<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>Diklinko</title><description>diklinko.com - Blog membahas seputar PAI, metode pembelajaran, media pembelajaran, guru, kurikulum pendidikan, evaluasi pendidikan, penelitian pendidikan, PAUD.</description><managingEditor>noreply@blogger.com (Reza Noprial Lubis)</managingEditor><pubDate>Wed, 12 Mar 2025 15:29:22 -0700</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">31</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>https://diklinko.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>diklinko.com - Blog membahas seputar PAI, metode pembelajaran, media pembelajaran, guru, kurikulum pendidikan, evaluasi pendidikan, penelitian pendidikan, PAUD.</itunes:subtitle><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><title>Konsep Dasar Guru</title><link>https://diklinko.blogspot.com/2019/12/konsep-dasar-guru.html</link><category>Ajib</category><category>Guru</category><author>noreply@blogger.com (Reza Noprial Lubis, M.Pd)</author><pubDate>Tue, 24 Dec 2019 09:08:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8340927173110413997.post-2084073890041042615</guid><description>Guru adalah sosok yang paling penting untuk dikaji dalam lingkup pendidikan. Ini karena guru merupakan person yang dianggap menjadi pemegang peranan penting bagi keberlangsungan kegiatan belajar mengajar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keberhasilan sebuah kegiatan belajar mengajar sangat bergantung pada bagaimana sang guru itu melakukan kegiatan pembelajaran di kelasnya. Baik atau buruknya, tentu akan menggambarkan kualitas peserta didiknya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Persoalan guru, bukan lagi persoalan yang baru. Hal ini, tentu sangat sering dibahas sebagai pembukan. Tetapi, hingga kini mengenai konsep dasar guru perlu untuk senantiasa diingatkan. Ini dimaksudkan agar tidak ada penyalahan makna terhadap profesi guru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
Pengertian Guru&lt;/h2&gt;
Bila membahas tentang pengertian, tentu ini adalah bagian yang paling dasar. Untuk kata guru sendiri, sebenarnya setiap orang tentu dapat mendeskripsikan pengertian &lt;b&gt;guru&lt;/b&gt; itu. Namun, beberapa ahli telah mengemukakan pendapat mekeka tentang pengertian guru ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Sifat-Sifat Guru Dalam Mengajar</title><link>https://diklinko.blogspot.com/2019/12/sifat-guru.html</link><author>noreply@blogger.com (Reza Noprial Lubis, M.Pd)</author><pubDate>Sat, 21 Dec 2019 10:12:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8340927173110413997.post-3630755141618556006</guid><description>Guru merupakan bagian terpenting dalam keberlangsungan kegiatan belajar mengajar di sekolah. Oleh karena itu, sifat guru dalam mengajar merupakan hal yang penting untuk ditelaah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa saja sifat guru yang perlu untuk diketahui dan diterapkan itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sifat guru dalam pembahasan ini dimaksudkan tentang kebiasaan yang diterapkan guru di kelas. Beberapa diantaranya merupakan bagian penting, dan bahkan ada juga yang sebaiknya dihindarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
Sifat Guru Sabar&lt;/h2&gt;
Kegiatan belajar mengajar itu tidak hanya berbicara persoalan waktu yang singkat. Melainkan, ada banyak waktu yang dibutuhkan untuk melihat ketercapaian pembelajaran itu. Berhasil atau tidaknya, tentu menjadi patokan inti dalam hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, sifat sabar bagi seorang guru tentu sangatlah diperlukan adanya. Bagaimana tidak, bilamana seorang guru itu tidak memiliki sabar dalam dirinya, tentu saja hal ini akan berdampak buruk bagi kegiatan belajar mengajar yang dilakukannya di kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sifat Sabar pada dasarnya tidak ada batasan. Manusialah yang membuat batasan itu sendiri. Terkadang, dalam lingkungan kehidupan bermasyarakat sering sekali terdengar istilah:&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
Kesabaran itu ada batasnya.&lt;/blockquote&gt;
&lt;br /&gt;
Padahal, bila ditelaah lebih dalam dan mendasar, bahwa sifat sabar itu tiada batasan utuknya. Inilah yang menjadi ancaman tersendiri bagi pribadi seorang guru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walau kata sabar tidak tercantum secara gamblang dalam struktur kompetensi guru yang diuraikan dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, dirasa hal itu sudah &lt;i&gt;include&lt;/i&gt; (termasuk) di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru itu perlu sabar. Mengapa? Karena pembelajaran itu tidak instan. Tidak ada istilah instan bagi kegiatan belajar mengajar.&amp;nbsp; Diperlukan struktur turunan yang logis dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Andai saja belajar adalah kegiatan yang instan, tentulah tidak membutuhkan waktu yang cukup lama hingga bertahun-tahun, atau melewati tiap-tiap semester untuk mencapai tujuan tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sifat sabar perlu dihadirkan bagi setiap pendidik atau guru. Karena pembelajaran itu tidak instan, maka sifat sabar ini juga harus senantiasa diterapkan dalam setiap kegiatan guru. Guru seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, diartikan sebagai orang yang digugu dan ditiru. Oleh sebab itu, sabar harus tetap diterapkan karena guru dipantau oleh peserta didiknya untuk ditiru oleh mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana bila guru berlaku sembrono dan tidak sabar? Hal inilah yang akan mengantarkan pada peserta didik yang tidak sabar juga. Mereka, akan melihat aktivitas guru mereka, apapun itu, termasuk kesabaran seorang guru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkadang, untuk persoalan pribadi, peserta didik itu tidak akan menerapkannya langsung. Tetapi, akan terlihat di masa mendatang. Kelak peserta didik itu sudah dewasa, ia akan menerapkan apa yang ia dapatkan saat duduk dibangku sekolah dulu. Bila ini berlangsung baik, maka inilah sosok guru yang didambakan.</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Teori Belajar Menurut Robert Gagne</title><link>https://diklinko.blogspot.com/2019/12/belajar-menurut-robert-gagne.html</link><category>Teori-Belajar</category><author>noreply@blogger.com (Reza Noprial Lubis, M.Pd)</author><pubDate>Sat, 14 Dec 2019 21:17:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8340927173110413997.post-1235726652759826092</guid><description>Menurut &lt;strong&gt;Robert Gagne&lt;/strong&gt;, belajar digambarkan sebagai stimulus dan respon. Stimulus adalah bagian terluar dari individu (belajar) dan respon adalah bagian praktik dari individu itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Stimulus dalam belajar disini bersifat input atau situasi dalam kegiatan belajar individu. Sementara respon, dapat diistilahkan sebagai output dari individu yang dapat diamati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada delapan type belajar yang diterangkan menurut Robert Gagne. Kedelapan type tersebut adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Signal Learning (belajar isyarat)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Stimulus-response (belajar stimulus-respon)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Chaining (belajar rantai atau rangkaian)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Verbal association (belajar asosiasi verbal)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Descrimination Learning (belajar diskriminasi)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Concept learning (belajar konsep)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Rule learning (belajar aturan)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Problem Solving (memecahkan masalah)&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;
Mari kita lihat penjelasannya satu per satu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;Signal Learning (belajar isyarat) Menurut Robert Gagne&lt;/h2&gt;Signal Learning (Belajar isyarat) menurut Robert Gagne dimaksudkan untuk sebuah isyarat tertentu. Dalam sisi lain, ini terjadi berdasarkan pengalaman. Hal ini mirip dengan conditioning atau kondisi tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Respon dari stimulus yang ada juga beragam, seperti kabur dan umumnya bersifat emosional. Hal ini timbul dengan tidak disengaja dan tidak dapat dikuasai oleh individu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai contoh: aba-aba "Siap Grak..!!" Merupakan sebuah isyarat untuk mengambil tindakan tertentu. Umumnya, bila ucapan itu dilontarkan, maka individu akan mengambil sikap tertentu dengan bersiap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam contoh lain juga seperti: Melihat ular yang besar, akan menimbulkan rasa jijik. Melihat ular adalah isyarat yang menimbulkan perasaan tertentu (jijik).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;Gejala Belajarnya&lt;/h3&gt;Pavlov mengadakan percobaan terhadap anjing. Lonceng dibunyikan dan makanan anjing itu diberikan. Maka, air liurnya pun turut keluar. Begitu dilakukan hingga beberapa kali. Pada kondisi selanjutnya, lonceng dibunyikan, maka air liur anjing itu juga keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keluarnya air liur anjing tersebut, diistilahkan sebagai &lt;i&gt;unconditioned reflex&lt;/i&gt; (refleks yang tidak dapat dikondisikan, atau sesuatu yang wajar). Sementara bunyi lonceng diistilahkan sebagai &lt;i&gt;conditioned stumulus&lt;/i&gt;, adalah signal atau isyarat yang menyebabkan air liur anjing itu keluar (&lt;i&gt;conditioned reflex&lt;/i&gt;).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Percobaan lain juga dilakukan terhadap manusia. Percobaan itu seperti meniupkan angin ke dalam mata manusia. Bila ini dilakukan, biasanya seseorang itu akan mengedipkan matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada prakteknya, misalnya dibunyikan lonceng, lalu kemudian dihembuskan angin ke dalam matanya. Maka seseorang itu akan mengedipkan matanya. Hal ini terjadi karena antisipasi terhadap sesuatu yang pernah dialami dengan stimulus yang sama. Jadi, karena antisipasi itu ia mengedipkan matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengedipkan mata pada dasarnya dibagikan menjadi dua bagian, yaitu sebagai antisipasi, dan refleks.&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator;responsive;" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img alt="gejala-belajar-signal-learning-teori-gagne" border="0" data-original-height="768" data-original-width="1024" height="480" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi65_00Vv6LZqUnlop9HccEQR113D60dnKOlKlhifzBsOVeIVZf2nSeEb_eJXiWajLxmPzDe4OqSvyXRtR7wTC6Qjwi3UAbIjcIzJIuESsGOfYX49ZWcaVSaGzKVH7Gf_b8uqRVSD0rTNAc/s640/gejala-belajar-signal-learning-teori-gagne.png" title="Gambar tentang gejala belajar signal learning teori gagne" width="640" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Mengedipkan mata sebagai &lt;i&gt;unconditioned response&lt;/i&gt; (antisipasi) biasanya lebih cepat berlangsung, yakni 0.5-0.10 detik, sedangkan &lt;i&gt;conditioned refleks&lt;/i&gt; antara 0.25-0.50 detik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;Kondisi Belajarnya&lt;/h3&gt;Kondisi belajar dalam belajar isyarat ini terdapat dalam diri individu maupun dalam situasinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Isyarat dan &lt;i&gt;unconditioned stimulus&lt;/i&gt; harus diberikan pada saat yang sama, atau hampir bersamaan, dengan interval antara 0 dan 1.5 detik dan sebaiknya sekitar 0.5 detik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img alt="kondisi-belajar-signal-learning-gagne" border="0" data-original-height="477" data-original-width="915" height="332" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEioDR9Gnr-WLvxRXVRN1-pwO8IE9BoUO6I6V7MjUiu8BOGFd46uQOLjarRsG3VxJ9GkhN-oCmtgMwzDNEPXDk9xfWUUVizZZxSNVJGvihZB9JWl6VHbPa6OunnaGBLtNUTs9enPxyX9xKHg/s640/kondisi-belajar-signal-learning-gagne.jpg" title="Gambar tentang kondisi belajar signal learning gagne" width="640" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Kedua stimulus itu harus diulangi. Jumlahnya bergantung pada responsnya.</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi65_00Vv6LZqUnlop9HccEQR113D60dnKOlKlhifzBsOVeIVZf2nSeEb_eJXiWajLxmPzDe4OqSvyXRtR7wTC6Qjwi3UAbIjcIzJIuESsGOfYX49ZWcaVSaGzKVH7Gf_b8uqRVSD0rTNAc/s72-c/gejala-belajar-signal-learning-teori-gagne.png" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Kepribadian Guru Yang Mantap Dan Stabil</title><link>https://diklinko.blogspot.com/2019/12/kepribadian-guru-mantap-stabil.html</link><category>Kompetensi-Kepribadian</category><author>noreply@blogger.com (Reza Noprial Lubis, M.Pd)</author><pubDate>Sat, 7 Dec 2019 21:37:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8340927173110413997.post-7986506724407997883</guid><description>&lt;strong&gt;Kepribadian guru yang mantap dan stabil&lt;/strong&gt; ini merupakan salah satu indikator kompetensi kepribadian guru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang dimaksud dengan kepribadian yang mantap dan stabil itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img alt="kepribadian-mantap-stabil" border="0" data-original-height="360" data-original-width="640" height="360" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjQM6__GD-IMVq6Z5XFSG_LJx6K7lnjObDWFTLAcGQo8QT-Ij3MB8D0l5FKO3nK1ufkrq-U4iXBpuLheMUgO22SQiM5qwSkaz-Q1AE8VGvYP0z_dCYCbP6dfz7wN7htECXaERSWtVMKi6Oc/s640/kepribadian-mantap-stabil.jpg" title="Gambar tentang kepribadian mantap stabil" width="640" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Dalam tulisan ini, akan dijelaskan mengenai kepribadian mantap dan stabil yang dimaksudkan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ikuti tulisan ini hingga usai.&lt;br /&gt;
&lt;div class="bd-hijau"&gt;&lt;hr class="hijau" /&gt;&lt;h2&gt;Defenisi &lt;strong&gt;Kepribadian Guru&lt;/strong&gt; Yang Mantap Dan Stabil&lt;/h2&gt;&lt;br /&gt;
Sebenarnya, apa yang dimaksud kepribadian yang mantap dan stabil itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada kalimat ini, sebenarnya bukanlah merupakan kalimat yang tabu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian dari kita tentu memiliki makna sendiri dalam mendefenisikan hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, secara lebih spesifik, ada hal yang terkandung di dalamnya, yaitu tentang kepribadian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk hal yang umum, mungkin kata "mantap" atau "stabil" ini dapat didefenisikan dalam berbagai arti dengan disesuaikan kondisi yang ada padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, untuk hal kepribadian terkadang sedikit membingungkan.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Pribadi Mantap&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata "&lt;strong&gt;mantap&lt;/strong&gt;" yang dalam bahasa Inggris disebut "&lt;i&gt;steady&lt;/i&gt;" dalam KBBI Online berarti tetap hati, kukuh, tetap, tidak berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara kata &lt;a href="https://kbbi.web.id/stabil" target="_blank"&gt;stabil&lt;/a&gt; memiliki arti tetap, tidak goyang, tetap jalannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini memberi arti bahwa mantap dan stabil memiliki defenisi yang hampir serupa, seperti tetap, kukuh hati, dan kuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian kepribadian yang bersumber dari asal kata pribadi, memiliki arti tentang diri sendiri, atau manusia sebagai perseorangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, berdasarkan defenisi di atas, dapatlah dipahami bahwa kepribadian yang mantap dan stabil itu berarti pribadi yang memiliki jiwa yang teguh, tidak mudah goyah, dan tetap hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru itu dituntut untuk bekerja secara teratur dan konsisten dalam menjalankan tugas keprofesiannya sebagai guru. Hal ini perlu didukung dengan pribadi yang mantap dan stabil itu sendiri. Dengan adanya pribadi mantap dalam dirinya, maka pekerjaan keprofesiannya itu akan senantiasa dilaksanakan secara kontinue atau berkelanjutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;hr class="hijau" /&gt;&lt;h2&gt;Indikator Kepribadian Guru Yang Mantap dan Stabil&lt;/h2&gt;&lt;br /&gt;
Kunandar&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt; menyebutkan bahwa dalam kepribadian guru yang mantap dan stabil ini, terdapat dua indikator, yaitu:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Bertindak sesuai dengan norma hukum&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bertindak sesuai dengan norma sosial&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bangga sebagai guru&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Memiliki konsisteni dalam bertindak sebagai norma&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;
Adapun indikator di atas, akan dijelaskan pada bagian di bawah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;strong&gt;Bertindak sesuai dengan norma hukum&lt;/strong&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Bertindak sesuai dengan norma yang berlaku merupakan hal yang diwajibkan bagi setiap warga negara Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana tidak, seluruhnya itu telah diatur dalam Undang-undang yang berlaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bertindak sesuai dengan norma hukum akan memberikan dampak positif bagi setiap warga negara, terlebih bagi seorang guru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walau demikian, ini merupakan hal yang perlu senantiasa diingat oleh para guru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Belakangan ini, terlihat cukup banyak sekali kasus yang terjadi pada seorang guru, dimana guru tersebutlah yang melakukan tindak kejahatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai contoh, terdapat sebuah informasi bahwa &lt;a href="https://www.tribunnews.com/internasional/2019/09/16/guru-bimbel-perkosa-murid-285-kali-selama-hampir-2-tahun-modal-janji-nikah-jaminan-lulus-sekolah" target="_blank"&gt;guru telah memperkosa muridnya&lt;/a&gt; dengan janji nikah dan lulus sekolah yang diberitakan melalui laman tribunnews.com.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berita ini cukup menghebohkan dalam kalangan pendidik, dan juga khalayak umum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berita di atas, memberikan gambaran bahwa bertindak sesuai dengan norma perlu senantiasa diperingatkan oleh para pendidik. Hal ini, merupakan bagian yang dinilai dalam kepribadian guru itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa bila guru mampu bertindak sesuai dengan norma hukum yang berlaku, maka pribadinya akan dinilai baik untuk bagian ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, masih terdapat bagian lain yang harus dipenuhi untuk memiliki kepribadian yang mantap dan sbatil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;strong&gt;Bertindak Sesuai Norma Sosial&lt;/strong&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Normal sosial itu berkaitan dengan kemasyarakatan. Kata norma berarti aturan. Jadi, norma sosial itu dapat diartikan sebagai aturan dalam bertindak sesamanya dalam pergaulan di masyarakat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umumnya, norma sosial ini dicontohkan seperti kesopanan atau kesusilaan. Untuk hukumannya sendiri, biasanya bersifat kemasyarakatan, seperti dikucilkan dalam lingkungan masyarakat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini perlu menjadi perhatian bagi setiap pendidik. Norma sosial dalam kemasyarakatan tentu perlu dijaga. Ini merupakan pembahasan seputar marwah guru, dimana guru itu perlu memperhatikan etika dan perbautannya dimasyarakat. Karena pada dasarnya, guru adalah sosok yang digugu dan ditiru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;strong&gt;Bangga Sebagai Guru&lt;/strong&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Adakah guru yang tidak bangga terhadap profesinya? Terlepas dari keadaan ekonomi atau finansial guru, hal ini perlu ditanamkan dalam diri seorang guru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bangga akan profesinya sebagai guru merupakan bagian dari guru yang mantap dan stabil. Menjadi seorang guru itu perlu bangga. Tidak hanya sebagai guru, pada profesi lainnya juga demikian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini berkaitan tentang guru panggilan jiwa. Mencintai profesinya akan membuatnya bangga sebagai guru. Hal ini tercermin dalam kesehariannya di lingkungan masyarakat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai contoh, bila ditanya orang sekitar tentang profesinya, ia akan menjawab "saya seorang guru".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;strong&gt;Memiliki Konsistensi Bertindak Sesuai Norma&lt;/strong&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Norma menjadi salah satu hal yang harus diterapkan dalam kegiatan bermasyarakat. Guru, perlu memiliki konsistensi untuk bertindak sesuai norma yang ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini sebenarnya melanjut dari poin satu (1) yang telah diuraikan di atas. Setelah sang guru mematuhi norma yang berlaku, hendaknya hal itu dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini akan memberi nilai plus bagi seorang guru. Guru sebagai sosok yang digugu dan ditiru, merupakan contoh teladan bagi setiap orang dalam lingkungannya. Oleh karena itu, jangan sampai guru tersebut melanggar norma yang berlaku, baik itu aturan bernegara, maupun aturan adat atau kebiasaan suatu masyarakat tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konsistenlah dalam bertindak atau berbuat, ikuti aturan dan norma yang berlaku. Maka hal ini akan memberi nilai baik bagi pribadi guru itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;hr class="hijau" /&gt;&lt;h2&gt;Referensi&lt;/h2&gt;&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;Kunandar, 2009. Guru Profesional, Jakarta: Rajawali Pers. h. 75.</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjQM6__GD-IMVq6Z5XFSG_LJx6K7lnjObDWFTLAcGQo8QT-Ij3MB8D0l5FKO3nK1ufkrq-U4iXBpuLheMUgO22SQiM5qwSkaz-Q1AE8VGvYP0z_dCYCbP6dfz7wN7htECXaERSWtVMKi6Oc/s72-c/kepribadian-mantap-stabil.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Tantangan Guru di Era Digital: Aman Atau Bahaya?</title><link>https://diklinko.blogspot.com/2019/12/tantangan-guru-era-digital.html</link><category>Tantangan-Guru</category><author>noreply@blogger.com (Reza Noprial Lubis, M.Pd)</author><pubDate>Tue, 3 Dec 2019 22:01:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8340927173110413997.post-4046353751703286992</guid><description>Era digital ditandai dengan maraknya teknologi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, apa saja yang menjadi &lt;strong&gt;&lt;b&gt;tantangan guru di era&lt;/b&gt;&lt;/strong&gt; digital ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam tulisan ini, saya akan membagikan beberapa informasi dan apa saja &lt;a href="https://www.diklinko.com/2019/12/tantangan-guru-era-digital.html"&gt;tangangan yang dihadapi guru di era digital&lt;/a&gt; ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya diklinko, mari ikuti penjelasan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;hr class="hijau" /&gt;
&lt;br /&gt;
Era digital dilambangkan dengan betapa maraknya penggunaan teknologi di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap hari, tiap jam, tiap menit, teknologi kian berkembang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perkembangan itupun menghadirkan berbagai alat teknologi yang semakin canggih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukti dari canggihnya teknologi yang ada semakin mempersempit gerakan manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misalnya, dalam hal berkomunikasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang lebih mudah dalam menggunakan teknologi tanpa harus bertemu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini juga merembet kepada para peserta didik di lembaga sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini tentu menjadi perhatian tersendiri, terutama bagi seorang guru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lantas, apa tantangan guru di era digital ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;hr class="hijau" /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
Tantangan Penggunaan Ponsel&lt;/h2&gt;
Tidak diragukan lagi, bahwa ponsel memang dapat memberikan hal positif terhadap kehidupan manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini, dapat membantu siswa dalam berkomunikasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Era digital ini, penggunaan ponsel merupakan hal yang sudah biasa dan setiap orang dewasa, akan memilikinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Berapa banyak pengguna ponsel di Indonesia?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a href="https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2017/08/29/pengguna-ponsel-indonesia-mencapai-142-dari-populasi" target="_blank"&gt;Pengguna ponsel di Indonesia&lt;/a&gt; yang terdaftar, mencapai angka 371,4 juta dari jumlah populasi sebesar 262 juta jiwa untuk tahun 2017.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;img alt="pengguna-ponsel-di-indonesia" border="0" data-original-height="322" data-original-width="640" height="322" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgVWQ31iyUknfRyiUcSFkO9U3IPLJPst2aPn_npFfs6G6xBy85Hv1W5MT83tTub_jPszHeRk-A9gAErYT_LLQUI6ytXiQa8kOCSkcRozYRtonGBI8A8KT7A-ReAkuHZXV8EHVqEUlLqfKOn/s640/pengguna-ponsel-di-indonesia.jpg" title="Gambar tentang pengguna ponsel di indonesia guru di era digital" width="640" /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Ini angka yang melebihi dari populasi Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artinya, dalam setiap orang diperkirakan memiliki 1,4 telepon seluler.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini karena terkadang, setiap orang menggunakan lebih dari 1 buah kartu ponsel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan siswa di seluruh Indonesia dalam tahun ajaran 2017/2018 berkisar di angka 45,9 juta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini berdasarkan rincian dari tiap-tiap jenjang, yakni SMA sebanyak 4,8 juta, SMK sebesar 4,9 juta, SMP sebesar 10,1 juta, dan sekolah dasar (SD) di angka 25,5 juta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;img alt="jumlah-siswa-di-indonesia" border="0" data-original-height="299" data-original-width="640" height="298" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjdfH3TSQoVwUFHMD5gJ31JLj35jf1QqFxKT2m5SHFEvDjKO33ASfVVmkBXVNv-0O3IR8q5MrCJSixzulQZcyO6-G2IBG_uoE_8w27GkC2RqJWFXmW3gf5cvEDhcxbSJs8Bq9amn2wNvI75/s640/jumlah-siswa-di-indonesia.jpg" title="Gambar tentang jumlah siswa di indonesia guru era digital" width="640" /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak terbayangkan, bila seluruh siswa ini memiliki ponsel dalam kesehariannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, ini nyatanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkadang, diberbagai tempat ditemui siswa yang menggunakan ponsel mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Data ini sebagai gambaran, betapa maraknya penggunaan ponsel, termasuk bagi para peserta didik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah tantangan bagi seorang guru dalam mengajar mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Apa yang dapat dilakukan guru?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Ide yang bagus bila melarang melarang siswa menggunakan ponsel selama berada sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti yang diberitakan melalui laman kompasiana.com, Gubernur NTB akan &lt;a href="https://www.kompasiana.com/deddyutopis/58e7ecf98023bdcc354a8d41/melarang-atau-mendukung-penggunaan-hp-di-sekolah" target="_blank"&gt;melarang penggunaan HP&lt;/a&gt; bagi siswa sejak tahun 2017.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;img alt="tantangan-guru-larangan-penggunaan-ponsel-siswa" border="0" data-original-height="360" data-original-width="640" height="360" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgaE2-j0_zky9HJS_wHkweELdHjbDSjpgJEIk6oeBchDX2AxJFpVNwfpjQKld_N7JSDA07TquwPH4H4ok6ewaLNz2kSe_NnZrmej_FWko-_CoEteUwu8mSa29OvbQju7Jff15VFhMTStsNk/s640/tantangan-guru-larangan-penggunaan-ponsel-siswa.jpg" title="Gambar tentang tantangan guru larangan penggunaan ponsel siswa guru era digital" width="640" /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi menariknya, dalam berita di atas dijelaskan bahwa akan disediakan telepon agar siswa tetap dapat terhubung dengan orangtuanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini merupakan opini yang brilian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini akan mengurangi berbagai kekhawatiran terhadap penggunaan HP bagi siswa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin dapat dijadikan sebagai bahan referensi atau bahkan diterapkan juga di daerah-daerah lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;hr class="hijau" /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
Tantangan Terhadap Penggunaan Sosial Media&lt;/h2&gt;
