itu juga menjadi keprihatinan para pemerhati pendidikan, utamanya para pemerhati pendidikan Islam. Globalisasi kebudayaan sering dianggap sebagai salah satu penyebab kemorosotan akhlak tersebut.  Kemajuan filsafat, sains, dan teknologi telah menghasilkan kebudayaan [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>Perbandingan Tingkat Pengamalan Ajaran Agama Islam Antara Remaja Putus Sekolah</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Semakin merosotnya akhlak warga Negara telah menjadi salah satu keprihatinan pemerintah dan masyarakat. Hal itu juga menjadi keprihatinan para pemerhati pendidikan, utamanya para pemerhati pendidikan Islam. Globalisasi kebudayaan sering dianggap sebagai salah satu penyebab kemorosotan akhlak tersebut.  Kemajuan filsafat, sains, dan teknologi telah menghasilkan kebudayaan yang semakin maju pula, dimana proses itu disebut globalisasi kebudayaan. Namun, kebudayaan yang semakin menglobal itu, ternyata sangat berdampak terhadap aspek moral.</p>
<p style="text-align:justify;">            Dekadensi akhlak itu agaknya terjadi pada semua lapisan masyarakat. Meskipun demikian, pada lapisan remajalah dekadensi akhlak itu lebih nyata terlihat. Dekadensi dan pengikisan akhlak di kalangan remaja itu, adalah sebagai akibat dari beberapa hal antara lain; banyaknya rumah tangga yang kehilangan ketentraman, bahkan ada pejabat yang harus meninggalkan jabatannya disebabkan oleh kenakalan anak remajanya.</p>
<p style="text-align:justify;">            Sementara itu, tujuan pendidikan formal, karena keterbatasan sarana dibanding jumlah anak didik yang menuntut tempat di sekolah, belum menyelesaikan masalah sebagian besar remaja Indonesia. Jika  asumsi tersebut benar, sebenarnya usaha untuk mendalami kaum remaja, hendaknya juga dimaksudkan untuk mengkondisikan suatu perubahan lingkungann luar tersebut sebagai suatu variabel yang dominan dalam pembentukan kaum remaja.<span id="more-1476"></span></p>
<p style="text-align:justify;">            Sistem  nilai merupakan sumber utama dari sistem norma suatu kelompok sosial di samping kondisi objektif masyarakat itu sendiri, umpamanya unsur-unsur budaya yang sudah terbentuk karena suatu sistem norma dan sudah membentuk rangkaian keseluruhan dari suatu sistem norma yang baru. Di atas sistem normalah seseorang atau sekelompok orang termasuk kaum remaja akan menyusun pola kehidupannya untuk melaksanakan suatu kegiatan operasional dalam berbagai bidang kehidupan.</p>
<p style="text-align:justify;">            Pengaruh lingkungan luar sekolah dan rumah dilihat dari frekuensi dan jumlah waktu, serta komprehensipnya masalah sangat besar dan menjalani pola-pola tertentu. Pengaruh  yang disebut dengan interaksi sosial,  terjadi baik dalam arti positif maupun dalam arti negatif. Bidang-bidang tempat interaksi terjadi terutama terdapat dalam bidang sistem norma, organisasi ekonomi, kekuasaan, dan organisasi pendidikan.</p>
<p style="text-align:justify;">            Usaha pembinaan kesadaran, perumusan bersama suatu kebijaksanaan  strategis, dan pembaruan operasional dapat mengatasi interaksi sosial yang negatif dengan antara lain mengadakan pembaruan di bidang pendidikan formal dan  non formal, kegiatan keagamaan, usaha perbaikan lingkungan sosial, tipe-tipe ideal, dan publik figur, serta di bidang kegiatan kebudayaan dan kesenian.</p>
<p style="text-align:justify;">            Problematika remaja saat ini, tentunya dilatarbelakangi oleh berbagai aspek, yang antara lain; latar belakang pendidikan dan status sosial. Ramaja yang masih sekolah dan remaja yang sudah putus sekolah, pastinya memiliki perbedaan dalam kepribadian, utamanya dalam pengamalan ajaran agama (Islam). Perbedaan tersebut terjadi karena, remaja yang masih sekolah sedikitnya masih mempunyai  kendali dan lingkungan pergaulannya, setidaknya masih terarah. Tapi bagi remaja yang putus sekolah, sudah tidak lagi mendapatkan suasana yang kondusif seperti yang masih sekolah.</p>
<p style="text-align:justify;">            Fenomena remaja yang digambarkan di atas,  seolah-olah tidak dapat diatasi lagi dan terjadi dalam hampir aspek kehidupan, baik yang bersifat duniawi maupun yang bersifat ukhrawi. Dengan  kecanggihan dunia saat ini, memunculkan asumsi pada sebagian remaja bahwa pengamalan ajaran agama hanya khusus bagi orang-orang tua. Bagi remaja  bahwa kehidupan masa muda muda perlu untuk dinikmati, dan bukan dimatikan dengan ajaran-ajaran agama. Sehingga,  banyak dikalangan remaja, misalnya pada bulan Ramadhan  enggan untuk berpuasa atau malu untuk harus selalu dimasjid. Hal ini disebabkan oleh tren dikalangan remaja bahwa jika pada masa remaja sudah harus berkecimpung dalam masalah-masalah agama maka akan ketinggalan zaman. Apa lagi bagi remaja yang putus sekolah, mereka dengan mudah mengikuti <em>tren</em> yang sedang mengemuka, walaupun bertentangan dengan nilai dan norma khususnya agama. Sebab, mereka sulit menerima dan menganalisa setiap perkembangan yang ada dengan logika mereka.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/e210ae31b18a4ef183eb2eebcb03df71b26fa59ecc6b18e9d657900cdff7a624?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dewasastra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penyair Adalah &#8230;.</title>
		<link>https://dewasastra.wordpress.com/2012/04/24/penyair-adalah/</link>
					<comments>https://dewasastra.wordpress.com/2012/04/24/penyair-adalah/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dewasastra]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Apr 2012 11:46:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Sastra, Puisi, Kata Bijak]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[syair]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://dewasastra.wordpress.com/?p=1474</guid>

					<description><![CDATA[Penyair adalah burung yang membawa keajaiban. Dia lari dari kerajaan surga lalu tiba di dunia ini untuk berkicau semerdu-merdunya dengan suara bergetar. Bila kita tidak memahaminya dengan cinta di hati, dia akan kembali mengepakkan sayapnya lalu terbang kembali ke negeri asalnya. Penyair adalah orang yang tidak bahagia, karena betapa pun tinggi jiwa mereka, mereka tetap [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Penyair adalah burung yang membawa keajaiban. Dia lari dari kerajaan surga lalu tiba di dunia ini untuk berkicau semerdu-merdunya dengan suara bergetar. Bila kita tidak memahaminya dengan cinta di hati, dia akan kembali mengepakkan sayapnya lalu terbang kembali ke negeri asalnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Penyair adalah orang yang tidak bahagia, karena betapa pun tinggi jiwa mereka, mereka tetap diselubungi airmata.</p>
<p style="text-align:justify;">Penyair adalah adonan kegembiraan dan kepedihan dan ketakjuban, dengan sedikit kamus.</p>
<p style="text-align:justify;">Penyair adalah raja yang tak bertakhta, yang duduk di dalam abu istananya dan coba membangun khayalan dari abu itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber: kumpulan syair &#8216;Penyair&#8217; oleh : Kahlil Gibran</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://dewasastra.wordpress.com/2012/04/24/penyair-adalah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>4</slash:comments>
		
