<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-2036994941929057047</atom:id><lastBuildDate>Sun, 04 May 2025 18:20:42 +0000</lastBuildDate><category>Mabhats</category><category>Piqih</category><category>Aqidah</category><category>Manhaj</category><category>Piqih Shalat</category><category>Fatwa</category><category>Firaq</category><category>Piqih Niat</category><category>Dzikir</category><category>Piqih Do&#39;a</category><category>Piqih Thaharah</category><category>Tauhid</category><title>ETALASE SUNNAH</title><description>Media Berbagi Ilmu Tentang Islam Diatas Al-qur&#39;an dan As-sunnah Yang Shahih</description><link>http://etalasesunnah.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (abufawwaz)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>24</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2036994941929057047.post-8321150958595939929</guid><pubDate>Fri, 14 May 2010 04:21:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-05-14T11:21:44.053+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Mabhats</category><title>Peristiwa Karbala dalam Pandangan Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah</title><description>Ustadz Abdul-Hakim bin Amir Abdat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bismillhirrohmanirrohim&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Urgensi Sanad&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Syaikhul-Islam rahimahullah mengatakan dalam kitab Aqidah al-Wasithiyyah: “Ahlus-Sunnah menahan lidah dari permasalahan atau pertikaian yang terjadi diantara para Sahabat radhiyallahu ‘anhum. Dan mereka juga mengatakan: ‘Sesungguhnya riwayat-riwayat yang dibawakan dan sampai kepada kita tentang keburukan-keburukan para Sahabat radhiyallahu ‘anhum (pertikaian atau peperangan) ada yang dusta dan ada juga yang ditambah, dikurangi dan dirubah dari aslinya (serta ada pula yang shahih-pen). Riwayat yang shahih menyatakan, bahwa para Sahabat radhiyallahu ‘anhum ini ma’dzûrûn (orang-orang yang diberi udzur). Baik dikatakan karena mereka itu para mujtahid yang melakukan ijtihad dengan benar ataupun juga para mujtahid yang ijtihadnya keliru.’”1&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah memposisikan riwayat-riwayat ini. Ketiga riwayat ini bertebaran dalam kitab-kitab tarikh (sejarah). Dan ini mencakup semua kejadian dalam sejarah Islam, termasuk kisah pembunuhan Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma di Karbala. Sebagian besar riwayat tentang peristiwa menyedihkan ini adalah kebohongan belaka. Sebagian lagi dha’if dan ada juga yang shahih. Riwayat yang dinyatakan shahih oleh para ulama ahli hadits yang bersesuaian dengan kaidah ilmiah dalam ilmu hadits, (maka) inilah yang wajib dijadikan pedoman dalam mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Dari sini, kita dapat memahami betapa sanad itu sangat penting untuk membungkam para pendusta dan membongkar niat busuk mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sufyan ats-Tsauri rahimahullah mengatakan; “Sanad itu senjata kaum Muslimin, jika dia tidak memiliki senjata lalu apa yang dia pergunakan dalam berperang?” Perkataan ini diriwayatkan oleh al-Hâkim dalam kitab al-Madkhal.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;‘Abdullah bin Mubârak rahimahullah mengatakan; “Sanad ini termasuk bagian dari agama. kalau tidak ada isnad, maka siapapun bisa berbicara semaunya.” Perkataan ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqaddimah kitab Shahih Beliau rahimahullah.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Di tempat yang sama, Imam Muslim rahimahullah juga membawakan perkataan Ibnu Sîrin; “Dahulu, mereka tidak pernah bertanya tentang sanad. Ketika fitnah mulai banyak, mereka mengatakan; ‘Sebutkanlah nama orang-orangmu yang meriwayatkannya!’”&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Kronologi Terbunuhnya Husain radhiyallahu ‘anhu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Berkait dengan peristiwa Karbala, Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan; “Orang-orang yang meriwayatkan pertikaian Husain radhiyallahu ‘anhu telah memberikan tambahan dusta yang sangat banyak, sebagaimana juga mereka telah membubuhkan dusta pada peristiwa pembunuhan terhadap ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana mereka juga memberikan tambahan cerita (dusta) pada peristiwa-peristiwa yang ingin mereka besar-besarkan, seperti dalam riwayat mengenai peperangan, kemenangan dan lain sebagainya. Para penulis tentang berita pembunuhan Husain radhiyallahu ‘anhu, ada diantara mereka yang merupakan ahli ilmu (ulama) seperti al-Baghawi rahimahullah dan Ibnu Abi Dun-ya dan lain sebagainya. Namun demikian, diantara riwayat yang mereka bawakan ada yang terputus sanadnya. Sedangkan yang membawakan cerita tentang peristiwa ini dengan tanpa sanad, kedustaannya sangat banyak.”2&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Oleh karenanya, dalam pembahasan tentang peristiwa ini perlu diperhatikan sanadnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Riwayat Shahih tentang Peristiwa Karbala&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Riwayat yang paling shahih ini dibawakan oleh Imam al-Bukhâri, nomor 3748:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Aku diberitahu oleh Muhammad bin Husain bin Ibrâhîm, dia mengatakan; aku diberitahu oleh Husain bin Muhammad, kami diberitahu oleh Jarîr dari Muhammad dari Anas bin Mâlik radhiyallahu ‘anhu, dia mengatakan; ‘Kepala Husain dibawa dan didatangkan kepada ‘Ubaidullah bin Ziyâd3. Kepala itu ditaruh di bejana. Lalu ‘Ubaidullah bin Ziyâd menusuk-nusuk (dengan pedangnya) seraya berkomentar sedikit tentang ketampanan Husain. Anas radhiyallahu ‘anhu mengatakan; ‘Diantara Ahlul-Bait, Husain adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Saat itu, Husain radhiyallahu ‘anhu disemir rambutnya dengan wasmah (tumbuhan, sejenis pacar yang condong ke warna hitam).’”&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kisahnya, Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma tinggal di Makkah bersama beberapa Shahabat, seperti Ibnu ‘Abbâs dan Ibnu Zubair radhiyallahu ‘anhuma. Ketika Muawiyah radhiyallahu ‘anhu meninggal dunia pada tahun 60 H, anak Beliau Yazîd bin Muâwiyah menggantikannya sebagai imam kaum Muslimin atau khalifah. Saat itu, penduduk Irak yang didominasi oleh pengikut ‘Ali radhiyallahu ‘anhu menulis surat kepada Husain radhiyallahu ‘anhu meminta Beliau radhiyallahu ‘anhu pindah ke Irak. Mereka berjanji akan membai’at Husain radhiyallahu ‘anhu sebagai khalifah karena mereka tidak menginginkan Yazîd bin Muâwiyah menduduki jabatan khalifah. Tidak cukup dengan surat, mereka terkadang mendatangi Husain radhiyallahu ‘anhu di Makkah, mengajak Beliau radhiyallahu ‘anhu berangkat ke Kufah dan berjanji akan menyediakan pasukan. Para Sahabat seperti Ibnu Abbâs radhiyallahu ‘anhuma kerap kali menasehati Husain radhiyallahu ‘anhu agar tidak memenuhi keinginan mereka, karena ayah Husain radhiyallahu ‘anhu, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, dibunuh di Kufah dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu khawatir mereka membunuh Husain radhiyallahu ‘anhu juga disana. Husain radhiyallahu ‘anhu mengatakan; “Saya sudah melakukan istikharah dan akan berangkat kesana.”&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sebagian riwayat menyatakan bahwa Beliau radhiyallahu ‘anhu mengambil keputusan ini karena belum mendengar kabar tentang sepupunya, Muslim bin ‘Aqil, yang telah dibunuh disana. Akhirnya, berangkatlah Husain radhiyallahu ‘anhu bersama keluarga menuju Kufah.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sementara di pihak yang lain, ‘Ubaidullah bin Ziyâd diutus oleh Yazid bin Muawiyah untuk mengatasi pergolakan di Irak. Akhirnya, ‘Ubaidullah dengan pasukannya berhadapan dengan Husain radhiyallahu ‘anhu bersama keluarganya yang sedang dalam perjalanan menuju Irak. Pergolakan ini sendiri dipicu oleh orang-orang yang ingin memanfaatkan Husain radhiyallahu ‘anhu. Dua pasukan yang sangat tidak imbang ini bertemu, sementara orang-orang Irak yang (telah) membujuk Husain radhiyallahu ‘anhu, dan berjanji akan membantu dan menyiapkan pasukan justru melarikan diri meninggalkan Husain radhiyallahu ‘anhu dan keluarganya berhadapan dengan pasukan ‘Ubaidullah. Sampai akhirnya, terbunuhlah Husain radhiyallahu ‘anhu sebagai orang yang terzhalimi dan sebagai syahid. Kepalanya dipenggal lalu dibawa ke hadapan ‘Ubaidullah bin Ziyâd dan kepala itu diletakkan di bejana.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Lalu ‘Ubaidullah yang durhaka4 ini kemudian menusuk-nusuk hidung, mulut dan gigi Husain radhiyallahu ‘anhu, padahal disitu ada Anas bin Mâlik, Zaid bin Arqam dan Abu Barzah al-Aslami radhiyallahu ‘anhuma. Anas radhiyallahu ‘anhu mengatakan; “Singkirkan pedangmu dari mulut itu, karena aku pernah melihat mulut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium mulut itu!” Mendengarnya, orang durhaka ini mengatakan; “Seandainya saya tidak melihatmu sudah tua renta yang akalnya sudah rusak, maka pasti kepalamu saya penggal.”&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Dalam riwayat at-Tirmidzi dan Ibnu Hibbân dari Hafshah binti Sirîn dari Anas radhiyallahu ‘anhu dinyatakan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Lalu ‘Ubaidullah mulai menusukkan pedangnya ke hidung Husain radhiyallahu ‘anhu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam riwayat ath-Thabrâni rahimahullah dari hadits Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Lalu dia mulai menusukkan pedang yang di tangannya ke mata dan hidung Husain radhiyallahu ‘anhu. Aku (Zaid bin Arqam) mengatakan; ‘Angkat pedangmu, sungguh aku pernah melihat mulut Rasulullah (mencium) tempat itu.’”&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Demkian juga riwayat yang disampaikan lewat jalur Anas bin Mâlik radhiyallahu ‘anhu:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Aku (Anas bin Malik) mengatakan kepadanya; ‘Sungguh aku telah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium tempat dimana engkau menaruh pedangmu itu.’ Lalu Ubaidullah mengangkat pedangnya.”&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Demikianlah kejadiannya, setelah Husain radhiyallahu ‘anhu terbunuh, kepala Beliau radhiyallahu ‘anhu dipenggal dan ditaruh di bejana. Dan mata, hidung dan gigi Beliau radhiyallahu ‘anhu ditusuk-tusuk dengan pedang. Para Sahabat radhiyallahu ‘anhuma yang menyaksikan hal ini meminta kepada ‘Ubaidullah, orang durhaka ini, agar menyingkirkan pedang itu, karena mulut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menempel (di) tempat itu. Alangkah tinggi rasa hormat mereka kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan alangkah sedih hati mereka menyaksikan cucu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang kesayangan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dihinakan di depan mata mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dari sini, kita mengetahui betapa banyak riwayat palsu tentang peristiwa ini yang menyatakan bahwa kepala Husain radhiyallahu ‘anhu diarak sampai diletakkan di depan Yazid rahimahullah. Para wanita dari keluarga Husain radhiyallahu ‘anhu dikelilingkan ke seluruh negeri dengan kendaaraan tanpa pelana, ditawan dan dirampas. Semua ini merupakan kepalsuan yang dibuat Rafidhah (Syiah). Karena Yazid rahimahullah saat itu sedang berada di Syam, sementara kejadian memilukan ini berlangsung di Irak.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Syaikhul-Islam Taimiyyah rahimahullah mengatakan; “Dalam riwayat dengan sanad yang majhul dinyatakan bahwa peristiwa penusukan ini terjadi di hadapan Yazid, kepala Husain radhiyallahu ‘anhu dibawa ke hadapannya dan dialah yang menusuk-nusuknya, gigi Husain radhiyallahu ‘anhu. Disamping dalam cerita (dusta) ini terdapat isyarat yang menunjukkan bahwa cerita ini bohong, maka (untuk diketahui juga-red) para Sahabat yang menyaksikan peristiwa penusukan ini tidak berada di Syam, akan tetapi di negeri Irak. Justru sebaliknya, riwayat yang dibawakan oleh beberapa orang menyebutkan bahwa Yazid tidak memerintahkan ‘Ubaidullah untuk membunuh Husain.”5&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Yazid rahimahullah sangat menyesalkan terjadinya peristiwa menyedihkan itu. Karena Mu’awiyah berpesan agar berbuat baik kepada kerabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka, saat mendengar kabar bahwa Husain dibunuh, mereka sekeluarga menangis dan melaknat ‘Ubaidullah. Hanya saja dia tidak menghukum dan meng-qishash ‘Ubaidullah, sebagai wujud pembelaan terhadap Husain secara tegas.6&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jadi memang benar, Husain radhiyallahu ‘anhu dibunuh dan kepalanya dipotong, tapi cerita tentang kepalanya diarak, wanita-wanita dinaikkan kendaraan tanpa pelana dan dirampas, semuanya dha’if (lemah). Alangkah banyak riwayat dha’if serta dusta seputar kejadian menyedihkan ini sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah diatas.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kemudian juga, kisah pertumpahan darah yang terjadi di Karbala ditulis dan diberi tambahan-tambahan dusta. Tambahan-tambahan dusta ini bertujuan untuk menimbulkan dan memunculkan fitnah perpecahan di tengah kaum Muslimin. Sebagian dari kisah-kisah dusta itu bisa kita dapatkan dalam kitab Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Minhâjus-Sunnah IV/517 dan 554, 556:&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;• Ketika hari pembunuhan terhadap Husain radhiyallahu ‘anhu, langit menurunkan hujan darah lalu menempel di pakaian dan tidak pernah hilang dan langit nampak berwarna merah yang tidak pernah terlihat sebelum itu.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;• Tidak diangkat sebuah batu melainkan di bawahnya terdapat darah penyembelihan Husain radhiyallahu anhu.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;• Kemudian mereka juga menisbatkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebuah perkataan yang berbunyi:“Mereka ini adalah titipanku pada kalian, kemudian Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat; ‘Katakanlah: ‘Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.” (QS. asy Syûrâ : 42-23)”Riwayat ini dibantah oleh para ulama diantaranya Ibnu Taimiyyah rahimahullah dengan mengatakan; “Apa masuk di akal, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menitipkan kepada makhluk padahal Allah ‘Azza wa Jalla tempat penitip yang terbaik? Sedangkan ayat diatas yang mereka anggap diturunkan Allah ‘Azza wa Jalla berkenaan dengan peristiwa pembunuhan Husain radhiyallahu ‘anhu, maka ini juga merupakan satu bentuk kebohongan. Karena ayat ini terdapat dalam surat as-Syûrâ dan surat ini Makkiyah. Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan surat ini sebelum Ali radhiyallahu ‘anhu dan Fathimah radhiyallahu anha menikah.”&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Husain radhiyallahu ‘anhu Terbunuh sebagai Orang yang Terzhalimi dan Mati Syahid&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ini merupakan keyakinan Ahlus-Sunnah. Pendapat ini berada diantara dua pendapat yang saling berlawanan. Syaikhul-Islam rahimahullah mengatakan; “Tidak disangsikan lagi bahwa Husain radhiyallahu ‘anhuma terbunuh dalam keadaan terzhalimi dan syahid. Pembunuhan terhadap Husain radhiyallahu ‘anhu merupakan tindakan maksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari para pelaku pembunuhan dan orang-orang yang membantu pembunuhan ini. Di sisi lain, merupakan musibah yang menimpa kaum Muslimin, keluarga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang lainnya. Husain radhiyallahu ‘anhu berhak mendapatkan gelar syahid, kedudukan dan derajat ditinggikan.”7&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kemudian, di halaman yang sama, Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan bahwa pembunuhan terhadap Husain radhiyallahu ‘anhu tidak lebih besar daripada pembunuhan terhadap para Rasul. Allah ‘Azza wa Jalla telah memberitahukan bahwa Bani Isra’il telah membunuh para Nabi tanpa alasan yang benar. Pembunuhan terhadap para Nabi itu lebih besar dosanya dan merupakan musibah yang lebih dahsyat. Begitu pula pembunuhan terhadap ‘Ali radhiyallahu ‘anhu (bapak Husain radhiyallahu ‘anhuma) lebih besar dosa dan musibahnya, termasuk pembunuhan terhadap ‘Utsman radhiyallahu ‘anhu juga.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ini merupakan bantahan telak bagi kaum Syi’ah yang meratapi kematian Husain radhiyallahu ‘anhu, namun, tidak meratapi kematian para Nabi. Padahal pembunuhan yang dilakukan oleh Bani Isra’il terhadap para Nabi tanpa alasan yang benar lebih besar dosa dan musibahnya. Ini juga menunjukkan bahwa mereka bersikap ghuluw (melampau batas) kepada Husain radhiyallahu ‘anhu.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sikap ghuluw ini mendorong mereka membuat berbagai hadits palsu. Misalnya, riwayat yang menerangkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, pembunuh Husain radhiyallahu ‘anhu akan berada di tabut (peti yang terbuat dari api), dia mendapatkan siksa setengah siksa penghuni neraka, kedua tangan dan kakinya diikat dengan rantai dari api neraka, ditelungkupkan sampai masuk ke dasar neraka dan dalam keadaan berbau busuk, penduduk neraka berlindung dari bau busuk yang keluar dari orang tersebut dan dia kekal di dalamnya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Syaikhul-Islam Ibnu Tamiyyah rahimahullah mengomentari riwayat ini dengan mengatakan; “Hadits ini termasuk diantara riwayat yang berasal dari para pendusta.”&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Menyikapi Peristiwa Karbala&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Menyikapi peristiwa wafatnya Husain radhiyallahu ‘anhu, umat manusia terbagi menjadi tiga golongan. Syaikhul-Islam rahimahullah mengatakan; “Dalam menyikapi peristiwa pembunuhan Husain radhiyallahu ‘anhu, manusia terbagi menjadi tiga, dua golongan yang ekstrim dan satu berada di tengah-tengah.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Golongan Pertama: Mengatakan bahwa pembunuhan terhadap Husain radhiyallahu ‘anhu itu merupakan tindakan benar. Karena Husain radhiyallahu ‘anhu ingin memecah-belah kaum Muslimin. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Jika ada orang yang mendatangi kalian dalam keadaan urusan kalian berada dalam satu pemimpin lalu pendatang hendak memecah-belah jama’ah kalian, maka bunuhlah dia.”8&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kelompok pertama ini mengatakan bahwa Husain radhiyallahu ‘anhu datang saat urusan kaum Muslimin berada dibawah satu pemimpin (yaitu Yazid bin Muawiyah) dan Husain radhiyallahu ‘anhu hendak memecah-belah umat.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sebagian lagi mengatakan bahwa Husain radhiyallahu ‘anhu merupakan orang pertama yang memberontak kepada penguasa. Kelompok ini melampaui batas, sampai berani menghinakan Husain radhiyallahu ‘anhu. Inilah kelompok ‘Ubaidullah bin Ziyâd, Hajjâj bin Yusûf dan lain-lain. Sedangkan Yazid bin Muâwiyah rahimahullah tidak seperti itu. Meskipun tidak menghukum ‘Ubaidullah, namun ia tidak menghendaki pembunuhan ini.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Golongan Kedua: Mereka mengatakan Husain radhiyallahu ‘anhu adalah imam yang wajib ditaati; tidak boleh menjalankan suatu perintah kecuali dengan perintahnya; tidak boleh melakukan shalat jama’ah kecuali dibelakangnya atau orang yang ditunjuknya, baik shalat lima waktu ataupun shalat Jum’at dan tidak boleh berjihad melawan musuh kecuali dengan izinnya dan lain sebagainya.9&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kelompok pertama dan kedua ini berkumpul di Irak. Hajjâj bin Yûsuf adalah pemimpin golongan pertama. Ia sangat benci kepada Husain radhiyallahu ‘anhu dan merupakan sosok yang zhalim. Sementara kelompok kedua dipimpin oleh Mukhtâr bin Abi ‘Ubaid yang mengaku mendapat wahyu dan sangat fanatik dengan Husain radhiyallahu ‘anhu. Orang inilah yang memerintahkan pasukannya agar menyerang dan membunuh ‘Ubaidullah bin Ziyad dan memenggal kepalanya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Golongan Ketiga: Yaitu Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah yang tidak sejalan dengan pendapat golongan pertama, juga tidak dengan pendapat golongan kedua. Mereka mengatakan bahwa Husain radhiyallahu ‘anhu terbunuh dalam keadaan terzhalimi dan mati syahid. Inilah keyakinan Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah, yang selalu berada ditengah antara dua kelompok.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ahlus-Sunnah mengatakan Husain radhiyallahu ‘anhu bukanlah pemberontak. Sebab, kedatangannya ke Irak bukan untuk memberontak. Seandainya mau memberontak, Beliau radhiyallahu ‘anhu bisa mengerahkan penduduk Makkah dan sekitarnya yang sangat menghormati dan menghargai Beliau radhiyallahu ‘anhu. Karena, saat Beliau radhiyallahu ‘anhu di Makkah, kewibawannya mengalahkan wibawa para Sahabat lain yang masih hidup pada masa itu di Makkah. Beliau radhiyallahu ‘anhu seorang alim dan ahli ibadah. Para Sahabat sangat mencintai dan menghormatinya. Karena Beliaulah Ahli Bait yang paling besar.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jadi Husain radhiyallahu ‘anhu sama sekali bukan pemberontak. Oleh karena itu, ketika dalam perjalanannya menuju Irak dan mendengar sepupunya, Muslim bin ‘Aqîl, dibunuh di Irak, Beliau radhiyallahu ‘anhu berniat untuk kembali ke Makkah. Akan tetapi, Beliau radhiyallahu ‘anhu ditahan dan dipaksa oleh penduduk Irak untuk berhadapan dengan pasukan ‘Ubaidullah bin Ziyâd. Akhirnya, Beliau radhiyallahu ‘anhu tewas terbunuh dalam keadaan terzhalimi dan mati syahid.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Setan Menyebarkan Bid’ah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Syaikhul-Islam mengatakan10; “Dengan sebab kematian Husain radhiyallahu ‘anhu, setan memunculkan dua bid’ah di tengah manusia.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pertama: Bid’ah kesedihan dan ratapan para hari ‘Asyûra (di negeri kita ini, acara bid’ah ini sudah mulai diadakan -pen) seperti menampar-nampar, berteriak, merobek-robek, sampai-sampai mencaci-maki dan melaknat generasi Salaf, memasukkan orang-orang yang tidak berdosa ke dalam golongan orang yang berdosa (para Sahabat seperti Abu Bakar dan Umar dimasukkan, padahal mereka tidak tahu apa-apa dan tidak memiliki andil dosa sedikit pun. Pihak yang berdosa adalah yang terlibat langsung kala itu). Mereka sampai mereka berani mencaci Sâbiqûnal-awwalûn. Kemudian riwayat-riwayat tentang Husain radhiyallahu ‘anhu dibacakan yang kebanyakan merupakan kebohongan. Karena tujuan mereka adalah membuka pintu fitnah (perpecahan) di tengah umat.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kemudian Syaikhul-Islam rahimahullah juga mengatakan; “Di Kufah, saat itu terdapat kaum yang senantiasa membela Husain radhiyallahu ‘anhu yang dipimpin oleh Mukhtâr bin Abi ‘Ubaid al-Kadzdzâb (karena dia mengaku mendapatkan wahyu-pen). Di Kufah juga terdapat satu kaum yang membenci ‘Ali dan keturunan Beliau radhiyallahu ‘anhu. Di antara kelompok ini adalah Hajjâj bin Yûsuf ats-Tsaqafi. Dalam sebuah hadits shahîh dijelaskan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya);&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;“Akan ada di suku Tsaqif seorang pendusta dan perusak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Orang Syi’ah yang bernama Mukhtâr bin Abi ‘Ubaid itulah sang pendusta. Sedangkan sang perusak adalah al-Hajjaj. Yang pertama membuat bid’ah kesedihan, sementara yang kedua membuat bid’ah kesenangan. Kelompok kedua ini pun meriwayatkan hadits yang menyatakan bahwa barangsiapa melebihkan nafkah keluarganya pada hari ‘Asyûra, maka Allah ‘Azza wa Jalla melonggarkan rezekinya selama setahun itu.”&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Juga hadits “barangsiapa memakai celak pada hari ‘Asyûra, maka tidak akan mengalami sakit mata pada tahun itu,” dan lain sebagainya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kedua: Bid’ah yang kedua adalah bid’ah kesenangan pada hari ‘Asyura. Karena itu, para khatib yang sering membawakan riwayat ini -karena ketidak-tahuannya tentang ilmu riwayat atau sejarah-, sebenarnya secara tidak langsung, masuk ke dalam kelompok al-Hajjâj, kelompok yang sangat membenci Husain radhiyallahu ‘anhu. Padahal wajib bagi kita meyakini bahwa Husain radhiyallahu ‘anhu terbunuh dalam keadaan terzhalimi dan mati syahid. Dan wajib bagi kita mencintai Sahabat yang mulia ini dengan tanpa melampaui batas dan tanpa mengurangi haknya, tidak mengatakan Husain radhiyallahu ‘anhu seorang Imam yang maksum (terbebas dari semua kesalahan), tidak pula mengatakan bahwa pembunuhan terhadap Husain radhiyallahu ‘anhu itu adalah tindakan yang benar. Pembunuhan terhadap Husain radhiyallahu ‘anhu adalah tindakan maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Itulah sekilas mengenai beberapa permasalahan yang berhubungan dengan peristiwa pembunuhan Husain radhiyallahu ‘anhu. Semoga bermanfaat dan memberikan pencerahan. Kita memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar menghindarkan kita semua dari berbagai fitnah yang disebarkan oleh setan dan para tentaranya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Wallahua&#39;alam&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Catatan Kaki:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Syarhu al-’Aqidah al-Wâsithiyyah, Syaikh Shalih al-Fauzan, halaman198.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Minhâjus-Sunnah, IV/556.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Komandan pasukan yang memerangi Husain radhiyallahu ‘anhu, pada tahun 60-61 H di Irak di sebuah daerah yang bernama Karbala.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ia disebut orang durhaka, karena dia tidak diperintah untuk membunuh Husain radhiyallahu ‘anhu, namun melakukannya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Minhâjus-Sunnah, IV/557.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Lihat Minhâjus-Sunnah, V/557-558.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Minhâjus-Sunnah, IV/550.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;HR. Muslim, Kitabul-Imârah.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Minhâjus-Sunnah, IV/553.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Minhâjus-Sunnah, IV/554.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://etalasesunnah.blogspot.com/2010/05/peristiwa-karbala-dalam-pandangan-ahlus.html</link><author>noreply@blogger.com (abufawwaz)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2036994941929057047.post-8047266745346933891</guid><pubDate>Fri, 14 May 2010 04:09:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-05-14T11:09:16.335+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Piqih</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Piqih Shalat</category><title>Kesalahan Sekitar Shalat</title><description>Syaikh Shalih bin Abdul-Aziz Alu Syaikh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bismillahirrohanirrohim&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bangunan masjid kini banyak tersebar di berbagai daerah, dengan bangunan cantik nan megah. tapi kalau diamati ternyata banyak masjid yang tidak dipenuhi jamaah shalat. Ada yang hanya terisi hampir satu shaf, bahkan ada yang menjadi imam setelah sebelumnya adzan dan iqamah, alias tidak ada teman. Sepi…&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Shalat ternyata telah banyak dilalaikan, terutama shalat berjamaah di masjid. Padahal hampir semua tahu bahwa shalat adalah amal pertama yang dihisab Allah. Jika shalat seseorang baik, akan baik pula seluruh amalnya. Demikian sebaliknya. Tetapi ironinya, banyak umat Islam yang melalaikan urusan shalat.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Berikut adalah bentuk kelalaian tentang shalat yang dilakukan oleh sebagian (besar?) kaum Muslimin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;1. Meninggalkan shalat sama sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ini adalah suatu kekufuran1 berdasarkan al-Qur&#39;an, as- Sunnah, dan ijma&#39;. Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala berfirman (yang artinya);&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“&#39;Apakah yang membuat kalian masuk ke dalam Neraka Saqar?&#39; Mereka menjawab; &#39;(Karena) kami dulu tidak termasuk orang-orang yang mendirikan shalat.&#39;” (QS. al-Muddatstsir [74] : 42-43)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda, artinya; “Perjanjian antara kami dengan mereka adalah shalat, barangsiapa meninggalkannya maka ia telah kafir.” (HR. Ahmad dan lainnya, shahih)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Adapun dalil dari ijma&#39; adalah ucapan &#39;Abdullah bin Syaqiq; “Para sahabat Muhammad Shallallahu &#39;alaihi wa sallam tidak berpendapat ada suatu amalan yang jika diting galkan menjadikan kufur kecuali masalah shalat.” (Diriwayatkan at-Tirmidzi dan lainnya dengan sanad shahih)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;2. Mengakhirkan shalat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebiasaan ini bertentangan dengan firman Allah &#39;Azza wa Jalla (yang artinya);&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Sesungguhnya shalat itu wajib atas orang-orang beriman pada waktu yang telah ditentukan.” (QS. an-Nisa&#39; [4] :103)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Karena itu, mengakhirkan shalat tanpa udzur yang dibolehkan syara&#39; adalah dosa besar. Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda (yang artinya);&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Itu adalah shalat orang munafik. Ia duduk menunggu matahari, sampai jika matahari telah berada di antara dua tanduk setan (hendak tenggelam) ia berdiri dan menukik empat rakaat, sedang ia tidak mengingat Allah di dalamnya kecuali sedikit.” (HR. Muslim)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;3. Meninggalkan shalat berjamaah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Shalat berjamaah menurut pilihan pendapat yang kuat adalah wajib, ke cuali bagi orang yang memiliki udzur yang dibolehkan syara&#39;. Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda (yang artinya);&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Siapa yang mendengarkan seruan adzan tetapi tidak memenuhinya maka tidak ada shalat baginya, kecu ali karena udzur.” (HR. Ibnu Majah dan lainnya dengan sanad kuat)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Allah &#39;Azza wa Jalla berfirman (yang artinya);&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.” (QS. al-Baqarah [2] : 43)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda (yang artinya);&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Kemudian aku mengutus (utusan kepada orang-orang yang tidak shalat berjamaah, sehingga aku bakar rumah-rumah mereka.” (Muttafaq &#39;alaih)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sangat bagus dan mencukupi ki ranya bagi yang menginginkan syi&#39;ar Islam memulainya dengan melaku kan gerakan shalat berjamaah.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;4. Tidak thumakninah dalam shalat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Thumakninah adalah rukun shalat. Shalat tidak sah jika tidak thumakninah. Thumakninah artinya, tenang ketika sedang rukuk, i&#39;tidal, sujud, dan duduk antara dua sujud. Tenang disini maksudnya tulangb-tulang kembali pada posisi dan persendiannya, tidak tergesa-gesa dalam pergantian dari satu rukun ke rukun lainnya. Demikianlah, se hingga Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam kepada orang yang tergesa-gesa dalam shalatnya dan tidak thumakninah bersabda (yang artinya);&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;“Kembali dan shalatlah, sesungguh nya engkau belum shalat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Tidak khusyuk dan banyak gerakan di luar gerakan shalat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Allah memuji orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya. Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala berfirman (yang artinya):&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;“(Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya.” (QS. al-Mukminun [23] : 2)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Karena itu, hendaknya setiap orang yang shalat, khusyuk dalam shalatnya, sehingga memperoleh pa hala yang sempurna. Baca kembali secara lebih lengkap dalam majalah Fatawa Volume III Nomor 03, Feb ruari 2007/Muharram 1428, dengan tema Shalat Khusyuk dalam rubrik Utama dan Tafsir.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;6. Mendahului atau menyelisihi imam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ini bisa mengakibatkan batalnya shalat atau rakaat. Karena itu, hen daknya makmum mengikuti imam, tidak mendahului atau terlambat, baik satu rukun atau lebih. Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda, (yang artinya);&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Sesungguhnya diadakannya imam itu untuk diikuti, karena itu jika ia bertakbir maka bertakbirlah, dan jangan kalian bertakbir sampai ia bertakbir, dan jika ia rukuk maka rukuklah dan jangan kalian rukuk sampai dia rukuk…” (HR. al-Bukhari dan Muslim)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;7. Bangun dari duduk untuk menyempurnakan rakaat sebelum imam selesai dari salam yang kedua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8. Mendongak atau menoleh ke kiri dan ke kanan ketika shalat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini telah diancam oleh Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam (yang artinya);&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Hendaklah orang-orang mau ber henti dari mendongakkan pandan gannya ke langit ketika shalat atau Allah tidak mengembalikan pandan gannya kepada mereka.” (HR. Muslim)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Adapun menoleh yang tidak diperlukan maka hal itu mengu rangi kesempurnaan shalat, dan jika sampai lurus ke arah lain akan membatalkan shalat. Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda (yang artinya);&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Jauhilah dari menoleh dalam shalat, karena sesungguhnya adalah suatu kebinasaan.” (HR. at-Tirmidzi dan dishahihkannya).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;9. Mengenakan pakaian tipis yang tidak menutupi aurat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini membatalkan shalat, karena menutup aurat merupakan syarat sahnya shalat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
10. Tidak memakai kerudung dan menutupi telapak kaki bagi wanita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Aurat wanita dalam shalat adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan (termasuk punggung nya). Ummu Salamah radhiyallahu &#39;anha ditanya tentang pakaian shalat wanita. Beliau menjawab: “Hendaknya ia shalat dengan kerudung, dan baju kurung panjang yang menutupi kedua telapak kakinya.”&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;11. Lewat di depan orang yang sedang shalat.2&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda, artinya: “Seandainya orang yang lewat di depan orang shalat itu mengetahui dosanya, tentu berhenti (menunggu) empat puluh (tahun) lebih baik bag inya daripada lewat di depannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;12. Tidak melakukan takbiratul-ihram ketika mendapati imam sedang rukuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Takbiratul-ihram adalah rukun shalat karena itu wajib dilakukan dan dalam keadaan berdiri, baru kemudian mengikuti imam yang sedang rukuk.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;13. Tidak langsung mengikuti keadaan imam ketika masuk masjid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Orang yang masuk masjid henda knya langsung mengikuti imam, baik ketika itu ia sedang duduk, sujud atau lainnya, tentunya setelah melaku kan takbiratul-ihram. Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda (yang artinya);&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;“Jika kalian datang untuk shalat dan kami sedang sujud, maka sujudlah!” (HR. Abu Dawud, shahih)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
14. Melakukan sesuatu yang melalaikannya dari shalat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ini menunjukkan bahwa dia lebih menuruti hawa nafsu daripada menaati Allah. Betapa banyak orang yang tetap sibuk dengan pekerjaan nya, menonton TV, ngobrol dan sebagainya sementara seruan adzan telah berkumandang. Padahal me lalaikan shalat dan mengingat Allah adalah suatu bencana besar. Allah berfirman (yang artinya);&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikanmu dari mengingat Allah, barangsiapa melakukan demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. al-Munafiqun [63] : 9)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;15. Memejamkan mata ketika shalat tanpa keperluan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ini adalah makruh. Ibnu Qayyim berkata; &#39;Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam tidak menconto hkan shalat dengan memejamkan mata.&#39; Akan tetapi jika memejam kan mata tersebut diperlukan mis alnya, karena di hadapannya ada gambar, motif, atau sesuatu yang menghalangi kekhusyukannya (maka hal ini) boleh dilakukan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;16. Makan atau minum dalam shalat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Perbuatan ini termasuk mem batalkan shalat. Ibnul-Mundzir ber kata; &#39;Para ahli ilmu sepakat bahwa orang yang shalat dilarang makan dan minum.&#39; Karena itu, bila masih terdapat sisa makanan di mulut, seseorang yang sedang shalat tidak boleh menelannya tetapi hendaknya mengeluarkannya dari mulutnya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;17. Tidak meluruskan dan merapatkan barisan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda (yang artinya);&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Kalian mau meluruskan barisan- barisan kalian atau Allah akan mem buat perselisihan di antara hati-hati kalian.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Adapun rapatnya barisan, seb agaimana yang dipraktekkan para sahabat adalah pundak dan telapak kaki seseorang merapat (menempel) dengan pun dak dan telapak kaki sebelahnya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;18. Imam tergesa-gesa dalam shalatnya dan tidak thumak ninah, sehingga menjadikan makmum juga tergesa-gesa, tidak thumakninah dan tidak sempat membaca surat al-Fati hah.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Setiap imam akan ditanya tentang shalatnya, dan thumakninah adalah rukun, karena itu ia (thumakninah) wajib atas imam karena dia adalah yang diikuti.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;19. Tidak memperhatikan sujud dengan tujuh anggota.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda (yang artinya);&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Kami diperintahkan untuk sujud dengan tujuh anggota; kening -beliau mengisyaratkan dengan tangannya sampai ke hidungnya-, dua tangan, dua lutut dan dua telapak kaki.” (HR. Muttafaq &#39;alaih)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;20. Membunyikan ruas jari-jari ketika shalat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ini adalah makruh. Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan; “Aku shalat di sisi Ibnu &#39;Abbas dan aku membunyikan jari-jariku. Setelah selesai shalat, ia berkata; &#39;Celaka kamu, apakah kamu membunyikan jari-ja rimu dalam keadaan shalat?&#39;”&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;21. Mempersilakan menjadi imam kepada orang yang tidak pantas menjadi imam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Imam adalah orang yang diikuti, karena itu ia harus faqih (paham dalam urusan agama) dan qari&#39; (pandai membaca al-Qur&#39;an). Para ulama menetapkan, tidak boleh di persilakan menjadi imam orang yang tidak baik bacaan al-Qur&#39;annya, atau yang dikenal dengan kemaksiatannya (fasiq), meskipun shalat bersama imam semacam ini tetap sah.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;22. Membaca al-Qur&#39;an secara tidak baik dan benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ini adalah kekurangan yang nya ta. Karena itu, setiap Muslim harus berusaha untuk membaca al-Qur&#39;an, terutama dalam shalatnya dengan baik dan benar. Allah berfirman (yang artinya);&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;“Dan bacalah al-Qur&#39;an itu dengan tartil.” (QS. al-Muzzammil [73] : 4)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
23. Wanita pergi ke masjid den gan perhiasan dan wewangian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ini adalah kemungkaran yang tampak nyata baik di bulan Ramad han atau di waktu lainnya. Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda (yang artinya);&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&quot;Jangan melarang wanita-wanita pergi ke masjid, dan hendaknya mereka keluar dalam keadaan tidak berhias dan memakai wewangian.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, shahih)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sumber: al-Minzhar fi Bayani Kat sirin minal-Akhtha&#39; al-Sya&#39;iah, Shalih bin Abdul-Aziz Alu Syaikh, Redaksi Majalah Fatawa, http://ahlussunnah.info&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
[ Redaksi ]&lt;br /&gt;
