<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2enclosuresfull.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-228623902424000901</atom:id><lastBuildDate>Thu, 16 Feb 2012 10:23:01 +0000</lastBuildDate><category>snana yatra</category><category>keyakinan</category><category>nataraja</category><category>OM</category><category>karma</category><category>sekte</category><category>teologi</category><category>darshan</category><category>jiva-tattva</category><category>asal-mula</category><category>hindu</category><category>avatara</category><category>sastra suci</category><category>pohon</category><category>jivatattva</category><category>puja</category><category>e-book</category><category>kuil</category><category>mangalam</category><category>ganesa</category><category>vedanta</category><category>wanita</category><category>download</category><category>yajna</category><category>thirupati</category><category>agamasastra</category><category>jagannath</category><category>narada</category><category>dvaita</category><category>pilar heliodorus</category><category>archana</category><category>musik</category><category>buddha</category><category>orang suci</category><category>kunjungan</category><category>zakir naik vs ravi shankar</category><category>thai</category><category>dialog interelijius</category><category>diskriminasi</category><category>perdamaian</category><category>berita</category><category>bali</category><category>perempuan</category><category>pratyangira</category><category>vaishnava</category><category>dharma</category><category>tarian</category><category>guru</category><category>veda</category><category>sadhu</category><category>namaskar</category><category>ritual</category><category>reinkarnasi</category><category>berhala</category><category>jiva</category><category>hati vesha</category><category>srimurti</category><category>devi</category><category>acharya</category><category>tattva</category><category>cintakasih</category><category>DN Acharya</category><category>pura</category><category>pengalaman rohani</category><category>dasamula</category><category>nyepi</category><category>gaya hidup</category><category>astrologi</category><category>doa</category><category>pancaratra</category><category>santam</category><category>ikon suci</category><category>ajaran</category><category>vegetarian</category><category>pitri-puja</category><category>goudiya</category><category>indonesia</category><category>tattvavada</category><category>bhisma stuti</category><category>sugata</category><category>tradisi</category><category>diskusi</category><title>DHARMADVAR</title><description>Pintu Gerbang Kebenaran 
Demi Menemukan Kekayaan Rohani Veda Vedanta</description><link>http://dharmadvar.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (dasanrangarajan)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>109</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/Dharmadvar" /><feedburner:info xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" uri="dharmadvar" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Pintu Gerbang Kebenaran Demi Menemukan Kekayaan Rohani Veda Vedanta</itunes:subtitle><itunes:summary>Pintu Gerbang Kebenaran Demi Menemukan Kekayaan Rohani Veda Vedanta</itunes:summary><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-228623902424000901.post-7217767839117772678</guid><pubDate>Tue, 24 May 2011 02:14:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-05-23T19:14:00.179-07:00</atom:updated><title>AIR</title><description>Agama Hindu di Indonesia, terutama di Bali, pernah dikenal atau disebut dengan Agama Tirtha atau “Agama Air”. Ini karena begitu intensnya penggunaan Air (suci) dalam semua upacara keagamaan dan juga dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat sehari-harinya. Bila diperhatikan hampir pasti atau bahkan selalu akan kita dapatkan air dipercikkan. Sekilas ini tampak berlawanan dengan agama Veda awal yang sering disebut oleh orang-orang justru sebagai “agama api”. Hal ini juga disebabkan karena hampir semua upacara pengorbanan (yajna) dalam Veda adalah Homam atau upacara api suci. Pusat kehidupan dalam masyarakat Veda adalah tungku Homam, tempat dipujanya para Devata dan Tuhan Yang Maha Esa sebagai Yajnapurusha melalui Agnihotra. Bahkan disebutkan bahwa pengantara utama antara manusia dengan para deva adalah Agni, Api. Mantra-mantra Veda dimulai dengan …&lt;span style="font-style: italic;"&gt;agnimile purohitam&lt;/span&gt;…, dst. Sukta terpenting dalam Veda, Sri Purusha-sukta, menunjukkan bahwa bahkan alam semesta diciptakan melalui Yajna, terutama api suci. Begitu pula mantra persembahan yang terkenal …&lt;span style="font-style: italic;"&gt;brahma-arpanam brahma-havir brahma-agnau&lt;/span&gt;… jelas menunjukkan bahwa upacara api suci, Homa, atau Agnihotra adalah bentuk upacara Veda terpenting. Lalu bagaimana dengan agama Hindu yang mengutamakan penggunaan Air? Apakah tidak sesuai dengan Veda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada suatu bagian dalam Veda, Rik Taittiriya-aranyakam yang disebut Surya Namaskara Prashnam yang memiliki 32 Anuvakam (bagian). Anuvaka ke-22 memuat yang dikenal sebagai Mantra Pushpam, yang terdiri dari 12 Mantra (Pancasat).  Mantra Pushpam ini memiliki kedudukan yang sangat penting sampai saat ini dalam masyarakat penganut Veda. Baik dalam upacara Homam tradisional maupun pemujaan umum di Pura dengan kehadiran Archa, dsb. mantra-mantra ini selalu diucapkan. Boleh dikatakan tidak ada upacara tradisional Veda tanpa pengucapan Mantra Pushpam . Rangkaian pertama dari Mantra Pushpam adalah Pancasat ke 78-84. Yang ke dua adalah Pancasat 85 dan 86, bersama dengan rangkaian ke tiga yaitu Pancasat 87-89, berhubungan dengan pelaksanaan Yajna yang disebut Aruna Ketuka Sayanam. Mantra-mantra dari rangkaian pertama (Rik 78-84) mengungkapkan kepada kita bahwa APAH (Air) adalah merupakan dasar yang menyokong (adharam) dan prinsip yang mengandung (adheyam) bagi semua unit waktu (Kala) beserta semua ciptaan termasuk juga Prana (energi kehidupan), segala jenis tanaman pangan, Tattva-tattva, dan Chanda atau bentuk-bentuk susunan mantra seperti Gayatri, Anustuph, dsb. Rik-rik ini (78-84) menyatakan bahwa orang yang bermeditasi pada Air, Jalam atau Apah sebagai “personifikasi semua Devata”, Sarva Devata Svarupam (dengan demikian berarti bermeditasi kepada Tuhan yang hadir dalam Air), akan memperoleh segala yang baik sebagai hasilnya.&lt;br /&gt;Ada disebutkan pula dalam Veda Taittiriya Samhita, “apohista mayoh bhuvastha na urjeh dhadatana – apoh janayata ca nah, Wahai Apah, Engkau adalah yang menganugerahkan kebahagiaan, maka anugerahilah kami dengan makanan (hidup) dan penglihatan yang agung serta indah (dari Kebenaran Tertinggi). Jadikanlah kami turut berbahagia dalam kebahagiaan-Mu dalam hidup saat ini juga. Setelahnya semoga kami mencapai kediaman-Mu yang penuh kenikmatan.” Rik ini menunjukkan bagaimana Air (Apah) dipuja sebagai Sarva Devata Svarupa dan identik dengan Tuhan Sendiri. Uttararchika Saman (Bagian ke dua dari Samaveda Samhita) kembali secara khusus menyatakan hubungan antara Apah dan anugerah yang kita peroleh dengan memahaminya sebagai Sarva Devata Svarupam. “Wahai Air, Engkau menghapuskan segala noda dan demi menyucikan diri dari segala noda kami menghampiri-Mu. Anugerahilah kami keturunan yang mampu memanfaatkan Air dengan benar”(Saman ke-1839). Bagi para Jnani, Air bukan sekedar pemuas dahaga dan pembersih kekotoran badan, namun memiliki prinsip Ketuhanan yang terkandung di dalamnya.&lt;br /&gt;Berkaitan dengan peran penting Agni dalam Veda seperti yang umumnya kita ketahui, maka Atharva (Anuvaka ke-5, 20.2) mengungkapkan hubungan antara Agni dengan Apah, “Semua Agni bersemayam dalam Air (seperti Vadava-analam/panas bumi dalam lautan, petir dalam awan hujan, panas dalam pencernaan manusia, panas yang mematangkan buah-buahan, dsb) – semoga semua api ini dimanfaatkan dengan benar”. Jadi bahkan Api/Agni terkandung dan berhubungan erat dengan Air. Bila kita kembali ke Mantra Pushpam, maka pancasat ke-84 memvisualisasikan seluruh alam semesta sebagai sebuah kapal besar yang mengarungi lautan Air yang mahaluas. Seluruh alam semesta disokong oleh Air yang merupakan Sarva Devata Svarupa dan masuk ke dalam Purusa sebagai sumbernya. Seorang Upasaka yang memahami kebenaran sejati yang terkandung dalam Air sedemikian rupa disebut Sthitaprajna yang akan memperoleh anugerah menjadi Pushpavan (dilimpahi kehormatan dan kemuliaan), Prajavan (memperoleh keturunan yang baik), dan Pasuman (memiliki banyak ternak).&lt;br /&gt;Sebelumnya kita diberikan gambaran bagaimana seorang jiwa yang telah sangat maju rohaninya mampu memahami hubungan kosmis yang menyatukan segalanya sebagai emenasi Tuhan Tertinggi, sebagaimana proses penciptaan diuraikan dalam Purusha-suktam. Setelah itu dijelaskan hubungan air dengan seluruh alam semesta sebagai ciptaan Tuhan. Pancasat berikutnya menyatakan, “Segenap alam semesta ini berakar dalam Air. Intisari (rasam) dari Air bercahaya, rasam itu terwujud sebagai sinar putih dari orbit matahari. Hamba mengumpulkan rasam  ini dan menghaturkannya dalam wadah-wadah air yang suci.” Kata rasam dalam bahasa Sanskrit dapat berarti bermacam-macam. Di sini menyatakan intisari kehidupan, yang memberikan kekuatan hidup, dan intisari itu terkandung dalam air. Mantra ini dilantunkan saat menghaturkan Soma-rasam kepada para Deva dalam suatu upacara Veda yang disebut Soma-yajna. Perasan Soma (ekstrak) adalah kekuatan kehidupan yang kekal. Ketika kekuatan ini dihubungkan dengan Air, dia divisualisasikan sebagai sinar putih matahari yang kemudian disalurkan ke dalam kumbham, periuk wadah Air Suci. Dengan menyatakan bahwa akar seluruh dunia adalah Air, maka ditegaskan kembali bahwa intisari kekuatan dalam airlah yang mewujudkan seluruh dunia ini. Dari manakah sumbernya? Secara mental Surya Mandala, bulatan matahari, adalah tempat bersemayamnya intisari ini. Tuhan Yang Maha Esa, Parabrahman, kemudian dipahami sebagai sumber energi matahari dan juga secara rohani hadir sebagai Jiwa Utama dari matahari, Surya-narayana. Oleh karena itu, upasaka yang memahami Tuhan sebagai yang divisualisasikan bersemayam dalam Surya-mandala, memahami pula sumber dari rasam yang terkandung dalam Air, setelah itu dia juga mampu memeras dan mengumpulkannya dalam wadah suci. Dengan demikian Air ini diberkati dengan intisari kekuatan kehidupan.&lt;br /&gt;Keseluruhan proses demikian disebut Yajna Aruna Ketuka Sayanam. Siapapun yang melaksanakan Yajna ini dengan tepat, maka dia akan “kembali menyatu dengan matahari”, Surya Sayujyam. Maknanya adalah dia akan kembali kepada Sang Sumber Segalanya, Tuhan Tertinggi yang divisualisasikan bersemayam dalam Surya Mandala. Dia yang memuja Aruna Ketuka Agni, memahami-Nya sebagai intisari dari Air, diberkati dengan kata “Mithunavan bhavati”, yaitu akan memperoleh kebahagiaan di masa kehidupannya di dunia saat ini dan juga setelahnya. Keseluruhan bagian Veda ini menunjukkan bahwa praktik keagamaan yang memusatkan pada air, sesungguhnya tidak berbeda dari yang berpusat pada api. Terlebih lagi ditunjukkan hubungan istimewa antara Surya dengan Air. Mengingat bahwa agama Hindu yang berkembang di Indonesia, khususnya di Bali, memang memiliki corak berpusat pada Surya, maka sebenarnya dengan merujuk pada sumber-sumber asli Veda ini sangatlah tidak mengherankan jika air memegang peranan yang amat penting. Pelaksanaan Surya-sevana dan “pembuatan air suci” oleh para Sulinggih kita sungguh mencerminkan praktik rohani (upashana) dari bagian Veda ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/228623902424000901-7217767839117772678?l=dharmadvar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://dharmadvar.blogspot.com/2011/05/air.html</link><author>noreply@blogger.com (dasanrangarajan)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-228623902424000901.post-976158301671452254</guid><pubDate>Tue, 01 Mar 2011 12:19:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-03-01T04:41:13.738-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">nyepi</category><title>SELAMAT HARI RAYA NYEPI</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://farm4.static.flickr.com/3275/3096915767_bd7416a9dd.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 500px; height: 332px;" src="http://farm4.static.flickr.com/3275/3096915767_bd7416a9dd.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hindu bersama banyak tradisi relijius kuno lainnya menganut sistem waktu yang bersifat siklik. Berarti bahwa penciptaan dan peleburan adalah proses berkesinambungan tanpa awal dan akhir. Peleburan, bukanlah akhir segalanya, melainkan suatu proses yang alamiah untuk mengembalikan manifestasi alam yang telah usang, kembali menjadi bahan-bahan penyusunnya, untuk selanjutnya hadir dalam wujud yang segar dan baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perayaan tahun baru selalu dilaksanakan sebagai pesta untuk menyambut hadirnya suasana dan kebahagiaan yang baru di masa depan. Namun sebagaimana layaknya kita hidup di alam duniawi ini, dengan selalu berdampingan antara suka dan duka, adalah mustahil mengabaikan bahwa di masa depan tidak akan terjadi sesuatu yang buruk, tantangan, halangan, maupun bentuk-bentuk penderitaan yang lebih berat lagi. Kita tidak bisa memungkiri bahwa setahun ke depan pasti ada kemungkinan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Merayakan pergantian tahun bukan saja bergembira karena masalah yang telah lalu telah lewat, namun juga sebenarnya menyambut sebuah ketidakpastian yang baru. Perenungan semacam ini sangat jarang dilakukan oleh kebanyakan dari kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita patut bersyukur karena leluhur kita, umat Hindu di Indonesia khususnya di Bali, telah mewariskan suatu bentuk perayaan tahun baru yang sarat dengan nilai filosofis dibanding sekedar gegap-gempita suasana pesta. Perayaan Nyepi adalah bentuk perayaan yang tepat untuk sebuah pergantian tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rangkaian ritual Nyepi dimulai terutama saat prosesi &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;melasti&lt;/span&gt;. Melasti dinyatakan sebagai upacara untuk menyucikan diri, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;prayascitta&lt;/span&gt;, dan memohon amrita kehidupan bagi semua makhluk. Dalam Veda, sebelum kita melaksanakan puja, yajna, atau acara apapun, pasti akan diawali dengan upacara menyucikan diri. Penyucian yang terbaik adalah dengan mengingat Tuhan Yang Maha Esa, Vishnu, yang kehadiran-Nya meresapi segala-galanya di seluruh alam semesta ini. Ingatan akan Kemaha-adaan Vishnu, seketika itu juga akan membawa kita dalam keadaan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pavitram&lt;/span&gt; (suci) secara lahir maupun batin (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;sa bahih - abhi - antarah&lt;/span&gt;). Ketika Pratima para devata dibawa berjalan bersama kita, maka ini membawa kita pada suasana adi-duniawi. Pratima menyatakan kehadiran para Devata di tengah-tengah kita. Maka sekalipun secara lahiriah kita masih melangkah di dunia, namun mental kita diarahkan untuk berada di alam-alam luhur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melasti juga dapat menandakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sankalpa&lt;/span&gt;, ucapan peneguhan. Upacara-upacara suci dalam Veda selalu diawali dengan pengucapan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Maha-sankalpa&lt;/span&gt;, yaitu menyatakan tekad kita untuk melaksanakan upacara tertentu itu. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sankalpa&lt;/span&gt; menetapkan hati kita untuk tidak mundur saat kesulitan muncul di tengah upacara dan tidak menghentikannya sebelum maksud yang diinginkan dapat diwujudkan. Air dan samudera adalah perlambang dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sankalpa&lt;/span&gt; ini, dan upacara&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Sankalpa&lt;/span&gt; juga dilakukan dengan sarana mencurahkan air. Jadi kita menetapkan hati untuk menyelesaikan tugas dan menjalani hidup sesuai dharma kita di tahun yang akan datang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya tibalah Tilem atau dalam Veda disebut Amavashya. Amavashya adalah hari yang sejak jaman dahulu kala diperuntukkan untuk melaksanakan persembahan yang disebut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tarpanam&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tarpana&lt;/span&gt; berarti memberi kesejukan, kelegaan, atau kesenangan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tarpanam &lt;/span&gt;terutama memang dipersembahkan kepada Pitri, roh nenek moyang yang telah mendahului kita. Namun sesungguhnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tarpanam&lt;/span&gt; adalah persembahan kepada setiap jiwa yang memiliki hubungan karma dengan kita, dan itu berarti semua bentuk kehidupan dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi, yang tanpanya kita tak mampu hidup dengan baik di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, ini adalah saat dilakukannya upacara persembahan Tawur dan Caru kepada para Bhuta serangkaian dengan perayaan Nyepi. Bila kita melihat isi dari persembahan Tawur atau Caru, di sana akan tampak berbagai jenis bahan yang bersifat Tamasika atau mengandung sifat kegelapan – kebodohan. Bahan-bahan Tamasika adalah sumber energi yang paling kasar dan rendah. Di India, bila seorang Brahmin menyentuh benda-benda Tamasika, maka ia harus melakukan penyucian diri lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi di sisi lain, bahan-bahan yang bersifat Tamasika juga melambangkan energi duniawi yang bergelora. Ini adalah kesukaan dari makhluk-makhluk yang juga bersifat Tamasika dan dapat memberikan kepuasan/kesenangan bagi mereka. Anda bisa membayangkan bagaimana jika melihat sampah plastik berserakan di mana-mana, tentu ada rasa tidak suka. Tetapi seorang pemulung yang mendaur ulang plastik akan senang sekali. Itu karena sampah ini sangat bermanfaat untuknya dan dia memiliki kemampuan untuk mengolahnya menjadi barang yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga harus tahu bahwa setiap unsur penyusun alam ini juga disebut Bhuta. Kemudian setiap unsur alam memiliki pengendali yang disebut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Abhimani-devata&lt;/span&gt;. Energi alam yang ganas dan sulit dikendalikan dapat mengakibatkan bencana bagi manusia. Contohnya api bila digunakan dalam kompor di dapur akan bermanfaat tetapi bila tak dikendalikan akan menjadi kebakaran yang memusnahkan. Energi yang ganas ini dipersonifikasikan dalam Tantra sebagai wujud murka dari Devata yang disebut Ugrarupa. Jadi pada upacara Bhuta-yajna, saat pengundangan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;avahana&lt;/span&gt;) kita tidak memanggil para Bhuta dalam pengertian makhluk-makhluk halus yang bersifat Tamasika saja. Kita memohon kehadiran Ugrarupa dari para Abhimani-devata. Dengan memperlihatkan berbagai benda kesenangan yang disusun dalam wujud berbagai Mandala atau diagram kita berupaya mendamaikan energi yang bergelora itu. Mandala-yantra ini “dihidupkan” dengan mantra, sehingga lambang akan menjadi yang dilambangkannya, persembahan yang sedikit akan divisualisasikan memenuhi seluruh alam semesta dan “menjadi” seluruh alam semesta. Semuanya dileburkan secara mental ke dalam energi alam yang bergelora itu, kemudian energi itu kembali dipersatukan dengan para Abhimani-devata yang menguasainya. Energi itu menjadi “jinak” dan tenang (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Saumya&lt;/span&gt;). Para Devata pun dapat dipuja dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Saumyarupa&lt;/span&gt;-Nya yang pengasih dan menganugerahkan kehidupan yang harmonis bagi semua makhluk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Nyepi tiba, kita memasuki keadaan yang benar-benar “diheningkan”. Inilah masa ketika kita merenungkan secara mendalam makna keberadaan diri kita dan perannya sebagai bagian dari keseluruhan alam semesta. Hening menandakan saat ketika semua telah berada di tempatnya yang sebenarnya. Ke-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;sunya&lt;/span&gt;-an bukanlah dipandang sebagai kekosongan yang tak ada apa-apanya, nol – nihil. Sunya adalah keadaan dimana segala sesuatu berada pada keadaan awalnya, sesuai aslinya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tattva&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tathata, &lt;/span&gt;kesedemikianan. Keadaan seperti ini juga mengingatkan kita pada keadaan sebelum Brahma menciptakan alam semesta. Di sekeliling Brahma hanya ada kegelapan dan kekosongan yang hening. Lalu Brahma memulai fungsi kreatifnya bukan dari membuat dari tidak ada menjadi ada, melainkan mengolah energi primordial menjadi alam semesta yang dapat dipersepsi berikut semua bentuk kehidupan yang beraneka warna. Brahma mewujudkan semua itu melalui kekuatan TAPA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti itu pula saat Nyepi, di tengah keheningan, kita melaksanakan tapa mengarahkan energi kreatif kita, yang telah disucikan dan diberkati oleh Tuhan melalui berbagai ritual dan prosesi yang mendahului Nyepi. Dengan energi ini kita akan menyusun diri kita untuk menghadapi segala sesuatu yang akan terjadi di tahun yang baru. Mengisinya dengan kesegaran karya-karya kita yang baru dan menjalani dharma kita dengan kebugaran semangat yang baru. Nyepi bukanlah sekedar rutinitas ritual yang kita jalani setiap tahun. Ini adalah kebenaran yang maknanya akan terkuak melalui kontemplasi mendalam dan tentunya sangat bermanfaat dalam segala aspek kehidupan. SELAMAT HARI RAYA NYEPI TAHUN BARU SAKA 1932.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/228623902424000901-976158301671452254?l=dharmadvar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://dharmadvar.blogspot.com/2011/03/selamat-hari-raya-nyepi.html</link><author>noreply@blogger.com (dasanrangarajan)</author><media:thumbnail url="http://farm4.static.flickr.com/3275/3096915767_bd7416a9dd_t.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-228623902424000901.post-6183012262829335242</guid><pubDate>Sun, 05 Sep 2010 07:14:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-09-05T00:14:00.355-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">thai</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">hindu</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">vaishnava</category><title>VAISHNAVA DHARMA DI THAILAND (3)</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/TH3F2MWL2mI/AAAAAAAABrQ/OUTezt6aLl4/s1600/Suvarnabhumi_Airport,_Bangkok.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 152px; height: 351px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/TH3F2MWL2mI/AAAAAAAABrQ/OUTezt6aLl4/s320/Suvarnabhumi_Airport,_Bangkok.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511779053789239906" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Perayaan-perayaan rakyat yang masih dilaksanakan di Thailand memiliki latar belakang Veda dan Vaishnava, walaupun kini sudah disesuaikan dengan kepercayaan yang dianut masyarakat. Tahun Baru Sonkran pada awal musim semi dirayakan dengan saling menyemprotkan air (kadang-kadang sudah diwarnai) merupakan kelanjutan dari perayaan Holi di India. Holi sampai saat ini masih merupakan perayaan Vaishnava yang paling meriah dengan berbagai makna yang berhubungan dengan cintakasih semesta, nilai yang paling dijunjung tinggi dalam masyarakat Vaishnava.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Festival Ayunan Triyambavay Tripavay merupakan turunan dari Jhulana Yatra untuk merayakan lila Sri Sri Radha Krishna. Di Thailand perayaan ini ditambah makna baru yaitu peringatan turunnya Phra Issuan ke bumi dan tinggal selama 10 hari. Phra Issuan diidentikkan dengan matahari (Phra Ah-thit/Surya) sehingga ayunan ini mengarah ke Timur-Barat (bandingkan dengan Saivisme Bali dengan konsep Sivaditya/Siva-raditya). Phra Issuan dan Phra Ah-thit menggantikan posisi Krishna dalam perayaan ini. Upacara Pembajakan Sawah Kerajaan, Rek Na, merupakan Bhumi-puja yang juga bercorak Vaishnava. Bhu-devi adalah sakti dari Sri Vishnu. Upacara ini menuruti ritual serupa yang terdapat dalam Satapatha Brahmana dan Srimad Ramayana, dipimpin oleh Raja sendiri didampingi oleh Phra Rajaguru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemujaan Varuna dalam perayaan memohon hujan, Baruna Satra, kemudian perayaan musim gugur, Bidhi Sarada, juga berdasarkan paham Vaishnava. Loi Krathong, perayaan untuk menghormati Trideva (Phra Phrom, Phra Narai, dan Phra Issuan) dan Devi Air Mae Khongkhaa (Ma Ganga), dengan cara melarung persembahan serta pelita ke sungai tiada lain adalah Ganga-puja. Thailand juga terkenal dengan pembuatan jimat pelindungnya. Salah satu jimat yang paling kuat menggunakan gambar Vishnu (Phra Narai) memegang chakra, gada, sankha, dan padma, yang dilekatkan bersama Buddha menjadi sebuah medali. Medali ini dibuat oleh para Bhikku yang mumpuni dengan meditasi, pengucapan doa, dan pemberkatan secara berulang-ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/TH3GC-7qDdI/AAAAAAAABrY/vD5-h-mXo9I/s1600/spd_20091122141843_b.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 389px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/TH3GC-7qDdI/AAAAAAAABrY/vD5-h-mXo9I/s400/spd_20091122141843_b.