Siapa sangka, penggunaan sosial media begitu ramai di Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Data terbaru yang ditemui, yaitu tahun 2019, didapati jumlah pengguna sosial media di Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila pada gambar sebelumnya (2017) hanya mencatat angka di 105 juta jiwa pengguna social media, pada tahun 2019 jumlahnya berkembang pesat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;img alt="pengguna-social-media-indonesia" border="0" data-original-height="312" data-original-width="640" height="312" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh3qlVgpaqh6yrUsD75tvKXpv2V-sGUQou-TYLX-PQJk1Id5v3XoQHvKhJiRV1d2cRdDxjcX4ExvBjJxagHFT_ovUGbFt6fQW5ZfOmZBUqJwtPZr2EuROGPJRGX_6-ZdiYZh86_HvsLNnUH/s640/pengguna-social-media-indonesia.jpg" title="Gambar tentang pengguna social media indonesia guru era digital" width="640" /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Data ini memperlihatkan bahwa semakin berkembangnya teknologi, turut berkembang pula penggunaan sosial media.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada dasarnya, perkembangan ini dinilai baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun terkadang, terdapat sisi dimana penggunaan sosial media ini dianggap hal yang mengkhawatirkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai contoh, sebuah kasus yang dimuat dalam laman berita dari merdeka.com, yang memberitakan bahwa &lt;a href="https://www.merdeka.com/peristiwa/berawal-kenalan-di-medsos-para-abg-ini-jadi-korban-pemerkosaan.html" target="_blank"&gt;remaja 14 tahun diperkosa&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;img alt="pemerkosaan-melalui-sosial-media" border="0" data-original-height="360" data-original-width="640" height="360" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgJ_MJH7asPFoisrdfhmGVmtibLHahx9hTX1208XtlcU1FaUSt3s96vLOXQwo_JL4m9mMRZw0aqGQfJv56DvdYOcDsrqi4G96kxIdSWrg1AZO0rgd7jQt_2GcEyR3cyuI-MEqcUJkNqK2P-/s640/pemerkosaan-melalui-sosial-media.jpg" title="Gambar tentang pemerkosaan melalui sosial media guru era digital" width="640" /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Berita ini dipublikasikan pada Selasa, 10 November 2015 dengan Reporter Desi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam beritanya, dijelaskan bahwa remaja putri yang berusia 14 tahun diperkosa oleh kenalan barunya yang sebelumnya berkenalan melalui sosial media.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sangatlah menyedihkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Berapa banyak pengguna sosial media berdasarkan usia?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Keadaan di atas, memiliki relefansi dengan usia pengguna sosial media.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lihatlah data berikut ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;img alt="penggunaan-digital-siswa-tantangan-bagi-guru-digital" border="0" data-original-height="360" data-original-width="640" height="360" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiFlch2UDrbGPO6W-JSel2my_ZUGWTGJhQDumy12hzaE2zte65x66S3ukp5FYwH_GfOfNgRBr3X9snvAYIVk8uG5MBCqa_NLGMLZSq3KorEDWBbS6XhI30oBBn5gTE4UkjAbxbEwEnJl_lh/s640/penggunaan-digital-siswa-tantangan-bagi-guru-digital.jpg" title="Gambar tentang penggunaan digital siswa tantangan bagi guru digital" width="640" /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Ini memberikan gambaran bahwa setengah dari seluruh &lt;a href="https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2018/02/23/usia-produktif-mendominasi-pengguna-internet" target="_blank"&gt;pengguna sosial media&lt;/a&gt; diperankan oleh usia 19-34 tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Angka ini merupakan hitungan rata-rata yang bersumber dari databoks.katadata.co.id.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keadaan ini semakin memperkuat anggapan bahwa peran guru sangat penting dalam menyeimbangkan penggunaan sosial media siswa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disinilah yang menjadi letak tantangan guru di Era digital ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maraknya penggunaan sosial media bagi para peserta didik ini, semakin mengharuskan guru untuk lebih ekstra memperhatikan aktivitas siswa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disamping itu, dirasa perlu diberikan pengarahan yang lebih jelas terhadap peserta didik agar lebih berhati-hati dalam menggunakan sosial media.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Lalu, apa yang harus dilakukan guru?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Dirasa, Ini tidak terbatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kreatifitas yang tinggi sangat diharapkan hadir dalam diri seorang guru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk permasalahan ini, diperlukan sebuah pendekatan yang berbeda bagi para peserta didik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai solusi, dapat juga memperhatikan tentang pendekatan saintifik di sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan aktifnya siswa dalam kegiatan &lt;a href="https://www.diklinko.com/2019/05/pengertian-belajar-menurut-para-ahli.html" target="_blank"&gt;belajar&lt;/a&gt; mereka, tentunya akan lebih memperbaiki minat belajar mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, tidak hanya terbatas pada hal ini saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;hr class="hijau" /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
Tantangan Terhadap Penggunaan Internet&lt;/h2&gt;
Kebanyakan orang, lebih menyukai internet sebagai tempat untuk mereka bertanya sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari kita ambil sebuah contoh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya pernah mencari tahu tentang seberapa banyak orang mencari "kerajaan Islam di Indonesia".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini ada dalam pelajaran para siswa di sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hasilnya, mengejutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;img alt="pencarian-siswa-di-internet" border="0" data-original-height="807" data-original-width="1600" height="322" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhX4TspjAViciVXHCWHfUjsaGRs3erNXhjIn-9DBxxxAyQ-OC4vOyt5bZuD_A7wtYJrT5H-jfG42bD_RXqZBXrbfgYGUWXZ9FE3fS_2HQ6ZI6AlRNEJpW69ARFDknkFY35W0sXygIGMdMz8/s640/pencarian-siswa-di-internet.jpg" title="Gambar tentang pencarian siswa di internet guru era digital" width="640" /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk sebuah kata kunci tentang &lt;a href="https://app.neilpatel.com/en/ubersuggest/overview?lang=id&amp;amp;locId=2360&amp;amp;keyword=kerajaan+islam+di+indonesia" target="_blank"&gt;kerajaan Islam di Indonesia&lt;/a&gt;, ternyata memiliki nilai pencarian yang tinggi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam satu bulan, kata kunci itu menghasilkan 12.000 pencarian di Google SERP.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Data ini diambil dari layanan Neil Patel, salah satu Pakar SEO yang berasal dari London).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini angka yang luar biasa (dalam kurun waktu satu bulan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hasil ini, memberi arti bahwa siswa juga cenderung mencari sesuatu di Internet global.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, internet adalah wadah yang sangat terbuka bagi para peserta didik itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila tidak dikondisikan dengan baik, hal ini justru akan membawa dampak buruk bagi para peserta didik itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, ini menjadi tantangan tersendiri bagi seorang guru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Bagaimana guru dapat mengkondisikannya?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Lagi-lagi, ini bukanlah perkara yang tetap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada hal yang pasti disini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentunya, hal ini mengharapkan kreatifitas guru dalam menggiring opini siswa untuk mengandalkan pikirannya dalam belajar, dan menghilangkan sifat instan dalam dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Internet, adalah sesuatu yang instan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang akan menemukan hal yang dicarinya hanya dengan menuliskan di Internet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembelajaranlah yang perlu ditingkatkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Desain pembelajaran yang aktif dan jauh dari rasa membosankan, tentunya akan membuat tantangan tersendiri bagi para peserta didik untuk mengikuti kegiatan belajar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini akan mendatangkan nilai baru bagi para peserta didik itu untuk lebih mengedepankan proses berpikir mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Solusi lain:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Mengedepankan referensi yang berasal dari buku disetiap tugas mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah ide yang bagus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengenalkan dan membelajarkan siswa untuk ke perpustakaan adalah langkah yang tepat untuk meminimalisir penggunaan internet bagi para siswa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlepas dari bagaimana kondisi perpustakaan yang ada, tetap saja perpustakaan adalah gudang ilmu yang objektif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru, dapat meluangkan waktu untuk mengajak siswa untuk belajar disana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak dapat dipungkiri, teknologi memang pada dasarnya senantiasa berkembang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu menyesuaikan dengan kebutuhan manusia yang belakangan ingin yang serba instan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang perlu dilakukan adalah, mengkondisikannya agar ditempatkan pada tempatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, apapun usaha itu, tentu tidak terlepas dari peran orangtua sebagai pilar utama dalam perkembangan siswa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peranan baik dari guru di sekolah, tidak akan bernilai bilamana tidak sejalan dengan para orangtua siswa di rumah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah mengapa setiap lembaga sekolah memerlukan kerjasama dengan para orangtua siswa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana dengan kondisi siswa di tempat anda bertugas?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adakah sesuatu yang baru?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beritahu saya tentang itu, dan tuliskan dalam kolom komentar.</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgVWQ31iyUknfRyiUcSFkO9U3IPLJPst2aPn_npFfs6G6xBy85Hv1W5MT83tTub_jPszHeRk-A9gAErYT_LLQUI6ytXiQa8kOCSkcRozYRtonGBI8A8KT7A-ReAkuHZXV8EHVqEUlLqfKOn/s72-c/pengguna-ponsel-di-indonesia.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Cara Menghadapi Siswa Yang Pendiam</title><link>https://diklinko.blogspot.com/2019/11/cara-menghadapi-siswa-pendiam.html</link><author>noreply@blogger.com (Reza Noprial Lubis, M.Pd)</author><pubDate>Mon, 25 Nov 2019 21:13:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8340927173110413997.post-6489831362323070516</guid><description>Saya pikir, anda juga pernah menemukan siswa yang pendiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah itu hal yang baik, atau justru hal yang buruk?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Singkatnya: Jika Anda ingin menegtahui tentang cara menghadapi siswa yang pendiam, anda akan menyukai cara ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari kita mulai.&lt;br /&gt;
&lt;hr class="hijau" /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;Sifat Pendiam&lt;/h2&gt;Tahukah anda tentang &lt;span class="underline"&gt;sifat pendiam&lt;/span&gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika anda melihat di KBBI Online, kata berasal dari kata &lt;a href="https://kbbi.web.id/diam" target="_blank"&gt;diam&lt;/a&gt;, yang berarti tidak bersuara (diam).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Defenisi ini sangatlah sederhana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya tahu, bahwa anda sudah lebih dulu memahaminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, benarkah ini hanya sebuah sifat?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau hanya kelakuan yang disengaja saja?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya menemukan jawaban tentang hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya sependapat dengan apa yang dijelaskan dalam halaman quora.com&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka menjelaskan tentang &lt;a href="https://id.quora.com/Apakah-pendiam-merupakan-sifat-bawaan-atau-pilihan" target="_blank"&gt;&lt;span class="underline"&gt;sifat pendiam&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; dan mendapat jawaban atas pertanyaan yang sebelumnya saya tanyakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam halamannya, saya memetik satu buah poin, yaitu:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;Pendiam itu belum tentu introver, sedangkan introvert sudah pasti pendiam.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;
Ini ide yang bagus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Intinya, sifat pendiam yang dimiliki seseorang perlu dianalisa, apakah itu melekat dalam dirinya, atau dapat dirubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu poinnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selanjutnya, bagaimana bila pendiam itu terdapat dalam diri siswa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;Siswa Pendiam&lt;/h2&gt;Siswa akan lebih bermanfaat bila ia tidak berdiam saja di dalam kelasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya pikir, itu yang ada dipikiran masing-masing guru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru, tentunya mengharapkan siswanya untuk lebih dapat mengungkapkan hasil pikirannya demi kebaikan dalam proses belajarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, ini benar-benar fakta yang terjadi di lapangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan, pada setiap sekolah, mungkin mengalami hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal itu adalah wajar, karena pada dasarnya tiap-tiap manusia memiliki sifat dan kepribadian yang berbeda-beda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;Jadi, bagaimana dengan siswa yang pendiam?&lt;/h3&gt;Itu bukanlah pilihan terbaik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejatinya, siswa harus benar-benar aktif dalam kegiatan belajarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disinilah guru mengambil peran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa itu dikatakan bukan pilihan terbaik?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam dunia pendidikan, ada dua term yang paling sering dikenalkan, yaitu stimulis dan respon.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img alt="stimulus-respon" border="0" data-original-height="246" data-original-width="640" height="246" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjQ5k9grnd6rO7hl-tWjh_y6v7vQfyXlQpUVrR9rHpElCorfbtjeXSS7P-HX_CZbc2yqezwKzCmotHCk0xEDbFHgESBFjrzEUBY_v-ZGETL-3a-8LGtB7hGISSqBt4V1dRElUNr-0t_ZSEx/s640/stimulus-respon.webp" title="Gambar stimulus dan respon siswa pendiam" width="640" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Dalam kegiatan belajar mengajar, tentu ada &lt;b&gt;stimulus&lt;/b&gt; dan &lt;b&gt;respon&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disini tidak akan dijelaskan lebih dalam lagi tentang istilah keduanya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin anda sebagai guru sudah mengetahui lebih dalam tentang hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keduanya itu adalah kegiatan yang umumnya terjadi dalam sebuah kelas saat belajar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sangatlah penting.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat guru berada di depan kelas dan menjelaskan pelajarannya, siswa berada pada posisi diam dan mendengarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah idealnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah sang guru menjelaskan pelajarannya, lalu dibutuhkan sebuah respon dari siswa atas apa yang didengarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini akan berbuah banyak ragam, seperti timbulnya pertanyaan dari siswa, atau pernyataan, atau bahkan akan lebih dinilai baik bila muncul cerita pengalaman dari siswa berkaitan dengan topik pelajaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, stimulus dan respon adalah hal yang tidak boleh dilupakan di dalam kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun caranya, sang guru haruslah mengemas pelajaran mereka agar dapat memunculkan kedua term ini dalam belajarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, bagaimana bila siswa itu pendiam dan tetap tidak memberikan respon apapun?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sebuah praktik buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berikut ini beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghadapi siswa yang pendiam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;Gunakan Media Pembelajaran&lt;/h2&gt;Media pembelajaran tentu saja menjadi hal yang penting bagi seorang guru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpanya, pembelajaran itu akan terkesan monoton dan membosankan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, mari gunakan media pembelajaran dalam menyampaikan pesan kepada peserta didik anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Praktik apa yang terbaik?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seluruh yang ada dalam penglihatan dapat dijadikan media.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan khawatirkan persoalan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, kreatifitas memanglah benar-benar dituntut untuk menciptakan media pembelajaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan, beberapa artikel memberikan pencerahan tentang bagaimana membuat media yang sederhana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anda dapat mencarinya melalui media internet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah media itu harus yang mahal?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya akan keliru bila menjawab "iya" untuk pertanyaan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Media pembelajaran itu tidak terbatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa saja dapat dijadikan sebagai media.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa waktu yang lalu, saya pernah mencoba menerapkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya dan teman guru saya mengajak para siswa untuk keluar ruang kelas dan kami melihat banyak tanaman disekitar sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teman saya menjelaskan tentang apa saja tumbuhan yang ada itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahukah anda apa yang terjadi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Respon dari siswa itu meningkat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mulanya, ini hanya sebatas percobaan saya atas teori-teori yang ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nyatanya, ini benar memberikan manfaat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bayangkan bila siswa anda bertanya tentang:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tumbuhan apakah itu bu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu keberhasilan mengajar anda dan saya meliahtnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, saya berikan sebuah pesan singkat untuk hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gunakan waktu yang tepat dan tidak monoton.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lakukan dengan variatif dengan mengkombinasikan bahan lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Singkatnya: Media pembelajaran tidak selalu bercerita tentang harga yang mahal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alam yang ada di sekitar lokasi belajar, juga dapat dijadikan sebagai media.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak sulit, tetapi ini membutuhkan perhatian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;Awali Dengan Menanyakan Kabar&lt;/h2&gt;Ini praktik yang baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahun yang lama dulu, saya mengalaminya dalam kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat saya duduk dibangku sekolah, saya sering ditanyakan soal kabar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, saya menerapkannya kembali pada siswa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walau ini cara yang kuno, tetapi tetap efektif bila diterapkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru dapat menanyakan kabar saat membuka pelajaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Awalan ini adalah baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disini, para siswa itu akan membuka mulutnya, dan mengeluarkan suara untuk menjawab pertanyaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lakukanlah setiap kali tatap muka itu dimulai dan lihat hasilnya hingga beberapa waktu kedepan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;Tanyakan Tentang Poin Tertentu&lt;/h2&gt;Mungkin ini adalah langkah yang memang selalu dijumpai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disini, hanya membutuhkan sebuah penekanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penjelasan akan lebih baik bila dilakukan secara terstruktur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bagian dari pentingnya Rencana Praktik Pembelajaran (RPP) bagi seorang guru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Membagi materi dengan beberapa tahapan penjelasan adalah langkah yang logis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang akan lebih mendapatkan informasi yang berguna, bila dijelaskan berdasarkan &lt;i&gt;step by step&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagilah materi pelajaran itu menjadi beberapa bagian, dan terangkanlah sebagaimana mestinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Poin pentingnya: Saat penjelasan tentang satu poin materi,</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjQ5k9grnd6rO7hl-tWjh_y6v7vQfyXlQpUVrR9rHpElCorfbtjeXSS7P-HX_CZbc2yqezwKzCmotHCk0xEDbFHgESBFjrzEUBY_v-ZGETL-3a-8LGtB7hGISSqBt4V1dRElUNr-0t_ZSEx/s72-c/stimulus-respon.webp" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Cek Plagiasi Untuk Karya Ilmiah</title><link>https://diklinko.blogspot.com/2019/11/cek-plagiasi-karya-ilmiah.html</link><category>Plagiasi</category><author>noreply@blogger.com (Reza Noprial Lubis, M.Pd)</author><pubDate>Wed, 20 Nov 2019 17:25:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8340927173110413997.post-6026790784916937662</guid><description>Mengapa kamu harus cek plagiasi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa ini penting?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img alt="cek-plagiasi-karya-ilmiah" border="0" data-original-height="360" data-original-width="640" height="360" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgC6dWs9ExSB-AVfcxQQKeXNfNEXjs00Y-VprUx0zl02z52hIZMXGe1aUCO9BtydzmTKOVpysc6npcln0qsZpI_qpHYr2cDEqDtMoZU4myTXKDsNgP6GjWDigU-Os8_Hou_9hO6Ei_UBxy3/s640/cek-plagiasi-karya-ilmiah.jpg" title="Gambar tentang cek plagiasi karya ilmiah" width="640" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Cara &lt;strong&gt;&lt;b&gt;cek plagiasi karya ilmiah&lt;/b&gt;&lt;/strong&gt; memang sangat banyak ditemukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anda dapat menggunakan berbagai layanan &lt;i&gt;(Tools)&lt;/i&gt; yang bertebaran di dalam internet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Signkatnya:&lt;/b&gt; Dalam artikel ini kamu akan menemukan berbagai layanan atau cara untuk melakukan cek plagiasi karya ilmiahmu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembahasan ini akan menjelaskan tentang:&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Apa itu Plagiasi Karya Ilmiah&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mengapa Plagiasi Penting&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Cara Cek Plagiasi Karya Ilmiah&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;dan lainnya.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;
Jadi, mari kita mulai.&lt;br /&gt;
&lt;hr class="hijau" /&gt;&lt;h2&gt;Plagiasi Karya Ilmiah&lt;/h2&gt;Belakangan ini, kata plagiasi mulai bergejolak, terutama dalam lingkup akademisi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Plagiasi merupakan kegiatan menjiplak/copas dari karya orang lain tanpa menyebutkan sumber yang memadai.&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Plagiasi mulai menjadi momok yang patut diperhatikan bagi setiap kalangan akademis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap karya, apapun itu, memang pada dasarnya memiliki hak cipta tersendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, disamping itu perlu ada tindakan yang memastikan bahwa karya yang dihasilkan itu tidak terindikasi plagiasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari kita bercerita tentang sebuah karya ilmiah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karya ilmiah, merupakan bahasa atau katakanlah istilah yang ada dalam lingkup akademisi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap orang yang bergerak dalam bidang akademisi tentunya pernah menciptakan suatu hal yang bersifat karya ilmiah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti misalnya, tugas makalah semasa kuliah. Atau dalam contoh lain misalnya, skripsi untuk tugas akhir mmahasiswa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keseluruhan contoh itu bukanlah sesuatu yang aneh bagi seorang mahasiswa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karya ilmiah memang menjadi tuntuan untuk dibuat oleh para agen perubahan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sadar atau tidak, terkadang tanpa diketahui, sebuah hasil karya yang sudah dibuat dengan hasil pemikiran sendiri, memiliki kesamaan dengan hasil karya yang telah lebih dulu diciptakan oleh orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini tentunya akan memberi nilai plagiat bagi pembuat yang baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila hal ini merupakan sebuah kesengajaan, maka tidak ada hal lain yang dapat dilakukan kecuali menghilangkan atau menghapus karya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, bila ini merupakan suatu tindakan tanpa disengaja, maka hal ini perlu dilakukan modifikasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu poin dari A-Z untuk sebuah karya dan kaitannya dengan plagiasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;Pentingnya Cek Plagiasi Karya Ilmiah&lt;/h2&gt;Mengapa plagiasi dianggap penting?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa plagiasi, setiap orang akan sembarangan dalam mengambil karya orang lain yang sudah bersusah payah untuk menciptakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlebih lagi, karya yang dihasilkan itu dipublikasi kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini tentu sangat tidak etis dan dianggap tidak pantas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai contoh, ada beberapa kasus plagiasi yang muncul dalam internet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini begitu mengengangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah publikasi dari cnn Indonesia, yang meliput berita dari Korea Selatan tentang plagiasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
CNN memberitakan yang bertajuk "Ratusan Professor Korsel Didakwa Atas &lt;a href="https://www.cnnindonesia.com/internasional/20151126105014-113-94181/ratusan-professor-korsel-didakwa-atas-plagiarisme" rel="noopener" target="_blank"&gt;Kasus Plagiarisme&lt;/a&gt;" benar-benar menghebohkan dunia akademisi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img alt="kasus-plagiasi" border="0" data-original-height="255" data-original-width="593" height="274" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhB5VV8PiCp1ZJjmQmu-BRxM-ZwCgJT5cS8yD0D5mmo-2yvf1Ea94EOUHzATo3OeMotnvV7mjwZyNDXf-pYRO78r1ZPrBCXDZ4NNHRhykZ1ao6F9AAoH34Rsv6MPKpCzDtu4AmgV901Qt9Y/s640/kasus-plagiasi.jpg" title="Kasus Plagiasi Dari CNN Indonesia" width="640" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Dalam liputannya, diberitakan bahwa sebanyak 200 professor didakwa atas tindakan plagiasi terhadap hak cipta orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keseluruhan yang didakwa itu merupakan gabungan dari 50 universitas yang ada di Korea Selatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini membuat sebuah anggapan, bahwa plagiasi memang sangatlah tidak dianjurkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kegiatannya, plagiasi merupakan kegiatan yang melanggar hukum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Indonesia sendiri, juga memiliki beberapa kasus sejenis plagiasi ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut data Kemendikbud, yang diberitakan melalui media tribunnews.com, menelaskan bahwa setidaknya terdapat 808 &lt;a href="https://www.tribunnews.com/nasional/2014/06/04/dosen-lebih-suka-menjiplak-tahun-lalu-ada-808-kasus-plagiarisme" rel="noopener" target="_blank"&gt;jumlah kasus plagiasi&lt;/a&gt; di Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img alt="jumlah-kasus-plagiasi" border="0" data-original-height="533" data-original-width="541" height="630" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiBGxeZT3W7qiEzpJgapJ0zSROuEPgQ4WTC8uxctV8IGcXugLuuK4ee4yplk8evbMKOyMhtGyWpvkgaXqfcbqq431MjOTE1NLhyphenhyphenPxolb178Q80KvuX7sAJ6s9WHZzCG64ilI4P6kyeoMYJD/s640/jumlah-kasus-plagiasi.jpg" title="Jumlah Kasus Plagiasi Dari Tribunnews" width="640" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Jumlah ini tidaklah jumlah yang kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengingat akan sanksi-sanksi yang ada, nampaknya kegiatan semacam ini perlu diawasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai langkah untuk mengantisipasi tindakan plagiasi ini, pembuat karya tentu mempertimbangkan untuk melakukan cek plagiasi terlebih dahulu sebelum menerbitkan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlu diingat, bahwa tindakan plagiasi ini merupakan hal yang melanggar hukum yang termaktub dalam &lt;a href="http://sumberdaya.ristekdikti.go.id/wp-content/uploads/2016/02/permendiknas-no-17-tahun-2010_pencegahan-plagiat.pdf" rel="noopener" target="_blank"&gt;Permendiknas Nomor 17 Tahun 2010&lt;/a&gt; Tentang Pencegahan dan Penanggulangan Plagiat di Perguruan Tinggi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa sanksi hukum yang diberlakukan antara lain:&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Teguran&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Peringatan tertulis&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Penundaan pemberian hak (bila mahasiswa)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Pembatalan nilai salah satu mata kuliah&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Pemberhentian&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Pembatalan ijazah.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;
Bila dilihat lebih jauh, sanksi-sanksi di atas mencakup berbagai keadaan (bagi mahasiswa).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mulai dari masa perkuliahan, hingga usai juga tetap dipantau oleh plagiasi ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bilamana mahasiswa telah memperoleh ijazahnya, namun ternyata karyanya terindikasi plagiat, maka sanksi seperti poin 6 yang dijelaskan di atas, akan berlaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini tentu menimbulkan perhatian tersendiri, bahwa menjaga plagiat untuk sebuah karya sangatlah diperlukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka oleh sebab itu, ada beberapa cara untuk melakukan cek plagiasi karya ilmiah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun cara yang dimaksudkan itu akan dijelaskan pada bagian di bawah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;Cara Cek Plagiasi Karya Ilmiah&lt;/h2&gt;Memang pada dasarnya, banyak cara yang dapat dilakukan untuk cek plagiasi karya ilmiah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini dikarenakan banyaknya situs website yang belakangan ini lahir untuk menyediakan layanan cek plagiasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, ada salah satu situs website yang menyediakan layanan cek plagiasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun hal yang dimaksudkan itu adalah Small Seo Tools.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;1. Gunakan Small Seo Tools&lt;/h3&gt;Small Seo Tools merupakan sebuah layanan online yang biasa disebut dengan Tools yang dapat diakses secara gratis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya bermodalkan koneksi internet, setiap pengguna dapat memanfaatkan layanan yang ada pada small seo tools.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Small seo Tools menyediakan layanan yang sangat banyak dalam halaman website mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa layanan Tools mereka antara lain seperti: cek plagiasi, cek gramer, cek IP Adress, cek SEO website, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menggunakan layanan cek plagiasi melalui small seo tools ini cukuplah mudah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengguna dapat mengakses alamatnya di &lt;a href="https://smallseotools.com/" rel="noopener" target="_blank"&gt;https://smallseotools.com/&lt;/a&gt; melalui browser.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nantinya, akan melihat berbagai layanan tools yang disebiakan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumlahnya memang cukup banyak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk melakukan cek plagiasi, maka pilihlah Plagiarism Checker.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;2. Copy-Paste Tulisan Untuk di Cek&lt;/h3&gt;Pada halaman ini, pengguna hanya diminta untuk melakukan paste tulisan pada tempat yang disediakan oleh small seo tools ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Belakangan ini, situs small seo tools ini banyak menampilkan iklan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini akan membuat situs website mereka sedikit melambat saat dibuka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh sebab itu, dihalaman ini akan terlihat beberapa bagian iklan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunggulah hingga loading halaman itu penuh dan akan terlihat seperti gambar berikut ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img alt="copy-tulisan-untuk-cek" border="0" data-original-height="849" data-original-width="635" height="640" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhAX19B6_IKxgCHL3COR9Y9Y5PaiF_Tjl1N35YHxZa51_4nND_LQ-kKsUeMiMcGE94TCEVchZ4WGqPsJjoMq1w_a-miUkYvpRR7aho32y1ySmt7YyyUTBEFqQJMbPUUygV-58dphrSdkjuC/s640/copy-tulisan-untuk-cek.jpg" title="Gambar tentang copy tulisan untuk cek plagiasi" width="478" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Pastelah tulisan yang ingin di cek.&lt;br /&gt;
