<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-4994266008489912885</atom:id><lastBuildDate>Thu, 16 Feb 2012 10:01:41 +0000</lastBuildDate><category>Famous</category><category>Story</category><category>Reflection</category><category>Tzu Chi</category><category>Quotes</category><category>Dhammapada</category><category>Motivation</category><category>Tea</category><category>Sangha</category><category>Record</category><category>Others</category><category>Global Warming</category><category>Chinese</category><category>History</category><category>Bodhisattva</category><category>Education</category><category>Health</category><category>News</category><category>Dharma</category><title>Dharmapetama</title><description /><link>http://dharmapetama.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Ridwan Wu)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>336</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/Dharmapetama" /><feedburner:info uri="dharmapetama" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><feedburner:emailServiceId>Dharmapetama</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4994266008489912885.post-2813542899052527182</guid><pubDate>Sat, 09 Apr 2011 15:08:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-04-09T22:11:24.492+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Reflection</category><title>Mama Tercinta</title><description>&lt;div align="justify"&gt;‘Empat tahun’ yang lalu, kecelakaan telah merenggut orang yang kukasihi. Sering aku bertanya-tanya, bagaimana keadaan istri saya sekarang di alam surga? Baik-baik sajakah dia? Dia pasti sangat sedih karena sudah meninggalkan sorang suami yang tidak mampu mengurus rumah dan seorang anak yang masih begitu kecil.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah yang kurasakan, karena selama ini saya merasa bahwa saya telah gagaldan tidak bisa memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani anak saya. Kebutuhan yang seharusnya harus dapat ku penuhi sebagai seorang ayah yang baik. Selain itu, saya juga boleh di katakan gagal untuk berperan menjadi ayah dan ibu untuk anak saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, ada urusan penting di tempat kerja. Sehingga aku harus segera berangkat ke kantor dan anak saya masih tertidur waktu itu. Ohhh... aku harus menyediakan makanan untuknya. Karena masih ada sisa nasi, jadi aku menggoreng telur untuk dia makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memberitahu anak saya yang masih mengantuk, aku segera bergegas berangkat ke tempat kerja. Peran ganda yang kujalani, membuat energiku benar-benar terkuras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari ketika aku pulang kerja aku merasa sangat lelah, setelah bekerja sepanjang hari. Hanya sekilas aku memeluk dan mencium anakku, saya langsung masuk ke kamar tidur, dan melewatkan makan malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ketika aku merebahkan badan ke tempat tidur dengan maksud untuk tidur sejenak menghilangkan kepenatan, tiba-tiba saya merasa ada sesuatu yang pecah dan tumpah seperti cairan hangat! Aku membuka selimut dan..... di sanalah sumber 'masalah'nya ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah mangkuk yang pecah dengan mie instan yang berantakan di seprai dan selimut! Oh. ..Tuhan! Aku begitu marah, aku mengambil gantungan pakaian dan langsung menghujani anak saya yang sedang gembira bermain dengan mainan nya, dengan pukulan-pukulan! Dia hanya menangis, sedikitpun tidak meminta belas kasihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat setelah aku puas manghajar anakku, dia hanya memberi penjelasan singkat, "Papa, tadi aku merasa lapar dan tidak ada lagi sisa nasi. Tapi papa belum pulang, jadi aku ingin memasak mie instan. Aku ingat, papa pernah mengatakan untuk tidak menyentuh atau menggunakan kompor gas tanpa ada orang dewasa di sekitar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka aku menyalakan mesin air minum ini dan menggunakan air panas untuk memasak mie.&lt;br /&gt;Satu untuk papa dan yang satu lagi untuk saya. Karena aku takut mie'nya akan menjadi dingin, jadi aku menyimpannya di bawah selimut supaya tetap hangat sampai papa pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku lupa untuk mengingatkan papa karena aku sedang bermain dengan mainan saya. Saya minta maaf Papa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika, air mata mulai mengalir di pipiku. Tetapi saya tidak ingin anak saya melihat ayahnya menangis, maka aku berlari ke kamar mandi dan menangis dengan menyalakan shower di kamar mandi untuk menutupi suara tangis saya. Setelah beberapa&lt;br /&gt;lama, aku hampiri anak saya, memeluknya dengan erat dan memberikan obat kepadanya atas luka bekas pukulan dipantatnya. Lalu aku membujuknya untuk tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian aku membersihkan kotoran tumpahan mie di tempat tidur. Ketika semuanya sudah selesai dan lewat tengah malam, aku melewati kamar anakku dan melihat anakku masih menangis. Dia menangis bukan karena rasa sakit di pantatnya, tapi karena dia sedang melihat foto mamanya yang dia cintai dan dikasihinya. Saya sadari, anaku merasa kehilangan mamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu tahun berlalu sejak kejadian itu, saya mencoba, dalam periode ini, untuk memusatkan perhatian dengan memberinya kasih sayang seorang ayah dan juga kasih sayang seorang ibu, serta memperhatikan semua kebutuhannya. Tanpa terasa, anakku sudah berumur tujuh tahun dan akan lulus dari Taman Kanak-kanak. Untungnya, insiden yang terjadi tidak meninggalkan kenangan buruk di masa kecilnya dan dia sudah tumbuh dewasa dengan bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun... belum lama, aku sudah memukul anakku lagi dan saya benar-benar menyesal. Guru Taman Kanak-kanaknya memanggilku dan memberitahukan bahwa anak saya absen dari sekolah. Aku pulang kerumah lebih awal dari kantor, aku berharap dia bisa menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ia tidak ada dirumah dan aku pergi mencari di sekitar rumah kami, memangil-manggil namanya dan akhirnya menemukan dirinya di sebuah toko alat tulis sedang bermain komputer game dengan gembira. Aku marah, membawanya pulang dan menghujaninya dengan pukulan-pukulan lagi tanpa menanyakan apapun terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia diam saja lalu mengatakan, "Aku minta maaf, Papa". Selang beberapa lama aku selidiki, ternyata ia absen dari acara "pertunjukan bakat" yang diadakan oleh sekolah. Karena yang di undang adalah siswa dengan ibunya. Itulah alasan ketidakhadiran nya karena ia tak punya ibu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari setelah penghukuman dengan pukulan rotan, anakku pulang ke rumah memberitahu saya, bahwa disekolahnya mulai diajarkan cara membaca dan menulis. Sejak saat itu anakku lebih banyak mengurung diri di kamarnya untuk berlatih menulis. Saya yakin, jika istri saya masih ada dan melihatnya, ia akan merasa bangga. Serta tentu saja anakku membuat saya bangga juga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu berlalu dengan begitu cepat. Satu tahun telah lewat. Saat ini musim dingin dan hari Natal telah tiba. Semangat Natal ada dimana-mana, juga di hati setiap orang yang berlalu lalang... Lagu-lagu Natal terdengar diseluruh pelosok jalan .... tapi astaga, anakku membuat masalah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku sedang menyelasaikan pekerjaan di hari-hari terakhir kerja, tiba-tiba kantor pos menelpon. Karena pengiriman surat sedang mengalami puncaknya, tukang pos juga sedang sibuk-sibuknya, suasana hati mereka pun jadi kurang bagus. Mereka menelpon saya dengan marah-marah, untuk memberitahu bahwa anak saya telah mengirim beberapa surat tanpa alamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun saya sudah berjanji untuk tidak pernah memukul anak saya lagi, tetapi saya tidak bisa menahan diri untuk tidak memukulnya lagi. Karena saya merasa bahwa anak ini sudah benar-benar keterlaluan.&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Tapi sekali lagi, seperti sebelumnya, dia meminta maaf : "Maaf, Papa". Tidak ada tambahan satu kata pun untuk menjelaskan alasannya melakukan itu. Setelah itu saya pergi ke kantor pos untuk mengambil surat-surat tanpa alamat tersebut lalu pulang.&lt;br /&gt;Sesampai di rumah, dengan marah saya mendorong anak saya ke sudut mempertanyakan kepadanya, perbuatan konyol apalagi ini? Apa yang ada dikepalanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya, di tengah isak-tangisnya, adalah : "Surat-surat itu untuk mama....". Tiba-tiba mataku berkaca-kaca. .... Tapi aku mencoba mengendalikan emosi dan terus bertanya kepadanya: "Tapi kenapa kamu memposkan begitu banyak surat-surat pada waktu yang sama?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban anakku, "Aku telah menulis surat buat mama untuk waktu yang lama. Tapi setiap kali aku mau menjangkau kotak pos itu, terlalu tinggi bagiku. Sehingga aku tidak dapat memposkan surat-suratku. Tapi baru-baru ini, ketika aku kembali ke kotak pos, aku bisa mencapai kotak itu dan aku mengirimkannya sekaligus".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendengar penjelasannya ini, aku kehilangan kata-kata, aku bingung, tidak tahu apa yang harus aku lakukan dan apa yang harus aku katakan ....&lt;br /&gt;Setelah berhasil meredam gejolak perasaaan ku, aku bilang pada anakku, "Nak, mama sudah berada di surga. Jadi untuk selanjutnya, jika kamu hendak menuliskan sesuatu untuk mama, cukup dengan membakar surat tersebut maka surat akan sampai kepada mama".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendengar hal ini, anakku jadi lebih tenang, dan segera setelah itu, ia bisa tidur dengan nyenyak. Saya berjanji akan membakar surat-surat atas namanya, jadi saya membawa surat-surat tersebut ke luar, tapi.... saya jadi penasaran untuk tidak membuka surat tersebut sebelum mereka berubah menjadi abu. Salah satu dari isi surat-suratnya membuat hati saya hancur......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Mama sayang',&lt;br /&gt;Saya sangat merindukanmu! Hari ini, ada sebuah acara 'Pertunjukan Bakat' di sekolah, dan mengundang semua ibu untuk hadir di pertunjukan tersebut.. Tapi kamu tidak ada, jadi saya tidak ingin menghadirinya juga. Aku tidak memberitahu ayah tentang hal ini karena aku takut ayah akan mulai menangis dan merindukanmu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu untuk menyembunyikan kesedihan, aku duduk di depan komputer dan mulai bermain game di salah satu toko. Ayah keliling-keliling mencari saya, setelah menemukanku ayah marah, dan aku hanya bisa diam, ayah memukul aku, tetapi aku tidak menceritakan alasan yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama, setiap hari saya melihat ayah merindukanmu, setiap kali dia teringat padamu, ia begitu sedih dan sering bersembunyi dan menangis di kamarnya. Saya pikir kita berdua amat sangat merindukanmu. Terlalu berat untuk kita berdua, saya rasa. Tapi ma.., aku mulai melupakan wajahmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisakah mama muncul dalam mimpiku sehingga saya dapat melihat wajahmu dan ingat anda? Temanku bilang jika kau tertidur dengan foto orang yang kamu rindukan, maka kamu akan melihat orang tersebut dalam mimpimu. Tapi mama, mengapa engkau tak pernah muncul?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membaca surat itu, tangisku tidak bisa berhenti karena saya tidak pernah bisa menggantikan kesenjangan yang tak dapat digantikan semenjak ditinggalkan oleh istri saya ....&lt;br /&gt;Untuk para suami, yang telah dianugerahi seorang istri yang baik, yang penuh kasih terhadap anak-anakmu selalu berterima-kasihlah setiap hari padanya. Dia ( istrimu ) telah rela menghabiskan sisa umurnya untuk menemani hidupmu, membantumu, mendukungmu, memanjakanmu dan selalu setia menunggumu, menjaga dan menyayangi dirimu dan anak-anakmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hargailah keberadaannya, kasihilah dan cintailah dia sepanjang hidupmu dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Karena apabila engkau telah kehilangan dia, tidak ada emas permata, intan berlian yang bisa menggantikan posisinya. Percayalah !!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;by: Moralitas Yong&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4994266008489912885-2813542899052527182?l=dharmapetama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Dharmapetama/~4/gIYjSRypWGM" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Dharmapetama/~3/gIYjSRypWGM/mama-tercinta.html</link><author>noreply@blogger.com (Ridwan Wu)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://dharmapetama.blogspot.com/2011/04/mama-tercinta.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4994266008489912885.post-1193779955896112933</guid><pubDate>Sat, 09 Apr 2011 15:01:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-04-09T22:07:34.611+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Reflection</category><title>Jangan Benci Aku, Mama !</title><description>&lt;div align="justify"&gt;Dua puluh tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Sam, suamiku, memberinya nama Eric. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang. Saya berniat memberikannya kepada orang lain saja untuk dijadikan budak atau pelayan.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya membesarkannya juga. &lt;br /&gt;Di tahun kedua setelah Eric dilahirkan saya pun melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Saya menamainya Angelica. Saya sangat menyayangi Angelica, demikian juga Sam. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan dan membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah. Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian butut. Sam berniat membelikannya, namun saya selalu melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Sam selalu menuruti perkataan saya. Saat usia Angelica 2 tahun Sam meninggal dunia. Eric sudah berumur 4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Akhirnya saya mengambil tindakan yang akan membuat saya menyesal seumur hidup. Saya pergi meninggalkan kampung kelahiran saya beserta Angelica. Eric yang sedang tertidur lelap saya tinggalkan begitu saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian saya tinggal di sebuah gubuk setelah rumah kami laku terjual untuk membayar hutang. Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun.. telah berlalu sejak kejadian itu. Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Usia Pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Brad, sifat-sifat buruk saya yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang. Angelica telah berumur 12 tahun dan kami menyekolahkan dia di asrama putri sekolah perawatan. Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric dan tidak ada lagi yang mengingatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai suatu malam. Malam di mana saya bermimpi tentang seorang anak. Wajahnya agak tampan namun tampak pucat sekali. Ia melihat ke arah saya. Sambil tersenyum ia berkata, "Tante, Tante kenal mama saya? Saya Rindu sekali pada Mommy!"&lt;br /&gt;Setelah berkata demikian ia mulai beranjak pergi, namun saya menahannya, "Tunggu..., sepertinya saya mengenalmu. Siapa namamu anak manis?" "Nama saya Eric, Tante." "Eric? Eric... Ya Tuhan! Kau benar-benar Eric?" Saya langsung tersentak dan bangun. Rasa bersalah, sesal dan berbagai perasaan aneh lainnya menerpa diri saya saat itu juga. Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti sebuah film yang diputar dikepala saya. Baru sekarang saya menyadari betapa jahatnya perbuatan saya dulu. Rasanya seperti mau mati saja saat itu. Ya, saya harus mati..., mati..., mati... Ketika tinggal seinchi jarak pisau yang akan saya goreskan ke pergelangan tangan, tiba-tiba bayangan Eric melintas kembali di pikiran saya. Ya Eric, Mommy akan menjemputmu Eric... Sore itu saya memarkir mobil biru saya di samping sebuah gubuk, dan Brad dengan pandangan heran menatap saya dari samping. "Mary, apa yang sebenarnya terjadi?" "Oh, Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal yang telah saya lakukan dulu." Tapi aku menceritakannya juga dengan&lt;br /&gt;terisak-isak. .. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya. Ia telah memberikan suami&lt;br /&gt;yang begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangis saya reda, saya keluar dari mobil diikuti oleh Brad dari belakang. Mata saya menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari hadapan saya. Saya mulai teringat betapa gubuk itu pernah saya tinggali beberapa bulan lamanya dan Eric.. Eric... Saya meninggalkan Eric di sana 10 tahun yang lalu. Dengan perasaan sedih saya berlari menghampiri gubuk tersebut dan membuka pintu yang terbuat dari bambu itu. Gelap sekali... Tidak terlihat sesuatu apapun! Perlahan mata saya mulai terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan kecil itu. Namun saya tidak menemukan siapapun juga di dalamnya. Hanya ada sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Saya mengambil seraya mengamatinya dengan seksama... Mata mulai berkaca-kaca, saya mengenali potongan kain tersebut sebagai bekas baju butut yang dulu dikenakan Eric sehari-harinya. .. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian, dengan perasaan yang sulit dilukiskan, saya pun keluar dari ruangan itu... Air mata saya mengalir dengan deras. Saat itu saya hanya diam saja. Sesaat kemudian saya dan Brad mulai menaiki mobil untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, saya melihat seseorang di belakang mobil kami. Saya sempat kaget sebab suasana saat itu gelap sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor. Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali saya tersentak kaget manakala ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau. "Heii...! Siapa kamu?! Mau apa kau kemari?!" Dengan memberanikan diri, saya pun bertanya, "Ibu, apa ibu kenal dengan seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di sini?" Ia menjawab, "Kalau kamu ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk! Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Eric terus menunggu ibunya dan memanggil, 'Mommy..., mommy!' Karena tidak tega, saya terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal Bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga bulan yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu..." Saya pun membaca tulisan di kertas itu... "Mommy, mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi...? Mommy marah sama Eric, ya? Mom, biarlah Eric yang pergi saja, tapi Mommy harus berjanji kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Eric. Bye, Mom..." Saya menjerit histeris membaca surat itu. "Bu, tolong katakan... katakan di mana ia sekarang? Saya berjanji akan meyayanginya sekarang! Saya tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan..!!" Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras. "Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, Eric telah meninggal dunia.. Ia meninggal di belakang gubuk ini. Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya demi menunggumu ia rela bertahan di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut apabila Mommy-nya datang, Mommy-nya akan pergi lagi bila melihatnya ada di dalam sana ... Ia hanya berharap dapat melihat Mommy-nya dari belakang gubuk ini... Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya di sana . Saya kemudian pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(kisah nyata di irlandia utara)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4994266008489912885-1193779955896112933?l=dharmapetama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Dharmapetama/~4/JtIAekz3EmI" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Dharmapetama/~3/JtIAekz3EmI/jangan-benci-aku-mama.html</link><author>noreply@blogger.com (Ridwan Wu)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://dharmapetama.blogspot.com/2011/04/jangan-benci-aku-mama.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4994266008489912885.post-6919594518667859930</guid><pubDate>Fri, 28 Jan 2011 03:45:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-01-28T10:57:38.413+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Chinese</category><title>Asal Usul Tradisi Memberikan Angpao Pada Tahun Baru Imlek</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_2m8p-tpG7OM/TUI-pNHgj7I/AAAAAAAABas/SxSbieUGRBk/s1600/iqe85204529c8808a2e5a1b1c320612238.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 133px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_2m8p-tpG7OM/TUI-pNHgj7I/AAAAAAAABas/SxSbieUGRBk/s200/iqe85204529c8808a2e5a1b1c320612238.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567080967000068018" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sejak lama, warna merah melambangkan kebaikan dan kesejahteraan di dalam kebudayaan Tionghoa. Warna merah menunjukkan kegembiraan, semangat yang pada akhirnya akan membawa nasib baik.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angpao sendiri adalah dialek Hokkian, arti harfiahnya adalah bungkusan/amplop merah. Sebenarnya, tradisi memberikan angpao sendiri bukan hanya monopoli tahun baru Imlek, melainkan di dalam peristiwa apa saja yang melambangkan kegembiraan seperti pernikahan, ulang tahun, masuk rumah baru dan lain-lain, angpao juga akan ditemukan.&lt;br /&gt;Angpao pada tahun baru Imlek mempunyai istilah khusus yaitu “Ya Sui“, yang artinya hadiah yang diberikan untuk anak-anak berkaitan dengan pertambahan umur/pergantian tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di zaman dulu, hadiah ini biasanya berupa manisan, bonbon dan makanan. Untuk selanjutnya, karena perkembangan zaman, orang tua merasa lebih mudah memberikan uang dan membiarkan anak-anak memutuskan hadiah apa yang akan mereka beli. Tradisi memberikan uang sebagai hadiah Ya Sui ini muncul sekitar zaman Ming dan Qing. Dalam satu literatur mengenai Ya Sui Qian dituliskan bahwa anak-anak menggunakan uang untuk membeli petasan, manisan. Tindakan ini juga meningkatkan peredaran uang dan perputaran roda ekonomi di Tiongkok di zaman tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angpao apakah disebut angpao di zaman dulu? Bagaimana bentuknya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak. Uang kertas pertama kali digunakan di Tiongkok pada zaman Dinasti Song, namun baru benar-benar resmi digunakan secara luas di zaman Dinasti Ming. Walaupun telah ada uang kertas, namun karena uang kertas nominalnya biasanya sangat besar sehingga jarang digunakan sebagai hadiah Ya Sui kepada anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di zaman dulu, karena nominal terkecil uang yang beredar di Tiongkok adalah keping perunggu (wen atau tongbao). Keping perunggu ini biasanya berlubang segi empat di tengahnya. Bagian tengah ini diikatkan menjadi untaian uang dengan tali merah. Keluarga kaya biasanya mengikatkan 100 keping perunggu buat Ya Sui orang tua mereka dengan harapan mereka akan berumur panjang.&lt;br /&gt;Jadi, dari sini dapat kita ketahui bahwa bungkusan kertas merah (angpao) yang berisikan uang belum populer di zaman dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberian angpao apakah punya makna tersendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Tionghoa menitik beratkan banyak masalah pada simbol-simbol, demikian pula halnya dengan tradisi Ya Sui ini. Sui dalam Ya Sui berarti umur, mempunyai lafal yang sama dengan karakter Sui yang lain yang berarti bencana. Jadi, Ya Sui bisa disimbolkan sebagai “mengusir/meminimalkan bencana” dengan harapan anak-anak yang mendapat hadiah Ya Sui akan melewati 1 tahun ke depan yang aman tenteram tanpa halangan berarti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang wajib memberikan angpao dan berhak menerima angpao?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam tradisi Tionghoa, orang yang wajib dan berhak memberikan angpao biasanya adalah orang yang telah menikah, karena pernikahan dianggap merupakan batas antara masa kanak-kanak dan dewasa. Selain itu, ada anggapan bahwa orang yang telah menikah biasanya telah mapan secara ekonomi. Selain memberikan angpao kepada anak-anak, mereka juga wajib memberikan angpao kepada yang dituakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang belum menikah, tetap berhak menerima angpao walaupun secara umur, seseorang itu sudah termasuk dewasa. Ini dilakukan dengan harapan angpao dari orang yang telah menikah akan memberikan nasib baik kepada orang tersebut, dalam hal ini tentunya jodoh. Bila seseorang yang belum menikah ingin memberikan angpao, sebaiknya cuma memberikan uang tanpa amplop merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tradisi di atas tidak mengikat. Sekarang ini, pemberikan angpao tentunya lebih didasarkan pada kemapanan secara ekonomi, lagipula makna angpao bukan sekedar terbatas berapa besar uang yang ada di dalamnya melainkan lebih jauh adalah bermakna senasib sepenanggungan, saling mengucapkan dan memberikan harapan baik untuk 1 tahun ke depan kepada orang yang menerima angpao tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : iccsg.wordpress.com - Rinto Jiang&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4994266008489912885-6919594518667859930?l=dharmapetama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Dharmapetama/~4/bl1vaEL1_Wg" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Dharmapetama/~3/bl1vaEL1_Wg/asal-usul-tradisi-memberikan-angpao.html</link><author>noreply@blogger.com (Ridwan Wu)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_2m8p-tpG7OM/TUI-pNHgj7I/AAAAAAAABas/SxSbieUGRBk/s72-c/iqe85204529c8808a2e5a1b1c320612238.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://dharmapetama.blogspot.com/2011/01/asal-usul-tradisi-memberikan-angpao.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4994266008489912885.post-7886855331632404879</guid><pubDate>Fri, 28 Jan 2011 03:41:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-01-28T10:45:05.804+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Chinese</category><title>Asal Usul Kue Keranjang</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_2m8p-tpG7OM/TUI7kaxxkKI/AAAAAAAABak/CAsu8y8iBpI/s1600/IMG_2005.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_2m8p-tpG7OM/TUI7kaxxkKI/AAAAAAAABak/CAsu8y8iBpI/s200/IMG_2005.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5567077586232774818" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kue Keranjang yang disebut juga sebagai Nian Gao (年糕) atau dalam dialek Hokkian Tii Kwee (甜棵), yang mendapat nama dari wadah cetaknya yang berbentuk keranjang , adalah kue yang terbuat dari tepung ketan dan gula , serta mempunyai tekstur yang kenyal dan lengket. Kue ini merupakan salah satu kue khas atau wajib perayaan tahun baru Imlek, walaupun tidak di Beijing pada suatu saat. &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kue keranjang ini mulai dipergunakan sebagai sesaji pada upacara sembahyang leluhur, enam hari menjelang tahun baru Imlek (Jie Sie Siang Ang), dan puncaknya pada malam menjelang tahun baru Imlek. Sebagai sesaji, kue ini biasanya tidak dimakan sampai Cap Go Meh (malam ke-15 setelah Imlek).