<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" version="2.0">

<channel>
	<title>Dongeng Motivasi</title>
	
	<link>http://dongengmotivasi.com</link>
	<description>Kisah-kisah Inspiratif dan Motivatif</description>
	<lastBuildDate>Sun, 21 Jun 2009 16:29:12 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" href="http://feeds.feedburner.com/DongengMotivasi" type="application/rss+xml" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com" /><item>
		<title>Stop Dreaming Start Action</title>
		<link>http://dongengmotivasi.com/stop-dreaming-start-action.htm</link>
		<comments>http://dongengmotivasi.com/stop-dreaming-start-action.htm#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Jun 2009 16:42:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cosa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komik]]></category>
		<category><![CDATA[Stop Dreaming Take Action]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dongengmotivasi.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[Batman memandang lesu sebuah poster yang tertempel di tembok jalan. Ada tulisan besar &#8220;Stop Dreaming Start Action&#8221; di situ, dengan gambar seorang pria kribo sedang tidur-tiduran di rumput dan memandang ke arah langit, seolah sedang mengkhayal. Tapi ia tidak peduli sama sekali dengan poster tersebut. Bahkan apabila Luna Maya yang menjadi modelnya pun belum tentu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Batman memandang lesu sebuah poster yang tertempel di tembok jalan. Ada tulisan besar &#8220;<strong>Stop Dreaming Start Action</strong>&#8221; di situ, dengan gambar seorang pria kribo sedang tidur-tiduran di rumput dan memandang ke arah langit, seolah sedang mengkhayal. Tapi ia tidak peduli sama sekali dengan poster tersebut. Bahkan apabila Luna Maya yang menjadi modelnya pun belum tentu ia akan berpaling. Maklum, sejak <a href="http://dongengmotivasi.com/spiderman-nyalon.htm">bisnis salonnya gagal</a>, ia memang lebih sering menyendiri. Seakan meratapi kekalahannya oleh Peter Parker si Spiderman. Bahkan job-job mengalahkan penjahat yang acap diterimanya dari komisaris Gordon pun diabaikan. Ia biarkan Nightwing dan Robin mengurusnya.</p>
<p><span id="more-26"></span><div id="attachment_30" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-30" style="border: 1px solid black; margin: 0pt 0pt 10px 10px;" title="Stop Dreaming Take Action" src="http://dongengmotivasi.com/wp-content/uploads/2009/06/stop_dreaming_start_action-300x199.jpg" alt="Start Action Stop Dreaming" width="300" height="199" /><p class="wp-caption-text">Stop Dreaming Take Action</p></div></p>
<p>Dengan langkah gontai, Batman pun melanjutkan perjalannya ke arah pinggir kota. Tak lama, ia sampai di sebuah tanah lapang. Ada sekitar 10 orang anak kecil bermain bola di sana dengan riang. Berlarian ke sana kemari, berteriak kencang-kencang, meloncat-loncat. Sumpek dengan kegaduhan mereka, Batman pun mencabut rambu stop dilarang parkir yang ada di trotoar dan mengusir anak-anak tersebut dengan paksa.</p>
<p>&#8220;Hus, hus, sana pergi! Jangan bikin ribut di sini&#8221;, teriaknya sambil mengayunkan rambu tanda berhenti tersebut di udara dengan liar.</p>
<p>Teriakan-teriakan gembira kesepuluh anak polos tersebut seketika berubah menjadi teriakan ketakutan. Hanya dalam hitungan sepersekian detik mereka sudah kabur ketakutan sambil menangis meraung-raung.</p>
<p>&#8220;Nah, gini kan enak. Tenang. Aku jadi bisa tidur-tiduran di sini. Siapa tau dapet mimpi indah dan pikiran jadi tenang lagi,&#8221; ujar Batman pada dirinya sendiri, &#8220;<em>sweet dream me</em>&#8220;.</p>
<p>Hanya butuh 5 menit saja bagi Batman untuk tertidur pulas. Dan tak  berapa lama kemudian, cita-citanya terkabul. Ia bermimpi. Mimpi indah pula. Dalam mimpi tersebut, ia menjadi seorang juragan HP yang sukses. Punya konter di mana-mana. Dari yang ada di WTC Surabaya hingga di ITC Roxy Mas Jakarta. Salah satu konternya bernama &#8220;Dream Start&#8221;. Pemasukannya gak tanggung-tanggung&#8230; 100 juta setiap hari!</p>
<p>&#8220;Aduh!&#8221;, mendadak Batman terbangun. Ternyata ia tidur di atas sarang semut merah dan kini ada ratusan semut merah yang sibuk menggigiti tubuhnya. Dari ujung hidung hingga ujung jempol (kalo tidur Batman kebiasaan melepas sepatunya). Untung saja sebagian tubuhnya tertutup baju kebangsaan dan jubah, sehingga hanya beberapa gelintir semut saja yang sukses menzolimi tubuhnya.</p>
<p>Setelah membersihkan tubuhnya dari serbuan semut-semut tersebut, Batman mulai mengingat-ingat kembali mimpinya.</p>
<p>&#8220;Gila, mantap banget mimpiku tadi. TOPBGTSKL. Apalagi GPL, gak pake lama. Begitu start bobok, langsung mimpi. Jadi juragan HP, kaya raya, penghasilan 100 juta per hari. Wew!&#8221;</p>
<p>Ia pun mencatat &#8216;pekerjaan&#8217; yang ia lakukan dalam mimpi tersebut, beserta nominal penghasilannya, ke dalam buku catatan yang selalu ia bawa di balik jubahnya.</p>
<p>&#8220;Kalau begitu, mulai besok aku harus sering tidur-tiduran di lapangan ini. Biar selalu dapet mimpi indah. Kalau perlu lapangan ini aku beli agar anak-anak tadi gak seenaknya saja bermain di sini&#8221;.</p>
<p>Begitulah.</p>
<p>Sejak itu, hampir setiap hari Batman datang dan tidur di lapangan tersebut. Tentu saja dengan terlebih dahulu mengecek apakah tanah yang dijadikan alas tidurnya terdapat sarang semut merah atau tidak. Dan entah kenapa, setiap kali ia tidur di sana ia selalu mendapatkan mimpi-mimpi yang indah. Dari jadi bandar ojek &#8220;Ride Action&#8221;, bos perusahaan &#8220;Don&#8217;t Stop&#8221;, hingga pemilik maskapal &#8220;Start Flying&#8221;. Semuanya berpenghasilan ratusan juta hingga milyaran rupiah!</p>
<hr />Satu bulan kemudian, saat sedang asik Facebook-an di cafe &#8220;Dreaming Dolphin&#8221; pakai Blackberry, Superman datang menghampirinya.</p>
<p>&#8220;Halo gan, apa kabar?&#8221;</p>
<p>&#8220;Baik, bro,&#8221; jawab Batman sambil mengupdet statusnya di Facebook &#8212; &#8220;lagi cangkruk di cafe&#8221;</p>
<p>Superman mengambil tempat duduk tepat di samping Batman. Ia menyeruput <em>ice coffee latte</em> favoritnya sambil mengatur posisi duduknya agar nyaman.</p>
<p>&#8220;Tahu tidak,&#8221;, ujar Superman, &#8220;denger-denger si laba-laba sekarang bisnis HP loh. Dan gak jauh beda dengan bisnis salonnya, bisnis HPnya pun laris manis tanjung kimpul&#8221;.</p>
<p>Mendadak Batman meletakkan Blackberry-nya. Wajahnya gusar menatap Superman. &#8220;Si Peter Parker sialan itu maksudmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya lah, masa&#8217; iya dong. Emang siapa lagi superhero di sini yang dijuluki manusia laba-laba alias spiderman?&#8221;, jawab Superman santai.</p>
<p>&#8220;Huh, kalau cuma bisnis HP sih aku juga bisa,&#8221;, ujar Batman ketus.</p>
<p>&#8220;Oh ya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya,&#8221; jawab Batman. Ia mengeluarkan buku catatannya dan menunjukkan pada Superman. &#8220;Tuh lihat, gak hanya bisnis HP, bahkan bisnis laundry, bisnis tiket pesawat, bisnis antar jemput anak sekolah, sampai bisnis VCC Paypal. Semuanya sukses. Penghasilan berlimpah. Kalau ditotal, penghasilan sehari aja bisa beli selusin rumah mewah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Wow,&#8221; Superman berteriak tertahan. Kagum. Kemarin untuk <a href="http://dongengmotivasi.com/superman-dan-laptop-barunya.htm">beli laptop</a> aja ia harus bersusah payah. Ini si kelelawar, ditinggal fesbukan aja bisnisnya bisa jalan lancar.</p>
<p>&#8220;Ngomong-ngomong,&#8221; ujar Superman, &#8220;emang dimana gerai HPmu? Kebetulan aku mo ganti HP nih. Yang ini batereinya bocor, sering low-bat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Gerai? Gak ada tuh,&#8221; jawab Batman pede.</p>
<p>&#8220;Loh kok? Lha terus bisnis HPmu gimana kok bisa tanpa gerai? Apa punya online store? Ato buka lapak di kaskus?&#8221;</p>
<p>&#8220;Gak. Itu kan ada di mimpiku. Kalau mau sukses, aku tinggal mimpi aja. Beres. Gak pake ribet. Gak pake repot.&#8221;</p>
<p>Superman bengong mendengar jawaban Batman. Sejenak kemudian ia berkata dengan lirih ke arah sahabatnya, &#8220;Bro.. kalau cuman dalam mimpi seperti itu&#8230; terus dimana letak kesuksesannya? Itu kan fana, bukan nyata. Apa yang bisa dibanggain dari situ?&#8221;</p>
<p>Batman terdiam mendengar perkataan Superman. Ia tercenung. Sejak kalah dari Peter Parker, mentalnya memang langsung down. Ia takut mulai berbisnis lagi. Takut gagal. Motonya sekarang: lebih baik <em>stop</em> bisnis daripada <em>start action</em> tapi gagal. Tapi kata-kata Clark Kent barusan seolah menyadarkannya. Kalau cuman mimpi, apa yang bisa dibanggain? Dimana letak kesuksesannya?</p>
<p>Superman kembali menyeruput kopinya. Ia diam, memberikan waktu pada Batman untuk berpikir.</p>
<p>&#8220;Iya ya,&#8221; Batman akhirnya buka suara, &#8220;ternyata selama beberapa waktu terakhir ini tindakanku salah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jelas dong,&#8221; sahut Superman, &#8220;agar bisa bener-bener sukses, kita harus berhenti bermimpi dan start action. Kalau kata si <a href="http://www.jokosusilo.com/2009/04/17/cukup-fokus-pada-tiga-langkah-teruji-menghasilkan-uang-melimpah-di-internet/">Joko Susilo</a>, stop dreaming start action. Gagal, kalah, meleset dari target, itu semua wajar. Yang perlu diingat, apabila kita <em>take action</em>, kita punya kesempatan untuk SUKSES. Tapi apabila kita <em>just dreaming</em>, kita pasti akan GAGAL. Sesimpel itu. Jangan sampai kebalik seperti kamu sekarang, start dreaming stop action&#8230;&#8221;</p>
<p>Batman mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju. Ia merobek-robek buku catatan mimpinya sebagai tanda bahwa ia agak segera berubah.</p>
<p>&#8220;Kalau begitu, aku mau pergi dulu ya&#8221;</p>
<p>&#8220;Loh kemana?&#8221;, tanya Superman heran.</p>
<p>&#8220;Mau cari stand kosong di WTC Surabaya, buat buka gerai HP. Kan tadi katanya harus segera <a href="http://dongengmotivasi.com/stop-dreaming-start-action.htm">action dan action</a>. Ya kan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah, sip kalo gitu. Semoga sukses ya gan! <em>Don&#8217;t stop until you succeeded</em>&#8221;</p>
<p>Dan Batman pun langsung ngacir memacu kendaraanya. Menuju ke arah Surabaya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dongengmotivasi.com/stop-dreaming-start-action.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>120</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Superman Dan Laptop Barunya</title>
		<link>http://dongengmotivasi.com/superman-dan-laptop-barunya.htm</link>
		<comments>http://dongengmotivasi.com/superman-dan-laptop-barunya.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Mar 2009 14:31:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cosa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dongengmotivasi.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Brakkkkk!!!! Seseorang bertubuh besar dan bertato naga terlempar ke sudut ruangan. Sepucuk pistol yang tadi ia genggam terjatuh, berputar-putar di bawah meja marmer. Sesosok tubuh dengan pakaian berwarna merah biru mendekat dan mengangkat tubuh pria tersebut ke udara.
