<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" version="2.0">

<channel>
	<title>Dian Nandiwardhana</title>
	<atom:link href="https://prabuwardhana.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml"/>
	<link>https://prabuwardhana.wordpress.com</link>
	<description>Berawal dari sepiring nasi telor dan segelas es teh</description>
	<lastBuildDate>Thu, 04 Jun 2020 10:57:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain="prabuwardhana.wordpress.com" path="/?rsscloud=notify" port="80" protocol="http-post" registerProcedure=""/>
<image>
		<url>https://s0.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Dian Nandiwardhana</title>
		<link>https://prabuwardhana.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link href="https://prabuwardhana.wordpress.com/osd.xml" rel="search" title="Dian Nandiwardhana" type="application/opensearchdescription+xml"/>
	<atom:link href="https://prabuwardhana.wordpress.com/?pushpress=hub" rel="hub"/>
	<itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Berawal dari sepiring nasi telor dan segelas es teh</itunes:subtitle><item>
		<title>Ingin Mendapatkan Karir Yang Lebih Baik? Kamu bisa lupakan IPK Jika Melakukan 3 Poin Ini!</title>
		<link>https://prabuwardhana.wordpress.com/2019/01/29/cara-mendapatkan-masa-depan-karir-yang-lebih-baik/</link>
					<comments>https://prabuwardhana.wordpress.com/2019/01/29/cara-mendapatkan-masa-depan-karir-yang-lebih-baik/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[prabuwardhana]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 29 Jan 2019 03:01:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[karir]]></category>
		<category><![CDATA[keahlian]]></category>
		<category><![CDATA[masa depan]]></category>
		<category><![CDATA[Pekerjaan]]></category>
		<category><![CDATA[skill]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://prabuwardhana.wordpress.com/?p=587</guid>

					<description><![CDATA[Mari kita akui saja&#8230; Seperti saya, mungkin kamu bukanlah manusia super yang sanggup mendekorasi transkrip nilai Anda dengan mayoritas nilai A. Mungkin Kamu sudah berusaha keras, belajar siang-malam. Tapi, seperti biasa, apa yang Kamu pelajari tidak juga bisa Kamu pahami. Saya pun dulu begitu. Hafalan saya lemah. Jadi, dulu saya selalu kesusahan setiap kali harus [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<figure id="attachment_607"></figure>



<p>Mari kita akui saja&#8230;</p>



<p>Seperti saya, mungkin kamu bukanlah manusia super yang sanggup mendekorasi transkrip nilai Anda dengan mayoritas nilai A.</p>



<p>Mungkin Kamu sudah berusaha keras, belajar siang-malam. Tapi, seperti biasa, apa yang Kamu pelajari tidak juga bisa Kamu pahami.</p>



<p>Saya pun dulu begitu.</p>



<p>Hafalan saya lemah. Jadi, dulu saya selalu kesusahan setiap kali harus menghafal definisi sosiologi menurut ini&#8230; menurut itu&#8230; Haaaa&#8230; lha menurut mbahmu?!</p>



<p>Saya dulunya sama sekali bukan termasuk siswa atau mahasiswa berprestasi yang profilnya sering diulas di berbagai media. Prestasi terhebat saya adalah rangking 3 selama 3 catur wulan berturut-turut waktu SD kelas 6 dulu. Sebelum dan setelah itu ya&#8230; Bhaayy!</p>



<p><span id="more-587"></span></p>



<p>Mana lagi, saya harus menempuh waktu 7 tahun untuk bisa lulus kuliah cuma dengan IPK Kemelude 2.74.</p>



<p>Biasanya anak-anak macam saya begini, sudah dicap sebagai anak-anak dengan masa depan suram oleh&#8230; <em>society</em>.</p>



<p>Tapi&#8230; meskipun sempat meragukan masa depan karir saya sendiri, pada akhirnya saya berkesempatan untuk melihat dan mengalami satu hal yang membuat saya yakin bahwa prestasi akademik itu tidak selalu linear dengan cerahnya masa depan karir kita.</p>



<p>Untuk mendapatkan masa depan karir yang lebih baik, ada satu hal yang menurut saya lebih penting ketimbang bergelimang nilai A. Yaitu, <em>skill</em> atau keahlian.</p>



<p>Banyak orang di sekeliling saya yang sukses di jalur karir nya baik sebagai karyawan maupun pengusaha karena menguasai <em>skill</em>&nbsp;tertentu dan sangat <em>passionate</em> terhadap <em>skill</em>-nya tersebut, meskipun prestasi akademiknya bisa dibilang biasa-biasa saja atau bahkan nihil.</p>



<p>Oh iya, jika kita memilih berkarir di dunia bisnis, kita juga membutuhkan beberapa <em>skill</em> yang perlu dipelajari ya&#8230; kalau kita berbisnis hanya karena IPK nya tidak bagus dan pesimis untuk dapat pekerjaan, itu namanya pelarian. Bisnis kita tidak akan sukses, dijamin!</p>



<p>Baik, mungkin sampai di sini Kamu bertanya, &#8220;Skill apa yang sebaiknya saya kuasai?&#8221;.</p>



<p>Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ini 3 poin yang perlu Kamu perhatikan dan lakukan agar Kamu bisa mendapatkan karir yang lebih baik.</p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>1. Tentukan jalur sukses yang Kamu inginkan terlebih dulu.</strong></h3>



<p><p style="padding-left:40px;">Diri Anda yang seperti apa yang ingin Anda lihat dalam 10 tahun ke depan? Apakah seorang chef, programmer, musisi, sales, disainer, penulis atau yang lain? Itulah jalur sukses Anda.</p></p>



<p><p style="padding-left:40px;">Menjadi pegawai kantoran belum tentu menjamin kesuksesan Anda. Pilih apa saja yang <strong><em>bisa membuat Anda mau berkorban</em></strong> untuk mendapatkan kesuksesan.</p></p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>2. Lupakan nasehat &#8220;Do what you love!&#8221;</strong></h3>



<p><p style="padding-left:40px;">Anda pasti sering mendengar nasehat seperti, &#8220;<em>do what you love!</em>&#8220;. Tak ada yang salah dengan nasehat ini. Tapi, nasehat seperti ini juga tidak selamanya benar.</p></p>



<p><p style="padding-left:40px;">Katakanlah Anda merasa kelebihan berat badan dan memutuskan untuk menjalani diet yang dibarengi dengan olah raga supaya bisa memiliki bentuk tubuh yang ideal. Anda tau, menjalani ini tak akan semudah membalikkan telapak tangan. Berat, sangat berat. Tapi, memiliki bentuk tubuh ideal sudah menjadi sesuatu yang Anda dambakan sejak dulu.</p></p>



<p><p style="padding-left:40px;">Daripada menjalani diet, Anda tentunya lebih memilih untuk bisa selalu menikmati makanan bersantan yang kental berlemak namun nikmat seperti opor atau martabak terang bulan yang coklatnya, kejunya, margarinnya berfusi di dalam mulut Anda ketika melahapnya. Duh!</p></p>



<p><p style="padding-left:40px;">Tapi karena Anda tau bahwa Anda harus melakukan apapun yang diperlukan untuk mendapatkan bentuk tubuh yang ideal, <strong><em>Anda rela menghindari makanan dengan kadar karbohidrat dan lemak yang tinggi</em></strong>. Anda lebih memilih untuk mengkonsumsi makanan sehat dan juga rajin berolahraga.</p></p>



<p><p style="padding-left:40px;">Ketika Anda sudah mulai terbiasa, Anda akan mulai menikmati proses yang sedang Anda lakukan. <strong><em>You will eventually love what you are doing</em></strong>. Pada akhirnya memiliki bentuk tubuh ideal bukan lagi hanya sekedar mimpi bagi Anda.</p></p>



<h3 class="wp-block-heading"><strong>3. Jangan terjebak <em>Shiny Object Syndrome</em>!</strong></h3>



<p><p style="padding-left:40px;">Ya..ya.. rumput tetangga selalu lebih hijau, bukan?</p></p>



<p><p style="padding-left:40px;">Kita cenderung silau ketika melihat hal baru dan terlihat lebih menyenangkan daripada apa yang sedang kita punya atau lakukan sekarang. Itulah <strong><em>Shiny Object Syndrome</em></strong>.</p></p>



<p><p style="padding-left:40px;">Katakan Anda melihat ada yang sukses karena menguasai skill pemrograman, lalu Anda tertarik belajar pemrograman. Ditengah-tengah belajar pemrograman, ternyata Anda melihat ada yang sukses menjadi chef, lalu Anda juga mencoba belajar memasak. Begitu seterusnya&#8230;</p></p>



<p><p style="padding-left:40px;">Kembali ke poin pertama, apakah Anda sudah menentukan jalur sukses Anda? Jika sudah, pelajari satu skill saja yang bisa membawa Anda pada jalur sukses itu.&nbsp;Menguasai hanya satu skill atau keahlian, sangat cukup buat Anda. Asah terus skill atau keahlian Anda tersebut.</p></p>



<p><p style="padding-left:40px;">Anda pasti tahu kalau dokter spesialis dibayar lebih mahal daripada dokter umum. Begitupun dengan Anda, Anda lebih ingin menjadi seorang spesialis daripada seorang generalis.</p></p>



<p><p style="padding-left:40px;">Ketika nantinya Anda sudah berhasil meraih kesuksesan melalui jalur sukses yang sudah ditentukan sebelumnya, Anda bisa mempelajari hal baru yang kira-kira bisa mendukung kesuksesan Anda sebelumnya.</p></p>



<p>Jadi, skill apa yang layak dipelajari? Jawabannya kembali pada diri kita masing-masing. <strong>Pelajari skill yang bisa mendukungmu untuk menuju jalur suksesmu</strong>.</p>



<p>Ketika Kamu kesulitan mendapatkan pekerjaan, kesulitan mendapatkan klien, atau Kamu sebenarnya sudah memiliki pekerjaan namun Kamu <em>stuck</em> dengan pekerjaanmu, ini adalah saat yang tepat buatmu untuk mulai mempelajari satu <em>skill</em> yang bisa merubah masa depan karirmu.</p>



<p>Selama Kamu mau dan komit untuk mempelajari satu <em>skill</em> saja, Kamu pasti akan mendapatkan kesuksesan yang Kamu inginkan.</p>



<p>Jika Kamu mempunyai pendapat yang ingin disampaikan, silahkan tulis di kolom komentar. Sebisa mungkin akan saya tanggapi satu-persatu.</p>



<p>Semoga bermanfaat ^_^</p>



<p>P.S.</p>



<p>kalau Anda tertarik mempelajari pemrograman komputer sebagai skill yang ingin Anda kuasai, Anda bisa mendapatkan e-Book gratis &#8220;Mudah Belajar Pemrograman C#&#8221; untuk mendukung proses belajar Anda.</p>



<div class="wp-block-image">
<figure class="aligncenter is-resized"><img data-attachment-id="700" data-permalink="https://prabuwardhana.wordpress.com/2019/01/29/cara-mendapatkan-masa-depan-karir-yang-lebih-baik/belajar-pemrograman-c-sharp-pdf/" data-orig-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/01/belajar-pemrograman-c-sharp-pdf.png" data-orig-size="1300,1600" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;,&quot;orientation&quot;:&quot;0&quot;}" data-image-title="belajar-pemrograman-c-sharp-pdf" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/01/belajar-pemrograman-c-sharp-pdf.png?w=244" data-large-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/01/belajar-pemrograman-c-sharp-pdf.png?w=625" class="wp-image-700 aligncenter" src="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/01/belajar-pemrograman-c-sharp-pdf.png?w=625" alt="ebook belajar pemrograman c# pdf" width="326" height="401" srcset="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/01/belajar-pemrograman-c-sharp-pdf.png?w=326 326w, https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/01/belajar-pemrograman-c-sharp-pdf.png?w=652 652w, https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/01/belajar-pemrograman-c-sharp-pdf.png?w=122 122w, https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/01/belajar-pemrograman-c-sharp-pdf.png?w=244 244w" sizes="(max-width: 326px) 100vw, 326px" /></figure>
</div>



<p>Ebook di atas bisa Anda <a href="https://mahirkoding.id/ebook-belajar-bahasa-pemrograman-csharp-untuk-pemula/" target="_blank" rel="noopener">download dari link ini</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://prabuwardhana.wordpress.com/2019/01/29/cara-mendapatkan-masa-depan-karir-yang-lebih-baik/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>5</slash:comments>
		
		
		
		<media:thumbnail url="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/01/cara-mendapatkan-karir-yang-lebih-baik.jpg"/>
		<media:content medium="image" url="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/01/cara-mendapatkan-karir-yang-lebih-baik.jpg">
			<media:title type="html">mendapatkan karir yang lebih baik</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://2.gravatar.com/avatar/52488189c1bcfe4c0c0ff976e57f5c7e30079b4e75ff85ec14bad0ad4f48d9d1?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G">
			<media:title type="html">prabuwardhana</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2019/01/belajar-pemrograman-c-sharp-pdf.png?w=625">
			<media:title type="html">ebook belajar pemrograman c# pdf</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Curiosity and The Problem of Research in Indonesia</title>
		<link>https://prabuwardhana.wordpress.com/2014/11/27/curiosity-and-the-problem-of-research-in-indonesia/</link>
					<comments>https://prabuwardhana.wordpress.com/2014/11/27/curiosity-and-the-problem-of-research-in-indonesia/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[prabuwardhana]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Nov 2014 02:42:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://prabuwardhana.wordpress.com/?p=459</guid>