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipercaya pada awalnya kue, ini ditujukan sebagai hidangan untuk menyenangkan dewa Tungku agar membawa laporan yang menyenangkan kepada raja Surga (玉皇大帝，Yu Huang Da Di). Selain itu, bentuknya yang bulat bermakna agar keluarga yang merayakan Imlek tersebut dapat terus bersatu, rukun dan bulat tekad dalam menghadapi tahun yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ASAL USUL NAMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kue keranjang memiliki nama asli Nien Kao atau Ni-Kwee yang disebut juga kue tahunan karena hanya dibuat setahun sekali pada masa menjelang tahun baru Imlek. Di Jawa Wetan disebut sebagai kue keranjang sebab dicetak dalam sebuah "keranjang" bolong kecil, sedangkan di Jawa Kulon diberi namaKue Cina untuk menunjukkan asal kue tersebut yaitu Cina, walaupun ada beberapa kalangan yang merujuk pada suku pembuatnya, yaitu orang-orang Tionghoa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan dalam dialek Hokkian, tii kwee berarti kue manis, yang menyebabkan orang-orang tidak sulit menebak kalau kue ini rasanya manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ARTI DI BALIK KUE KERANJANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Cina terdapat kebiasaan saat tahun baru Imlek untuk terlebih dahulu menyantap kue keranjang sebelum menyantap nasi sebagai suatu pengharapan agar dapat selalu beruntung dalam pekerjaannya sepanjang tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nien Kao atau Nian Gao, kata Nian sendiri berati tahun dan Gao berarti kue dan juga terdengar seperti kata tinggi, oleh sebab itu kue keranjang sering disusun tinggi atau bertingkat. Makin ke atas makin mengecil kue yang disusun itu, yang memberikan makna peningkatan dalam hal rezeki atau kemakmuran. Pada zaman dahulu banyaknya atau tingginya kue keranjang menandakan kemakmuran keluarga pemilik rumah. Biasanya kue keranjang disusun ke atas dengan kue mangkok berwarna merah di bagian atasnya. Ini adalah sebagai simbol kehidupan manis yang kian menanjak dan mekar seperti kue mangkok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CARA MENYAJIKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kue yang terbuat dari beras ketan dan gula ini dapat disimpan lama, bahkan dengan dijemur dapat menjadi keras seperti batu dan awet. Sebelum menjadi keras kue tersebut dapat disajikan langsung, akan tetapi setelah keras dapat diolah terlebih dahulu dengan digoreng menggunakan tepung dan telur ayam dan disajikan hangat-hangat. Dapat pula dijadikan bubur dengan dikukus (di-tjwee) kemudian ditambahkan bumbu-bumbu kesukaan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4994266008489912885-7886855331632404879?l=dharmapetama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Dharmapetama/~4/xLUT6AaqWjQ" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Dharmapetama/~3/xLUT6AaqWjQ/asal-usul-kue-keranjang.html</link><author>noreply@blogger.com (Ridwan Wu)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_2m8p-tpG7OM/TUI7kaxxkKI/AAAAAAAABak/CAsu8y8iBpI/s72-c/IMG_2005.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://dharmapetama.blogspot.com/2011/01/asal-usul-kue-keranjang.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4994266008489912885.post-3822910963996054784</guid><pubDate>Fri, 31 Dec 2010 04:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-12-31T11:19:37.495+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Reflection</category><title>10 Hal Yang Membahagiakan Bagi Para Orang Tua</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_2m8p-tpG7OM/TR1ZySO1vaI/AAAAAAAABac/sjVMDpYrSqI/s1600/07ParentEd.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 160px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_2m8p-tpG7OM/TR1ZySO1vaI/AAAAAAAABac/sjVMDpYrSqI/s200/07ParentEd.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556696235667471778" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div align="justify"&gt;Peran sebagai orangtua adalah sebuah perjuangan yang unik, dan hanya sedikit hal dalam kehidupan yang sebanding dengan kebahagiaan itu, seperti yang akan dipaparkan berikut ini.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kelahiran sang Buah Hati&lt;br /&gt;Bagi banyak pasangan, persalinan dan kelahiran adalah hal yang menakutkan, namun setiap pasangan akan tetap bertahan menghadapinya. Dan ketika hal tersebut berhasil dilalui walaupun dengan begitu sulit, akhirnya pengalaman indah itu telah menganugerahkan sebuah penghargaan akan kehidupan. Itu adalah benar-benar sebuah keajaiban.&lt;br /&gt;Betapapun, tubuh seorang ibu telah menunaikan tugasnya lebih baik daripada yang dapat dilakukan oleh sebuah perusahaan manapun: merencanakan dan kemudian meluncurkan produk baru hanya dalam waktu sembilan bulan. Tanpa harus ada rancangan anggaran, presentasi atau pun rencana pemasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat pertama keluar rumah&lt;br /&gt;Sebelum bayi dibawa jalan-jalan ke luar rumah biasanya dia diselimuti rapat-rapat, ditutupi kepalanya dengan topi, dimasukkan ke dalam keranjang, dan kemudian dimasukkan ke dalam kereta bayi. Dengan penuh perasaan kuatir kita sering kali bolak-balik menengok keadaan bayi kita sebelum kita mengajaknya berjalan-jalan. Kereta bayi kemudian didorong secara perlahan ke seputar komplek dan hanya dalam udara yang hangat. Dan ketika kemudian sudah tiba di rumah kembali, kita bersyukur bahwa kita dan bayi kita sudah pulang dalam keadaan selamat. Hal ini barangkali seperti sebuah keberhasilan yang tidak berarti, tetapi dengan pengalaman ini kepercayaan diri kita seperti bertambah. Maka sejak saat itu banyak hal menjadi mungkin untuk dilakukan bersama bayi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat-saat Sang Anak mulai panggil “Papa” “Mama”&lt;br /&gt;Saat-saat seperti ini, sang Ayah maupun sang Ibu merasakan kebahagiaan yang sangat di dalam hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat-saat Sang Anak mulai bisa berjalan&lt;br /&gt;Ya! Adalah hal yang mengagumkan dan bagaimana bergairahnya Orang Tua melihat anaknya mulai berhasil berjalan sendiri, walaupun masih suka jatuh-jatuh sedikit..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat-saat Makan Bersama Keluarga&lt;br /&gt;Orang tua sangat senang bila makan bersama dan ngumpul dengan anak-anak nya. Ini terbukti pada orang tua saya, tidak tau bagaimana dengan orang tua Anda.. he.he. Bagi yang super sibuk, Usahakanlah minimal seminggu sekali duduk dan makan bersama.. sambil bercerita tentang kehidupan Anda. Mereka ( orang tua ) selalu mau menjadi pendengar yang baik. Percayalah !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu untuk bermain&lt;br /&gt;Pada saat bermain dengan anak orang tua diibaratkan seperti berada di mesin waktu. Kita berpindah dari suatu permainan ke permainan yang lain, bermain boneka-boneka, bermain petak umpet dan bermain dengan binatang kesayangan. Bermain dengan anak kita akan membangkitkan ingatan kita kembali akan masa kecil, perasaan yang sudah lama terlupakan. Setiap kali bermain membuat bangunan dengan Lego, berdandan seperti seorang puteri, atau permainan lainnya, kita akan menemukan kembali sebuah pemikiran kreatif, yang di dunia orang dewasa mungkin sangat jarang ditemukan. Biasanya akan terasa sulit bermain bersama anak kita setelah habis jam kantor - tanpa harus berpikir mengenai tenggat waktu pekerjaan yang dibebankan kantor kepada kita - tetapi sekali saja kita berhasil membebaskan pikiran kita, maka kita akan dapat menikmati saat-saat bersama anak kita dan serasa ingin selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelukan dan ciuman&lt;br /&gt;Barang kali berupa ciuman sekilas yang diam-diam diberikan di pipi pada saat anak kita tidur. Atau pelukan yang hangat sebelum berangkat ke kantor yang kemudian dibalas oleh anak kita dengan pelukan dan ciuman khas anak-anaknya. Balasan itu seakan membangkitkan daya hidup kita, seperti campuran kopi dengan gula yang diminum di pagi hari. Pengungkapan rasa kasih sayang mungkin akan semakin berkurang seiring makin dewasanya anak-anak kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak adalah cerminan kita&lt;br /&gt;Anak kita mungkin mempunyai selera humor yang diwarisinya dari kita, sehingga ia bisa menghibur pasangan kita yang sedang sedih. Sungguh bagus karena anak kita tidak mewarisi kelemahan kita yang tidak bisa memperbaiki perbedaan yang ada yang akan mengkibatkan keretakan hubungan. Pengamatan kita akan ciri-ciri fisik dan kepribadian yang menjelma secara alami pada anak-anak kita - dan yang selebihnya, syukurlah, tidak mewujud - adalah salah satu bagian yang paling memuaskan dari pengawasan tumbuh kembang anak-anak kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menemukan Hobi Baru&lt;br /&gt;Anak-anak memperkenalkan kepada kita hal-hal yang tidak pernah terpikirkan oleh kita bahwa akan begitu menyenangkan. Sebelum mempunyai anak, misalnya kita sama sekali tidak mengenal mainan peralatan konstruksi. Sekarang kita bisa mengenali sebuah mesin berat dari jarak jauh sambil kita berkendara dalam kecepatan tinggi - dan kita merasa sangat bergairah akan hal itu. Kalau kita sebenarnya tidak begitu menyukai olah raga, kita bisa kaget bahwa ternyata anak kita bisa menjadi anggota tim basket. Seandainya pendengaran musikal kita jelek, mungkin saja anak kita bisa menjadi pemain utama di sekolah musik. Yang pasti anak-anak kita telah memperluas dunia kita, membuatnya menjadi tempat yang menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Wisuda&lt;br /&gt;Apakah kelulusan di jenjang taman kanak kanak, sekolah dasar, sekolah menengah, perguruan tinggi, atau yang lainnya, hari itu anak kita secara formal menjalani dari satu jenjang ke jenjang pendidikan berikutnya. Walaupun hal tersebut sangat mendebarkan, namun cukup melegakan seperti berlalunya sebuah beban kecil. Kekuatiran kita yang mendalam akan kemampuan anak kita telah digantikan oleh kegembiraan yang meluap-luap akan masa depan mereka. Dan juga kebanggaan akan kerja keras kita dengan pasangan yang telah berhasil menanamkan pendidikan kepada mereka mulai dari mengenal abjad sampai dengan mereka lulus sarjana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat sang Anak telah menemukan pendamping hidup yang baik &lt;br /&gt;saat-saat ini, Sang Ayah maupun sang Ibu merasa lega dalam hatinya.. Beban mereka seolah2 lepas, karena anaknya telah menemukan jalan kehidupannya.&lt;br /&gt;Oleh : Jill Jasper, seorang penulis yang tinggal di Seattle, USA ( Sumber Artikel )&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4994266008489912885-3822910963996054784?l=dharmapetama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Dharmapetama/~4/g7lrg1VthA4" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Dharmapetama/~3/g7lrg1VthA4/10-hal-yang-membahagiakan-bagi-para.html</link><author>noreply@blogger.com (Ridwan Wu)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/_2m8p-tpG7OM/TR1ZySO1vaI/AAAAAAAABac/sjVMDpYrSqI/s72-c/07ParentEd.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://dharmapetama.blogspot.com/2010/12/10-hal-yang-membahagiakan-bagi-para.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4994266008489912885.post-6577064097424505785</guid><pubDate>Fri, 31 Dec 2010 04:06:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-12-31T11:09:32.715+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Story</category><title>Katak dan Permata</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_2m8p-tpG7OM/TR1XZwv2pBI/AAAAAAAABaU/2PSagN__wrM/s1600/katak%2Bdan%2Bpermata.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 162px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_2m8p-tpG7OM/TR1XZwv2pBI/AAAAAAAABaU/2PSagN__wrM/s200/katak%2Bdan%2Bpermata.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556693615339021330" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pada suatu masa, ada seorang wanita yang telah menjanda dan memiliki dua orang putri. Putri tertua memiliki wajah dan perangai yang sangat mirip dengan ibunya sehingga orang sering berkata bahwa siapapun yang melihat putri tertua tersebut, sama dengan melihat ibunya. Mereka berdua mempunyai sifat jelek yang sama, sangat sombong dan tidak pernah menghargai orang lain.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Putri yang termuda, merupakan gambaran dari ayahnya yang telah meninggal, sama-sama memiliki sifat baik hati, senang membantu orang dan sangat sopan. Karena kecenderungan orang untuk menyukai hal yang sama dengan diri mereka, ibunya menjadi sangat sayang kepada putri yang tertua yang mirip dengannya, sedangkan putri yang termuda diperlakukan dengan buruk, putri termuda sering disuruhnya bekerja tanpa henti dan tidak boleh bersama mereka makan di meja makan. Dia hanya diperbolehkan makan di ruang dapur sendiri saja.&lt;br /&gt;Putri yang termuda sering dipaksa dua kali sehari untuk mengambil air  dari sumur yang letaknya sangat jauh dari rumah mereka. Suatu hari ketika putri yang termuda berada di mata air ini, datanglah seorang wanita tua yang kelihatan sangat miskin, yang memintanya untuk mengambilkan dirinya air minum.&lt;br /&gt;"Oh! ya, dengan senang hati," kata gadis cantik ini yang dengan segera mengambil kendinya, mengambil air dari tempat yang paling jernih di mata air tersebut, dan memberikan kepada wanita itu, sambil membantu memegang kendinya agar wanita tua itu dapat minum dengan mudah.&lt;br /&gt;Setelah minum, wanita tersebut berkata kepada putri termuda:&lt;br /&gt;"Kamu sangat cantik, sangat baik budi dan sangat sopan, saya tidak bisa tidak memberikan kamu hadiah." Ternyata wanita tua tersebut adalah seorang peri yang menyamar menjadi wanita tua yang miskin untuk melihat seberapa jauh kebaikan hati dan kesopanan putri termuda. "Saya akan memberikan kamu sebuah hadiah," lanjut sang Peri, "Mulai saat ini, dari setiap kata yang kamu ucapkan, dari mulutmu akan keluar sebuah bunga atau sebuah batu berharga."&lt;br /&gt;Ketika putri termuda yang cantik ini pulang kerumah, dimana saat itu ibunya memarahinya karena menganggap putri termuda tersebut terlalu lama kembali dari mengambil air.&lt;br /&gt;"Saya minta maaf, mama," kata putri termuda, "karena saya terlambat pulang."&lt;br /&gt;Saat mengucapkan kata itu, dari mulutnya keluarlah dua buah bunga, dua buah mutiara dan dua buah permata.&lt;br /&gt;"Apa yang saya lihat itu?" kata ibunya dengan sangat terkejut, "Saya melihat mutiara dan permata keluar dari mulutmu! Bagaimana hal ini bisa terjadi, anakku?"&lt;br /&gt;Untuk pertama kalinya ibunya memanggilnya dengan sebutan 'anakku'.&lt;br /&gt;Putri termuda kemudian menceritakan semua kejadian yang dialami secara terus terang, dan dari mulutnya juga berturut-turut keluarlah permata yang tidak terhitung jumlahnya.&lt;br /&gt;"Sungguh mengagumkan," kata ibunya, "Saya harus mengirim anakku yang satu lagi kesana." Dia lalu memanggil putri tertua dan berkata "Kemarilah, lihat apa yang keluar dari mulut adikmu ketika dia berbicara. Apakah kamu tidak ingin memiliki hal yang dimiliki adikmu? Kamu harus segera berangkat ke mata air tersebut dan apabila kamu menemui wanita tua yang meminta kamu untuk mengambilkan air minum, ambilkanlah untuknya dengan cara yang sangat sopan."&lt;br /&gt;"Adik termuda pasti sangat senang melihat saya mengambil air dari mata air yang jauh," katanya dengan cemberut.&lt;br /&gt;"Kamu harus pergi, sekarang juga!" kata ibunya lagi.&lt;br /&gt;Akhirnya putri tertua berangkat juga sambil mengomel di perjalanan,  sambil membawa kendi terbaik yang terbuat dari perak.&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian dia tiba di mata air tersebut, kemudian dia melihat seorang wanita yang berpakaian sangat mewah keluar dari dalam hutan, mendekatinya, dan memintanya untuk mengambilkan air minum. Wanita ini sebenarnya adalah peri yang bertemu dengan adiknya, tetapi kali ini peri tersebut menyamar menjadi seorang putri bangsawan.&lt;br /&gt;"Apakah saya datang kesini," kata putri tertua dengan sangat sombong, "hanya untuk memberikan kamu air? dan kamu pikir saya membawa kendi perak ini untuk kamu? Kalau kamu memang mau minum, kamu boleh meminumnya jika kamu merasa pantas."&lt;br /&gt;"Kamu keterlaluan dan berlaku tidak sopan," jawab sang Peri, "Baiklah, mulai sekarang, karena kamu sangat tidak sopan dan sombong, saya akan memberikan kamu hadiah, dari setiap kata yang kamu ucapkan, dari mulutmu akan keluar seekor ular atau seekor katak."&lt;br /&gt;Saat dia pulang, ibunya yang melihat kedatangannya dengan gembira menyambutnya dan bertanya:&lt;br /&gt;"Bagaimana, anakku?"&lt;br /&gt;"Bagaimana apanya, ma?" putri tertua membentak ibunya, dan dari mulutnya keluarlah dua ekor ular berbisa dan dua ekor katak.&lt;br /&gt;"Oh! ampun," kata ibunya; "apa ini? Oh! pastilah adikmu yang sengaja telah merencanakan kejadian ini,  tapi dia akan mendapatkan hukumannya"; dan dengan segera dia berlari mendekati putri termudanya dan memukulnya. Putri termuda kemudian lari menjauh darinya dan bersembunyi di dalam hutan yang tidak jauh dari rumahnya agar tidak mendapat pukulan lagi.&lt;br /&gt;Seorang anak Raja, yang baru kembali dari berburu di hutan, secara kebetulan bertemu dengan putri termuda yang sedang menangis. Anak Raja tersebut kagum akan kecantikan putri termuda kemudian bertanya mengapa putri tersebut sendirian di dalam hutan dan menangis terisak-isak.&lt;br /&gt;"Tuanku, ibu saya telah mengusir saya dari rumah."&lt;br /&gt;Saat itu, anak Raja melihat lima atau enam mutiara dan permata keluar dari mulut putri termuda, dia menjadi penasaran dan meminta putri termuda menceritakan mengapa dari mulutnya keluar permata saat berkata sesuatu. Putri termuda kemudian menceritakan semua kisahnya, dan anak Raja tersebut menjadi bertambah kagum akan kebaikan hati dan kesopanan tutur kata putri termuda. Anak Raja menjadi jatuh hati pada putri termuda dan beranggapan bahwa putri termuda sangat pantas menjadi istrinya. Anak Raja akhirnya mengajukan lamaran dan menikahi putri termuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ini adalah bagian dari kisah Charles Perrault (12 Januari 1628 - 16 Mei 1703)&lt;br /&gt;Charles Perrault adalah pengarang dari Perancis dan menulis banyak dongeng klasik seperti Gadis kecil dengan kerudung merah, Putri Tidur, Kucing Bersepatu Boot, Cinderella, Janggut Biru, Katak dan Permata, Griselda yang Sabar dan banyak cerita kecil lainnya. Charles Perrault adalah seorang pegawai negeri yang menangani bidang hukum dan saat ia pensiun ia  memutuskan untuk mendedikasikan dirinya untuk dunia anak-anak.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4994266008489912885-6577064097424505785?l=dharmapetama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Dharmapetama/~4/uD_X0hNr8Bo" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Dharmapetama/~3/uD_X0hNr8Bo/katak-dan-permata.html</link><author>noreply@blogger.com (Ridwan Wu)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_2m8p-tpG7OM/TR1XZwv2pBI/AAAAAAAABaU/2PSagN__wrM/s72-c/katak%2Bdan%2Bpermata.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://dharmapetama.blogspot.com/2010/12/katak-dan-permata.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4994266008489912885.post-4250472051253213385</guid><pubDate>Tue, 30 Nov 2010 16:26:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-11-30T23:29:31.533+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Reflection</category><title>Kura-Kura Membalas Budi</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_2m8p-tpG7OM/TPUmXVwoIVI/AAAAAAAABaE/RyqpzGQRFVE/s1600/green-turtle.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 171px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_2m8p-tpG7OM/TPUmXVwoIVI/AAAAAAAABaE/RyqpzGQRFVE/s200/green-turtle.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5545380698596581714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ada seorang pemuda yang tinggal bersama bapaknya. Mata pencaharian mereka adalah bertani. Mereka mempunyai sepetak sawah kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun mereka berdua miskin tetapi mereka berdua hidup dalam keadaan damai dan bahagia. Bapaknya adalah seorang yang baik hati dan anaknya adalah seorang anak yang patuh.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu berlalu tahun demi tahun. Bapaknya makin hari semakin tua, semakin tidak bertenaga lagi. Walau sawah mereka kecil, tetapi jika hanya mengharapkan tenaga pemuda ini  saja untuk menanam padi akan sangat susah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari Bapaknya mengeluarkan uang tabungannya selama bertahun-tahun hidup menghemat. Ia menyuruh pemuda ini pergi membeli seekor kerbau untuk membantunya membajak sawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat dalam perjalan, karena kecapekan dia beristirahat di atas sebuah batu besar. Di kejauhan kedengaran suara anak kecil yang sedang bermain. Karena heran dia mendekati mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia melihat beberapa orang anak dengan bambu memukul sebuah batu, tetapi batu itu kelihatan bisa bergerak, dilihat dengan jelas rupanya itu adalah 5 ekor kura-kura. Seekor lebih besar dan yang 4 ekor lebih kecil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok anak kecil ini membalikkan kura-kura itu seperti gasing memutar mereka, dengan bambu memukul mereka dan memaksa mereka mengeluarkan kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda ini tidak tega melihat kejadian ini, dan berkata kepada kelompok anak kecil ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kenapa kalian mempermainkan kura-kura ini? dia juga mahluk hidup yang mempunyai perasaan sakit dan takut,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok anak kecil itu tidak menghiraukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kami dengan susah payah menangkap seekor ibu kura-kura dan 4 ekor anaknya, bukan urusanmu bagaimana kami akan memperlakukan kura-kura ini!” Jawab mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekelompok anak kecil ini makin dinasehati makin mempergunakan cara yang makin keji menyiksa kura-kura itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Anak-anak melihat orang tua mereka dihina orang akan merasa sakit hati, orang tua yang melihat anak-anaknya disiksa orang lain juga akan sakit hati! Kalian tolong lepaskan keluarga kura-kura ini,” kata pemuda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekelompok anak kecil ini tidak peduli, malah mereka mengambil tali dan mengikat ke 5 ekor kura ini menjadi satu dan melempar mereka kesana kemari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda ini bertanya kepada kelompok anak kecil ini dengan cara apa mereka mau melepaskan kura-kura ini. Mereka menjawab mereka akan menjual kura-kura ini, pemuda ini bertanya dengan berapa harga mereka akan menjualnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka asal menjawab sebuah harga yang tinggi, pemuda ini memegang-megang uang dikantungnya berpikir jika membayar uang ini kepada kelompok anak ini maka dia tidak bisa membeli kerbau lagi, tetapi melihat mereka menyiksa kura-kura ini sungguh tidak tega, akhirnya dia menyerahkan semua uangnya kepada kelompok anak-anak ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melihat kelompok anak-anak ini pergi, dia berlutut dengan hati-hati melepaskan tali yang mengikat kura-kura ini, lalu seekor demi seekor dia melepaskan kura-kura ini ke sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menengadahkan kepalanya memandang pemuda ini, mengeluarkan pancaran mata yang sangat berterima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Cepat pergilah, jika tidak nanti kelompok anak kecil ini kembali lagi, kalian akan berada dalam keadaan bahaya, cepat berenang menjauh dari sini supaya saya dapat meninggalkan kalian dengan tenang!” Kata pemuda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga kura-kura ini seakan mengerti apa yang dikatakannya berenang menjauh dengan cepat, tetapi ketika mereka sampai di pertengahan sungai mereka masih membalikkan kepalanya melihat pemuda ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda ini setelah pulang kerumah, menceritakan kejadian ini kepada bapaknya, bapaknya sangat gembira mendengar ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Perbuatanmu sungguh terpuji, dengan uang itu dapat menyelamatkan 5 nyawa, lebih berharga daripada membeli seekor kerbau! Kita berdua masih sehat, rajin sedikit bekerja pasti akan bisa mengumpulkan uang lagi membeli kerbau,” kata bapaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang beberapa hari kemudian, pada suatu tengah malam, Bapaknya mendengar suara ketukan pintu .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“tok..tok.tok.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak lalu membuka pintu. Di depan pintu nampak seekor kerbau yang berdiri, di lehernya tergantung secarik kertas yang tertulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Keluarga kura-kura dipinggir sungai mengumpulkan uang dan membeli seekor kerbau sebagai hadiah balas jasa kepada tuan penolong kam," bunyi kertas tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun ini adalah sebuah legenda, tetapi  disini kelihatan jelas ada dua cara memperlakukan mahluk hidup. Satu meremehkan mahluk hidup, menyiksa dan menyakitinya, sedang yang lain menyayangi semua mahluk hidup. Walaupun wujud dan bentuk mereka sangat berlainan dengan kita, tetapi kita harus tetap menghormati, melindungi hak-haknya supaya dapat hidup dengan tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbelas kasih kepada semua mahluk  adalah sebuah kehangatan hati, sebuah pemandangan yang indah! Saya harap dalam kehidupan ini kita lebih banyak membuka hati kita melihat betapa indahnya alam semesta ini. Betapa indahnya hidup ini, dengan segenap hati  menjaga kelestarian alam semesta supaya dunia ini lebih dapat bersinar lebih cerah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : erabaru.net&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4994266008489912885-4250472051253213385?l=dharmapetama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Dharmapetama/~4/GYheQMRd70g" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Dharmapetama/~3/GYheQMRd70g/kura-kura-membalas-budi.html</link><author>noreply@blogger.com (Ridwan Wu)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_2m8p-tpG7OM/TPUmXVwoIVI/AAAAAAAABaE/RyqpzGQRFVE/s72-c/green-turtle.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://dharmapetama.blogspot.com/2010/11/kura-kura-membalas-budi.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4994266008489912885.post-2095346240087383328</guid><pubDate>Tue, 12 Oct 2010 04:25:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-10-12T11:27:28.160+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Reflection</category><title>Menyadarkan Anak Yang Durhaka</title><description>&lt;div align="justify"&gt;Pada suatu hari di negeri China, seorang Bupati sedang berada si balai sidang untuk menyelesaikan sebuah perkara. Penggugat adalah seorang wanita tua, dan yang digugat adalah anak laki-lakinya sendiri. Wanita itu mengadukan anak laki-lakinya yang tidak mau memeliharanya, bahkan menelatarkan hidupnya.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendengarkan penjelasan dari kedua belah pihak, pak bupati memerintahkan sipemuda setiap bulan harus memberikan beras kepada ibunya sebanyak 30 liter. Namum si anak laki-lakinya merasa keberatan karena menurutnya tanggung jawab seorang ibu adalah untuk membesarkan anaknya, tetapi seorang anak tidak bertanggung jawab, untuk memberi makan dan merawat ibunya. Bupati marah sekali mendengar pendapat pemuda itu dan memerintahkan pengawalnya untuk menangkap pemuda itu, dan menjebloskan kedalam penjara, salah seorang pengunjung yang menyaksikan jalannya pengadilan itu dengan seksama adalah Ibu Qian liu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika didengarnya keputusan bupati untuk memasukan anak itu ke dalam penjara. Ia merasa keputusan ini kurang tepat dan tidak bijaksana. Ibu Qian liu berpikir, jika sipemuda di jebloskan ke penjara, wanita itu akan semakin tidak diperhatikan lagi. Karena itu ia berkata kepada pak Bupati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pak bupati, dapatkah hukumannya di ganti?".&lt;br /&gt;Pak bupati balik bertanya,&lt;br /&gt;"mengapa?".&lt;br /&gt;Ibu Qian liu menjawab,&lt;br /&gt;"Karena ada hukuman yang lebih tepat dan bijaksana!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua yang hadir di sidang pengadilan itu jadi penasaran, apa sebenarnya hukuman yang terbaik untuk pemuda durhaka itu, yang sedang hendak diusulkan oleh ibu Qian liu. Pak Bupati dengan tidak kalah penasarannya bertanya kepada ibu Qian liu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Menurut ibu, hukuman seperti apa yang tepat dan lebih bijaksana?".&lt;br /&gt;Ibu Qian liu berpaling kepada wanita tua itu dan bertanya,&lt;br /&gt;"ketika anak laki-laki ini lahir, berapa beratnya?".