<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-607205174887941626</atom:id><lastBuildDate>Sun, 08 Mar 2026 08:24:14 +0000</lastBuildDate><category>Jurnalistik</category><category>Curhatan Jurnalis</category><category>Opini Publik</category><category>Etika Hukum Pers</category><category>Media Massa</category><category>Penulisan Berita</category><category>Jurnalis</category><category>Komunikasi Politik</category><category>Penulisan Artikel</category><category>Pers Indonesia</category><category>Integritas</category><category>Penulisan Feature</category><category>Delik Pers</category><category>Fikom</category><category>Karya Tulis</category><category>Kode Etik Jurnalistik</category><category>Page Rank</category><category>Belajar Menulis</category><category>Fikom Jurnalistik</category><category>Humas</category><category>Kuliner Bandung</category><category>Makalah Komunikasi Massa</category><category>Mankom</category><category>Musik</category><category>straight news</category><category>|-Team-Tuzi-|</category><title>Fikom-Jurnalistik</title><description>new author</description><link>http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Reza Natadipura)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>83</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><language>en-us</language><itunes:explicit>clean</itunes:explicit><itunes:image href="http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/"/><itunes:subtitle/><itunes:category text="Education"><itunes:category text="Higher Education"/></itunes:category><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-607205174887941626.post-3857112819044493334</guid><pubDate>Sun, 13 Jan 2013 11:40:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-01-13T03:40:52.560-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Curhatan Jurnalis</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Delik Pers</category><title>Tentang Hak Cipta</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgP_74wRNQ6mvPrPrycK55zJPWrzrRxhsB6H6v2ePBrS9Wl7eiiFd1OcRNvjF13jrury9obhnmhvLVyW_owmexp5MmOYbT5J5OnwZBA5st-OANe92wXcEWWBjjCv14rqnmnkiiCH5HIpVk/s1600/Apa+itu+HAKI+dan+Hak+Cipta.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="218" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgP_74wRNQ6mvPrPrycK55zJPWrzrRxhsB6H6v2ePBrS9Wl7eiiFd1OcRNvjF13jrury9obhnmhvLVyW_owmexp5MmOYbT5J5OnwZBA5st-OANe92wXcEWWBjjCv14rqnmnkiiCH5HIpVk/s400/Apa+itu+HAKI+dan+Hak+Cipta.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Memiliki pengalaman yang sedikit dan ilmu pengetahuan yang sempit membuat saya harus banyak dan lebih banyak lagi belajar. Apapun itu membuat saya akan terus berkembang, Sedikit mencari tahu tentang hak cipta, saya ingin coba memberikan sebuah pengertian hak cipta versi wikipedia.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hak_cipta" target="_blank"&gt;Hak cipta&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; (lambang internasional: ©, Unicode: U+00A9) adalah hak eksklusif Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengatur penggunaan hasil penuangan gagasan atau informasi tertentu. Pada dasarnya, hak cipta merupakan "hak untuk menyalin suatu ciptaan". Hak cipta dapat juga memungkinkan pemegang hak tersebut untuk membatasi penggandaan tidak sah atas suatu ciptaan. Pada umumnya pula, hak cipta memiliki masa berlaku tertentu yang terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hak cipta berlaku pada berbagai jenis karya seni atau karya cipta atau "ciptaan". Ciptaan tersebut dapat mencakup puisi, drama, serta karya tulis lainnya, film, karya-karya koreografis (tari, balet, dan sebagainya), komposisi musik, rekaman suara, lukisan, gambar, patung, foto, perangkat lunak komputer, siaran radio dantelevisi, dan (dalam yurisdiksi tertentu) desain industri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hak cipta merupakan salah satu jenis hak kekayaan intelektual, namun hak cipta berbeda secara mencolok dari hak kekayaan intelektual lainnya (seperti paten, yang memberikan hak monopoli atas penggunaan invensi), karena hak cipta bukan merupakan hak monopoli untuk melakukan sesuatu, melainkan hak untuk mencegah orang lain yang melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum yang mengatur hak cipta biasanya hanya mencakup ciptaan yang berupa perwujudan suatu gagasan tertentu dan tidak mencakup gagasan umum, konsep, fakta, gaya, atau teknik yang mungkin terwujud atau terwakili di dalam ciptaan tersebut. &lt;i&gt;&lt;b&gt;Sebagai contoh,&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; &lt;i&gt;hak cipta yang berkaitan dengan tokoh kartun Miki Tikus atau lebih akrab dipanggil Micky Mouse melarang pihak yang tidak berhak menyebarkan salinan kartun tersebut atau menciptakan karya yang meniru tokoh tikus tertentu ciptaan Walt Disney tersebut, namun tidak melarang penciptaan atau karya seni lain mengenai tokoh tikus secara umum.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, masalah hak cipta diatur dalam Undang-undang Hak Cipta, yaitu, yang berlaku saat ini, Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002. Dalam undang-undang tersebut, pengertian hak cipta adalah "hak eksklusif bagi pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku" (pasal 1 butir 1).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2013/01/tentang-hak-cipta.html</link><author>noreply@blogger.com (Reza Natadipura)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgP_74wRNQ6mvPrPrycK55zJPWrzrRxhsB6H6v2ePBrS9Wl7eiiFd1OcRNvjF13jrury9obhnmhvLVyW_owmexp5MmOYbT5J5OnwZBA5st-OANe92wXcEWWBjjCv14rqnmnkiiCH5HIpVk/s72-c/Apa+itu+HAKI+dan+Hak+Cipta.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-607205174887941626.post-2668203386153776549</guid><pubDate>Mon, 07 Jan 2013 05:16:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-01-06T21:18:22.097-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Curhatan Jurnalis</category><title>Tugas Makalah Bikin Pusing</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgJk6sEh1VifQnbi3HFnDBakorYFlHsAoV1PxMsmqhee1RnFhp5ttcZL0dxzAl8qvpLzjxeuzjHXv_Y4bYWefLi40JH6yedFq84WE_Iycl346wviRlXsF0nWFOK5562GK-xQPIYDrpw19U/s1600/Kenapa+Saya+Harus+Mengerjakan+Tugas.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="218" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgJk6sEh1VifQnbi3HFnDBakorYFlHsAoV1PxMsmqhee1RnFhp5ttcZL0dxzAl8qvpLzjxeuzjHXv_Y4bYWefLi40JH6yedFq84WE_Iycl346wviRlXsF0nWFOK5562GK-xQPIYDrpw19U/s400/Kenapa+Saya+Harus+Mengerjakan+Tugas.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Menyadari akan banyaknya keluhan di dalam hati para mahasiswa ketika mereka hendak diberikan tugas makalah yang kadang tidak satu mata kuliah membuat kita pusing dan stres. Bingung dan solusinya adalah mencari ke google dengan langsung mengetikan kata kunci tugas mereka seperti misalnya "Tugas Makalah Biologi" atau makalah apapun itu.&lt;br /&gt;
&lt;h3 style="text-align: left;"&gt;
Tugas Makalah Bukan Masalah&lt;/h3&gt;
&lt;div&gt;
Sebenarnya saat anda diberikan tugas oleh dosen untuk membuat sebuah makalah jangan dijadikan ini suatu masalah. Masalahnya adalah ketika anda mengerjakan makalah ini bukan dengan apa yang anda pelajari atau bisa dibilang dibuatkan sama teman. Hal ini akan menjadi masalah ketika nanti anda lulus kuliah nampaknya, ada beberapa hal yang tidak akan dijelaskan oleh dosen saat mereka memberikan tugas. Begitupun dengan tugas makalah yang sangat membosankan.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Sebagai mahasiswa mungkin anda akan menurut saja untuk membuat makalah dengan mencari contoh tugas makalah di Google lalu langsung mengcopy habis-habisan seluruh isinya atau mencoba sedikit memodifikasi bahasa yang digunakan pada makalah sebelumnya. Tapi ingat, ada hal penting nantinya ketika anda lulus jika anda sangat menguasai pembuatan makalah mulai dari analisa, mencari data sampai proses penulisan makalah tersebut. Hal ini akan sangat berguna dan tidak akan saya beri tahukan, karena bagi anda yang saat ini masih kuliah, anda pun akan merasakannya suatu hari nanti ketika anda lulus kuliah dan mencoba melamar pekerjaan disebuah instansi ataupun perusahaan.&lt;/div&gt;
&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;
Kenapa Saya Harus Mengerjakan Tugas?&lt;/h4&gt;
&lt;div&gt;
Beberapa alasan saya mengerjakan tugas adalah untuk mendapatkan nilai dan hampir semua mahasiswa pun melakukan hal yang sama. Tahukan anda dibalik tugas-tugas itu terdapat beberapa manfaat yang tidak kita ketahui (saat masih kuliah) dan akan menjadi berguna saat nanti. Selain melatih kita untuk menulis dan memahami banyak hal, tugas dapat membuat tolak ukur seberapa besar tanggung jawab kita pada saat itu. Jika kita tergolong pada orang yang tidak bertanggung jawab mungkin kita akan meninggalkan tugas tersebut lalu pergi bermain dsb. Inilah alasan positif yang bisa saya ambil kenapa ada tugas disetiap lembaga pendidikan. Dibawah ini ada contoh tugas makalah yang pernah saya buat bersama teman saya pada saat masih kuliah, mungkin anda bisa mencobanya.. ;)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;a href="http://fileband.com/0jfj5r2r01dk.html" target="_blank"&gt;Tugas Makalah&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2013/01/tugas-makalah-bikin-pusing.html</link><author>noreply@blogger.com (Reza Natadipura)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgJk6sEh1VifQnbi3HFnDBakorYFlHsAoV1PxMsmqhee1RnFhp5ttcZL0dxzAl8qvpLzjxeuzjHXv_Y4bYWefLi40JH6yedFq84WE_Iycl346wviRlXsF0nWFOK5562GK-xQPIYDrpw19U/s72-c/Kenapa+Saya+Harus+Mengerjakan+Tugas.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-607205174887941626.post-2653879138217288628</guid><pubDate>Sun, 06 Jan 2013 14:18:00 +0000</pubDate><atom:updated>2013-01-06T06:18:09.798-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Belajar Menulis</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Curhatan Jurnalis</category><title>Jangan Takut Nulis!</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhiWmqRD-mh9lMLRQBEgjl1Zx4O3j0J-ChxJGR_DxHsKF7ho8iYMOWE8vCQvh7IOCWcAjyxFAKhHfgcZE077vU9Df3Is7UmRe5fqCc-IHo51e7hSXl2FVB_CBm_CN8U0erkKVcaIrF7zcs/s1600/Jangan+Takut+Menulis+Selagi+Anda+Benar.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="270" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhiWmqRD-mh9lMLRQBEgjl1Zx4O3j0J-ChxJGR_DxHsKF7ho8iYMOWE8vCQvh7IOCWcAjyxFAKhHfgcZE077vU9Df3Is7UmRe5fqCc-IHo51e7hSXl2FVB_CBm_CN8U0erkKVcaIrF7zcs/s400/Jangan+Takut+Menulis+Selagi+Anda+Benar.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Lama ga nulis di blog ini, mau coba belajar lagi nulis pake EYD yang kurang baik. Buat siapa saja tanpa ada kecuali, jangan takut nulis! Menulislah dimanapun itu dan lewat media apa, entah itu blog, note, facebook, twitter atau apapun itu namanya. Menulislah jika memang ada hal yang perlu ditulis dan ingin kita sampaikan, jang takut nulis. Menulis itu terkadang sulit karena ada dalam pikiran namun tak sanggup untuk dijabarkan, ini memang sangat banyak dialami oleh beberapa orang.&lt;br /&gt;
&lt;h3 style="text-align: left;"&gt;
Menulis Seperti Anda Menulis Status&lt;/h3&gt;
&lt;div&gt;
Kenapa tidak menulis hal yang lebih baik dibandingkan kita menulis status yang kurang baik, siapa tau ada beberapa penerbit yang ingin memuat tulisan kita. Jika anda tidak bisa menulis, coba biasakan menulis pada status yang isinya seperti Pak Mario Teguh (panjang), ceritakan saja apa yang ingin anda ceritakan. Seiring berjalannya waktu hal ini akan terbiasa dan tampak lebih mudah. Apa keuntungan dari kita menulis?&lt;/div&gt;
&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;
Keuntungan Menulis&lt;/h4&gt;
&lt;div&gt;