&lt;div class="message-box green checklist"&gt;&lt;div class="message-title"&gt;Perhatian:&lt;/div&gt;&lt;div class="message-content"&gt;Pada bagian ini, jumlah karakter dibatasi oleh penyedia layanan.&lt;br /&gt;
Maksimal 1000 karakter termasuk spasi.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Pilih cek plagiaris untuk memerintahkan pengerjaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;3. Laporan Hasil Cek Plagiasi&lt;/h3&gt;Menariknya, layanan small seo tools ini memberikan beberapa jenis kegunaan laporan bagi penggunanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari lihat gambar berikut ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img alt="laporan-hasil-cek-plagiasi" border="0" data-original-height="724" data-original-width="921" height="502" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgQwhfRUKO8sSPVZonmFAqARQxBmjxHx1T8Rmw10awwq6jiHrU9XMtpO6uZuFi6iHW90Q0RBCSNIycKoSNXUuyt5oVc5CdRSMDiLeq0NW9RHzAcJyMEaf9jZjjL9N-kOWWEKYv68NPk9yDO/s640/laporan-hasil-cek-plagiasi.jpg" title="Gambar tentang laporan hasil cek plagiasi" width="640" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Ini merupakan hasil dari sebuah laporan cek plagiasi tulisan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka memberikan beberapa bentuk laporan, seperti mendownload laporan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sangatlah membantu dan berguna bagi para pengguna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umumnya, para praktisi akademisi menggunakan layanan ini sebagai layanan pihak ketiga yang membantu mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang paling sering dilakukan adalah mendownload laporan, yang dapat dijadikan sebagai laporan pengguna itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artinya, layanan small seo tools ini dijadikan sebagai pihak ketiga bagi pengguna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini bukanlah masalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Layanan ini begitu membantu dalam hal melakukan check plagiasi tulisan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h4&gt;Bagaimana cek untuk jumlah lebih dari 1000 karakter?&lt;/h4&gt;Ada beberapa layanan yang pernah ditemui untuk melakukan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umumnya, layanan yang disediakan secara gratis, membatasi jumlah karakter yang ingin diuji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misalnya, seperti yang di atas (small seo tools) memberikan kesempatan untuk melakukan pengujian/cek sebanyak maksimal 1000 jumlah karakter.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan, jumlah yang lebih sedikit juga pernah ditemui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa layanan lain juga memberikan jumlah yang lebih sedikit, seperti maksimal 500 karakter.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini merupakan kebijakan penyedia layanan itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, untuk melakukan cek lebih dari 1000 karakter, dapat mengunjungi layanan yang disedikan oleh quetext.com.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Layanan ini memang dapat digunakan untuk jumlah karakter lebih dari 1000.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara menggunakannya juga hampir sama dengan yang biasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengguna hanya melakukan paste tulisan yang ingin di cek, pada bagian yang disediakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img alt="cek-plagiasi-lebih-dari-1000-karakter" border="0" data-original-height="701" data-original-width="1600" height="280" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiBIVss6KDY1322l-crfL7qiZgzMmqNCgKZl2CLjzv5JZWyaTTnoMAJi63GwMHUBWkDtzJocEMRYving-wBD8c4voc_gUg-n380RLl4F_xVuiVv_GdAP0U6pMXa0iMhjwGYCN02OC3QfLMc/s640/cek-plagiasi-lebih-dari-1000-karakter.jpg" title="Gambar tentang cek plagiasi lebih dari 1000 karakter" width="640" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Namun sayangnya, layanan ini tidak dilengkapi dengan fitur download laporan hasil cek plagiasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan hal ini, pengguna hanya dapat melihat dan melakukannya secara online.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img alt="cek-plagiasi-lebih-1000-karakter" border="0" data-original-height="419" data-original-width="1600" height="166" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjH0ODyxmy_msRDF889rFFUrSvlywj-Mc-J__Hx1qsCGSLMv6n1_IDxDi8ZvX2jne-sWsd_JKe-k-ou08i1wqCJxDnJpY9pb2OxexPFwzJeSqaOa243zg4UchszWyQ4qwnXXl1vCDjw0Mlp/s640/cek-plagiasi-lebih-1000-karakter.jpg" title="Gambar tentang cek plagiasi lebih 1000 karakter" width="640" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Mungkin perlu mempertimbangkannya untuk penggunaan semacam laporan, terlebih lagi laporan yang bersifat formal seperti hasil cek plagiasi untuk mahasiswa, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, masih banyak layanan lain yang menyediakan jasa cek plagiasi ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun layanan yang lainnya itu seperti copyscape, plagscan, duplichecker, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada umumnya, penggunaan keseluruhan layanan itu tidak jauh berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paling tidak, hanya beberapa bentuk tampilan saja yang berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;hr class="hijau" /&gt;&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt; Lihat Permendiknas No. 17 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Penanggulangan Plagiat di Perguruan Tinggi.</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgC6dWs9ExSB-AVfcxQQKeXNfNEXjs00Y-VprUx0zl02z52hIZMXGe1aUCO9BtydzmTKOVpysc6npcln0qsZpI_qpHYr2cDEqDtMoZU4myTXKDsNgP6GjWDigU-Os8_Hou_9hO6Ei_UBxy3/s72-c/cek-plagiasi-karya-ilmiah.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Evaluasi Pembelajaran Dalam Konteks Pendidikan</title><link>https://diklinko.blogspot.com/2019/11/evaluasi-pembelajaran.html</link><category>Evaluasi</category><author>noreply@blogger.com (Reza Noprial Lubis, M.Pd)</author><pubDate>Tue, 19 Nov 2019 01:10:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8340927173110413997.post-3941633119453500120</guid><description>Evaluasi memegang peranan penting dalam kegiatan belajar mengajar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa evaluasi, bagaimana mungkin bercerita persoalan peningkatan mutu pendidikan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka dari itu, evaluasi pembelajaran itu perlu untuk diketahui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagian ini, akan membahas tentang </description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Dasar-Dasar Pendidikan Islam</title><link>https://diklinko.blogspot.com/2019/11/dasar-pendidikan-islam.html</link><category>Pendidikan-Islam</category><author>noreply@blogger.com (Reza Noprial Lubis, M.Pd)</author><pubDate>Sat, 16 Nov 2019 22:40:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8340927173110413997.post-8137758332764156195</guid><description>Untuk mengetahui &lt;strong&gt;Dasar pendidikan Islam&lt;/strong&gt;, tentu perlu dimulai dari hal yang paling sederhana, agar lebih terarah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dasar dalam bahasa Inggris disebut &lt;i&gt;foundation&lt;/i&gt;, dalam bahasa Prancis disebut &lt;i&gt;fondement&lt;/i&gt; dan dalam bahasa Latin disebut &lt;i&gt;fundamentum&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;img alt="dasar-pendidikan-islam" border="0" data-original-height="350" data-original-width="640" height="350" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiVFxoy4XN-BK420-wG8MS2f9xmuTc_fJvvqLJ4Z30PpKUA8vo02UqrzW2tYjTasYrmUzwxVoHCblXaai5PeWWAllDPJ8rkdwYDDnBodgewWEcvWJD4KxZ9ZLiHKzMWPOAA8A2XmnL8KxrW/s640/dasar-pendidikan-islam.jpg" title="Gambar tentang dasar pendidikan Islam" width="640" /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Secara bahasa, dasar berarti alas, fundamen, pokok atau pangkal segala sesuatu (baik itu pendapat, ajaran atau aturan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibarat sebuah bangunan, dasar haruslah ada dalam suatu bangunan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa memiliki dasar, maka bangunan itu tidak akan dapat berdiri dengan megahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada pohon misalnya. Dasarnya adalah akar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa adanya akar, pohon itu tidak akan dapat hidup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akarlah yang memopang berdirinya pohon tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka tak ada akar, pohon pun tak ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalimat &lt;i&gt;La Ilaha Illa Allah&lt;/i&gt; yang berarti Tidak ada Tuhan selain Allah yang merupakan espresi terdalam keimanan seseorang mungkin di gambarkan oleh Allah SWT. bagi umat Islam agama adalah dasar (pondasi) utama dari keharusan berlangsungnya pendidikan karena ajaran-ajaran Islam yang bersifat universal mengandung aturan-aturan yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia baik yang bersifat ubudiyyah (mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya), maupun yang bersifat muamalah (mengatur hubungan manusia dengan sesamanya).&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dasar adalah landasan tempat berpijak atau tegaknya sesuatu agar dapat berdiri dengan tegak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dasar dalam pendidikan Islam yaitu fundamen yang menjadi landasan atau asas agar pendidikan Islam dapat tegak berdiri tidak mudah roboh karena tiupan angin kencang berupa ideology yang muncul baik sekarang maupun yang akan datang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap usaha, kegiatan dan tindakan yang di sengaja untuk mencapai suatu tujuan harus mempunyai landasan tempat berpijak yang baik dan kuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, pendidikan agama Islam sebagai suatu usaha membentuk manusia yang insan kamil, harus mempunyai landasan bagi semua kegiatan pembelajaran didalamya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang dimaksud dengan dasar pendidikan adalah pandangan hidup yang melandasi seluruh aktivitasa pendidikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena dasar menyangkut masalah ideal dan pundamental, maka diperlukan landasan pandangan hidup yang kokoh dan konprehensif, serta tidak mudah berubah, karena diyakini memiliki kebenaran yang telah teruji oleh sejarah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau nilai-nilai sebagai pandangan hidup yang dijadikan dasar pendidikan itu bersifat relatif dan temporal, maka pendidikan mudah terombang-ambing oleh kepentingan dan tuntutan sesaat yang bersifat teknis dan pragmatis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perumusan dasar pendidikan Islam dimaksudkan untuk membuat koherensi pendidikan dengan &lt;i&gt;nash&lt;/i&gt; Alquran dan Hadits Nabi SAW, karena dilatar belakangi oleh pernyataan Nabi SAW yang menyebutkan bahwa Alquran dan As-Sunah adalah warisan yang paling Agung, dan bagi manusia yang memegang teguh keduanya tidak mungkin tersesat untuk selamanya.&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disamping itu, dilatar belakangi oleh adanya suatu kenyataan bahwa bagi bangsa Indonesia, banyak produk pendidikan yang masih bertentangan dengan agama Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Padahal, bangsa Indonesia adalah basis terbesar umat muslimnya, namun ia kekurangan paradigma dalam menyusun kerangka acuan pendidikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kondisi di atas, terjadi karena terlalu lama dijajah Belanda dan mereka membawa misi yang bertentangan dengan agama Islam (Aminudin Rasyad 1995:14-16).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut beliau, berbicara mengenai pendidikan Islam, sesungguhnya tidak dapat dilepaskan dari wacana dan pemikiran agama Islam itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena pembicaraan mengenai pendidikan Islam tidak dapat dilepaskan dari agama Islam, maka dasar pendidikan Islam tidak juga dapat dilepaskan dari dasar agama Islam, yaitu Al Qur’an dan As Sunah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam pendidikan Islam setidaknya ada dua landasan yang mendasarinya, yaitu dasar ideal dan operasional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dasar Ideal Pendidikan Agama Islam secara garis besar ada tiga yaitu: Al-qur`an, As-sunnah, dan Ijtihad.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menetapkan al-Qur’an dan As-sunnah dan &lt;strong&gt;Ijtihad&lt;/strong&gt; sebagai dasar pendidikan Islam bukan hanya dipandang sebagai kebenaran yang didasarkan pada keimanan semata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun justru karena kebenaran yang terdapat dalam dasar tersebut dapat diterima oleh nalar manusia dan dibolehkan dalam sejarah atau pengalaman kemanusiaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Qur'an merupakan dasar pokok bagi pendidikan Islam, karena di dalamnya memuat konsep-konsep hakekat manusia, hakekat pengetahuan, metodologi pendidikan, akhlak, dan konsep pendukung lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara As-Sunnah merupakan pedoman operasional bagi pelaksanaan Al-Qur'an, karenanya dapat dikatakan bahwa Rasulallah saw merupakan tokoh sentral dalam pendidikan Islam, dimana ajaran-ajarannya mencakup totalitas masyarakat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan Ijtihad merupakan pembaharu yang menyesesuaikan perubahan zaman. Sehingga dinamika pendidikan Islam tidak jumud berjalan ditempat, akan tetapi berjalan kearah depan yang lebih baik dan dinamis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun dasar operasional pendidikan Islam menurut Hasan langgulung setidaknya ada enam dasar:&lt;br /&gt;
&lt;div class="toggle-section-item"&gt;
&lt;div class="toggle-item-title"&gt;
&lt;b&gt;Asas histori&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="toggle-item-content"&gt;
Yang mempersepsi si pendidik dengan hasil-hasil pengalaman pendidikan masa lalu, dengan undang-undang dan peratura-peraturannya,batas-batas dan kekurang-kekurangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asas-asas sejarah ini meliputi sebagian ilmu sejarah dan arkeologi, dokumen-dokumen, dan benda-benda tertulis yang dapat menolong menafsirkan pendidikan dari segi sejarah dan peradaban.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="toggle-section-item"&gt;
&lt;div class="toggle-item-title"&gt;
&lt;b&gt;Asas sosial&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="toggle-item-content"&gt;
Yang memberinya kerangka budaya dari mana pendidikan itu bertolak dan bergerak, memindah budaya, memilih dan mengembangkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asas ini meliputi sebagian ilu sosiologi dan kependudukan, antropologi,dan etnologi, yang dapt menfsirkan masyarakat dan kumpulan, milleieu dan penduduk, sosialisasi dan perubahan dan lain-lain.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="toggle-section-item"&gt;
&lt;div class="toggle-item-title"&gt;
&lt;b&gt;Asas-asas ekonomi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="toggle-item-content"&gt;
Yang memberinya perspektif tentang potensi-potensi manusia dan keuangan serta materi dan persiapan yang mengatur sumber-sumbernya dan bertanggung jawab terhadap anggaran belanjanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asas ini meliputi sebagian ilmu ekonomi dan &lt;i&gt;accounting&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;budgeting&lt;/i&gt; dan perencanaan yang dapat menolong dalam investasi yang lebih ideal, pulangan yang lebih memuaskan dan kemampuan yang lebih tinggi.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="toggle-section-item"&gt;
&lt;div class="toggle-item-title"&gt;
&lt;b&gt;Asas politik dan administrasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="toggle-item-content"&gt;
Yang memberinya bingkai dari mana ia bertolak untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan dan rencana yang telah dibuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asas ini meliputi sebagian ilmu administrasi dan organisasi, undang-undang dan perundang-undangan yang dapat menafsirkan susunan organisasi pendidikan dan mengarahkan geraknya.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="toggle-section-item"&gt;
&lt;div class="toggle-item-title"&gt;
&lt;b&gt;Asas-asas psikologis&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="toggle-item-content"&gt;
Yang memberinya informasi tentang watak pelajar-pelajar, guru-guru, cara-cara terbaik dalam praktik, pencapaian dan penialaian dan pengukuran biologi, fisiologi, dan komunikasi yang sesuai untuk memahami pengajaran dan proses belajar, perkembangan dan pertumbuhan, kematangan, kemampuan dan kecerdasan, persepsi, dan perbedaan perseorangan, minat, dan sikap.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="toggle-section-item"&gt;
&lt;div class="toggle-item-title"&gt;
&lt;b&gt;Asas filsafat&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="toggle-item-content"&gt;
Yang berusaha memberinya kemampuan untuk memilih yang lebih baik, member arah suatu sistem, mengontrolnya dan memberi arah kepada semua asas-asasyang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Asas ini meliputi sebagian ilmu etika dan estetik, ideologi dan logika untuk memberi arah kepada pengajaran dan menyelaraskan interasi-interaksi masing-masing, menyusun sistemya sesudah diteliti dan di kritik, dianalisisdan dibuat sintesis.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
Alquran&lt;/h2&gt;
&lt;strong&gt;Alquran&lt;/strong&gt; adalah perkataan atau firman Allah SWT yang diturunkan kepada Muhammad SAW. dalam bahasa arab, diturunkan secara mutawatir, dan membacanya merupakan ibadah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alquran merupakan kitab petunjuk bagi setiap umat manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah menjelaskan hal ini dalam firman-Nya: Sesungguhnya Alquran ini memberikan petunjuk ke (jalan) yang lebih lurus dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar. (Q.S. Al-Isra/ 17:9)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayat ini menjelaskan bahwa bahwa tujuan Alquran itu sendiri adalah memberikan petunjuk kepada umat manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuan ini hanya akan tercapai dengan memperbaiki hati dan akal manusia dengan akidah-akidah yang benar dan akhlak yang mulia serta mengarahkan tingkat laku mereka kepada perbuatan yang baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut pendapat yang paling kuat, seperti yang diungkapkan oleh Subhi Shaleh, al-Qur’an berarti bacaan, yang merupakan kata turunan (masdar) dari fiil madhi qara’a dengan arti ism al-maful yaitu maqru’ yang artinya dibaca.&lt;sup&gt;3&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bacalah dengan (menyebut) Nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu lah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Q.S. al-Alaq: 1-5).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayat tersebut merupakan perintah kepada manusia untuk belajar dalam rangka meningkatkan ilmu pengetahuan dan kemampuannya termasuk didalam mempelajari, menggali, dan mengamalkan ajaran-ajaran yang ada al-Qur’an itu sendiri yang mengandung aspek-aspek kehidupan manusia. Dengan demikian al-Qur’an merupakan dasar yang utama dalam pendidikan Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hubungan antar Alquran dan ilmu pendidikan Islam tampak terbatas pada segi-segi dikemukakan di atas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, ini tidak berarti bahwa Alquran tidak mempunyai hubungan yang luas dengan dunia pendidikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ahmad Ibrahim Muhanna misalnya yang mengatakan bahwa Alquran membahas berbagai aspek kehidupan manusia, dan pendidikan merupakan terpenting yang dibahasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap ayatnya merupakan bahan baku bangunan pendidikan yang dibutuhkan setiap manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini tidak aneh mengingat Alquran merupakan Kitab hidayah dan seseorang memperoleh hidayah tidak lain karena pendidikan yang benar serta ketaatannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun demikian, hubungan ayat-ayatnya dengan pendidikan tidak semuanya sama. Ada yang merupakan bagian pondasional dan ada yang merupakan bagian parsial.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan perkataan lain, hubungannya dengan pendidikan ada yang langsung dan tidak ada yang tidak langsung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Qur’an di peruntukkan bagi manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh sebab itu, tidak mengherankan apabila manusia merupakan tema sentral pembahasannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalamnya di terangkan hakikat manusia: siapa dirinya, dari mana ia berasal, di mana ia berada, apa yang harus dilakukannya, dan hendak ke mana ia pergi? Masalah hakikat hidup, padangan hidup, dan tujuan hidup merupakan masalah pendidikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, masalah itu tidak berada dalam ruang lingkup kajian ilmu pendidikan yang hanya menjangkau fakta-fakta empiris, melainkan dalam rung lingkup fisafat pendidikan yang bisa mengambil datanya dari ajaran-ajaran agama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
As-Sunnah&lt;/h2&gt;
Setelah Alquran, maka dasar dalam pendidikan Islam adalah &lt;strong&gt;as-Sunnah&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
As-Sunnah merupakan perkataan, perbuatan apapun pengakuan Rasulullah SAW, yang dimaksud dengan pengakuan itu adalah perbuatan orang lain yang diketahui oleh Rasulullah dan beliau membiarkan saja kejadian itu berjalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sunnah merupakan sumber ajaran kedua setelah Alquran, Sunnah juga berisi tentang akidah, syari’ah, dan berisi tentang pedoman untuk kemaslahatan hidup manusia seutuhnya.&lt;sup&gt;4&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Qur’an disampaikan oleh Rasulullah saw. kepada umat manusia dengan penuh amanat; tidak sedikit pun ditambah ataupun dikurangi. Selanjutnya, manusialah yang hendaknya berusaha memahaminya, menerimanya, kemudian mengamalkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sunnah, sebagai penjelas terhadap Al-Qur’an, mengambil dua bentuk: nilai-nilai dan kaidah-kaidah normatif serta teknik-teknik praktis historis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bentuk pertama bisa dikembangkan dalam hirarki nilai, sehingga tidak mungkin ada pertentangan antara nilai pokok dan nilai cabang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bentuk kedua bisa diubah sesuai dengan situasi dan kondisi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umpamanya dengan menelaah kembali apakah teknik-teknik pendidikan yang digunakan rasul masih relevan atau tidak ada apakah cukup memadai ataukah belum untuk diterapkan di masa sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak tidakan mendidik yang telah di contohkan Rasulullah saw. Dalam pergaulannya bersama para sahabatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia menganjurkan agar pembicaraan yang diarahkan kepada orang lain hendaknya disesuikan dengan tingkat kemampuan berpikir mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memperhatikan setiap orang sesuai dengan sifatnya: wanita atau lelaki, tua atau kanak-kanak. Kepada orang yang menyenangi harta, dia akan memberinya harta agar hatinya menjadi lunak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepada orang yang mencintai kedudukannya, dia akan menempatkan kedudukan orang itu dekat dengannya, karena di mata kaumnya dia adalah orang yang berkedudukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam pada itu, dia tidak pernah lengah untuk menyeru mereka agar beribadah kepada Allah dan melaksanakan syariat-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ulama muslim telah memahami dan menyadari pentingnya tindakan mendidik yang dicontohlan oleh Rasulullah saw. Di antara mereka ada yang menyusun kitab berisi hadits-hadits rasulullah saw. yang berorientasi pendidikan, seperti kitab Al-Targhib wa Al-targhib.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kitab karya ‘Abdul ‘Azham Al-Mundziri (581-656 H) ini menanamkan motivasi untuk cinta mengerjakan kebaikan dan menjauhi perbuatan jahat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kitab ini membahas banyak aspek kehidupan: material, spritual, finansial, individual, sosial, peribadatan, dan intelektual. Ada pula ulama yang mempelajari kehidupan dan hadits Rasulullah saw. Untuk menggali beberapa topik pendidikan yang kemudian disusun menjadi kitab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Contohnya adalah kitab Tuhfah Al-Maudud fi Ahkam Al-Maulud, karya ibnu Qayyim Al-jauziyyah; dan Al-Adab Al-mufrid karya imam Muhammad bin Isma’ il Al-Bukhari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang terakhir ini adalah kitab pendidikan Nabawi yang mengandung beberapa tuntunan sekitar pendidikan dan perlakuan terhadap anak-anak yatim, perilaku sosial, serta menyayangi, mencium, dan bercanda dengan anak-anak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
Ijtihad Atau Ra’yu&lt;/h2&gt;
Masyarakat selalu mengalami perubahan, baik mengenai nilai-nilai sosial, kaidah-kaidah sosial, pola-pola tingkah laku, organisasi, susunan lembaga-lembaga kemasyarakatan, lapisan-lapisan dalam masyarakat, kekuasaan dan wewenang, maupun interaksi sosial, dan lain sebagainya.Pendidikan sebagai lembaga sosial akan turut mengalami perubahan yang terjadi di dalam masyarakat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
John Vaizey, seorang guru besar dalam ilmu ekonomi dari Universitas Brunel, Inggris, menggambarkan perubahan yang terjadi pada tahun-tahun pertengahan abad ke-20.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikatakannya bahwa meningkatnya jumlah penduduk, meningkatnya pengharapan, dan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan telah membawa serta perubahan-perubahan baru dalam pendidikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang dapat menyaksikan penerapan teknik-teknik ilmu pengetahuan alam dan sosial serta teknologi dalam proses pendidkan sebagai akibat adanya pengertian yang lebih dalam tentang apa yang terjadi dalam pendidkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada orang yang berpandangan bahwa meningkatnya penggunaan teknik-teknik yang melibatkan elektronika dan perlengkapan lainnya yang kompleks telah mengakibatkan dehumanisasi pendidikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin ada pula orang yang berpendapat bahwa penghotbahan doktrin “afisiensi” dalam penggunaan sumber-sumber untuk pendidikan berarti bersikap pragmatis dan mementingkan kegunaan terhadap pendidikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sehubungan dengan perhatian terhadap efisiensi, ada pula perhatian terhadap latihan bagi orang-orang untuk mengisi pekerjaan-pekerjaan tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kesibukan merenungkan fungsi latihan ini, maka tujuan-tujuan terakhir pendidikan menjadi kabur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selanjutnya dapat dinyatakan bahwa abad ini menyaksikan gugurnya pedoman-pedoman peradaban dalam sekolah dan perguruan tinggi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada masa-masa berikutnya muncul penelitian yang menunjukan kecenderungan dunia untuk menjadikan sekolah sebagai lembag yang bernorma kuat, sehingga tidak ada usaha swasta yang tidak diakui pemerintah bila “norma”-nya tidak memenuhi selera pemerintah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara itu, sebagai pemikir pendidikan melihat bahwa sekolah tidak bisa diharapkan untuk mengamansipasi martabat kemanusiaan (human dignity).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka mengeritik pandangan yang mempertahankan sekolah sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan prinsip bahwa dunia harus maju, tanpa peduli adanya akibat malapetaka ledakan nuklir, pencemaran, dan sebagainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diantara para kritikus yang vokal dalam hal ini ialah ivan illich yang menggambarkan adanya masyarakat bebas dari ikatan-ikatan pendidikan sekolah; paulo freire yang menganggap sekolah sebagai tempat pendidikan rakyat tertidas; dan Everett Reimer yang menganalisis pendidikan sekolah pada kematiannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perubahan-perubahan seperti di kemukakan di atas dan munculnya gagasan-gagasan baru tentang pendidikan pada gilirannya melahirkan berbagai masalah pendidikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masalah-masalah tersebut merupakan perkembangan baru di dunia pendidikan yang tidak dijumpai di masa Rasulullah saw., tetapi memerlukan jawaban untuk kepentingan pendidikan di masa sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk itulah diperlukan ijtihad dari para pendidik muslim.ijtihad pada dasrnya merupakan usaha sungguh-sungguh orang muslim untuk selalu berprilaku berdasrkan ajaran Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk itu, manakala tidak di temukan petunjuk yang jelas dari Al-Qur’an maupun Sunnah tentang suatu perilaku, orang muslim akan mengerahkan segenap kemampuannya untuk menemukannya dengan memperhatikan prisip-prinsip umum Al-Qur’an maupun Sunnah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ijtihad sudah dilakukan para ulama sejak masa shahabat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, tampaknya literatur-literatur yang ada menunjukan bahwa ijtihad masih terpusat pada hukum syarak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang dimaksud dengan hukum syarak, menurut depinisi ‘Ali Hasballah, ialah proposisi-proposisi yang berisi sifat-sifat syariat (seperti wajib, haram dan sunnah) yang disandarkan pada perbuatan manusia, baik lahir maupun batin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dalam hukum tentang perbuatan manusia ini tampaknya aspek lahir lebih menonjol ketibang aspek batin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan perkataan lain, fiqih zhahir lebih banyak digeluti daripada piqih bathin. Karenanya, pembahasan tentang ibadah, muamalat, dan jinayat lebih dominan ketimbang kajian tentang iklas, sabar, memberi maaf, merendahkan diri, dan tidak menyakiti orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ijtihad dalam lapangan pendidikan malah nyaris ta terdengar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebabnya barangkali bisa di rujuk pada kondisi sosial umat di masa lalu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Persoalan kenegaraan, perdagangan, perkawinan, dan sebagainya seperti terlihat pada tema-tema piqih tampak merupakan masalah akut pada masa itu, sementara persoalan pendidikan cukup diatasi oleh konvensi-konvensi yang ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun demikian, ada sebagian ulama yang peduli terhadap masalah pendidikan, di antaranya dapat disebutkan kelompok ikhwan Al-Shafa, Al-Ghazali, Ibnu Khladun, Al-Zarnuji, Al-Kanbin, dan Al- Ansari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ijtihad dalam lapangan pendidikan perlu mengimbangi ijtihad dalam lapangan fiqih (lahir dan batinnya), mengingat yang pertama merupakan usaha pembudayaannya, sedangkan yang kedua merupakan usaha penggalian budaya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruang lingkupnya bisa dalam lingkup filsafat pendidikan Islam dan bisa pula dalam lingkup ilmu pendidikan Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam lingkup ilmu pendidikan Islam, pernyataan Al-Qur’an dan Sunnah hendaknya dipilih mana yang bernialai normatif dan mana yang bernilai teknis-praktis, sehingga tidak terjadi salah perlakuan, tidak membuktikan secara empiris apa yang seharunya diyakini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara itu, hasil pikir para ulama seperti Ibnu Sina, Al-Gazali, dan Ibnu Khaldun masih terbuka untuk dikaji ulang guna dicari kemungkinan penerapannya di masa sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
