<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2180219956895463446</id><updated>2026-07-03T05:12:38.179+07:00</updated><category term="Politik"/><category term="Sejarah"/><category term="Musik"/><category term="Intermezzo"/><category term="Agama"/><category term="Pengetahuan"/><category term="Inspirasi"/><category term="News"/><category term="Psikologi"/><category term="Di4ry"/><category term="Ilmu Komputer"/><category term="Managemen"/><category term="Sport"/><category term="Tutorial"/><category term="Covid19"/><category term="Kereta Api"/><category term="AC Surabaya"/><category term="Art"/><title type='text'>Febriliano&#39;s Blog</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://febriliano.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default?redirect=false'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://febriliano.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false'/><author><name>Febriliano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06209999027745913103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgdX4nMRrsJcQlWxdGD6FeErWHM8h3RvTRTHhC9v4JNxmk75hK4Sz-Cy1DiCt2qXigHLaPyH9d17WxU7nA2d4XydJTJYTH2zL3TWgCGZ3tiIHcabSDpaapYRXwwrAJNxSk/s113-r/it&#39;s+me.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>150</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2180219956895463446.post-6083484334363816805</id><published>2026-07-03T05:12:38.179+07:00</published><updated>2026-07-03T05:12:38.179+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Di4ry"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Inspirasi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Intermezzo"/><title type='text'>Seni Menipu Hati Nurani</title><content type='html'>&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Beberapa waktu belakangan, saya merenungkan beberapa obrolan dan kejadian acak pernah saya alami. Menariknya, dari obrolan santai di warung hingga drama hukum di televisi, ada satu kesamaan yang menggelitik bahwa kita sebagai manusia ternyata luar biasa genius dalam mencari pembenaran atas kesalahan kita sendiri.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Mari kita pinggirkan sejenak teori-teori rumit. Cukup luangkan waktu sebentar untuk melihat empat cerita sederhana ini.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;Antara Rezeki dan Ujian&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;i&gt;Cerita pertama tak sengaja saya dengar di sebuah warung. Sang penjual bercerita kepada temannya tentang &quot;keajaiban&quot; doa yang baru saja ia alami.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;i&gt;Suatu hari, saat sedang terdesak kebutuhan uang, ia berdoa kepada Tuhan. Beberapa hari kemudian, sebuah ponsel milik pelanggan tertinggal di warungnya. Setelah ditunggu beberapa hari dan tak kunjung diambil, ponsel itu pun ia jual untuk memenuhi kebutuhannya. Dengan semringah, ia menyebut uang hasil penjualan itu sebagai rezeki dari Tuhan.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Logika yang menarik. Ketika garis antara berkah dan keserakahan menjadi kabur, sebuah pertanyaan mendasar pun muncul: apakah itu benar-benar rezeki yang dikirim Tuhan, atau justru sebuah ujian kejujuran yang gagal ia lewati?&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kita sering kali begitu kreatif. Kemalangan orang lain dengan mudahnya kita sulap menjadi &quot;rezeki&quot; demi menenangkan hati nurani saat mengambil sesuatu yang jelas-jelas bukan hak kita.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;Si Raja Kecil&lt;/b&gt;&lt;br style=&quot;text-align: left;&quot; /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;i&gt;Cerita kedua datang dari balik kemudi taksi online. Sang sopir, seorang mantan mahasiswa penerima beasiswa universitas swasta ternama yang memilih drop out di semester tiga, memamerkan &quot;kejayaannya&quot; sepanjang jalan.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;i&gt;Sempat bangkrut, kini dalam tiga tahun ia sudah punya tiga mobil—satu tunai, sisanya kredit—dan bersiap menambah satu lagi. Pelanggannya bukan orang sembarangan, melainkan para pejabat yang royal memberi tip ratusan ribu.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;i&gt;Di jalanan, ia merasa seperti raja. Jalur busway dilewatinya, pelat nomor dinas bisa digonta-ganti sesuka hati. Ditilang atau tersandung kasus? Ia sama sekali tak gentar. Senjatanya cuma satu kalimat: &quot;Saya kenal banyak pejabat.&quot;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;i&gt;Sepanjang perjalanan, ia mengumbar semua trik kotornya dengan dada membusung penuh kebanggaan.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Melihat sepak terjangnya yang begitu mendewakan relasi kuasa, mungkin hanya ada satu kekurangan kecil agar hidupnya jauh lebih sukses: menjadi relawan politik, lalu bersiaplah duduk di kursi komisaris!&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Atau, jika dipikir-pikir lagi, mungkin keluar dari kuliah dan menjadi sopir taksi adalah jalan terbaik untuknya. Kalau tidak, orang seperti ini bisa-bisa berakhir jadi pejabat sungguhan. Entahlah.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;Masuk Surga ala Robin Hood&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;i&gt;Cerita ketiga datang ketika mantan karyawan bank menceritakan pengalamannya beralih profesi menjadi asisten pribadi. Ia yang terbiasa dengan dunia perbankan yang kaku dan serba transparan, mendadak syok melihat betapa banyaknya urusan yang diselesaikan lewat jalan belakang di tempat kerja barunya.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;i&gt;Ketika hal ini ditanyakan kepada sang bos, jawaban yang didapat justru sebuah dilema moral.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;i&gt;&quot;Pilih mana? Lewat jalan depan yang lurus tapi sedikit menolong orang, atau lewat jalan belakang di tepi jurang tapi bisa menghidupi banyak orang?&lt;/i&gt;&quot;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sebuah pembenaran yang sangat rapi. Di sini, pelanggaran aturan mendadak terasa heroik karena dibungkus dengan romantisasi ala Robin Hood: melanggar hukum demi menyelamatkan hajat hidup orang banyak.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;Restu Sang Koruptor&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;i&gt;Cerita terakhir tantang pemandangan menggelikan yang kadang kita lihat di layar kaca. Seorang koruptor tertangkap tangan, lalu dengan wajah lesu berucap, &quot;Semua ini saya anggap sebagai cobaan dari Tuhan. Mohon dukungan doanya agar saya kuat menghadapi semua ini.&quot;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Logika yang luar biasa sesat. Dia yang serakah, tapi Tuhan yang disalahkan lewat label cobaan. Mereka tampaknya gagal membedakan mana ujian hidup dan mana hukuman akibat perbuatan kriminal sendiri.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Lebih parah lagi, masih sempat-sempatnya meminta dukungan doa dari rakyat yang dikorupsinya. Boro-boro mau mendoakan koruptor, memikirkan cicilan dan isi dompet sendiri saja sudah bikin kita pusing tujuh keliling.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;Jangan Salahkan Kurikulum Kehidupan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Selama ini, kita sering berlindung di balik kalimat manis: &quot;Semuanya sudah diatur oleh Tuhan.&quot; Namun, benarkah hidup kita se-pasrah itu?&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Mari berkaca dari realitas tadi. Apakah masuk akal jika Tuhan memberikan rezeki lewat ponsel pelanggan yang tertinggal? Apakah adil menuduh Tuhan merestui jalan belakang dan suap demi menolong orang? Dan apakah menjadi koruptor adalah sebuah takdir yang sudah digariskan langit? Tentu tidak.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bagaimana jika logikanya kita balik: Kitalah pemegang kemudi dan pengambil keputusan mutlak dalam hidup ini. Tuhan tidak mendikte setiap langkah kita; Dia hanya memberikan izin dan persetujuan atas jalan mana yang kita pilih untuk dilewati.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Di sinilah esensi kehidupan yang sebenarnya. Tuhan membekali kita dengan akal sehat, bukan untuk menjadi robot tanpa pilihan, melainkan agar kita berpikir dan belajar dari setiap konsekuensi yang lahir dari keputusan kita sendiri—entah itu berbuah manis atau pahit.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Hidup ini tak ubahnya sebuah sekolah. Jika ujian-ujian kecil saja kita gagal—seperti ujian kejujuran saat melihat HP tertinggal di warung, atau ujian integritas saat disodori uang pelicin—maka kita tidak akan pernah naik kelas. Kita akan terus berputar-putar di tingkat yang sama, menghadapi masalah yang itu-itu saja, hanya karena kita keras kepala dan menolak untuk belajar.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Banyak orang menghibur diri dengan kalimat, &quot;Tuhan tidak akan menguji umat-Nya melebihi batas kemampuan.&quot; Namun, esensi masalahnya bukan di sana. Pertanyaan besarnya adalah: Apakah kita memang punya kemauan untuk naik kelas?&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sebab, jika kita terus-menerus memilih tinggal kelas karena gagal di ujian-ujian kecil, jangan kaget jika di kemudian hari Tuhan menurunkan ujian susulan yang jauh lebih berat dan menyakitkan—semata-mata untuk memaksa kita sadar dan akhirnya mau belajar.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;Cermin Besar untuk Sebuah Bangsa&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Konsep tinggal kelas ini tidak hanya berlaku bagi individu, tetapi juga bagi sebuah negara. Dari level atas di gedung pemerintahan, level menengah di padatnya jalan raya, hingga level bawah di warung makan, polanya selalu seragam. Kita gemar menormalisasi pelanggaran, lalu merasionalisasinya demi alasan perut, kemanusiaan, dan kekuasaan.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sejarah mengajarkan satu hal yang sangat tegas: ketika suatu bangsa menolak belajar dari kesalahan moralnya, bangsa tersebut tidak akan pernah melangkah maju.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Selama kita masih menganggap kelicikan sebagai sebuah kelincahan atau dalih &lt;i&gt;Asian Value&lt;/i&gt;, selama kita masih merampas hak orang lain demi mengenyangkan perut sendiri, dan selama kita terus-menerus gagal lulus dari ujian integritas skala kecil, maka selama itu pula kita akan menjadi bangsa yang jalan di tempat. Kita hanya akan sibuk memadamkan kebakaran moral, yang apinya sebenarnya kita percikkan sendiri.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pada akhirnya, ini bukan lagi sekadar cerita tentang seorang asisten pribadi, sopir taksi online, penjual warung, atau oknum koruptor. Ini adalah sebuah cermin besar yang diletakkan tepat di hadapan wajah kita semua.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kini, pertanyaan besar itu kembali menyapa kita. Sebagai sebuah bangsa, jalan seperti apa yang mau kita pilih?&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Apakah kita akan terus bergantung pada jalan belakang yang instan atau kita akhirnya berani mendisiplinkan diri lewat jalan depan, lulus dari ujian integritas yang sesungguhnya, dan benar-benar naik kelas?&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jawabannya tidak ada di langit, melainkan pada setiap keputusan kecil yang kita ambil hari ini.&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;from http://febriliano.blogspot.com/&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://febriliano.blogspot.com/feeds/6083484334363816805/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/2180219956895463446/6083484334363816805' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default/6083484334363816805'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default/6083484334363816805'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://febriliano.blogspot.com/2026/07/seni-menipu-hati-nurani.html' title='Seni Menipu Hati Nurani'/><author><name>Febriliano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06209999027745913103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgdX4nMRrsJcQlWxdGD6FeErWHM8h3RvTRTHhC9v4JNxmk75hK4Sz-Cy1DiCt2qXigHLaPyH9d17WxU7nA2d4XydJTJYTH2zL3TWgCGZ3tiIHcabSDpaapYRXwwrAJNxSk/s113-r/it&#39;s+me.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2180219956895463446.post-7864038523935768405</id><published>2022-09-20T07:08:00.002+07:00</published><updated>2022-09-20T07:08:55.358+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Intermezzo"/><title type='text'>Jangan Sok Pinter, tapi Juga Jangan Bodoh</title><content type='html'>&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Saya mencuri dengar, seorang ibu yang mengirim anaknya kuliah ke luar negeri berpesan kepada si anak, ”Enggak usah pusing harus pulang. Cari kerja saja di sana, bahkan tinggal di sana. Di sini belum tentu ilmumu kepakai, belum tentu dihargai.”&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;—&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;KITA sudah sering mendengar kisah semacam ini, tanpa perlu menunjuk satu per satu kasus. Kita mungkin akan semakin sering kehilangan anak-anak semacam itu. Kalaupun ada yang kembali, kekhawatiran si ibu mungkin betul akan terjadi: ilmunya tak terpakai dan si anak banting setir mengerjakan apa saja demi mengisi perut.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Di warung kopi, sekelompok teman lama sedang ramai berbagi kisah setelah lama tak berjumpa. Mereka menceritakan repotnya memasukkan anak ke sekolah negeri. Repotnya berurusan dengan rumah sakit mempergunakan BPJS. Penat badan tiap hari melaju dari rumah ke tempat kerja, dua hingga tiga jam perjalanan pakai motor.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Satu kawan tak banyak bicara. Ia tersingkir dari perbincangan. Kenapa? Karena ia tak memiliki masalah-masalah itu. Anaknya sekolah swasta, kalau sakit langsung ditangani oleh asuransi. Kerja juga tak perlu repot membelah kemacetan tiap pagi, ia pemilik perusahaan dan segala urusan kerja selesai di depan laptop.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jika ia memaksakan diri bicara pengalaman hidupnya sehari-hari, ia khawatir akan membuat jarak dengan kawan-kawan lamanya. Itulah kenapa ia memilih diam.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Warung kopi itu merupakan ruang bersama secara fisik. Tapi, obrolan di antara kawan-kawan yang lama tak berjumpa itu tak berhasil menciptakan ruang bersama. Ada satu orang, betapa beruntungnya pun ia dalam hidupnya, tak memperoleh tempat dalam obrolan.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Situasi bisa sama jika kawan lama yang kurang beruntung terjebak di antara kawan-kawan sukses yang berbusa-busa bicara investasi, teori, dan liburan. Ia kemungkinan akan memilih diam daripada bicara soal mencari belut di pematang sawah dan kawan-kawannya telah lupa pengalaman tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Di media sosial, sudah sering satu-dua teman membicarakan sebuah kasus dalam kerangka ilmu yang dikuasainya. Itu hal wajar mengingat mereka adalah kaum terdidik dan akademia. Pada saat yang sama, pembicaraan mereka dengan mudah diejek sebagai ”fafifu-wasweswos”, sebuah ungkapan bahwa omongannya terlalu ”ndakik-ndakik” alias terbang tinggi hingga ke langit.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Di sisi lain, jika ada penonton mengomentari sebuah film sebatas perasaannya, kadang memperoleh perundungan pula dari sinefil berpengalaman yang menganggap, bukan seperti itu menanggapi/mengkritik film.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sangat lucu, akhirnya kita bertanya: memangnya tak boleh mengajukan pendapat dengan teori-teori tinggi di media sosial? Atau malah berpendapat secara polos sekadar mengikuti perasaan?&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tampaknya, bagi sebagian orang, tak boleh. Ruang bersama dibayangkan sebagai ruang di mana semua harus merasa nyaman, merasa tersambung. Jangan sok pintar sekaligus jangan bodoh. Masalahnya, memaksakan diri agar semua merasa nyaman, pada akhirnya, menciptakan rasa frustrasi berjamaah di semua kalangan, bukan?&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Yang terjadi akan muncul mereka yang memilih diam agar tak dianggap sok pintar atau dianggap bodoh. Atau sekadar dianggap berbeda.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jika Indonesia adalah warung kopi atau media sosial, ruang bersama secara bentuk, bagaimana kita juga bisa menjadikannya sebagai ruang bersama secara batin, di mana setiap orang merasa diperhatikan dan merasa dibutuhkan, tanpa ada yang terpaksa diam? Terpaksa pergi dan tak kembali atau mati tanpa dikenang?&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Saya sering membayangkan Indonesia memiliki sekolah dan kampus khusus untuk anak-anak pintar, dengan pelajaran dan kurikulum serta fasilitas dua atau bahkan tiga kali lebih maju daripada sekolah umumnya. Bahkan mempersiapkan infrastruktur agar bakat mereka juga bisa dimanfaatkan maksimal.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pada saat yang sama, adilkah memberi fasilitas premium kepada segelintir anak, sementara jutaan anak di pelosok-pelosok bahkan tak punya globe, tak pernah melihat mikroskop secara nyata, dan bahkan tak pernah memegang buku penyair terpenting Indonesia, Chairil Anwar?&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pada titik tertentu, kita terpaksa memilih salah satu. Membangun perpustakaan yang megah akan terlihat seperti cahaya terang literasi ketimbang membangun ratusan ribu kios taman bacaan di setiap permukiman. Memberi beasiswa murid-murid pintar, sementara banyak yang tak sekolah di perempatan jalan. Atau sebaliknya.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Yang ideal memang tempatnya di surga. Tapi, bayangkan jika kita punya ruang bersama di mana itu tempat kita boleh berlari. Jika ada anak yang bisa berlari kencang, yang lain tak akan menghalanginya. Bahkan menyemangatinya agar berlari sekencang mungkin.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jika ada anak yang tak mampu berlari, yang lain tak memaksanya untuk bergerak cepat, tidak juga mengejeknya. Sekali lagi, yang begini lebih merupakan gambaran surga ketimbang dunia nyata.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Di dunia ini, yang kuat merasa frustrasi berada di tengah kelompok lemah, yang lemah juga frustrasi di hadapan kelompok yang kuat. Yang pintar frustrasi menghadapi yang bodoh, demikian sebaliknya. Ruang bersama memang selalu rapuh. Kita hanya berusaha agar ruang itu tak remuk-remuk amat. (*)&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;—&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;EKA KURNIAWAN, Penulis dan novelis, nomine The Man Booker International Prize 2016&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sumber : &lt;a href=&quot;https://www.jawapos.com/minggu/halte/26/06/2022/jangan-sok-pinter-tapi-juga-jangan-bodoh/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Jawa Pos 26 Juni 2022&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;from http://febriliano.blogspot.com/&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://febriliano.blogspot.com/feeds/7864038523935768405/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/2180219956895463446/7864038523935768405' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default/7864038523935768405'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default/7864038523935768405'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://febriliano.blogspot.com/2022/09/jangan-sok-pinter-tapi-juga-jangan-bodoh.html' title='Jangan Sok Pinter, tapi Juga Jangan Bodoh'/><author><name>Febriliano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06209999027745913103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgdX4nMRrsJcQlWxdGD6FeErWHM8h3RvTRTHhC9v4JNxmk75hK4Sz-Cy1DiCt2qXigHLaPyH9d17WxU7nA2d4XydJTJYTH2zL3TWgCGZ3tiIHcabSDpaapYRXwwrAJNxSk/s113-r/it&#39;s+me.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2180219956895463446.post-6938922427202990737</id><published>2022-04-08T16:14:00.001+07:00</published><updated>2022-04-08T16:15:33.023+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Intermezzo"/><title type='text'>Perbuatan Baik</title><content type='html'>&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&amp;nbsp;Apakah menemukan koin-koin emas sementara kamu punya utang yang harus dibayar (dan berarti jaminan dibebaskan dari penjara karena urusan utang itu) lalu malahan mengembalikannya ke si pemilik merupakan perbuatan baik?&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;—&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;PERTANYAAN itu muncul di film A Hero karya sutradara kenamaan Iran, Asghar Farhadi. Dengan agak sinis, si rentenir yang memberinya utang memberi jawaban menusuk: Itu bukan perbuatan baik. Itu sesuatu yang harus dilakukan. Artinya, kewajiban dasar semata.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pertanyaan tersebut juga merembet ke pertanyaan-pertanyaan lain. Siapakah yang pantas disebut pahlawan? Apakah pahlawan adalah mereka yang melakukan perbuatan baik (untuk masyarakat atau seseorang)? Perbuatan baik macam apa?&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jangan-jangan, apa yang disebut perbuatan baik itu sebetulnya kewajibannya belaka? Jangan-jangan, para pahlawan yang kita kenal itu sebetulnya ya mengerjakan tugasnya.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Film itu, meskipun hanya berkisah tentang orang yang sedang memperoleh pembebasan sementara dari penjara beserta dilemanya, menyeret saya ke kehidupan nyata, ke masalah-masalah yang mungkin lebih luas.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Mengikuti logika film tadi, dan saya tak bisa tidak setuju dengannya, apa yang disebut perbuatan baik seharusnya hal-hal yang melampaui kewajiban dasar. Jika tak melakukannya, tidak menjadi buruk.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Membeli barang seharga nominal yang tercantum merupakan kewajiban, itu bukan perbuatan baik. Kita juga tak akan menyebut pembeli semacam itu sebagai pahlawan, bukan? Sementara itu, memberi tambahan uang di luar harga barang untuk si penjual atau pelayan toko, itu baru bisa dibilang perbuatan baik.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kita tahu mencuri itu perbuatan buruk. Begitu pula memukul orang. Tapi, meskipun baik dan buruk dianggap merupakan sifat-sifat yang bertentangan, tidak melakukan perbuatan buruk bukan berarti telah melakukan perbuatan baik, demikian pula sebaliknya.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Film ini mencoba memperlihatkan kenyataan yang lain. Orang yang memutuskan mengembalikan koin-koin emas ke pemiliknya dianggap melakukan perbuatan baik. Ia bahkan disebut sebagai pahlawan. Ia diundang ke acara amal dan banyak orang kagum kepadanya. Masuk TV dan dielu-elukan.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tunggu, bukankah hal semacam itu juga terjadi dalam kehidupan sehari-hari? Seberapa sering kita mendengar seorang istri mengatakan bahwa suaminya ”sangat baik” hanya karena ia menafkahi keluarga, mengasuh anak, dan terutama tidak melakukan kekerasan dalam rumah tangga? Padahal, bukankah itu kewajibannya?&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Melindungi masyarakat seharusnya merupakan kewajiban polisi. Memberi pengajaran dan melimpahi murid dengan ilmu pengetahuan merupakan kewajiban bagi guru. Memperbaiki keran air yang bocor merupakan kewajiban tukang yang dibayar.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Demikian pula, memberi kursi di kendaraan umum kepada penumpang prioritas yang membutuhkan merupakan kewajiban penumpang yang sehat.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kenyataannya, pada saat yang sama, bukan hal yang sulit untuk menemukan orang yang menganggap perbuatan-perbuatan di atas sebagai kebaikan dan pelakunya dianggap pahlawan. Termasuk sesederhana memberi kursi di kendaraan umum, setidaknya orang bisa melihat pelakunya dengan hormat atau kagum.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kembali ke film tadi dan mari berandai-andai. Jika kita menemukan tas dan isinya 17 koin emas, sementara kita tak tahu persis siapa pemiliknya, tak ada juga pengumuman soal barang hilang, apa yang akan dilakukan?&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Setidaknya, di film itu naluri awal si tokoh adalah memiliki koin-koin itu sendiri. Saya kok merasa, itu premis umum. Dengan kata lain, itu sejenis standar perilaku kebanyakan orang. Apalagi dalam keadaan butuh.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Apa yang dilakukan si tokoh kemudian, yakni mengembalikannya, berada di atas rata-rata perilaku sesamanya, itulah kenapa ia dianggap melakukan perbuatan baik.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sekarang bayangkan, di satu wilayah yang dikuasai para preman pemeras. Di sana mereka selalu membeli barang di warung di bawah harga sebenarnya, bahkan sering juga tak membayar. Pemilik warung pasrah saja daripada warungnya dibakar atau dirinya disiksa.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Lalu, satu hari ada preman yang membayar pas seharga barang. Karena standar perilaku orang-orang di wilayah itu rendah, si preman terakhir bisa saja dianggap pemilik warung sebagai ”baik”.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jangan-jangan, hidup kita ini sebagian besar persis seperti gambaran wilayah yang dikuasai preman tersebut. Perbuatan yang seharusnya wajar menjadi ”perbuatan baik” karena perilaku umum demikian buruknya. Orang yang melakukan hal biasa menjadi sejenis pahlawan, panutan, hanya karena sekelilingnya perampok-pemeras.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Seperti umumnya nilai, ukuran kebaikan naik turun mengikuti lingkungannya. Di tengah orang-orang buta huruf, orang yang bisa membaca bisa menjadi ”pintar”.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Suami yang tak menampar istri, yang mengasuh anak, yang menafkahi keluarga, tentu saja dengan mudah jadi suami idaman. Itu terjadi jika suami yang menampar istri, tak mengasuh anak, dan tak menafkahi keluarga ada di mana-mana seolah menjadi norma dan tabiat umum.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Seberapa sering polisi tidur saja dianggap polisi baik? Apakah itu gambaran bahwa polisi kita suka menembak dan menyiksa warganya sendiri? Apakah politisi yang jujur dan mengerjakan tugasnya dianggap politisi baik karena umumnya mereka penipu, tukang ingkar janji, dan tak bisa kerja? (*)&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;*) EKA KURNIAWAN, Penulis dan novelis, nomine The Man Booker International Prize 2016&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sumber : &lt;a href=&quot;https://www.jawapos.com/minggu/halte/27/02/2022/perbuatan-baik/?page=all&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Jawa Pos 26 Februari 2022&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;from http://febriliano.blogspot.com/&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://febriliano.blogspot.com/feeds/6938922427202990737/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/2180219956895463446/6938922427202990737' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default/6938922427202990737'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default/6938922427202990737'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://febriliano.blogspot.com/2022/04/perbuatan-baik.html' title='Perbuatan Baik'/><author><name>Febriliano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06209999027745913103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgdX4nMRrsJcQlWxdGD6FeErWHM8h3RvTRTHhC9v4JNxmk75hK4Sz-Cy1DiCt2qXigHLaPyH9d17WxU7nA2d4XydJTJYTH2zL3TWgCGZ3tiIHcabSDpaapYRXwwrAJNxSk/s113-r/it&#39;s+me.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2180219956895463446.post-115193151994285568</id><published>2021-07-13T16:16:00.006+07:00</published><updated>2021-07-13T17:49:53.864+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Covid19"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pengetahuan"/><title type='text'> Keyakinan pada Tes Cepat (Quick Test) Menyebabkan Epidemi Yang Tidak Pernah Terjadi</title><content type='html'>&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;i&gt;Hari-hari terakhir, kasus COVID19 di Indonesia semakin bertambah. Banyak pakar berkata untuk memperbanyak dengan tracing dengan melakukan tes. Masalahnya tes seperti apa yang harus dilakukan?&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;i&gt;Artikel ini sudah disinggung dalam tulisan sebelumnya &quot;&lt;a href=&quot;http://febriliano.blogspot.com/2020/07/tes-covid19-pcr-secara-ilmiah-tidak.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Tes COVID19 PCR Secara Ilmiah Tidak Berarti&lt;/a&gt;&quot; yang dipublikasikan di OffGuardian pertama tanggal 27 Juni 2020.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;i&gt;Tulisan ini terjemahan dari artikel yang dimuat di The New York Times tanggal 22 Januari 2007, hampir 15 tahun yang lalu sebelum pandemi COVID19 muncul. Pada artikel ini dipaparkan bagaimana tes cepat PCR salah memprediksi adanya epidemi di Dartmouth hingga &lt;a href=&quot;https://www.nbcnews.com/health/health-news/thousands-wrongly-treated-whooping-cough-flna1c9468509&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;ribuan orang dirawat tidak dengan semestinya&lt;/a&gt;.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;i&gt;Banyak artikel mengenai kasus yang terjadi Dartmouth, Anda bisa mencari di link &lt;a href=&quot;https://www.google.com/search?q=dartmouth+whooping+cough&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;ini&lt;/a&gt;.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;i&gt;Ketika&amp;nbsp;&lt;a href=&quot;https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5634802/ri-masih-berjuang-7-negara-ini-siap-siap-berdamai-dengan-corona&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;semakin banyak negara berdamai dengan COVID19&lt;/a&gt;, mungkinkah yang terjadi adalah&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;i&gt;pseudo-epidemics?&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dr. Brooke Herndon, seorang internis di Dartmouth-Hitchcock Medical Center, tidak bisa berhenti batuk. Sudah dua minggu mulai pertengahan April tahun lalu, dia batuk, sepertinya tanpa henti, diikuti seminggu lagi ketika dia batuk secara sporadis, yang mengganggu semua orang yang bekerja dengannya.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tak lama kemudian, Dr. Kathryn Kirkland, seorang spesialis penyakit menular di Dartmouth, memiliki pemikiran yang mengerikan: Mungkinkah dia melihat awal dari epidemi batuk rejan (&lt;i&gt;whooping cough&lt;/i&gt;)? Pada akhir April, petugas kesehatan lain di rumah sakit itu batuk. Batuk yang parah dan tak tertahankan adalah ciri khas batuk rejan. Dan jika itu batuk rejan, wabah harus segera ditanggulangi karena penyakit itu bisa mematikan bagi bayi di rumah sakit dan bisa menyebabkan pneumonia pada pasien dewasa yang lemah dan rentan di sana.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Itu adalah awal dari masa aneh di pusat medis: sebuah kisah epidemi yang tidak pernah terjadi.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Selama berbulan-bulan, hampir semua orang yang terlibat mengira pusat medis telah mengalami wabah batuk rejan yang besar, dengan akibat luas. Hampir 1.000 pekerja perawatan kesehatan di rumah sakit di Lebanon, N.H., diberikan tes pendahuluan (&lt;i&gt;preliminary test&lt;/i&gt;) dan cuti dari pekerjaan sampai hasilnya keluar. 142 orang, termasuk Dr. Herndon, diberitahu bahwa mereka tampaknya mengidap penyakit tersebut. Dan ribuan orang diberi antibiotik dan vaksin untuk perlindungan. Tempat tidur rumah sakit penuh, termasuk beberapa perawatan intensif.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kemudian, sekitar delapan bulan kemudian, petugas kesehatan tercengang menerima pesan email dari administrasi rumah sakit yang memberi tahu mereka bahwa semuanya adalah alarm palsu.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tidak ada satu pun kasus batuk rejan yang terkonfirmasi ketika dilakukan tes definitif. Suatu tes yang dilakukan dengan cara menumbuhkan bakteri, &lt;i&gt;Bordetella pertussis&lt;/i&gt;, di laboratorium. Sebaliknya, petugas kesehatan mungkin menderita penyakit pernapasan biasa seperti flu biasa.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sekarang, ketika mereka melihat kembali masa tersebut, ahli epidemiologi dan spesialis penyakit menular mengatakan masalahnya adalah bahwa mereka terlalu percaya pada tes molekuler yang cepat dan sangat sensitif yang membuat mereka tersesat.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Para ahli penyakit menular mengatakan tes semacam itu semakin sering digunakan dan mungkin satu-satunya cara untuk mendapatkan jawaban cepat dalam mendiagnosis penyakit seperti batuk rejan, Legionnaire, flu burung, TBC dan SARS, dan dipakai untuk memutuskan apakah epidemi sedang berlangsung.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&quot;Tidak ada data nasional tentang epidemi semu (&lt;i&gt;pseudo-epidemics&lt;/i&gt;) yang disebabkan oleh ketergantungan yang berlebihan pada tes molekuler semacam itu,&quot; kata Dr. Trish M. Perl, ahli epidemiologi di Johns Hopkins dan mantan presiden Society of Health Care Epidemiologists of America. &quot;Tapi, epidemi semu selalu terjadi. Kasus Dartmouth mungkin salah satu yang terbesar, tapi itu bukan pengecualian,&quot; katanya.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ada ketakutan batuk rejan serupa di Rumah Sakit Anak di Boston musim gugur lalu yang melibatkan 36 orang dewasa dan 2 anak-anak. Namun, tes definitif tidak menemukan pertusis.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&quot;Ini masalah. Kami tahu itu masalah. Dugaan saya adalah apa yang terjadi di Dartmouth akan menjadi lebih umum,&quot; kata Dr. Perl.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Banyak tes molekuler baru yang cepat tetapi menuntut secara teknis. Dan setiap laboratorium dapat melakukannya dengan caranya sendiri. Tes ini, yang disebut &quot;&lt;i&gt;home brews&lt;/i&gt;&quot;, tidak tersedia secara komersial dan tingkat kesalahannya tidak bisa diperkirakan dengan baik. Tetapi karena sensitivitas mereka bisa membuat hasil positif palsu. Dan ketika ratusan atau ribuan orang diuji, seperti yang terjadi di Dartmouth, hasil positif palsu dapat membuat seolah-olah ada epidemi.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&quot;Dengan tes molekuler baru Anda berada di tanah tak bertuan,&quot; kata Dr. Mark Perkins, spesialis penyakit menular dan kepala petugas ilmiah di Foundation for Innovative New Diagnostics, sebuah yayasan nirlaba yang didukung oleh Yayasan Bill and Melinda Gates. &quot;Semua taruhan dibatalkan pada kinerja yang tepat.&quot;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tentu saja, itu mengarah pada pertanyaan mengapa sangat bergantung pada mereka. &quot;Pada waktu normal (&lt;i&gt;face value&lt;/i&gt;), jelas mereka seharusnya tidak melakukannya,&quot; kata Dr. Perl. &quot;Tapi seringkali ketika jawaban dibutuhkan dan organisme seperti bakteri pertusis rewel dan sulit tumbuh di laboratorium, Anda tidak punya pilihan bagus,&quot; katanya.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Menunggu untuk melihat apakah bakteri tumbuh bisa memakan waktu berminggu-minggu, tetapi melakukan tes molekuler cepat juga bisa salah. &quot;Ini hampir seperti Anda mencoba memilih dua kejahatan (&lt;i&gt;evils&lt;/i&gt;),&quot; kata Dr. Perl.