<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-8755146193009804155</atom:id><lastBuildDate>Sat, 14 Sep 2024 05:50:47 +0000</lastBuildDate><category>Artikel</category><category>Artikel Pendidikan</category><category>Pendidikan Karakter</category><category>Pendidikan</category><category>Kesehatan</category><category>Sosial Media</category><category>Artikel Kesehatan</category><category>Blog</category><category>Internet</category><category>Artikel Motivasi</category><category>Kata Bijak</category><category>Kata Mutiara</category><category>Alternatif</category><category>Pendidikan Islam</category><category>Pengobatan</category><category>Islam</category><category>Motivasi</category><category>Pengertian</category><category>Website</category><category>Keajaiban</category><category>Keuangan</category><title>Fajar Gumelar</title><description>Keberuntungan adalah pertemuan antara persiapan dan kesempatan</description><link>http://blogfajargumelar.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Anonymous)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>56</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><language>en-us</language><itunes:explicit>yes</itunes:explicit><itunes:subtitle>Keberuntungan adalah pertemuan antara persiapan dan kesempatan</itunes:subtitle><itunes:category text="Religion &amp; Spirituality"><itunes:category text="Islam"/></itunes:category><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8755146193009804155.post-65865752852574049</guid><pubDate>Sun, 12 May 2013 08:40:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-12T01:51:44.828-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel Kesehatan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kesehatan</category><title>Berbohong saat Tes Kesehatan Rohani Ternyata Bisa Terdeteksi</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiYc_xXO3__YXTioEKJf3kPlcVOZa-9DlgDXphIjINREZvt-XDI-k9ZryRwPjJ0El6HKn1V7mwpspyepgiDdKTHXKkIFOnNjCIjp4DA07ZczL3LOGbg-FrtCOhaVtsn-2SadnZcc-tmw2Tr/s1600/151680.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiYc_xXO3__YXTioEKJf3kPlcVOZa-9DlgDXphIjINREZvt-XDI-k9ZryRwPjJ0El6HKn1V7mwpspyepgiDdKTHXKkIFOnNjCIjp4DA07ZczL3LOGbg-FrtCOhaVtsn-2SadnZcc-tmw2Tr/s1600/151680.jpg" height="125" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Metrotvnews.com, Gorontalo: Jangan pernah mencoba untuk berbohong saat sedang menjalani tes kesehatan rohani yang dilakukan dokter. Jawablah 350 soal sesuai dengan kondisi, pengalaman, maupun apa yang dirasakan pasien.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Jika dalam tes itu ada yang mengisi soal tidak sesuai kenyataan atau mencoba untuk bohong, itu bisa ketahuan bahkan ada skor atau skala bohongnya," ungkap Dokter Jiwa, Thomarius, Selasa (7/5).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biasanya peserta tes berbohong, karena ingin kelihatan baik atau pura-pura baik dengan harapan bisa lulus dalam ujian kesehatan rohani yang dilakukan dokter.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan sikap pura-pura tersebut, peserta tes biasanya justru terjebak dalam sebuah pertanyaan sama yang diulang-ulang namun dalam bentuk yang berbeda sehingga menghasilkan jawaban yang berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Jawaban yang tidak konsisten akan menunjukkan pribadi yang  bersangkutan dan bisa mempengaruhi hasil tes," imbuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia menjelaskan, rohani bisa diukur melalui pikiran, jiwa dan perilaku orang sehari-hari. Orang yang sehat rohaninya, kata dia, tampak pada kehidupannya yang senang, nyaman, dan produktif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tes kesehatan rohani belakangan ini menjadi syarat penting dalam proses seleksi calon anggota legislatif, serta calon komisioner di berbagai lembaga seperti Komisi Pemilihan Umum (KPU), Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) dan Ombudsman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peserta wajib menjalani tes rohani oleh dokter jiwa dan merupakan bagian dari rangkaian tes kesehatan yang dilakukan tim dokter. (Ant)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber: &lt;a href="http://www.metrotvnews.com/lifestyle/read/2013/05/07/915/151680/Berbohong-saat-Tes-Kesehatan-Rohani-Ternyata-Bisa-Terdeteksi" target="_blank"&gt;Artikel Kesehatan &lt;/a&gt;</description><link>http://blogfajargumelar.blogspot.com/2013/05/berbohong-saat-tes-kesehatan-rohani.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiYc_xXO3__YXTioEKJf3kPlcVOZa-9DlgDXphIjINREZvt-XDI-k9ZryRwPjJ0El6HKn1V7mwpspyepgiDdKTHXKkIFOnNjCIjp4DA07ZczL3LOGbg-FrtCOhaVtsn-2SadnZcc-tmw2Tr/s72-c/151680.jpg" width="72"/><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8755146193009804155.post-2653390272489884977</guid><pubDate>Sun, 12 May 2013 08:36:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-12T01:36:59.130-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel Motivasi</category><title>Untuk Sembuh dari Adiksi Rokok, Motivasi Pegang Peran</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg-IC5PAzBxFknFcBaiOUGL4FOhv9UM8KHNq7VHl7_RP7YaJ3Je9NJR9yf5TjhFvh-xvwJ0b7RlAjzgfHL0043pqCXOWjyS29aTnbCjyd9-WLX0dkHbVL6EN3tT_e9oVvIuJbFWJk5OfK66/s1600/1514078-ilustrasi-rokok-620X310.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg-IC5PAzBxFknFcBaiOUGL4FOhv9UM8KHNq7VHl7_RP7YaJ3Je9NJR9yf5TjhFvh-xvwJ0b7RlAjzgfHL0043pqCXOWjyS29aTnbCjyd9-WLX0dkHbVL6EN3tT_e9oVvIuJbFWJk5OfK66/s1600/1514078-ilustrasi-rokok-620X310.jpg" height="99" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Jakarta, Kompas - Mengatasi adiksi nikotin alias kecanduan zat yang terkandung dalam rokok harus berbasis medis sebagaimana penanganan adiksi heroin dan kokain. Namun, agar berhasil, motivasi memegang peran penting.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Agus Dwi Susanto, dokter spesialis paru dari Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI)-RS Persahabatan, Jakarta, Rabu (8/5), di Jakarta, pasien yang ingin berhenti merokok diberi konseling, hipnotis, dan terapi farmakologi dengan obat tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agus yang menangani pasien di Klinik Berhenti Merokok RS Persahabatan menekankan, hal terpenting adalah motivasi pasien berhenti merokok. ”Tanpa itu, upaya apa pun tidak akan membuahkan hasil,” katanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dokter spesialis kedokteran jiwa dari klinik yang sama, Tribowo T Ginting, mengatakan, rokok menyebabkan adiksi karena menimbulkan rasa nyaman. Efek yang ditimbulkan rokok seperti efek morfin sehingga orang selalu melakukan berulang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perilaku orang di sekitar dan paparan iklan rokok yang menyugesti bahwa merokok itu macho, kata Tribowo, menjadi faktor pendorong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Faktor genetik turut berperan dalam adiksi. ”Ada gen tertentu pada orang-orang tersebut yang membuat mereka lebih mudah kecanduan,” katanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senada dengan Agus, Tribowo menyatakan, motivasi berperan penting dalam keberhasilan upaya berhenti merokok. Dukungan keluarga juga sangat membantu, misalnya mengingatkan agar tidak merokok dan menghindarkan hal yang mendorong untuk merokok, termasuk tidak menyediakan asbak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasar data Riset Kesehatan Dasar tahun 2010, secara nasional prevalensi perokok tahun 2010 adalah 34,7 persen. Prevalensi perokok tertinggi pada kelompok umur 25-64 tahun, yakni 37-38,2 persen. Pada kelompok umur 15-24 tahun, yang merokok setiap hari mencapai 18,6 persen. (DOE)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber: &lt;a href="http://health.kompas.com/read/2013/05/10/09395080/Untuk.Sembuh.dari.Adiksi.Rokok.Motivasi.Pegang.Peran" target="_blank"&gt;Motivasi&lt;/a&gt;</description><link>http://blogfajargumelar.blogspot.com/2013/05/untuk-sembuh-dari-adiksi-rokok-motivasi.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg-IC5PAzBxFknFcBaiOUGL4FOhv9UM8KHNq7VHl7_RP7YaJ3Je9NJR9yf5TjhFvh-xvwJ0b7RlAjzgfHL0043pqCXOWjyS29aTnbCjyd9-WLX0dkHbVL6EN3tT_e9oVvIuJbFWJk5OfK66/s72-c/1514078-ilustrasi-rokok-620X310.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8755146193009804155.post-5872974096665047923</guid><pubDate>Sun, 12 May 2013 08:33:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-12T01:33:00.668-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Blog</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Internet</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sosial Media</category><title>Cara Menggunakan Sosial Media untuk Hindari Tindak Kekerasan</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNFar4pyi_wASIpzUtbBgyaBJycgCS3HVXuChcX1OQhyphenhyphenLdp9KAMB1T-Y1M_RKF6KTB4QSN5uo_tcJyTjzhZ35rzObG3oj48MbUcx6Zwz8VqmmP0dEJy4IwGjcgcNSCexSZEGBbfapsnJ3e/s1600/sosial-media-aman-300x276.png" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNFar4pyi_wASIpzUtbBgyaBJycgCS3HVXuChcX1OQhyphenhyphenLdp9KAMB1T-Y1M_RKF6KTB4QSN5uo_tcJyTjzhZ35rzObG3oj48MbUcx6Zwz8VqmmP0dEJy4IwGjcgcNSCexSZEGBbfapsnJ3e/s1600/sosial-media-aman-300x276.png" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Semakin banyak ditemukan kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan, yang diakibatkan oleh pergaulan di dunia maya. Kasus-kasus kekerasan itu termasuk pelecehan, pemerkosaan, hingga kasus pembunuhan. Semuanya seolah bergantian menghiasi media massa, dan dikonsumsi oleh masyarakat. Adakah yang salah dengan social media, ataukah kita yang harus lebih bijak menggunakannya? Mari kita bahas pada artikel ini, bagaimana menggunakan social media agar terhindar dari tindak kriminal yang merugikan kita, terutama para wanita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Cara menggunakan social media agar terhindar dari tindak kekerasan:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Berhati-hatilah dengan kenalan baru di internet.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Situs-situs jejaring sosial semakin memudahkan seseorang untuk mendapatkan kenalan baru di internet. Tidak jarang, perkenalan di dunia maya dilanjutkan dengan pertemuan di dunia nyata. Banyak yang sukses dengan hubungan yang baik setelahnya, namun tidak jarang terjadi kekerasan, penculikan, perkosaan, penganiayaan, hingga pembunuhan, yang dilakukan oleh sang kenalan baru. Untuk itu, setiap kita, terutama wanita, perlu lebih waspada dengan kenalan baru kita di internet. Apabila perkenalan itu semakin intens dan semakin serius, upayakan untuk memberitahukan ke orang terdekat mengenai perkenalan itu, sekadar untuk berjaga-jaga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Skeptis terhadap ajakan pertemuan.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biasanya perkenalan di dunia maya akan dilanjutkan dengan kontak-kontakan melalui telepon &amp;amp; SMS, dilanjutkan dengan ajakan pertemuan. Yakinkah Anda dengan orang yang mengajak Anda bertemu? Ada baiknya untuk lebih hati-hati dan tidak mudah terlena dengan ajakan pertemuan. Jika Anda memang benar-benar ingin bertemu, ajaklah orang yang Anda kenal untuk menemani, setidaknya hingga Anda benar-benar kenal dengan orang yang Anda temui, dan ada orang yang Anda kenal juga mengenal orang tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Jangan terlena oleh pujian di dunia maya.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada orang yang tidak senang dengan pujian. Bahkan banyak yang mudah terlena dengan pujian tersebut. Kata-kata seperti “cantik”, “manis”, dan sebagainya, dapat membuat orang terbuai dan terlena, sehingga mudah masuk dalam “perangkap”. Untuk itu, berhati-hatilah dengan pujian yang terlontar dari kenalan baru Anda di dunia maya.&lt;br /&gt;
Sibukkan diri dengan kegiatan produktif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu alasan orang getol berinteraksi di dunia maya adalah karena memiliki banyak sekali waktu luang yang tidak produktif, sehingga menjadikan interaksi di dunia maya sebagai bahan pengisi waktu. Untuk itu, sibukkan diri Anda dengan kegiatan produktif, yang dapat secara efektif mengurangi waktu interaksi di dunia maya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Gunakan jejaring sosial sebagai media produktif.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah, ini salah satu cara paling efektif menghindarkan Anda dari pengaruh buruk sosial media, yaitu dengan memanfaatkan media tersebut sebagai media produktif. Media produktif ini maksudnya adalah media di mana kita bisa melakukan hal-hal bermanfaat, antara lain interaksi sosial positif, berkomunitas produktif, hingga menghasilkan profit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga tips cara bijak menggunakan sosial media untuk menghindarkan diri dari tindak kejahatan, ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Selamat melanjutkan aktivitas, dan semoga kita semua terhindar dari pengaruh buruk yang bisa ditimbukan dari pergaulan internet. :)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber: &lt;a href="http://areacewek.com/cara-menggunakan-sosial-media-untuk-hindari-tindak-kekerasan/" target="_blank"&gt;Sosial Media&lt;/a&gt;</description><link>http://blogfajargumelar.blogspot.com/2013/05/cara-menggunakan-sosial-media-untuk.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNFar4pyi_wASIpzUtbBgyaBJycgCS3HVXuChcX1OQhyphenhyphenLdp9KAMB1T-Y1M_RKF6KTB4QSN5uo_tcJyTjzhZ35rzObG3oj48MbUcx6Zwz8VqmmP0dEJy4IwGjcgcNSCexSZEGBbfapsnJ3e/s72-c/sosial-media-aman-300x276.png" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8755146193009804155.post-1715290166222547186</guid><pubDate>Sun, 12 May 2013 08:25:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-12T01:25:04.558-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Blog</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Internet</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sosial Media</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Website</category><title>Masih Sedikit, Politisi yang Gunakan Sosial Media</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh2SGYgyuvkIFL7sJ3xA_YE8rDwm1Bv7q0-orLdAU9H-wB-_irbqV57tRM9VPVlNSVQ518waZCx-ae49V_fp15F_JG5drz-49ZX9XDrigS1A4FC2zexEaZNz05hONtjsatTJE_sdo2ivl2X/s1600/Silih-Agung-Wasesa-300x308.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh2SGYgyuvkIFL7sJ3xA_YE8rDwm1Bv7q0-orLdAU9H-wB-_irbqV57tRM9VPVlNSVQ518waZCx-ae49V_fp15F_JG5drz-49ZX9XDrigS1A4FC2zexEaZNz05hONtjsatTJE_sdo2ivl2X/s1600/Silih-Agung-Wasesa-300x308.jpg" height="200" width="194" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Penggunaan sosial media seperti Twitter dan Facebook sebagai media komunikasi dalam dunia politik masih jarang dilakukan oleh para pelaku politik di Indonesia. Hal ini diungkapkan oleh Silih Agung Wasesa SPsi MSi dalam kelas Akademi Berbagi (AkBer) ke-55 “Political Branding” yang diadakan di Hotel Amarelo, Solo, Jumat (10/5) malam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Partai politik dan politisi sebelumnya masih menggunakan sarana komunikasi konvensional seperti televisi, media cetak, dan lainnya untuk menggaet dukungan. Padahal penetrasi Internet di Indonesia sudah cukup tinggi. Menurut data yang dipaparkan Silih, paling tidak ada sekitar 65 juta pengguna Internet di Indonesia. Dimana sebanyak 64 % di antaranya berasal dari kalangan usia 15-29 tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Indonesia juga dikenal sebagai negara yang penduduknya aktif menggunakan media sosial seperti Facebook dan Twitter. Bahkan ibukota Negara Indonesia, Jakarta, ujar pria yang pernah menjadi Staf Ahli Media Kepresidenan pada era Presiden Abdurahman Wahid tersebut, adalah kota dengan pengguna Twitter teraktif di dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun menurut Silih, tidak begitu mudah bagi para politisi dan partai politik untuk menggunakan jejaring sosial karena pola komunikasi pengguna di sini berbeda dengan pola komunikasi konvensional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mulai melihat bahwa beberapa politisi bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mulai menggunakan salah satu sosial media yaitu Twitter. “Menurut prediksi saya, menjelang Pemilu 2014 nanti, mungkin akan ada game-game yang bisa dimainkan di jejaring sosial yang akan dibuat oleh beberapa kandidat presiden sebagai sarana kampanye,” ujarnya memberi contoh penggunaan Internet sebagai sarana politik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemegang sertifikat Crisis Management dari Institute of Public Relations of Singapore ini mengatakan, bila ada politisi atau partai politik yang ingin menggunakan jejaring sosial, mereka harus menggunakan media sosial itu untuk mempublikasikan karya atau prestasi mereka. Hal ini untuk menyakinkan para follower atau fans, bahwa politisi atau partai politik tersebut capable atau mampu dalam melakukan tugas mereka untuk mewakili kepentingan rakyat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber: &lt;a href="http://www.timlo.net/baca/70812/masih-sedikit-politisi-yang-gunakan-sosial-media/" target="_blank"&gt;Sosial Media&lt;/a&gt;</description><link>http://blogfajargumelar.blogspot.com/2013/05/masih-sedikit-politisi-yang-gunakan.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh2SGYgyuvkIFL7sJ3xA_YE8rDwm1Bv7q0-orLdAU9H-wB-_irbqV57tRM9VPVlNSVQ518waZCx-ae49V_fp15F_JG5drz-49ZX9XDrigS1A4FC2zexEaZNz05hONtjsatTJE_sdo2ivl2X/s72-c/Silih-Agung-Wasesa-300x308.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8755146193009804155.post-2246219056649457237</guid><pubDate>Sun, 12 May 2013 08:22:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-12T01:22:46.921-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel Pendidikan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pendidikan</category><title>Nasib UN Dibahas Di Rembugnas Pendidikan</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjMDX4XsK_F61CrtP1gLflX-s22oBu_HF3_vHxMAb-OCeXIDGTTk5oO-L-HOdIwzqod5AufKALgOfLotmSj0lWRxg_-JL9WAhS5wuzNZif4xaI0-Uji34aI0WEvtC7Z1HwB1lPIHy2JAvAN/s1600/index.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjMDX4XsK_F61CrtP1gLflX-s22oBu_HF3_vHxMAb-OCeXIDGTTk5oO-L-HOdIwzqod5AufKALgOfLotmSj0lWRxg_-JL9WAhS5wuzNZif4xaI0-Uji34aI0WEvtC7Z1HwB1lPIHy2JAvAN/s1600/index.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
JAKARTA - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah menyiapkan rembug nasional pendidikan untuk menyelesaikan perseteruan sejumlah pihak terkait berbagai kebijakan nasional, salah satunya Ujian Nasional (UN).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Mendikbud Mohammad Nuh, rembugnas yang dia sebut dengan istilah konvesi nasional pendidikan yang akan digelar September 2013 mendatang, akan mempertemukan semua unsur masyarakat, terutama pihak yang selama ini pro dan kontra terhadap sejumlah kebijakan pendidikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kita setiap tahun kan beda pendapat terus, tidak fokus. Sayang kan perbedaan secara kontraproduktif. Karena itu semua pihak harus duduk bersama, cari kesepakatan, sehingga energi bisa difokuskan pada pendidikan," kata M Nuh usai meninjau pelaksanaan UN SD di Jakarta Barat, Senin (6/5).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikatakannya, dalam mengawal tujuan pendidikan nasional itu wajar saja jika ada yang berbeda pendapat, namun yang terjadi selama ini, perbedaan itu kontrapdoruktif. Itu juga yang mendasari rencana diadakannya rembugnas pendidikan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Semua elemen akan kita undang secara terbuka, siapa saja, pro dan kontra. Kami ingin semua ekstrimitas kumpul, silahkan beri pandangan. Tentu masing-masing punya pandangan," pungkas mantan Menkominfo itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wacana konvensi nasional pendidikan ini mencuat setelah Mendikbud menerima pengurus besar persatuan guru republik indonesia (PGRI), untuk yang pertama kalinya sejak dia menjabat sebagai menteri pendidikan. Dalam pertemuan pekan llau itu, Mendikbud mendapat banyak masukan dari PB PGRI.(Fat/jpnn)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber:&lt;a href="http://www.jpnn.com/read/2013/05/06/170700/Nasib-UN-Dibahas-Di-Rembugnas-Pendidikan-" target="_blank"&gt;Artikel Pendidikan&lt;/a&gt;</description><link>http://blogfajargumelar.blogspot.com/2013/05/nasib-un-dibahas-di-rembugnas-pendidikan.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjMDX4XsK_F61CrtP1gLflX-s22oBu_HF3_vHxMAb-OCeXIDGTTk5oO-L-HOdIwzqod5AufKALgOfLotmSj0lWRxg_-JL9WAhS5wuzNZif4xaI0-Uji34aI0WEvtC7Z1HwB1lPIHy2JAvAN/s72-c/index.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8755146193009804155.post-5870809965940039965</guid><pubDate>Sun, 12 May 2013 07:31:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-12T00:40:28.031-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Blog</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Internet</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sosial Media</category><title>Tanggung Jawab Individu dan Sosial-Media</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhTFXIKZErvHZoX1fQM2PfZKEqpKtgkxGD25rcAmRM8Skms_clU62zl0lBHu_gb87LvAXi1zdr50gj2quYUNj7Sn99DlXZ9IUMVw7l46N6XowynPzN_9Kg88q2HonmdbOujI-JRwKxi5Hfb/s1600/15264547.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhTFXIKZErvHZoX1fQM2PfZKEqpKtgkxGD25rcAmRM8Skms_clU62zl0lBHu_gb87LvAXi1zdr50gj2quYUNj7Sn99DlXZ9IUMVw7l46N6XowynPzN_9Kg88q2HonmdbOujI-JRwKxi5Hfb/s1600/15264547.jpg" height="200" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Tanggung jawab individu jika disederhanakan bisa jadi tanggung jawab sebagai individu warga negara untuk patuh kepada hukum dan norma yang berlaku sebagai anak bangsa dan bagian masyarakat yang diejatawahanan dalam sikap dan perbuatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kitab suci, saya pernah mendengar bahwa dalam surat al Mudatsir, kullu nafsin bimaa kasabat rahiinan ,yang kurang lebih bahwa tiap jiwa/individu bertanggung jawab atas apa yang diperbuatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam konteks manusia yang sudah dewasa dan sudah mulai dihitung hisab amal perbuatannya, dan hidup dalam alam yang sangat dipengaruhi sosial-media saat ini,efek dari suatu perbuatan bisa menjalar kemana-mana, kasihlah contoh penyebaran video porno.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendekatan individual dalam memandang video porno yang misalnya dibuat oleh artis Indonesia dan mungkin mempengaruhi penggemarnya tidak sertamerta menginspirasi penggemarnya untuk membuat video/memperagakan yang sama walaupun sudah diunduh lewat media sosial-media karena iseng-iseng.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendekatan individu berupa tanggung-jawab lebih kepada didikan orang tua dari kecilnya memberikan pandangan kepadanya bahwa selain hukum tertulis dalam kitab warisan Belanda-KUHAP, ada hukum tak tertulis yakni norma dalam bermasyarakat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah besarnya, maka tanggung jawab itu akan hilang dengan sendirinya dan berlakulah ayat kitab suci di atas bahwa tiap-tiap oknum/jiwa bertanggung-jawab atas perbuatannya karena bekalnya telah cukup untuk menilai suatu kepatutan perbuatan apakah sesuai dengan hati nurani, memuaskan akal sehat dan menentramkan jiwa jika dikerjakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun dalam perjalanannya nanti, akan selalu muncul tanya seperti dalam lirik Dream Theater-The Spirit Carries On,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Where did we come from?&lt;br /&gt;
