<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Forum Studi Desain</title>
	<atom:link href="http://fsd.isi-dps.ac.id/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://fsd.isi-dps.ac.id</link>
	<description>ISI Denpasar</description>
	<lastBuildDate>Tue, 10 Jan 2012 13:08:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.6.1</generator>
		<item>
		<title>Branding: Proses Komunikasi dan Konstruksi Emosi</title>
		<link>http://fsd.isi-dps.ac.id/artikel/branding-proses-komunikasi-dan-konstruksi-emosi</link>
		<comments>http://fsd.isi-dps.ac.id/artikel/branding-proses-komunikasi-dan-konstruksi-emosi#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Jan 2012 07:12:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Design and Human Behaviour]]></category>
		<category><![CDATA[Design and System]]></category>
		<category><![CDATA[above-line communications]]></category>
		<category><![CDATA[Bellow-line communications]]></category>
		<category><![CDATA[brand]]></category>
		<category><![CDATA[Branding]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi Branding]]></category>
		<category><![CDATA[Kontsruksi Branding]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fsd.isi-dps.ac.id/?p=261</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Arya Pageh Wibawa* Semakin semaraknya iklan-iklan produk yang ditampilkan oleh media massa seperti televisi, majalah, koran dan sebagainya memberikan dampak kebingungan diantara para pengguna. Semua iklan produk menyatakan dirinya adalah produk unggulan, produk yang layak dipakai dan bahkan dibeberapa media bahkan menggunakan massa yang cukup besar untuk menunjukkan bahwa produk yang ditampilkan adalah produk [&#8230;]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_262" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2012/01/clutter.jpeg"><img class="size-medium wp-image-262" title="clutter" src="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2012/01/clutter-300x201.jpg" alt="" width="300" height="201" /></a><p class="wp-caption-text">Image Source: http://www.madisonavenuejournal.com/</p></div>
<p style="text-align: justify;"><strong>Oleh Arya Pageh Wibawa*</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Semakin semaraknya iklan-iklan produk yang ditampilkan oleh media massa seperti televisi, majalah, koran dan sebagainya memberikan dampak kebingungan diantara para pengguna. Semua iklan produk menyatakan dirinya adalah produk unggulan, produk yang layak dipakai dan bahkan dibeberapa media bahkan menggunakan massa yang cukup besar untuk menunjukkan bahwa produk yang ditampilkan adalah produk yang telah digunakan oleh jutaan orang di negara tersebut bahkan di dunia . Semua produk ingin dikenal oleh masyarakat audiens. Menggunakan berbagai cara mulai dari budaya hingga gaya hidup masyarakat, agar produk tersebut melekat dan tersimpan kuat di dalam benak masyarakat. Apapun yang dilakukan oleh produsen untuk memperkenalkan produknya lewat iklan-iklan tersebut merupakan sebuah tindakan <em>branding</em>. Kemudian apa itu <em>brand</em> ? dan bagaimana membangun sebuah<em> brand</em> ?.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum masuk pada definisi <em>brand</em>, perlu diketahui dulu disini mengenai cara produsen mengkomunikasikan produknya kepada masyarakat luas. Ada dua hal penting yang secara umum dilakukan produsen dalam mengkomunikasikan produknya yaitu <em>above-line communications</em> dan <em>below-line communications</em>. <em>Above-line communications</em> (Swystun, 2007: 4) dipahami sebagai :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;This term refers to marketing communications involving the purchase of traditional media such as television, radio, print, and outdoors; media in which results can be measured. As marketing and communications options have expanded, and advertising agency compensation has moved from commission-based to fee-based, this term has become increasingly dated and now reflects what traditional advertising agencies included in their base commission rate rather than what impact the media would have had on customers&#8221;.</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">(Bentuk ini mengacu pada komunikasi pemasaran yang menyertakan belanja media tradisional seperti televisi, radio, cetak dan <em>outdoor</em>; media tersebut hasil-hasilnya dapat diukur. Sebagai bentuk pemasaran dan komunikasi yang telah berkembang, dan membuat agen periklanan berubah bentuk dari komisi menjadi berbayar, dimana bentuk ini telah meningkat belakangan dan saat ini memberikan gambaran apa yang agen periklanan tradisional masukkan biaya komisi melebihi dari pengaruh media yang akan terjadi pada konsumen).