					<description><![CDATA[It was November 16th, 2011 when The National Aeronautics and Space Administration (NASA) launched their Mars expedition, called Curiosity.  Travelled 350 million miles away from the earth, Curiosity&#8217;s assignment is to &#8220;investigate whether conditions have been favorable for microbial life and for preserving clues in the rocks about possible past life.&#8221; Around US$2.5 billion (equal [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>It was November 16th, 2011 when The National Aeronautics and Space Administration (NASA) launched their Mars expedition, called Curiosity.  Travelled 350 million miles away from the earth, Curiosity&#8217;s assignment is to &#8220;investigate whether conditions have been favorable for microbial life and for preserving clues in the rocks about possible past life.&#8221;</p>
<p>Around US$2.5 billion (equal to IDR 25 trillion) have been spent for the mission. It was only a chunk of spending over a period of eight years mission including the cost over the next 23 months while Curiosity is exploring Mars. Now, we must be wondering, why did they spend such an unreasonable spending?  NASA states: &#8220;The ancillary benefits of the space program (are) its ability to stimulate the economy; its applications to the solutions of earthbound problems; its contributions to international cooperation; and its creation of tens of thousands of jobs for our highly skilled scientists, engineers and technicians.&#8221;</p>
<p><a href="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/03/nasa-4.jpg"><img data-attachment-id="419" data-permalink="https://prabuwardhana.wordpress.com/nasa-4/" data-orig-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/03/nasa-4.jpg" data-orig-size="630,420" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="nasa-4" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/03/nasa-4.jpg?w=300" data-large-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/03/nasa-4.jpg?w=625" class="aligncenter size-large wp-image-419" src="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/03/nasa-4.jpg?w=575" alt="nasa-4" width="575" height="383" srcset="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/03/nasa-4.jpg?w=575 575w, https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/03/nasa-4.jpg?w=150 150w, https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/03/nasa-4.jpg?w=300 300w, https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/03/nasa-4.jpg 630w" sizes="(max-width: 575px) 100vw, 575px" /></a></p>
<p><span id="more-459"></span><br />
Some of our most important technological advancements have been the result of U.S. space exploration. In his 2012 book &#8220;Space Chronicles,&#8221; astrophysicist Neil Tyson lists a host of technologies that can be attributed to space exploration, including (but not limited to) kidney dialysis machines, aircraft collision-avoidance systems, LASIK eye surgery, GPS, hydroponic systems for growing plants, digital imaging, cordless power tools and athletic shoes.</p>
<p>If we spent the same amount on advancing technology (The $2.5 billion averages out at about $312 million per year for 8 years mission), every person in Indonesia would have paid only $1.3 or around IDR 16,000 a year. If we consider about the advantage of the cost that we have to pay, it will be worth it, uh? Even, we have to spend more money (around $2) to watch a movie in a theater.</p>
<p><b>N250 Gathotkaca which once took off</b></p>
<p>Somehow in the past, our nation would has a pride in advancing technology. B.J. Habibie was once The Minister of Research and Technology when he began the notion of national pride in the field of technology. He began the establishment of aircraft, marine, and weapon industries. At that moment, it seemed that we were very close to our dream. The dream of having sophisticated technologies made by our own. On August 10th, 1995, National Aircraft Industries (IPTN) succeeded to develop and build the first ever commercial aircraft which was engineered by our local engineer. The airplane was named after the legend figure of Mahabharata, Gatotkaca. It was a blast and a pride to us, Indonesian, a message to the whole world. Meanwhile, they were also developing the  wide body aircraft, N 2130.</p>
<p><a href="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/03/n250_03.jpg"><img data-attachment-id="420" data-permalink="https://prabuwardhana.wordpress.com/n250_03/" data-orig-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/03/n250_03.jpg" data-orig-size="822,495" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="n250_03" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/03/n250_03.jpg?w=300" data-large-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/03/n250_03.jpg?w=625" class="aligncenter size-large wp-image-420" src="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/03/n250_03.jpg?w=575" alt="n250_03" width="575" height="346" srcset="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/03/n250_03.jpg?w=575 575w, https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/03/n250_03.jpg?w=150 150w, https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/03/n250_03.jpg?w=300 300w, https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/03/n250_03.jpg?w=768 768w, https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/03/n250_03.jpg 822w" sizes="(max-width: 575px) 100vw, 575px" /></a></p>
<p>Unfortunately, a monetary crisis hit Indonesia in the range of 1997-1998. Soeharto, the president at that time, ultimately signed the Letter of Intent with the IMF. One of the agreements was to end giving fund and loan to the aircraft projects. They considered that the cost for the project has been a waste of Indonesian reserve fund. As its consequence, IPTN, which is currently reborn as P.T. Dirgantara Indonesia, collapsed. It wasn&#8217;t really a happy ending of the Gathotkaca story.</p>
<p><b>Indonesia, the country with no long term vision?</b></p>
<p>In Indonesia, Technology is still considered as a redheaded stepchild. It&#8217;s not due to the lack of our highly skilled scientists or engineers or even technicians who are capable to develop our own technology. It&#8217;s about the mindset. The mindset of short term profit, the mindset of &#8220;sow the seed today, harvest it tomorrow&#8221;. Research obviously costs too much and sometimes comes up with indistinct results.</p>
<p>Investing in research based industry or business is not that easy. It has many obstacles. Moreover, It&#8217;s often costly. It also needs persistence, dedication, relentless effort, and so on. Only the people or government who have the vision to the future advancements who are willing to do this. They don&#8217;t solely think about the short time advantages.</p>
<p>Meanwhile, on the State Budget in 2014, government spending was set at IDR 1,816 trillion which about 86% were spent to routine expenditure including 54% to the salary for the civil servants. It means, only 14% were used for the people&#8217;s welfare including health, education, all kind of infrastructures, research and development.</p>
<p>According to the former Minister of Research and Technology, Gusti Muhammad Hatta, the budget allocation for research is only about IDR 10 trillion or about 0.6% of the budget. He explained, with the research budget which is also equal to only 0.09%  of the Gross Domestic Product (GDP), it&#8217;s necessary to find another way to fund our potential research. For comparison, Singapore has 2.6% allocation of the GDP, Japan has 3.4%, South Korea and Malaysia have respectively 3.6% and 0.8%.</p>
<p><b>We need a change!</b></p>
<p>As long as our government keeps the pragmatic thinking, we will be still behind the track. Indonesia will remain as a country with technological dependence. As a nation with an enormous potential of natural and human resources, this dependency is thoroughly not a good thing. We won&#8217;t be able to manage and process our own natural resources. We won&#8217;t be able to create a decent job for our highly skilled scientists, engineers and technicians. we definitely need a change! Not only from the government, but also from all of the nation. This is our collective problem.</p>
<p>bibliography:</p>
<ol>
<li>Folger, Jean. “Why Curiosity Cost $2.5 Billion” <a href="http://www.investopedia.com">www.investopedia.com</a>. Investopedia, LLC, September 05, 2012.</li>
<li>Anonymous. “Penduduk Indonesia menurut Provinsi” <a href="http://www.bps.go.id">www.bps.go.id</a>. Central Agency on Statistics, 2010.</li>
<li>Anonymous. “Nota Keuangan dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, Tahun Anggaran 2014”. Ministry of Finance of the Republic of Indonesia, 2014.</li>
<li>Anonymous. “Gross Domestic Product” <a href="http://worldbank.org">www.worldbank.org</a> . The World Bank , 2013.</li>
<li>Setiawan, Agus. “Curhat Menristek: Anggaran Penelitian di RI Kecil Dibanding Negara Tetangga” <a href="http://www.detik.com">www.detik.com</a>. Transcorp, March 27, 2014.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://prabuwardhana.wordpress.com/2014/11/27/curiosity-and-the-problem-of-research-in-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
		
		<media:content medium="image" url="https://2.gravatar.com/avatar/52488189c1bcfe4c0c0ff976e57f5c7e30079b4e75ff85ec14bad0ad4f48d9d1?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G">
			<media:title type="html">prabuwardhana</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/03/nasa-4.jpg?w=575">
			<media:title type="html">nasa-4</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/03/n250_03.jpg?w=575">
			<media:title type="html">n250_03</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ahh..Toh Aku Bakal Dikasihani..</title>
		<link>https://prabuwardhana.wordpress.com/2014/04/17/ahh-toh-aku-bakal-dikasihani/</link>
					<comments>https://prabuwardhana.wordpress.com/2014/04/17/ahh-toh-aku-bakal-dikasihani/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[prabuwardhana]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 17 Apr 2014 05:57:43 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://prabuwardhana.wordpress.com/?p=436</guid>