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511779273526611410" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/228623902424000901-6183012262829335242?l=dharmadvar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://dharmadvar.blogspot.com/2010/09/vaishnava-dharma-di-thailand-3.html</link><author>noreply@blogger.com (dasanrangarajan)</author><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/TH3F2MWL2mI/AAAAAAAABrQ/OUTezt6aLl4/s72-c/Suvarnabhumi_Airport,_Bangkok.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-228623902424000901.post-5013781227486743027</guid><pubDate>Thu, 02 Sep 2010 09:02:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-09-02T19:10:50.965-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">thai</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">hindu</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">vaishnava</category><title>VAISHNAVA DHARMA DI THAILAND (2)</title><description>Thailand adalah negara Buddhis, apabila ada unsur Veda dalam kehidupan keagamaannya itupun bersifat Sivaistis. Devata tertinggi bagi orang Thai adalah Phra Issuan (Ishvara) yang bersemayam di gunung suci Krai Lats (Kailasha). Namun Saivisme Thailand hanya sebatas itu. Peran Siva bersifat tidak langsung berkaitan dengan dunia dan manusia, fungsi berkaitan dengan dunia dan manusia ini justru dilaksanakan oleh Phra Narai (Vishnu). Hal ini bersifat paralel dengan keyakinan Buddhis, yaitu Buddha merupakan bentuk kesempurnaan tertinggi. Akan tetapi Buddha tidak berhubungan dengan dunia, hubungan ini dilaksanakan oleh para Bodhisattva (terutama dalam keyakinan Mahayana). Khusus bagi negara-negara Theravada (terutama Srilanka), peran ini dipegang oleh Lokeshvara atau Avalokiteshvara, personifikasi sifat welas asih Buddha (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;mahakaruna&lt;/span&gt;), yang mungkin adalah satu-satunya Bodhisattva yang diakui dan dipuja oleh pengikut Theravada. Kedudukan Phra Issuan dengan Phra Narai di Thailand juga seperti ini. Paham Saiva yang demikian tentu lebih mudah berkembang di Thailand, berdampingan dengan Buddhisme Theravada. Konsep Vaishnavisme Thai, seperti juga pengaruh Veda lainnya berasal dari Kamboja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/TH3EXgqBAVI/AAAAAAAABrA/Zt5EuXVR4MQ/s1600/img60_lrg.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 240px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/TH3EXgqBAVI/AAAAAAAABrA/Zt5EuXVR4MQ/s320/img60_lrg.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511777427153551698" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Lokeshvara-Vishnu di Ankor-vat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;Vaishnavisme dalam bentuk murninya saat ini hampir tidak dikenal di Thailand. Unsur-unsur Vaishnava sudah dileburkan ke dalam Saivisme dan kemudian Buddhisme. Pemujaan kepada Phra Narai sebagai Lokeshvara tampak pada kebaktian rakyat Thai kepada Raja. Phra Narai adalah Raja Pelindung Dunia dan umat manusia. Raja yang ideal adalah Phra Ram (Sri Rama), inkarnasi dari Phra Narai Sendiri, dan raja-raja Thai mengembangkan konsep Devaraja Hindu sebagai penerus Sri Rama dipadukan dengan konsep Dharmaraja Buddhisme (Raja sebagai pelindung ajaran Buddha) terutama sejak jaman dinasti Ayutthaya. Devata dalam kehidupan manusia adalah Phra Narai dan kekuasaan Phra Narai dijalankan oleh Raja. Rakyat Thai memohon perlindungan atas jalannya segala kehidupan kepada Phra Narai yang tertampak dalam diri Raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/TH3EX3lhLgI/AAAAAAAABrI/xyveEGmUprs/s1600/421px-Emblem_of_the_House_of_Chakri.svg.png"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 225px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/TH3EX3lhLgI/AAAAAAAABrI/xyveEGmUprs/s320/421px-Emblem_of_the_House_of_Chakri.svg.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511777433308704258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Lambang Dinasti Chakri (Chakra dan Trisula)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Srimad Ramayana versi Thai yang disebut Ramakien (Raama-akhyana) selalu mendapat tempat di hati rakyat. Lambang negara Thai sampai saat ini adalah Garuda, vahana Vishnu. Raja-raja Thai berasal dari dinasti Chakri (atau Chaktri), dianggap melindungi Kerajaan Thai dengan Chakra Vishnu dan Trisula Siva. Para Raja dinasti Chakri menggunakan gelar Rama. Raja saat ini, Yang Mulia Raja Bhumibhol Adhulyadej adalah Rama IX. Pura Vishnu yang masih berfungsi sampai sekarang adalah Wat Phra Narai Maharat di Prachak Road dengan arca Narayana dari batu. Arca ini dianggap sebagai objek suci utama bagi kota ini, selain itu Pilar Kota (Prasasti) juga ditempatkan di sana. Jadi seperti di Indonesia, Vaishnavisme dalam bentuk fisiknya yang tampak, kini hanya dapat ditemukan secara terbatas di lingkungan istana dan kenegaraan, nilai-nilainya telah sepenuhnya melebur ke dalam kehidupan keagamaan rakyat yang telah menganut Buddhisme.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/228623902424000901-5013781227486743027?l=dharmadvar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://dharmadvar.blogspot.com/2010/09/vaishnava-dharma-di-thailand-2.html</link><author>noreply@blogger.com (dasanrangarajan)</author><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/TH3EXgqBAVI/AAAAAAAABrA/Zt5EuXVR4MQ/s72-c/img60_lrg.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-228623902424000901.post-2754700451121018492</guid><pubDate>Wed, 01 Sep 2010 02:45:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-08-31T20:02:00.245-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">thai</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">hindu</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">vaishnava</category><title>VAISHNAVA DHARMA DI THAILAND (1)</title><description>Kerajaan Thai Bersatu yang dahulu dikenal sebagai Siam, didirikan pada pertengahan abad ke-14. Kemudian pada tahun 1939, namanya diubah menjadi Thailand (Muangthai). Thailand adalah satu-satunya negara di Asia Tenggara yang tidak pernah dijajah oleh kekuasaan bangsa Eropa berkat kemampuan diplomasi yang luar biasa dari Raja Maha Mongkut (Rama IV). Modernisasi Thailand tanpa meninggalkan identitas kebangsaannya dan budayanya yang luhur dipelopori oleh putra Raja Maha Mongkut, yaitu Raja Maha Chulalongkorn (Rama V).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peradaban bangsa Thai di masa lampau sudah sangat tinggi. Kebudayaan perunggu dari tahun 3600 SM yang ditemukan di Ban Chiang merupakan salah satu yang tertua di dunia. Migrasi nenek moyang bangsa Thai yang berasal dari Cina, diikuti oleh migrasi dari India sekitar 300 SM dengan membawa Veda-dharma. Sekitar tahun 100 M, Hinduisme tumbuh dengan kuat diikuti oleh perkembangan puncak Buddhisme sekitar tahun 1000 M. Dengan demikian Veda-dharma turut membentuk sendi-sendi kehidupan dan tata nilai serta budaya rakyat Thai. Aksara Thai dibentuk berdasarkan huruf Mon (Burma), Khmer (Kamboja), dan aksara Grantha dari India Selatan, seperti aksara Jawa dan Bali di Indonesia. Sebagaimana pula bahasa Jawa dan Bali, bahasa Thai juga mengandung banyak sekali kata-kata bahasa Sanskrit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thailand saat ini adalah sebuah negara Buddhis yang besar. Tetapi pengaruh Veda masih dapat dirasakan dan terutama tampak pada upacara-upacara kerajaan. Sampai saat ini masih ditemukan adanya masyarakat Brahmana Thai yang sangat berperan dalam kehidupan rakyat. Para Brahmana ini menentukan horoskop, hari-hari baik, menafsirkan pertanda-pertanda serta melaksanakan ritual pemujaan kepada para devata. Upacara-upacara seperti pencukuran rambut anak (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;cudakarma samskara&lt;/span&gt;), kremasi, dan upacara rumahtangga serta yang berkaitan dengan pertanian tetap dilaksanakan oleh para Brahmana. Upacara penobatan raja (Rajabhiseka) dan membajak sawah merupakan ritual paling utama yang dilaksanakan oleh Raja. Pendeta Agung Kerajaan dari golongan Brahmana merupakan pemimpin utama upacara ini. Dalam penobatan para Raja Thai dilakukan ritual-ritual rumit seperti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;homa, prayascitta&lt;/span&gt;, pengurapan minyak, dsb. yang berperan pertama adalah Brahmana, kemudian dilanjutkan oleh para Bhikku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/TH3B3uu25fI/AAAAAAAABq4/JU4kTPDBu1Y/s1600/plough.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 304px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/TH3B3uu25fI/AAAAAAAABq4/JU4kTPDBu1Y/s320/plough.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511774682152887794" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Brahmin Thai dalam upacara membajak sawah oleh Raja&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk terakhir perkembangan Veda-dharma di Thailand tampaknya berasal dari tradisi Smarta (Brahmana) dan Saiva-siddhanta India Selatan. Sekalipun Buddhisme Theravada telah menjadi agama resmi Kerajaan Thai yang dianut oleh mayoritas penduduknya semenjak masa dinasti Sukhothai, namun Hinduisme masih merupakan bagian tak terpisahkan dari kebudayaan Thai. Keberadaan Pendeta Agung Rumahtangga Kerajaan yang disebut Phra Rajaguru merupakan bukti kuatnya pengaruh Veda-dharma di Thailand. Sampai saat inipun rakyat Thailand, sekalipun beragama Buddha, masih memuja Trideva Brahma (Phra Phrom), Siva (Phra Issuan), dan Sri Vishnu (Phra Narai) dan para devata lain seperti Parvati (Nang Umadevi), Laksmi (Nang Laksmi), Surya (Phra Ah-thit), Indra (Phra Inn), Ganesha (Phra Khanesh), dan Vishvakarman (Phra Vissukam). Buddhisme Theravada tidaklah memberikan pengajaran ritual kepada pemeluknya, sehingga dapat dikatakan bahwa semua ritual keagamaan yang kini masih dipraktekkan oleh rakyat Thai merupakan warisan Veda. Upacara kelahiran, pernikahan, dan kematian di Thailand adalah bentuk upacara Vedika, tentu saja sekarang ditambah dengan partisipasi para bhikku yang membacakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;paritta-paritta&lt;/span&gt; atau doa-doa Buddhis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk Veda-dharma yang berkembang di Thailand seperti disebutkan sebelumnya berasal dari tradisi Saiva dan Smarta Brahmana, seperti yang terdapat di Indonesia. Tradisi Veda mapan terakhir yang berhasil mencapai Asia Tenggara dan Nusantara adalah dari kedua bentuk ini, karena seluruh hubungan dengan India terputus sejak masuknya penjajah Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Thailand terdapat golongan Brahmana yang masih memelihara sistem pewarisan ajaran dalam garis keturunannya. Mereka merupakan keturunan dari Brahmana India dengan orang Thai. Para Brahmana Thai hampir sepenuhnya hanya mengandalkan panduan dari warisan para leluhurnya terdahulu dalam mengadakan upacara-upacara, seperti para Brahmana di Bali-Indonesia. Walau demikian, putusnya hubungan dengan garis &lt;span style="font-style: italic;"&gt;parampara&lt;/span&gt; mereka di India tampaknya akan segera berakhir, dengan inisiatif dari Phra Rajaguru. Phra Rajaguru Vamadevamuni merupakan kepala masyarakat Brahmana Thai, sekaligus menduduki jabatan sebagai Pendeta Agung Kerajaan. Beliau mengirimkan beberapa brahmana muda untuk menerima pengajaran dan pelatihan di Vedapathasala yang didirikan dan dirintis oleh Sri Mahaperiyava, Sankaracharya yang memegang tahta di Kanchi Kamakoti-pitham, dengan demikian menyambungkan kembali garis &lt;span style="font-style: italic;"&gt;parampara&lt;/span&gt; mereka yang terputus selama berabad-abad.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/228623902424000901-2754700451121018492?l=dharmadvar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://dharmadvar.blogspot.com/2010/08/vaishnava-dharma-di-thailand-1.html</link><author>noreply@blogger.com (dasanrangarajan)</author><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/TH3B3uu25fI/AAAAAAAABq4/JU4kTPDBu1Y/s72-c/plough.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-228623902424000901.post-1961942538415982778</guid><pubDate>Mon, 16 Aug 2010 03:11:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-08-15T20:11:00.194-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">puja</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">ajaran</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">pratyangira</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">archana</category><title>PEMUJAAN NARASIMHA DALAM SAKTI TANTRA</title><description>Sri Maha Pratyangira Devi (atau Pratyankira) adalah seorang Devi yang mahasakti, yang dikatakan melampaui kemurkaan Sarabhesvara, suatu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ugra-avatar&lt;/span&gt; Siva. Beliau juga dikenal sebagai Nrisinghika (Narasimhi), Devi yang berwujud setengah manusia setengah singa. Disebutkan apabila Nrisinghika menggoyang-goyangkan rahang singanya, maka bintang-bintang akan berantakan. Beliau dikandung sebagai kekuatan dalam bijaksara “Ksham”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/TGN3hEl36PI/AAAAAAAABpg/gmSV3S1F_Gc/s1600/3ee+copy.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/TGN3hEl36PI/AAAAAAAABpg/gmSV3S1F_Gc/s400/3ee+copy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5504374579628861682" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sri Pratyankira Devi dihubungkan dengan Sri Cakra. Beliau merupakan kekuatan tersakti dalam menghancurkan pengaruh yang ditimbulkan oleh ilmu sihir. Beliau merupakan pelindung para penyembah-Nya yang menekuni sadhana Sri Cakra dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sakti-tantra&lt;/span&gt;, agar mereka selalu berada di jalan yang benar. Pratyankira Devi melaksanakan peran yang sama dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sakti-tantra&lt;/span&gt; seperti Sri Narasimha bagi para Vaishnava.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk perwujudan Beliau sangat menyeramkan, berkulit gelap, berwajah seekor singa yang murka, dengan mata merah penuh amarah dan mengendarai seekor singa juga. Terkadang Beliau juga tampak telanjang, dengan kalungan kepala-kepala manusia, rambutnya berdiri. Tangan padma-Nya memegang trisula, seekor naga yang dibentuk jerat, damaru, dan mangkuk tengkorak. Beliau dihubungkan juga dengan Bhairava melalui wujud-Nya yang dikenal sebagai Atharvana Bhadrakali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan Bhagavata, kisah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;lila &lt;/span&gt;Narasimha lebih mengerikan dalam Tantra. Setelah membunuh Hiranyakashipu dikatakan bahwa walaupun sudah banyak rishi dan deva yang berdoa, Tuhan Narasimhadeva belum juga dapat ditenangkan dari kemarahan-Nya. Kemurkaan Narasimhadeva mengambil bentuk banyak Narasimha yang kemudian meminum setiap tetes darah Hiranyakasipu. Akhirnya para deva dan rishi juga meminta Siva untuk mengambil wujud murka untuk mengejutkan Narasimha. Siva kemudian mengambil rupa Sarabhesvara yang sangat ajaib berwujud makhluk mengerikan seperti burung yang dapat memakan gajah dan singa. Kedua sayapnya adalah Devi Uma dan Mahalaksmi. Sebagian kemurkaan Narasimhadeva dapat ditaklukkan oleh Sarabhesvara, akan tetapi tidak berlangsung lama karena ternyata Sri Narasimhadeva menjadi lebih murka lagi. Wujud yang sangat mengerikan bernama Astamukha Gandaberundha Narasimha tiba-tiba muncul. Rupa ini berwajah delapan yaitu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Garudamukha &lt;/span&gt;(wajah garuda, menganugerahkan kesehatan dan melawan racun), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Varahamukha&lt;/span&gt; (wajah babi hutan, memusnahkan kekuatan ilmu hitam), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Vanaramukha-Hanuman &lt;/span&gt;(wajah kera, melindungi dari kekuatan jahat dan mengembalikan kehilangan), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Balukamukha&lt;/span&gt; (wajah beruang, melindungi dari kegelapan dan menganugerahkan kemakmuran), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hayagriva &lt;/span&gt;(wajah kuda, memberikan kebijaksanaan dan energi kehidupan), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Vyagramukha &lt;/span&gt;(wajah harimau, melindungi dari segala jenis penyakit, roh jahat, dan setan), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gandaberundha&lt;/span&gt; (dua wajah burung seperti feniks, memberikan kedamaian pikiran) dan wajah Sri Narasimhadeva Sendiri (menganugerahkan moksa dan bhakti). Di depan wujud yang sangat murka ini rupa Sarabhesvara musnah dan Devi Uma pergi ketakutan. Hanya Mahalaksmi yang secara rahasia mendekati Astamukha-murti, kemudian Beliau menyerap kemarahan Sri Narasimhadeva sehingga Beliau mengambil wujud mengerikan sebagai Sri Maha Pratyankira Devi. Wujud damai Beliau kemudian duduk di pangkuan wujud damai Narasimha di atas gulungan tubuh Anantadeva untuk bisa dipuja oleh Prahlada dan para deva lain. Tuhan Sri Narasimhadeva dalam wujud ini dipuja di Yadagirigutta-ksetra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/TGN3hjiKk1I/AAAAAAAABpo/Xi2sTXu2q6I/s1600/sarabha2.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 288px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/TGN3hjiKk1I/AAAAAAAABpo/Xi2sTXu2q6I/s400/sarabha2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5504374587934806866" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sarabheshvara&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Gandaberundha-sadhana adalah salah satu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mantra-sadhana&lt;/span&gt; yang paling kuat dalam Vaishnava-tantra yang sangat rahasia. Saat ini hanya beberapa orang saja yang mewarisi parampara dari sadhana ini, mereka dapat membuat Gandaberundha-kavacha yang mampu mengalahkan semua penyakit jasmani maupun penyakit karena sihir. Saat ini ada yang menyediakan rekaman mantra-mantra khusus ini, dilantunkan oleh Sudarsana Narasimha Murty, seorang Astamukha-sadhaka dari garis Sri Vaishnava. Apabila didengarkan pada malam hari dikatakan dapat menghilangkan mimpi buruk dan menjauhkan hantu-hantu. Tentu saja untuk seluruh mantra-siddhi hanya bisa dicapai dengan melaksanakan sadhana khususnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sri Maha Pratyankira Devi kemudian dipuja oleh mereka yang mendalami sadhana Nava-Matrika (Sembilan Ibu) dalam pemujaan rahasia Sri Vidya. Beliau dipuja untuk mengusir roh-roh jahat ganas dan kekuatan ilmu hitam, tetapi kadang-kadang kekuatan mantra-Nya juga disalah mengerti dan disalah gunakan. Beberapa orang bahkan menggunakan kekuatan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;siddhi &lt;/span&gt;Beliau untuk Marana-puja (membunuh musuh). Orang-orang seperti itu juga menyalahgunakan pemujaan Narasimha secara Vamachara untuk melakukan kejahatan. Akan tetapi sesungguhnya Kedua Pasangan Rohani ini dapat memberikan pembebasan dari samsara dan anugerah yang paling mulia yaitu pengabdian suci kepada Beliau. Lupakan segala tujuan-tujuan duniawi apalagi tujuan jahat ketika memuja-Nya, karena kemusnahan yang mengerikan justru menjadi hasilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/TGN3iq91VeI/AAAAAAAABp4/CAAHkiu5CuE/s1600/Simhamukha.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 297px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/TGN3iq91VeI/AAAAAAAABp4/CAAHkiu5CuE/s400/Simhamukha.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5504374607109772770" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sengedongma - Simhamukhadakini di Tibet&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Dalam Tantra Tibet kita juga bisa menemukan pemujaan Sri Nrisinghikadevi sebagai Singhamukha-dakini (Senge Dongma). Beliau menghalangi orang-orang yang tidak pantas memasuki rahasia Tantra. Beliau juga salah satu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;yidam&lt;/span&gt; (istadeva) yang digunakan dalam sadhana Tantra Buddhisme Tibet. Padmasambhava, yogi yang mengalahkan semua deva dan roh jahat di Tibet dan yang berhasil membawa agama Buddha masuk dan berkembang di Tibet untuk pertama kalinya, dikatakan mendapatkan kekuatan dari sadhana Singhamukha-dakini. Dia bahkan mampu mengubah wujudnya seperti Sri Narasimhadeva dan menaklukkan semua deva, naga, dan bhuta yang menghalangi penyebaran agama Buddha di Tibet, Nepal, dan Bhutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/TGN3hzCQWRI/AAAAAAAABpw/QM3Lgk_H5q8/s1600/simhamukhapad.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 315px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/TGN3hzCQWRI/AAAAAAAABpw/QM3Lgk_H5q8/s400/simhamukhapad.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5504374592095934738" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Guru Padmasambhava sebagai Simhamukha. Wujud damainya tampak di atas sebagai seorang bhiksu bertopi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/228623902424000901-1961942538415982778?l=dharmadvar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://dharmadvar.blogspot.com/2010/08/pemujaan-narasimha-dalam-sakti-tantra.html</link><author>noreply@blogger.com (dasanrangarajan)</author><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/TGN3hEl36PI/AAAAAAAABpg/gmSV3S1F_Gc/s72-c/3ee+copy.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-228623902424000901.post-1951337391953573836</guid><pubDate>Sat, 14 Aug 2010 02:34:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-08-13T19:34:00.247-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">OM</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">ajaran</category><title>MAKNA OM</title><description>SEBAGAIMANA DIJELASKAN OLEH SRI PARASARA BHATTA DALAM ASTASLOKI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/TGNkOOuJ7lI/AAAAAAAABpQ/auA4S-Xh_oA/s1600/COV-Crystal-Om-Violet-2b.gif"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 306px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/TGNkOOuJ7lI/AAAAAAAABpQ/auA4S-Xh_oA/s400/COV-Crystal-Om-Violet-2b.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5504353365209509458" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;akarartho vishnuh jagadudaya raksha pralaya krt &lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;makarartho jivah tadupakaranam vaishnavamidam &lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ukaronanyarham niyamayati sambandhamanayoh &lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;trayi sarah tryatma pranava imamartham samadisat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Arti&lt;br /&gt;Kata OM (AUM) yang terdiri dari tiga aksara A, U, dan Ma, merupakan intisari dari Vedatraya (Tiga Veda – Rig, Yajur, Sama). Ketiga aksara ini menunjukkan konsep berikut ini. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Aksara A&lt;/span&gt; menyatakan Sri Vishnu sebagai pencipta, pemelihara, dan pelebur seluruh alam semesta. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Aksara Ma&lt;/span&gt; menyatakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;jiva&lt;/span&gt; sebagai hak milik Vishnu dan sebagai instrumen di tangan-Nya. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Aksara U&lt;/span&gt; menyatakan hubungan antara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;jiva&lt;/span&gt; dengan Tuhan, yaitu bahwa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;jiva&lt;/span&gt; merupakan milik Tuhan.&lt;br /&gt;(Sri Parasara Bhatta Astasloki 1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan&lt;br /&gt;Dalam sloka ini Sri Bhatta memberitahukan kepada kita bahwa OM menyatakan,&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;akarartho vishnuh jagadudaya raksha pralaya krt-&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Aksara A menunjukkan Tuhan Yang Maha Esa Sri Vishnu, yang berada di mana-mana meresapi segalanya. Sang pencipta, pemelihara, dan pelebur tertinggi seluruh alam semesta yang tunggal tiada duanya, sebagaimana Beliau Sendiri menyatakan dalam Bhagavad-gita (10.33), "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;aksharanam akarosmi&lt;/span&gt;", yang berarti bahwa di antara segala aksara, Beliau adalah aksara A. Aksara A merupakan perlambang dari Tuhan, karena aksara ini merupakan asal-muasal segala aksara, sebagaimana dinyatakan dalam Veda, "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;akaro vai sarva vak&lt;/span&gt;, aksara A adalah segala ucapan." Aksara A ini memberikan perlindungan kepada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;jiva&lt;/span&gt; yaitu berupa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ishta-prapti&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;anishta-nivritti&lt;/span&gt;. Ini berarti membuat segala hal yang diinginkan oleh &lt;span style="font-style: italic;"&gt;jiva&lt;/span&gt; dapat dijadikan nyata yaitu dia dapat menginsafi Tuhan dan menyingkirkan segala sesuatu yang tidak dibutuhkannya yaitu hal-hal yang menghalanginya mencapai Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;makarartho jivah tadupakaranam vaishnavamidam -&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Aksara Ma mewakili para &lt;span style="font-style: italic;"&gt;jiva&lt;/span&gt;, sebagai milik Tuhan Sri Vishnu dan berperan sebagai alat di tangan-Nya dalam mempertunjukkan kegiatan sukacita-Nya (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;lila&lt;/span&gt;). Dengan menggunakan kata "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;tat&lt;/span&gt;" dan "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;idam&lt;/span&gt;" yang dalam bahasa Sanskrit bersifat netral, Sri Bhatta mengindikasikan bahwa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;jiva&lt;/span&gt; adalah seperti wayang yang tak berdaya di tangan Tuhan dan sepenuhnya bergantung pada Tuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ukaronanyarham niyamayati sambandhamanayoh-&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Aksara U menyatakan hubungan antara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;jivatma &lt;/span&gt;dengan Tuhan, dimana&lt;span style="font-style: italic;"&gt; jiva&lt;/span&gt; sepenuhnya adalah milik dari Tuhan Sri Vishnu semata. Tidak ada yang dapat memiliki kuasa atas para &lt;span style="font-style: italic;"&gt;jiva&lt;/span&gt; selain Tuhan Sri Vishnu, karena mereka sepenuhnya tergantung pada Beliau dan merupakan sarana dalam permainan sukacita rohani Sri Vishnu. Sehingga dengan demikian&lt;span style="font-style: italic;"&gt; jiva&lt;/span&gt;  tidak memiliki keberadaannya yang terpisah dari Vishnu. Hanya ada semata-mata demi Sri Vishnu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;trayi sarah tryatma pranava imamartham samadisat-&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam sastra dinyatakan bahwa OM merupakan satu kesatuan aksara (bentuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;samhitakaram&lt;/span&gt;), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;omityekaksharam&lt;/span&gt;. Tetapi dalam bentuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;asamhitakaram&lt;/span&gt;-nya OM (AUM) terdiri dari tiga aksara yaitu A, U, dan Ma, sebagai perwujudan intisari Tiga Veda yang diwujudkan dalam konsep-konsep tersebut. Suara suci OM ini memberikan perlindungan kepada para jiva melalui ajaran suci yang digemakan dalam ketiga aksara penyusunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/TGNkOoiDggI/AAAAAAAABpY/9RIlvjJOfiE/s1600/haridhama.