&#8220;Sudah menyerah?&#8221;, ujarnya.
Pria bertato tersebut memandang ke bawah, kepada huruf S besar yang terpampang di baju si merah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-thumbnail wp-image-21" style="border: 1px solid black; margin: 10px;" title="superman-dccomics-art" src="http://dongengmotivasi.com/wp-content/uploads/2009/03/superman-dccomics-art-150x150.jpg" alt="superman-dccomics-art" width="150" height="150" />Brakkkkk!!!! Seseorang bertubuh besar dan bertato naga terlempar ke sudut ruangan. Sepucuk pistol yang tadi ia genggam terjatuh, berputar-putar di bawah meja marmer. Sesosok tubuh dengan pakaian berwarna merah biru mendekat dan mengangkat tubuh pria tersebut ke udara.</p>
<p>&#8220;Sudah menyerah?&#8221;, ujarnya.</p>
<p>Pria bertato tersebut memandang ke bawah, kepada huruf S besar yang terpampang di baju si merah biru tadi. Dengan lunglai ia menganggukkan kepalanya. Dengan tersenyum penuh kemenangan, si baju merah melemparkan pria besar tadi ke arah beberapa orang polisi yang dari tadi mengawasi aksi mereka. Dengan sigap mereka memborgol tangannya dan membawanya pergi menuju mobil polisi.</p>
<p><span id="more-18"></span>&#8220;Aksi yang bagus, Superman&#8221;, seorang polisi gemuk memujinya.</p>
<p>&#8220;Ah, sudah biasa kok. Masalah kecil ini. Tidak perlu dibesar-besarkan, pak Kepala Polisi&#8221;, jawab Superman merendah. &#8220;Kalau begitu aku pergi dulu ya, ada janji makan tempe penyet nih ama Louis Lane&#8221;.</p>
<p>&#8220;Eh tunggu sebentar&#8221;, cegah pak Kepala Polisi. Ia merogoh saku bajunya, yang tampak agak kekecilan, dan mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat. Lanjutnya, &#8220;Begini Man, saya dan walikota Metropolis sudah sepakat, mulai sekarang, setiap akhir bulan, kita akan memberimu gaji. Yah, tidak banyak sih, tapi setidaknya cukup untuk mengganti jerih payahmu selama ini dalam membantu menjaga keamanan di kota ini&#8221;.</p>
<p>Superman tertegun. Ia sama sekali tidak menyangka pak Kepala Polisi akan melakukan hal tersebut. Dengan terbata, ia menolaknya secara halus. &#8220;Tidak perlu, pak. Anda kan tahu kalau aku tulus dalam membela yang benar dan mengalahkan yang salah&#8221;.</p>
<p>&#8220;Iya, saya tahu. Tapi tidak ada salahnya kan? Lagipula kamu kan juga butuh uang untuk biaya hidup sehari-hari&#8221;.</p>
<p>Superman pun akhirnya menerima amplop tersebut. Dan sejak hari itu, resmi setiap akhir bulan ia menerima gaji dari pak Kepala Polisi.</p>
<hr />3 bulan kemudian&#8230;</p>
<p>Clark Kent termenung di depan etalase sebuah toko komputer. Matanya menatap penuh hasrat pada sebuah laptop high-end merk ternama yang berukuran 16.4 inci itu. Ia ingin sekali membelinya, namun apa daya, upahnya selama ini di Daily Planet cukup pas-pasan. Ditambah lagi, biaya kencan dengan Louis yang tidak murah.</p>
<p>&#8220;Hmmm, tunggu sebentar&#8221;, pikir Clark, &#8220;setiap bulan kan aku menerima gaji dari kota ini. Dan dari dulu hingga sekarang pun aku setia mengabdi di Metropolis. Sama sekali tidak pernah terlintas di benakku untuk meninggalkan Metropolis. Mending aku minta supaya gajiku selama 6 bulan berikutnya di bayar di muka. Itu pasti cukup untuk membeli laptop beserta tambahan mouse dan mousepad bergambar Mickey Mouse yang imut itu.&#8221;</p>
<p>Begitulah. Clark bergegas berganti kostum menjadi Superman dan segera meluncur ke kantor polisi, menemui pak Kepala Polisi. Pada awalnya pak Kepala Polisi keberatan untuk memenuhi permintaan Superman, namun akhirnya ia pun luluh, mengingat bahwa bukan satu dua kali Superman menyelamatkan nyawanya.</p>
<p>Dan sore itu juga, di meja kamar kos-kosan Clark Kent sudah tergeletak dengan manis sebuah laptop 16.4 inci, mouse bermotif polkadot, dan mousepad bergambar Mickey Mouse&#8230;.</p>
<hr />1 bulan kemudian&#8230;</p>
<p>&#8220;Aaargghhh, bagaimana ini???&#8221;, teriak pak Kepala Polisi sambil memegang kepalanya. Wajahnya pucat dan tegang. &#8220;Superman masih belum datang juga?&#8221;</p>
<p>&#8220;Belum pak&#8221;, jawab seorang polisi, &#8220;saya sudah berusaha menghubungi HPnya, tapi selalu dialihkan. Saya coba message di YM pun tidak dibalas.&#8221;</p>
<p>Dorrr. Dorrr. Dorrr.</p>
<p>Dari seberang jalan terdengar suara tembakan silih berganti. Untuk kesekian kalinya dalam 2 minggu terakhir ini, kawanan perampok bank beraksi. Dan untuk kesekian kalinya pula, Superman tidak datang.</p>
<p>&#8220;Coba hubungi terus&#8221;, perintah pak Kepala Polisi panik kepada anak buahnya.</p>
<hr />Malam harinya&#8230;.</p>
<p>Tok, tok, tok.</p>
<p>&#8220;Huh, siapa sih itu? Ganggu aja orang lagi sibuk ini&#8221;, gerutu Clark sembari bergegas ke arah pintu.</p>
<p>&#8220;Kemana aja kamu selama ini?&#8221;, bentak Louis begitu pintu terbuka. &#8220;Sudah 2 minggu terakhir ini aku mencarimu. Tidak ada kabar, tidak ada pesan. Dan bukan cuma aku, nih lihat, seluruh Metropolis pun demikian&#8221;.</p>
<p>Clark mengulurkan tangannya, menerima koran yang disodorkan Louis. Terpampang tulisan besar di halaman depan, &#8220;Superman Kabur Dari Tanggungjawab&#8221;. Ia menelan ludahnya, sama sekali tidak menyangka bahwa akan terjadi hal yang seperti itu.</p>
<p>&#8220;Anu&#8221;, jawabnya lirih, &#8220;aku sibuk main game dengan laptopku yang baru. Kartu VGA-nya kan keren, Louis, 512MB pula memorinya. Bisa buat main Far Cry ama Crysis dengan mulus. Belum lagi ada koneksi WiFi-nya. Aku jadi bisa Facebook-an bareng Batman dan Wonder Woman&#8230;&#8221;.</p>
<p>Louis menggelengkan kepalanya, menatap prihatin ke arah pria yang dulu pertama kali ia temui sebagai Superman.</p>
<p>&#8220;Bukan itu masalahnya. Yang jadi masalah, sejak memiliki laptop itu, kamu jadi melupakan tugasmu untuk menjaga Metropolis. Kamu juga tidak pernah jalan bareng aku lagi. Tahu tidak, tadi siang juga ada perampokan bank besar-besaran. Dan kalau saja Steel tidak segera datang, pasti mereka sudah berhasil kabur untuk kesekian laginya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Loh bukankah Steel sedang berlibur ke Bali?&#8221;, tanya Clark.</p>
<p>&#8220;Memang! Tapi begitu pak Kepala Polisi menghubunginya dan meminta pertolongan, ia segera terbang ke Metropolis. Itu namanya pahlawan yang bertanggungjawab!&#8221;.</p>
<p>Clark terdiam. Ia mencoba mengingat-ingat kembali apa yang telah terjadi dalam beberapa bulan terakhir ini dan ia pun akhirnya sadar. Semenjak ia digaji oleh kota Metropolis, lambat laun ia merasa bahwa tanggungjawabnya sejajar dengan gaji tersebut. Pada saat ia mendapatkan gaji di muka, ia pun kehilangan rasa tanggungjawab terhadap kewajiban yang sudah ia emban selama ini. Ditambah lagi dengan keberadaan laptop barunya.</p>
<p>&#8220;Maafkan aku, Louis. Aku sadar akan kesalahanku dan mulai hari ini aku akan berusaha untuk memperbaikinya&#8221;.</p>
<p>Louis tersenyum dan memeluk pria yang dicintainya itu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dongengmotivasi.com/superman-dan-laptop-barunya.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Soni Semut dan Kebun Pak Beri</title>
		<link>http://dongengmotivasi.com/soni-semut-dan-kebun-pak-beri.htm</link>
		<comments>http://dongengmotivasi.com/soni-semut-dan-kebun-pak-beri.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Mar 2009 08:05:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cosa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fabel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dongengmotivasi.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[Kisah ini lanjutan dari cerita sebelumnya.
(Tiga hari sebelum bendungan jebol)
Soni Semut melangkahkan kakinya dengan bersemangat ke arah kebun Pak Beri Beruang. Kemarin, pak Beri menjanjikan pekerjaan di kebunnya. Kebetulan sekali karena memang sudah 4 minggu terakhir ini Soni resmi menjadi pengangguran. Uang simpanannya pun sudah ludes gara-gara dipakai untuk bermain forex.
