<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6275639337218371895</id><updated>2024-09-01T22:02:54.923-07:00</updated><title type='text'>fictions world</title><subtitle type='html'>di sini semua cerpen saya yang di edit dari FF saya juga. semoga kalian suka ^^</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6275639337218371895/posts/default?redirect=false'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Orina Fazrina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09984671521568892272</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>23</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6275639337218371895.post-6583325552945902050</id><published>2010-08-30T18:56:00.001-07:00</published><updated>2010-08-30T18:56:12.870-07:00</updated><title type='text'>Cepren: Kesedihan</title><content type='html'>Hahay… akhirnya saya comeback lagi niy. Pasti udah pada kangenkan sama cerita-cerita saya kan?! Hehe, ^///^&lt;br /&gt;
Ya udah ga usah pedulikan ocehan saya yang rada narsis itu. Kali ini saya nulis cerita dengan sudut pandang utamanya adalah Yano. &lt;br /&gt;
Cerita ini tercipta sudah lama di otak saya, Cuma baru bisa ngetiknya sekarang. Kali ini sad end lagi. Maaf kalau ga suka. &lt;br /&gt;
Sekali lagi ini cuma imajinasi saya *yang mungkin terlalu berlebihan* hehehe. &lt;br /&gt;
Oke. Lets read! AND LEAVE COMMENT PLEASE. Tolong JANGAN jadi SILENCE READER. Ini demi memompa semangat saya juga, hehe…&lt;br /&gt;
--------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Title: Kesedihan&lt;br /&gt;
Oleh: Imah Hyun Ae&lt;br /&gt;
Disclaimer: murni imajinasi saya&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
KESEDIHAN&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku Yuno. Leader dari grup Pearl Blue. Ah, kurasa hal ini tidak perlu ku tulis bukan?&lt;br /&gt;
Aku sengaja menulis kisah ini di sini. Di website resmi kami. Kuharap para Pearl lady (fans kami) yang membacanya memahami perasaan kami. Terutama perasaannya.&lt;br /&gt;
Kalian boleh menyebarkan cerita ini ke grup kalian. Dan bagi yang bisa menerjemahkannya ke dalam bahasa inggris, ku mohon bantuan kalian juga. Sebarkan kisah ini agar hal yang menyakitinya- juga menyakiti kami- tidak terulang lagi. Dan kuharap juga tidak terjadi dengan idola kalian yang lain.&lt;br /&gt;
Sebelumnya maaf kalau cara menulisku tidak baik. Tidak mengalir seperti halnya kalian menulis cerita untuk kami. Aku hanya ingin menyampaikan kesedihannya pada kalian.&lt;br /&gt;
“Rain in my heart… mou yamanai…”&lt;br /&gt;
Aku mendengar senandung serak di belakangku. Bukan, ini bukan suara Surya. Aku kenal betul suara ini milik siapa. Ini.. suara milik crying baby kami, Ryo.&lt;br /&gt;
Aku menoleh ke belakang. Ia tampak bersandar di tiang jendela. Menatap pilu pada butir-butir hujan di luar sana. Ia masih bersenandung ketika kudapati bulir air matanya jatuh. Di genggaman tangannya tergenggam kotak cantik. Aku tahu isi di dalamnya. Ia sempat memperlihatkannya pada kami. Benar. Sepasang cincin pernikahan. Aku tahu, sekali lagi dia menangisi gadis itu.&lt;br /&gt;
Sudah tiga bulan dia begitu. Dan selama itu pula yang kutemukan di wajahnya hanyalah lekuk sendu. Sesekali kudapati ia menangis diam-diam di kamarnya. Ah, siapapun pasti akan sama sedihnya dengan dia jika mengalami hal yang sama.&lt;br /&gt;
Aku ingat, tiga bulan lalu, pada malam hari, di hari yang seharusnya jadi hari pernikahannya.&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
Hari itu…&lt;br /&gt;
Denting piano terdengar dari ruang tengah. Aku bangun perlahan dan mengintip. Kudapati Ryo tengah duduk di depan piano, memainkannya dengan wajah beruari air mata.&lt;br /&gt;
“Terima kasih kamu berada di sisiku… jantungku berdebar-debar…” ia bernyanyi tertahan. Aku tahu, lagu ini seharusnya dinyanyikan dengan bahagia di pesta pernikahan.&lt;br /&gt;
Air mata crying baby kami deras berjatuhan.&lt;br /&gt;
Dengan perlahan aku membuka pintu dan mendekat ke arahnya.&lt;br /&gt;
Isakannya terdengar jelas di sela lagunya.&lt;br /&gt;
“Ryo?” panggilku. &lt;br /&gt;
Ia menatapku dengan matanya yang merah. Ia berhenti memainkan tuts piano itu. “Bagaimana menurutmu? Lagu ini bagus kan?” senyum pedihnya menusuk hatiku. Tajam.&lt;br /&gt;
Aku bergeming. Pilu di matanya makin menyayat-nyayat seluruh persendianku.&lt;br /&gt;
“Aku berencana menyanyikan lagu ini di perbnikahan kami.” Ia kembali menjatuhkan tatapannya ke piano. Satu titik air jatuh di atas tutsnya. &lt;br /&gt;
“Kau tahu? Lagu ini…” lirihnya pelan, “adalah ungkapan terima kasihku padanya.”&lt;br /&gt;
Aku tak bisa mengatakan apapun melihat wajah pilunya itu.&lt;br /&gt;
“Tapi… aku tak sempat menyampaikannya padanya.” Butiran yang jatuh ke tuts piano tersebut semakin banyak.&lt;br /&gt;
Aku menggigit bibir bawahku. Menahan kabut yang menggenang di mataku agar tidak jatuh.&lt;br /&gt;
“Kenapa…??” bisiknya.&lt;br /&gt;
Apa yang harus ku katakan?&lt;br /&gt;
“Kenapa, Yan…?” isakannya kembali terdengar. “Kenapa…” suaranya tertelan kesedihannya yang dalam.&lt;br /&gt;
“Sudahlah, Yo…” kudengar suara Celvin. Sejak kapan dia di sini?&lt;br /&gt;
Surya juga. Ia mendekat dan menepuk pundak Ryo. Air mata juga menggenang di pelupuk matanya.&lt;br /&gt;
“Ini mimpi kan??” ia meminta pembenaran dari kami.&lt;br /&gt;
Angga menyeka air matanya yang jatuh. &lt;br /&gt;
“Katakan padaku yang terjadi cuma mimpi. Mimpi burukku…” isak Ryo menjadi.&lt;br /&gt;
“Yo..” Angga mencoba bersuara tapi gagal. Ia yang mudah menangis tak bisa menahan isakannya.&lt;br /&gt;
“Katakan itu mimpi.” Suara Ryo makin memilukan hati siapapun yang mendengarnya.&lt;br /&gt;
Aku menepuk pundaknya. Berharap ia mampu menguatkan hatinya.&lt;br /&gt;
Kami menuntunnya ke sofa. Tangis masih menyelimuti wajahnya hingga akhirnya dia tertidur.&lt;br /&gt;
“Jangan pergi, Ma…” igaunya. Air mata meleleh lagi dari sudut matanya.&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti kataku, kebahagian menjadi lima kali lipat dan kesedihan di bagi jadi lima. Sedihnya, sedih kami juga.&lt;br /&gt;
Kalian mungkin tak menyangka jika ia akan menangis sehebat itu karena seorang gadis yang amat dicintainya pergi. Pergi dan tak akan pernah kembali.&lt;br /&gt;
Siapa yang tidak sesakit itu?!! Delapan tahun! Apa kalian tahu arti delapan tahunnya bersama gadis itu? HIDUPNYA!! Tapi setega itu seseorang menghancurkan segalanya!&lt;br /&gt;
Ryo mati-matian selama delapan tahun menyembunyikan sosok gadis itu dari kalian. Ia tak ingin kalian melukainya. Sosok yang bahkan baru kami ketahui satu tahun terakhir. Sosok yang seketika membuat kami sadar betapa setianya Ryo kami ini.&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu itu…&lt;br /&gt;
Aku sedang membuat lirik rap pada lagu terbaru kami, ketika Celvin mengguncang-guncang tubuhku dengan semangat.&lt;br /&gt;
“Kenapa?” Bukannya menjawab, si bungsu di grup kami ini justru menutup pintu kamar dan memasang headset ketelingaku.&lt;br /&gt;
Aku menatapnya bingung.&lt;br /&gt;
“Dengar!” perintahnya. Ia memencet tombol dan…&lt;br /&gt;
“Kak..” suara seorang gadis. Aku memandang Celvin penuh selidik. “Sedang apa? Aku baru saja selesai mengejakan tugas kuliahku. Capeknya… Kakak sendiri? Baik-baik saja kan?”&lt;br /&gt;
“Siapa?” tanyaku usai mendengar kalimat itu.&lt;br /&gt;
Celvin mengakat bahunya. “Ini milik Ryo. Coba lihat dan dengar yang lain. Semua isinya suara gadis ini!” Wajah Celvin menunjukan dia sudah menemukan sebuah rahasia besar.&lt;br /&gt;
“Benarkah?” aku segera mengeceknya. Benar! Suara itu lagi!&lt;br /&gt;
“Hey kak… suka dengan syal yang kuberi? Bagus kan? Tapi… tanganku sampai penuh luka membuatnya. A~, jangan panik! Aku bohong padamu, hehe… Aku kan sudah sering merajut, jadi mana mungkin penuh luka. O, ya, bagaimana hari ini? Menyenangkan? Trainee tak membuat kakak lupa menjaga kesehatan kan? Jangan lupa kak, di sini ada aku yang mencemaskanmu. I love you kak Ryo..”&lt;br /&gt;
Kupandang Celvin. “Menurutmu siapa dia?”&lt;br /&gt;
“Aku curiga dia…” Celvin menggantung kalimatnya. Ia mengambil sebelah headset dan memasang di telinganya. Ia memainkan rekaman suara yang ada, lalu menggantinya. Kepalanya menggeleng seolah berkata, ”Bukan ini”.&lt;br /&gt;
“Coba dengarkan yang ini,” ujernya gembira sekaligus semangat.&lt;br /&gt;
Aku mengarkan dengan seksama. “Kakak… tenanglah. Aku percaya pada kakak. Jika image kakak harus seperti itu tidak apa-apa. Asal jangan kenyataannnya saja. Asal aku tetap di posisi ketiga di hati kakak, setelah Tuhan dan orang tua kakak. Aku mencintaimu, Kak….”&lt;br /&gt;
Mulutku membulat. Terkejut.&lt;br /&gt;
Celvin mencari lagi. “Bukan.” Ia mencari lagi. “Masih bukan,” katanya. &lt;br /&gt;
 “Ah, ini dia.” Ia tersenyum lebar padaku. Aku tak sabar mendengarnya.&lt;br /&gt;
“Kak… aku sudah lihat mini FTV kalian. Whaa~ kakak keren sekali. Andai aku jadi tokoh utama wanitanya… Umm, Kak, boleh aku bilang kalau aku cemburu? Maaf…. Tapi perasaan itu… benar-benar tak bisa kukendalikan... Bagaimana ini?”&lt;br /&gt;
Kepala Celvin miring ke kiri. Ia seolah bertanya, apa-pendapatmu-Yan.&lt;br /&gt;
“Jadi… gadis ini…”&lt;br /&gt;
Celvin mengangguk cepat sebelum aku menyelesaikan kalimatku. &lt;br /&gt;
“Kurasa dia kekasih Ryo. Aku yakin itu.” Ucapnya. Lagi-lagi penuh semangat.&lt;br /&gt;
Aku dan Celvin saling tatap. Takjub dengan temuan kami.&lt;br /&gt;
Kami keluar kamar, bermaksud mengabarkan berita penting ini pada Surya dan Angga yang sedang berbelanja. Langkah kami terhenti ketika si tokoh utama tampak sedang mencari sesuatu dengan cemas.&lt;br /&gt;
“Mencari apa?” tanyaku.&lt;br /&gt;
“Apa kau melihat hpku? Terakhir kali aku duudk di sini. Kupikir tertinggal di sini.”&lt;br /&gt;
Aku melirik Celvin.&lt;br /&gt;
Ryo menatap Celvin. “Vin?”&lt;br /&gt;
Celvin tersenyum lebar. “Ini.” Ia menyerakannya. “Tapi.. maaf... aku dan Yano tadi membuka isinya.”&lt;br /&gt;
Wajah Ryo berubah. Diraihnya HPnya. “Kalian mendengar semuanya?” suaranya melemah.&lt;br /&gt;
“Hampir…” ujer Celvin sambil cengengesan.&lt;br /&gt;
Ryo terduduk di sofa. Syok mungkin.&lt;br /&gt;
“Eh? Ada apa?” Angga dan Surya yang baru datang terkejut melihat kami. Mereka mendekat.&lt;br /&gt;
“Jadi… masih mau merahasiakannya dari kami?” ujerku santai pada Ryo. Ryo tersenyum malu. Ia menggeleng. &lt;br /&gt;
“Rasanya sudah tidak bisa lagi. Maaf, karena merahasiakannya selama ini.”&lt;br /&gt;
“Soal apa?” Tanya Surya antusias.&lt;br /&gt;
“Jadi, ceritakan pada kami sekarang. Tetang cintamu itu.” Pinta Celvin dengan mata puppy eyes-nya.&lt;br /&gt;
Ryo menghela napas. Ia diam sesaat sambil menatap kami bergantian. “Dia.. Rianti,” mulainya sambil menatap HPnya. Ia tersenyum. Lebih lembut dari biasanya. Tampak dari binar matanya rasa sayang yang amat dalam untuk gadis itu. “Dia kekasihku.” Matanya menerawang.&lt;br /&gt;
Kami mengangguk.&lt;br /&gt;
“Aku menyimpan semua pesan suaranya agar bisa terus kudengarkan kalau aku tak bisa menghubunginya ketika aku merindukannya. Aku menyimpannya di memori sticknya agar bisa kulepas saat aku selesai mendengarkannya. Jika ada yang menyentuh hpku, tetap aman. Tapi.. tadi aku malah meninggalkannya. Untung kalian yang menemukannya. Aku sudah cemas kalau-kalau terjatuh di jalan dan di temukan fans.”&lt;br /&gt;
Kami paham. Betapa berbahayanya jika hal tersebut sampai keluar.&lt;br /&gt;
“Karena tak bisa sering menelponnya, jadi, untuk mengobati rinduku aku selalu mendengarkan suaranya ini.”&lt;br /&gt;
“Hmm….” Gumam Surya sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Wajahnya sumringah. Sepertinya senang dengan kisah Ryo ini.&lt;br /&gt;
“Tunggu, selama ini kau sering membaca majalah sambil memasang headset hp ini di telingamu. Jangan-jangan kau… mendengarkan suaranya ya?”  tanya Angga semangat.&lt;br /&gt;
Ryo tertawa kecil sambil mengangguk. “Iya.” Ucapnya malu. Wajahnya memerah.&lt;br /&gt;
“Sudah berapa lama kau dengannya?” tanya Celvin menyelidik.&lt;br /&gt;
 “Tujuh tahun…”&lt;br /&gt;
“Hah???” kami terkejut bersamaan.&lt;br /&gt;
“Jadi…” aku mencoba menyimpulkan. &lt;br /&gt;
“Sebelum trainee aku sudah pacaran dengannya.” Ia menerawang dan… Tersenyum! Lebih manis dari yang pernah kami lihat. “kami backstreet dari teman-teman di sekolah juga orang tuanya. Dan ternyata harus berlanjut hingga kini.”&lt;br /&gt;
“Whoaa~. Kau berencana merahasiakannya sampai kapan?” Tanya Angga sambil memajukan wajahnya ke depan Ryo.&lt;br /&gt;
“Tidak.. aku tidak bermaksud merahasiakannya dari kalian. Hanya takut kalau terlalu banyak yang tahu, aku tidak bisa melindunginya.”&lt;br /&gt;
“Jadi aku tidak percaya pada kami?” Tanyaku.&lt;br /&gt;
“Bu-bukan.” Ryo tampak gugup. “Aku tak bermaksud begitu. Aku sempat mau mengatakan pada kalian, bahkan berencana memperkenalkannya pada kalian, tapi…”&lt;br /&gt;
“Tapi apa?” Celvin tak sabar.&lt;br /&gt;
“Umm.. tapi… manajer melarangku.”&lt;br /&gt;
“Eh??” aku terkejut.&lt;br /&gt;
“Manajer??” Tanya Surya. “Jadi dia tahu??”&lt;br /&gt;
Ryo mengangguk. &lt;br /&gt;
“Sejak kapan?” tanyaku lambat.&lt;br /&gt;
“Dua tahun lalu.”&lt;br /&gt;
Kami mengangguk. &lt;br /&gt;
“Hmm..” gumamku. Kalau sudah manajer yang bilang, apa boleh buat. Mungkin demi kebaikan kami semua.&lt;br /&gt;
“Kau… serius dengannya?” tanya Angga.&lt;br /&gt;
Ryo mengangguk. “Aku berniat membongkar semuanya pada kalian setelah aku melamarnya. Juga meminta maaf karena tak menceritakan tentangnya dari dulu. Tapi… tak disangka kalian mengetahuinya lebih cepat.” &lt;br /&gt;
“Ceritakan lebih banyak lagi tentang dia.” Pintaku. Semua mengangguk setuju. &lt;br /&gt;
Ryo menatap kami bergantian dan cerita tentang hubungannya dengan Rianti pun di mulai. “Dia memang bukan cinta pertamaku. Tapi aku bisa pastikan, dialah cinta terakhirku. Bersamanya, aku merasa nyaman. Bukankah.. rasa nyaman itu lebih lama bertahan?&lt;br /&gt;
Benar-benar tak bisa kusangka, seorang gadis biasa saja bisa menggenggam hatiku sedalam ini. Namanya Rianti. Tiba-tiba saja saat melihatnya tertawa gembira dadaku berdebar. Ia yang selalu menolong orang lain dengan tulus. Selalu tersenyum lembut  pada siapa saja. Menundukan wajahnya ketika malu. Ah… aku tak tahu sejak kapan aku suka segala yang ada di dirinya.&lt;br /&gt;
Aku sempat berpikir sebaiknya kusimpan saja rasa ini. Ia dan yang lain tak perlu tahu. Tapi, ketika ada laki—laki yang mendekatinya, aku beriubah pikiran. Aku memutuskan perasaanku padanya.&lt;br /&gt;
Hari itu dengan sengaja aku mengikutinya. Dan di sanalah, di depan sebuah halte dekat rumahnya, perasaanku kusampainan.&lt;br /&gt;
Aku menunduk sambil menggesekkan sepatuku di aspal.&lt;br /&gt;
Lirih kudengar sebuah suara yang kunanti,  ‘Aku juga…’&lt;br /&gt;
Aku mendongak. ‘Eh?’&lt;br /&gt;
‘Aku juga menyukaimu…’ katanya pelan. Wajahnya tampak bersemu merah.&lt;br /&gt;
‘Sungguh?’&lt;br /&gt;
Dia mengangguk sambil tersenyum malu. &lt;br /&gt;
‘Yayyy~~~.’ aku berteriak gembira. Rianti pacarku sekarang,” aku berputar-putar bahagia. Kutemukan senyum manisnya.&lt;br /&gt;
Aku teringat sesuatu. Aku yang popular dan menyatakan cinta padanya lebih dulu, kurasa wajar kalau dia menjawab begitu. Aku baru mau bilang harus backstreet dan kalau ada yang tahu hubungan ini berakhir, meski aku yakin tak akan kulakukan, ketika dia bersuara…&lt;br /&gt;
‘Tapi kita backstreet ya? Orang tuaku… tidak mengijinkan aku pacaran. Kalau ketahuan teman-teman atau siapapun,’ ia menatapku, ‘Kita putus.’&lt;br /&gt;
‘Eh?’&lt;br /&gt;
Rianti menunduk.&lt;br /&gt;
Itu yang kumau, tapi, kenapa rasanya sedih mendengar dia yang memintanya ya?&lt;br /&gt;
‘A-aku mengerti…,’ ujerku terbata.&lt;br /&gt;
Rianti mendongak. Matanya mencari kesungguhanku. Ketika ia tersenyum, aku tahu dia telah mendapatkannya.&lt;br /&gt;
Aku mengantarnya, tapi akan berpisah di jarak yang cukup jauh dari rumahnya. Kami tak boleh ketahuan.&lt;br /&gt;
Kami melangkah dalam diam. Meski diam, tangan kami saling terpaut erat. Senyum merekah di sudut bibir kami. Ini disebut kebahagian kecil dari cinta, kan? &lt;br /&gt;
Aku tahu, satu hal telah menyatukan kami. Hati yang dipenuhi cinta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak hari itu kami harus menjaga jarak agar tak ada yang tahu kami berpacaran. Aku mengantarnya pulang dengan jarak beberapa meter di belakangnya. Dia akan berhenti dan menatapku sambil tersenyum. Ia melambai kemudian. Dan kami pun berpisah.&lt;br /&gt;
Saat jalan-jalan juga. Tak terlihat sekali kami adalah kekasih. Aku kadang gelisah, tapi melihatnya yang hanya menatapku, hatiku kembali tenang. Diam-diam sering aku memberikan ciuman jarak jauh dengannya. Dia akan membalas dengan cara yang sama diam-diam. Hanya di tempat rahasia kami, sebuah rumah kecil di dekat pantai . Di sana aku bisa duduk dekat dengannya. Menatapnya sepuasku. Menyanyikan lagu yang menyenangkan untuknya. Membantunya mengerjakan PRnya. Mengelus kepalanya dengan lembut. Juga merebahkan kepalanya di pundakku sambil menggenggam tangannya lama. Aku... benar-benar jatuh cinta padanya.&lt;br /&gt;
Ketika aku memutuskan ikut audisi M Entertainment, aku menemuinya diam-diam di tempat rahasia kami.&lt;br /&gt;
‘Benarkah?’ tanyanya saat kusampaikan keinginanku ikut audisi. Ia tampak gembira. ‘Kakak pasti lolos,’ ujernya riang.&lt;br /&gt;
‘Thanks… Tapi… dengan begitu.. kita akan semakin sulit bertemu.’&lt;br /&gt;
Ia menggeleng. ‘Tidak apa-apa. Jika itu impian kakak, maka impian kakak menjadi impianku juga.’&lt;br /&gt;
‘Bagaimana kalau kau lelah denganku lalu memutuskan untuk berpaling dariku?’&lt;br /&gt;
‘Kakak cemas?’&lt;br /&gt;
Aku mengangguk gamang.&lt;br /&gt;
‘Bukankah aku yang harusnya cemas.’ Ujernya sambil menatap kedua mataku, serasa membaca hatiku. ‘Kekasihku akan semakin banyak punya fans.’ Ia menghela napas dan memandang keluar. Di masa trainee nanti banyak wanita yang cantik. Kakak… pasti akan berpaling..’ sambungnya setengah berbisik.&lt;br /&gt;
‘Tidak~,’ tegasku segera. ‘Kau satu-satunya!’&lt;br /&gt;
‘Jika dimulai dengan indah, kita harus akhiri dengan indah juga kan, Kak?’&lt;br /&gt;
‘Hei!!! Jangan berkata seolah-olah kita putus. Aku janji aku akan usahakan menelponmu setiap hari.’&lt;br /&gt;
Ia tersenyum dan mengangguk.&lt;br /&gt;
Namun ternyata, aku tak bias memenuhi janjiku. Aku hanya bias mengirim pesan dan kalau usai latihan aku sempatkan mengirin pesan suara padanya.&lt;br /&gt;
Setelah debut, aku cuma bias menemuinya tiga kali dalam setahun. Saat ulang tahunnya, ulang tahunku, yang ini terkadang aku harus menyelesaikan pesta yang dibuat temanku baru menemuinya dan hari jadian kami. Jadwal yang padat membuat dia yang lebih banya mengirim pesan suara padaku. Kadang, aku merasa bersalah padanya…&lt;br /&gt;
Aku mendapat image playboy di grupku. Aku cemas. Bagaimana kalau dia mengira aku seperti itu? Bagaimana jika hal itu membuatnya putus denganku? Namun dia tak pernah sekalipun membahasnya. Ketika kutanya dia menjawab, ‘Tidak apa-apa, Kak. Asal jangan kenyataannya saja. Aku harap aku tetap di posisi ketiga setelah Tuhan dan orang tua kakak.’&lt;br /&gt;
Senyumku mengembang seketika.&lt;br /&gt;
Cemas itu masih ada. Kami yang berjauhan. Punya waktu senggang yang tak sama. Akankah perasaannya bertahan?&lt;br /&gt;
Aku gembira bukan main ketika dia mengirim pesan suara yang isinya,&lt;br /&gt;
‘Kakak… aku sudah lihat mini FTV kalian. Whaa~ kakak kau keren sekali. Andai aku jadi tokoh utama wanitanya… Kakak, boleh aku bilang kalau aku cemnburu? Maaf…. Perasaan itu… benar-benar tak bisa kukendalikan... bagaimana ini?’&lt;br /&gt;
Segera aku menghubunginya dan meminta bertemu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Whoaa….” Koor terpesona kami berkumandang bersamaan mendengar cerita Ryo barusan.&lt;br /&gt;
“Ingat ketika aku buru-buru keluar dan bilang keadaan darurat namun wajahku terlihat ceria.”&lt;br /&gt;
“O! yang waktu itu,” pekik Angga. &lt;br /&gt;
“Iya. Kau bilang aneh, kalau darurat seharusnya aku cemas. Hari itu hari di mana pertama kalinya dia bilang cemburu padaku.”&lt;br /&gt;
“O~” koor kami berkumandang lagi.&lt;br /&gt;
“Waktu itu aku menemui Rianti di tempat rahasia kami.&lt;br /&gt;
‘Kakak… apa kalimatku tadi membuat kakak cemas?’ ujernya takut. &lt;br /&gt;
Aku mendekat.&lt;br /&gt;
‘Ma-‘&lt;br /&gt;
Aku memeluknya. Membuat kata-katanya terhenti.&lt;br /&gt;
‘Kakak…?’ ia terkejut.&lt;br /&gt;
Aku memeluknya erat. ‘Dari kemarin aku mencium bau yang terbakar,’ ujerku sambil merebahkan kepalaku di pundaknya.&lt;br /&gt;
‘Eh?’ &lt;br /&gt;
‘Ternyata itu hatimu ya…’&lt;br /&gt;
‘Kakak…’ ia memukul bahuku. Aku tahu ia malu. &lt;br /&gt;
‘Aish.. Berisik sekali. Apa kau mendengarnya?’&lt;br /&gt;
‘Um..Ya…’&lt;br /&gt;
Eh? Di sini tidak ada bunyi berisik. Apa dia tahu maksudku?&lt;br /&gt;
‘Bukankah itu bunyi debaran hati kakak?’ lanjutnya.&lt;br /&gt;
Ah, ternyata dia tahu!! ‘Seharusnya aku yang bilang begitu kan? Kau berdebar hebat ketika kupeluk.’&lt;br /&gt;
Ia lagi-lagi memukul bahuku. Aku tertawa girang. &lt;br /&gt;
‘Terima kasih…’ ujerku.&lt;br /&gt;
‘Eh?’&lt;br /&gt;
‘Terima kasih karena selalu mencemaskanku.’ &lt;br /&gt;
Kurasakan dia mengangguk.&lt;br /&gt;
‘Terima kasih… karena sudah cemburu untukku.’ *gyaaa~~~~*&lt;br /&gt;
‘Kakak~’ ia mencubitku. Kebiasaannya ketika rasa malunya memuncak.&lt;br /&gt;
‘Itu melegakanku, Ria…’ bisikku.&lt;br /&gt;
Rianti tak menjawab. Aku tak perlu jawaban langsung darinya. Pelukannya yang erat sudah menjawab semuanya.&lt;br /&gt;
‘Aku mencintaimu, Kak…’ bisiknya pelan. &lt;br /&gt;
Debut di jepang, hal paling menyiksaku. Membuatku tak bisa menemuinya di hari jadian kami. Aku memutuskan menelponnya.&lt;br /&gt;
‘Kau di mana?’ tanyaku usai menanyakan kabarnya.&lt;br /&gt;
‘Kakak tidak tahu?’ ia balik bertanya.&lt;br /&gt;
‘Maksudmu?’&lt;br /&gt;
‘Bukankah selama ini aku ada di hati kakak?’ Dia menggodaku.&lt;br /&gt;
‘Hei!!’ Senyum bahagiaku merekah seketika. &lt;br /&gt;
‘Aku sedang di kamar, Kak.’ ujernya usai tergelak.&lt;br /&gt;
‘Sedang mengerjakan apa?’&lt;br /&gt;
‘Umm… tugas rutin.’&lt;br /&gt;
‘Tugas rutin?’ ulangku.&lt;br /&gt;
‘Hm-mm. Tugas memikirkan kakak sepanjang waktu.’&lt;br /&gt;
‘Hei!!’&lt;br /&gt;
Rianti tertawa lagi.&lt;br /&gt;
‘Kenapa justru kau yang menggodaku.’ ucapku setengah bergumam. Gelak tawa Rianti makin keras terdengar. Membuat dadaku terasa hangat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Wowww….” Ujer Surya. Matanya jelas terlihat sangat kagum dengan kisah cinta yang manis dari Ryo.&lt;br /&gt;
“Suit-suit!” Celvin bersuit heboh.&lt;br /&gt;
Kulihat wajah Ryo memerah. Ia terlihat bahagia sekali mengingat kisah manisnya dengan gadis itu.&lt;br /&gt;
“Ia juga membuat syal dan mengirimnya. Ingat ketika Celvin bilang kenapa cuma satu syal saja yang kupakai?”&lt;br /&gt;
“Jangan-jangan…” Celvin menduga-duga.&lt;br /&gt;
Ryo tersenyum hangat. “Itu hasil rajutannya.” Suaranya pelan.&lt;br /&gt;
“Whoaa.. Ryo… kau benar-benar suka padanya ya?” kata Surya takjub.&lt;br /&gt;
Bugh!&lt;br /&gt;
Pukulan pelan mendarat di kepala Surya. &lt;br /&gt;
“Kenapa kau menanyakan hal sebodoh itu??” ujer Angga. “Itu sudah tentu kan?!!”&lt;br /&gt;
Ryo tertawa. “Kalian mau melihat fotonya?” tawarnya.&lt;br /&gt;
“Boleh kah?” tanyaku tak percaya.&lt;br /&gt;
Ryo mengangguk. Ia beranjak ke kamarnya dan kembali sambil membawa HPnya. Ia mengganti memori stick HPnya dengan yang baru di ambilnya di kamar.&lt;br /&gt;
“Ini dia,” ujerya setelah mendapatkan album foto bertuliskan ‘Kekasihku’.&lt;br /&gt;
Kami mendekat dan menatap foto yang ada di HP tersebut. Seorang gadis berambut lurus dan tebal. Matanya yang sedikit menyipit dengan lengkungan lembut dan hangat tercipta di bibirnya. Pipinya merona. Tampak seperti tersipu malu. Kulitnya yang putih cerah semakin mempesona kami. &lt;br /&gt;
“Cantik,” komentar Celvin.&lt;br /&gt;
Aku mengangguk menyetuji pendapatnya.&lt;br /&gt;
“Hm-mm,” Surya ikut mendukung komentar Celvin barusan. “Kenapa kau bilang biasa saja?” tanyanya.&lt;br /&gt;
Ryo tertawa. “Sengaja. Agar kalian jujur menilainya, hahaha.”&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari yang bahagia setelah itu. Ryo selalu menceritakan apa yang ia bicarakan dengan Rianti usai menelpon. Dan kebahagiaan itu semakin kami rasakan meningkat ketika Ryo bilang dia mau melamar gadis itu tiga bulan lalu.&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa manajemen mengijinkan?” tanyaku ketika Ryo bilang dia mau melamar Rianti.&lt;br /&gt;
“Iya.. sebenarnya manajemen juga sudah tahu sejak dua tahun lalu.” &lt;br /&gt;
“HAH???” kami terkejut bersamaan.&lt;br /&gt;
Ryo mengangguk. “Manajer yang bilang. Dari pada ketahuan lebih baik diberitahukan lebih dulu. Pemimpin melihat kesungguhanku. Ketika kubilang ‘lebih baik kehilangan karirku dari pada kehilangan dia’ pemimpin berkata ‘Jaga dia baik-baik. Kalau sampai fans tahu, aku tidak akan turun tangan untuk melindunginya’.”&lt;br /&gt;
“Jika itu kebahagiaanmu, maka itupun kebahagiaan kami juga. Good luck, Yo,” ujerku.&lt;br /&gt;
“Semangat!” Celvin semangat mengatakannya.&lt;br /&gt;
“Kabari kami segera apa jawaban Rianti, ya?” pinta Angga.&lt;br /&gt;
Ryo mengangguk.&lt;br /&gt;
Sejam kemudian dia menelpon dan jawaban gadis itu serta kedua orang tuanya adalah ‘Ya’. &lt;br /&gt;
Kami bersorak gembira. Seolah kamilah yang mau menikah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu berlalu. Segala persiapan dimulai.&lt;br /&gt;
Manajemen mengatur konferensi pers pernikahan Ryo yang akan berlangsung dua minggu lagi. Mereka juga memperlihatkan foto-foto pra wedding Ryo dengan Rianti.&lt;br /&gt;
Semua berjalan lancar. Fans merestui hubungan mereka. Ikut bahagia dengna kebahagiaan Ryo. Bahkan ada yang langsung memanggil Rianti dengan sebutan ‘Kakak terbaik’. Kami lega.&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami bahagia. Hingga membuat kami  lupa untuk waspada terhadap fans fanatic kami.&lt;br /&gt;
Hari itu, seminggu sebelum pesta.&lt;br /&gt;
Ryo dan Rianti mencoba jas dan gaun pengantin. Banyak fans yang mengikuti ke mana saja mereka pergi. Mereka heboh menyebarkan kegiatan yang Ryo dan Rianti lakukan. Tak kalah hebohnya dengan wartawan.&lt;br /&gt;
Merasa kehausan, Rianti pamit ingin membeli minuman dingin di minimarket seberang. Ryo masih mencoba jasnya yang lain. Sepertinya ukurannya ada yang kurang pas. &lt;br /&gt;
“Biar aku saja.” Tawarku ketika ia hendak keluar.&lt;br /&gt;
“Tidak usah. Fans diluar cukup banyak. Nanti Kakak malah tidak bisa lewat.”&lt;br /&gt;
“Tapi-“ &lt;br /&gt;
“Tidak apa-apa,” potongnya. Ia tersenyum meyakinkan. Aku mengalah. Membiarkannya keluar. Semoga tidak apa-apa.&lt;br /&gt;
Sesaat kecemasan melandaku. Ketika fans menyapa Rianti dengan sebutan ‘Kakak’ aku lega. Kulihat Rianti membalas sapaan mereka. Kudengar juga mereka berpesan untuk menjaga Yoochun dengan baik.&lt;br /&gt;
Rianti menjawab permintaan mereka sembari tersenyum dan terus berjalan ke seberang.&lt;br /&gt;
Ryo menatapnya ketika ia keluar dari minimarket dengan sekantung plastikl kecil berisi uman di tangannya.&lt;br /&gt;
“RIANTI??!!” teriakan Ryo mengagetkan kami.&lt;br /&gt;
“KYAAAAA!!!” paru-paruku serasa lemas mendengar fans di luar menjerit. Satu sosok bersimbah darah di aspal membuat jantung kami seperti berhenti berdetak.&lt;br /&gt;
Ryo dan kami berempat keluar.&lt;br /&gt;
RIanti tampak tak bergerak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ambulan membawa Rianti ke rumah sakit. Ryo ada di dalamnya. Kami mengikuti di belakang dengan mobil kami.&lt;br /&gt;
Rumah sakit tampat mencekam. Kami baru menyadari hal itu ketika melihat lorong UGD. Aku merasa bisa mendengar detak jantung member yang lain.&lt;br /&gt;
Suara tangis terdengar ketika kami di dekat ruang gawat darurat itu.&lt;br /&gt;
“RIA!!!” teriakan Yoochun menyayat-nyayat hati kami. Ia menangis sambil memeluk sosok kaku di pembaringan. “Jangan pergi~” suaranya pilu sekali.&lt;br /&gt;
Aku merasa sulit untuk bernapas. Ini… ini bukan kenyataan kan?&lt;br /&gt;
“Jawab aku, Ria?!!” Ryo tergugu. Bahunya bergetar. Ia mengguncang-guncang tubuh Rianti yang tidak bergerak. Seketika air mata kami jatuh. Rianti, gadis yang begitu dicintai Ryo, telah tiada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 “Kenapa…?” lirih Ryo ketika upaca pemakaman usai. “Kenapa…?” isaknya tertahan. Ia berlutut di depan makam Rianti dan kembali menangis hebat.&lt;br /&gt;
Kami baru bisa membawanya ke mobil dan pulang saat tangisnya melemah dan ia sudah tak bisa melawan, kelelahan. &lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami mengetahui pelaku tabrak lari Rianti adalah salah satu fans fanatic kami. Di pengadilan dengan jujur dia bilang tak rela Ryo menikah dengan orang lain.&lt;br /&gt;
Apa kalian tahu, Ryo pernah bilang padaku, “Jika menjadi idola membuatku harus kehilangan Rianti,  maka aku lebih memilih tidak pernah menjadi idola.”&lt;br /&gt;
Apa kalian tahu? Lebih dari enam tahun ia diam demi pearl lady. Menjaga hati pearl lady agar tidak terluka.&lt;br /&gt;
Rianti yang bahkan sudah sejak delapan tahun selalu ada di samping Ryo. Mendukung segalanya. Percaya padanya. Bertahan untuknya. Setia padanya.&lt;br /&gt;
Lalu kenapa? KENAPA??&lt;br /&gt;
Kalian bilang mencintai Ryo. Tapi apa? Apa yang sudah dilakukan salah satu dari kalian? Kenapa menyakiti idola kalian? Bukankah cinta yang sesungguhnya tak akan menyakiti orang yang dicintainya?&lt;br /&gt;
Ah, maaf… aku malah marah-marah seperti ini. Ini bukan salah kalian. Tapi salah pelaku itu. &lt;br /&gt;
Kami sungguh sangat berterimakasih atas segala cinta kalian yang begitu besar untuk kami. Tapi tolong jangan sesadis orang itu.&lt;br /&gt;
Sebulan lalu orang itu mengirim surat yang isinya minta maaf dan dia sangat menyesal. Tahukah kalian apa balasan Ryo?&lt;br /&gt;
“Apa dengan menerima maafmu, Rianti-ku kembali?”&lt;br /&gt;
Bahkan orang tua pelaku itu datang dan meminta maaf pada Ryo langsung. Jawaban Ryo masih sama.&lt;br /&gt;
“Apa dengan memaafkan, Rainti-ku kembali?”&lt;br /&gt;
Ia meninggalkan orang tua pelaku itu begitu saja. &lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yan?” jemariku terhenti ketika mendengar suara serak Ryo memanggilku.&lt;br /&gt;
Aku menoleh dan melihatnya sedang memandangi langit yang muram.&lt;br /&gt;
“Apa dengan memaafkan orang itu, Rianti-ku bisa kembali?” &lt;br /&gt;
Apa yang harus kujawab?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
--End--&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hehehe… thanks udah baca…. Di tunggu komentarnya lho.&lt;br /&gt;
Bagi yang kena tag, WAJIB KOMENTAR lho~ ^^&lt;br /&gt;
Silahkan lanjut ke ceritaku yang lain ya~ XDXD</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/feeds/6583325552945902050/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/2010/08/cepren-kesedihan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6275639337218371895/posts/default/6583325552945902050'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6275639337218371895/posts/default/6583325552945902050'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/2010/08/cepren-kesedihan.html' title='Cepren: Kesedihan'/><author><name>Orina Fazrina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09984671521568892272</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6275639337218371895.post-1729607194942501111</id><published>2010-08-30T18:55:00.003-07:00</published><updated>2010-08-30T18:55:32.391-07:00</updated><title type='text'>cerpen: Perasaan Tak Enak</title><content type='html'>Hm… kali ini ceritanya lebih panjang. Tapi rada bingung untuk judulnya nih.. apa yang cocok ya, hehe…&lt;br /&gt;
Langsung baca aja ya. Maaf kalau ceritanya gak jelas, hahaha…&lt;br /&gt;
--------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Title: Perasaan Tak Enak&lt;br /&gt;
Oleh: Imah Hyun Ae&lt;br /&gt;
Disclaimer: Diambil dari cerpen buatanku saat aku SMA (tepatnya tanggal 30 Oktober 2007) yang setelah kubuka lagi ternyata belum pernah ku publish, hehe…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PERASAAN TAK ENAK&lt;br /&gt;
Kutatap sosok di seberang sana yang tengah melambaikan tangannya padaku. Senyumnya mengembang tulus. Matanya berbinar penuh perasaan kasih. Namun, hatiku lagi-lagi menjerit. Jeritan yang sama dengan yang kurasa ketika dia jadian dengan Janu, sahabatku. Padahal, seharusnya aku merasa senang karena dia kini telah menjadi kekasihku. Bukankah ini yang kuinginkan?&lt;br /&gt;
Hfff… senang? Pantaskah? &lt;br /&gt;
Aku balas senyum Lena. Lantas kulajukan motorku meninggalkan sosoknya yang masih menatapku di teras rumahnya.&lt;br /&gt;
Rentetan peristiwa beberapa waktu lalu terungkap diingatanku. Buku kenangan di otakku tak mempedulikan perintahku yang melarangnya terbuka lebih lebar lagi. &lt;br /&gt;
Waktu itu…&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
Siswa-siswi di SMA Island sudah pulang. Tanpa sengaja aku melihat Janu menarik tangan Lena dengan keras. Ada satu rasa yang tak bisa kuartikan tampak di retina sahabatku itu.&lt;br /&gt;
Kubuntuti mereka yang melangkah ke taman samping sekolah&lt;br /&gt;
“Ada apa?” Tanya Lena sedikit takut.&lt;br /&gt;
Janu menatap Lena dengan tatapan sedih. Kilat perih ada di matanya. “Maaf…” lirih Janu sambil menjatuhkan pandangannya ke tanah.&lt;br /&gt;
“Maaf untuk apa?” Lena tampak bingung.&lt;br /&gt;
“Tolong… maafkan aku…”&lt;br /&gt;
“Tapi, maaf untuk apa, Nu?” Lena tenang. &lt;br /&gt;
“Hubungan kita.”&lt;br /&gt;
“Eh?” Lena manatap lekat Janu yang masih memandang tanah.&lt;br /&gt;
“Aku rasa…  jauh lebih baik kalau kita akhiri saja.”&lt;br /&gt;
“A-apa?” Lena tak percaya dengan pendengarannya barusan.  “Kamu bercanda kan, Nu?” ia menatap penuh harap.&lt;br /&gt;
“Maafkan aku…” lirih Janu berat. &lt;br /&gt;
Seketika wajah Lena berubah pucat. “Kenapa…?” lirinya. “Apa aku punya salah padamu?”&lt;br /&gt;
Janu menggeleng pelan.&lt;br /&gt;
Lena menatap sosok Janu lekat-lekat. Seolah mencari jawaban sesungguhnya yang disembunyikan laki-laki di depannya itu.&lt;br /&gt;
“Kau…jatuh cinta pada yang lain?” Tanya Lena lambat dan pelan.&lt;br /&gt;
“Eh?” kepala Janu mendongak. Kaget. “Ti-tidak. Bukan begitu. Tapi…”&lt;br /&gt;
“Aku mengerti…” potong Lena cepat. “Tidak apa-apa, Nu… Aku paham…” Lena berbalik. Melangkah meninggalkan Jany dengan mata basah.&lt;br /&gt;
“Bukan begitu, Len…” bisik Janu pelan, membuat Lena tak mendengarnya.&lt;br /&gt;
Aku kepal tanganku kuat-kuat. Menahan emosiku terhadap sahabatku itu yang telah tega melukai Lena, gadis yang kucintai.&lt;br /&gt;
Kulayangkan pandanganku pada sosok Janu yang membuang napas berkali-kali. Matanya tampak memerah. Apa… dia juga ingin menangis? &lt;br /&gt;
Ah, tidak ada waktu memikirkan orang seperti dia! Yang harus segera kutemani adalah Lena. Aku segera mencarinya.&lt;br /&gt;
Aku memenukan gadis berambut sebahu itu duduk sambil menangis di kursi taman kota tak begitu jauh dari sekolah. Kudekati dia perlahan.&lt;br /&gt;
“Hendra?” katanya kaget saat sadar aku sudah di depannya. Disekanya air matanya dengan segera.&lt;br /&gt;
“Menangislah jika itu  membuatmu merasa lebih baik,” ucapku lalu duduk di sampingnya.&lt;br /&gt;
Ia diam. Aku tahu dia sedang menatapku sekarang.&lt;br /&gt;
“Anggap aku pohon yang siap mendengar keluh-kesahmu.” kataku sambil mengalihkan pandanganku padanya. &lt;br /&gt;
Lena tertunduk. Air matanya jatuh lagi.&lt;br /&gt;
“Dia tiba-tiba memutus hubungan kami,” lirihnya di sela isakannya. “Andai dia memberi sinyal lebih dulu, aku mungkin…” kata-kata Lena tertahan. Air mata membanjiri pipinya. Kuulurkan sapu tanganku padanya. &lt;br /&gt;
“Thanks…” ucapnya setengah berbisik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mengantar Lena pulang, aku segera menuju ke rumah Janu. Pas sekali dia ada di sana. &lt;br /&gt;
Tanpa permisi lagi, aku masuk ke kamarnya.&lt;br /&gt;
“Hen? Tumben tidak ketuk pintu dulu seperti biasanya. Ada apa?”&lt;br /&gt;
Bugh! Kutampar wajah Janu yang kelihatan tanpa dosa. Dia seolah tak menanggapi apa yang baru kulakukan. Dia duduk dan bersandar di dinding kamar sambil menusap pipinya yang memar. Pandangannya tertuju pada jendela kamarnya yang terbuka.&lt;br /&gt;
“Itu imbalan bagimu karena sudah menyakiti Lena!” bentakku. &lt;br /&gt;
Janu diam. Tak melakukan pembelaan. Biasanya dia akan bilang padaku, ‘Sikapmu menunjukkan kalau kau juga mencintainya!’ Tapi ini….&lt;br /&gt;
“Kau tahu perasaanku! Kau juga tahu Lena bahagia bersamamu! Bukankah sudah pernah kubilang, kalau kau menyakitinya, aku akan merebutnya darimu?!!”&lt;br /&gt;
Janu tersenyum tipis. Sangat tipis. “Karena itu… jaga dia.” Ucapnya pelan.&lt;br /&gt;
“Apa?” aku menatapnya bingung.&lt;br /&gt;
“Berjanjilah padaku kalau kau tidak akan membuat Lena terluka…” ia menatapku dengan wajah memohon.&lt;br /&gt;
“Apa yang kau katakana?!”&lt;br /&gt;
“Aku percaya padamu, Hen…” Ia berkata penuh keyakinan. Tak ada tanda-tanda dia sedang bercanda. Ada apa dengannya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa hari setelah Lena putus dengan Janu…&lt;br /&gt;
Lena mengalami kecelakaan dan mengakibatkan dirinya kehilangan ingatannya. Janu bukannya membantu Lena mengingat semuanya lagi tapi justru bertingkah tak peduli.&lt;br /&gt;
“Apa-apaan kau ini??” bentakku padanya. Dia masih dengan wajah tak peduli yang memuakkan itu. “Lena kehilangan ingatannya! Apa kau tak merasa bersalah sama sekali??”  Aku mencengkram kerah bajunya. “Apa kau benar-benar tak peduli lagi dengannya??”&lt;br /&gt;
Janu membuang muka. Tapi, dengan jelas kulihat nanar di matanya. Apa yang dia sembunyikan?&lt;br /&gt;
“Aku tak bisa menjaganya lagi. Bukahkah dia sudah kuserahkan padamu?”&lt;br /&gt;
Aku tersenyum sinis. “Serahkan? Kau pikir dia barang?!!”&lt;br /&gt;
“Pokoknya aku tidak bisa.” Janu mencoba melepas cengkramanku.&lt;br /&gt;
“APA KAU BILANG?” aku melotot padanya.&lt;br /&gt;
“Kau punya foto bersamanya kan? Mengakulah kalau kau kekasihnya. Bawa foto itu agar dia percaya. Aku lebih rela jika dia bersamamu. Setidaknya aku sudah kenal betul siapa dirimu…”&lt;br /&gt;
“KAU?!!“ aku mengencangkan cengramanku.&lt;br /&gt;
“Hanya itu yang bias kulakukan untuknya. Maafkan aku…” Dia melepas paksa cengkramanku.&lt;br /&gt;
Aku berdecak kesal.&lt;br /&gt;
“Lagipula kau mencintainya kan? Jangan sia-siakan kesempatan ini. Mumpung aku merestui, hehe…”&lt;br /&gt;
Bugh!! Habis sudah sabarku. Kutampar dia sekuat tenaga. Pukulan ketigaku terhenti ketika kulihat dia ingin menangis. Kenapa??&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;Saat itu aku masih tidak mengerti. Meski begitu aku tanpa berpikir dua kali mengiyakan keinginannya. Dengan sedikit bantuan Janu, Lena percaya aku adalah kekasihnya. Aneh memang. Hingga… di suatu malam, saat aku mau meminjam buku persiapan ujian di tempat Janu, aku mendengar mamanya bicara sambil terisak.&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 “Kenapa harus dia… Dia yang sangat cinta menari, kenapa??” isak mamanya Janu. “Kanker tulang itu, kenapa memilih tubuh anak kita? Padahal dia belum mewujudkan cita-citanya. Satupun!” &lt;br /&gt;
Aku membeku. Terkejut. Benarkah yang ku dengar?&lt;br /&gt;
“Kau melamun?” tiba-tiba Janu menegurku dari belakang.&lt;br /&gt;
Kutatap dia. Kutanyakan tentang perkataan mamanya barusan.&lt;br /&gt;
“O~, sekarang kau sudah bisa menguping ya?” dia merangkul bahuku penuh rasa persahabatan. “Gawat!” dia memberikan cengiran khasnya padaku.&lt;br /&gt;
“Jangan sembunyikan apapun dariku!” kataku tajam.&lt;br /&gt;
Mata Janu berubah sayu. Jauh berbeda dari sebelumnya.&lt;br /&gt;
“Kau tahu kanker tulang tidak?” Katanya sambil menyeretku duduk di sofa di ruang tengah.&lt;br /&gt;
Aku menggeleng.&lt;br /&gt;
Wajah Janu mengguratkan luka yang sangat dalam. Ia mengehla napas berat. “Bulan depan, usai ujian… aku akan di kemoterapi…” lirihnya. Ia mencoba tersenyum tegar padaku. Tapi di mataku, justru senyum perih yang terbentuk. &lt;br /&gt;
“Tak lama lagi… aku… tak akan bisa berdiri dan berjalan dengan kedua kakiku…” ditatapnya kakinya. Ngilu menghantam hatiku. Janu yang senang sekali menari hip hop dan bercita-cita menjadi penari dan pelatih tari professional itu membuatku tak mampu berkata-kata. &lt;br /&gt;
“Jadi… karena ini…” kataku pelan.&lt;br /&gt;
“Eh?” dia mendongak.&lt;br /&gt;
“Karena ini kau putus dengan Lena?”&lt;br /&gt;
Dia diam tak mejawab. Tapi sorot matanya sudah menjawab dengan jujur. &lt;br /&gt;
Aku menarik napas. Merasa bersalah sudah berburuk sangka padanya. “Maafkan aku…” pintaku.&lt;br /&gt;
“Kau tak perlu minta maaf,” sahutnya tenang.&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menghela napas. Pasti. Ya, pasti, di hati Lena masih ada cinta untuk Janu. Aku yakin itu karena dua hari lalu kulihat gurat kecemasan pada wajahnya ketika Janu jatuh saat berjalan dan tak mampu bangkit lagi.&lt;br /&gt;
Waktu itu…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tidak apa-apa?” Tanya Lena. Janu mengangguk. Mencoba berdiri tapi gagal. Ia meringis kesakitan. Wajahnya memucat.&lt;br /&gt;
Aku segera mendekat dan memapahnya. Ia meringis. Aku berhenti dan menunduk. Menyuruhnya ke punggungku. Lena di samping Janu, mengelap keringat dingin laki-laki itu.&lt;br /&gt;
Aku membawanya ke rumah sakit. Lena ikut.&lt;br /&gt;
Di sana, guratan cemas Lena makin menjadi. Hatiku terguris. Tapi di sisi lain, aku juga merasa lega.&lt;br /&gt;
--&lt;br /&gt;
Sejak hari itu Lena lebih senang kalau ku ajak ke rumah sakit menjenguk Janu dari pada jalan-jalan. Kurasa, lebih baik aku mengatakan semua kebenarannya. Jika nanti dia ingat dan… Janu tiada (semoga tidak), Lena akan sangat membenciku. Lebih menyakitkan lagi kalau sampai dia tak tahu-menahu lagi padaku.&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Benar-benar maaf, Len… tapi itulah yang sebenarnya. Aku bukan kekasihmu baik sekarang maupun dulu. Maaf sudah berbohong padamu.” aku menunduk dalam. Tak berani melihat ekspresi Lena. &lt;br /&gt;
Kudengar Lena menghela napas berat. Dadaku sesak. Cemas dan ketakutan melandaku. &lt;br /&gt;
Ketika langkah pelannya makin menjauh, aku sadar dia tak memaafkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memutuskan menjenguk Janu. Kukatakan padanya bahwa aku sudah jujur tentang segala hal pada Lena. Janu berusaha memukul pundakku.&lt;br /&gt;
“Payah!” desisnya. &lt;br /&gt;
Aku tersenyum tipis. Karena sudah terlalu lama berkunjung, aku berpamitan.&lt;br /&gt;
Deg!&lt;br /&gt;
Aku baru keluar dan kakiku terkunci seketika saat melihat sosok Lena berjalan mendekat ke kamar rawat Janu.&lt;br /&gt;
Dia meraih gagang pintu tanpa melirik sedikitpun pada aku yang membeku.&lt;br /&gt;
Clek!&lt;br /&gt;
Gagang pintu diputarnya, bersamaan dengan itu kudengar….&lt;br /&gt;
“Terima kasih banyak, Hen…” katanya pelan.&lt;br /&gt;
“Eh?” Aku memandangnya. &lt;br /&gt;
Perlahan kepalanya bergerak, menoleh ke arahku. Seulas senyum lembutnya terukir. “Terima kasih karena sudah jujur padaku.” Katanya lagi.&lt;br /&gt;
“Eh?! Y-Ya.” Sahutku gagap. Kupikir dia tak akan tahu-menahu lagi padaku.&lt;br /&gt;
Sekali lagi Lena memberikan senyum lembutnya. Kemudian dia masuk ke dalam.&lt;br /&gt;
Di depan pintu aku melihat dia mendekat ke ranjang Janu. &lt;br /&gt;
Janu mendongak dan matanya membulat. Tampak sekali dia terkejut.&lt;br /&gt;
Bugh!! Bugh!! Lena memukul Janu dengan tasnya beberapa kali. Membuat laki-laki itu meringis kesakitan.&lt;br /&gt;
“Keterlaluan!!” desis Lena.&lt;br /&gt;
“Maaf…” &lt;br /&gt;
“Tsk! Kau menyebalkan!!” ujer Lena cemberut.&lt;br /&gt;
“Maaf…”&lt;br /&gt;
“Boleh… aku mencintaimu lagi, Nu?” tanya Lena pelan. &lt;br /&gt;
“EH?” jelas Janu terkejut.&lt;br /&gt;
“Aku memang belum ingat semuanya. Tapi aku janji aku akan berusaha mengingat semuanya. Aku… ingin di sisimu lagi.”&lt;br /&gt;
“Tapi aku… sudah tak seperti dulu lagi.” Janu menatap perih kedua kakinya.&lt;br /&gt;
“Aku tahu, karena itu biarkan aku di sisimu.”&lt;br /&gt;
Janu kembali menatap Lena. Senyum gadis itu berhasil membuat Janu mengangguk. &lt;br /&gt;
Selamat, Nu, Len… ^_^&lt;br /&gt;
Ah… Rasanya, keepingan-kepingan perasaan tak enak yang selama ini menggangguku perlahan mulai terangkat…&lt;br /&gt;
-End-&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana? Bagus tidak? Hehe ^^ Komen dunk… XDD</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/feeds/1729607194942501111/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/2010/08/cerpen-perasaan-tak-enak.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6275639337218371895/posts/default/1729607194942501111'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6275639337218371895/posts/default/1729607194942501111'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/2010/08/cerpen-perasaan-tak-enak.html' title='cerpen: Perasaan Tak Enak'/><author><name>Orina Fazrina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09984671521568892272</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6275639337218371895.post-5521315278454675946</id><published>2010-08-30T18:55:00.001-07:00</published><updated>2010-08-30T18:55:03.022-07:00</updated><title type='text'>cerpen: Memories of Heart</title><content type='html'>Kali ini lebih panjang, hehehe…&lt;br /&gt;
