<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-261848137824685882</id><updated>2024-12-18T20:30:06.396-08:00</updated><category term="Wisata"/><category term="Kuliner"/><category term="Serba Serbi Djogdja"/><category term="Kuliner Extreme"/><category term="Pantai"/><title type='text'>Djogdja Media</title><subtitle type='html'>Media online saya dalam bentuk blog sebagai orang Djogdja Asli berisi informasi yang saya butuhkan selama bermain internet.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://djogdjamedia.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/261848137824685882/posts/default'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djogdjamedia.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Nur Haryono Nasa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10028376002180576428</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiTWxRB4p7XkHOEaELx3jjdis4HaTn8MoXG9yEc7qHdppsfQIVZWLgcxFD4b1m635W9BCYplFBA_slzARmav_0EYTbvEhxChvnCJVDN75Q9_Z4Zvhd-b43exFfRWJbECA/s220/index+1.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>7</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-261848137824685882.post-1679464180932751853</id><published>2016-01-06T20:49:00.000-08:00</published><updated>2016-01-06T20:50:05.478-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pantai"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Wisata"/><title type='text'>PANTAI NGLAMBOR Akuarium Semesta yang Dijaga Sepasang Kura-Kura Raksasa</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjGt7ieSnjiZPpmvF6sokkV2e1UCbyt4w4Hvfhi9rE0Zbgt2O8r-CW8jMiEkFSWYmZZRC85ydGnt23MQfrvvvuTusYZBTbeK5bYS7z89TXrwEWki1AAbIxsILNLqK_uyQOBxt8nqv7BCqw/s1600/pantai+nglambor.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;PANTAI NGLAMBOR Akuarium Semesta yang Dijaga Sepasang Kura-Kura Raksasa&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;263&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjGt7ieSnjiZPpmvF6sokkV2e1UCbyt4w4Hvfhi9rE0Zbgt2O8r-CW8jMiEkFSWYmZZRC85ydGnt23MQfrvvvuTusYZBTbeK5bYS7z89TXrwEWki1AAbIxsILNLqK_uyQOBxt8nqv7BCqw/s400/pantai+nglambor.jpg&quot; title=&quot;PANTAI NGLAMBOR Akuarium Semesta yang Dijaga Sepasang Kura-Kura Raksasa&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Dasar laut Pantai Nglambor bagai akuarium semesta yang menyimpan sejuta pesona. Atas jasa sepasang &quot;kura-kura raksasa&quot; yang mampu menjinakkan garangnya ombak dari Samudera Hindia, panorama bawah laut di pesisir selatan ini pun bisa diselami keindahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ganasnya ombak pantai-pantai di selatan Jogja sering kali membuat orang bergidik ngeri dan segan untuk mendekati. Ombak yang datang berkejaran dari arah lautan luas seolah berlomba menghalau agar kita tak mendekati airnya. Tak seperti pantai-pantai di sisi utara Jawa yang lebih ramah, tepian daratan yang langsung menyapa luasnya Samudera Hindia ini bukan tempat sesuai untuk menikmati asyiknya berenang di air asin atau serunya snorkeling menyaksikan keindahan panorama bawah laut bersama ikan-ikan kecil. Hingga kita terpaksa harus puas bermain air di pinggiran, di tempat buih-buih lautan mulai menghilang. Namun ketika YogYES berkunjung ke Pantai Nglambor, berenang dan snorkeling di pantai selatan yang tadinya terasa tak mungkin, nyatanya bisa dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trekking sekitar lima belas menit dari tempat parkir menjadi pilihan YogYES untuk mengakhiri tiga jam perjalanan terguncang-guncang di atas kendaraan. Medan yang terlalu berbahaya dengan jalanan menukik curam mengharuskan kami berjalan kaki atau menyewa jasa ojek berpengalaman daripada membawa kendaraan hingga ke dekat pantai sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melewati celah pagar tanaman pandan laut (Pandanus tectorius), kami sampai di bibir pantai. Segerombolan anak muda dengan jaket pelampung berwarna jingga menyala lengkap dengan peralatan snorkel lainnya, terlihat antusias dan tak sabar ingin segera berenang dan menyelam di perairan dangkal. Kawasan Pantai Nglambor merupakan salah satu destinasi snorkeling di kawasan pesisir selatan Jogja yang memiliki panorama dasar laut menakjubkan dengan ragam terumbu karang dan biota laut. Ikan jenis Sergeant Major, Jambrong dan beberapa ikan kecil lainnya adalah penghuni tetap yang terlihat sering berenang bergerombol atau bermain petak umpet di celah-celah terumbu karang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemandangan cantik yang tertutup ombak ini sangat dijaga oleh masyarakat sekitar Pantai Nglambor. Bahkan kawasan pantai ini merupakan daerah budidaya beberapa jenis ikan serta lokasi konservasi terumbu karang dan biota laut lainnya. Tradisi upacara sedekah laut Ngalangi pun juga dilakukan di pantai ini. &quot;Ngalangi&quot; dalam bahasa Jawa berarti menghalangi atau melarang. Masyarakat sekitar pantai Nglambor melarang siapapun untuk menangkap ikan di kawasan pantai kecuali sekali dalam setahun, di luar musim pemijahan ikan. Prosesi penangkapan ikan pun hanya bisa dilakukan dengan menggunakan gawar, semacam jaring dari akar pohon wawar yang dipancangkan dan dihalau bersama-sama ke laut oleh masyarakat setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seolah tak mau kalah, alam pun turut menjaga dan mempertahankan keelokan akuarium semesta ini dengan memerintahkan dua karang kura-kura raksasa untuk berpatroli menjaga pantai. Dengan gagah &quot;Watu Kalong&quot; dan &quot;Watu Kuntul&quot; menjinakkan ombak-ombak garang agar tak terlalu keras memukul bibir pantai. Keberadaan dua karang kura-kura raksasa inilah yang membuat terumbu karang Pantai Nglambor tidak rusak dihempas gelombang, sekaligus aman untuk snorkeling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenakan peralatan snorkel lengkap dengan sepatu dan jaket pelampung, kami pun segera menyapa para penghuni zona neritik dibantu oleh salah satu pemandu. Kebetulan saat kami datang adalah waktu terbaik untuk snorkeling, di saat air laut belum pasang namun juga tak terlalu surut. Terdapat dua persewaan alat snorkel di pantai ini, Bintang Nglambor Snorkeling (BNS) dan Pokdarwis Nglambor Lestari, hingga kami tak perlu bersusah payah membawa peralatan dari rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisa-sisa ombak pantai selatan yang telah dijinakkan memberikan sensasi tersendiri ketika snorkeling di Pantai Nglambor. Tak jarang ketika kami sudah bersusah payah berenang agak ke tengah, ombak menyeret kami hingga ke tepian lagi. Dengan keahlian seorang pemula, kami menyelam dengan sangat hati-hati agar tak menginjak terumbu karang dan merusak ekosistem dasar laut di pantai ini. Kami tak ingin menambah ancaman kerusakan terumbu karang yang disebabkan oleh aktivitas manusia seperti penangkapan ikan yang berlebihan, pembangunan daerah pesisir dan adanya pemutihan terumbu karang (coral bleaching). Karena bagian dasar laut nan memukau dihadapan kami memerlukan waktu yang sangat lama untuk berdandan mempercantik diri. Jika ekosistem dasar laut ini rusak, maka usaha masyarakat sekitar dan dua kura-kura raksasa penjaga pantai akan terasa sia-sia. Pantai Nglambor dengan seluruh penghuninya telah memanjakan mata dengan semua riasan alamnya nan mempesona. Sebagai penikmatnya tak ada salahnya kita ikut menjaga kelestariannya, bersama masyarakat sekitar meringankan tugas dua karang kura-kura raksasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai bercanda dan berfoto bersama ikan-ikan, bebatuan karang di sisi selatan pantai nan teduh menjadi incaran untuk beristirahat sejenak, menikmati sepoi angin laut sambil mengeringkan pakaian. Tak jauh dari tempat kami duduk ada sebuah sumber air tawar yang memancar dari celah batuan kecil-kecil. Awalnya kami merasa heran melihat ada sumber air tawar di tepi pantai. Namun fenomena air tawar yang muncul di Pantai Nglambor ternyata dikarenakan adanya lorong karst menyerupai pipa U yang berfungsi sebagai saluran air tanah, seperti yang dikatakan salah seorang peneliti karst ahli klimatologi dari LIPI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbuai hembusan angin pantai, kami tak sadar matahari semakin tinggi dan baju yang tadinya basah sudah mengering. Kami segera beranjak, berganti pakaian bersih dan mengemasi perbekalan. Kini sudah waktunya mengucapkan salam perpisahan pada sepasang kura-kura raksasa dan membiarkan keduanya melanjutkan tugas menjaga pantai seperti biasa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Pingin tahu pemandangan pantai Nglambor yang indah, &lt;b&gt;&lt;a href=&quot;https://www.google.com/search?q=pantai+nglambor&amp;amp;source=lnms&amp;amp;tbm=isch&amp;amp;sa=X&amp;amp;ved=0ahUKEwjzga7NwJXKAhUScI4KHT5XAb4Q_AUIBygB&amp;amp;biw=1366&amp;amp;bih=640&quot; rel=&quot;nofollow&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;KLIK DISINI&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Sumber: yogyes.com&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djogdjamedia.blogspot.com/feeds/1679464180932751853/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djogdjamedia.blogspot.com/2016/01/pantai-nglambor-akuarium-semesta-yang-indah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/261848137824685882/posts/default/1679464180932751853'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/261848137824685882/posts/default/1679464180932751853'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djogdjamedia.blogspot.com/2016/01/pantai-nglambor-akuarium-semesta-yang-indah.html' title='PANTAI NGLAMBOR Akuarium Semesta yang Dijaga Sepasang Kura-Kura Raksasa'/><author><name>Nur Haryono Nasa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10028376002180576428</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiTWxRB4p7XkHOEaELx3jjdis4HaTn8MoXG9yEc7qHdppsfQIVZWLgcxFD4b1m635W9BCYplFBA_slzARmav_0EYTbvEhxChvnCJVDN75Q9_Z4Zvhd-b43exFfRWJbECA/s220/index+1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjGt7ieSnjiZPpmvF6sokkV2e1UCbyt4w4Hvfhi9rE0Zbgt2O8r-CW8jMiEkFSWYmZZRC85ydGnt23MQfrvvvuTusYZBTbeK5bYS7z89TXrwEWki1AAbIxsILNLqK_uyQOBxt8nqv7BCqw/s72-c/pantai+nglambor.