&#8220;Hei Soni, di sini!&#8221;, panggil [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Kisah ini lanjutan dari <a href="http://dongengmotivasi.com/pino-dan-poni.htm">cerita sebelumnya</a>.</em></p>
<p>(Tiga hari sebelum <a href="http://dongengmotivasi.com/cabi-belajar-berenang.htm">bendungan jebol</a>)</p>
<p><strong>Soni Semut</strong> melangkahkan kakinya dengan bersemangat ke arah kebun <strong>Pak Beri Beruang</strong>. Kemarin, pak Beri menjanjikan pekerjaan di kebunnya. Kebetulan sekali karena memang sudah 4 minggu terakhir ini Soni resmi menjadi pengangguran. Uang simpanannya pun sudah ludes gara-gara dipakai untuk bermain forex.</p>
<p>&#8220;Hei Soni, di sini!&#8221;, panggil pak Beri dari kejauhan.</p>
<p><span id="more-15"></span>Soni segera berlari kecil ke arah tengah kebun, tempat pak Beri berdiri.</p>
<p>&#8220;Akhirnya datang juga kamu&#8221;, ujar pak Beri ramah, &#8220;Bagaimana, yakin mau bekerja di kebunku ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Yakin pak! Lagipula ya mau gimana lagi, kalau gak kerja, aku gak tahu besok-besok mau makan apa. Uang di kantong cuman cukup untuk makan hari ini aja. Itu pun sekedar untuk beli nasi dan kecap.&#8221;, jawab Soni Semut memelas.</p>
<p>&#8220;Baiklah kalo begitu. Kamu ingat kan apa yang harus kamu lakukan? Seperti yang kamu lihat sendiri, di bagian sebelah barat kebun ini banyak pohon-pohon beringin yang tumbuh. Aku ingin pohon-pohon tersebut ditebang dan disingkarkan, agar aku bisa segera menyiangi dan menanami seluruh kebun ini dengan wortel.&#8221;</p>
<p>&#8220;Siap bos!&#8221;, tegas Soni sembari menurunkan tas ransel dari balik punggungnya dan mengeluarkan sebuah kapak yang tampak berkilau memantulkan sinar matahari. &#8220;Semalaman aku sudah mengasah kapak warisan kakek moyangku ini. Aku yakin tidak butuh waktu lama untuk menebang pohon-pohon tersebut.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagus kalo begitu. Jadi seperti penjanjian kita kemarin, aku akan membayarmu berdasarkan jumlah pohon yang kamu tebang ya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya pak. Aku segera mulai bekerja sekarang!&#8221;, jawab Soni sambil melangkahkan kakinya ke arah barat.</p>
<hr />
<p>(Lima hari sesudah bendungan jebol)</p>
<p><strong>Rufi Rusa</strong> berjalan gontai sambil mengusap-usap lengan kirinya. Bekas gigitan lebah beberapa waktu lalu terasa semakin gatal dan nyeri. Benjolannya pun juga terlihat semakin besar dan berwarna merah.</p>
<p>&#8220;Lengan kirimu tampak seperti lengan Popeye&#8221;, celetuk <strong>Libi Musang</strong> tiba-tiba.</p>
<p>&#8220;Ah kamu bisa aja&#8221;, kata Rufi, &#8220;Gak tau juga nih kenapa. Mungkin begitu sampai hutan tempat tinggalmu aku akan memeriksakannya pada dokter&#8221;.</p>
<p>Libi tidak menjawab. Ia kembali sibuk dengan pikirannya sendiri. Semain dekat dengan hutan tempat tinggalnya, jantungnya semakin berdegap kencang. Ia tahu kemarin ia sudah membuat si kecil <strong>Cabi Babi</strong> celaka dan terus terang ia ketakutan membayangkan reaksi binatang-binatang di sana jika tahu ternyata ia masih selamat dan berani kembali ke hutan tersebut.</p>
<p>&#8220;Hei lihat&#8221;, ujar Rufi menunjuk papan informasi arah yang ada di pinggir jalan, &#8220;kita sudah sampai di km15 nih. Berarti besok sore paling lambat kita sudah sampai di hutan tempat tinggalmu.&#8221;</p>
<p>Rufi menatap ke arah Libi yang tampak lesu. &#8220;Kenapa sih kamu ini? Sudah dekat dengan tujuan kok malah tambah tidak bersemangat. Bukannya kamu ingin cepat-cepat sampai agar tidak perlu terus berjalan bersamaku lagi?&#8221;</p>
<p>Libi membisu. Rufi pun terdiam, kebingungan melihat sikap musang itu.</p>
<p>Beberapa saat kemudian, dari kejauhan terdengar suara <del datetime="2009-03-21T04:52:29+00:00">orang</del> binatang sedang bercakap-cakap. Yang satu suaranya cukup berat. Ketika jarak tinggal beberapa meter, terlihat bahwa yang sedang berbicara adalah seekor beruang dan seekor semut yang sedang membawa kapak besar. Sadar ada yang datang, kedua binatang tersebut menoleh ke arah Rufi dan Libi.</p>
<p>&#8220;Loh, Libi? Libi Musang???&#8221;, si beruang itu tampak kaget melihat sosok Libi. &#8220;Kamu selamat?&#8221;</p>
<p>Libi mengerutkan badannya dan takut-takut menatap ke arah si beruang. &#8220;I&#8230; i&#8230; iya, pak Beri. Aku baik-baik saja&#8221;.</p>
<p>&#8220;Wah, bagus lah kalau begitu. Begitu mendengar kabar kamu hanyat terbawa arus bendungan, aku sudah khawatir akan keselamatanmu&#8221;, ujar pak Beri lega. &#8220;Teman-teman di hutan juga mengkhawatirkanmu loh. Ya kan Soni?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya Libi&#8221;, jawab Soni Semut. &#8220;Untung saja kamu ternyata tidak apa-apa&#8221;.</p>
<p>Libi hanya terdiam. Ia masih sulit percaya bahwa binatang-binatang di hutan mengkhawatirkan dirinya. Apalagi dia sadar bahwa selama ini sifat dan kelakukannya terhadap penduduk hutan tidak bisa dibilang baik.</p>
<p>&#8220;Perkenalkan, aku Rufi&#8221;, ujar Rufi sembari menyodorkan tangannya, bergantian ke arah pak Beri dan Soni. &#8220;Kebetulan waktu itu Libi terdampar di daerah tempat tinggal kelompok rusa, jadi aku mewakili teman-teman yang lain membantu mengantarkan Libi kembali ke kampung halamannya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baik sekali kamu Rufi. Hutan kami sudah dekat kok, tinggal beberapa km lagi. Tapi karena sekarang sudah sore, mungkin besok siang kalian baru sampai di sana. Eh ngomong-ngomong, mau beristirahat sebentar? Kebetulan aku bawa bekal makanan dan minuman, cukup untuk kita nikmati bersama.&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah, jadi gak enak nih pak&#8221;, senyum Rufi.</p>
<p>&#8220;Ah sudah, santai saja. Teman Libi adalah teman kami juga kok&#8221;.</p>
<p>Pak Beri dan Soni kemudian membagikan bekal yang mereka bawa kepada Rufi dan Libi. Lumayan lengkap, ada nasi bungkus, tahu tempe penyet, pisang, apel, dan susu. Dengan penuh semangat Rufi melahap makanan tersebut. Beda dengan Libi yang ogah-ogahan menyendoknya.</p>
<p>&#8220;Oh iya, pak&#8221;, tiba-tiba Rufi berkata, &#8220;tadi kami dengar sepertinya kalian berdua sedang membahas suatu hal yang seru yah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh itu,&#8221; jawab pak Beri sambil meraih sebuah apel merah, &#8220;Nggak juga sih. Aku hanya memberi sedikit nasihat kepada si Soni ini.&#8221;</p>
<p>Soni menundukkan kepalanya, malu.</p>
<p>&#8220;Begini&#8221;, papar Soni, &#8220;sebenarnya sudah seminggu ini aku bekerja di kebun pak Beri. Menebang pohon-pohon beringin itu&#8221;, tangan Soni menunjuk ke arah barat kebun. &#8220;Hari pertama semuanya lancar, aku berhasil menebang 5 pohon sekaligus. Namun ternyata, di hari-hari berikutnya, jumlah pohon yang aku tebang malah terus menurun. Hari ini bahkan tidak ada sama sekali. Padahal, aku sudah bekerja dan berusaha lebih keras. Pagi hari sebelum berangkat kerja pun aku minum minuman penambah stamina ini&#8221;, lanjut Soni sambil mengeluarkan botol minuman bergambar dua banteng dari tas ranselnya.</p>
<p>&#8220;Wah, kok bisa begitu,&#8221; tanya Rufi heran. &#8220;Bukankah semakin serius dan semakin keras kita bekerja, maka hasilnya juga akan semakin bagus&#8221;.</p>
<p>&#8220;Ya begitulah,&#8221; jawab Soni Semut, &#8220;aku juga heran. Sampai akhirnya tadi pak Beri memberi pencerahan kepadaku&#8221;.</p>
<p>&#8220;Memangnya kenapa pak? Apa yang salah dengan yang dilakukan Soni?&#8221;, tanya Rufi penasaran.</p>
<p>Pak Beri tersenyum. &#8220;Jadi sebenarnya begini&#8221;, tangannya meraih buah pisang berwarna kuning keemasan, &#8220;Soni ini terlalu bersemangat dalam bekerja hingga ia melupakan satu hal yang penting.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Istirahat&#8221;, jawab pak Beri. Lanjutnya, &#8220;Karena hanya memikirkan kerja, setiap sampai di rumah ia langsung tidur dan besoknya langsung bekerja lagi. Padahal sebenarnya beristirahat juga penting. Apalagi pada bidang pekerjaan yang sedang ia lakukan saat ini. Gara-gara tidak mau beristirahat, ia juga lupa untuk mengasah kapaknya. Kapak yang sering dipakai kan semakin lama akan semakin tumpul, sehingga harus sering diasah. Karena Soni mengabaikannya, maka, meskipun sudah berusaha lebih keras pun hasilnya sama saja atau bahkan lebih buruk.&#8221;</p>
<p>Rufi dan Soni mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju.</p>
<p>&#8220;Ternyata terlalu rajin bekerja juga tidak baik ya?&#8221;, tanya Rufi sambil merenung.</p>
<p>&#8220;Ya begitulah&#8221;, jawab pak Beri sambil mengambil jatah buah apel dan pisang milik Libi yang sepertinya tidak ada tanda-tanda untuk dimakan.</p>
<p>Ketiga binatang tersebut pun kemudian sibuk mengobrol, membiarkan Libi yang merenung sendiri. Tiba-tiba terdengar suara lagu Kerispatih dari balik saku celana pak Beri.</p>
<p>&#8220;Sebentar ya&#8221;, ujarnya sambil mengeluarkan hape Blackberry Bold dari sakunya. Ia pun berdiri dan sedikit menjauh dari tempat mereka makan untuk menerima telpon tersebut. Tanpa disadarinya, selembar kertas ikut tertarik keluar dari saku celananya dan jatuh di depan Rufi.</p>
<p>&#8220;Apa nih?&#8221;, tanya Rufi. Ia mengambil kertas tersebut dan di baliknya terlihat foto pak Beri sedang berdua dengan seekor berang-berang. Soni dan Libi melirik ke gambar yang ada di foto tersebut dan spontan mereka berdua menahan nafasnya. Kaget.</p>
<p>Belum sempat Rufi bertanya kepada Libi dan Soni mengenai foto tersebut, pak Beri datang menghampiri dan segera mengambil foto tersebut dari tangan Rufi.</p>
<p>&#8220;Ini bukan apa-apa&#8221;, ujarnya gugup.</p>
<p>Libi dan Soni pura-pura tidak tahu dan meneruskan makannya, sementara Rufi langsung terdiam. Sadar bahwa apa yang dilihatnya barusan mungkin sesuatu yang bersifat pribadi dan bukan termasuk urusannya.</p>
<p>Sekitar 15 menit kemudian mereka berpisah. Rufi dan Libi melanjutkan kembali perjalanannya ke arah hutan, sedang pak Beri dan Soni meneruskan bekerja di kebun pak Beri.</p>
<hr />
<p><small>bersambung&#8230;</small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dongengmotivasi.com/soni-semut-dan-kebun-pak-beri.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pino dan Poni</title>
		<link>http://dongengmotivasi.com/pino-dan-poni.htm</link>
		<comments>http://dongengmotivasi.com/pino-dan-poni.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Feb 2009 14:10:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cosa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fabel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dongengmotivasi.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Kisah ini lanjutan dari cerita sebelumnya.
&#8220;Huh, kenapa sih aku harus jalan bareng kamu?&#8221;, gerutu Libi Musang.
Rufi Rusa melirik ke arah Libi sambil terus melangkahkan kakinya. &#8220;Sepertinya itu sudah ke 1037 kalinya kamu bilang begitu?&#8221;.
&#8220;Huh&#8221;, dengus Libi.
