<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2enclosuresfull.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>Forum Pencinta Bahari</title><link>http://forumpencitabahari.blogspot.com/</link><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/ForumPencintaBahari" /><description>Lindungi dan lestarikanlah bahari kita terutama Terumbu Karang di laut kita</description><language>en</language><managingEditor>noreply@blogger.com (Forum Pencita Bahari)</managingEditor><lastBuildDate>Thu, 16 Feb 2012 19:02:59 PST</lastBuildDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/">3</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/">25</openSearch:itemsPerPage><feedburner:info xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" uri="forumpencintabahari" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Lindungi dan lestarikanlah bahari kita terutama Terumbu Karang di laut kita</itunes:subtitle><item><title>PEMANTAUAN DAN EVALUASI KONSERVASI SUMBER DAYA MINERAL</title><link>http://forumpencitabahari.blogspot.com/2008/11/pemantauan-dan-evaluasi-konservasi.html</link><category>Evaluasi Konservasi SDA</category><author>noreply@blogger.com (Forum Pencita Bahari)</author><pubDate>Sun, 09 Nov 2008 02:26:17 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4568533447300998461.post-1032430753113307888</guid><description>&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4568533447300998461-1032430753113307888?l=forumpencitabahari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-11-09T02:26:17.635-08:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Kemajuan Untuk Kehancuran Berkepanjangan</title><link>http://forumpencitabahari.blogspot.com/2008/11/kemajuan-untuk-kehancuran.html</link><category>Reklamasi Pantai</category><author>noreply@blogger.com (Forum Pencita Bahari)</author><pubDate>Sun, 09 Nov 2008 02:02:16 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4568533447300998461.post-4225894885929337733</guid><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_y4eDZzHqua4/SRay_dLsCAI/AAAAAAAAAAo/Xik0UvyB_8U/s1600-h/DSC00087.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_y4eDZzHqua4/SRay_dLsCAI/AAAAAAAAAAo/Xik0UvyB_8U/s320/DSC00087.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5266593617491527682" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Reklamsi pantai memang bisa dikatakan menguntungkan namun bisa juga dikatakan menghancurkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kenapa!&lt;/span&gt; karena jika ditinjau dari segi kemajuan dan perkembangan kota, reklamsi pantai musti dilakukan atas nama kemajuan dan kemegahan, namun jika di lihat dari sudut pandang kerusakn berkepanjangan mak reklamasi pantai merugikan, karena kerusakan yang diakibatkan oleh reklamasi pantai bukan sekedar kerusakn fisik saja namun bisa memutus mata rantai kehidupan bawah laut yang akhirnya akan mengakibatkan kehancuran baik di dalam laut maupun di permukan laut, artinya kehancuran ekosistem bawah laut sangat fatal bagi kehidupan di permukaan laut. karena akibat dari pembangunan yang tidak memikirkan terlebih dahulu dampak negatif nya pembangunan akan menghidupkan kehancuran yang luar biasa dahsyatnya, untuk itu sebenarnya di harapkan kepada segenap badan atau instansi yang bergerak dibidang perhotelan, wisata, dan yang mengundang keramaian untuk menghasilakan suatu metode yang baik, kita harus memikirkan dan mempertimbangkan segi kerugian yang akan dilanda jika terjadi pembangunan di pesisir pantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reklamasi pantai sangat menguak kontroversial dari beberapa kalangan bagi para pebisnis tempat hiburan atau tempat rekreasi, lokasi pinggir pantai sangatlah strategis, karena dengan nuansa laut akan mendatangkan keuntungan yang besar, bukan hanya wisatawan domestik bahkan bisa mendatangkan wisatawan manca negara, namun bisakah kita membangun pantai dengan melihat dampak negatif yang akan ditimbulkan, saya rasa tidak karena kebanyakn dari mereka tidak pernah memikirkan itu sebab, akan lebih rumit jika dilihat segi negatifnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4568533447300998461-4225894885929337733?l=forumpencitabahari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-11-09T02:02:16.591-08:00</app:edited><media:thumbnail url="http://2.bp.blogspot.com/_y4eDZzHqua4/SRay_dLsCAI/AAAAAAAAAAo/Xik0UvyB_8U/s72-c/DSC00087.JPG" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Faktor-faktor lingkungan yang berperan dalam perkembangan ekosistem terumbu karang</title><link>http://forumpencitabahari.blogspot.com/2008/11/faktor-faktor-lingkungan-yang-berperan.html</link><category>Ekosistem Terumbu Karang</category><author>noreply@blogger.com (Forum Pencita Bahari)</author><pubDate>Tue, 04 Nov 2008 04:46:44 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4568533447300998461.post-8971052928287521130</guid><description>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ekosistem terumbu karang dapat berkembang dengan baik apabila kondisi lingkungan perairan mendukung pertumbuhan karang (gambar 1). &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt; &lt;img src="http://web.ipb.ac.id/%7Ededi_s/images/stories/karang/ekologi/gbr-1.jpg" alt="Image" title="Image" width="470" border="0" height="240" hspace="6" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%; text-align: justify;" class="CM10"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Gambar 1&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;. Kombinasi faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan karang dan perkembangan terumbu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%; text-align: justify;" class="CM10"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;h5 style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;SUHU&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/h5&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%; text-align: justify;" class="CM12"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Secara global, sebarang terumbu karang dunia dibatasi oleh permukaan laut yang isoterm pada suhu 20 °C, dan tidak ada terumbu karang yang berkembang di bawah suhu 18 °C.