Ada banyak sebenarnya keuntungan non-profit yang bisa anda dapatkan ketika mulai menulis, diantaranya mungkin anda akan mendapatkan lebih banyak teman yang benar-benar menghargai karya tulis anda ataupun mereka ingin dibuatkan puisi cinta, dibuatkan tulisan di blog mereka dan masih banyak lagi. Setelah anda mendapatkan keuntungan menulis non-profit, saya yakin nantinya anda juga akan mendapatkan keuntungan yang bisa berarti menurut anda jika hal ini sudah dimulai.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Saya jadi ingat kata seorang pujangga entah siapa namanya, "lebih baik menceritakan dongeng sebelum tidur daripada diceritakan dongeng saat sudah tertidur". Entah apa yang dimaksud tapi ini mungkin bisa menjadi sebuah kutipan yang menginspirasi kita untuk coba belajar menulis. Keuntungan yang paling penting adalah kita jadi hobi membaca, karena menulis tanpa membaca sama seperti berjalan tanpa kaki dan melihat tanpa mata.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Selamat mencoba... ;)&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2013/01/jangan-takut-nulis.html</link><author>noreply@blogger.com (Reza Natadipura)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhiWmqRD-mh9lMLRQBEgjl1Zx4O3j0J-ChxJGR_DxHsKF7ho8iYMOWE8vCQvh7IOCWcAjyxFAKhHfgcZE077vU9Df3Is7UmRe5fqCc-IHo51e7hSXl2FVB_CBm_CN8U0erkKVcaIrF7zcs/s72-c/Jangan+Takut+Menulis+Selagi+Anda+Benar.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-607205174887941626.post-7007028224879359543</guid><pubDate>Tue, 01 May 2012 17:21:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-05-01T10:21:02.806-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Jurnalis</category><title>Jurnalis dan Publisher Magazine</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6Y406sXbm9aOahGA7myfpp5m5wnClMSfMkaajUrvqVY3YidKkxDVh4rV413kVUyiYhWhCgpr8yGqfKVLBE8lrUdizpv1OIS8fUzUvAuj4l_cgjJ1DIVwJd5hCSDdPDe98H5RZ70GnYTA/s1600/Keuntungan+Publisher+Magazine.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="260" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6Y406sXbm9aOahGA7myfpp5m5wnClMSfMkaajUrvqVY3YidKkxDVh4rV413kVUyiYhWhCgpr8yGqfKVLBE8lrUdizpv1OIS8fUzUvAuj4l_cgjJ1DIVwJd5hCSDdPDe98H5RZ70GnYTA/s320/Keuntungan+Publisher+Magazine.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Mulai kembali lagi menulis itu rasanya sangat menyenangkan, kenapa? karena menulis adalah pekerjaan yang membuat otak kanan dan kiri kita seimbang. Bagaimana kinerja antara logika dan imajinasi bermain saat kita hendak menulis. Jurnalis adalah pekerjaan yang sangat cocok bagi para penulis dimana pun mereka berada, tapi apakah setiap penulis dapat kita sebut sebagai jurnalis?&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Jawabannya mungkin tidak, tergantung hal apa yang kita tulis. Menulis memang menyenangkan (curhat di diary) namun pada saat kita sudah dihadapkan dengan media hal ini terasa sangat tulis. Apa yang kita lihat dan rasakan tidak sepenuhnya bisa kita tuangkan pada secarik kertas yang berubah menjadi digital pada zaman sekarang. Hal apa saja yang membuat seorang penulis menjadi jurnalis?&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Akan ada banyak hal yang perlu dipelajari dan diperhatikan pada saat kita ingin menjadi seorang jurnalis. Tampaknya hal ini tidak semudah kita menulis, karena ada banyak batasan dan aturan nantinya. Anda tahu apa yang jurnalis tulis pada sebuah halaman di media? Berita dan informasi tentunya, dan hal ini tidak bisa kita tulis sembarang menggunakan otak kiri, hal ini memerlukan kinerja otak kanan yang lebih banyak. Berbeda dengan seorang pengarang novel atau penulis naskah film, yang lebih memerlukan kinerja otak kiri.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Masihkah anda berminat menjadi seorang jurnalis? Mari kita lanjutkan, ada banyak lagi hal yang dilakukan sebelum kita menulis pada saat kita menjadi seorang jurnalis. Kita memerlukan observasi, pencarian data yang akurat dan benar, lalu kita lakukan beberapa wawancara langsung terhadap nara sumber untuk mengetahui informasi mana yang benar adanya. Setelah itu baru dikumpulkan datanya untuk kita seleksi menjadi sebuah pemberitaan yang benar-benar akurat dan tidak kemana-mana nantinya.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Menulis berita itu fakta dan realita yang terjadi pada saat itu! Lalu bagaimana dengan media busuk yang menanyangkan atau menyuguhkan berita dan informasi yang tidak berkualitas? Tanyakan pada mereka dan siapa mereka? Ini adalah perdebatan hebat antara jurnalis dan publisher magazine, dimana pada saat para jurnalis mencari dan meliput di lapangan mereka para publisher majalah mencoba mencari link dan koneksi untuk coba mengembangkan media yang mereka miliki.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
Namun apa yang tejadi ketika semua berubah pada saat berita yang ditulis seorang jurnalis melenceng dan tidak sesuai dengan kenyataan? Hal ini akan dipertimbangkan oleh para &lt;a href="http://www.scanie.com/home/publisher-online-magazine/" target="_blank"&gt;publisher online magazine&lt;/a&gt; untuk memberikan kebijakan mana yang layak disampaikan dan yang tidak layak disampaikan pada khalayak banyak. Jadi manakah yang anda inginkan? menjadi seorang penulis, jurnalis atau publisher majalah?&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2012/05/jurnalis-dan-publisher-magazine.html</link><author>noreply@blogger.com (Reza Natadipura)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi6Y406sXbm9aOahGA7myfpp5m5wnClMSfMkaajUrvqVY3YidKkxDVh4rV413kVUyiYhWhCgpr8yGqfKVLBE8lrUdizpv1OIS8fUzUvAuj4l_cgjJ1DIVwJd5hCSDdPDe98H5RZ70GnYTA/s72-c/Keuntungan+Publisher+Magazine.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-607205174887941626.post-5466970254593684236</guid><pubDate>Tue, 24 Apr 2012 06:37:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-04-23T23:37:15.202-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Jurnalis</category><title>Jurnalis dan Majalah Online</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
Perkembangan teknologi informasi dan media komunikasi membuat para jurnalis dan majalah online atau online magazine sulit untuk dipisahkan. Apa hubungan antara jurnalis dengan majalah online? hubungan antara jurnalis dengan &lt;a href="http://natadipura.com/majalah-online/" target="_blank"&gt;majalah online&lt;/a&gt; adalah suatu rantaian jurnalistik yang sulit untuk dipisahkan. Bagaimana tidak, para jurnalis membangun citra mereka masing-masing dengan mengembangkan majalah online yang mereka dapati,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap Online Magazine atau majalah online pasti memiliki seorang jurnalis khusus untuk media mereka, kenapa? ini penting, karena banyak dari para jurnalis membuat sebuah karakter yang berbeda-beda dari segi penulisan informasi berita yang akan mereka sampaikan nantinya. Kemajuan ini sangatlah menguntungkan bagi para jurnalis muda untuk menimba pengalaman yang berharga dengan cara mencoba menulis untuksalah satu media online seperti majalah online.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hampir kebanyakan Majalah di Indonesia memiliki online magazine untuk mempermudah para pelanggan setia mengakses majalah mereka. Branding majalah online semakin menyebar luas di Indonesia, semua majalah di Indonesia berbondong-bondong untuk mendapatkan gelar &lt;a href="http://cyberworksite.com/majalah-terbaik-indonesia/" target="_blank"&gt;Majalah Terbaik Indonesia&lt;/a&gt;. Semua ini bukan hanya sekedar gelar, tapi gengsi dan idealisme para pemilik Majalah Online pun kuat disini. Saya hanya berharap kemajuan ini dapat membawa Indonesia masuk dalam jajaran terbaik dalam segi Informasi dan Telekomunikasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2012/04/jurnalis-dan-majalah-online.html</link><author>noreply@blogger.com (Reza Natadipura)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-607205174887941626.post-6822909255722188312</guid><pubDate>Wed, 04 Apr 2012 02:22:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-04-03T19:22:59.245-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Curhatan Jurnalis</category><title>Miris Lihat Media di Indonesia</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
Indonesia adalah negara yang syarat akan media, beberapa hal besar dilakukan melalui media. Media apa yang dimaksud disini? Media penyedia informasi bagi masyarakat, sebuah wadah dan alat untuk dapat berbagi dan bertukar informasi (seharusnya). Miris lihat media di Indonesia, banyak propaganda tidak jelas dari para pemilik saham. Ini adalah hal kecil yang harus segera dibenahi, coba renungkan dan tayangkan apa yang mereka sajikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Media yang paling membuat saya menangis adalah media internet, baru-baru ini media internet dijadikan ladang bisnis bagi beberapa anak muda dan pengusaha lainnya. Ada beberapa website yang menyediakan informasi penting dan aktual kepada anda, ini bagus. Tapi bagaimana dengan website yang penuh dengan foto wanita (entah diambil darimana) lalu mereka berikan imbuhan "cewek sexy", "cewek hot bandung", "cewek bispak" dan sebutan lainnya untuk foto tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah orang tua ataupun saudara terdekat mengetahui apa yang di ceritakan oleh sahabat blogger kita yang konon katanya untuk meningkatkan traffic. Tapi apakah harus dengan cara seperti ini? memamerkan beberapa anggota tubuh wanita yang sebenarnya mereka tidak mengetahui siapa wanita tesebut. Contoh yang paling sering ditemui adalah para &lt;a href="http://nugaroblog.blogspot.com/2012/04/pegawai-alfamart-cantik-cantik.html" target="_blank"&gt;pegawai wanita di minimarket&lt;/a&gt;, pegawai spa, spg seluler, dan lainnya. Bagaimana menurut anda?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2012/04/miris-lihat-media-di-indonesia.html</link><author>noreply@blogger.com (Reza Natadipura)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-607205174887941626.post-6263284219449096340</guid><pubDate>Thu, 08 Mar 2012 04:04:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-03-07T20:05:13.337-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Curhatan Jurnalis</category><title>Belanja puas dengan harga pas</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;Dimana kita bisa belanja puas dengan harga yang pas? alternatifnya mungkin pasar namun terlalu ramai dan jauh dari tempat tinggal anda? Mungkin solusi terbaiknya belanja di minimarket terdekat, alfamart bisa menjadi solusi bagi anda saat ini. &lt;a href="http://natadipura.com/promo-member-alfamart-minimarket-lokal-terbaik-indonesia/"&gt;Promo member Alfamart minimarket lokal terbaik Indonesia&lt;/a&gt;&amp;nbsp;yang dibuat alfamart memiliki banyak keuntungan kepada anda yang bergabung menjadi member.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah tidak ada lagi alasan untuk tidak bisa belanja puas dengan harga yang pas. Promo member alfamart ini menjadi alasan beberapa ibu rumah tangga untuk terus datang dan berbelanja di alfamart. Selain dapat menghemat, mereka juga akan mendapatkan beberapa potongan harga spesial. Untuk anda yang tidak bisa bepergian jauh tidak perlu khawatir karena alfamart kini sudah memiliki banyak cabang di setiap kotanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain harga nya yang murah dibandingkan dengan minimarket lainnya, kita dapat berbelanja dengan nyaman karena disetiap minimarketnya terdapat beberapa space untuk anda bebas bergerak, tidak seperti di pasar yang harus berdesakan. Inilah beberapa keuntungan anda pergi belanja di minimarket.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgQS0FI9Zv-dOUCkxTmnk6gJm67t5PWJqBUXSZiEzMJ1tQmhodLaX3_JQ4U8RnEPnbDpdKmMk-wEJiI3bsqFj4EDbx9YghdmVOvor7h5eqnJJvDbSkczaaMzvD5CO1uT_kZFYCqm-3iXG8/s1600/promo+website+murah.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="122" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgQS0FI9Zv-dOUCkxTmnk6gJm67t5PWJqBUXSZiEzMJ1tQmhodLaX3_JQ4U8RnEPnbDpdKmMk-wEJiI3bsqFj4EDbx9YghdmVOvor7h5eqnJJvDbSkczaaMzvD5CO1uT_kZFYCqm-3iXG8/s400/promo+website+murah.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://natadipura.com/jasa-pembuatan-website-murah/" target="_blank"&gt;Promo Website Murah&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2012/03/belanja-puas-dengan-harga-pas.html</link><author>noreply@blogger.com (Reza Natadipura)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgQS0FI9Zv-dOUCkxTmnk6gJm67t5PWJqBUXSZiEzMJ1tQmhodLaX3_JQ4U8RnEPnbDpdKmMk-wEJiI3bsqFj4EDbx9YghdmVOvor7h5eqnJJvDbSkczaaMzvD5CO1uT_kZFYCqm-3iXG8/s72-c/promo+website+murah.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-607205174887941626.post-5070388846968492350</guid><pubDate>Mon, 27 Jun 2011 06:28:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-06-26T23:31:54.694-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Delik Pers</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Etika Hukum Pers</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Jurnalis</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Jurnalistik</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Media Massa</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Pers Indonesia</category><title>Delik Pers</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;a href="http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/06/delik-pers.html"&gt;Pasal-pasal Delik Pers Dalam KUHP&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;Dikutip dari: www.dewankehormatanpwi.com&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;a href="http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/06/delik-pers.html"&gt;KETENTUAN-KETENTUAN HUKUM PIDANA YANG ADA KAITANNYA DENGAN MEDIA MASSA&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kebebasan Pers identik dengan kebebasan berkomunikasi, kebebasan menyampaikan aspirasi tanpa mengetahui etika yang berlaku. Segala sesuatu dibebaskan bukan berarti di amin kan, hal ini tidak seperti hari bebas tembakau, dimana seluruh manusia di bumi ini tidak boleh merokok. Pada kebebasan pers yang telah di rekomendasikan oleh (Alm) Abdurahman Wahid pada saat itu, pers di indonesia sudah mengalami kebablasan pers, bukan bebas lagi. Hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan mereka atau mungkin sengaja.