Kemarin malam, begitu Libi siuman dan menceritakan tempat tinggalnya, Kakek Tore memang meminta Rufi untuk menemaninya kembali ke dataran di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><small><em>Kisah ini lanjutan dari <a href="http://dongengmotivasi.com/rufi-si-rusa.htm">cerita sebelumnya</a>.</em></small></p>
<p>&#8220;Huh, kenapa sih aku harus jalan bareng kamu?&#8221;, gerutu Libi Musang.</p>
<p>Rufi Rusa melirik ke arah Libi sambil terus melangkahkan kakinya. &#8220;Sepertinya itu sudah ke 1037 kalinya kamu bilang begitu?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Huh&#8221;, dengus Libi.</p>
<p>Kemarin malam, begitu Libi siuman dan menceritakan tempat tinggalnya, Kakek Tore memang meminta Rufi untuk menemaninya kembali ke dataran di atas air terjun. Meskipun tidak terlalu berbahaya, namun daerah tersebut tidak bisa dicapai dalam waktu singkat. Minimal butuh 4-5 hari perjalanan.</p>
<p><span id="more-9"></span>&#8220;Yah untuk ke-1037-kalinya,&#8221; jawab Rufi, &#8220;aku jelaskan bahwa keberadaanku di sini adalah untuk menemanimu kembali ke daerah asalmu&#8221;.</p>
<p>Libi cuek, pura-pura tidak mendengar sambil melempar-lempar ranting pohon yang ia pungut sebelumnya ke udara, seperti seorang mayoret.</p>
<p>&#8220;Aduh!!!!&#8221;, dari atas tiba-tiba terdengar suara lantang.</p>
<p>Libi dan Rufi serentak menoleh ke atas. Terlihat, ada seekor monyet tinggi besar, bertato, dan berjambang lebat, sedang mengelus-elus kepalanya. Ternyata, lemparan ranting Libi secara tidak sengaja mengenai kepala si monyet preman ini.</p>
<p>&#8220;Siapa tadi yang melempar ranting ini?&#8221;, teriak si monyet.</p>
<p>&#8220;Dia!&#8221;, jawab si Libi spontan, sambil menudingkan jari ke arah Rufi.</p>
<p>Rufi terlompat kaget. &#8220;Hah?! Bukannya kamu yang tadi bermain ranting?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bukan kok, dia, suer&#8221;, Libi masih keukeuh berdalih, sambil melangkah mundur setapak demi setapak.</p>
<p>Si monyet besar melirik tajam ke arah Rufi&#8230;. kemudian ke arah Libi&#8230; balik lagi ke Rufi&#8230; dan ke Libi&#8230;.</p>
<p>&#8220;Huh, aku tidak peduli siapa yang sebenarnya tadi melempariku dengan ranting. Pokoknya sekarang, berikan tas pinggang kalian kepadaku. Cepat!!!&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak bisa,&#8221;, jawab Rufi, &#8220;ini kan punyaku. Lagipula, isinya adalah bekal makanan kita&#8221;.</p>
<p>&#8220;Tidak peduli!!!&#8221;, teriak si monyet. Makin lantang. &#8220;Cepat berikan!!!&#8221;, ujar si monyet sambil menggulung lengan bajunya, siap-siap akan menggebuki Rufi dan Libi.</p>
<p>Libi yang badannya sudah semakin gemetar, melepaskan tas pinggangnya, dan melemparkannya ke arah si monyet. Setelah itu, ia pun menggeser dirinya mundur, bersembunyi di belakang punggung Rufi.</p>
<p>Rufi menghela nafas. &#8220;Sudahlah,&#8221; ujar Rufi dalam hati, &#8220;daripada harus ribut-ribut, sebaiknya mengalah saja&#8221;. Ia pun turut memberikan tas pinggangnya.</p>
<p>&#8220;Begitu dong&#8221;, ujar si monyet seraya tersenyum bengis. &#8220;Sudah sana pergi, jangan sampai muncul di hadapanku lagi!&#8221;.</p>
<hr />
<p>&#8220;Laparrrrrrr&#8221;, gerutu Libi sambil memegangi perutnya.</p>
<p>&#8220;Huh, emang gara-gara siapa tadi, sampai makanan bekal kita jadi hilang semua&#8221;</p>
<p>Libi pura-pura tidak mendengar sambil terus memainkan wajah cemberutnya.</p>
<p>Brakkkk! Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari balik pohon di depan Libi dan Rufi. Penasaran, keduanya melongok dan melihat ada dua ekor tupai kecil. Yang satu, dengan garis putih di ekornya, sedang meringis kesakitan sembari memegang pantatnya. Yang lain, yang bertotol-totol hitam, memegang tangan si putih dan membantunya berdiri.</p>
<p>&#8220;Ada apa?&#8221;, tanya Rufi, &#8220;Kalian terjatuh?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya kak rusa&#8221;, jawab tupai putih, &#8220;aku mau mengambil bunga kuning ungu yang ada di bagian atas pohon ini, tapi karena terlalu tinggi, aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh&#8221;.</p>
<p>&#8220;Memang untuk apa bunga itu?&#8221;, Rufi mulai penasaran.</p>
<p>Tupai totol hitam maju dan menjawab, &#8220;Anu kak, untuk mengobati ibu kami. Kata dokter, ia terkena penyakit langka yang hanya bisa disembuhkan dengan memakan sari bunga tersebut. Kami butuh 7 buah bunga tersebut agar bisa mendapatkan takaran yang cukup bagi ibu kami&#8221;.</p>
<p>Rufi terharu. Kedua tupai ini, meskipun masih kecil, berusaha keras untuk membantu ibu mereka yang sedang sakit. Ia melirik ke arah Libi, mencoba melihat reaksinya. Tapi si musang bandel itu ternyata sedang asik ngupil.</p>
<p>&#8220;Baiklah, aku akan membantumu&#8221;, kata Rufi sambil tersenyum ke arah tupai-tupai kecil tersebut.</p>
<p>&#8220;Sungguh kak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya, tunggu sebentar ya?&#8221;, jawab Rufi sambil mengambil ancang-ancang untuk naik ke pohon.</p>
<p>&#8220;Buang-buang waktu aja sih&#8221;, gumam Libi, &#8220;Mending kan kita jalan terus, siapa tahu ada restoran di depan. Aku udah lapar banget nih&#8221;.</p>
<p>Rufi tidak menghiraukan perkataan Libi. Ia pun meloncat naik ke pohon, meraih dahan demi dahan, hingga mencapai puncak tertinggi. Perlahan-lahan, diraihnya bunga kuning unga yang tumbuh mekar di sana.</p>
<p>&#8220;Aduh!&#8221;, teriak Rufi tertahan. Tiba-tiba lengannya terasa sedikit gatal dan nyeri, seperti ada yang habis menyengatnya. &#8220;Ah paling-paling juga lebah&#8221;, pikirnya.</p>
<p>Selanjutnya, dengan hati-hati, ia pun turun kembali ke bawah dan menyerahkan bunga tersebut ke tupai totol hitam.</p>
<p>&#8220;Nih bunganya!&#8221;</p>
<p>&#8220;Horeeee!!!!!&#8221;, kedua tupai kecil tersebut bersorak sambil melompat-lompat riang. &#8220;Terima kasih kak rusa!!!&#8221;, seru mereka nyaris bersamaan.</p>
<p>&#8220;Iya, iya. Memang kurang berapa bunga lagi yang harus kalian kumpulkan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Dua kak, tapi sepupu kami di ujung hutan tadi SMS dan mengatakan kalau ia melihat bunga kuning ungu tersebut di taman dekat rumahnya&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh bagus deh kalau begitu&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya kak. Kalau begitu kami permisi dulu ya. Oh iya, sebelumnya perkenalkan kak, namaku Pino&#8221;, ujar tupai bergaris putih, &#8220;dan ini saudaraku, Poni&#8221;.</p>
<p>&#8220;Ah iya, aku Rufi, dan itu temanku&#8221;, Rufi melirik Libi yang sekarang sedang asik maen gaplek sendirian, &#8220;Libi&#8221;.</p>
<p>&#8220;Oh iya kak&#8221;, seolah teringat sesuatu Poni berkata, &#8220;tadi kan teman kakak bilang kalau ia kelaparan. Nah ini kebetulan kami bawa bekal cukup banyak. Ambil saja kak, hitung-hitung sebagai tanda terima kasih kami atas bantuan kakak&#8221;. Ia pun menyerahkan sebungkus makanan kepada Rufi.</p>
<p>Rufi terdiam. Ia tidak menyangka mereka akan memberikan bekalnya kepadanya. &#8220;Sungguh? Apa kalian punya bekal yang cukup untuk perjalanan selanjutnya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Cukup kak,&#8221; jawab Pino, &#8220;kan sebentar lagi juga sampai di rumah saudara kami. Aku dan Poni bisa minta bekal baru di sana untuk perjalanan pulang&#8221;.</p>
<p>&#8220;Baiklah kalau begitu&#8221;, ujar Rufi, &#8220;Terima kasih banyak ya!&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya kak. Sampai jumpa lagi kak!&#8221;, jawab Pino dan Poni sambil berlari dan melambaikan tangannya.</p>
<p>Rufi tersenyum. Ia pun membuka bungkusan bekal yang diberikan dan melihat ke dalam, ternyata cukup banyak juga makanan yang ada di dalamnya. Cukup untuk perjalanan 1-2 hari ke depan.</p>
<p>&#8220;Apa tuh, makanan ya?&#8221;, teriak Libi sambil merebut bungkusan yang dipegang Rufi. &#8220;Wah iya, asik, akhirnya aku bisa makannnnn!!!!&#8221;</p>
<p>&#8220;Coba lihat,&#8221; ujar Rufi pada Libi, &#8220;kalau kita membantu sesama dengan tulus, pasti kita akan mendapatkan imbalan yang setimpal&#8221;</p>
<p>Libi cuek. Mulutnya, dan mungkin juga pikirannya, sudah penuh dengan makanan.</p>
<p>Rufi menghela nafas dalam melihat tingkah Libi. Ia pun mendekat untuk mengambil sedikit makanan dari bungkusan bekal yang dipegang Libi erat-erat. Lengannya masih agak terasa sedikit gatal.</p>
<p>&#8220;Bagi dong, jangan dihabiskan sendiri. Simpan juga untuk perjalanan kita besok&#8221;.</p>
<hr />
<p><small>bersambung&#8230;</small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dongengmotivasi.com/pino-dan-poni.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rufi si Rusa</title>
		<link>http://dongengmotivasi.com/rufi-si-rusa.htm</link>
		<comments>http://dongengmotivasi.com/rufi-si-rusa.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Jul 2008 09:04:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cosa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fabel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dongengmotivasi.com/rufi-si-rusa.htm</guid>
		<description><![CDATA[Kisah ini lanjutan dari cerita sebelumnya.
