<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>EDISIKINI.com</title>
	<atom:link href="http://edisikini.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://edisikini.com</link>
	<description>Media Informasi Terkini Gen Z &#38; Millenial</description>
	<lastBuildDate>Thu, 11 Jun 2026 08:25:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://edisikini.com/wp-content/uploads/2025/12/cropped-faviocn-edisikini-32x32.jpg</url>
	<title>EDISIKINI.com</title>
	<link>https://edisikini.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Salah Asuhan atau Salah Pembentukan Jati Diri?</title>
		<link>https://edisikini.com/salah-asuhan-atau-salah-pembentukan-jati-diri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaktur Edisikini.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Jun 2026 08:25:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://edisikini.com/?p=66032</guid>

					<description><![CDATA[EDISIKINI.COM, Jakarta &#8212; Novel Salah Asuhan, mengisahkan sosok yang lebih...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>EDISIKINI.COM, Jakarta</strong> &#8212; Novel <em>Salah Asuhan, </em>mengisahkan sosok yang lebih merasa budaya lain baik daripada budaya asalnya. Hanafi yang terbawa budaya lain yang seharusnya baik justru membuat dirinya seakan merasa lebih baik dari yang lain sesama budayanya karena ia memilih budaya tersebut. Pola asuh yang berbeda dengan teman-temannya yang lain. Ia sejak kecil mendapatkan pendidikan Barat, tumbuh di lingkungan yang membuatnya lebih cenderung dekat dengan cara berpikir, gaya hidup, dan nilai-nilai Eropa dibandingkan dengan budaya asalnya sendiri mengakibatkan merasa lebih dekat dengan budaya Barat. Hal tersebut justru membuat Hanafi terasing tidak diterima di budaya asing juga budaya asalnya.</p>
<p>Salah asuhan ini ternyata bukan persoalan cara didik, tapi juga dampak benturan budaya yang membuat ketidakseimbangan identitas diri Hanafi. Konflik jati diri Hanafi terlihat dari kebingungannya dalam menentukan identitas dirinya antara budaya asing yang dikaguminya atau budaya asalnya. Pendidikan yang ia terima membuatnya merasa lebih baik dibanding lingkungan budayanya. Hal inilah yang membuat ia tidak mampu memahami dan menerima identitasnya sebagai pribumi yang telah terpengaruh pendidikan Barat.</p>
<p>Dari novel Salah Asuhan yang mengisahkan Hanafi sebagai tokoh utamanya masih relevan dengan kehidupan sekarang karena menyoroti krisis identitas yang dialami generasi modern. Banyak individu sekarang terpengaruh budaya asing melalui pendidikan, media, dan perkembangan teknologi, sehingga membuat dan membentuk cara berpikir juga gaya hidup cenderung mengikuti gaya budaya tersebut tanpa memahami jati diri sendiri. Dari kisah Hanafi dan hal tersebut dapat terjadi kebingungan identitas yang merasa lebih unggul justru menjauh dari budaya asalnya. Oleh karena itu, sangat penting keseimbangan antara pendidikan, pengaruh budaya luar, dan pemahaman tentang jati diri seseorang supaya tidak kehilangan jati diri yang membentuk kepribadiannya.</p>
<p>Dengan demikian, novel <em>Salah Asuhan</em> memperlihatkan pertentangan identitas yang dialami Hanafi karena pengaruh pendidikan dan budaya yang membentuk cara pandangnya sejak kecil. Hal tersebut membuatnya menjauh dari budaya asalnya dan merasa lebih tinggi dari lingkungan sekitarnya, sehingga tidak sepenuhnya diterima. Pertemuan dua budaya yang tidak diimbangi dengan pemahaman diri dapat menimbulkan krisis identitas. Novel ini menekankan pentingnya memiliki kesadaran akan jati diri juga menjaga keseimbangan antara menerima pengaruh budaya luar dan menghargai budaya sendiri.</p>
<div class="custom-author-box">
<div class="author-avatar"><img decoding="async" src="https://ui-avatars.com/api/?name=N+P&amp;background=0D8ABC&amp;color=fff&amp;size=150" alt="Firman Setiawan" /></div>
<div class="author-info">
<h4 class="author-name">Penulis: Naila Putri</h4>
<p class="author-bio">Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakart, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://edisikini.com/wp-content/uploads/2026/06/word-image-66032-1.jpeg.webp" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Gaji Gede Kalah Sama Bos yang Manusiawi: Rahasia Perusahaan Bebas &#8216;Turnover&#8217;</title>
		<link>https://edisikini.com/gaji-gede-kalah-sama-bos-yang-manusiawi-rahasia-perusahaan-bebas-turnover/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaktur Edisikini.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 11 Jun 2026 07:18:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://edisikini.com/?p=66028</guid>

					<description><![CDATA[EDISIKINI.COM, Tangerang &#8212; Banyak perusahaan heran kenapa karyawannya sering resign, padahal...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>EDISIKINI.COM, Tangerang</strong> &#8212; Banyak perusahaan heran kenapa karyawannya sering <em>resign</em>, padahal gajinya sudah oke. Jawabannya simpel: karyawan tidak keluar dari perusahaan, mereka keluar dari bos yang buruk.</p>
<p>Di era kerja modern, gaya kepemimpinan (<em>leadership</em>) adalah penentu hidup matinya perusahaan. Ini tiga strategi pemimpin zaman sekarang agar timnya loyal dan produktif:</p>
<h2><strong>1. Buang Gaya &#8220;Bos Kolonial&#8221;</strong></h2>
<p>Gaya memimpin yang cuma tahu beres dan main sanksi (<em>transaksional</em>) sudah kuno. Pemimpin modern harus <em>transformasional</em>—bisa merangkul, memotivasi, dan menghargai karyawan sebagai manusia, bukan cuma mesin pencetak angka.</p>
<h2><strong>2. Fleksibel Baca Situasi</strong></h2>
<p>Nggak ada satu gaya yang cocok untuk semua kondisi. Saat butuh ide kreatif, pemimpin harus mau mendengarkan masukan dari bawah (demokratis). Tapi saat perusahaan dilanda krisis, mereka harus berani ambil keputusan cepat secara satu arah (direktif).</p>
<h2><strong>3. Hapus Geng-Gengan Antar-Divisi</strong></h2>
<p>Penyakit perusahaan besar adalah ego sektoral, di mana tiap divisi merasa paling berjasa dan ogah kerja sama. Tugas pemimpin adalah menjadi perekat—memastikan semua divisi sadar kalau mereka mendayung di perahu yang sama.</p>
<h2><strong>Kesimpulan</strong></h2>
<p>Modal besar dan teknologi canggih bisa dibeli, tapi loyalitas karyawan harus dijemput dengan empati. Pemimpin hebat tidak menggunakan kekuasaannya untuk menuntut kepatuhan, melainkan menggunakan pengaruhnya untuk menginspirasi.</p>
<div class="custom-author-box">
<div class="author-avatar"><img decoding="async" src="https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQkSaWVN5ig-gqQzzBRyJDY6vBC_oDflVq-og&#038;s" alt="Firman Setiawan" /></div>
<div class="author-info">
<h4 class="author-name">Penulis: Anggita Dwi Cahyani, Berlianna Ramadhani, Indira Asmi Ramadhan, Mustofa Galwasy</h4>
<p class="author-bio">Mahasiswa Universitas Pamulang</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://edisikini.com/wp-content/uploads/2026/06/word-image-66028-1.jpeg.webp" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Perubahan Kebiasaan Perkuliahan Online di Perguruan Tinggi Pasca Pandemi Covid-19</title>
		<link>https://edisikini.com/perubahan-kebiasaan-perkuliahan-online-di-perguruan-tinggi-pasca-pandemi-covid-19/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaktur Edisikini.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 10 Jun 2026 08:12:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://edisikini.com/?p=66024</guid>