Daftar Bacaan Dasar Pendidikan Islam&lt;/h2&gt;
Zuhairini, Metodologi Pendidikan Agama, (Solo: Ramadhani, 1993), h. 153&lt;br /&gt;
Noeng Muhajjir., Metodologi Pendidikan Kualitatif, (Yogyakarta: Rake Sarasin, 1996), h.16&lt;br /&gt;
Atang Abd Hakim,  Metodologi Studi Islam, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2000), h. 69&lt;br /&gt;
Zakiah Daradjat., Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), h. 20-21</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiVFxoy4XN-BK420-wG8MS2f9xmuTc_fJvvqLJ4Z30PpKUA8vo02UqrzW2tYjTasYrmUzwxVoHCblXaai5PeWWAllDPJ8rkdwYDDnBodgewWEcvWJD4KxZ9ZLiHKzMWPOAA8A2XmnL8KxrW/s72-c/dasar-pendidikan-islam.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Guru Dalam Pendidikan Islam</title><link>https://diklinko.blogspot.com/2019/11/guru-pendidikan-islam.html</link><category>Guru</category><author>noreply@blogger.com (Reza Noprial Lubis, M.Pd)</author><pubDate>Wed, 13 Nov 2019 20:12:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8340927173110413997.post-8840056884717910043</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;img alt="guru-pendidikan-islam" border="0" data-original-height="350" data-original-width="640" height="350" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgPMJundn4w3qKYxtBtkUiWyLMRfMUnkenlRBFPVAFUuR6a78bDj6WNAWxqBLFhmF56dXO0QtAuKdELDCVuTULyR7NS5kTO9ia8tVRB8Vdt3fKTT1qNFxFI0z40UhZ8yQz-OI2iJ0gQVBWR/s640/guru-pendidikan-islam.jpg" title="Gambar tentang guru pendidikan Islam" width="640" /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Guru Dalam Pendidikan Islam memang sudah sering di dengar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, tahukah anda tentang seperti apa guru yang dimaksud dalam Islam itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penjelasan kali ini, akan menjelaskan tentang guru dalam pendidikan Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
Defenisi Guru Dalam Islam&lt;/h2&gt;
&lt;br /&gt;
Apa itu Guru?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin hal ini bukan perkara yang sulit untuk didefenisikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena pembahasan ini bukanlah pembahasan yang baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melainkan, banyak para ahli yang sudah menjelaskannya lebih dulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk menentukan defenisi guru dalam Islam, maka hal ini terbagi menjadi dua topik utama, yaitu guru dan Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, mari kita simak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;
Defenisi Guru&lt;/h3&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum tulisan ini diterbitkan, sudah banyak ahli yang mengutarakan pendapatnya tentang defenisi guru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa diantara mereka mengatakan bahwa guru adalah orang yang pekerjaannya mengajar atau mendidik.&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sederhana dan menyeluruh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang demikianlah adanya bahwa guru merupakan sebuah bidang pekerjaan yang kegiatannya semacam mengajar dan mendidik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, hal itu terlalu luas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Langgulung&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt; mengungkapkan sesuatu yang lebih spesifik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia mengatakan bahwa guru adalah orang dewasa yang membimbing baik dari segi jasmani dan rohani untuk mencapai tingkat kedewasaan (&lt;i&gt;maturity&lt;/i&gt;).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Poin disini adalah membimbing (&lt;i&gt;guide&lt;/i&gt;).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini juga didukung dari pernyataan yang diungkapkan oleh Sardiman.&lt;sup&gt;3&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beliau mengatakan bahwa guru bertanggun jawab untuk membawa siswanya kepada taraf kewasaan atau kematangan tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, guru tidak hanya sebatas pengajar yang melakukan &lt;i&gt;transfer knowledge&lt;/i&gt; semata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melainkan guru haruslah melakukan &lt;i&gt;transfer value&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari ketiga defenisi di atas, maka dapatlah diambil kesimpulan bahwa guru adalah orang dewasa yang membimbing dengan melakukan transfer ilmu (&lt;i&gt;transfer knowledge&lt;/i&gt;), transfer nilai (&lt;i&gt;transfer of value&lt;/i&gt;), dan transfer keterampilan (&lt;i&gt;transfer skills&lt;/i&gt;).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Poinnya adalah ilmu, nilai, dan keterampilan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian, kita melanjut pada Pendidikan Islam&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;
Pendidikan Islam&lt;/h3&gt;
&lt;br /&gt;
Pendidikan Islam</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgPMJundn4w3qKYxtBtkUiWyLMRfMUnkenlRBFPVAFUuR6a78bDj6WNAWxqBLFhmF56dXO0QtAuKdELDCVuTULyR7NS5kTO9ia8tVRB8Vdt3fKTT1qNFxFI0z40UhZ8yQz-OI2iJ0gQVBWR/s72-c/guru-pendidikan-islam.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Tes Dalam Evaluasi Pembelajaran</title><link>https://diklinko.blogspot.com/2019/11/tes-evaluasi-pembelajaran.html</link><category>Evaluasi</category><author>noreply@blogger.com (Reza Noprial Lubis, M.Pd)</author><pubDate>Tue, 12 Nov 2019 06:56:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8340927173110413997.post-7966687051533002207</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;img alt="tes-evaluasi-pembelajaran" border="0" data-original-height="350" data-original-width="640" height="350" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjRnRGhXcbIP3zbhzxN4pylDGJEuS2QfbvD92OKHRyQFcSfky7qIByJQ6Uj_WksCkjmHzcHkuh41r2vFdPRXNs7f8o0mS4lYuL2gh1DB9djlNr7ZXSIlcvuUHI6uKohb1jNaVdYMkk2d7aQ/s640/tes-evaluasi-pembelajaran.jpg" title="Gambar tentang Tes dalam evaluasi pembelajaran" width="640" /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Tes merupakan bagian dari evaluasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tes salah satu bentuk kegiatan untuk melakukan evaluasi terhadap pembelajaran.&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Tes dalam hal ini mencakup:&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Pengertian tes dalam evaluasi pembelajaran.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Jenis-jenis tes dalam evaluasi pembelajaran.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Persyaratan Tes dalam Evaluasi Pembelajaran&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ciri-ciri tes yang baik.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;br /&gt;
Mari kita mulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
Pengertian Tes Dalam Evaluasi Pembelajaran&lt;/h2&gt;
Tes merupakan hal yang pada dasarnya kerap dilakukan setiap guru tatkala ingin melihat tingkat keberhasilan belajar siswanya di kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walau demikian, terkadang sebagian orang belum mengerti akan makna dari tes yang dimaksudkan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkadang juga ditemui orang yang menganggap bahwa tes dan evaluasi adalah serupa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada umumnya, tes dan evaluasi memang merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan begitu saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, pada topik pembahasan yang lebih spesifik, tentu tes memiliki makna tersendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian pula halnya dengan evaluasi, juga memiliki maknanya tersendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua bagian ini merupakan bagian yang berbeda, namun saling melengkapi dalam mengjalankan fungsinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai awalan, hal ini dirasa penting untuk ditunjukkan perbedaannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;      &lt;th&gt;Jenis&lt;/th&gt;      &lt;th&gt;Uraian&lt;/th&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;      &lt;td&gt;Evaluasi&lt;/td&gt;      &lt;td&gt;Adalah sebuah kegiatan yang dilakukan untuk mengukur, menilai dan menentukan.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;      &lt;td&gt;Tes&lt;/td&gt;      &lt;td&gt;Merupakan sebuah alat yang dapat digunakan untuk melakukan pengukuran dan penilaian (evaluasi).&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt; &lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
Tabel di atas, menjelaskan bahwa terdapat perbedaan keduanya, antara tes dan evaluasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dapatlah disimpulkan, bahwa tes adalah alat yang digunakan untuk evauasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara umum, dapat dikatakan bahwa tes merupakan turunan dari evaluasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang yang ingin melakukan evaluasi, memerlukan sebuah alat untuk itu. Disitulah dinamakan tes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tes ini, juga banyak banyak alat-alatnya. Terkadang, sebagian orang mengatakan bentuk-bentuk tes, atau yang lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, secara umum hal itu semua bernaung pada deskripsi bahwa tes terbagi lagi kepada alat atau bentuk tesnya tersendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengenai penjelasan ini, akan diulas lebih lanjut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tes juga terkadang memiliki beberapa istilah yang mendekati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun istilah-istilah itu menurut Arikunto&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt; antara lain yaitu:&lt;br /&gt;
&lt;div class="toggle-section-item"&gt;
&lt;div class="toggle-item-title"&gt;
Tes&lt;/div&gt;
&lt;div class="toggle-item-content"&gt;
Tes merupakan bagian yang penting.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="toggle-section-item"&gt;
&lt;div class="toggle-item-title"&gt;
Testing&lt;/div&gt;
&lt;div class="toggle-item-content"&gt;
Tes merupakan bagian yang penting.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="toggle-section-item"&gt;
&lt;div class="toggle-item-title"&gt;
Testee&lt;/div&gt;
&lt;div class="toggle-item-content"&gt;
Tes merupakan bagian yang penting.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="toggle-section-item"&gt;
&lt;div class="toggle-item-title"&gt;
Tester&lt;/div&gt;
&lt;div class="toggle-item-content"&gt;
Tes merupakan bagian yang penting.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Keseluruhannya itu, akan dijelaskan pada penjelasan berikut ini.</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjRnRGhXcbIP3zbhzxN4pylDGJEuS2QfbvD92OKHRyQFcSfky7qIByJQ6Uj_WksCkjmHzcHkuh41r2vFdPRXNs7f8o0mS4lYuL2gh1DB9djlNr7ZXSIlcvuUHI6uKohb1jNaVdYMkk2d7aQ/s72-c/tes-evaluasi-pembelajaran.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Langkah-Langkah Pendekatan Saintifik Pendidikan</title><link>https://diklinko.blogspot.com/2019/11/langkah-pendekatan-saintifik.html</link><category>Saintifik</category><author>noreply@blogger.com (Reza Noprial Lubis, M.Pd)</author><pubDate>Sat, 9 Nov 2019 23:02:00 -0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8340927173110413997.post-8260317506027591030</guid><description>Dalam penerapan &lt;strong&gt;pendekatan saintifik&lt;/strong&gt; pendidikan, memiliki &lt;strong&gt;langkah-langkah&lt;/strong&gt; atau dapat juga disebut dengan &lt;strong&gt;tahapan&lt;/strong&gt; pendekatan saintifik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Langkah pendekatan saintifik ini, dapat dilihat pada gambar di bawah ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setidaknya ada lima &lt;strong&gt;langkah pendekatan saintifik&lt;/strong&gt; yang harus dilaksanakan dalam penerapannya di sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun langkah-langkah pendekatan saintifik yang dimaksud ini antara lain sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
Mengamati (Observasi)&lt;/h2&gt;
&lt;strong&gt;Metode mengamati&lt;/strong&gt; mengutamakan kebermaknaan &lt;strong&gt;proses pembelajaran&lt;/strong&gt; &lt;i&gt;(meaningfull learning)&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Metode ini memiliki keunggulan tertentu, seperti menyajikan &lt;strong&gt;media objek&lt;/strong&gt; secara nyata, &lt;strong&gt;peserta didik&lt;/strong&gt; senang dan tertantang, dan mudah pelaksanaannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abidin&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt; mengatakan bahwa terdapat beberapa langkah-langkah dalam kegiatan mengamati dalam pendekatan saintifik ini, yaitu:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Menentukan objek apa yang akan &lt;strong&gt;diamati&lt;/strong&gt;.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Membuat pedoman sesuai dengan lingkup objek yang diamati&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Menentukan secara jelas tentang data-data yang perlu diamati, atau bagian-bagian yang perlu diamati.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Menentukan dimana tempat objek yang akan diamati&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Menentukan secara jelas bagaimana mengamati akan dilakukan untuk &lt;strong&gt;mengumpulkan data&lt;/strong&gt; agar berjalan dengan mudah dan lancar.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Menentukan cara dan melakukan pencatatan atas &lt;strong&gt;hasil pengamatan&lt;/strong&gt;, seperti menggunakan buku catatan, kamera, &lt;i&gt;tape recorder&lt;/i&gt;, video perekam, dan alat tulis lainnya.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
&lt;strong&gt;Menanya&lt;/strong&gt;&lt;/h2&gt;
Daryanto&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt; mengatakan bahwa &lt;strong&gt;guru&lt;/strong&gt; perlu membimbing peserta didik untuk dapat mengajukan &lt;strong&gt;pertanyaan&lt;/strong&gt; tentang hasil pengamatan objek yang konkrit sampai pada yang abstrak yang berkenaan dengan fakta, konsep, prosedur, ataupun hal lain yang lebih abstrak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika guru menjawab pertanyaan peserta didiknya, kemtika itu pula dia mendorong asuhannya itu untuk menjadi penyimak dan pembelajar yang baik.&lt;sup&gt;3&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Abidin&lt;sup&gt;4&lt;/sup&gt; mengatakan bahwa kegiatan menanya ini memiliki beberapa fungsi, antara lain sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Membangkitkan rasa ingin tahu.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mendorong dan menginspirasi peserta didik untuk aktif belajar.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mendiagnosis kesulitan belajar peserta didik untuk aktif belajar.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mengstrukturkan tugas-tugas dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan sikap, keterampilan dan pemahamannya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Membangkitkan keterampilan peserta didik dalam berbicara, mengajukan pertanyaan, dan memberi jawaban logis.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mendorong partisipasi peserta didik dalam berdiskusi&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Membangun sikap keterbukaan untuk saling memberi dan menerima pendapat atau gagasan.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
&lt;strong&gt;Menyimpulkan Informasi&lt;/strong&gt;&lt;/h2&gt;
Apa yang dimaksud dengan menyimpulkan informasi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Permendikbud Nomor 81A Tahun 2013 menjelaskan bahwa menyimpulkan informasi adalah memproses informasi yang sudah dikumpulkan baik terbatas dari hasil kegiatan mengumpulkan atau eksperimen, maupun hasil dari kegiatan mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi.&lt;sup&gt;5&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkadang, aktivitas menyimpulkan informasi ini disebut sebagai &lt;strong&gt;menalar&lt;/strong&gt;, dimana menalar itu adalah proses berpikir yang logis dan sistematis atas &lt;strong&gt;fakta-fakta empiris&lt;/strong&gt; yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan.&lt;sup&gt;6&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
Mengasosiasikan atau Menalar&lt;/h2&gt;
&lt;strong&gt;Mengasosiasikan atau menalar&lt;/strong&gt; adalah proses berpikir yang logis dan sistematis atas fakta-fakta empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan.&lt;sup&gt;7&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penalaran dalam konteks kurikulum 2013 ini menggambarkan bahwa guru dan peserta didik merupakan pelaku aktif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daryanto&lt;sup&gt;8&lt;/sup&gt; mengungkapkan bahwa terdapat cara dalam meningkatkan daya menalar ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun cara yang dimaksudkan itu antara lain sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Guru menyusun bahan yang sudah siap saji.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Guru tidak banyak menerapkan metode ceramah atau metode kuliah.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Bahan pembelajaran&lt;/strong&gt; disusun secara berjenjang dan hirarkis, dimulai dari yang sederhana hingga yang kompleks.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mengkoreksi setiap kesalahan atau memperbaikinya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Dilakukan dengan pengulangan agar menjadi kebiasaan&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Melakukan evaluasi yang didasari atas perilaku ntaya atau &lt;strong&gt;otentik&lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mencatat semua kemajuan peserta didik.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
&lt;strong&gt;Mengkomunikasikan&lt;/strong&gt;&lt;/h2&gt;
Memberikan kesempatan komunikasi terhadap peserta didik adalah suatu langkah yang bagus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kegiatan ini dapat dilakukan memalui menuliskan atau menceritakan apa yang ditemukan dalam kegiatan sebelumnya (mengamati, mengasosiasikan, dst).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal tersebut disampaikan di kelas oleh peserta didik dan dinilai oleh guru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam Permendikbud Nomor 81A Tahun 2013&lt;sup&gt;9&lt;/sup&gt; juga terdapat beberapa manfaat yang terkandung didalam kegiatan mengkomunikasikan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun manfaat yang dimaksudkan itu antara lain sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Mengembangkan kreativitas, rasa ingin tahu, dan kemampuan merumuskan pertanyaan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mengembangkan sikap teliti, jujur, sopan, menghargai pendapat orang lain, dan kemampuan berkomunikasi.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mengembangkan sikap toleransi, kemampuan berpikir sistematis, dan mengungkapkan pendapat.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Meningkatkan partisipasi siswa dalam interaksi kegiatan pembelajaran.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mengembangkan sikap jujur, teliti, displin, taat aturan, dan kerja keras.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;br /&gt;
Abidin&lt;sup&gt;10&lt;/sup&gt; juga menjelaskan bahwa mengkomunikasikan adalah kemampuan menyampaikan hasil kegiatan yang telah dilaksanakan baik secara lisan maupun tulisan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam hal ini, siswa itu harus mampu menulis dan menjelaskan apa yang ia tulis (komunikatif).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Daftar Bacaan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;Abidin, Yunus. 2014. Desain Sistem Pembelajaran Dalam Konteks Kurikulum 2013. Bandung: PT. Refika Aditama. h. 133-134.&lt;br /&gt;
&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt;Daryanto. 2013. Pendekatan Pembelajaran Saintifik 2013. Yogtakarta: Gava Media. h. 64.&lt;br /&gt;
&lt;sup&gt;3&lt;/sup&gt;Abidin., h. 136.&lt;br /&gt;
&lt;sup&gt;4&lt;/sup&gt;Abidin., h. 136.&lt;br /&gt;
&lt;sup&gt;5&lt;/sup&gt;Lihat Permendikbud Nomor 81A Tahun 2013.&lt;br /&gt;
&lt;sup&gt;6&lt;/sup&gt;Daryanto., h. 70.&lt;br /&gt;
&lt;sup&gt;7&lt;/sup&gt;Daryanto., h. 70.&lt;br /&gt;
&lt;sup&gt;8&lt;/sup&gt;Daryanto., h. 75.&lt;br /&gt;
&lt;sup&gt;9&lt;/sup&gt;Lihat Permendikbud Nomor 81A tahun 2013.&lt;br /&gt;
&lt;sup&gt;10&lt;/sup&gt;Abidin., h. 141.</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Prinsip Evaluasi Pembelajaran</title><link>https://diklinko.blogspot.com/2019/11/prinsip-evaluasi-pembelajaran.html</link><category>Evaluasi</category><author>noreply@blogger.com (Reza Noprial Lubis, M.Pd)</author><pubDate>Sat, 2 Nov 2019 01:40:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8340927173110413997.post-6313666498132189727</guid><description>Apa saja prinsip evaluasi pembelajaran itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya tentang pengertian evaluasi, dijelaskan bahwa evaluasi adalah kegiatan menilai dan mengukur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk melakukan hal itu, perlu memandang prinsip dari evaluasi pembelajaran itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prinsip evaluasi yang paling sering dan umum ditemui adalah adanya triangulasi atau hubungan yang erat antara komponen tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun komponen yang dimaksudkan itu adalah:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Tujuan pembelajaran&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kegiatan pembelajaran (KBM)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Evaluasi&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiga komponen tersebut merupakan komponen yang memiliki keterkaitan antara yang satu dengan yang lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keterkaitan antara ketiga komponen itu, akan terlihat dalam gambar di bawah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;hr class='hijau'&gt;&lt;h2&gt;Hubungan KBM Dengan Tujuan&lt;/h2&gt;&lt;br /&gt;
Jelas saja antara kegiatan belajar mengajar (KBM) dengan tujuan ini memiliki hubungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kegiatan belajar mengajar (KBM) yang disusun oleh guru, tentunya memperhatikan tujuan yang ingin dicapai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentunya, sebelum melaksanakan kegiatan belajar mengajar, guru perlu untuk membuat semacam rencana yang biasa disebut dengan Rencana Praktik Pembelajaran (RPP).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam RPP, juga tercantum tujuan yang ingin dicapai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka dari itu, makna dari panah KBM ke arah tujuan, yakni menjelaskan bahwa KBM dilaksanakan dengan memperhatikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu pula sebaliknya, arah panah dari tujuan ke KBM.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Arah panah ini memberi arti bahwa tujuan pembelajaran itu dapat dicapai dengan KBM yang sesuai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh sebab itu, keduanya ini memiliki hubungan yang erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;hr class='hijau'&gt;&lt;h2&gt;Hubungan Tujuan Dengan Evaluasi&lt;/h2&gt;&lt;br /&gt;
Bila tujuan pembelajaran itu sudah dibuat, maka tentulah memandang perlu evaluasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuan yang dicapai, tentunya memperhatikan bentuk evaluasi yang sesuai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini membuat argumen bahwa evaluasi itu harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini dimaksudkan untuk objektivitas tes yang dilakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu adalah makna dari arah panah tujuan ke evaluasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu sebaliknya, bahwa evaluasi memiliki hubungan dengan tujuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Evaluasi itu pada dasarnya memiliki makna mengukur untuk mengetahui sejauh mana tingkat keberhasilan yang diraih dalam mencapai tujuan pembelajaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka, inilah maksud dari panah yang mengarah dari evaluasi ke tujuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;hr class='hijau'&gt;&lt;h2&gt;Hubungan KBM Dengan Evaluasi&lt;/h2&gt;&lt;br /&gt;
KBM dan evaluasi tentunya juga memiliki hubungan yang erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kegiatan belajar mengajar yang dilakukan tentunya memerlukan perhatian untuk evaluasi yang akan dilaksanakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai contoh, untuk kegiatan belajar yang berorientasi pada kognitif, maka tentunya dibutuhkan evaluasi bentuk kognitif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara, untuk kegiatan belajar yang orientasinya pada afektif, maka dilakukan evalauasi yang sesuai dengan penilaian afektif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari pandangan ini, cukup menjelaskan bahwa kedua komponen (KBM dan Evaluasi) memiliki keterkaitan yang cukup erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keduanya dapat berjalan dengan baik dan terarah bila memperhatikan berbagai hal itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka dari sini, timbullah berbagai bentuk evaluasi seperti bentuk evaluasi tes dan evaluasi non tes.</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Komponen Pengembangan Kurikulum Pendidikan</title><link>https://diklinko.blogspot.com/2019/10/komponen-pengembangan-kurikulum.html</link><category>Kurikulum</category><author>noreply@blogger.com (Reza Noprial Lubis, M.Pd)</author><pubDate>Sat, 26 Oct 2019 00:05:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8340927173110413997.post-5894457819337638478</guid><description>Sebagai alat pendidikan, kurikulum memiliki bagian-bagian penting dan penunjang yang dapat mendukung operasinya secara baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagian-bagian ini disebut komponen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kurikulum sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan memiliki komponen pokok dan komponen penunujang yang saling berkaitan, berinteraksi dalam rangka dukungannya untuk mencapai tujuan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kurikulum dapat dikatakan sebagai sistem dan sistem adalah suatu kesatuan sejumlah elemen (objek, manusia, kegiatan, informasi, dsb) yang terkait dalam proses atau struktur dan dianggap berfungsi sebagai satu kesatuan organisasai dalam mencapai satu tujuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan dipandangnya kurikulum sebagai sistem, maka dapat berarti kurikulum itu dipandang memiliki sejumlah komponen-komponen yang saling berhubungan, sebagai kesatuan yang bulat untuk mencapai tujuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Tabrani Rusyan komponen kurikulum terdiri dari 3 komponen yaitu: (1) Komponen Tujuan, (2) Komponen Struktur Program, (3) Komponen Strategi Pelasanaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangan Menurut S. Nasution komponen Kurikulum yaitu (1) Tujuan pelajaran, umum dan spesifik, (2) Bahan pelajaran yang tersusun sistematis, (3) Strategi belajar-mengajar serta kegiatan-kegiatannya, (4) Sistem Evaluasi untuk mengetahui hingga mana tujuan tercapai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lain halnya dengan Ralph W.Tyler sebagaimana dikutip S. Nasution, mengajukan 4 pertanyaan pokok, yakni:&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Tujuan apa yang harus dicapai sekolah?&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bagaimanakah memilih bahan pelajaran guna mencapai tujuan itu?&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bagaimanakah bahan disajikan agar efektif diajarkan?&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bagaimanakah efektivitas belajar dapat dinilai?&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
Dari beberapa pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa komponen pengembangan kurikulum terdiri dari 4 komponen, yaitu:&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Komponen Tujuan&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Komponen Struktur Program dan Materi&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Komponen Strategi&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Komponen Evaluasi.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
Komponen Tujuan&lt;/h2&gt;
Tujuan pendidikan memegang peranan peting dalam pendidikan, sebab tujuan akan memberikan arah bagi segala kegiatan pendidikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam penyusunan kurikulum, perumusan tujuan ditetapkan terlebih dahulu sebelum menetapkan komponen lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuan pendidikan suatu negara tidak bisa dipisahkan dan merupakan penjabaran dari tujuan negara atau filsafat negara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini disebabkan karena pendidikan merupakan alat untuk mencapai tujuan negara, yakni membentuk manusia seutuhnya berdasarkan UUD 1945 yang bersumber dari Pancasila sebagai filsafat hidup bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;
Tujuan Pendidikan Nasional&lt;/h3&gt;
Tujuan pendidikan nasional ini bersumber dari Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 dirumuskan oleh pemerintah sebagai pedoman bagi pengembangan tujuan-tujuan pendidikan yang lebih khusus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam Tap. MPR No.II/MPR/1988 tentang GBHN tercantum: Pendidikan nasional berdasarkan Pancasila bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras, bertanggung jawab, mandiri, cerdas, dan terampil serta sehat jasmani dan rohani.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (pasal 4) dikatakan bahwa pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan yang berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan rohani dan jasmani, berkepribadian yang mantap dan mandiri serta tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesuai dengan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN), dasar pendidikan Nasional adalah Falsafah Negara Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pasal 3 menjelaskan bahwa:&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Tujuan Pendiidkan Nasional adalah membentuk manusia pembangunan yang ber-Pancasila dan membentuk manusia yang sehat jasmani dan rohaninya, memiliki pengetahuan dan keterampilan, dapat mengembangkan kreativitas dan tanggung jawab, dapat menyuburkan sikap demokrasi dan penuh tenggang rasa dapat mengembangkan kecerdasan yang tinggi dan disertai budi pekerti yang luhur, mencintai bangsanya, dan sesama manusia sesuai dengan ketentuan yang termaktub dalam UUD 1945.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Seluruh Program pendidikan terutama Pendidikan Umum dan bidang studi Ilmu Pengetahuan Sosial, harus berisikan Pendidikan Moral Pancasila dan unsur-unsur yang cukup untuk meneruskan jiwa nilai-nilai 1945 kepada generasi muda.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;