&#8212; 15 menit sebelum bendungan jebol, di pinggir danau yang terletak di dataran bawah air terjun &#8211;
Rufi Rusa melangkahkan keempat kakinya dengan santai menyusuri pinggiran danau yang berair jernih dan banyak ikannya itu. Pandangannya terarah pada seekor kupu-kupu bersayap biru dengan garis-garis kemilau keemasan yang sedang terbang rendah di atas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><small><em>Kisah ini lanjutan dari <a href="http://dongengmotivasi.com/cabi-belajar-berenang.htm">cerita sebelumnya</a>.</em></small></p>
<p>&#8212; 15 menit sebelum bendungan jebol, di pinggir danau yang terletak di dataran bawah air terjun &#8211;</p>
<p>Rufi Rusa melangkahkan keempat kakinya dengan santai menyusuri pinggiran danau yang berair jernih dan banyak ikannya itu. Pandangannya terarah pada seekor kupu-kupu bersayap biru dengan garis-garis kemilau keemasan yang sedang terbang rendah di atas air. Jelas bukan sekali dalam hidupnya ia menemui kupu-kupu di sekitar gua tempat ia tinggal beserta kelompok rusa yang lain itu, namun entah kenapa, ia tidak pernah jemu mengagumi keanggunannya.</p>
<p><span id="more-8"></span>&#8220;Sedang mengamati kupu-kupu lagi, Rufi?&#8221;</p>
<p>Rufi menoleh ke belakang. Tampak Kakek Tore Rusa berjalan menghampirinya. Kakek Tore adalah rusa tua yang mengasuhnya sejak kecil, sejak ia ditinggal pergi oleh kedua rusa tuanya. Baginya, kakek Tore adalah sosok ayah sekaligus ibu yang selalu menjaganya.</p>
<p>&#8220;Iya, kek&#8221;, jawab Rufi. Ia geser sedikit tubuhnya ke kanan, memberi ruang bagi Kakek Tore untuk berdiri di sampingnya.</p>
<p>Kakek Tore menghentikan langkahnya. Ia berdiri sekitar 50cm di sebelah kiri Rufi. Kepalanya ia tengadahkan, menatap arah kupu-kupu biru yang tadi diperhatikan si Rufi. Kupu-kupu tadi sekarang sedang bercengkrama di udara dengan seekor burung gereja.</p>
<p>&#8220;Tahukah kamu berapa lama kupu-kupu itu bisa hidup Rufi?&#8221;</p>
<p>Rufi sedikit kaget karena kakek Tore tiba-tiba mengajukan pertanyaan kepadanya. </p>
<p>&#8220;Tiga tahun?&#8221;, tebak Rufi. Asal.</p>
<p>Kakek Tore menggeleng.</p>
<p>&#8220;Kebanyakan kupu-kupu hanya bisa bertahan hidup selama 2 hingga 14 hari.&#8221;</p>
<p>Kali ini Rufi benar-benar kaget. &#8220;Sungguh?&#8221;, ujarnya.</p>
<p>&#8220;Ya&#8221;, jelas sang kakek, &#8220;walaupun tidak semua. Ada beberapa spesies yang bisa hidup selama beberapa minggu atau berbulan-bulan. Namun secara keseluruhan ya itu tadi, umur mereka pendek&#8221;.</p>
<p>Rufi terdiam. Ia tidak menyangka binatang seindah dan seanggun kupu-kupu biru tadi hanya bisa menikmati dunia dalam waktu yang tidak lama. Ia tidak bisa membayangkan, apa jadinya jika ia ditakdirkan memiliki siklus hidup yang pendek seperti mereka.</p>
<p>Seolah mengerti apa yang sedang dipikirkan Rufi, kakek Tore sengaja berdiam diri. Membiarkan Rufi larut dalam pikiran dan bayangannya.</p>
<p>Samar-samar terdengar suara lengkingan dari langit. Tak berapa lama kemudian, muncul Eli Elang, melesat dengan cepat dari arah air terjun, dan berputar-putar di atas danau sambil berteriak, &#8220;AWASSSS!!!! BENDUNGAN AMBRUKKK!!!! SEGERA MENYINGKIR DARI DEKAT AIR TERJUN!!!!&#8221;</p>
<p>Rufi dan kakek Tore tersentak. Reflek mereka menatap ke arah air terjun. Memang benar, terasa ada sedikit suara gemuruh air dari arah sungai di dataran atas. Kakek Tore segera memerintahkan Rufi untuk memberitahu dan membantu rusa-rusa lainnya yang berada di dekat air terjun untuk segera menyingkir. Perintah ini ditanggapi dengan sigap oleh Rufi.</p>
<p>Semenit kemudian limpahan air bendungan menerjang bebatuan di pinggir air terjun dan menghujani danau di bawahnya dengan deras. </p>
<hr />
<p>&#8220;Siapa itu?&#8221;, tanya Rufi.</p>
<p>&#8220;Entahlah&#8221;, jawab Rena, rusa betina, cucu dari kakek Tore. Usianya sepantaran dengan Rufi.</p>
<p>&#8220;Kita menemukannya di pinggir danau, badannya basah kuyup, sepertinya ia terseret arus bendungan dan terhempas dari atas air terjun&#8221;, lanjut Rena.</p>
<p>&#8220;Wah, malang sekali nasib musang itu. Ia tidak luka parah kan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Itu hebatnya. Tubuhnya sepertinya hanya mengalami lecet-lecet saja. Sekarang Tombi sedang merawat luka-lukanya dan mengusahakan agar ia cepat siuman&#8221;, Rena menjawab sembari mengarahkan hidung mungilnya ke arah Tombi, rusa gemuk yang handal masalah kedokteran. Kabarnya ia pernah mengikuti kursus kilat perawat di masa kuliah dulu.</p>
<p>&#8220;Baguslah kalau begitu. Kamu sendiri tidak apa-apa, Rena?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku baik-baik saja. Begitu mendengar Eli Elang berteriak tadi, aku langsung cepat-cepat menyingkir dari danau.&#8221;</p>
<p>Rufi menghela nafas lega. Namun tatapannya tetap tidak lepas dari musang yang baru saja diselamatkan oleh Rena dan kawan-kawannya. Entah kenapa, ia merasa penasaran.</p>
<hr />
<hr />
<p><small><em>bersambung&#8230;</em></small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dongengmotivasi.com/rufi-si-rusa.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>32</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cabi Belajar Berenang</title>
		<link>http://dongengmotivasi.com/cabi-belajar-berenang.htm</link>
		<comments>http://dongengmotivasi.com/cabi-belajar-berenang.htm#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Dec 2007 02:55:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cosa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fabel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dongengmotivasi.com/cabi-belajar-berenang.htm</guid>
		<description><![CDATA[Sudah 3 jam 20 menit lebih Cabi duduk termangu di pinggir sungai. Ia sibuk mengamati ketiga temannya &#8212; Ciplak Bebek, Ciplik Bebek, dan Cipluk Bebek &#8212; yang sedang berenang. 
Iri. 
Ingin rasanya ia juga ikut menceburkan diri ke sungai yang dingin dan jernih itu, dan ikut berenang dengan gaya kupu-kupu, mengejar bebek-bebek tersebut. Selama ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah 3 jam 20 menit lebih Cabi duduk termangu di pinggir sungai. Ia sibuk mengamati ketiga temannya &#8212; Ciplak Bebek, Ciplik Bebek, dan Cipluk Bebek &#8212; yang sedang berenang. </p>
<p>Iri. </p>
<p>Ingin rasanya ia juga ikut menceburkan diri ke sungai yang dingin dan jernih itu, dan ikut berenang dengan gaya kupu-kupu, mengejar bebek-bebek tersebut. Selama ini <del datetime="2007-12-14T01:43:59+00:00">orang</del> babi tuanya hanya mengajarkan cara untuk berguling-guling di lumpur dengan baik dan benar. Gak pernah sekalipun mereka menyinggung masalah berenang.</p>
<p><span id="more-7"></span>&#8220;Lagi ngapain Bi?&#8221;, sapa Libi si Musang yang tiba-tiba muncul dari balik batu.</p>
<p>&#8220;Itu&#8221;, jawab Cabi sembari menghela nafas dalam-dalam, &#8220;aku ingin bisa berenang seperti bebek-bebek itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apalagi itu, si Cipluk&#8221;, lanjutnya. Hidungnya diarahkan ke arah Cipluk Bebek. &#8220;Ia bahkan bisa berenang hanya dengan menggunakan paruhnya.&#8221;</p>
<p>Libi terdiam. Berpikir. Sejenak kemudian matanya berkilau dan senyumnya tersungging.</p>
<p>&#8220;Mau aku ajarin berenang? Aku jago loh, waktu SD aja juara berenang tingkat kecamatan.&#8221;</p>
<p>Cabi menoleh ke arah Libi. Secercah harapan hadir di benaknya.</p>
<p>&#8220;Sungguh? Kamu sungguh-sungguh mau mengajari aku berenang?&#8221;, tanya Cabi tak percaya. Ekor pendeknya yang ikal mulai berputar-putar. Tanda ia sedang kegirangan.</p>
<p>&#8220;Yo&#8217;i&#8221;, jawab Libi dengan gaya sok gaul. &#8220;Tapi gak gratis, bos. Sekali belajar biayanya 2 juta rupiah. Itu belum termasuk ongkos transportasi, akomodasi, dan PPN.&#8221;</p>
<p>Cabi mencoba mengingat-ingat deretan angka di buku tabungannya. Sejak kecil, tiap hari ibunya selalu memberikan uang jajan. Dan sebagian dari uang tersebut selalu ia sisihkan dan ia tabung untuk biaya kuliah nanti. Cita-citanya adalah berkuliah dan menjadi lulusan UNBIT (UNiversitas BabI Teladan) agar ayah dan ibunya bangga.</p>
<p>&#8220;Baiklah, aku setuju!&#8221; jawab Cabi. Keinginan muliannya dalam sekejab tergerus oleh nafsu dan hasratnya untuk bisa berenang. Seperti ketiga temannya.</p>
<p>Beberapa saat kemudian mereka berdua pun kembali ke rumah masing-masing setelah berjanji untuk berkumpul kembali di tempat yang sama tiga hari lagi.</p>
<hr />
<p>Bu Gembul gelisah. Ia kepikiran dengan kata-kata anaknya, Cabi, tadi pagi yang mengatakan kalau siang ini ia mulai kursus berenang bersama Libi Musang. Bagaimana tidak khawatir apabila reputasi Libi yang super licik itu sudah menjadi rahasia umum bagi seluruh penghuni hutan.</p>
<p>Tidak tahan lagi, akhirnya Bu Gembul memutuskan untuk pergi ke sungai, ke tempat yang diberitahukan oleh Cabi tadi pagi. Sesampainya di sana ia terlonjak kaget dan hampir terguling jatuh ke sungai, seandainya saja ia tidak berpegangan ke dahan pohon rambutan yang ada tepat di sampingnya.</p>
<p>Ya, pemandangan yang ia lihat adalah si Cabi, anaknya, sedang asyik bermain-main di tengah sungai dengan menggunakan ban pelampung yang diikatkan ke pohon beringin di tepi sungai. Libi sendiri sedang berleha-leha di bawah pohon tersebut sambil mendengarkan iPod.</p>
<p>&#8220;Apa-apaan ini?!&#8221;, teriak Bu Gembul.</p>
<p>Libi terlonjak. Kerasnya volume iPod-nya ternyata masih kalah dengan volume suara Bu Gembul yang sedang emosi.</p>
<p>Buru-buru ia mematikan iPod, melepas earphone, dan memasukkan keduanya ke dalam saku celananya. Ia mendatangi Bu Gembul sambil berusaha tersenyum manis.</p>
<p>&#8220;Ya, ada apa Bu Gembul?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kata Cabi, kamu mau mengajari anakku berenang. Mana buktinya? Kalau hanya menggunakan pelampung seperti itu, Soni Semut juga bisa.&#8221;, omel Bu Gembul.</p>
<p>Libi melirik sepintas ke arah Cabi yang masih asik bermain air. Namun belum sempat ia membuka mulutnya untuk memberikan penjelasan, bu Gembul sudah melanjutkan omelannya ke jilid dua.</p>
<p>&#8220;Aku tidak mau tahu. Pokoknya sekarang, kamu harus ikut nyemplung juga ke sungai, dan ajari Cabi berenang yang benar.&#8221;</p>
<p>Libi mendesah pelan. &#8220;Mati aku&#8221;, gumamnya, &#8220;aku kan gak bisa berenang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi bu&#8230;&#8221;</p>
<p>Libi membatalkan niatnya untuk membantah saat melihat Bu Gembul memungut sebatang dahan pohon dengan ukuran XL di tanah. Ia merinding membayangkan kepalanya digetok dengan menggunakan dahan tersebut.</p>
<p>Dengan langkah gontai ia berjalan menuju sungai dan masuk ke dalam air. Susah payah, ia akhirnya bisa mencapai tengah sungai, tempat dimana Cabi sedang mempraktikkan ilmu si Cipluk, berenang dengan menggunakan moncong.</p>
<p>Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari arah selatan sungai. Keras. Memekakkan telinga.</p>
<p>Ketiganya terkaget-kaget. Namun kekagetan tersebut langsung berubah menjadi kepanikan saat Eli Elang melesat di langit dengan cepat sambil berteriak, &#8220;AWASSSS!!!! BENDUNGAN  AMBRUKKK!!!! CEPAT MENYINGKIR DARI SUNGAIIIII!!!!&#8221;</p>
<p>Tanpa buang waktu, Bu Gembul langsung meraih tali pelampung Cabi dan sekuat tenaga menariknya ke pinggir sungai.</p>
<p>&#8220;Ayo Cabi, dorong tubuhmu ke sini&#8221;, teriaknya, memberi semangat agar Cabi cepat tiba di pinggir sungai.</p>
<p>Libi panik. Untuk bertahan mengapung di air saja ia sudah kewalahan, apalagi kalau sekarang harus buru-buru berenang ke pinggir. Tangannya menggapai-gapai, mencoba keberuntungan, siapa tahu bisa meraih ban pelampung Cabi.</p>
<p>Tapi usahanya sia-sia.</p>
<p>Gemuruh terdengar semakin dekat dan arus air mulai bergerak semakin deras.</p>
<p>Bu Gembul yang sudah berhasil menyelamatkan Cabi segera melemparkan ban pelampung tersebut ke arah Libi.</p>
<p>&#8220;Pegang pelampung itu Libi! Aku akan menarikmu!&#8221;</p>
<p>Sayang, lemparan ban tersebut agak kurang tepat sasaran. Ban jatuh dua meter dari posisi Libi berada. Dengan kepanikan yang makin melanda, Libi berusaha keras untuk meraih ban tersebut.</p>
<p>1 meter lagi.</p>
<p>80 cm lagi.</p>
<p>50 cm lagi.</p>
<p>20 cm lagi.</p>
<p>5 cm lagi.</p>
<p>BYARRRRR!!!! Gelombang air deras muncul dengan tiba-tiba, menyeret tubuh Libi yang sudah hampir menggapai ban. </p>
<p>&#8220;Tolongggg!!!!&#8221;, teriaknya.</p>
<p>Bu Gembul dan Cabi terpaku. Mereka tidak tahu harus berbuat apa. Keduanya hanya bisa terdiam melihat tubuh kurus Libi yang terombang-ambing arus sungai, melaju ke arah air terjun yang ada sekitar 1km di depan.</p>
<hr />
<p><em>bersambung&#8230;</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dongengmotivasi.com/cabi-belajar-berenang.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>55</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Spiderman Nyalon</title>
		<link>http://dongengmotivasi.com/spiderman-nyalon.htm</link>
		<comments>http://dongengmotivasi.com/spiderman-nyalon.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Nov 2007 07:19:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cosa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dongengmotivasi.com/spiderman-nyalon.htm</guid>
		<description><![CDATA[Peter Parker kegirangan. Nomer togel yang ia pasang tembus. Gak tanggung-tanggung, 4 angka sekaligus. Dalam perjalanan ke tempat bandar untuk mengambil uang, ia terus berpikir mau dipakai untuk apa uang tersebut nantinya. Yang jelas, berhubung selama ini hidupnya serba pas-pas-an, kemungkinan besar ia akan menggunakannya untuk membuka usaha.