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Di Dartmouth keputusannya adalah menggunakan tes PCR (&lt;i&gt;Polymerase Chain Raction&lt;/i&gt;) atau Reaksi Berantai Polimerase. Sampai saat ini, ini adalah tes molekuler yang terbatas pada laboratorium biologi molekuler.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&quot;Itulah yang terjadi,&quot; kata Dr. Kathryn Edwards, spesialis penyakit menular dan profesor pediatri di Vanderbilt University. &quot;Itulah kenyataan di luar sana. Kami mencoba mencari cara untuk menggunakan metode yang telah menjadi lingkup ilmuwan.&quot;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kisah batuk rejan Dartmouth menunjukkan apa yang bisa terjadi.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Mengatakan masa itu &lt;i&gt;disruptive&lt;/i&gt; adalah pernyataan yang meremehkan, kata Dr. Elizabeth Talbot, wakil ahli epidemiologi negara bagian untuk Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan New Hampshire.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&quot;Anda tidak bisa membayangkannya,&quot; kata Dr. Talbot. &quot;Pada saat itu, saya punya perasaan bahwa ini akan memberi kami bayangan apa yang akan terjadi selama epidemi flu pandemi.&quot;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Namun, para ahli epidemiologi mengatakan, salah satu aspek yang paling meresahkan dari epidemi semu adalah bahwa semua keputusan tampak begitu masuk akal pada saat itu.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dr. Katrina Kretsinger, ahli epidemiologi medis di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit federal, yang menangani kasus ini bersama rekannya Dr. Manisha Patel, tidak menyalahkan dokter Dartmouth.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&quot;Masalahnya bukan karena mereka bereaksi berlebihan atau melakukan sesuatu yang tidak pantas sama sekali,&quot; kata Dr. Kretsinger. Sebaliknya, seringkali tidak ada cara untuk memutuskan sejak dini apakah suatu epidemi sedang berlangsung.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sebelum tahun 1940-an ketika vaksin pertusis untuk anak-anak diperkenalkan, batuk rejan adalah penyebab utama kematian pada anak-anak. Vaksin menyebabkan penurunan 80 persen kejadian penyakit, tetapi tidak sepenuhnya menghilangkannya. Itu karena efektivitas vaksin berkurang setelah sekitar satu dekade. Dan meskipun sekarang ada vaksin baru untuk remaja dan orang dewasa, vaksin itu baru mulai digunakan. &quot;Batuk rejan masih menjadi perhatian,&quot; kata Dr Kretsinger.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Penyakit ini mendapatkan namanya dari fitur yang paling menonjol, yaitu pasien mungkin batuk dan batuk dan batuk sampai mereka harus terengah-engah, membuat suara seperti teriakan. &quot;Batuk bisa berlangsung begitu lama sehingga salah satu nama umum untuk batuk rejan adalah batuk 100 hari,&quot; kata Dr. Talbot.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Baik batuk lama (&lt;i&gt;long&lt;/i&gt;) dan batuk keras (&lt;i&gt;hard&lt;/i&gt;) atau bahkan batuk rejan tidak khas untuk infeksi pertusis. Banyak orang dengan batuk rejan memiliki gejala yang mirip dengan flu biasa: pilek atau batuk biasa.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&quot;Hampir segala sesuatu tentang presentasi klinis pertusis, terutama pertusis awal, tidak terlalu spesifik,&quot; kata Dr. Kirkland.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Itulah masalah pertama dalam memutuskan apakah ada epidemi di Dartmouth.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&quot;Yang kedua adalah dengan PCR, tes cepat untuk mendiagnosis penyakit,&quot; kata Dr. Kretsinger.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&quot;Dengan pertusis, mungkin ada 100 protokol dan metode berbeda PCR yang digunakan di seluruh negeri dan tidak jelas berapa sering dari hasilnya yang akurat,&quot; katanya. &quot;Kami telah mengalami sejumlah wabah di mana kami percaya bahwa meskipun ada hasil positif PCR, penyakitnya bukan pertusis,&quot; tambah Dr. Kretsinger.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Di Dartmouth, ketika kasus suspek pertusis pertama muncul dan tes PCR menunjukkan pertusis, dokter percaya. Hasilnya tampak benar-benar konsisten dengan gejala pasien.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&quot;Begitulah semuanya dimulai,&quot; kata Dr. Kirkland. Kemudian para dokter memutuskan untuk menguji orang yang tidak mengalami batuk parah.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&quot;Karena kami memiliki kasus yang kami pikir pertusis dan karena kami memiliki pasien yang rentan di rumah sakit, kami menurunkan ambang batas kami,&quot; katanya. Siapa pun yang batuk akan mendapat tes PCR. Begitu juga dengan siapa pun yang pilek dan bekerja dengan pasien berisiko tinggi seperti bayi.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&quot;Begitulah cara kami mendapatkan 134 kasus tersangka,&quot; kata Dr. Kirkland. &quot;Dan itu adalah mengapa 1.445 petugas kesehatan akhirnya minum antibiotik dan 4.524 petugas kesehatan di rumah sakit, atau 72 persen dari semua petugas kesehatan di sana, diimunisasi terhadap batuk rejan dalam hitungan hari,&quot; lanjutnya.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&quot;Jika kita berhenti di sana, saya pikir kita semua akan setuju bahwa kita telah mengalami wabah pertusis dan bahwa kita telah mengendalikannya,&quot; kata Dr. Kirkland.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tetapi ahli epidemiologi di rumah sakit dan bekerja untuk Negara Bagian New Hampshire dan Vermont memutuskan untuk mengambil langkah ekstra untuk memastikan bahwa apa yang mereka lihat benar-benar pertusis.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Para dokter Dartmouth mengirimkan sampel dari 27 pasien yang mereka duga menderita pertusis ke departemen kesehatan negara bagian dan Pusat Pengendalian Penyakit. Di sana, para ilmuwan mencoba menumbuhkan bakteri, sebuah proses yang bisa memakan waktu berminggu-minggu. Akhirnya, mereka mendapat jawaban bahwa tidak ada pertusis di salah satu sampel.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&quot;Kami pikir, yah, itu aneh. Mungkin ini masalah waktu kultur, masalah transportasi. Mengapa kita tidak mencoba tes serologis? Tentu saja, setelah infeksi pertusis, akan timbul antibodi terhadap bakteri tersebut,&quot; kata Dr. Kirkland.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Mereka hanya bisa mendapatkan sampel darah yang sesuai dari 39 pasien karena yang lain mendapatkan vaksin yang dengan sendirinya menghasilkan antibodi pertusis. Tetapi ketika Pusat Pengendalian Penyakit menguji 39 sampel tersebut, para ilmuwan melaporkan bahwa hanya satu yang menunjukkan peningkatan kadar antibodi yang mengindikasikan pertusis.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pusat penyakit juga melakukan tes tambahan, termasuk tes molekuler untuk mencari ciri-ciri bakteri pertusis. Ilmuwannya juga melakukan tambahan tes PCR pada sampel dari 116 dari 134 orang yang diduga menderita batuk rejan. Hanya satu PCR positif, tetapi tes lain tidak menunjukkan bahwa orang tersebut terinfeksi bakteri pertusis. Pusat penyakit juga mewawancarai pasien secara mendalam untuk melihat apa gejala mereka dan bagaimana mereka berkembang.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&quot;Itu berlangsung selama berbulan-bulan,&quot; kata Dr. Kirkland. Tetapi pada akhirnya, kesimpulannya jelas, yaitu tidak ada epidemi pertusis.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&amp;nbsp;&quot;Kami semua agak terkejut dan kami berada dalam situasi yang sangat membuat frustrasi tentang apa yang harus dilakukan ketika wabah berikutnya datang,&quot; kata Dr. Kirkland, &quot;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dr. Cathy A. Petti, seorang spesialis penyakit menular di Universitas Utah, mengatakan bahwa kisah tersebut memiliki satu pelajaran yang jelas.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&quot;Pesan besarnya adalah setiap lab rentan terhadap false positive,&quot; kata Dr. Petti. &quot;Tidak ada hasil tes tunggal yang mutlak dan itu bahkan lebih penting dengan hasil tes berdasarkan PCR&quot;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Adapun Dr. Herndon, dia sekarang tahu dia lolos.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&quot;Saya pikir saya mungkin telah menyebabkan epidemi,&quot; katanya.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Penulis - Gina Kolata&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;22 Januari 2007&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sumber : &lt;a href=&quot;https://www.nytimes.com/2007/01/22/health/22whoop.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;The New York Times&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;from http://febriliano.blogspot.com/&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://febriliano.blogspot.com/feeds/115193151994285568/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/2180219956895463446/115193151994285568' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default/115193151994285568'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default/115193151994285568'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://febriliano.blogspot.com/2021/07/keyakinan-pada-tes-cepat-quick-test.html' title=' Keyakinan pada Tes Cepat (Quick Test) Menyebabkan Epidemi Yang Tidak Pernah Terjadi'/><author><name>Febriliano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06209999027745913103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgdX4nMRrsJcQlWxdGD6FeErWHM8h3RvTRTHhC9v4JNxmk75hK4Sz-Cy1DiCt2qXigHLaPyH9d17WxU7nA2d4XydJTJYTH2zL3TWgCGZ3tiIHcabSDpaapYRXwwrAJNxSk/s113-r/it&#39;s+me.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2180219956895463446.post-2022726404841168712</id><published>2021-04-12T11:48:00.000+07:00</published><updated>2021-04-12T11:48:52.661+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pengetahuan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Politik"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sejarah"/><title type='text'>Apa Itu Marxisme yang Diperbolehkan Menristekdikti untuk Dikaji?</title><content type='html'>&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dua mahasiswa di Probolinggo, Jawa timur, ditangkap polisi karena membawa buku bertemakan komunisme, Sabtu (27/7) . Peristiwa itu bermula saat keduanya membawa buku biografi ketua Partai Komunis Indonesia (PKI), DN Aidit,&amp;nbsp; untuk perpustakaan jalanan di Alun-alun Kraksaan.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kedua mahasiswa itu adalah Muntasir Billah (24) dan Saiful Anwar (25). Mereka tergabung dalam komunitas Vespa Literasi. Yakni, sebuah komunitas yang rutin menggelar perpustakaan jalanan setiap Sabtu malam.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Berdasarkan keterangan Polsek Kraksaan, petugas menyita empat judul buku dari lapak baca mereka, yakni ‘Dua Wajah Dipa Nusantara’, ‘Menempuh Djalan Rakjat D.N AIDIT’, ‘Sukarno Marxisme &amp;amp; Leninisme’, dan ‘D.N Aidit: Sebuah Biografi Ringkas.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Penangkapan keduanya pun menimbulkan polemik. Sejumlah pihak menilai polisi tak seharusnya menangkap dua mahasiswa tersebut. Itu karena, Mahkamah Konstitusi (MK) pada 2010 memutuskan pelarangan buku harus melewati proses pengadilan.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kala itu, MK mencabut Undang-Undang Nomor 4/PNPS/1963 tentang Pengamanan terhadap Barang-Barang Cetakan yang Isinya Dapat Mengganggu Ketertiban Umum. Sejak itu pula, penyitaan buku tak lagi diperbolehkan tanpa disertai bukti yang kuat.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir pun angkat bicara terkait penangkapan kedua mahasiswa tersebut. Ia tak setuju jika aparat terlalu alergi dengan bacaan seperti maxisme yang dibaca mahasiswa.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Menurut Nasir, mahasiswa memang diperbolehkan untuk mengkaji marxisme atau bahkan khilafah di kampus. Dengan catatan, kata dia, pembahasan itu hanya sebatas untuk kepentingan ilmu pengetahuan.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&quot;Mengkaji ilmu pengetahuan di kampus silakan, yang tidak boleh adalah memilih itu sebagai ideologi, karena negara telah menetapkan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dan Pancasila,&quot; kata Nasir dilansir Antara, Rabu (31/7).&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Nah, apa sebetulnya marxisme itu? Untuk mengetahuinya lebih rinci, kami membuat panduan sederhananya dalam bentuk tanya jawab. Ulasan ini dikhususkan untuk kamu yang baru pertama kali mendengar marxisme.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Berikut ini adalah sejumlah pertanyaan umum seputar marxisme:&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;Apa itu Marxisme?&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Marxisme adalah paham yang didasarkan pada pemikiran filsuf Jerman bernama Karl Marx (1818-1883). Dalam bukunya yang berjudul ‘Das Kapital’, Marx mengkritik sistem kapitalisme yang menurutnya hanya mengeksploitasi kaum pekerja (buruh).&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Marx berpendapat, sejarah dunia adalah sejarah pertarungan kelas. Yang artinya, selama kapitalisme menjadi sistem ekonomi, maka kaum borjuis (pemilik modal) akan senantiasa mengisap kelas pekerja.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam relasi yang tak menguntungkan itu, Marx percaya bahwa kelas pekerja akan memiliki kesadaran kelas. Kesadaran itu akan terakumulasi dan menjadi sebuah revolusi. Hal itu demi menciptakan sebuah tatanan sosial baru yang bernama komunisme.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Ia bahkan memprediksi bahwa akan tiba saat kapitalisme runtuh dengan sendirinya. Hal itu bisa terjadi lantaran kapitalisme mengandung kontradiksi internal yang tengah menggali liang kuburnya sendiri.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Menurut Marx, akan tiba saatnya kala proses produksi diambil oleh teknologi. Saat itu terjadi, buruh tak akan lagi ambil bagian lagi dalam produksi. Konsekuensinya, produk yang dihasilkan akan berlipat ganda, tetapi tak akan ada orang yang mampu membelinya karena tak memiliki uang akibat di-PHK.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Salah seorang komentator pemikiran Marx, Karl Korsch, punya pendapat menarik tentang apa itu marxisme. Dalam bukunya yang berjudul Marxism and Philosophy, Korsh menyatakan sebagai berikut:&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Marxisme adalah senjata revolusioner yang bukan hanya di bidang politik, tetapi di semua bidang filsafat dan teoritik. Semua itu terhubung ke dalam pandangan dunia yang koheren,&quot; kata Korsch.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;Siapa Sebenarnya Marx?&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Marx lahir di Trier, Jerman pada 5 Mei 1818. Ia berdarah Yahudi dan berasal dari keluarga kelas menengah. Di usianya yang ke-17 tahun, Marx terdaftar sebagai mahasiswa filsafat di Universitas Bonn pada 1835.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Meski demikian, sang ayah memintanya untuk belajar ke fakultas hukum. Marx pun tak bisa membantah. Pada 1836, ia banting setir menjadi mahasiswa ilmu hukum di Universitas Berlin. Menariknya, meski belajar hukum, Marx masih menaruh minat yang besar pada kajian filsafat.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kala di kampus, ia masuk ke dalam organisasi Hegelian kiri. Hegelian merujuk pada orang-orang yang mengkaji pemikiran filsuf Jerman bernama Georg Wilhelm Friedrich Hegel. Hegel sendiri merupakan filsuf besar yang merumuskan teori dialektika dan negara integralistik.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Minatnya yang besar terhadap filsafat lalu menyebabkan ia tak pernah menjadi penegak hukum. Lain dari itu, ia justru menjadi doktor filsafat. Distertasinya mengenai ulasan terhadap filsuf bernama Ludwig Feurbach.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;Lantas Apa Hubungan Marxisme dan komunisme?&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Marxisme, khususnya marxisme klasik yang digagas Marx meyakini adanya tatanan baru bernama komunisme.Tatanan baru itu menekankan adanya kepemilikan bersama atas alat-alat produksi.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Komunisme percaya bahwa setiap orang adalah setara. Masyarakat yang sama rata sama rasa adalah wujud dari komunisme itu sendiri. Marx melihat bahwa masa depan umat manusia ke tatanan baru tersebut.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Biarkan kelas-kelas yang berkuasa gemetar menghadapi revolusi Komunis. Kaum proletar tidak akan kehilangan suatu apapun kecuali belenggu mereka. Dunia masa depan adalah milik mereka. Kaum buruh sedunia, bersatulah!,” kata Marx dalam Manifesto Komunis.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Meski demikian, ide tentang masyarakat komunis baru berupa gagasan teoritis. Belum ada orang atau negara yang mengaplikasikannya ke dunia nyata. Baru kemudian di tangan Vladimir Lenin (1870-1924), ‘mimpi’ Marx itu berubah menjadi kenyataan.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Lenin sendiri merupakan tokoh yang menggulingkan kekaisaran Tsar Rusia pada 1918. Di bawah komandonya, Kaum Bolshevik mengubah tatanan monarki Tsar menjadi sebuah negara sosialis pertama di dunia.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Negara sosialis merupakan negara yang alat-alat produksinya dikuasai negara. Dalam konsep negara semacam itu, pasar bebas sebagaimana dalam kapitalisme tidak ada lagi. Sederhananya, tak ada perusahaan swasta. Seluruh aktivitas perekonomian dikendalikan oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN).&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam skama tersebut, negara dikuasai oleh diktator poletariat. Yakni, sebuah pemerintahan yang diatur oleh organiasi buruh. Di Uni Soviet, organisasi tersebut mewujud pada satu partai tunggal yang dipimpin Lenin, yaitu Partai Buruh&amp;nbsp; Demokrat Sosial Rusia.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam State and Revolution (1917), Lenin menyebut sosialisme adala transisi sebelum masyarakat komunis tercipta. Negara sosialis dibutuhkan untuk memastikan masyarakat memiliki visi yang sama dalam mengusung masyarakat tanpa kelas.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Dalam masyarakat kapitalis kita memiliki demokrasi yang dibatasi, buruk, salah.&amp;nbsp; Demokrasi yang hanya untuk orang kaya. Kediktatoran proletariat, periode transisi ke komunisme, untuk pertama kalinya akan menciptakan demokrasi bagi rakyat, bagi semua orang,” kata Lenin.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Masyarakat tanpa kelas atau komunisme itu sendiri unik. Kala saat masa&amp;nbsp; itu tiba, konsep negara tak lagi ada. Negara lenyap bersamaan dengan tak ada lagi kelas sosial. Orang saling bekerja sama. Tak ada lagi yang memperkaya diri sendiri.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;Mungkinkah Masyarakat Tanpa Kelas Tercipta?&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sejarah menunjukkan bahwa masyarkat tanpa kelas belum pernah terealisasikan. Hal yang baru tercipta adalah negara sosialis, yakni Uni Soviet. Itu pun bubar jalan pada 26 Desember 1991.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sekarang ini, marxisme juga semakin berkembang, semakin banyak varian dari teori marxis itu sendiri. Marxisme klasik memang percaya bahwa masyarakat tanpa kelas itu tercipta. Namun varian lain, misalnya Neo-Marxis atau bahkan Post-Marxis memiliki pandangan yang berbeda.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sejumlah teoritikus Neo-Marxis misalnya, mereka tak lagi memperdebatkan mungkin atau tidaknya negara komunis. Lain dari itu, mereka justru mengarahkan marxisme sebagai alat yang membongkar selubung ideologis dari kapitalisme.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Cara-cara revolusioner seperti yang dilakukan Lenin juga tak diterima oleh Neo-Marxis. Kajian yang mereka lakukan ada dalam koridor akademik. Bukan lagi memikirkan bagaimana masyarakat tanpa kelas itu tercipta.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Yang lebih baru, Post-Marxis, pun demikian. Mereka bahkan tak percaya ada pertentangan kelas borjuis dan proletar sebagaimana yang diyakini Marx. Lain dari itu, mereka justru berfokus bagaimana menyelamatkan kaum-kaum minoritas seperti aktivis lingkungan, komunitas LGBT, yang belum memperoleh keadilan yang paripurna.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;Benarkah Marxisme Menentang Konsep Tuhan?&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bagi Marx, agama adalah candu. Pernyataan itu gamblang ia sebutkan dalam esainya di On The Jewish Question (1844). Kala itu, ia menyebut agama adalah biang keladi dari lambatnya revolusi.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“Agama adalah ekspresi dari makhluk yang tertindas. Pusat dari dunia yang tidak berperasaan, dan jiwa dari kondisi tanpa jiwa. Agama adalah candu masyarakat,” kata Marx.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Hubungan marxisme dan agama memang terlanjur rumit. Itu karena, marxisme berakar dari filsafat materialisme. Yakni, sebuah aliran yang meyakini bahwa materi adalah segala-galanya. Mereka menentang filsafat metafisika, yang artinya menentang segala hal yang tak berwujud.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sebagai pemimpin Uni Soviet, Lenin pernah memberikan satu interpretasi menarik tentang agama. Dalam Socialism and Religion (1905), Lenin berpendapat bahwa sudah sapatutnya negara tak mengurusi agama. Ia bahkan menginginkan agar kolom agama pada&amp;nbsp; identitas warga Uni Soviet dihapuskan.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&quot;Agama harus dinyatakan sebagai urusan pribadi,” kata Lenin.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;Lalu Siapa itu DN Aidit?&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Era perang dingin (1947-1991) adalah sebuah era di mana ideologi komunisme berhadapan dengan liberalisme. Jika komunisme dipelopori oleh Uni Soviet, maka liberalisme dipelopori oleh Amerika Serikat (AS).&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Uni Soviet pun melancarkan penetrasi ideologinya ke sejumlah negara. Salah satunya adalah Indonesia. Pada masa-masa itu, di Indonesia tumbuh satu partai yang bernama Partai Komunis Indonesia (PKI).&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pada tahun 1965, PKI merupakan partai politik terbesar di Indonesia. DN Aidit adalah Ketua Central Comitte dari partai tersebut. Aidit sekaligus merupakan anggota komunis internasional (komintern).&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sebagai seorang politikus sayap kiri, DN Aidit dekat dengan Presiden Sukarno. Namun, kariernya politiknya mulai tamat saat meletusnya peristiwa Gerakan 30 September PKI. Dalam peristiwa itu, sejumlah jendral tewas terbunuh. Aidit dan PKI-nya disebut-sebut terlibat dalam peristiwa berdarah itu.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Meski demikian, sejarah dalam hal ini terbelah. Sebagian menyebut bahwa Aidit memang menjadi dalang dari pembunuhan para jenderal. Namun sebagian lainnya menyebut Aidit adalah korban dari konspirasi Suharto dan agenda politik AS.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dan demikianlah sejarah. Sebagaimana kata sejarawan AS, bahwa sejarah adalah perkara interpretasi.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sumber : &lt;a href=&quot;https://kumparan.com/kumparannews/apa-itu-marxisme-yang-diperbolehkan-menristekdikti-untuk-dikaji-1rZkm8V5Htq/full&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;kumparan.com&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;from http://febriliano.blogspot.com/&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://febriliano.blogspot.com/feeds/2022726404841168712/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/2180219956895463446/2022726404841168712' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default/2022726404841168712'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default/2022726404841168712'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://febriliano.blogspot.com/2021/04/apa-itu-marxisme-yang-diperbolehkan.html' title='Apa Itu Marxisme yang Diperbolehkan Menristekdikti untuk Dikaji?'/><author><name>Febriliano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06209999027745913103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgdX4nMRrsJcQlWxdGD6FeErWHM8h3RvTRTHhC9v4JNxmk75hK4Sz-Cy1DiCt2qXigHLaPyH9d17WxU7nA2d4XydJTJYTH2zL3TWgCGZ3tiIHcabSDpaapYRXwwrAJNxSk/s113-r/it&#39;s+me.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2180219956895463446.post-4536111774495657152</id><published>2021-03-20T12:27:00.001+07:00</published><updated>2021-03-20T12:27:14.115+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Agama"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Inspirasi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pengetahuan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sejarah"/><title type='text'>Pesan Kemanusiaan Paus Fransiskus di Timur-Tengah</title><content type='html'>&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jakarta - Paus Fransiskus Asisi melakukan kunjungan bersejarah ke Timur-Tengah dalam beberapa tahun terakhir. Semua kunjungannya mempunyai nilai historis, religius, bahkan humanis. Teranyar, Paus Fransiskus berkunjung ke Irak dan bertemu dengan Ayatullah Ali Sistani, Pimpinan Spiritual Tertinggi Syiah Irak yang bermukim di Najaf.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dua sosok itu menampilkan wajah agama yang substantif. Meskipun keduanya berasal dari dua agama dan keyakinan yang berbeda, tetapi keduanya berjumpa dalam satu titik, yaitu kemanusiaan. Mata airnya adalah Imam Ali bin Abi Thalib yang masyhur dengan ungkapan emasnya, &quot;Manusia itu ada dua macam. Ia bersaudara dalam satu agama yang sama atau ia bersaudara sesama manusia, ciptaan Tuhan.&quot;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jauh sebelum kunjungan bersejarah ini, pada 2017, Paus Fransiskus juga berkunjung ke Mesir berjumpa Imam Besar al-Azhar, Syaikh Ahmed al-Tayyeb. Kunjungan tersebut menandai kerjasama lintas iman yang diinisiasi al-Azhar dan Vatikan. Kedua poros institusi keagamaan terbesar di dunia ini telah mencapai titik mufakat, bahwa dialog merupakan jalan emas untuk membangun peradaban kemanusiaan.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kebhinnekaan dan perbedaan agama merupakan sebuah keniscayaan, sebagaimana dikonfirmasi dalam kitab-kitab suci, khususnya al-Quran dan Alkitab. Semua yang ada di muka bumi, khususnya agama-agama merupakan rahmat Tuhan kepada umat-Nya agar senantiasa memancarkan ajaran-Nya ke seantero dunia. Di dalam al-Quran disebutkan, jika Tuhan mau, maka tidak sulit bagi-Nya untuk menciptakan satu agama saja di muka bumi ini. Tetapi Tuhan telah menakdirkan kita semua meyakini agama dan keyakinan yang berbeda-beda (QS. Hud: 118).&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Setelah kunjungan ke al-Azhar, Paus Fransiskus Asisi dibalas dengan kunjungan serupa oleh Imam Besar al-Azhar, Syaikh Ahmed al-Tayyeb ke Vatikan dengan pesan utama agar umat agama-agama dapat menjadi faktor pencerahan umat dalam memerangi terorisme dan kekerasan yang kerap mengatasnamakan agama. Kedua sosok sentral dalam Islam dan Katolik itu berpelukan sebagai simbol persahabatan dan persaudaraan yang kokoh.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tidak hanya berhenti di situ saja, keduanya menandatangani Piagam Persaudaraan Umat Manusia se-Dunia yang saat ini terus dirayakan oleh kedua institusi tersebut di Abu Dhabi pada tahun 2019 lalu. Forum spektakuler itu dihadiri oleh 400 tokoh agama dari berbagai belahan dunia. Vatikan dan al-Azhar menyepakati pentingnya bahasa kemanusiaan menjadi instrumen untuk membangun kehidupan yang lebih damai di masa mendatang. Paus Fransiskus Asisi juga melakukan misa terbesar di Timur-Tengah.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Bulan lalu, kami para alumni al-Azhar di Indonesia merayakan Hari Piagam Persaudaraan Umat Manusia se-Dunia itu untuk menyalakan api persaudaraan di antara umat agama-agama agar hidup ini dipenuh dengan toleransi dan perdamaian. Kesepakatan antara Paus Fransiskus dan Imam Besar al-Azhar harus menjadi guidance dalam rangka membangun peradaban kemanusiaan di tengah ancaman konflik dan kekerasan atas nama agama.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Perhatian Paus Fransiskus terhadap kawasan Timur-Tengah bukan tanpa alasan. Sebab dalam beberapa dekade terakhir, Timur-Tengah yang dikenal sebagai tanah kelahiran para Nabi dan orang-orang suci itu selalu tidak pernah sepi dari perang, perpecahan, konflik, dan kekerasan, yang sedihnya kerap mengatasnamakan agama. Konflik tidak hanya terjadi di antara umat agama-agama, melainkan juga terjadi di antara umat seagama dan sesama warga bangsa. Lihat konflik di Yaman, Libya, dan Suriah. Semuanya merupakan tragedi kemanusiaan yang sulit dinalar, kenapa konflik itu terjadi menyejarah, bertahun-tahun tanpa solusi.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam konteks tersebut, Paus Fransiskus menggarisbawahi pentingnya kemanusiaan sebagai bahasa yang dapat menyadarkan sebagian besar umat agama-agama di Timur-Tengah. Sebab tidak ada kebaikan dalam konflik dan kekerasan. Timur-Tengah yang dikaruniai Tuhan dengan kekayaan melimpah, tetapi mereka tidak bisa menjamin tumbuh suburnya nilai-nilai kemanusiaan. Padahal mereka mempunyai agama dan Nabi yang sejak lama menyalakan obor perdamaian dan keadilan.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Istimewanya, Paus Fransiskus tidak hanya membangun dialog dengan al-Azhar yang dikenal sebagai benteng kaum Sunni. Ia juga melakukan dialog dengan Imam kaum Syiah dalam lawatannya yang terakhir. Secara implisit, Paus Fransiskus ingin membukakan hati kita, bahwa persaudaraan sejatinya dibangun kepada siapapun, tidak memandang kelompok, mazhab, dan keyakinannya. Kita harus adil sejak dalam pikiran dan hati nurani.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk yang mulia di muka bumi, karena kita berbeda dengan makhluk Tuhan lainnya yang tidak mempunyai akal budi. Kita mempunyai hati nurani yang bisa menjadi kompas untuk membedakan baik dan buruk, maslahat dan mudarat. Namun, sayang seribu sayang, kita kerap kali terjerumus dalam hubungan konflik dan kekerasan, karena fanatisme dan egoisme yang berlebihan, yang kemudian menjadikan kita seolah-olah harus bermusuh-musuhan secara permanen. Padahal kita semua bersaudara. Kita adalah manusia, yang dimuliakan Tuhan.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pesan kemanusiaan yang diinisiasi Paus Fransiskus dan disambut baik oleh kedua tokoh sentral Muslim, Imam Besar al-Azhar di Mesir, Syaikh Ahmed al-Tayyeb dan Imam Besar Syiah di Irak, Ayatullah Ali Sistani di Irak akan menjadi terobosan dan inspirasi dunia, bahwa kita mempunyai tanggungjawab sejarah dan tanggungjawab peradaban untuk mewarisi nilai-nilai kemanusiaan kepada siapapun. Yang mempertemukan dan mendekatkan kita semua dalam hakikat kita sebagai manusia, ciptaan Tuhan.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Tuhan menghendaki kita semua menjadi duta-duta toleransi dan perdamaian di mana pun kita berada dan hidup. Timur-Tengah dan dunia, termasuk kita di negeri ini harus kembali ke jalan yang benar, khitah kemanusiaan kita. Kita harus meninggalkan dan menanggalkan berbagai ambisi kekuasaan dan kerakusan hidup yang sudah menjadikan hidup ini menderita. Sejak lama, Timur-Tengah luluh lantak akibat konflik, perang, dan kekerasan. Saatnya Timur-Tengah menyambut seruan Paus Fransiskus bersama Imam Besar al-Azhar di Mesir dan Imam Besar Syiah di Irak untuk menyemai nilai-nilai kemanusiaan demi tegaknya peradaban kemanusiaan.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Zuhairi Misrawi cendekiawan muslim, kader NU, analis pemikiran dan politik Timur-Tengah di Middle East Institute Jakarta&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sumber : &lt;a href=&quot;https://news.detik.com/kolom/d-5499863/pesan-kemanusiaan-paus-fransiskus-di-timur-tengah?tag_from=wp_cb_kolom_list&amp;amp;_ga=2.263475020.1106044548.1616104626-2026839160.1600726822&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;detik.com&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;from http://febriliano.blogspot.com/&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://febriliano.blogspot.com/feeds/4536111774495657152/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/2180219956895463446/4536111774495657152' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default/4536111774495657152'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default/4536111774495657152'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://febriliano.blogspot.com/2021/03/pesan-kemanusiaan-paus-fransiskus-di.html' title='Pesan Kemanusiaan Paus Fransiskus di Timur-Tengah'/><author><name>Febriliano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06209999027745913103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgdX4nMRrsJcQlWxdGD6FeErWHM8h3RvTRTHhC9v4JNxmk75hK4Sz-Cy1DiCt2qXigHLaPyH9d17WxU7nA2d4XydJTJYTH2zL3TWgCGZ3tiIHcabSDpaapYRXwwrAJNxSk/s113-r/it&#39;s+me.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2180219956895463446.post-7137872717425416492</id><published>2021-02-28T05:51:00.006+07:00</published><updated>2021-02-28T05:53:12.828+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Inspirasi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pengetahuan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Psikologi"/><title type='text'>Dorothy Law Nolte: Anak Belajar Dari Kehidupannya</title><content type='html'>&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Artikel kali ini lebih ke arah pemahaman tentang Dorothy Law Nolte. Karyanya yang membahas tentang anak akan belajar dari apa yang mereka jalani. Mungkin untuk bisa mengerti artikel ini kita perlu menggunakan sisi perasaan kita, sekalipun kita sudah dewasa :)&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Silahkan simak tentang &lt;i&gt;Children Learn What They Live&lt;/i&gt;, karya Dorothy Law Nolte, Ph.D&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Children Learn What They Live&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;i&gt;If children live with criticism, they learn to condemn.&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;i&gt;If children live with hostility, they learn to fight.&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;i&gt;If children live with fear, they learn to be apprehensive.&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;i&gt;If children live with pity, they learn to feel sorry for themselves.&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;i&gt;If children live with ridicule, they learn to feel shy.&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;i&gt;If children live with jealousy, they learn to feel envy.&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;i&gt;If children live with shame, they learn to feel guilty.&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;i&gt;If children live with encouragement, they learn confidence.&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;i&gt;If children live with tolerance, they learn patience.&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;i&gt;If children live with praise, they learn appreciation.