					<description><![CDATA[Beberapa waktu lalu ada keluhan seorang perempuan yang diposting di media sosial karena diminta memberikan tempat duduknya untuk seorang ibu hamil di kendaraan umum. Siapa sangka, keluhannya tersebut dengan cepat menyebar bak api yang menyambar belukar di ladang yang kering. Beragam reaksi diterima perempuan bernama Dinda tersebut yang tentunya mayoritas berisi kecaman dan sumpah serapah [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu lalu ada keluhan seorang perempuan yang diposting di media sosial karena diminta memberikan tempat duduknya untuk seorang ibu hamil di kendaraan umum. Siapa sangka, keluhannya tersebut dengan cepat menyebar bak api yang menyambar belukar di ladang yang kering. Beragam reaksi diterima perempuan bernama Dinda tersebut yang tentunya mayoritas berisi kecaman dan sumpah serapah kepada dirinya.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/04/1094290_20140416053255.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="437" data-permalink="https://prabuwardhana.wordpress.com/2014/04/17/ahh-toh-aku-bakal-dikasihani/1094290_20140416053255/" data-orig-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/04/1094290_20140416053255.jpg" data-orig-size="653,1024" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="1094290_20140416053255" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/04/1094290_20140416053255.jpg?w=191" data-large-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/04/1094290_20140416053255.jpg?w=625" class="aligncenter wp-image-437 size-large" src="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/04/1094290_20140416053255.jpg?w=575" alt="1094290_20140416053255" width="575" height="901" srcset="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/04/1094290_20140416053255.jpg?w=575 575w, https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/04/1094290_20140416053255.jpg?w=96 96w, https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/04/1094290_20140416053255.jpg?w=191 191w, https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/04/1094290_20140416053255.jpg 653w" sizes="(max-width: 575px) 100vw, 575px" /></a><em>Keluhan Dinda di media sosial Path</em></p>
<p>Setelah mengetahui keluhannya terhadap ibu hamil tersebut menyebar luas dengan liar di media sosial, lantas Dinda mengeluarkan pembelaannya dengan menekankan bahwa untuk mendapatkan tempat duduk, dia rela untuk berangkat jam 5 pagi. Dia mengeluh karena dengan pengorbanan yang dia lakukan tetap saja dia harus menyerahkan tempat duduknya untuk si Ibu hamil tadi, sehingga dia merasa enggan untuk memberikannya begitu saja. Lalu dia menyarankan kepada orang-orang yang mencaci-maki dia untuk ikut merasakan pengorbanan yang dia lakukan setiap hari. Sayang, tidak ada penjelasan mengenai tempat duduk yang dimaksud, apakah itu common seat atau priority seat. Menurut saya, pembelaan ini tidak bisa dibenarkan atau disalahkan begitu saja tanpa melihat duduk perkara yang sesungguhnya.</p>
<p><span id="more-436"></span></p>
<p><a href="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/04/1094290_20140416073100.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="438" data-permalink="https://prabuwardhana.wordpress.com/2014/04/17/ahh-toh-aku-bakal-dikasihani/1094290_20140416073100/" data-orig-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/04/1094290_20140416073100.jpg" data-orig-size="512,384" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="1094290_20140416073100" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/04/1094290_20140416073100.jpg?w=300" data-large-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/04/1094290_20140416073100.jpg?w=512" class="aligncenter size-full wp-image-438" src="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/04/1094290_20140416073100.jpg" alt="1094290_20140416073100" width="512" height="384" srcset="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/04/1094290_20140416073100.jpg 512w, https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/04/1094290_20140416073100.jpg?w=150&amp;h=113 150w, https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/04/1094290_20140416073100.jpg?w=300&amp;h=225 300w" sizes="(max-width: 512px) 100vw, 512px" /></a></p>
<p style="text-align:center;"><em>Pembelaan Dinda</em></p>
<p>Dalam tulisan ini, saya tidak berusaha untuk membela ataupun ikut-ikutan mencela si Dinda tersebut. Saya ingin mengajak pembaca untuk melihat permasalahan ini dari sudut pandang yang lebih luas.</p>
<p>Di Jepang, saya termasuk orang yang sering menggunakan jasa angkutan umum baik itu bus kota maupun kereta api. Sama halnya dengan di Indonesia, penumpang di sini pun beragam dari anak-anak, ibu hamil, ibu dan bayinya, lansia, sampai penderita disabilitas. Pernah pada suatu hari ketika saya sedang bertugas di Okayama (di sini saya harus pulang pergi ke kantor dengan menggunakan Bus dan jarak antara hotel dan kantor cukup jauh sekitar 45 menit perjalanan) saya tertidur di bus karena kelelahan sepulang kantor jam 20.00. Kebetulan pada saat itu, saya duduk di kursi yang bersebelahan dengan pintu masuk. Di tengah perjalanan, ketika bus berhenti di sebuah halte, saya terbangun. Seorang ibu yang menggendong bayinya sambil menggandeng anaknya masuk kedalam bus. Bus waktu itu penuh, dan benar-benar pada saat itu, semua penumpang tertidur (rata-rata penumpang naik di halte yang sama dengan saya, karena saya bekerja di kawasan riset semacam Puspiptek di Serpong, dan turun di halte yang sama pula yaitu stasiun kereta api). Si Ibu tadi karena tidak kebagian tempat duduk, lantas berdiri. Bayinya sudah terlelap di pelukan ibunya sementara kakaknya berdiri diam sambil tetap digandeng oleh ibunya. Saya berdiri, lalu menepuk pundak si Ibu, “Okusan, dozo suwatte… (Nyonya, silahkan duduk)” kata saya. Si Ibu menoleh, “Ie..ie..daijoubu (Tidak, terima kasih. Saya ndak papa)” kata si Ibu sambil memberi isyarat dengan tangannya bahwa dia tidak masalah jika harus berdiri. Akhirnya karena tidak tega, saya tetap memaksa. Akhirnya si Ibu dan anak-anaknya duduk di kursi yang saya berikan. Pikir saya, mungkin si Ibu tadi menolak karena melihat saya tertidur ketika dia hendak naik bus tadi, mungkin.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align:center;"><a href="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/04/2341.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="439" data-permalink="https://prabuwardhana.wordpress.com/2014/04/17/ahh-toh-aku-bakal-dikasihani/attachment/2341/" data-orig-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/04/2341.jpg" data-orig-size="735,551" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="2341" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/04/2341.jpg?w=300" data-large-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/04/2341.jpg?w=625" class="aligncenter size-full wp-image-439" src="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/04/2341.jpg" alt="2341" width="575" height="431" srcset="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/04/2341.jpg?w=575&amp;h=431 575w, https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/04/2341.jpg?w=150&amp;h=112 150w, https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/04/2341.jpg?w=300&amp;h=225 300w, https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/04/2341.jpg 735w" sizes="(max-width: 575px) 100vw, 575px" /></a><em>Bus di Okayama, pintu masuk adalah yang di tengah sedangkan pintu keluar di samping sopir</em></p>
<p>Lain cerita ketika saya sedang jalan-jalan di Tokyo, saya dan teman saya berkeliling Tokyo dengan kereta komuter. Beruntung, saya dan teman saya dapat tempat duduk kala itu, karena kami berangkat dari stasiun pertama. Setelah melewati beberapa stasiun, penumpang mulai padat. Sampai sepasang kakek nenek memasuki kereta dan berdiri tepat di depan kami. Saya taksir umur mereka sekitar 70an karena umur 60an itu masih usia produktif (usia pensiun saya di perusahaan, 65 tahun). Kontan, kami berdiri dan menawarkan tempat duduk kami untuk mereka. Tak disangka, mereka menolak, saya memaksa, mereka tetap menolak. Pada akhirnya kami tetap duduk dengan perasaan tidak enak.</p>
<p>Sementara itu, saya ada pengalaman lain, namun kali ini di tanah air. Ada sebuah keluarga miskin yang mendapatkan bantuan untuk keperluan hidup mereka. Awal-awalnya tak ada masalah, sampai lama-lama ini seperti “pemalakan terselubung”. Tiba-tiba minta uang untuk biaya rumah sakit untuk anaknya yang ini, lalu biaya rumah sakit lagi untuk anaknya yang lain, belum lagi biaya rumah sakit karena kecelakaan, selalu ada aja alasan untuk meminta uang. Mungkin bagi mereka, kami ini miskin dan biarlah kami tetap miskin, toh pasti nanti kami akan dikasihani. Istilah bahasa jawanya, “Ndodro”.</p>
<p>Sepertinya sudah merupakan karakter orang Jepang bahwa mereka tidak mau terlihat lemah. Ketika saya tinggal di Bunsui, sebuah kota kecil di Perfektur Niigata selama 3 tahun, banyak sekali saya melihat orang-orang tua yang bepergian sendiri, umurnya saya kira 70-80 tahunan. Mereka sendirian menunggu bis atau kereta datang. Sepertinya lagi, ketika mereka masih merasa sanggup, tampaknya mereka enggan untuk mendapatkan belas kasihan orang lain. Sementara orang Jepang malu terlihat lemah, kita orang Indonesia mungkin lebih senang menonjolkan kelemahan kita sebagai <em>excuse</em> agar kita bisa mendapat belas kasihan orang lain. Kita mungkin lebih senang mengorbankan orang lain atas nama empati, baik itu uang, waktu, ataupun tenaga. Apalagi yang namanya empati di Indonesia, mungkin sudah menjadi barang langka yang mahal.</p>
<p>Pada kasus Dinda tadi si Ibu hamil sebenarnya juga belum tentu salah, seperti apa yang dilihat dalam sudut pandang Dinda. Mungkin si Ibu hamil itu tidak bisa berangkat se-awal Dinda karena harus menyiapkan sarapan buat suaminya atau mungkin harus mengerjakan pekerjaan rumah terlebih dahulu. Namun, yang sangat disayangkan adalah reaksi masyarakat di media sosial yang begitu massif dengan cacian dan hujatan yang tidak terkontrol. Masyarakat kita ini tidak terbiasa melihat suatu peristiwa atau berita dari segala sudut pandang.</p>
<p>Sekarang pelajaran bagi kita, terutama saya, adalah jangan jadikan kelemahan kita sebagai <em>excuse</em> untuk mendapat belas kasihan orang lain, atau <em>Ndodro</em> itu tadi. Di lain pihak, jangan jadikan pengorbanan yang kita lakukan untuk mendapatkan sesuatu menihilkan rasa empati kita terhadap sesama.</p>
<p>Sekian.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://prabuwardhana.wordpress.com/2014/04/17/ahh-toh-aku-bakal-dikasihani/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>28</slash:comments>
		
		
		
		<media:content medium="image" url="https://2.gravatar.com/avatar/52488189c1bcfe4c0c0ff976e57f5c7e30079b4e75ff85ec14bad0ad4f48d9d1?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G">
			<media:title type="html">prabuwardhana</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/04/1094290_20140416053255.jpg?w=575">
			<media:title type="html">1094290_20140416053255</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/04/1094290_20140416073100.jpg">
			<media:title type="html">1094290_20140416073100</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/04/2341.jpg">
			<media:title type="html">2341</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Islam Ritual</title>
		<link>https://prabuwardhana.wordpress.com/2014/01/29/islam-ritual/</link>
					<comments>https://prabuwardhana.wordpress.com/2014/01/29/islam-ritual/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[prabuwardhana]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 29 Jan 2014 05:05:05 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://prabuwardhana.wordpress.com/?p=404</guid>