&lt;br /&gt;Wanita tua itu menjawab,&lt;br /&gt;"Tiga setengah kilogram",&lt;br /&gt;Ibu Qian liu berkata,&lt;br /&gt;"anak adalah darah daging ibu. selama sembilan bulan lebih berada dalam kandungan ibu, kalau anak itu tidak mau memelihara dan merawat ibunya, dagingnya harus diambil tiga setengah kilogram".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Bupati mendengar perkataan ibu Qian liu, dia langsung mengerti apa maksud ibu Qian liu yang sesungguhnya. Segera diperintahkannya para pengawalnya untuk menahan sipemuda di lantai, dan mengunakan golok yang sangat tajam untuk memotong daging si pemuda sebanyak tiga setengah kilogram. Potongan tiga setengah kilogram itu harus merupakan kumpulan potongan dari semua angota tubuh pemuda tersebut. Pemuda itu mulai membayangkan jika tangan, kaki, perut, leher, punggung, dan setiap angota tubuhnya diambil sebagian dagingnya, pasti sakit sekali. Karena itu ketika si pemuda melihat para pengawal hendak melaksanakan hukuman itu, segera dia berteriak-teriak ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bapak Bupati, ampuni saya, ampuni saya, saya mengaku salah!" &lt;br /&gt;Bupati bertanya padanya,&lt;br /&gt;"Kamu masih berani tidak menhormati, tidak memelihara, dan tidak mau merawat ibu kandungmu sendiri?"&lt;br /&gt;Pemuda itu berkata,&lt;br /&gt;"tidak berani lagi, pak saya jamin ibu saya akan makan enak, memakai baju yang layak, dan menikmati hari tuanya dengan baik."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak bupati berkata tegas,&lt;br /&gt;"Baiklah, karena kamu berjanji untuk berubah, saya akan melepaskanmu, tetapi kalau sampai saya mendengar lagi kamu tidak mau memelihara dan merawat ibumu, saya akan segera memotong-motong dagingmu!"&lt;br /&gt;Pemuda itu berkata sekali lagi,&lt;br /&gt;"Cukup, saya sadar, saya harus memelihara ibu saya!".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan Hikmat :&lt;br /&gt;Pak bupati adalah orang yang baik, tetapi hukuman yang hendak dijatuhkannya akan berakibat yang lebih buruk lagi bagi wanita tua itu. Kalau anaknya dimasukkan kedalam penjara. Ibunya akan semakin terlantar. Ibu Qian liu memberikan jalan keluar, mengantikan hukuman dengan himbauan untuk memotong daging sipemuda itu. Hukuman ini membuat si pemuda ketakutan dan berjanji mengubah perilakunya terhadap ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang bisa ada didunia ini karena di lahirkan oleh seorang ibu. Sudah sepatutnya anak menghormati, memelihara, serta merawat orang tua terutama saat mereka memerlukanya, apalagi ada nasihat bijak berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"HORMATILAH AYAH DAN IBUMU KARENA MEREKA ADALAH BUDDHA HIDUP, MENGHORMATI YANG PATUT DIHORMATI ITULAH BERKAH UTAMA"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://buddhistzone.com&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4994266008489912885-2095346240087383328?l=dharmapetama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Dharmapetama/~4/0IFd3maY1Ew" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Dharmapetama/~3/0IFd3maY1Ew/menyadarkan-anak-yang-durhaka.html</link><author>noreply@blogger.com (Ridwan Wu)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://dharmapetama.blogspot.com/2010/10/menyadarkan-anak-yang-durhaka.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4994266008489912885.post-6419986053988144220</guid><pubDate>Sun, 26 Sep 2010 15:31:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-09-26T22:34:20.037+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Others</category><title>Pernah Tidur Seperti di Tindih Setan ? Berikut Penjelasannya !</title><description>&lt;div align="justify"&gt;Pernah terbangun dari tidur, tapi sulit bergerak ataupun berteriak?  dont worry, anda tidak sedang diganggu makhluk halus. Ini penjelasan ilmiahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat mengalami ini biasanya kita akan sulit sekali bergerak dan kemudian ada sedikit rasa dingin menjalar dari ujung kaki ke seluruh tubuh. Untuk bisa bangun, satu-satunya cara adalah menggerakkan ujung kaki, ujung tangan atau kepala sekencang-kencangnya hingga seluruh tubuh bisa digerakkan kembali,biasanya disertai juga dengan munculnya bayangan kegelapan. &lt;div class="fullpost"&gt;Hal inilah yang diasumsikan "ketindihan" makhluk halus orang sebagian besar orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sleep Paralysis&lt;br /&gt;Menurut medis, keadaan ketika orang akan tidur atau bangun tidur merasa sesak napas seperti dicekik, dada sesak, badan sulit bergerak dan sulit berteriak disebut sleep paralysis alias tidur lumpuh (karena tubuh tak bisa bergerak dan serasa lumpuh).&lt;br /&gt;Hampir setiap orang pernah mengalaminya. Setidaknya sekali atau dua kali dalam hidupnya. Sleep paralysis bisa terjadi pada siapa saja, lelaki atau perempuan. Dan usia rata-rata orang pertama kali mengalami gangguan tidur ini adalah 14-17 tahun. Sleep paralysis alias tindihan ini memang bisa berlangsung dalam hitungan detik hingga menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik, saat tindihan terjadi kita sering mengalami halusinasi, seperti melihat sosok atau bayangan hitam di sekitar tempat tidur. Tak heran, fenomena ini pun sering dikaitkan dengan hal mistis. Di dunia Barat, fenomena tindihan sering disebut mimpi buruk inkubus atau old hag berdasarkan bentuk bayangan yang muncul. Ada juga yang merasa melihat agen rahasia asing atau alien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara di beberapa lukisan abad pertengahan, tindihan digambarkan dengan sosok roh jahat menduduki dada seorang perempuan hingga ia ketakutan dan sulit bernapas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang Tidur&lt;br /&gt;Menurut Al Cheyne, peneliti dari Universitas Waterloo, Kanada, sleep paralysis, adalah sejenis halusinasi karena adanya malfungsi tidur di tahap rapid eye movement (REM). Sebagai pengetahuan, berdasarkan gelombang otak, tidur terbagi dalam 4 tahapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahapan itu adalah tahap tidur paling ringan (kita masih setengah sadar), tahap tidur yang lebih dalam, tidur paling dalam dan tahap REM. Pada tahap inilah mimpi terjadi. Saat kondisi tubuh terlalu lelah atau kurang tidur, gelombang otak tidak mengikuti tahapan tidur yang seharusnya. Jadi, dari keadaan sadar (saat hendak tidur) ke tahap tidur paling ringan, lalu langsung melompat ke mimpi (REM).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika otak mendadak terbangun dari tahap REM tapi tubuh belum, di sinilah sleep paralysis terjadi. Kita merasa sangat sadar, tapi tubuh tak bisa bergerak. Ditambah lagi adanya halusinasi muncul sosok lain yang sebenarnya ini merupakan ciri khas dari mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, sleep paralysis juga bisa disebabkan sesuatu yang tidak dapat dikontrol. Akibatnya, muncul stres dan terbawa ke dalam mimpi. Lingkungan kerja pun ikut berpengaruh. Misalnya, Anda bekerja dalam shift sehingga kekurangan tidur atau memiliki pola tidur yang tidak teratur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski biasa terjadi, gangguan tidur ini patut diwaspadai. Pasalnya, sleep paralysis bisa juga merupakan pertanda narcolepsy (serangan tidur mendadak tanpa tanda-tanda mengantuk), sleep apnea (mendengkur), kecemasan, atau depresi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda sering mengalami gangguan tidur ini, sebaiknya buat catatan mengenai pola tidur selama beberapa minggu. Ini akan membantu Anda mengetahui penyebabnya. Lalu, atasi dengan menghindari pemicu. Bila tindihan diakibatkan terlalu lelah, coba lebih banyak beristirahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang tidur pun tidak boleh dianggap remeh. Jika sudah menimbulkan sleep paralysis, kondisinya berarti sudah berat. Segera evaluasi diri dan cukupi kebutuhan tidur. Usahakan tidur 8-10 jam pada jam yang sama setiap malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui juga, seep paralysis umumnya terjadi pada orang yang tidur dalam posisi telentang (wajah menghadap ke atas dan hampir nyenyak atau dalam keadaan hampir terjaga dari tidur). Itu sebabnya, kita perlu sering mengubah posisi tidur untuk mengurangi risiko terserang gangguan tidur ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, jika tindihan disertai gejala lain, ada baiknya segera ke dokter ahli tidur atau laboratorium tidur untuk diperiksa lebih lanjut. Biasanya dokter akan menanyakan kapan tindihan dimulai dan sudah berlangsung berapa lama. Catatan yang telah Anda buat tadi akan sangat membantu ketika memeriksakan diri ke dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mitos Sleep Paralysis Di Berbagai Negara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di budaya Afro-Amerika,&lt;br /&gt;gangguan tidur ini disebut the devil riding your back hantu atau hantu yang sedang menaiki bahu seseorang.&lt;br /&gt;Di budaya China,&lt;br /&gt;disebut gui ya shen alias gangguan hantu yang menekan tubuh seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di budaya Meksiko,&lt;br /&gt;disebut se me subio el muerto dan dipercaya sebagai kejadian adanya arwah orang meninggal yang menempel pada seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di budaya Kamboja, Laos dan Thailand,&lt;br /&gt;disebut pee umm, mengacu pada kejadian di mana seseorang tidur dan bermimpi makhluk halus memegangi atau menahan tubuh orang itu untuk tinggal di alam mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di budaya Islandia,&lt;br /&gt;disebut mara. Ini adalah kata kuno bahasa Island. Artinya hantu yang menduduki dada seseorang di malam hari, berusaha membuat orang itu sesak napas dan mati lemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di budaya Tuki,&lt;br /&gt;disebut karabasan, dipercaya sebagai makhluk yang menyerang orang di kala tidur, menekan dada orang tersebut dan mengambil napasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di budaya Jepang,&lt;br /&gt;disebut kanashibari, yang secara literatur diartikan mengikat sehingga diartikan seseorang diikat oleh makhluk halus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di budaya Vietnam,&lt;br /&gt;disebut ma de yang artinya dikuasai setan. Banyak penduduk Vietnam percaya gangguan ini terjadi karena makhluk halus merasuki tubuh seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di budaya Hungaria,&lt;br /&gt;disebut lidercnyomas dan dikaitkan dengan kata supranatural boszorkany (penyihir). Kata boszorkany sendiri berarti menekan sehingga kejadian ini diterjemahkan sebagai tekanan yang dilakukan makhluk halus pada seseorang di saat tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di budaya Malta,&lt;br /&gt;gangguan tidur ini dianggap sebagai serangan oleh Haddiela (istri Hares), dewa bangsa Malta yang menghantui orang dengan cara merasuki orang tersebut. Dan untuk terhindar dari serangan Haddiela, seseorang harus menaruh benda dari perak atau sebuah pisau di bawah bantal saat tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di budaya New Guinea,&lt;br /&gt;fenomena ini disebut Suk Ninmyo. Ini adalah pohon keramat yang hidup dari roh manusia. Pohon keramat ini akan memakan roh manusia di malam hari agar tidak menggangu manusia di siang hari. Namun, seringkali orang yang rohnya sedang disantap pohon ini terbangun dan terjadilah sleep paralysis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : http://dhammacitta.org&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4994266008489912885-6419986053988144220?l=dharmapetama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Dharmapetama/~4/g-wPWLjhkiw" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Dharmapetama/~3/g-wPWLjhkiw/pernah-tidur-seperti-di-tindih-setan.html</link><author>noreply@blogger.com (Ridwan Wu)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://dharmapetama.blogspot.com/2010/09/pernah-tidur-seperti-di-tindih-setan.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4994266008489912885.post-8665808346555514102</guid><pubDate>Sun, 26 Sep 2010 15:27:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-09-26T22:29:07.679+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Dharma</category><title>Hidup Rukun Dengan Diri Sendiri</title><description>&lt;div align="justify"&gt;Pada umumnya orang menjadi baik ketika orang-orang di sekitarnya baik. Tetapi menjadi baik hanya saat orang lain baik terhadap Anda bukanlah sifat sejati seorang manusia bajik. Seorang manusia bajik adalah seseorang yang bajik (berbudi luhur) tak perduli bagaimana tingkah laku orang-orang di sekitarnya apakah baik atau buruk itu barulah seseorang manusia berbudi luhur.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Anda tinggal di suatu komunitas Anda harus berusaha hidup rukun bersama orang-orang di seputar Anda. Tetapi ketika Anda sendirian, apakah Anda hidup rukun dengan diri (batin) Anda ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang manusia berbudi luhur adalah seseorang yang hidup dengan sadar (menegakkana sati), bijkasana dan penuh cinta kasih (metta) terhadap pihak lain. Jika Anda hidup dengan penuh sati, bijaksana, dan metta, Anda akan hidup rukun dengan siapa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya terbatas pada manusia saja, bahkan Sakka ( Raja para dewa), yang tak mampu hidup secara demikian, mengalami penderitaan saat menjelang akhir hidupnya di alam dewa. Mengapa ? Batinnya diliputi dengan iri hati dan kekalutan karena bakal terlepasnya kerajaan surgawi serta semua pemilikannya kepada penerusyang berikut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu dewa Sakka menghadap Sang Buddha dan bertanya, "semua makhluk hidup menginginkan kebahagiaan, kedamaian, kesejahteraan, terbebas dari penderitaan. Namun, walaupun mereka menginginkan ini semua, mengapa mereka tidak terbebas dari penderitaan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Buddha menjawab, "makhluk hidup mendambakan semua ini namun mereka masih menderita karena iri hati (issa) dan kikir(macchariya)." Bila seseorang menumbuhkan rasa dengki saat melihat keberuntungan atau kesejahteraan orang lain, itulah issa. Bila seseorang tidak senang dengan kemajuan orang lain dalam Dhamma, itulah issa. Seseorang merasa senang karena ketidakberuntungan (kemalangan) orang lain orang ini takkan pernah merasa tenteram. Bila seseorang memegang erat-erat pemilikannya itulah macchariya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila pihak lain berperilaku baik, sukses, berpendidikan orang seyogianya turut berbahagia atas keberuntungan mereka. Sejumlah orang tidak memandangnya secara demikian, mereka hanya bisa mengais kesalahan, memandang dari sisi negatif saja. Timbul iri hati ketika orang lain lebih sukses. ketika orang lain lebih maju dalam kebijaksanaan atau pengetahuan, muncul iri hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iri hati adalah Dosa (kebencian). Meninggal dengann batin diliputi dosa kan terlahir langsung di alam neraka. Kikir adalah Lobha (serakah). Meninggal dengan lobha akan terlahir di alam Peta. Bila seseorang bebas dari iri hati dan kikir, ia akan mengalami kedamaian pada saat itu juga. Karena lobha dan dosa , makhluk hidup berada dalam kesengsaraan yang memilukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang seseorang bermeditasi untuk mengurangi lobha dan dosa. Namun malah dalam meditasi ini muncul lobha dan dosa. Ketika sedang makan, lobha pun muncul. Ketika batin sedang di liputi kedamaian, keadaan yang menyenangkan, muncul rasa suka terhadapnya. Ketika meditasi berjalan baik, muncul rasa suka, itulah lobha. Ketika batin sedang sedang gelisah atau kalut, muncul rasa tidak suka. ketika yang terjadi tidak seperti yang diharapkan muncul rasa tidak suka, itu adalah dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda bermeditasi untuk mengurangi lobha dan dosa namun lobha dan dosa tetap muncul. Jadi, apabila anda tak dapat hidup rukun bahkan dengan diri Anda diri sendiri, bagaimana anda dapat hidup rukun dengan orang lain? Situasi yang tidak menyenangkan muncul dan tiada kesabaran terhadapnya. Bila demikian halnya, orang akan meninggalkan pusat meditasi. Ia akan digiring oleh setiap tingkah pola lobha dan dosa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sanggup bersabar, bahkan sedikit saja tidak. Setiap hal harus sesuai dengan selera sendiri, sesuai keinginan sendiri. Semua keinginannya harus di penuhi. Bila seseorng masih saja mengikuti tingkah dosa, keinginan-keinginannya dapat di penuhi di neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raihlah berkah dari Buddhasasana dengan mengutamakan pemberian dana, mengamalkan sila serta mengembangkan pandangan terang melalui samatha- vipassana. Tekun mengamalkan hanya kusala kamma saja. Jangan memberi kesempatan lobha dan dosa menyelinap masuk, berlatihlah secara tekun untuk mengikis keadaan batin akusala demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap gerakan tangan, kaki, kepala, mulut dan sebagainya, tindakan apapun, yang terpenting adalah seseorang dapat menumbuh-kembangkan kebajikan. sangat memperhatikan hal makan, tidur dan perolehan kekayaan; ketika apa yang diinginkan tidak terwujud, ia melakukan protes keras. Protes seperti ini merupakan sikap yang salah. Ini bukanlah ciri seorang yang berbudi luhur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila hidup dengan kesadaran dan kebijaksanaan, sikap mental demikian takkan ada. Bila hidup dengan metta, seseorang dapat lebih bersabar terhadap orang lain, lebih mudah memaafkan orang lain. sebatang pohon akan memberikan keteduhan kepada penebang pohon sampai akhirnya dirinya ditumbangkan. Sepotong kayu cendana akan terus menyebarkan wanginya sampai terbakar habis menjadi abu, kepada orang yang menyulutnya. Begitu pula seorang makhluk berbudi luhur masih akan terus memberikan pertolongan kepada penyerangnya sampai akhir hayatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Bodhisatta dalam kelahirannya sebagai seekor raja kera, menolong pemburu yang jatuh ke dalam sebuah parit besar. karena kehabisan tenaga setelah mengeluarkan pemburu ini, ia beristirahat sebentar di pangkuan sang pemburu. Pemburu tersebut berpikir, hari itu ia tidak berhasil menagkap apa-apa, daging keralah yang akan dibawanya pulang kerumah. Dengan sebongkah batu, pemburu ini menghantam kepala Sang Bodhisatta, mencederai kepalanya. Bayangkan betapa kejinya si pemburu terhadap kera yang telah menyelamatkan jiwanya. Sang Bodhisatta menyadari niat pemburu ini lalu menyelamatkan diri ke puncak pohon. Jika ia meninggalkan si pemburu begitu saja, si pemburu akan dimangsa harimau. Oleh sebab itu Sang Bodhisatta menyuru pemburu ini mengikuti bekas ceceran darahnya di tanah sehingga terselamatkanlah si pemburu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang makhluk berbudi luhur adalah seorang yang akan memberikan pertolongan bahkan kepada penyerangnya, dengan keringat dan darahnya sendiri. Untuk menjadi seperti ini, Anda harus memupuk batin yang luhur sepanjang hidup Anda. Di sini (tempat meditasi) Anda hidup di antara makhluk-makhluk berbudi luhur, seorang makhluk berbudi luhur bukan hanya bajik pada saat pihak lain pun lurus. Apakah pihak lain baik atau jahat, seorang manusia bajik sejati akan hidup secara lurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang bermeditasi untuk menjadi manusia baik, mengembangkan kebijaksanaan dan hati yang baik. Ketika pandangan terang sudah mulai ditumbuhkan, pencemar batin, egoisme takkan hadir. Seseorang takkan berusaha melanggar tata peraturan. Sebaliknya ia akan berusaha keras membantu meningkatkan kesejahteraan pihak lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadhu ! Sadhu ! Sadhu!&lt;br /&gt;Wejangan (ovada) ini diberikan kepada semua yogi (meditator) yang memberikan penghormatan menjelang memasuki vassa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NB : Wejangan Shwe U Min Sayadaw &lt;br /&gt;(15 Sept 1913 - 20 Nov 2002)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Semasa hidupnya beliau adalah Ovadacariya (Guru Penasihat) Utama dari Pusat Meditasi Mahasi (Mahasi Sasana Yeiktha)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4994266008489912885-8665808346555514102?l=dharmapetama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Dharmapetama/~4/m6pHIsAgeZc" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Dharmapetama/~3/m6pHIsAgeZc/hidup-rukun-dengan-diri-sendiri.html</link><author>noreply@blogger.com (Ridwan Wu)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://dharmapetama.blogspot.com/2010/09/hidup-rukun-dengan-diri-sendiri.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4994266008489912885.post-5932953420602495726</guid><pubDate>Sun, 29 Aug 2010 17:35:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-08-30T00:38:09.582+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Dharma</category><title>Sutra Ksitigarbha Bodhisattva Purva Pranidhana (Part III)</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_2m8p-tpG7OM/THqa8u-DBuI/AAAAAAAABZM/3rWt5M4ofRQ/s1600/40031_1325333105236_1588145594_30699456_7508161_n.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_2m8p-tpG7OM/THqa8u-DBuI/AAAAAAAABZM/3rWt5M4ofRQ/s200/40031_1325333105236_1588145594_30699456_7508161_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5510887462232327906" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pada bagian ketiga ini masih dalam khotbah Sang Buddha di Istana Trayatrimsa Varga Rddhidhi Jnanam. Pada begian ketiga ini dijelaskan mengenai Perbandingan Jasa-jasa Berdana, Dewa Bumi Sang Prthivi Pelindung Dharma, Manfaat dari Melihat dan Mendengar, Amanat Sang Buddha Kepada Dewa dan Manusia. Berikut penjelasannya:&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didunia Jambudvipa terdapat banyak raja, menteri, pegawai negeri, Maha Grhapati, Maha Ksatria, Maha Brahmana, dan sebagainya. Seandainya mereka bertemu dengan umat yang miskin merana, bahkan bertubuh cacat, bisu, tuli, buta, dan sebagainya, bila ketika hendak berdana mereka bersikap ramah disertai senyuman atau menyuruh orang melakukannya dengan lemah lembut, maka pahala yang diperoleh akan sama dengan berdana kepada Buddha yang banyaknya bagaikan butiran pasir sungai Gangga; seandainya bertemu dengan Vihara, Stupa, atau Buddharupang, Bodhisattvarupang Sravakarupang, Pratyekkabuddharupang, lalu mereka merawatnya sehingga orang dapat melakukan puja bhakti, pemujaan semacam ini adalah berdana maha besar. Maka akan dilahirkan di Surga Trayatrimsa menjadi Raja Sakra dan menikmati kebahagian Surga hingga 3 kalpa, jika menyalurkan karma tersebut kepada para mahluk yang berada di seluruh Dharmadhatu, maka akan menjadi Maha Brahma Raja selama 10 kalpa. Seandainya bertemu Stupa, Vihara atau Buddharupang, serta Sutra-sutra peninggalan zaman dahulu, lalu memperbaiki, memelihara sendiri atau bersama-sama akan mendapat rakhmat Buddha, maka dalam ratusan ribu kelahiran akan menjadi Raja Cakravartin dan yang membantu akan menjadi raja kecil, dan jika disalurkan kepada semua mahluk hidup maka akan memperoleh pahala menjadi seorang Buddha; jika ada yang bertemu orang tua, yang sakit dan yang melahirkan, sesaat merasa iba dan memberi obat, makanan, minuman, tempat tidur, sehingga mereka merasa selamat sentosa, jasa seperti ini maka dalam masa 100 kalpa akan menjadi penguasa Surga Suddhavasa kemudian dalam masa 200 kalpa akan menjadi penguasa Sad Karmadhatu dan akhirnya menjadi Buddha, takkan terjerumus kea lam kesengsaraan untuk selama-lamanya, bahkan dalam ratusan ribu kelahiran mereka takkan mendengar suara kesedihan. Hukum berdana itu sangatlah menakjubkan, demikianlah sabda Sang Buddha mengenai jasa-jasa berdana&lt;br /&gt;Menurut pendapat Dewa Bumi Sang Prthivi Pelindung Dharma jika menyediakan satu tempat yang bersih di sebelah selatan dalam rumahnya, kemudian membuat ruang dari tanah, batu bamboo, atau kayu, dan meletakkan rupang Ksitigarbha Bodhisattva yang terbuat dari emas atau peras atau tembaga atau besi dan tiap hari dihormati dan dipuja dengan dupa, sambila memuliakan nama-Nya dan jasa-jasa-Nya. Tempat pemukiman pemuja itu akan menjadi selamat sentosa dan mendapat 10 keuntungan, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. tanah atau kebunnya menjadi subur, akan menghasilkan panen yang melimpah&lt;br /&gt;   2. sekeluarga akan sehat selalu, rumahnya aman tentram&lt;br /&gt;   3. leluhurnya, orang tua dan keluarganya yang almarhum akan dilahirkan di Surga&lt;br /&gt;   4. keluarga yang masih ada akan mendapatkan keberuntungan dan panjang usia&lt;br /&gt;   5. segala permohonan akan terpenuhi&lt;br /&gt;   6. terhindar dari musibah banjir dan kebakaran&lt;br /&gt;   7. terhindar dari kerugian dan pemborosan, selalu tercukupi&lt;br /&gt;   8. tiada mimpi buruk yang mengganggu&lt;br /&gt;   9. selalu dilindungi para dewa Bumi dan dewa Surga&lt;br /&gt;  10. selalu bertemu dan dibantu para suciwan yang bijak hingga si pemuja mudah mencapai kebodhian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ksitigarbha Bodhisattva mempunyai hubungan batin yang erat dengan umat Jambudvipa. Ketika khotbah selesai, Sang Buddha mengucapkan sebuah gatha, demikianlah gathanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kekuatan Ksitigarbha Bodhisattva sungguh luar biasa&lt;br /&gt;    Mengisahkannya jutaam kalpa pun tak kunjung habis!&lt;br /&gt;    Mendengar, melihat, dan menghormat-Nya sesaat saja,&lt;br /&gt;    Manfaatnya bagi dewa dan manusia tak terbatas!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Baik pria, wanita, maupun dewa, naga,&lt;br /&gt;    Yang akan terjerumus ke alam sengsara karena saatnay tiba,&lt;br /&gt;    Berkat berlindung kepada Ksatria Sejati setulus hati,&lt;br /&gt;    Usia bertambah, karma berat pun lenyap musnah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Semasa kecil kehilangan cinta kasih ayah bunda,&lt;br /&gt;    Entah mereka berada di alam mana,&lt;br /&gt;    Kakak adik serta sanak keluarga.&lt;br /&gt;    Sejak lahir tak mengenal satu sama lain.&lt;br /&gt;    Dengan melukis gambar Ksatria Sejati,&lt;br /&gt;    Menghormat, memuja setulus hati,&lt;br /&gt;    Tida atau tujuh hari memuliakan nama-Nya,&lt;br /&gt;    Beliau menampakkan tubuh Anantayakaya!&lt;br /&gt;    Menunjukkan tempat sanak keluarganya berada.&lt;br /&gt;    Sekalipun telah terjerumus kea lam sengsara,&lt;br /&gt;    Dapat ditolong-Nya terbebas dari derita!&lt;br /&gt;    Jika saja setia percaya teguh tak tergoyahkan,&lt;br /&gt;    Kelak pasti akan tercatat sebagai calon Buddha!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Jika ingin mencapai Anuttara Samyaksambodhi,&lt;br /&gt;    Hingga terbebaskan dari penderitaan Triloka,&lt;br /&gt;    Setelah tumbuh Boddhicittanya&lt;br /&gt;    Hormat dan pujalah dulu Ksatria Sejati ini,&lt;br /&gt;    Segala cita-cita segera akan terkabul,&lt;br /&gt;    Tiada lagi karma penghalang&lt;br /&gt;    Menuju kesadaran Agung!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ada orang berhasrat mengkaji Sutra Mahayana,&lt;br /&gt;    Ingin menyebrangkan umat ke Pantai Bahagia,&lt;br /&gt;    Meskipun tekad ini besar tidak terperikan,&lt;br /&gt;    Tiap menghapal terlupakan, waktu terbuang percuma,&lt;br /&gt;    Karena karma buruk terdahulu belum terhapuskan,&lt;br /&gt;    Tak teringat sebait Gatha sekata Sutra.&lt;br /&gt;    Puja bhakti kepada Ksitigarbha Bodhisattva,&lt;br /&gt;    Dengan dupa, bunga, busana, makanan, minuman, serta barang berharga.&lt;br /&gt;    Letakkan secawan air bersih di altar Ksatria Sejati,&lt;br /&gt;    Satu hari satu malam kemudian minumlah dengan khidmatnya,&lt;br /&gt;    Setelah itu pantang daging, alkohol, dusta, dan wanita.&lt;br /&gt;    Dua puluh satu hari jangan membunuh sesame mahluk,&lt;br /&gt;    Sepenuh hatikenang Ksatria Sejati.&lt;br /&gt;    Dalam mimpi akan berjumpa Ksitigarbha Bodhisattva Anantayakaya,&lt;br /&gt;    Bangun dari mimpi keenam indera jernih bersih,&lt;br /&gt;    Sutra, Buddha Dharma tertanam dalam sanubari abadi,&lt;br /&gt;    Daya Prabhava Ksitigarbha tidak terlukiskan,&lt;br /&gt;    Membuat orang demikian bijak dan bestari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Umat yang menderita miskin papa lagi berpenyakit,&lt;br /&gt;    Kediamannya buruk sekali, keluarganya meninggalkan pergi,&lt;br /&gt;    Atau selalu ketakutan di dalam mimpi,&lt;br /&gt;    Begitu pula mengalami kegagalan ekonomi,&lt;br /&gt;    Pujalah Sang Ksitigarbha sepenuh hati,&lt;br /&gt;    Berangsur penderitaan akan lenyap sama sekali,&lt;br /&gt;    Mimpi yang buruk takkan mengganggu lagi,&lt;br /&gt;    Sandang pangan cukup selalu dilindungi Mahluk Suci yang berbudi!