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-261848137824685882.post-6253658389912664092</id><published>2015-11-01T23:15:00.002-08:00</published><updated>2015-11-01T23:15:33.105-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Wisata"/><title type='text'>Apa yang menarik dari Jalan Malioboro dan sekitarnya?</title><content type='html'>Yogyakarta menjadi sebuah kota yang mampu membuat wisatawan merindukannya dan selalu ingin berlama-lama menikmati suasana Kota Gudeg ini. Kota ini masih menawarkan kearifan budaya lokal di tengah zaman yang serba modern. Berada di Yogyakarta, Anda akan mendapatkan pengalaman menarik menjelajahi budaya Jawa yang masih dipertahankan sampai sekarang. &lt;br /&gt; &lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img height=&quot;426&quot; src=&quot;http://anekatempatwisata.com/wp-content/uploads/2014/11/Jalan-Malioboro-300x200.jpg&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Jalan Malioboro &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;Banyak tempat wisata menarik yang dimiliki Kota Sang Sultan ini, salah satunya yang sangat populer tentu saja Jalan Malioboro. Jalan sepanjang 2,5 km yang membentang dari Tugu Yogyakarta sampai ke Kantor Pos Yogyakarta ini tak pernah sepi wisatawan setiap harinya. Jalan Malioboro berada dekat sekali dengan keraton dan disebut sebagai salah satu titik garis imajiner yang menghubungkan antara Pantai Parangtritis, Keraton Yogyakarta dan Gunung Merapi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang menyangka jika dahulu jalanan ini hanyalah jalan sepi dengan banyak pohon asam di tepinya. Jalan Malioboro dahulu hanya dilewati oleh warga yang ingin ke keraton, Benteng Vredeburg ataupun ke Pasar Beringhardjo. &lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img height=&quot;320&quot; src=&quot;http://anekatempatwisata.com/wp-content/uploads/2014/11/Malioboro-300x150.jpg&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Jalan Malioboro &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
Asal nama Malioboro pun memiliki dua versi. Pertama, nama ini diambil dari bahasa Sansekerta, yang berarti ‘karangan bunga’. Hal ini dikarenakan sepanjang jalan dahulu dipenuhi oleh karangan bunga setiap kali keraton menggelar acara atau hajatan. Versi kedua mengatakan bahwa nama jalan diambil dari seorang bangsawan Inggris, Marlborough, yang tinggal di Yogyakarta antara tahun 1881-1816. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari mana nama Malioboro berawal, jalan paling populer di Yogyakarta ini selalu berhasil menarik perhatian wisatawan yang datang ke kota ini. Jalan Malioboro menjadi semacam pusat oleh-oleh khas Yogyakarta. Sepanjang jalan, Anda bisa menemukan beragam suvenir khas mulai dari kaos, batik, blangkon, sandal, kerajinan tangan sampai bakpia patok dan yangko yang merupakan jajanan khas Yogyakarta. &lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img height=&quot;424&quot; src=&quot;http://anekatempatwisata.com/wp-content/uploads/2014/11/Jalan-Malioboro-2-300x199.jpg&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Jalan Malioboro &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
Untuk kuliner, di tempat wisata ini terdapat deretan pedagang kaki lima yang menawarkam sajian sederhana namun nikmat. Jangan lupa mencicipi nasi gudeg yang sudah menjadi kuliner wajib coba di Yogyakarta. Untuk minuman, nikmati es dawet yang menawarkan rasa legit gula merah dipadu kental dan gurihnya santan kelapa. Sambil menikmati makanan Anda, sekelompok pangamen akan datang silih berganti dengan menyanyikan lagu-lagu yang semakin membuat Anda jatuh cinta pada Yogyakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sepanjang jalan terdapat deretan tukang becak dan delman yang setia menunggu pelanggan. Inilah saatnya Anda berkeliling sekitar Jalan Malioboro dengan moda transportasi khas Yogyakarta. Tukang becak biasa menawarkan paket keliling tempat wisata sekitar dengan biaya yang terjangkau. Delman juga bisa Anda jadikan pilihan jika ingin merasakan pengalaman unik berkeliling Yogyakarta. &lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img height=&quot;366&quot; src=&quot;http://anekatempatwisata.com/wp-content/uploads/2014/11/Jalan-Malioboro-3-300x172.jpg&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Jalan Malioboro &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
Selama di Jalan Malioboro, Anda hampir selalu bisa mendengarkan alunan gamelan Jawa yang diputar dari kaset maupun dimainkan secara langsung oleh seniman jalanan Yogyakarta. Tak hanya di siang hari, tempat wisata ini pun ramai di malam hari. Budaya lesehan dan angkringan tak bisa terlepaskan dari kota cantik ini. &lt;br /&gt;Sampai sekarang, Jalan Malioboro masih menjadi bagian penting dari Keraton Yogyakarta. Jalan ini selalu menjadi lokasi kirab setiap kali keraton mengadakan sebuah acara dan perayaan tertentu. &lt;br /&gt;Apa yang menarik dari Jalan Malioboro dan sekitarnya? &lt;br /&gt;Jalan Malioboro tak hanya tentang oleh-oleh khas Yogyakarta. Sepanjang jalan ini terdapat beberapa lokasi yang tak kalah menarik dibandingkan berburu oleh-oleh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Keraton Yogyakarta &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Keraton Yogyakarta merupakan pusat budaya dan pemerintahan di Provinsi DI Yogyakarta. Keraton menjadi kerajaan sekaligus tempat tinggal keluarga Sri Sultan. Keraton dibangun dengan perhitungan yang luar biasa matang. Setiap tata letak dan detil dari bangunannya diatur sesuai falsafah budaya Jawa. &lt;br /&gt; Keraton dibangun menghadap ke arah utara bukan tanpa sebab. Dengan menghadap utara, berarti keraton menghadap ke Gunung Merapi. Jika ditarik garis lurus dari utara ke selatan, maka akan muncul garis imajiner antara Gunung Merapi, Keraton Yogyakarta dan Pantai Parangtritis. &lt;br /&gt;Tak hanya menjadi pusat pemerintahan dan tempat tinggal sultan beserta keluarganya, keraton juga menjadi salah satu tempat wisata budaya di Yogyakarta. Keraton dibuka untuk umum setiap hari mulai pukul 08:30 – 12:30. Untuk hari Jum’at dan Sabtu, keraton tutup lebih awal, yaitu pada pukul 11:00. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img height=&quot;358&quot; src=&quot;http://anekatempatwisata.com/wp-content/uploads/2014/11/Jalan-Malioboro-malam-hari-300x168.jpg&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Jalan Malioboro malam hari &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;Benteng Vredeburg &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Benteng Vredeburg merupakan sebuah museum sekaligus tempat wisata yang berada di Jalan Malioboro. Layaknya sebuah museum, di dalam benteng terdapat koleksi berbagai benda peninggalan masa perjuangan. Selain itu, terdapat ruang pemutaran film perjuangan dan diorama yang menggambarkan keadaan Indonesia pada zaman penjajahan. &lt;br /&gt;Benteng ini awalnya dibangun di bawah perintah Sultan Hamengkubuwono I. Bangunan awalnya sangat sederhana, hanya dari tanah liat dan kayu. Karena merasa terancam karena kemajuan dan perkembangan keraton, Belanda akhirnya mengambil alih benteng ini dan menamainya Fort Rustenburg yang kemudian berubah menjadi Fort Vredeburg atau Benteng Perdamaian sampai sekarang. &lt;br /&gt;Benteng Vredeburg buka setiap hari dengan jam buka, Selasa – Jum’at mulai pukul 08:00 sampai 16:00, dan Sabtu – Minggu mulai pukul 08:00 – 17:00. Tempat wisata ini tutup setiap hari Senin. Untuk tiket masuk, Anda hanya perlu mengeluarkan biaya sebesar 2.000 Rupiah per orang untuk dewasa dan 1.000 Rupiah untuk anak-anak. Harga yang berbeda dikenakan pada wisatawan asing, yaitu 10.000 per orang untuk dewasa maupun anak-anak. &lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Pasar