<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2enclosuresfull.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0">

<channel>
	<title>Fajar Riadi</title>
	
	<link>http://fajarriadi.com</link>
	<description>tinta kering kertas sobek</description>
	<lastBuildDate>Wed, 17 Apr 2013 21:59:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/FajarRiadi" /><feedburner:info xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" uri="fajarriadi" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>tinta kering kertas sobek</itunes:subtitle><item>
		<title>MIFEE Datang Tanah Pun Hilang</title>
		<link>http://fajarriadi.com/?p=945</link>
		<comments>http://fajarriadi.com/?p=945#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Nov 2012 15:58:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fajar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[MIFEE;Papua;Merauke;Fajar;Riadi;Christianus;BasikBasik;Stephanus Gebze;Agus Dumatubun;Merauke]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fajarriadi.com/?p=945</guid>
		<description><![CDATA[“Kami sudah hibahkan tanah kami buat mereka. Biar saja. Kami kembalikan tanah kami kepada Tuhan Maha Pemberi. Biar saja yang [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ff6600;"><em><span style="color: #000000;">“Kami sudah hibahkan tanah kami buat mereka. Biar saja. Kami kembalikan tanah kami kepada Tuhan Maha Pemberi. Biar saja yang penting kami semua selamat.”</span></em></span></p>
<p>Kata-kata itu keluar dari mulut Stephanus Gebze yang kehilangan tanah warisan leluhurnya di Kampung Domande, Distrik Okaba, Merauke, Papua. Dia mengatakan tanah tersebut telah diserobot oleh salah satu perusahaan yang mengklaim memiliki hak konsesi lahan program Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE). Keluarga Stephanus dan beberapa keluarga lainnya tidak mendapatkan sepeserpun ganti rugi. Tiba-tiba saja perusahaan datang dengan membawa surat hak kepemilikan lahan.</p>
<p>Pengalaman Stephanus hanyalah satu dari sekian banyak cerita tak sedap yang dialami warga Merauke akibat program MIFEE. MIFEE, proyek besar yang digulirkan Pemerintah Indonesia sejak 11 Agustus 2010 lalu, disebutkan telah menimbulkan banyak kerugian. Selain dikhawatirkan menimbulkan kerusakan alam luar biasa, MIFEE juga telah menyemai benih-benih konflik yang kini mulai terasa di Merauke.<span id="more-945"></span></p>
<p>Kisah MIFEE dimulai pada 2007. Kala itu, Kabupaten Merauke menggagas upaya percepatan peningkatan kesejahteraan warga dengan mencanangkan tahun investasi. Upaya itu ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Bupati John Gluba Gebze dengan sejumlah investor untuk merealisasikan sebuah program yang kala itu masih bertajuk Merauke Integrated Rice System (MIRE).</p>
<p>Gayung pun bersambut. Pemerintah Indonesia yang tengah berupaya mengatasi masalah krisis pangan dan energi, serta dalih melakukan upaya penghematan dan penghasilan devisa, menaikkan upaya Merauke itu dalam skala besar, yakni MIFEE.</p>
<p>Entah karena kegegabahan atau wujud ketidakmatangan perencanaan program, MIFEE sempat diluncurkan dua kali. Sebelum Agustus itu, ia sudah diluncurkan pertama kali pada awal 2010.</p>
<p>Akan tetapi, eskalasi dari program pemerintah kabupaten menjadi program nasional Indonesia bukannya tanpa konsekuensi. Jika MIRE hanya berkonsentrasi membudidayakan bahan pangan berupa beras, MIFEE lebih luas lagi. MIFEE mencakup pertanian tebu, jagung, perkebunan kelapa sawit, hutan tanaman industri, peternakan sapi, dan perikanan yang berorientasi ekspor.</p>
<p>Setidaknya ada lima pertimbangan mengapa program raksasa ini ditempatkan di Merauke. <em>Pertama</em>, dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional yang diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2008, Merauke ditetapkan sebagai kawasan andalan dengan pertanian sebagai sektor unggulan. <em>Kedua</em>, Merauke memiliki lahan potensial untuk pertanian yang sangat luas, yakni 2,5 juta hektar dengan topografi datar dan subur ditunjang oleh agroklimat yang sesuai. <em>Ketiga</em>, berbagai tanaman pangan tumbuh dengan baik di Merauke. <em>Keempat</em>, Merauke memiliki padang untuk peternakan sapi, kerbau, kuda, kambing, domba, kanguru, dan rusa. Dan <em>kelima</em>, Merauke memiliki pantai, sungai, dan rawa untuk pengembangan perikanan.</p>
<p>Kalangan pengusaha-pengusaha raksasa menyambut positif adanya MIFEE ini. Segera setelah diluncurkan, sebanyak 36 perusahaan mendaftar sebagai penggarap. Namun, dalam sebuah diskusi panel “Negara Hukum dan Hak Asasi Manusia” pada <em>Konferensi Negara Hukum</em>, di Jakarta, Rabu (10/10), aktivis Perkumpulan untuk Pembaharuan Berbasis Masyarakat dan Ekologis (HuMa), Siti Rakhma Mary H, mengatakan bahwa pemerintah saat ini telah mengeluarkan 48 ijin lokasi untuk perusahaan-perusahaan di atas tanah seluas 2.319.094 hektar.</p>
<p>Ibarat menggelar karpet merah bagi para pengusaha-pengusaha itu, pemerintah juga telah membuat seperangkat payung hukum berupa undang-undang, peraturan pemerintah, maupun instruksi presiden untuk mempermudah realisasi penguasaan lahan.</p>
<p>Andaikan tanah seluas itu tak bertuan, barangkali tak banyak persoalan muncul. Dan ceritanya memang tak demikian. Tanah itu nyatanya telah didiami selama ratusan tahun oleh masyarakat adat Malind-Anim. Di sanalah selama ini mereka tinggal, berburu, dan meramu makanan. Di sana pula letak sekian banyak tempat yang dikeramatkan oleh masyarakat Malind-Anim.</p>
<p><strong>Munculnya Konflik</strong><br />
Adanya masyarakat Malind-Anim membuktikan bahwa tanah yang akan digarap pengusaha-pengusaha itu bukannya tak bertuan. Alam Merauke telah memberkati mereka dengan segala macam kebutuhan yang dapat mereka nikmati. Dan masyarakat, dengan segala kearifannya, telah menjaga alam tersebut dengan sedemikian baiknya. Jika pun kini perusahaan yang dibentengi oleh pemerintah Indonesia datang dengan seperangkat aturan yang baru dibuat beberapa tahun lalu untuk berusaha merebut tanah-tanah adat, ia dipandang sebagai bentuk kesewenang-wenangan yang nyata.</p>
<p>Stephanus, yang telah kehilangan tanah leluhurnya di Domande, kini tinggal bersama keluarganya di Kampung Onggari, Distrik Merauke. Namun demikian, meski sudah pindah, dia dan warga lainnya masih kerap didatangi oleh pihak perusahaan. Mereka mengaku dibujuk dengan sejumlah uang supaya menandatangani dokumen penyerahan lahan.</p>
<p>“Ada saja bujukan lewat kepala distrik, kadang lewat gereja,” ucap Stephanus kepada LenteraTimur.com, Jumat (12/10). “Tapi kami sudah tidak mau terima mereka punya bujuk.”</p>
<p>Bagi Stephanus, kehilangan tanah lagi berarti hilangnya lahan berburu dan sumber pangan. Belum lagi sekarang ini dia tinggal di daerah persimpangan sungai.</p>
<p>“Kalau terima uang dari mereka, sungai dibendung perusahaan. Kalau sudah dibendung, tidak mendapat air kami,” ujar Stephanus.</p>
<p>Kedatangan orang-orang dari perusahaan-perusahaan ini membuat suasana kampungnya menjadi tidak harmonis. Kecurigaan muncul karena mereka meyakini bahwa orang perusahaan yang datang punya niat untuk membujuk. Akhirnya, warga menjaga jarak satu sama lain. Padahal, sebelumnya mereka hidup kolektif dan rukun.</p>
<p>“Jadi kami warga saja yang jaga-jaga. Lebih baik jaga kekompakan warga,” tukas Stephanus. “Kami hormati kalau ada punya sikap terima tali asih. Tapi kalau nanti tidak diberdayakan sesuai prasasti, mau bagaimana?”</p>
<p>Prasasti yang dimaksud Stephanus adalah ‘Piagam Penghargaan’. Dalam beberapa kasus, perusahaan memang memberikan piagam penghargaan secara simbolis kepada tetua warga yang disaksikan seluruh warga. Dalam piagam penghargaan itu tertera sejumlah uang yang dibahasakan sebagai ‘tali asih’. Entah bagaimana ceritanya, kata Stephanus, piagam penghargaan itu kelak bisa berubah menjadi tanda serah terima kepemilikan tanah beribu-ribu hektar.</p>
<p>Pola-pola serupa juga dituliskan dalam buku <em>MIFEE: Tak Terjangkau Angan Malind</em><em> </em>(2011). Di kampung Boepe, disebutkan bahwa ada salah satu perusahaan yang memberikan uang penghargaan sejumlah Rp. 100 juta untuk tanah seluas seribu hektar. Penghargaan itu ditandai dengan Surat Pelepasan Hak atas tanah tersebut.</p>
<p>Jika seribu hektar berarti 10.000.000 m<sup>2,</sup> maka untuk 1 m<sup>2</sup> tanah masyarakat berarti dihargai Rp. 10. Ya, Rp. 10 untuk 1 m<sup>2</sup>.</p>
<p>Banyak yang murka dengan ‘penghargaan’ ini. Muncul anggapan bahwa itu bukan ‘penghargaan’, bukan pula uang ganti lahan, tetapi lebih tepat disebut sebagai penghinaan.</p>
<p>Jago Bukit, salah seorang aktivis Forum Kerja LSM Papua (Foker), pun bercerita bahwa pernah terjadi pertukaran lahan sejumlah 40.000 hektar dengan uang sejumlah Ro. 6 milyar.</p>
<p>“Warga senang. Belum pernah mereka tahu uang milyaran rupiah. Tapi setelah dibagi-bagi semua, kepala keluarga cuma dapat 200 ribu,” ucap Jago kepada LenteraTimur.com, Jumat (12/10).</p>
<p>Uang itu adalah wujud ganti rugi untuk pengelolaan lahan selama 30 tahun. Tapi, siapa yang bisa menjamin jika tanah-tanah itu tidak akan direnggut selamanya? Padahal, kasus di Kampung Boepe dan yang diceritakan oleh Jago hanya sejumput dari kasus-kasus lainnya yang masih banyak terserak.</p>
<p>Akan tetapi, mengapa beberapa tokoh masyarakat adat justru menyambut baik kedatangan perusahaan jika tahu uang yang diberikan perusahaan jumlahnya begitu kecil? Masyarakat adat di kampung-kampung tersebut selain tidak banyak yang berpendidikan, mereka juga sangat miskin. Tak ayal mereka begitu gembira melihat jumlah uang yang mereka kira begitu besar. Padahal, uang yang kelihatannya besar menjadi tak bernilai setelah dibagi-bagi kepada seluruh warga. Mereka juga berharap akan mendapat kepastian penghidupan seperti pekerjaan baru yang layak dan sebagainya. Sesuatu yang sama sekali belum ada jaminannya.</p>
<p>Lebih lanjut Jago mengatakan ihwal luasan tanah juga tak luput dari sesuatu yang penuh manipulasi. Jika dalam perjanjian serah terima pengelolaan tanah tercantum sekian hektar, di lapangan ceritanya bisa lain. Bisa dua kali lipat besaran ukuran dari apa yang tertulis.</p>
<p>“Orang-orang di sini tentu tidak bisa mengukur luas tanah. Mereka sama sekali tidak punya data,” ujar Jago.</p>
<p>Dampak lain dari manipulasi data sekaligus ketidakpunyaan data ini adalah munculnya konflik antar kampung. Jadi, jika ada suatu kampung yang telah menandatangani penyerahan tanah sekian hektar, maka itu bisa memicu kemarahan kampung lain. Sebab, luasan tanah yang ditandatangani itu ternyata melampaui batas kampung dan memakan tanah kampung tetangga.</p>
<p>“Kampung satu dengan lainnya jadi mudah berkonflik sekarang ini gara-gara tabrakan batas tanah,” tutur Christianus Basik Basik dari Kampung Wendu, Distrik Semangga kepada LenteraTimur.com, Jumat (12/10).</p>
<p>Christianus juga menceritakan nasib beberapa warga Kampung Salor yang kini tidak lagi punya tempat tinggal di tanahnya sendiri. Setelah lahannya dibeli oleh salah satu perusahaan, warga tinggal di tempat-tempat yang tidak layak.</p>
<p>“Ada yang saya lihat tinggal di bawah jembatan. Sudah semacam gelandangan di rumah sendiri,” kata Christianus.</p>
<p><strong>Tersingkir dari Tanahnya</strong><br />
Apa yang terjadi pada Stephanus Gebze atau orang-orang Kampung Salor memberikan contoh atas suatu pola perpindahan masyarakat Papua dari tanahnya. Stephanus memang bisa tinggal di Onggari. Tapi, itu bukan jaminan bahwa dia bisa hidup sebagaimana yang dia inginkan. Sewaktu-waktu, pihak perusahaan bisa saja datang, dengan bermacam cara, untuk membuat masyarakat pindah menyingkir dari tempat tinggalnya sendiri.</p>
<p>Sesungguhnya, Kabupaten Merauke saat ini merupakan <em>lebensraum</em> (ruang kehidupan, habitat) suku besar Malind-Anim. Setidaknya ada empat suku besar yang hidup di dalamnya, yakni Mappi, Asmat, Muyu, dan Mandobo. Mappi sekarang terdapat di Kabupaten Mappi dan Asmat di Kabupaten Asmat. Sementara Muyu dan Mandobo terdapat di wilayah Kabupaten Boven Digul. Saat ini, karena sesuatu dan lain hal, disebutkan bahwa kelompok-kelompok orang Muyu (dan Mandobo) juga menuntut pemekaran Kabupaten Boven Digul, dengan membentuk sebuah kabupaten baru, yakni Kabupaten Muyu (dan Mandobo).</p>
<p>Sampai saat ini, orang Malind-Anim masih hidup dalam tradisi berburu dan meramu, yang menurut Koentjaraningrat dalam bukunya <em>Manusia dan Kebudayaan di Indonesia</em> (1970), adalah sebuah pola penghidupan yang disebut mulai dikenal sejak 110 abad sebelum masehi. Sementara itu, mata pencaharian bertani padi di sawah beririgasi disebut baru dikenal pada abad ke-14.</p>
<p>Datangnya MIFEE tentu akan memperjumpakan antara dua kondisi yang berbeda tersebut. <em>Pertama</em>, antara kedua moda produksi pangan tersebut terbentang jarak 125 abad lamanya. <em>Kedua</em>, kedua moda produksi berbeda secara ruang dan konteks. Dan <em>ketiga</em>, pola berburu dan perladangan hutan sagu akan tertekan oleh pola perladangan yang dibawa MIFEE.</p>
<p>Jika disebutkan bahwa pertanian baru tadi merupakan sesuatu yang maju dari pola sebelumnya, maka hal tersebut tidak dapat diamini begitu saja. Antopolog Claude Levi-Strauss, dalam bukunya <em>Ras dan Sejarah</em>(2000) mengatakan bahwa sejatinya tidak ada yang dapat disebut kemajuan secara mutlak dalam peradaban. Apa-apa yang baru merupakan tindakan peniruan belaka dari yang sudah ada, dan tentunya sezaman dengan yang tertiru. Ia lebih tergantung pada pilihan dan konteks ruang.</p>
<p>“Perkembangan pengetahuan sejarah dan arkeologi cenderung dibeberkan dalam ruang dan bentuk-bentuk peradaban yang membawa kita berimajinasi seperti urut-urutan berjalannya waktu,” tulis Claude Levi-Strauss.</p>
<p>Begitu juga pola perburuan atau perladangan hutan sagu yang dilakukan oleh orang-orang Malind-Anim. Pola dan teknologi yang mereka gunakan tak dapat diartikan sebagai sesuatu yang “ada di belakang”. Suatu pola dan teknologi selalu dilahirkan oleh kebutuhan dan kemudian diwarnai oleh kebudayaan dimana ia berada.</p>
<p>Jika MIFEE datang dengan membawa misi membudidayakan moda produksi pertanian modern, bisa dibayangkan kesenjangan antara kebiasaan dan keterampilan masyarakat setempat dengan segala macam teknik produksi yang akan dijalankan perusahaan-perusahaan. Kalau sudah demikian, mampukah masyarakat di sana diikutsertakan dalam aktivitas-aktivitas perusahaan? Padahal, kalaupun ada yang sepakat dengan MIFEE, masyarakat berharap akan dipekerjakan sebagai karyawan-karyawan di perusahaan-perusahaan tersebut.</p>
<p>Tapi, tentu tidak semua masyarakat di Merauke mengalami kurangnya pendidikan. Sudah banyak putra putri masyarakat adat Malind-Anim yang telah menempuh pendidikan tinggi. Hanya saja, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Provinsi Papua pada 2009 disebutkan sebesar 64,53, jauh berada di bawah rata-rata Indeks nasional sebesar 71,76, dan meningkat sebesar 64,94 pada tahun 2010. Secara rangking, Papua berada di peringkat terbawah dari seluruh provinsi provinsi yang ada di Indonesia.</p>
<p>Bukti sudah ada. Dalam buku <em>MIFEE: Tak Terjangkau Angan Malind</em>, disebutkan bahwa Marius Moiwend, warga kampung Sanggase, Distrik Okaba, dan beberapa rekannya ditolak bekerja di PT. Medcopapua Industri Lestari karena tidak memiliki ijazah Sekolah Menengah Pertama (SMP). Padahal, Marius hanya ingin menjadi satpam di perusahaan itu.</p>
<p>Dalam buku yang sama, disebutkan juga bahwa agar semua proyek itu terlaksana sebagaimana mestinya, diperkirakan dibutuhkan sekitar empat tenaga kerja untuk setiap hektarnya. Itu berarti, secara total dibutuhkan sekitar 4,8 juta tenaga kerja. Ini adalah jumlah yang luar biasa besar jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Kabupaten Merauke sendiri saat ini. Dari data Dinas Sosial Politik dan Kependudukan Merauke, Mei 2010, penduduk Kabupaten Merauke adalah 233.059 jiwa. <a href="http://www.lenteratimur.com/hanya-malaikat-yang-belum-mampir-ke-perbatasan/" target="_blank">Arus migrasi</a> yang kencang ke Papua akan bertambah dengan proyek pangan ini, dan secara sosial-kultur-politik, masyarakat di sana akan kian tertekan.</p>
<p>Saat ini saja, masyarakat Papua sudah berada dalam bayang-bayang dominasi pendatang. Pada 1959, persentasi pendatang masih kurang dari dua persen. Pada 1971, ia meningkat menjadi empat persen. Pada 2000, 30 tahun kemudian, ia menjadi 35 persen dari populasi. Jim Elmslie, akademisi Australia, dalam laporan penelitiannya yang berjudul <strong><em>West Papuan Demographic Transition and the 2010 Indonesian Census: “Slow Motion Genocide” or not?</em></strong> menyebutkan hingga pertengahan tahun 2010, jumlah Orang Asli Papua mencapai 1.730.336 atau 47,89 persen. Sementara non Papua mencapai 1.882,517 atau 52,10 persen. Cepat atau lambat, orang asli Papua akan segera menjadi <a href="http://www.lenteratimur.com/keindonesiaan-dalam-perspektif-papua/" target="_blank">minoritas di tanahnya sendiri</a>.</p>
<p><strong>Masyarakat yang Tersisih</strong><br />
Dalam satu dasawarsa terakhir, media massa gencar memberitakan tentang krisis pangan, papan, minyak, dan pemanasan global. Dalih krisis inilah yang membawa pengusaha-pengusaha raksasa mendatangi apa yang dianggap sebagai “lahan-lahan kosong” di berbagai penjuru untuk dijadikan ladang-ladang produksi baru.</p>
<p>MIFEE pun demikian. Atas dasar upaya mencukupi kebutuhan pangan dalam negeri Indonesia dan peningkatan devisa, perusahaan-perusahaan diberi jalan mulus untuk memulai industrialisasi di Merauke.</p>
<p>Padahal beberapa pihak sudah menolak industrialisasi dalam nalar pemenuhan kebutuhan pangan ini. Sebagai contoh, Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) pada 2010 sudah mengemukakan akan salah arahnya MIFEE yang mempromosikan agribisnis perikanan budidaya maupun tangkapan yang didorong melalui minapolitan. Kebijakan ini seolah mengindikasikan Indonesia bermasalah dengan produksi sektor pertanian. Padahal, Indonesia sama sekali tidak memiliki persoalan tersebut. Pasokan ikan untuk kebutuhan konsumsi sudah dipenuhi oleh nelayan tradisional.</p>
<p>Ketua Program Pascasarjana Antropologi Universitas Cendrawasih, Agus Dumatubun, juga dengan tegas menolak MIFEE. Dia mengatakan proyek ini memperlihatkan bahwa pemerintah sama sekali tidak memahami masyarakat Merauke.</p>
<p>Di Merauke, menurut Agus, penguasa tanah adalah marga-marga atau klan-klan yang jumlahnya banyak sekali. Merekalah yang turun temurun mewarisi tanah. Namun, pemerintah justru mengurus perijinan tanah ini dengan subjek-subjek yang tidak memiliki akar tradisi dengan masyarakat adat, seperti Lembaga Masyarakat Adat (LMA), penguasa distrik, dan sebagainya.</p>
<p>“Mengapa tidak berbicara dengan warga langsung? Kalau sudah bicara dengan warga, apa sudah dijelaskan bagaimana mestinya MIFEE itu positif atau tidak?” ujar Agus.</p>
<p>Dalam Deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Hak-hak Masyarakat Adat atau <em>United Nation Declaration on The Rights of Indigenous People</em> (UNDRIP), telah terdapat prinsip-prinsip Free, Prior and Informed Consent (FPIC) yang diakui keberadaannya. Pada Pasal 19 dinyatakan bahwa “Negara-negara yang akan melakukan konsultasi dan bekerjasama dengan kehendak baik dengan masyarakat adat melalui institusi-institusi perwakilan mereka sendiri untuk mendapatkan keputusan dari masyarakat adat yang dilakukan secara bebas tanpa tekanan apapun berdasarkan informasi yang lengkap sejak dini (<em>free, prior, and informed consent</em>) sebelum menerima dan melaksanakan langkah-langkah legislatif atau administratif yang akan mempengaruhi masyarakat adat”.</p>