&lt;br /&gt;    Jika harus mendaki gunung menuruni lembah, masuk hutan rimba, mengarungi lautan lepas,&lt;br /&gt;    Bertemu satwa buas lagi dihadang orang jahat,&lt;br /&gt;    Atau datang lagi Setan, Iblis serta Badai ganas,&lt;br /&gt;    Segala rintangan dan berbagai penderitaan,&lt;br /&gt;    Ingatlah Ksitigarbha Bodhisattva sebelum berangkat,&lt;br /&gt;    Pujalah Neliau dengan tulus ikhlas penuh khidmat,&lt;br /&gt;    Meskipun berada dalam kesulitan maha luar-biasa,&lt;br /&gt;    Sekejap sirna lenyap semua berkat Buddha Dharma.&lt;br /&gt;    ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanat Sang Buddha dalam pertemuan agung antara ratusan ribu koti Buddha, Bodhisattva Mahasattva, dewa, naga, kedelapan kelompok mahluk, para manusia yang belum terbebas dari Triloka adalah agar mereka tidak terjerumus ke dalam alam kesengsaraan barang satu hari satu malam juga.&lt;br /&gt;Umat jambudvipa memiliki sifat tabiatnya dan kemauannya tidak menentu, wataknya mudah mengarah kepada keburukan-keburukan. Sekalipun mereka menyatakan keinginan baiknya, tak lamnya kemudian mereka berubah. Jika mereka bertemu dengan keburukan-keburukan, hal itu akan cepat berkembang subur.&lt;br /&gt;Ketika itu Sang Buddha mengucapkan Gatha:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Dewa manusia di masa yang akan datang,&lt;br /&gt;    Kuserahkan kepada engkau dengan penuh keyakinan,&lt;br /&gt;    Selamatkan mereka denagn daya Maha Prabhava, Sekali-kali jangan ada yang terjerumus ke salah satu alam kesengsaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa yang akan datang, jika terdapat seorang pria atau wanita yang berbudi, melihat gambar Ksitigarbha Bodhisattva dan mendengar Sutra ini lalu memuja Beliau dengan dupa, dan memuliakan nama-Nya, maka putra-putri yang berbudi tersebut akan memperoleh 28 macam manfaat seperti berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Selalu dilindungi Dewa, Naga, Asta Gatya, selamat sentosa.&lt;br /&gt;   2. Jasa-jasa dan kebajikan makin bertambah.&lt;br /&gt;   3. Terkumpul benih kebaikan dari Buddha Dharma.&lt;br /&gt;   4. Tidak mundur dari jalan Anuttara Samyaksambodhi.&lt;br /&gt;   5. Cukup sandang pangan.&lt;br /&gt;   6. Terhindar dari segala musibah dan wabah penyakit.&lt;br /&gt;   7. Terhindar dari banjir dan kebakaran.&lt;br /&gt;   8. Terbebas dari pencurian dan perampokan.&lt;br /&gt;   9. Selalu disegani orang.&lt;br /&gt;  10. Selalu mendapat dukungan dan bantuan dari para Mahluk Suci.&lt;br /&gt;  11. Yang wanita akan dapat menjadi pria pada kehidupan yang akan datang.&lt;br /&gt;  12. Dapat dilahirkan sebagai putrid raja atau bangsawan.&lt;br /&gt;  13. Mendapatkan paras muka yang cantik elok, dimana-mana sidukai orang.&lt;br /&gt;  14. Selalu mendapat kesempatan untuk dilahirkan di alam Surga.&lt;br /&gt;  15. Akan lahir sebagai raja atau kepala Negara.&lt;br /&gt;  16. Dapat mengetahui kehidupan di masa yang silam.&lt;br /&gt;  17. Cita-citanya selalu terkabul.&lt;br /&gt;  18. Keluarganya selalu tentram dan bahagia.&lt;br /&gt;  19. Semua malapetaka lenyap.&lt;br /&gt;  20. Terhindar dari tiga jalur kesengsaraan.&lt;br /&gt;  21. Semua jalan bebas hambatan.&lt;br /&gt;  22. Mimpinya selalu indah.&lt;br /&gt;  23. Leluhurnya ikut terbebas dari belenggu penderitaan.&lt;br /&gt;  24. Jika leluhurnya pernah menanam kebaikan, dapat membantunya lahir di Surga.&lt;br /&gt;  25. Mendapat pujian para suciwan.&lt;br /&gt;  26. Cerdas tangkas, cekatan, dan tajam pikirannya.&lt;br /&gt;  27. Memiliki jiwa yang welas asih.&lt;br /&gt;  28. Akhirnya akan mencapai Kebuddhaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila para Dewa, Naga, Malaikat Bumi, Malaikat Surga, para Raja Setan, dan pengikutnya, baik yang berada di masa sekarang maupun di masa yang akan datang, setelah mendengar nama Ksitigarbha Bodhisattva, lalu mereka memberi hormat kepada rupang-Nya atau mereka pernah mendengar kisah suci Beliau, lalu memuji jasa-jasa Beliau serta menghormati-Nya dengan tulus ikhlas, maka mereka akan mendapatkan 7 macam manfaat sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Mereka akan cepat meningkat kea lam yang lebih suci.&lt;br /&gt;   2. Karma buruk yang diperbuat di masa yang silam akan lenyap.&lt;br /&gt;   3. Selalu dilindungi oleh para Buddha.&lt;br /&gt;   4. Kesadaran Bodhi yang telah dicapai takkan menyusut.&lt;br /&gt;   5. Kekuatan dan kebijakan makin bertambah.&lt;br /&gt;   6. Memiliki daya pengetahuan di masa silam dan masa yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu di Surga Trayatrimsa turun hujan berbagai bunga harum semerbak, jubah surga, dan ratna mutu manikin sebagai persembahan puja kepada Sakyamuni Buddha dan Ksitigarbha Bodhisattvs. Juga sebagai tanda terima kasih yang mendalam atas jasa-jasa Sang Buddha yang telah memberikan khotbah yang tiada ternilai dan penghormatan yang setinggi-tingginya kepada Ksatria Sejati Ksitigarbha Bodhisattva.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4994266008489912885-5932953420602495726?l=dharmapetama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Dharmapetama/~4/LJfeMjiOGTw" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Dharmapetama/~3/LJfeMjiOGTw/sutra-ksitigarbha-bodhisattva-purva_5060.html</link><author>noreply@blogger.com (Ridwan Wu)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/_2m8p-tpG7OM/THqa8u-DBuI/AAAAAAAABZM/3rWt5M4ofRQ/s72-c/40031_1325333105236_1588145594_30699456_7508161_n.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://dharmapetama.blogspot.com/2010/08/sutra-ksitigarbha-bodhisattva-purva_5060.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4994266008489912885.post-4170137201887056882</guid><pubDate>Sun, 29 Aug 2010 17:32:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-08-30T00:34:52.160+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Dharma</category><title>Sutra Ksitigarbha Bodhisattva Purva Pranidhana (Part II)</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_2m8p-tpG7OM/THqaLGYI9jI/AAAAAAAABZE/Cj69x4FUOJE/s1600/9728_1138309101336_1335653452_30384355_6093006_n.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_2m8p-tpG7OM/THqaLGYI9jI/AAAAAAAABZE/Cj69x4FUOJE/s200/9728_1138309101336_1335653452_30384355_6093006_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5510886609522325042" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div align"justify"&gt;Sebenarnya bagian kedua ini adalah kelanjutan peristiwa di Istana Trayastrimsa Varga Rddhidhi Jnanam pada bagian pertama, bagian kedua juga dibagi menjadi sub bagian lagi yang berjudul Berbagai Macam Neraka dan Namanya, Sanjungan dan Pujian Sang Tathagata, Manfaat bagi yang Hidup dan yang Meninggal Dunia, Pujian Yamaraja dan Pengikutnya, Manfaat Menyebut Nama Buddha. Berikut penjelasannya:&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neraka seperti yang telah dijelaskan sedikit dalam bagian pertama, berada di sebelah timur Jambudvipa terdapat di sebuah dunung besar bernama Cakravada. Di dalam gunung ini gelap sekali dan sulit ditembus cahaya bulan dan matahari. Di dalamnya terdapat Neraka utama yang maha besar bernama Anantarya dan disebelahnya adalah Avici. Selain itu terdapat neraka-neraka lainnya seperti Neraka Pojok Empat, Neraka Pedang Terbang, Neraka Panah Api, Neraka Gunung Berapit, dan neraka-neraka lainnya. Dalam neraka-neraka tersebut terdapat lagi neraka-neraka kecil yang tak tentu jumlahnya. Hukuman-hukuman dineraka sangatlah beragam, dari mencabut lidah, dibajak oleh kerbau besi hingga lumat, mencabut jantung, dimakan Yaksa, dimasak dengan air mendidih, disiksa dengan menyentuh tiang tembaga panas hingga hangus, ada yang dibakar dengan api yang berkobar dashyatnya, ada yang dilemparkan ke Neraka yang penuh dengan salju hingga kedinginan serta mati beku seketika, ada yang dilemparkan ke Neraka yang berisi air kotor berbau busuk tak terperikan hingga mati sesak napas, dan hukuman kejam lainnya. Semua ini akibat karma umat yang bersangkutan. Demikian penjelasan mengenai karma yang dijelaskan oleh Bodhisattva Ksitigarbha.&lt;br /&gt;Sang Buddha berlanjut dan menjelaskan jika pada masa mendatang, apabila putra-putri berbudi yang setelah mendengar nama Bodhisattva Mahasattva Ksitigarbha, lalu atas kesadaran hati sanubari yang sedalam-dalamnya memberi hormat, memuji, dan merenungkan jasa-jasa Beliau, dengan demikian si pemuja telah memusnahkan karma buruknya sebanyak 33 kalpa; seandainya terdapat putra-putri berbudi yang melukis gambar Bodhisattva Ksitigarbha atau membuat rupang-Nya kemudian menghormatinya dengan mengadakan puja bhakti, maka si pemuja tersebut akan mendapatkan kesempatan lahir di Surga Trayatrimsa sebanyak serratus kali berturut-turut setelah meninggal dunia! Jika masa hidup di Surga telah habis, ia masih dapat tumimbal lahir di alam manusia sebagai raja atau bangsawan yang mulia dan ia takkan terjerumus ke dalam alam sengsara; apabila terdapat seorang wanita yang tidak senang akan parasnya dan sakit-sakitan lalu ia memberi hormat dan bersembahyang di hadapan rupang Bodhisattva Ksitigarbha, walaupun lamanya sekejap saja, di masa yang akan datang ia akan memiliki paras yang amat cantik dan sehat hingga ratusan ribu kali ia dilahirkan; jika terdapat putra-putri berbudi yang sering memuji jasa-jasa Bodhisattva Ksitigarbha dengan diiringi nyanyian dan tarian rohani disertai dengan persembahan bunga-bungaan, dupa, dan sebagainya didepan gambar-Nya atau menyadarkan seseorang datau beberapa orang untuk berlindung kepada Sang Triratna; maka umat tersebut baik di masa sekarang atau di masa yang akan datang akan dilindungi oleh ratusan ribu malaikat yang berbudi siang dan malam, tidak ada kabar buruk dan tidak ada musibah yang menimpa dirinya; dan sebagainya. Ini semua disebabkan menghormati Bodhisattva Ksitigarbha dengan tulus ikhlas hingga mendapat pahala yang demikian membanggakan. Sebaliknya juga, jika dimasa yang akan datang terdapat umat manusi yang berkelakuan jahat, mengejek, menyindir, menghina, serta menganggap persembahan tidak ada gunanya, bahkan berani menertawakan atau membuat fitnahan, mengajak mahluk-mahluk lain bersama melakukan kejahatan, meskipun itu hanya berupa pikiran sekecil apapun; mahluk ini akan terjerumus ke dalam Neraka Avici, beribu-ribu kali lalu dilahirkan di alam peta lalu dilahirkan kembali menjadi manusia yang hina serta cacat dan batinnya selalu dipengaruhi sengan karmanya dan tak lama akan kembali ke alam sengsara lagi; apalagi yang dengan sengaja berusaha memusnahkan Buddha Dharma. Ada sepuluh hari yang suci (Dasa Upavasatha), yaitu tanggal 1, 8, 15, 18, 23, 24, 28, 29, 30 menurut tanggalan bulan yang merupakan hari pengumpulan karma, jika dalam sepuluh hari tersebut dapat membaca Sutra Bodhisattva Ksitigarbha Purva Pranidhana dihadapan gambar Buddha dan Bodhisattva, maka daerah empat penjuru mata angin seluas satu yojana akan terhindar dari malapetaka, seisi anggota keluarganya takkan tertimpa musibah atau terkena penyakit parah, selalu cukup sandang pangan, penghidupannya sejahtera; walau ada umat yang hanya mendengarkan nama Bodhisattva Ksitigarbha atau melihat gambar Bodhisattva Ksitigarbha atau hanya mendengarkan tiga atau lima atau pun satu bait syair (gatha) kata dari Sutra Ksitigarbha Bodhisattva Purva Pranidhana, dalam masa sekarang ini mereka akan merasa hidupnya amat tentram dan di masa yang akan datang mereka dilahirkan dalam keluarga yang mulia dengan paras muka yang rupawan. Bodhisattva Ksitigarbha memiliki daya mahaprabhava yang tak terbayangkan untuk menyelamatkan umat mencapai kebebasan.&lt;br /&gt;Setelah itu Bodhisattva Ksitigarbha melanjutkan, Andaikan di masa yang akan datang atau di masa sekarang, terdapat almarhum yang sesungguhnya akan mendapatkan anugerah dari para suciwan dan akan dilahirkan di alam manusia atau dewa, namun berhubung ketika almarhum meninggal dunia, keluarganya melakukan pembunuhan yang disajikan kepada jin-jin dan setan, akibatnya almarhum terlibat dalam karma buruk itu dan harus mempertanggungjawabkan perbuatan keluarganya itu diakhirat, sehingga terlambatdilahirkan ke alam yang lebih baik. Jika terdapat umat yang sewaktu berada didunia banyak berbuat karma buruk, meski keluarganya telah banyak berbuat amaldan disalurkan kepada almarhum, namun almarhum hanya dapat sepertujuh saja dari jasa-jasa tersebut, yang enam bagian milik keluarga yang berada di dunia. Almarhum yang belum menerima keputusan lahir entah dimana, selama 49 hari selalu mengharapkan keluarganya membuat amal bhakti bagi dirinya, agar secepatnya almarhum terbebaskan dari kesengsaraan, setelah 49 hari almarhum akan menerima keputusan berdasarkan karmanya, jika sanak keluarganya mengadakan amal bhakti dengan mempersembahkan saji-sajian kepada Sang Triratna untuk membantu menyelamatkan almarhum dari kesengsaraan, selama persiapan dan berlangsungnya upacara Upasatha, bekas air pencuci beras, sisa-sisa sayur masakan, dan lain-lain tidak boleh sembarang di buang di lantai, serta makanan yang dipersembahkan tidak boleh dimakan oleh yang menyelenggarakannya, jika peraturan dan tata caranya dilanggar juga penyajiannya tidak memenuhi syarat kebersihan dan tidak rapi, bagi almarhum tidak akan memberikan manfaat apapun juga.&lt;br /&gt;Raja Setan beserta Yamaraja di Istana Trayatrimsa tempat Sang Buddha memberikan khotbah menjelaskan tentang Raja Setan. Raja Setan beragam diantaranya Raja Setan Maha Jahat, Raja Setan Aneka Kejahatan, Raja Setan Pertengkaran, Raja Setan Putih, Raja Setan Macan Putih, Merah dan Penyebar Malapetaka, Raja Setan Terbang, Raja Setan Kilat Petir, Raja Setan Bergigi Serigala, Raja Setan Penelan Binatang, dan Raja Setan lain-lainnya. Setiap Raja Setan memimpin ratusan Raja Setan Muda yang berasal dari Jambudvipa, semua mempunyai tugas dan kedudukan masing-masing. Raja Setan Pengurus Nyawa yang bertugas mengurus kelahiran dan kematian menjelaskan hendaknya umat banyak berbuat kebajikan untuk menambah suasana nyaman dalam rumah tangganya, agar para dewa bumi merasa gembira dan senang memberi perlindungan kepada ibu dan anak, atau setelah bayi lahir dengan selamat janganlah membunuh mahluk berjiwa sebagai santapan yang dihidangkan kepada ibu atau untuk menjamu sanak saudara dan tamu dengan berbagai minuman keras dan lauk pauk yang beraneka ragam disertai dengan hiburan bermain musik. Hal itu semua akan mengakibatkan ibu dan anaknya berkurang kesejahteraannya. Begitupun saat mereka akan meninggal dunia, baik yang jahat ataupun tidak, akan dibantu oleh Raja Setan Pengurus Nyawa agar tidak terjerumus ke alam kesengsaraan, karena jika meninggal dunia akan datang ratusan iblis jahat menjelma sebagai orang tua atau sanak keluarganya menjemput dan membujuk almarhum untuk ikut mereka ke alam kesengsaraan. Ketika meninggal dunia, kesadaran akan amat lemah dan bingung membedakan baik dan buruk, pikiran keruh sekali, pengelihatan dan pendengaran kabur dan mudah terpedaya oleh iblis jahat, saat itu sanak keluarga perlu secepatnya mengadakan puja bhakti dengan pembacaan Sutra Buddha, memuliakan nama Buddha, Bodhisattva Mahasattva, dengan demikian almarhum dapat terbebas dari alam kesengsaraan.&lt;br /&gt;Ksitigarbha Bodhisattva juga memberikan satu cara yang mudah dan bermanfaat bagi para umat di masa yang akan datang juga dapat dimanfaatkan dalam menghadapi kelahiran dan kematian yang mereka alami dari masa ke masa. Jika terdapat seorang meninggal dunia, saat itu seluruh anggota atau hanya seorang saja menyebut nama Buddha dengan suara lantang secara berulang-ulang, karma berat pancanantarya yang dilakukan almarhum akan mendapatk kesempatan terhapus; apalagi jika seorang yang akan meninggal dunia dapat menyebut-nyebut nama Buddha, maka ia akan mendapatkan kebahagiaan yang tak terbatas dan terhapuskan segala karma buruknya. Semua mahluk yang berada di masa sekarang atau masa yang akan datang, naik dewa ataupun manusia, lelaki atau wanita, bila mereka dapat menyebut salah satu nama Buddha atau nama para Buddha, mereka akan mendapatkan kebajikan yang diada bandingnya, banyak sekali manfaatnya, baik saat mereka lahir maupun ketika meninggal dunia mereka takkan terjerumus ke alam kesengsaraan, tapi akan menikmati kebahagiaan!&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4994266008489912885-4170137201887056882?l=dharmapetama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Dharmapetama/~4/XuJU4vvaTzE" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Dharmapetama/~3/XuJU4vvaTzE/sutra-ksitigarbha-bodhisattva-purva_30.html</link><author>noreply@blogger.com (Ridwan Wu)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_2m8p-tpG7OM/THqaLGYI9jI/AAAAAAAABZE/Cj69x4FUOJE/s72-c/9728_1138309101336_1335653452_30384355_6093006_n.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://dharmapetama.blogspot.com/2010/08/sutra-ksitigarbha-bodhisattva-purva_30.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4994266008489912885.post-7288121450485543020</guid><pubDate>Sun, 29 Aug 2010 17:29:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-08-30T00:32:20.318+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Dharma</category><title>Sutra Ksitigarbha Bodhisattva Purva Pranidhana (Part I)</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_2m8p-tpG7OM/THqZdSmFS9I/AAAAAAAABY8/jgSWixMY-E8/s1600/ksitigarbha-bodhisattva.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 134px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_2m8p-tpG7OM/THqZdSmFS9I/AAAAAAAABY8/jgSWixMY-E8/s200/ksitigarbha-bodhisattva.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5510885822528048082" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pada bagian pertama Sutra Ksitigarbha Bodhisattva Purva Pranidhana ini terdapat sub bagian yang berjudul Istana Trayastrimsa Varga Rddhidhi Jnanam, Pertemuan Badan-badan Jelmaan Ksitigarbha Bodhisattva, Pengamatan atas Karma Mahluk Hidup serta Sebab Akibatnya dan Hukum Karma Mahluk-makhluk Jambudvipa. Berikut penjelasannya:&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Bagian ini diceritakan pada suatu ketika dimana Sang Buddha sedang berkhotbah kepada Ibu-Nya di Istana Trayastrimsa Varga Rddhidhi Jnanam dan semua Buddha dan Bodhisattva Mahasattva berkumpul, Sang Buddha bersabda mengenai seba utama apa, melakukan ibadat bagaimana, menyatakan tekad apa, yang itu semua berhasil dicapai oleh Ksitigarbha Bodhisattva. Sang Buddha menceritakan tentang seorang Putri Brahmana yang memiliki ibu yang menganut ajaran sesat dan suka menfitnah Triratna, Putri Brahmana tersebut dengan berbagai cara yang terampil menasehati ibunya, akan tetapi belum ibunya percaya sepenuhnya, ia meninggal dunia dan arwahnya jatuh ke Neraka Avici. Putri Brahmana tesebut tahu akan ibunya yang tidak percaya terhadap hukum karma dan ia tahu ibunya niscaya jatuh kealam sengsara. Secepat mungkin ia menjual rumahnya, lalu ia tukar dengan dupa, bunga, alat pujaan lain dan dipersembahkannya alat pujaan tersebut ke vihara-vihara sambil mengadakan puja bhakti. Karena perbuatan baik Putri Brahmana tersebut, ibunya dilahirkan di Surga dan penghuni Neraka Avici lainnya pun mendapat kebebasan dan dilahirkan di Surga. Ketahuilah, bahwa Putri Brahmana tersebut sekarang adalah Bodhisattva Ksitigarbha&lt;br /&gt;Di Istana Trayastrimsa tersebut berkumpul bada-badan jelmaan Ksitigarbha Bodhisattva, Sang Buddha bersabda tentang susah payahnya Sang Buddha menolong berbagai mahluk hidup agar mereka terbebas dari dukkha dan supaya mahluk hidup yang berada di dunia Saha hingga pada masa Maitreya Bodhisattva lahir, semuanya terbebas dari penderitaan. Ketika itu semua jelmaan Ksitigarbha Bodhisattva dari berbagai dunia dan sejak berkalpa-kalpa yang lalu bersatu menjadi tubuh asalnya dan memberi penghormatan dengan perasaan terharu dan berlinangan air mata terhadap Sang Buddha Sakyamuni.&lt;br /&gt;Ibu Mahamaya beradara memberi hormat kepada Bodhisattva Ksitigarbha dan bertanya mengenai hukum karma para mahluk dari dunia Jambudvipa. Bodhisattva Ksitigarbha menjelaskan hukuman terberat dari Neraka adalah apabila terdapat seorang anak durhaka yang tidak pernah mematuhi orang tuanya, bahkan ia berani membunuh orang tuanya. Selain itu, berani melukai badan Buddha atau menfitnah Triratna, tidak menghormati Kitab Suci, menyakiti Bhiksu, berani menodai Bhiksuni, melakukan perbuatan dursila di vihara atau berani membunuh mahluk bernyawa di vihara, menyamar sebagai sramana dan ia memboroskan atau mencuri harta benda milik Sangha, menipu kulapati, melanggar Vinaya, dan melakukan bermacam-macam karma buruk. Hukuman untuk karma seperti itu adalah akan terjerumus ke Neraka Avici dan masa hukumannya hingga jutaan koti kalpa, sulit memperoleh kesempatan keluar dari situ dan tidak dapat mohon istirahat sesaat pun, menderita terus tak berkesudahan. Neraka Avici adalah neraka terbesar dari jutaan buah neraka yang kelilingnya ± 8 juta yojana, semua dilengkapi tembok besi membara dasyat 10 ribu yojana dan semua berada di Gunung Cakravada, Neraka Avici kelilingnya 18 ribu yojana. Hukum karma yang berkaitan dengan Neraka Anantarya yang sebagian besar merupakan hukum karma yang berkaitan dengan Neraka Avici; antara lain :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. mendapat penderitaan siang malam tiada henti selama berkalpa-kalpa tiada terputus&lt;br /&gt;   2. berapa pun jumlah orang hukuman, akan terasa sesak padat&lt;br /&gt;   3. tiada yang dapat menghindar dari suatu hukuman, baik siksaan garpu tajam, binatang bertubuh besi seperti garuda, ular, serigala, anjing, atau lesung serta alu panas menumbuk tubuh, atau tubuhnya dilindah, digergaji, dipahat, dikikir, atau diiris-iris menjadi berkeping-keping, atau dimasukan keperiuk besi berisi air mendidih, atau dipaksa menaiki keledai atau kuda besi yang panas lalu dibakar dan jika lapar diberi makan peluru besi dan jika haus diberi minum cairan besi.&lt;br /&gt;   4. tiada satu alasan pun untuk meringankan hukuman, baik wanita atau lelaki, minoritas atau mayoritas, lanjut usia atau muda belia, bangsawan atau hina dina, naga atau mahluk suci, dewa atau setan. Siapa saja yang mempunyai karma berat harus menerima hukumannya.&lt;br /&gt;   5. selama hukuman belum habis, akan berulang kali tumimbal lahir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan Neraka Avici rumit sekali dan sulit diterangkan. Setelah mendengarkan penjelasan Bodhisatva Ksitigarbha, Ibu Mahamaya merasa cemas dan sedih!, dan kembali beradara kepada Bodhisatva Ksitigarbha.&lt;br /&gt;Disana Sang Buddha banyak bersabda dan bercerita mengenai kisah-kisah yang menjadi panutan bagi mahluk hidup. Salah satu kisahnya adalah kisah seorang Putri Jyotinetra yang bermula saat ia bertemu dengan Arahat dan menyediakan makanan untuk memuja Arahat tersebut, lalu Arahat tersebut bertanya kepada siapa jasa-jasa Putri tersebut akan disalurkan ?. Putri Jyotinetra menjelaskan akan menyalurkan kepada ibunya yang telah meninggal dunia. Putri tersebut menjelaskan bahwa ibunya gemar sekali makan anak ikan dan labi-labi (sejenis mahluk bernyawa) yang digoreng atau dimasak dengan sayur, hingga banyaknya ± 10 juta kali nyawanya. Sang Arahat dengan perasaan welas asih menjelaskan dengan menyebut nama Buddha dengan sepenuh hati dan mengadakan puja bhakti di depan Buddharupang akan melindungi yang telah meninggal maupun yang masih hidup. Setelah itu Putri Jyotinetra segera menjual semua barang kesayangannya untuk mendapatkan gambar Buddha Suddhapadmanetra dan dipujanya dengan hikmat, karena terharu ia pun menangis. Saat ia tidur, tiba-tiba ia bermimpi melihat Buddha yang amat besar dan memancarkan sinar keemasan dan bersabda akan kelahiran kembali ibunya dari alam sengsara di rumahnya.&lt;br /&gt;Beberapa lama kemudian seorang Pramuwisma yang sedang mengandung melahirkan seorang bayi laki-laki, ketika bayi itu melihat putri Jyotinetra lalu ia menangis dan menjelaskan bahwa ia adalah ibunya yang baru saja terjerumus ke alam kesedihan karena melakukan 2 karma berat yaitu pembunuhan dan ucapan kotor serta menfitnah, dan karena jasa-jasa anaknya tersebut ia tidak dapat keluar dari kesengsaraan yang amat menyedihkan dan sulit diceritakan. Mendengar itu Putri Jyotinetra menangis dan ia berikrar akan memberikan nadir utamanya kepada Sang Buddha yang berada di sepuluh penjuru jagad. Perlu diketahui Putri Jyotinetra tidak lain adalah Bodhisattva Ksitigarbha. Ketika itu Sang Buddha juga menjelaskan tentang hukum karma yang menjelaskan seandainya terdapat umat yang sengaja melakukan pembunuhan akan mengakibatkan usia pendek atau mati muda; yang melakukan pencurian akan mengakibatkan kemiskinan dan sengsara; yang melakukan perbuatan dursila akan mengakibatkan dirinya dilahirkan di alam unggas; yang melakukan ucapan kasar akan mengakibatkan rumah tangganya tidak harmonis; yang melakukan fitnahan akan mengakibatkan bisu atau penyakit mulut menahun; yang senang marah atau membenci akan mengakibatkan cacat dan berparas jelek; yang suka berburu akan mati ketakutan, yang durhaka kepada orang tuanya akan terkena bencana alam; yang suka menangkap anak binatang akan terpisah dan terpencar jauh dari sanak saudaranya; menfitnah Sangha akan buta, tuli, bisu; menghina Buddha Dharma akan lama dihukum di alam sengsara; yang menodai Sangha dan mengotori tempat suci akan dilahirkan di alam binatang; dan masih banyak lagi. Demikianlah hukum karma, namun Ksitigarbha Bodhisattva tetap ulet terus menerus berusaha dengan segala cara yang terampil untuk menyelamatkan mereka mencapai pembebasan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4994266008489912885-7288121450485543020?l=dharmapetama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Dharmapetama/~4/1Nf6o7OejR4" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Dharmapetama/~3/1Nf6o7OejR4/sutra-ksitigarbha-bodhisattva-purva.html</link><author>noreply@blogger.com (Ridwan Wu)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_2m8p-tpG7OM/THqZdSmFS9I/AAAAAAAABY8/jgSWixMY-E8/s72-c/ksitigarbha-bodhisattva.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://dharmapetama.blogspot.com/2010/08/sutra-ksitigarbha-bodhisattva-purva.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4994266008489912885.post-8780668183652752031</guid><pubDate>Sat, 31 Jul 2010 14:07:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-07-31T21:12:38.657+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Dharma</category><title>觀世音菩薩 - Avalokitesvara Bodhisattva</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_2m8p-tpG7OM/TFQvK5rjCXI/AAAAAAAABY0/nfJ-9F6-y6k/s1600/Avalokitesvara+Bdhisattva+(18).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 133px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_2m8p-tpG7OM/TFQvK5rjCXI/AAAAAAAABY0/nfJ-9F6-y6k/s200/Avalokitesvara+Bdhisattva+(18).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5500072909254887794" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div align="justify"&gt;觀音佛祖 Guan Yin Fo Zhu {Hok Kian = Kwan Im Hut Co } secara umum disebut Guan Yin. Sebutan akrabnya adalah Dewi Kwan Im atau Ma Kwan Im / Kwan Im Ma 觀音媽. Dalam bahasa Sansekerta disebut Buddha Avalokitesvara. Mengapa banyak orang yang menyebut Goan Shi Yin Pu Sa 觀世音菩薩 {Hok Kian = Kwan Si Im Pho Sat } ?  &lt;div class="fullpost"&gt;Ini karena ikrar beliau yang amat welas asih yaitu : tidak akan menjadi Buddha sebelum semua manusia terselamatkan. Namun sebenarnya beliau telah menjadi Buddha dan bergelar南海古佛 Nan Hai Gu Fo {Lam Hai Ko Hut = Buddha Laut Selatan}. Maka kita menyebutnya Kwan Im Hut Co.