Sad end lagi ga ya??? Menurut kalian?&lt;br /&gt;
Temukan jawabannya dengan membaca cerita pendek ini, hehehe ^___^&lt;br /&gt;
---------------------------------------------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Title: Memories of Heart&lt;br /&gt;
Penulis: Imah Hyun Ae&lt;br /&gt;
Disclaimer: ide saya yang menumpuk dan saya gabung jadi satu XD&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
MEMORIES OF HEART&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
~Celvin~&lt;br /&gt;
Aku memandangi langit kelabu di atasku. Tak ada yang istimewa hari ini. Hanya langit kelabu, lalu turun salju. Dingin menusuk. Hanya aktivitasku yang semakin padat. Hanya blitz kamera yang mengabadikan sosokku tanpa jemu. Yah… masih seperti biasanya.&lt;br /&gt;
Bagaimana dengan dirimu?  Masihkah memainkan lagu rahasia kita? Aku terkejut sekali ketika kau bilang kau harus pindah. Dan akan memakan waktu lama untuk bertemu kembali.&lt;br /&gt;
Saat kau bilang, ‘Kita ada di bawah langit yang sama, jadi jika kita memainkan lagu rahasia ini, lalu memandang langit, maka hati kita menghangat, itu berarti hati kita masih terhubung’, dadaku benar-benar berdebar hebat. Sungguh…Aku sungguh merindukanmu… &lt;br /&gt;
Puk!&lt;br /&gt;
Sebuah bola salju mendarat di bahu kananku. Kudapati siapa pelakunya. Anak itu tersenyum lebar.&lt;br /&gt;
“Siapa suruh kau melamun di udara dingin ini!” tegurnya sembari mendekatiku.&lt;br /&gt;
Aku membalas senyumnya. “Bukan melamun, Justin.” &lt;br /&gt;
“Lalu?” ujer Justin sambil menggosok-gosok kedua tangannya. Mencoba menghalau dinginnya udara.&lt;br /&gt;
“Hanya memikirkan sesuatu.” Jawabku. Dan ketika sosokmu terukir, dadaku terasa hangat. Apa kau merasakan kehangatan yang sama ketika memikirkanmu?&lt;br /&gt;
“Siapa?” Justin kembali menyadarkanku.&lt;br /&gt;
Aku menjawabnya dengan senyuman. ‘Mia’, batinku mengucapkan nama itu. &lt;br /&gt;
Aku merangkul Justin dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
~Justin~&lt;br /&gt;
Musim berlalu. Dan kini musim semi tiba. Aku tahu seseorang yang dipikirkan Celvin. Sosok yang senang sekali duduk di bawah pohon di musim semi seperti ini. Mia.&lt;br /&gt;
Jika Celvin mengenang Mia, maka setiap waktu aku mengenangmu.&lt;br /&gt;
Terkadang aku menelponmu. Sekedar menanyakan kabar dan kegiatanmu. Kau yang keluar negeri membuatku yang masih sekolah ini harus bisa menghemat uang agar dapat menelponmu. Kau, kakak kelasku, sahabat sejak kecilku, juga cintaku. Pertukaran pelajar membuatku harus memendam rindu ini selama setahun. Tapi.. yang lebih kutakutkan… kau tak pernah tahu perasaanku. Perasaan yang sudah lama ada. Sudah sering kutunjukan padamu dengan tingkah manjaku. Mungkin karena aku terlalu muda, hingga kau menganggap kejujuranku cuma bercanda. Padahal, rasaku ini sama dengan mereka yang seumuran denganmu atau yang lebih tua.&lt;br /&gt;
Tiga tahun lebih muda, bukan berarti aku tak serius, kan?&lt;br /&gt;
Aku berharap suatu hari, kau akan melihatku sebagai seorang laki-laki, Bella.&lt;br /&gt;
Whuss…&lt;br /&gt;
Angin musim semi bertiup. Membawa aroma khas bunga-bunga yang mekar. Pandanganku terhenti ketika kudapati di depan sana Nicholas melambai padaku. Dia terlihat ceria, tapi sebenarnya ada rahasia menyedihkan yang disembunyikannya.&lt;br /&gt;
Ah, apakah sudah saatnya latihan?&lt;br /&gt;
Aku segera berjalan ke arahnya. Latihan dance untuk performance kami nanti malam sepertinya segera di mulai.&lt;br /&gt;
Bella, kau pernah bilang kau suka tarianku kan? Apa kau merasakannya? Semua tarianku, kupersembahkan untukmu. Aku sungguh mencintaimu…&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
~Nicholas~&lt;br /&gt;
Di lain musim.&lt;br /&gt;
Udara yang pengap. Wajah yang memerah. Matahari yang terik. Juga kegembiraan lantaran libur musim panas tiba. Aku benci!&lt;br /&gt;
Benci melihat terik matahari yang menyengat itu! Benci dengan segala hal yang berkaitan dengan musim panas.  Semuanya akan mengingatkanku padamu, cinta pertamaku. Juga kekasih pertamaku. Karena di musim panas dua tahun lalu, Tuhan mengambilmu dariku.&lt;br /&gt;
Aku ingat, kegiatan libur ketika musim panas waktu itu: Jalan santai sejauh 30 kilometer yang diadakan sekolah sebagai kegiatan kenang-kenangan siswa SMA kelas tiga. Di hari itu kau pergi untuk selamanya. Kau oleng karena kelelahan dan dehidrasi. Lalu jatuh membentur batu yang ada di pinggir jalan tanpa sempat kutolong. Kau koma tiga hari lamanya, lalu… &lt;br /&gt;
Setelah hari itu, hanya bayanganmu di benakku yang selalu menemaniku. Aku… merindukanmu…&lt;br /&gt;
“Nicholas!! Cepat!” teriak Justin.&lt;br /&gt;
Aku mengangguk lemah. Ia yang memaksaku ikut hari ini di acara liburan yang diadakan management. Liburan yang akan diliput stasiun tv swasta di negeri kami.&lt;br /&gt;
“Terkenang dengannya lagi?” bisik Celvin saat aku berhasil menyusul mereka yang menungguku.&lt;br /&gt;
Aku hanya bisa tersenyum lemah.&lt;br /&gt;
Robert menepuk pundakku. Semua member memang tahu kisah itu.&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
~Robert~&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Musim berganti.&lt;br /&gt;
Daun menguning dan berguguran. Jatuh jauh dari pohonnya ketika tertiup angin.&lt;br /&gt;
Suhu mulai berubah. sejuk. Namun hal itu memperjelas hatiku yang kosong. Kau, senior bersuara indah yang tak sengaja kudengar dari ruang musik hampir setahun lalu, pergi. Kau dengan berani pergi membawa serta hatiku, tanpa sempat memberi kesempatan padaku untuk mengenal siapa dirimu. Yang kutahu hanyalah kau kakak tingkatku. &lt;br /&gt;
Aku berjalan menyusuri halaman samping ruang musik. Gemerisik daun yang kuinjak menyayat hatiku. Mengalunkan lagu sendu yang dulu pernah tak sengaja kudengar kau nyanyikan setahun lalu.&lt;br /&gt;
Kusentuh dindingnya yang menyimpan kenangan tentangmu. “Sungguh aku merindukanmu…” bisikku.&lt;br /&gt;
“Hei, Robert!!!” aku terkejut. Seseorang melongokan kepalanya dai jendela dan berteriak menyebut namaku. &lt;br /&gt;
“Baru lima menit kita pisah kau sudah merindukanku?!!” &lt;br /&gt;
Kupukul kepalanya dengan pelan. “Yang benar saja! Aku memikirkan seseorang yang istimewa, tapi jelas itu bukan kau!!” aku menyandarkan punggungku di dinding ruang musik.&lt;br /&gt;
“Aish… senior itu lagi?”&lt;br /&gt;
Aku mendelik ke arah si ‘bling-bling’ di sampingku ini. John.&lt;br /&gt;
“Lupakan! Dia tidak akan hadir lagi! Carilah yang lain? Masih banyak kan yang mengantri cintamu?”&lt;br /&gt;
Aku mencibirnya. “Jangan hanya bisa menasehati, John!” tegurku.&lt;br /&gt;
“Apa?”&lt;br /&gt;
Aku tertawa sambil menggelengkan kepala. “Kenapa kau tidak menasehati dirimu sendiri? Bukankah Sandara sudah jadi milik orang lain sejak tiga bulan lalu? Kenapa masih memikirkannya?”&lt;br /&gt;
“A-apa? Siapa yang memikirkannya??” katanya gugup.&lt;br /&gt;
“Ck! Jangan bohong, John!” &lt;br /&gt;
John langsung manyun.&lt;br /&gt;
Aku menertawakannya sepuasku.&lt;br /&gt;
Senior… Kau sudah lulus, kemungkinan bertemu lagi memang sangat kecil. Tapi… aku boleh berharap pertemuan itu terjadi kan? &lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
~John~&lt;br /&gt;
Di lain waktu…&lt;br /&gt;
Angin menggerakkan dahan-dahan pohon. Gemerisiknya cukup mengganggu. Langit tampak pekat. Hujan sebentar lagi turun.&lt;br /&gt;
Aku melangkah cepat. Aroma yang enak hinggap di hidungku. Langkahku terhenti. Seketika aku melihat satu sosok yang anggun sedang menghiasi kue tart. Itu…kau Sandara. &lt;br /&gt;
Sepertinya kue itu baru saja kau buat. Terlihat sekali kau puas dengan hasil kerjamu. Aku turut tersenyum. Andai saja kue itu untukku.&lt;br /&gt;
“Sukses?” sebuah suara  langsung menghempaskan hatiku ke perut bumi.&lt;br /&gt;
Kulihat kau mengangguk pada sosok yang hobi membuat kue itu dengan malu-malu.&lt;br /&gt;
“Wow… cantiknya. Boleh kucicipi?” ia tersenyum manis padamu.&lt;br /&gt;
“Tentu.” jawabmu girang. “Ini aku buat khusus untukmu, kok.”&lt;br /&gt;
Kata itu menyakitiku, Sandara…&lt;br /&gt;
“Sungguh? Thanks…” ujer laki-laki itu sambil mengelus kepalamu dengan sayang.&lt;br /&gt;
Dadaku sesak. Kenapa lagi-lagi aku harus menyaksikan hal ini? Ini sudah kesekian kalinya aku melihat kebersamaanmu dengannya. Itu melukai perasaanku. Tapi… siapa aku bagimu? Hanya seorang John yang dipuja banyak orang, namun tak kau lirik! Benar kan?&lt;br /&gt;
Lihat! Aku tahu hal itu, tapi hatiku terus menginginkanmu. Harus bagaimanakah aku, Sandara…?&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
--------------------------------------------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tamat ^^&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gimana?? Sebenarnya kalau di perpanjang lebih bagus lagi kan? Mau sih… namun setelah aku melihat semua catatanku, aku shok!!! Ada banyak judul yang belum kutulis dan ku tamatkan! Jadinya… sampai di sini saja dulu. Kalau ada ilham lagi, akan kusambung lagi. Hahaha XDXD&lt;br /&gt;
Maaf… kalau kalian kecewa,  m(_ _)m</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/feeds/5521315278454675946/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/2010/08/cerpen-memories-of-heart.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6275639337218371895/posts/default/5521315278454675946'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6275639337218371895/posts/default/5521315278454675946'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/2010/08/cerpen-memories-of-heart.html' title='cerpen: Memories of Heart'/><author><name>Orina Fazrina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09984671521568892272</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6275639337218371895.post-5295578617420786295</id><published>2010-08-30T18:54:00.001-07:00</published><updated>2010-08-30T18:54:29.125-07:00</updated><title type='text'>cerpen: Hujan di Hati Kita</title><content type='html'>Ini dari Short FF-ku. Kuharap kalian menyukainya ^^&lt;br /&gt;
And mohon beri komentarmu my dear reader XD &lt;br /&gt;
Let read! XD&lt;br /&gt;
--------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Title: Hujan di Hati Kita&lt;br /&gt;
Disclaimer: dapat inspirasi ketika merenungi HP yang rusak, hehe&lt;br /&gt;
Music: *pilih sendiri aja music apa yang cocok untuk cerita ini, hehe*&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
HUJAN DI HATI KITA&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia diam-diam memperhatikan sosok tinggi dan tampan di sana. Selalu. Sosok yang seumuran denganku. Sosok yang bahkan suara tingginya tidak dapat kusaingi. Sosok yang amat sangat cocok menjadi seorang idola.&lt;br /&gt;
“Kau sibuk?” kutegur dia yang sejak tadi bersembunyi di balik sebuah pintu ruang latihan grup boy band Prince. Dia terperanjat.&lt;br /&gt;
“Aldo?” tegurnya sambil mengurut dadanya. “Kenapa?” tanyanya. Dia asisten penata busana kami. Kabarnya sih, keponakannya. Anehnya dia tidak selalu mengikuti ke manapun penata busana kami pergi. &lt;br /&gt;
“Tolong belikan minuman dingin.” Aku menyerahkan uang padanya.&lt;br /&gt;
“Minuman seperti biasa?”&lt;br /&gt;
Aku mengangguk. Aku memang sering memintanya membelikanku minuman. Bukan apa-apa. Aku… hanya ingin ada alasan untuk menegurnya. Hanya ingin menatap lebih dekat. Hanya ingin mendengar suaranya meski sedikit. “Ku tunggu di ruang latihan kami ya?”&lt;br /&gt;
Dia mengangguk lagi dan berlalu usai mengambil uang dari tanganku.&lt;br /&gt;
Aku menatap punggungnya yang menjauh. Sebenarnya, alasan aku memintanya membelikan minuman adalah karena tidak tahan melihatnya menatap Irwan diam-diam seperti tadi. Hatiku sakit. Dadaku sesak! &lt;br /&gt;
Sering hatiku bertanya, kenapa dia tidak melihat ke arahku? Aku benar-benar ingin bilang padanya ‘Ada aku yang memperhatikanmu, Tya.’&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
Di lain waktu.&lt;br /&gt;
Aku menuju atap gedung. Latihan untuk show kami baru saja berakhir. Aku meregangkan otot di sana dan melihat satu sosok yang amat kukenal. Tya.&lt;br /&gt;
Sengaja aku duduk di sampingnya. Jarak kami sekitar tiga puluh centimeter. &lt;br /&gt;
Dia menoleh ketika aku duduk.&lt;br /&gt;
“Tidak apa-apa kan?”&lt;br /&gt;
“Ah, ya…” ujermya sambil mengangguk ragu. Kami terdiam cukup lama. Hanya angin musim gugur yang sesekali menyapa kulit kami.&lt;br /&gt;
“Kau Prince holic?” tanyaku mendadak. Bukan awal perbincangan yang baik kan?&lt;br /&gt;
Dia diam sesaat lalu mengangguk. “Tapi fans kalian juga.” Senyumnya mengembang. Membuat dadaku kembali berdebar.&lt;br /&gt;
Melihat reaksiku yang diam, dia berguman tak jelas. Terlihat cemas.&lt;br /&gt;
“Sebenarnya…” aku menelan ludah ketika dia menoleh. Haruskah kutanyakan? Bukankah terlihat sangat jelas? “… inti pertanyaanku bukan itu,” sambungku berat. Hatiku melawan pikiranku.&lt;br /&gt;
“Eh?” ia bingung.&lt;br /&gt;
Aku menghela napas. “Apa… kau mencintainya?”&lt;br /&gt;
“Si..Siapa?”&lt;br /&gt;
“Irwan dari grup Prince. Kau mencintainya kan?” tenggorokanku sakit mengatakan hal itu.&lt;br /&gt;
“Ti… Tidak!”  jawabnya gugup. “A..aku… cuma fansnya. Iya, fansnya, hehe…” tawanya terdengar aneh&lt;br /&gt;
“Kenapa memilih tidak mengaku?” paksaku.&lt;br /&gt;
Dia menggigit bibir bawahnya. “Apa perasaanku terlihat begitu jelas?” tanyanya cemas.&lt;br /&gt;
Aku mengangguk lambat. Secara tidak langsung dia sudah mengakuinya.“Buatku, sangat jelas terlihat.”&lt;br /&gt;
Dia menundukkan kepalanya. “Padahal aku sudah snagat hati-hati menutupi perasaanku.” Lirihnya. Dia kembali menatapku, tapi kali ini dengan mata penuh harap. “Tolong, rahasiakan ini ya?” &lt;br /&gt;
“Kenapa di rahasiakan?” padahal, tanpa dia minta, aku pasti merahasiakannya. Aku tak mau dia bersama dengan laki-laki bersuara tinggi itu.&lt;br /&gt;
“Peraturan management, kau tentu tahu kan?”&lt;br /&gt;
A~ peraturan tidak boleh pacaran itu. Apa dia yakin akan diterima Irwan ketika menyatakan perasaannya? &lt;br /&gt;
“Tidak boleh ada yang tahu.” Bisiknya lebih kepada dirinya sendiri.&lt;br /&gt;
“Mencintai seseorang tidak salah kan?” kataku.&lt;br /&gt;
Dia mengangguk lemah. “Mungkin…” dia berdehem sekali. “Mungkin aku takut. Takut karena terlalu mencintainya, orang-orang dan juga dia menganggapku hanya ingin bersinar di dekatnya.”&lt;br /&gt;
Aku tersenyum sinis. Alasan apa itu?&lt;br /&gt;
“Aku takut orang-orang tak mengakui keberadaanku. Kemampuanku. Seharusnya perasaan ini berhenti. Tapi aku tak bisa.” Wajahnya terlihat sedih.&lt;br /&gt;
“Aku tahu dia penyuka wanita yang lebih tua, sama denganmu dan yang lain kan?” sambungnya pelan sambil memainkan jemarinya. Dia memang lebih muda dua tahun dariku.&lt;br /&gt;
“Meski begitu, karena cinta itu buta, ia akan jatuh pada siapa saja tanpa peduli dengan kriteria kita kan?” aku terdengar membelanya. Tapi sebenarnya itu adalah kejujuranku. Walau dia buka wanita idamanku, hatiku memilihnya.&lt;br /&gt;
Dia tersenyum tipis. Diambilnya ipodnya dan memasang headsetnya. “Mau ikut dengar?” tawarnya.&lt;br /&gt;
Aku menggeleng. Aku paham. Dia tak mau membahas hal itu lagi. &lt;br /&gt;
Kupandangi jalanan di bawah. Waktu serasa berhenti ketika kudengar senandungnya. Suaranya merdu sekali. Seperti mendengar nyanyian bidadari surga. Kurasa dia pantas jadi penyanyi&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku terpaku di tempatku berdiri. Satu sosok dengan aksinya yang memukau. Dengan tariannya yang indah dan suaranya yang mempesona. Dan penghayatan yang dalam. Senyum bahagia seperti kebahagiaan di lagu itu. Dia… Tya. &lt;br /&gt;
Aku segera ke tempat ini ketika manajer bilang ternyata Tya adalah salah satu trainee rahasia yang di siapkan untuk sebuah grup girl band ‘Miracle’ beranggotakan enam orang. Dia disiapkan sebagai senjata utama. Vocal utama dan dancer utama. Ia bahkan di latih khusus dalam sebuah teater agar bisa mengeluarkan penjiwaan dan ekspresi yang pas untuk menegaskan makna lagu itu.&lt;br /&gt;
Aku teringat kata-katanya di atap manajemen waktu itu:  ‘Mungkin aku takut. Takut karena terlalu mencintainya, orang-orang dan juga dia menganggapku hanya ingin bersinar di dekatnya. Aku takut orang-orang tak mengakui keberadaanku. Kemampuanku.’ Jadi, maksud kalimatnya adalah keberadaannya dan kemampuannya di grup ini.&lt;br /&gt;
Host memintanya menyanyi lagu yang paling disukainya. Dia tersenyum sesaat dan lagu Matahriku yang dinyanyikan oleh Agnes Monica menegaskan karakter suaranya. Menegaskan perasaannya.&lt;br /&gt;
Aku tercenung. Sadar… kesempatanku berbicara padanya tak akan seperti dulu lagi. Sejak awal, memang cinta ini hanya bisa diteriakan di dalam hati. Cintanya pada Irwan dan cintaku padanya, tak akan pernah tersampaikan. Ini harus jadi rahasia di hati kami sendiri.&lt;br /&gt;
Sekarang, sepertinya, akulah yang harus menatapnya diam-diam di sudut ini. Tak boleh ada yang tahu.&lt;br /&gt;
-End-&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana? Bagus tidak? Hehehe….</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/feeds/5295578617420786295/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/2010/08/cerpen-hujan-di-hati-kita.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6275639337218371895/posts/default/5295578617420786295'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6275639337218371895/posts/default/5295578617420786295'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/2010/08/cerpen-hujan-di-hati-kita.html' title='cerpen: Hujan di Hati Kita'/><author><name>Orina Fazrina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09984671521568892272</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6275639337218371895.post-6660957561594366966</id><published>2010-08-30T18:53:00.003-07:00</published><updated>2010-08-30T18:53:20.693-07:00</updated><title type='text'>cerpen: Hati yang Salah</title><content type='html'>Hm… dari short FF-ku lagi. Maaf kalau ceritanya gaje.&lt;br /&gt;
Di tunggu komentarnya di sini hehehe…&lt;br /&gt;
-------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Title: Hati yang Salah&lt;br /&gt;
Music: *pilih sendiri aja ya*&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
HATI YANG SALAH&lt;br /&gt;
Cinta itu… kenapa harus menyakitkan?&lt;br /&gt;
Aku perlahan membuka hati untuknya. Untuk seorang laki-laki yang lebih muda tiga tahun dariku. Laki-laki yang kuarasa tak akan bisa menjagaku, yang bagiku hanya menganggap cinta itu cuma permaianan. Tapi itu dulu. Jauh sebelum cinta itu mengikat hatiku.&lt;br /&gt;
“Kenapa harus kau, Arumi?” wanita empat puluh lima tahun itu memandangku penuh luka. Ruangan pribadi direstoran ini terasa mencekam. Sekali lagi ia menorehkan luka di hatiku. Luka yang tak bisa ku maafkan. Karena demi karirnya, dia meninggalkan aku dan ayah. Pergi begitu saja. aku tak akan pernah tahu dialah ibuku, jika ayah tak menyimpan fotonya dan bibi tidak tahu rahasia hubungan mereka. &lt;br /&gt;
Apa cintaku sebuah kesalahan?&lt;br /&gt;
Aku menggenggam tanganku kuat. Air mata sudah menggantung di pelupuk mataku. Rasanya perih itu makin dalam saat ingat hari itu. Hari di mana dia hadir si sebuah acara dan memperkenalkan anaknya.&lt;br /&gt;
Waktu itu dadaku terasa sesak. Aku terkunci ditempatku berdiri. Anaknya yang dia sembunyikan dari publik ada di layar kaca itu. Bukan, bukan aku. Tapi anaknya yang lain yang lebih beruntung karena diakuinya. Dia terlalu mencintai suaminya yang sekarang. Atau mungkin hartanya? &lt;br /&gt;
Perasaan ini datang tanpa ku pinta, bisakah aku mengakhirinya?&lt;br /&gt;
Aku mengajak laki-laki itu kemari. Mau bertemu empat mata di restoran ini. Memperjelas apa hubungannya dengan wanita yang kubenci itu, juga mengakhiri hubungan kami. Tapi ternyata, dia justru datang dan mengajak wanita tua itu ke sini. Bahkan dengan ceria mengenalklan aku sebagai kekasihnya.&lt;br /&gt;
‘Maksudmu…’ wanita itu memandangku tak percaya beberapa menit yang lalu. ‘Sudah berapa lama?’&lt;br /&gt;
‘Menjalani lima bulan,’ jawab lelaki imut itu.&lt;br /&gt;
Ia mengangguk lalu meminta anak kesayangannya itu mengambilkan barangnnya yang tertinggal di mobil. Aku tahu, dia bohong. Dia ingin bicara empat mata denganku. &lt;br /&gt;
Dan di sinilah aku. Menghadapinya yang semakin berang padaku.&lt;br /&gt;
Satu pesan masuk ke HPku. &lt;br /&gt;
Pengirim: Andre sayangku&lt;br /&gt;
‘Maaf.. tidak mengatakannya padamu. Aku sengaja mengajak mama. Aku ingin kau tahu kalau aku serius denganmu. Tenang saja… mama orangnya baik dan lembut, jadi jangan  khawatir ^^ Love You ^^’&lt;br /&gt;
Air mataku makin tebal menggantung. &lt;br /&gt;
Kenapa aku jatuh cinta padamu?&lt;br /&gt;
“Kenapa harus kau?” ulang wanita di depanku. “Kau kakaknya kau tahu itu???” ucapnya dingin.&lt;br /&gt;
Air mataku jatuh. Untuk pertama kalinya aku menangis di depan wanita itu.&lt;br /&gt;
“Kenapa menangis? Kau menyesal?” ujernya tanpa ada rasa simpati sedikitpun. Ia tersenyum sinis.&lt;br /&gt;
“Aku memang menyesal,” isakku. “AKu menyesal karena kau ibuku!” kataku tajam. “Juga ibunya,” lirihku pedih.&lt;br /&gt;
Aku beridiri dan beranjak pergi. Keseka air mataku yang kembali jatuh. Andre yang sepertinya baru kembali dari parkiran melihat aneh padaku. Dia mendekatiku tapi aku menghidar.&lt;br /&gt;
“Arumi!” ia menarik tanganku. “Kenapa?” tanyanya cemas saat melihat mataku yang memerah.&lt;br /&gt;
“Kita putus,” ujerku terbata.&lt;br /&gt;
“Apa..?” ia menatapku tak percaya.&lt;br /&gt;
“Aku memintamu bertemu hari ini untuk menyampaikan itu, Ndre.” Dadaku sesak saat mengatakannya. “Maaf…”&lt;br /&gt;
“Kau bercanda kan?” ia menatap mataku. &lt;br /&gt;
“Maafkan aku…” Aku segera melepas genggamannya dan berlari sekuatku. Ia terpaku sesaat lantas mengejarku.&lt;br /&gt;
Aku masuk ke dalam taksi dan pergi. Tak peduli dengan dia yang berteriak dan memukul-mukul kaca dengan panik.&lt;br /&gt;
Sambil menangis aku mengambil HPku. Mematikannnya dan mengambil SIM cardnya. lantas mematahkannya. Mulai sekarang aku tak boleh berhubungan dengannya. &lt;br /&gt;
Tolong jangan ikat hatiku!! Karena aku mungkin tak akan sanggup memandangmu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-END-</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/feeds/6660957561594366966/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/2010/08/cerpen-hati-yang-salah.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6275639337218371895/posts/default/6660957561594366966'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6275639337218371895/posts/default/6660957561594366966'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/2010/08/cerpen-hati-yang-salah.html' title='cerpen: Hati yang Salah'/><author><name>Orina Fazrina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09984671521568892272</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6275639337218371895.post-5790609498811355870</id><published>2010-08-30T18:49:00.001-07:00</published><updated>2010-08-30T18:49:10.603-07:00</updated><title type='text'>cerpen: crying heart</title><content type='html'>Sekali lagi dari short FF saya. Moga-moga kalian suka ya… ^^&lt;br /&gt;
---------------------------------------------------------&lt;br /&gt;
Title: Crying Heart&lt;br /&gt;
Oleh: Imah Hyun Ae&lt;br /&gt;
Disclaimer: murni khayalan saya di hari hujan yang lebat, ^^&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 CRYING HEART&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hujan lebat di luar sana Nana… Ikuti gerimis yang berturut-turut dan setiap hari membanjiri hatiku. Rintik kecilnnya ukirkan wajahmu yang basah tapi ceria di benakku.&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
Splash!&lt;br /&gt;
Kau menyiramku dengan genangan air hujan saat kita berhujan ria dalam perjalan pulang sekolah lima tahun lalu.&lt;br /&gt;
“Ya~!” teriakku kaget. Aku segera membalasmu. Kau menjulurkan lidah. Tertawa sambil berlari menghindariku. Aku mengejarmu. &lt;br /&gt;
Kita menari di bawah hujan hari itu. &lt;br /&gt;
Kenapa? Kenapa kau hanya memandangku sebagai teman? Bukankah sudah pernah kubilang, ‘Kau hidupku’? Apa kau tak mendengarnya? Apa kau lupa?&lt;br /&gt;
Tidak… kau tak mendengarnya, karena aku… mengatakannya dengan keras di hatiku saja.&lt;br /&gt;
Kulihat kertas tebal di tanganku. Hatiku sakit. Tulisan di sana menyakitiku.&lt;br /&gt;
Resepsi Pernikahan: Nana dan Enda&lt;br /&gt;
Hari: Rabu, 11 Agustus 2010&lt;br /&gt;
Tempat: Hotel Aquarius&lt;br /&gt;
Aku mengatup kedua bibirku dengan rapat. Perih itu makin membuat dadaku sesak.&lt;br /&gt;
Kabut menggantung di mataku. Aku tahu, sesaat lagi, butiran bening ini akan mengaliri pipiku.&lt;br /&gt;
Pagi kemarin…&lt;br /&gt;
“Kakak baru bangun?” tegurmu ketika aku membukakan pintu untukmu. Kau mengunjungi di waktu yang berbeda dari biasanya. &lt;br /&gt;
Aku hampir sebulan di luar kota. Jadi, sepagi ini kau menemuiku, apa karena merindukanku?&lt;br /&gt;
Aku mengangguk dan mempersilahkanmu masuk.&lt;br /&gt;
“Tumben kau sepagi ini ke tempatku? Ada hal penting? Atau kau merindukanku?” godaku.&lt;br /&gt;
Kau tergelak. “Umm… Sebenarnya aku ingin Kakak orang yang pertama tahu, setelah kedua orang tuaku tentunya.”&lt;br /&gt;
“Tahu? Tentang apa?” aku memandangmu antusias. &lt;br /&gt;
Kau tersipu, entah karena apa. Rona wajahmu terlihat sekali bahagia. Kabar baik kah? Aku menduga-duga.&lt;br /&gt;
“Aku… akan menikah…” lirihmu. Tapi senyum yang terukir di wajahmu menunjukan itu hal yang paling dinantikanmu selama ini.&lt;br /&gt;
Jantungku serasa berhenti berdetak. “Sungguh?”&lt;br /&gt;
Kau mengangguk. Lalu mengeluarkan sebuah undangan.&lt;br /&gt;
“Aku sengaja mengatakannya setelah undangan ini jadi, hehehe…” kau menyerahkan undangan yang ada di tangan kanannya padaku. Dengan enggan aku mengambilnya. “Kakak terkejut kan?” tanyamu gembira.&lt;br /&gt;
Senyumku tak mampu terukir dengan sempurna. &lt;br /&gt;
Kau kembali tertawa. “Kakak mau kan menyanyi di pernikahanku?”&lt;br /&gt;
“Kalau aku tidak mau, kau akan marah?” tanyaku lambat.&lt;br /&gt;
Kau memandangku, sedikit terkejut. “Tentu saja. Kakak tamu utama di pestaku lho! Jadi Jangan sampai tidak datang! Aku akan membencimu selamanya!” ancamnya tak serius. &lt;br /&gt;
“Calon suamimu… apa aku mengenalnya.” Aku menghela napas. Tak sanggup mengingat kau akan menikah sebentar lagi.&lt;br /&gt;
Kau diam sesaat. “Kurasa Kakak kenal. Dia teman sekantorku.”&lt;br /&gt;
“Kenapa aku tidak tahu kau pacaran dengannya?”&lt;br /&gt;
Kau menggeleng cepat. “Kami tidak pacaran, Kak.”&lt;br /&gt;
Aku menatapmu lekat, mencari tahu apa maksud kalimatmu.&lt;br /&gt;
“Dia mengajakku makan malam, dia bilang dia mencintaiku,” pandangan matamu berbinar. Apa itu kebahagian? &lt;br /&gt;
“Dan saat itulah dia melamarku,” bisikmu pelan.&lt;br /&gt;
“Saat itu juga kau meerimanya?”&lt;br /&gt;
Dengan malu-malu kau mengangguk. &lt;br /&gt;
Kenapa? Aku yang selama ini mencintaimu, di dekatmu, memperhatikanmu, kenapa kau memilihnya?&lt;br /&gt;
“Karena aku mencintainya…” ucapmu seolah mendengar pertanyaan batinku. “Makanya saat dia bilang mau menikah dneganku aku terima.”&lt;br /&gt;
“Kau tidak ingin mengenalnya lebih dulu?”&lt;br /&gt;
Kau menggeleng. “Kurasa sudah cukup mengenalnya, hehe…”&lt;br /&gt;
Aku tak tahu apa yang harus kukatakan.&lt;br /&gt;
“Aku mau bilang pada Kakak, juga memperkenalkannya pada Kakak, tapi waktu itu Kakak ada tugas di luar kota. Kuputuskan mengatakannya saat Kakak datang saja, tapi berubah pikiran, lebih baik saat undangan jadi saja, biar jadi kejutan, hehehe…” Senyum khasnya lagi-lagi mengembang. Senyum yang begitu kusukai, tapi hari ini amat melukaiku.&lt;br /&gt;
“Jadi…” ia menatapku penuh harap, “Kakak pasti datang dan menyanyi kan?”&lt;br /&gt;
Aku mengangguk pelan waktu itu...&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kuletakan undangan dan mendekat ke lemari pakaianku sambil menyekai butiran bening yang jatuh ke pipiku. Kuambil kemeja dan jas yang sudah kusiapkan untuk hari ini. Aku menghela napas berat dan mengenakannya.&lt;br /&gt;
Hujan sudah sedikit reda ketika aku tiba di tempat pernikahan itu berlangsung. Kulihat di pelaminan kau bersanding dengan seorang laki-laki yang sepertinya sangat periang. Aku mendekat perlahan.&lt;br /&gt;
“Kak Rendi?!!” pekikmu gembira. “Kukira gara-gara hujan kau enggan datang…” ucapmu lega ketika aku sudah di depanmu.&lt;br /&gt;
Aku tersenyum sebisaku. “Aku sudah janji kan?” kataku pelan. Kau mengangguk.&lt;br /&gt;
“Selamat…”  aku menyalamimu dan juga suamimu. Akh… hatiku perih… masih tak terima bahwa kau telah menikah, Nana…&lt;br /&gt;
Kau tersenyum lebih gembira dari sebelumnya. “Terima kasih…” &lt;br /&gt;
Bagaimana caraku agar tak mencintaimu lagi, Na? Lukaku… semakin menganga lebar. Sekarang rasanya hati ini tak lagi perih, tapi juga berlumuran darah… &lt;br /&gt;
-end-&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hahaha, benar-benar pendek ya? ^__^&lt;br /&gt;
Aku tidak tahu lagi bagaimana memperpanjangnya. Karena setelah kucoba, ceritanya jadi menjemukan. Begitulah… makanya aku memutuskan seperti ini saja.&lt;br /&gt;
O, ya. Main-main ke ceritaku yang lain jugaya ^__^</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/feeds/5790609498811355870/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/2010/08/cerpen-crying-heart.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6275639337218371895/posts/default/5790609498811355870'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6275639337218371895/posts/default/5790609498811355870'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/2010/08/cerpen-crying-heart.html' title='cerpen: crying heart'/><author><name>Orina Fazrina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09984671521568892272</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6275639337218371895.post-6432327275119406162</id><published>2010-08-30T18:42:00.001-07:00</published><updated>2010-08-30T18:42:52.464-07:00</updated><title type='text'>cerpen: cintamu</title><content type='html'>Ini kutulis sambil mendengarkan lagu ‘The Name I love’ yang di nyanyikan Onew. Hmm… kayaknya cocok untuk soundtrack FF ini. langsung aja kali ya. Selamat membaca. &lt;br /&gt;
Kuharap kalian suka ^^&lt;br /&gt;
------------------------------------------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Title: CIntamu&lt;br /&gt;
Disclaimer: Ini ide saya. *Mohon, komentarnya* ^^&lt;br /&gt;
Music: The Name I Love by Onew SHINee&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
CINTAMU&lt;br /&gt;
Kupandangi langit kelabu di atas sana. Semburat wajahmu yang putih dan lembut terukir di sana. Suaramu yang berat kembali terngiang di telingaku.&lt;br /&gt;
‘Rina, aku mencintaimu…’&lt;br /&gt;
Bibirku mengukir senyum. Hal yang selalu terjadi ketika aku mengenangmu. Apa di atas sana kau juga tengah mengenangku, Kak?&lt;br /&gt;
Aku mengulurkan tanganku ke angkasa. Seolah-olah tengah mengelus wajahmu yang putih itu.&lt;br /&gt;
“Kakak~!!” teriakan seseorang membuatku menoleh. Toni, laki-laki imut dan cantik itu melambai melambai padaku. Hatiku perlahan merasa hangat. &lt;br /&gt;
“Cepat!” teriak seorang laki-laki cerewet di sebelah Toni. Siapa lagi kalau bukan Kevin. Ah, sejak tadi dia dan yang lain memang mengajak masuk ke rumah.&lt;br /&gt;
“Di sini terlalu dingin!” teriak anak laki-laki lain yang seumuran denganku, Jono. Laki-laki ini begitu di gilai wanita. &lt;br /&gt;
Senyumku mengembang. “Ya~,” sahutku sembari tertawa kecil dengan perhatian mereka yang berlebihan padaku. Sesaat aku kembali memalingkan wajahku ke langit.  Ke tempat di mana kau berada sekarang. &lt;br /&gt;
‘Sampai jumpa lagi,Kak,’ batinku.&lt;br /&gt;
Puk! Jaket hangat melingkari bahuku. Aku menoleh. Mata lembut itu menatapku.&lt;br /&gt;
“Jangan sampai kau sakit,” ujernya lalu menggenggam tanganku hangat. Sama dengan kehangatakan yang dulu pernah kau bagi denganku. ‘Kakak, apa di atas sana kau merasa kedinginan jika salju turun?’&lt;br /&gt;
Kami masuk ke sebuah rumah. Rumah rahasia kita yang dulu. Yang sempat kutinggalkan selama dua tahun dan ternyata dirawat baik oleh adik-adik barumu. Aku meninggalkannya karena tak terima dengan kenyataan kau pergi dari dunia ini sebelum hatiku benar-benar siap kehilanganmu. &lt;br /&gt;
Dua tahu lalu kau jatuh dari tangga ketika hendak menolongku. Kepalamu terbentur dan tak sadarkan diri. Beberapa hari berlalu, dan kau pergi begitu saja tanpa pamit padaku.&lt;br /&gt;
“Minumlah.” Kevin memberikan secangkir teh hijau hangat padaku. Teh yang dulu sering kau buatkan untukku.&lt;br /&gt;
“Thanks, Vin,” ucapku sembari menyeruput teh itu dengan senyuman tersungging di bibirku. Aku melirik Kevin. Kulihat dia tersenyum lembut padaku. Senyum yang sama seperti senyumanmu. Aku melihatmu di dirinya, Kak…&lt;br /&gt;
Denting piano terdengar. Aku menoleh ke sumber suara. Kulihat Jono tengah memainkannya. Ia memainkan lagu yang sering kau mainkan. Gaya saat memainkan piano sama persis dengan gayamu. &lt;br /&gt;
“Kau salah, Bang!” tegur Toni sambil tertawa. “Seharusnya begini.” Ia memainkan nada yang benar. Tawanya kembali terdengar ketika Jono salah lagi. Kedua matanya menyipit ketika giginya yang putih terlihat. Sama dengan cara tertawamu dulu. &lt;br /&gt;
Dadaku kembali menghangat.&lt;br /&gt;
Aku mencari sudut lain. Satu sosok sejak tadi tak terlihat. &lt;br /&gt;
Perlahan aku berjalan ke depan. Dia ada di teras. Menatap butiran hujan yang turun. &lt;br /&gt;
“Ini kesekian kalinya aku bisa melihat hujan,” ujer Hendra penuh kekaguman. Kutatap dua matanya. Sorot mata yang sama persis denganmu. Kau juga pecinta hujan. Hm… Apakah… aku masih terukir di bola matamu, Kak?&lt;br /&gt;
Sudah dua tahun lebih setelah kepergianmu. Sedih itu masih ada meski terkadang aku melihat sosokmu hidup lagi di diri mereka. Kevin yang dapat donor ginjalmu. Hendra yang dapat donor matamu. Jono yang dapat donor hatimu. Dan Toni yang dapat donor jantungmu. Orang tuamu bersedia mendonorkannya pada mereka. Dan sejak saat itu, mereka di angkat menjadi keluarga kalian. Adik angkatmu. &lt;br /&gt;
Mereka yang tanpa sadar telah berjalan menuju rumah kecil ini. Lalu merawatnya dengan sepenuh hati. Apa kau yang menuntunnya, Kak? Apa kau tahu kalau aku akan pulang? &lt;br /&gt;
Aku menatap angkasa yang menjatuhkan butiran bening itu. Seperti melihatmu yang gembira memercikkan air hujan ini untukku. Terima kasih, Kak, atas semua cintamu. Terima kasih… karena kau menyalurkan cinta dan kasih sayangmu di diri mereka untukku. Benar-benar terima kasih, Kak Arga. &lt;br /&gt;
-end-&lt;br /&gt;
Hfff…. Rasanya aku seperti benar-benar mengenang orang yang sangat kucintai, hehehe.&lt;br /&gt;
Di tunggu komentarnya ^^</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/feeds/6432327275119406162/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/2010/08/cerpen-cintamu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6275639337218371895/posts/default/6432327275119406162'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6275639337218371895/posts/default/6432327275119406162'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/2010/08/cerpen-cintamu.html' title='cerpen: cintamu'/><author><name>Orina Fazrina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09984671521568892272</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6275639337218371895.post-2676588661574488654</id><published>2010-08-30T18:29:00.001-07:00</published><updated>2010-08-30T18:29:24.257-07:00</updated><title type='text'>cerpen: Akhir dari cinta</title><content type='html'>Hohohoho…. Saya kembali lagi dengan cerita baru nih… ^^&lt;br /&gt;
Moga-moga kalian suka ya XD. &lt;br /&gt;
Happy reading XDXD&lt;br /&gt;
------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Title: Akhir dari Cinta&lt;br /&gt;
Oleh: Imah Hyun Ae&lt;br /&gt;
Disclaimer: imajinasi saya ketika liburan kemarin ^^&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
AKHIR DARI CINTA&lt;br /&gt;
Kelas gaduh. Para siswa sibuk bercanda dan menggoda pujaan hatinya yang ada di kelas. Sedang para siswi ada yang sibuk bergosip, ada yang mendekati dan mencari perhatian idola mereka, ada pula yang bercanda tidak jelas.&lt;br /&gt;
Aku masih nyaman duduk di bangkuku dengan kedua tangan menopang dagu. Tak peduli dengan kegaduhan di sekitarku.&lt;br /&gt;
Kulirik Jony. Dia tampak sedang meluncurkan aksi mempesonanya, membuat siswi yang menggerumbunginya menjerit heboh.&lt;br /&gt;
Aku memanyunkan bibirku sembari mengingat bahwa pesona yang kupunya hanya akan kutunjukkan pada seorang gadis yang sudah hampir dua tahun ini mengisi mimpi-mimpi indahku. Dia berhasil merebut hatiku di hari perpisahan SMP dulu. Ah, suaranya sangat indah dan pandai sekali bermain piano. &lt;br /&gt;
Sayangnya, aku dan dia beda kelas. Ah… padahal aku ingin memandang sosoknya sepuasku. Sosok anggun dan punya senyum manis itu.&lt;br /&gt;
“Boleh pinjam buku paket bahasa inggris salah satu dari kalian?” suara sopan itu membuyarkan lamunanku. Kerumunan di sekitarku  menoleh ke sumber suara.&lt;br /&gt;
Angin serasa menyapa tubuhku. Lembut dan syahdu. Di depan pintu, berdiri sosok yang tengah kubayangkan sejak tadi, Hana.&lt;br /&gt;
Kulihat beberapa orang bergerak mengambil buku mereka. Sadar, aku segera mencari buku bahasa inggrisku. ‘Ini kesempatan,’ batinku.&lt;br /&gt;
Saat aku mendapatkan buku tersebut, seorang teman sekelas sudah menyerahkan buku paketnya pada pujaan hatiku itu. Aku segera berhambur, mendekat. Mengambil buku tersebut dan menyerahkan ke orang itu.&lt;br /&gt;
“Punyaku saja,” kataku sambil menyerahkan buku paketku. Hana menerimanya dengan memandang bingung padaku.&lt;br /&gt;
“Thanks…” katanya canggung. “Nanti pulang sekolah kukembalikan.”&lt;br /&gt;
Aku mengangguk sambil tersenyum lebar. Kebahagiaan tergambar jelas di wajahku. Ini pertama kalinya aku dan dia bicara, hehehe…&lt;br /&gt;
Puk!&lt;br /&gt;
Seseorang menepuk pundakku keras. &lt;br /&gt;
“Apa yang kau lakukan??” teriakku kesal sat melihatnya tersenyum lebar.&lt;br /&gt;
“Menyadarkanmu kalau dia sudah pergi.” kata Jony santai lalu menyeretku ke lapangan basket. Aku tahu, beberapa siswi di kelas memandang aneh padaku. Mungkin mereka bertanya-tanya, kenapa aku bertingkah seperti tadi. Terserahlah… yang penting aku bahagia sekarang ^___^&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku baru keluar kelas saat sosok Hana tersenyum menyambutku. Dia mendekat dan menyerahkan buku paket bahasa inggrisku.&lt;br /&gt;
“Benar-benar terima kasih, Edo,” ujernya tulus. Hangat menebar di seluruh sel tubuhku.&lt;br /&gt;
“Ah? Y-ya. Sama-sama…” sahutku selembut mungkin. Hebat. Di dekatnya rasanya senyumku tak pernah luntur, hehehe…&lt;br /&gt;
“Kalau begitu, aku duluan. Sekali lagi terima kasih…” pamitnya lalu berbalik. &lt;br /&gt;
Dia pergi? Aku ingin lebih lama lagi. Hatiku menjerit-jerit gelisah.&lt;br /&gt;
“Mm… Anu…”&lt;br /&gt;
Hana menghentikan langkahnya dan berbalik. “Ya?”&lt;br /&gt;
Aku mendekatinya dengan satu tangan menarik Jony untuk mengikutiku.&lt;br /&gt;
“Boleh sama-sama? Kami juga mau pulang…”&lt;br /&gt;
“Mm… Ya. Tentu.” Dia tersenyum lembut padaku.&lt;br /&gt;
Kami melangkah bersama. Ah… andai berdua saja pasti lebih indah…&lt;br /&gt;
Di depan gerbang tampak kakak kelas Heru, Nata, Siska dan Kevin menunggu. Mereka adalah sahabat Hana sejak kecil (aku tahu hal ini dari teman yang sekelas dengan mereka dulu).&lt;br /&gt;
“Kakak!” Kevin memekik girang dan segera menarik Hana menjauh dariku. Matanya menyelidikku tajam. Anak ini seolah tahu aku menyimpan rasa pada Hana.&lt;br /&gt;
Seolah tak peduli dengan aku dan Jony, mereka melangkah ke halte dan naik ke bus. &lt;br /&gt;
Siska dan Nata duduk berdampingan. Sejak kelas satu mereka resmi jadi pasangan kekasih. Heru memilih duduk di sebelah teman sekelasnya dan Kevin… Dia menyeret Hana ke belakang. Duduk di bangku terakhir.&lt;br /&gt;
Aku mengikuti mereka. Jony sudah dapat tempat duduk di depan tadi.&lt;br /&gt;
“Hei!” teriak Kevin kesal. “Kenapa mengikuti kami?”&lt;br /&gt;
Lihat! Aku baru saja duduk di sebelah Hana dia sudah sekesal itu. Apa haknya??&lt;br /&gt;
“Cuma ini yang kosong. Lihat saja!” komentarku datar.&lt;br /&gt;
“Tsk!” dia berdecak kesal. &lt;br /&gt;
Kuambil ipodku. “Mau ikut dengar?” tawarku pada Hana.&lt;br /&gt;
“Ah? Boleh. Lagu siapa saja yang kau punya?” Hana tampak antusias.&lt;br /&gt;
“Kak Hana?” Taemin memanggil dengan nada cepat. “Aku dapat lagu baru lho. Coba dengar! Lagunya asyik!” katanya sambil memasang headset ke telinga Hana.&lt;br /&gt;
Ugh, menyebalkan! Anak ini kenapa seolah tidak memberiku kesempatan? Apa Hana miliknya?! Tidak kan?&lt;br /&gt;
“A?? Kita tukar tempat dulu,” ujernya lagi.&lt;br /&gt;
A-apa?? Aku melotot padanya saat dia duduk di sampingku. Dia balas melotot padaku tak kalah galak. &lt;br /&gt;
Aish… Aku membuang napas keras. Mencoba mengusir kekesalanku.&lt;br /&gt;
Bus berjalan.&lt;br /&gt;
Hana tampak asyik sekali bicara dengan Kevin yang lebih muda tiga tahun darinya. Dia baru kelas satu SMA, tergolong cepat untuk anak seusianya.&lt;br /&gt;
Mereka tertawa bersama, membuat kekesalanku meningkat.&lt;br /&gt;
Dengan santai Kevin bersandar di sandaran kursi lalu….&lt;br /&gt;
APA?!! Berani-beraninya dia!! Kenapa dia merebahkan kepalanya di bahu Hana-ku????&lt;br /&gt;
Aku panik sekaligus cemburu. Kulihat Hana mencubit pipi Kevin sambil tersenyum. Dia menanggapi tingkah anak itu sesantai itu?!&lt;br /&gt;
Gigiku bergemelutuk menahan geram. Hari yang semula kukira menyenangkan, berubah sudah. Argh…kenapa anak ini harus ada di dekat Hana?!! Menyebalkan! Tapi, kenapa Hana begitu santai menanggapi kelakuannya? &lt;br /&gt;
Lihat!! Sekarang si Kevin yang sok imut itu memejamkan matanya. Nyaman sekali dia!! &lt;br /&gt;
Kutatap Hana yang sedang asyik… MERAPIKAN RAMBUT KEVIN??&lt;br /&gt;
Oh, tidak! Jangan-jangan…&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hujan deras. Para siswi yang membawa payung sudah berjalan menuju halte. Salah satu dari mereka ada yang menawari Jony satu payung berdua. Jony menerima tawaran itu dengan bahagia.&lt;br /&gt;
Aku sedang berpikir meminjam payung siapa ketika kulihat Hana berjalan dengan lesu. Dia membuka payungnya dengan enggan.&lt;br /&gt;
Segera aku menghampirinya.&lt;br /&gt;
“Hai…” sapaku.&lt;br /&gt;
“Ah, hai, Do!” Jawabnya kaget. Dia mencoba tersenyum.&lt;br /&gt;
“Mana yang lain? Biasanya kalian bersama.” Tegurku saat sadar keempat sahabatnya tidak ada.&lt;br /&gt;
“Kak Heru sedang ada kelas tambahan. Nata dan Siska sedang kencan.”&lt;br /&gt;
“Hujan-hujan begini?” potongku.&lt;br /&gt;
Hana tertawa kecil. “Apa yang kau pikirkan. Mereka sedang kencan di kelas, membahas materi ujian matematika yang akan keluar besok di kelas mereka.” Terangnya.&lt;br /&gt;
Aku mengangguk paham. “Lalu Kevin?”&lt;br /&gt;
“Kevin?” ulangnya. Dia menghela napas  berat. “Dia duluan. Katanya menemani temannya mencari buku.”&lt;br /&gt;
Kuteliti wajah lesu Hana. Apa gara-gara anak itu? “Temannya itu perempuan ya?” tebakku.&lt;br /&gt;
“Hm-mm.” lirih Hyun Ae. Pandangannya tertuju pada hujan.&lt;br /&gt;
Apa dia sedih? Dia tampak tak bersemangat sekali.&lt;br /&gt;
Aku mengambil payungnya dan menariknya ke sampingku.&lt;br /&gt;
“E-Edo?!” Ia terkejut dengan perlakuanku.&lt;br /&gt;
“Biar aku yang mengantarmu pulang…”&lt;br /&gt;
“EH? Tidak perlu. Aku-,”&lt;br /&gt;
“Ayolah!” potongku cepat. Aku tak mau mendengar dia menolak tawaranku. Kutarik tangannya untuk membuatnya melangkah. Tangan kananku menggenggam tangan kirinya dengan erat sementara tangan kiriku memegang payung. Agak sulit karena aku harus berusaha agar dia tidak basah.&lt;br /&gt;
Perlahan Hana melepas genggaman tanganku. Aku menoleh ke arahnya. Dia tampak pura-pura tak tahu.&lt;br /&gt;
Dengan canggung aku memindang genggaman payungku ke tangan kanan. Kami melangkah dalam diam…&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa sepatah kata, cinta datang. Tanpa sepatah kata, ia menyapa. Membawa bahagia tanpa diminta. Membuat hari yang biasa-biasa saja jadi istimewa. Merubah hal-hal kecil bisa jadi istimewa.&lt;br /&gt;
Kulihat Hana tengah serius memilih mana yang bagus dari dua buah kalung yang penjaga toko aksesoris sodorkan pada kami.&lt;br /&gt;
“Jadi yang mana?” tanyaku. Hana menaruh telunjuknya di dagu. Seolah sedang berpikir keras.&lt;br /&gt;
“Yang mana?” desakku tak sabar.&lt;br /&gt;
“Umm… Ini.” Dia menunjuk kalung dengan liontin lumba-lumba.&lt;br /&gt;