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 274px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/TGNkOoiDggI/AAAAAAAABpY/9RIlvjJOfiE/s400/haridhama.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5504353372138078722" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sri Bhatta berkata,&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;dehasaktatmabuddhih yadi bhavati padam sadhu vidyat dvitiyam-&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apabila seseorang berpikir bahwa tubuh jasmani dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;atma&lt;/span&gt;nya adalah satu, sehingga apapun yang dirasakannya baik bagi tubuh adalah baik pula bagi sang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;atma&lt;/span&gt;, maka aksara Ma dari AUMkara akan menyelamatkannya dengan mengatakan bahwa semua ini tidaklah benar. Atma bukanlah badan, bukan pula menjadi pemilik dari dirinya sendiri, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;jivatma&lt;/span&gt; adalah milik Sri Vishnu. Maka dengan demikian hanyalah segala sesuatu yang diperuntukkan bagi Vishnulah yang akan membawa kebaikan bagi sang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;atma&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;svatantryandho yadi syat prathamam-&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apabila seseorang dibutakan oleh pemikiran bahwa dia sepenuhnya tidak bergantung kepada Tuhan Sri Vishnu, maka aksara A dalam AUMkara akan mengingatkannya dan membuatnya belajar bahwa sesungguhnya dia tidaklah bebas merdeka (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;svatantra&lt;/span&gt;), karena kenyataannya adalah bahwa Tuhan Yang Maha Esa Sri Vishnulah sang pencipta, pengendali, pemelihara dan pelebur tertinggi seluruh manifestasi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;itara seshatvadhischet dvitiyam-&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apabila seseorang berpikir bahwa dirinya tunduk pada insan lain, selain dari Sriman Narayana, maka aksara U dalam AUMkara akan mengatakan kepadanya bahwa sesungguhnya dirinya hanyalah diperuntukkan bagi Sri Vishnu semata. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jiva&lt;/span&gt; hanyalah milik dan tunduk kepada Sri Vishnu saja, Tuhan Yang Maha Esa Sriman Narayana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(catatan diberikan oleh T.Thiruvengadavan, V.S.M.Vishnu and Smt. Chandra Sampathkumar berdasarkan pelajaran dari Sriman Embar Rangacharya Swami)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/228623902424000901-1951337391953573836?l=dharmadvar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://dharmadvar.blogspot.com/2010/08/makna-om.html</link><author>noreply@blogger.com (dasanrangarajan)</author><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/TGNkOOuJ7lI/AAAAAAAABpQ/auA4S-Xh_oA/s72-c/COV-Crystal-Om-Violet-2b.gif" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-228623902424000901.post-7011520610838976200</guid><pubDate>Thu, 12 Aug 2010 01:45:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-08-11T19:34:13.239-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">hindu</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">ajaran</category><title>DHARMA INI HANYA ADA DI SINI</title><description>Suatu hari saya sedang berdiskusi dengan seorang teman tentang pelajaran dari salah satu mentor rohani saya. Beliau mengatakan bahwa Hindu meyakini semua agama memiliki suatu sumber yang bersifat rohani, kebenaran adalah tetap kebenaran, di manapun atau dari manapun dia didapatkan. Tuhan Yang Maha Esa sejak awal dunia telah mengungkapkan kebenaran itu kepada semua bangsa dan negara di atas bumi ini, dalam masa dan tempat yang berbeda-beda, dengan cara atau bentuk yang terbaik dan paling sesuai bagi umat manusia yang dituju. Penerimaan dan juga pemahaman akan Kebenaran yang murni itu telah melewati saringan pikiran individual yang sudah dikondisikan oleh berbagai pengalaman psikis dan psiko-sosial. Itu kemudian diekspresikan melalui struktur sosio-politik unik, yang ada – eksis, pada masyarakat dan kelompok sosial tertentu. Perbedaan-perbedaan pengertian, ekspresi, dan penafsiran yang bersifat relatif berkaitan dengan Kebenaran itu, menghasilkan munculnya berbagai perguruan filsafat, doktrin teologis, mitologi, dan berjenis-jenis ritual atau upacara. Dalam batas tertentu semuanya ini sama-sama valid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pandangan Hindu, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;semua agama adalah valid&lt;/span&gt; sebagai berbagai ekspresi dari Satu Kebenaran Rohani yang tunggal dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;semua juga sama-sama bisa keliru&lt;/span&gt; akibat pengaruh “faktor manusia”. Jelas sangat tidak mungkin akan ada SATU agama untuk semua orang, dan berpikir begitu menunjukkan ketidakdewasaan dan ketidakmatangan, sekalipun memang ada satu hukum universal yang membentuk dasar dari semua agama-agama beradab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hindu meyakini bahwa Hukum-hukum Semesta ini, apabila dipatuhi, pastilah akan mengarahkan seseorang kembali kepada Tuhan, tanpa peduli apapun kepercayaan, filsafat, atau keyakinan teologis yang dianutnya. Dalam Hindu kaidah-kaidah kehidupan ini dikenal sebagai 14 Loka Dharma dan dapat diterapkan oleh dan untuk seluruh umat manusia. Tujuh yang berkaitan dengan pengembangan diri pribadi yaitu kejujuran, pengendalian diri, mencari pengetahuan, mengembangkan kebijaksanaan, kesederhanaan, kesabaran, dan senantiasa merasa puas. Tujuh yang lainnya berkaitan dengan hubungan secara sosial yaitu keadilan, tidak mencuri dan menipu, hubungan seksual yang terkendali, bebas dari amarah, belas kasih kepada semua makhluk, mengampuni, dan bebas dari kecurangan. (Bhagavad Gita 13:7 —11, Manu 7:92. Mahabharata Vana Parva 297:35 &amp;amp; Santi Parva).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian teman itu bertanya, ”Apabila memang Hindu meyakini bahwa semua agama adalah benar dan semua agama mengajarkan kebaikan, lalu apa salahnya tidak menganut Hindu dan beralih ke agama lain. Saya kira semua kebaikan itu juga diajarkan di tempat lain. Mengapa selama ini saya harus tetap Hindu, bukankah Hindu sendiri mengatakan bahwa kebenaran itu ada di semua tempat. Bila kita mengajarkan hal-hal semacam ini, maka untuk tidak menjadi Hindu lagi, kita tidak perlu banyak pertimbangan.” Memang betul untuk tidak menjadi Hindu lagi dan konversi menjadi agama lain tidak perlu banyak pertimbangan. Saya setuju dengan kesimpulan dari teman ini. Betul tidak perlu banyak, menurut saya cuma perlu satu pertimbangan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/TGNckpzuPsI/AAAAAAAABpI/yxOnwgAZMq4/s1600/6a00d8345191c169e20120a56e3311970c-500wi.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 304px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/TGNckpzuPsI/AAAAAAAABpI/yxOnwgAZMq4/s400/6a00d8345191c169e20120a56e3311970c-500wi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5504344954344718018" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pemikiran Hindu &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;setiap orang boleh memilih, mempelajari, meyakini, dan melaksanakan&lt;/span&gt; agama apapun yang menurutnya paling sesuai dan baik untuk dirinya secara pribadi. Setiap orang berhak mengkaji semua jalan rohani yang menurutnya dapat membawa kepada Kebenaran, membawa kepada Tuhan. Tetapi di tempat lain mungkin pemikiran seperti ini tidak ada. Mereka akan mengajarkan bahwa mungkin ada kebaikan dalam semua agama dan semua kebenaran merupakan wahyu dari Tuhan. Mereka tidak menolak apa yang baik dan suci dalam keyakinan lain tetapi tetap saja mereka mengklaim bahwa hanya melalui mereka dan pribadi tertentu saja, yang mereka yakini, keselamatan itu datang. Ada juga yang mengajarkan bahwa hanyalah keyakinan merekalah satu-satunya yang benar dan semua bentuk keyakinan yang lain bukan berasal dari Tuhan, bahkan berasal dari Iblis. Kebaikan apapun yang ada di sistem religi lain merupakan sebuah tiruan yang berasal dari tipuan setan demi menyesatkan orang-orang dan membuat mereka berpaling dari keimanan yang benar, yaitu agama mereka! Ada pula yang meyakini bahwa apapun kebaikan yang dilakukan oleh orang beragama lain tidak akan diterima Tuhan, tetapi hanyalah menambah dosa-dosa mereka. Baik atau buruk hanya ditentukan oleh satu hal yaitu penerimaan akan kebenaran total sistem religi mereka. Semua doktrin dan dogma ini tidak seorangpun bisa menjamin semuanya adalah kebenaran dan sayangnya tidak bisa dipertanyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila anda meninggalkan agama dan keyakinan Hindu, sebagai warisan leluhur yang telah eksis selama berabad-abad dalam keluarga, biasanya anda pasti akan memasuki salah satu agama dengan misi penyebaran atau dakwah yang aktif. Di sana kita mungkin akan mempelajari dan meyakini bagian dari sesuatu yang juga dianggap dharma oleh Hindu. Tetapi di sana kita juga tidak mendapatkan dharma yang sudah diuraikan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi memang benar Hindu meyakini bahwa kebenaran itu ada di mana-mana dan setiap jalan yang menuju kepada-Nya adalah valid dengan keistimewaannya sendiri. Berjalan menuju Kebenaran Tertinggi dengan keinsafan akan dharma yang seperti ini akan menciptakan kondisi rohani yang bebas konflik. Tidak adanya konflik itu merupakan salah satu jalan menuju kedamaian. Sedangkan kedamaian sendiri merupakan ciri dari dharma sejati yang mampu mengantarkan kita kepada Tuhan Yang Maha Esa, Tujuan Akhir. Orang dapat menemukan kebenaran di setiap tempat. Dengannya kita dapat berjalan menuju kesempurnaan. Tetapi bila dalam menuju kesempurnaan kita sibuk melihat kesalahan orang lain, mencela dan mengejeknya, maka seluruh jalan itu akan berbalik menuju kejatuhan lebih dalam. Sayangnya sedikit yang memahami atau bahkan sekedar tahu saja mengenai hal ini. Sebagian besar tidak memperoleh informasi apapun tentang hal yang begitu penting dalam hidup rohani. Inilah salah satu sumbangan Hindu yang terbesar bagi para penganutnya dan ini pula yang dapat menjadi jaminan atau bukti bahwa dharma ini sungguh menuju kepada Sang Kebenaran. Sekali lagi, sayangnya dharma seperti ini tidak diajarkan di tempat lain. Hanya Hindu yang berani berkata dan mengajarkan ini dengan tegas, karena itu Hindu berbeda dari yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan Bhagavad-gita 4.11,  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ye yatha mam prapadyante tams tathaiva bhajamy aham mama vartmanuvartante manusyah partha sarvasah&lt;/span&gt;, seringkali disalah artikan sebagai pendapat bahwa Hindu mengatakan semua jalan, vartma, dengan demikian semua agama, adalah sama dan hanya menuju pada satu Tuhan. Entah siapa yang pertama kali menerjemahkan seperti itu dan apa motifnya, kita tidak tahu. Namun kita perlu tahu makna yang sebenarnya. Kata-kata kunci dalam sloka ini, sehubungan dengan topik adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;yatha - tatha&lt;/span&gt; - &lt;span style="font-style: italic;"&gt;prapadya&lt;/span&gt; - dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mama vartma&lt;/span&gt;. Kata &lt;span style="font-style: italic;"&gt;yatha&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tatha&lt;/span&gt; menunjukkan hubungan sebab-akibat. "Sejauh mana maka sedemikianlah". Anda tidak bisa mengatakan bahwa punya seribu rupiah bisa membeli apel sama banyaknya dengan sepuluh ribu. Ada perbedaan yang diukur, suatu nilai... Maka kata &lt;span style="font-style: italic;"&gt;prapadya&lt;/span&gt; menunjukkan variabel yang diukur ini. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Prapadya&lt;/span&gt; adalah dedikasi diri. Seberapa besar kita mempersembahkan diri atau seberapa mungkin jalan itu memfasilitasi dedikasi diri kita terhadap Tuhan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Prapadya&lt;/span&gt; juga bukan menyatakan sekedar sikap teoritis saja. "Oh, saya mengikuti jalan yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Jadi ini yang terbaik." Sama sekali bukan seperti itu. Tapi lebih pada sejauh mana egoisme dan keakuan kita diubah menjadi pengabdian yang tulus murni. Motifnya bukan saya ingin mendapatkan yang terbaik, tetapi bagaimana saya mempersembahkan yang terbaik. Inilah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;prapadya&lt;/span&gt;. Ada perbedaan antar kadar kepenuhan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;prapadya&lt;/span&gt; masing-masing jalan berikut mereka yang menempuhnya, dan Tuhan dalam Gita menyatakan bahwa Beliau memberikan karunia-Nya, memberkati mereka sesuai dengan kadar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;prapadya&lt;/span&gt; ini. Walau demikian di sisi lain juga dikatakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mama-vartma&lt;/span&gt;, Jalan-Ku. Tuhan dalam Gita menyatakan bahwa berbagai jalan ini ada oleh kehendak-Nya. Tidak ada yang tidak berasal dari Dia. Jadi Gita tidak mengutuk, menghina, maupun merendahkan jalan-jalan yang berbeda, mengatakannya berasal dari setan, iblis, dan sebagainya. "Mereka semua, seluruh umat manusia, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;manusya-sarvasah&lt;/span&gt;, menempuh Jalan-Ku." Jalan-jalan itu berbeda. Modalnya, yaitu kadar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;prapadya&lt;/span&gt;, tidaklah sama satu dengan yang lainnya, maka dari itu wajar mereka mencapai berbagai tujuan yang berbeda. Tetapi segala sesuatunya memperoleh hasilnya adalah berkat perkenanan dan berkat dari Tuhan. Tidak ada yang layak dinyatakan sebagai jalan setan. Bahkan Tuhan dalam Gita menghargai pilihan setiap individu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai akhir dari topik pembicaraan ini saya mengajukan beberapa pertanyaan yang segera dijawab oleh teman itu.&lt;br /&gt;Benarkah bila Hindu mengajarkan bahwa kita bisa menemukan kebenaran di setiap jalan dan di semua tempat? Benar.&lt;br /&gt;Lalu apa masalahnya meninggalkan Hindu dan mencari kebenaran di tempat lain? Ada masalah, karena dharma seperti ini hanya diajarkan secara jujur dalam Hindu.&lt;br /&gt;Memangnya kenapa kalau dalam Hindu saja ada dharma semacam ini? Secara alamiah secara pribadi kita akan menjadi damai, sedangkan bagi orang lain dan alam sekitar secara alamiah pula kita tidak membawa bahaya. Dalam bahasa teman itu, “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Naturally, becoming a Hindu wasn’t make you a harmful person&lt;/span&gt;”. Ini modal utama untuk menuju kesempurnaan rohani. Jadi apakah butuh banyak pertimbangan untuk meninggalkan Vedadharma (atau juga menerimanya)? Tidak, cuma satu. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dharma ini hanya ada di sini&lt;/span&gt;. Inilah yang harus kita pertimbangkan dan pikirkan secara mendalam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/228623902424000901-7011520610838976200?l=dharmadvar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://dharmadvar.blogspot.com/2010/08/dharma-ini-hanya-ada-di-sini.html</link><author>noreply@blogger.com (dasanrangarajan)</author><media:thumbnail url="http://2.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/TGNckpzuPsI/AAAAAAAABpI/yxOnwgAZMq4/s72-c/6a00d8345191c169e20120a56e3311970c-500wi.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-228623902424000901.post-3943582081866998249</guid><pubDate>Mon, 02 Aug 2010 11:49:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-08-02T05:55:31.090-07:00</atom:updated><title>PEBAYUHAN SAPU LEGER</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/TFa06NrytTI/AAAAAAAABoQ/aSe7et0nRH0/s1600/ht3.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 161px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/TFa06NrytTI/AAAAAAAABoQ/aSe7et0nRH0/s400/ht3.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5500782907078391090" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Akan diselenggarakan PEBAYUHAN OTON SAPU LEGER-PEMARISUDDHA PAPA PATAKA, NIRROGHA, NIRUPADRAWA dan PELUKATAN AGUNG MAHOTTAMA PENGLEBUR DASAMALA (Ruwatan Agung Mandi Weda).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal: 29 Agustus 2010Pukul: 16.00 wita,&lt;br /&gt;Tempat: Pura WINDU SEGARA, Padanggalak, Kesiman, Denpasar-Bali.&lt;br /&gt;Peserta terbuka bagi semua kalangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pebayuhan oton Sapu Leger terutama diperuntukkan bagi semua yang lahir di uku Wayang, yang hari Sabtunya ada Tumpek (jadi yg lahir dari Redite/Minggu Wage Wayang sampai Saniscara/Sabtu Kliwon Wayang). Juga untuk kasus-kasus kelahiran yang membutuhkan pengruwatan seperti "sanan empeg (kelahiran di antara saudara kandung yang mati), tlaga apit pancoran (kelahiran perempuan di antara dua saudara laki-laki ~ laki – perempuan – laki), pancoran apit tlaga (perempuan – laki – perempuan), bayuh melik (kelahiran yang horoskopnya menunjukkan adanya kecelakaan/musibah fatal)". Sedangkan Penglukatan Agung Mandi Weda boleh diikuti oleh siapa saja yang sekiranya membutuhkan pengruwatan dan penyucian diri.&lt;br /&gt;Kesempatan melihat dan mengikuti Upacara Pebayuhan dan Penglukatan (Ruwatan) yang cukup langka (juga upacaranya cukup besar dengan caru mancakelud-tingkat madya, mepesaksi sanggar tawang rong tiga munggah catur, bebangkit, pulagembal. Dipuput oleh 4 orang Ida Pedanda bersama Mangku Dalang dan Para Pinandita).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang mengikuti Pebayuhan Sapu Leger dirangkai dengan Pelukatan Mandi Weda menghaturkan punia sebesar Rp. 600 ribu (untuk biaya Upakara/banten selengkapnya). Untuk Pelukatan Mandi Weda punia sebesar Rp. 50 ribu. Semua siap di tempat oleh penyelenggara sehingga tidak ada kewajiban ngayah, dsb. Yang perlu dibawa oleh peserta adalah Tirtha dari Bhatara Hyang Guru-nya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendaftaran dan info selanjutnya silakan hubungi GRIYA BANG SWARGA MANUABA&lt;br /&gt;0361 423 582&lt;br /&gt;0361 74 74 7900361 79 88 950&lt;br /&gt;0361 27 96 734&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUASANA UPACARA TAHUN 2009 LALU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/TFa06lAVgrI/AAAAAAAABoY/Qh-F9TI47yM/s1600/ht4.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 234px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/TFa06lAVgrI/AAAAAAAABoY/Qh-F9TI47yM/s400/ht4.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5500782913338573490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/TFa3Zr9XtNI/AAAAAAAABog/efFUtHkQlaM/s1600/DSC_1967.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 266px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/TFa3Zr9XtNI/AAAAAAAABog/efFUtHkQlaM/s400/DSC_1967.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5500785646804382930" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/TFa-nLAVwUI/AAAAAAAABpA/Yb59gkgt-8U/s1600/DSC_2072.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 266px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/TFa-nLAVwUI/AAAAAAAABpA/Yb59gkgt-8U/s400/DSC_2072.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5500793575058030914" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ida Pedanda Gede Nabe Bang Burwan Manuaba tengah melukat peserta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/TFa3aVJOGcI/AAAAAAAABow/1qH6mWQa4Ls/s1600/DSC_2023.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 266px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/TFa3aVJOGcI/AAAAAAAABow/1qH6mWQa4Ls/s400/DSC_2023.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5500785657859938754" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/TFa3Z9V_SzI/AAAAAAAABoo/fuwVasuh6mU/s1600/DSC_1990.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 266px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/TFa3Z9V_SzI/AAAAAAAABoo/fuwVasuh6mU/s400/DSC_1990.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5500785651471043378" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dalang mempersiapkan tirtha dan menggelar Wayang Sapu Leger&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/TFa-mkB0dKI/AAAAAAAABo4/ONF02Nug-5U/s1600/DSC_2030.JPG"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 266px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/TFa-mkB0dKI/AAAAAAAABo4/ONF02Nug-5U/s400/DSC_2030.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5500793564595254434" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Para peserta pebayuhan dan pelukatan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/228623902424000901-3943582081866998249?l=dharmadvar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://dharmadvar.blogspot.com/2010/08/pebayuhan-sapu-leger.html</link><author>noreply@blogger.com (dasanrangarajan)</author><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/TFa06NrytTI/AAAAAAAABoQ/aSe7et0nRH0/s72-c/ht3.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-228623902424000901.post-2875323064718571182</guid><pubDate>Tue, 15 Jun 2010 01:45:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-06-14T18:51:11.474-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">download</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">e-book</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">jagannath</category><title>BUKU BARU YANG BISA DIDOWNLOAD GRATIS!</title><description>Jagannath Puri dengan Nilacala Mandir (Kuil Bukit Biru) sebagai pusatnya, memiliki keistimewaan tersendiri dibanding tempat-tempat suci lainnya. Ia adalah kota suci yang telah menarik jumlah peziarah terbesar setiap tahunnya. Daya tarik misteriusnya tiada lain berasal dari Tuhan Jagannath, Tuhan Alam Semesta yang dipuja di sana selama ribuan tahun. Pemujaan kepada Jagannath setua sejarah umat manusia, yang ditunjukkan oleh berbagai simbol peradaban rohani yang bertebaran di sekitar Jagannath. Satu-satunya kuil di India yang dirasakan sebagai milik semua sekte, semua aliran, semua perguruan rohani, dan semua paham keagamaan. BUKU INI BERKISAH TENTANG SRI JAGANNATH DAN SEGALA KEISTIMEWAANNYA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CLICK PADA GAMBAR UNTUK LINK 4SHARED-NYA&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.4shared.com/file/Xdabv2YG/Mama_Nija_Istadeva.html"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/TBbcE5S8-LI/AAAAAAAABoI/963icIpNoqo/s400/mamanija.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5482811573028059314" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/228623902424000901-2875323064718571182?l=dharmadvar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://dharmadvar.blogspot.com/2010/06/buku-baru-yang-bisa-didownload-gratis.html</link><author>noreply@blogger.com (dasanrangarajan)</author><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/TBbcE5S8-LI/AAAAAAAABoI/963icIpNoqo/s72-c/mamanija.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-228623902424000901.post-7353720613097806828</guid><pubDate>Thu, 20 May 2010 12:04:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-05-20T05:07:37.181-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">bhisma stuti</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">doa</category><title>BHISMA STUTI</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S_UlnLYEtlI/AAAAAAAABng/R9aqyFnMtAo/s1600/bhisma-2.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 303px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S_UlnLYEtlI/AAAAAAAABng/R9aqyFnMtAo/s400/bhisma-2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5473322277137593938" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Semoga Rupa Yang Terindah dari segala keindahan di ketiga dunia ini, dengan warna kebiruan yang gilang-gemilang bagaikan pohon Tamala, bersinar kemilauan oleh busana kuning yang bercahaya bagaikan mentari terbit di pagi hari, dan yang wajah-Nya dipercantik oleh rambut-rambut ikal yang mempesona, senantiasa tetap bersemayam dalam pikiranku untuk selama-lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Sang Sais mengendarai kereta-Nya di medan perang dengan sangat cepat, debu-debu yang berterbangan oleh deru lajunya mendarat di wajah dan rambut-Nya. ketika Sang Junjungan memacu gerak kereta dengan sangat cepat, rambut-rambut ikal-Nya tergerai jatuh di pipi dan Dia tak sempat merapikan atau menggelungnya. Sedemikian besarnya kesungguhan Tuhan membantu memusnahkan musuh-musuh Pandava. Bulir-bulir keringat bagai permata membasahi wajah-Nya, walau sedikitpun kesegaran ketampanan-Nya tidak berkurang olehnya. Pada suatu ketika, luka-luka yang disebabkan oleh panah-panahku yang tajam membuat darah menetes dari dada-Nya. Semoga pikiranku senantiasa terpusat pada keindahan yang belum pernah ditampakkan sebelumnya, yaitu ketika Tuhan Sendiri melayani hamba-Nya, Arjuna!