</p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan <em>below-line communications</em> (Swystun, 2007: 12) dikatakan sebagai :</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;This is a term used for communications that don’t involve the purchase of media. With communications becoming more integrated, this and above-the-line communications are becoming less and less accurate descriptors. Below-the-line activities may include publicity, direct marketing, promotions, and media relations&#8221;.</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">(Ini adalah bentuk untuk komunikasi yang tidak memasukkan belanja media. Komunikasi menjadi lebih terpadu, kedua bentuk komunikasi ini menjadi lebih sedikit akurat <em>descriptors.</em> Aktifitas <em>Below-the-line </em>meliputi publikasi, pemasaran langsung, promosi dan hubungan-hubungan dengan berbagai media)</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua bentuk komunikasi yang dilakukan produsen diatas pada intinya adalah usaha-usaha untuk mendekatkan produk kepada konsumen. Usaha pendekatan inilah yang disebut dengan <em>brand</em>. <em>Brand</em> bisa diartikan sebagai penjumlahan total dari keseluruhan pengalaman pengguna terhadap sebuah produk ataupun layanan tertentu, membangun reputasi dan harapan kedepan yang menguntungkan (Miletsky dan Smith, 2009: 2).  Tentunya hal ini terkait dengan kepercayaan yang diberikan oleh brand tersebut kepada penggunanya. Elemen-elemen yang menentukan tingkat kepercayaan konsumen terhadap sebuah <em>brand</em> adalah sebagai berikut :</p>
<ol style="text-align: justify;" start="1">
<li>Janji yang diberikan sesuai dengan kenyataan walaupun hal ini tidak dinyatakan dengan jelas, tetapi menjadi salah satu faktor utama kesuksesan sebuah <em>brand</em>.</li>
<li>Memberikan kepribadian tersendiri terhadap pengguna brand. Pengguna mobil BMW akan merasakan lebih elegan dan ekslusif ketimbang pengguna mobil Innova misalnya.</li>
<li>USP (<em>Unique Selling Proposition</em>). Munculnya sebuah brand sebagai dasar untuk membedakan perusahaan, produk atau layanannya dengan perusahaan, produk atau layanan lainnya (Miletsky dan Smith, 2009: 3).</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-align: justify;">Selain itu dikatakan bahwa </span><em style="text-align: justify;">brand</em><span style="text-align: justify;"> bisa lebih dari batasan logo ataupun nama (Davis, 2009: 12)</span><span style="text-align: justify;">. Sebuah </span><em style="text-align: justify;">brand</em><span style="text-align: justify;"> mampu mewakili secara utuh kepribadian perusahaan dan sebagai penghubung antara perusahaan dan pemirsanya. Hubungan yang dilakukan brand terhadap pemirsanya bisa melalui visual dan pendengaran, pengalaman terhadap sebuah </span><em style="text-align: justify;">brand</em><span style="text-align: justify;">, persepsi atau perasaan secara umum tentang perusahaan pembuat </span><em style="text-align: justify;">brand</em><span style="text-align: justify;"> tersebut. Menurut Hammond (2008;8) Selain itu </span><em style="text-align: justify;">brand</em><span style="text-align: justify;"> mampu mewakili lebih dari sebuah fakta, hubungan rasional terhadap sebuah produk maupun layanan</span><span style="text-align: justify;">. </span><em style="text-align: justify;">Brand</em><span style="text-align: justify;"> hadir diantara batas alasan yang masuk akal hingga sampai kepada emosi. Emosi adalah sekumpulan struktur psikologis atau kerangka acuan yang dibentuk dan diwujudkan dalam pikiran dan dipicu oleh pengalaman tertentu (Hammond, 2008: 31)</span><span style="text-align: justify;">. Menurut para ahli, emosi berbeda dengan perasaan. Emosi dianggap sebagai pembangkit perasaan. Salah satu kunci untuk membangun sebuah </span><em style="text-align: justify;">brand</em><span style="text-align: justify;"> adalah mengindentifikasi dan memengaruhi pemicu emosi dalam proses pembelian dengan membangun perasaan positif tentang sebuah produk atau layanan.  </span></p>
<p style="text-align: justify;">                  Untuk bisa membangun perasaan yang positif, ada dua hal yang perlu mendapat perhatian oleh produsen yaitu tentang cara otak bekerja. Otak dalam mengolah sebuah informasi yang diberikan, menggunakan dua hal yaitu rasional dan emosional.</p>
<div style="text-align: justify;"><a href="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2012/01/informasi.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-263" title="informasi" src="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2012/01/informasi-300x187.jpg" alt="" width="300" height="187" /></a></div>
<div style="text-align: justify;">
<p align="center"><strong>Gambar Proses Pengolahan Informasi Manusia</strong></p>
<p align="center">Sumber: Hammond, 2008: 31</p>