					<description><![CDATA[Sudah lama saya memendam keinginan untuk menuliskan uneg-uneg tentang  fenomena Islam ritual. Sejauh ini, saya hanya mengutarakannya melalui diskusi-diskusi ringan di warung kopi dengan sahabat maupun diskusi santai di atas kasur dengan keluarga di rumah. Sampai akhirnya timbul lah keinginan untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan. Terus terang isu ini, bagi saya, sangat menggelitik dan menarik. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Sudah lama saya memendam keinginan untuk menuliskan uneg-uneg tentang  fenomena Islam ritual. Sejauh ini, saya hanya mengutarakannya melalui diskusi-diskusi ringan di warung kopi dengan sahabat maupun diskusi santai di atas kasur dengan keluarga di rumah. Sampai akhirnya timbul lah keinginan untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan.</p>
<p style="text-align:justify;">Terus terang isu ini, bagi saya, sangat menggelitik dan menarik. Mungkin, bisa juga dibilang bikin <i>gregetan</i> yang sampai harus menggertakkan gigi sambil mengepalkan kedua tangan keras-keras sembari mengucapkan “Rrrrrr!!”.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya punya definisi sendiri mengenai Islam ritual, walaupun sebenarnya Islam ritual sendiri adalah istilah saya untuk mendefinisikan secara singkat sebuah fenomena di kalangan pemeluk islam. Ritual, menurut definisi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah hal-hal yang berkenaan dengan ritus. Sementara ritus sendiri mempunyai arti tata cara dalam upacara keagamaan. Di dalam Islam, hal-hal ritual mencakup shalat, tadarus Al-Qur’an, zakat, haji, umroh, dll.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu apa yang salah dari ritual-ritual dalam Islam tadi? Bukannya kita emang dituntut dan diwajibkan untuk menjalankan ritual-ritual tadi karena disamping itu merupakan perintah Allah, kita juga akan mendapatkan pahala yang besar darinya? Tidak! Dan sekali lagi tidak ada yang salah ketika kita mengerjakan ritual-ritual tersebut. Yang menjadi masalah adalah ketika kita menjalankan ritual-ritual tersebut hanya sebatas ritual. Mengerti maksud saya?</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-404"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><b>Shalat Mencegah Kemungkaran?</b></p>
<p style="text-align:justify;">OK, kebetulan kita hidup di Indonesia yang 85% penduduknya beragama Islam. Seharusnya, hidup dalam Negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam akan membuat kita lebih tenang dan bahagia. Pemimpin-pemimpin yang amanah, angka kriminalitas yang rendah, kesejahteraan yang terjamin, masyarakat yang saling menghargai, dan masih banyak hal-hal ideal yang lain. Mengapa? Karena di dalam Al-Qur’an pun sudah dengan sangat jelas disebutkan dalam surat Al-‘Ankabut ayat 45 bahwa,</p>
<p style="text-align:center;" align="center"><b><i>“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.”</i></b></p>
<p style="text-align:justify;">Namun, sangat disayangkan bahwa yang terjadi di negara kita tercinta ini adalah hal-hal yang sebaliknya. Saya tak perlu menyebutkannya satu-persatu karena kita semua sudah paham dan hampir setiap hari disuguhi berita-berita yang membuat kita menggeleng-gelengkankan kepala atau bahkan membuat darah kita naik ke ubun-ubun. Lantas mengapa ini terjadi di negara kita yang mayoritas muslim? Jelas penyebabnya adalah bahwa shalat yang kita lakukan hanya sebatas ritual. Membaca kalimat demi kalimat dalam bacaan shalat seperti membaca <i>jampi-jampi</i> atau mantra sihir. Pokoknya tuntunan bacaannya seperti itu, maknanya apa itu perkara belakangan. Begitu pula dengan ritual-ritual yang lain seperti haji, umroh, tadarus Al-Qur’an dan lain-lain. Ketika itu hanya sebatas ritual, tak akan berpengaruh apa-apa dalam kehidupan di masyarakat (entah dengan kehidupan di akhirat, karena bukan domain saya untuk menghakimi).</p>
<p style="text-align:justify;"><b>One Day One Juz</b></p>
<p style="text-align:justify;">Akhir-akhir ini sedang marak di media sosial mengenai kegiatan positif yang bernama <i>One Day One Juz</i> atau biasa disingkat ODOJ. Kegiatan ini tentu saja positif, tapi lagi-lagi saya menilai kegiatan ini hanya sebatas ritual saja, sekedar melafalkan bacaan Al-Qur’an sebanyak minimal 1 Juz sehari. Eh, tapi bukankah kegiatan itu bisa menambah keimanan seperti disebutkan dalam surat Al-Anfal  ayat 8?</p>
<p style="text-align:center;"><b><i>“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu ialah mereka yang apabila disebut nama Allah (dan sifat-sifatNya) gementarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, menjadikan mereka bertambah iman, dan kepada Tuhan mereka jualah mereka berserah.”</i></b></p>
<p style="text-align:justify;">OK, saya bukan ahli tafsir atau bahkan lulusan universitas Al-Azhar yang terkenal itu. Tapi, bayangkan saja begini, kita baru saja membeli sebuah mesin dari vendor Jepang yang ada buku petunjuknya dalam bahasa dan karakter Jepang. Katakanlah, kita jago membaca huruf-huruf kanji dan kana. Masalahnya, kita tidak mengerti artinya. Lalu apakah pada akhirnya kita bertambah pemahamannya tentang penggunaan mesin yang baru saja kita beli? Nnggg..saya rasa tidak. Atau contoh lain begini, ada seorang siswa dari Indonesia, dibacakan buku pelajaran berbahasa Russia oleh gurunya. Apakah ilmunya akan bertambah? Nnnggg..saya rasa juga tidak. Nah, begitu pula dengan tadarus Al-Qur’an. Kalau hanya dengan melafalkan arabnya saja, sulit dipahami dengan logika apapun apabila kemudian keimanan seorang muslim bertambah. Orang nasrani di negara-negara Arab, tentunya Injil-nya juga berbahasa arab. Lantas, apa bedanya melafalkan Al-Qur’an dengan melafalkan injil berbahasa arab? Bagaimana kalau ternyata yang diperdengarkan adalah pelafalan injil berbahasa arab yang kita kira adalah ayat-ayat Al-Qur’an? Gemetar juga hatinya, Bro? Ada kisah nyata yang lucu yang saya baca dari twitter, seorang ibu memarahi seorang pria, yang bertatto salib dan yesus, mengenakan baju dengan kaligrafi arab. Sang Ibu menghardik, “Heh! Kamu pakai tattoo salib dan yesus kenapa pakai baju tulisan Al-Qur’an? Itu namanya penghinaan terhadap kitab suci!”. Dengan tenang si pria menjawab, “Ibu bisa baca tulisan Arab?”. “Ya jelas bisa!” kata si Ibu dengan PD. “Bu, ini do’a Bapa Kami dalam bahasa arab!” dan terdiamlah si Ibu dengan malu.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/01/doabapakami.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="405" data-permalink="https://prabuwardhana.wordpress.com/2014/01/29/islam-ritual/doabapakami/" data-orig-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/01/doabapakami.jpg" data-orig-size="865,865" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="doabapakami" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/01/doabapakami.jpg?w=300" data-large-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/01/doabapakami.jpg?w=625" class="aligncenter size-medium wp-image-405" alt="doabapakami" src="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/01/doabapakami.jpg?w=300" width="300" height="300" srcset="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/01/doabapakami.jpg?w=300 300w, https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/01/doabapakami.jpg?w=600 600w, https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/01/doabapakami.jpg?w=150 150w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></a>Kaus bertuliskan kaligrafi Doa Bapa Kami</p>
<p style="text-align:justify;">Iman itu tumbuh karena ilmu atau pemahaman. Iman tanpa ilmu atau pemahaman itu disebut <i>taqlid</i> atau ikut-ikutan, seperti dalam pepatah jawa, <i>“Koyo kebo dicocok irunge”</i>. Loh, bukannya melafalkan huruf-huruf Al-Qur’an itu mendapatkan pahala? Well, kalau orientasinya pahala, ya orientasinya sekedar ritual saja dan bukan karena keingin-tahuan untuk memperoleh ilmu dan pengetahuan tentang bagaimana menjalani kehidupan ini dengan benar.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun, di luar sana banyak yang berpendapat, mempelajari Al-Qur’an itu perlu ilmu yang tinggi. Harus berguru pada syaikh-syaikh di Arab sana, di Kairo, Makkah, atau Madinah. Mempelajari Al-Qur’an tanpa ilmu itu sesat dan menyesatkan! Well..well..well.. kalem bro.. Sekarang begini, kita semua setuju bukan bahwa Al-Qur’an itu diturunkan oleh Allah Sang Pencipta kepada manusia yang diciptkan-Nya sebagai buku petunjuk? Saya kira di pelajaran agama sejak SD juga sudah diberi pemahaman seperti itu. Yang namanya buku petunjuk itu seharusnya dan semestinya mudah untuk dipahami tanpa penafsiran yang rumit. Bayangkan sebuah vendor komputer yang mengeluarkan buku petunjuk dengan keterangan, <i>“Membaca buku petunjuk tanpa ilmu yang memadai dapat mengakibatkan kesalahan fatal dalam pengoperasian, oleh karena itu disarankan kepada pengguna untuk mempelajari buku petunjuk di sekolah-sekolah khusus selama 5 tahun dengan didampingi oleh para professional!”</i>. Jelas, ini konyol bukan? Lalu, apakah Tuhan menurunkan buku petunjuk berupa kitab suci Al-Qur’an hanya untuk para ulama, sehingga haram hukumnya bagi orang awam untuk membaca dan menelaahnya hanya karena dianggap bisa salah tafsir?</p>
<p style="text-align:justify;">Sering kita mendengar para mualaf di negara-negara barat atau non-muslim yang memeluk agama Islam setelah membaca Al-Qur’an. Membaca lho ya, bukan melafalkan. Mereka membacanya dengan seksama, surat demi surat dan ayat demi ayat, sehingga mendapatkan ilmu-ilmu dan pengetahuan darinya. Dari ilmu-ilmu yang mereka dapatkan, tumbuhlah keimanan mereka dan semakin yakinlah bahwa Islam adalah agama yang mereka cari-cari selama ini. Banyak dari mereka, dari kisah yang saya baca atau dengar, yang sekedar membeli Al-Qur’an dengan terjemahan bahasa mereka masing-masing lalu membacanya. Tanpa belajar di Kairo, Mekkah, atau Madinah pun mereka bisa memahami isi dari Al-Qur’an sehingga memutuskan untuk memeluk Islam. Ini adalah tanda bahwa sebenarnya Al-Qur’an itu sebuah buku petunjuk yang mudah dipahami. Lalu, kenapa ada pendapat bahwa melafalkan bacaan Al-Qur’an itu berpahala, sedangkan membaca artinya tidak? Bukankah dengan sekedar melafalkan bacaannya, mereka para mualaf tidak akan pernah menemukan kebenaran Islam? Secara logika saja, bukankah membaca terjemahannya juga berpotensi menambah pundi-pundi pahala?</p>
<p style="text-align:justify;">Ada kisah lain mengenai seorang ulama dan da’i besar di negara ini, beliau rutin mengisi kajian tafsir Al-Qur’an di salah satu stasiun TV swasta. Dari segi kapabilitas, beliau tidak perlu diragukan lagi. Beliau dulu adalah santri di Pondok Pesantren Darul Hadis al-Faqihiyah Malang, lalu melanjutkan sekolah dan kuliah di Al-Azhar Kairo sampai meraih gelar Doktor di bidang tafsir. Kajiannya cukup menarik, namun di beberapa kajian, beliau mengeluarkan penafsiran yang menurut saya, yang awam ini, sudah jauh melenceng dari konteks dan cenderung ngawur. Saya yang bukan ahli agama pun sampai mengernyitkan dahi, aneh. Namun karena latar belakang beliau yang Doktor di bidang tafsir Al-Qur’an, beliau aman dari kritik apalagi sampai label sesat dan ngawur.</p>
<p style="text-align:justify;"><b>Paradox Budaya “Islam” di Negara Non-Muslim</b></p>
<p style="text-align:justify;">Saya dan keluarga saya pernah tinggal di Jerman sedangkan kini saya tinggal di Jepang. Saya sering bercerita mengenai kehidupan bermasyarakat di Jepang yang begitu bermartabat kepada Ibu saya. Kejujuran, toleransi, saling bantu-membantu, amanah, dan hal-hal positif lainnya sangat mudah ditemukan di negara yang mayoritas agamanya non-muslim. Hal ini membuat ibu saya mengingat-ingat apa yang dialami beliau ketika kami di Jerman puluhan tahun lalu. Ibu saya merasakan hal yang sama. Inilah yang saya sebut paradox. Masyarakat madani yang bermartabat yang seharusnya menjadi cerminan dari masyarakat Islam sepertinya jauh panggang dari api. Sedangkan di dua negara tersebut, masyarakatnya bisa saya sebut, sangat islami. Islami di sini bukan dalam lingkup ritual. Tetapi dalam ruang lingkup bermasyarakat. Tidak hanya saya yang merasakan pengalaman seperti ini, hampir setiap orang yang pernah singgah atau tinggal di Negara-negara tersebut selalu mengamini.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebenarnya ini bukan hal yang mengejutkan. Pemeluk Islam hanya menjalankan agamanya secara ritual tanpa makna. Islam bukan hanya urusan kita kepada Tuhan, tetapi juga melingkupi urusan sesama manusia. Itulah yang disebut <i>Muamalah</i>. Ruh <i>muamalah</i> yang baik ini yang makin lama semakin luntur dari pemeluk Islam, karena mereka hanya fokus pada kegiatan ritual saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya geram, marah, dan kecewa ketika berinteraksi dengan orang-orang dengan label religius bahkan aktivis dakwah tetapi <i>muamalah</i>-nya nol besar. Sering saya dibuat kecewa dengan orang-orang demikian. Ada cerita ketika kami bertamu untuk sekedar menyampaikan oleh-oleh. Waktu itu kebetulan ba’da Maghrib sekitar pukul 18.30. Kebetulan yang membukakan pintu adalah anak dari tuan rumah. Kami masuk, menunggu di ruang tamu. Tuan rumah pada saat itu sedang tadarus. Kami menunggu cukup lama, saya mulai merasa kesal, kenapa tadarus menjadi lebih prioritas daripada memuliakan tamu? Akhirnya oleh-oleh hanya kami titipkan dan kemudian pulang tanpa ditemui oleh tuan rumah. Ah, saya mungkin salah karena bertamu di waktu yang <i>“tidak tepat”</i>. Ada cerita lain ketika kami mengadakan aktifitas jual beli dengan seorang “aktivis dakwah”, waktu itu kami membeli buah. Ternyata setelah kami buka, hampir separuh dari buah yang kami beli dalam keadaan busuk. Cerita lain ketika Ibu saya membeli jilbab ke seorang aktivis dakwah juga, ternyata jahitanya tidak rapih, ketika hendak dikembalikan, sang penjual menolak dan mengatakan sebaiknya dikembalikan ke tukang jahitnya saja. Dan masih banyak pengalaman-pengalaman lain yang membuat hati ini pilu.</p>
<p style="text-align:justify;">Itulah akibatnya ketika Islam ini hanya dijalankan secara ritual bukan sebagai jalan hidup. Tanpa makna, tanpa ilmu, kosong. Setiap pribadi muslim sibuk mencari pahala sebanyak-banyaknya tanpa menyadari banyak sekali perilakunya yang bisa saja menghanguskan seluruh pahala yang sudah susah-susah didapatnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><b>Muhasabah Ritual</b></p>
<p style="text-align:justify;">Manusia, siapapun itu, wajib berkontemplasi dan instropeksi. Dalam Islam, kegiatan ini dikenal dengan <i>muhasabah</i>. Saya pernah terlibat dalam kelompok pengajian ketika masih berusia remaja. Setiap akhir hari, kami diwajibkan untuk ber-“<i>muhasabah”</i>. Kami diberi sebuah kolom isian berisi ibadah-ibadah yang telah kami lakukan seperti, shalat lima waktu, shalat sunnah, puasa, tadarus Al-Qur’an, infaq  dan sadaqah, dan beberapa ibadah ritual lainnya. Di setiap pertemuan, kami wajib menyampaikan laporan hasil <i>muhasabah</i> kami. Jika ada yang bolong, kami dikenakan hukuman atau biasa disebut <i>iqob</i>. Hukuman biasanya berupa infaq. Kegiatan seperti ini sepertinya masih berjalan sampai sekarang di setiap kelompok-kelompok pengajian atau biasa disebut <i>Liqo’</i>.</p>
<p style="text-align:justify;">Kegiatan ini bagus, tapi penekanan <i>muhasabah</i> terhadap ibadah-ibadah ritual seperti ini sangat berbahaya. Itulah mengapa banyak aktivis dakwah yang secara muamalah, kelakuannya jauh dari perilaku islami. Muhasabah ritual itu penting, tapi muhasabah muamalah juga tidak kalah penting. Sekali lagi, kita adalah makhluk Tuhan sekaligus makhluk sosial. Hubungan kita dengan Tuhan jangan sampai mengorbankan hubungan kita dengan manusia.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://prabuwardhana.wordpress.com/2014/01/29/islam-ritual/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>6</slash:comments>
		
		
		
		<media:content medium="image" url="https://2.gravatar.com/avatar/52488189c1bcfe4c0c0ff976e57f5c7e30079b4e75ff85ec14bad0ad4f48d9d1?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G">
			<media:title type="html">prabuwardhana</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2014/01/doabapakami.jpg?w=300">
			<media:title type="html">doabapakami</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bhineka Tunggal Ika, katanya…</title>
		<link>https://prabuwardhana.wordpress.com/2013/09/05/bhineka-tunggal-ika-katanya/</link>
					<comments>https://prabuwardhana.wordpress.com/2013/09/05/bhineka-tunggal-ika-katanya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[prabuwardhana]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Sep 2013 01:40:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://prabuwardhana.wordpress.com/?p=393</guid>