Catatan Kaki:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;1. Kufur adalah sifatnya, sedangkan orangnya disebut kafir. Kufur ada dua macam, kufur &#39;amal (perbuatan) dan kufur juhud (ingkar). Kufur juhud adalah mengingkari apa yang dia tahu dikarenakan memang menentang dan ingkar (menolak). Berdasarkan pendapat yang lebih kuat, orang yang meninggalkan shalat karena malas maka dia telah kufur berupa kufur &#39;amali (perbuatan) dan orang yang meninggalkannya karena menentang maka dia kafir keluar dari Islam (millah).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Namun daripada itu, meskipun orang yang meninggalkan shalat karena malas tidak dihukumi sebagai kufur juhud dan hanya tersemat pada dirinya kufur &#39;amali, perkara yang ia hadapi adalah bukan suatu perkara yang ringan, karena meninggalkan shalat adalah suatu dosa yang besar, dan tidak akan selamat seseorang yang telah Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam sebut sebagai kafir. Kami berlindung kepada Allah dari hal yang demikian. (ahlussunnah.info)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;2. Termasuk kesalahan dalam hal ini adalah tidak meletakkan pembatas (sutrah) di depannya ketika sedang shalat, atau shalat di suatu tempat dimana orang-orang bodoh yang tidak tahu mengenai dosanya lewat di depan orang yang sedang shalat dapat dengan leluasa berjalan lalu-lalang di depannya. (ahlussunnah.info)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://etalasesunnah.blogspot.com/2010/05/kesalahan-sekitar-shalat.html</link><author>noreply@blogger.com (abufawwaz)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2036994941929057047.post-1869942081981680092</guid><pubDate>Fri, 14 May 2010 03:55:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-05-14T10:55:48.639+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Manhaj</category><title>Rujuk kepada Petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam</title><description>Bismillahirrohmanirrohim&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Para imam banyak menulis kitab untuk menuangkan pendapatnya tentang berbagai hal. Dalam perkembangannya pendapat-pendapat tersebut membentuk berbagai madzhab, diantaranya adalah 4 (empat) madzhab yang terkenal di Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sayang, banyak yang kemudian terjerumus pada sikap fanatik madzhab, seakan-akan pendapat imam adalah sebuah aksioma agama yang tidak bisa diutak-atik. Sementara para imam tidak pernah menyarankan sikap demikian. Justru para imam tersebut memberikan contoh yang sebaliknya, agar umat Islam selalu mengembalikan pendapat pada petunjuk Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Berikut perkataan (qaul) mereka.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;Abu Hanifah rahimahullah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Qaul 1: “Apabila aku mengeluarkan suatu pendapat yang bertentangan dengan al-Qur&#39;an dan as-Sunnah, maka tinggalkanlah pendapatku itu.”1&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Perkataan ini diulas oleh as-Syuhnah dalam kitabnya Syarh al-Hidayah; “Apabila suatu hadits shahih bertentangan dengan madzhab, maka hadits itulah yang mesti diamalkan. Demikian inilah pendapat madzhab Abu Hanifah, jadi para pengikut madzhab tidaklah dikatakan keluar dari garis pengikut Hanafi disebabkan mengamalkan hadits tersebut.”&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Qaul 2: “Apabila hadits itu shahih, itulah madzhabku.”2&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malik bin Anas rahimahullah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Qaul 1: “Aku hanyalah manusia biasa yang pendapatku bisa benar dan bisa salah. Karena itu telitilah pendapat yang aku kemukakan. Semua pendapat yang selaras dengan al-Qur&#39;an dan as-Sunnah ambillah, jika tidak selaras tinggalkanlah.”3&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Qaul 2: “Semua perkataan manusia sama, bisa diterima atau ditolak, kecuali perkataan Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam.”4&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Al-Imam asy-Syafi&#39;i rahimahullah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Qaul 1: “Suatu sunnah Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam mungkin sampai pada seseorang atau tidak. Jadi kalau aku pernah berpendapat atau merumuskan suatu prinsip ternyata ada hadits yang sah dari Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam menyatakan sebaliknya, maka pendapat yang betul adalah yang Nabi katakan dan aku pun berpendapat dengannya.”5&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Qaul 2: “Setiap hadits yang sah dari Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam akan menjadi pendapatku walaupun sebelumnya kamu tidak pernah mendengarnya dariku.”6&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Qaul 3: “Apabila kamu mendapati dalam kitabku sesuatu yang bertentangan dengan hadits Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam, maka berpeganglah kepada hadits tersebut dan tinggalkan pendapatku (atau tulisanku).”7&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Qaul 4: “Pertama, suatu berita yang berasal dari Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam wajib diterima. Kedua, berita atau hadits tersebut wajib diterima jika telah terbukti sah, walaupun para imam belum ada yang mengamalkan atau mengajarkannya. Hal ini menunjukkan bahwa pendapat seorang imam harus ditinggalkan jika bertentangan dengan hadits Nabi, diganti dengan petunjuk yang berasal dari hadits Nabi. Disamping itu, hadits yang diyakini sah dari Nabi adalah sebuah kepastian yang tidak perlu dikonfirmasikan dengan pendapat seseorang.”8&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Ahmad bin Hanbal rahimahullah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Qaul 1: “Seluruh perkataan bisa diterima atau ditolak, kecuali perkataan Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam.”99&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Qaul 2: “Pendapat al-Auza&#39;i, Malik, dan Abu Hanifah, semuanya hanyalah pendapat. Aku pandang sama di sisiku, yang mesti jadi rujukan (mutlak) hanyalah sunnah Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam.”10&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Jangan-jangan Kita yang Lancang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Berkata Syaikh al-Albani rahimahullah tentang perkataan para imam tersebut; “Kenyataan tersebut menggambarkan ketinggian ilmu dan ketakwaan para imam tersebut. Melalui perkataan tersebut, mereka menegaskan bahwa dirinya tidaklah menguasai sunnah secara keseluruhan. Kadangkala didapati (pada imam madzhab) beberapa perkara yang menyelisihi sunnah, karena riwayat tentangnya (tentang perkara tersebut) tidak sampai kepadanya. Apabila mengetahui sunnah tersebut, tentu mereka akan memerintahkan kita agar berpegang teguh dengannya dan menjadikannya sebagai madzhab mereka. Semoga Allah memberi rahmat kepada mereka, semuanya.”11&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tidak sedikit orang yang berpendapat bahwa seseorang harus berpegang dengan qaul salah seorang imam yang empat secara mutlak. Bahkan mencampuradukkan pendapat satu imam dengan imam yang lain tidak boleh. Pendek kata seorang muslim, menurut kelompok ini, harus setia sampai mati dengan qaul seorang imam.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sikap macam apakah ini? Tak lebih sebagai sikap ta&#39;ashub yang berlebihan. Bahkan kalau ditimbang dengan qaul para imam tersebut diatas merupakan bentuk kelancangan terhadap nasihat imam yang, katanya, mereka hormati dan muliakan tersebut. Sebenarnya bukan hormat dan memuliakan, justru dalam kenyataannya bersikap sok tahu dan menyalahkan petunjuk para imam. Bukankah para imam berpesan agar tidak mendewakan pendapatnya? Mereka selalu memerintahkan agar mengembalikan segala pendapat kepada petunjuk Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Lantas?!&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Sumber :Redaksi Majalah Fatawa,http://ahlussunnah.info&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Catatan Kaki:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Riwayat Shalih al-Fulani dalam Iqaz al-Himam, hal. 50.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Riwayat Ibn ‘Abd al-Barr dari al-Imam Abu Hanifah. Shifatu Shalatin-Nabi, hal. viii.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Riwayat Ibn ‘Abd al-Barr dalam Jami&#39; Bayan al-Ilm, jilid. 2, hal. 32.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Jami&#39; Bayan al-Ilm, jilid. 2, hal. 91.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Riwayat Ibn ‘Asakir di dalam Tarikh Dimashq, 15/1/3. al-Imam Ibn ‘Asakir lahir pada 499 H/1106 M di Dahalyik. Seorang ahli sejarah dan ahli hadits yang terkemuka di kalangan madzhab asy-Syafi‘i pada abad ke 5 H. Nama aslinya Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hassan, wafat pada 571 H/1176 M.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Riwayat Ibn Abi Hatim di dalam al-Adab, hal. 93-94.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Riwayat al-Khatib al-Baghdadi di dalam al-Ihtijaj bi asy-Syafi‘i, jilid. 8, hal. 2 dan al-Nawawi dalam al-Majmu&#39; Syarh al-Muhadzdzab, jilid. 1, hal. 63. Al-Imam an-Nawawi adalah seorang imam mujtahid yang masyhur bagi madzhab asy-Syafi‘i. Nama aslinya Abu Zakaria Yahya bin Syaraf lahir di Syiria pada 631 H/1233 M. Diantara karangan Beliau ialah kitab fiqh madzhab asy-Syafi‘i berjudul al-Majmu&#39; Syarh al- Muhadzdzab dan Syarh Shahih Muslim. Wafat pada 676 H/1277 M.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ar-Risalah, al-Imam asy-Syafi&#39;i. 423/3.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Abu Dawud dalam Masa&#39;il al-Imam Ahmad, hal. 276. Al-Imam Abu Dawud ialah Sulaiman bin al-Asy&#39;ath as-Sijistan, lahir pada 202H/818M, sempat berguru kepada Ahmad bin Hanbal bersama al-Bukhari dan Muslim. Kitabnya yang terkenal ialah Sunan Abu Dawud, terdiri dari 4800 buah hadits. Selain itu Beliau juga mengarang belasan kitab lain sebelum meninggal dunia pada 275 H/889 M di Basrah, Irak.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ja mi&#39; Bayan al-Ilm, jilid. 2, hal. 149.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Shifatu Shalatin-Nabi, hal. viii.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://etalasesunnah.blogspot.com/2010/05/rujuk-kepada-petunjuk-rasulullah.html</link><author>noreply@blogger.com (abufawwaz)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2036994941929057047.post-8606282644465056181</guid><pubDate>Tue, 11 May 2010 06:40:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-05-11T13:40:49.365+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Aqidah</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Manhaj</category><title>Jangan Mudah Mengkafirkan!</title><description>Ustadz Kholid Syamhudi. lc&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bismillahirrohamnirrohim&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kenyataan dunia islam dan kaum muslimin dewasa ini cukup menyedihkan. Tuduhan demi tuduhan dilemparkan musuh-musuh Allah Ta’ala akibat ulah sekelompok kaum muslimin. Memang musuh-musuh islam terus mengintai negara dan masyarakat islam, mengintai kapan mereka berbuat salah, kapan menjadi materialis dan kapan cinta dunia menguasai mereka. Akhirnya masa-masa yang mereka tunggu itu tiba. Kaum muslimin hidup bergelimang dunia dan dosa, kebodohan menjadi ciri mereka. Kemudian mereka keluar dari rel syariat dan tanpa sadar merusak bumi dan seisinya. Padahal sesuatu yang keluar dari relnya mesti berbahaya, apalagi dalam permasalahan agama.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Akhirnya kehinaan dan fitnah melanda mereka sebagai satu konsekuensi pelanggaran dan jauhnya mereka dari syariat rasulNya. Allah berfirman:&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih” (QS. An Nuur:63)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bermunculanlah penyakit dan fitnah dalam tubuh kaum muslimin, membuat mereka bingung, sedih dan pecah berserakan. Semoga Allah mengembalikan dan mempersatukan kaum muslimin diatas ajaran agama islam yang benar.Diantara fitnah yang sangat berbahaya yang muncul dalam tubuh kaum muslimin adalah fitnah takfir (vonis kafir terhadap orang lain) yang menyimpang dari syari’at islam. Fitnah ini diawali dengan munculnya sekte khawarij pada zaman Ali bin Abi Thalib Radhiallahu’anhu . Fitnah khawarij ini pernah menggoncang dunia Islam dan menumpahkan ribuan bahkan jutaan darah kaum muslimin. Cukup banyak harta dan jiwa yang dikorbankan kaum muslimin dalam meredam fitnah ini, lihatlah sejak pembunuhan Khalifah dan menanti Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam Utsman bin Affaan Radhiallahu’ahu , disusul dengan terbunuhnya khalifah dan menantu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam Ali bin Abi Thalib Radhiallahu’ahu sampai pemberontakan mereka terhadap negara islam bani Umayah dan Abbasiyah serta negara-negara islam hingga saat ini. Sehingga DR Ghalib bin Ali Al ‘Awaajiy menyatakan: “Khawarij adalah salah satu firqah besar yang melakukan revolusi berdarah dalam sejarah politik islam. Mereka telah menyibukkan negara-negara Islam dalam waktu yang sangat panjang sekali”.[1]&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pertama kali muncul, mereka mencela sebaik-baiknya orang sholih waktu itu, yaitu khalifah Ali Radhiallahu’anhu . ini bukanlah satu hal yang aneh karena tokoh pertama mereka yang bernama Dzul Khuwaishirah telah mencela sebaik-baiknya makhluk Allah, yaitu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam . sebagaimana dikisahkan dalam riwayat dibawah ini :&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقْسِمُ قِسْمًا أَتَاهُ ذُو الْخُوَيْصِرَةِ وَهُوَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ اعْدِلْ فَقَالَ وَيْلَكَ وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَعْدِلْ قَدْ خِبْتَ وَخَسِرْتَ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ فَقَالَ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ائْذَنْ لِي فِيهِ فَأَضْرِبَ عُنُقَهُ فَقَالَ دَعْهُ فَإِنَّ لَهُ أَصْحَابًا يَحْقِرُ أَحَدُكُمْ صَلَاتَهُ مَعَ صَلَاتِهِمْ وَصِيَامَهُ مَعَ صِيَامِهِمْ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Sesungguhnya Abu Sa’id Al Khudriy bercerita: “ketika kami bersama Rasululluh Shallallahu’alaihi Wasallam dan beliau membagi-bagi sesuatu, datanglah kepada beliau Dzul Khuwaishiroh seorang berasal dari Bani Tamiim lalu berkata: “Wahai Rasulullah berbuat adillah!”. Lalu beliau menjawab: “celaku kamu, siapakah yang berbiat adil jika aku tidak berbuat adil. Engkau telah rugi dan celaka jika aku tidak adil”. Umar berkata: “Wahai Rasulullah izinkanlah aku memenggal lehernya” beliau menjawab: “Biarkan dia! Sesungguhnya dia memiliki pengikut, salah seorang dari kalian akan meremehkan sholatnya dibanding sholat mereka dan puasanya dibanding puasa mereka. Mereka membaca Al Qur’an tapi hanya ditenggorokan mereka saja. Mereka meninggalkan agama sebagaimana anak panah keluar dari busurnya”. (Mutafaqun alaihi).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Lihatlah berawal dari harta dan penentangan terhadap pemimpin, muncul khawarij, sungguh benar sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam :&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
“Sesungguhnya setiap umat memiliki fitnah dan fitnah umatku adalah harta“.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dzul Khuwaishirah menentang Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam dengan slogan keadilan dan menuntut keadilan, hak dan kesamaan. Dari sinlah ia menuduh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam berbuat tidak adil sehingga menuntut Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menjelaskan keadaan pengikutnya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ini pada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam , tentunya untuk orang yang dibawahnya dari para penguasa dan wali amri kaum muslimin lebih gampang dan mudah bagi mereka.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pengikut Dzul Khuwaishirah muncul dizaman Ali bin Abi Thalib juga karena harta dan penentangan mereka terhadap kebijakan khalifah Ali Radhiallahu’anhu . [2]&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Setelah itu mereka mengkafirkan pelaku dosa besar dan menghalalkan darah dan harta kaum muslimin seluruhnya kecuali anggota sekte mereka. Inilah yang membawa mereka memberontak dan membunuhi orang-orang yang tidak bersalah. Oleh karena itulah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam nyatakan dalam haditsnya:&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;إِنَّ مِنْ ضِئْضِئِ هَذَا قَوْمًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ مُرُوقَ السَّهْمِ مِنْ الرَّمِيَّةِ يَقْتُلُونَ أَهْلَ الْإِسْلَامِ وَيَدَعُونَ أَهْلَ الْأَوْثَانِ لَئِنْأَنَا أَدْرَكْتُهُمْ قَتَلْتُهُمْ قَتْلَ عَادٍ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Sesunggunya dibelakang orang ini akanlahir satu kaum yangmembaca Al Qur’an tidak lewat dari kerongkongan mereka. Mereka lepas dari islam seperti lepasnya anak panahdari busurnya. Mereka membunuh kaum muslimin dan membiarkan penyembah berhala. Sungguh jika aku mendapatkan mereka niscaya aku beunuh mereka dengan cara pembunuhan kaum ‘ad”. (HR. Abu Daud) dan dalam riwayat yang lainnya:&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;هُمْ شَرُّ قَتْلَى قُتِلُوا تَحْتَ أَدِيمِ السَّمَاءِ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Mereka adalah sejelek-jeleknya orangyangterbunuh dibawah langit” (HR. At Tirmidzi No. 2926 dan Ibnu Maajah dalam Muqaddimah No.173).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kaum khawarij ini diperangi kaum muslimin hingga hampir hilang dari permukaan bumi ini. Memang masih ada dibeberapa tempat kumpulan mereka ini, seperti di Oman, Maroko, Al Jazaair dan Zanjibaar yang diwakili oleh sekte Ibadhiyah. Akan tetapi pemikiran dan aqidah mereka masih eksis dan bertebaran disekitar kaum muslimin dan terkadang sebagian kaum muslimin tidak sadar memiliki pemikiran dan aqidah mereka ini.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kemudian lebih dari seperempat abad yang lalu muncullah istilah Takfiir dan Hijrah, ditandai dengan salah satu kejadian besar yaitu pembunuhan terhadap penulis kitab At Tafsiir wal Mufassirun Syaikh Muhammad Husein Adz Dzahabiy. Jamaah takfiir wal hijrah ini dikatakan para peniliti sebagai bagian dari Jamaah Ikhwanul Muslimin. Mereka kecewa dengan sikap dan tindakan tokoh pemimpin Ikhwanul Muslimin dalam peran mereka dalam politik negeri Mesir.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ini akan semakin jelas jika kita melihat dan menelaah pemikiran Sayyid Quthub, salah seorang tokoh besar dan legendaris dari Jamaah Ikhwanul Muslimin. Mereka banyak menjadikan pemikran tokoh intelektual ini dalam kaedah beragamanya mereka, sehingga jadilah mereka orang yang cepat memvonis kafir orang lain dan mencela para ulama yang tidak cocok atau dianggap sesuai dengan mereka. Hal ini tidaklah mengherankan karena orang yang telah terkena fitnah takfiir ini tentunya tidak lepas dari gaya penampilan para pendahulu mereka dari kalangan khawarij. Lihatlah beberapa pemikiran Sayyid Quthub tentang takfiir dan hijrah, agar dapat diketahui besarnya bahaya yang muncul akibatnya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;Tentang Takfiir[3]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sayyid Quthub mengkafirkan hampir seluruh kaum muslimin termasuk para Muadzin yang selalu melantunkan kalimat tauhid Ini dapat dapat dilihat pada tulisan beliau, diantara pernyataan beliau:&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;1. “Manusia telah murtad kepada penyembahan makhluk (paganisme) dan kejahatan agama serta telah keluar dari Laa ilaha Illa Allah. Walaupun sebaian mereka masih selalu mengumandangkan Laa ilaha Illa Allah di atas tempat beradzan”.[4]&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;2. “Manusia telah kembali kepada kejahiliyahan dan keluar dari Laa ilaha Illa Allah. Manusia seluruhnya- termasuk didalamnya orang–orang yang selalu mengumandangkan pada adzan-adzan di timur sampai barat bumi ini kalimat Laa ilaha Illa Allah tanpa pengertian dan pebuktian nyata- bahkan mereka ini lebih berat dosa dan adzabnya pada hari kiamat; karena mereka telah murtad kepada penyembahan makhluk setelah jelas bagi mereka petunjuk dan setelah mereka berada pada agama Allah”.[5]&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;3. “Masyarakat yang menganggap dirinya muslimah masuk dalam lingkungan masyarakat jahiliyah bukan karena meyakini uluhiyah pada selain Allah. Bukan pula karena menujukan syiar-syiar peribadatan kepada selain Allah Ta’ala akan tetapi mereka masuk dalam lingkup ini karena tidak beribadah kepada Allah saja dalam hukum-hukum kehidupannya”.[6]&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;4. “Orang yang tidak mentauhidkan Allah Ta’ala dalam hakimiyah- disemua zaman dan tempat- adalah orang-orang musyrik. Tidak mengeluarkan mereka dari kesyirikan ini keyakinan mereka terhadap Lailaaha illa allah dan tidak pula syiar (peribadatan) yang mereka tujukan kepada Allah Ta’ala ”.[7]&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;5. “Tidak ada satupun dipermukaan bumi ini negara islam dan tidak pula masyarakat muslim”.[8]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Beliau mengkafirkan masyarakat kaum muslimin yang ada karena tidak menggunakan hukum-hukum Allah Ta’ala dalam mengatur kehidupan mereka. Akan tetapi beliau mensifatkan penyembah berhala dari kalangan kaum musyrikin dengan pernyataan beliau: “Kesyirikan mereka yang hakiki bukanlah pada permasalahan ini -yaitu penyembahan berhala untuk mendekatkan diri dan meminta syafaat dihadapan Allah- dan tidak pula islamnya orang yang masuk islam karena meninggalkan permohonan syafaat kepada para berhala tersebut”.[9]&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Lihatlah pernyataan beliau ini, bukankah menyelisihi firman Allah Ta’ala :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):”Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu”,(QS. An Nahl:36). Dan :&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;إِنَّ اللهَ لاَيَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَادُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَآءُ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu” (QS. An Nisaa:48).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bahkan para Rasul berdakwah mengajak kaumnya untuk tidak menyembah selain Allah Ta’ala dan menyatakan::&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَالَكُم مِّنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Ilah bagimu selain-Nya” (QS. Al A’raf:59). Kemudian kaum ‘Ad membantah ajakan Nabi mereka dengan menyatakan:&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;قَالُوا أَجِئْتَنَا لِنَعْبُدَ اللهَ وَحْدَهُ وَنَذَرَ مَاكَانَ يَعْبُدُ ءَابَآؤُنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ إِن كُنتَ مِنَ الصَّادِقِينَ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Mereka berkata:”Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami maka datanglah azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar”. (QS. Al A’raf:70)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Demikian juga kaum Nabi Nuh ‘Alaihissalam ketika didakwahi untuk tidak menyembah orang sholih yang diyakini dapat memberi syafaat dan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala menyatakan:&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;وَقَالُوا لاَ تَذَرُنَّ ءَالِهَتَكُمْ وَلاَتَذَرُنَّ وَدًّا وَلاَسُوَاعًا وَلاَيَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&quot;Dan mereka berkata:”Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) ilah-ilah kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwaa’, yaghuts, ya’uq dan nasr”, (QS. Nuh:23)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ternyata dakwahnya para Rasul adalah mengajak manusia menyembah Allah Ta’ala dan menjauhi syirik dalam peribadatan, bukan syirik hakimiyah –seperti yang mereka inginkan-. Bahkan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menegaskan dalam pernyataan beliau :&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Wahai bani Adam sesungguhnya jika kamu menjumpaiKu dengan membawa sepenuh bumi kesalahan kemudian menjumpaiKu dalam keadaan tidak menyekutukan Ku, sungguh Aku akan memberimu sepenuh bumi pengampunan” (HR. At Tirmidzi No.3463). dan:&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;يَا مُعَاذُ أَتَدْرِي مَا حَقُّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ قَالَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا أَتَدْرِي مَا حَقُّهُمْ عَلَيْهِ قَالَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ أَنْ لَا يُعَذِّبَهُمْ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Wahai Mu’adz tahukah kamu apa hak Allah atas hambaNya, beliau menjawab: “Allah dan RasulNya lebih mengetahui”. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menjawab: “MenyembahNya dan tidak menyekutukanNya. Apakah kamu tahu apa hak mereka atas Allah”. Muadz menjawab: “Allah dan RasulNya lebih mengetahui”. Beliau menjawab: “Tidak mengadzab mereka”. (Mutafaqun ‘alaihi).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Subhanallah! Seandainya memang benar perkataan dan pernyataan Sayyid Quthub ini, tentulah apa yang didakwahkan para Rasul tersebut tidak sesuai dengan kenyataan dan kebutuhan umat manusia. Ini sungguh kesalahan yang sangat fatal sekali.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pemikiran takfiir ini terus merebak pada para pemuda kaum muslimin yang bersemangat, sehingga akibatnya mereka mengorbankan diri mereka untuk membom, merusak dan membunuh dengan dalih jihad suci melawan orang kafir, bahkan lebih dari itu mereka melecehkan para ulama dan mengkafirkan mereka, karena mereka tidak mengkafirkan orang yang telah kafir. Alangkah mengerikannya akibat dari pemikiran takfiir ini!&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sudah seharusnya kaum muslimin waspada kembali terhadap pemikiran-pemikiran yang merusak ini dengan menuntut ilmu agama dari para ulama dan tidak tergesa-gesa memvonis kafir (takfiir) terhadap orang lain.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Wallahu&#39;alam&lt;/div&gt;________________________________________&lt;br /&gt;
[1] Firaaqun Mu’ashaarah Tantasibu Ilal Islam karya beliau sendiri, 1/88. &lt;br /&gt;
[2] Lihat kisahnya dalam perdebatan Ibnu Abbas dengan mereka dalam buku “Mengapa Memilih Manhaj Salafi”&lt;br /&gt;
[3] Semua penukilan perkataan Sayyid Quthub diambil dari makalah Syeikh Sa’ad Al Hushein dalam Majalah Ash Ashoolah 35/VI/Sya’ban 1422 H.&lt;br /&gt;
[4] Fi Zhilalil Qur’an 2/1057, cetakan Dar Asyuruuq.&lt;br /&gt;
[5] Ibid-&lt;br /&gt;
[6] Ma’alim Fith Thoriiq hal.101 cetakan Darusy Syuruuq.&lt;br /&gt;
[7] Fi Zhilaalil Qur’an 2/1492 cet. Daarusy Syuruuq.&lt;br /&gt;
[8] Ibid 2/2122.&lt;br /&gt;
[9] Ibid 3/1492&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://etalasesunnah.blogspot.com/2010/05/jangan-mudah-mengkafirkan.html</link><author>noreply@blogger.com (abufawwaz)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2036994941929057047.post-5418076481117091892</guid><pubDate>Tue, 11 May 2010 06:29:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-05-11T13:29:24.208+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Manhaj</category><title>Menepis Syubhat (Kerancuan) Terhadap Salafiyah</title><description>Syaikh Abu Anas Muhammad bin Musa Nashr&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bismillahirrohmanirrohim&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Di tengah gelombang kebid’ahan dan kesyirikan yang menerpa umat sekarang ini. Di saat kebingungan dan ketimpangan semakin membelit kaum mudanya. Ahlul ahwa’ (para pengikut hawa-nafsu) tidak henti-hentinya melontarkan kerancuan dan keraguan. Bahkan tidak jarang melemparkan tuduhan serta fitnah yang tidak berdasar ke tengah-tengah umat terhadap kemulian dakwah Salafiyah yang penuh barakah ini dan para dainya. Semua itu ibarat riak-riak kecil, bila tidak segera ditepis akan menjadi gelombang ganas yang membahayakan lagi mengkhawatirkan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Salah seorang murid senior Muhadits abad ini (Imam al-Albani rahimahullah), yaitu Syaikh Muhammad bin Musa Nashr telah mengumpulkan beberapa syubhat yang dilontarkan oleh musuh da’wah Salafiyah, kemudian beliau iringi dengan bantahannya. Pada kesempatan ini kami sampaikan sebagian dari bantahannya tersebut dan kami pilih yang sekiranya mendesak untuk diketahui.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;SYUBHAT PERTAMA: Salafiyah adalah sebuah penasaban yang bid’ah!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawaban Syaikh Abu Anas Muhammad bin Musa Nashr:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sebagian musuh dakwah Salafiyah menganggap bahwa menisbatkan diri kepada Salaf merupakan pengelompokan bid’ah. Hal itu sebagaimana mereka yang menamakan diri dengan: Ikhwanul Muslimin, Hizbut Thahrir, dan Jamaah Tabligh.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Mereka tidak tahu, bahwa Salafiyah adalah sebuah penasaban terhadap generasi terbaik. Yaitu generasi sahabat dan tabi’in, yang telah dipersaksikan oleh Rasulullâh Salallahu ‘Alaihi Wassalam dengan kebaikan. Juga merupakan penyandaran terhadap umat yang ma’sum (terjaga dari kesalahan), yang tidak akan bersepakat di dalam kesesatan, umat yang telah diridhai oleh Allah.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya”.(al-Bayyinah: 8)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sungguh jauh berbeda, antara orang yang menisbatkan diri kepada individu yang tidak ma’sum, bersikap loyal, dan fanatik terhadap seluruh perkataan dan pendapatnya, dengan orang yang menisbatkan diri kepada umat yang selamat dari penyimpangan dan kesesatan di saat munculnya banyak perselisihan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Rasulullâh Salallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Umat ini akan terpecah menjadi 73 kelompok. Semuanya di dalam neraka kecuali satu.”Sahabat bertanya: “Siapa dia wahai Rasulullâh?Jawab Rasulullâh Salallahu ‘Alaihi Wassalam :“Mereka adalah orang-orang yang semisal dengan apa yang aku dan sahabatku berada di atasnya”.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Itulah Salafiyah yang mengambil Islam secara murni, bersih dari segala bid’ah. Islam yang dibawa Rasulullâh Salallahu ‘Alaihi Wassalam , para sahabatnya dan umat terbaik sesudah mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bagaimana kalian membolehkan ’jamaah-jamaah’ Islam menisbatkan diri terhadap individu-individu yang tidak ma’sum, lalu pada waktu yang sama kalian melarang orang-orang menasabkan kepada umat yang ma’sum dari segala kesesatan. Menasabkan diri kepada Salafush Shalih, dari kalangan sahabat, tabi’in, dan para imam (ulama) rabbani yang jauh dari hizbiyah- hizbiyah (fanatik terhadap kelompok-kelompok) pemecah belah umat?&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Guru kami, al-Albani telah berkata, membantah hizbiyah : “Kami terang-terangan memerangi hizbiyah- hizbiyah tersebut, karena hal tersebut sebagaimana firman Allah Ta’ala:&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing)”.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;(al-Mu’minun: 53)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Padahal tidak ada hizbiyah sama sekali dalam Islam. Berdasarkan nash al-Qur’an, hizb hanya ada satu, (yakni hizbullah).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;“Ketahuilah sesungguhnya hizb Allah-lah yang beruntung”.(Mujadalah: 22)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Hizbullah adalah jamaah Rasulullâh Salallahu ‘Alaihi Wassalam. Hendaknya seseorang itu berada di atas manhaj para sahabat, hal ini membutuhkan ilmu terhadap Al-Kitab dan As-Sunnah.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Beliau (Al-Albani) pernah juga ditanya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apakah Salafiyah itu dakwah hizbiyah, golongan, madzhab ataukah kelompok baru dalam Islam?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Beliau menjawab: “Kalimat “Salaf” itu terkenal di dalam bahasa Arab dan syar’i. Telah shahih dari Nabi Salallahu ‘Alaihi Wassalam, ketika akan wafat beliau berkata kepada Fatimah, putrinya:&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;“Bertaqwalah kepada Allah dan bersabarlah. Aku adalah sebaik-baik salaf bagimu”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Banyak sekali para ulama’ yang menggunakan istilah “Salaf”. Satu contoh, ketika mereka menggunakannya untuk menghancurkan bid’ah:&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;“Setiap kebaikan adalah di dalam mengikuti salaf, dan setiap kejelekan adalah di dalam bid’ahnya khalaf”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tetapi ada sebagian orang yang mengaku berilmu mengingkari penisbatan terhadap Salaf, dengan anggapan hal itu tidak ada sandarannya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dia mengatakan: “Seorang muslim tidak boleh mengatakan: “Saya Salafi”. Sepertinya dia mengatakan: “Seorang muslim tidak boleh mengatakan saya adalah pengikut manhaj Salaf as-Shalih dalam aqidah, ibadah, perilaku dan lainnya.”&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tidak diragukan lagi, pengingkaran ini membawa konsekwensi dia berlepas diri dari Islam yang shahih. Islamnya para Salaf as-Shalih, yang dipimpin oleh Rasulullâh Salallahu ‘Alaihi Wassalam , sebagaimana telah diisyaratkan oleh hadits mutawatir dalam “Shahihain” dan lainnya, Nabi Salallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;“Sebaik baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Seorang muslim tidak boleh berlepas diri dari penisbatan kepada Salafush shalih. Orang yang mengingkari penisbatan yang mulia ini, bukankah dia juga menisbatkan diri kepada madzhab-madzhab yang ada, baik dalam aqidah, maupun fiqih? Bisa jadi dia seorang Asy’ariy atau Maturidy. Bisa jadi pula seorang Hanafi , Syafi’i, Maliki atau Hambali, yang tergolong Ahlus Sunnah wal Jamaah.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Padahal orang yang menisbatkan kepada madzhab Asy’ariy atau salah satu dari 4 madzhab (fiqih) yang ada, dia telah menisbatkan diri kepada individu yang tidak ma’sum, walaupun ada juga para ulama yang benar. Tetapi apakah dia mengingkari penisbatan kepada individu-individu yang tidak ma’sum ini?&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Dan inilah perkataan ahlul ilmi tentang bolehnya menisbatkan diri kepada Salafush as-Shalih:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ibnu Manzhur berkata: “Termasuk arti Salaf adalah: pendahulumu, yaitu bapak-bapakmu dan kerabatmu yang punya umur dan keutamaan lebih di atasmu. Oleh karena itu generasi pertama dari kalangan tabi’in dinamakan “Salafush Shalih”.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Rasulullâh Salallahu ‘Alaihi Wassalam pernah berkata kepada putrinya, Zainab, ketika akan meninggal:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Susullah Salaf kita yang shahih, yaitu Utsman bin Mazh’un.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Al-Ghazali berkata: “Yang saya maksud dengan Salaf adalah madzhab sahabat dan tabi’in.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Syaikhul Islam berkata: “Tiada aib bagi orang yang menampakkan madzhab salaf dan menisbatkan kepadanya, bahkan penisbatan tersebut wajib diterima menurut kesepakatan (ulama’), karena madzhab salaf adalah madzhab yang haq.”&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Al-Baijuri berkata: “Yang dimaksud dengan istilah Salaf adalah orang yang terdahulu dari para nabi, tabi’in dan tabiut tabi’in.”&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;SYUBHAT KEDUA: Salafiyun Iebih Mementingkan Perkara-Perkara Furu’ (Cabang, Remeh) Ketimbang Perkara Ashl (pokok).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Jawaban Syaikh :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Ini merupakan kedustaan serta bualan mereka. Sesungguhnya da’wah Salafiyah -alhamdulillah- mengimani Islam seluruhnya, tanpa pilih-pilih, berdasarkan firman Allah:&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;“Wahai orang-orang yang beriman masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah.” (Al- Baqoroh : 208)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dan juga dengan firman Allah yang lain, yang mencela orang yang mengambil (mengamalkan) agama hanya menurut selera hawa nafsu.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;“Apakah kalian mengimani sebagian dari kitab, dan mengkufuri sebagiannya?”(Al-Baqarah 85)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kewajiban terpenting dalam da’wah Salafiyah adalah tauhid, menghambakan makhluk kepada Rabbnya, mentarbiyah (membina) umat di atas manhaj Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wassalam, dan memberikan perhatian terhadap sunnah-sunnah yang sudah mulai ditinggalkan lalu menghidupkannya kembali.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Semua itu merupakan bagian dari program dan manhaj da’wah Salafiyah. Tetapi sebagian orang-orang yang menyelisihi da’wah Salafiyah ini ada yang menganggap sunnah-sunnah Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wassalam, seperti: siwak, memanjangkan jenggot, meninggikan kain di atas mata kaki, sutrah dan lainnya, sebagai perkara “qusyur” (remeh/kulit).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Sangat buruk kalimat yang keluar dari mulut-mulut mereka, tidaklah yang mereka ucapkan melainkan kedustaan.”(al-Kahfi: 5)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Orang-orang yang bingung itu tidak tahu, bahwa Islam itu semuanya lubab (inti), sehingga persepsi dan pikiran mereka yang busuk menganggapnya sebagai “qusyur”.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Padahal semua yang dibawa oleh wahyu (Al-Kitab dan As-Sunnah) adalah haq dan lubab (inti), orang yang memperolok-olok sesuatu darinya maka dia kafir. Sedangkan orang yang menyebut sesuatu yang dibawa oleh Rasulullah dengan “qusyur” (kulit, hal remeh) yang dapat dibuang, maka dia berada di pinggir jurang yang dalam.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;SYUBHAT KETIGA: Dakwah Salafiyah Tidak Memberikan Perhatian Terhadap Masalah-Masalah Politik, Bahkan Meninggalkannya Sama Sekali.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Syaikh menjawab:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ini juga merupakan kedustaan yang nyata. Karena menurut Salafiyin, perkara politik termasuk dalam urusan dien. Tetapi politik yang mana?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Apakah politik koran-koran, majalah-majalah, dan kantor-kantor berita milik Yahudi dan Nashari? Ataukah politik Rasulullâh Salallahu ‘Alaihi Wassalam dan para sahabatnya?&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Apakah politik demokrasi, yang mereka dengungkan dengan semboyan orang-orang kafir: “Dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat?”&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ataukah politik pemeluk Islam yang berprinsip: “Hukum Allah, untuk Allah, berpijak pada Kitabullah dan Sunnah Rasulnya, melalui musyawarah yang dibenarkan oleh Islam?”&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dan apakah politik yang kebenaran diukur dengan banyaknya jari yang terangkat (voting) di Majelis Perwakilan Rakyat, meskipun terkadang voting tersebut menambah kuatnya kemungkaran atau kesyirikan? Ataukah politik sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah Ta’ala.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia”. (Yusuf: 40)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Salafiyin tidak ingin meraih al-haq dengan cara yang batil. Karena menurut mereka, sebuah tujuan tidaklah menghalalkan segala cara. Mereka tidak akan berjuang di atas “punggung-punggung babi”, tidak akan minta pertolongan kepada kaum musyrikin, dan selamanya tidak akan berkumpul dengan orang-orang munafiq. Mereka menolak jumlah banyak yang bersifat seperti buih, yang tidak menyandang sifat syar’i sedikitpun.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;SYUBHAT KEEMPAT: Salafiyun Bersikap Mudahanah Terhadap Penguasa, Tidak Bicara Al-Haq Secara Terang-Terangan Di Hadapan Mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Jawaban Syaikh:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Di mana Salafiyun yang menempati jabatan-jabatan tinggi, berupa jabatan Menteri, Hakim atau Mufti di negara-negara Islam?&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Mencari jabatan seperti itu adalah monopoli ahli bid’ah selama puluhan tahun. Andaikata Salafiyun mau cari muka dan menjual ilmu, niscaya mereka akan meraih apa yang telah diraih selain mereka. Tetapi Salafiyun memandang itu semua sebagai kemunafikan. Bahkan mereka memandang tidak boleh memasuki Majlis Perwakilan Rakyat, agar tidak menjadi jembatan untuk Undang-Undang buatan manusia dan hukum-hukum Thaghut, dan bergelimang dalam kebatilan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kalau ada oknum yang menasabkan diri kepada Salafiyah, lalu dia memuji-muji penguasa dengan dusta, mencari muka dengan cara berbasa-basi dan bersikap nifaq, maka hanyalah mewakili dirinya sendiri. Dakwah Salaf serta Salafiyun berlepas diri dari apa yang dia lakukan. Kewajiban Salafiyun terhadap orang seperti itu adalah memberikan nasehat dan mengingatkan, kemudian memboikot dan memberikan peringatan (jika dia enggan, pen).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Salafiyun adalah orang-orang yang membicarakan al-haq secara terang-terangan, penuh dengan hikmah dan nasehat yang baik. Tanpa mengobarkan pengkafiran, menyatakan orang lain durhaka, dan pemberontakan terhadap penguasa.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dakwah Salaf mengajak untuk memberikan nasehat terhadap penguasa, serta zuhud terhadap apa-apa yang ada pada mereka, yang berupa harta, jabatan, dan kehormatan. Juga mengajak untuk tidak mengobarkan (emosi) terhadap mereka, tidak rakus terhadap singgasana mereka, tidak memberontak melawan mereka. Kecuali jika nampak kekufuran yang nyata pada mereka, dengan terpenuhinya syarat-syarat serta tidak adanya penghalang-penghalang kekafiran. Tetapi hal itu ditetapkan oleh ulama, bukan oleh orang-orang hina yang mengikuti setiap orang yang memanggil.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
SYUBHAT KELIMA: Salafiyin suka berlebih-lebihan….!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawaban Syaikh:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Adapun kalau yang dimaksud berlebih-lebihan adalah bersungguh-sungguh di dalam alhaq, melaksanakan kawajiban-kewajiban, dan menghidupkan sunnah-sunnah yang sudah mulai ditinggalkan, maka ini adalah haq, bukan aib bagi seorang muslim. Sedangkan yang merupakan aib adalah kalau seseorang meremehkan perkara-perkara agama, membolehkan hal-hal yang diharamkan, serta mengerjakan hal-hal yang melanggar syari’at.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Maka apakah memelihara jenggot yang merupakan Sunnah merupakan sikap berlebihan? Apakah memendekkan kain di atas mata kaki sampai pertengahan betis yang merupakan Sunnah merupakan sikap berlebihan? Apakah mengharamkan jabat-tangan dengan wanita bukan mahram, mengharamkan lagu-lagu dan musik, termasuk berlebih-lebihan? Padahal ulama’ dahulu dan sekarang telah berfatwa dengan hal-hal di atas!&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Itu semua hanyalah tuduhan yang dibuatbuat agar manusia menjauhi para da’i Al-Kitab dan As-Sunnah pengikut Salaful Ummah.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Salafiyah tidaklah menyia-nyiakan syari’at ini sedikitpun, tidak meremehkan Sunnah, apapun bentuknya. Sebagaimana hal itu dilakukan oleh harikiyin dan hizbiyin yang menuduh Salafiyin suka mencari-cari masalah ganjil yang mereka namai dengan “qusyur” (perkara kulit) untuk meremehkannya. Keberuntunganlah bagi orang-orang yang asing, yang telah diberitakan oleh Nabi Salallahu ‘Alaihi Wassalam, dengan sabdanya:&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Mereka adalah orang-orang yang memperbaiki sunnah-sunnah Rasulullâh Salallahu ‘Alaihi Wassalam yang telah dirusak oleh manusia”.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
SYUBHAT KEENAM: Salafiyin Tidak Menaruh Perhatian Terhadap Masalah Jihad.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Syaikh menjawab:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jihad merupakan puncak syari’at. Ayat-ayat dan hadits-hadits yang menganjurkannya banyak sekali dan sudah terkenal. Tetapi jihad mempunyai kaedah-kaedah, syarat-syarat, dan adab-adab. Salafiyun tidak akan berangkat jihad di bawah bendera jahiliyah, karena jihad tidaklah disyari’atkan kecuali untuk menegakkan syari’at Allah.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sehingga tidak terjadi fitnah, dan agama seluruhnya untuk Allah”.(al-Anfaal: 39)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Untuk berjihad harus ada imam, harus ada bendera Islam. Dan harus ada pembinaan rabbaniyah seputar jihad. Harus ada bekal dan kesiapan. Menurut Salafiyin, jihad haruslah berdasarkan ilmu, keyakinan dan sasaran yang jelas. Jika bendera telah tegak dan tujuan (sasaran) juga jelas, maka Salafiyin tidak akan ketinggalan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bumi Palestina, Chehcnya, Afghon, Balkan, Kasmir menjadi saksi bagi mereka di sisi Allah Ta’ala. Mereka mendorong peperangan (jihad) dengan pemahaman seperti ini.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
SYUBHAT KETUJUH: Dakwah Salafiyah Memecah Belah Umat Dan Membikin Fitnah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawab Syaikh:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa dakwah Salaf dituduh demikian?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena dakwah ini memisahkan keburukan dari kebajikan, dan itu merupakan tujuan Allah dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Agar Allah memisahkan antara kejelekan dengan kebaikan.”(al-Anfaal: 37)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah Ta’ala juga berfirman:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Katakanlah: “Kebenaran itu dari Rabb kalian, barangsiapa yang ingin, berimanlah dan siapa yang ingin , kufurlah.”” (al-Kahfi: 29)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ketika seorang da’i Salafi memerangi bid’ah dan ahli bid’ah, langsung dituduh dengan tuduhan-tuduhan yang keji tersebut. Karena memang di antara prinsip Ahlul Bid’ah adalah mengumpulkan orang dengan membabi buta dengan dalih menjaga persatuan kaum muslimin. Mereka tidak peduli bentuk dan jenisnya, tetapi yang penting kwantitas, bagaimana itu bisa terwujud. Karena itu kamu lihat mereka berbasa-basi di hadapan ahlul bid’ah dan ahli kesesatan. Tetapi mereka tidak mau berdamai dengan Salafiyin. Bahkan mereka memusuhi, mencela, membenci, dan membesar-besarkan kesalahan Salafiyin.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kami akan senantiasa ingat ucapan salah satu pembesar Ikhwanul Musimin di kota Zarqo’ yang membela Khumaini dan revolusinya serta membantah Salafiyin yang memperingatkan dari firqah Syiah, condong kepadanya. Dia berkata:&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Muslim Syiah yang menegakkan syari’at Allah, lebih utama daripada Sunni Salafi yang tidak menegakkan syari’at, mereka itu perusak.”&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Lalu dia memberikan tuduhan-tuduhan bahwa Salafi membuat fitnah dan memecah belah umat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Maka saya katakan: “Perhatikanlah mereka telah terjatuh ke dalam fitnah, tidaklah mereka mengetahui bahwa Syiah adalah Yahudinya umat ini. Syi’ah adalah firqah yang paling buruk. Karena berbagai perkara yang ada pada mereka, seperti: bid’ah, kesesatan, merubah kitab Allah, mencela sahabat Rasulullâh Salallahu ‘Alaihi Wassalam , dan menuduh Aisyah ummul mukminin berzina, padahal Allah telah mensucikannya dari atas langit ke tujuh, Maha Tinggi Allah dengan ketinggiannya yang Agung dari apa yang diucapkan orang-orang dhalim.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Demikian beberapa syubhat diantara banyak syubhat yang dilontarkan oleh sebagian orang kepada dakwah salafiyah dan bantahannya. Mudahan-mudahan Allah memudahkan bagi kita untuk mengenal yang hak sebagai sebuah kebenaran dan semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk melaksanakannya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
(Majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun VI/1423H/2002M&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://etalasesunnah.blogspot.com/2010/05/menepis-syubhat-kerancuan-terhadap.html</link><author>noreply@blogger.com (abufawwaz)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2036994941929057047.post-578382921627677890</guid><pubDate>Sat, 24 Apr 2010 03:14:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-04-24T10:14:52.998+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Piqih</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Piqih Shalat</category><title>Hukum-Hukum Seputar Shalat Berjama’ah</title><description>Bismillahirrohmanirrohim&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ustadz Kholid Syamhudi. lc&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Shalat berjama’ah memiliki adab dan hukum-hukum yang terkait dan berhubungan dengannya. Semua ini karena arti penting dan kedudukannya dalam islam. Padahal pada kenyataannya banyak kaum muslimin yang belum mengetahui hal ini, sehingga banyak dijumpai mereka shalat berjama’ah tanpa memperhatikan adab dan hokum yang terkait. Akhirnya mereka terjerumus kedalam kesalahan dan dosa bahkan dalam kebid’ahan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Batasan minimal peserta shalat berjama’ah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Batasan minimal untuk shalat jama’ah adalah dua orang, seorang imam dan seorang makmum. Jumlah ini telah disepakati para ulama, sehingga Ibnu Qudamah menyatakan: “Shalat jama’ah dapat dilakukan oleh dua orang atau lebih. Kami belum menemukan perbedaan pendapat dalam masalah ini”[1].&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Demikian juga Ibnu Hubairah menyatakan: “Para ulama bersepakat batasan minimal shalat jama’ah adalah dua orang, yaitu imam dan seorang makmum yang berdiri disebelah kanannya”.[2]&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Shalat berjama’ah sah walaupun makmumnya seorang anak kecil atau wanita, berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu yang berbunyi:&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;بِتُّ عِنْدَ خَالَتِي فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي مِنْ اللَّيْلِ فَقُمْتُ أُصَلِّي مَعَهُ فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ فَأَخَذَ بِرَأْسِي فَأَقَامَنِي عَنْ يَمِينِهِ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Aku tidur dirumah bibiku, lalu Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bangun mengerjakan shalat malam. Lalu aku turut shalat bersamanya dan berdiri disamping kirinya. Kemudian beliau meraih kepalaku dan memindahkanku kesamping kanannya”[3]&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Demikian juga hadits Anas bin Malik Radhiallahu’anhu :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى بِهِ وَبِأُمِّهِ قَالَ فَأَقَامَنِي عَنْ يَمِينِهِ وَأَقَامَ الْمَرْأَةَ خَلْفَنَا&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam shalat mengimami dia dan ibunya. Anas berkata: “Beliau menempatkanku disebelah kanannya dan wanita (ibunya) dibelakang kami”[4]&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Semakin banyak jumlah makmum semakin besar pahalanya dan semakin Allah sukai, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;وَصَلَاةُ الرَّجُلِ مَعَ الرَّجُلِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ وَحْدَهُ وَصَلَاةُ الرَّجُلِ مَعَ الرَّجُلَيْنِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ مَعَ الرَّجُلِ وَمَا كَانُوا أَكْثَرَ فَهُوَ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Shalat besama orang lain lebih baik dari shalat sendirian. Shalat bersama dua orang lebih baik dari shalat bersama seorang. Semakin banyak (yang shalat) semakim disukai Allah Ta’ala”[5]&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Hadits ini jelas menunjukkan semakin banyak jumlah jama’ahnya semakin lebih utama dan lebih disukai Allah Ta’ala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Demikian juga seorang anak kecil yang telah mumayiz boleh menjadi imam menurut pendapat yang rojih. Hal ini berdasarkan hadits Amru bin Salamah Radhiallahu’anhu yang berbunyi:&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;فَلَمَّا كَانَتْ وَقْعَةُ أَهْلِ الْفَتْحِ بَادَرَ كُلُّ قَوْمٍ بِإِسْلَامِهِمْ وَبَدَرَ أَبِي قَوْمِي بِإِسْلَامِهِمْ فَلَمَّا قَدِمَ قَالَ جِئْتُكُمْ وَاللَّهِ مِنْ عِنْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقًّا فَقَالَ صَلُّوا صَلَاةَ كَذَا فِي حِينِ كَذَا وَصَلُّوا صَلَاةَ كَذَا فِي حِينِ كَذَا فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ أَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْثَرُكُمْ قُرْآنًا فَنَظَرُوا فَلَمْ يَكُنْ أَحَدٌ أَكْثَرَ قُرْآنًا مِنِّي فَقَدَّمُونِي بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَأَنَا ابْنُ سِتٍّ أَوْ سَبْعِ سِنِينَ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Ketika terjadi penaklukan kota Makkah, setiap kaum datang menyatakan keislaman mereka. Bapakku datang menyatakan keislaman kaumku. Ketika beliau pulang beliau berkata: “Demi Allah Aku membawakan kepada kalian kebenaran dari sisi Rasulullah”. Lalu berkata: “Shalatlah kalian shalat ini pada waktu ini dan shalatlah ini pada waktu ini. Jika telah masuk waktu shalat, hnedaklah salah seorang kalian beradzan dan orang yang paling banyak hafalan qur’annya yang mengimami. Lalu mereka mencari (imam). Ternyata tidak ada seorangpun yang lebih banyak dariku hafalan Al Qur’annya. Lalu mereka menunjukku sebagai imam dan aku pada waktu itu berusia enam atau tujuh tahun”[6]&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Kapan dikatakan mendapati shalat berjama’ah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Gambaran permasalahan ini adalah seorang datang kemasjid untuk shalat berjama’ah. Kemudian mendapati imam ber-tasyahud akhir, lalu ber-takbiratul ihram. Apakah masbuq tersebut dikatakan mendapatkan pahala berjama’ah bersama imam ataukah dianggap sebagai shalat sendirian (munfarid)?.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Dalam permasalahan ini para ulama berbeda pendapat dalam tiga pendapat:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama: Shalat jama’ah didapatkan dengan takbir sebelum imam salam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini pendapat madzhab Hanafiyah dan Syafiiyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdalil dengan hadits Abu Hurairah Radhiallahu’anhu dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam beliau bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;إِذَا أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَلَا تَأْتُوهَا تَسْعَوْنَ وَأْتُوهَا تَمْشُونَ عَلَيْكُمْالسَّكِينَةُ فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Jika shalat telah diiqamati, maka janganlahmendatanginya denga nberlari, datangilah dengan berjalan. Kalian harus tenang. Apa yang kalian dapati maka shalatlah dan yang terlewatkan sempurnakanlah”[7]&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam hadits ini dinyatakan orang yang mendapatkan imam dalam keadaan sujud atau duduk tasyahud akhir sebagai orang yang mendapatkan, lalu menyempurnakan yang terlewatkan, sehingga orang yang bertakbir ihrom sebelum imam salam dikatakan mendapati shalat jama’ah.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kedua: Membedakan antara jum’at dan jama’ah. Jika shalat jum’at melihat kepada raka’at dan jama’ah melihat kepada takbir.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bermakna dalam shalat jum’at seseorang dikatakan mendapati shalat jum’at bersama imam bila mendapati satu raka’at bersama imam. Dikatakan mendapatkan jama’ah bila bertakbir sebelum imam mengucapkan salam. Ini pendapat yang masyhur dari madzhab syafi’i.[8]&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Ketiga: Dikatakan mendapati shalat berjama’ah bila mendapati satu rakaat bersama imam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini pendapat madzhab Malikiyah, Imam Ghazaaliy dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Muhammad bin Abdil Wahab dan Abdurrahman bin Naashir As Sa’di telah merajihkannya.[9]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdalil dengan hadits Abu Hurairah Radhiallahu’anhu dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam beliau berkata:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنْ الصَّلَاةِ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلَاةَ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
