<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Powered by DODdoang Weblog</title>
	<atom:link href="https://doddoang.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://doddoang.wordpress.com</link>
	<description>Design For Live</description>
	<lastBuildDate>Fri, 23 Sep 2011 04:20:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='doddoang.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>https://s0.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Powered by DODdoang Weblog</title>
		<link>https://doddoang.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="https://doddoang.wordpress.com/osd.xml" title="Powered by DODdoang Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='https://doddoang.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
	<item>
		<title>Pentingnya Latihan Mengunyah Bagi Bayi</title>
		<link>https://doddoang.wordpress.com/2011/09/23/pentingnya-latihan-mengunyah-bagi-bayi/</link>
					<comments>https://doddoang.wordpress.com/2011/09/23/pentingnya-latihan-mengunyah-bagi-bayi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[doddoang]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 Sep 2011 04:20:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://doddoang.wordpress.com/?p=776</guid>

					<description><![CDATA[Pengenalan makanan padat kepada bayi tak hanya penting untuk alasan nutrisi, tetapi juga penting untuk mengoptimalkan perkembangan motorik oralnya yang kemudian dibutuhkan untuknya dalam melafalkan kata-kata dengan baik dan benar. Pergerakan mulut, bibir, lidah, pipi, dan rahang saat anak mengisap, menggigit, serta menjilat menggunakan otot-otot yang juga digunakan untuk berbicara.Transisi tekstur asupan berbentuk cairan ke [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="yiv1036501586post-body-7617561609445037148">Pengenalan makanan padat kepada bayi tak hanya penting untuk alasan nutrisi, tetapi juga penting untuk mengoptimalkan perkembangan motorik oralnya yang kemudian dibutuhkan untuknya dalam melafalkan kata-kata dengan baik dan benar. Pergerakan mulut, bibir, lidah, pipi, dan rahang saat anak mengisap, menggigit, serta menjilat menggunakan otot-otot yang juga digunakan untuk berbicara.Transisi tekstur asupan berbentuk cairan ke makanan padat saat bayi masih mengembangkan kemampuan mengunyahnya adalah hal yang penting. Perbedaan tekstur membutuhkan kemampuan motorik oral berbeda, yang penting dalam perkembangan cara bicara anak. Contoh, makanan yang dihaluskan dan mengandung bongkahan lembut akan mendorong anak untuk menggigit. Mengunyah membantu melatih penggunaan lidah anak, yang sangat penting dalam pelafalan huruf-huruf tertentu.</p>
<p>Makanan padat membantu mengembangkan dan menguatkan rahang, begitu juga otot bibir dan lidah, yang dibutuhkan saat mengucapkan kata. Bibir juga membantu menjaga makanan agar tidak keluar dari mulut, dan penting untuk melafalkan huruf m, p, dan b.</p>
<p>Terlambat memperkenalkan makanan dengan tekstur yang berbeda saat perkembangan bayi bisa membuat bayi malas mencoba rasa dan tekstur baru, begitu juga keterlambatan dalam melatih mengunyah dan perkembangan otot oral bisa menyebabkan masalah pada pengucapan kata-kata di kemudian hari. Cherie Lyden, nutrisionis dari Essential Baby membagi pengetahuan mengenai apa dan kapan perkembangan otot mulut anak:</p>
<p><strong>Baru lahir</strong><br />
Di tahap ini, bayi baru lahir baru bisa mengisap dan menelan. Sistem pencernaannya pun masih belum berkembang, karenanya dibutuhkan ASI atau susu formula sebagai makanan utamanya. Pergerakan rahang saat menyusu ASI membantu bayi untuk mengunyah di kemudian hari.</p>
<p><strong>3 bulan</strong><br />
Di usia ini, bayi sudah memiliki kontrool kepala yang lebih baik, mampu menaruh jari mereka ke dalam mulut, dan memiliki pergerakan mulut serta bibir yang lebih baik. Sistem pencernaan mereka masih belum matang untuk menerima asupan apa pun kecuali air susu sebagai sumber utama makanannya.</p>
<p><strong>4-6 bulan</strong><br />
Pergerakan rahang dan bibir bayi sudah cukup baik, dengan kemampuan menggerakkan lidah naik-turun untuk memudahkan pengisapan, pengunyahan, serta mendorong makanan ke belakang untuk ditelan. Umumnya, di usia 4-6 bulan, bayi sudah menunjukkan tanda-tanda siap mencoba makanan selain air susu sebagai pelengkap (makanan pendamping ASI &#8211; MP ASI). Di usia ini sistem pencernaannya masih belum matang benar, namun di sekitar usia 6 bulan, bayi membutuhkan nutrisi selain air susu, karenanya di usia ini makanan padat sudah bisa diperkenalkan. Makanan padat ini sebaiknya divariasikan, penuh nutrisi dan energi, serta bertekstur amat halus, guna memudahkan si anak untuk menelan dan mencerna. ASI atau susu formula untuk si bayi tetap harus diberikan hingga usia kurang lebih 12 bulan dan selalu ditawarkan sebelum makanan padat.</p>
<p>Beberapa tanda si bayi sudah siap mencoba makanan padat antara lain; ia sudah bisa duduk tegak, memiliki kendali penuh terhadap pergerakan kepala dan leher, selalu ingin menaruh barang ke dalam mulut, sudah bisa mengisap makanan halus dari sendok, tertarik terhadap makanan, dan tidak puas hanya dengan minum susu.</p>
<p><strong>7-9 bulan</strong><br />
Makanan padat sudah bisa diperkenalkan dengan makanan berbongkah yang sudah dipotong dan cukup lembut, hindari makanan yang keras karena si kecil bisa tersedak, seperti bulatan buah anggur utuh, kacang, atau wortel mentah. Dengan koordinasi mata dan tangan yang sudah lebih baik, si bayi akan menunjukkan ketertarikan untuk mencoba makan sendiri, baik menggunakan tangan langsung maupun menggunakan sendok. Makanan kecil yang cukup lembut tetapi masih perlu ia kunyah akan membantunya melatih perkembangan otot mulut. Jangan lupa untuk selalu memberinya air putih.</p>
<p><strong>10-12 bulan</strong><br />
Makanan padat sekarang sudah bisa dipotong cukup kasar dan sedikit lebih besar ukurannya. Bayi di usia ini sudah cukup berani dan mandiri untuk makan sendiri, ia sudah bisa memilah mana yang harus dikunyah dan mana yang sudah bisa ditelan. Otot bibirnya sekarang sudah lebih kuat dan bisa menahan lebih banyak makanan dan cairan di dalam mulut. Ia pun sudah bisa menahan tempat minum dan minum sendiri.</p>
<p><strong>1 tahun ke atas</strong><br />
Di usia ini, dengan nutrisi yang tepat, si kecil sudah bisa makan cukup sering, sekitar 3 menu di makan utama pada jam makan tertentu dan diselingi 2-3 makanan kecil per hari. Anak sudah bisa melatih pergerakan otot mengunyah yang memutar, dan memiliki otot rahang yang lebih stabil, yang mengakomodir gerak lidah. Saat si kecil beranjak dewasa, kemampuan motorik halusnya berkembang lebih baik dan belajar mengendalikan otot mulutnya. Ini merupakan proses yang terus berjalan, dan akan berkembang pada caranya berbicara dan mengucapkan kata-kata.</p>
<p>sumber : <a href="http://sambilminumteh.blogspot.com/2011/01/pentingnya-latihan-mengunyah-bagi-bayi.html" rel="nofollow" target="_blank">http://sambilminumteh.blogspot.com/2011/01/pentingnya-latihan-mengunyah-bagi-bayi.html</a></p>
</div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://doddoang.wordpress.com/2011/09/23/pentingnya-latihan-mengunyah-bagi-bayi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		
		<media:content url="https://0.gravatar.com/avatar/9392fc35ba1653aea841ec682aa6b878a98cb9d85ff3366d4abc415e607d31a1?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">doddoang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menyiasati Anak Sulit Makan</title>
		<link>https://doddoang.wordpress.com/2011/09/23/menyiasati-anak-sulit-makan/</link>
					<comments>https://doddoang.wordpress.com/2011/09/23/menyiasati-anak-sulit-makan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[doddoang]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 Sep 2011 03:38:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://doddoang.wordpress.com/?p=772</guid>

					<description><![CDATA[Oleh Martina Rini S. Tasmin, SPsi. Ibu : &#8220;A lagi ya, satu lagi aaanya, yah satu lagi yah&#8221; Anak : &#8220;Nggak mau, udah kenyang&#8221; Ibu : &#8220;Satu lagi deh, abis itu udahan deh makannya. Tinggal sedikit nih, tuh lihat di piringnya, tinggal sedikit kan. Satu lagi yaaaaa&#8221; Anak : &#8220;Nggak mau ah, udah kenyaaaaaaaaaaaang&#8221; Bagi [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Oleh <a rel="nofollow">Martina Rini S. Tasmin, SPsi.</a></strong></p>
<p><strong>Ibu </strong></p>
<p>:</p>
<p>&#8220;A lagi ya, satu lagi aaanya, yah satu lagi yah&#8221;</p>
<p><strong>Anak</strong></p>
<p>:</p>
<p>&#8220;Nggak mau, udah kenyang&#8221;</p>