Why are we here?&lt;br /&gt;
Where do we go when we die?&lt;br /&gt;
What lies beyond&lt;br /&gt;
And what lay before?&lt;br /&gt;
Is anything certain in life?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika hidupnya memandang dunia adalah abadi dan sekali, maka akan mengupayakannya agar sesempurna mungkin di dunia, menikmatinya selagi masih sempat, karna kapan lagi, sedangkan jika memandangnya sebagai sebuah terminal menuju dunia berikutnya maka tanggung-jawab individunya akan diejawantahankan dalam perbuatan dan sikap bahwa famayya’ mal mi’sqala zarratin khairayyarah, wamayya’ mal misqala zarratin syarrayyarah dalam bergaul bermasayarakat, berhubungan dengan suku lain, golongan beda partai lain dan segala aspek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber Artikel:&amp;nbsp; http://filsafat.kompasiana.com/2013/05/11/tanggung-jawab-individu-dan-sosial-media-554897.html</description><link>http://blogfajargumelar.blogspot.com/2013/05/tanggung-jawab-individu-dan-sosial-media.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhTFXIKZErvHZoX1fQM2PfZKEqpKtgkxGD25rcAmRM8Skms_clU62zl0lBHu_gb87LvAXi1zdr50gj2quYUNj7Sn99DlXZ9IUMVw7l46N6XowynPzN_9Kg88q2HonmdbOujI-JRwKxi5Hfb/s72-c/15264547.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8755146193009804155.post-9209885572734442746</guid><pubDate>Thu, 09 May 2013 07:32:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-09T00:32:42.367-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel Pendidikan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pendidikan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pendidikan Karakter</category><title>Kurikulum Pendidikan Karakter</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgPw1BM_kYz3nuwC_mG47UbPigCml9yblryUfqo_g9VOlheBzYeeIK-pc7I9-O7lDgnKQRy-onv7d3n-M45yGRQmBQw-Fgwol1Y-KLCEpXtd2Y6lvdAP__95-1UepphkmNnyx3kyMd65zag/s1600/news-1.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="211" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgPw1BM_kYz3nuwC_mG47UbPigCml9yblryUfqo_g9VOlheBzYeeIK-pc7I9-O7lDgnKQRy-onv7d3n-M45yGRQmBQw-Fgwol1Y-KLCEpXtd2Y6lvdAP__95-1UepphkmNnyx3kyMd65zag/s320/news-1.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;Apa Itu Karakter?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dennis Coon dalam bukunya Introduction to Psychology : Exploration and Aplication mendefinisikan karakter sebagai suatu penilaian subyektif terhadap kepribadian seseorang yang berkaitan dengan atribut kepribadian yang dapat atau tidak dapat diterima oleh masyarakat. Karakter adalah jawaban mutlak untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik didalam masyarakat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Beda Karakter dan Kepribadian (Sifat Dasar)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepribadian adalah hadiah dari Tuhan Sang Pencipta saat manusia dilahirkan dan setiap orang yang memiliki kepribadian pasti ada kelemahannya dan kelebihannya di aspek kehidupan sosial dan masing-masing pribadi. Kepribadian manusia secara umum ada 4, yaitu : Koleris – Sanguinis – Phlegmatis – Melankolis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah, Karakternya dimana? Saat setiap manusia belajar untuk mengatasi dan memperbaiki kelemahannya, serta memunculkan kebiasaan positif yang baru, inilah yang disebut dengan Karakter. Misalnya, seorang dengan kepribadian Sanguin yang sangat suka bercanda dan terkesan tidak serius, lalu sadar dan belajar sehingga mampu membawa dirinya untuk bersikap serius dalam situasi yang membutuhkan ketenangan dan perhatian fokus, itulah Karakter.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Mengapa Seorang Anak Butuh Pendidikan Karakter?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada dasarnya, pada perkembangan seorang anak adalah mengembangkan pemahaman yang benar tentang bagaimana dunia ini bekerja, mempelajari ”aturan main” segala aspek yang  ada di dunia ini . Anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter apabila dapat tumbuh pada lingkungan yang berkarakter&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Ada 3 Cara Mendidik Karakter Anak:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Ubah Lingkungannya, melakukan pendidikan karakter dengan cara menata peraturan serta konsekuensi di sekolah dan dirumah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Berikan Pengetahuan, memberikan pengetahuan bagaimana melakukan perilaku yang diharapakan untuk muncul dalam kesehariannya serta diaplikasikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Kondisikan Emosinya, emosi manusia adalah kendali 88% dalam kehidupan manusia. Jika mampu menyentuh emosinya dan memberikan informasi yang tepat maka informasi tersebut akan menetap dalam hidupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Karakter apa yang perlu ditumbuhkan dan dibentuk dalam diri anak?&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kemandirian dan Tanggung Jawab&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kejujuran atau Amanah, Diplomatis&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Hormat dan Santun&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Dermawan, Suka Tolong Menolong &amp;amp; Gotong Royong&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Percaya Diri dan Pekerja Cerdas&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kepemimpinan dan Keadilan&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Baik dan Rendah Hati&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Karakter Toleransi, Kedamaian dan Kesatuan.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
Saat ini kami memiliki 3 program pendidikan karakter yang menjadi fokus dari kurikulum kami, yaitu :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1. Training Guru&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkait dengan program pendidikan karakter disekolah, bagaimana menjalankan dan melaksanakan pendidikan karakter disekolah, serta bagaimana cara menyusun program dan melaksanakannya, dari gagasan ke tindakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Program ini membekali dan memberikan wawasan pada guru tentang psikologi anak, cara mendidik anak dengan memahami mekanisme pikiran anak dan 3 faktor kunci untuk menciptakan anak sukses, serta kiat praktis dalam memahami dan mengatasi anak yang “bermasalah” dengan perilakunya.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;2. Program Kurikulum Pendidikan Karakter&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami memberikan sistem pengajaran dan materi yang lengkap (untuk 1 tahun ajaran) serta detail dan aplikasi untuk sekolah dan materi untuk orang tua murid. Materi ini telah diuji coba lebih dari 5 tahun, disamping itu dalam program ini ada pendampingan dan training khusus untuk guru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Training khusus guru ini dikhususkan untuk menciptakan suksesnya pendidikan karakter disekolah, disamping pemberian materi yang “advance” dari program training guru pertama. Karena disini para guru akan mempelajari aspek psikologi manusia (bukan hanya anak, tetapi untuk dirinya sendiri) dan menanamkan nilai-nilai kehidupan yang baik pada dirinya, murid dan keluarga. Guru akan memiliki “tools” untuk membantu menciptakan anak yang berkarakter lebih baik.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;3. Program Bimbingan Mental&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Program ini terbagi menjadi dua sesi program :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesi Workshop Therapy, yang dirancang khusus untuk siswa usia 12 -18 tahun. Workshop ini bertujuan mengubah serta membimbing mental anak usia remaja. Workshop ini bekerja sebagai “mesin perubahan instant” maksudnya setelah mengikuti program ini anak didik akan berubah seketika menjadi anak yang lebih positif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesi Seminar Khusus Orangtua Siswa, membantu orangtua mengenali anaknya dan memperlakukan anak dengan lebih baik, agar anak lebih sukses dalam kehidupannya. Dalam seminar ini orangtua akan mempelajari pengetahuan dasar yang sangat bagus untuk mempelajari berbagai teori psikologi anak dan keluarga. Memahami konsep menangani anak di rumah dan di sekolah, serta lebih mudah mengerti dan memahami jalan pikiran anak, pasangan dan orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber Artikel: &lt;a href="http://www.pendidikankarakter.com/kurikulum-pendidikan-karakter/" target="_blank"&gt;Pendidikan Karakter&lt;/a&gt;</description><link>http://blogfajargumelar.blogspot.com/2013/05/kurikulum-pendidikan-karakter.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgPw1BM_kYz3nuwC_mG47UbPigCml9yblryUfqo_g9VOlheBzYeeIK-pc7I9-O7lDgnKQRy-onv7d3n-M45yGRQmBQw-Fgwol1Y-KLCEpXtd2Y6lvdAP__95-1UepphkmNnyx3kyMd65zag/s72-c/news-1.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8755146193009804155.post-2790916256768173329</guid><pubDate>Thu, 09 May 2013 07:27:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-09T00:27:44.666-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Alternatif</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel Kesehatan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kesehatan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pengobatan</category><title>Mengatasi Insomnia Dengan Terapi Medan Listrik</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhcDilgVhfaJVMt0TthLVQyhWb7E45cCRna0mmE0hBIZ22jSpUpKzGBEE78FmMzJOyOzSI4n8sxh5ftvlkZUOf1qHijLpzbuOrxgumUvNSChhu5mPvmVdAsZmf4nlc1O4NTInOJUS0WLUpb/s1600/Post-9.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="133" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhcDilgVhfaJVMt0TthLVQyhWb7E45cCRna0mmE0hBIZ22jSpUpKzGBEE78FmMzJOyOzSI4n8sxh5ftvlkZUOf1qHijLpzbuOrxgumUvNSChhu5mPvmVdAsZmf4nlc1O4NTInOJUS0WLUpb/s200/Post-9.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Setiap manusia membutuhkan waktu tidur kurang lebih sekitar sepertiga waktu hidupnya atau sekitar 6-8 jam sehari. Secara alami dan otomatis jika tubuh lelah maka kita akan merasa mengantuk sehingga memaksa tubuh kita untuk beristirahat secara fisik dan mental.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan waktu tidur yang cukup maka kita akan merasa segar bugar ketika bangun pagi dan siap melakukan berbagai aktifitas sepanjang hari dari pagi hingga malam. Normalnya manusia tidur pada saat malam hari hingga pagi hari, namun tidak jarang ada orang yang bisa tidur dari siang sampai malam hari karena tuntutan pekerjaan atau karena sudah terbiasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut penelitian, orang yang tidur selama 6,5 sampai 7,5 jam dalam sehari akan memiliki hidup yang lebih panjang dari pada yang tidurnya hanya memakan waktu kurang dari 6,5 jam atau lebih dari 8 jam perhari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;A. Arti definisi / pengertian Tidur dan Insomnia :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidur adalah merupakan suatu kondisi istirahat alami yang dialami oleh manusia dan hewan-hewan lainnya yang sangat penting untuk kesehatan.&lt;br /&gt;
Insomnia adalah suatu gangguan tidur yang memiliki gejala lesu sepanjang hari karena kekurangan waktu tidur. Umumnya penderita insomnia akan sulit tidur jika terbangun di malam hari.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;B. Kegunaan atau fungsi dari Tidur yang cukup :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Regenerasi sel-sel tubuh yang rusak menjadi baru.&lt;br /&gt;
Memperlancar produksi hormon pertumbuhan tubuh.&lt;br /&gt;
Mengistirahatkan tubuh yang letih akibat aktivitas seharian.&lt;br /&gt;
Meningkatkan kekebalan tubuh kita dari serangan penyakit.&lt;br /&gt;
Menambah konsentrasi dan kemampuan fisik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;C. Fase / Tahapan Tidur Seseorang :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Awal&lt;br /&gt;
Non rapid eyes movement (non-rem)&lt;br /&gt;
Rapid Eyes Movement (rem)&lt;br /&gt;
Dream Sleep&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;D. Macam-macam Gangguan Tidur / Insomnia :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Insomnia transient yang bersifat sementara&lt;br /&gt;
Insomnia jangka pendek yang dapat berlangsung selama beberapa minggu&lt;br /&gt;
Insomnia kronis yang dapat diderita selama lebih dari tiga minggu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;E. Penyebab Penyakit Insomnia Pada Manusia :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Faktor fisik seperti karena sedang sakit pilek, asma, sinus, dan lain-lain.&lt;br /&gt;
Faktor lingkungan yaitu seperti adanya aroma tidak sedap, polusi suara yang bising, asap, lingkungan sosial yang sedang tidak aman.&lt;br /&gt;
Faktor gaya hidup tidak sehat seperti akibat rokok, minuman keras, obat kuat, dsb.&lt;br /&gt;
Faktor psikologis yaitu seperti stres yang terus-menerus.&lt;br /&gt;
Faktor prikiatris akibat rasa depresi yang dialami seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;F. Cara Mengatasi &amp;amp; Menyembuhkan Insomnia :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menjalani pola hidup sehat misalnya tidak merokok, tidak begadang, tidak memakai narkoba, tidak minum alkohol, dll.&lt;br /&gt;
Memiliki jadwal tidur yang cukup dan normal.&lt;br /&gt;
Memilih lingkungan yang tenang, sehat dan nyaman untuk tidur.&lt;br /&gt;
Berolah raga secara rutin dan teratur.&lt;br /&gt;
Makan secara teratur, sehat dan cukup agar selama tidur tidak lapar.&lt;br /&gt;
Hindari minum terlalu banyak minuman yang mengandung kafein seperti kopi, coklat, teh, dsb.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber 1: &lt;a href="http://www.organisasi.org/" target="_blank"&gt;www.organisasi.org&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Sumber 2: &lt;a href="http://oneenergize.com/cara-mengatasi-insomnia-dengan-terapi-medan-listrik/" target="_blank"&gt;http://oneenergize.com &lt;/a&gt;</description><link>http://blogfajargumelar.blogspot.com/2013/05/mengatasi-insomnia-dengan-terapi-medan.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhcDilgVhfaJVMt0TthLVQyhWb7E45cCRna0mmE0hBIZ22jSpUpKzGBEE78FmMzJOyOzSI4n8sxh5ftvlkZUOf1qHijLpzbuOrxgumUvNSChhu5mPvmVdAsZmf4nlc1O4NTInOJUS0WLUpb/s72-c/Post-9.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8755146193009804155.post-8662463084179759193</guid><pubDate>Thu, 09 May 2013 06:57:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-08T23:57:46.332-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Keajaiban</category><title>Mengungkap Rahasia Keajaiban dan Mujizat dalam Kehidupan</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhLsBRJZhZ6O_lGkkKF8plHC3gklJitpJ8UUiPmv8HEnPTWGR37nbIRHxC1S7f4j7fOtP_UKJzIb_8MwQV7io_gyHuNDavpqn1w7dshpUdgqTuAQ4QiFAsM539NFQuJi_kC_e8kS-72ZNFA/s1600/post-20.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="131" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhLsBRJZhZ6O_lGkkKF8plHC3gklJitpJ8UUiPmv8HEnPTWGR37nbIRHxC1S7f4j7fOtP_UKJzIb_8MwQV7io_gyHuNDavpqn1w7dshpUdgqTuAQ4QiFAsM539NFQuJi_kC_e8kS-72ZNFA/s200/post-20.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Ada sebuah kisah yang sangat menarik yang ingin saya bagikan disini, Pada tahun 1971 surat kabar New York Post menulis kisah nyata tentang seorang pria yang hidup di sebuah kota kecil di White Oak, Georgia, Amerika. Pria ini menikahi seorang wanita yang cantik dan baik, sayangnya dia tidak pernah menghargai istrinya. Dia tidak menjadi seorang suami dan ayah yang baik. Dia sering pulang malam-malam dalam keadaan mabuk, lalu memukuli anak dan isterinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu malam dia memutuskan untuk mengadu nasib ke kota besar, New York. Dia mencuri uang tabungan isterinya, lalu dia naik bis menuju ke utara, ke kota besar, ke kehidupan yang baru. Bersama sama beberapa temannya dia memulai bisnis baru. Untuk beberapa saat dia menikmati hidupnya. Sex, gambling, drug. Dia menikmati semuanya. Bulan berlalu. Tahun berlalu. Bisnisnya gagal, dan ia mulai kekurangan uang. Lalu dia mulai terlibat dalam perbuatan kriminal. Ia menulis cek palsu dan menggunakannya untuk menipu uang orang. Akhirnya pada suatu saat naas, dia tertangkap. Polisi menjebloskannya ke dalam penjara, dan pengadilan menghukum dia tiga tahun penjara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menjelang akhir masa penjaranya, dia mulai merindukan rumahnya. Dia merindukan istrinya. Dia rindu keluarganya. Akhirnya dia memutuskan untuk menulis surat kepada istrinya, untuk menceritakan betapa menyesalnya dia. Bahwa dia masih mencintai isteri dan anak-anaknya. Dia berharap dia masih boleh kembali. Namun dia juga mengerti bahwa mungkin sekarang sudah terlambat, oleh karena itu ia mengakhiri suratnya dengan menulis, “Sayang, engkau tidak perlu menunggu aku. Namun jika engkau masih ada perasaan padaku, maukah kau nyatakan? Jika kau masih mau aku kembali padamu, ikatkanlah sehelai pita kuning bagiku, pada satu-satunya pohon beringin yang berada di pusat kota. Apabila aku lewat dan tidak menemukan sehelai pita kuning, tidak apa-apa. Aku akan tahu dan mengerti. Aku tidak akan turun dari bis, dan akan terus menuju Miami. Dan aku berjanji aku tidak akan pernah lagi menganggu engkau dan anak-anak seumur hidupku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya hari pelepasannya tiba. Dia sangat gelisah. Dia tidak menerima surat balasan dari isterinya. Dia tidak tahu apakah isterinya menerima suratnya atau sekalipun dia membaca suratnya, apakah dia mau mengampuninya? Dia naik bis menuju Miami, Florida, yang melewati kampung halamannya, White Oak. Dia sangat sangat gugup. Seisi bis mendengar ceritanya, dan mereka meminta kepada sopir bus&lt;br /&gt;
itu, “Tolong, pas lewat White Oak, jalan pelan-pelan… kita mesti lihat apa yang akan terjadi…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hatinya berdebar-debar saat bis mendekati pusat kota White Oak. Dia tidak berani mengangkat kepalanya. Keringat dingin mengucur deras. Akhirnya dia melihat pohon itu. Air mata menetas di matanya… Dia tidak melihat sehelai pita kuning… Melainkan ada seratus helai pita-pita kuning bergantungan di pohon beringin itu. Seluruh pohon itu dipenuhi pita kuning.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kisah nyata ini menjadi lagu hits nomor satu pada tahun 1973 di Amerika. Sang sopir langsung menelpon surat kabar dan menceritakan kisah ini. Seorang penulis lagu menuliskan kisah ini menjadi lagu, “Tie a Yellow Ribbon Around the Old Oak Tree” dan ketika album ini dirilis pada bulan Februari 1973, langsung menjadi hits pada bulan April 1973. Sebuah lagu yang manis, namun mungkin masih jauh lebih manis jika kita bisa melakukan apa yang ditorehkan lagu tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memaafkan juga tidak akan membuat kita rugi karena justru akan memberi kita Keajaiban atau Mujizat berkat. Bisakah kita? Kita seringkali mendengar banyak sekali pepatah bijak mengatakan bahwa “kunci dari kebahagiaan diawali dengan memaafkan”, saya sangat setuju dengan ungkapan tersebut. Banyak sekali musibah didalam hidup karena pintu maaf sudah terkunci. Musibah itu sekarang sudah merajalela sekarang dan dalam berbagai bentuknya, sakit fisik (kanker, tumor, darah tinggi dan stroke), pekerjaan dan keuangan yang tidak kunjung baik, dan ujung-ujungnya rumah tangga yang berantakan (orang yang dicintai tak jarang yang menjadi korban atas ke egoisan memendam amarah dan dendam).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan yang seringkali menjengkelkan, jika kita mengetahui orang mempunyai masalah bukannya berfokus mencari solusi tetapi malah cari perhatian. Sebenarnya apa yang diinginkan? Ya, yang diinginkan adalah penerimaan dan dicintai. Ini adalah salah satu indikasi orang yang belum menerima dan mencintai dirinya sendiri atau mencintai dirinya sendiri. Masalah bisa selesai saat kita bertemu dengan sumber masalahnya, apa sumber masalahnya? Ya, diri kita sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu ilustrasi, anggaplah Anda memakai baju berwarna merah, lalu anda bercermin dan melihat Anda tidak cocok dengan baju tersebut, apa yang Anda lakukan? Ganti baju atau cerminnya diganti supaya warna baju sesuai? Jelas ganti baju, nah sama halnya dengan kehidupan sehari-hari kita. Apa yang terjadi didalam kehidupan kita kontrol dan asalnya ada pada diri kita, bukan orang lain yang perlu berubah tetapi diri kita dahulu. Bukan cerminnya, kita yang ganti baju. Kini kuncinya ada di diri kita masing-masing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu contoh lagi, Tiger Woods, sungguh berbahagia dia memiliki ayah yang luar biasa. Ayahnya berkata, “Ketekunan berlatih, tekad kuat untuk meraih kemenangan, tabah mengatasi kekalahan merupakan ciri-ciri Tiger Woods.” Walaupun mengalami diskriminasi dibeberapa klub golf, namun Ayahnya berpesan secara arif “Jangan sampai kau sakit hati dan memupuk dendam. Kau harus mengasihani orang-orang yang masih rasialis.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disepanjang perjalanan karier dan bisnis, tidak dapat dipungkiri bahwa kita harus berhadapan dengan berbagai jenis kepribadian manusia. Roberta Cava, dalam bukunya Dealing With Difficult People, menunjukkan ciri-ciri kepribadian yang berpotensi menyulitkan kita, yaitu:&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Mereka yang sering membuat kita emosional.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mereka yang membuat kita terpaksa melakukan sesuatu yang sesungguhnya tidak kita ingin lakukan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mereka yang mencegah atau menghalangi kita untuk melakukan sesuatu yang seharusnya kita lakukan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mereka yang suka menimbulkan perasaan bersalah jika kita tidak melakukan sesuatu yang sesuai dengan keinginannya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mereka yang suka menimbulkan perasaan-perasaan negative terhadap kita seperti frustasi, marah, minder, iri, depresi, dan sebagainya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mereka yang selalu menggunakan kekerasan dan memanipulasi untuk mencapai tujuannnya.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