					<description><![CDATA[EDISIKINI.COM, Samarinda &#8212; Pandemi Covid-19 yang terjadi beberapa waktu lalu...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>EDISIKINI.COM, Samarinda</strong> &#8212; Pandemi Covid-19 yang terjadi beberapa waktu lalu membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pada sistem pendidikan di perguruan tinggi. Untuk menekan penyebaran virus, kegiatan perkuliahan yang sebelumnya dilakukan secara tatap muka harus dialihkan menjadi pembelajaran daring. Mahasiswa yang biasanya belajar langsung di kelas dituntut untuk menyesuaikan diri dengan sistem baru yang berbasis teknologi. Menurut pandangan saya, perubahan ini tidak hanya bersifat sementara, tetapi juga memengaruhi pola perkuliahan hingga saat ini.</p>
<p>Selama masa tersebut, berbagai teknologi dimanfaatkan untuk menunjang proses belajar mengajar. Perkuliahan dilakukan melalui aplikasi konferensi video, platform e-learning, serta media komunikasi digital lainnya. Hal ini secara tidak langsung membuat mahasiswa menjadi lebih akrab dengan penggunaan teknologi dalam kegiatan akademik. Selain itu, sistem daring juga memberikan kemudahan karena mahasiswa dapat mengikuti perkuliahan dari lokasi mana pun tanpa harus datang langsung ke kampus.</p>
<p>Namun demikian, pembelajaran secara online juga tidak lepas dari berbagai kendala. Tidak semua mahasiswa memiliki jaringan internet yang stabil maupun perangkat yang mendukung. Di samping itu, interaksi antara dosen dan mahasiswa menjadi lebih terbatas dibandingkan dengan pembelajaran langsung di kelas. Kondisi tersebut terkadang menyebabkan proses diskusi menjadi kurang efektif, sehingga pemahaman terhadap materi tidak selalu maksimal.</p>
<p>Di sisi lain, perkuliahan daring juga membawa dampak positif. Mahasiswa dituntut untuk lebih mandiri dalam mengatur waktu belajar dan lebih aktif dalam mencari sumber referensi tambahan. Penggunaan teknologi dalam dunia pendidikan pun semakin berkembang. Hal ini membuka peluang bagi perguruan tinggi untuk mengembangkan metode pembelajaran yang lebih fleksibel, seperti sistem blended learning yang mengombinasikan pertemuan tatap muka dengan pembelajaran daring.</p>
<p>Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pandemi Covid-19 telah mengubah kebiasaan perkuliahan di perguruan tinggi secara cukup signifikan. Meskipun awalnya diterapkan sebagai solusi darurat, pembelajaran daring kini menjadi bagian dari perkembangan pendidikan di era digital. Oleh karena itu, perguruan tinggi perlu terus beradaptasi dengan kemajuan teknologi agar proses pembelajaran dapat berjalan lebih efektif dan sesuai dengan kebutuhan zaman.</p>
<div class="custom-author-box">
<div class="author-avatar"><img decoding="async" src="https://ui-avatars.com/api/?name=N+A&amp;background=0D8ABC&amp;color=fff&amp;size=150" alt="Firman Setiawan" /></div>
<div class="author-info">
<h4 class="author-name">Penulis: Nabil Agung Handono</h4>
<p class="author-bio">Mahasiswa Universitas Mulawarman, Fakultas Ekonomi Bisnis, Jurusan S1 Manajemen.</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://edisikini.com/wp-content/uploads/2026/06/word-image-66024-1.jpeg.webp" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Turis di Tanah Leluhur: Ironi Diaspora dalam Interpreter of Maladies</title>
		<link>https://edisikini.com/turis-di-tanah-leluhur-ironi-diaspora-dalam-interpreter-of-maladies/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaktur Edisikini.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 Jun 2026 13:14:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://edisikini.com/?p=66019</guid>

					<description><![CDATA[EDISIKINI.COM &#8212; Ada ironi yang tajam dan mencolok ketika seseorang...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>EDISIKINI.COM</strong> &#8212; Ada ironi yang tajam dan mencolok ketika seseorang kembali ke tanah leluhurnya, namun justru hadir sebagai orang asing. Fenomena ini sering kali dialami oleh kelompok diaspora yang secara biologis mewarisi darah suatu bangsa, tetapi secara kultural telah tercabut dari akarnya. Cerpen <em>Interpreter of Maladies</em> karya Jhumpa Lahiri menyingkap paradoks tersebut dengan sangat apik melalui keluarga Das, sebuah keluarga keturunan India-Amerika yang tengah berkunjung ke India, namun tampak lebih mirip turis ketimbang pewaris budaya.</p>
<p>Perjalanan keluarga Das ke Sun Temple di Konark bersama pemandu wisata mereka, Mr. Kapasi, bukanlah sebuah napak tilas atau perjalanan spiritual untuk &#8220;pulang kampung&#8221;. Sedari awal, Lahiri membangun narasi bahwa perjalanan ini tak ubahnya wisata eksotis belaka. Hal ini paling jelas terlihat dari bagaimana Mr. Das terus-menerus bersembunyi di balik lensa kameranya. Alih-alih meresapi lingkungan sekitarnya, ia memotret kemiskinan dan penderitaan warga lokal sebagai objek tontonan. Lensa kamera tersebut menjadi metafora yang sempurna untuk jarak psikologis; sebuah sekat yang memisahkan &#8220;mereka&#8221; (keluarga Amerika yang mapan) dan &#8220;yang liyan&#8221; (India yang eksotis dan terbelakang).</p>
<p>Di sisi lain, Mrs. Das menunjukkan keterasingan kulturalnya melalui penolakan terhadap norma sosial setempat. Alih-alih berbaur, ia sibuk mengecat kuku, mengabaikan anak-anaknya, dan pada puncaknya, mengungkap rahasia gelap tentang perselingkuhannya kepada Mr. Kapasi tanpa rasa bersalah. Sikap mereka menunjukkan betapa jauhnya bentangan jarak antara &#8220;asal-usul&#8221; dan &#8220;cara hidup&#8221;. Pola pikir, bahasa, dan nilai moral keluarga Das sepenuhnya telah dibentuk oleh budaya Amerika yang individualis.</p>
<p>Benturan semacam ini sangat relevan jika dibaca melalui kacamata hibriditas budaya (<em>cultural hybridity</em>). Néstor García Canclini (2012) dalam <em>Hybrid Cultures: Strategies for Entering and Leaving Modernity</em>, menjelaskan bahwa pertemuan dan persilangan unsur-unsur budaya yang berbeda pada akhirnya akan memunculkan struktur, objek, dan praktik baru. Hibriditas ini menuntut perubahan yang tidak sekadar fisik,p seperti urusan paspor atau gaya berpakaian, melainkan transformasi mental yang fundamental (Banaji &amp; Prentice, 1994). Dalam konteks keluarga Das, percampuran identitas India dan Amerika tidak melahirkan kebanggaan ganda, melainkan sebuah ruang hampa di mana mereka tidak sepenuhnya merasa memiliki Amerika, namun juga sama sekali buta dan berjarak terhadap India.</p>
<p>Namun, Lahiri tidak berhenti pada kritik terhadap keluarga Das. Ironi semakin berlapis ketika kita melihat karakter Mr. Kapasi. Sebagai orang asli India yang menetap di tanah kelahirannya, Mr. Kapasi sendiri tidak luput dari pengaruh Barat, yang terlihat dari gaya busananya dan mimpinya yang tertunda sebagai seorang penerjemah diplomatik. Hal ini menegaskan bahwa di era modernitas dan globalisasi, hibriditas budaya bukanlah monopoli kaum diaspora.</p>
<p>Pertemuan antara keluarga Das dan Mr. Kapasi pada akhirnya tidak menjembatani dua dunia, melainkan menyingkap jurang komunikasi yang tak teratasi. Ketika Mrs. Das menceritakan dosa masa lalunya, ia memosisikan Mr. Kapasi layaknya seorang terapis gaya Barat, mengharapkan pembebasan moral dari seseorang yang profesinya adalah &#8220;penerjemah penyakit&#8221; (<em>interpreter of maladies</em>) di sebuah klinik dokter. Namun, Mr. Kapasi, dengan lensa budaya Timurnya yang masih memegang teguh institusi keluarga, justru mempertanyakan apakah yang dirasakan Mrs. Das itu sekadar rasa bersalah, dan bukan rasa sakit. Perbedaan cara pandang ini memutus ilusi kedekatan di antara mereka.</p>