“Yang ini, Mbak.” Kataku pada penjaga tokonya. Si penjaga itu segera membungkusnya dan menyerahkannya padaku.&lt;br /&gt;
Aku bilang pada Hana sesaat sebelum berangkat kalau aku mau membelikan sesuatu untuk orang yang special bagiku. Dia menemaniku dengan antusias.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba di rumahnya, kuserahkan kalung tersebut. Dia memandangku penuh tanya. &lt;br /&gt;
“Bukannya…” kata-katanya menggantung.&lt;br /&gt;
“Orang special itu adalah kau, Hana…”&lt;br /&gt;
“Eh?”&lt;br /&gt;
“Kalau kau menerimaku, pakailah kalung ini. Kapanpun kau mau menerimaku.”&lt;br /&gt;
“Edo, aku-.”&lt;br /&gt;
“Aku tak mau dengar jawaban selain kau menerimaku, Na.” Kuberikan senyum terbaikku padanya.&lt;br /&gt;
“Edo, ma-.”&lt;br /&gt;
“Kakak!” panggil seseorang di belakangnya.&lt;br /&gt;
Hana pasti mau bilang, ‘Maaf, aku tidak bisa’ tadi. Untung saja seseorang memanggilnya.&lt;br /&gt;
“Lama sekali! Aku hampir mati bosan menunggu, Kakak!” lanjut orang yang memanggil Hana tadi dengan manja.&lt;br /&gt;
Aku tak jadi merasa beruntung ketika melihat siapa yang memanggilnya. Siapa lagi kalau bukan Kevin. Anak ‘kecil’ itu tampak merengut. &lt;br /&gt;
“Maafkan kakak, Vin…” kata Hana sambil mencubit pipi Kevin yang merengut dengan gemas. &lt;br /&gt;
Aku mengehmpaskan napas dengan keras. “Aku pergi dulu. Bye…” pamitku.&lt;br /&gt;
“Ah? Ya. Bye…” sahut Hana canggung.&lt;br /&gt;
“Pergi dan jangan pernah mendekati kakakku lagi!” teriaknya padaku. &lt;br /&gt;
Aku terus berjalan. Pura-pura tak mendengarnya.&lt;br /&gt;
“Kak Hana, aku tak suka melihat kakak jalan dengannya!” samar kudengar kalimat itu meluncur di bibir Kevin. &lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
Aish…&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari terlalu cerah untuk suasana hati seperti ini. Berkali-kali aku menghela napas panjang. Mencoba mengusir ingatan tentang kejadian yang baru saja terjadi. Sayangnya, aku gagal. Kata-katanya itu kembali berkelebat di benakku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa menit lalu Hana datang ke ruang seni, tempat di mana aku sering diam-diam melatih tarianku. Dia datang untuk mengembalikan kalung yang kuberi.&lt;br /&gt;
“Bukannya aku bilang akan menunggu sampai kapanpun?” &lt;br /&gt;
“Maaf…” lirihnya. &lt;br /&gt;
Aku mendengus kecewa. “Apa sampai kapanpun kau tetap hanya memandang Kevin?”&lt;br /&gt;
Hana tampak terkejut.&lt;br /&gt;
“Apa selamanya hanya dia yang kau sukai dan aku selamanya tetap sebagai teman?” kesalku.&lt;br /&gt;
“Benar-benar maaf, Do.” Ia berkata penuh sesal. Seketika dadaku sakit!&lt;br /&gt;
Aku membuang muka. Tak ingin memperlihatkan bulir kecewa yang menggenang di mataku. “Setelah lebih dari dua tahun rasa ini ada dan kau tolak begitu saja?!”&lt;br /&gt;
“Maaf…” lirihnya. Perlahan dia beranjak pergi.&lt;br /&gt;
“Apa jika si Kevin itu tidak mengatakan suka padamu…” kata-kataku sukses membuatnya berhenti. “… kau tetap mengembalikan kalung ini padaku?”&lt;br /&gt;
“Maafkan aku…” hanya itu jawabannya. Lantas dia benar-benar pergi.&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
Aku kembali menghempaskan napasku dengan keras. Kemarin saat aku pamit, aku sebenarnya tak benar-benar pergi. Aku bersembunyi, mencuri dengar pembicaraan mereka.&lt;br /&gt;
“Pergi dan jangan pernah mendekati noona-ku lagi!” teriak Kevin padaku ketika aku melangkah pergi meninggalkan rumah Hana kemarin. &lt;br /&gt;
Aku terus berjalan. Pura-pura tak mendengarnya.&lt;br /&gt;
“Kak Hana, aku tak suka melihat kakak jalan dengannya!” samar kudengar kalimat itu meluncur di bibir Kevin. &lt;br /&gt;
“Kenapa? Dia kan temanku?”&lt;br /&gt;
Langkahku terhenti. Aku bersembunyi dan mendengarkan pembicaraan mereka.&lt;br /&gt;
“Aku tetap tidak suka!”&lt;br /&gt;
Hana tertawa kecil melihat wajah kesal Kevin. “Pasti ada alasannya kan kalau tidak suka?&lt;br /&gt;
Kevin manyun. Wajahnya jelas sekali merengut.&lt;br /&gt;
“Kenapa hayo?” tanya Hyun Ae lagi.&lt;br /&gt;
“Aku… aku mau Kak Hana hanya memandangku!” jujurnya pelan.&lt;br /&gt;
Deg! Apa ini pernyataan cinta? &lt;br /&gt;
“Apa… maksudmu?” Hana tampak tak percaya dengan apa yang baru didengarnya.&lt;br /&gt;
“Aku… suka Kakak.” Ucap Kevin lambat. Ia menunduk dalam. “Bukan suka sebagai adik dan kakak. Tapi suka terhadap lawan jenis,” katanya setengah berbisik. “Aku ingin Kakak hanya untukku.”&lt;br /&gt;
Hana menatapnya gugup. “Jangan bercanda seperti ini, Vin! Ini tidak lucu.”&lt;br /&gt;
“Akju sungguh-sungguh, Kak. Aku mencintai kaka! Sejak lama!” Kevin menatap Hana tajam. Wajahnya serius sekali. “Jadi, berhentilah memandangku sebagai adik! Aku juga laki-laki!!” tegasnya. “Jadi, pandang aku sebagai laki-laki!”&lt;br /&gt;
Hana terdiam. &lt;br /&gt;
Mungkin karena malu, Kevin melangkah pergi dengan canggung. &lt;br /&gt;
“Sejak tiga tahun lalu…” kata Hana lambat. “…aku tidak pernah memandangmu sebagai adik lagi, Vin.” &lt;br /&gt;
Seketika Kevin berhenti.&lt;br /&gt;
“Aku… juga mencintaimu, Vin…” kata Hana dengan pelan.&lt;br /&gt;
Senyum kekanak-kanakan Kevin merekah. “Sungguh?” &lt;br /&gt;
“Y-Ya..” jawab Hana gugup.&lt;br /&gt;
Kevin langsung memeluk Hana sambil sesekali melompat girang. “Ye~ Kak Hana jadi pacarku sekarang!!” teriaknya girang. Ia lantas melepas pelukannya dan kembali berkata, “Mulai sekarang aku panggil ‘sayang’ ya?” &lt;br /&gt;
Wajah Hana memerah.&lt;br /&gt;
“Sayang?” panggil Kevin lembut sambil menggandeng tangan Hana mesra. Senyum manis terukir di wajahnya.&lt;br /&gt;
Aish…&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cinta datang tanpa suara. Membawa angan terbang indah di angkasa. Ia lalu pergi dengan meninggalkan luka. Menghempasku seketika, tanpa peduli aku siap atau tidak! &lt;br /&gt;
Hhhh…. Kenapa kisah cintaku tak berakhir bahagia?! &lt;br /&gt;
--------------------------&lt;br /&gt;
Bagaimana? Beri komentar dunk… XDXD</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/feeds/2676588661574488654/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/2010/08/cerpen-akhir-dari-cinta.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6275639337218371895/posts/default/2676588661574488654'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6275639337218371895/posts/default/2676588661574488654'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/2010/08/cerpen-akhir-dari-cinta.html' title='cerpen: Akhir dari cinta'/><author><name>Orina Fazrina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09984671521568892272</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6275639337218371895.post-2833903561594360149</id><published>2010-08-14T23:21:00.003-07:00</published><updated>2010-08-14T23:21:56.483-07:00</updated><title type='text'>cerpen Kisah Sedih</title><content type='html'>Hmm aouthor comeback again. Kali ini sengaja sad ending lagi. Moga-moga kamu yang baca suka ^^&lt;br /&gt;
Selamat membaca XD &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Title: Kisah Sedih&lt;br /&gt;
Genre: romance&lt;br /&gt;
Disclaimer: imajinasi saya ketika santai-santai sore hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kisah Sedih”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini persembahan untuk adikku. Aku tak tahu bagaimana harus memulai kisah ini. Yang kutahu, aku mengerti rasa sakitnya. Kadang aku ikut menangis melihat perihnya luka yang seharusnya tak diterimanya. &lt;br /&gt;
Kumohon ijinkan aku memulai kisah ini.&lt;br /&gt;
*******&lt;br /&gt;
Aku melihat ke arahnya. Dia terbangun dari tidur yang lama di pembaringnan yang siap merenggut nyawanya kapan saja. Aku benar-benar takut dia akan menyusul ayah dan ibu di atas sana.&lt;br /&gt;
Dia mengerjap. Seolah mengenali tempat di mana dia berada sekarang.  &lt;br /&gt;
Aku mendekat. Ku tahan air mataku yang kembali handak jatuh saat melihat wajah pucatnya tersenyum lembut padaku. &lt;br /&gt;
Angga baru saja pulang mengantar ayah dan ibunya.&lt;br /&gt;
“Kakak…” kurasa itu maksud dari gerak bibir adikku ini.&lt;br /&gt;
“Ya…?” &lt;br /&gt;
Sial! Air mataku membanjir sekarang.&lt;br /&gt;
“……..” ia mengatakan sesuatu tapi aku tak bisa mengerti. Apa dia menanyakan ‘Ini di mana?’&lt;br /&gt;
Dia berkata lagi. Wajahnya pucatnya menegang. Apa dia menyadarinya?&lt;br /&gt;
“Tenanglah… aku segera memanggil dokter.” Pamitku sembari mengusap air mata yang tak bisa kutahan sama sekali.&lt;br /&gt;
Air mataku banjir saat menemui si dokter. Aku tak berhasil mengatakan satu katapun. Ini terlalu menyakitkan. Untuk kami, juga untuknya.&lt;br /&gt;
Dokter seolah mengerti. Dia mengangguk dan bersama suster menuju ruangan itu. Aku mengikuti mereka di belakang. Tergugu tanpa bisa melakukan sesuatu.&lt;br /&gt;
Lagi-lagi Tia berbicara padaku, tapi aku tak tahu apa yang dikatakannya. Tangisannya membuat isakanku menjadi.&lt;br /&gt;
“Tidak apa-apa, Tia… Tenanglah…” lirihku. Bagaimana bisa menegarkan orang lain kalau aku yang menngatakannya saja masih dalam kondisi berurai air mata.&lt;br /&gt;
Ku dapati air mata Tia mengalir kian deras. Dengan panik ia mengambil kertas di tangan suster dan menulis “Kenapa denganku, Kak? Aku tak bisa mendengar suaramu, juga suaraku?”tulisnya&lt;br /&gt;
Aku mengatup bibirku. Beberapa detik aku tak bisa bernapas. &lt;br /&gt;
Dia mengguncang tubuhku. Menuntut jawaban. Di matanya ia menuntut kejujuran. Tapi di saat bersamaan kutemukan ketakutan.&lt;br /&gt;
“Tia…” lirihku disela tangisku, aku menggeleng. Tak sanggup. &lt;br /&gt;
Aku menutup wajahku. Air mataku tak bisa kuhentikan sama sekali. Jelas ini membuatnya berpikir dia  mengalami hal yang buruk kan?&lt;br /&gt;
Dokter menepuk pundakku pelan. Memberiku sedikit kekuatan. “Kau harus mengatakannya,” gumam dokter itu.&lt;br /&gt;
Di sela sesegukanku aku mendongak. Adikku menuntut jawaban dariku dengan matanya yang telah merah.&lt;br /&gt;
Aku menghela napas. “Hari itu kau kecelakaan…” mulaiku. Dia membacanya. Dia lekas menulis sesuatu lagi. Dengan tergesa. Kemudian menyerahkannya padaku.&lt;br /&gt;
“Apa aku kehilangan pendengaranku, Kak?”&lt;br /&gt;
Aku seka air mata yang gugur ke wajahnya sambil mengangguk lemah. Tatapannya penuh luka kali ini.&lt;br /&gt;
Kuambil pen yang masih di tangannya.&lt;br /&gt;
“Hari itu,” tulisku di kertas yang diserahkannya, “usai pulang dari butik, Kau mengalami kecelakaan yang sangat fatal. Kau divonis,” satu butir air mata jatuh ke kertas itu. Haruskah kukatakan yang sebenarnya, atau membohonginya?&lt;br /&gt;
Aku menghela napas panjang. Mencari kekuatan. “Dokter memvonismu tidak bisa mendengar dan kehilangan suaramu selamanya.” Sambungku. “Aku tahu itu menyakitkan sekali.”&lt;br /&gt;
Aku tak tahu harus menulis apa lagi. Kutatap dia. Segera dia mengambil kertas itu.&lt;br /&gt;
Ia membacanya. Matanya menatapku tak percaya. Matanya seolah bciara Katakan-ini-bohong-kak.&lt;br /&gt;
“Kuatkan dirimu, Tia…” bisikku. Dan kutahu itu tak berhasil. Dia tak bisa mendengarku. Dan yang dilakukannya adalah menangis hebat. Bahunya berguncang.  Ia meraung-raung, tanpa suara. &lt;br /&gt;
Aku menatapnya dan ikut berurai air mata. Hanya itu yang bisa kulakukan.&lt;br /&gt;
Dokter memberikan suntik penenang. Beberapa detik kemudian Tia tertidur.&lt;br /&gt;
Aku mengusap wajahku yang kucel. Menghapus air mata dan berharap ia tak jatuh lagi. Tapi sekali lagi aku gagal. &lt;br /&gt;
Kutatap Tia. Kenapa? Kenapa harus dia Tuhan? Kenapa kau ambil pendengaran dan suaranya saat hari terbahagia dalam hidupnya sudah ada di depan matanya? Kenapa kau mempermainkan hatinya? Hati kami!!!&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
Tia tampak lebih ceria akhir-akhir ini setelah dia menjalin kasih dengan seorang laki-laki bernama Angga, seniornya di kampus. katanya dia sudah punya usaha, meski kecil. Dan sebentar lagi lulus. &lt;br /&gt;
Aku pernah bertemu dengan Angga ketika Tia mengajakknya ke rumah. Seorang laki-laki yang sopan. Terlihat sekali dia begitu penyanyang. Dan aku merestui hubungan mereka.&lt;br /&gt;
--&lt;br /&gt;
Tia mondar-mandir di dapur saat aku sedang memasak untuk makan malam kami. Wajahnya tampak tegang. Padahal sore tadi masih berbinar bahagia. Aku tak bertanya karena tahu pasti Anggalah yang membuat sebahagia itu, seperti biasanya.&lt;br /&gt;
“Ada apa?” tanyaku akhirnya. &lt;br /&gt;
“…Eh?” dia berhenti. Menatapku dengan tatapan gelisah.&lt;br /&gt;
“Ada yang ingin kau katakan?”&lt;br /&gt;
Dia diam. Seolah menimbang-nimbang mengatakannya atau tidak. Aku menunggu sembari meneruskan masakanku.&lt;br /&gt;
“Kakak…”&lt;br /&gt;
“Hm..?”&lt;br /&gt;
“Janji tidak akan marah ya!?”&lt;br /&gt;
“Tergantung separah apa masalah itu dari sudut pandangku.” ^^&lt;br /&gt;
“Ih, Kakak~ ” ia merengek manja.&lt;br /&gt;
“Baiklah.” Aku menoleh kearahnya sambil menuangkan masakanku ke priring. “Aku tak akan marah,” kataku sembari menaruh piring itu di meja. Aku mariknya duduk di kursi makan. “Sekarang katakan.”&lt;br /&gt;
“Umm…”&lt;br /&gt;
“Hm?”&lt;br /&gt;
“Itu…”&lt;br /&gt;
“Apa~?” &lt;br /&gt;
“Tadi…,Angga melamarku,” lirihnya.&lt;br /&gt;
“Benarkah? Whaaa~” XD&lt;br /&gt;
Dia menagngguk. “Dia mengajakku menikah….”&lt;br /&gt;
“Selamat yaaa….” XDD&lt;br /&gt;
“Eh? Kakak tidak marah?”&lt;br /&gt;
“Ini kan kabar baik? Kenapa harus marah?”&lt;br /&gt;
Dia tersenyum malu. Aku mengelus kepalanya lembut. “Kalau dia memang serius, dia harus melamarmu padaku secara resmi lho…”&lt;br /&gt;
“Kakak tidak keberatan?”&lt;br /&gt;
Aku mengangguk. “Hm~mm…”&lt;br /&gt;
“Terima kasih kakakku sayang… AKu janji nanti kucarikan laki-laki yang baik yang cocok dengan kakak deh.”&lt;br /&gt;
Aku tersenyum. “Ada-ada saja.”&lt;br /&gt;
--&lt;br /&gt;
Angga datang ke rumah kami bersama keluarganya. Secara resmi mereka melamar Tia. &lt;br /&gt;
Kami menentukan hari pernikahannya. Setelah sepakat kami membicarakan detail pestanya. &lt;br /&gt;
Kami juga berkunjung ke makam orang tua untuk meminta restu. &lt;br /&gt;
Segalanya berjalan dengan lancar. Semuanya telah siap, tinggal menuju butik yang di tentukan pihak keluarga Angga untuk mengukur baju. Pihak laki-laki sudah menunggu di sana. Aku tak bisa ikut pergi karena tiba-tiba rapat penting tak bisa ditinggalkan.&lt;br /&gt;
Angga sebenarnya ingin menjemput, tapi Tia melarangnya karena jarak dari rumah ke butik itu cukup jauh. Dia memilih naik taksi.&lt;br /&gt;
Dia pamit padaku lewat telpon. &lt;br /&gt;
“Tumben…” ejekku.&lt;br /&gt;
“Siapa tahu kakak merindukan suaraku?” candanya.&lt;br /&gt;
“Tidak akan!” sangkalku, bercanda.&lt;br /&gt;
Dia tertawa.&lt;br /&gt;
“AAAAAAAAAAAAAAAAAaaaaaaaaaaaaaaaa……….tut-tut-tut….” &lt;br /&gt;
Deg! &lt;br /&gt;
Jantungku serasa berhenti berdetak. Apa yang terjadi. Kenapa dia berteriak? &lt;br /&gt;
“Tia?!!” panggilku cemas. Tak ada jawaban.&lt;br /&gt;
“Hallo?? Hallo? Tia?? TIA??!”&lt;br /&gt;
--&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rapat baru mau dimulai ketika sebuah telpon masuk. Nomor tak dikenal. Aku menjawab. Suara wanita. Dan detik itu juga aku merasakan diriku tak berpijak di bumi. &lt;br /&gt;
Aku minta ijin dan segera menuju rumah sakit. Menunggu di depan ruang UGD, tempat adikku berjuang untuk hidupnya. Aku meminta agar Tuhan tak mengambilnya. &lt;br /&gt;
Aku menelpon Angga. Mengabarkan bahwa Tia kecelakaan. &lt;br /&gt;
Mereka ada di sampingku 20 menit kemudian. Kami sama-sama meminta keselamatan Tia.&lt;br /&gt;
--&lt;br /&gt;
Dokter keluar, kemdian mengajakku ke ruangannya. Mengatakan dia selamat tapi juga mengatakan vonis yang menyakitkan itu. Aku yang tak mengalami saja sehancur ini apalagi dia?&lt;br /&gt;
Angga menghampiriku ketika aku keluar.&lt;br /&gt;
“Apa kata dokter? Apa lukanya parah?”&lt;br /&gt;
Aku diam bersamaan tetesan air mata yang jatuh ke pipiku. &lt;br /&gt;
“Kak?!” ia menatapku cemas.&lt;br /&gt;
“Dokter bilang…” aku mengatakannya sambil tergugu, “Tia kehilangan pendengaran dan suaranya selamanya.”&lt;br /&gt;
Angga mundur ke belakang beberapa langkah. Syok.&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku meminta Tuhan agar tak mengambilnya. Tapi sepertinya doaku kurang. Tuhan memang tak menngambilnya dariku namun sebagai gantinya aku kehilangan suara dan pendengarannya. Dia tak lagi bisa mendengar suara-suara indah idolanya. &lt;br /&gt;
Dia bilang aku merindukan suaranya. Dan itu sepertinya benar-benar terjadi. &lt;br /&gt;
Angga masih belum kembali ketika dia terbangun lagi. Digenggamnya tanganku dengan erat. Aku menatapnya. Dia mengatakan sesuatu yang lagi-lagi tak bisa kuterka.&lt;br /&gt;
Air mataku jatuh lagi saat dia menatap sekitar dengan putus asa.&lt;br /&gt;
Dia berusaha menjangkau sesuatu. Buku!&lt;br /&gt;
Aku segera mengambilnya. Dia menulis sesuatu di sana.&lt;br /&gt;
“Apa Angga sudah tahu keadaanku?” tulisnya.&lt;br /&gt;
Aku mengangguk. “Dia tadi mengantar orang tuanya pulang. Mungkin sebentar lagi kembali.”&lt;br /&gt;
Usai aku menulis itu, sosok Angga datang. Tia menangis seketika. Dia mengatakan sesuatu lagi.&lt;br /&gt;
Angga  merengkuhnya ke pelukannya. Mengusap kepala Tia dengan lembut. Membiarkan Tia menangis sepuasnya di bahunya.&lt;br /&gt;
Perlahan aku keluar.&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
Aku menyampaikan permintaan Tia: Membatalkan pernikahan. Kedua orang tua Angga dan Angganya sendiri tampak terkejut.&lt;br /&gt;
“Kami tidak bermaksud mempermainkan kalian. Kami… kami merasa tidak enak, dengan kondisi Tia seperti ini. Saya… terlebih Tia tak ingin Angga terpaksa menikahinya hanya karena kesepakatan sudah terucap sebelum kecelakaan ini terjadi. Saya pikir-“&lt;br /&gt;
“Aku tetap menikahinya, Kak. Bagaimanapun dia, karena dia Tia yang kucintai, aku tetap akan menikahinya.”potong Angga.&lt;br /&gt;
Penglihatanku buram. Aku tahu aku kembali menangis kali ini. “Jangan memaksakan dirimu, Ngga.” Lirihku.&lt;br /&gt;
“Tidak. Ayah, ibu dan aku baru saja mau berunding dengan kakak tentang jadwal ulang pernikahan kami.”&lt;br /&gt;
Aku mengatup bibirku. Cuma satu kata yang bisa kukeluarkan, “terima kasih…” aku membungkuk.&lt;br /&gt;
“Tak perlu seformal itu,” ibunya Angga memelukku. “Sudah kubilang kita sudah jadi keluarga kan?”&lt;br /&gt;
“Terima kasih….”&lt;br /&gt;
Diusapnya air mataku dengan lembut.&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
Hyun Ae menangis terharu ketika Jae Joong dan kelurganya datang dan mengatur ulang jadwal pernikahan. &lt;br /&gt;
“Aku mencintaimu tanpa alasan. Meski kau tak seperti dulu, kau tetaplah Tia, orang yang ku cinta.” Begitulah sms dari Angga ketika dia dan keluarganya sudah pulang.&lt;br /&gt;
Aku memeluk Tia. “Kau dapat pria yang baik, Tia. Benar-benar beruntung.” Batinku.&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
Pernihakan sudah dekat. Semuanya sudah diatur dengan baik. Aku mengantar Tia ke butik. Dia tampak cantik dengan gaun pernikahan yang senada dengan jasnya Angga. Mereka terlihat serasi sekali. &lt;br /&gt;
Kulihat Angga memujinya dengan menggunakan bahasa isyarat. Benar, aku, Tia, dan Angga, bersama-sama mempelajari bahasa isyarat. Agar aku dan Angga tahu apa yang ingin Tia sampaikan, dan agar Tia juga tahu apa yang kami ingin sampaikan.&lt;br /&gt;
“Kau juga tampan,” balas Tia dengan isyarat tubuh pula.&lt;br /&gt;
Di sudut ini aku tersenyum. Kebahagiaan adikku adalah kebahagiaanku juga.&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
Sudah dua jam berlalu Angga belum datang juga. Katanya dua jam lalu, jalanan macet total. &lt;br /&gt;
Orang tua Angga yang lebih dulu datang tampak cemas. Tia lebih cemas lagi. Sesekali dia melihat HPnya. Berharap Angga mengiriminya pesan.&lt;br /&gt;
Gemas, dia memencet tombol di HPnya. Menelpon Angga, meski tahu dia tak akan mendengar jika di seberang sana menjawab. Dia terus melihat layar HPnya. Masih bertuliskan ‘menghubingi Angga’. Tapi tak lama kemudian. ‘Panggilan berakhir. Coba lagi.’&lt;br /&gt;
“Kenapa dia tidak mengangkat telponku?” tanya Tia dengan isyarat tubuhnya.&lt;br /&gt;
Aku jadi ikut-ikutan cemas.&lt;br /&gt;
“Ah, Angga? Di mana kau?” suara ayahnya Angga mengalihkan perhatianku.&lt;br /&gt;
Tiba-tiba wajah pria 50 tahunan itu memucat. “Anda bilang… Angga kami… kecelakaan?”&lt;br /&gt;
Hyun Ae menatap tajam padaku, meminta penjelasan. Aku menjelaskannya dengan bahasa isyarat.&lt;br /&gt;
Belum selesai ayahnya Angga bicara Tia sudah berlari keluar. Tak peduli dengan gaunnya yang akan rusak. Juga dandanannya. Yang ia pedulikan Cuma keselamatan Angga. &lt;br /&gt;
Aku mengejarnya di belakang. Kuteriakkan namanya, memintanya berhenti. Tapi dia masih terus berlari. Ah, aku lupa kalau dia tak  bisa mendengar.&lt;br /&gt;
Aku terus berlari di belakangnya. &lt;br /&gt;
Ambulance melewati kami. Tia menoleh sambil berlari. Begitu juga denganku. Apa di dalam sana adalah Angga?&lt;br /&gt;
Langkahku melambat ketika melihat bangkai mobil yang hancur. Kulihat Tia sudah terduduk di aspal. Bahunya berguncang. Dia nampak menggenggam sesuatu.&lt;br /&gt;
Aku mendekat. Dia nampak menggenggam cincin pernikahan yang di siapkan Angga. Ada bercak darah di cincin itu. Tia menatapku, tergugu. Sembari memberikan isyarat, “Kenapa ini terjadi, Kak?”&lt;br /&gt;
Aku langsung duduk di sampingnya dan memeluknya. Dia memukul-mukul tubuhku sambil menangis. Tuhan… kenapa seperti ini? &lt;br /&gt;
Hujan seketika turun ke bumi. Membasuh darah yang tadi melumuri sebagian aspal. &lt;br /&gt;
Bersusah payah aku membawanya ke rumah sakit.&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
Mata ayah dan ibunya Angga tampak merah. Sesuatu yang buruk pasti terjadi.&lt;br /&gt;
Mereka mempersilahkan kami masuk ke dalam ruang gawat darurat. Satu sosok berselimut kain putih menusuk hati kami. Perlahan, Tia mendekat. Sosok itu kian jelas. Angga.&lt;br /&gt;
Tia langsung memeluk sosok itu. Bahunya berguncang semakin hebat. Dia seperti berteriak “Jangan eprgi!” namun tak terdengar. Air matanya deras mengalir.&lt;br /&gt;
Di sudut ini, aku hanya bisa menangis. kembali tak ada yang bisa kulakukan. Kenapa harus begini Tuhan?&lt;br /&gt;
***** &lt;br /&gt;
Ayah dan ibunya Angga sering mengunjungi kami. Berbagi kenangan tentang Angga. Juga berusaha membuat Tia ceria kembali. Namun sepertinya kami tak berhasil. Sekarang Tia lebih sering menatap langit. Tak pernah lagi kulihat dia tersenyum. Bahasa isyarat pun sangat jarang ia gunakan untuk bicara denganku. Seolah memilih diam dan mengunci diri. Diajak bicarapun dia hanya mengangguk dan menggeleng.&lt;br /&gt;
Entah sampai kapan dia harus hidup di dunianya yang sunyi.&lt;br /&gt;
Tuhan… kenapa begini?&lt;br /&gt;
Kemarin kutemukan di HP Hyun Ae&lt;br /&gt;
To: My Prince ‘Angga’&lt;br /&gt;
“Ngga, apa kabar?” &lt;br /&gt;
Detail: Gagal mengirim.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-end-&lt;br /&gt;
---------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;
Author sempet nangis waktu nulis cerita ini *lebay? tapi ini kenyataan*&lt;br /&gt;
Give ur commet!!! Biar semangat lagi nulis cerita yang lain, hehehe ^^</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/feeds/2833903561594360149/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/2010/08/cerpen-kisah-sedih.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6275639337218371895/posts/default/2833903561594360149'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6275639337218371895/posts/default/2833903561594360149'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/2010/08/cerpen-kisah-sedih.html' title='cerpen Kisah Sedih'/><author><name>Orina Fazrina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09984671521568892272</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6275639337218371895.post-1651879697194537488</id><published>2010-08-14T23:21:00.001-07:00</published><updated>2010-08-14T23:21:19.144-07:00</updated><title type='text'>cerpen Rasa Sakit Cinta</title><content type='html'>Title: Rasa Sakit Cinta&lt;br /&gt;
Author: Imah Hyun Ae&lt;br /&gt;
Disclaimer: Ini hasil majinasi saya dunk…^___^&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Langsung aja ea.&lt;br /&gt;
Let story begin, hehe XDXD&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Rasa Sakit Cinta&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Perasaan ini datang tanpa kuduga. Hadir di hatiku dan bersemi pada orang yang sebenarnya pasti tak bisa ku suka. Karena tipeku adalah lelaki tinggi, putih, bermata tajam, dan punya kesukaan dan hobi yang sama denganku, plus gagah. Dan semua itu tidak ada pada dirinya.&lt;br /&gt;
Ia masih menempelkan hpnya di telinganya. Masih berbicara pada seseorang dengan wajah bahagia. Sesekali ku dapati senyum kecil menghiasi wajahnya.&lt;br /&gt;
Dalam diam, aku masih memperhatikannya. &lt;br /&gt;
&quot;Di?&quot;&lt;br /&gt;
&quot;Eh?&quot; aku tak sadar dia telah menatapku sekarang.&lt;br /&gt;
&quot;Kau melamun ya?&quot; Senyum lembut menghiasi wajahnya. &lt;br /&gt;
Aku tersnyum canggung sembari mengangguk.&lt;br /&gt;
Dia mengacak-acak rambutku dengan tangan kanannya. &lt;br /&gt;
Aku kembali merasakan degup jantungku yang tak berdegup seperti biasanya.&lt;br /&gt;
Dia sekarang duduk di depanku.&lt;br /&gt;
“Ya, Kak?”&lt;br /&gt;
&quot;Maaf, sore nanti sepertinya aku tidak bisa menemanimu ke toko buku. Barusan Siska memintaku menemaninya membeli perlengkapan lukisnya. Tidak apa-apa kan?&quot;&lt;br /&gt;
Hatiku  tiba-tiba terasa sakit. &quot;Mm-mm... Tidak apa-apa.&quot; ^_^&lt;br /&gt;
&quot;Aku janji lain kali pasti kutemani.&quot;&lt;br /&gt;
Aku mengangguk. Dan gerimis langsung menyinggahi hatiku. &lt;br /&gt;
------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namanya Apri. Dia senior sekaligus tetetanggaku. Aku cukup akrab dengannya. Sudah terbiasa dengan kelembutannya. Dan itulah yang membuatku sangat yakin cintaku tak akan jatuh padanya.&lt;br /&gt;
Tapi... entah sejak kapan keyakinanku salah.&lt;br /&gt;
Dia yang lembut, feminine, dan pembersih itu tiba-tiba mengisi satu tempat istimewa di hatiku. Padahal dengan sangat kutahu, di hatinya sudah ada orang lain. Seorang gadis paling cantik dan baik di jurusan lukis. Namanya Siska.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cinta datang tanpa alasan. Tanpa mempedulikan logoka. Dan kadang tak tepat pada waktunya. Itulah yang aku dan Apri alami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jelas-jelas kami semua yang ada di fakultas seni ini tahu Kak Siska masih memberikan tempat di hatinya untuk Raka. Cowok imut+gokil yang sudah 6 bulan  meninggalkan dunia ini. semua tahu betapa sedihnya Kak Siska. Semua tahu betapa mereka saling mencintai. Semua tahu mereka seharusnya menikah di 6 bulan lalu itu.&lt;br /&gt;
Semua juga tahu... bahwa hingga kini cincin pertunangan Kak Siska dari Kak Raka masih melingkar di jari manisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ah, aku belum cerita bagamana aku bisa mengenal mereka. mereka sahabat Kak Apri. Ketika Kak Apri mengetahui aku masuk jurusan seni juga, dia merayakannya bersamaku di sebuah rumah makan kesukaannya+mngundang teman-temannya, Siska dan Raka. Sejak saat itu aku jadi dekat dan bersahabat dengan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dukaa itu masih menghias wajah Kak Siska. Masih sama seperti saat dia diberi tahu Kak Raka kecelakaan. Sama seperti saat ia menangis hebat dengan gaun pengantinnya sambil memeluk sosok Kak Raka yang memakai jas namun sudah tak bernyawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku, dengan sangat jelas tahu, persaan Kak Apri pada Kak Siska sudah sejak lama ada. Sudah sejak dia masih di sekolah menengah. Sejak aku masih tak tahu apa itu cinta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi saat itu perasaanku padanya hanya sebatas adik dan kakak. Tak lebih.&lt;br /&gt;
Sakit... kurasai sakit di hatiku. Aku melihat Kak Apri berlari di tengah hujan seusai Kak Siska menelpon, memintanya datang. Sekedar menemaninya karena hari ini adalah hari ulang tahun Kak Raka.&lt;br /&gt;
Dengan lamban aku mengukuti jejaknya yang lenyap di sapu air hujan. Dia sudah tak ada di pandanganku. Tapi ku tahu dia menuju pantai. Tempat Kak Siska berada sekarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menghentikan langkahku. Tiga meter di depanku ku lihat Kak Apri memayungi Kak Siska.&lt;br /&gt;
Bodoh! Seharusnya dia memakai payung itu sejak tadi! kenapa memilih berlari dengan basah kuyup begitu.&lt;br /&gt;
tapi aku lebih bodoh. Membeku di bawah guyuran hujan saat melihat Kak Siska memeluk erat Kak Apri. Ku lihat bahunys bergetar hebat. Dia..pasti menangisi Kak Raka lagi. Dan Kak Apri, dia tak berkata dan melakukan apa-apa. Hanya diam. Membiarkan Kak Siska melampiaskan perasaan rindunya untuk Kak Raka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&#39;Kenapa kakak tidak melihatku? Ada aku, Kak. Ada aku yang mencintaimu. Kenapa masih mengharapkannya?&#39; batinku pilu.&lt;br /&gt;
Aku tahu pasti saat ini Kak Apri mengatakan, &#39;lihat aku Siska, ada aku yang mencintaimu sejak lama? Tak bisa kah kau berikan rindumu itu untukku?&#39;, di hatinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
--------------&lt;br /&gt;
Aku masih di pantai. &lt;br /&gt;
&quot;Kau di sini?&quot; katanya terkejut mendapatiku ketika dia hendak pulang dengan Kak Siska di punggungnya. Kak Siska sedang tidur ketika itu.&lt;br /&gt;
&quot;Ng...&quot; aku mengangguk gamang.&lt;br /&gt;
&quot;Bodoh..&quot; katanya lembut. &quot;Kenapa hujan-hujanan? lihat! Kau pucat dan kedinginan kan? Ayo!&quot; ia menarik tanganku. Apa dia lupa Kak Siska masih di gendongnya?&lt;br /&gt;
&quot;Tidak. Kakak mengantar Kak Siska saja. Aku... akan baik-baik saja. Aku...bisa pulang sendri.&quot;&lt;br /&gt;
&quot;Sungguh?&quot; &lt;br /&gt;
&quot;Hm-mm...&quot; &lt;br /&gt;
&quot;Kalau sudah pulang, sms aku.&quot; Aku mengangguk dan ia berlalu pergi.&lt;br /&gt;
---------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memandang lautan di depanku. Sudah sejak 6 jam lalu cuma itu yang kulakukan.  &lt;br /&gt;
Hujan sudah mulai reda. Tapi gigil di tubuhku semakin meningkat.&lt;br /&gt;
Aku berdiri, hendak pulang. Ah, pandanganku kabur... tubuhku oleng!&lt;br /&gt;
&quot;Diana?!&quot; suara Kak Apri.&lt;br /&gt;
Aku merasa Kak Apri menggendong tubuhku di punggungnya.&lt;br /&gt;
&quot;Kak...&quot; panggilku lirih.&lt;br /&gt;
&quot;Sudah ku bilang pulang kan?&quot;&lt;br /&gt;
&quot;Maaf...&quot;&lt;br /&gt;
&quot;Kau benar-benar membuatku cemas! Ku hubungi hpmu tidak aktif. Sengaja kau matikan?&quot;&lt;br /&gt;
&quot;Mungkin rusak. Kehujanan sejak tadi.&quot; Aku coba terseyum meski lelah rasanya. &lt;br /&gt;
&quot;Apa dari tadi kau di sini?&quot; &lt;br /&gt;
Aku tak menjawab.&lt;br /&gt;
&quot;Apa ada masalah?&quot;&lt;br /&gt;
Aku menggeleng lemah.&lt;br /&gt;
Ku buka mata. Hari merambat gelap rupanya.&lt;br /&gt;
&quot;Apa sejak tadi kau tidak berteduh? Tubuhmu basah sekali.&quot;&lt;br /&gt;
&quot;Kakak...&quot;&lt;br /&gt;
&quot;Hm?&quot;&lt;br /&gt;
&quot;Kau mengkhawatirkanku?&quot;&lt;br /&gt;
&quot;Tentu saja.&quot;&lt;br /&gt;
&quot;Benarkah?&quot;&lt;br /&gt;
&quot;Hm-mm. Sudah jelaskan. Adikku belum pulang dan hp tidak aktif. Untung kau masih di pantai, jika ke tempat yang tak ku tahu, aku tak tahu harus bagamana agar menemukanmu.&quot;&lt;br /&gt;
&quot;Maaf...&quot;&lt;br /&gt;
&quot;Tidak apa-apa. Lain kali jangan begini, ya.&quot; katanya sambil memperhatikan jalanan, menunggu taxi.&lt;br /&gt;
&quot;Kak...&quot; aku merebahkan kepalaku d bahunya.&lt;br /&gt;
&quot;Hm?&quot;&lt;br /&gt;
&quot;Punggung kakak hangat. Nyaman sekali rasanya.&quot;&lt;br /&gt;
Sedikit senyum terukir di wajah lembutnya.&lt;br /&gt;
&quot;Puh..ada-ada saja,&quot; gumamnya menahan tawa.&lt;br /&gt;
&quot;Aku suka, Kakak...&quot; kataku pelan.&lt;br /&gt;
&quot;Eh?&quot; ia sepertinya terkejut.&lt;br /&gt;
Aku memeluknya erat. &quot;Aku sangat menyukai kakak.&quot; bisikku lagi.&lt;br /&gt;
senyap bbrp saat.&lt;br /&gt;
Air mataku mrnggenang. Aku tahu ia tak akan menerima perasaanku.&lt;br /&gt;
&quot;Aku cintai kakak..&quot;&lt;br /&gt;
Senyap...&lt;br /&gt;
&quot;Kakak..?&quot; kupanggil dia yang dari tadi diam.&lt;br /&gt;
&quot;Maaf...&quot; sahutnya akhirnya.&lt;br /&gt;
&quot;Aku sungguh mencintai kakak...&quot; isakku.&lt;br /&gt;
&quot;Maafkan aku...&quot;&lt;br /&gt;
Aku makin terisak. &quot;Aku sungguh cinta...&quot; lirihku.&lt;br /&gt;
&quot;Benar-benar maaf...&quot;&lt;br /&gt;
Aku tergugu di punggungnya.&lt;br /&gt;
&quot;Terima kasih.. sudah mencntaiku,&quot; katanya lagi.&lt;br /&gt;
Air mataku meleleh deras.&lt;br /&gt;
---end---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Coment ea. ;-)</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/feeds/1651879697194537488/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/2010/08/cerpen-rasa-sakit-cinta.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6275639337218371895/posts/default/1651879697194537488'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6275639337218371895/posts/default/1651879697194537488'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/2010/08/cerpen-rasa-sakit-cinta.html' title='cerpen Rasa Sakit Cinta'/><author><name>Orina Fazrina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09984671521568892272</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6275639337218371895.post-3152840298317489772</id><published>2010-08-14T23:18:00.001-07:00</published><updated>2010-08-14T23:18:36.703-07:00</updated><title type='text'>cerpen Mungkin Ini Takdir</title><content type='html'>Hahai!!!&lt;br /&gt;
Author datang lagi,wkwkwk.&lt;br /&gt;
Moga-moga kalian suka dengan cerita yang ini ea ^^&lt;br /&gt;
Inspirasi saat teringat beberapa film. Hehe...&lt;br /&gt;
*author: cengengesan*&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Langsung aja ea&lt;br /&gt;
Happy reading ^0^&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Title: Mungkin ini takdir&lt;br /&gt;
Author: Imah Hyun Ae&lt;br /&gt;
Disclaimer: imajinasi saya 2 hari lalu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Mungkin Ini Takdir&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sakit. Hatiku,ada satu luka baru tertoreh setelah 6 kali ini tak sengaja ku dapati dia jalan dengan seorang cewek cantik berambut panjang yang belakangan kutahu bernama Mella. Anak dari SMA Putri.&lt;br /&gt;
Aku hendak menemuinya ketika tak sengaja kudengar mereka menyebut-nyebut namaku.&lt;br /&gt;
Aku menatapnya di sudut ini. Bersembunyi. Masih berusaha tak percaya dengan apa yang dia katakan pada teman-temannya barusan.&lt;br /&gt;
&quot;Kalau kau merasa begitu, kenapa tak kau katakan saja padanya? Aku rasa dia akan mengerti?&quot;&lt;br /&gt;
Ku lihat dia menggeleng. &quot;Mana boleh begitu! Sebagai laki-laki yang baik,bukankah aku seharusnya tetap di sisinya?&quot; katanya.&lt;br /&gt;
&quot;Dan diam-diam berhubungan dengan gadis lain di belakangnya? Itu jauh menyakitinya!&quot; sahut Joni.&lt;br /&gt;
Dia terdiam. Semakin membuat nyeri hatiku.&lt;br /&gt;
&quot;Seandainya dia yang memutus, akan lebih baik.&quot; lirihnya. Satu jarum menusuk dalam hingga ke palung hatiku.&lt;br /&gt;
Hening sesaat.&lt;br /&gt;
&quot;Bagaimana dia bisa memutusmu kalau kau masih bersikap baik padanya?&quot; kali ini Hendra bicara.&lt;br /&gt;
&quot;Aku...Aku hanya tidak ingin di pandang jahat karena meninggalkannya ketika dia sakit.&quot;&lt;br /&gt;
Herry mendengus. &quot;Apa bedanya dengan diam-diam berhubungan dengan gadis itu?&quot;&lt;br /&gt;
&quot;Seandainya kau pernah ada di situasi sepertiku, kau akan memahami posisiku!&quot; &lt;br /&gt;
&quot;Kevin?&quot; panggil Joni.&lt;br /&gt;
&quot;Ng?&quot; Kevin mendelik.&lt;br /&gt;
&quot;Apa Mella tahu kau masih bersama Hana?&quot; Jono bertanya hati-hati.&lt;br /&gt;
&quot;Ya.&quot; Kevin mengangguk. &quot;Ku ceritakan padanya, dan dia bisa mengerti.&quot;&lt;br /&gt;
&quot;Dia benar-benar menyukaimu rupanya.&quot; desis Yano.&lt;br /&gt;
&quot;Aku pun begitu mencintainya.&quot; Lirih Kevin.&lt;br /&gt;
Jantungku juga hatiku terasa sakit. Dia yang selalu terlihat baik dan peduli ternyata...&lt;br /&gt;
Aku berjalan perlahan meninggalkan mereka. Tak ingin mendengarkan kelanjutan pembicaraan mereka.&lt;br /&gt;
Dulu q pikir aku seberuntung Aya (dorama One Litre of Tears) dan juga Kouru (di film Taiyo No Uta), atau seperti Song Hye Kyo di dramanya Endless Love. Atau di filmnya My Girl and I.&lt;br /&gt;
Tapi kini aku tahu, aku tak seberuntung mereka. &lt;br /&gt;
Ku tutup rapat bibirku, menahan agar air mataku tak jatuh.&lt;br /&gt;
-------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Hana?&quot; panggil Kevin ketika aku masih bergeming di kursi sampingnya.&lt;br /&gt;
&quot;Kau baik-baik saja?&quot; ia terlihat cemas. &quot;Apa hatimu kembali sakit?&quot;&lt;br /&gt;
Berhenti bersikap peduli padaku! Jangan bohongi aku lagi, Kevin! Tunjukan saja betapa lelahnya kau menjagaku!&lt;br /&gt;
&quot;Apa sebaiknya kita ke rumah sakit?&quot;&lt;br /&gt;
Aku menatapnya. Mencari tahu apakah dia benar-benar tulus peduli padaku.&lt;br /&gt;
Apa aku yang harus melepasmu lebih dulu? Apa aku bisa, Vin? &lt;br /&gt;
Kevin mengangkat alisnya. Bingung. &quot;Kenapa?&quot;&lt;br /&gt;
Aku menggeleng. Lalu menghela napas untuk cegah air mataku yang hendak jatuh.&lt;br /&gt;
&quot;Bagaimana... kalau kita jalan-jalan saja?&quot; tawarku. Kupaksakan diri untuk terlihat ceria.&lt;br /&gt;
Mungkin untuk yang terakhir kali, Vin, batinku.&lt;br /&gt;
Kulihat matanya bicara, &#39;lagi?&#39;.&lt;br /&gt;
&quot;Akhir-akhir ini kau hobi jalan-jalan, ya?&quot; ia tersenyum. Matanya tertuju pada HP-nya, menulis sesuatu. &lt;br /&gt;
&quot;Aku takut, aku tak bisa bersamamu lagi nanti.&quot;&lt;br /&gt;
Tangannya seketika berhenti di atas keypad.&lt;br /&gt;
&quot;Maaf kalau selama ini aku terlalu egois padamu, Vin.&quot;&lt;br /&gt;
&quot;Eh? Tidak. Kau tidak egois Hana.&quot; Kevin tersenyum lembut. Lagi-lagi dadaku terasa sakit, sadar bahwa itu hanya senyum palsunya.&lt;br /&gt;
&quot;Aku janji setelah ini kita pulang. Kau bisa pergi dan melakukan apa yang kau suka.&quot; :)&lt;br /&gt;
&quot;Kau ini.&quot; dia mengacak-acak rambutku.&lt;br /&gt;
Aku menatapnya. Kevin, apa jika aku tak sakit kau akan tunjukan isi hatimu yang sebenarnya? &lt;br /&gt;
--------&lt;br /&gt;
Kami menuju Sungai kesukaanku. Tak ada yang kulakukan di sana. &lt;br /&gt;
Hanya memandang sungai sambil merebahkan kepalaku di bahunya. Dia diam saja. Terlihat jenuh.&lt;br /&gt;
&quot;Vin?&quot;&lt;br /&gt;
&quot;Hm?&quot; ia berusaha terdengar antusias.&lt;br /&gt;
&quot;Maaf, sudah merepotkanmu.&quot;&lt;br /&gt;
Dia mengangguk.&lt;br /&gt;
Kukeluarkan HP-ku dan sedikit menjauh darinya.&lt;br /&gt;
&quot;Ada apa?&quot;&lt;br /&gt;
&quot;Boleh aku memfotomu?&quot;&lt;br /&gt;
Dia mendengus setengah menahan tawa.&lt;br /&gt;
&quot;Kevin?&quot; panggilku. Dia menoleh.&lt;br /&gt;
Chep!&lt;br /&gt;
Aku mendapatkan pose terbaiknya.&lt;br /&gt;
Chep! &lt;br /&gt;
Chep!&lt;br /&gt;
Chep!&lt;br /&gt;
Aku terus memfotonya.&lt;br /&gt;
&quot;Kau aneh.&quot; katanya sambil menghindari kamera HP-ku.&lt;br /&gt;
&quot;Jangan menghindar, Vin. Kali ini saja, biarkan aku memfotomu sepuasku.&quot;&lt;br /&gt;
Dia tertawa,&quot;Kenapa?&quot;&lt;br /&gt;
&quot;Agar aku bisa melihatmu ketika kau tak di sisiku.&quot;&lt;br /&gt;
&quot;Hmf…ada-ada saja,&quot; gumamnya. Kemudian membiarkanku memfotonya sebanyak yang kumau.&lt;br /&gt;
&quot;Sekarang kita foto sama-sama.&quot;&lt;br /&gt;
Aku meminta bantuan pada seseorang untuk memfoto kami.&lt;br /&gt;
Aku duduk di samping kanan Kevin dan membentuk setengah hati pada tangan kananku. Ku raih tangan kirinya. Memintanya membentuk setengah hati pula. Kemudian kusatukan dengan tanganku.&lt;br /&gt;
&quot;Satu,&quot; orang yang memfoto kami mulai menghitung.&lt;br /&gt;
&quot;Vin?&quot; &lt;br /&gt;
&quot;Hm?&quot;&lt;br /&gt;
&quot;Dua.&quot;&lt;br /&gt;
Aku menoleh ke samping kiriku.&lt;br /&gt;
&quot;Aku mencintaimu...&quot; bisikku. Kevin menatapku.&lt;br /&gt;
Aku mengalihkan pandanganku ke kamera lagi.&lt;br /&gt;
&quot;Tiga.&quot;&lt;br /&gt;
Aku tersenyum lebar.&lt;br /&gt;
Chep! &lt;br /&gt;
Orang yg memfoto kami mendekat dan menyerahkan HP-ku. &quot;Terima kasih.&quot; &lt;br /&gt;
Dia mengangguk dan berlalu.&lt;br /&gt;
Aku berdiri. Dan terjatuh. Tiba-tiba saja sakit menyerang hatiku. Aku mual seketika.&lt;br /&gt;
&quot;Hana?&quot;&lt;br /&gt;
Aku hendak menjawab. Tapi malah muntah. Berkali-kali. Darah membanjiri tangan dan bajuku. &lt;br /&gt;
&quot;Kita ke rumah sakit!&quot; Katanya lalu menggendongku. Membawaku ke mobilnya.&lt;br /&gt;
------------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini minggu ke dua aku di rawat di rumah sakit ini. Penyakitku sudah mencapai stadium 3. Cara untuk sembuh dari penyakit pengerasan hati ini satu-satunya adalah adanya donor hati untukku.&lt;br /&gt;
Kevin masih setia menungguiku. Namun, hari ini tak sengaja aku mendengar dia menelpon Mella.&lt;br /&gt;
&quot;Maaf, Mel. Tapi kali ini pun kita tidak bisa jalan-jalan. Hana… dia masih di rumah sakit.&quot;&lt;br /&gt;
Senyap sesaat. &lt;br /&gt;
&quot;Baiklah, ku usahakan di ulang tahunmu lusa, aku datang.&quot;&lt;br /&gt;
Senyap…&lt;br /&gt;
&quot;Hm-m. Terima kasih atas pengertianmu. Bye.&quot;&lt;br /&gt;
Aku segera kembali mendorong kursi rodaku ke kamar rawatku.&lt;br /&gt;
----------&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Tak perlu menjagaku lagi, Vin!&quot; kataku ketika di hari ulang tahun Mella dia menyempatkan diri mengunjungiku. &lt;br /&gt;
Aku sudah memutuskan.&lt;br /&gt;
&quot;Eh?&quot; ia tampak terkejut.&lt;br /&gt;
&quot;Tak perlu mengkhawatirkankug.&quot;&lt;br /&gt;
&quot;Apa maksudmu?&quot; ia terlihat bingung.&lt;br /&gt;
Aku masih duduk di kursi rodaku tanpa menatapnya. &quot;Aku tahu kau sudah lelah bersamaku. Aku tahu perasaanmu sudah bukan untukku. Maaf, karena baru menyadarinya sekarang. Dan.. Terima kasih banyak gomaweo karena masih bersabar padaku. Aku tak akan menyusahkanmu lagi, Vin.&quot; Aku membungkukkan tubuhku. &quot;Terima kasih untuk segalanya, Vin.&quot;&lt;br /&gt;
Ia mematung di posisinya.&lt;br /&gt;
Aku mendongak. Memberikan senyuman &#39;Aku bai-baik saja&#39; padanya. &lt;br /&gt;
&quot;Aku benar-benar minta maaf...&quot; lirihnya penuh sesal.&lt;br /&gt;
Aku menggeleng. &quot;Mungkin ini memang takdirku. Jadi, jangan merasa begitu bersalah. Itu membuatku semakin sakit,&quot; lirihku.&lt;br /&gt;
&quot;Ma-&quot;&lt;br /&gt;
&quot;Bukanx hari ini kau ada janji?&quot; potongku. &lt;br /&gt;
Dia lagi-lagi terkejut. &lt;br /&gt;
&quot;Jangan mengecewakannya, Vin.&quot; Ku alihkan pandanganku keluar jendela. &quot;Pasti sekarang dia menunggumu dengan cemas.&quot;&lt;br /&gt;
&quot;Benar-benar maaf…&quot; bisiknya. Beberapa detik kemudian kudengar ia melangkah pergi.&lt;br /&gt;
Air mataku sudah jatuh sejak aku mengalihkan pandanganku keluar jendela. Dan setelah dia pergi, air mataq jatuh kian deras.&lt;br /&gt;
Ku buka foto yang sejak tadi kugenggam. Foto kami yang menyatukan tangan berbentuk hati di sungai waktu itu. Membuat isakku kian keras sekarang.&lt;br /&gt;
---end---&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana? Beri komentarmu ya? Jangan jadi ‘silence reader’! hehe ^^</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/feeds/3152840298317489772/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/2010/08/cerpen-mungkin-ini-takdir.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6275639337218371895/posts/default/3152840298317489772'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6275639337218371895/posts/default/3152840298317489772'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/2010/08/cerpen-mungkin-ini-takdir.html' title='cerpen Mungkin Ini Takdir'/><author><name>Orina Fazrina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09984671521568892272</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6275639337218371895.post-557726323961475337</id><published>2010-08-14T23:17:00.002-07:00</published><updated>2010-08-14T23:17:51.369-07:00</updated><title type='text'>cerpen Hatiku Mengenalmu</title><content type='html'>Title: Hatiku Mengenalmu&lt;br /&gt;
Genre: romance&lt;br /&gt;
Author: Imah Hyun Ae&lt;br /&gt;
Disclaimer: terinspirasi ketika ingat sebuah komik seru,hehe&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Hatiku Mengenalmu&quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&quot;Siapa?&quot; Yano bertanya usai aku menutup telpon.&lt;br /&gt;
&quot;Bukan siapa-siapa,&quot; jawabku.&lt;br /&gt;
&quot;Rina, kan?&quot;&lt;br /&gt;
Aku mendelik ke arahnya. &quot;Bagaimana kau bisa tahu?&quot;&lt;br /&gt;
&quot;Sudah kebiasaanmu kalau dia yang menelpon kau jawab &#39;bukan siapa-siapa&#39;.&quot; Yano tertawa.&lt;br /&gt;