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh sebelum agama Buddha disebarkan dari India ke Tiongkok, di Tiongkok Kuno sudah ada kepercayaan kepada seorang Dewi yang welas asih dengan penampilan memakai jubah putih. Pada akhir Dinasti Han (25 – 228 M), agama Buddha masuk ke Tiongkok dan mendapat tempat di hati masyarakat. Kisah Putri Miao Shan (Biao Sian) dalam kisah 南海觀音傳團 Nan Hai Guan Yin Zhuan Tuan {Lam Hai Kwan Im Coan Thoan} amat dikenal dalam Buddhisme Tiongkok, dan telah menyatu dalam sanubari orang-orang Tionghoa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah seorang Dewi Welas Asih yang Asli Tiongkok 白衣大士 Bai Yi Da Shi {Pek Ie Tai Su} menyatu dengan Avalokitesvara, jadilah Dewata Buddhis Khas Tiongkok, bahkan ciri-ciri ke-India-annya hilang sama sekali. Kisah Putri Miao Shan yang amat berbakti kepada orangtua merupakan cerminan dari kisah Sang Buddha Gautama, di mana beliau meninggalkan keduniawian menjadi pertapa dan sempurna di Gunung Pu To Shan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Figure Kwan Im yang dekat dengan segala lapisan masyarakat membuatnya amat termashur bahkan melebihi Sang Buddha Gautama sendiri. Dalam perujudannya sebagai 千手觀音 Qian Shou Guan Yin {Chien Chiu Kwan Im = Kwan Im Tangan Seribu} beliau secara Esotoris seolah-olah adalah Tuhan Yang Maha Kuasa, karena sanggup mengabulkan semua permohonan umatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kwan Im Hut Co dikenal luas sebagai Dewi Welas Asih, yang dipuja tidak hanya di kalangan Buddhis saja, tapi juga di kalangan Tao dan semua lapisan masyarakat awam di pelbagai negara terutama di benua Asia. Coba kita perhatikan, di setiap kelenteng atau wihara, siapapun yang menjadi “Tuan Rumah”–nya [misalnya Hian Than Kong 玄壇公, Te Cong Ong 地藏王, Ma Co 媽祖, Kwan Kong 關公 , Ceng Guan Ceng Kun 清元真君, dll] pasti ada sebuah altar khusus untuk menghormati Kwan Im Hut Co ! Bahkan banyak umat yang sembahyang &amp; menaruh altar Kwan Im di rumahnya. Mengapa bisa demikian ? Ini karena Maha Welas Asih (大慈大悲) beliau. Maka beliau disebut Guan Shi Yin. Bahkan Dunia Barat pun mengenalnya sebagai Goddess Of Mercy !!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guan Shi Yin adalah terjemahan harfiah dari bahasa Sansekerta Avalokitesvara, yang mengandung arti sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;觀 Guan = melihat, memandang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;世 Shi = dunia (alam fana yang penuh dengan penderitaan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;音 Yin = suara (jeritan penderitaan dari makhluk hidup)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guan Yin adalah Buddha yang melambangkan hati yang welas asih dan penyayang, yang tertanam dalam relung hati tiap pemujanya. Mereka percaya bahwa Guan Yin dapat mendengarkan keluh-kesah mereka yang menderita dan datang menolong, dalam wujud yang berbeda-beda, baik pria maupun wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kalangan rakyat, Kwan Im Hut Co dianggap penolong bagi orang yang sedang dalam kesengsaraan dan penderitaan. Beliau juga dianggap penolong roh-roh yang mengalami penderitaan di neraka, oleh karena itu beliau ditampilkan dalam sembahyang memberi makan roh-roh kelaparan yang diadakan pada bulan 7 Imlek, dengan nama普渡公 Pu Du Gong {Pho To Kong = Tuan Yang Menolong Penyeberangan}.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perwujudan Kwan Im&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Sutra Suddharma Pundarika Sutra 妙法蓮花經 Miao Fa Lian Hua Jing {Biauw Hoat Lien Hwa Keng} disebutkan ada 33 perwujudan atau penjelmaan Kwan Im Pho Sat. Sedangkan dalam Maha Karuna Dharani /大悲咒 Da Bei Zhou {Tay Pi Ciu}，ada 84 rupa yang berbeda sebagai pengejawantahan Kwan Im sebagai Bodhisatva yang memiliki kekuasaan besar. Pendampingnya yang setia adalah Kim Tong 金童 (Jejaka Emas) dan Giok Li 玉女 (Gadis Kumala), atau yang sering disebut Sian Cay &amp; Liong Ni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Altar utama di kelenteng 普陀山 Phu Tho San (Pho Jee Sie) dipersembahkan kepada Kwan Im Pho Sat dengan perujudannya sebagai Buddha Vairocana, dan di sisi kiri/kanan berderet masing-masing ke-16 perujudan Beliau lainnya. Total di kiri dan kanan berikut di altar utama Phu Tho San ada 33 macam perwujudan yang mengesankan dan amat berwibawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negeri-negeri lain yang menganut agama Buddha seperti India, Thailand, Vietnam dan Kamboja, Kwan Im Hut Co biasanya ditampilkan sebagai pria. Hanya di Tiongkok saja Kwan Im Hut Co diujudkan sebagai wanita dengan berbagai penampilan antara lain :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kwan Im membawa Sutra memberi pelajaran Buddha Dharma kepada umat manusia.&lt;br /&gt;2. Kwan Im dengan hutan bambu ungu.&lt;br /&gt;3. Kwan Im menyeberangi lautan. Konon Kwan Im dari India menyeberangi lautan sampai di Phu Tho San, propinsi Zhe Jiang.&lt;br /&gt;4. Kwan Im bertangan seribu. Perujudan ini mengandung makna bahwa Kwan Im tahu segala hal dan mampu melakukan segala hal.&lt;br /&gt;5. Kwan Im dengan keranjang isi ikan. Mengandung arti menyayangi mahluk hidup, sebab ikan itu akan dilepaskan kembali ke laut.&lt;br /&gt;6. Kwan Im berbaju putih. Maksudnya putih bersih tanpa dosa seperti halnya Maria dalam agama Katolik.&lt;br /&gt;7. Kwan Im dengan 8 (delapan) rintangan. Ini melambangkan Kwan Im dapat mengatasi berbagai kesukaran agar dapat dengan tenang menerima ajaran Buddha.&lt;br /&gt;8. Kwan Im membawa anak. Merupakan pemujaan bagi orangtua yang ingin memperoleh anak.&lt;br /&gt;9. Kwan Im membawa botol air suci. Biasanya ditemani oleh sang bocah suci, San Chai, dan burung kakatua.&lt;br /&gt;10. Kwan Im naik gelombang atau di atas sebuah batu karang, yang melambangkan keteguhan hatinya untuk menempuh berbagai kesukaran dalam menolong manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke-10 perujudan di atas adalah yang paling terkenal dari 33 bentuk perujudan Kwan Im, dalam menolong umatnya yang membutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perwujudan beliau di altar utama Kim Tek Ie adalah sebagai King Cee Kwan Im (Kwan Im membawa Sutra memberi pelajaran Buddha Dharma kepada umat manusia). Di samping itu terdapat wujud Kwan Im Hut Co dalam千手觀音 Chien Chiu Kwan Im (Kwan Im bertangan seribu) sebagai perujudan Beliau yang senantiasa bersedia mengabulkan permohonan yang tulus dari umat-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : jindeyuan.org&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4994266008489912885-8780668183652752031?l=dharmapetama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Dharmapetama/~4/iDmGZ5HIN8M" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Dharmapetama/~3/iDmGZ5HIN8M/avalokitesvara-bodhisattva.html</link><author>noreply@blogger.com (Ridwan Wu)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_2m8p-tpG7OM/TFQvK5rjCXI/AAAAAAAABY0/nfJ-9F6-y6k/s72-c/Avalokitesvara+Bdhisattva+(18).jpg" height="72" width="72" /><thr:total>1</thr:total><feedburner:origLink>http://dharmapetama.blogspot.com/2010/07/avalokitesvara-bodhisattva.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4994266008489912885.post-7737161355636224446</guid><pubDate>Mon, 28 Jun 2010 14:53:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-06-28T21:55:42.349+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Dharma</category><title>Um Meni Pudmi Hem</title><description>&lt;div align="justify"&gt;Alkisah seorang wanita tua penjual kayu bakar yang tinggal di pinggir sungai kecil. Setiap harinya, wanita tua ini harus menyebrangi sungai untuk dapat menjual kayu bakarnya di pasar. Walaupun sudah puluhan tahun menyebrangi sungai, tetap saja timbul perasaan takut yang luar biasa dihatinya akan derasnya air sungai yang mengalir. Dan setiap kali merasa takut, wanita ini terus melafalkan mantra “Um Meni Pudmi Hem” selama berkali-kali. &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali wanita tua ini melafalkan mantranya, maka air sungai menjadi surut dan tidak berderas kencang lagi. Setelah melihat air sungai menjadi surut, baru rasa takutnya agak berkurang dan wanita tua ini mulai memberanikan diri menyebrangi sungai sambil terus melafalkan mantranya hingga sampai keseberang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, wanita ini mendengar adanya seorang Guru Spiritual yang sangat terkenal dari negeri seberang datang berkunjung di dekat desanya. Wanita tua ini juga tidak menyia-nyiakan kesempatan yang sangat berharga ini. Pagi itu dirinya, tidak menjual kayu bakar di pasar, dirinya memang telah berniat mengunjungi Guru Spiritual yang sangat terkenal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya keberuntungan ada dipihak sang wanita tua ini, sehingga dirinya dengan mudahnya dapat mencari kediaman sang Guru Spiritual dan ternyata sang Guru Spiritual juga berkenan menerima kedatangannya. Dihadapan sang Guru Spiritual tersebut, Wanita tua ini langsung bersujud memohon berkah dan blessing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buddha memberkatimu” kata sang Guru Spiritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Um Meni Pudmi Hem… Um Meni Pudmi Hem… Um Meni Pudmi Hem…” wanita tua terus melafalkan mantra sebagai rasa hormat yang tinggi kepada sang Guru, pewaris dan penerus berputarnya Roda Dharma dari Sang Buddha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai nenek yang terkasih, apa yang dapat saya bantu ” sang Guru Spiritual dengan nada lembut menawarkan bantuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Guru, mohon maaf. Selama ini hidup saya, saya tidak pernah memohon apapun. Tetapi kali ini, saya terpaksa harus memohon bantuan anda. Saya hanya mempunyai satu permohonan saja,” mohon wanita tua ini dengan kepala terus menunduk ketanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nenek, Silahkan menjelaskan permintaan anda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Guru, setiap hari saya harus menjual kayu bakar ke pasar, dan setiap hari saya harus menyebrangi sungai. Tetapi……… setiap kali saya ingin menyebrangi sungai, saya selalu merasakan rasa takut yang sangat luar biasa. Saya tidak tahu harus berbuat apa-apa lagi, untuk menghilangkan rasa takut yang luar biasa ini. Saya bisanya hanya melafalkan mantra ‘Um Meni Pudmi Hem’ setiap kali sebelum menyebrang. Tolonglah saya, Guru. Bagaimana menghilangkan rasa takut menyebrangi sungai.” Pinta sang nenek sambil bersujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nenek tua, anda sudah benar sekali caranya. Bila kita dalam kesulitan, maka dengan melafalkan mantra sangat baik sekali untuk menenangkan hati. Oh yah, saya baru saja mendengar anda mengucapkan mantra “Om Mani Padme Hum”. Tetapi sayang sekali, rupanya mantra yang nenek ucapkan sedikit salah. Nenek, anda harus mengucapkan mantra Avalokitsvhara dengan baik dan benar, sehingga dapat benar-benar bermanfaat. Coba nenek ikut saya ‘Om Mani Padme Hum’” jelas sang Guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Om Meni Pudmi Hum.” Kata si Nenek dengan perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekali lagi nenek, Om Mani Padme Hum”, sang Guru berkata lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Om Meni Padmi Hum”, kata sang nenek dengan perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengarkan baik-baik, Nek. Om…Ma…ni… Pad…me… Hum…”, sang Guru berkata lagi dengan nada sangat perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Om… Ma…Ni… Pad…Me… Hum…”, kata sang nenek dengan perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagus… Bagus… ini yang benar ‘Om Mani Padme Hum’. Sekarang nenek harus mengucapkan mantra ini sebanyak 108 kalii dengan benar sebelum menyebrang, pasti rasa takut anda, akan hilang.” Jelas sang Guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Om Ma Ni Pad Me Hum, Om Ma Ni Pad Me Hum, Terima kasih… terima kasih… terima kasih. Om Ma Ni Pad Me Hum....” kata sang nenek sambil bersujud kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Nenek lalu pulang kerumah, sambil terus melafalkan mantra “Om Mani Padme Hum” dalam hati, agar dirinya terus dapat mengingatnya. Hingga malam harinya sebelum tidur, sang nenek terus melafalkan berulang-ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya dengan wajah cerah dan penuh kegembiraan, sang Nenek mulai bersiap diri membawa kayu bakar untuk dijual di pasar. Sambil berjalan ke arah sungai dengan penuh keyakinan akan kehebatan mantra barunya, sang nenek berpikir bahwa dirinya benar-benar sangat beruntung sekali mempunyai karma baik, sehingga dapat bertemu dan mendapatkan ajaran akan melafalkan mantra yang benar dari sang Guru Spiritual yang hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiba di dipinggir sungai, sang nenek menurunkan pikulan kayu bakarnya. Kemudian dilihatnya air sungai yang tampak setinggi biasanya dan mengalir cukup deras. Sang nenek kemudian memejam matanya, dan menarik nafas perlahan-lahan. Kemudianh dirinya mulai melafalkan mantra ‘Om Mani Padme Hum… Om Mani Padme Hum…’ berkali-kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melafalkan sebanyak 108 kali, sang nenek merasa senang. Ternyata dirinya benar-benar tidak merasakan rasa takut sedikitpun. Lalu sang nenek mulai membuka mata perlahan-lahan. Dilihatnya air sungai yang mengalir dihadapannya. Ternyata air sungainya tidak surut seperti biasanya, dan arusnya tidak mengecil sedikitpun. Dirinya merasa heran, karena biasanya sehabis membaca mantra, air sungai akan menyurut dan arusnya akan mengecil, sehingga dirinya dapat melihat batu-batu besar di dasar sungai sebagai penuntun jalan menyebrang sungai. Walau rasa takut tidak lagi timbul, tetapi sang nenek kebingungan sekali, karena tidak tahu bagaimana caranya untuk menyebrangi sungai dengan air yang masih belum surut dan arus yang cukup deras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu sang nenek memutuskan, untuk menutup mata kembali dan malafalkan mantra ‘Om Mani Padme Hum’ hingga 108 kali. Kemudian sang nenek membuka matanya, ternyata air dan arus sungai tetap saja tidak berubah sedikitpun. Dicobanya sekali lagi, membacakan mantra ‘Om Mani Padme Hum’ sebanyak 108 kali. Dan air dan arus sungai tidak berubah juga. Dicobanya lagi membaca mantra dengan perlahan-lahan, agar setiap mantra dapat diucapkan tanpa kesalahan sedikitpun, tetapi tetap saja arus sungai tidak juga surut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak terasa hari telah siang, dan tampak air sungai semakin deras. Sang nenek yang merasa sangat kebingungan, akhirnya memutuskan untuk tidak jadi ke pasar, melainkan pergi mencari sang Guru Spiritual untuk menceritakan kejadian yang sangat aneh ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntunglah sang nenek, ternyata sang Guru Spiritual masih berada di penginapanya seperti kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Guru, Saya mengalami kejadian yang sangat aneh dan tidak masuk akal. Mohon Guru berkenan memberikan petunjuk lagi?” mohon sang nenek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nenek, dengan senang hati saya akan membantu.” Jawab sang Guru dengan lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Guru, tadi pagi ketika ingin menyebrang sungai. Saya terus melafalkan mantra ‘Om Mani Padme Hum’ sesuai dengan petunjuk dari Guru kemarin. Mantra Guru benar-benar sangat luar biasa, dengan mengucapkan ‘Om Mani Padme Hum’, rasa takut saya benar-benar tidak timbul lagi.” Jelas sang nenek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagus sekali, memang terbukti bahwa membaca mantra dengan benar, sangat besar manfaatnya. Lalu kejadian aneh apa yang anda alami, Nek?” tanya sang Guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Guru, Mantra dari Guru sangat luar biasa. Sehabis malafalkan mantra ‘Om Mani Padme Hum’, saya tidak merasa takut lagi. Tetapi… tetapi… mengapa air sungainya tidak surut dan arusnya tidak mengecil juga. Bahkan, saya telah mencobanya lebih sepuluh kali berturut-turut melafalkan mantra ‘Om Mani Padme Hum’ sebanyak 108 kali. Sungguh aneh, Air sungainya tetap saja tidak surut-surut, dan arusnya juga tidak berubah sedikitpun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nenek..... Lalu bagaimana anda dapat menyeberangi sungai tersebut sebelumnya?” tanya sang Guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Guru. Dihari-hari sebelumnya, sehabis saya melafalkan mantra ‘Um Meni Pudmi Hem’, air sungai pasti langsung surut dan arusnya mengecil. Sehingga akan tampak batu-batu yang menjadi patokan saya untuk menyebrang. Tetapi saya merasa takut sekali ketika menyebrang sungai. Terlebih-lebih ditengah sungai, Saya pasti merasakan takut yang sangat luar biasa, karena saya selalu membayangkan jangan-jangan airnya akan langsung meninggi lagi dan arusnya akan menjadi deras kembali, atau bagaimana bila batu yang saya injak ini pecah. Walaupun penuh dengan ketakutan, saya terpaksa menyebrang sambil terus melafalkan mantra. Karena takut yang luar biasa, saya hanya dapat menyeberangi sungai dengan sangat perlahan, tetapi.... selama ini saya masih beruntung, karena air sungainya selalu meninggi dan deras kembali, tepat ketika saya telah sampai diseberang sungai." jelas sang Nenek dengan panjang lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buddha memberkatimu”, kata sang Guru dengan nada kekaguman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya sangat senang sekali. Ternyata mantra yang Guru ajarakan sangat luar biasa hebatnya, sehingga saya tidak merasa takut lagi. Bila saya tidak merasa takut, tentu saya dapat menyebrang sungai dengan lebih cepat sebelum arus sungai naik kembali. Tetapi... sungguh sangat aneh sekali. Setiap hari selama bertahun-tahun, saya selalu menyeberang sungai. Baru hari ini air sungainya tidak surut sedikitpun. Mohon bantuan Guru lagi...” Mohon sang nenek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nenek, Buddha memberkatimu. Saya rasa, lebih baik nenek kembali melafalkan mantra ‘Um Meni Pudmi Hem’. Ini jauh lebih baik bagi nenek. Setidaknya, nenek masih dapat menyebrang sungai.” Kata sang Guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Guru???” kata sang nenek singkat, dengan wajah kebingungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(dikutip dari buku "Kisah-Kasih SpiritualBagian 14 - Wisnu Prakasa")&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4994266008489912885-7737161355636224446?l=dharmapetama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Dharmapetama/~4/f-qGtVLky_g" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Dharmapetama/~3/f-qGtVLky_g/um-meni-pudmi-hem.html</link><author>noreply@blogger.com (Ridwan Wu)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://dharmapetama.blogspot.com/2010/06/um-meni-pudmi-hem.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4994266008489912885.post-2263618107596669372</guid><pubDate>Mon, 28 Jun 2010 14:46:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-06-28T21:50:38.031+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Reflection</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Motivation</category><title>Kisah Seorang Kakek Tua</title><description>&lt;div align"justify"&gt;Saya adalah seorang pramugari biasa dari China Airline, karena bergabung dengan perusahaan penerbangan hanya beberapa tahun dan tidak mempunyai pengalaman yang mengesankan, setiap hari hanya melayanipenumpang dan melakukan pekerjaan yang monoton.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 7 Juni yang lalu saya menjumpai suatu pengalaman yang membuat perubahan pandangan saya terhadap pekerjaan maupun hidup saya. Hari ini jadwal perjalanan kami adalah dari Shanghai menuju Peking ,penumpang sangat penuh pada hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara penumpang saya melihat seorang kakek dari desa, merangkulsebuah karung tua dan terlihat jelas sekali gaya desanya, pada saatitu saya yang berdiri dipintu pesawat menyambut penumpang kesanpertama dari pikiran saya ialah zaman sekarang sungguh sudah majus eorang dari desa sudah mempunyai uang untuk naik pesawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pesawat sudah terbang, kami mulai menyajikan minuman, ketikamelewati baris ke 20, saya melihat kembali kakek tua tersebut, diaduduk dengan tegak dan kaku ditempat duduknya dengan memangku karungtua bagaikan patung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menanyakannya mau minum apa, dengan terkejut dia melambaikan tangan menolak, kami hendak membantunya meletakan karung tua diatasbagasi tempat duduk juga ditolak olehnya, lalu kami membiarkannya duduk dengan tenang, menjelang pembagian makanan kami melihat diaduduk dengan tegang ditempat duduknya, kami menawarkan makanan jugaditolak olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kepala pramugari dengan akrab bertanya kepadanya apakah diasakit, dengan suara kecil dia mejawab bahwa dia hendak ke toilettetapi dia takut apakah dipesawat boleh bergerak sembarangan, takutmerusak barang didalam pesawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menjelaskan kepadanya bahwa dia boleh bergerak sesuka hatinya dan menyuruh seorang pramugara mengantar dia ke toilet, pada saat menyajikan minuman yang kedua kali, kami melihat dia melirik kepenumpang disebelahnya dan menelan ludah, dengan tidak menanyakannyakami meletakan segelas minuman teh dimeja dia, ternyata gerakan kami mengejutkannya, dengan terkejut dia mengatakan tidak usah, tidak usah,kami mengatakan engkau sudah haus minumlah, pada saat ini dengan spontan dari sakunya dikeluarkan segenggam uang logam yang disodorkan kepada kami, kami menjelaskan kepadanya minumannya gratis, dia tidak percaya, katanya saat dia dalam perjalanan menuju bandara, merasa hausdan meminta air kepada penjual makanan dipinggir jalan dia tidak diladeni malah diusir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu kami mengetahui demi menghemat biaya perjalanan dari desa dia berjalan kaki sampai mendekati bandara baru naik mobil, karena uang yang dibawa sangat sedikit, hanya dapat meminta minunam kepada penjual makanan dipinggir jalan itupun kebanyakan ditolak dan dianggap sebagai pengemis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kami membujuk dia terakhir dia percaya dan duduk dengan tenang meminum secangkir teh, kami menawarkan makanan tetapi ditolak olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menceritakan bahwa dia mempunyai dua orang putra yang sangat baik, putra sulung sudah bekerja di kota dan yang bungsu sedang kuliah ditingkat tiga di Peking . anak sulung yang bekerja di kota menjemput kedua orang tuanya untuk tinggal bersama di kota tetapi kedua orangtua tersebut tidak biasa tinggal dikota akhirnya pindah kembali kedesa, sekali ini orang tua tersebut hendak menjenguk putra bungsunya di Peking, anak sulungnya tidak tega orang tua tersebut naik mobil begitu jauh, sehingga membeli tiket pesawat dan menawarkan menemani bapaknya bersama-sama ke Peking , tetapi ditolak olehnya karena dianggap terlalu boros dan tiket pesawat sangat mahal dia bersikeras dapat pergi sendiri akhirnya dengan terpaksa disetujui anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan merangkul sekarung penuh ubi kering yang disukai anak bungsunya, ketika melewati pemeriksaan keamanan dibandara, dia disuruh menitipkan karung tersebut ditempat bagasi tetapi dia bersikeras membawa sendiri, katanya jika ditaruh ditempat bagasi ubi tersebut akan hancur dan anaknya tidak suka makan ubi yang sudah hancur, akhirnya kami membujuknya meletakan karung tersebut di atas bagasi tempat duduk, akhirnya dia bersedia dengan hati-hati dia meletakan karung tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat dalam penerbangan kami terus menambah minuman untuknya, diaselalu membalas dengan ucapan terima kasih yang tulus, tetapi diatetap tidak mau makan, meskipun kami mengetahui sesungguhnya dia sudah sangat lapar, saat pesawat hendak mendarat dengan suara kecil dia menanyakan saya apakah ada kantongan kecil? dan meminta saya meletakan makanannya di kantong tersebut. Dia mengatakan bahwa dia belum pernah melihat makanan yang begitu enak, dia ingin membawa makanan tersebut untuk anaknya, kami semua sangat kaget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut kami yang setiap hari melihat makanan yang begitu biasa dimata seorang desa menjadi begitu berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menahan lapar disisihkan makanan tersebut demi anaknya, denganterharu kami mengumpulkan makanan yang masih tersisa yang belum kamibagikan kepada penumpang ditaruh didalam suatu kantongan yang akankami berikan kepada kakek tersebut, tetapi diluar dugaan dia menolak pemberian kami, dia hanya menghendaki bagian dia yang belum dimakan tidak menghendaki yang bukan miliknya sendiri, perbuatan yang tulus tersebut benar-benar membuat saya terharu dan menjadi pelajaran berharga bagi saya.&lt;br /&gt;Sebenarnya kami menganggap semua hal tersebut sudah berlalu, tetapi siapa menduga pada saat semua penumpang sudah turun dari pesawat, diayang terakhir berada di pesawat. Kami membantunya keluar dari pintu pesawat, sebelum keluar dia melakukan sesuatu hal yang sangat tidak bisa saya lupakan seumur hidup saya, yaitu dia berlutut dan menyembah kami, mengucapkan terima kasih dengan bertubi-tubi, dia mengatakan bahwa kami semua adalah orang yang paling baik yang dijumpai, kami didesa hanya makan sehari sekali dan tidak pernah meminum air yang begitu manis dan makanan yang begitu enak, hari ini kalian tidak memandang hina terhadap saya dan meladeni saya dengan sangat baik,saya tidak tahu bagaimana mengucapkan terima kasih kepada kalian. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian, dengan menyembah dan menangisdia mengucapkan perkataannya. Kami semua dengan terharu memapahnya dan menyuruh seseorang anggota yang bekerja dilapangan membantunya keluardari lapangan terbang.&lt;br /&gt;Selama 5 tahun bekerja sebagai pramugari, beragam-ragam penumpang sudah saya jumpai, yang banyak tingkah, yang cerewet dan lain-lain,tetapi belum pernah menjumpai orang yang menyembah kami, kami hanya menjalankan tugas kami dengan rutin dan tidak ada keistimewaan yang kami berikan, hanya menyajikan minuman dan makanan, tetapi kakek tua yang berumur 70 tahun tersebut sampai menyembah kami mengucapkan terima kasih, sambil merangkul karung tua yang berisi ubi kering danmenahan lapar menyisihkan makanannya untuk anak tercinta, dan tidak bersedia menerima makanan yang bukan bagiannya, perbuatan tersebut membuat saya sangat terharu dan menjadi pengalaman yang sangat berharga buat saya dimasa datang yaitu jangan memandang orang dari penampilan luar tetapi harus tetap menghargai setiap orang dan mensyukuri apa yang kita dapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;True Story ……………Mudah2an kisah nyata ini bisa menjadi renungan &amp; motivasi bagi kita semua untuk mendapatkan inspirasi seperti pramugari ini. Semoga Bermanfaat..&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4994266008489912885-2263618107596669372?l=dharmapetama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Dharmapetama/~4/DXcdnCvz5iY" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Dharmapetama/~3/DXcdnCvz5iY/kisah-seorang-kakek-tua.html</link><author>noreply@blogger.com (Ridwan Wu)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://dharmapetama.blogspot.com/2010/06/kisah-seorang-kakek-tua.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4994266008489912885.post-8242489300758236986</guid><pubDate>Mon, 31 May 2010 15:50:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-05-31T22:52:32.390+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Dharma</category><title>Sutra Bakti</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_2m8p-tpG7OM/ShYBRd2FnhI/AAAAAAAAAHM/NEUsjvyzn7w/s1600-h/Picture77.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 163px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_2m8p-tpG7OM/ShYBRd2FnhI/AAAAAAAAAHM/NEUsjvyzn7w/s200/Picture77.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5338455807875194386" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div align ="justify"&gt;Ayah Dan Ibu adalah dua Buddha yang hidup dalam keluarga. Sutra ini adalah sutra tentang kebaikan hati orang tua dan bagaimana sulitnya untuk membalas budi baik mereka. &lt;br /&gt;Demikianlah yang aku dengar, suatu ketika Hyang Buddha berdiam di Shravasti, di Hutan Jeta, bersama-sama dengan sekumpulan bhiksu-bhiksu besar, yang seluruhnya berjumlah 1250, dan para Bodhisattva, yang semuanya berjumlah 38.000.