<p>Ada lima prinsip yang terkandung dalam UNDRIP Pasal 19 ini. Yakni (1) Masyarakat berhak untuk menyatakan menerima atau menolak sebuah kebijakan; (2) Jika mereka menerima, terlibat penuh dalam seluruh proses pengambilan keputusan mengenai sebuah kebijakan atau proyek pembangunan dimaksud; (3) Masyarakat berhak diwakili oleh sistem perwakilan yang mereka tentukan sendiri secara bebas di dalam seluruh proses pembuatan kebijakan pengambilan keputusan; (4) Keputusan yang diambil masyarakat adat harus dilakukan berdasarkan informasi yang lengkap mengenai sebuah kebijakan atau proyek pembangunan. Informasi tersebut harus disampaikan kepada masyarakat sejak dini, sedini rencana mulai digagas, dan (5) keputusan diambil masyarakat melalui mekanisme yang mereka kenal, yaitu yang mereka jalankan dalam kehidupan mereka dan melibatkan lembaga-lembaga yang mereka bentuk (termasuk lembaga adat).</p>
<p>Kabupaten Merauke memiliki topografi dataran rendah. Masyarakat adat di sana banyak tinggal di dekat sungai untuk mendapatkan jaminan ketersediaan air minum. Satu hal yang dikhawatirkan oleh Agus jika perusahaan-perusahaan datang ialah air sungai justru dibendung untuk kebutuhan perusahaan. Bisa dipastikan, kebutuhan air untuk minum dan mengairi tanaman pangan, seperti sagu, akan menyusut drastis. Salah satu tanaman yang diusahakan oleh perusahaan secara besar-besaran adalah kelapa sawit. Padahal, kelapa sawit adalah jenis tanaman yang dikenal banyak menyerap air.</p>
<p>Masyarakat adat yang berbeda secara kebiasaan dapat dipastikan akan tersisih jika berkompetisi dengan pendatang dalam hal mendapatkan pekerjaan. Perusahaan akan merekrut calon karyawan yang memiliki bekal pendidikan tinggi. Sementara, mencari calon karyawan dari warga sekitar yang memiliki pendidikan dan ketrampilan yang memadai serta sesuai tentu saja sulit.</p>
<p>“Logika perusahaan mencari karyawan terbaik, sementara orang-orang sekitar tidak akan berpikir sejauh itu,” kata Agus. “Mereka tahunya perusahaan ambil tanah, bangun pabrik, lantas mereka sendiri disisihkan, dianaktirikan.”</p>
<p>Perasaan disisihkan inilah yang kemudian justru merekatkan solidaritas. Masyarakat yang sama-sama menanggung perasaan senasib yang disisihkan oleh pendatang akan mencoba menuntut hak dan martabatnya. Namun mereka juga khawatir diberi label “separatis”.</p>
<p>“Kami tinggal di perbatasan. Kami khawatir jika melawan dicap separatis, OPM (Organisasi Papua Merdeka-red). Kami bingung juga. Akhirnya kami terpaksa mengalah,” ucap Stephanus.</p>
<p><strong>MP3EI</strong><br />
Pada saat yang sama, MIFEE sejatinya “hanyalah” salah satu proyek besar Indonesia. Proyek besar itu disebut Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia atau (MP3EI). Dalam proyek skala raksasa ini, pemerintah membagi setiap wilayah di Indonesia ke dalam koridor-koridor ekonomi yang berbeda-beda.</p>
<p>Sumatera, misalnya, akan menjadi “Sentra Produksi dan Pengolahan hasil Bumi dan Lumbung Energi Nasional”; Jawa menjadi “Pendorong Industri dan Jasa Nasional”; Kalimantan menjadi “Pusat Produksi dan Pengolahan Hasil Tambang dan Lumbung Energi Nasional”; Sulawesi menjadi “Pusat Produksi dan Pengolahan Hasil Pertanian, Perkebunan, Perikanan, Minyak dan Gas, dan pertambangan Nasional”; Bali-Nusa Tenggara menjadi “Pintu Gerbang Pariwisata dan Pendukung Pangan Nasional”; dan Kepulauan Maluku-Papua menjadi Pusat Pengembangan Pangan, Perikanan, Energi, dan Pertambangan Nasional.</p>
<p>Proyek MP3EI memang ambisius. Dan Stephanus, atau orang-orang Malind-Anim, adalah saksi-saksi dibalik upaya Indonesia mendongkrak pertumbuhan ekonominya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fajarriadi.com/?feed=rss2&amp;p=945</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mbok Tandur</title>
		<link>http://fajarriadi.com/?p=921</link>
		<comments>http://fajarriadi.com/?p=921#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Sep 2012 13:32:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fajar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Mbok Tandur;Fajar;Fajar Riadi;Mbah Karmo;Juwariyah;Cerpen;fiksi;bengek;mengi;mendong]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fajarriadi.com/?p=921</guid>
		<description><![CDATA[Sore lingsir perlahan sekali. Hari ini matari memilih jalan yang landai barangkali. Namun itulah yang memang diinginkan Mbok Tandur, petang [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Sore lingsir perlahan sekali. Hari ini matari memilih jalan yang landai barangkali. Namun itulah yang memang diinginkan Mbok Tandur, petang jangan buru-buru sampai. Kalau petang lekas sampai, tentu selembar tikar yang masih tiga perempat jadi batal diambil Juwariyah untuk dijual ke Pasar Wage besok pagi.</p>
<p>Memang kemarau begini matari sering memilih jalan di sebelah utara rumah bambu Mbok Tandur. Nah, kalau matari sinarnya sudah sekuning telorceplok, dan sudah sorot lewat sela-sela genteng yang pecah di depan rumah, berarti hari memang benar-benar sudah sore. Nyatanya belum. Babon lurik, si induk ayam milik Mbok Tandur juga masih berkeliaran mengasuh anak-anaknya. Kalau surup menjelang tentu ia segera mendekati kandang.</p>
<p>Mbok Tandur masih menganyam tikar. Jari-jari keriputnya terampil menyulam batang demi batang mendong. Kedua matanya bekerja keras mengawasi mana mendong warna warna merah, warna hijau, atau mendong polos yang tak disumbo. Jangan sampai salah. Sebab kalau jumbuh, tentu tak bagus jadinya tikar.<span id="more-921"></span></p>
<p>Jengkel juga ia bilamana kerja menganyam tikar diburu waktu begini. Bagaimana tidak, sejak Kliwon lalu selembar tikar yang ia anyam belum juga kelar.  Kalau bukan karena Mbah Karmo, suaminya, yang sepekan terakhir ini kumat bengeknya, tentu kerjaannya sudah selesai paling tidak kemarin sore.</p>
<p>Waktu sepekan terakhir ini banyak tersita buat mengurus Mbah Karmo. Hari Kliwon siang, setelah sejak pagi Mbah Karmo batuk kemengi-mengi, lalu ia mengundang Pak Mantri buat memeriksa suaminya. Setelah memeriksa pasiennya, Pak Mantri memberi obat dan selembar catatan resep. Lantas keesokan harinya Mbok Tandur minta diantar Jamino, tetangganya, ke apotek untuk menebus meskipun cuma separo. Jamino pula yang ia minta antar ke pasar mencari daun serai dan temulawak, resep alami yang juga disarankan Pak Mantri. Semuanya ia peroleh, ia masak, lantas ia berikan kepada suaminya.</p>
<p>Mbok Tandur cuma tak sanggup mencari klarap. Kata Mbah Setro, kawan baik suaminya, sakit bengek bisa sembuh kalau makan abu klarap yang bakar. Mbok Tandur tak sanggup mendapat klarap, jenis cecak yang bisa terbang itu. Jangankan mendapatkannya, mencarinya saja sudah susah sekarang ini.</p>
<p>Sambil menekuri keadaan suaminya, Mbok Tandur teringat anaknya, Pramono. Ah, tentu hidup tidak bakal lebih susah kalau Pramono ada di rumah. Tentu ia bisa dimintai tolong mencari daun randu untuk obat juga meskipun kemarau bolong begini. Atau malah Pramono bisa mengantar bapaknya ke dokter di kecamatan. Ah, sudahlah. Pikir Mbok Tandur orang di rantauan jangan sering-sering diangen-angen. Kalau perasaan sampai tembus, dia bisa sedih. Mbok Tandur lantas mengambil sirih, kapur, dan menjumput gambir. Ia mulai nginang.</p>
<p>“Nduuur… Nduuur”</p>
<p>Tentu yang memanggil itu Mbah Karmo. Panggilannya diikuti bunyi paru-paru yang kemengi-mengi. Pasti kalau bukan minta dipijit kakinya, minta minum, ya sekadar mau tahu apa Jambrong, ayam jagonya sudah masuk kandang apa belum.</p>
<p>Mbok Tandur masih meneruskan anyamannya. Tanggung. Sebentar lagi sampai sebaris ujung.</p>
<p>“Nduuuur!”</p>
<p>Tapi suara itu, dan mengi yang mengikutinya, membuat Mbok Tandur beranjak juga. Sesampai di kamar ia melihat suaminya terlentang dengan mata menatap para-para kayu jati tua yang tak lurus. Begitu tahu istrinya merapat ke tempat tidurnya, telunjuk dan jari tengahnya membentuk jepit dan direkatkan di bibir. Mbok Tandur tahu isyarat itu. Lekas ia mengambil sebatang rokok <em>Tjap Praoe Lajar</em> di kursi dan tanpa berkata apa-apa menyerahkan kepada suaminya.</p>
<p>“Ndur, korek, Ndur”</p>
<p>“Buat apa?”</p>
<p>“Ya buat nyalain rokok, tho”</p>
<p>“Jangan. Wong batukmu itu wis kemengi-mengi mosok masih mau rokokan. Wis, diakep begitu saja.”</p>
<p>“Wis tho Ndur, wis empat hari aku enggak ngerokok. Pait mulutku.”</p>
<p>“Pait ya ngopi wong ya sudah kubikinkan. Sudah dibilang Pak Mantri ngrokoknya dikurangi dulu.”</p>
<p>Mbah Karmo tercekih-cekih. Lagi-lagi diikuti bunyi mengi dari dalam paru-parunya.</p>
<p>“Wis empat hari, Ndur, aku enggak rokokan. Pait. Khan disuruhnya ngurangi, bukan berhenti tho. Wis cepetan, mana koreknya!”</p>
<p>Mbok Tandur mengambil nafas. Suaminya masih ngotot minta koreknya. Mbok Tandur memang tidak ingin suaminya merokok lagi. Kalau cuma dihisap, tanpa dibakar, boleh-boleh saja. Sudah empat hari suaminya mengikuti anjuran Pak Mantri dan dituruti. Empat hari suaminya nurut dan tak protes.</p>
<p>Apa hambarnya lidah yang tidak merokok sama dengan kalau ia sendiri disuruh berhenti nginang? Ia pernah puasa mengunyah sirih gara-gara tanpa sepengetahuan sirihnya dibikin mainan pasar-pasaran anak tetangga. Sepekan ia tak mengunyah sirih dan lama-lama pahit juga di pahit .</p>
<p>“Cepetan tho, Ndur!”</p>
<p>Sergah suaminya membuyarkan bayang-bayang Mbok Tandur.</p>
<p>“Hmmm&#8230;”</p>
<p>Mbok Tandur mengalah. Kali ini ia mau berkompromi. Biarlah sekali ini suaminya merokok setelah itu ia akan melarang kemudian. Tanpa berkata-kata ia segera beranjak ke dapur dan mengambil korek api di sebelah tungku.</p>
<p>Mbah Karmo kini duduk bersandar di sandaran ambin. Mbok Tandur menyodorkan korek ke depan mulut Mbah Karmo yang telah menggapit sebatang rokok. Tanpa basa-basi Mbok Tandur menyalakan korek dan mengarahkannya ke ujung rokok yang digapit mulut suaminya. Ujung rokok terbakar dan membara kemudian setelah sekali dua  hisapan yang membikin pipi peot Mbah Karmo kembung kempis. Dada Mbah Karmo naik turun dan batuknya tersengal kemudian.</p>
<p>“Sudah dibilangi jangan ngrokok, ngeyel!” sela Mbok Tandur.</p>
<p>“Biar. Sudah lanjutin kerjamu sana.”</p>
<p>“Pokoknya habis ini jangan ngrokok lagi.”</p>
<p>Mbah Karmo tak berkata apa-apa lagi. Sekali lagi ia hisap rokoknya dalam-dalam.  Sambil berlalu dari hadapan suaminya, Mbok Tandur masih sempat menggerutu, “Tua-tua susah dibilangi.”</p>
<p>Mbok Tandur segera mengambil tempatnya lagi, duduk di ambang pintu, kembali menekuri pekerjaannya. Tangannya terampil menganyam batang demi batang mendong. Tapi pikirannya bercabang ke keadaan Mbah Karmo. Dulu bila sedang kambuh, 2-3 hari penyakit bengek suaminya sudah sembuh.Tapi sekarang sudah jelang 5 hari suaminya masih batuk kemengi-mengi. Benar-benar tak seperti biasanya.</p>
<p>Ah..gara-gara pikirannya itu dua kali Mbok Tandur salah menganyam. Yang pertama jumbuh mendong warna merah, sekarang jumbuh mendong warna hijau. Lagi-lagi ia menggerutu, harusnya pekerjaannya sudah selesai kemarin sore.</p>
<p>“Mbok, kulonuwuuun… Mbook”</p>
<p>“Heh, Yah, sudah datang kamu. Masuk Yah. Sebentar ya, tinggal dikit. Seduiiiluk maneh.”</p>
<p>“Iya Mbok, wis ora ngopo. Tak tunggu. Wong enggak kesusu. Ini lho aku kasih obat buat Mbah Karmo,” Juwariyah menyodorkan sebungkus kresek.</p>
<p>“Oh, iya yah. Suwun yo. Maturnuwun, yo.” Mbok Tandur membuka bungkusannya: seonggok daun kecubung, bunganya masih ada 4 kuntum.</p>
<p>“Eh, Yah, ini bagaimana cara bikinnya? Aku ndak ngerti.”</p>
<p>“Itu sudah kering, Mbok. Dilinting terus Mbah Karmo disuruh ngrokok pakai ini. Ngrokok kecubung saja, jangan boleh rokok yang biasanya.”</p>
<p>“Woh..begitu ya. Iya Yah. Seperti wong rokokan ya jadinya?” Mbok Tandur terkekeh.</p>
<p>“Iya. Memang Mbah Karmo di mana? Di tegalan?”</p>
<p>“Enggak. Ada di kamar. Pagi tadi mau dangir lagi di tegalan. Nekat. Ya kularang.”</p>
<p>“Iya. Jangan boleh kerja apa-apa. Ya wis, sampeyan teruskan, aku mau besuk Mbah Karmo.”</p>
<p>“Iya, iya, jenguk dia. Senang dia kalau ada yang besuk. Ini juga tinggal sedikit. Sebentar lagi selesai.”</p>
<p>Juwariyah melangkah menuju rumah belakang, ke kamar Mbah Karmo biasa istirahat. Ia lihat mulut Mbah Karmo menganga. Pikir Juwariyah, nyenyak betul orang ini.</p>
<p>Ia lihat tangan jari tangan kanannya menjepit rokok yang masih menyala, namun rokok itu membakar tikar.</p>
<p>“Lhoh, Mbah mo, Mbah. Bangun, Mbah!” Juwariyah mengguncang-guncang lengan Mbah Karmo. Mbah Karmo tetap tak bergerak. Firasat Juwariyah mendadak memburuk.</p>
<p>“Mbook…Mbook Tanduuuur…Mbah Karmo, Mbooook!”</p>
<p>Mbok Tandur yang masih menganyam mendong kaget. Firasatnya tak baik. Jenggirat ia segera menuju rumah belakang.</p>
<p>“Mbok Tandur, Mbah Karmo, mbook..”</p>
<p>“Ono opo tho, Yah?”</p>
<p>Mbok Tandur melihat Juwariyah matanya berkaca-kaca.</p>
<p>“Mbah Karmo iki piye, Mbok?”</p>
<p>Mbok Tandur merapat ke tubuh Mbah Karmo, menggoncang-goncangkan lengan suaminya.</p>
<p>“Mo, Karmo, bangun, Mo..”</p>
<p>“Mo, Mo, oalaaaaa…Mo, bangun, Mo, oala alaaaaa.”</p>
<p align="center">***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fajarriadi.com/?feed=rss2&amp;p=921</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Arnold dari Nabire</title>
		<link>http://fajarriadi.com/?p=912</link>
		<comments>http://fajarriadi.com/?p=912#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Sep 2012 23:33:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fajar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Arnold Belau;ARnold;Belau;Papua;Angin dan Daun;Port Numbay]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fajarriadi.com/?p=912</guid>
		<description><![CDATA[Di akhir Juni 2012, Patrick Arnold Belau berlayar dari Papua menuju Jawa. Dari Port Numbay, pelabuhan di ujung timur Indonesia, [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-913" title="Patrick Arnold Belau" src="http://fajarriadi.com/wp-content/uploads/2012/09/Patrick-Arnold-Belau.jpg" alt="Patrick Arnold Belau" width="189" height="446" />Di akhir Juni 2012, Patrick Arnold Belau berlayar dari Papua menuju Jawa. Dari Port Numbay, pelabuhan di ujung timur Indonesia, ia menumpang Kapal Muat Labobar. Setelah sauh dilepas, dan baling-baling di bawah air berputar, barisan bukit-bukit di atas kota yang dulu bernama Jayapura itu mengecil kemudian hilang sama sekali. Bergantilah rupanya dengan bayang-bayang wajah kota Jakarta yang akan ia temui di ujung pelayaran.</p>
<p>Perjalanan kapal Labobar sungguh tak singkat: enam hari lima malam. Singgah di enam pelabuhan — mula-mula di Nabire, Wasior, Manokwari, Sorong,  Makasar, Surabaya — barulah Jakarta. Coba bayangkan, betapa melelahkan perjalanan begitu rupa. Namun apalah yang bisa membuat lelah bila tekad sudah bulat. Yang pokok adalah sampai ke Jakarta kemudian belajar menulis. Ya, jauh-jauh dari kota di timurnya matahari itu, niat Arnold hanya ingin belajar menulis dengan baik.<span id="more-912"></span></p>
<p>Entah apa yang akan ia tulis bilamana ia sudah pandai. Namun ia termasuk yang percaya bahwa laku orang yang pandai menulis memang akan mulia jadinya.</p>
<p>Tibalah Arnold di Jakarta. Di sana, di dalam sebuah kelas di Kebayoran Lama, dalam sebuah tugas menulis cerita, Arnold mengisahkan tentang seorang kawannya yang ditembak mati aparat. Kawannya, Mako Tabuni ia punya nama.</p>
<p>Arnold tak bercerita tentang kematian kawannya. Ia lebih suka bercerita tentang cita-cita orang yang telah ia anggap kakaknya itu. Hari itu, di bangsal rumah “Vietnam”, sambil mengunyah daun sirih Tabuni berkata, “Bila Papua merdeka sa pingin jadi petani saja.” Petani, ya, petani. Bukan presiden, atau didapuk jadi panglima perang.</p>
<p>Di sana, di Papua, di tanah di mana putra dan putrinya dibesarkan bersama dengan daun dan angin, beberapa orang bahkan harus menyisihkan keinginan  (yang hanya) menjadi petani. Mula-mula mereka memang (harus) memilih merdeka, bebas.</p>
<p>Arnold setidaknya telah bertemu dengan rimbunan beton menjulang tinggi di bilangan Sudirman, ramainya orang berwisata di Kota Tua, atau berjejalan dengan para penumpang bus Transjakarta. Tentu ia  pernah sepintas berfikir: kapan pemandangan yang sama dirasakan di Papua sana? Namun Arnold tahu daripada mendamba kapan semuanya akan nyata di Papua, ia lebih suka merenung, “Setiap yang bekerja dengan nuraninya di negeri ini, akan menemui keheranan demi keheranan.” Pikirkan saja sendiri apa artinya.</p>
<p>Suatu hari, saya ingin ke negeri Papua. Meskipun sebentar saja, saya ingin bertemu dengan daun dan angin yang mengasuh putra putrinya. Menyalami mereka, menyelami mereka.</p>
<p>Arnold kini telah di Nabire, di pangkuan ibunya, di tempat segala yang luas adalah tanah harapan dan semanis madu. Bersama daun dan angin membesarkan harapan. Namun ia kangen monas.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fajarriadi.com/?feed=rss2&amp;p=912</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>“Kupetik Pucuknya”</title>
		<link>http://fajarriadi.com/?p=902</link>
		<comments>http://fajarriadi.com/?p=902#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Aug 2012 15:13:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fajar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Fitri;Almarhum:kenangan;keponakan;kampung;keluarga;Fajar;Fajar Riadi;FajarRiadi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fajarriadi.com/?p=902</guid>
		<description><![CDATA[Bapakmu sedari tadi duduk memunggungiku di ambang pintu yang dibuka lebar-lebar. Entah apa yang ia pandangi di depan sana. Rumpun-rumpun [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;"><img class="aligncenter size-full wp-image-904" title="Gsc Almh" src="http://fajarriadi.com/wp-content/uploads/2012/08/Gsc-Almh.jpg" alt="Gsc Almh" width="256" height="192" /></p>
<p style="text-align: left;">Bapakmu sedari tadi duduk memunggungiku di ambang pintu yang dibuka lebar-lebar. Entah apa yang ia pandangi di depan sana. Rumpun-rumpun tebu, jalan berdebu, atau trubus tembakau di pekarangan yang baru saja ditanam dua hari lalu. Namun apapun yang ia lihat, tentu ditingkahi bayanganmu yang lalang lalu.</p>
<p>Emakmu baru saja menyuguhkan kopi pahit yang lupa tak dituang gula dan sepiring pisang goreng sisa suguhan tahlilan semalam. Ia buru-buru pamit keluar sambil menggendong seonggok kesedihan yang tak rela ia bagi denganku, dengan siapa saja.<span id="more-902"></span></p>
<p>Dan bapakmu, sambil terus memunggungiku, bercerita bagaimana seminggu yang lalu kau membelikannya baju koko untuk dipakai lebaran nanti. Ia senang sekali. Ukurannya pas waktu dicoba. Ia bangga padamu, kau mulai pandai bikin senang hati orang tua.</p>
<p>Kau baru saja berulang tahun ke-18 sebulan yang lalu. Kau tak minta hadiah apa-apa. Cuma minta lebaran nanti sekeluarga pulang kampung ke Jawa, ketemu embah.</p>
<p>Bapakmu tentu akan mengajakmu mudik. Malahan tahun ini naik mobil, bukan naik bis atau kereta ekonomi yang <em>umpel-umpelan</em> seperti tahun-tahun lalu. Mobil butut hasil kerja bapakmu jualan pecel di samping pabrik sepatu. Kan mobil tetaplah mobil meskipun butut?</p>
<p>Kau senang bukan pulang kampung? Kau kabari kawan-kawan kecilmu: aku akan pulang. “Tapi nanti jangan olok-olok, badanku sekarang makin kurus,” pesanmu. Tentu kami akan olok-olok kamu.</p>
<p>Tapi kita punya kuasa apa? Bulan puasa belum lagi datang, dan kau sudah memastikan tak jadi pulang ke kampung halaman. Entah siapa yang mesti kuanggap ingkar karena kau memang pulang….dengan sebenar-benarnya berpulang, kepada induk dari segala kehidupan.</p>
<p>Bapakmu, sambil terus memandangi rumpun tebu, jalan berdebu, dan trubus tembakau, berkisah kepadaku. Jumat pagi itu, kau dan adikmu masih tidur waktu dia menuntun dagangan keluar rumah. Perasaan bapakmu tak enak, merasa ada sekelebat bayangan masuk menyusup lewat pintu depan. Bapakmu berhenti, tertegun sebentar memandangi pintu, lantas dengan “Bismillah” memasrahkan semuanya, melanjutkan jalannya.</p>