Aku tersenyum tipis. Rina kekasihku. Barusan dia menelpon menanyakan apa aku bisa merayakan hari jadi kami. Padahal aku benar-benar lupa akan hari itu. Mungkin karena bukan hari yang mengesankan bagiku. Ah, seandainya dia orang yang ku sukai, pasti aku yang lebih agresif mengajaknya ke manapun untuk merayakan hari ini.&lt;br /&gt;
Bisa dibilang ini kesalahanku. juga kesalahan Anton.&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
Aku bertemu dengan seorang gadis yang cantik sekali. Dia memakai kontak lens pada matanya. Rambutnya yang bergelombang tergerai. Sambil tersenyum dia membaca buku di tangannya. &lt;br /&gt;
Dia bertopang dagu sekarang. Dengan bias matahari dari jendela di belakangnya semakin membuat aura cantiknya keluar. Jantungku...memainkan simponi yang indah, dan aku menikmatinya.&lt;br /&gt;
Dia mengalihkan pandangannya ke jam di lengannya. Kemudian dia menutup bukunya dan berjalan ke meja penjaga perpustakaan.&lt;br /&gt;
Ekor mataku masih mengikutinya hingga dia menghilang di balik dinding.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai mencari sosoknya sejak hari itu. berharap bisa bertemu lagi, dan dapat meyakinkan hatiku bahwa aku memang jatuh cinta padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia kembali ke perpustakaan hari ini di jam yang sama seperti kemarin. Kali ini aku memperdekat jarak dudukku dengannya. Dan ketika dia ke meja penjaga perpustakaan, aku mengikutinya. Pura-pura meminjam buku di perpustakaan ini. Baru ku tahu dia bernama Rina. Setahun di bawahku dan dan di jurusan ekonomi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lama-lama memperhatikannya, rasa suka ini semakin besar. Kepribadiannya yang tenang membuatku nyaman memupuk rasa ini.&lt;br /&gt;
Diam-diam, di sudut yang tersembunyi, sambil berpura-pura membaca buku, aku memperhatikannya. &lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
Aku... Akhir-akhir ini aku semakin yakin keputusan menyatakan cinta padanya adalah kesalahan. Ah, andai saja waktu itu teman-teman tak mendukungku...&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
Perasaan itu kian menggila. Padahal dengan jelas aku tahu waktu itu aku lebih baik tak punya kekasih, jika itu menghambat karirku, juga mengacaukan kehidupannya (jika fans tak terima). &lt;br /&gt;
Kutatap mata teman-temanku yang baru saja mengatakan &#39;tidak apa-apa, kau sudah menemukan bahagiamu sekarang,&#39; dengan senyum bahagia yang tulus.&lt;br /&gt;
&quot;Terima kasih,&quot; bisikku.&lt;br /&gt;
&quot;Hey,hari ini saja kau menyatakannya! Aku kenal teman dekatnya. Aku bisa minta bantuan dia kalau kau mau?&quot; kata Andre.&lt;br /&gt;
&quot;Benarkah?&quot; &lt;br /&gt;
&quot;Hu-umm...&quot; dia mengangguk.&lt;br /&gt;
&quot;Tapi...aku tak ada persiapan.&quot; Kataku panik.&lt;br /&gt;
Mereka tersenyum geli. &lt;br /&gt;
&quot;Lalu kapan? Lebih cepat lebih baik.&quot;&lt;br /&gt;
Aku bergeming. Tak lama kemudian mengangguk. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lisa bilang Sae Rina akan menungguku di aula pentas. Dengan gugup aku ke sana. Wajahku tertunduk. Tegang. &lt;br /&gt;
Ku buka pintu,lalu masuk. &quot;Maaf mengganggu kesibukanmu.&quot; kataku,tapi tetap tak sanggup menatapnya.&lt;br /&gt;
&quot;Tidak apa-apa...&quot; jawabnya lembut. Itu membuat kegugupanku semakin menjadi. &lt;br /&gt;
&quot;Um..&quot;&lt;br /&gt;
&quot;Ya?&quot;&lt;br /&gt;
&quot;Aku mencintaimu, Rin.&quot; kataku akhirnya.&lt;br /&gt;
&quot;... eh?&quot; &lt;br /&gt;
&quot;Aku...saat pertama kali bertemu di perpustakaan sudah menyukaimu.&quot;&lt;br /&gt;
&quot;Eh?&quot;&lt;br /&gt;
“Perasaan ini terus tumbuh dan menuntutku untuk menyatakannya padamu. Aku tak tahu harus bagaimana dulu, tapi sungguh, aku mencintaimu, Rin.&quot; Aku membungkuk. Ah, pasti dia pikir cara menyatakan cinta yang aneh.&lt;br /&gt;
&quot;Aku juga, Yo,&quot; lirihnya.&lt;br /&gt;
&quot;...eh? Sungguh?&quot; Aku mendongak. Bertatap mata langsung dengannya.&lt;br /&gt;
Ia tersenyum. Oh,tidak. Ini kesalahan. Bukan gadis berkaca mata dengan rambut dikuncir kuda yang kumaksud. &quot;Te..terima kasih..&quot; lirihku terbata. Jangan-jangan salah orang? Apa yang harus kulakukan?&lt;br /&gt;
&quot;Boleh kupanggil, Kakak?&quot;&lt;br /&gt;
&quot;Y...ya&quot; jawabku. keringat membanjiri wajahku. Bagaimana ini?&lt;br /&gt;
&quot;Kakak, baik-baik saja?&quot; dia mendekat. &quot;Wajah kakak terlihat pucat.&quot;&lt;br /&gt;
&quot;Ah? Ya..&quot; aku tersenyum menenangkan.&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
Waktu itu aku segera pamit darinya. Kutanya Yano, dia bilang gadis tadilah bernama Rina Aprilia. Dia satu-satunya mahasiswi ekonomi yang bernama itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kecewa aku menjalani hubungan ini. Aku tak tega memutusnya, yang ternyata sangat pengertian padaku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak hari jadianku, periku yang begitu kucintai itu menghilang. Aku tak pernah menemukan sosoknya lagi diperpustakaan. Malah Rina yang kutemukan. Terkadang aku bingung dengan diriku. Berkata dengan yakin bahwa aku tak ada hati dengan ‘Rina’ yang ini. Tapi, di saat yang sama aku ingin bertemu dengannya. Berharap dia bisa hapus rinduku untuk gadis di perpustakaan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kulihat jam. Sudah 30 menit berlalu dari jam perjanjianku dengannya. Apa dia masih menunggu? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan lamban aku melangkah. Perlahan kulajukan mobil ke restoran itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku seperti tak berpijak di bumi. Bergeming di depan pelayan yang menyambut kedatangan pengunjung.&lt;br /&gt;
Aku masih takjub dengan kehadiran periku ketika dia melambai sekaligus tersenyum padaku. &lt;br /&gt;
Kutoleh kebelakang siapa tahu ada orang lain di belakangku. Tidak ada. &lt;br /&gt;
O,ya, mana ‘Rina’ yang jadi kekasihku itu?&lt;br /&gt;
Kulihat periku lagi, bibirnya seperti berkata &quot;sini&quot;. &lt;br /&gt;
Aku mendekat ragu-ragu.&lt;br /&gt;
Dia terlihat sumringah. &lt;br /&gt;
&quot;Aku tahu kakak pasti datang.&quot; ujernya.&lt;br /&gt;
&quot;...Eh?&quot; Apa maksudnya?&lt;br /&gt;
&quot;Kenapa kakak masih berdiri? Kakak..ada pekerjaan?&quot;&lt;br /&gt;
&quot;Ah? Ti… Tidak…&quot;&lt;br /&gt;
&quot;Kakak sakit?&quot; dia berdiri dan menyentuhkan tangannya ke keningku.&lt;br /&gt;
Jantungku semakin cepat berdetak. Kuperhatikan lekat wajahnya. Dia membimbingku duduk. Tak sengaja kulihat cincinnya. Cincin couple yang ‘Rina’ satunya beli bulan lalu. &lt;br /&gt;
Argh…,aku selalu lupa membeli kado untuk hari ini! &lt;br /&gt;
Hey! Tunggu! Jangan-jangan... &quot;Kau… Rina?&quot;&lt;br /&gt;
&quot;Ya…&quot; katanya setengah malu-malu. &quot;Kenapa, Kak? Apa dandananku terlalu jelek dan aneh?&quot; dia memperhatikan dirinya.&lt;br /&gt;
&quot;Sungguh cantik.&quot; bisikku, &quot;Jadi ini kau? Rina-ku?&quot;&lt;br /&gt;
&quot;Ya.&quot;&lt;br /&gt;
Senyumku mengembang lebar. &quot;Kau beda sekali dua bulan ini. Kupikir...&quot; aku salah orang, sambungku dalam hati.&lt;br /&gt;
&quot;Kontak lens ku rusak, jadinya pakai kaca mata. Karena kakak bilang cintaku saat aku biasa saja, kupikir kakak lebih suka aku yang seperti itu. Hehe...&quot;&lt;br /&gt;
Aku tersenyum. Kurasa, bagaimanapun kau, hatiku tetap mengenalimu :3&lt;br /&gt;
~Tamat~&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
comment dunk..</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/feeds/557726323961475337/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/2010/08/cerpen-hatiku-mengenalmu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6275639337218371895/posts/default/557726323961475337'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6275639337218371895/posts/default/557726323961475337'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/2010/08/cerpen-hatiku-mengenalmu.html' title='cerpen Hatiku Mengenalmu'/><author><name>Orina Fazrina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09984671521568892272</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6275639337218371895.post-6006684402908215274</id><published>2010-08-14T23:17:00.000-07:00</published><updated>2010-08-14T23:17:14.687-07:00</updated><title type='text'>Cerpen It&#39;s You</title><content type='html'>Update:  17 November 2009 jam 20:12 &lt;br /&gt;
Theme Song: It&#39;s U by Super Junior&lt;br /&gt;
&quot;It&#39;s U&quot;&lt;br /&gt;
By Imah Hyun Ae&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku begitu berantakan. Hatiku bagai serpihan gelas yang pecah. Bagai badai ditengah laut. Seperti karang yang dihempas ombak ganas. Sakit. Andaikan terlihat,aku yakin ia tak hanya terluka, tapi berbuih larva.&lt;br /&gt;
Kutatap daun-daun yang berguguran seperti musim gugur di kursi samping kampus. Ia layu dan beterbangan ke arahku. Membuatku terpaksa mengingat kejadian hari itu. Hari yang membuatku kelabu seketika.&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
Siang itu begitu terik. Di sudut kampus saat aku pulang kuliah. kudapati sosoknya sedang berbicara begitu akrab dengan seorang gadis. Gadis itu berambut lurus,hitam,panjang tergerai. Senyum lembutnya semakin menegaskan kecantiknya.&lt;br /&gt;
Aku mendekat ke arag mereka. Pura-pura membaca buku. Samar kudengar pembicaraan mereka.&lt;br /&gt;
&quot;Sejak lama aku menyukaimu, Ana.&quot; ucap Egi saat itu.&lt;br /&gt;
Ana tampak terkejut.&lt;br /&gt;
&quot;Maukah kau jadi kekasihku?&quot;&lt;br /&gt;
Tak kudengar suara Ana. Penasaran aku menoleh ke arah mereka. Kulihat ekspresi bahagia Egi, juga sikap malu-malunya Ana.&lt;br /&gt;
Egi mengelus kepala Ana dengan lembut. Ana tampak tersipu. Mereka jadian...&lt;br /&gt;
Kuraba hatiku. Sakit. Aku... mulai detik itu harus mematikan perasaanku. Cinta ini tak boleh untuknya lagi!&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Air mataku hampir jatuh. Kutegarkan hati agar tak telrihat begitu rapuh. Bersama angin yang bawa layu hatiku, aku kembali termangu.&lt;br /&gt;
 Sebuah lagu terngiang di telingaku. Neorago (It&#39;s U) dari super junior, band Korea kesukaan sahabatku, Alan. &lt;br /&gt;
&quot;Mengapa aku jatuh cinta padanya, Lan? &quot; pertanyaan itu muncul seiring dengan banyak sebab aku bisa mencintai Egi. Cowok imut, tampan, dan memiliki senyum termanis yang baru pertama kali ini kulihat dimiliki oleh laki-laki. Perasaan itu tumbuh seiring dengan seringnya aku melihat senyumnya, sikapnya, cara bicaranya, gaya berjalannya, m,imik wajahnya, tatapan matanya, tawanya, akh...&lt;br /&gt;
&quot;Mencintai karena alasan,maka kau akan kehilangan cinta itu seiring dnegan alasan itu menghilang.&quot; Alan mengatakan hal itu padaku ketika itu. &quot;Jika kau terluka karena cinta,ingatlah, hanya sahabat yang mampu menguranginya.&quot;&lt;br /&gt;
Alan...kuharap kau ada di dekatku sekarang.&lt;br /&gt;
Alan... kau dimana?&lt;br /&gt;
Puk!&lt;br /&gt;
Seseorang menepuk pundakku. Aku menoleh dan menemukan senyum jahil terukir di wajahnya.&lt;br /&gt;
&quot;Alan?! Dasar kau ini!!!”&lt;br /&gt;
&quot;Hehe... Berduka lagi!&quot; Dia duduk di sampingku. Aku tak menjawab dan seperti biasa dia tak memaksa. Tanpa berkata. Hanya duduk di sampingku, namun hal itu selalu berhasil menenangkanku.&lt;br /&gt;
Dia memberikan seulas senyum sambil mengeluarkan HPnya. Lagu It&#39;s U andalannya mengalun. Kusebut andalan karena setiap di dekatku lagu itulah yang dia putar. Dan dia pasti mengiringinya dengan suaranya yang lumayan.&lt;br /&gt;
 &quot;Dareunsaram pilyo obseo nan keunyang neorago. Dashi hanbon mullo bwado nan keunyang neorago. Imi noneun dareun saranghaet kkaetjiman. Nohl ehilsuga obseo dashi dolikilsu obseo oh~&quot;&lt;br /&gt;
&quot;Alan...”&lt;br /&gt;
”Ng?”&lt;br /&gt;
”Maaf...”&lt;br /&gt;
”Untuk Apa?”&lt;br /&gt;
”Maaf karena selalu datang padamu saat aku rapuh.”&lt;br /&gt;
Alan tersnyum. &quot;Tidak apa-apa. Jika itu bisa mengurangi sedihmu, bahkan kalau aku harus jadi badut untuk membuatmu tersenyum lagi, akan kulakukan, hehehe....”&lt;br /&gt;
Senyumku mengembang. &quot;Terima kasih...&quot;&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
Waktu berlalu. Mengikis kenangan masa lalu. Tanpa sebab,aku mulai sering mencari-cari sosok Alan. Mulai berharap selalu bersamanya. Bersedia menunggunya. Selalu tersenyum kalau di dekatnya. Dan selalu merasa ada yang kurang kalau dia tak ada. Kusadari, kali ini hatiku berlabuh padanya.&lt;br /&gt;
Suatu hari di taman kampus Alan bilang, &quot;Neorago yang kunyanyikan selama ini sebenarnya adalah perasaanku untukmu. Hanya kau. Aku tak bisa melupakanmu. Meski terlahir kembali,aku masih mencintaimu. Kuharap kau bilang kau mencintaiku juga, Rina.”&lt;br /&gt;
&quot;Be..benarkah?&quot;&lt;br /&gt;
&quot;Hm-mm... Dulu aku pernah bilang padamu ’Mencintai karena alasan, maka kau akan kehilangan cinta itu seiring dengan alasan itu menghilang.’ Tapi aku tidak akan kehilangan cinta itu karena aku tak punya alasan mencintaimu.&quot;&lt;br /&gt;
Aku tersenyum. Sebuah kebahagiaan hadir di hidupku. &lt;br /&gt;
&quot;Bisakah kau di sisiku selamanya?”&lt;br /&gt;
Aku mengangguk. Ia tersenyum girang. Sama bahagianya denganku. Kemudian dia bersenandung. Kali ini lagu cinta yang bahagia.&lt;br /&gt;
Apa kau tahu,aku ingin sekali kau mendengar pengakuanku. ”Alan...”&lt;br /&gt;
&quot;Ng?&quot; nyanyiannya terhenti. Ia menoleh k arahku. &quot;Aku juga mencintaimu...&quot; &lt;br /&gt;
Kembali alan tersenyum lembut. &lt;br /&gt;
&quot;Selamanya...&quot; sambungku sambil merangkul tangan kanannya. Ia mnggenggam jemariku dan meremasnya dengan lembut. &lt;br /&gt;
~The End~&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
comment ya ^^</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/feeds/6006684402908215274/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/2010/08/cerpen-its-you.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6275639337218371895/posts/default/6006684402908215274'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6275639337218371895/posts/default/6006684402908215274'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/2010/08/cerpen-its-you.html' title='Cerpen It&#39;s You'/><author><name>Orina Fazrina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09984671521568892272</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6275639337218371895.post-5125850937402542351</id><published>2010-08-06T18:59:00.000-07:00</published><updated>2010-08-06T19:01:13.228-07:00</updated><title type='text'>cerpen: Kekasihku</title><content type='html'>Title: Kekasihku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Request by: someone (my friend ^^)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Update: 17 November 2009 dg judul ’Kisah cinta Rea’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adaptasi dari kisah nyata dengan sedikit gubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”My Love”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By Imah Hyun Ae&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit senja memayungi kota S. Seorang cewek dengan mata sendunya menatap ke belakang. Matanya yang sedikit tergenang air tertuju pada satu sosok cowok tinggi tegap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika ingatannya kembali ke masa itu. Kisah di mana hubungan mereka bermula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu pagi yang cerah,di meja no.2 baris pertama, seorang gadis menekuk wajahnya. Nampak sekali betapa ia tak mendukung suasana ceria pagi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Pagi...” sapa seseorg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengangkat wajahnya. ”Rea...” bisiknya. Masih dengan wajah yang tertekuk dia membalas, ”Pagi...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tumben wajahmu suram hari ini,Na?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dipanggil ’Na’ hanya menghela napas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kenapa sih?” tanya Rea penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Idolaku,Re...” lirih Nana setelah sukses menempelkan wajahnya di meja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kenapa memangnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dia pacaran sama musuhku...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jeda sesaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Suka-suka dialah. Itu kan haknya.” Sahut Rea akhirnya tanpa perasaan peduli sedikitpun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tapi kenapa mesti cewek itu? Cewek yang lebih baik kan banyak!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Namanya juga cinta.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nana manyun. ”Ugh! Kalau pacaran sama yang lain sih nggak apa-apa. Ngagak masalah. Ini? Aduh~!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rea Cuma bisa menggeleng. Tak mau berargumen lebih banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya Nana telah berwajah ceria. Rea merasa aneh. Biasanya kalau Nana bete gara-gara idolanya sampai berminggu-minggu,batin Rea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Nana yang melihat wajah bingung Rea, langsung cengengesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hei!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hm?” sahut Rea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku dapat ide nih.” Masih crngengesan nggak jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ide? Ide apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bikin idolaq jadian sama cewek yang lebih baik. Kamu mau kan, Re?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mau apa?” firasat buruk,batin Rea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jadi pacarnya kak Erik?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hah? Kok...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tenang saja. Pasti dia mau! Dia kan idola di lapangan basket. Sedangkan kamu populer. Pasangan yang serasi deh. ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tapi...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kak Erik baik kok orangnya. Pasti naksir deh sama kamu yang bak malaikat,hehe...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tapi kan...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mau ya? Ya?” Nana memasang wajah memohon andalannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rea mengangguk pasrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari terus berganti. Rea telah berkenalan dengan Erik kemudian menjadi teman. Lama-lama semakin akrab. Erik,entah karena apa telah putus dengan pacarnya. Nana yang menyadari adanya perkembangan yang sesuai harapannya terus tersenyum senang. Dan suatu hari harapoan Nana terwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”... Aku tidak tahu sejak kapan aku merasa mulai membutuhkanmu. Ingin selalu ada di sisimu. Ketika sadar, aku telah benar-benar mencintaimu. Rea, mau kah aku jadi kekasihku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rea tertunduk malu. Sekilas terlihat kalau ia mengangguk. Senyum bahagia mengembang di wajah Erik. Sedangkan Nana yang entah sejak kapan mengintip keduanya,tiba-tiba berteriak heboh. Membuat wajah mereka semakin merona karena malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan tersebut terus berlanjut hingga sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangan Erik yang melepaskan kepergian Rea yang memutuskan kuliah di kota P akhirnya menghilang. Rea yang sedari tadi melihat ke kaca belakang mobil menghela napas. Terdengar berat. Nana yang sejak awal duduk di samping Rea memperhatikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kak Erik setia kok.” Ucap Nana menenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rea tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak terasa semester 5 telah menyapa. Rea dan Erik tampak baik-baik saja. Bertemu saat liburan di kota S mereka. Atau saat Erik ada waktu senggang, ia akan mengunjungi Rea di kota P.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan yang indah. Tapi,itu sebelum Rea bertemu seseorang di kantin kampus. Cowok bermata tegas dan tajam, berkulit putih, tinggi, dan tampan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu Rea,karena keasyikan bicara sambil berjalan dengan Nana,ia tidak melihat seorang cowok ada berjalan dengan arah yang berlawanan dengan mereka. Tanpa sengaja Rea menabraknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Maaf...” ucap Rea. Dan untuk beberapa detik lamanya mereka saling tatap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sejak saat itu Rea mengidolakan cowok itu. Mencari tahu tentang si cowok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cowok itu bernama Egi. Anak bahasa inggris. Angkatan 2006. Satu tahun lebih dulu dibanding Rea. Hal yang tidak terduga oleh Rea dan Nana adalah cowok itu ternyata juga mencari tahu tentang Rea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilema. Itu yang Rea rasakan. Karena tanpa disadarinya ia telah begitu akrab dengan Egi. Selalu ditolong Egi kalau ada kesulitan. Membuat Rea merasa nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bimbang,sebuah rasa yang muncul tanpa diminta. Saat ia bertemu Egi,ia teringat pada Erik. Saat ia bertemu Erik,seperti liburan kemarin, pikirannya justru melayang pada Egi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebimbangan itu semakin menjadi ketika Egi,menyatakan cintanya hari itu. Di sebuah taman di dekat danau. Taman yang dipenuhi dengan bunga-bunga berwarna kuning. Dan danau yang berwarna kebiru-biruan. Sangat indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bunganya mekar dengan indah ya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rea mengiyakan sambil terus menatap hamparan bunga-bunga itu dengan penuh kekaguman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bisakah kau memekarkan bunga di hatiku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rea menoleh ke arah Egi dengan tatapan penuh tanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sejak pertemuan kita di kantin, pikiranku selalu dikelilingi sosokmu. Sekuntum demi sekuntum bunga-bunga menghiasi taman-taman hatiku. Dan itu karenamu. Karena itu bersediakah kau memekarkannya dengan menajdi kekasihku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rea terdiam. Seketika sosok Erik hadir dibenaknya. Ia tertunduk. Ia tak mau kehilangan Erik,tapi tak mau kehilangan perhatian Egi. Juga kebaikan dan kelembutan sikapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kau sedang bimbang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rea mengangkat wajahnya. Terlihat Egi tersenyum padanya dengan tatapan lembut. ”Berarti amsih ada harapan kan? Aku akan menunggu. Kapanpun kau siap menjawab perasaanku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kak, aku...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sudah sore,” potong Egi. ”Sebaiknya kita pulang,” sambungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang yang terik. Tapi bagi Egi itu adalah hari termendung yang pernah dilihatnya. Karena hari itu, ketika ia mengantar Rea pulang ke kostnya,Rea telah memberikan jawabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”... Tidak bisakah kita seperti ini saja, Kak? Aku senang bersama kakak. Tapi aku...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Egi menghela napas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Maafkan aku, Kak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apakah ada sikapku yang kurang kau sukai hingga kau menolakku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rea menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Egi meremas jemari Rea dengan lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku benar-benar mencintaimu Rea. Kurasa kau tahu itu.” Ada kilatan kecewa di mata Egi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Maafkan aku kak. Benar-benar maaf.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Lagi apa?” sebuah suara mengagetkan Rea. Ia segera melepaskan genggaman tangan Egi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kau siapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Erik. Pacarnya Rea.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Egi mendengus. ”Jadi ini alasannya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rea hanya diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apa dia lebih baik dariku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak satu katapun keluar dari bibir Rea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Egi menatap Erik tajam. Beberapa detik kemudian dia pergi. Yang rea tak tahu bahwa setelah hari itu, kehidupannya akan berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kau lihat saja, aku bisa membuatmu datang sendiri ke sisiku, Rea.” Ucap Egi dengan penuh keyakinan 2 hari kemudian. Dan keesokan harinya kabar Erik dipenjara atas tuduhan merampok tas seseorang sampai ketelinga Rea. Juga Nana yang tiba-tiba mendapat surat pemberhentian dari pihak universitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rea segera pergi ke kantor polisi setelah menenangkan Nana yang sangat panik dan sedih. Terlihat Erik yang berada di balik jeruji besi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kak...” panggilnya tertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Rea... Percayalah padaku, aku tidak akan melakukan hal itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rea mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rea melangkah keluar dengan lesu menuju kostnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ddepan kost, seseorang menghalangi langkahnya dengan berdiri di depannya. Rea mendongak. ”Kak Egi...” lirihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku sudah dengar tentang Erikmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku percaya padanya, Kak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Egi mengepalkan tangannya. ”Begitu...” gumamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hm-mm... Kata polisi tinggal menunggu saksi kunci bicara, baru akan terlihat kebenarannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Saksi itu adalah aku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalau begitu...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku bisa membuatnya bebas atau di penjara.” Egi tersenyum licik. Jantung Rea seakan berhenti berdetak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jaga temanmu. Hari ini dia sudah dikeluarkan dari kampus kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apakah...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ah...kurasa kau belum mendengar kalau ibu kostmu tidak berlangangganan kue lagi padanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kau...merencanakan semua ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Egi tersenyum simpul. ”Mungkin besok teman terbaikmu akan dikeluarkan dari kostnya.” Setelah berkata seperti itu ia brlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar saja. Nana pagi-pagi sekali menghubunginya. Katanya tanpa alasan yang jelas dia dikeluarkan dari kost. Ayah dan ibunya juga dipecat dari tempat kerja mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rea segera menuju rumah Egi. Rumah yang begitu megah dan tampak perkuasa. Rumah pengusaha nomor satu di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bisakah kau hentikan kegilaanmu sekarang?” tanya Rea langsung saat Egi datang menemuinya yang diminta menunggu di ruang tamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hanya kau yang bisa menghentikanku. Kalau kau tetap di sisinya, aku tidak tahu apa yang akan kulakukan pada orang terdekatmu.” Egi tersenyum penuh angkuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Maksud kakak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Asal kau mau selamanya berada di sisiku, aku berjanji semuanya akan kembali ke keadaan semula.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hening. Sekian menit lamanya akhirnya Rea bersuara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Baiklah... Tolong hentikan sekarang.” suara Rea bergetar. Tapi Egi tak peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kau bisa pegang janjiku seperti halnya aku memegang janjimu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kantor polisi. Rea menemui Erik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kak... kita akhiri saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apa maksudmu?” Erik kebingungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kau dan aku,sebaiknya kita akhiri saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kenapa...?” suara Erik tercekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kau tidak pantas untukku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luka tergambar jelas di mata Erik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku tidak sudi berhubungan dengan seorang kriminal,” sambung Rea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bukankah... Bukankah kau percaya padaku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tidak! Aku... tidak bisa mempercayaimu lagi. Kau sudah bukan hal yang penting untukku sekarang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rea berbalik. Air matanya mengalir. Ia lantas melangkah. Diikuti langkah Egi yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku akan membenci kakak seumur hidup.” Kata Rea dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tidak apa-apa.” Sahut Egi. ”Asalkan kau punya rasa terhadapku,tidak apa-apa.” Sambungnya sambil membukakan pintu mobil untuk Rea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan kembali seperti semula. Surat pemberhentian nana di cabut, sehingga ia bisa kuliah laggi. Ia juga kembali ke kostnya. Ibu dan ayahnya pun kembali dipekerjakan. Ibu kost Rea juga sudha kembali berlangganan lagi. Dan erik pun di bebaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rea tiba di kost setelah di bawa Egi mengelilingi kota. Rea turun dari mobil sebelum Egi sempat membukakan pintu untuknya. Langkahnya terhenti ketika mendapati Erik tengah duduk di teras kostnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Rea..” Erik tersenyum. ”Aku be..bas.” kata Erik tertahan saat mendapati sosok Egi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kenapa ke sini? Aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi denganmu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rea berbalik. ”Kita pergi,” katanya pada Egi. ”Kalau lama-lama di sini aku bisa muntah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rea melangkah. Tapi Erik segera mencengkram lengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apa maksud semua ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Seperti yang kakak lihat aku memilih Kak Egi.” Rea memandang tajam Kak Erik. ”Dia jauh lebih segalanya di banding kakak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan,cengkraman Erik melonggar. Rea segera melangkah. Masuk ke dalam mobil. Mobil pun melaju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rea memandang bayangan Erik lewat kaca spion dengan berurai air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu tahun berlalu. Meski bersama Rea selalu menjawab Egi dengan kata-kata singkat dan dingin. Bahkan terkadang tidak mau bicara sama sekali. Awalnya Egi bertahan. Tetap bersikap baik. Tapi lama-kelamaan ia bosan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nana, yang semula tak habis pikir kenapa Rea memutuskan Erik dan memilih Egi, yakin kalau Rea tak bahagia. Rea telah ebrubah jadi gadis pemurung. Sering terlihat pucat dan lesu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali ditanya,Rea hanya berkata dirinya baik-baik saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Egi yang jengah dengan sikap Rea kembali mengancam Rea kalau dirinya menyakiti orang yang dekat dengannya. Tapi Rea justru balik mengancam dengan berkata, ”Lakukan saja jika kau ingin melihatku benar-benar mati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Erik tak mengindahkan ancaman Rea. Dia mengusik kehidupan Erik dan keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kau yang melakukannya?” tanya Rea lewat telpon saat mendengar kabar tentang keluarga Erik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Akan kuhentikan jika kau berhenti bersikap dingin padaku.” Kata Egi dengan santai. ”Sekarang kau di mana? Akan ku jemput dan kita bicarakan masalah ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Halo? Rea?&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rea tak menjawab. Juga menutup telpon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 menit kemudian terdengar lirih suaranya,&quot;Aku... membencimu...&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian pandangannya berkunang-kunang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bruk!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Egi terdiam. Kecemasan menyelimuti hatix. Segera ia mencari Rea. Dari kampus kemudian ke kostnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Rea? Re? Rea? Jawab aku! Apa kau di dalam?&quot; panggil Egi sambil mengetuk pintu kamar dengan berisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mencoba menghubungi hp Rea. Tersambung. Deringnya terdengar dari kamar Rea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Mungkin lagi tidur, Kak.&quot; kata tetangga di samping.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Egi mundur ke belakang dan mendobrak pintu kost Rea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu berhasil di dobrak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat sosok yang tak sadarkan diri dengan tangan kiri berlumuran darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat hari sudah Rea di rumah sakit. Dokter mengatakan masa krisisnya telah lewat. Ia tertolong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nana dan Egi menghela napas lega. Atas kuasa Egi,sejak 4 hari yang lalu Erik dilarang masuk ke rumah sakait.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya Rea sadar. Tetap tak ingi berbicara dengan Egi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kondisinya pulih Egi membawa Rea ke taman dekat danau. Tempat dia menyampaikan perasaannya ke Rea dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan wajah bertekuk Rea berdiri di antara bunga-bunga yang kuning itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekspresi Rea berubah ketika melihat ada Erik di taman itu. Pandangan keduanya bertemu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Egi menghampiri Erik dan membawanya mendekati Rea. Ia manyatukan tangan keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Kau...&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Maafkan aku,&quot; kata Egi, &quot;sudah memisahkan kalian. Aku pikir aku bsia baik-baik saja meski hatinya bukan untukku. Aku pikir aku bisa membahagiakannya. Ternyata... Maafkan aku.&quot; Egi memandang Rea,kemudian berkata, &quot;Sekarang aku tahu, kau bahagia jika bersamanya.&quot; Egi tersenyum lalu berbalik meninggalkan Erik dan Rea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rea menatap sosok di depannya. Senyum bahagia menghiasi wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya keduanya bersama kembali. Kali ini,mereka tidak akan berpisah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~The End~</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/feeds/5125850937402542351/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/2010/08/cerpen-kekasihku.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6275639337218371895/posts/default/5125850937402542351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6275639337218371895/posts/default/5125850937402542351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/2010/08/cerpen-kekasihku.html' title='cerpen: Kekasihku'/><author><name>Orina Fazrina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09984671521568892272</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6275639337218371895.post-7602830499152654601</id><published>2010-08-06T18:57:00.000-07:00</published><updated>2010-08-06T18:58:39.617-07:00</updated><title type='text'>cerpen: Satu Tangisan Terakhir</title><content type='html'>Title: One Last Cry&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Update: 15 Maret 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Theme Song: One Last Cry –Yoochun version&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“One Last Cry”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By Imah Hyun Ae&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chapter 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My shattered dreams and broken heart&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Are mending on the shelf&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I saw you holding hands&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standing close to someone else&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Now I sit all alone&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wishing all my feelings was gone&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I gave my best to you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nothing for me to do&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But have one last cry&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(One Last Cry – Yoochun version)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Angga-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menetes air mataku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ku sadari cintaku jatuh padamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada orang yang tak acuhkanku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jutaan resah terangkai karenamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya kertas putih yang sedia temaniku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski tetap tak bisa hapus sepiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku tatap angkasa yang menaungiku. Berusaha sembunyikan bulir air mata yang hendak jatuh. Jika bertemu dengan orang yang dirindukan selama ini, akankah kalian melakukan hal yang sama denganku? Menatapnya, berbicara sesaat saja lalu pergi? Mungkin tidak. Mungkin ketika kalian bertemu dengannya kalian akan tetap berdiri di depannya. Tak akan biarkan waktu berlalu lagi tanpanya. Mungkin juga kalian akan memeluknya. Mengatakan betapa rindunya kalian padanya. Setelah itu, sambil menangis haru, kalian menggandeng tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak seperti itu. Akh, sebenarnya ingin. Tapi itu tidak mungkin. Dia, sudah terlalu jauh untuk kusentuh. Bahkan untuk sekedar didekati pun kini tak bisa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setetes air mata mengalir di pipiku. Aku teringat pertemuanku dengan orang yang kucintai ini. Yang kucintai dari dulu hingga kini dan mungkin hingga aku tak bernafas lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku amat sangat malas ke sekolah. Tak ada yang menarik. Hanya belajar, menatap papan tulis, mengerjakan soal, atau berdiskusi di depan kelas yang bagiku hanya menyulitkankku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya bisa bekerja tanpa harus ada ijazah, aku pasti sudah sejak dulu berhenti sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, di sekolah banyak juga teman-temanku. Mereka sama pemalasnya sepertiku. Jadilah, kami terlihat seperti sebuah gang yang menganggu anak-anak pintar di sekolah. Kami hobi membuat keramaian, tertawa keras tanpa alasan, dan juga menggoda gadis-gadis cantik di sekolah. Karena merasa paling tampan, aku sering dapat bagian menggoda noona alias kakak kelas kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan kira cowok seperti aku ini tak pernah sungguh-sungguh jatuh cinta. Dua kali aku mengalaminya, dan dua kali pula aku patah hati. Yang satu cinta pertamaku di SMP, perasaanku berakhir saat aku mendengar dia berkata pada temannya, “Mana mungkin aku menolak cowok setampan dia. Kaya lagi. Anak-anak lain pasti iri padaku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku patah tapi tak remuk. Karena setelah itu perasaan menyebalkan sekaligus menyenangkan ini datang lagi. Jatuh pada seorang gadis yang selalu sibuk dengan pelajarannya. Tak pernah menatap atau mencari perhatian seperti gadis-gadis lainnya. Seolah di dunianya cuma bukulah kekasihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memberikan cintaku padanya. Tanpa bersuara. Aku duduk di sampingnya, memperhatikannya yang asyik dengan bacaannya di perpustakaan ini. Aku akan berpura-pura membaca buku, dan ia tak mempedulikan kehadiranku. Aku suka caranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menyampaikan perasaanku saat kelulusan. Mungkin terlambat. Mungkin hal ini kulakukan karena jika ditolak aku juga tak akan bertemu dengannya lagi. Pastinya aku memilih sekolah yang berbeda dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan itu benar-benar harus berakhir. Dia menolakku dengan alasaan dia  ingin konsentrasi dengan sekolahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sekarang, aku dapat tantangan dari temanku. Merebut hati seorang kakak tingkat bernama Syntia yang sangat suka dengan permainan basket di sekolahku. Dia tak pernah melirikku, meski aku ini tinggi dan tampan. Kekuranganku cuma satu. Tak bisa main basket!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendapatkannya, ya aku harus menjadi pemain basket yang mampu memukaunya. Jadilah, hari ini aku meminta bantuan seorang siswi yang sangat pandai dalam permainan itu di sekolahku. Kudengar dia akan jadi kapten basket putri untuk pertandingan musim panas nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menunggunya di tempat dia biasa memarkir sepedanya. Dia tak mengacuhkanku. Hmm… apa dia tak menyadari seorang cowok tampan sedang menunggunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menuju sepedanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku benar-benar menampakkan sosokku. Berdiri di depan sepedanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menatapku bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengenalku?” mustahil kalau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menangguk, masih dengan tatapan bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ingin bertanya kenapa aku ada di sini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kurasa bukan hal yang harus kuketahui.” Jawabnya langsung menohok hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biasanya para siswi selalu heboh kalau aku ada dan menatap mereka. Apalagi kalau berbicara. Apa kau tidak kagum atau suka padaku seperti mereka?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu ini melenceng dari niat awal. Tapi keterkenalanku juga penting. Selama ini aku tak pernah mendapatkan cewek yang tidak peduli padaku seperti cinta keduaku dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tersenyum. “Aku memang tidak seheboh mereka. Tapi aku juga bukan perempuan munafik yang pura-pura tak peduli padamu untuk mendapatkan perhatian lebih darimu. Kau mau tahu perasaanku sekarang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mendekat. “Aku amat sangat gembira.” Kata-katanya berbeda dengan mimik wajahnya. Terlihat sekali dia mengejekku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Boleh aku lewat sekarang?” dia memegang stang sepedanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan ini!!!! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa?” tanyanya melihatku yang melototinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau barusan mengejekku, kan???”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ha? Apa ‘boleh aku lewat’ itu sebuah ejekan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tertawa. Dia menertawakanku!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudahlah Angga. Jangan mempersulitku! Aku tak mau para penggemarmu meremukan tubuhku. Jadi biarkan aku pergi sebelum mereka melihatku berbicara padamu ‘berduaan’ seperti ini. OK?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tersenyum sebal padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau pikir aku kemari karena suka padamu?? Jangan ge-er ya!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa yang ge-er? Aneh. Ya sudah. Biarkan aku lewat.” Dia menuntun sepedanya ke kiri. Tapi aku menahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia melemparkan tatapan sebalnya padaku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan sikapku tadi. Aku kemari ingin minta bantuanmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bantuan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk. “Ajari aku main basket!