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu, Sang Bhagava memimpin kumpulan besar tersebut dalam perjalanan menuju selatan. Tiba-tiba rombongan Hyang Buddha menjumpai seonggok tulang manusia disamping jalan. Hyang Bhagava berpaling menghadapinya, dan bersikap Anjali dengan penuh hormat. Guru Buddha lalu menghampiri sekumpulan tulang tersebut, seraya bersujud dan memberi hormat. Ananda dan anggota rombongan lainnya tidak mengerti mengapa Guru Buddha bertindak demikian.&lt;br /&gt;Ananda dengan bersikap Anjali kemudian bertanya kepada Sang Bhagava, "Tathagata adalah Guru Agung dari Tri Loka dan Bapak yang terkasih dari makhluk-makhluk yang berasal dari Empat Jenis Kelahiran. Beliau dihormati dan dicintai seluruh umat. Apakah sebabnya kini beliau menghormati seonggok tulang-tulang kering?" Buddha lalu menjawab kepada Ananda, "Meskipun Kalian adalah siswa-siswaku yang utama dan telah lama menjadi anggota Sangha, namun pengertian kalian belum cukup. Onggokan tulang ini mungkin adalah milik para leluhurku pada kehidupan yang lalu. Bagaimana mungkin manusia tidak menghormati orang tuanya, karena itulah Aku bersujud dan menghormat"&lt;br /&gt;Sang Buddha menerangkan lebih lanjut  kepada Ananda, "Tulang-tulang yang kita lihat ini dapatlah dibagi menjadi dua kelompok. Yang satu adalah tulang-tulang Pria, yang berat dan putih warnanya. Kelompok yang lain adalah tulang-tulang Wanita, yang ringan dan warnanya hitam." Ananda lalu berkata, "Duhai Sang Bhagava, saat  masih hidup didunia para pria menghiasi badan mereka dengan jubah, pengikat pinggang, sepatu, topi dan pakaian-pakaian indah lainnya untuk menunjukkan bahwa mereka adalah pria perkasa. Ketika masih hidup para wanita, mereka mengenakan kosmetik, minyak wangi, bedak dan wangi-wangian yang menarik untuk menghiasi tubuh mereka, sehingga dengan jelas menampakkan kewanitaannya.&lt;br /&gt;Namun tatkala para pria dan wanita itu meninggal, semua yang tertinggal adalah tulang-tulang. Bagaimana seseorang dapat membedakan nya? Mohon ajarilah kami Guru, bagaimana cara membedakannya?" Buddha menerangkan, ”Semasa hidup di dunia ada pria yang rajin memasuki Vihara, mendengarkan penjelasan tentang Sutra dan Vinaya, menghormati Tri Ratna. Karena kebajikannya luar biasa, tatkala mereka meninggal tulang-tulangnya menjadi berat dan putih warnanya.&lt;br /&gt;Wanita pada umumnya kurang bijaksana  dan terbawa emosi. Mereka melahirkan dan membesarkan anak-anak, sebagai    suatu kewajiban. Setiap anak meminum 1200 galon susu ibunya. Ibu menjadi   letih dan menderita, dan karenanya tulang-tulang mereka berubah menjadi hitam &amp; ringan ketika mereka meninggal."  Ketika Ananda mendengar kata-kata ini, dia merasakan kepedihan dalam hatinya, karena seolah-olah telah tertusuk pedang dan karenanya ia diam-diam menangis. Dia mengatakan kepada Sang Bhagava, "Bagaimanakah caranya seseorang dapat membalas kasih dan kebaikan ibunya?"&lt;br /&gt;Sang Buddha mengatakan kepada Ananda, "Dengarkanlah baik-baik, Aku akan jelaskan hal ini kepadamu dengan terperinci. Janin tumbuh dalam kandungan selama sepuluh bulan perhitungan Candra Sengkala. Alangkah menderitanya ibu selama janin berada disitu! Pada bulan pertama kehamilan, hidup janin tidaklah menentu seperti titik embun pada daun yang kemungkinan tidak akan bertahan dari pagi hingga sore, tetapi akan menguap pada tengah hari!"&lt;br /&gt;"Pada bulan kedua, janin menjadi kental seperti susu kental. Pada bulan ketiga, ia seperti darah yang mengental. Hingga pada bulan keempat, janin mulai berwujud sedikit seperti manusia. Selama bulan kelima dalam kandungan, kelima anggota badan anak (dua kaki,  dua tangan, dan kepala) mulai terbentuk. Pada bulan keenam kehamilan, anak mulai mengembangkan inti ke enam alat indera nya yaitu mata, telinga, hidung, lidah, badan dan pikiran.&lt;br /&gt;Selama bulan ketujuh, ketiga ratus enam puluh tulang-tulang dan persendian terbentuk, dan kedelapan puluh empat ribu pori-pori rambut juga telah sempurna. Dalam bulan kedelapan kehamilan, kecerdasan dan kesembilan lubang terbentuk. Pada bulan kesembilan, janin suka meng-gerakkan tangan dan kakinya membuat ibu tidak nyaman dan kehilangan selera makan. Janin telah belajar menyerap berbagai zat makanan. misalnya janin dapat menyerap sari buah-buahan, akar tanaman tertentu, dan kelima macam padi-padian."&lt;br /&gt;Selama kehamilan, pembekuan darah ibu dari organ-organ dalamnya membentuk zat tunggal yang menjadi makanan anak. Selama bulan ke sepuluh kehamilan, badan janin disempurnakan dan siap untuk dilahirkan. Setelah sepuluh bulan merasakan kesusahan, darah ibu akan mengalir deras seperti sungai agar janin bisa lahir dengan sempurna. Bila janin ini kelak akan menjadi anak yang ber-bakti, dia akan lahir dengan telapak tangan disatukan sebagai hormat dan kelahiran itu akan aman dan baik. Ibunya tidak akan terluka oleh kelahirannya dan tidak akan membawa derita kesakitan bagi sang Ibu.&lt;br /&gt;Tetapi, bila anak tersebut akan menjadi pembangkang maka ia akan merusak dan melukai kandungan ibunya, membuatnya sangat menderita Saat melahirkan Ibu akan merasa seperti di sayat seribu pisau atau seperti ribuan pedang yang menikam jantungnya, mengoyak hati dan jantung, menyangkut ditulang ibunya.&lt;br /&gt;Itulah kesakitan yang dialami saat kelahiran anak yang nakal dan pembangkang. Sebagai seorang anak, kita tidak boleh melupakan penderitaan orang tua, dalam merawat dan membesarkan kita. Jika kita lupa, kita bahkan lebih kejam dan jahat dari binatang buas. Untuk menambah bakti kita dan lebih jelasnya, kita harus mengerti ada 10 jenis kebajikan yang diperbuat oleh seorang ibu kepada anaknya :&lt;br /&gt;"Kebaikan pertama  memberikan perlindungan dan penjagaan selama anak dalam kandungan. Sungguh sulit terlahir sebagai manusia bagi kelahiran-kelahiran kita yang tak terhitung jumlahnya." "Tidak mudah bisa berada di dalam kandungan ibu, dibutuhkan hubungan karma dengan orang tua." "Dengan berlalunya bulan, kelima organ penting berkembang. Dalam waktu tujuh minggu, keenam alat indera mulai tumbuh, dan ter-bentuk." "Saat janin mulai tumbuh, beban ibu semakin berat dan badannya pun menjadi seberat gunung."&lt;br /&gt;Diam atau gerakan-gerakan janin adalah laksana gempa bumi &amp; bencana angin ribut, baju-baju ibu yang cantik tidak dapat dipakai dengan baik lagi, dan begitu juga cerminnya pun berdebu karena hanya memikirkan bayinya, ibu tidak sempat dan terlalu letih untuk berdandan.&lt;br /&gt;Kebaikan kedua "Kehamilan berlangsung selama sepuluh bulan. Masa kehamilan semakin lama semakin tidak menyenangkan." "Saat kelahiran semakin dekat, kesusahan dan kesulitan ibu semakin berat." Setiap pagi ibu merasa sangat sakit, sepanjang hari terasa mengantuk dan lamban. Ketakutannya dan kegelisahannya sukar dilukiskan. Dengan khawatir ibu memberitahu keluarganya, bahwa dia hanya takut maut akan menimpa bayi atau dirinya.&lt;br /&gt;Kebaikan Ketiga adalah kebaikan untuk melupakan semua kesakitan begitu anak telah dilahirkan. Saat bersalin, kelima organ semua terbuka lebar, Membuat tubuh  dan pikiran Ibu sangat letih. Darah mengalir laksana seekor domba yang disembelih, hingga ibu pingsan beberapa kali. Tetapi ketika mendengar bahwa anaknya terlahir sehat, dia dipenuhi dengan kegembiraan yang me limpah, tetapi sesudah kegembiraan, rasa sakit kembali mengaduk-ngaduk bagian dalam tubuhnya.&lt;br /&gt;Kebaikan Keempat adalah kebaikan dari me-makan bagian yang pahit bagi dirinya dan menyimpan yang manis bagi anak. Kebaikan kedua orangtua sangat besar dan dalam, penjagaan dan pengabdiannya tidak pernah ber henti, tidak pernah beristirahat, ibu senantiasa menyimpan yang manis untuk anak, dan tanpa mengeluh menelan yang pahit bagi dirinya. cintanya amat besar dan emosinya sukar ter tahankan, kebaikannya adalah mendalam dan begitu juga kasihnya, hanya menginginkan anak mendapat cukup makanan, ibu yang kasih tidak membicarakan kelaparannya sendiri. Asal anaknya bahagia, orang tua rela kedinginan dan menahan lapar. Cinta kasih dan kasih sayang mereka tidak terlukiskan.&lt;br /&gt;Kebaikan Kelima adalah kebaikan untuk memindah kan anak ke tempat yang kering dan dirinya sendiri berbaring di tempat yang basah. Ibu rela basah agar anaknya dapat berada di tempat yang kering. Ibu senantiasa melindungi anak dengan lengan nya dari angin dan dingin. Dalam kebaikannya, kepala ibu jarang lega di atas bantal, dan bahkan dia melakukannya dengan gembira selama anak dapat merasa senang, Ibu yang baik tidak mencari penghiburan bagi dirinya sendiri.&lt;br /&gt;Kebaikan Keenam adalah menyusui anaknya pada payudaranya dan memberinya makan serta memelihara serta membesarkan anak. Dengan kedua payudaranya dia memuaskan rasa lapar dan haus sang anak, selama 3 tahun ibu menghidupi anaknya dengan air susu, yang se-benarnya adalah darahnya sendiri. Ibu yang baik adalah bagai kan bumi yang besar, Ayah yang tegar laksana langit yang mengasihi, yang satu melindungi dari atas, yang lainnya menunjang dari bawah. &lt;br /&gt;Kebajikan semua orang-tua adalah se-demikian rupa sehingga mereka tidak membenci atau marah terhadap anaknya meskipun mereka terlahir jelek. Mereka juga tidak kecewa dan tetap menyukainya, sekalipun anak terlahir cacat. Setelah ibu mengandung dan melahirkan anaknya, ayah dan ibu bersama-sama merawat, membesarkan dan melindungi anaknya sampai akhir hayatnya. Sungguh luar biasa cinta kasih orang tua terhadap anaknya.&lt;br /&gt;Kebaikan Ketujuh adalah rela  membersihkan kotoran anaknya. Pada mulanya ibu cantik dan memiliki tubuh yang indah, semangatnya kuat dan bergelora, alis matanya seperti daun willow yang segar, dan  kulitnya bersinar.Tetapi karena kebaikan ibu yang begitu men-dalam sehingga ia melupakan dan melepaskan kecantikannya. Sekalipun merawat dan mencuci anaknya, yang dapat membuat dirinya kotor dan merusak badannya. Ibu yang baik bertindak hanya demi untuk kepentingan putra-putrinya. Dan dengan rela menerima kecantikannya yang memudar.&lt;br /&gt;Kebajikan Kedelapan adalah kebaikan dari selalu memikirkan anak bila dia berjalan jauh. Kematian dari orang yang dicintai sukar terlukiskan penderitaannya. Tetapi berpisah dari yang dikasihi juga sangat menyakitkan. Bila anak berjalan jauh, ibu merasa khawatir dikampungnya, dari pagi hingga malam, hatinya selalu bersama anaknya, sentiasa bersembahyang berharap anaknya selamat dan sukses agar dapat cepat pulang dan berkumpul kembali. Orang tua menunggu berita siang dan malam. Dan air mata jatuh berderai dari matanya, seperti monyet yang menangis diam diam, Sedikit demi sedikit hatinya hancur. Ketika tiada berita kunjung tiba. Demikian dalamnya cinta seorang ibu kepada anaknya.&lt;br /&gt;Kebaikan Kesembilan adalah Kasih Sayang yang dalam berupa Pengabdian dan Perhatian orang tua terhadap anaknya. Sungguh sulit untuk dibalas. Mereka rela menderita demi kepentingan anaknya. Alangkah besarnya kebaikan orang tua dan gejolak emosinya! Ketika tahu atau mendengar  anaknya susah, Orang tua akan ikut bersusah hati. Bila anaknya bekerja berat, orang tua pun merasa tidak tenang. Bila mereka mendengar bahwa anak berjalan jauh, mereka khawatir bahwa pada waktu malam sang anak berbaring ke-dinginan. Bahkan sakit se bentar yang diderita putra atau putrinya, akan me-nyebabkan orang tua lama bersusah hati.&lt;br /&gt;Kebaikan Kesepuluh adalah kebaikan dari rasa kasihan yang dalam dan simpati dari Orang tua terhadap anaknya.Cinta kasih dan kasih sayang orang tua adalah besar dan penting. Perhatiannya yang lemah lembut tidak pernah berhenti, seperti cahaya abadi dari Bulan dan matahari yang menyinari seluruh dunia, tidak pernah akan sirna. Sejak bangun pagi, yang dipikirkan mereka adalah anaknya. Apakah anak-anak dekat atau jauh, orang tua selalu memikirkan mereka. Sekalipun seorang ibu hidup untuk seratus tahun. dia akan selalu mengkhawatirkan anaknya yang berumur delapan puluh tahun. Inginkah anda mengetahui "Kapan" kebaikan dan cinta yang demikian itu berakhir ? Ia bahkan tidak berkurang hingga akhir hidupnya. Meski menjadi hantu sekalipun, mereka masih terikat kepada anaknya. Mereka tidak bisa melepaskan keterikatan itu.&lt;br /&gt;Sang Buddha berkata kepada Ananda "Bila Aku merenung tentang makhluk-makhluk hidup, Aku melihat bahwa sekalipun sebagian dari mereka terberkahi dilahirkan sebagai manusia, tetapi mereka bodoh dan dungu dalam pikiran-pikiran dan tindakan-tindakan mereka. mereka tidak mempertimbangkan kebaikan dan kebajikan orang tua mereka. mereka tidak menghormati dan melupakan kebaikan dan apa yang benar. mereka kurang manusiawi dan kurang berbakti atau patuh pada orang tua.Mereka tidak menyadari kebaikan orang tua yang sangat luar biasa. Alangkah sedihnya bila acap kali anak justru tidak meng-hormati orang tua mereka. Bahkan mereka dengan mudah nya melupakan kebaikan orang tua mereka. Mereka sungguh anak-anak yang tidak berbakti dan berbudi.&lt;br /&gt;Kebajikan dari orang tua sungguh tulus, luas dan tidak terbatas. Bila seseorang berbuat kesalahan karena tidak berbakti, sungguh sulit untuk membayar kembali kebaikan itu !" Setelah mendengar uraian Guru Buddha tentang betapa dalamnya kebaikan  orang tua, banyak yang menjatuhkan  diri mereka ke tanah dan bersujud  dalam kesedihan. Sebagian pingsan, yang lain menghentakkan kakinya ketanah. Bahkan ada yang ber   darah karena terluka dan sedih. Dengan suara lantang mereka meratap : "Sungguh menderitanya! Alangkah sakitnya! Betapa menyakitkan! Anak yang telah menyakiti hati orang tuanya."&lt;br /&gt;"Kami semua bersalah. Kami semua seperti penjahat yang tidak pernah sadar yang hidup bermabuk mabukan. Kami tidak sadar betapa dalamnya kelalaian kami." "Seperti mereka yang berjalan di malam yang gelap. Kami baru sekarang menyadari kesalahan-kesalahan kami dan hati kami tercabik-cabik. Dengan mendengarkan uraian Hyang Buddha kami terbangun dari alam mimpi yang panjang." "Kami hanya berharap Tathagata mengasihi   dan menyelamatkan kami. Mohon ajarilah  bagaimana membalas atau mengembalikan ke baikan yang mendalam dari kedua orang tua kami."&lt;br /&gt;Pada waktu itu Tathagata memakai delapan macam suara yang sangat dalam dan bersih, seraya berkata kepada kumpulan besar itu, "Kalian semua harus mengerti dan mengetahui ini, sekarang akan Ku jelaskan beberapa segi dari hal ini." "Bila seseorang memikul ayahnya dengan bahu kirinya dan ibunya dengan bahu kanannya dan oleh karena beratnya menembus tulang sumsumnya sehingga tulang-tulangnya hancur menjadi debu karena beban berat mereka, dan anak tersebut mengelilingi Puncak Semeru selama seratus ribu kalpa lamanya, sehingga darah yang mengucur membasahi pergelangan kakinya, anak tersebut belum dapat membalas kebaikan yang mendalam dari orang tuanya."&lt;br /&gt;"Bila seorang anak selama waktu satu  kalpa yang penuh dengan kesukaran dan kelaparan, memotong sebagian dari daging badannya demi memberi makan kedua  orang tuanya dan ini diperbuatnya sebanyak debu yang dilalui dalam per-jalanan ratusan ribu kalpa, anak tersebut belum dapat membalas kebaikan yang dalam dari orang tuanya." "Bila ada seorang anak yang demi orang tuanya, mengambil sebuah pisau yang tajam dan mencungkil kedua belah matanya dan mempersembahkannya kepada Tathagata, dan terus dilakukannya hingga beratus-ratus ribu kalpa, anak tersebut masih tetap belum dapat membalas kebaikan yang mendalam dari orang tuanya".&lt;br /&gt;"Bila seorang anak demi ayah dan ibunya mengambil sebuah pisau tajam dan mengeluarkan jantung dan hatinya sehingga darah mengucur dan menutupi tanah dan ini ia lakukan dalam beratus ribu kalpa, tiada sekalipun mengeluh tentang kesakitannya, anak tersebut tetap belum dapat membalas kebaikan yang besar dari orang tuanya". "Bila seorang anak yang demi orang tua-nya menelan butiran-butiran besi yang mencair dan berbuat demikian hingga beratus ribu kalpa, orang itu tetap belum dapat membalas kebaikan yang mendalam dari orang tuanya".&lt;br /&gt;"Bila seorang anak demi orangtuanya, menghancur kan tulang-tulangnya sendiri sampai ke sumsum dan melakukannya hingga beratus ribu kalpa, anak tersebut tetap belum dapat membalas kebaikan yang besar dari orang tuanya". "Jika seorang anak demi orangtuanya, menahan ratusan ribu pisau dan panah pada tubuhnya, dan hal ini dilakukannya hingga beratus ribu kalpa, anak tersebut tetap belum dapat membalas budi baik yang besar dari orang tuanya"."Bila ada seorang anak yang demi orang tuanya, dalam keadaan terbakar mempersembahkan tubuhnya kepada Buddha, dan melakukannya selama ratusan ribu kalpa, anak tersebut masih tetap belum dapat membalas jasa kebajikan dari orang tuanya".&lt;br /&gt;Ketika itu, setelah mendengar penjelasan Buddha tentang kebajikan orang tua, setiap orang dalam kumpulan besar itu menangis dan merasakan kepedihan dalam hatinya. Mereka merenungkannya dan segera merasa malu dan berkata kepada Sang Bhagava, "Oh, Sang Bhagava, bagaimana kami dapat membalas kebaikan yang dalam dari orang tua kami?" Hyang Buddha menjawab, "Wahai siswa siswaku, jika kalian ingin membalas jasa kebajikan budi baik dari kedua orang tua..."&lt;br /&gt;"Demi mereka tulis dan perbanyaklah Sutra ini, sebarluaskan demi kebajikan semua mahluk serta kumandangkanlah Sutra ini. Segeralah bertobat atas pelanggaran-pelanggaran dan kesalahan-kesalahan. Atas nama orang tua kalian, berikanlah persembahan kepada Buddha, Dharma, Sangha." Demi orang tua, patuhlah kepada perintah dan hanya memakan makanan suci dan bersih. Tumbuh kembangkan kebajikan dari praktek berdana. Inilah kekuatan yang diperoleh, semua Buddha akan selalu melindungi orang yang demikian itu dan dapat dengan segera menyebabkan orang-orang tua mereka lahir kembali di surga, untuk menikmati segala kebahagiaan dan meninggalkan penderitaan-penderitaan neraka.&lt;br /&gt;Pada saat, Ananda dan lain-lainya dalam kumpulan besar "Asura, Garuda, Kinnara,  Manusia, Bukan Manusia, dan lain-lainnya, demikian juga Dewa, Naga, Yaksha, Gandarwa, raja-raja bijaksana yang memutar roda, dan semua raja-raja yang lebih kecil, merasakan semua bulu pada badan mereka berdiri setelah mendengarkan apa yang disabda Hyang Buddha. Masing-masing dari mereka bertekad dan berkata, "Kami semua mulai sekarang sampai perwujudan akhir dari masa mendatang, akan lebih suka badan kami dilumatkan menjadi abu untuk beratus ribu kalpa daripada melanggar ajaran bijaksana dari Tathagata."Kami lebih suka lidah kami dicabut, sehingga akan memanjang sepanjang satu Yojana penuh, dan untuk selama seratus ribu kalpa sebuah luku besi ditarik diatasnya, daripada melanggar ajaran-ajaran bijaksana dari Tathagata."&lt;br /&gt;"Kami lebih suka roda dengan seratus ribu pisau menggelinding dengan bebas diatas badan kami, Kami lebih suka badan kami diikat dengan jaring besi selama seratus ribu kalpa, daripada melanggar ajaran-ajaran bijaksana dari Tathagata." "Kami lebih suka badan kami dicincang, dipotong, dirusak dan dipahat menjadi sepuluh juta potong sehingga kulit, daging, persendian dan tulang-tulang kami betul-betul hancur, dari pada melanggar ajaran-ajaran bijaksana dari Tathagata."&lt;br /&gt;Ketika itu, Ananda dengan agung dan perasaan damai, bangkit dari tempat duduknya dan bertanya kepada Hyang Buddha, "Bhagava, apakah nama Sutra ini bila kami ingin menjalankan dan menjaganya?" Buddha bersabda kepada Ananda, "Sutra ini disebut SUTRA KEBAIKAN DAN KASIH YANG MENDALAM DARI ORANG TUA DAN KESULITAN UNTUK MEMBALASNYA. Pakailah nama ini bila engkau INGIN mengikuti dan menjaganya". Pada saat itu, kumpulan besar, Dewa, Asura, Manusia, dan lain-lainnya, mendengar apa yang telah diuraikan oleh Hyang Buddha, mereka sangat gembira. Mereka mempercayainya, menerimanya, dan menyesuaikannya dengan tingkah laku mereka dan kemudian menunduk hormat dan berlalu.&lt;br /&gt;Ada dua Buddha di setiap keluarga. Tetapi sungguh sayang, tidak banyak yang mengerti hal ini. Mereka tidak perlu dipuja dengan emas dan sebagainya, atau diukir dengan cendana. Perhatikanlah ayah dan ibu, mereka adalah Sakyamuni dan Maitreya. Jika sanggup memberikan persembahan kepada mereka, Kebajikan yang lain tidaklah berarti.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4994266008489912885-8242489300758236986?l=dharmapetama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Dharmapetama/~4/zIt895C_DoA" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Dharmapetama/~3/zIt895C_DoA/sutra-bakti.html</link><author>noreply@blogger.com (Ridwan Wu)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_2m8p-tpG7OM/ShYBRd2FnhI/AAAAAAAAAHM/NEUsjvyzn7w/s72-c/Picture77.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://dharmapetama.blogspot.com/2009/05/sutra-bakti.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4994266008489912885.post-1176161768975822529</guid><pubDate>Fri, 30 Apr 2010 03:52:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-04-30T11:11:46.026+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Dharma</category><title>Penyunyian - Membuka Pintu Hati</title><description>&lt;div align="justify"&gt;Pemicu dari kemarahan kita kebanyakan adalah pengharapan yang tak sampai. Kadang kita begitu menginvestasikan diri ke dalam sebuah proyek yang ketika tak menghasilkan sesuatu sebagaimana seharusnya, kita jadi marah. Semua "seharusnya" merujuk pada pengharapan, suatu prediksi masa depan. Sekarang kita mungkin menyadari bahwa masa depan itu tak pasti, tak dapat diramalkan. Terlalu mengandalkan suatu pengharapan masa depan, suatu "seharusnya", itu namanya cari-cari masalah.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang umat Buddha dari Barat yang saya kenal beberapa tahun lalu menjadi bhikkhu di Timur Jauh. Dia bergabung dengan sebuah kelompok meditasi yang sangat ketat, di sebuah vihara terpencil di pegunungan. Setiap tahun mereka mengadakan penyunyian (retret) meditasi selama 60 hari. Latihannya keras, kaku, dan bukan untuk pikiran yang lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bangun pada pukul 3.00 dini hari, dan pada pukul 3.10 mereka bermeditasi dengan duduk bersila. Sepanjang hari diatur ketat dalam rutinitas 50 menit meditasi duduk, 10 menit meditasi jalan, 50 menit meditasi duduk, 10 menit meditasi jalan, dan seterusnya. Mereka makan di dalam aula tempat bermeditasi, duduk bersila di tempat untuk bermeditasi; tak diperbolehkan bercakap-cakap. Pada pukul 10 malam mereka boleh tidur, tetapi hanya di aula di tempat yang sama ketika mereka duduk bermeditasi. Bangun pada pukul 3 dini hari itu tidak wajib: Anda boleh saja bangun lebih awal jika mau, tapi tidak boleh terlambat. Istirahat hanya pada saat wawancara harian dengan guru yang sangar, dan tentu saja sedikit waktu untuk ke toilet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tiga hari, kaki dan punggung si bhikkhu Barat terasa sangat nyeri. Dia tak terbiasa duduk lama dalam posisi yang terasa sangat tidak nyaman bagi orang Barat. Lebih-lebih, dia masih harus melewati delapan minggu lagi. Dia mulai sungguh­-sungguh sangsi apakah dia mampu bertahan selama itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhir minggu pertama, segala sesuatunya tak menjadi lebih baik. Dia sering merasa tersiksa sekali, berjam-jam duduk seperti itu. Mereka yang pernah mengikuti retret meditasi 10 hari pasti tahu bagaimana sakitnya. Dan dia masih harus menghadapinya tujuh setengah minggu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun orang ini sangat keras hati. Dia menghimpun segenap tekadnya dan terus bertahan, detik demi detik. Pada akhir dari dua minggu pertama, dia benar-benar sudah tak tahan: rasa sakitnya sudah kelewatan. Tubuh Barat-nya tak cocok untuk perlakuan seperti ini. Ini sih bukan ajaran Buddha, bukan Jalan Tengah. Lalu dia memandang sekeliling, melihat bhikkhu-bhikkhu Asia, mereka juga tengah menggeretakkan gigi; rasa gengsi mendorongnya untuk melewatkan dua minggu berikutnya. Selama periode ini, tubuhnya terasa seperti terbakar rasa sakit. Satu-satunya kelegaan adalah saat gong pukul 10 malam, saat dia dapat merentangkan tubuhnya yang tersiksa untuk sedikit santai. Tapi rasanya begitu dia terlelap, gong pukul 3 dini hari berbunyi lagi, membangunkannya untuk hari penuh siksaan berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhir hari ke-30, harapan terlihat berkedip-kedip suram di kejauhan. Sekarang dia telah melewati tanda setengah jalan. Dia sedang dalam perjalanan mudik, "Hampir sampai," dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Hari-hari terasa bertambah panjang dan rasa sakit pada lutut dan punggungnya terasa makin menusuk. Pada saat-saat itu dia rasanya akan menangis. Tetapi tetap saja, dia maju terus. Dua minggu lagi. Satu minggu lagi. Pada minggu terakhir, waktu terasa seperti diseret semut. Sekalipun sekarang dia sudah terbiasa menahan rasa sakit, masih saja itu tidak lebih mudah. Kalau menyerah sekarang, pikirnya, itu namanya tidak setia pada segala sesuatu yang telah ditahannya sejauh ini. Dia tetap ingin merampungkannya, sekalipun dia bisa terbunuh; dan pada saat itu dia pikir itu bisa saja terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia terbangun oleh gong pukul 3 dini hari pada hari ke-60. Dia sudah hampir rampung. Rasa nyerinya pada hari terakhir itu sudah tak terperikan lagi. Seolah-olah rasa nyeri ingin mengolok­-oloknya untuk maju terus, tetapi sekarang sudah tak ada lagi pukulan-pukulan yang menderanya. Bahkan meskipun hanya tersisa beberapa jam saja, dia masih sangsi apakah dia mampu bertahan. Lalu tibalah 50 menit terakhir. Dia memulai sesi itu dengan membayangkan semua hal yang akan dia lakukan, mulai dari satu jam begitu retret usai: berendam air hangat, makan yang enak-enak, ngobrol, bermalas-malasan—tiba-tiba rasa nyeri menginterupsi rencananya, menuntut seluruh perhatiannya. Dia membuka sedikit matanya, dengan diam­-diam, beberapa kali selama sesi akhir untuk mengintip jam. Dia tidak percaya sang waktu bergerak begitu lambatnya. Mungkin baterai jam itu perlu diganti? Mungkin jam itu akan berhenti selamanya tepat lima menit sebelum retret berakhir? Lima puluh menit terakhir terasa seperti lima puluh kalpa, tetapi bahkan yang paling abadi pun harus berakhir juga suatu hari.Termasuk yang ini. Gong pun berbunyi, begitu manisnya, untuk mengakhiri retret.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelombang kegembiraan mengaliri tubuhnya, menenggelamkan rasa sakit ke balik tabir. Dia berhasil. Sekarang dia bisa bersenang-senang. Ayo berendam!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang guru menabuh gong lagi untuk meminta perhatian semua orang. Dia punya pengumuman. Dia berkata, "Ini adalah sebuah retret yang luar biasa. Banyak bhikkhu yang mencapai kemajuan besar, dan beberapa menyarankan kepada saya, saat wawancara pribadi, untuk sebaiknya melanjutkan retret ini selama dua minggu lagi. Saya rasa ini usulan yang hebat. Retret ini dilanjutkan. Ayo duduk lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua bhikkhu melipat kaki lagi dan duduk diam bermeditasi, untuk memulai retret selama 2 minggu lagi. Si bhikkhu Barat bercerita bahwa dia tak merasa sakit lagi di tubuhnya. Dia hanya mencoba menduga-duga siapa gerangan bhikkhu sialan yang telah menyarankan sang guru untuk melanjutkan retret ini, dan berpikir apa yang akan dia lakukan kalau nanti dia tahu siapa bhikkhu itu. Dia punya rencana tak berperi-kebhikkhu-an buat si bhikkhu yang tak berperasaan itu. Kemarahannya mengeringkan semua rasa sakitnya. Dia, menjadi sangat marah. Dia menjadi garang. Dia belum pernah merasa semarah itu sebelumnya. Tiba-tiba gong berbunyi lagi. Itu adalah 15 menit tercepat dalam hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Retret selesai," kata sang guru. "Ada makanan dan minuman untuk kalian semua di ruang makan. Silakan bersantai. Kalian boleh bercakap-cakap sekarang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si bhikkhu Barat jadi kebingungan. "Saya pikir kita akan bermeditasi selama dua minggu lagi. Ada apa?" Seorang bhikkhu senior yang bisa berbahasa Inggris melihat kebingungannya dan datang menghampiri. Sembari tersenyum dia berkata, "Jangan khawatir! Sang guru berbuat begitu setiap tahun!