<p><strong>Ibu</strong></p>
<p>:</p>
<p>&#8220;Satu lagi deh, abis itu udahan deh makannya. Tinggal sedikit nih, tuh lihat di piringnya, tinggal sedikit kan. Satu lagi yaaaaa&#8221;</p>
<p><strong>Anak</strong></p>
<p>:</p>
<p>&#8220;Nggak mau ah, udah kenyaaaaaaaaaaaang&#8221;</p>
<p>Bagi sebagian ibu, dialog di atas mungkin terdengar sangat <em>familiar</em> di telinga ketika jam makan anak-anak telah tiba. Memberi makan kepada anak-anak balita terkadang memang menyulitkan. Anak tidak selalu menyukai apa yang diberikan kepada mereka. Mereka cenderung lebih menyukai makanan ringan berupa makanan yang manis (seperti permen, biskuit), makanan junk food (biasanya dalam bentuk makan siap saji seperti <em>hamburger, fried chicken, french fries</em>), dan makanan yang tasty (misalnya <em>chiky, cheetos</em>) dibandingkan makanan utama yang berupa nasi dan lauk pauknya.</p>
<p>Menghadapi situasi diatas orangtua biasanya menggunakan berbagai cara untuk membuat agar anaknya mau makan, bahkan seringkali sampai merasa perlu untuk memaksa anak, apalagi orangtua dari anak-anak yang bertubuh mungil. Orangtua mungkin beranggapan bahwa tubuh mungilnya itu terbentuk karena anaknya kurang makan dan gizi. Nah, gimana caranya menyiasati agar anak mau makan makanan yang disediakan oleh orangtua?</p>
<p>Komponen Utama Sumber Energi</p>
<p>Untuk perkembangan tubuh dan energi anak membutuhkan sejumlah kalori. Kebutuhan kalori ini dipenuhi dari nutrisi, yaitu protein, karbohidrat dan lemak. Protein berguna untuk membentuk struktur sel-sel tubuh. Protein banyak terkandung dalam makanan yang terbuat dari tumbuhan maupun hewan, contohnya ikan, susu, keju, kacang dan tepung. Karbohidrat berguna sebagai energi yang diperlukan untuk beraktivitas dan proses-proses penting yang terjadi di dalam tubuh. Karbohidrat terkandung dalam gandum, kacang-kacangan, kentang, beras, buah-buahan, gula dan madu. Lemak juga berguna sebagai sumber energi. Lemak banyak terkandung dalam susu, kacang-kacangan, mentega dan minyak.</p>
<p>Selain membutuhkan nutrisi, tubuh juga membutuhkan vitamin, mineral dan serat. Vitamin, mineral dan serat penting untuk menjaga kesehatan tubuh. Semua makanan pada umumnya mengandung setidaknya satu unsur nutrisi yang dibutuhkan dan dapat juga mengandung vitamin, mineral dan serat. Unsur-unsur inilah yang seringkali disebut dengan istilah Gizi (nutrisi, vitamin, mineral dan serat).</p>
<p>Bagaimana dengan makanan siap saji atau <em>junk food? </em>Junk food yang disukai anak-anak sebenarnya bukanlah makanan yang tidak ada faedahnya sama sekali. Contohnya hamburger, mengandung protein dan lemak, sumber zat besi dan vitamin B yang baik buat anak. Namun perlu diingat bahwa lemak dan protein yang terkandung dalam hamburger melebihi jumlah yang dibutuhkan oleh tubuh. Oleh karena itu jika anak menyukai junk food, tidak ada salahnya sekali-kali diberikan, namun sangat dianjurkan untuk tidak mengkonsumsinya secara berlebihan. Jika hal itu sampai terjadi maka akan berpengaruh kurang baik bagi kesehatan karena asupan gizi yang diperoleh tidak seimbang, dan juga memicu terjadinya obesitas/kegemukan.</p>
<p>Mengapa Anak Menolak Makan?</p>
<p>Papalia (1995), salah seorang ahli perkembangan manusia, mengungkapkan bahwa pada usia 0-3 tahun perkembangan fisik dan otak anak berlangsung paling pesat/growth spurt, karena itu tubuh membutuhkan gizi yang banyak, sehingga biasanya anak memiliki nafsu makan yang baik. Setelah usia 3 tahun, perkembangan tubuh tidak lagi sepesat sebelumnya, kebutuhan tubuh akan makanan menurun dan biasanya diikuti nafsu makan anak yang juga menurun. Oleh karena itu dibutuhkan kreativitas dari orangtua agar anak jangan sampai kekurangan gizi akibat tidak mau makan.</p>
<p>Illingworth (1991), seorang ahli kesehatan anak, mengutarakan beberapa hal-hal yang menurut pengamatannya dapat menjadi penyebab anak tidak mau makan:</p>
<p>Memakan kudapan diantara jam makan, akibatnya tubuh masih berkecukupan dengan nutrisi yang berasal dari kudapan tersebut, sehingga anak tidak merasa lapar</p>
<p>Perkembangan ego sang anak; anak menolak makan sebagai manifestasi dari perkembangan sikap mandiri. Anak merasa sebagai individu yang terpisah dari orangtua, sehingga menolak bentuk dominasi orangtua</p>
<p>Anak ingin mencoba kemampuan yang baru dimilikinya yaitu mencoba makan sendiri tetapi orangtua melarangnya melakukan hal tersebut</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://doddoang.wordpress.com/2011/09/23/menyiasati-anak-sulit-makan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		
		<media:content url="https://0.gravatar.com/avatar/9392fc35ba1653aea841ec682aa6b878a98cb9d85ff3366d4abc415e607d31a1?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">doddoang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Aneka Imunisasi/Vaksin</title>
		<link>https://doddoang.wordpress.com/2011/09/23/aneka-imunisasivaksin/</link>
					<comments>https://doddoang.wordpress.com/2011/09/23/aneka-imunisasivaksin/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[doddoang]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 Sep 2011 02:08:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://doddoang.wordpress.com/?p=767</guid>

					<description><![CDATA[DEFINISI Imunisasi adalah pemberian vaksin untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu. Vaksin adalah suatu obat yang diberikan untuk membantu mencegah suatu penyakit. Vaksin membantu tubuh untuk menghasilkan antibodi. Antibodi ini berfungsi melindungi terhadap penyakit. Vaksin tidak hanya menjaga agar anak tetap sehat, tetapi juga membantu membasmi penyakit yang serius yang timbul pada masa kanak-kanak. Vaksin secara [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>DEFINISI</strong></p>
<p>Imunisasi adalah pemberian vaksin untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu.</p>
<p>Vaksin adalah suatu obat yang diberikan untuk membantu mencegah suatu penyakit. Vaksin membantu tubuh untuk menghasilkan antibodi. Antibodi ini berfungsi melindungi terhadap penyakit.<br />
Vaksin tidak hanya menjaga agar anak tetap sehat, tetapi juga membantu membasmi penyakit yang serius yang timbul pada masa kanak-kanak.</p>
<p>Vaksin secara umum cukup aman. Keuntungan perlindungan yang diberikan vaksin jauh lebih besar daripada efek samping yang mungkin timbul.<br />
Dengan adanya vaksin maka banyak penyakit masa kanak-kanak yang serius, yang sekarang ini sudah jarang ditemukan.</p>
<p><strong>Imunisasi BCG</strong></p>
<p>Vaksinasi BCG memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit tuberkulosis (TBC).<br />
BCG diberikan 1 kali sebelum anak berumur 2 bulan. BCG ulangan tidak dianjurkan karena keberhasilannya diragukan.<br />
Vaksin disuntikkan secara intrakutan pada lengan atas, untuk bayi berumur kurang dari 1 tahun diberikan sebanyak 0,05 mL dan untuk anak berumur lebih dari 1 tahun diberikan sebanyak 0,1 mL.</p>
<p>Vaksin ini mengandung bakteri Bacillus Calmette-Guerrin hidup yang dilemahkan, sebanyak 50.000-1.000.000 partikel/dosis.</p>
<p>Kontraindikasi untuk vaksinasi BCG adalah penderita gangguan sistem kekebalan (misalnya penderita leukemia, penderita yang menjalani pengobatan steroid jangka panjang, penderita infeksi HIV).</p>
<p>Reaksi yang mungkin terjadi:</p>
<p>1. Reaksi lokal : 1-2 minggu setelah penyuntikan, pada tempat penyuntikan timbul kemerahan dan benjolan kecil yang teraba keras. Kemudian benjolan ini berubah menjadi pustula (gelembung berisi nanah), lalu pecah dan membentuk luka terbuka (ulkus). Luka ini akhirnya sembuh secara spontan dalam waktu 8-12 minggu dengan meninggalkan jaringan parut.<br />
2. Reaksi regional : pembesaran kelenjar getah bening ketiak atau leher, tanpa disertai nyeri tekan maupun demam, yang akan menghilang dalam waktu 3-6 bulan.</p>
<p># Komplikasi yang mungkin timbul adalah: Pembentukan abses (penimbunan nanah) di tempat penyuntikan karena penyuntikan yang terlalu dalam. Abses ini akan menghilang secara spontan. Untuk mempercepat penyembuhan, bila abses telah matang, sebaiknya dilakukan aspirasi (pengisapan abses dengan menggunakan jarum) dan bukan disayat.<br />
# Limfadenitis supurativa, terjadi jika penyuntikan dilakukan terlalu dalam atau dosisnya terlalu tinggi. Keadaan ini akan membaik dalam waktu 2-6 bulan.</p>
<p><strong>Imunisasi DPT</strong></p>
<p>Imunisasi DPT adalah suatu vaksin 3-in-1 yang melindungi terhadap difteri, pertusis dan tetanus.<br />
Difteri adalah suatu infeksi bakteri yang menyerang tenggorokan dan dapat menyebabkan komplikasi yang serius atau fatal.<br />