					<description><![CDATA[Bhineka Tunggal Ika, katanya&#8230; Nyatanya beda sekolah pun saling serang. Bhineka Tunggal Ika, katanya&#8230; Nyatanya beda kampung pun saling serang. Bhineka Tunggal Ika, katanya&#8230; Nyatanya beda dukung klub bola pun saling serang. Bhineka Tunggal Ika, katanya&#8230; Nyatanya beda partai pun saling serang. Bhineka Tunggal Ika, katanya&#8230; Nyatanya beda suku pun saling serang. Bhineka Tunggal Ika, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/09/bhineka_tunggal_ika_by_planktoncreative-d4x1zll.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="397" data-permalink="https://prabuwardhana.wordpress.com/2013/09/05/bhineka-tunggal-ika-katanya/bhineka_tunggal_ika_by_planktoncreative-d4x1zll/" data-orig-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/09/bhineka_tunggal_ika_by_planktoncreative-d4x1zll.jpg" data-orig-size="900,637" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="bhineka_tunggal_ika_by_planktoncreative-d4x1zll" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/09/bhineka_tunggal_ika_by_planktoncreative-d4x1zll.jpg?w=300" data-large-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/09/bhineka_tunggal_ika_by_planktoncreative-d4x1zll.jpg?w=625" class="aligncenter size-large wp-image-397" alt="bhineka_tunggal_ika_by_planktoncreative-d4x1zll" src="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/09/bhineka_tunggal_ika_by_planktoncreative-d4x1zll.jpg?w=575" width="575" height="406" srcset="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/09/bhineka_tunggal_ika_by_planktoncreative-d4x1zll.jpg?w=575 575w, https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/09/bhineka_tunggal_ika_by_planktoncreative-d4x1zll.jpg?w=150 150w, https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/09/bhineka_tunggal_ika_by_planktoncreative-d4x1zll.jpg?w=300 300w, https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/09/bhineka_tunggal_ika_by_planktoncreative-d4x1zll.jpg?w=768 768w, https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/09/bhineka_tunggal_ika_by_planktoncreative-d4x1zll.jpg 900w" sizes="(max-width: 575px) 100vw, 575px" /></a></p>
<p style="text-align:center;">Bhineka Tunggal Ika, katanya&#8230;<br />
Nyatanya beda sekolah pun saling serang.</p>
<p style="text-align:center;">Bhineka Tunggal Ika, katanya&#8230;<br />
Nyatanya beda kampung pun saling serang.</p>
<p style="text-align:center;">Bhineka Tunggal Ika, katanya&#8230;<br />
Nyatanya beda dukung klub bola pun saling serang.</p>
<p style="text-align:center;">Bhineka Tunggal Ika, katanya&#8230;<br />
Nyatanya beda partai pun saling serang.</p>
<p style="text-align:center;">Bhineka Tunggal Ika, katanya&#8230;<br />
Nyatanya beda suku pun saling serang.</p>
<p style="text-align:center;">Bhineka Tunggal Ika, katanya&#8230;<br />
Nyatanya beda aliran agama pun saling serang.</p>
<p style="text-align:center;">Bhineka Tunggal Ika, katanya&#8230;<br />
Nyatanya beda agama pun saling serang.</p>
<p style="text-align:center;">Bhineka Tunggal Ika, katanya&#8230;<br />
Nyatanya apapun yang beda berpotensi saling serang.</p>
<p style="text-align:center;">Bhineka Tunggal Ika, katanya&#8230;</p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:center;">gambar oleh : <a href="http://planktoncreative.deviantart.com" rel="nofollow">http://planktoncreative.deviantart.com</a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://prabuwardhana.wordpress.com/2013/09/05/bhineka-tunggal-ika-katanya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		
		<media:content medium="image" url="https://2.gravatar.com/avatar/52488189c1bcfe4c0c0ff976e57f5c7e30079b4e75ff85ec14bad0ad4f48d9d1?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G">
			<media:title type="html">prabuwardhana</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/09/bhineka_tunggal_ika_by_planktoncreative-d4x1zll.jpg?w=575">
			<media:title type="html">bhineka_tunggal_ika_by_planktoncreative-d4x1zll</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tentang Oleh-Oleh</title>
		<link>https://prabuwardhana.wordpress.com/2013/08/25/tentang-oleh-oleh/</link>
					<comments>https://prabuwardhana.wordpress.com/2013/08/25/tentang-oleh-oleh/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[prabuwardhana]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 25 Aug 2013 09:31:40 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://prabuwardhana.wordpress.com/?p=380</guid>

					<description><![CDATA[Pagi ini ketika saya menengok Time Line Twitter, saya mebaca tweet seorang teman yang hobi traveling. Somehow, kata2 &#8220;jangan lupa oleh2&#8221; bisa bikin ga tenang di perjalanan. Ga mbeliin ga enak, mo beliin sangu mepet, spend much time jg.. — ari dhamayanti (@dd_dhama) August 25, 2013 Sebagai traveler yang sering bepergian keliling tempat-tempat baru ataupun [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><a href="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/08/gift.jpg"><img loading="lazy" data-attachment-id="387" data-permalink="https://prabuwardhana.wordpress.com/2013/08/25/tentang-oleh-oleh/gift/" data-orig-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/08/gift.jpg" data-orig-size="849,565" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;11&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;Jonathan Lim Yong Hian&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;Canon EOS 350D DIGITAL&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;Hands holding a gift box isolated on black background&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;1165184399&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;80&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;100&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0.3&quot;,&quot;title&quot;:&quot;Gift&quot;}" data-image-title="Gift" data-image-description="&lt;p&gt;Hands holding a gift box isolated on black background&lt;/p&gt;
" data-image-caption="" data-medium-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/08/gift.jpg?w=300" data-large-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/08/gift.jpg?w=625" class="wp-image-387 aligncenter" alt="Gift" src="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/08/gift.jpg?w=575" width="449" height="298" srcset="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/08/gift.jpg?w=449 449w, https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/08/gift.jpg?w=150 150w, https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/08/gift.jpg?w=300 300w, https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/08/gift.jpg?w=768 768w, https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/08/gift.jpg 849w" sizes="(max-width: 449px) 100vw, 449px" /></a></p>
<p>Pagi ini ketika saya menengok <i>Time Line Twitter</i>, saya mebaca tweet seorang teman yang hobi traveling.</p>
<blockquote class="twitter-tweet">
<p>Somehow, kata2 &#8220;jangan lupa oleh2&#8221; bisa bikin ga tenang di perjalanan. Ga mbeliin ga enak, mo beliin sangu mepet, spend much time jg..</p>
<p>— ari dhamayanti (@dd_dhama) <a href="https://twitter.com/dd_dhama/statuses/371490285353582593">August 25, 2013</a></p>
</blockquote>
<p>Sebagai traveler yang sering bepergian keliling tempat-tempat baru ataupun orang yang tinggal di luar daerah atau negeri biasanya akan sangat familiar mendengar kata-kata, <i>“Jangan lupa oleh-oleh yaa!”</i> atau <i>“Eh, kalau balik aku titip A, B, C, D, dan E donk, please!”</i> atau kata-kata sejenis.</p>
<p><span id="more-380"></span></p>
<p>Oleh-oleh pada dasarnya adalah sebuah bentuk perhatian kepada orang-orang terdekat kita dan bukan merupakan kewajiban kita ketika kembali dari suatu daerah tertentu. Namun, ntah mengapa budaya memberi dan menitip oleh-oleh ini sudah menjadi satu hal yang sangat sulit untuk dihindari. Perasaan nggak enak dan seperti tidak perhatian selalu menghantui para traveler.</p>
<p>Saya termasuk orang yang jarang meminta oleh-oleh dari teman atau saudara yang berpergian. Meskipun saya juga akan merasa senang jika ada teman yang memberi oleh-oleh. Saya punya dua alasan utama mengapa kadang-kadang saya enggan untuk meminta oleh-oleh,</p>
<p><b>1.       </b><b>Merepotkan</b></p>
<p style="padding-left:30px;">Saya sering berkaca pada diri sendiri, ketika bepergian ke suatu tempat, barang-barang pribadi saya sendiri sudah sangat merepotkan. Apalagi kita bepergian dengan transportasi umum. Sekarang setelah saya tinggal di Jepang, saya merasakan betul bagaimana merepotkannya membawa 1 koper besar, 1 traveling bag, 1 camera bag, dan beberapa barang bawaan lain ketika berlibur di Indonesia. Saya pernah mengalami ketika 1 koper itu sama sekali bukan barang bawaan saya. 1 koper yang penuh dengan..yaa oleh-oleh dan barang titipan.</p>
<p style="padding-left:30px;">Dari sini saya menyadari bahwa orang lain pun akan demikian, lebih baik mendoakan keselamatannya sampai tujuan dan menunggunya kembali untuk mendengarkan cerita-cerita seru dari perjalanannya.</p>
<p><b>2.       </b><b>Belum tentu kita suka dengan oleh-oleh dari mereka</b></p>
<p style="padding-left:30px;">Saya beberapa kali mendapatkan oleh-oleh dari teman, tetangga, atau saudara baik berupa makanan atau berupa barang. Kadang-kadang saya suka dengan pemberiannya, namun tidak jarang saya jadi tidak enak karena tidak suka. Kalau makanan, biasanya pada akhirnya tidak termakan dan berakhir di tempat sampah karena basi. Kalau barang, akhirnya cuma tergeletak begitu saja.</p>
<p style="padding-left:30px;">Nah, saya jadi kasian ketika hal seperti ini terjadi. Dia sudah mengorbankan waktu untuk mencari oleh-oleh, mengorbankan materi untuk membeli oleh-oleh, dan juga mengorbankan diri sendiri untuk bersedia repot-repot membawakan oleh-oleh, ehh..nggak kebeneran, kitanya nggak suka.</p>
<p>Namun demikian, saya pun kadang-kadang tetap menyisipkan oleh-oleh diantara barang bawaan saya, sekedar bentuk perhatian kepada orang-orang terdekat, tapi tetap mengukur kemampuan saya apakah itu barang yang mudah dibawa dan atau mudah didapat. Beruntung, orang tua saya bukan tipe orang yang menuntut dibawakan oleh-oleh sama anak-anaknya. Bagi saya pribadi, untuk orang tua, lebih baik “mentahannya” saja, hehehe..atau mungkin makanan yang kira-kira unik dan tidak mudah didapat di Indonesia.</p>
<p>Buat temen-temen pembawa maupun peminta oleh-oleh, ini ada beberapa etika dan tips tentang memberi dan menerima oleh-oleh yang pernah saya baca.</p>
<p><a href="http://bukucatatan-part1.blogspot.jp/2013/08/etika-membeli-dan-menitip-oleh-oleh.html">Etika Membeli Dan Menitip Oleh-Oleh</a></p>
<p>Happy traveling!</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://prabuwardhana.wordpress.com/2013/08/25/tentang-oleh-oleh/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
		
		<media:content medium="image" url="https://2.gravatar.com/avatar/52488189c1bcfe4c0c0ff976e57f5c7e30079b4e75ff85ec14bad0ad4f48d9d1?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G">
			<media:title type="html">prabuwardhana</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/08/gift.jpg?w=575">
			<media:title type="html">Gift</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Being Glad Is Different as Being Happy</title>
		<link>https://prabuwardhana.wordpress.com/2013/07/06/being-glad-is-different-as-being-happy/</link>
					<comments>https://prabuwardhana.wordpress.com/2013/07/06/being-glad-is-different-as-being-happy/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[prabuwardhana]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 06 Jul 2013 05:57:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://prabuwardhana.wordpress.com/?p=367</guid>

					<description><![CDATA[I don&#8217;t really know what is now passing trough on my mind this afternoon. After having conversation with my Mom last night, I just want to write about this as my self-reminder. We were talking quite much in our 3 hours conversation (Thanks to LINE developers and Internet inventors who made my communication with my family [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>I don&#8217;t really know what is now passing trough on my mind this afternoon. After having conversation with my Mom last night, I just want to write about this as my self-reminder. We were talking quite much in our 3 hours conversation (Thanks to LINE developers and Internet inventors who made my communication with my family much easier and indeed CHEAP! lol).</p>
<p>As my decision to quit the company and leave Japan next year, we were talking a bit (or maybe a lot) about my future plan and life.  I told my mom that I want to focus on my own business, regardless the money which I will earn. I told her that I want to take my Master degree in Business Administration as well. Then the conversation started, she gave me a lot of advice and encouragement as well.</p>
<p><span id="more-367"></span></p>
<p>Indeed, here in Japan I&#8217;ve got everything I need materially. Money, wealthiness, good living, et cetera..et cetera.. Am I glad? Yes, of course I&#8217;m really glad having all of these. Yet, Am I happy? Well, I need to think and look at myself profoundly to answer this sort of question. Last night, my Mom asked me &#8220;Do you know what is the difference between being glad and being happy?&#8221;. I answered &#8220;Yes, Indeed. I do. the main difference between being glad and being happy is the matter of period of the feeling itself. Being glad is temporary but being happy is permanent. I mean, if we get something good, we will feel glad. But being happy doesn&#8217;t require anything to be happened to us, it really depends on us. Either we got a good thing or a bad think, we can still be happy.&#8221;. Then, my Mom added &#8220;As you said, being glad is like a two side of coin. One side is a joy and the other side is a grief.  You could suddenly feel very glad as soon as you get or receive something good, but in the other side you could suddenly feel very sad when you lose something good or in fact what you got is just bellow your expectation. But being happy is unconditional, you were right, it depends on us no matter what we&#8217;ve got. It&#8217;s inside us, it&#8217;s permanent.&#8221;</p>
<p>From this conversation, I realized. I would want something precious. High salary, beautiful and gorgeous wife, big houses. Then, I tried to take a step back and reconsidered about it. I might be glad if I earn a lot of money, I might be glad if I have an extremely beautiful wife, I might be glad if I have a big and splendid houses. But, will I be feeling happy? I don&#8217;t even know and can&#8217;t guarantee myself.</p>
<p>Actually being realized from this doesn&#8217;t make me stop chasing my dreams. who doesn&#8217;t want to be rich? who doesn&#8217;t want to have a beautiful wife? Yet, my intention has changed. If I&#8217;m rich, I just want to share more to the people who need it. If my business succeed, that&#8217;s my contribution to my country, I can open the opportunity, I can help people getting their job, decreasing the amount of jobless. About my future wife, indeed I want a beautiful girl to be my wife, but it&#8217;s not that important anymore. At least, she is good looking and it&#8217;s enough. The more important things are, the one who together with me has the ability to build our happy family, to raise our kids, to encourage each other.</p>
<p>Thanks Mom for the advice and encouragement!</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://prabuwardhana.wordpress.com/2013/07/06/being-glad-is-different-as-being-happy/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
		