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Untuk lebih lanjut anda bisa mendownload Delik Pers Dalam KUHP, disana terdapat banyak pasal yang menyangkut dengan hal-hal apa saja yang dilarang bagi insan pers dan masyarakat tentunya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red; font-size: large;"&gt;Download File :&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red; font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;- &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/15501179/Pasal-pasaldelikpersKUHP.rar.html"&gt;Delik Pers Dalam KUHP&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;- &lt;a href="http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/06/etika-dalam-media-online.html"&gt;Etika Dalam Media Online&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;- &lt;a href="http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/06/etika-dilema.html"&gt;Etika Dilema&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;- &lt;a href="http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/06/etika-dos-dan-donts.html"&gt;Etika Do's dan Don'ts&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;- &lt;a href="http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/search/label/Etika%20Hukum%20Pers"&gt;Etika Hukum Pers&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;- &lt;a href="http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/search/label/Kode%20Etik%20Jurnalistik"&gt;Kode Etik Jurnalistik&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;- &lt;a href="http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/06/sembilan-elemen-jurnalistik.html"&gt;Sembilan Elemen Jurnalis&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/06/delik-pers.html</link><author>noreply@blogger.com (Reza Natadipura)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-607205174887941626.post-8103374422206721110</guid><pubDate>Mon, 27 Jun 2011 06:11:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-06-26T23:29:32.706-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Curhatan Jurnalis</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Karya Tulis</category><title>Car Free Day in Sunday</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;i&gt;&lt;a href="http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/06/car-free-day-in-sunday.html"&gt;Bandung, Indonesia.&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari ini minggu adalah hari dimana para keluarga bersantai, tidak sedikit dari mereka adalah para pegawai kantoran yang sibuk dengan rutinitas yang padat. Namun berbeda dengan di bandung, tepatnya jalan Ir. H. Juanda hingga ke jalan Merdeka. Disini banyak orang-orang datang untuk berolahraga, terutama yang memiliki sepeda. Mereka berbondong-bondong datang ke Car Free Day (CFD) untuk berolahraga dan menikmati hiburan musik dari para band pendatang baru. Car Free Day (CFD) adalah hari bebas polusi kendaraan bermotor yang dimulai dari pagi hari hingga siang hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Acara Car Free Day ini sangat diminati oleh masyarakat setempat, disamping dapat berolahraga dengan nyaman mereka pun dapat bersantai sejenak dengan adanya perform Band. Band yang mengisi pada acara ini kebanyakan adalah band-band pendatang baru yang mencoba unjuk gigi demi tercapainya sebuah promosi. Hal ini sangat positif, Seperti halnya Mendi, salah satu pengguna sepeda yang setiap minggunya datang ke CFD ini merasa terhibur dengan band di CFD ini. “menurut saya, bagus sekali di setiap CFD bisa menampilkan perform band, karena saya juga merasa terhibur main sepeda disini diiringi dengan lagu”. Namun ia lebih berharap akan ada band-band papan atas yang tampil di acara CFD.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari banyaknya pengunjung yang antusias dengan penampilan band ada juga yang kurang anstusias dengan acara tersebut. Seperti Agil, salah satu pengunjung CFD ini kurang setuju dengan diadakannya band ketika CFD ini. Ketika diwawancarai disela-sela waktu istirahatnya, “saya kurang setuju dengan adanya panggung dan band. Lagian juga band nya saya ga tau siapa, jadinya males nontonnya juga”, katanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Acara Car Free Day ini memang cukup singkat, namun sangat bermanfaat bagi sebagian masyarakat di bandung. Semoga akan lebih banyak lagi acara seperti ini, bebas polusi dan mencoba pola hidup yang sehat dengan rajin berolahraga. Mungkin acara ini akan menjadi budaya bagi orang kebanyakan dan menjadi contoh positif bagi msyarakat indonesia lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/06/car-free-day-in-sunday.html</link><author>noreply@blogger.com (Reza Natadipura)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-607205174887941626.post-3456584048204857805</guid><pubDate>Mon, 27 Jun 2011 06:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-06-26T23:47:06.704-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kuliner Bandung</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Penulisan Feature</category><title>Sambal Bu Imas dan Keripik Ema Icih</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;a href="http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/06/sambal-bu-imas-dan-keripik-ema-icih.html"&gt;Sambal Bu Imas Tetap jagonya dibanding Keripik Ema Icih&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjly3FVnCtqJRLQMKBvxptuVUHq2VV2-0KDpde9-EU-ISk1SlOLa0MGn5Phy7ltHLgXcoHSqELVTN9P20k7VuY7J56Zc389H_5KhVW07dnMaodiJ8LD5XYLo3JgyNqjFfzfuBPIMmbC-nM/s1600/kuliner.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="294" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjly3FVnCtqJRLQMKBvxptuVUHq2VV2-0KDpde9-EU-ISk1SlOLa0MGn5Phy7ltHLgXcoHSqELVTN9P20k7VuY7J56Zc389H_5KhVW07dnMaodiJ8LD5XYLo3JgyNqjFfzfuBPIMmbC-nM/s320/kuliner.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;Kuliner Lada ti Bandung&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Sedikit menelusuri kuliner di kota Bandung, ibukota jawa barat ini punya segudang kuliner yang sangat luar biasa. Tidak heran banyak wisatawan maupun penduduk luar bandung yang sengaja mampir hanya untuk menikmati nikmatnya kuliner di kota ini. Tepat di depan ITC Kebon Kelapa Bandung, ada sebuah warung makan yang konon memiliki menu andalan sambal yang sangat dasyat. Kali kami ingin mencoba mencicipi sambal di warung Bu Imas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak lengkap rasanya bila anda berkunjung ke bandung tanpa mengunjungi warung Bu Imas. Menu hidangan yang disajikan disini adalah masakan sunda yang dihidangkan dengan lalab segar. Harganya pun relatif murah bagi saku anda. Hanya dengan merogoh kocek Rp. 15.000 anda dapat menikmati ayam goreng, tahu, tempe dan lalab ditambah dengan sambal yang sangat dasyat dan akan membuat lidah para penikmatnya bergoyang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beralih sejenak dari sambal Bu Imas, ada lagi kuliner yang membuat lidah anda akan semakin bergoyang. Keripik Ema Icih, keripik pedas atau keripik setan (kebanyakan orang menyebutnya) akan membuat mata anda berkaca-kaca. Nama Ema Icih sudah tidak asing lagi ditelinga kita, keripik yang dibuat memiliki tingkat kepedasan yang berbeda tergantung dari selera konsumen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bu Imas dan Ema Icih seakan menjadi trademark bagi hot kuliner di bandung. Tidak sedikit orang yang banyak meniru hidangan sambal pedas dari Bu Imas dan Keripik dari Ema Icih. Apabila dibandingkan, keduanya cukup memiliki ciri khas yang berbeda. Dari banyaknya penggemar makanan pedas, masyarakat lebih memilih sambal Bu Imas ketimbang dengan Ema Icih, hal ini deisebabkan karena rasa dari sambal Bu Imas yang tidak hanya mengelurkan rasa pedas saja, namun sambalnya yang gurih dan aromanya yang wangi membangkitan selera. Berbeda dengan keripik Ema Icih yang hanya mengeluarkan rasa pedas yang begitu pekat. Namun keduanya akan berdampak sama bagi para konsumen, yakni keluar-masuk toilet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/06/sambal-bu-imas-dan-keripik-ema-icih.html</link><author>noreply@blogger.com (Reza Natadipura)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjly3FVnCtqJRLQMKBvxptuVUHq2VV2-0KDpde9-EU-ISk1SlOLa0MGn5Phy7ltHLgXcoHSqELVTN9P20k7VuY7J56Zc389H_5KhVW07dnMaodiJ8LD5XYLo3JgyNqjFfzfuBPIMmbC-nM/s72-c/kuliner.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-607205174887941626.post-5321908424535022536</guid><pubDate>Mon, 27 Jun 2011 06:08:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-06-26T23:29:32.707-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Curhatan Jurnalis</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">straight news</category><title>Hari Kebangkitan Nasional</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/06/hari-kebangkitan-nasional.html"&gt;Hari Kebangkitan Nasional Hanyalah Ucapan Selamat Ulang Tahun&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bandung, 20 Mei 2011 tepatnya di Asia Afrika Reading Club (AARC). LPPMD Unpad mengadakan Seminar memperingati Hari Kebangkitan Nasional berjudul “Peran Pendidikan dalam Membangun Karakter Bangsa”. Karakter yang diadakan di Ruang Audiovisual, Gedung Asia-Afrika. Seminar ini mengundang pembicara Oky Syeiful Rahmadsyah Harahap dari Yayasan Edukasi Sosial Indonesia dan Hermawan “Adew” Wahyudin dari AARC.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seminar ini diadakan untuk pembangunan karakter bangsa sekaligus memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Seperti yang diutarakan Oky, peserta didik atau seseorang pada umumnya harus menyadari untuk menjadi yang berbeda. Di mana yang paling istimewa adalah menjadi dirinya sendiri. Ditambahkan juga bahwa orang yang besar adalah orang yang berani bertaruh besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dilain pihak, Hermawan menambahkan, para generasi muda yang menjadi peserta didik haruslah memiliki idola. Hal ini dianggap sangat penting untuk membentuk karakter para penerus bangsa karena bisanya mereka anak remaja mengikuti pola hidup atau kebisaan yang dilakukan idolanya, apabila mereka memiliki idola yang baik tidak menutup kemungkinan mereka akan tebentuk sebagai generasi yang baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada jaman perjuangan dahulu tepatnya 20 Mei 1908 (Berdirinya Boedi Oetomo) Kebangkitan Nasional di kumandangkan bukan hanya ceremonial atau pemanis semu saja namun untuk berjuang merebut kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah. Berbeda dengan akhir-akhir ini, Sudah berkali-kali bangsa ini memperingati Hari Kebangkitan Nasional ternyata itu masih lebih sebatas ceremonial semata. Bagaimana Hari Kebangkitan Nasional hanya menjadi sebuah perayaan layaknya perayaan ulang tahun, dimana hanya ada ucapan dan hadiah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada kesadaran diri dari para generasi muda, mereka hanya mencoba mengingat kapan dan dimana kejadian itu berlangsung, tapi mereka tidak mencoba mengingat kembali kenapa dan bagaimana kejadian itu (Hari Kebangkitan Nasional) bisa terjadi.&lt;/div&gt;</description><link>http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/06/hari-kebangkitan-nasional.html</link><author>noreply@blogger.com (Reza Natadipura)</author><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-607205174887941626.post-6519566851001145168</guid><pubDate>Mon, 27 Jun 2011 06:06:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-06-26T23:29:32.707-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Jurnalis</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kode Etik Jurnalistik</category><title>Sembilan Elemen Jurnalistik</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;a href="http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/06/sembilan-elemen-jurnalistik.html"&gt;BILL KOVACH&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/06/sembilan-elemen-jurnalistik.html"&gt; Sembilan Elemen Jurnalisme Bill Kovach :&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Kewajiban utama jurnalisme adalah pada pencarian kebenaran&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Loyalitas utama jurnalisme adalah pada warga Negara&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Esensi jurnalisme adalah disiplin verifikasi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Jurnalis harus menjaga independensi dari obyek liputannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Jurnalis harus membuat dirinya sebagai pemantau independen dari kekuasaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Jurnalis harus memberi forum bagi publik untuk saling-kritik dan menemukan kompromi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7. Jurnalis harus berusaha membuat hal penting menjadi menarik dan relevan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8. Jurnalis harus membuat berita yang komprehensif dan proporsional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