Kita tidak mungkin dapat mengendalikan sikap orang-orang tersebut. Tidak ada yang dapat kita lakukan untuk mencegah mereka agar tidak berbuat negative. Namun, kita bisa mengelola hati kita. Daripada sibuk menyimpan kekesalan, dendam, dan amarah yang jelas-jelas tidak berguna, bukankah lebih baik jika kita berpikir tentang cara agar kita dapat menaklukan musuh tanpa harus bertempur? Ingatlah bahwa tak ada yang lebih hebat yang dapat menghambat kebahagiaan kita daripada rasa benci, marah dan kesal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidaklah penting apa yang dilakukan seseorang terhadap kita atau besarnya kesalahan mereka. Jika kita tidak memaafkannya, kitalah yang akan menanggung akibatnya. Memaafkan dan mengampuni orang lain membebaskan kita dari kelumpuhan hidup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyimpan rasa dendam dan amarah memboroskan tenaga dan energi yang dapat kita arahkan menuju kebahagiaan. Jika kita rela memaafkan, kita dapat menyumbang lebih banyak pada kehidupan dan merasa bahagia terhadap diri sendiri dan orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengampunan itu menyembuhkan. Pengampunan itu membuka hati kita, membebaskan emosi-emosi kita, melepaskan energi yang tersumbat didalam tubuh, dan membiarkan dya hidup mengalir bebas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengampuni dan melupakan memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tindakan ini diperlukan kerendahan dan kebesaran hati. Namun, itulah satu-satunya cara untuk menempuh jalan menuju kebahagiaan dan kesuksesan sejati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hidup ini akan semakin terasa sangat singkat kalau hanya untuk Membenci, tidak satupun diantara kita yang paling sempurna dan paling suci, mari kita maafkan ayah ibu kita, anak-anak kita, suami kita, istri kita, saudara-saudara kita, bos kita, karyawan kita, pembantu kita, teman dan sahabat kita. ada banyak cara memberi dan meminta maaf, jika kita masih malu dan ragu bertemu, via SMS dan FB bisa menjadi pendahuluannya. Dan ini dapat dimulai dari kita, untuk kehidupan kita sendiri yang lebih baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak sekali mujizat dan keajaiban terjadi hanya dengan memaafkan, klien-klien saya bebas dari sakit yang menahun, tumor dan kangker hanya dengan memaafkan. Usahanya bangkit dan kondisi keuangan semakin meningkat hanya memaafkan. Keluarga kembali utuh hanya dengan memaafkan. Anak berubah semakin baik, serta pasangan hidup semakin saling mencintai hanya karena memaafkan. Jadi tunggu apalagi? Mujizat dan keajaiban tercepat sudah ada didalam hidup kita, tergantung kita mau mengaktifkan apa tidak? Saat “tombol maaf” kita tekan maka saat itu juga kehidupan kita berubah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber Artikel: &lt;a href="http://www.timothywibowo.com/mengungkap-rahasia-keajaiban-dan-mujizat-dalam-kehidupan" rel="bookmark" target="_blank" title="Permanent Link to Mengungkap Rahasia Keajaiban dan Mujizat dalam Kehidupan"&gt;Mengungkap Rahasia Keajaiban&lt;/a&gt;</description><link>http://blogfajargumelar.blogspot.com/2013/05/mengungkap-rahasia-keajaiban-dan.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhLsBRJZhZ6O_lGkkKF8plHC3gklJitpJ8UUiPmv8HEnPTWGR37nbIRHxC1S7f4j7fOtP_UKJzIb_8MwQV7io_gyHuNDavpqn1w7dshpUdgqTuAQ4QiFAsM539NFQuJi_kC_e8kS-72ZNFA/s72-c/post-20.jpg" width="72"/><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8755146193009804155.post-4931652162923837913</guid><pubDate>Thu, 09 May 2013 06:38:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-08T23:38:46.540-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Blog</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Internet</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Sosial Media</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Website</category><title>10 Cara Membuat Website Anda Tampak Profesional</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhM7Kq-A3JUwA8vi-ofgqmQEbaDDbtoH47Paz8MgA_MXCpK2OkI2ErhVxgCGXq8Z-FKgc0nMyYO5duHM8YYLY2gOK_StxB6ghw1G79PedIe1PfscvzsHyQMV1sjaMtPaxuAXeObYNse0CSL/s1600/post-1.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="131" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhM7Kq-A3JUwA8vi-ofgqmQEbaDDbtoH47Paz8MgA_MXCpK2OkI2ErhVxgCGXq8Z-FKgc0nMyYO5duHM8YYLY2gOK_StxB6ghw1G79PedIe1PfscvzsHyQMV1sjaMtPaxuAXeObYNse0CSL/s200/post-1.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Anda mungkin memiliki sebuah website untuk sejumlah alasan. Jika anda ingin menjual produk, maka anda membutuhkan sebuah website untuk mendisplay produk anda dan memungkinkan orang untuk menghubungi atau membeli produk anda. Jika anda seorang profesional, maka anda membutuhkan sebuah website untuk menunjukkan siapa anda, profesi anda dan apa yang dapat anda lakukan, sehingga orang dapat menghubungi dan menggunakan jasa anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuan dari membuat website adalah segala hal tentang mempromosikan diri anda, baik itu merek, produk atau nama pribadi anda. Tidak akan ada yang pernah tahu tentang merek anda kecuali anda menempatkannya diluar sana, dan jika profesi anda sebagai seorang desainer, developer, penulis, fotografer atau berbagai macam jenis lainnya yang kreatif, maka penting bahwa anda memiliki sebuah website portofolio yang baik. Lantas bagaimana cara membuat sebuah website yang baik?&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;1. Logo&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Logo adalah hal pertama yang dilihat oleh pengguna online. Di dunia barat, kita membaca dari kiri ke kanan, atas ke bawah, sehingga masuk akal untuk menempatkan logo anda di kiri atas atau di tengah atas website anda sehingga pengguna bisa segera mengidentifikasi siapa yang memiliki website. Logo anda merupakan indikasi pertama dari “gaya pribadi” anda kepada orang-orang mengunjungi situs anda. Mencerminkan jenis pekerjaan yang anda lakukan dalam logo anda akan membantu menciptakan sebuah brand yang lebih konsisten di website anda. Ini adalah bagian dari portofolio anda sehingga tampak unik dan mudah untuk diingat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Logo tidak selalu harus menyertakan nama brand anda, tetapi juga tidak ada salahnya memiliki nama brand di suatu tempat di dekat logo atau dalam tagline anda. Dan juga penting untuk selalu menghubungkan logo ke halaman home website anda, karena hal ini umumnya diharapkan dari semua pengguna online saat ini dan untuk memudahkan navigasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2. Tagline&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah pengguna melihat website anda, mereka akan ingin tahu apa yang anda lakukan. Ini adalah dimana anda menjelaskan apa yang anda lakukan dengan tagline. Tagline anda harus pendek dan tajam, meringkas apa yang anda lakukan. Tagline anda adalah deskripsi dari siapa anda, apa yang anda lakukan dan yang paling penting, customer anda akan menerima layanan seperti yang tertulis dalam kalimat pendek atau slogan anda. Kadangkala menulis tagline yang mengesankan bisa saja sulit, terutama jika anda masih mencoba untuk mencari tahu merek anda secara keseluruhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tagline anda harus dapat berkomunikasi dengan jelas dan tepat pada sasaran. Ingatlah bahwa anda menjual manfaat dari apa yang anda tawarkan, bukan fitur! Customer yang melihat portofolio tidak punya waktu untuk menguraikan jargon atau kata-kata yang besar. Tagline yang paling efektif adalah ketika audiens anda dapat memahaminya dengan segera dan cukup ditulis alam satu kalimat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;3. Portfolio&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Portofolio akan menentukan apakah website anda menarik atau tidak. Pengunjung website anda ingin melihat pekerjaan atau project anda sebelumnya, untuk memutuskan apakah anda cukup baik atau tidak dengan apa yang telah anda selesaikan hingga saat ini. Website anda harus memiliki portofolio bergambar yang jelas, berkualitas dan mudah diakses oleh pengunjung website anda. Selalu sertakan link ke situs website dari setiap project yang telah anda kerjakan, atau link screenshot anda ke versi live. Sertakan penjelasan singkat untuk setiap project, termasuk keterampilan berbeda yang anda butuhkan untuk menyelesaikan project tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan lebih baik lagi apabila anda dapat menampilkan testimonial dari customer anda, karena pengunjung anda juga mungkin tertarik untuk melihat hasil akhir dari project yang telah anda kerjakan.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;4. Service&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tagline akan menyimpulkan apa yang anda lakukan, tetapi disini anda perlu untuk membuatnya lebih detail dan memberikan penjelasan sedikit lebih lanjut tentang apa yang anda tawarkan. Anda tidak dapat mengharapkan orang untuk menebak-nebak apa yang anda lakukan berdasarkan pada portofolio anda, dan anda tidak ingin membuat mereka bertanya-tanya apakah anda menawarkan layanan tertentu atau tidak. Berikan keterangan yang jelas dan tulis secara detail tentang apa yang anda tawarkan, apakah itu produk, desain web, video editing, copywriting, branding dan sebagainya.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;5. About&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disini adalah tempat untuk menceritakan semua tentang anda, mulai dari latar belakang anda, dari mana anda berasal, berapa tahun anda sudah berkecimpung dalam bisnis ini dan sebagainya. Semakin jelas infromasi yang anda berikan, maka semakin baik pula pengunjung website dapat membentuk ikatan dan membangun kepercayaan dengan anda. Jangan takut untuk memperlihatkan prestasi dan penghargaan anda disini, anda perlu menunjukkan bahwa anda kompeten pada apa yang anda lakukan.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;6. Contact&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah salah satu aspek yang paling penting dari sebuah website, tetapi seringkali banyak orang membuatnya tampak tersembunyi atau bahkan diabaikan. Apabila seorang potensial customer telah melihat website anda, terkesan dengan portofolio anda dan telah mengenal siapa anda. Berikutnya yang paling penting adalah bagaimana mereka dapat menghubungi anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Informasi kontak anda harus jelas dan mudah untuk diakses, jangan menyembunyikannya di footer. Biarkan orang tahu bahwa mereka dapat menghubungi anda untuk meminta penawaran atau chatting. Gunakan formulir atau contact form untuk memudahkan orang dalam menghubungi anda (sehingga mereka tidak perlu repot-repot mencatat atau mengingat alamat email anda). Dengan formulir atau contact form maka akan memungkinkan bagi anda untuk meminta informasi spesifik, seperti nama, alamat email, nomor telepon dan sebagainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;7. Blog&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menulis artikel dalam sebuah blog selalu merupakan ide yang bagus. Tulislah blog tentang bidang keahlian anda, hal itu akan menunjukkan bahwa anda tahu apa yang anda bicarakan. Hal ini akan membantu mempromosikan diri anda dan mencegah website anda berada dalam kondisi statis atau tidak ter-update.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan juga selalu pastikan untuk mengaktifkan komentar umpan balik. Jangan membuat pengguna harus mendaftar terlebih dahulu hanya untuk menulis komentar di blog anda dan jangan menggunakan software anti-spam Captcha, karena hal ini hanya akan membuat orang malas untuk menulis komentar. Ada banyak plugin anti-spam tersedia yang tidak memerlukan pengguna untuk melakukan pekerjaan tambahan dalam menulis komentar.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;8. Call to Action&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanyakan kepada diri anda, apa yang paling anda inginkan dari website anda. Apakah anda ingin mendapatkan banyak order? Ingin menarik lebih banyak pembaca datang ke blog anda? Atau mungkin anda hanya ingin orang tahu dan mengenal siapa anda? Dalam setiap halaman website anda harus memiliki bagian Call to Action, cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan memberi tombol untuk Action yang dapat terlihat jelas dan menonjol di setiap halaman. Atau bisa juga dengan memberi link yang terhubung ke halaman portofolio atau halaman kontak anda.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;9. Use Social Networking Websites&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah membaca banyak bagian dalam website anda, kini mereka yang telah berminat kepada produk, jasa atau penawaran anda, akan mendorong mereka untuk mengikuti anda melalui situs-situs jejaring sosial yang lain. Anda dapat memberi penjelasan pada mereka, bahwa mereka dapat mengikuti anda di Twitter, Facebook, Flickr, LinkedIn, dan sebagainya. Manfaatkan situs jaringan sosial ini, karena kelak akan menjadi salah satu aset utama anda dalam mengelola bisnis online.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;10. Language and Communication&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagian yang terakhir adalah komunikasi. Anda perlu membangun komunikasi dengan setiap pengunjung website anda, karena suatu saat mereka dapat menjadi calon potensial customer anda. Jadilah ramah dan bersahabat, tetapi juga jelas dan tepat, jangan bertele-tele.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber Artikel: &lt;a href="http://www.momendix.com/10-cara-membuat-website-anda-tampak-profesional" target="_blank"&gt;Membuat WeBsite&lt;/a&gt;</description><link>http://blogfajargumelar.blogspot.com/2013/05/10-cara-membuat-website-anda-tampak.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhM7Kq-A3JUwA8vi-ofgqmQEbaDDbtoH47Paz8MgA_MXCpK2OkI2ErhVxgCGXq8Z-FKgc0nMyYO5duHM8YYLY2gOK_StxB6ghw1G79PedIe1PfscvzsHyQMV1sjaMtPaxuAXeObYNse0CSL/s72-c/post-1.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8755146193009804155.post-6840733087770606145</guid><pubDate>Thu, 09 May 2013 06:30:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-08T23:30:47.114-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel Pendidikan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pendidikan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pendidikan Karakter</category><title>Menanamkan Pendidikan Karakter Bangsa Adalah Suatu Prioritas</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgp7kPaFgrT1azAxJi70iGhn4Aqzs4Yiv38neoB6_oho8TecqEY0ajNbQQwtqXdy6ggiTCilVykXq3SAhbmo3NrT11dHTsR_kjWVtr_uhuiKJmKFVjRkfImjFS4N9JGEOWBLRaq63r-vTvh/s1600/post-27.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgp7kPaFgrT1azAxJi70iGhn4Aqzs4Yiv38neoB6_oho8TecqEY0ajNbQQwtqXdy6ggiTCilVykXq3SAhbmo3NrT11dHTsR_kjWVtr_uhuiKJmKFVjRkfImjFS4N9JGEOWBLRaq63r-vTvh/s200/post-27.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Mendidik karakter adalah bahasan unik, mengapa unik? Karena bahasan ini bisa “lari” kemana-mana bila kita membahas tentang manusia. Dan masalah tentang manusia adalah pekerjaan yang tidak ada habisnya, dari manusia lahir hingga meninggal banyak kejadian ajaib serta memalukan terjadi dalam kehidupannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manusia adalah faktor penting dalam menciptakan kehidupan yang baik. Kehidupan yang baik dan sejahtera itu dapat dibentuk dan diciptakan. Pertanyaannya bagaimana membentuknya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bentuklah dari kebiasaan. Sebagai contoh, di Hong Kong kepadatan lalu lintas tidak seruwet di Jakarta, bahkan cenderung sepi dan lenggang. Dengan penduduk sekitar 8,8 juta lalu lintas kendaraan di Hong Kong termasuk lenggang, bahkan hari-hari sibuk juga lenggang. Apa orang hongkong tidak memiliki kendaraan? Tidak, ternyata di Hong Kong ada 2 kehidupan, kehidupan di dunia atas dan dunia bawah. Dunia atas adalah dunia yang saya maksudkan lenggang, tetapi dunia bawah adalah jalur subway atau kereta bawah tanah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jelas lebih padat aktifitas transportasi di dunia bawah. Hampir semua penduduk Hong Kong menggunakan fasilitas ini. Walaupun padat, tetapi meraka sangat teratur. Keluar melalui pintu samping kanan dan penumpang masuk melalui pintu samping kiri, rapi dan teratur. Bagaimana ini bisa terjadi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ternyata ini adalah proses dari pembiasaan, hal ini sudah di biasakan sejak anak di sekolah dasar, sekolah mengajarkan keteraturan-keteraturan ini sejak usia dini. Mereka dibiasakan untuk melakukan ini, sehingga kelak mereka terbiasa. Para pembaca sekalian, anda tahu berapa waktu yang di butuhkan untuk membentuk karakter seperti ini? Apakah 6 bulan? 1 tahun? Ini butuh proses yang cukup lama dan perlu dibudayakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Indonesia memiliki nenek moyang yang ramah tamah dan sangat santun dalam berelasi dengan sesama dan kehidupan kesehariannya. Tetapi mengapa hingga ke belakang (saat ini), nilai itu pudar semua? Australia, suku asli Aborigin, mereka jauh tidak beradap dan jauh lebih brutal dari nenek moyang kita, tetapi kini mereka masuk dalam kategori negara yang sangat teratur dan tingkat kehidupan yang cenderung makmur. Ungkap seorang kawan yang bercerita kepada saya. Teringat juga saya ketika rekan saya lebih tepatnya dosen pembimbing skripsi saya saat pulang dari Australia dan kita bertemu di tahun 2012. Dia bercerita, saat terjadi banjir yang melumpuhkan Brisbane, dosen saya termasuk orang yang beruntung karena dia tinggal di flat yang agak tinggi dan tidak perlu mengungsi. “Orang disana tidak egois, rumah yang masih ada penghuninya saling di datangi, entah mereka kenal apa tidak. Mereka ketok setiap pintu mereka tawarkan bahan makan dan selimut, bertanya apa yang kita butuhkan, mereka saling berbagi dengan mudahnya dan ikhlas”, “apakah itu petugas khusus penanganan bencana yang datang kerumah anda?” tanya saya, “bukan, itu adalah tetangga–tetangga saya yang senasib dengan saya, dan mereka tidak tinggal di pengungsian” merinding saya dengar cerita tersebut. Bagaimana mereka dapat hidup berdampingan seperti itu dan memperlakukan orang lain yang bukan asli Australia seperti itu, tanpa pamrih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seandainya kita bisa berlaku seperti negara tetangga kita, indahnya hidup dan kebersamaan ini. Hingga akhirnya saya diberi tahu suatu fakta yang membuat otak saya “kram” sesaat. Ternyata untuk mendidik dan menanamkan sikap seperti di negara tetangga kita itu butuh waktu minimal 16 tahun, secara kontinyu dan konsisten. Dan untuk mendidik anak baca dan tulis serta berhitung tidak lebih dari 6 bulan. Orangtua di Australia, tidak pusing jika anaknya belum bisa baca tulis, karena itu akan dikuasai dalam 6 bulan ke depan, tetapi sikap disiplin dan pembentukan karakter diterapkan sedini mungkin, mereka tahu itu lebih penting dari sekedar baca tulis diusia 3 -5 tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semoga hal ini bermanfaat, dapat membawa pencerahan dan kebaikan bagi negara kita, dan tetap semangat dan majulah pendidikan karakter di Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber Artikel: &lt;a href="http://www.pendidikankarakter.com/menanamkan-pendidikan-karakter-bangsa-adalah-suatu-prioritas/" target="_blank"&gt;Pendidikan Karakter&lt;/a&gt;</description><link>http://blogfajargumelar.blogspot.com/2013/05/menanamkan-pendidikan-karakter-bangsa.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgp7kPaFgrT1azAxJi70iGhn4Aqzs4Yiv38neoB6_oho8TecqEY0ajNbQQwtqXdy6ggiTCilVykXq3SAhbmo3NrT11dHTsR_kjWVtr_uhuiKJmKFVjRkfImjFS4N9JGEOWBLRaq63r-vTvh/s72-c/post-27.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8755146193009804155.post-6289969435885892339</guid><pubDate>Thu, 09 May 2013 06:27:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-08T23:27:49.633-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel Pendidikan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pendidikan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pendidikan Karakter</category><title>Langkah Awal Dalam Pendidikan Karakter</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgEOqWY4lkKWq0qwqZdMsB07uZjCv9MZ6fnmyThsrpeCpAIcLafVdE_i4KHVw_V1YKzLsyJSrPNR2PUboGuqUKAUWBoSrsuZPH47HI4Gvj9GCSV2KiTineXJ5sMhhJ2e-3NnXvQ8oVfMYcx/s1600/post-26.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="211" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgEOqWY4lkKWq0qwqZdMsB07uZjCv9MZ6fnmyThsrpeCpAIcLafVdE_i4KHVw_V1YKzLsyJSrPNR2PUboGuqUKAUWBoSrsuZPH47HI4Gvj9GCSV2KiTineXJ5sMhhJ2e-3NnXvQ8oVfMYcx/s320/post-26.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Komitmen merupakan langkah awal jika ingin memiliki karakter yang baik, tetapi komitmen seperti apa yang dibutuhkan untuk mensukseskan pendidikan karakter? Yaitu disiplin terhadap pendidikan karakter itu sendiri. Kali ini kita akan membahas dari sudut pandang sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu ketika saya sempat mempresentasikan tentang pendidikan karakter dan dampaknya terhadap guru dan karyawan sekolah. Saya dan rekan sengaja menyeting agar lingkungan sekolah menjadi padu dengan isu pendidikan karakter yang akan didengungkan oleh sekolah yang bersangkutan. Saat saya menjelaskan tentang peraturan sekolah dan peraturan kelas, terlihat muka yang kurang nyaman, serta respon yang kurang antusias, serta air muka yang seakan berbeban berat menyikapi pelaksanaan pendidikan karakter.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan ditengah-tengah acara saya menjelaskan agar sekolah tidak perlu terburu-buru melakukan perombakan besar dalam aturan sekolah. Saya sangat memahami beban guru dalam mengajar dan kegiatan administrasinya, lakukan step by step yang penting ada komitmen dalam pelaksanaannya dan peliharalah disiplin sebagai motor penggerak pendidikan karakter itu sendiri, itu kuncinya. Disiplin, disiplin dan disiplin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekilas saya jelaskan disiplin orang yang hidup di Indonesia dengan dua musim, berbeda dengan negara yang hidup dengan empat musim. Ketangguhan, daya juang dan inisiatif juga berbeda. Kita di Indonesia adalah wilayah yang tantangan secara alamnya cukup sedikit dibandingkan dengan mereka yang hidup di empat musim. Karena salah satu faktor inilah kita perlu belajar disiplin lebih lagi untuk kehidupan yang lebih baik. Disiplin sangat erat dengan kesuksesan, bahkan disiplin ada dalam satu paket dengan kesuksesan. Apapun yang hendak dicapai dalam kesuksesan itu disiplin adalah dasarnya. Bahkan ukuran disiplin sudah diformulasikan secara rinci oleh Malcolm Gladwell dalam bukunya Outlier, bahwa butuh 10.000 jam kedisiplinan untuk menjadi master dalam bidang apapun. Penyanyi, atlet, profesional di bidang bisnis yang sukses telah melewati proses 10.000 jam. Dan anda tahu siapa saja yang telah menjadi master di bidangnya bukan? Sebut saja, Ruth sahayana, Taufik hidayat, Agnes Monica, Purwacaraka, Juna, Rifat Sungkar, Chairul Tanjung, Hermawan Kertajaya dan masih banyak sekali tokoh yang bisa disebut master di bidangnya masing-masing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendidikan karakter cenderung tak akan pernah tersentuh secara nyata jika ada hanya sebatas proses pemahaman tentang karakter atau hanya bersifat informasi tanpa adanya tindakan. Dewasa ini di media cetak, elektronik dan media internet banyak memberitakan tentang kasus jual beli kunci ujian, contek mencontek, plagiatisme, bahkan kasus kriminal yang dilakukan oleh pelajar, itu semua menunjukan bahwa nilai realisasi karakter bangsa tidak terwujud nyata. Fenomena ini muncul akibat rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;Faktor yang mempengaruhi antara lain :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Rendahnya sarana fisik&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Rendahnya kualitas guru&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Visi dan moralitas pendidik serta anak didik yang rendah&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mahalnya biaya pendidikan Memang menjadi masalah serius di negeri ini&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;br /&gt;