“Siapa yang mendapatkan raka’at dari shalat maka telah mendapatkan shalat”[10] dan hadits Ibnu Umar yang berbunyi:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنْ صَلَاةِ الْجُمُعَةِ أَوْ غَيْرِهَا فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلَاةَ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
“Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang mendapatkan satu rakaat dari shalat jum’at atau selainnya maka telah mendapatkan shalat”.[11]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan rakaat dilihat dari ruku’nya sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah yang marfu’ :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;إِذَا جِئْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ وَنَحْنُ سُجُودٌ فَاسْجُدُوا وَلَا تَعُدُّوهَا شَيْئًا وَمَنْ أَدْرَكَ الرَّكْعَةَ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلَاةَ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Jika kalian berangkat shalat dan menemukan kami sedang sujud maka bersujudlah dan jangan dihitung sebagai rakaat. Barang siapa yang mendapatkan raka’at maka telah mendapatkan shalat”[12]&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Mereka menyatakan: “Orang yang mendapatkan satu rakaat dari shalat jum’at atau selainnya maka mendapatkan shalat. Demikian juga Shalat jama’ah tidak dianggap mendapatinya kecuali dengan mendapat satu raka’at”.[13]&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pendapat ini dirajihkan Syaikhul Islam dalam pernyataan beliau: “Yang benar adalah pendapat ini, karena hal berikut:&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;1. Menurut syari’at, dalam hal ini takbir tidaklah berkaitan dengan hukum apapun, tidak berkaitan dengan waktu dan tidak pula dengan jum’at atau jama’ah atau yang lainnya. Takbir disini adalah sifat yang tidak terkait dengan hukum apapun (Washfun Mulgha) dalam tinjauan syari’at. Maka dari itu tidak boleh menggunakannya sebagai hujjah.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;2. Syari’at hanya mengaitkan status dapat tidaknya shalat berjama’ah dengan mendapati raka’at. Pengaitannya dengan takbir akan meniadakannya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;3. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mengaitkan dapatnya shalat berjama’ah bersama imam dengan raka’at. Ini adalah nash permasalahan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;4. Jum’at tidak didapati seseorang kecuali mendapati raka’at, demikianlah fatwa sahabat Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam diantaranya; Ibnu Umar, Ibnu Mas’ud, Anas dan yang lainnya. Tidak diketahui ada sahabat yang menyelisihi meeka dalam hal ini. Bahkan sebagian ulama menyatakan hal ini merupakan ijma’ sahabat. Pemisahan hukum jum’at dengan jama’ah disini tidak benar. Oleh karena itu Abu Hanifah meninggalkan ushulnya dan membedakan keduanya. Tapi hadits dan atsar sahabat membatalkan pendapat beliau.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;5. Bila tidak mendapati satu raka’atpun bersama imam, maka tidaklah dianggap mendapati jama’ah. Karena ia menyelesaikan seluruh bagian shalatnya dengan sendirian. Ia tidak terhitung mendapati satupun bagian shalat bersama imam, seluruh bagian shalat dia kerjakan sendirian.[14]&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Pendapat ini adalah pendapat yang rajih, Wallahu a’lam bish Shawaab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hukum Berjama’ah Dalam Shalat Nafilah.[15]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Shalat nafilah (shalat tathawu’) sangat penting bagi seorang muslim, bahkan ia merupakan pelengkap dan penyempurna shalat fardhu. Melihat pentingnya permasalahan ini perlu diketahui secara jelas hukum seputar jama’ah dalam shalat nafilah.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Nafilah bila ditinjau dari pensyari’atan jama’ah padanya terbagi menjadi dua;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
A. Shalat nafilah yang disyari’atkan padanya jama’ah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Shalat nafilah yang disunnahkan berjama’ah adalah:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Shalat Kusuf (Shalat gerhana matahari).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Shalat ini disunnahkan berjama’ah dengan kesepakatan para fuqaaha’. Sedangkan shalat gerhana bulan terdapat perselisihan para ulama padanya. Imam Abu Hanifah dan Malik menyatakan tidak disunnahkan, sedangkan imam Syafi’I dan Ahmad menyatakan sunnahnya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;2. Shalat Istisqa’&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Disunnahkan berjamaah menurut madzhab Malikiyah, Syafiiyah, Hambaliyah dan dua murid Abu Hanifah yaitu Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan. Sedangkan Abu Hanifah berpendapat tidak disunnahkannya berjama’ah.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;3. Shalat Ied&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disunnahkan berjamaah secara ijma’ kaum muslimin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Shalat Tarawih&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
B. Shalat nafilah yang tidak disyari’atkan berjama’ah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Shalat yang disyariatkan melakukannya sendirian tidak berjama’ah sangat banyak sekali, diantaranya shalat rawatib, shalat sunnah mutlaqoh dan yang disunnahkan di setiap malam dan siang.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Tentang hukum melakukan shalat-shalat tersebut berjama’ah terjadi peselisihan diantara para ulama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Madzhab Syafiiyah dan Hambaliyah memperbolehkan berjama’ah, Madzhab Hanafiyah memakruhkannya dan madzhab Malikiyah membolehkan berjama’ah kecuali sunnah rawatib sebelum subuh. Mereka nyatakan hal itu menyelisihi yang lebih utama, selebihnya boleh dengan syarat jama’ahnya tidak banyak dan tidak ditempat yang terkenal, karena takut terjadi riya’ dan munculnya anggapan bahwa hak itu wajib.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Akan tetapi yang benar dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam , beliau pernah melakukan kedua-duanya. Pernah meklakukan shalat sunnah tersebut dengan berjama’ah dan sendirian. Sebagaimana riwayat berikut ini:&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;a.&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ جَدَّتَهُ مُلَيْكَةَ دَعَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِطَعَامٍ صَنَعَتْهُ فَأَكَلَ مِنْهُ ثُمَّ قَالَ قُومُوا فَأُصَلِّيَ لَكُمْ قَالَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ فَقُمْتُ إِلَى حَصِيرٍ لَنَا قَدْ اسْوَدَّ مِنْ طُولِ مَا لُبِسَ فَقَامَ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَفَفْتُ أَنَا وَالْيَتِيمُ وَرَاءَهُ وَالْعَجُوزُ مِنْ وَرَائِنَا فَصَلَّى لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ انْصَرَفَ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Dari Anas bin Malik Radhiallahu’anhu beliau menyatakan bahwa neneknya yang bernama Mualikah mengundang Rasulullah makan-makan yang dibuatnya. Lalu Rasulullah memakannya dan berkata: “bangkitlah kalian, aku akan shalat berjama’ah bersama kalian”. Anas berkata: aku mengambil tikarkami yang telah berwarna hitam karena lamanya pemakaian dan rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam bangkit. Aku dan seorang anak yatim membuat shof dibelakang beliau, sedang orang-orang tua wanita berdiri dibelakang kami. Rasulullah shalat dua raka’at kemudian pergi”[16]&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;b.عَنْ عِتْبَانَ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَاهُ فِي مَنْزِلِهِ فَقَالَ أَيْنَ تُحِبُّ أَنْ أُصَلِّيَ لَكَ مِنْ بَيْتِكَ قَالَ فَأَشَرْتُ لَهُ إِلَى مَكَانٍ فَكَبَّرَ&amp;nbsp; النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَفَفْنَا خَلْفَهُ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
“Dari Utbaan bin Maalik bahwa Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam mendatanginya di rumahnya, lalu berkata: “Dimana dari rumahmu ini yang kamu suka aku shalat untuk mu”. Lalu aku tunjukkan satu tempat. Kemudian beliau bertakbir dan kami membuat shof dibelakangnya. Beliau shalat dua raka’at”[17]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Demikian juga Syaikh Shalih As Sadlaan me-rajih-kan pendapat kebolehannya dengan syarat, sebagaimana pernyataan beliau: “Yang benar dari yang telah kami sampaikan, nafilah boleh dilakukan dengan berjama’ah. Baik nafilahnya adalah sunnah rawatib atau sunnah mustahabbah atau tathawu’ mutlaq. Tapi dengan syarat tidak menjadikannya satu kebiasaan, tidak ditampakkan secara terang-terangan dan dilakukan karena satu sebab seperti diminta tuan rumah atau kerena berbarengan dalam menunaikan sunah, seperti tamu ketika bertamu, seandainya dia dan tuan rumahnya shalat witir berjama’ah, dengan syarat tidak timbul kebid’ahan atau perkara yang tidak dibolehkan oleh Syari’at. Jika terjadi satu dari yang telah disebutkan maka tidak disyari’atkan berjama’ah”.[18]&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Kesimpulannya dibolehkan melaksanakan shalat sunnah berjama’ah selama tidak menimbulkan kebid’ahan atau pelanggaran syari’at dan dibutuhkan untuk itu. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Udzur Yang Memperbolehkan Tidak Menghadiri Shalat Berjama’ah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diperbolehkan tidak menghadiri shalat berjama’ah dengan sebab-sebab tertentu. Diantara sebab-sebab tersebut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Dingin dan hujan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan hadits dari Nafi’, beliau berkata:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;أَنَّ ابْنَ عُمَرَ أَذَّنَ بِالصَّلَاةِ فِي لَيْلَةٍ ذَاتِ بَرْدٍ وَرِيحٍ ثُمَّ قَالَ أَلَا صَلُّوا فِي الرِّحَالِ ثُمَّ قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْمُرُ الْمُؤَذِّنَ إِذَا كَانَتْ لَيْلَةٌ ذَاتُ بَرْدٍ وَمَطَرٍ يَقُولُ أَلَا صَلُّوا فِي الرِّحَالِ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Sesungguhnya Ibnu Umar beradzan untuk shalat pada malam yang dingin dan berangin kencang, kemudian berkata: “Ala Shollu Fi Rihaalikum (Shalatlah kalian di rumah kalian)”. Lalu beliau berkata: “Sesuangguhnya Raasululloh memerintahkan muadzin jika malam dingin dan berhujan mengatakan: “Ala Shollu Firihaal”.(Mutafaqun Alaihi).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;2. Sakit yang memberatkan penderitanya menghadiri jama’ah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan firman Allah Ta’ala :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;وَمَاجَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِن قَبْلُ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu“ (QS. Al Hajj 78)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;dan Sabda beliau Shallallahu’alaihi Wasallam ketika sakit dan tidak bisa mengimami shalat beberapa hari:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;مُرُوْا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ لِلنَّاسِ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
“Perintahkanlah Abu Bakr agar mengimami manusia”[19]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu Hazm berkata: “Ini tidak diperselisihkan”[20]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Kondisi tidak aman yang dapat membahayakan diri, harta dan kehormatannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan firman Allah Ta’ala :&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS. Al Baqarah 286)&lt;br /&gt;
dan sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ فَلَا صَلَاةَ لَهُ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
“Barang siapa yang mendengar adzan lalu tidak datang maka tidak ada shalat baginya kecuali karena udzur”[21]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam riwayat Al Baihaqi ada tambahan tafsir udzur disini dengan sakit atau rasa takut (situasi tidak aman). [22]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Saat makanan telah dihidangkan dan menahan hajat kecil atau besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;لَا صَلَاةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ وَلَا هُوَ يُدَافِعُهُ الْأَخْبَثَانِ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
“Tidak boleh shalat saat makanan dihidangkan dan tidak pula ketika menahan buang hajat kecil dan besar”[23]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Ketiduran&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;إِنَّهُ لَيْسَ فِي النَّوْمِ تَفْرِيطٌ إِنَّمَا التَّفْرِيطُ عَلَى مَنْ لَمْ يُصَلِّ الصَّلَاةَ حَتَّى يَجِيءَ وَقْتُ الصَّلَاةِالْأُخْرَى فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَلْيُصَلِّهَا حِينَ يَنْتَبِهُ لَهَا&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Bukanlah ketiduran tafrith (tercela), akan tetapi tafrith hanya pada orang yang tidak shalat sampai datang waktu shalat yang lainnya. Barang siapa yang berbuat demikian maka hendaklah shalat ketika sadar” [24]&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Demikianlah sebagian perkara yang penting yang berhubungan dengan shalat jama’ah. Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wallahu&#39;alam&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.&lt;br /&gt;
Artikel UstadzKholid.Com&lt;br /&gt;
________________________________________&lt;br /&gt;
[1] Al Mughni, 3/7. &lt;br /&gt;
[2] Al Ifshah An Ma’aanish Shihaah, 1/155, dinukil dari Shalatul Jam’ah karya Prof. DR. Shalih bin Ghaanim Assadlaan hal 47. lihat juga pernyataan kesepakatan ini dalam Raudhatun Nadiyah karya Shidiq Hasan Khan, 1/308.&lt;br /&gt;
[3] Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih-nya, kitab Al Jum’ah, Bab Ma Ja’a fil Witri, no 937&lt;br /&gt;
[4] Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya kitab Al Masaajid wa Mawaadhi’ Shalat, bab Jawaazu Al Jama’ah fin Nafilah wash Shalat Ala Hashiir Wa Khamrah no. 1056.&lt;br /&gt;
[5] Diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Sunan-nya, kitab Ash Shalat bab Fi Fadhli Shalatul Jama’ah no.467, An-Nasaa’i dalam sunannya kitab Al Imamah bab Al jama’ah idza kaana Itsnaini no.834, Ahmad dalam Musnad-nya no.20312 dan Al Haakim dalam Mustadrak-nya 3/269. Hadits ini di-shahih-kan Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya, 2/366-367, no. 1477.&lt;br /&gt;
[6] Diriwayatkan oleh imam Bukhari dalam Shahih-nya, kitab Al Maghaaziy no. 3963.&lt;br /&gt;
[7] Diriwayatkan oleh imam Bukhari dalam Shahih-nya&lt;br /&gt;
[8] Lihat Majmu’ Fatawa, 23/331.&lt;br /&gt;
[9] Lihat Shalatul Jama’ah hal 50. tentang tarjih mereka ini dapat dilihat dalam kitab Adaab Al Masyi Ila Shalat hal 29 dan Al Mukhtaraat Al Jaliyah Fil Masaail Al Fiqhiyah (dalam Al Majmu’ah Al Kaamilah Li Mualafat Syeikh Abdurrahman bin Naashir Assa’diy, 2/109).&lt;br /&gt;
[10] Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih-nya kitab Mawaaqitus Shalat bab Man Adraka Minas Shalat Rakaat no.546 dan Muslim dalam Shahih-nya kitab Al Masaajid wa Mawaadhi’ Shalat, Bab Man Adraka Minas Shalat Rakaat Faqad Adraaka Shalat no. 954&lt;br /&gt;
[11] Diriwayatkan oleh An Nasaa’i dalam Sunan-nya kitab Al Mawaaqit Bab Man Adraka Rak’atan Minas Shalat no. 554, Ibnu Maajah dalam Sunan-nya, kitab Iqamatush Shalat Was Sunnah Fiha, bab Ma Ja’a Fiman Adraka Minal Jum’at Rak’atan no.1113 dan Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya 3/173.&lt;br /&gt;
[12] Diriwayatkan oleh Abu Daud dalam sunannya kitab Ash Shalat Bab Fi Rajuli Yudrikul Imam Sajidan Kaifa Yasna’ no. 759&lt;br /&gt;
[13] Lihat Shalatul Jama’ah hal 51.&lt;br /&gt;
[14] Majmu’ Fatawa, 23/331-332 dengan sedikit pemotongan.&lt;br /&gt;
[15] Diringkas dari Shalatul Jama’ah, karya Syaikh Shalih As Sadlaan hal 74-78 dengan beberapa perubahan.&lt;br /&gt;
[16] Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahih-nya kitab Al Masaajid wa Mawaadhi’ Shalat bab Jawaazu Al Jama’ah Fin Nafilah was Shalat Ala Hashiir wa Khomrah no. 1053&lt;br /&gt;
[17] Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih-nya kitab Ash Shalat bab Idza Dahola Baitan Haitsu Syaa no. 406.&lt;br /&gt;
[18] Shalatul Jama’ah hal 77-78.&lt;br /&gt;
[19] Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih-nya&lt;br /&gt;
[20] Al Muhalla, 4/351.&lt;br /&gt;
[21] Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, kitab Al Masaajid wal Jama’ah, bab At Taghlidz fi At Takhalluf ‘Anil Jama’ah no. 785. hadits ini di-shahih-kan Al Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Maajah no. 631.&lt;br /&gt;
[22] Dibawakan oleh penulis kitab Shalat Jama’ah hal 199 dan dinisbatkan kepada Sunan Al Kubra Al Baihaqi, 1/185.&lt;br /&gt;
[23] Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya kitab Al Masaajid wa Mawaadhi Shalat bab Karahatus Shalat Bi Hadhratith Tho’aam no. 869.&lt;br /&gt;
[24] Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya kitab Al Masaajid wa Mawaadhi Shalat, bab Qadha’ Shalat Fawaait no. 1099&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://etalasesunnah.blogspot.com/2010/04/hukum-hukum-seputar-shalat-berjamaah.html</link><author>noreply@blogger.com (abufawwaz)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2036994941929057047.post-3718554897432396045</guid><pubDate>Sun, 04 Apr 2010 03:13:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-04-04T10:13:59.900+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Mabhats</category><title>17 Amalan Penghapus Dosa</title><description>Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Bismillahirrohmanirrohim&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Manusia pasti berbuat dosa dan pasti butuh ampunan Allah. Oleh karena itu Allah memberikan keutamaan dan kemurahan kepada hambaNya dengan mensyariatkan amalan-amalan yang dapat menghapus dosa disamping taubat. Sebagiannya dijelaskan dalam Al Qur’an dan sebagiannya lagi dalam Sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.Diantaranya sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Menyempurnakan wudhu dan berjalan ke masjid, sebagaimana disampaikan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ فَذَلِكُمْ الرِّبَاطُ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang dapat menghapu dosa dan mengangkat derajat. Mereka menjawab: ya wahai rasululloh. Beliau berkata: menyempurnakan wudhu ketika masa sulit dan memperbanyak langkah kemasjid serta menunggu shalat satu ke shalat yang lain, karena hal itu adalah ribath” (HR Muslim dan Al Tirmidzi).&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;Juga dalam sabda beliau yang lain:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;إِذَا تَوَضَّأَ الرَّجُلُ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ لَا يُخْرِجُهُ أَوْ قَالَ لَا يَنْهَزُهُ إِلَّا إِيَّاهَا لَمْ يَخْطُ خُطْوَةً إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً أَوْ حَطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةً&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Jika seseorang berwudhu lalu menyempurnakan wudhunya kemudian berangkat sholat dengan niatan hanya untuk sholat, maka tidak melangkah satu langkah kecuali Allah angkat satu derajat dan hapus satu dosa” (HR. Al Tirmidzi).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;2. Puasa hari Arafah dan A’syura’, dalilnya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ إِنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ وَ صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ إِنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Nabi Bersabda: Puasa hari Arafah saya berharap dari Allah untuk menghapus setahun yangsebelumnya dan setahun setelahnya dan Puasa hari A’syura saya berharap dari Allah menghapus setahun yang telah lalu” (HR. At Tirmidzi dan di-shahih-kan Al Albani dalam Shahih Al Jaami’ no. 3853)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;3. Shalat tarawih di bulan Ramadhan, dengan dalil sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَ احْتِسَابًا غفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Siapa yang menegakkan romadhon (shalat tarawih) dengan iman dan mengharap pahala Allah maka diampunilah dosanya yang telah lalu” (Muttafaqun ‘Alaihi)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;4. Haji yang mabrur, dengan dalil:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ وَ لَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Siapa yang berhaji lalu tidak berkata keji dan berbuat kefasikan maka kembali seperti hari ibunya melahirkannya” (HR. Al Bukhari)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;dan sabda beliau:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
“Haji mabrur balasannya hanyalah surga” (HR. Ahmad).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Memaafkan hutang orang yang sulit membayar, dengan dalil:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ أُتِيَ اللَّهُ بِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِهِ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَقَالَ لَهُ مَاذَا عَمِلْتَ فِي الدُّنْيَا قَالَ يَا رَبِّ آتَيْتَنِي مَالَكَ فَكُنْتُ أُبَايِعُ النَّاسَ وَكَانَ مِنْ خُلُقِي الْجَوَازُ فَكُنْتُ أَتَيَسَّرُ عَلَى الْمُوسِرِ وَأُنْظِرُ الْمُعْسِرَ فَقَالَ اللَّهُ أَنَا أَحَقُّ بِذَا مِنْكَ تَجَاوَزُوا عَنْ عَبْدِي&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Dari Hudzaifah beliau berkata Allah memanggil seorang hambaNya yang Allah karuniai harta. Maka Allah berkata kepadanya: Apa yang kamu kerjakan didunia? Ia menjawab: Wahai Rabb kamu telah menganugerahkanku hartaMu lalu aku bermuamalah dengan orang-orang. Dan dahulu akhlakku adalah memaafkan, sehingga aku dahulu mempermudah orang yang mampu dan menunda pembayaran hutang orang yang sulit membayar. Maka Allah berfirman: Aku lebih berhak darimu maka maafkanlah hambaKu ini” (HR. Muslim).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;6. Melakukan kebaikan setelah berbuat dosa, dengan dalil:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Bertakwalah kepada Allah dimanapun kamu berada, ikutilah kejelekan dengan kebaikan yang menghapusnya dan pergauli manusia dengan etika yang mulia” (HR Al Tirmidzi dan Ahmad dan dishohihkan Al Albani dalam Shohih Al Jaami’ no. 97.)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;7. Memberi salam dan berkata baik, dengan dalil sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;إِنَّ كِمْ كُوْجِبَاتِ الْمَغْفِرَةِ بَذْلُ السَّلاَمِ وَ حُسْنُ الْكَلاَمِ&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Sesungguhnya termasuk sebab mendapatkan ampunan adalah memberikan salam dan berkata baik” (HR Al Kharaithi dalam Makarim Al Akhlak dan di-shahih-kan Al Albani dalam Silsilah Al Ahadits Al Shahihah, no. 1035)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;8. Sabar atas musibah dengan, dalil sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ إِنِّي إِذَا ابْتَلَيْتُ عَبْدًا مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنًا فَحَمِدَنِي عَلَى مَا ابْتَلَيْتُهُ فَإِنَّهُ يَقُومُ مِنْ مَضْجَعِهِ ذَلِكَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ مِنْ الْخَطَايَا&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla berfirman: Sungguh Aku bila menguji seorang hambaKu yang mukmin, lalu ia memujiku atas ujian yang aku timpakan kepadanya, maka ia bangkit dari tempat tidurnya tersebut bersih dari dosa seperti hari ibunya melahirkannya” (HR Ahmad, dan dihasankan Al Albani dalam Silsilah Al Ahadits Al Shohihah no. 144).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;9. Menjaga shalat lima waktu dan jum’at serta puasa Ramadhan, dengan dalil sabda Rasulullah:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;الصلوات الخَمْسُ وَ الجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَ رَمَضَان إِلَى رَمَضَان مُكَفِّرَاتُ مَا بَينَهُمَا إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Sholat lima waktu dan jum’at ke jum’at dan Romadhon ke Romadhon adalah penghapus dosa diantara keduanya selama menjauhi dosa besar” (HR Muslim)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;10. Mengumandangkan adzan, dengan dalil sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;إِنَّ الْمُؤَذِّنَ يُغْفَرُ لَهُ مَدَى صَوْتِهِ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Seorang Muadzin diampuni dosanya sepanjang (gema) suaranya” (HR Ahmad dan dishohihkan Al Albani dalam Shahih AL Jaami’ no. 1929)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;11.  Shalat wajib, dengan dalil sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ قَالُوا لَا يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا قَالَ فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Bagaimana pendapat kalian seandainya ada sungai di pintu yang digunakan untuk mandi setiap hari lima kali, pa yang kalian katakan apakah tersisa kotorannya? Mereka menjawab: Tidak sisa sedikitpun kotorannya. Beliau bersabda: sholat lima waktu menjadi sebab Allah hapus dosa-dosa” (HR. Al Bukhari).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;12. Memperbanyak sujud, dengan dalil sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;عَلَيْكَ بَكَثْرَنِ السُّجُوْدِ فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَكَ اللهُ بِهَا دَرَجَةً وَ حَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيْئَةً&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Hendaklah kamu memperbanyak sujud kepada Allah, karena tidaklah kamu sekali sujud kepada Allah kecuali Allah mengangkatmu satu derajat dan menghapus satu kesalahanmu (dosa)” (HR Muslim).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;13. Shalat malam, dengan dalil:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;عَلَيْكَ بِقِيَامِ اللَيْلِ فَإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحِيْنَ قَبْلَكُمْ وَهُوَ قُرْبَةٌ لَكُم لإِلَى رَبِّكُمْ وَ مُكَفِّرَةٌ للسَّيْئَاتِ وَ مَنْهَاةٌ عَنِ الإِثْمِ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Hendaklah kalian sholat malam, karena ia adalah adat orang yang sholeh sebelum kalian dan amalan yang mendekatkan diri kepada Robb kalian serta penghapus kesalahan dan mencegah dosa-dosa” (HR Al Haakim, dan dihasankan Al Albani dalam Irwa’ Al Ghalil 2/199).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;14. Berjihad dijalan Allah, dengan dalil:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;يُغْفَرُ للشَّهِيْدِ كُلَّ ذَنْبٍ إلاَّ الدَّيْن&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
“Semua dosa orang yang mati syahid diampuni kecuali hutang” (HR Muslim)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
15. Mengiringi haji dengan umrah, dengan dalil:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;تَابِعُوْا بَيْنَ الحَجِّ وَ الْعُمْرَةِ فَإِنَّ مُتَابَعَةَ بَيْنَهُمَا تَنْفِيْ الْفَقْرَ وَ الذُّنُوْبِ كَمَا تَنْفِيْ الْكِيْرُ خَبَثَ الْحَدِيْدِ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Iringi haji dengan umroh, karena mengiringi antara keduanya dapat menghilangkan kefakiran dan dosa sebagaimana Al Kier (alat pembakar besi) menghilangkan karat besi” (HR Ibnu Majah dan dishohihkan Al Albani dalam Shohih Al Jaami’ no,2899)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;16. Shadaqah, dengan dalil:&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;إِن تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِن تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَآءَ فَهُوَ خَيْرُُ لَّكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنكُم مِّن سَيِّئَاتِكُمْ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرُُ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Baqarah: 271)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pun bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;الصَّدَقَةُ تُطْفِىءُ الْخَطِيْئَةَ كَمَا يُطْفِىءُ الْمَاءُ النَّارَ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Shadaqah menghapus dosa seperti air memadamkan api” (HR Ahmad, Al Tirmidzi dan selainnya dan di-shahih-kan Al Al Bani dalam Takhrij Musykilat Al faqr no. 117)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;17. Menegakkan hukum pidana sesuai syariat Islam, dengan dalil:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;أَيُّمَا عَبْدٍ أَصَابَ شَيْئَاً مَمَا نَهَى اللهُ عَنْهُ ثُمَّ أُقِيْمَ عَلَيْهِ حَدُّهُ كَفَرَ عَنْهُ ذَلَكَ الذَّنْبُ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Siapa saja yang melanggar larangan Allah kemudian ditegakkan padanya hukum pidana maka dihapus dosa tersebut” (HR Al Haakim dan dishohihkan Al Albani dalam Shahih Al Jaami’ no,2732)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;Wallahu&#39;alam&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; &lt;/div&gt;Demikian sebagian penghapus dosa, mudah-mudahan penjelasan ini bermanfaat.&lt;br /&gt;
—&lt;br /&gt;
Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.&lt;br /&gt;
Artikel UstadzKholid.Com&lt;/div&gt;</description><link>http://etalasesunnah.blogspot.com/2010/04/17-amalan-penghapus-dosa.html</link><author>noreply@blogger.com (abufawwaz)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2036994941929057047.post-4255818837113056843</guid><pubDate>Sun, 04 Apr 2010 03:01:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-04-04T10:01:38.160+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Piqih</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Piqih Thaharah</category><title>THAHARAH</title><description>Syaikh Abdul Azhim Bin Badawi Al-Khalafi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Bismillahirrohmanirrohim&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Thaharah, menurut bahasa, berarti  ‘ANNZHAAFAH  WANNAZAAHAH  MINAL  AHAHDAATS’ Artinya: Bersih dan suci dari  berbagai  hadas. Menurut  istilah fiqih ialah ‘raf’ul hadas au izalatun na jas menghilangkan hadas atau membersihkan najis {lihat Al-Majmul Syarhul Muhadzdab 1:79}.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Semua air yang  turun dari langit atau yang keluar dari dalam bumi, adalah suci dan mensucikan. Ini didasarkan pada firman Allah swt :&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;ﻭﺃﻨﺯﻠﻨﺂﻤﻥﺍﻠﺴﻤﺂﺀ ﻤﺍﺀ ﻁﻬﻭﺭﺍ&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;“Dan Kami menurunkan dari  langit air yang amat suci.”{QS. Al-Furqaan:48}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;ﻫﻭﺃﻟﻁﻬﻭﺭﻤﺂﺀﻩ ﺍﻟﺤﻝ ﻤﻴﺘﺘﻪ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Dan sabda Nabi saw. Tentang  air laut :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Ia (laut itu) suci airnya halal bangkainya.” {Shahih: Shahih Ibnu Majah no: 309, Muwatha’ Imam Malik hal. 26 no 40, Sunan Abu Dawud 1 : 136:138 dan Sunan Nasa’I 1 : 176}.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tidak boleh terburu-buru menghukumi bahwa air itu najis, sekalipun kejatuhan barang yang najis, kecuali apabila berubah (baunya, atau rasanya, atau warnanya) karena pengaruh barang yang najis tersebut. Ini di dasarkan pada hadist Abu Sa’id, ia berkata :&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Ada seorang sahabat yang bertanya ya Rasullah, bolehkah kami berwudhu’ dengan (air) sumur budha’ah ? Yaitu sebuah sumur yang darah haidh, daging anjing dan barang yang bau busuk dibuang di dalamnya,” Maka jawab Beliau saw.,”air itu suci, tidak bisa di najiskan oleh sesuatu apapun.”(Takhrij hadist ini persis dengan takhrij hadist tentang sumur budha’ah sebelumnya)”dalam Tuhfatul Ahwadzi 1:204 Al-Mubarakfuri menulis bahwa Ath-Thiybi berkata:”Makna di buang ke dalamnya ini, bahwa sumur ini adalah tempat berkumpulnya air dari sebagian lembah,sehingga tidak sedikit penduduk pedalaman yang singgah di sekitarnya, lalu mereka membuang kotoran yang dibawa dari rumahnya ke saluran air yang yang menuju ke sumur itu, sehingga akhirnya masuk kedalamnya, Kemudian si penanya dalam riwayat di atas mengungkapkan dengan member kesan bahwa ada sejumlah orang yang kurang taat kepada agamanya sengaja membuang kotoran kedalamnya, padahal  ini adalah perbuatan yang tidak boleh dilakukan seorang muslim. Kemudian pantaskah tuduhan ini dialamatkan kepada generasi terbaik paling bersih.”selasai  saya (Al-Mubarakfuri) berkata,”Bukan hanya satu ulama yang berpendapat seperti  ini adalah pendapat yang jelas harus diambil”Selesai.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;BENDA-BENDA NAJIS&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kata najaasaat adalah bentuk jama’, plural dari kata najaasah, yaitu segala sesuatu yang dianggap kotor oleh orang orang yang ber tabiat baik lagi selamat dan mereka menjaga diri darinya, mencuci pakaiannya yang terkena benda-benda yang najis termaksud, misalnya tinja dan kencing.{Lihat Ar-Raudhun Nidiyah 1: 12}&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pada asalnya segala sesuatu mubah dan suci, oleh karena itu barang siapa yang menanggapnya najis suatu benda,..? maka harus membawa dalil yang kuat. Jika ia mengemukakan dalil, maka ia benar. Jika tidak, atau membawa dalil yang tidak bisa dijadikan hujjah maka ia harus berpegang kepada hukum asal, yaitu suci dan mubah, karena ketetapan hukum najis adalah hukum taklifi (pembebanan) yang bersifat umum. Karena itu tidak boleh memvonis najis kecuali dengan mengemukakan hujjah.{Lihat As-Sailal Jarrar 1: 31, Shahih Sunan Abu Daud no: 834 dan Ar-Raudhatun Nadiyah 1: 15)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Diantara benda-benda najis berdasar dalil :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Air Kencing dan Kotoran Manusia&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun kotoran orang, di dasarkan pada hadist Abu Hurairah ra. Bahwa Rosullah saw.Bersabda :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;ﺇﺫﺍﻭﻁﻰﺀﺃﺤﺩ ﻜﻡ ﺒﻨﻌﻠﻪ ﺍﻷﺫﻯ ﻓﺈﻥﺍﻟﺘﺭﺍﺏ ﻟﻪ ﻁﻬﻭﺭ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Apabila seorang di antara kamu menginjak kotoran dengan alas kakinya, maka sejatinya debu menjadi pembersih baginya”.{Shahih Abu Dawud no: 834. Aunul Ma’bud II: 47 no: 381}.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Adapun kencing manusia didasarkan pada Hadist Anas :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;ﺃﻥﺃﻋﺭﺍ ﺒﻴﺎ ﺒﺎﻝ ﻓﻲﺍﻟﻤﺴﺠﺩ ﻓﻘﺎﻡ ﺇﻟﻴﻪ ﺒﻌﺽﺍﻟﻘﻭﻡ ﻓﻘﺎﻝ ﺭﺴﻭﻝﺍﷲ ﺩﻋﻭﻩﻻ ﺘﺯﺭﻤﻭﻩ ﻗﺎﻝ ﻓﻠﻤﺎ ﻓﺭﻍ ﺩﻋﺎ ﺒﺩﻟﻭﻤﻥ ﻤﺎﺀ ﻓﺼﺒﻪﻋﻟﻴﻪ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Bahwa  seorang  Arab Badwi kencing (pojok) dalam masjid, maka berdirilah sebagian, sahabat hendak menghalanginya, lalu Rasullah saw. Bersabda,”Biarkan ia (sampai selesai) dan jangan hentikan ia!” Cerita Anas (selanjutnya) bahwa tatkala ia selesai kencing, Beliau saw. Minta setimba air (kepada sahabat), lalu Beliau tuangkan di atasnya.”{Muttafaqun ‘alaih,Muslim 1:236 no:284 dan lafadz ini lafadz, Fathul Bari X:449 no: 6025}&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;2. Madzi  dan Wadi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Madzi ialah cairan bening, halus lagi lekat yang keluar ketika syahwat begejolak, tidak bersamaan dengan syahwat, tidak muncrat, dan tidak menyebabkan kendornya syahwat orang yang bersnagkutan. Bahkan tidak jarang yang bersangkutan tidak merasa bahwa dirinya telah mengeluarkan madzi, dan ini dialami laki-laki dan perempuan.(Periksa Syahru Muslim oleh Imam Nawawi III: 213).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Air Madzi hukumnya najis, karenanya Nabi saw. Menyuruh mencuci kemaluan yang telah mengeluarkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;ﻋﻥﻋﻟﻲ ﻗﺎﻝ ﮐﻨﺕ ﺭﺠﻼ ﻤﺫﺍﺀ ﻭﮐﻨﺕ ﺃﺴﺘﺤﻴﻲﺃﻥ ﺃﺴﺄﻝ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﻟﻤﻜﺎﻥ ﺍﺒﻨﺘﻪ ﻓﺄﻤﺭﺕ ﺍﻟﻤﻘﺩﺍﺩ ﺒﻥ ﺍﻷﺴﻭﺩ ﻓﺴﺄﻟﻪ ﻓﻘﺎﻝ ﻴﻐﺴﻝ ﺫ ﻜﺭﻩ ﻭﻴﺘﻭﻀﺄ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Dari Ali bin Abi Thalib ra. Berkata: Aku adalah seorang laki-laki yang sering mengeluarkan madzi, aku merasa malu bertanya (langsung) kepada Nabi saw. Karena aku suami puterinya. Lalu kuperintah Al-Miqdad bin Al-Aswad (menanyakan kepada Beliau), kemudian ia bertanya kepada Beliau, lalu Beliau bersabda,’(hendaklah) ia membersihkan  kemaluannya dan (lalu) berwudhu’!”{Muttafaqqun Alaih, Muslim 1:247 no: 303 dan lafadz ini baginya, Fathul Bari I : 230 no: 132 dengan ringkas}&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Adapun yang dimaksud Wadi ialah cairan bening yang agak kental biasa keluar usai air kecil (Fiqhus Sunnah 1:24). Hukum Wadi Najis, beradasarkan riwayat berikut :&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;ﻋﻥ ﺍﺒﻥﻋﺒﺎﺱ ﻗﺎﻝﺍﻟﻤﻨﻲ ﻓﻬﻭﺍﻟﺫﻱ ﻤﻨﻪ ﺍﻟﻐﺴﻝ ﻭﺃﻡ ﺍﻟﻭﺩﻯ ﻭﺍﻟﻤﺫﻱ ﻓﻘﺎﻝ ﺇﻏﺴﻝ ﺫ ﻜﺭﻙ ﺃﻭﻤﺫﺍﻜﻴﺭﻙ ﻭﺘﻭﻀﺄ ﻭﻀﻭﺀ ﻙ ﻟﺼﻼﺓ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Dari Ibnu Abbas ra. Katanya, Mani, wadi, dan mazdi, adapun mani maka harus mandi karena mengeluarkannya. Adapun wadi dan madzi, maka ia berkata, Hendaklah mencuci dzakarmu atau kemaluanmu dicuci dan berwudhu’lah sebagaimana wudhu’mu untuk shalat! “ (Shahih Sunan Abu Dawud no: 190 dan Al-Baihaqi 1: 115)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
3. Kotoran Hewan yang Dagingnya Tidak Dimakan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini sebagaimana yang di jelaskan dalam riwayatkan berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;ﻋﻥﻋﺒﺩﺍﷲ ﻗﺎﻝ ﺃﺭﺍﺩ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺃﻥ ﻴﺘﺒﺭﺯﻓﻘﺎﻝ ﺍﺌﺘﻨﻲ ﺒﺜﻼ ﺜﺔ ﺃﺤﺠﺎﺭﻓﻭﺠﺩﺕ ﻟﻪ ﺤﺠﺭﻴﻥ ﻭﺭﻭﺜﺔ ﺤﻤﺭﻓﺄﻤﺴﻙ ﺍﻟﺤﺠﺭﻴﻥ ﻭﻁﺭﺡ ﻟﺭﻭﺜﺔ ﻭﻗﺎﻝﻫﻲ ﺭﺠﺱ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Dari Abdullah RA. Ia berkata : Nabi saw. Hendak  buang air besar, lalu bersabda,’Bawakan untukku  tiga buah batu!’ Kemudian kudapati untuk Beliau dua batu dan kotoran keledai. Beliau mengambil dua batu itu dan melemparkan kotoran hewan itu, lalu Beliau saw. Bersabda, ‘Ia kotor lagi keji.” (Shahih Ibnu Majah no: 253. Shahih Ibnu Khuzaimah 1 : 39 no : 70, selain Ibnu Khuzaimah tidak memakai lafadz himar ‘keledai’, Fathul Bari I: 256 no: 156. Nasa’i 1: 39 Tirmidzi 1 : 13 no: 17 dan Ibnu Majah 1: 114 no: 314).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Air Liur Anjing&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagaimana dijelaskan riwayat berikut ini :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;ﻋﻥﺃﺒﻲﻫﺭﻴﺭﺓ ﻗﺎﻝ ﻗﺎﻝﺭﺴﻭﻝﷲ ﻁﻬﻭﺭﺇﻨﺎﺀ ﺃﺤﺩﻜﻡ ﺇﺫﺍ ﻭﻟﻎ ﻓﻴﻪ ﺍﻟﻜﻠﺏﺃﻥ ﻴﻐﺴﻟﻪ ﺴﺒﻊ ﻤﺭﺍﺕﺍﻭﻻﻫﻥ ﺒﺎﻠﺘﺭﺍﺏ &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Dari Abu Hurairah ra. Bahwa Rasullah saw. Bersabda: Sucinya bejana seorang di antara kamu yang dijilat anjing ialah (hendaklah) mencucinya tujuh kali, yang pertama dicampur dengan debu.” (Shahih Jami’ush Shaghir no: 3933 dan Muslim 1: 234 no. 91 dan 279).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
5. Darah haidh&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagaimana dijelaskan dalam riwayat Hadist berikut ini :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;ﻋﻥﺃﺴﻤﺎﺀ ﺒﻨﺕﺃﺒﻰﺒﻜﺭﻗﺎﻟﺕ ﺠﺎﺀﺕ ﺍﻤﺭﺃﺓ ﺇﻟﻰﺍﻟﻨﺒﻲ ﻓﻘﺎﻟﺕ ﺇﺤﺩﺍﻨﺎ ﻴﺼﻴﺏ ﺜﻭﺒﻬﺎ ﻤﻥﺩﻡﺍﻟﺤﻴﺽ ﻜﻴﻑ ﺘﺼﻨﻊ ﻓﻘﺎﻝ ﺘﺤﺘﻪ ﺜﻡ ﺘﻘﺭﺼﻪ ﺒﺎﻟﻤﺎﺀ ﺜﻡ ﺘﻨﻀﻌﻪ ﺜﻡ ﺘﺼﻟﻰ ﻓﻴﻪ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Dari Asma’ binti  Abu Abu Bakar, ia berkata: telah datang seorang perempuan kepada Nabi saw. Seraya berkata,”(wahai Rasullah), seseoranag diantara kami, pakaiannya terkena haidh, bagaimana ia harus berbuat?”Maka sabda Beliau,”(hendaklah)ia menggosokkan, kemudian mengeriknya dengan air, kemudian membilasnya, lalu (boleh) shalat dengannya.”(Muttafuqqun ‘alaih, Muslim 1: 240 no: 291 dan lafadz ini baginya, Fathul Bari 1: 410 no: 307)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