<p>Sepanjang berjualan, perasaan bapakmu tak enak. Memang tidak ada piring atau gelas yang tiba-tiba jatuh atau pecah. Hanya perasaan saja yang tak enak. Maka setelah pincuk terakhir tandas, bapakmu buru-buru pulang.</p>
<p>Sampai di rumah, mulanya tak ada apa-apa. Biasa saja, tiap kali bapakmu pulang, kau menyapanya. Tapi pagi itu bapakmu kaget, kau menyapa dalam telimpuh di kamar mandi dengan muka pucat pasi.</p>
<p>“Duh Gusti, kau kenapa, Nak?”</p>
<p>Mulutmu mengatup tak menjawab. Hanya tiba-tiba keluar cairan merah paling durjana yang sudah tak kuat lagi kau tahan-tahan di tenggorokan. Atau kau tahan sampai kau dipangku bapak. Kau berpamit dengan pesan paling sedih, seketika berlalu dari kami yang menyayangimu.</p>
<p>“Mengapa bukan aku saja? Mengapa mesti anakku?” Bapakmu meronta. Jangan harap aku melipur. Karena akupun hendak meronta, namun kutahan-tahan dengan menyorong kopi ke dalam mulut. Memang lebih baik jadi pendengar saja.</p>
<p>Kemarau di kampung kita adalah panas dan tanah kering yang meretak membongkah. Dan bapakmu, sambil mengumpulkan bongkahan-bongkahan perasaannya berkata padaku, “Cuma bisa kupetik pucuknya. Tak ada sebab lain. Yang di pucuk hanya kuasa Gusti Alloh.”</p>
<p>Lihat, ia tak menyalahkan dokter yang kemarin bilang kau hanya batuk biasa. Ia juga tak menuding sekelebat bayangan yang pagi itu menyusup rumah.</p>
<p>O ya, bapakmu akan balik ke kota minggu depan. Hendak beres-beres rumah dan rombong dagangan yang tentu berantakan seminggu ditinggal. Tapi emakmu menolak ikut. Emakmu  — yang kini oleh bapakmu mulai disapa dengan namamu — merasa tanah rantauan itu hanya menambah berat onggokan kesedihan yang ia gendong ke sana ke mari. Bapakmu bingung, kalau emakmu tak mau ikut, bagaimana mesti cari makan?</p>
<p>Emakmu akan dibujuk balik lagi nanti setelah lebaran, setelah bermaaf-maafan, dan setelah ia memaafkan dirinya sendiri. Hanya itu — memaafkan diri sendiri — yang bisa sedikit meluruhkan kesedihan.</p>
<p>Pagi tadi, sehabis sholat subuh, bapakmu mengaku terbayang sebuah gambar yang persis dengan yang ia lihat pada pagi paling nestapa itu. Mula-mula ia tidak tahu gambar apa itu. Tapi akhirnya ia sadar, “Itu gambar anakku. Aku pangling, rambutnya baru saja dipotong pendek.”</p>
<p>Kadang-kadang Ia memang memunculkan tanda-tanda kepada kita. Dan bapakmu menyesal terlambat menyadari tanda-tanda itu — meski kalaupun tahu belum tentu mengubah apa-apa. Maka dengan masih diliputi rasa sedih dan putus asa ia berkata, “Mengapa bukan aku saja?”</p>
<p>Ah..maafkan kami yang sulit mengikhlaskan. Sebab ikhlasnya manusia adalah hutang besar yang diangsur sedikit demi sedikit. Bisa tunai, bisa tidak.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fajarriadi.com/?feed=rss2&amp;p=902</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sekali Bersama di Kebayoran Lama</title>
		<link>http://fajarriadi.com/?p=810</link>
		<comments>http://fajarriadi.com/?p=810#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jul 2012 22:16:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fajar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Andreas Harsono; Andreas;Harsono]]></category>
		<category><![CDATA[Fajar Riadi]]></category>
		<category><![CDATA[Fajar;Riadi; Kebayoran Lama]]></category>
		<category><![CDATA[Pantau; Jurnalisme; Jurnalisme Sastrawi; Sastrawi; Kelas XX; Bubur Ayam Monas; Apartemen Permata Senayan; Kompas; Jawa Pos; Tempo; Koran; Majalah; Majalah Pantau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fajarriadi.com/?p=810</guid>
		<description><![CDATA[Tentang Andreas Harsono dan catatan harian rupa-rupa selama mengikuti kelas Jurnalisme Sastrawi di Jakarta. SAYA DUDUK di sebelahnya. Sembari makan [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><em> </em></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-822" title="DiAtapApartemen" src="http://fajarriadi.com/wp-content/uploads/2012/07/DiAtapApartemen.jpg" alt="DiAtapApartemen" width="450" height="359" /></p>
<p><em> </em><em>Tentang Andreas Harsono dan catatan harian rupa-rupa selama mengikuti kelas Jurnalisme Sastrawi di Jakarta.</em></p>
<p><strong>SAYA DUDUK</strong> di sebelahnya. Sembari makan siang, ia cerita soal Acheh. “Helsinki itu gak menyelesaikan semua masalah. <a href="http://www.asnlf.org/">ASNLF</a> (<em>Acheh-Sumatra National Liberation Front</em> atau <em>Atjeh Meurdehka</em>)  itu hidup lagi, lho. Tapi di Berlin,” katanya, “tandanya masih ada perlawanan.”</p>
<p>Saya tanya, apa yang kurang dari perjanjian Helsinki sehingga perlawanan bangsa Acheh masih muncul. “Kurangnya cuma satu saja: merdeka.” Enteng sekali ia menjawab.</p>
<p>“Sudahlah. Nanti perang lagi di Acheh.”</p>
<p>Apakah itu Prediksi? “Bukan prediksi lagi. Tunggulah sepuluh atau lima belas tahun lagi. Pasti itu. Sekarang ini tinggal nunggu saja ada anak muda, yang <em>pinter gitu</em>, masuk ke kampung-kampung bangunin warga. Apalagi darah biru gitu, jadi sudah.”</p>
<p>Topi lakennya naik turun mengikuti kelopak matanya yang diangkat beberapa kali. Bibirnya menyungging. Senyum tipisnya muncul. Sementara kening saya <em>mengkerut</em>.</p>
<p>Saya tidak menyangka. Perbincangan saya pertama kali dengan Andreas Harsono ada dalam sebuah makan siang dengan lauk yang tidak biasa: cerita tentang Acheh. Tentu saja makanan jadi tambah berminyak. Sebagian minyak tumpah di dalam mulut, sebagian lagi tumpah di dalam pikiran.<span id="more-810"></span></p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p><strong>SAYA BERKENALAN </strong>dengan wartawan bernama Andreas Harsono pertama kali lewat <a href="http://http://www.andreasharsono.net/">blog-nya</a>.  Waktu itu pertengahan tahun 2008. Saya belum setahun jadi reporter untuk majalah Mimbar di Universitas Brawijaya, tempat saya kuliah di kota Malang. Saya mengingat saat-saat itu sebagai masa “perselingkuhan” saya dengan jurnalistik, sambil mengendap-endap melarikan diri dari perkuliahan yang membosankan.</p>
<p>Di negeri ini, hal itu wajar-wajar saja. Akibat salah urus pendidikan, anak-anak sekolah telat tahu bakat dan minat. Di tengah masa kuliah, mahasiswa menemukan dunianya yang lain. Menemukan bakat, <em>passion</em>, dan mulai meraba denyut komitmennya.</p>
<p>Saya kuliah di Teknologi Industri Pertanian, lantas jatuh cinta dengan jurnalisme. Namanya juga telat tahu minat, telat belajar. Ingin belajar, ilmunya asal comot dari mana saja. Jadilah saya unduh tulisan-tulisan soal jurnalisme di blog Andreas secara barbar. Saya jadikan referensi belajar menulis.</p>
<p>Jangan bayangkan isi blog Andreas melulu soal teknik menulis atau teknik jadi wartawan. Malahan banyak esai atau hasil-hasil liputannya sendiri yang tampil. Biasanya tulisannya panjang-panjang, tapi enak dibaca. Tulisan macam begitu jarang saya temui di koran atau majalah. Ia sering bilang tulisannya punya genre jurnalisme sastrawi.</p>
<p>Saya membaca naskah “<a href="http://http://www.andreasharsono.net/2007/01/hoakiao-dari-jember.html">Hoakiao dari Jember</a>”. Saya amat menyukai tulisan itu &#8211; dan saya kira saya tidak sendirian. Reaksi pertama saya setelah melahap tulisan itu adalah, “Sialan! Mengapa bukan saya yang menulis seperti ini!”</p>
<p>“Hoakiao dari Jember” adalah cerita tentang Ong Tjie Liang, seorang <em>travel writer</em>. Tjie Liang menelusuri asal-usul dan sejarah keluarganya yang ada di Jember. Ada pengalaman masa kecil Liang saat ditempeleng guru sekolah dasar sampai kacamatanya pecah. Sekolah di Dempo yang paling berkesan buatnya. Makin tertarik dengan pergerakan saat bertemu dengan dosen-dosen radikal di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Juga bagaimana Tjie Liang kemudian jadi wartawan.</p>
<p>Yang paling menohok, akhir cerita ditulis begini. “Guru itu mengatakan, ‘<em>Engkone koen Hartono, koen Harsono ae</em>.’” Artinya, &#8216;Kakakmu (Seng Hin) bernama Hartono, kamu Harsono saja.&#8217; Sengkek juga menjawakan nama Liang. Ie Lan usul nama &#8216;Harsono&#8217; dijadikan nama marga. Ini sebuah kebiasaan orang Tionghoa. Suku pertama nama marga, suku kedua nama pangkat. Maka anak-anak Sengkek pun diberi nama belakang Harsono semua. Liang diberi nama &#8216;Andreas Harsono.&#8217; Ong Tjie Liang adalah Andreas Harsono. Mereka adalah saya.&#8221;</p>
<p>Saya memberi komentar pujian. Andreas membalasnya dengan ajakan ke workshop penulisan di Malang yang diadakan oleh Yayasan Pantau. Tentu saya senang. Namun workshop itu tidak pernah terlaksana. Saya sangat kecewa waktu itu.</p>
<p>Saya menyukai cara Andreas menulis. Detail, rapi, mengalir. Coba saja baca “<a href="http://www.andreasharsono.net/2002/10/dewa-dari-leuwinanggung.html">Dewa dari Leuwinanggung</a>”, penggalan kisah hidup Iwan Fals. Di tulisan itu muncul tokoh yang jumlahnya banyak. Aneka ragam sifat muncul. Saya suka sekali membacanya. Dasarnya saya juga suka Iwan Fals <em>sih</em>.</p>
<p>Saya baca asal mula naskah itu ditulis. Andreas kesal gara-gara Bill Aribowo, reporter <em>Pantau</em> yang harusnya bertugas meliput, ikutan <em>tour</em> Iwan Fals namun tidak wawancara sang penyanyi. Padahal deadline <em>Pantau</em> sebentar lagi. Jatah 16 halaman majalah sudah <em>dikosongin</em>. Akhirnya Andreas yang pontang-panting bikin liputan dan wawancara sana-sini.</p>
<p>Dua sampai tiga minggu kemudian, jadilah naskahnya. “Di-<em>layout</em> pada hari yang sama ketika saya selesai mengetik. Sebel juga kalau ingat liputan ini dikerjakan dengan waktu sempit,” katanya. “Kalau saya punya waktu lebih leluasa, saya bisa membuatnya lebih menyengat.”</p>
<p>Sudah bagus begitu, mau <em>dibagusin</em> bagaimana lagi coba?</p>
<p>Saya jadi ingin bisa menulis seperti Andreas. Begitu tahu ia rutin mengampu kelas Jurnalisme Sastrawi setiap tahun yang diadakan Yayasan Pantau, tempat ia bekerja, saya jadi ingin ikut serta. Keinginan itu baru terpenuhi di bulan Juli 2012, dua minggu lalu, ketika mengikuti kelas <a href="http://fajarriadi.com/?p=729">Jurnalisme Sastrawi Angkatan XX</a>.</p>
<p>Waktu bertemu pertama kali di <em>Pantau</em>, di sebuah kantor lantai 4 gang Seha, Kebayoran Lama,  saya menyaksikan Andreas orangnya kalem.  Kalau bicara lirih. Saya kerap merapatkan telinga kalau sedang <em>nguping</em> obrolannya dengan orang lain. Suaranya baru <em>kenceng</em> kalau tertawa. Ia tidak pernah pakai aku, gue. Ia pakai kata “saya” untuk mengacu dirinya.</p>
<p>Ia sering pakai batik lengan pendek kalau ke kantor. “Enak. Bisa dibikin santai tapi kesannya tetap formal,” katanya. Padanannya <em>blue jins</em>. Kacamatanya, entahlah, itu minus berapa. Ia hampir selalu pakai sandal. Cuma sekali saya lihat ia pakai sepatu (ya cuma hari pertama bertemu itu).</p>
<p>Saya tidak bilang tipikal. Namun mayoritas orang Tionghoa lebih suka berbisnis daripada repot-repot mengurus soal lain. Namun Andreas memilih jadi wartawan. Itu artinya Andreas minoritas.</p>
<p>Siapapun yang membaca tulisan-tulisan Andreas tentu punya kesan ia orang yang suka menulis soal konflik. Konflik apa saja. Politik, suku, ras, agama. Pokoknya yang <em>nyrempet-nyrempet</em> bahaya ia lakoni dan tulis semua. <em>Vivere pericoloso</em>. Misalnya ia pernah menulis soal kerusuhan di Pontianak, kali lain menulis soal pembelaannya kepada ahmadiyah. Ia menulis tentang kekejaman tentara Indonesia di Acheh, tapi juga menulis pembunuhan orang-orang Papua. Saya membatin, “Ini orang gak takut ‘diamankan’, apa?”</p>
<p>Saya kira dunia kampus di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) berpengaruh besar pada idealisme yang ia pegang. Di sana ia pertama kali ikut pelatihan pers dengan tabloid <em>Gita Kampus</em>. Meskipun kuliah di elektro, namun ia kerap bergumul dengan diskusi bersama dosen-dosen macam George Junus Aditjondro, Ariel Heryanto, atau Arief Budiman. Ia ikut mendirikan <em>Persatuan Sais Dokar</em>,  juga mengadvokasi korban pembangunan Waduk Kedungombo.</p>
<p>Kiprahnya sebagai seorang wartawan mula-mula (setahu saya) di <em>Jakarta Post</em>. Namun Cuma setahun. Gara-gara ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), melawan sensor dan bredel <em>a la</em> orde baru, ia dipecat tidak boleh kerja di media manapun di Jakarta. Kelak ia mensyukuri pemecatan itu. “Kalau saya enggak dipecat, karier saya hari ini mungkin tetap berkubang di Palmerah,” tulisnya dalam esai berjudul <em>Kupas Tuntas Media Palmerah</em>. Akhirnya ia pindah ke <em>The Nation</em> di Bangkok, <em>Associated Press</em>, dan sebagainya.</p>
<p>Andreas belajar jurnalisme lebih mendalam lagi saat ikut menjadi <em>fellow </em>di <a href="http://http://www.nieman.harvard.edu/NiemanFoundation.aspx">Nieman Foundation for Journalism di Harvard</a>. Di sana ia bertemu guru jurnalisme yang kemudian jadi panutannya, Bill Kovach. Di sana pulalah ia mendalami apa yang disebut oleh Tom Wolfe sebagai The New Journalism, nama lain untuk sekian nama yang mengacu kepada apa yang Andreas sebut jurnalisme sastrawi.</p>
<p>Sepulang dari Harvard tahun 2000, ia menyunting majalah <em>Pantau</em> yang diterbitkan Institut Studi Arus Informasi (ISAI). Majalah ini punya konsentrasi soal seluk beluk media dan jurnalisme.</p>
<p>Andreas menyukai kerja di <em>Pantau</em>. Cita-citanya menghidupkan media “di mana orang bisa menulis narasi secara panjang dan utuh” terpenuhi. Ia menulis dalam esai <em>Ibarat Kawan Lama Datang Bercerita</em> dengan begini: “Tanpa sadar, saya ternyata menjawab debat dengan Atmakusumah Astraatmadja, Nirwan Dewanto, dan lainnya dengan menciptakan suatu majalah dengan narasi sebagai tulang punggungnya. Bisa gagal, bisa tidak.”</p>
<p>Tentu <em>Pantau</em> tidak bisa dibilang gagal. Sama sekali tidak. Hanya saja umurnya kelewat pendek. Pada 11 Februari 2003 majalah ini berhenti terbit gara-gara masalah keuangan. Goenawan Mohamad, ketua Yayasan Institut Studi Arus Informasi yang menaungi <em>Pantau</em> berat hati menutup majalah ini. “Tapi majalah yang bagus kan butuh uang? Di Amerika, majalah seperti ini juga tidak hidup dari perdagangan, harus disubsidi dan itu yang kita tak punya,” katanya.</p>
<p>Sejumlah kontributor lantas menghidupkan <em>Pantau</em> kembali. Kali ini tidak lagi di bawah naungan ISAI, namun Yayasan Pantau. Namun majalah hanya terbit di tiga edisi. Pemasaran yang buruk dan investor yang tarik diri jadi biangnya. <em>Pantau</em> memang kemudian terbit lewat daring. Namun hidupnya mati suri.</p>
<p>Agustus 2008 Andreas mundur dari manajemen <em>Pantau</em>. Waktunya ia isi untuk mengerjakan isu-isu yang tak terkait langsung dengan media, kebebasan sipil, dan hak asasi manusia. Selain mengajar menulis, ia juga aktif di bekerja di <a href="http://www.hrw.org/"><em>Human Rights Watch</em> </a>(HRW). Intinya sama saja, habitatnya tetap dunia jurnalisme.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p>&#8220;<strong>OPEN YOUR EYES</strong>, <em>open your ears</em>, rabalah, hmmmmh…” hidung Andreas menghirup udara dalam-dalam, “baunya… semuanya…. deskripsikan!”</p>
<p>Begitulah Andreas mengajar di kelas. Jurnalisme narasi memang bisa bercerita dengan mendalam, karenanya ia bisa sangat panjang. Namun panjang saja tidak cukup, ia juga harus memikat. Fakta ditulis dengan gaya sastra. Sastra, namun semuanya fakta.</p>
<div id="attachment_826" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img class="size-full wp-image-826 " title="AndreasMengajar" src="http://fajarriadi.com/wp-content/uploads/2012/07/AndreasMengajar.jpg" alt="AndreasMengajar" width="250" height="542" /><p class="wp-caption-text">Ini foto karya Daris Ilma. Meskipun sedikit kabur, menurut saya foto ini yang paling pas menangkap momen Andreas tengah mengajar.</p></div>
<p>Jangan bayangkan kelasnya kaku. Bayangkan.. ruangan mungil, pas untuk belasan peserta duduk melingkar di kursi kayu. Pendingin ruangan dinyalakan. Korden dibuka lebar-lebar. Guru dan murid boleh pakai sandal. Bawa minum ke dalam kelas juga boleh. Santai sekali. Pernah ketika menunggu peserta masuk kelas, Andreas menayangkan konser Led Zeppelin sedang membawakan lagu berjudul <em>Kashmir</em>. Pernah pula nonton bareng video <em>Just For Laugh</em> yang bikin semua orang di kelas terpingkal-pingkal.</p>
<p>Bila sedang mengajar, sesekali Andreas memberi tekanan pada kata-katanya.</p>
<p>“Fakta! Fakta! Fakta!”</p>
<p>“<em>Focus.. Angle.. Outline.. Focus.. Angle.. Outline</em>”</p>
<p>“Kalau <em>feature</em> itu cuma sekali saja. Klik! Satu gambar saja. Tapi kalau narasi, bisa seperti film. Banyak adegan.”</p>
<p>Mula-mula Andreas mengajar dengan bekal buku <em>Sembilan Elemen Jurnalisme</em> karya Bill Kovach dan Tom Rosentiel. Kovach orang Amerika keturuan Albania. Ayahnya seorang muslim, ibunya kristen. Ia menjalani karier panjang sebagai jurnalis di <em><a href="http://www.nytimes.com/">The New York Times</a></em>, <em><a href="http://www.ajc.com/">Atlanta Journal-Constitution</a></em>, lantas menjadi kurator di Nieman Foundation for Journalism di Universitas Harvard. Total dalam kariernya, Kovach menugaskan dan menyunting lima laporan yang memenangkan <em>Pullitzer</em>, penghargaan nomor satu dalam jurnalisme Amerika.</p>
<p>Tom Rosentiel adalah mantan wartawan harian <em><a href="http://www.latimes.com/">Los Angeles Times</a></em> yang kini menjalankan <em><a href="http://rjionline.org/ccj">Committee of Corcerned Journalists</a></em> – sebuah organisasi di Washington DC yang melakukan riset dan diskusi tentang media.</p>
<p>Kovach guru Andreas waktu sekolah di New York. Dalam prolog buku <em>Agama Saya Adalah Jurnalism</em>, Andreas menuliskan kata-kata yang indah: “Hati nurani jurnalisme Amerika ada pada Bill Kovach”<em>. </em>Saya kira itu sudah cukup menjelaskan bagaimana Andreas memandang seorang idola.</p>
<p>“Demokrasi butuh kebebasan pers. Tapi kebebasan pers saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah pers bermutu,” ujar Andreas, “sebab kalau pers bermutu, kehidupan masyarakat ikut bermutu.”</p>
<p>Menurutnya, tolok ukur wartawan yang baik dapat dilihat dari buku-buku yang sudah ditulis. Ia menunjukkan buku <em>The Bridge</em> karya David Remnick. “Ini ada kalau 110 ribu kata. Kalau di sini khan <em>enggak</em>, wartawan <em>ngetop</em> ukurannya kalau sudah jadi anggota DPR.”</p>
<p>Andreas mengajar bagaimana caranya melakukan wawancara yang baik. Di depan kelas Andreas menayangkan video wawancara Indra Maulana, presenter berita <em>Metro TV</em>. Indra sedang mewawancarai Abdul Gafur, ayah Muhamad Syarif, terduga pelaku bom di Cirebon pada tahun 2011. Indra bertanya, “Muhamad Syarif ini sifatnya terbuka atau seperti apa pak dengan keluarga?”</p>
<p>“Ini contoh yang buruk. Saya kira masalah besar wartawan di sini adalah sering bikin pertanyaan tertutup,” ujar Andreas.</p>
<p>Maksud pertanyaan tertutup adalah pertanyaan yang hanya memberikan pilihan jawaban iya atau tidak. Pertanyaan terbuka sebaliknya. Ia mengharuskan narasumber menjelaskan jauh lebih banyak daripada jawaban setuju atau tidak setuju. Tentu pertanyaan terbuka akan punya daya menguak fakta yang jauh lebih baik.</p>
<p>Sekarang Andreas menampilkan sikap dua orang ketika wawancara. Kali ini menayangkan video wawancara antara Larry King dengan Oprah Winfrey, keduanya presenter top.</p>
<p>“Coba anda lihat bahasa tubuh Larry, ya,” perintahnya.</p>
<p>Larry King hanya duduk diam mendengar Oprah bicara. Kedua tangannya menumpu di atas meja. Sekarang sikapnya berubah. Tangan kanannya menopang dagu. Badannya dicondongkan ke depan. “Saya kira Larry sedang meminta perhatian,” ujar Andreas. “Lihat Larry, enggak perlu <em>nyolot</em> kalau <em>nanya</em>.”</p>
<p>Benar juga. Larry King hanya sesekali bertanya. Itu pun dengan kalimat yang sangat pendek. Namun Oprah menjawab panjang lebar. Hanya dengan mengubah bahasa tubuhnya, Larry berhasil “memaksa” narasumbernya untuk cerita jauh lebih banyak.</p>