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu memasuki medan pertempuran, Sri Parthasarathi mematuhi perintah sahabat-Nya, Arjuna, untuk membawa kereta mereka di antara kedua balatentara yang siap berperang. Tuhan kita menerima Arjuna sebagai junjungan-Nya dan mematuhi apa yang dititahkannya. Dengan pandangan mata-Nya yang melirik ke arah pasukan Kaurava, Dia telah mencuri umur dan kehidupan dari semua tentara berikut para panglimanya. Semoga Tuhan, yang merupakan penyebab sejati musnah binasanya pasukan Kaurava, senantiasa bersemayam dalam pikiranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga batinku memeluk erat kaki Tuhan Tertinggi Yang Mahasuci, yang menyingkirkan kegelapan batin Arjuna melalui Upadesha-Nya mengenai Atma-tattva dan Dharma. Semoga pikiranku selalu terpusat kepada kaki Sang Paramatma, yang telah membebaskan Arjuna dari pikirannya yang kalut memikirkan kemungkinan pembantaian sanak keluarga dan guru-gurunya yang akan segera terjadi dalam perang yang sudah ada di depan mata dan juga kekhawatiran akan dosa-dosa yang timbul oleh tindakannya dalam pertempuran besar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bersumpah akan membuat-Nya angkat senjata, walaupun Dia berjanji tidak akan turut bertempur dalam peperangan besar itu. Betapa kebahagiaan yang kurasakan saat menyaksikan Tuhan melompat turun dari tempat duduk-Nya di kereta perang dan mengabaikan janji-Nya yang setara dengan kata-kata Veda nan suci, demi membuat sumpahku menjadi nyata. Berlari ke arahku seperti seekor singa ganas yang siap membunuh gajah! Begitu Dia menyentuh tanah, bumi berguncang oleh berat-Nya, pakaian atas-Nya terlepas seakan tanpa sepengetahuan-Nya. Baju zirah-Nya compang-camping oleh tembusan anak-anak panahku. Dengan Sudarsana di tangan-Nya, Dia menuju ke arahku untuk segera membinasakanku berikut semua senjataku. Oh, Bhakta-vatsala Teragung, Yang Mahapengasih, telah memberikan hidup pada satu hamba-Nya (Arjuna) dan menggenapi kata-kata hamba-Nya yang lain. Semoga Sri Mukunda itu, menjadi satu-satunya tempatku berlindung dan satu-satunya penyelamat bagi diriku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Detik-detik terakhir hidupku, semoga batinku terpancang kuat pada Sang Bhagavan itu, yang bersumpah akan melindungi kereta Arjuna sebagai darah daging-Nya Sendiri dan membuktikannya pula secara nyata. Semoga hamba ini diberkati untuk melihat Rupa-Nya sebagai Sri Parthasarathi yang tampan, dengan cemeti pengendali kuda-kuda di tangan, dan pesona-Nya mencuri hati semua orang. Sungguhlah mereka semua yang gugur di medan perang telah mencapai Moksha, hanya karena mereka beruntung telah memandang Tuhan Sendiri dengan mata kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para Gopi, sekalipun dikatakan tidak memiliki pengetahuan yang tinggi, namun mencapai pembebasan tertinggi dengan melihat Lila rohani Tuhan. Para Gopi ini dikasihi, dicintai, dan dimuliakan oleh Tuhan Sendiri. Mereka sepenuhnya bersama Tuhan dan terlibat dalam berbagai permainan sukacita-Nya. Mereka sungguh beruntung hanya dengan melihat gerak langkah, canda ria, senyum manis, lirikan kasih dan cinta Tuhan. Jika demikian tidaklah mengherankan para ksatriya yang gugur itu pun akan mencapai pembebasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang berkumpul dalam Rajasuya-yajna Yudhistira, sidang para Rishi dan raja-raja yang termashyur, semua memuji keindahan-Nya yang tiada bandingannya dan pandangan penuh kasih-Nya. Mereka mempersembahkan berbagai haturan kepada-Nya. Tuhan itu, yang menerima semua penyembahan ini, telah berdiri di hadapanku dan memberkatiku dengan sukacita darshana-Nya. Anugerah yang kuterima sungguh tak terukur dan tak ada bandingannya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kini sudah menginsafi Tuhan Tertinggi Yang Mula, Yang Tiada Kelahiran bagi-Nya, bercahaya gemilang di dalam hati setiap insan ciptaan-Nya. Dengan menginsafi Kebenaran Tertinggi Yang Paling Akhir ini, semua kegelapan batinku telah sirna. Sang Surya yang bersinar terang di angkasa hanyalah Esa dan dilihat oleh semua mata yang memandangnya. Walau ada begitu banyak mata melihatnya, tetapi mentari itu sejatinya tidaklah berbeda-beda. Mentari yang sama dilihat pula dalam bayangannya yang terpantul oleh permukaan air di sedemikian banyak periuk, tetapi itu tetaplah matahari yang satu dan sama. Demikianlah Sang Jiwa Kehidupan Tertinggi yang dialami oleh tiada terhitung banyaknya Yogi dalam hatinya adalah tunggal dan sama. Kini aku sudah menginsafi kebenaran ini dan segalanya telah digenapi (tidak ada lagi yang tersisa semua sudah dikabulkan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah Sesepuh Agung keluarga Bharata memuliakan dan menyembah Tuhan Yang Maha Esa Sri Krishna di tengah-tengah padang pertempuran, di atas pembaringan panah-panah. Dia mempersembahkan segenap pikiran, kata-kata, dan raganya ke hadirat kaki Tuhan yang tersuci. Atas perintah Tuhan, maka terciptalah keheningan dan kedamaian sempurna saat itu. Maka cahaya kehidupan Bhisma, hamba Tuhan yang agung, bersinar gemilang mencapai kaki padma Tuhan Sri Krishna.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/228623902424000901-7353720613097806828?l=dharmadvar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://dharmadvar.blogspot.com/2010/05/bhisma-stuti.html</link><author>noreply@blogger.com (dasanrangarajan)</author><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S_UlnLYEtlI/AAAAAAAABng/R9aqyFnMtAo/s72-c/bhisma-2.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-228623902424000901.post-6511721274960218901</guid><pubDate>Mon, 17 May 2010 04:25:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-05-16T21:44:01.348-07:00</atom:updated><title>BUKU-BUKU YANG BISA DIDOWNLOAD</title><description>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SILAKAN KLIK PADA GAMBAR UNTUK MENDAPAT LINK DOWNLOAD&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;GERBANG KEBENARAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.4shared.com/file/Kv_Dw3rX/gerbang_kebenaran.html"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S_DGDEUSzVI/AAAAAAAABm4/y3r0qRhbmB4/s400/6928_100358836650873_100000302700981_6806_4690840_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5472091303255919954" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SRI MADHVANAMA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.4shared.com/file/5zSfSX7w/SRIPADARAJA_MADHVANAM.html"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 272px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S_DGDrXNcvI/AAAAAAAABnA/GdJcxPVpJQE/s400/6928_100360486650708_100000302700981_6939_8059783_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5472091313737134834" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BHAJA GOVINDAM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.4shared.com/file/3MwuFCVd/Bhaja_Govindam.html"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 282px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S_DGENJNkMI/AAAAAAAABnQ/tOPGHfxGDO0/s400/6928_100360513317372_100000302700981_6947_6885948_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5472091322805227714" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;VIRAHA VIDURA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.4shared.com/file/X4jyIyqe/VirahaVidura.html"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 279px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S_DGEgc0xOI/AAAAAAAABnY/PtYCad2go8o/s400/6928_100360526650704_100000302700981_6951_5379966_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5472091327987762402" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SRI ANDAL&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.4shared.com/file/yGmPaN0R/Sri_Andal.html"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 306px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S_DGD7OP7mI/AAAAAAAABnI/rvNtFLsumE0/s400/20061221-andal_drawing_5.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5472091317994516066" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/228623902424000901-6511721274960218901?l=dharmadvar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://dharmadvar.blogspot.com/2010/05/buku-buku-yang-bisa-didownload.html</link><author>noreply@blogger.com (dasanrangarajan)</author><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S_DGDEUSzVI/AAAAAAAABm4/y3r0qRhbmB4/s72-c/6928_100358836650873_100000302700981_6806_4690840_n.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-228623902424000901.post-913597186951803365</guid><pubDate>Mon, 10 May 2010 01:07:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-05-09T18:28:01.959-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">pilar heliodorus</category><title>PILAR HELIODORUS</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S-dgy_nt4lI/AAAAAAAABlk/WOFVzv0RgLY/s1600/Heliodorus-Pillar2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 296px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S-dgy_nt4lI/AAAAAAAABlk/WOFVzv0RgLY/s320/Heliodorus-Pillar2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5469446701652501074" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Heliodorus adalah seorang duta besar dari Yunani untuk India, 200 tahun sebelum lahirnya Kristus. Sebagai seorang diplomat asing, dia nyata-nyata memiliki kepercayaan diri yang penuh akan pemerintahan Yunaninya dan tentu juga memiliki pemahaman yang sangat maju tentang keadaan dunia di masa itu. Walau demikian dia menjadi termashyur, terutama dalam masyarakat arkeolog, bukan karena catatan politik dan diplomatiknya, melainkan karena pembangunan sebuah pilar monumental pada tahun 311 BCE di Beshnagar, Madhya Pradesh, India. Sekarang bangunan itu dikenal sebagai Pilar Heliodorus, tetapi di bidang arkeologi dan literatur-literatur, pilar tersebut diketahui sebagai sebuah Garuda-stambha, mirip seperti bangunan serupa yang masih kita temukan berada di Pura Agung Jagannath yang terkenal itu, di Puri, Orissa, India bagian timur. Bagi orang awam, keberadaan pilar ini tidak begitu dikenal, namun di kalangan arkeolog itu dianggap sebuah fenomena dari jaman kuno, yang penemuannya memberikan kesan yang tak terbantahkan tentang pengaruh universal kebudayaan Veda selama berabad-abad. Mengingat kenyataan bahwa negara-negara barat menerima sebagian besar pengetahuan mereka dan juga cara berpikirnya dari peradaban Yunani, maka pilar ini merupakan sebuah penemuan arkeologi yang penting dan unik, yang sangat bermakna bagi dunia secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilar Heliodorus pertama kali menarik perhatian kalangan sarjana barat pada tahun 1877 dalam sebuah ekspedisi arkeologis yang dikepalai oleh Sir Alexander Cunningham. Setelah menganalisa gaya (style) dan bentuk pilar, Cunningham salah menyimpulkannya sebagai bangunan yang didirikan pada masa Kekaisaran Gupta (abad ke dua), tanpa pernah bermimpi bahwa di balik lapisan adonan merah (kumkum) di bagian bawah pilar, tersembunyi sebuah inskripsi. Walau demikian tigapuluh dua tahun kemudian pada 1901, seorang peneliti independen didampingi oleh Dr. J.H. Marshall, menyingkirkan lapisan lumpur merah itu. Pada inspeksi jarak dekat, nampak sebuah inskripsi yang memberi tahu kita bahwa pilar itu bukanlah dibangun pada abad ke dua dan juga bukan pada masa Kekaisaran Gupta sebagaimana disangka sebelumnya. Dr. Marshall kemudian menjelaskan dalam sebuah artikel yang dimuat di Journal of the Royal Asiatic Society, bahwa Cunningham sudah salah memperkirakan jaman dari pilar itu dan tidak pernah membayangkan nilai dari penemuan yang ia biarkan terlepas begitu saja dari genggamannya. Bahasa yang digunakan dalam inskripsi di pilar itu adalah Prakrit, suatu turunan Sanskrit, dan pandangan sekali saja pada aksara Brahmi yang digunakan akan dengan jelas mengindikasikan bahwa pilar tersebut jauh berabad-abad lebih tua dari tahun 200 CE. Ini sebuah kejutan besar bagi Dr. Marshall, tetapi apa yang membuatnya lebih kaget lagi, sekaligus juga menyentak masyarakat arkeologi internasional, adalah terjemahan dari inskripsi Brahmi kuno itu sendiri. Terbaca, “devadevasya väsudevasya garuòa dhvajaù ayaà kärétaù heliodoreëa bhägavatena diyasa putreëa täkñaçiläkena, Pilar Garuda ini dipersembahkan kepada Väsudeva, Tuhan di atas segala tuhan, dan telah didirikan di tempat ini oleh Heliodorus, seorang pengikut jalan pengabdian suci Bhägavata, putra dari Dion, dan seorang warga negara Täkñaçila.” Täkñaçila adalah Taxila, dan menurut buku ‘Select Inscriptions on Indian History and Civilization’ oleh Profesor Dines Candra Sircar, yang diterbitkan oleh University of Calcutta, lokasi tepat dari Taxila adalah di Distrik Rawalpindi, Pakistan Barat di masa kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S-dhBsSs4bI/AAAAAAAABls/NQRSDMi8yec/s1600/heliodorus-inscription.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 160px; height: 250px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S-dhBsSs4bI/AAAAAAAABls/NQRSDMi8yec/s400/heliodorus-inscription.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5469446954162119090" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kemudian tertulis lagi, “yavanadütena ägatena mahäräjasya antalikitasya upäntät sakäçaà räjïah käçé putrasya bhägabhadrasya trätuù varñena caturdaçena räjyena vardhamänasya, Yang telah datang sebagai duta besar dari raja agung Antialkidas, untuk kerajaan Maharaja Bhagabhadra putra Kashi, sang pelindung, yang kini telah memerintah selama empatbelas tahun dengan penuh kemakmuran.“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supaya mendapat gambaran sekilas, kita harus mengingat bahwa filsuf-filsuf Yunani terbesar, dimulai dari Phytagoras yang hidup pada 560 BCE, Socrates pada 450 BCE, Hippocrates pada 400 BCE, serta Plato dan Aristoteles pada 350 BCE, pada masa itu telah mengajarkan doktrin-doktrin mereka, mengumandangkan filsafatnya, menyusun buku-bukunya, dan mulai menyebarluaskan pengaruh mereka. Duta besar Heliodorus, sebagai salah satu di antara elit Yunani yang terpelajar pada abad ke dua BCE, tentu sudah akrab dengan reputasi dan semua filsafat yang mereka ajarkan. Dengan memperhatikan latar belakang sosial dan historis ini, betapa cemerlangnya seorang Duta besar Yunani, Heliodorus, yang menjadi seorang pengikut Vaishnava memuja Vasudeva Krishna, dan mewariskan sebuah pilar monumental, sebuah Garuda-stambha, sebagai saksi dan bukti bagi semua keturunannya atas keyakinannya ini. Pada tahun 1955 setelah melalui penelitian yang melelahkan, Dr. M.D. Khare menemukan pada daerah yang sama, peninggalan dari sebuah kompleks Pura yang besar dipersembahkan untuk memuja Krishna, yang juga berasal dari masa yang sama dengan pilar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menyimpulkan uraian singkat ini, adalah jelas dan menarik bahwa melalui panjang lebarnya sejarah, kita dapat menguak detil-detil pribadi yang terkecil dan memberikan penerangan mengenai pengalaman hidup dan kejadian-kejadian transformasi pribadi dari satu individu. Terimakasih banyak pada Heliodorus dan pilarnya, sehingga membuat kita dapat melihat bahwa Vaishnavisme (dan ajaran Veda secara umum) merupakan sebuah ajaran yang begitu unggul, cukup untuk meluluhkan hati orang-orang Yunani yang terdidik dan berbudaya, dan juga cukup universal untuk dapat menerima mereka masuk ke dalam tingkat-tingkat kedudukan rohani yang terdapat dalam keyakinan tersebut, bahkan pada masa ketika kebudayaan India dan Eropa secara ideologis terpisah begitu jauh. Pilar Heliodorus menjadi bukti bahwa kebudayaan Veda telah memiliki pengaruh yang begitu luas dan kuat bagi Eropa. Paling tidak di masa itu, orang sepenting dan seterpelajar duta besar, seorang diplomat dari sebuah negeri berbudaya tinggi di Eropa, menerima, meyakini, dan mengamalkan ajaran-ajaran Veda. Sekalipun di negerinya sendiri sudah berkembang selama beberapa ratus tahun pemikiran-pemikiran dan filsafat yang sampai saat ini masih kita kagumi. Lihatlah! Betapa menariknya pemahaman rohani yang berasal dari Veda ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/228623902424000901-913597186951803365?l=dharmadvar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://dharmadvar.blogspot.com/2010/05/pilar-heliodorus.html</link><author>noreply@blogger.com (dasanrangarajan)</author><media:thumbnail url="http://2.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S-dgy_nt4lI/AAAAAAAABlk/WOFVzv0RgLY/s72-c/Heliodorus-Pillar2.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-228623902424000901.post-2008097245846106972</guid><pubDate>Sun, 21 Mar 2010 01:40:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-03-20T18:40:00.329-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">vegetarian</category><title>MAKANAN DAN PIKIRAN?</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S6Lb_OBiMFI/AAAAAAAABlc/eQHFXt3vx48/s1600-h/agastya.jpg"&gt;&lt;img style="float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px; cursor: pointer; width: 230px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S6Lb_OBiMFI/AAAAAAAABlc/eQHFXt3vx48/s320/agastya.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450160378214494290" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Beberapa mungkin bertanya, bukannya para rishi jaman dahulu biasa makan daging? Ada kejadian seperti itu pada kisah Vathapi-Illvala. Ini juga sering dikutip oleh dalam dakwah dari orang-orang semacam Zakir Naik. Dengan demikian mempersamakan kebiasaan makan para pengikut Veda dengan umat lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, ada disebutkan hal-hal semacam itu dalam kisah-kisah masa lampau. Kita perlu memahami dengan jelas mengapa dan dalam keadaan bagaimana beliau makan daging.  Pertama bahwa beliau itu tidaklah makan daging sebagai makanan kesehariannya. Hewan akan dikorbankan dalam yajna tertentu, kepada api suci, lalu kemudian para rishi yang memiliki kekuatan yoga sangat tinggi memakannya sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;prasad yajna&lt;/span&gt;. Karena kekuatan yajna khusus ini si binatang korban langsung pergi ke surga. Dalam cerita Maharishi Agastya juga seperti itu. Disebutkan bahwa begitu Agastya Muni berkata, “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;vathapi jirno bhava&lt;/span&gt;”, raksasa Vathapi dalam bentuk daging kambing itu langsung hancur dan lenyap. Jangan lupa Agastya punya kekuatan mengeringkan lautan lho!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bagian dalam Veda memang menjelaskan adanya kebiasaan makan daging pada masyarakat Veda jaman dahulu. Tetapi keadaan saat itu sungguh jauh berbeda dengan keadaan sekarang. Dalam keadaan tertentu mereka diijinkan makan daging yang telah dipersembahkan dalam upacara yang sangat rumit dan suci. Daging dari tubuh hewan yang dikurbankan dalam upacara ada yang bisa dianggap sebagai karunia (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;prasada&lt;/span&gt;). Tetapi dalam upacara seperti itu, kekuatan mantra para Brahmana juga mampu membangkitkan hewan yang dikurbankan dalam tubuh jasmani yang baru, sehingga tubuh yang lama tidak digunakan lagi. Brahmana yang bertanggung jawab dan juga pelaksana upacara kurban suci semacam ini harus mampu menyeberangkan roh hewan yang dikurbankan ke tingkat rohani yang lebih tinggi. Hanya setelah melalui syarat-syarat seperti ini daging itu bisa dimakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.loupiote.com/photos/3721292683.shtml"&gt;&lt;img src="http://www.loupiote.com/photos_m/3721292683.jpg" alt="sadhu (hindu holy man) with cow - orchha (india)" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sekarang daging tidaklah dianjurkan untuk para Brahmin. Pertama kita harus tahu kenapa kita perlu makan. Itu adalah untuk menjadi sehat. Tidak hanya sehat fisik tetapi juga sehat secara rohani. Dalam Sanskrit  ini disebut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;svasthya&lt;/span&gt;, pikiran yang sehat, suci, dan damai. Daging dan makanan non vegetarian memang memberi kekuatan kepada tubuh tetapi tidak pada pikiran. Kekuatan mental sangat diperlukan. Untuk hidup damai kita harus memiliki pikiran yang suci dan damai, stabilitas dan konsentrasi yang baik. Bagi kita daging dilarang. Sejak berbagai jaman, para leluhur kita, para pengikut Veda terutama para Brahmin terkenal penuh kelembutan, berbelas kasih, tenang dan pandai, sejak jaman dahulu pula para leluhur kita tidak memakan daging. Kalau kita mulai makan daging, maka pelan-pelan kita akan kehilangan semua sifat baik ini. Tentu perubahan itu tidak akan kelihatan dalam semalam. Itu perlu waktu dan akan tampak pada generasi keturunan kita berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pemenang hadiah Nobel, orang-orang yang berbudi dan baik hati juga makan daging. Bagaimana dengan ini? Mendapatkan hadiah Nobel bukanlah tolok ukur seseorang memiliki pikiran yang suci, damai, tenang, dan konsentrasi yang baik. Contohnya para ilmuwan, mereka sesungguhnya lebih gelisah pikirannya. Semua yang mereka temukan tidaklah timbul dari pikiran yang tenang dan damai tetapi pikiran yang terganggu. Karena itu mereka bisa menciptakan sesuatu yang baru terus. Pada umumnya para Brahmana diharapkan memiliki pikiran yang tenang dan damai serta konsentrasi yang tinggi untuk melakukan japa dan tapa. Bahkan pada jaman dahulu, sekalipun mereka terkadang makan daging, namun kekuatan yogi mereka yang tinggi dapat tetap menjaga kedamaian pikirannya. Tapi bila di Kaliyuga sekarang ini, kekuatan mental dan konsentrasi kita jelas sudah menurun jauh. Suasana &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sattvik&lt;/span&gt; dan sifat-sifat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sattvik&lt;/span&gt; berkurang karena kita tidak melakukan cukup japa, tapa, dan yajna dengan kualitas sebaik dahulu kala. Jadi kalau kita mulai lagi ditambah dengan makan daging, maka semua sifat baik perlahan-lahan akan lenyap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula yang berkeberatan. Kita mengenal ada seorang yang sangat baik. Dia penuh kesabaran, memiliki pengetahuan yang luas tentang agama, dan mampu melaksanakan banyak perbuatan yang berkebajikan. Di satu sisi ada seorang vegetarian yang kerjanya mengritik dan menyindir teman-temannya yang masih makan daging. Gampang tersinggung pula. Bagaimana ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kemajuan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sadhana&lt;/span&gt; bisa diperoleh dengan mengganti pola makan saja maka alangkah mudahnya menjalani hidup rohani. Namun apapun itu, pemilihan gaya hidup khususnya makanan dalam Hindu adalah sesuatu yang sangat pribadi. Sastra menyatakan bahwa tanpa makan daging seseorang membantu usahanya untuk mewujudkan kondisi Sattvika, yang menguntungkan bagi kemajuan rohaninya. Apakah hanya makanan saja faktor yang menentukan? Tentu saja tidak, tetapi memang para Rishi kita menemukan adanya pengaruh yang besar dari makanan. Jika &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sadhaka&lt;/span&gt; belum dapat mewujudkan semua sifat-sifat mulia, maka tidak ada seorangpun yang berhak menuntutnya. Begitu pula &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sadhaka&lt;/span&gt; yang bervegetarian harus sadar sepenuhnya bahwa dengan mengubah pola makan merupakan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;upaya&lt;/span&gt; untuk menjadikan hidup rohani lebih baik, tetapi bukan untuk meninggikan dirinya di atas anggota masyarakat lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya apakah seorang Hindu harus tidak makan daging? Harus, mungkin adalah kata yang terlalu keras. Seorang Hindu berusaha melaksanakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sadhana&lt;/span&gt;nya dengan baik. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sadhana&lt;/span&gt; ini bertujuan untuk memurnikan pikiran. Segala sesuatu berasal dari pikiran, termasuk pilihan makanan. Jadi seseorang yang pikirannya dimurnikan, dia akan bebas dari amarah, keserakahan, dan rasa iri. Dia kemudian tidak akan melakukan perbuatan yang dapat menyakiti makhluk lain apapun alasannya. Memang dalam rangka membantu proses memurnikan pikiran seorang Hindu memilih makanan vegetarian ini. Tetapi yang sesungguhnya adalah pada saat pikiran dimurnikan, seorang Hindu atau bukan Hindu pun, secara alamiah akan menghindari makanan non vegetarian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai-nilai kehinduanlah yang membuat orang memilih diet ini. Vegetarianisme sejalan dengan nilai-nilai Hindu. Jadi seorang Hindu bukannya harus tidak makan daging, tetapi mereka lebih memilih untuk tidak makan daging atau merasa lebih baik hidup bervegetarian. Biarlah setiap orang menjadi penentu hidup dan nasibnya sendiri. Manusia biasa, bahkan Tuhan Sendiri tidak dalam posisi memaksakan suatu kondisi kepada orang lain. Setiap tindakan memiliki konsekuensinya. Setiap yang kita lakukan memiliki efeknya sendiri terhadap diri kita secara alamiah. Sastra Veda dan para Acharya hanya mengungkapkannya saja kepada kita. Semua keputusan berada di tangan kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/228623902424000901-2008097245846106972?l=dharmadvar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://dharmadvar.blogspot.com/2010/03/makanan-dan-pikiran.html</link><author>noreply@blogger.com (dasanrangarajan)</author><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S6Lb_OBiMFI/AAAAAAAABlc/eQHFXt3vx48/s72-c/agastya.