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Dikutip dari buku Membuka Pintu Hati karya Ajahn Brahm&lt;br /&gt;&lt;a href="http://samaggi-phala.or.id/naskahdamma_dtl.php?id=1394&amp;hal=3&amp;cont=brahm03.html&amp;path=&amp;hmid="&gt;http://samaggi-phala.or.id/naskahdamma_dtl.php?id=1394&amp;hal=3&amp;cont=brahm03.html&amp;path=&amp;hmid=&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4994266008489912885-1176161768975822529?l=dharmapetama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Dharmapetama/~4/urYSyV9bzaI" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Dharmapetama/~3/urYSyV9bzaI/penyunyian-membuka-pintu-hati.html</link><author>noreply@blogger.com (Ridwan Wu)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://dharmapetama.blogspot.com/2010/04/penyunyian-membuka-pintu-hati.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4994266008489912885.post-1348515789195458863</guid><pubDate>Sun, 21 Mar 2010 09:51:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-03-21T15:50:11.280+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Story</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Chinese</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">History</category><title>Asal Asul Perayaan Ceng Beng 清 明 節</title><description>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_2m8p-tpG7OM/ShlaBqPWBpI/AAAAAAAAAKM/Kr2Jt2IILXE/s1600-h/Deli+Tua+04.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_2m8p-tpG7OM/ShlaBqPWBpI/AAAAAAAAAKM/Kr2Jt2IILXE/s200/Deli+Tua+04.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5339397817789449874" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kita setiap orang tentu mengetahui bahwa diri sendiri dilahirkan oleh ayah &amp; ibu (orang tua). Tapi di antara sekian banyak orang tua, siapa pula yang melahirkan mereka? Kemudian, ayah ibu orang-orang Tionghoa, siapakah yang melahirkan mereka? Ini adalah pertanyaan tentang asal-usul bangsa Tionghoa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada waktu 清明節 Qing Ming Jie – Hari Raya Ceng Beng (biasanya jatuh pada tanggal 4 atau 5 April setiap tahun), adalah waktu membersihkan makam/kuburan, adalah saat orang Tionghoa sembahyang kepada leluhur (kakek-nenek atau orangtua, dsb) yang telah meninggal dunia &amp; mengenang jasa-jasa leluhur. Hal ini bukanlah tahayul, tetapi adalah menyatakan rasa hormat yang tinggi kepada leluhur, berarti kita tidak melupakan asal-usul kita, dengan kata lain kita tidak melupakan dari mana kita berasal. &lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Raya Qing Ming {Hok Kian = Ceng Beng} adalah Hari Raya Membersihkan Kuburan, juga disebut Hari Raya Musik, adalah suatu hari yang mengandung makna yang amat mendalam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 huruf 清明 Qing Ming ini, artinya adalah langit terang dengan cuaca cerah, dimana siang hari lebih panjang daripada malam hari, suasana musim semi tampak di mana-mana, bunga-bunga bermekaran, tumbuh-tumbuhan &amp; makhluk hidup terasa bersih, segar &amp; sejuk. Cuaca bersih, pemandangan terang, sehingga disebut Hari Raya Qing Ming (arti harfiah = bersih &amp; terang). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceng Beng adalah hari ke-5 dari 24 Jie Qi, adalah musim di mana petani menabur benih &amp; menanam bunga. Sebelum mulai bercocok tanam, para petani terlebih dulu sembahyang kepada leluhur, berterima kasih kepada leluhur yang telah memberikan sawah ladang, kehidupan, harta benda (warisan), budi kebajikan, dll. Ini adalah suatu hal yang amat bermakna. Maka hari ini disebut juga sebagai 思親節 Si Qin Jie (baca: Se Chin Cie), yaitu Hari Raya Mengenang Leluhur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zaman dulu pada waktu hari raya Ceng Beng ini, nasi, sayur &amp; buah-buahan yang telah disembahyangkan kepada leluhur, dibagikan kepada anak gembala, anak orang miskin, atau fakir miskin yang ada di sekitar kuburan. Hal ini menyatakan bahwa budi kebajikan leluhur juga dibagikan untuk dapat dinikmati orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suku bangsa Tionghoa disebut 中華民族 Zhong Hua Min Zu {Hok Kian = Tiong Hoa Bin Cu}. Nenek moyang yang pertama bangsa Tiong Hoa adalah 軒轅黃帝 Xuan Yuan Huang Di (baca: Sien Yen Huang Ti). Menurut legenda, Xuan Yuan Huang Di lahir pada tanggal 5 bulan 4 tahun 4608 Sebelum Masehi. Pada waktu itu, di sekitar daerah aliran Sungai Huang He {Huang Ho}, ada sangat banyak suku bangsa. Semua suku saling menyerang, sehingga rakyat tidak bisa melewati kehidupan yang aman &amp; damai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu Xuan Yuan Huang Di &amp; Chi You (salah satu pemimpin suku bangsa yang kejam &amp; bengis) berperang, pasukan Huang Di menyerang sampai ke Zhang He, mendapat perlawanan sengit dari Chi You &amp; pasukannya, sehingga tidak bisa melewati Zhang He. Lalu Xuan Yuan Huang Di mengundang ahli music Ling Lun untuk mengarang 渡漳之歌 “Lagu Melewati Zhang” untuk dinyanyikan seluruh pasukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya dalam suara nyanyian &amp; alunan musik yang gagah &amp; berwibawa, Xuan Yuan Huang Di &amp; pasukannya berhasil melewati Zhang He, &amp; menaklukan Chi You. Dari hal ini dapat diketahui, bahwa musik bukan saja dapat menghibur diri, juga dapat mendatangkan kemenangan.Setelah Xuan Yuan Huang Di menaklukkan Chi You yang kejam &amp; bengis, mempersatukan seluruh negara, lalu mendirikan negara baru &amp; memperbaiki taraf kehidupan rakyat dalam suasana yang aman &amp; damai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memindahkan ibukota ke Nan Jing, pemerintahan Tiongkok menetapkan Ceng Beng sebagai Hari Raya Membersihkan Makam Bangsa Tionghoa, menyatakan bahwa seluruh rakyat Tiongkok selamanya tidak melupakan nenek moyang pertama pendiri negara, Xuan Yuan Huang Di. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu perang anti Jepang (1937 – 1945), pemerintah Tiongkok menetapkan 5 April sebagai Hari Raya Musik, juga untuk memperingati persembahan karya musik agung yang diciptakan pada masa Xuan Yuan Huang Di.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4994266008489912885-1348515789195458863?l=dharmapetama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Dharmapetama/~4/Pk2ZOMRtZRk" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Dharmapetama/~3/Pk2ZOMRtZRk/asal-asul-hari-raya-ceng-beng.html</link><author>noreply@blogger.com (Ridwan Wu)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_2m8p-tpG7OM/ShlaBqPWBpI/AAAAAAAAAKM/Kr2Jt2IILXE/s72-c/Deli+Tua+04.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://dharmapetama.blogspot.com/2009/05/asal-asul-hari-raya-ceng-beng.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4994266008489912885.post-2428390728625584458</guid><pubDate>Sun, 21 Mar 2010 08:32:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-03-21T15:38:20.450+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Reflection</category><title>Bunda Tolong Mandikan Aku Sekali Lagi !</title><description>&lt;div align="justify"&gt;Dewi adalah sahabat saya, ia adalah seorang mahasiswi yang berotak cemerlang dan memiliki idealisme yang tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik di bidang akademis maupun profesi yang akan digelutinya. ''Why not to be the best?,'' begitu ucapan yang kerap kali terdengar dari mulutnya, mengutip ucapan seorang mantan presiden Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Kampus, mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di Universiteit Utrecht-Belanda, Dewi termasuk salah satunya.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menyelesaikan kuliahnya, Dewi mendapat pendamping hidup yang ''selevel''; sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi. tak lama berselang lahirlah Bayu, buah cinta mereka, anak pertamanya tersebut lahir ketika Dewi diangkat manjadi staf diplomat, bertepatan dengan suaminya meraih PhD. Maka lengkaplah sudah kebahagiaan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Bayu, berusia 6 bulan, kesibukan Dewi semakin menggila. Bak seekor burung garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain. Sebagai seorang sahabat setulusnya saya pernah bertanya padanya, "Tidakkah si Bayu masih terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal oleh ibundanya ?" Dengan sigap Dewi menjawab, "Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya dengan sempurna". "Everything is OK !, Don’t worry Everything is under control kok !" begitulah selalu ucapannya, penuh percaya diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapannya itu memang betul-betul ia buktikan. Perawatan anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter termahal. Dewi tinggal mengontrol jadwal Bayu lewat telepon. Pada akhirnya Bayu tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas mandiri dan mudah mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu, tentang betapa hebatnya ibu-bapaknya. Tentang gelar Phd. dan nama besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang berlimpah. "Contohlah ayah-bundamu Bayu, kalau Bayu besar nanti jadilah seperti Bunda". Begitu selalu nenek Bayu, berpesan di akhir dongeng menjelang tidurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Bayu berusia 5 tahun, neneknya menyampaikan kepada Dewi kalau Bayu minta seorang adik untuk bisa menjadi teman bermainnya dirumah apa bila ia merasa kesepian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Dewi dan suaminya kembali meminta pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Bayu. Lagi-lagi bocah kecil inipun mau ''memahami'' orangtuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan Bangga Dewi mengatakan bahwa kamu memang anak hebat, buktinya, kata Dewi, kamu tak lagi merengek minta adik. Bayu, tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan perengek dan sangat mandiri. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali ngambek. Bahkan, tutur Dewi pada saya , Bayu selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Dewi sering memanggilnya malaikat kecilku. Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orangtuanya super sibuk, namun Bayu tetap tumbuh dengan penuh cinta dari orang tuanya. Diam-diam, saya jadi sangat iri pada keluarga ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, menjelang Dewi berangkat ke kantor, entah mengapa Bayu menolak dimandikan oleh baby sitternya. Bayu ingin pagi ini dimandikan oleh Bundanya," Bunda aku ingin mandi sama bunda...please...please bunda", pinta Bayu dengan mengiba-iba penuh harap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karuan saja Dewi, yang detik demi detik waktunya sangat diperhitungkan merasa gusar dengan permintaan anaknya. Ia dengan tegas menolak permintaan Bayu, sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Bayu agar mau mandi dengan baby sitternya. Lagi-lagi, Bayu dengan penuh pengertian mau menurutinya, meski wajahnya cemberut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa ini terus berulang sampai hampir sepekan. "Bunda, mandikan aku !" Ayo dong bunda mandikan aku sekali ini saja...?" kian lama suara Bayu semakin penuh tekanan. Tapi toh, Dewi dan suaminya berpikir, mungkin itu karena Bayu sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Bayu bisa ditinggal juga dan mandi bersama Mbanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai suatu sore, Dewi dikejutkan oleh telpon dari sang baby sitter, "Bu, hari ini Bayu panas tinggi dan kejang-kejang. Sekarang sedang di periksa di Ruang Emergency".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi, ketika diberi tahu soal Bayu, sedang meresmikan kantor barunya di Medan. Setelah tiba di Jakarta, Dewi langsung ngebut ke UGD. Tapi sayang... terlambat sudah...Tuhan sudah punya rencana lain. Bayu, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh Tuhannya.. Terlihat Dewi mengalami shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah untuk memandikan putranya, setelah bebarapa hari lalu Bayu mulai menuntut ia untuk memandikannya, Dewi pernah berjanji pada anaknya untuk suatu saat memandikannya sendiri jika ia tidak sedang ada urusan yang sangat penting. Dan siang itu, janji Dewi akhirnya terpenuhi juga, meskipun setelah tubuh si kecil terbujur kaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditengah para tetangga yang sedang melayat, terdengar suara Dewi dengan nada yang bergetar berkata "Ini Bunda Nak...., Hari ini Bunda mandikan Bayu ya...sayang....! akhirnya Bunda penuhi juga janji Bunda ya Nak.." . Lalu segera saja satu demi satu orang-orang yang melayat dan berada di dekatnya tersebut berusaha untuk menyingkir dari sampingnya, sambil tak kuasa untuk menahan tangis mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, para pengiring jenazah masih berdiri mematung di sisi pusara sang Malaikat Kecil. . Berkali-kali Dewi, sahabatku yang tegar itu, berkata kepada rekan-rekan disekitanya, "Inikan sudah takdir, ya kan..!" Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya di panggil, ya dia pergi juga, iya kan?". Saya yang saat itu tepat berada di sampingnya diam saja. Seolah-olah Dewi tak merasa berduka dengan kepergian anaknya dan sepertinya ia juga tidak perlu hiburan dari orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara di sebelah kanannya, Suaminya berdiri mematung seperti tak bernyawa. Wajahnya pucat pasi dengan bibir bergetar tak kuasa menahan air mata yang mulai meleleh membasahi pipinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menatap pusara anaknya, terdengar lagi suara Dewi berujar, "Inilah konsekuensi sebuah pilihan!" lanjut Dewi, tetap mencoba untuk tegar dan kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja yang menusuk hidung hingga ke tulang sumsum. Tak lama setelah itu tanpa di duga-duga tiba-tiba saja Dewi jatuh berlutut, lalu membantingkan dirinya ke tanah tepat diatas pusara anaknya sambil berteriak-teriak histeris. "Bayu maafkan Bunda ya sayaang..!!, ampuni bundamu ya nak...? serunya berulang-ulang sambil membenturkan kepalanya ketanah, dan segera terdengar tangis yang meledak-ledak dengan penuh berurai air mata membanjiri tanah pusara putra tercintanya yang kini telah pergi untuk selama-lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang persahabatan kami, rasanya baru kali ini saya menyaksikan Dewi menangis dengan histeris seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu terdengar lagi Dewi berteriak-teriak histeris "Bangunlah Bayu sayaaangku....Bangun Bayu cintaku, ayo bangun nak.....?!?" pintanya berulang-ulang, "Bunda mau mandikan kamu sayang.... Tolong Beri kesempatan Bunda sekali saja Nak.... Sekali ini saja, Bayu.. anakku...?" Dewi merintih mengiba-iba sambil kembali membenturkan kepalanya berkali-kali ke tanah lalu ia peluki dan ciumi pusara anaknya bak orang yang sudah hilang ingatan. Air matanya mengalir semakin deras membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Bayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senja semakin senyap, aroma bunga kamboja semakin tercium kuat manusuk hidung membuat seluruh bulu kuduk kami berdiri menyaksikan peristiwa yang menyayat hati ini...tapi apa hendak di kata, nasi sudah menjadi bubur, sesal kemudian tak berguna. Bayu tidak pernah mengetahui bagaimana rasanya dimandikan oleh orang tuanya karena mereka merasa bahwa banyak hal yang jauh lebih penting dari pada hanya sekedar memandikan seorang anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kisah ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita semua para orang tua yang sering merasa hebat dan penting dengan segala kesibukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://ayahkita.blogspot.com"&gt;http://ayahkita.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4994266008489912885-2428390728625584458?l=dharmapetama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Dharmapetama/~4/a4FtuwKV3Tw" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Dharmapetama/~3/a4FtuwKV3Tw/bunda-tolong-mandikan-aku-sekali-lagi.html</link><author>noreply@blogger.com (Ridwan Wu)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://dharmapetama.blogspot.com/2010/03/bunda-tolong-mandikan-aku-sekali-lagi.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4994266008489912885.post-533605343149876543</guid><pubDate>Sun, 21 Mar 2010 08:20:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-03-21T15:29:51.295+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Reflection</category><title>Kisah Seorang Kakek</title><description>&lt;div align="justify"&gt;Saya adalah seorang pramugari biasa dari China Airline, karena bergabung dengan perusahaan penerbangan hanya beberapa tahun dan tidak mempunyai pengalaman yang mengesankan, setiap hari hanya melayani penumpang dan melakukan pekerjaan yang monoton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 7 Juni yang lalu saya menjumpai suatu pengalaman yang membuat perubahan pandangan saya terhadap pekerjaan maupun hidup saya.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini jadwal perjalanan kami adalah dari Shanghai menuju Peking ,penumpang sangat penuh pada hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara penumpang saya melihat seorang kakek dari desa, merangkul sebuah karung tua dan terlihat jelas sekali gaya desanya, pada saatitu saya yang berdiri dipintu pesawat menyambut penumpang kesan pertama dari pikiran saya ialah zaman sekarang sungguh sudah majuseorang dari desa sudah mempunyai uang untuk naik pesawat.&lt;br /&gt;Ketika pesawat sudah terbang, kami mulai menyajikan minuman, ketika melewati baris ke 20, saya melihat kembali kakek tua tersebut, diaduduk dengan tegak dan kaku ditempat duduknya dengan memangku karung tua bagaikan patung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menanyakannya mau minum apa, dengan terkejut dia melambaikan tangan menolak, kami hendak membantunya meletakan karung tua diatas bagasi tempat duduk juga ditolak olehnya, lalu kami membiarkannya duduk dengan tenang, menjelang pembagian makanan kami melihat diaduduk dengan tegang ditempat duduknya, kami menawarkan makanan juga ditolak olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kepala pramugari dengan akrab bertanya kepadanya apakah dia sakit, dengan suara kecil dia mejawab bahwa dia hendak ke toilet tetapi dia takut apakah di pesawat boleh bergerak sembarangan, takut merusak barang didalam pesawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menjelaskan kepadanya bahwa dia boleh bergerak sesuka hatinya danmenyuruh seorang pramugara mengantar dia ke toilet, pada saat menyajikan minuman yang kedua kali, kami melihat dia melirik ke penumpang disebelahnya dan menelan ludah, dengan tidak menanyakannya kami meletakan segelas minuman teh dimeja dia, ternyata gerakan kami mengejutkannya, dengan terkejut dia mengatakan tidak usah, tidak usah,kami mengatakan engkau sudah haus minumlah, pada saat ini dengan spontan dari sakunya dikeluarkan segenggam uang logam yang disodorkan kepada kami, kami menjelaskan kepadanya minumannya gratis, dia tidak percaya, katanya saat dia dalam perjalanan menuju bandara, merasa hausdan meminta air kepada penjual makanan dipinggir jalan dia tidak diladeni malah diusir. Pada saat itu kami mengetahui demi menghematbiaya perjalanan dari desa dia berjalan kaki sampai mendekati bandarabaru naik mobil, karena uang yang dibawa sangat sedikit, hanya dapat meminta minunam kepada penjual makanan dipinggir jalan itupun kebanyakan ditolak dan dianggap sebagai pengemis.&lt;br /&gt;Setelah kami membujuk dia terakhir dia percaya dan duduk dengan tenang meminum secangkir teh, kami menawarkan makanan tetapi ditolak olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menceritakan bahwa dia mempunyai dua orang putra yang sangat baik,putra sulung sudah bekerja di kota dan yang bungsu sedang kuliah di tingkat tiga di Peking . anak sulung yang bekerja di kota menjemput kedua orang tuanya untuk tinggal bersama di kota tetapi kedua orangtua tersebut tidak biasa tinggal dikota akhirnya pindah kembali kedesa, sekali ini orang tua tersebut hendak menjenguk putra bungsunya di Peking, anak sulungnya tidak tega orang tua tersebut naik mobilbegitu jauh, sehingga membeli tiket pesawat dan menawarkan menemani bapaknya bersama-sama ke Peking , tetapi ditolak olehnya karena dianggap terlalu boros dan tiket pesawat sangat mahal dia bersikeras dapat pergi sendiri akhirnya dengan terpaksa disetujui anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan merangkul sekarung penuh ubi kering yang disukai anakbungsunya, ketika melewati pemeriksaan keamanan dibandara, dia disuruhmenitipkan karung tersebut ditempat bagasi tetapi dia bersikerasmembawa sendiri, katanya jika ditaruh ditempat bagasi ubi tersebutakan hancur dan anaknya tidak suka makan ubi yang sudah hancur,akhirnya kami membujuknya meletakan karung tersebut di atas bagasitempat duduk, akhirnya dia bersedia dengan hati-hati dia meletakan karung tersebut.&lt;br /&gt;Saat dalam penerbangan kami terus menambah minuman untuknya, diaselalu membalas dengan ucapan terima kasih yang tulus, tetapi diatetap tidak mau makan, meskipun kami mengetahui sesungguhnya dia sudah sangat lapar, saat pesawat hendak mendarat dengan suara kecil dia menanyakan saya apakah ada kantongan kecil? dan meminta saya meletakan makanannya di kantong tersebut. Dia mengatakan bahwa dia belum pernah melihat makanan yang begitu enak, dia ingin membawa makanan tersebutuntuk anaknya, kami semua sangat kaget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut kami yang setiap hari melihat makanan yang begitu biasa dimataseorang desa menjadi begitu berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menahan lapar disisihkan makanan tersebut demi anaknya, denganterharu kami mengumpulkan makanan yang masih tersisa yang belum kamibagikan kepada penumpang ditaruh didalam suatu kantongan yang akankami berikan kepada kakek tersebut, tetapi diluar dugaan dia menolak pemberian kami, dia hanya menghendaki bagian dia yang belum dimakan tidak menghendaki yang bukan miliknya sendiri, perbuatan yang tulustersebut benar-benar membuat saya terharu dan menjadi pelajaran berharga bagi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya kami menganggap semua hal tersebut sudah berlalu, tetapi siapa menduga pada saat semua penumpang sudah turun dari pesawat, dia yang terakhir berada di pesawat. Kami membantunya keluar dari pintu pesawat, sebelum keluar dia melakukan sesuatu hal yang sangat tidak bisa saya lupakan seumur hidup saya, yaitu dia berlutut dan menyembah kami, mengucapkan terima kasih dengan bertubi-tubi, dia mengatakanbahwa kami semua adalah orang yang paling baik yang dijumpai, kami didesa hanya makan sehari sekali dan tidak pernah meminum air yang begitu manis dan makanan yang begitu enak, hari ini kalian tidak memandang hina terhadap saya dan meladeni saya dengan sangat baik,saya tidak tahu bagaimana mengucapkan terima kasih kepada kalian.Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian, dengan menyembah dan menangis dia mengucapkan perkataannya. Kami semua dengan terharu memapahnya dan menyuruh seseorang anggota yang bekerja dilapangan membantunya keluar dari lapangan terbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama 5 tahun bekerja sebagai pramugari, beragam-ragam penumpang sudah saya jumpai, yang banyak tingkah, yang cerewet dan lain-lain,tetapi belum pernah menjumpai orang yang menyembah kami, kami hanya menjalankan tugas kami dengan rutin dan tidak ada keistimewaan yangkami berikan, hanya menyajikan minuman dan makanan, tetapi kakek tuayang berumur 70 tahun tersebut sampai menyembah kami mengucapkan terima kasih, sambil merangkul karung tua yang berisi ubi kering danmenahan lapar menyisihkan makanannya untuk anak tercinta, dan tidakbersedia menerima makanan yang bukan bagiannya, perbuatan tersebut membuat saya sangat terharu dan menjadi pengalaman yang sangat berharga buat saya dimasa datang yaitu jangan memandang orang dari penampilan luar tetapi harus tetap menghargai setiap orang dan mensyukuri apa yang kita dapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;True Story ……………&lt;br /&gt;Mudah2an kisah nyata ini bisa menjadi renungan &amp; motivasi bagi kita semua untuk mendapatkan inspirasi seperti pramugari ini. Semoga Bermanfaat..&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4994266008489912885-533605343149876543?l=dharmapetama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Dharmapetama/~4/TBUKuf5NM-c" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Dharmapetama/~3/TBUKuf5NM-c/kisah-seorang-kakek.html</link><author>noreply@blogger.com (Ridwan Wu)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://dharmapetama.blogspot.com/2010/03/kisah-seorang-kakek.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4994266008489912885.post-128672802795292588</guid><pubDate>Sun, 07 Feb 2010 10:54:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-02-07T18:03:15.962+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Chinese</category><title>Tradisi Imlek, Berharap Kesejahteraan</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_2m8p-tpG7OM/S26d3SCamKI/AAAAAAAABYc/4SqBtLJ97IQ/s1600-h/chinese-new-year-2010.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 188px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_2m8p-tpG7OM/S26d3SCamKI/AAAAAAAABYc/4SqBtLJ97IQ/s200/chinese-new-year-2010.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5435455373343103138" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div align="justify"&gt;Masyarakat Tionghoa, khususnya penganut agama Khong Hu Cu merayakan Imlek, yaitu Tahun Baru berdasarkan peredaran bulan dan tahun didasarkan pada tahun kelahiran Nabi Khong Hu Cu. Apa saja tradisinya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat keturunan Tionghoa di Jakarta menggunakan kata sincia “bulan 1 yang baru” dengan ucapan Sincun Kionghi “Selamat Menyambut Musim Semi yang Baru” atau Kionghi berarti “Selamat”. Juga ada kata ‘konyan. yang berasal dari ‘guo nian’ (bahasa Mandarin), berarti “melewati tahun yang baru”.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negara asalnya, RRC, perayaan Imlek dinamakan Chunjie, berarti “Perayaan Musim Semi”. Kata Chunjie digunakan sejak RRC merdeka. Sebelumnya digunakan istilah Yuandan, berarti hari pertama di tahun yang baru dimasuki. Sedangkan sejak 1949, Pemerintah RRC menetapkan nama Yuandan untuk Tahun Baru Internasional, sedangkan Tahun Baru Imlek dinamakan Chunjie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hermina Sutami Pengajar Program Studi Cina Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia menuturkan, secara umum perayaan Tahun Baru ini memiliki makna permohonan yaitu agar dalam setahun ke depan, dapat memperoleh kesejahteraan, rezeki dan keberuntungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sedangkan secara religi, imlek bertujuan untuk mendapatkan pembebasan, penyembuhan, penyucian, pemurnian dan pembaruan dari Tuhan untuk memperoleh hidup dan semangat baru untuk menempuh masa depan yang lebih baik,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upacara menyambut Imlek, Toapekong (dewa) naik, dilakukan pada bulan 12 atau Cap Ji Gwee (bahasa Hokkian)/bulan La (bahasa Mandarin) tanggal 23 atau 24. Pada tanggal itu, Toapekong yang naik adalah Dewa Dapur bernama Zao Shen, serta dewa keluarga yang menentukan baik-buruknya nasib suatu keluarga. Di Indonesia Dewa Dapur juga disebut Cao Kun Kong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Agar Dewa Dapur tidak melaporkan hal yang jelek, manusia mencari akal untuk menyenangkan hatinya. Salah satunya adalah berupa sesajen makanan wajib berupa permen yang manis, liat, dan lengket, manisan buah kundur yang dikenal sebagai tangkua atau tangkwe,” paparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Hermina, ada tiga kegiatan penting pada malam tahun baru imlek. Pertama, kepala keluarga memasang petasan. Kemudian, pintu utama rumah ditutup dan disegel dengan kertas merah agar hawa dingin tidak masuk ke rumah. Kertas merah sebagai lambang uang, merupakan alat menjaga kesejahteraan keluarga. Sesudah pintu ditutup, lalu dipasang perapian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara berikutnya, makan malam bersama dengan suguhan 12 macam masakan dan 12 macam kue yang mewakili 12 shio. Masakan yang dihidangkan biasanya berkaitan dengan kemakmuran, panjang umur, kebahagiaan maupun keselamatan. Seperti tiga macam daging kurban (samseng) berupa ikan bandeng, ayam betina dan daging babi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan dari suguhan tersebut adalah supaya manusia tidak mengikuti sifat ketiga hewan tersebut. Misalkan ikan bandeng yang mirip dengan ular bersisik, supaya tidak berlaku jahat seperti ular, ayam yang suka berpindah-pindah walaupun makanannya belum habis, yaitu agar manusia tidak serakah dan babi, sesuai dengan sifatnya supaya tidak menjadi pemalas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu ada kue keranjang (Nian gao). Nian artinya tahun sedangkan gao artinya tinggi sehingga kue ini biasanya disusun tinggi. Pada zaman dulu, tingginya kue keranjang menandakan kemakmuran keluarga pemilik rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, ada suguhan kue-kue yang umumnya jauh lebih manis daripada biasanya (Tian=manis), dimaksudkan agar kehidupan bisa menjadi lebih manis daripada tahun-tahun sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kue lapis legit (spekkoek) perlambang datangnya rejeki berlapis-lapis, ikan mas (yu), agar rejeki berlimpah tahun dengan emas yang banyak, dan shou mian (mie panjang umur) agar umur dipanjangkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, pisang raja atau pisang mas yang melambangkan emas atau kemakmuran, jeruk kuning (diusahakan ada daunnya) yang melambangkan kemakmuran, tebu yang mengartikan kehidupan manis yang panjang, nanas (Wang Li) untuk kejayaan karena melambangkan mahkota raja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu ada kolang kaling agar pikiran tetap jernih dan agar-agar berbentuk bintang yang dimaksudkan agar kehidupan di masa datang bisa menjadi lebih bersinar.