		
		
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/e210ae31b18a4ef183eb2eebcb03df71b26fa59ecc6b18e9d657900cdff7a624?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dewasastra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Senandung Cinta Sang Pemuja</title>
		<link>https://dewasastra.wordpress.com/2012/04/23/senandung-cinta-sang-pemuja/</link>
					<comments>https://dewasastra.wordpress.com/2012/04/23/senandung-cinta-sang-pemuja/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dewasastra]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2012 07:10:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Gallery Gambar]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra, Puisi, Kata Bijak]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<category><![CDATA[syair]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://dewasastra.wordpress.com/?p=1469</guid>

					<description><![CDATA[]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://dewasastra.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/dewa-dalam-syair1.jpg"><img data-attachment-id="1471" data-permalink="https://dewasastra.wordpress.com/2012/04/23/senandung-cinta-sang-pemuja/dewa-dalam-syair-2/" data-orig-file="https://dewasastra.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/dewa-dalam-syair1.jpg" data-orig-size="640,478" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="Dewa dalam Syair" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://dewasastra.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/dewa-dalam-syair1.jpg?w=300" data-large-file="https://dewasastra.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/dewa-dalam-syair1.jpg?w=477" class="aligncenter size-full wp-image-1471" title="Dewa dalam Syair" src="https://dewasastra.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/dewa-dalam-syair1.jpg?w=477&#038;h=356" alt="Senandung Cinta" width="477" height="356" srcset="https://dewasastra.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/dewa-dalam-syair1.jpg?w=477&amp;h=356 477w, https://dewasastra.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/dewa-dalam-syair1.jpg?w=150&amp;h=112 150w, https://dewasastra.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/dewa-dalam-syair1.jpg?w=300&amp;h=224 300w, https://dewasastra.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/dewa-dalam-syair1.jpg 640w" sizes="(max-width: 477px) 100vw, 477px" /></a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://dewasastra.wordpress.com/2012/04/23/senandung-cinta-sang-pemuja/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
		
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/e210ae31b18a4ef183eb2eebcb03df71b26fa59ecc6b18e9d657900cdff7a624?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dewasastra</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://dewasastra.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/dewa-dalam-syair1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Dewa dalam Syair</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengembalikan Semangat Kaum Intelektual Minoritas</title>
		<link>https://dewasastra.wordpress.com/2012/04/18/kaum-intelektual-minoritas/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dewasastra]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Apr 2012 04:53:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Gorontalo]]></category>
		<category><![CDATA[IAIN]]></category>
		<category><![CDATA[PMII]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://dewasastra.wordpress.com/?p=1464</guid>

					<description><![CDATA[Oleh : Bayu Gensa Wartabone (Mahasiswa IAIN Sultan Amai Gorontalo) Siapakah kaum intelektual minoritas yang dimaksud? Ya, jawabannya adalah mahasiswa. Bagi anda para mahasiswa, patut bersyukur dan berbanggalah akan titel yang mungkin baru anda sekalian sandang akhir-akhir ini. Karena dari total jumlah penduduk Indonesia ± 235 juta jiwa, jumlah kaum intelektual minoritas ini hanya sekitar [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="https://dewasastra.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/mypic.jpg"><img data-attachment-id="1465" data-permalink="https://dewasastra.wordpress.com/2012/04/18/kaum-intelektual-minoritas/mypic/" data-orig-file="https://dewasastra.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/mypic.jpg" data-orig-size="640,367" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="mypic" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://dewasastra.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/mypic.jpg?w=300" data-large-file="https://dewasastra.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/mypic.jpg?w=477" class="aligncenter  wp-image-1465" title="mypic" src="https://dewasastra.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/mypic.jpg?w=349&#038;h=145" alt="PMII IAIN Gorontalo" width="349" height="145" /></a></p>
<p style="text-align:center;"><strong>Oleh : Bayu Gensa Wartabone (Mahasiswa IAIN Sultan Amai Gorontalo)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Siapakah kaum intelektual minoritas yang dimaksud? Ya, jawabannya adalah mahasiswa. Bagi anda para mahasiswa, patut bersyukur dan berbanggalah akan titel yang mungkin baru anda sekalian sandang akhir-akhir ini. Karena dari total jumlah penduduk Indonesia ± 235 juta jiwa, jumlah kaum intelektual minoritas ini hanya sekitar 4.3 juta jiwa atau sekitar 4% dari total penduduk Indonesia. Mahasiswa pada era-globalisasi sekarang seperti kehilangan arah dan tujuan. <span id="more-1464"></span><br />
Kaum minoritas yang digadang-gadang sebagai “<em>agent of change</em>” ini seakan terjebak pada lingkaran dampak globalisasasi yang lebih mengedepankan corak hedonisme dan apatisme. Mereka yang seharusnya berperan dalam perubahan dan pembaharuan bangsa ke arah yang lebih baik namun pada kenyataannya hanya menjadi tokoh-tokoh apatis dalam keterpurukan bangsa dan seakan terhipnotis oleh kebahagian dunia semata.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada hakekatnya ketika kita bertanya, “apa tujuan anda menjadi mahasiswa”? secara general pastinya ingin membawa kepada suatu perubahan, baik itu dari segi kepentingan individu maupun masyarakat. Dalam perjalananya ke arah tujuan mulia itu terkadang selalu ada saja kekuatan yang seakan menghalangi dari dalam diri mereka sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Pola pikir dan “main set” yang telah terkontaminasi oleh desakan abstrak dari dalam diri inilah yang terkadang menjerumuskan mereka kedalam lembah “hitam”, sehingga terkadang mata ini digelapkan pada penderitaan dan permasalahan bangsa sebaliknya diterangkan pada sifat-sifat hedonisme yang mengedepankan foya-foya dan kebahagiaan sesaat. Kerangka berfikir yang kurang sempurna dalam memandang sesuatu dan kurang peka terhadap suatu dinamika dimasyarakat membuat segelintir mahasiswa lebih merasa aman dan nyaman dalam “zona nyaman” masing-masing. Padahal mereka lupa bahwasannya mahasiswa punya peranan dan sebagai pengemban tugas besar dalam pembaharuan bangsa yang mengemban estafet sejak zaman kemerdekaan, yaitu untuk mencapai tujuan awal para pendiri bangsa. Perkembangan yang terjadi di kalangan mahasiswa pada dewasa ini bisa dikatakan terjadi sebuah kemunduran pola pikir. Mahasiswa yang lebih mengedepankan sifat-sifat anarkisme dalam menyuarakan kepentingan rakyat merupakan corak dan stigma negatif yang seakan-akan menyudutkan posisi mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Bahkan banyak dari masyarakat yang menganggap mahasiswa sekarang hanya disibukkan oleh tawuran antar sesama mahasiswa dan bentrokan terhadap aparat penegak hukum. Sehingga pada akhirnya keamanan masyarakat menjadi terganggu serta kehidupan pembelajaran di kampus menjadi tidak kondusif. Pergerakan mahasiswa pada masa Orde Lama, Orde Baru hingga beralih ke era reformasi seharusnya menjadi sebuah catatan bagi kaum intelektual minoritas ini untuk berkaca pada sejarah dan menjadikannya motivasi tersendiri untuk melakukan yang lebih baik lagi, sehingga mahasiswa sebagai “agent of change” memang riil adanya, bukan hanya sebatas slogan tanpa implementasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada akhirnya sudah saatnya bagi mahasiswa untuk bangkit dari musuh-musuh abstrak dari dalam dirinya, sehingga dapat kembali pada rule awal yang mereka cita-citakan. Semoga dampak dari globalisasi yang mulai terasa tidak menjadi suatu halangan yang berarti bagi perkembangan kreativitas dan semangat dari dalam diri mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">HIDUP MAHASISWA INDONESIA!!.(end)</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:right;"><strong><em>Tulisan tentang &#8220;Mengembalikan Semangat Kaum Intelektual Minoritas&#8221; ini dipublikasikan oleh <a href="https://dewasastra.wordpress.com">dewasastra.wordpress.com</a> atas ijin penulis</em></strong>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/e210ae31b18a4ef183eb2eebcb03df71b26fa59ecc6b18e9d657900cdff7a624?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dewasastra</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://dewasastra.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/mypic.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">mypic</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Konsep Pendahuluan : Eksistensi Sekolah/Madrasah</title>
		<link>https://dewasastra.wordpress.com/2012/04/14/eksistensi-sekolah-madrasah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dewasastra]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 14 Apr 2012 06:16:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kumpulan Teori Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan islam]]></category>
		<category><![CDATA[Teori Pendidikan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://dewasastra.wordpress.com/?p=1461</guid>