Beringhardjo&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Pasar Beringhardjo adalah salah satu pasar tradisional sekaligus tempat wisata di Yogyakarta yang ramai dikunjungi wisatawan. Di sini, Anda bisa menemukan batik dengan beragam motif, kerajinan tangan, jajanan, aksesoris sampai rempah-rempah sebagai bahan dasar pembuatan jamu tradisional. &lt;br /&gt;Lokasi pasar ini berdiri dahulu merupakan sebuah hutan yang dipenuhi pohon beringin. Dari sini pula nama Beringhardjo didapat. ‘Bering’ yang berarti pohon beringin dan ‘hardjo’ yang berarti sejahtera. Pasar Beringhardjo sebagai salah satu pusat kegiatan ekonomi Y ogyakarta pada zaman dahulu diharapkan bisa membawa kesejahteraan pada warga Yogyakarta. &lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size: large;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Daerah Ketandan yang berada di sekitar Jalan Malioboro merupakan sebuah daerah pecinan di Yogyakarta. Keberadaan etnis Tionghoa tak dapat dipisahkan dari sejarah dan perkembangan kota ini. &lt;br /&gt;Salah satu wujud eksistensi etnis Tionghoa di Yogyakarta adalah dengan diselenggarakannya Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta sebagai bagian dari perayaan Hari Imlek setiap tahunnya. Acara ini bertempat di sepanjang Jalan Malioboro dan sekitarnya. Beberapa kegiatannya antara lain karnaval barongsai, bazaar kuliner, pameran budaya, panggung hiburan dan juga lomba karaoke lagu mandarin. &lt;br /&gt;Yogyakarta tak pernah mengecewakan wisatawannya. Jalan Malioboro selalu siap menyambut kapan pun Anda datang berkunjung. Jadi, kapan Anda akan menyempatkan diri menikmati Yogyakarta dari sepenggal jalan bernama Malioboro?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber: http://anekatempatwisata.com/wisata-jogja-jalan-malioboro/ </content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djogdjamedia.blogspot.com/feeds/6253658389912664092/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djogdjamedia.blogspot.com/2015/11/apa-yang-menarik-dari-jalan-malioboro.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/261848137824685882/posts/default/6253658389912664092'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/261848137824685882/posts/default/6253658389912664092'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djogdjamedia.blogspot.com/2015/11/apa-yang-menarik-dari-jalan-malioboro.html' title='Apa yang menarik dari Jalan Malioboro dan sekitarnya?'/><author><name>Nur Haryono Nasa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10028376002180576428</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiTWxRB4p7XkHOEaELx3jjdis4HaTn8MoXG9yEc7qHdppsfQIVZWLgcxFD4b1m635W9BCYplFBA_slzARmav_0EYTbvEhxChvnCJVDN75Q9_Z4Zvhd-b43exFfRWJbECA/s220/index+1.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-261848137824685882.post-5219760310835651261</id><published>2015-11-01T23:02:00.000-08:00</published><updated>2015-11-01T23:02:30.416-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Wisata"/><title type='text'>Sejarah Singkat Jalan Malioboro</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Siapa yang tak kenal Malioboro?&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Salah satu tujuan wisata utama di Tanah Jawa ini, kini telah menjadi icon tak terpisahkan dari Kota Yogyakarta. Kawasan Malioboro terletak sangat strategis yaitu diantara Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Tugu Pal Putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi sebagian besar wisatawan baik lokal maupun mancanegara, Malioboro sudah tak asing sebagai tempat berwisata belanja paling diminati di Yogyakarta. Denyut aktivitas perdagangan sangat terasa di tempat ini. Namun demikian latar belakang sejarah Malioboro pun tak kalah mengesankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan Malioboro didirikan bertepatan dengan pendirian Kraton &lt;a href=&quot;http://djogdjamedia.blogspot.com/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Yogyakarta&lt;/a&gt;. Dalam bahasa Sansekerta, kata &quot;malioboro&quot; bermakna karangan bunga. Hal itu mungkin ada hubungannya dengan masa lalu ketika Kraton mengadakan acara besar maka Jalan Malioboro akan dipenuhi dengan bunga. Kata malioboro juga berasal dari nama seorang kolonial Inggris yang bernama Marlborough yang pernah tinggal disana pada tahun 1811-1816 M.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjqbFe2YlrpCn6Jfc45yiPrxiD070ovkSFLxtNd3lLIoYj_snMlQTPUwpnZTm5pqN7SoEvrxrOsuCx5Z5eJbDsZ8PD5IS7a2DO0LCRZfURn0hHHcwZ-hJ9LJfe9x6C2YyHjpK-52Y6N7ak/s1600/Malioboro.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;320&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjqbFe2YlrpCn6Jfc45yiPrxiD070ovkSFLxtNd3lLIoYj_snMlQTPUwpnZTm5pqN7SoEvrxrOsuCx5Z5eJbDsZ8PD5IS7a2DO0LCRZfURn0hHHcwZ-hJ9LJfe9x6C2YyHjpK-52Y6N7ak/s640/Malioboro.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif; font-size: xx-small;&quot;&gt;Image by: &lt;span class=&quot;_r3&quot;&gt;&lt;span class=&quot;irc_ho&quot; dir=&quot;ltr&quot;&gt;anekatempatwisata.com&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;
Perkembangan pada masa itu didominasi oleh Belanda dalam membangun fasilitas untuk meningkatkan perekonomian dan kekuatan mereka, Seperti pembangunan Stasiun Tugu oleh Staat Spoorweg (1887) di Jalan Malioboro, yang secara fisik berhasil membagi jalan menjadi dua bagian. Sementara itu, jalan Malioboro memiliki peranan penting di era kemerdekaan (pasca-1945), sebagai orang-orang Indonesia berjuang untuk membela kemerdekaan mereka dalam pertempuran yang terjadi utara-selatan sepanjang jalan.&lt;br /&gt;
Keberadaan Jalan Malioboro tidak terlepas dari konsep kota Yogyakarta yang ditata membujur dengan arah utara - selatan, dengan jalan-jalan yang mengarah ke penjuru mata angin serta berpotongan tegak lurus. Pola itu diperkuat dengan adanya &quot;poros imajiner&quot; yang membentang dari arah utara menuju ke selatan, dengan kraton sebagai titik tengahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Poros&quot; tersebut diwujudkan dalam bentuk bangunan, yaitu Tugu (Pal Putih) di utara, ke selatan berupa jalan Margatama (Mangkubumi) dan Margamulya (Malioboro), Kraton Yogyakarta, Jl. DI. Panjaitan, berakhir di panggung Krapyak. Jika titik awal (Tugu) diteruskan ke utara akan sampai ke Gunung Merapi, sedang jika titik akhir (Panggung Krapyak) diteruskan akan sampai ke Samudera Hindia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di era kolonial (1790-1945) pola perkotaan itu terganggu oleh Belanda yang membangun benteng Vredeburg (1790) di ujung selatan jalan Malioboro. Selain membangun benteng belanda juga membangun Societeit Der Vereneging Djogdjakarta (1822), The Dutch Governor&#39;s Residence (1830), Javasche Bank dan kantor Pos untuk mempertahankan dominasi mereka di Yogyakarta. Komunitas Belanda di Yogyakarta berkembang pesat sejak masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwana VII ( 1877 - 1921).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal tersebut berkaitan erat dengan tumbuh dan berkembangnya perkebunan tebu, berbagai jenis pabrik, perbankan, asuransi, perhotelan, dan pendidikan. Perkembangan pesat juga terjadi pada masa itu yang disebabkan oleh perdaganagan antara orang Belanda dengan orang Tionghoa. Dan juga disebabkan adanya pembagian tanah di sub-segmen Jalan Malioboro oleh Sultan kepada masyarakat Tionghoa dan kemudian dikenal sebagai Distrik Cina (Kawasan Pecinan).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djogdjamedia.blogspot.com/feeds/5219760310835651261/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djogdjamedia.blogspot.com/2015/11/sejarah-singkat-jalan-malioboro.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/261848137824685882/posts/default/5219760310835651261'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/261848137824685882/posts/default/5219760310835651261'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djogdjamedia.blogspot.com/2015/11/sejarah-singkat-jalan-malioboro.html' title='Sejarah Singkat Jalan Malioboro'/><author><name>Nur Haryono Nasa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10028376002180576428</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiTWxRB4p7XkHOEaELx3jjdis4HaTn8MoXG9yEc7qHdppsfQIVZWLgcxFD4b1m635W9BCYplFBA_slzARmav_0EYTbvEhxChvnCJVDN75Q9_Z4Zvhd-b43exFfRWJbECA/s220/index+1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjqbFe2YlrpCn6Jfc45yiPrxiD070ovkSFLxtNd3lLIoYj_snMlQTPUwpnZTm5pqN7SoEvrxrOsuCx5Z5eJbDsZ8PD5IS7a2DO0LCRZfURn0hHHcwZ-hJ9LJfe9x6C2YyHjpK-52Y6N7ak/s72-c/Malioboro.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-261848137824685882.post-132841497721835419</id><published>2015-10-29T20:58:00.000-07:00</published><updated>2015-11-01T18:23:55.414-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kuliner"/><title type='text'>Angkringan - Tempat Nongkrong Di Djogdja Yang Banyak Disukai</title><content type='html'>&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgfbSiuIBYzQaIeBGjCRRcuFA2YA7fYc8N6izMi377907UNDvAXwFPM10AvOb22CMDaCpRVXEUqqHFoinXLuqY9JALo5IrFDMHbOvp55lDewFDj0eZX-QTyG_WiMfTfL5Wlrq-hZDLI6Xg/s1600/Angkringan+tugu+Djogdja.