&lt;br /&gt;Adapun beberapa makanan yang perlu dihindari adalah buah-buahan yang berduri seperti salak atau durian, bubur, yang melambangkan kemiskinan serta makanan-makanan yang berasa pahit seperti pare, karena hal ini melambangkan kepahitan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Hermina, dulu ada tradisi pay qui, yaitu orang tua duduk dan anak-anak melakukan sungkem. Kemudian orang tua memberikan ang pao kepada anak-anak. Tradisi angpao bukan hanya monopoli tahun baru Imlek, melainkan bisa dilakukan dalam peristiwa apapun yang melambangkan kegembiraan, seperti pernikahan, ulang tahun, masuk rumah baru dan lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perayaan Imlek berlangsung pada puncaknya pada hari ke-15, ditutup dengan perayaan Cap Go Meh (malam menjelang hari ke-15) yaitu saat bulan purnama bersinar penuh. Bila perayaan imlek banyak difokuskan pada keluarga, maka perayaan Cap Go Meh difokuskan pada perayaan kemasyarakatan. Selamat merayakan Imlek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : inilah.com&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4994266008489912885-128672802795292588?l=dharmapetama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Dharmapetama/~4/IxHl324Dwg4" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Dharmapetama/~3/IxHl324Dwg4/tradisi-imlek-berharap-kesejahteraan.html</link><author>noreply@blogger.com (Ridwan Wu)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_2m8p-tpG7OM/S26d3SCamKI/AAAAAAAABYc/4SqBtLJ97IQ/s72-c/chinese-new-year-2010.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://dharmapetama.blogspot.com/2010/02/tradisi-imlek-berharap-kesejahteraan.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4994266008489912885.post-5970455373785235703</guid><pubDate>Sun, 07 Feb 2010 10:38:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-02-07T17:52:13.031+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Chinese</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">History</category><title>Dongeng Tentang Dewa Dapur (Asal Muasal Kue Keranjang)</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_2m8p-tpG7OM/S26bTbU1gjI/AAAAAAAABYM/08WvEjtVRCI/s1600-h/Kue+Keranjang.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 165px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_2m8p-tpG7OM/S26bTbU1gjI/AAAAAAAABYM/08WvEjtVRCI/s200/Kue+Keranjang.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5435452558337737266" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div align="justify"&gt;PADA jaman dahulu kala, tersebutlah sepasang suami istri yang hidup serba berkecukupan. Sebut saja namanya Tuan Po dan Ny. Po. Sebelum kawin dengan Ny. Po, Tn. Po adalah orang yg hidup pas2an. Namun berkat rejeki yg dibawa oleh istrinya, perlahan-lahan usaha Tn. Po semakin maju.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ny. Po adalah seorang yg berhati mulia dan selalu menolong orang yg kesusahan. Karena itulah ia dikaruniai rejeki yg besar oleh Dewa-dewa di langit. Kemanapun ia pergi, rejeki selalu mengikutinya. Bahkan ketika kawin dengan orang miskin, rejekinya pun menular ke suaminya sehingga menjadi kaya. Akhirnya usaha Tn. Po pun semakin maju dan mereka hidup bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sayangnya kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Tn.Po pada dasarnya memang mempunyai watak egois dan suka menang sendiri. Sejak kehidupannya membaik, teman2nya sering bergunjing di belakangnya bahwa kehidupannya tidak akan berubah kalau dia tidak kawin dengan istri yg membawa rejeki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak mendengar itu Tn.Po menjadi kesal kepada istrinya. Dia tidak percaya bahwa istrinya lah yg membawa rejeki kepadanya. Maka suatu hari ia berniat mencobai "rejeki" istrinya itu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibawanyalah segenggam kacang tanah yg masih ada kulitnya kepada istrinya. Lalu dia mengadakan permainan memilih kacang, siapa yg memilih kacang yg isinya paling besar maka dialah yg menang. Dasar mau menang sendiri, Tn.Po pun mengambil kacang yg paling besar lebih dulu. Giliran Ny.Po, ia hanya memilih sembarangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat dibuka kulitnya, ternyata kacang yg dimiliki Tn.Po isinya sangat kecil, sedangkan kacang yg dipilih Ny.Po malah mempunyai isi yg padat dan lebih besar. Tidak puas dengan itu, Tn.Po pun mengulangi permainan itu berulang2, namun selalu kalah terus karena memang rejeki istrinya yg sangat besar itu. Akhirnya Tn. Po menjadi sangat gusar dan diusirnya istri yg telah memberinya rejeki berkelimpahan itu dengan kejamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah diusir, Ny. Po menjadi sebatang kara dan mengembara. Suatu hari ia sedang berjalan melintasi sebuah gubuk reyot, ketika mendengar suara rintihan seorang wanita. Heran bercampur iba, iapun masuk ke gubuk itu. Ternyata didalamnya ada seorang nenek tua yg sedang sakit keras. Ny.Po segera merawat nenek itu seperti ibunya sendiri. Ternyata anak dari nenek itu tidak sempat mengurus ibunya karena harus bekerja di ladang. Karena hatinya yg sangat mulia, Ny.Po memutuskan utk tinggal sementara disitu sampai nenek itu sembuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, nenek itu pun sembuh dan akhirnya Ny.Po pun menikah dengan anak dari nenek itu. Dasar pembawa rejeki, tidak lama setelah pernikahannya, derajat kehidupan suami yg baru dinikahinya itu pun berangsur membaik. Dari buruh tani miskin akhirnya suaminya menjadi seorang petani kaya raya yg memiliki sawah yg luas dan hidup serba berkecukupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika terjadi musim paceklik yg hebat di wilayah itu, yg membuat banyak orang menderita kelaparan. Namun tidak demikian halnya dengan sawah yg dimiliki oleh Ny.Po yg terus menghasilkan di musim paceklik sehingga lumbung padinya selalu penuh terus. Terdorong oleh jiwa sosialnya yg sangat tinggi, maka Ny.Po membuka lumbungnya dan membagi2kan berasnya secara cuma-cuma kepada orang2 yg membutuhkan. Setiap hari dari siang sampai sore ia membagi2kan beras di lumbungnya secara cuma2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka berduyun2lah orang datang dari seluruh wilayah yg mengalami paceklik. Kabar itu juga sampai ke telinga Tn. Po yg sekarang sudah jatuh miskin karena rejekinya telah dibawa pergi oleh Ny.Po! Semenjak kepergian istrinya, satu persatu musibah datang menimpanya, akhirnya ia pun jatuh miskin dan kehilangan semua kekayaannya. Dalam keadaan miskin dan lapar ia pergi ke rumah yg menawarkan beras cuma-cuma itu, tanpa menyadari bahwa yg membagikan beras itu adalah istri tersayang yg sudah diusirnya....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya ia pun sampai di antrian orang yg mengantri beras. Ny. Po menyerahkan urusan membagi beras itu kepada pesuruhnya, sehingga Tn.Po tidak melihatnya di situ. Namun dasar sial, Tn.Po selalu gagal mendapatkan jatah, karena jam pembagian beras selalu habis sebelum tiba gilirannya. Tiga hari berturut-turut selalu gagal mendapatkan beras, akhirnya Tn.Po pingsan menahan lapar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si pesuruh yg bertugas membagikan beras, segera membawanya ke belakang rumah, yaitu ke bagian DAPUR rumah itu. Mendengar ada orang pingsan, Ny.Po segera datang dan terkejut melihat bahwa org yg pingsan di dapurnya itu adalah mantan suami yg dulu pernah mengusirnya....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Ny.Po pun segera menyuruh pembantunya menyiapkan makanan utk mantan suaminya. Ny. Po masih bingung dengan cara apa ia harus memberitahu identitas dirinya kepada Tn. Po. Ia harus melakukannya tanpa ketahuan orang lain. Akhirnya ia mendapatkan suatu cara, yaitu dengan menunjukkan cincin kawin lamanya kepada sang mantan suami. Ny.Po lalu mengambil cincin kawin lama yg masih disimpannya itu dan menyembunyikannya di bawah nasi di dalam mangkuk nasi yg akan diberikan kepada Tn. Po...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, akhirnya Tn.Po sadar dari pingsannya. Si pesuruh yg telah menungguinya di dapur segera menyuruhnya makan. Ia pun ditinggal di dapur itu dan dibolehkan beristirahat di sana. Saat sedang menyendok nasinya, sendoknya terbentur oleh sebuah benda keras. Setelah diperiksa ternyata benda itu adalah sebentuk cincin, yang ternyata adalah cincin yg pernah diberikannya kepada mantan istrinya....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu pula ia tersadar bahwa org baik hati yg telah memberinya makan di saat ia kelaparan adalah mantan istrinya yg dulu pernah diperlakukan secara kejam dan diusirnya semena-mena....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu juga penyesalan dan rasa malu yg tiada terhingga menyerang dirinya. Sebelum menghabiskan makanannya, ia mengambil sebuah tali dan langsung menggantung dirinya sampai tewas di dapur itu.... Sejak itu lah orang percaya bahwa jiwanya selalu menghantui dapur di rumah itu dan juga dapur2 yg ada di rumah lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya orang mulai menyembahyangi dia sebagai DEWA DAPUR (Cuo Sen) dan menganggapnya sebagai utusan dari Kaisar Langit (Thian Ti), pemimpin segala dewa, yg bertugas utk menyelidiki perilaku setiap manusia di bumi melalui dapur rumahnya masing2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkembang juga kepercayaan bahwa Dewa Dapur akan melaporkan hasil penyelidikannya itu kepada Kaisar Langit setiap menjelang Tahun Baru Imlek, tepatnya seminggu sebelum Imlek, yaitu tanggal 24 bulan 12 tahun Imlek. Agar sang Dewa Dapur tidak melaporkan hal2 yg buruk-buruk kepada Kaisar Langit, maka ia perlu dijamu dan disuap dengan kue-kue, manisan, dan buah2an yang serba enak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan salah satu kue yg sangat disenanginya adalah kue manis yg terbuat dari bahan beras ketan, yang kemudian disebut Nian Gao (Kue Tahun Baru) atau yg di Indonesia dikenal dengan nama Kue Keranjang atau Kue Manis. Seluruh warga menyediakan dodol manis yang disajikan dalam keranjang, yang disebut kue keranjang. Kue keranjang itu berbentuk bulat, mengandung makna agar keluarga yang merayakan Imlek tersebut dapat terus bersatu, rukun dan bulat tekad dalam menghadapi tahun yang akan datang. Kue keranjang disajikan di depan altar atau di dekat tempat sembahyang di rumah.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4994266008489912885-5970455373785235703?l=dharmapetama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Dharmapetama/~4/E1p_GH88HGU" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Dharmapetama/~3/E1p_GH88HGU/dongeng-tentang-dewa-dapur-asal-muasal.html</link><author>noreply@blogger.com (Ridwan Wu)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_2m8p-tpG7OM/S26bTbU1gjI/AAAAAAAABYM/08WvEjtVRCI/s72-c/Kue+Keranjang.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://dharmapetama.blogspot.com/2010/02/dongeng-tentang-dewa-dapur-asal-muasal.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4994266008489912885.post-1358709527477219444</guid><pubDate>Mon, 11 Jan 2010 16:05:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-01-11T23:06:24.639+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Dharma</category><title>Nasehat dari Guru</title><description>&lt;div align="justify"&gt;"Apa manfaat dari sebuah cermin?" tanya Guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Murid menjawab, "Agar orang dapat memperbaiki penampilan fisiknya ketika ia melihat noda atau cacat dalam bayangan di dalam cermin."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lanjut Guru; "Demikian pula, aktivitas perbuatan, ucapan, dan pikiran seseorang harus dilakukan setelah melewati pengamatan dan pertimbangan sesuai kebijaksanaan orang tersebut."&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut penjelasan singkat dari kalimat diatas:&lt;br /&gt;Saat kehendak muncul untuk melakukan tindakan fisik, ucapan atau pikiran, sebelum melakukannya, seseorang harus mempertimbangkan, "Apakah perbuatan fisik, ucapan atau pikiran yang kukehendaki dapat membahayakan diriku, orang lain atau keduanya? Apakah perbuatan tersebut dapat menjadi perbuatan buruk yang dapat menyebabkan bertambahnya penderitaan?" Jika, setelah mempertimbangkan, perbuatan yang dikehendaki itu terbukti dapat membahayakan diri sendiri, orang lain atau keduanya; atau dapat menjadi perbuatan buruk yang akan menambah penderitaan, seseorang harus berusaha untuk menghindari perbuatan fisik, ucapan, dan pikiran tersebut. Sebaliknya, jika setelah mempertimbangkan, perbuatan yang dikehendaki itu terbukti tidak membahayakan diri sendiri, orang lain atau keduanya atau keduanya; atau dapat menjadi perbuatan baik yang akan menambah kebahagiaan (sukha), maka perbuatan fisik, ucapan, dan pikiran tersebut seharusnya dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula, dalam proses melakukan perbuatan fisik, ucapan atau pikiran, seseorang harus mempertimbangkan, "Apakah yang sedang kulakukan, kuucapkan, atau kupikirkan ini berbahaya bagi diriku, orang lain atau keduanya? Apakah yang sedang kulakukan ini adalah perbuatan buruk yang dapat menambah penderitaan? Jika, setelah mempertimbangkan, perbuatan itu ternyata benar demikian, seseorang harus segera berhenti melakukan perbuatan tersebut(tidak meneruskan perbuatan itu). Sebaliknya, jika, setelah dipertimbangkan, ternyata perbuatan itu tidak berbahaya bagi diri sendiri, orang lain, atau keduanya, namun adalah perbuatan baik yang dapat menambah kebahagiaan dan kesejahteraan, perbuatan itu seharusnya diteruskan dengan giat dan berulang-ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melakukan perbuatan fisik, ucapan dan pikiran telah dilakukan, seseorang harus mempertimbangkan (seperti sebelumnya), "Apakah perbuatan fisik, ucapan, atau pikiran yang telah kulakukan berbahaya bagi diriku, orang lain atau keduanya? Apakah perbuatan itu adalah perbuatan buruk yang dapat menambah penderitaan?" Jika terbukti demikian, jika perbuatan buruk itu dilakukan secara fisik dan ucapan, pengakuan harus dilakukan di depan Buddha atau seorang siswa yang bijaksana, secara jujur, jelas dan tanpa syarat bahwa perbuatan buruk jasmani dan ucapan tersebut telah dilakukan. Kemudian orang itu harus bertekad agar perbuatan tersebut tidak terulang lagi pada masa mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehubungan dengan perbuatan buruk yang dilakukan melalui pikiran, seseorang harus merasa letih dengan perbuatan pikiran tersebut, ia harus merasa malu dan jijik terhadap pikirannya itu. Orang itu juga harus melatih dan bertekad agar perbuatan ini tidak terulang kembali pada masa mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika setelah mempertimbangkan, seseorang menemukan bahwa perbuatan jasmani, ucapan, atau pikiran tidak membahayakan diri sendiri, orang lain atau keduanya namun berperan dalam memberikan kebahagiaan dan kesejahteraan, maka siang dan malam ia akan bergembira dan puas sehubungan dengan kebajikan tersebut dan ia harus berusaha lebih keras lagi dalam mematuhi tiga aturan latihan (sikkha).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikutip dari RAPB terbitan Ehipassiko; Thx MoM Han, dan MoM yang lainnya.. Penjelasan lengkap dari khotbah ini dapat dibaca dalam kitab suci Tipitaka atau terjemahannya (Ambalatthika Rahulovada Sutta.)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4994266008489912885-1358709527477219444?l=dharmapetama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Dharmapetama/~4/qQlzhi50IBE" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Dharmapetama/~3/qQlzhi50IBE/nasehat-dari-guru.html</link><author>noreply@blogger.com (Ridwan Wu)</author><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://dharmapetama.blogspot.com/2010/01/nasehat-dari-guru.html</feedburner:origLink></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4994266008489912885.post-6780896925946876108</guid><pubDate>Mon, 11 Jan 2010 15:50:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-01-11T23:00:54.351+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Dharma</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Reflection</category><title>Menggugat Karma Buruk Seorang Bocah Malang</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_2m8p-tpG7OM/S0tLHslot6I/AAAAAAAABX8/Qs-m0smoqyo/s1600-h/Baoqingtian.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 184px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_2m8p-tpG7OM/S0tLHslot6I/AAAAAAAABX8/Qs-m0smoqyo/s200/Baoqingtian.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5425512771698079650" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div align="justify"&gt;BANYAK orang sering terheran-heran melihat nasib malang seseorang yang padahal selalu berbuat kebaikan. Contohnya seseorang yang dikenal sangat mulia hatinya, namun menemui kematian secara mengenaskan, dibunuh oleh penjahat yang mengincar hartanya, misalnya. Mungkinkah Tuhan tidak bertindak adil ? Mungkin pula dalam hati kecil Anda terkadang berprasangka Tuhan telah berbuat tidak adil karena kesialan yang tengah menimpa Anda?&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah kisah legenda dari dongeng Tiongkok untuk menjawab keraguan Anda tersebut.&lt;br /&gt;Begini ceritanya seperti dikutip dari bacaan Sekolah Minghui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjadi pada zaman Song Utara, saat Pao Kong (alias Bao Zheng) menjabat sebagai Xiang (Hakim Agung pada zaman Tiongkok kuno). Di sebuah desa hidup seorang anak yatim piatu berusia sepuluh tahun yang menderita cacat kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidupnya sangat menderita hanya mengandalkan bantuan para tetangga dan warga desa atau mengemis demi menyambung hidup. Di perbatasan desa mengalir sebuah sungai, warga desa dan pendatang harus berbasah-basah saat melewatinya, terutama bagi orang tua yang berusia lanjut sangat menyulitkan. Setiap kali air sungai meluap orang tak bisa menyeberang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun berganti tahun, tiada yang berikhtiar ingin mengubahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekarang, orang mulai melihat si bocah cacat tekun mengangkat batu besar dan menatanya di tepi sungai. Ketika ditanya untuk apa batu-batu itu ia menjawab, "Aku ingin membangun sebuah jembatan, agar tetangga dan warga desa bisa leluasa lewat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang beranggapan ia berkhayal, malah kebanyakan tertawa meledek. Namun lambat laun, bulan berganti tahun, bebatuan telah menumpuk bagaikan bukit. Warga desa mulai berubah pendirian, mereka merasa terharu pada semangat si bocah hingga ikutan membantu mengangkut batu serta mulai membangun jembatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para warga pun mengundang beberapa tukang dan memulai pembangunan jembatan. Si bocah cacat dengan sepenuh jiwa raga berpartisipasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum sampai jembatan selesai dibangun, saat membelah sebuah batu besar, pecahannya meletik dan melukai sepasang matanya hingga menjadi buta. Orang-orang menyayangkan, menggerutu, bahkan menyalahkan Thian (Tuhan) tidak adil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak yang begitu patut dikasihani, yang telah sepenuh hati berkorban demi orang banyak malah memperoleh musibah. Akan tetapi si bocah sama sekali tak mengeluh, setiap hari tetap muncul di proyek pembangunan jembatan itu meskipun tertatih-tatih, dengan meraba-raba ia mengerjakan apa saja yang bisa dikerjakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya jembatan selesai dibangun melalui gotong-royong warga.Semua orang di pesta syukuran menatap si bocah yang sudah cacat kaki dan hidup sebatang kara sekarang ditambah buta matanya dengan rasa terima kasih, iba dan sayang. Si bocah sendiri walau tidak bisa melihat apa pun, tetap tersenyum bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar dugaan mendadak turun hujan deras yang tak sesuai musim, seolah-olah hendak mencuci debu yang menempel di jembatan batu tersebut. Hujan dan geledek gemuruh menunjukkan pamornya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba petir berkelebat menyilaukan hingga semua orang menutup mata mereka, disusul suaranya meledak bak hendak memecahkan gendang telinga. Ketika semua orang membuka mata mereka kembali, mereka menemukan si bocah telah tersambar petir, terkapar di tanah tanpa nyawa lagi. Semuanya tersentak kaget, diikuti luapan perasaan sedih, mengeluh kenapa si bocah begitu buruk nasibnya, dan menuding Thian tidak adil .....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itulah Pao, yang dijuluki rakyat kecil sebagai Hakim yang Bersih dan Adil, dalam perjalanan dinas melewati desa itu. Rakyat berbondong-bondong menghadang tandunya tersebut untuk memohon keadilan bagi si bocah malang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Desa bertanya, "Mengapa orang baik tak memperoleh imbalan baik? Untuk selanjutnya bagaimana bisa menjadi contoh orang yang baik? Mungkin orang malah berpendapat lebih enak berbuat jahat saja?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hakim Pao yang kenyang makan asam garam dunia, tergugah oleh emosi penduduk desa, mengayun kuas pit dan menulis 6 aksara, "Mana-boleh Berbuat Jahat Tidak Berbuat Bajik?". Kemudian mengibaskan lengan bajunya yang panjang sambil memerintahkan melanjutkan perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba di kota Raja, Hakim Pao menghadap Raja untuk melaporkan hasil perjalanan dinas dan semua peristiwa yang telah dilihat dan didengarnya, tapi tentang cerita tulisannya malah tidak diungkap. Sesungguhnya dalam hati Pao sangat tidak memahami masalah nasib si bocah malang yang berbuat kebajikan malah menuai imbalan buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak dinyana Raja kemudian mengundang Pao ke bagian belakang istana untuk membicarakan persoalan pribadi. Ternyata beberapa hari lalu, Baginda telah dikaruniai seorang bayi yang sangat menggemaskan semua orang, akan tetapi si bayi sepanjang hari menangis terus. Maka ia khusus mengundang Pao menengoknya. Terlihat oleh Pao bahwa kulit bayi tersebut mulus bagai salju namun pada lengan mungilnya terdapat sebaris tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat diamati lebih dekat, itulah enam aksara, "Mana-boleh Berbuat Jahat Tidak Berbuat Bajik?", yang telah ditulisnya. Sekejap muka Pao memerah dan mengulurkan tangan untuk memegang lengan si bayi. Aneh, tulisan itu dalam sekejap lenyap tak berbekas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baginda yang menyaksikan toh (tanda kelahiran) pada lengan putra mahkotanya dihapus oleh Pao merasa kaget. Jangan-jangan akar rejeki akan ikut lenyap, langsung ia mencela tindakan Pao. Si Hakim Agung cepat bersujud dan berkata, "Hamba yang berdosa patut mati." Maka dituturkanlah ihwal tulisan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baginda juga merasa masalah itu janggal hingga menitahkan Pao menggunakan Bantal Mustika Yin-Yang untuk menyelidiki dengan tuntas sampai ke alam baka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah bantal sakti satu-satunya di dunia milik Raja Song.Barangsiapa tidur berbantalkan Bantal Mustika Yin-Yang setelah menyucikan dan membersihkan diri, akan mendapatkan suatu mimpi atau wangsit..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah Hakim Pao dengan perantaraan Bantal Mustika Yin-Yang berkelana sejenak ke alam baka untuk mengusut tuntas misteri kehidupan si bocah cacat.&lt;br /&gt;Ternyata anak malang tersebut pada masa kehidupan sebelumnya telah sering berbuat jahat dan karma buruknya sangat besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melunasi dosa kejahatan pada masa kehidupan lalunya diperlukan tiga masa kehidupan baru bisa melunasi imbalan kejahatannya dengan tuntas. Sebenarnya Dewa telah mengatur, pada masa kehidupan pertama dengan kaki cacat dan sebatang kara; masa kedua dengan sepasang mata buta dan hidup sengsara, dan pada masa kehidupan ketiga ia tersambar petir terkapar mati di ladang liar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak tersebut pada reinkarnasi masa kehidupan pertama terlahir cacat kaki dan sangat miskin, tetapi selalu ingin berbuat baik pada orang lain untuk menebus dosa masa lampaunya. Karena itulah Dewa lantas mengatur agar pada masa kehidupan pertama, ia bisa melunasi karma kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu dibuatlah terluka matanya sampai buta. Namun anak tersebut tidak mencela Langit dan menyalahkan orang lain, terus saja berbuat kebaikan demi orang lain. Maka Dewa mengatur karma yang semestinya dibayar pada masa kehidupan ketiga sekaligus dituntaskan pada satu masa kehidupan, oleh karena itu mati tersambar petir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Neraka Giam-Lo-Ong (Yen-Lu-Wang) bertanya pada Pao,"Tiga masa karma buruk telah dilunasi hanya dalam satu masa, coba bilang ini baik atau tidak? Satu masa kehidupan melunasi hutang karma tiga masa kehidupan, karena tekun melaksanakan kebajikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati hanya memikirkan orang lain, nyaris tak memikirkan diri sendiri, dalam beberapa bidang tertentu telah mencapai taraf tingkatan; 'Tidak berkultivasi Tao namun berada di dalam Tao', telah mengakumulasi berkah sangat banyak, karena itulah sesudah meninggal segera reinkarnasi (menitis) sebagai Putra Mahkota."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan moral dari dongeng tersebut, kalau Anda sekarang kebetulan sedang mengalami nasib malang bertubi-tubi, janganlah terburu-buru menyalahkan Tuhan, karena mungkin sedang menjalani karma dari perbuatan buruk Anda sendiri dalam kehidupan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : www.erabaru.net&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4994266008489912885-6780896925946876108?l=dharmapetama.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Dharmapetama/~4/rdjv9K8Qwu0" height="1" width="1"/&gt;</description><link>http://feedproxy.google.com/~r/Dharmapetama/~3/rdjv9K8Qwu0/menggugat-karma-buruk-seorang-bocah.html</link><author>noreply@blogger.com (Ridwan Wu)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_2m8p-tpG7OM/S0tLHslot6I/AAAAAAAABX8/Qs-m0smoqyo/s72-c/Baoqingtian.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total><feedburner:origLink>http://dharmapetama.blogspot.com/2010/01/menggugat-karma-buruk-seorang-bocah.html</feedburner:origLink></item></channel></rss>