<p>Wawancara narasumber bukan soal tanya jawab. Menembus narasumber yang mau diwawancarai kadang juga susah. Seorang peserta kursus bertanya bagaimana caranya bisa wawancara seseorang bila tidak punya kartu pers? “Terus terang dan rendah hatilah,” jawab Andreas.</p>
<p>Andreas cerita ketika terjadi demonstrasi buruh besar-besaran bulan Mei lalu, ia mewawancarai salah seorang demonstran. Demonstran itu bertanya asal media Andreas. Andreas enteng menjawab, “Saya wawancara untuk saya tulis di Twitter.” Toh wawancara tetap jadi. Saat hasil wawancara tampil di akun Twitter Andreas, narasumber tadi jadi rujukan para wartawan.</p>
<p>Seperti yang ada di dalam buku <em>Sembilan Elemen Jurnalisme</em>, jurnalisme yang baik juga harus memantau kekuasaan. Andreas mencontohkan <em><a href="http://www.washingtonpost.com/">The Washington Post</a></em> yang berhasil menguak skandal <em>Watergate</em> dan memaksa Presiden Nixon mengundurkan diri.</p>
<p>Begini ceritanya. Ada lima orang aneh yang tertangkap setelah kedapatan menyusup di markas Dewan Nasional Partai Demokrat yang berlokasi di Gedung Watergate, 17 Juni 1972. <em>Post</em> yang saat itu dipimpin oleh Katharine Graham, mengirim dua reporter muda, Bob Woodward dan Carl Bernstein untuk liputan. Kedua reporter awalnya hanya menemukan hubungan komunikasi antara gedung putih dengan para penyusup serta dugaan penggelapan dana oleh pemerintah untuk mengawasi lawan politiknya.</p>
<p>Skandal ini berlangsung lama, kurang lebih dua tahun. <em>Post</em> berjuang sendirian meyakinkan publik. Akibat perseteruannya dengan pemerintah, sejumlah wartawan <em>Post</em> dilarang meliput acara-acara di gedung putih dan wawancaranya diboikot. Bahkan, perpanjangan izin stasiun televisi milik <em>Post</em> tidak disetujui pemerintah.</p>
<p>Namun Kay, panggilan akrab Katharine Graham, bersikukuh melawan arus. Hingga pada 5 Agustus 1974 Gedung Putih mempublikasikan transkrip yang menunjukkan Presiden Nixon sendiri yang memerintahkan untuk menyembunyikan bukti-bukti keterlibatan orang dekatnya dalam peristiwa penyusupan. Tiga hari kemudian Presiden Nixon mengumumkan pengunduran diri.</p>
<p>“Coba, ada <em>nggak</em> pimpinan media di sini yang berani seperti itu? Berani stasiun <em>tivinya</em> ditutup?” tanya Andreas. “Kebanyakan justru yang pro pemerintah.”</p>
<div id="attachment_812" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-full wp-image-812  " title="Usai Kelas Hari Terakhir" src="http://fajarriadi.com/wp-content/uploads/2012/07/Usai-Kelas-Hari-Terakhir.jpg" alt="Usai Kelas Hari Terakhir" width="300" height="398" /><p class="wp-caption-text">Sekira jam 4 sore, setelah kelas terakhir usai. Harusnya langit Jakarta bisa lebih bagus. Apa daya? Dari atap kantor Pantau langit memutih gara-gara polusi.</p></div>
<p>Soal independensi ini, Andreas mengkritik laku wartawan senior yang justru memberi contoh buruk. Misalnya ia menyayangkan Goenawan Mohamad (<em>Tempo</em>), seorang sahabat yang ia anggap mentor, terjun ke politik dengan bikin Partai Amanat Nasional (PAN).</p>
<p>Ratih Hardjono (dulu di <em>Kompas</em>), kolega Andreas yang lain, sudah lebih dulu jadi sekretaris pribadi Presiden Abdurrahman Wahid sebelum pindah ke Riau Andalan Pulp and Plantation (RAPP). Kebetulan Goenawan Mohamad dan Ratih Hardjono pernah menjadi <em>fellows</em> di Nieman Harvard juga.</p>
<p>“Waktu Ratih Hardjono pindah dari Kompas, dia kirim surat ke Bill Kovach. Dia minta Kovach mau memahami apa yang dia lakukan. Kovach bisa mengerti pilihannya,” ujar Andreas.</p>
<p>Karya jurnalisme terbaik Amerika Serikat abad ke-20, <em><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Hiroshima_(book)">Hiroshima</a></em>, yang ditulis John Hersey jadi materi yang amat menarik. Hersey, wartawan Amerika kelahiran Tientsin, China, telah memenangkan sejumlah penghargaan. Karyanya <em>A Bell for Adano</em> meraih Pullitzer Prize pada tahun 1945. Sejumlah karyanya yang lain, <em>The War Lover, Men on Bataan, </em>juga<em> A Bell for Adano</em> difilmkan. <em>Survival</em>, kisah tentang seorang letnan bernama John Fitzgerald Kennedy yang menyelamatkan diri dan anak buahnya saat kapal perangnya, PT-109, tenggelam di perairan Pasifik pada Perang Dunia II, menjadi tulisan yang terkenal pula. Kelak Kennedy menjadi seorang Presiden Amerika.</p>
<p>“Jadi, kalau tiga karya anda dibikin film, anda sudah menulis seseorang yang kemudian jadi presiden Amerika, lalu apa lagi?” tanya Andreas.</p>
<p><em>Hiroshima</em> adalah jawabnya. Untuk menulis <em>Hiroshima</em>, Hersey harus wawancara tidak kurang dari 40 narasumber sebelum memutuskan untuk mengambil enam tokoh paling artikulatif untuk ditulis. Redaktur Pelaksana <em><a href="http://www.newyorker.com/">The New Yorker</a></em> William Shawn dan Redaktur Eksekutif Harold Ross mengurung diri untuk menyunting naskah Hersey selama 10 hari.</p>
<p>Pada suntingan pertama, Ross memberi 47 komentar dan 27 komentar lagi sesudah revisi. Enam lagi sesudah revisi kedua. Pada akhirnya seluruh halaman <em>The New Yorker</em> sebanyak 68 halaman diisi satu naskah saja. <em>The New Yorker</em> habis terjual dalam sehari dan dua hari kemudian harganya melambung 120 kali lipat di pelelangan.</p>
<p>Sebagai bahan mengajar <em>outline</em>, Andreas tertarik membahas empat karya berlatar Acheh. <em>Dua Jam Bersama Hasan Tiro</em> karya Arief Zulkifli, <em>Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan</em> karya Alfian Hamzah, <em>Sebuah Kegilaan di Simpang Kraft</em> karya Chik Rini, dan <em>Republik Indonesia Kilometer Nol</em> karya Andreas sendiri.</p>
<p>“Asumsinya, bila anda berhasil membongkar <em>outline</em> tulisan orang lain, anda diharapkan bisa membuat karya serupa,” ujar Andreas.</p>
<p>Empat tulisan itu mempunyai ritme yang berbeda-beda. Ada<em> feature</em>, tulisan yang tak punya klimaks, ada pula yang digiring ketegangan demi ketegangan menuju ending besar di akhir cerita.</p>
<p>Dari keempat penulis, Andreas menyebut semuanya punya keterbatasan masing-masing. Arief tidak bisa wawancara karena Hasan Tiro memang enggan. Alfian hanya bisa wawancara dan meliput tentara Indonesia, tidak bisa dengan tentara GAM. Tulisan karya Chik Rini hanya bisa ditulis oleh wartawan yang orang Acheh. “Saya sendiri tidak bisa tinggal lama-lama di hutan atau tidur di sembarang tempat. Gara-gara asma. Kalau mesti <em>kayak</em> Alfian, dua bulan di hutan, wah, bisa mati saya,” tutur Andreas.</p>
<p>“Setiap penulis punya limit, punya keterbatasan masing-masing,” ujarnya, “tapi penulis yang baik bisa memanfaatkan kelemahannya jadi kekuatan.”</p>
<p>Saya termenung. Saya ingat di minggu sebelumnya <a href="http://janetsteele.net/">Janet</a> membacakan naskah <em><a href="http://www.nytimes.com/2012/03/04/world/middleeast/bearing-witness-in-syria-a-war-reporters-last-days.html?_r=1&amp;pagewanted=all">Bearing Witness in Syria: A Correspondent’s Last Days</a> </em> karya <a href="http://topics.nytimes.com/topics/reference/timestopics/people/h/tyler_hicks/index.html">Tyler Hicks</a>. Hicks berkisah tentang <a href="http://anthonyshadid.com/">Anthony Shadid</a>, reporter <em>The New York Times</em>, rekannya yang meninggal saat meliput konflik di Timur Tengah. Ia tidak tertembak atau dibunuh. Ia meninggal karena alergi kuda cukup serius. Shadid, sebagaimana yang saya baca, adalah wartawan yang baik. Liputannya selalu ditunggu para pembaca <em>Times</em>. Ia tahu ia punya keterbatasan fisik, punya limit. Namun saya belajar memahami. Bila sudah di lapang, pekerjaan ini meluapkan gairah yang membuat seseorang tak menghiraukan keterbatasannya.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p><strong>SEBENARNYA JUMAT MALAM</strong> di akhir pekan minggu pertama, para peserta kursus Jurnalisme Sastrawi sudah diajak berkunjung ke apartemen Andreas. Tepatnya di Apartemen Permata Senayan. Letaknya di belakang Pasar Pal Merah.</p>
<p>Berangkat dari kantor Pantau naik angkot M09. Turun di Pasar Pal Merah. Jalan sedikit saja masuk gang di sebelah utara pasar, maka akan ketemu bangunan tinggi menjulang dengan warna dominan hijau. Itulah bangunannya.</p>
<p>Rumah tidak terlalu luas. Ada dua kamar tidur, satu kamar mandi. Televisi ukuran besar, mungkin 40 inchi. Di atasnya dipajang lukisan lego, entah itu gambar kastil atau benteng. Meja dan kursi ditepikan. Karpet digelar. Dari balik jendela berkaca, lampu-lampu kota Jakarta berkerlip-kerlip.</p>
<div id="attachment_886" class="wp-caption alignright" style="width: 210px"><img class="size-full wp-image-886" title="Andreasmembaca" src="http://fajarriadi.com/wp-content/uploads/2012/07/Andreasmembaca.jpg" alt="Andreasmembaca" width="200" height="237" /><p class="wp-caption-text">Pria. Buku. Laken.</p></div>
<p>Tepat di samping jendela, rak tinggi mepet plafon penuh buku. Jumlahnya banyak sekali. Saya <em>ngiler</em> membaca judul-judul buku koleksi Andreas. <em>Cendekiawan dan Kekuasaaan</em> &#8211; Daniel Dhakidae, <em>True War Stories</em> &#8211; John E. Lewis, <em>Che Guevara: A Revolutionary Life</em> &#8211; John Lee Anderson, <em>Persatuan Islam</em> &#8211; Howard M. Federspiel. Banyak lagi buku-buku yang cuma sekilas saya baca nama penulisnya: George Junus Aditjondro, Abdurrahman Wahid, A.J. Liebling, Noam Chomsky, Malcolm Gladwell, Bob Woodward, Tom Wolfe. Kalau majalah, tentu saja ada…. The New Yorker. Majalah yang paling disukainya.</p>
<p>Di antara buku-buku ada foto yang menarik perhatian saya. Dua pria duduk saling mendekatkan kepala. Itu foto Andreas dengan Bill Kovach.</p>
<p>Sudah menjelang Isyak, tapi <em>baby</em> Diana belum tidur. Diana Eugenia Harsono, anak kedua Andreas, buah pernikahannya dengan Sapariah Saturi, perempuan Pontianak keturunan Madura. Umurnya belum setahun. Lucu, mungil. Tommy dari Lampung dan Yaya dari Riau rebutan menggendong. Diana <em>grapyak</em>, digendong siapapun mau.</p>
<p>“Diana ini kebalikan sama Norman. Kalau ada tamu, Diana suka di depan, nemuin tamu. Tapi si Norman ngumpet. Sekarang dia ada di kamar,” kata Andreas, “tapi memang lagi sakit gigi juga <em>sih</em>.”</p>
<p>Ada yang bergurau, bilang kalau tabiat anak-anak biasanya beda-beda karena cara orang tua menanam ari-ari si bayi. Sambil masak Sapariah ikut nimbrung, “Biasanya <em>kan</em> ari-arinya ditanam, tapi ada <em>tuh</em> yang ikutan, dikasih kembang atau apa lagi <em>gitu</em>.”</p>
<p>“Kamu tahu apa yang ikutan kutanam sama ari-arinya Diana?” sahut Andreas.</p>
<p>“Memangnya apa?” Sapariah tanya balik penasaran. Seisi rumah yang sebelumnya riuh jadi hening.</p>
<p>“Das Kapital!”</p>
<p>Meledaklah tawa seisi rumah.</p>
<p>Rumah ini benar, tidak luas. Namun di dalamnya ada keceriaan. Entah kenapa waktu di dalam rumah Andreas saya jadi ingat tayangan <em>The Cosby Show</em>. Dulu saya kerap menonton acara itu, sebuah komedi situasi keluarga Afro-Amerika yang latar tayangannya selalu di dalam sebuah rumah mungil, penuh barang-barang, dengan jumlah keluarga yang banyak, namun ceria. Di rumah Andreas juga begitu. Tamu datang dan pergi dan malam itu suasananya memang ceria.</p>
<p>Sapariah dan pembantunya selesai masak. Kami semua diajak makan malam. Ada nasi putih, ayam goreng, bakso, siomay, mie, <em>onion ring</em>, dan saus pedas. Minumnya air putih dan coca cola. Saya paling suka <em>onion ring</em>. <em>Weenak banget</em>. Saya comot beberapa kali.</p>
<p>“Okto, kamu tahu siapa nama tengah Diana?” tanya Andreas sambil sembari makan kepada Oktovianus Pogau, seorang Papua yang juga berkunjung malam itu. Okto geleng-geleng kepala.</p>
<p>“Gianago. Kamu tahu artinya Gianago? Tahu siapa yang kasih nama?” Okto geleng-geleng lagi.</p>
<p>Belakangan saya tahu Gianago dalam bahasa Mee artinya “anak perempuan satu-satunya.” Nama ini diberi oleh Benny Giay, pendeta asal Paniai, Papua. Andreas menganggap Giay sebagai sahabat keluarga. Diana dianggap sebagai anak perempuan keluarga Giay.</p>
<div id="attachment_863" class="wp-caption alignleft" style="width: 170px"><img class="size-full wp-image-863" title="sudutrumah" src="http://fajarriadi.com/wp-content/uploads/2012/07/sudutrumah.jpg" alt="sudutrumah" width="160" height="250" /><p class="wp-caption-text">&quot;There is no easy walk to freedom anywhere&quot; - Nelson Mandela</p></div>
<p>Indra Nugraha dari Bandung beruntung sekali. Ia diberi buku Ideologi Politik Mahasiswa Indonesia karya Francois Raillon. Andreas punya kelebihan satu buku. “Itu penting, wajib dibaca anak-anak pers kampus,” ujar Andreas.</p>
<p>Seorang tamu datang. Namanya Diana Parker, gadis asal Michigan, Amerika Serikat. Andreas langsung menyuruh Diana makan. “<em>This is our week end ritual</em>, Diana,” kata Andreas. “Kalau malam Sabtu atau malam Minggu, ramai begini ini. Ya kalau saya tidak sedang <em>deadline</em> saja.”</p>
<p>Diana aktivis Human Right Watch. Sebelum Diana datang, sebenarnya Andreas sudah cerita soal tamunya yang satu ini. Diana sudah menabung untuk 3 bulan tinggal di Jakarta. Selama di Indonesia, ia akan meneliti soal lingkungan.</p>
<p>Saat memperkenalkan diri kepada tamu-tamu lain, Diana memakai bahasa Indonesia yang sedikit terbata-bata. “Saya kelahiran Utah. Tapi pindah ke Michigan.”</p>
<p>Andreas menyahut. “Kalian tahu artinya orang Utah?”</p>
<p>Tidak ada yang menjawab.</p>
<p>“Utah itu negara bagiannya orang Mormon. Bukan begitu, Diana?” Diana mengiyakan.</p>
<p>Mormon adalah sebuah sekte yang pernah dianggap menyimpang dalam agama Kristen. Kontroversi mormon terkait dengan kitab yang dianut dan ajarannya yang memperbolehkan poligami. Diana mengaku dulu keluarganya penganut mormon, namun pindah gereja setelah tinggal di Michigan. Diana juga cerita, karena pernah jadi orang mormon, ia bisa merasakan bagaimana rasanya orang Ahmadiyah di Indonesia dikucilkan.</p>
<p>“Tapi sekarang sudah ada calon presiden dari Mormon, lo. Mitt Romney. Kalau Romney <em>ngalahin</em> Obama nanti, ia jadi presiden Amerika pertama dari Mormon,” kata Andreas.</p>
<p>Kami terlibat perbincangan seru. Andreas cerita pengalamannya ditahan saat mendatangi pesantren Syiah di Sampang, Madura, bersama Tirana Hassan. September tahun 2011 ia bersama Tirana, seorang aktivis HRW asal Australia, berkunjung ke Sampang untuk sebuah penelitian tentang muslim Syiah di Indonesia. Belum apa-apa, mereka berdua dicekal polisi dan diperiksa 9 jam. Tirana sendiri akhirnya dideportasi.</p>
<p>Peristiwa itu sempat ramai di media. Apalagi setelahnya, pesantren Syiah di Nangkernang sempat dibakar. Tajul Muluk, seorang ustadz Syiah, beberapa waktu lalu dijatuhi vonis 2 tahun penjara dengan dakwaan penistaan agama.</p>
<p>“Apakah cerita itu ada di <em>In the Name of God</em>?” tanya saya.</p>
<p>Andreas mengiyakan. Ia memang baru saja menyelesaikan buku tentang konflik agama di Indonesia dengan judul <em>In the Name of God</em>.</p>
<p>Andreas mengkritik cara media-media di Indonesia yang selalu bias dalam meliput tentang agama dan konflik daerah. “Gereja di Singkil banyak yang dirusak. Itu gereja sudah ada sebelum Indonesia merdeka, “ujar Andreas. “Tapi <em>nggak</em> banyak <em>khan</em> yang masuk koran atau tivi? Saya itu kecewa sama wartawan-wartawan di Acheh. Mereka malah enggak nulis yang <em>bener</em> soal itu. Padahal saya pernah <em>lho</em> ngajar mereka.”</p>
<p>Sekarang ganti <em>Kompas</em> kena damprat. Ceritanya, belum lama <em>Kompas</em> menulis tentang Papua. Dalam tulisan  itu, Andreas menangkap kesan bahwa <em>Kompas</em> cenderung menganggap orang-orang Papua suka main sodor proposal. “Itu <em>khan</em> sama saja mau bilang kalau orang-orang Papua bodoh-bodoh. Jahat <em>Kompas</em> ini.”</p>
<p>Saya <em>nyengir</em>. Di Malang saya langganan <em>Kompas</em>. Saya anggap <em>Kompas</em> jauh lebih berbobot daripada (misalnya) <em>Jawa Pos</em> yang kelewat enteng tapi laris manis di Jawa Timur. Toh masih ada saja celanya <em>Kompas</em>. Beginilah kalau ngobrol dengan Andreas. Saya lupa mau tanya, lantas koran mana yang masih bagus di Indonesia?</p>
<p>Ah..sudahlah. Ngobrol begini kalau diteruskan bisa sampai subuh. Tak enak pula <em>sama</em> <em>shohibul bait</em> kalau bertamu sampai larut malam. Waktu jam dinding berdentang sepuluh kali, kami pamit pulang. Andreas dan Sapariah perlu repot-repot mengantar sampai di depan pintu lift.</p>
<p>Di pelataran apartemen Diana pamit naik taksi. Lainnya naik angkot, termasuk saya. Dalam perjalanan menuju kos, Daris Ilma yang duduk di sebelah saya setengah berbisik, “Gak nyangka ketemu Andreas Harsono. Padahal waktu ada (kasus) Sampang itu, aku <em>buenci</em> banget, lo mas.”</p>
<p>Saya, antara menahan geli dan <em>kepingin</em> pura-pura <em>nggak</em> dengar.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<div id="attachment_855" class="wp-caption aligncenter" style="width: 360px"><img class="size-full wp-image-855    " title="Pantau" src="http://fajarriadi.com/wp-content/uploads/2012/07/Pantau.jpg" alt="Pantau" width="350" height="403" /><p class="wp-caption-text">Kalau anda sholat di kantor Pantau, anda akan melihat sekumpulan cover majalah ini dipajang tepat di depan anda. Mungkin supaya orang sehabis sholat lantas berdoa supaya Pantau lekas terbit lagi.</p></div>
<p style="text-align: left;"><strong>SEBENARNYA, TIDAK SEKALIPUN </strong>saya membaca <em>Pantau</em> selama majalah itu masih beredar. Hanya beberapa kali saya unduh naskahnya di laman daring waktu masih bisa diakses. Itupun sudah bertahun sejak <em>Pantau</em> tidak terbit lagi.</p>
<p>Kalau soalnya adalah uang, saya tidak yakin saat ini tak ada yang mau mendanai Pantau terbit lagi.</p>
<p>“Kalau mau <em>sih</em> investor ada saja. Sekarang kalau butuh berapa rupiah buat Pantau terbit lagi <em>gitu</em>, pasti ada yang mau biayain. Cuma ya <em>gitu</em>, investornya kelas toko kelontong,” ujar Budi Setiyono kepada saya. “Mereka itu belum apa-apa sudah nanyain, ‘untungnya mana?’, ‘iklannya mana?’”</p>
<p>Budi Setiyono, akrab dipanggil Buset. Dulu Buset aktif di <em>Pantau</em>. Namun semenjak merintis <em><a href="http://http://www.historia.co.id/">Historia</a></em>, aktivitasnya di <em>Pantau</em> jadi berkurang. Saya sempat berbincang sebentar dengannya di dalam taksi saat berbarengan berangkat menuju kantor <em>Historia</em>.</p>
<p><em>Pantau</em> adalah legenda yang mati muda. Andreas pernah mengatakan Pantau sebagai “yang pertama kali menggunakan jurnalisme sastrawi dalam metode penulisannya.” Saya yang menyukai sastra, bisa merasakan nafas sastrawi dalam jurnalisme-nya Linda Christanty, Alfian Hamzah,  atau Agus Sopian. Tentu tidak terbitnya <em>Pantau</em> patut disayangkan.</p>
<p>Ketika dinahkodai Andreas, rubrikasi Pantau menampilkan kajian media serta isu lain yang dipandang masuk kategori media. Tak pelak lagi, Pantau memainkan peran <em>media watch</em> dan mulai mengaduk-aduk “jeroan” media-media raksasa macam <em>Kompas, Tempo</em> ataupun <em>Jawa Pos. </em>Tentu saja banyak pihak mencak-mencak. Mungkin karena sebelumnya tidak pernah dikritik.</p>
<p>Sebagai contoh saja, saya membaca bagaimana Fikri Jufri dari Tempo dibikin panas oleh tulisan Coen Husain Pontoh yang berjudul <em>Konflik Nan Tak Kunjung Padam. </em>Coen, kini tinggal di New York dan mengasuh <a href="http://indoprogress.com/">Jurnal Indoprogress</a>, menulis begini,  “Fikri Jufri sebagai wakil pemimpin redaksi bergandengan mesra dengan Center for Strategic and International Studies (CSIS) yang secara kelembagaan dekat dengan Jenderal Benny Moerdani, panglima militer yang disebut-sebut sebagai orang kedua terkuat setelah Soeharto.” Kalau jadi Fikri dan orang paham stigma akan CSIS, Benny Moerdani, dan Soeharto, pastilah senewen jadinya.</p>