&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;i&gt;If children live with acceptance, they learn to love.&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;i&gt;If children live with approval, they learn to like themselves.&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;i&gt;If children live with recognition, they learn it is good to have a goal.&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;i&gt;If children live with sharing, they learn generosity.&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;i&gt;If children live with honesty, they learn truthfulness.&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;i&gt;If children live with fairness, they learn justice.&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;i&gt;If children live with kindness and consideration, they learn respect.&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;i&gt;If children live with security, they learn to have faith in themselves and in those about them.&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;i&gt;If children live with friendliness, they learn the world is a nice place in which to live.&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Terjemahan :&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Anak-anak Belajar dari Kehidupannya&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jika anak hidup dengan kecaman, mereka belajar untuk mengutuk&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jika anak hidup dengan permusuhan, mereka belajar untuk melawan&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jika anak hidup dengan ketakutan, mereka belajar untuk menjadi memprihatinkan&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jika anak-anak hidup dengan belas kasihan, mereka belajar untuk mengasihani diri sendiri&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jika anak hidup dengan ejekan, mereka belajar untuk merasa malu&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jika anak hidup dengan kecemburuan, mereka belajar untuk merasa iri&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jika anak hidup dengan rasa malu, mereka belajar untuk merasa bersalah&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jika anak hidup dengan dorongan, mereka belajar percaya diri&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jika anak-anak hidup dengan toleransi, mereka belajar kesabaran&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jika anak hidup dengan pujian, mereka belajar apresiasi&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jika anak-anak hidup dengan penerimaan, mereka belajar untuk mencintai&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jika anak hidup dengan persetujuan, mereka belajar untuk menyukai diri mereka sendiri&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jika anak-anak hidup dengan pengakuan, mereka belajar itu baik untuk memiliki tujuan&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jika anak hidup dengan berbagi, mereka belajar kemurahan hati&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jika anak hidup dengan kejujuran, mereka belajar kejujuran&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jika anak hidup dengan keadilan, mereka belajar keadilan&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jika anak-anak hidup dengan kebaikan dan pertimbangan, mereka belajar menghormati&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jika anak hidup dengan keamanan, mereka belajar untuk memiliki iman dalam diri mereka dan orang-orang tentang mereka&lt;/li&gt;&lt;li style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Jika anak-anak hidup dengan persahabatan, mereka belajar bahwa dunia adalah tempat yang bagus untuk hidup&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;Tentang Dorothy&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dorothy Law Nolte, Ph.D, penulis puisi pendidikan ini, adalah seorang pendidik dan ahli konseling keluarga. Nama aslinya adalah Dorothy Louise. Dalam kebudayaan Barat pada umumnya, bila seorang perempuan menikah maka ia akan menggunakan nama belakang dari nama keluarga sang suami.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Nah, dalam kasus Dorothy, Law adalah nama keluarga dari suami pertamanya, Durwood Law. Sementara itu, Nolte adalah nama keluarga dari suami kedua, Claude Nolte. Untuk ukuran Amerika, memakai nama keluarga milik suami pertama dan kedua sekaligus seperti ini sebenarnya kurang lazim. Tapi begitulah mungkin cara Dorothy mempertahankan kejelasan sejarah hidupnya.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Puisi tulisan Dorothy itu, setelah kemunculan pertamanya di koran pada tahun 1954, menjadi sangat terkenal dan direproduksi di mana-mana. Yang paling spektakuler adalah ketika salah satu divisi Abbott Laboratories, Inc., sebuah perusahaan multinasional, mencantumkan puisi itu (serta 10 macam terjemahannya untuk 10 negara tujuan pemasaran yang berbeda) di kemasan produk nutrisi bayi yang terdistribusikan di seluruh dunia tanpa memberi royalti apa-apa kepada penulisnya. Dorothy sendiri baru mengurus hak intelektual atas puisi itu tahun 1972 namun tetap mengizinkan Abbott untuk terus menggunakan puisi itu secara cuma-cuma.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam sejarahnya, puisi ini sempat direvisi dua kali oleh penulisnya. Pertama, pada awal tahun 1980-an, Dorothy mengubah pronomina tunggal menjadi jamak agar netral, karena bahasa Inggris termasuk bahasa yang berjender (membedakan nomina-pronomina feminin dan maskulin). Pada awalnya, nomina “anak” dan pronominanya dalam puisi ini berbentuk tunggal: “&lt;i&gt;If &lt;b&gt;a child&lt;/b&gt; lives with …, &lt;b&gt;he&lt;/b&gt; learns ….&lt;/i&gt;”&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Untuk menetralisir isu gender dalam puisi itu, kemudian digantilah pronomina untuk proposisi dasar puisi itu secara keseluruhan menjadi plural (jamak): “&lt;i&gt;If &lt;b&gt;children&lt;/b&gt; live with…,&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;they&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&amp;nbsp;learn… .&lt;/i&gt;”&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Perubahan kedua adalah dengan memecah baris tertentu yang terlalu panjang dan kompleks menjadi dua baris, serta menambahkan baris baru seiring perkembangan yang membawa situasi-situasi baru yang perlu direspons. Demikianlah, puisi yang awalnya terdiri dari 14 baris itu kini menjadi 19 baris.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pada tahun 1998 Dorothy menjabarkan puisi itu menjadi sebuah buku yang terdiri dari 19 bab (sesuai jumlah baris dalam puisi). Buku ini ditulis bersama Rachel Harris, dan diberi judul &lt;i&gt;Children Learn What They Live: parenting to inspire values&lt;/i&gt;, diterbitkan oleh Workman Publishing Company, New York. Buku ini diberi kata pengantar oleh penulis buku &lt;i&gt;Chicken Soup for the Soul&lt;/i&gt;, Jack Canfield, yang –menurut pengakuannya sendiri– ternyata sangat dipengaruhi oleh puisi Dorothy ini.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sebelum kepergiannya tahun 2005 pada usia 81 tahun, Dorothy Law Nolte telah sempat merampungkan buku yang kedua tentang pendidikan dan pengasuhan remaja, yang juga disusun berdasarkan pola buku pertama. Buku ini diberi judul &lt;i&gt;Teenagers Learn What They Live: parenting to inspire integrity and independence&lt;/i&gt;, terbit tahun 2002.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sumber : &lt;a href=&quot;http://dp3akb.jabarprov.go.id/dorothy-law-nolte-anak-belajar-dari-kehidupannya/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;DP3AKB Jabar&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;from http://febriliano.blogspot.com/&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://febriliano.blogspot.com/feeds/7137872717425416492/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/2180219956895463446/7137872717425416492' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default/7137872717425416492'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default/7137872717425416492'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://febriliano.blogspot.com/2021/02/dorothy-law-nolte-anak-belajar-dari.html' title='Dorothy Law Nolte: Anak Belajar Dari Kehidupannya'/><author><name>Febriliano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06209999027745913103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgdX4nMRrsJcQlWxdGD6FeErWHM8h3RvTRTHhC9v4JNxmk75hK4Sz-Cy1DiCt2qXigHLaPyH9d17WxU7nA2d4XydJTJYTH2zL3TWgCGZ3tiIHcabSDpaapYRXwwrAJNxSk/s113-r/it&#39;s+me.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2180219956895463446.post-5233635080772809677</id><published>2021-02-08T07:47:00.000+07:00</published><updated>2021-02-08T07:47:02.892+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Agama"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pengetahuan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Politik"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sejarah"/><title type='text'>Agama Itu Candu</title><content type='html'>&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&quot;&lt;i&gt;RELIGION is the opium for the people&lt;/i&gt;&quot;. Agama itu candu bagi masyarakat. Pendapat Karl Marx yang ditulis pada 1843 ini telah mengundang polemik, pro-kontra. Aslinya ditulis dalam bahasa Jerman: &lt;i&gt;Die Religion istdas Opium des Volkes&lt;/i&gt;. Jika tidak membaca teks aslinya dalam formatnya yang utuh, pembaca akan mudah salah paham, apakah sesungguhnya yang dia maksudkan dengan ungkapan itu.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam paragraf yang lebih utuh dituliskan: &lt;i&gt;Religion is the sigh of the oppressed culture, the heart of a heartless world, and the soul of soulless conditions. It is the opium of the people&lt;/i&gt;. Agama adalah desah hidup masyarakat dalam dunia yang tertindas, yang tak lagi punya jiwa.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam kondisi demikian, agama bagaikan candu yang bisa meringankan beban dan derita hidup. Ketika kebahagiaan hidup dalam dunia yang nyata sudah terampas, agama adalah hiburan dan pelarian terakhir.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam agama, seseorang menemukan harapan akan kebahagiaan dan keadilan yang datang dari Tuhan pada dunia spiritual, meskipun sangat bisa jadi semua itu merupakan imajinasi manusia. Menurut Marx, manusia menciptakan agama, bukannya agama menciptakan manusia.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Apakah Marx anti-Tuhan? Pertanyaan ini juga mengundang polemik. Yang pasti, dia sangat kritis dan sinis pada praktik keberagamaan yang dia amati di sekelilingnya.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Praktik keberagamaan masyarakat bukan menyelesaikan masalah riil yang menjadi sumber problem derita masyarakat dan negara, seperti problem politik dan ekonomi, melainkan mereka malah lari ke dunia spiritual untuk meringankan beban hidupnya. Maka itu, Marx mengatakan bahwa agama itu candu yang memberikan hiburan semu, yang sangat disenangi oleh mereka yang kalah dan putus asa dalam pertarungan duniawi. Mereka menyelesaikan masalah di tempat yang salah.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Salahkah Karl Marx dengan pendapatnya itu? Terserah masing-masing orang membangun argumen untuk menimbangnya. Untuk membuat penilaian, memang seseorang perlu membaca dan mendalami buku-buku yang ditulisnya agar lebih bijak dan tepat membuat penilaian.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Saat ini muncul kecenderungan orang lebih senang membaca dan percaya pada berita dan komentar di media sosial lebih singkat dan mudah ditelan, apa pun topik masalahnya. Termasuk paham keagamaan. Padahal, jika di sana ada lima ustaz atau kiai, bisa jadi ada lima pendapat tentang satu topik masalah yang diperdebatkan.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Misalnya masalah ucapan Natal bagi seorang muslim buat temannya yang beragama Kristen. Ada yang menyajikan argumen secara lengkap dan kritis, ada yang setuju dan menentang tanpa argumen kritis. Ada yang membolehkan, ada yang mengharamkan.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Catatan yang sering digarisbawahi pembaca terhadap Marx adalah sikap kritisnya terhadap peran agama bagi penyelesaian ekonomi yang dihadapi masyarakat. Dalam masyarakat, terdapat dua mazhab beragama.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Satu, mereka yang menekankan ritual dan keselamatan akhirat namun mengabaikan kebutuhan nyata dalam hidup sehari-hari, misalnya problem ekonomi dan lingkungan hidup. Kehidupan yang sejati dan mesti dikejar adalah kebahagiaan setelah mati, yang dijemput dengan memperbanyak ritual.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kenikmatan dunia ini hanyalah sesaat, jangan serius dikejar-kejar. Jangan tertipu kemilau dunia. Surga jauh lebih indah dan nyata dibanding kehidupan duniawi ini.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dua, praktik keberagamaan yang lebih menekankan ibadah sosial, yang berpandangan bahwa ibadah sosial porsi pahalanya lebih besar ketimbang ibadah ritual dengan rajin datang ke gereja atau di masjid. Bagi mazhab kedua ini, misi agama itu untuk membantu dan membahagiakan sesama manusia di muka bumi ini.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pandangan ini yang mengilhami Max Weber menulis karya monumentalnya, &lt;i&gt;Protestan Ethic and the Spirit of Capitalism&lt;/i&gt; (1905). Salah satu poinnya yang penting adalah mereka percaya bahwa Tuhan lebih mencintai orang beriman yang mau bekerja keras, menciptakan kemakmuran bagi masyarakat, namun mereka tetap menjalani hidup hemat.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Iman pada Tuhan, kerja keras, dan hidup hemat merupakan kekuatan jiwa yang mendorong tumbuhnya masyarakat kapitalis awal yang menciptakan kemakmuran di Eropa, terutama pada negara-negara dengan mayoritas pemeluk Protestan.&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&amp;nbsp;Komaruddin Hidayat&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sumber :&lt;a href=&quot;https://nasional.sindonews.com/berita/1475053/18/agama-itu-candu&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;sindonews.com&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;20 Desember 2019&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;from http://febriliano.blogspot.com/&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://febriliano.blogspot.com/feeds/5233635080772809677/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/2180219956895463446/5233635080772809677' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default/5233635080772809677'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default/5233635080772809677'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://febriliano.blogspot.com/2021/02/agama-itu-candu.html' title='Agama Itu Candu'/><author><name>Febriliano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06209999027745913103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgdX4nMRrsJcQlWxdGD6FeErWHM8h3RvTRTHhC9v4JNxmk75hK4Sz-Cy1DiCt2qXigHLaPyH9d17WxU7nA2d4XydJTJYTH2zL3TWgCGZ3tiIHcabSDpaapYRXwwrAJNxSk/s113-r/it&#39;s+me.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2180219956895463446.post-5890426854367834345</id><published>2020-07-22T00:00:00.003+07:00</published><updated>2021-07-13T17:21:53.660+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Covid19"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pengetahuan"/><title type='text'> Tes COVID19 PCR Secara Ilmiah Tidak Berarti</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Sampai sekarang masih ada perdebatan mengenai seberapa akurat PCR untuk mendeteksi SARS-CoV-2. Dalam suatu &lt;a href=&quot;https://febriliano.blogspot.com/2020/07/rahasia-kedokteran-yang-luput-dari.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;artikel&lt;/a&gt; yang ditulis&amp;nbsp;Prof. Wimpie Pangkahila dikatakan ilmu kedokteran adalah&amp;nbsp;Evidence-Based Medicine (EBM).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;

&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Saya mencoba menterjemahkan artikel yang&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;dipulikasikan &lt;/span&gt;&lt;b&gt;OffGuardian&lt;/b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;. Beberapa istilah mungkin salah terjemahannya karena saya bukanlah ahli yang sehari-hari berurusan dengan dunia penelitian virus.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;O ya, mungkin tulisan ini bisa menjadi acuan sebagai &#39;pendapat kedua&#39; dari semua perdebatan&amp;nbsp; yang selama ini didapat. Tapi tenang saja, k&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;alau kita berbeda pendapat, saya tidak akan menyodori Anda Surat Persetujuan apa pun apalagi Surat Kesanggupan membayar sejumlah biaya tertentu.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;i&gt;Artikel asli ini dipublikasikan 27 Juni 2020. Jadi, saat Anda membaca mungkin sudah ada perkembangan terbaru. J&lt;/i&gt;&lt;i&gt;ika hal itu ada, s&lt;/i&gt;&lt;i&gt;ilakan menginformasikan kepada saya sehingga tulisan ini bisa diperbaharui.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;i&gt;Akhir kata kami sudah berusaha, tapi Tuhan yang menentukan...&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: inherit; font-size: medium;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;courier new&amp;quot; , &amp;quot;courier&amp;quot; , monospace; font-size: large;&quot;&gt;Meskipun seluruh dunia bergantung pada RT-PCR untuk &quot;mendiagnosis&quot; infeksi Sars-Cov-2, Secara ilmu pengetahuan jelas bahwa mereka tidak cocok untuk tujuan tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;courier new&amp;quot; , &amp;quot;courier&amp;quot; , monospace;&quot;&gt;&lt;b&gt;-Torsten Engelbrecht dan Konstantin Demeter -&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;Lockdown&lt;/i&gt; dan tindakan higienis di seluruh dunia didasarkan pada jumlah kasus dan tingkat kematian yang ditunjukkan oleh apa yang disebut tes RTS-PCR SARS-CoV-2, yang digunakan untuk mengidentifikasi pasien &quot;positif&quot;, di mana &quot;positif&quot; biasanya disamakan dengan &quot;terinfeksi.&quot;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tetapi ketika melihat dari dekat semua fakta yang ada, kesimpulannya adalah bahwa tes PCR ini bukanlah (&lt;i&gt;meaningless&lt;/i&gt;) sebagai alat diagnostik untuk menentukan dugaan infeksi oleh virus yang diduga baru bernama SARS-CoV-2.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Mantra Tes, Tes, Tes Yang Tidak Ditemukan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada &lt;a href=&quot;https://www.who.int/dg/speeches/detail/who-director-general-s-opening-remarks-at-the-media-briefing-on-covid-19---16-march-2020&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;jumpa pers tentang COVID-19&lt;/a&gt; pada 16 Maret 2020, Direktur Jenderal WHO Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, &quot;Kami memiliki pesan sederhana untuk semua negara: tes, tes, tes.&quot;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pesan itu menyebar melalui berita utama di seluruh dunia, misalnya oleh &lt;a href=&quot;https://www.reuters.com/article/us-healthcare-coronavirus-who/test-test-test-who-chiefs-coronavirus-message-to-world-idUSKBN2132S4&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Reuters&lt;/a&gt; dan &lt;a href=&quot;https://www.bbc.com/news/av/world-51916707/who-head-our-key-message-is-test-test-test&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;BBC&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Masih pada tanggal 3 Mei, moderator jurnal kesehatan - salah satu majalah berita paling penting di televisi Jerman - menyampaikan mantra dogma korona kepada para pendengarnya dengan kata-kata peringatan, &quot;Tes, tes, tes — itulah kredo saat ini, dan itu adalah satu-satunya cara untuk benar-benar memahami seberapa banyak virus korona menyebar.&quot;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ini menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap validitas tes PCR begitu kuat sehingga sama dengan agama yang tidak mentolerir adanya kontradiksi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tetapi diketahui bersama bahwa agama adalah tentang iman dan bukan tentang fakta ilmiah. Dan seperti Walter Lippmann, pemenang Hadiah Pulitzer dua kali dan &lt;a href=&quot;https://www.foreignaffairs.com/reviews/review-essay/walter-lippmann-and-american-century&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;mungkin jurnalis paling berpengaruh abad ke-20&lt;/a&gt; mengatakan, &quot;&lt;a href=&quot;https://books.google.de/books?id=cyFMAAAAMAAJ&amp;amp;q=%22Where+all+think+alike+no+one+thinks+very+much%22&amp;amp;pg=PA51&amp;amp;redir_esc=y&amp;amp;hl=de#v=onepage&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Di mana semua berpikir sama, tidak ada yang berpikir lebih.&lt;/a&gt;&quot;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Jadi untuk memulai, sangat luar biasa bahwa Kary Mullis, penemu teknologi Polymerase Chain Reaction (PCR), tidak berpikir sama. Penemuannya memberinya hadiah Nobel dalam bidang kimia pada tahun 1993.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sayangnya, Mullis meninggal tahun lalu pada usia 74 tahun, tetapi tidak ada keraguan bahwa ahli biokimia menganggap &lt;a href=&quot;https://uncoverdc.com/2020/04/07/was-the-covid-19-test-meant-to-detect-a-virus/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;PCR sebagai tidak tepat untuk mendeteksi infeksi virus&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Alasan penggunaan PCR adalah menerapkannya sebagai teknik pembuatan yang mampu mereplikasi urutan DNA jutaan dan milyaran kali, dan bukan sebagai alat diagnostik untuk mendeteksi virus.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Bagaimana menyatakan pandemi virus berdasarkan tes PCR dapat berakhir dengan bencana dijelaskan oleh Gina Kolata dalam artikelnya di New York Times 2007, &lt;a href=&quot;http://febriliano.blogspot.com/2021/07/keyakinan-pada-tes-cepat-quick-test.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Faith in Quick Test Leads to Epidemic That Wasn’t&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Kurangnya Standar Emas Yang Valid (&lt;i&gt;Valid Gold Standard&lt;/i&gt;)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Selain itu, perlu disebutkan bahwa tes PCR yang digunakan untuk mengidentifikasi pasien COVID-19 yang mungkin terinfeksi oleh SARS-CoV-2 tidak memiliki standar emas yang valid sebagai pembanding.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ini adalah poin mendasar. Tes perlu dievaluasi untuk menentukan ketepatannya - dengan tegas mengatakan &quot;sensitivitas&quot; [&lt;a href=&quot;https://febriliano.blogspot.com/2020/07/tes-covid19-pcr-secara-ilmiah-tidak.html#1&quot;&gt;1&lt;/a&gt;] dan &quot;kekhususan&quot; - dengan membandingkannya dengan &quot;standar emas,&quot; yang berarti metode paling akurat yang tersedia.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sebagai contoh, untuk tes kehamilan standar emasnya adalah kehamilan itu sendiri. Tetapi spesialis penyakit menular Australia Sanjaya Senanayake, misalnya, menyatakan dalam sebuah wawancara TV ABC dalam jawaban atas pertanyaan &quot;Seberapa akurat pengujian COVID-19?&quot;:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&quot;Jika kami memiliki tes baru untuk mengambil staph emas [bakteri] dalam darah, kami sudah mendapatkan kultur darah, itulah standar emas kami yang telah kami gunakan selama beberapa dekade, dan kami dapat mencocokkan tes baru ini dengan itu. Tetapi untuk COVID-19, kami tidak memiliki tes standar emas.&quot;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Jessica C. Watson dari Universitas Bristol membenarkan hal ini. Dalam makalahnya &lt;i&gt;“&lt;a href=&quot;https://www.bmj.com/content/369/bmj.m1808&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Interpreting a COVID-19 test result&lt;/a&gt;”&lt;/i&gt;, yang diterbitkan baru-baru ini di &lt;i&gt;The British Medical Journal&lt;/i&gt;, ia menulis bahwa ada &quot;kurangnya standar emas yang jelas untuk pengujian COVID-19.&quot;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tetapi alih-alih mengklasifikasikan tes sebagai tidak cocok untuk deteksi SARS-CoV-2 dan diagnosis COVID-19, atau alih-alih menunjukkan bahwa hanya virus, yang dibuktikan melalui isolasi dan pemurnian, dapat menjadi standar emas, Watson mengklaim bahwa, &quot;Secara pragmatis&quot; diagnosis COVID-19 itu sendiri, sangat termasuk pengujian PCR itu sendiri, &quot;mungkin merupakan &#39;standar emas&#39; terbaik yang tersedia.&quot; Tapi ini tidak masuk akal secara ilmiah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terlepas dari kenyataan bahwa tidak masuk akal untuk mengambil tes PCR itu sendiri sebagai bagian dari standar emas untuk mengevaluasi tes PCR, tidak ada gejala khusus yang khas untuk COVID-19, karena bahkan orang-orang seperti Thomas Löscher, mantan kepala Departemen Infeksi dan Kedokteran Tropis di Universitas Munich dan anggota Asosiasi Federal Internis Jerman, mengakui kepada kami [&lt;a href=&quot;https://febriliano.blogspot.com/2020/07/tes-covid19-pcr-secara-ilmiah-tidak.html#2&quot;&gt;2&lt;/a&gt;].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan jika tidak ada gejala khusus yang khas untuk COVID-19, diagnosis COVID-19 - bertentangan dengan pernyataan Watson - tidak dapat digunakan sebagai standar emas yang valid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu, &quot;para ahli&quot; seperti Watson mengabaikan fakta bahwa hanya isolasi virus, yaitu bukti virus yang nyata, yang dapat menjadi standar utama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah mengapa saya bertanya kepada Watson bagaimana mungkin diagnosis COVID-19 &quot; merupakan standar emas terbaik yang tersedia,&quot; jika tidak ada gejala khusus yang khas untuk COVID-19, dan juga apakah virus itu sendiri, yaitu isolasi virus, tidak akan menjadi standar emas terbaik yang mungkin tersedia. Tetapi dia belum menjawab pertanyaan ini - meskipun ada banyak permintaan. Dan dia belum menanggapi postingan kami di artikelnya di mana kami membahas poin yang sama persis, meskipun &lt;a href=&quot;https://www.bmj.com/content/369/bmj.m1808/rr-15&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;dia menulis kami pada 2 Juni&lt;/a&gt;: “Saya akan mencoba mengirim balasan akhir minggu ini ketika saya memiliki kesempatan. ”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Tidak Ada Bukti Untuk RNA yang menjadi Asal Virus&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang pertanyaannya adalah apa yang diperlukan pertama kali untuk bukti / isolasi virus? Kita perlu tahu dari mana RNA dari tes PCR dikalibrasi berasal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai buku teks (misalnya, White / Fenner. Medical Virology, 1986, hal. 9) serta peneliti virus terkemuka seperti &lt;a href=&quot;http://www.torstenengelbrecht.com/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Luc Montagnier atau Dominic Dwyer&lt;/a&gt; menyatakan, pemurnian partikel - yaitu pemisahan suatu objek dari segala sesuatu yang bukan objek, seperti misalnya penerima Nobel Marie Curie memurnikan 100 mg radium klorida pada tahun 1898 dengan mengekstraksinya dari berton-ton bijinya - adalah prasyarat penting untuk membuktikan keberadaan virus, dan dengan demikian membuktikan bahwa RNA dari partikel yang dimaksud berasal dari virus baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alasannya adalah karena PCR sangat sensitif, yang berarti dapat mendeteksi potongan DNA atau RNA terkecil - tetapi tidak dapat menentukan dari mana partikel-partikel ini berasal. Itu harus ditentukan sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan karena tes PCR dikalibrasi untuk urutan gen (dalam hal ini urutan RNA karena SARS-CoV-2 diyakini sebagai virus RNA), kita harus tahu bahwa cuplikan gen ini adalah bagian dari virus yang dicari. Dan untuk mengetahui hal itu, isolasi dan pemurnian yang benar dari virus yang dicurigai harus dijalankan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, kami telah meminta tim sains, pembuat makalah relevan yang dirujuk dalam konteks SARS-CoV-2, bukti apakah bidikan mikroskopis-elektron yang digambarkan dalam eksperimen vitro mereka menunjukkan virus yang dimurnikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi tidak ada satu tim pun yang bisa menjawab pertanyaan itu dengan “ya” - dan sebagai catatan, tidak ada yang mengatakan pemurnian bukanlah langkah yang perlu. Kami hanya mendapat jawaban seperti ini. &quot;Tidak, kami tidak mendapatkan mikrograf elektron yang menunjukkan tingkat pemurnian&quot; (lihat di bawah).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami bertanya kepada beberapa penulis penelitian, &quot;Apakah mikrograf elektron Anda menunjukkan virus yang dimurnikan?&quot;, Mereka memberikan tanggapan berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Penelitian 1&lt;/b&gt;: Leo L. M. Poon; Malik Peiris. “Emergence of a novel human coronavirus threatening human health” Nature Medicine, Maret 2020&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Penulis yang Membalas&lt;/b&gt;: Malik Peiris&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Tanggal&lt;/b&gt;: 12 Mei 2020&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Jawaban&lt;/b&gt;: “Gambarnya adalah virus yang tumbuh dari sel yang terinfeksi. Itu bukan virus yang dimurnikan. ”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Penelitian 2&lt;/b&gt;: Myung-Guk Han dkk. “Identification of Coronavirus Isolated from a Patient in Korea with COVID-19”, Osong Public Health and Research Perspectives, Februari 2020&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Penulis yang Membalas&lt;/b&gt;: Myung-Guk Han&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Tanggal&lt;/b&gt;: 6 Mei 2020&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Jawaban&lt;/b&gt;: &quot;Kami tidak dapat memperkirakan tingkat pemurnian karena kami tidak memurnikan dan memusatkan virus yang dikultur dalam sel.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Penelitian 3&lt;/b&gt;: Wan Beom Park dkk. “Virus Isolation from the First Patient with SARS-CoV-2 in Korea”, Journal of Korean Medical Science, 24 Februari 2020&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Penulis yang Membalas&lt;/b&gt;: Wan Beom Park&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Tanggal&lt;/b&gt;: 19 Maret 2020&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Jawaban&lt;/b&gt;: &quot;Kami tidak mendapatkan mikrograf elektron yang menunjukkan tingkat pemurnian.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Penelitian 4&lt;/b&gt;: Na Zhu dkk., “A Novel Coronavirus from Patients with Pneumonia in China”, 2019, New England Journal of Medicine, 20 Februari 2020&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Penulis yang Membalas&lt;/b&gt;: Wenjie Tan&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Tanggal&lt;/b&gt;: 18&amp;nbsp; Maret 2020&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Jawaban&lt;/b&gt;: “&quot;[Kami menunjukkan] gambar partikel virus yang terendapkan, bukan yang dimurnikan.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengenai makalah yang disebutkan, jelas bahwa apa yang ditampilkan dalam Mikrograf Elektron (EM) adalah hasil akhir dari percobaan, yang berarti tidak ada hasil lain bahwa EM didapat dari mana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, jika penulis studi ini mengakui bahwa EM yang dipublikasikan tidak menunjukkan partikel yang dimurnikan, maka mereka pasti tidak memiliki partikel yang dimurnikan yang diklaim sebagai virus. (Dalam konteks ini, harus dikatakan bahwa beberapa peneliti menggunakan istilah &quot;isolasi&quot; dalam makalah mereka, tetapi prosedur yang dijelaskan di sini tidak mewakili proses isolasi (pemurnian) yang tepat. Akibatnya, dalam konteks ini istilah &quot;isolasi&quot; adalah disalahgunakan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian, penulis dari empat makalah utama, makalah awal 2020 mengklaim penemuan coronavirus baru mengakui mereka tidak memiliki bukti bahwa asal genom virus adalah partikel seperti virus atau puing seluler, murni atau tidak murni, atau partikel dalam bentuk apa pun. Dengan kata lain, keberadaan RNA SARS-CoV-2 didasarkan pada keyakinan, bukan fakta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami juga telah menghubungi Dr Charles Calisher, yang merupakan ahli virus berpengalaman. Pada tahun 2001, &lt;i&gt;Science&lt;/i&gt; menerbitkan &lt;i&gt;“impassioned plea…to the younger generation”&lt;/i&gt; dari beberapa ahli virologi veteran, di antara mereka Calisher, mengatakan bahwa :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[metode pendeteksian virus modern seperti] PCR [...] tidak banyak memberi tahu atau tidak sama sekali tentang bagaimana virus berkembang biak, hewan mana yang membawanya, [atau] bagaimana itu membuat orang sakit. [Ini] seperti mencoba mengatakan apakah seseorang memiliki bau mulut dengan melihat sidik jarinya. ”[&lt;a href=&quot;https://febriliano.blogspot.com/2020/07/tes-covid19-pcr-secara-ilmiah-tidak.html#3&quot;&gt;3&lt;/a&gt;]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan itulah mengapa kami bertanya kepada Dr. Calisher apakah dia tahu satu makalah di mana SARS-CoV-2 telah diisolasi dan akhirnya benar-benar dimurnikan. Jawabannya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya tahu tidak ada publikasi seperti itu. Saya telah mengawasi satu hal. ”[&lt;a href=&quot;https://febriliano.blogspot.com/2020/07/tes-covid19-pcr-secara-ilmiah-tidak.html#4&quot;&gt;4&lt;/a&gt;]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sebenarnya berarti bahwa tidak seseorang pun dapat menyimpulkan bahwa urutan gen RNA, yang diambil oleh para ilmuwan dari sampel jaringan yang disiapkan dalam percobaan vitro yang disebutkan dan untuk mana tes PCR akhirnya &quot;dikalibrasi,&quot; adalah milik virus tertentu - dalam kasus ini SARS-CoV-2.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Selain itu, tidak ada bukti ilmiah bahwa urutan RNA tersebut adalah agen penyebab dari apa yang disebut COVID-19.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk membangun hubungan sebab akibat, satu atau lain cara, yaitu di luar isolasi dan pemurnian virus, akan sangat diperlukan untuk melakukan percobaan yang memuaskan keempat dalil Koch. Tetapi tidak ada eksperimen seperti itu, seperti yang baru-baru ini diungkapkan &lt;a href=&quot;https://off-guardian.org/2020/06/09/scientists-have-utterly-failed-to-prove-that-the-coronavirus-fulfills-kochs-postulates/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Amory Devereux dan Rosemary Frei untuk OffGuardian&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlunya memenuhi dalil-dalil ini mengenai SARS-CoV-2 paling tidak ditunjukkan oleh fakta bahwa telah ada upaya dilakukan untuk memenuhinya. Tetapi meskipun para peneliti mengklaim bahwa mereka telah melakukannya, pada kenyataannya, tidak berhasil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu contohnya adalah penelitian yang diterbitkan di &lt;a href=&quot;https://www.nature.com/articles/s41586-020-2312-y_reference.pdf&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Nature pada 7 Mei&lt;/a&gt;. Percobaan ini, selain prosedur lain yang membuat penelitian tidak valid, bahkan tidak memenuhi dalil apa pun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misalnya, tikus percobaan yang “terinfeksi” &lt;b&gt;tidak menunjukkan gejala klinis yang relevan&lt;/b&gt; yang jelas disebabkan oleh pneumonia, yang menurut dalil ketiga harus benar-benar terjadi jika virus yang berbahaya dan berpotensi mematikan benar-benar bekerja di sana. Dan bulu sedikit dan penurunan berat badan, yang diamati sementara pada hewan diabaikan, tidak hanya karena mereka bisa disebabkan oleh prosedur itu sendiri, tetapi juga karena berat kembali normal lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Juga, &lt;b&gt;tidak ada hewan yang mati kecuali yang mereka dibunuh untuk melakukan otopsi&lt;/b&gt;. Dan jangan lupa: Eksperimen ini seharusnya dilakukan sebelum mengembangkan tes, yang bukan itu masalahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terungkap, tidak satupun dari perwakilan teori terkemuka Jerman tentang teori resmi tentang SARS-Cov-2 / COVID-19 - Robert Koch-Institute (RKI), Alexander S. Kekulé (Universitas Halle), Hartmut Hengel dan Ralf Bartenschlager (Masyarakat Jerman) untuk Virologi), Thomas Löscher yang disebutkan di atas, Ulrich Dirnagl (Charité Berlin) atau Georg Bornkamm (ahli virologi dan profesor emeritus di Helmholtz-Zentrum Munich) - dapat menjawab pertanyaan berikut yang telah saya kirimkan kepada mereka, &quot;Jika partikel yang diklaim sebagai SARS-CoV-2 belum dimurnikan, bagaimana Anda ingin memastikan bahwa urutan gen RNA dari partikel-partikel ini milik virus baru?