6. Bangkai&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bangkai ialah binatang yang mati tanpa disembelih secara syar’i. ini di dasarkan pada sabda Nabi sawa.:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;ﺇﺫﺍﹸﺫﺒﻎ ﺍﻹﻫﺎﺏ ﻓﻘﺩ ﻁﻬﺭ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Apabila kulit bangkai disamak maka ia menjadi suci.”(Shahih Jami’ush Shaghir no: 511,             Muslim 1: 277 no: 366 dan ‘Aunul Ma’bud XI: 181 no: 4105).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Yang dimaksud kata Al-Ilhab ialah, kulit bangkai yang belum disamak. Kemudian dikecualikan beberapa bangkai yang tidak najis: Bangkai Ikan dan Belalang, Bangkai Darahnya tidak mengalir, Tulang bangkai, serta tanduk, kuku, rambut dan bulunya..Bersambung..&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Wallahu&#39;alam&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber : Al-Wajiz,Ensiklopedi Piqih Islam dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah As-Shahihah, Penulis : ‘Abdul ‘Azhim bin Badawi Al-Khalaf, Penerbit Pustaka Assunnah &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://etalasesunnah.blogspot.com/2010/04/thaharah.html</link><author>noreply@blogger.com (abufawwaz)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2036994941929057047.post-5576215477760416812</guid><pubDate>Sun, 04 Apr 2010 02:48:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-04-04T09:48:19.924+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Piqih</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Piqih Niat</category><title>Peran Niat Dalam Amal 2</title><description>Al-Ustadz Abul ‘Abbas Khalid Syamhudi, Lc&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bismillahirrohmanirrohim&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Hukum Melafazhkan Niat &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Niat tempatnya di hati, bukan diucapkan dengan lisan; dalam semua ibadah, seperti bersuci (thaharah), shalat, zakat, puasa, haji, membebaskan budak serta berjihad di jalan Allah, dan lainnya. Meskipun yang diucapkan lisan berbeda dengan apa yang ia niatkan dalam hati, maka yang diperhitungkan ialah yang diniatkan, bukan yang dilafazhkan.Walaupun ia mengucapkan dengan lisannya bersama niat, sedangkan niat belum sampai ke dalam hatinya, maka hal itu tidak cukup.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Demikian menurut kesepakatan para imam kaum Muslimin, karena sesungguhnya niat itu adalah jenis tujuan dan kehendak yang pasti. Orang Arab biasa mengatakan:&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;ﻨﻭﺍﻙﺍﷲ ﺒﺨﻴﺭ&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Artinya : (Allah menunjukkan kepada kamu kebaikan)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Al-Qadhi Abur Rabi’ Sulaiman bin ‘Umar Asy Syafi’i mengatakan: “Melafazhkan niat di belakang imam bukan perkara sunnah, bahkan hukumnya makruh. Jika mengganggu orang lain, maka hukumnya haram. Barangsiapa yang mengatakan bahwa melafazhkan niat termasuk sunnah, maka dia salah; dan tidak halal bagi siapapun berkata dalam agama Allah tanpa ilmu.” (Al Qaulul Mubin Fi Akhtha’il Mushallin, hlm. 91).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Abu Abdillah Muhammad bin Qasim At Tunisi Al Maliki mengatakan: “Niat termasuk amal hati, dan melafazhkan niat adalah bid’ah. Disamping itu, juga mengganggu orang lain.” (Ibid, hlm. 91).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Talafuzh (melafazhkan) niat tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika berwudhu, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah membaca “nawaitu raf al hadatsil ashghar”, dan tidak juga membaca “nawaitu raf al hadatsil akbar” ketika mandi janabah (junub).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga tidak melafazhkan niat “nawaitu fardha Dhuhri arba’a raka’atin mustaqbilal qiblati”, …ketika mulai shalat atau ketika mulai puasa dan lainnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Melafazhkan niat tidak pernah diriwayatkan oleh seorangpun,baik dengan riwayat yang shahih, dhaif, maupun mursal. Tidak seorangpun sahabat yang meriwayatkan, dan tidak ada seorang tabi’in pun yang menganggap baik masalah ini, dan tidak pula dilakukan oleh empat Imam Madzhab yang mashur, seperti Imam Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukan talafuzh niat, meski hanya satu kali dalam shalatnya, dan tidak pula dilakukan oleh para khalifahnya. Ini adalah petunjuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sunnah para sahabat. Tidak ada petunjuk yang lebih sempurna, melainkan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana sabdanya:&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;ﻭﺨﻴﺭﺍﻟﻬﺩ ﻱ ﻫﺩﻱ ﻤﺤﻤﺩ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Artinya : “Sesungguhnya sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam”.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Imam Jalaluddin As Suyuti (wafat th. 921 H) berkata: “Di antara perkara yang termasuk bid’ah ialah, was-was dalam niat shalat. Hal ini tidak pernah dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak juga para sahabatnya. Mereka tidak pernah mengucapkan sesuatu bersama niat shalat (nawaitu ushalli, … ), selain hanya takbiratul ihram saja. Allah berfirman:&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;ﻟﻘﺩ ﻜﺎﻥ ﻟﻜﻡ ﻓﻲ ﺭﺴﻭﻝﷲ ﺃﺴﻭﺓ ﺤﺴﻨﺔ ﻟﻤﻥ ﻜﺎﻥ ﻴﺭﺠﻭﺍﷲﻭﺍﻟﻴﻭﻡ ﻷﺨﺭﻭﺫﻜﺭﺍﷲ ﻜﺜﻴﺭﺍ&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Artinya : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat, dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al Ahdzab : 21)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Imam Syafi’i mengatakan, orang yang was-was dalam niat shalat dan bersuci, adalah orang yang bodoh tentang syari’at dan rusak pikirannya. (Al Amru Bil Ittiba’ Wan Nahyu ‘Anil Ibtida’, oleh Imam Jalaludin As Suyuthi, hlm. 295-296, tahqiq Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sebab kekeliruan orang-orang yang mengikuti madzhab Syafi’I ialah, karena kesalahfahaman dalam memahami perkataan Imam Asy Sayafi’i. Imam Syafi’i mengatakan: “Apabila seseorang niat haji dan umrah sudah cukup, meskipun tidak dilafazhkan. (Ini) berbeda dengan shalat, karena shalat itu tidak sah melainkan dengan ucapan.”&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Imam Nawawi mengatakan: “Telah berkata para sahabat kami (ulama dari madzhab Syafi’i), orang yang memahami bahwa ucapan itu (ushalli,…) adalah keliru. Karena yang dimaksud Imam Asy Syafi’i bukan demikian. Akan tetapi, yang dimaksud beliau rahimahullah adalah ucapan mulai shalat, yaitu takbiratul ihram.”&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dengan demikian, para ulama memfatwakan, bahwa melafazhkan niat adalah bid’ah dan munkar, dan jauh dari petunjuk&lt;b&gt; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;Niat yang Ikhlas Merupakan Dasar Diterimanya Amal&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Keberadaan niat harus disertai dengan menghilangkan segala keburukan, nafsu, dan keduniaan. Niat itu harus ikhlas karena Allah dalam setiap amal, agar amal itu diterima di sisi Allah. Setiap amal shalih mempunyai dua syarat, yang tidak akanditerima kecuali dengan keduanya, yaitu:&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Pertama : Niat yang ikhlas dan benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kedua : Sesuai dengan Sunnah, mengikuti contoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan syarat pertama, kebenaran batin akan terwujud. Dan dengan syarat kedua, kebenaran lahir akan terwujud.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tentang syarat pertama telah disebutkan dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya amal-amal itu hanya tergantung pada niatnya.” Inilah yang menjadi timbangan batin.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Sedangkan syarat kedua disebutkan dalam sabda &lt;b&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;ﻤﻥ ﻋﻤﻝ ﻋﻤﻶ ﻟﻴﺱ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﻤﺭﻨﺎ ﻓﻬﻭﺭﺩ&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Artinya : “Barangsiapa yang beramal tanpa adanya tuntutan dari kami, maka amalan tersebut tertolak. (HR. Bukhari no. 2697, Muslim no. 1718, Abu Dawud no. 4606 dan Ibnu Majah no. 14 dari hadits Aisyah) &lt;/div&gt;Allah telah menyebutkan dua syarat ini dalam beberapa ayat, di antaranya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;ﻭﻤﻥﺃﺤﺴﻥ ﺩ ﻴﻨﺎ ﻤﻤﻥ ﺃﺴﻠﻡ ﻭﺠﻬﻪ ﺍﷲ ﻭﻫﻭﻤﺤﺴﻥ ﻭﺍﺘﺒﻊ ﻤﻠﺔ ﺇﺒﺭﺍﻫﻴﻡ ﺤﻨﻴﻔﺎ ﻭﺘﺨﺫﺍﷲ ﺍﺒﺭﺍﻫﻴﻡ ﺨﻠﻴﻸ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Artinya : “Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedangkan diapun mengerjakan kebaikan dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus”. (QS An Nisa`: 125)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Menyerahkan dirinya kepada Allah artinya, mengikhlaskan amal kepada Allah, mengamalkan dengan iman dan mengharapkan ganjaran dari Allah. Sedangkan berbuat baik artinya, dalam beramal mengikuti apa yang disyariatkan Allah, dan apa yang dibawa oleh Rasul-Nya berupa petunjuk dan agama yang haq.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dua syarat ini, bila salah satunya tidak terpenuhi, maka amal ini tidak sah. Jadi harus ikhlas dan benar. Ikhlas karena Allah, dan benar mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lahirnya ittiba’, dan batinnya ikhlas. Bila salah satu syarat ini hilang, maka amal itu akan rusak. Bila hilang keikhlasan, maka orang itu akan jadi munafik dan riya’ kepada manusia. Sedangkan bila hilang ittiba’, artinya tidak mengikuti contoh  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka orang itu sesat dan bodoh (jahil). (Tafsir Ibnu Katsir, I/616, Cet. Darus Salam).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dari uraian di atas, jelaslah, betapa pentingnya peran niat dalam amal. Niat itu harus ikhlas. Dan ikhlas semata tidak cukup menjamin diterimanya amal, selagi tidak sesuai dengan ketetapan syariat dan dibenarkan Sunnah. Sebagaiman amal yang dilakukan sesuai dengan ketentuan syariat, tidak akan diterima, selagi tidak disertai dengan ikhlas; sama sekali tidak ada bobotnya dalam timbangan amal. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Faedah dan Pelajaran dari Hadits Ini&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Niat termasuk iman, karena termasuk amalan hati. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Wajib bagi setiap muslim mengetahui hukum dan kedudukan amal yang tidak dilakukan, disyariatkan atau tidak, wajib atau sunnah; karena amal tidak bisa lepas dari niat yang disyariatkan. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Disyariatkan niat secara sadar dalam amal-amal ketaatan. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Amal tergantung dari niat, tentang sah atau tidaknya, sempurna dan kurangnya. Taat dan maksiat. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Niat tempatnya di hati, bukan di lisan. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Melafazhkan niat adalah bid’ah. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Amal harus sesuai dengan Sunnah, karena ia termasuk syarat diterimanya amal. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&amp;nbsp;Niat yang baik tidak bisa membuat yang haram menjadi halal, yang munkar menjadi ma’ruf, atau yang bid’ah menjadi sunnah. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Baiknya tujuan, tidak bisa menghalalkan segala cara. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Wajib berhati-hati dari riya’, sum’ah (memperdengarkan pada orang lain), atau beramal karena dunia, karena akan menghapuskan amalan yang baik. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Manusia senantiasa digoda setan sehingga dapat merusak keikhlasan amalnya. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Wajib bagi setiap muslim dan muslimah memperhatikan perbaikan hati. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ganjaran pahala yang diberikan Allah atas amal-amal hambaNya tergantung kepada niatnya. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Hijrah dari negeri syirik atau kafir ke negeri Islam merupakan ibadah yang utama, bila diniatkan karena mencari wajah Allah. Dan bagi yang tidak dapat melaksanakan ibadah karena Allah, ia wajib hijrah. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Keutamaan hijrah kepada Allah dan RasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Hijrah tetap berlaku selama diperangi musuh- musuh Islam. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Adapun hadits: … ﻻﻫﺠﺭﺓ ﺒﻌﺩﺍﻟﻔﺘﺡ…&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tidak ada hijrah sesudah Fathu Makkah. (HR. Bukhari no. 2783 dan Muslim no. 1864), maksudnya ialah, hijrah dari Makkah ke Madinah, karena Makkah menjadi Darul Islam (Negeri Islam). &lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Wallahu&#39;alam&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maraji’:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Tafsir Ibnu Katsir, Cet. Darus Salam. &lt;br /&gt;
2. Shahih Bukhari, dan syarah-nya Fathul Bari, Cet. Darul Fikr. &lt;br /&gt;
3. Shahih Muslim, dan Syarah Muslim Lil Imam An Nawawi. &lt;br /&gt;
4. Sunan Abu Daud. &lt;br /&gt;
5. Jami’ At Tirmidzi dan Tuhfathul Ahwadzi Syarah Sunan At Tirmidzi. &lt;br /&gt;
6. Sunan An Nasa-i. &lt;br /&gt;
7. Sunan Ibnu Majah. &lt;br /&gt;
8. Musnad Ahmad. &lt;br /&gt;
9. Al Muntaqa, Ibnul Jarud. &lt;br /&gt;
10. Sunan Baihaqi. &lt;br /&gt;
11. Shahih Ibnu Khuzaimah. &lt;br /&gt;
12. At Ta’liqatul Hisan ‘Ala Shahih Ibni Hibban. &lt;br /&gt;
13. Jami’ul ‘Ulum Wal Hikam, oleh Ibnu Rajab Al Hanbali, tahqiq oleh Syu’aib Al Arnauth dan Ibrahim Bajis, Cet. Mu’assassah Ar Risalah, Th. 1419H. &lt;br /&gt;
14. ‘Iqazhul Himam Al Muntaqa Min Jami’il ‘Ulum Wal Hikam, oleh Syaikh Salim bin ‘Id Al Hilali. &lt;br /&gt;
15. Syarah Arba’in, oleh Imam Nawawi. &lt;br /&gt;
16. Syarah Arba’in, oleh Ibnu Daqiqil ‘Id. &lt;br /&gt;
17. I’lamul Muwaqqi’in, tahqiq Syaikh Masyhur Hasan Salman. &lt;br /&gt;
18. Majmu’ Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. &lt;br /&gt;
19. Maqashidul Mukallifin, An Niyyat Fil ‘Ibadat, oleh Dr. Umar Sulaiman Al Asyqar, Cet. Darun Nafa-is, Th. 1415 H. &lt;br /&gt;
20. Qawa-id Wa Fawa-id minal Arba’in An Nawawiyah, oleh Nadhim Muhammad Sulthan. &lt;br /&gt;
21. Bahjatun Nazhirin Syarah Riyadhush Shalihin, oleh Syaikh Salim bin ‘Id Al Hilali. &lt;br /&gt;
22. Nailul Authar, oleh Imam Asy Syaukani. &lt;br /&gt;
23. Al Qaulul Mubin Fi Akhthail Mushallin, oleh Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman. &lt;br /&gt;
24. Al Amru Bil Ittiba’ Wan Nahyu ‘Anil Ibtida`, oleh Imam As Suyuthi, tahqiq Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman. &lt;br /&gt;
25. Ilmu Ushulil Bida`, oleh Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid. &lt;br /&gt;
26. Lisanul ‘Arab Libni Manzhur, 14/343, Cet. Daar Ihya At Turats Al ‘Arabi. &lt;br /&gt;
27. Mu’jamul Wasith, dan kitab lainnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://etalasesunnah.blogspot.com/2010/04/peran-niat-dalam-amal-2.html</link><author>noreply@blogger.com (abufawwaz)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2036994941929057047.post-989589418423133292</guid><pubDate>Sun, 04 Apr 2010 02:25:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-04-04T09:25:40.583+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Aqidah</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Firaq</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Mabhats</category><title>Sudahkah Anda Mengenal Jama&#39;ah Tabligh ?</title><description>UST. ABDUL HAKIM BIN AMIR ABDAT&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Bismillahirrohmanirrohim&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sebuah pertanyaan yang sangat mendasar sekali yang ditanyakan kaum muslimin kepada para Ulama dan Imam mereka Ahlussunnah Wal Jama’ah yang berjalan di atas Manhaj Salafus Shalih. Mereka bertanya tentang sebuah gerakan dari firqah yang sesat dan menyesatkan yang muncul pertama kalinya dari India kemudian berkembang dan mempunyai pengikut yang cukup banyak dari orang-orang awam kaum muslimin yang tersebar luas di belahan bumi ini.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Firqah ini telah menyimpang jauh sekali dari ajaran Islam yang shahih yang berasarkan Al-qur’an dan As-Sunnah yang shahihah menurut pemahaman para Shahabat, Tabi’in dan taabi’ut Taabi’in. penyimpangan mereka meliputi Aqidah, Ibadah, Adab dan Akhlak dan lain-lain. Sedangkan inti dari penyimpangan mereka ialah bahwa mereka telah menyelisihi dan menyalahi apa yang diyakini dan amalkan dan dida’wahkan oleh Rasullah saw. Bersama para shahabat beliau.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jama’ah Tabligh berjalan diatas manhaj ahli bid’ah maturidiyyah dan suffiyah dengan berbagai macam tarekatnya yang telah dipenuhi oleh berbagai macam kesyirikan, bid’ah, khurafat dan kepura-puraan bersama kebencian yang dalam terhadap Ulama dan Imam Ahlussunnah Wal jama’ah.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;JAMA’AH TABLIGH&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jama’ah Tabligh termasuk Ahlul Bid’ah dan firqah sesat yang menyesatkan dari firqah-firqah shufiyyah. Firqah tabligh ini terbit dari India yang didirikan oleh seorang shufi tulen bernama Muhammad Ilyas. Kemudian firqah sesat ini mulai mengembangkan ajarannya dan masuk ke negeri-negeri Islam seperti Indonesia dan Malaysia dan lain-lain.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jama’ah Tabligh ini di bina atas dasar kejahilan diatas kejahilan yang dalam dan merata yang diawali oleh pendirinya, pengganti-penggantinya, amir-amirnya, tokoh-tokohnya, syaikh-syaikhnya, murid-muridnya, istimewa pengikut-pengikutnya dari orang-orang awam. Kejahilan mereka terhadap Islam, mereka hanya melihat Islam dari satu bagian dan tidak secara keseluruhan sebagaimana yang Allah perintahkan,”Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam (ajaran) Islam secara kaffah (keseluruhan).”{QS.Al-Baqarah : 208}&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kerusakan Aqidah mereka yang dipenuhi dengan kesyirikan yang berdiri diatas Manhaj Sufiyyah.Ibadah mereka yang dipenuhi dengan bid’ah yang sangat jauh dari Sunnah. Akhlak dan adab mereka yang dibuat-buat angat jauh dari akhlak Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabat. Mereka sangat fakir dan miskin dari ilmu karena mereka sangat menjauhi ilmu. Kebencian dan kedengkian mereka yang sangat dalam kepada imam-imam Ahlus sunnah Wal jama’ah seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Muhammad bin Abdul Wahab dan lain-lain.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bahkan  salah seorang amir dari Jama’ah Tabligh ini pernah berkata dengan sangat marah sekali,” Kalau seandainya aku mempunyai kekuatan sedikit saja, pasti akan aku bakar kitab-kitab Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim dan Ibnu Abdul Wahab. Dan aku tidak akan tinggalkan sedikitpun juga dari kitab-kitab mereka yang ada di permukaan bumi ini,” (Dari Kitab Al Qaulul Baligh fit Tahdzir min Jama’atit Tabligh hal. 44-45 oleh Syaikh Hamud bin Abdullah bin Hamud At-Tuwaijiriy). Alangkah besarnya kebencian dan permusuhan mereka terhadap pembela-pembela sunnah.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
BID’AH-BID’AH JAMA’AH TABLIGH&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diantara bid’ah-bid’ah Jama’ah Tabligh ialah “ Ushul Sittah” (dasar yang enam) yaitu :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama : Kalimat Thayyibah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Yaitu dua kalimat syahadat, yang mereka maksud hanya terbatas pada Tauhid Rububiyyah yaitu mengesahkan Allah di dalam penciptaan-Nya, kekuasaan-Nya, pengaturan-Nya dan lain-lain yang masuk ke dalam Tauhid Rububiyyah.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tauhid inilah yang mereka amalkan dan menjadi dasar didalam dakwah mereka. Adapun Tauhid Uluhiyyah atau Tauhid Ubudiyyah (mngesahkan Allah didalam beribadah kepada-Nya) dan Tauhid Asma Wa Sifat (mengesakan Allah didalam nama dan sifatnya tanpa ta’wil) tidak ada pada mereka baik secara ilmu maupun amal dan dakwah. Oleh karena itu mereka membatasi berhala, istimewa pada zaman ini, hanya lima macam berhala yaitu :&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt; Berusaha mencari rizki dengan menjalani sebab-sebabnya seperti berdagang atau membuka took dan lain-lain dari jalan yang halal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&amp;nbsp;Inilah yang dikatakan berhala oleh Jama’ah Tabligh, karena dia akan melalaikan manusia dari kewajiban agama kecuali kalau mereka Khuruj (keluar dijalan Allah Menurut istilah Firqah Tabligh) bersama Jama’ah Tabligh!?&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt; Berhala yang kedua yaitu : Keluarga dan Teman&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Karena mereka ini pun melalaikan manusia dari menegakkan kewajiban kecuali kalau mereka Khuruh bersama Jama’ah Tabligh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Berhala yang ketiga yaitu : Nafsu Ummarah Bissu’u (nafsu yang memerintahkan berbuat kejahatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Karena menurut mereka nafsu ummaarah ini menghalangi manusia dari berbuat kebaikan dan dari jalan Allah seperti Khuruj bersama Jama’ah Tabligh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Berhala yang keempat yaitu Hawa Nafsu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Karena menurut Jama’ah Tabligh hawa nafsu ini akan menghalangi manusia dari kebaikan seperti Khuruj bersama mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Berhala yang kelima yaitu : Syaithan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; Yang terakhir ini menurut Jama’ah TAbligh sangat besar menghalangi manusia dari kebaikan seperti Khuruj bersama Jama’ah Tabligh.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kedua : Shalat Lima Waktu, shalat jum’at, shalat jama’ah di masjid, shalat yang khusu’,                Shalat  pada shaf yang pertama, memperbanyak shalat-shalat sunnat dan lain-lain.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Yang pada hakikatnya amal-amal di atas diwajibkan dan sangat disukai di dalam. Akan tetapi Jama’ah Tabligh telah melalaikan beberapa kewajiban untuk menegakkan amal-amal di atas di antaranya :&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;1. Ilmu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka beramal dengan kebodohan tanpa ilmu kecuali Ilmu Fadhaa-il Amal (Keutamaan-utamaan amal)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Mengikuti Sunnah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Mereka meninggalkan mengikuti Sunnah Nabi saw. Dengan berpegang kepada bid’ah, taqlid dan ta’ashushub madzhabiyyah.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;3. Melalaikan mempelajari rukun-rukun, kewajiban-kewajiban dan hukum-hukum dari amal-amal diatas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Oleh karena itu kita lihat mereka tidak mengerti cara shalat Rasullah saw. Adapun masjid, maka mereka mengajak ke masjid-masjid tempat mereka berkumpul.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Ketiga: Ilmu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang  mereka maksudkan dengan ilmu ialah :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Ilmu Fadhaa-il&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ilmu tentang mempelajari keutamaan-keutamaan amal menurut mereka. Adapun ilmu tauhid dan ahkaam (hukum-hukum) dan masalah fiqhiyyah (fiqih) dan ilmu berdasarkan dalil-dalil Al-Kitab dan Sunnah, mereka sangat jauh sekali dan melarangnya bahkan memeranginya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;2. Ilmu tentang rukun iman dan islam&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Akan tetapi mereka memelajarinya atas dasar tarekat-tarekat shufiyyah, khurafat-khurafat, hikayat-hikayat yang batil dan ta’ashub madzhabiyyah.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Keempat : Memuliakan atau menghormati kaum muslimin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Menurut Jama’ah Tabligh setiap orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat, maka wajib bagi  kita memuliakan dan menghormatinya meskipun orang tersebut telah mengerjakan sebesar-besar dosa besar seperti Syirik. Menurut mereka : Kami tidak membenci  pelaku maksiat akan tetapi yang kami benci  adalah maksiatnya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Di dalam dasar yang keempat ini mereka sangat berlebihan menghormati atau memuliakan kaum muslimin dengan meninggalkan nahi mungkar dan nasehat dan dengan cara yang dibuat-buat.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Kelima : Mengikhlaskan Niat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Mengikhlaskan niat agar supaya jauh dari riya’ dan sum’ah (memperdengarkan amal kebaikan). Akan tetapi mereka meninggalkan Sunnah dan mengikuti cara-cara ikhlas di dalam tashawwuf.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Keenam : Khuruj&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Menurut Jama’ah Tabligh makna Khuruj keluar di jalan Allah berda’wah yang merupakan jihad yang paling besar. Mereka membatasi dakwah hanya dengan Khuruj berjama’ah bersama mereka selama tiga hari dan seterusnya. Khuruj ini mempunyai kedudukan dan keutamaan yang besar di dalam bid’ah mereka melebihi shalat, sedekah, puasa dan haji dan lain-lain.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Aqidah dan amalan khuruj ini berasal dari mimpinya pendiri Jama’ah Tabligh yaitu Muhammad Ilyas. Dia bermimpi menafsirkan Al-qur’an surat Al-Imran ayat 110 :&lt;/div&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;ﻜﻨﺘﻡﺨﻴﺭﺃﻤﺔ ﺃﺨﺭﺠﺕ ﻟﻠﻨﺎﺱ ﺘﺄﻤﺭﻭﻥ ﺒﺎﻟﻤﻌﺭﻭﻑ ﻭﺘﻨﻬﻭﻥﻋﻥﺍﻟﻤﻨﻜﺭﻭﺘﺅﻤﻨﻭﻥ ﺒﺎﷲ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“ Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah {QS. Al-Imran : 110}&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Berkata Muhammad Ilyas di dalam mimpinya itu ada yang mengatakan kepadanya tentang ayat diatas : “Sesungguhnya engkau (diperintah) untuk keluar kepada manusia seperti para Nabi”.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tidak syak lagi bagi ahli ilmu bahwa tafsir Muhammad Ilyas atas jalan mimpi mengikuti cara-cara shufiyyah adalah tafsir yang sangat bathil dan rusak. Tafsir syaithaniyyah yang mewahyukan kepada Muhammad  Ilyas  yang akibatnya timbul bid’ah Khuruj yang menyelisihi manhaj para shahabat. Terang-terangan atau tersembunyi  tafsir  Muhammad  Ilyas ini menunjukkan bahwa  dia mendapat wahyu dan diperintah oleh Allah seperti perintah Allah kepada NAbi dan rasul. Yang pada hakikatnya syaithanlah yang mewahyukan kepada dia dan kaum shufi yang lainnya demi membuat bid’ah besar.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bid’ahnya Jama’ah Tabligh adalah mereka bermanhaj dengan manhaj shufi di dalam aqidah, dakwah, ibadah, akhlak dab adab dan lain-lain. Baik perorangnya, amir-amirnya dan guru-gurunya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bid’ahnya Jama’ah Tabligh, amir dan sebagian guru –guru mereka dibai’at atas empat : Naqsabandiyah, Qaadariyyah, Jistiyyah, dan Sahruwriyyah. Demikianlah amir tertinggi mereka membai’at pengikutnya atas dasar empat tarekat diatas. Mereka sangat berpegang dan memuliakan kitab mereka Tablighi Nishaab {kitab ini juga dinamakan dengan Kitab Fadhaa-il  A’mal}, oleh Muhammad Zakaria Kandahlawiy secara manhaj maupun da’wah. Kitab Tablighi ini dipenuhi dengan berbagai macam bid’ah, syirik, tashawwuf, khurafat, hadist-hadist dha’if dan maudhu’. Di antara bid’ah syirkiyyat yang terdapat dalam kitab ini ialah memohon syafa’at kepada Nabi Muhammad saw. Dan beliau belum pernah mengeluarkan tangannya dari kubur beliau untuk menyalami Ahmad Ar-Rifaa’I (ketua shufi dari tarekat Ar-rifaa’iyyah).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Demikian juga dengan Kitab Hayaatush Shahabah oleh Muhammad Yusuf Kandahlawiy, kitab inipun dipenuhi dengan khurafat-khurafat dan cerita-cerita bohong serta hadist-hadist dha’if dan maudhu’. Kedua kitab diatas yang sangat diagungkan dan dimuliakan oleh Jama’ah Tabligh adalah masuk ke dalam kitab-kitab bid’ah dan syirik serta sesat.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bid’ahnya Jama’ah Tabligh, bahwa mereka telah membatasi Islam pada sebagian ibadah. Yang sebagian ini pun mereka penuhi dan mencampur adukkan dengan berbagai macam bid’ah dan syirkiyyat. Mereka berpaling dari syari’at-syari’at Islam yang lain seperti tauhid, hukum dan jihad dan lain-lain. Mereka meninggalkan ilmu dan ahli ilmu. Mereka memperingati pengikut-pengikut merka dari menunutut ilmu dan duduk di majlis para Ulama kecuali orang yang mendukung mereka. Dengan demikian meratalah dan tersebarlah kejahilan yang dalam di antara mereka dan hilangnya ilmu dari mereka. Oleh karena itu menjadi timbangan mereka di dalam memutuskan  segala urusan ialah dengan jalan Istihsan (menganggap bai sesuatu perbuatan tanpa dalil), perasaan, mimpi-mimpi dan karamah-karamah (yang pada hakikatnya wahyu dan bantuan dari syaithan).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Diantara bid’ah besar Jama’ah Tabligh  ialah bahwa mereka selalu berdalil dengan hadist-hadist dha’if, sangat dha’if, maudhu’/palsu dan hadist-hadist yang tidak ada asal-usulnya sama sekali (Laa Ashlaa Lahu). Dan diantara Bid’ah Jamaah Tabligh  ialah bahwa mereka telah membuat keomok (firqah) yang menyendiri dan memisahkan diri dari kaum muslimin. Mereka tidak mengajak kaum muslimin kecuali kepada firqah-nya baik secara manhaj, ilmu dan da’wah. Adanya imam tertinggi dan amir-amir dan bai’at yang ditegakkan di dalam firqah tabligh ini. Mereka mengajak kaum muslimin ke masjid-masjid dan markas-markas mereka untuk ijtima’ (berkumpul) umumnya sepekan sekali.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Diantara bid’ah besar Jama’ah Tabligh ialah berkumpulnya ratusan ribu jama’ah di Bangladesh pada setiap tahunnya. Di dalam ijtima’ bid’iyyah ini keluarlah berbagai macam bid’ah I’tiqad dan amaliyyah yang begitu banyak dikerjakan  oleh Jama’ah Tabligh. Sehingga sebagian dari mereka mengatakan berkumpulnya mereka di Dakka ibukota Bangladesh pada setiap tahunnya lebih utama dari berkumpulnya Jama’ah haji di Makkah. Mereka menyakini bahwa berdo’a pada akhir ijtima’ di atas mustajab. mereka menyakini bahwa akad nikah pada hari itu diberkati. Oleh karena itu sebagian dari mereka mengundurkan akad nikahnya sampai hari ijtima’ tahunan di Bangladesh untuk memperoleh berkahnya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;Wallahu&#39;alam &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Sumber :  Sudahkah Anda Mengenal Jama’ah Tabligh ?, Penulis : Ust. Abdul Hakim Bin Amir Abdat. Penerbit, Darul Qolam  Jakarta&lt;/div&gt;</description><link>http://etalasesunnah.blogspot.com/2010/04/sudahkah-anda-mengenal-jamaah-tabligh.html</link><author>noreply@blogger.com (abufawwaz)</author><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2036994941929057047.post-4145095721869180678</guid><pubDate>Sun, 04 Apr 2010 02:14:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-04-04T09:14:35.191+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Dzikir</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Firaq</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Mabhats</category><title>Membedah Dzikir Paling Afdhal Menurut  Golongan Sufi</title><description>Ustadz Abu Minhal&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Bismillahirrohmannirrohim&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Termasuk bagian ideology tarekat sufi, komitmen mereka dengan dzikir-dzikir dan wirid-wirid yang telah diciptakan dan ditetapkan oleh para pemimpin mereka. Selanjutnya para jama’ah golongan ini terikat untuk membaca dan mengamalkan ketentuan internal tersebut yang sayangnya tidak pernah dibawah oleh Rasullah shalallahu’alaihi wasallam.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;DZIKIR PALING AFDHAL MENURUT GOLONGAN SUFI&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam kamus ajaran Sufi, terdapat pengklasifikasian dzikir menjadi tiga jenis: Dzikir ‘Ammah (Dzikir Orang Umum), Dzikir Khash (Dzikir Orang Khusus), Dzikir Khashssatil Khashshah (Dzikir orang-orang paling utama). Anehnya dzikir yang diajarkan oleh Rasullah &lt;b&gt;shalallahu’alaihi wasallam&lt;/b&gt;. Justru mereka kategorikan dalam jenis dzikir pertama (dzikir ‘ammah) yang merupakan tingkatan dzikir paling rendah dalam pandangan mereka. Dzikir yang dimaksud ialah ucapan Laa Ilaahaillah. Level Dzikir kedua, berdzikir dengan isim mufrad (nama tunggal) yaitu dengan mengulang-ulang Lafzhul  Jalaalah (Allah, Allah..)1. Sedangkan tingkat tertinggi dalam berdzikir menurut  mereka, mengulang-ulang kata huwa (dibaca hu..hu..hu) yang merupakan isim dhamir (kata ganti ketiga tunggal) dari lafzhul jalalah (Allah) yang  artinya Dia.2&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Demikianlah tiga tingkatan dzikir yang mereka miliki beserta contoh-contohnya. Sebelum menilik betapa jauh mereka dari pertunjuk  Rasulullah&lt;b&gt; shallallahu ‘alaihi wa sallam,&lt;/b&gt; ada baiknya menengok landasan mereka dalam masalah ini guna mengetahui awal kesalahan mereka  dalam masalah ini.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;DALIH KAUM SUFI UNTUK MEMBENARKAN MODEL DZIKIR TERSEBUT&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Semua golongan menyimpang mempunyai dalih yang mereka klaim membenarkan apa yang mereka yakini. Dalih merka dapat berujud hadist palsu, pemaksaan ayat maupun hadist shahih. Inilah yang menjadi permasalahan sebenarnya. Dalil-dalil yang shahih mutawatir ditarik-tarik untuk mendukung dan mengakomodasi apa yng telah menjadi ketentuan sebuah golongan. Mereka mensahkan dan menetapkan dzikir dengan kata Allah lebih afdhal dengan dasar firman Allah swt :&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;ﻗﻝ ﺍﷲ ﺜﻡ ﺫ ﺭﻫﻡ ﻓﻰ ﺨﻭﻀﻬﻡ ﻴﻠﻌﺒﻭﻥ&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Artinya : Katakanlah “Allah-lah (yang menurunkannya)”,kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al-quran kepada mereka), biarkanlah merekabermain-main dalam kesesatannya..(QS Al-an’am/6:91)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Mereka berpegangan pada ayat tersebut dimana Allah swt memerintahkan untuk mengatakanAllah (saja) dalam berdzikir. Sesungguhnya Allah swt memerintahkan berdzikir untuk menyebut namanya dengan nama Allah(saja), tanpa mentagyid dengan perintah lain melebihi lafaz ini. Sebab dzikir ini merupakandzikir orang-orang khusus dari kalangan hamba-Nya yang menjadi lantarandunia tetap terpelihara (Adh-Dhiya Al-Mustabin, Muhammad Fadhil Al-Habib hlm.155)3&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Selain itu, menurut mereka terdapat riwayat bahwa Nabi &lt;b&gt;sallahu’alaihi wassallam&lt;/b&gt; mentalqin Ali bin Abi Thalib ra. Untuk mengatakan,”Allah,Allah,Allah”, &lt;b&gt;NAbi Sallahu’alaihi Wassalam&lt;/b&gt; mengulangi tiga kali. Kemudian memerintahkan Ali untuk melakukannnya, Ali Ra. Pun mengulang-ulang tiga kali.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;ULAMA  AHLU SUNNAH MENJAWAB&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ulama Ahlu sunnah telah menguliti model dzikir yang dianggap terbaik dari yang ada ini. Alasan yang utama, Rasullah Muhammad sallahua’laihi wassalam sebagian insane yang paling berwenangmenjelaskansyariat dari Allah swt. Tidak pernah sama sekali menetapkan dzikir model demikian, apalagisampai menyebutnya dengan predikat dzikir paling utama?!. Dan kenyataannya tidak ada satu dalilpun pada dalil-dalil syar’I yang menunjukkan anjuran tentang itu. Dan lagi, juga tidak ada atsar dari salah seorang Salful Ummah.4&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Syaihul Islam Rahimahullah telah membeberkan kelemahan dzikir tersebut  dengan keterangan  yang sangat panjang lebar dan menarik. Diantaranya beliau menegaskan,”Barang siapamenyangka bahwa ini (dzikir dengan membaca laa ilaa ha illallah) adalah dzikir  “amah (dzikirorang-orang umum/awam) dan (berkeyakinan) dzikir khash  adalah dengan menyebut –nyebut ismul mufrad (menyebut  dengan lafadz Allah, Allah, Allah..) dan dzikir khashssatil khassah adalah dengan  mengulang-ulang kata huwa (kata ganti ketiga untuk Allah yang artinya Dia),ia adalah orang sesat dan terjerumus  dalam kesalahan”.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dzikir tersebut  ditinjau dari sisi tata bahasa Arab saja sudah salah, karena bukan merupakan  jumlah mufidah 5. Penyebutan satu isim mufrad (nama sesuatu) saja , baik dengan penyebutan nama itu atau menggunakan kata gantinya (dia, ia) bukanlah kalimat sempurna juga bukan Jumlah Mufidah. Ketika orang  mengulang-ulang nama Allah, Allah, Allah, sekian banyak kali, pengulangan ini tidak mendatangkan sebuah pemahaman apapun. Disamping itu , satu nama yang diucap berulang-ulang tidak berpengauh pada keimanan , kekufuran dan hidayah, karena belum tuntas memberikan keterangan  apapun.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Oleh karena  itu , ahli bahasa dari seluruh  jenis bahasa yang ada sepakat bahwa tidak tepat orang mengucapkan satu nama dan setelah itu berhenti  dan diam. Sebab, nama yang ia sebutkan itu tidak lazim disebut perkataan yang sempurna. Bahkan syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah mengatakan, “seandainya seorang mengulang-ulang nama Allah sejuta kali , itu tidak membuatnya beriman , juga tidak berhak memperoleh pahala dari Allah dan surga-Nya..”6&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Adapun Istidlal mereka dengan ayat untuk menguatkan pendapat mereka , dikatakan oleh syaikhul Islam Rahimahullah sebagai keslahan yang tampak jelas. Sementara Syaikh Al-Fauzan Hafizhahullah dalam Haqiqatul Tashawwuf menilainya sebagai bentuk istidlal  (pengambilan dalil) yang termasuk Tahriifil Kalim (penyimpangan perkataan/dalil) dari tempat semestinya. Seandainya mereka merenungi lebih jauh  Firman Allah swt. Sebelumnya akan jelas maksudnya. Ayat mereka jadikan pegangan merupakan jawaban permulaan ayat. Sebab di awal ayat surah Al-anam ayat 91 berfirman artinya:&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan semestinya dikala mereka berkata :”Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia “. Katakanlah :”Siapakah yang menurunkan Kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai berai, kamu perlihatkan (sebaginya) dan kamu sembunyikan sebagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui(nya)”.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jadi maksudnya katakanlah Allah lah yang menurunkan kitab yang dibawa oleh Musa. Dengan ini, maka istidlal mereka dengan ayat menjadi gugur. Sementara hadist yang mereka sampaikan berderajat maudhu’ (palsu) berdasarkan kesepakatan ulama, sebagaimana dikatakan oleh syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah dalam fatawanya. Dengan ini , berarti dzikir dengan isim mufrad atau isim dhamir tidak memiliki dasar sama sekali dalam syariat Islam.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;DZIKIR PALING AFDHAL DALAM HADIST RASULLAH MUHAMMAD SHALLALLAHU  ALAIHI  WA SALLAM&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk NAbi Shallallahu Alaihi Wa Sallam dalam urusan dzikir, beliau telah menyampaikan dzikir-dzikir terbaik yang sangat jelas muatan Tauhidnya. Bahkan dalam beberapa riwayat hadist, beliau sendiri  yang menyatakan dzikir-dzikir tertentu merupakan dzikir paling utama dan afdhal. Diantaranya, NAbi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda :&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;أ ﻓﻀﻝ ﺍﻠﺫﻜﺭﻻ ﺇﻟﻪﺇﻻ ﺍﷲ ﻭأﻓﻀﻝ ﺍﻠﺩﻋﺎﺀ ﺃﻠﺤﻤﺩﺍﷲ&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Sebaik-baik dzikir adalah (membaca) La ilaha illallah. Dan sebaik-baik doa yaitu Alhamdulillah (HR. Bukhari No. 99).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Inilah dzikir terbaik yang diucapkan seorang  Muslim. Ini juga yang beliau minta kepada pamannya, Abu Thalib untuk mengatakannya dalam sakit yang membawanya kepada kematian. Terdiri  dari kalimat yang ringan, namun maknanya sangat agung dan kedudukannya  sangat tinggi.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;La Ilaha Illallah sudah merupakan kalimat sempurna, bila dikatakan maka tidak menyisakan tanda Tanya pada pendengar. Masih banyak contoh dzikir dari  Nabi yang penuh dengan keutamaan dan seluruhnya merupakan bentuk kalimat sempurna. Tidak seperti dzikir Sufi diatas, masih menyisakan kebingungan bagi orang-orang yang mendengarnya. Coba anda bayangkan, bila anda menyaksikan seseorang menyebut-nyebut  suatu nama misalnya Ahmad dengan berulang-ulang, apa yang anda simpulkan dari drinya ?. atau bila ia menyebut kata dia, dia, dia, seratus kali, apa pendapat anda tentang orang tersebut ??.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sungguh model dzikir yang mereka  tekuni yang tidak ada asalnya dalam syari’at dengan meninggalkan petunjuk  NAbi Shallallahu Alaihi Wa Sallam dan dzikir-dzikir yang syar’i menimbulkan pertanyaan  mengenai  motivasi  sebenarnya  yang mendorong mereka  berbuat demikian ?. Kenapa mereka berdzikir dengan wirid yang tidak pernah diturunkan oleh Allah Azza Wa Jalla, mereka  meski demikian mereka  sangat mengagungkan dan komitmen dengan-Nya, bahkan mengecilkan arti dzikir yang dicontohkan  oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam ?. Semoga Allah Azza Wa Jalla memberikan petunjuk  kepada kita sekalian untuk memahami dan  mengamalkan petunjuk Nabi Muhammad dalam setiap segi kehidupan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Wallahu’alam&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber : Majalah Assunnah Edisi 12/THN.XIII/Rabiul awwal 1431H/Maret 2010M&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keterangan :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1Atau mengulang-ulang nama Allah Azza Wa Jalla yanglain&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;2Syaikh Abdur Razzaq Al-‘Abbad  yang menyampaikan bahwa sebagian mereka (kaum sufi) mengatakan La Ilaaha Illallah adalah dzikir bagi kaum Mukminin. Sedangkan dzikir Allah, Allah, bagi kaum ‘Arifin. Dan terakhir, dengan isim dhamir huwa bagi kaum muhaqqiqin.(Fathul Ad’iyah wal Adzkar 1/196)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;3Nukilan dari Kitab Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani wa Arauhul I’tiqadiyyah was Shufiyyah, DR. Said Bin Musfir Al-Qahtani Cet. 1 Th.1418/1997 hlm.665&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;4Lihat Fiqhul Ad’iyah wal Adzkar 1/197-198&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;5Kalimat paling sederhana yang dapat memberikan berita yang dapat dipahami tanpa menyisakan tanda Tanya pada pendengar.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;6Perkataan Ibnu Taimiyyah  Rahimahullah terdapat dal Fatawa 10/556-565 &lt;/div&gt;</description><link>http://etalasesunnah.blogspot.com/2010/04/membedah-dzikir-paling-afdhal-menurut.html</link><author>noreply@blogger.com (abufawwaz)</author><thr:total>3</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2036994941929057047.post-2698952035377511782</guid><pubDate>Wed, 24 Mar 2010 04:26:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-03-31T08:50:35.007+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Mabhats</category><title>Pintu-pintu Masuk Setan Kedalam Hati Manusia</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjUa5vLPAUU5g_4wjf-iqu1tXc0IimiH0OvtM4jyTA0lExtJVYfKADmw0l_lRxn2s4QV0Lc6KGpWPgrZGa2BsZxmEEwxIjuenxvR22lmDX58smGfrFEAOr4IpXdY7Wp4GIdFhZMLeywF84/s1600/syaithan.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;200&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjUa5vLPAUU5g_4wjf-iqu1tXc0IimiH0OvtM4jyTA0lExtJVYfKADmw0l_lRxn2s4QV0Lc6KGpWPgrZGa2BsZxmEEwxIjuenxvR22lmDX58smGfrFEAOr4IpXdY7Wp4GIdFhZMLeywF84/s200/syaithan.jpg&quot; width=&quot;144&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Bismillahirrohmanirrohim&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagian yang paling penting pada diri manusia ialah hatinya. Karena hati manusia dapat mengenal Allah Azza wa Jalla dan beramal karena-Nya. Demikian juga hati ibarat raja, sedangkan anggota badan lainnya sebagai pengikut dan pelayannya. Anggota badan melayani hati sebagaimana rakyat melayani raja.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, seluruh tubuh baik. Jika ia rusak, seluruh tubuh juga rusak. Ketahuilah (segumpal daging) itu ialah hati.&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: &quot;Hati dikhususkan dengan ini karena ia merupakan pemimpin badan. Dengan kebaikan pemimpin merupakan kebaikan rakyat, dan dengan kerusakan pemimpin merupakan kerusakan rakyat. Dan di dalam hadits ini terdapat peringatan tentang pengagungan kedudukan hati, serta anjuran terhadap kebaikannya. Juga mengisyaratkan bahwa usaha yang baik memiliki pengaruh pada hati&quot;.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Hendaklah kita mengetahui bahwa tabiat hati manusia ialah mengenal Rabbnya dan dapat menerima petunjuk-Nya. Namun hati manusia juga memiliki syahwat (kesukaan) dan hawa nafsu yang menjauhkan dari petunjuk. Oleh karena itu, hawa-nafsu ini perlu dikendalikan dan dikuasai agar tidak menjerumuskan pemilikinya ke dalam kecelakaan dan kehinaan. Allah Ta&#39;ala berfirman:&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya). (Qs an-Nazi&#39;ât/79:37-41).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Hati ibarat benteng, sedangkan setan merupakan musuh yang hendak memasuki dan menguasainya. Tidak mungkin menjaga benteng itu, kecuali hanya dengan menjaga pintu-pintu masuknya. Dan orang yang tidak mengetahui pintu-pintu itu, maka tidak mungkin ia dapat menjaganya. Demikian juga, kita tidak mungkin mencegah setan memasuki hati kecuali dengan mengetahui pintu-pintu masuk setan dan menjaganya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
PINTU-PINTU MASUK SETAN&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pintu-pintu masuk setan ke dalam hati manusia meliputi sifat-sifat buruk pada diri manusia. Di antara pintu-pintu itu, ialah sifat hasad. Yaitu tidak menyukai kenikmatan yang ada pada orang lain, dan ia mengharapkan hilangnya kenikmatan itu dari orang tersebut, baik berpindah kepada dirinya ataupun tidak. Jika setan menemui orang yang memiliki sifat hasad, maka ia memiliki kesempatan untuk menyesatkannya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Menurut Imam Ibnu Rajab , hasad (dengki) adalah dosa iblis. Dahulu, iblis hasad kepada Adam , ketika ia melihat Adam q melebihi para malaikat. Yaitu Allah telah menciptakan Adam dengan tangan-Nya, memerintahkan para malaikat bersujud kepadanya, mengajarinya nama-nama segala sesuatu, dan menempatkannya di dekat-Nya (di surgaNya). Maka iblis pun selalu berusaha mengeluarkan Adam dari surga, sampai ia berhasil mengeluarkannya darinya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Hasad juga merupakan sifat orang-orang Yahudi. Allah l telah menyebutkan hal ini di beberapa tempat dalam al-Qur&#39;ân. Antara lain dalam firman-Nya:&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sebahagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.  (Qs al-Baqarah/2:109).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Penyakit hasad ini telah menjalar dan menular menimpa sebagian umat Muhammad  , sebagaimana telah diperingatkan oleh Nabi dengan sabda beliau:&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;دَبَّ إِلَيْكُمْ دَاءُ الْأُمَمِ قَبْلَكُمْ الْحَسَدُ وَالْبَغْضَاءُ هِيَ الْحَالِقَةُ لَا أَقُولُ تَحْلِقُ الشَّعَرَ وَلَكِنْ تَحْلِقُ الدِّينَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَفَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِمَا يُثَبِّتُ ذَاكُمْ لَكُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Akan menjalar dengan samar kepada kamu penyakit umat-umat sebelum kamu, yaitu hasad dan kebencian (permusuhan) Kebencian itu pencukur, aku tidak mengatakan: itu mencukur/memotong rambut, tetapi mencukur agama. Demi (Allah) yang jiwaku di tangan-Nya, kamu tidak akan masuk surga sehingga kamu beriman, dan kamu tidak akan beriman sehingga kamu saling mencintai. Tidakkah aku beritakan kepada kamu dengan perkara yang menguatkan kecintaan bagi kamu? Sebarkan salam di antara kamu!&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Di antara pintu setan ialah hirsh (tamak). Yaitu sangat mencintai dan mengharapkan sesuatu dari urusan dunia. Jika setan menemui orang yang tamak terhadap dunia, maka dia akan menghias-hiasi segala perkara yang akan mengantarkannya kepada syahwatnya itu, walaupun perkara itu merupakan kemungkaran dan kekejian.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَكْبَرُ ابْنُ آدَمَ وَيَكْبَرُ مَعَهُ اثْنَانِ حُبُّ الْمَالِ وَطُولُ الْعُمُرِ &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dari Anas bin Malik  , ia berkata: Rasulullah n bersabda: &quot;Anak Adam menjadi tua, namun dua perkara menjadi besar bersamanya, cinta harta dan panjang umur&quot;. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Dalam riwayat Muslim dengan lafazh:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;يَهْرَمُ ابْنُ آدَمَ وَتَشِبُّ مِنْهُ اثْنَتَانِ الْحِرْصُ عَلَى الْمَالِ وَالْحِرْصُ عَلَى الْعُمُرِ&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Anak Adam menjadi tua, namun dua perkara tetap muda: tamak terhadap harta dan tamak terhadap umur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Al-Qadhi &#39;Iyadh t berkata: &quot;Di dalam hadits ini terdapat kesesuaian dan perkataan yang mengagumkan. Yaitu di antara perkara orang yang tua umurnya, sepantasnya harapan-harapannya dan ketamakannya terhadap dunia sudah sirna dengan kebinasaan tubuhnya jika umurnya telah habis, dan tidaklah tertinggal baginya kecuali menanti kematian. Namun ketika perkara itu sebaliknya, maka itu tercela. Ungkapan dengan kata &quot;muda&quot; sebagai isyarat kepada banyaknya ketamakan dan jauhnya angan-angan. Yang demikian ini lebih banyak menghinggapi dan lebih pantas pada diri mereka. Karena umumnya lebih banyak harapan mereka dalam panjangnya umur mereka, serta tetapnya kesenangan dan kenikmatan mereka di dunia&quot;.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Al-Qurthubi  berkata: &quot;Di dalam hadits ini terdapat (dalil) dibencinya sikap tamak terhadap panjang umur dan banyak harta, dan hal itu tidaklah terpuji&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ulama lain mengatakan, hikmah mengkhususkan dua perkara ini, bahwa perkara yang paling dicintai oleh manusia adalah dirinya sendiri, sehingga ia menginginkan tetapnya dirinya. Karenanya, ia mencintai panjang umur. Dia juga mencintai harta, karena harta termasuk sebab terbesar dalam tetapnya kesehatan, yang pada umumnya panjang umur tumbuh dari kesehatan. Sehingga setiap ia merasa kedekatan habisnya (perkara yang dia cintai) itu, maka menjadi besar kecintaannya kepadanya dan keinginannya di dalam tetapnyai &quot;.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Di antara pintu setan, ialah marah. Yaitu marah karena perkara-perkara dunia. Marah yang demikian inilah yang tercela. Marah akan menghilangkan akal seseorang. Jika seseorang dalam keadaan marah, maka setan akan menyerangnya, menguasainya, lalu mempermainkannya. Dan marah itu sering menimbulkan perkara-perkara negatif, berupa perkataan atau perbuatan haram. Seperti mencaci, menghina, menuduh, berkata keji, dan perkataan haram lainnya. Atau memukul, menendang, membunuh, dan perbuatan lainnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Oleh karena itu, Rasulullah n menasihati seseorang dengan berulang-ulang supaya tidak marah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ n أَوْصِنِي قَالَ لَا تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ لَا تَغْضَبْ &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dari Abu Hurairah  : Sesungguhnya ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi n : “Berilah wasiat kepadaku,” Nabi menjawab,&quot;Janganlah engkau marah,” laki-laki tadi mengulangi berulang kali, beliau (tetap) bersabda: “Janganlah engkau marah”.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jika seseorang marah, maka hendaklah ia menguasai diri dan melawan dirinya agar tidak melampiaskan kemarahannya, sehingga keburukan dari marah itu akan segera reda dan hilang. Sifat seperti inilah yang dipuji oleh Allah dan Rasul-Nya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Di antara pintu setan, ialah suka membuat berbagai perhiasan yang berlebihan pada rumah, pakaian, kendaraan, perkakas rumah tangga, dan lainnya. Sehingga kesukaan ini mendorong seseorang untuk selalu memperbaiki rumah, menghiasi atapnya dan dindingnya, menata perkakas rumah tangganya, dan lainnya, sehingga dia telah merugikan dirinya dan menghabiskan umurnya untuk perkara itu. Padahal umur merupakan salah satu nikmat Allah yang akan ditanyakan penggunaannya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Nabi n bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;لَا تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Telapak kaki anak Adam tidak akan bergeser dari sisi Rabbnya pada hari kiamat  sampai  dia ditanya tentang lima (perkara): Tentang umurnya, untuk apa dia telah menghabiskannya; tentang masa mudanya, untuk apa dia telah menggunakannya; tentang hartanya, dari mana dia memperolehnya, dan untuk apa dia membelanjakannya; dan apa yang telah dia amalkan dari ilmu yang telah dia ketahui.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Di antara pintu setan, ialah kekenyangan, dan ini akan menguatkan syahwat, menyibukkannya dari berbuat taat. Oleh karena itu, Nabi n mengatkan bahwa seburuk-buruk wadah yang dipenuhi oleh manusia adalah perut.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Beliau bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ حَسْبُ الْآدَمِيِّ لُقَيْمَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ غَلَبَتْ الْآدَمِيَّ نَفْسُهُ فَثُلُثٌ لِلطَّعَامِ وَثُلُثٌ لِلشَّرَابِ وَثُلُثٌ لِلنَّفَسِ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tidaklah manusia memenuhi wadah yang lebih buruk dari pada perut. Manusia mencukupi beberapa suap yang menegakkan tulang punggungnya. Jika keinginannya mengalahkannya (untuk menambah makan, Pen.), maka sepertiga (perutnya) untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk nafas.