<p>Pada akhirnya, keluarga Das adalah potret buram tentang ironi diaspora: mereka secara fisik berada di tanah leluhur, tetapi bertindak, berpikir, dan memandang tanah tersebut melalui kacamata seorang turis. Melalui cerita ini, Lahiri memberikan sebuah refleksi yang menohok bahwa identitas bukanlah warisan statis yang otomatis mengalir di dalam darah. <em>Interpreter of Maladies</em> memperlihatkan bahwa &#8220;pulang ke asal&#8221; tidak selalu berarti &#8220;kembali ke rumah&#8221;. Terkadang, perjalanan pulang justru menjadi cermin yang menegaskan betapa jauhnya kita telah pergi.</p>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<ul>
<li>Banaji, M. R., &amp; Prentice, D. A. (1994). The Self in Social Contexts. <em>Annual Review of Psychology</em>, 45(1), 297–332.</li>
<li>García Canclini, N. (2012). <em>Hybrid Cultures: Strategies for Entering and Leaving Modernity</em>. University of Minnesota Press.</li>
<li>Lahiri, J. (1999). <em>Interpreter of Maladies</em>. Houghton Mifflin Harcourt.</li>
</ul>
<div class="custom-author-box">
<div class="author-avatar"><img decoding="async" src="https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcR4g_2Qj3LsNR-iqUAFm6ut2EQVcaou4u2YXw&#038;s" alt="Firman Setiawan" /></div>
<div class="author-info">
<h4 class="author-name">Penulis: Ardi Setiawan, Clarera Widiansi, Farahdila Suci Ramadiah, dan Muhammad Rifqy Daffa</h4>
<p class="author-bio">Kontributor Edisikini.com</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://edisikini.com/wp-content/uploads/2026/06/3d8ed95b-9076-4816-9b5c-8e8d2c10faa3.jpeg-e1781010854753.webp" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Kok bisa sih kita cepat mengingat video Tiktok daripada video pembelajaran?</title>
		<link>https://edisikini.com/kok-bisa-sih-kita-cepat-mengingat-video-tiktok-daripada-video-pembelajaran/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaktur Edisikini.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 09 Jun 2026 05:18:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://edisikini.com/?p=66014</guid>

					<description><![CDATA[EDISIKINI.COM, Jambi &#8212; Banyak orang dapat dengan mudah mengingat trend,...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>EDISIKINI.COM, Jambi</strong> &#8212; Banyak orang dapat dengan mudah mengingat trend, lagu, atau potongan dialog dari video TikTok yang hanya ditonton beberapa kali, bahkan tanpa sengaja menghafalkannya. Bahkan bisa dengan lancar menirukan gerakan dance yang sedang viral atau terus-menerus teringat backsound sebuah konten selama berhari-hari.</p>
<p>Terkait hal tersebut, pernahkah teman-teman sendiri merasakan hal yang sama? merasa lebih mudah untuk mengingat video Tiktok yang hanya ditonton beberapa detik dibandingkan Materi belajar yang dibaca berulang kali? Padahal, sudah membaca buku catatan berkali-kali sampai kepala rasanya pusing, tetapi informasi materi belajar tetap saja sulit menempel di kepala.</p>
<p>Fenomena ini sebenarnya dapat dijelaskan melalui proses <em>Encoding</em> dalam sistem memori manusia.</p>
<p>Jadi, apa itu encoding?</p>
<p>Encoding merupakan tahap awal dalam pemrosesan informasi, yaitu Ketika informasi yang diterima Indera diubah menjadi bentuk yang dapat disimpan dan diolah oleh otak.</p>
<p>Tanpa proses encoding yang efektif, informasi tidak akan dapat bertahan lama dalam memori dan akan lebih mudah untuk terlupakan.</p>
<p>Dalam kehidupan sehari-hari, Aplikasi Tiktok dan Media Sosial lainnya menghadirkan berbagai stimulus yang sangat menarik perhatian pengguna. Video-video yang muncul biasanya dikombinasikan dengan musik yang sedang tren, warna yang mencolok, serta cerita yang mampu memunculkan emosi tertentu, seperti rasa senang, terkejut, atau bahkan sedih.</p>
<p>Ketika seseorang memberikan perhatian lebih pada suatu informasi, proses encoding cenderung berlangsung lebih kuat. Akibatnya, informasi tersebut memiliki peluang lebih besar untuk tersimpan dalam memori dan diingat kembali di kemudian hari.</p>
<p>Selain itu, proses encoding tidak hanya dipengaruhi oleh perhatian, tetapi juga oleh tingkat kedalaman pemrosesan informasi.</p>
<p>Informasi yang diproses secara mendalam, misalnya dengan menghubungkannya pada pengalaman pribadi atau pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya, akan lebih mudah tersimpan dibandingkan informasi yang diproses secara dangkal.</p>
<p>Ketika seseorang menemukan video TikTok yang relevan dengan kehidupannya, otak akan mengaitkan informasi baru tersebut dengan memori yang sudah ada. Hubungan ini membuat informasi menjadi lebih bermakna dan lebih mudah diingat.</p>
<p>Dalam konteks information processing, <em>encoding</em> merupakan gerbang awal yang menentukan apakah suatu informasi akan berlanjut ke tahap penyimpanan <em>(storage)</em> atau tidak. Setelah informasi berhasil di-<em>encoding</em> dengan baik, informasi tersebut dapat disimpan dalam sistem memori dan kemudian dipanggil kembali melalui proses <em>retrieval</em>. Retrieval sendiri Adalah proses mengingat Kembali informasi yang pernah dipelajari atau dialami sebelumnya.</p>
<p>Rangkaian proses tersebut merupakan bagian dari mekanisme konstruksi memori manusia yang melibatkan beberapa tahapan berikut:</p>
<ol>
<li><em>Encoding</em>: Proses awal di mana informasi yang masuk diproses dan ditafsirkan terlebih dahulu oleh otak.</li>
<li><em>Schema integration: </em>Tahap ketika informasi baru yang diterima mulai digabungkan dengan struktur pengetahuan atau memori yang sudah ada sebelumnya.</li>
<li>Konsolidasi: Proses penguatan dan penstabilan ingatan oleh sistem otak agar informasi tersebut dapat bertahan lama.</li>
<li><em>Retrieval</em>: Proses membangun kembali ingatan dengan mengumpulkan potongan-potongan informasi yang telah tersimpan.</li>
<li>Rekonstruksi dan rekonsolidasi: Tahap di mana ingatan bersifat dinamis dan dapat berubah karena pengaruh informasi baru, perubahan konteks, atau adanya sugesti.</li>
</ol>
<p>Oleh karena itu, kemampuan seseorang mengingat video TikTok dengan cepat hanya karena sering ditonton secara berulang, tetapi juga karena konten tersebut mampu menciptakan proses encoding yang lebih efektif dibandingkan banyak informasi lain yang diterima setiap hari.</p>
<p>Fenomena ini menunjukkan bahwa keberhasilan mengingat tidak hanya bergantung pada seberapa banyak informasi yang diterima, melainkan juga pada bagaimana informasi tersebut diproses sejak awal.</p>
<p>Dengan memahami pentingnya <em>encoding</em>, seseorang dapat menerapkan strategi belajar yang lebih efektif, seperti menghubungkan materi dengan pengalaman pribadi, menggunakan visual yang menarik, atau mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah dimiliki. Cara-cara tersebut dapat membantu memperkuat proses <em>encoding</em> sehingga informasi lebih mudah tersimpan dalam memori jangka panjang.</p>
<p><strong>Referensi :</strong></p>
<ul>
<li>Pramudiani, D., Andriani, A., &amp; Olivia, A. (2025). <em>Psikologi Belajar</em>. PT. Bukuloka Literasi Bangsa. Diakses dari Bukuloka Digital.</li>
<li>Sandi, A. (2021). <em>Ingatan II: Pengorganisasian, Lupa dan Model-Model Ingatan</em>. Jurnal Ilmiah Bimbingan Konseling Undiksha, 12(1), 78–83.</li>
<li>Septianto, I., &amp; Surmanyanti. (2023). <em>Memori dan Proses Terjadinya Gerak (Aplikasi dalam Permainan Engklek)</em>. <em>Journal Olahraga ReKat (Rekreasi Masyarakat)</em>, 2(2), 7–18.</li>