&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terutama, jika ada penelitian yang menunjukkan bahwa zat seperti antibiotik yang ditambahkan ke tabung uji dalam percobaan in vitro yang dilakukan untuk deteksi virus dapat &quot;menekankan&quot; kultur sel dengan cara urutan gen baru sedang dibentuk yang &lt;a href=&quot;https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5557920/pdf/41598_2017_Article_8392.pdf&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;sebelumnya tidak terbentuk&lt;/a&gt;.- sebuah aspek yang sudah menjadi perhatian peraih Nobel Barbara McClintock dalam &lt;a href=&quot;https://www.nobelprize.org/uploads/2018/06/mcclintock-lecture.pdf&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;kuliah Nobelnya tahun 1983&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seharusnya tidak disebutkan bahwa kita akhirnya mendapatkan Charite - majikan Christian Drosten, virologis paling berpengaruh Jerman sehubungan dengan COVID-19, penasihat pemerintah Jerman dan co-developer tes PCR yang merupakan yang pertama &quot;diterima&quot; ”(&lt;a href=&quot;https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/technical-guidance/laboratory-guidance&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Tidak divalidasi!&lt;/a&gt;) oleh WHO di seluruh dunia - untuk menjawab pertanyaan tentang topik tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi kami tidak mendapatkan jawaban sampai 18 Juni 2020, setelah berbulan-bulan tidak menanggapi. Pada akhirnya, kami mencapainya hanya dengan bantuan pengacara Berlin Viviane Fischer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengenai pertanyaan kami, “Apakah Charité meyakinkan dirinya sendiri bahwa pemurnian partikel yang tepat telah dilakukan?,” Charite mengakui bahwa mereka tidak menggunakan partikel yang dimurnikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan meskipun mereka mengklaim &quot;&lt;i&gt;ahli virus di Charite yakin bahwa mereka sedang menguji virus&lt;/i&gt;,&quot; dalam makalah mereka (&lt;a href=&quot;https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6988269/pdf/eurosurv-25-3-5.pdf&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Corman dkk.&lt;/a&gt;) mereka menyatakan, &quot;RNA diekstraksi dari sampel klinis dengan sistem MagNA Pure 96 (Roche, Penzberg, Jerman) dan dari supernatan kultur sel dengan virus RNA mini (QIAGEN, Hilden, Germany), &quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini berarti mereka hanya mengasumsikan RNA itu adalah virus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebetulan, makalah Corman dkk, yang diterbitkan pada tanggal 23 Januari 2020 bahkan t&lt;b&gt;idak melalui proses peer review yang tepat&lt;/b&gt;, juga tidak ada prosedur yang diuraikan di dalamnya disertai dengan kontrol - meskipun hanya melalui dua hal inilah karya ilmiah menjadi sangat solid&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Hasil Tes Tidak Rasional&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Juga dapat dipastikan bahwa kita tidak dapat mengetahui tingkat positif palsu dari tes PCR tanpa pengujian luas terhadap orang-orang yang tentu saja tidak memiliki virus, dibuktikan dengan metode yang tidak tergantung pada tes tersebut (memiliki standar emas).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa ada beberapa makalah yang menggambarkan hasil tes tidak rasional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai contoh, sudah pada bulan Februari otoritas kesehatan di provinsi Guangdong di Cina melaporkan bahwa orang telah sepenuhnya pulih dari penyakit yang disebabkan COVID-19, mulai menguji &quot;negatif,&quot; dan kemudian&amp;nbsp;&lt;a href=&quot;https://www.zmescience.com/science/a-startling-number-of-coronavirus-patients-get-reinfected&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;diuji &quot;positif&quot; lagi&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebulan kemudian, sebuah makalah yang diterbitkan dalam &lt;i&gt;Journal of Medical Virology &lt;/i&gt;menunjukkan bahwa 29 dari 610 pasien di sebuah rumah sakit di Wuhan memiliki 3 hingga 6 hasil tes yang berganti ganti antara &lt;a href=&quot;https://onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1002/jmv.25786&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&quot;negatif&quot;, &quot;positif&quot; dan &quot;meragukan&quot;&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Contoh ketiga adalah penelitian dari Singapura di mana tes dilakukan hampir setiap hari pada 18 pasien dan mayoritas beralih dari &quot;positif&quot; menjadi &quot;negatif&quot; menjadi &quot;positif&quot; setidaknya sekali, dan hingga &lt;a href=&quot;https://jamanetwork.com/journals/jama/fullarticle/2762688&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;lima kali pada satu pasien&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan Wang Chen, presiden Akademi Ilmu Kedokteran Tiongkok, mengakui pada bulan Februari bahwa tes PCR &quot;&lt;a href=&quot;https://www.scmp.com/tech/science-research/article/3049858/race-diagnose-treat-coronavirus-patients-constrained-shortage&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;hanya 30 hingga 50 persen akurat&lt;/a&gt;&quot;; Sementara Sin Hang Lee dari &lt;i&gt;Milford Molecular Diagnostics Laboratory&lt;/i&gt; mengirim &lt;a href=&quot;https://childrenshealthdefense.org/wp-content/uploads/04-30-20-Letter-to-WHO-and-Dr.-Fauci.pdf&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;surat ke tim tanggapan corona virus WHO&lt;/a&gt;&amp;nbsp;dan kepada Anthony S. Fauci pada 22 Maret 2020, mengatakan bahwa, &lt;b&gt;&quot;Telah dilaporkan secara luas di media sosial bahwa kit uji RT-qPCR [Reverse Transcriptase kuantitatif PCR] yang digunakan untuk mendeteksi SARSCoV-2 RNA dalam spesimen manusia menghasilkan banyak hasil positif palsu dan tidak cukup sensitif untuk mendeteksi beberapa kasus positif nyata.”&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, bahkan jika secara teori kita berasumsi bahwa tes PCR ini benar-benar dapat mendeteksi infeksi virus, tes tersebut praktis tidak berharga, dan hanya akan menyebabkan ketakutan yang tidak berdasar di antara orang-orang “positif” yang dites.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini menjadi juga jelas mengingat nilai prediktif positif (PPV).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PPV menunjukkan kemungkinan bahwa seseorang dengan hasil tes positif benar-benar &quot;positif&quot; (mis. memiliki virus yang diduga), dan itu tergantung pada dua faktor: prevalensi virus dalam populasi umum dan spesifisitas tes, yaitu persentase orang tanpa penyakit yang tesnya benar &quot;negatif&quot; (tes dengan spesifisitas 95% salah memberikan hasil positif pada 5 dari 100 orang yang tidak terinfeksi).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan spesifisitas yang sama, semakin tinggi prevalensi, semakin tinggi PPV.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam konteks ini, pada 12 Juni 2020, jurnal Deutsches Ärzteblatt menerbitkan sebuah artikel di mana PPV telah dihitung dengan &lt;a href=&quot;https://www.aerzteblatt.de/archiv/214370/PCR-Tests-auf-SARS-CoV-2-Ergebnisse-richtig-interpretieren&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;tiga skenario prevalensi yang berbeda&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hasilnya tentu saja harus dilihat dengan sangat kritis, pertama karena tidak mungkin untuk menghitung spesifisitas tanpa standar emas, sebagaimana diuraikan, dan kedua karena perhitungan dalam artikel didasarkan pada spesifisitas yang ditentukan dalam penelitian oleh Jessica Watson, yang berpotensi tidak berharga, seperti disebutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi jika Anda abstrak dari itu, dengan asumsi bahwa spesifisitas yang mendasari 95% adalah benar dan bahwa kita mengetahui prevalensinya, bahkan jurnal medis arus utama Deutsches Ärzteblatt melaporkan bahwa apa yang disebut tes SARS-CoV-2 RT-PCR mungkin memiliki “PPV sangat rendah ”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam salah satu dari tiga skenario, menghitung dengan asumsi prevalensi 3%, PPV hanya 30 persen, yang berarti bahwa &lt;b&gt;70 persen orang yang diuji &quot;positif&quot; sama sekali tidak &quot;positif&quot;&lt;/b&gt;. Namun &quot;mereka ditentukan karantina,&quot; seperti yang dicatat Ärzteblatt.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam skenario kedua artikel jurnal, prevalensi tingkat 20 persen diasumsikan. Dalam hal ini mereka menghasilkan PPV 78 persen, artinya &lt;b&gt;22 persen dari tes &quot;positif&quot; adalah &quot;positif&quot; palsu&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu berarti jika kita mengambil sekitar 9 juta orang yang saat ini dianggap &quot;positif&quot; di seluruh dunia - seandainya &quot;positif&quot; benar-benar memiliki infeksi virus - kita akan mendapatkan hampir 2 juta &quot;positif&quot; palsu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua ini sesuai dengan fakta bahwa CDC dan FDA, misalnya, mengakui dalam file mereka bahwa apa yang disebut &quot;tes RTS-PCR-2 RTS-PCR&quot; tidak cocok untuk diagnosis SARS-CoV-2.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam file &amp;nbsp;“&lt;i&gt;&lt;a href=&quot;https://www.fda.gov/media/134922/download&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;CDC 2019-Novel Coronavirus (2019-nCoV) Real-Time RT-PCR Diagnostic Panel&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;“ tanggal 30 Maret 2020, misalnya, dikatakan &quot;Deteksi virus RNA mungkin tidak mengindikasikan keberadaan virus menular atau bahwa 2019-nCoV adalah penyebab gejala klinis ” dan &quot;Tes ini tidak dapat mengesampingkan penyakit yang disebabkan oleh bakteri atau virus patogen lainnya. &quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan FDA m&lt;a href=&quot;https://www.fda.gov/media/136151/download&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;engakui&lt;/a&gt; bahwa &quot;hasil positif [...] tidak mengesampingkan infeksi bakteri atau koinfeksi dengan virus lain. Agen yang terdeteksi mungkin bukan penyebab penyakit yang pasti. &quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hebatnya, dalam manual instruksi tes PCR kita juga dapat membaca bahwa tes tersebut tidak dimaksudkan sebagai tes diagnostik, seperti misalnya pada tes yang dilakukan oleh &lt;a href=&quot;https://altona-diagnostics.com/files/public/Content%20Homepage/-%2002%20RealStar/INS%20-%20RUO%20-%20EN/RealStar%20SARS-CoV-2%20RT-PCR%20Kit%201.0_WEB_RUO_EN-S02.pdf&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Altona Diagnostics&lt;/a&gt; and Creative Diagnostics [&lt;a href=&quot;https://febriliano.blogspot.com/2020/07/tes-covid19-pcr-secara-ilmiah-tidak.html#5&quot;&gt;5&lt;/a&gt;].&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengutip satu sama lain, dalam pengumuman produk LightMix Modular Assays yang diproduksi oleh TIB Molbiol - yang dikembangkan menggunakan protokol Corman dkk - dan &lt;a href=&quot;http://technical-support.roche.com/_layouts/net.pid/Download.aspx?documentID=1cca7ff9-388a-ea11-fa90-005056a772fd&amp;amp;fileName=TP00886v2&amp;amp;extension=pdf&amp;amp;mimeType=application%2Fpdf&amp;amp;inline=False&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;didistribusikan oleh Roche&lt;/a&gt; kita dapat membaca &lt;b&gt;&quot;Tes ini tidak dimaksudkan untuk digunakan sebagai bantuan dalam diagnosis infeksi coronavirus ”&lt;/b&gt;dan&amp;nbsp;&lt;b&gt;&quot;Hanya untuk penggunaan penelitian. Tidak untuk digunakan dalam prosedur diagnostik. &quot;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;b&gt;Di Mana Bukti Bahwa Tes Dapat Mengukur &quot;Beban Virus&quot;?&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Ada juga alasan untuk menyimpulkan bahwa tes PCR dari Roche dan lainnya bahkan tidak dapat mendeteksi &lt;a href=&quot;https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6988269/pdf/eurosurv-25-3-5.pdf&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;gen yang ditargetkan&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div&gt;
Selain itu, dalam &lt;a href=&quot;https://www.fda.gov/media/136049/download&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;deskripsi produk&lt;/a&gt; dari tes RT-qPCR untuk SARS-COV-2 dikatakan bahwa tes tersebut adalah &quot;&lt;a href=&quot;https://www.creative-diagnostics.com/sars-cov-2-coronavirus-multiplex-rt-qpcr-kit-277854-457.htm&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;tes kualitatif&lt;/a&gt;&quot;, bertentangan dengan fakta bahwa &quot;q&quot; dalam &quot;qPCR&quot; berarti &quot;kuantitatif.&quot; Dan jika tes ini bukan tes &quot;kuantitatif&quot;, &lt;i&gt;mereka tidak menunjukkan berapa banyak partikel virus dalam tubuh&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Itu sangat penting karena, untuk bahkan mulai berbicara tentang penyakit yang sebenarnya di dunia nyata tidak hanya di laboratorium, pasien perlu memiliki jutaan dan jutaan partikel virus yang aktif bereplikasi dalam tubuh mereka.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div&gt;
Artinya, CDC, WHO, FDA atau RKI dapat menegaskan bahwa tes dapat mengukur apa yang disebut “&lt;a href=&quot;https://virologie-ccm.charite.de/fileadmin/user_upload/microsites/m_cc05/virologie-ccm/dateien_upload/Weitere_Dateien/Charite_SARS-CoV-2_viral_load_2020-06-02.pdf&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;beban virus&lt;/a&gt;,” yaitu berapa banyak partikel virus dalam tubuh. &lt;i&gt;“Tapi ini belum pernah terbukti. Itu adalah skandal besar,”&amp;nbsp;&lt;/i&gt;seperti yang ditunjukkan oleh jurnalis &lt;a href=&quot;https://blog.nomorefakenews.com/2020/04/08/corona-creating-illusion-of-pandemic-through-diagnostic-test/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Jon Rappoport&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Ini bukan hanya karena istilah “beban virus” adalah penipuan. Jika Anda mengajukan pertanyaan “apa itu beban virus?” di sebuah pesta makan malam, orang-orang menganggapnya virus yang bersirkulasi dalam aliran darah. Mereka terkejut mengetahui sebenarnya itu adalah molekul RNA.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Juga, untuk membuktikan tanpa keraguan bahwa PCR dapat mengukur seberapa banyak seseorang &quot;dibebani&quot; dengan virus penyebab penyakit, percobaan berikut harus dilakukan (yang belum terjadi):&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Katakanlah, Anda mengambil beberapa ratus atau bahkan ribuan orang dan menghapus sampel jaringan dari mereka. Pastikan orang-orang yang mengambil sampel tidak melakukan tes. Penguji tidak akan pernah tahu siapa pasiennya dan dalam kondisi apa mereka berada. Penguji menjalankan PCR mereka pada sampel jaringan. Dalam setiap kasus, mereka mengatakan virus mana yang mereka temukan dan berapa banyak yang mereka temukan. Kemudian, misalnya, pada pasien 29, 86, 199, 272, dan 293 mereka menemukan banyak hal yang mereka klaim sebagai virus. Sekarang kita un-blind para pasien itu. Mereka semua harus sakit, karena mereka memiliki begitu banyak virus yang bereplikasi di tubuh mereka. Tetapi apakah mereka benar-benar sakit - atau apakah mereka bugar?&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Dengan bantuan pengacara yang disebutkan di atas Viviane Fischer, saya akhirnya meminta Charite untuk menjawab pertanyaan apakah tes tersebut dikembangkan oleh Corman dkk - yang disebut &quot;&lt;a href=&quot;https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/protocol-v2-1.pdf&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;tes Drosten PCR&lt;/a&gt;&quot; - adalah tes kuantitatif.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Tapi Charite tidak mau menjawab pertanyaan ini dengan &quot;ya&quot;. Sebagai gantinya, Charite menulis, &quot;Jika RT-PCR real-time terlibat, sepengetahuan Charite dalam banyak kasus ini [...] terbatas pada deteksi kualitatif. &quot;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div&gt;
Selain itu, &quot;tes Drosten PCR&quot; menggunakan uji E-gen yang tidak spesifik sebagai &lt;a href=&quot;https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/protocol-v2-1.pdf&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;uji awal&lt;/a&gt;, sedangkan Institut Pasteur menggunakan uji yang sama dengan &lt;a href=&quot;https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/real-time-rt-pcr-assays-for-the-detection-of-sars-cov-2-institut-pasteur-paris.pdf?sfvrsn=3662fcb6_2&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;uji konfirmasi&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Menurut Corman et al., Uji E-gen &lt;b&gt;kemungkinan akan mendeteksi semua virus Asia&lt;/b&gt;, sedangkan tes lain dalam kedua tes seharusnya lebih spesifik untuk urutan yang berlabel &quot;SARS-CoV-2&quot;.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Selain tujuan yang dipertanyakan yaitu memiliki tes pendahuluan atau konfirmasi yang kemungkinan akan mendeteksi semua virus Asia, pada awal April WHO mengubah algoritma, merekomendasikan bahwa sejak saat itu pada tes dapat dianggap sebagai &quot;positif&quot; bahkan jika hanya uji E-gen (yang kemungkinan akan mendeteksi semua virus Asia!) &lt;a href=&quot;https://web.archive.org/web/20200417112824/http:/www.labor-augsburg-mvz.de/de/aktuelles/coronavirus&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;memberikan hasil &quot;positif&quot;&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;b&gt;Ini berarti bahwa hasil tes tidak spesifik yang dikonfirmasi secara resmi dijual sebagai spesifik.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div&gt;
Perubahan algoritma itu meningkatkan angka &quot;kasus&quot;. Pengujian menggunakan uji gen-E dihasilkan misalnya oleh Roche, TIB Molbiol dan R-Biopharm.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;b&gt;Nilai CQ Yang Tinggi Membuat Hasil Uji Bahkan Lebih Berarti&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div&gt;
Masalah penting lainnya adalah bahwa banyak tes PCR memiliki nilai &quot;cycle quantification&quot; (Cq) lebih dari 35, dan beberapa, termasuk &quot;Drosten PCR test&quot;, bahkan memiliki Cq 45.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Nilai Cq menentukan berapa banyak siklus replikasi DNA yang diperlukan untuk mendeteksi sinyal nyata dari sampel biologis.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&quot;&lt;i&gt;Nilai Cq lebih tinggi dari 40 dicurigai karena efisiensi rendah yang tersirat dan umumnya tidak boleh dilaporkan,&lt;/i&gt;&quot; sebagaimana dikatakan dalam &lt;a href=&quot;https://www.gene-quantification.de/miqe-bustin-et-al-clin-chem-2009.pdf&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;pedoman MIQE&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div&gt;
MIQE adalah singkatan dari &quot;Informasi Minimum untuk Publikasi Eksperimen PCR Kuantitatif real time&quot;, seperangkat pedoman yang menggambarkan informasi minimum yang diperlukan untuk mengevaluasi publikasi pada PCR real time, juga disebut PCR kuantitatif, atau qPCR.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Penemunya sendiri, Kary Mullis, setuju, ketika &lt;a href=&quot;https://books.google.de/books?id=Z5jwZ2rbVe8C&amp;amp;pg=PA8&amp;amp;lpg=PA8&amp;amp;dq=mullis+If+you+have+to+go+more+than+40+cycles+to+amplify+a+single-copy+gene,+there+is+something+seriously+wrong+with+your+PCR&amp;amp;source=bl&amp;amp;ots=IAOUJm-S7E&amp;amp;sig=ACfU3U0_lUu2J2K0HPhch_nFHoYtFwVKhg&amp;amp;hl=de&amp;amp;sa=X&amp;amp;ved=2ahUKEwjsqoOLi47qAhXIR5oKHcCdDMMQ6AEwAHoECAYQAQ#v=onepage&amp;amp;q=mullis%20If%20you%20have%20to%20go%20more%20than%2040%20cycles%20to%20amplify%20a%20single-copy%20gene%2C%20there%20is%20something%20seriously%20wrong%20with%20your%20PCR&amp;amp;f=false&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;dia menyatakan&lt;/a&gt;, &quot;Jika Anda harus melakukan lebih dari 40 siklus untuk memperkuat satu gen penyalinan, ada sesuatu yang salah dengan PCR Anda. ”&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div&gt;
Pedoman MIQE telah dikembangkan di bawah pengawasan &lt;a href=&quot;https://aru.ac.uk/people/stephen-bustin&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Stephen A. Bustin&lt;/a&gt;, Profesor Kedokteran Molekuler, seorang ahli terkenal dunia tentang PCR kuantitatif dan penulis buku &lt;i&gt;A-Z of Quantitative PCR&lt;/i&gt; yang telah disebut &quot;&lt;a href=&quot;https://en.wikipedia.org/wiki/Stephen_Bustin&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;alkitab qPCR.&lt;/a&gt;&quot;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Dalam sebuah wawancara podcast baru-baru ini Bustin menunjukkan bahwa &lt;i&gt;&quot;penggunaan cut-off Cq yang sewenang-wenang seperti itu tidak ideal, karena mereka mungkin terlalu rendah (menghilangkan hasil yang valid) atau terlalu tinggi (meningkatkan hasil&quot; positif &quot;palsu).&quot;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Dan, menurut dia, sebuah Cq di 20-an hingga 30-an harus dicapai dan ada kekhawatiran mengenai keandalan hasil untuk setiap Cq lebih dari 35.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika nilai Cq menjadi terlalu tinggi, menjadi sulit untuk membedakan sinyal nyata dari latar belakang, misalnya karena reaksi primer dan probe fluoresen, dan karenanya ada kemungkinan yang lebih tinggi dari &lt;i&gt;false positive&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain itu, di antara faktor-faktor lain yang dapat mengubah hasilnya, sebelum memulai dengan PCR yang sebenarnya, jika Anda mencari virus RNA yang diduga seperti SARS-CoV-2, RNA harus dikonversi menjadi DNA komplementer (cDNA) dengan enzim Reverse Transcriptase — maka &quot;RT&quot; di awal &quot;PCR&quot; atau &quot;qPCR.&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi proses transformasi ini &lt;i&gt;“secara luas diakui sebagai tidak efisien dan variabel,”&lt;/i&gt; seperti yang dikatakan oleh Jessica Schwaber dari Pusat Komersialisasi Obat Regeneratif di Toronto dan dua rekan penelitian yang ditunjukkan dalam &lt;a href=&quot;https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6374950/pdf/main.pdf&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;makalah 2019&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Stephen A. Bustin mengakui masalah dengan PCR dengan cara yang sebanding.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai contoh, ia menunjuk masalah bahwa selama proses konversi (RNA ke cDNA) jumlah DNA yang diperoleh dengan bahan dasar RNA yang sama dapat sangat bervariasi, bahkan dengan faktor 10 (lihat wawancara di atas).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mempertimbangkan bahwa sekuens DNA menjadi dua kali lipat pada setiap siklus, bahkan sedikit variasi menjadi diperbesar dan dengan demikian dapat mengubah hasilnya, memusnahkan nilai informatif andal tes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi bagaimana mungkin mereka yang mengklaim tes PCR sangat bermakna untuk apa yang disebut sebagai diagnosis COVID-19 menutup-nutupi kekurangan mendasar dari tes ini — bahkan jika mereka dihadapkan dengan pertanyaan mengenai validitasnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, para pembela hipotesis novel coronavirus seharusnya sudah berurusan dengan pertanyaan-pertanyaan ini sebelum melakukan tes di pasar dan pada dasarnya mengurung seluruh dunia, terutama karena ini adalah pertanyaan yang langsung muncul di benak bagi siapa pun yang memiliki percikan ilmiah. pemahaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian, muncul pemikiran bahwa kepentingan finansial dan politik memainkan peran yang menentukan untuk ketidaktahuan tentang kewajiban ilmiah ini. Catatan, WHO, misalnya memiliki ikatan keuangan dengan perusahaan obat, seperti yang ditunjukkan oleh British Medical Journal pada &lt;a href=&quot;https://childrenshealthdefense.org/wp-content/uploads/Godlee-2010-Conflicts-of-interest-and-pandemic-flu.pdf&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;2010&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan para &lt;a href=&quot;https://www.globalresearch.ca/can-we-trust-who/5708576?utm_campaign=magnet&amp;amp;utm_source=article_page&amp;amp;utm_medium=related_articles&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;ahli mengkritik&lt;/a&gt; &lt;i&gt;&quot;bahwa korupsi yang terkenal dan konflik kepentingan di WHO terus berlanjut, bahkan tumbuh&quot;&lt;/i&gt; sejak saat itu. CDC juga, untuk mengambil pemain besar lainnya, jelas &lt;a href=&quot;https://childrenshealthdefense.org/cdc-who/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;tidak lebih baik&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya, alasan dan motif yang mungkin tetap spekulatif, dan banyak yang terlibat pasti bertindak dengan itikad baik; tetapi sainsnya jelas: Angka-angka yang dihasilkan oleh tes RT-PCR ini setidaknya tidak membenarkan orang-orang ketakutan yang telah diuji &quot;positif&quot; dan memaksakan tindakan lockdown yang membuat banyak orang jatuh dalam kemiskinan dan keputusasaan atau bahkan mendorong mereka untuk bunuh diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan hasil &quot;positif&quot; mungkin memiliki konsekuensi serius bagi pasien juga, karena semua faktor non-virus dikeluarkan dari diagnosis dan pasien diobati dengan obat yang sangat beracun dan intubasi invasif. Khususnya untuk orang lanjut usia dan pasien dengan kondisi yang sudah ada sebelumnya, perawatan seperti itu bisa berakibat fatal, seperti yang telah kami uraikan dalam artikel &lt;a href=&quot;https://www.rubikon.news/artikel/fatale-therapie&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&quot;Fatal Therapie.&quot;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak diragukan lagi, angka kematian berlebih akhirnya disebabkan oleh terapi dan oleh tindakan lockdown, sementara statistik kematian “COVID-19” juga terdiri dari pasien yang meninggal karena berbagai penyakit, yang didefinisikan kembali sebagai COVID-19 hanya karena hasil tes “positif” yang nilainya tidak diragukan lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
CATATAN: -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span id=&quot;1&quot;&gt; &lt;/span&gt;
[1] Sensitivitas didefinisikan sebagai proporsi pasien dengan penyakit yang hasil tesnya positif; dan spesifisitas didefinisikan sebagai proporsi pasien tanpa penyakit yang hasil tesnya negatif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span id=&quot;2&quot;&gt; &lt;/span&gt;
[2] Email&amp;nbsp;dari Prof. Thomas Löscher dari 6 Maret 2020&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span id=&quot;3&quot;&gt; &lt;/span&gt;
[3] Martin Enserink.&amp;nbsp;&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #262b2f; font-family: &amp;quot;alegreya&amp;quot; , serif; font-size: 15.52px;&quot;&gt;&lt;i&gt;Virology. Old guard urges virologists to go back to basics&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;,&amp;nbsp;&lt;span style=&quot;background-color: white; color: #262b2f; font-family: &amp;quot;alegreya&amp;quot; , serif; font-size: 15.52px;&quot;&gt;Science&lt;/span&gt;, 6 Juli 2001, hlm. 24&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span id=&quot;4&quot;&gt; &lt;/span&gt;
[4] Email dari Charles Calisher mulai 10 Mei 2020&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span id=&quot;5&quot;&gt; &lt;/span&gt;
[5] Diagnostik Kreatif, Kit SARS-CoV-2 Coronavirus Multiplex RT-qPCR&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Torsten Engelbrecht&lt;/b&gt; adalah jurnalis dan penulis pemenang penghargaan dari Hamburg, Jerman. Pada 2006 ia ikut menulis Virus-Mania dengan Dr Klaus Kohnlein, dan pada 2009 ia memenangkan &lt;a href=&quot;http://www.alternativer-medienpreis.de/preistraeger-2009/&quot;&gt;German Alternate Media Award&lt;/a&gt;. Dia juga menulis untuk Rubikon, Süddeutsche Zeitung, Financial Times Deutschland dan banyak lainnya.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Konstantin Demeter&lt;/b&gt; adalah seorang fotografer lepas dan seorang peneliti independen. Bersama dengan jurnalis Torsten Engelbrecht ia telah menerbitkan artikel tentang krisis &quot;COVID-19&quot; di majalah online Rubikon, serta kontribusi pada sistem moneter, geopolitik, dan media di surat kabar Italia Swiss.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sumber :&amp;nbsp;&lt;a href=&quot;https://off-guardian.org/2020/06/27/covid19-pcr-tests-are-scientifically-meaningless&quot;&gt;off-guardian.org&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;from http://febriliano.blogspot.com/&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://febriliano.blogspot.com/feeds/5890426854367834345/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/2180219956895463446/5890426854367834345' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default/5890426854367834345'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default/5890426854367834345'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://febriliano.blogspot.com/2020/07/tes-covid19-pcr-secara-ilmiah-tidak.html' title=' Tes COVID19 PCR Secara Ilmiah Tidak Berarti'/><author><name>Febriliano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06209999027745913103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgdX4nMRrsJcQlWxdGD6FeErWHM8h3RvTRTHhC9v4JNxmk75hK4Sz-Cy1DiCt2qXigHLaPyH9d17WxU7nA2d4XydJTJYTH2zL3TWgCGZ3tiIHcabSDpaapYRXwwrAJNxSk/s113-r/it&#39;s+me.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2180219956895463446.post-8668346612474864935</id><published>2020-07-21T04:39:00.000+07:00</published><updated>2020-07-21T08:15:17.159+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pengetahuan"/><title type='text'>Rahasia Kedokteran yang Luput dari Pandangan Kita</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Editor : Resa Eka Ayu Sartika&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