					<description><![CDATA[Tidak dapat dipungkiri bahwa  kehadiran Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang otonomi daerah dan PP Nomor 25 Tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan Propinsi berpengaruh terhadap pendidikan dari sisi pengelolaan sebagaimana dikemukakan oleh Yusuf Hadi Miarso  sebagai berikut : Pemberlakuan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang otonomi daerah dan Peraturan Pemerintah [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Tidak dapat dipungkiri bahwa  kehadiran Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang otonomi daerah dan PP Nomor 25 Tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan Propinsi berpengaruh terhadap pendidikan dari sisi pengelolaan sebagaimana dikemukakan oleh Yusuf Hadi Miarso  sebagai berikut :</p>
<p style="text-align:justify;">Pemberlakuan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang otonomi daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan Propinsi sebagai daerah otonom berpengaruh besar terhadap sektor pendidikan. Hal ini terlihat dari sisi pengelolaan pendidikan diarahkan pada manajemen berbasais sekolah. Konsep kebijakan ini memberikan otonomi lebih besar kepada warga sekolah ( guru, kepala sekolah, orang tua dan masyarakat ) untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional.<span id="more-1461"></span>Kebijakan ini diharapkan dapat diterapkan di sekolah  termasuk Madrasah di Indonesia dengan memberikan peran kepada masyarakat untuk memberikan pandangan – pandangannya terhadap eksistensi lembaga pendidikan agar dapat meningkatkan kualitas lembaganya.<a title="" href="#_ftn1">[1]</a>  Sekolah, termasuk Madrasah sebagai salah satu bagian dari pendidikan di Indonesia merupakan suatu sistem, karena ia terdiri atas komponen – komponen yang mempunyai fungsi yang berlainan, tetapi semuanya tergabung dalam suatu kesatuan yang utuh dan saling berkaitan dan berinteraksi. Komponen sekolah meliputi guru, siswa, karyawan, gedung, kurikulum, perabot, buku, dana dan prasarana. Sekolah/Madrasah sendiri, sebagai suatu sistem, merupakan komponen dari suatu sistem yang lebih besar yaitu masyarakat. Komponen yang lain meliputi diantaranya, keluarga, pasar, pemerintahan setempat, tempat ibadah dan sebagainya. Orang – orang yang ada dalam masyarakat tidak hanya guru, siswa dan karyawan sekolah, melainkan juga orang tua siswa, pimpinan masyarakat dan masyarakat secara umum. Interaksi tersebut digambarkan oleh Yusuf Hadi Miarso sebagai berikut :</p>
<p style="text-align:justify;">Karena sekolah merupakan komponen dalam sistem masyarakat, maka sekolah harus terkait dan berinteraksi dengan komponen lain agar masyarakat itu dapat berfungsi dengan baik dan dapat mencapai tujuan yang efektif. Masyarakat yang tidak mempunyai komponen  berupa Sekolah merupakan masyarakat yang ketinggalan zaman, dan tidak akan dapat berkembang sebagaimana mestinya. Demikian juga kalau sekolah itu tidak berinteraksi dengan komponen – komponen lain dalam masyarakat dan sebaliknya tidak menerima masukan dari masyarakat, berupa pandangan – pandangan mereka tentang sekolah, maka sekolah itu sebagai suatu komponen, tidak akan dapat berfungsi dengan baik, dan akibatnya masyarakat yang bersangkutan juga tidak dapat berfungsi sebagaimana yang diharapkan.<a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p style="text-align:justify;"> Pendapat di atas menurut Yusuf Hadi Miarso dapat dianalogikan seperti sebuah mobil sebagai suatu sistem. Komponen mobil tersebut meliputi, kerangka badan, mesin, kemudi, rem, roda termasuk juga ban. Mobil tanpa mesin atau tanpa ban tentu saja tidak dapat berfungsi. Mobil itu sendiri merupakan bagian atau komponen sistem transportasi, meliputi : jalan, rambu– rambu lalu lintas, pengemudi, bahan bakar dan lain – lain. Meskipun mobil sebagai suatu sistem mempunyai komponen lengkap dan dapat berfungsi, tetapi kalau tidak ada pengemudi dan jalan, maka mobil tersebut sebagai komponen dari sistem transportasi tidak dapat berfungsi dan bahkan tidak ada manfaatnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Jelaslah bahwa agar sekolah itu berfungsi dan berperan maka sekolah itu  harus bertinteraksi dengan lingkungan masyarakat setempat dengan meminta pandangan – pandangan mereka terhadap eksistensi lembaga sekolah tersebut, agar memiliki kemajuan yang berarti dimasa mendatang. Dalam konteks lain dapatlah dinyatakan bahwa, keterlibatan masyarakat dalam memberikan pandangan – pandangan mereka dalam penyelenggaraan kegiatan Sekolah/Madrasah diperlukan agar  lembaga sekolah dapat berfungsi dengan baik, sebagaimana dikemukakan oleh Yusuf Hadi Miarso sebagai berikut :</p>
<p style="text-align:justify;">Pandangan – pandangan masyarakat tentang sekolah dalam penyelenggaraan pendidikan ditujukan untuk : (1) terbentuknya kesadaran masyarakat tentang adanya tanggung jawab bersama dalam pendidikan,(2) terselenggaranya kerjasama yang saling menguntungkan (saling memberi dan menerima) antara semua pihak yang berkepentingan dengan pendidikan,(3) meningkatnya kinerja sekolah yang berarti pula meningkatnya produktifitas, kesempatan memperoleh pendidikian, keserasian proses dan hasil pendidikan sesuai dengan kondisi anak didik dan  lingkungan, serta komitmen dari para pelaksana pendidikan.<a title="" href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p style="text-align:justify;"> Upaya yang perlu dilakukan dalam rangka menumbuh kembangkan kesadaran masyarakat dalam memberikan pandangan – pandangannya terhadap eksistensi sekolah adalah menumbuhkan komunikasi yang efektif antara sekolah dan masyarakat. Menyediakan informasi saja, misalnya berupa pengumuman  belum merupakan komunikasi yang efektif. Komunikasi yang efektif di tandai dengan adanya tindakan kerjasama yang serasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan uraian di atas, maka untuk mewujudkan dan mengembangkan  partisipasi masyarakat berupa pandangannya tentang eksistensi sekolah/Madrasah  dengan memberikan kesempatan yang seluas – luasnya kepada mereka (masyarakat) dalam memberikan pandangan – pandangan tentang eksistensi sebuah lembaga pendidikan dari aspek kepribadian guru, kegiatan belajar mengajar  dan lain – lain.</p>
<div style="text-align:justify;"></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p style="text-align:left;"><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a>Yusuf Hadimiarso, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, Jakarta, Prenada Media,2004., h. 85.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a>Ibid., h. 90.</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a>Ibid., h. 93.</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
					