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Terumbu karang tumbuh dan berkembang optimal pada perairan bersuhu rata-rata tahunan 23-25 °C, dan dapat menoleransi suhu sampai dengan 36-40 °C.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%; text-align: justify;" class="CM12"&gt; &lt;/p&gt;&lt;h5 style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;SALINITAS &lt;/strong&gt;&lt;/h5&gt;&lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;" class="CM3"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Terumbu karang hanya dapat hidup di perairan laut dengan salinitas normal 32­35 ‰. Umumnya terumbu karang tidak berkembang di perairan laut yang mendapat limpasan air tawar teratur dari sungai besar, karena hal itu berarti penurunan salinitas.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Contohnya di delta sungai Brantas (Jawa Timur).&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Di sisi &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%; text-align: justify;" class="CM12"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;lain, terumbu karang dapat berkembang di wilayah bersalinitas tinggi seperti Teluk Persia yang salinitasnya 42 %.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%; text-align: justify;" class="CM12"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;h5 style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;CAHAYA DAN KEDALAMAN&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/h5&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%; text-align: justify;" class="CM12"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Kedua faktor tersebut berperan penting untuk kelangsungan proses fotosintesis oleh zooxantellae yang terdapat di jaringan karang.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Terumbu yang dibangun karang hermatipik dapat hidup di perairan dengan kedalaman maksimal 50-70 meter, dan umumnya berkembang di kedalaman 25 meter atau kurang. Titik kompensasi untuk karang hermatipik berkembang menjadi terumbu adalah pada kedalaman dengan intensitas cahaya 15-20% dari intensitas di permukaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%; text-align: justify;" class="CM12"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;h5 style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong&gt;KECERAHAN&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/h5&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%; text-align: justify;" class="CM12"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Faktor ini berhubungan dengan penetrasi cahaya. Kecerahan perairan tinggi berarti penetrasi cahaya yang tinggi dan ideal untuk memicu produktivitas perairan yang tinggi pula.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%; text-align: justify;" class="CM12"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;h5 style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;PAPARAN UDARA (&lt;em&gt;aerial exposure&lt;/em&gt;) &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/h5&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%; text-align: justify;" class="CM12"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Paparan udara terbuka merupakan faktor pembatas karena dapat mematikan jaringan hidup dan alga yang bersimbiosis di dalamnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%; text-align: justify;" class="CM12"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;h5 style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;GELOMBANG &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/h5&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%; text-align: justify;" class="CM12"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Gelombang merupakan faktor pembatas karena gelombang yang terlalu besar dapat merusak struktur terumbu karang, contohnya gelombang tsunami.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Namun demikian, umumnya terumbu karang lebih berkembang di daerah yang memiliki gelombang besar. Aksi gelombang juga dapat memberikan pasokan air segar, oksigen, plankton, dan membantu menghalangi terjadinya pengendapan pada koloni atau polip karang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%; text-align: justify;" class="CM12"&gt; &lt;/p&gt;&lt;h5 style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;ARUS &lt;/strong&gt;&lt;/h5&gt;&lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;" class="CM4"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Faktor arus dapat berdampak baik atau buruk.