Anggaran pendidikan yang sudah tinggi tidak menjamin sarana fisik yang baik dan biaya pendidikan yang terjangkau, penyebabnya jelas moralitas masyarakat yang mementingkan golongan, kepetingan pribadi dan mendapat keadaan yang tepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keenam halangan ini hanya bisa hilang jika nilai luhur dan pendidikan karakter benar-benar terealisasikan. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal berkaitan dengan permasalah diatas kiranya diperlukan suatu terobosan di dunia pendidikan untuk menciptakan generasi muda yang berkarakter dan berprestas tinggi. Untuk mencapai itu diperlukan inovasi dan pengembangan nilai disiplin serta komitmen dari setiap perangkat sekolah agar pendidikan karakter bisa terus berjalan. Dampak dari pendidikan karakter dapat membangun individu untuk mengenali dirinya sendiri dan mampu menetapkan tujuan pendidikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendidikan karakter sebenarnya sudah ada sejak dulu seperti apa yang diungkapkan Ki Hajar Dewantara melalui Among Metode, dimana ada tiga unsur pendidikan yang harus berjalan sinergis yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. Dengan Among Metode diharapkan anak akan tumbuh sesuai kodrat (naturelijke groei) dan keadaan budaya sendiri (cultuur histories). Sehingga ada tiga hal yang patut dan perlu untuk dikembangkan dalam rangka membangun karakter yang berpendidikan yaitu membangun budaya agar siswa selalu siap dengan perubahan yang semakin kompetitif mengingat budaya itu bersifat kontinue, konvergen dan konsentris (Ki Hajar Dewantara). Perhatikan kata-kata Ki Hajar Dewantara berikut “membangun budaya agar siswa selalu siap dengan perubahan yang semakin kompetitif” artinya diperlukan sikap yang berkomitmen dan disiplin terhadap pelaksanaan pendidikan karakter itu sendiri, dan semua ini dapat dimulai dari kita semua. Sudahkan anda berkomitmen terhadap hal ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai informasi tambahan, kami memberikan E-book Gratis 6 Cara Mendisiplinkan Anak yang dapat anda pelajari agar kita semua dapat memaksimalkan pendidikan karakter di negara kita dan ikut menciptakan kehidupan yang lebih baik serta mewarisikan hal terindah bagi anak cucu kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber artikel: &lt;a href="http://www.pendidikankarakter.com/langkah-awal-dalam-pendidikan-karakter/" target="_blank"&gt;Pendidikan Karakter &lt;/a&gt;</description><link>http://blogfajargumelar.blogspot.com/2013/05/langkah-awal-dalam-pendidikan-karakter.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgEOqWY4lkKWq0qwqZdMsB07uZjCv9MZ6fnmyThsrpeCpAIcLafVdE_i4KHVw_V1YKzLsyJSrPNR2PUboGuqUKAUWBoSrsuZPH47HI4Gvj9GCSV2KiTineXJ5sMhhJ2e-3NnXvQ8oVfMYcx/s72-c/post-26.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8755146193009804155.post-2190181347574109723</guid><pubDate>Thu, 09 May 2013 06:25:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-08T23:25:09.496-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel Pendidikan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pendidikan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pendidikan Karakter</category><title>3 Misteri Dibalik Nilai Anak Yang Hancur</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhNaAbvG7fNXov4BDGO2l0X3k0cXmQ5Vduj72HGlFHkZl1DMR8OsefA8D18ruoB1gRytZbopc-WDy3JffQy5K8Aa9OKyb3t3xjSKvl7EY1wpN3NlxVCBQslH9gV-BnBxmz_pAQ62cSzYVC-/s1600/post-22.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhNaAbvG7fNXov4BDGO2l0X3k0cXmQ5Vduj72HGlFHkZl1DMR8OsefA8D18ruoB1gRytZbopc-WDy3JffQy5K8Aa9OKyb3t3xjSKvl7EY1wpN3NlxVCBQslH9gV-BnBxmz_pAQ62cSzYVC-/s200/post-22.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Berikut ini adalah artikel yang berfokus pada pola dan masalah belajar anak. Banyak sekali pertanyaan tentang hal ini yang muncul di website kami, berkaitan mengenai masalah belajar anak. Kita akan memahami dan belajar tentang faktor psikologis mengapa anak bermasalah dengan nilai di sekolah. Sebelum kita lebih jauh berinteraksi, pahami bahwa nilai atau angka(simbol) bukan satu-satunya penentu kesuksesan anak kelak di masa depan. Semua yang dialami saat dia sekolah akan banyak yang tidak digunakan kelak, jadi model pendidikan apa yang akan digunakan seorang anak hingga dia dewasa dan dapat diwariskan? Ya, didiklah karakternya dan tanamkan kesuksesan sejak awal di ladang karakternya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenapa seorang anak ketika belajar di rumah bisa, diberi soal lebih susah daripada di sekolah juga bisa, bahkan waktu di tempat les dia diberi latihan soal yang banyak juga bisa, meskipun soalnya lebih sulit juga bisa, tetapi ketika ulangan tiba-tiba nilainya jelek. Nah apakah anda pernah punya masalah seperti ini? Anda yang punya anak SD, pasti sering mengalami masalah-masalah seperti ini. Anda pasti merasa jengkel ketika mengetahui bahwa anak anda yang tadi malam belajar sudah bisa semua, tapi ketika ulangan ternyata ulangannya dapat nilai jelek. Jika ini terjadi sekali dua kali mungkin anda bisa memakluminya, tapi jika ini terjadi berulang kali, anda pasti mulai jengkel pada anak anda. Bahkan bisa jadi anda frustasi dan kemudian malah mengeluarkan kata-kata negatif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah apakah yang terjadi dibalik masalah ini. Seorang anak yang bisa sewaktu mengerjakan soal di rumah dan kemudian gagal waktu dia ulangan. Untuk hal-hal yang sama dan itu berulang kali, maka ada tiga hal yang perlu anda waspadai:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Anda perlu curiga bahwa anak ini mengalami kecemasan yang tersembunyi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anda pasti bertanya nggak mungkin? dia cemas dari mana….kenapa koq dia cemas?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kecemasan yang tersembunyi ini disebabkan oleh banyak faktor. Ya, jadi bisa jadi tuntutan yang terlalu tinggi dari kita orang tua atau mungkin bahkan dari gurunya. Tuntutan ini tidak bisa membuat si anak menunjukkan kwalitas optimalnya. Sehingga ketika ulangan,yang terbayang adalah ketakutan bahwa dia tidak bisa memenuhi tutuntan dari si orang tua. Atau tuntutan dari gurunya mungkin. Nah anda tahu, Ketika kita itu cemas maka kita tidak bisa berpikir secara jernih.Anda tentu pernah mengalaminya bukan? ketika anda sedang cemas, sedang stres berat. Maka hal yang sepele tentunya bisa jadi terlupakan. Nah ini yang terjadi pada anak-anak kita. Mereka cemas karena tuntutan kita yang terlalu tinggi,atau keharusan untuk menguasai sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika mereka merasa tidak mampu,kecemasan itu menghantui pikirannya. Dan apa yang telah mereka pelajari sebelumnya tiba-tiba “blank”, pada saat ulangan. Ini juga sering terjadi pada kita. Ingatkah anda pada saat dulu anda kuliah? Mungkin masih SMA bahkan? Ketika kita ulangan tiba-tiba saja mendadak lupa akan jawaban yang harus kita tuliskan disana. Padahal tadi malam jelas-jelas kita sudah belajar, hal tersebut. Nah ketika kita menghadapi ulangan tiba-tiba saja hilang jawabannya. Apalagi ketika sang guru atau dosen mengatakan 5 menit lagi anda harus mengumpulkan,dan waktunya habis. Oke, makin kita paksa akhirnya kita stress dan akhirnya kita lupa. Dan anehnya ketika kita sudah mengumpulkan lembar jawaban, keluar dari ruang ujian tiba-tiba jawabannya muncul dalam pikiran kita. “ahh..” kenapa tidak dari tadi munculnya, anda pasti menggerutu pada diri anda sendiri. Anda pernah mengalami hal itu bukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah ini yang terjadi pada anak-anak kita. Jadi ketika mereka ulangan,maka sebaiknya jangan sampai mereka itu cemas. Tuntutan – tuntutan kita membuat mereka cemas. karena itu kita perlu instropeksi diri, apakah selama ini kita sudah menerima mereka apa adanya. Ya,kebanyakan dari kita berharap agar nilai mereka bagus. Tapi begitu nilai mereka jelek, kita mulai menuntut mereka. “Kenapa sih nilai kamu koq jelek?” Jarang sekali ada orang tua yang mengatakan, “oh iya saya bisa memahami kamu na, Apa yang mama/papa bisa bantu agar lain kali nilaimu lebih bagus lagi”. Jadi ketika seorang anak mempunyai nilai jelek, hal yang kita perlu lakukan adalah memahami dulu perasaannya. Saya yakin anak itupun tidak ingin nilainya jelek, bukan hanya kita. Diapun juga tidak ingin nilainya jelek tentunya. Tapi kenyataan yang dihadapi lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika nilainya sudah jelek, dia sedih tetapi kita malah memarahi dia. Dia akan merasa bahwa dirinya tidak dipahami dan tidak dimengerti. Di lain hari kecemasan itu muncul dalam dirinya. Dia akan merasa, “aduh kalau saya jelek lagi saya pasti dimarahi lagi”, “saya pasti mengecewakan mama saya”. Pernah ada satu kasus dimana seorang anak tidak mau berangkat sekolah gara-gara hari itu ada ulangan. Dia mengatakan pada mamanya saya takut ma, “kenapa takut?” Tanya mamanya. “saya takut mengecewakan mama kalau nilai saya jelek”. Dan ini dilontarkan oleh seorang anak kelas 2 SD. Nah,dari kejadian tersebut sang mama belajar bahwa selama ini, dia sering berkata “mama nga masalah dengan nilai mu”. Tetapi kenyataannya dia membuat anaknya cemas. Jadi terkadang kita sebagai orang tua hanya mengatakan, “nggak.. nilai berapapun saya nggak masalah koq”. Tapi ternyata itu hanya di mulut saja. kenyataannya si anak merasakan hal yang berbeda, dia merasakan tuntutan orang tua yang terlalu tinggi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah, untuk masalah ini sebaiknya kita perlu koreksi diri bagaimana caranya kita menerima seorang anak apa adanya, tidak tergantung dari nilainya. Ingat sebenernya nilai itu hanya mengindikasikan dia sudah bisa atau belum.Berbahagialah ketika nilai anak anda jelek. Karena apa? sekarang anda tahu mana yang dia itu belum bisa. Pembelajaran yang baik harusnya ditujukan untuk meningkatkan seorang anak sehingga ia bisa kompeten di dalam bidangnya. Bukan untuk melabel dia pintar atau bodoh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Sebab yang lain adalah karena perlakuan-perlakuan negatif yang pernah di terima seorang anak bisa di rumah, bisa di sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misalnya, ketika seorang anak nilainya jelek, kemudian kita marah-marahin dia, bahkan mungkin di hukum. Suruh berdiri di pojok, nggak boleh makan. Atau apapun yang kita bisa lakukan untuk itu. Nah ketika dia menerima perlakuan itu,maka perlakuan itu akan membekas di memorinya. Berikutnya ketika dia ulangan lagi di lain kesempatan maka yang dia liat di lembar soalnya bukan soal yang harus dibaca, tetapi wajah orang tuanya yang sedang marah. Wajah ini tiba-tiba saja muncul terbayang di dalam pikirannya. Anda bisa bayangkan jika kita berhadapan dengan soal ujian dan kemudian yang muncul adalah ketakutan membayangkan wajah orang tua yang sedang marah, karena kita tidak bisa. Atau mungkin wajah guru yang memalukan kita di depan teman-teman kita. Maka semua yang kita pelajari tiba-tiba saja menjadi hilang dan akhirnya ulangannya jelek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baiklah, jika ini terjadi sebaiknya anda perlu segera minta maaf pada anak anda. Anda cukup mengatakan, “tempo hari waktu ulangan kamu jelek,dan kemudian papa atau mama marah sama kamu saat itu perasaan kamu bagaimana?” apapun yang di jawab oleh anak anda terima apa adanya. Misalkan dia menjawab, Saya takutlah, saya merasa ini itu apapun itu anda tinggal ngomong “Oke Maaf, papa mungkin saat itu keceplosan ngomong. Atau mungkin saat itu mama lepas control sehingga memarahi kamu terlalu dalam. Tapi sebenernya maksud mama sangat baik. Kamu mau nggak maafin mama? Mama lain kali janji akan mendukung kamu jika nilai kamu jelek, kita akan cari solusinya sama-sama dan kamu boleh tanya sama mama bagaimana supaya jadi nilainya baik. Kamu pasti kepengen nilai kamu juga baik juga kan?” Nah, itu tentunya jauh lebih baik bagi si anak. Daripada kita hanya sekedar memarahinya, memintanya belajar, memaksanya belajar tanpa sama sekali mengakui perasaannya untuk diberi kasih saying dan untuk di terima apa adanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Sebab yang lain adalah kurangnya perhatian berkualitas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin anda bertanya, “ah mana mungkin saya tidak memperhatikan anak saya”. Betul,saya percaya dan yakin bahwa setiap orang tua pasti memperhatikan anaknya.Tetapi terkadang perhatian yang kita berikan itu tidak cocok dengan apa yang diinginkan oleh si anak, yang saya maksud dengan perhatian di sini adalah perhatian yang berkuwalitas. Dalam arti kita memperhatikan juga perasaan-perasaan si anak. Bukan Cuma memperhatikan tugas-tugas yang dia harus slesaikan. Kebanyakan dari kita hanya memperhatikan tugas –tugas yang harus di selesaikan oleh seorang anak. Kita hanya memperhatikan kamu sudah ngerjakan PR belum? kamu sudah belajar belum? pensil kamu sudah diraut belum? Besok kalau ulangan kamu sudah siapkan pensil atau bolpointnya? Buku kamu sudah kamu siapin belum? kita hanya memperhatikan aspek-aspek fisik. Kita tidak memperhatikan aspek-aspek perasaan dari si anak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Padahal yang jauh lebih dibutuhkanseorang anak adalah perhatian akan perasaan-perasaannya sehingga dia bener-bener di terima secara utuh oleh orang tuanya. Anda bisa memberikan perhatian berkuwalitas ini dengan lebih baik, dengan cara membaca artikel saya yang berjudul “Pentingnya Memahami Kebutuhan Emosional Anak”. Itu adalah salah satu cara terbaik untuk memberikan perhatian berkualitas pada anak Anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber Artikel: &lt;a href="http://www.pendidikankarakter.com/3-misteri-dibalik-nilai-anak-yang-hancur/" target="_blank"&gt;Pendidikan Karakter&lt;/a&gt;</description><link>http://blogfajargumelar.blogspot.com/2013/05/3-misteri-dibalik-nilai-anak-yang-hancur.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhNaAbvG7fNXov4BDGO2l0X3k0cXmQ5Vduj72HGlFHkZl1DMR8OsefA8D18ruoB1gRytZbopc-WDy3JffQy5K8Aa9OKyb3t3xjSKvl7EY1wpN3NlxVCBQslH9gV-BnBxmz_pAQ62cSzYVC-/s72-c/post-22.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8755146193009804155.post-8217232677715889270</guid><pubDate>Thu, 09 May 2013 06:17:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-08T23:17:24.982-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel Pendidikan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pendidikan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pendidikan Karakter</category><title>Pentingnya Membangun Lingkungan Berkarakter</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEilRpUqBB7r-UPyCZrIuJzQC170Wn-Z43xlpZ2vEYVJnH7ZxluJe0ZRMlx_9-iwp_kZ52xS7tyAVhv8WfEwqKL4GzcfsxfI0EDw9WNWDkeylzG_YQfAnqyUnVB0zyDLcMn-F8yMvg4xJ7GB/s1600/post-21.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="211" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEilRpUqBB7r-UPyCZrIuJzQC170Wn-Z43xlpZ2vEYVJnH7ZxluJe0ZRMlx_9-iwp_kZ52xS7tyAVhv8WfEwqKL4GzcfsxfI0EDw9WNWDkeylzG_YQfAnqyUnVB0zyDLcMn-F8yMvg4xJ7GB/s320/post-21.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Banyak sekali email yang masuk dan bertanya apa kunci sukses Pendidikan Karakter. Nah, Kali ini kita akan membahas tentang kunci tersebut, kita akan bahas pentingnya sebuah lingkungan yang berkarakter bagi keberhasilan Pendidikan Karakter. Setujukah anda, bahwa untuk mencapai Pendidikan Karakter yang bermutu dan maksimal, dimulai dengan membangun sebuah lingkungan yang berkarakter?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baiklah, sebelum kita ulas, saya pernah mendengar sebuah pepatah kuno mengatakan: apabila kita berteman dengan penjual minyak wangi, maka kita akan ikut wangi. Sedangkan berteman dengan penjual ikan, maka kita akan ikut amis. Marilah kita renungkan sejenak. Sebenarnya ungkapan tersebut sangat sesuai menggambarkan peran lingkungan dalam kehidupan kita. Lingkungan sangat menentukan proses pembentukan karakter diri seseorang. Lingkungan yang positif bisa membentuk kita menjadi pribadi berkarakter positif, sebaliknya lingkungan yang negatif dan tidak sehat bisa membentuk pribadi yang negatif pula. Lingkungan memiliki peran yang sangat penting dalam membangun karakter-karakter individu yang ada di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang anak kecil yang terbiasa berkata kotor, tentu saja ia meniru dari sekitarnya. Anda tidak perlu jauh-jauh mencari penyebab anak tersebut suka berkata kotor. Tentu saja itu adalah hasil meniru dari lingkungannya. Untuk mengatasinya, lebih baik anda mengatasi dari sumber masalahnya. Untuk menanggulangi penyakit, jangannya anda menunggu salah satu anggota keluarga anda sakit lantas mengobatinya. Bukankah lebih baik anda mulai mengatur pola hidup sehat, sehingga penyakit tidak akan menyerang dan menjangkiti anda. Inilah yang saya maksud dengan mengatasi persoalan dari sumbernya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, apakah sumber masalah anak kita berkata kotor? Saya yakin, anda pasti akan memerintah anak anda untuk berhenti berkata kotor, lalu kalau anak anda kembali mengulang dan tidak patuh dengan perintah anda, anda akan memukulnya. Namun, anak anda justru semakin menjadi-jadi karena ia merasa tidak diberi hak untuk mengatur dirinya sendiri. Anda tidak akan mudah meminta si anak yang terbiasa berkata kotor itu untuk berhenti berkata, sementara orang lain juga melakukan yang sama. Untuk itu, titik pemecahannya adalah dengan menciptakan lingkungan yang sehat bagi anak-anak dan individu yang tinggal di dalamnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lingkungan yang berkarakter sangatlah penting bagi perkembangan individu. Lingkungan yang berkarakter adalah lingkungan yang mendukung terciptanya perwujudan nilai-nilai karakter dalam kehidupan, sepeti karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya, kemandirian dan tanggung jawab, kejujuran / amanah, diplomatis, hormat dan santun, dermawan, suka tolong-menolong, gotong royong / kerjasama dan lain-lain. Karakter tersebut tidak hanya pada tahap pengenalan dan pemahaman saja, namun menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Barangkali dalam benak anda terbayang betapa susahnya membentuk lingkungan yang berkarakter. Semua itu harus dimulai dari diri sendiri yang selanjutnya diteruskan dalam lingkungan keluarga. Diri sendiri harus dibenahi terlebih dahulu sebelum membenahi orang lain. Biasakan membangun pola pikir positif, melakukan kebiasaan-kebiasaan yang baik, membangun karakter diri yang pantang menyerah dan seterusnya. Dalam kehidupan sehari-hari dalam keluarga kita biasakan menerapkan nilai-nilai tersebut. Misalnya, terbiasa jujur dan terbuka pada anak, memberi kesempatan anak berpendapat dalam memutuskan bahan dekorasi rumah, mengajak anak berunding tentang tempat les sekolah, dan mengajak anak untuk ikut berbagi peran dalam menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Hal itu bagian dari proses membangun karakter anak. Salinglah tolong-menolong sesama anggota keluarga. Biasakan anak mengeksplor dirinya. Memberi kesempatan pada anak untuk mengambil keputusan untuk dirinya. Itu merupakan proses demokrasi dalam keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebiaasaan-kebiasaan positif semacam itu pada akhirnya akan diteruskan oleh si anak pada lingkungan sosial yang lebih besar, yakni di sekolah dan masyarakat. Keluarga adalah institusi pertama tempat anak membangun karakternya. Kita sebagai orang tua hendaknya menerapkan pola asuh dan pendidikan yang sehat dan baik dalam keluarga. Dengan begitu, anak-anak kita yang telah tertanam kepribadiannya akan menjadi pribadi yang menyebarkan karakter positif pada lingkungan. Di sekolah, pendidikan karakter juga hendaknya diwujudkan dalam setiap proses pembelajaran, seperti pada metode pembelajaran, muatan kurikulum, penilaian dan lain-lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernahkah anda memberi kesempatan pada anak anda meluangkan waktu untuk bermain? Atau mendorong anak anda untuk menekuni bakat dan minat yang dimilikinya. Sebenarnya kesempatan bergaul dengan sebaya merupakan proses pengembangan karakter anak. Dengan bergaul, anak akan belajar memahami dirinya dan orang lain. Dengan demikian ia akan belajar bagaimana membangun hubungan dengan orang dan lingkungannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di lingkungan sekolah sebenarnya anak didik memiliki wadah untuk mengembangkan diri dan membangun karakter diri melalui kegiatan ekstrakulikuler. Pendidikan ekstrakulikuler merupakan media untuk membangun rasa tanggung jawab, kemampuan bersosialisasi dan interaksi, toleransi, bekerjasama dan lain-lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, seiring dengan tuntutan sekolah dengan berbagai mata pelajaran dan pelatihan untuk Ujian Nasional telah menyita waktu untuk mengembangkan diri mereka. Apakah anda termasuk orangtua yang hanya mendorong anak untuk terus belajar dan mengabaikan minat dan hobi yang dimilikinya? Jika iya, cepat-cepatlah merubah cara pandang anda dan beri kesempatan anak untuk membagi waktu belajar dan bermain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenyataan bahwa kesuksesan seseorang tidak hanya ditentukan oleh prestasi sekolah hendaknya kita sadari. Benar adanya bahwa kemampuan menjalin hubungan dan kecerdasan emosional sebagian besar menentukan proses pengembangan diri dan meraih keberhasilan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika memang demikian, marilah kita ciptakan lingkungan yang berkarakter. Sehingga, putra-putri kita kelak akan menjadi generasi berkarakter yang tidak pantang menyerah ketika menghadapi tantangn dalam hidupnya. Dan mereka akan selalu optimis dalam meraih kesuksesan dengan bekal nilai-nilai yang telah tertanam dalam lingkungan yang berkarakter tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber Artikel: &lt;a href="http://www.pendidikankarakter.com/pentingnya-membangun-lingkungan-berkarakter/" target="_blank"&gt;Pendidikan Karakter &lt;/a&gt;</description><link>http://blogfajargumelar.blogspot.com/2013/05/pentingnya-membangun-lingkungan.