		
		
		
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/e210ae31b18a4ef183eb2eebcb03df71b26fa59ecc6b18e9d657900cdff7a624?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dewasastra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Konsep Tradisi dalam Bahasa dan Istilah</title>
		<link>https://dewasastra.wordpress.com/2012/04/04/tradisi-bahasa-dan-istilah/</link>
					<comments>https://dewasastra.wordpress.com/2012/04/04/tradisi-bahasa-dan-istilah/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dewasastra]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Apr 2012 08:31:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kumpulan Teori Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Adat Istiadat]]></category>
		<category><![CDATA[Teori Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Tradisi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://dewasastra.wordpress.com/?p=1457</guid>

					<description><![CDATA[Tradisi  adalah  sebuah  kata  yang  sangat  akrab  terdengar  dan  terdapat  di segala bidang. Tradisi  menurut  etimologi  adalah  kata  yang  mengacu  pada  adat  atau  kebiasaan  yang  turun  temurun,  atau  peraturan  yang  dijalankan  masyarakat.[1]  Secara  langsung,  bila  adat  atau  tradisi  disandingkan  dengan  stuktur  masyarakat  melahirkan   makna  kata  kolot,  kuno,  murni  tanpa  pengaruh,  atau  sesuatu  yang  dipenuhi  dengan   [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><img class="alignleft" title="Ilustrasi-Tradisi" src="https://i0.wp.com/i646.photobucket.com/albums/uu189/yeros2010/wayang.jpg" alt="Tradisi dalam Bahasa dan Istilah" width="173" height="96" /></p>
<p style="text-align:justify;">Tradisi  adalah  sebuah  kata  yang  sangat  akrab  terdengar  dan  terdapat  di segala bidang. Tradisi  menurut  etimologi  adalah  kata  yang  mengacu  pada  adat  atau  kebiasaan  yang  turun  temurun,  atau  peraturan  yang  dijalankan  masyarakat.<a title="" href="#_ftn1">[1]</a>  Secara  langsung,  bila  adat  atau  tradisi  disandingkan  dengan  stuktur  masyarakat  melahirkan   makna  kata  kolot,  kuno,  murni  tanpa  pengaruh,  atau  sesuatu  yang  dipenuhi  dengan   sifat  <em>takliq</em>.<span id="more-1457"></span><br />
Tradisi  merupakan  sinonim  dari  kata  “budaya”  yang  keduanya  merupakan  hasil  karya.  Tradisi  adalah  hasil  karya  masyarakat,  begitupun  dengan  budaya.  Keduanya saling  mempengaruhi.  Kedua  kata  ini  merupakan  personafikasi  dari  sebuah  makna  hukum  tidak  tertulis,  dan  hukum  tak  tertulis  ini  menjadi  patokan  norma  dalam  masyarakat  yang  dianggap  baik  dan  benar. <a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Tradisi menurut  terminologi, seperti yang dinyatakan oleh  Siti Nur  Aryani  dalam karyanya,  <em>Oposisi Pasca Tradisi</em>, tercantum bahwa tradisi  merupakan produk sosial dan hasil dari pertarungan sosial politik yang keberadaannya  terkait dengan manusia.<a title="" href="#_ftn3">[3]</a>  Atau dapat dikatakan pula  bahwa tradisi adalah segala sesuatu yang turun temurun,<a title="" href="#_ftn4">[4]</a>  yang terjadi atas interaksi antara klan yang satu dengan klan yang lain<a title="" href="#_ftn5">[5]</a> yang kemudian membuat kebiasaan-kebiasaan satu sama lain yang terdapat dalam klan itu kemudian berbaur menjadi satu kebiasaan. Dan apabila interaksi yang terjadi semakin meluas maka kebiasaan dalam klan menjadi tradisi atau kebudayaan dalam suatu ras atau bangsa yang menjadi kebanggaan mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Tradisi merupakan segala sesuatu  yang berupa adat, kepercayaan dan kebiasaan. Kemudian adat, kepercayaan dan kebiasaan itu menjadi ajaran-ajaran  atau paham–paham yang turun temurun dari para pendahulu kepada generasi–generasi paska mereka<a title="" href="#_ftn6">[6]</a> berdasarkan dari mitos-mitos<a title="" href="#_ftn7">[7]</a> yang tercipta atas manifestasi kebiasaan yang menjadi rutinitas yang selalu dilakukan oleh klan-klan yang tergabung dalam suatu bangsa.</p>
<p style="text-align:justify;">Secara pasti, tradisi lahir bersama dengan kemunculan manusia dimuka bumi. Tradisi berevolusi menjadi budaya. Itulah sebab sehingga keduanya merupakan personifikasi. Budaya adalah cara hidup yang dipatuhi oleh anggota masyarakat atas dasar kesepakatan bersama.<a title="" href="#_ftn8">[8]</a> Kedua kata ini merupakan keseluruhan gagasan dan karya manusia, dalam perwujudan ide, nilai, norma, dan hukum, sehingga keduanya merupakan <em>dwitunggal</em>.</p>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;"><strong>Daftar Pustaka:</strong></p>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> <em>Kamus Besar Bahasa Indonesia:</em> Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa, (Ed-3. Cet-1  Jakarta ; Balai Pustaka 2001) h. 1208 <a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> <em>Ibid., </em>h. 1208<br />
<a title="" href="#_ftnref3">[3]</a>Siti Nur  Aryani: Oposisi Paska Tradisi. <em>Islam agama perlawanan.</em>(online) .(http//Islamliberal.com/id/indeks) diakses 8 Agustus 2003<a title="" href="#_ftnref4"><br />
[4]</a> lihat, Eddy Soetrisno<em>. Kamus Populer Bahasa Indonesia </em>( Jakarta: Ladang Pustaka dan Inti Media) h. 209<a title="" href="#_ftnref5"><br />
[5]</a>Drs. Hartono.<em> Kamus Praktis Bahasa Indonesia</em>. (Cet-2 Jakarta; Rineka Cipta) h. 166<a title="" href="#_ftnref6"><br />
[6]</a><em> </em>Eddy Soetrisno. <em>Op.Cit., </em>H.209<a title="" href="#_ftnref7"><br />
[7]</a> Alexander Dante Vorhess. Wikipedia Free Enciclopedy: <em>Myth,Culture and a pride of Nation,</em>(online). (http//www.Wikipedia.com di akses 5 juni 2006). Lihat pula dalam Cervantes De Leon. Ogdru-eb jahd : <em>History of Hispanian Myth.</em>(online). (http//www.deity.com di akses tanggal 5 Juni 2006). Bandingkan dengan  E.E. Evans Pritchard. <em>Theories of Primitive Religion.</em> (Cet.-1 Yogyakarta, PLP2M) Januari 1984. h.26-62<a title="" href="#_ftnref8"><br />
[8]</a>Drs. Abdul Syani. <em>Sosiologi dan Perubahan Masyarakat</em> (Cet-1.Dunia Pustaka Jaya) 1995. h. 53</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://dewasastra.wordpress.com/2012/04/04/tradisi-bahasa-dan-istilah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>5</slash:comments>
		