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Angkringan - Tempat Nongkrong Di Djogdja Ynag Banyak Disukai&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;265&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgfbSiuIBYzQaIeBGjCRRcuFA2YA7fYc8N6izMi377907UNDvAXwFPM10AvOb22CMDaCpRVXEUqqHFoinXLuqY9JALo5IrFDMHbOvp55lDewFDj0eZX-QTyG_WiMfTfL5Wlrq-hZDLI6Xg/s400/Angkringan+tugu+Djogdja.jpg&quot; title=&quot;Angkringan - Tempat Nongkrong Di Djogdja Ynag Banyak Disukai&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Image by: &lt;span class=&quot;_r3&quot;&gt;&lt;span class=&quot;irc_ho&quot; dir=&quot;ltr&quot;&gt;forum.indogamers.com&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;_r3 irc_msc&quot;&gt;&lt;a class=&quot;irc_hl irc_msl i3591&quot; data-i=&quot;1&quot; data-noload=&quot;&quot; data-ved=&quot;0CAoQhxwwAGoVChMI1e63mqbpyAIVYyemCh0EKgoy&quot; href=&quot;http://www.google.com/search?imgurl=http://www4.picturepush.com/photo/a/3573022/640/3573022.jpg&amp;amp;imgrefurl=http://forum.indogamers.com/archive/index.php/t-284843.html&amp;amp;h=332&amp;amp;w=500&amp;amp;tbm=isch&amp;amp;tbs=simg:CAQSEgn57t6c6-rsOSGauErqQBHdaQ&quot;&gt;&lt;span class=&quot;irc_idim&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://djogdjamedia.blogspot.com/2015/10/angkringan-tempat-nongkrong-di-djogdja.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;b&gt;Angkringan &lt;/b&gt;&lt;/a&gt;adalah makanan yang menjamur di banyak tempat di Yogyakarta. Murahnya makanan yang dijajakan di Angkringan membuat tempat makan yang berbentuk gerobak dorong seperti kakilima ini sangat populer. Di Yogya, nasi kucing (Sego kucing) khas angkringan dijual hanya dengan harga 1000 – 2000 rupiah saja lengkap dengan dua macam pilihan lauk standar yaitu tumis tempe buncis atau sambal teri. Makanan penyertanya seperti usus, sate jerohan ayam, sate telur puyuh juga dijual dengan harga 1000 – 3000 rupiah saja per tusuknya. Jangan lupa gorengan dan tahu bacem, semua dapat dipanaskan kembali di tungku yang digunakan untuk merebus teh, kopi dan jahe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa spot angkringan yang cukup ramai di Yogya adalah:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;Angkringan utara stasiun tugu.&lt;/b&gt; Beberapa penjual angkringan berjejer disana dengan tempat makan lesehan di trotoar jalan.Yang terkenal disini adalah kopi jos Lek Man dimana arang bara yang menyala dicelupkan di kopi tubruk sehingga terdengar bunyi jos di gelas&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;Angkringan Nganggo Suwe &lt;/b&gt;di pertigaan jalan Pramuka dan Jalan Mondokaran Kotagede. Angkringan ini menjual relatif lebih lengkap makanan di salah satu space bangunan di pertigaan jalan. Yang khas disana adalah sate keong, nasi bakar, oseng keong, es asem, es jahe dan macam-macam baceman yang lezat.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;Angkringan di Jalan Dewa Nyoman Oka&lt;/b&gt;, Kotabaru. Beberapa angkringan berjajar disana dengan banyak sekali kaum muda bersantai sambil melihat pemandangan lembah code di malam hari.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;Angkringan depan kolam renang UNY.&lt;/b&gt; Di angkringan ini harga relatif lebih murah dengan makanan yang lebih bermutu. Sekitar pukul 8 malam akan ditemui banyak sekali motor dan mobil berjajar untuk jajan di angkringan ini.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;Angkringan depan Kantor Kedaulatan Rakyat Mangkubumi Yogyakarta. &lt;/b&gt;Angkringan ini menjual suasana dengan harga yang relatif lebih mahal. Namun makanan yang disediakan disini lebih bervariasi.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhT0uBcix-g9N212nhKJ7hyphenhyphen1PUVwy8y5s0DuGacRWTPZ9zq6MR7oWbyOf7q_myg_NODvolm9zBW6fAj7WzeeMDRL0L-zDFjz2Icj6JmN35f_Ov3JkNbp0IH3uu3N4hcyO9Mkpagvd_ck4c/s1600/angkringan1.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Angkringan - Tempat Nongkrong Di Djogdja Ynag Banyak Disukai&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;213&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhT0uBcix-g9N212nhKJ7hyphenhyphen1PUVwy8y5s0DuGacRWTPZ9zq6MR7oWbyOf7q_myg_NODvolm9zBW6fAj7WzeeMDRL0L-zDFjz2Icj6JmN35f_Ov3JkNbp0IH3uu3N4hcyO9Mkpagvd_ck4c/s320/angkringan1.jpg&quot; title=&quot;Angkringan - Tempat Nongkrong Di Djogdja Ynag Banyak Disukai&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djogdjamedia.blogspot.com/feeds/132841497721835419/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djogdjamedia.blogspot.com/2015/10/angkringan-tempat-nongkrong-di-djogdja.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/261848137824685882/posts/default/132841497721835419'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/261848137824685882/posts/default/132841497721835419'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djogdjamedia.blogspot.com/2015/10/angkringan-tempat-nongkrong-di-djogdja.html' title='Angkringan - Tempat Nongkrong Di Djogdja Yang Banyak Disukai'/><author><name>Nur Haryono Nasa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10028376002180576428</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiTWxRB4p7XkHOEaELx3jjdis4HaTn8MoXG9yEc7qHdppsfQIVZWLgcxFD4b1m635W9BCYplFBA_slzARmav_0EYTbvEhxChvnCJVDN75Q9_Z4Zvhd-b43exFfRWJbECA/s220/index+1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgfbSiuIBYzQaIeBGjCRRcuFA2YA7fYc8N6izMi377907UNDvAXwFPM10AvOb22CMDaCpRVXEUqqHFoinXLuqY9JALo5IrFDMHbOvp55lDewFDj0eZX-QTyG_WiMfTfL5Wlrq-hZDLI6Xg/s72-c/Angkringan+tugu+Djogdja.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-261848137824685882.post-1089760467109706152</id><published>2015-10-29T20:40:00.000-07:00</published><updated>2015-10-29T20:41:24.771-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kuliner"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kuliner Extreme"/><title type='text'>OSENG-OSENG MERCON BU NARTI Pedasnya Meledakkan Mulut Anda. Hati Hati...!!!</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj94ryYO9OK7z97SCG6fArQXmdKe9PQnc8TurkkK6zzseZUcKf4KalEwsJrwuSJfN5efav22o2plnhIystNPQFFU79EKhtxLuViu6uLRkIG_P-grGXYqF0JDD4QleUrLU-uPicN5m-O1_4/s1600/OSENG-OSENG+MERCON+BU+NARTI+Pedasnya+Meledakkan+Mulut..jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;OSENG-OSENG MERCON BU NARTI Pedasnya Meledakkan Mulut.&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;422&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj94ryYO9OK7z97SCG6fArQXmdKe9PQnc8TurkkK6zzseZUcKf4KalEwsJrwuSJfN5efav22o2plnhIystNPQFFU79EKhtxLuViu6uLRkIG_P-grGXYqF0JDD4QleUrLU-uPicN5m-O1_4/s640/OSENG-OSENG+MERCON+BU+NARTI+Pedasnya+Meledakkan+Mulut..jpg&quot; title=&quot;OSENG-OSENG MERCON BU NARTI Pedasnya Meledakkan Mulut.&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://djogdjamedia.blogspot.com/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;b&gt;DjogdjaMedia &lt;/b&gt;&lt;/a&gt;- Puluhan orang duduk lesehan di atas tikar di pinggir jalan. Raut 
wajah mereka tampak terengah-engah, matanya melotot. Beberapa sibuk 
mengelap peluh di keningnya. Padahal orang-orang ini bukan sedang 
berolahraga, mereka sedang makan malam! Ya, situasi ini terjadi di 
sebuah warung tenda di daerah Kauman, Yogyakarta. Makanan seperti apa 
rupanya yang membuat acara makan malam terlihat begitu melelahkan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;
          &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Inilah efek dari oseng-oseng mercon. Makanan kreasi Bu 
Narti ini kini telah menjadi kuliner khas Yogyakarta. Berdiri sejak 
tahun 1998 saat negara ini sedang dilanda krisis ekonomi, demi 
meneruskan hidup setelah ditinggal mati sang suami. Kondang hingga ke 
berbagai kota, menarik setiap pejalan untuk mencoba.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;
          
          &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Mercon, yang dalam Bahasa Indonesia adalah petasan menjadi nama kuliner bukan tanpa sebab. &lt;i&gt;Buntelan&lt;/i&gt;
 mesiu yang sering dipakai dalam perayaan Imlek dan meramaikan lebaran 
ini seolah meledakkan dirinya di mulut. Seperti pejuang berani mati yang
 mengantar bom ke sarang musuh. Begitulah oseng-oseng racikan Bu Narti 
meluluh lantakkan kita. Membuat mata melotot, terengah-engah sambil 
mengipas lidah, hingga &lt;i&gt;gobyos kotos-kotos&lt;/i&gt;, peluh bercucuran membasahi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;
          &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Dilihat dari bentuknya, tak ada yang menarik dari hidangan 
ini. Hanya nasi putih panas ditemani oseng-oseng sederhana berisi kikil,
 gajih, kulit, dan tulang muda. Orang Jogja menyebutnya &lt;i&gt;koyoran&lt;/i&gt;. 