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEilRpUqBB7r-UPyCZrIuJzQC170Wn-Z43xlpZ2vEYVJnH7ZxluJe0ZRMlx_9-iwp_kZ52xS7tyAVhv8WfEwqKL4GzcfsxfI0EDw9WNWDkeylzG_YQfAnqyUnVB0zyDLcMn-F8yMvg4xJ7GB/s72-c/post-21.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8755146193009804155.post-3398103658439469415</guid><pubDate>Thu, 09 May 2013 06:14:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-08T23:14:37.174-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel Pendidikan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pendidikan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pendidikan Karakter</category><title>Kekuatan Karakter Bagi Masa Depan Anak</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg98TRyEzqlTwyCME3pMa3aq1qLFSxnHSWDePsk2dPm3toIPxwRD375vxKdEZRg49dcvIV7BNBm3LBl9I0KsDqk21o5L5L4NqRJFTOQ4EKF-34MQVGn1l1UOuiWtErAK070B2Z7eddMMhCC/s1600/post-20.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="131" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg98TRyEzqlTwyCME3pMa3aq1qLFSxnHSWDePsk2dPm3toIPxwRD375vxKdEZRg49dcvIV7BNBm3LBl9I0KsDqk21o5L5L4NqRJFTOQ4EKF-34MQVGn1l1UOuiWtErAK070B2Z7eddMMhCC/s200/post-20.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Saya melihat salah seorang siswa di lingkungan tempat tinggal saya sangat tekun belajar. Sampai-sampai, ia tidak sempat meluangkan waktu untuk bermain dengan teman sebayanya. Tuntutan sekolah yang begitu banyak membuatnya harus berlama-lama di kamar untuk mentransfer informasi yang ada di buku ke dalam otak atau memorinya. Saya sangat kasihan dengan siswa tersebut. Mengapa? Di satu sisi, siswa tersebut memang terasah kemampuan kognitifnya. Namun di sisi lain, ia mengalami ketimpangan atau kelumpuhan emosional (afektif). Hidup itu seperti naik sepeda, perlu sekali menjaga keseimbangan. Jika keseimbangan tidak terjaga maka akan jatuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat siswa tersebut, saya sarankan pada orangtuanya untuk membantu mengatur waktu, agar ia tidak terkurung di dalam kamar, sementara kawan-kawannya asyik bermain. Yang tidak ia sadari, bahwa bermain sebenarnya juga bagian dari proses belajar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti yang kita ketahui, manusia sebenarnya memiliki daya cipta, rasa dan karsa. Karena itu, ketika hanya daya cipta (IQ) saja yang diasah, maka terjadi ketidakseimbangan. Lalu apa yang terjadi? Tentunya, efek dari pola pendidikan yang hanya menitik beratkan pada daya cipta (kognisi / IQ) saja dan mengabaikan rasa (afeksi / EQ) dan karsa (action) akan terasa dan terlihat di kala si anak tumbuh dewasa. Si anak tersebut akan lumpuh sosial. Mengapa saya katakan lumpuh sosial? Lumpuh sosial terjadi ketika si anak tidak mampu menjalin hubungan di lingkungan sosialnya. Padahal, dalam setiap pergaulan di masyarakat, baik pergaulan dalam pekerjaan, pergaulan organisasi, pergaulan di sekolah dan lain-lain pasti butuh untuk menjalin hubungan dan bekerjasama dengan sesama. Pada akhirnya bisa menghambat perkembangan potensi dirinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukankah sudah menjadi kebutuhan mendasar kita sebagai manusia untuk saling bekerjasama. Dengan bekerjasama, sebenarnya kita membuka banyak peluang untuk mempelajari banyak hal. Dengan begitu kita bisa menambah kesempatan untuk mengeksplore diri kita. Inilah letak pentingnya pergaulan dan interaksi sosial.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dulu, orang tua memang mengarahkan anak-anaknya untuk mengasah IQ-nya. Sebab, IQ yang tinggi diartikan sebagai tingkat kecerdasan yang tinggi pula (dan konon jadi resep sukses kalo IQ tinggi). Namun, sebuah kesadaran baru akhirnya muncul bahwa ada kecerdasan lain yang juga tidak bisa diabaikan, yakni kecerdasan emosional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keseimbangan antara kecerdasan kognitif (pengetahuan), perasaan (afektif) dan tindakan (action) akan membangun kekuatan karakter diri yang baik. Karakter diri sangatlah penting peranannya. Sebab, karakter diri adalah cara pikir dan prilaku yang khas dari individu untuk hidup dan bekerjasama dengan sekitarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkadang, karakter diri seseorang terasa tidak seimbang. Ada orang yang memiliki ide-ide brilian namun tidak mampu bekerjasama dengan teamworknya. Itu menunjukkan orang tersebut memiliki kecerdasan IQ yang baik sedang kecerdasan emosionalnya buruk. Ada juga orang yang memiliki otak cemerlang, dia juga baik, namun malas bekerja. Itu menunjukkan actionnya lebih lemah dibanding IQ dan EQ nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karakter diri akan semakin kuat jika ketiga aspek tersebut terpenuhi. Karakter diri yang baik ini akan sangat menentukan proses pengambilan keputusan, berperilaku dan cara pikir kita. Yang pada akhirnya akan menentukan kesuksesan kita. Lihat saja, seorang Nelson Mandela meraih simpati dunia dengan ide perdamaiannya. Bunda Teresa menggetarkan dunia dengan rasa cinta dan kepedulian terhadap sesamanya. Bung Karno dengan ide, kegigihan dan kecerdasannya masih terasa bagi kita bangsa Indonesia yang telah melalui tahun millennium.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua itu adalah wujud dari kekuatan karakter yang mereka miliki. Ini menegaskan bahwa, karakter seseorang menentukan kesuksesan individu. Dan menurut penelitian, kesuksesan seseorang justru 80 persen ditentukan oleh kecerdasan emosinya, sedangkan kecerdasan intelegensianya mendapat porsi 20 persen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Membangun Kekuatan Karakter&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada diri setiap individu memiliki karakternya masing-masing. Lingkungan memiliki peran penting dalam pembentukan karakter. Karakter kita, memiliki peran penting dalam proses kehidupan. Sebab, karakter mengendalikan pikiran dan perilaku kita, yang tentu saja menentukan kesuksesan, cara kita menjalani hidup, meraih obsesi dan menyelesaikan masalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya masing-masing dari kita memiliki karakter yang khas. Dan, kekhasan karakter tersebut merupakan kekuatan karakter kita. Sebab, kekhasan atau keunikan itulah yang membedakan kita dengan individu lainnya. Si penghibur akan menebarkan semangat, si pengatur akan memanajemen organisasi. Mereka yang bijak dan tidak suka konflik bisa menjadi pendamai. Itu semua adalah kekuatan karakter. Dan, setiap karakter akan dibutuhkan dalam setiap pergaulan, baik pergaulan kerja, organisasi atau masyarakat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ingatlah! Kekuatan karakter harus dibangun sejak awal. Membangun kekuatan karakter bisa dilakukan melalui pendidikan karakter baik di lingkungan formal seperti sekolah, atau non-formal seperti keluarga dan masyarakat. Pendidikan karakter diberikan melalui penanaman nilai-nilai karakter. Bisa berupa pengetahuan, kesadaran atau kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Output pendidikan karakter akan terlihat pada terciptanya hubungan baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan, masyarakat luas dan lain-lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendidikan karakter tidak hanya diberikan secara teoritik di sekolah, namun juga perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan itu adalah bukti bahwa pendidikan yang diberikan telah merasuk dalam diri seseorang. Ketika makan bersikap sopan, ketika hendak tidur membaca doa, ketika keluar rumah berpamitan, tekun dan semangat mewujudkan obsesi dan cita-cita, jujur, berbuat baik kepada hewan dan tumbuhan, tidak membuang sampah di sembarang tempat dan lain-lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Membangun kekuatan karakter dilakukan dengan melibatkan seluruh elemen. Sebab, setiap elemen akan berpengaruh dalam proses pembentukan karakter individu. Seorang anak akan meniru dan mengidentifikasi apa yang ada di sekelilingnya. Role model positif akan membentuk karakter yang positif dan sebaliknya role model negatif akan membentuk keprbadian dan karakter negatif. Karena itu, setiap unsur lingkungan hendaknya dibangun secara positif, sehingga karakter anak akan terbentuk secara positif juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu bagaimana cara membangun kekuatan karakter itu? Kekuatan karakter akan terbentuk dengan sendirinya jika ada dukungan dan dorongan dari lingkungan sekitar. Bayangkan sebuah lidi tidak akan memiliki daya untuk menghalau sampah-sampah. Namun, jika didukung oleh ratusan lidi yang lain akan membentuk satu kekuatan untuk membersihkan halaman rumah. Begitu juga dengan karakter, akan menjadi kuat ketika didukung oleh lingkungan. Peran keluarga, sekolah, masyarakat sangat dominan dalam mendukung dan membangun kekuatan karakter.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karakter yang kuat pada akhirnya akan berperan optimal di setiap interaksi sosial. Sehingga, individu dengan karakter kuat tersebut akan memberikan sumbangsih –baik moril atau spirituil- yang berdaya guna bagi sekitarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber artikel: &lt;a href="http://www.pendidikankarakter.com/kekuatan-karakter-bagi-masa-depan-anak/" target="_blank"&gt;Pendidikan Karakter &lt;/a&gt;</description><link>http://blogfajargumelar.blogspot.com/2013/05/kekuatan-karakter-bagi-masa-depan-anak.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg98TRyEzqlTwyCME3pMa3aq1qLFSxnHSWDePsk2dPm3toIPxwRD375vxKdEZRg49dcvIV7BNBm3LBl9I0KsDqk21o5L5L4NqRJFTOQ4EKF-34MQVGn1l1UOuiWtErAK070B2Z7eddMMhCC/s72-c/post-20.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8755146193009804155.post-5848905086117958602</guid><pubDate>Thu, 09 May 2013 06:12:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-08T23:12:40.266-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel Pendidikan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pendidikan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pendidikan Karakter</category><title>Pentingnya Memahami Kebutuhan Emosional Anak</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg6So1zIOW0vMGWqDUu26Ek424Zra6-b2RVTaf3CdNWAolqXCh5m2OPlAM9cGccLQ7GjYKRT71wbNUeKnGk2CHCE_yphBeylgRqJPx5PZZ5t7Xjw5-RR36rAPEIoK3MXWim8vE1iJ9417oq/s1600/post-19.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="131" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg6So1zIOW0vMGWqDUu26Ek424Zra6-b2RVTaf3CdNWAolqXCh5m2OPlAM9cGccLQ7GjYKRT71wbNUeKnGk2CHCE_yphBeylgRqJPx5PZZ5t7Xjw5-RR36rAPEIoK3MXWim8vE1iJ9417oq/s200/post-19.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Pada bagian sebelumnya kita telah mempelajari bahwa anak dan remaja lebih dikendalikan oleh emosi-emosi mereka daripada pemikiran rasional dan logis. Emosi ini menjelaskan mengapa anak dan remaja berperilaku demikian, termasuk pada perilaku yang merusak diri sendiri. Jadi jika kita ingin memotivasi mereka, sebaiknya kita pahami lebih dulu emosi yang mengendalikan mereka dan memanfaatkannya untuk mengarahkan perilaku dan pemikiran yang lebih memperdayakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Berikut adalah ketiga kebutuhan emosional anak:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Kebutuhan untuk merasa AMAN&lt;br /&gt;
Salah satu kebutuhan terkuat yang dibutuhkan soerang anak adalah perasaan aman. Aman didalam diri dan lingkungannya. Remaja mencari rasa aman dengan bergabung dengan sekelompok “geng” atau sekumpulan teman sebaya mereka, terlibat aturan sosial diantara mereka, serta meniru perilaku temannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang psikolog Dr. Gary Chapman, dalam bukunya “lima bahasa cinta” mengatakan kita semua memiliki tangki cinta psikologis yang harus diisi, lebih tepatnya jika anak maka orangtuanya yang sebaiknya mengisi. Anak yang tangki cintanya penuh maka dia akan suka pada dirinya sendiri, tenang dan merasa aman. Hal ini dapat diartikan sebagai anak yang berbahagia dan memiliki “inner” motivasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlukah kita mempelajari dan mengetahui tangki cinta? Sangat perlu, saya seringkali merekomendasi para guru dan orangtua untuk mempelajari dan menemukan bahasa cinta anak mereka, dirinya dan pasangannya. Hal ini akan saya bahas pada artikel berikutnya).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Contoh, terdorong oleh rasa cinta kepada anaknya seorang ibu memarahi anaknya yang sedang bermain computer. “berhenti maen computer dan belajar sekarang” lalu apa yang ada dibenak anak? Mungkin “Hmpf… Ibu tidak sayang padaku, dan ingin mengendalikan aku serta keasyikanku” Nah, anak menerimanya sebagai hal yang negatif, komunikasi yang menghancurkan rasa cinta ini biasanya yang menjadi akar permasalahan orangtua dan anak, serta guru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Mencintai anak tidak sama dengan anak merasa dicintai”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang menyebabkan kebutuhan akan rasa aman tidak terpenuhi?&lt;br /&gt;
• Membandingkan anak dengan saudara atau orang lain&lt;br /&gt;
Ketika kita mengatakan “mengapa kamu tidak bisa menjaga kebersihan kamar seperti kakakmu”, “kenapa kamu tidak bisa menulis serapi Rudi”. Akan tumbuh perasaan ditolak, tidak diterima, mereka akan berpikir “papa/mama lebih suka dengan…” hal ini menumbuhkan sikap tidak suka dengan dirinya sendiri dan ingin menjadi orang lain. Mereka merasa aman dengan menjadi orang lain, bukan merasa aman dan nyaman menjadi dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
• Mengkritik dan mencari kesalahan&lt;br /&gt;
Ketika kita mengatakan: “dasar anak bodoh, apa yang salah denganmu? Kenapa kamu tidak dapat melakukan sesuatu dengan benar?”&lt;br /&gt;
Dapat dipastikan, akan menimbulkan perasaan dendam, tidak ada rasa aman dilingkungan rumah (jika hal ini sering terjadi dirumah).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
• Kekerasan fisik dan verbal&lt;br /&gt;
Saya rasa tidak perlu dijelaskan lagi, hal ini sudah banyak kita temui di surat kabar dan berita ditelevisi, dan bahayanya atau akibatnya juga sering kita temui di media tersebut. Jika tidak ada rasa aman dalam rumah, maka seorang anak akan mencari perlindungan untuk memenuhi rasa aman mereka disemua tempat yang salah. Dan anak akan melakukan apa saja untuk mendapatkan rasa aman ini, mencari perhatian dengan cara yang salah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Kebutuhan akan pengakuan (merasa penting) dan diterima atau dicintai&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jarang sekali orangtua membuat anak-anak mereka merasa penting dan diakui dirumah. Sebaliknya banyak orangtua yang membuat anak mereka merasa kecil dan tidak berarti dengan ancaman: “lebih baik kerjakan PR-mu sekarang, atau…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang ada dalam pikiran anak jika diperlakukan seperti itu? Kita orangtua justru senang jika anak melakukan hal yang kita perintah, tapi yang ada dipikiran anak adalah mereka merasa kalah dengan melakukan apa yang diperintahkan orangtua dengan cara seperti itu. Sehingga banyak anak yang menunda atau tidak mengerjakan apa yang ditugaskan orangtua (bahkan dengan ancaman sekalipun) untuk memenuhi kebutuhan emosionalnya akan pengakuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peringatan keras bagi orangtua: Jika anak-anak tidak merasa dicintai dan diterima oleh orangtua, mereka akan terdorong untuk mencarinya disemua tempat yang salah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keinginan seorang anak untuk diakui dan ingin dicintai begitu kuat, sehingga mereka akan melakukan apa saja untuk mendapatkannya. Jika mereka tidak mendapat pengakuan dengan cara yang benar maka akan menemukan dengan cara yang salah dan ditempat yang salah. Kebutuhan ini mendorong beberapa anak dan remaja untuk menggunakan tato, mengganggu anak lain, bergabung dengan geng pengganggu, mengecat rambut dengan warna menyolok, bertingkah laku seperti badut dan pelawak. Hal ini umumnya menyusahkan mereka sendiri, tetapi demi mendapatkan pengakuan dan diterima (mendapatkan perhatian).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada kasus ekstrim pada 16 april 2007, seorang siswa US Virginia Tech, Cho Seng-hui. Menembak dan menewaskan 32 siswa. Apa yang mendorong perilaku tersebut, sehingga dia melakukan hal yang begitu luar biasa gila? Dia melakukan hanya karena kebutuhan pengakuan dan rasa pentingnya begitu besar, tetapi tidak terpenuhi oleh orang-orang yang mengabaikannya dan menghinanya. Hal itu memaksanya keluar dari dunia logika dan merenggut nyawa orang lain serta dirinya sendiri, dalam pikirannya dia berpikir lebih baik mati bersama nama buruk dari pada hidup bukan sebagai siapa-siapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Kebutuhan untuk mengontrol (merasa mandiri atau keinginan untuk mengontrol)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seiring pertumbuhan anak, sembari mencari identitas diri dan sambil belajar membangun kemandirian dari orangtua. Proses ini menciptakan kebutuhan emosional untuk bebas dan mandiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi itu sebabnya anak tidak mau didikte untuk apa yang harus dilakukan. Mereka merasa tidak “gaul” mendengarkan orangtua. Dengan mendengarkan nasihat orangtua mereka seakan diperlakukan seperti anak kecil. Ini menjelaskan mengapa anak lebih mendengarkan teman mereka dan om atau tante (paman atau bibi) yang masih muda dari pada orangtuanya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orangtua yang cerdas, tidak akan menyerah menghadapi hal ini. Bagaimana caranya memberikan arahan dan agar anak mau mendengar orangtua? Gunakan komunikasi yang tidak bermaksud memaksa anak dengan nasihat kita. Buatlah seakan-akan mereka belajar dan bekerja keras untuk diri mereka sendiri bukan untuk kita. mereka akan lebih bersemangat dan termotivasi dengan cara seperti itu. Dan yang terpenting adalah memenuhi tangki cinta anak kita setiap hari dan memastikan selalu penuh saat bangun anak bangun tidur dan menjelang tidur. Dengan begitu anak tahu siapa yang paling mengerti dan sayang, serta kepada siapa dia akan datang pada saat membutuhkan seseorang untuk mendengar, yaitu kita orangtuanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ambilah manfaat dari informasi ini, kenali kebutuhan emosi anak kita. Pekalah dimana saat anak membutuhkan penerimaan, kebutuhan untuk mengontrol sesuatu, serta butuh untuk aman. Gunakan kata-kata yang tepat untuk memenuhi kebutuhan tersebut, berikut tips dan cara memenuhi kebutuhan emosi dasar seorang anak:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Rasa aman:&lt;br /&gt;
• Tenang sayang kamu aman bersama papa, mama akan temani kamu, hey… papa disini bakal jaga kamu sayang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Rasa penerimaan atau dicintai:&lt;br /&gt;
• Biasakan menatap mata saat berbicara pada anak, usahakan tatapan mata adalah datar atau “mata sayang”&lt;br /&gt;
• Sentuh bagian bahu saat berbicara atau bagian manapun asal sopan, untuk menunjukan bahwa kita ada bersama dan dekat dengan anak&lt;br /&gt;
• Usahakan sejajar (berdiri sejajar dengan anak atau berlutut)&lt;br /&gt;
• Katakan: apapun yang terjadi papa/mama tetap sayang sama kamu, kamu tetap jagoan papa/mama, dimata papa/mama kamulah yang paling cantik&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Kebutuhan untuk mengontrol:&lt;br /&gt;
• Jika memungkinkan, jika anda melihat anak anda perlu untuk melakukan sesuatu sendiri maka ijinkanlah&lt;br /&gt;
• Sebenarnya itu adalah proses belajar untuk dirinya sendiri dan akan sangat bermanfaat dimasa dewasa&lt;br /&gt;
• Harga diri anak akan semakin tinggi, jika kita rajin memberikan kontrol kepada anak, karena anak merasa mampu melakukan kegiatan tanpa bantuan (tentunya kegiatan yang aman sesuai dengan kebijaksanaan orangtua)&lt;br /&gt;