9. Jurnalis harus diperbolehkan mendengarkan hati nurani personalnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bill Kovach adalah Jurnalis Amerika, mantan kepala biro Washington New York Times , mantan editor Atlanta Journal-Constitution, dan penulis buku populer, The Elemen Jurnalisme. Lahir tahun 1932 di Timor Tennessee dari Albania orangtua, Kovach direncanakan kuliah setelah pergi ke sekolah pascasarjana di biologi kelautan. Setelah empat tahun di Angkatan Laut Amerika Serikat, pekerjaan musim panas di Johnson City Press Chronicle di Johnson City, Tennessee membujuknya untuk masuk ke dalam jurnalisme.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kovach menutupi gerakan hak-hak sipil, politik dan kemiskinan Appalachian untuk Nashville Tennessee dari 1960 ke 1967. Pada 1965, ia terlibat dalam perkelahian untuk akses publik ke badan legislatif, ketika ia menolak untuk meninggalkan sidang komite berikut panggilan untuk sesi eksekutif. Senat negara bagian mengeluarkan resolusi yang mencabut hak istimewa lantai. The Tennessee dan editor John Seigenthaler, Sr memimpin melawan sukses untuk membuka ruang legislatif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah Kovach menghabiskan setahun di Universitas Stanford pada persekutuan jurnalisme, Scotty Reston dari The New York Times biro Washington disewa Kovach di 1968, dan Kovach menghabiskan 18 tahun di sana, termasuk menjabat sebagai kepala biro Washington-nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah masa jabatan dua tahun menggelora sebagai editor dari Atlanta Journal-Constitution, ketika stafnya memenangkan dua Pulitzer dan finalis untuk beberapa yang lain, Kovach pindah ke Universitas Harvard di 1989 sebagai sesama, kemudian kurator, dari Yayasan Nieman untuk Jurnalistik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia pensiun dari Harvard pada 2001 dan kembali ke Washington, di mana dia konselor senior kepada Proyek untuk Keunggulan dalam Jurnalisme. Beliau juga menjabat di fakultas Sekolah Jurnalisme Missouri. &lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;(sumber; http://en.wikipedia.org/wiki/Bill_Kovach)&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/06/sembilan-elemen-jurnalistik.html</link><author>noreply@blogger.com (Reza Natadipura)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-607205174887941626.post-5468666988445760846</guid><pubDate>Mon, 27 Jun 2011 06:03:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-06-26T23:29:32.707-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Penulisan Berita</category><title>Apa Itu News Value</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/06/apa-itu-news-value.html"&gt;Pengertian News Value ?&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
News Value diartikan nilai berita. Dalam menuliskan sebuah berita, peristiwa atau kejadian pasti memiliki nilai berita. Oleh sebab itu, peristiwa atau kejadian tertentu di angkat ke sebuah media karena berita tersebut memiliki nilai berita bagi publik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;a href="http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/06/apa-itu-news-value.html"&gt;Nilai berita&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Nilai berita&lt;/b&gt; adalah seperangkat kriteria untuk menilai apakah sebuah kejadian cukup penting untuk diliput. Adasejumlah faktor yang membuat sebuah kejadian memiliki nilai berita, di antaranya :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Kedekatan (proximity)&lt;/b&gt;. Ada dua hal tentang kedekatan. Pertama dekat secara fisik dan kedua, kedekatan secara emosional. Orang cenderung tertarik bila membaca berita yang peristiwa atau kejadiannya dekat dengan wilayahnya dan juga perasaan emosional berdasarkan ikatan tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Ketenaran (prominence)&lt;/b&gt;. Orang terkenal memang sering menjadi berita. Seperti kata ungkapan Barat, Name makes news. Bintang film, sinetron, penyanyi, politisi ternama seringkali muncul di koran dan juga televisi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Aktualitas (timeliness)&lt;/b&gt;. Berita, khususnya straight news, haruslah berupa laporan kejadian yang baru-baru ini terjadi atau peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di masa depan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Dampak (impact)&lt;/b&gt;. Sebuah kejadian yang memiliki dampak pada masyarakat luas memiliki nilai berita yang tinggi. Semakin besar dampak tersebut bagi masyarakat, semakin tinggi pula nilai beritanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Keluarbiasaan (magnitude)&lt;/b&gt;. Sebenarnya hampir sama dengan dampak, namun magnitude di sini menyangkut sejumlah orang besar, prestasi besar, kehancuran yang besar, kemenangan besar, dan segala sesuatu yang besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Konflik (conflict)&lt;/b&gt;. Berita tentang adanya bentrokan, baik secara fisik maupun nonfisik, selalu menarik. Misalnya bentrokan antar manusia, manusia dengan binatang, antar kelompok, bangsa, etnik, agama, kepercayaan, perang dsb.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Keanehan (oddity)&lt;/b&gt;. Sesuatu yang tidak lazim (unusual) mengundang perhatian orang di sekitarnya. Orang yang berdandan esktrentrik, orang yang bergaya hidup nggak umum, memiliki ukuran fisik yang beda dengan yang lain pada umumnya, dsb cenderung jadi berita yang bernilai tinggi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Yang mengandung unsur human interest :&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketegangan (Suspense) – Apa keputusan yang akan dijatuhkan dalam pengadilan kasus pembunuhan sadis itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keanehan/Ketidaklaziman (Unusualness) – Seorang wanita melahirkan bayi kembar lima.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Minat pribadi (Personal Interest) – Gaun sekarang ada yang tidak perlu disetrika sehabis dicuci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konflik (Conflict) – Umumnya manusia memberi perhatian pada konflik: perang, kriminalitas atau olahraga atau persaingan dalam bidang apa pun karena di dalamnya terkandung unsur konflik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Simpati (Sympathy) – Seorang bocahkehilangan ketiga kakak dan kedua orang tuanya pada musibah Tsunami di Aceh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemajuan (Progress) – Suatu vaksin pencegah AIDS tengah di kembangan di Prancis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seks (Sex) – Seorang aktor menggugat cerai istrinya yang juga artis karena selingkuh dengan ketua salah satu partai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Binatang (Animals) – Seekor anjing menyelamatkan majikannya yang buta dalam suatu peristiwa kebakaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Humor (Humor) – Seorang politisi berpidato satu jam di mimbar tanpa menyadari mikrofonnya itu mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;a href="http://www.mediaindonesia.com/foto/10464/Perkembangan-Hasil-Penyelidikan"&gt;Kenapa Foto Berita Harus Ada Caption ?&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Caption adalah kalimat atau kata-kata yang menjelaskan isi atau keterangan yang ada di dalam foto tersebut berkaidah 5 W + 1 H. Tidak semua elemen di dalam visual foto dapat menjelaskan secara informatif, seperti lokasi, kapan foto dibuat, siapa di dalam foto tersebut. Maka penjelasan secara rinci dan detil, ditulis dalam keterangan foto.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, caption di dalam foto berita adalah untuk menjelaskan dan memberikan keterangan persitiwa atau kejadian yang ada di dalam foto tersebut kepada para pembaca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;a href="http://hileud.com/berita-foto-paparkan-perkembangan-media-on-line.html"&gt;Perkembangan Foto di Media&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perkembangan foto berita / jurnalistik pada saat ini sudah sangat berkembang pesat. Karena foto berita juga sebagai pendukung visual (gambar) terhadap sebuah kejadian atau peristiwa. Jadi, peranan foto berita terhadap sebuah berita sangat berpengaruh bagi media dan pembaca.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/06/apa-itu-news-value.html</link><author>noreply@blogger.com (Reza Natadipura)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-607205174887941626.post-897390647094724044</guid><pubDate>Mon, 27 Jun 2011 05:58:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-06-26T22:59:26.367-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Makalah Komunikasi Massa</category><title>Pengaruh Media Massa Televisi</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/15500894/MAKALAHKOMUNIKASIMASSA.rar.html"&gt;Pengaruh Media Massa Televisi Terhadap Masyarakat&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Hingga saat ini televisi masih menjadi “juara bertahan” sebagai media massa yang paling banyak digunakan, khususnya di Indonesia. Pemakaian &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/15500894/MAKALAHKOMUNIKASIMASSA.rar.html"&gt;televisi&lt;/a&gt; sudah menjadi budaya dan menjadi kebutuhan primer bagi masyarakat. Tak heran, meskipun saat ini program-program televisi sudah tidak menarik lagi, eksistensi media ini tetap bertahan. Sebagai salah satu “sesepuh” &lt;a href="http://www.ziddu.com/download/15500894/MAKALAHKOMUNIKASIMASSA.rar.html"&gt;media massa&lt;/a&gt;, televisi masih tetap tetap eksis dan tidak kehilangan penonton setianya.&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/15500894/MAKALAHKOMUNIKASIMASSA.rar.html"&gt;Download Makalah Komunikasi Massa&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/06/pengaruh-media-massa-televisi.html</link><author>noreply@blogger.com (Reza Natadipura)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-607205174887941626.post-2813578671740087184</guid><pubDate>Tue, 21 Jun 2011 12:29:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-06-21T05:32:48.828-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Media Massa</category><title>Karakteristik Media Televisi</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/06/karakteristik-media-televisi.html"&gt;Karakteristik media televisi secara menyeluruh. &lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiqpuj8Yhq80AMIMAQWGQZlgrD1nmWiCegXq3LtLA-0r5xkdQNKUz6UK5hkGyzg79F_1yrpMVfI0M9J-YOfLfJByFIlDDKJXBf5GKqupCz-U-UgvO4DZ7zH3Z2XGJMMVndmLNXHLXlU7lk/s1600/triangle.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="190" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiqpuj8Yhq80AMIMAQWGQZlgrD1nmWiCegXq3LtLA-0r5xkdQNKUz6UK5hkGyzg79F_1yrpMVfI0M9J-YOfLfJByFIlDDKJXBf5GKqupCz-U-UgvO4DZ7zH3Z2XGJMMVndmLNXHLXlU7lk/s200/triangle.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;i&gt;&lt;a href="http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/06/karakteristik-media-televisi.html"&gt;Berikut ini adalah penjabaran unsur-unsur tersebut.&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;SISTEM&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jaringan/Owner and operated/Independen&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;PENGUASAAN&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemerintah/Publik/Swasta&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;SIFAT SIARAN&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Politis/Sosial-Kultural/Komersial&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;CAKUPAN SIARAN&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lokal/Nasional/ regional&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Global/ internasional&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;PENDANAAN&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pajak&lt;br /&gt;
Fee/ iuran kepemilikan tvset&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Iklan&lt;br /&gt;
Sumbangan filantropi&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;&lt;a href="http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/06/karakteristik-media-televisi.html"&gt;(Baca Selengkapnya)&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
Dari skema diatas ditunjukan karakteristik institusi media televisi. Jaringan (net-works) adalah sistem pemasokan siaran secara sentral kepada sejumlah stasiun penyiaran dan stasiun penyiaran meyesuaikan programing dengan pusat jaringan. Owner and Operated (O&amp;amp;O) adalah sistem pemilikan dan pengoprasian sejumlah stasiun televisi dengan programing di luar jaringan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sistem independen adalah stasiun televisi yang memiliki kebijakan programing sendiri. Seluruh sistem penyelenggaraan mencangkup aspek-aspek yang bergerak antara sistem penguasaan dan sistem pendanaan. Demikianlah dikenal tiga macam media televisi berdasarkan sistem penguasaan, yaitu dalam penguasaan pemerintah, publik dan swasta.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