Setelah memutar otak, akhirnya Peter memutuskan, ia akan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Peter Parker kegirangan. Nomer togel yang ia pasang tembus. Gak tanggung-tanggung, 4 angka sekaligus. Dalam perjalanan ke tempat bandar untuk mengambil uang, ia terus berpikir mau dipakai untuk apa uang tersebut nantinya. Yang jelas, berhubung selama ini hidupnya serba pas-pas-an, kemungkinan besar ia akan menggunakannya untuk membuka usaha.</p>
<p>Setelah memutar otak, akhirnya Peter memutuskan, ia akan membuka usaha salon! Ya, salon potong rambut. Kebetulan saat ini sudah mendekati musim panas. Pasti banyak orang yang akan potong rambut agar tidak gerah, pikirnya.</p>
<p>Begitulah.</p>
<p><span id="more-6"></span>Tidak sampai seminggu salon yang diimpikan telah usai dibangun. Maklum, ia minta bantuan kepada Flash yang bisa bergerak secepat kilat itu. Salon itu ia beri nama &#8220;Salon SiLabi&#8221;, singkatan dari &#8220;Si Laba-laba Imut&#8221;.</p>
<p>Selain mempersiapkan peralatan-peralatan salon, Peter turut &#8216;menyesuaikan&#8217; penampilannya. Karena ia tahu salon tersebut baru akan laku apabila Spiderman sendiri yang menjadi tukang potongnya, ia pun mengenakan kustom merah birunya. Ia juga membuat wig rambut panjang dari jaring laba-labanya, menatanya dengan tren 2010, dan mengenakannya. Gak lucu dong kalau ada tukang potong yang gundul.</p>
<p>Begitulah.</p>
<p>Salon SiLabi ternyata laku keras. <em>Branding</em> Spiderman ditambah dengan momen pembukaan serta lokasi salon yang tepat terbukti sebagai adonan kesuksesan yang tepat. Tidak kurang 100 pengunjung tiap harinya harus Peter layani. Dari yang sekedar ingin keramas, creambath, mengeriting rambut, potong botak, shaggy, hingga memanjangkan rambut (emang bisa?). Yang jelas, hampir setiap hari salonnya penuh sesak dengan pelanggan yang antri.</p>
<p>Suatu hari, Bruce Wayne lewat di depan salon Silabi. Tertarik dengan kelarisan salon Spidey, otak bisnis Bruce mulai bekerja. Ia segera menghubungi Alfred untuk mengurus pembangunan salon potong rambut yang baru, dengan peralatan yang lebih canggih dan lokasi tepat di seberang salon milik Peter. Salon tersebut ia beri nama salon &#8220;Sikeli&#8221;. Singkatannya? Tentu saja, &#8220;Si Kelelawar Imut&#8221;.</p>
<p>Untuk memberi nilai tambah pada salonnya, agar dapat membajak pelanggan-pelanggan Silabi, Bruce tidak hanya mengenakan kostum Batman-nya. Ia juga memanfaatkan kepandaiannya untuk menciptakan robot pemotong rambut otomatis! Dengan robot ini, orang tinggal duduk manis di kursi, tekan tombol pilihan potongan rambut yang diinginkan, dan dalam 5 menit, langsung beres. Praktis kan? Supaya keren, Bruce memberi nama robotnya &#8220;RPRSKDSC v1.14254&#8243;.</p>
<p>Untuk mempromosikan salon barunya, Bruce memasang papan iklan yang cukup besar. Tertulis, &#8220;Salon Sikeli &#8211; Potong Rambut Kilat, Gak Pake Antri&#8221;</p>
<p>Begitulah.</p>
<p>Tidak lama, pelanggan salon Silabi sedikit demi sedikit berpindah ke salon Sikeli. Dan memang, kecanggihan robot tersebut terbukti. Siapa saja, potongan apa saja, diselesaikan dalam waktu 5 menit. Benar-benar gak pake antri. Si Batman pun gak perlu repot-repot melayani pelanggan. Ia cuma duduk di belakang kasir sambil ngitung penghasilan.</p>
<p>Selang beberapa hari, otak bisnis Bruce kembali berputar. Kalau buka 1/2 hari aja keuntungannya sebesar ini, bagaimana jika buka 24-jam non-stop yah?</p>
<p>Begitulah.</p>
<p>Salon Sikeli kemudian dibuka 24 jam. Non-stop. Pengunjung pun terus mengalir, siang malam. Demikian pula kantong Batman, semakin lama semakin tebal.</p>
<p>Tanpa disadari, karena diforsir untuk bekerja tanpa beristirahat, robot RPRSKDSC mulai berulah. Bagian dalamnya kepanasan dan menyebabkan ada 1 sirkuit yang putus. Akibatnya, hasil pemotongan rambut menjadi kacau. Ada yang minta dikeriting malah jadi gundul, ada yang minta di-shaggy malah dikasih konde, ada yang minta creambath malah dikitik-kitik, hehehe. Bruce sendiri yang terlalu sibuk dengan mesin kasirnya sama sekali tidak memperhatikan keadaan itu.</p>
<p>Berbeda dengan Peter. Sejak salonnya sepi, ia jadi banyak bengong di trotoar. Melihat akhir-akhir ini banyak orang yang keluar dari salon saingannya sambil ngedumel, ia pun curiga bahwa ada yang tidak beres di sana. Dengan memanfaatkan pendengaran supernya, ia menguping omelan mereka dan mengetahui masalah yang terjadi di salon Sikeli.</p>
<p>Setelah berpikir sejenak, Peter masuk ke dalam salon. Sejenak kemudian ia keluar sambil membawa papan iklan bertuliskan, &#8220;Salon Silabi &#8211; Merapikan Potongan Rambut Yang Kacau&#8221;. Papan tersebut ia letakkan di dekat salon Sikeli. Tidak lupa ia gambarkan arah panah yang menuju ke salonnya.</p>
<p>Cara ini ternyata tokcer. Pelanggan salon Sikeli yang kecewa dengan layanan robot si Batman, begitu melihat papan iklan tersebut, langsung berjalan menuju salon Silabi. Sedikit demi sedikit, pengunjung salon Sikeli berkurang, dan sebaliknya, salon Silabi kembali laris.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dongengmotivasi.com/spiderman-nyalon.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>54</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Misteri Kotak Hitam Bu Beri</title>
		<link>http://dongengmotivasi.com/misteri-kotak-hitam-bu-beri.htm</link>
		<comments>http://dongengmotivasi.com/misteri-kotak-hitam-bu-beri.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Oct 2007 15:06:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cosa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fabel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dongengmotivasi.com/misteri-kotak-hitam-bu-beri.htm</guid>
		<description><![CDATA[Poka dan Beka adalah dua ekor bebek yang masih muda. Umur keduanya sepantaran dengan manusia yang sedang dalam masa ABG. Si Poka sendiri umurnya sedikit lebih tua dibanding Beka, selisih 3 bulan. 
Meskipun masih muda, kedua bebek tua (kalau manusia kan orang tua, berarti kalau bebek ya bebek tua, hehehe) mereka sudah meminta Poka dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Poka dan Beka adalah dua ekor bebek yang masih muda. Umur keduanya sepantaran dengan manusia yang sedang dalam masa ABG. Si Poka sendiri umurnya sedikit lebih tua dibanding Beka, selisih 3 bulan. </p>
<p>Meskipun masih muda, kedua bebek tua (kalau manusia kan orang tua, berarti kalau bebek ya bebek tua, hehehe) mereka sudah meminta Poka dan Beka untuk hidup sendiri. Bukan apa-apa. Dibanding kelima saudara mereka yang lain, Poka dan Beka ternyata memiliki sifat yang kurang baik, yaitu suka curiga dan sinis terhadap binatang yang lain. Agar keduanya bisa sadar dan berubah, bebek tua mereka menyuruh Poka dan Beka untuk mendirikan rumah sendiri dan hidup mandiri.</p>
<p><span id="more-5"></span>Pinggir sungai adalah tempat yang dipilih oleh Poka dan Beka. Selain nyaman, juga dekat dengan sumber makanan dan air. Kebetulan, tempat yang mereka berseberangan dengan rumah kayu milik Bu Beri Berang-berang.</p>
<p>Suatu hari, dari balik jendela, Beka melihat Soni Semut membawa sebuah kotak ke rumah Bu Beri.</p>
<p>Kotaknya besar. Cukup untuk memasukkan Horas ke dalamnya. Sedang bagian luarnya terbungkus oleh kain berwarna hitam.</p>
<p>&#8216;Hei Poka, coba lihat itu&#8221;, panggil Beka.</p>
<p>Poka yang sedang menggunting kukunya berhenti dan melangkah menuju jendela.</p>
<p>&#8220;Apaan sih?&#8221;</p>
<p>&#8220;Itu&#8221;, tunjuk Beka dari balik korden, &#8220;kotak hitam itu. Kira-kira apa ya isinya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah, gede banget&#8221;, ujar Poka, terkejut. &#8220;Jangan-jangan isinya sampah tuh!&#8221;</p>
<p>&#8220;Kok sampah?&#8221;. Beka kebingungan.</p>
<p>&#8220;Coba ingat, si Soni itu kan tinggalnya dekat pembuangan sampah hutan ini.&#8221;, Poka menjelaskan teorinya dengan serius. Tangannya ia letakkan ke belakang, persis seperti seorang profesor yang sedang berpikir. Lanjutnya, &#8220;Pasti itu isinya sampah-sampah yang sudah busuk, trus ia kumpulkan dan masukkan ke dalam kotak agar tidak bau.&#8221;</p>
<p>Di seberang tampak Soni sedang meletakkan kotak tersebut di ruang tamu Bu Beri.</p>
<p>&#8220;Hmmm, bisa jadi&#8221;, Beka mengangguk-anggukkan paruhnya. &#8220;Dan jangan-jangan, Bu Beri itu punya hobi ngumpulin sampah. Dia kan tinggal sendirian sekarang, siapa tahu karena nganggur jadinya punya hobi aneh.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ih, jorok juga ya&#8221;, Poka menjawab dengan raut muka jijik.</p>
<p>Dari luar terdengar suara pintu rumah Bu Beri ditutup. Tampaknya Soni Semut sudah pulang, meninggalkan kotak hitam tersebut di rumah Bu Beri.</p>
<p>***</p>
<p>Tiga hari sudah berlalu sejak kotak hitam itu datang. Setiap hari, Poka dan Beka mengamatinya secara diam-diam dari seberang sungai. Meskipun tidak begitu jelas karena terhalang korden rumah bu Beri, tampak bahwa bu Beri sibuk sekali dengan isi kotak hitam tersebut.</p>
<p>Sesekali Soni mampir dan mereka berdua terlihat antusias sekali mendiskusikan sesuatu.</p>
<p>Selama tiga hari itu pula, Poka dan Beka tak henti-hentinya menduga-duga dan berasumsi mengenai &#8220;sampah&#8221; yang ada di dalam kotak hitam tersebut. Prediksi mereka yang terbaru, Bu Beri dan Soni sedang berkonspirasi untuk mengumpulkan sampah-sampah terbusuk dari seluruh penjuru hutan, dan sedikit demi sedikit mengubah hutan mereka menjadi hutan sampah!</p>
<p>***</p>
<p>Keesokan harinya, dengan diantar oleh Kaka Kancil, Bu Beri menyeberangi sungai dan menuju ke rumah Poka dan Beka. Poka, yang sedang asik berjemur di atap rumah, kaget melihat kedatangan mereka berdua. Buru-buru ia menyusup masuk ke dalam rumah, menutup dan mengunci pintu dan jendela, serta menyuruh Beka untuk bersembunyi.</p>