<li>Yunus, R. M. (2020). <em>Model’s of Memory</em>. Jurnal Al-Fikrah, 9(2), 193–200.</li>
</ul>
<div class="custom-author-box">
<div class="author-avatar"><img decoding="async" src="https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTfJKIfYhiRJYsItLJaCZMHzix9ZA4bcnekAQ&#038;s" alt="Firman Setiawan" /></div>
<div class="author-info">
<h4 class="author-name">Penulis: Nadya Aulia Zhafira (G1C124016) &#8211; Revania Ayuri (G1C124023) &#8211; Sakyna Maharani (G1C124029)</h4>
<p class="author-bio">Mahasiswa Universitas Jambi</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://edisikini.com/wp-content/uploads/2026/06/4fb2ec1d-05e4-40c9-ad86-d6d107d0a360.jpeg.webp" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Manasik Haji Menjadi Media Dakwah dan Pembentukan Karakter Santri</title>
		<link>https://edisikini.com/manasik-haji-menjadi-media-dakwah-dan-pembentukan-karakter-santri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaktur Edisikini.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Jun 2026 11:05:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://edisikini.com/?p=66010</guid>

					<description><![CDATA[EDISIKINI.COM, Tulungagung &#8212; Jombang, MA Unggulan Darul Ulum Rejoso Peterongan...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>EDISIKINI.COM, Tulungagung</strong> &#8212; Jombang, MA Unggulan Darul Ulum Rejoso Peterongan kembali mengadakan pelatihan manasik haji yang ke-17 pada Sabtu (23/5). Kegiatan tahunan ini diikuti lebih dari 700 peserta.</p>
<p>Pesertanya terdiri dari siswa kelas X dan XI, para guru, tenaga kependidikan, serta delegasi dari berbagai sekolah dan madrasah di lingkungan Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso.</p>
<p>Kegiatan ini menjadi sarana belajar praktik bagi siswa untuk memahami fikih ibadah haji dan umrah secara langsung.</p>
<p>Pelatihan ini bertujuan agar siswa memiliki pemahaman yang lebih lengkap tentang ibadah haji, sekaligus menanamkan nilai-nilai keagamaan, karakter, dan motivasi supaya nantinya siap menjalankan ibadah haji maupun umrah.</p>
<p>Dalam kegiatan tersebut, para peserta mengikuti simulasi tahapan ibadah haji mulai dari ihram, wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah dan Mina, lempar jumrah, tawaf, sa’i, hingga tahalul. Simulasi dibuat menyerupai pelaksanaan haji sebenarnya agar siswa lebih mudah memahami urutan dan tata caranya.</p>
<p>Tahun ini, manasik haji mengusung tema “Harmoni Ibadah, Merajut Ukhuwah dan Spirit Akhlakul Karimah”. Sebelum kegiatan utama dimulai, peserta juga mendapatkan pembekalan dan stadium general.</p>
<p>Acara ini turut dihadiri jajaran pimpinan Pondok Pesantren Darul Ulum, para pengasuh asrama, serta Kepala Kantor Kementerian Haji Jombang, Ilham Rohim.</p>
<p>Ilham memberikan apresiasi atas konsistensi MA Unggulan Darul Ulum yang telah rutin menggelar manasik haji hingga 17 kali. Kegiatan seperti ini menjadi bukti nyata kepedulian lembaga pendidikan dalam menanamkan nilai ibadah, kedisiplinan, dan karakter Islami kepada siswa sejak dini.</p>
<p>Manasik haji memiliki peran penting dalam membentuk mental dan spiritual siswa, termasuk melatih sikap disiplin, sabar, kebersamaan, dan taat aturan.</p>
<p>Para siswa diharapkan untuk mulai memiliki cita-cita berhaji sejak muda. Pasalnya, masa tunggu keberangkatan haji di Kabupaten Jombang saat ini mencapai sekitar 26 tahun.</p>
<p>Karena itu, agar para siswa mulai menabung dan mendaftar haji sejak sekarang jika ingin bisa berangkat di usia muda.</p>
<div class="custom-author-box">
<div class="author-avatar"><img decoding="async" src="https://ui-avatars.com/api/?name=S+R&amp;background=0D8ABC&amp;color=fff&amp;size=150" alt="Firman Setiawan" /></div>
<div class="author-info">
<h4 class="author-name">Penulis: Syahri Ramadhina</h4>
<p class="author-bio">Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://edisikini.com/wp-content/uploads/2026/06/word-image-66010-1.jpeg.webp" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Dakwah itu Merangkul Bukan Memukul</title>
		<link>https://edisikini.com/dakwah-itu-merangkul-bukan-memukul/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaktur Edisikini.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 08 Jun 2026 06:27:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://edisikini.com/?p=66005</guid>

					<description><![CDATA[EDISIKINI.COM, Tulungagung &#8212; Di era digital saat ini, perdebatan di...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>EDISIKINI.COM, Tulungagung</strong> &#8212; Di era digital saat ini, perdebatan di ruang publik sering kali menjadi sorotan, terutama di media sosial yang seharusnya berfungsi sebagai jembatan komunikasi. Namun, media ini sering berubah menjadi arena penghakiman massal. Dalam konteks ini, terdapat fenomena yang mengkhawatirkan, yaitu penyampaian pesan-pesan keagamaan yang justru menjauhkan orang dari nilai-nilai spiritual, bukannya mendekatkan.</p>
<p>Upaya untuk meluruskan kekeliruan terkadang malah menimbulkan luka.Dakwah, yang secara harfiah berarti “mengajak” atau “menyeru”, seharusnya dilakukan dengan cara yang menghormati dan memberikan kenyamanan kepada pihak yang diajak. Prinsip “merangkul, bukan memukul” menjadi sangat penting dalam konteks ini.</p>
<p>Sejarah menunjukkan bahwa keberhasilan dakwah Rasulullah صَلَّى اللّٰهُ عَلَى مُحَمَّدٍ tidak dibangun di atas ketakutan atau intimidasi, melainkan pada akhlak yang mulia dan kelembutan hati. Dalam menghadapi masyarakat jahiliyah, beliau tidak menggunakan caci maki, melainkan empati.</p>
<p>Tantangan bagi para juru dakwah saat ini, baik di mimbar maupun di media sosial, adalah menahan ego. Ada godaan untuk merasa lebih tahu atau lebih suci ketika melihat kesalahan orang lain, yang sering kali berujung pada tindakan virtual shaming. Tindakan semacam ini hanya akan menciptakan resistensi, sementara pendekatan yang lemah lembut dan penuh pengertian dapat memberikan rasa aman.</p>
<p>Dakwah seharusnya berfokus pada upaya menyelamatkan pendosa, bukan merayakan dosa mereka.Masyarakat saat ini lelah dengan polarisasi dan ketegangan sosial, dan ketika mereka mencari ketenangan dalam agama, mereka membutuhkan jawaban dan solusi, bukan beban rasa bersalah.</p>
<p>Oleh karena itu, reorientasi dalam cara berdakwah menjadi suatu keharusan. Sudah saatnya untuk meninggalkan narasi yang memecah belah dan merendahkan martabat manusia, serta menunjukkan Islam yang penuh kasih sayang sebagai Rahmatan lil ‘Alamin melalui tindakan nyata.</p>
<div class="custom-author-box">
<div class="author-avatar"><img decoding="async" src="https://ui-avatars.com/api/?name=F+U&amp;background=0D8ABC&amp;color=fff&amp;size=150" alt="Firman Setiawan" /></div>
<div class="author-info">
<h4 class="author-name">Penulis: Fifi Lauzia Utama</h4>
<p class="author-bio">Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://edisikini.com/wp-content/uploads/2026/06/word-image-66005-1.jpeg.webp" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Kepemimpinan dan Etos Kerja: Dua Pilar Utama Kinerja Karyawan</title>
		<link>https://edisikini.com/kepemimpinan-dan-etos-kerja-dua-pilar-utama-kinerja-karyawan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaktur Edisikini.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 06 Jun 2026 06:27:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://edisikini.com/?p=66000</guid>