Tujuan Institusional&lt;/h3&gt;
Tujuan institusional adalah tujuan yang harus dicapai oleh setiap lembaga pendidikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuan institusional merupakan tujuan antara untuk mencapai tujuan umum yang dirumuskan, berupa kompetensi lulusan setiap jenjang pendidikan, pendidikan dasar, pendidikan menengah, kejuruan, dan pendidikan tinggi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi SMA misalnya tujuan institusional umum ialah agar lulusannya:&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Menjamin warga negara yang baik sebagai manusia yang u tuh sehat, kuat lahir batin.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Menguasai hasil-hasil pendidikan umum yang merupakan kelanjutan dari pendidikan di Sekolah Menengah Umum tingkat Pertama.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Memiliki bekal untuk melanjutan studinya ke lembaga pendidikan yang lebih tinggin dengan menempuh: (1) program umum yang sama bagi semua siswa, (2) Program pilihan bagi mereka yang mempersiapkan dirinya untuk studi di lembaga pendidikan yang lebih tinggi.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Memiliki bekal untuk terjun kemasyarakat dengan mengambil keterampilan untuk bekerja yang dapat dipilih oleh siswa sesuai dengan minatnya dan kebutuhan masyarakat.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;
Tujuan Kurikuler&lt;/h3&gt;
Tujuan Kurikuler ialah tujuan yang diemban dan harus dicapai oleh setiap bidang studi pada lembaga pendidikan tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artinya kualifikasi atau kemampuan yang harus dicapai oleh setiap siswa setelah ia menyelesaikan program bidang studi yang bersangkutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;
Tujuan Instruksional&lt;/h3&gt;
Tujuan instruksional adalah tujuan yang paling rendah tingkatannya sebab yang langsung berhubungan dengan anak didik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuan instruksional berkenaan dengan tujuan setiap pertemuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artinya, kemampuan-kemampuan yang diharapkan dimiliki siswa setelah ia menyelesaikan pengalaman belajar suatu pertemuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuan instruksional di bedakan ke dalam dua jenis yakni tujuan instruksional umum (TIU) dan tujuan instruksional khusus (TIK).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perbedaan TIU dan TIK terdapat dalam hal perumusannya, TIU dirumuskan dengan kata-kata tingkah laku yang bersifat umum, sedangkan TIK menggunakan kata-kata yang tingkah laku yang bersifat khusus, artinya dapat diukur setelah pelajaran itu selesai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
Komponen Struktur Program Dan Materi (Bahan Ajar)&lt;/h2&gt;
Al-Rasyidin  mengemukakan bahwa, secara umum cakupan kurikulum pendidikan Islam meliputi seluruh kawasan kehidupan manusia Muslim, baik dalam ruang lingkup wilayah ke khalifahan maupun pengabdiannya kepada Allah Swt sebagai makhluk ibadah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, dalam konteks wilayah ke khalifahan manusia, maka kurikulum pendidikan Islam harus memuat tentang:&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Hakikat manusia sebagai: (a) makhluk ciptaan Allah Swt, (b) makhluk yang dianugrahi potensi jismiyah dan rhiyah, sehingga berkemampuan membelajarkan diri, (c) makhluk yang dipilih sebagai khalifah.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kapasitas atas kemampuan manusia dalam meneladani dan mengembangkan sifat-sifat ketuhanan dan tersimpul dalam asma al-husna ke dalam dirinya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Adab atau akhlaq al-karimah, yakni nilai-nilai universitas untuk menata kehidupan diri sendiri, masyarakat dan alam semesta yang sejahtera, anggun dan mulia.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Al-ilm, yaitu ilmu pengetahuan yang dibutuhkan manusia untuk mampu menjalankan tugas ke khalifahannya, baik ilmu yang didatangkan Allah Swt melalui nabi dan Rasul-Nya, maupun ilmu yang dihamparkan-Nya di alam semesta dan dalam diri manusia, yang dapat didekati manusia lewat pengindraan, pemikiran, dan eksperimentasi ilmiah.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Sunnah Allah (Sunnatullah), yaitu perubahan dan perkembangan alam semesta kehidupan manusia dimana mereka dipersyaratkan untuk membekali diri dengan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan kepribadian agar mampu menyiasati dan mewarnai perubahan tersebut ke arah yang lebih baik.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian, dalam konteks disiplin ilmu pengetahuan, maka kurikulum pendidikan Islami harus memuat:&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Ilmu pengetahuan yang digali dan dikembangkan dari Alquran dan Sunnah. Ilmu pengetahuan ini berfungsi untuk memberikan panduan, bimbingan, arahan, dan aspirasi nilai dalam kehidupan peserta didik. Meskipun tidak semua bisa diverifikasi secara saintifik, tetapi kebenarannya bersifat absolut atau mutlak, karna berasal dari Tuhan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ilmu pengetahuan yang digali dan dikembangkan dengan memberdayakan akal atau rasionalitas manusia, baik melalui perenungan, eksplorasi, maupun eksperimentasi ilmiah.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ilmu-ilmu bantu untuk mempermudah pengkajian dan pengembangan kedua ilmu di atas, berkenaan dengan bahasa dan metodologi.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
Komponen Strategi&lt;/h2&gt;
Komponen ketiga dari kurikulum ialah penetapan strategi pelaksanaan kurikulum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komponen ini tidak lain ialah pengaturan pelaksanaan kurikulum yang terdiri atas:&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Sistem penyampaian/proses belajar mengajar.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Penilaian hasil belajar.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bimbingan dan layanan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Administrasi dan Supervisi pendidikan.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;br /&gt;
Penyampaian keempat komponen diatas diarahkan agar kurikulum dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa adanya strategi yang tepat, tak mungkin kurikulum terlaksana dengan baik, sebab:&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Sistem penyampaian/proses belajar mengajar ialah penetapan sistem belajar yang efektif dan berdayaguna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kurikulum yang berlaku ditetapkan bahwa sistem penyampaian pelajaran harus menggunakan prosedur pengembangan sistem instruksional (PPSI) dan satuan pelajaran (Stampel).&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Penilaian sebagai strategi pelaksanaan kurikulum artinya penetapan pola-pola dan cara-cara yang betul-betul memadai sebagai alat ukur keberhasilan pengajaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melalui penilaian formatif dan sumatif, diharapkan hasil-hasil yang diperoleh dapat diakui secara obyektif dan komprehensif. Penilaian adalah tolak ukur proses belajar mengajar.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bimbingan dan pelayanan merupakan kegiatan sebagai upaya bantuan kepada peserta didik yang mengalami kesulitan atau masalah dalam belajar, agar ia dapat membantu pengembangan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan bimbingan dan pelayanan ini, diharapkan hasil yang akan tercapai peserta didik dapat ditingkatkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh sebab itu, program bimbingan dan penyuluhan antara lain merupakan bagian strategi pelaksanaan kurikulum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kegiatan-kegiatan antara lain terutama mengatur kegiatan program, menetapkan sarana dan mekanisme pelaksanaan, mengembangkan instrumen yang diperlukan guna pelaksanaan bimbingan penyuluhan di sekolah.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Administrasi dan supervisi pendidikan sebagai bagian strategi pelaksanaan kurikulum di sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tugas utamanya menunjang kelancaran pelaksanaan proses belajar mengajar, dan merupakan bagian kurikulum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruang lingkup administrasi kesiswaan, administrasi keuangan, dan administrasi material (perlengkapan pengajaran).&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;br /&gt;
Supervisi ditekankan pada usaha bimbingan dan bantuan kepada guru dalam rangka perbaikan proses belajar-mengajar melalui teknik-teknik supervisi seperti rapat-rapat, homevisite, diskusi, wawancara, observasi kelas, dan lain-lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesemuanya itu adalah upaya untuk mendukung pelaksanaan kurikulum sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Subandijah sebagaimana dikutip Abdulloh, guru perlu memusatkan pada kepribadiannya dalam mengajar, menerapkan metode yang tepat, dan memusatkan pada proses dengan produknya, dan memusatkan pada kompetensi yang relevan. Pada intinya guru harus mengoptimalkan perannya sebagai educator, motivator, manager, dan fasilitator.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan menggunakan strategi yang tepat dan akurat proses belajar mengajar dapat memuaskan pendidik dan peserta didik khususnya pada proses transfer ilmu yang dapat ditangkap para peserta didik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
Komponen Evaluasi&lt;/h2&gt;
Untuk melihat sejauh mana tingkat keberhasilan dalam pelaksanaan kurikulum, maka diperlukan evaluasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengingat komponen evaluasi ini sangat berhubungan erat dengan semua komponen lainnya, maka denagan cara evaluasi atau penilaian ini akan mengetahui tingkat keberhasilan dari semua komponen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Evaluasi merupakan proses yang sangat penting dalam kegiatan pendidikan formal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa demikian? Bagi guru evaluasi dapat menentukan efektivitas kinerjanya selama ini; sedangkan bagi pengembang kurikulum evaluasi dapat memberikan informasi untuk perbaikan kurikulum yang sedang berjalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Evaluasi kurikulum bermacam-macam tujuannya. Yang paling penting di antaranya adalah:&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Mengetahui hingga manakah siswa mencapai kemajuan ke arah tujuan yang telah ditentukan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Menilai efektivitas kurikulum.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Menentukan faktor biaya, waktu, dan tingkat keberhasilan kurikulum.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
Keterkaitan Antara Komponen  Kurikulum&lt;/h2&gt;
Keempat komponen itu saling berhubungan. Setiap komponen berkaitan erat dengan komponen lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuan menentukan bahan apa yang akan dipelajari, bagaimana proses belajarnya dan apa yang harus dinilai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian pula penilaian dapat mempengaruhi komponen lainnya. Pada saat dipentingkannya evaluasi dalam bentuk ujian, misalnya UN, SBMPTN, maka timbul kecenderungan untuk menjadikan bahan ujian sebagai tujuan kurikulum, proses belajar mengajar cenderung mengutamakan latihan dan hafalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila salah satu komponen berubah, misalnya ditonjolkanya tujuan yang baru, atau cara penilaian, maka semua komponen lainnya turut mengalami perubahan. Kalau tujuannya jelas, maka bahan pelajaran, PBM, maupun evaluasi pun lebih jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masing-masing komponen tersebut berkaitan erat, saling menunjang, dan merupakan kesatuan yang tak dapat lepas satu dengan lainnya. Apabila satu komponen saja  memiliki kelemahan, maka akan berpengaruh dan menjadi lemah pula komponen-komponen lainnya, yang pada akhirnya akan menyebabkan lemahnya kurikulum itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komponen tujuan misalnya, yang diantaranya memuat berbagai “kemampuan” yang diharapkan dapat dimiliki lulusannya, harus ditunjang oleh “kesesuaian” materi (bahan) pelajaran, proses Belajar Mengajar (PBM), dan evaluasi yang dapat mengukur keberhasilan tujuan tersebut.</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Strategi Pembelajaran Inkuiri</title><link>https://diklinko.blogspot.com/2019/10/strategi-pembelajaran-inkuiri.html</link><category>Strategi-Pembelajaran</category><author>noreply@blogger.com (Reza Noprial Lubis, M.Pd)</author><pubDate>Sat, 12 Oct 2019 23:22:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8340927173110413997.post-1242651475273924724</guid><description>Dalam proses belajar mengajar, strategi pembelajaran sangat dibutuhkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentunya untuk tujuan ini maka strategi pembelajaran termasuk didalamnya mengidentifikasi segala bentuk dalam pelaksanaan proses belajar mengajar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Muhaimin, mengemukakan bahwa paling tidak strategi pembelajaran tersebut sangat bermanfaat pada setiap tahapan dan proses belajar mengajar, baik pada tahap kesiapan &lt;i&gt;(Readiness)&lt;/i&gt;, pemberian motovasi, perhatian, memberikan persepsi, retensi maupun dalam melakukan transfer ilmu pengetahuan kepada siswa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dapat di jelaskan bahwa strategi yang dibutuhkan adalah persiapan proses belajar mengajar dan yang harus diperhatikan adalah kesiapan belajar siswa baik fisik maupun psikis (Jasmani-Rohani) yang memungkinkan siswa atau subjek untuk melakukan proses belajar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selanjutnya, pada aspek pemberian motivasi, strategi sangat memberikan pengaruh karena motivasi ini mengharuskan adanya tenaga pendorong &lt;i&gt;(motivator)&lt;/i&gt; atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku kearah suatu tujuan tertentu, yaitu tujuan dari kegiatan belajar mengajar itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapaun target ideal dari strategi dalam proses pembelajaran adalah kemampuan siswa memahami apa yang telah dipelajari baik kemampuan kognitif, afektif maupun psikomotorik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh sebab itu, keesungguhan siswa dalam kegiatan belajar mengajar dapat dikatakan urgen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Prinsip ini menyangkut suatu proses yang bersifat menyeluruh atau kompleks yang dapat menyebabkan orang dapat menerima atau meringkas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh sebab itu fungsi strategi pandidikan dalam arti mikro (sempit) adalah suatu cara atau teknik yang dapat membantu (secara sadar) pelaksanaan pendidikan dalam mengembangkan aspek jasmani dan rohani peserta didik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;hr class="hijau"&gt;&lt;h2&gt;Prinsip Strategi Pembelajaran Inkuiri&lt;/h2&gt;&lt;br /&gt;
Staraegi pembelajaran inkuiri yang menekankan kepada pengembangan intelektual anak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perkembangan mental (intelektual) itu menurut piaget dalam sanjaya dipengaruhi 4 faktor, yaitu muturation, &lt;i&gt;physical experience, social experience,dan equilibration&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Muturation&lt;/i&gt; atau kematangan adalah proses perubahan fisiologis dan anatomis, yaitu perubahan fisik, yang meliputi pertumbuhan tubuh, pertumbuhan otak, dan pertumbuhan sistem saraf.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertumbuhan otak merupakan salah satu aspek yang sangat berpengaruh terhadap kemampuan berfikir (intelektual) anak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Otak bisa dikatakan sebagai pusat sentral perkembangan dan fungsi kemanusiaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Physical experience&lt;/i&gt; adalah tindakan-tindakan fisik yang dilakukan individu terhadap benda-benda yang ada dilingkungan sekitarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aksi atau tindakan fisik yang dilakukan individu memungkinkan dapat mengembangkan aktivitas/daya pikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gerakan-gerakan fisik yang dilakukan pada akhirnya akan bisa ditransfer menjadi gagasan-gagasan atau ide-ide.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, proses belajar yang murni tak akan terjadi tanpa adanya pengalaman-pengalaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Social experience&lt;/i&gt; adalah aktivitas dalam berhubungan dengan orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melalui pengalaman sosial, anak bukan hanya dituntut untuk mempertimbangkan atau mendengarkan pandangan orang lain, tetapi juga akan menumbuhkan kesadaran bahwa ada aturan lain disamping aturannya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada dua aspek pengalaman sosial yang dapat membantu perkembangan intelektual.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pertama&lt;/b&gt;, pengalaman sosial akan dapat mengembangkan kemampuan berbahasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemampuan berbahasa ini diperoleh melalui percakapan, diskusi, dan argumentasi dengan orang lain (Sanjaya, 2006: 198).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kedua&lt;/b&gt;, melalui pengalaman sosial anak akan mengurangi egocentric-nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedikit demi sedikit akan muncul kesadaran bahwa ada orang lain yang mungkin berbeda dengan dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengalaman semacam itu sangat bermanfaat untuk mengembangkan konsep mental seperti misalnya kerendahan hati, toleransi, kejujuran etika, moral dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Equilibration&lt;/i&gt; adalah proses penyesuaian antara pengetahuan yang sudah ada dengan pengetahuan baru yang ditemukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada kalanya anak dituntut untuk memperbaharui pengetahuan yang sudah terbentuk setelah ia menemukan informasi yang tidak sesuai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atas dasar penjelasan di atas, maka dalam penggunaan strategi pembelajaran inkuiri terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan oleh setiap guru. Setiap prinsip tersebut dijelaskan sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="indent-paragraf"&gt;&lt;h3&gt;1. Berorientasi pada pengembangan intelektual&lt;/h3&gt;Tujuan utama dari strategi pembelajarn inkuiri adalah pengembangan kemampuan berfikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian, strategi pembelajaran ini selain berorientasi pada hasil belajar juga berorientasi pada proses belajar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karna itu, kriteria keberhasilan dari proses pembelajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran inkuiri bukan ditentukan oleh sejauh mana siswa dapat menguasai materi pembelajaran, akan tetapi sejauh mana siswa beraktivitas mencari dan menemukan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;2. Prinsip Interaksi&lt;/h3&gt;Proses pembelajaran pada dasarnya adalah proses interaksi, baik interaksi antara siswa maupun siswa dengan guru, bahkan interaksi antara siswa dengan lingkuangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembelajaran sebagai proses interaksi berarti menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, tetapi sebagai pengatur lingkuangan atau pengaturan interaksi itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru perlu mengarahkan &lt;i&gt;(directing)&lt;/i&gt; agar siswa bisa mengembangkan kemampuan berfikirnya melalui interaksi mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemampuan guru untuk mengatur interaksi memang bukan pekerjaan mudah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sering guru terjebak oleh kondisi yang tidak tepat mengenai proses interaksi itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misalnya, interaksi hanya berlangsung antara siswa yang mempunyai kemampuan berbicara saja walaupun pada kenyataannya pemahaman siswa tentang substansi permasalahan yang dibicarakan sangat kurang, atau guru justru menanggalkan peran sebagai pengatur interaksi itu sendiri (Sanjaya, 2006: 200).      &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;3. Prinsip Bertanya&lt;/h3&gt;Peran guru yang harus dilakukan dalam penggunaan strategi pembelajaran inkuiri adalah guru sebagai penanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebab, kemampuan siswa untuk menjawab setiap pertanyaan pada dasarnya sudah sebagian dari proses berfikir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh sebab itu, kemampuan guru untuk bertanya dalam setiap langkah strategi pembelajaran inkuiri sangat diperlukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbagai jenis dan teknik bertanya perlu dikuasai oleh setiap guru, apakah itu bertanya hanya sekedar untuk meminta perhatian siswa, bertanya untuk melacak, bertanya untuk mengembangkan kemampuan, atau bertanya untuk menguji.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;4. Prinsip Belajar Untuk Berfikir&lt;/h3&gt;Belajar bukan hanya mengingat sejimlah fakta, akan tetapi belajar adalah proses berfikir &lt;i&gt;(learning how to think)&lt;/i&gt;, yakni proses mengembangkan potensi seluruh otak, baik otak kiri maupun otak kanan; baik otak reptil, otak limbik, maupun otak neokortek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembelajaran berfikir adalah pemanfaatan dan penggunaan otak secara maksimal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Belajar yang hanya cenderung memanfaatkan otaka kiri, misalnya dengan memaksa anak untuk berfikir logis dan rasional, akan membuat anak dalam posisi “kering dan hampa”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, belajar berfikir logis dan rasional perlu didukung oleh unsur-unsur yang dapat mempengaruhi emosi, yaitu unsur etestika melalui proses belajar yang menyenangkan dan menggairahkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;5. Prinsip Keterbukaan&lt;/h3&gt;Belajar adalah suatu peroses mencoba berbagai kemungkinan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segala sesuatu mungkin saja terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh sebab itu, anak perlu diberikan kebebasan untuk mencoba sesuai dengan perkembangan kemampuan logika dan nalarnaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang menyediakan berbagai kemungkinan sebagai hipotesis yang harus dibuktikan kebenarannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tugas guru adalah menyediakan ruang untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan hipotesis dan secara terbuka membuktikan kebenaran hipotesis yang diajukannya (Sanjaya, 2006: 201)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;hr class="hijau"&gt;&lt;h2&gt;Keunggulan dan Kelamahan Strategi Pembelajaran Inkuiri&lt;/h2&gt;&lt;br /&gt;
Pada penjelasan sebelumnya, telah dijelaskan mengenai strategi pembelajaran inkuiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada dasarnya, setiap jenis-jenis strategi pembelajaran, memang memiliki kelebihan dan kelamahan yang masing-masingnya berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian pula halnya dengan strategi pembelajaran inkuiri ini, terdapat kelebihan dan kelemahan strategi pembelajaran inkuiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengenai kelebihan dan kelemahan itu, akan diulas dalam penjelasan berikut ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kelebihan Strategi Pembelajaran Inkuiri&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Strategi pembelajaran inkuiri merupakan strategi pembelajaran yang banyak dianjurkan oleh karena strategi ini memiliki beberapa keunggulan, di antaranya:&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Strategi pembelajaran inkuiri merupakan strategi yang menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik secara seimbang, sehingga pembelajaran melaui strategi ini dianggap lebih bermakna.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Strategi pembelajaran inkuiri dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Strategi pembelajaran inkuiri merupakan strategi yang dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi pembelajaran modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku barkat adanya pengalaman.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Keuntungan lain adalah strategi pembelajaran ini dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Artinya, siswa yang memiliki kemampuan belajar bagus tidak akan tehambat oleh siswa yang lemah dalam belajar.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kelemahan Strategi Pembelajaran Inkuiri&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Disamping memiliki keunggulan, strategi pembelajaran inkuiri juga mempunyai kelemahan, di antaranya:&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Jika strategi pembelajaran inkuiri digunakan sebagai strategi pembelajaran, maka akan sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Strategi ini sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh karena terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Terkadang dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang sehingga sering guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi pelajaran, maka strategi pembelajaran inkuiri akan sulit di impelementasikan oleh setiap guru (Sanjaya, 2006: 208).&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;
&lt;hr class="hijau"&gt;&lt;h2&gt;Kesulitan Strategi Pembelajaran Inkuiri&lt;/h2&gt;&lt;br /&gt;
Strategi pembelajaran inkuiri salah satu strategi pembelajaran yang dianggap baru khususnya di indonesia. Sebagai suatu strategi baru, dalam penerapannya terdapat beberapa kesulitan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pertama&lt;/b&gt;, strategi pembelajaran inkuiri merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses berfikir yang berdasarkan kepada dua sayap yang sama pentingnya, yaitu proses belajar dan hasil belajar.  Selama ini guru yang sudah terbiasa dengan pola pembelajaran sebagai proses menyampaikan informasi yang lebih menekankan kepada hasil belajar, banyak yang merasa keberatan untuk mengubah pola pengajarannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kedua&lt;/b&gt;, sejak lama tertanam dalam budaya belajar siswa bahwa belajar pada dasarnya adalah menerima materi pembelajaran dari guru, dengan demikian bagi mereka guru adalah sumber belajar yang utama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Ketiga&lt;/b&gt;, berhubungan dengan sistem pendidikan kita yang dianggap tidak konsisten. Misalnya, sistem pendidikan menganjurkan bahwa proses pembelajaran sebaiknya menggunakan pola pembelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan berfikir melalui pendekatan student active learning atau yang dikenal dengan CBSA, atau melalui anjuran penggunaan kurikulum berbasis kompetensi (KBK), namun dilain pihak sistem evaluasi yang masih digunakan misalnya sistem ujian akhir nasional (UAN) berorientasi pada pengembangan aspek kognitif. Tentu saja hal ini bisa menambah kebingungan guru sebagai pelaksana dilapangan (Sanjaya, 2006: 207).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;hr class="hijau"&gt;&lt;h2&gt;Referensi&lt;/h2&gt;&lt;br /&gt;
Sanjaya. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana. h. 208.</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Kurikulum Pendidikan: Kajian Konsep Dasar</title><link>https://diklinko.blogspot.com/2019/10/kurikulum-pendidikan.html</link><category>Kurikulum</category><author>noreply@blogger.com (Reza Noprial Lubis, M.Pd)</author><pubDate>Sat, 5 Oct 2019 04:08:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8340927173110413997.post-7018611061177914550</guid><description>&lt;strong&gt;&lt;b&gt;Kurikulum Pendidikan&lt;/b&gt;&lt;/strong&gt; bukanlah istilah yang tabu lagi dalam dunia pendidikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, hal ini sangatlah penting untuk diketahui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam tulisan ini, anda akan mengetahui tentang:&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Pengertian Kurikulum Pendidikan&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kurikulum Sebagai Sistem&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Komponen Kurikulum Pendidikan&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Pengembangan Kurikulum Pendidikan&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Singkatnya:&lt;/b&gt; Saya meyakini bahwa anda memiliki pengetahuan lebih tentang ini, dan saya menunggu komentar anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari kita mulai pembahasan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;hr class="hijau" /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
Pengertian Kurikulum Pendidikan&lt;/h2&gt;
Apa itu kurikulum pendidikan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk mengetahui defenisi tentang kurikulum pendidikan, tentu kita harus memilahnya terlebih dahulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kurikulum itu berasal dari kata &lt;i&gt;Currir&lt;/i&gt; (Pelari) dan &lt;i&gt;Curere&lt;/i&gt; (tempat berpacu), dan pada awalnya digunakan dalam dunia olahraga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat itu kurikulum diartikan sebagai jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari mulai dari &lt;i&gt;start&lt;/i&gt; sampai finish untuk memperoleh medal/penghargaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian, pengertian tersebut diterapkan dalam dunia pendidikan menjadi sejumlah mata pelajaran (subjek) yang harus ditempuh oleh seorang siswa dari awal sampai akhir program pelajaran untuk memperoleh penghargaan dalam bentuk ijazah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan pengertian diatas, dalam kurikulum terkandung dua hal pokok yaitu:&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Adanya mata pelajaran yang harus ditempuh oleh siswa, dan;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;tujuan utamanya yaitu untuk memperoleh ijazah&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;br /&gt;
Menurup Harold B. Alberty memandang kurikulum sebagai semua kegiatan yang diberikan kepada siswa di bawah tanggung jawab sekolah (&lt;i&gt;all of the activities that are provided for the student by the school&lt;/i&gt;).&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan Said Hamid Hasan Mengemukakan bahwa pada saat sekarang istilah kurikulum memiliki empat dimensi pengertian, dimana satu dimensi dengan dimensi lainnya saling berhubungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keempat dimensi kurikulm tersebut yaitu:&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Kurikulum sebagai suatu ide/gagasan;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kurikulum sebagai suatu rencana tertulis yang sebenarnya merupakan perwujudan dari kurikulm sebagai suatu ide;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kurikulu sebagai suatu kegiatan yang sering pula disebut dengan istilah kurikulum sebagai suatu realita atau implementasi kurikulum. Secara teoritis, dimensi kurikulum ini adalah pelaksanaan dari kurikulum sebagai suatu rencana tertulis;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kurikulum sebgai suatu hasil yang merupaka konsekuensi dari kurikulum sebagai suatu kegiatan.&lt;sup&gt;3&lt;/sup&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
Kurikulum Sebagai Sistem&lt;/h2&gt;
Penjelasan sebelumnya telah menjelaskan tentang kurikulum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, yang perlu diketahui tentang sistem, sehingga dapat mendefenisikan tentang kurikulum sebagai sistem.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengenai kurikulum sebagai sistem, sebenarnya telah dijelaskan pada halaman lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Silahkan lihat halaman itu bila diinginkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