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa begitu caranya meminta bantuan?” dia mendelik tak suka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arrggh…Aku membungkukkan tubuhku. “Saya mohon bantuan Anda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terdengar jawaban. Apa aku harus berlutut agar dia mau???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*_*_*_*_*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Ria-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba dia ada di depanku. Seorang cowok yang tak bisa diharapkan. Kerjanya malas-malasan, dan tebar pesona pada siswi di sini. Aku heran, cowok tak bisa di harapkan begitu kenapa sebegitu di sukai teman-temanku? Karena dia tampan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sadar hati kecilku menangguk. Aku juga menyukai ketampanannya. Tapi aku tak seheboh mereka. Juga tak berpura-pura tak suka. Aku menempatkan diriku di tengah-tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur saja, aku sangat senang melihat dia di depanku. Jarak kami begitu dekat. Aku gembira sekaligus takut. Takut para penggemarnya melihat kami. Siapa yang bisa menjamin besok hari kehidupanku akan tenang??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau pikIr aku kemari karena suka padamu?? Jangan ge-er ya!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa juga yang berpikir kau akan menembakku??? Aku tahu aku bukan tipemu! Kau kan cuma mau sama yang cantik dan berkulit putih, berambut panjang, itu kan semua ciri-ciri pacarmu. Bukankah karena melihat kekasihmu cantik makanya para penggemarmu tak masalah? Jika kau mendekati aku yang senang berada di bawah matahari ini apa kata penggemarmu?? “Ya sudah. Biarkan aku lewat.” Aku menuntun sepedaku ke kiri. Tapi dia menahannya. Arrghh… anak ini!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melemparkan tatapan sebalnya padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan sikapku tadi. Aku kemari ingin minta bantuanmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bantuan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengangguk. “Ajari aku main basket!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh? “Apa begitu caranya meminta bantuan?” aku mendelik tak suka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia diam sesaat, kemudian membungkukkan tubuhnya 90 derajat. “Saya mohon bantuan Anda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk apa? Untuk memikat gadis lagi? Aishh… “Kenapa tidak meminta bantuan pada yang lain? Bukannya masih ada siswa yang bisa mengajarimu? Kenapa harus aku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mendongak. “Itu… karena kau lebih hebat dari mereka. Lagipula ini tidak gratis. Akan kubayar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berpikir sebentar. “Baiklah. Tapi aku hanya bisa mengajari malam hari. Jam 7. Bagaimana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ok. Tak masalah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah. Besok kita mulai latihannya.” Aku hendak pergi ketika teringat sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“O! Angga?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ng?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa kau bisa menjamin, kehidupanku tidak akan dikacaukan oleh fansmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku paham. Akan kucari tempat latihan yang aman. Temui aku di sini jam 7. Jika terlambat, aku tak akan membantumu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengayuh sepedaku. Meninggalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*_*_*_*_*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Angga-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat jam berkali-kali. Jelas-jelas di sana menunjukkan pukul 07.30 p.m. Aishh… bukannya dia yang bilang jangan terlambat. Apa jangan-jangan dia mempermainkanku? Awas saja. Aku sudah rela menolak ajakan main game online bersama teman-temanku hanya untuk latihan dan memenangkan taruhan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih menunggu. Tapi tetap saja tak ada tanda-tanda dia datang. Menyebalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melangkah. Menuju mobilku. Sekarang sudah di depan gerbang sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat kiri dan kanan. Siapa tahu dia datang. Tapi nihil. Dia tak ada. Dengan kesal kulajukan mobilku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ANGGGAAAAA!!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kudengar seseorang memanggil namaku. Aku melihat ke kaca spionku. Terlihat dia yang mengayuh sepedanya. Dasar gadis ini!!! Aku menghentikan mobilku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berhenti tepat di samping mobilku. Napasnya terengah-engah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf… Benar-benar maaf… ban sepedaku bocor saat mau ke mari. Terpaksa ke bengkel dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berdecak kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau pakai mobil? Kalau begitu pergilah ke jalan XXX di sana ada lapangan basket yang tak terpakai lagi. Kau bisa lari di sana sampai aku datang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Awas kalau kau tidak muncul!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengangguk lantas mengayuh sepedanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan aku melajukan mobilku. Mendahuluinya ke tempat yang dia maksud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat yang cukup sepi. Dan terlihat tak terawat lagi. Aku memilih duduk di mobilku. menunggunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“HEI!!!” suaranya. Kulihat dia sudah di sampingku. Aku mematikan mp3 ku. Dan keluar mobilku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukankah sudah kubilang kalau sudah sampai kau lari dulu??” dia menatap galak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk apa? Kau ingin aku mati kelelahan?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa kau mau olah raga tanpa pemanasan??? Aku pelatihmu!! Lari!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aishh…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia melotot. Memaksaku. “Baiklah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai berlari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepuluh kali putaran!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melakukannya. Setelah selesai lari dia memberiku arahan bagaimana mendribel yang benar. Bolaku tak terarah. Pergi ke sana ke mari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei!!! Ikuti ke mana arah bolanya!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah kuusahakan!! Bolanya saja yang menjauhiku!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau yang membuatnya menjauhimu. Lakukan lagi!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya itu yang kulakukan. Dia melatihku sampai pukul 9 malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Latihanlah di rumah. Jika tak punya bolanya, belilah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya..iya!” Ck! Kau pikir aku bodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sampai jumpa besok di sini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Awas kalau kau terlambat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tak menjawab. Langsung mengayuh sepedanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bisa mendribel, dia mengajariku menggiring bola dan memasukkan ke ring. Aku sudah mulai mahir. Latihan beberapa waktu saja lagi, aku akan bisa memamerkan kehebatanku ini pada Syntia dan teman-teman. Haha, fansku pasti bertambah banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sekolah, aku dan Ria bersikap tak saling kenal. Jika di luar sekolah tak sengaja bertemu, jika tak ada yang ngenal kami, baru aku menyapanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan aku tahu dia bekerja setelah pulang sekolah di sebuah rumah makan. Menjadi  pelayan di sana. Dia bekerja sampai pukul 6 malam. Aku tak sengaja melihatnya sedang membuang sampah saat itu. Lalu kutanyakan padanya saat latihan. Dia bilang dia bekerja paruh waktu di sana. Sekedar untuk tambahan biaya sekolah katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di sini, dia pelatihku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini Ria yang menjadi lawanku. Satu lawan satu. Dia masih lebih unggul. Ya jelas lah. Dia kan pemain basket.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berhenti saat merasa lelah. Ku ambil air mineral yang kubawa dari mobilku. Kuberikan padanya satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih,” katanya sambil menyambut botol yang kuberikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk dan duduk di sampingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hampir sebulan aku melatihmu. Tidak terasa ya…” katanya. Matanya menatap langit. Ah, ternyata langit penuh dengan bintang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mm-mm…” aku mengiyakan. Aku juga baru sadar kalau selama itu dia melatihku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau belum memberitahuku apa alasanmu ingin bisa bermain basket?” dia mengalihkan pandangannya padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mmm… Cuma ingin menambah jumlah fansku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benarkah?” dia tersenyum tak percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alasan lainnya, agar dia, bisa dibilang orang yang kusuka, memperhatikanku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengangguk dan membulatkan bibirnya. Aku tahu dia mendengarkanku, makanya tanpa diminta aku mulai berbicara lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia suka dengan pemain basket. Jadi meski aku memenuhi kriteria cowok idaman semua wanita…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ria mendengus tak terima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei! Itu benar. Apa kau tak berpikir aku ini tipe cowok ideal banyak wanita??”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak! Buktinya gadis yang kau suka tak memperhatikanmu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ugh! Itu benar. “Benar. Tapi setelah ini, dia pasti memperhatikanku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ria tertawa. “Terserahlah…,” katanya, “ Semoga kau sukses mendapatkan perhatiannya.” Dia menepuk pundakku. Kemudian dia berdiri. “Sudah malam. Kau sudah bisa sekarang. Tinggal latihan lebih sering saja. Kurasa aku tak perlu melatihmu lagi. Bisa kuambil honorku sekarang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh??? Apa maksudnya latihan darinya sudah selesai? “Tapi… aku belum begitu mahir.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah kubilang latihan lebih sering.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah…” Jawabku lemah. Hei? Kenapa jadi sedih begini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berdiri dan mengambil dompetku yang terselip di kantong celana. Kuserahkan beberapa lembar uang ratusan ribu padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh? Tak perlu sebanyak ini!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anggap saja sebagai rasa terima kasih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tersenyum tipis. “Ok.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk dan melangkah masuk ke mobilku. Menutup pintu dengan lemas. Lalu melajukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*_*_*_*_*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Ria-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menghela naps. Kutatap uang di tanganku. Lumayan untuk tambahan bayar sekolah nanti. Akan kumasukkan ke bank besok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hendak berterima kasih saat kudapati dia sudah melajukan mobilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya sudahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengayuh sepedaku. Tapi kemudian berhenti. Menatap kembali pada lapangan basket di belakangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besok, aku sudah tak ke sini lagi. Semua akan kembali ke rutinitas semula. Setelah kerja, aku akan main sebentar di lapangan basket di taman, bukan di sini lagi. Kenapa… rasanya tak rela?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*_*_*_*_*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Angga-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa malas ke sekolah. Rasanya mood ku sangat buruk. Kesal karena saat aku ingin sendiri para cewek menggerumbungiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berbicara dengan mereka sebentar. Kemudian pamit pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menuju lapangan basket. Syntia ada di sana. Menatap penuh kagum pada mereka yang bermain basket.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menuju ke tengah lapangan dan ikut bermain. Awalnya mereka tak mau, mereka pikir aku masih tidak bisa. Tapi…, shut!! Bolaku masuk dengan mudah. Tidak. Itu hanya karena mereka meremehkanku. Sekarang aku bisa tersenyum bangga. Para cewek yang menggerumbungiku tadi berteriak histeris di pinggir lapangan. Baru kusadari ternyata mereka mengikutiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syntia terlihat terkejut. Kudapati dia mulai kagum padaku saat melihat ternyata aku cukup lumayan dalam pertandingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertandinan berakhir. Aku menuju ke pinggir lapangan. Syntia mendekatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, Ngga? Aku tak pernah tahu kalau permainanmu lumayan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum merendah. Ekor mataku menangkap sosok yang tengah berjalan di koridor. Sudut matu tak mau lepas darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia lewat di depanku. Senyum masih tersungging di bibirku. Ia berlalu begitu saja. Serasa ada keanehan di hatiku. Aku tahu apa arti dari rasa itu. KESAL.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah memang begitu biasanya? Di sekolah dia tak mempedulikanku. Kenapa harus kesal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang sekolah, perasaanku benar-benar belum membaik. Aishh….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tengah di jalan, sengaja tak pulang, kuharap moodku membaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sengaja aku melihat sosok yang kukenal. Kulihat dia sedang memeriksa sepedanya. Apa bannya bocor?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merapat. Keluar dari mobilku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ahhh… putus!” gumamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apanya yang putus?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mendongak. “O?” dia terkejut melihatku. “Angga?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk ragu. Salah tingkah. “Ada apa dengan sepedamu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, rantainya putus. Rasanya di sebelah sana ada bengkel. Aku ke sana dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biar kutemani.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menatapku bingung. “Mobilmu bagaimana? Jalanan di sebelah sana kan sempit?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah? Benar juga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sampai jumpa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berlalu. Dan lagi-lagi aku merasa tak seharusnya membiarkanya pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memainkan bola di halaman depan rumahku. Tapi pikiranku tidak fokus. Kuputuskan untuk ke tempat latihan. Siapa tahu dia di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan segera aku ke sana. Kosong. Tak ada dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memainkan bola tak bersemangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 9 tepat kuputuskan untuk pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*_*_*_*_*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Ria-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihatnya berhasil bermain basket dengan baik. Apa dia sedang pamer dengan gadis yang dia maksud?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat Syntia mendekat. Berbicara sesuatu. Angga tampak tersenyum cerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa dia gadis itu? Sepertinya dia berhasil mendapatkan perhatian darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku putuskan terus melangkah. Itu sudah bukan urusanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang sekolah aku menuju bank. Memasukkan uang yang diberi Angga tadi malam. Saat mau ke tempat kerjaku, rantai sepedaku putus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah suara menegurku. Aku mengenal suara itu. Dengan ragu aku mendongak. “O? Angga?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengangguk. Terlihat salah tingkah. “Ada apa dengan sepedamu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, rantainya putus. Rasanya di sebelah sada ada bengkel. Aku ke sana dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biar kutemani.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menatapnya bingung. “Mobilmu bagaimana? Bukankah jalanan di sebelah sana sempit?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah? Benar juga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sampai jumpa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berlalu. Tapi kutahu hatiku menjerit kegirangan. Kupikir setelah latihan dia akan menganggapku orang asing. Ternyata…^^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam hari, usai bekerja, aku tak menuju taman. Karena besok ada ulangan bahasa inggris, kuputuskan tidak bermain ke sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru beberapa menit aku memahami materi di buku tulisku, pikiranku sudah mengembara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa dia masih latihan di tempat itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ria! KONSENTRASI!!! Besok ulangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membaca lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*_*_*_*_*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Angga-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mainkan bola basketku. Memikirkan tentang Ria yang tak kunjung datang ke tempat latihan. Apakah benar-benar berakhir?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu sudah berlalu. Ria yang selalu melintas di depan kelasku saat istirahat, menjadi hal yang paling kunantikan. Berharap aku bisa mempunyai keberanian bertanya padanya akankah dia datang ke tempat latihan dulu. Tapi sayangnya aku tetap diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah taruhan aku tak mau melanjutkannya lagi. Moodku sudah hilang. Syntia juga nampaknya tak begitu tertarik. Sudahlah. Yang utama adalah Ria!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menghentikan permainanku. Aku duduk di kursi di dekat lapangan. Memutar-mutar bola yang ada di tanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Angga?” seseorang menyebut namaku dengan ragu. Aku mendongak dan menemukan sosoknya sudah berdir di depanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau latihan di sini?” tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk. Sebuah senyum terukir di bibirku. Juga hatiku ^^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia duduk di sampingku. Keadaan kami terlihat canggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau sendiri? Kenapa hari ini ke mari?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku baru bisa main hari ini. Di taman kurang seru, kuputuskan ke mari. Tidak disangka kau ke sini juga.” ^^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum. Bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*_*_*_*_*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Ria-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulangan berakhir. Usai kerja aku langsung ke taman. Berniat main basket di sana. Sayangnya konsentrasiku kacau. Pikiranku terus mengembara ke tempat latihan yang dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berhenti, dan memutuskan pergi ke sana. Apa dia ada di sana? Jangan terlalu berharap Ria!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba di sana ku lihat dia sedang duduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Angga?” panggilku ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mendongak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau latihan di sini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengangguk. “Kau sendiri? Kenapa hari ini kemari?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, aku baru bisa main hari ini. Di taman kurang seru, kuputuskan kemarin. Tidak disangka kau ke sini juga.”  ^^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kudapati senyum lembutnya. Senyum yang langsung basuh rinduku akan sosoknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*_*_*_*_*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Angga-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, kami bermain basket bersama lagi. Satu lawan satu. benar-benar menyenangkan. Bersamanya terasa lebih mudah menemukan kecerian. Dia teman terbaikku. Pertaruhan yang aneh sudah kuakhiri. Dan tebar pesona sana-sini juga. Cukup Ria melihat padaku, aku sudah puas. Apa aku lagi-lagi jatuh cinta? Cinta yang sesungguhnya? Hahaha, entahlah… mungkin saja YA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ria selalu melintas di depan kelasku. Membuat daftar kegiatan harian (menunggu dia melintas) di kehidupan SMAku tak sia-sia. Tak peduli kebodohan apa yang kulakukan di depannya, asal dapat membuat dia tersenyum, aku akan melakukannya. Ria, ini cinta, aku tahu. Aku ingin menggenggammu, tapi mungkin kau tidak mau. Aku akan sabar sampai hari itu tiba. Kuharap, aku tak akan terluka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari berlalu. Kami sudah masuk kelas tiga SMA. Sudah saatnya fokus pada kelulusan dan tes masuk universitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami belajar bersama-sama. Lebih sering di rumahnya.  Ayah dan ibunya sangat ramah. Kadang, jika tidak bisa kami akan bertanya pada tetangganya yang pandai. Selama ada dia, kurasa sepanjang hari adalah hari terbahagia dalam kehidupanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan dia tetap berstatus sebagai teman sekolah. Teman dalam belajar. Aku tak ingin lebih. Jika ‘lebih’ itu justru membuat jarak yang dekat ini menjauh, aku lebih baik begini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap hari seperti itu. Saat libur aku coba buat alasan untuk bisa bertemu. Dia hanya bersedia jika aku berkata bertemu untuk mengingat pelajaran-pelajaran yang telah lalu, tak mau membuat waktu berharga untuk hal-hal yang tak begitu penting. Makanya, aku bilang aku mau belajar bersama-sama. Haha…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musim berganti dan ujian pun tiba. Aku sama gugupnya dengannya. Kami saling menguatkan satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“PASTI BISA!!!” kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dia membalas,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “SEMANGAT!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian tiba saatnya untuk menyiapkan masa depan masing-masing. Ujian nasional telah terlewati, kami lulus dengan nilai yang cukup memuaskan. Kini saatnya menyiapkan diri untuk masuk universitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan dia belajar keras. Dia yang ingin masuk di arsitek dan aku yang ingin masuk di kedokteran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami saling mendukung satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini adalah pengumuman universitas. Kami membaca koran yang akan memajang siapa saja yang lolos seleksi. Dan… untunglah kami sama-sama di terima di universitas yang kami pilih masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengajaknya merayakan keberhasilan kami bersama-sama. Untuk kali ini karena sudah tidak ada beban lagi, dia bersedia keluar bersamaku. Tak terkira betapa senangnya aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengajaknya ke bioskop, ke café, ke book shoop (dan membelikannya satu buku yang menurutku diinginkannya), kemudian ke taman. Kemudian aku mengajaknya ke pantai. Dia berkata “Semoga bisa bertemu di lain waktu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, karena dia memilih universitas di luar kota. Begitu juga denganku. Kami berbeda tempat. Jadi mungkin sulit untuk bertemu. Tapi kuharap dia mau memenuhi permintaan yang entah sejak kapan kuharapkan dia penuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutatap dia. Tiba-tiba saja detak jantungku jadi lebih cepat. Dia masih memandang laut di depan kami. “Saat itu…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menoleh. Menatapku. Detak jantungku semakin cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saat itu…,” ulangku, “jika saat itu aku sudah sukses, maukah kau ada di sisiku selamanya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menatapku bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku semakin gugup. Akankah perasaanku ini hancur lagi seperti tahun-tahun yang lalu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lima tahun,” lanjutku, “aku janji lima tahun lagi aku akan datang menemuimu. Jika saat itu tiba, maukah kau menikah denganku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memandangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mencintaimu, Ria. Jika saat ini aku masih bernaung di bawah ayah dan ibuku, aku janji lima tahun nanti aku akan berdiri di kakiku sendiri. Aku janji kau tak akan menyesal menungguku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia masih diam. Sial!! Kegugupanku semakin menjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku… sudah hampir dua tahun ini mencintaimu. Bahkan kau bisa pastikan, lima bahkan dua puluh tahun yang akan datang, perasaanku tak berubah. Aku… aku pasti masih mencintaimu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tersenyum tipis. Kutemukan wajahnya bersemu merah. Apakah itu artinya dia merasakan hal yang sama denganku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berjanjilah… bahwa kau akan menungguku.” Pintaku. Dia mengangguk. Aku tak tahu bagaimana menjelaskannya. Aku benar-benar bahagia! Dialah penyemangatku! Ria, tunggulah aku!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam bulan pertama aku dan dia masih saling komunikasi. Tapi setelah enam bulan itu aku kehilangan sosoknya. Aku mencarinya. Dua tahun berlalu tanpa menghasilkan apapun. Di bulan berikutnya justru mengejutkanku. Dia berhenti kuliah karena orang tuanya mneningal dunia. Saat ini dia tinggal dengan bibinya di tempat yang jauh dariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menyesal tak berada di sisinya saat itu. Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan membayarnya di lain waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama janji itu, aku meneruskan kuliahku. Di waktu yang kosong, dan jika memungkinkan kugunakan untuk mencarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Delapan tahun berlalu. Aku tak bertemu dengannya. Aku telah lulus dan bekerja. Reuni SMA yang kuharap bisa menjadi jalanku bertemu dengannya ternyata hanya mimpi belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyaris aku menyerah. Ketika hari ini, setelah reuni itu, saat aku mengunjungi suatu kota untuk seminar, aku melihat sosok yang begitu mirip dengannya. Kembali, aku tak bisa melepaskan mataku darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengikutinya masuk ke sebuah book shop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berdiri di samping kanannya. Menatap wajahnya lekat. Wajah yang begitu aku rindukan. Napasku tertahan. Denyut jantungku juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti merasa ditatap olehku, dia menoleh.  Buku yang dipegangnya terjatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai…” sapaku. Nyaris menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Angga…” lirih suaranya seperti ditelan angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lama tak bertemu,” ujarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mm-mm…” dia mengiyakan sambil mengambil bukunya yang jatuh. Sekilas kulihat judul buku itu. Buku itu untuk ibu hamil. Tenggorokanku tercekat. Kemudian mengering saat mendapati jari tangannya tersemat cincin pernikahan. Apakah… aku terlambat? Apakah… dia tak sanggup menungguku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah berapa tahun ya?” tanyanya canggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ria, apa kau tahu hatiku gerimis sekarang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencoba bersuara. “8 tahun,” lirihku. Air mataku nyaris jatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, aku bayar buku ini dulu,” katanya lalu menuju kasir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengikutinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami keluar dari book shop itu. Ia mengajakku ke taman yang tak jauh dari book shop tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima menit kami terdiam. Seolah terbawa ke masa lalu. Aku dan dia menghela napas bersamaan. Hal itu membuat kami tertawa canggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kabarmu?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik. Seperti yang kau lihat. Kau?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setelah bertemu denganmu, aku tak tahu apa yang kurasakan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memandangku. “Maaf…” lirihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa… aku bisa menagih janjiku sekarang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia terlihat terkejut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*_*_*_*_*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Ria-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti merasa ditatap, aku menoleh.  Buku yang kupegang terjatuh saat mendapati wajah lembut itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai…” sapanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dadaku langsung sesak. Darah serasa berhenti mengaliri tubuhku. “Angga…” lirih kusebut namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lama tak bertemu,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mm-mm…” aku mengiyakan sambil mengambil bukuku yang jatuh. “Sudah berapa tahun ya?” tanyaku canggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“8 tahun,” lirihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dada dan hatiku terasa sakit. Benar-benar merasa bersalah jika dia masih menungguku. Aku baru saja menikah dengan seseorang yang kucintai dua tahun lalu. Orang yang selalu ada saat senang dan dukaku. Orang yang hadir dengan segala kelembutannya. Aku merasa nyaman bersamanya. Dan Angga, entah sejak kapan aku menganggapnya sebagai masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, aku bayar buku ini dulu,” kataku lalu menuju kasir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengikutiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami keluar dari book shop itu. Aku mengajaknya ke taman yang tak jauh dari book shop tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima menit kami terdiam. Aku dan dia menghela napas bersamaan. Hal itu membuat kami tertawa canggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kabarmu?” tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik.” Jawabku tak nyaman, “Seperti yang kau lihat. Kau?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setelah bertemu denganmu, aku tak tahu apa yang kurasakan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memandangnya. “Maaf…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa… aku bisa menagih janjiku sekarang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menatapnya. Terkejut, meski kutahu kemungkinan itu: menungguku hingga saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Angga…” lirihku. Aku benar-benar menyesal. “Maaf… benar-benar maaf…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segurat luka terbias di wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*_*_*_*_*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Angga-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Angga… Maaf… benar-benar maaf…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sial!!! Kenapa hanya karena kata-kata itu hatiku sakit!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf…”lirihnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggigit bibir bawahku. Aku harus terlihat tegar. “Kau…” tenggorokanku kembali kering, “Sudah menikah?” suaraku seperti di telan angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh?” dia mengangguk lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa kau bahagia?”&lt;br /&gt;Dia mengangguk pelan. Takut menyakitiku, mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terdiam. Sekali lagi hatiku teriris. Entah berapa luka yang terukir di sana. Ingin bertanya lebih tapi ketakutanku jauh lebih kuat. Aku takut terluka semakin dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar-benar maaf…” ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak apa-apa. Tidak perlu minta maaf. Aku yang terlambat datang padamu. Seandainya lebih cepat….“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali dia menunduk. Terlihat merasa bersalah sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dulu… 8 tahun lalu… pernahkah kau berharap di lima tahun kemudian menikah denganku?” pertanyaan itu tak sadar kulontarkan padanya. Ah, tapi sebenarnya aku ingin tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengangguk sambil menggigit bibirnya. Setetes air matanya jatuh ke tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu cukup melegakanku.” Aku berusaha tersenyum. “Bayimu… “ aku mengehela napas saat dia mengangkat wajahnya. Aku menatapnya lembut. “Sudah berapa bulan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menatap perutnya sesaat. “4 bulan.” Katanya setengah berbisik. Di peluknya perutnya. Kutemukan sinar bahagia di matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepertinya aku harus pergi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melangkah, tapi tiga langkah kemudian aku berbalik, “Maaf karena di saat sulit itu aku tidak ada di sisimu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saat kecelakaan ayah dan ibumu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ng-ng…” dia menggeleng. “Tidak apa-apa.” Dia tersenyum. Senyum yang selalu menghangatkan hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Senang bertemu denganmu lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sampai jumpa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengangguk lagi. “Sampai jumpa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku segera berbalik. Benar saja, air mataku jatuh sekarang. Bahagiaku sudah pergi. Dia mengulurkan tangannya pada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semoga saat itu kau sudah menemukan pasanganmu.” Ucapnya. Aku tersenyum luka, melambai padanya tanpa berbalik. Melangkah meninggalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan di musim semi jatuh membasahi tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Basahi hatiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air mata tak mau berhenti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah bisa, resahku dan hatiku tak lagi untukmu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisakah aku menghilangkan perasanku padamu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika esok atau lain waktu kita bertemu, apa aku masih punya kekuatan untuk menyapamu, Ria?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I was here&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You were there&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guess we never could agree&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;While the sun shines on you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I need some love to rain on me&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Still I sit all alone&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wishing all my feelings was gone&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gotta get over you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nothing for me to do&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But have one last cry&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;One last cry&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Before I leave it all behind&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I goota put you out of my mind&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For the very last time&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Been living a lie&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I guess I&#39;m down, I guess I&#39;m down&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I guess I&#39;m down...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I guess I&#39;m down...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To my last cry...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(One Last Cry –Yoochun version)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~Tamat~&lt;br /&gt;oke ga?</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/feeds/7602830499152654601/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/2010/08/cerpen-satu-tangisan-terakhir.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6275639337218371895/posts/default/7602830499152654601'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6275639337218371895/posts/default/7602830499152654601'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/2010/08/cerpen-satu-tangisan-terakhir.html' title='cerpen: Satu Tangisan Terakhir'/><author><name>Orina Fazrina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09984671521568892272</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6275639337218371895.post-3038442442456323357</id><published>2010-08-06T18:56:00.000-07:00</published><updated>2010-08-06T18:57:04.019-07:00</updated><title type='text'>cerpen: Cintaku untukmu</title><content type='html'>Title: My Love For You&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Update: 16 Februari 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“My Love for You”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By Imah Hyun Ae&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kugenggam lembaran surat yang selalu berhasil menyemangatiku. Surat yang ditulis oleh sahabat terbaikku. Sahabat, yang entah sejak kapan menjadi orang yang kucintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bersahabat degannya sejak kecil. Dia yang amat piawai memainkan biola meski matanya buta selalu mengiringiku yang bermain piano. Kadang, suara indahnya mengiringi permainan pianoku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski buta dia selalu ceria. Satu hal yang kupahami. Tertawalah maka orang lain akan ikut tertawa bersamanya. Dan jika ia bersedih, ketahuilah bahwa hanya aku yang akan ada di sisinya. Menenangkannya dengan nyanyianku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering dia berkata suaraku sangat bagus. Ia yakin dan selalu berdoa suatu saat aku akan menjadi penyanyi. Tidak hanya terkenal di indonesia tapi juga dunia. Hahaha, aku tak berharap. Aku justru ingin menjadi pemain bola. Ingin jadi pesepak bola kebanggaan negaraku ^_^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan itu datang ketika aku SMP. Aku mengikuti audisi dan lolos. Kemudian aku mengikuti pelatihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga tahun setelahnya aku dinyatakan debut, sayang suaraku menghilang. Aku harus mengembalikan suaraku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah debut pertamaku bersama vokalis hebat lainnya, yaitu Andi, Rangga, Bagas, dan Ivan. Kami bernaung dalam nama grup vocal sekaligus dance: Harmony.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami ditempatkan di satu apartemen yang sama. Membuat kami bersahabat dengan baik. Juga membuat kejahilanku tersalurkan, hahaha. Bagas selalu berkata tidak suka padaku, sebabnya, karena akulah satu-satunya orang yang berhasil membuat emosinya meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesibukan kami semakin meningkat setelah kami debut. Dan itu membuatku kesulitan membalas surat Aya. Untunglah dia mengerti, dia tak menuntutku membalas suratnya. Surat dengan tulisan braile. Aku memperlajarinya agar bisa membantu Aya. Ternyata itu benar-benar berguna saat kami tak bisa saling tatap dan bertemu seperti dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Alvin...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa kabar? Fans pertamamu ini mendoakanmu selalu baik-baik saja. Di sini aku sedang menulis sambil mendengarkan lagumu. Bukan. Maksudku lagu Harmony. Kau pasti sibuk ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf... sudah mengganggumu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, ya, hari ini aku mencoba memainkan lagu kalian dengan biolaku. Masih ada beberapa nada yang meleset. Akan kucoba perbaiki. Jika sudah bagus, akan kurekam untukmu. Kau harus mendengarkannya ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, ibu bilang sudah malam. Aku harus tidur. Bukankah malam dan siang untukku sama saja?! Aku tahu kau melotot sekarang. Pasti imut sekali. Aku... seandainya di berikan satu hari saja untuk melihat dunia, aku ingin melihat semua ekspresimu, Vin. Boleh kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aish...mama berteriak lagi. Sampai jumpa Alvin. Surat berikutnya ku usahakan lebih panjang lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alvin... selamat malam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Aya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat kelima&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hai…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senang sekali mendapatkan balasan suratmu. Terima kasih...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah,apa kau baru selesai latihan? Pasti lelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama denganku. Di sini ada beberapa hal yang harus kukerjakan. Benar-benar memeras tenaga. Hei, jangan kira aku berbohong. Kau tahu, aku sedang membuatkan topi dari wol untukmu. Bukankah kau suka topi itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu kau sibuk. Tak perlu merasa bersalah karena tidak bisa menelponku. Mengetahui kau baik-baik saja itu sudah cukup untukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak sabar membuat boneka bersamamu. Apa kau masih ingat? Mama sampai jengekel mengajarimu yang lamban, hahaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aishh, Alvin! Jangan melotot di depan suratku! Bukankah itu kenyataan? Ah… aku ingin membuat boneka Alvin. Pasti imut, hehehe....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mm... Alvin... Rasanya aneh mengetahui kenyataan bahwa kau disukai banyak orang. Aku... sedikit merasa tersisih. Mereka lebih sempurna dariku, dan pasti lebih cantik. Kau bisa memilih salah satu dari mereka sesukamu. Ya kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hahaha, jangan marah. Aku tahu kau tidak seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alvin...kurasa aku sudah hampir lupa bagaimana lekuk wajahmu. Kita berpisah cukup lama. Pelatihan membuatmu hanya sesekali berkunjung ke tempatku. Ah, sekarang pasti lebih sulit lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan khawatir. Aku akan menunggumu. Aku tidak akan ke mana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai jumpa, Vin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat ke 12&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Selamat ulang tahun…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat ulang tahun…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat ulang tahun alvin…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat ulang tahun…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat ulang tahun, Vin. Aku harap kau terus bersinar seperti mentari. Tampak imut seperti bintang di langit. (aku sok tahu ya?) Dan lembut seperti angin di sore hari. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya bisa memberimu hadiah ini. Sederhana, tapi kuharap kau suka. Kau bisa merekam suaramu sesukamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai Jumpa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf terlalu pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku teringat dengan hadianya. Recorder. Senyum mengembang di wajahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I love you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The foolish you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You are so precious to me&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat-surat setelah itu kebanyakan berisikan ucapan selamat dan penyemangat untuk aku dan Harmony. Dia tak berbeda dengan fans yang lain. Mencemaskan hal-hal sepele dan terharu karena hal-hal sepele juga. Tingkah inilah yang juga membuat kami cepat terharu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harmony’s soul, itu panggilan untuk fans kami. Mereka memilih sendiri nama itu. Karena mereka ingin menjadi jiwa, menyinari dan menyemangati orang yang dicintainya, kami. Terima kasih untuk kalian semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu, kini banyak bintang-bintang bertebaran di sekitarku. Tapi bintang yang paling terang adalah dia, Aya-ku. Jauh sebelum orang-orang mengenalku, dia sudah mengenalku. Jauh sebeum orang-orang mengagumi suaraku, dia sudah lebih dulu mengaguminya. Dia selalu menjadi yang pertama dalam hidupku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hug, menjadi lagu kesayanganku karena itu merupakan luapan hatiku yang kupersembahkan khusus untuknya. Aya… apa kau mendengarnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hug by Dong Bang Shin Ki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I want to be your bed in your room for just a day&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I want to make you go to sleep,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Comfottablke, warmly in my arms&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For you, I’d win over all your problems&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And all your busy errands&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Even the monster in your dream&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I wonder how day without me passes by for you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I’m so corrius to how much you really love me&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I want to be your diary in your little drawer&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I want to put all your secrets in my heart,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Without you kowing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I want to be your kitty for just a day&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You fid it warm milk and sofly embrace it&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sing your playfulness with the cat abd your cute kisses to it&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I guess I even felt a little jealous&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My heart is like this…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You are the only person who can see it&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No metter who I see, or where I am&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I only look at you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I want to be you close lover just for a day&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I’d be able to listen to your accomplishments and even your complaints&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Just for you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In my heart, in my soul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Love is still something that’s awkward to me, but&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I want to you give you everything in this world&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Even if it would only be in my dreams&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My heart like this&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Just the fact that I can watch over you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makes me so grateful&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I’m so happy, even if I lack a lot&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I want to be your lover forever&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When you are in my arms&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I want to become stone&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So we can stay this way forever&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aya… aku mencintaimu… ^^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat ke 25&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alvin... Selamat malam...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hm... hari ini aku punya kabar. Entah baik atau buruk menurutmu. Seperti yang kuceritakan dulu, bibiku yang sekarang tinggal di Tokyo mengikuti suaminya meminta mama untuk pergi ke Tokyo juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau ingat permintaan suaminya untuk memeriksakan mataku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar, hasilnya aku bisa melihat kalau aku menjalani operasi. Katanya sekitar 60 persen aku bisa melihat lagi. Dia bilang dia akan membayar biaya operasi itu. Hanya saja ia menginginkan Tokyo. Dia lebih percaya pada negara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukannya aku tak percaya, hanya saja... aku tak ingin meninggalkan Indonesia. Bagaimana jika aku tak kembali? Aku tak akan bisa melihatmu. Padahal aku ingin kau menjadi orang pertama yang kulihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama bilang aku bisa membawa fotomu saat membuka perban nanti jika aku ingin kaulah orang pertama yang ku lihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alvin... apa yang harus kulakukan? Bisakah kau menemaniku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingat, hari itu aku, tanpa mempedulikan apapun aku memacu mobil. Menuju ke rumahnya. Dua jam perjalanan terasa lamaaaaa sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat tiba di sana, dia sudah tidak ada. Terbang ke Tokyo di pagi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I want to become the wind and embrace you gently&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I want to fly to the world you are right now&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Although i miss you and miss you again&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I’ll wait for you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Don’t forget me&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Wasurinaide by DBSK)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berjalan lelah. Surat itu di kirim kilat sampai ke manajemen hari itu juga. Hanya saja baru sampai ketanganku dua hari kemudian!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I felt your shadow on the path we always walked&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I softly pray while closing my eyes fotr this to never fade&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Wasurinaide by DBSK)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingat perasaanku hari itu. Sangat kesal, marah. Merasa tak berguna. Yang kulakukan hanya berteriak tak jelas. Aku kehilangan malaikatku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan kemudian aku mendapat sebuah surat. Surat yang dari tulisannya seperti anak kecil yang baru belajar menulis. Tapi nama pengirimnya langsung menghentikan napasku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat 26&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hallo Alvin...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kapan suat ini akan sampai di tanganmu. Ku harap secepatnya. ^_^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, kau tahu berapa lama menulis kata itu dalam huruf biasa? Lima menit!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hey!!! Jangan tertawa! Aku tahu tulisan anak kecil bahkan jauh lebih baik. Tapi, ini sengaja aku perlihatkan padamu. Untuk membuktikan padamu bahwa aku sudah bisa melihat, hehehe. Kau tahu, aku mempelajarinya selama sebulan ini. Dan hasilnya.. beginilah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar. Aku baru operasi sebulan yang lalu. Karena dokter ahli yang ditunggu baru ada pada waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah operasinya sukses. Dan yang pertama kulihat... kau tahu? Fotomu!!! Hahaha.... ternyata tak jauh beda dengan bayanganku. Hanya saja kau lebih imut. Senangnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi lebih senang lagi kalau yang aslinya bisa kulihat,hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O,ya. Aku melihat video klip dan konser kalian di YouTube. Wow... benar saja. Keren sekali!!! Aku jadi semakin mencintai kalian. Rasanya, aku benar-benar menjadi Harmony’s Soul sejati XDXD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sebuah kabar gembira untukku dan (mungkin) untukmu, bahwa hari minggu depan aku akan terbang ke Singapura. Aku akan melihat konser kalian!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku harap kita bisa bertemu di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alvin... Sampai jumpa...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aya ^_^ “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum. Panggung konser kami ada di depan mata. Suara teriakan fans menghangatkan hatiku. Aya, apa kau ada di antara mereka? Aku harap kau ada di barusan paling depan agar aku bisa menemukanmu dengan mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No matter what anybody says, you’re my crazy love&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Though they say i’m crazy, just can’t get enough&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I hope you will acknowledge my feelings&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baby, my heart beats for you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Crazy Love by DBSK)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku akan memberikannya tiket PIV konser itu, seandainya dia bilang padaku di mana dia akan menginap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah jam kemudian konser di mulai. Aku bersemngat. Mencari-cari sosoknya. Dan kutemukan sejam kemudian. Dia di barisan PIV. Melambai-lambaikan stick hijau sesemangat yang lain. Mulutnya bergerak-gerak, mengikuti nyanyian kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melemparkan senyum padanya. Dia balas dengan senyuman yang sangat kurindukan. Aku harap aku bisa mendengar suaranya juga memeluknya. Aku tahu rinduku telah sampai pada puncaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berbalik, membelakangi penonton. Mengusap air mataku yang tiba-tiba jatuh. Kemudian berbalik lagi. Kutemukan Aya tengah mengusap air matanya juga. Mungkin perasaannya sama sepertiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berusaha konsentrasi menyanyi hingga konser usai meski mataku tak lepas darinya. Aku benar-benar tak sabar ingin menyampaikan satu kata yang selama ini tak pernah kusampaikan padanya. Bahwa aku mencintainya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aya, apa kau mencintaiku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menatap dengan gugup pada gadis di depanku. Aku mengungkapkan perasaanku padanya saat dia sedang sibuk membuat teh untuk kami saat dia kuajak berkunjung ke apartemen kami. Argh, ini bukan moment yang tepat bukan. Tapi aku tak mau terlambat lagi. Aku ingin dia tahu perasaanku dan ingin tahu perasaannya padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia masih diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa detik kemudian kudapatkan sebuah anggukan darinya. Kemudian kudengar kata yang langsung memekarkan sejuta sakura di hatiku. ”Aku juga mencintaimu, Vin…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memeluk gadis cantik berambut panjang di depanku itu. Aya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Selamanya....” tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hahaha, aku jadi teringat lagu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tea For Two by DBSK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The light wavers in the wind&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The table serving tea for two&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I’m lying on the sofa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gazing at you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You seem to besingin something&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;While continue on reading te recipe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I wonder what you are making&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Because i can feel the scent of lemon and vanilla&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But if you are the one who’smaking it&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Just only that would be enough to make me feel happy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It would last forever just like that&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Important, so important&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You’re my most important person in the world&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Forever and ever&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Let me look at you smiling by my side&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It’s a lie that i wanted to help youout&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I just wanted to kiss you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Embracing you from behind&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asking you, ”How’s the cooking?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If the world was to end tomorrow&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I still want to smile like this&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To the you who keep readingon recipe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I’m going to kiss you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And tell you, ”I Love You”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And you’ll just simply nod your head&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Just like today&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You and you only&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Can make me strong and weak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I love you and love you more&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Afraid to think what if you don’t love me&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Even if it’s painful, i still want to protect you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Important, so important&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You’re my most important person in the world&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;More than anything and everything&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Our encounter is such a bless&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Just the two of us together like that&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Just simply enjoying sweet moments like that...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-end-</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/feeds/3038442442456323357/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/2010/08/cerpen-cintaku-untukmu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6275639337218371895/posts/default/3038442442456323357'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6275639337218371895/posts/default/3038442442456323357'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/2010/08/cerpen-cintaku-untukmu.html' title='cerpen: Cintaku untukmu'/><author><name>Orina Fazrina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09984671521568892272</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6275639337218371895.post-8609484300386881078</id><published>2010-08-06T18:55:00.000-07:00</published><updated>2010-08-06T18:56:06.143-07:00</updated><title type='text'>cerbung: Kenangan tanpa nama 5</title><content type='html'>Chapter 5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begin...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendra melepas jaket hitamnya. Mengambil kunci di saku celanya. Lantas menuju kamar Rina berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia membuka pintu itu. Rina berbaring di ranjang dengan mata terpejam. Mungkin tidur, pikir Hendra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia meletakan kalung yang di ambilnya di sisi kanan bantal Rina. Menatap gadis itu sesaat. Kemudian pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rina membuka matanya saat pintu kamar telah di tutup Hendra. Dia duduk sambil menghela napas. Pandangannya jatuh pada kalung bermotif sederhana yang ada di sisi kanan bantalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pandangi kalung itu. Kemudian mengalungkannya di lehernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangannya beralih ke pintu. ”Terima kasih...” lirihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Leo dan Angga masih di posisi semula. Menatap rumah Hendra dengan tatap tajam mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi kembali menyapa. Hendra kembali mengantarkan sarapan pagi untuk Rina. Rina memperhatikan Hendra dari tempat tidur. Tak sengaja ia melihat tangan kanan Hendra, memar dan terluka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rina menatapnya, berharap Hendra menjelaskan padanya kenapa tangannya sampai seperti itu. Tetapi Hendra justru memalingkan wajahnya. Tak ingin menatap Rina. Ia hendak melangkah pergi ketika tanpa sadar tangan Rina menahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Every day and night with you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I take your hand&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Every day every night everywhere&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Now we feel connected and verified&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Now, let the story begin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Every day and night with you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The heat and sparks form without cooling down&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Every day every night everywhere&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Now our contact increases&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Now, you and I begin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Begin by. DBSK)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rina melepas perban yang membalut luka di lengannya. Ia balutkan pada tangan Hendra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendra masih dengan posisi tak menatap Rina. Ketika balutan yang Rina buat selesai, ia langsung pergi. Rina hanya bisa menatap punggungnya yang lagi-lagi menghilang di balik pintu kamar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendra menatap layar laptopnya. Tampak di sana sosok Leo yang masih berbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit. Ia pikir Leo masih di rawat di sana. Segera saja ia menuju ke rumah sakit itu dengan sebuah pistol terselip di pinggangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba di rumah sakit, ia langsung mencari kamar Leo. Ia langsung menodongkan pistol. Ia yakin di balik tirai biru itu sosok Leo masih terkulai tak berdaya. Sayangnya kenyataan berbeda. Leo sudah tak berada di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera saja ia berlari. Melajukan mobilnya ke rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Leo yang melihat Hendra yang keluar dari kediamannya segera beraksi. Ia masuk ke dalam rumah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Rina?!” panggilnya keras. ”RIN??!!!” teriaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“RINA?!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Rina-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih berbaring di tempat tidur ketika kudengar sebuah suara yang tak asing lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”RIN!!!” panggil suara itu. ”RINA!!! Jawab aku??!!!” sebuah teriakan disertai ketukan pintu yang keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kak Leo...” lirihku. ”Apakah itu kau?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Rina?!!!” suara di luar menjawab. Benarkah itu dia...?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kak Leo!!!” sahutku keras sambil berlari menuju pintu. Menggedor-gedornya keras agar Leo tahu aku di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Rina, kau di dalam?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hm-mm!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tunggu sebentar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku dengar ia seeprti mencari sesuatu. Kemudian...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUGHH!!! BUGHH!! BUGHH!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu perlahan terbuka. Ku dapati sosok Leo di depanku. Aku langsung lemas. Terduduk di lantai. Ku pikir aku tak akan bertemu dengannya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leo memelukku. Hangat itu benar-benar nyata. Aku bukan bermimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia melepas pelukannya. ”Ayo!!” katanya sambil menarik tanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kalinya aku keluar kamar. Aku berhenti melangkah. Kuedarkan pandanganku. Dapat ku lihat segala isi yang ada di ruang tengah rumah ini. Lampu-lampu, rak-rak, dan sebagainya. Pandanganku terhenti pada sebuah foto. Hendra, nama itu tertulis di sana. Sebuah perasaan tak asing merasuki hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What if&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I met you first&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No, if I didn’t know you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;These thoughts are useless&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For I’m already living in the deeply set times of you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(What If by Super Junior)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leo menarik tanganku lagi. Menuju pintu depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun langkah kami langsung terhenti ketika satu sosok bermata dingin menodongkan senjatanya. Leo mengangkat tangannya tanda menyerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bugh!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok itu memukul Leo dengan pistolnya. Cukup keras hingga mampu membuat Leo pingsan seketika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jangan...” desisku sambil menghalangi. aku terdoromg dan duduk ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok itu langsung menarikku dengan paksa. Memasukkan ku ke dalam mobil BMW silver miliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia bagian dari masa laluku. Orang yang pernah kucintai. Tapi bersamanya aku tak berhasil menemukan bahagia. Aku meninggalkannya. Mengabaikan, bukan, berusaha melupakan janji yang pernah kubuat padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, dia semenakutkan sekarang. Dia yang kukenal dulu begitu menyayangiku meski tatap tajamnya membuatku kehilangan keberanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I still think of the times with you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But I must learn to let go&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I can’t dwell on the past; it’s time to move on&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Cause they are just nameless memories&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Memories without a name by Heo Young Saeng)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Epilog&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah Angga yang terseret menyadarkanku. Ia menodongkan pistolnya ke arahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”AAAAAAAAaaaaa....!!!!!!!!” aku berteriak ketakutan dengan mata terpejam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DOR!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persendianku lemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuk!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuatu terjatuh ke tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brugh!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku buka mataku perlahan. Terlihat olehku sosok Angga yang memegang dada kirinya. Pistolnya telah jatuh ke tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di belakangnya kulihat seseorang yang ku kenal, Hendra, menodongkan pistolnya. Dia masih hidup?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusadari air mataku mengalir untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angga menatapku. Kali ini tatapannya sangat lembut. Kembali aku menagis tertahan saat ku dengar lirih katanya, ”Aku mencintaimu... selamanya... Rina...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Even if you are far from where I am&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If you should leave, you musn’t tell me&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I may be a fool but, I will not forget you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Your back turned is something I will never want to see&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(If You Can’t by Park Jung Min)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Angga...” air mata mengalir dari sudut mataku. Angga terkulai tak berdaya. Satu hal yang ku tahu pasti, dia sudah tiada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendra membuang pistolnya. Perlahan mendekatiku. Dia meringis sambil memegangi dada kirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tidak apa-apa...”dia memelukku. Tangisku kembali pecah. ”Tenanglah...” dia mengusap rambutku lembut. Napasnya terdengar lelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sirine polisi terdengar. Tak lama kemudian kulihat sosok Nata, sahabat Leo, datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rina tak pernah mau masuk ke ruang rawat Hendra. Jika ia ingin melihat keadaan laki-laki itu dia hanya memilih menatap sosoknya dari luar kamar. Atau bertanya dengan suster yang baru keluar dari kamarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan ingin mengacuhkan. Hanya saja, dia perlu waktu untuk menata hati. Karena sebuah cinta, tanpa ia sadari, telah ia jatuhkan pada Hendra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendra pun hanya mampu menatap sosok Rina. Dia tak berani mendekat. Merasa tak pantas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini Rina menatap dua gundukan di depannya. Angga dan satunya Leo, dua orang yang pernah dicintainya ini dimakamkan di pemakaman yang sama. Rina mengunjungi mereka beberapa kali selama sebulan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan aku…” ucap Rina setiap kali berada di depan makam mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari di supermarket.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duk!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rina tak sengaja menambrak sosok di depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf…” katanya segera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku… sengaja.” sebuah suara yang tak asing berasal dari orang yang berdiri di depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh?” Rina langsung mendongak. Dengan jelas ia melihat sosok di depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendra?? Batinnya meneriakkan nama itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia lekas berlari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendra mengejarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;please, do not go far away&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;please, do not go far away&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;where I can’t find you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;do not go so far away&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;do not go so far away&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It can’t happen like this&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It can’t be&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;come back to me please!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To me please…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I beg of you…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;don’t leave, don’t leave…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(If You Can’t by Park Jung Min)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berhasil meraih tangan Rina. Ia menariknya ke pelukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau boleh membenciku. Tapi kumohon… jangan acuhkan aku…” bisiknya di telinga Rina. Bulir air mata menggenang di pelupuk mata Rina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena aku mencintaimu, ku mohon jangan acuhkan aku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rina terisak sekarang. Memeluk erat sosok di depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~TAMAT~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; gimana?</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/feeds/8609484300386881078/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/2010/08/cerbung-kenangan-tanpa-nama-5.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6275639337218371895/posts/default/8609484300386881078'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6275639337218371895/posts/default/8609484300386881078'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/2010/08/cerbung-kenangan-tanpa-nama-5.html' title='cerbung: Kenangan tanpa nama 5'/><author><name>Orina Fazrina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09984671521568892272</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6275639337218371895.post-807634779694470696</id><published>2010-08-06T18:54:00.000-07:00</published><updated>2010-08-06T18:55:00.497-07:00</updated><title type='text'>cerbung: Kenangan tanpa nama 4</title><content type='html'>Chapter 4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Where is Rina??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Leo-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan aku membuka mataku. Buram. Samar kudengar bunyi alat penunjuk detak jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengerjapkan mataku. Beberapa detik kemudian barulah terlihat dengan jelas di mana aku sekarang. Aku melihat sekeliling. Tak kudapati Rina di sisiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, dia juga terluka, batinku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu seakan berhenti ketika aku teringat. Ketika aku setengah sadar di jalanan hari itu, beberapa saat setelah tembakan mengenai kami. Satu sosok berjalan mendekat. Kemudian mengangkat tubuh Rina. Menjauh dariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa laki-laki itu??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu terbuka. Nata, sahabatku, tampak terkejut melihat aku yang sudah siuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sebentar, aku panggilkan dokter.” katanya lalu pergi. Tapi aku menahan langkahnya dengan menanyakan Rina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apakah... kau tahu... di mana... Rina... sekarang..?” tanyaku lirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berbalik. Menatapku sesaat. ”Kami sedang menyelidikinya, Leo. Tenanglah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apa kau tahu, Rina... dia.. seorang laki-laki membawanya saat kami terluka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nata mengangguk. ”Tenanglah... Kalau ada kabar, aku langsung memberitahumu. Aku janji.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menatap punggungnya yang menghilang. Beberapa menit kemudian dokter datang dan langsung memeriksa keadaanku. Dia bilang aku perlu istirahat di rumah sakit sampai aku benar-benar pulih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Berapa lama, Dok?” tanya Nata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mungkin dua minggu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dokter pergi, Nata menatapku. ”Kesembuhanmu juga penting. Aku pergi dulu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua minggu lebih kesehatanku baru pulih. Aku keluar dari rumah sakit. Namun keberadaan Rina baru ku temukan sehari kemudian. Dia diduga masih bersama laki-laki yang kini ku tahu bernama Hendra. Laki-laki yang di duga menembakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendra memintaku bersabar menunggu. Membiarkan polisi yang menyelamatkannya. Tapi aku sudah tidak bisa menunggu lagi. Bagaimana kalau terjadi hal-hal buruk pada Rina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nata tak mau memberi tahu alamat Hendra itu padaku. Polisi belum tahu pasti, katanya. Mungkin benar, mungkin juga bohong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kesal aku memacu mobilku. Menyusuri ruas jalan kota Jakarta. Berharap, bisa menemukan sosok Hendra di antara orang-orang yang ku lihat di jalan-jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyaris putus asa. Namun angin malam membawa keberuntungan padaku. Sekitar tujuh meter dariku kulihat Hendra menatap toko perhiasan. Memecahkan kaca jendela toko tersebut. Ia tampak mengambil sesuatu. Lalu melangkah pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengikutinya di balik kemudiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia masuk ke sebuah rumah. Tak lama setelah dia masuk, lampu-lampu di rumah itu menyala. Apakah di sini tempat tinggalnya? Apakah Rina benar-benar ada di sana? Aku harap begitu. Jika tidak, aku tak tahu harus ke mana lagi mencarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Angga-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencari rumah sakit yang merawat Leo. Kupikir dia di sana di rawat bersama Rina. Pistol yang ku persiapkan jadi tidak berguna ketika tahu di rumah sakit itu hanya ada dia. Di mana Rina? Apakah dia mati? Bukankah tembakanku hanya mengenai lengannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak sengaja mencuri dengar perkataan Leo dan seseorang. Orang itu bilang sedang menyelidikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku dengar suara lagi. Sepertinya suara Leo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apa kau tahu, Rina... dia.. seorang laki-laki membawanya saat kami terluka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang laki-laki? Membawa Rina? Siapa? Ah, apakah dia ada hubungan dengan Rina?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku dengar sebuah jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tenanglah... Kalau ada kabar, aku langsung memberitahumu. Aku janji.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam. Meninggalkan tempat itu sesaat kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pastikan akan mengikuti laki-laki itu dan menemukan Rina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melewati jalan di atas sungai S, dadaku berdesir. Teringat kembali tentang kenanganku bersama Rina. Kami yang hanya diam sambil menatap air sungai yang tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika malam merambat ia akan berbisik mengatakan, ”Angga, aku harap aku bisa seperti bintang yang menyinari jalanmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidakkah ia tahu kalau kata itu mengakar hingga ke palung hatiku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu senja yang sangat indah, di tepi sungai yang sangat disukainya ia bertanya, ”Angga... apa arti Rina untukmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEGALANYA! Tidakkah ia dengar jawaban itu? Ia segalanya buatku. Lebih dari sekedar harapan dan cinta. Bersamanya aku hidup. Aku rela jadi apapun asal bisa bersamanya. Tapi kenapa? Kenapa ia membuangku????&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RINAAA...!!!!! KENAPAAA???!!!!!, teriak hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengikuti jejak Leo. Ia berputar-putar tanpa tujuan. Jangan-jangan ia tak tahu di mana Rina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memutuskan berhenti mengikutinya, tapi sikapnya justru menghentikan pikiranku. Aku menunggunya. Dan sepertinya dia menunggu laki-laki yang sedang berdiri di sebuah toko perhiasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengikuti ke mana laki-laki itu pergi. Begitu juga denganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki itu masuk ke sebuah rumah. Lampu-lampu di dalam rumah tersebut terlihat menyala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leo menunggu di balik kemudinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku alihkan pandanganku ke rumah laki-laki tadi. Apakah Rina ada di sana ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; sebentar lg tamat...</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/feeds/807634779694470696/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/2010/08/cerbung-kenangan-tanpa-nama-4.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6275639337218371895/posts/default/807634779694470696'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6275639337218371895/posts/default/807634779694470696'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/2010/08/cerbung-kenangan-tanpa-nama-4.html' title='cerbung: Kenangan tanpa nama 4'/><author><name>Orina Fazrina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09984671521568892272</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6275639337218371895.post-363488075471733455</id><published>2010-08-06T18:53:00.001-07:00</published><updated>2010-08-06T18:53:55.720-07:00</updated><title type='text'>cerbung: Kenangan tanpa nama 3</title><content type='html'>Chapter 3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Way to Love&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Hendra-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merebahkan Rina yang masih terpejam di kamarku. Aku memutuskan merawatnya di rumahku karena hanya ini kesempatanku bersamanya. Ku tatap ia sebentar kemudian keluar. Aku mengunci pintu kamar tersebut. Aku takut saat ia terbangun ia akan pergi. Meninggalkanku yang belum sempat menunjukan aku mencintainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku ambil perban dan obat merah. Juga beberapa obat tablet penghilang rasa sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan ku buka pintu kamar. Ia tengah duduk sambil meringis memegangis lengannya yang terluka. Aku duduk di kasur,cukup dekat dengannya. Kurasai hatiku bergetar hebat. Ia menatapku bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Why, you don’t know&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You don’t know me&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I wish that you will take my way whole heart&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I don’t need another&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I only wish for your love&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Love Like This by. SS501)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam diam aku mengubah posisi duduknya yang semula menghadapku kini memunggungiku. Ku lepas blezernya perlahan. Ia merintih saat tak sengaja blezernya mengenai lukanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lukanya tak begitu dalam. Sepertinya perlurunya tidak bersarang di lengannya. Syukurlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membalut lukanya usai menetesinya dengan obat mereh. Setelah selesai, lagi-lagi, dengan tanpa berkata sepatah katapun aku menyerahkan dua buah obat tablet dan segelas air padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa berkata, ia meminum obat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku keluar. Menguncinya. Seperti menyadari bahwa dirinya ku kunci dari luar, ia berlari mendekati pintu. Menggedor-gedornya dengan sisa tenaga yang ia miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak berkutik. Hanya menatap pintu itu sesaat kemudian pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The closer I get&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;More scared I get&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But this love can’t be stopped&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Why is it just my love that is slow&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Why is it just my love that is hard&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Even if I’m by your side&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You’re the whole world&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I look at only you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I stare into distance in front of you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Can You Hear Me by. Tae Yeon)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku akan melihat wajahnya jika aku membawakan makan pagi, siang, dan malam untuknya. Juga membawakan baju ganti untuk dipakainya. Dan jika tengah malam, aku akan mengunjunginya. Menatap wajahnya yang penuh kedamaian saat tidur. Lalu keluar dan berharap pagi segera datang. Seperti itu setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sadari masakanku tidak terlalu enak. Ia tak pernah menghabiskannya. Sebenarnya aku ingin mengajaknya ke dapurku. Ingin mencicipi masakan buatannya. Tapi lagi-lagi rasa takut menghantuiku. Aku takut ia pergi, dan aku tak bisa meraihnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil memikirkan hadiah apa yang ingin ku berikan padanya, aku mengantarkan makan siangnya. Saat kamar terbuka, ia tak terlihat di kasur itu. Aku masuk dan menatap kamar mandi. Mungkin dia di sana pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hyaa!!!!” sebuah teriakan dan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bugh!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuatu yang berat menghantam bahuku. Aku mematung sesaat. Ku letakkan makan siangnya di meja dekat ranjang, seperti biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berbalik. Melangkah keluar. Sekilas ku lihat ia berdiri ketakutan sambil memegangi benda berat yang ia hantamkan padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali mengurungnya di kamar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I’ll never let you go&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hey, stay by my side&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Let’s count each passing season&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Right by your side like this&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My Life we’ll walk together&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;All the time, forever&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Song For You by. DBSK)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menatap layar laptopku. Satu target terpampang di sana. Sosok laki-laki yang pernah menyakiti Rina. Baru kudapat infonya beberapa hari yang lalu. Ia sering berkunjung ke club “Blue”. Aku akan menghabisinya hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku ambil pisauku. Ku bayangkan rak yang berjarak dua meter di depanku adalah sosok orang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suuuut!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pisau melayang. Kubayangkan mengenai bahunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di club tersebut ku lihat dia sedang minum. Langsung saja ku ambil pisauku dan melemparkan ke arahnya. Benar-benar tepat mengenai bahunya. Ia pingsang seketika. Tidak. Dia mati!