<p>Namun saya membaca ulasan Said Budairy, dalam rubrik ombudsman <em>Pantau</em>, menanggapi kritik Fikri dengan anteng dan berwibawa. Ini satu lagi pelajaran yang saya terima dari <em>Pantau</em>, mereka punya ombudsman. Bila <em>Pantau</em> boleh meneropong media lain, maka Said Budairy lah yang memantau seluk beluk <em>Pantau</em>. Ia berhak tahu notulensi rapat redaksi sampai isi wawancara reporter <em>Pantau</em>. Mungkin beginilah sebuah media semestinya dikerjakan.</p>
<p><em>Pantau</em> barangkali pernah dicaci. Namun <em>Pantau</em> pula yang menjadikan wartawan sebagai profesi yang gagah. Bila sebelumnya wartawan dianggap profesi kere, tidak demikian buat wartawan <em>Pantau</em>. <em>Pantau</em> menggaji wartawannya gila-gilaan.</p>
<p>Bagaimana tidak? Liputan diongkosi. Untuk setiap tulisan, semua reporter diberi honor per kata Rp. 400,00. Bahkan pernah direncana naik jadi Rp. 500,00. Sedangkan lukisan-lukisan untuk <em>cover</em>, manajemen membayar sampai Rp 1,5 juta. Begitu juga gambar-gambar kartun atau karikatur karya <em>Kokkang</em>, <em>Kendal</em>, ataupun foto-foto yang menghiasi beberapa halaman <em>Pantau. </em>Apa tidak gila, coba? Mana ada media di Jakarta &#8211; dan tentu di Indonesia &#8211;  yang menggaji wartawannya setinggi itu?</p>
<p>Coen cerita betapa gembiranya ia mendapat honor usai menulis <em>Konflik Nan Tak Kunjung Padam</em>. “Saya terkejut setengah mati ketika menerima honor enam juta rupiah. Hampir 10 tahun tinggal di Jakarta, itulah kali pertama saya memegang uang sebanyak itu. Saya memutuskan membeli televisi dan sepeda motor bebek apkiran,” tulis Coen.</p>
<p>Goenawan Mohamad, waktu ISAI masih menaungi <em>Pantau</em> pernah mengatakan, tidak ada redakturnya yang seboros Andreas. Ada pula yang bilang Andreas “merusak harga”. “<em>Lha wong</em> biar wartawannya sejahtera kok dibilang merusak harga,” ujar Andreas suatu kali di depan kelas.</p>
<p>Saya jadi paham kelakar Imam Shofwan &#8211; direktur Yayasan Pantau yang sekarang &#8211;  beberapa hari sebelumnya, “Orang yang mau <em>invest</em> di <em>Pantau</em> enggak cukup punya duit banyak. Sedikit-sedikit mesti sakit jiwa juga.” Pikir saya, untuk ukuran media di Indonesia, <em>Pantau</em> memang dikerjakan dengan cara-cara yang mewah.</p>
<p>Di dalam taksi yang masih terjebak macet di bilangan Sudirman, Buset mengaku gamang bilamana <em>Pantau</em> mau diterbitkan lagi. Taruhlah sekarang ada investor, adakah orang-orang <em>Pantau</em> yang sanggup mengelola majalah? Kalaupun ada, bisakah lebih bagus daripada <em>Pantau</em> yang dulu?</p>
<p>“Jadinya kupikir tergantung Andreas, <em>sih</em>. Tapi aku juga paham dia lagi sibuk di HRW. Belum lagi mikir duit apartemen, Norman, sekolah di Ghandi khan mahal? Apalagi sebentar lagi lulus. Belum soal Diana. <em>Weeeh</em>.. <em>duit gede</em> <em>kabeh kuwi</em>.”</p>
<p>Sebenarnya Pantau sudah diupayakan terbit lewat <em>online</em>. Namun pengelolaannya sering mandeg di tengah jalan. “<em>Pokoke ono wae halangane.</em> Pernah ada yang ngurus, sakit, lalu meninggal. Ganti lagi, sakit lagi. Akhirnya sampai sekarang gak jadi-jadi,” ujar Imam suatu kali.</p>
<p>Apa yang dikatakan Imam dibenarkan Buset. “Ngurus <em>online</em>-nya <em>Pantau</em> <em>tuh</em> jadi kutukan.”</p>
<p>Ada rasa eman bila Buset mengingat-ingat kontributor <em>Pantau</em> jumlahnya banyak. Hampir di seluruh wilayah ada. Belum lagi lulusan-lulusan kursus yang pernah digelar <em>Pantau</em>. “Mereka <em>khan</em> mestinya sudah banyak yang bisa nulis. Bisa diberdayakan,” ujar Buset.</p>
<p>Di dalam taksi saya tercenung. Hari ini <em>nggak</em> koran, <em>nggak</em> televisi, semua dipunyai politisi. Sementara makin banyak berita bias, <em>media watch</em> melempem. Bukankah majalah macam Pantau justru diperlukan untuk saat-saat sekarang ini? Apakah demikian susahnya membangun majalah yang bagus?</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<div id="attachment_835" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><img class="size-full wp-image-835" title="Di bubur monas" src="http://fajarriadi.com/wp-content/uploads/2012/07/Di-bubur-monas.jpg" alt="Di bubur monas" width="450" height="315" /><p class="wp-caption-text">Bukan masakan Manado. Kami sedang menikmati bubur ayam paling yummy seantero Weltevreden. Bisa-bisanya lidah Bondan Winarno nyambung sama lidah saya.</p></div>
<p style="text-align: left;"><strong>SABTU PAGI ANDREAS </strong>mengajak kami sarapan bubur ayam. Ini semacam acara perpisahan buat peserta kursus Jurnalisme Sastrawi yang akan pulang. Kebetulan dari semua peserta yang berasal dari luar Jakarta, saya termasuk yang akan pulang paling awal.</p>
<p>Bubur Ayam Monas Ny. Cirebon, letaknya di Jalan Lapangan Tembak, tidak jauh dari apartemen Andreas. Andreas datang dari apartemen jalan kaki sambil menenteng koran <em>Tempo</em> dan <em>Jakarta Globe</em>.</p>
<p>“Menurut Bondan Winarno, ini bubur ayam paling enak seantero Jakarta, “ saya jadi ingat kata-kata Andreas di kelas sehari sebelumnya. Dan ketika semangkuk bubur datang, saya tak sabar mencoba. Satu sendok, dan ….alamaaak… <em>wuenak tenaaan</em>!</p>
<p>Benar juga apa kata Bondan Winarno. Mak Nyusss!</p>
<p>Di tempat bubur tidak lama. Usai sarapan Andreas mengajak kami mampir ke apartemennya. Andreas janji akan menunjukkan kantor-kantor media yang ada di kawasan Pal Merah dari atap apartemen.</p>
<p>Sambil jalan ia berbisik kepada saya. “Saya suka sekali kerja di Pantau. Soalnya ketemu orang yang aneka ragam. Anda dari Jawa. Dia dari Papua, Acheh, Riau, Jambi,” sambil menunjuk-nunjuk orang. “Macem-macem orang. Saya senang.”</p>
<p>Tiba di atap apartemen, saya bisa melihat seluruh penjuru Jakarta. Sayang polusi, asap, bikin udara tak bersih. Harusnya langit bisa tampak biru. Beberapa gedung cuma tampak separo di kejauhan. Tapi saya masih bisa melihat Gelora Bung Karno, Kantor Kompas Gramedia, dan lain-lain. Bila di jalanan, saya melihat Jakarta semrawut bukan main. Ternyata sama saja bila dilihat dari atas.</p>
<p>Andreas menunjukkan satu per satu kantor media yang meriuh di bilangan Pal Merah. Kompas, RCTI, SCTV, Indosiar, Metro TV, dan banyak lagi. Saya tanya mengapa kantor-kantor media di Jakarta kumpul jadi satu di kawasan Pal Merah? “Entahlah. Saya lihat di London juga ngumpul begini. Di India, Bangladesh juga,” katanya. “Mungkin sudah sifatnya wartawan juga. Mereka kalau bikin media baru, kantornya tidak jauh-jauh dari tempatnya yang lama. Mungkin juga karena sudah tahu seluk beluk daerah situ.”</p>
<p>Puas di atap, kami diajak ke lantai dasar. “Siapa mau main basket? Renang?”</p>
<p>Kami pilih main basket. Sesuai hasil adu <em>shoot</em> untuk menentukan kawan satu tim, Yaya dari Riau, Yoeshar dari Acheh, Arnold dari Papua, dan Norman Harsono, anak sulung Andreas, satu tim. Saya setim dengan Andreas, Teguh Suprayitno, dan Tommy.</p>
<p>“Wah, GAM sama OPM gabung. Pemberontak lawan NKRI nih ceritanya,” kelakar Andreas. “Norman pengkhianat!”</p>
<p>Cilaka duabelas! Bisa-bisanya  hasil adu <em>shoot</em> bikin Arnold dan Yoeshar setim, ya. Hahaha..</p>
<p>Permainan dimulai. Separo lapangan, satu bola, satu ring.</p>
<p>Yaya shoot.. 1-0!</p>
<p>Arnold shoot.. 2-0!</p>
<p>Giliran Yoeshar.. 3-0!</p>
<p>Gila! Arnold main basket seperti tak punya capek. Norman ngakunya jarang main basket, tapi dia main bagus sekali. Andreas sempat kelimpungan di tengah permainan. Lucu juga melihat dia terguling-guling di lapangan.</p>
<p>Andreas <em>shoot</em>.. 3-1!</p>
<p>Untung bisa bikin selisih skor mengecil.</p>
<p>Saya sering olahraga, tapi futsal. Kalau basket sudah kelewat lama tak main. Apalagi permukaan lapangan panas. Kaki tidak pakai alas. Telapak kaki bisa melepuh. Ampuuuun.. Nyerah deh!</p>
<p>Setengah jam main, tim saya kalah telak. Entah berapa skor akhirnya.</p>
<p>“NKRI kalah, kita merdeka,” canda Yushar.</p>
<p>Capek. Panas. Haus. Untung ada yang membawakan air dan coca cola dingin. <em>Cleees..adem beneer!</em></p>
<p>Andreas melepas kaos dan segera saja, “Byurrr..” Nyemplung di kolam renang.</p>
<p>Ada yang renang. Ada pula yang main <em>bilyard</em>. Saya coba <em>bilyard</em>. Sekali dua sodok, bola tak kena. Annisa Ruzuar dari <em><a href="http://www.wwf.or.id/">World Wildlife Fund</a></em> (WWF) bilang, “Waduh, salah punya <em>temen</em> setim, nih!”</p>
<p>Ya, betul, memang dasarnya saya hanya bisa main <em>bilyard</em> di layar komputer. Jadi, daripada malu-maluin,  lebih baik pinjam celana pendek Yoeshar,  ikutan renang. Sekali dua kali bolak balik lebar kolam masih kuat lah.</p>
<p>Usai renang saya duduk-duduk di tepi kolam dekat Norman. Saya pernah melihat foto Norman di blog Andreas sedang <em>action</em> pakai kostum kertas superhero. Beberapa hari sebelumnya saya melihat lagi fotonya berpose di <em>Moedjallat Indopahit &#8211; </em>benda unik, undangan pernikahan Toean Andreas dengan Nona Sapariah bentuknya majalah gaya <em>vintage</em><em> &#8211; </em>yang saya temukan di antara tumpukan buku di dalam kamar kos Imam Shofwan. Di foto Norman masih kecil. Sekarang ia sudah besar, sudah jadi remaja yang tampan.</p>
<p>Ia kini kelas 2 SMA. Tentu sebentar lagi lulus. Iseng-iseng saya bertanya kepadanya, kalau nanti kuliah apa minatnya?</p>
<p>“<em>Biology</em>,” katanya.</p>
<p>“Ada tempat kuliah yang cocok di sini?”</p>
<p>“Institut Pertanian Bogor…. mungkin,” jawabnya.</p>
<p>“Tapi mungkin papa ingin menyekolahkan kamu di luar negeri?”</p>
<p>“<em>I think so</em>.”</p>
<p>“Enggak tertarik jadi jurnalis seperti papa?”</p>
<p>Norman hanya geleng-geleng kepala.</p>
<p>“<em>Norm, go upstair and take two piece of pants</em>!” teriak Andreas yang masih berkubang di tepi kolam. Sepertinya Yaya dan Daris ingin ikut renang tapi tak bawa celana.</p>
<p>Norman tak bergeming. Melihat papanya pun tidak. Hanya tangannya menepuk-nepuk kedua pahanya, isyarat kalau ia capek. Mata saya melirik Andreas yang diam saja perintahnya ditolak. Saya menahan geli.</p>
<p>Jangan keburu pikir Norman tak penurut atau tak cinta papanya. Sebaliknya, Norman amat sayang kepada Andreas. Tapi barangkali mau bukti, akan saya tunjukkan.</p>
<p>Waktu saya di kamar mandi apartemen Andreas, saya menemukan sebuah surat cinta mungil berbingkai digantung di tembok samping pintu. Norman menulis dengan tulisan tangan cakar itik.</p>
<blockquote><p><em>“1-10-04</em></p>
<p><em>Dear Dad </em></p>
<p><em>Thank you for everything you teach me to be a good boy</em></p>
<p><em>you are the one who pay everything for me</em></p>
<p><em>My school, my haves, my car, everything</em></p>
<p><em>even everybody in my school who meet you</em></p>
<p><em>likes you and you work very hard for me</em></p>
<p><em>and all my family.</em></p>
<p><em>Thank you once again for being my best </em></p>
<p><em>Father in this hole wide world.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Love from your son</em></p>
<p><em>Norman</em></p></blockquote>
<p>Saya mendapat pelajaran lagi. Bila benar hidup ini soal perjuangan, saya yakin semua orang yang bersungguh-sungguh bisa jadi pejuang. Namun jadi pejuang saja tidak cukup. Ia juga harus dicintai.</p>
<p align="center">*****</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fajarriadi.com/?feed=rss2&amp;p=810</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tri Ramidjo</title>
		<link>http://fajarriadi.com/?p=797</link>
		<comments>http://fajarriadi.com/?p=797#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jul 2012 13:39:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fajar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Boven DIgul]]></category>
		<category><![CDATA[Digulis]]></category>
		<category><![CDATA[Fajar]]></category>
		<category><![CDATA[Fajar Riadi]]></category>
		<category><![CDATA[Tapol]]></category>
		<category><![CDATA[Tapol Buru]]></category>
		<category><![CDATA[Tri Ramidjo]]></category>
		<category><![CDATA[Trikoyo Tri Ramidjo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fajarriadi.com/?p=797</guid>
		<description><![CDATA[Buku-buku ditata  di atas buffet yang menyatu dengan tempat televisi. Sebuah foto keluarga berukuran besar dipajang di dinding, tepat di [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_799" class="wp-caption alignleft" style="width: 185px"><img class="size-full wp-image-799" title="Ramidjo" src="http://fajarriadi.com/wp-content/uploads/2012/07/Ramidjo.jpg" alt="Ramidjo" width="175" height="235" /><p class="wp-caption-text">Tri Koyo Tri Ramidjo, anak Digul tapol Buru</p></div>
<p>Buku-buku ditata  di atas buffet yang menyatu dengan tempat televisi. Sebuah foto keluarga berukuran besar dipajang di dinding, tepat di atasnya. Dua buah kipas angin ukuran kecil di atas meja kayu tak dinyalakan. Meskipun siang bolong begini, Cipondoh, Tangerang, memang tak terlalu panas.</p>
<p>Saya duduk di sebuah kursi panjang empuk warna hijau tua dengan meja kaca bulat. Pembantu yang baru saja menyajikan segelas air minum berpesan supaya saya menunggu. “Bapak masih makan,” katanya.</p>
<p>Usai makan ia berusaha menghampiri saya. Tubuhnya tinggi namun sedikit membungkuk. Rambut pendeknya sudah putih semuanya. Kaos oblongnya putih, celana panjangnya batik coklat. Tangan kanannya lurus kaku. Tangan kirinya menumpu pada tongkat besi dengan 3 kaki. Ia berjalan pelan sekali.<span id="more-797"></span></p>
<p>“Saya senang Bung mau datang,” katanya sambil berusaha keras mengulurkan tangan kanan. Saya sambut salamnya.</p>
<p>Astaga! Tangan yang sebelah itu benar-benar kaku.</p>
<p>“Saya baru saja jatuh di kamar mandi, bung. Telentang lama sekali. Sampai anak mantu saya tahu lalu minta tolong tetangga buat angkat saya ke kamar,” belum juga duduk ia sudah mulai bercerita.</p>
<p>“Bung tahu, umur saya masih muda. Baru 86 tahun. Enggak tahu sampai 100 ndak, ya? Dulu saya pernah minta sih sampai 60 saja. Tapi kok dikasih sampai sekarang, ya?” ia terkekeh.</p>
<p>Ia mencoba duduk. Saya membantu meluruskan kursi plastik berlengan warna putih.</p>
<p>“Alhamdulillaaah… Nhah, bung, nama saya Tri Ramidjo. Saya akan banyak cerita,”</p>
<p>“Bapak saya namanya Kyai Anom. Nama lengkapnya Dardiri Surowijoyo. Kyai di Grabag, Kutoarjo sana. Keturunan pengikut Diponegoro. Belanda takut sama bapak saya, makanya bapak dibuang ke Digul. Saya lahir Februari 1926. Bapak dibuang ke Digul Novembernya. Jadi belum umur setahun saya sudah ikut ke Digul. Saya anak Digul. Digulis,” katanya terkekeh.</p>
<p>Saya mulai merasa ia orang yang suka bercerita. Mungkin juga karena suka dikunjungi anak muda.</p>
<p>“Makanya bapak di-Buru-kan?” tanya saya.</p>
<p>“Iya. Tapi ceritanya panjang. O ya, bung pernah ke Pontianak? Pernah lewat jalan RMS Suwignyo kalau di sana? Raden Mas Siswo Suwignyo itu Pak Lik saya. Dia yang bikin saya masuk Buru,” tawanya berderai.</p>
<p>Saat itulah saya tersadar. Setiap kali ia bicara, saya seperti mendengar desisan nafas mengiringi. Mungkin dari paru-parunya.</p>
<p>“Coba, Harto pakai nama Pak Lik saya jadi nama jalan di Pontianak. Sementara saya mesti di-Buru hampir 10 tahun,” sejenak ia diam, matanya menerawang ke depan, senyum tipisnya mengembang, “tapi saya tidak pernah itu sakit hati, dendam.” Tangan kirinya meraih gelas air. Satu tegukan kemudian menaruhnya kembali.</p>
<p>“Mengapa tidak dendam?” tanya saya.</p>
<p>“Sama saudara masa dendam. Dia waktu itu ditanya Harto apa keluarganya ada yang Digul? Dia jawab ada, itu si Tri. Khan memang betul, saya memang anak Digul. Jadi Pak Lik ya tidak salah,” katanya.</p>
<p>“Kalau PKI?”</p>
<p>“Waaahh…saya tidak berani mengaku PKI. Di Buru awalnya saya ditaruh di unit 2. Belum setahun dipindah ke unit 15. Bung tahu artinya apa? Unit 15 itu bung, tempatnya orang-orang kepala batu semua. Orang-orang komite (sentral) di sana. Situmeang, Hay Djoen, banyak lah. Pak Pram juga.”</p>
<p>“Lantas maksudnya tidak berani mengakui itu bagaimana?”</p>
<p>“Saya tidak sanggup jadi PKI. Di dalam penjara saya pelajari semua soal PKI. Saya hafal syarat-syarat jadi anggota. Berat sekali syaratnya. Saya tidak sanggup. Jadi meskipun satu sel sama mereka-mereka saya tidak berani mengaku anggota.”</p>
<p>“Bagaimana setelah bebas dari Buru?”</p>
<p>Ia memejamkan matanya sebentar. Kemudian senyumnya mulai mengembang lagi.</p>
<p>“Ini lucu. Dengarkan ya. Waktu sampai Jakarta, cuma saya tahanan yang tidak dijemput. Tiba-tiba ada nenek-nenek mau jemput orang tapi gak nemu-nemu. Saya bilang ‘Saya aja yang dijemput, bu’. Jadilah saya yang dijemput pulang naik becak.”</p>
<p>“Baik sekali nenek itu,”  saya menimpali.</p>
<p>“Namanya Bu Safar. Waktu di becak saya kasih tahu nama saya, dianya kaget. Mungkin pernah dengar nama saya. Dia cerita kalau istri saya sudah menikah lagi. Ya sudahlah… Saya bilang tidak apa-apa dia nikah lagi. Toh saya tidak nafkahi dia 10 tahun. Lagian saya sudah impoten akibat disiksa di Buru,” tawanya berderai.</p>
<p>“Bu Safar itu heran, bilang harusnya saya marah. Bung tahu dia bilang apa? Dia bilang begini, ‘kata Stalin tidak ada orang yang bisa mengalahkan musuh tanpa dendam di hatinya’. Ganti saya yang kaget. Pintar betul nenek ini,”dia memandang saya sambil menggeleng-gelengkan kepala.</p>
<p>Saya menunggu ia melanjutkan ceritanya namun ia diam. Mulutnya mengatup, seperti sedang berkonsentrasi. Lama ia tidak berkata-kata, kemudian meraih tongkat dan berusaha berdiri. Saya bantu memegangi sebelah lengannya.</p>
<p>Ia tertatih masuk ke dalam kamarnya. Sebentar kemudian ia keluar. Kini ia memakai celana pendek warna putih polos. Di depan pintu kamar ia tersenyum kepada saya.</p>
<p>“Penyakit tua itu benar-benar merepotkan. Bung tahu, saya tadi baru saja ngompol.”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fajarriadi.com/?feed=rss2&amp;p=797</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pada Mulanya Empat Belas Hari</title>
		<link>http://fajarriadi.com/?p=729</link>
		<comments>http://fajarriadi.com/?p=729#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jul 2012 06:40:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fajar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fajarriadi.com/?p=729</guid>
		<description><![CDATA[Saya mendapat banyak teman baru selama dua minggu mengikuti kelas Jurnalisme Sastrawi Angkatan XX di Jakarta. Ada yang masih mahasiswa, [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_778" class="wp-caption aligncenter" style="width: 458px"><img class="size-full wp-image-778" title="Kelas" src="http://fajarriadi.com/wp-content/uploads/2012/07/Kelas.jpg" alt="Kelas" width="448" height="102" /><p class="wp-caption-text">Saya akan merindukan suasana kelas Janet</p></div>
<p>Saya mendapat banyak teman baru selama dua minggu mengikuti kelas Jurnalisme Sastrawi Angkatan XX di Jakarta. Ada yang masih mahasiswa, ada aktivis, namun ada pula yang sedang bekerja. Ada pecinta binatang, ada pula pecinta boyband Korea. Berikut akan sedikit saya ulas tentang mereka.<span id="more-729"></span></p>
<p><img class="size-full wp-image-730 alignleft" title="Yoeshar" src="http://fajarriadi.com/wp-content/uploads/2012/07/Yoeshar.jpg" alt="Yoeshar" width="144" height="174" /></p>
<p><strong>Yoeshar Ismail</strong>. Saya memanggilnya Bang Yoes. Kawan sekamar selama dua minggu. Kami berdua punya tempat makan favorit, warung nasi lalapan di tepi jalan milik orang Lamongan. Bang Yoes selalu pesan supaya ayamnya digoreng garing. Aktivitasnya sebagai Aceh Liaison Officer di sebuah NGO internasional bernama Caritas membuatnya harus berjauhan dengan keluarga kecilnya di kota Malang. Bang Yoes suka cara Janet mengajar. Ia bilang mestinya semua profesor di sini seperti Janet. Kelihatan pintarnya.  “Ibarat kata saya kerja cuma bawain tasnya Janet, saya bisa ikutan pintar,” katanya.</p>