AKHIR-AKHIR ini media massa heboh memberitakan seorang dokter dan metode pengobatannya . Dari berbagai komentar yang muncul, saya dapat menyimpulkan banyak orang yang belum mengerti benar tentang ilmu kedokteran. Akibat lebih jauh, banyak orang yang kurang mengerti tentang peran dokter sebagai pelaksananya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sampai di sini, saya yakin ada yang mulai protes, “Siapa bilang aku tidak mengerti Ilmu Kedokteran? Pokoknya memberi pengobatan supaya sembuh, tidak perlu berteori”.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kalau ada yang protes seperti ini pasti salah. Dia pasti seorang yang tidak mengerti atau hanya sok mengerti. Mengapa?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ilmu Kedokteran terus berkembang sejak zaman Hipocrates dulu. Semakin banyak teori baru yang berkembang, yang kemudian dimanifestasikan dalam praktik kedokteran yang baru.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Jadi, praktik kedokteran pasti berdasarkan teori kedokteran yang sudah diakui secara internasional. Siapa yang mengakui secara internasional?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ya masyarakat kedokteran yang terkait dengan teori baru, yang kemudian diterapkan dalam praktik oleh dokter terkait.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sebagai contoh, manusia zaman old tidak mengenal kontrasepsi. Karena itu setiap keluarga mempunyai banyak anak.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tetapi zaman now, semua orang mengerti apa itu kontrasepsi. Bagaimana ceritanya mengapa para peneliti dan dokter sampai menemukan kontrasepsi?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mereka pasti mengerti dengan benar berbagai teori tentang sel spermatozoa, sel telur, dan hormon seks. Tanpa teori yang kuat, tidak mungkin kontrasepsi dapat digunakan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Praktik dokter berbasis bukti ilmiah&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dokter yang profesional dan beretika pasti melakukan praktiknya sesuai dengan perkembangan ilmu kedokteran yang dikuasai dan tetap berdasarkan etika kedokteran.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Nah, ilmu kedokteran yang dipraktikkan ini harus berbasis bukti ilmiah yang diakui secara internasional. Nama kerennya Evidence-based Medicine (EBM).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sebagai lawan EBM, ada yang disingkat TBM (Testimonial-based Medicine). Ini berarti praktik kedokteran yang hanya berdasarkan testimoni atau kesaksian pasien. Karena bersifat testimoni, maka sifatnya subyektif.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kalau diperiksa sesuai kaidah kedokteran terkini, boleh jadi penyakitnya tidak sembuh. Kalau praktik yang dilakukan belum berbasis bukti ilmiah, dokter harus membuktikan dulu melalui apa yang disebut uji klinis. Apa yang dimaksud uji klinis?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Uji klinis adalah penelitian yang dilakukan pada manusia untuk menguji khasiat obat baru, cara pengobatan baru, atau alat bantu kedokteran yang baru. Memang tidak mudah melakukan uji klinis sampai pada tahap diakui secara internasional.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ada syarat tertentu yang harus dipenuhi. Salah satu yang penting adalah subyek atau pasien yang dilibatkan dalam uji klinis harus tahu bahwa tindakan ini baru sebatas penelitian yang disebut uji klinis.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Jadi, pasien tahu pasti bahwa obat atau cara pengobatan ini belum diakui sebagai tindakan pengobatan. Masih ada banyak syarat lain yang harus dipenuhi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tetapi saya tidak sedang menjelaskan khusus uji klinis pada tulisan ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Karena uji klinis harus dan terus dilakukan, maka beberapa obat atau alat kedokteran yang ternyata tidak bermanfaat atau menimbulkan efek samping berbahaya, akhirnya harus dilarang dan ditarik dari peredaran.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Di luar obat, banyak sekali produk herbal, suplemen, dan kosmetik yang setiap tahun ditarik dari peredaran oleh BPOM.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Beberapa suplemen yang telah diteliti, ternyata mengandung bahan yang seharusnya tidak boleh ada di dalamnya karena dapat menimbulkan akibat buruk. Di Amerika Serikat pun banyak juga produk seperti ini yang kemudian ditarik dari peredaran setiap tahunnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Profesi dokter berbeda&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Profesi dokter memang berbeda dengan pengobat lain di luar Ilmu Kedokteran atau yang biasa disebut pengobatan alternatif. Karena itu pendidikannya juga berbeda.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Bayangkan saja. Untuk menjadi dokter umum, harus menjalani perkuliahan selama 4 tahun, kemudian 2 tahun berhadapan dengan pasien, tetapi belum berhak menangani pasien.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Lalu setelah bergelar dokter mereka harus menjalankan praktik di bawah pengawasan selama 1 tahun (sebagai perbandingan di Malaysia selama 2 tahun).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setelah itu baru diizinkan praktik mandiri. Kalau dokter umum akan menjadi dokter spesialis, mereka harus mengikuti Pendidikan Dokter Spesialis yang memerlukan waktu 3-5 tahun sesuai spesialisasinya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setiap orang yang lulus menjadi dokter pasti mengucapkan Lafal Sumpah Dokter yang berlaku secara internasional yang intinya berasal dari zaman Hipocrates dulu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Praktisi lain di bidang kesehatan memang berbeda. Karena itu mereka bukan dokter, walaupun masyarakat sering tidak dapat membedakan antara dokter dan bukan dokter atau dokter palsu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Apalagi kalau yang bukan dokter ternyata bergelar Doktor pada ilmu tertentu. Singkatannya Dr, bukan? Andaikata melakukan praktik yang menyangkut kedokteran, saya yakin akan banyak orang menganggap dia dokter.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Anehnya, walaupun pendidikan dokter memerlukan waktu lama, peminat untuk menjadi dokter terus berjubel. Lihat saja betapa banyak peminat yang mendaftar di Fakultas Kedokteran setiap tahunnya, melebihi peminat bidang studi yang lain.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Barangkali banyak orang yang ingin menjadi dokter karena dapat berbuat bagi sesama dan atas nama kemanusiaan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Dokter dan efek plasebo&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Apakah ada dokter yang ternyata tidak profesional? Jawabannya “pasti ada”. Dokter yang tidak profesional adalah dokter yang dalam prakteknya tidak EBM, tidak berbasis bukti ilmiah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Testimoni, oleh banyak orang dianggap sebagai bukti bahwa orang itu telah sembuh dari penyakitnya. Padahal testimoni bukanlah bukti ilmiah yang obyektif.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ketika seseorang menyatakan “lebih segar” itu sebenarnya pengakuan yang subyektif. Boleh jadi perasaan “lebih segar” hanyalah efek plasebo, padahal penyakitnya masih ada.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Saya yakin masih banyak orang, apa pun jabatannya, yang belum mengetahui apa yang disebut efek plasebo.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Efek plasebo adalah efek yang dirasakan positif setelah mendapat perlakuan yang dianggap sebagai obat atau cara yang dapat menyembuhkan suatu keluhan atau penyakit, padahal sebenarnya tidak berkhasiat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada abad 18 seorang dokter di Amerika Serikat, Elisha Perkins, menjadi sangat terkenal gara-gara tongkat logamnya, yang kemudian disebut Perkins Patent Tractors. Dengan hanya menyentuhkan tongkat logamnya, orang sakit radang, rematik, dan sakit kepala langsung sembuh.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ribuan orang di Amerika dan Eropa merasa telah disembuhkan oleh Perkins melalui tingkat logamnya. Banyak Profesor, dokter, pendeta, bahkan Presiden AS George Washington mengakui kehebatan Perkins dan tongkatnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tetapi Ikatan Dokter di Connecticut kemudian memecat Perkins karena dianggap membohongi masyarakat. Akhirnya efek plasebo tongkat Perkins dibuktikan oleh dokter John Haygarth dari Inggris.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Haygarth menggunakan tongkat kayu yang dibuat mirip tongkat logam ala Perkins. Ternyata tongkat kayunya juga mampu membuat banyak pasiennya merasa sembuh dari sakit rematiknya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Inilah yang disebut efek plasebo karena tongkat logam dan tongkat kayu mirip logam sama-sama membuat orang merasa sembuh. Uji klinik ala Haygarth merupakan bukti pertama adanya efek plasebo.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mungkinkah efek plasebo ala Perkins dan Haygarth terulang pada masa milenial kini? Saya jawab “sangat mungkin”.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Walaupun zaman telah berubah banyak dengan munculnya internet, tetapi masih banyak masyarakat yang pengetahuan terkait kedokteran masih jauh dari cukup, apalagi dikacaukan oleh iklan bohong terkait produk bohong bidang kesehatan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kebetulan saya pernah melakukan beberapa kali uji klinik yang menggunakan kelompok kontrol (plasebo). Ternyata sekitar 25-30 persen pasien yang mendapat plasebo merasakan khasiat yang sama dengan pasien yang mendapatkan obat sebenarnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Namun pada akhirnya kelompok yang mendapat plasebo harus kembali mendapatkan obat yang sebenarnya. Inilah salah satu prinsip etika yang harus dipenuhi ketika dokter melakukan uji klinik.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Pentingnya Mencari Pendapat Kedua&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dokter juga manusia sehingga bisa lalai atau salah ketika menghadapi pasien. Karena itu penting bagi pasien untuk meminta pendapat dokter lain yang spesialisasinya terkait, khususnya dokter yang bereputasi baik.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dengan pendapat kedua, mungkin ketiga, kita mempunyai gambaran dan pilihan mana yang lebih tepat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Salah satu kecerobohan banyak orang kita adalah selalu menganggap dokter di luar negeri lebih pintar dari dokter Indonesia. Benar atau tidak pernyataan ini, tentu sangat tergantung pada dokter siapa dan di mana yang dimaksud luar negeri itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Saya mempunyai pengalaman dengan seorang pemuda, anak seorang tokoh, yang mengalami suatu masalah. Dia sudah menemui dokter di salah satu kota di Amerika Serikat, tetapi masalahnya tidak kunjung membaik.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Saya mendapatkan ada suatu pemeriksaan yang terlewat ketika dia mendapat pemeriksaan di Amerika. Berdasarkan pemeriksaan tambahan itulah saya berikan pengobatan, dan menjadi normallah dia.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tidak semua informasi kesehatan yang disampaikan melalui media sosial yang berantai selalu mengandung kebenaran, walaupun menjual nama dan foto dokter, bahkan video sekali pun. Apalagi kalau dokter itu tidak mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan terkini.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kalau dokter bisa salah ketika memberikan informasi karena tidak mengikuti perkembangan terkini, apalagi orang yang tidak punya dasar ilmu kedokteran, apapun kuasa dan jabatannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Wimpie Pangkahila -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber : &lt;a href=&quot;https://sains.kompas.com/read/2018/04/30/183400923/rahasia-kedokteran-yang-luput-dari-pandangan-kita?page=all&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Kompas.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;from http://febriliano.blogspot.com/&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://febriliano.blogspot.com/feeds/8668346612474864935/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/2180219956895463446/8668346612474864935' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default/8668346612474864935'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default/8668346612474864935'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://febriliano.blogspot.com/2020/07/rahasia-kedokteran-yang-luput-dari.html' title='Rahasia Kedokteran yang Luput dari Pandangan Kita'/><author><name>Febriliano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06209999027745913103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgdX4nMRrsJcQlWxdGD6FeErWHM8h3RvTRTHhC9v4JNxmk75hK4Sz-Cy1DiCt2qXigHLaPyH9d17WxU7nA2d4XydJTJYTH2zL3TWgCGZ3tiIHcabSDpaapYRXwwrAJNxSk/s113-r/it&#39;s+me.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2180219956895463446.post-460693619025244596</id><published>2020-07-16T03:58:00.000+07:00</published><updated>2020-07-21T04:38:55.055+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ilmu Komputer"/><title type='text'>Menambahkan Sendto Menu</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ada banyak cara yang dapat kita gunakan untuk meng-copy file dalam Windows Explorer. Salah satu cara adalah dengan menggunakan context menu &lt;b&gt;Send to&lt;/b&gt;.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Cara ini dilakukan dengan melakukan klik kanan pada file yang akan dicopy kemudian memilih menu &lt;b&gt;Send to&lt;/b&gt; seperti ditunjukkan&amp;nbsp; gambar berikut.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjCib68w7VTh3QGosdfBC7DbDliS8Twt3Dgbjq11KMd_NO_kPiT7AZyXU9Xr53lu3gVoSMYKqLG2DPJVl4p6yg_xOIGskg5I-gqy0OrWDqAVOyJ3YtCPGvkoTFrk6pZ0_vjeYs7tbb86Zfj/s1600/Sendto.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;428&quot; data-original-width=&quot;666&quot; height=&quot;411&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjCib68w7VTh3QGosdfBC7DbDliS8Twt3Dgbjq11KMd_NO_kPiT7AZyXU9Xr53lu3gVoSMYKqLG2DPJVl4p6yg_xOIGskg5I-gqy0OrWDqAVOyJ3YtCPGvkoTFrk6pZ0_vjeYs7tbb86Zfj/s640/Sendto.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kita dapat melakukan customize pada context menu &lt;b&gt;Send to&lt;/b&gt; tersebut .&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Berikut langkah yang harus dilakukan untuk melakukan hal tersebut :&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
1. Buka Windows Explorer (tekan tombol Win + E) masukkan &quot;shell:sendto&quot; pada address bar. Ini akan akan mengarahkan kita pada folder&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;C:\Users\{yourusername}\AppData\Roaming\Microsoft\Windows\SendTo&lt;br /&gt;
2. Untuk menambahkan Item pada menu &lt;b&gt;Send to&lt;/b&gt;, tambahkan shortcut pada folder ini. Sementara itu, untuk menghapus Item pada menu Send To delete shortcut yang ingin dihapus.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;from http://febriliano.blogspot.com/&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://febriliano.blogspot.com/feeds/460693619025244596/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/2180219956895463446/460693619025244596' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default/460693619025244596'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default/460693619025244596'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://febriliano.blogspot.com/2020/07/menambahkan-sendto-menu.html' title='Menambahkan Sendto Menu'/><author><name>Febriliano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06209999027745913103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgdX4nMRrsJcQlWxdGD6FeErWHM8h3RvTRTHhC9v4JNxmk75hK4Sz-Cy1DiCt2qXigHLaPyH9d17WxU7nA2d4XydJTJYTH2zL3TWgCGZ3tiIHcabSDpaapYRXwwrAJNxSk/s113-r/it&#39;s+me.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjCib68w7VTh3QGosdfBC7DbDliS8Twt3Dgbjq11KMd_NO_kPiT7AZyXU9Xr53lu3gVoSMYKqLG2DPJVl4p6yg_xOIGskg5I-gqy0OrWDqAVOyJ3YtCPGvkoTFrk6pZ0_vjeYs7tbb86Zfj/s72-c/Sendto.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2180219956895463446.post-1688176437102195529</id><published>2020-07-12T06:47:00.000+07:00</published><updated>2020-07-21T04:46:08.518+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Agama"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Intermezzo"/><title type='text'>Yang Benar &quot;Kongkorongok&quot;, Yang Lain Salah</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Seperti apakah suara anjing menggonggong? Menurut orang di Indonesia, &quot;Guk! Guk!&quot;. Orang Inggris ternyata tak sepakat. Menurut mereka, suara anjing menggonggong adalah &quot;Woof! Woof!&quot;.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ternyata tak perlu jauh-jauh. Orang Sunda dan Jawa yang tinggal di satu pulau berbeda pendapat tentang suara ayam jantan berkokok di pagi hari.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&quot;Kongkorongok,&quot; demikian terdengar di telinga orang Sunda, sementara bagi orang Jawa, &quot;Kukuruyuk&quot;.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kita tahu dalam ilmu bahasa itu namanya omomatope. Bagaimana suara yang sama diekspresikan dengan cara yang berbeda? Pertama, tentu karena sistem bahasa dan aksaranya berbeda. Kedua, saya yakin juga karena persepsi atas bunyi juga berbeda.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Bayangkan jika di satu ruangan ada tiga orang yang mendengar suara dari balik pintu. Bagi yang penakut, ia membayangkan suara kuntilanak seperti di film horor. Yang senang binatang hanya akan menganggapnya suara kucing. Yang lain menganggap itu suara pohon berderik kena angin.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Bunyi sesungguhnya tak lagi penting. Yang penting adalah apa yang sampai di telinga pendengar&amp;nbsp; dan bagaimana mereka menafsirkannya. Ini tentu dipengaruhi banyak hal: pengetahuan, pengalaman, trauma, kebiasaan, pengaruh lingkungan, kebudayaan, dan sebagainya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tentu termasuk kondisi tubuh. Budek atau tidak.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ini tak hanya terjadi dalam urusan mendengar suara. Ini bisa terjadi dengan cara kita melihat sesuatu. Cara menafsir film yang sama-sama kita tonton. Dalam konteks yang lebih kompleks, cara kita memahami satu peristiwa atau dunia.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Belum lama saya melihat foto-foto seni yang mencoba menggambarkan kembali tokoh-tokoh dalam Alkitab. Sang seniman percaya, Yesus dan tokoh-tokoh lainnya seharusnya berkulit gelap.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tapi, kenapa selama ini di banyak gambar, tokoh-tokoh tersebut terlihat berkulit putih? Tentu karena kebudayaan orang-orang kulit putih telah menciptakan tokoh-tokoh tersebut menjadi putih.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Untuk orang seperti Yesus dan tokoh-tokoh Alkitab saja, dari satu manusia ke manusia lain, dari satu kebudayaan ke kebudayaan lain, dari satu ras ke ras lain, memiliki persepsi yang berbeda. Sekali lagi, dipengaruhi banyak hal, termasuk kondisi sosial dan politik.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Saya ingat di waktu kecil, saat masih sering pergi ke langgar untuk mengaji, ustad memperkenalkan saya dengan nama-nama seperti Siti Aminah (ibu nabi), Siti Aisyah (isteri nabi), juga Siti Hawa (perempuan pertama).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Bertahun-tahun kemudian saya sadar, itu bukan nama mereka sebenarnya. Sejak kapan orang Arab bernama &quot;Siti&quot;? Kenapa tiba-tiba nama mereka jadi Siti? Siti dalam bahasa Jawa (dipinjam dari Sansekerta) berarti bumi, yang merupakan penghormatan terhadap perempuan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Jadi, karena mereka menghormati perempuan-perempuan itu, orang Jawa sungkan hanya menyebut nama. Harus ditambahi Siti. Tapi, karena itu khas Jawa, pada saat yang sama saya merasa nama-nama itu demikian dekat. Seolah Siti Aminah, Siti Aisyah, Siti Hawa, lahir dari rahim kebudayaan Jawa sendiri.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hanya dengan penambahan satu kata, sebuah imaji kultural yang bersifat Jawa tiba-tiba menyelimuti sosok perempuan-perempuan tersebut. Itu pada akhirnya membuat bayangan orang Jawa tentang mereka menjadi berbeda dengan kelompok kebudayaan yang lain.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Para filsuf dan ahli sastra menmiliki teori-teori canggih untuk menjelaskan hal ini. Bahwa makna sebuah teks tak pernah bersifat tunggal. Tak perlu bertanya kepada pencipta teksnya, sebab makna justru diciptakan oleh pembaca. &quot;Teks&quot; itu bisa berupa suara ayam berkokok, imaji tentang Yesus, atau nama Aminah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dalam kasus suara binatang, orang dengan mudah menerimanya sebagai anugerah perbedaan di antara umat manusia. Dalam kasus tiga orang di dalam ruangan, paling banter mereka akan mencoba menghibur si orang yang ketakutan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dalam kasus &quot;teks&quot; agama, persoalannya menjadi tak sesepele &quot;Dor! Dor!&quot; dan &quot;Bang! Bang!&quot; (suara tembakan). Itu bisa menjadi pertentangan yang sengit, bahkan meliputi dominasi satu kebudayaan&amp;nbsp; atas kebudayaan lain, bias rasialisme, dan klaim siapa yang paling benar.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sekarang mari kita kembali ke ayam jantan yang berkokok. Jika Anda percaya Tuhan Maha Pencipta, Anda tentu percaya Tuhan yang menciptakan suara ayam berkokok. Masalahnya, suara seperti apa yang diciptakan Tuhan? Kongkorongok? Kukuruyuk? &lt;i&gt;Cock-a-dooddle-doo&lt;/i&gt;? &lt;i&gt;Cocorico&lt;/i&gt;?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ketika membaca &lt;i&gt;Romeo and Juliet&lt;/i&gt;, kita tak lagi peduli dengan apa yang dipikirkan oleh William Shakespeare. Setiap pembaca memahami cerita itu dengan cara yang berbeda. Persis seperti itu, kita tak tahu bunyi asli ayam berkokok menurut Tuhan. Yang kita tahu, menurut manusia bunyinya berlainan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kecuali suatu ketika ada yang berkata suara ayam menurut Tuhan itu &quot;Kongkorongkok&quot;, yang lain salah. Orang ini sangat berkuasa. Orang yang tak sependapat dengannya dikeluarkan dari kelompok atau dihukum. Orang-orang hidup dalam ketakutan dan terpaksa hidup mengikuti pendapatnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Para cerdik-pandai menciprtakan berbagai penjelasan tentang kebenaran &quot;kongkorongok&quot;, memberi ilusi bahwa hanya ada satu kebenaran tunggal.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Eka Kurniawan - Novelis&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sumber : Jawapos 12 Juli 2020&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;from http://febriliano.blogspot.com/&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://febriliano.blogspot.com/feeds/1688176437102195529/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/2180219956895463446/1688176437102195529' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default/1688176437102195529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default/1688176437102195529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://febriliano.blogspot.com/2020/07/yang-benar-kongkorongok-yang-lain-salah.html' title='Yang Benar &quot;Kongkorongok&quot;, Yang Lain Salah'/><author><name>Febriliano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06209999027745913103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgdX4nMRrsJcQlWxdGD6FeErWHM8h3RvTRTHhC9v4JNxmk75hK4Sz-Cy1DiCt2qXigHLaPyH9d17WxU7nA2d4XydJTJYTH2zL3TWgCGZ3tiIHcabSDpaapYRXwwrAJNxSk/s113-r/it&#39;s+me.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2180219956895463446.post-6479142236725299322</id><published>2020-05-09T10:30:00.001+07:00</published><updated>2020-05-09T16:50:29.381+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Intermezzo"/><title type='text'>Menanam Pisang, Berharap Durian</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Seperti orang lain, kadang saya kesal dengan apa yang tidak saya punya. Misalnya, melihat orang yang begitu ganteng macam Brad Pitt. Sadar saya tak bisa menyaingi kegantengannya, jadi berpikir, &quot;Apalah artinya ganteng, &lt;i&gt;udah&lt;/i&gt; mati toh jadi tengkorak.&quot;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Padahal, kegantengan mereka lahir dari bangunan imajinasi di kepala saya, yang terus &lt;i&gt;dicekokin&lt;/i&gt; film, media hiburan, internet, dan lain sebagainya, bahwa wajah macam artis Hollywood itu ganteng.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kegantengan bisa juga ada hubungannya dengan olahraga terkontrol, makanan penuh nutrisi, perawatan tubuh. Tapi, karena saya tak mau capek-capek &lt;i&gt;mikirin&lt;/i&gt; itu maupun mengkritisi pikiran sendiri, cara paling gampang tentu penyangkalan dan bawa-bawa mati.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setidaknya itu menghibur saya sejenak. Nanti, di dalam tanah, saya dan siapa pun tak ada bedanya. Penghiburan yang tidak menjawab persoalan Brad Pitt ganteng dan saya tidak. Dan selama kami sama-sama hidup, kejengkelan saya barangkali abadi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Saya juga suka gemas melihat negara dan bangsa lain maju secara ilmu dan teknologi. Gagasan-gagasan filsafat berkembang pesat di Eropa, memberi landasan bagi ilmu dan teknologi modern. Lihat kemajuan industri Eropa, Amerika, Israel, Jepang, Tiongkok, Korea.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Bukan hanya itu, lihat daftar pemenang hadiah Nobel. Banyak ahli fisika, kimia, biologi, kesehatan, ekonomi. Sialnya, tak satu pun ilmuwan Indonesia tercatat di sana. Apa yang selama ini kita lakukan? Katanya banyak yang pintar, kenapa mereka lenyap begitu saja?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Lagi-lagi, saya menghibur diri. Nanti di akhirat, orang tak memerlukan telepon genggam. Tidak ada media sosial. Tak ada mobil listrik tanpa sopir. Tak ada stasiun luar angkasa. Tak ada gunanya mengetahui seperti apa Pluto, sebagaimana tak ada gunanya mencari tahu apakah ada kehidupan di luar angkasa.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Di dunia kekal itu, juga tak akan ada penyakit. Tak perlu repot-repot jadi ahli pengobatan untuk tahu virus, antivirus, dan vaksin. Di sana juga tak akan ada orang kelaparan. Jadi buat apa pusing memikirkan cara menghasilkan benih varietas unggul agar semua orang bisa makan?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Bahkan, bisa jadi keadaan akan berbalik. Saya dan saudara-saudara sebangsa dan setanah air akan hidup bahagia di alam baka karena kita pada dasarnya orang-orang baik. Kita bisa terbang, bisa mengangkat gunung cuma karena ingin rebahan, dan karena saya tak suka susu, bolehlah membayangkan sungai es cendol yang melimpah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Masalahnya, saat ini kita hidup di dunia, dan mungkin masih akan hidup beberapa puluh tahun ke depan. Kita akan merasakan lapar, sebagaimana bisa sakit. Kita akan menggunakan produk teknologi, dan karena tidak bisa membuatnya, maka membelinya ke negara lain. Untuk segelas es cendol, saya harus bekerja dan menghasilkan uang. Memang lebih gampang memikirkan hal yang jauh daripada kenyataan yang menyulitkan di depan mata. &lt;i&gt;Emang&lt;/i&gt; gampang menghasilkan ilmuwan kaliber Einstein? &lt;i&gt;Emang&lt;/i&gt; gampang menghasilkan pabrik-pabrik manufaktur teknologi tinggi?&amp;nbsp;&lt;i&gt;Emangnya&lt;/i&gt; gampang menghasilkan universitas dengan kebebasan akademik yang luas?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Jelas itu bukan kerja semalam. Ketika kita mencoba mengejar, mungkin mereka sudah bergerak pula entah berapa langkah di depan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Bisa jadi sikap fatalis saya lahir dari nasihat-nasihat lama yang sering saya dengar waktu kecil. Belakangan pun masih sering saya dengar dari seseorang yang bahkan lebih muda daripada saya. Nasihat itu berbunyi serupa, &quot;Harta tak akan dibawa mati.&quot;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Memang betul. Harta di sini merupakan dunia material, tak melulu uang dan kekayaan. Ia bisa melebar ke berbagai hal duniawi lainnya: ilmu, teknologi, dan tentu saja termasuk kegantengan dan kecantikan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kamu jago main bola? Di kuburan&amp;nbsp; &lt;i&gt;enggak&lt;/i&gt; ada yang &lt;i&gt;nonton&lt;/i&gt;. Bisa akting bagus di film? Itu cuma hiburan dunia.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Masalahnya, sekali lagi, kita bisa lapar dan sakit. Untuk membangun rumah ibadah, kita butuh ilmu bangunan dan arsitektur. Untuk menuliskan pikiran saya ini, saya butuh laptop. Untuk tulisan saya dibaca oleh orang lain, kita butuh internet, kertas, mesin cetak, tinta.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tak ada yang salah memikirkan dunia setelah mati. Kita semua penasaran soal itu. Yang keliru adalah tidak memikirkan persoalan dunia hanya karena dunia ini fana. Yang keliru mengharapkan durian, tapi menanam pisang. Ingin ganteng, tapi yang dipikirkan adalah urusan dikubur jadi tengkokrak.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Harta dan ilmu pengetahuan, sialnya, memiliki kesamaan. Keduanya bisa diakumulasi, dikumpulkan, dan bisa menciptakan kesenjangan lebar. Semakin lebar kesenjangan, semakin sulit untuk sebagian orang meraihnya. Alih-alih memahami kesenjangan itu ada, malah menyangkal bahwa itu hal penting untuk diperjuangkan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Apakah kita perlu menghentikan nasihat lama &quot;harta tidak dibawa mati&quot;? Tidak perlu, saya kira. Yang perlu sekedar menjawabnya, &quot;Iya. Tapi, harta bisa diwariskan buat anak cucu bikin start-up dan ilmu bisa dipergunakan oleh generasi yang akan datang.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Eka Kurniawan - Novelis&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sumber : Jawapos 9 Mei 2020&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;from http://febriliano.blogspot.com/&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://febriliano.blogspot.com/feeds/6479142236725299322/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/2180219956895463446/6479142236725299322' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default/6479142236725299322'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default/6479142236725299322'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://febriliano.blogspot.com/2020/05/menanam-pisang-berharap-durian.html' title='Menanam Pisang, Berharap Durian'/><author><name>Febriliano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06209999027745913103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgdX4nMRrsJcQlWxdGD6FeErWHM8h3RvTRTHhC9v4JNxmk75hK4Sz-Cy1DiCt2qXigHLaPyH9d17WxU7nA2d4XydJTJYTH2zL3TWgCGZ3tiIHcabSDpaapYRXwwrAJNxSk/s113-r/it&#39;s+me.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2180219956895463446.post-7739765980049419911</id><published>2020-05-05T16:15:00.000+07:00</published><updated>2020-05-09T16:39:47.089+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pengetahuan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Politik"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sejarah"/><title type='text'>Tulisan [6] | Apakah Agama adalah Candu Masyarakat</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Karl Marx adalah seorang filsuf Jerman yang berusaha memeriksa agama dari perspektif objektif dan ilmiah. Analisis dan kritik Marx terhadap agama &quot;Agama adalah candu Misa&quot; (&lt;i&gt;&quot;Die Religion ist das Opium des Volkesis&quot;&lt;/i&gt;) mungkin merupakan salah satu yang paling terkenal dan paling banyak dikutip oleh teis dan ateis. Sayangnya, sebagian besar dari mereka yang melakukan kutipan tidak benar-benar memahami apa yang dimaksud oleh Marx, mungkin karena pemahaman yang tidak lengkap tentang teori-teori umum Marx tentang ekonomi dan masyarakat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Banyak orang di berbagai bidang memperhatikan bagaimana menjelaskan agama asal usulnya, perkembangannya, dan bahkan kegigihannya dalam masyarakat modern. Sebelum abad ke-18, sebagian besar jawaban dibingkai dalam istilah teologis dan religius murni, dengan asumsi kebenaran wahyu Kristen dan berjalan dari sana. Namun sepanjang abad ke-18 dan 19, suatu pendekatan yang lebih &quot;naturalistik&quot; dikembangkan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sebenarnya Marx tidak banyak berbicara tentang agama secara langsung; dalam semua tulisannya, ia hampir tidak pernah menyebut agama secara sistematis, meskipun ia sering menyentuhnya di buku, pidato, dan pamflet. Alasannya adalah kritiknya terhadap agama hanya merupakan satu bagian dari keseluruhan teori masyarakatnya - dengan demikian, untuk memahami kritiknya terhadap agama memerlukan pemahaman tentang kritiknya terhadap masyarakat secara umum.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut Marx, agama adalah ekspresi dari realitas material dan ketidakadilan ekonomi. Dengan demikian, masalah dalam agama pada akhirnya adalah masalah dalam masyarakat. Agama bukanlah penyakit, tetapi hanya gejala. Ini digunakan oleh penindas untuk membuat orang merasa lebih baik tentang kesulitan yang mereka alami karena menjadi miskin dan dieksploitasi. Ini adalah asal dari komentarnya agama adalah &quot;candu massa&quot; tapi seperti yang akan kita lihat, pemikirannya jauh lebih kompleks daripada yang biasa digambarkan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Untuk memahami kritik Marx tentang agama dan teori ekonomi, penting untuk memahami sedikit tentang dari mana asalnya, latar belakang filosofisnya, dan bagaimana ia sampai pada beberapa kepercayaannya tentang budaya dan masyarakat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Bagi Marx, ekonomi adalah basis semua kehidupan manusia dan sejarah, sumber yang menghasilkan pembagian kerja, perjuangan kelas, dan semua lembaga sosial yang seharusnya mempertahankan status quo . Lembaga-lembaga sosial itu adalah suprastruktur yang dibangun di atas dasar ekonomi, sepenuhnya bergantung pada realitas material dan ekonomi tetapi tidak ada yang lain. Semua institusi yang menonjol dalam kehidupan kita sehari-hari - pernikahan, gereja, pemerintahan, seni, dll. - hanya dapat benar-benar dipahami ketika diperiksa dalam kaitannya dengan kekuatan ekonomi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut Marx, agama adalah salah satu institusi sosial yang bergantung pada realitas material dan ekonomi dalam masyarakat tertentu. Ia tidak memiliki sejarah independen tetapi sebaliknya adalah ciptaan kekuatan produktif. Seperti yang ditulis Marx, &quot;Dunia religius hanyalah refleks dari dunia nyata.&quot;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sama menarik dan wawasannya dengan analisis dan kritik Marx, mereka bukannya tanpa masalah mereka --- historis dan ekonomi. Karena masalah-masalah ini, tidak pantas untuk menerima ide-ide Marx tanpa kritik. Meskipun ia tentu memiliki beberapa hal penting untuk dikatakan tentang sifat agama , ia tidak dapat diterima sebagai kata terakhir pada subjek.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Karl Marx lahir pada 5 Mei 1818, di kota Trier Jerman. Keluarganya adalah orang Yahudi tetapi kemudian pindah ke Protestan pada tahun 1824 untuk menghindari hukum anti-semit dan penganiayaan. Karena alasan ini antara lain, Marx menolak agama sejak dini di masa mudanya dan membuatnya sangat jelas ia adalah seorang ateis.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Marx belajar filsafat di Bonn dan kemudian Berlin, di mana ia berada di bawah kekuasaan Georg Wilhelm Friedrich von Hegel. Filsafat Hegel memiliki pengaruh yang menentukan terhadap pemikiran Marx dan teori-teori selanjutnya. Hegel adalah seorang filsuf yang rumit, tetapi dimungkinkan untuk menggambar garis besar kasar untuk tujuan kita.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hegel adalah apa yang dikenal sebagai &quot;idealis&quot; menurutnya, hal-hal mental (ide, konsep) merupakan hal mendasar bagi dunia, bukan materi. Hal-hal materi hanyalah ekspresi dari ide-ide&amp;nbsp; khususnya, dari &quot;Semangat Semesta&quot; yang mendasari atau &quot;Ide Mutlak.&quot;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Marx bergabung dengan &quot;Hegelian Muda&quot; (dengan Bruno Bauer dan yang lainnya) yang bukan hanya murid, tetapi kritik terhadap Hegel. Meskipun mereka sepakat pembagian antara pikiran dan materi adalah masalah filosofis yang mendasar, mereka berpendapat itu adalah masalah yang mendasar dan gagasan hanyalah ekspresi dari kebutuhan material. Gagasan apa yang secara fundamental nyata tentang dunia bukanlah gagasan dan konsep, tetapi kekuatan material adalah jangkar dasar yang di atasnya semua gagasan Marx selanjutnya bergantung.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dua gagasan penting yang berkembang menyebutkan di sini: Pertama, realitas ekonomi adalah faktor penentu bagi semua perilaku manusia; dan kedua, semua sejarah manusia adalah perjuangan kelas antara mereka yang memiliki barang-barang dan mereka yang tidak memiliki barang-barang tetapi harus bekerja untuk bertahan hidup. Ini adalah konteks di mana semua lembaga sosial manusia berkembang, termasuk agama.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setelah lulus dari universitas, Marx pindah ke Bonn, berharap menjadi profesor, tetapi karena konflik atas filosofi Hegel, Ludwig Feuerbach telah kehilangan kursinya pada tahun 1832 dan tidak diizinkan untuk kembali ke universitas pada tahun 1836. Marx ditinggalkan gagasan karier akademik. Pada tahun 1841 pemerintah&amp;nbsp; melarang Profesor Bruno Bauer muda untuk kuliah di Bonn. Pada awal tahun 1842, kaum radikal di Rhineland (Cologne), yang berhubungan dengan kaum Hegelian Kiri, mendirikan sebuah makalah yang menentang pemerintah Prusia, yang disebut Rheinische Zeitung. Marx dan Bruno Bauer diundang menjadi kontributor utama, dan pada Oktober 1842 Marx menjadi pemimpin redaksi dan pindah dari Bonn ke Cologne. Jurnalisme akan menjadi pendudukan utama Marx untuk sebagian besar hidupnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setelah kegagalan berbagai gerakan revolusioner di benua itu, Marx terpaksa pergi ke London pada tahun 1849. Perlu dicatat melalui sebagian besar hidupnya, Marx tidak bekerja sendirian mendapat bantuan dari Friedrich Engels yang telah, pada sendiri, mengembangkan teori determinisme ekonomi yang sangat mirip. Keduanya berpikiran sama dan bekerja sangat baik bersama-sama Marx adalah filsuf yang lebih baik sedangkan Engels adalah komunikator yang lebih baik.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Meskipun gagasan-gagasan itu kemudian mendapatkan istilah &quot;Marxisme,&quot; harus selalu diingat Marx tidak memunculkannya sepenuhnya sendirian. Engels penting bagi Marx dalam arti finansial --- kemiskinan sangat membebani Marx dan keluarganya; seandainya bukan karena bantuan keuangan Engels yang konstan dan tanpa pamrih, Marx tidak hanya tidak akan mampu menyelesaikan sebagian besar pekerjaan utamanya tetapi mungkin telah menyerah pada kelaparan dan kekurangan gizi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Marx menulis dan belajar terus-menerus, tetapi kesehatan yang buruk menghalangi dia untuk menyelesaikan dua jilid Capital terakhir (yang kemudian disatukan oleh Engels dari catatan-catatan Marx). Istri Marx meninggal pada 2 Desember 1881, dan pada 14 Maret 1883, Marx meninggal dengan damai di kursinya. Dia berbaring dimakamkan di sebelah istrinya di Pemakaman Highgate di London.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut Karl Marx, agama seperti lembaga sosial lainnya karena ia tergantung pada realitas material dan ekonomi dalam masyarakat tertentu. Ia tidak memiliki sejarah independen; alih-alih, ia adalah makhluk kekuatan produktif. Seperti yang ditulis Marx, &quot;Dunia religius hanyalah refleks dari dunia nyata.