Komponen Kurikulum Pendidikan&lt;/h2&gt;
Kurikulum ternyata memiliki komponen tersendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Komponen pendidikan itu antara lain yakni&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
Pengembangan Kurikulum Pendidikan&lt;/h2&gt;
Memang pada dasarnya, dalam mencapai sebuah hasil yang maksimal tentu diperlukan sebuah tindakan semacam pengembangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam hal ini, mengingat bahwa kurikulum itu penting, maka dirasa perlu untuk dikembangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, dalam pengembangan kurikulum memandang perlu tentang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
Daftar Bacaan&lt;/h2&gt;
&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran. TT. Kurikulum dan Pembelajaran. (Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada). h. 2.&lt;br /&gt;
&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt;&lt;i&gt;Ibid.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;sup&gt;3&lt;/sup&gt;&lt;i&gt;Ibid.&lt;/i&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Hakikat Pendidikan Islam</title><link>https://diklinko.blogspot.com/2019/10/pendidikan-islam.html</link><category>Pendidikan-Islam</category><author>noreply@blogger.com (Reza Noprial Lubis, M.Pd)</author><pubDate>Sat, 5 Oct 2019 01:23:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8340927173110413997.post-5817683599636195568</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;img alt="hakikat-pendidikan-islam" border="0" data-original-height="350" data-original-width="640" height="350" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiJgIRcvqBYUa8iEHbNlWTKCTe0qEPjKZR83YfH3LJYZmu-3SVzBXy0cf-bDRO6UbyGdNty5Kg8lrNql3Iv6CnlYZd0v8FIu5eEtjrNS7ejAAPTsLLn5rMSFQiTBDBlV_vUDPKMesBZicDp/s640/hakikat-pendidikan-islam.jpg" title="Gambar tentang hakikat pendidikan islam" width="640" /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
Pengertian Pendidikan&lt;/h2&gt;
Makna pendidikan secara sederhana dapat diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian, bagaimanapun sederhananya peradaban suatu masyarakat, di dalamnya terjadi atau berlangsung suatu proses pendidikan. Karena itulah sering dinyatakan pendidikan telah ada sepanjang peradaban umat manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendidikan pada hakikatnya merupakan usaha manusia melestarikan hidupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum diuraikan mengenai pengertian pendidikan Islam, terlebih dahulu akan dijelaskan mengenai pengertian pendidikan secara umum agar pembahasannya lebih sistematis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengingat pengertian pendidikan Islam itu tidak terlepas dari pengertian pendidikan pada umumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian akan kita ketahui arti dan batasan-batasan pendidikan Islam yang jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan berasal dari kata dasar “didik” (mendidik), yaitu memelihara dan memberi latihan (ajaran pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara istilahnya pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku sesorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendidikan menurut pengertian Yunani adalah “pedagogik” yaitu ilmu menuntun anak, orang Romawi memandang pendidikan sebagai “educare”, yaitu mengeluarkan dan menuntun, tindakan merealisasikan potensi anak yang dibawa dilahirkan di dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bangsa Jerman melihat pendidikan sebagai “Erzichung” yang setara dengan educare, yakni membangkitkan kekuatan terpendam atau mengaktifkan kekuatan/potensi anak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan Ki Hajar Dewantara mengartikan pendidikan sebagai upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun pengertian pendidikan, oleh para pakar antara lain didefinisikan sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&lt;ul class="special-list arrow noborder"&gt;
&lt;li&gt;Menurut Ahmad D. Marimba, Pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Menurut Langeveled, Pendidikan adalah suatu bimbingan yang diberikan orang dewasa kepada anak yang belum dewasa untuk mencapai tujuan yaitu kedewasaan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Menurut UU RI No. 20 / 2003 tentang SISDIKNAS, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Menurut Brubacher, Pendidikan diartikan sebagai proses timbal balik dari tiap pribadi manuisa dalam penyesuaian dirinya dengan alam, dengan teman, dan dengan alam semesta. Pendidikan merupakan pula perkembangan yang terorganisasi dan kelengkapan dari semua potensi-potensi manusia ; moral, intelektual dan jasmani (fisik), oleh dan untuk kepribadian individunya dan kegunaan masyarakatnya yang diharapkan demi menghimpun semua aktivitas tersebut bagi tujuan hidupnya (tujuan akhir).&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;br /&gt;
Proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengertian ini seakan menjelaskan bahwa pendidikan mengandung tiga unsur, yaitu adanya suatu proses, perbuatan dan cara mendidik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagaimana pengajaran juga diartikan sebagai proses, perbuatan, cara mengajar, atau mengajarkan serta segala hal yang berhubungan dengan mengajar. Berdasarkan penjelasan ini, istilah pendidikan dan pengajaran, dalam bahasa Indonesiapada satu sisi terkadang selalu dimaknai sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari beberapa definisi di atas dapat dipahami, pendididkan adalah suatu proses atau usaha yang dilakukan secara sadar untuk memberikan bimbigan atau pengarahan terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak menuju kesempurnaan dan kelengkapan arti kemanusiaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau dengan kata lain menuju terbentuknya manusia yang dewasa, memiliki ketrampikan, keahlian yang sempurna dengan kepribadian atau akhlak yang utama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
Istilah Pendidikan dalam Islam &lt;/h2&gt;
Secara umum, jika ditelaah, setidaknya ada tiga terma yang digunakan Al Qur’an dan hadis berkaitan dengan konsep dasar pendidikan Islam. Ketiga terma itu adalah tarbiyah, ta’lim, ta’dib.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun sering diterjemahkan dalam arti yang sama, yakni pendidikan bahkan terkadang pengajaran, namun ketiga terma ini pada dasarnya memiliki tekanan makna yang berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karenanya semua terma tersebut perlu ditelaah untuk memperoleh pemahaman yang utuh tentang hakikat pendidikan dalam Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam penggunaannya terdapat perbedaan di antara para pakar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misalnya Ahmad Tafsir lebih condong pada istilah tarbiah, sementara Syed Naquib al-Attas lebih condong pada istilah ta’dib.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbeda halnya dengan Azyumardi Azra, menurut beliau pengertian pendidikan dengan seluruh totalitasnya dalam konteks Islam inheren dalam konotasi istilah tarbiyah, ta’lim dan ta’dib yang harus dipahami secara bersama-sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiga istilah tersebut mengandung makna yang amat dalam, menyangkut manusia dan masyarakat serta lingkungan yang dalam hubungannya dengan Tuhan saling berkaiatan satu sama lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut beliau istilah-istilah itu pula yang sekaligus menjelaskan ruang lingkup pendidikan Islam; formal, informal dan nonformal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari ketiga istilah tersebut yang berkembang dan populer digunakan dalam masyarakat secara umum adalah tarbiyah. Salah satu bentuk penggunaannya terlihat pada penamaan fakultas-fakultas pendidikan dengan Kulliyyah al-Tarbiyah ( كلية التربيه ) yang di Indonesia disebut dengan Fakultas Tarbiyah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;
Istilah Tarbiyah&lt;/h3&gt;
Istilah tarbiyah bisa dilihat dari beberapa akar kata, antara lain pertama raba-yarbu ( ربا - يربو ) yang berarti bertambah dan tumbuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua rabiya- yarba ( ربي- يربي ) yang berarti mendidik dan mengasuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiga rabba-yarubbu ( رب - يرب ) yang berarti memperbaiki, mengasuh, memimpin, menjaga dan memelihara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terma tarbiyah menurut Anis berasal dari kata rabb yang berarti tumbuh dan berkembang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengertian ini juga diberikan oleh Al-Qurtuby yang menyatakan bahwa pengertian dasar kata rabb menunjukkan makna tumbuh, berkembang, memelihara, merawat, mengatur dan menjaga kelestarian atau eksistensinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara menurut Al-Ashfahany, kata al Rabb bisa berarti mengantarkan sesuatu kepada kesempurnaan dengan bertahap atau membuat sesuatu untuk mencapai kesempurnaan secara bertahap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari beberapa definisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan (tarbiyah) terdiri dari empat unsur, yaitu:&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Menjaga dan memelihara fitrah anak menjelang baligh.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mengembangkan seluruh potensi dan kesiapan yang bermacam-macam.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mengarahkan seluruh fitrah dan potensi anak menuju kepada kebaikan dan kesempurnaan yang layal baginya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Proses ini dilaksanakan secara bertahap.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;
Istilah Ta’lim&lt;/h3&gt;
Istilah ini telah digunakan sejak periode awal pelaksanaan pendidikan Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut para ahli, kata ini lebih bersifat universal dibanding dengan al-tarbiyah maupun al-ta’dib.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasyid Ridho misalnya mengartikan al-ta’lim sebagai proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Argumentasinya didasarkan dengan merujuk pada ayat ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artinya: Sebagaimana (kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalimat wa yu’allimu hum al kitab wa al hikmah dalam ayat tersebut menjelaskan tentang aktivitas Rasulullah mengajarkan tilawah Al-Qur’an kepada kaum Muslimin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Abdul Fattah Jalal, apa yang dilakukan Rasulullah bukan hanya sekedar membuat umat Islam bisa membaca, melainkan membawa kaum Muslimin kepada nilai pendidikan tazkiyah an nafs (pensucian diri) dari segala kotoran, sehingga memungkinkannya menerima al hikmah serta mempelajari segala yang bermanfaat untuk diketahui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, makna tidak hanya terbatas pada pengetauan yang lahiriyah, akan tetapi mencakup pengetahuan teoritis, mengulang secara lisan, pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan, perintah untuk melaksanakan pengetahuan dan pedoman untuk berprilaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;
Istilah Ta’dib&lt;/h3&gt;
Muhammad Nadi Al Badri, mengemukakan bahwa pada zaman klasik, orang hanya mengenal kata ta’dib untuk menunjukkan kegiatan pendidikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengertian seperti itu terus terpakai sepanjang masa kejayaan Islam, hingga semua ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh akal manusia pada masa itu disebut adab, baik yang berhubungan langsung dengan Islam seperti fikih, tafsir, tauhid, ilmu bahasa arab dan sebagainya, maupun yang tidak berhubungan langsung seperti ilmu fisika, filsafat, astronomi, kedokteran, farmasi, dan lain-lain. Semua buku yang memuat ilmu tersebut dinamai kutub al-adab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ta’dib adalah pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan kepada manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan sedemikian rupa, sehingga membimbing ke arah pengenalan dan pengakuan kekuasaan dan keagungan Tuhan di dalam tatanan wujud dan keberadaannya. Pengertian ini didasarkan oleh hadis Nabi:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
أَدَّبَنِيْ رَبِّيْ فَأَحْسَنَ تَأْدِيْبِيْ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuhanku telah mendidik ku dan telah membaguskan pendidikanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam struktur telaah konseptualnya, ta’dib sudah mencakup unsur-unsur pengetahuan (ilmu), pengajara (ta’lim) dan pengasuhan yang baik (tarbiyah).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian ta’dib lebih lengkap sebagai term yang mendeskripsikan proses pendidikan Islam yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan proses ini diharapkan lahir insan-insan yang memiliki integritas kepribadian yang utuh dan lengkap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut al-Attas, istilah tarbiyah yang sekarang ini banyak digunakan merupakan istilah yang terlalu luas. Kata tarbiyah yang bermakna pengasuhan, pemeliharaan dan kasih sayang, tutur al-Attas, tidak saja ditujukan untuk manusia, tetapi juga digunakan untuk melatih atau memelihara binatang ternak, sedangkan pen¬didikan kata al-Attas mestilah khas manusiawi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih dari itu, al-Attas menyatakan bahwa penggunaan istilah tarbiyah untuk pengertian pendidikan tidak mempunyai akar yang kuat dalam khazanah bahasa Arab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Timbulnya istilah itu dalam dunia Islam merupakan terjemahan dari bahasa Latin yaitu educatio, atau dari bahasa Inggris yaitu education, yang dalam pengertian aslinya, menurut konsep Barat yang sekular, lebih cenderung mengutamakan aspek fisik dan material.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalaupun dalam istilah Barat itu dijumpai juga makna pembinaan moral dan intelektual, tetapi sumbernya bukanlah wah¬yu, melainkan hasil spekulasi filosofis mengenai etika yang diterap¬kan atas dasar ideologi materialisme dan sekularisme.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masih menurut al-Attas, bahwa penggunaan kata rabb yang termaktub dalam surat al-Isrâ`/17 ayat 24 yang banyak dijadikan sebagai dasar pemakaian istilah tarbiyah, terlalu dipaksakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam hal ini al-Attas berargumentasi bahwa kata rabbayânâ yang terdapat dalam surat al-Isrâ`/17: 24 yang berbunyi wa qul rabb al-ham¬humâ kamâ rabbayânî shaghîrâ” mempunyai arti rahmah yakni ampunan atau kasih sayang dalam arti pemberian makanan, pakaian, tempat berteduh, perawatan dan kasih sayang; sebagai pemeliharaan yang diberikan orang tua kepada anak-anaknya. Kata “ka” dari “ka mâ” yang terdapat pada ayat itu, di dalam bahasa Arab dikenal sebagai kaf al-tasybiyyah, yang berfungsi untuk perbandingan. Yang diban¬dingkan di sini ialah antara kata irhamhumâ (= rahmah) dengan rab¬bayânî (= tarbiyah). Jadi, makna tarbiyah pada ayat ini sama dengan arti rahmah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dilihat dari segi ini jelas bahwa makna rahmah tidak melibatkan pengetahuan, tetapi lebih mengacu pada suatu kondisi eksistensial yang berbeda dengan makna ‘ilm.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini menjadi jelas seperti diungkapkan dalam surat al-Mu`min/25: 24, bahwa antara rah¬mah dan ‘ilm jelas berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
Pengertian Pendidikan Islam&lt;/h2&gt;
Pendidikan Agama Islam dalam pandangan yang sebenarnya adalah suatu sistem  pendidikan yang memungkinkan seseorang dapat mengarahkan kehidupannya sesuai dengan cita-cita Islam, sehingga dengan mudah ia dapat membentuk hidupnya sesuai dengan ajaran Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Omar Muhammad At-Toumi Asy-Syaibany mendefinisikan pendidikan Islam adalah Proses mengubah tingkah laku individu pada kehidupan pribadi, masyarakat, dan alam sekitarnya, dengan cara pengajaran sebagai suatu aktivitas asasi dan sebagai profesi diantara profesi-profesi asasi dalam masyarakat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengertian tersebut menfokuskan perubahan tingkah laku manusia yang konotasinya pada pendidikan etika. Selain itu, pengertian tersebut menekankan pada aspek-aspek produktivitas dan kreativitas manusia dalam peran dan profesinya dalam kehidupan dalam masyarakat dan alam semesta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara pengertian Pendidikan Islam mengutip pendapat para ahli didefinisikan sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&lt;ul class="special-list arrow noborder"&gt;
&lt;li&gt;Menurut Yusuf Qardawi, pendidikan Islam adalah Pendidikan manusia seutuhnya; akal dan hatinya, jasmani dan rohaninya, akhlak dan ketrampilannya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Menurut Hasan Langgulung, Pendidikan Islam adalah Suatu proses penyiapan generasi muda untuk mengisi peranan, memindahkan pengetahuan dan nilai-nilai Islam yang diselaraskan dengan fungsi manusia untuk beramal di dunia dan memetik hasilnya di akhirat. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa pendidikan Islam dalam pengertian di atas merupakan suatu proses pembentukan individu berdasarkan ajaran Islam yang diwahyukan Allah kepada Muhammad melalui proses mana individu dibentuk agar dapat mencapai derajat yang tinggi sehingga ia mampu menunaikan tugasnya sebagai kholifah di bumi yang dalam kerangka lebih lanjut mewujudkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Menurut Drs Ahmadi, Pendidikan Islam adalah Segala usaha untuk mengembangkan dan memelihara fitrah manusia serta sumber daya insani yang ada padanya menuju terbentuknya manusia seutuhnya (insan kamil) sesuai dengan norma Islam.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Menurut Ahmad D. Marimba, Pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani dan rohani menuju kepada terbentuknya kepribadian yang utama menurut ukukran-ukuran Islam.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Menurut al-Thoumi al-Syaibany, Pendidikan Islam adalah proses mengubah tingkah laku individu peserta didik pada kehidupan pribadi, masyarakat dan alam sekitarnya.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;br /&gt;
Proses tersebut dilakukan dengan cara pendidikan dan pengajaran sebagai suatu aktivitas asasi dan profesi di antara sekian banyak profesi asasi dalam masyarakat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendidikan Islam dalam pemahaman Hasan Langgulung mencakup kehidupan manusia seutuhnya, tidak hanya memperhatikan segi aqidah tetapi juga ibadah serta akhlak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih lanjut Hasan Langgulung menjelaskan bahwa pendidikan Islam adalah suatu proses spiritual, akhlak, intelektual, dan sosial yang berusaha membimbing manusia dan memberinya nilai-nilai dan prinsip serta teladan yang ideal dalam kehidupan dunia akhirat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari beberapa pengertian tersebut, menurut penulis dalam memberikan pengertian pendidikan, Hasan Langgulung menekankan pendidikan sebagai alat pengembangan potensi, pewarisan budaya dan sebagai interaksi antara potensi dan budaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kesempatan lain Hasan Langgulung memberikan pengertian bahwa yang dimaksud dengan pendidikan adalah suatu proses yang mempunyai tujuan yang biasanya diusahakan untuk menciptakan berbagai pola tingkah laku tertentu pada anak-anak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendapat ini juga sesuai dengan tokoh-tokoh lain yang mengungkapkan bahwa pendidikan merupakan hasil pengaruh dari lingkungan terhadap individu yang berupa tindakan membimbing secara sadar untuk memelihara dan mengembangkan fitrah serta potensi insani.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya saja dalam memberikan pengertian pendidikan ini Hasan Langgulung juga memberikan kejelasan mengenai arah dari adanya pendidikan itu sendiri yang berupa pembentukan kepribadian atau terbentuknya manusia seutuhnya, sedang dalam hal ini sebagian tokoh lainnya tidak menambahkan hal tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari beberapa definisi di atas, secara umum pendidikan Islam dapat didefinisikan sebagai suatu proses atau usaha yang dilakukan secara sadar untuk membina, mengarahkan dan mengembangkan secara optimal fitroh atau potensi manusia dalam segenap aspek, baik jasmani maupun rohani berdasarkan nilai-nilai ajaran Islam untuk memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat dengan memerankan fungsinya sebagai Abdullah dan khalifatullah.</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiJgIRcvqBYUa8iEHbNlWTKCTe0qEPjKZR83YfH3LJYZmu-3SVzBXy0cf-bDRO6UbyGdNty5Kg8lrNql3Iv6CnlYZd0v8FIu5eEtjrNS7ejAAPTsLLn5rMSFQiTBDBlV_vUDPKMesBZicDp/s72-c/hakikat-pendidikan-islam.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Standar Kepala Sekolah</title><link>https://diklinko.blogspot.com/2019/09/standar-kepala-sekolah.html</link><author>noreply@blogger.com (Reza Noprial Lubis, M.Pd)</author><pubDate>Sat, 28 Sep 2019 17:42:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8340927173110413997.post-8898877310449637303</guid><description>Kepala sekolah adalah sosok pemimpin dalam sebuah lembaga sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Standar kepala sekolah perlu diciptakan sebagai upaya dalam mencapai tujuan lembaga secara khususnya, dan tujuan pendidikan nasional secara umumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, kepala sekolah merupakan sosok inti dalam keberlangsungan kegiatan belajar mengajar di sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Program yang dibuatnya, sejatinyalah mendukung dari tujuan pendidikan itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, untuk mencapai cita-cita menjadi kepala sekolah yang baik, tentu perlu mengetahui tentang standar kepala sekolah yang ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk itu, mari kita mulai pembahasan mengenai standar kepala sekolah ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara umum, standar kepala sekolah ini dibedakan menjadi 3 bagian, yaitu:&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Kualifikasi umum;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kualifikasi khusus;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kompetensi&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;br /&gt;
Kita akan bahas satu per satu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
Kualifikasi Umum&lt;/h2&gt;
Sebutan dalam bagian ini adalah "umum".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari sini, tentunya akan menjelaskan tentang standar yang umum saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, apa saja standar yang umum itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
Sarana/Diploma&lt;/h2&gt;
Ini merupakan bagian yang terbilang sangat umum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap pendidik atau tenaga kependidikan, biasanya mengerti akan persoalan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sangat bagus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepala sekolah, harus memiliki tingkat kualifikasi pendidikan yang memadai, seperti sarjana atau diploma.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian, diyakini seorang kepala sekolah itu akan lebih memiliki keilmuan terhadap bidang pekerjaannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disamping itu, posisinya juga akan terhormat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, jangan salah tanggap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terhormat bukan berarti memiliki kuasa penuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terhormat disini maksudnya, akan memiliki pengaruh yang baik bagi para anggotanya (yang dalah hal ini adalah guru).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian, pendidikan yang kepala sekolahnya memenuhi standar dan dapat dihormati oleh rekan kerjanya, akan lebih mudah untuk mengontrol pekerjaan anggotanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian, dalam berkelompok, hal ini memberikan pengaruh dan diperkirakan dapat mencapai tujuan yang ingin dicapai.</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Cara Membuat Judul Skripsi</title><link>https://diklinko.blogspot.com/2019/09/cara-membuat-judul-skripsi.html</link><category>Penelitian</category><author>noreply@blogger.com (Reza Noprial Lubis, M.Pd)</author><pubDate>Sat, 7 Sep 2019 02:05:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8340927173110413997.post-7181082472414649227</guid><description>Apa yang kamu pikirkan tentang &lt;strong&gt;judul skripsi&lt;/strong&gt;?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini baru permulaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Skripsi lebih dikenal di kalangan mahasiswa, terutama mahasiswa tingkat akhir yang akan menyelesaikan pendidikan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk membuat judul skripsi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disini, saya akan memberikan beberapa tips dalam membuat judul skripsi yang nantinya dapat dijadikan referensi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang harus anda lakukan sekarang?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Membuatnya begitu saja?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini akan berarti sia-sia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila anda membuat judul skripsi begitu saja, tanpa didasari dengan konsep yang jelas, maka ini adalah hal yang membuang waktu saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lupakan itu, dan ikuti beberapa tips yang akan saya bagikan disini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;hr class="hijau"&gt;&lt;h2&gt;Tentukan Masalah&lt;/h2&gt;&lt;br /&gt;
Ini adalah langkah yang paling dasar yang perlu dilakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menentukan masalah bukanlah perkara yang mudah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peneliti dirasa perlu untuk melihat atau memandang subjek penelitiannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila dirasa dalam diri subjek penelitiannya itu terdapat sesuatu yang tidak pada tempatnya, maka itu tentu masalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini murni dari objek penelitian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Objek penelitian disini tidak hanya terbatas pada manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisa saja seperti keadaan kelas, minat siswa, kepribadian guru, dan lainnya yang masih banyak lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, bagaimana cara menentukan masalahnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini bukanlah persoalan yang sulit sehingga membiarkan skripsi tertutup begitu saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, saya tidak mengatakan bahwa ini adalah hal yang mudah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkadang, bagi sebagian orang yang saya temui, mereka mengalami kesulitan untuk menentukan sebuah masalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah hal yang wajar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karenanya, saya menuliskan ini untuk anda yang memiliki kesulitan yang serupa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, carilah dan tentukanlah masalah dalam diri objek yang akan diteliti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini membutuhkan proses yang tidak sebentar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya menyarankan agar jauh sebelum merencanakan penelitian, hal ini sudah terlaksana dan sudah menemukan titik poin masalahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai contoh: Anda berencana menganalisis suatu sekolah untuk mencari permasalahan yang akan dituntaskan dalam skripsi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anda tentunya memiliki pengetahuan yang mempuni tentang suatu kata kunci tertentu. Misalnya, kata kuncinya yaitu kompetensi kepribadian guru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang Anda ketahui tentang kompetensi kepribadian guru itu? Misalnya, guru yang memiliki kompetensi kepribadian baik itu bila guru yang mantap, guru yang stabil, dan seterusnya sesuai dengan referensi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah sebenarnya celah untuk menentukan permasalahan dalam penelitian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di lapangan, hal ini akan lebih cenderung mudah untuk terlihat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena pada prosesnya, terkadang antara teori dan praktik tidak relefan, walau hanya sebagian kecil saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang sudah menemukannya. Di suatu sekolah, terdapat guru yang tidak mantap dalam menjalankan profesinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai disini, inti dari permasalahan sudah dapat diselesaikan. Selanjutnya, tingga menentukan objek penelitian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;hr class="hijau"&gt;&lt;h2&gt;Tentukan Objek Penelitian&lt;/h2&gt;&lt;br /&gt;
Objek penelitian adalah hal inti yang diteliti. Hal ini berbeda dengan subjek penelitian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Objek penelitian sifatnya lebih terfokus. Terkadang, dapat juga dikaitkan dengan istilah fokus penelitian (dalam kualitatif).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam pembahasan sebuah penelitian, objek penelitian adalah bagian yang akan diulas habis. Sementara untuk subjek penelitian, hanyalah sebagai pengantar saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, subjek penelitian tidak akan dibahas disini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melanjut dari contoh sebelumnya, misalnya saja objek penelitian itu adalah kompetensi kepribadian guru (didasari dari guru yang tidak memiliki sikap mantap).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka subjek penelitiannya adalah guru itu sendiri. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa subjek penelitian disini bukanlah sesuatu yang berarti mendalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jelaslah sudah bahwa objek penelitian yang akan diteliti adalah tentang kompetensi guru, dan fokus penelitian itu difokuskan pada kompetensi kepribadian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya, ini berkaitan dengan metode penelitian yang akan di bahas pada bagian selanjutnya. Oleh sebab itu, kedua hal ini harus dipandang sejalan dan tidak dapat diabaikan salah satunya, karena akan mengakibatkan terhambatnya penelitian yang dilakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah peneliti akan memerankan penelitian berjenis penelitian kualitatif, atau kuantitatif?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal itu akan disesuaikan dengan penjelasan setelah bagian ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang jelas bahwa menentukan objek penelitian adalah hal yang pokok dalam jenis penelitian apapun itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini memang terkesan biasa, namun terkadang dapat membingungkan peneliti dalam menyusun laporan hasil penelitian mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teori yang dipaparkan untuk dijadikan sebagai landasan ternyata melebar terlalu jauh sehingga deskripsi dari penelitian itu terkesan tidak terfokus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, bagian ini dianggap menjadi bagian pokok atau terpenting dalam sebuah penelitian untuk menentukan judul skripsi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;hr class="hijau"&gt;&lt;h2&gt;Menentukan Metodologi&lt;/h2&gt;&lt;br /&gt;