					<description><![CDATA[EDISIKINI.COM, Tangsel &#8212; Dalam dunia kerja yang terus berubah cepat,...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>EDISIKINI.COM, Tangsel</strong> &#8212; Dalam dunia kerja yang terus berubah cepat, dua hal yang sering jadi penentu keberhasilan sebuah perusahaan adalah kepemimpinan yang efektif dan etos kerja karyawan yang kuat. Keduanya bukan sekadar konsep teori di buku teks melainkan praktik nyata yang bisa langsung dirasakan dampaknya di lapangan, mulai dari produktivitas harian sampai suasana kerja tim.</p>
<p>Banyak perusahaan yang sudah punya sistem bagus, teknologi canggih, dan anggaran besar tetapi tetap saja kinerjanya mandek. Kenapa? Karena di balik semua itu, ada faktor manusia yang sering diabaikan: seberapa baik pemimpinnya memimpin, dan seberapa tinggi semangat kerja karyawannya.</p>
<p><strong>1. Kepemimpinan: Lebih dari Sekadar Jabatan</strong></p>
<p>Kepemimpinan bukan soal siapa yang punya kursi paling tinggi di kantor. Dalam kajian manajemen SDM, kepemimpinan didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk mempengaruhi, memotivasi, dan mengarahkan orang lain menuju tujuan bersama (Robbins &amp; Judge, 2019). Artinya, kepemimpinan adalah tentang pengaruh, bukan otoritas semata.</p>
<p>Ada beberapa gaya kepemimpinan yang paling banyak dikaji dalam literatur SDM antara lain kepemimpinan transformasional, transaksional, dan situasional. Dari ketiganya, kepemimpinan transformasional terbukti paling konsisten berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan, karena pemimpin tipe ini mampu menginspirasi, bukan sekadar memerintah.</p>
<p><strong>Ciri Pemimpin Transformasional</strong></p>
<ul>
<li>Memberikan visi yang jelas dan mampu menginspirasi seluruh tim</li>
<li>Mendorong karyawan untuk terus berkembang dan berani berinovasi</li>
<li>Membangun kepercayaan melalui komunikasi yang terbuka dan jujur</li>
<li>Menjadi role model bukan hanya bicara, tapi juga melakukan</li>
<li>Menghargai kontribusi individu, tidak hanya melihat hasil akhir tim</li>
</ul>
<p>Sebaliknya, pemimpin yang otoriter atau tidak komunikatif cenderung menciptakan budaya kerja yang penuh tekanan. Karyawan jadi takut untuk berinovasi, enggan menyampaikan ide, dan akhirnya bekerja secara minimal sekadar memenuhi target, tanpa antusiasme.</p>
<p><strong>2. Etos Kerja: Bahan Bakar Produktivitas</strong></p>
<p>Kalau kepemimpinan adalah arah kompas, maka etos kerja adalah bahan bakarnya. Etos kerja bisa didefinisikan sebagai seperangkat nilai, sikap, dan komitmen yang mendorong seseorang untuk bekerja dengan penuh tanggung jawab, disiplin, dan integritas (Tasmara, 2002).</p>
<figure id="attachment_66002" aria-describedby="caption-attachment-66002" style="width: 1080px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="wp-image-66002" src="https://edisikini.com/wp-content/uploads/2026/06/word-image-66000-2.jpeg.webp" alt="" width="1080" height="582" srcset="https://edisikini.com/wp-content/uploads/2026/06/word-image-66000-2.jpeg.webp 1080w, https://edisikini.com/wp-content/uploads/2026/06/word-image-66000-2-768x414.jpeg.webp 768w" sizes="(max-width: 1080px) 100vw, 1080px" /><figcaption id="caption-attachment-66002" class="wp-caption-text">Grafik batang yang menunjukkan bagaimana elemen etos kerja (disiplin → tanggung jawab → komitmen → integritas) berkontribusi secara bertahap pada kinerja karyawan.</figcaption></figure>
<p>Etos kerja bukan sesuatu yang bisa dipaksakan dari luar. Ia tumbuh dari dalam diri karyawan namun sangat dipengaruhi oleh lingkungan kerja, termasuk bagaimana pemimpin bersikap sehari-hari. Karyawan yang bekerja di bawah pemimpin yang menghargai kerja keras cenderung memiliki etos kerja yang jauh lebih tinggi dibanding mereka yang merasa tidak diapresiasi.</p>
<p><strong>3. Kaitan Keduanya: Bukan Kebetulan</strong></p>
<p>Banyak penelitian sudah membuktikan bahwa kepemimpinan dan etos kerja memiliki hubungan yang saling menguatkan. Pemimpin yang baik menciptakan kondisi yang membuat karyawan mau bekerja dengan sungguh-sungguh. Sebaliknya, karyawan dengan etos kerja tinggi memberikan energi positif yang juga mempermudah tugas pemimpin dalam mengelola tim.</p>
<p>Menurut Bass &amp; Avolio (1994), kepemimpinan transformasional berpengaruh langsung terhadap motivasi intrinsik karyawan dan motivasi inilah yang menjadi akar dari etos kerja yang kuat. Jadi, kalau mau meningkatkan etos kerja karyawan, titik awalnya adalah memperbaiki kualitas kepemimpinan.</p>
<p><strong>Alur: Kepemimpinan → Etos Kerja → Kinerja</strong></p>
<ul>
<li>Pemimpin yang inspiratif membangun kepercayaan dan motivasi tim</li>
<li>Motivasi yang kuat mendorong karyawan bekerja dengan penuh tanggung jawab</li>
<li>Tanggung jawab yang tinggi melahirkan etos kerja yang solid dan konsisten</li>
<li>Etos kerja yang kuat = kinerja karyawan yang meningkat secara berkelanjutan</li>
</ul>
<p>Investasi dalam pelatihan kepemimpinan untuk manajer menengah. Merekalah yang paling banyak bersentuhan langsung dengan karyawan sehari-hari dan membangun sistem apresiasi yang nyata bukan hanya saat akhir tahun, tapi juga dalam rutinitas harian Serta, menciptakan budaya kerja yang mengedepankan integritas: pemimpin yang jujur akan melahirkan karyawan yang juga jujur dan bertanggung jawab..</p>
<p><strong>Penulis: </strong>Anya Watina Nabillah Ruhiyat, Ahmad Fajar Romdhoni, Callia Airine Wirawan, Fuja Khoerun Nisa</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://edisikini.com/wp-content/uploads/2026/06/word-image-66000-1.jpeg.webp" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Mahasiswa Dietisien Universitas Esa Unggul Bangun Kesadaran Diabetes pada Lansia melalui Program SIGULANSIA</title>
		<link>https://edisikini.com/mahasiswa-dietisien-universitas-esa-unggul-bangun-kesadaran-diabetes-pada-lansia-melalui-program-sigulansia/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaktur Edisikini.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 05 Jun 2026 09:49:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://edisikini.com/?p=65995</guid>

					<description><![CDATA[EDISIKINI.COM, Jakarta &#8212; Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) 2026...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>EDISIKINI.COM, Jakarta</strong> &#8212; Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) 2026 menjadi momentum krusial bagi praktisi kesehatan untuk meningkatkan perhatian terhadap kelompok lanjut usia (lansia). Seiring bertambahnya usia, tubuh manusia mengalami penurunan fungsi fisiologis dan pergeseran metabolisme yang signifikan. Salah satu tantangan kesehatan terbesar yang dihadapi oleh kelompok populasi ini di Indonesia adalah Diabetes Melitus (DM).</p>
<p>Diabetes pada lansia bukan sekadar gangguan gula darah biasa. Jika tidak dikelola dengan baik, penyakit ini dapat menimbulkan berbagai komplikasi multiorgan yang fatal, seperti penyakit jantung, gangguan ginjal, kerusakan saraf, hingga penurunan drastis kualitas hidup dan kemandirian lansia. Oleh karena itu, diperlukan langkah preventif-promotif yang terstruktur di tingkat masyarakat.</p>