<p>&#8220;Aku tidak menyangka kalau Kaka sekarang ikut bersekongkol dengan Bu Beri. Mereka ke sini pasti ingin mengajak kita untuk bergabung dengan organisasi menjijikkan mereka itu. Ih, amit-amit deh.&#8221;, bisik Poka pada Beka dari balik kulkas, tempat keduanya bersembunyi.</p>
<p>Beka mengangguk, tanda setuju.</p>
<p>Tok. Tok. Tok.</p>
<p>Poka dan Beka menahan nafas mendengar suara pintu diketok.</p>
<p>Tok. Tok. Tok.</p>
<p>Tok. Tok. Tok.</p>
<p>Tok. Tok. Tok.</p>
<p>Kaki Beka mulai kesemutan.</p>
<p>Tok. Tok. Tok.</p>
<p>&#8220;Hmmm, sepertinya mereka sedang tidak ada di rumah&#8221;, samar-samar terdengar perkataan Kaka kepada bu Beri.</p>
<p>&#8220;Iya, kalau begitu sebaiknya kita kembali saja.&#8221;, jawab bu Beri.</p>
<p>Sejurus kemudian terdengar suara langkah-langkah kaki menjauh. </p>
<p>&#8220;Phew&#8221;, ujar Beka sambil melemaskan kaki-kakinya. &#8220;Akhirnya mereka pergi juga. Hampir saja kita terjerumus ke dalam kelompok sampah itu.&#8221;</p>
<p>Poka mengintip dari balik jendela, menatap perahu yang dinaiki Kaka dan Bu Beri menjauh.</p>
<p>&#8220;Iya, untung saja tadi mereka tidak melihatku di atap.&#8221;, ujarnya, lega. &#8220;Tidur siang saja yuk, malas aku memikirkan sampah-sampah itu&#8221;.</p>
<p>&#8220;Yukkkk&#8221;.</p>
<p>***</p>
<p>Beberapa jam kemudian Beka terbangun. Terdengar suara ramai dari seberang sungai. Ia meloncat dari tempat tidur dan menuju ke jendela.</p>
<p>Tampak rumah Bu Beri terang benderang. Ramai. Binatang-binatang hutan sedang berkumpul di sana. Mereka asik mengobrol, tertawa, dan menyanyi. Di sisi kanan, bu Tutul Macan dan kak Boni Ulat sibuk menyiapkan makanan yang harumnya terasa sampai ke hidung Beka. Di sisi kiri, Kuri Kura bernyanyi dengan lantang sambil diiringi petikan gitar Kaka Kancil.</p>
<p>Beka sejenak bengong.</p>
<p>18 detik kemudian ia tersadar, dan bergegas membangunkan Poka.</p>
<p>&#8220;Poka, Poka, cepat bangun&#8221;.</p>
<p>&#8220;Apa sih&#8221;, jawab Poka sambil cemberut.</p>
<p>&#8220;Itu lihat, di rumah Bu Beri&#8221;</p>
<p>Mendengar kata kunci &#8216;Bu Beri&#8217;, Poka langsung loncat dari tempat tidurnya dan berlari ke arah jendela.</p>
<p>&#8220;Hah, ada apa itu???&#8221;, giliran Poka yang bengong.</p>
<p>Di seberang, Bu Beri keluar dari dalam rumahnya sambil membawa kotak besar hitam.</p>
<p>&#8220;Ayo semuanya kumpul sini&#8221;, teriaknya lantang sambil tersenyum.</p>
<p>Setelah semua binatang berkumpul mengelilingi bu Beri dan kotak hitamnya, Soni Semut tiba-tiba muncul dari balik kotak dan berkata, &#8220;Teman-teman, berhubung sekarang adalah hari ulang tahunku dan Bu Beri, yang kebetulan tanggalnya sama, maka kita berdua memutuskan untuk memberikan kado kepada seluruh penghuni hutan!!!&#8221;</p>
<p>Seluruh binatang bersorak dan bertepuk tangan. Saking semangatnya bertepuk tangan, Kuri Kura bahkan sampai terjengkang ke belakang.</p>
<p>&#8220;Dan terimalah kado dari kami berdua&#8221;, ujar Bu Beri Berang dan Soni Semut sembari menggulingkan kotak hitam tersebut.</p>
<p>Poka dan Beka tercekat. Tidak sadar, keduanya berpengangan tangan dan bergumam, &#8220;Pasti sampah&#8230; pasti sampah.. pasti sampah&#8230;&#8221;</p>
<p>Kotak terguling. Tutupnya terlepas dan menggelinding, diiringi dengan tumpahnya puluhan bahkan ratusan mainan yang sudah dibungkus kado manis dari dalam kotak.</p>
<p>&#8220;Horeeeee!!!!&#8221;, sorak penghuni hutan.</p>
<p>Sekali lagi, Poka dan Beka bengong.</p>
<p>***</p>
<p>Malam itu Poka dan Beka terdiam. Sejak melihat mainan-mainan yang ada di dalam kotak hitam bu Beri, mereka tidak bercakap-cakap apapun. Masing-masing sibuk dengan penyesalannya.</p>
<p>Tok. Tok. Tok.</p>
<p>Tiba-tiba terdengar suara ketokan di pintu.</p>
<p>Beka dan Poka berpandangan. Bingung.</p>
<p>&#8220;Anak-anak, kalian ada di rumah?&#8221;, terdengar suara Bu Beri dari balik pintu.</p>
<p>Kedua bebek kecil itu tersenyum dan langsung berlomba membukakan pintu bagi Bu Beri.</p>
<p>***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dongengmotivasi.com/misteri-kotak-hitam-bu-beri.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kuda Berkacamata Hitam</title>
		<link>http://dongengmotivasi.com/kuda-berkacamata-hitam.htm</link>
		<comments>http://dongengmotivasi.com/kuda-berkacamata-hitam.htm#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Sep 2007 14:31:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cosa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fabel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dongengmotivasi.com/kuda-berkacamata-hitam.htm</guid>
		<description><![CDATA[Kaku adalah kuda yang paling gagah di hutan. Tidak hanya gagah, ia pun kuat dan dapat berlari dengan cepat. Saking hebatnya, warga hutan yang lain memberikan gelar &#8220;Kuda Perkasa&#8221; padanya. Disingkat &#8220;kuper&#8221;, hehehe.
Sayangnya, perilaku Kaku tidak sehebat kemampuannya. Karena merasa dirinya yang paling jago, ia menjadi sombong dan sering menganggap remeh orang binatang lain. Tabiat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kaku adalah kuda yang paling gagah di hutan. Tidak hanya gagah, ia pun kuat dan dapat berlari dengan cepat. Saking hebatnya, warga hutan yang lain memberikan gelar &#8220;Kuda Perkasa&#8221; padanya. Disingkat &#8220;kuper&#8221;, hehehe.</p>
<p>Sayangnya, perilaku Kaku tidak sehebat kemampuannya. Karena merasa dirinya yang paling jago, ia menjadi sombong dan sering menganggap remeh <del datetime="2007-09-12T10:17:17+00:00">orang</del> binatang lain. Tabiat buruknya yang lain adalah selalu ingin dipuja. Itu sebabnya ia iri 1/2 mati terhadap Horas.</p>
<p>Ya, Horas adalah kuda gemuk yang cenderung pendiam. Walaupun begitu, penghuni hutan lainnya senang kepadanya karena ia suka menolong dan ramah. Berbeda 180 derajat dengan Kaku.</p>
<p><span id="more-4"></span>Suatu hari Kaku pun mendatangi Horas yang sedang makan rumput di pinggir sungai.</p>
<p>&#8220;Hei Horas, ayo kita berlomba mengelilingi bukit timur itu&#8221;, tantang Kaku tanpa berbasa-basi. &#8220;Aku ingin tahu, siapa diantara kita yang paling hebat&#8221;.</p>
<p>Horas menoleh dengan santai ke arah Kaku.</p>
<p>&#8220;Buat apa ah&#8221;, jawabnya, &#8220;Kan sudah jelas, kamulah kuda paling hebat di hutan ini. Aku jelas gak mungkin menang melawanmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak peduli!&#8221;, tukas Kaku. Kasar. &#8220;Pokoknya aku ingin kita bertanding. Kalau tidak, aku akan hancurkan rumah kayu milik Bu Beri Berang-berang yang kamu buat untuknya bulan lalu.&#8221;</p>
<p>Horas tertegun. Ingatannya melayang ke Bu Beri. Badannya yang sudah tua. Bulu-bulunya yang mulai memutih. Tongkat penyangga jalannya.</p>
<p>&#8220;Baiklah&#8221;, ujarnya sambil mengangguk lirih. &#8220;Kapan kita bertanding?&#8221;</p>
<p>Kaku menjawab sambil tersenyum sinis, &#8220;Besok sore.&#8221;</p>
<p>Malamnya Kaku mulai membayangkan dirinya yang tengah berlari di bukit timur dengan gagah. Bulunya yang hitam berkilauan terkena cahaya matahari sunset. Kakinya yang kokoh menapak mantap di atas tanah bukit timur yang berbatuan menimbulkan suara yang keras.</p>
<p>Ketepok. Ketepok. Ketepok.</p>
<p>Mendadak ia terkikik. Ia membayangkan Horas yang gemuk berlari dengan terengah-engah menaiki bukit dan akhirnya tersungkur kecapekan.</p>
<p>&#8220;Kemenangan sudah jelas ada di tanganku.&#8221;, batin Kaku. &#8220;Apabila aku menang, penduduk hutan akan makin menyadari bahwa aku lah kuda terhebat di sini. Popularitasku pasti akan jauh melebihi Horas. Sekarang aku harus cari cara agar aku tampak keren di hadapan mereka saat masuk ke garis finish.&#8221;</p>
<p>Ia berpikir. Tiba-tiba ia teringat pada majalah mingguan &#8220;Kueren&#8221; yang ia beli minggu lalu. Kaku pun mengambil majalah tersebut dari  laci lemarinya dan mulai membuka lembar demi lembar. Sampai akhirnya&#8230;</p>
<p>&#8220;Ini dia!!!&#8221;, teriak Kaku sambil menunjukkan <del datetime="2007-09-12T10:17:17+00:00">jarinya</del> tangannya ke sebuah iklan tentang kacamata hitam. &#8220;Dengan ini aku pasti akan tambah cool di depan warga hutan&#8221;.</p>
<p>Keesokan harinya, Kaku menyempatkan diri untuk pergi ke mall dan membeli kacamata hitam yang paling mentereng. Setelah bersiap dengan menggunakan tapal kudanya yang berbalut emas, ia pun bergegas menuju ke bukit timur, tempat ia akan bertanding dengan Horas.</p>
<p>Sesampainya di sana, tampak Horas sedang berbincang riang dengan teman-temannya. Ada Kuri si Kura-Kura, Nur si burung Nuri, dan bu Beri Berang-Berang. Warga hutan lainnya pun berjejer di sepanjang jalur, bersiap untuk menyaksikan lomba antara Horas dan Kaku.</p>
<p>&#8220;Ayo segera kita mulai&#8221;, kata Kaku sembari memakai kacamata hitamnya yang baru.</p>
<p>Horas memandang Kaku dengan wajah aneh. Perhatiannya tertuju pada kacamata hitam Kaku dan label harganya yang entah sengaja atau tidak, lupa dicopotnya.</p>
<p>Namun Horas tidak berkata apa-apa. Sebaliknya, ia meminta Nur untuk membantu memasangkan kacamata kudanya yang sudah agak butut.</p>
<p>Kedua kuda itu pun bersiap di garis Start. Pak Hori Harimau yang bertugas sebagai penjaga garis melambai-lambaikan bendera putih di depan mereka. Dalam hitungan ketiga, ia menurunkan bendera dengan bersemangat sambil berteriak lantang, &#8220;Mulai!!!&#8221;</p>
<p>Kaku langsung melesat. Julukannya sebagai &#8220;Kuda Perkasa&#8221; memang bukan main-main. Dalam hitungan detik, ia sudah tidak tampak di balik bukit. Sebaliknya, Horas melaju dengan sambil menjaga kecepatan dan staminanya. Ia sadari bahwa dalam urusan keduanya, ia bukan tandingan Kaku, oleh karena itu ia harus berhati-hati dan tidak boleh gegabah.</p>