Pertusis (batuk rejan) adalah inteksi bakteri pada saluran udara yang ditandai dengan batuk hebat yang menetap serta bunyi pernafasan yang melengking. Pertusis berlangsung selama beberapa minggu dan dapat menyebabkan serangan batuk hebat sehingga anak tidak dapat bernafas, makan atau minum. Pertusis juga dapat menimbulkan komplikasi serius, seperti pneumonia, kejang dan kerusakan otak.<br />
Tetanus adalah infeksi bakteri yang bisa menyebabkan kekakuan pada rahang serta kejang</p>
<p>Vaksin DPT adalah vaksin 3-in-1 yang bisa diberikan kepada anak yang berumur kurang dari 7 tahun.<br />
Biasanya vaksin DPT terdapat dalam bentuk suntikan, yang disuntikkan pada otot lengan atau paha.</p>
<p>Imunisasi DPT diberikan sebanyak 3 kali, yaitu pada saat anak berumur 2 bulan (DPT I), 3 bulan (DPT II) dan 4 bulan (DPT III); selang waktu tidak kurang dari 4 minggu. Imunisasi DPT ulang diberikan 1 tahun setelah DPT III dan pada usia prasekolah (5-6 tahun).<br />
Jika anak mengalami reaksi alergi terhadap vaksin pertusis, maka sebaiknya diberikan DT, bukan DPT.</p>
<p>Setelah mendapatkan serangkaian imunisasi awal, sebaiknya diberikan booster vaksin Td pada usia 14-16 tahun kemudian setiap 10 tahun (karena vaksin hanya memberikan perlindungan selama 10 tahun, setelah 10 tahun perlu diberikan booster).<br />
Hampir 85% anak yang mendapatkan minimal 3 kali suntikan yang mengandung vaksin difteri, akan memperoleh perlindungan terhadap difteri selama 10 tahun.</p>
<p>DPT sering menyebakan efek samping yang ringan, seperti demam ringan atau nyeri di tempat penyuntikan selama beberapa hari. Efek samping tersebut terjadi karena adanya komponen pertusis di dalam vaksin.</p>
<p>Pada kurang dari 1% penyuntikan, DTP menyebabkan komplikasi berikut:<br />
&#8211; demam tinggi (lebih dari 40,5� Celsius)<br />
&#8211; kejang<br />
&#8211; kejang demam (resiko lebih tinggi pada anak yang sebelumnya pernah mengalami kejang atau terdapat riwayat kejang dalam keluarganya)<br />
&#8211; syok (kebiruan, pucat, lemah, tidak memberikan respon).</p>
<p>Jika anak sedang menderita sakit yang lebih serius dari pada flu ringan, imunisasi DPT bisa ditunda sampai anak sehat.<br />
Jika anak pernah mengalami kejang, penyakit otak atau perkembangannya abnormal, penyuntikan DPT sering ditunda sampai kondisinya membaik atau kejangnya bisa dikendalikan.</p>
<p>1-2 hari setelah mendapatkan suntikan DPT, mungkin akan terjadi demam ringan, nyeri, kemerahan atau pembengkakan di tempat penyuntikan.<br />
Untuk mengatasi nyeri dan menurunkan demam, bisa diberikan asetaminofen (atau ibuprofen).<br />
Untuk mengurangi nyeri di tempat penyuntikan juga bisa dilakukan kompres hangat atau lebih sering menggerak-gerakkan lengan maupun tungkai yang bersangkutan.</p>
<p><strong>Imunisasi DT</strong></p>
<p>Imunisasi DT memberikan kekebalan aktif terhadap toksin yang dihasilkan oleh kuman penyebab difteri dan tetanus.<br />
Vaksin DT dibuat untuk keperluan khusus, misalnya pada anak yang tidak boleh atau tidak perlu menerima imunisasi pertusis, tetapi masih perlu menerima imunisasi difteri dan tetanus.</p>
<p>Cara pemberian imunisasi dasar dan ulangan sama dengan imunisasi DPT.<br />
Vaksin disuntikkan pada otot lengan atau paha sebanyak 0,5 mL.</p>
<p>Vaksin ini tidak boleh diberikan kepada anak yang sedang sakit berat atau menderita demam tinggi.<br />
Efek samping yang mungkin terjadi adalah demam ringan dan pembengkakan lokal di tempat penyuntikan, yang biasanya berlangsung selama 1-2 hari.</p>
<p><strong>Imunisasi TT</strong></p>
<p>Imunisasi tetanus (TT, tetanus toksoid) memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit tetanus. ATS (Anti Tetanus Serum) juga dapat digunakan untuk pencegahan (imunisasi pasif) maupun pengobatan penyakit tetanus.</p>
<p>Kepada ibu hamil, imunisasi TT diberikan sebanyak 2 kali, yaitu pada saat kehamilan berumur 7 bulan dan 8 bulan.<br />
Vaksin ini disuntikkan pada otot paha atau lengan sebanyak 0,5 mL.</p>
<p>Efek samping dari tetanus toksoid adalah reaksi lokal pada tempat penyuntikan, yaitu berupa kemerahan, pembengkakan dan rasa nyeri.</p>
<p><strong>Imunisasi Polio</strong></p>
<p>Imunisasi polio memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit poliomielitis.<br />
Polio bisa menyebabkan nyeri otot dan kelumpuhan pada salah satu maupun kedua lengan/tungkai. Polio juga bisa menyebabkan kelumpuhan pada otot-otot pernafasan dan otot untuk menelan. Polio bisa menyebabkan kematian.</p>
<p>Terdapat 2 macam vaksin polio:<br />
# IPV (Inactivated Polio Vaccine, Vaksin Salk), mengandung virus polio yang telah dimatikan dan diberikan melalui suntikan<br />
# OPV (Oral Polio Vaccine, Vaksin Sabin), mengandung vaksin hidup yang telah dilemahkan dan diberikan dalam bentuk pil atau cairan.<br />
Bentuk trivalen (TOPV) efektif melawan semua bentuk polio, bentuk monovalen (MOPV) efektif melawan 1 jenis polio.</p>
<p>Imunisasi dasar polio diberikan 4 kali (polio I,II, III, dan IV) dengan interval tidak kurang dari 4 minggu.<br />
Imunisasi polio ulangan diberikan 1 tahun setelah imunisasi polio IV, kemudian pada saat masuk SD (5-6 tahun) dan pada saat meninggalkan SD (12 tahun).</p>
<p>Di Indonesia umumnya diberikan vaksin Sabin. Vaksin ini diberikan sebanyak 2 tetes (0,1 mL) langsung ke mulut anak atau dengan menggunakan sendok yang berisi air gula.<br />
Kontra indikasi pemberian vaksin polio:<br />
&#8211; Diare berat<br />
&#8211; Gangguan kekebalan (karena obat imunosupresan, kemoterapi, kortikosteroid)<br />
&#8211; Kehamilan.<br />
Efek samping yang mungkin terjadi berupa kelumpuhan dan kejang-kejang.</p>
<p>Dosis pertama dan kedua diperlukan untuk menimbulkan respon kekebalan primer, sedangkan dosis ketiga dan keempat diperlukan untuk meningkatkan kekuatan antibobi sampai pada tingkat yang tertingiu.<br />
Setelah mendapatkan serangkaian imunisasi dasar, kepada orang dewasa tidak perlu dilakukan pemberian booster secara rutin, kecuali jika dia hendak bepergian ke daerah dimana polio masih banyak ditemukan.<br />
Kepada orang dewasa yang belum pernah mendapatkan imunisasi polio dan perlu menjalani imunisasi, sebaiknya hanya diberikan IPV.</p>
<p>Kepada orang yang pernah mengalami reaksi alergi hebat (anafilaktik) setelah pemberian IPV, streptomisin, polimiksin B atau neomisin, tidak boleh diberikan IPV. Sebaiknya diberikan OPV.<br />
Kepada penderita gangguan sistem kekebalan (misalnya penderita AIDS, infeksi HIV, leukemia, kanker, limfoma), dianjurkan untuk diberikan IPV. IPV juga diberikan kepada orang yang sedang menjalani terapi penyinaran, terapi kanker, kortikosteroid atau obat imunosupresan lainnya.</p>
<p>IPV bisa diberikan kepada anak yang menderita diare.<br />
Jika anak sedang menderita penyakit ringan atau berat, sebaiknya pelaksanaan imunisasi ditunda sampai mereka benar-benar pulih.<br />
IPV bisa menyebabkan nyeri dan kemerahan pada tempat penyuntikan, yang biasanya berlangsung hanya selama beberapa hari.</p>
<p><strong>Imunisasi Campak</strong></p>
<p>Imunisasi campak memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit campak (tampek).<br />
Imunisasi campak diberikan sebanyak 1 dosis pada saat anak berumur 9 bulan atau lebih. Pada kejadian luar biasa dapat diberikan pada umur 6 bulan dan diulangi 6 bulan kemudian.<br />
Vaksin disuntikkan secara subkutan dalam sebanyak 0,5 mL.</p>
<p>Kontra indikasi pemberian vaksin campak:<br />
&#8211; infeksi akut yang disertai demam lebih dari 38�Celsius<br />
&#8211; gangguan sistem kekebalan<br />
&#8211; pemakaian obat imunosupresan<br />
&#8211; alergi terhadap protein telur<br />
&#8211; hipersensitivitas terhadap kanamisin dan eritromisin<br />
&#8211; wanita hamil.</p>
<p>Efek samping yang mungkin terjadi berupa demam, ruam kulit, diare, konjungtivitis dan gejala kataral serta ensefalitis (jarang).</p>
<p><strong>Imunisasi MMR</strong></p>
<p>Imunisasi MMR memberi perlindungan terhadap campak, gondongan dan campak Jerman dan disuntikkan sebanyak 2 kali.<br />
Campak menyebabkan demam, ruam kulit, batuk, hidung meler dan mata berair. Campak juga menyebabkan infeksi telinga dan pneumonia. Campak juga bisa menyebabkan masalah yang lebih serius, seperti pembengkakan otak dan bahkan kematian.<br />
Gondongan menyebabkan demam, sakit kepala dan pembengkakan pada salah satu maupun kedua kelenjar liur utama yang disertai nyeri. Gondongan bisa menyebabkan meningitis (infeksi pada selaput otak dan korda spinalis) dan pembengkakan otak. Kadang gondongan juga menyebabkan pembengkakan pada buah zakar sehingga terjadi kemandulan.<br />
Campak Jerman (rubella) menyebabkan demam ringan, ruam kulit dan pembengkakan kelenjar getah bening leher. Rubella juga bisa menyebakban pembengkakan otak atau gangguan perdarahan.</p>