<p>Di tengah meningkatnya angka harapan hidup, sebagian besar masyarakat dan pihak keluarga yang memiliki anggota lansia masih berada dalam kondisi ketidaktahuan mengenai Diabetes Melitus. Banyak keluarga yang belum mengetahui cara mendeteksi gejala awal diabetes pada lansia. Sering kali, gejala-gejala klasik seperti tubuh cepat lelah, sering mengantuk, atau penurunan berat badan secara drastis, dianggap remeh dan disalahartikan sebagai bagian dari proses penuaan alamiah belaka. Selain itu, terdapat salah kaprah dalam pengaturan porsi makan serta jenis asupan harian bagi lansia.</p>
<p>Menurut pandangan saya selaku calon dietisien, budaya kita masih sering keliru dalam mengekspresikan rasa sayang kepada orang tua. Banyak anak atau cucu yang memanjakan lansia dengan membebaskan mereka mengonsumsi makanan apa saja tanpa kontrol, termasuk camilan manis atau gorengan tepung yang tinggi karbohidrat sederhana, dengan dalih &#8220;mumpung masih mau makan&#8221;. Padahal, tindakan pembiaran atas nama rasa sayang ini justru menjadi bumerang yang mempercepat lonjakan gula darah lansia.</p>
<p>Ketidaktahuan ini diperparah dengan rendahnya kesadaran akan pentingnya kepatuhan dalam pengobatan jangka panjang. Sebagian masyarakat masih menganggap bahwa konsumsi obat diabetes secara rutin dapat merusak ginjal, sebuah mitos keliru yang justru menjerumuskan lansia ke dalam kondisi komplikasi. Kesenjangan pengetahuan inilah yang menegaskan bahwa program edukasi serupa sangat mendesak dilakukan demi meningkatkan kemandirian lansia serta pemahaman keluarga dalam memberikan dukungan perawatan di rumah.</p>
<p>Melihat urgensi tersebut, sebuah langkah nyata dilakukan melalui Program SIGULANSIA (Siaga Gula Lansia) di Posyandu Teratai RW 05, wilayah kerja Puskesmas Gembor. Program ini dirancang oleh Mahasiswa Profesi Dietisien Universitas Esa Unggul untuk menjembatani kesenjangan informasi gizi langsung kepada para lansia.</p>
<p>Kegiatan yang diikuti oleh 20 orang lansia (15 perempuan dan 5 laki-laki) ini diawali dengan pemeriksaan kadar gula darah sewaktu dan pengisian tes awal (pre-test). Intervensi utama dilakukan melalui sesi edukasi interaktif menggunakan media lembar balik yang membuka ruang diskusi dua arah. Melalui tanya jawab ini, peserta bebas mengutarakan keluhan kesehatan dan meluruskan berbagai mitos yang selama ini mereka percayai.</p>
<p>Dalam Program SIGULANSIA, media lembar balik (<em>flipchart</em>) dipilih sebagai instrumen utama karena sangat unggul untuk mengedukasi lansia secara langsung. Lembar balik mampu mengatasi hambatan kesenjangan teknologi (<em>digital divide</em>) yang sering dialami generasi tua karena dapat digunakan tanpa jaringan internet maupun listrik. Secara psikologis, lembar balik menciptakan atmosfer komunikasi yang intim dan tidak mengintimidasi para lansia.</p>
<p>Ukuran teks yang besar serta gambar yang kontras sangat adaptif terhadap penurunan fungsi penglihatan lansia. Formatnya yang sekuensial juga membantu proses penalaran lansia menjadi lebih sistematis, terutama mengenai Prinsip 3J yang menjadi kunci pengendalian diabetes, yaitu membatasi jumlah makanan agar sesuai kebutuhan energi, memilih jenis makanan karbohidrat kompleks kaya serat serta menghindari gula murni, dan mengatur jadwal makan harian (3 kali makan utama, 2-3 kali selingan) secara konsisten.</p>
<p>Saya menilai bahwa kekuatan utama dari lembar balik ini ada pada kemampuannya memicu kejujuran lansia. Ketika melihat gambar makanan di lembar balik, para lansia biasanya secara jujur mengenali kebiasaan konsumsi mereka di rumah. Interaksi langsung seperti inilah yang tidak bisa digantikan oleh gawai canggih sekalipun.</p>
<p>Namun, untuk dampak jangka panjang, pemanfaatan media edukasi lain juga dapat dikombinasikan sebagai penguat. Sebagai contoh, penggunaan video animasi singkat yang memadukan warna cerah dan karakter jenaka terbukti mampu menarik perhatian lansia secara instan pada awal sesi kelompok besar. Sifat audiovisual dari media video mampu memvisualisasikan proses biologis yang tidak kasatmata seperti mekanisme kerja hormon insulin menjadi ilustrasi bergerak yang jauh lebih konkret dan mudah dipahami oleh lansia.</p>
<p>Di sisi lain, media cetak mandiri seperti buku saku atau leaflet ringkas memiliki keunggulan sebagai alat pengingat (<em>reminder tool</em>) yang dapat dibawa pulang. Ketika lansia berada di rumah dan ragu mengenai porsi makan atau jadwal obat, mereka bersama keluarga dapat dengan mudah membuka kembali panduan tersebut. Integrasi berbagai media ini akan menghasilkan pemahaman yang jauh lebih komprehensif.</p>
<p>Hasil evaluasi akhir melalui pengerjaan soal tes pasca-edukasi (post-test) menunjukkan adanya peningkatan pemahaman yang sangat signifikan dari para peserta. Hal ini terlihat jelas dari kemampuan para lansia dalam menjawab pertanyaan seputar pengelolaan menu makan, di mana mereka kini telah memahami cara mengatur jumlah, jenis, dan jadwal makan (Prinsip 3J) untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di rumah.</p>
<p>Perubahan positif juga terlihat pada aspek sikap peserta. Melalui sesi diskusi interaktif, berbagai kekhawatiran keliru mengenai dampak buruk obat-obatan medis berhasil diluruskan. Kondisi ini menumbuhkan kesadaran dan keyakinan baru di kalangan lansia bahwa kepatuhan berobat serta kontrol kesehatan secara berkala merupakan kebutuhan utama untuk mencegah komplikasi dan menjaga kualitas hidup di hari tua.</p>
<p>Program SIGULANSIA membuktikan bahwa edukasi kesehatan yang sederhana dan tepat sasaran mampu memberikan dampak perubahan perilaku yang bermakna. Lansia membutuhkan informasi yang mudah dipahami agar mampu mengelola penyakitnya secara mandiri.</p>
<p>Opini saya, edukasi gizi dari institusi pendidikan tidak boleh berhenti sebagai formalitas tugas kuliah saja. Kita butuh gerakan intervensi yang menyentuh level keluarga secara konsisten. Kolaborasi berkelanjutan antara Universitas Esa Unggul dan Puskesmas Gembor diharapkan dapat terus berjalan demi mengantarkan generasi lansia Indonesia menuju masa tua yang sehat, mandiri, dan produktif.</p>
<p><strong>Referensi:</strong></p>
<ul>
<li>Anggoro, P. D., Badriah, D. L., &amp; Mamlukah. (2025). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Diabetes Melitus Tipe 2 Pada Lansia. Jurnal Ilmu Kesehatan Bhakti Husada: Health Sciences Journal, 16(1), 242–250.</li>
<li>Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2023. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.</li>
<li>Kristanti, S., &amp; Wibowo, A. (2022). Efektivitas Edukasi Menggunakan Media Video Animasi Terhadap Tingkat Pengetahuan Diet Diabetes Melitus Pada Pasien Rawat Jalan. Jurnal Gizi dan Kesehatan, 14(2), 185-194</li>
<li>Putri, D. E., Putra, C. S., &amp; Rida, S. (2024). Edukasi Self Care Management Dalam Pengendalian Diabetes Melitus Tipe 2 Pada Lansia. Jurnal Pengabdian Masyarakat Mandira Cendikia, 3(3), 8–12.</li>
<li>Soelistijo, S. A., Lindarto, D., Decroli, E., dkk. (2021). Pedoman pengelolaan dan pencegahan diabetes melitus tipe 2 di Indonesia 2021. Jakarta: Pengurus Besar Persatuan Diabetes Indonesia (PB PERKENI).</li>
<li>Suryati, S., Martini, S., &amp; Sari, M. (2023). Pengaruh Edukasi Kesehatan Dengan Media Lembar Balik Terhadap Pengetahuan Pasien Diabetes Melitus Tipe 2. Jurnal Penelitian Perawat Profesional, 5(4), 1625-1632.</li>
</ul>
<div class="custom-author-box">
<div class="author-avatar"><img decoding="async" src="https://ui-avatars.com/api/?name=E+U&amp;background=0D8ABC&amp;color=fff&amp;size=150" alt="Firman Setiawan" /></div>
<div class="author-info">
<h4 class="author-name">Penulis: Elies Nuraini Utami, S.Gz </h4>