Dari sistem penguasaan ini, media televisi akan bergerak sesuai dengan sistem pendanaan, sifat siaran dan cangkupan sebagai media organik bagi birokrasi pemerintah. Karenanya, sifat siaran utamamya adalah politis. Oleh karena itu, media semacam ini muatannya bersifat top-down dan searah jika peradikma pembangunan yang berlangsung juga bersifat top-down. Penggunaan media dalam setting perakdigma semacam ini ditunjukan untuk mensosialisasikan nilai yang mendasari kerja birokrasi pemerintah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu pula untuk televisi publik memeliki karakteristik sebagai media masyarakat untuk menjalankan fungsi istitusional yang memiliki tujuan sosial. Sedang media televisi swasta bertolak dari dorongan komersial, memiliki orientasi yang ketat dalam interaksi stasiun khalayak pemasang iklan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masing-masing media memiliki pola kebijakan programing yang berbeda. Karenanya, adalah adalah tidak proposional, misalnya, menuntut media swasta yang komersial agar menggunakan ukuran normatif seperti yang ditujukan kepada media publik. Benar bahwa setiap media harus memiliki landasan etika sosial, tetapi tentunya dengan bertolak dari ukuran yang relatif dan proposional.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/06/karakteristik-media-televisi.html</link><author>noreply@blogger.com (Reza Natadipura)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiqpuj8Yhq80AMIMAQWGQZlgrD1nmWiCegXq3LtLA-0r5xkdQNKUz6UK5hkGyzg79F_1yrpMVfI0M9J-YOfLfJByFIlDDKJXBf5GKqupCz-U-UgvO4DZ7zH3Z2XGJMMVndmLNXHLXlU7lk/s72-c/triangle.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-607205174887941626.post-1312246230930811623</guid><pubDate>Tue, 21 Jun 2011 12:23:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-06-21T05:24:16.848-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Media Massa</category><title>Pengaruh Media Televisi</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;a href="http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/06/pengaruh-media-televisi.html"&gt;Pengaruh Televisi Terhadap Masyarakat&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat televisi diciptakan untuk pertama kalinya, penciptanya tidak pernah membayangkan bahwa alat yang dirancangnya akan menjadi alat yang luar biasa pengaruhnya bagi peradaban dunia. Tulisan ini menuturkan sejarah terciptanya televisi, perkembangannya di dunia bahkan di Indonesia serta peran televisi pada kondisi dan situasi budaya dan politik akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernah ditulis dalam rubrik opini koran kompas tentang budaya membaca, dimana dalam rubric tersebut penulis mengatakan di Amerika sekarang ini terjadi pergeseran dari budaya membaya menjadi budaya lisan. Orang lebih suka menonton acara TV dari pada membaca. Ini belum termasuk pengaruh dari internet. Tetapi setidaknya di Amerika pernah mengalami masa budaya membaca, dimana minat untuk membaca masyarakat disana sangat tinggi. Bagaimana dengan Indonesia?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siaran televisi pertama di Indonesia ditayangkan pada tanggal 17 Agustus 1962 bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke XVII. Siaran tersebut berlangsung mulai pukul 07.30 sampai pukul 11.02 waktu Indonesia bagian barat untuk meliput upacara peringatan hari Proklamasi di Istana Negara. Televisi Republik Indonesia (TVRI) baru melaksanakan siaran secara kontinyu 24 Agustus 1962. Liputan perdananya adalah upacara pembukaan Asian Games ke IV di Stadion Utama Senayan Jakarta. Saat ini siaran televisi di Indonesia telah dapat menjangkau di duapuluh tujuh propinsi di seluruh Indonesia berkat pemanfaatan satelit Palapa (yang mampu pula menjangkau wilayah Asean).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai contoh ketangguhan media televisi adalah ketika Perancis menjadi tuan rumah dalam ajang pertarungan sepakbola antar negara. Berkat televisi pembicaraan tentang sepakbola menjadi semakin meriah. Media massa yang paling komunikatif dalam menayangkan pesta dunia ini hanyalah televisi. Selain itu masih banyak lagi kejadian di dunia yang terasa lebih nyata dengan adanya televisi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orde Baru pada masa-masa Pemilu yang selalu penuh rekayasa itu, juga selalu memanfaatkan televisi dalam trik-trik politiknya. Melalui media televisi, Orde Baru membangun citra-citra yang mampu mengantar rakyat menilai negatif saingan-saingan politiknya. Televisi mampu membangun opini masyarakat lewat tayangannya berkali-kali. Sebagai contoh, Orde Baru selalu menayangkan kampanye-kampanye partai politik saat itu dalam latar belakang atau kondisi-kondisi rusuh. Kampanye Partai-partai politik saat itu selalu disertai suasana-suasana kekerasan, kerusuhan dan kebrutalan-kebrutalan sehingga mampu membangun opini publik bahwa partai-partai tersebut identik dengan kerusuhan. Citra negatif tersebut terbangun selama masa-masa kampanye akibat gencarnya televisi menyiarkan pemberitaan yang tidak berimbang dan sepihak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa disadari oleh pemirsa, bahwa telah terjadi suatu indoktrinasi oleh media televisi pada dirinya melalui iklan, program-program dan informasi beritanya. Manusia telah dikondisikan untuk haus akan tayangan-tayangan televisi, masyarakat saat ini telah menjadi suatu masyarakat tayangan. Ritme-ritme kehidupannya telah diatur oleh program-program tayangan dengan semua yang menyertainya. Harus disadari bahwa pola-pola ini membuktikan keberhasilan suatu wacana kapitalisme. Program-program tayangan pertandingan sepakbola yang ditayangkan pada dinihari telah merubah ritme hidup manusia pemirsanya, yang rela untuk bangun pada dinihari untuk menyaksikan tayangan bola yang berada di Italia atau Inggris. Pada saat yang demikian, para kapitalis telah meramu pola-pola bagaimana menjaring konsumen bagi pemasaran produk-produknya, lewat kostum yang dipakai para pemain bola, sepatu bola yang digunakan para idola kaum muda. Iklan-iklan yang bertebaran di pinggir lapangan hijau, tayangan iklan yang mensponsori acara tersebut sampai kuis-kuis yang ditawarkan, mengantar kaum kapitalis menjaring mangsanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Arthur Kroker dan David Cook mengatakan bahwa sifat totalitas televisi telah menjadikannya sebagai satu bentuk kekuasaan dalam suatu komunitas (dalam Piliang 1998). Citra-citra yang ditawarkan televisi telah membentuk ketidak-sadaran massal, bahwa telah terjadi pembentukan diri melalui televisi. Penonton dibentuk berdasarkan relasinya dengan obyek-obyek dan reaksinya terhadap obyek tersebut. Dikatakan oleh Piliang bahwa citraancitraan yang mengalir melalui iklan untuk meng-indoktrinasi massa. Didalam bahasa pertelevisi-an “Berlian” adalah abadi, sabun Lux mencitrakan kecantikan, wes-ewes-ewes bablas angine adalah kesehatan dan minum bir adalah persahabatan.&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Sumber:&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;Kuswandi, Wawan, Komunikasi Massa, Sebuah Analisis Media Televisi, Jakarta: Rineka Cipta, 1996&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;i&gt;pksm.mercubuana.ac.id/new/elearning/.../41033-6-267397363570.doc&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;a href="http://kombinasi.net/teori-dampak-media-televisi/"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;http://kombinasi.net/teori-dampak-media-televisi/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;a href="http://www.simpuldemokrasi.com/program-sekolah-demokrasi/media-televisi/media-televisi-i.html"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;http://www.simpuldemokrasi.com/program-sekolah-demokrasi/media-televisi/media-televisi-i.html&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;a href="http://blog.imanbrotoseno.com/?p=6"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;http://blog.imanbrotoseno.com/?p=6&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;a href="http://www.arsip.net/id/link.php?lh=UgdbAFYLBwIE"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;http://www.arsip.net/id/link.php?lh=UgdbAFYLBwIE&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;a href="http://bataviase.co.id/node/626551"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;http://bataviase.co.id/node/626551&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Makalah Jaringan Komunikasi,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;i&gt; Unisba 2011&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/06/pengaruh-media-televisi.html</link><author>noreply@blogger.com (Reza Natadipura)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-607205174887941626.post-4108808452614456042</guid><pubDate>Tue, 21 Jun 2011 11:44:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-06-21T04:44:46.346-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Etika Hukum Pers</category><title>Etika Dalam Media Online</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;a href="http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/06/etika-dalam-media-online.html"&gt;Cyber Media&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perkembangan media online yang tumbuh pesat, hal ini diakibatkan oleh beberapa produsen raksasa sedang bersaing gadget. Hal ini mempengaruhi ringkat konsumen di Indonesia, tehitung sejak awal diuncurkannya smartphone dan gadget maningkat drastic di Negara ini. Hal ini sangatlah mempengaruhi dunia industry maya atau yang sering disebut cyber. Situs jejaring sosial menambah daftar fitur online yang sangat diminati oleh masyarakat pada umumnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sehubungan dengan semakin pesatnya media online, belakangan ini membuat Dewan Pers berinisiatif membuat sebuah regulasi etika yang khusus mengatur gerak-gerik pelaku jurnalisme online. Kode etik jurnalistik yang sudah ada dinilai belum mengatur soal media online. Perlunya kode etik tersendiri bagi media online untuk memberi rambu-rambu yang lebih sesuai dengan karakter media online yang membutuhkan kecepatan penyebaran berita. "Misalnya ada berita yang harus tayang, tapi belum ada keterangan konfirmasi dari narasumber, itu kalau dinaikkan harus ada disclaimer di bagian bawah berita bahwa ini belum ada konfirmasi. Atau ada alternatif lain yang bisa dilakukan.&lt;/div&gt;</description><link>http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/06/etika-dalam-media-online.html</link><author>noreply@blogger.com (Reza Natadipura)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-607205174887941626.post-8389750598843238896</guid><pubDate>Tue, 21 Jun 2011 11:42:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-06-21T04:44:46.346-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Etika Hukum Pers</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Komunikasi Politik</category><title>Delik Pers dalam KUHP</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;a href="http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/06/delik-pers-dalam-kuhp.html"&gt;Delik Pers&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pers, kata yang identik dengan wartawan, kamera, pemberitaan, bahkan acara infotainment. Pers di Indonesia mengalami dinamika yang panjang. Mulai dari perannya sebagai corong informasi publik, alat kontrol kebijakan pemerintah, media pengaduan masyarakat, media kampanye, sarana penghimpun bantuan kemanusiaan dan lain-lain, termasuk adanya pemukulan terhadap wartawan atau sebaliknya pemberitaan pers yang mencemarkan nama baik seseorang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari barbagai dinamika pers di atas, satu hal yang menarik dan selalu menjadi masalah bahkan mungkin momok yang menakutkan bagi dunia pers adalah delik pers yang katanya identik dengan upaya pengekangan kebebasan pers. Kebanyakan delik pers dimulai dari pengaduan pihak yang merasa dirugikan atas sebuah pemberitaan kepada pihak yang berwajib dengan menggunakan pasal "pencemaran nama baik" dalam KUHP. Hal inilah yang dinilai kalangan pers sebagai kriminalisasi terhadap pers, dimana menggunakan ketentuan KUHP, padahal sudah ada UU No 40/1999 tentang Pers.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;a. Delik Kebencian:&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Permusuhan, Kebencian atau penghinaan terhadap Pemerintah, pasal 154 dan 155.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernyataan perasaan permusuhan, kebencian atau penghinaan golongan, pasal 156 dan 157&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;b. Delik penghinaan:&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penghinaan terhadap penguasa atau badan umum (XI) : Barang siapa dengan sengaja di muka umum dengan lisan atau tulisan menghina suatu penguasa atau badan umum yang ada di Indonesia, diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun enam bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. (pasal 207)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penghinaan Terhadap Presiden dan Wakil Presiden.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Pasal 134 : Penghinaan dengan sengaja terhadap Presiden dan Wakil Presiden diancam dengan pidana paling lama enam tahun, atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Pasal 134 dan 135&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;c. Delik Penyebaran Kabar Bohong:&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemberitaan Palsu&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(1). Barang siapa dengan sengaja mengajukan pengaduan atau pemberitahuan palsu kepada penguasa, baik secara tertulis maupun untuk dituliskan, tentang seseorang sehingga kehormatan atau nama baiknya terserang, diancam karena melakukan pengaduan fitnah, dengan pidana penjara paling lama empat tahun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(2) Pencabutan hak-hak berdasarkan pasal 35 No. 1-3 dapat dijatuhkan. (Pasal 317)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;d. Delik Kesusilaan:&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelanggaran kesusilaan (XII) :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(3) Kalau yang bersalah melakukan kejahatan tersebut dalam ayat pertama sebagai pencarian atau kebiasaan, dapat dijatuhkan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atas pidana denda paling banyak tujuh puluh lima ribu rupiah. (Pasal 282)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;e. Pertangungjawaban Pers:&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Hak Jawab dan Hak Koreksi dalam UU Pers yang kurang jelas diatur baik dalam substansi pasal-pasalnya maupun penjelasan mengakibatkan adanya pendapat yang pro dan kontra sebagai tindak lanjut penyelesaiannya secara hukum di pengadilan negeri. Hak Jawab dan Hak Koreksi tersebut sebenarnya merupakan pokok materi yang sangat terkait dengan pengertian delik pers yang mengarah pada Trial by Press maupun pertanggungjawaban pidana Perusahaan Pers.