Terlihat sangat berminyak, ditambah kepungan irisan cabai rawit yang 
bijinya menempel di koyoran. Sedikit mengerikan. Bila didiamkan sebentar
 saja oseng-oseng ini akan membeku, kaku. Bukti kandungan lemak yang 
begitu banyak. Maka makanlah dengan cepat. Panas nasi putih juga bisa 
membantu memperlambat proses pembekuan lemak. Toh, makan mercon selezat 
ini mana bisa lambat-lambat, semua gerak cepat, tak sabar merasakan 
ledakan-ledakan selanjutnya. Kalau-kalau menyerah diserang pedas, menu 
lain seperti ayam, burung puyuh, dan lele akan membantu memulihkan 
lidah. &lt;i&gt;Kapok lombok&lt;/i&gt; namanya, begitulah yang dirasakan oleh YogYES. Terengah-engah &lt;i&gt;kepedesan&lt;/i&gt; begitu rupa, tapi tak mau berhenti. Dan besok rasanya ingin kembali, merasakan lagi ada mercon meledak di mulut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;
          &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Menurut Bu Narti, sang empunya warung ini, nama oseng-oseng
 mercon adalah pemberian dari budayawan Cak Nun. Konon, beliau sering 
makan di sini bersama istrinya atau teman-teman seniman. Saking luar 
biasa pedas, nama-nama selain mercon juga disematkan untuk oseng-oseng 
ini, misalnya &lt;i&gt;bledeg&lt;/i&gt; dan halilintar. Bila ingin merasakan 
sambaran halilintar datanglah di akhir pekan karena khusus di malam 
minggu, Bu Narti akan melipat gandakan komposisi cabainya. Bila di hari 
biasa untuk 50 kg koyoran dicampur dengan 6 kg cabai, maka di akhir 
pekan Bu Narti akan menambah jumlah cabai. Seberapa banyak? Beliau 
merahasiakannya, yang pasti jauh lebih pedas. Nah, meskipun bukan musim 
hujan, bersiap-siaplah tersambar halilintar kiriman Bu Narti.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Sumber: https://www.yogyes.com/id/yogyakarta-culinary/oseng-oseng-mercon/ &lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djogdjamedia.blogspot.com/feeds/1089760467109706152/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djogdjamedia.blogspot.com/2015/10/oseng-oseng-mercon-bu-narti-pedasnya-meledak-dimulut.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/261848137824685882/posts/default/1089760467109706152'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/261848137824685882/posts/default/1089760467109706152'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djogdjamedia.blogspot.com/2015/10/oseng-oseng-mercon-bu-narti-pedasnya-meledak-dimulut.html' title='OSENG-OSENG MERCON BU NARTI Pedasnya Meledakkan Mulut Anda. Hati Hati...!!!'/><author><name>Nur Haryono Nasa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10028376002180576428</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiTWxRB4p7XkHOEaELx3jjdis4HaTn8MoXG9yEc7qHdppsfQIVZWLgcxFD4b1m635W9BCYplFBA_slzARmav_0EYTbvEhxChvnCJVDN75Q9_Z4Zvhd-b43exFfRWJbECA/s220/index+1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj94ryYO9OK7z97SCG6fArQXmdKe9PQnc8TurkkK6zzseZUcKf4KalEwsJrwuSJfN5efav22o2plnhIystNPQFFU79EKhtxLuViu6uLRkIG_P-grGXYqF0JDD4QleUrLU-uPicN5m-O1_4/s72-c/OSENG-OSENG+MERCON+BU+NARTI+Pedasnya+Meledakkan+Mulut..jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-261848137824685882.post-2258486662055314955</id><published>2015-10-29T20:33:00.000-07:00</published><updated>2015-10-29T20:33:00.987-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Serba Serbi Djogdja"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Wisata"/><title type='text'>Apakah Landmark Kota Jogja yang Paling Terkenal...?</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEizKL0dt_ngUCQL2YGwohswm9xBWIsPvya-qj9CZQHOurCPHfECt6FqcQN2O4RQr-K0zrROAte0f1_uucU5Wn8FvltjbMtkPL0nvT-wEBtKKsBJF_oZi25kAybIUO0bdLyX4vmWJPV1ytI/s1600/Apakah+Landmark+Kota+Jogja+yang+Paling+Terkenal.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Apakah Landmark Kota Jogja yang Paling Terkenal&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;422&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEizKL0dt_ngUCQL2YGwohswm9xBWIsPvya-qj9CZQHOurCPHfECt6FqcQN2O4RQr-K0zrROAte0f1_uucU5Wn8FvltjbMtkPL0nvT-wEBtKKsBJF_oZi25kAybIUO0bdLyX4vmWJPV1ytI/s640/Apakah+Landmark+Kota+Jogja+yang+Paling+Terkenal.jpg&quot; title=&quot;Apakah Landmark Kota Jogja yang Paling Terkenal&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://djogdjamedia.blogspot.com/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;b&gt;DjogdjaMedia &lt;/b&gt;&lt;/a&gt;- Tugu Jogja memendam makna filosofis tentang semangat perlawanan atas 
penjajahan dan kini menjadi landmark yang sangat lekat dengan Kota 
Jogja. Ada juga tradisi memeluk atau mencium tugu ini ketika lulus 
kuliah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Tugu Jogja merupakan &lt;i&gt;landmark&lt;/i&gt; Kota Yogyakarta yang paling 
terkenal. Monumen ini berada tepat di tengah perempatan Jalan Pangeran 
Mangkubumi, Jalan Jendral Soedirman, Jalan A.M Sangaji dan Jalan 
Diponegoro. Tugu Jogja yang berusia hampir 3 abad memiliki makna yang 
dalam sekaligus menyimpan beberapa rekaman sejarah kota Yogyakarta.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;
          &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Tugu Jogja kira-kira didirikan setahun setelah Kraton &lt;b&gt;&lt;a href=&quot;http://djogdjamedia.blogspot.com/2015/10/daerah-istimewa-yogyakarta.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Yogyakarta &lt;/a&gt;&lt;/b&gt;berdiri. Pada saat awal berdirinya, bangunan ini secara tegas
 menggambarkan &lt;i&gt;Manunggaling Kawula Gusti&lt;/i&gt;, semangat persatuan rakyat dan penguasa untuk melawan penjajahan. Semangat persatuan atau yang disebut &lt;i&gt;golong gilig&lt;/i&gt; itu tergambar jelas pada bangunan tugu, tiangnya berbentuk &lt;i&gt;gilig&lt;/i&gt; (silinder) dan puncaknya berbentuk &lt;i&gt;golong&lt;/i&gt; (bulat), sehingga disebut Tugu Golong-Gilig.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;
          
          &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Secara rinci, bangunan Tugu Jogja saat awal dibangun 
berbentuk tiang silinder yang mengerucut ke atas. Bagian dasarnya berupa
 pagar yang melingkar sementara bagian puncaknya berbentuk bulat. 
Ketinggian bangunan tugu pada awalnya mencapai 25 meter.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;
          &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Semuanya berubah pada tanggal 10 Juni 1867. Gempa yang 
mengguncang Yogyakarta saat itu membuat bangunan tugu runtuh. Bisa 
dikatakan, saat tugu runtuh ini merupakan keadaan transisi, sebelum 
makna persatuan benar-benar tak tercermin pada bangunan tugu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;
          &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Keadaan benar-benar berubah pada tahun 1889, saat 
pemerintah Belanda merenovasi bangunan tugu. Tugu dibuat dengan bentuk 
persegi dengan tiap sisi dihiasi semacam prasasti yang menunjukkan siapa
 saja yang terlibat dalam renovasi itu. Bagian puncak tugu tak lagi 
bulat, tetapi berbentuk kerucut yang runcing. Ketinggian bangunan juga 
menjadi lebih rendah, hanya setinggi 15 meter atau 10 meter lebih rendah
 dari bangunan semula. Sejak saat itu, tugu ini disebut juga sebagai &lt;i&gt;De Witt Paal&lt;/i&gt; atau Tugu Pal Putih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;
          &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Perombakan bangunan itu sebenarnya merupakan taktik Belanda
 untuk mengikis persatuan antara rakyat dan raja. Namun, melihat 
perjuangan rakyat dan raja di Yogyakarta yang berlangsung sesudahnya, 
bisa diketahui bahwa upaya itu tidak berhasil.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;
          &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Bila anda ingin memandang Tugu Jogja sepuasnya sambil 
mengenang makna filosofisnya, tersedia bangku yang menghadap ke tugu di 
pojok Jl. Pangeran Mangkubumi. Pukul 05.00 - 06.00 pagi hari merupakan 
saat yang tepat, saat udara masih segar dan belum banyak kendaraan 
bermotor yang lalu lalang. Sesekali mungkin anda akan disapa dengan 
senyum ramah loper koran yang hendak menuju kantor sirkulasi harian 
Kedaulatan Rakyat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;
          &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Begitu identiknya Tugu Jogja dengan Kota Yogyakarta, 
membuat banyak mahasiswa perantau mengungkapkan rasa senangnya setelah 
dinyatakan lulus kuliah dengan memeluk atau mencium Tugu Jogja. Mungkin 
hal itu juga sebagai ungkapan sayang kepada Kota Yogyakarta yang akan 
segera ditinggalkannya, sekaligus ikrar bahwa suatu saat nanti ia pasti 