<p class="author-bio">Mahasiswa Profesi Dietisien Universitas Esa Unggul</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://edisikini.com/wp-content/uploads/2026/06/word-image-65995-1.jpeg.webp" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Diet DM Tanpa Ribet untuk Penderita Kencing Manis: Fakta, Dampak, dan Cara Makan yang Lebih Aman untuk Menjaga Gula Darah</title>
		<link>https://edisikini.com/diet-dm-tanpa-ribet-untuk-penderita-kencing-manis-fakta-dampak-dan-cara-makan-yang-lebih-aman-untuk-menjaga-gula-darah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaktur Edisikini.com]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 05 Jun 2026 02:55:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://edisikini.com/?p=65982</guid>

					<description><![CDATA[EDISIKINI.COM, Jakarta &#8212; Banyak orang langsung panik saat mendengar kata...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>EDISIKINI.COM, Jakarta</strong> &#8212; Banyak orang langsung panik saat mendengar kata “diet diabetes”. Yang terbayang sering kali adalah hidup tanpa nasi, tanpa buah manis, tanpa makanan enak, dan penuh larangan. Padahal, diet Diabetes Melitus atau diet DM yang diperuntukkan untuk penderita Kencing manis tidak seseram itu. Diet DM justru lebih tepat dipahami sebagai cara makan yang lebih teratur, lebih seimbang, dan lebih sadar porsi agar gula darah tidak naik-turun secara ekstrem.</p>
<p>Diabetes Melitus merupakan penyakit metabolik kronis ketika kadar gula darah meningkat karena tubuh tidak menghasilkan insulin yang cukup, tidak mampu menggunakan insulin dengan efektif, atau keduanya. Bila tidak dikendalikan, diabetes dapat memicu komplikasi pada mata, ginjal, jantung, pembuluh darah, saraf, hingga luka kaki diabetik yang sulit sembuh. Karena itu, mengatur makan bukan sekadar soal menurunkan angka gula darah, tetapi juga cara melindungi kualitas hidup jangka panjang.</p>
<table>
<tbody>
<tr>
<td>Fakta singkat</p>
<ul>
<li>International Diabetes Federation mencatat Indonesia memiliki sekitar 20,4 juta penyandang diabetes dewasa usia 20-79 tahun pada 2024.</li>
<li>Data SKI 2023 dalam artikel awal menunjukkan prevalensi diabetes usia 15 tahun ke atas sebesar 2,2% berdasarkan diagnosis dokter dan 11,7% berdasarkan pemeriksaan kadar gula darah.</li>
</ul>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>Masalahnya Bukan Cuma di Gula Pasir, yang paling sering bikin gula darah “diam-diam” naik adalah..</strong></p>
<p>Saat membicarakan diabetes, banyak orang hanya fokus pada gula pasir. Gula tambahan memang perlu dibatasi. Namun, masalah sebenarnya lebih luas: porsi karbohidrat yang terlalu besar, minuman manis yang diminum hampir setiap hari, camilan ultra-proses, gorengan berlebihan, kurang sayur, dan jadwal makan yang tidak teratur.</p>
<p>Salah satu jebakan terbesar adalah minuman manis. Banyak orang merasa sudah makan sedikit, tetapi masih rutin minum teh manis, kopi susu tinggi gula, sirup, minuman kemasan, atau jus manis. Kalori dan gula dari minuman mudah masuk tanpa membuat kenyang. Akibatnya, gula darah bisa naik, tetapi orang merasa tidak makan banyak. Jebakan lain adalah pada makanan ultra-proses, seperti snack kemasan, biskuit manis, sosis, nugget, mi instan, makanan cepat saji, dan saus berlebihan. Makanan seperti ini biasanya praktis dan rasanya kuat, tetapi sering tinggi gula, garam, lemak jenuh, serta rendah serat. Jika dikonsumsi sering dan porsinya besar, risiko berat badan naik dan gula darah sulit terkendali juga meningkat.</p>
<p>Banyak duduk atau jarang bergerak pada seseorang dapat meningkatkan risiko terkena diabetes tipe 2. Kebiasaan duduk lama seperti di depan layar komputer, televisi, atau kendaraan bermotor sering disertai konsumsi makanan tinggi kalori dan minuman manis, yang semakin memperburuk metabolism tubuh. Kurang gerak membuat tubuh sulit mengatur gula darah dan lemak menumpuk di perut karena rendahnya aktivitas fisik menyebabkan penurunan sensitivitas insulin, akumulasi lemak viseral, dan peningkatan resistensi glukosa, sehingga gula darah sulit dikendalikan.</p>
<p><strong>Prinsip 3J: sederhana, tetapi sering dilupakan</strong></p>
<p>Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa prinsip pengaturan makan bagi penyandang diabetes dikenal dengan 3J: tepat jumlah, tepat jenis, dan tepat jadwal. Tiga prinsip ini terdengar sederhana, tetapi sangat penting karena membantu tubuh menerima makanan secara lebih stabil sepanjang hari.</p>
<table>
<tbody>
<tr>
<td>Prinsip</td>
<td>Artinya</td>
<td>Contoh ringan</td>
</tr>
<tr>
<td>Tepat jumlah</td>
<td>Makan sesuai kebutuhan tubuh, tidak berlebihan.</td>
<td>Nasi tetap boleh, tetapi porsinya tidak memenuhi setengah piring.</td>
</tr>
<tr>
<td>Tepat jenis</td>
<td>Memilih makanan yang lebih bersahabat untuk gula darah.</td>
<td>Pilih buah utuh daripada jus manis; pilih lauk rebus/pepes daripada gorengan setiap hari.</td>
</tr>
<tr>
<td>Tepat jadwal</td>
<td>Makan lebih teratur agar gula darah tidak mudah melonjak atau turun terlalu rendah.</td>
<td>Tidak melewatkan sarapan, terutama jika memakai obat diabetes atau insulin.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>Isi piringku: cara paling mudah mengatur porsi</strong></p>
<p>Untuk memudahkan, gunakan pola “isi piring”. Bayangkan satu piring makan dibagi menjadi tiga bagian: setengah piring untuk sayuran dan buah, seperempat piring untuk sumber protein, dan seperempat piring untuk sumber karbohidrat berkualitas. Cara ini lebih mudah dilakukan di rumah karena tidak perlu menghitung kalori setiap saat.</p>
<table>
<tbody>
<tr>
<td><img decoding="async" width="768" height="1024" class="wp-image-65986 aligncenter" src="https://edisikini.com/wp-content/uploads/2026/06/word-image-65982-2.png.webp" /><strong>Komposisi Isi Piringku</strong></p>
<ul>
<li>1/2 piring untuk serat: sayur dan buah, seperti bayam, kangkung, sawi, brokoli, buncis, labu siam, mentimun, wortel, apel, pisang, melon, pepaya, stroberi, dan buah-buahan lain.</li>
<li>1/3 dari 1/2 bagian piring: protein seperti ikan, ayam tanpa kulit, telur, tahu, tempe, kacang-kacangan, atau daging tanpa lemak.</li>
<li>2/3 dari 1/2 piring: karbohidrat seperti nasi, nasi merah, ubi, jagung, kentang rebus, oatmeal, atau roti gandum utuh dalam porsi terukur.</li>
<li>Minuman utama: air putih atau minuman tanpa gula.</li>
</ul>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>Makanan yang dianjurkan: bukan mahal, yang penting tepat</strong></p>
<p>Makanan ramah diabetes tidak harus selalu mahal atau sulit dicari. Banyak pilihan lokal yang tetap bisa masuk ke menu harian, selama porsinya disesuaikan. Sayur bening, ikan pepes, tahu-tempe, ayam tanpa kulit, telur, pepaya, jambu biji, apel, ubi rebus, atau nasi dalam porsi terukur bisa menjadi bagian dari pola makan DM.</p>
<table>
<tbody>
<tr>
<td><strong>Lebih sering pilih</strong></td>
<td><strong>Lebih baik dibatasi</strong></td>
</tr>
<tr>
<td>Buah utuh dalam porsi kecil</td>
<td>Jus buah dengan gula atau susu kental manis</td>
</tr>
<tr>
<td>Air putih, teh tawar, kopi tanpa gula berlebihan</td>
<td>Teh manis, soda, minuman boba, minuman kemasan manis</td>
</tr>
<tr>
<td>Lauk rebus, kukus, pepes, panggang</td>
<td>Gorengan berulang, kulit ayam, makanan cepat saji</td>
</tr>
<tr>
<td>Karbohidrat dalam porsi terukur</td>
<td>Nasi banyak + mi/roti/kue sekaligus</td>
</tr>
<tr>
<td>Camilan terukur: buah atau kacang tawar</td>
<td>Snack kemasan tinggi gula, garam, dan lemak</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>Mitos dan Fakta</strong></p>