		
		
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/e210ae31b18a4ef183eb2eebcb03df71b26fa59ecc6b18e9d657900cdff7a624?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dewasastra</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i646.photobucket.com/albums/uu189/yeros2010/wayang.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Ilustrasi-Tradisi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengantar Teori Remaja dan Pergaulan Bebas</title>
		<link>https://dewasastra.wordpress.com/2012/04/04/remaja-dan-pergaulan-bebas/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dewasastra]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Apr 2012 03:55:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja dan Problematikanya]]></category>
		<category><![CDATA[Teori Pendidikan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://dewasastra.wordpress.com/?p=1451</guid>

					<description><![CDATA[Perjalanan waktu yang terus berputar dan cepatnya pergantian zaman membuktikan bahwa bumi dari waktu ke waktu semakin tua, usia bumi bisa diibaratkan bagaikan kakek renta yang menuju sakaratul maut. Seiring dengan itu, isi dunia ini pun semakin heboh, bukan saja di kalangan para remaja, anak didik pun seolah-olah memamerkan kelihaiannya dalam bergaul, di mana anak [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://halat.com/promiscuity.html"><img data-attachment-id="1452" data-permalink="https://dewasastra.wordpress.com/2012/04/04/remaja-dan-pergaulan-bebas/pergaulan-bebas/" data-orig-file="https://dewasastra.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/pergaulan-bebas.jpg" data-orig-size="691,445" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="pergaulan bebas" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://dewasastra.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/pergaulan-bebas.jpg?w=300" data-large-file="https://dewasastra.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/pergaulan-bebas.jpg?w=477" class="aligncenter  wp-image-1452" title="pergaulan bebas" src="https://dewasastra.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/pergaulan-bebas.jpg?w=389&#038;h=169" alt="gambar pergaulan bebas" width="389" height="169" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Perjalanan waktu yang terus berputar dan cepatnya pergantian zaman membuktikan bahwa bumi dari waktu ke waktu semakin tua, usia bumi bisa diibaratkan bagaikan kakek renta yang menuju sakaratul maut. Seiring dengan itu, isi dunia ini pun semakin heboh, bukan saja di kalangan para remaja, anak didik pun seolah-olah memamerkan kelihaiannya dalam bergaul, di mana anak didik tidak lagi memilih teman bergaulnya. Mereka terjebak dengan pergaulan yang tidak mempunyai batas atau yang disebut pergaulan bebas.<span id="more-1451"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Harapan orang tua sejalan dengan tujuan pendidikan nasional secara integral, maka pembinaan intelektual, keterampilan dan kepribadian peserta didik diupayakan untuk mencapai standar positif dalam perspektif nasional dengan landasan konstitusional dan landasan idiil yang telah baku.<a title="" href="#_ftn1">[1]</a> Pencapaian kondisi positif berdasarkan tolok ukur dengan kualitas yang berwawasan hakikat dan nilai-nilai hakikat supra positif dan konstruktif bagi pembangunan dan kehidupan bangsa, masyarakat serta bagi dirinya sendiri.<a title="" href="#_ftn2">[2]</a> Dukungan moral peserta didik tingkat SD, SLTP, SLTA dimanifestasi dan termodifikasi dalam prestasi belajar. Pencapaian prestasi di lingkungan pendidikan formal baik di lembaga pendidikan umum maupun kejuruan memerlukan tanggapan balik yang positif dari pemerintah dengan tujuan agar peserta didik dapat menemukan harga dirinya sehingga dapat memberi pengaruh positif terhadap semua pihak. Dalam kenyataan, ada peserta didik berprestasi gemilang yang berasal dari keluarga ekonomi lemah, bahkan ada beberapa peserta didik berprestasi terpaksa meninggalkan bangku sekolah karena tekanan ekonomi yang sangat parah.<br />
Pada hakikatnya peserta didik SD, SLTP, SLTA yang berprestasi dengan kondisi serba sulit di bidang ekonomi tetap menjadi tumpuan harapan di dalam proses global pembangunan nasional, khususnya di sektor pendidikan. Inilah harapan-harapan yang diinginkan oleh pemerintah dan orang tua yang selalu mendampingi anak-anaknya dalam berprestasi. Anak didik yang seharusnya menjadi harapan bangsa sekaligus menjadi ujung tombak yang bisa diandalkan oleh para orang tua di masa yang akan datang terlena dengan gemerlapnya pergaulan. Mereka terjebak dalam pergaulan yang tidak mempunyai batas atau yang disebut pergaulan bebas.</p>
<p style="text-align:justify;">Era modern, demikianlah orang menyebut zaman propaganda. Di mana propagandanya telah meluluhkan  nilai-nilai moral di seluruh negara di dunia. Anak sekolah terpengaruh pada pergaulan bebas tanpa memperhatikan nilai-nilai agama. Akibatnya muncullah hal-hal yang tidak diinginkan seperti anak didik menjadi pecandu rokok, pacaran yang akhirnya hamil di luar nikah, tawuran yang berakibat perkelahian, selain itu tidak sedikit anak didik putus sekolah disebabkan oleh pergaulan bebas. Hal tersebut di atas, sangat berbahaya dalam pembentukan kepribadian anak menjadi anak yang bermoral, perubahan perilaku kehidupan manusia akibat pergaulan bebas. Hal ini dilakukan karena anak didik adalah bagian dari masa kini dan keseluruhan dari hari esok. Mereka adalah generasi penerus yang akan mengambil posisi kepemimpinan di masa depan, sebab anak didik adalah cerminan bangsa di masa kini dan di masa yang akan datang.<br />
Ada peneliti remaja yang mengatakan bahwa anak didik sekarang mempunyai karakter yang seratus enam puluh derajat amat jauh berbeda dengan anak didik masa silam. Jika anak didik zaman dulu cenderung aktif, kreatif, ulet dan mau berusaha.<a title="" href="#_ftn3">[3]</a> Sedangkan anak didik sekarang sudah kadung dimanjakan oleh segala macam pergaulan bebas yang mampu mencuci otak para anak didik menjadi seorang pemalas dan lamban dalam berfikir dan bertindak.</p>
<p style="text-align:justify;">Apalagi ditambah dengan adanya teknologi yang tidak dibarengi kemajuan akhlak, maka teknologi itu menjadi boomerang bagi anak didik. Bagi sebagian orang, fenomena ini menjadi sebuah kekalutan tersendiri. Kekalutan dan ketegangan jiwa dan rasa aman bagi anak didik menjadi hal yang mahal. Lihat saja, setiap hari televise menyuguhkan tontonan gratis seks, kekerasan dan horror. Semuanya jelas meracuni pemikiran generasi sekarang. Akibatnya, kejahatan modern terkadang kelewat sadis di mata masyarakat. Di era modern ini pergaulan yang tidak bertanggung jawab dan mengingkari norma sudah menjadi hal yang biasa. Berbagai tindak kejahatan melalui pergaulan bebas sangat menghawatirkan. Tawuran pelajar, coret-coret dijalanan semua itu mengabaikan sisi kebaikan, kelembutan dan kemanusiaan.<br />
Pergaulan bebas ini tidak hanya melanda kota-kota besar yang nyaris terdapat pembunuhan, pemerkosaan, penjambretan, tawuran pelajar dan hal-hal yang mengabaikan norma-norma agama dan kemanusiaan. Hal tersebut di atas juga terdapat di desa-desa, di mana akibat pergaulan bebas tanpa memilih teman bergaul sangat berakibat fatal, walaupun tidak separah yang terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Makasar dan kota-kota besar lainnya.</p>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;"><strong>Daftar Pustaka:</strong></p>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a>Sudarsono, S.H., M.Si., <em>Kenakalan Remaja, Prevensi, Rehabilitasi dan Resosialisasi, </em>(Jakarta: Rineka Cipta,  2004), h. 139</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a><em>Ibid, </em>h. 139</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a>Faruq  Al-Farabi, <em>Remaja  Gaul  Kebablasan,  </em>Edisi  Terlaris,  (Jombang: Lintas Media, ttp) h. 21</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
					