akan mengunjungi kota tercinta ini lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Photo &amp;amp; Artistik: Agung Sulistiono Mabruron&lt;br /&gt;Copyright © 2007 YogYES.COM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Sumber: &lt;a href=&quot;https://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/other/tugu-jogja/&quot; rel=&quot;nofollow&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;https://www.yogyes.com&lt;/a&gt; &lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djogdjamedia.blogspot.com/feeds/2258486662055314955/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djogdjamedia.blogspot.com/2015/10/apakah-landmark-kota-jogja-yang-paling-terkenal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/261848137824685882/posts/default/2258486662055314955'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/261848137824685882/posts/default/2258486662055314955'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djogdjamedia.blogspot.com/2015/10/apakah-landmark-kota-jogja-yang-paling-terkenal.html' title='Apakah Landmark Kota Jogja yang Paling Terkenal...?'/><author><name>Nur Haryono Nasa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10028376002180576428</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiTWxRB4p7XkHOEaELx3jjdis4HaTn8MoXG9yEc7qHdppsfQIVZWLgcxFD4b1m635W9BCYplFBA_slzARmav_0EYTbvEhxChvnCJVDN75Q9_Z4Zvhd-b43exFfRWJbECA/s220/index+1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEizKL0dt_ngUCQL2YGwohswm9xBWIsPvya-qj9CZQHOurCPHfECt6FqcQN2O4RQr-K0zrROAte0f1_uucU5Wn8FvltjbMtkPL0nvT-wEBtKKsBJF_oZi25kAybIUO0bdLyX4vmWJPV1ytI/s72-c/Apakah+Landmark+Kota+Jogja+yang+Paling+Terkenal.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-261848137824685882.post-834862658432296971</id><published>2015-10-29T20:27:00.003-07:00</published><updated>2015-10-29T20:27:43.599-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Serba Serbi Djogdja"/><title type='text'>Daerah Istimewa Yogyakarta</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgRL1OozPrriUiuZMK33KqPBM5RQKkCoQrEeN0MUJGnNcCkQfTYDNmRWhfPVYHzrvYXjmor7f-uYzjjRsD7O6NStmWUKiQFR6XSuCOwml-k4erputfhAURv-fCE_An-Q4OZr4UQvtwvUuQ/s1600/Tugu_Yogyakarta.JPG&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Daerah Istimewa Yogyakarta&quot; border=&quot;0&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgRL1OozPrriUiuZMK33KqPBM5RQKkCoQrEeN0MUJGnNcCkQfTYDNmRWhfPVYHzrvYXjmor7f-uYzjjRsD7O6NStmWUKiQFR6XSuCOwml-k4erputfhAURv-fCE_An-Q4OZr4UQvtwvUuQ/s400/Tugu_Yogyakarta.JPG&quot; title=&quot;Daerah Istimewa Yogyakarta&quot; width=&quot;300&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Daerah Istimewa Yogyakarta adalah Daerah Istimewa setingkat provinsi di Indonesia yang merupakan peleburan Negara Kesultanan Yogyakarta dan Negara Kadipaten Paku Alaman. Daerah Istimewa Yogyakarta terletak di bagian selatan Pulau Jawa, dan berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah dan Samudera Hindia. Daerah Istimewa yang memiliki luas 3.185,80 km2 ini terdiri atas satu kotamadya, dan empat kabupaten, yang terbagi lagi menjadi 78 kecamatan, dan 438 desa/kelurahan. Menurut sensus penduduk 2010 memiliki populasi 3.452.390 jiwa dengan proporsi 1.705.404 laki-laki, dan 1.746.986 perempuan, serta memiliki kepadatan penduduk sebesar 1.084 jiwa per km2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebutan nomenklatur Daerah Istimewa Yogyakarta yang terlalu panjang menimbulkan penyingkatan nomenklatur menjadi DI Yogyakarta atau DIY. Daerah Istimewa Yogyakarta sering dihubungkan dengan Kota Yogyakarta sehingga secara kurang tepat sering disebut dengan Jogja, Yogya, Yogyakarta, Jogjakarta. Walau secara geografis merupakan provinsi terkecil kedua setelah DKI Jakarta, Daerah Istimewa ini terkenal di tingkat nasional, dan internasional, terutama sebagai tempat tujuan wisata andalan setelah Provinsi Bali. Daerah Istimewa Yogyakarta mengalami beberapa bencana alam besar termasuk bencana gempa bumi pada tanggal 27 Mei 2006, erupsi Gunung Merapi selama Oktober-November 2010, serta erupsi Gunung Kelud, Jawa Timur pada tanggal 13 Februari 2014.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Sebelum Indonesia merdeka, Yogyakarta merupakan daerah yang mempunyai pemerintahan sendiri atau disebut Zelfbestuurlandschappen/Daerah Swapraja, yaitu Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman. Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat didirikan oleh Pangeran Mangkubumi yang bergelar Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1755, sedangkan Kadipaten Pakualaman didirikan oleh Pangeran Notokusumo (saudara Sultan Hamengku Buwono II) yang bergelar Adipati Paku Alam I pada tahun 1813. Pemerintah Hindia Belanda mengakui Kasultanan, dan Pakualaman sebagai kerajaan dengan hak mengatur rumah tangganya sendiri yang dinyatakan dalam kontrak politik. Kontrak politik yang terakhir Kasultanan tercantum dalam Staatsblaad 1941 Nomor 47, sedangkan kontrak politik Pakualaman dalam Staatsblaad 1941 Nomor 577. Eksistensi kedua kerajaan tersebut telah mendapat pengakuan dari dunia internasional, baik pada masa penjajahan Belanda, Inggris, maupun Jepang. Ketika Jepang meninggalkan Indonesia, kedua kerajaan tersebut telah siap menjadi sebuah negara sendiri yang merdeka, lengkap dengan sistem pemerintahannya (susunan asli), wilayah, dan penduduknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia (RI), Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII menyatakan kepada Presiden RI, bahwa Daerah Kasultanan Yogyakarta, dan Daerah Pakualaman menjadi wilayah Negara RI, bergabung menjadi satu kesatuan yang dinyatakan sebagai Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII sebagai Kepala Daerah, dan Wakil Kepala Daerah bertanggung jawab langsung kepada Presiden RI. Hal tersebut dinyatakan dalam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Piagam kedudukan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII tertanggal 19 Agustus 1945 dari Presiden RI.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Amanat Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII tertanggal 5 September 1945 (dibuat secara terpisah).&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Amanat Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Sri Paku Alam VIII tertanggal 30 Oktober 1945 (dibuat dalam satu naskah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan sejarah selanjutnya kedudukan DIY sebagai Daerah Otonom setingkat Provinsi sesuai dengan maksud pasal 18 Undang-undang Dasar 1945 (sebelum perubahan) diatur dengan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1948 tentang Undang-undang Pokok Pemerintahan Daerah. Sebagai tindak lanjutnya kemudian Daerah Istimewa Yogyakarta dibentuk dengan Undang-undang Nomor 3 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah Istimewa Yogyakarta Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 1950 sebagaimana telah diubah, dan ditambah terakhir dengan Undang-undang Nomor 9 Tahun 1955 (Lembaran Negara Tahun 1959 Nomor 71, Tambahan Lembaran Negara Nomor 1819) yang sampai saat ini masih berlaku. Dalam undang-undang tersebut dinyatakan DIY meliputi Daerah Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, dan Daerah Kadipaten Pakualaman. Pada setiap undang-undang yang mengatur Pemerintahan Daerah, dinyatakan keistimewaan DIY tetap diakui, sebagaimana dinyatakan terakhir dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), DIY mempunyai peranan yang penting. Terbukti pada tanggal 4 Januari 1946 sampai dengan tanggal 27 Desember 1949[7] pernah dijadikan sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia. Tanggal 4 Januari inilah yang kemudian ditetapkan menjadi hari Yogyakarta Kota Republik pada tahun 2010. Pada saat ini Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dipimpin oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Kadipaten Pakualaman dipimpin oleh Sri Paku Alam IX, yang sekaligus menjabat sebagai Gubernur, dan Wakil Gubernur DIY. Keduanya memainkan peran yang menentukan dalam memelihara nilai-nilai budaya, dan adat istiadat Jawa dan merupakan pemersatu masyarakat Yogyakarta.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;DIY terletak di bagian tengah-selatan Pulau Jawa, secara geografis terletak pada 8º 30&#39; - 7º 20&#39; Lintang Selatan, dan 109º 40&#39; - 111º 0&#39; Bujur Timur. Berdasarkan bentang alam, wilayah DIY dapat dikelompokkan menjadi empat satuan fisiografi, yaitu satuan fisiografi Gunungapi Merapi, satuan fisiografi Pegunungan Sewu atau Pegunungan Seribu, satuan fisiografi Pegunungan Kulon Progo, dan satuan fisiografi Dataran Rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satuan fisiografi Gunungapi Merapi, yang terbentang mulai dari kerucut gunung api hingga dataran fluvial gunung api termasuk juga bentang lahan vulkanik, meliputi Sleman, Kota Yogyakarta dan sebagian Bantul. Daerah kerucut, dan lereng gunung api merupakan daerah hutan lindung sebagai kawasan resapan air daerah bawahan. Satuan bentang alam ini terletak di Sleman bagian utara. Gunung Merapi yang merupakan gunungapi aktif dengan karakteristik khusus, mempunyai daya tarik sebagai objek penelitian, pendidikan, dan pariwisata.