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Delik pers yang harus memperhatikan faktor intern seperti investigasi, verifikasi,check and balances, dan cover both side beserta sanksinya secara jelas diatur dalam pasal 18 UU Pers yang memiliki unsur-unsur melanggar ketentuan pasal 5 ayat (1), pasal 5 ayat (2), pasal 13, di mana pasal 5 ayat (1) dan ayat (2) yang mengatur perihal pelanggaran Asas Praduga Tak Bersalah serta pers wajib melayani Hak Jawab. Berbicara perihal pengertian delik pers, maka harus dikaitkan dengan ketentuan pasal 18 tersebut diatas dan tidak mengacu pada KUHP seperti pasal 154, pasal 155, pasal 310 yang menyangkut pencemaran nama baik, dengan pengertian pasal-pasal KUHP tersebut hanyalah merupakan sarana atau alat dalam membuktikan terjadinya pelanggaran atas unsur Asas Praduga Tak Bersalah dan atau unsur pers tidak melayani hak jawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;(sumber:http://kuhpreform.files.wordpress.com/2008/11/pertanggungjawaban leobatubara_1.pdf)&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><link>http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/06/delik-pers-dalam-kuhp.html</link><author>noreply@blogger.com (Reza Natadipura)</author><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-607205174887941626.post-1697445156240357103</guid><pubDate>Tue, 21 Jun 2011 11:40:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-06-21T04:44:46.347-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Etika Hukum Pers</category><title>Mekanisme Hak Jawab</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/06/mekanisme-hak-jawab.html"&gt;1. Mekanisme Hak Jawab&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Soal tudingan bahwa media tertentu telah melakukan kesalahan terkait dengan konten pemberitaan maupun ulasan atau analisis redaksinya, maka “hak jawab” adalah mekanisme yang pas untuk digunakan. Setiap pejabat negara seharusnya paham akan hal itu. Ini pulalah yang disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pertemuannya dengan Dewan Pers pada 25 Januari 2005. Ketika itu SBY mengatakan, “Penyelesaian masalah berita pers ditempuh, pertama, dengan hak jawab; kedua, bila masih dispute, diselesaikan ke Dewan Pers; ketiga, bila masih dispute, penyelesaian dengan jalur hukum tidak ditabukan, sepanjang fair, terbuka, dan akuntabel.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang dikatakan Dipo Alam adalah bentuk pembelaan dan wujud loyalitas kepada pimpinannya yang sering dikritik, hal itu wajar dan dapat dimaklumi. Hanya saja tetap harus mempertimbangkan unsure-unsur proporsionalitas dan hal itu bisa dipertanggungjawabkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada akhirnya, terkait hubungan pers dan pemerintah, kita patut merenungi sepotong kalimat bermakna yang diucapkan oleh Presiden ke-3 Amerika Serikat Thomas Jefferson (1801-1809). Kata Jefferson, “When it is left me to decide whether we should have a government without newspapers, or newspapers without government, I should not hesitate to prefer the letter” (“Jika saya ditanya mana yang akan saya pilih, pemerintah tanpa surat kabar atau surat kabar tanpa pemerintah, tanpa ragu saya akan memilih yang terakhir.”)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;Sumber:http://victorsilaen.com/index.php/2011/03/13/bila-pemerintah-tanpa-surat-kabar/&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selasa 15 Maret 2011, Pemerintah Indonesia telah melayangkan hak jawab atas pemberitaan dua media Australia yang menyebut Presiden SBY melakukan penyalahgunaan wewenang. Kini yang harus dilakukan pemerintah adalah mencari tahu siapa pejabat negara yang meniupkan peluit ke Kedubes AS.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kawat diplomatik Kedubes AS yang dibocorkan Wikileaks dan dimuat di harian The Age dan Sydney Morning Herald pada 11 Maret menyebutkan, Presiden SBY diduga terlibat kasus korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. Pemerintah Indonesia sudah mengajukan hak jawabnya dan dan dimuat di harian The Age keesokan harinya.&lt;/div&gt;</description><link>http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/06/mekanisme-hak-jawab.html</link><author>noreply@blogger.com (Reza Natadipura)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-607205174887941626.post-1757084058351443630</guid><pubDate>Tue, 21 Jun 2011 11:39:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-06-21T04:44:46.347-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Etika Hukum Pers</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Komunikasi Politik</category><title>Kontruksi Politik</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/06/kontruksi-politik.html"&gt;Berkenaan Kasus Nazzaruddin&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Konstruksi politik adalah upaya satu pihak membayangkan pihak lain telah melakukan sesuatu yang tidak diperbuatnya. Maksudnya adalah pembayangan tersebut tidak didasarkan atas bukti yang akurat jika memang pihak-pihak yang dimaksud melakukan tindakan tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara praktik, taktik konstruksi politik seperti ini dapat dijadikan senjata oleh para pelaku politik untuk memukul lawan politiknya dan juga untuk menunjukkan bahwa yang memukul adalah korban dari lawan politiknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti diketahui bahwa awal mula munculnya kekisruhan politik internal PD dimulai ketika kasus suap Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olah Raga (Sesmenpora) terkait pembangunan wisma atlet SEA Games di Jakabaring, Palembang terkuak. Dalam kasus itu, nama sejumlah kader Demokrat diduga terlibat. Nama Bendahara Umum Demokrat, Muhammad Nazarudin, menjadi sangat populer dalam kasus ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Belum selesai kasus suap Sesmenpora, Nazaruddin kembali dituding telah memberi suap kepada Sekretaris Jenderal Mahkamah Konstitusi (MK) Janedjri M. Gaffar. Tak tanggung-tanggung, suap yang diberikan Nazaruddin itu nilainya mencapai 120 ribu dollar Singapura. Permasalahan semakin runyam ketika Nazaruddin pergi ke Singapura dengan dalih berobat sehari sebelum KPK memutuskan melakukan pencekalan terhadapnya pada 24 Mei lalu demi kepentingan pemeriksaan hukum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak juga selesai sampai di sini, lalu tiba-tiba muncul pesan pendek (SMS) yang isinya memojokkan PD dan tokoh-tokohnya termasuk Presiden SBY. Yang menarik adalah sms tersebut mengatasnamakan Nazaruddin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akibat dari rentetan kasus-kasus di atas, PD mendapat sorotan negatif di mata publik. Bahkan media pun tidak henti-hentinya mengkonstruksi pemberitaan tentang PD secara negatif. Hal ini tentu menjadi pertanda buruk bagi PD sebagai partai yang selama ini dinilai publik sebagai partai yang bersih dari korupsi dan praktik suap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk itu, PD membutuhkan semacam konstruksi politik tandingan untuk mengkounternya. RP kemudian memunculkan nama Mr.A sebagai konstruksi politiknya. Mr.A dalam konstruksi politik RP dipandang sebagai otak dibalik penyebaran SMS yang isinya memojokkan PD dan Presiden SBY.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konstruksi politik RP tentang Mr.A yang digambarkan sebagai tokoh politik lama dari partai lawan yang ingin menghancurkan PD dan Presiden SBY ini jelas merupakan upaya untuk mengatakan kepada publik bahwa PD adalah korban dari Mr.A.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuan dari taktik konstruksi politik RP ini jelas ingin memunculkan spekulasi nama-nama berinisial ’A’ dari partai politik lain. Jika taktik ini berhasil, publik pun akan mengkonstruksikan hal yang serupa dengan RP.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;(Sumber:http://www.indonesiamedia.com/2011/06/07/kasus-nazaruddin-membelah-demokrat/)&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Apabila dihubungkan dengan penjelasan Bill Kovack, yakni Sembilan Elemen Jurnalis kasus Nazzaruddin sudah salah dan masuk kedalam banyak kategori. Pada kasus ini wartawan dan media pun sudah terlalu kasar dalam segi penayangan beritanya. Hal ini tidak sesuai dengan elemen pertama yang disampaikan Bill, ia mengatakan bahwa “Kewajiban utama jurnalisme adalah pada pencarian kebenaran”, kebanyakan wartawan dan pemberitaan di Negara kita adalah langsung menjudge seenak jidat, tanpa memiliki data yang akurat sudah langsung posting. Tentu saja hal ini akan berdampak buruk bagi publik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Jurnalis harus menjaga independensi dari obyek liputannya, dalam kasus Nazzaruddin jurnalis tidak mencoba membuat sebuah kenyamanan bagi korban/pelaku. Hal ini dapat menyebabkan sebuah konflik, buktinya sampai sekarang Nazzaruddin enggan untuk pulang ke negaranya karena pemberitaan di media sudah tampak seperti ancaman bagi diriya, sedangkan dia adalah tetap warga Negara Indonesia yang harus dilindungi. Walaupun ternyata memang dia bersalah, maka ada hokum yang akan mengadilinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Jurnalis harus memberi forum bagi publik untuk saling-kritik dan menemukan kompromi. Pada hal ini jurnalis di berbagai media hanya membuat forum sendiri untuk mereka sendiri. Tidak menutup kemungkinan bahwa apa yang mereka katakana adalah benar, namun tidak seperti itu juga caranya, Negara kita adalah Negara demokratis (konon katanya). Maka segala sesuatu bisa dibicarakan secara baik-baik melalu musyawarah.&lt;/div&gt;</description><link>http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/06/kontruksi-politik.html</link><author>noreply@blogger.com (Reza Natadipura)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-607205174887941626.post-8531327090638839703</guid><pubDate>Tue, 21 Jun 2011 11:35:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-06-21T04:36:05.036-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Etika Hukum Pers</category><title>Etika Dilema</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;a href="http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/06/etika-dilema.html"&gt;Dalam Etika Dilema&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; yang dikenal juga sebagai dilema moral telah menjadi masalah bagi teori etika sejauh Plato. Sebuah dilema etis dimana situasi ajaran moral atau etika konflik kewajiban sedemikian rupa sehingga setiap resolusi mungkin untuk dilema secara moral tak tertahankan. Dengan kata lain, sebuah dilema etika adalah setiap situasi di mana pedoman prinsip-prinsip moral tidak dapat menentukan tindakan yang benar atau salah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam Kode Etik Jurnalistik Pasal 6 mengatakan,&lt;b&gt;&lt;i&gt; “Wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap”&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. Hal ini dapat menjadi dilema bagi wartawan yang bersangkutan ketika ia menghadapi masalah tertentu. Sebagai contoh saya akan menceritakan kisah seorang wartawan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Pada suatu kejadian wartawan ini diberikan tugas dari atasannya untuk meliput salah satu anggota Dewan. Pada saat setelah peliputan, sang anggota dewan tersebut memberikan sebuah amplop, wartawan ini sudah mengira itu adalah suap. Ia tetap pada keidealisannya sebagai wartawan yang menjungjung tinggi kode etik, namun disisi lain anaknya sedang sakit, ia harus segera membawa anaknya ke rumah sakit. Hal ini akan menjadi dilema etis ataupun dilema moral bagi wartawan tersebut. Ada dua kemungkinan yang akan dilakukan oleh wartawan tersebut, yang pertama ia akan tetap pada keidealisannya dan yang kedua ia akan menerima amplop tersebut karena mengingat anaknya sedang sakit.&lt;/div&gt;</description><link>http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/06/etika-dilema.html</link><author>noreply@blogger.com (Reza Natadipura)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-607205174887941626.post-6351423907550320332</guid><pubDate>Tue, 21 Jun 2011 11:33:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-06-21T04:36:05.037-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Etika Hukum Pers</category><title>Etika DO'S dan DON'TS</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;a href="http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/06/etika-dos-dan-donts.html"&gt;1. Wilayah DO’S&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wilayah ini tentu saja adalah proses jurnalistik, dimana wartawan harus memenuhi tuntutan kode etik jurnalistik dalam setiap kegiatan jurnalistik. Hal ini akan sangat diperbolehkan bagi wartawan. Ada lima etika dasar yang harus dipenuhi sebuah tulisan agar bisa disebut sebagai produk jurnalistik:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Melaporkan kebenaran, bukan yang lain&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Bertindak secara independen&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Transparan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Menyeleksi secara sensitive&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Dalam jurnalisme ada prinsip untuk meminimalkan kerugian)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Menempatkan Etika melampaui aturan hukum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jurnalis dalam bekerja harus menjunjung tinggi kejujuran. Ia tak melakukan penjiplakan atas karya orang lain. Ia tak menfitnah. Ia juga tak memanipulasi sumber-sumber yang didapatnya. Baik melalui tekanan maupun sogokan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitupun dengan kode etik jurnalistik yang menjungjung tinggi kebenaran dan keadilan, apabila dikaitkan dengan Do for doctors di atas maka KEJ akan menjadi suatu bagian yang memiliki kesamaan dengan etika promosi obat tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://www.blogger.com/goog_1607434870"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;a href="http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/06/etika-dos-dan-donts.html"&gt;2. Wilayah DON’TS&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun pers dituntut harus selalu tunduk dan taat kepada Kode Etik Jurnalistik, pers ternyata bukanlah malaikat yang tanpa kesalahan. Data yang ada menunjukkan bahwa pada suatu saat pers ada kalanya melakukan kesalahan atau kekhilafan sehingga melanggar Kode Etik Jurnalistik&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Contoh-Contoh Kasus&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Berikut ini contoh-contoh kasus pelanggaran yang dilakukan wartawan (pers)&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