Ini bagian yang tidak kalah pentingnya. Menentukan metodologi adalah lanjutan setelah mengetahui subjek dan objek dalam penelitian untuk menentukan judul skripsi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Metodologi adalah cara untuk melakukan penelitian. Sehingga, jawabannya akan berbentuk seperti metodologi penelitian kualitatif, atau metodologi penelitian kuantitatif, atau bahkan &lt;i&gt;maxing method&lt;/i&gt; (walau jarang digunakan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti yang dijelaskan sebelumnya, bahwa ini berkaitan dengan fokus penelitian atau objek yang akan diteliti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pastikan keseluruhannya itu sudah ditetapkan dengan matang, tentang apa masalah yang ada, dan apa identifikasi yang didapatkan saat melakukan observasi lapangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disini, adalah langkah terakhir dari cara membuat judul skripsi. Karena, ketika sudah melewati tahapan di atas, maka semestinya sudah dapat membuatkan sebentuk judul skripsi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Format judul skripsi itu didasarkan pada jenis penelitian yang akan dilaksanakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk penelitian dengan jenis kualitatif, biasanya berformat seperti: Objek + Subjek + Lokasi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam penerapannya, akan terlihat seperti gambar di bawah ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara untuk penelitian jenis kuantitatif, biasanya berformat seperti: (Hubungan/pengaruh) + Objek1 (Variabel 1) + Objek2 (Variabel 2) + Lokasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penulisannya seperti gambar di bawah ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila mengikut pada contoh sebelumnya, bisa memilih untuk menerapkan penelitian jenis kualitatif. Karena, pada contoh di atas, hanya menggambarkan kualitas guru itu sendiri yang disesuikan dengan teori yang ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin juga untuk diarahkan ke penelitian jenis kuantitatif. Tetapi, hal ini tentunya menambah waktu untuk melakukan observasi lagi untuk menentukan variabel lanjutannya. Karena, kuantitatif pada dasarnya melihat dan membandingkan dua sisi antara variabel 1 dengan variabel 2.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh sebab itu, observasi yang lebih mendalam dibutuhkan disini untuk mengulas permasalahan lain yang ada, lalu kemudian dibandingkan untuk ditentukan hubungan/pengaruh/korelasi-nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;hr class="hijau"&gt;&lt;h2&gt;Bagaimana Membuat Judul Skripsi PTK&lt;/h2&gt;&lt;br /&gt;
PTK merupakan singkatan dari Penelitian Tindakan Kelas. Penelitian jenis ini, memiliki ciri khas tertentu yang menjadi pembeda dengan penelitian jenis lainnya (kualitatif dan kuantitatif).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam penelitian tindakan kelas, terdapat sebuah kata yang mencolok untuk dijadikan pembeda dengan penelitian jenis lainnya, yaitu adanya tindakan dalam penelitiannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penelitian ini mengedepankan dengan tindakan atau yang dalam bahasa Inggris disebut &lt;i&gt;action&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Membuat judul skripsi PTK membutuhkan pengamatan yang berbeda pula bila dibandingkan dengan penelitian jenis lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam membuat judul skripsi PTK, diperlukan adanya pemahaman tentang aksi apa yang akan diterapkan dalam penelitiannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara kata "kelas" dalam penelitian tindakan kelas, memberi arti bahwa sekelompok orang tertentu. Keliru bila menganggap bahwa kelas disini berarti ruang kelas siswa di sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makna kelas dalam penelitian tindakan kelas lebih luas dari pada yang diperkirakan itu. Hal ini tidak hanya terbatas pada ruang kelas saja, melainkan orang-orang atau sekelompok orang yang dalam penerapan yang serupa, dan pembelajaran yang sama, diwaktu yang sama pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk mempermudah hal ini, kita ambil contoh PTK untuk kelas di sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk membuat judul skripsi PTK, peneliti harus melihat masalah terlebih dahulu. Hal ini merupakan pondasi dasar atau awal dalam sebuah penelitian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peneliti dapat melihat keadaan kelas yang diamati. Apakah kondisi kelas itu efektif atau tidak. Bila ditemukan kelas yang tidak efektif, maka disinilah fokus untuk mencari persoalan yang ada untuk dijadikan sebagai objek penelitian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah yang dinamakan masalah. Bila sebuah kelas sudah berjalan tidak efektif (menurut beberapa teori), maka ini sudah tidak relefan lagi dengan teori yang ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka, atas dasar ini dapat dijadikan sebagai landasan untuk membuat judul skripsi PTK.</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Cara Membuat Instrumen Penelitian Kualitatif</title><link>https://diklinko.blogspot.com/2019/08/membuat-instrumen-penelitian-kualitatif.html</link><author>noreply@blogger.com (Reza Noprial Lubis, M.Pd)</author><pubDate>Sat, 31 Aug 2019 10:43:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8340927173110413997.post-6813888177452978153</guid><description>Ada banyak cara membuat Instrumen penelitian kualitatif untuk seorang peneliti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, saya ingin memberikan sesuatu yang saya ketahui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Faktanya, ini saya terapkan untuk sebuah penelitian yang saya lakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan dalam membuat instrumen penelitian kualitatif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anda akan menemukannya dalam bahasan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari kita mulai.&lt;br /&gt;
&lt;hr class="hijau" /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;Tentang Instrumen Penelitian Kualitatif&lt;/h2&gt;Instrumen merupakan hal pokok yang harus ada dalah sebuah penelitian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak mungkin sebuah penelitian itu dapat berjalan tanpa adanya instrumen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernyataan ini terlihat sederhana. Tetapi, bukan masalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penelitian yang baik, tentunya berawal dari susunan instrumen yang baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaannya: Bagaimana membuat instrumen yang baik?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anda akan menemukan jawabannya setelah membaca tulisan ini hingga usai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernyataan sebaliknya, bila instrumen penelitian kualitatif itu tidak baik, sudah barang tentu hasil penelitian yang adapun diragukan objektifitasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jauh sebelum tulisan ini diterbitkan, saya mendapatkan informasi tentang ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;Sesuaikan instrumen penelitian kualitatif ini, dengan fokus masalah atau pertanyaan penelitian. Ini akan lebih baik.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;
Itu deskripsi yang memuaskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada yang menyangkalnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya yakin, anda yang membuka tulisan ini, bagian dari peneliti, seperti mahasiswa, atau peneliti umum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Instrumen penelitian kualitatif adalah alat yang digunakan dalam penelitian kualitatif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini tentu berbeda jauh dengan instrumen penelitian untuk jenis yang lain, seperti penelitian kuantitatif, penelitian tindakan kelas, atau bahkan penelitian jenis maxing method.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Instrumen penelitian kualitatif, identik dengan bentuk pertanyaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena, salah satu cara mengambil data dalam penelitian kualitatif, adalah dengan cara wawancara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah istilah yang familiar untuk penelitian kualitatif adalah triangulasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini merupakan cara mereduksi data untuk penelitian kualitatif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alurnya, dari hasil wawancara yang didapatkan, lalu kemudian disesuaikan dengan studi dokumen yang ditemukan, dan dilakukanlah penyesuaian atau keselarasan antara keduanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perjalanan yang indah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berapa poin yang diperlukan untuk membuat instrumen penelitian kualitatif ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini bergantung pada peneliti itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, anggapan yang baik adalah bahwa semakin banyak poin yang dibuat, semakin baik untuk kualitas penelitian itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini memberi penjelasan bahwa instrumen penelitian yang dibuat berbentuk kerucut dan mendalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila berasumsi pada pendapat semacam ini, hasil yang didapatpun akan lebih terlihat objektif.&lt;br /&gt;
&lt;hr class="hijau" /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;Tentukan Fokus Penelitian&lt;/h2&gt;Ini merupakan bagian penting.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa waktu yang lalu, saya menemukan sekelompok teman yang mempertanyakan hal serupa, yaitu fokus penelitian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini menjadi pembeda dengan jenis penelitian lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fokus penelitian hanya dimiliki oleh penelitian jenis kualitatif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentukan fokus penelitian, dan ketahui subjek penelitian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah langkah awal untuk menempuh tahapan selanjutnya.&lt;br /&gt;
&lt;hr class="hijau" /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;Temukan Teori Relevan&lt;/h2&gt;Bagian ini, akan membuat asumsi bahwa teori relevan itu sangatlah penting.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Buatlah kajian sebanyak mungkin yang sesuai dengan fokus penelitian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misalnya, fokus penelitian yang akan diteliti adalah tentang kepribadian guru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuangkanlah sebanyak-banyaknya teori yang berkaitan tentang itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jabarkan dengan senyuman segala hal yang berkaitan tentangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini akan membuat sebuah teori itu menjadi berarti.&lt;br /&gt;
&lt;hr class="hijau" /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;Fokus Turunan&lt;/h2&gt;Saya pikir, istilah ini baru kali ini ditemukan dalam hal penelitian kualitatif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini hanya bersifat asumsi saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya tidak dapat menjabarkan berbagai teori tentangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, lihatlah betapa menariknya asumsi ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya menamainya dengan fokus turunan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya sama saja dengan istilah indikator, atau yang lain sesuai dengannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fokus turunan maksudnya disini adalah indikator dari fokus yang akan diteliti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengambil contoh sebelumnya, sebuah penelitian yang berfokus pada kepribadian guru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah penjabaran teori dilakukan, temukan indikator dari kepribadian guru itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam hal ini, anda dapat merujuk pada Undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disana, dijelaskan tentang turunan dari kepribadian guru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah yang dimaksud fokus turunan yang dijelaskan di atas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tahapan ini, anda sudah menemukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang perlu dilakukan selanjutnya adalah mengambil data dari tiap-tiap indikator itu, dan mereduksinya.&lt;br /&gt;
&lt;hr class="hijau" /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;Membuat Pertanyaan&lt;/h2&gt;Ini dimaksudkan untuk melakukan wawancara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa wawancara adalah salah satu cara yang dilakukan untuk mengambil data dalam penelitian kualitatif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah indikator itu ditemukan, maka dibuatkan pertanyaan untuk mengambil data tentang indikator itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Buatlah pertanyaan sebaik mungkin dan hindari hal yang tidak berguna, seperti pertanyaan yang menyimpang dari pembahasan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan ini haruslah masuk akal dan dapat dipertanggungjawabkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam hal ini, peneliti akan lebih jauh mengetahuinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Evaluasi Pendidikan Ditinjau Dari Segi Konsep Dasar</title><link>https://diklinko.blogspot.com/2019/08/evaluasi-pendidikan.html</link><category>Evaluasi-Pendidikan</category><author>noreply@blogger.com (Reza Noprial Lubis, M.Pd)</author><pubDate>Sat, 31 Aug 2019 04:07:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8340927173110413997.post-3287839005386715974</guid><description>Evaluasi pendidikan merupakan hal yang kerap sekali dilaksanakan bagi praktisi pendidikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu contohnya yaitu guru selaku evaluator terhadap hasil belajar peserta didiknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, dalam lingkungan pendidikan mungkin masih ditemukan guru yang belum memahami akan evaluasi pendidikan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka dari itu, bagian ini dirasa penting untuk dikaji lebih mendalam dan teoritis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam tulisan ini, akan dibahas tentang:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Apa Yang Dimaksud Dengan Evaluasi Pendidikan&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Apa Itu Penilaian, Pengukuran dan Evaluasi&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Apa Tujuan Evaluasi Pendidikan&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mengapa Evaluasi Masih Diperlukan Dalam Dunia Pendidikan&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;
Saya menunggu tanggapan anda tentang evaluasi pendidikan yang anda ketahui di kolom komentar yang sudah disediakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang saatnya mengetahui tentang evaluasi pendidikan lebih dalam.&lt;br /&gt;
&lt;hr class="hijau" /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;Apa Yang Dimaksud Dengan Evaluasi Pendidikan&lt;/h2&gt;Hal ini bukanlah hal yang baru saja dibahas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak para ahli sudah mendefenisikannya lebih dulu tentang yang dimaksud dengan evaluasi pendidikan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img alt="evaluasi-pendidikan" border="0" data-original-height="360" data-original-width="640" height="360" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEicMyjx53BzKUxM79p8dT859fpkU7XfhqptjsuDBoNtZc_oxpn6a8O56vEVH4-D4wHlv50-pF9CarOkPDCq0JMp7Sdf95HRHbOTRHIkZCAgVfUn8lplasmuAhQ8ZMcJMiKJzmjJR6SUc1JB/s640/evaluasi-pendidikan.jpg" title="Gambar tentang evaluasi pendidikan" width="640" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Seperti yang dijelaskan oleh Ramayulis&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt; yang mengatakan bahwa evaluasi adalah proses menganalisis, mengumpulkan informasi guna menggunakan keluasan pencapaian tujuan oleh individu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam konteks pendidikan, individu maksudnya disini adalah para peserta didik itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal senada juga diungkapkan oleh Sudjana&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt; yang mengatakan bahwa evaluasi adalah proses menentukan nilai suatu objek tertentu berdasarkan suatu kriteria tertentu. Proses tersebut berlangsung dalam bentuk interpretasi yang diakhiri dengan &lt;i&gt;judgement&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Poin yang didapat yakni adanya &lt;i&gt;judgement&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Judgemen&lt;/i&gt; berarti pertimbangan atau dapat juga diartikan keputusan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Evaluasi pendidikan berarti melakukan penilaian terhadap kegiatan belajar siswa untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan dalam mencapai tujuan pembelajaran kala itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, setiap materi pelajaran yang diajarkan oleh guru tentunya memiliki tujuan tertentu yang ingin dicapai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam rangka mengetahui atau melihat sejauh mana tingkat keberhasilan itu, maka dilakukanlah evaluasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kegiatan evaluasi melibatkan dua (2) kegiatan, yaitu mengukur dan menilai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila keduanya ini dilaksanakan, maka itulah yang dikatakan evaluasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai contoh, seorang guru melakukan evaluasi terhadap peserta didiknya dengan memberikan tes tertulis kepada mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selanjutnya, para peserta didik itu menyelesaikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal selanjutnya yaitu mengukur dan menilai tentang tes yang dilakukan siswa tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu kemudian memberikan nilai &lt;i&gt;(judgement)&lt;/i&gt; terhadap tiap-tiap peserta didiknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;Apa Itu Pengukuran, Penilaian dan Evaluasi&lt;/h2&gt;Sebenarnya, ketiga bagian ini merupakan satu kesatuan yang utuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Evaluasi tidak dapat terjadi bila tidak melakukan penilaian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penilaian tidak akan dapat dilakukan, sebelum melakukan pengukuran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiganya adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam hal evaluasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaikan sebuah sistem, ketiga hal ini saling memiliki keterkaitan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;Pengukuran &lt;i&gt;(Measurement)&lt;/i&gt;&lt;/h3&gt;Pengukuran adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran tertentu.&lt;sup&gt;3&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengukuran bersifat kuantitatif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai contoh, seseorang memberikan dua buah penggaris yang tidak sama panjangnya dan kita diminta untuk memilih salah satunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, kita akan mengukur terlebih dahulu penggaris yang lebih panjang, dan memilihnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemilihan penggaris yang lebih pendek mungkin dikarenakan alasan khusus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umumnya, kita akan memilih penggaris yang panjang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img alt="pengukuran-evaluasi-pendidikan" border="0" data-original-height="360" data-original-width="640" height="360" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjIp3mcplaMhM_BfWr0A3DXkJ_RsBnJpBkKmAmRk00W5ZwDeaWcdapjog4gV5T46zk3h7J7rEgqon9nQuEzoY3ht2Wf7zpi1ksFzvSdHgeoNari6FuZ-0II3mY3I1_lB5jOZ-U8nAi7E4vy/s640/pengukuran-evaluasi-pendidikan.jpg" title="Gambar tentang pengukuran evaluasi pendidikan" width="640" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Dalam contoh ini, sesungguhnya seseorang telah melakukan kegiatan pengukuran, dimana mengukur sesuatu dengan ukuran tertentu yang dalam contoh di atas perbandingannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam contoh lain misalnya:&lt;br /&gt;
Seseorang membeli buah mangga di pasar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umumnya, orang akan mencari buah mangga yang layak dimakan seperti manis, kekuningan, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Buah mangga yang belum layak digunakan, biasanya dipilih dengan alasan tertentu dan tidak dibahas disini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat seseorang itu membeli buah, tentunya melihat mana buah yang berwarna kekuningan, agak sedikit ranum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila sudah menemukannya, maka memilihnya untuk dibeli.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini berdasarkan pengalaman, bahwa buah yang berwarna sedikit kekuningan dan ranum itu lebih terasa manis dan layak untuk dikonsumsi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini merupakan bagian dari pengukuran, dimana seseorang melihat berdasarkan pengalaman biasanya, yaitu melihat buah mangga yang berwarna kekuningan dan ranum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah pengukuran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah melakukan pengukuran, maka seseorang itu akan menilai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;Penilaian &lt;i&gt;(Evaluation)&lt;/i&gt;&lt;/h3&gt;Ini merupakan lanjutan dari pengukuran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mengukur sesuatu dengan satu ukuran tertentu, maka seseorang itu akan menilai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penilaian suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk, manis tidak manis, cantik kurang cantik, dan lain sebagainya.&lt;sup&gt;4&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penilaian ini bersifat kualitatif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti dalam contoh di atas (penggaris), setelah mengukur mana penggaris yang lebih panjang, maka selanjutnya adalah menilai dan akan mengatakan bahwa "ini penggaris yang panjang".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka selanjutnya memilihnya untuk diambil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu pula halnya dengan contoh buah di atas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang akan menilai bahwa buah sedikit kekuningan itu memiliki rasa yang manis dan dapat dikonsumsi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka selanjutnya memilihnya untuk dibeli.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;Evaluasi&lt;/h3&gt;Evaluasi adalah kegiatan yang mencakup kedua istilah di atas, yaitu pengukuran dan penilaian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Arikunto,&lt;sup&gt;5&lt;/sup&gt; kata evaluasi dalam bahasa Indonesia itu diperoleh dari kata &lt;i&gt;evaluation&lt;/i&gt; yang berarti menilai atau penilaian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umumnya, ketiga istilah ini dapat berarti sama dan dapat digunakan secara bergantian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;Apa Tujuan Evaluasi Pendidikan&lt;/h2&gt;Dalam melakukan kegiatan evaluasi, tentu dirasa perlu memandang tujuan dari evaluasi pendidikan itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa ahli juga memberikan pendapatnya mengenai tujuan evaluasi pendidikan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudjana&lt;sup&gt;6&lt;/sup&gt; mengatakan bahwa&amp;nbsp;Penilaian terhadap proses belajar mengajar bertujuan agak berbeda dengan tujaun penilaian hasil belajar. Apabila penilaian hasil belajar lebih ditekankan pada derajat penguasaan tujuan pengajaran (intruksional) oleh para siswa, maka tujuan penilaian proses belajar mengajar lebih ditekankan pada perbaikan dan pengoptimalan kegiatan belajar mengjaar itu sendiri, terutama efisiensi-keefektivan-produktivitasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih spesifik, Ramayulis&lt;sup&gt;7&lt;/sup&gt; merumuskan beberapa poin yang menjadi tujuan evaluasi, yaitu sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Untuk mengetahui atau mengumpulkan informasi tentang taraf perkembangan dan kemajuan yang diperoleh peserta didik dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam kurikulum pendidikan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mengetahui prestasi hasil belajar guna menetapkan keputusan apakah bahan pelajaran perlu diulang untuk dapat dilanjutkan. Dengan demikian, prinsip long life education bebar-benar berlajan secara berkesinambungan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mengetahui efektivitas cara belajar dan mengajar apakah yang telah dilakukan pendidik benar-benar tepat atau tidak.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mengetahui kelembagaan, ketersediaan sarana prasarana, dan efektifitas media yang digunakan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mengetahui sejauh mana muatan kurikulum telah dipenuhi dalam proses kegiatan belajar mengajar.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mengetahui alokasi pembiayaan yang dibutuhkan dalam berbagai kebutuhan pendidikan, baik secara fisik, maupun kebutuhan psikis.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;Beberapa pendapat para ahli di atas, dapatlah diambil kesimpulan untuk menjawab tujuan evaluasi ini.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Adapun beberapa tujuan dilakukannya evaluasi adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;1. Untuk Mengukur Keberhasilan&lt;/h3&gt;Setiap kegiatan yang dilakukan tentu memiliki tujuan tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila kegiatan itu dapat terlaksana dengan baik, maka keberhasilan adalah kata yang tepat untuk disandangkan padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana cara mengetahui berhasil atau tidaknya sebuah kegiatan itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka, disinilah dibutuhkan kegiatan evaluasi dan hal ini merupakan bagian dari tujuan evaluasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan melakukan evaluasi terhadap suatu kegiatan, maka akan mengetahui tentang sejauh mana tingkat keberhasilan kegiatan yang dilakukan itu dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai contoh, sebuah kegiatan belajar mengajar dengan materi sholat di lingkungan sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anggap saja, tujuan dari materi sholat ini adalah siswa dapat mempraktikkan gerakan sholat dengan sempurna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka, tentulah dilakukan evaluasi untuk mengetahuinya, misalnya dengan cara melakukan tes dengan bentuk non tes (praktek).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan ini, akan didapati hasil berdasarkan pengukuran dan penilaian tertentu yang menggambarkan berhasil atau tidaknya seseorang itu mencapai tujuan yang telah ditetapkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini merupakan bagian penting dalam evaluasi pendidikan, yaitu untuk mengukur sejauh mana tingkat keberhasilan sebuah kegiatan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;2. Untuk Mengetahui Kelemahan&lt;/h3&gt;Disamping mengetahui keberhasilan, tentu akan sangat baik bila melihat kelemahan yang ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini umumnya akan terlihat bila sebuah kegiatan yang dilakukan itu tidak berjalan dengan baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai contoh, kasus yang digunakan sama seperti nomor 1 di atas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah kegiatan belajar siswa dengan materi sholat dilaksanakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diakhir kegiatan dilakukan evaluasi dengan melakukan praktik sholat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ternyata, setelah dilakukan evaluasi, terdapat siswa yang tidak dapat mempraktikkan sholat itu, sehingga membuat kesimpulan bahwa peserta didik tersebut tidak dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan evaluasi yang dilakukan, akan memperlihatkan titik atau poin dimana kegagalan itu ada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini akan ditemui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, dengan melakukan evaluasi, kelemahan itu akan terlihat dan menjadi bahan analisa demi perbaikan di masa mendatang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;3. Untuk Memberikan &lt;i&gt;Judgement&lt;/i&gt; Terhadap Sesuatu&lt;/h3&gt;&lt;i&gt;Judgement&lt;/i&gt; atau keputusan merupakan bagian akhir dari evaluasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Judgement&lt;/i&gt; terhadap sesuatu adalah hal yang wajib diberikan untuk menentukan poin terhadap sebuah kegiatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan melakukan evaluasi, maka akan memperlihatkan sebuah nilai kegiatan itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anggap saja mengikut pada contoh yang dijelaskan sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai contoh: Dalam kegiatan sholat, terdapat beberapa siswa yang meraih nilai memuaskan, dan sebagian lainnya bernilai tidak memuaskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sehingga, setiap orang mendapatkan nilai tersendiri. Misalnya, si A mendapatkan nilai 10, si B mendapatkan nilai 90, dan seterusnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih luas lagi, &lt;i&gt;judgement&lt;/i&gt; yang diberikan itu dapat dikelompokkan oleh guru untuk diberikan pembelajaran lebih agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah yang menjadi alasan mengapa evaluasi itu penting untuk dilakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;Mengapa Evaluasi Masih Diperlukan Dalam Dunia Pendidikan&lt;/h2&gt;Jelas saja evaluasi itu akan tetap diperlukan dalam dunia pendidikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana tidak, tentunya dalam kegiatan pendidikan atau pembelajaran, haruslah memiliki dan memandang perlu pencapaian tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan demi mencapai cita-cita pendidikan di tanah air.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada penjelasan sebelumnya, memperlihatkan bahwa betapa pentingnya kegiatan evaluasi itu dilakukan, terlebih dalam dunia pendidikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Evaluasi senantiasa diperlukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila memperhatikan tentang ranah evaluasi, tentunya akan lebih dapat menjawab pertanyaan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Evaluasi itu lebih luasnya membahas tentang ranah-ranah yang dapat dievaluasi, seperti ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotorik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiga ranah ini, perlu dikembangkan dalam diri peserta didik demi mencapai manusia yang insan kamil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk mengembangkan masing-masing ranah itu, tentu diperlukan adanya penilaian atau evaluasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan menjadi suatu omong kosong bila pembelajaran itu tidak menekankan pada evaluasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paling tidak, deskripsi ini menjelaskan bahwa evaluasi masih diperlukan dan memang penting adanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;Referensi&lt;/h2&gt;&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;Ramayulis. 2008. &lt;i&gt;Metodologi Pendidikan Agama Islam&lt;/i&gt;. Jartarta: Kalam Mulia. h. 332&lt;br /&gt;
&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt;Sudjana, Nana. 2009. &lt;i&gt;Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar&lt;/i&gt;. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. h. 3&lt;br /&gt;
&lt;sup&gt;3&lt;/sup&gt;Arikunto, Suharsimi. 2012. &lt;i&gt;Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan&lt;/i&gt;. Jakarta: Bumi Aksara. h. 3&lt;br /&gt;