<p>Jika seorang wanita hamil menderita rubella, bisa terjadi keguguran atau kelainan bawaan pada bayi yang dilahirkannya (buta atau tuli).<br />
Terdapat dugaan bahwa vaksin MMR bisa menyebabkan autisme, tetapi penelitian membuktikan bahwa tidak ada hubungan antara autisme dengan pemberian vaksin MMR.</p>
<p>Vaksin MMR adalah vaksin 3-in-1 yang melindungi anak terhadap campak, gondongan dan campak Jerman.<br />
Vaksin tunggal untuk setiap komponen MMR hanya digunakan pada keadaan tertentu, misalnya jika dianggap perlu memberikan imunisasi kepada bayi yang berumur 9-12 bulan.</p>
<p>Suntikan pertama diberikan pada saat anak berumur 12-15 bulan. Suntikan pertama mungkin tidak memberikan kekebalan seumur hidup yang adekuat, karena itu diberikan suntikan kedua pada saat anak berumur 4-6 tahun (sebelum masuk SD) atau pada saat anak berumur 11-13 tahun (sebelum masuk SMP).</p>
<p>Imunisasi MMR juga diberikan kepada orang dewasa yang berumur 18 tahun atau lebih atau lahir sesudah tahun 1956 dan tidak yakin akan status imunisasinya atau baru menerima 1 kali suntikan MMR sebelum masuk SD.<br />
Dewasa yang lahir pada tahun 1956 atau sebelum tahun 1956, diduga telah memiliki kekebalan karena banyak dari mereka yang telah menderita penyakit tersebut pada masa kanak-kanak.</p>
<p>Pada 90-98% orang yang menerimanya, suntikan MMR akan memberikan perlindungan seumur hidup terhadap campak, campak Jerman dan gondongan.<br />
Suntikan kedua diberikan untuk memberikan perlindungan adekuat yang tidak dapat dipenuhi oleh suntikan pertama.</p>
<p>Efek samping yang mungkin ditimbulkan oleh masing-masing komponen vaksin:<br />
# Komponen campak<br />
1-2 minggu setelah menjalani imunisasi, mungkin akan timbul ruam kulit. Hal ini terjadi pada sekitar 5% anak-anak yang menerima suntikan MMR.<br />
Demam 39,5� Celsius atau lebih tanpa gejala lainnya bisa terjadi pada 5-15% anak yang menerima suntikan MMR. Demam ini biasanya muncul dalam waktu 1-2 minggu setelah disuntik dan berlangsung hanya selama 1-2 hari.<br />
Efek samping tersebut jarang terjadi pada suntikan MMR kedua.<br />
# Komponen gondongan<br />
Pembengkakan ringan pada kelenjar di pipi dan dan dibawah rahang, berlangsung selama beberapa hari dan terjadi dalam waktu 1-2 minggu setelah menerima suntikan MMR.<br />
# Komponen campak Jerman<br />
Pembengkakan kelenjar getah bening dan atau ruam kulit yang berlangsung selama 1-3 hari, timbul dalam waktu 1-2 mingu setelah menerima suntikan MMR. Hal ini terjadi pada 14-15% anak yang mendapat suntikan MMR.<br />
Nyeri atau kekakuan sendi yang ringan selama beberapa hari, timbul dalam waktu 1-3 minggu setelah menerima suntikan MMR. Hal ini hanya ditemukan pada 1% anak-anak yang menerima suntikan MMR, tetapi terjadi pada 25% orang dewasa yang menerima suntikan MMR. Kadang nyeri/kekakuan sendi ini terus berlangsung selama beberapa bulan (hilang-timbul).<br />
Artritis (pembengkakan sendi disertai nyeri) berlangsung selama 1 minggu dan terjadi pada kurang dari 1% anak-anak tetapi ditemukan pada 10% orang dewasa yang menerima suntikan MMR. Jarang terjadi kerusakan sendi akibat artritis ini.<br />
Nyeri atau mati rasa pada tangan atau kaki selama beberapa hari lebih sering ditemukan pada orang dewasa.<br />
Meskipun jarang, setelah menerima suntikan MMR, anak-anak yang berumur dibawah 6 tahun bisa mengalami aktivitas kejang (misalnya kedutan). Hal ini biasanya terjadi dalam waktu 1-2 minggu setelah suntikan diberikan dan biasanya berhubungan dengan demam tinggi.</p>
<p>Keuntungan dari vaksin MMR lebih besar jika dibandingkan dengan efek samping yang ditimbulkannya. Campak, gondongan dan campak Jerman merupakan penyakit yang bisa menimbulkan komplikasi yang sangat serius.</p>
<p>Jika anak sakit, imunisasi sebaiknya ditunda sampai anak pulih.<br />
Imunisasi MMR sebaiknya tidak diberikan kepada:<br />
&#8211; anak yang alergi terhadap telur, gelatin atau antibiotik neomisin<br />
&#8211; anak yang 3 bulan yang lalu menerima gamma globulin<br />
&#8211; anak yang mengalami gangguan kekebalan tubuh akibat kanker, leukemia, limfoma maupun akibat obat prednison, steroid, kemoterapi, terapi penyinaran atau obati imunosupresan.<br />
&#8211; wanita hamil atau wanita yang 3 bulan kemudian hamil.</p>
<p><strong><br />
Imunisasi Hib</strong></p>
<p>Imunisasi Hib membantu mencegah infeksi oleh Haemophilus influenza tipe b.<br />
Organisme ini bisa menyebabkan meningitis, pneumonia dan infeksi tenggorokan berat yang bisa menyebabkan anak tersedak.</p>
<p>Vaksin Hib diberikan sebanyak 3 kali suntikan, biasanya pada saat anak berumur 2, 4 dan 6 bulan.</p>
<p><strong>Imunisasi Varisella</strong></p>
<p>Imunisasi varisella memberikan perlindungan terhadap cacar air.<br />
Cacar air ditandai dengan ruam kulit yang membentuk lepuhan, kemudian secara perlahan mengering dan membentuk keropeng yang akan mengelupas.</p>
<p>Setiap anak yang berumur 12-18 bulan dan belum pernah menderita cacar air dianjurkan untuk menjalani imunisasi varisella.<br />
Anak-anak yang mendapatkan suntikan varisella sebelum berumur 13 tahun hanya memerlukan 1 dosis vaksin.<br />
Kepada anak-anak yang berumur 13 tahun atau lebih, yang belum pernah mendapatkan vaksinasi varisella dan belum pernah menderita cacar air, sebaiknya diberikan 2 dosis vaksin dengan selang waktu 4-8 minggu.</p>
<p>Cacar air disebabkan oleh virus varicella-zoster dan sangat menular.<br />
Biasanya infeksi bersifat ringan dan tidak berakibat fatal; tetapi pada sejumlah kasus terjadi penyakit yang sangat serius sehingga penderitanya harus dirawat di rumah sakit dan beberapa diantaranya meninggal.<br />
Cacar air pada orang dewasa cenderung menimbulkan komplikasi yang lebih serius.</p>
<p>Vaksin ini 90-100% efektif mencegah terjadinya cacar air. Terdapat sejumlah kecil orang yang menderita cacar air meskipun telah mendapatkan suntikan varisella; tetapi kasusnya biasanya ringan, hanya menimbulkan beberapa lepuhan (kasus yang komplit biasanya menimbulkan 250-500 lepuhan yang terasa gatal) dan masa pemulihannya biasanya lebih cepat.<br />
Vaksin varisella memberikan kekebalan jangka panjang, diperkirakan selama 10-20 tahun, mungkin juga seumur hidup.</p>
<p>Efek samping dari vaksin varisella biasanya ringan, yaitu berupa:<br />
&#8211; demam<br />
&#8211; nyeri dan pembengkakan di tempat penyuntikan<br />
&#8211; ruam cacar air yang terlokalisir di tempat penyuntikan.<br />
Efek samping yang lebih berat adalah:<br />
&#8211; kejang demam, yang bisa terjadi dalam waktu 1-6 minggu setelah penyuntikan<br />
&#8211; pneumonia<br />
&#8211; reaksi alergi sejati (anafilaksis), yang bisa menyebabkan gangguan pernafasan, kaligata, bersin, denyut jantung yang cepat, pusing dan perubahan perilaku. Hal ini bisa terjadi dalam waktu beberapa menit sampai beberapa jam setelah suntikan dilakukan dan sangat jarang terjadi.<br />
&#8211; ensefalitis<br />
&#8211; penurunan koordinasi otot.</p>
<p>Imunisasi varisella sebaiknya tidak diberikan kepada:<br />
&#8211; Wanita hamil atau wanita menyusui<br />
&#8211; Anak-anak atau orang dewasa yang memiliki sistem kekebalan yang lemah atau yang memiliki riwayat keluarga dengan kelainan imunosupresif bawaan<br />
&#8211; Anak-anak atau orang dewasa yang alergi terhadap antibiotik neomisin atau gelatin karena vaksin mengandung sejumlah kecil kedua bahan tersebut<br />
&#8211; Anak-anak atau orang dewasa yang menderita penyakit serius, kanker atau gangguan sistem kekebalan tubuh (misalnya AIDS)<br />
&#8211; Anak-anak atau orang dewasa yang sedang mengkonsumsi kortikosteroid<br />
&#8211; Setiap orang yang baru saja menjalani transfusi darah atau komponen darah lainnya<br />
&#8211; Anak-anak atau orang dewasa yang 3-6 bulan yang lalu menerima suntikan immunoglobulin.</p>
<p><strong>Imunisasi HBV</strong></p>
<p>Imunisasi HBV memberikan kekebalan terhadap hepatitis B.<br />
Hepatitis B adalah suatu infeksi hati yang bisa menyebabkan kanker hati dan kematian.</p>
<p>Dosis pertama diberikan segera setelah bayi lahir atau jika ibunya memiliki HBsAg negatif, bisa diberikan pada saat bayi berumur 2 bulan.<br />
Imunisasi dasar diberikan sebanyak 3 kali dengan selang waktu 1 bulan antara suntikan HBV I dengan HBV II, serta selang waktu 5 bulan antara suntikan HBV II dengan HBV III. Imunisasi ulangan diberikan 5 tahun setelah suntikan HBV III. Sebelum memberikan imunisasi ulangan dianjurkan untuk memeriksa kadar HBsAg.<br />
Vaksin disuntikkan pada otot lengan atau paha.</p>