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu keributan terjadi. Mereka, para pekerja di club dan (mungkin) anak buah dari laki-laki tadi mengejarku. Sekuat tenaga aku melarikan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjebak di lorong yang sempit, aku harus menghajar mereka agar aku bisa lari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup lama, hingga akhirnya aku berhasil menyandra satu orang dan menodongkan pisau ke leher orang itu. Teman-temannya angkat tangan. Tanda menyerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan aku berjalan mendekati pintu. Ku dorong orang yang kusandra tadi sekuat tenaga, menjauh dariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berhasil lari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah merasa aman, aku berhenti. Mengatur napasku, kemudian berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam yang sunyi aku melewati toko perhiasan yang sudah tutup. Aku teringat Rina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku dekati toko tersebut. Sebuah kalung degan desain sederhana, mungkin Rina akan suka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sekuat tenaga aku memecahkan jendela kaca toko tersebut dengan tanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hope you like it ^^</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/feeds/363488075471733455/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/2010/08/cerbung-kenangan-tanpa-nama-3.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6275639337218371895/posts/default/363488075471733455'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6275639337218371895/posts/default/363488075471733455'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/2010/08/cerbung-kenangan-tanpa-nama-3.html' title='cerbung: Kenangan tanpa nama 3'/><author><name>Orina Fazrina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09984671521568892272</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6275639337218371895.post-8988075145000445013</id><published>2010-08-06T18:51:00.000-07:00</published><updated>2010-08-06T18:52:00.098-07:00</updated><title type='text'>cerbung: Kenangan tanpa nama 2</title><content type='html'>Chapter 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Crazy of Love&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Rina-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir sebulan yang lalu. Sabtu sore. Aku berjalan riang sambil memakan es krimku. Aku melangkah sambil membayangkan hal-hal menyenangkan yang akan ku lakukan bersama Leo. Senyum merekah di wajahku. Dia adalah kekasihku. kekasih terbaik yang pernah aku punya. Ia riang, ceria, ramah, penyayang, tulus, dan baik hati. Senyumya selalu menghangatkan jiwaku. Tawanya mampu menyirami kegersangan yang bertahta di hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat sedang asyik memikirkannya, handphone ku berbunyi. Di layar tampak fotonya yang sedang tertawa. Aku menjawab panggilannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hai, Rina...” sapaan seperti biasanya. Suara renyahnya mengukir sebuah senyum di bibirku. Ah, selalu begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I can’t know what happiness is&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There can’t be a happiness without you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Just don’t do farewells... just be my side&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There can’t be a happiness without you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I now know that love is an important thing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There can’t be love without you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Haeng bok ee ran by Hyun Joong~ ost.BBF)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hai...” sahutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kau di mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jangan melangkah lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Eh?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aku ada di depan kakak sekarang?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Benarkah? Di mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Coba palingkan wajah kakak ke kanan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leo memalingkan wajahnya ke kanan. Aku melambaikan tanganku. Ia balas dengan senyum lebarnya yang khas sambil menutup telpon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menyebrangi jalan. Dia juga begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sudah dekat ketika....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DOR!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah peluru mengenai Leo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku hendak mendekat,kudengar sebuah tembakan lagi. Sakit! Kurasa sakit di lengan kiriku. Aku terdorong ke belakang. Pandanganku kabur. Kemudian gelap. Samar kudengar rintihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Rina...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara Leo. Aku ingin membuka mata tapi tak bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Hendra-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang berambut sebahu, ceria, dengan sebuah senyum selalu terukir di bibirnya, dan suaranya yang indah setiap kali berkata membuat hatiku bergetar. Tanpa ku sadari, entah sejak kapan aku telah jatuh cinta padanya. Perasaan tidak ingin kehilangannya mengganggu hari-hariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuanku dengan gadis itu ketika ia membeli es krim di sebuah mini market. Saat itu aku hendak membeli minuman dingin. Ia tak sengaja menabrakku yang berjalan berlawanan arah dengannya. Dengan segera ia meminta maaf. Membungkukkan tubuhnya beberapa kali. Biasanya, tak peduli perempuan atau laki-laki, siapapun yang berani menubrukku, aku pasti langsung marah. Tapi kali itu berbeda. Mungkin karena suara merdunya, mungkin nada pernyesalan yang di tunjukkannya dari permintaan maafnya, mungkin karena matanya yang ketakutan kalau-kalau aku bentak, atau mungkin... sudahlah. Aku tak tahu sebabnya. Yang jelas tiba-tiba saja saat itu emosiku menguap. Pergi entah ke mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baby, why are you doing this to me&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Who’s fallen in love with you?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Don’t step back, saying you’re afraid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Just leave it up to me&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;How’s that, my lady&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Ring Ding Dong by.SHINee)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kau sendiri tidak apa-apa?” tanyaku tanpa sadar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh? Iya. Tidak apa-apa.” jawabnya sambil tersenyum. Kurasakan sejuta mawar mekar di hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku segera memalingkan wajah. Masuk ke dalam minimarket tersebut. Meninggalkan dia yang menatapku dengan bingung. Aku tak peduli. Tapi detik berikutnya ku sadari aku menyesal. Saat aku berbalik, sosoknya sudah tak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melangkah keluar. Kudapati dia yang masuk ke sebuah mobil. Tanpa berpikir panjang aku mengikutinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir tiga bulan setelah pertemuan itu. Dan selama itu pula aku mengikutinya. Menyelidiki semua kegiatannya. Mengikuti ke mana saja dia pergi. Sampai suatu ketika aku tahu mobil yang selama ini mengantar dan menjemputnya bukanlah mobil keluarganya, melainkan kekasihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaanku jadi aneh. Ada marah, benci, kesal, jengkel, cemburu, bercampur jadi satu. Ingin sekali kulenyapkan laki-laki yang selalu bergandengan tangan dengan pelangiku. Begitu juga dengan laki-laki yang menebar pesona padanya serta mengganggunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu sore menjelang malam, Rina, begitu nama gadis itu, berjalan sendiri menuju toko tak jauh dari rumahnya. Saat ia pulang ku lihat dua orang pria mabuk menghadang jalannya. Ia tampak ketakutan. Sebelum aku sempat menolongnya kekasihnya yang kebetulan lewat (mungkin berniat berkunjung ke rumahnya) sudah menolongnya. Pria mabuk itu lari setelah di pukul olah laki-laki itu yang belakangan ku tahu bernama Leo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku belum puas. Aku mengejar dua pria mabuk tersebut dan menghajar mereka habis-habisan. Ku keluarkan pisau yang terselip di sakuku. Ku arahkan ke mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa peduli mereka hidup atau mati, aku meninggalkan mereka. Salah mereka karena telah mengganggu Rina-ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini aku menatap layar laptopku sambil memainkan pistol di tangan kananku. Di sana tampak wajah Leo. Aku tahu tatapanku penuh kebencian padanya. Benci karena dia yang di pilih oleh Rina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian aku melangkah. Mengambil jaket hitamku juga kunci mobilku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menunggu di sisi jalan. Aku tahu ini adalah tempat biasa mereka kencan. Pistol melekat erat di tangan kiriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh menit kemudian kulihat Rina. Ia melambai ke seberang jalan. Leo tampak tersenyum lebar. Ku keluarkan pistolku. Senyum itu akan sirna sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5, 4, 3, 2, 1....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dor!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peluru di pistolku mengenai bahu kirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam mobil aku tersenyum puas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Angga-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan sayang bisa berubah jadi benci. Itu yang kurasakan saat ini. Itu semua bersumber dari gadis yang hingga kini masih ku cintai. Rina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia, saat aku benar-benar mencintainya, memutuskanku. Mengatakan bahwa aku terlalu mengekangnya. Over protective. Selama bersamaku ia merasa tak bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu itu. Dan aku berusaha. Semampu dan sekuat tenagaku. Tidakkah ia sadari itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal aku sudah bilang padanya, ”Mari kita cari bahagia bersama-sama”. Saat itu ia mengiyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Meski lelah, berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku!” ia mengangguk. Lantas menunjuk kelingking kanannya padaku. Kebiasaannya ketika berjanji. Seperti anak kecil. Tapi aku menyukai hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengikat kelingkingku dengan kelingkingnya. ”Ku pegang janjimu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janji itu, mungkin hanya sebuah angin lalu baginya. Tak perlu dipenuhi. Tidakkah ia sadari kalau dialah yang membawakan harapan, bahagia, dan cinta padaku yang selalu sendiri? Tidakkah ia berpikir seperti aku, bahwa dirinya terlahir untukku. Dan aku terlahir untuknya. Meskipun aku mati, jika lahir kembali aku pun kembali jatuh cinta padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It’s you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I don’t need anyone else, it’s only you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Even if you ask again, it’s only you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Even if you already have another lover&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I can’t forget you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(It’s You by. Super Junior)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidakkah ia pikir bahwa dirinya adalah yang pertama juga terakhir yang kucintai di dunia ini??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tanyakan padanya lewat tatapan mata saat kata putus itu terucap di bibirnya. Ia hanya menunduk dan berkata, ”Maaf... Maaf, Ngga. Benar-benar maaf...” ia membungkuk. Kemudian menatapku. Lantas pergi tanpa mengatakan sepatah katapun!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ia tahu, bahwa setelah hari itu aku memikirkannya. Nyaris gila. Membayangkan dia yang duduk di kursi sepan meja kerjaku. Kenangan-kenangan lain yang tertinggal menggeliat di otakku. Aku benar-benar merindukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;How can I forget all the special memories of you?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I still remember, my little princess&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What I’m feeling must be love&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It’s hard to hide it&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When a smile appears on my face&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I start to miss you&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Before the day even ends&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What should I do?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(My Little Princess by. dbsk)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin menjadi angin yang bisa memeluknya dengan bebas. Menjadi bumi di mana ia pijak sekarang. Aku ingin dia kembali padaku. Aku ingin dia tak melupakanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berdoa. Tapi doaku tak terkabulkan. Ia justru berlari ke orang lain. Berlari pada laki-laki yang bisa menatapnya dengan lembut lewat mata teduh yang di milikinya. Lelaki yang bisa membuatnya tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu, selama denganku ia tak pernah tertawa seperti bersama laki-laki itu. Ia tak pernah tersenyum selebar itu. Aku tahu aku terlalu kaku untuknya. Tapi aku benar-benar mencintainya. Bahkan mungkin lebih dari laki-laki itu. Lebih dari sinar mentari yang sering kulihat. Lebih dari suara yang kudengar. Lebih dari udara yang kuhirup!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tonight on the same day&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It feels like you are here&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I’m calling you again like a fool&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(When We Will be Together by. dbsk)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rina, gadis itulah yang melelehkan salju yang membekukan hatiku, tapi kemudian dia juga yang menurunkan salju. Membuatku kembali beku. Jadi kurasa cukup adil jika aku tak bisa memilikinya, maka orang lain pun tak bisa memilikinya juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memainkan pistolku. Di gang sempit yang cukup tersembunyi aku menanti kehadirannya. Ia yang seperti biasa akan bertemu dengan laki-laki itu di ruas jalan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima menit menunggu. Aku melihat sosok laki-laki hangat itu, Leo. Ia tampak tersenyum lebar ke seberang jalan. Pasti dia melihat Rina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar saja. Di seberang sana ku lihat Rina melambai. Lalu melangkah mendekatinya sambil tersenyum gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengarahkan pistolku. Kemudian melepaskan pulurunya. Ku lihat Leo roboh. Apakah peluruku mengenainya? Bukankah seharusnya mengenai Rina?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bruk!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rina roboh ke belakang. Darah mengalir dari lengan kirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leo memegang bahu kirinya. Sambil meringis ia bergeser mendekati Rina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Rina...” panggilnya lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rina tak menjawab. Matanya tertutup. Leo berusaha memanggil sekali lagi tapi tenaganya telah habis. Ia pingsan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang di sekitar yang melihat kejadian itu terlihat kaget. Hendra yang baru saja berada di antara mereka langsung mendekat. Tatap sedihnya tertuju pada Rina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan ia mendekat. Mengangkat tubuh Rina. Lantas membawanya ke mobilnya. Tak peduli dengan sosok Leo yang terkulai tak berdaya di aspal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang melihat Hendra membawa tubuh Rina pergi berpikir kalau Hendra adalah kenalannya. Mereka fokus pada Leo. Seseorang di antara mereka langsung menelpon ambulan. Lima menit kemudian ambulan datang dan membawa Leo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Angga, ia telah pergi sebelum sempat melihat Hendra pergi membawa Rina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; comment lagi ya...</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/feeds/8988075145000445013/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/2010/08/cerbung-kenangan-tanpa-nama-2.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6275639337218371895/posts/default/8988075145000445013'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6275639337218371895/posts/default/8988075145000445013'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/2010/08/cerbung-kenangan-tanpa-nama-2.html' title='cerbung: Kenangan tanpa nama 2'/><author><name>Orina Fazrina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09984671521568892272</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6275639337218371895.post-9164181880162621426</id><published>2010-08-06T18:48:00.000-07:00</published><updated>2010-08-06T18:49:57.710-07:00</updated><title type='text'>cerbung: Kenangan tanpa nama 1</title><content type='html'>Update: 14 Februari 2010 dan 17 Februari 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adaptasi: dari MV SS501 collections. Pas lihat MVnya jadi pengen memnggambarkan kisahnya dalam bentuk cerita ^^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memories Without A Name”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By Imah Hyun Ae&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chapter 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Why…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Rina-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terperangkap dalam sebuah mobil BMW silver. Di belakang kemudi tampak laki-laki bermata tajam dengan garis kesedihan tampak di wajahnya. Aku tergugu. Di antara tegang dan takut yang berkecamuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima menit sudah aku di dalam. Sambil menangis tertahan memukul-mukul jendela mobil yang tertutup rapat. Udara mematikan mencekamku. Laki-laki itu semakin mendekatkan pistolnya padaku. Memaksaku diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menahan tangisku aku melihat ke jendela. Berharap dunia yang sedang kujalani ini hanya mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu sosok yang ku kenal duduk di belakang kemudi sebuah mobil hitam. Seseorang yang merawat dan menjagaku beberapa minggu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku lihat ia menoleh ke arahku. Bola matanya membesar. Dengan segera ia memacu mobilnya. Mengejar mobil yang membawaku yang tiba-tiba berbelok ke kiri dengan kecepatan penuh. Mobil tiba-tiba berhenti mendadak di sebuah parkiran kantor yang sudah tak dipakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki-laki yang bermata dingin itu keluar dari mobil. Di ikuti oleh laki-laki yang ku kenal. Keduanya sama-sama menodongkan pistol. Seseorang keluar dari mobil yang tidak kusadari. Dia... kekasihku. Aku bernapas lega. Untunglah dia tidak apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga menodongkan pistol. Ke arah lelaki yang kukenal. Tapi lelaki bermata dingin langsung menodongkan pistolnya padanya. Lelaki yang ku kenal masih kukuh menodongkan pistolnya pada lelaki bermata dingin itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biar ku bertitahu kalian siapa mereka. Lelaki bermata dingin itu adalah Angga. Lelaki yang ku kenal adalah Hendra. Dan kekasihku, bernama Leo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama dengan ketegangan yang menyelimuti seluruh tubuhku aku keluar dari mobil. Napasku jelas sudah tak teratur. Angga yang menyadari aku keluar dari mobil langsung menodongkan pistolnya padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kenapa....? KENAPAAA????” tanyaku padanya. Tangisku pecah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia hanya menjawab dengan tatapan dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kenapa kau lakukan ini padaku???” sekali lagi aku bertanya. Dan jawaban yang kudapat adalah sebuah tembakan. Aku memejamkan mataku. Ku dengar suara jatuh ke tanah. Sebuah tembakan terdengar lagi. Seseorang ku dengar merintih. Anehnya itu bukan aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DOR!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah tembakan terdengar lagi. Dengan ragu ku buka mataku. Kudapati ia yang sedang menodongkan pistolnya ke Leo. Kakinya berdarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandanganku langsung kabur. Butiran air mata membanjiri pipiku. Aku tahu sekarang,tembakan pertama mengenai Hendra. Ia langsung jatuh ke tanah. Darah mengalir dari dada kirinya. Mungkin mengenai jantungnya. Tembakan kedua mengenai Leo. Mengenai dada kanannya. Ia merintih. Tembakan terakhir dari Leo. Mengenai kaki kanan Angga. Angga langsung terduduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurasakan persendianku lemas. Aku seperti kehilangan nyawa-nyawaku. Hendra yang tak bergerak sama sekali. Leo yang menatapku seolah untuk yang terakhir kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menangis tanpa suara sekarang. Leo roboh dan matanya masih menatapku. Aku tahu aku sesegukan sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angga yang meringis menahan sakit di kakinya perlahan berdiri. Mendekatiku. Sisa tenaga yang kupunya hanya bisa menolongku merangkak mundur. Terhenti di pojok dinding parkiran. Aku masih menangis. Menutup kedua telingaku. Ia semakin dekat. Dan ingatan tentang mereka itu menyeruak keluar. Kenangan tanpa nama itu menyesakkan butiran-butiran air di kelopak mataku. Membuatnya terjatuh. Sekali lagi air mata membanjiri pipiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;comment...</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/feeds/9164181880162621426/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/2010/08/cerbung-kenangan-tanpa-nama-1.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6275639337218371895/posts/default/9164181880162621426'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6275639337218371895/posts/default/9164181880162621426'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/2010/08/cerbung-kenangan-tanpa-nama-1.html' title='cerbung: Kenangan tanpa nama 1'/><author><name>Orina Fazrina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09984671521568892272</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6275639337218371895.post-7708065121013556906</id><published>2010-08-06T18:47:00.000-07:00</published><updated>2010-08-06T18:48:46.948-07:00</updated><title type='text'>cerpen: Kisah untuk di kenang</title><content type='html'>Title: Story to Remember&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Author: Imah Hyun Ae&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Update: 15 Maret 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Story to Remember&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By Imah Hyun Ae&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang wanita datang dan mengatakan kalau dia adalah ibu dari anak itu. Han Shin Hye yang tak bisa bertemu dengannya setelah hari ulang tahunnya langsung menahan napas. Apa yang terjadi padanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu menyerahkan sebuah amplop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untukmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shin Hye mengambilnya dengan gugup. Di bukanya amplop itu. Ada beberapa lembar kertas di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bacalah. Dia sengaja menulisnya untukmu.” Kata wanita itu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shin Hye mulai membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kisah Untuk Di Kenang”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memandang penuh kagum pada lukisan yang ada di depanku. Lukisan matahari tenggelam bersama langitnya yang berubah jingga. Lagi, senja yang indah. Terasa sangat tenang. Seolah bisa kurasakan hembusan angin senja yang lembut di lukisan itu. Senja yang menghiasi sebuah kota. Pelukisnya seolah-olah sedang melihat senja dari sebuah gedung tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusentuhkan tanganku ke langitnya. Dadaku bergetar. Betapa inginnya aku melihat senja ini dengan nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubaca nama pelukisnya. Han Shin Hye. Ah, kau lagi. Kau pelukis yang selalu melukis pemandangan siang yang indah. Kau yang selalu berhasil menggetarkan hatiku untuk kembali melihat lukisan-lukisanmu. Aku tak berbohong jika menyebut betapa indahnya lukisanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau lebih sering melukis senja. Lukisan senja dari sebuah pedesaan.  Senja di atas jembatan. Senja yang membasuh jalanan sempit. Senja di sungai Han. Senja di padang bunga. Senja yang menenangkan di pinggir pantai. Senja yang terjadi di musim panas, gugur dan semi. Senja saat mendung menggantung. Senja saat langit penuh dengan awan, senja saat langit tanpa awan. Senja dengan semburat jingganya yang berbeda-beda. Ah, betapa banyak senja yang dilukismu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau juga melukis pelangi, salju yang turun, bunga sakura yang bermekaran di ruas-ruas jalan, daun-daun yang berguguran di musim gugur, juga hujan yang membasahi padang rumput hujau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pernah kudapati kau melukis pemandangan malam. Seandainya ada, aku pasti berbahagia. Tak akan sebegitu ingin melihat dunia saat matahari masih di luar peraduannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ottokhe?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau membuyarkan ingatanku. Aku menoleh. Kau memperlihatkan lukisan terbarumu padaku memandang penuh harap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Noona sudah sering melukis senja, tapi tetap saja tak membuatku bosan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tertawa. Memukul pundakku pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku teringat hari itu….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menuju galeri seperti biasa. Ingin melihat lukisan yang selalu menenangkan hatiku. Saat masuk, tak sengaja aku menubruk seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah! Mianhae…” kata seorang gadis di depanku sambil membungkuk. Dia memungut lembar-lembar lukisannya berhamburan. Kubantu dia memungutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Han Shin Hye. Kubaca nama itu di lembar lukisannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Boleh ku ambil lukisanku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah? Ye.” Kuserahkan lukisan itu padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Khamsahamnida.” Dia mengambil lembar lukisan di tanganku, kemudian pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mematung di tempatku. Mencerna sesuatu. Ah, bukankah Han Shin Hye itu nama pelukis yang lukisannya begitu kusukai??? Aku baru sadar bahwa itu kau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku segera berhambur keluar. Berharap bisa menyusulmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Shin Hye-ssi!!!” panggilku keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok di depan yang cukup jauh dariku berhenti melangkah dan menoleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Shin Hye-ssi!!!” panggilku sekali lagi sambil melambaikan tanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matamu tertuju padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berhenti berlari tepat di depanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anda… Han Shin Hye kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ye.” Katamu sambil mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa girangnya aku. “Ah! Ki Bum imnida. Boebgedoeseo bangabseubnida.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nde?” kau terlihat bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku penggemar lukisanmu. Senang sekali bisa bertemu siapa yang melukisnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Khamsahamnida.” kau tersenyum lembut hari itu dan langsung membawa sebagian dari hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Boleh minta tanda tanganmu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau mengambil spidol di datam tasmu. Ups!! Aku baru sadar tak bawa buku. Bagaimana ini??? Ah, tanda tangan di baju saja.  Tapi…aku pakai baju biru tua, bisakah terlihat tanda tangannya. Aishh…ah, di uang saja, hehehe….. Tidak kau tahu begitu paniknya aku hari itu?? ^^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di mana aku harus tanda tangan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kukeluarkan dompetku dan kuambil selembar uang lima ribuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di sini saja,” kataku malu-malu. Kau tersenyum dan mengambil uang di tanganku dan mulai menandatanginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa kau masih sekolah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh? Mm.. Ye.” Seumuranku harusnya masih sekolah kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berpikir sebentar. “SMA Kyonggi.” Maaf membohongimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kyonggi?” Kau bertanya antusias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Y..Ye..” apa kau sekolah di sana juga??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah. Aku alumni SMA itu. Sudah tiga tahun lulus dari sana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jeongmal??”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau mengangguk mantap. “Tak disangka bertemu juniorku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ye..” jawabku ragu. “Tak di sangka ternyata pemilik lukisan yang kukagumi adalah sunbei.” Salah sebut sekolah nih kayaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mian, sebenarnya ingin berbincang lebih lama denganmu. Tapi, aku sudah ada kuliah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, Ye. Gwenchanayo su.. sunbei.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sampai jumpa,” katamu lalu berbalik. Aku langsung bernapas lega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi… tiba-tiba kau berbalik lagi. Mengeluarkan gulungan lukisanmu dan mengambil satu, kemudian menandatanganinya. “Untukmu.” Katamu sambil menyerahkan itu padaku. Lukisan senja di atas sungai Han. Kesukaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Khamsahamnida, Sunbei.” ^^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Chomannayo. Sudah lama tak bertemu dengan adik tingkat rasanya senang sekali. Sampai jumpa lagi Ki Bum.” Kau melambai padaku kemudian bernar-benar pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak tahu harus bagaimana. Senang atau tak enak hati. Aku berbohong padamu aku sekolah di SMA Kyonggi. Mana pernah aku di sana. Terakhir aku sekolah adalah kelas 4 SD. Ayah dan ibu menghentikan sekolahku karena penyakitku yang tak bisa melihat matahari. Penyakit yang sudah pasti berujung pada kematian. Jika aku keluar pada siang hari, sama halnya aku mengurangi sisa umurku, begitu pikir mereka. Jadilah, setelah kelas 4 SD, pola kehidupanku berubah. Siang jadi malamku. Dan malam jadi siangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Noona, jeongmal mianhae...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutatap lukisan di depanku. Teringat denganmu, Shin Hye noona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari kemudian tak sengaja aku bertemu denganmu lagi. Kita masuk di bus yang sama. Kau yang mau pulang ke rumahmu dan aku yang sedang ingin ke bioskop. Kau tersenyum melihatku, kubalas senyumnya sekenanya. Aku benar-benar tak enak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kau turun dari bus, aku ikut turun. Kau menatap bingung padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jeongmal mianhae, noona.” Kataku sambil membungkuk. “Aku sudah berbohong pada Noona. Aku… sebenarnya tidak sekolah di SMA Kyonggi. Sebenarnya aku tidak bersekolah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau diam. Tahukah noona bahwa itu membuatku semakin tak enak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gwencanayo, Ki Bum. Ah, itu benar namamu kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ye.” Aku tersenyum malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kudapati kau tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pantas saja kau tadi terlihat tidak nyaman. Rupanya merasa bersalah telah berbohong padaku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gwenchanayo.” kau menenangkanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kau pamit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah hari itu, lagi-lagi kita tak sengaja bertemu. Kali ini di sungai Han. Tempat kedua yang menenangkanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita berbicara banyak hal di sana. Dari sana aku tahu kenapa kau sangat menyukai senja. karena senjalah satu-satunya hal yang tak bisa kau lihat. Kau hanya bisa melihatnya lewat foto. Begitu juga dengan malam. Pandanganmu akan kabur jika adat di tempat gelap. Tapi kau masih beruntung dariku noona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau pernah mencoba melukis pemandangan malam, tapi gagal. Tak seindah lukisan siang harinya, katamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kita sejak saat itu mulai bersahabat dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ki Bum? Kau tidak mendengar perkataanku ya? Pergi ke mana pikiranmu tadi??”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersadar. Berapa lama tadi aku melamum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Huuu, dasar dongsaeng-ku yang satu ini!!” kau mencubit pipiku. Tapi tahukah noona, itu membuat jantungku berdetak cepat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, sakit noona.” Kataku manja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau terlihat kesal. Aku suka wajah kesalmu, noona. Sangat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa suruh melamun saat aku bicara!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mianhae… memang noona bicara apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutatap lekuk wajahmu. Entah berapa lama lagi aku bisa melihatnya. Aku tak yakin penyakitku bisa mengijinkanku bertahan lebih lama, noona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku bilang apa kau mau menemaniku melihat matahari terbit besok lusa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh? Memangnya kenapa dengan mahatari terbit besok lusa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ki Bum-ah, apa kau lupa? Besok lusa kan ulang tahunku? Bukankah aku sudah cerita setiap ulangtahunku aku merayakannya dengan melihat matahari terbit di sungai Han ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah!” Mianhae noona, aku sempat lupa ^__^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bisa kan? Kita buat harapan sama-sama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku kan tidak ulang tahun pada hari itu noona!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau terlihat kesal lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memangnya kenapa noona ingin merayakannya bersamaku? Bukankah seharusnya noona merayakannya bersama keluarga atau mungkin seseorang yang spesial?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aish…” kau mengeluh. Semakin kesal sepertinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa kau tidak mengerti?” tanyamu putus asa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aishh… sudahlah! Lupakan saja!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau berdiri dan melangkah kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya!!! Noona!!! Tunggu!!” Aku mengejarmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku membencimu Ki Bum!!!” teriakmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya!! Noona!! Baiklah! Kita lihat matahari terbit besok lusa. Tapi biarkan aku memberi hadiah-hadianku sepanjang malam sebelum matahari terbit tiba?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jeongmal??”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk. Matamu berbinar bahagia. Waktuku mungkin sudah tak banyak noona. Tak apa jika harus berkurang, jika itu bisa membuatku semalam saja, mengukir kenangan indah bersamamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah menyiapkan banyak hadiah untukmu. Aku mengajakmu makan malam bersama di sebuah restoran yang enak. Setelah itu aku mengajakmu ke game zone. Ku ajak kau ke tempat-tempat menarik lainnya. Kau tertawa bahagia. Dan saat itu akupun benar-benar bahagia, noona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengajakmu ke tempat-tempat menarik lainnya. Hingga pukul 4 pagi barulah aku mengajakmu ke sungai Han.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak kukira kau memberiku banyak hadiah, Ki Bum. Tak pernah aku merayakannya semalam penuh. Gomaweo, sudah menunjukkan tempat-tempat menarik di malam hari padaku. Jeongmal gomaweo Ki Bum-ah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Chomanayo noona.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku lihat semburat jingga di ufuk timur. “Ah, mataharinya mulai terbit. Saeng il chukkae hamnida… saeng il chukkae hamnida… saeng il chukkae Shin Hye noona… sangeil cukae hamnida….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bertepuk tangan dan bernyanyi dengan ceria untukmu. Kau tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gomaweo Ki Bum…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saatnya mengucapkan harapan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau memejamkan matamu. Aku merasa sebentar lagi aku tak akan bisa menemuimu, noona. Mianhae… membuatmu bertemu dengan orang sepertiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Noona…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nde?” kau membuka matamu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan buka matamu sebelum aku bilang buka. Aku mempersiapkan hadiah lain untukmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ki Bum-ah… yang kau beri sudah cukup.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gwenchanayo noona.” Aku tersenyum. Kau mencubit pipiku gemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gomaweo.” Kau lalu memejamkan matamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu aku harus segera pergi. Ku ambil kertas yang sudah kutulis sejak malam kemarin. Kutinggalkan ini di sampingmu bersama hadiah terakhirku. Sebuah kalung berliontin love. Sinar matahari menyambut hadiahku. Aku segera berlari sekuat tenagaku. Aku harus segera tiba di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Noona… jeongmal mianhae… mian karena harus pergi dengan cara diam-diam seperti ini. Aku pergi, dan mungkin tak akan pernah bisa kembali. Jadi, jangan mencariku. (ah, mana mungkin noona mencariku! Aku terlalu PD, Hehehe).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Noona, aku tahu waktuku tak banyak. Makanya aku memberikan hal-hal yang bisa keberikan padamu sebagai hadiahku. Hadiah-hadiah lain sudah kukirim ke rumahmu. Aku tak yakin dilain waktu aku bisa memberikannya. Kuharap kau menyukainya, noona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berharap aku bisa mengalungkan kalung ini padamu. Tapi rasanya tak mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mianhae… karena sudah hadir dalam kehidupan noona dan mengusiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gomaweo, karena selama ini mau berbagi denganku. Gomaweo… karena sudah membiarkanku dekat denganmu, dan menganggapku sebagai dongsaeng-mu. Gomaweo karena sudah memperkenalkanku pada perasaan ini. Gomaweo karena sudah memberikanku cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jeongmal gomaweo noona, untuk segala hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ki Bum”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menulis itu untukmu. Mian, karena lari saat kau mengucapkan harapanmu. Jeongmal mianhae noona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar saja noona. Aku merasakan tubuhku melemah. Aku langsung menyambung kisah ini agar kelak ketika aku pergi, umma bisa memberikan ini padamu. Kisah kita yang kuingin noona mengenangnya. Kuharap noona tak membuangnya dari kotak kenangan noona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Noona, saranghae…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shin Hye meremas lembaran itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di mana dia?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu menggeleng lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air mata mengaliri pipi Shin Hye.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shin Hye menatap nanar pada gundukan tanah di depannya. “Kuharap, saat kau terlahir kembali aku bisa bertemu denganmu lagi, Ki Bum. Akan kukatakan kata yang tak sempat ku sampaikan padamu. ‘Ki Bum-ah… nado saranghae…’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-^-TAMAT-^-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; comment</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/feeds/7708065121013556906/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/2010/08/cerpen-kisah-untuk-di-kenang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6275639337218371895/posts/default/7708065121013556906'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6275639337218371895/posts/default/7708065121013556906'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/2010/08/cerpen-kisah-untuk-di-kenang.html' title='cerpen: Kisah untuk di kenang'/><author><name>Orina Fazrina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09984671521568892272</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6275639337218371895.post-8335227393135300381</id><published>2010-08-06T18:34:00.000-07:00</published><updated>2010-08-06T18:36:51.946-07:00</updated><title type='text'>cerpen: Apakah ini mimpi?</title><content type='html'>Update: 20 Februari 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Author: Imah Hyun Ae&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Theme Song: Picture Of You by DBSK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Is it Dream?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By Imah Hyun Ae&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Hana-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terik matahari memancar di atas langit. Keringat membanjiri tubuh. Aku berjalan ceria sambil membawa majalah yang baru kubeli. Majalah yang langsung menjadi kesayanganku. Tak boleh lecet sedikitpun! Tentu saja karena majalah itu berisi berita tentang idola koreaku, Shining Stars.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalian tahu, aku sudah menemukan nama korea yang pas untukku tahun lalu. Hyun Ae, artinya harapan dan cinta. Wah… secara resmi kupilih nama itu, hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terus berjalan dengan bahagia. Tidak mempedulikan sekelilingku. Sebuah mobil, dengan kecepatan penuh memberiku peringatan. Tapi terlambat! Aku sudah tak dapat bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ckiiiiiit!!!! Mobil merem sekuat tenaga, tapi….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bugh!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurasakan tubuhku terpental. Darah membanjiri tubuhku. Sakit!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si pengendara mobil shok untuk sesaat. Tapi detik berikutnya dia langsung tersadar dan dengan gemetar keluar dari mobilnya. Melihat keadaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibantu pejalan kaki di sekitar jalan itu, dia membopongku ke mobilnya. Ia kemudian membawaku ke rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah berapa lama aku terpejam, aku tak tahu. Saat mulai sadar aku merasa tubuhku sakit. Dan lemah. Kepala juga terasa begitu berat. Yang kuingat hanyalah sebuah peristiwa yang tak kupercaya. Mobil berwarna silver itu menabrakku, kemudian gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih mendapati kegelapan di sekitarku. Apakah mataku belum terbuka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kudengar beberapa suara asing. Apakah aku sedang bermimpi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ini mimpi, kenapa begitu sakit?