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-228623902424000901.post-8185880533716422370</guid><pubDate>Fri, 19 Mar 2010 00:32:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-03-18T18:27:33.716-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">gaya hidup</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">vegetarian</category><title>VEGETARIANISME DALAM MASYARAKAT HINDU</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S6LQ0pS2skI/AAAAAAAABlU/4_5Egih0DGE/s1600-h/konkani_veg_thali.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 266px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S6LQ0pS2skI/AAAAAAAABlU/4_5Egih0DGE/s400/konkani_veg_thali.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450148101928432194" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Vegetarian memang merupakan diet Hindu dan merupakan gaya hidup yang dianjurkan dalam Veda. Vegetarian merupakan suatu bentuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sadhana&lt;/span&gt; atau disiplin spiritual yang umum diterapkan oleh masyarakat Hindu. Umat Hindu meyakini bahwa pola makan seperti ini dapat meminimalisir perbuatan-perbuatan menyakiti (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;himsa-karma&lt;/span&gt;) yang menimbulkan reaksi-reaksi dosa. Dasar dari gaya hidup vegetarian dalam Hindu adalah konsep &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ahimsa&lt;/span&gt;, tidak menyakiti. Saat ini umat Hindu di luar negeri, terutama di negara-negara Eropa dan Amerika mengusahakan vegetarian sebagai diet Hindu yang diterapkan pada semua jenis pelayanan umum, misalnya di pesawat terbang. Di negara-negara maju bila kita menyatakan diri sebagai seorang Muslim, maka otomatis akan disediakan makanan Halal menurut Islam. Begitu pula bila kita menyatakan diri beragama Hindu, maka otomatis kita akan disediakan makanan vegetarian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar juga kalau dikatakan bahwa tumbuhan juga punya hidup dan membunuh tumbuhan juga berarti dosa. Jadi sebenarnya penerapan sempurna prinsip tanpa kekerasan adalah dengan mengikuti &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Shilonchana-Vrati&lt;/span&gt;. Hanya mengambil buah-buahan yang jatuh dari pohonnya atau dedaunan yang berguguran secara alami sebagai makanan kita. Dengan demikian kita bisa sama sekali tidak menyakiti yang lain. Namun tak semua orang bisa mengikuti cara hidup seperti itu. Kita harus makan untuk bertahan hidup dan memelihara badan ini. Ini masalah mempertahankan hidup. Jadi kita boleh memilih cara hidup yang paling sedikit menimbulkan dosa dan paling sedikit membuat makhluk lain menderita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ada dua alasan kita mengatakan makanan vegetarian memiliki dosa yang tidak seberapa berat. Banyak tanaman yang hidupnya hanya sekali panen seperti padi, gandum, dll. Begitu berbuah, mereka langsung mati, bahkan tanpa kita perlu memotongnya. Jadi memotong tanaman-tanaman seperti ini menimbulkan sedikit dosa atau bahkan tidak berdosa sama sekali. Banyak tanaman lain juga berbuah seperti mangga, jeruk, kelapa, dsb. yang tidak perlu dimatikan bila kita memetik buahnya. Maka memetik buah juga tidak menimbulkan dosa. Dengan demikian makanan vegetarian lebih sedikit menimbulkan dosa. Lebih jauh lagi, makanan seperti itu sudah cukup untuk kita hidup, makanan berdaging adalah suatu kemewahan dan kita tentu dapat menghindarinya. Makanan berdaging menimbulkan dosa karena untuk mendapatkannya kita tidak mungkin tidak membunuh hewan. Kita pasti harus menyiksa dan mematikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S6LNSNHxs3I/AAAAAAAABlM/RkxDOi5J6Ao/s1600-h/thali2.jpg"&gt;&lt;img style="display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 335px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S6LNSNHxs3I/AAAAAAAABlM/RkxDOi5J6Ao/s400/thali2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450144211715339122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;VEGETARIAN THALI&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Vegetarian adalah gaya hidup terbaik di India, terutama bagi kesehatan kantong anda (1 rupee sekitar 200 rupiah)   &lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Vegetarian thali: Rs 12.50&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Non-vegetarian thali: Rs 22 &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;dua kali lipat!&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Sada dosa: Rs 2.50&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Masala dosa: Rs 4&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Dal (assorted): Rs 1.50&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Soup with one slice: Rs 5.50&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Four chapatis: Rs 2&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Boiled rice: Rs 2&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;keterangan:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;thali &lt;/span&gt;arti sebenarnya nampan, ini istilah untuk hidangan macam-macam yang lengkap, sejenis nasi campur di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;dosa&lt;/span&gt; adalah nama makanan seperti dadar gulung atau kulit loenpia Semarang. Ada yang berbumbu (masala) ada yang tidak (sada). Jadi cuma di India kita bisa makan dosa sebanyak-banyaknya &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;dari: Churumuri.wordpress.com (17/08/09) &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kita juga harus tahu kenapa beberapa tindakan itu bisa menimbulkan dosa. Setiap bentuk kehidupan (tumbuhan, hewan, manusia, dsb.) datang ke dunia ini untuk melaksanakan daya upaya spiritual (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;sadhana&lt;/span&gt;). Demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik, sampai akhirnya mencapai pembebasan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;moksa&lt;/span&gt;). Kapanpun &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sadhana&lt;/span&gt; itu dibuat menjadi lebih singkat secara tidak wajar (dipaksa mengakhiri &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sadhana&lt;/span&gt;), maka itu menjadi tindakan berdosa. Bagi tumbuhan tidak terdapat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sadhana&lt;/span&gt; yang terlampau tinggi. Mereka hampir tidak dapat melakukan&lt;span style="font-style: italic;"&gt; sadhana&lt;/span&gt; apapun secara mental maupun fisik. Jadi apabila kita memotongnya kita tidak melakukan sesuatu yang jahat terhadap &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sadhana&lt;/span&gt;nya maupun mengurangi kesempatan mereka melakukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sadhana&lt;/span&gt;. Jadi hal demikian bukanlah dosa. Tetapi hewan dapat saja melakukan sejumlah besar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sadhana&lt;/span&gt; secara fisik maupun secara mental. Dengan membunuhnya kita memotong masa hidupnya dan kesempatannya untuk melaksanakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sadhana&lt;/span&gt; dalam rangka mencapai evolusi spiritual yang lebih tinggi, sampai mencapai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;moksa&lt;/span&gt;. Jadi hal inilah yang mengakibatkan dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh lagi dapat kita tambahkan bahwa dalam hal ini melakukan bunuh diri juga dosa. Padahal tidak ada yang rugi, toh? Cuma diri sendiri saja yang mati. Tetapi kita mesti ingat bahwa Tuhan telah memberikan kita tubuh dan hidup yang luarbiasa ini untuk melakukan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sadhana&lt;/span&gt; dan menggapai kesempurnaan. Bila kita membuangnya begitu saja, itu merupakan pengingkaran kepada Tuhan dan suatu penghinaan. Jadi bunuh diri juga dosa.  Maka dari itu secara umum dapat dikatakan bahwa semua tindakan yang dapat memotong &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sadhana&lt;/span&gt; seseorang adalah dosa, dan menjadi vegetarian dapat memperkecil kemungkinan berbuat dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa orang berpendapat bahwa binatang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia dan mereka mendapat peningkatan dengan cara dikorbankan oleh manusia, karena mereka sendiri tidak mampu melaksanakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sadhana&lt;/span&gt;. Tidak benar begitu. Memang benar mereka tidak bisa melakukannya sebaik manusia. Mereka ber&lt;span style="font-style: italic;"&gt;sadhana&lt;/span&gt; dengan aktivitas mental. Tidakkah kita melihat ada berbagai tingkah laku hewan yang berbeda-beda bahkan antara jenis yang sama sekalipun, seperti antar kucing, antar anjing, atau antar sapi?! Beberapa lembut, beberapa ganas, beberapa sangat sensitif dan bisa menyayangi. Ini adalah karena &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sadhana&lt;/span&gt; mental mereka. Pada bayi kecil yang belum bisa “berpikir” juga bisa kita lihat ada perbedaan. Kami sudah pernah lihat seorang bayi berusia 2 tahun yang lucu di Bombay. Dia mencintai Tuhan Sri Krishna melebihi segala-galanya. Saat tidur dia memeluk erat Rupa Krishna. Dia tidak mau minum susu yang tidak dipersembahkan kepada Krishna, selalu ingin mendengar cerita tentang Krishna-lila, dan selalu ingin menonton Krishna-puja. Sungguh mengejutkan. Padahal bayi sekecil itu masih hampir seperti hewan saja. Semua itu karena &lt;span style="font-style: italic;"&gt;samskara&lt;/span&gt;nya terdahulu, impresi mental. Begitu pula yang terjadi pada hewan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/228623902424000901-8185880533716422370?l=dharmadvar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://dharmadvar.blogspot.com/2010/03/vegetarianisme-dalam-masyarakat-hindu.html</link><author>noreply@blogger.com (dasanrangarajan)</author><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S6LQ0pS2skI/AAAAAAAABlU/4_5Egih0DGE/s72-c/konkani_veg_thali.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-228623902424000901.post-8702409547297644585</guid><pubDate>Fri, 26 Feb 2010 04:12:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-02-25T20:12:00.259-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">sekte</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">acharya</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">guru</category><title>PERHATIKAN JIWANYA!</title><description>Hindu seperti yang telah kita pahami sebenarnya adalah Sanatana Dharma yang berdasarkan atas ajaran Veda. Sanatana Dharma sendiri merupakan fungsi roh yang kekal, sehingga sesungguhnya penampakan luar atau jasmaniah tidaklah seberapa penting dalam Hindu. Penerapan ajaran Veda atau agama Hindu dapat berkembang sesuai dengan keadaan di tempat dia tumbuh, sekalipun prinsip-prinsip yang mendasarinya tetap sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh seorang pemuda yang jatuh cinta dengan seorang gadis bisa saja mengungkapkan perasaannya dengan cara yang berbeda-beda. Masing-masing orang tidaklah sama. Ada yang mengungkapkannya dengan memberi setangkai mawar, ada yang memberi isi seluruh toko kembang, ada yang mengarang puisi atau menyanyikan lagu, dan sebagainya. Ungkapan cinta juga bisa diberikan dengan mempersembahkan sesuatu yang menurut kita paling baik dan indah. Tentu saja batasan yang terbaik dan terindah ini sangat relatif, berbeda masing-masing bangsa, masing-masing suku, masing-masing keluarga, bahkan masing-masing individu. Tetapi esensi dari cinta itu tetap sama. Di manapun juga cinta adalah cinta yang sama. Inilah yang diajarkan oleh Veda. Hindu mengijinkan umatnya mengembangkan potensi pribadinya sendiri setinggi-tingginya. Standarisasi bukan dalam hal eksternal tetapi menyatukan pandangan secara internal atau batiniah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya bukan saja Hindu di India tampak berbeda dengan di tempat lain, bahkan tradisi Hindu di India Utara dengan Selatan saja sudah cukup berbeda. Sebagai contoh lagi dalam sejarah kita ketahui di kala India berada dalam masa kelam di bawah penjajahan bangsa-bangsa dan agama asing, India Selatan relatif tidak terlalu terpengaruh oleh kondisi penuh tekanan ini. Kebudayaan Veda masih tumbuh dan berkembang dalam keindahan dan keasliannya yang sama sebagaimana beribu-ribu tahun yang lampau. Dengan adanya perlindungan kerajaan-kerajaan dan panglima-panglima perang Hindu yang cukup kuat, peradaban Veda yang suci tetap terjaga di India Selatan. Demikian pula hampir semua orang suci utama di jaman Kali, jaman kita ini, yang mempengaruhi seluruh aspek kehidupan ajaran Veda hingga hari ini, muncul dan hidup di India Selatan. Di antara mereka adalah para Nayanmar Saiva, Alvar Vaishnava, dan para Acharya. Sedangkan di Utara, tradisi Hindu telah menyesuaikan dengan pengaruh budaya bangsa lain yang pernah menjajah India dengan penuh tekanan. Kita tidak mendapatkan bentuk pemujaan yang penuh gegap gempita dan kemewahan seperti di Selatan. Di Utara kita bisa melihat Pura-pura Hindu yang berbentuk&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Haveli&lt;/span&gt;, seperti rumah orang kebanyakan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/228623902424000901-8702409547297644585?l=dharmadvar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://dharmadvar.blogspot.com/2010/02/perhatikan-jiwanya.html</link><author>noreply@blogger.com (dasanrangarajan)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-228623902424000901.post-332539461194422569</guid><pubDate>Fri, 26 Feb 2010 02:06:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-02-28T16:24:15.082-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">sekte</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">ajaran</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">acharya</category><title>KITA SEJIWA</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S4SKfndDCKI/AAAAAAAABjg/ZfJZNEGKkbg/s1600-h/kavithrayamahabharatham_release_1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 267px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S4SKfndDCKI/AAAAAAAABjg/ZfJZNEGKkbg/s400/kavithrayamahabharatham_release_1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441626525541796002" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Adalah salah apabila kita mengatakan berbagai sampradaya yang dirintis oleh para Jagadguru dan Acharya ini merupakan suatu perpecahan dalam tubuh Hindu atau Sanatana Dharma. Hindu juga bukanlah sekedar penggabungan (konglomerasi) secara sembarangan berbagai jenis tradisi dan ajaran rohani berbeda, dengan tujuan hanya untuk memperbesar kuantitas pengikut. Semua tradisi rohani yang beranekawarna, yang berkembang di India maupun yang tersebar luas di seluruh dunia, memang merupakan bagian dari Sanatana Dharma. Sekalipun wujud kasarnya berbeda, tetapi jiwa kehidupannya tetap sama, yaitu mengembangkan cintakasih rohani kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sanatana Dharma ini sungguh-sungguh menghormati keunikan relasi setiap roh dengan Tuhan, sekaligus juga membantu perkembangan potensi rohani kita setinggi-tingginya, cocok sesuai dengan keadaan yang kita butuhkan. Karena itu, sekalipun jiwa kehidupan Sanatana Dharma adalah satu, namun kita disediakan begitu banyak metode pendekatan yang sempurna sebagaimana dihadirkan oleh para Jagadguru-Acharya dan sampradayanya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S4SKfKNN8-I/AAAAAAAABjY/wlFP-eZM7Q8/s1600-h/sanathanadharmaprachara+%281%29.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 267px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S4SKfKNN8-I/AAAAAAAABjY/wlFP-eZM7Q8/s400/sanathanadharmaprachara+%281%29.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441626517690774498" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kata dharma dalam Veda diterjemahkan menjadi bermacam-macam. Dharma merupakan sesuatu yang menjadi satu dengan sang roh, kekal bersama roh, dia yang memberikan roh jati dirinya yang sejati. Tanpa dharma segala sesuatu bukanlah menjadi sebagaimana adanya (as it is). Seperti panas dari api atau terangnya cahaya memberikan jati diri bagi api dan juga cahaya. Tanpa panas, api bukanlah api dan tanpa terang, cahaya bukanlah cahaya. Panas dan terang merupakan dharma dari api dan cahaya. Demikian pula halnya dengan dharma bagi sang roh, adalah berkaitan langsung dengan jati diri sejatinya. Dharma bukanlah sesuatu yang dibuat-buat karena itu dia dapat disebut pula sebagai agama dalam pengertian seperti di atas. Jadi agama juga bukan merupakan suatu keadaan yang tidak alamiah, tidak dipaksa-paksakan. Dia merupakan pancaran sejati dari jati diri sang roh yang asli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S4SKzORDcJI/AAAAAAAABjo/XK-lBmjg5LU/s1600-h/sanathanadharmaprachara+%2813%29.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 267px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S4SKzORDcJI/AAAAAAAABjo/XK-lBmjg5LU/s400/sanathanadharmaprachara+%2813%29.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441626862377988242" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Makhluk hidup atau roh (atma), sang kesadaran yang menghidupkan, disebutkan sebagai pancaran kecil dari Parambrahman Bhagavan Sri Krishna, Kesadaran Yang Mahatinggi atau Tuhan. Semua roh ini memiliki hubungan sejati dengan Roh Tertinggi. Hubungan ini merupakan salah satu dari kebenaran yang paling mendasar, yang disebut sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sambandha-tattva. &lt;/span&gt;Pengetahuan mengenai hubungan ini disebut&lt;span style="font-style: italic;"&gt; sambandha-jnana&lt;/span&gt;. Kebenaran selanjutnya adalah tindakan dalam hubungan tersebut. Apa yang seharusnya terjadi dalam hubungan itu, ini disebut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;abhideya-tattva&lt;/span&gt;, dan pengetahuan mengenai hal itu dikenal sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;abhideya-jnana. &lt;/span&gt;Pada titik akhir sampailah kepada apa maksud dari hubungan itu. Apa yang menjadi tujuan tertinggi dari semuanya ini. Kebenaran mengenai tujuan tertinggi dikenal sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;prayojana-tattva&lt;/span&gt;, dan mengetahui hal ini merupakan keinsafan terhadap prayojana-jnana. Bila seseorang merenungkan semua ini dalam-dalam dan juga melihat dari mata kitab-kitab suci yang diwahyukan, maka kita mendapatkan bahwa cinta merupakan penjelasan bagi ketiga kebenaran ini. Kita berhubungan dengan Tuhan melalui cinta, tindakan dalam hubungan itu adalah karya-karya dalam cinta, dan tujuan tertinggi segalanya adalah mencintai Tuhan dengan sepenuh-penuhnya. Cinta ini merupakan tujuan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;sadhya&lt;/span&gt;) dan juga merupakan cara (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;sadhana&lt;/span&gt;) untuk mencapai tujuan itu. Cara yang sempurna adalah merupakan kesempurnaan itu sendiri, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sadhana&lt;/span&gt; yang sejati juga merupakan sadhya yang tertinggi itu, bagaikan lingkaran yang tak terputuskan, tiada awal dan akhirnya, dan mahamutlak. Inilah kosep ketuhanan dan kerohanian yang sejati, yang dinyatakan oleh semua kitab suci dan oleh mereka yang tercerahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S4SKze_W4eI/AAAAAAAABjw/KX4zPSBbcRY/s1600-h/sanathanadharmaprachara+%2812%29.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 267px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S4SKze_W4eI/AAAAAAAABjw/KX4zPSBbcRY/s400/sanathanadharmaprachara+%2812%29.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441626866867167714" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pengabdian cintakasih atau Bhakti merupakan jawaban sesungguhnya atas semuanya ini. Hanya dia yang mampu mengungkapkan kebenaran yang paling mendasar, karena dia merupakan kebenaran itu sendiri. Bhaktilah yang merupakan dharma sejati, agama yang asli bagi semua makhluk hidup. Bhaktilah yang mampu mengungkapkan ketiga kebenaran mendasar itu dengan sempurna. Agama sejati adalah yang mampu membawa roh dalam keinsafan seperti itu. Dapatlah kita simpulkan bahwa Bhakti adalah merupakan dharma sejati bagi sang roh. Bhakti bercahaya sebagai perwujudan jati diri sang roh yang sesungguhnya. Dia kekal bersama roh, dia merupakan sifat alamiahnya, karena hanya dalam Bhaktilah hubungan antara roh dengan Tuhan diungkapkan secara sempurna. Oleh karena itu dikatakan bahwa Bhakti merupakan jiwa kehidupan Sanatana Dharma.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/228623902424000901-332539461194422569?l=dharmadvar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://dharmadvar.blogspot.com/2010/02/tidak-ada-pertentangan-dan-perpecahan.html</link><author>noreply@blogger.com (dasanrangarajan)</author><media:thumbnail url="http://4.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S4SKfndDCKI/AAAAAAAABjg/ZfJZNEGKkbg/s72-c/kavithrayamahabharatham_release_1.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-228623902424000901.post-8711841902124262931</guid><pubDate>Thu, 25 Feb 2010 02:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-02-24T18:00:01.046-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">sadhu</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">acharya</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">orang suci</category><title>SEMUA ACHARYA SEJATI DALAM SAT-SAMPRADAYA HANYA MENYAMPAIKAN SATU KEBENARAN</title><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S4SJGl66phI/AAAAAAAABjI/7e_zsQZ4_Y8/s1600-h/AdiSankaracharya.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 331px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S4SJGl66phI/AAAAAAAABjI/7e_zsQZ4_Y8/s400/AdiSankaracharya.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441624996121847314" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Adi Sankaracharya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sri Ramanujacharya turun dari Vaikuntha, jadi beliau menekankan bhakti kepada Vishnu, namun beliau juga menjelaskan tentang pemujaan kepada Bhagavan Sri Rama dan Bhagavan Krishna. Beliau menulis tentang Sri Rama dalam bukunya, Sri Rama Patal dan Sri Rama Rahasya. Nimbarkacharya turun dari Goloka-dhama, jadi beliau mengajarkan tentang devosi kepada Radha Krishna. Sankaracharya merupakan titisan Siva, yang adalah Tuhan dalam yoga dan pembebasan, dan beliau juga seorang pemuja Krishna yang taat, jadi Sankaracharya menjelaskan tentang jnana dan yoga, namun disisipi juga tentang bhakti seperti yang kita dapatkan dalam bagian akhir ajaran Aparoksha-anubhutinya. Sankaracharya kemudian menguraikan pemujaan Krishna secara terperinci dalam Prabodha-suddhakara. Goswami Tulsidas adalah seorang pemuja Bhagavan Sri Rama yang abadi, jadi beliau secara panjang lebar memuji dan menyembah Bhagavan Sri Rama dalam semua tulisannya. Tetapi dalam suatu bagian Vinaya-patrika, beliau menulis bahwa maya tidak dapat menipunya karena beliau telah memiliki Nanda-kumara (Krishna) dalam lubuk hatinya. Contoh-contoh ini merepresentasikan status rohani sesungguhnya (posisi ontologis) dari masing-masing Sants dan Acharya, sekaligus juga menunjukkan penyerahan diri yang bersifat internal kepada berbagai Wujud Rohani Tuhan Yang Maha Esa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S4SJHN87e2I/AAAAAAAABjQ/djjiZaJVVb0/s1600-h/Ramanuja23.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 296px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S4SJHN87e2I/AAAAAAAABjQ/djjiZaJVVb0/s400/Ramanuja23.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441625006867708770" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sri Ramanujacharya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Perbedaan-perbedaan yang tampak dalam berbagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bhasya&lt;/span&gt; (ulasan terhadap kitab suci) dari para Jagadguru atau Acharya ini bukanlah perbedaan atau pertentangan yang bersifat substansial. Mereka merupakan deskripsi dari Zat Illahi (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;divya-vastu&lt;/span&gt;) yang sama dengan suatu penyajian yang berbeda dan dengan pendekatan yang berbeda, dan terkadang mereka merupakan penjelasan yang lebih dalam lagi mengenai kebenaran rohani yang sama. Sebagai contoh, Sankaracharya mengatakan dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bhasya&lt;/span&gt;nya bahwa Tuhan adalah impersonal (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;nirakar&lt;/span&gt;) dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;maya&lt;/span&gt; hanyalah khayalan belaka. Sri Ramanujacharya tidaklah menolak keberadaan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nirakar-brahman&lt;/span&gt; dan sifat mengkhayalkan dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;maya&lt;/span&gt;, namun beliau lebih lanjut menjelaskan bahwa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nirakar-brahman&lt;/span&gt; merupakan salah satu aspek dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;purushottam-brahman&lt;/span&gt; (Pribadi Tertinggi Tuhan) dan berada di dalam-Nya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Maya&lt;/span&gt; sendiri bukanlah khayalan, hanya efek atau hasil karyanyalah yang berupa khayalan, sedang maya merupakan kekuatan yang kekal dan tidak memiliki hidup (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;achit&lt;/span&gt;–lifeless). Jagadguru yang lain mengatakan bahwa roh merupakan bagian yang sangat kecil dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;chit-shakti&lt;/span&gt; Tuhan. Jiva Goswami lebih lanjut mengungkapkan keadaan roh ini dan menjelaskan bahwa ada kekuatan (Tuhan) yang disebut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;jiva-shakti &lt;/span&gt;yang merupakan bagian dari&lt;span style="font-style: italic;"&gt; chit-shakti.