<p><img class="size-full wp-image-737 alignleft" title="Harry Febrian" src="http://fajarriadi.com/wp-content/uploads/2012/07/Harry-Febrian.jpg" alt="Harry Febrian" width="144" height="167" /></p>
<p><strong>Harry Febrian</strong>. Hoakiao kelahiran Jakarta. Lulusan jurnalistik Universitas Multimedia Nusantara, Serpong. Kini kerja di Koran Kontan. Ia punya istilah-istilah lucu. Suatu kali mengistilahkan tulisan saya seperti burger. Baru sekali itu saya dengar. Mungkin suatu saat akan ada tulisan macem oncom, peuyeum, atau sego pecel. Ia juga yang kasih tahu kalau wartawan Jakarta suka sebut amplop dengan istilah “Joss”. Anda mesti simak kata-kata Harry waktu perkenalan di kelas. “Kalau saya tidak bisa menulis seperti seorang Andreas Harsono, saya belum akan mengatakan diri saya seorang wartawan,” seketika ujung alisnya terangkat.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-745" title="Husni Mahdami" src="http://fajarriadi.com/wp-content/uploads/2012/07/Husni-Mahdami.jpg" alt="Husni Mahdami" width="144" height="172" /><strong>Husni Mahdami</strong>. Sarjana lulusan Al Azhar, Kairo, Mesir. Tahu film Ketika Cinta Bertasbih? Karakter Azzam ditulis El Shirazy karena terinspirasi oleh sosok Husni (hahahaha…).  Sepulang ke Jakarta ia bercita-cita jadi guru. Namun suratan nasib membawanya menjadi wartawan di majalah Sabili. Saya tanya apa ia betah kerja di Sabili? “Seharusnya pertanyaannya, ‘apakah Sabili akan bertahan lebih lama lagi?’ “ Tidak tahu lah. Yang saya tahu Husni juga jadi guru les privat.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-747" title="Yaya Nurul Fitria" src="http://fajarriadi.com/wp-content/uploads/2012/07/Yaya-Nurul-Fitria.jpg" alt="Yaya Nurul Fitria" width="144" height="175" /><strong>Yaya Nurul Fitria</strong>. Ia tidak pakai pakai aku, saya, apalagi gue untuk mengacu dirinya. Ia pakai “Yaya”, jadi kesannya kekanak-kanakan (piss, ya. Hehe..). Yaya semester enam di Universitas Riau. Aktif di lembaga pers Bahana Mahasiswa. Saya agak iri waktu Yaya berhasil menemukan seorang sopir angkot yang mengandaikan macetnya Jakarta bikin kendaraan jadi mirip “keong”. Yaya perempuan energik. Ia suka mengikuti banyak kegiatan. Saya punya kesan ia suka bepergian.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-749" title="Arnold Belau" src="http://fajarriadi.com/wp-content/uploads/2012/07/Arnold-Belau.jpg" alt="Arnold Belau" width="144" height="166" /><strong>Patrick Arnold Belau</strong>. Saya tidak sempat tanya apakah nama depan Patrick yang ditulis di akun facebook-nya benar-benar namanya apa bukan. Ia unik. Seorang nasrani yang kuliah di Universitas Muhammadiyah. Berlayar enam hari dari Papua menuju Jakarta dan menjadi perjalanan pertamanya keluar Papua. Waktu Arnold cerita soal pertemuan terakhirnya dengan Mako Tabuni di “Vietnam”, saya ikutan trenyuh. “Kalau ko ke Papua hubungi sa, sa janji ajak ko ke Nabire,” katanya. Suatu saat saya akan tagih janjinya.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-751" title="Annisa Ruzuar" src="http://fajarriadi.com/wp-content/uploads/2012/07/Annisa-Ruzuar.jpg" alt="Annisa Ruzuar" width="144" height="179" /><strong>Annisa Ruzuar</strong>. Lahir di Semarang. Besar di Padang. Kuliah di Bandung. Kerja di Jakarta. “Sebenarnya kecil sudah di Bandung. Ada lagi, S2 di Singapur,” terusnya. Ia memang mendapat gelar master International Studies di National University of Singapore. Kini bekerja sebagai Communication Officer di World Wildlife Fund (WWF). Ia masih punya minat sekolah lagi. Tapi ambil master (lagi). Kalau PhD empat tahun katanya <em>ngabisin</em> umur. Ia tidak begitu suka Jakarta. “Tapi saya suka pekerjaan di sini,” ucapnya… “<em>Maaaaan, look at her… she’s so gorgeous!</em>”</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-753" title="Tommy Apriando" src="http://fajarriadi.com/wp-content/uploads/2012/07/Tommy-Apriando.jpg" alt="Tommy Apriando" width="144" height="174" /><strong>Tommy Apriando</strong>. Kelahiran Lampung. Sarjana lulusan Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. Baru saja selesai magang di Kontras, Jakarta. Tanya saja padanya soal Papua, asal Anda punya waktu banyak ia akan bisa cerita panjang lebar. Ia memang sedang menulis soal Papua. Minta antar saja Tommy keliling Jakarta, ia akan senang jadi <em>guide</em>. Ia <em>easy going</em>. Tapi jangan ajak ia balapan lari atau renang. Saya khawatir saat Tommy sudah di garis finis, perutnya masih tertinggal di garis start.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-755" title="Indra Noegraha" src="http://fajarriadi.com/wp-content/uploads/2012/07/Indra-Noegraha.jpg" alt="Indra Noegraha" width="144" height="175" /><strong>Indra Nugraha</strong>. Mahasiswa semester enam di Universitas Padjajaran. Saat ini sedang magang di Media Indonesia sampai Oktober. Ia agak pendiam, namun baik hati. Mau bukti? Suatu kali ia bertemu dengan seorang pengemis, masih anak-anak. Ia serahkan semua uang yang ada di dalam dompetnya. Sama sekali tidak minta kembalian. Hal yang paling menyebalkan ialah ketika saya kalah cepat darinya mendapat buku Ideologi Politik Mahasiswa Indonesia-Francois Raillon milik Andreas Harsono. Aduhhh…</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-757" title="Cahyo Adji" src="http://fajarriadi.com/wp-content/uploads/2012/07/Cahyo-Adji.jpg" alt="Cahyo Adji" width="144" height="167" /><strong>Cahyo Adji</strong>. Ia peserta kursus paling senior. Wong Kulon Progo Ngayogjokarto. Enam tahun terakhir ia kerja untuk Pekan Raya Jakarta. Pernah kerja untuk beberapa majalah. Kalau anda ke terminal Pulogadung, singgahlah sebentar di warungnya. Ia punya sebidang tanah di lereng Merapi. “Kelak kalau saya pensiun, saya kepingin bangun tempat rehabilitasi narkoba di sana,” ujarnya. Anda tidak perlu jadi pasien dulu bilamana ingin ke sana.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-758" title="Syamsidar" src="http://fajarriadi.com/wp-content/uploads/2012/07/Syamsidar.jpg" alt="Syamsidar" width="144" height="158" /><strong>Syamsidar</strong>. Ia lebih suka dipanggil Sammy. Kerja untuk WWF Riau. Ia suka cerita soal gajah. Sekali waktu ia cerita soal konflik gajah – manusia. Kali lain ia cerita soal si Imbo, seekor gajah lucu di tesso Nilo. Darinya saya jadi tahu ada gajah namanya Lisa, ada pula namanya Rahman. Gajah doyan brownies? Ini juga saya baru tahu. Menurut Andreas, cerita tentang konservasi gajah yang sering diceritakan Sammy akan sangat menarik bila dijadikan narasi.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-759" title="Randu Rini" src="http://fajarriadi.com/wp-content/uploads/2012/07/Randu-Rini.jpg" alt="Randu Rini" width="144" height="181" /><strong>Dyah Ekarini Ratnaningtyas</strong>. Punya nama lain: Randu. “Kombatan” WWF juga. Ia tinggal di rumah “komunal” yang dihuni oleh para wartawan ibukota. Suaminya kerja bikin film dokumenter. Ia juga bikin saya iri setiap kali cerita soal Timor Leste. Kepalanya pernah ditodong moncong senjata Aitarak waktu ia masih umur 21 tahun…. sekali lagi, masih 21 tahun sodara! Janet bilang pengalaman Rini di Timor layak untuk dibikin buku. Saya menunggunya menulis soal itu.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-761" title="Teguh Suprayitno" src="http://fajarriadi.com/wp-content/uploads/2012/07/Teguh-Suprayitno.jpg" alt="Teguh Suprayitno" width="144" height="178" /><strong>Teguh Suprayitno</strong>. Asli Pati, Jawa Tengah. Kuliah di Universitas Batanghari, Jambi. Kerja di sana pula. Teguh punya tubuh yang berotot. Norman, anak Andreas, tanya padanya, “Bagaimana bisa dapat tubuh kekar seperti kamu?” hehehe… Teguh suka pakai celana skinny dengan bolong di lutut. Sendalnya merk Joma. Rambutnya spiky. Gara-gara menulis untuk majalah di kampusnya soal manipulasi uang program KKN (Kuliah Kerja Nyata), keluarlah nilai E di KHS-nya. O ya, Teguh adalah teman Agus Cungkring, seseorang yang masuk daftar pencarian orang oleh Pak Kadiono gara-gara anaknya diserang dalam Tragedi Cangkring April 98. Peristiwa paling “mengerikan” di Kabupaten Pati. Saya curiga Teguh lari ke Jambi juga gara-gara ia masuk DPO.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-762" title="Daris Ilma" src="http://fajarriadi.com/wp-content/uploads/2012/07/Daris-Ilma.jpg" alt="Daris Ilma" width="144" height="171" /><strong>Daris Ilma</strong>. Meskipun punya darah Bali, logat medhoknya tak ketulungan. Asli Porong, Sidoarjo. Ia aktif di Sanggar Al Faz, kelompok yang mengadvokasi anak-anak korban lumpur Lapindo. Ia penggemar K-Pop. Ia akan setel kenceng lagu-lagu boyband Korea usai kelas berakhir. Bila sudah demikian, sumpah, saya kebelet setel campursarinya Didi Kempot.</p>
<p>Begitulah mereka, kawan-kawan saya yang baru. Semuanya luar biasa, bukan? (Goddamn! Yang barusan itu kursus atau piknik ketemu kawan baru sih?! )</p>
<p>Sekarang, ijinkanlah saya menukil, sekaligus memplagiat, sebuah puisi Hasan Aspahani berikut ini.</p>
<p><em>“Pada mulanya adalah kaki, lalu perjalanan dari sepatu ke sepatu</em></p>
<p><em>Pada mulanya hanya empat belas hari, lalu persahabatan dari waktu ke waktu”</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fajarriadi.com/?feed=rss2&amp;p=729</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nafas Sang Kalawarti</title>
		<link>http://fajarriadi.com/?p=687</link>
		<comments>http://fajarriadi.com/?p=687#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jul 2012 10:00:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fajar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fajarriadi.com/?p=687</guid>
		<description><![CDATA[Terbit di masa perjuangan, nafas majalah ini tersengal di tengah perubahan zaman. Oleh Fajar Riadi SEPUCUK surat tiba di kantor [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><em><img class="aligncenter" title="PS blog" src="http://fajarriadi.com/wp-content/uploads/2012/07/PS-blog.jpg" alt="PS blog" width="250" height="375" /></em></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><span style="font-style: italic;">Terbit di masa perjuangan, nafas majalah ini tersengal di tengah perubahan zaman.</span></p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: left;">Oleh Fajar Riadi</p>
<p>SEPUCUK surat tiba di kantor redaksi <em>Panjebar Semangat</em> di Jalan Bubutan 87 Surabaya. Pengirimnya pensiunan pegawai negeri di Surakarta, Jawa Tengah. Dalam suratnya, dia menulis mohon pamit. Dia hendak undur diri sebagai pembaca. Musababnya, di usia 83 tahun, penglihatannya rabun. Dia ingin melanjutkan berlangganan namun tak ada anggota keluarganya yang mau membaca majalah ini.</p>
<p>Si pengirim surat, seperti banyak pelanggan seusianya, menjadi pembaca setia selama puluhan tahun. Namun satu per satu dari mereka dimakan usia. Banyak pula yang meninggal dunia. Jumlah pelanggan <em>Panjebar Semangat </em>pun merosot dari tahun ke tahun, sementara pertumbuhan pembaca muda tak menggembirakan. Majalah ini hidup segan mati tak mau.<span id="more-687"></span></p>
<p>Rudi, seorang konsultan psikolog di kota Malang, punya pengalaman serupa. Dia meneruskan langganan majalah ini dari ayahnya. Di rumahnya, dia membaca majalah itu bersama istrinya. Dia ingin anak-anaknya ikut membaca agar pandai bahasa Jawa. Hasilnya nihil. “Kalaupun pintar bahasa Jawa, apa gunanya?” ujarnya menirukan kata-kata anaknya</p>
<div id="attachment_705" class="wp-caption alignleft" style="width: 190px"><img class="size-full wp-image-705  " title="Moechtar Blog" src="http://fajarriadi.com/wp-content/uploads/2012/07/Moechtar-Blog.jpg" alt="Moechtar Blog" width="180" height="255" /><p class="wp-caption-text">Mbah Moechtar, puluhan tahun menahkodai Panjebar Semangat</p></div>
<p>Namun keyakinan masih memberkas pada diri Moechtar, pemimpin redaksi yang baru saja undur diri Februari lalu setelah mengabdi 31 tahun. Bahkan ketika George Quinn, seorang peneliti budaya dan sastra Jawa dari Australia National University, bertanya padanya apakah <em>Panjebar Semangat</em> akan ikut mati bersama matinya pembaca generasi tuanya, dia menjawab: “Saya tetap optimis. Setidaknya suatu hari nanti generasi muda akan mencari jati dirinya dan beberapa menemukannya di <em>Panjebar Semangat</em>.”</p>
<p>Moechtar boleh optimis, tapi kenyataan berkata lain. Upaya redaksi menarik pembaca muda dengan menyediakan rubrik Gelanggang Remaja terbukti gagal. Sampai-sampai muncul anekdot singkatan PS untuk <em>Panjebar Semangat</em> lebih cocok diganti “Priyayi Sepuh” alias khusus untuk orang tua.</p>
<p>Tak adanya regenerasi pembaca menjadi masalah serius yang mengancam eksistensi majalah ini. Kini, sebagian besar majalah dicetak untuk pelanggan setia. “Mungkin sampai 95 persen,” ujar Kukuh Setyo Wibowo, berusia 36 tahun, wartawan termuda.</p>
<p><strong>Pesan Soetomo</strong></p>
<p><em>Panjebar Semangat </em>bukanlah media berbahasa Jawa pertama. Pelopornya adalah <em>Bromartani</em>, suratkabar yang terbit di Solo pada 1855 dan dicetak dengan huruf Jawa (hanacaraka). Setelah itu muncul yang lainnya, dari <em>Jurumartani</em> hingga <em>Rudjak Polo</em>.</p>
<p><em>Panjebar Semangat</em> terbit kali pertama pada Sabtu, 2 September 1933. Soetomo, seorang dokter sekaligus pendiri dan penggerak utama organisasi Boedi Utomo, menjadi pencetusnya. Dalam editorialnya berjudul “Toedjoean lan kekarepan” (Tujuan dan Harapan), Soetomo menjelaskan bahasa Indonesia masih jarang digunakan dalam pergaulan sehari-hari maupun rapat-rapat. Apalagi di kalangan kaum krama, masyarakat kebanyakan, di desa-desa. Karena itulah pilihan jatuh pada bahasa Jawa ngoko.</p>
<p>“Apakah bangsa kita yang beribu-ribu jumlahnya itu tak perlu diberi penerang? Apa bangsa kita yang masih belum bisa berbahasa Indonesia itu tak perlu dididik agar mau berkecimpung di lingkungan pergerakan kita?” tulis Soetomo.</p>
<p>Soetomo juga membantah anggapan penggunaan bahasa Jawa akan memisahkan pengguna bahasa lainnya. “Sangat keliru bila orang punya pendapat kita mempunyai tujuan yang <em>provincialistich</em>,” katanya.</p>
<div id="attachment_707" class="wp-caption alignleft" style="width: 215px"><img class="size-full wp-image-707   " title="Imam-Soepardi Repro oleh Redaksi Panjebar Semangat" src="http://fajarriadi.com/wp-content/uploads/2012/07/Imam-Soepardi-Repro-oleh-Redaksi-Panjebar-Semangat.jpg" alt="Imam-Soepardi Repro oleh Redaksi Panjebar Semangat" width="205" height="276" /><p class="wp-caption-text">Imam Soepardi, motor utama Panjebar Semangat di masa jayanya (foto repro oleh redaksi Panjebar Semangat)</p></div>
<p>Soetomo menjabat direktur. Hingga akhir, Soetomo tetap mengasuh <em>Panjebar Semangat</em>. Namun penggerak utama majalah adalah seorang redaktur bernama Imam Soepardi, kelahiran Lumajang 10 Mei 1904. Mulanya dia bekerja sebagai guru bantu pada <em>Noormal School</em> Probolinggo merangkap guru sekolah dasar di Puger, Jember. Di sela kesibukannya, Imam menulis artikel untuk <em>Bintang Timoer</em> di Jakarta dan <em>Soeara Oemoem</em> di Surabaya. Karena kemampuannya, dia mendapat tawaran untuk mengelola <em>Panjebar Semangat</em>.</p>
<p>Pada tahun pertamanya, <em>Panjebar Semangat</em> hanya punya 37 pelanggan. Peningkatannya berjalan lamban. Tahun 1936, ketika Soetomo hendak pergi ke luar negeri (di antaranya ke Jepang, India, Mesir, Inggris, Belanda, Turki, Palestina, dan Semenanjung Malaka) untuk studi banding dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, dia berpesan agar sepulangnya ke tanah air pelanggan harus mencapai 4.000 orang. Nyatanya jumlahnya terlampaui hingga dua kali lipatnya. <em>Panjebar Semangat </em>sempat tercatat sebagai media beroplah tertinggi pada 1942.</p>
<p>Pendudukan Jepang menghentikan semuanya karena adanya larangan menerbitkan suratkabar. Setelah situasi memungkinkan, pada 1949, Imam Soepardi kembali menghidupkan <em>Panjebar Semangat</em> bersama adiknya, Mohammad Ali.</p>
<p>Perkembangannya lumayan menggembirakan. Bahkan pada 1950-an majalah ini mengembangkan usaha dengan menerbitkan risalah-risalah <em>Watjan Rakjat</em>. Tujuannya, meneruskan cita-cita Sutomo pada 1933 untuk memberikan bacaan untuk rakyat. Mereka antara lain menerbitkan <em>Bung Karno: Saka Suka Miskin Ngganti Istana Merdeka</em>, <em>Sri Sultan Hamengkubuwono</em>, <em>Wahidin Sudiro Husodo</em>, dan <em>Ibu Kita Kartini</em>.</p>
<p>Presiden Sukarno punya perhatian tersendiri terhadap majalah ini. Pada ulang tahun <em>Panjebar Semangat</em> ke-20 pada 1953, presiden menyampaikan sebuah memo dalam bahasa Jawa. Isinya: “Semua majalah yang membantu perjuangan nasional besar jasanya. Kudoakan, semoga <em>Penjebar Semangat</em> lestari membantu perjuangan kita.”</p>
<p>Di tangan Imam Soepardi pula oplah majalah menembus 85.000 eksemplar pada 1962. Angka itu hanya bisa dikalahkan <em>Star Weekly</em> milik grup Kompas. Namun seiring meninggalnya Imam Soepardi dan ketakstabilan situasi politik, oplahnya turun tajam menjadi 18.000 pada 1964.</p>
<div id="attachment_709" class="wp-caption alignright" style="width: 256px"><img class="size-full wp-image-709" title="Suasana kerja di percetakan" src="http://fajarriadi.com/wp-content/uploads/2012/07/Suasana-kerja-di-percetakan1.jpg" alt="Suasana kerja di percetakan" width="246" height="368" /><p class="wp-caption-text">Karyawan mencetak lembaran majalah</p></div>
<p>Mohammad Ali, yang mengambil-alih kendali, berusaha melakukan pembenahan dengan membeli mesin cetak. Oplahnya kembali membaik. Setelah Mohammad Ali mundur tahun 1986, posisinya digantikan putra tunggalnya, Soedjatmiko. Namun kepemimpinan Soedjatmiko tak bertahan lama. Dia meninggal dunia karena kecelakaan. Sejak itu hingga kini, pemimpin umum dipegang putra tunggal Soedjatmiko, Kustono Jatmiko.</p>
<p><em>Panjebar Semangat </em>tak hidup sendirian. Setidaknya ada dua majalah berbahasa Jawa lainnya yang masih langgeng: <em>Joyo Boyo</em> di Surabaya dan <em>Djoko Lodang</em> di Yogyakarta. Ketiganya memiliki pembaca setia dengan sebaran distribusi berbeda: <em>Joyo Boyo</em> di Jawa Timur bagian selatan, <em>Djoko Lodang</em> di Yogyakarta, sementara <em>Panjebar Semangat</em> di Jawa Tengah dan Jawa Timur bagian barat. <em>Panjebar Semangat</em> bahkan memiliki pembaca di Belanda, Suriname, Australia, dan Kaledonia Baru sekalipun jumlahnya sedikit.</p>
<p><strong>Dapur Redaksi</strong></p>
<p>Ketika Moechtar mengundurkan diri sebagai pemimpin redaksi 22 Februari lalu, usianya tepat 87 tahun. Mungkin dia orang tertua yang pernah menjadi pemimpin redaksi sebuah majalah di Indonesia. Pengalamannya menjadikannya panutan oleh rekan-rekannya di redaksi yang usianya jauh lebih muda.</p>
<p>Moechtar malang-melintang di dunia jurnalistik sejak usia muda. Pada 1950 dia menjadi wartawan <em>Express</em>, <em>Harian Oemoem</em>, <em>Repelita</em>, dan <em>Bhirawa</em>. Dia juga pernah menjadi dosen di Akademi Wartawan Surabaya (sekarang Stikosa) selama 1972-1989. Tawaran untuk bergabung dengan <em>Panjebar Semangat </em>datang pada 1981. “Kebetulan saya memang suka mempelajari bahasa Jawa. Jadi ketika ada tawaran masuk ke <em>Panjebar Semangat</em>, saya senang,” ujar Moechtar di rumahnya, Jalan Pucang Asri I nomor 9, Surabaya.</p>
<p>Moechtar punya kemampuan mumpuni dalam bahasa dan sastra Jawa. Dia juga menguasai bahasa Inggris, Jerman, Prancis, dan Belanda. Ditunjang ketrampilan jurnalistiknya, tak heran jika kariernya melesat. Pada 2000 dia menjabat pemimpin redaksi, dengan membawa misi “memetri basa Jawa” (melestarikan bahasa Jawa). Dia pun menjadi satu-satunya orang di luar keluarga besar Imam Soepardi yang menempati posisi kunci di <em>Panjebar Semangat</em>.</p>
<p>Moechtar harus mengelola majalah dengan segala keterbatasan. Redaksinya hanya enam orang. Menambah wartawan baru bukan perkara gampang. Ada yang pandai berbahasa Jawa, misalnya pensiunan guru bahasa Jawa, namun tak punya kemampuan jurnalistik. “Kalaupun ada yang pandai menulis, pandai <em>basa</em> Jawa, apa ya mau jadi wartawan? Wong gajinya juga tidak banyak,” tuturnya.</p>