<p>Kaku yang jauh memimpin di depan tertawa lebar-lebar sambil terus memacu kecepatannya. Ia sudah tidak kuasa lagi membayangkan kemenangannya. Di hadapannya sudah tampak Bukit Curam, bukit terakhir dari deretan Bukit Timur.</p>
<p>Bukit Curam terkenal sebagai bukit paling berbahaya di daerah itu. Berbatu dan memiliki sudut tanjakan yang sempit. Siapa saja yang tidak berhati-hati pasti akan celaka. Di sisi lain, pemandangan dari atas Bukit Curam cukup indah. Dari sana terlihat jelas pemandangan hutan serta danau Leka yang luas dan banyak ikannya. Warga hutan sering berkumpul di danau tersebut, baik untuk mandi maupun sekedar untuk bersantai dan bersosialisasi.</p>
<p>Beberapa langkah menuruni Bukit Curam, perhatian Kaku terpecah. Di bawah, tampak Kutik, kuda betina yang jadi incarannya sejak masa sekolah dulu, sedang mematut-matut tubuhnya di hamparan air danau yang jernih. Tidak lagi konsentrasi terhadap jalan di depannya, kaki kanan Kaku tanpa sengaja menabrak sebuah batu yang cukup besar. </p>
<p>Kaku oleng. Ia terjungkal dan menggelinding ke sisi kiri bukit sebelum akhirnya mencapai garis finish barunya di sebuah kubangan tepat di samping Kutik yang melongo melihat adegan akrobat gratis.</p>
<p>Byurrrrr.</p>
<p>Sejurus kemudian, Kutik tertawa terbahak-bahak. <acronym title="Rolling On The Grass Laughing Out Loud">ROTGLOL</acronym>. Tanpa mempedulikan Kaku yang kesakitan setelah terguling-guling di bukit berbatu. Tanpa mempedulikan wajah Kaku yang merah padam. Tanpa mempedulikan kacamata hitam Kaku yang patah. Tanpa mempedulikan perasaan Kaku yang bingung antara menahan sakit dengan menahan malu.</p>
<p>Saat ia mencoba untuk berdiri (dengan diiringi tawa Kutik yang masih berkesinambungan), terdengar sorak sorai warga hutan. Rupanya Horas telah tiba di garis finish. Agak terengah-engah, tapi setidaknya ia sampai ke tujuan dengan berlari, bukan dengan menggelinding. </p>
<p>Dari kejauhan, ia menatap Kaku (yang masih mencoba berdiri) dan Kutik (yang masih terus tertawa). Horas juga suka pada Kutik dan ia mungkin akan melakukan kesalahan yang sama seperti Kaku seandainya ia tidak menggunakan kacamata kudanya. Ya, kacamata itulah yang membantunya untuk tetap berkonsentrasi sepanjang lomba.</p>
<p>Horas mengangkat kaki kanannya, ingin berjalan ke arah Kaku. Tapi kawan-kawan dan penghuni hutan lainnya mulai mengerubunginya, sibuk memberinya selamat dan memintanya bercerita tentang perasaannya. Akhirnya Horas pun membatalkan niatnya untuk membantu Kaku.</p>
<p>&#8220;Semoga ia baik-baik saja&#8221;, gumamnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dongengmotivasi.com/kuda-berkacamata-hitam.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>46</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pilih Ikan Atau Kail?</title>
		<link>http://dongengmotivasi.com/pilih-ikan-atau-kail.htm</link>
		<comments>http://dongengmotivasi.com/pilih-ikan-atau-kail.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Jul 2007 18:36:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cosa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fabel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dongengmotivasi.com/pilih-ikan-atau-kail.htm</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Duh, kok kemaraunya gak berhenti-berhenti yah&#8221;, keluh Kaka si kancil.
&#8220;Iya nih&#8221;, jawab Kuri si kura-kura lirih, &#8220;kalau begini terus dua tiga hari lagi persediaan makanan kita bakal habis.&#8221;
Kaka dan Kuri memang tinggal bersama. Mereka membuat rumah yang cukup nyaman di dalam sebuah gua kecil. Di sekitar gua sejatinya banyak ditumbuhi tanaman-tanaman yang menjadi pengisi perut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Duh, kok kemaraunya gak berhenti-berhenti yah&#8221;, keluh Kaka si kancil.</p>
<p>&#8220;Iya nih&#8221;, jawab Kuri si kura-kura lirih, &#8220;kalau begini terus dua tiga hari lagi persediaan makanan kita bakal habis.&#8221;</p>
<p>Kaka dan Kuri memang tinggal bersama. Mereka membuat rumah yang cukup nyaman di dalam sebuah gua kecil. Di sekitar gua sejatinya banyak ditumbuhi tanaman-tanaman yang menjadi pengisi perut mereka sehari-hari. Namun sayangnya, sejak beberapa minggu terakhir ini, panas yang berkepanjangan melanda, sehingga sedikit demi sedikit tanaman yang ada mati kekeringan.</p>
<p><span id="more-3"></span>&#8220;Coba kita bisa memancing seperti pak Beri Beruang&#8221;, lanjut Kuri, &#8220;pastinya kita tidak perlu pusing seperti ini.&#8221;</p>
<p>BRAKKKK!!!!</p>
<p>Kaka tiba-tiba meloncat dari kursinya hingga tidak sengaja menjatuhkan kursi tersebut.</p>
<p>&#8220;Aku ada ide!&#8221;, teriak Kaka dengan semangat &#8216;45.</p>
<p>&#8220;Ada ide ya ada ide&#8221;, gerutu Kuri yang sempat jantungan gara-gara ulah Kaka tadi, &#8220;tapi jangan bikin aku mati muda dong.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dengar dulu&#8221;, potong Kaka sebelum Kuri melanjutkan omelannya. &#8220;Bagaimana kalau kita minta ikan ke pak Beri? Kan seringkali dia dapat ikan banyak, yang lebih dari jatah makan perut gendutnya. Pasti bakal diberi deh.&#8221;</p>
<p>&#8220;Memangnya kita akan minta-minta ikan terus ke dia? Lama-lama juga pasti pak Beri gak akan mau memberi ikan ke kita.&#8221;, jawab Kuri sambil membetulkan kursi yang tadi terjatuh. Lanjutnya, &#8220;Lebih baik kita minta diajari cara memancing ikan saja.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, tahu sendiri kan pak Beri seperti apa sifatnya&#8221;, tukas Kaka. &#8220;Galak. Bicaranya keras, tapi susah dicerna maksudnya. Mendingan minta langsung aja. Lagipula aku malas kalau harus belajar segala.&#8221;</p>
<p>Kaka melangkah mendekati jendela. Matanya berbinar-binar nakal. </p>
<p>&#8220;Nanti aku akan cari alasan yang berbeda setiap harinya agar pak Beri mau memberikan ikan kepadaku.&#8221;, katanya. &#8220;Gimana Kur, setuju tidak?&#8221;</p>
<p>Kuri termenung. Di satu sisi, ia membayangkan nikmatnya duduk santai di tepi jalan setapak ke sungai sambil menunggu pak Beri lewat membawa hasil pancingannya. Ia kenal Kaka sejak lama. Kawannya yang cerdas ini pasti dapat menemukan cara untuk membuat satu dua ikan pak Beri berpindah tangan.</p>
<p>Di sisi lain, ia tidak ingin hanya berpangku tangan dan bergantung kepada binatang lain. Ia juga ingin dapat memancing ikan sendiri sehingga tidak kebingungan apabila suatu saat kemarau datang lagi.</p>
<p>&#8220;Hei, kok malah melamun&#8221;, ujar Kaka sambil mendorong pelan tempurung Kuri.</p>
<p>&#8220;Aku tidak ikutan deh&#8221;, jawab Kuri.</p>
<p>&#8220;Loh kok&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya, aku ingin coba memancing saja. Pasti terasa lebih lezat kalau ikannya hasil pancinganku sendiri&#8221;.</p>
<p>Mata Kaka tercenung. Ia menatap tajam ke arah Kuri. Beberapa detik kemudian ia tertawa terbahak-bahak.</p>
<p>&#8220;HAHAHAHAH!!! Kamu bercanda kan? Memangnya kamu mau belajar darimana? Pak Beri? Bisa tambah lapar kalau kamu kelamaan ngobrol dengan dia!&#8221;, kata Kaka lantang. &#8220;Lagipula&#8221;, lanjutnya, &#8220;semua binatang di hutan ini kan tahu kalau kamu itu lambat berpikirnya.&#8221;</p>
<p>Kuri tersenyum mendengar sindiran Kaka.</p>
<p>&#8220;Biar saja&#8221;, jawabnya. Pede. &#8220;Aku yakin kalau aku berusaha pasti aku akan bisa&#8221;.</p>
<p>Begitulah. Keesokan harinya, Kuri mulai mengikuti dan mengamati pak Beri yang sedang memancing. Ia kemudian mencoba untuk membuat tongkat pancingnya sendiri dan menanyakan kepada pak Beri, apakah kailnya sudah benar atau belum. Dengan tekun ia berusaha memahami apa maksud perkataan pak Beri hingga akhirnya ia berhasil membuat tongkat pancing yang kuat dan kokoh.</p>
<p>Si kancil? Sesuai rencananya, Kaka menunggu di ujung jalan hingga pak Beri lewat dan mengiba-iba kepadanya untuk meminta seekor ikan hasil tangkapannya. Dasar cerdik, pak Beri pun tidak kuasa menolak permintaannya.</p>
<p>&#8220;Lihat nih,&#8221; ujar Kaka pada Kuri sesampainya di rumah, &#8220;ikan pemberian pak Beri. Besar bukan? Pasti lezat jika dibumbu rujak dan dimakan dengan sambal mangga. Mana ikanmu?&#8221;</p>
<p>Kuri menunjukkan kail buatannya dengan bangga.</p>
<p>&#8220;Nih&#8221;, katanya sambil tersenyum. &#8220;Hari ini aku memang belum bisa membawa ikan, tapi aku sudah bisa membuat tongkat pancingku sendiri.&#8221;</p>
<p>&#8220;Terserahlah,&#8221; tukas Kaka. &#8220;Kok mau-maunya sih repot begitu.&#8221;</p>
<p>Hari demi hari berlalu. Kuri terus berusaha untuk belajar tehnik memancing ikan dari pak Beri. Mulai dari memilih umpan, mencari tempat yang banyak ikannya, hingga cara menarik ikan agar tidak terlepas dari kaitannya. Kaka pun melalui hari-harinya dengan seribu satu alasan untuk dapat menaklukkan hati pak Beri.</p>
<p>Lama kelamaan, pak Beri pun jenuh. Ia tidak mau lagi memberikan ikannya kepada Kaka meskipun Kaka sudah memohon sambil berguling-guling di tanah. Sebaliknya, Kuri semakin ahli dalam memancing dan sudah dapat menangkap ikan sendiri. Melihat Kaka yang menangis tersedu-sedu karena tidak mendapatkan makanan hari itu, Kuri pun membagikan ikan hasil tangkapannya pada Kaka.</p>
<p>&#8220;Tuh kan, benar yang aku bilang&#8221;, kata Kuri bijak. &#8220;Lebih baik kita berusaha sendiri daripada selalu bergantung kepada orang lain. Meskipun kelihatannya susah, jika terus mencoba, pasti kita akan bisa.&#8221;</p>
<p>Kaka mengangguk perlahan. Kali ini dia setuju dengan pendapat Kuri.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dongengmotivasi.com/pilih-ikan-atau-kail.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss><!-- Dynamic page generated in 0.387 seconds. --><!-- Cached page generated by WP-Super-Cache on 2009-07-13 12:41:34 -->