&quot;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut Marx, agama hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan sistem sosial lain dan struktur ekonomi masyarakat. Faktanya, agama hanya bergantung pada ekonomi, tidak lain - begitu banyak sehingga doktrin agama yang sebenarnya hampir tidak relevan. Ini adalah interpretasi fungsionalis terhadap agama: memahami agama bergantung pada tujuan sosial yang dilayani agama itu sendiri, bukan pada isi keyakinannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pendapat Marx adalah agama adalah ilusi yang memberikan alasan dan alasan untuk membuat masyarakat berfungsi sebagaimana adanya. Sama seperti kapitalisme mengambil kerja produktif kita dan mengasingkan kita dari nilainya, agama mengambil cita-cita dan aspirasi tertinggi kita dan mengasingkan kita dari mereka, memproyeksikannya ke alien dan tidak dikenal yang disebut dewa.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Marx memiliki tiga alasan untuk tidak menyukai agama.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Pertama, itu tidak rasional --- agama adalah khayalan dan pemujaan terhadap penampilan yang menghindari mengakui realitas yang mendasarinya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kedua, agama meniadakan semua yang bermartabat dalam diri manusia dengan menjadikan mereka budak dan lebih bisa menerima status quo. Dalam kata pengantar disertasi doktoralnya, Marx mengadopsi moto kata-kata pahlawan Yunani Prometheus yang menentang para dewa untuk membawa api ke umat manusia: &quot;Aku membenci semua dewa,&quot; dengan tambahan&amp;nbsp; &amp;nbsp;mereka &quot;tidak mengenali kesadaran diri manusia sebagai keilahian tertinggi. &quot;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ketiga, agama munafik. Meskipun mungkin memiliki prinsip-prinsip yang berharga, itu berpihak pada para penindas. Yesus menganjurkan membantu orang miskin, tetapi gereja Kristen bergabung dengan negara Romawi yang menindas, mengambil bagian dalam perbudakan orang selama berabad-abad. Pada Abad Pertengahan, Gereja Katolik berkhotbah tentang surga tetapi memperoleh sebanyak mungkin harta dan kekuasaan.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Martin Luther memberitakan kemampuan setiap individu untuk menafsirkan Alkitab tetapi memihak penguasa aristokratis dan melawan petani yang berjuang melawan penindasan ekonomi dan sosial. Menurut Marx, bentuk kekristenan yang baru ini, Protestan, adalah produksi kekuatan ekonomi baru ketika kapitalisme awal berkembang. Realitas ekonomi baru membutuhkan suprastruktur agama baru yang dengannya itu dapat dibenarkan dan dipertahankan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pernyataan Marx yang paling terkenal tentang agama berasal dari kritik terhadap Filsafat Hukum Hegel:&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Kesulitan beragama pada saat yang sama merupakan ekspresi kesusahan yang nyata dan protes terhadap kesusahan yang nyata. Agama adalah desahan dari makhluk yang tertindas, jantung dari dunia yang tak berperasaan, seperti halnya semangat dari situasi tanpa semangat. Itu adalah candu rakyat.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Penghapusan agama sebagai kebahagiaan khayal rakyat diperlukan untuk kebahagiaan mereka yang sesungguhnya. Tuntutan untuk melepaskan ilusi tentang kondisinya adalah tuntutan untuk melepaskan suatu kondisi yang membutuhkan ilusi.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ini sering disalahpahami, mungkin karena perikop penuh jarang digunakan: huruf tebal di atas menunjukkan apa yang biasanya dikutip. Huruf miring adalah asli. Dalam beberapa hal, kutipan tersebut disajikan secara tidak jujur karena mengatakan &quot;Agama adalah desahan dari makhluk yang tertindas ...&quot; mengesampingkan&amp;nbsp; &amp;nbsp;itu&amp;nbsp; merupakan &quot;jantung dunia yang tidak punya hati.&quot; Ini lebih merupakan kritik terhadap masyarakat yang telah menjadi tidak berperasaan. dan bahkan merupakan validasi parsial agama yang mencoba menjadi intinya. Terlepas dari ketidaksukaan dan kemarahannya terhadap agama, Marx tidak menjadikan agama sebagai musuh utama kaum pekerja dan komunis. Seandainya Marx menganggap agama sebagai musuh yang lebih serius, ia akan mencurahkan lebih banyak waktu untuk itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Marx mengatakan agama dimaksudkan untuk menciptakan fantasi khayalan bagi orang miskin. Realitas ekonomi mencegah mereka dari menemukan kebahagiaan sejati dalam kehidupan ini, jadi agama mengatakan kepada mereka ini tidak apa-apa karena mereka akan menemukan kebahagiaan sejati di kehidupan selanjutnya. Marx tidak sepenuhnya tanpa simpati: orang-orang dalam kesulitan dan agama memberikan penghiburan, sama seperti orang-orang yang terluka secara fisik menerima bantuan dari obat-obatan berbasis opiat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Masalahnya adalah opiat gagal memperbaiki cedera fisik --- Anda hanya melupakan rasa sakit dan penderitaan Anda untuk sementara waktu. Ini bisa baik-baik saja, tetapi hanya jika Anda&amp;nbsp; mencoba untuk memecahkan penyebab rasa sakit yang mendasarinya. Demikian pula, agama tidak memperbaiki penyebab yang mendasari rasa sakit dan penderitaan orang --- sebaliknya, itu membantu mereka melupakan mengapa mereka menderita dan menyebabkan mereka menantikan masa depan khayalan ketika rasa sakit itu berhenti alih-alih bekerja untuk mengubah keadaan sekarang. Lebih buruk lagi, &quot;obat&quot; ini diberikan oleh penindas yang bertanggung jawab atas rasa sakit dan penderitaan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sama menarik dan wawasannya dengan analisis dan kritik Marx, mereka bukannya tanpa masalah baik historis maupun ekonomi. Karena masalah-masalah ini, tidak pantas untuk menerima ide-ide Marx tanpa kritik. Meskipun ia tentu memiliki beberapa hal penting untuk dikatakan tentang sifat agama , ia tidak dapat diterima sebagai kata terakhir pada subjek.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pertama, Marx tidak menghabiskan banyak waktu melihat agama secara umum; alih-alih, dia berfokus pada agama yang paling dikenalnya, Kristen. Komentarnya berlaku untuk agama-agama lain dengan doktrin yang sama tentang dewa yang kuat dan kehidupan setelah kematian, mereka tidak berlaku untuk agama yang berbeda secara radikal. Di Yunani dan Roma kuno, misalnya, akhirat yang bahagia dicadangkan untuk para pahlawan sementara rakyat jelata hanya bisa melihat ke depan hanya bayangan dari keberadaan duniawi mereka. Mungkin dia dipengaruhi dalam hal ini oleh Hegel, yang berpikir&amp;nbsp; &amp;nbsp;Kekristenan adalah bentuk agama tertinggi dan&amp;nbsp; &amp;nbsp;apa pun yang dikatakan tentang itu&amp;nbsp; secara otomatis diterapkan pada agama-agama yang &quot;lebih rendah&quot; ---tapi itu tidak benar.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Masalah kedua adalah klaimnya&amp;nbsp; &amp;nbsp;agama sepenuhnya ditentukan oleh realitas material dan ekonomi. Bukan saja tidak ada hal lain yang cukup mendasar untuk memengaruhi agama, tetapi pengaruh tidak dapat berjalan ke arah lain, dari agama ke realitas material dan ekonomi. Ini tidak benar. Jika Marx benar, maka kapitalisme akan muncul di negara-negara sebelum Protestan karena Protestan adalah sistem agama yang diciptakan oleh kapitalisme - tetapi kami tidak menemukan ini. Reformasi datang ke Jerman abad ke-16 yang masih bersifat feodal; kapitalisme nyata tidak muncul sampai abad ke-19. Hal ini menyebabkan Max Weber berteori&amp;nbsp; &amp;nbsp;institusi keagamaan akhirnya menciptakan realitas ekonomi baru. Sekalipun Weber salah, kita melihat&amp;nbsp; &amp;nbsp;orang dapat memperdebatkan kebalikan dari Marx dengan bukti sejarah yang jelas.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Masalah terakhir lebih ekonomis daripada agama --- tetapi karena Marx menjadikan ekonomi sebagai dasar bagi semua kritiknya terhadap masyarakat, masalah apa pun dengan analisis ekonominya akan memengaruhi gagasannya yang lain. Marx menitikberatkan pada konsep nilai, yang hanya bisa diciptakan oleh kerja manusia, bukan mesin. Ini memiliki dua kelemahan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pertama, jika Marx benar, maka industri padat karya akan menghasilkan lebih banyak nilai lebih (dan karenanya lebih banyak keuntungan) daripada industri yang tidak terlalu bergantung pada tenaga manusia dan lebih pada mesin. Tetapi kenyataannya justru sebaliknya. Paling-paling, laba atas investasi sama apakah pekerjaan dilakukan oleh orang atau mesin. Cukup sering, mesin memungkinkan lebih banyak keuntungan daripada manusia.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kedua, pengalaman umum adalah&amp;nbsp; &amp;nbsp;nilai objek yang diproduksi tidak terletak pada tenaga kerja yang dimasukkan ke dalamnya, melainkan pada estimasi subyektif dari pembeli potensial. Secara teori, seorang pekerja dapat mengambil sepotong kayu mentah yang indah dan, setelah berjam-jam, menghasilkan patung yang sangat jelek. Jika Marx benar&amp;nbsp; &amp;nbsp;semua nilai berasal dari kerja, maka patung itu harus memiliki nilai lebih dari kayu mentah --- tetapi itu tidak selalu benar. Objek hanya memiliki nilai apa pun yang akhirnya bersedia dibayar orang; beberapa mungkin membayar lebih untuk kayu mentah, beberapa mungkin membayar lebih untuk patung jelek itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Teori nilai kerja Marx dan konsep nilai lebih sebagai pendorong eksploitasi kapitalisme adalah fondasi mendasar yang mendasari semua sisa ide-idenya. Tanpa mereka, keluhan moralnya terhadap kapitalisme goyah, dan seluruh filosofinya mulai runtuh. Dengan demikian, analisisnya tentang agama menjadi sulit untuk dipertahankan atau diterapkan, setidaknya dalam bentuk sederhana yang ia gambarkan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kaum Marxis telah berusaha dengan gagah berani untuk membantah kritik-kritik itu atau merevisi ide-ide Marx untuk membuat mereka kebal terhadap masalah-masalah yang dijelaskan di atas, tetapi mereka belum sepenuhnya berhasil (walaupun mereka tentu saja tidak setuju --- kalau tidak mereka tidak akan tetap menjadi Marxis).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Untungnya, kita tidak sepenuhnya terbatas pada formulasi Marx yang sederhana. Kita tidak harus membatasi diri pada gagasan&amp;nbsp; &amp;nbsp;agama hanya bergantung pada ekonomi dan tidak pada yang lain, sehingga doktrin agama yang sebenarnya hampir tidak relevan. Sebaliknya, kita dapat mengakui&amp;nbsp; &amp;nbsp;ada berbagai pengaruh sosial terhadap agama, termasuk realitas ekonomi dan material masyarakat. Dengan cara yang sama, agama dapat, pada gilirannya, memiliki pengaruh pada sistem ekonomi masyarakat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Apa pun kesimpulan seseorang tentang keakuratan atau validitas ide-ide Marx tentang agama, kita harus mengakui&amp;nbsp; &amp;nbsp;ia memberikan layanan yang tak ternilai dengan memaksa orang untuk melihat dengan seksama jaringan sosial tempat agama selalu terjadi. Karena karyanya, menjadi tidak mungkin untuk mempelajari agama tanpa&amp;nbsp; mengeksplorasi hubungannya dengan berbagai kekuatan sosial dan ekonomi. Kehidupan spiritual orang tidak lagi dapat dianggap tidak tergantung pada kehidupan materi mereka.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Bagi Karl Marx, faktor penentu dasar sejarah manusia adalah ekonomi. Menurutnya, manusia --- bahkan sejak awal mula&amp;nbsp; tidak termotivasi oleh gagasan-gagasan besar, melainkan oleh keprihatinan materi, seperti kebutuhan untuk makan dan bertahan hidup. Ini adalah premis dasar dari pandangan materialis tentang sejarah. Pada awalnya, orang-orang bekerja bersama dalam persatuan, dan itu tidak terlalu buruk.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Namun akhirnya, manusia mengembangkan pertanian dan konsep kepemilikan pribadi. Dua fakta ini menciptakan pembagian kerja dan pemisahan kelas berdasarkan kekuatan dan kekayaan. Ini, pada gilirannya, menciptakan konflik sosial yang menggerakkan masyarakat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Semua ini diperburuk oleh kapitalisme yang hanya meningkatkan kesenjangan antara kelas kaya dan kelas buruh. Konfrontasi di antara mereka tidak dapat dihindari karena kelas-kelas itu digerakkan oleh kekuatan historis di luar kendali siapa pun. Kapitalisme&amp;nbsp; menciptakan satu kesengsaraan baru: eksploitasi nilai lebih.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Bagi Marx, sistem ekonomi ideal akan melibatkan pertukaran nilai yang sama dengan nilai yang sama, di mana nilai ditentukan hanya dengan jumlah pekerjaan yang dimasukkan ke dalam apa pun yang diproduksi. Kapitalisme menginterupsi cita-cita ini dengan memperkenalkan motif keuntungan --- keinginan untuk menghasilkan pertukaran yang tidak merata dari nilai yang lebih rendah untuk nilai yang lebih besar. Keuntungan pada akhirnya berasal dari nilai lebih yang dihasilkan oleh pekerja di pabrik.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Seorang buruh mungkin menghasilkan nilai yang cukup untuk memberi makan keluarganya dalam dua jam kerja, tetapi dia tetap bekerja selama satu hari penuh --- pada masa Marx, itu mungkin 12 atau 14 jam. Jam-jam ekstra tersebut mewakili nilai lebih yang dihasilkan oleh pekerja. Pemilik pabrik tidak melakukan apa-apa untuk mendapatkan ini, tetapi mengeksploitasinya dan menjadikan perbedaan sebagai keuntungan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dalam konteks ini, Komunisme dengan demikian memiliki dua tujuan : Pertama, ia seharusnya menjelaskan kenyataan ini kepada orang-orang yang tidak menyadarinya; kedua, seharusnya memanggil orang-orang di kelas buruh untuk bersiap menghadapi konfrontasi dan revolusi. Penekanan pada tindakan&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sumber : &lt;a href=&quot;https://www.kompasiana.com/balawadayu/5deb8b1e097f36477f3f1323/tulisan-6-apakah-agama-adalah-candu-masyarakat?page=all#sectionall&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;kompasiana.com&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;from http://febriliano.blogspot.com/&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://febriliano.blogspot.com/feeds/7739765980049419911/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/2180219956895463446/7739765980049419911' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default/7739765980049419911'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default/7739765980049419911'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://febriliano.blogspot.com/2020/05/tulisan-6-apakah-agama-adalah-candu.html' title='Tulisan [6] | Apakah Agama adalah Candu Masyarakat'/><author><name>Febriliano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06209999027745913103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgdX4nMRrsJcQlWxdGD6FeErWHM8h3RvTRTHhC9v4JNxmk75hK4Sz-Cy1DiCt2qXigHLaPyH9d17WxU7nA2d4XydJTJYTH2zL3TWgCGZ3tiIHcabSDpaapYRXwwrAJNxSk/s113-r/it&#39;s+me.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2180219956895463446.post-1572679999713534177</id><published>2020-04-21T12:18:00.000+07:00</published><updated>2020-04-22T12:19:43.018+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sejarah"/><title type='text'>Kartini: Saya Adalah Anak Buddha</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Di antara 115 surat-surat Raden Ajeng Kartini ternyata ternyata ada beberapa surat yang&amp;nbsp; kontroversial. Salah satunya adalah suratnya yang soal Buddha. Surat itu terkena sensor dan tak diterbitkan dalam buku Door Duisternis Tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang) pada 1911. Majalah Tempo pernah menurunkan edisi khusus Kartini beberapa waktu lalu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pengakuan Kartini yang menyebut dirinya sebagai anak Buddha bermula saat Kartini kecil sakit keras. Badannya menggigil. Dokter yang didatangkan ayahnya, Bupati Jepara Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, tak sanggup mengobati anak tujuh tahun itu. Lalu datanglah seorang Cina yang sedang dihukum pemerintah Hindia Belanda bertamu ke rumahnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Laki-laki Cina itu sudah dikenal oleh tiga anak Sosroningrat. Dia menawarkan bantuan dengan meminta Kartini meminum air yang dicampur abu lidi shio dari sebuah kelenteng di Welahan, kecamatan di Jepara, Jawa Tengah, tempat terdapat banyak rumah ibadah umat Konghucu. Ajaib. Demam Raden Ajeng turun dan ia sembuh.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Cerita itu kemudian ia tulis dalam surat untuk Nyonya Rosa Abendanon-Mandri, istri Direktur Pendidikan, Agama, dan Industri Hindia Belanda. Dalam surat bertarikh 27 Oktober 1902, Kartini berapi-api menceritakan pengalaman itu. &quot;Apa yang tak berhasil dengan obat-obatan kaum terpelajar ternyata berhasil dengan obat tukang jamu,&quot; katanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Cerita itu ada dalam surat Kartini kepada Abendanon. Oleh Abendanon, surat-surat itu kemudian dikumpulkan. Surat itu diterbitkan dalam judul Door Duisternis Tot Licht pada 1911, tujuh tahun setelah Kartini meninggal. Secara harfiah, kalimat Belanda itu berarti &quot;Dari Kegelapan Menuju Cahaya&quot;. Penerbit Balai Pustaka pada 1922 menerjemahkannya menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ada beberapa surat Kartini yang berkisah tentang Buddha. Kartini bahkan tak segan menyebut diri &quot;anak Buddha&quot; karena sudah meminum air shio saat sakit itu. &quot;Ketahuilah, Nyonya,&quot; tulisnya kepada Abendanon, &quot;bahwa saya anak Buddha, dan itu sudah menjadi alasan mengapa saya tak makan daging.&quot; Seperti nada dalam seluruh surat, kalimat Kartini terasa tulus, tanpa pretensi dan motif ketika bercerita tentang apa saja.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setahun sebelum menulis surat itu, ia mengunjungi Welahan, kampung tempat tabib yang mengobati Kartini. &quot;Bagaimanapun, saya mesti belajar kenal dengan bapak saya yang besar itu,&quot; ujarnya tentang Santik-kong, arwah leluhur orang Welahan yang disucikan di kelenteng tersebut. Di sana ia menyaksikan upacara memperingati ulang tahun arwah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Santik-kong terkenal sebagai dewa penyembuh. Setiap ada wabah yang berjangkit, patungnya diarak berkeliling desa agar asap dupanya menyebar menangkal virus. Dan desa itu biasanya terhindar dari kuman. Kartini mencoba memberikan pemahaman yang logis kepada Abendanon, yang tak percaya kepada takhayul.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sumber : &lt;a href=&quot;https://nasional.tempo.co/read/868068/kartini-saya-adalah-anak-buddha/full&amp;amp;view=ok&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Tempo&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;from http://febriliano.blogspot.com/&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://febriliano.blogspot.com/feeds/1572679999713534177/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/2180219956895463446/1572679999713534177' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default/1572679999713534177'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default/1572679999713534177'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://febriliano.blogspot.com/2020/04/kartini-saya-adalah-anak-buddha.html' title='Kartini: Saya Adalah Anak Buddha'/><author><name>Febriliano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06209999027745913103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgdX4nMRrsJcQlWxdGD6FeErWHM8h3RvTRTHhC9v4JNxmk75hK4Sz-Cy1DiCt2qXigHLaPyH9d17WxU7nA2d4XydJTJYTH2zL3TWgCGZ3tiIHcabSDpaapYRXwwrAJNxSk/s113-r/it&#39;s+me.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2180219956895463446.post-2783476354646380424</id><published>2020-03-30T07:38:00.000+07:00</published><updated>2020-03-30T07:38:00.146+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Psikologi"/><title type='text'>Mendidik Rasa Bersalah</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Si bungsu Abdul Qodir Jaelani (AQJ) alias Dul, anak pesohor Ahmad Dani, terlibat kecelakaan lalu lintas yang menyedot perhatian kita, mengalahkan krisis tahu dan tempe nasional. Enam korban nyawa melayang dan sembilan orang terkapar luka. Ah, sesungguhnya siapa pelaku dan siapa korban?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Frederic Reamer, profesor pakar perilaku remaja dari Rhode Island College, mengatakan bahwa perilaku impulsif dan berisiko tinggi (impulsive and high-risk behaviors) pada remaja kerap merupakan salah satu penanda mereka dalam kondisi stres yang tidak tertahankan. Sebagian di antara perilaku tersebut dikabarkan ada pada AQJ: hang out dan ngebut bersama teman-teman yang sama-sama berisiko, mengendarai kendaraan bermotor tanpa SIM, apalagi belum cukup usia, atau yang demen berkelahi, mem-bully, ngutil, memakai obat-obatan dan alkohol. Penanda itu bisa samar atau nyata. Bukan sekadar pengaruh lingkungan semata, tapi juga di dalam mereka sendiri memang amat rapuh. Masalahnya, mengapa dia menjadi lebih rapuh daripada usia sebayanya?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Perilaku itu kalau diabaikan akan cenderung merusak diri dan mencelakakan orang lain, bahkan membunuh. Perlu perhatian serius agar ada makna pembelajaran ke depan. Fokus kepada masalah tabrakan maut tersebut, dilakukan anak usia 13 tahun yang secara normatif belum diizinkan mengemudi, apalagi ngebut tanpa lisensi di tengah malam buta, anak pesohor lagi, wajar bila banyak keingintahuan di benak masyarakat. Apakah dia sudah terbiasa ngebut di jalan raya atau baru kali itu dilakukan? Pertanyaannya lagi, mengapa kasus seperti itu, tidak hanya dilakukan AQJ, bisa terjadi dan terus berulang?&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Bagaimana sistem tidak mengantisipasi dengan aturan yang tidak sekadar harus jelas, tapi juga menjalankannya dengan konsisten. Coba lihat di jalanan, banyak remaja belum cukup usia berkendara mobil atau sepeda motor tanpa mengindahkan tata cara berlalu lintas yang benar, tapi terjadi pembiaran oleh petugas. Juga, banyak pelanggaran lain dipertontonkan masyarakat, mulai pemimpin hingga anak muda kelas rakyat, yang karena terjadi ”pembiaran nasional”, akhirnya menjadi kelaziman baru.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Keluaga! Keluarga!&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Seorang anak atau remaja tentu secara individu dibentuk lingkungan, terutama keluarga. Namun, sebagai bagian dari masyarakat, tentu sistem di suatu komunitaslah yang ”mengizinkan” berbuat demikian. Meskipun sebagai anak yang belum dewasa, tentu pengaruh orang tua atau lingkungan keluargalah yang paling berpengaruh. Keluarga memberikan warna dasar anak akan berperilaku.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mana yang boleh dan mana yang tidak boleh mestinya diperkenalkan pada pola pikir anak yang masih hitam-putih, lantas akan beradaptasi dengan realitas yang ada. Seperti kata P. Zimbardo, pakar psikologi sosial, kekuatan aturan dan nilai-nilai dalam membentuk realitas amat efektif untuk mengoordinasikan perilaku sosial. Misalnya, harus berhenti berkendara saat tanda lampu merah, tidak boleh ngebut di jalan umum, tidak memotong antrean, mendengarkan bila ada orang yang sedang berbicara, dan aturan sosial lain. Bermula dari rumah, lantas melangkah ke aturan masyarakat dan negara. Akan efektif bila ada sistem yang mengatur, yaitu reward dan punishmentberlaku tanpa pandang bulu dan berkesinambungan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mengapa anak tidak boleh mempunyai lisensi mengemudi ketika belum berusia 17 tahun. Atau, mengapa orang tua tidak harus selalu mengabulkan keinginan anak untuk mendapat sesuatu, bahkan harus ”kerja keras” lebih dulu kendati orang tuanya mampu. Tentu itu bukan semata sayang atau tidak sayang, bukan boleh atau tidak boleh. Itu mengajarkan bagaimana seseorang akan mampu untuk bersabar menunggu proses, tidak impulsif, jujur, dan tidak bermental menerabas, serta paham makna prioritas.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Itulah modal amat mendasar untuk hal lebih besar di negeri ini, yaitu pencegahan perilaku koruptif! Sekaligus pembiasaan itu menanamkan ”rasa bersalah” (guilt culture) bila mengganggu atau melanggar hak orang lain, bukan sekadar ”rasa malu” (shame culture).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kembali kepada AQJ, betapa tidak sedikit orang tua masa kini, atas nama keberdayaan ekonomi dan ”slogan” sayang anak, mereka memanjakan anak dengan materi, cenderung sudah tidak proporsional lagi. Kata ayah AQJ: ”Satu anak satu mobil plus sopir”sehingga bisa jadi anak malah kurang belajar tentang makna berbagi atau tenggang rasa. Memberi tanpa proses menunggu dan berjuang yang wajar, demi siapa? Demi sayang anak atau demi gengsi orang tua?&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Di tengah kondisi masyarakat yang susah sekaligus ”sakit” saat ini, pelajaran tentang empati, memahami, dan tenggang rasa tentang perasaan serta kondisi orang lain tentu relevan untuk didendangkan di telinga anak muda. Bahwa ada hak orang lain yang juga penting di luar kepentingan sendiri sehingga perlu pertimbangan sebelum melakukan sesuatu. Bagaimana jika berada di posisi korban atau orang yang menderita, seperti para janda dan yatim baru dalam tragedi Dul.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Saya cuma khawatir, bila keinginan ayah AQJ yang dulu pernah dilontarkan untuk mendidik anak-anaknya ”menjadi lelaki sejati” akan menjadi kenyataan. Yaitu, menjadi lelaki sejati kendati melewati babak belur terlebih dahulu. Bisa jadi, ”babak belurnya’‘ tidak kunjung sembuh, atau sebaliknya akan menjadi manusia tahan banting. Namun, kalau ada pilihan lain yang lebih baik, mengapa tidak?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sumber : Opini&amp;nbsp; Jawapos 19 September 2013&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;from http://febriliano.blogspot.com/&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://febriliano.blogspot.com/feeds/2783476354646380424/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/2180219956895463446/2783476354646380424' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default/2783476354646380424'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default/2783476354646380424'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://febriliano.blogspot.com/2020/03/mendidik-rasa-bersalah.html' title='Mendidik Rasa Bersalah'/><author><name>Febriliano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06209999027745913103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgdX4nMRrsJcQlWxdGD6FeErWHM8h3RvTRTHhC9v4JNxmk75hK4Sz-Cy1DiCt2qXigHLaPyH9d17WxU7nA2d4XydJTJYTH2zL3TWgCGZ3tiIHcabSDpaapYRXwwrAJNxSk/s113-r/it&#39;s+me.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2180219956895463446.post-6404407040588196353</id><published>2020-03-29T07:14:00.000+07:00</published><updated>2020-03-29T07:15:12.912+07:00</updated><title type='text'>Belajar dari Nasib Nazaruddin</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Jangan pernah mengira bahwa pemecatan Muhammad Nazaruddin dari jabatan Bendahara Umum Partai Demokrat, akan membuat ciut nyali para anggota DPR yang terbiasa memanfaatkan kedudukannya untuk mengambil uang negara. Peristiwa ini hanya menjadikan mereka lebih berhati-hati sambil meningkatkan kecanggihan operasi agar aman dari jeratan hukum.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Jangan pernah tanya, apakah pendapatan resmi anggota DPR tidak cukup untuk hidup nyaman di Jakarta. Cukup. Mereka disediakan rumah dinas; ketika rumah dinas direnovasi, mereka mendapat uang sewa rumah atau apartemen. Fasilitas komunikasi dibayari kas negara, demikian juga untuk kunjungan ke konstituen. Kurang apa lagi?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tetapi, mengapa mereka masih terus memburu uang dengan cara tidak halal? Pendekatan agama, agaknya tak mencukupi menjelaskan soal ini. Sebab, pendidikan dasar hingga tinggi di negeri ini telah memberikan banyak materi keagamaan. Hampir semua anggota DPR adalah sarjana. Bahkan banyak di antara mereka yang menyerap pindidikan khusus agama di pesantren, paroki, vihara, dll.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mereka yang beragama Islam tampak rajin salat, mereka yang beragama Kristiani juga rajin ke gereja. Lihat saja perayaan Hari Waisak yang lalu, hampir semua anggota DPR yang beragama Buddha datang, serius mendegarkan pesan-pesan Waisak. Kata ahli agama, mereka mengetahui ilmu agama, tetapi tidak menghayatinya; mereka menjalankan ritual agama tetapi tidak menyerap nilai-nilainya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Apakah mereka punya kepribadian buruk atau semacam asosial? Susah menjawabnya. Sehari-hari di rumah mereka orang baik nan bijak: menyayangi keluarga, akrab dengan tetangga, tak segan membantu bila diminta. Sebagian mereka terlibat beragam kegiatan sosial. Mereka tampak berkeras mewujudkan kata-kata “demi rakyat”, “demi bangsa” dan “demi negara” dalam seluruh aktivitasnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Namun, ketika mereka melihat ada peluang untuk mengambil “sedikit” uang negara yang lewat di hadapanya, mereka pun tak bisa berpaling. Bagaimana mau berpaling, saat melihat ke kanan dan kiri ke depan dan belakang, hampir semua koleganya mengambil kesemptan itu. Toh hanya mengambil sedikit, toh sudah memperjuangkan ini itu untuk rakyat, toh gaji direktur BUMN lebih banyak ...&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Begitu banyak alasan untuk mengambil uang negara yang dikumpulkan dari pajak rakyat. Uang yang dikumpulkan dari keringat seluruh rakyat Indonesia, sehingga kalau mereka masih percaya dosa, percaya kehidupan akhirat, mereka akan menanggung beban dosa yang luar biasa. Rupanya, mereka tidak percaya itu. Jika pun percaya, rasionalisasinya cukup membenarkan atas apa yang dilakukan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Faktanya, sebagai anggota Dewan, mereka harus menghadapi tuntutan konstituen. Tak terhitung jumlah proposal masuk di kantornya, tak terhitung pula permintaan lisan, lewat telepon maupun sms, atas sejumlah uang untuk segala macam keperluan. Apa meraka mau dibiarkan? Bukankah suara mereka yang membawanya berkantor di Senayan? Kan tidak cukup hanya 5 tahun di Senayan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kenyataannya, partai politik mengharuskan mereka menyetor sejumlah uang untuk membiayai kegiatan partai. Mereka yang hanya menyetorkan potongan gajinya, pasti tidak bisa berharap dicalonkan lagi. Semakin banyak setoran semakin baik buat partai, dan itu juga semakin baik buat masa depan karier politiknya. Bolehlah ideologi hilang dalam politik, tapi uang tidak mungkin.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Jadi agak aneh jika partai kemudian menghukum kadernya yang rajin menyetor uang dalam jumlah banyak, karena sesungguhnya partailah yang membuat mereka mengembat segala macam asal usul dan bentuk uang. Tetapi, siapa berani melawan. Jangan coba-coba jika tak mau habis karier politik.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Karena itu, pemecatan Nazaruddin tak perlu disesali, tak perlu ditangisi. Dia lagi bernasib sial saja. Kesialan biasanya menghinggapi orang yang tidak hati-hati. Makanya, berhati-hatilah menghadapi perangkap hukum yang hendak ditegakkan oleh orang-orang yang tidak paham dunia politik.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Politik itu kotor. Saling menginjak, saling memanfaatkan. Tapi politik harus tampak bersih, karena politik adalah atas nama rakyat, atas nama bangsa dan negara, bahkan juga atas nama agama. Oleh karena itu, kecanggihan mengambil uang negara yang harus ditingkatkan agar tidak bernasib seperti Nazaruddin, dan mereka yang kini jadi tersangka atau terpidana lain....&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Didik Supriyanto, Wapemred detikcom. Tulisan ini tidak mewakili kebijakan redaksi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Selasa, 24 Mei 2011 15:35 WIB&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber : &lt;a href=&quot;https://news.detik.com/kolom/d-1645965/belajar-dari-nasib-nazaruddin&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Detik.com&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;from http://febriliano.blogspot.com/&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://febriliano.blogspot.com/feeds/6404407040588196353/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/2180219956895463446/6404407040588196353' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default/6404407040588196353'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default/6404407040588196353'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://febriliano.blogspot.com/2020/03/belajar-dari-nasib-nazaruddin.html' title='Belajar dari Nasib Nazaruddin'/><author><name>Febriliano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06209999027745913103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgdX4nMRrsJcQlWxdGD6FeErWHM8h3RvTRTHhC9v4JNxmk75hK4Sz-Cy1DiCt2qXigHLaPyH9d17WxU7nA2d4XydJTJYTH2zL3TWgCGZ3tiIHcabSDpaapYRXwwrAJNxSk/s113-r/it&#39;s+me.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2180219956895463446.post-8253456830788573228</id><published>2019-11-01T07:38:00.000+07:00</published><updated>2019-11-01T10:01:29.559+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Intermezzo"/><title type='text'>SMART SYSTEM BY SMART MALING</title><content type='html'>Membuat&amp;nbsp;e budgeting?&lt;br /&gt;
Apa susahnya?&lt;br /&gt;
Berikut contoh Smart&amp;nbsp;e budgeting sederhana...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#39;Membuat variabel&lt;br /&gt;
&#39;================&lt;br /&gt;
Dim HargaLemAibon_Wajar As Long&lt;br /&gt;
Dim HargaLemAibon_Maling As Long&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dim TanyaMaling As Char&lt;br /&gt;
Dim InputHarga As String&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dim Keterangan As String&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#39;Mengeset harga MarkUp Lem Aibon&lt;br /&gt;
&#39;===============================&lt;br /&gt;
HargaLemAibon_Maling = 8280000000&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#39;Login awal&lt;br /&gt;
&#39;==========&lt;br /&gt;
Console.Write(&quot;Apakah Anda Maling? Y/N &quot;)&lt;br /&gt;
TanyaMaling = Console.ReadLine()&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#39;Menginput Harga Wajar Lem Aibon&lt;br /&gt;
&#39;===============================&lt;br /&gt;
Console.Write(&quot;Harga Wajar Lem Aibon : &quot;)&lt;br /&gt;
InputHarga = Console.ReadLine()&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#39;Konversi tipe data&lt;br /&gt;
&#39;===============================&lt;br /&gt;
HargaLemAibon_Wajar = Long.Parse(InputHarga)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#39;Mengecek apakah User termasuk Maling?&lt;br /&gt;
&#39;=====================================&lt;br /&gt;
If TanyaMaling = &quot;Y&quot; Or TanyaMaling = &quot;y&quot; Then&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#39;Jika user Maling, membuat Peringatan kalo Maling salah ketik&lt;br /&gt;
&#39;============================================================&lt;br /&gt;