<p>Dia kerap mengkritik stafnya yang muda-muda. Menurutnya, mereka kurang mau mendalami bahasa Jawa. Akibatnya kemampuan eksplorasi tema jadi terbatas. “Pernah ketika saya sakit, saya minta wartawan lain menulis tajuk, dia <em>ndak</em> mau. Takut salah katanya,” ceritanya.</p>
<p>Selama ini <em>Panjebar Semangat</em> mengandalkan isinya dari kiriman masyarakat. Redaksi tinggal mengeditnya. “Hampir setiap hari ada kiriman naskah. Per minggu kurang lebih 15 kiriman baik Cerbung, Cerkak, Alaming Lelembut, Layang Saka Warga,” ujar Kukuh menyebut beberapa rubrik <em>Panjebar Semangat</em>.</p>
<p>Redaksi hanya mempersiapkan naskah rubrik Sariwarta. Namun itu pun seringkali mengambil berita dari media lain yang kemudian dialihbahasakan. “Hanya kalau ada momen-momen penting dan menarik, ada peliputan sendiri,” kata Kukuh.</p>
<p>Tantangan lainnya, <em>Panjebar Semangat</em> hampir tak memasang iklan di halamannya. Kalaupun ada, hanya sesekali, itu pun kecil pemasukannya. Mereka bukannya tak mau mencari. Berkali-kali menawarkan ke perusahaan atau instansi namun ditolak. “Tak ada yang mau taruh iklan. Katanya, majalahnya bahasa Jawa, siapa mau baca?” ujar Kukuh.</p>
<p>Akibatnya nyaris pendapatan berasal dari langganan dan penjualan majalah. Segmen pembaca yang kebanyakan berusia tua, pensiunan pegawai, dan tinggal di desa-desa jadi pertimbangan utama untuk tak menaikkan harga jual dan langganan. Ada kekhawatiran jika harga dinaikkan, jumlah pelanggan menyusut.</p>
<p>Grup Jawa Pos, perusahaan media terbesar di Jawa Timur, pernah berniat mengakuisisi <em>Panjebar Semangat</em>. Mengingat kemampuan pendanaannya, tawaran itu tentu menggiurkan. Namun niat <em>Jawa Pos </em>ditolak. Keluarga besar Imam Soepardi sebagai pemilik perusahaan tak rela menyerahkan wewenang untuk mengatur kebijakan, manajemen maupun isi majalah. Di tengah-tengah merosotnya minat masyarakat untuk membaca majalah berbahasa Jawa, sikap itu tak berubah.</p>
<p>“Selama pengeluaran tak melebihi pendapatan, kita akan berjalan seperti biasa. Majalah ini tetap akan kami kelola sendiri,” ujar Arkandi Sari, pemimpin redaksi yang baru sekaligus pemimpin perusahaan, yang tak lain istri Kustono Jatmiko.</p>
<p>Seberapa lama Sang Kalawarti masih bisa bernafas?</p>
<p><strong>MENGASONG SASTRA JAWA</strong></p>
<div id="attachment_714" class="wp-caption alignleft" style="width: 185px"><img class="size-full wp-image-714" title="Suparto Blog" src="http://fajarriadi.com/wp-content/uploads/2012/07/Suparto-Blog.jpg" alt="Suparto Blog" width="175" height="237" /><p class="wp-caption-text">Suparto Brata</p></div>
<p>NAFAS panjang <em>Panjebar Semangat</em> tak bisa lepas dari kreativitas para penulis sastra yang rutin mengirimkan naskah. Sebagian menjadi legenda. Sebut saja Any Asmara, Esmiet, Widi Widayat, dan Satim Kadaryono. Bahkan Imam Soepardi adalah penulis novel <em>Kintamani</em> yang pernah tersohor di kalangan pembaca sastra berbahasa Jawa.</p>
<p>Suparto Brata, 80 tahun, masih ingat ketika tahun 1958 dia mengirimkan naskah cerita “Lara Lapane Kaum Republik” ke sayembara menulis cerbung di <em>Panjebar Semangat</em>. Tak disangka, dia menang. Mulailah dia rutin menulis cerita sastra Jawa.</p>
<p>Karya-karya Suparto umumnya cerita detektif. Terlihat dari beberapa karyanya. Sebut saja novel <em>Tanpa Tlatjak</em> atau <em>Garuda Putih</em>. “Pernah ada yang bilang, tulisan saya jadi genre baru dalam sastra Jawa modern. Soalnya waktu itu cerita detektif itu tidak umum,” ujarnya di kediamannya Jalan Rungkut Asri III No 12, Surabaya.</p>
<p>Karena dedikasinya dalam sastra Jawa, namanya tercatat dalam <em>Five Thousand Personalities of the World Sixth Edition</em>, 1988, terbitan The American Biographical Institute. Dia juga menerima Sea Write Award dari Ratu Sirikit di Thailand selain tiga kali meraih Hadiah Sastra Rancage, penghargaan untuk orang-orang yang dianggap berjasa dalam pengembangan bahasa dan sastra daerah.</p>
<p>Seperti halnya Suparto, Nyai Karmiasih Soemardi Sastro Oetomo, 81 tahun, yang oleh pembaca setia lebih dikenal dengan nama pena Mbah Brintik, juga menghasilkan ratusan cerita. Sebagian besar diterbitkan <em>Panjebar Semangat</em> dan bertema roman percintaan. “Saya seperti keluarga saja kalau sama <em>Panjebar Semangat</em>. Saking banyaknya (cerita) yang dimuat,” ujarnya di kediamannya Jalan Penarukan 31, Kepanjen, Kabupaten Malang.</p>
<p>Suparto dan Mbah Brintik sepakat sastra Jawa kini mengalami masa-masa sulit. Jumlah penutur bahasa Jawa bejibun namun buku sastra Jawa tak laku di pasaran. “Jadi saya simpulkan, sastra Jawa itu sastra majalah,” kata Suparto, “tak laku dibaca kalau tak dititipkan di majalah.”</p>
<p>Mbah Brintik sependapat dengan koleganya. “Benar juga kalau dibilang sastra majalah. Tapi rasa-rasanya sudah jadi sastra asongan. Soalnya tawarkan ke sana ke mari <em>ndak</em> laku-laku.”</p>
<div id="attachment_713" class="wp-caption alignleft" style="width: 185px"><img class="size-full wp-image-713" title="Mbah Brintik Blog" src="http://fajarriadi.com/wp-content/uploads/2012/07/Mbah-Brintik-Blog.jpg" alt="Mbah Brintik Blog" width="175" height="241" /><p class="wp-caption-text">Mbah Brintik</p></div>
<p>Keduanya hingga kini masih menulis. Suparto bahkan masih aktif ngeblog dengan akun <em>supartobrata.com</em>. Meski sudah berusia senja, keduanya bilang inspirasi menulis masih deras mengalir. Tak takut buku-bukunya tak laku? “Tak apa-apa tak laku. Yang penting saya sudah bikin warisan,” ujar Mbah Brintik.</p>
<p>Yang melegakan, kini muncul penulis-penulis muda. Salah satunya Bambang Purmianto, seorang guru muda di Wonogiri yang kerap mengirim cerita pendek ke <em>Panjebar Semangat</em>. Bambang bercerita sejak kecil sudah membaca majalah ini karena ayahnya, seorang dalang wayang kulit, berlangganan.</p>
<p>Cerita-cerita yang ditulis Bambang dipengaruhi lingkungan keluarganya. Sebagai seorang dalang, ayahnya memperkenalkan wayang sejak dia kecil. “Memang dari wayang pula saya banyak dapat inspirasi menulis,” ujarnya.</p>
<p>Lulus dari Universitas Veteran Bangun Nusantara pada 2002, Bambang menjadi guru SMP PGRI Ngadirojo, Wonogiri. Dia mengajar mata pelajaran Basa Jawa. Ketika mengajar, dia sering mengenalkan <em>Panjebar Semangat</em> kepada murid-muridnya. “Kadang murid-murid saya beri tugas bikin kliping artikel berbahasa Jawa. Saya kasih referensinya, ya ambil ke <em>Panjebar Semangat</em>,” ujarnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fajarriadi.com/?feed=rss2&amp;p=687</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Balada Seekor Kambing Pincang</title>
		<link>http://fajarriadi.com/?p=682</link>
		<comments>http://fajarriadi.com/?p=682#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jun 2012 14:35:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fajar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fajarriadi.com/?p=682</guid>
		<description><![CDATA[Bak truk yang aku tumpangi teramat jorok. Rumput sisa-sisa pakan dan kotoran kambing berserakan di mana-mana. Baunya bersenyawa dengan pesing [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Bak truk yang aku tumpangi teramat jorok. Rumput sisa-sisa pakan dan kotoran kambing berserakan di mana-mana. Baunya bersenyawa dengan pesing kencing kambing. Benar-benar menjijikkan. Panas matahari membuat tubuhku membara dalam kurungan bak truk tak beratap ini.</p>
<p>Aku ingin sekali mencari hiburan, memandang kanan kiri jalan yang terlewat. Tapi tidak bisa. Sisi bak truk terlalu tinggi. Andai saja aku bisa kulihat pohon, rumah, sawah, atau tiang listrik berlarian tentu memberi sedikit hiburan di antara kambing-kambing dekil dan bau ini. Bau mereka benar-benar membuatku mual. Aku rasa sudah terlalu lama kambing-kambing ini tidak mandi.<span id="more-682"></span></p>
<p>“Mbeeeeeek..mbeeeek..mbeeeeeeeeeeek,” menyebalkan sekali rengekan mereka.</p>
<p>Laju truk melambat dan sejurus kemudian berhenti. Pintu bak truk dibuka. Seketika kulihat ratusan atau ribuan kambing di mana-mana. Mengembik dengan segala keriuhannya sendiri. Dari atas bak truk ini aku bisa melihat segala macam jenis kambing ada. Besar dan kecil. Coklat, hitam, maupun putih. Berbulu halus maupun seperti kapas yang kasar. Berkuping panjang maupun pendek.</p>
<p>“Embeeek…mbeeeek…mbeeeeeek,” entah bicara apa mereka saking riuhnya tempat ini.</p>
<p>Seseorang naik ke atas bak truk dan mulai menurunkan kambing-kambing, menarik paksa tali yang mengikat di tiap-tiap leher. Beberapa sampai jatuh tersungkur karena terlalu kerasnya tarikan orang itu. Kawan-kawannya, yang aku kira bersimpati melihat ada yang tersungkur, merengek semakin keras. Mengumpat-umpat orang yang demikian kasar itu. Aku yang sudah cukup tahu kelakuan orang-orang macam ini. Lebih baik aku turun sendiri. Hap… loncatan yang bagus dan seketika aku sudah berdiri di tanah. Tapi kaki kiriku bagian depan sakit sekali. Sepertinya kakiku yang satu itu tidak bakal sembuh dan akan selalu menyimpan nyeri.</p>
<p>Di bawah sini semakin jelas kulihat kawanan kambing dengan segala rupa mereka. Wajah mereka, tanduk, jenggot, dan kuping. Suara mereka semakin jelas dengan logat yang berbeda-beda.</p>
<p>Seekor kambing menyapaku. “Apa kabar? Kamu pasti baru saja datang”</p>
<p>“Oh..kabar baik. Bagaimana denganmu? Iya, benar, aku baru datang” jawabku. Ia kambing yang bagus. Badannya sedikit lebih besar dariku namun jelas terlihat lebih tegap dan kokoh. Kulitnya yang coklat berpadu putih lumayan bersih. Kupingnya kecil, tandanya dari golonganku, kambing-kambing mungil yang tidak akan bisa tumbuh besar sampai kapanpun. Kami berdua tidak bersalaman. Kambing tentu tidak bersalaman. Hanya saling membenturkan jidat telah menandai kami berdua mulai berkawan. “Namaku Mendo,” katanya.</p>
<p>“Kenapa kakimu?” ia memandang kaki kiriku yang memang tidak wajar. Ia pasti juga melihat aku berjalan tadi dengan kaki pincang sedikit terseok-seok.</p>
<p>“Alaah, cuma pincang! Kenapa kau tidak sanglir saja sekalian! Hahaha…” tiba-tiba seekor kambing berkulit coklat muda yang mulus, tinggi, gagah, berkuping panjang, meledek dan menertawakanku. Kambing lainnnya ikut tertawa. Aku tidak menyangka di belakangku ada kawanan kambing yang sepertinya mendengarkan pembicaraanku dengan kawan baruku.</p>
<p>“Kambing sepertinya mengapa ada di sini? Memangnya bakal laku dijual? Diberikan cuma-Cuma juga ada yang menolak!” kata kambing lainnya diikuti tawa kawanannya. Daripada ledekan kata-katanya lebih mirip penghinaan. Aku tak bisa berbuat banyak.</p>
<p>Sebenarnya pada makhluk sepertiku diriku hanya ada naluri untuk menantang, menang atau kalah. Tapi melihat mereka, kawanan kambing bertubuh besar itu, aku lebih memilih menjadi pecundang. Aku tidak mau kakiku bertambah satu lagi yang pincang. “Sudahlah, jangan dengarkan. Mereka suka begitu. Kau hanya perlu menutup telinga, ayo pindah,” Mendo menghibur. Aku pindah. Tapi sebenarnya tidak benar-benar pindah. Tali yang mengikatku tidak panjang. Mendo juga. Kami berdua hanya sedikit bergeser supaya tidak menjadi sasaran ejekan kawanan kambing sombong tadi. “Kemana pecundang? Lari dari kenyataanmu yang menyedihkan?” mereka masih sempat mengejek lagi dan sekali lagi diikuti tawa mereka. Seperti kata Mendo, aku mencoba menutup telinga.</p>
<p>Sekarang aku dan Mendo punya tempat ngobrol. Di balik pohon waru. Kawanan pengganggu tadi tentu tidak bisa mendengarkan pembicaraan kami. Menyenangkan sekali memiliki teman baru dan dia suka diajak ngobrol.</p>
<p>“Sekarang ceritakan tentang dirimu. Bagaimana kamu bisa kurus dan pincang seperti ini?” tanya Mendo kepadaku.</p>
<p>“Apa layak untuk diceritakan?”</p>
<p>“Kenapa tidak?”</p>
<p>“Apa tidak lebih baik cerita soal lain?”</p>
<p>“Misalnya?”</p>
<p>“Apa saja. Mungkin cerita tentang mereka yang baru saja meledekku,” kataku.</p>
<p>“Boleh, akan kuceritakan. Tapi nanti. Sekarang cerita dulu tentang kamu, mengapa kakimu pincang”</p>
<p>Dahiku mengkerut. Mengapa harus aku ceritakan sesuatu yang membuatku dihina? Tapi kurasa Mendo kambing yang baik. Aku rasa dia hanya ingin mendengar kisahku.</p>
<p>“Dulu, kurasa, aku juga punya badan yang bagus. Tidak besar memang, tapi juga tidak kerempeng seperti sekarang. Kakiku juga baik-baik saja. Kuat dipakai lari. Tapi itu dulu sebelum seseorang datang dan mengambilku di kandang kemudian dibawa pergi,” aku mulai bercerita.</p>
<p>Aku ceritakan selanjutnya. Umurku baru 6 bulan lebih sedikit ketika seseorang datang ke kandangku. Bukan orang yang selama itu kukenal. Hari masih belum siang ketika orang itu menggelandangku naik ke atas truk dengan kasar. Ibuku berteriak kencang. Saudaraku yang seorang tidak kalah kencangnya berteriak. Aku meronta. Ibu dan saudaraku diiikat tali dan tidak bisa berbuat apa-apa. Aku juga tak bisa berbuat banyak. Tarikan orang itu terlalu kuat untuk kulawan.</p>
<p>Tubuhku diangkat ke atas truk. Begitu sampai di atas truk ingin sekali aku melompat turun. Tapi pintu lekas ditutup. Dari balik teralis pintu bak truk aku masih bisa melihat ibu dan saudaraku masih meronta. Seseorang yang selama itu aku kenal merawatku sejak kecil tersenyum, mungkin kepada sopir truk yang membawaku pergi. Aku terus meronta tapi truk melaju dan suara ibuku semakin lama semakin lirih kemudian hilang sama sekali.</p>
<p>Ternyata sudah ada banyak kambing di dalam truk. Namun kukira hanya aku yang bersedih. Bagaimana tidak aku bersedih? Baru pertama kali seumur hidup aku berpisah dengan ibuku. Apalagi perpisahan kami dengan cara yang tidak menyenangkan. Aku sedih hingga tidak mau makan rumput yang disediakan di dalam truk. Kambing lain lahap. Aku lebih banyak diam.</p>
<p>Seingatku perjalanan itu lama sekali. Saat matahari benar-benar berada di atas kepala rasanya panas sekali. Aku memang tidak berselera makan, tapi haus setengah mati. Di atas bak truk tidak ada air. Tubuhku lemas.</p>
<p>Matahari sudah condong ke sisi yang lain ketika tiba-tiba laju truk melambat kemudian berhenti. Deru mesin tidak lagi terdengar. Pintu bak truk dibuka. Seseorang memaksa kami turun. Beberapa kambing ditarik ikatannya. Seseorang juga menarik tali pengikatku dan memaksaku turun. Jangankan menurut, untuk bangkitpun sebenarnya aku enggan. Aku benar-benar lemas. Aku kira ia jengkel gara-gara aku tidak menurutinya kemudian ia mengangkatku dan melemparkanku kepada seseorang di bawah truk untuk ditangkap. Sialnya orang di bawah tidak sigap. Aku terjatuh ke tanah. Kaki kiriku terantuk patok besi yang biasa dipakai mengikat tiang pancang pengikat. Lututku berdarah. Sakit bukan main. Coba bayangkan kejamnya manusia-manusia itu memperlakukanku. Tidak cukup memisahkan aku dengan ibuku, malah mematahkan kakiku.</p>
<p>“Oh, kasihan sekali. Kejamnya manusia itu. Jadi itu sebabnya kakimu pincang?”</p>
<p>“Benar. Begitulah.”</p>
<p>“Mereka tidak mengobati kakimu?”</p>
<p>“Tidak. Jumlah kami waktu itu banyak. Aku bersama kambing-kambing yang diangkut tadi diturunkan di sebuah tempat yang aku sendiri tidak tahu. Mungkin semacam tempat penampungan karena kudapati jumlah kami semakin banyak. Aku rasa mereka, manusia-manusia itu, tidak sempat memikirkan kaki seekor kambing yang pincang,”</p>
<p>“Kejam sekali.”</p>
<p>“Begitulah manusia,”</p>
<p>“Tapi selain pincang kamu juga kurus sekali. Mengapa bisa begitu? Bukankah katamu sebelumnya kamu tidak kurus seperti sekarang ini?”</p>
<p>“Benar. Itu lain ceritanya. Begini….”</p>
<p>Seseorang yang mengetahui kakiku patah menggotongku dan meletakkan tubuhku di pojok penampungan. Aku lebih banyak duduk dan meringkuk siang dan malam. Aku makan sedikit. Itupun karena aku mengingat bahwa aku butuh tenaga untuk memulihkan kakiku lebih cepat. Namun begitu ingat ibu, kembali tidak ada selera.</p>
<p>Seingatku dua hari dua malam aku di tempat penampungan itu. Kambing-kambing dipisah jantan dan betina. Pada hari kedua datang beberapa orang berseragam. Mereka mengukur tinggi badan kami masing-masing dengan sebatang kayu yang ditandai dengan angka-angka yang tidak kumengerti. Kambing yang tinggi dan yang pendek disendirikan. Dipisahkan juga kambing yang sehat dan sakit, batuk-batuk, bermata belek, maupun yang pincang sepertiku. Aku dikelompokkan bersama kambing-kambing yang buruk jenisnya. Hari itu juga kambing-kambing yang lebih bagus daripada kami dinaikkan lagi ke atas bak truk kemudian diangkut ke mana aku tak tahu.</p>
<p>Ternyata pada hari kedua, aku dan kawananku juga diangkut. Aku diturunkan di sebuah tempat yang kata orang-orang di sana disebut “kelurahan”. Orang-orang duduk rapi. Kebanyakan dari mereka sudah tua. Bahkan ada yang sangat tua. Ketika ia datang, kulihat ia dituntun seseoarang, mungkin cucunya.</p>
<p>Tidak berapa lama datang orang-orang yang mengaku dari, lamat-lamat kudengar, “pemerintah”, “lurah”, beberapa orang muda yang tidak aku tahu dari mana. “Pemerintah”, “lurah”, aku cuma bisa mendengar kata-kata itu tanpa tahu artinya. Aku dengar mereka bergantian bicara. Orang-orang tua yang hadir waktu itu rencananya akan diberi bantuan berupa kambing masing-masing dua ekor. “Tolong dijaga bantuannya, syukur-syukur dipelihara supaya beranak pinak. Jangan dijual. Boleh dijual tapi anaknya saja,” kata orang yang tadi mengaku pemerintah. “Kalau ditanya ini bantuan kambing dari mana, tolong dijawab ya Pak, Bu, ini dari pak wedana daerah sini,” lanjutnya. “Nggiiiih..” koor sekumpulan orang jompo yang tampak miskin-miskin itu.</p>
<p>Satu per satu kambing diserahkan. Seorang dua ekor, jantan dan betina. Tiba giliranku. Aku dan seekor kambing betina yang pendiam diberikan kepada seorang perempuan tua. Mungkin karena tidak kuat membawaku pulang, ia menyewa becak.</p>
<p>“Sejak saat itu kamu dipelihara oleh orang tua itu?”</p>
<p>“Ya, begitulah”</p>
<p>“Bagaimana dia memperlakukan kamu berdua?”</p>
<p>“Ia sebenarnya baik, hanya saja…”</p>
<p>“Hanya saja bagaimana?”</p>
<p>Perempuan tua yang merawatku ternyata di rumah sendirian. Dia perempuan tua yang miskin. Rumahnya kecil berbahan kayu dan bambu. Aku dan seekor kambing betina yang jadi teman baruku ditaruh di belakang rumah di samping dapur. Sehari-hari kami berdua diikat di semak-semak pekarangan di belakang rumahnya. Tak banyak yang dapat kami makan di sana. Memang perempuan tua itu mencari rumput untuk makan kami berdua, tapi sangat sedikit. Aku maklum, bukan waktunya lagi buat perempuan tua itu mencari makan untuk kambing. Dia terlalu lemah.</p>
<p>Hari ke lima, saat bangun tidur, kudapati kawanku yang seekor mati. Dia tidak bernapas. Mulutnya menganga, Matanya memutih. Sebenarnya sudah aku khawatirkan sejak pertama kali bertemu dengannya. Dia kambing betina dengan tubuh yang bahkan lebih kecil daripada aku. Aku mengira ia juga baru saja berpisah dengan orang tuanya tapi aku tak pernah menanyakan. Takut membuatnya sedih. Bagaimanapun makhluk betina lebih mudah menyimpan kesedihan, bukan?</p>
<p>Perempuan tua itu mengubur jasad kawanku di bawah pohon pisang dekat semak-semak yang biasanya jadi tempat kami berdua mencari makan. Temanku, kambing betina yang bersamaan denganku diberikan kepada perempuan tua itu, mati sebelum banyak bercerita tentang kehidupannya.</p>
<p>“Jadi mulai saat itu kamu sendiri bersama wanita tua yang merawatmu?”</p>
<p>“Iya, dia merawatku. Tapi kupikir tidak telaten. Mungkin karena memang sudah tua,”</p>
<p>“Maksudmu?”</p>
<p>Aku dirawat perempuan tua miskin itu selama kurang lebih 3 purnama. Tapi ia tidak pernah memberi makan yang cukup. Apalagi rumput-rumput yang disodorkan kepadaku jenisnya tidak aku sukai. Perempuan tua itu juga hanya memberiku minum air. Selebihnya tidak ada sama sekali. Begitulah jadinya, tubuhku semakin kurus. Aku selalu mengenang, tentu kalau aku masih bersama ibuku, aku tidak akan malu-malu menyusu.</p>