		<media:content medium="image" url="https://2.gravatar.com/avatar/52488189c1bcfe4c0c0ff976e57f5c7e30079b4e75ff85ec14bad0ad4f48d9d1?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G">
			<media:title type="html">prabuwardhana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Yuk Bersedekah! Tapi…</title>
		<link>https://prabuwardhana.wordpress.com/2013/06/21/yuk-bersedekah-tapi/</link>
					<comments>https://prabuwardhana.wordpress.com/2013/06/21/yuk-bersedekah-tapi/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[prabuwardhana]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 21 Jun 2013 13:03:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://prabuwardhana.wordpress.com/?p=362</guid>

					<description><![CDATA[Pertama, ini adalah tulisan pertama saya yang bersinggungan dengan masalah agama. Tulisan ini pun lumayan panjang. Sebenarnya saya enggan membahas masalah seperti ini di forum umum, namun karena merasa terdorong dan sedikit risih dengan fenomena yang beredar di masyarakat, akhirnya saya memberanikan diri untuk sedikit menyampaikan pandangan saya berdasarkan apa yang saya dapatkan melalui diskusi-diskusi [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" data-attachment-id="363" data-permalink="https://prabuwardhana.wordpress.com/2013/06/21/yuk-bersedekah-tapi/yuk_sedekah_by_andry_wasabi-d4uautw/" data-orig-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/06/yuk_sedekah_by_andry_wasabi-d4uautw.png" data-orig-size="744,744" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="yuk_sedekah_by_andry_wasabi-d4uautw" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/06/yuk_sedekah_by_andry_wasabi-d4uautw.png?w=300" data-large-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/06/yuk_sedekah_by_andry_wasabi-d4uautw.png?w=625" class="alignleft  wp-image-363" alt="yuk_sedekah_by_andry_wasabi-d4uautw" src="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/06/yuk_sedekah_by_andry_wasabi-d4uautw.png?w=585" width="351" height="351" srcset="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/06/yuk_sedekah_by_andry_wasabi-d4uautw.png?w=351 351w, https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/06/yuk_sedekah_by_andry_wasabi-d4uautw.png?w=702 702w, https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/06/yuk_sedekah_by_andry_wasabi-d4uautw.png?w=150 150w, https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/06/yuk_sedekah_by_andry_wasabi-d4uautw.png?w=300 300w" sizes="(max-width: 351px) 100vw, 351px" />Pertama, ini adalah tulisan pertama saya yang bersinggungan dengan masalah agama. Tulisan ini pun lumayan panjang. Sebenarnya saya enggan membahas masalah seperti ini di forum umum, namun karena merasa terdorong dan sedikit risih dengan fenomena yang beredar di masyarakat, akhirnya saya memberanikan diri untuk sedikit menyampaikan pandangan saya berdasarkan apa yang saya dapatkan melalui diskusi-diskusi panjang serta beberapa kajian.</p>
<p>Kali ini saya ingin mencoba membahas mengenai fenomena sedekah yang semakin menguat di masyarakat. Fenomena ini mencuat dengan begitu hebatnya ketika seorang ustadz memperkenalkan dahsyatnya efek dari sedekah. Kemudian, beberapa pembicara public pun mulai memperkuat testimoni tersebut sehingga muncul lah berbagai buku tentang kehebatan sedekah. Mari kita mulai!</p>
<p><strong>PENTINGNYA NIAT DAN ITTIBA’ (MENGIKUTI) RASULULLAH SAW</strong></p>
<p>Semua amal, betapapun kecilnya, akan dihadapkan pada dua pertanyaan; yang pertama adalah “Apa niatnya?” lalu yang kedua adalah “Apa dalil atau tuntunan syariatnya?”</p>
<p>Pertanyaan pertama adalah pertanyaan tentang alasan, dorongan, dan sebab dari perbuatan tersebut, apakah ia disebabkan oleh alasan-alasan dan tujuan duniawi; seperti keinginan untuk mendapatkan pujian dari manusia, takut dengan hinaan manusia, mengharapkan sesuatu yang sangat didambakan, menghindari marabahaya yang bersifat duniawi, ataukah kita melakukan perbuatan itu karena kewajiban ubudiyah (pengabdian), mencari cinta, ridho, dan kedekatan diri kepada Allah SWT serta menjadikannya sebagai wasilah (perantara) kepada-Nya? Jadi dengan kata lain, apakah kita melakukannya karena Allah atau karena keinginan hawa nafsu kita?</p>
<p>Lalu pertanyaan kedua adalah pertanyaan tentang mengikuti sunnah dari Rasulullah SAW dalam ibadah, apakah perbuatan kita itu termasuk tuntunan dari Rasulullah SAW atau bukan?</p>
<p>Jadi pertanyaan pertama adalah pertanyaan tentang keikhlasan dan pertanyaan kedua adalah tentang mengikuti sunnah Rasulullah SAW.</p>
<p>Bersedekah/infaq, sebagaimana amalan lain, harus memperhatikan kedua hal tersebut agar amalan kita jangan sampai menjadi sia-sia tanpa kita pernah menyadarinya.</p>
<p><span id="more-362"></span></p>
<p><strong>MENGAPA HARUS BERSEDEKAH?</strong></p>
<p>Harta, sekalipun dia berada di tangan kita, didapat atas usaha sendiri ataupun diberi, sesungguhnya itu hanya sekedar amanah yang dititipkan Allah. Kita tidak mempunyai hak untuk menggunakannya sesuka hati, tanpa mengikuti tuntunan cara memanfaatkan harta yang dijelaskan di dalam Al-Qur’an dan Sunnah.</p>
<p><em>QS Al-Hadid 57:7</em></p>
<p><em>“Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan infaqkanlah (di jalan Allah) sebagian dari harta yang Dia telah menjadikan kamu sebagai penguasanya (amanah). Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menginfaqkan (hartanya di jalan Allah) memperoleh pahala yang besar.”</em></p>
<p>Ketika kita berusaha mencari harta dan pada akhirnya mendapatkannya, maka hal itu bukan karena kepandaian serta keuletan kita semata. Tetapi karena Allah hendak menjadikan kita sebagai pemikul amanah atas harta yang dititipkan.</p>
<p><em>QS Al-Hadid 57:10</em></p>
<p><em>“Dan mengapa kamu tidak menginfaqkan hartamu di jalan Allah, padahal milik Allah semua yang ada di langit dan di bumi?&#8230;”</em></p>
<p>Masih ada beberapa ayat yang menegaskan perintah bersedekah/infaq seperti di QS Al-Baqarah 2:195 dan QS Muhammad 47:38.</p>
<p><strong>APA TUJUAN BERSEDEKAH?</strong></p>
<p>Dari penjelasan di atas bisa kita simpulkan bahwa bersedekah merupakan kewajiban kita sebagai umat Islam karena Allah telah jelas memerintahkannya di dalam Al-Qur’an. Lalu apa tujuan kita bersedekah?</p>
<p><em>QS Al-Baqarah 2:272</em></p>
<p><em>“…Dan janganlah kamu berinfaq melainkan karena mencari ridho Allah.”</em></p>
<p><em>QS Al-Baqarah 2:265</em></p>
<p><em>“Dan perumpamaan orang yang menginfaqkan hartanya untuk mencari ridho Allah dan untuk memperteguh jiwa-jiwa mereka,…”</em></p>
<p><em>QS At-Taubah 9:99</em></p>
<p><em>“Dan diantara orang-orang Arab Badui itu ada yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan memandang apa yang diinfaqkannya (di jalan Allah) sebagai jalan mendekatkan diri (kepada Allah).”</em></p>
<p><em>QS Al-Insan 76:9</em></p>
<p><em>“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridhoan Allah, kami tidak mengharapkan balasan dan tidak pula terima kasih darimu”</em></p>
<p><strong>SEBERAPA BATASAN YANG BIJAKSANA DALAM BERSEDEKAH?</strong></p>
<p><em>QS Al-Isra’ 17:29</em></p>
<p><em>“Dan janganlah engkau jadikan tangamu terbelenggu pada lehermu dan jangan (pula) engkau terlalu mengulurkannya (boros), nanti kamu menjadi tercela dan menyesal”</em></p>
<p>Keseimbangan dalam semua hal merupakan prinsip besar dalam sistem Islam. Dalam segala hal, berlebihan atau kurang adalah sikap yang bertolak belakang dengan prinsip keseimbangan ini. Terlalu boros sehingga tak menyisakan apa-apa di tangan tak disukai Allah walaupun Allah menjanjikan balasan yang berlipat ganda bagi orang yang bersedekah. Kita tak boleh melakukan hal yang konyol, apakah itu kikir atau terlalu boros. Kita juga tidak boleh “menguji” Allah dengan bersedekah terlalu boros, kemudian menunggu-nunggu balasan berlipat ganda dari Allah, karena Allah Yang Maha Bijaksana berbuat menurut apa yang Dia kehendaki, tidak peduli apakah ada yang sedang “menguji” Nya atau tidak. Manusia harus yakin pada janji Allah, tetapi sama sekali tidak mempunyai hak untuk “menguji” Allah, hanya Allah lah yang berhak menguji manusia.</p>
<p><strong>BALASAN BAGI ORANG YANG BERSEDEKAH</strong></p>
<p>Ketika Allah memberitahukan kepada kita tentang balasan dari apa yang kita lakukan, maka ini termasuk ranah urusan Allah. Maksudnya, Allah lah yang aktif dan kita pasif karena tinggal menerima saja. Oleh karena itu, balasan ini fungsinya adalah untuk memotivasi dan memberikan kabar gembira saja, namun bukan untuk dijadikan hal yang justru menjadi alasan satu-satunya, Pasif saja dan tak perlu aktif menunggu-nunggu balasan apalagi sampai hitung-hitungan dengan Allah. Balasan dari Allah bersifat otomatis, tak mungkin Allah memungkiri janji-Nya. Jadi, kita tidak perlu repot memikirkannya. Balasan hanya “akibat”, sedangkan yang menjadi urusan serius bagi kita adalah memperbaiki kualitas “sebab”. Orang yang beribadah kepada Allah (termasuk sedekah), sudah merasa tentram hatinya ketika sudah menuntaskan tugas yang Allah sukai, tidak peduli apakah dia melihat buah amalnya atau tidak, karena yakin Allah menjamin tercapainya balasan. Ibarat orang menembak, asalkan cara menembaknya benar, senjata OK, pasti kena sasaran. Tapi kalau yang dilihat hanya sasarannya saja dengan mengabaikan cara menembaknya, begitupula dengan senjatanya yang tidak berkualitas, pelurunya tidak akan sampai sasaran.</p>
<p><em>QS Al-Baqarah 2:245</em></p>
<p><em>“Barangsiapa meminjami Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah melipatgandakan ganti kepadanya dengan banyak…”</em></p>
<p><em>QS Al-Baqarah 2:261</em></p>
<p><em>“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya pada jalan Allah, ibarat biji yang tumbuh tujuh tangkai. Pada setiap tangkainya terdapat seratus biji. Dan Allah akan melipatgandakan balasan bagi yang dikehendaki-Nya.”</em></p>
<p><em>QS Al-Baqarah 2:265</em></p>
<p><em>“Dan perumpamaan orang yang menginfaqkan hartanya untuk mencari ridho Allah dan untuk memperteguh jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi dan disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buah-buahan dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka embun (pun memadai).”</em></p>
<p><em>QS Saba’ 34:39</em></p>
<p><em>“…Apa saja yang kamu infaqkan, maka Dia akan menggantinya. Dan Dialah pemberi rezeki yang terbaik”</em></p>
<p><strong>SEDEKAH YANG SIA-SIA</strong></p>
<p><em>QS Al-Baqarah 2:264</em></p>
<p><em>“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfaqkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah danhari akhir. Perumpamaannya seperti batu licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatupun dari apa yang mereka kerjakan…”</em></p>
<p><strong>APA RESIKONYA BILA BERINFAQ HANYA UNTUK TUJUAN DUNIAWI SEMATA?</strong></p>
<p><em>QS Hud 11:15-16</em></p>
<p><em>“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan (balasan) penuh atas pekerjaan mereka di dunia dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat kecuali neraka, dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan.”</em></p>
<p><em>QS Al-Isro’ 17:18</em></p>
<p><em>“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya (di dunia) ini apa yang Kami kehendaki bagi siapa yang Kami kehendaki. Kemudian kami sediakan baginya (di akhirat) neraka jahanam; dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.”</em></p>
<p><strong>PENUTUP</strong></p>
<p>Saya memang tidak aktif dalam kegiatan-kegiatan crowd-movement berbasis sedekah. Lalu, apakah gerakan-gerakan itu salah? Menurut saya tidak. Justru kegiatan-kegiatan seperti itu sangat baik dan sangat membantu orang-orang yang membutuhkan. Namun, saya hanya ingin mengingatkan saya sendiri dan juga para pemberi sedekah untuk mempelajari bagaimana seharusnya bersedekah itu. Dari mana? yang jelas dari sumbernya langsung atau Al-Qur&#8217;an. Saya takut, dengan cara bersedekah yang sebagaimana diajarkan oleh buku-buku dahsyatnya sedekah, mengaburkan makna sedekah kita. Sangat-sangatlah rugi bila perkara akhirat ditukar dengan perkara duniawi. Dan apakah saya bersedekah? Hanya saya, dan keluarga saya, serta Allah yang tahu. Wallahu&#8217;alam.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://prabuwardhana.wordpress.com/2013/06/21/yuk-bersedekah-tapi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
		