Keterangan = &quot;Anda SALAH KETIK!&quot; &amp;amp; vbCrLf &amp;amp;&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&quot;Sistem akan otomatis megubah harga&quot; &amp;amp; vbCrLf &amp;amp;&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&quot;dari &quot; &amp;amp; HargaLemAibon_Wajar &amp;amp; &quot; menjadi &quot; &amp;amp; HargaLemAibon_Maling&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Else&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#39;Jika orang Naif, membuat orang naif menjadi maling&lt;br /&gt;
&#39;==================================================&lt;br /&gt;
Keterangan = &quot;Anda TERLALU NAIF!&quot; &amp;amp; vbCrLf &amp;amp;&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &quot;Sistem akan otomatis megubah harga&quot; &amp;amp; vbCrLf &amp;amp;&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &quot;dari &quot; &amp;amp; HargaLemAibon_Wajar &amp;amp; &quot; menjadi &quot; &amp;amp; HargaLemAibon_Maling&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
End If&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#39;Inti Smart sistem Bekerja&lt;br /&gt;
&#39;==============================&lt;br /&gt;
HargaLemAibon_Wajar = HargaLemAibon_Maling&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#39;Menampilkan Hasil&lt;br /&gt;
&#39;=================&lt;br /&gt;
Console.WriteLine()&lt;br /&gt;
Console.WriteLine(Keterangan)&lt;br /&gt;
Console.WriteLine()&lt;br /&gt;
Console.WriteLine(&quot;Harga Lem : &quot; &amp;amp; HargaLemAibon_Wajar)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Console.ReadLine()&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#39;Contoh program bisa di download di &lt;a href=&quot;https://tinyurl.com/y37wnv2j&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;from http://febriliano.blogspot.com/&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://febriliano.blogspot.com/feeds/8253456830788573228/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/2180219956895463446/8253456830788573228' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default/8253456830788573228'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default/8253456830788573228'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://febriliano.blogspot.com/2019/11/smart-system-by-smart-maling.html' title='SMART SYSTEM BY SMART MALING'/><author><name>Febriliano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06209999027745913103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgdX4nMRrsJcQlWxdGD6FeErWHM8h3RvTRTHhC9v4JNxmk75hK4Sz-Cy1DiCt2qXigHLaPyH9d17WxU7nA2d4XydJTJYTH2zL3TWgCGZ3tiIHcabSDpaapYRXwwrAJNxSk/s113-r/it&#39;s+me.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2180219956895463446.post-7515594556782455757</id><published>2019-07-24T08:18:00.000+07:00</published><updated>2020-05-09T10:38:10.892+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="AC Surabaya"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Intermezzo"/><title type='text'>Hati-hati dalam membeli AC Mobil</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Jika ada slogan &quot;Pembeli adalah raja&quot;, maka slogan ini tidak berlaku untuk semua penyedia barang dan jasa. Ada sebagian dari mereka yang menganggap &quot;HANYA calon pembeli yang raja. Sementara pembeli adalah sampah yang bisa dicampakkan begitu saja&quot;. Pengalaman ini saya bagikan untuk memastikan bahwa semua hal yang saya alami tidak terjadi pada Anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekitar pertengahan tahun 2018, saya membeli 1 unit kendaraan dari sebuah dealer terkenal di Surabaya. Kendaraan ini tidak mempunyai pilihan varian dengan dengan AC terpasang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sales dealer berkata bisa membantu pemasangan AC untuk unit tersebut melalui rekanan atau vendor dari merk kendaraan tadi. Rekanan itu dikenalkan sebagai&amp;nbsp; Pak Rudi. Dikatakan bahwa Pak Rudi melayani pemasangan AC dari hampir semua dealer mobil di Surabaya. Sesuai perjanjian, saya setuju kendaraan sudah terpasang AC pada saat dikirim. Harga yang harus saya bayar adalah 5,5 juta rupiah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah beberapa lama, masalah pertama muncul. Diawali dengan bunyi berderit ketika kemudi diputar. Karena masih dalam garansi dealer, kendaraan dibawa ke dealer untuk dicek. Dari sana diketahui bahwa masalah terjadi karena jumlah van belt yang dipasang hanya 1 dari seharusnya 2 buah. Dari dealer, kendaraan disarankan ke Pak Rudi untuk dilakukan penambahan van belt.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selang beberapa lama, terjadi masalah kedua yaitu putusnya van belt. Kembali kendaraan harus masuk ke Pak Rudi untuk diperbaiki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perbaikan kedua ini pun tampaknya tidak memperbaiki masalah yang ada. Ini dibuktikan dengan munculnya masalah ketiga yaitu putusnya baut braket AC. Kemudian dilakukan perbaikan (di rumah saya) dengan mengganti dengan jenis baut yang lebih keras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun perbaikan yang ketiga ini pun tidak cukup untuk memperbaiki masalah yang terjadi. Awal Juli 2019, selang power steering kendaraan saya putus. Jadi dari total sekitar 21 ribu km pemakaian kendaraan, terhitung 4 kali kendaraan saya bermasalah dengan AC.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari sini, saya menyimpulkan ada yang tidak beres dengan pemasangan AC pada kendaraan saya yang dilakukan Pak Rudi. Saya menduga, kesalahan itu menyebabkan getaran yang berlebihan. Getaran itu yang menyebabkan rentetan masalah di atas. Perbaikan yang dilakukan hanya menutupi masalah yang saat itu timbul tapi tidak pernah menyelesaikan masalah utamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada Jumat 12 Juli 2019, sekitar jam 15.00 saya, sales dealer, dan Pak Rudi sepakat untuk bertemu untuk membahas hal ini. Pertemuan ini juga dihadiri oleh bagian service dari dealer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai solusi pertama, saya menginginkan AC dilepas dan uang dikembalikan. Saya sangat kecewa dengan layanan Pak Rudi. Yang terpenting, saya tidak ingin buruknya pekerjaan Pak Rudi berpengaruh atau merusak komponen lain dari kendaraan saya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href=&quot;https://febriliano.blogspot.com/2019/07/bagaimana-dasar-hukum-barang-yang-sudah.html&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Bagaimana Dasar Hukum &quot;Barang yang Sudah Dibeli Tidak Dapat Dikembalikan&quot;?&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pak Rudi keberatan dengan hal ini, dia beralasan bahwa tidak pernah ada barang sudah dibeli dan dipakai kemudian uang dikembalikan. Kalau pun bermasalah, dia hanya berani menjamin untuk AC saja dan tidak mau disalahkan atas kerusakan di luar AC. Pak Rudi berulang kali menekankan bahwa dia sudah bekerja secara profesional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sempat terjadi perdebatan panjang mengenai hal ini. Sampai bagian service dealer menjelaskan bahwa kesalahan pemasangan AC bisa berakibat terhadap lingkungan sekitarnya. Jadi patahnya selang power steering pada kejadian terakhir bisa disebabkan kerena kesalahan pemasangan AC.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah terjadi perdebatan lagi, saya mau menurunkan permintaan saya dari awalnya meminta uang kembali menjadi garansi dari Pak Rudi bahwa pemasangan AC tidak merusak lingkungan sekitarnya (komponen mobil lainnya), seperti dikatakan bagian service dealer. Sebagai penengah, yang berhak menentukan penyebab masalah adalah service resmi dari dealer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pak Rudi keberatan dengan tuntutan tadi. Kali ini dia malah menyalahkan saya dengan alasan bahwa saya tidak melakukan service AC pada 20 ribu km. Berikutnya, dia hanya mau memberi garansi jika dilakukan perawatan rutin AC di Pak Rudi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya sangat keberatan dengan alasan tersebut. Keberatan pertama adalah 3 masalah yang terjadi di awal (van belt kurang, van belt putus dan baut putus) jelas berhubungan dengan AC. Itu semua terjadi pada saat pemakaian belum mencapai 20 ribu km. Angka 20 ribu ini ditentukan sendiri oleh pihak Pak Rudi. Kenapa malah saya disalahkan karena tidak melakukan service yang belum waktunya dilakukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keberatan kedua, buat saya, pekerjaan Pak Rudi sangat tidak profesional. Bukankah masalah pertama yang timbul karena van belt hanya dipasang 1 buah? Jika untuk pengerjaan dasar dan yang jelas-jelas tampak saja Pak Rudi melakukan kesalahan fatal, bagaimana mungkin mereka bisa melakukan pekerjaan perawatan yang jauh lebih rumit?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sempat terjadi perdebatan lagi, hingga untuk kedua kalinya saya kembali mengalah. Karena sudah tidak percaya dengan Pak Rudi, saya merelakan garansi AC dari Pak Rudi gugur. Yang saya minta sekarang hanya pertanggungjawaban dalam sebuah kesepakatan tertulis tentang berisi kronologi semua yang terjadi dan ditandatangani bersama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Pak Rudi tetap keberatan dengan permintaan saya ini dan hanya sanggup membuat surat pernyataan yang isinya bahwa Pak Rudi telah melakukan perbaikan atas semua masalah yang terjadi. Sampai saat ini Pak Rudi merasa AC dalam kondisi normal dan dingin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal itu kembali saya tolak. Bagaimana mungkin saya menerima surat penilaian kinerja yang dibuat oleh orang yang melakukannya sendiri? Dengan menerima surat pernyataan itu, saya merasa dipaksa untuk mengakui hasil perkerjaan AC dari sudut pandang Pak Rudi yang jelas berlawanan dengan penilaian saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Buat saya jelas bahwa kinerja AC bukan hanya dilihat dari dinginnya suhu ruang saja. Bahkan sejak awal, saya tidak mempermasalahkan soal dinginnya AC tetapi pengaruh lain akibat ketidakberasan pemasangan AC.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mobil tanpa perawatan pun tetap bisa berjalan dengan kondisi chasis goyang, oli bocor, ban kempes dsb. Tapi apakah kondisi itu bisa dikatakan normal? Empat kali masalah dalam&amp;nbsp; waktu sekitar 20 ribu km secara nyata membuktikan bahwa kerja AC saya masih &quot;normal&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Parahnya pada pertemuan itu, menurut saya terjadi beberapa keanehan pola pikir. Keanehan pertama, pak Rudi bahkan sempat berkata bahwa sudah untung dia bersedia mengganti spare part (braket) yang bermasalah dan tidak menarik biaya dari penggantian tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengenai spare part bermasalah ini, Pak Rudi sempat mengatakan bahwa mungkin 1 dari seribu komponen yang diproduksi cacat. Dengan mengatakan demikian bukankah secara tidak langsung pak Rudi mengakui bahwa bisa jadi barang yang diberikan ke saya adalah 1 dari seribu yang bermasalah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebenarnya kemungkinan cacat produksi ini bisa saya terima. Tapi yang terjadi pada kasus saya adalah cacat produksi itu terjadi di banyak komponen yang dipasang. Jelas-jelas terjadi van belt putus, 2 kali penggantian braket dan 1 kali penggantian baut putus. Apakah itu suatu kewajaran?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya pikir terlalu naif jika semua itu dikatakan suatu cacat produksi. Belum lagi masalah kurangnya jumlah van belt yang dipasang. Apakah itu juga cacat produksi? Dan hanya karena &quot;kebaikan&quot; Pak Rudi akhirnya saya tidak dikenakan biaya atas penggantian semua barang yang cacat itu. Whew.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keanehan berikutnya dan yang amat sangat dan paling mengecewakan bagi saya adalah pak Rudi sempat mengatakan bahwa waktu dia tidak hanya untuk mengurusi masalah saya. Bagaimana bisa perkataaan ini muncul dari seorang penyedia jasa profesional? Saya sudah membayar semua layanan Pak Rudi bukannya memintanya secara gratis. Apa pantas itu semua diucapkan dilakukan penyedia jasa yang katanya profesional?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya sudah mengalami banyak kerugian waktu, tenaga dan biaya atas hasil pekerjaan Pak Rudi. Atas semua kerugian itu, 2 kali saya menurunkan permintaan untuk mencapai titik temu dan tidak berusaha menuntut ganti rugi. Permintaan itu mestinya menjadi hak saya sebagai pelanggan Pak Rudi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang yang saya minta hanya pertanggungjawaban Pak Rudi yang dituangkan dalam sebuah kesepakatan tertulis tentang semua yang terjadi dan ditandatangani bersama. Pada akhirnya, Pak Rudi berkata tidak punya cukup waktu untuk membahas semua ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekitar jam 17.00, dengan alasan keluarga, Pak Rudi meninggalkan kami dan tidak pernah menandatangani surat kesepakatan itu. Saya pikir duduk bersama, berdiskusi untuk kemudian bersepakat yang akhirnya dinyatakan dalam suatu pertanggungjawaban tertulis adalah cara beradab untuk menyelesaikan permasalahan. Dan itu tidak saya dapatkan pada kesempatan kali ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama hampir satu minggu setelah pertemuan itu, saya berusaha meminta bantuan sales dealer untuk meminta pertanggungjawaban pak Rudi. Hasilnya Pak Rudi hanya mau memberikan surat (masih berbentuk draf surat yang dikirim via WA) yang isinya bahwa Pak Rudi telah melakukan semua perbaikan yang dilakukan dan kembali menyalahkan saya karena tidak melakukan service rutin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai saat ini saya masih bingung, heran dan amat sangat kecewa terhadap pola pikir pihak Pak Rudi. Saya sudah rugi soal waktu, tanaga, biaya dll. Dan saya tidak berusaha mengklaim semua itu. Yang saya dapatkan malah seakan saya kurang kerjaan dan hanya cari masalah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Buat saya, Pak Rudi hanya perlu membuat surat kronologi kejadian dan surat pernyataan minta maaf atas ketidaknyamanan saya. Soal permintaan maaf memang selama ini saya tidak pernah secara ekplisit menyatakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama ini, saya dididik bahwa meminta maaf atas perbuatan yang merugikan orang lain adalah salah satu contoh ciri orang beradab. Setelah semua kejadian ini, apakah pendidikan untuk meminta maaf itu salah? Karena, saya tidak pernah merasakan hal itu dalam penyelesaian masalah saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Catatan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam pembicaraan per telepon sebelum tanggal 12 Juli 2019, pak Rudi menyatakan kesanggupannya untuk menuliskan surat kronologi kejadian masalah kendaraan saya. Namun surat tersebut tidak pernah diberikan sampai tulisan ini dibuat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Surabaya - 24 Juli 2019 -&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Update 8 Mei 2020:&lt;br /&gt;
Pada awal Mei 2020, AC mobil kembali mengalami masalah karena 4 baut kompresor AC putus. Ketika saya memerintahkan bengkel untuk melepas AC, saya menemukan fakta lain. Mobil saya tidak bisa selsesai gara-gara ada spare part bawaan mobil (Idle Pulley) yang diambil pihak pak Rudi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;from http://febriliano.blogspot.com/&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://febriliano.blogspot.com/feeds/7515594556782455757/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/2180219956895463446/7515594556782455757' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default/7515594556782455757'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default/7515594556782455757'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://febriliano.blogspot.com/2019/11/hati-hati-dalam-membeli-ac-mobil.html' title='Hati-hati dalam membeli AC Mobil'/><author><name>Febriliano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06209999027745913103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgdX4nMRrsJcQlWxdGD6FeErWHM8h3RvTRTHhC9v4JNxmk75hK4Sz-Cy1DiCt2qXigHLaPyH9d17WxU7nA2d4XydJTJYTH2zL3TWgCGZ3tiIHcabSDpaapYRXwwrAJNxSk/s113-r/it&#39;s+me.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2180219956895463446.post-5701764553243450623</id><published>2019-07-24T06:50:00.001+07:00</published><updated>2020-07-21T04:40:44.029+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pengetahuan"/><title type='text'>Bagaimana Dasar Hukum &quot;Barang yang Sudah Dibeli Tidak Dapat Dikembalikan&quot;?</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sering kali, pesan &quot;barang yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan&quot; tertulis di bon atau struk belanja dari toko atau si pedagang.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pesan itu seakan menjadi harga mati yang tak bisa ditawar konsumen. Padahal, tak jarang, barang yang sudah dibeli tersebut ternyata cacat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sebenarnya, bolehkah konsumen mengembalikan barang cacat yang didapat kepada si pedagang? Bagaimana dasar hukumnya?&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Direktur Jenderal Standardisasi dan Perlindungan Konsumen Kementerian Perdagangan Widodo mengatakan, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen sebenarnya sudah mengatur kesetaraan antara si pedagang dan si pembeli.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Salah satunya ada pada pasal 18 beleid tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&quot;Kalau di bon ada tulisan &#39;barang yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan&#39; sebetulnya itu pedagang sudah melanggar Pasal 18 UU Perlindungan Konsumen. Kalau barang cacat, harus dong dikembalikan,&quot; kata Widodo dalam Sinergitas Peningkatan Pemahaman Ketentuan Perlindungan Konsumen, Pengawasan Barang, dan Penegakan Hukum, di Plaza Kenari Mas, Jakarta, Selasa (27/10/2015).&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dia mengatakan, bukan tidak mungkin barang dan atau jasa yang diterima konsumen ternyata cacat atau rusak. Pada kondisi ini, konsumen berhak mengembalikan barang kepada pedagang atau toko yang menjual.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Merujuk Pasal 18 UU Perlindungan Konsumen, pelaku usaha dalam menawarkan barang dan atau jasa yang diperdagangkan dilarang membuat atau mencantumkan klausul baku pada setiap dokumen atau perjanjian.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada Pasal 18 ayat (1) poin c tertulis bahwa pelaku usaha dilarang mencantumkan klausul baku yang menyatakan bahwa mereka berhak menolak penyerahan kembali uang yang dibayarkan atas barang dan atau jasa yang dibeli konsumen.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&quot;Setiap klausul baku yang telah ditetapkan oleh pelaku usaha pada dokumen atau perjanjian yang memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dinyatakan batal demi hukum,&quot; demikian bunyi Pasal 18 ayat (3) UU Perlindungan Konsumen.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Penulis : Estu Suryowati&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sumber : &lt;a href=&quot;https://money.kompas.com/read/2015/10/27/164700126/Bagaimana.Dasar.Hukum.Barang.yang.Sudah.Dibeli.Tidak.Dapat.Dikembalikan.&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Kompas.com&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;from http://febriliano.blogspot.com/&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://febriliano.blogspot.com/feeds/5701764553243450623/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/2180219956895463446/5701764553243450623' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default/5701764553243450623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default/5701764553243450623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://febriliano.blogspot.com/2019/07/bagaimana-dasar-hukum-barang-yang-sudah.html' title='Bagaimana Dasar Hukum &quot;Barang yang Sudah Dibeli Tidak Dapat Dikembalikan&quot;?'/><author><name>Febriliano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06209999027745913103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgdX4nMRrsJcQlWxdGD6FeErWHM8h3RvTRTHhC9v4JNxmk75hK4Sz-Cy1DiCt2qXigHLaPyH9d17WxU7nA2d4XydJTJYTH2zL3TWgCGZ3tiIHcabSDpaapYRXwwrAJNxSk/s113-r/it&#39;s+me.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2180219956895463446.post-4316785135564741309</id><published>2019-06-10T09:00:00.004+07:00</published><updated>2019-06-10T09:01:46.705+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="News"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Politik"/><title type='text'>Bau Mawar di Jalan Thamrin</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
DAHLIA Zein baru selesai melahap makanannya di sebuah restoran Padang di perempatan Jalan Sabang, Menteng, Jakarta Pusat, saat telepon selulernya berdering, Rabu malam, 22 Mei lalu. Ketua Umum Baladhika Indonesia Jaya, organisasi pendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno, tersebut mendapat laporan dari anak buahnya soal kisruh dalam unjuk rasa di sekitar gedung Badan Pengawas Pemilihan Umum di Jalan M.H. Thamrin, yang berjarak sekitar 300 meter dari posisi Dahlia. &quot;Saya bilang, &#39;Ya udah, benturin aja. Chaos-in aja sekalian,&#39;&quot; ujar Dahlia kepada Tempo di sebuah kafe di pusat belanja Cilandak Town Square, Sabtu, 1 Juni lalu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dahlia mengaku kesal karena polisi menyuruh pengunjuk rasa pulang setelah mereka berbuka puasa. Menurut dia, sejumlah anggota Baladhika dari berbagai daerah ikut berunjuk rasa mempersoalkan dugaan kecurangan dalam pemilu presiden. Membantah mengerahkan massa pengunjuk rasa ke Bawaslu, Dahlia mengatakan anak buahnya datang atas inisiatif sendiri.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tak lama setelah percakapan itu, kericuhan terjadi di Jalan Wahid Hasyim, seberang gedung Bawaslu. &quot;Setelah makan, saya melihat sendiri polisi membubarkan pakai gas air mata,&quot; kata Dahlia. Tempo, yang berada di antara massa pengunjuk rasa, menyaksikan mereka membalas tembakan gas air mata dengan melemparkan batu dan petasan ke arah polisi. Malam sebelumnya, setelah polisi memukul mundur massa di depan gedung Bawaslu ke kawasan Tanah Abang, kericuhan juga terjadi dan merembet ke arah Petamburan, Jakarta Pusat. Seusai huru-hara, diketahui bahwa 8 orang tewas dan 700-an jiwa luka-luka.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tempo membaca transkrip pembicaraan yang diduga antara Dahlia dan Ketua Bidang Pendayagunaan Aparatur Partai Gerakan Indonesia Raya Fauka Noor Farid melalui ponsel saat kerusuhan 22 Mei lalu. Fauka adalah anak buah Prabowo di Komando Pasukan Khusus. Ia anggota Tim Mawar yang terlibat penculikan aktivis pada 1998 dan divonis 16 bulan penjara. Fauka pensiun dini dengan pangkat letnan kolonel, lalu membantu pemenangan Prabowo pada pemilihan presiden 2014 dan 2019.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dalam transkrip yang diperlihatkan polisi itu disebutkan bahwa Dahlia melaporkan kericuhan yang terjadi antara pengunjuk rasa dan polisi. Tertulis juga di situ bahwa Fauka menyatakan berada di sekitar gedung Bawaslu. Menurut transkrip tersebut, Fauka menyatakan bagus jika terjadi chaos, apalagi jika ada korban jiwa. Masih menurut transkrip yang sama, Fauka disebut meminta Dahlia mencarikan kamar untuknya di kawasan Cikini. Dua petinggi badan intelijen dan tiga penegak hukum yang ditemui Tempo membenarkan isi transkrip tersebut. Dua hamba wet menyatakan keberadaan Fauka di kawasan Sarinah, persis di seberang gedung Bawaslu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dahlia mengakui nomor telepon 0816-17XX-XXXX yang tertulis dalam transkrip tersebut sebagai miliknya. Nomor telepon Fauka juga sama dengan yang tertulis di situ. Tapi Dahlia dan Fauka membantah isi percakapan tersebut. Keduanya juga menyatakan tak saling berkomunikasi selama unjuk rasa.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Meski mengaku memerintahkan anak buahnya melawan, Dahlia mengatakan tak ingin ada korban jiwa dalam demonstrasi tersebut. Menurut dia, polisi seharusnya tidak membubarkan pengunjuk rasa yang baru selesai berbuka puasa. Dahlia membenarkan memesan kamar hotel di kawasan Cikini dan Tanah Abang. &quot;Bukan untuk Fauka, tapi buat anak buah saya yang datang dari daerah,&quot; ujar Dahlia, yang mengaku dekat dengan Prabowo dan menjadi salah satu pengacara mantan Komandan Jenderal Kopassus tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Adapun Fauka membantah berada di dekat gedung Bawaslu saat unjuk rasa 22 Mei lalu. Menolak menyebutkan posisinya saat kericuhan terjadi, lulusan Akademi Militer tahun 1992 itu mengaku sedang berjumpa dengan teman satu angkatannya yang bertugas di Pasukan Pengamanan Presiden. &quot;Saya jauh dari Bawaslu,&quot; katanya melalui telepon, Sabtu, 1 Juni lalu. Ia juga membantah jika disebut menginginkan ada korban jiwa dalam demonstrasi itu. &quot;Instruksi dari Pak Prabowo jelas: unjuk rasa harus damai dan tak boleh anarkistis.&quot;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Komandan Pasukan Pengamanan Presiden, Mayor Jenderal Maruli Simanjuntak, yang satu angkatan dengan Fauka di Akademi Militer, mengatakan sejak siang dia bersama Presiden Joko Widodo. &quot;Tidak ada lagi teman satu angkatan saya di Paspampres,&quot; ujar Maruli.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
DUGAAN keterlibatan orang di sekitar Prabowo Subianto dalam unjuk rasa bukannya tak dicium pemerintah. Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko dalam wawancara khusus dengan Tempo pada Jumat, 17 Mei lalu, mengatakan pemerintah sudah mendeteksi adanya gerakan tersebut. &quot;Banyak orang mengkhawatirkan lingkungan Pak Prabowo. Lebih mengkhawatirkan lagi kalau orang-orang di lingkungannya bergerak tanpa setahu beliau,&quot; ujar mantan Panglima Tentara Nasional Indonesia tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sehari sebelum kericuhan, polisi menahan mantan Komandan Jenderal Kopassus, Soenarko. Awalnya dilaporkan karena dugaan makar, Soenarko menjadi tersangka kasus kepemilikan senjata ilegal. Akhir Mei lalu, polisi juga menahan Kivlan Zen karena kasus makar. Kivlan, mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat, dituding mendanai rencana pembunuhan empat pejabat negara. Soenarko dan Kivlan diketahui sebagai pendukung Prabowo.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ihwal dugaan keterlibatan Fauka, dua sumber di Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi bercerita bahwa ia ikut merancang demonstrasi di Bawaslu beberapa pekan sebelumnya. Menurut keduanya, ada sejumlah pertemuan membahas rencana aksi massa tersebut, antara lain di kantor BPN di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan. Pertemuan itu juga dihadiri sejumlah tokoh loyalis Prabowo, petinggi Partai Gerindra, dan beberapa ulama dari berbagai daerah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut sumber yang sama, rapat perencanaan serupa diselenggarakan di sebuah hotel di sekitar Masjid Cut Meutia, Menteng, Jakarta Pusat. Pertemuan tertutup yang juga dihadiri oleh Fauka itu diikuti sejumlah pemuka agama dari Jawa Timur. Dalam rapat yang berlangsung sejak pukul delapan malam hingga dinihari, peserta rapat tak boleh membawa ponsel. Fauka membantah ikut merencanakan unjuk rasa. &quot;Tidak ada pertemuan itu,&quot; ucapnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Penelusuran Tempo menemukan bahwa sejumlah personel Garda Prabowo, organisasi yang didirikan dan dipimpin Fauka, terlibat dalam demonstrasi tersebut. Salah satunya Abdul Gani Ngabalin, yang memiliki beberapa nama alias, seperti Mamat, Kobra Hercules, dan Kobra 08--angka ini merujuk pada panggilan Prabowo saat berdinas di TNI. Abdul Gani adalah bekas anak buah Rozario Marshal alias Hercules, preman Tanah Abang. Gani kini ditahan di Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya karena diduga terlibat dalam kerusuhan di sekitar Bawaslu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sejumlah sumber di Badan Pemenang-an Nasional Prabowo-Sandi mengatakan Abdul Gani menjabat Panglima Garda Prabowo. Beberapa hari sebelum unjuk rasa, ia ditengarai diperintahkan Fauka bersiap-siap mengikuti demonstrasi, yang kemudian berujung ricuh. Sebelumnya, setelah pencoblosan 17 April lalu, ia diminta menjaga rumah Prabowo di Jalan Kertanegara. Menjelang 22 Mei, Abdul Gani diduga ikut mengerahkan massa dari berbagai daerah, antara lain Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Maluku. Sebagian diinapkan di daerah sekitar Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Endun, pengunjuk rasa yang beberapa kali mengikuti kegiatan Garda Prabowo di Jalan Kertanegara, menyaksikan Jalan Kertanegara dipenuhi ratusan pengunjuk rasa yang diangkut dengan sejumlah mobil pada 20 Mei lalu. Pria 39 tahun asal Majalengka, Jawa Barat, itu ditahan pada 21 Mei menjelang tengah malam di seberang gedung Bawaslu. Melalui seorang kenalannya, Tempo menemui Endun di Polda Metro Jaya sehari setelah Lebaran. Mandor bangunan yang mengagumi Prabowo itu mengaku tertarik bergabung dalam kegiatan Garda Prabowo karena dijanjikan bakal menjadi petugas pengamanan pasangan nomor urut 02 tersebut jika mereka memenangi pemilu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut Endun, Garda Prabowo kerap mengadakan pertemuan di sebuah tenda di dekat rumah Prabowo. Suatu kali anak buah Abdul Gani bernama Ripai memperkenalkan bosnya itu di hadapan anggota organisasi sebagai &quot;Panglima Garda Prabowo&quot;. &quot;Dia yang memimpin dan menggerakkan massa di lapangan,&quot; kata Endun menirukan ucapan Ripai kala itu. Ditunjukkan foto Fauka Noor Farid, Endun mengaku sering melihatnya di Kertanegara. Tapi Endun menyatakan tak pernah melihat Fauka berhubungan langsung dengan personel Garda Prabowo.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Peran Abdul Gani tak hanya sampai di situ. Tempo membaca salinan percakapan di grup WhatsApp &quot;Garda Prabowo&quot; yang beranggotakan sekitar 30 orang. Abdul Gani--dengan nama &quot;Oppocobra08&quot;--tercatat sebagai admin grup tersebut. Salah satu percakapan di grup itu terkait dengan rencana people power atau pengerahan massa &quot;skala lokal dan nasional&quot; dengan melibatkan berbagai komponen, seperti organisasi kemasyarakatan, mahasiswa, dan organisasi buruh, menjelang pengumuman hasil pemilu presiden.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dalam salinan itu disebutkan, jika Komisi Pemilihan Umum tak menyatakan Prabowo-Sandi sebagai pemenang, massa akan menduduki gedung KPU, Bawaslu, Dewan Perwakilan Rakyat, dan Istana Negara supaya keputusan berubah. Tapi, jika KPU tak mengubah keputusan tersebut, pengunjuk rasa akan terus menduduki Istana hingga Jokowi lengser.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Abdul Gani kerap mengirimkan pesan berisi soal tudingan kecurangan oleh kubu Joko Widodo-Ma&#39;ruf Amin. Ia pun kerap membakar semangat anggota grup dengan mengunggah kalimat seperti &quot;hidup mulia atau mati syahid&quot; atau &quot;people power spektakuler&quot;. Ditunjukkan isi percakapan itu, Endun--yang mengaku menjadi anggota grup tersebut-- membenarkannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut Endun, personel Garda Prabowo berkumpul pada 21 Mei sore di Bundaran Hotel Indonesia. Di situ, ia berjumpa dengan Ripai dan diperintahkan bergerak ke arah gedung Bawaslu, bergabung dengan pengunjuk rasa lain. Saat itu, demonstrasi berjalan cukup tertib. Endun menyaksikan, sekitar pukul sepuluh malam, massa mulai meninggalkan kawasan Bawaslu.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Namun, tak lama kemudian, massa lain mulai berdatangan. Kericuhan mulai timbul. Endun menyaksikan massa mulai merusak penghalang di depan gedung Bawaslu. Saat itulah, kata Endun, Ripai berteriak, &quot;Lawan polisi! Serang!&quot; Endun mengaku ikut meneriakkan takbir. Setelah itu, ia tak melihat lagi sosok Ripai. Tiba-tiba saja dia menghilang. Sedangkan Endun ditangkap polisi. &quot;Saya hanya korban,&quot; ujar lulusan sekolah menengah pertama ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dimintai tanggapan, Ripai awalnya membantah tergabung dalam grup WhatsApp &quot;Garda Prabowo&quot; dan mengikuti unjuk rasa di Bawaslu. Tak berapa lama, laki-laki asal Ternate, Maluku Utara, itu menelepon dan membenarkan ikut berdemonstrasi. Tapi bukan pada 21 Mei seperti disebutkan Endun. &quot;Hari itu saya berjaga di rumah Prabowo. Saya baru ke Bawaslu tanggal 22 Mei,&quot; ucapnya. Ripai menyangkal ikut meneriakkan perlawanan terhadap polisi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hari itu Abdul Gani Ngabalin juga ikut berunjuk rasa. Dua jam sebelum azan magrib, pesan pendek beredar ke ponsel sejumlah penggerak massa. Tempo membaca pesan pendek tersebut pada pekan lalu. Isinya soal rencana kerusuhan yang akan dimulai pada pukul 19.15 WIB. Tertulis dalam pesan itu bahwa kerusuhan menunggu perintah dari Garda Prabowo. Tak berbeda jauh dari waktu yang disebutkan dalam pesan pendek itu, kerusuhan pun pecah. Tak lama berselang, Abdul Gani mendapat perintah dari Fauka Noor Farid untuk menghapus seluruh percakapan mereka di WhatsApp.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Malam itu juga polisi menangkap Abdul Gani, yang diduga terlibat kericuhan. Hasil tes urine menunjukkan dia menggunakan narkotik jenis sabu. Tempo mencoba menemui Abdul Gani alias Kobra Hercules yang ditahan di ruang tahanan Polda Metro Jaya. Tapi Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Argo Yuwono mengatakan Kobra tak bisa ditemui. &quot;Tidak boleh. Masih dalam pemeriksaan,&quot; ujarnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Juru bicara BPN Prabowo-Sandi, Andre Rosiade, mengaku tak mengetahui ihwal rapat perencanaan unjuk rasa. Ia juga tak mengetahui peran Abdul Gani dalam kerusuhan tersebut. Menurut politikus Gerindra ini, Garda Prabowo juga bukan organisasi resmi partainya. &quot;Itu relawan saja,&quot; katanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Fauka Noor Farid mengaku mengenal Abdul Gani Ngabalin. Tapi ia membantah memiliki kedekatan dengan pria asal Pulau Kei, Maluku, tersebut. Fauka pun menyangkal memerintahkan Abdul Gani ikut berunjuk rasa atau menghapus isi percakapan mereka. Dia juga menyangkal jika Kobra disebut menjadi panglima, bahkan anggota Garda Prabowo. &quot;Saya kan Ketua Umum Garda Prabowo. Kalau secara resmi mau masuk, kan harus ada surat. (Untuk Abdul Gani) itu tidak ada,&quot; ujarnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Anak buah Abdul Gani, Ripai, justru mengatakan bosnya itu dekat dengan Fauka. Ripai menyaksikan, beberapa hari sebelum unjuk rasa berlangsung, di sebuah lapangan di kawasan Cijantung, Fauka memberikan seragam loreng kepada Gani. Seragam resmi Garda Prabowo itu kemudian diberikan Gani kepada Ripai. &quot;Dia Panglima Garda Prabowo,&quot; kata Ripai.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