dan pernah terjadi :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Sumber Imajiner&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Sumber berita dalam liputan pers harus jelas dan tidak boleh fiktif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Identitas dan Foto Korban Susila Anak-Anak Dimuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Tidak Paham Makna "Off the Record.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Tidak Memperhatikan Kredibilitas Narasumber.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Melanggar Hak Properti Pribadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Menyiarkan Gambar Ilustrasi Sembarangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Sumber Berita Tidak Jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Tidak Melayani Hak Jawab Secara Benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jurnalis pada prinsipnya menolak sensor dan pembredelan. Jurnalis dan pengelola media massa juga tak mau dipanggil secara sembarangan oleh semua pihak, kecuali kejaksaan. Benarkah pers merasa dirinya selalu dan paling benar hingga tak mau tunduk pada lembaga mana pun? Tentunya tidak. Untuk itulah kode etik jurnalistik disusun. Bukan berarti tanpa kode etik, jurnalis tak bisa bekerja dan media massa tak terbit. Andaikan kode etik tak ada, jurnalis tetap akan bekerja dan pers tetap dicetak tanpa ada satu orang atau pihak pun yang bisa mencegahnya.&lt;/div&gt;</description><link>http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/06/etika-dos-dan-donts.html</link><author>noreply@blogger.com (Reza Natadipura)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-607205174887941626.post-4405113436974382564</guid><pubDate>Tue, 21 Jun 2011 11:29:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-06-21T04:31:06.112-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Penulisan Berita</category><title>Penulisan Berita Cetak</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;a href="http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/06/penulisan-berita-cetak.html"&gt;PENULISAN BERITA CETAK&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/04/straight-news.html"&gt; 1. News Value&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Mang Jajang menangis, kiosnya dijalan Kiaracondong di jarah geng motor.&lt;br /&gt;
- Uang 75 rb rupiah di gasak, dagangannya juga ludes.&lt;br /&gt;
- Di Sumedang geng motor bikin ulah.&lt;br /&gt;
- Mobilnya penyok, kacanya pecah, rusak berat, dompet dan handphone dicuri.&lt;br /&gt;
- Karena ugal-ugalan di jalan dan meyerempet sopir angkot, tujuh anggota geng motor dikejar sampai masuk kesebuah rumah warga.&lt;br /&gt;
- Jam 3 pagi polres sumedang tangkap 7 orang dijalan raya. Dll.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;a href="http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/04/straight-news.html"&gt;2. Unsur 5W dan 1H&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- What?&lt;br /&gt;
Anggota Geng Motor Resahkan Jawa Barat&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Who?&lt;br /&gt;
Geng Motor&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- When?&lt;br /&gt;
Tanggal 15 dan 24 Maret 2011&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Where?&lt;br /&gt;
Bandung, Sumedang dan Tasik&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Why?&lt;br /&gt;
Penyerangan Geng Motor&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- How?&lt;br /&gt;
Kejadian penyerangan beruntun di beberapa daerah jawa barat oleh sekelompok anggota geng motor. Hal ini membuat resah warga dan membuat beberapa oknum tak bersalah menjadi korban. Akhirnya polisi turun tangan menangani hal tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;a href="http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/04/straight-news.html"&gt;3. Straight News&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;&lt;b&gt;Anggota Geng Motor Bikin Ulah dan Membuat Resah Warga Jawa Barat&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Jawa Barat - Senin malam (15/03/11), tepatnya pukul 10.00 WIB Bapak Kompol Kusyono selaku Kabag Operasi Polresta Tasikmalaya melakukan razia motor di beberapa daerah yang dianggap rawan geng motor. Razia ini dilakukan sampai selasa subuh, sekitar 35 orang tertangkap karena diduga merupakan anggota geng motor. Dari mereka yang ditangkap, diantaranya ada beberapa yang membawa senjata tajam berupa samurai dan celurit, selain itu ada pula yang membawa minuman keras dan lintingan ganja. Pada tanggal 21 Maret, tepatnya seminggu setelah razia, warga sekitar jalan Letnan Harun kota Tasikmalaya mengepung sebuah rumah yang didalamnya terdapat 7 anggota geng motor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kejadian serupa pun dialami kota Bandung, dengan maksud untuk membuat warga tenang, Polwiltabes Bandung juga mengadakan razia hari sabtu malam sampai minggu pagi. Sekitar 27 motor tertangkap karena tanpa surat-surat dan segera digiring ke mapolwiltabes bandung karena mencurigakan. Diantara mereka ada yang tertangkap tangan membawa benda-benda tajam dan miras.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mang Jajang, salah seorang korban geng motor di Kiaracondong Bandung. Dia menangis karena kiosnya dijarah (24/03/11) oleh kurang lebih limabelsas motor. Kejadiannya berlansung sekitar pukul 01.30. Jajang kehilangan uang 75 ribu rupiah yang habis digasak, selain itu dagangannya (rokok, air mineral dan roti) pun ikut ludes. Kerugian Jajang diperhitungkan hampir sekitar 300 ribu rupiah, dan akhirnya Jajang melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Kiaracondong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada hari yang sama, sekitar pukul 12.30 kota Sumedang pun diresahkan oleh ulah geng motor. Sekitar sepuluh sampai tigabelas orang naik motor tiba-tiba menyerang Bambang Tri Wahyudi, seorang PNS dari Jateng (Semarang) yang sedang beristirahat dekat alun-alun Sumedang. Setelah Bambang terkapar, para pelaku lari ke arah Bandung. Mobil korban pun rusak parah, dompet dan telepon genggam Bambang raib dibawa pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa hari kemudian, anggota Polres Sumedang berhasil menangkap 7 orang pelaku yang sama terhadap Bambang. Mereka tertangkap setalah melakukan aksi di kota Sumedang dan menabrak Dadang Sumarna yang tangah duduk-duduk dipinggir jalan raya tegalsari. Kasateskrim Polres Sumedang, Bapak Ajun Komisaris Riky Aries Setiawan memberikan laporan ketujuh tersangka pelaku penganiayaan daripada Bapak Bambang Tri Wahyudi adalah anggota geng Moonraker.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/06/penulisan-berita-cetak.html</link><author>noreply@blogger.com (Reza Natadipura)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-607205174887941626.post-8329125559320607743</guid><pubDate>Mon, 09 May 2011 22:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-05-09T15:02:23.098-07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Jurnalistik</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kode Etik Jurnalistik</category><title>Kode Etik Jurnalistik</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXvQVLbXMUW9YMoxKqA5IH_Y9sJuUBQoH-0kx6C_CMocl2BA660xc-p42y5gcokdyNDO1n4L2Ohd-GfE40i99BuqtatPox7B5sGIFPtXNIWdgtLZz7OHvXwhJB_CFX_gMFjV2oLvOKnMw/s1600/jurnal.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXvQVLbXMUW9YMoxKqA5IH_Y9sJuUBQoH-0kx6C_CMocl2BA660xc-p42y5gcokdyNDO1n4L2Ohd-GfE40i99BuqtatPox7B5sGIFPtXNIWdgtLZz7OHvXwhJB_CFX_gMFjV2oLvOKnMw/s320/jurnal.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;By: Reza Natadipura&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;a href="http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/05/kode-etik-jurnalistik.html"&gt;PEMBUKAAN&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahwa sesungguhnya salah satu perwujudan kemerdekaan Negara Republik Indonesia adalah kemerdekaan mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan sebagaimana diamanatkan oleh pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945. Oleh sebab itu kemerdekaan pers wajib dihormati oleh semua pihak.&lt;br /&gt;
Mengingat Negara Republik Indonesia adalah negara berdasar atas hukum sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945, seluruh wartawan menjunjung tinggi konstitusi dan menegakkan kemerdekaan pers yang bertanggungjawab, mematuhi norma-norma profesi kewartawanan, memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, serta memperjuangkan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial berdasarkan Pancasila.&lt;br /&gt;
Maka atas dasar itu, demi tegaknya harkat, martabat, integritas, dan mutu kewartawanan Indonesia serta bertumpu pada kepercayaan masyarakat, dengan ini Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) menetapkan Kode Etik Jurnalistik yang harus ditaati dan dilaksanakan oleh seluruh wartawan Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;a href="http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/05/kode-etik-jurnalistik.html"&gt;KEKUATAN KODE ETIK JURNALISTIK&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
BAB I&lt;br /&gt;
KEPRIBADIAN DAN INTEGRITAS&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pasal 1&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wartawan Indonesia beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berjiwa Pancasila , taat kepada Undang-Undang Dasar Negara, Ksatria, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia dan lingkungannya, mengabdi pada kepentingan bangsa dan negara serta terpecaya dalam mengemban profesinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pasal 2&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wartawan Indonesia dengan penuh rasa tanggung jawab dan bijaksana mempertimbangkan patut tidaknya menyiarkan berita, tulisan atau gambar, yang dapat membahayakan keselamatan dan keamanan negara, persatuan dan kesatuan bangsa, menyinggung perasaan agama, kepercayaan dan keyakinan suatu golongan yang dilindumgi oleh Undang-undang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pasal 3&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wartawan Indonesia tidak menyiarkan berita, tulisan atau gambar yang menyesatkan, memutarbalikkan fakta, bersifat fitnah, cabul, sadis dan sensasi berlebihan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pasal 4&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wartawan Indonesia tidak menerima imbalan untuk menyiarkan atau tidak menyiarkan berita, tulisan atau gambar yang dapat menguntungkan atau merugikan seseorang atau sesuatu pihak.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;a href="http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/05/kode-etik-jurnalistik.html"&gt;KODE ETIK JURNALISTIK&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
BAB II&lt;br /&gt;
CARA PEMBERITAAN&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pasal 5&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wartawan Indonesia menyajikan berita secara berimbang dan adil, mengutamakan kecermatan dari kecepatan serta mencampuradukkan fakta dan opini sendiri. Tulisan berisi interpretasi dan opini wartawan agar disajikan dengan menggunakan nama jelas penulisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pasal 6&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Wartawan Indonesia menghormati dan menjunjung tinggi kehidupan pribadi dengan tidak menyiarkan berita, tulisan, atau gambar yang merugikan nama baik atau perasaan susila seseorang, kecuali menyangkut kepentingan umum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pasal 7&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wartawan Indonesia dalam pemberitaan peristiwa yang diduga menyangkut pelanggaran hukum dan atau proses peradilan harus menghormati asas praduga tak bersalah, prinsip adil, jujur, dan penyajian yang berimbang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pasal 8&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wartawan Indonesia dalam memberitakan kejahatan susila tidak menyebut nama dan identitas korban. Penyebutan nama dan identitas pelaku kejahatan yang masih dibawah umur, dilarang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pasal 9&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wartawan Indonesia menulis judul yang mencerminkan isi berita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;a href="http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/05/kode-etik-jurnalistik.html"&gt;KODE ETIK JURNALISTIK&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