		<media:content medium="image" url="https://2.gravatar.com/avatar/52488189c1bcfe4c0c0ff976e57f5c7e30079b4e75ff85ec14bad0ad4f48d9d1?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G">
			<media:title type="html">prabuwardhana</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/06/yuk_sedekah_by_andry_wasabi-d4uautw.png?w=585">
			<media:title type="html">yuk_sedekah_by_andry_wasabi-d4uautw</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sanja Matsuri di Asakusa, Tokyo</title>
		<link>https://prabuwardhana.wordpress.com/2013/05/30/sanja-matsuri-di-asakusa-tokyo/</link>
					<comments>https://prabuwardhana.wordpress.com/2013/05/30/sanja-matsuri-di-asakusa-tokyo/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[prabuwardhana]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 May 2013 15:06:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Aktifitas]]></category>
		<category><![CDATA[Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[intermezo]]></category>
		<category><![CDATA[Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[Photography]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://prabuwardhana.wordpress.com/?p=320</guid>

					<description><![CDATA[Kira-kira dua minggu yang lalu untuk kesekian kalinya saya menghabiskan akhir pekan di Tokyo. Beberapa kali mengunjungi Tokyo, kali ini menurut saya adalah yang paling berkesan. Karena apa? Banyak..hehehe.. Waktu itu saya berangkat dari tempat saya tinggal di Tsubame Niigata hari Jum&#8217;at sore tepat sepulang kerja. Saya berangkat menggunakan Shinkansen jam 19.00 dari stasiun Tsubame-Sanjo [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kira-kira dua minggu yang lalu untuk kesekian kalinya saya menghabiskan akhir pekan di Tokyo. Beberapa kali mengunjungi Tokyo, kali ini menurut saya adalah yang paling berkesan. Karena apa? Banyak..hehehe..</p>
<p>Waktu itu saya berangkat dari tempat saya tinggal di Tsubame Niigata hari Jum&#8217;at sore tepat sepulang kerja. Saya berangkat menggunakan Shinkansen jam 19.00 dari stasiun Tsubame-Sanjo dan cukup kurang dari 2 jam saya sudah sampai di Stasiun Tokyo. Kalau saya memilih menggunakan Bis, biasanya memakan waktu yang jauh lebih lama yaitu 5-6 jam, begitu pula bila menggunakan mobil yang memakan waktu sekitar 4-5 jam. Memang, menggunakan jasa Shinkasen tidak murah, tapi saya selalu berpikir masalah waktu. Saya termasuk yang tidak bisa menikmati perjalanan yang terlalu lama.
<a href='https://prabuwardhana.wordpress.com/2013/05/30/sanja-matsuri-di-asakusa-tokyo/img_4229_fb/'><img width="150" height="100" src="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4229_fb.jpg?w=150" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" decoding="async" srcset="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4229_fb.jpg?w=150 150w, https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4229_fb.jpg?w=300 300w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" data-attachment-id="332" data-permalink="https://prabuwardhana.wordpress.com/2013/05/30/sanja-matsuri-di-asakusa-tokyo/img_4229_fb/" data-orig-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4229_fb.jpg" data-orig-size="960,640" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="IMG_4229_fb" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4229_fb.jpg?w=300" data-large-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4229_fb.jpg?w=625" /></a>
<a href='https://prabuwardhana.wordpress.com/2013/05/30/sanja-matsuri-di-asakusa-tokyo/img_4224/'><img width="150" height="100" src="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4224.jpg?w=150" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" decoding="async" srcset="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4224.jpg?w=150 150w, https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4224.jpg?w=300 300w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" data-attachment-id="331" data-permalink="https://prabuwardhana.wordpress.com/2013/05/30/sanja-matsuri-di-asakusa-tokyo/img_4224/" data-orig-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4224.jpg" data-orig-size="960,640" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="IMG_4224" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4224.jpg?w=300" data-large-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4224.jpg?w=625" /></a>
<a href='https://prabuwardhana.wordpress.com/2013/05/30/sanja-matsuri-di-asakusa-tokyo/img_4211/'><img width="150" height="100" src="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4211.jpg?w=150" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" decoding="async" srcset="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4211.jpg?w=150 150w, https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4211.jpg?w=300 300w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" data-attachment-id="329" data-permalink="https://prabuwardhana.wordpress.com/2013/05/30/sanja-matsuri-di-asakusa-tokyo/img_4211/" data-orig-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4211.jpg" data-orig-size="960,640" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="IMG_4211" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4211.jpg?w=300" data-large-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4211.jpg?w=625" /></a>
<a href='https://prabuwardhana.wordpress.com/2013/05/30/sanja-matsuri-di-asakusa-tokyo/img_4208/'><img width="150" height="100" src="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4208.jpg?w=150" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" decoding="async" srcset="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4208.jpg?w=150 150w, https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4208.jpg?w=300 300w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" data-attachment-id="328" data-permalink="https://prabuwardhana.wordpress.com/2013/05/30/sanja-matsuri-di-asakusa-tokyo/img_4208/" data-orig-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4208.jpg" data-orig-size="960,640" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="IMG_4208" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4208.jpg?w=300" data-large-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4208.jpg?w=625" /></a>
<a href='https://prabuwardhana.wordpress.com/2013/05/30/sanja-matsuri-di-asakusa-tokyo/img_4213/'><img width="150" height="100" src="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4213.jpg?w=150" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" decoding="async" srcset="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4213.jpg?w=150 150w, https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4213.jpg?w=300 300w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" data-attachment-id="330" data-permalink="https://prabuwardhana.wordpress.com/2013/05/30/sanja-matsuri-di-asakusa-tokyo/img_4213/" data-orig-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4213.jpg" data-orig-size="960,640" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="IMG_4213" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4213.jpg?w=300" data-large-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4213.jpg?w=625" /></a>
<a href='https://prabuwardhana.wordpress.com/2013/05/30/sanja-matsuri-di-asakusa-tokyo/img_4136/'><img width="150" height="100" src="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4136.jpg?w=150" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" decoding="async" srcset="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4136.jpg?w=150 150w, https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4136.jpg?w=300 300w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" data-attachment-id="322" data-permalink="https://prabuwardhana.wordpress.com/2013/05/30/sanja-matsuri-di-asakusa-tokyo/img_4136/" data-orig-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4136.jpg" data-orig-size="720,480" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="IMG_4136" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4136.jpg?w=300" data-large-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4136.jpg?w=625" /></a>
<a href='https://prabuwardhana.wordpress.com/2013/05/30/sanja-matsuri-di-asakusa-tokyo/img_4132/'><img width="150" height="100" src="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4132.jpg?w=150" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" decoding="async" srcset="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4132.jpg?w=150 150w, https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4132.jpg?w=300 300w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" data-attachment-id="321" data-permalink="https://prabuwardhana.wordpress.com/2013/05/30/sanja-matsuri-di-asakusa-tokyo/img_4132/" data-orig-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4132.jpg" data-orig-size="720,480" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="IMG_4132" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4132.jpg?w=300" data-large-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4132.jpg?w=625" /></a>
<a href='https://prabuwardhana.wordpress.com/2013/05/30/sanja-matsuri-di-asakusa-tokyo/img_4148/'><img width="150" height="100" src="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4148.jpg?w=150" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" decoding="async" srcset="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4148.jpg?w=150 150w, https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4148.jpg?w=300 300w" sizes="(max-width: 150px) 100vw, 150px" data-attachment-id="323" data-permalink="https://prabuwardhana.wordpress.com/2013/05/30/sanja-matsuri-di-asakusa-tokyo/img_4148/" data-orig-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4148.jpg" data-orig-size="960,640" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="IMG_4148" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4148.jpg?w=300" data-large-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4148.jpg?w=625" /></a>
<a href='https://prabuwardhana.wordpress.com/2013/05/30/sanja-matsuri-di-asakusa-tokyo/img_4187/'><img width="100" height="150" src="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4187.jpg?w=100" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" decoding="async" srcset="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4187.jpg?w=100 100w, https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4187.jpg?w=200 200w" sizes="(max-width: 100px) 100vw, 100px" data-attachment-id="326" data-permalink="https://prabuwardhana.wordpress.com/2013/05/30/sanja-matsuri-di-asakusa-tokyo/img_4187/" data-orig-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4187.jpg" data-orig-size="480,720" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="IMG_4187" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4187.jpg?w=200" data-large-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4187.jpg?w=480" /></a>
<a href='https://prabuwardhana.wordpress.com/2013/05/30/sanja-matsuri-di-asakusa-tokyo/img_4181/'><img width="100" height="150" src="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4181.jpg?w=100" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" decoding="async" srcset="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4181.jpg?w=100 100w, https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4181.jpg?w=200 200w" sizes="(max-width: 100px) 100vw, 100px" data-attachment-id="325" data-permalink="https://prabuwardhana.wordpress.com/2013/05/30/sanja-matsuri-di-asakusa-tokyo/img_4181/" data-orig-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4181.jpg" data-orig-size="480,720" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="IMG_4181" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4181.jpg?w=200" data-large-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4181.jpg?w=480" /></a>
<a href='https://prabuwardhana.wordpress.com/2013/05/30/sanja-matsuri-di-asakusa-tokyo/img_4159/'><img width="100" height="150" src="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4159.jpg?w=100" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" decoding="async" srcset="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4159.jpg?w=100 100w, https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4159.jpg?w=200 200w" sizes="(max-width: 100px) 100vw, 100px" data-attachment-id="324" data-permalink="https://prabuwardhana.wordpress.com/2013/05/30/sanja-matsuri-di-asakusa-tokyo/img_4159/" data-orig-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4159.jpg" data-orig-size="480,720" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="IMG_4159" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4159.jpg?w=200" data-large-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4159.jpg?w=480" /></a>
<a href='https://prabuwardhana.wordpress.com/2013/05/30/sanja-matsuri-di-asakusa-tokyo/img_4206/'><img width="100" height="150" src="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4206.jpg?w=100" class="attachment-thumbnail size-thumbnail" alt="" decoding="async" srcset="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4206.jpg?w=100 100w, https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4206.jpg?w=200 200w" sizes="(max-width: 100px) 100vw, 100px" data-attachment-id="327" data-permalink="https://prabuwardhana.wordpress.com/2013/05/30/sanja-matsuri-di-asakusa-tokyo/img_4206/" data-orig-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4206.jpg" data-orig-size="480,720" data-comments-opened="1" data-image-meta="{&quot;aperture&quot;:&quot;0&quot;,&quot;credit&quot;:&quot;&quot;,&quot;camera&quot;:&quot;&quot;,&quot;caption&quot;:&quot;&quot;,&quot;created_timestamp&quot;:&quot;0&quot;,&quot;copyright&quot;:&quot;&quot;,&quot;focal_length&quot;:&quot;0&quot;,&quot;iso&quot;:&quot;0&quot;,&quot;shutter_speed&quot;:&quot;0&quot;,&quot;title&quot;:&quot;&quot;}" data-image-title="IMG_4206" data-image-description="" data-image-caption="" data-medium-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4206.jpg?w=200" data-large-file="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4206.jpg?w=480" /></a>
</p>
<p>Sesampainya di Stasiun Tokyo, saya masih harus melanjutkan perjalanan menggunakan kereta komuter Yamanote ke Stasiun Shimbashi lalu pindah menggunakan monorel Yurikamome ke Apato teman saya di Odaiba.</p>
<p>Besoknya kami bertiga, saya, Ari, dan tunangannya langsung menuju Asakusa. Ya, maksud saya datang ke Tokyo kali ini salah satunya adalah untuk melihat festival terbesar di Tokyo ini, Sanja Matsuri. Dari Odaiba kami menuju meeting point dengan teman-teman yang lain di Stasiun Uguisudani. Di sana kami bertemu dua orang teman Jepang kami Mine dan Kazutaka serta satu orang teman asal Ceko, Antonin. Dari sana kami meluncur ke Apatonya Mine dan mengganti pakaian kami dengan Yukata. Di Apatonya Mine, satu orang lagi bergabung, Daiki, dan akhirnya kami meluncur ke Kuil Asakusa untuk menyaksikan festival tersebut.<img title="gallery ids=&quot;321,322,323,324,325,326,327,328,329,330,331,332&quot;" alt="" src="https://i0.wp.com/prabuwardhana.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wpgallery/img/t.gif" /></p>
<p><span id="more-320"></span></p>
<p>Nah, Sanja Matsuri sendiri secara harfiah berarti &#8220;Festival Tiga Kuil&#8221;. San berarti tiga, Ja diambil dari Jinja yang berarti Kuil, serta Matsuri yang artinya Festival. Sanja Matsuri ini adalah salah satu festival agama Shinto terbesar yang diadakan di Tokyo. Hampir semua elemen masyarakat terlibat di sana. Dari yang masih anak-anak sampai yang lansia. Dari masyarakat biasa sampai Yakuza. Yakuza? Iya Yakuza! Dan hanya di Festival ini para Yakuza, yang biasanya tertutup dan tidak menampakkan ke-Yakuza-an mereka, menampakkan diri dan &#8220;berbaur&#8221; dengan masyarakat lainnya di festival ini.</p>
<p>Yang menjadi daya tarik dari festival ini adalah puluhan Mikoshi yang diarak keliling daerah Asakusa di Tokyo. Mikoshi itu seperti miniatur kuil Shinto. Mereka mengarak Mikoshi beramai-ramai, memutar-mutarnya dan kadang-kadang bermanuver. Beruntung saya mendapatkan kesempatan untuk ikut mengarak Mikoshi. Tapi, karena ternyata Mikoshinya berat, saya hanya bertahan beberapa meter saja. <img src="https://s0.wp.com/wp-content/mu-plugins/wpcom-smileys/twemoji/2/72x72/1f600.png" alt="😀" class="wp-smiley" style="height: 1em; max-height: 1em;" /></p>
<p>Kami menikmati rangkaian festival ini sampai sore, dan akhirnya menjelang petang kami ke Apatonya Mine untuk sekedar bercengkrama dan bermalam-mingguan dengan pesta kecil-kecilan. Banyak hal yang kami ceritakan dari masalah budaya hingga pribadi. Pukul 22.00 kami akhirnya pulang. Dan hari itu semacam hari yang cukup istimewa bagi saya. Maklum orang desa yang di tempat kerjanya hampir nggak ada pegawai ceweknya yang masih muda-muda..hehehe</p>
<p><em><strong>Photo Note</strong></em></p>
<p>Body</p>
<ul>
<li>Canon 550d</li>
</ul>
<p>Lens</p>
<ul>
<li>Sigma 18-200mm</li>
<li>Canon 85mm f1.8</li>
</ul>
<p>Others</p>
<ul>
<li>Circular-PL Filter</li>
</ul>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://prabuwardhana.wordpress.com/2013/05/30/sanja-matsuri-di-asakusa-tokyo/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
		