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Di antara pintu setan, yaitu berharap kepada manusia. Seseorang yang berharap kepada manusia lainnya, dia akan melewati batas dalam memuji dan menjilatnya, tidak memerintahkan yang ma&#39;ruf, dan tidak melarang kemungkaran terhadap orang tersebut.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Di antara pintu setan, yaitu tergesa-gesa, tidak berhati-hati. Nabi n bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;اَلْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ وَالتَّأَنِّيْ مِنَ اللهِ تَعَالَى&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Ketergesaan adalah setan, berhati-hati adalah dari Allah Ta&#39;ala.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Di antara pintu setan, ialah mencintai harta. Kecintaan terhadap harta merupakan perkara yang wajar. Tetapi, jika kecintaan pada harta itu telah menguasai hati, maka hati akan rusak. Hati akan didorong untuk mengejar harta dengan cara yang haram, mengajak kebakhilan, dan menakut-nakuti kemiskinan, sehingga ia meninggalkan kewajibannya terhadap harta. Allah berfirman:&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Mahamengatahui. (Qs al-Baqarah/2:268). &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Nabi  telah mengingatkan akhir perjalanan harta manusia dengan sabda beliau:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;يَقُولُ الْعَبْدُ مَالِي مَالِي إِنَّمَا لَهُ مِنْ مَالِهِ ثَلَاثٌ مَا أَكَلَ فَأَفْنَى أَوْ لَبِسَ فَأَبْلَى أَوْ أَعْطَى فَاقْتَنَى وَمَا سِوَى ذَلِكَ فَهُوَ ذَاهِبٌ وَتَارِكُهُ لِلنَّاسِ &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Seorang hamba berkata: &quot;Hartaku, hartaku,&quot; padahal harta yang dia miliki hanyalah tiga. (Yaitu): yang telah ia makan, lalu dia membinasakannya; yang telah ia pakai, lalu dia menjadikannya usang; yang telah dia berikan (shadaqah karena Allah, Pen.), lalu ia pasti akan memilikinya. Adapun selain itu, maka ia akan pergi dan meninggalkannya untuk manusia (yaitu ahli warisnya, Pen.).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Di antara pintu setan, yaitu menggiring orang-orang awam untuk fanatik kepada guru, madzhab, organisasi, suku, daerah, atau lainnya. Padahal Nabi n bersabda:&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;مَنْ نَصَرَ قَوْمَهُ عَلَى غَيْرِ الْحَقِّ فَهُوَ كَالْبَعِيرِ الَّذِي رُدِّيَ فَهُوَ يُنْزَعُ بِذَنَبِهِ &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Barang siapa menolong kaumnya tidak di atas kebenaran, maka dia seperti onta yang terjerumus, lalu ditarik ekornya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Al-Khaththabi t berkata: &quot;Maknanya, bahwa ia telah terjerumus dalam dosa dan binasa. Yaitu seperti seekor onta, jika terjerumus di dalam sumur, lalu ditarik ekornya, dan ia tidak mampu selamat&quot;.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Di antara pintu setan, yaitu mengajak orang-orang untuk memikirkan Dzat Allah atau membicarakan sifat-sifat Allah tanpa mengikuti jalan Salafush-Shalih, sehingga akan mengantarkan manusia kepada keraguan dan kesesatan. Karena sesungguhnya akal manusia terbatas, dan ia tidak mampu memikirkan Dzat Allah Ta&#39;ala.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Nabi  bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;تَفَكَّرُوْا فِيْ آلاَءِ اللهِ وَ لاَ تَفَكَّرُوْا فِيْ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Berfikirlah tentang nikmat-nikmat Allah, dan janganlah kamu berfikir tentang (dzat) Allah &#39;Azza wa Jalla.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di antara pintu setan, yaitu berburuk sangka kepada kaum Muslimin. Nabi n bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ وَلَا تَحَسَّسُوا وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jauhilah persangkaan, karena sesungguhnya persangkaan itu adalah berita yang paling dusta. Dan janganlah engkau mencari-cari (mendengarkan) berita tentang kejelakan manusia, janganlah engkau menyelidiki cacat-cacat manusia, janganlah engkau saling melakukan tipu daya, janganlah engkau saling hasad, janganlah engkau saling membenci, janganlah engkau saling membelakangi. Jadilah engkau hamba-hamba Allah yang bersaudara.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sungguh, seseorang yang menghukumi seorang muslim lainnya dengan persangkaan buruk, berarti ia telah merendahkannya, melepaskan kendali lidahnya terhadapnya, dan ia sendiri menganggap dirinya lebih baik darinya. Dan sesungguhnya, tertancapnya buruk sangka pada hati seseorang, ialah karena kekejian orang yang berburuk sangka itu sendiri. Karena seorang mukmin akan mencari alasan-alasan untuk menjaga kebaikan saudaranya sesama mukmin. Sedangkan orang munafik, yaitu orang yang menyelidiki dan mencari-cari keburukan-keburukan orang mukmin. Namun seorang mukmin juga selayaknya menjauhi perkara-perkara yang dapat menyebabkan dirinya mendapat tuduhan buruk sangka, sehingga agama dan kehormatannya terjaga.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Di antara pintu setan, yaitu menakut-nakuti dengan musuh-musuh. Allah k berfirman:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (Qs &#39;Ali-&#39;Imran/3:175).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Di antara pintu setan, yaitu membisikan angan-angan palsu dan janji-janji dusta pada jiwa manusia. Allah berfirman:&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka. (Qs &#39;Ali-&#39;Imran/3:120).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Adapaun pintu masuk setan yang terbesar, ialah kebodohan terhadap din (agama). Dengan jalan inilah, setan menguasai dan memperdaya banyak manusia, sehingga mereka mengharamkan yang Allah halalkan dan menghalalkan yang Allah haramkan. Demikian juga, disebabkan kebodohan terhadap masalah din, banyak manusia beribadah dengan bid&#39;ah-bid&#39;ah dan perkara-perkara yang bertentangan dengan Islam.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dari keterangan ini semua, maka seorang mukmin hendaklah benar-benar waspada terhadap tipu daya setan. Jangan sampai dirinya terseret oleh setan, yang tanpa disadarinya menuju kesesatan. Semoga Allah k memberikan perlindungan-Nya kepada kita.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;TUTUPLAH PINTU-PINTU MASUK SETAN!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Demikian sebagian dari pintu-pintu, jalan masuk setan ke dalam hati manusia. Upaya solusi dari semua ini, ialah dengan menutup pintu-pintu tersebut. Yakni dengan membersihkan diri dari sifat-sifat tercela.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Meski akar sifat buruk itu telah tercabut dari hati seorang hamba, tetap masih tersisa kemampuan setan dalam menjebak manusia. Yaitu dengan memberikan bisikan-bisikan buruknya, walaupun tidak bisa menetap di dalam hati. Untuk mengusir bisikan-bisikan jahat ini, tidak lain ialah dengan dzikir kepada Allah dan membangun hati dengan takwa.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Perumpamaan setan, ialah ibarat seekor anjing lapar yang mendekatimu. Jika engkau tidak membawa daging dan roti, maka engkau bisa mengusirnya dengan gertakan. Namun jika engkau membawa daging dan roti, sedangkan anjing itu lapar, maka engkau tidak bisa mengusirnya hanya dengan ucapan. Demikian juga hati yang kosong dari makanan setan, maka ia akan segera pergi dengan dzikrullah. Adapun hati yang dikuasai oleh hawa nafsu, maka hawa nafsu itu akan mengangkat dzikir ke permukaan hati, sehingga setan akan menetap di lubuk hatinya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jika engkau ingin mengetahui bukti dalam hal ini, maka perhatikan di dalam shalatmu. Bagaimana ketika engkau mengerjakan shalat, dengan lembutnya setan membisikkan dalam hatimu masalah-masalah duniawi, tentang pekerjaan, keuntungan perdagangan, dan semacamnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Hendaklah kita ketahui bahwa keburukan yang terjadi pada hati, jika hanya berupa lintasan fikiran, pembicaraan dan angan-angan, maka hal ini dimaafkan. Jika seseorang meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka ia mendapatkan pahala karenanya. Jika ia meninggalkannya karena ada penghalangnya, maka kita berharap semoga Allah l memaafkannya juga. Namun jika keburukan itu merupakan niat dan tekad, maka tekad melakukan dosa merupakan dosa! Bagaimana tidak berdosa, bukankah kesombongan, riya`, dan &#39;ujub merupakan perkara batin?&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dari itu semua, kita mengetahui betapa penting membekali diri dengan ilmu syar&#39;i. Karena ia merupakan unsur paling utama untuk menolak setan. Setiap bertambah ilmu yang bermanfaat pada seorang hamba, yang dengan itu menjadikan dirinya takut dan bertakwa kepada Allah, maka akan bertambah keselamatan dirinya dari bisikan dan jeratan setan. Dan hanya Allah-lah tempat memohon pertolongan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Wallahu&#39;alam&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber :www.bukhari.or.id&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
MARÂJI&#39;:&lt;br /&gt;
1.        Al-Qur&#39;ânul Karim. &lt;br /&gt;
2.        Fathul Bari Syarh Shahîh Bukhâri, karya Ibnu Hajar Al-&#39;Asqalani. &lt;br /&gt;
3.        Ma&#39;alamim fis-Suluk wat-Tazkiyatin-Nufus, Darul-Wathan, Cetakan Pertama, Th. 1414 H, hlm. 76-78.&lt;br /&gt;
4.        Mukhtashar Minhajil-Qashidin, Ibnu Qudamah al-Maqdisi, Ta&#39;liq dan Takhrij: Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi, Dar &#39;Ammar, Cetakan Kedua, Th. 1415 H / 1994 M, hlm. 193-196. &lt;br /&gt;
5.        Kitab Sunan Empat, dan lain-lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
HR Imam al-Bukhâri, no. 52,  2051; Muslim, no. 1599; dari an-Nu&#39;man bin Basyir z . &lt;br /&gt;
Fathul-Bari, syarah hadits no. 52.&lt;br /&gt;
Lihat Mu&#39;jamul-Wasith, Bab: Hasada. &lt;br /&gt;
Jami&#39;ul &#39;Ulum wal-Hikam, Tahqîq: Syu&#39;aib al-Arnauth dan Ibrahim Bajis, Muasasah ar-Risalah (2/260). &lt;br /&gt;
HR at-Tirmidzi, no. 2510, dari az-Zubair bin al-&#39;Awwam z . Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albâni.&lt;br /&gt;
HR Imam al-Bukhâri, no. 6421, dari Anas bin Malik z . &lt;br /&gt;
HR Imam Muslim, no. ???? dari Anas bin Malik z . &lt;br /&gt;
Dinukil dari Fathul-Bari, syarh hadits no. 6421.&lt;br /&gt;
Lihat Bahjatun-Nazhirin Syarh Riyadhush-Shâlihin, Syaikh Salim bin &#39;Id al-Hilali (I/112). &lt;br /&gt;
HR Imam al-Bukhâri no. 6116. &lt;br /&gt;
HR at-Tirmidzi, no. 2416, dari Abu Hurairah. Hadits ini dishahihkan Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albâni. &lt;br /&gt;
HR Ibnu Majah, no. 3349; at-Tirmidzi, no. 2380; dari al-Mikdam bin Ma&#39;di Yakrib. Dishahihkan Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albâni.&lt;br /&gt;
HR Abu Ya&#39;la dalam Musnad-nya, al-Baihaqi dalam Sunan-nya, dari Anas bin Malik z . Lihat Silsilah ash-Shahîhah, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albâni, no. 1795. &lt;br /&gt;
HR Imam Muslim, no. 2959, dari Abu Hurairah z .   &lt;br /&gt;
HR Abu Dawud, no. 5117. Dishahihkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albâni.&lt;br /&gt;
&#39;Aunul-Ma&#39;bud, hadits no. 5117. &lt;br /&gt;
Hadits hasan. Lihat Silsilah ash-Shahîhah, no. 1788.&lt;br /&gt;
HR Bukhâri, no. 6066, Imam Muslim no. 2563, dan lainnya dari Abu Hurairah z .&lt;/div&gt;</description><link>http://etalasesunnah.blogspot.com/2010/03/pintu-pintu-masuk-setan-kedalam-hati.html</link><author>noreply@blogger.com (abufawwaz)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjUa5vLPAUU5g_4wjf-iqu1tXc0IimiH0OvtM4jyTA0lExtJVYfKADmw0l_lRxn2s4QV0Lc6KGpWPgrZGa2BsZxmEEwxIjuenxvR22lmDX58smGfrFEAOr4IpXdY7Wp4GIdFhZMLeywF84/s72-c/syaithan.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2036994941929057047.post-5233410634514546141</guid><pubDate>Sun, 21 Mar 2010 23:58:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-03-31T09:14:43.820+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Piqih</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Piqih Do&#39;a</category><title>Perbanyaklah Doa</title><description>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjToc80-BIY6WPUH1jr_cUoRVeAy8E64Fzo1ZHpmdL8kJ4dJjBAlOQBHBK1TSCepmLTstGRvIuAqzPq7Oi4fjZIqmsdMhShM3AJpgGZH5g8DhQh_0NZkq0CtcIicMLFcIpx6v1etHwahUQ/s1600-h/rsz_fajar.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;150&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjToc80-BIY6WPUH1jr_cUoRVeAy8E64Fzo1ZHpmdL8kJ4dJjBAlOQBHBK1TSCepmLTstGRvIuAqzPq7Oi4fjZIqmsdMhShM3AJpgGZH5g8DhQh_0NZkq0CtcIicMLFcIpx6v1etHwahUQ/s200/rsz_fajar.jpg&quot; width=&quot;200&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Ustadz Abdullah Taslim, MA&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bismillahirrohmanirrohim&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;ما من مسلمٍ يدعو بدعوة ليس فيها أثمٌ ولا قطيعة رحم إلا أعطاه الله بها إحدى ثلاث؛ إما أن تعجل له دعوته، وإما أن يدخرها له في الآخرة، وإما أن يصرف عنه من السوء مثلها”. قالوا: إذا نكثر. قال: “اللهُ أكثرُ”. رواه أحمد والحاكم وغيرهما[1].&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Tiada seorang muslim pun yang memohon (kepada Allah Ta’ala) dengan doa yang tidak mengandung dosa (permintaan yang haram), atau pemutusan hubungan (baik) dengan keluarga/kerabat, kecuali Allah akan memberikan baginya dengan (sebab) doa itu salah satu dari tiga perkara: [1] boleh jadi akan disegerakan pengabulan doanya, [2] atau Allah akan menyimpannya untuk kebaikan (pahala) baginya di akhirat, [3] atau akan dihidarkan darinya keburukan (bencana) yang sesuai dengannya”. Para sahabat radhiyallahu ‘anhum berkata: Kalau begitu, kami akan memperbanyak (doa kepada Allah). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salalm bersabda, “Allah lebih luas (rahmat dan karunia-Nya)”.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan berdoa kepada Allah Ta’ala, dan kepastian dikabulkannya doa seorang muslim dengan salah satu dari tiga perkara yang tersebut dalam hadits di atas, jika terpenuhi padanya syarat-syarat dikabulkannya doa. Inilah makna firman-Nya:&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;{وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ}&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat, Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila dia berdoa kepada-Ku” (QS al-Baqarah:186)[2].&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Mutiara hikmah yang dapat kita petik dari hadits ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Doa seorang muslim akan dikabulkan dan tidak tertolak jika memenuhi syarat diterimanya doa[3].&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Luasnya karunia Allah bagi hamba-hamba-Nya yang beriman, dengan menjadikan pengabulan doa mereka dalam berbagai macam kebaikan dan keutamaan[4].&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Dalam hadits ini disebutkan dua di antara syarat-syarat dikabulkannya doa, dan masih ada syarat-syarat yang lain, yaitu: ikhlas dalam berdoa, tidak tergesa-gesa dalam pengabulan doa, halalnya makanan dan pakaian, dan lain-lain[5].&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Syarat penting lain dikabulkannya doa adalah yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau: “Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kamu yakin (Allah akan) mengabulkannya, dan ketahuilah bahwa Allah tidak akan mengabulkan doa dari (seorang yang ketika berdoa) hatinya lalai dan lupa (tidak berkonsentrasi)”[6].&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Keburukan yang dihindarkan dari seorang hamba dengan doanya adalah mencakup semua keburukan, baik dalam urusan dunia maupun agama[7].&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&amp;nbsp;Dianjurkan memohon doa sebanyak-banyaknya kepada Allah, karena rahmat dan karunia-Nya lebih luas dari apa yang diminta oleh hamba-hamba-Nya[8].&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;
Wallahu&#39;alam&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, MA &lt;br /&gt;
Sumber : www.muslim.or.id&lt;br /&gt;
________________________________________&lt;br /&gt;
[1] HR Ahmad (3/18), al-Bukhari dalam “al-Adabul mufrad” (no. 710), dan al-Hakim (1/493), Dinyatakan shahih oleh al-Hakim dan disepakati oleh adz-Dzahabi, juga oleh Ibnu Hajar dalam “Fathul Baari” (11/96) dan syaikh al-Albani dalam “Shahiihut targiib wat tarhiib” (no 1633). &lt;br /&gt;
[2] Lihat keterangan imam Ibnu Abdil Barr dalam kitab “at-Tamhiid” (10/297).&lt;br /&gt;
[3] Lihat kitab “Bahjatun naazhiriin” (2/592).&lt;br /&gt;
[4] Lihat kitab “Tuhfatul ahwadzi” (9/228).&lt;br /&gt;
[5] Lihat kitab “Fathul Baari” (11/96) dan “Tuhfatul ahwadzi” (9/228-229).&lt;br /&gt;
[6] HR at-Tirmidzi (no. 3479) dan al-Hakim (no. 1817), juga oleh Ahmad dari jalur lain (2/177), dinyatakan hasan oleh syaikh al-Albani karena diriwayatkan dari dua jalur yang saling mendukung, dalam kitab “silsilatul ahaaditsish shahiihah” (no. 594).&lt;br /&gt;
[7] Lihat “Tuhfatul ahwadzi” (10/18).&lt;br /&gt;
[8] Lihat kitab “Bahjatun naazhiriin” (2/592).&lt;/div&gt;</description><link>http://etalasesunnah.blogspot.com/2010/03/perbanyaklah-doa.html</link><author>noreply@blogger.com (abufawwaz)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjToc80-BIY6WPUH1jr_cUoRVeAy8E64Fzo1ZHpmdL8kJ4dJjBAlOQBHBK1TSCepmLTstGRvIuAqzPq7Oi4fjZIqmsdMhShM3AJpgGZH5g8DhQh_0NZkq0CtcIicMLFcIpx6v1etHwahUQ/s72-c/rsz_fajar.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2036994941929057047.post-2026295407362561193</guid><pubDate>Sun, 21 Mar 2010 13:26:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-03-31T09:16:26.490+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Piqih</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Piqih Shalat</category><title>Polemik Arah Kiblat</title><description>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgyhkSAFfMa9XKNoSnnixK1nX-dTI8gW8Jp2zwlW1wci_i2JxeTN1aAaZzwBpZsto-1ix8x49RtoaJ5dCVTHjyafxGFzMnr4nff2jgReq4_QigF-l1xNSJ1dfzE6e7rwKrJ-XVHDW9rDm8/s1600-h/rsz_4mekkah.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;150&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgyhkSAFfMa9XKNoSnnixK1nX-dTI8gW8Jp2zwlW1wci_i2JxeTN1aAaZzwBpZsto-1ix8x49RtoaJ5dCVTHjyafxGFzMnr4nff2jgReq4_QigF-l1xNSJ1dfzE6e7rwKrJ-XVHDW9rDm8/s200/rsz_4mekkah.jpg&quot; width=&quot;200&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bismillahirrohmanirrohim&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Permasalahan ini masih menjadi polemik di tengah-tengah kaum muslimin sampai saat ini. Ada yang berusaha mencari arah kiblat yang harus persis menghadap ke Ka’bah, harus bergeser sedikit ke utara. Ada pula yang berpendapat cukup menghadap arahnya saja yaitu arah barat dan shalatnya tetap sah.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Semoga penjelasan kali ini dapat memberikan sedikit titik terang dari polemik yang ada. Semoga bermanfaat.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Menghadap Kiblat Merupakan Syarat Sah Shalat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Syarat sah shalat yang harus dilakukan sebelum melaksanakannya di antaranya adalah menghadap kiblat. (Lihat At Tadzhib fi Adillati Matnil Ghoyat wa At Taqrib – Matni Abi Syuja’, hal. 52, Darul Fikri dan Al Wajiz fi Fiqhis Sunnah wal Kitab Al ‘Aziz, hal. 82, Dar Ibnu Rojab)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.” (QS. Al Baqarah: 144)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda kepada orang jelek shalat (musi’ salatahu),&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَأَسْبِغِ الْوُضُوءَ ثُمَّ اسْتَقْبِلِ الْقِبْلَةَ فَكَبِّرْ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
“Jika engkau hendak mengerjakan shalat, maka sempurnakanlah wudhumu lalu menghadaplah ke kiblat, kemudian bertakbirlah.” (HR. Bukhari no. 6251 dan Muslim no. 912)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;An Nawawi dalam Syarh Muslim mengatakan, “Hadits ini terdapat faedah yang sangat banyak dan dari hadits ini diketahui pertama kali tentang hal-hal tadi adalah wajib shalat dan bukanlah sunnah.” Beliau juga mengatakan, “Dalam hadits ini menunjukkan tentang wajibnya thoharoh (bersuci), menghadap kiblat, takbirotul ihrom dan membaca Al Fatihah.” (Lihat Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, 2/132)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Yang Mendapat Udzur (Keringanan) Tidak Menghadap Kiblat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam Matan Al Ghoyat wat Taqrib (kitab Fiqih Syafi’iyyah), Abu Syuja’ rahimahullah mengatakan, “Ada dua keadaan seseorang boleh tidak menghadap kiblat : [1] Ketika keadaan sangat takut dan [2] Ketika shalat sunnah di atas kendaraan ketika safar.”&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;فَإِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالًا أَوْ رُكْبَانًا&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan.” (QS. Al Baqarah [2] : 239). Yaitu jika seseorang tidak mampu shalat dengan sempurna karena takut dan semacamnya, maka shalatlah dengan cara yang mudah bagi kalian, bisa dengan berjalan atau dengan menaiki kendaraan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Ibnu Umar mengatakan,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;فَإِنْ كَانَ خَوْفٌ هُوَ أَشَدَّ مِنْ ذَلِكَ صَلَّوْا رِجَالاً ، قِيَامًا عَلَى أَقْدَامِهِمْ ، أَوْ رُكْبَانًا مُسْتَقْبِلِى الْقِبْلَةِ أَوْ غَيْرَ مُسْتَقْبِلِيهَا&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
“Apabila rasa takut lebih dari ini, maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan dengan menghadap kiblat atau pun tidak.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malik berkata (bahwa) Nafi’ berkata,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;لاَ أُرَى عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ ذَكَرَ ذَلِكَ إِلاَّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
“Aku tidaklah menilai Abdullah bin Umar (yaitu Ibnu Umar, pen) mengatakan seperti ini kecuali dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari no. 4535)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibnu Umar berkata,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يُسَبِّحُ عَلَى الرَّاحِلَةِ قِبَلَ أَىِّ وَجْهٍ تَوَجَّهَ ، وَيُوتِرُ عَلَيْهَا ، غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يُصَلِّى عَلَيْهَا الْمَكْتُوبَةَ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengerjakan shalat sunnah di atas kendaraan dengan menghadap arah yang dituju kendaraan dan juga beliau melaksanakan witir di atasnya. Dan beliau tidak pernah mengerjakan shalat wajib di atas kendaraan.” (HR. Bukhari no. 1098 dan Muslim no. 1652) (Lihat At Tadzhib fi Adillati Matnil Ghoyat wa At Taqrib – Matni Abi Syuja’, hal. 53 dan Al Wajiz fi Fiqhis Sunnah wal Kitab Al ‘Aziz, hal. 82-83, Dar Ibnu Rojab)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Cara Menghadap Kiblat Ketika Melihat Ka’bah Secara Langsung&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Para ulama sepakat bahwa siapa saja yang mampu melihat ka’bah secara langsung, wajib baginya menghadap persis ke Ka’bah dan tidak boleh dia berijtihad untuk menghadap kea rah lain.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ibnu Qudamah Al Maqdisiy dalam Al Mughni mengatakan, “Jika seseorang langsung melihat ka’bah, wajib baginya menghadap langsung ke ka’bah. Kami tidak mengetahui adanya perselisihan mengenai hal ini. Ibnu ‘Aqil mengatakan, ‘Jika melenceng sebagian dari yang namanya Ka’bah, shalatnya tidak sah’.” (Lihat Al Mughni, 2/272)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Lalu Bagaimanakah Jika Kita Tidak Melihat Ka’bah Secara Langsung?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jika melihat ka’bah secara langsung, para ulama sepakat untuk menghadap persis ke ka’bah dan tidak boleh melenceng. Lalu bagaimana dengan orang yang tidak melihat ka’bah seperti kaum muslimin yang berada di India, Malaysia, dan di negeri kita sendiri (Indonesia)?&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyah dikatakan bahwa para ulama berselisih pendapat bagi orang yang tidak melihat ka’bah secara langsung karena tempat yang jauh dari Ka’bah. Yang mereka perselisihkan adalah apakah orang yang tidak melihat ka’bah secara langsung wajib baginya menghadap langsung ke ka’bah ataukah menghadap ke arahnya saja. (Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyah, 2/11816)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pendapat ulama Hanafiyah, pendapat yang terkuat pada madzhab Malikiyah dan Hanabilah, juga hal ini adalah pendapat Imam Asy Syafi’i (sebagaimana dinukil dari Al Muzanniy), mereka mengatakan bahwa bagi orang yang berada jauh dari Makkah, cukup baginya menghadap ke arah ka’bah (tidak mesti persis), jadi cukup menurut persangkaan kuatnya di situ arah kiblat, maka dia menghadap ke arah tersebut (dan tidak mesti persis).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Dalil dari pendapat pertama ini adalah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.” (QS. Al Baqarah: 144). Menurut pendapat pertama ini, mereka menafsirkan “syatro” dalam ayat tersebut dengan arah yaitu arah ka’bah. Jadi bukan yang dimaksud persis menghadap ke ka’bah namun cukup menghadap arahnya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Para ulama tersebut juga berdalil dengan hadits,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ قِبْلَةٌ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Arah antara timur dan barat adalah qiblat.” (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi. Tirmidzi mengatakan hadits ini shohih. Dikatakan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholi dan Misykatul Mashobih bahwa hadits ini shohih). Jadi maksudnya, bagi siapa saja yang tidak melihat ka’bah secara langsung maka dia cukup menghadap ke arahnya saja dan kalau di Indonesia berarti antara utara dan selatan adalah kiblat. Jadi cukup dia menghadap ke arahnya saja (yaitu cukup ke barat) dan tidak mengapa melenceng  atau tidak persis ke arah ka’bah.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sedangkan pendapat lainnya mengatakan bahwa yang diwajibkan adalah menghadap ke arah ka’bah persis dan tidak cukup menghadap ke arahnya saja. Jadi kalau arah ka’bah misalnya adalah di arah barat dan bergeser 10 derajat ke utara, maka kita harus menghadap ke arah tersebut. Inilah pendapat yang dipilih oleh Syafi’iyah, Ibnul Qashshor dari Malikiyah, salah satu pendapat Imam Ahmad, dan pendapat Abul Khottob dari Hanabilah.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Menurut pendapat kedua ini, mereka mengatakan bahwa yang dimaksud ayat:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke ka’bah.” (QS. Al Baqarah: 144), yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah ka’bah. Jadi seseorang harus menghadap ke ka’bah persis. Dan tafsiran mereka ini dikuatkan dengan hadits muttafaqun ‘alaih bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat dua raka’at di depan ka’bah, lalu beliau bersabda,&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;هَذِهِ الْقِبْلَةُ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Inilah arah kiblat.” (HR. Bukhari no. 398 dan Muslim no. 1330). Karena dalam hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa inilah kiblat. Dan ini menunjukkan pembatasan, sehingga tidak boleh menghadap ke arah lainnya. Maka dari itu, menurut pendapat kedua ini mereka katakan bahwa yang dimaksud dengan surat Al Baqarah di atas adalah perintah menghadap persis ke arah ka’bah. Bahkan menurut ulama-ulama tersebut, yang namanya perintah menghadap ke arah kiblat berarti adalah menghadap ke arah kiblat persis dan ini sesuai dengan kaedah bahasa Arab. (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyah, 2/1119 dan Nailul Author, 3/253)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jadi, intinya jika seseorang tidak melihat ka’bah secara langsung, di sini ada perselisihan pendapat di antara ulama. Padahal jika kita lihat dalil masing-masing kubu adalah sama. Namun, pemahamannya saja yang berbeda karena berargumen dengan hadits yang mereka pegang.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Pendapat yang Lebih Kuat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dari dua pendapat di atas, kami lebih cenderung pada pendapat pertama yaitu pendapat jumhur (mayoritas ulama) yang mengatakan bahwa bagi yang tidak melihat ka’bah secara langsung, maka cukup bagi mereka untuk menghadap arahnya saja. Jadi kalau di negeri kita, cukup menghadap arah di antara utara dan selatan. Jadi . Sedangkan pendapat kedua yang dipilih oleh Syafi’iyah, sebenarnya hadits yang mereka gunakan adalah hadits yang bisa dikompromikan dengan hadits yang digunakan oleh kelompok pertama. Yaitu maksudnya,  hadits yang digunakan pendapat kedua adalah untuk orang yang melihat ka’bah secara langsung sehingga dia harus menghadap persis ke ka’bah.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Sehingga dapat kita katakan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Jika kita melihat ka’bah secara langsung, maka kita punya kewajiban untuk menghadap ke arah ka’bah persis, tanpa boleh melenceng.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Namun jika kita berada jauh dari Ka’bah, maka kita cukup menghadap ke arahnya saja, yaitu di negeri kita adalah arah antara utara dan selatan.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sekarang masalahnya, apakah boleh kita –yang berada di Indonesia- menghadap ke barat lalu bergeser sedikit ke arah utara? Jawabannya, selama itu tidak menyusahkan diri, maka itu tidak mengapa. Karena arah tadi juga arah kiblat. Bahkan kami katakan agar terlepas dari perselisihan ulama, cara tersebut mungkin lebih baik selama kita mampu melakukannya dan tidak menyusah-nyusahkan diri.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Namun jika merasa kesulitan mengubah posisi kiblat, karena masjid agak terlalu jauh untuk dimiringkan dan sangat sulit bahkan kondisi masjid malah menjadi sempit, maka selama itu masih antara arah utara dan selatan, maka posisi kiblat tersebut dianggap sah. Akan tetapi, jika mungkin kita mampu mengubah arah kiblat seperti pada masjid yang baru dibangun atau untuk tempat shalat kita di rumah, selama itu tidak ada kesulitan, maka lebih utama kita merubahnya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا ، وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَىْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Sesungguhnya agama itu mudah. Tidak ada seorangpun yang membebani dirinya di luar kemampuannya kecuali dia akan dikalahkan. Hendaklah kalian melakukan amal dengan sempurna (tanpa berlebihan dan menganggap remeh). Jika tidak mampu berbuat yang sempurna (ideal) maka lakukanlah yang mendekatinya. Perhatikanlah ada pahala di balik amal yang selalu kontinu. Lakukanlah ibadah (secara kontinu) di waktu pagi dan waktu setelah matahari tergelincir serta beberapa waktu di akhir malam.” (HR. Bukhari no. 39. Lihat penjelasan hadits ini di Fathul Bari)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jika ada yang mengatakan, “Kami tetap ngotot, untuk meluruskan arah kiblat walaupun dengan penuh kesulitan.” Maka cukup kami kemukakan perkataan Ash Shon’aniy,&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Ada yang mengatakan bahwa kami akan pas-pasin arah kiblat persis ke ka’bah. Maka kami katakan bahwa hal ini terlalu menyusahkan diri dan seperti ini tidak ada dalil yang menuntunkannya bahkan hal ini tidak pernah dilakukan oleh para sahabat padahal mereka adalah sebaik-baik generasi umat ini. Jadi yang benar, kita cukup menghadap arahnya saja, walau kita berada di daerah Mekkah dan sekitarnya (yaitu selama kita tidak melihat Ka’bah secara langsung).” (Subulus Salam, 1/463)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jadi intinya, jika memang penuh kesulitan untuk mengepas-ngepasin arah kiblat agar persis ke Ka’bah maka janganlah menyusahkan diri. Namun, jika memang memiliki kemudahan, ya monggo silakan. Tetapi ingatlah bertakwalah kepada Allah semampu kalian.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Demikian penjelasan singkat mengenai arah kiblat. Semoga kajian yang singkat ini bermanfaat bagi kaum muslimin sekalian dan semoga kita selalu mendapatkan ilmu yang bermanfaat agar dapat menerangi jalan hidup kita. Wallahu a’lam bish showab.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS. Hud: 88)&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wallahu&#39;alam&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber : www.muslim.or.id&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://etalasesunnah.blogspot.com/2010/03/polemik-arah-kiblat-yang-tidak-tepat.html</link><author>noreply@blogger.com (abufawwaz)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgyhkSAFfMa9XKNoSnnixK1nX-dTI8gW8Jp2zwlW1wci_i2JxeTN1aAaZzwBpZsto-1ix8x49RtoaJ5dCVTHjyafxGFzMnr4nff2jgReq4_QigF-l1xNSJ1dfzE6e7rwKrJ-XVHDW9rDm8/s72-c/rsz_4mekkah.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2036994941929057047.post-5878500019223846831</guid><pubDate>Sun, 21 Mar 2010 11:30:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-03-31T09:17:47.277+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Aqidah</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Tauhid</category><title>Dasar-dasar Memahami Tauhid</title><description>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgTJ_mQrOrHt-ppVfZ8_3vwCjmxDxE33nvsgzUCcTUuic29La0_4KJ2vpygbBGj-VKD17CVGmmIdTAWLzT31TQhu3E5iGCNHtNhpZ8jzMam7UaV46pucK28gsn8AbUtW_l0TkaEIZUuehc/s1600-h/Kalimat+syahadat.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;150&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgTJ_mQrOrHt-ppVfZ8_3vwCjmxDxE33nvsgzUCcTUuic29La0_4KJ2vpygbBGj-VKD17CVGmmIdTAWLzT31TQhu3E5iGCNHtNhpZ8jzMam7UaV46pucK28gsn8AbUtW_l0TkaEIZUuehc/s200/Kalimat+syahadat.jpg&quot; width=&quot;200&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Syaikh Muhammad At-Tamimi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bismillahirrohmanirrohim&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ketahuilah, bahwa sesunguhnya kelurusan ajaran Nabi Ibrahim &#39;alaihis salam adalah beribadah kepada Allah secara ikhlas dalam melaksanakan ibadah kepada-Nya. Allah berfirman [artinya]: &quot;Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. (Adz-Dzariyaat1:56)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dan bila Anda telah tahu bahwasanya Allah menciptakanmu untuk beribadah kepada-Nya, maka ketahuilah bahwa ibadah tidak disebut ibadah kecuali bila disertai dengan tauhid. Sebagaimana shalat, tidaklah disebut shalat bila tidak disertai dengan bersuci.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bila ibadah dicampuri syirik, maka rusaklah ibadah itu, sebagaimana rusaknya shalat bila disertai adanya hadatz (tidak suci). Allah berfirman [artinya]:&quot; Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan mesjid-mesjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka itu kekal di dalam neraka&quot; (At-Taubah: 17)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Oleh karena itu, perlu dipahami bahwa ibadah yang bercampur dengan kesyirikan akan merusak ibadah itu sendiri. Dan ibadah yang bercampur dengan syirik itu akan menggugurkan amal sehingga pelakunya menjadi penghuni neraka, Allah berfirman [artinya]: &quot;Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.&quot; (An-Nisaa&#39;: 48). Kemurnian ibadah akan mampu dicapai bila memahami 4 kaidah yang telah Allah nyatakan dalam firman-Nya:&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Kaidah Pertama&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Engkau harus mengetahui bahwa orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam, mereka meyakini bahwa Allah sebagai Pencipta, Pemberi rizki, Yang menghidupkan, Yang mematikan, Yang memberi manfa&#39;at, Yang memberi madzarat, Yang mengatur segala urusan (tauhid rububiyah). Tetapi semuanya itu tidak menyebabkan mereka sebagai muslim, Allah berfirman:&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;ﻗﻝ ﻤﻥ ﻴﺭﺯﻗﻜﻡ ﻤﻥﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ﻭﻷﺭﺽ  ﺃﻤﻥ ﻴﻤﻠﻙﺍﻟﺴﻤﻊ ﻭﺍﻷﺒﺼﺎﺭﻭﻤﻥ ﻴﺨﺭﺝ ﺍﻟﺤﻲﻤﻥﺍﻟﻤﻴﺕ ﻭﻴﺨﺭﺝ ﺍﻟﻤﻴﺕ ﻤﻥ ﺍﻟﺤﻲ ﻭﻤﻥ ﻴﺩﺒﺭﺍﻷﻤﺭﻓﺴﻴﻘﻭﻟﻭﻥﺍﷲ ﻓﻘﻝ ﺃﻓﻼ ﺘﺘﻘﻭﻥ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&quot;Katakanlah: &#39;Siapa yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapa yang kuasa [menciptakan] pendengaran dan penglihatan, dan siapa yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapa yang mengatur segala urusan?&#39; Maka mereka akan menjawab:&#39;Allah&#39;. Maka katakanlah:&#39;Mengapa kamu tidak bertakwa [kepada-Nya].&quot; (Yunus:31)  &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kaidah Kedua&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Mereka (musyrikin) berkata :&quot;Kami tidak berdo&#39;a kepada mereka (Nabi, orang-orang shalih dll) kecuali agar bisa mendekatkan kepada Allah dan mereka nantinya akan memberi syafa&#39;at. Maksud kami kepada Allah, bukan kepada mereka. Namun hal tersebut dilakukan dengan cara melalui syafaat dan mendekatkan diri kepada mereka&quot;.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalil tentang mendekatkan diri yaitu firman Allah [artinya]:&quot;Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata):&quot;Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya&quot;. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar&quot; ( Az-Zumar: 3)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Adapun dalil tentang syafa&#39;at yaitu firman Allah [artinya]:&quot;Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfa&#39;atan, dan mereka berkata:&quot;Mereka itu adalah pemberi syafa&#39;at kepada kami di sisi Allah&quot;. Katakanlah:&quot;Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di langit dan tidak [pula] di bumi&quot; Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan [itu].&quot; (Yuunus: 18)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Syafa&#39;at itu ada 2 macam:  &lt;br /&gt;
• Syafa&#39;at  munfiyah (yang ditolak)  &lt;br /&gt;
• Syafa&#39;at mutsbitah (yang diterima)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Syafa&#39;at munfiyah adalah syafa&#39;at yang dicari dari selain Allah. Sebab tidak seorangpun yang berkuasa dan berhak untuk memberikannya kecuali Allah, Allah berfirman [artinya]:&quot;Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah [di jalan Allah] sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa&#39;at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim. (Al-Baqarah: 254)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Adapun syafa&#39;at mutsbitah adalah syafa&#39;at yang dicari dari Allah. Pemberi syafa&#39;at itu dimuliakan dengan syafa&#39;at, sedangkan yang diberi hak untuk memberikan syafa&#39;at adalah orang yang diridhai Allah, baik ucapan maupun perbuatannya setelah memperoleh izin-Nya. Allah berfirman [artinya]:&quot;Siapakah yang mampu memberi syafa&#39;at disamping Allah tanpa izin-Nya?&quot; (Al-Baqarah:255) &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kaidah Ketiga&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sesungguhnya Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam menerangkan kapada manusia tentang macam-macam sistem peribadatan yang dilakukan oleh manusia. Diantara mereka ada yang menyembah matahari dan bulan, diantara mereka ada pula yang menyembah orangorang shaleh, para malaikat, para wali, pepohonan, dan bebatuan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Mereka semua diperangi oleh Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam, dalilnya adalah firman Allah [artinya]:&quot;Dan perangilah mereka sehingga tidak ada lagi fitnah, dan dien ini menjadi milik Allah semuanya.&quot;(Al-Baqarah:193)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sedangkan dalil larangan beribadah kepada matahari dan bulan adalah firman Allah [artinya]: &quot;Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah [pula] kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.&quot;(Fushilat:37)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dan dalil larangan beribadah kepada orang-orang shaleh adalah: &quot;Katakanlah:&#39;Panggillah mereka yang kamu anggap selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya&#39;. Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat [kepada Allah] dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Rabbmu adalah sesuatu yang [harus] ditakuti. (Al-Ishra:56-57)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Adapun dalil tentang larangan beribadah kepada para malaikat adalah: &quot;Dan [ingatlah] hari [yang di waktu itu] Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat:&quot;Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?&quot; Malaikat-malaikat itu menjawab:&quot;Maha Suci Engkau.Engkaulah pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu&quot;.Maka pada hari ini sebahagian kamu tidak berkuasa [untuk memberikan] kemanfaatan dan tidak pula kemudharatan kepada sebahagian yang lain.Dan Kami katakan kepada orang-orang yang zalim:&quot;Rasakanlah olehmu azab neraka yang dahulunya kamu dustakan itu&quot;. (Sabaa&#39;: 40-42)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Larangan beribadah kepada para Nabi dalilnya:&quot;Dan [ingatlah] ketika Allah berfirman:&quot;Hai &#39;Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia:&quot;Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Ilah selain Allah&quot;. &#39;Isa menjawab:&quot;Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku [mengatakannya]. Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib&quot;Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku [mengatakannya] yaitu:&quot;Sembahlah Allah, Rabbku dan Rabbmu&quot;, dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Meyaksikan atas segala sesuatu. Jika engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.&quot; (Al-Maidah:116-118)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Adapun dalil tentang larangan penyembahan terhadap pepohonan, bebatuan adalah hadits Abi Waqid Al-Laitsi, dia berkata: &quot; Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam menuju Hunain. Kami adalah para pemuda yang telah mengenal bentuk-bentuk kesyirikan. Orang-orang musyrik mempunyai tempat duduk untuk beristirahat dan menggantungkan senjata. Tempat itu dikenal sebagai Dzatu Anwath. Lalu kami melalui pohon bidara dan [sebagian] kami mengatakan: &quot;Wahai Rasulullah, buatlah bagi kami Dzatu Anwath seperti yang mereka (musyrikin) miliki. Maka Nabi shallallahu &#39;alaihi wasallam bersabda: &quot;Allahu Akbar, itu adalah assunnan (jalan), kamu kamu telah mengatakan -demi dzat yang menguasai diriku-sebagaimana yang telah dikatakan oleh Bani Israel kepada Musa, &quot;Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah ilah (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa ilah (berhala)&quot;. Musa menjawab:&quot;Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang bodoh&quot;. Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan. Musa menjawab:&quot;Patutkah aku mencari Ilah untuk kamu yang selain dari pada Allah, padahal Dialah yang telah melebihkan kamu atas segala umat.&quot; (Al-A&#39;raf:138-140)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Kaidah Keempat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sesungguhnya kaum musyrik zaman kita labih parah kesyirikannya dibanding musyrikin zaman dahulu, sebab musyrikin zaman dahulu, mereka berdo&#39;a secara ikhlas kepada Allah ketika mereka ditimpa bahaya, akan tetapi mereka berbuat syirik ketika mereka dalam keadaan senang.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sedangkan orang-orang musyrik zaman sekarang, mereka terus menerus melakukan perbuatan syirik, baik dalam bahaya maupun ketika sedang senang, hal ini sebagaimana diterangkan Allah dalam Al-Qur&#39;an: &quot;Maka apabila mereka naik kapal mereka berdo&#39;a kepada Allah dengan memurnikan keta&#39;atan kepada-Nya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka [kembali] mempersekutukan [Allah], agar mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka dan agar mereka (hidup) bersenang-senang [dalam kekafiran]. Kelak mereka akan mengetahui [akibat perbuatannya].&quot; (Al-Ankabut: 65-66) &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Wallahu&#39;alam&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber : Kitab Tauhid Syaikh Muhammad At-tamimi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://etalasesunnah.blogspot.com/2010/03/dasar-dasar-memahami-tauhid_21.html</link><author>noreply@blogger.com (abufawwaz)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgTJ_mQrOrHt-ppVfZ8_3vwCjmxDxE33nvsgzUCcTUuic29La0_4KJ2vpygbBGj-VKD17CVGmmIdTAWLzT31TQhu3E5iGCNHtNhpZ8jzMam7UaV46pucK28gsn8AbUtW_l0TkaEIZUuehc/s72-c/Kalimat+syahadat.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2036994941929057047.post-6623250581832225045</guid><pubDate>Sun, 21 Mar 2010 10:58:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-03-31T08:38:54.266+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Fatwa</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Manhaj</category><title>Menyikapi Perbedaan Mazhab</title><description>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg3y1rpxSSes2UkGKNoDMh4TQcb-nmtlYHbHNZPmwTj-SyCRWgPJFqPH4qx8eSZbvgKKv1iF0gQDJw_SGnPHJjc_Tj11MeXob6oxqb5IW2LDR2nk5CyvPhiYezQW2DLG5lcEP1Nnbk6-ZY/s1600/piqih+4+mazhab.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;200&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg3y1rpxSSes2UkGKNoDMh4TQcb-nmtlYHbHNZPmwTj-SyCRWgPJFqPH4qx8eSZbvgKKv1iF0gQDJw_SGnPHJjc_Tj11MeXob6oxqb5IW2LDR2nk5CyvPhiYezQW2DLG5lcEP1Nnbk6-ZY/s200/piqih+4+mazhab.jpg&quot; width=&quot;131&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Bismillahirrohmanirrohim&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanya:&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bagaimana seharusnya sikap seorang muslim terhadap perbedaan-perbadeaan mazdhab yang menyebar di berbagai golongan dan kelompok ?&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Jawab:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Seorang muslim harus berpegang pada kebenaran, yaitu yang ditunjukkan oleh kitabullah dan sunnah Rosul-Nya serta loyal terhadap kebenaran dan mempertahankannya. Dirinya harus berlepas diri dari setiap golongan atau mazdhab yang bertentangan dengan kebenaran, serta tidak menyepakatinya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Agama Allah hanya satu, yaitu jalan yang lurus, yakni beribadah hanya kepada Allah semata dan mengikuti Rasul-Nya, Muhammad saw. Dengan begitu yang diwajibkan kepada setiap muslim adalah berpegang kepada kebenaran tersebut dan teguh dalam melaksanakannnya, yaitu mentaati Allah dan mengikuti  syariat-Nya yang diajarkan oleh Nabi-Nya, Muhammad saw. Semua dilakukan dengan penuh keikhlasan hanya karena Allah dan tidak memalingkan ibadah, sedikitpun, kepada selain-Nya. Karena itu, setiap mazdhab dan golongan yang menyelisihi kebenaran  dan aqidah ini harus dijauhi. Seorang muslim harus berlepas diri darinya dan mengajak para penganutnya untuk kembali kepada kebenaran dengan bukti dalil-dalil syariat. Dalam menasehati mereka harus dilandasi sikap lembut dengan menempuh metode yang tepat dengan berbalut kesabaran.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Wallahu&#39;alam&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber : Majmu’ Al-Fatawa wa al-maqalat Al-Mutanawwi’ah, juz V hal. 157-158, &lt;/div&gt;</description><link>http://etalasesunnah.blogspot.com/2010/03/menyikapi-perbedaan-mazhab.html</link><author>noreply@blogger.com (abufawwaz)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg3y1rpxSSes2UkGKNoDMh4TQcb-nmtlYHbHNZPmwTj-SyCRWgPJFqPH4qx8eSZbvgKKv1iF0gQDJw_SGnPHJjc_Tj11MeXob6oxqb5IW2LDR2nk5CyvPhiYezQW2DLG5lcEP1Nnbk6-ZY/s72-c/piqih+4+mazhab.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2036994941929057047.post-282148349875078476</guid><pubDate>Thu, 18 Mar 2010 01:14:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-03-31T09:19:52.498+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Mabhats</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Piqih</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Piqih Niat</category><title>Peran Niat Dalam Amal 1</title><description>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhDMFTpbOqB62UxFgubU_Y2VPVSU2-N3EbmOIjiumS1wXJZATTVfU5b2y6PkVFiQCUXuxLQy6bfW7HJksOd4yRTExgMpE4vkcwVP4QGP5MP_Fw3yv4op7xgEX5hzsHeutSPXXCqKr9DAGg/s1600-h/fikih+niat01-00.png&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;200&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhDMFTpbOqB62UxFgubU_Y2VPVSU2-N3EbmOIjiumS1wXJZATTVfU5b2y6PkVFiQCUXuxLQy6bfW7HJksOd4yRTExgMpE4vkcwVP4QGP5MP_Fw3yv4op7xgEX5hzsHeutSPXXCqKr9DAGg/s200/fikih+niat01-00.png&quot; width=&quot;141&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Al-Ustadz Abul ‘Abbas Khalid Syamhudi, Lc&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Bismillahirrohmanirrohim&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matan Hadits&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;ﻋﻥ ﺃﻤﻴﺭﺍﻟﻤﺅﻤﻨﻴﻥ ﺃﺒﻲ ﺤﻔﺹ ﻋﻤﺭﺒﻥ ﺍﻟﺨﻁﺎ ﺒﻥ ﻨﻔﻴﻝ ﺒﻥﻋﺒﺩ ﺍﻟﻌﺯﻯ ﺒﻥ ﺭﻴﺎﺡ ﺒﻥﻋﺒﺩﺍﷲ ﺒﻥ ﻗﺭﻁ ﺒﻥ  ﺭﺯﺍﺡ ﺒﻥﻋﺩﻱ ﺒﻥ ﻜﻌﺏ ﺒﻥ ﻟﺅ ﻱ ﺒﻥﻏﺎﻟﺏ ﺍﻟﻗﺭﺸﻲ ﺍﻟﻌﺩﻭﻱ ﺭﻀﻲ ﷲ ﻋﻨﻪ ﻗﺎﻝ ﺴﻤﻌﺕ ﺭﺴﻭﻝ ﷲ ﺼﻟﻰﷲ ﻋﻟﻴﻪ ﻭﺴﻠﻡ ﻴﻘﻭﻝ ﺇﻨﻤﺎ ﺍﻋﻤﺎﻝ ﺒﺎ ﺍﻟﻨﻴﺎﺕ ﻭﺍﺇﻨﻤﺎ ﻟﻜﻝﺍﻤﺭﻤﺎﻨﻭﻯ ﻓﻤﻥ ﻜﺎﻨﺕ ﻫﺠﺭﺘﻪ ﺇﻟﻰﺍﷲ ﻭﺭﺴﻭﻟﻪ ﻓﻬﺠﺭﺘﻪ ﺇ ﻟﻰﺍﷲ ﻭﺭﺴﻭﻟﻪ ﻓﻬﺠﺭﺘﻪ ﺍﻟﻰ ﷲ ﻭﺭﺴﻭﻟﻪ ﻭﻤﻥ ﻜﺎﻨﺕ ﻫﺠﺭﺘﻪ ﻟﺩﻨﻴﺎ ﻴﺼﻴﺒﻬﺎ ﺃﻭﻤﺭﺃﺓ ﻴﻨﻜﺤﻬﺎ ﻓﻬﺠﺭﺘﻪ ﺇﻟﻰ ﻤﺎ ﻫﺎﺠﺭﺇﻟﻴﻪ ﴿ﻤﺘﻔﻕﻋﻠﻴﻪ&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
”Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Khaththab  radhiyallahu’anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya amal-amal itu tergantung dengan niat, dan sesungguhnya seseorang itu hanya akan mendapat kan balasan sebagaimana niatnya. Maka barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka (pahala) hijrahnya (dinilai) kepada Allah dan RasulNya. Dan barangsiapa yang hijrahnya diniatkan untuk kepentingan harta dunia yang hendak dicapainya, atau karena seorang wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya akan dibalas sebagaimana yang ia niatkan.” (HSR. Bukhari dan Muslim dalam kedua Shahih-nya) &lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;Takhrij Hadits&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadits di atas diriwayatkan oleh: &lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Bukhari, Kitab Bad’ul Wahyu no. 1, dalam Kitabul Iman no. 54, ada beberapa tempat dalam Shahih-nya, seperti kitab Al-‘Itq, dan lainnya (Fat-hul Bari, I/9, 135). &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Muslim, Kitabul Imarah, Bab Innamal A’malu bin Niyyat, no. 1907. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitabut Thalaq, Bab Fi Ma ‘Uniya Bihi at Thalaq wan Niyat, no. 2201. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Fadha-ilul Jihad, Bab Man Ja’a fi Man Yuqatilu Riya’an Wa liddunya, no. 1647. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;An Nasa-i dalam Sunan-nya, Kitab Ath-Thaharah, Bab An-Niyyah fil Wudhu’ (I/59-60). &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Kitab Az-Zuhd, Bab An-Niyyah, no. 4227. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ahmad di dalam Musnad-nya (I/25, 43). &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ibnul Jarud dalam Al-Muntaqa, no. 64. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&amp;nbsp;Baihaqi dalam Sunan-nya (IV/235), Bab Man Ughniya ‘Alaihi fi Ayyam min Syahri Ramadhan. &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Hadits ini juga diriwayatkan oleh Daruquthni (I/136), Ibnu Khuzaimah (1/232 no. 455), Ibnu Hibban (at Ta’liqatul Hisan ‘Ala Shahih Ibni Hibban, no. 389) dan yang lainnya. &lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ibnu Rajab Al-Hanbali (wafat tahun 795 H) mengatakan: “Hadits ini (adalah) hadits fard (gharib), hanya diriwayatkan oleh Yahya bin Sa’id al-Anshari dari Muhammad bin Ibrahim at-Taimi dari ‘Alqamah bin Abi Waqqas al-Laitsi dari Umar bin Khaththab. Tidak Ada jalan lain yang shahih selain jalan ini, menurut pendapat Ali Ibnul Madini dan lainnya.”&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Imam Al-Khaththabi berkata: “Aku tidak mengetahui adanya khilaf di kalangan ahli hadits tentang masalah itu. Meskipun ada riwayat dari jalan Abu Sa’id al-Khudri dan lainnya, akan tetapi tidak satupun yang shahih menurut para huffazh (imam- imam ahli hadits).” (Jami’ul ‘Uluum Wal Hikam, I/60 dan Iqazhul Himam, hlm. 28).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Imam Bazzar berkata, ”Abu As-Sakan, Muhammad bin I’tab, Ibnul Jauzi dan selain mereka mengatakan, bahwa tidak ada satu pun hadits yang sah (tentang hadits innamal a’malu bin niyat) dari seorang sahabat, melainkan dari Umar bin Khaththab saja.” (At-Talkhisul Habir, 1/92, Cet. I Muassassah Qurthubah, Th. 1416 H).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jadi pendapat jumhur ahli hadits menyatakan bahwa hadits ini adalah hadits ahad, tidak mencapai derajat mutawatir, meskipun yang meriwayatkan dari Yahya bin Sa’id Al Anshari banyak sekali, karena dari sahabat Umar bin Khaththab sampai kepada Yahya bin Sa’id hanya terdapat satu jalan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Asbabul Wurud Hadits&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tentang asbabul wurud hadits (sebab datangnya hadits) diriwayatkan, ada seorang wanita bernama Ummu Qais sudah dilamar oleh seseorang, dan dia tidak mau dinikahi sampai calon suaminya hijrah. Lalu ia hijrah dan kami menamakan orang tersebut dengan muhajir Ummu Qais. Kisah ini banyak ditulis dalam beberapa kitab, akan tetapi tidak ada asalnya yang shahih. Wallahu’allam. (Jami’ul Ulum Wal Hikam, I/24 dan Iqazhul Himam, hlm. 37).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kata Ibnu Hajar Al-Asqalani: “…Tetapi tidak ada riwayat yang shahih yang menjelaskan hadits innamal a’malu sebabnya karena itu (karena Ummu Qais).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Aku tidak melihat sedikitpun dari jalan-jalan hadits yang jelas tentang masalah itu.” (Fat-hul Bari, I/10).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Syaikh Salim bin ‘Id Al-Hilali membenarkan perkataan Ibnu Rajab, bahwa kisah asbabul wurud hadits di atas tidak benar. (Iqazhul Himam Al-Muntaqa Fi Jami’il Ulum Wal Hikam, hlm. 37). &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Kedudukan Hadits&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak perkataan ulama tentang hadits ini, di antaranya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; Imam Nawawi berkata, ”Kaum muslimin telah ijma’ (sepakat) tentang tingginya hadits ini dan sangat banyak manfaatnya.” •&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; Imam Syafi’i berkata, ”Hadits ini merupakan sepertiga ilmu dan masuk dalam tujuh puluh bab masalah fiqh.” (Syarah Shahih Muslim, XIII/53). •&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; Imam Abdurrahman bin Mahdi (wafat th. 198 H) berkata, ”Hadits tentang niat masuk dalam tiga puluh bab masalah ilmu.” (Tuhfatul Ahwadzi, V/286). Kata beliau juga: “Selayaknya bagi orang yang menyusun satu kitab, hendaknya dimulai dengan hadits ini untuk mengingatkan para penuntut ilmu agar meluruskan dan memperbaiki niatnya.” (Syarah Muslim, XIII/53; Jami’ul Ulum Wal Hikam, I/61). Imam Bukhari pun memulai kitabnya dengan hadits ini.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; Abu Abdillah mengatakan, ”Tidak ada satupun hadits yang paling mencakup berbagai masalah dan paling banyak manfaatnya, melainkan hadits ini.” (Tuhfatul Ahwadzi V/286). •&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; Abdurrahman bin Mahdi, Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, Ali Ibnu Madini, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Daruquthni, dan Hamzah Al-Kinani, semuanya bersepakat bahwa hadits ini adalah sepertiga ilmu. (Fat-hul Bari, I/11). Yang dimaksud dengan sepertiga ilmu ialah, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, bahwa pokok-pokok Islam datang dari tiga hadits, yaitu:&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;1. Hadits Umar:ﺇﻨﻤﺎﻷﻋﻤﺎﻝﺒﺎﺍﻟﻨﻴﺎﺕ &lt;br /&gt;
2. Hadits ‘Aisyah: ﻤﻥﺃﺤﺩﺙ ﻓﻰﺃﻤﺭﻨﺎﻫﺫﺍ&lt;br /&gt;
3. Hadits Nu’man bin Basyir :  ﺇﻥﺍﻟﺤﻼ ﻝ ﺒﻴﻥ ﻭﺇﻥﺍﻟﺤﺭﺍﻡ ﺒﻴﻥ(Iqazhul Himam, hlm. 29).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, ”Makna yang ditunjukkan hadits ini merupakan pokok penting dari prinsip-prinsip agama, bahkan merupakan pokok dari setiap amal.” (Majmu’ Fatawa, XVIII/249). Sebagian ulama berpendapat, pokok-pokok agama terdapat dalam empat hadits dikarenakan melihat urgensi dari hadits-hadits tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt; Imam Syaukani berkata, ”Hadits ini mempunyai faidah yang sangat banyak, dan tidak cukup untuk saya jelaskan di sini. Meskipun hadits ini gharib, namun layak ditulis (dibahas) dalam satu kitab tersendiri.” (Nailul Authar, I/159). &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Makna Hadits&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;ﺇﻨﻤﺎﺍﻷﻋﻤﺎﻝ (innama) susunan seperti ini menunjukan pengertian hashr ﺍﻟﺤﺼﺭpembatasan, yang diartikan dengan “hanya”, maka hashr ialah, menetapkan hukum yang disebutkan dan menafikan yang selainnya. (Qawaa-id wa Fawaa-id minal Arba’in an-Nawawiyah, hal. 25).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;ﺍﻷﻋﻤﺎﻝartinya, “amal-amal”. Kata jamak dari yang diawali dengan alif lam,   ﺍﻝyang menunjukkan arti istighraq yang berarti seluruh amal. Yang dimaksud adalah amal-amal syar’i yang membutuhkan niat. Adapun yang tidak, seperti kebiasaan makan, minum, berpakaian dan yang lainnya, atau seperti mengembalikan amanah dan tanggung jawab, atau menghilangkan najis, maka, tidak membutuhkan niat. Akan tetapi ada ganjarannya bagi yang berniat untuk taqarrub kepada Allah. (Ibid, hal. 26, Iqadhul Himam al-Muntaqa min Jami’il ‘Uluum wal Hikaam, hal. 30-31).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Jadi maknanya, setiap amal harus ada niat dan tidak ada amal tanpa niat. (Nailul Authar 1/157).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bisa juga ِ  ﺇﻨﻤﺎﺍﻷﻋﻤﺎﻝ  diartikan bahwa amal itu menjadi baik, buruk, diterima, ditolak, diganjar  atau tidak, itu tergantung dari niatnya. Artinya, baik dan buruknya amal tergantung niat. (Iqadhul Himam, hal. 31).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;ﺍﻟﻨﻴﺎﺕ  jamak dari ﻨﻴﺔ Dalam bahasa diartikan ﺍﻟﻘﺼﺩ (tujuan), yaitu hati menyengaja secara sadar terhadap apa yang dituju (dimaksud) mengerjakannya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
ﻨﻭﻯ– ﻴﻨﻭﻱ ﻭﻫﻭﻋﺯﻡ ﺍﻟﻘﻠﺏ ﻋﻠﻰﺃﻤﺭﻤﻥ ﻷﻤﻭﺭ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;(Kehendak hati untuk mengerjakan suatu perkara). (Lisanul ‘Arab libni Manzhur 14/343, cet. Daar Ihya at Turats Al ‘Arabi, Mu’jamul Wasith 2/965).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Al-Baidhawi berkata, ”Niat adalah dorongan hati yang dilihat sesuai dengan suatu tujuan, berupa mendatangkan manfaat atau mendatangkan mudharat dari sisi kondisi atau tempat. (Fat-hul Baari 1/13). Ada yang berpendapat, niat adalah, menuju sesuatu yang dibarengi dengan mengerjakannya.” (Bahjatun Nazhirin 1/31 dan Syarah Hadits Arba’in oleh Imam Nawawi hal. 17).    ﹶﺇﻨﻤﺎ ﻟﻜﻝ ﺍﻤﺭﻤﺎ ﻨﻭﻰ…&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sesungguhnya setiap orang akan memperoleh dari Allah sesuai dengan apa yang diniatkan. Jika berniat baik, maka ia akan memperoleh kebaikan. Dan jika berniat jelek, maka ia akan memperoleh balasan kejelekan pula. (Bahjatun Nazhirin 1/31 dan Syarah Hadits Arba’in oleh Imam Nawawi hal. 17).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;ﻓﻤﻥ ﻜﺎﻨﺕ ﻫﺠﺭﺘﻪ ﺇﻟﻰﺍﷲ ﻭﺭﺴﻭﻟﻪ ﻓﻬﺠﺭﺘﻪ ﺇ ﻟﻰﺍﷲ ﻭﺭﺴﻭﻟﻪ ﻓﻬﺠﺭﺘﻪ ﺍﻟﻰ ﷲ ﻭﺭﺴﻭﻟﻪ ﻭﻤﻥ ﻜﺎﻨﺕ ﻫﺠﺭﺘﻪ ﻟﺩﻨﻴﺎ ﻴﺼﻴﺒﻬﺎ ﺃﻭﻤﺭﺃﺓ ﻴﻨﻜﺤﻬﺎ ﻓﻬﺠﺭﺘﻪ ﺇﻟﻰ ﻤﺎ ﻫﺎﺠﺭﺇﻟﻴﻪ ﴿ﻤﺘﻔﻕﻋﻠﻴﻪ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Da barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang akan diperoleh atau wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya menurut apa yang ia hijrah kepadanya.”&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ibnu Rajab Al-Hanbali mengatakan, “Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa amal-amal tergantung dengan niat, dan seseorang akan mendapatkan sesuatu tergantung dari niatnya, baik atau buruk; dua kalimat ini merupakan dua kaidah yang mencakup dan merupakan contoh perbuatan yang bentuknya sama, akan tetapi berbeda hasilnya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Rusaknya amal itu tergantung dari niat. Ada orang yang hijrah ke negeri Islam, karena harta dunia atau karena wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya menurut niatnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Yang pertama adalah tajir (pedagang), dan yang kedua adalah khathib (peminang). Keduanya bukan muhajir (orang yang berhijrah) yang sebenarnya.” (Iqazhul Himam hal. 36-37).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;ﺇﻟﻰﻤﺎﻫﺎﺠﺭﺇﻟﻴﻪ&lt;br /&gt;
…&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Menurut apa yang ia hijrah kepadanya. Hal ini menunjukkan jelek dan hinanya orang yang hijrah karena harta dan wanita. (Iqazhul Himam hal. 36-37).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;ﺃﻟﻬﺠﺭﺓ   Asal maknanya ialah  ﺘﺭﻙﺍﻟﺸﻲﺀ yaitu meninggalkan sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan menurut istilah syar’i ialah, ِﻫﺠﺭﺍﻥ ﺒﻠﺩ ﺍﻟﺸﺭﻙ ﻭﺍﻹﻨﺘﻘﺎﻝ ﻤﻨﻪ ﺇﻟﻰ ﺩﺍﺭﺍﻹﺴﻼﻡ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;( Pindah dari negeri kafir ke negeri Islam). Oleh para ulama, hijrah ini dibagi menjadi beberapa bagian. Hijrah tetap berlaku selama musuh masih diperangi, sebagaimana taubat masih diterima sampai atahari terbit dari barat.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ﻻ ﺘﻨﻘﻁﻊ ﺍﻟﻬﺠﺭﺓ ﺤﺘﻰ ﺘﻨﻘﻁﻊ ﺍﻟﺘﻭﺒﺔ ﻭﻻ ﺘﻨﻘﻁﻊ ﺍﻟﺘﻭﺒﺔ ﺤﺘﻰ ﺘﻁﻠﻊ ﺍﻟﺸﻤﺱ ﻤﻥ ﻤﻐﺭﺒﻬﺎ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tidak akan terhapus hijrah sampai tidak ada lagi taubat yang diterima, dan tidaklah berhenti taubat itu diterima sampai matahari terbit dari barat. (HR. Ahmad, IV/99; Abu Dawud, no. 2479 dan Ad Darimi, II/239-240 dari sahabat Mu’awiyah z, shahih)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Penjelasan Hadits&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tidak diragukan lagi, niat itu merupakan neraca bagi sahnya suatu perbuatan. Niat merupakan kehendak yang pasti, sekalipun tidak disertai dengan amal. Maka dari itu, kadang-kadang kehendak ini merupakan niat yang baik lagi terpuji, dan kadang merupakan niat yang buruk lagi tercela.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Hal ini tergantung dari apa yang diniatkan, dan juga tergantung kepada pendorong dan pemicunya; Apakah untuk dunia ataukah untuk akhirat? Apakah untuk mencari keridhaan Allah, ataukah untuk mencari keridhaan manusia? Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: ﺜﻡ ﻴﺒﻌﺜﻭﻥ ﻨﻴﺎ ﺘﻬﻡ …Kemudian mereka dibangkit kan menurut niat mereka… (HR. Ibnu Majah, no. 4229 dan Ahmad, II/392)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Karena peranan niat dalam mengarahkan amal menentukan bentuk dan bobotnya, maka para ulama menyimpulkan banyak kaidah fiqh yang diambil dari hadits ini, yang merupakan kaidah yang luas. Diantara kaidah itu ialah: ﺍﻷﻤﻭﺭﺒﻤﻘﺎ ﺼﺩﻫﺎ (suatu perkara tergantung dari tujuan niatnya).&lt;/div&gt;Niat dan Tujuan Syariat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Imam Ibnul Qayyim berkata, ”Niat adalah ruh amal, inti dan sendinya. Amal itu mengikuti niat. Amal menjadi benar karena niat yang benar. Dan amal menjadi rusak karena niat yang rusak.” (I’lamul Muwaqqi’in VI/106, tahqiq Syaikh Masyhur Hasan Salman).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan dua kalimat yang sangat dalam maknanya, yaitu, sesungguhnya amal-amal bergantung kepada niat dan seseorang memperoleh apa yang diniat kan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam kalimat pertama, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, amal tidak ada artinya tanpa ada niat. Sedangkan dalam kalimat kedua, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, orang yang melakukan suatu amal, ia tidak memperoleh apa-apa kecuali menurut niatnya. Hal ini mencakup iman, ibadah, da’wah, muamalah, nadzar, jihad, perjanjian dan tindakan apapun.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pengaruh niat dalam sah atau tidaknya suatu ibadah sudah dijelaskan di atas. Semua amal qurbah (untuk mendekat kan diri kepada Allah) harus dilandaskan kepada niat. Suatu tindakan tidak dikatakan ibadah, kecuali disertai niat dan tujuan. Maka dari itu, sekalipun seseorang menceburkan diri ke dalam air tanpa niat mandi, atau masuk kamar mandi semata untuk membersihkan diri, atau sekedar menyegarkan badan, maka perbuatan itu tidak termasuk amal qurbah dan ibadah.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Contoh lain, ada seseorang tidak makan sehari penuh karena tidak ada makanan, atau karena pantang makan, atau karena akan dioperasi, maka ia tidak disebut orang yang melakukan ibadah puasa. Contoh lain, seseorang yang berputar mengelilingi Ka’bah untuk mencari sesuatu yang jatuh, atau mencari saudaranya yang hilang, maka orang tersebut tidak dikatakan melakukan thawaf yang disyariatkan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Imam Nawawi menjelaskan, niat itu disyariatkan untuk beberapa hal berikut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pertama : untuk membedakan antara ibadah dengan kebiasaan (adat). Misalnya duduk di masjid, ada yang berniat istirahat, ada pula yang tujuannya untuk i’tikaf. Mandi dengan niat mandi junub, berbeda dengan mandi yang hanya sekedar untuk membersihkan diri. Yang membedakan antara ibadah dan kebiasaan adalah niat.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan hal ini, ketika seorang laki-laki yang berperang karena riya (ingin dilihat orang), karena fanatisme golongan, dan berperang karena keberanian. Siapakah yang berperang di jalan Allah? Maka  beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;ﻤﻥ ﻗﺎﺘﻝ ﻟﺘﻜﻭﻥ ﻜﻠﻤﺔ ﻫﻲﺍﻟﻌﻠﻴﺎ ﻔﻬﻭ ﻓﻲ ﺴﺒﻴﻝ ﺍﷲ&lt;/div&gt;ِ&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Artinya : “Barangsiapa berperang dengan tujuan agar kalimat Allah adalah yang paling tinggi, maka itulah fi sabilillah”. (HR. Al- Bukhari dalam Kitabul Ilmi no. 123 (Fat-hul Baari I/222) dan MuslimKitabul Imarah no. 1904, Tirmidzi no. 1646, Abu Dawud no. 2517, Ibnu Majah no. 2783 dan an-Nasaa-I VI/23 dari Sahabat Abu Musa al-Asy’ari).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kedua : untuk membedakan antara satu ibadah dengan ibadah yang lain. Misalnya seseorang mengerjakan shalat empat rakaat. Apakah diniatkan shalat Dhuhur ataukah shalat sunnat (ataukah diniatkan untuk shalat Ashar)? Yang membedakannya adalah niat. Demikian juga dengan orang yang memerdekakan seorang hamba, apakah ia niatkan untuk membayar kafarah (tebusan), ataukah ia niatkan untuk nadzar, atau yang lainnya? Jadi yang penting, untuk membedakan dua ibadah yang sama adalah niat. (Syarah Arba’in oleh Imam Nawawi hal. 8).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kata niat yang sering diulang-ulang dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan firman Allah, terkadang dengan makna iradah dan terkadang dengan makna qashd dan sejenisnya. Seperti dalam surat Ali Imran ayat 152, surat Al Isra` ayat 18-19.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Insyallah akan ana lanjutkan penjelasannya di piqih niat 2...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Wallahu&#39;alam&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maraji’:&lt;br /&gt;
1. Tafsir Ibnu Katsir, Cet. Darus Salam. &lt;br /&gt;
2. Shahih Bukhari, dan syarah-nya Fathul Bari, Cet. Darul Fikr. &lt;br /&gt;
3. Shahih Muslim, dan Syarah Muslim Lil Imam An Nawawi. &lt;br /&gt;
4. Sunan Abu Daud. &lt;br /&gt;
5. Jami’ At Tirmidzi dan Tuhfathul Ahwadzi Syarah Sunan At Tirmidzi. &lt;br /&gt;
6. Sunan An Nasa-i. &lt;br /&gt;
7. Sunan Ibnu Majah. &lt;br /&gt;
8. Musnad Ahmad. &lt;br /&gt;
9. Al Muntaqa, Ibnul Jarud. &lt;br /&gt;
10. Sunan Baihaqi. &lt;br /&gt;
11. Shahih Ibnu Khuzaimah. &lt;br /&gt;
12. At Ta’liqatul Hisan ‘Ala Shahih Ibni Hibban. &lt;br /&gt;
13. Jami’ul ‘Ulum Wal Hikam, oleh Ibnu Rajab Al Hanbali, tahqiq oleh Syu’aib Al Arnauth dan Ibrahim Bajis, Cet. Mu’assassah Ar Risalah, Th. 1419H. &lt;br /&gt;
14. ‘Iqazhul Himam Al Muntaqa Min Jami’il ‘Ulum Wal Hikam, oleh Syaikh Salim bin ‘Id Al Hilali. &lt;br /&gt;
15. Syarah Arba’in, oleh Imam Nawawi. &lt;br /&gt;
16. Syarah Arba’in, oleh Ibnu Daqiqil ‘Id. &lt;br /&gt;
17. I’lamul Muwaqqi’in, tahqiq Syaikh Masyhur Hasan Salman. &lt;br /&gt;
18. Majmu’ Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. &lt;br /&gt;
19. Maqashidul Mukallifin, An Niyyat Fil ‘Ibadat, oleh Dr. Umar Sulaiman Al Asyqar, Cet. Darun Nafa-is, Th. 1415 H. &lt;br /&gt;
20. Qawa-id Wa Fawa-id minal Arba’in An Nawawiyah, oleh Nadhim Muhammad Sulthan. &lt;br /&gt;
21. Bahjatun Nazhirin Syarah Riyadhush Shalihin, oleh Syaikh Salim bin ‘Id Al Hilali. &lt;br /&gt;
22. Nailul Authar, oleh Imam Asy Syaukani. &lt;br /&gt;
23. Al Qaulul Mubin Fi Akhthail Mushallin, oleh Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman. &lt;br /&gt;
24. Al Amru Bil Ittiba’ Wan Nahyu ‘Anil Ibtida`, oleh Imam As Suyuthi, tahqiq Syaikh Masyhur bin Hasan&amp;nbsp; Alu Salman. &lt;br /&gt;
25. Ilmu Ushulil Bida`, oleh Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid. &lt;br /&gt;
26. Lisanul ‘Arab Libni Manzhur, 14/343, Cet. Daar Ihya At Turats Al ‘Arabi. &lt;br /&gt;
27. Mu’jamul Wasith, dan kitab lainnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://etalasesunnah.blogspot.com/2010/03/piqih-niat-1.html</link><author>noreply@blogger.com (abufawwaz)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhDMFTpbOqB62UxFgubU_Y2VPVSU2-N3EbmOIjiumS1wXJZATTVfU5b2y6PkVFiQCUXuxLQy6bfW7HJksOd4yRTExgMpE4vkcwVP4QGP5MP_Fw3yv4op7xgEX5hzsHeutSPXXCqKr9DAGg/s72-c/fikih+niat01-00.png" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2036994941929057047.post-698390683144872981</guid><pubDate>Thu, 18 Mar 2010 00:29:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-03-31T09:10:58.739+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Aqidah</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Fatwa</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Mabhats</category><title>Sialkah Bulan Suro Itu ?</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhjHwdgHnhzJYTpGeK5mz7aMxD810brRw01s1XTDnoyoBN-c7i6aabxgUY8wv3_yZTCgE0hE0hjbquiRNcPNEkGR1mA-lV1LjdmKOg06rg0B9O0PlIOAttHKE2CsRZ9d2C9v-qVUF9DzDk/s1600/sesaji.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;200&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhjHwdgHnhzJYTpGeK5mz7aMxD810brRw01s1XTDnoyoBN-c7i6aabxgUY8wv3_yZTCgE0hE0hjbquiRNcPNEkGR1mA-lV1LjdmKOg06rg0B9O0PlIOAttHKE2CsRZ9d2C9v-qVUF9DzDk/s200/sesaji.jpg&quot; width=&quot;200&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Bismillahirrohmanirrohim&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi sebagian pihak Bulan Suro mempunyai nilai tersendiri. Kalau bagi umat Islam Bulan Muharam mengandung hari yang disunnahkan untuk melakukan puasa sunnah. Di hari itu pula Musa di selamatkan dari kejaran fir’aun. Sementara itu kaum penganut Agama Syi’ah Rafidhah yang menanggap Muharram sebagai bulan kesedihan dan kesialan, demikian pula sebagian orang di Indonesia dalam memandang bulan suro.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Di Indonesia ada sebuah pantangan yang berlaku khusus di Bulan Suro. Pernikahan tidak boleh dilakukan pada bulan ini. Bila nekat maka akan menjadi bencana dan malapetaka atau ketidakharmonisan  dalam rumah tangga. Tidak diketahui secara pasti dari mana asal-usul keyakinan ini . sebagian analis mengemukakan penelitiannya bahwa ini tidak lebih dari sekadar politik pihak kraton /kerajaan waktu itu.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Di Bulan Suro biasanya kraton punya kegiatan berbagai macam ritual. Ritual-ritual yang dilakukan hampir seluruhnya sarat dengan noda-noda kesyirikan. Agar acara kraton dihadiri rakyatnya maka dimunculkan keyakinan bahwa selama bulan itu rakyat tidak boleh melangsungkan hajatan. Tujuannya agar rakyat berbondong-bondong menyukseskan acara kraton. Wallahu a’lamu bishawab.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Lepas dari asal usul keyakinan nyeleneh tersebut, kekritisan umat islam harus diasah dengan kekuatan tauhid. Bagaimana mungkin sebuah waktu, baik hari atau bulan maupun tahun mampu mendatangkan bencana atau memberikan keberuntungan. Ternyata keyakinan salah seperti itu tidak hanya terjadi di Indonesia. Di tanah Arab pun ada keyakinan bulan sial untuk sebuah pernikahan. Bedanya kalau di Indonesia berlaku di bulan Suro/Muharram di Tanah Arab berlakunya di Bulan Shafar.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Setan memang akan berusaha sekuat tenaga untuk menyesatkan manusia, dengan halus maupun kasar. Bagi sebagian orang mungkin berdalih toh keyakinan itu demi kebaikan dan keselamatan suami isteri. Meski seakan-akan menawarkan kebaikan, tetapi sambil menyuntikkan racun mematikan. Kebaikan yang ditawarkan adalah semu, sementara racun syirik yang disuntikkan adalah kenyataan tak terbantahkan. Akankah seorang muslim berusaha menggayuh keselamatan yang dibangun di atas angan-angan dengan merusak rasa tauhid ?&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Berikut adalah fatwa dari sebagian ulama tentang masalah Bulan Sial dan kesialan yang masih dipegangi oleh sebagian orang.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
 Pertanyaan :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pada hari kesepuluh Muharram, sebagian orang memperbanyak makanan untuk keluarganya. Para khatib/penceramahpun menjelaskan keutamaannya dari sisi diniyah dan duniawiyah serta kedudukannya. Sebaagian orang menyatakan mendapatkan rasa keberkahan pada harta.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
 Jawaban :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Yang disyari’atkan ketika itu adalah berpuasa sunnah, yaitu pada hari kesepuluh dan kesembilan Bulan Muaharram atau (hari kesepuluh dan kesebelas). Jika para khatib/penceramah dan para guru menganjurkan dan menjelaskan kepada orang-orang keutamaan puasa tersebut, maka itu suatu kebaikan. Adapun memperbanyak makanan untuk keluarga pada hari itu dengan keyakinan bahwa hal itu disyari’atkan dan sebagai keutamaan baginya, maka bid’ah (tidak ada asalnya). Hadist-hadist  yang menerangkan keutamaan  memperbanyak makanan untuk keluarga pada waktu itu adalah (hadist-hadist) yang tidak shahih.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
 Pertanyaan :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kita sering mendengar kepercayaan-kepercayaan (dimasyarakat) bahwa pada Bulan Shafar tidak boleh melangsungkan pernikahan, khitan, atau semisalnya (karena dianggap Bulan Sial). Kami berharap Syaikh sekalian dapat menjelaskannya kepada kami menurut syari’at islam. Semoga Allah senantiasa menjaga Syaikh sekalian.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
 Jawaban :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Apa yang disebutkan penanya tentang larangan/pantangan melangsungkan pernikahan atau khitan dan semisalnya di Bulan Shafar adalah salah satu jenis/bentuk Tasya-um (merasa sial) dengan bulan itu. Bertasya-um dengan bulan,  hari, burung, atau hewan lainnya tidak dibolehkan berdasarkan hadist Abu Hurairah ra. Bahwa Rasullah saw. Bersabda :&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;ﻻﻋﺩﻭﻯ ﻭﻻﻁﻴﺭﺓ ﻭﻻﻫﺎﻤﺔ ﻭﻻﺼﻔﺭ&lt;/div&gt;“Tidak ada ‘adwah (wabah), tidak ada Thiyarah, tidak ada burung hantu, dan tidak ada shafar.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(HR. Bukhari VII/17, Shahih Muslim XIV/213, Musnad Ahmad I/174 dan Sunan Tirmidzi IV/161)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bertasya-um dengan Bulan Shafar termasuk  jenis  Thiyarah yang terlarang. Ia termasuk perbuatan yang biasa dilakukan orang-orang jahiliyah dahulu dan telah dibatalkan oleh islam. Wabillahi taufiq. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada nabi kita Muhammad saw. Dan kepada keluarga dan para sahabatnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Wallahu&#39;alam&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Fatwa Dikeluarkan oleh Al-Lajnah Ad-Daimah Li Al-Buhuts Al-Ilmiyah Wa Al-Ifta’: Ketua Abdul Aziz Abdullah bin Baz, Wakil Ketua : Abdurrazzaq afifi, Anggota: Abdullah bin Ghadiyyan.{I/658 dan III/77-78}&lt;/div&gt;</description><link>http://etalasesunnah.blogspot.com/2010/03/sialkah-bulan-suro-itu.html</link><author>noreply@blogger.com (abufawwaz)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhjHwdgHnhzJYTpGeK5mz7aMxD810brRw01s1XTDnoyoBN-c7i6aabxgUY8wv3_yZTCgE0hE0hjbquiRNcPNEkGR1mA-lV1LjdmKOg06rg0B9O0PlIOAttHKE2CsRZ9d2C9v-qVUF9DzDk/s72-c/sesaji.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2036994941929057047.post-6843232081533551311</guid><pubDate>Thu, 18 Mar 2010 00:20:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-03-31T10:10:27.866+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Mabhats</category><title>Adab-adab Penuntut Ilmu</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiAseXbVs4A4oB3Fz69j8D2hUHILkM6Ryq4tXjA4Z0b_Q0dq0WJwTasPGKnkv2LJ74Fb9H-14ris8hWN7jrj4FnWH7Xddox9wjTYV8nitaQYwt77FQEQqQacibHHQ0rtav3an7JXZMdHsk/s1600/adab+penuntut+ilmu.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;200&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiAseXbVs4A4oB3Fz69j8D2hUHILkM6Ryq4tXjA4Z0b_Q0dq0WJwTasPGKnkv2LJ74Fb9H-14ris8hWN7jrj4FnWH7Xddox9wjTYV8nitaQYwt77FQEQqQacibHHQ0rtav3an7JXZMdHsk/s200/adab+penuntut+ilmu.jpg&quot; width=&quot;200&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Bismillahirrohmanirrohim&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Rasulullah, amma ba’du. Para pembaca yang budiman, menuntut ilmu agama adalah sebuah tugas yang sangat mulia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Barang siapa yang dikehendaki baik oleh Allah maka Allah akan pahamkan dia dalam hal agamanya.” (HR. Bukhari) Oleh sebab itu sudah semestinya kita berupaya sebaik-baiknya dalam menimba ilmu yang mulia ini. Nah, untuk bisa meraih apa yang kita idam-idamkan ini tentunya ada adab-adab yang harus diperhatikan agar ilmu yang kita peroleh membuahkan barakah, menebarkan rahmah dan bukannya malah menebarkan fitnah atau justru menyulut api hizbiyah. Wallaahul musta’aan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;ADAB PERTAMA&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengikhlaskan Niat untuk Allah ‘azza wa jalla&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Yaitu dengan menujukan aktivitas menuntut ilmu yang dilakukannya untuk mengharapkan wajah Allah dan negeri akhirat, sebab Allah telah mendorong dan memotivasi untuk itu. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Maka ketahuilah, sesungguhnya tidak ada sesembahan yang hak selain Allah dan minta ampunlah atas dosa-dosamu.” (QS. Muhammad: 19). Pujian terhadap para ulama di dalam al-Qur’an juga sudah sangat ma’ruf. Apabila Allah memuji atau memerintahkan sesuatu maka sesuatu itu bernilai ibadah.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Oleh sebab itu maka kita harus mengikhlaskan diri dalam menuntut ilmu hanya untuk Allah, yaitu dengan meniatkan dalam menuntut ilmu dalam rangka mengharapkan wajah Allah ‘azza wa jalla. Apabila dalam menuntut ilmu seseorang mengharapkan untuk memperoleh persaksian/gelar demi mencari kedudukan dunia atau jabatan maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Barang siapa yang menuntut ilmu yang seharusnya hanya ditujukan untuk mencari wajah Allah ‘azza wa jalla tetapi dia justru berniat untuk meraih bagian kehidupan dunia maka dia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat.” yakni tidak bisa mencium aromanya, ini adalah ancaman yang sangat keras. Akan tetapi apabila seseorang yang menuntut ilmu memiliki niat memperoleh persaksian/ijazah/gelar sebagai sarana agar bisa memberikan manfaat kepada orang-orang dengan mengajarkan ilmu, pengajian dan sebagainya, maka niatnya bagus dan tidak bermasalah, karena ini adalah niat yang benar.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;ADAB KEDUA&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bertujuan untuk Mengangkat Kebodohan Diri Sendiri dan Orang Lain&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dia berniat dalam menuntut ilmu demi mengangkat kebodohan dari dirinya sendiri dan dari orang lain. Sebab pada asalnya manusia itu bodoh, dalilnya adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Allah lah yang telah mengeluarkan kalian dari perut-perut ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun, dan kemudian Allah ciptakan bagi kalian pendengaran, penglihatan dan hati supaya kalian bersyukur.” (QS. An Nahl: 78). Demikian pula niatkanlah untuk mengangkat kebodohan dari umat, hal itu bisa dilakukan dengan pengajaran melalui berbagai macam sarana, supaya orang-orang bisa memetik manfaat dari ilmu yang kau miliki.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;ADAB KETIGA&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bermaksud Membela Syariat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Yaitu dalam menuntut ilmu itu engkau berniat untuk membela syariat, sebab kitab-kitab yang ada tidak mungkin bisa membela syariat (dengan sendirinya). Tidak ada yang bisa membela syariat kecuali si pembawa syariat. Seandainya ada seorang ahlul bid’ah datang ke perpustakaan yang penuh berisi kitab-kitab syariat yang jumlahnya sulit untuk dihitung lantas dia berbicara melontarkan kebid’ahannya dan menyatakannya dengan lantang, saya kira tidak ada sebuah kitab pun yang bisa membantahnya. Akan tetapi apabila dia berbicara dengan kebid’ahannya di sisi orang yang berilmu demi menyatakannya maka si penuntut ilmu itu akan bisa membantahnya dan menolak perkataannya dengan dalil al-Qur’an dan as-Sunnah. Oleh sebab itu saya katakan: Salah satu hal yang harus senantiasa dipelihara di dalam hati oleh penuntut ilmu adalah niat untuk membela syariat. Manusia kini sangat membutuhkan keberadaan para ulama, supaya mereka bisa membantah tipu daya para ahli bid’ah serta seluruh musuh Allah ‘azza wa jalla.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;ADAB KEEMPAT&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berlapang Dada Dalam Masalah Khilaf&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Hendaknya dia berlapang dada ketika menghadapi masalah-masalah khilaf yang bersumber dari hasil ijtihad. Sebab perselisihan yang ada di antara para ulama itu bisa jadi terjadi dalam perkara yang tidak boleh untuk berijtihad, maka kalau seperti ini maka perkaranya jelas. Yang demikian itu tidak ada seorang pun yang menyelisihinya diberikan uzur. Dan bisa juga perselisihan terjadi dalam permasalahan yang boleh berijtihad di dalamnya, maka yang seperti ini orang yang menyelisihi kebenaran diberikan uzur. Dan perkataan anda tidak bisa menjadi argumen untuk menjatuhkan orang yang berbeda pendapat dengan anda dalam masalah itu, seandainya kita berpendapat demikian niscaya kita pun akan katakan bahwa perkataannya adalah argumen yang bisa menjatuhkan anda.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Yang saya maksud di sini adalah perselisihan yang terjadi pada perkara-perkara yang diperbolehkan bagi akal untuk berijtihad di dalamnya dan manusia boleh berselisih tentangnya. Adapun orang yang menyelisihi jalan salaf seperti dalam permasalahan akidah maka dalam hal ini tidak ada seorang pun yang diperbolehkan untuk menyelisihi salafush shalih, akan tetapi pada permasalahan lain yang termasuk medan pikiran, tidaklah pantas menjadikan khilaf semacam ini sebagai alasan untuk mencela orang lain atau menjadikannya sebagai penyebab permusuhan dan kebencian.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Maka menjadi kewajiban para penuntut ilmu untuk tetap memelihara persaudaraan meskipun mereka berselisih dalam sebagian permasalahan furu’iyyah (cabang), hendaknya yang satu mengajak saudaranya untuk berdiskusi dengan baik dengan didasari kehendak untuk mencari wajah Allah dan demi memperoleh ilmu, dengan cara inilah akan tercapai hubungan baik dan sikap keras dan kasar yang ada pada sebagian orang akan bisa lenyap, bahkan terkadang terjadi pertengkaran dan permusuhan di antara mereka. Keadaan seperti ini tentu saja membuat gembira musuh-musuh Islam, sedangkan perselisihan yang ada di antara umat ini merupakan penyebab bahaya yang sangat besar, Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kalian berselisih yang akan menceraiberaikan dan membuat kekuatan kalian melemah. Dan bersabarlah sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. al-Anfaal: 46)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
ADAB KELIMA&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beramal Dengan Ilmu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Yaitu hendaknya penuntut ilmu mengamalkan ilmu yang dimilikinya, baik itu akidah, ibadah, akhlaq, adab, maupun muamalah. Sebab amal inilah buah ilmu dan hasil yang dipetik dari ilmu, seorang yang mengemban ilmu adalah ibarat orang yang membawa senjatanya, bisa jadi senjatanya itu dipakai untuk membela dirinya atau justru untuk membinasakannya. Oleh karenanya terdapat sebuah hadits yang sah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “al-Qur’an adalah hujjah untukmu atau untuk menjatuhkanmu.”&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
ADAB KEENAM&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdakwah di Jalan Allah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Yaitu dengan menjadi seorang yang menyeru kepada agama Allah ‘azza wa jalla, dia berdakwah pada setiap kesempatan, di masjid, di pertemuan-pertemuan, di pasar-pasar, serta dalam segala kesempatan. Perhatikanlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau setelah diangkat menjadi Nabi dan Rasul tidaklah hanya duduk-duduk saja di rumahnya, akan tetapi beliau mendakwahi manusia dan bergerak ke sana kemari. Saya tidak menghendaki adanya seorang penuntut ilmu yang hanya menjadi penyalin tulisan yang ada di buku-buku, namun yang saya inginkan adalah mereka menjadi orang-orang yang berilmu dan sekaligus mengamalkannya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;ADAB KETUJUH&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersikap Bijaksana (Hikmah)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Yaitu dengan menghiasi dirinya dengan kebijaksanaan, di mana Allah berfirman yang artinya, “Hikmah itu diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan barang siapa yang diberi hikmah sungguh telah diberi kebaikan yang sangat banyak.” (QS. al-Baqarah: 269). Yang dimaksud hikmah ialah seorang penuntut ilmu menjadi pembimbing orang lain dengan akhlaknya dan dengan dakwahnya mengajak orang mengikuti ajaran agama Allah ‘azza wa jalla, hendaknya dia berbicara dengan setiap orang sesuai dengan keadaannya. Apabila kita tempuh cara ini niscaya akan tercapai kebaikan yang banyak, sebagaimana yang difirmankan Tuhan kita ‘azza wa jalla yang artinya, “Dan barang siapa yang diberikan hikmah sungguh telah diberi kebaikan yang amat banyak.” Seorang yang bijak (Hakiim) adalah yang dapat menempatkan segala sesuatu sesuai kedudukannya masing-masing. Maka sudah selayaknya, bahkan menjadi kewajiban bagi para penuntut ilmu untuk bersikap hikmah di dalam dakwahnya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Allah ta’ala menyebutkan tingkatan-tingkatan dakwah di dalam firman-Nya yang artinya, “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasehat yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (QS. an-Nahl: 125). Dan Allah ta’ala telah menyebutkan tingkatan dakwah yang keempat dalam mendebat Ahli kitab dalam firman-Nya, “Dan janganlah kamu mendebat ahlu kitab kecuali dengan cara yang lebih baik kecuali kepada orang-orang zhalim diantara mereka.” (QS. al-’Ankabuut: 46). Maka hendaknya penuntut ilmu memilih cara dakwah yang lebih mudah diterima oleh pemahaman orang.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;ADAB KEDELAPAN&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penuntut Ilmu Harus Bersabar Dalam Menuntut Ilmu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Yaitu hendaknya dia sabar dalam belajar, tidak terputus di tengah jalan dan merasa bosan, tetapi hendaknya di terus konsisten belajar sesuai kemampuannya dan bersabar dalam meraih ilmu, tidak cepat jemu karena apabila seseorang telah merasa jemu maka dia akan putus asa dan meninggalkan belajar. Akan tetapi apabila dia sanggup menahan diri untuk tetap belajar ilmu niscaya dia akan meraih pahala orang-orang yang sabar; ini dari satu sisi, dan dari sisi lain dia juga akan mendapatkan hasil yang baik.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;ADAB KESEMBILAN&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menghormati Ulama dan Memosisikan Mereka Sesuai Kedudukannya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sudah menjadi kewajiban bagi para penuntut ilmu untuk menghormati para ulama dan memosisikan mereka sesuai kedudukannya, dan melapangkan dada-dada mereka dalam menghadapi perselisihan yang ada di antara para ulama dan selain mereka, dan hendaknya hal itu dihadapinya dengan penuh toleransi di dalam keyakinan mereka bagi orang yang telah berusaha menempuh jalan (kebenaran) tapi keliru, ini catatan yang penting sekali, sebab ada sebagian orang yang sengaja mencari-cari kesalahan orang lain dalam rangka melontarkan tuduhan yang tak pantas kepada mereka, dan demi menebarkan keraguan di hati orang-orang dengan cela yang telah mereka dengar, ini termasuk kesalahan yang terbesar. Apabila menggunjing orang awam saja termasuk dosa besar maka menggunjing orang berilmu lebih besar dan lebih berat dosanya, karena dengan menggunjing orang yang berilmu akan menimbulkan bahaya yang tidak hanya mengenai diri orang alim itu sendiri, akan tetapi mengenai dirinya dan juga ilmu syar’i yang dibawanya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sedangkan apabila orang-orang telah menjauh dari orang alim itu atau harga diri mereka telah jatuh di mata mereka maka ucapannya pun ikut gugur. Apabila dia menyampaikan kebenaran dan menunjukkan kepadanya maka akibat gunjingan orang ini terhadap orang alim itu akan menjadi penghalang orang-orang untuk bisa menerima ilmu syar’i yang disampaikannya, dan hal ini bahayanya sangat besar dan mengerikan. Saya katakan, hendaknya para pemuda memahami perselisihan-perselisihan yang ada di antara para ulama itu dengan anggapan mereka berniat baik dan disebabkan ijtihad mereka dan memberikan toleransi bagi mereka atas kekeliruan yang mereka lakukan, dan hal itu tidaklah menghalanginya untuk berdiskusi dengan mereka dalam masalah yang mereka yakini bahwa para ulama itu telah keliru, supaya mereka menjelaskan apakah kekeliruan itu bersumber dari mereka ataukah dari orang yang menganggap mereka salah ?! Karena terkadang tergambar dalam pikiran seseorang bahwa perkataan orang alim itu telah keliru, kemudian setelah diskusi ternyata tampak jelas baginya bahwa dia benar. Dan demikianlah sifat manusia, “Semua anak Adam pasti pernah salah dan sebaik-baik orang yang salah adalah yang senantiasa bertaubat”. Adapun merasa senang dengan ketergelinciran seorang ulama dan justru menyebar-nyebarkannya di tengah-tengah manusia sehingga menimbulkan perpecah belahan maka hal ini bukanlah termasuk jalan Salaf.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;ADAB KESEPULUH&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berpegang Teguh Dengan Al Kitab dan As Sunnah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Wajib bagi penuntut ilmu untuk memiliki semangat penuh guna meraih ilmu dan mempelajarinya dari pokok-pokoknya, yaitu perkara-perkara yang tidak akan tercapai kebahagiaan kecuali dengannya, perkara-perkara itu adalah :&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;1. Al-Qur’an Al-Karim&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Oleh sebab itu wajib bagi penuntut ilmu untuk bersemangat dalam membacanya, menghafalkannya, memahaminya serta mengamalkannya karena al-Qur’an itulah tali Allah yang kuat, dan ia adalah landasan seluruh ilmu. Para salaf dahulu sangat bersemangat dalam mempelajarinya, dan diceritakan bahwasanya terjadi berbagai kejadian yang menakjubkan pada mereka yang menunjukkan begitu besar semangat mereka dalam menelaah al-Qur’an. Dan sebuah kenyataan yang patut disayangkan adalah adanya sebagian penuntut ilmu yang tidak mau menghafalkan al-Qur’an, bahkan sebagian di antara mereka tidak bisa membaca al-Qur’an dengan baik, ini merupakan kekeliruan yang besar dalam hal metode menuntut ilmu. Karena itulah saya senantiasa mengulang-ulangi bahwa seharusnya penuntut ilmu bersemangat dalam menghafalkan al-Qur’an, mengamalkannya serta mendakwahkannya, dan untuk bisa memahaminya dengan pemahaman yang selaras dengan pemahaman salafush shalih.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;2. As Sunnah yang shahihah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ia merupakan sumber kedua dari sumber syariat Islam, dialah penjelas al-Qur’an al Karim, maka menjadi kewajiban penuntut ilmu untuk menggabungkan antara keduanya dan bersemangat dalam mendalami keduanya. Penuntut ilmu sudah semestinya menghafalkan as-Sunnah, baik dengan cara menghafal nash-nash hadits atau dengan mempelajari sanad-sanad dan matan-matannya, membedakan yang shahih dengan yang lemah, menjaga as-Sunnah juga dengan membelanya serta membantah syubhat-syubhat yang dilontarkan Ahlu bid’ah guna menentang as-Sunnah.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;ADAB KESEBELAS&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meneliti Kebenaran Berita yang Tersebar dan Bersikap Sabar&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Salah satu adab terpenting yang harus dimiliki oleh penuntut ilmu adalah tatsabbut (meneliti kebenaran berita), dia harus meneliti kebenaran berita-berita yang disampaikan kepadanya serta mengecek efek hukum yang muncul karena berita tersebut. Di sana ada perbedaan antara tsabaat dan tatsabbut, keduanya adalah dua hal yang berlainan walaupun memiliki lafazh yang mirip tapi maknanya berbeda. Ats tsabaat artinya bersabar, tabah dan tidak merasa bosan dan putus asa. Sehingga tidak semestinya dia mengambil sebagian pembahasan dari sebuah kitab atau suatu bagian dari cabang ilmu lantas ditinggalkannya begitu saja. Sebab tindakan semacam ini akan membahayakan bagi penuntut ilmu serta membuang-buang waktunya tanpa faedah. Dan cara seperti ini tidak akan membuahkan ilmu. Seandainya dia mendapatkan ilmu, maka yang diperolehnya adalah kumpulan permasalahan saja dan bukan pokok dan landasan pemahaman. Contoh orang yang hanya sibuk mengumpulkan permasalahan itu seperti perilaku orang yang sibuk mencari berita dari berbagai surat kabar dari satu koran ke koran yang lain. Karena pada hakikatnya perkara terpenting yang harus dilakukan adalah ta’shil (pemantapan pondasi, ilmu ushul) dan pengokohannya serta kesabaran untuk mempelajarinya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dengan perantara nama-nama-Mu yang terindah dan sifat-sifat-Mu yang tertinggi ya Allah, ampunilah dosa-dosa hamba. Begitu banyak nikmat telah hamba sia-siakan. Umur, kesempatan, waktu luang, kesehatan dan keamanan. Semuanya telah Engkau curahkan, namun aku selalu lalai dan tidak pandai mensyukuri pemberian-Mu. Ya Allah bimbinglah hamba-Mu ini, untuk meraih kebahagiaan pada hari di mana tidak ada lagi hari sesudahnya, ketika kematian telah disembelih di antara surga dan neraka. Ketika para penduduk surga semakin bergembira dan para penghuni neraka bertambah sedih dan merana. Ya Allah, limpahkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, dan lindungilah kami dari ilmu yang tidak bermanfaat. Ya Allah, kami mohon kepada-Mu hidayah, ketakwaan, terjaganya kehormatan dan kecukupan. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyinaa Muhammad, walhamdulillaahi Rabbil ‘alamiin.&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;/div&gt;***&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Wallahu&#39;alam&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adab-adab ini disadur dari Thiibul Kalim al-Muntaqa Min Kitaab al-’Ilm Li Ibni Utsaimin karya Abu Juwairiyah oleh Abu Mushlih Ari Wahyudi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://etalasesunnah.blogspot.com/2010/03/adab-adab-penuntut-ilmu.html</link><author>noreply@blogger.com (abufawwaz)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiAseXbVs4A4oB3Fz69j8D2hUHILkM6Ryq4tXjA4Z0b_Q0dq0WJwTasPGKnkv2LJ74Fb9H-14ris8hWN7jrj4FnWH7Xddox9wjTYV8nitaQYwt77FQEQqQacibHHQ0rtav3an7JXZMdHsk/s72-c/adab+penuntut+ilmu.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2036994941929057047.post-6233701189664491272</guid><pubDate>Thu, 18 Mar 2010 00:05:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-03-31T09:23:38.640+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Aqidah</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Mabhats</category><title>Kiamat Yang Begitu Dekat Mengapa Harus Diramal ?</title><description>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhnXZDIX5xjptBl-HYuFPSbeNxCJ818rPr6UFfcFbizaKow77HIBHf4Dqj5UI6iedFw7Nr3htIPkGWglqdfrcknnd3JnhC3iVc9uLjCzCv42rl8U1cG0WrvgF5ZPsAAE24cTfhvIsOojC4/s1600/kiamat.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;200&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhnXZDIX5xjptBl-HYuFPSbeNxCJ818rPr6UFfcFbizaKow77HIBHf4Dqj5UI6iedFw7Nr3htIPkGWglqdfrcknnd3JnhC3iVc9uLjCzCv42rl8U1cG0WrvgF5ZPsAAE24cTfhvIsOojC4/s200/kiamat.jpg&quot; width=&quot;130&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Bismillahirrohmanirrohim&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang ramai bicara tentang kiamat, saat kehancuran bumi yang diikuti dengan di bangkitkannya manusia kembali. Kini semangkin ramai diperbincangkan kembali. Bukan masalah ada atau tidaknya kiamat, karena hamper semua orang percaya adanya kiamat. Yang sedang hangat didiskusikan adalah kapan kiamat itu tiba.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