• Luangkan waktu khusus untuk beraktivitas dan memberikan kontrol dan mengawasinya dengan kasih sayang, misal: anak umur 2-3 tahun minta makan sendiri, pergi ke sekolah sendiri, dan lain-lain&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber artikel: &lt;a href="http://www.pendidikankarakter.com/pentingnya-memahami-kebutuhan-emosional-anak/" target="_blank"&gt;Pendidikan Karakter &lt;/a&gt;</description><link>http://blogfajargumelar.blogspot.com/2013/05/pentingnya-memahami-kebutuhan-emosional.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg6So1zIOW0vMGWqDUu26Ek424Zra6-b2RVTaf3CdNWAolqXCh5m2OPlAM9cGccLQ7GjYKRT71wbNUeKnGk2CHCE_yphBeylgRqJPx5PZZ5t7Xjw5-RR36rAPEIoK3MXWim8vE1iJ9417oq/s72-c/post-19.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8755146193009804155.post-6507698009973327713</guid><pubDate>Thu, 09 May 2013 06:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-08T23:10:17.243-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel Pendidikan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pendidikan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pendidikan Karakter</category><title>Proses Pembentukan Karakter Pada Anak</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjAdIrz91m5JZsFDf1iBpkOPiSsqa4kFe7_mOmUssv2J21lYgAxNjMerVUZkHGgk5ps7Ig4ISBtbFhkOuO4I9LZmMTSqNepRWpcuLMcG1EyBrBOlOtMQRZMPN7XAgKzBVuXm75ZN012ng9L/s1600/post-18.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="211" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjAdIrz91m5JZsFDf1iBpkOPiSsqa4kFe7_mOmUssv2J21lYgAxNjMerVUZkHGgk5ps7Ig4ISBtbFhkOuO4I9LZmMTSqNepRWpcuLMcG1EyBrBOlOtMQRZMPN7XAgKzBVuXm75ZN012ng9L/s320/post-18.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Suatu hari seorang anak laki-laki sedang memperhatikan sebuah kepompong, eh ternyata di dalamnya ada kupu-kupu yang sedang berjuang untuk melepaskan diri dari dalam kepompong. Kelihatannya begitu sulitnya, kemudian si anak laki-laki tersebut merasa kasihan pada kupu-kupu itu dan berpikir cara untuk membantu si kupu-kupu agar bisa keluar dengan mudah. Akhirnya si anak laki-laki tadi menemukan ide dan segera mengambil gunting dan membantu memotong kepompong agar kupu-kupu bisa segera keluar dr sana. Alangkah senang dan leganya si anak laki laki tersebut.Tetapi apa yang terjadi? Si kupu-kupu memang bisa keluar dari sana. Tetapi kupu-kupu tersebut tidak dapat terbang, hanya dapat merayap. Apa sebabnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ternyata bagi seekor kupu-kupu yang sedang berjuang dari kepompongnya tersebut, yang mana pada saat dia mengerahkan seluruh tenaganya, ada suatu cairan didalam tubuhnya yang mengalir dengan kuat ke seluruh tubuhnya yang membuat sayapnya bisa mengembang sehingga ia dapat terbang, tetapi karena tidak ada lagi perjuangan tersebut maka sayapnya tidak dapat mengembang sehingga jadilah ia seekor kupu-kupu yang hanya dapat merayap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah potret singkat tentang pembentukan karakter, akan terasa jelas dengan memahami contoh kupu-kupu tersebut. Seringkali orangtua dan guru, lupa akan hal ini. Bisa saja mereka tidak mau repot, atau kasihan pada anak. Kadangkala Good Intention atau niat baik kita belum tentu menghasilkan sesuatu yang baik. Sama seperti pada saat kita mengajar anak kita. Kadangkala kita sering membantu mereka karena kasihan atau rasa sayang, tapi sebenarnya malah membuat mereka tidak mandiri. Membuat potensi dalam dirinya tidak berkembang. Memandulkan kreativitasnya, karena kita tidak tega melihat mereka mengalami kesulitan, yang sebenarnya jika mereka berhasil melewatinya justru menjadi kuat dan berkarakter.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada satu anekdot yang sering saya sampaikan pada rekan saya, ataupun peserta seminar. Enak mana makan mie instant dengan mie goreng seafood? Umumnya mereka yang suka mie pasti tahu jika mie goreng seafood jauh lebih enak dari mie goreng instant yang hanya bisa dimasak tidak kurang dari 3 menit. Apa yang membedakan enak atau tidaknya dari masakan mie tersebut? Prosesnya!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sama halnya bagi pembentukan karakter seorang anak, memang butuh waktu dan komitmen dari orangtua dan sekolah atau guru (jika memprioritaskan hal ini) untuk mendidik anak menjadi pribadi yang berkarakter. Butuh upaya, waktu dan cinta dari lingkungan yang merupakan tempat dia bertumbuh, cinta disini jangan disalah artikan memanjakan. Jika kita taat dengan proses ini maka dampaknya bukan ke anak kita, kepada kitapun berdampak positif, paling tidak karakter sabar, toleransi, mampu memahami masalah dari sudut pandang yang berbeda, disiplin dan memiliki integritas (ucapan dan tindakan sama) terpancar di diri kita sebagai orangtua ataupun guru. Hebatnya, proses ini mengerjakan pekerjaan baik bagi orangtua, guru dan anak jika kita komitmen pada proses pembentukan karakter.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada awal pembentukan karakter banyak orangtua dan guru bertanya tentang bagaimana mendisiplinkan anak. Ada 6 proses disiplin yang kami bagikan melalui ebook gratis 6 Cara Mendisiplinkan Anak, bagi anda yang belum memiliki ebook ini silahkan di download gratis disini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah, apakah disiplin saja cukup? Bagaimana dengan proses membentuk karakter yang lain? Pada 06 Agustus 2012, kami akan menerbitkan buku 7 Hari Membentuk Karakter Anak. Di buku ini akan diungkap hal-hal yang sangat jarang diketahui oleh para orangtua dan guru, tentang bagaimana mendidik anak agar tumbuh bahagia dan berkarakter. Disamping itu bukan hanya anak tetapi buku ini juga memberikan pengarahan bagi orangtua dan guru agar sadar membentuk karakter mereka secara mandiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kembali ke pembentukan karakter, ingat segala sesuatu butuh proses. Mau jadi jelek pun butuh proses. Anak yang nakal itu juga anak yang disiplin lho. Tidak percaya? Dia disiplin untuk bersikap nakal. Dia tidak mau mandi tepat waktu, bangun pagi selalu telat, selalu konsisten untuk tidak mengerjakan tugas dan wajib tidak menggunakan seragam lengkap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada satu kunci untuk menanamkan kebiasaan, ada hukumnya dan hukum itu bernama hukum 21 hari, dalam pembentukan karakter erat kaitannya dengan menciptakan kebiasaan yang baru yang positif. Dan kebiasaan akan tertanam kuat dalam pikiran manusia setelah diulang setiap hari selama 21 hari. Misalnya Anda biasakan anak sehabis bangun tidur untuk membersihkan tempat tidurnya, mungkin Anda akan selalu mengingatkan dan mengawasi dengan kasih sayang (wajib, dengan kasih sayang) selama 21 hari. Tetapi setelah lewat 21 hari maka kebiasaan itu akan terbentuk dengan otomatis. Nah, kini kebiasaan positif apa yang hendak anda tanamkan kepada anak, pasangan dan diri Anda? Anda sudah tahu caranya dan tinggal melakukan saja. Sukses dalam karakter yang terus diperbarui.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber Artikel: &lt;a href="http://www.pendidikankarakter.com/proses-pembentukan-karakter-pada-anak/" target="_blank"&gt;Pendidikan Karakter &lt;/a&gt;</description><link>http://blogfajargumelar.blogspot.com/2013/05/proses-pembentukan-karakter-pada-anak.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjAdIrz91m5JZsFDf1iBpkOPiSsqa4kFe7_mOmUssv2J21lYgAxNjMerVUZkHGgk5ps7Ig4ISBtbFhkOuO4I9LZmMTSqNepRWpcuLMcG1EyBrBOlOtMQRZMPN7XAgKzBVuXm75ZN012ng9L/s72-c/post-18.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8755146193009804155.post-2403474506650084720</guid><pubDate>Thu, 09 May 2013 06:06:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-08T23:06:35.946-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel Pendidikan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pendidikan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pendidikan Karakter</category><title>Cara Terbaik Memahami Anak</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjn2c4zv4eBVq6r9-6IXy-gXuh5ylwAzhGuK8JEP7NMj3yhIRu2J1KZ5y3AUx3t5hGHgE9M2vuGGXwjzsVZUzF93pv_U4HyBRLHuQNtlhd4cPdPKxd-jxWLbsuB4Aix4bFl0HjRSJQFVRDC/s1600/post-17.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="131" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjn2c4zv4eBVq6r9-6IXy-gXuh5ylwAzhGuK8JEP7NMj3yhIRu2J1KZ5y3AUx3t5hGHgE9M2vuGGXwjzsVZUzF93pv_U4HyBRLHuQNtlhd4cPdPKxd-jxWLbsuB4Aix4bFl0HjRSJQFVRDC/s200/post-17.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Banyak orangtua dan guru yang mengikuti seminar saya berkomentar “Oke, teknik yang Anda berikan untuk mengatasi problematika anak sangat bagus. Tapi, saya tidak yakin bisa menerapkan apa yang telah Anda ajarkan” lalu tanya saya “Apa sebabnya?”, “Pertama saya tidak disukai anak, berikutnya bagaimana mengkomunikasikan pada mereka ?”. Jelas ini adalah masalah, tapi tenang ada cara bagaimana memahami perilaku anak. Tapi sabar dahulu sebab ada bagian yang harus Anda pahami dahulu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Banyak dari orangtua dan guru bertanya dalam pikiran mereka sendiri :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Mengapa anak saya tidak peduli dengan masa depannya?&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mengapa mereka melakukan hal-hal yang tidak masuk akal (guru dan orangtua)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mengapa mereka tidak mau mendengarkan walupun sudah diingatkan berkali-kali?&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mengapa anak saya membiarkan dirinya dipengaruhi oleh hal-hal negatif dari teman-temannya yang tidak berguna?&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
Nah, pertanyaan utama : bagaimana memahami perilaku dan pemikiran mereka?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawabanya adalah EMOSI mereka. Emosi sangat menguasai logika berpikir mereka anak-anak dan remaja. Remaja dan anak-anak jauh lebih banyak didorong oleh perasaan mereka daripada pemikiran yang baik untuk mereka. Dengan mengetahui hal ini, maka sia-sia upaya kita mengkuliahi mereka seharian. Membombardir pikiran mereka dengan nasehat positif, menjadikan diri kita motivator dadakan didepan mereka tidak akan mempan. Justru membuat anak bertambah “sebal” dengan kelakuan kita. komentar atau nasihat seperti : “kamu harus giat belajar”, “jangan buang waktumu dengan bermain terus”, “jaga kebersihan dikamarmu”, kecuali bila kita sudah terlebih dahulu mengenali perasaan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kondisi emosi yang negatif seorang anak tidak dapat menerima input dan nasehat bahkan titah sekalipun yang dapat mengubah perilaku mereka. Berbeda hasilnya jika kita mampu mengerti dan mengenali perasaan emosi mereka terlebih dahulu maka mereka akan terbuka dan mendengarkan saran logis dari kita. Anak–anak dan remaja akan melakukan sesuatu jika membuat mereka merasa nyaman atau enak di rasanya atau hatinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum melangkah lebih jauh, kita akan belajar bersama, bagaimana reaksi kita dalam menghadapi masalah anak. Seringkali jika ada masalah maka yang ada dibenak kepala kita umumnya ada 3 hal, yaitu :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Memberi Nasihat, misal: “saya tadi berkelahi dengan Agus, disekolah”, respon kita pada umumnya “apa-apaan kamu ini sekolah bukan tempat belajar jadi tukang berantem, hanya penjahat yang menyelesaikan masalah dengan berantem”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Menginterogasi, misal: “Hp saya hilang di sekolah” respon kita pada umumnya “kamu yakin bukan kamu sendiri yang menghilangkan? Yakin kamu tidak lupa, coba diingat kembali”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Menyalahkan dan menuduh, misal: “tadi Edo dihukum karena tidak mengerjakan PR” respon kita pada umumnya “dasar anak malas, mulai hari ini kamu harus lebih disiplin dan perhatikan tugas disekolah”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah melihat ketiga contoh diatas, tidak ada satu ruang pun untuk mengakui perasaan atau emosi anak, betul? Seringkali kita ini hanya memberikan masukan tanpa mau mendengar apa yang sebenarnya terjadi (lebih tepatnya perasaan apa yang terjadi pada diri anak kita). Ketika emosi seorang anak diabaikan mereka akan lebih marah dan benci. Selama ini mereka berada dalam keadaan emosi negatif, semua nasihat-nasihat maksud baik kita tidak akan digubris, malah akan di “gubrak”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara terbaik untuk memahami anak kita adalah, mengakui emosinya (kenali emosinya) dan beri mereka kekuatan untuk menemukan solusi atas masalah mereka sendiri. Caranya adalah:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Dengarkan mereka 100%, tatap matanya dengan tatapan datar atau sayang. (Berikan perhatian dan pengakuan)&lt;br /&gt;
Terkadang yang dibutuhkan anak hanya didengar saja, bukan solusinya. Hanya memberikan perhatian 100% kita bisa terkejut, ternyata anak mau terbuka dan mau berbagi pikiran dan perasaan. Hanya dengan berkata “hmm.. okay, begitu ya.. lalu..” Walau nampaknya sederhana, jujur ini sulit bagi kita orangtua yang terbiasa mau ambil jalur cepat alias memberikan solusi dan menyelesaikan masalah. Ketika hal itu kita lakukan, anak akan menutup diri dan menghindar bicara kepada kita. Anak hanya akan meyatakan pikiran dan perasaan yang sejujurnya tanpa takut dihakimi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kita biarkan anak mengungkap emosi dan pikirannya dengan bebas (saat kita ada untuk memberi dukungan emosional), kita akan melihat mereka dapat menemukan solusi sendiri untuk permasalahan mereka. Kelebihan lainnya dari pendekatan ini adalah anak akan mengembangkan rasa percaya diri untuk berpikir bagi dirinya sendiri dan menghadapi tantangan – tantangan hidup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misal : “saya tadi berkelahi dengan Agus, disekolah”, respon kita “apa yang terjadi? Lukamu pasti sakit sekali yah.. oh, okay”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Mengenali dan mengambarkan emosi.&lt;br /&gt;
Perlu bagi kita sesaat untuk mempelajari makna dari emosi, karena ini penting bagi kita untuk bisa mencerminkan emosi anak dan mengerti dengan pasti apa yang mereka rasakan. Dengan dimengertinya perasaan mereka, maka mudah bagi mereka untuk terbuka dan bicara tentang masalah mereka. Berikut adalah emosi yang umumnya dialami oleh manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nama Emosi dan Makna-nya :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Marah – Merasakan adanya ketidakadilan&lt;br /&gt;
Rasa bersalah – Kita merasa tidak adil terhadap orang lain&lt;br /&gt;
Takut – Kita diharapkan antisipasi karena sesuatum yang tak diinginkan bisa saja terjadi&lt;br /&gt;
Frustrasi – Melakukan sesuatu berulangkali dan hasilnya tak sesuai harapan artinya kita harus cari cara lain&lt;br /&gt;
Kecewa – Apa yang diinginkan tidak bisa terwujud&lt;br /&gt;
Sedih – Kehilangan sesuatu yang dirasa berharga&lt;br /&gt;
Kesepian – Kebutuhan akan relasi yang bermakna bukan hanya sekedar berteman&lt;br /&gt;
Rasa tidak mampu – Kebutuhan untuk belajar sesuatu karena ada sesuatu yang tak bisa dilakukan dengan baik&lt;br /&gt;
Rasa bosan – Kebutuhan untuk bertumbuh dan mendapatkan tantangan baru&lt;br /&gt;
Stress – Sesuatu yang terlalu menyakitkan dan harus segera dihentikan&lt;br /&gt;
Depresi – Sesuatu yang terlalu menyakitkan dan harus segera dihentikan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baiklah kita mulai dengan satu kasus, jika anak Anda datang kepada Anda dan berkata “Joni tidak mau bermain bola dengan ku” apa jawab Anda? “Sini main sama papa/mama, maen sama yang lain saja ya atau ya sudah.. maen sendiri saja”. Ketiga jawaban ini sekilas adalah jawaban klasik, dan memang dibenarkan karena sering dipakai. Pertanyaan saya ada Emosi apa dibalik kata-kata anak tersebut? Betul!! KECEWA, KESEPIAN, nah kalau begitu responnya bagaimana? “Hmm.. nak kamu pengen banget ya maen sama Joni?” atau “Hmm.. kamu kesepian yah, pengen main ya?” lalu tunggu responnya, biasanya anak akan bercerita panjang lebar, kemudian solusi sebaiknya diserahkan kepada anak, caranya “lalu apa yang bisa Papa/Mama bantu buat kamu? Mau maen sama Papa/Mama? Atau ada ide lain?” Biarkan anak memilih solusi terbaik bagi dirinya. Hafalkan tabel diatas dan gunakan untuk berkomunikasi dengan anak, pahami seiap kasus yang dialami anak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan turut mengerti perasaan emosi anak dan membiarkan menemukan solusi masalahnya sendiri maka anak akan merasa dipahami dan nyaman. Serta akan tumbuh rasa percaya diri dilingkungan yang menghargai dia. Dan berikutnya akan mudah bagi anak untuk terbuka terhadap orangtuanya, dan sikap saling percaya antara orangtua dan anak akan terbentuk dengan baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai kini, kita telah belajar bagaimana caranya agar anak terbuka dan percaya pada kita, betul? Berikutnya bagaimana caranya mengarahkan? Caranya setelah kita mendengar dan mengerti perasaan dan emosi anak, serta menanyakan solusi terbaik menurut anak (jika anak sudah mampu berpikir untuk solusi) tanyakan “bolehkah Papa/Mama usul?” setelah ada ijin dari anak maka berikan masukan yang Anda rasa paling mujarab. Terkadang cara pandang anak tidak sama dengan orangtua, kita tahu jika anak memilih solusi yang kurang tepat (menurut orangtua) dengan nilai, norma yang berlaku di lingkungan sosial maka kita bisa “menggiringnya” dengan mudah karena langkah 1 dan 2 sudah dilakukan. Tentunya dengan model komunikasi yang sopan dan tetap menghargai anak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pintu gerbang kekerasan hati anak akan terbuka lebar saat kita mau menerima dan mengerti anak kita, dan anak akan mempersilahkan kita masuk dan bertamu didalam lubuk hatinya yang paling dalam. Ditempat itulah kita dapat meletakan pesan, arahan dan masukan positif bagi kebaikan masa depan anak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya paham cara ini butuh waktu, semua solusi cerdas untuk meningkatkan kualitas keluarga butuh waktu. Ada namanya “waktu tunggu” untuk suatu hasil yang istimewa. Masakan yang enak dan sehat butuh waktu dan proses didapur, tidak sekian detik jadi. Nah kualitas apa yang kita mau untuk keluarga kita?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber Artikel: P&lt;a href="http://www.pendidikankarakter.com/cara-terbaik-memahami-anak/" target="_blank"&gt;endidikan Karakter &lt;/a&gt;</description><link>http://blogfajargumelar.blogspot.com/2013/05/cara-terbaik-memahami-anak.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjn2c4zv4eBVq6r9-6IXy-gXuh5ylwAzhGuK8JEP7NMj3yhIRu2J1KZ5y3AUx3t5hGHgE9M2vuGGXwjzsVZUzF93pv_U4HyBRLHuQNtlhd4cPdPKxd-jxWLbsuB4Aix4bFl0HjRSJQFVRDC/s72-c/post-17.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8755146193009804155.post-6838035095763906718</guid><pubDate>Thu, 09 May 2013 06:04:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-08T23:04:30.861-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel Pendidikan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pendidikan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pendidikan Karakter</category><title>Cara Jitu Menumbuhkan Semangat Belajar Pada Anak</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjNsBM0WqOJtHqAqPWMCzw4H8e7t7XTdKjiagtoNdExjfN86FRK4Eq1aFRb6T7atVW6WtQgoY0D61-aK-Iut8uCiWVgn2AN_2FeFSQK5LX80w3Vz7jb0aDvTKcnHYmgtmh54-cdZVSF7hzP/s1600/post-16.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="131" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjNsBM0WqOJtHqAqPWMCzw4H8e7t7XTdKjiagtoNdExjfN86FRK4Eq1aFRb6T7atVW6WtQgoY0D61-aK-Iut8uCiWVgn2AN_2FeFSQK5LX80w3Vz7jb0aDvTKcnHYmgtmh54-cdZVSF7hzP/s200/post-16.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Nah, ini adalah tema yang sering ditunggu-tunggu oleh orangtua dan juga sering banyak dikeluhkan orangtua. “Kenapa anak saya ngga senang belajar, maen aja seharian”, keluh seorang Ibu yang hadir diseminar saya. Para pembaca, percayakah Anda bahwa kehidupan sejati kita manusia adalah seorang pembelajar? Tapi kita sering memberikan perlakuan yang tidak menyenangkan saat anak belajar (secara tidak sadar) bahkan dulu kita pun mungkin diberikan stimulasi yang salah sehingga belajar itu tidak menyenangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misalnya, saat anak kita bayi dan berumur 1 tahun. Dia ingin memasukan semua barang yang dapat ia pegang ke dalam mulutnya, benar? Nah yang kebanyakan orang lakukan saat itu adalah berkata “eh… itu kotor, ngga boleh” sambil menarik barang tersebut. Sebenarnya ini adalah perilaku dasar pada saat seorang anak belajar. Kemudian saat dia mulai bisa berjalan, mulai ingin tahu lebih banyak tentang lingkungan sekitar, semakin banyak larangan yang dikeluarkan oleh orangtua ataupun pengasuh. Mungkin karena lelah menjaga anak seharian, sehingga banyak larangan yang dikeluarkan. Padahal ini adalah keinginan mereka untuk tahu (belajar) lebih banyak, mengisi database di otaknya yang masih kosong dan perlu diisi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat mulai bisa berbicara, bertanya ini dan itu. “Ini apa? Kenapa?” Jawaban yang diterima “lha tadi sudah tanya, tanya lagi dasar cerewet” mungkin saat itu pengasuh dan orangtua sedang lelah juga saat menjaganya sehingga malas dan capek untuk memberikan penjelasan dan ini adalah proses belajar seorang anak. Ada barang baru dirumah dan anak ingin memegangnya atau mengetahui lebih dekat, maka kita orangtua dan pengasuhnya menjauhkan barang tersebut darinya, dengan dalih nanti rusak karena barang mahal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari sepenggal contoh diatas dimana ini adalah pengalaman nyata dari saya dan beberapa klien, siapakah yang membuat anak menjadi malas belajar?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berikutnya ada seorang anak berusia 8 tahun, sebut saja Aji. Orangtuanya sangat mengeluhkan, bahwa anaknya tidak suka belajar dan sudah mendapat peringatan dari gurunya jika tidak ada perubahan sikap maka kemungkinan besar Aji tidak naik kelas. Saat bertemu, saya yakin Aji adalah anak yang luar biasa. Sesaat saya bertanya tentang hobi dan kesukaannya saat bermain, dengan cepat saya mengetahui anak ini luar biasa. Sebab setelah saya Tanya tentang hobinya ternyata sepak bola, dan tim kegemarannya adalah Arsenal (Liga Inggris). Dan Aji, hafal seluruh pemain inti dan cadangan Arsenal, berikut pelatih dan asistennya serta nomor punggung pemain, tanggal ulang tahun pemain serta daftar pencetak goal dan assist (pemberi umpan) dan point klasemen liga dan urutannya. Gila, luar biasa! (dalam hati saya) Ngga ada yang salah sama hardware (otaknya), tapi masalahnya sama Software.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu orang anak yang sama, otaknya kalau dibuat belajar pelajaran disekolah tidak berfungsi (berhitung, menghafal) tetapi hafal seluruh pemain Arsenal. Apa anak ini bodoh? Tentunya Anda sepaham dengan saya, jawabanya adalah tidak. Anak ini pandai luar biasa. Hanya saja salah perlakuan sehingga ia malas dan tidak suka belajar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu apa yang saya lakukan untuk mengubah agar software menjadi baik dan membuat anak ini agar mudah belajar?  Yang saya perbaiki orangtuanya dahulu, sebab untuk anak seusia Aji, jika terdapat masalah dalam hidupnya berarti orangtua yang akan membantu untuk mengatasi masalah anak tersebut. Saya mengajarkan bagaimana berkomunikasi dengan anak dan sifat dari pikiran anak, serta pentingnya menomor satukan cinta dalam mendidik anak, yang semuanya akan sangat panjang jika saya jelaskan disini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berikutnya adalah tips bagaimana agar, anak kita menjadi rajin dan mudah sekali belajar dan sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Saat pulang sekolah tanyakan “hai sayang, apa yang menyenangkan hari ini disekolah?” Otomatis otak anak akan mencari hal-hal yang menyenangkan disekolah dan ini secara tidak langsung akan memberitahu sang anak bahwa sekolah adalah tempat yang menyenangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Saat anak tidur (Hypnosleep), katakan “makin hari, belajar makin menyenangkan”, “sama halnya dengan bermain, belajar juga sangat menyenangkan”, “mudah sekali bagimu untuk belajar (berhitung, menghafal dll)”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Jelaskan manfaat dari pelajaran yang sedang dipelajari (sesuai dengan minat anak tersebut) misal: dengan mempelajari perkalian, maka saat liburan naik kelas nanti nanti kamu bisa menghitung berapa harga barang yang akan kamu beli di Singapore dan kamu bisa membandingkannya dengan harga di Indonesia. Jika kamu menguasai conversation dalam bahasa inggris maka kamu akan sangat mudah berkomunikasi dengan pelatih sepak bolamu yang dari Thailand.