<p>Diabetes atau kencing manis merupakan penyakit tidak menular yang memiliki jumlah penderita yang tidak sedikit di sekitar kita. Meski begitu, masih banyak mitos yang beredar tentang penyakit ini. Berikut beberapa fakta dan mitos penting yang perlu diketahui</p>
<table>
<tbody>
<tr>
<td><strong>Mitos</strong></td>
<td><strong>Fakta</strong></td>
</tr>
<tr>
<td>Hanya orang gemuk yang bisa terkena diabetes</td>
<td>DM bisa dialami siapa saja, termasuk orang dengan berat badan normal. Penyakit ini terjadi karena tubuh tidak bisa memproduksi atau menggunakan insulin dengan baik.</td>
</tr>
<tr>
<td>Jika tidak ada gejala, berarti tidak perlu cek gula darah.</td>
<td>Banyak orang dengan DM tidak menunjukkan gejala awal. Pemeriksaan rutin penting untuk deteksi dini dan mencegah komplikasi.</td>
</tr>
<tr>
<td>Menghindari gula sepenuhnya bisa menyembuhkan diabetes.</td>
<td>Mengelola diabetes perlu pola makan seimbang, bukan sekadar menghindari gula. Karbohidrat kompleks, serat, dan sayuran penting bagi kontrol gula darah.</td>
</tr>
<tr>
<td>Makanan tertentu langsung menaikkan gula darah berbahaya bagi semua pasien DM.</td>
<td>Tidak semua makanan manis berbahaya. Penting memahami porsi, jenis makanan, dan aktivitas fisik untuk menjaga gula darah stabil.</td>
</tr>
<tr>
<td>Diabetes bisa menular dari orang ke orang.</td>
<td>DM bukan penyakit menular. Faktor risiko meliputi genetik, gaya hidup, dan kondisi kesehatan lain.</td>
</tr>
<tr>
<td>Hanya obat atau insulin yang penting, pola hidup tidak terlalu berpengaruh.</td>
<td>Pola hidup sehat sama pentingnya dengan obat-obatan untuk menjaga gula darah tetap stabil. Olahraga dan diet seimbang membantu pengendalian DM.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>Contoh menu sehari yang lebih bersahabat untuk gula darah</strong></p>
<p>Berikut contoh menu sehari untuk Diet DM 1500 kkal</p>
<p><img decoding="async" class="alignnone wp-image-65987 size-full" src="https://edisikini.com/wp-content/uploads/2026/06/word-image-65982-3.png-e1780628563549.webp" alt="" width="1198" height="914" srcset="https://edisikini.com/wp-content/uploads/2026/06/word-image-65982-3.png-e1780628563549.webp 1198w, https://edisikini.com/wp-content/uploads/2026/06/word-image-65982-3.png-e1780628563549-250x190.webp 250w, https://edisikini.com/wp-content/uploads/2026/06/word-image-65982-3.png-e1780628563549-768x586.webp 768w" sizes="(max-width: 1198px) 100vw, 1198px" /></p>
<p>Contoh menu di atas bukan aturan baku untuk semua orang. Kebutuhan makan dapat berbeda sesuai umur, berat badan, aktivitas, obat yang digunakan, kadar gula darah, penyakit penyerta, dan arahan ahli gizi atau dokter. Karena itu, orang dengan diabetes tetap dianjurkan berkonsultasi bila ingin mengubah pola makan secara besar, terutama jika menggunakan insulin atau obat penurun gula darah.</p>
<p><strong>Cara mulai tanpa merasa tersiksa</strong></p>
<ol>
<li>Kurangi minuman manis secara bertahap. Misalnya dari dua gelas sehari menjadi satu gelas, lalu ganti dengan teh tawar atau air putih.</li>
<li>Jangan langsung menghapus semua nasi. Mulai dari mengurangi porsi dan menambah sayur serta protein.</li>
<li>Biasakan membaca label makanan: perhatikan gula, karbohidrat total, lemak jenuh, dan natrium.</li>
<li>Pilih cara masak yang lebih ramah tubuh: rebus, kukus, pepes, panggang, atau tumis dengan sedikit minyak.</li>
<li>Siapkan camilan yang jelas porsinya agar tidak “ngemil tanpa sadar”.</li>
<li>Cek gula darah sesuai anjuran tenaga kesehatan agar perubahan pola makan bisa dipantau hasilnya.</li>
<li>Tetap bergerak. Aktivitas fisik teratur membantu tubuh menggunakan glukosa dengan lebih baik.</li>
</ol>
<p><strong>Kesimpulan: diet DM itu tentang kendali, bukan larangan total</strong></p>
<p>Diet DM bukan program makan ekstrem yang membuat hidup terasa penuh pantangan, bukan hukuman dan bukan berarti semua makanan favorit harus hilang. Tujuan diet DM bukan hanya membuat angka gula darah terlihat baik saat diperiksa. Tujuan yang lebih penting adalah menjaga tubuh tetap bertenaga, mencegah komplikasi, dan membantu penyandang diabetes tetap menjalani hidup dengan sehat, aktif, dan produktif.</p>
<p>Mari kita fokus pada solusinya! Kuncinya adalah mengatur jumlah, memilih jenis makanan yang lebih tepat, dan menjaga jadwal makan agar gula darah lebih stabil. Diet DM adalah cara menata piring dan kebiasaan makan agar gula darah lebih terkendali. Perubahan kecil seperti mengurangi minuman manis, menambah sayur, memilih protein sehat, mengatur porsi karbohidrat, dan makan lebih teratur bisa memberi dampak besar bila dilakukan konsisten.</p>
<table>
<tbody>
<tr>
<td><strong>Catatan penting</strong></p>
<p>Artikel ini bersifat edukasi umum dan tidak menggantikan pemeriksaan, diagnosis, atau terapi dari dokter, ahli gizi, atau tenaga kesehatan lain. Bila memiliki diabetes, memakai insulin, sedang hamil, memiliki penyakit ginjal, atau sering mengalami gula darah rendah, pola makan perlu disesuaikan secara individual. Rutinlah cek gula darah ke fasilitas kesehatan terdekat anda.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>Sumber data dan rujukan</strong></p>
<ul>
<li>International Diabetes Federation. (2025). Indonesia Diabetes Country Report 2000-2050. <a href="https://diabetesatlas.org/data-by-location/country/indonesia/" target="_blank" rel="noopener">https://diabetesatlas.org/data-by-location/country/indonesia/</a></li>
<li>Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Mengenal Diet Diabetes Mellitus. <a href="https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/3810/mengenal-diet-diabetes-mellitus" target="_blank" rel="noopener">https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/3810/mengenal-diet-diabetes-mellitus</a></li>
<li>Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Survei Kesehatan Indonesia Tahun 2023. <a href="https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/hasil-ski-2023/" target="_blank" rel="noopener">https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/hasil-ski-2023/</a></li>
<li>Perkumpulan Endokrinologi Indonesia/PERKENI. (2024). Pedoman Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 Dewasa di Indonesia. <a href="https://pbperkeni.or.id/unduhan" target="_blank" rel="noopener">https://pbperkeni.or.id/unduhan</a></li>
<li>American Diabetes Association Professional Practice Committee. (2026). Standards of Care in Diabetes. <a href="https://professional.diabetes.org/standards-of-care" target="_blank" rel="noopener">https://professional.diabetes.org/standards-of-care</a></li>
<li>American Diabetes Association. (2026). Eating Well and Managing Diabetes &#8211; Diabetes Plate Method. <a href="https://diabetes.org/food-nutrition/eating-healthy" target="_blank" rel="noopener">https://diabetes.org/food-nutrition/eating-healthy</a></li>
</ul>
<div class="custom-author-box">
<div class="author-avatar"><img decoding="async" src="https://ui-avatars.com/api/?name=P+N&amp;background=0D8ABC&amp;color=fff&amp;size=150" alt="Firman Setiawan" /></div>
<div class="author-info">
<h4 class="author-name">Penulis: Putri Nurhanifah</h4>
<p class="author-bio">Mahasiswa Profesi Dietisien Universitas Esa Unggul</p>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://edisikini.com/wp-content/uploads/2026/06/word-image-65982-1.png.webp" medium="image"></media:content>
            	</item>
	</channel>
</rss>