&lt;br /&gt;Karts mendominasi struktur rupa bumi di wilayah Gunungkidul bagian selatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satuan Pegunungan Selatan atau Pegunungan Seribu, yang terletak di wilayah Gunungkidul, merupakan kawasan perbukitan batu gamping (limestone) dan bentang alam karst yang tandus, dan kekurangan air permukaan, dengan bagian tengah merupakan cekungan Wonosari (Wonosari Basin) yang telah mengalami pengangkatan secara tektonik sehingga terbentuk menjadi Plato Wonosari (dataran tinggi Wonosari). Satuan ini merupakan bentang alam hasil proses solusional (pelarutan), dengan bahan induk batu gamping, dan mempunyai karakteristik lapisan tanah dangkal, dan vegetasi penutup sangat jarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satuan Pegunungan Kulon Progo, yang terletak di Kulon Progo bagian utara, merupakan bentang lahan struktural denudasional dengan topografi berbukit, kemiringan lereng curam, dan potensi air tanah kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satuan Dataran Rendah, merupakan bentang lahan fluvial (hasil proses pengendapan sungai) yang didominasi oleh dataran aluvial, membentang di bagian selatan DIY, mulai dari Kulon Progo sampai Bantul yang berbatasan dengan Pegunungan Seribu. Satuan ini merupakan daerah yang subur. Termasuk dalam satuan ini adalah bentang lahan marin dan eolin yang belum didayagunakan, merupakan wilayah pantai yang terbentang dari Kulon Progo sampai Bantul. Khusus bentang lahan marin dan eolin di Parangtritis Bantul, yang terkenal dengan gumuk pasirnya, merupakan laboratorium alam untuk kajian bentang alam pantai.&lt;br /&gt;Dataran Pantai Parangtritis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi fisiografi tersebut membawa pengaruh terhadap persebaran penduduk, ketersediaan prasarana, dan sarana wilayah, dan kegiatan sosial ekonomi penduduk, serta kemajuan pembangunan antarwilayah yang timpang. Daerah-daerah yang relatif datar, seperti wilayah dataran fluvial yang meliputi Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta, dan Kabupaten Bantul (khususnya di wilayah Aglomerasi Perkotaan Yogyakarta) adalah wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi, dan memiliki kegiatan sosial ekonomi berintensitas tinggi, sehingga merupakan wilayah yang lebih maju, dan berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua daerah aliran sungai (DAS) yang cukup besar di DIY adalah DAS Progo di barat, dan DAS Opak-Oya di timur. Sungai-sungai yang cukup terkenal di DIY antara lain adalah Sungai Serang, Sungai Progo, Sungai Bedog, Sungai Winongo, Sungai Boyong-Code, Sungai Gajah Wong, Sungai Opak, dan Sungai Oya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Perekonomian Daerah Istimewa Yogyakarta antara lain meliputi sektor Investasi; Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM; Pertanian; Ketahanan Pangan; Kehutanan, dan Perkebunan; Perikanan, dan Kelautan; Energi, dan Sumber Daya Mineral; serta Pariwisata.&lt;br /&gt;Penanaman modal dan industri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penanaman modal di DIY dilaksanakan melalui program peningkatan promosi, dan kerja sama investasi serta program peningkatan iklim investasi, dan realisasi investasi. Capaian investasi total pada tahun 2010 mencapai Rp 4.580.972.827.244,00 dengan rincian PMDN sebesar Rp 1.884.925.869.797,00, dan PMA sebesar 2.696.046.957.447,00 [9]. Unit usaha di DIY pada tahun 2010 ada sekitar 78.122 unit dengan penyerapan tenaga kerja sebesar 292.625 orang, dan nilai investasi sebesar Rp. 878.063.496.000,00 [10].&lt;br /&gt;Perdagangan dan UKM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[11] Varian produk ekspor DIY andalan meliputi produk olahan kulit, tekstil, dan kayu. Pakaian jadi tekstil dan mebel kayu merupakan produk yang mempunyai nilai ekspor tertinggi. Namun secara umum ekspor ke mancanegara didominasi oleh produk-produk yang dihasilkan dengan nilai seni, dan kreatif tinggi yang padat karya (labor intensive). Program pembangunan dalam mengembangkan koperasi dan UKM di DIY, salah satunya adalah memberdayakan usaha mikro, dan kecil, dan menengah yang disinergikan dengan kebijakan program dari pemerintah pusat. Salah satu upaya pembinaan UKM adalah melalui kelompok (sentra) karena upaya ini lebih efektif, dan efisien, di samping itu dengan sentra akan banyak melibatkan usaha mikro, dan kecil. Pada 2010 tercatat koperasi aktif sebanyak 1.926 koperasi, dan UKM tercatat 13.998 unit usaha[12].&lt;br /&gt;Pertanian dan kehutanan&lt;br /&gt;Pertanian tetap menjadi andalan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[13] Tingkat kesejahteraan petani dalam bidang pertanian di DIY yang diukur dengan Nilai Tukar Petani (NTP) NTP dapat menjadi salah satu indikator yang menunjukkan tingkat kesejahteraan petani di suatu wilayah. Pada 2010 NTP sebesar 112,74% [14]. Ketahanan pangan merupakan bagian terpenting dari pemenuhan hak atas pangan sekaligus merupakan salah satu pilar utama hak asasi manusia. Secara umum ketersediaan pangan di DIY cukup karena berkaitan dengan musim panen sehingga diperlukan pengaturan distribusi oleh pemerintah. Pemenuhan kebutuhan ikan di DIY dapat dipenuhi dari perikanan tangkap maupun budidaya. Untuk perikanan tangkap dilakukan melalui pengembangan pelabuhan perikanan Sadeng dan Glagah. Produksi perikanan budidaya tahun 2010 mencapai 39.032 ton, dan perikanan tangkap mencapai 4.906 ton, dengan konsumsi ikan sebesar 22,06 kg/kap/tahun[15].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hutan di DIY didominasi oleh hutan produksi, yang sebagian besar berada di wilayah Kabupaten Gunungkidul. Persentase luas hutan di DIY pada tahun 2010 sebesar 5,87% dengan rehabilitasi lahan kritis sebesar 9,93% dan kerusakan kawasan hutan sebesar 4,94% [16]. Sektor perkebunan, dari segi produksi tanaman perkebunan yang potensial di DIY adalah kelapa, dan tebu. Kegiatan perkebunan diprioritaskan dalam rangka pengutuhan tanaman memenuhi skala ekonomi serta peningkatan produksi, produktivitas, dan mutu produk tanaman untuk meningkatkan pendapatan petani.&lt;br /&gt;ESDM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber daya mineral atau tambang yang ada di DIY adalah Bahan Galian C yang meliputi, pasir, kerikil, batu gamping, kalsit, kaolin, dan zeolin serta breksi batu apung. Selain bahan galian Golongan C tersebut, terdapat bahan galian Golongan A yang berupa Batu Bara. Batu bara ini sangat terbatas jumlahnya, begitu pula untuk bahan galian golongan B berupa Pasir Besi (Fe), Mangan (Mn), Barit (Ba), dan Emas (Au) yang terdapat di Kabupaten Kulon Progo. Dalam bidang ketenagalistrikan, khususnya listrik, minyak, dan gas di DIY dipasok oleh PT PLN dan PT Pertamina.&lt;br /&gt;Pariwisata&lt;br /&gt;Museum Hamengku Buwono IX di dalam kompleks Keraton Yogyakarta, sebuah tujuan wisata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[17] Pariwisata merupakan sektor utama bagi DIY. Banyaknya objek, dan daya tarik wisata di DIY telah menyerap kunjungan wisatawan, baik wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara. Pada 2010 tercatat kunjungan wisatawan sebanyak 1.456.980 orang, dengan rincian 152.843 dari mancanegara, dan 1.304.137 orang dari nusantara[18]. Bentuk wisata di DIY meliputi wisata MICE (Meeting, Incentive, Convention and Exhibition), wisata budaya, wisata alam, wisata minat khusus, dan berbagai fasilitas wisata lainnya, seperti resort, hotel, dan restoran. Tercatat ada 37 hotel berbintang, dan 1.011 hotel melati di seluruh DIY pada 2010. Adapun penyelenggaraan MICE sebanyak 4.509 kali per tahun atau sekitar 12 kali per hari[19]. Keanekaragaman upacara keagamaan, dan budaya dari berbagai agama serta didukung oleh kreativitas seni, dan keramahtamahan masyarakat, membuat DIY mampu menciptakan produk-produk budaya, dan pariwisata yang menjanjikan. Pada tahun 2010 tedapat 91 desa wisata dengan 51 di antaranya yang layak dikunjungi. Tiga desa wisata di kabupaten Sleman hancur terkena erupsi gunung Merapi sedang 14 lainnya rusak ringan [20]. Menurut Kepala Dinas Pariwisata Yogyakarta pada September 2014, angka kunjungan mencapai 2,4 juta wisatawan domestik dan 1,8 juta wisatawan manca negara. [21]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara geografis, DIY juga diuntungkan oleh jarak antara lokasi objek wisata yang terjangkau, dan mudah ditempuh. Sektor pariwisata sangat signifikan menjadi motor kegiatan perekonomian DIY yang secara umum bertumpu pada tiga sektor andalan yaitu: jasa-jasa; perdagangan, hotel, dan restoran; serta pertanian. Dalam hal ini pariwisata memberi efek pengganda (multiplier effect) yang nyata bagi sektor perdagangan disebabkan meningkatnya kunjungan wisatawan. Selain itu, penyerapan tenaga kerja, dan sumbangan terhadap perekonomian daerah sangat signifikan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Kondisi sosial budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta antara lain meliputi Kependudukan; Tenaga Kerja, dan Transmigrasi; Kesejahteraan Sosial; Kesehatan; Pendidikan; Kebudayaan; dan Keagamaan&lt;br /&gt;Kependudukan dan tenaga kerja&lt;br /&gt;Aktivitas penduduk&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Laju pertumbuhan penduduk di DIY antara 2003-2007 sebanyak 135.915 jiwa atau kenaikan rata-rata pertahun sebesar 1,1%. Umur Harapan Hidup (UHH) penduduk di DIY menunjukkan kecenderungan yang meningkat dari 72,4 tahun pada tahun 2002 menjadi 72,9 tahun pada tahun 2005. Ditinjau dari sisi distribusi penduduk menurut usia, terlihat kecenderungan yang semakin meningkat pada penduduk usia di atas 60 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proporsi distribusi peduduk berdasarkan usia produktif memiliki akibat pada sektor tenaga kerja. Angkatan kerja di DIY pada 2010 sebesar 71,41%[23]. Di sektor ekonomi yang menyerap tenaga kerja paling besar adalah sektor pertanian kemudian disusul sektor jasa-jasa lainnya. Sektor yang potensial dikembangkan yaitu sektor pariwisata, sektor perdagangan, dan industri terutama industri kecil menengah serta kerajinan. Pengangguran di DIY menjadi problematika sosial yang cukup serius karena karakter pengangguran DIY menyangkut sebagian tenaga-tenaga profesional dengan tingkat pendidikan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu cara untuk mengatasi masalah kependudukan, dan ketenagakerjaan adalah dengan mengadakan program transmigrasi. Pelaksanaan pemberangkatan transmigran asal DIY sampai pada tahun 2008 melalui program transmigrasi sejumlah 76.495 KK atau 274.926 jiwa. Ditinjau dari pola transmigrasi sudah mencerminkan partisipasi, dan keswadayaan masyarakat, melalui Transmigrasi Umum (TU), Transmigrasi Swakarsa Berbantuan (TSB) dan Transmigrasi Swakarsa Mandiri (TSM). Untuk pensebarannya sudah mencakup hampir seluruh provinsi. Rasio jumlah tansmigran swakarsa mandiri pada 2010 mencapai 20% dari total transmigran yang diberangkatkan.