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Bersifat positif apabila membawa nutrien dan bahan-bahan organik yang diperlukan oleh karang dan zooxanthellae, sedangkan bersifat negatif&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;apabila menyebabkan sedimentasi di perairan terumbu karang dan menutupi permukaan karang sehingga berakibat pada kematian karang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Pertumbuhan karang dan perkembangan terumbu&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt;&lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;" class="CM4"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Berdasarkan fungsinya dalam pembentukan terumbu (&lt;em&gt;hermatype-ahermatype&lt;/em&gt;) dan ada/tidaknya alga simbion (&lt;em&gt;symbiotic-asymbiotic&lt;/em&gt;), maka karang terbagi menjadi empat kelompok berikut: (Gambar 2) &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 21.3pt; text-indent: -21.3pt; line-height: 150%; text-align: justify;" class="Default"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Hermatypes-symbionts.&lt;/strong&gt; Kelompok ini terdiri dari anggota karang pembangun terumbu yaitu sebagian besar anggota Scleractinia (karang batu), Octocorallia (karang lunak) dan Hydrocorallia.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Hermatypes-asymbionts.&lt;/strong&gt;· Kelompok ini merupakan karang dengan pertumbuhan lambat yang dapat membentuk kerangka kapur masif tanpa bantuan zooxanthellae, sehingga mereka mampu untuk hidup di dalam perairan yang tidak ada cahaya.· Di antara anggotanya adalah Scleractinia asimbiotik dengan genus Tubastrea dan Dendrophyllia, dan hydro-corals jenis Stylaster rosacea.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Ahermatypes-symbionts&lt;/strong&gt;. Anggota kelompok ini antara lain dari genus Heteropsammia dan Diaseris (Scleractinia: Fungiidae) dan Leptoseris (Agaricidae) yang hidup dalam bentuk polip tunggal kecil atau koloni kecil sehingga tidak termasuk dalam pembangun terumbu. Kelompok ini juga terdiri dari Ordo Alcyonacea dan Gorgonacea yang mempunyai alga simbion namun bukan pembangun kerangka kapur masif (matriks terumbu).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Ahermatypes-asymbionts&lt;/strong&gt;. Anggota kelompok ini antara lain terdiri dari genus Dendrophyllia dan Tubastrea (Ordo Scleractinia) yang mempunyai polip yang kecil.· Termasuk juga dalam kelompok ini adalah kerabat karang batu dari Ordo Antipatharia dan Corallimorpha (Subkelas Hexacorallia) dan Subkelas Octocorallia asimbiotik. &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p style="margin-left: 21.3pt; text-indent: -21.3pt; line-height: 150%; text-align: justify;" class="Default"&gt; &lt;img src="http://web.ipb.ac.id/%7Ededi_s/images/stories/karang/ekologi/gbr-2.jpg" alt="Image" title="Image" width="500" border="0" height="311" hspace="6" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Gambar 2. Karang dalam sistem Filum Coelenterata; karang hermatypic pembangun terumbu berada dalam garis terputus-putus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karang hermatipik, yang umumnya didominasi oleh Ordo Scleractinia, memiliki alga simbion atau zooxanthellae yang hidup di lapisan gastrodermis.· Di lapisan ini, zooxanthellae sangat berperan membantu pemenuhan kebutuhan nutrisi dan oksigen bagi hewan karang melalui proses fotosintesis (gambar 3).· Zooxanthellae merupakan istilah umum bagi alga simbion dari kelompok dinoflagellata yang hidup di dalam jaringan hewan lain, termasuk karang, anemon, moluska, dan taksa hewan yang lain.· &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Hubungan  yang erat (simbiosis) antara hewan karang dan zooxanthellae dapat dikategorikan sebagai simbiosis mutualisme, karena hewan karang menyediakan tempat berlindung bagi zooxanthellae dan memasok secara rutin kebutuhan bahan-bahan anorganik yang diperlukan untuk fotosintesis, sedangkan hewan karang diuntungkan dengan tersedianya oksigen dan bahan-bahan organik dari zooxanthellae.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 21.3pt; line-height: 150%; text-align: justify;" class="Default"&gt;  &lt;img src="http://web.ipb.ac.id/%7Ededi_s/images/stories/karang/ekologi/gbr-3.jpg" alt="Image" title="Image" width="441" border="0" height="267" hspace="6" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;      &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;" class="CM10"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Gambar 3. &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Peran alga simbion (zooxanthellae) dalam menyokong pertumbuhan karang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;" class="CM10"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Koloni karang baru akan berkembang, jika polip karang melakukan perkembangbiakan secara aseksual, &lt;em&gt;budding&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;fragmentation&lt;/em&gt; (gambar 4). Melalui proses budding, koloni karang berkembang melalui dua cara yaitu &lt;em&gt;intratentacular budding&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;extratentacular budding&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;Intratentacular budding &lt;/em&gt;terjadi apabila pertambahan polip berasal dari satu polip yang terbelah menjadi dua, sedangkan &lt;em&gt;extratentacular budding&lt;/em&gt; terjadi jika tumbuh satu mulut polip bertentakel pada ruang kosong antara polip satu dan polip lain.