<p>Kepada bayi yang lahir dari ibu dengan HBsAg positif, diberikan vaksin HBV pada lengan kiri dan 0,5 mL HBIG (hepatitis B immune globulin) pada lengan kanan, dalam waktu 12 jam setelah lahir. Dosis kedua diberikan pada saat anak berumur 1-2 bulan, dosis ketiga diberikan pada saat anak berumur 6 bulan.<br />
Kepada bayi yang lahir dari ibu yang status HBsAgnya tidak diketahui, diberikan HBV I dalam waktu 12 jam setelah lahir. Pada saat persalinan, contoh darah ibu diambil untuk menentukan status HBsAgnya; jika positif, maka segera diberikan HBIG (sebelum bayi berumur lebih dari 1 minggu).</p>
<p>Pemberian imunisasi kepada anak yang sakit berat sebaiknya ditunda sampai anak benar-benar pulih.<br />
Vaksin HBV dapat diberikan kepada ibu hamil.<br />
Efek samping dari vaksin HBV adalah efek lokal (nyeri di tempat suntikan) dan sistemis (demam ringan, lesu, perasaan tidak enak pada saluran pencernaan), yang akan hilang dalam beberapa hari.</p>
<p><strong>Imunisasi Pneumokokus Konjugata</strong></p>
<p>Imunisasi pneumokokus konjugata melindungi anak terhadap sejenis bakteri yang sering menyebabkan infeksi telinga. Bakteri ini juga dapat menyebabkan penyakit yang lebih serius, seperti meningitis dan bakteremia (infeksi darah).</p>
<p>Kepada bayi dan balita diberikan 4 dosis vaksin.<br />
Vaksin ini juga dapat digunakan pada anak-anak yang lebih besar yang memiliki resiko terhadap terjadinya infeksi pneumokokus.</p>
<p>SUMBER : <a href="http://sambilminumteh.blogspot.com/2010/12/aneka-imunisasivaksin.html" rel="nofollow" target="_blank">http://sambilminumteh.blogspot.com/2010/12/aneka-imunisasivaksin.html</a></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://doddoang.wordpress.com/2011/09/23/aneka-imunisasivaksin/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>4</slash:comments>
		
		
		
		<media:content url="https://0.gravatar.com/avatar/9392fc35ba1653aea841ec682aa6b878a98cb9d85ff3366d4abc415e607d31a1?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">doddoang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sex Kamasutra dalam Pandangan Islam</title>
		<link>https://doddoang.wordpress.com/2011/09/23/sex-kamasutra-dalam-pandangan-islam/</link>
					<comments>https://doddoang.wordpress.com/2011/09/23/sex-kamasutra-dalam-pandangan-islam/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[doddoang]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 Sep 2011 01:55:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Love]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://doddoang.wordpress.com/?p=760</guid>

					<description><![CDATA[Sebagai bagian dari fitrah kemanusiaan, Islam tidak pernah memberangus hasrat seksual. Islam memberikan panduan lengkap agar seks bisa tetap dinikmati seorang muslim tanpa harus kehilangan ritme ibadahnya. Bulan Syawal, bagi umat Islam Indonesia, bisa dibilang sebagai musim kawin. Anggapan ini tentu bukan tanpa alasan. Kalangan santri dan muhibbin biasanya memang memilih bulan tersebut sebagai waktu [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai bagian dari fitrah kemanusiaan, <a title="Islam" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Islam" rel="wikipedia">Islam</a> tidak pernah memberangus hasrat seksual. Islam memberikan panduan lengkap agar seks bisa tetap dinikmati seorang muslim tanpa harus kehilangan ritme ibadahnya.<br />
Bulan Syawal, bagi umat Islam Indonesia, bisa dibilang sebagai musim kawin. Anggapan ini tentu bukan tanpa alasan. Kalangan santri dan muhibbin biasanya memang memilih bulan tersebut sebagai waktu untuk melangsungkan aqad nikah.<br />
Kebiasaan tersebut tidak lepas dari anjuran para ulama yang bersumber dari ungkapan Sayyidatina Aisyah binti Abu Bakar Shiddiq yang dinikahi Baginda Nabi pada bulan Syawwal. Ia berkomentar,</p>
<p>“Sesungguhnya pernikahan di bulan Syawwal itu penuh keberkahan dan mengandung banyak kebaikan.”</p>
<p>Namun, untuk menggapai kebahagiaan sejati dalam rumah tangga tentu saja tidak cukup dengan menikah di bulan Syawwal. Ada banyak hal yang perlu dipelajari dan diamalkan secara seksama oleh pasangan suami istri agar meraih ketentraman (sakinah), cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah), baik lahir maupun batin. <a title="Salah" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Salah" rel="wikipedia">Salah</a> satunya –dan yang paling penting– adalah persoalan hubungan intim atau dalam bahasa fiqih disebut jima’.<br />
Sebagai salah tujuan dilaksanakannya nikah, hubungan intim –menurut Islam– termasuk salah satu ibadah yang sangat dianjurkan agama dan mengandung nilai pahala yang sangat besar. Karena jima’ dalam ikatan nikah adalah jalan halal yang disediakan <a title="Allah" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Allah" rel="wikipedia">Allah</a> untuk melampiaskan hasrat biologis insani dan menyambung keturunan bani Adam.</p>
<p>Selain itu jima’ yang halal juga merupakan iabadah yang berpahala besar. Rasulullah SAW bersabda, “Dalam kemaluanmu itu ada sedekah.” Sahabat lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita mendapat pahala dengan menggauli istri kita?.” Rasulullah menjawab, “Bukankah jika kalian menyalurkan nafsu di jalan yang haram akan berdosa? Maka begitu juga sebaliknya, bila disalurkan di jalan yang halal, kalian akan berpahala.” (HR. Bukhari, Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah)</p>
<p>Karena bertujuan mulia dan bernilai ibadah itu lah setiap hubungan seks dalam rumah tangga harus bertujuan dan dilakukan secara Islami, yakni sesuai dengan tuntunan <a title="Qur'an" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Qur%27an" rel="wikipedia">Al-Quran</a> dan sunah Rasulullah SAW.<br />
Hubungan intim, menurut Ibnu Qayyim Al-Jauzi dalam Ath-Thibbun Nabawi (Pengobatan ala Nabi), sesuai dengan petunjuk Rasulullah memiliki tiga tujuan: memelihara keturunan dan keberlangsungan umat manusia, mengeluarkan cairan yang bila mendekam di dalam tubuh akan berbahaya, dan meraih kenikmatan yang dianugerahkan Allah.<br />
Ulama salaf mengajarkan, “Seseorang hendaknya menjaga tiga hal pada dirinya: <a title="Chang'an" href="http://maps.google.com/maps?ll=34.2666666667,108.9&amp;spn=1.0,1.0&amp;q=34.2666666667,108.9%20%28Chang%27an%29&amp;t=h" rel="geolocation">Jangan</a> sampai tidak berjalan kaki, agar jika suatu saat harus melakukannya tidak akan mengalami kesulitan; Jangan sampai tidak makan, agar usus tidak menyempit; dan jangan sampai meninggalkan hubungan seks, karena air sumur saja bila tidak digunakan akan kering sendiri.<br />
.<br />
Wajahnya Muram</p>
<p>Muhammad bin Zakariya menambahkan, “Barangsiapa yang tidak bersetubuh dalam waktu lama, kekuatan organ tubuhnya akan melemah, syarafnya akan menegang dan pembuluh darahnya akan tersumbat. Saya juga melihat orang yang sengaja tidak melakukan jima’ dengan niat membujang, tubuhnya menjadi dingin dan wajahnya muram.”<br />
Sedangkan di antara manfaat bersetubuh dalam pernikahan, menurut Ibnu Qayyim, adalah terjaganya pandangan mata dan kesucian diri serta hati dari perbuatan haram. Jima’ juga bermanfaat terhadap kesehatan psikis pelakunya, melalui kenikmatan tiada tara yang dihasilkannya.<br />
.<br />
<a title="Puncak" href="http://maps.google.com/maps?ll=-6.70388888889,106.994166667&amp;spn=1.0,1.0&amp;q=-6.70388888889,106.994166667%20%28Puncak%29&amp;t=h" rel="geolocation">Puncak</a> kenikmatan bersetubuh tersebut dinamakan orgasme atau faragh. Meski tidak semua hubungan seks pasti berujung faragh, tetapi upaya optimal pencapaian faragh yang adil hukumnya wajib. Yang dimaksud faragj yang adil adalah orgasme yang bisa dirasakan oleh kedua belah pihak, yakni suami dan istri.</p>
<p>Mengapa wajib? Karena faragh bersama merupakan salah satu unsur penting dalam mencapai tujuan pernikahan yakni sakinah, mawaddah dan rahmah. Ketidakpuasan salah satu pihak dalam jima’, jika dibiarkan berlarut-larut, dikhawatirkan akan mendatangkan madharat yang lebih besar, yakni perselingkuhan. Maka, sesuai dengan prinsip dasar islam, la dharara wa la dhirar (tidak berbahaya dan membahayakan), segala upaya mencegah hal-hal yang membahayakan pernikahan yang sah hukumnya juga wajib.</p>
<p>Namun, kepuasan yang wajib diupayakan dalam jima’ adalah kepuasan yang berada dalam batas kewajaran manusia, adat dan agama. Tidak dibenarkan menggunakan dalih meraih kepuasan untuk melakukan praktik-praktik seks menyimpang, seperti anu (liwath) yang secara medis telah terbukti berbahaya. Atau penggunaan kekerasaan dalam aktivitas seks (mashokisme), baik secara fisik maupun mental, yang belakangan kerap terjadi.<br />