		
		
		
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/e210ae31b18a4ef183eb2eebcb03df71b26fa59ecc6b18e9d657900cdff7a624?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dewasastra</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://dewasastra.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/pergaulan-bebas.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">pergaulan bebas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jenis dan Fungsi Perpustakaan</title>
		<link>https://dewasastra.wordpress.com/2012/04/04/jenis-dan-fungsi-perpustakaan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dewasastra]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Apr 2012 03:00:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kumpulan Teori Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Perpustakaan]]></category>
		<category><![CDATA[Teori Pendidikan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://dewasastra.wordpress.com/?p=1444</guid>

					<description><![CDATA[&#160; Untuk melengkapi artikel mengenai Perpustakaan sebelumnya, maka artikel kali ini adalah mengenai jenis-jenis perpustakaan serta fungsi perpustakaan secara umum. Adapun Jenis-jenis perpustakaan yang terdapat di Indonesia, dapat disebutkan antara lain ; Perpustakaan Internasional “Perpustakaan   Internasional   adalah  perpustakaan yang didirikan oleh 2 negara atau lebih, atau perpustakaan yang merupakan bagian sebuah organisasi internasional”, yang keberadaannya [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align:center;"><a href="https://dewasastra.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/ilustrasi-perpustakaan.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="1445" data-permalink="https://dewasastra.wordpress.com/2012/04/04/jenis-dan-fungsi-perpustakaan/ilustrasi-perpustakaan/" data-orig-file="https://dewasastra.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/ilustrasi-perpustakaan.jpg" data-orig-size="320,241" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="Ilustrasi Perpustakaan" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://dewasastra.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/ilustrasi-perpustakaan.jpg?w=300" data-large-file="https://dewasastra.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/ilustrasi-perpustakaan.jpg?w=320" class="wp-image-1445 aligncenter" title="Ilustrasi Perpustakaan" src="https://dewasastra.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/ilustrasi-perpustakaan.jpg?w=346&#038;h=166" alt="Perpustakaan" width="346" height="166" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Untuk melengkapi artikel mengenai Perpustakaan sebelumnya, maka artikel kali ini adalah mengenai jenis-jenis perpustakaan serta fungsi perpustakaan secara umum. Adapun Jenis-jenis perpustakaan yang terdapat di Indonesia, dapat disebutkan antara lain ;</p>
<ul>
<li><strong>Perpustakaan Internasional</strong></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">“Perpustakaan   Internasional   adalah  perpustakaan yang didirikan oleh 2 negara atau lebih, atau perpustakaan yang merupakan bagian sebuah organisasi internasional”, yang keberadaannya dapat dimanfaatkan oleh seluruh negara yang menjadi anggota perpustakaan tersebut.<a title="" href="#_ftn1">[1]</a> Dalam buku yang sama disebutkan bahwa perpustakaan semacam ini baru muncul sekitar tahun-tahun pertama abad ke 20. <span id="more-1444"></span>sejak akhir abad ke 19 negara-negara di dunia telah membentuk badan internasional, untuk melakukan kerjasama internasional. Misalnya tahun 1919 berdirilah Liga Bangsa-Bangsa di Jenewa (League of Nations). Perpustakaan tersebut hingga kini masih berada di Jenewa, hanya saja kini merupakan bagian dari PBB (United Nations, UN) karenanya sering disebut UN Library, yang memberikan jasa informasi serta juga merupakan  pusat  jaringan kerja perpustakaan PBB itu sendiri.<a title="" href="#_ftn2">[2]</a></p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><strong>Perpustakaan Nasional</strong></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Perpustakaan Nasional merupakan satu-satunya perpustakaan disuatu negara dengan koleksinya berasal dari sebagian terbesar terbitan hasil karya tulis, cetak maupun grafis lain yang terdapat dinegara yang bersangkutan. Perpustakaan nasional merupakan perpustakaan utama dan paling komprehensif yang melayani keperluan informasi dari penduduk suatu negara.<a title="" href="#_ftn3">[3]</a>  Berdasarkan Keputusan Presiden RI. No 11 Tahun 1989 tentang perpustakaan Nasional RI. Pada bab I pasal 2, sebagaimana saya kutip berikut ini, dijelaskan bahwa ;<br />
Perpustakaan Nasional RI, mempunyai tugas pokok membantu presiden dalam menyelenggarakan pengembangan  dan pembinaan perpustakaan dalam rangka pelestarian bahan pustaka sebagai hasil budaya dan pelayanan  informasi  ilmu  pengetahuan,  tekhnologi  dan kebudayaan.<a title="" href="#_ftn4">[4]</a>  Yang dimaksud dengan membantu presiden adalah, perpustakaan nasional memiliki tugas pokok untuk mengembangkan dan mengadakan pembinaan  terhadap seluruh perpustakaan yang ada di daerah-daerah seluruh Indonesia.</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><strong>Perpustakaan Umum</strong></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Perpustakaan umum adalah perpustakaan yang diselenggarakan oleh dana umum dengan tujuan melayani masyarakat umum, dengan ciri-ciri sebagai berikut;</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Terbuka untuk umum, artinya terbuka bagi siapa saja tanpa memandang perbedaan jenis kelamin, agama, kepercayaan, ras usia, pandangan politik, dan pekerjaan.</li>
<li>Dibiayai oleh dana umum. Dana umum ialah dana yang berasal dari masyarakat. Biasanya dikumpulkan melalui pajak dan dikelola oleh pemerintah.</li>
<li>Jasa yang diberikan pada hakekatnya bersifat cuma-cuma. Jasa yang diberikan mencakup jaa <em>referal</em>  artinya jasa memberikan informasi, peminjaman, konsultasi studi, sedangkan keanggotaan bersifat cuma-cuma artinya tidak perlu membayar.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Adapun yang termasuk jenis perpustakaan umum ialah ;</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Perpustakaan wilayah/perpustakaan Propinsi</li>
<li>Perpustakaan Umum Kotamadya</li>
</ol>
<ul style="text-align:justify;">
<li> <strong>Perpustakaan Sekolah</strong></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Perpustakaan sekolah adalah perpustakaan yang tergabung pada sebuah sekolah, dikelola sepenuhnya oleh sekolah untuk mencapai tujuan khusus sekolah dan tujuan pendidikan pada umumnya. Tujuan khusus perpustakaan ini ialah membantu sekolah mencapai tujuannya sesuai dengan kebijakan sekolah tempat perpustakaan tersebut bernaung.<a title="" href="#_ftn5">[5]</a> Perpustakaan sekolah merupakan tempat yang menyediakan literatur yang berhubungan dengan mata pelajaran yang diajarkan di sekolah. Perpustakaan ini memudahkan siswa untuk mencari literatur atau sekedar untuk membaca guna menambah wawasan. Jadi, perbedaannya dengan perpustakaan lainnya adalah terletak pada koleksi buku yang ada di perpustakaan, artinya perpustakaan sekolah hanya menyediakan buku atau literatur yang cocok, sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan siswa. Atau dengan kata lain, perpustakaan sekolah hanya menyediakan buku-buku penunjang mata pelajaran.</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><strong>Perpustakaan Perguruan Tinggi</strong></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Perpustakaan Peguruan Tinggi adalah perpustakaan yang terdapat pada perguruan tinggi, badan bawahannya, maupun lembaga yang berafiliasi dengan perguruan tinggi, dengan tujuan utama membantu perguruan tinggi mencapai tujuannya.<a title="" href="#_ftn6">[6]</a> Berbeda dengan perpustakaan sekolah, perpustakaan yang ada di perguruan tinggi, adalah koleksi buku-buku yang lengkap, topik kajiannya mendalam bukan hanya ditulis dan berbahasa Indonesia tetapi juga berbahasa Inggeris, Arab dan lain-lain sesuai dengan tujuan perguruan tinggi tersebut. Perpustakaan yang ada di perguruan tinggi, memiliki koleksi buku yang lengkap disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa dan seluruh civitas akademika sebuah perguruan tinggi.</p>
<div style="text-align:justify;">(Baca juga artikel Sebelumnya: <strong>Antara Perpustakaan dan Minat Baca Anak</strong> <a href="https://dewasastra.wordpress.com/2012/04/03/perpustakaan-minat-baca-anak/" target="_blank">DISINI </a>)</div>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;"><strong>Daftar Pustaka :</strong></div>
<div style="text-align:justify;">Sumber gambar : Fani Gobel : ( &#8216;<a href="https://www.facebook.com/profile.php?id=100002273415789&#038;#8217" rel="nofollow">https://www.facebook.com/profile.php?id=100002273415789&#038;#8217</a>; )</p>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Sulistyo Basuki. <em>Pengantar Ilmu Perpustakaan</em>. (Gramerdia Pustaka Utama; Jakarta, 1991), h. 42</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> <em>Ibid.</em>, h. 43</p>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> <em>Ibid.</em></p>
</div>
<div>
<p> <a title="" href="#_ftnref4">[4]</a> Badan Litbang  Penerangan Departemen Penerangan RI,<em> Jurnal Penelitian dan Komunikasi Pembangunan,</em> Jakarta: Badan Media Pustakawan, 1999),  h. 3</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref5">[5]</a> Lihat Sulistya Basuki, <em>Op.Cit</em>, h. 91</p>
<p><a title="" href="#_ftnref6">[6]</a> <em>Ibid</em>, h. 91</p>
</div>
<div>
<p>&nbsp;</p>
</div>
</div>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/e210ae31b18a4ef183eb2eebcb03df71b26fa59ecc6b18e9d657900cdff7a624?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dewasastra</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="https://dewasastra.wordpress.com/wp-content/uploads/2012/04/ilustrasi-perpustakaan.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Ilustrasi Perpustakaan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Definisi dan Pengertian Perpustakaan</title>
		<link>https://dewasastra.wordpress.com/2012/04/03/definisi-pengertian-perpustakaan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dewasastra]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Apr 2012 05:12:23 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kumpulan Teori Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Perpustakaan]]></category>
		<category><![CDATA[Teori Pendidikan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://dewasastra.wordpress.com/?p=1439</guid>