&lt;sup&gt;4&lt;/sup&gt;Arikunto, Suharsimi. h.3.&lt;br /&gt;
&lt;sup&gt;5&lt;/sup&gt;Arikunto, Suharsimi. h.3.&lt;br /&gt;
&lt;sup&gt;6&lt;/sup&gt;Sudjana, Nana. 2009. h. 57.&lt;br /&gt;
&lt;sup&gt;7&lt;/sup&gt;Ramayulis dan Syamsul Nizar. Filsafat Pendidikan Islam. (Jakarta: Kalam Mulia, 2009). h. 240-241.</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEicMyjx53BzKUxM79p8dT859fpkU7XfhqptjsuDBoNtZc_oxpn6a8O56vEVH4-D4wHlv50-pF9CarOkPDCq0JMp7Sdf95HRHbOTRHIkZCAgVfUn8lplasmuAhQ8ZMcJMiKJzmjJR6SUc1JB/s72-c/evaluasi-pendidikan.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Metode Pembelajaran: Bagian Penting Guru</title><link>https://diklinko.blogspot.com/2019/08/metode-pembelajaran.html</link><category>Metode-Pembelajaran</category><author>noreply@blogger.com (Reza Noprial Lubis, M.Pd)</author><pubDate>Sat, 3 Aug 2019 23:46:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8340927173110413997.post-5265823023154067025</guid><description>Metode pembelajaran merupakan hal yang penting bagi seorang guru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa demikian?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa metode pembelajaran yang baik, sebuah kegiatan pengajaran itu dinilai kurang efektif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam tulisan ini, akan dibahas tentang:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Pengertian Metode Pembelajaran&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Jenis Metode Pembelajaran&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Manfaat Metode Pembelajaran&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa basa-basi, mari kita mulai pembahasan ini.&lt;br /&gt;
&lt;hr class="hijau" /&gt;
&lt;h2&gt;
Pengertian Metode Pembelajaran&lt;/h2&gt;
Sebenarnya, apa itu metode pembelajaran?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Metode pembelajaran bukanlah istilah yang asing lagi bagi seorang pendidik atau guru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kegiatan mengajarnya, guru diharuskan memiliki metode tersendiri dalam mendukung kegiatan belajarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Metode ini juga beragam, dan disesuaikan dengan materi ajar yang diajarkannya di kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Istilah &lt;a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Metode" target="_blank"&gt;metode&lt;/a&gt;, berasal dari bahasa Yunani yang berarti cara atau jalan yang ditempuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejalan dengan itu, dalam kbbi online juga dijelaskan bahwa &lt;a href="https://kbbi.web.id/metode" target="_blank"&gt;metode&lt;/a&gt; merupakan cara yang&amp;nbsp;dilakukan untuk mencapai target yang diharapkan, atau yang dikehendaki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sederhananya; Metode itu dapat diartikan sebagai cara untuk mencapai sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai contoh, seseorang ingin berkunjung ke Pasar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lantas, bagaimana caranya agar dia bisa sampai di Pasar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentunya, dengan cara berkendara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu sebagai contoh untuk mendefenisikan cara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini tidak akan dijelaskan lebih dalam lagi, karena dianggap sudah sering dan masing-masing orang sudah memiliki defenisinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Poinnya adalah bahwa cara yang dilewati untuk mencapai sesuatu atau target.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana dengan metode pembelajaran?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentunya maknanya tidak jauh berbeda dari yang telah dijelaskan di atas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat guru melakukan pembelajaran di kelas, memaparkan materinya, maka sesungguhnya ia memiliki tujuan khusus untuk itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini tertuang dalam Kompetensi Inti atau Kompetensi Dasar peserta didiknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misalnya, sang guru mengajar materi sholat, dan siswa harus mengetahui tentang gerakan sholat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuan dari pembelajaran itu, adalah siswa harus dapat memperaktekkan gerakan sholat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika itu berhasil, maka pembelajaran dianggap sukses.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, dalam mencapai tujuan itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yaitu tentang bagaimana cara untuk mencapai tujuan pembelajaran itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana cara agar siswa itu dapat mempraktikkan sholat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disinilah yang dimaksudkan dengan metode pembelajaran itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada cara khusus yang perlu diterapkan dan tentunya tidak sembarangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa? Karena ini berkaitan dengan tujuan pembelajaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka tentu tidaklah sembarangan dan perlu pertimbangan matang dalam membuatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam hal ini, perlu untuk mengetahui tentang jenis-jenis metode pembelajaran yang akan dibahas pada bagian di bawah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpanya, tentunya metode pembelajaran yang diteprakan akan diragukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
Jenis Metode Pembelajaran&lt;/h2&gt;
Pada penjelasan sebelumnya, telah dijelaskan bahwa guru dalam mengajar harus memperhatikan tujuan pembelajaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara mencapai tujuan pembelajaran itu, tentu dengan cara mengenal jenis metode pembelajaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu kemudian diterapkan, dan memungkinkan untuk mencapai tujuan pembelajaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa saja jenis metode pembelajaran itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada beberapa jenis metode pembelajaran yang akan dituliskan disini, antara lain yaitu:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Metode ceramah&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Metode diskusi&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Metode saintifik&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;br /&gt;
Umumnya, guru menerapkan metode ini dalam satu jenis di setiap kegiatan belajar mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka dari itu, hal ini tentunya disesuaikan dengan tujuan pembelajaran mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
Manfaat Metode Pembelajaran&lt;/h2&gt;
Tentu, dengan diterapkannya metode pembelajaran guru, akan memiliki beberapa manfaat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa-apa saja manfaat dari metode pembelajaran itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk mengetahuinya, dapat melihat bagian berikut ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;
1. Pembelajaran Menjadi Terarah&lt;/h3&gt;
Tentunya, metode pembelajaran ini bermanfaat bagi guru pribadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini, akan membantu guru itu dalam kegiatan belajar mengajarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila pembelajaran diterapkan tanpa memperhatikan metode pembelajaran, maka sang guru akan kesulitan dalam mengajarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bisa saja, pembelajaran yang disajikannya keluar dari bahasan materi dan ini berdampak buruk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Justru, hal ini akan mengurangi minat dan motivasi belajar siswa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, intinya adalah bahwa metode pembelajaran ini bermanfaat untuk mengarahkan pembelajaran guru agar sesuai dengan tujuan pembelajaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;
2. Terhindar Dari Rasa Bosan&lt;/h3&gt;
Jelas saja hal ini mungkin terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasa bosan memang selalu menjadi bagian penting dalam kegiatan belajar mengajar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembelajaran yang monoton dan membosankan, tentu akan mengurangi kualitas pembelajaran kala itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menghindari rasa bosan, adalah dengan menerapkan salah satu metode pembelajaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini menjadi sesuatu yang menarik bagi siswa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bayangkan saja, bila seorang guru mengajar dengan membuat kelompok dan mengarahkan siswa untuk berdiskusi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini akan terhindar dari rasa bosan siswa dan&amp;nbsp; jauh lebih efektif.</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Pembelajaran Dalam Pendidikan</title><link>https://diklinko.blogspot.com/2019/08/pembelajaran-dalam-pendidikan.html</link><author>noreply@blogger.com (Reza Noprial Lubis, M.Pd)</author><pubDate>Sat, 3 Aug 2019 20:18:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8340927173110413997.post-2417816620167830722</guid><description>Pendidikan adalah sarana yang teramat baik bagi setiap manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendidikan dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional telah menjelaskan bahwa pendidikan sebagai upaya yang sadar untuk mengembangkan potensi dan kecerdasan anak bangsa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Defenisi singkat itu, memberi pemahaman bahwa pendidikan itu benar-benar bagian terpenting bagi kehidupan manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian pula halnya pembelajaran, yang secara sederhana dapat didefenisikan sebagai kegiatan yang terjadi dalam lingkungan belajar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembelajaran, pada umumnya dapat dimodifikasi oleh guru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang umum bila sang guru mengharapkan pembelajaran yang dilakukannya bernilai baik dan dapat mencapai tujuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembelajaran yang baik, tentunya memandang beberapa bagian penting, diantaranya yaitu:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Sebelum pembelajaran&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Proses pembelajaran&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Setelah pembelajaran.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keseluruhannya itu tergabung menjadi satu dalam setiap kegiatan belajar yang dilakukan guru dan siswanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari kita ulas berbagai bagian penting di atas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
Sebelum Pembelajaran&lt;/h2&gt;
Bagian ini merupakan bagian awal, bahkan sebelum sang guru melakukan pembelajaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru, sebelum masuk ke dalam kelas dan memberikan materi ajarnya, harus memperhatikan beberapa hal yang tentunya mendukung untuk pembelajarannya itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun hal yang perlu diperhatikan sebelum pembelajaran adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)&lt;br /&gt;
Ini bagian yang tidak bisa diabaikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
RPP merupakan bagian yang menjadi objek penilaian bagi seorangg guru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua yang akan dilaksanakan, tentunya perlu direncanakan terlebih dahulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apabila suatu kegiatan yang dilaksanakan tidak memiliki rencana, maka pertanyaan besarnya adalah "bagaimana hal yang dilakukan itu dapat mencapai tujuan?".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini lebih terlihat masuk akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka dari itu, hal ini dapat dijadikan dasar dalam argumen yang menyatakan rencana pelaksanaan pembelajaran itu penting.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
Proses Pembelajaran&lt;/h2&gt;
Proses pembelajaran juga tidak kalah pentingnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini berkaitan tentang pedagogik atau pengetahuan bagi seorang guru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3 (Tiga) elemen yang memegang peranan penting dalam proses pembelajaran, yaitu:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Metode Pembelajaran&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Strategi Pembelajaran&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Media Pembelajaran&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiga elemen itu sangatlah penting dalam mendukung kelancaran proses pembelajaran yang dilakukan guru di kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan sederhananya adalah: "Bagaimana tujuan itu dapat tercapai bila seorang guru mengajar tanpa dilandasi dengan metode pembelajaran?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan ini melandasi alur pikir bahwa kajian tentang elemen proses pembelajaran ini perlu dipelajari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
Setelah Pembelajaran&lt;/h2&gt;
Guru tidak hanya mengajar, lalu meninggalkan kelas dan melupakannya begitu saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini mungkin sudah diketahui dan melekat dalam diri seorang guru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahukah anda bahwa ada kegiatan lain setelah proses pembelajaran itu dilakukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru perlu melakukan berbagai hal setelah membelajarkan siswanya di kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah siswa itu mengerti terhadap proses pembelajaran yang dilakukannya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini perlu dinilai, dan ini bagian tugas dari seorang guru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah pembelajaran, sang guru perlu melakukan yang namanya seperti melakukan evaluasi pembelajaran.</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Defenisi Ranah Kognitif, Afektif dan Psikomotor</title><link>https://diklinko.blogspot.com/2019/08/defenisi-ranah-kognitif-afektif-psikomotor.html</link><author>noreply@blogger.com (Reza Noprial Lubis, M.Pd)</author><pubDate>Sat, 3 Aug 2019 08:27:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8340927173110413997.post-1949501004161693228</guid><description>Kognitif, afektif dan psikomotor merupakan hal yang sering terdengar dalam lingkup pendidikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana tidak, keseluruhannya ini merupakan bagian yang ada pada siswa (peserta didik).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiga hal ini menjadi dimensi yang harus diukur guru dalam setiap pembelajaran yang dilakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengingat akan pentingnya untuk mengetahui ketiga hal ini, maka disini akan dibahas lebih mendalam tentangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari kita mulai pembahasan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;Ranah Kognitif&lt;/h2&gt;Apa itu ranah kognitif?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ranah ini merupakan ranah yang berorientasi pada kemampuan berpikir anak (peserta didik).&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teori yang kuat untuk membahas persoalan kognitif ini adalah teori Bloom yang sering disebut sebagai &lt;b&gt;Taksonomi Bloom&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Bloom yang dikutip dalam Mardianto mengungkapkan setidaknya ada 6 tingkatan dalam ranah kognitif ini, yaitu:&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Knowledge&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Comprehension&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Application&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Analysis&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Synthesis&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Evaluation&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;
Tetapi, makna dari kognitif ini tidak semata-mata tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini juga akan berkaitan dengan pengetahuan faktual disamping pengetahuan hafalan, atau untuk diingat rumus-rumus, batasan, defenisi, istilah, pasal-pasal dalam undang-undang, nama-nama tokoh, nama-nama kota, dan lain sebagainya.&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umumnya, kognitif lebih mudah untuk dikenal dengan pengetahuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak orang mendefenisikan seperti yang demikian itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini akan mempermudah untuk membedakan antara kognitif, afektif dan psikomotor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengenai hal ini, Mardianto&lt;sup&gt;3&lt;/sup&gt; mengungkapkan bahwa terdapat beberapa tahapan atau tingkatan dalam ranah kognitif, yakni sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&lt;table&gt;&lt;tbody&gt;
  &lt;tr&gt;
     &lt;th&gt;Lv.&lt;/th&gt;
     &lt;th&gt;Tingkatan&lt;/th&gt;
     &lt;th&gt;Cakupan&lt;/th&gt;
   &lt;/tr&gt;
  &lt;tr&gt;
     &lt;td&gt;1&lt;/td&gt;
     &lt;td&gt;Pengenalan&lt;/td&gt;
     &lt;td&gt;Mengidentifikasi, memilih, menyebutkan nama, membuat daftar.&lt;/td&gt;
   &lt;/tr&gt;
  &lt;tr&gt;
     &lt;td&gt;2&lt;/td&gt;
     &lt;td&gt;Pemahaman&lt;/td&gt;
     &lt;td&gt;Membedakan, menjelaskan, menyimpulkan, memperkirakan.&lt;/td&gt;
   &lt;/tr&gt;
  &lt;tr&gt;
     &lt;td&gt;3&lt;/td&gt;
     &lt;td&gt;Penerapan&lt;/td&gt;
     &lt;td&gt;Menghitung, mengembangkan, mmenggunakan, memodifikasi.&lt;/td&gt;
   &lt;/tr&gt;
  &lt;tr&gt;
     &lt;td&gt;4&lt;/td&gt;
     &lt;td&gt;Analisis&lt;/td&gt;
     &lt;td&gt;Membuat diagram, membedakan, menghubungkan, menjabarkan.&lt;/td&gt;
   &lt;/tr&gt;
  &lt;tr&gt;
     &lt;td&gt;5&lt;/td&gt;
     &lt;td&gt;Sintesis&lt;/td&gt;
     &lt;td&gt;Menciptakan, mendesain, memformulasikan, membuat prediksi.&lt;/td&gt;
   &lt;/tr&gt;
  &lt;tr&gt;
     &lt;td&gt;6&lt;/td&gt;
     &lt;td&gt;Evaluasi&lt;/td&gt;
     &lt;td&gt;Membuat kritik, membuat penilaian, membandingkan, membuat evaluasi.&lt;/td&gt;
   &lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;
&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;
Keseluruhan isi tabel di atas, merupakan hal yang menjelaskan tentang kemampuan yang dihasilkan dari ranah kognitif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal itu lebih terlihat pada kolom bagian cakupan dalam tabel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa contoh tindakan siswa dalam kelas seperti yang dijelaskan pada kolom cakupan itu, merupakan bagian dari kogntiif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bilamana seorang siswa (peserta didik) sudah melewati berbagai indikator di atas, maka terdapat perkembangan kognitif pada dirinya (siswa).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umumnya, untuk menilai kemampuan kognitif siswa, seorang guru dapat menilai dari berbagai indikator di atas, seperti misalnya dalam ujian yang seperti bentuk tes pilihan berganda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu, disini peserta didik itu sudah mulai memilih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini termasuk pada cakupan pengetahuan/pengenalan yang berada tabel di atas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, secara umum dapatlah disimpulkan bahwa kognitif adalah kemampuan berpikir siswa.&lt;br /&gt;
&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt; Mardianto. Psikologi Pendidikan: Landasan Untuk Pengembangan Strategi Pembelajaran. Medan: Perdana Publishing. h.100.&lt;br /&gt;
&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt; Sudjana, Nana. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya. h. 23.</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Pendidikan Islam: Pembahasan Konsep Dasar</title><link>https://diklinko.blogspot.com/2019/07/pendidikan-islam.html</link><category>Pendidikan Islam</category><author>noreply@blogger.com (Reza Noprial Lubis, M.Pd)</author><pubDate>Sat, 6 Jul 2019 09:12:00 -0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8340927173110413997.post-5869140606578448646</guid><description>Saya pikir, bahwa istilah Pendidikan Islam bukanlah istilah yang tabu lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Umumnya, istilah ini muncul dalam lingkup pendidikan dan dikenal banyak orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;img alt="pendidikan-islam" border="0" data-original-height="350" data-original-width="640" height="350" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgdLtOOkNTiH9oAI2kjC7ZKA2egP0w9-xyB6KqtgnXXK91LTFA7N-bf1BHjUcTokGA95XOs-kNVIDYL5_umaKH3zx7O_tnL3vv-rFKPWTbOfiH3VpUC0TKQC5edSZDgyP3lEYd_whX7nhk1/s640/pendidikan-islam.jpg" title="Gambar tentang konsep dasar pendidikan Islam" width="640" /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, hal yang penting untuk diketahui tentang konsep dasar dari pendidikan Islam itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Singkatnya: Tulisan ini akan membahas tentang segala hal mengenai konsep dasar pendidikan Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disini, akan dibahas tentang:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Pengertian Pendidikan Islam&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tujuan Pendidikan Islam&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, mari kita mulai pembahasan ini.&lt;br /&gt;
&lt;hr class="hijau" /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
Pengertian Pendidikan Islam&lt;/h2&gt;
Seperti yang telah disebutkan dalam pengantar di atas, bahwa istilah ini bukanlah istilah yang tabu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, hal ini cukup penting untuk diketahui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti yang telah kita ketahui bersama, bahwa pendidikan adalah sarana yang membelajarkan siswa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin, persoalan ini tidak akan dibahas lebih mendalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, bagaimana dengan pendidikan Islam?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah dapat didefenisikan dengan sederhana seperti:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
Pendidikan Islam adalah pendidikan yang mengajarkan tentang Islam&lt;/blockquote&gt;
&lt;br /&gt;
Benar. Tetapi, pendidikan Islam terlalu sederhana untuk defenisi itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari kita lihat lebih jauh tentang pendidikan Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengutip dari Ramayulis&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;&amp;nbsp;yang mengatakan bahwa pendidikan Islam merupakan proses perubahan&amp;nbsp;tingkah laku manusia untuk kehidupan pribadinya, untuk kehidupan kemasyarakatannya, dan untuk kehidupan di alam sekitarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentunya perubahan tingkah laku di atas, dimaksudkan melalui pengajaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Deskripsi yang bagus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, defenisi ini masih cukup umum dan hampir serupa dengan makna pendidikan itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lihatlah apa yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disana dijelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dalam mengembangkan potensi diri peserta didik, yang diperlukan dirinya dan masyarakat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini tentang defenisi pendidikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana tentang Islamnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada sebuah argumen untuk menjawab ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara lebih lengkap, Al-Rasyidin&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt; mengatakan bahwa pendidikan Islami dapat didefenisikan sebagai suatu proses penciptaan lingkungan yang kondusif dan memungkinkan bagi manusia sebagai peserta didik untuk mengembangkan diri-fisik-jasmani dan non fisik-rohani- dan potensi yang dimilikinya-&lt;i&gt;al-jism&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;al’aql&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;al-nafs&lt;/i&gt;, dan &lt;i&gt;al-qalb,&lt;/i&gt; agar berkemampuan merealisasikan &lt;span class="underline"&gt;syahadah primodialnya&lt;/span&gt; terhadap keberadaan dan kemahaesaan Allah Swt, melalui pemenuhan fungsi dan tugas penciptaannya, yakni sebagai ‘abd allah dan khalifah Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini pengertian yang cukup jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahukah anda, ada satu poin penting dalam pendidikan Islam seperti yang dijelaskan oleh Al-Rasyidin di atas?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="underline"&gt;Syahadah Primodial.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah titik poinnya dalam defenisi yang diungkapkan di atas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa itu syahadah primodial?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya pernah menanyakan ini pada penulis buku Falsafah Pendidikan Islami itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari kita merujuk dalam Alquran surah Al-A'raf: 172.&lt;br /&gt;
&lt;div class="arabic"&gt;
وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ  اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَا ۛاَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَۙ &lt;/div&gt;
Terjemah:&lt;br /&gt;
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sangat sempurna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perjanjian primodial itu didefenisikan sebagai syahadat kepada Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayat Alquran di atas menjadi dasar dalam hal ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahwa, sebelum roh-roh manusia itu dikumpulkan, lalu diberi pertanyaan semacam "Apakah aku ini Tuhanmu?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini menjadi catatan tersendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Muslim wajib untuk bersyahadat kepada Allah, dan akan kembali kehadapan Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini terdapat dalam rukun Islam yang pertama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, cukup lengkap bila pendidikan Islam itu, adalah proses perubahan tingkah laku manusia terhadap jasmani dan rohaninya untuk merealisasikan Syahadatnya dan menjadi khalifah Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendidikan Islam dalam menciptakan suatu teori-teori ke-Islaman seyogyanya berlandaskan dengan Alquran dan Hadis, dikarenakan sumber rujukan yang paling utama dalam Islam ialah Alquran, lalu kemudian Hadis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendidikan Islam adalah suatu sistem yang memungkinkan seseorang dapat mengarahkan kehidupannya sesuai dengan ideologyi Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melalui ini, ia akan dapat dengan mudah membentuk kehidupan dirinya sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam yang diyakininya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
Tujuan Pendidikan Islam&lt;/h2&gt;
Tujuan pendidikan Islam pada dasarnya tidak selalu sama di sepanjang periode perkembangan Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada masa awal Islam tujuan pendidikan Islam berbeda dengan tujuan pendidikan pada masa khulafaur rasyiddin, begitu pula dengan masa yang lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu dapat kita sadari bahwa tujuan dan sasaran pendidikan Islam itu mengalami perkembangan pada masa berikutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun yang tidak pernah berubah adalah, pada hakikatnya tujuan pendidikan itu selamanya bersumber dari halhal yang bersifat rasional dan simbol-simbol agama Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin yang telah ditulis oleh Al-Ghazali menjelaskan tujuan sistem pendidikan, yakni tentang berbagai ilmu yang wajib dipelajari oleh murid, perencanaan bahan ajar yang sesuai dengan beraneka ragam kondisi anak, dan juga tentang metode belajar mengajar yang harus diikuti seorang guru dalam mendidik anak serta dalam menyajikan ilmu pengetahuan kepada peserta didik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian agar supaya pendidikan Islam dapat memberi ruang pada bakat dan perhatian yang sesuai dengan kecenderungan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pandangan beliau tentang adanya tingkatan kesadaran manusia yang meliputi kesadaran inderawi, kesadaran akal, dan yang terakhir adalah kesadaran spiritul atau agamawi sebagaimana yang telah disebutkan diatas tadi menyiratkan bahwa dalam merencanakan program pendidikan selain meniadakan dikotomi juga harus mengarahkan potensi anak didik pada hal-hal yang bersifat rabbani.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara khusus pendidikan Islam memiliki corak tersendiri, yakni perhatiannya yang tinggi kepada ilmu-ilmu agama, dan perhatian tersebut menyebabkan proses pembelajaran terhadap ilmu-ilmu yang lain harus mengacu pada nilai-nilai keagamaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenyataan ini membentuk kerangka berfilsafat yang khas, sehingga para ahli filsafat pendidikan berpendapat bahwa kesempurnaan manusia tidak mungkin dicapai kecuali dengan mempertemukan antara agama dan ilmu pengetahuan.&lt;sup&gt;3&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain kita akan tersesat jika mempelajari filsafat Yunani dan keturunannya jika kita tidak menggantungkan premis-premis tersebut dengan hal-hal yang transendental religius.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para ahli pendidikan muslim sepakat bahwa tujuan pendidikan Islam bukanlah menjejali murid dengan fakta-fakta, melainkan menyiapkan meeka agar hidup bersih, suci dan tulus. Keberfihakan secara penuh terhadap pembentukan watak ini, didasarkan pada cita-cita etika Islam yang ditempatkan sebagai tujuan tertinggi pendidikan Islam.&lt;sup&gt;4&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal inilah yang akan digunakan umat Islam dalam menghadapi tantangan dan proses indoktrinasi yang masuk melalui ilmu pengetahuan kontemporer, teknologi yang semakin ekspansif, dan dahsyatnya ledakan media informasi yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan generasi penerus Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, pendidikan keterampilan dan pendidikan keagamaan diimplementasikan melalui keteladanan, rasionalisasi ilmu-ilmu ukhrowi dan penciptaan pengalaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal inilah yang akan digunakan umat Islam dalam menghadapi tantangan dan proses indoktrinasi yang masuk melalui ilmu pengetahuan kontemporer, teknologi yang semakin ekspansif, dan dahsyatnya ledakan media informasi yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan generasi penerus Islam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, pendidikan keterampilan dan pendidikan keagamaan diimplementasikan melalui keteladanan, rasionalisasi ilmu-ilmu ukhrowi dan penciptaan pengalaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
Referensi&lt;/h2&gt;
&lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;Ramayulis dan Syamsul Nizar, 2009. &lt;i&gt;Filsafat Pendidikan Islam&lt;/i&gt;. Jakarta: Kalam Mulia. h. 88.&lt;br /&gt;
&lt;sup&gt;2&lt;/sup&gt;Al Rasyidin. 2008. &lt;i&gt;Filsafah Pendidikan Islami&lt;/i&gt;. Bandung: Cv. Perdana Mulya Sarana. h. 119.&lt;br /&gt;
&lt;sup&gt;3&lt;/sup&gt;Al-Jumbulati, Ali dan Abdul Futuh At-Tuwaanisi. 1994. &lt;i&gt;Perbandingan Pendidikan Islam&lt;/i&gt;. Jakarta: Rineka Cipta. h. 74.&lt;br /&gt;
&lt;sup&gt;4&lt;/sup&gt;Al-Jumbulati, Ali dan Abdul Futuh At-Tuwaanisi. 1994. h. 74.</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgdLtOOkNTiH9oAI2kjC7ZKA2egP0w9-xyB6KqtgnXXK91LTFA7N-bf1BHjUcTokGA95XOs-kNVIDYL5_umaKH3zx7O_tnL3vv-rFKPWTbOfiH3VpUC0TKQC5edSZDgyP3lEYd_whX7nhk1/s72-c/pendidikan-islam.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item></channel></rss>