Maka, sesuai dengan kaidah ushul fiqih “ma la yatimmul wajibu illa bihi fahuwa wajibun” (sesuatu yang menjadi syarat kesempurnaan perkara wajib, hukumnya juga wajib), mengenal dan mempelajari unsur-unsur yang bisa mengantarkan jima’ kepada faragh juga hukumnya wajib.</p>
<p>Bagi kaum laki-laki, tanda tercapainya faragh sangat jelas yakni ketika jima’ sudah mencapai fase ejakulasi atau keluar mani. Namun tidak demikian halnya dengan kaum hawa’ yang kebanyakan bertipe “terlambat panas”, atau –bahkan— tidak mudah panas. Untuk itulah diperlukan berbagai strategi mempercepatnya.<br />
Dan, salah satu unsur terpenting dari strategi pencapaian faragh adalah pendahuluan atau pemanasan yang dalam bahasa asing disebut foreplay (isti’adah). Pemanasan yang cukup dan akurat, menurut para pakar seksologi, akan mempercepat wanita mencapai faragh.</p>
<p>Karena dianggap amat penting, pemanasan sebelum berjima’ juga diperintahkan Rasulullah SAW. Beliau bersabda,</p>
<p>“Janganlah salah seorang di antara kalian menggauli istrinya seperti binatang. Hendaklah ia terlebih dahulu memberikan pendahuluan, yakni ciuman dan cumbu rayu.” (HR. At-Tirmidzi).</p>
<p>Ciuman dalam hadits diatas tentu saja dalam makna yang sebenarnya. Bahkan, Rasulullah SAW, diceritakan dalam <a title="Sunan Abu Dawood" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Sunan_Abu_Dawood" rel="wikipedia">Sunan Abu Dawud</a>, mencium bibir Aisyah dan mengulum lidahnya. Dua hadits tersebut sekaligus mendudukan ciuman antar suami istri sebagai sebuah kesunahan sebelum berjima’.</p>
<p>Ketika Jabir menikahi seorang janda, Rasulullah bertanya kepadanya, “Mengapa engkau tidak menikahi seorang gadis sehingga kalian bisa saling bercanda ria? …yang dapat saling mengigit bibir denganmu.” HR. Bukhari (nomor 5079) dan <a title="Muslim" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Muslim" rel="wikipedia">Muslim</a> (II:1087).<br />
.<br />
Bau Mulut</p>
<p>Karena itu, pasangan suami istri hendaknya sangat memperhatikan segala unsur yang menyempurnakan fase ciuman. Baik dengan menguasai tehnik dan trik berciuman yang baik, maupun kebersihan dan kesehatan organ tubuh yang akan dipakai berciuman. Karena bisa jadi, bukannya menaikkan suhu jima’, bau mulut yang tidak segar justru akan menurunkan semangat dan hasrat pasangan.</p>
<p>Sedangkan rayuan yang dimaksud di atas adalah semua ucapan yang dapat memikat pasangan, menambah kemesraan dan merangsang gairah berjima’. Dalam istilah fiqih kalimat-kalimat rayuan yang merangsang disebut rafats, yang tentu saja haram diucapkan kepada selain istrinya.</p>
<p>Selain ciuman dan rayuan, unsur penting lain dalam pemanasan adalah sentuhan mesra. Bagi pasangan suami istri, seluruh bagian tubuh adalah obyek yang halal untuk disentuh, termasuk kemaluan. Terlebih jika dimaksudkan sebagai penyemangat jima’. Demikian Ibnu Taymiyyah berpendapat.</p>
<p>Syaikh Nashirudin Al-Albani, mengutip perkataan Ibnu Urwah Al-<a title="Hanbali" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Hanbali" rel="wikipedia">Hanbali</a> dalam kitabnya yang masih berbentuk manuskrip, Al-Kawakbu Ad-Durari,</p>
<p>“Diperbolehkan bagi suami istri untuk melihat dan meraba seluruh lekuk tubuh pasangannya, termasuk kemaluan. Karena kemaluan merupakan bagian tubuh yang boleh dinikmati dalam bercumbu, tentu boleh pula dilihat dan diraba. Diambil dari pandangan <a title="Malik ibn Anas" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Malik_ibn_Anas" rel="wikipedia">Imam Malik</a> dan ulama lainnya.”</p>
<p>Berkat kebesaran Allah, setiap bagian tubuh manusia memiliki kepekaan dan rasa yang berbeda saat disentuh atau dipandangi. Maka, untuk menambah kualitas jima’, suami istri diperbolehkan pula menanggalkan seluruh pakaiannya. Dari Aisyah RA, ia menceritakan, “Aku pernah mandi bersama Rasulullah dalm satu bejana…” (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Untuk mendapatkan hasil sentuhan yang optimal, seyogyanya suami istri mengetahui dengan baik titik-titik yang mudah membangkitkan gairah pasangan masing-masing. Maka diperlukan sebuah komunikasi terbuka dan santai antara pasangan suami istri, untuk menemukan titik-titik tersebut, agar menghasilkan efek yang maksimal saat berjima’.<br />
Diperbolehkan bagi pasangan suami istri yang tengah berjima’ untuk mendesah. Karena desahan adalah bagian dari meningkatkan gairah. Imam As-Suyuthi meriwayatkan, ada seorang qadhi yang menggauli istrinya. Tiba-tiba sang istri meliuk dan mendesah. Sang qadhi pun menegurnya. Namun tatkala keesokan harinya sang qadhi mendatangi istrinya ia justru berkata, “Lakukan seperti yang kemarin.”</p>
<p>Satu hal lagi yang menambah kenikmatan dalam hubungan intim suami istri, yaitu posisi bersetubuh. Kebetulan Islam sendiri memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada pemeluknya untuk mencoba berbagai variasi posisi dalam berhubungan seks. Satu-satunya ketentuan yang diatur syariat hanyalah, semua posisi seks itu tetap dilakukan pada satu jalan, yaitu farji. Bukan yang lainnya.<br />
Allah SWT berfirman,</p>
<p>“Istri-istrimu adalah tempat bercocok tanammu, datangilah ia dari arah manapun yang kalian kehendaki.” QS. Al-Baqarah (2:223).</p>
<p>.<br />
Posisi Ijba’</p>
<p>Menurut ahli tafsir, ayat ini turun sehubungan dengan kejadian di Madinah. Suatu ketika beberapa wanita Madinah yang menikah dengan kaum muhajirin mengadu kepada Rasulullah SAW, karena suami-suami mereka ingin melakukan hubungan seks dalam posisi ijba’ atau tajbiyah.</p>
<p>Ijba adalah posisi seks dimana lelaki mendatangi farji perempuan dari arah belakang. Yang menjadi persoalan, para wanita Madinah itu pernah mendengar perempuan-perempuan Yahudi mengatakan, barangsiapa yang berjima’ dengan cara ijba’ maka anaknya kelak akan bermata juling. Lalu turunlah ayat tersebut.</p>
<p>Terkait dengan ayat 233 Surah Al-Baqarah itu Imam Nawawi menjelaskan, “Ayat tersebut menunjukan diperbolehkannya menyetubuhi wanita dari depan atau belakang, dengan cara menindih atau bertelungkup. Adapun menyetubuhi melalui dubur tidak diperbolehkan, karena itu bukan lokasi bercocok tanam.” Bercocok tanam yang dimaksud adalah berketurunan.<br />
.<br />
Muhammad Syamsul Haqqil Azhim Abadi dalam ‘Aunul Ma’bud menambahkan, “Kata ladang (hartsun) yang disebut dalam Al-Quran menunjukkan, wanita boleh digauli dengan cara apapun : berbaring, berdiri atau duduk, dan menghadap atau membelakangi..”</p>
<p>Demikianlah, Islam, sebagai agama rahmatan lil ‘alamin, lagi-lagi terbukti memiliki ajaran yang sangat lengkap dan seksama dalam membimbing umatnya mengarungi samudera kehidupan. Semua sisi dan potensi kehidupan dikupas tuntas serta diberi tuntunan yang detail, agar umatnya bisa tetap bersyariat seraya menjalani fitrah kemanusiannya.</p>
<p>(Kang Iftah. Sumber : Sutra Ungu, Panduan Berhubungan Intim Dalam Perspektif Islam, karya Abu Umar Baasyir)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://doddoang.wordpress.com/2011/09/23/sex-kamasutra-dalam-pandangan-islam/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>2</slash:comments>
		
		
		
		<media:content url="https://0.gravatar.com/avatar/9392fc35ba1653aea841ec682aa6b878a98cb9d85ff3366d4abc415e607d31a1?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">doddoang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>METHYLMALONIC ACIDEMIA SEBABKAN BAYI GAGAL TUMBUH</title>
		<link>https://doddoang.wordpress.com/2011/09/23/methylmalonic-acidemia-sebabkan-bayi-gagal-tumbuh-2/</link>
					<comments>https://doddoang.wordpress.com/2011/09/23/methylmalonic-acidemia-sebabkan-bayi-gagal-tumbuh-2/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[doddoang]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 Sep 2011 01:51:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://doddoang.wordpress.com/?p=763</guid>

					<description><![CDATA[Gangguan metabolisme umumnya ditunjukkan dengan berat badan yang tak kunjung meningkat. Pada gangguan metabolisme yang disebut Methylmalonic Acidemia (MMA), ASI dan susu formula biasa justru tak boleh dikonsumsi bayi Berat badan bayi memang tidak berbanding lurus dengan kesehatannya. Namun jika si kecil tak kunjung mengalami kenaikan berat badan, orang tua harus segera waspada. Terlebih jika [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Gangguan metabolisme umumnya ditunjukkan dengan berat badan yang tak kunjung meningkat. Pada gangguan metabolisme yang disebut Methylmalonic Acidemia (MMA), ASI dan susu formula biasa justru tak boleh dikonsumsi bayi</p>
<p>Berat badan bayi memang tidak berbanding lurus dengan kesehatannya. Namun jika si kecil tak kunjung mengalami kenaikan berat badan, orang tua harus segera waspada. Terlebih jika disertai gejala lain seperti susunya sering dimuntahkan, badan terkulai lemah, dan tonggak perkembangannya tidak berhasil dicapai. Bisa jadi si kecil gagal tumbuh akibat metabolisme tubuhnya terganggu.</p>