BAB III&lt;br /&gt;
SUMBER BERITA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pasal 10&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wartawan Indonesia menempuh cara yang sopan dan terhormat untuk memperoleh bahan berita, gambar, atau tulisan dan selalu menyatakan identitasnya kepada sumber berita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pasal 11&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wartawan Indonesia dengan kesadaran sendiri secepatnya mencabut atau meralat setiap pemberitaan yang kemudian ternyata tidak akurat, dan memberi kesempatan hak jawab serta proporsional kepada sumber dan atau obyek berita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pasal 12&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wartawan Indonesia meneliti kebenaran bahan berita dan memperhatikan kredibilitas serta kompetensi sumber berita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pasal 13&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wartawan Indonesia tidak melakukan tindakan plagiat, tidak mengutip berita, tulisan, atau gambar tanpa menyebut sumbernya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pasal 14&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wartawan Indonesia harus menyebut sumber berita, kecuali atas permintaan yang bersangkutan untuk tidak disebut nama dan identitasnya sepanjang menyangkut fakta dan data bukan opini.&lt;br /&gt;
Apabila nama dan identitas sumber berita tidak disebutkan, segala tanggung jawab ada pada wartawan yang bersangkutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pasal 15&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wartawan Indonesia menghormati ketentuan embargo, bahan latar belakang, dan tidak menyiarkan informasi yang oleh sumber berita tidak dimasukkan sebagai bahan berita serta atas kesepakatan dengan sumber berita tidak menyiarkan keterangan off the record.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;a href="http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/05/kode-etik-jurnalistik.html"&gt;KODE ETIK JURNALISTIK&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
BAB IV&lt;br /&gt;
KEKUATAN KODE ETIK JURNALISTIK&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pasal 16&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wartawan Indonesia menyadari sepenuhnya bahwa penataan Kode Etik Jurnalistik ini terutama berada pada hati nurani masing-masing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pasal 17&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wartawan Indonesia mengakui bahwa pengawasan dan penetapan sanksi pelanggaran Kode Etik Jurnalistik ini adalah sepenuhnya hak organisasi dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan dilaksanakan oleh Dewan Kehormatan PWI.&lt;br /&gt;
Tidak satu pihak pun di luar PWI yang dapat mengambil tindakan terhadap wartawan Indonesia dan atau medianya berdasarkan pasal-pasal dalam Kode Etik Jurnalistik ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;a href="http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/05/kode-etik-jurnalistik.html"&gt;KODE ETIK JURNALISTIK&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://id.wikisource.org/wiki/Kode_Etik_Jurnalistik_AJI"&gt;KODE ETIK AJI&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://id.wikisource.org/wiki/Kode_Etik_Jurnalistik_AJI"&gt;(ALIANSI JURNALIS INDEPENDEN)&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
Jurnalis menghormati hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar.&lt;br /&gt;
Jurnalis senantiasa mempertahankan prinsip-prinsip kebebasan dan keberimbangan dalam peliputan dan pemberitaan serta kritik dan komentar.&lt;br /&gt;
Jurnalis memberi tempat bagi pihak yang kurang memiliki daya dan kesempatan untuk menyuarakan pendapatnya.&lt;br /&gt;
Jurnalis hanya melaporkan fakta dan pendapat yang jelas sumbernya.&lt;br /&gt;
Jurnalis tidak menyembunyikan informasi penting yang perlu diketahui masyarakat.&lt;br /&gt;
Jurnalis menggunakan cara-cara yang etis untuk memperoleh berita, foto dan dokumen.&lt;br /&gt;
Jurnalis menghormati hak nara sumber untuk memberi informasi latar belakang, off the record, dan embargo.&lt;br /&gt;
Jurnalis segera meralat setiap pemberitaan yang diketahuinya tidak akurat.&lt;br /&gt;
Jurnalis menjaga kerahasiaan sumber informasi konfidensial, identitas korban kejahatan seksual, dan pelaku tindak pidana di bawah umur.&lt;br /&gt;
Jurnalis menghindari kebencian, prasangka, sikap merendahkan, diskriminasi, dalam masalah suku, ras, bangsa, politik, cacat/sakit jasmani, cacat/sakit mental atau latar belakang sosial lainnya.&lt;br /&gt;
Jurnalis menghormati privasi, kecuali hal-hal itu bisa merugikan masyarakat.&lt;br /&gt;
Jurnalis tidak menyajikan berita dengan mengumbar kecabulan, kekejaman kekerasan fisik dan seksual.&lt;br /&gt;
Jurnalis tidak memanfaatkan posisi dan informasi yang dimilikinya untuk mencari keuntungan pribadi.&lt;br /&gt;
Jurnalis tidak dibenarkan menerima sogokan.&lt;br /&gt;
Catatan: yang dimaksud dengan sogokan adalah semua bentuk pemberian berupa uang, barang dan atau fasilitas lain, yang secara langsung atau tidak langsung, dapat mempengaruhi jurnalis dalam membuat kerja jurnalistik.&lt;br /&gt;
Jurnalis tidak dibenarkan menjiplak.&lt;br /&gt;
Jurnalis menghindari fitnah dan pencemaran nama baik.&lt;br /&gt;
Jurnalis menghindari setiap campur tangan pihak-pihak lain yang menghambat pelaksanaan prinsip-prinsip di atas.&lt;br /&gt;
Kasus-kasus yang berhubungan dengan kode etik akan diselesaikan oleh Majelis Kode Etik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
diambil dari :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;www.asiatour.com/lawarchives/indonesia/uu_pers/kode_etik_aji.htm&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/05/kode-etik-jurnalistik.html</link><author>noreply@blogger.com (Reza Natadipura)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXvQVLbXMUW9YMoxKqA5IH_Y9sJuUBQoH-0kx6C_CMocl2BA660xc-p42y5gcokdyNDO1n4L2Ohd-GfE40i99BuqtatPox7B5sGIFPtXNIWdgtLZz7OHvXwhJB_CFX_gMFjV2oLvOKnMw/s72-c/jurnal.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-607205174887941626.post-7586981741493300201</guid><pubDate>Mon, 25 Apr 2011 10:34:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-12-07T02:00:30.210-08:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Fikom Jurnalistik</category><title>Fikom Jurnalistik</title><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Apa itu Fikom? Apa itu &lt;a href="http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2010/10/jurnalistik.html"&gt;Jurnalistik&lt;/a&gt;? Lalu apa itu &lt;a href="http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/04/fikom-jurnalistik.html"&gt;Fikom Jurnalistik&lt;/a&gt;?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhIxLUJlCPgd7S_C9SyziQiS3QjVhwxXX5uvWp1FJZnSP_CyHjrQfKzND5R61NGYOWMo_14v__rw9Z0HqCaL_i4XDeocUywdlMYbhC4RT7DG-2wXtEg79xK9MgxD4vkKqNLAVZMuXKN-3A/s1600/pOSTER+dESIGn.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjeI5QgvYuYYITDFab5S8ip8HmG3QAwl87yySb5yifd7hPTxC5WCp672HOChmhztP2gu8FhSC5jMM9wYyfjAF5LEbn1q_O7ecsELOrnkrnLRcKVKZe5s2txOKHHUf0bQFgToKfBHkp3IeU/s1600/Mengenal+Fikom+Jurnalistik.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai mahasiswa komunikasi di salah satu &lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;a href="http://nugaroblog.blogspot.com/2011/04/fikom-unisba.html"&gt;kampus ternama&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; di Bandung, saya ingin coba memberikan beberapa pengertian tentang fikom jurnalistik dan hal apa saja yang terkait didalamnya. Hal pertama yang akan saya jelaskan adalah sebuah pengertian sederhana dari ilmu komunikasi. Sebagai makhluk sosial kita sebagai manusia tidak akan pernah bisa hidup sendiri, kita pastinya akan dituntu untuk saling berbagi sesama makhluk hidup. &lt;b&gt;&lt;a href="http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/04/fikom-jurnalistik.html"&gt;Bagaimana cara kita berbagi?&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Banyak cara untuk berbagi, entah darimana kita mendapatkannya, apapun itu adalah sebuah titipan dari Yang Maha Kuasa. Titipan berarti amanat, sebagaimana mestinya sebuah amanat harus dijalankan dengan sebenar-benarnya. Salah satu contoh adalah komunikasi, komunikasi bisa disebut sebagai hal penting dalam sebagian besar kehidupan manusia, bagaimana setiap insan di dunia dapat saling berhubungan, mengenal dsb lewat komunikasi. Maka hendaklah kita belajar &lt;a href="http://cyberworksite.com/category/ilmu-komunikasi/" target="_blank"&gt;ilmu komunikasi&lt;/a&gt;, j&lt;b&gt;adi apa itu Komunikasi? &lt;/b&gt;Sebuah Informasi atau sebuah pesan yang melewati tahap sebagai proses jurnalistik dalam setiap informasi yang tersampaikan. Darimana dan kemana komunikasi itu berjalan? Dari conveyor of information kepada recipient information oleh siapa? sources of information, darimana mendapatkan sumbernya? dari masyarakat ataupun sebuah lembaga. Jadi sebenarnya proses ini bisa dikaitkan sebagai rantai/siklus komunikasi yang bisa dijabarkan sebagai berikut, "dari kita oleh kita dan untuk kita". Lalu bagaimana proses ini berjalan? Dengan adanya bantuan media hal ini dapat berjalan menjadi sebuah proses komunikasi yang sangat unik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kembali lagi pada pokok bahasan &lt;b&gt;apa itu Fikom?&lt;/b&gt;&lt;a href="http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2010/10/fikom.html"&gt; &lt;/a&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2010/10/fikom.html"&gt;Fikom&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; adalah sebuah singkatan dari &lt;b&gt;&lt;a href="http://nugaroblog.blogspot.com/2011/04/fikom-unisba-sekolah-komunikasi-terbaik.html?"&gt;Fakultas Ilmu Komunikasi&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; yang menjadi sebutan populer dari cabang ilmu komunikasi. Fikom atau ilmu komunikasi terbagi menjadi tiga pembagian, yaitu; Jurnalistik, Manajemen komunikasi, dan Public Relations atau biasa disebut hubungan masyarakat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu &lt;a href="http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2010/10/jurnalistik.html" style="font-weight: bold;"&gt;apa itu Jurnalistik?&lt;/a&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;a href="http://cyberworksite.com/pengertian-jurnalistik/" target="_blank"&gt;Pengertian&amp;nbsp;Jurnalistik&lt;/a&gt; atau Jurnalisme adalah suatu bidang kajian dari ilmu komunikasi itu sendiri, &lt;a href="http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2010/10/jurnalistik.html"&gt;jurnalistik&lt;/a&gt; berasal dari kata journal, artinya catatan harian, atau catatan mengenai kejadian sehari-hari, atau bisa juga berarti suratkabar. Journal berasal dari perkataan latindiurnalis, yaitu orang yangmelakukan pekerjaan jurnalistik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang kita akan menjelaskan &lt;b&gt;&lt;a href="http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/04/fikom-jurnalistik.html"&gt;apa itu Fikom Jurnalistik&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;. Apabila digabungkan dari pengertian diatas, maka akan mendaptkan sebuah kesimpulan bahwa &lt;a href="http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/04/fikom-jurnalistik.html"&gt;Fikom Jurnalistik&lt;/a&gt; adalah Sebuah Kajian dari Ilmu komunikasi yang terbentuk akan sebuah sistem yang mengatur jurnalistik itu sendiri. Namun Fikom-Jurnalistik,blogspot.com ini bertujan untuk memberikan sarana informasi tentang fikom jurnalistik dan imu komunikasi itu sendiri. Bahan yang diambil kebanyakan dari mata kuliah yang saya terima saat menjalani pelajaran dikelas. Selebihnya ada banya kutipan dari para jurnalis lainnya di &lt;i&gt;Google Search Engine.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;i&gt;Akhir kata saya ucapkan banyak terima kasih, semoga apa yang saya tulis menjadi barokah bagi pembacanya dan kelak di kemudian hari akan banyak orang yang lebih memahami tentang komunikasi.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><link>http://fikom-jurnalistik.blogspot.com/2011/04/fikom-jurnalistik.html</link><author>noreply@blogger.com (Reza Natadipura)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjeI5QgvYuYYITDFab5S8ip8HmG3QAwl87yySb5yifd7hPTxC5WCp672HOChmhztP2gu8FhSC5jMM9wYyfjAF5LEbn1q_O7ecsELOrnkrnLRcKVKZe5s2txOKHHUf0bQFgToKfBHkp3IeU/s72-c/Mengenal+Fikom+Jurnalistik.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item></channel></rss>