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Mintalah guru les pelajarannya (jika ada), sering-sering mengatakan bahwa anak kita adalah anak yang hebat dan luar biasa. Pujian yang tulus dan memompa semangatnya jauh lebih penting dari pada mengajarkan tehnik-tehnik berhitung dan menghafal  yang cepat. Mintalah bantuan orang-orang sekitar termasuk guru untuk meningkatkan harga diri anak kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Jika anak kita masih kecil dan masih suka dibacakan dongeng, bacakan dongeng dengan posisi memangku dia (dengan posisi yang nyaman, serta memudahkan kita orangtua untuk memberikan ciuman kasih sayang atau pelukan sayang) tujuannya agar anak mengkaitkan membaca buku dengan rasa cinta dari orangtua dan buku adalah hal yang sangat menyenangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Gunakan surat rahasia dari orangtua kepada anak, kita bisa berkata “nak, Ibu telah meletakan surat rahasia buat kamu. Cuma kamu dan ibu yang tahu isinya. Ibu letakan dibawah bantal tidurmu, bacalah setelah makan ya”. Isinya bisa berupa kata-kata yang menyemangati anak dalam kegiatan belajar dan sekolahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber Artikel: &lt;a href="http://www.pendidikankarakter.com/cara-jitu-menumbuhkan-semangat-belajar-pada-anak/" target="_blank"&gt;Pendidikan Karakter &lt;/a&gt;</description><link>http://blogfajargumelar.blogspot.com/2013/05/cara-jitu-menumbuhkan-semangat-belajar.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjNsBM0WqOJtHqAqPWMCzw4H8e7t7XTdKjiagtoNdExjfN86FRK4Eq1aFRb6T7atVW6WtQgoY0D61-aK-Iut8uCiWVgn2AN_2FeFSQK5LX80w3Vz7jb0aDvTKcnHYmgtmh54-cdZVSF7hzP/s72-c/post-16.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8755146193009804155.post-9051675569710941651</guid><pubDate>Thu, 09 May 2013 05:49:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-08T22:49:13.221-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel Pendidikan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pendidikan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pendidikan Karakter</category><title>Wajah Sistem Pendidikan di Indonesia</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsWeV0OzGFqszopXVjFWFF2FbGffAboGNBcZ3RMHQG4f3rxRSlYoAEyZMHvc5qAj1BAhmcVsSfY8obUdveEtMI1GCregujncbud0rwrRZKCiSgiHUrCUJe_xrlUhmuYxNgB2PxFKQfO7um/s1600/post-15.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="131" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsWeV0OzGFqszopXVjFWFF2FbGffAboGNBcZ3RMHQG4f3rxRSlYoAEyZMHvc5qAj1BAhmcVsSfY8obUdveEtMI1GCregujncbud0rwrRZKCiSgiHUrCUJe_xrlUhmuYxNgB2PxFKQfO7um/s200/post-15.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Kita sebagai orang tua seringkali mengikutkan anak kita berbagai macam les tambahan di luar sekolah seperti les matematika, les bahasa inggris, les fisika dan lain-lain. Saya yakin hal ini kita dilakukan untuk mendukung anak agar tidak tertinggal atau menjadi yang unggul di sekolah. Bahkan, terkadang ide awal mengikuti les tersebut tidak datang dari si anak, namun datang dari kita sebagai orang tua. Benar tidak?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, saat ini kita menganggap tidak cukup jika anak kita hanya belajar di sekolah saja, sehingga kita mengikutkan anak kita bermacam-macam les. Kita ingin anak kita pintar berhitung, kita ingin anak kita mahir berbahasa inggris, kita juga ingin anak kita jago fisika dan lain sebagainya. Dengan begitu, anak memiliki kemampuan kognitif yang baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini tiada lain karena, pendidikan yang diterapkan di sekolah-sekolah juga menuntut untuk memaksimalkan kecakapan dan kemampuan kognisi. Dengan pemahaman seperti itu, sebenarnya ada hal lain dari anak yang tak kalah penting yang tanpa kita sadari telah terabaikan. Apa itu? Yaitu memberikan pendidikan karakter pada anak didik. Saya mengatakan hal ini bukan berarti pendidikan kognitif tidak penting, bukan seperti itu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maksud saya, pendidikan karakter penting artinya sebagai penyeimbang kecakapan kognitif. Beberapa kenyataan yang sering kita jumpai bersama, seorang pengusaha kaya raya justru tidak dermawan, seorang politikus malah tidak peduli pada tetangganya yang kelaparan, atau seorang guru justru tidak prihatin melihat anak-anak jalanan yang tidak mendapatkan kesempatan belajar di sekolah. Itu adalah bukti tidak adanya keseimbangan antara pendidikan kognitif dan pendidikan karakter.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada sebuah kata bijak mengatakan, ilmu tanpa agama buta, dan agama tanpa ilmu adalah lumpuh. Sama juga artinya bahwa pendidikan kognitif tanpa pendidikan karakter adalah buta. Hasilnya, karena buta tidak bisa berjalan, berjalan pun dengan asal nabrak. Kalaupun berjalan dengan menggunakan tongkat tetap akan berjalan dengan lambat. Sebaliknya, pengetahuan karakter tanpa pengetahuan kognitif, maka akan lumpuh sehingga mudah disetir, dimanfaatkan dan dikendalikan orang lain. Untuk itu, penting artinya untuk tidak mengabaikan pendidikan karakter anak didik. Lalu apa sih pendidikan karaker itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, Pendidikan karakter adalah pendidikan yang menekankan pada pembentukan nilai-nilai karakter pada anak didik. Saya mengutip empat ciri dasar pendidikan karakter yang dirumuskan oleh seorang pencetus pendidikan karakter dari Jerman yang bernama FW Foerster. Pertama, pendidikan karakter menekankan setiap tindakan berpedoman terhadap nilai normatif. Anak didik menghormati norma-norma yang ada dan berpedoman pada norma tersebut. Kedua, adanya koherensi atau membangun rasa percaya diri dan keberanian, dengan begitu anak didik akan menjadi pribadi yang teguh pendirian dan tidak mudah terombang-ambing dan tidak takut resiko setiap kali menghadapi situasi baru. Ketiga, adanya otonomi, yaitu anak didik menghayati dan mengamalkan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadinya. Dengan begitu, anak didik mampu mengambil keputusan mandiri tanpa dipengaruhi oleh desakan dari pihak luar. Keempat, keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan adalah daya tahan anak didik dalam mewujudkan apa yang dipandang baik. Dan kesetiaan marupakan dasar penghormatan atas komitmen yang dipilih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendidikan karakter penting bagi pendidikan di Indonesia. Pendidikan karakter akan menjadi basic atau dasar dalam pembentukan karakter berkualitas bangsa, yang tidak mengabaikan nilai-nilai sosial seperti toleransi, kebersamaan, kegotongroyongan, saling membantu dan mengormati dan sebagainya. Pendidikan karakter akan melahirkan pribadi unggul yang tidak hanya memiliki kemampuan kognitif saja namun memiliki karakter yang mampu mewujudkan kesuksesan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat, ternyata kesuksesan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh pengetahuan dan kemampuan teknis dan kognisinyan (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Dan, kecakapan soft skill ini terbentuk melalui pelaksanaan pendidikan karater pada anak didik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berpijak pada empat ciri dasar pendidikan karakter di atas, kita bisa menerapkannya dalam pola pendidikan yang diberikan pada anak didik. Misalanya, memberikan pemahaman sampai mendiskusikan tentang hal yang baik dan buruk, memberikan kesempatan dan peluang untuk mengembangkan dan mengeksplorasi potensi dirinya serta memberikan apresiasi atas potensi yang dimilikinya, menghormati keputusan dan mensupport anak dalam mengambil keputusan terhadap dirinya, menanamkan pada anak didik akan arti keajekan dan bertanggungjawab dan berkomitmen atas pilihannya. Kalau menurut saya, sebenarnya yang terpenting bukan pilihannnya, namun kemampuan memilih kita dan pertanggungjawaban kita terhadap pilihan kita tersebut, yakni dengan cara berkomitmen pada pilihan tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendidikan karakter hendaknya dirumuskan dalam kurikulum, diterapkan metode pendidikan, dan dipraktekkan dalam pembelajaran. Selain itu, di lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar juga sebaiknya diterapkan pola pendidikan karakter. Dengan begitu, generasi-generasi Indonesia nan unggul akan dilahirkan dari sistem pendidikan karakter.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber Artikel:&lt;a href="http://www.pendidikankarakter.com/wajah-sistem-pendidikan-di-indonesia/" target="_blank"&gt; Pendidikan Karakter &lt;/a&gt;</description><link>http://blogfajargumelar.blogspot.com/2013/05/wajah-sistem-pendidikan-di-indonesia.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsWeV0OzGFqszopXVjFWFF2FbGffAboGNBcZ3RMHQG4f3rxRSlYoAEyZMHvc5qAj1BAhmcVsSfY8obUdveEtMI1GCregujncbud0rwrRZKCiSgiHUrCUJe_xrlUhmuYxNgB2PxFKQfO7um/s72-c/post-15.jpg" width="72"/><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8755146193009804155.post-3762678447302241834</guid><pubDate>Thu, 09 May 2013 05:47:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-08T22:50:27.504-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel Pendidikan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pendidikan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pendidikan Karakter</category><title>Membangun Karakter Sejak Pendidikan Anak Usia Dini</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiKJrtKJkp56Lk5IjoqAS6IoED1QqFs6xusy1_mwDrM8eWnb0gyxMvlToNHJ2vw0uUQNQ6rLblIuCAIrFU6DAR5frhPKomrhCH7QphkwUsiJRKL1UbN6LlO06ZJuYJYomS8iD48TwE0teqU/s1600/post-14.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="131" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiKJrtKJkp56Lk5IjoqAS6IoED1QqFs6xusy1_mwDrM8eWnb0gyxMvlToNHJ2vw0uUQNQ6rLblIuCAIrFU6DAR5frhPKomrhCH7QphkwUsiJRKL1UbN6LlO06ZJuYJYomS8iD48TwE0teqU/s200/post-14.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Kawan, jika saya ditanya kapan sih waktu yang tepat untuk menentukan kesuksesan dan keberhasilan seseorang? Maka, jawabnya adalah saat masih usia dini. Benarkah? Baiklah akan saya bagikan sebuah fakta yang telah banyak diteliti oleh para peneliti dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada usia dini 0-6 tahun, otak berkembang sangat cepat hingga 80 persen. Pada usia tersebut otak menerima dan menyerap berbagai macam informasi, tidak melihat baik dan buruk. Itulah masa-masa yang dimana perkembangan fisik, mental maupun spiritual anak akan mulai terbentuk. Karena itu, banyak yang menyebut masa tersebut sebagai masa-masa emas anak (golden age).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh seorang ahli Perkembangan dan Perilaku Anak dari Amerika bernama Brazelton menyebutkan bahwa pengalaman anak pada bulan dan tahun pertama kehidupannya sangat menentukan apakah anak ini akan mampu menghadapi tantangan dalam kehidupannya dan apakah ia akan menunjukkan semangat tinggi untuk belajar dan berhasil dalam pekerjaannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah, oleh karena itu, kita sebagai orang tua hendaknya memanfaatkan masa emas anak untuk memberikan pendidikan karakter yang baik bagi anak. Sehingga anak bisa meraih keberhasilan dan kesuksesan dalam kehidupannya di masa mendatang. Kita sebagai orang tua kadang tidak sadar, sikap kita pada anak justru akan menjatuhkan si anak. Misalnya, dengan memukul, memberikan pressure yang pada akhirnya menjadikan anak bersikap negatif, rendah diri atau minder, penakut dan tidak berani mengambil resiko, yang pada akhirnya karakter-karakter tersebut akan dibawanya sampai ia dewasa. Ketika dewasa karakter semacam itu akan menjadi penghambat baginya dalam meraih dan mewujudkan keinginannya. Misalnya, tidak bisa menjadi seorang public speaker gara-gara ia minder atau malu. Tidak berani mengambil peluang tertentu karena ia tidak mau mengambil resiko dan takut gagal. Padahal, jika dia bersikap positif maka resiko bisa diubah sebagai tantangan untuk meraih keberhasilan. Anda setuju kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak yang mengatakan keberhasilan kita ditentukan oleh seberapa jenius otak kita. Semakin kita jenius maka semakin sukses. Semakin kita meraih predikat juara kelas berturut-turut, maka semakin sukseslah kita. Benarkah demikian? Eit tunggu dulu!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya sendiri kurang setuju dengan anggapan tersebut. Fakta membuktikan, banyak orang sukses justru tidak mendapatkan prestasi gemilang di sekolahnya, mereka tidak mendapatkan juara kelas atau menduduki posisi teratas di sekolahnya. Mengapa demikian? Karena sebenarnya kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan otak kita saja. Namun kesuksesan ternyata lebih dominan ditentukan oleh kecakapan membangung hubungan emosional  kita dengan diri sendiri, orang lain dan lingkungan. Selain itu, yang tidak boleh ditinggalkan adalah hubungan spiritual kita dengan Tuhan Yang Maha Esa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tahukah anda bahwa kecakapan membangun hubungan dengan tiga pilar (diri sendiri, sosial, dan Tuhan) tersebut merupakan karakter-karakter yang dimiliki orang-orang sukses. Dan, saya beritahukan pada anda bahwa karakter tidak sepenuhnya bawaan sejak lahir. Karakter semacam itu bisa dibentuk. Wow, Benarkah? Saya katakan Benar! Dan pada saat anak berusia dini-lah terbentuk karakter-karakter itu. Seperti yang kita bahas tadi, bahwa usia dini adalah masa perkembangan karakter fisik, mental dan spiritual anak mulai terbentuk. Pada usia dini inilah, karakter anak akan terbentuk dari hasil belajar dan menyerap dari perilaku kita sebagai orang tua dan dari lingkungan sekitarnya. Pada usia ini perkembang mental berlangsung sangat cepat. Pada usia itu pula anak menjadi sangat sensitif dan peka mempelajari dan berlatih sesuatu yang dilihatnya, dirasakannya dan didengarkannya dari lingkungannya. Oleh karena itu, lingkungan yang positif akan membentuk karakter yang positif dan sukses.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, bagaimana cara membangun karakter anak sejak usia dini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karakter akan terbentuk sebagai hasil pemahaman 3 hubungan yang pasti dialami setiap manusia (triangle relationship), yaitu hubungan dengan diri sendiri (intrapersonal), dengan lingkungan (hubungan sosial dan alam sekitar), dan hubungan dengan Tuhan YME (spiritual). Setiap hasil hubungan tersebut akan memberikan pemaknaan/pemahaman yang pada akhirnya menjadi nilai dan keyakinan anak. Cara anak memahami bentuk hubungan tersebut akan menentukan cara anak memperlakukan dunianya. Pemahaman negatif akan berimbas pada perlakuan yang negatif dan pemahaman yang positif akan memperlakukan dunianya dengan positif. Untuk itu, Tumbuhkan pemahaman positif pada diri anak sejak usia dini, salah satunya dengan cara memberikan kepercayaan pada anak untuk mengambil keputusan untuk dirinya sendiri, membantu anak mengarahkan potensinya dengan begitu mereka lebih mampu untuk bereksplorasi dengan sendirinya, tidak menekannya baik secara langsung atau secara halus, dan seterusnya. Biasakan anak bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Ingat pilihan terhadap lingkungan sangat menentukan pembentukan karakter anak. Seperti kata pepatah bergaul dengan penjual minyak wangi akan ikut wangi, bergaul dengan penjual ikan akan ikut amis. Seperti itulah, lingkungan baik dan sehat akan menumbuhkan karakter sehat dan baik, begitu pula sebaliknya. Dan yang tidak bisa diabaikan adalah membangun hubungan spiritual dengan Tuhan Yang Maha Esa. Hubungan spiritual dengan Tuhan YME terbangun melalui pelaksanaan dan penghayatan ibadah ritual yang terimplementasi pada kehidupan sosial.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah, sekarang kita memahami mengapa membangun pendidikan karakter anak sejak usia dini itu penting. Usia dini adalah usia emas, maka manfaatkan usia emas itu sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber Artikel:&lt;a href="http://www.pendidikankarakter.com/membangun-karakter-sejak-pendidikan-anak-usia-dini/" target="_blank"&gt;Pendidikan Karakter&lt;/a&gt;</description><link>http://blogfajargumelar.blogspot.com/2013/05/membangun-karakter-sejak-pendidikan.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiKJrtKJkp56Lk5IjoqAS6IoED1QqFs6xusy1_mwDrM8eWnb0gyxMvlToNHJ2vw0uUQNQ6rLblIuCAIrFU6DAR5frhPKomrhCH7QphkwUsiJRKL1UbN6LlO06ZJuYJYomS8iD48TwE0teqU/s72-c/post-14.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8755146193009804155.post-3712112725318165169</guid><pubDate>Thu, 09 May 2013 05:45:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-08T22:51:10.774-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel Pendidikan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pendidikan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pendidikan Karakter</category><title>Macam – Macam Kepribadian Anak</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEijzKVtUeaY5J4ljMjYnC5w61buiykDM-FT6L5VWhy8cGrFwEPNOBp1cd-0qYar0dOwu5XT5EULGJ2E7-4AcwcDbZGft-ADiI86y7by32suEmiykYSXyKP4qa0Z0EIXOT_JESANJ4eWCK8G/s1600/post-13.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="131" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEijzKVtUeaY5J4ljMjYnC5w61buiykDM-FT6L5VWhy8cGrFwEPNOBp1cd-0qYar0dOwu5XT5EULGJ2E7-4AcwcDbZGft-ADiI86y7by32suEmiykYSXyKP4qa0Z0EIXOT_JESANJ4eWCK8G/s200/post-13.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Kali ini kita akan membahas bagian yang tidak kalah pentingnya yaitu bagian tentang kepribadian, inilah dasar dari pembentukan karakter seorang anak. Mengapa kita perlu membahas tentang kepribadian, kepribadian adalah bagian dari diri manusia yang sangat unik dimana kita memiliki kecenderungan yang cukup besar untuk merespon segala sesuatu. Dengan memahami kepribadian anak berarti kita telah menyingkat waktu kita untuk menebak-nebak, berusaha mengerti dan memahami anak kita, kita bisa jauh lebih mudah untuk memahami seseorang anak dengan memperhatikan tipologi kepribadiannya. Nah dalam artikel kali ini saya akan menggunakan tipelogi kepribadian yang sangat banyak dipakai oleh family terapis, oleh para HRD manager ataupun praktisi-praktisi di sumber daya manusia untuk menganalisa kepribadian seseorang. Kepribadian ini membagi manusia menjadi empat golongan besar yaitu korelis, sanguinis, phlegmatis dan melankolis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Koleris mewakili tipe kepribadian yang tegas dan kemudian cenderung untuk memimpin, yah dia adalah seorang pemimpin yang dilahirkan. Pemimpin yang dilahirkan secara alamiah begitulah koleris. Ciri-cirinya To The Point, dia ingin segala sesuatunya cepat dan dilakukan saat itu juga, dia tidak bertele-tele tetapi pada titik ekstrimnya adalah dia bisa menjadi terlalu dominan dan terlalu mengatur, terlalu mengontrol, sehingga orang lain bisa tidak tahan. Dan kemudian dia ingin segala sesuatunya dilakukan dengan sangat cepat kemudian bisa jadi dia lupa beberapa detail-detail tentang hal penting yang harus dilakukan. Itulah tipe kepribadian koleris yang sejati. Orang koleris akan berpakaian dengan praktis, simple, tidak mementingkan model pakaian tetapi lebih mementingkan fungsi dari pakaian itu. Dan orang koleris biasanya duduknya sangat tegak sekali dan ia berjalan dengan sangat tegak dengan kepala terangkat ke atas. Pada kenyataannya tiap kepribadian itu memiliki kadarnya masing-masing, sangatlah kecil sekali kemungkinannya kita menemukan seseorang yang koleris sejati. Artinya seratus persen koleris sementara di lain-lainnya itu nol semuanya. Seorang anak yang koleris, biasanya memiliki motivasi yang kuat dari dalam, istilahnya “ku tahu yang ku mau”. Jika ingin mengarahkan mereka, tunjukan keuntungan bagi anak jika mereka melakukan hal tersebut. Misal : “Jika kamu les bahasa inggris maka mudah bagi kamu untuk memahami aturan dari permainan yang sering papa dan kamu lakukan, masih banyak permainan serupa yang bisa kita mainkan”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jenis kepribadian yang berikutnya adalah Sanguinis. Sanguinis adalah orang yang cerah, ceria, bisa mendengar suaranya jauh sebelum melihat orangnya, heboh sekali dan jika memakai pakaian pakaian biasanya berwarna cerah meriah dengan banyak sekali aksesoris, yah sanguinis adalah orang yang senang menjadi pusat perhatian. Jika Anda datang ke pesta dan melihat satu orang dikelilingi yang lain, bercerita, semua terhibur dan tertawa, maka orang yang bercerita itulah seorang sanguinis. Ya, sanguinis adalah pusat perhatian. Jika Anda melihat orang sanguinis berpakaian cerah warna warni dan banyak aksesoris, dia tidak akan risih dengan itu semua bahkan dia akan suka, karena dengan begitu dia bisa menarik perhatian orang lain. Orang sanguinis akan berjalan dengan gayanya yang ceria dan akan menoleh ke kanan kiri dan melempar banyak senyum kepada orang-orang di sekitarnya. Seorang anak sanguinis merupakan anak yang sangat senang sekali bermain dan berkumpul dengan banyak teman-temannya. Senang dengan aktivitas “outdoor” atau kebersamaan yang menyenangkan. Tentu mudah bagi Anda menerjemahkan bahasa saya berkaitan dengan anak sanguinis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tipe koleris dan tipe sanguinis adalah tipe yang Ekstrovert, tipe yang terbuka kepada orang. Orang sanguinis begitu sangat terbukanya, sehingga bisa cerita tentang banyak hal kepada orang lain dan kemudian bisa dengan mudah melupakannya. Orang sanguinis dengan begitu mudahnya melupakan janjinya dan juga dengan begitu mudahnya dia akan langsung minta maaf. Orang koleris tidak akan melakukannya, dia akan gengsi untuk minta maaf kepada kita. Tapi mereka dasarnya adalah orang-orang yang terbuka, orang-orang yang ekstrovert. Berikutnya kita akan membahas bagian kepribadian yang Introvert yang tertutup. Di bagian ini ada dua jenis kepribadian dua tipelogi kepribadian yaitu Melankolis dan Phlegmatis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melankolis adalah seorang yang rapi, biasanya tulisannya rajin, rapi, lengkap, detail karena itu jika mereka kuliah catatan mereka biasanya akan dipinjam oleh teman-temannya. Dan kemudian dia akan memiliki gaya dandan yang rapi, tidak ada satu helai pun rambut yang tersisir keluar ok semuanya rapi seperti diatur pada tempatnya. Seorang melankolis berpakaian selalu sangat rapi sekali, dimasukkan dan suka warna warna yang memiliki perpaduan warna yang cocok. Jadi tidak akan sembarangan, artinya dia tidak akan memakai bawahan yang berwarna hijau dan kemudian atasnya berwarna kuning cerah. Dia akan mempertimbangkan segala sesuatunya, itulah orang melankolis. Jika memendam sesuatu bisa dipendam sangat lama, ngambeknya bisa sangat lama sekali, tetapi orang melankolis sangat detail, begitu suka dengan data-data dan fakta-fakta. Yah itulah seorang melankolis. Ia begitu ahli di dalam perencanaan dan ahli di dalam analisa. Ciri-ciri anak melankolis yang sangat tampak adalah anak ini sangat teratur, suka kerapian, seringkali saya jumpai mereka secara akademis adalah anak yang cerdas dan pandai. Anak melankolis sangat suka “mengontrol” semuanya sendiri. Terkadang menentukan pakaian yang akan dipakainya, makan apa sore ini, dsb. Mereka terkadang suka mengingatkan kita, jika keluar kamar lampu dimatikan, tv atau laptop dimatikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian kepribadian yang satunya lagi adalah Phlegmatis. Phlegmatis adalah kepribadian yang suka melakukan segala sesuatu berdasarkan urutan yang telah diberikan, jika memang sudah begini ya begini tidak usah dipikirin yang lain lagi, yah pokoknya ikuti saja. Itulah phlegmatis, tipe pengikut yang setia. Dia bisa tahan duduk berjam-jam melakukan sesuatu berhari-hari, berminggu-minggu dan berbulan-bulan dimana itu tidak mungkin bisa dilakukan oleh seorang yang koleris ataupun seorang sanguinis. Mereka tidak akan tahan duduk berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan melakukan satu hal yang sama berulang-ulang kali. Phlegmatis sangat cocok melakukan itu semua, sangat setia dan bisa dipercaya untuk memegang rahasia. Itulah orang phlegmatis, mereka sangat mudah diatur mereka sangat toleran. Jika Anda punya anak phlegmatis, Anda bisa mengatakan “nak sekarang makan ya”, “ya” kalau Anda sibuk, Anda bisa mengatakan “nak, sekarang Mama lagi sibuk, nanti aja makannya ya”, “iya” anak phlegmatis tidak akan menuntut Anda. Itu akan sangat berbeda dengan anak koleris “nak makannya nanti ya”, “tidak! Aku maunya sekarang” itulah anak koleris. Anak phlegmatis biasanya cenderung diam dan mengalah. Mereka sering menghindari konflik dan seringkali merelakan peralatan tulisnya untuk dipinjam dan tak jarang terkadang merasa “ngga enak” untuk memintanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang Anda telah mengetahui tipologi koleris, sanguinis, melankolis dan phlegmatis nah satu hal yang perlu kita ketahui adalah tidak ada satupun tipologi kepribadian ini yang lebih baik daripada lainnya. Artinya kita semua mempunyai kadar dari keempat tipologi kepribadian ini. Di dalam diri kita ada unsur melankolis, ada unsur phlegmatis, ada unsur koleris dan ada unsur sanguinis-nya. Hanya saja di bagian mana kita dominan dan itu yang membentuk kita, itu yang membedakan kita dari yang lainnya. Nah variable atau kadar perbedaan dari setiap kepribadian ini membuat kita menjadi begitu unik. Tak ada satu orangpun yang memiliki komposisi yang sama, semuanya begitu berbeda. Dan satu hal yang paling penting, adalah seperti yang tadi saya katakan bahwa tidak ada yang baik, tidak ada yang buruk disini. Yang ada adalah pada saat kita tidak menyadari berhadapan dengan siapa dan kemudian kita tidak bisa menjalin suatu komunikasi, itu karena kita tidak bisa memahami persepsinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber Artikel: &lt;a href="http://www.pendidikankarakter.com/macam-macam-kepribadian-anak/" target="_blank"&gt;Pendidikan Karakter&lt;/a&gt;</description><link>http://blogfajargumelar.blogspot.com/2013/05/macam-macam-kepribadian-anak.