<p>Untuk menentukan apa yang menjadi faktor penyebab terganggunya pertumbuhan anak, tentu membutuhkan observasi lebih dalam. Selain untuk akurasi diagnosa, kemungkinan penyebabnya pun sangat banyak. Salah satunya mungkin methylmalonic acidemia (MMA).</p>
<p>&#8220;Gangguan pertumbuhan merupakan salah satu gejala MMA,&#8221; kata Dr. Naomi Esthernita, Sp.A. Apa yang dimaksud dengan MMA? &#8220;MMA adalah suatu kelainan metabolisme bawaan (inborn errors of metabolism). Yakni hambatan metabolisme protein terutama asam amino esensial valine dan isoleucine untuk menjadi produk-produk baru yang diperlukan tubuh,&#8221; lanjut dokter spesialis anak dari RS Siloam Gleneagles, Lippo Cikarang.</p>
<p>Dengan hambatan tersebut, berarti tubuh bayi tidak bisa menerima asupan ASI maupun susu formula biasa. Bisa dibayangkan, betapa berat hidup si bayi jika harus menerima asupan yang justru berakibat buruk bagi metabolisme tubuhnya. Hal ini terjadi karena enzim yang mengubah asam metil malonat yaitu metylmalonyl CoA mutase terlalu sedikit bahkan tidak diproduksi. Kemungkinan lain, faktor pendukung yang diperlukan agar enzim dapat bekerja, yaitu vitamin B12, tidak memadai.</p>
<p>WASPADAI GEJALANYA</p>
<p>Tidak semua gangguan yang terjadi dalam tubuh terlihat dengan mudah. Adakalanya fakta itu jauh tersembunyi di dalam tubuh, hingga untuk menelisiknya pun membutuhkan pemeriksaan laboratorium yang cermat serta peralatan canggih, seperti yang terjadi pada MMA. &#8220;Gangguan ini sangat sulit terdeteksi. Apalagi untuk mendapatkan hasil laboratorium yang akurat mengenai adanya gangguan ini belum bisa dilakukan di Indonesia,&#8221; ungkap dr. Dwi Putro Widodo, Sp.A., dari RS Siloam Gleneagles, Lippo Karawaci yang ditemui pada kesempatan terpisah.</p>
<p>Jadi paling tidak, waspadai indikator adanya gangguan pada anak, antara lain:</p>
<p>* Malas makan dan minum</p>
<p>* Makanan atau minuman yang masuk sering dimuntahkan</p>
<p>* Otot lemah</p>
<p>* Pertumbuhan dan perkembangan terganggu</p>
<p>* Infeksi jamur berulang</p>
<p>* Muka dismorfik</p>
<p>* Kadang-kadang terdapat pembesaran hati.</p>
<p>Namun memang, indikator tadi bukan merupakan gejala yang spesifik. Artinya, tidak hanya gangguan MMA saja yang ditandai dengan gejala sejenis. &#8220;Kemungkinan gangguan metabolisme tubuh dengan gejala serupa sangatlah banyak. Sementara, pemeriksaan laboratorium di Indonesia belum cukup memadai. Oleh dokter nantinya sampel darah akan dikirim ke laboratorium yang mempunyai fasilitas lebih lengkap seperti di Australia untuk menegakkan diagnosa,&#8221; lanjut Dwi.</p>
<p>Senada dengan Dwi, Naomi pun memberikan pendapatnya, &#8220;Jadi untuk mengetahui secara dini, sebaiknya dilakukan skrining pada bayi baru lahir (newborn screening). Caranya, gunakan noktah darah kering di kertas saring untuk dikirimkan ke laboratorium yang berkompetensi untuk itu.&#8221; Namun tentu saja biaya pemeriksaan ini tidaklah murah. Mengingat kondisi masyarakat Indonesia, bisa dimaklumi jika tidak banyak kalangan yang mampu melakukannya.</p>
<p>DITURUNKAN ORANG TUA</p>
<p>Rumitnya menelisik gangguan ini menyebabkan MMA sering lolos dari pengamatan orang tua. Lain hal bila gejala yang menyertainya memang sudah sangat jelas. &#8220;Waktu lahir, bayi dengan MMA biasanya normal sehingga sulit membedakannya dengan bayi tanpa MMA,&#8221; tutur Naomi.</p>
<p>Meski gangguan ini sudah bisa ditemukan sejak bayi baru lahir, tapi umumnya gejalanya baru timbul setelah si bayi mengonsumsi protein dari ASI atau PASI. &#8220;Yang merepotkan, gejala sudah timbul sementara hasil pemeriksaan belum ada mengingat proses pemeriksaan di laboratorium sedemikian rumit dan belum bisa dilakukan di sini. Bila demikian, sebaiknya lakukan pembatasan asupan protein (antara lain dari ASI dan PASI) untuk mencegah berlanjutnya gejala,&#8221; lanjut Naomi.</p>
<p>MMA diturunkan secara autosomal resesif. Artinya, kedua orang tua membawa gen abnormal, tapi tidak selalu menimbulkan gejala karena tertutup oleh kerja gen yang normal. Baru jika kedua gen abnormal tersebut bertemu, maka si bayi yang dilahirkan akan menderita MMA. &#8220;Orang tua yang terdeteksi mempunyai kelainan ini, sebaiknya segera waspada begitu mempunyai bayi,&#8221; saran Dwi.</p>
<p>Sedangkan faktor pola makan, gaya hidup, polusi dan sebagainya, menurut Dwi tidak ada kaitannya dengan kasus ini. &#8220;Pola makan orang tua yang tidak benar saat hamil tidak akan memunculkan kelainan ini pada bayinya. Jadi gangguan ini sepenuhnya adalah faktor keturunan,&#8221; papar Dwi.</p>
<p>Secara umum gangguan ini bisa dibedakan menjadi dua, yaitu gangguan yang terjadi karena defisien (kekurangan) enzim atau karena defisien co-factor. Oleh sebab itu penatalaksanaannya pun dibedakan menjadi dua, yakni:</p>
<p>* Defiasi enzim</p>
<p>Jika karena defisien enzim, maka dilakukan pembatasan asupan asam amino esensial valine dan isoleucine dengan memberikan susu formula khusus pada bayi. Sebelum susu formula khusus didapat, cairan makanan pengganti sementara akan diberikan di bawah pengawasan dokter.</p>
<p>* Defiasi co-factor</p>
<p>&#8211; Jika defisien co-factor yang terjadi, cukup diberikan vitamin B12.</p>
<p>&#8211; Kondisi stres yang dapat menimbulkan katabolisme protein tubuh harus dihindari.</p>
<p>Selain itu, lanjut Dwi, bukan tidak mungkin bayi dengan MMA ini juga mempunyai gangguan fungsi organ tubuh lainnya. &#8220;Dokter perlu mewaspadai. Misalnya gangguan saraf otak, gangguan ginjal, dan sebagainya sehingga penanganannya bisa menyeluruh.&#8221;</p>
<p>KASUSNYA JARANG</p>
<p>Seperti sudah disebut di atas, gangguan ini teramat sulit dideteksi. Namun, bukan berarti kalau dibiarkan saja tidak akan membawa efek buruk seperti, &#8220;Yang jelas terlihat adalah gangguan tumbuh kembang anak. Biasanya bayi terlihat kurus karena sulit makan dan makanan yang masuk pun sering dimuntahkan. Bahkan dalam keadaan stres dapat menyebabkan koma sampai kematian,&#8221; kata Dwi.</p>
<p>Meski kasusnya tergolong jarang, sebaiknya orang tua tetap waspada. Untuk itu Naomi menyarankan beberapa hal berikut:</p>
<p>* Kalau memang memungkinkan, sebaiknya lakukan newborn screening pada setiap bayi baru lahir untuk mendeteksi adanya kelainan metabolisme bawaan secara dini, termasuk kelainan MMA ini.</p>
<p>* Bila mempunyai bayi dengan gangguan pertumbuhan atau perkembangan, sebaiknya konsultasikan pada dokter anak.</p>
<p>* Bila ada anggota keluarga yang mempunyai kelainan seperti itu, sementara pasangan suami istri ingin punya anak lagi, sebaiknya lakukan konsultasi genetik untuk mendeteksi kelainan ini melalui prenatal diagnosis.</p>
<p>Marfuah Panji Astuti. Ilustrasi. Pugoeh<br />
(Nakita)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://doddoang.wordpress.com/2011/09/23/methylmalonic-acidemia-sebabkan-bayi-gagal-tumbuh-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		
		<media:content url="https://0.gravatar.com/avatar/9392fc35ba1653aea841ec682aa6b878a98cb9d85ff3366d4abc415e607d31a1?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">doddoang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengungkap Rahasia Otak Pria</title>
		<link>https://doddoang.wordpress.com/2011/04/15/mengungkap-rahasia-otak-pria/</link>
					<comments>https://doddoang.wordpress.com/2011/04/15/mengungkap-rahasia-otak-pria/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[doddoang]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 15 Apr 2011 14:06:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://doddoang.wordpress.com/?p=714</guid>

					<description><![CDATA[Ilustrasi Ingin tahu apa yang ada di otak kaum lela ki? Bacalah artikel ini. Apalagi bagi kaum hawa, karena akan mengetahui rahasia besar di balik otak pria. Dengan mengetahui isi otak laki-laki, akan membantu memahami setiap permasalahan h id up yang dihadapi bersama pasangan Anda. 1. Lebih emosional Perempuan memang dikenal lebih emosional. Padahal sesungguhnya [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ilustrasi</strong></p>
<p>Ingin tahu apa yang ada di otak kaum lela ki? Bacalah artikel ini. Apalagi bagi kaum hawa, karena akan mengetahui rahasia besar di balik otak pria. Dengan mengetahui isi otak laki-laki, akan membantu memahami setiap permasalahan h id up yang dihadapi bersama pasangan Anda.</p>
<p><strong>1. Lebih emosional</strong></p>
<p>Perempuan memang dikenal lebih emosional. Padahal sesungguhnya pria juga punya reaksi emosi yang kuat, tetapi itu sebelum mereka menyadari perasaannya.</p>