&lt;/span&gt; Roh sesungguhnya adalah suatu bagian yang sangat kecil dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;jiva shakti &lt;/span&gt;tersebut. Nimbarkacharya dan Vallabhacharya memantapkan supremasi Krishna (aspek maskulin) tetapi mereka tidak sepenuhnya menjelaskan Ketuhanan Radharani (aspek feminin). Jiva Goswami dan Rupa Goswami lebih lanjut menjelaskan bahwa Radharani adalah jiwa Krishna dan kemutlakan dari kekuatan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hladini &lt;/span&gt;(energi kebahagiaan Tuhan) yang merupakan kekuatan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;shakti&lt;/span&gt;) personal utama dari Tuhan Tertinggi Krishna. Para Goswami kemudian juga menuliskan dalam Krishna-sandarbha, Priti-sandarbha, dan Ujjvala-nilamani suatu uraian yang terperinci mengenai keadaan-keadaan cinta rohani dan luapan kesukacitaan para gopi, Krishna, dan Radha sebagaimana mereka dilihat di Goloka-Vrindaban. Dengan demikian kita bisa melihat bahwa sesungguhnya tidak ada perbedaan substansial dalam ajaran para Jagadguru dan Acharya Sanatana Dharma. Semua ini merupakan deskripsi dari keberadaan rohani yang sama dalam gaya penulisan atau gaya pengajaran mereka yang khas dan sesuai dengan pengalaman pribadi mereka akan Tuhan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/228623902424000901-8711841902124262931?l=dharmadvar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://dharmadvar.blogspot.com/2010/02/semua-acharya-sejati-dalam-sat.html</link><author>noreply@blogger.com (dasanrangarajan)</author><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S4SJGl66phI/AAAAAAAABjI/7e_zsQZ4_Y8/s72-c/AdiSankaracharya.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-228623902424000901.post-4587958228982930293</guid><pubDate>Wed, 24 Feb 2010 00:44:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-02-23T18:00:08.653-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">sadhu</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">acharya</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">orang suci</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">santam</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">guru</category><title>ORANG-ORANG SUCI HINDU DAN JASA-JASANYA YANG TAK TERBATAS</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S4SICiU-NVI/AAAAAAAABjA/EaaXgct22RA/s1600-h/caitanya.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 393px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S4SICiU-NVI/AAAAAAAABjA/EaaXgct22RA/s400/caitanya.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441623826926286162" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Para orang suci Hindu disebut Sadhu, Sants, Mahant, atau Bhagavata. Mereka yang mengajarkan pengetahuan keinsafan rohani kepada masyarakat luas juga disebut Guru atau Acharya. Mereka tidak saja mengajarkan secara teori tetapi juga melalui teladan pribadinya. Merekalah yang menjaga suksesi guru-murid yang tak terputuskan dari Tuhan dan para Acharya terdahulu sampai generasi yang sekarang. Para Sants, Sadhu dan Acharya adalah penjaga kelanjutan pewarisan dharma. Kaki padma mereka adalah tempat berlindung bagi semua &lt;span style="font-style: italic;"&gt;jiva&lt;/span&gt; yang berkeinginan untuk mencapai kesempurnaan. Hindu masih tetap ada dan hidup segar hingga hari ini adalah karena mereka. Merekalah kepala dari seluruh masyarakat yang membangun tubuh Hindu. Setiap umat Hindu adalah murid yang dengan kerendahan hati memohon ajaran dari mereka. Ajaran mereka tiada lain adalah realisasi Veda itu sendiri dan merupakan kesempurnaan pengalaman rohani mereka di dalam jalan Veda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para orang suci (Sants) dan Acharya dari Bharatvarsha senantiasa menetapkan dan menjelaskan pokok-pokok pikiran devosional dan filosofis dari Upanishad, Gita, dan Bhagavatam, yang membentuk keseluruhan tubuh Sanatana Dharma. Tidak ada pertentangan-pertentangan dalam uraian mereka itu. Apabila kita melihat adanya sesuatu yang tampak bertentangan, itu hanyalah karena kurangnya penafsiran yang benar atau pengertian yang tepat dari kita sebagai pembaca, karena setiap Sants dan Acharya menguraikan teori Ketuhanan dalam gayanya sendiri, sehingga untuk memahaminya kita perlu mengerti gaya tulisan-tulisan mereka ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang mesti anda ketahui adalah, bahwa Tuhan yang telah merevelasikan kitab-kitab suci Sanatana Dharma, secara langsung atau melalui Brahma; adalah juga Tuhan yang mengutus pribadi-pribadi rohani dari tempat kediaman-Nya untuk datang ke planet bumi ini dan menegakkan Sanatana Dharma; dan adalah Tuhan pula yang mengungkapkan Kebahagiaan-Nya yang Sempurna dan mutlak, melalui &lt;span style="font-style: italic;"&gt;lila&lt;/span&gt; rohani-Nya untuk menunjukkan jalan bhakti (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;lila&lt;/span&gt; atau permainan sukacita rohani, menurut Sanatana Dharma merupakan bentuk ekspresi relasi Tuhan secara khusus dengan para pemuja-Nya). Bhakti inilah yang merupakan jiwa kehidupan dan intisari dari Sanatana Dharma dan semua pustaka suci. Dengan demikian, Sanatana Dharma yang abadi diciptakan oleh Tuhan, dihadirkan oleh Tuhan, ditegakkan, diajarkan dan disebarluaskan oleh rekan-rekan kekal Tuhan (para Sants dan Acharya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang menjadi alasan mengapa semua tulisan-tulisan rohani dari para Acharya dan Sants berada dalam keserasian sempurna dengan Upanishad, Gita, dan Bhagavatam (mewakili Prasthanatraya: sruti, smriti, dan nyaya atau sutra. Bhagavatam diterima sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;smriti-purana &lt;/span&gt;dan juga &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nyayasastra&lt;/span&gt; karena merupakan ulasan atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bhasya&lt;/span&gt; atas Brahmasutra). Semua nama dan rupa Tuhan, dan juga filsafat untuk menginsafi Tuhan yang mereka jelaskan, sebenarnya sudah ada dalam Pustaka Suci (Veda). Tetapi beliau-beliau ini kemudian lebih lanjut menyederhanakan jalan pengabdian kepada Tuhan dan memperluas bahan-bahan yang bersifat devosional dengan mengungkapkan, misalnya lila Radha Krishna, sedikit lebih banyak daripada yang telah diulas dalam Upanishad, Purana, dan Bhagavatam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan-perbedaan yang tampak dalam tulisan-tulisan mereka dan ajaran-ajarannya merupakan representasi dari ketidakterbatasan wujud Tuhan, dan perbedaan-perbedaan ini berhubungan dengan status rohani sesungguhnya dari pribadi-pribadi yang mengungkapkannya. Hal tersebut juga merepresentasikan kebenaran ini, yaitu bahwa Tuhan Yang Maha Esa memiliki semua wujud yang tak terbatas. Demikianlah keyakinan penganut Sanatana Dharma terhadap ajaran para Sant dan Acharya yang berbeda-beda dalam tubuh tunggal Dharma kita ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/228623902424000901-4587958228982930293?l=dharmadvar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://dharmadvar.blogspot.com/2010/02/orang-orang-suci-hindu-dan-jasa-jasanya.html</link><author>noreply@blogger.com (dasanrangarajan)</author><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S4SICiU-NVI/AAAAAAAABjA/EaaXgct22RA/s72-c/caitanya.gif" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-228623902424000901.post-2486971554951552893</guid><pubDate>Wed, 10 Feb 2010 00:48:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-02-10T18:12:32.730-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">wanita</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">vaishnava</category><title>Bukan Sekedar Jenis Kelamin</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S3NmD0DsUuI/AAAAAAAABhw/xIPBu7uXxiQ/s1600-h/jahnava-thakurani.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S3NmD0DsUuI/AAAAAAAABhw/xIPBu7uXxiQ/s400/jahnava-thakurani.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5436801390866092770" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sri Jahnava Mata&lt;/span&gt;, ketika Sriman Mahaprabhu dan para Goswami senior telah kembali ke dunia rohani, beliaulah yang menjadi otoritas utama dan tokoh rohani yang paling dimuliakan dalam Sri Goudiya Sampradaya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada satu bagian sastra suci Vaishnava otoritatif seperti Sri Lakshmi Tantra kedudukan seorang wanita begitu dimuliakan. Semua wanita merupakan tempat bersemayamnya kekuatan rohani Sri Mahalakshmi dan merupakan perwujudan Mahalakshmi di dunia ini. Tidaklah ada kekotoran atau kesialan yang ada pada kaum perempuan dan seperti kita memuliakan semua sungai suci seperti Sarasvati, Ganga, dan sebagainya, maka demikian pula hendaknya kita memandang setiap perempuan sebagai yang tak ternoda. Tetapi pada Sri Kapila-gitam, yang merupakan bagian dari Srimad Bhagavatam, sebagai kitab suci yang paling dimuliakan oleh para Vaishnava, bahkan disebut Grantharajan atau Raja semua sastra suci, pernyataan sebaliknya justru ditemukan. Sri Kapila-avataran bersabda pada Devahuti, “Wahai Ibunda! Lihatlah olehmu kebingungan yang ditimbulkan oleh kekuatan-Ku yang mengkhayalkan dalam bentuk seorang wanita. Dia dapat menjerumuskan bahkan seorang penakluk dunia yang paling mulia dan terkendali sekalipun, hanya dengan satu kerlingan matanya. Mereka yang ingin mendapatkan Sri Krishna, yang berada di puncak semua &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sadhana-bhakti-yoga&lt;/span&gt;, janganlah pernah bergaul dengan perempuan. Karena para bijak dan yang mengetahui kebenaran (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;tattva-vit&lt;/span&gt;) telah menjelaskan perempuan sebagai jalan pasti menuju neraka (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;niraya-dvaram&lt;/span&gt;)! Berhati-hatilah karena dia bagaikan sumur yang tertutup rerumputan. Dia selalu dinyatakan sebagai pintu neraka yang terbuka lebar.” Betapa mengagetkannya melihat dua pernyataan yang sangat bertolak belakang. Satu mengatakan perempuan adalah yang suci tak ternoda, sedangkan satunya lagi mengatakan perempuan adalah pintu gerbang neraka dan sumur tertutup rumput yang siap menjerumuskan siapa saja yang tidak berhati-hati. Akan lebih mengejutkan lagi, karena Kapila-avataran menyampaikan hal-hal buruk tentang perempuan ini di hadapan Devahuti, yang adalah ibu-Nya dalam Inkarnasi ini. Sri Lakshmi Tantra sebagai contoh adalah termasuk sastra suci Agamika atau Pancaratrika yang memiliki status sama dengan Sruti. Lalu Grantharajan Srimad Bhagavatam adalah digolongkan Pauranika-sastram (sastra suci yang tergolong Purana). Jadi beberapa orang di luar Sat-sampradayam akan mengatakan dengan mudah, “Pernyataan Sruti lebih tinggi dari Purana, karena itu, sekalipun diucapkan oleh seorang Avatara seperti Sri Kapiladeva, maka pernyataannya harus gugur.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emansipasi wanita adalah nilai yang saat ini sangat dijunjung oleh masyarakat kita, dan sejauh kita perhatikan juga sangat sejalan dengan hak asasi manusia. Sungguh memalukan jika ada ajaran Hindu yang merendahkan perempuan. Jadi solusi yang diberikan di luar Sat-sampradayam adalah buang saja pernyataan Grantharajan. Kebetulan juga Grantharajan tergolong Purana dan kita sudah dapatkan pernyataan yang menentangnya dari Sruti dan Pancaratrika-agama! Maka Grantharajan pun digugurkan otoritasnya, bukan oleh Sruti, tetapi sebenarnya oleh ide emansipasi wanita dan ide kesejajaran gender. Apabila satu ide yang dirumuskan oleh manusia dapat menggugurkan pernyataan sastra suci, sekalipun itu bukan tergolong Sruti-sastra, maka kita berhak mengedit semua bagian Pustaka Suci Veda! Bila 30% merendahkan wanita, 60% memuliakan wanita, dan 10% abstain, maka kita boleh buang yang 10%, apalagi yang 30%, harus diabaikan! Juga ada pemegang veto bernama Sruti. Bila 55% saja pernyataan Sruti mendukung, maka sisanya yang menyatakan lain juga boleh dibuang. Sayangnya, Pustaka Suci Veda bukan parlemen yang berdasarkan demokrasi pemungutan suara. Bila kita menerima semua pernyataan sastra adalah benar dan tidak boleh gugur maka itu juga tidak selesaikan masalah. Bagaimana memahami bahwa perempuan yang adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Devi-svarupi &lt;/span&gt;(wujud nyata Sang Devi) juga adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Niraya-dvaram &lt;/span&gt;(pintu gerbang neraka)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami membawa masalah ini kepada Sad-acharyan yang adalah permata dalam Sat-sampradayam. Srimad Vedanta Desikan menyatakan bahwa dalam Vaishnava-sat-sampradayam tidak boleh ada kontradiksi antar pernyataan sastra Suci. Sri Srila A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupadaji Maharaja adalah Sad-acharyan dalam Sri Goudiya Vaishnava. Apakah yang beliau katakan tentang perempuan? “Laki-laki juga adalah perempuan!” Apa maksudnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S3NmELNxzyI/AAAAAAAABh4/8C4WX4fQNgw/s1600-h/Fw+SRILA+PRABHUPADA+SPEAKS+PER.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 360px; height: 221px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S3NmELNxzyI/AAAAAAAABh4/8C4WX4fQNgw/s400/Fw+SRILA+PRABHUPADA+SPEAKS+PER.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5436801397082410786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Srila Prabhupadaji Maharaja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;Dalam Bhagavata-upadesham beliau di Vrindaban, 1 September 1975, Srila Prabhupadaji Maharaja menyatakan, “Pelatihan ini (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;sadhana&lt;/span&gt;) adalah bagaimana melatihnya menjadi seorang brahmana, dengan sifat&lt;span style="font-style: italic;"&gt; samo, dama, tapo, sauca&lt;/span&gt;, dsb. Tetapi kemajuan akan dihalangi oleh keterikatan pada wanita. Oleh karena itu menurut peradaban Veda, perempuan diterima sebagai halangan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;virodhi&lt;/span&gt;) bagi kemajuan rohani. Dasar seluruh peradaban ini adalah bagaimana untuk menghindari… Perempuan… Jangan kalian pikir hanya perempuan yang adalah perempuan. Laki-laki juga adalah perempuan. Jangan pikir hanya perempuan yang disalahkan; laki-laki tidak. Perempuan berarti dinikmati dan laki-laki berarti yang menikmati. Jadi sesungguhnya perasaan ini, perasaan inilah yang disalahkan. Bila saya melihat seorang wanita untuk dinikmati, maka saya adalah laki-laki. Bila seorang perempuan melihat laki-laki untuk dinikmati, maka dia juga adalah laki-laki. Jadi siapapun yang memiliki perasaan ingin menikmati, dialah laki-laki. Jadi di sini kedua jenis kelamin berencana, bagaimana saya bisa menikmatinya? Maka dia &lt;span style="font-style: italic;"&gt;purusha&lt;/span&gt;, secara mengada-ada. Namun sesungguhnya, sejatinya, kita semua adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;prakruthi, jiva&lt;/span&gt;, laki-laki atau perempuan sama saja. Ini hanyalah semata pakaian luar…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini akan semakin mudah dipahami bila kita tahu istilah apa yang digunakan untuk menyatakan laki-laki atau perempuan dalam Sanskrit, jadi dalam Veda. Laki-laki disebut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;purushan&lt;/span&gt;, yang artinya penikmat, dan perempuan disebut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stri&lt;/span&gt; atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;prakruthi&lt;/span&gt;, yang dinikmati. Tuhan adalah Penikmat Tertinggi atas segalanya, karena semua ini adalah berasal dari Beliau, dan adalah milik Beliau. Karena itu Beliau adalah Purushottaman, hadir sebagai prinsip kelaki-lakian tertinggi. Lalu semuanya terwujud melalui emenasi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shakti &lt;/span&gt;Beliau. Tuhan adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sarva-shaktiman&lt;/span&gt;, sumber semua &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shakti&lt;/span&gt;. Shakti memancar dari Shaktiman demi memberikan kenikmatan bagi Beliau, jadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shakti&lt;/span&gt; yang dinikmati oleh Tuhan bersifat perempuan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Adya-shakti &lt;/span&gt;adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mula-prakruthi&lt;/span&gt;, prinsip kewanitaan yang paling awal, hadir dalam rupa perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan kita? Bukankah kita tergolong jadi kaum laki-laki dan kaum perempuan. Itu hanyalah lahiriah belaka. Tetapi sesungguhnya semua adalah jivatma. Begitu kata semua Veda. Tidak ada laki-laki, tidak ada perempuan, yang benar hanyalah atma. Sebagai jivatma kita semua adalah manifestasi dari shakti. Kita adalah “yang dinikmati”. Kata lain untuk perempuan adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;yosit&lt;/span&gt;. Sri Srila Gurudeva Goura Govinda Swami menyatakan bahwa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;yosit&lt;/span&gt; berarti “dia yang dinikmati”. Permasalahan ada di sini. Baik Srila Prabhupadaji Maharaja maupun Srila Gurudeva menyatakan dengan tegas bahwa pemikiran untuk menikmati inilah yang bermasalah. Oleh karena itu Sri Kapila-avataran bersabda, “Jangan bergaul dengan perempuan, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;yosit-sangam tyajeta&lt;/span&gt;!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S3NmE0FqsHI/AAAAAAAABiA/fKuDLCqHUzU/s1600-h/10628_169781138576_107661128576_2783388_6641620_n.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 362px; height: 244px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S3NmE0FqsHI/AAAAAAAABiA/fKuDLCqHUzU/s400/10628_169781138576_107661128576_2783388_6641620_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5436801408054243442" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Srila Gour Govinda Swami Maharaja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;Jangan melihat perempuan sebagai sumber kenikmatan yang harus dieksploitasi. Jangan melihatnya sebagai pemuas nafsu keinginan duniawi. Dengan menempatkan diri secara tidak wajar sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;purushan&lt;/span&gt;, sang penikmat, lalu bergaul dengan perempuan sebagai yang dinikmati, maka inilah gerbang pasti yang terbuka lebar menuju kehidupan penuh penderitaan. Inilah sumber semua kejatuhan rohani dan penderitaan dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;samsara-samudram&lt;/span&gt;, lautan dukacita kesengsaraan duniawi. Selama kita bergaul dengan cara ini maka tidak akan ada kemajuan rohani dan semua &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sadhana&lt;/span&gt; menjadi sia-sia. Pahamilah makna ini. Lalu ketahuilah bahwa semuanya adalah atma. Sang diri sejati bukan laki-laki atau perempuan. Maka dari itu janganlah berpikir bahwa satu ada demi memberi kenikmatan bagi yang lain. Satu ada untuk memuaskan dan dipuaskan oleh yang lain. Janganlah berpikir untuk saling mengeksploitasi, karena sesungguhnya semua adalah manifestasi dan emenasi yang sama dari Adya-shakti, Sri Mahalakshmi, dan adalah Prakruthi. Semuanya hanyalah dimaksudkan semata bagi pelayanan kepada Sri Purushottaman yang adalah Sarva-shaktiman. Oleh karena &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shakti-shaktimatayor-abhedah&lt;/span&gt;, kekuatan dan sumber segala kekuatan sesungguhnya tiada berbeda, maka Sri Mahalakshmi dan Sri Narayana adalah Satu Kebenaran Mutlak Yang Tunggal. Srimannarayana adalah sumber sekaligus pusat segalanya dan segalanya hanyalah dimaksudkan untuk Beliau. Bergaullah satu sama lain dan pandanglah satu sama lain dengan pemahaman seperti ini. Hiduplah bersama seperti ini. Itulah yang sesungguhnya dimaksudkan oleh semua Veda dan diajarkan oleh semua Vaishnava-sat-sampradayam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi dalam Vaishnava-sat-sampradayam semua pernyataan sastra suci bersepakat bahwa kaum laki-laki haruslah menghormati perempuan. Jangan berpikir dirinya adalah sang penikmat yang berhak mengeksploitasi perempuan demi memberi kenikmatan bagi dirinya. Sekali dia berpikir begini maka perempuan akan menjadi pintu gerbang terbuka lebar yang pasti akan mengantarkannya menuju neraka. Sebaliknya perempuan juga tidak boleh berpikir demikian terhadap laki-laki. Lebih lanjut, kedua pihak janganlah saling mengeksploitasi demi kenikmatan masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Veda-dharma ini adalah jalan hidup yang benar. Tidakkah Sri Rayaru (Sri Raghavendra Tirtharu) juga berkata, “Tuhan telah memberi hidup manusia yang berharga untuk belajar. Mempelajari untuk hidup benar, karena tanpa hidup benar tak akan ada pemikiran benar. Pemikiran yang tidak benar akan membawa kepada perkataan, dan juga tingkah laku dalam ketidakbenaran. Belajarlah hidup benar melalui sastra suci di bawah bimbingan Sad-acharyan, guru kerohanian yang terpercaya, yang merupakan harta tak ternilai di seluruh alam semesta ini. Itulah pelita pemandumu agar dapat melangkah di jalan kebenaran.”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/228623902424000901-2486971554951552893?l=dharmadvar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://dharmadvar.blogspot.com/2010/02/bukan-sekedar-jenis-kelamin.html</link><author>noreply@blogger.com (dasanrangarajan)</author><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S3NmD0DsUuI/AAAAAAAABhw/xIPBu7uXxiQ/s72-c/jahnava-thakurani.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-228623902424000901.post-807187357108271244</guid><pubDate>Sat, 16 Jan 2010 02:32:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-01-15T18:32:00.465-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">hindu</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">wanita</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">vaishnava</category><title>JANGAN MEREMEHKAN PEREMPUAN</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S0lA5Ds63LI/AAAAAAAABfQ/1BamGYhrP2M/s1600-h/radha_krishna_QK89_l.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 315px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S0lA5Ds63LI/AAAAAAAABfQ/1BamGYhrP2M/s400/radha_krishna_QK89_l.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5424938575134907570" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hindu berbeda dengan agama-agama Abrahamik yang cenderung menempatkan Tuhan sebagai pribadi maskulin dan paternalistik yang tidak memberikan tempat vital bagi perempuan. Kita bisa lihat dalam sejarah, bagaimana para pengikut tuhan maskulin ini memusnahkan pemujaan kepada Dewi, divinitas feminin, dan menganggap mereka yang memujanya sebagai kafir. Hindu menginsafi Tuhan sebagai Kesempurnaan Yang Mahalengkap. Impersonal juga Personal. Tidak laki-laki, tidak perempuan, namun sekaligus juga adalah Prinsip Kelaki-lakian Tertinggi (sebagaimana Narayana bagi Vaishnava dan Siva bagi Saiva, yang disimbulkan dengan Lingam) dan Sang Ibunda Tertinggi, Perempuan Yang Paling Awal (Sri atau Mahalaksmi bagi Vaishnava dan Shakti bagi Saiva, yang disimbulkan dengan Yoni).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S0lA5VzaP8I/AAAAAAAABfY/4xC_QBQt01M/s1600-h/NewShaktiShiva_8.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 302px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S0lA5VzaP8I/AAAAAAAABfY/4xC_QBQt01M/s400/NewShaktiShiva_8.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5424938579993968578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Siva-sakti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;Sri Laksmi Tantram merupakan salah satu kitab Pancaratra-agama yang digunakan oleh golongan Vaishnava. Sebagaimana namanya, kitab ini memuliakan Mahalaksmi sebagai bagian tak terpisahkan dari Narayana, Tuhan Tertinggi dalam Vaishnavisme. Selain merupakan Kebenaran Mutlak Tertinggi dalam Pribadi Pasangan Rohani Yang Mahalengkap, Sri Sri Laksmi Narayana dalam teologi Vaishnava, maka Mahalaksmi juga dipandang sebagai Tuhan dalam sisi feminin-Nya atau “Tuhan Perempuan”. Konsep Ketuhanan semacam ini hampir tidak ada di luar agama Veda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sri Laksmi Tantram diturunkan oleh Sang Ibunda Tertinggi secara langsung kepada Indra, Raja Para Deva, istimewanya juga mengungkapkan makna rahasia yang terkandung dalam mantra-mantra Veda utama seperti Purusha-suktam dan Sri-suktam (pada Adhyaya ke-50 dari total 57 Adhyaya-nya). Keistimewaan lainnya adalah Sri Laksmi Tantram “terungkapkan pada dunia” berkat keinsafan atau pencerahan yang dicapai oleh seorang perempuan juga yaitu Anusuya, istri dari Maharishi Atri. Jadi Laksmi Tantram adalah literatur Pancaratra-agama yang unik, karena memuliakan “Tuhan Perempuan”, Sri Mahalaksmi, diungkapkan oleh Sri Mahalaksmi Sendiri, dan kemudian hadir di dunia ini berkat seorang perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Sri Laksmi Tantram Adhyaya 1, mantra 3-6 terlebih dahulu mengungkapkan kemuliaan Atri sebagai salah satu Rishi dalam Veda. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pravara&lt;/span&gt; atau “keturunan rohani” Atri disebut Aatreya. Beberapa yang paling termashyur dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pravara&lt;/span&gt; ini adalah Sutrakara Bhaudhayana, Katyayana, Apasthambha, dan Laukakshi. Secara umum ada 407 Rishi yang  “melihat” Rig-veda mantram (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;mantra-drishta&lt;/span&gt;). Maharishi Atri dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pravara&lt;/span&gt;-nya (Aatreya) terutama mengungkapkan Mandala ke-5. Maharishi Atri dijelaskan sebagai seorang yang telah menaklukkan semua dorongan indera jasmaninya secara sempurna, sang bijak yang merupakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Parama-yogi &lt;/span&gt;menguasai keseluruhan 14 bagian Yoga-sastram (Yoga-sutra Patanjali Adhyaya ke-2 yang disebut Sadhana-pada membahas 11 dari 14 bagian ini). Beliau juga termashyur tak pernah goyah dalam usahanya menyerap Pengetahuan Sejati (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Brahma-jnanam&lt;/span&gt;). Atri telah memusnahkan seorang Asura bernama Svarbhanu yang dengan kekuatan jahatnya ingin mengacau alam semesta dengan menghancurkan matahari. Beliau melakukan itu hanya dengan kekuatan pikirannya saja yang berada dalam kesempurnaan tapa. Sekalipun beliau seorang Grihastha (orang berkeluarga), namun beliau tidak terpengaruh Triguna, yaitu kebaikan relatif, nafsu, dan kebodohan atau kegelapan batin (sehingga diberi nama Atri). Sang Maharishi telah melampaui ketiga keberhasilan dalam hidup (Dharma, Artha, dan Kama), telah mencapai Moksha dan adalah seorang Rishi yang kekal abadi. Demikianlah keagungan dan pencapaian spiritual Maharishi Atri, sehingga sungguh konyol jika kita memperbandingkan para Rishi Veda seperti Atri dengan para nabi dalam agama lain, apalagi menganggapnya sama dengan manusia biasa seperti kita. Oleh pengaruh cara berpikir empiris orang Barat, banyak orang beranggapan bahwa bagian Veda tertentu, misalnya Smriti, bisa saja salah karena disusun berdasarkan ingatan para Rishi, bukan revelasi langsung. Sekalipun Smriti-sastra mungkin hasil ingatan para Rishi, tetapi kesalahan macam apa yang bisa dibuat oleh seseorang yang mampu memusnahkan seorang Asura hanya dengan kekuatan pikirannya saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memuliakan Atri, mantra 7-9 menggambarkan keagungan Dharmapatni-nya, sang istri Anusuya. Anusuya adalah sesempurnanya seorang perempuan yang terbaik sebagai istri. Yang tertinggi di antara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pati-vrata &lt;/span&gt;(sang istri setia maha-utama). Yang telah mendapatkan kedudukan sebagai Ibunda dari Tiga Devata (Brahma, Vishnu, dan Siva dahulu menguji kesetiaan Anusuya dengan menyamar sebagai tiga orang brahmana muda yang meminta makanan namun harus disajikan oleh Anusuya tanpa busana. Permintaan brahmana pantang ditolak, maka Anusuya dengan kekuatan kesetiaan dan pengabdiannya sebagai istri memercikkan air ke arah Tiga Devata dan mengubah Mereka menjadi bayi. Anusuya lalu menyusui Mereka Bertiga). Anusuya adalah seorang perempuan yang dipuji bahkan oleh para Deva, bercahaya gemilang oleh kekuatan tapanya, mencapai kemaha-tahuan, memahami secara sempurna semua Dharma-sastra, dan memperoleh segala ilmu melalui pelayanannya kepada suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantra 10-16 mengungkapkan bagaimana Anusuya bersujud kepada suaminya dan memohon pengetahuan rahasia ini. Dia berkata, “Oh Bhagavan, junjunganku yang maha-mengetahui, Guru dari para bijak. Anda sudah mengungkapkan semua sastra dan memberkati hamba dengan berbagai upadesham (ajaran suci). Hamba telah memahami dengan jelas intisari segala pengetahuan dan juga “buah” yang mereka hasilkan. Menurut hemat hamba dari semuanya tidak ada yang sebaik Bhagavata-dharma, dan Pancaratra-agama adalah yang termulia. Walau demikian dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;upadesham&lt;/span&gt;-mu hamba memperhatikan satu hal. Kapanpun Anda menguraikan Bhagavata-dharma, sungguh mengejutkan karena Anda tidak pernah menyinggung &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Vaibhavam &lt;/span&gt;(uraian kemuliaan dan kebenaran sejati) mengenai Mahalaksmi. Sejauh ini Anda belum pernah menjelaskan secara terperinci bagian-bagian sastra suci yang berkaitan dengan Mahalaksmi-tattva, apakah karena topik ini demikian rahasia ataukah karena hamba tidak pernah mempertanyakannya kepada Anda? Hamba sangat ingin memahami Mahalaksmi Vaibhavam yang sangat istimewa itu. Siapakah sejatinya Beliau itu (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;svarupa&lt;/span&gt;), bagaimana Beliau mengungkapkan Diri-Nya, apakah sumber-sumber Pramana yang dapat memahami Beliau, apakah Inti Terdalam dari Beliau, bagaimanakah cara mencapai-Nya, dan apakah yang kita dapatkan dengan Beliau sebagai Rakshaki (Pelindung) kita? Anda adalah Acharya dan juga suami hamba yang termulia! Anda menguasai berbagai Brahma-vidya untuk mencapai Parambrahman dan juga mahir dalam semua tattva. Maka berkatilah hamba yang bersujud di hadapan Anda demi memahami jalan sejati, pengetahuan rahasia tentang Mahalaksmi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S0lA6NTpnOI/AAAAAAAABfg/lo7pbabjdhs/s1600-h/laksmi17.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 284px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S0lA6NTpnOI/AAAAAAAABfg/lo7pbabjdhs/s400/laksmi17.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5424938594893143266" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Delapan manifestasi Laksmi (Asta-laksmi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;Puas mendengar pertanyaan ini dari istrinya, dengan penuh sukacita Sang Maharishi menjawab sebagaimana dijelaskan dalam mantra ke 17-20. “Sayangku, yang mahir segala dharma dengan sempurna. Engkau sudah mengingatkanku akan ajaran yang belum kuberikan selama ini. Aku menunggu engkau bertanya mengenai hal ini. Oleh karena itu kinilah saatnya aku memberikan upadesham atas Mahalaksmi-tattva. Wahai yang terkasih, ketahuilah bahwa kemuliaan Sang Ibunda dijunjung di atas kepala semua Upanishad, mahkota semua Veda. Mahalaksmi-tattva bersemayam secara kekal dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Veda-sirah&lt;/span&gt; (puncak kepala Veda). Kini engkau memiliki &lt;span style="font-style: italic;"&gt;adhikara &lt;/span&gt;(pancapaian spiritual yang memberikan kepantasan) untuk mendengarnya berkat pertapaan dan kesetiaanmu yang tiada bandingannya. Suatu ketika Maharishi Narada juga ditemui oleh para Rishi dari Malaya-desham yang memiliki pertanyaan sama denganmu. Mereka adalah para Brahma-jnani (orang-orang yang sudah mencapai pencerahan tentang Brahman), ahli yang terpercaya dalam mengajarkan Bhagavata-dharma (Pancaratra-sastram), dan adalah pelaksana berbagai Yajna yang paling dimuliakan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian di atas kita memahami bagaimana pada masyarakat Veda, seorang perempuan bisa memiliki pemahaman sempurna atas segala pengetahuan. Tanpa pertanyaan dari Anusuya, maka dunia tidak akan pernah mendapatkan pengetahuan Sri Laksmi Tantram ini. Bahkan suaminya sendiri dengan jujur mengakui bahwa istrinya telah memiliki &lt;span style="font-style: italic;"&gt;adhikara&lt;/span&gt; atau kepantasan untuk menerima ajaran suci yang sangat rahasia, tersimpan dalam puncak semua Upanishad. Tanpa ragu dia memuji istrinya, memperbandingkannya dengan para Rishi dari Malaya-desham yang menemui Maharishi Narada dengan pertanyaan yang sama. Singkatnya beliau mengatakan bahwa kualitas spiritual istrinya adalah sama dengan para Rishi itu dan pertanyaannya membuktikan itu semua. Ajaibnya, Anusuya memperoleh pencerahan rohani yang sangat tinggi itu berkat kekuatan pertapaannya sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pati-vrata&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pati-vrata&lt;/span&gt; dimaknai sebagai seorang istri yang melaksanakan kewajibannya dengan sangat sempurna, tulus, dan penuh kesetiaan. Anusuya adalah contoh sebaik-baiknya seorang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pati-vrata&lt;/span&gt;. Ada perempuan yang berusaha mencapai keberhasilan dalam hidupnya, seperti dalam karir atau pendidikan, namun mengabaikan kewajibannya terhadap keluarga. Ada pula perempuan yang sibuk melayani keluarganya tanpa memperdulikan perkembangan dirinya sendiri. Tetapi dalam Veda, kaum perempuan diharapkan dapat seperti Anusuya, sempurna dalam keduanya. Suaminya adalah Rishi agung Atri, anak-anaknya adalah Tri Natha atau Tiga Devata Sendiri yang dipuja oleh seluruh alam semesta, dan dirinya sendiri adalah seorang yang tercerahkan, memahami semua pengetahuan, dan menguasai segala ilmu. Tentu pada jaman ini sangat sulit menemukan pribadi seperti mereka, bahkan tidak mungkin! Namun ini menunjukkan bagaimana Veda memuliakan potensi yang dapat dimiliki seorang perempuan. Kaum laki-laki, dalam hal ini dicontohkan oleh Atri sebagai suaminya, bukan saja tidak menghalangi kemajuan istrinya, tetapi justru dengan jujur memujinya, merayakan pencapaiannya dan mendukungnya untuk mencapai keberhasilan lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan, bahkan yang paling rahasia sekalipun dalam Veda, tidak dimonopoli oleh kaum laki-laki saja. Di sisi lain perempuan juga bukan sekedar pendamping dan pelengkap seorang laki-laki seperti dalam ajaran agama lain. Potensinya sangat besar dan perannya begitu vital. Bayangkan saja apabila Anusuya hidup seperti perempuan-perempuan di Negara-negara berideologi tertentu yang dijauhkan dari pendidikan. Lalu laki-lakinya hanya hidup seperti binatang tanpa pencerahan rohani apapun, tetapi hanya menuntut pelayanan dari lawan jenisnya dalam hal-hal badaniah saja. Kita tidak akan pernah mengetahui Sri Laksmi Tantram ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja Sri Laksmi Tantram tidak sekedar membahas peranan wanita. Seperti diuraikan sebelumnya, ini adalah salah satu kitab ajaran rahasia (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Rahasya-jnana-grantham&lt;/span&gt;). Dia mengungkapkan kesejatian tentang Mahalaksmi, Sang Devi, Kebenaran Tertinggi dalam Wujud Feminin-Nya, “Sosok Tuhan Perempuan”. Namun keberadaannya membuktikan betapa terhormatnya kedudukan dan pentingnya peran perempuan dalam Veda.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/228623902424000901-807187357108271244?l=dharmadvar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://dharmadvar.blogspot.com/2010/01/jangan-meremehkan-perempuan.html</link><author>noreply@blogger.com (dasanrangarajan)</author><media:thumbnail url="http://2.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S0lA5Ds63LI/AAAAAAAABfQ/1BamGYhrP2M/s72-c/radha_krishna_QK89_l.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-228623902424000901.post-385611081530603796</guid><pubDate>Wed, 13 Jan 2010 01:48:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-01-12T17:48:00.186-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">hindu</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">wanita</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">vaishnava</category><title>KEDUDUKAN WANITA DALAM SRIVAISHNAVA</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S0k7nV1SVkI/AAAAAAAABfI/4FXAI99lXo0/s1600-h/peruvemba_bhagavati.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 276px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S0k7nV1SVkI/AAAAAAAABfI/4FXAI99lXo0/s400/peruvemba_bhagavati.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5424932773206054466" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pembahasan mengenai sebuah ajaran dalam Hindu tidak akan sempurna tanpa membahas kedudukan wanita dalam masyarakatnya. Bahkan mereka yang “terlahir” dalam Sampradayam, tak jarang sangatlah sedikit mendapat informasi mengenai apa yang disampaikan oleh sastra suci mengenai perempuan. Setiap orang yang telah berpengalaman tinggal beberapa saat di India Selatan akan dapat melihat betapa lebih besarnya kebebasan yang diberikan kepada kaum perempuan Selatan dibandingkan saudari-saudarinya di bagian Utara. Satu-satunya alasan sederhana yang menjelaskan perbedaan ini adalah karena di Utara, Muslim telah berkuasa selama lebih dari 6 abad sehingga mau tidak mau, cara atau budaya yang berkembang dalam masyarakat mereka mengenai kedudukan seorang perempuan di mata kaum laki-laki, juga mempengaruhi masyarakat Hindu di sana. Namun di bagian Selatan, agama Hindu masih tidak tersentuh oleh sikap-sikap mereka yang tidak sejalan dengan ajaran Dharma yang kita anut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Utamanya sebagaimana kita ketahui dalam masyarakat Srivaishnava, kaum perempuan menikmati kebebasan yang luas. Mereka bertanggung jawab atas jalannya kehidupan rumah tangga dan dengan demikan juga meluas pada masyarakat secara umum. Kaum perempuan tidak dipaksakan untuk mengikuti atau melaksanakan ritual-ritual selain membantu suaminya menjalankan kewajiban keagamaan mereka sehari-hari. Perempuan juga berhak menerima inisiasi (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;diksha&lt;/span&gt;) Pancha-samskara, walaupun biasanya dilakukan bersamaan dengan suaminya atau sesaat sebelum melangsungkan pernikahan, namun selalu tersedia kesempatan serta dukungan untuk menerimanya langsung seorang diri! Potensi mereka dikembangkan seluas-luasnya dengan selalu menyemangatkan dan menyediakan fasilitas bagi mereka untuk membaca, mempelajari, dan melantunkan berbagai paasuram Divya-prabandha (mantra-mantra Veda Tamil yang memiliki peranan vital dalam masyarakat Srivaishnava). Para wanita juga selalu melaksanakan japa Mantra Tiga Rahasia Agung yang tersuci (Rahasyatraya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghormatan yang besar juga diberikan sebagaimana ditunjukkan oleh mantra-mantra terpilih dari Sri Lakshmi Tantra berikut (Adhyaya 43: 61-72) mengenai perempuan dan kedudukan mereka dalam Tradisi Pancaratra. Sejauh mana pernyataan-pernyataan sastra suci ini diwujudkan dan diterapkan dalam masyarakat Hindu saat ini, hendaknya selalu menjadi perhatian bagi kita bersama secara serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S0k7nBg-ULI/AAAAAAAABfA/rrVjvxVSD2Y/s1600-h/laksmi6.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 303px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S0k7nBg-ULI/AAAAAAAABfA/rrVjvxVSD2Y/s400/laksmi6.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5424932767752147122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sang Ibunda Semesta bersabda kepada Indra, raja para deva, “Seorang pria hanyalah bisa dikatakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;punyam&lt;/span&gt; (memiliki kebajikan rohani) apabila dia bebas dari segala kegiatan berdosa, secara teguh berpegang pada ajaran-ajaran Pustaka Suci, melaksanakan perbuatan yang tidak dikutuk oleh kaum wanita dan yang dapat menyenangkan hati mereka. Seorang yogi tidak boleh berbuat kesalahan kepada perempuan, baik dalam pikiran, melalui ucapan, maupun perbuatannya. Di manapun Aku berada, segala kesejatian (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;tattva&lt;/span&gt;) ada di sana. Di manapun Aku hadir, maka semua deva juga bersemayam di sana. Di manapun ada Aku, segala kebajikan ada di sana. Di manapun Aku bersemayam maka Krishna juga akan bertahta di tempat itu. Akulah prinsip kewanitaan yang meresapi segala-galanya di alam semesta ini dan yang bersemayam dalam diri setiap perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia yang bersalah pada kaum wanita, bersalah kepada-Ku, Lakshmi Sendiri, dan siapapun yang berdosa di hadapan Lakshmi, telah berdosa kepada seluruh alam semesta. Dia yang memiliki maksud-maksud jahat dan tidak terpuji kepada perempuan, sudah bersikap menghina dan merendahkan Aku Sendiri. Maka siapapun yang bermaksud jahat kepada-Ku, dia juga sudah berbuat kejahatan kepada seluruh alam semesta. Mereka yang Kukasihi adalah yang hatinya bergembira ketika melihat kaum wanita bagaikan kegembiraan melihat indahnya cahaya rembulan, yang tidak pernah pula memendam maupun mengembangkan pemikiran-pemikiran atau prasangka jahat terhadap mereka. Sebagaimana tidaklah ada noda dosa pada Narayana maupun pada Diri-Ku, wahai engkau Indra, tidak pula pada seekor sapi, seorang brahmana dan seorang yang terpelajar dalam Vedanta. Maka tidaklah ada kekotoran atau kesialan yang ada pada kaum perempuan. Inilah yang hendaknya engkau ketahui wahai Indra! Bagaikan Ganga, Sarasvati, dan juga Aruna, bebas dari segala ketidaksucian dan kejahatan, maka demikianlah halnya semua wanita harus dimuliakan sebagai yang tak ternoda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah bahwa sejatinya Aku, Sang Ibunda bagi ketiga dunia, adalah dasar dari sifat kewanitaan, dan telah membuat kekuatan-Ku terwujud dalam diri kaum perempuan. Dengan demikian seorang wanita juga adalah ibu bagi ketiga alam, seorang dewi yang dipenuhi segala kelimpahan. Setelah memahami wanita adalah perwujudan-Ku secara langsung, bagaimana mungkin seorang yogi dapat menghindari penghormatan kepada mereka? Seseorang tidak boleh menyakiti wanita, bahkan tidak boleh berpikir sekalipun untuk menyakiti wanita. Seorang yogi yang sungguh-sungguh ingin mencapai kesempurnaan yoga, harus selalu berusaha bertindak di jalan yang direstui kaum perempuan. Dia harus memandang semua wanita sebagai ibunya, sebagai sang dewi, sebagai Diri-Ku Sendiri!”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/228623902424000901-385611081530603796?l=dharmadvar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://dharmadvar.blogspot.com/2010/01/kedudukan-wanita-dalam-srivaishnava.html</link><author>noreply@blogger.com (dasanrangarajan)</author><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S0k7nV1SVkI/AAAAAAAABfI/4FXAI99lXo0/s72-c/peruvemba_bhagavati.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-228623902424000901.post-2515354171030964195</guid><pubDate>Sun, 10 Jan 2010 09:11:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-01-10T01:11:00.426-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">hindu</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">tarian</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">nataraja</category><title>MAKNA NATARAJA</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S0RWGBY22jI/AAAAAAAABd4/EEvWqMbbiQ0/s1600-h/shiva_fiery_circle2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 341px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S0RWGBY22jI/AAAAAAAABd4/EEvWqMbbiQ0/s400/shiva_fiery_circle2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5423554512712817202" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Nataraja, Raja Para Penari atau Sang Raja Yang Menari, adalah salah satu Rupa dari Hyang Siva yang paling terkenal. Beliau dipuja di kompleks pura agung Chidambaram, Cuddalore, India Selatan. Nataraja mempertunjukkan tarian kosmis-Nya dengan penuh kebahagiaan di Chidambaram, disaksikan oleh para rishi seperti Patanjali dan Vyaghrapadar, serta para deva yang dipimpin oleh Vishnu Sendiri. Pura Chidambaram juga termashyur dengan sesuatu yang disebut Rahasyam, Rahasia dari Chidambaram, yang sesungguhnya hanyalah berupa ruangan kosong, melambangkan kesadaran tertinggi yang paling murni, dimana Chidambaram sendiri berarti Angkasa Kesadaran. Hanyalah dalam kesadaran murni yang berada di lubuk hatinya seorang pemuja dapat mengalami Tuhan secara langsung. Jadi di Chidambaram, simbol ruangan kosong ini mewakili berkembangnya kesadaran murni, yang harus dicapai oleh para Bhakta di dalam hatinya. Nataraja yang menari di Chidambaram, adalah Tuhan yang direalisasikan oleh penyembah-Nya dalam hatinya yang telah disucikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarian Nataraja dikenal sebagai &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Tandava-nrutya&lt;/span&gt; atau sering juga disebut dengan Tarian Kosmis. Tarian ini merupakan gerakan berirama dari alam semesta. Sesungguhnya setiap planet dan setiap atom yang terkecil melakukan gerakan berirama yang sama. Ini bukanlah gerakan yang kacau, tetapi sebuah gerakan yang teratur, diarahkan dan dikendalikan oleh suatu prinsip cerdas yang tak terlihat. Bahkan saat ini para ilmuwan sudah mulai meyakini bahwa alam semesta merupakan suatu tatanan teratur yang cerdas. Segala sesuatunya terkendali bukan terjadi secara kebetulan. Sebuah buku baru-baru ini yang berjudul “The Intelligent Universe” oleh Sir Fred Hoyle, F.R.S. dari Universitas Cambridge menyatakan pandangan tersebut. Dengan demikian sesungguhnya alam semesta ini tidaklah bekerja atau berjalan hanya karena hukum fisika atau kimia belaka. Sehingga kita perlu mengetahui siapakah yang berada di balik keteraturan alam semesta ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hindu, khususnya Saivisme, mengungkapkan pemahaman tersebut melalui konsep Nataraja. Rishi Thirumular yang hidup lebih dari seribu tahun yang lampau, dalam bukunya yaitu Thirumanthiram, mengatakan bahwa tarian Sivalah yang menggerakkan setiap partikel di alam semesta ini. Sehingga dengan demikian Sang Rishi sesungguhnya juga mengetahui bahwa alam semesta yang teratur ini dikendalikan oleh suatu prinsip perencana yang cerdas, yaitu Siva. Sang Rishi dalam pikiran supra-kesadarannya sudah menguak misteri alam semesta yang baru saja mulai ditemukan dan dikaji oleh para ilmuwan modern beberapa tahun belakangan ini. Sedangkan konsep Intelligent Universe dan Intelligent Design sejak lama telah dihadirkan dalam keyakinan Hindu Saivisme sebagai Nataraja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk atau citra dari Nataraja memiliki empat tangan. Pada tangan kanan atas, Beliau memegang genderang, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;udukkai&lt;/span&gt; atau&lt;span style="font-style: italic;"&gt; damaru&lt;/span&gt;. Ini merupakan simbol suara, suara penciptaan. Veda menyatakan bahwa seluruh ciptaan ini berasal dari suara. Bahkan para ilmuwan modern sendiri mengakui bahwa ada suara ledakan ketika alam semesta tercipta, yang kita kenal sebagai teori Big Bang. Ini merupakan awal dari evolusi atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;srishti&lt;/span&gt;. Tangan kiri atas Nataraja memegang kobaran api, simbol dari peleburan atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;samhara&lt;/span&gt;, ketika seluruh alam semesta kembali ke asalnya. Tangan kanan bawah-Nya menunjukkan tanda jangan takut, meyakinkan para pemuja-Nya bahwa mereka yang berlindung kepada-Nya akan dibebaskan dari segala bahaya. Ini merupakan simbul pemeliharaan. Tangan kiri bawah Nataraja menunjuk ke arah kaki-Nya yang terangkat, mengamanatkan kepada umat-Nya agar berlindung dan menyerahkan diri kepada-Nya. Jadi dalam Saiva-agama, Hyang Siva merupakan Pengendali Tertinggi Alam Semesta, pencipta, pemelihara, dan pelebur yang tunggal. Inilah yang diungkapkan oleh bentuk Nataraja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian bawah Nataraja terdapat seorang raksasa cebol tertelungkup, yang diremukkan oleh injakan kaki kanan-Nya. Makhluk ini melambangkan hancurnya ego dan sifat-sifat jahat makhluk hidup. Di bagian belakang Nataraja terdapat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;prabha&lt;/span&gt; yang terdiri dari 36 kobaran cahaya. Ini melambangkan 36 &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tattva&lt;/span&gt; atau tingkat-tingkat evolusi kesadaran roh menuju realisasi kesadaran kosmik yang berbuah Moksha atau pembebasan. Anting-anting yang digunakan oleh Nataraja ada dua jenis, yaitu anting-anting laki-laki dan perempuan, melambangkan kesatuan antara Siva dengan Sakti, Sumber Energi dan Energinya. Naga atau ular kobra yang melingkar di leher dan tangan-Nya menyatakan bahwa Siva tidak terpengaruh oleh kehadiran kekuatan jahat, yang sama sekali tidak bisa menimbulkan akibat apapun pada Tarian-Nya yang tak terbatas. Lingkaran kobra juga melambangkan bangkitnya Kundalini-sakti. Semua ini memusnahkan ketakutan dari hati para Bhakta-Nya, yang senantiasa terlindung dari segala bentuk kejahatan. Tidak ada setan atau iblis yang bisa mempengaruhi penyembah Siva, karena semua ini tidak mampu memberi pengaruh apa-apa. Siva tidak memiliki rival atau saingan, karena semua kekuatan berada di dalam diri-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S0RWGekG4HI/AAAAAAAABeA/JHyB7A3_ADY/s1600-h/chidambaramtank.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 267px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S0RWGekG4HI/AAAAAAAABeA/JHyB7A3_ADY/s400/chidambaramtank.