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencoba membuka mataku. Berat! Mataku terasa berat. Tapi aku ingin melihat di mana aku sekarang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucoba sekali lagi. Seberkas cahaya masuk ke retinaku. Perlahan tetapi pasti penglihatanku semakin jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruangan putih dan bau yang tak mengenakkan. Bunyi yang cukup menganggu berasal dari sebelah kiriku. Aku menoleh. Kutemukan alat pendeteksi detak jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi bunyi itu adalah detak jantungku? Batinku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutemukan selang infus mengalirkan cairannya ke tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara yang tak kukenal datang lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencoba duduk. Ouch!!! Seperti yang kubilang, tubuhku terasa sangat lemah. Kuurungkan niatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang berpakaian putih, mungkin suster, dengan wajah oriental, mendekatiku. Ia tersenyum. Di belakangnya kulihat sosok wanita setengah baya. Matanya sayu. Terlihat sedih juga lelah. Siapa dia? Apa dia dokter yang merawatku? Pakaiannya bukan pakaian dokter. Hm… mungkin dia yang membawaku kemari? Ah, terserahlah. Nanti juga kutemukan jawabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suster itu sudah berdiri di sampingku. Memeriksa infus, kemudian tekanan darahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…………………………?” apa yang dia katakan? Aku tak mengerti sama sekali!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihatku menatapnya bingung dan panik. Dia berkata lagi. “……………………………?” aku tetap tak mengerti. Yang kutahu bahasanya bukan bahasa indonesia , atau bahasa sehari-hariku. Tapi… ini meragukan! Mustahil!! MUSTAHIL!!!! Mana mungkin yang kudengar bahasa korea ????!!! Pasti gara-gara aku terobsesi dengan negeri gingseng itu otakku jadi kacau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memejamkan mataku. Mencoba memperoleh kesadaranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah berapa lama aku di sini? Jangan-jangan karena terlalu lama tertidur jadi begini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membuka mataku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gwenchanayo??” suster itu mengatakan satu kata yang bunyinya seperti itu. Aku tahu kata itu artinya ‘tidak apa-apa’. Tapi… hei Hana!!! Sadarlah!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Suster, aku merasa ada yang salah dengan pendengaranku.” Aku memberitahunya sambil meringis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nde??” suster mengeluarkan kata yang berbunyi seperti itu. Lagi-lagi!!! Tuhan…. Tolong jangan ambil pendengaranku T.T&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“….? ……………….?” Aku tak mengerti!!!!! OH MY GOD!!!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Suster…” aku nyaris terisak, “pendengaranku…. Kenapa aku tak mengerti yang kalian ucapkan?!! Kenapa dengan telingaku suster???”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suster terlihat panik dan kebingungan. Membuat kepanikanku semakin meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita setengah baya yang sejak tadi memperhatikanku dan suster terlihat cemas. Dia mendekatiku. Mengelus kepalaku dengan lembut smabil mengatakan kata-kata yang tak kupahami lagi. Dengan berat hati harus kukatakan bahwa aku mendengar bahasa korealah yang meluncur dari bibirnya. TIDAAAAAaaaaaakkkkkkk!!!!!!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panik, aku menangis. Suster tersebut segera memanggil dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter perempuan di hadapanku berusaha setenang mungkin terhadapku. Tapi tetap saja itu tak berhasil. Aku tetap mendengar bahasa asing yang sama sekali tidak aku kuasai!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“AAAaaaaaaa………..!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” aku histeris sambil menutup kedua telingaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah suntikan hinggap di tanganku. Beberapa detik kemudian aku lemas. Tertidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya hari sudah menjelang senja. Kudapati rona jingga itu di dinding kamar ini. Aku baru saja tersadar dari suntik penenang yang diberikan dokter tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali menatap sekeliling. Kosong. Suster atau wanita setengah baya tadi tak ada di sini. Orang tuaku juga tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi aku mencoba duduk. Meski tubuh lemah, kuusahakan juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutatap hembusan angin yang menyibak tirai jendela di sebelah sana .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupaksakan kakiku melangkah. Menuju keluar . tertatih aku melewati lorong yang dipenuhi orang-orang tak kukenal. Dan lagi-lagi berwajah oriental!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mempertajam mataku. Terlihat dari nametag mereka huruf-huruf yang kukenal. Huruf hangul!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh My God!!!! Aku pasti bermimpi sekarang!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cemas aku memperhatikan sekeliling. Huruf-huruf di sekitar sama semuanya. Huruf hangul. Dan di bawahnya baru bertuliskan bahasa inggris. Apa mataku juga bermasalah?? Atau jangan-jangan aku sedang bermimpi sekarang?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu wajahku pucat. Ketakutan dan kebingungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bertanya pada seorang suster dengan bahasa inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Can you tell me where is this?” aku berharap bahasa Indonesia yang keluar dari mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menatapku. “Of course. This is hospital.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa namanya?” tanyaku terus dalam bahasa inggris. Ku harap dia menyebutkan nama yang berbau Indonesia . Amin…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rumah sakit internasional Seoul .” Jawabnya yang kembali dalam bahasa inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menatapnya tak percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi… ini korea ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suster itu mengangguk meski matanya menyatakan kebingungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar-benar Seoul ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suster itu mengangguk lagi. Kurasakan kepalaku berat. Lagi-lagi aku pingsan!! Aku harap, saat terbangun, aku benar-benar sudah tidak bermimpi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku tersadar, aku sudah berada di kamar rawatku lagi. Dan seseorang duduk di sampingku. Aku tak mengenalnya. Yang kutahu dia seorang laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bergerak lagi. Berusaha duduk. Orang di sampingku terbangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Yi Jung-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menunggui adikku, Hyun Ae, yang terbaring di ranjang rawatnya. Sudah lama ia sakit. Sakit yang kutahu hanya bisa diperlambat tanpa bisa menghentikannya. Kanker otak. Aku terkejut lagi saat kudengar dia pingsan. Padahal baru kemarin dia pingsan, yang membuatnya di larikan ke rumah sakit ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tegang. Menatap alat-alat yang berusaha membantunya untuk tetap bertahan hidup. Aku takut, dia akan pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi umma bercerita saat dia terbangun dia terlihat bingung. Mengatakan kata-kata yang tak di mengerti olehnya dan juga si suster. Dia berteriak ketakutan. Membuat dokter terpaksa menyuntikkan obat penenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya dia keluar dari kamar ini setelah sadar dari suntik penenang. Dia pingsan di lorong tak jauh dari kamar. Suster yang menemukannya, bukan yang berbicara padanya tepatnya, mengatakan pada umma bahwa dia bertanya padanya di mana dia berada dengan bahasa ingris. Saat di bilang di rumah sakit internasional Seoul dia malah bertanya “jadi ini korea ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saat di beritahu ini benar-benar korea dia pingsan. Ada apa dengannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menungguinya di sisi ranjangnya. Tak terasa aku tertidur. Entah untuk berapa lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kurasakan sesuatu bergerak. Aku membuka mataku dan menemukannya duduk di ranjang. Dia terkejut melihatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dongsaeng, gwenchanayo? Apa ada yang sakit?” aku berusaha untuk membuatnya merasa nyaman. Kuberikan seulas senyum. Tapi dia justru menatapku penuh tanya dan ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau baik-baik saja? Akan kupanggilkan dokter.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku beranjak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Hana-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang di sampingku terbangun. Dia bertanya padaku dengan, sial, lagi-lagi bahasa korea . Aku tak mengerti! Kubalas dia dengan tatapan bingung dan ketakutan. Dia berkata lagi. Kemudian pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan… apa aku masih di dunia mimpi??? T.T&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama dia datang bersama seorang dokter. Dokter itu berbicara padaku. Aku tak bisa menjawab karena tak tahu apa yang harus kujawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencari-cari sesuatu. Kemudian dengan isyarat tubuh seadanya aku meminta suster meminjamkan pen dan kertas yang dipegangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menulis dalam bahasa inggris dan kuharap dokter itu mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menyerahkan tulisan itu padanya. Kemudian dokter wanita itu berkata pada suster dan orang asing itu. Setelah itu mereka pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat mereka sudah keluar aku berkata pada dokternya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Docter, I don’t know how to tell you. I don’t know how I can be here. Yang terakhir kali kuingat aku ditabrak oleh sebuah mobil. Suster itu bilang ini korea , bagaimana bisa, sedangkan saat kecelakaan itu aku ingat benar bahwa aku masih di jalanan Bandung , Indonesia .”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter itu menatap heran padaku. Dia mencerna bahasa inggrisku yang pas-pasan dan tak sesuai grammer bahkan tensesnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kau ingat siapa dirimu?” dokter itu bertanya dengan lembut.         &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Aku Hana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter itu menatapku lagi. “Ingat siapa orang tuamu dan saudaramu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ingat.” Kusebutkan nama mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter itu bertanya lagi. Dan kujawab. Setelah pertanyaan selesai dia mengelus pundakku. “Jangan cemas. Kau akan baik-baik saja.” Dia tersenyum. Lalu keluar dari ruangan ini. Aku berharap semuanya segera berakhir. Ini menakutkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Yi Jung-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak tahu apa yang ditulis dongsaeng-ku. Tapi setelah membacanya, dokter meminta kami keluar. Aku menunggu dengan cemas. Sesekali aku melihatnya dari balik pintu. Mereka berbicara dengan pelan. Yang bisa kulihat jelas hanyalah wajah panik dongsaeng-ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian dokter keluar. Dia mengajakku ke ruangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya tidak tahu apa yang terjadi padanya. Tapi yang bisa saya simpulkan adalah, dia kehilangan ingatannya. Dia merasa asing dengan sekitarnya. Bahkan Anda, keluarganya. Saya menanyakan tentang Anda dan orang tua Anda padanya. Dia memberi jawaban yang berbeda. Dia menyebut nama yang lain. Apa anda mengenal nama Yano, Nana, dan Ryo?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggeleng. “Dia bilang Yano dan Nana adalah nama orang tuanya. Dan Ryo adalah adiknya. Dia tak ingat kalau dia tak punya adik melainkan kakak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia bilang dia sendiri bingung bagaimana bisa berada di sini, di Korea, padahal dengan sangat jelas dia ingat kalau dia kecelakaan saat berada di jalanan Bandung , Indonesia . Apakah dia pernah punya mimpi atau khayalan sendiri tentang dirinya dan keluarganya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya rasa tidak, Dok!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya khawatir, yang dia ingat sekarang adalah mimpinya. Bahkan saat saya menanyakan apakah dia bisa berbahasa Indonesia , dia mengangguk dan mengatakan kata-kata Indonesia yang katanya artinya ‘aku rasa aku bermimpi sekarang’. Saat saya mencoba bertanya dengan bahasa Korea , dia menatap saya dengan bingung. Dan itu bukan kebingungan yang dibuat-buat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksud dokter adik saya benar-benar kehilangan ingatannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belum bisa dipastikan. Kita lihat besok. Saya harap orang tua anda dan teman-teman dekat adik Anda bisa datang. Mungkin di antara mereka ada yang dia ingat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk. Kemudian pamit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Hana-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini bertambah lagi orang yang datang. Wanita yang kemarin, seorang paman, laki-laki yang menjagaku, satu orang yang ku kenal wajahnya, seorang lagi tidak, dan seorang gadis yang sebaya denganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka satu-per satu bertanya padaku, siapa mereka dan apakah aku mengenal atau merasa kenal dengan wajah mereka. Aku menjawab sesuai yang kutahu. Dengan jujur aku bilang bahwa aku tak kenal mereka. “Tapi….” Mereka menatap penuh harap, “rasanya wajahnya mirip sekali dengan member Shining Stars. Dia mirip dengan JunHo.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka saling pandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tidak ingat nama kami?” seseorang yang mirip dengan JunHo, member Shining Stars, bertanya padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa kau ingat kapan kau mengenalku?” Tanya seorangnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggeleng. “Aku baru bertemu kalian di sini. Aku tak mengenal kalian. Hanya yang kutahu dia mirip dengan member Shining Stars.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hyun Ae-ah!” kata yang mirip JunHo, “Kau benar-benar melupakanku! Kami!! Jung Min,” dia menunjuk dirinya, “dan Young Jia,” dia menunjuk laki-laki di sebelahnya, “Sahabatmu! Apa perlu kupanggilkan yang lain agar kau ingat? Kita pernah liburan ke pulau Jeju bersama dengan Yi Jung hyung!” ucap Jung Min.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menatapnya bingung. Yi Jung menepuk pundak Jung Min dan berbisik. “Bukankah sudah kukatakan dia asing dengan bahasa Korea !?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jung Min menatapku. “Apa kau mengerti yang kukatakan barusan?” tanyanya dalam bahasa yang dipahamiku. Aku menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Young Jia berkata dengan bahasa inggris yang mencemaskan. “Kamu tidak mengenal kami? Hanya merasa dia mirip dengan member idolamu?” kali ini dengan ekpresi berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aish… kau membuatnya takut, hyung!” Jung Min menjitak kepala Young Jia. Dia meringis. Senyum terukir di wajahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa begini lebih baik? Sepertinya tidak buruk, batinku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter kembali menananyakan siapa namaku. Aku jawab “Hana”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa Anda ingat dengan nama ‘Hyun Ae’?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menatapnya. Bagaimana dia tahu itu nama korea pilihanku. “Itu nama Korea yang kupilih sendiri untukku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menatapku tak percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biasanya… kupakai… untuk nama tokoh di FanFic dan juga nama Facebookku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menghela napas berat. Saling tatap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian wanita setengah baya yang menatapku sedih sejak tadi mengeluarkan album foto, foto diri mereka ada di sana , bersama denganku. Bagaimana mungkin?!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalamnya ada tulisan hangul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Do you remember?” dokter itu bertanya. Aku kembali menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tahu gadis ini berwajah sama denganku,” kataku sambil menunjuk sosok yang kumaksud, “Tapi aku merasa tak pernah berfoto di sini dan bersama mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat kesedihan semakin terpancar di wajah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka kemudian meninggalkanku, bersama dengan album foto itu. Mereka berdiskusi di luar. Entah apa yang mereka bicarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Dokter itu masuk dan mengatakan bahwa wanita setengah baya dan paman itu adalah orang tuaku. Aku nyaris tertawa. Bagaimana mungkin!???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia bilang, namaku bukan Hana seperti yang kuingat, tapi ‘Hyun Ae’-lah namaku sebenarnya. Tidak mungkin!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter bilang benar aku punya saudara. Tapi bukan adik laki-laki, melainkan Kakak laki-laki. Dan dia bernama Yi Jung. WHAT????&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jung Min dan Young Jia adalah sahabatku, dan benar, kami sama-sama mengidolakan Shining Stars. It’s imposible!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter menambahkan aku kehilangan ingatanku dan kemungkinan orang-orang yang kuingat, Bandung , dan negaraku, adalah bagian dari imajinasiku yang tidak hilang, sehingga aku percayai hal itu sebagai kenyataannku. Ouch! Bagaimana bisa???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lain sudah pulang. Tinggal oppa dan umma (aku diharuskan memanggil mereka begitu mulai sekarang) yang menungguku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka sudah tertidur. Tapi mataku masih dalam keadaan 100 watt. Aku berpikir, bagaimana bisa selama 20 tahun hidupku, Indonesia dan Bandung cuma di dunia mimpi???? Aku ingat betul bagaimana aku tumbuh besar. Lingkunganku. Sekolahku. Teman-temanku. Kegilaanku pada idolaku. Kesenanganku dalam menulis cerita. Itu pasti bukan mimpi. Tak ada mimpi yang selama itu. Kejadian saat inilah yang mimpi. Benar kan ? Aku benar kan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Argh… aku bisa gila. Kuharap aku bisa tidur sekarang. Dan saat terbangun aku sudah di dunia nyataku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisiku sudah membaik dan aku diperbolehkan pulang. Ke rumah yang tak pernah kuingat bahkan kuakui sebagai rumahku. Terlalu mewah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, Tuhan, aku masih di dunia mimpi rupanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang jalan tadi aku melihat ruas-ruas jalan dengan antusias. Ada perasaan sedih sebenarnya. Juga bingung. Sekarang aku tak tahu apa yang harus kupercayai. Kehidupanku di Indonesia atau cerita mereka tentangku yang di Korea .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari berlalu. Aku lebih sering bicara dengan Jung Min oppa, karena dialah orang yang bisa kuajak bicara. Young Jia oppa, bahasa inggrisnya mencemaskanku. Juga membingungkan. Dia lebih parah dariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin aku bertemu dengan sahabatku yang lain, Jae Jin, Changmin, dan Jin Ki . Mereka menjengukku. Mereka berharap aku kembali ingat dengan semua kenangan yang pernah ‘Hyun Ae’ dan mereka buat. Bermain di taman bermain, ke villa, permainan truth or dare yang selalu berhasil membuat Young Jia oppa terjahili. Jika itu kenyataanku, aku pun ingin mengingatnya. Huhuw… aku ingin punya kenangan indah seperti itu T.T&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari mereka mengajakku ketempat-tempat yang kata mereka pernah dikunjungi bersama. Mereka membuat kenangan yang sama lagi. Berfoto ria. Saling canda. Main petak umpet juga dan banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, betapa bahagianya jika ini memang nyata. Kenangan ini, meski cuma mimpi, akan kuingat selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami masih istirahat di taman yang sepi. Untunglah…. Aku mengatur napasku, begitu juga dengan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah lama kita tidak seperti ini,” kata Jung Min oppa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jae Jin onnie  menatapku. “Bagaimana? Apa kau merasakan dejavu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini untuk kesekian kalinya dia menanyakan hal itu. Sejak dari awal perjalanan kami. Yi Jung oppa tidak ikut karena ada kesibukan. Seandainya bisa dibatalkan, dia akan membatalkannya katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memilih diam. Aku tak mengingat apapun. Justru menempatkan peristiwa ini di memori kenanganku, yang akan selalu kubuka setiap waktu di sadarku nanti. (ah, aku masih yakin ini mimpi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jin Ki oppa menyikut Jae Jin onnie. Membisikkan sesuatu. Kemudian kudengar dia meminta maaf padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami ingin kau segera mengingat kejadian yang terekam di foto yang kau lihat kemarin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foto itu. Foto penuh kecerian di antara mereka. Ku bilang ‘mereka’ karena aku memang tak pernah ada di sana . Yang ada di sana adalah ‘Kim Hyun Ae’ bukan aku, ‘Hana’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“YAA!!!!” kudengar changmin oppa berteriak. Kulihat Young Jia berlari membawa keripik kentangnya Changmin. Dia berteriak dengan bahasa korea . Mungkin meminta Young Jia oppa mengembalikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku dengar Jin Ki oppa bergumam. Jae jin onnie dan aku hanya tertawa melihat tingkah kekanak-kanakkan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tak perlu memaksa apa yang tak bisa kau ingat,” bisik Jung Min oppa. Aku menoleh. Aku tak tahu sejak kapan dia di sampingku. Sial! Lagi-lagi jantungku berdebar hebat! Ini selalu terjadi jika aku di dekatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jung Min oppa tersenyum. Mengelus kepalaku dengan lembut. “Jangan memaksakan diri. Jika bagimu ini mimpi, maka biarkan dalam mimpimu kami membuat kenangan indah bersamamu, Hana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyaris menangis aku mendengar kata-katanya. ‘Hana’, untuk pertama kalinya nama asliku disebut, dan itu keluar dari bibirnya. Oppa, gomawo…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berjanjilah, jika kau terbangun, kau akan tetap mengingat mimpi indah ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangguk. “Ku harap oppa bermimpi hal yang sama denganku.” Air mata benar-benar jatuh di pipiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengangguk sambil mengusap air mataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lihat, si playboy beraksi,” kata Changmin pada Young Jia. Jin Ki dan Jae Jin menoleh ke arah kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya!!!” Jung Min oppa berteriak. “Siapa yang kalian bilang playboy???”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Changmin dan Young Jia segera bersembunyi di belakang Jin Ki dan Jae Jin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aish….” Jung Min oppa mengeluh kesal. Ekspresinya imut sekali. Seperti anak kecil yang merajuk. Membuatku gemas. Kejadian ini tak akan pernah kuhapus dari ingatanku! Aku janji!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Jung Min-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir dua bulan sudah. Ingatan Hyun Ae tak kembali. Aku sering bersamanya, karena bersamanya terasa menyenangkan. Rasanya aku bertemu teman dari Negara asing. Mengajarinya beberapa kata-kata korea , dan juga mengenalkannya pada budaya dan tempat-tempat wisatanya. Hehehe.... ^_^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin, tanpa diketahui yang lain, aku bertanya padanya, “Hana, kau orang dari Indonesia yang pertama kali kukenal. Senang bisa bertemu denganmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tersenyum. Sangat manis. Lebih manis dari Hyun Ae. Tapi, bukankah mereka orang yang sama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika kau tidak keberatan, bolehkah aku tahu bagaimana kau bisa mengenal Shining Stars? Mereka kan dari korea? Apa dari mereka yang paling kau sukai?” tidakkah ini seperti sebuah wawancara eksklusif? Hehe :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengangguk. Bercerita dengan antusias. Dia bilang dia mengenal Shining Stars dari majalah asia di negerinya. Awalnya, Cuma kenal wajah saja. Tak tahu seperti apa suara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, saat membeli lagi, dia mendapatkan bonus dvd dan di dalamnya ada mv mereka, perasaan cinta itupun dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan yang kusukai dari mereka, adalah saat mereka berlima bersama. Menyanyi, menari, bahkan kejahilan, asalkan mereka bersama, itu adalah saat yang paling kusukai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu, member mana yang menarik perhatianmu lebih dulu?” aku rasa ini benar-benar sebuah wawancara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“JunHo oppa. Dia tampan, dan pandai menari. Dia seorang leader yang kukagumi. Aku semakin menyukainya saat tahu dia disebut apotik berjalan. Dia begitu mencemaskan member yang lain. Benar-benar seorang leader.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ada member lain yang kau sukai juga?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengangguk. Wajahnya memerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aish…“Siapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tae Kyung.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa ada hal yang kau lakukan untuk menunjukkan betapa kau menyukai mereka? Selain mengoleksi lagu dan foto.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berpikir sebentar. “Selain mengoleksi lagu dan foto, baju bertuliskan nama mereka atau gambar mereka, aku membuat cincin berukiran nama mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benarkah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengangguk malu-malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Satu di jari manis kananku, dan satunya di jari manis kiriku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau memakai keduanya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tersenyum malu. Membuatku gemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku juga membeli gelang yang bertempel huruf S-Stars dan bintang mengapit huruf itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengangguk. “Awalnya aku mau yang bertuliskan nama member. Tapi tak bisa kupakai semua. Harus ku lepas dan pasang lagi, jadi kuputus kan membuat S-Stars saja. Serasa semua member bersamaku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hm… sebagai kenang-kenangan, mau mendengarkan permainanku? Ini K-pop yang kusukai. Meski ini bukan lagu Shining Stars kuharap kau suka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku beranjak, mendekati piano yang ada di rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Aku sangat suka lagu Why have I fallen for You, Tea for Two, Begin, My Little Princess, dan One. Ini lagu-lagu DBSK, kau kenal?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mm-mm. Mereka juga grup yang kusuka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu, mau dengar yang mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau bisa semuanya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begitulah…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wow…” dia terlihat kagum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kalau One saja?” aku menawarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengangguk. Matanya berbinar bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hari ini aku mengunjunginya lagi. Sekalian menemaninya check up. Dia terlihat baik meski rona pucat di wajahnya masih terlihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum pergi aku memberinya sebuah kejutan. Aku menyematkan kejutan itu di jari manis kanannya. Benar, kejutan itu adalah sebuah cincin yang berukir namaku dan namanya. Kau tidak tahu betapa hatiku menjerit kegirangan saat memberikannya padanya!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kupakaikan lagi kejutan berikutnya di tangan kanannya. Sebuah gelang berukirkan S-Stars yang hanya ada di korea. Sangat cantik ketika gelang itu ada di pergelangan tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gomawo oppa. Terima kasih banyak.” Ia sesegukan. Aku tahu dia sangat menyukai hadiah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merengkuhnya kepelukanku. Hatiku lagi-lagi heboh begini!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menemaninya ke rumah sakit bersama Young Jia. Dokter mengatakan kondisinya membaik. Dia berpesan agar Hyun Ae menjaga kesehatannya . Juga meminum obat yang dia berikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Hyun Ae bersiap-siap untuk pulang, Young Jia menarikku keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku melihat yang kau lakukan pagi tadi. Kau mewujudkan apa yang dia ceritakan. Tidakkah kau ingat bahwa kita diminta untuk membuanya mengingat semua ingatannya yang hilang? Tingkahmu pagi tadi seolah membenarkan bahwa dia seorang ‘Hana’, bukan ‘Hyun Ae!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku…” aku berpikir sesaat. “Aku merasa kasihan padanya. Dia seperti tersesat. Dia mengingat dirinya adalah ‘Hana’ tapi orang-orang menuntutnya menjadi ‘Hyun Ae’. Tidakkah kau lihat saat aku tak menganggabnya sebagai ‘Hana’ dia begitu kesepian dan kebingungan? Kita menganggapnya ‘Hyun Ae’ kita, tapi itu justru membuatnya merasa tak nyata. Dia butuh seseorang membenarkan ingatannya, hyung. Dan lihat, dia jauh lebih terbuka saat aku menganggapnya sebagai ‘Hana’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Young Jia diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia menganggap dirinya sedang bermimpi sekarang, hyung. Jadi biarlah, selama dia belum terbangun dari mimpinya, biarkan aku menganggapnya sebagai ‘Hana’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aish… terserahlah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Young Jia berbalik dan aku mengikutinya. Kami menuju ruangan di mana Hyun Ae tadi berada. Raut wajahnya terlihat berbeda. Ada apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Hana-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendengar pembicaraan Jung Min dan Young Jia. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Siapa aku? ‘Hana’ atau ‘Hyun Ae’? Ugh! Aku mulai kehilangan jati diriku sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah?” Jung Min oppa bertanya. Aku mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menatapku. Dan kutahu pasti itu adalah tatapan kasihan. Kenapa aku kesal??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepertinya ada yang sedang badmood.” Kudapati dia melirikku lewat kaca spion. Aku masih diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hana, apa kau punya mimpi melihat live perform mereka?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendelik sekilas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia kemudian menelpon seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, kita ke gedung sekarang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia membawa mobil menuju tempat yang tak ku kenal. Ada banyak orang di sana . Kami naik hingga ke lantai 4. Sebuah ruangan dengan kaca besar di depan. Aku dan mereka masuk ke dalam. Ada beberapa orang di dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hari ini tidak ada latihan, makanya sepi. Meski mereka tidak lengkap, kuharap kau menyukainya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menghidupkan musik dan beberapa orang yang ku kenal sebagai member Shining Stars mulai menyanyi dan menari. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Hanya mematung dan memandang dengan takjub apa yang kulihat. Mereka sesekali bercanda. Meski tidak mengerti apa yang mereka katakan, tingkah mereka cukup berhasil membuatku tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menari lagi. Kali ini seperti pertarungan siapa dance terbaik. Jung Min memberi gerakan dan member Shining Stars menirunya. Wow… hanya kata itu yang mampu kuucapkan saking kerennya!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku baru tahu kalau Jung Min oppa bisa dance. Keren!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jung Min tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tadi ekspresi oppa yang tak mau kalah lucu sekali. Oh, ya, oppa, bagaimana oppa bisa masuk ke gedung managemen mereka?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayahku manager manajemen ini, karena tahu aku fans mereka, ayah mengajakku ke mari dan mengenal mereka. Sejak saat itu kami berteman. Kalau saja kau ingat, kau sudah pernah ke mari dan bertemu mereka langsung sebelumnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh? Maaf…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudahlah, kita bahas hal lain saja. Eh, bagaimana kalau kita ke sungai Han?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mmm…. Boleh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan, jika ini memang mimpi, biarlah. Aku ingin tetap di sini lebih lama lagi. Boleh kan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gomawoyo Jung Min oppa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari sudah malam. Yi Jung oppa masih sibuk. Ayah dan ibu juga begitu. Mereka meminta Jung Min oppa menemaniku di rumah. Mereka terlalu cemas, sehingga memaksa biar ada seseorang yang sigap yang menjagaku. Ah, terserahlah. Ini cukup menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami duduk di ruang keluarga dan berbicara banyak hal. Tanpa kusadari dia telah tertidur. Aku menatapnya sesaat. Pelan-pelan aku melangkah menuju kamar. Mengambil selimut. Kemudian ke ruang keluarga lagi. Dia masih terlelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan aku menyelimutkan selimut itu padanya. Kupandangi lagi wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kata yang kutahu artinya meluncur dari bibirku. Aku tahu dia tak akan menjawab karena dia tak mendengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saranghaedo dwelkayo oppa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melanjutkan memandangi wajah tampanya. Wajahnya yang tenang dan begitu polos. “Jeongmal… saranghae oppa,” kataku lagi, lalu pergi ke kamarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat sebelum Jung Min pulang, di depan pintu rumah dia menarikku mendekat ke arahnya. Dia membisikan kata yang membuat waktuku terhenti seketika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I give you permissioin foir love me,” bisiknya. Dia menjauh sedikit. Tersenyum sekaligus mengedip jahil padaku. Kemudian pergi. Aku tahu saat itu wajahku memerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa aku berpikir dia tidur tadi malam? Malunya….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba kepalaku terasa pusing. Tubuhku terasa sakit. Yi Jung oppa yang baru pulang pagi tadi cemas melihatku yang tiba-tiba pucat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia segera membawaku ke rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menangis. Sakitnya tak bisa kutahan lagi. Yi Jung oppa terus memintaku bertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tiba di rumah sakit akhirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku merasa napasku sesak. Mataku berkunang-kunang. Kemudian gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membuka mata. Kudapati diriku di ruangan serba putih lagi. Sosok yang kukenal menatapku cemas. Dia ibu, ayah, dan adikku. Di mana aku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini…” lirihku. Aku lemas… Aku sudah terbangun dari mimpi rupanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menatapku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu, ayah… berapa lama aku tidur?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka saling tatap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau sudah bisa berbahasa Indonesia ?” Tanya Ryo, adikku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ryo lalu menceritakan tentang aku yang siuman dua bulan lalu. Dia bilang aku mengatakan kata-kata asing. Entah apa. Mengaku sebagai ‘Hyun Ae’ dan berasal dari ‘ Seoul alias Korea Selatan’. Kemudian dokter memfonisku kehilangan ingatan tentang mereka dan juga cara berbicara dalam bahasa Indonesia karena kecelakaan itu. Setelah sehat aku diperbolehkan pulang. Mereka terpaksa menggunakan bahasa inggris untuk berkomunikasi denganku, karena hanya itu satu-satunya bahasa yang kupahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menatap tak percaya. Kutanyakan bagaimana aku bisa berada di rumah sakit lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia bilang aku meringis kesakitan. Menggigil dan berkeringat dingin. Lalu tiba-tiba pingsan saat di perjalanan menuju rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untunglah kau tidak apa-apa sekarang,” kata ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hana kami sudah kembali,” kata ibu sambil menyeka air matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terheran-heran sekaligus takjub.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi yang kualami selama dua bulan ini bukan mimpi? Aku bertukar jiwa dengan Hyun Ae yang sesungguhnya. Jadi benar kalau selama dua bulan itu aku pernah bersama orang korea? Jadi… Jung Min oppa dan yang lainnya nyata? Juga… pertemuan dengan member Shining Stars??? YAYY!!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum kegirangan sendiri. Tapi tiba-tiba aku tersadar bahwa Jung Min oppa selama dua bulan itu masih menganggapku sebagai Hyun Ae yang tersesat. Apa dia sekarang menyadari bahwa Hyun Ae yang tersesat itu adalah aku, ‘Hana’?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku teringat cincin dan gelang yang diberikannya. Aku melihat tangan kananku. Cincin dan gelang itu tak bersamaku. Sedih rasanya. Tapi… aku melihat sesuatu yang melingkari jariku. Seperti sebuah cincin, dan di jari manisku tertulis sebuah nama kami. “Min♥Hana”, sama dengan ukiran di cincin yang Jun Min oppa berikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jantungku nyaris tak berdetak. Kulihat pergelangan tanganku. Seperti dilingkari sesuatu. Aku membalik tanganku, membuat telapak tangannya menghadap ke atas. Di pergelanganku terlihat sebuah tulisan. “S-Stars”, lagi-lagi ukirannya sama. Seperti ukiran gelang yang diberinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini tidak mungkin, tapi ini nyata!!!! NYATA!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mungkin tak membawa kedua hadiah itu ke sini, tapi mereka terbawa bersamaku. Terukir nyata dikulitku. Seperti sebuah tanda lahir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, aku tak pernah percaya bahwa hal-hal yang kita lakukan sekecil apapun akan berhubungan dengan masa depan kita. Tapi sepertinya, aku harus mempercayainya sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu di rumah sakit internasional Seoul .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;­-Jung Min-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku, Young Jia, Changmin, Jin Ki, Jae Jin, Yi Jung hyung, dan orang tuanya menatap tak percaya pada Hyun Ae yang ada di depan kami. Dia menangis di pelukan ibuya sambil bercerita tentang dirinya yang menurutnya bermimpi tiba-tiba berada di Indonesia. Kuulangi INDONESIA !!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia di panggil ‘Hana’ di sana . Bukti-bukti dia memang pernah ada di sana nyaris membuatnya percaya kalau dia adalah ‘Hana’ dan kehilangan ingatannya. Dari foto-foto keluarga, teman, dan alumni!!! Dua bulan, dia masih mendapati dirinya di sana , membuatnya nyaris percaya kalau hidupnya selama 20 tahun di korea ini cuma mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia lega karena akhirnya terbangun dan mendapati appa, umma, oppa, dan kami, orang-orang yang di kenalnya di Korea , ada di depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum. Teringat tentang Hana. Ini sulit dipercaya tapi ini adalah kenyataan. Hana dan Hyun Ae, dua gadis yang tertukar jiwa. Apa dia baik-baik saja di sana ? Apa dia sudah sadar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yi Jung hyung menyerahkan sebuah cincin dan gelang padaku. Cincin dan gelang yang kuberikan pada ‘Hana’. Ah, dia meninggalkannya. Tidak! Mungkin tak bisa di bawanya pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini bukan untuk adikku, aku tahu itu. Makanya aku kembalikan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gomawo, hyung.” Aku mengambilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yi Jung pamit pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat dia pergi aku meraih ipodku. ‘Picture of You’ milik DBSK mengalun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As much as the sun that rises above you,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I&#39;ll keep you safe as much as you&#39;ve waited for me, with this glaring heart,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;All the dreams I&#39;ve prayed for,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;They&#39;re going towards you with my sincere scent&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupandang kedua benda yang tak bisa Hana bawa, pandanganku beralih ke langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hana, apa kau ingat? Saat itu kau menganggap semua ini mimpi dan aku menganggap kau tersesat, di taman, hari itu aku berkata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tak perlu memaksa apa yang tak bisa kau ingat,” aku berkata sambil mengelus kepalamu dengan lembut. “Jangan memaksakan diri. Jika bagimu ini mimpi, maka biarkan dalam mimpimu kami membuat kenangan indah bersamamu, Hana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hana, apa aku sudah melakukannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa kau mengingat ‘mimpi’ itu? Sekarang buatku, semua yang terjadi adalah kenyataan. Kata-katamu dan aku yang mengijinkanmu mencintaiku adalah kenyataan. Aku merindukanmu di sini. Apakah di sana kau merindukanku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nun jauh di sini, seorang gadis terlihat berdiri di balkon rumahnya sambil memandang langit. Headset terpasang di telinganya. Alunan lagu ‘Picture of You’ DBSK mengalun. Memberi kehangatan di hatinya. “Oppa…,” bisiknya, “bogoshipda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin seolah menyampaikan kata rindu itu pada orang yang dimaksud. Karena setelah kata itu selesai diucapkan, di ujung sana Jung Min tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As much as the sun that rises above you,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I&#39;ll keep you safe as much as you&#39;ve waited for me, with this glaring heart,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I love you, I love you,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You&#39;re the most beautiful in this world,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This dream-like heart,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;More than the air I breathe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~Tamat~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;comment ya...^^</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/feeds/8335227393135300381/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/2010/08/cerpen-apakah-ini-mimpi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6275639337218371895/posts/default/8335227393135300381'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6275639337218371895/posts/default/8335227393135300381'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerpenhyunae19.blogspot.com/2010/08/cerpen-apakah-ini-mimpi.html' title='cerpen: Apakah ini mimpi?'/><author><name>Orina Fazrina</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09984671521568892272</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>