<p>Mungkin perempuan tua yang merawatku jengkel atau bosan merawatku. Lagipula apa gunanya merawat seekor kambing kurus dan pincang sepertiku? Aku dijual. Pagi-pagi ada seseorang datang membawa truk. Lagi-lagi aku diangkut bersama beberapa kambing. Jadilah aku sampai ke sini.</p>
<p>“Jadi baru tadi pagi kamu berpisah dengan perempuan tua yang pernah merawatmu?”</p>
<p>“Iya, dan aku bersyukur sebenarnya karena ia kini tentu tidak perlu repot-repot mencarikan makan untukku”</p>
<p>“Iya, aku juga kasihan kalau orang yang merawatku malah kerepotan. Tapi ngomong-ngomong kisah hidupmu memang menyedihkan,”</p>
<p>“Terima kasih mau mendengar. Sekarang waktunya kamu cerita,”</p>
<p>“Begitukah?”</p>
<p>“Tentu. Bukankah kita gantian”</p>
<p>“Baiklah”</p>
<p>“Aku dulu juga berpisah dengan ibuku waktu…..”</p>
<p>Baru saja Mendo memulai ceritanya seseorang datang melepas tali ikatannya. Sejurus kemudian orang itu menggelandangnya. Lamat-lamat kuingat wajah orang yang menarik paksa Mendo. Tidak salah lagi! Dia orangnya! Orang yang pernah melemparkan aku dari atas truk dan membuatku pincang.</p>
<p>“Kita akan ketemu lagiii..” teriaknya. Wajah mendo hilang di antara ratusan kambing-kambing. Aku sedih. Belum lama berkenalan dengan kawan aku harus berpisah lagi. Aku bertambah begitu tahu orang yang menggelandang Mendo adalah orang kasar dan kejam. Mendo belum sempat menceritakan kisahnya.</p>
<p>Aku harap Mendo punya nasib yang lebih baik daripada aku. Aku harap ia dipertemukan dengan orang yang mau merawat kambing dengan baik, bukan jenis perempuan tua yang akupun bisa lebih kasihan kepadanya.</p>
<p>Aaah.. Mendo kambing yang baik. Tentu nasibnya lebih baik daripada aku. Tapi bukankah sudah suratan nasib pula bahwa makhluk baik akan selalu bertemu makhluk yang menderita? Dan yang mempertemukan mereka adalah makhluk jahat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fajarriadi.com/?feed=rss2&amp;p=682</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Oei Hiem Hwie dari Medayu</title>
		<link>http://fajarriadi.com/?p=615</link>
		<comments>http://fajarriadi.com/?p=615#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jun 2012 13:40:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fajar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fajarriadi.com/?p=615</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Fajar Riadi SEKILAS RUMAH bercat putih berpagar biru itu tak ada yang istimewa. Sama saja seperti rumah-rumah yang berderet [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_621" class="wp-caption alignleft" style="width: 240px"><img class="size-full wp-image-621 " title="OEI HIEM HWIE2" src="http://fajarriadi.com/wp-content/uploads/2012/06/OEI-HIEM-HWIE2.jpg" alt="OEI HIEM HWIE2" width="230" height="341" /><p class="wp-caption-text">Oei Hiem Hwie menunjukkan salah satu koleksinya, buku berjudul Geschiedenis Van Nederlandsch Indie terbitan tahun 1938. Di belakangnya, buku-buku langka lainnya berjajar rapi di dalam rak.</p></div>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: left;">Oleh Fajar Riadi</p>
<p style="text-align: left;">SEKILAS RUMAH bercat putih berpagar biru itu tak ada yang istimewa. Sama saja seperti rumah-rumah yang berderet di perumahan Medayu Agung. Namun setelah masuk, baru diketahui rumah itu memang beda. Buku, koran, dan majalah yang baru maupun bekas memenuhi seluruh ruangan seluas 100 meter persegi itu. Semua ditata rapi di dalam etalase, di rak, maupun di atas meja. Foto-foto dipajang di hampir semua sisi tembok. Bahkan di tembok sepanjang sisi tangga menuju lantai dua.</p>
<p>Sebundel kertas  lusuh nan menguning ada di dalam etalase tepat di samping pintu masuk. Pada lembar paling atas bertuliskan “Bumi Manusia”. “Itu asli tulisannya Pak Pram,” kata Hwie yang tampaknya memperhatikan saya tertegun membaca judul lembaran tadi. Pak Pram yang ia maksud tidak lain Pramoedya Ananta Toer, sastrawan besar Indonesia. Bundel kertas lusuh tadi adalah manuskrip salah satu roman yang tersohor itu. Bumi Manusia. Asli. Dan itu hanya salah satu koleksi langka yang dimiliki perpustakaan ini.<span id="more-615"></span></p>
<p>Oei Hiem Hwie, biasa dipanggil Hwie, lelaki berusia 77 tahun. Perawakannya tinggi, tidak gemuk, berkulit kuning dengan rambut pendek yang memutih. Wajahnya sudah berkeriput. Matanya sayu, mata orang-orang yang kurang tidur.</p>
<p>Ia pengasuh perpustakaan Medayu Agung. Bukan sembarang perpustakaan, tapi perpustakaan dengan koleksi buku-buku lawas yang akan membuat iri semua kolektor buku. Ia punya buku-buku terbitan pertengahan tahun 1800-an, komik Sam Kok terbitan tahun 1910, History of Java, koran Star Weekly, majalah Sin Po edisi tahun 1926, majalah Tempo tahun 1971, dan masih banyak lagi. Ia bahkan punya buku Mein Kampf dengan tanda tangan asli Adolf Hitler yang bahkan di Jerman sendiri sudah susah dicari karena dicetak terbatas dan telah banyak dimusnahkan.</p>
<p>Dengan koleksi yang begitu kaya, rumah yang dijadikan perpustakaan itu bak tambang pengetahuan yang tidak akan ada habis-habisnya dikeruk. Namun kisah hidup Hwie juga tidak kalah kaya. Buku-buku ikut mengantarkannya menjadi wartawan, memihak garis politik, dan  membuatnya dipenjara belasan tahun oleh rezim orde baru. Pagi itu, di Perpustakaan Medayu Agung, Surabaya, saya duduk semeja dengannya. Hwie menceritakan kisahnya.</p>
<p>KEGILAAN HWIE MEMBACA buku dimulai sejak kecil. Ayahnya, Oei Bing Kie, sering heran ketika melihat anaknya kerap mengumpulkan koran-koran dan majalah bekas yang baru dibacanya di kamar. “Buat apa coba?” ucap Wi menirukan kata-kata ayahnya.</p>
<p>Bing Kie adalah pendatang dari China yang sama sekali tidak memiliki kemampuan berbahasa melayu sejak ia datang ke Indonesia. Ia belajar sendiri bahasa Melayu dengan membaca buku-buku. Hwie suka ikut membaca buku-buku milik ayahnya.</p>
<p>Hwie muda suka mendengar pidato Presiden Sukarno. Suatu ketika Sukarno datang ke Kota Malang. Hwie ikut mendengarkan orasinya. Ia takjub melihat Sukarno berapi-api saat berpidato. Pulangnya ia membeli buku stensilan pidato Presiden Sukarno. Mulai saat itu ia juga mengkoleksi semua buku-buku Presiden Sukarno. “Waktu itu buku-bukunya Bung Karno harganya paling murah,” tutur Hwie.</p>
<p>Kegemaran membaca menuntun Hwie kepada kegemarannya yang lain: menulis. Ia ingin suatu saat menjadi wartawan. “Biar gantian, ada juga yang mau baca tulisan saya,” kata Hwie sambil terkekeh.</p>
<p>Lulus SMA ia ikut kursus jurnalistik di Yogyakarta. Namanya kursus menulis jurnalistik Pro Patria. Ia juga ikut kursus stenografi dan jurnalistik lisan di Koran Terompet Masjarakat, salah satu harian terkemuka di Surabaya. Dari kursus yang terakhir inilah datang tawaran untuk menjadi pembantu wartawan di Terompet Masjarakat yang berkantor di Gedung Brantas, Jalan Pahlawan, Surabaya. Beberapa tahun di Surabaya, Oei kemudian ditugaskan sebagai biro di Malang. Saat menjadi wartawan pula akses Hwie untuk berburu buku-buku semakin luas.</p>
<p>Hampir semua partai politik saat itu memiliki koran sendiri. PKI punya Harian Rakyat, Masyumi punya Harian Abadi, PNI punya Suluh Indonesia dan lain-lain. Terompet Masyarakat sendiri termasuk koran dengan tiras yang lumayan besar,  sekitar 75.000 hanya di Surabaya. Namun menurut Hwie, Terompet Masyarakat mencoba untuk independen dan tidak memihak garis politik partai manapun. “Coba baca itu Trompet semboyannya ‘Membela Kaum Kecil, Bebas dari Pengaruh’,” katanya.</p>
<p>Momen terbaik yang pernah ia peroleh semasa menjadi wartawan Terompet Masyarakat ialah mewawancarai Presiden Sukarno di Istana Negara, Jakarta. Sayang kini ia sudah lupa mewawancarai Presiden Sukarno soal apa. Ia hanya ingat sepulang dari Istana Negara diberi cinderamata sebuah jam tangan. Kini jam tangan bergambar siluet wajah setengah badan Bung Karno bertulis Istana Negara itu juga dipajang di dalam etalase perpustakaan.</p>
<p>Selain menjadi wartawan, Hwie aktif di organisasi Badan Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki), sebuah organisasi yang didirikan oleh perwakilan dari perkumpulan Tionghoa. Di organisasi ini ia menjadi sekretaris cabang Malang.</p>
<p>Akhir tahun 1965 Gerakan 30 September meletus. Bagi para pengikut Sukarno, peristiwa kelam itu adalah dimulainya hari-hari penuh petaka. Tidak terkecuali bagi Hwie. Tak lama setelah peristiwa itu rumahnya didatangi militer. Ia diinterogasi. Ia kukuh mengaku bukan anggota PKI. namun keanggotaannya dalam Baperki oleh militer dijadikan dalih untuk menahannya. Baperki dianggap sebagai <em>underbouw</em> PKI meskipun Hwie menyanggahnya.</p>
<p>Buku-buku Hwie banyak yang dirampas dan dibakar terutama buku-buku tentang Sukarno.  “Mereka (militer) anggap saya terlibat juga karena buku-buku yang saya simpan, yang Sukarno pokoknya dibelokkan ke PKI,” kenangnya.</p>
<p>Tanpa pengadilan Hwie ditahan di Batu selama 3 bulan, kemudian dipindahkan ke penjara Lowokwaru, Malang. Di Malang ia berkesempatan bertemu dengan ibunya (ayah Hwie telah meninggal tahun 1960). “Ibu saya kaget. Dia bahkan sudah <em>nylameti</em> saya, dikiranya sudah meninggal,” kata Hwie.</p>
<p>Tidak lama ditahan di Lowokwaru, ia kemudian dipindah ke Surabaya. Ia mengenang sesaat sebelum dipindah ke Surabaya diijinkan bertemu dengan ibunya. Kelak ia akan tahu itulah perjumpaan terakhirnya dengan sang ibu.</p>
<p>Di Surabaya, Hwie ditahan di penjara Kalisosok selama 5 tahun. Selama di sana ia mendapati beberapa tahanan politik lainnya dibebaskan dan boleh pulang. “Tapi saya tahu sebenarnya mereka nyogok ke pejabat supaya bebas,” tuturnya. Saat saya memintanya untuk bercerita lebih banyak soal kasus penyuapan yang diketahuinya, ia menolak.</p>
<p>Hwie tidak mau memakai cara suap menyuap. “Ini khan soal politik, masa pakai suap-suapan? <em>Ndak</em> perlu” ujarnya. Ia sendiri sudah sering mencoba meyakinkan militer bahwa ia bukan anggota PKI seperti yang didakwakan. Hasilnya nihil. “Iya, kamu bukan PKI, tapi simpati sama Sukarno. Kalau dilepas pasti balik melawan,” ucap Hwie menirukan jawaban yang sering diucapkan salah seorang staf yang menjaga tahanan Kalisosok tanpa mau menyebut namanya.</p>
<p>Pasca peristiwa G 30 S muncul usulan penggantian nama-nama orang Tionghoa menjadi nama Indonesia. Usul ini muncul karena adanya tarik-menarik antara pendukung teori asimilasi dan teori integrasi di kalangan Tionghoa sendiri yang dipolitisir oleh orde baru.</p>
<p>Di penjara, untuk suatu keperluan, Hwie pernah diminta menulis namanya dengan nama lain. “Saya tidak mau ganti nama,” tegasnya, “Kalau mau ya dia yang kasih atau tulis saja nama saya Mergodipekso.” Mergo artinya karena, dipekso berarti dipaksa. Karena Dipaksa. Penjaga tidak mau menulis dengan nama itu. Nama Hwie tidak jadi diubah.</p>
<p>Tahun 1970, bertepatan dengan tahun Sukarno wafat, Hwie dan tahanan politik dari Kalisosok dipindah ke penjara Karang Tengah, Nusakambangan. Ia juga sempat mendekam di penjara Limus Buntu di pulau yang sama. Kurang dari setahun tahanan di Nusakambangan dipaksa kerja rodi menggarap sawah, mereka dipindah ke pengasingan lainnya yakni Pulau Buru.</p>
<p>KEHIDUPAN DI PULAU BURU tak lebih baik daripada di Nusakambangan. Setiap hari disuruh bekerja membuka lahan, menanam padi, palawija, buah-buahan dan sayuran. Tahanan lain disuruh memotong kayu di galangan selain memasak dan bersih-bersih barak. Ia jadi saksi bagaimana banyak tahanan yang meninggal karena terjangkit malaria, sakit kuning, tewas tertimpa pohon, bahkan bunuh diri saking tidak tahan hidup di pengasingan.</p>
<p>Hwie bertemu dengan Pramoedya Ananta Toer yang waktu itu juga diasingkan di sana. Keduanya ditahan di unit yang sama, Unit IV Savana Jaya. Sebelum Pramoedya punya mesin ketik, Hwie mengaku sering diminta tolong menyediakan kertas untuk menulis. Bila tak ada kertas Hwie menggunting sak semen dipotong kecil-kecil untuk diserahkan kepada Pramoedya. Karena itulah Hwie dekat dengan Pramoedya. “Itu lihat, foto saya sama Pak Pram waktu di Buru,” kata Hwie menunjukkan sebuah foto hitam putih berbingkai hitam digantung di dinding tepat di belakang tempat duduk saya. Pamoedya, Hwie, dan dua orang tahanan lain yang tampak masih muda berpose dengan latar belakang sawah.</p>
<p>Hwie mengenang mendiang Pramoedya sebagai orang yang disiplin dan keras. Setelah disumbang mesin ketik, Pramoedya diperbolehkan tak banyak kerja di ladang. Pada saat-saat itulah, menurut Hwie, Pramoedya sangat disiplin menulis. Pagi setelah sarapan Pram mulai menulis sampai siang, tidur sebentar, bangun dan menulis lagi. Ritme kerja menulis itu dilakukan Pramoedya setiap hari. Hwie juga mengenang Pramoedya sebagai orang yang teguh pendirian. “Orangnya kukuh. Jangan coba-coba paksa Pak Pram ubah tulisannya, gak bakal bisa,” katanya.</p>
<p>Akhir tahun 70-an pemerintah mendapat tekanan dari pemerintah Amerika Serikat dan Amnesty International supaya tahanan politik di Pulau Buru dibebaskan. Pemerintah Indonesia memang berangsur-angsur mulai membebaskan para tahanan. Namun dalih pemerintah bukan karena tekanan luar negeri, melainkan situasi negara yang kian stabil.</p>
<p>Hwie dibebaskan tanggal 19 November 1978. Setahun sebelum Pramoedya dibebaskan. Sesaat sebelum dipulangkan, Pramoedya titip barang kepada Hwie supaya dibawa. “Wi, saya mau nitip situ sesuatu, berani?” ia menirukan kata-kata Pramoedya. Hwie tidak berpikir lama-lama. “Berani, Pak.” Ternyata Pramoedya hendak menitipkan naskah Bumi Manusia. Hwie merasa mendapat kehormatan, tapi juga waswas. Ia tahu membawa barang milik Pramoedya artinya menyelundupkan benda terlarang. Resikonya besar. Toh ia tetap melaksanakan amanat Pramoedya.</p>
<p>Hwie punya cerita bagaimana ia menyiasati petugas pada saat membawa naskah itu. Ia tahu di atas kapal pasti akan ada pemeriksaan. Naskah ia masukkan ke dalam besek (wadah yang terbuat dari anyaman bambu),  ditumpuk bersama pakaian-pakaian kotor. “Saya pura-pura saja sakit selama di atas kapal. Supaya tak diperiksa,” kenangnya, “kalau ketahuan mungkin saya dicemplungin ke laut.”</p>
<p>AKHIRNYA Hwie sampai di rumahnya di Malang tahun 1978. Namun ia mendapati kenyataan menyedihkan lainnya. Ia mendapati ibunya telah meninggal dunia “hanya” 50 hari sebelum ia kembali menjejakkan kakinya di rumah.</p>
<p>Di Pulau Buru, sebenarnya ia mendapat firasat. Suatu hari ia terbangun tepat tengah malam karena mimpi didatangi sang ibu. “Begitu bangun, langsung saya tulis tanggal sama harinya,” tuturnya. Sayang catatan tentang tanggal itu ikut dirampas oleh penjaga bersama catatan-catatannya yang lain. “Mungkin kalau ketemu, catatan saya bakalnya sama dengan hari Ibu saya meninggal. Orang Jawa bilang <em>pas geblag</em>,” tutur Hwie sambil tersenyum.</p>
<p>Kalau ada hal yang menyenangkan Hwie adalah mengetahui bahwa sebagian buku-bukunya selamat dari perampasan. Saudaranya yang ada di Malang menyembunyikan koleksi buku-buku Hwie di atas plafon rumahnya. “Naskahnya Pak Pram akhirnya juga saya sembunyikan di plafon,” katanya sambil tertawa.</p>
<p>Hwie menyesal buku-bukunya banyak yang dirampas. Toh ia tetap mencari buku-bukunya barangkali ada yang masih selamat. &#8221;Saya cari-cari lagi, beberapa kali malah saya <em>nemu</em> buku saya di loakan. Langsung saya beli,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Sebenarnya Hwie ingin kembali menjadi wartawan. Tapi apa mau dikata? Orang-orang dengan KTP yang ditandai E.T. (singkatan dari eks tapol) sepertinya tentu akan susah mendapat pekerjaan.  Akhirnya ia memulai usaha sendiri dengan menjadi tukang sablon.</p>
<p>Peruntungan mulai memihak dirinya ketika suatu hari Haji Masagung, pemilik gerai Toko Buku Gunung Agung menawarinya pekerjaan. Awalnya Hwie heran ada orang yang berani menawari pekerjaan kepada mantan tahanan politik seperti dirinya. “Memangnya bapak berani terima saya?” tanya Wi kepada Haji Masagung. “Beraaani, wong saya juga (pendukung) Sukarno,” ucap Hwie menirukan kata-kata Haji Masagung waktu itu. Sejak saat itu Hwie kembali ke Surabaya dan mendapat pekerjaan lagi sebagai sekretaris Toko Buku Sari Agung.</p>
<p>Memperoleh pekerjaan adalah sebuah kebahagiaan. Bekerja di toko buku adalah kebahagiaan yang lain. Hwie merasa kembali ke dunianya yang telah lama hilang. Dunia buku. Apalagi setelah tahu bahwa Hwie gemar mengumpulkan buku, Haji Masagung mengijinkannya mengkoleksi buku-buku yang ia sukai. Giranglah hati Hwie.</p>
<p>SAMBIL BEKERJA, Hwie mulai membuka toko distributor buku bernama CV. Medayu Agung di Surabaya Selatan. Tampaknya ada pihak yang mengetahui keberadaan buku-buku berharga milik Hwie. Suatu hari pada tahun 1989 ada dua orang asing mengaku dari Australia ingin membeli semua buku-bukunya. Ia disodori selembar cek dengan nominal 1 miliar rupiah. Tawaran yang teramat menggiurkan. Namun dengan halus Hwie menolak. “Saya memang butuh duit, tapi kalau mau dibeli, tidak,” kata Hwie. Ia berpendapat orang-orang di Indonesia lebih membutuhkan buku-bukunya.</p>
<p>Seorang kawan lama, anak dari mantan pengurus Baperki cabang Kepanjen usul supaya Hwie mendirikan perpustakaan saja. Hwie tentu menginginkan hal yang sama, tapi ia tidak punya dana untuk membangun perpustakaan.</p>
<p>Pengusaha Sindhunata Sambudi dan Ongko Tikdoyo dari Surabaya yang mendengar keluhan Hwie akhirnya membelikan rumah yang kini dijadikan gedung perpustakaan itu. Kedua orang itu ingin perpustakaan dinamai sesuai nama Hwie. Hwie menolak. Ia usul perpustakaan dinamai sesuai nama desa tempat perpustakaan itu berada, Medak Ayu. Medak artinya kebaikan, agung berarti besar. Nama perpustakaan itu adalah Medayu Agung. Pada tahun 2001 Yayasan Medayu Agung yang menaungi perpustakaan itu disahkan sekaligus digunakan untuk menggalang dana bagi keperluan perpustakaan.</p>
<p>Wartawan yang beberapa kali datang dan menyiarkan berita tentang perpustakaan Medayu Agung secara tidak langsung punya peran dalam menambah koleksi perpustakaan. Beberapa pihak yang membaca berita kemudian menyumbang buku. Keluarga Oei Tjoe Tat, misalnya, menyerahkan buku-bukunya kepada Oei setelah mantan menteri di bawah Presiden Sukarno tersebut meninggal dunia.</p>
<p>Beberapa orang ternama yang pernah mengunjungi perputakaan Medayu Agung antara lain Madame Charles Copple dari University of Melbourne, Daniel S. Lev dari University of Washington, dan Benedict Anderson dari Cornell University. Para mahasiswa dari berbagai kota juga kerap berkunjung ke perpustakaannya untuk mencari bahan penelitian.</p>
<p>Kini, dengan dibantu 6 orang staf, sehari-hari Hwie mengasuh perpustakaannya. Selain mengkliping koran, ia juga tengah menyelesaikan memoarnya. Ia mengaku diminta banyak orang membuat memoar. Karena beberapa detail ia sudah lupa, Hwie meminta beberapa wartawan untuk memeriksa penyusunan naskah memoarnya yang belum jadi itu.</p>
<p>Kini Hwie menderita vertigo. Namun ia bersyukur  ia diberkahi umur panjang meskipun tentu tidak bisa mengasuh perpustakaannya lebih lama lagi. Kedua orang anak hasil perkawinannya dengan Sri Widiati pada tahun 1980 sudah bekerja dan enggan melanjutkan mengelola perpustakaan. Malah orang lain yang mungkin melanjutkan mengasuh perpustakaan. “Yang penting seideologi, yang pemikirannya sama dengan saya,” ujarnya.</p>
<p>Hwie mengenang hidupnya yang pernah sangat tidak menyenangkan. Apakah ia pernah menyesal? “O.. tidak. Sama sekali tidak”, tegasnya, “Memang <em>ndak</em> enak. Tapi dulu itu, <em>wis pokoke dianggep</em> <em>lagi disekolahne</em> pak de Harto.”</p>
<p>*****</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fajarriadi.com/?feed=rss2&amp;p=615</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	<media:rating>nonadult</media:rating></channel>
</rss>