<p>Dalam sebuah penelitian yang dimuat di jurnal Scandinavian Journal of Psychology, diketahui begitu seorang pria sadar atau mengenali perasaan hatinya, mereka akan langsung memasang tampang datar. Tak heran kalau mereka dianggap lebih &#8220;kuat&#8221; menahan emosi.</p>
<p><strong>2. Tak tahan kesepian</strong></p>
<p>Meskipun ada saat-saat tertentu dalam h id up ini yang membuat kita merasa kesepian, ternyata perasaan sendiri ini lebih menyiksa bagi kaum pria. Penelitian menyebutkan kesepian bisa menyebabkan gangguan kesehatan.</p>
<p>Karena itulah, pria yang memiliki hubungan yang stabil cenderung lebih sehat, panjang umur, dan memiliki kadar hormon pelawan stres lebih tinggi. Studi yang dimuat dalam jurnal Biology of Reproduction tahun 2009 menyebutkan pria yang menikah memiliki tingkat kesuburan lebih panjang dibanding pria yang jomblo.</p>
<p><strong>3. Fokus pada solusi</strong></p>
<p>Banyak orang berpendapat bahwa kaum perempuan merupakan teman curhat yang baik karena mereka mudah berempati. Sesungguhnya &#8220;sistem empati&#8221; dalam otak pria juga memberikan respon saat orang lain terlihat stres atau bermasalah. Namun, bagian otak lain yang berfokus pada solusi segera mendominasi.</p>
<p>&#8220;Dengan segera berbagai solusi pada masalah segera bermunculan di otak pria,&#8221; kata Dr.Louann Brizendine, ahli psikologi klinik dari Univesity of California, AS. Akibatnya, pria akan lebih fokus untuk menawarkan solusi ketimbang menunjukkan sol id aritas atau berempati pada perasaan orang lain.</p>
<p><strong>4. Mudah tergoda</strong></p>
<p>Hormon testosteron punya kaitan erat dengan sikap agresif dan kekerasan. Namun hormon ini juga mengatur lib id o. Pada pria, testosteron ini jumlahnya enam kali lebih banyak dibanding pada wanita. Itu sebabnya laki-laki jauh lebih terobsesi terhadap seks daripada perempuan.</p>
<p><strong>5. Posesif</strong></p>
<p>Dalam teori evolusi, salah satu tugas pria adalah mempertahankan teritorinya. Penelitian pada hewan percobaan menunjukkan area otak &#8220;mempertahankan teritori&#8221; ini lebih luas dibanding pada otak hewan betina. Meskipun perempuan juga punya kecenderungan untuk posesif, namun pria relatif tak segan menggunakan kekuatannya ketika teritori mereka, bisa berupa keluarga atau kekasih, terancam.</p>
<p><strong>6. Menyukai hirarki</strong></p>
<p>Hirarki yang t id ak jelas bisa mendatangkan rasa cemas bagi pria. Mereka akan bingung menentukan siapa yang paling berkuasa. Karena itu sistem komando, seperti yang dipraktikkan oleh militer atau organisasi perusahaan, akan meredakan pengaruh testosteron dan mengekang sikap agresif pria.</p>
<p><strong>7. Siap menjadi ayah</strong></p>
<p>Pada saat kehamilan, bukan hanya hormon calon ibu yang berubah, tapi juga calon ayah. Pada pria juga akan terjadi peningkatan hormon prolaktin dan penurunan testosteron. Dengan kata lain, pada otak pria juga terjadi perubahan sedemikian rupa yang membuatnya siap menyambut calon buah hatinya. (kmp/erw)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://doddoang.wordpress.com/2011/04/15/mengungkap-rahasia-otak-pria/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		
		<media:content url="https://0.gravatar.com/avatar/9392fc35ba1653aea841ec682aa6b878a98cb9d85ff3366d4abc415e607d31a1?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">doddoang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kenali Perubahan Psikologis Ibu Hamil</title>
		<link>https://doddoang.wordpress.com/2011/04/02/kenali-perubahan-psikologis-ibu-hamil/</link>
					<comments>https://doddoang.wordpress.com/2011/04/02/kenali-perubahan-psikologis-ibu-hamil/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[doddoang]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 02 Apr 2011 00:04:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://doddoang.wordpress.com/?p=730</guid>

					<description><![CDATA[KOMPAS.com &#8211; Memasuki masa kehamilan sama dengan mengalami berbagai perubahan fisik maupun psikologis. Dengan mengenali berbagai perubahan pada ibu hamil (bumil), pasutri bisa lebih mempersiapkan kehamilan sehingga mampu menjalaninya dengan lebih menyenangkan. Psikolog Dr Rose Mini AP, MPsi, mengatakan, dengan mendapatkan informasi yang tepat seputar kehamilan, pasutri akan lebih siap menghadapi berbagai perubahan. Entah informasi [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>KOMPAS.com</strong> &#8211; Memasuki masa kehamilan sama dengan mengalami berbagai perubahan  fisik maupun psikologis. Dengan mengenali berbagai perubahan pada ibu  hamil (bumil), pasutri bisa lebih mempersiapkan kehamilan sehingga mampu  menjalaninya dengan lebih menyenangkan.</p>
<p>Psikolog Dr Rose Mini  AP, MPsi, mengatakan, dengan mendapatkan informasi yang tepat seputar  kehamilan, pasutri akan lebih siap menghadapi berbagai perubahan. Entah  informasi itu didapat dari konsultasi dengan dokter, pengalaman  orangtua, saudara, maupun teman-teman.</p>
<p>Pada trimester pertama,  biasanya istri akan mengalami ngidam yang kadang berlebihan Dan sekadar  meminta perhatian suami. Sebaiknya tanyakan kepada dokter apakah Ada  kekurangan dalam tubuh bumil. Sedangkan pada trimester kedua bentuk  tubuh bumil mulai berubah, diikuti dengan perubahan posisi tidur, hingga  pola hubungan seks pasutri. Jika bumil stres dengan kondisinya,  sebaiknya konsultasikan kepada psikolog untuk mencari bantuan.</p>
<p>&#8220;Lain  lagi pada trisemester ketiga. Bumil akan ngidam pada bulan terakhir,  ditambah munculnya ketakutan akan fisik anak, misalnya apakah jarinya  lengkap, atau ketakutan atas kondisi ibunya, misalnya meninggal (saat  melahirkan). Akibatnya bumil cenderung <em>moody</em>,&#8221; papar psikolog yang akrab disapa Romi ini, dalam seminar diadakan oleh Lactamil beberapa waktu lalu.</p>
<p>Lebih  detailnya, berikut kondisi psikologis bumil yang umum dialami, Dan  sebaiknya pasutri mempersiapkan secara psikis menjelang kehamilan:</p>
<p><strong>Trimester pertama</strong><br />
*  Bumil mengalami kondisi psikis campur-aduk, antara cemas, bahagia, Dan  ragu dengan kehamilannya. Ia mengetahui kemunculan tanda kehamilan,  namun masih ragu apakah positif hamil atau tidak.<br />
* Bumil mengalami  fluktuasi emosi, risikonya akan muncul pertengkaran atau rasa tidak  nyaman. Dengan komunikasi yang baik, pasutri bisa menyiapkan kondisi ini  berjalan lebih baik.<br />
* Bumil mengalami perubahan hormonal, yang akan juga mempengaruhi psikis perempuan.<br />
* Bumil mengalami<em> morning sickness</em>, jadi perempuan membutuhkan dukungan suami untuk menjalani kondisi yang juga akan berpengaruh pada psikis perempuan.</p>
<p><strong>Trimester kedua</strong><br />
* Bumil mulai lebih tenang Dan bisa beradaptasi dengan perubahan kondisi Dan kehamilannya.<br />
*  Bentuk tubuh mulai berubah. Untuk ibu yang fokus pada penampilannya,  kondisi ini bisa mempengaruhi psikis Dan emosinya. Perubahan bentuk  tubuh juga mempengaruhi kehidupan seksual, karena itu pasutri perlu  melakukan penyesuaian agar hubungan seks menyenangkan bagi keduanya.  Hubungan ibu dengan bayi juga mulai terjalin pada masa ini. Mengajak  janin bicara atau mendengarkan musik misalnya, bisa membangun hubungan  lebih dekat, Dan mempengaruhi bumil agar lebih nyaman dengan  kehamilannya.<br />
* Bumil akan mulai melihat Dan meniru peran ibu, karena kebutuhannya akan figur ibu semakin kuat.<br />
* Bumil akan semakin bergantung kepada pasangannya.</p>
<p><strong>Trimester ketiga</strong><br />
*  Kehamilan semakin membesar, begitupun dengan stres pada bumil.  Seringkali kondisi ini membuat bumil bermasalah dengan posisi tidur yang  kurang nyaman, sehingga bumil mudah terserang lelah.<br />
* Emosi bumil  juga kembali fluktuatif. Kali ini bumil lebih membayangkan risiko  kehamilan Dan proses persalinan. Rasa takut mulai muncul, bukan hanya  ketakutan atas risiko kondisi bayi namun juga keselamatan bumil untuk  melewati proses persalinan.</p>
<p>&#8220;Bumil perlu <em>release</em> Dan  berserah agar lebih tenang menjelang proses persalinan. Sebab dalam  beberapa hal Ada yang sifatnya genetik, sehingga tidak bisa  dikendalikan,&#8221; tandas Romi.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://doddoang.wordpress.com/2011/04/02/kenali-perubahan-psikologis-ibu-hamil/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		
		<media:content url="https://0.gravatar.com/avatar/9392fc35ba1653aea841ec682aa6b878a98cb9d85ff3366d4abc415e607d31a1?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">doddoang</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