Alam dunia adalah salah satu fase kehidupan yang dilalui oleh manusia, suatu saat nanti dunia ini  akan berakhir dan manusia berpindah kepada fase kehidupan berikutnya yaitu alam akhirat. Akhir kehidupan dunia inilah yang disebut kiamat.&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sesungguhnya setiap makhluk hidup apakah itu manusia, hewan, atau tumbuh-tumbuhan memiliki tanda-tanda dari akhir kesudahan hidupnya di dunia. Tanda-tanda dekatnya kematian manusia adalah rambut beruban, tua, sakit, atau lemah. Begitu juga halnya dengan hewan hamper sama dengan manusia. Sementara tumbuhan marna menguning, kering, jatuh, lalu hancur. Demikian juga alam semesta, memiliki tanda-tanda akhir masanya seperti kehancuran dan kerusakan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kiamat disbut juda dengan SA’AH. Sa’ah asalnya adalah sebagian malam atau siang. Dikatakan juga bahwa sa’ah segala sesuatu berari waktunya hilang dan habis. Dari makna ini, sa’ah atau kiamat mengandung dua macam yaitu :&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sa’ah Khusus bagi setiap makhluk, seperti tanaman, binatang dan manusia ketika mati. Dan bagi sebuah umat jika dating ajalnya itu semua dikatakan telah datang saatnya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sa’ah umum bagi dunia secara keseluruhan ketika ditiup sangkakala, maka hancurlah segala yang di langit dan di bumi.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bagaimana dengan kiamat yang sebenarnya ? tentu saja lebih dahsyat, lebih besar, dan lebih mengerikan. Al-quran banyak menyebutkan tentang kejadian di hari kiamat. Tanpa keraguan sedikitpun kaum muslimin menyakini bahwa kiamat memang akan tiba. Kepastian terjadinya ditetapkan oleh dalil-dalil Al-quran dalm jumlah yang banyak. Diantara dalil-dalil tersebut adalah:&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;ﻭﺃﻥﺍﻠﺴﺎﻋﺔ ﺀﺍﺘﻴﺔ ﻻ ﺭﻴﺏ ﻓﻴﻬﺎ ﻭﺃﻥﺍﷲ ﻴﺒﻌﺙ ﻤﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﻘﺒﻭﺭ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Dan sesungguhnya Sa’ah (Hari Kiamat) itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan  semua orang di dalam kubur.” (QS : Alhajj :7).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
KEDATANGANNYA DIDAHULU TANDA&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Terjadinya kiamat adalah hal yang ghaib. Hanya Allah yang tahu. Tidak satupun makhluk-Nya mengetahui kapan kiamat, baik para nabi maupun malaikat. Allah swt berfirman :&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;ﺇﻥ ﺍﷲ ﻋﻨﺩﻩ ﻋﻠﻡ ﺍﻟﺴﺎﻋﺔ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat {QS: Luqman:34}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah merahasiakan terjadinya hari kiamat, dan menerangkan bahwa kiamat akan datang secara tiba-tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;ﻴﺴﺌﻠﻭﻨﻙ ﻋﻥ ﺍﻟﺴﺎﻋﺔ ﺍﻴﺎﻥ ﻤﺭﺴﺎﻫﺎﻗﻝﺇﻨﻤﺎﻋﻟﻤﻬﺎﻋﻨﺩﺭﺒﻲﻻﻴﺠﻠﻴﻬﺎ ﻟﻭﻗﺘﻬﺎﺇﻻﻫﻭﺜﻘﻠﺕ ﻓﻲﺍﻠﺴﻤﺎﻭﺍﺕ ﻭﺍﻻﺽﻻ ﺘﺄﺘﻴﻜﻡ ﺍﻻﺒﻐﺘﺔ ﻴﺴﺌﻠﻭﻨﻙ ﻜﺄﻨﻙ ﺤﻔﻲﻋﻨﻬﺎ ﻗﻝ ﺇﻨﻤﺎﻋﻠﻤﻬﺎﻋﻨﺩﺍﷲ ﻭﻟﻜﻥﺍﻟﻨﺎﺱ ﻻ ﻴﻌﻠﻤﻭﻥ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: bilakah terjadinya ? katakanlah:’sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi tuhanku; tidak ad seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi mkhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan kepadamu melainkan dengan tiba-tiba.’ Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahunya. Katakanlah:’Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”{QS.Al-A’raf:187}&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ibnu Katsir berkata “Firman Allah,’katakanlah:”sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatngannya elain Dia’ adalah perintah Allah swt. Kepada nabi-Nya saw. Apabila beliau ditanya tentang waktu terjadinya hari kiamat hendaklah mengembalikan pengetahuan tentang itu kepada Allah swt. Sesungguhnya Dialah yang menjelaskan waktu kedatangannya atau mengetahui kejelasan perkara itu dan kapan kepastian waktunya.’Tafsir Ibnu Katsir juz III hal.518).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tanda-tanda kiamat adalah alamat kiamat yang menunjukan akan terjadinya kiamat tersebut. Tanda-tanda kiamat ada dua: Tanda-tanda kiamat besar dan tanda-tanda kiamat kecil.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tanda kiamat kecil adalah tanda yang datang sebelum kiamat dengan waktu yang relatif lama, dan kejadiannya biasa, seperti dicabutnya ilmu, dominannya kebodohan, minum khamar, berlomba-lomba dalam membangun dan lain-lain. Terkadang sebagiannya muncul menyertai tanda kiamat besar atau bahkan sesudahnya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tanda Kiamat Besar adalah perkara yang besar yang muncul mendekati kiamat yang kemunculannya tidak biasa terjadi, seperti munculnya Dajjal, Nabi Isa, datangnya ya’juj dan ma’jud, terbit matahari dari barat dan lain-lain.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Para Ulama berbeda pendapat tentang permulaan yang muncul dari tanda kiamat besar. Tetapi Ibnu Hajar berkata,”Yang kuat dari sejumlah berita tanda-tanda kiamat, bahwa keluarnya Dajjal adalah awal dari tanda-tanda kiamat besar, dengan terjadinya perubahan secara menyeluruh di muka bumi. Dan diakhiri dengan wapatnya Isa.”&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sedangkan terbitnya matahari dari barat  adalah awal dari tanda-tanda kiamat besar yang mengakibatkan perubahan kondisi langit. Dan berakhir dengan terjadinya kiamat.”Ibnu Hajar melanjutkan,”Hikmah dari kejadian ini bahwa ketika terbit matahari dari barat, maka tertutuplah pintu taubat,”{Fathul Bari}.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;SIAPA BISA MERAMAL KIAMAT ?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Banyak peramal meramalkan bursa dugaan datangnya kiamat. Isaac Newton dikabarkan meramalkan kiamat pada tahun 2060. Sebagian orang beranggapan, berdasarkan perhitungan kalender bangsa maya. Kiamat, menurut anggapan mereka, terjadi pada tahun 2012, tepatnya 21 Desember. Wow!&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bukan berarti anti kiamat, namun terlalu na’if membenarkan sebuah prediksi yang kesannya terlalu di paksakan. Memang saat ini kita masuk ke dalam zaman akhir, namun akhir zaman tetaplah sebuah misteri kepunyaan Allah. Tidak ada dalam satu agama manapun yang menyebutkan secara eksplisit kapan terjadinya kiamat dengan secara terbuka. Semua hanyalah bersifat tanda-tanda. Kiranya dengan begitu manusia menyadari bahwa setiap hari bias menjadi akhir untuk hidup mereka didunia dan tidak ada seorangpun di dunia ini yang diberi sebuah wewenang untuk mengetahui kapan secara pasti hari kiamat akan terjadi. Yang terjadi saat ini adalah sebuah kesoktahuan manusia untuk berusaha memprediksi angka jadi kapan dunia akan berakhir.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Terkait dengan akhir penanggalan panjang suku maya jelas itu hanya hitung-hitungan yang penuh dugaan. Tidak layak seorang muslim mempercayai ramalan semacam itu. Kalaulah benar tahun 5126 M yang bertepatan dengan  tahun 2012 M adalah tahun berakhirnya penanggalan mereka yang diyakini pula dengan berakhirnya dunia maka bukanlah bearti bahwa dunia ini akan hancur atau kiamat dikarenakan menurut kosmologi Suku Maya bahwa bumi diciptakan 5x dan dihancurkan 4x. Dengan demikian siklus kalender maya boleh berakhir, namun siklus baru akan kembali berulang.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bahkan sebagian ahli mengatakan, ‘ramalam-ramalan itu benar-benar tidak ada dasarnya sama sekali, apalagi di kebudayaan Maya yang kita kenal,’kata Stephen Houston, Prof. Antropolgi di Brown University, yang juga ahli tulisan menyebut-nyebut hal ini.’katanya.bangsa maya melihat bahwa tanggal tersebut adalah tanggal kalender mereka, tapi kemudian mengulang kalender mereka kembali tanpa adanya bencana sama sekali.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sebagian meramal berdasar Teori Planet Nibiru, bantahan yang ada dari seorang ahli di NASA mengatakan ’kami saja sampai sekarang masih berdebat soal pluto, tiba-tiba ada orang yang mengatakan adanya planet Nibiru. Dari mana ini ? lucu sekali, kami sampai sekarang belum bisa menmukan planet lain, sudah ada yang menemukan planet Nibiru pula, tanpa ada komfirmasi dari mana berita itu muncul.’&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwasanya Rasulullah bersabda, yang artinya: “Kunci-kunci ghaib itu lima,sesungguhnya hanya pada sisi nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat,dan Dia-lah yang menurunkan hujan,dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui apa yang ada di dalam rahim.Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti)apa yang akan diusahakannya besok,dan tiada yang seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”{HR. Shahih Bukhari no.4261}.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Al-Qurthubi menyebutkan pendapat Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa kelima kunci ghaib tersebut tidaklah ada yang mengetahuinya kecuali Allah swt. Hal itu juga tidak diketahui oleh para malaikat, para Nabi yang diutus. Karena itu barangsiapa yang beranggapan bahwa dirinya mengetahui sesuatu tentang itu semua, maka orang itu telah mengikari Al-quran dikarenakan ia telah menyalahinya.{Al-jami’Lil Ahkamil Quran juz XIV hal.400}.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Allahlah yang mengetahui kebenaran hakikinya, bahkan terhadap berbagai penafsiran tentang alam semesta ini, perkembangan alam maupun kehidupan yang seluruhnya merupakan teori-teori, seperti halnya teori ledakan besar, teori ini dan itu. Sebagaimana sebuah teori, tentu akan ada pula sebagian ilmuwan lainnya yang melakukan penyanggahan terhadapnya dengan berbagai teori lainnya dan begitulah selanjutnya. Adapun hakekat kebenarannya didalam permasalahan ini tidaklah ada yang mengetahuinya kecuali Allah swt. Sebagaimana disebutkan didalam Al-quran. Lantas mengapa sebagian kita percaya dengan ramalan tersebut bahkan merasa harus menguatkan dengan uthak-athik dalil.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Wallahu&#39;alam&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Artikel ini diambil dari MAJALAH FATAWA Vol.V/No.11 Dzulhijjah 1430,November 2009.   &lt;/div&gt;</description><link>http://etalasesunnah.blogspot.com/2010/03/kiamat-yang-begitu-dekat-mengapa-harus.html</link><author>noreply@blogger.com (abufawwaz)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhnXZDIX5xjptBl-HYuFPSbeNxCJ818rPr6UFfcFbizaKow77HIBHf4Dqj5UI6iedFw7Nr3htIPkGWglqdfrcknnd3JnhC3iVc9uLjCzCv42rl8U1cG0WrvgF5ZPsAAE24cTfhvIsOojC4/s72-c/kiamat.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2036994941929057047.post-5656980446136506046</guid><pubDate>Tue, 02 Mar 2010 11:06:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-03-02T18:15:35.975+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Manhaj</category><title>Sudah Saatnya Meniti  Manhaj Salaf</title><description>Syaikh Salim bin ‘Id al Hilali,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kewajiban bagi kaum Muslimin untuk mengikuti manhaj Salaf, adalah suatu keharusan. Karena manhaj ini merupakan cara beragama yang diridhai Allah Ta&#39;ala dan merupakan petunjuk Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Bahwasaanya, ittiba&#39;ur-Rasul (mengikuti Rasulullah) tidak akan terwujud, kecuali dengan perantara, yang mengambil manhaj, istidlal dan talaqqi. Yakni para sahabat radhiallahu&#39;anhum ajma&#39;in. Merekalah generasi awal ummat ini, yang disebutkan dalam firman Allah surat at Taubah/9 ayat 100, yang artinya: Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah . . . Bagaimana dan sejauh manakah kedudukan manhaj Salaf ini bagi ummat-ummat kemudian?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Berikut penjelasan Syaikh Salim bin ‘Id al Hilali, yang kami angkat dari ceramah umum yang beliau disampaikan di Masjid Jakarta Islamic Centre, pada hari Ahad, 23 Muharram 1427 H bertepatan dengan 11 Februari 2007. Diterjemahkan secara bebas oleh Ustadz Abul Minhal. Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta&#39;ala telah memilihkan agama Islam bagi kita, meridhai dan menyempurnakan serta melengkapinya. Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agamamu. (QS al Maidah/5:3).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Allah Ta&#39;ala telah menjelaskannya secara gamblang dan menguraikannya dengan keterangan sangat rinci. Allah menerangkan melalui utusan dan bayan (penjelasan) Nabi kita Muhammad. Allah berfirman :&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Dan Kami turunkan kepadamu adz-Dzikr (al Qur&#39;an), agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka. (QS an-Nahl/16:44)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Di antara penjelasan yang beliau sampaikan, yaitu mengenai wajah Islam yang shahih (asli) yang masih utuh, dalam situasi perpecahan umat dan silang pendapat yang menerpa mereka, seperti yang dialami umat sebelumnya. Beliau shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;وَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوا وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ اَلْيَوْمَ وَأَصْحَابِي&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&quot;Bangsa Yahudi telah terpecah-belah menjadi 71 golongan. Dan umat Nashara telah tercerai-berai menjadi 72 golongan. Dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Semuanya berada di neraka, kecuali satu (golongan),&quot; kemudian ada yang bertanya: “Siapakah mereka, wahai Rasulullah,” beliau menjawab: &quot;(Yaitu golongan) yang berada di atas jalanku sekarang ini dan para sahabatku&quot;.1&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Agama Islam saat permulaan penyebarannya sampai Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam wafat dan hingga kedatangan masa para khulafaur-rasyidin adalah Islam yang satu; Islam (berdasarkan) al Kitab dan as-Sunnah dan ajaran-ajaran yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Selanjutnya, muncullah golongan-golongan, aliran-aliran pemikiran dan kelompok-kelompok. Masing-masing menggagas metode tersendiri untuk memahami agama. Silang pendapat ini kebanyakan bersifat ikhtilaf tadhadd (kontradiktif). Golongan-golongan yang banyak dan bermacam-macam ini, masing-masing mengklaim diri berada di atas Islam yang shahih, berada di atas kebenaran; sekalipun mereka adalah ahli bid&#39;ah, saat melangsungkan ibadah kepada Allah Ta&#39;ala dengan bid&#39;ah-bid&#39;ah (ibadah ciptaan mereka), (dan) mereka menyangka sedang menjalankan sebuah kebajikan. Atas dasar ini, bid&#39;ah lebih berbahaya daripada maksiat. Pasalnya, orang yang bermaksiat tidak berpikir sedang beribadah dengan kemaksiatan-kemaksiatan yang dilakukannya. Sedangkan ahli bid&#39;ah, maka setan menghias amalan bid&#39;ah pada pandangan ahli bid&#39;ah, sehingga ia memandangnya sebagai kebaikan. Karena itu, Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;الْبِدْعَةُ أَحَبُّ إِلَى إِبْلِيْسَ مِنَ الْمَعْصِيَةِ وَالْمَعْصِيَةُ يتُاَبُ مِنْهَا وَالْبِدْعَةُ لَا يُتَابُ مِنْهَا&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bid&#39;ah lebih disukai oleh iblis ketimbang maksiat-maksiat. Karena maksiat masih disesali dengan taubat. Sedangkan bid&#39;ah tidak disesali dengan bertaubat.2&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dari sini, mungkin ada yang bertanya atau diam sejenak untuk melontarkan pertanyaan: &quot;Atas dasar pemahaman apa, Islam yang shahih itu dibangun? Apakah merujuk pemahaman kaum Khawarij, pemahaman golongan Mu&#39;tazilah, kerangka berpikir kelompok Murji`ah? Ataukah berdasarkan pemahaman golongan-golongan yang termuat di dalam kitab-kitab tentang firoq (golongan-golongan yang sesat)?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Oleh sebab itu, perlu disampaikan penjelasan mengenai Islam yang shahih sebagaimana telah disebutkan oleh Allah Ta&#39;ala dan diridhai oleh-Nya bagi kita, serta yang sudah disampaikan penjelasannya oleh Rasulullah dan memerintahkan kita untuk konsisten di atasnya pada masa munculnya ikhtilaf (perbedaan) dan perpecahan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Saya ingin mengetengahkan satu masalah penting, yakni, bahwasanya Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam menyebutkan para sahabat di masa terjadinya perpecahan umat dalam dua kesempatan (dua hadits), dan (beliau shallallahu &#39;alaihi wa sallam ) memerintahkan untuk memegangi manhaj para sahabat beliau.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Hadits Pertama. Hadits al &#39;Irbadh bin Sariyah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ مِنْ بَعْدِي عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sesungguhnya orang yang hidup (panjang) di antara kalian akan menyaksikan perbedaan yang banyak. Maka, kewajiban kalian ialah memegangi Sunnahku dan sunnah para khulafaur-rasyidin sepeninggalku. Pegangilah dengan geraham-geraham kalian . . . .3&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Di sini, beliau memberitahukan adanya ikhtilaf (perbedaan pandangan), dan disertai penyebutan jalan keluar dari perpecahan itu. Yaitu, (memegangi) Sunnah Rasulullah sebagaimana telah diamalkan oleh para sahabat beliau. Yang dimaksud khulafaur-rasyidin (para pengganti yang mendapatkan petunjuk), yaitu para sahabat Nabi. Makna yang dinginkan di sini (dalam hadits di atas, Red.), adalah iradatu fahmin (pengalihan wewenang pemahaman), bukan iradatu hukmin (pengalihan wewenang kekuasaan). Setiap sahabat Nabi merupakan penerus Nabi dalam aspek pemahaman, manhaj dan agamanya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;(Hadits Kedua). Hadits &#39;Amr bin al &#39;Ash yang diriwayatkan at-Tirmidzi dengan isnad yang hasan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Umatku akan berpecah-belah menjadi 73 golongan. Semuanya masuk neraka, kecuali satu. Kata beliau: &quot;(Yaitu golongan yang berpegang teguh dengan jalan yang) aku dan para sahabatku berada di atasnya sekarang ini&quot;.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tatkala menyebutkan terjadinya perbedaan pendapat tersebut, Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam menjelaskan manhaj (metode) yang masih eksis berada di atas jalan dan Sunnah beliau. Yakni, jalan yang telah dipegangi Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam dan para sahabat. Dengan ini, maka memahami Kitabullah dan Sunnah Rasulullah yang berlandaskan pemahaman para sahabat, itulah agama Islam yang diridhai.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dan Kuridhai Islam menjadi agama kalian).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Maksudnya, yaitu agama yang dijalankan oleh Muhammad shallallahu &#39;alaihi wa sallam dan para sahabat Muhammad radhiallahu&#39;anhum ajma&#39;in. Dan lagi, tugas para sahabat di tengah umat ini ibarat tugas Nabi Muhammad di hadapan para sahabat. Tanggung jawab Nabi di tengah umat ini dan di hadapan para sahabat ialah menjadi saksi atas mereka. Dan keberadaan sahabat di hadapan umat menjadi saksi atas umat ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta&#39;ala berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan, agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia, dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. (QS al Baqarah/2:143).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam adalah saksi atas umat ini. Setelah beliau wafat, tinggallah sahabat Rasulullah menjadi saksi atas umat. Karena itu, terdapat riwayat dalam Shahih Muslim, dari hadits Abu Musa al Asy&#39;ari, Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;النُّجُومُ أَمَنَةٌ لِلسَّمَاءِ فَإِذَا ذَهَبَتْ النُّجُومُ أَتَى السَّمَاءَ مَا تُوعَدُ وَأَنَا أَمَنَةٌ لِأَصْحَابِي فَإِذَا ذَهَبْتُ أَتَى أَصْحَابِي مَا يُوعَدُونَ وَأَصْحَابِي أَمَنَةٌ لِأُمَّتِي فَإِذَا ذَهَبَ أَصْحَابِي أَتَى أُمَّتِي مَا يُوعَدُونَ&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bintang-bintang merupakan amanah bagi langit. Apabila bintang-bintang lenyap, maka tibalah perkara yang sudah ditetapkan bagi langit. Dan aku penjaga amanah di tengah sahabatku. Bila aku telah pergi, maka datanglah kepada para sahabatku apa yang dijanjikan kepada mereka. Dan sahabatku penjaga amanah di tengah umatku. Apabila para sahabatku telah pergi, maka datanglah kepada umatku perkara yang dijanjikan kepada mereka.4&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Maknanya, bila bintang-bintang itu telah pergi, tidak kembali lagi. Dan bila Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam telah pergi, maka datanglah pada para sahabat masalah yang telah dikabarkan kepada mereka. Dan jika para sahabat telah pergi, maka muncullah kejadian yang sudah dijanjikan kepada umatku.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Melalui pemaparan hadits-hadits ini, Nabi n menjelaskan bahwa Islam yang benar ialah yang berlandaskan pada jalan Rasulullah dan para sahabat Rasulullah radhiallahu&#39;anhum ajma&#39;in .&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Masalah yang sudah kami kemukakan dan manhaj yang telah kami menepatinya ini, didukung oleh al Qur`an dan dikuatkan oleh as-Sunnah, para sahabat dan generasi Tabi&#39;in, serta para ulama umat Islam. Satu per satu hendak saya sampaikan bukti-buktinya:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;(Sebagian dalil dari al Qur`an):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Allah Ta&#39;ala mewajibkan seorang muslim untuk mengikuti al Kitab dan as-Sunnah berdasarkan pemahaman para sahabat. Allah Ta&#39;ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu&#39;min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali. (QS. An Nisa/ 4:115)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sabilul-mukminin adalah jalan para sahabat Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam . Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Jamrah: Para ulama berkata, bahwa sabilul-mukminin adalah jalan para sahabat Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam .&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta&#39;ala berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah . . . (QS at Taubah/ 9:100).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;(Dalam ayat ini), Allah Ta&#39;ala menyebutkan dua thabaqat (tingkatan) manusia. Tingkatan Pertama, yaitu orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Tingkatan Kedua, yaitu tingkatan orang-orang yang mengikuti mereka, mengikuti Muhajirin dan Anshar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tingkatan Muhajirin dan Anshar adalah para sahabat Rasulullah. Karena yang dimaksud dengan &quot;dahulu&quot; di sini adalah generasinya. Sehingga setiap sahabat, (mereka) mendahului para generasi Tabi&#39;in.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Allah l menyanjung para generasi Sabiqunal-Awwalun dan orang-orang yang mengikuti mereka. Mengapa Allah Ta&#39;ala memuji orang-orang yang mengikuti Sabiqunal-Awwalun? Karena mereka mengikuti jalan kaum Muhajirin dan Anshar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam ayat ini tersirat sebuah pelajaran manhaj, yaitu Allah Ta&#39;ala tidak menyebutkan mengenai ittiba’ur-Rasul (mengikuti Rasulullah). Tujuannya, untuk menjelaskan kepada kita semua, bahwa ittiba&#39;ur-Rasul tidak akan terwujud, kecuali dengan perantara, yang mengambil manhaj, istidlal dan talaqqi. Yakni para sahabat radhiallahu&#39;anhum ajma&#39;in . Maka, seorang muslim belum menempuh jalan ittiba’ur-Rasullah sebelum memahami manhaj beliau berdasarkan pemahaman para sahabat Rasulullah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;(Sebagian dalil dari hadits):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sedangkan hadits-hadits yang menyatakan kewajiban mengikuti al Kitab dan as-Sunnah dengan merujuk pemahaman para sahabat yang mulia sangat banyak. Sebagian sudah dipaparkan. Di antaranya, hadits al ‘Irbadh bin Sariyah:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ مِنْ بَعْدِي عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sesungguhnya orang yang hidup (panjang) di antara kalian akan menyaksikan perbedaan yang banyak. Maka, kewajiban kalian ialah memegangi Sunnahku dan sunnah para khulafaur-rasyidin sepeninggalku. Pegangilah dengan geraham-geraham kalian . . .&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Maksudnya, pegangi sunnah para sahabatku. Beliau n tidak mengatakan &#39;adhdhu &#39;alaihima (pegangi keduanya), akan tetapi beliau shallallahu &#39;alaihi wa sallam mengatakan &#39;adhdhu alaiha (عَضُّوا عَلَيْهَا , pegangi dia, dijadikan satu kesatuan dalam satu kata ganti, Red.). Artinya, sunnah para sahabat merupakan sunnah beliau juga. Merekalah yang menyampaikan sunnah beliau. Orang-orang yang menyampaikan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah; mereka adalah para sahabat Nabi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Oleh karena itu, para ulama menetapkan, siapa saja yang menikam kehormatan para sahabat, ia adalah zindiq. Maksudnya, dengan mencela atau berkomentar miring terhadap sahabat atau mengkafirkan mereka, (maka) orang-orang tersebut (adalah) zindiq. Abu Zur&#39;ah radhiallahu&#39;anhu pernah ditanya tentang orang-orang yang menikam kehormatan para sahabat. Beliau radhiallahu&#39;anhu menjawab:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;وَإِنَّمَا يُرِيْدُوْنَ أَنْ يَجْرَحُوْا شهُوْدَنَا لِيُبْطِلُوْا الْكِتَابَ وَالسُّنَةَ وَالْجَرْحُ أَوْلَى بِهِمْ وَهُمْ زَناَدِقَةٌ&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Mereka itu ingin menciderai reputasi merusak kehormatan para saksi kita untuk menggugurkan al Kitab dan as-Sunnah. Padahal mereka itulah (yang) lebih pantas ditikam kehormatannya. Mereka itu kaum zindiq.5&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Mereka itu ingin menghancurkan kedudukan orang-orang yang telah menyampaikan al Qur`an dan as-Sunnah kepada kita. (Padahal), justru mereka itulah yang lebih pantas untuk dijatuhkan kehormatannya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Hadits yang lainnya masih banyak. Misalnya, hadits:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sebaik-baik manusia adalah generasiku. Kemudian generasi selanjutnya, dan kemudian generasi selanjutnya.6&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Aspek puncak kebaikan pada hadits ini, ialah ditinjau dari aspek ilmu dan pemahaman, bukan (dari aspek) kebaikan fisik, nasab (keturunan) atau lainnya. Kemudian datang generasi sahabat. Yang menjadikan manhaj dan pemahaman mereka sebagai hujjah di hadapan umat setelahnya. Terutama, saat mereka beradu argumentasi dengan golongan-golongan sesat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sebut saja &#39;Abdullah bin Mas&#39;ud. Suatu hari, beliau memasuki masjid Kufah. Di dalamnya, beliau menyaksikan sekumpulan orang-orang duduk melingkar sambil mengucapkan tasbih, takbir dan tahmid dengan hitungan kerikil-kerikil. (Berikut dialog antara sahabat &#39;Abdullah bin Mas’ud dengan mereka).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;قَالَ : مَا هَذَا الَّذِي أَرَاكُمْ تَصْنَعُونَ؟ قَالُوا: يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَصًى نَعُدُّ بِهِ التَّكْبِيرَ وَالتَّهْلِيلَ وَالتَّسْبِيحَ قَالَ: فَعُدّ ُوا سَيِّئَ اتِكُمْ فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَا تِكُمْ شَيْءٌ وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ هَؤُلَاءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَوَافِرُونَ وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْقَالُوا: وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلَّا الْخَيْرَ قَال : َ وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Beliau (&#39;Abdullah bin Mas&#39;ud) bertanya (kepada mereka),&quot;Perbuatan apakah yang sedang aku lihat kalian mengerjakannya?”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Mereka menjawab,&quot;Wahai Abu Abdir-Rahman! Ini adalah kerikil-kerikil. Kami membaca takbir, tahlil dan tasbih dengannya.&quot;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Maka beliau menimpali: &quot;Hitung saja kesalahan-kesalahan kalian. Sesungguhnya aku menjamin kebaikan-kebaikan kalian tidak akan hilang. Celakalah kalian, wahai umat Muhammad! Begitu cepatnya kalian terseret kepada kebinasaan. Para sahabat Nabi kalian pun masih banyak. Lihatlah, baju-baju Nabi shallallahu &#39;alaihi wa sallam belum rusak. Periuk-periuk beliau belum pecah”.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Mereka berdalih,&quot;Kami hanya ingin berbuat baik saja.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Beliau pun berkata: &quot;Berapa banyak orang menginginkan kebaikan, akan tetapi tidak meraihnya atau tidak sampai kepadanya&quot;.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Syahid (bukti yang bisa dipegangi) dari pernyataan itu ialah, &quot;sedangkan para sahabat masih banyak&quot;. Seandainya kalian berada di atas jalan kebenaran, sudah pasti ada sahabat yang bersama dengan kalian. Ketika tidak ada seorang pun dari mereka yang bersama kalian, berarti kalian berada dalam pintu kesesatan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah, logika berikut yang dipakai &#39;Abdullah bin Mas&#39;ud dalam membungkam mereka. Beliau mengatakan selanjutnya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ أَوْ مُفْتَتِحُو بَابِ ضَلَالَةٍ . إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَنَا أَنَّ قَوْمًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ وَايْمُ اللَّهِ مَا أَدْرِي لَعَلَّ أَكْثَرَهُمْ مِنْكُمْ ثُمَّ تَوَلَّى عَنْهُمْ&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&quot;Demi Allah, wahai orang-orang, kalian itu berada di atas ajaran, kalau tidak lebih baik dari ajaran Muhammad (dan ini merupakan bentuk kekufuran) atau kalian sedang membuka pintu kesesatan. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wa sallam telah mengabarkan kepada kami ada kaum yang membaca al Qur`an tapi tidak menembus kerongkongan mereka. Demi Allah, aku tidak tahu, mungkin kebanyakan dari kalian termasuk mereka &quot;.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Perawi hadits ini, &#39;Amr bin Salimah berkata: &quot;Kami menyaksikan kebanyakan orang-orang itu mememerangi kami di perang Nahrawan bersama Khawarij&quot;.7&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jadi, ketika mereka keluar dari pemahaman para sahabat Rasulullah, hal itu menyebabkan mereka khuruj (melepaskan diri) dari umat Rasulullah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Juga cara yang ditempuh oleh Ibnu &#39;Abbas radhiallahu&#39;anhu saat Khalifah Ali radhiallahu&#39;anhu mengutusnya menghadapi orang-orang Khawarij.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Mereka bertanya,&quot;Darimana engkau?&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Beliau (Ibnu &#39;Abbas radhiallahu&#39;anhu ) menjawab,&quot;Aku datang dari saudara sepupu Rasulullah dan menantu beliau dan dari para sahabat. Kepada merekalah al Qur`an turun. Mereka adalah orang-orang yang lebih berilmu daripada kalian. Dan tidak ada seorang pun dari mereka yang menyertai kalian&quot;.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Lihatlah, &#39;Abdullah bin Mas&#39;ud dan Ibnu &#39;Abbas mendesak pionir-pionir kaum Khawarij dengan manhaj para sahabat Rasulullah, dan menjadikan pemahaman para sahabat sebagai sumber argumentasi di hadapan mereka.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Setelah itu, melalui pergantian generasi demi generasi, ternyata kita menjumpai para ulama di setiap generasi dan abad itu, mereka bersepakat satu kata dalam masalah ini. Yaitu, keharusan memahami Kitabullah dan Sunnah Rasulullah dengan merujuk (kepada) pemahaman para sahabat, hingga pada masa kita sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kita melihat ulama-ulama besar pada zaman sekarang, seperti Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani, Syaikh Bin Baz, Syaikh Ibnu &#39;Utsaimin; mereka semua sepakat, bahwa seorang muslim seharusnya memahami Kitabullah dan Sunnah Rasulullah berdasarkan pemahaman para sahabat Nabi. Inilah yang disebut manhaj Salaf. Pasalnya, bila menyaksikan keadaan golongan-golongan yang ada, baik pada zaman dahulu atau firqoh pada masa sekarang ini, sangat bertentangan dengan manhaj para sahabat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ambil contoh, Khawarij. Perkara prinsip (yang ada) pada mereka, (yaitu) mengkafirkan para sahabat dan bahkan memeranginya. Mereka telah melakukan pemberontakan terhadap &#39;Utsman, dan akhirnya membunuh beliau. Mereka juga melancarkan pemberontakan kepada &#39;Ali, dan akhirnya membunuh beliau. Mereka memerangi para sahabat dan membunuhi dan mengkafirkannya. Bagaimana bisa dikatakan, mereka berada di atas manhaj yang sesuai dengan manhaj para sahabat Nabi yang sudah mereka perangi dan mereka bunuh?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Begitu pula, kaum Syi&#39;ah, yang telah mengkafirkan para sahabat Nabi, kecuali tiga atau tujuh orang sahabat saja yang selamat dari vonis mereka. Salah seorang ulama Syi&#39;ah melontarkan perkataan: &quot;Telah binasa para sahabat Nabi, kecuali tiga atau tujuh orang saja&quot;. Mereka selalu melaknat Abu Bakr dan &#39;Umar. Mereka juga memiliki bacaan sholawat yang berbunyi: &quot;Ya Allah, laknatlah dua berhala Quraisy, jibt dan thaghut mereka (Abu Bakr dan Umar), yang telah melakukan tahrif (perubahan) terhadap kitab-Mu&quot;. Bagaimana mungkin Syi&#39;ah berada di atas pemahaman para sahabat Rasulullah?!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Atau lihat saja Mu&#39;tazilah. Tokoh besarnya, Washil bin &#39;Atha` berkomentar miring terhadap sahabat &#39;Ali, az-Zubair dan Thalhah yang telah menerima kabar gembira dari Nabi n berupa masuk syurga.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ia (Washil bin &#39;Atha`) berkata,&quot;Seandainya Thalhah, az-Zubair dan &#39;Ali bersaksi mengenai setumpuk sayuran di depanku, aku tidak akan menerima persaksiannya.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Bagaimana mungkin mereka berada di atas manhaj para sahabat, sebab mereka saja menolak persaksian sahabat?!&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Lihat juga pentolan Mu&#39;tazilah lainnya, (yaitu) ‘Amr bin &#39;Ubaid. (Dia) berkomentar tentang sahabat dengan berkata: &quot;(Mereka itu) amwatun ghairu ahya` (orang-orang mati, tidak hidup)&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menikam dan menghina para sahabat Rasulullah! Jadi, golongan-golongan itu, banyak yang melancarkan penghinaan kepada sebagian sahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula, bila kita perhatikan kelompok-kelompok pergerakan pada zaman sekarang ini; akan kita jumpai sebagian pendiri dan tokoh-tokohnya menjatuhkan kehormatan sebagian sahabat. Ada yang menyatakannya dengan sindiran. Contoh-contohnya sangat banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba lihat, penulis kitab adh-Dhilal (Dhilalul-Qur`an). Penulis kitab itu (telah) menghina sahabat &#39;Amr bin al &#39;Ash dan Mu&#39;awiyyah. Bahkan menganggap kekhilafahan (kekuasaan) Khalifah &#39;Utsman sebagai pengisi kekosongan belaka antara &#39;Umar dan &#39;Ali. Artinya, orang ini mengesampingkan kekhilafahan &#39;Utsman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian lagi melontarkan celaan kepada sahabat Mu&#39;awiyyah. Sejumlah orang begitu meremehkan masalah penghinaan yang dialamatkan kepada beliau. Sebagian ulama Salaf berkata: &quot;Mu&#39;awiyyah adalah sitr (kain pelindung) para sahabat. Bila penutup ini sudah tersibak, maka pintu itu akan termasuki&quot;. Maksudnya, bila orang sudah berani mencaci-maki Mu&#39;awiyyah, maka pada gilirannya, ia akan terjerumus dalam cacian yang dilontarkan kepada Abu Musa al Asy&#39;ari, &#39;Utsman, &#39;Ali dan sahabat lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak akan mendapati golongan yang menghormati para sahabat dan mengagungkan serta menilai mereka sebagai orang-orang &#39;udul (adil, bersih), kecuali Ahli Sunnah wal Jama&#39;ah. Mereka itulah yang berjalan di atas pemahaman Salafush-Shalih, manhaj ahli hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah berarti golongan-golongan itu telah keluar dari agama Islam? Tidak demikian adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul-Qayyim telah mengeluarkan pernyataan yang layak menjadi kaidah emas dalam masalah ini. Beliau mengatakan, syariat ada tiga macam: aturan syari&#39;at yang munazzal (diturunkan), aturan syari&#39;at yang muawwal (hasil takwil), dan syari&#39;at mubaddal (yang telah dirubah). Golongan yang menjalankan syari&#39;at yang munazzal (yang diturunkan) oleh Allah kepada Rasulullah adalah Ahli Sunnah wal Jama&#39;ah. Mereka itulah yang mengamalkan al Qur`an dan as-Sunnah dengan dasar pemahaman Salaful-Ummah. Sedangkan manhaj-manhaj atau golongan lainnya, kalau tidak bertumpu pada syari&#39;at yang sudah ditakwilkan, maka berlandaskan syari&#39;at yang sudah mengalami perubahan. Setiap golongan itu, hukumnya tergantung dengan kondisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun sudah sangat jelas kebenaran manhaj Salaf ini, masih saja ada orang yang melontarkan tuduhan-tuduhan, syubuhat, keraguan. Semoga Allah memberikan petunjuk kepada umat Muhammad dan meneguhkan kita di atas manhaj yang benar ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Washallallahu ‘ala Nabiyyi Muhammad wa ‘ala alihi wa Shahbihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Hadits shahih, diriwayatkan oleh sejumlah sahabat. Lafazh di atas riwayat dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al Ash. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (2641), al Hakim (1/129-128), Ibnu Wadhdhah dalam al Bida&#39; (hlm. 15-16), al Ajurri dalam asy-Syari&#39;ah (16), al Lalikai dalam Syarhu Ushulil-I&#39;tiqad (147) dll. Dishahihkan oleh Syaikh al Albani di dalam ash-Shahihah. Menjadi shahih karena keberadaan beberapa syahid (penguat). Al Hakim mengatakan tentang hadits ini: &quot;Ini adalah hadits penting dalam masalah ushul&quot;. Syaikh al Albani di kitab yang sama, mengutip tash-hih dari para ulama sebelumnya. Misalnya Ibnu Hajr, Ibnu Taimiyah, asy-Syathibi, al &#39;Iraqi rahimahullah .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Syarhul-Ushulil-I&#39;tiqad, al Lalikai (1185). Syaikhul-Islam menerangkan maksud pernyataan di atas dengan berkata: &quot;Sesungguhnya ahli bid&#39;ah mengikuti ajaran yang tidak disyari&#39;atkan Allah dan Rasul-Nya. Setan telah memperindah amalan buruknya itu, hingga ia memandangnya baik. Ia tidak bertaubat selama menilai amalannya baik. Sebab, permulaan taubat dimulai dengan ilmu, bahwa tindakannya buruk untuk disesali. Atau lantaran ia meninggalkan suatu yang baik, yang wajib maupun sunnah. Dia bertaubat dan berjanji melaksanakannya. Selama orang itu melihat tindakannya merupakan amalan baik, padahal amalannya buruk, karenanya, ia tidak bertaubat&quot;. Lihat Majmu&#39; al Fatawa (10/9). Dinukil dari Ilmu Ushulil-Bida&#39; karya Ali bin Hasan al Halabi, hlm. 218.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Hadits ini, sebagaimana keterangan Syaikh Syu&#39;ab al Arnauth diriwayatkan oleh Abu Dawud (4607), at-Tirmidzi (2676), Ahmad (4/126-127), ad-Darimi (1/144), Ibnu Majah (43), Ibnu Abi Ashim di dalam as-Sunnah (27), ath-Thahawi dalam Syarhu Musykili Atsar (2/69), al Baghawi (102), al Ajurri dalam asy-Syari&#39;ah (46), al Baihaqi (6/541), al Lalikai dalam Syarhul-Ushulil-I&#39;tiqad (81), al Marwazi dalam as-Sunnah (69), (72), Abu Nu&#39;aim dalam al Hilyah (5/220) (10/115), al Hakim (1/95-97) dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban (5). Hadits ini, dikatakan oleh Syaikh Abdul Muhsin al &#39;Abbad, ulama hadits di kota Madinah sebagai hadits yang shahih dalam pandangan Ahli Sunnah. At-Tirmidzi berkata: &quot;Hadits hasan shahih&quot;. Al Hakim berkata: &quot;Hadis shahih tidak ada cacatnya,&quot; dan adz-Dzahabi menyepakatinya. Abu Nu&#39;aim berkata: &quot;Ia adalah hadits jayyid, termasuk hadits shahih dari orang-orang Syam.&quot; Lihat Jami&#39;ul-Ulum wal-Hikam (2/109). Dihasankan oleh al Baghawi dalam Syarhus-Sunnah (102) dan al Albani di dalam ta&#39;liq kitab as-Sunnah karya Ibnu Abi Ashim (1/18-19). Keterangan ini dikutip dari al Intishar li Ahlis-Sunnah wal-Hadits karya Syaikh Abdul Muhsin al Abbad. Sengaja penterjemah mengutip secara lengkap, disebabkan ada yang meragukan keabsahan hadits ini sebagai hujjah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. HR Muslim (2531). Maksudnya, seperti diungkapkan oleh al Imam an-Nawawi dalam Syarhu Shahih Muslim, (secara ringkas) selama bintang-bintang itu tetap ada, maka langit pun juga demikian. Jika bintang-bintang sudah berjatuhan pada hari Kiamat, maka langit pun terpecah dan lenyap. Hal-hal yang dijanjikan kepada para sahabat, yaitu peristiwa-peristiwa fitnah, peperangan, timbulnya gejala keluar dari agama (murtad) dari kalangan orang-orang Badui, perpecahan hati dan peristiwa lainnya yang sudah diperingatkan Nabi dengan terang-terangan. Sedangkan kejadian yang dijanjikan kepada umatnya, yaitu munculnya bid’ah (perkara-perkara baru dalam agama) dan fitnah. Lihat Syarhu Shahih Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Diriwayatkan oleh al Khathib al Baghdadi dalam al Kifayah fi ‘Ilmir-Riwayah, hlm. 49. Dikutip dari al Intishar lish-Shahbi wal al . . ., karya Dr. Ibrahim ar-Ruhaili, hlm. 97.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. HR al Bukhari (2652) dan Muslim (2533), (211).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Riwayat ad-Darimi (1/68-69). Dikutip dari Ilmu Ushulil-Bida’, hlm. 92&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://etalasesunnah.blogspot.com/2010/03/sudah-saatnya-meniti-manhaj-salaf.html</link><author>noreply@blogger.com (abufawwaz)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2036994941929057047.post-5081197997989273546</guid><pubDate>Tue, 02 Mar 2010 10:57:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-03-21T18:07:35.444+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Piqih</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Piqih Shalat</category><title>Menggemarkan Shalat Sunnah Rawatib</title><description>Ustadz Kholid Syamhudi,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Para ulama sangat memperhatian shalat sunnah Rawâtib ini. Yang dimaksud dengan shalat sunnah Rawâtib, yaitu shalat-shalat yang dilakukan Rasulullah shollallahu &#39;alaihi wa sallam atau dianjurkan bersama shalat wajib, baik sebelum maupun sesudahnya. Ada yang mendefinisikannya dengan shalat sunnah yang ikut shalat wajib.1 Syaikh Muhammad bin Shalih al-&#39;Utsaimin mengatakan, yaitu shalat yang terus dilakukan secara kontinyu yang mendampingi shalat fardhu.2&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bagaimanakah kedudukan shalat sunnah Rawâtib ini, sehingga para ulama sangat memperhatikannya?&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Rasulullah shollallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ فَإِنْ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنْ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab dari seorang hamba adalah shalatnya. Apabila bagus maka ia telah beruntung dan sukses, dan bila rusak maka ia telah rugi dan menyesal. Apabila kurang sedikit dari shalat wajibnya maka Rabb &#39;Azza wa jalla berfirman: &quot;Lihatlah, apakah hamba-Ku itu memiliki shalat tathawwu&#39; (shalat sunnah)?&quot; Lalu shalat wajibnya yang kurang tersebut disempurnakan dengannya, kemudian seluruh amalannya diberlakukan demikian. (HR at-Tirmidzi).&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dari hadits tersebut, menjadi jelaslah betapa shalat sunnah Rawâtib memiliki peran penting, yakni untuk menutupi kekurangsempurnaan yang melanda shalat wajib seseorang. Terlebih lagi harus diakui sangat sulit mendapatkan kesempurnaan tersebut, sehingga Rasulullah shollallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرِفُ وَمَا كُتِبَ لَهُ إِلَّا عُشْرُ صَلَاتِهِ تُسْعُهَا ثُمْنُهَا سُبْعُهَا سُدْسُهَا خُمْسُهَا رُبْعُهَا ثُلُثُهَا نِصْفُهَا&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sesungguhnya seseorang selesai shalat dan tidak ditulis kecuali hanya sepersepuluh shalat, sepersembilannya, seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya sepertiganya, setengahnya. (HR Abu Dawud dan Ahmad).&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