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Selain itu, koloni baru dapat berkembang dari patahan karang yang terpisah dari koloni induk akibat gelombang atau aksi fisik lain, bila patahan tersebut melekatkan diri pada substrat keras dan tumbuh melalui mekanisme &lt;em&gt;budding&lt;/em&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;" class="Default"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; color: windowtext;"&gt; &lt;img src="http://web.ipb.ac.id/%7Ededi_s/images/stories/karang/ekologi/gbr-4.jpg" alt="Image" title="Image" width="500" border="0" height="166" hspace="6" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;" class="CM4"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Gambar 4&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;. Mekanisme pembentukan koloni karang melalui proses &lt;em&gt;budding&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;" class="CM4"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Perkembangan terumbu karang secara umum dikendalikan oleh sejumlah faktor utama yang bekerja dalam skala ruang yang bersifat makro (global), meso (regional), dan mikro (pulau).&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Ketiga faktor kendali utama tersebut terdiri atas faktor-faktor lingkungan yang dijabarkan sebagai berikut: &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; text-align: justify;" class="Default"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Kendali skala makro&lt;/li&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Gaya tektonik&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Paras muka laut&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;li&gt;Kendali skala meso&lt;/li&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Suhu&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Salinitas&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Energi gelombang&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;li&gt;Kendali skala mikro&lt;/li&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Cahaya&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Nutrien&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sedimen&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Topografi masa lampau&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ol&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;Interaksi yang terjadi di dalam ekosistem terumbu karang&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;" class="CM12"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Terumbu karang bukan merupakan sistem yang statis dan sederhana, melainkan suatu ekosistem yang dinamis dan kompleks.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Tingginya produktivitas primer di ekosistem terumbu karang, bisa mencapai 5000 g C/m&lt;sup&gt;&lt;span style="position: relative; top: -5pt;"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;/sup&gt;/tahun, memicu produktivitas sekunder yang tinggi, yang berarti komunitas makhluk hidup yang ada di dalamnya sangat beraneka ragam dan tersedia dalam jumlah yang melimpah. Berbagai jenis makhluk hidup yang ada di ekosistem terumbu karang saling berinteraksi satu sama lain, baik secara langsung maupun tidak langsung, membentuk suatu sistem kehidupan.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Sistem kehidupan di terumbu karang dapat bertambah atau berkurang dimensinya akibat interaksi kompleks antara berbagai kekuatan biologis dan fisik.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;" class="CM12"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;" class="CM12"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Secara umum interaksi yang terjadi di ekosistem terumbu karang terbagi atas interaksi yang sifatnya sederhana, hanya melibatkan dua jenis biota (dari spesies yang sama atau berbeda), dan interaksi yang bersifat kompleks karena melibatkan biota dari berbagai spesies dan tingkatan trofik.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Berikut ini disajikan berbagai macam interaksi yang bersifat sederhana, yang dapat berupa persaingan (kompetisi), pemangsaan oleh predator, grazing, komensalisme dan mutualisme, beserta contohnya di ekosistem terumbu karang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0.0001pt; text-indent: 36pt; line-height: 150%; text-align: justify;" class="CM12"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;" class="Default"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; color: windowtext;"&gt;INTERAKSISE DERHANA &lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;" class="Default"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; color: windowtext;"&gt;PERSAINGAN &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;" class="Default"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; color: windowtext;"&gt;Persaingan memperoleh ruang&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; text-align: justify;" class="Default"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; color: windowtext;"&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; color: windowtext;"&gt;Karang batu vs Karang lunak &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt; line-height: 150%; text-align: justify;" class="Default"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; color: windowtext;"&gt;&lt;span&gt;-&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; color: windowtext;"&gt;Koloni karang batu vs Koloni bulu babi &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%; text-align: justify;" class="CM12"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Persaingan memperoleh makanan &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;h4 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;PEMANGSAAN &lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%; text-align: justify;" class="CM12"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Pemangsaan karang oleh predatornya (&lt;em&gt;Acanthaster planci&lt;/em&gt;, Chaetodontidae, Tetraodontidae). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;h4 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;GRAZING&lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%; text-align: justify;" class="CM12"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Pengendalian/pengaturan invasi ruang alga melalui konsumsi ikan herbivor (Acanthuridae, Scaridae). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;h4 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;KOMENSALISME &lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%; text-align: justify;" class="CM12"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Hubungan yang erat antara ikan pembersih dengan inangnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;h4 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;MUTUALISME &lt;/span&gt;&lt;/h4&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%; text-align: justify;" class="CM13"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Hubungan yang erat antara karang batu dengan zooxanthellae, anemon&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;dengan ikan giru (&lt;em&gt;Amphiprion&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;Premnas&lt;/em&gt;), ikan Pomacentridae dengan koloni karang batu, dan lain-lain. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;" class="Default"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;" class="CM3"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;INTERAKSI KOMPLEKS &lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%; text-align: justify;" class="CM11"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Mekanisme lain untuk mengkaji interaksi antar biota yang hidup di ekosistem terumbu karang adalah melalui jejaring makanan (gambar 5).&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Dibandingkan interaksi antar biota yang ada dalam persaingan, predasi, simbiosis mutualisme, dan simbiosis komensalisme, maka interaksi yang terjadi dalam sistem jejaring makanan di ekosistem terumbu karang merupakan interaksi yang kompleks. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;" class="Default"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; color: windowtext;"&gt; &lt;img src="http://web.ipb.ac.id/%7Ededi_s/images/stories/karang/ekologi/gbr-5.jpg" alt="Image" title="Image" width="500" border="0" height="330" hspace="6" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%; text-align: justify;" class="CM13"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Gambar 5&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;. Jejaring makanan di ekosistem terumbu karang. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%; text-align: justify;" class="CM12"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;Secara garis besar tingkat trofik dalam jejaring makanan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok produsen yang bersifat autotrof karena dapat memanfaatkan energi matahari untuk mengubah bahan-bahan anorganik menjadi karbohidrat dan oksigen yang diperlukan seluruh makhluk hidup, dan kelompok konsumen yang tidak dapat mengasimilasi bahan makanan dan oksigen secara mandiri (&lt;em&gt;heterotrof&lt;/em&gt;). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: 150%; text-align: justify;" class="CM12"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;PRODUSENKarang batu (zooxanthellae), alga makro, alga koralin, bakteri fotosintetik &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="line-height: 150%; text-align: justify;" class="CM3"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%;"&gt;KONSUMENKarang batu (polip), Ikan, &lt;em&gt;Ekhinodermata&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Annelida&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Polikhaeta&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Krustasea&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Holothuroidea&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Moluska&lt;/em&gt;, dll. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"&gt;Karang batu dapat berperan ganda, sebagai produsen dan konsumen.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Hal ini dimungkinkan oleh adanya endosimbiosis dengan zooxanthellae, yang di hari terang melakukan proses fotosintesis, sedangkan di hari gelap karang batu memiliki tentakel-tentakel bersengat (&lt;em&gt;nematocyst&lt;/em&gt;) yang dapat dijulurkan untuk memangsa zooplankton dan hewan-hewan renik lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4568533447300998461-8971052928287521130?l=forumpencitabahari.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-11-04T04:46:44.911-08:00</app:edited><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><media:rating>nonadult</media:rating></channel></rss>