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5423554520544632946" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Chidambaram, Angkasa Kesadaran Murni, Pura Siva yang terbesar di dunia, berusia ribuan tahun. Tempat perziarahan utama bagi para pemuja Siva&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ananda Coomaraswamy, makna penting tarian Siva ini ada tiga. Pertama, tarian ini merupakan citra dari aktivitas ritmik-Nya sebagai sumber dari segala gerakan di alam semesta. Kedua, tujuan dari tarian ini adalah untuk membebaskan roh-roh yang tak terhitung jumlahnya dari selubung khayalan. Ketiga, tempat dari berlangsungnya tarian ini adalah di Chidambaram, pusat kesadaran termurni alam semesta, yang tiada lain adalah hati para Bhakta. Kesimpulannya, tarian ini merupakan sintesis dari sains, agama, dan seni. Inilah sebuah puisi dari ilmu pengetahuan yang paling sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia modern ini memang benar sains dan teknologi telah membantu umat manusia dalam memajukan pertanian, pendidikan, pelayanan kesehatan, transportasi, komunikasi, sumber energi, dan berbagai kemudahan material lainnya. Tetapi juga benar bahwa sains dan teknologi juga membawa ancaman yang nyata bagi keberadaan umat manusia, seperti adanya bahaya bencana nuklir. Kenapa kita harus dihadapkan pada kemungkinan timbulnya bencana-bencana seperti itu? Tak lain adalah karena kita mengabaikan pelaksanaan dharma, yang dapat menekan sifat kebinatangan dalam diri manusia. Sains dan agama tidaklah bertentangan, melainkan saling melengkapi bagi para pencari kebenaran. Keserasian antara sains dan agama merupakan nilai yang dipahami oleh masyarakat Hindu sejak dahulu kala. Dalam Hindu, sains dan agama tidak dipisahkan atau saling dipertentangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sains mencari kebenaran melalui alam semesta duniawi atau eksternal, sehingga temuan-temuan sains berada dalam persepsi indera-indera kita. Agama, di sisi lain merupakan penyelaman terhadap sifat batiniah manusia, pikiran dan roh. Sains memusatkan perhatiannya pada dunia objektif sedangkan agama berurusan dengan dunia subjektif. Dengan sains kita mengenal alam semesta yang secara jasmaniah berada di luar diri kita, sehingga kita dapat hidup dengan baik di dunia ini. Tetapi melalui spiritualitas kita membuat hidup menjadi bermakna, dengan mengenal diri sejati kita dan Tuhan sebagai sumber semua keberadaan ini. Metodologi yang kita gunakan untuk menginvestigasi zat-zat duniawi yang kasar sama sekali tidak cukup dan tidak mampu mencapai roh dan Tuhan yang begitu halus. Proses investigasi ilmiah dapat dilakukan di sekolah dan universitas biasa, sedangkan hanya dengan doa, pemujaan, konsentrasi dan meditasi dalam keheningan kita dapat merasakan pengalaman rohani. Pengalaman rohani dan ekstasi relijius merupakan makanan yang menyokong kesadaran. Kita tidak bisa melupakan kebutuhan rohani ini dan hanya memikirkan pemenuhan kebutuhan badan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S0RWG6r8dFI/AAAAAAAABeI/xMqpl56JfTQ/s1600-h/chid.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 309px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S0RWG6r8dFI/AAAAAAAABeI/xMqpl56JfTQ/s400/chid.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5423554528093697106" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Chit-sabha, Aula Kesadaran, tempat berlangsungnya tarian kosmis Siva di Chidambaram. Berada di bawah atap bergenteng emas padat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama dengan pengembangan sains demi menuju kehidupan duniawi yang lebih baik, kita juga harus meluangkan waktu lebih banyak lagi untuk kontemplasi dan meditasi. Nataraja merupakan salah satu dari berbagai Rupa-Nya yang tak terbatas. Rupa ini menyatakan secara sempurna keserasian antara alam semesta, makhluk hidup, dan Tuhan. Ketika kita memuja Rupa Nataraja, kita menyadari hakikat sempurna ilmu pengetahuan, dimana sains, spiritualitas, dan seni menyatu bersama-sama dalam keselarasan tertinggi. Ketika umat Hindu bermeditasi pada Nataraja yang menari di Chidambaram, dia memusatkan kehidupannya untuk mewujudkan kesadaran murni di hatinya, agar Tuhan bersemayam di sana, dan memancarkan energi serta cintakasih-Nya ke semua makhluk dan seluruh alam semesta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/228623902424000901-2515354171030964195?l=dharmadvar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://dharmadvar.blogspot.com/2010/01/makna-nataraja.html</link><author>noreply@blogger.com (dasanrangarajan)</author><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S0RWGBY22jI/AAAAAAAABd4/EEvWqMbbiQ0/s72-c/shiva_fiery_circle2.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-228623902424000901.post-4377948146330762610</guid><pubDate>Fri, 08 Jan 2010 08:26:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-01-08T00:26:00.289-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">hindu</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">musik</category><title>KEAJAIBAN MUSIK DALAM HINDU (2)</title><description>- lanjutan -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Raga&lt;/span&gt; DESH terkenal dengan kekuatannya menekan kecenderungan indera jasmani sehingga dapat melepaskan energi negatif yang mempengaruhi kita. Dia menuntun seseorang dalam menempuh jalan rohani. Energi positif yang dibangkitkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;raga&lt;/span&gt; ini memberikan ketenangan, kedamaian, keselarasan, kegembiraan batin, semangat juang yang benar, cinta universal, dan kepahlawanan. Lagu nasional Republik India ‘Vande Mataram’ disusun dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;raga&lt;/span&gt; Desh. ‘Vaishnava Janatho’ lagu kesayangan Mahatma Gandhi juga dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;raga&lt;/span&gt; ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S0RPqIsmefI/AAAAAAAABdw/xjD566oRBI0/s1600-h/ambal2.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 292px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S0RPqIsmefI/AAAAAAAABdw/xjD566oRBI0/s400/ambal2.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5423547436568574450" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;persembahan nyanyian dan musik bagi Sang Ibunda Illahi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Raga&lt;/span&gt; MAYAMALAVAGOULA dikenal sebagai gerbangnya musik Carnatic. Sistem ini diperkenalkan oleh sang pujangga suci yang paling terberkati Sri Purandaradasaru, Bapak Musik Carnatic. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Raga&lt;/span&gt; ini memiliki kekuatan menetralisir toksin dalam tubuh. Bila dinyanyikan dan didengarkan pada pagi hari, di tengah-tengah alam yang menyegarkan, maka dia dapat meningkatkan kekuatan kunci-kunci nada apapun yang akan dinyanyikan. Para pujangga menggunakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;raga&lt;/span&gt; ini untuk menimbulkan rasa manis dalam karyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Raga&lt;/span&gt; ANANDABHAIRAVI memiliki efek yang positif pada kerja pikiran, jantung dan pembuluh darah. Pemain biola terkenal, Kunnakudi Vaidyanathan, menjelaskan pengalamannya ketika berhadapan dengan seorang bernama Kannadasan. Kannadasan menantangnya untuk membuktikan efek dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;raga&lt;/span&gt; Anandabhairavi terhadap tekanan darahnya yang tinggi saat mendengarnya dari gesekan biola K. Vaidyanathan. Sayang ketika konser biola akan dimulai, Kannadasan jatuh sakit cukup parah. Tekanan darahnya sangat tinggi, sampai dia tidak mampu bangun dan berjalan sendiri. Panitia penyelenggara lalu mengusahakan dengan segala cara agar Kannadasan bisa datang memenuhi janjinya walau dia sangat enggan. K Vaidyanathan lalu memainkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;raga&lt;/span&gt; Anandabhairavi dengan sangat sempurna menggunakan biola. Tanpa disangka, pada akhir pertunjukan Kannadasan naik ke panggung dan mengumumkan pada semuanya bahwa dia sekarang merasa jauh lebih baik. Anandabhairavi memiliki pengaruh menyejukkan dan memulihkan yang sedemikian itu. Tamil Odhuvar Moorthigal pada umumnya menggunakan Anandabhairavi ketika melantunkan kidung suci Thevaram, Thiruvachakam, dan Divya Prabandham di Pura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Raga&lt;/span&gt; SANKARABARANAM memiliki kekuatan yang tidak terbayangkan. Dia mampu mengobati sakit mental, mendamaikan pikiran yang kacau, memulihkan kedamaian dan keselarasan. Sankarabharanam bila dilantunkan dengan penuh kebaktian dan keyakinan selama jangka waktu tertentu, dapat menyembuhkan gangguan mental yang bahkan paling sulit diatasi secara medis. Arunachala Kavirayar, Muthutandavar, Suddhananda Bharati, Marimuthu Pillai, dan Mayuram Vedanayakam Pillai, banyak menggubah karya yang indah dan manis dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;raga&lt;/span&gt; ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S0RPpgA5jcI/AAAAAAAABdg/StyUnktuVHY/s1600-h/Siva,+Parvati+y+Ganesh.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 275px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S0RPpgA5jcI/AAAAAAAABdg/StyUnktuVHY/s400/Siva,+Parvati+y+Ganesh.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5423547425647857090" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Sankarabharanam, Perhiasan indah bagi Deva Siva&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sankarabaranam juga memiliki kekuatan untuk mencurahkan kemakmuran dan kekayaan. ‘Mahalaksmi Jaganmatha’ dari Papanasam Sivan adalah permata dalam raga ini. Muthuswamy Dikshithar memperbandingkan Sanakarabharanam dengan Akshaya-patram, wadah kekayaan yang tiada habis-habisnya. Beliau menggubah kidung ‘Akshaya Linga Vibho’ dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;raga&lt;/span&gt; ini untuk memuliakan ketidakterbatasan Tuhan. Pada tahun 80-an dibuat sebuah film Telugu yang berjudul Sankarabharanam. Film ini membangkitkan kembali perhatian masyarakat terhadap kekayaan musik klasik India. Semua lagunya menjadi hits dan mengangkat nama para penyanyinya yang sekarang menjadi legenda dalam dunia musik India. Salah satu lagu dalam film itu berjudul Omkaranadanu, mengisahkan betapa mulianya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;raga&lt;/span&gt; Sankarabharanam dalam dunia musik. Dia disebut raja semua &lt;span style="font-style: italic;"&gt;raga&lt;/span&gt;. Berikut adalah liriknya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;OmkAra nAdAnusandhAnamou gAnamE SankarAbharaNamu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Lagu yang menjadi perhiasan bagi kekuatan suara rohani OM, tak lain dan tak bukan adalah Sankarabharanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sankara gaLa nigaLamu Sreehari pada kamalamu&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;rAga ratna mAlika taraLamu (SankarAbharaNamu)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Sankarabharanam ini adalah permata mutu manikam yang bercahaya gemilang di tengah untaian batu-batu mulia bernama Raga. Inilah perhiasan yang melingkari leher Siva dan kaki padma Srihari (Vishnu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S0RPpzKL9ZI/AAAAAAAABdo/nG_OIsc5SJc/s1600-h/narayana.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 273px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S0RPpzKL9ZI/AAAAAAAABdo/nG_OIsc5SJc/s400/narayana.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5423547430787085714" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;menghiasi kaki padma Sri Hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;SArada veeNA rAga chandrikA pulakita SArada rAtramu&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;nArada neerada mahatee ninAda gamakita SrAvaNa geetamu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Sankarabharanam ini bagaikan indahnya malam musim gugur dihiasi kemilau cahaya rembulan, yang dimuliakan sebagai alunan merdu petikan Veena Devi Sarasvati. Sankarabharanam ini adalah nyanyian bulan Sravana yang dinaungi irama nada dari Mahati-veena milik Devarishi Narada dan gema suara dari awan-awan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S0RPpLlinkI/AAAAAAAABdY/pFxOEe0e3yE/s1600-h/Sarasvati+devi.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 268px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S0RPpLlinkI/AAAAAAAABdY/pFxOEe0e3yE/s400/Sarasvati+devi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5423547420164398658" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;irama indah yang mengalun dari petikan senar Veena Devi Sarasvati adalah raga Sankarabharanam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;rasikulakanurAgamai rasa gangalO taanamai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;pallavinchu sAma vEda mantramu (SankarAbharaNamu)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Sankarabharanam ini adalah mantra dari Samaveda yang berendam di tengah pancuran perasaan, dihayati oleh para pujangga dan ahli musik, dan telah mekar dengan indahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-style: italic;"&gt;advaita siddhiki amaratva labdhiki gaaname sOpaanamu....&lt;br /&gt;satva saadhanaku satya Sodhanaku sangeetamE praaNamu&lt;br /&gt;tyAgarAja hrudayamai rAgarAja nilayamai&lt;br /&gt;mukti nosagu bhakti yOga mArgamu&lt;br /&gt;mRtiyalEni sudhAlApa swargamu (SankarAbharaNamu)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Hanyalah musik semata yang menjadi jalan menuji kesempurnaan Advaita dan kekalnya keabadian. Demi menemukan kebenaran akan alam semesta dan kesejatian Tuhan, demi mencapai yang termulia dari semua sifat yaitu Satvaguna, hanyalah musik semata yang menjadi kuncinya. Sankarabharanam ini adalah tahta hati Tyagaraja dan tempat bersemayamnya Tuhan Sri Rama. Inilah jalan pengabdian cintakasih yang menganugerahkan pembebasan dan kunci menuju alam kekekalan tempat mengalirnya madu musik yang indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Anda ingin mendengar lagu ini, silakan &lt;a href="http://www.4shared.com/file/189251544/ddbd60dd/1980_Omkaara_naadanu__Sankarab.html"&gt;download di sini&lt;/a&gt;. Sebagai kesimpulan, setiap &lt;span style="font-style: italic;"&gt;raga&lt;/span&gt; memberikan rasa nyaman, bahagia, dan penuh makna. Masing-masing memiliki kekuatan dan karakteristiknya yang khusus. Apabila dengan tulus dan serius dihayati, maka tak dapat diragukan lagi, pasti akan memberi manfaat yang positif bagi mereka yang menyanyikan maupun mendengarnya. Inilah Keajaiban Musik dalam Hindu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/228623902424000901-4377948146330762610?l=dharmadvar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://dharmadvar.blogspot.com/2010/01/keajaiban-musik-dalam-hindu-2.html</link><author>noreply@blogger.com (dasanrangarajan)</author><media:thumbnail url="http://1.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S0RPqIsmefI/AAAAAAAABdw/xjD566oRBI0/s72-c/ambal2.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-228623902424000901.post-4183656850637896331</guid><pubDate>Fri, 08 Jan 2010 07:50:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-01-07T23:50:00.179-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">hindu</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">musik</category><title>KEAJAIBAN MUSIK DALAM HINDU (1)</title><description>Sebagaimana semua bentuk seni dalam masyarakat Hindu, maka musik juga memiliki sumber kedewataan. Musik klasik India, terutama yang berkembang di Selatan (dikenal sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Karnataka-sangitam&lt;/span&gt; atau Carnatic), diyakini berasal dari para deva dan dihormati sebagai simbol dari Nada-brahman, Sang Kebenaran Mutlak Tertinggi dalam wujud suara. Risalah-risalah musik kuno menguraikan keterkaitan asal-muasal dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;swaram&lt;/span&gt; atau notasi musik Hindu dengan suara-suara alam semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S0REiQa3dgI/AAAAAAAABdA/92qkRIEJ8uU/s1600-h/vedic-sastra.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 262px; height: 155px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S0REiQa3dgI/AAAAAAAABdA/92qkRIEJ8uU/s400/vedic-sastra.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5423535206574814722" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sama-veda, yang memuat banyak mantra-mantra Rigveda tersusun kembali dalam nada-nada musikal yang dapat dinyayikan dengan tiga sampai tujuh not saat pelaksanaan yajna Veda, merupakan dasar dari semua musik klasik India saat ini. Yajurveda yang utamanya merupakan tuntunan pelaksanaan upacara Yajna, menyebutkan Veena (sejenis alat musik petik) sebagai pelengkap dalam upacara mengiringi pelantunan suara vokal. Musik Hindu klasik juga disebut-sebut dalam berbagai sastra seperti Ramayana dan Mahabharata. Yajnavalkya Smriti menyatakan, “Seseorang yang ahli memainkan Veena, yang memiliki pengetahuan tentang Sruti, dan menguasai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tala&lt;/span&gt; (irama ketukan), tak diragukan lagi akan mencapai pembebasan”. Saat ini, musik Carnatic, masih menurut aslinya menggunakan konsep-konsep dalam Veda termasuk mempertahankan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;swara, raga&lt;/span&gt;, dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tala&lt;/span&gt;. Ini diuraikan secara lebih terperinci dalam naskah-naskah kuno seperti Silappadhikaram dan Bharata Natya Sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S0REiKTaY4I/AAAAAAAABc4/DCSGqMa_bd4/s1600-h/vina_ancient3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 217px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S0REiKTaY4I/AAAAAAAABc4/DCSGqMa_bd4/s400/vina_ancient3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5423535204932936578" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;veena&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;Keunikan musik Hindu, khususnya Carnatic, yang menjadi fokus dalam tulisan ini adalah aspek &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Raga&lt;/span&gt;-nya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Raga&lt;/span&gt; adalah mode musik, yaitu serangkaian notasi yang tersusun untuk membentuk irama/melodi. Dalam tradisi musik Hindu, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;raga-raga&lt;/span&gt; ini dihubungkan dengan berbagai waktu yang berbeda dalam satu hari atau dengan musim tertentu. Musik klasik India selalu disusun menurut aturan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;raga&lt;/span&gt;, sebagaimana pelantunan mantra Veda. Sekarang, musik non klasik seperti yang biasa kita dengar di film India atau yang disebut&lt;span style="font-style: italic;"&gt; ghazal&lt;/span&gt;, beberapa masih menggunakan sistem &lt;span style="font-style: italic;"&gt;raga&lt;/span&gt; ini dalam penggubahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matanga dalam kitab Brihaddeshi menjelaskan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;raga&lt;/span&gt; sebagai “suatu kombinasi nada-nada, dengan pancaran gemulainya yang indah, dapat memberikan rasa nyaman dan kesenangan pada orang secara umum”. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Raga &lt;/span&gt;merupakan suatu formasi notasi musik, rangkaian nada yang memiliki pengaruh membangkitkan emosi tertentu, mewujudkan kondisi fisik, dan mempengaruhi secara positif keadaan batin orang yang mendengarnya. Berikut beberapa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;raga &lt;/span&gt;yang kita kenal dalam musik klasik Carnatic:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Raga&lt;/span&gt; BHILAHARI dihubungkan dengan perasaan cintakasih. Lagu ‘Najivadara’ karya Tyagaraja disusun dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;raga&lt;/span&gt; ini. Orang suci Tyagaraja dikatakan menyusun lagu tersebut dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;raga&lt;/span&gt; ini untuk meredakan nyeri perut yang diderita seseorang. Doanya dikabulkan dan orang yang mendengar lagu itu dipulihkan. Krishnalila Tarangini (Curahan Permainan Sukacita Krishna) karya Narayana Tirtha memiliki lagu ‘Purayamamakamam’ yang disusun juga dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;raga &lt;/span&gt;Bhilahari. Di sini beliau berseru, “Wahai Gopala, semoga hamba selalu dalam keadaan baik supaya dapat senantiasa menyanyikan kidung kemuliaan-Mu!” Lagu dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;raga&lt;/span&gt; Bhilahari ini bila dinyanyikan atau didengarkan akan membuat kita selalu sehat dan bersemangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raga RATHIPATIPRIYA menambah kekuatan dan kebugaran dalam kehidupan keluarga yang bahagia. Raga dengan lima swara (notasi) ini memiliki kekuatan mengusir kemelaratan. Dia juga memiliki kekuatan untuk menghapuskan perasaan getir yang timbul oleh niat jahat. Lagu ‘Jagajanani Sukhavani Kalyani’ gubahan M.M. Dandapani Desikar dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;raga&lt;/span&gt; ini sangat terkenal. Menyanyikan atau mendengarkan Rathipatipriya menganugerahkan kebahagiaan dan memiliki pengaruh menyemangatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raga SANMUKHAPRIYA (Sanmugapriya) memiliki pengaruh mempertajam kecerdasan penyanyi dan pendengarnya. Dia menggugah semangat dalam batin dan menyegarkan kembali energi tubuh. Raga Sanmukhapriya diciptakan oleh Deva Sanmukha atau Kumara yang terlahir dari mata ketiga Siva, mata kebijaksanaan yang berkobar. ‘Parvati Nayakane’, ‘Saravanabhava Ennum Thirumathiram’ adalah lagu gubahan Papanasam Sivan yang terkenal dalam raga ini. Demikian pula ‘Valli Nayakane’ oleh Muthaiah Bhagavatar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S0REi-70clI/AAAAAAAABdI/JEkIU9dJguA/s1600-h/saravana.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 276px; height: 352px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S0REi-70clI/AAAAAAAABdI/JEkIU9dJguA/s400/saravana.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5423535219061060178" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Deva Sanmukha dikenal pula sebagai Saravanabhava atau Kumara. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Raga KALYANI mengusir kelamnya kengerian. Dia memberikan hangatnya rasa aman perlindungan seorang ibu dan meningkatkan rasa percaya diri. Kalyani berarti Mangalam, kemujuran dan kesucian. Bila dilantunkan dengan penuh keyakinan dan pengabdian, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;raga&lt;/span&gt; ini diyakini juga dapat meningkatkan kemesraan perkawinan. Ada banyak yang melaporkan bahwa kekuatan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;raga&lt;/span&gt; ini dapat memusnahkan ketakutan berbagai jenis. Takut akan kemiskinan, takut karena cinta, takut pada kekuasaan, takut sakit, takut mati, dsb. Pujangga Tamil yang termashyur, Muthutandavar, menyanyikan ‘Chidambaram Ena En Manam Maghazhinthida Japam Cheyya’, ‘Kodiyya Janana’, dan ‘Maranam Ozhinthidum’ dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;raga&lt;/span&gt; Kalyani. Ketika Sri Tyagaraja menolak permohonan raja Thanjavur untuk menggubah lagu pujian bagi dirinya, beliau menyanyikan ‘Nidhi chala sukama, Ramuni sannidhi seva sugama’ dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;raga&lt;/span&gt; ini pula. Sri Shyama Sastri menggubah ‘Hemadrisute Pahi mam’ sebagai permohonan kepada Devi supaya mengalirkan kekuatan-Nya. Lalu Muthuswami Dikshitar mewariskan lagu ‘Kamalambal Navavarnam’ kepada kita yang berperan sebagai perisai, dengan kekuatannya melindungi kita dari pengaruh negatif vibrasi pergerakan planet-planet. Semua ini disusun dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;raga&lt;/span&gt; Kalyani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S0REjOE0mfI/AAAAAAAABdQ/Olm0iiFaOOU/s1600-h/laksmi5.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S0REjOE0mfI/AAAAAAAABdQ/Olm0iiFaOOU/s400/laksmi5.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5423535223125350898" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;raga Kalyani menghadirkan kasih Sang Ibunda Semesta, Jaganmatha Mahalaksmi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raga KARAHARAPRIYA adalah obat yang ampuh untuk mengatasi kekhawatiran, kecemasan, dan gangguan kejiwaan. Tyagayya mengkhusukkan dirinya dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;raga&lt;/span&gt; ini saat menyanyikan ‘Chakkaniraja’ dan juga ‘Mithri Bhagyame’, ketika beliau memuliakan betapa terberkatinya Sita dan Laksmana hingga selalu dekat dengan Sri Rama dan mendengar panggilan sayang-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raga AABHERI memiliki kekuatan untuk mengumandangkan suatu pemikiran. Hampir semua lagu-lagu gubahan baru yang memakai dasar Aabheri-raga menjadi hits. Dia memiliki kekuatan menenangkan pikiran yang terguncang. ‘Nagumomu’ karya Sri Tyagaraja dan ‘Bhajare manasa’ dari Maysuru Vasudevachar adalah lagu yang terkenal dalam raga ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raga MOHANAM akan hadir ketika keindahan dan cinta tumbuh bersama. Mohanam adalah suatu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;raga&lt;/span&gt; yang mengharukan. Dia memiliki kekuatan menyaring pengaruh buruk nafsu birahi, kemarahan, dan kebimbangan atau kebingungan sehingga dapat memberikan banyak manfaat bagi seorang pencari rohani (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;sadhaka&lt;/span&gt;). ‘Rama ninnu nammina’ oleh Tyagaraja, ‘Gopika manoharam nagalinga namami’ oleh Muthuswamy Dikshitar, ‘Mayil Vahana’ dan ‘Kapali’ oleh Papanasam Sivan dan ‘Ramanai Kannara Kandena’ oleh Arunachala Kavirayar adalah beberapa lagu terkenal dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;raga&lt;/span&gt; ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bersambung-&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/228623902424000901-4183656850637896331?l=dharmadvar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://dharmadvar.blogspot.com/2010/01/keajaiban-musik-dalam-hindu-1.html</link><author>noreply@blogger.com (dasanrangarajan)</author><media:thumbnail url="http://3.bp.blogspot.com/_C-xlYrXPB_0/S0REiQa3dgI/AAAAAAAABdA/92qkRIEJ8uU/s72-c/vedic-sastra.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>3</thr:total></item><language>en-us</language><media:rating>nonadult</media:rating></channel></rss>