KEUTAMAAN SHALAT SUNNAH RAWÂTIB&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ada beberapa hadits Nabi shollallahu &#39;alaihi wa sallam yang menjelaskan keutamaan shalat sunnah Rawâtib secara umum, dan ada juga yang khusus pada satu shalat sunnah Rawatib tertentu, seperti keutamaan shalat sunnah sebelum Subuh.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Di antara hadits yang menunjukkan keutamaan shalat sunah Rawâtib secara umum, ialah hadits Ummu Habîbah, yang berbunyi:&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّي لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍ إِلَّا بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tidaklah seorang muslim shalat karena Allah setiap hari dua belas raka&#39;at shalat sunnah, bukan wajib, kecuali akan Allah membangun untuknya sebuah rumah di surga.3&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jumlah raka&#39;at ini ditafsirkan dalam riwayat at-Tirmidzi dan an-Nasâ-i, dari hadits Ummu Habibah sendiri, yang berbunyi:&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;قَالَتْ أُمُّ حَبِيبَةَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ummu Habibah berkata,&quot;Rasulullah shollallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda:&#39;Barang siapa yang shalat dua belas raka&#39;at maka Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di surga; empat raka&#39;at sebelum Zhuhur dan dua raka&#39;at setelahnya, dua raka&#39;at setalah Maghrib, dua raka&#39;at sesudah &#39;Isya`, dan dua raka&#39;at sebelum shalat Subuh&#39;.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Dalam riwayat lain dengan lafazh :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;مَنْ ثَابَرَ عَلَى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً بَنَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Barang siapa yang terus-menerus melakukan shalat dua belas raka&#39;at, maka Allah membangunkan baginya sebuah rumah di surga. (HR an-Nasâ-i).&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Riwayat ini menunjukkan sunnahnya membiasakan dan secara rutin agar kita mengerjakan shalat dua belas raka&#39;at tersebut setiap hari. Sehingga, siapapun yang membiasakan diri melakukan sunnah-sunnah Rawâtib ini, ia termasuk dalam keutamaan tersebut. Dan ini dikuatkan dengan perbuatan Rasulullah shollallahu &#39;alaihi wa sallam , sebagaimana tersebut dalam hadits Ibnu &#39;Umar berikut ini.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;حَفِظْتُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ رَكَعَاتٍ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ فِي بَيْتِهِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ فِي بَيْتِهِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الصُّبْحِ وَكَانَتْ سَاعَةً لَا يُدْخَلُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيهَا حَدَّثَتْنِي حَفْصَةُ أَنَّهُ كَانَ إِذَا أَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ وَطَلَعَ الْفَجْرُ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Aku hafal dari Nabi shollallahu &#39;alaihi wa sallam sepuluh raka&#39;at: dua raka&#39;at sebelum Zhuhur dan dua raka&#39;at sesudahnya, dua raka&#39;at setelah Maghrib, dua raka&#39;at setelah &#39;Isya, dan dua raka&#39;at sebelum shalat Subuh. Dan ada waktu tidak dapat menemui Nabi shollallahu &#39;alaihi wa sallam . Hafshah menceritakan kepadaku, bila muadzin beradzan dan terbit fajar, beliau shollallahu &#39;alaihi wa sallam shalat dua raka&#39;at.4&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Dalam riwayat Bukhari dan Muslim terdapat tambahan lafazh:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;وَسَجْدَتَيْنِ بَعْدَ الْجُمُعَةِ فَأَمَّا الْمَغْرِبُ وَالْعِشَاءُ فَفِي بَيْتِهِ&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Dan dua raka&#39;at setelah Jum&#39;at. Adapun (shalat sunnah Rawatib) Maghrib dan &#39;Isya dilakukan di rumahnya.5&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam riwayat Muslim berbunyi:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;فَأَمَّا الْمَغْرِبُ وَالْعِشَاءُ وَالْجُمُعَةُ فَصَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَيْتِهِ&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Adapun (shalat sunnah Rawâtib) Maghrib, Isya dan Jum&#39;at, aku lakukan bersama Nabi shollallahu &#39;alaihi wa sallam di rumahnya.6&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
JUMLAH RAKA&#39;AT SUNNAH RAWÂTIB&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam masalah jumlah raka&#39;at sunnah Rawatib ini, di kalangan para ulama terdapat perselisihan pendapat, yang terbagai dalam dua pendapat. Ini dikarenakan perbedaan dua hadits di atas.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pertama, menyatakan jumlah raka&#39;atnya adalah sepuluh dengan dasar hadits Ibnu &#39;Umar radhiallahu&#39;anhu tersebut, dan inilah pendapat para ulama madzhab Hambaliyah dan Syafi&#39;iyyah.7&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kedua, menyatakan jumlah raka&#39;atnya ialah dua belas, berdasarkan hadits Ummu Habibah di atas, dan inilah pendapat madzhab Hanafiyyah dan Ibnu Taimiyyah.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ketiga, menyatakan tidak ada batasan jumlah raka&#39;at, bahkan cukup dengan melakukan dua raka&#39;at dalam setiap waktu untuk mendapatkan keutamaan shalat sunnah Rawatib, dan inilah pendapat madzhab Malikiyyah.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Keempat, menyatakan jumlah raka&#39;atnya delapan belas. Demikian ini pendapat Imam asy-Sya-irazi dan disetujui Imam an-Nawawi dalam al-Majmû&#39; Syarhul-Muhadzdzab. Pendapat ini berdalil dengan hadits Ummu Habibah di atas, serta hadits Ummu Habibah lainnya yang berbunyi:&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ حَافَظَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَأَرْبَعٍ بَعْدَهَا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Aku mendengar Rasulullah shollallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda,&quot;Barang siapa yang menjaga empat raka&#39;at sebelum Zhuhur dan empat raka&#39;at setelahnya maka Allah mengharamkannya dari neraka.&quot;9&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Juga hadits yang berbunyi:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً صَلَّى قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعًا&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dari Ibnu &#39;Umar radhiallahu&#39;anhu , dari Nabi shollallahu &#39;alaihi wa sallam beliau bersabda: &quot;Semoga Allah merahmati seseorang yang shalat sebelum &#39;Ashar empat raka&#39;at&quot;.10&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Menurut Imam Nawâwi, beliau rahimahullah mengatakan, yang paling sempurna dalam Rawatib yang mendampingi shalat fardhu selain witir, adalah delapan belas raka&#39;at, sebagaimana dijelaskan penulis (asy-Sya-irazi), dan paling sedikit adalah sepuluh, sebagaimana yang beliau sebutkan. Di antara ulama ada yang berpendapat delapan raka&#39;at dengan menghapus sunnah Isya&#39;; (demikian) ini pendapat al-Khudari. Dan ada yang menyatakan bahwa jumlahnya dua belas, (yaitu) dengan menambah dua raka&#39;at lain sebelum Zhuhur, dan ada yang menambah dua raka&#39;at sebelum shalat &#39;Ashar. Semua ini sunnah, namun perbedaan pendapat ada pada yang muakkad (yang lebih ditekankan) darinya.11 Yang rajih –Wallahu A&#39;lam– yaitu mengembalikan definisi shalat sunnah Rawâtib sebagai shalat sunnah pendamping shalat fardhu yang dilakukan sebelum atau sesudah, dan ada anjuran dari Rasulullah shollallahu &#39;alaihi wa sallam . Sehingga yang lengkap ialah delapan belas raka&#39;at, sebagaimana disampaikan Imam an-Nawawi di atas.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Namun, manakah yang sunnah muakkad dari semua itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam persoalan ini, pendapat yang rajih ialah pernyataan yang disampaikan oleh Syaikh Ibnu &#39;Utsaimin12, yaitu duabelas raka&#39;at dengan perincian dua raka&#39;at sebelum Subuh, empat raka&#39;at sebelum Zhuhur, dua raka&#39;at setelah Zhuhur, dua raka&#39;at setelah Maghrib, dan dua raka&#39;at setelah &#39;Isya`, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Ummu Habîbah, juga dikuatkan dengan hadits &#39;Aisyah yang berbunyi:&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sesungguhnya dahulu, Nabi shollallahu &#39;alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan empat rakaat sebelum Zhuhur.13&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Hadits ini tidak bertentangan dengan hadits Ibnu &#39;Umar radhiallahu&#39;anhu yang menerangkan bahwa beliau radhiallahu&#39;anhu hafal dari Nabi sepuluh raka&#39;at. Mengenai hal ini, Ibnul-Qayyim memiliki penjelasan: &quot;Dahulu, Nabi shollallahu &#39;alaihi wa sallam selalu menjaga sepuluh raka&#39;at pada waktu muqim. Inilah yang disampaikan Ibnu &#39;Umar . . . , dan beliau shollallahu &#39;alaihi wa sallam terkadang shalat empat raka&#39;at sebelum Zhuhur, sebagaimana dijelaskan dalam Shahîhain dari &#39;Aisyah bahwa beliau shollallahu &#39;alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan empat raka&#39;at sebelum Zhuhur. Sehingga bisa dikatakan bahwasanya bila Nabi shollallahu &#39;alaihi wa sallam shalat di rumah, maka beliau shollallahu &#39;alaihi wa sallam shalat empat raka&#39;at. Dan bila shalat di masjid, maka shalat dua raka&#39;at. Demikianlah yang lebih rajih. Bisa juga dikatakan bahwa beliau shollallahu &#39;alaihi wa sallam pernah berbuat demikian dan berbuat begitu, kemudian &#39;Aisyah dan Ibnu &#39;Umar masing-masing menyampaikan apa yang dilihatnya&quot;.14&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Adapun Syaikh &#39;Abdullah bin Abdur-Rahman al-Bassâm melakukan kompromi terhadap hadits-hadits ini. Beliau mengatakan: &quot;Pernyataan &#39;empat raka&#39;at sebelum Zhuhur&#39;, tidak bertentangan dengan hadits Ibnu &#39;Umar yang terdapat pernyataan &#39;dua raka&#39;at sebelum Zhuhur&#39;. Letak komprominya, terkadang beliau shollallahu &#39;alaihi wa sallam shalat dua raka&#39;at dan terkadang empat. Kemudian masing-masing dari mereka berdua (Ibnu &#39;Umar dan &#39;Aisyah), masing-masing menceritakan salah satu dari kedua amalan tersebut. Fenomena semacam ini terjadi juga pada banyak ibadah dan dzikir-dzikir sunnah.&quot;15&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
FAIDAH SHALAT SUNNAH RAWÂTIB&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sebagaimana telah diuraikan pada awal uraian ini, shalat sunnah Rawâtib ini didefinisikan dengan shalat yang terus dilakukan secara kontinyu mendampingi shalat fardhu. Demikian Syaikh Muhammad bin Shalih al-&#39;Utsaimin memberikan definisinya, sehingga berkaitan dengan faidah shalat sunnah Rawatib ini, beliau memberikan penjelasan: &quot;Faidah Rawatib ini, ialah menutupi (melengkapi) kekurangan yang terdapat pada shalat fardhu&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sedangkan Syaikh &#39;Abdullah al-Basâm mengatakan dalam Ta-udhihul-Ahkam (2/383-384) bahwa shalat sunnah Rawâtib memiliki manfaat yang agung dan keuntungan yang besar. Yaitu berupa tambahan kebaikan, menghapus kejelekan, meninggikan derajat, menutupi kekurangan dalam shalat fardhu. Sehingga Syaikh al-Basâm mengingatkan, menjadi keharusan bagi kita untuk memperhatikan dan menjaga kesinambungannya.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Wallahul-Muwaffiq.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;    1 Shahîh Fiqhis-Sunnah, Abu Mâlik Kamâl bin as-Sayyid Sâlim, al-Maktabah at-Taufiqiyyah, Mesir, tanpa cetakan dan tahun (1/372).&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;    2 Syarhul-Mumti&#39; &#39;ala Zâdil-Mustaqni&#39;, Syaikh Muhammad bin Shalih al- &#39;Utsaimin, Tahqîq: Dr. Khâlid al-Musyaiqih dan Sulaimân Abu Khail, Muassasah Âsâm, Cetakan Kedua, Tahun 1414 H (3/93).&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;    3 HR Muslim, kitab Shalat al-Musâfir wa Qashruha, Bab: Fadhlus-Sunan ar-Râtibah Qablal-Farâ-idh wa Ba&#39;daha, no. 1199.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;    4 HR al-Bukhari, kitab Tahajjud, Bab: ar-Rak&#39;atain Qablal-Zhuhur (no. 1180), dan Muslim, kitabShalat al-Musafirin wa Qashruha, Bab: Fadhlus-Sunan ar-Râtibah (no. 729).&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;    5 HR al-Bukhari, kitab Jum&#39;at, Bab: Tathawwu&#39; Ba&#39;dal-Maktubah (no. 1120), dan Muslim, kitabShalat al-Musafirin wa Qashruha, Bab: Fadhlus-Sunan ar-Râtibah (no. 1200).&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;    * 6 HR Muslim kitab Shalat al-Musafirîn wa Qashruha, Bab: Fadhlus-Sunan ar-Râtibah (no. 1200).&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;    7 Syarhul-Mumti&#39; (3/93) dan Shahih Fiqhis-Sunnah (1/372).&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;    8 Ibid.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;    9 HR at-Tirmidzi, kitab ash-Shalat (no. 428), Ibnu Majah, kitab ash-Shalat (no. 428), AbuDawud, kitab ash-Shalat, Bab: al-Arba&#39; Qablal-Zhuhri wa Ba&#39;daha (no. 1269) dan Ibnu Majah, kitab ash-Shalat was-Sunnah fiha, Bab: Mâ Jâ-a fiman Shalla Qablal-Zhuhri `Arba&#39;an waBa&#39;daha `Arba&#39;an (no. 1160). Dishahihkan Syaikh al-Albani dalam Shahîh Sunan Ibni Majah&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;    10 HR Ahmad dalam Musnad-nya (4/203), at-Tirmidzi dalam kitab ash-Shalat, Bab: Mâ Jâ-a fil-Arba&#39; Qablal-&#39;Ashr (no. 430), Abu Dawud dalam kitab ash-Shalat, Bab ash-ShalatQablal-&#39;Ashr (no. 1271), dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahîh Sunan Abi Dawud&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;    11 Al- Majmu&#39; Syarhul-Muhadzab, Imam an-Nawawi dengan penyempurnaan oleh muhammadNajîb al-Muthi&#39;i, Dar Ihyâ-ut-Turats al-&#39;Arabi, Beirut, Cetakan Tahun 1419H (3/502).&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;    12 Syarhul-Mumti&#39; (4/96).&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;    13 HR al-Bukhari dalam kitab al-Jum&#39;at, Bab: ar-Rak&#39;ata-in Qablal-Zhuhri (no. 1110).&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;    14 Zâdul-Ma&#39;âd, Ibnul-Qayyim, Tahqiq: Syu&#39;aib al-Arnauth, Mu-assasah ar-Risalah, CetakanKedua, Tahun 1418 H (1/298).&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;    15 Ta-udhihul-Ahkâm min Bulughul-Maram, Syaikh &#39;Abdullah bin &#39;Abdur-Rahman al-Basâm, Maktabah al-Asadi, Mekkah, Cetakan Kelima, Tahun 1423 H (2/382-383).&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;    16 Syarhul-Mumti&#39; (4/96).&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href=&quot;http://bukhari.or.id&quot;&gt;&lt;/a&gt;</description><link>http://etalasesunnah.blogspot.com/2010/03/menggemarkan-shalat-sunnah-rawatib.html</link><author>noreply@blogger.com (abufawwaz)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2036994941929057047.post-1057381029188871001</guid><pubDate>Tue, 02 Mar 2010 10:40:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-03-31T08:59:23.064+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Aqidah</category><title>Eksistensi Jin</title><description>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgi_nk92Fj4ywUTXbxDcjcelUmIDVyORoPrprgsJpJ95m_jwUB2pQODNlN-I_Jzf6utjSs4_1uaa-AEvwse-yToW615sv3aecdVnCnnhBOitDRg-1llFo461TSvGIp6eRasxEkuOs7hOt0/s1600/jin.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;150&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgi_nk92Fj4ywUTXbxDcjcelUmIDVyORoPrprgsJpJ95m_jwUB2pQODNlN-I_Jzf6utjSs4_1uaa-AEvwse-yToW615sv3aecdVnCnnhBOitDRg-1llFo461TSvGIp6eRasxEkuOs7hOt0/s200/jin.jpg&quot; width=&quot;200&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Abu Nida Khomsaha Shofwan,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bismillahirrohmanirrohim&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jin termasuk perkara ghaib yang wajib kita imani keberadaannya, karena dalil-dalil Al Qur`an dan As Sunnah telah menjelaskannya. Ini termasuk di antara asas akidah Islam, yaitu beriman kepada perkara ghaib. Bahwa beriman kepada yang ghaib merupakan salah satu sifat orang-orang yang bertakwa, sebagaimana Allah Azza wa Jalla berfirman :&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;الــم {1} ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ ِفيهِ هُدَى لِلْمُتَّقِينَ {2} الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُون&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Alif laam miim. Kitab (al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. (QS Al Baqarah : 1-3).&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Perkara ghaib, sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Mas‘ud, ialah seluruh perkara yang ghaib yang telah diberitakan Allah dan RasulNya kepada kita. Begitu pula dengan keberadaan jin, bahwa Allah dan RasulNya telah mengabarkan melalui Al Qur`an ataupun hadits Nabi n .&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
1) Dari Al Qur`an, di antaranya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;وَإِذْ صَرَفْنَآ إِلَيْكَ نَفَرًا مِّنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْءَانَ …… { 29&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Qur`an. (QS Al Ahqaf : 29).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;يَامَعْشَرَ الْجِنِّ وَاْلإِنسِ أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ ءَايَاتِي وَيُنذِرُونَكُمْ لِقَآءَ يَوْمِكُمْ هَذَا ……{130&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayatKu dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini. (QS Al An‘am : 130).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;قُلْ أُوحِىَ إِلَىَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْءَانًا عَجَبًا {1&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (Al Qur`an), lalu mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Qur`an yang menakjubkan’.” (QS Al Jin : 1).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ اْلإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا {6&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (QS Al Jin : 6).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
2) Dari As Sunnah, di antaranya :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Ibnu Mas’ud z , dia berkata: “Pada suatu malam, kami pernah bersama Rasulullah n , lalu kami kehilangan dirinya. Maka kami pun mencari-cari Beliau di lembah-lembah dan di jalan-jalan di gunung (namun tidak menemukan Beliau), sehingga kami berkata,’Beliau dibawa terbang jin, atau Beliau telah dibunuh secara rahasia’. Maka kami melewati malam itu sebagai sejelek-jelek malam yang dialami suatu kaum. Tatkala datang pagi, tiba-tiba Beliau muncul dari arah gua Hira’. Maka kami berkata,’Wahai, Rasulullah! (Semalam) kami kehilangan dirimu, lalu kami mencari-carimu, tetapi tidak menemukanmu, maka kami melewati malam itu sebagai sejelek-jelek malam yang dialami suatu kaum’. Beliau berkata,‘Seorang utusan jin mendatangiku, maka aku pun pergi bersamanya (mendatangi para jin), lalu aku membacakan Al Qur`an kepada mereka’.” Ibnu Mas‘ud berkata,”Lalu Beliau mengajak kami dan memperlihatkan kepada kami bekas mereka (jin) dan bekas api mereka.”&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Tidak ada satupun dari segolongan kaum muslimin yang berpendapat lain dalam masalah eksistensi jin, dan tidak pula dalam masalah bahwa Allah telah mengutus Muhammad n kepada mereka. Mayoritas kaum kafir juga telah mengakui eksistensi mereka. Adapun ahli kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani, mereka menetapkan keberadaan jin sebagaimana kaum muslimin menetapkannya, meskipun di antara mereka ada yang mengingkarinya, sebagaimana di antara kaum muslimin (juga) ada yang mengingkarinya ... seperti Jahmiyah dan Mu‘tazilah. Namun sebagaian besar golongan dan para imam mereka menetapkannya. Hal itu, karena keberadaan jin telah mutawatir disebutkan dalam berita-berita para nabi dengan sifat mutawatir yang dimaklumi secara dharuri. Dan telah dimaklumi secara dharuri, bahwa mereka (para jin) hidup dan berakal, melakukan perbuatan dengan kehendak mereka, dan bahkan mereka (juga) diperintah dan dilarang. Mereka bukanlah sifat-sifat atau gejala-gejala yang menimpa pada manusia atau selainnya, sebagaimana yang dinyatakan oleh para mulhid (atheis). Karena masalah jin ini telah mutawir beritanya dari para nabi dengan sifat mutawatir yang telah dikenal oleh orang awam maupun khas, maka tidak mungkin satu pun golongan yang menisbatkan diri kepada para rasul yang mulia untuk mengingkari keberadaan jin”. (Majmu‘ Fatawa, XIX:13).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
ALAM JIN ADALAH ALAM YANG TERSENDIRI&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Alam jin merupakan alam tersendiri, yang bukan alam manusia dan bukan pula alam malaikat. Dari bentuk fisiknya, pandangan mata manusia tak mampu melihatnya. Itulah sebabnya mereka dinamakan jin, dikarenakan ketertutupan (ijtinan) fisiknya dari pandangan mata manusia. Di dalam Al Qur`an, Allah berfirman, yang artinya : …… Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka…… . (QS Al A‘raf : 27).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Meski antara manusia dan jin berbeda alam, tetapi antara jin dan manusia terdapat titik persamaan, yaitu memiliki sifat berakal dan berpikir, mempunyai kemampuan yang sama untuk memilih jalan yang baik dan jalan yang buruk. Meski terdapat sifat yang sama, tetapi dalam banyak hal, jin juga memiliki perbedaan dengan manusia. Dan yang terpenting ialah dalam masalah asal penciptaannya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Allah k mengabarkan, jin diciptakan dari api, yang artinya : Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas. (QS Al Hijr : 27)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;وَخَلَقَ الْجَآنَّ مِن ماَّرِجٍ مِّن نَّارٍ {15&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Dia menciptakan jin dari nyala api (QS Ar Rahman : 15).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ibnu Katsir menyebutkan, bahwa Ibnu Abbas, Ikrimah, Mujahid, dan Al Hasan Al Bashri serta yang lainnya menafsirkan kalimat “min marij min nar” dalam ayat di atas sebagai “bagian ujung dari lidah api”. Dalam riwayat lain disebutkan “dari bagian inti api”.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari ‘Aisyah Radhiyallahu &#39;anha, dia berkata: Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda :&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;خُلِقَتِ الْمَلاَئِكَةُ مِنْ نُورٍ، وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ، وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Malaikat diciptakan dari cahaya, Jan (nenek moyang jin) diciptakan dari nyala api, dan Adam (nenek moyang manusia) diciptakan dari apa yang telah disebutkan (dalam Al Qur`an) kepada kalian.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
KEMAMPUAN-KEMAMPUAN YANG DIBERIKAN ALLAH KEPADA JIN&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Allah telah memberikan kepada jin kemampuan-kemampuan yang tidak diberikan kepada manusia. Sebagian kemampuan tersebut di antaranya ialah:&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
a) Mampu bergerak dan berpindah dengan sangat cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;‘Ifrit dari golongan jin pernah berjanji kepada Nabi Sulaiman Alaihissalam untuk menghadirkan singgasana Ratu Saba di Yaman ke Baitul Maqdis hanya dalam waktu seseorang berdiri dari duduknya; sebelum mata berkedip. Dalam Al Qur`an Allah berfirman, yang artinya : Berkata ‘Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu. Sesungguhnya aku benar-benar kuat membawanya lagi dapat dipercaya” Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, dia pun berkata: “Ini termasuk karunia Rabb-ku…… ”. (QS An Naml : 39-40).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
b) Mendahului manusia dalam mencapai ruang angkasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sudah sejak lama jin mampu naik ke tempat-tempat di langit dunia, lalu di sana mereka mencuri dengar berita-berita langit untuk mengetahui peristiwa sebelum terjadinya. Tatkala Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam diutus, maka langit diperketat penjagaannya. Allah berfirman, yang artinya : Dan sesungguhnya kami (para jin) telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu), tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya). (QS Al Jin:8-9).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam telah menjelaskan cara mereka mencuri dengar berita-berita langit.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dari Abu Hurairah Radhiyallahu &#39;anhu, dia berkata: Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda,”Apabila Allah menetapkan perintah di atas langit, para malaikat mengepak-ngepakkan sayap-sayapnya karena patuh kepada firmanNya, seolah-olah firman (yang didengar) itu seperti gemerincing rantai besi (yang ditarik) di atas batu, sehingga memekakkan mereka. Tatkala hati mereka telah hilang dari rasa takut, mereka bertanya,’Apa yang baru saja difirmankan oleh Tuhanmu?’ Mereka menjawab,’(Perkataan) yang benar, dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar’. Ketika itulah, (jin-jin) pencuri berita (wahyu) itu mendengarnya. Keadaan mereka seperti ini. Sebagian mereka bertumpu di atas sebagian yang lain -Sufyan bin Uyainah (salah seorang perawi hadits ini) menggambarkannya dengan telapak tangannya, ia merenggangkannya dan membuka jari-jemarinya-. Maka ketika (jin-jin) pencuri berita (yang di atas) mendengar kalimat (firman) itu, mereka lalu menyampaikannya kepada yang ada di bawahnya, dan demikian seterusnya hingga disampaikan ke mulut tukang sihir atau tukang ramal. Akan tetapi, kadangkala para pencuri berita itu terkena syihab (panah-panah api) sebelum sempat menyampaikan berita yang disadapnya itu. Dan kadangkala mereka sudah sempat menyampaikannya sebelum terkena syihab. Lalu dengan satu kalimat yang didengarnya itulah, tukang sihir atau tukang ramal melakukan seratus macam kebohongan. Mereka (yang mendatangi tukang sihir atau tukang ramal berkata),’Bukankah dia telah memberitahukan kepada kita, bahwa pada hari anu akan terjadi peristiwa anu (dan itu benar-benar terjadi)?’ Sehingga dipercayalah tukang sihir atau tukang ramal tersebut karena satu kalimat yang telah didengar dari langit”.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
c) Pengetahuan jin tentang teknologi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Allah mengabarkan bahwa Dia telah menundukkan bangsa jin untuk Nabi Sulaiman q . Bangsa jin banyak melakukan pekerjaan-pekerjaan untuk beliau yang menuntut kemampuan, kepandaian dan kemahiran atau keahlian. Allah berfirman, yang artinya : Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaanya) dengan izin Rabb-nya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami membuatnya merasakan azab neraka yang apinya menyala-nyala. Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung, dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). (QS Saba` : 12-13).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ibnu Taimiyah menyebutkan, ada seorang syaikh, yang dahulu mempunyai hubungan dengan jin telah menyampaikan kepada beliau, bahwa bangsa jin telah memperlihatkan kepadanya suatu benda yang bercahaya seperti air dan pelita. Mereka menampakkan kepadanya di dalam benda itu berita-berita yang dia inginkan, lalu dia menyampaikannya kepada orang-orang. Mereka (jin) juga menyampaikan kepadanya perkataan sahabat-sahabatnya yang meminta tolong kepadanya, lalu dia menjawabnya, dan para jin itu menyampaikan jawabannya itu kepada para sahabatnya tersebut. (Majmu ‘ Fatawa XI:309).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
d) Kemampuan untuk beralih rupa atau bentuk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jin memiliki kemampuan beralih rupa atau bentuk, ke bentuk manusia dan hewan. Mereka pernah mendatangi kaum musyrikin dalam wujud Suraqah bin Malik untuk menjanjikan kemenangan bagi mereka. Demikian pula, sejumlah sahabat, di antaranya Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , pernah didatangi mereka dalam wujud orang tua yang ingin mencuri zakat yang sedang dijaganya. Mereka dapat beralih rupa menjadi unta, keledai, sapi, anjing atau kucing. Seringnya mereka berubah bentuk menjadi anjing hitam dan kucing. Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam menyatakan, bahwa lewatnya anjing hitam di depan orang yang shalat memutuskan shalat orang itu. Rasulullah n menjelaskan sebabnya :&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
الْكَلْبُ الأَسْوَدُ شَيْطَانٌ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena anjing hitam itu setan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jin sering berubah menjadi hewan, lalu menampakkan diri kepada manusia. Karena itu Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam melarang membunuh ular yang muncul di dalam rumah, sebab dikhawatirkan itu merupakan jelmaan jin yang telah masuk Islam. Dalam Shahih Muslim diriwayatkan dari Abu Sa ‘id Al Khudri, dia berkata, Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda :&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;إِنَّ بِالْمَدِينَةِ جِنًّا قَدْ أَسْلَمُوا فَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْهُمْ شَيْئًا فَآذِنُوهُ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ فَإِنْ بَدَا لَكُمْ بَعْدَ ذَلِكَ فَاقْتُلُوهُ فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sesungguhnya di Madinah ini ada segolongan jin yang telah masuk Islam. Jika kalian melihat satu dari mereka, maka mintalah kepada mereka untuk keluar (dalam jangka waktu) tiga hari. Jika ia tetap menampakkan diri kepada kalian setelah itu, maka bunuhlah ia, karena sesungguhnya dia itu setan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam mengecualikan untuk ular tertentu. Dari Abu Lubabah Radhiyallahu &#39;anhu, Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda :&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;لاَ تَقْتُلُوا الْجِنَّانَ إِلاَّ كُلَّ أَبْتَرَ ذِي طُفْيَتَيْنِ فَإِنَّهُ يُسْقِطُ الْوَلَدَ وَيُذْهِبُ الْبَصَرَ فَاقْتُلُوهُ&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Janganlah kalian (langsung) membunuh ular (di dalam rumah), kecuali setiap ular yang terpotong (pendek) ekornya dan memiliki dua garis di punggungnya, karena ular jenis ini dapat menggugurkan kandungan dan membutakan mata. Maka bunuhlah ia.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
e) Setan mengalir dalam tubuh Bani Adam sebagaimana mengalirnya darah di urat nadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim, dari Anas, dia berkata, Rasulullah bersabda :&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesungguhnya setan mengalir dalam tubuh manusia sebagaimana mengalirnya darah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
KELEMAHAN DAN KETIDAKMAMPUAN JIN&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sebagaimana halnya manusia, jin juga memiliki kekuatan dan kelemahan. Sebagian di antara kelemahan jin yang disebutkan Allah dan RasulNya ialah :&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
a) Jin tidak memiliki kemampuan untuk menundukkan hamba-hamba Allah yang shalih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Allah Azza wa Jalla tidak memberikan kemampuan kepada setan untuk menguasai manusia dan memaksakan kepada mereka kesesatan dan kekafiran. Allah Azza wa Jalla berfirman, yang artinya : Sesungguhnya hamba-hambaKu, kamu (setan) tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Rabb-mu sebagai Penjaga. (QS Al Isra` : 65)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
وَمَاكَانَ لَهُ عَلَيْهِم مِّن سُلْطَانٍ إِلاَّ لِنَعْلَمَ مَن يُؤْمِنُ بِاْلأَخِرَةِ مِمَّنْ هُوَ مِنْهَا فِي شَكٍّ ……{21&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dan tidak adalah kekuasaan iblis terhadap mereka, melainkan hanyalah agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat dari siapa yang ragu-ragu tentang itu. (QS Saba` : 21).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Artinya, setan tidak mempunyai jalan untuk menguasai manusia, baik dari sisi hujjah maupun dari sisi kemampuan. Kenyataan ini telah diakui sendiri oleh setan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
قَالَ رَبِّ بِمَآ أَغْوَيْتَنِي لأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي اْلأَرْضِ وَلأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ {39} إِلاَّ عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ {40&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Iblis berkata: “Ya, Rabb-ku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka (manusia) memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka. (QS Al Hijr : 39-40).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun yang mampu mereka kuasai hanyalah hamba-hamba yang rela dengan pemikiran setan, mengikutinya dengan penuh kerelaan dan ketaatan. Allah Azza wa Jalla berfirman, yang artinya : Sesungguhnya hamba-hambaKu tidak ada kekuasaan bagimu (setan) terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-orang yang sesat. (QS Al Hijr : 42).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
أَلَمْ تَرَ أَنَّآ أَرْسَلْنَا الشَّيَاطِينَ عَلَى الْكَافِرِينَ تَؤُزُّهُمْ أَزًّا {83&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tidakkah kamu lihat, bahwasanya Kami telah mengirim setan-setan itu kepada orang-orang kafir untuk menghasung mereka membuat maksiat dengan sungguh-sungguh. (QS Maryam : 83).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
b) Setan takut dan lari dari sebagian hamba Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jika Islam telah tertancap kuat pada seorang hamba, iman telah tegak di dalam hatinya, dan dia senantiasa menjaga batasan-batasan yang telah digariskan Allah, maka setan akan menjauh dan lari darinya. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda kepada Umar bin Al Khaththab: “Sesungguhnya setan takut kepadamu, wahai Umar”. (HR At Tirmidzi, no. 2913).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam juga pernah bersabda tentang Umar: “Sesungguhnya aku telah benar-benar melihat bahwa setan dari kalangan jin dan manusia benar-benar lari dari Umar”. (HR At Tirmidzi, no. 2914).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
c) Jin ditundukkan untuk Nabi Sulaiman Alaihissalam .&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Allah telah menundukkan sebagian golongan jin dan setan untuk Nabi Sulaiman Alaihissalam . Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala berfirman, yang artinya : Kemudian kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut ke mana saja yang dia kehendaki, dan (Kami tundukkan pula kepadanya) setan-setan semuanya ahli bangunan dan penyelam, dan setan yang lain yang terikat dalam belenggu. (QS Shad : 36-38).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Semua itu sebagai wujud dikabulkannya doa Nabi Sulaiman :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لاَّيَنبَغِي لأَحَدٍ مِّن بَعْدِي …… {35&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ia berkata: “Ya Rabbku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku. (QS Shad : 35).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
d) Jin tidak mampu menciptakan mukjizat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jin tidak mampu berbuat sesuatu yang setara dengan mukjizat yang dibawa oleh para rasul untuk menunjukkan kebenaran risalah yang mereka bawa. Tatkala sebagian orang-orang kafir menilai bahwa Al Qur’an merupakan buatan setan, maka Allah berfirman, yang artinya : Dan Al Qur`an itu bukanlah dibawa turun oleh setan-setan. Dan tidaklah patut mereka membawa turun Al Qur`an itu, dan mereka pun tidak akan mampu. Sesungguhnya mereka benar-benar dijauhkan dari mendengar Al Qur`an itu. (QS Asy Syuara’ : 210-212).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
e) Jin tidak bisa menyerupai Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam dalam mimpi seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Di dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu &#39;anhu dari Nabi Shallallahu &#39;alaihi wa sallam , Beliau bersabda :&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
مَنْ رَآنِي فيِي المْمَنَامِ فَقَدْ رآنِي ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَتَمَثَّلَ بِي&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Barangsiapa melihatku dalam mimpinya, maka sungguh dia telah melihatku (bukan setan yang menyerupaiku), karena sesungguhnya setan tidak mampu menyerupai diriku.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Zhahir dari hadits ini dan hadits-hadits lain yang semakna menunjukkan, bahwa setan tidak mampu meniru bentuk dan rupa Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Namun tidak berarti ia tidak mampu meniru bentuk dan rupa orang selain Beliau Shallallahu &#39;alaihi wa sallam lalu mengaku sebagai Nabi Muhammad Shallallahu &#39;alaihi wa sallam. Oleh karena itu, seseorang yang bermimpi melihat Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam tidak boleh memastikan bahwa dia benar-benar telah bermimpi melihat Beliau Shallallahu &#39;alaihi wa sallam berdalil dengan hadits-hadits tersebut, kecuali orang yang dilihatnya dalam mimpi itu memiliki ciri-ciri yang sama dengan ciri-ciri Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam yang disebutkan dalam kitab-kitab hadits.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
f) Jin tidak mampu menembus batasan-batasan tertentu di ruang angkasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Allah Subhanahu wa Ta&#39;ala berfirman, yang artinya : Hai jamaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah. Kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan. Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan? Kepada kamu, (jin dan manusia) dilepaskan nyala api dan cairan tembaga, maka kamu tidak dapat menyelamatkan diri (darinya). (QS Ar Rahman : 34-35).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
g) Jin tidak mampu membuka pintu yang ditutup dengan membaca bismillah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Imam Al Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya, dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu &#39;anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu &#39;alaihi wa sallam bersabda :&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: right;&quot;&gt;إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ أَوْ أَمْسَيْتُمْ فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ تَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ فَإِذَا ذَهَبَتْ سَاعَةٌ مِنْ اللَّيْلِ فَخَلُّوهُمْ وَأَغْلِقُوا الْأَبْوَابَ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَفْتَحُ بَابًا مُغْلَقًا&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jika gelapnya malam telah merayap datang atau waktu senja telah datang, maka tahanlah anak-anak kecil kalian, karena para setan mulai menyebar pada waktu itu. Dan jika telah berlalu satu waktu dari malam, maka lepaskanlah mereka. Dan tutuplah pintu-pintu dengan menyebut nama Allah, karena setan tidak mampu membuka pintu yang ditutup.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Demikian penjelasan singkat tentang jin, yang keberadaannya harus kita imani sebagai makhluk ghaib yang diciptakan Allah Azza wa Jalla. Sebagai makhluk, maka setiap perbuatan yang dilakukan oleh jin, pasti sepengetahuan dan atas izin Allah Azza wa Jalla.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Wallahu&#39;alam&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maraji’:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
‘Alam Al Jin Wa Asy Syayathin, oleh Syaikh Al Asyqa&lt;/div&gt;</description><link>http://etalasesunnah.blogspot.com/2010/03/eksistensi-jin.html</link><author>noreply@blogger.com (abufawwaz)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgi_nk92Fj4ywUTXbxDcjcelUmIDVyORoPrprgsJpJ95m_jwUB2pQODNlN-I_Jzf6utjSs4_1uaa-AEvwse-yToW615sv3aecdVnCnnhBOitDRg-1llFo461TSvGIp6eRasxEkuOs7hOt0/s72-c/jin.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-2036994941929057047.post-3577973043323060716</guid><pubDate>Mon, 01 Mar 2010 10:29:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-03-02T18:17:30.977+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Mabhats</category><title>Keutamaan Wakap</title><description>Wakaf secara bahasa adalah menahan, sebagaimana dalam surat ash-Shâffât ayat 24, artinya, &quot;Tahanlah mereka (di tempat penghentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya&quot;. Sedangkan secara istilah, wakaf yaitu; Menahan pokok benda suatu barang lalu hasilnya dimanfaatkan untuk kepentingan Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wakaf telah disyari&#39;atkan dalam Islam pada saat Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wasallam masih hidup, kemudian syari&#39;at ini diteruskan oleh para shahabat beliau dan orang-orang yang mengikuti mereka dari generasi ke generasi hingga sekarang. &lt;br /&gt;&lt;div class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang shahabat Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wasallam yang bernama Abdullah Bin Umar radhiyallahu &#39;anhu berkata, &quot;Umar telah memperoleh bagian tanah di Khaibar, lalu dia datang menemui Nabi shallallahu &#39;alaihi wasallam, seraya berkata, &quot;Aku telah mendapatkan bagian tanah, yang mana saya tidak memperoleh harta yang paling berharga bagiku selain sebidang tanah ini, maka apa yang akan engkau perintahkan kepadaku dengan sebidang tanah ini?&quot; Lalu beliau bersabda, &quot;Jika engkau menghendaki wakafkanlah tanah tersebut (engkau tahan tanahnya) dan sedekahkan hasilnya,&quot; Lalu Umar radhiyallahu &#39;anhu menyedekahkan hasilnya. Sungguh tanah ini tidak boleh dijual, tidak boleh dihibahkan dan tidak boleh diwariskan, tetapi diinfakkan hasilnya untuk fuqara`, kerabat, untuk membebaskan budak, untuk kepentingan di jalan Allah subhanahu wata&#39;ala, untuk menjamu tamu dan untuk ibnu sabil (orang yang dalam perjalanan). Tidak ada dosa bagi yang mengurusinya, apabila dia memakan sebagian hasilnya secara ma&#39;ruf, atau memberi makan temannya tanpa menimbun hasilnya. (HR.al-Bukhari no.2565, Muslim no.3085). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits lain tentang pensyari&#39;atan wakaf, sebagaimana yang dituturkan oleh Anas Bin Malik radhiyallahu &#39;anhu, Tatkala Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wasallam datang di Madinah, beliau menyuruh para shahabat untuk membangun masjid, lalu beliau berkata, &quot;Wahai Bani Najjar! Juallah kebunmu ini kepadaku!&quot; Lalu Bani Najjar berkata, &quot;Tidak, demi Allah tidaklah kami menjual tanah kebun ini, kecuali untuk Allah (diwakafkan)&quot;. (HR. al-Bukhari) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keutamaan Berwakaf. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdullah Ali Bassam berkata, &quot;Wakaf adalah sedekah yang paling mulia. Allah subhanahu wata&#39;ala menganjurkan nya dan menjanjikan pahala yang sangat besar bagi yang berwakaf, karena sedekah berupa wakaf tetap terus mengalirkan kebaikan dan maslahat. Adapun keutamaannya sebagai berikut; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama; Menebarkan kebaikan kepada pihak yang memperoleh hasil wakaf dan orang yang membutuhkan bantuan, seperti fakir miskin, anak yatim, janda, orang yang tidak punya usaha dan pekerjaan, atau untuk orang yang berjihad di jalan Allah subhanahu wata&#39;ala, untuk para pengajar dan penuntut ilmu, atau untuk pembantu dan untuk pelayanan kemaslahatan umum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke dua; Merupakan amal kebaikan bagi pewakaf, karena dia menyedekah kan harta yang barangnya tetap utuh, tetapi pahalanya mengalir terus, sekali pun pewakaf sudah putus usahanya, karena telah meninggal dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum Wakaf &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wakaf hukumnya sunnah, berdasarkan hadits di atas dan juga hadits berikut ini, Abu Hurairah radhiyallahu &#39;anhu berkata; Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wasallam bersabda, &quot;Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali 3 perkara; sedekah jariyah atau ilmu yang bermanfaat atau anak yang shalih yang mendo&#39;akannya&quot;. (HR.Muslim 3084). Syaikh Ali Bassam berkata, &quot;Yang dimaksud dengan sedekah jariyah dalam hadits ini adalah wakaf.&quot; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wakaf sudah dianggap berlaku dengan salah satu dari tiga cara berikut ini: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama; Perbuatan, misalnya, seseorang membangun sebuah masjid kemudian dia izinkan orang lain untuk shalat di situ, atau membangun sekolah dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke dua; Perkataan, misalnya &quot;aku wakafkan barang ini&quot; atau &quot;aku sedekahkan hasil barang ini&quot; atau ungkapan lain yang semakna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke tiga; Wasiat, misalnya bila aku wafat, maka aku wakafkan rumah ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harta yang diwakafkan sebaiknya tercatat dan diketahui oleh seorang saksi atau lebih, hal ini dilakukan agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di kemudian hari. Landasan tentang hal ini berdasarkan hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu &#39;anhu, dia berkata, &quot;Ketika ibu Sa&#39;ad Bin Ubadah meninggal dunia, dia (Sa&#39;ad) tidak berada di sampingnya, lalu dia datang melapor kepada Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wasallam seraya berkata, &quot;Ya Rasulullah, ibuku telah meninggal dunia, ketika itu saya tidak berada di sisinya. Apakah bermanfaat kepadanya bila saya bersedekah atas namanya?&quot; Jawab beliau, &quot;Ya tentu (bermanfaat).&quot; Lalu Sa&#39;ad radhiyallahu &#39;anhu berkata, &quot;Sesungguhnya aku menjadikan engkau sebagai saksi, bahwa pekarangan yang banyak buahnya ini aku sedekahkan (atas nama) ibuku&quot;. (HR. al-Bukhari 2551). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Status Harta Wakaf &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harta benda yang sudah diwakafkan tidak boleh dihibahkan pada orang lain, tidak boleh diwariskan kepada ahli waris, tidak boleh diperjual belikan, sebab pada hakikatnya harta wakaf itu sudah bukan milik pewakaf lagi dan sudah berpindah tangan dalam soal kepemilikan. Imam Syafi&#39;i berkata, &quot;Tatkala Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wasallam membolehkan pewakaf menahan pokok harta yang diwakafkan tersebut dan memanfaat- kan hasilnya, maka itu menunjukkan bahwa harta yang sudah diwakafkan bukan milik pewakaf lagi (al-Umm). Abu Yusuf dan Muhammad berkata, &quot;Harta bila sudah diwakafkan maka tidak lagi menjadi milik pewakaf, tetapi dia hanya berhak menahan pokoknya agar tidak berpindah tangan kepada orang lain. Oleh karena itu, bila pewakafnya meninggal dunia, maka ahli warisnya tidak mewarisi harta wakaf tersebut.&quot; (al-Mabsuth). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum asal harta benda wakaf tidak boleh dicabut kecuali bila tidak dimanfaatkan, atau diabaikan amanatnya, maka boleh mencabut wakafnya untuk dialihkan kepada yang lebih bermanfaat. Syaikh Muhammad Amin berkata, &quot;Seharusnya pewakif tidak mencabut wakafnya, kecuali sebelumnya dia membuat syarat apabila harta wakafnya tidak dimanfaatkan atau merasa diabaikan amanahnya; maka pewakaf boleh mencabut wakafnya.&quot; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis Harta yang Bisa Diwakafkan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  a.. Tanah Kosong. Sebagaimana Bani Najjar mewakafkan tanah mereka untuk membangun masjid Nabi shallallahu &#39;alaihi wasallam di kota Madinah. Tentu saja tanah wakaf tidak hanya dipergunakan untuk masjid, tapi bisa untuk sekolah, rumah sakit, dan lain-lain yang bermanfaat bagi kaum muslimin. Dan tanah wakaf tidak dipergunakan untuk kemaksiatan, seperti untuk membangun bioskop, tempat perjudian, pelacuran dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  b.. Peralatan Perang. Sebagaimana Khalid radhiyallahu &#39;anhu mewakafkan baju perang nya untuk berjihad di medan perang fi sabilillah. (HR.al-Bukhari, No.1375) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  c.. Alat Transportasi. Amr bin al-Harits radhiyallahu &#39;anhu, berkata, &quot;Pada saat Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wasallam wafat, beliau tidak meninggalkan dirham, tidak pula dinar, tidak pula budak pria dan wanita, dan sedikit pun beliau tidak meninggalkan harta selain keledai putihnya, senjata, dan tanah, Beliau mewakafkan semua miliknya itu. (HR.al-Bukhari No.2661). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  d.. Sumber Mata Air, seperti sumur atau yang lainnya. Utsman Bin Affan radhiyallahu &#39;anhu berkata, &quot;Rasulullah shallallahu &#39;alaihi wasallam datang ke kota Madinah. Beliau tidak menjumpai air tawar, melainkan sebuah sumur namanya &quot;rumah&quot;, lalu Beliau berkata, &quot;Barang siapa yang mau membeli sumur ini dengan uangnya sendiri, sehingga timba yang diletakkan di dalamnya sebagai timbanya kaum muslimin, maka dia mendapat imbalan yang lebih baik di sorga&quot;. (HR. Ahmad No.524, Tirmizi No. 3636, Nasa`i No.3551) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  e.. Kebun buah-buahan berikut hasilnya. Sa&#39;ad Bin Ubadah radhiyallahu &#39;anhu berkata, &quot;Wahai Rasulullah, ibuku telah meninggal dunia, ketika itu saya tidak berada di sisinya, apakah bermanfaat kepadanya bila saya bersedekah atas namanya?&quot; Jawab beliau, &quot;Ya tentu (bermanfaat) . Sa&#39;ad radhiyallahu &#39;anhu berkata, &quot;Sesungguhnya aku menjadikan engkau sebagai saksi, bahwa pekarangan yang banyak buahnya ini aku sedekahkan atas nama ibuku&quot;. (HR. al-Bukhari No.2551). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Isnen Azhar, Lc) &lt;br /&gt;Sumber: Majalah As-Sunnah Edisi 05/VIII/1425H/2004M. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://etalasesunnah.blogspot.com/2010/03/keutamaan-wakaf.html</link><author>noreply@blogger.com (abufawwaz)</author><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>