					<description><![CDATA[Darmono mengemukakan bahwa Perpustakaan pada hakekatnya adalah pusat sumber belajar dan sumber informasi bagi pemakainya. Perpustakaan dapat pula diartikan sebagai tempat kumpulan buku-buku atau tempat buku-buku dihimpun dan diorganisasikan sebagai media belajar siswa.[1] Wafford menterjemahkan perpustakaan sebagai salah satu organisasi sumber belajar yang menyimpan, mengelola dan memberikan layanan bahan pustaka baik buku maupun non buku [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter" title="Perpustakaan umum" src="https://i0.wp.com/i1126.photobucket.com/albums/l602/chance103/Fantasy/Library.jpg" alt="Dunia Buku Perpustakaan" width="712" height="193" />Darmono mengemukakan bahwa Perpustakaan pada hakekatnya adalah pusat sumber belajar dan sumber informasi bagi pemakainya. Perpustakaan dapat pula diartikan sebagai tempat kumpulan buku-buku atau tempat buku-buku dihimpun dan diorganisasikan sebagai media belajar siswa.<a title="" href="#_ftn1">[1]</a> Wafford menterjemahkan perpustakaan sebagai salah satu organisasi sumber belajar yang menyimpan, mengelola dan memberikan layanan bahan pustaka baik buku maupun non buku kepada masyarakat tertentu maupun masyarakat umum.<a title="" href="#_ftn2">[2]</a><br />
Ibnu Ahmad Saleh memberikan definisi perpustakaan adalah tempat pengumpulan pustaka atau kumpulan pustaka yang diatur dan disusun dengan sistem tertentu, <span id="more-1439"></span>sehingga sewaktu-waktu diperlukan dapat ditemukan dengan mudah dan cepat.<a title="" href="#_ftn3">[3]</a> Dengan demikian, perpustakaan dapat diartikan secara luas sebagai salah satu unit kerja yang berupa tempat untuk mengumpulkan, menyimpan, mengelola, dan mengatur koleksi bahan pustaka secara sistematis, untuk dipergunakan oleh pemakai sebagai sumber informasi sekaligus sebagai sarana belajar yang menyenangkan.<br />
Tujuan pengelolaan dan pengaturan bahan-bahan pustaka tidak lain adalah agar dapat digunakan sebaik-baiknya oleh pemakainya. Lebih jauh lagi adalah bagaimana agar dengan pengaturan tersebut dapat membangkitkan minat setiap pemakai untuk selalu mengunjungi perpustakaan. Yang pada tahap selanjutnya dapat mendongkrak minat baca siswa. Dengan demikian, perpustakaan tersebut akan selalu digunakan oleh pemakai atau anggotanya. Pemakai perpustakaan tersebut tergantung atau sesuai dengan unit kerjanya. Tentunya perpustakaan sekolah pemakainya adalah siswa dan pegawai, guru dan masyarakat umumnya.<br />
Jika dikaitkan dengan proses belajar mengajar di sekolah, perpustakaan sekolah memberikan sumbangan yang sangat berharga dalam upaya sumbangan yang sangat besar dan berharga dalam upaya meningkatkan aktivitas peserta didik serta meningkatkan kualitas pendidikan dan pengajaran. Melalui penyediaan perpustakaan, peserta didik dapat berinteraksi dan terlibat langsung baik secara fisik maupun mental dalam proses belajar. Perpustakaan sekolah merupakan bagian integral dari program sekolah secara keseluruhan, dimana bersama-sama dengan komponen pendidikan lainnya turut menentukan keberhasilan proses pendidikan dan pengajaran. Melalui perpustakaan peserta didik dapat mendidik dirinya secara berkesinambungan.</p>
<p style="text-align:justify;">**Mungkin anda tertarik dengan artikel lainnya : &#8220;<strong>Antara Perpustakaan dan Minat Baca Anak</strong>&#8221; <a href="https://dewasastra.wordpress.com/2012/04/03/perpustakaan-minat-baca-anak/" target="_blank">DISINI</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Daftar Pustaka:</strong></p>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Darmono, <em>Manajemen dan Tata Perpustakaan Sekolah</em> (Cet. I; Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia, 2001), h. 2</p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> <em>Ibid</em></p>
</div>
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Drs. A.R Ibnu Ahmad Saleh, <em>Penyelenggaraan Perpustakaan Sekolah</em>, (Cet. I; Jakarta: PT. Hidakarya Agung, 2006), h. 11</p>
</div>
]]></content:encoded>
					