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEijzKVtUeaY5J4ljMjYnC5w61buiykDM-FT6L5VWhy8cGrFwEPNOBp1cd-0qYar0dOwu5XT5EULGJ2E7-4AcwcDbZGft-ADiI86y7by32suEmiykYSXyKP4qa0Z0EIXOT_JESANJ4eWCK8G/s72-c/post-13.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8755146193009804155.post-7995517009687852699</guid><pubDate>Thu, 09 May 2013 05:43:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-08T22:51:51.895-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel Pendidikan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pendidikan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pendidikan Karakter</category><title>Belajar Pendidikan Karakter Dari Sepak Bola</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhtf65WAE3O_XRRzvH0bKUqu_RNRapxm5p6g5h2qTmnCKt9AenxFTa6n8_12Qru-P9BDWTo807z9D9zoNByMyLCEKosNwNfgZUiEcwp1MtH7kqLAAHzvs8ynRxkRa_v7n2_cegY1iaG6zLH/s1600/post-12.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhtf65WAE3O_XRRzvH0bKUqu_RNRapxm5p6g5h2qTmnCKt9AenxFTa6n8_12Qru-P9BDWTo807z9D9zoNByMyLCEKosNwNfgZUiEcwp1MtH7kqLAAHzvs8ynRxkRa_v7n2_cegY1iaG6zLH/s200/post-12.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Pendidikan karakter itu bukanlah sesuatu yang muluk-muluk atau sulit. Pendidikan karakter sebenarnya sudah ada dimana-mana. Sudah ada dikeluarga, dilingkungan sosial, sekolah, tempat hiburan dan lainnya. Tapi kali ini kita akan belajar sesuatu inti yang penting tentang pendidikan karakter dari sepak bola.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, kenapa sepak bola karena kondisi atau contoh ini akan sangat mudah di analogikan (disamakan) dengan kondisi dan bagaimana mendidik karakter di dalam sekolah dan rumah. Pada dasarnya pendidikan karakter adalah memberikan aturan main dalam kehidupan dan lingkungan sosial disertai dengan konsekuensi yang berlaku didalamnya. Lalu hubungan dengan sepak bola? Mudah, dalam sepak bola sudah berlaku aturan yang sangat baku dan jelas. Ada aturan main dan konsekuensi. Jika melanggar ada kartu kuning (peringatan), kartu merah (keluar dari permainan), free kick, penalty, corner kick, bahkan denda uang bagi pemain dan team. Bahkan yang lebih “sadis” lagi jika team tersebut harus turun kasta ke liga yang lebih rendah lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai pecinta sepak bola, saya sangat senang dan berulang kali menggunakan contoh ini kepada guru dan orang tua yang ingin tahu tentang bagaimana mendidik karakter anak dengan menggunakan contoh ini. Seorang anak perlu mengembangkan pemahaman yang benar tentang bagaimana dunia ini bekerja, mempelajari “aturan main” segala aspek yang ada di dunia ini dan “hidup” didunia ini. Nah, masalahnya anak pada saat lahir dia tidak memiliki “konsep sosial” didalam kepalanya, oleh karena itu anak perlu tahu bagaimana aturan – aturan yang ada didalam dunia ini. Inilah Pendidikan Karakter, mudah kan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Supaya tidak kena kartu kuning, jangan melanggar. Jika melanggar lagi ya kartu merah. Sehingga banyak dari pemain sepak bola jika kesal terhadap team lawan selalu berusaha menjaga sikap dengan berusaha menghormati wasit dan tetap mengeluarkan uneg-uneg nya. Ya inilah dunia manusia, terkadang ada yang sesuai dan tidak tetapi diperlukan aturan untuk membuat semuanya teratur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam permainan sepak bola pemain inti dalam sebuah pertandingan adalah wasit. Banyangkan jika bermain tidak ada wasit maka kemungkinan besar bukan pertandingan sepak bola lagi yang kita lihat. Tetapi UFC (Ultimate Fighting Championship) di lapangan sepak bola, alias tarung bebas dilapangan sepak bola. Sama dalam dunia pendidikan di sekolah perlau ada figure yang berperan seperti wasit dalam pertandingan sepak bola yang menjadi “penjaga” aturan di sekolah. Dan seringkali hal inilah yang menjadi kelemahan, wasit di sekolahnya tidak berfungsi dengan baik. Sama halnya dirumah, orang tua kurang dapat menjadi wasit dengan baik. Sehingga pendidikan karakter kurang dapat berjalan dengan maksimal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlu kita ketahui semua, pendidikan karakter bukan semata-mata memberikan pengetahuan semata tetapi menetapkan aturan dan konsekuensi dilingkungan sekolah dan dirumah. Dalam peraturan sekolah misal: anak tidak bawa buku pelajaran maka konsekuensinya mendapatkan tugas tambahan. Ini harus jelas dan konsisten, serta dikomunikasikan kepada semua pihak termasuk orang tua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kita melanggar aturan lalu lintas maka jelas kita kena tilang, dan kita bisa pilih mau slip merah atau biru. Merah bayar di tempat, jika biru kita bayar di tempat yang ditunjuk untuk mengurusi tilang (Bank BRI). Dan ini konsisten dan semua masyarakat Indonesia yang menggunakan kendaran bermotor sudah tahu. Inilah dasar dari pendidikan karakter. Ada aturan yang jelas dan konsekuensi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berikutnya, memang sebaiknya seorang yang bertanggung jawab dibidang pendidikan karakter adalah seorang yang memiliki minat, dalam dunia “kemanusian” tidak mesti psikolog. Kenapa sebab ini berkaitan dengan menata aturan dan konsekuensi bagi anak didik. Tentunya aturan ini harus ditata berdasarkan jenjang dan usia dan skala pelanggaran. Misal: hukuman anak yang mencuri atau merusak dengan sengaja property sekolah tentunya akan berbeda dengan anak yang lupa membawa alat tulis, atau tidak membawa catatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah, yang terpenting bagi kita semua bahwa pendidikan karakter bukanlah sesuatu yang rumit. Ini sangat mudah dan ada banyak sekali contohnya disekitar kita, tinggal kita mau apa tidak. Perlu upaya untuk menerapkan ini, kita perlu mengetahui dan belajar tentang seluk beluk manusia dan bagaimana mengatasinya. Sebab manusia saat dilahirkan tidak disertai manual book-nya, lain seperti Black Berry yang kita beli dan sudah disertakan manual book-nya dan ada petunjuk bagaimana menggunakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber Artikel:&lt;a href="http://www.pendidikankarakter.com/bagaimana-belajar-pendidikan-karakter-dari-sepak-bola/" target="_blank"&gt;Pendidikan Karakter&lt;/a&gt;</description><link>http://blogfajargumelar.blogspot.com/2013/05/belajar-pendidikan-karakter-dari-sepak.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhtf65WAE3O_XRRzvH0bKUqu_RNRapxm5p6g5h2qTmnCKt9AenxFTa6n8_12Qru-P9BDWTo807z9D9zoNByMyLCEKosNwNfgZUiEcwp1MtH7kqLAAHzvs8ynRxkRa_v7n2_cegY1iaG6zLH/s72-c/post-12.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8755146193009804155.post-6555771205284780617</guid><pubDate>Thu, 09 May 2013 05:39:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-08T22:52:13.244-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel Pendidikan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pendidikan Karakter</category><title>Peran Pola Asuh Dalam Membentuk Karakter Anak</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgC0SaHHEDO0ttyqvPPvRt_DnhFiiBZ7dDFeuHqjyjDXwSnQyHaL_hILlpIDv-Ug2QlcKEqoY8uftmlpk2vnfp3rAEBwWBESLSuFB7q1JSqa5Gk6hXR2LH3boMvAz_Qux0hyphenhyphen3cxDCjXYkcv/s1600/post-11.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="131" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgC0SaHHEDO0ttyqvPPvRt_DnhFiiBZ7dDFeuHqjyjDXwSnQyHaL_hILlpIDv-Ug2QlcKEqoY8uftmlpk2vnfp3rAEBwWBESLSuFB7q1JSqa5Gk6hXR2LH3boMvAz_Qux0hyphenhyphen3cxDCjXYkcv/s200/post-11.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Berhasil mendidik anak-anak dengan baik adalah impian semua guru dan orang tua. Setiap guru dan orang tua pasti ingin agar anaknya bisa sukses dan bahagia, namun apakah pada kenyataannya semudah itu? Mayoritas orangtua pernah mengalami kesulitan dalam mendidik buah hati tercinta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para guru dan orang tua, ijinkan saya bertanya kepada Anda… Pernahkan kita berpikir bahwa program negatif yang (mungkin) secara tidak sengaja kita tanamkan ke pikiran bawah sadar anak kita, akan terus mendominasi dan mengendalikan hidupnya – membuatnya jadi berantakan di masa depan? Jika mau jujur melakukan evaluasi pada diri sendiri, bisa jadi kita semua termasuk saya sebagai orang tua telah dan sedang melakukan hal ini terhadap anak-anak kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengutip apa yang diungkapkan Dorothy Law Nollte:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika anak dibesarkan dengan celaan, maka ia belajar memaki&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, maka ia belajar berkelahi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, maka ia belajar rendah diri&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, maka ia belajar menyesali diri&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, maka ia belajar mengendalikan diri&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika anak dibesarkan dengan motivasi, maka ia belajar percaya diri&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika anak dibesarkan dengan kelembutan, maka ia belajar menghargai&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, maka ia belajar percaya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, maka ia belajar menghargai diri sendiri&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, maka ia belajar menemukan kasih dalam kehidupannya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jujur sejak saya menikah, saya beruntung sekali memiliki istri yang peduli dengan perkembangan anak kami. Kami saling mengingatkan ucapan yang keluar dari mulut kami dan sikap serta perilaku kami yang “berbahaya” bagi anak kita. Kita sadar betul anak tidak perlu diajarkan sesuatu melalui komunikasi, hanya melihat saja maka itu sudah belajar dan direkam di otaknya. Kami sangat menjaga itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti judul diatas pola asuh adalah pendidikan karakter. Bagi kita orang tua, karakter apa yang ingin kita tanamkan pada anak kita? Berikan contoh itu dalam sikap dan perbuatan serta kata-kata. Maka dengan mudah anak akan mencontohnya dan menyimpannya dalam memory bawah sadarnya dan akan dikeluarkan kembali pada saat “ada pemicunya”. Maksudnya? Saat kita memberikan contoh hormat dan sayang pada pasangan kita, saat anak kita menikah kelak maka dia akan mencontoh perilaku kita orang tua-nya terhadap pasangannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang ini sangat berlaku sekali kata-kata mutiara “buah tidak jatuh jauh dari pohonnya” dan itu saya rasakan betul saat banyak klien saya yang merasakan bahwa kehidupannya adalah hasil dari “fotocopy” orang tua-nya. Kalo orang tua-nya memberikan pengaruh yang baik tidak masalah, tetapi jika rumah tangga berantakan seperti orang tua-nya maka ini adalah suatu musibah. Kenapa ini terjadi? Yah, saya rasa Anda sudah tahu jawabannya bukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadilah teladan bagi buah hati tercinta kita, pada mula dan awalnya anak akan selalu belajar dari lingkungan terdekatnya, yaitu orang tua. Mereka menyerap informasi dengan baiknya dari kelima indra mereka. Bukan hanya perkataan orang tua tapi sikap serta perilaku orang tua akan mereka serap juga, bahkan secara Anda tidak sadari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kita orang tua, ingin tahu berapa nilai Anda sebagai orang tua dalam mendidik anak, ada cara mudah mengetahuinya. Raport pertama anak kita pada waktu sekolah (play group atau TK), itu adalah raport milik kita orang tua, bukan anak. Anda dapat berkaca dari hasil tersebut, bagaimana kualitas “produk” (baca: anak) Anda. Nah itu adalah raport awal saat 3-5 tahun Anda membentuk keluarga dan mendidik anak. Tapi jika mau tahu hasil akhirnya lihatlah kehidupan anak Anda ketika dia sudah berada didalam kehidupan sebenarnya. Lihatlah pergaulannya, cara berbicara dan bersikap dan jika kita orang tua lebih jeli dan bijak lihat keuangannya. Semakin baik kondisi keuangan anak Anda berbanding lurus dengan karakter yang dimiliki anak Anda (yang halal tentunya).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber Artikel:&lt;a href="http://www.pendidikankarakter.com/peran-pola-asuh-dalam-membentuk-karakter-anak" target="_blank"&gt;http://www.pendidikankarakter.com/peran-pola-asuh-dalam-membentuk-karakter-anak&lt;/a&gt;</description><link>http://blogfajargumelar.blogspot.com/2013/05/peran-pola-asuh-dalam-membentuk.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgC0SaHHEDO0ttyqvPPvRt_DnhFiiBZ7dDFeuHqjyjDXwSnQyHaL_hILlpIDv-Ug2QlcKEqoY8uftmlpk2vnfp3rAEBwWBESLSuFB7q1JSqa5Gk6hXR2LH3boMvAz_Qux0hyphenhyphen3cxDCjXYkcv/s72-c/post-11.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8755146193009804155.post-7783472671625113478</guid><pubDate>Wed, 08 May 2013 11:57:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-05-08T22:57:29.172-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Artikel Pendidikan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kesehatan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pendidikan Karakter</category><title>Cara Ampuh Mengatasi Persaingan Antar Saudara</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjqvTf7rfwoc1YaLb7fVsbSQrS0alMFzv7xKMTFfo95WJMLF6aNJdrMLdJFlV-6gvVcgsC63OYBZZF97IS1BH16eudA7Y7f4K_vp1D7kBLazvUTgNU42XZsBOJSuFASP4GRFhzRxh4D9d2V/s1600/post-10.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="131" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjqvTf7rfwoc1YaLb7fVsbSQrS0alMFzv7xKMTFfo95WJMLF6aNJdrMLdJFlV-6gvVcgsC63OYBZZF97IS1BH16eudA7Y7f4K_vp1D7kBLazvUTgNU42XZsBOJSuFASP4GRFhzRxh4D9d2V/s200/post-10.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Jika Anda punya anak tunggal tentu tidak akan mengalami masalah ini. Tetapi jika Anda punya 2 orang anak atau bahkan lebih, maka ini adalah sesuatu yang bisa membuat kepala Anda pusing, bahkan bisa membuat Anda histeris mungkin. Banyak orang tua sering mengeluhkan, saya nggak abis pikir dia itu bisa mengirikan kakaknya atau bagaimana dia bisa mengirikan adiknya. “Kan saya sudah berlaku adil terhadap mereka” ungkap orang tua pada umumnya. Anda tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan masalah ini? Persaingan antar saudara mau tidak mau pasti terjadi. Ini adalah sebuah masalah untuk menunjukkan jati diri dari masing-masing anak. Setiap manusia bahkan anak-anak ingin dirinya dianggap sebagai sosok individu yang special. Nah,inilah yang terjadi pada anak-anak kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang kakak dipuji karena ia pandai menggambar misalkan, pandai berhitung misalkan. Nah, si adik tentunya juga ingin dipuji, tetapi bukan terhadap hal yang sama mungkin. Mungkin ia akan merasa bahwa, “ah.. saya tidak mungkin bersaing disitu karena kakak saya lebih bagus” atau “adik saya lebih bagus”. Maka ia akan mencari bidang yang lain. Jika Anda tidak tanggap terhadap hal ini, inilah yang akan memicu persaingan itu jadi semakin sengit. Seringkali orang tua mengatakan “aduh..hebatnya kamu”. Nah, ketika ia mengatakan ini di depan adik atau kakak maka adik atau kakak tersebut bisa jadi akan merasa tersinggung, “Koq dia yang dipuji, saya koq tidak”.Bagaimana mengatasi hal ini? Inilah caranya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Sederhana sekali, misalkan Anda berhadapan dengan anak nomor 1 dan Anda ingin memuji dia. Anda bisa mengatakan seperti ini, “Wah.. hebat nih, bagus sekali gambar kamu, sama ya seperti juga gambar adik”. Anda memuji anak Anda yang nomor 1, tetapi Anda juga memuji adiknya. Atau sebaliknya Anda berhadapan dengan anak Anda yang nomor 2 dan di dekatnya ada anak nomor 1. Anda mengatakan, “nah.. ini nih baru anak mama hebat sama seperti kakaknya”. Kebanyakan yang di lakukan para orang tua adalah memuji secara personal anak yang bersangkutan. Misalkan seorang adik bisa menyelesaikan sebuah tugas dengan baik, kebanyakan orang tua langsung memujinya “nah.. gitu hebat”. Nah, jika anak yang pertama Anda diam, bukan berarti dia tidak punya perasaan apapun disana. Jika ini sering terjadi dibawah sadarnya dia akan merasa bahwa, “ah.. papa atau mama sayangnya hanya sama adik, sama saya tidak”. Ini bisa terjadi, jadi berhati-hatilah terhadap hal tersebut. Jika Anda memuji anak Anda, pastikan jika ada anak lain disana puji anak tersebut secara tidak langsung. Jika tidak ada anak lainnya Anda boleh sampaikan pujian Anda secara personel pada anak tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Masalah yang lain adalah kurangnya waktu pribadi dengan masing-masing anak. Suatu hari saat selesai sebuah seminar, seorang bapak menghampiri saya dan mengatakan bahwa dia punya permasalahan untuk mengatasi persaingan antara anak-anaknya. Dia punya 2 orang anak dan dia mengatakan bahwa dia sudah bersikap adil pada mereka semua. Bahkan mereka selalu keluar bersama-sama sebagai sebuah keluarga, tetapi mengapa hal ini masih bisa terjadi. Kemudian saya bertanya pada sang bapak ini. “Pak, apakah bapak pernah mengajak salah seorang anak saja untuk pergi keluar bersama bapak sendiri. Atau mungkin bersama bapak dan ibu”. “Itu tak pernah terjadi selama 13 tahun saya menikah dan saya berkeluarga. Kita selalu pergi bersama-sama”. Nah, inilah masalahnya. “Loh.. koq bisa?” kata bapak itu terkejut, mungkin Anda bisa juga mengatakan oh.. bukankah itu juga hal yang bagus? Keluar bersama-sama sebagai sebuah keluarga. Bukankah itu menjalin sebuah kebersamaan. Ya, itu memang menjalin sebuah kebersamaan, tetapi anak Anda juga memerlukan sesuatu yang lain lagi. Dia ingin dianggap sebagai individu yang special. Ketika Anda keluar hanya dengan salah satu anak saja, katakanlah dengan anak nomor 1 saja kali ini, maka dia akan merasa bahwa dirinya special. Ia akan merasa bahwa dirinya adalah yang diperhatikan untuk saat itu. Lain kali Anda keluar dengan anak nomor 2 saja dan dia akan merasa bahwa dia juga diperhatikan. Karena sebagai anak nomor 2, hal yang yang sering terjadi adalah dia akan selau merasa sebagai nomor 2, karena memang itulah kenyataannya. Dia tidak akan pernah merasakan kapan jadi nomer 1. Nah, sampai dia tua pun si kakak pasti jadi nomor 1 dan ia jadi nomor 2, bukankah seperti itu. Karena itu Anda perlu mengantisipasi perasaan ini, dengan cara menjadikannya nomor 1 pada satu waktu tertentu. Ajak dia keluar, istimewakan dia, buat dia merasa bahwa “yes.. sekarang saya nomor 1″. Imbangi dengan sebuah nasehat bahwa kakaknya juga penting. Katakan kepada anak Anda yang nomor 2 misalkan pada saat Anda mungkin mengajaknya makan di restaurant, “hey.. kalau kita belikan kakak makanan kesukaanya bagaimana? nanti kamu yang kasih oke”. Disini Anda membuatnya merasa penting, tetapi Anda juga membuatnya untuk mempunyai rasa perduli pada saudaranya sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah, itu adalah hal-hal yang kecil yang anda perlu lakukan agar persaingan-persaingan seperti ini tidak mencuat jadi sebuah isu yang panas di keluarga Anda. Lakukan hal ini sejak mereka masih kecil. Wah kalau anak saya sudah besar sekarang bagaimana? Anda masih punya waktu untuk melakukannya sekarang. Perbaiki semuanya dan Anda akan melihat hubungan mereka akan jauh lebih baik lagi dan sebagai sebuah keluarga akan sangat kokoh dan sangat kuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber Artikel:&amp;nbsp; &lt;a href="http://www.pendidikankarakter.com/cara-ampuh-mengatasi-persaingan-antar-saudara/" target="_blank"&gt;Pendidikan Karakter&lt;/a&gt;</description><link>http://blogfajargumelar.blogspot.com/2013/05/cara-ampuh-mengatasi-persaingan-antar.html</link><author>noreply@blogger.com (Anonymous)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjqvTf7rfwoc1YaLb7fVsbSQrS0alMFzv7xKMTFfo95WJMLF6aNJdrMLdJFlV-6gvVcgsC63OYBZZF97IS1BH16eudA7Y7f4K_vp1D7kBLazvUTgNU42XZsBOJSuFASP4GRFhzRxh4D9d2V/s72-c/post-10.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>