&lt;br /&gt;Kesejahteraan dan kesehatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai salah satu aspek yang penting dalam kehidupan, pembangunan kesehatan menjadi salah satu instrumen di dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Tahun 2007 jumlah keluarga miskin sebanyak 275.110 RTM dan menerima bantuan raskin dari pemerintah pusat (meningkat 27 persen dibanding periode tahun 2006 sebanyak 216.536 RTM). Penduduk DIY menurut tahapan kesejahteraan tercatat bahwa pada tahun 2007 kelompok pra sejahtera 21,12%; Sejahtera I 22,70%; Sejahtera II 23,69%; Sejahtera III 26,83%; dan Sejahtera III plus 5,66%. Tingkat kesejahteraan pada tahun 2010 meningkat dengan penurunan persentase penduduk miskin menjadi 16,83%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arah pembangunan kesehatan di DIY secara umum adalah untuk mewujudkan DIY yang memiliki status kesehatan masyarakat yang tinggi tidak hanya dalam batas nasional tetapi memiliki kesetaraan di tataran internasional khususnya Asia Tenggara dengan mempertinggi kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat, peningkatan jangkauan, dan kualitas pelayanan kesehatan serta menjadikan DIY sebagai pusat mutu dalam pelayanan kesehatan, pendidikan pelatihan kesehatan serta konsultasi kesehatan. Hasil Riset Kesehatan Dasar Nasional Tahun 2010 menempatkan DIY sebagai daerah setingkat provinsi dengan indikator kesehatan terbaik, dan paling siap dalam mencapai MDG’s.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2010 capaian indikator kesehatan untuk umur harapan hidup berada pada level usia 74,20 tahun. Angka kematian balita sebesar 18/1000 KH, angka kematian bayi sebesar 17/1000 KH, dan angka kematian ibu melahirkan sebesar 103/100.000 KH. Prevalensi gizi buruk sebesar 0.70%, Cakupan Rawat Jalan Puskesmas 16% sedangkan Cakupan Rawat Inap Rumah Sakit sebesar 1,32%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 118 Puskesmas, 20% puskesmas telah menerapkan sistem manajemen mutu melalui pendekatan ISO 9001:200; 7% rumah sakit telah menerapkan ISO 9001:200; 25% rumah sakit di DIY telah terakreditasi dengan 5 standar; 17% RS terakreditasi dengan 12 standar; dan 5% RS telah terakreditasi dengan 16 standar pelayanan. Sarana pelayanan kesehatan yang memiliki unit pelayanan gawat darurat meningkat menjadi 40% dan RS dengan pelayanan kesehatan jiwa meningkat menjadi 9%. Meskipun demikian cakupan rawat jalan tahun 2006 baru mencapai 10% (nasional 15%) sementara untuk rawat inap 1,2% (nasional 1,5%). Rasio pelayanan kesehatan dasar bagi keluarga miskin secara cuma-cuma di Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan DIY maupun Kabupaten/Kota telah mencapai 100%. Rasio dokter umum per 100.000 penduduk menunjukkan tren meningkat sebesar 39,64 pada tahun 2006. Adapun program jamkesos tahun 2010 dianggarkan Rp. 34.978.592.000,00[28].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyakit jantung dan stroke telah menjadi pembunuh nomor satu di DIY sementara faktor risiko penyakit jantung penduduk DIY ternyata cukup tinggi. Rumah tangga di DIY yang tidak bebas asap rokok sebesar 56%, sedangkan remaja yang perokok aktif sebesar 9,3%. Sebanyak 52% penduduk DIY kurang melakukan aktivitas olahraga, dan hanya 19,8% penduduk DIY yang mengkonsumsi serat mencukupi. Dalam tiga tahun terakhir angka obesitas pada anak-anak di DIY meningkat hampir 7%.&lt;br /&gt;Pendidikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[29]Penyebaran sekolah untuk jenjang SD/MI sampai Sekolah Menengah sudah merata, dan menjangkau seluruh wilayah sampai ke pelosok desa. Jumlah SD/MI yang ada di DIY pada tahun 2008 adalah sejumlah 2.035, SMP/MTs/SMP Terbuka sejumlah 529, dan SMA/MA/SMK sejumlah 381 sekolah negeri maupun swasta. Ketersediaan ruang belajar dapat dikatakan sudah memadai dengan rasio siswa per kelas untuk SD/MI: 22, SMP/MTs: 33, SMA/MA/SMK: 31. Sedangkan tingkat ketersediaan guru di DIY juga cukup memadai dengan rasio siswa per guru untuk SD/MI: 13, SMP/MTs: 11, SMA/MA/SMK: 9. Untuk tahun 2010 pembinaan guru jenjang SD/MI sebanyak 3.900 guru telah memenuhi kualifikasi dari total 24.093 guru. Jenjang SMP/MTs sebanyak 3.939 guru telah memenuhi kualifikasi dari total 12.971 guru. Dan untuk SMA/MA sebanyak 4.826 guru telah memenuhi kualifikasi dari total 15.067 guru[30].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para lulusan jenjang SD/MI pada umumnya dapat melanjutkan ke SMP/MTs, sejalan kebijakan Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun yang dicanangkan pemerintah. Pada tahun 2010, angka kelulusan SD/MI mencapai 96,47%, SMP/MTs mencapai 81,84% dan SMA/MA/SMK sebesar 88,98%. Sedangkan angka putus sekolah pada tahun yang sama sebesar 0,07% untuk SD/MI; 0,17% untuk SMP/MTs; dan 0,44% untuk SMA/MA/SMK. Sementara itu jumlah perguruan tinggi di DIY baik negeri, swasta maupun kedinasan seluruhnya sebanyak 136 institusi dengan rincian 21 universitas, 5 institut, 41 sekolah tinggi, 8 politeknik dan 61 akademi yang diasuh oleh 9.736 dosen.&lt;br /&gt;Kebudayaan&lt;br /&gt;Wujud cagar budaya yang masih dipergunakan sebagai tempat ibadah umat Hindu Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DIY mempunyai beragam potensi budaya, baik budaya yang tangible (fisik) maupun yang intangible (non fisik). Potensi budaya yang tangible antara lain kawasan cagar budaya, dan benda cagar budaya sedangkan potensi budaya yang intangible seperti gagasan, sistem nilai atau norma, karya seni, sistem sosial atau perilaku sosial yang ada dalam masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DIY memiliki tidak kurang dari 515 Bangunan Cagar Budaya yang tersebar di 13 Kawasan Cagar Budaya. Keberadaan aset-aset budaya peninggalan peradaban tinggi masa lampau tersebut, dengan Kraton sebagai institusi warisan adiluhung yang masih terlestari keberadaannya, merupakan embrio, dan memberi spirit bagi tumbuhnya dinamika masyarakat dalam berkehidupan kebudayaan terutama dalam berseni budaya, dan beradat tradisi. Selain itu, DIY juga mempunyai 30 museum, yang dua di antaranya yaitu Museum Ullen Sentalu, dan Museum Sonobudoyo diproyeksikan menjadi museum internasional. Pada 2010, persentase benda cagar budaya tidak bergeak dalam kategori baik sebesar 41,55%, seangkan kunjungan ke museum mencapai 6,42%.&lt;br /&gt;Keagamaan&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Verdana,sans-serif;&quot;&gt;Penduduk DIY mayoritas beragama Islam yaitu sebesar 90,96%, selebihnya beragama Kristen, Katholik, Hindu, Budha. Sarana ibadah terus mengalami perkembangan, pada tahun 2007 terdiri dari 6214 masjid, 3413 langgar, 1877 musholla, 218 gereja, 139 kapel, 25 kuil/pura dan 24 vihara/klenteng. Jumlah pondok pesantren pada tahun 2006 sebanyak 260, dengan 260 kyai, dan 2.694 ustadz serta 38.103 santri. Sedangkan jumlah madrasah baik negeri maupun swasta terdiri dari 148 madrasah ibtidaiyah, 84 madrasah tsanawiyah dan 35 madrasah aliyah. Aktivitas keagamaan juga dapat dilihat dari meningkatnya jumlah jamaah haji dari tahun ke tahun, dan pada tahun 2007 terdapat 3.064 jamaah haji.&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://djogdjamedia.blogspot.com/feeds/834862658432296971/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://djogdjamedia.blogspot.com/2015/10/daerah-istimewa-yogyakarta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/261848137824685882/posts/default/834862658432296971'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/261848137824685882/posts/default/834862658432296971'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://djogdjamedia.blogspot.com/2015/10/daerah-istimewa-yogyakarta.html' title='Daerah Istimewa Yogyakarta'/><author><name>Nur Haryono Nasa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10028376002180576428</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiTWxRB4p7XkHOEaELx3jjdis4HaTn8MoXG9yEc7qHdppsfQIVZWLgcxFD4b1m635W9BCYplFBA_slzARmav_0EYTbvEhxChvnCJVDN75Q9_Z4Zvhd-b43exFfRWJbECA/s220/index+1.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgRL1OozPrriUiuZMK33KqPBM5RQKkCoQrEeN0MUJGnNcCkQfTYDNmRWhfPVYHzrvYXjmor7f-uYzjjRsD7O6NStmWUKiQFR6XSuCOwml-k4erputfhAURv-fCE_An-Q4OZr4UQvtwvUuQ/s72-c/Tugu_Yogyakarta.JPG" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>