		<media:content medium="image" url="https://2.gravatar.com/avatar/52488189c1bcfe4c0c0ff976e57f5c7e30079b4e75ff85ec14bad0ad4f48d9d1?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G">
			<media:title type="html">prabuwardhana</media:title>
		</media:content>

		<media:content medium="image" url="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4229_fb.jpg?w=150"/>

		<media:content medium="image" url="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4224.jpg?w=150"/>

		<media:content medium="image" url="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4211.jpg?w=150"/>

		<media:content medium="image" url="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4208.jpg?w=150"/>

		<media:content medium="image" url="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4213.jpg?w=150"/>

		<media:content medium="image" url="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4136.jpg?w=150"/>

		<media:content medium="image" url="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4132.jpg?w=150"/>

		<media:content medium="image" url="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4148.jpg?w=150"/>

		<media:content medium="image" url="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4187.jpg?w=100"/>

		<media:content medium="image" url="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4181.jpg?w=100"/>

		<media:content medium="image" url="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4159.jpg?w=100"/>

		<media:content medium="image" url="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-content/uploads/2013/05/img_4206.jpg?w=100"/>

		<media:content medium="image" url="https://prabuwardhana.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wpgallery/img/t.gif">
			<media:title type="html">gallery ids="321,322,323,324,325,326,327,328,329,330,331,332"</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Etika Kepribadian VS Etika Karakter</title>
		<link>https://prabuwardhana.wordpress.com/2013/05/30/etika-kepribadian-vs-etika-karakter/</link>
					<comments>https://prabuwardhana.wordpress.com/2013/05/30/etika-kepribadian-vs-etika-karakter/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[prabuwardhana]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 May 2013 11:56:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Pengembangan Diri]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Etika Karakter]]></category>
		<category><![CDATA[Etika Kepribadian]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://prabuwardhana.wordpress.com/?p=315</guid>

					<description><![CDATA[Akhir-akhir ini saya sedang membaca sebuah buku berjudul “The 7 Habits of Highly Effective People” yang ditulis oleh Steven R. Covey.  Ya, cukup telat memang ketika baru sekarang membaca salah satu buku terlaris di dunia ini. Tapi, tiada kata terlambat,bukan? Ketika saya membaca sebuah Bab dalam buku tersebut yang menyinggung tentang “Etika kepripadian dan Etika [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Akhir-akhir ini saya sedang membaca sebuah buku berjudul “The 7 Habits of Highly Effective People” yang ditulis oleh Steven R. Covey.  Ya, cukup telat memang ketika baru sekarang membaca salah satu buku terlaris di dunia ini. Tapi, tiada kata terlambat,bukan? Ketika saya membaca sebuah Bab dalam buku tersebut yang menyinggung tentang “Etika kepripadian dan Etika karakter”, saya berhenti sejenak. Menurut saya, bagian tersebut cukup mengejutkan.</p>
<p>Di dalam buku tersebut dijelaskan bahwa banyak literatur-literatur tentang kesuksesan dalam 50 tahun terakhir (kalau tidak salah, buku tersebut ditulis tahun 2004) terlalu dangkal. Literatur-literatur tersebut diisi dengan kesadaran pencitraan social, teknik, dan cara cepat sebagai “perban sosial” dan aspirin yang digunakan untuk mengatasi masalah-masalah akut dan bahkan kadangkali terlihat sebagai pemecah masalah yang bersifat sementara, namun  membiarkan pokok-pokok masalah yang kronis tidak tersentuh lalu kemudian menjadi bernanah  dan bisa kambuh sewaktu-waktu.</p>
<p><span id="more-315"></span></p>
<p>Sebaliknya, hampir setiap literatur- literatur tentang kesuksesan dari 200 tahun yang lalu fokus terhadap apa yang disebut “Etika Karakter” sebagai pondasi dari kesuksesan. Etika Karakter adalah hal-hal semacam integritas, kerendahan hati, kesetiaan, keberanian, keadilan, kesabaran, dan lain sebagainya.</p>
<p>Namun tepat setelah Perang Dunia I, dasar pandangan terhadap kesuksesan bergeser dari Etika Karakter menjadi apa yang bisa kita sebut sebagai Etika Kepribadian. Kesuksesan menjadi lebih sekedar fungsi dari sebuah kepribadian, pencitraan publik, sikap dan perilaku, keahlian dan teknik, yang melumasi proses interaksi manusia. Etika Kepribadian pada dasarnya mengambil dua jalur: yang pertama adalah teknik interaksi/relasi antar manusia dan masyakarat, sedangkan yang kedua adalah sikap mental positif.</p>
<p>Bagian lain dari pendekatan kepribadian adalah benar-benar manipulatif, bahkan mengelabui, yaitu mendorong orang untuk menggunakan teknik-teknik tertentu agar orang lain suka kepadanya, atau memalsukan ketertarikan terhadap suatu hobi tertentu agar kita bisa mengikuti apa yang orang lain inginkan, atau menggunakan “Kekuatan Penampilan” dan atau mengintimidasi cara mereka menjalani hidup.</p>
<p>Membaca hal ini, saya jadi menyadari sesuatu. Saya telah membaca (namun sebagian besar hanya membaca sepintas) beberapa buku tentang pengembangan kepribadian seperti The Secret oleh Rhonda Byrne, How to Win Friends and Influence People oleh Dale Carnegie, Think and Grow Rich oleh Napoleon Hill, dan mungkin beberapa lainnya serta mengikuti pelatihan kepribadian. Buku-buku dan pelatihan tersebut sebagian besar menjelaskan tentang pencitraan public, sikap dan perilaku, keahlian dan teknik, yang merupakan dasar-dasar pandangan dari Etika Kepribadian. Mungkin saja, hal-hal tersebut berhasil bagi sebagian orang dan bahkan filosofi-filosofi yang mendasarinya ditulis dalam pepatah-pepatah yang menginspirasi. Bagaimanapun, seperti yang disebutkan oleh Covey di dalam bukunya, hal-hal tersebut manipulatif dan mengelabui. Dan saya sekarang setuju dengan pernyataan tersebut.</p>
<p>Akhir-akhir ini di Facebook Feed saya, beberapa teman Facebook saya yang <em>share</em> sebuah artikel tentang sistem pendidikan di Jepang. Tulisan tersebut secara garis besar adalah tentang bagaimana mereka memperlakukan murid-murid mereka, bagaimana mereka menjalankan sistem tersebut, dan bagaimana sistem pendidikan mereka melahirkan orang-orang yang berpendidikan tinggi namun kuat secara karakter. Artikel tersebut aslinya ditulis oleh Junanto Herdiawan di Kompasiana. Untuk membaca tulisan lengkapnya, bisa klik <a href="http://edukasi.kompasiana.com/2011/07/03/moral-di-sd-jepang-377536.html">di sini</a>. Tulisan ini sebenarnya mengingatkan saya pada masa-masa sekitar 20-an tahun yang lalu ketika saya bersekolah di Taman Kanak-kanak dan SD di Jerman. Oh iya! Omong-omong, setiap pagi di sini ketika saya berangkat ke kantor, saya selalu melihat sekumpulan anak-anak SD yang berjalan berombongan ke sekolah persis seperti yang saya alami dulu. OK, kembali ke topik, berbicara masalah sistem pendidikan di Jerman maupun Jepang, saya secara pribadi tidak benar-benar mengetahui bagaimana sistem tersebut dijalankan karena ketika di Jerman pun saya hanya sempat merasakan bersekolah sampai kelas 1 SD dan untuk sistem pendidikan di Jepang sendiri, saya pun buta karena meskipun saya sekarang tinggal di Jepang, namun saya tidak punya anak yang bersekolah di sini sehingga tidak bisa membuat perbandingan. Namun secara umum, apa yang saya alami ketika bersekolah di Jerman hampir mirip dengan apa yang saya baca dalam tulisan tersebut. Pengalaman saya bisa dibaca <a href="https://prabuwardhana.wordpress.com/2008/03/03/generasi-karbitan-ala-indonesia/">di sini</a>.</p>
<p>Karena saya sekarang tinggal di Jepang dan dulu sempat tinggal di Jerman juga, saya dapat merasakan perbedaan khususnya pada kehidupan sosial dan mentalitas antara orang Jepang dan orang Indonesia. Di Jepang, sepertinya mereka didik dengan berkiblat pada Etika Karakter sementara di Indonesia, Etika Kepribadian lebih menonjol di dalam sistem pendidikan kita. Saya tidak perlu menjelaskan bagaimana Etika Kepribadian sangat mendominasi sistem pendidikan kita; setiap orang saya kira telah mengalaminya dan sedang mengalaminya.</p>
<p>Well, sebagai produk dari sistem pendidikan Indonesia, kita secara nyata telah dididik oleh dominasi Etika Kepribadian. Namun, kita masih mempunyai kesempatan untuk meningkatkan karakter kita, untuk menjadi lebih baik dalam Etika Karakter, untuk Indonesia yang lebih baik.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://prabuwardhana.wordpress.com/2013/05/30/etika-kepribadian-vs-etika-karakter/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
		
		<media:content medium="image" url="https://2.gravatar.com/avatar/52488189c1bcfe4c0c0ff976e57f5c7e30079b4e75ff85ec14bad0ad4f48d9d1?s=96&amp;d=identicon&amp;r=G">
			<media:title type="html">prabuwardhana</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>