STEFANUS PRAMONO, RAYMUNDUS RIKANG&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sumber :&amp;nbsp;&lt;a href=&quot;https://majalah.tempo.co/read/157812/bau-mawar-di-jalan-thamrin&quot;&gt;Majalah Tempo 8 Juni 2019&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;from http://febriliano.blogspot.com/&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://febriliano.blogspot.com/feeds/4316785135564741309/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/2180219956895463446/4316785135564741309' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default/4316785135564741309'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default/4316785135564741309'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://febriliano.blogspot.com/2019/06/bau-mawar-di-jalan-thamrin.html' title='Bau Mawar di Jalan Thamrin'/><author><name>Febriliano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06209999027745913103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgdX4nMRrsJcQlWxdGD6FeErWHM8h3RvTRTHhC9v4JNxmk75hK4Sz-Cy1DiCt2qXigHLaPyH9d17WxU7nA2d4XydJTJYTH2zL3TWgCGZ3tiIHcabSDpaapYRXwwrAJNxSk/s113-r/it&#39;s+me.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2180219956895463446.post-375156996663516411</id><published>2019-06-05T00:00:00.000+07:00</published><updated>2019-06-05T00:00:01.627+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sejarah"/><title type='text'>Wali Singo Berasal Dari China?</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada tahun 1968 terbit buku Prof. Slamet Mulyana, &lt;i&gt;Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara&lt;/i&gt;. Buku itu dilarang oleh Kejaksaan Agung karena mengungkapkan hal-hal yang kontroversial waktu itu, yakni sebagian Wali Songo berasal dari China. Tidak ada salahnya, bila benar bahwa sembilan penyebar agama Islam itu dari China atau dari belahan dunia mana pun.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Yang menjadi persoalan adalah saat itu rezim Orde Baru telah menetapkan China sebagai musuh karena negara itu dituduh membantu Gerakan 30 September 1965. Pemerintah Indonesia memutuskan hubungan diplomatik dengan Beijing, dan segala yang berbau China dilarang.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada era reformasi ini ada baiknya pendapat Slamet Muljana itu dikaji ulang dengan pikiran yang lebih tenang. Slamet Muljana membandingkan atau lebih tepat-melakukan kompilasi terhadap tiga sumber yaitu, &lt;i&gt;Serat Kanda&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Babad Tanah Jawi&lt;/i&gt; dan naskah dari Klenteng Sam Po Kong yang ditulis Poortman dan dikutip Parlindungan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Residen Poortman tahun 1928 ditugasi pemerintah kolonial untuk menyelidiki apakah Raden Patah itu orang China. Raden Patah bergelar Panembahan Jimbun dalam &lt;i&gt;Serat Kanda&lt;/i&gt;, dan Senapati Jimbun dalam &lt;i&gt;Babad Tanah Jawi&lt;/i&gt;. Kata &lt;i&gt;jim bun&lt;/i&gt; dalam salah satu dialek China berarti &quot;orang kuat&quot;. Maka sang Residen itu menggeledah Kelenteng Sam Po Kong di Semarang dan mengangkut naskah berbahasa Tionghoa yang ada di sana - sebagian sudah berusia 400 tahun - sebanyak tiga cikar (pedati yang ditarik lembu). Arsip Poortman ini dikutip Mangaraja Onggang Parlindungan yang menulis buku yang juga kontroversial &lt;i&gt;Tuanku Rao&lt;/i&gt;. Slamet Muljana banyak menyitir buku ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Slamet menyimpulkan, Bong Swi Hoo - yang datang di Jawa tahun 1445 - sama dengan Sunan Ampel. Bong Swi Hoo ini menikah dengan Ni Gede Manila yang merupakan anak Gan Eng Cu (mantan kapitan China di Manila yang dipindahkan ke Tuban sejak 1423). Dari perkawinan ini lahir Bonang yang kemudian dikenal sebagai Sunan Bonang. Bonang diasuh Sunan Ampel bersama dengan Giri yang kemudian dikenal sebagai Sunan Giri.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Putra Gan Eng Cu yang lain adalah Gan Si Cang yang menjadi kapitan China di Semarang. Tahun 1481 Gan Si Cang memimpin pembangunan masjid Demak dengan tukang-tukang kayu dari galangan kapal Semarang. Tiang penyangga masjid itu dibangun dengan model kontruksi tiang kapal yang terdiri dari kepingan-kepingan kayu yang tersusun rapi. Tiang itu dianggap lebih kuat menahan angin badai daripada tiang yang terbuat dari kayu yang utuh.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya Slamet menyimpulkan, Sunan Kali Jaga yang masa mudanya bernama Raden Said itu tak lain dari Gan Si Cang. Sedangkan Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah menurut Slamet Mulyana adalah Toh A Bo, putra Sultan Trenggana (memerintah di Demak tahun 1521-1546). Sementara Sunan Kudus atau Jafar Sidik yang tak lain dari Ja Tik Su.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tentu tidak ada larangan untuk berpendapat bahwa Wali Songo itu berasal dari China atau keturunan China. Namun, kelemahan Slamet Muljana, ia hanya mendasarkan kesimpulannya pada buku yang ditulis MO Parlindungan. Slamet pun tidak memeriksa sendiri naskah-naskah yang berasal dari kelenteng Sam Po Kong Semarang itu. Dengan melakukan penelitian terhadap sumber berbahasa China, baik yang ada di Nusantara maupun di daratan China, diharapkan periode ini (terutama mengenai penyebaran agama Islam di Jawa abad XV-XVI) dapat dijelaskan dengan lebih baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebetulnya, pada masa ini cukup banyak sumber mengenai laksamana muslim Cheng Ho yang berlayar ke berbagai penjuru dunia awal abad XV dengan armada yang lebih besar dari pelaut Eropa. Cheng Ho sendiri mempunyai penerjemah Ma Huan yang juga beragama Islam dan menuliskan pengalaman ini dalam buku &lt;i&gt;Yingyai Senglan&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam buku itu dilaporkan tentang masyarakat China yang bermukim di Jawa yang berasal dari Kanton, Zhangzhou dan Quanzhou. Mereka telah meninggalkan negeri China dan menetap di pelabuhan-pelabuhan pesisir Jawa sebelah timur. Di Tuban mereka merupakan sebagian besar penduduk yang waktu itu jumlahnya mencapai &quot;seribu keluarga lebih sedikit&quot;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Gresik hanya ada &quot;pantai tanpa penghuni&quot; sebelum orang Kanton menetap di sana. Di Surabaya sejumlah besar penduduk juga orang China. Menurut Ma Huan &quot;kebanyakan orang China itu telah masuk agama Islam dan menaati aturan agama&quot;. (Lombard, Nusa Jawa, jilid II, 1996)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada abad-abad berikutnya sudah ada sumber berbahasa Eropa mengenai tokoh China yang beragama Islam. Ketika Banten mengalami masa kejayaan pada abad XVII, di sana ada pengusaha besar Tan Tse Ko. Ia bisa membaur dalam masyarakat Banten dengan menyatakan diri masuk Islam dan berganti nama jadi Cakradana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia adalah seorang eksportir yang memiliki wawasan global. Dalam catatan sejarah tercantum, ia misalnya berkali-kali mengirim kapal dagang ke Indocina tahun 1670, 1671, 1672, 1676. Bukti bahwa Tan Tse Ko mempunyai hubungan dagang dengan saudagar Eropa terlihat dari surat tagihan utangnya yang ada di museum pada sebuah negeri Skandinavia, tertulis dalam bahasa Melayu, bahasa yang menjadi &lt;i&gt;lingua franca&lt;/i&gt; di bilangan Nusantara ketika itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya tidak berbicara tentang akidah, sesuatu yang ada di dalam hati dan hanya diketahui masing-masing orang. Tidak diketahui apakah ia taat beribadah, hal ini&amp;nbsp; tak disebut dalam sumber sejarah. Namun secara formal ia masuk agama yang dipeluk oleh mayoritas masyarakat Banten masa itu. Yang jelas, dengan menjadi muslim, Cakradana telah dapat diterima menjadi anggota masyarakat Banten.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena dekat dengan raja - bukan sekarang saja, pedagang diangkat menjadi pejabat - pada tahun 1677 Cakradana diangkat menjadi syahbandar. Sayang, pada April 1682, VOC merebut Banten dan melarang seluruh perdagangan internasional yang selama ini dilakukan Banten, dalam rangka mendapatkan monopoli bagi pihak Belanda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tulisan ini diakhiri dengan penyataan, sumber berbahasa China juga penting bagi penulisan sejarah penyebaran Islam di Nusantara (termasuk mengenai penyebaran Wali Songo) maupun bagi sejarah nasional secara umum. Selama 35 tahun, hal ini telah terabaikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber:&lt;a href=&quot;https://www.goodreads.com/book/show/6233919-membongkar-manipulasi-sejarah&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt; Membongkar Manipulasi Sejarah Kontroversi Pelaku dan Peristiwa - Asvi Warman Adam&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;from http://febriliano.blogspot.com/&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://febriliano.blogspot.com/feeds/375156996663516411/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/2180219956895463446/375156996663516411' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default/375156996663516411'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default/375156996663516411'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://febriliano.blogspot.com/2019/06/wali-singo-berasal-dari-china.html' title='Wali Singo Berasal Dari China?'/><author><name>Febriliano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06209999027745913103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgdX4nMRrsJcQlWxdGD6FeErWHM8h3RvTRTHhC9v4JNxmk75hK4Sz-Cy1DiCt2qXigHLaPyH9d17WxU7nA2d4XydJTJYTH2zL3TWgCGZ3tiIHcabSDpaapYRXwwrAJNxSk/s113-r/it&#39;s+me.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2180219956895463446.post-2216007979257493812</id><published>2019-06-01T00:00:00.000+07:00</published><updated>2019-06-01T00:00:02.216+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Politik"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sejarah"/><title type='text'>Betul, Sukarno Penggali Pancasila</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Selama pemerintahan Orde Baru sengaja direkayasa sejarah lahirnya Pancasila. Hal ini bertalian dengan strategi pengendalian sejarah dengan mengecilkan jasa Sukarno dan melebih-lebihkan peran Soeharto.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dalam kaitan 1 Juni 1945 saat Sukarno&amp;nbsp; berpidato tentang dasar negara yang dinamai Pancasila dikatakan, Mohammad Yamin berpidato sebelum Bung Karno. Soepomo telah menguraikan dasar negara. Bahkan, pada buku-buku sejarah yang digunakan di sekolah diajarkan, Pancasila merupakan karya seluruh bangsa Indonesia sejak zaman purbakala sampai sekarang.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sejak 1 Juni 1970 Kopkamtib melarang peringatan lahirnya Pancasila. Tanggal 22 Juni 1970, Presiden Sukarno wafat. Sejarawan Perancis, Jacques Leclerc, menyatakan, pada dasarnya Bung Karno &quot;dibunuh dua kali.&quot; Berstatus &quot;tahanan rumah&quot; tetapi tak dirawat sehingga kesehatannya memburuk lalu meninggal dan pemikirannya dilarang didiskusikan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kontroversi lahirnya Pancasila dimulai awal Orde Baru dengan terbitnya buku Nugroho Notosusanto, Naskah &lt;i&gt;Proklamasi jang Otentik dan Rumusan Pancasila jang Otentik&lt;/i&gt; (Pusat Sejarah ABRI, Departemen Pertahanan Keamanan, 1971) Nugroho memnyatakan, ada empat rumusan Pancasila: disampaikan Mohammad Yamin 29 Mei 1945; Sukarno (1 Juni 1945); berdasarkan hasil kerja Tim Sembilan yang dikenal sebagai Piagam Jakarta (22 Juni 1945) dan seperti termaktub dalam UUD 1945 (18 Agustus 1945). Menurut Nugroho, rumusan Pancasila yang autentik adalah rumusan 18 Agustus 1945 karena Pancasila seperti dalam pembukaan UUD 1945 dilahirkan secara sah (berlandaskan Proklamasi) tanggal 18 Agustus 1945&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada bagian akhir, Nugroho menandaskan lahirnya Pancasila tidak perlu dikaitkan dengan tokoh secara mutlak. Karena lahirnya sesuatu gagasan sebagai yang abstrak, tidak mudah ditentukan dengan tajam. Yang dapat dipastikan, saat pengesahan format dan resmi daripada suatu dokumen.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Manuver sejarah dari Pusat Sejarah ABRI yang dipimpin Nugroho Notosusanto ini ditentang kalangan sejarawan dan pelaku sejarah. AB Kusuma dalam makalah &lt;i&gt;Menelusuri Dokumen Historis Bahdan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan&lt;/i&gt;, berdasarkan notula yang ditemukan kembali pada tahun 1989 mengatakan, tidak benar Mohammad Yamin yang pertama mengungkap dasar negara Pancasila. Yamin dalam bukunya mengakui Sukarno sebagai penggali Pancasila. Panitia Lima yang diketuai Hatta juga mengakui Sukarno yang pertama berpidato tentang Pancasila.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ada pula sejawaran Dr. Anhar Gonggong masih ragu menyatakan Sukarno sebagai penggali Pancasila. Menurut Anhar, Sukarno amat berperan dalam tiga peristiwa yang terkait proses lahirnya Pancasila, yaitu 1 Juni, 22 Juni, dan 18 Agustus 1945. Pada ketiga kejadian itu, Sukarno menduduki posisi penting (1 Juni) sebagai penyampai pidato, (22 Juni) sebagai Ketua Tim Sembilan yang melahirkan Piagam Jakarta, (18 Agustus 1945) sebagai ketua PPKI yang lalu dipilih secara aklamasi sebagai Presiden Republik Indonesia.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dari uraian itu dapat disimpulkan, Sukarno tokoh pertama yang menyampaikan Pancasila sebagai dasar negara. Ada tokoh lain yang berbicara tentang dasar negara, taetapi hanya Sukarno yang secara eksplisit menyampaikan gagasan tentang Pancasila, termasuk nama Pancasila. Formulasi Pancasila yang disampaikan Sukarno 1 Juni 1945 telah melalui dinamika pembicaaan di antara &lt;i&gt;founding fathers &lt;/i&gt;dirumuskan menjadi Pancasila yang dikenal sekarang, yang tidak sama rumusan maupun urutannya dengan yang disampaikan Bungkarno pada 1 Juni 1945.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Peringatan lahirnya Pancasila 1 Juni seyogianya tidak lagi mempermasalahkan kontroversi yang diciptakan era Orde Baru, tetapi lebih memusatkan perhatian tentang penerapan ideologi pada semua bidang kehidupan bangsa. Bagaimana cara menyakinkan seluruh komponen bangsa bahwa Pancasila adalah ideologi paling tepat bagi bangsa kita. Pancasila memberikan temapat kepada semua agama, golongan, dan suku bangsa. Bila mau memilih ideologi lain, pasti menimbulkan friksi bagi golongan yang tidak setuju.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dalam memperringati lahirnya Pancasila, sebaiknya kita tidak mengultuskan seseorang. Kita menghargai jasa Sukarno sebagai penggali Pancasila meski rumusan Pancasila yang sekarang digunakan adalah hasil rumusan kolektif bapak-bapak pendiri bangsa. Kita tidak boleh melakukan kultus individu. Sebaliknya tuduhan pada seorang proklamator seperti Bung Karno seharusnya dicabut. Pelecehan terhadap Sukarno tampak dalam TAP MPRS Nomor XXXIII/1967 tentang pengalihan kekuasaan terhadap Soeharto. Kita tidak menggugat pengalihan kekuasaan ini karena terlah terjadi. Tapi konsiderans yang menyebutkan Sukarno melakukan kebijakan yang &quot;menguntungkan G30S/PKI dan melindungi tokoh-tokoh G30S/PKI&quot; perlu dipertanyakan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Bila diakui G30S/PKI itu merupakan gerakan kudeta untuk menggulingkan Presiden Sukarno, mengapa Sukarno memihak dan melindungi pelakunya? Saat itu Sukarno masih menjadi presiden, tak mungkin ia membantu kelompok yang ingin menggulingkan diri sendiri. Rehabilitasi nama baik Sukarno agar segara&amp;nbsp; diberikan&amp;nbsp; pemerintah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sumber:&lt;a href=&quot;https://www.goodreads.com/book/show/6233919-membongkar-manipulasi-sejarah&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&amp;nbsp;Membongkar Manipulasi Sejarah Kontroversi Pelaku dan Peristiwa - Asvi Warman Adam&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;from http://febriliano.blogspot.com/&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://febriliano.blogspot.com/feeds/2216007979257493812/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/2180219956895463446/2216007979257493812' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default/2216007979257493812'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default/2216007979257493812'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://febriliano.blogspot.com/2019/06/betul-sukarno-penggali-pancasila.html' title='Betul, Sukarno Penggali Pancasila'/><author><name>Febriliano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06209999027745913103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgdX4nMRrsJcQlWxdGD6FeErWHM8h3RvTRTHhC9v4JNxmk75hK4Sz-Cy1DiCt2qXigHLaPyH9d17WxU7nA2d4XydJTJYTH2zL3TWgCGZ3tiIHcabSDpaapYRXwwrAJNxSk/s113-r/it&#39;s+me.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2180219956895463446.post-4418660318288876264</id><published>2019-05-26T07:50:00.000+07:00</published><updated>2019-05-30T07:51:48.022+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="News"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Politik"/><title type='text'>Paket Dalam Tas Raket dan Skenario 22  Mei</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
SEPEKAN sebelum batas akhir penetapan hasil Pemilihan Umum 2019 yang jatuh pada 22 Mei 2019, Soenarko mencak-mencak terhadap Heriansyah, anak buahnya yang bermukim di Aceh. Bekas Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus itu menanyakan alasan paket senjata dari Aceh tak kunjung dikirim ke Jakarta, padahal sudah dipesan sejak beberapa bulan sebelumnya. Heriansyah kemudian mengirimkan pesanan tersebut. Tapi, sebelum senapan laras panjang itu sampai ke tangan Soenarko, aparat mencegatnya. Menurut Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian, senapan dari Aceh itu rencananya digunakan untuk menyerang aparat dan pengunjuk rasa pada 22 Mei di depan kantor Badan Pengawas Pemilu, Jalan M.H. Thamrin, Jakarta. &quot;Kalau ada yang tewas, seolah-olah aparat yang melakukan,&quot; ujar Tito dalam konferensi pers, 21 Mei lalu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut pengakuan Heriansyah kepada penyidik, perkenalannya dengan Soenarko terjadi ketika pensiunan jenderal bintang dua yang kini berumur 65 tahun itu menjabat Panglima Daerah Militer Iskandar Muda pada 2008. Waktu itu, Heriansyah adalah informan yang juga diminta membantu pemerintah mengumpulkan senjata dari kombatan Gerakan Aceh Merdeka, seperti yang diamanatkan Perjanjian Helsinki 2005.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hubungan dengan Heriansyah tak lekang meski Soenarko ditarik ke Bandung menjadi Komandan Pusat Kesenjataan Infanteri sebelum pensiun. Kepada Heriansyah, Soenarko menitipkan mobil Toyota Fortuner putih dengan nomor polisi BL-511-VG. Kendaraan itu ditengarai fasilitas untuk Soenarko sebagai pengurus sebuah perusahaan swasta yang beroperasi di Aceh. Heriansyah pula yang menyopiri Soenarko dengan mobil tersebut manakala lulusan Akademi Militer 1978 itu singgah di Serambi Mekah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Heriansyah menjelaskan dalam pemeriksaan bahwa pada hari Soenarko bersungut-sungut soal pengiriman senjata, ia lantas mengambil senapan yang tersimpan di mobil Toyota Fortuner itu. Kemudian ia mengemas paket dalam tas raket berwarna kuning. Isinya: sepucuk M4 Carbine, dua magasin, dan peredam -persis seperti yang diperlihatkan Kepala Polri dalam konferensi pers pada 21 Mei. &quot;Senjata itu belum pernah dipakai. Hanya Pak Soenarko yang mengetahui asalnya,&quot; ujar Heriansyah kepada penyidik.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Heriansyah lalu menghubungi tentara berinisial BP, seorang tamtama berpangkat prajurit kepala. Mereka bersepakat mengirim paket lewat jalur penerbangan. Agar senjata itu bisa dibawa dalam pesawat, BP memalsukan dokumen pengiriman dengan surat bertanda tangan Kepala Badan Intelijen Negara Daerah Aceh. Hanya, ia mencomot surat format lama yang masih mencantumkan nama Brigadir Jenderal Sunari sebagai Kepala BIN Daerah Aceh. Padahal Sunari telah digantikan Kolonel Cahyono Cahya Angkasa per 26 Januari 2019.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kolonel Cahyono enggan menanggapi layang palsu yang dipakai untuk meloloskan pengiriman bedil dari Aceh ke Jakarta itu. &quot;Saya tak punya wewenang menjelaskan. Silakan bertanya ke pusat,&quot; kata Cahyono. Direktur Komunikasi dan Informasi BIN Wawan Purwanto menjelaskan, pemimpin lembaga telik sandi di daerah tak pernah serampangan mengeluarkan surat izin membawa senjata. Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menduga senjata itu bekas konflik Aceh. &quot;Bisa jadi itu sisa perang GAM,&quot; kata mantan Panglima Tentara Nasional Indonesia ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mengantongi surat lancung pengiriman senjata, BP kemudian meminta bantuan tentara berpangkat sersan satu, berinisial L, untuk mengurus izin paket ke maskapai Garuda Indonesia di Bandar Udara Sultan Iskandar Muda, Aceh. L juga disuruh menukar paket senjata dengan dokumen &quot;&lt;i&gt;security item&lt;/i&gt;&quot;. Dalam dunia penerbangan, petugas maskapai akan menyimpan senjata di tempat yang tak terjangkau penumpang dan membekali pembawa senjata dengan formulir &quot;&lt;i&gt;security item&lt;/i&gt;&quot; untuk ditunjukkan ketika ia mengambil senjata di bandara tujuan. L menerima upah Rp 300 ribu atas pekerjaannya itu. Tugas L selesai di sini.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dokumen tersebut dititipkan kepada A, perwira berpangkat letnan kolonel, yang menumpang penerbangan pembawa paket. Tiga narasumber yang ditemui &lt;i&gt;Tempo&lt;/i&gt; secara terpisah menyebutkan A tak mengetahui pemilik senjata sebenarnya. Ia bersedia menenteng formulir itu semata-mata karena &quot;&lt;i&gt;security item&lt;/i&gt;&quot; hanya bisa dibawa oleh tentara atau polisi. Kebetulan A satu-satunya aparat dalam manifes penerbangan. Ia hanya dipesani bahwa ada tentara berinisial ZN dengan pangkat sersan mayor menunggu di Bandara Soekarno-Hatta, Banten, untuk mengambil dokumen tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setelah memastikan Letkol A membawa dokumen &quot;&lt;i&gt;security item&lt;/i&gt;&quot; ke Jakarta, BP menghubungi ZN untuk memberitahukan hal tersebut. Jejak Soenarko terlacak lagi di sini. Soenarko juga mengontak ZN lewat telepon.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut pengakuan ZN saat diperiksa, ia meyakini Soenarko menelepon meski tak punya nomor kontaknya. ZN memasang aplikasi Truecaller di teleponnya, yang bisa melacak profil penelepon secara otomatis ketika ada panggilan masuk. Waktu itu, tertera nama Soenarko di profil penelepon. Kepada ZN, Soenarko mengatakan ada kiriman barang atas nama dirinya. Belum sampai kiriman Heriansyah ke tangan Soenarko, polisi militer menangkap A dan ZN di Soekarno-Hatta sekaligus menyita paket tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Markas Besar TNI menolak mengomentari dugaan keterlibatan sejumlah prajuritnya dalam pengiriman senjata untuk Soenarko. &quot;Saya tak mau memberikan informasi yang dapat mempengaruhi proses hukum,&quot; ujar Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Sisriadi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Meski pengiriman senjata terbongkar pada 15 Mei, baru lima hari kemudian tim gabungan polisi militer dan Polri memeriksa Soenarko. Pada Senin malam, 20 Mei, awalnya, Soenarko dipanggil sebagai saksi untuk ZN dan BP di markas Pusat Polisi Militer TNI di Cilangkap, Jakarta Timur. Menurut narasumber yang mengetahui pemeriksaan itu, Soenarko mengakui senjata yang dipaketkan dari Aceh adalah miliknya. Kepada penyidik, dia mengatakan, &quot;Saya mau memperbaiki senjata itu, tapi memang tak ada surat-suratnya.&quot;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Versi lain penangkapan Soenarko diungkapkan dua pejabat pemerintah. Menurut keduanya, Soenarko ditangkap di kediamannya di kawasan Cibubur, Jakarta Timur. Dari situ, ia dibawa ke markas Puspom TNI untuk diperiksa penyidik dari Puspom dan Polri. Soenarko kini ditahan di rumah tahanan militer di Guntur, Jakarta Selatan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;Tempo&lt;/i&gt; sempat mewawancarai Soenarko dua hari sebelum ia ditangkap. Soenarko membantah menyiapkan skenario makar pada 22 Mei, tenggat Komisi Pemilihan Umum mengumumkan hasil pemilihan presiden. &quot;Masak, makar membawa sajadah, kacamata, dan masker?&quot; ujarnya. Mendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno pada pemilihan presiden, Soenarko mengatakan berniat turun ke jalan untuk memprotes hasil pemilu bersama sejumlah purnawirawan. &quot;Kalau sesuai undang-undang kan boleh,&quot; katanya. &quot;Tapi, kalau mereka tak berangkat, saya juga tak berangkat.&quot;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Berhitung soal dampak penangkapan Soenarko, pemerintah menggelar rapat di kantor Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan. Menurut seorang pejabat yang hadir di situ, mereka memprediksi gejolak yang muncul di Kopassus setelah kejadian tersebut. Salah seorang peserta rapat langsung meminta Panglima Komando Daerah Militer Jayakarta Mayor Jenderal Eko Margiyono menjelaskan situasi di korps baret merah. Sebelum memimpin Kodam Jaya, Eko menjabat Komandan Jenderal Kopassus. &quot;Kopassus solid,&quot; ujar pejabat ini menirukan jawaban Eko.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sehari setelah Soenarko ditangkap, Komandan Jenderal Kopassus Mayor Jenderal I Nyoman Cantiasa mengeluarkan maklumat. Ia mengatakan nama satuan elite TNI Angkatan Darat tersebut terseret dinamika Pemilu 2019. Menurut dia, situasi yang terjadi tak ada kaitannya dengan institusi Kopassus. Nyoman mengingatkan prajurit baret merah harus mematuhi garis komando. &quot;Tak boleh ada satu pun prajurit yang bertindak atas inisiatif pribadi, kelompok, ataupun pihak di luar garis komando,&quot; kata Nyoman.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Untuk mengecek kelengkapan pasukan, Kopassus sampai menggelar apel hingga lima kali sehari. Pasukan juga tak diterjunkan pada 22 Mei. Di lapangan, TNI menurunkan pasukan lain untuk membantu polisi. Kepala Penerangan Kopassus Letnan Kolonel Susilo menyebutkan satuannya disiagakan menjadi pasukan cadangan. &quot;Penggunaannya sesuai dengan pertimbangan strategis Panglima TNI,&quot; ujar Susilo.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
UPAYA mencegah jatuhnya korban penembakan dalam unjuk rasa 22 Mei tak berhasil. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo mengatakan ada satu jenazah dari delapan korban tewas dalam peristiwa 22 Mei yang teridentifikasi tertembak. &quot;Terkena peluru tajam,&quot; ujar Dedi. Padahal, kata Dedi, polisi sama sekali tak menggunakan peluru tajam.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Hingga kini, penyelidikan polisi atas pemegang senapan yang memuntahkan peluru tersebut masih berkabut. Meski begitu, uji balistik terhadap peluru yang bersarang di tubuh korban memberikan petunjuk. Menurut Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, pengujian pada proyektil menunjukkan peluru berotasi ke kanan searah jarum jam. Adapun senjata milik polisi selalu memuntahkan peluru yang berputar ke kiri. &quot;Diduga peluru itu berasal dari senapan buatan Olympic Arms,&quot; tutur Moeldoko.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Olympic adalah pabrik senjata yang berbasis di Washington, DC, Amerika Serikat. Di situsnya &lt;a href=&quot;http://www.olyarms.com/&quot;&gt;&lt;i&gt;www.olyarms.com&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;, seri senapan serbu M4 Carbine sebagaimana yang disita dari Soenarko dibanderol paling murah US$ 843 atau sekitar Rp 12,5 juta. &quot;Seri itu bukan tipikal senjata untuk polisi kita,&quot; katanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Moeldoko mengungkapkan, serangkaian temuan awal dari peristiwa 22 Mei, seperti tembakan kepada demonstran, mengindikasikan ada pihak yang ingin menciptakan peristiwa yang bisa memicu aksi yang lebih besar. &quot;Skenarionya hampir mirip seperti peristiwa Mei 1998.&quot;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sebagian demonstran adalah massa suruhan yang dikomando dengan cukup rapi. Menurut Moeldoko, berdasarkan temu-an aparat, pedemo menggunakan mobil komando yang dilengkapi monitor untuk menayangkan pantauan kamera pengawas (CCTV) di sekitar simpang pusat belanja Sarinah. Dengan begitu, koordinator lapangan bisa memantau pergerakan unjuk rasa dan mengerahkan massa secara bergantian apabila demonstran terlihat kelelahan berhadapan dengan aparat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;Tempo&lt;/i&gt;&amp;nbsp;yang berada di tengah pengunjuk rasa selama sekitar dua jam menyaksikan ada lebih dari seribu orang memenuhi Jalan Wahid Hasyim pada Rabu, 22 Mei. Sebagian di antaranya mengenakan masker yang menutupi setengah wajah. Kantong mata mereka terlihat diolesi odol yang dipercaya bisa menghalau efek gas air mata.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ketika massa mulai bergerak ke arah kantor Bawaslu, ada pengunjuk rasa yang membagi-bagikan batu berukuran lebih besar daripada kepalan tangan pria dewasa kepada rekannya. Sebagian membawa tongkat kayu. Mereka mengomando demonstran untuk maju dan meneriakkan &quot;serbu!&quot; berulang-ulang. Saat polisi pasif, orang-orang yang sama mengajak massa kembali menyerang. &quot;Pelurunya &lt;i&gt;udah&lt;/i&gt;&amp;nbsp;habis. Ayo serang!&quot; kata salah seorang demonstran.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pemerintah sebenarnya sudah mendeteksi bahwa demonstrasi tersebut bakal berujung rusuh dengan menciptakan martir. Polisi mendapat informasi bahwa ada suatu kelompok yang berencana menggunakan penembak jitu, sebagaimana diungkapkan juga oleh Moeldoko. Kelompok tersebut secara khusus menugasi tim kecil mencari senjata dan menyiapkan eksekutor.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mendekati 22 Mei, terdeteksi setidaknya dua &lt;i&gt;sniper&lt;/i&gt; sudah bersiap. Mereka adalah desertir yang akan ditempatkan di salah satu gedung dalam radius satu kilometer dari kantor Bawaslu di kawasan Sarinah. Sejak pengiriman senjata Soenarko terbongkar, jejak calon eksekutor ini raib.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Moeldoko mengatakan pemerintah bertekad mengusut tuntas auktor intelektualis di balik kerusuhan 22 Mei. &quot;Kami terus memantau semua pergerakan untuk menjaga keamanan negara,&quot; ujarnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
RAYMUNDUS RIKANG, STEFANUS PRAMONO, DEVY ERNIS, AJI NUGROHO&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sumber &lt;a href=&quot;https://majalah.tempo.co/read/157770/paket-dalam-tas-raket-dan-skenario-22-mei&quot;&gt;Majalah Tempo 26 Mei 2019&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;from http://febriliano.blogspot.com/&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://febriliano.blogspot.com/feeds/4418660318288876264/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/2180219956895463446/4418660318288876264' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default/4418660318288876264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default/4418660318288876264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://febriliano.blogspot.com/2019/05/paket-dalam-tas-raket-dan-skenario-22.html' title='Paket Dalam Tas Raket dan Skenario 22  Mei'/><author><name>Febriliano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06209999027745913103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgdX4nMRrsJcQlWxdGD6FeErWHM8h3RvTRTHhC9v4JNxmk75hK4Sz-Cy1DiCt2qXigHLaPyH9d17WxU7nA2d4XydJTJYTH2zL3TWgCGZ3tiIHcabSDpaapYRXwwrAJNxSk/s113-r/it&#39;s+me.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2180219956895463446.post-4491590753475981887</id><published>2019-05-23T08:18:00.000+07:00</published><updated>2019-05-23T08:18:34.130+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="News"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Politik"/><title type='text'>Prabowo, Bertanggung-jawablah!</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kerusuhan yang pecah pada 22 Mei kemarin di Jakarta sedikit-banyak terjadi karena disulut oleh perselisihan di antara dua kubu calon presiden ihwal hasil Pemilihan Umum 2019. Prabowo Subianto menolak hasil penghitungan suara Komisi Pemilihan Umum yang memenangkan Joko Widodo dan menuduh telah terjadi kecurangan dalam pemilihan presiden itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sikap Prabowo jelas menunjukkan bahwa dia tidak siap kalah. Kubu Prabowo malah terus melontarkan tudingan yang hendak mendeligitimasi pemilu. Mereka menuduh sejumlah anggota kelompok penyelenggara pemungutan suara meninggal karena diracun. Padahal hasil audit medis oleh Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa penyebab kematian para petugas adalah berbagai penyakit. Mereka menyalahkan banyak data salah input dalam sistem informasi penghitungan suara KPU, padahal sistem itu hanya alat kontrol dan informasi untuk masyarakat. Penghitungan sebenarnya tetap didasarkan pada rekapitulasi berjenjang. Mereka juga menilai Mahkamah Konstitusi tak dapat dipercaya sehingga akan sia-sia bila menggugat hasil pemilu ke lembaga itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Belum lagi berbagai pernyataan para tokoh di kubu Prabowo tentang people power yang memperkeruh keadaan. Bahkan, ketika kerusuhan pecah, tokoh Partai Amanat Nasional, Amien Rais, menuding &quot;polisi-polisi yang berbau PKI telah menembak umat Islam&quot;. Tudingan yang tak berdasar semacam ini justru semakin memprovokasi massa yang sedang ribut.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dalam kasus ini, Prabowo harus turut bertanggung jawab atas berbagai kerusuhan yang terjadi di Jakarta kemarin itu. Dia tak bisa lepas tangan dengan mengklaim bahwa para perusuh dalam unjuk rasa di Badan Pengawas Pemilihan Umum itu bukan pendukungnya. Bagaimanapun, demonstrasi itu digelar oleh Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga dan dihadiri sejumlah tokoh dari kubu ini. Prabowo harus segera menarik massa pendukungnya dari Jakarta dan mengembalikan suasana damai di Ibu Kota.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Cara-cara people power semacam itu jelas tak patut dilakukan oleh para politikus yang menjunjung tinggi demokrasi. Dalam demokrasi, tak ada ruang bagi perebutan kekuasaan dengan jalan kekerasan. Perebutan kekuasaan harus dilakukan secara konstitusional melalui pemilihan umum.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Namun langkah Prabowo yang akhirnya mengajukan gugatan sengketa hasil pemilihan presiden ke Mahkamah Konstitusi patut diapresiasi. Itulah cara yang benar dan pantas dalam berdemokrasi. BPN tinggal menyiapkan tim pengacara yang andal dan bukti-bukti yang memadai. Biarkan Mahkamah nanti yang memutuskannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Kini saatnya Prabowo dan Jokowi meredakan ketegangan di antara kedua kubu. Mereka berdua harus muncul bersama di hadapan publik dan menunjukkan sikap kesatria masing-masing. Perseteruan ini harus segera disudahi. Masyarakat sudah lelah didera percekcokan di antara pendukung masing-masing kubu. Apalagi sampai bikin rusuh seperti kemarin.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sumber : &lt;a href=&quot;https://koran.tempo.co/read/442759/prabowo-bertanggung-jawablah&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Editorial Koran Tempo 23 Mei 2019&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;from http://febriliano.blogspot.com/&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://febriliano.blogspot.com/feeds/4491590753475981887/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/2180219956895463446/4491590753475981887' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default/4491590753475981887'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2180219956895463446/posts/default/4491590753475981887'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://febriliano.blogspot.com/2019/05/prabowo-bertanggung-jawablah.html' title='Prabowo, Bertanggung-jawablah!'/><author><name>Febriliano</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06209999027745913103</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgdX4nMRrsJcQlWxdGD6FeErWHM8h3RvTRTHhC9v4JNxmk75hK4Sz-Cy1DiCt2qXigHLaPyH9d17WxU7nA2d4XydJTJYTH2zL3TWgCGZ3tiIHcabSDpaapYRXwwrAJNxSk/s113-r/it&#39;s+me.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>