		
		
		
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/e210ae31b18a4ef183eb2eebcb03df71b26fa59ecc6b18e9d657900cdff7a624?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dewasastra</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i1126.photobucket.com/albums/l602/chance103/Fantasy/Library.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Perpustakaan umum</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Antara Perpustakaan dan Minat Baca Anak</title>
		<link>https://dewasastra.wordpress.com/2012/04/03/perpustakaan-minat-baca-anak/</link>
					<comments>https://dewasastra.wordpress.com/2012/04/03/perpustakaan-minat-baca-anak/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Dewasastra]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Apr 2012 03:16:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kumpulan Teori Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Minat Baca Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Perpustakaan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://dewasastra.wordpress.com/?p=1435</guid>

					<description><![CDATA[Pepatah mengungkapkan  buku adalah sahabat dan guru yang baik. Buku dengan sabar mengajarkan banyak hal yang kita tidak ketahui, memberikan wawasan dan ilmu pengetahuan. Buku juga mengajak kita berpetualang ke berbagai tempat dan dimensi.[1] Melalui buku, kita dapat merealisasikan salah satu bentuk dari perintah pertama dan utama yang berasal dari Allah Swt. kepada Nabi Muhammad [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><img class="alignleft" title="Perpustakaan" src="https://i0.wp.com/i586.photobucket.com/albums/ss305/starwind_federation/starquest/library.jpg" alt="Perpustakaan dan minat baca" width="200" height="152" />Pepatah mengungkapkan  buku adalah sahabat dan guru yang baik. Buku dengan sabar mengajarkan banyak hal yang kita tidak ketahui, memberikan wawasan dan ilmu pengetahuan. Buku juga mengajak kita berpetualang ke berbagai tempat dan dimensi.<a title="" href="#_ftn1">[1]</a> Melalui buku, kita dapat merealisasikan salah satu bentuk dari perintah pertama dan utama yang berasal dari Allah Swt. kepada Nabi Muhammad Saw, yakni membaca. “Membaca” dalam aneka maknanya sebagaimana yang diungkapkan oleh Quraish Shihab, adalah syarat pertama dan utama pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta syarat utama membangun peradaban.<a title="" href="#_ftn2">[2]</a><span id="more-1435"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Dari dua alur pemikiran ini dapat dilihat betapa erat kaitan antara buku dan aktivitas membaca. Karena makna membaca yang demikian luas terhadap segala aspek kehidupan yang tampak maupun yang tidak nampak merupakan obyek bacaan bagi manusia. Dalam dunia pendidikan, untuk menjembatani dua hal di atas, maka pemerintah mengupayakan adanya perpustakaan pada</p>
<p style="text-align:justify;">setiap sekolah atau lembaga pendidikan lainnya. Hal ini mengingat akan pentingnya peran membaca dalam pendidikan, karena seluruh materi belajar membutuhkan kemampuan membaca peserta didik untuk dapat menyelesaikan kompetensi tertentu di segala bidang studi. Oleh karena itu, perpustakaan sekolah merupakan bagian penting dari komponen pendidikan yang tidak dapat dipisahkan keberadaannya dari lingkungan sekolah.<a title="" href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Fenomena dalam kehidupan dan perubahan tatanan sosial seiring dengan perubahan zaman dan perkembangan teknologi informasi, dapat dilihat betapa hubungan antara membaca dan buku semakin tersingkirkan dengan hadirnya berbagai media hiburan seperti televisi, VCD, <em>video games</em>, dan <em>play station.</em> Hal ini diperburuk lagi dengan buku-buku teks di sekolah dikemas dengan kurang menarik. Kecenderungan peserta didik-peserta didik sekarang yang dipicu oleh hadirnya berbagai media hiburan, sangat menyukai berbagai visual atau gambar yang menarik. Keadaan ini menyebabkan banyaknya peserta didik membaca buku hanya terpaksa dan tak lebih hanya sekedar memenuhi kebutuhan belajar.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan demikian, eksistensi perpustakaan sebagai sebuah wahana belajar siswa, yang dapat membantu siswa dan guru dalam memacu tercapainya tujuan pendidikan di sekolah, mendapat tantangan yang tidak kecil untuk dapat menarik perhatian peserta didik kembali, agar peserta didik dapat dikembangkan dari membaca hanya sekedar memenuhi kebutuhan belajar menjadi menyenangi dan mencintai aktivitas membaca.</p>
<p style="text-align:justify;">(Mungkin anda tertarik untuk membaca &#8220;<strong>Tinjauan kritis minat baca anak Indonesia</strong>&#8221; silahkan klik di <a href="https://dewasastra.wordpress.com/2012/03/19/minat-baca-anak-indonesia/" target="_blank">SINI</a>  )</p>
<div style="text-align:justify;"></div>
<div style="text-align:justify;">
<p>Daftar Pustaka</p>
<div>
<ul>
<li><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Ida Farida, <em>Peran Keluarga dalam Menumbuhkan Minat Baca Anak</em>, Al-Maktabah, Vol. 3, No. 2, Oktober 2001, h. 149</li>
<li><a title="" href="#_ftnref3">[3]</a> Darmono, <em>Manajemen dan Tata Kerja Perpustakaan Sekolah</em>, (cet. II; Jakarta: Grasindo, 2004), h. xiv</li>
<li><a title="" href="#_ftnref2">[2]</a> M. Quraish Shihab, <em>Wawasan Al-Qur’an, Tafsir Maudlu’i atas Pelbagai Persoalan Umat</em>, (Cet. X; Bandung: Mizan, 2000), h. 6</li>
</ul>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://dewasastra.wordpress.com/2012/04/03/perpustakaan-minat-baca-anak/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>3</slash:comments>
		
		
		
		<media:content url="https://2.gravatar.com/avatar/e210ae31b18a4ef183eb2eebcb03df71b26fa59ecc6b18e9d657900cdff7a624?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dewasastra</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i586.photobucket.com/albums/ss305/starwind_federation/starquest/library.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Perpustakaan</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