<p>Menurut teori lama, dikatakan bahwa otak manusia terbagi menjadi dua bagian yaitu otak kanan dan otak kiri. Otak kanan bekerja lebih berdasarkan kepada intuisi, perasaan, emosi dan akal pikiran. Sedangkan otak kiri bekerja lebih pada pengolahan bahasa, fakta dan angka yang merupakan sisi logika manusia. Para ahli yakin bahwa pengolahan informasi oleh kedua otak tersebut dilakukan secara terus menerus yang merupakan bentuk mekanisme total dari keseluruhan aktifitas manusia dimana keduanya bisa saling melakukan <em>crossover</em> atau berbagi informasi.</p>
<p>Selain itu ada beberapa hal penting yang terkait dengan pembedaan prinsip kerja antara rasional dan emosional.</p>
<ol start="1">
<li>Rasional bekerja lebih lambat dari bagian emosional sehingga tindakan ditentukan oleh emosi. Bukan berarti bahwa rasional dan emosi bekerja sendiri-sendiri, tetapi keduanya saling terhubung, saling mendukung dan tidak pernah mendahului.</li>
<li>Sistem emosional jauh lebih kuat dibandingkan dengan sistem rasional. Segala kesadaran pemikiran-logika dan rasional-akan selalu mengarah kepada emosional. Bahkan pemikiran irasional sekalipun tetap akan mengarah kepada emosional.</li>
<li>Beberapa bagian sistem emosional bekerja dibawah kesadaran yang disengaja, digerakkan oleh ingatan hubungan dan pengalaman masa lalu. Proses yang muncul sangat kuat, terkadang begitu kuatnya sehingga menjadi pemicu tindakan yang dilakukan dan tidak mempunyai kendali.</li>
<li>Sistem memori pada respon otak lebih mengacu pada pengalaman masa lalu yang lebih spesifik dan lengkap lebih daripada hal yang tidak jelas dan terbagi-bagi. Lebih kuatnya memori emosional, menjadikan lebih besarnya dasar pembenaran dan alasan yang akan digunakan oleh pemikiran rasional untuk mendukung hasil yang terjadi.</li>
</ol>
<p>Sehingga dengan melihat cara kerja rasional dan emosional maka <em>brand</em> akan sangat berfungsi apabila:</p>
<ol start="1">
<li>Tidak sepenuhnya menghilangkan keistimewaan produk, pilihan pelayanan, dan bahkan harga yang ditawarkan.</li>
<li>Membangun hubungan emosi yang kuat dengan konsumen sehingga konsumen akan membeli sebuah produk berdasarkan pada emosi dan dasar pembenaran sebagai alasan.</li>
<li>Lebih sering memfokuskan perhatian pada hal-hal yang bersifat positif sebanyak mungkin pada emosi konsumen.</li>
<li>Membangun pengalaman dengan konsumen dan menjadikannya ingatan yang tersimpan lama dalam benak konsumen.</li>
<li>Pengalaman konsumen harus dibangun melebihi dari harapan yang telah ditentukan dan menimbulkan ingatan yang kuat dalam benak konsumen.</li>
</ol>
</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">
<div><strong>Daftar Pustaka</strong></div>
<div></div>
<div>Davis,Melissa, 2009, <em>The Fundamentals of Branding;</em> AVA Publishing SA</div>
<div>Hammond, James, 2008, <em>Branding Your Business</em>,</div>
<div>Miletsky,Jason I. and  Smith,Genevieve, 2009,  <em>Perspectives on Branding;</em> Course Technology</div>
</div>
<div style="text-align: justify;">Swystun,Jeff, 2007, <em>The Brand Glossary;</em> Palgrave Macmillan</div>
<div style="text-align: justify;">__________________________________________________________________________________________</div>
<blockquote>
<div style="text-align: justify;"><strong><a href="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2012/01/162842_487343087818_645337818_6118653_6505794_n.jpeg"><img class=" wp-image-264 alignleft" title="162842_487343087818_645337818_6118653_6505794_n" src="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2012/01/162842_487343087818_645337818_6118653_6505794_n-150x150.jpg" alt="" width="54" height="54" /></a>*Arya Pageh Wibawa</strong> adalah seorang dosen Desain Komunikasi Visual di FSRD ISI Denpasar, Mahasiswa Pascasarjana di Magister Desain di ITB Bandung, seorang teknokrat dan desainer profesional yang mengkhususkan diri pada desain web</div>
</blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fsd.isi-dps.ac.id/artikel/branding-proses-komunikasi-dan-konstruksi-emosi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sejarah dan Tokoh-Tokoh Desain Interior Modern</title>
		<link>http://fsd.isi-dps.ac.id/artikel/sejarah-dan-tokoh-tokoh-desain-interior-modern</link>
		<comments>http://fsd.isi-dps.ac.id/artikel/sejarah-dan-tokoh-tokoh-desain-interior-modern#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jan 2012 09:26:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Biografi Desainer]]></category>
		<category><![CDATA[Design and Visual Culture]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Alvar Aalto]]></category>
		<category><![CDATA[Antoni Gaudi]]></category>
		<category><![CDATA[Art Deco]]></category>
		<category><![CDATA[Art Neauveau]]></category>
		<category><![CDATA[Charles Eames]]></category>
		<category><![CDATA[Charles Rennie Mackintosh]]></category>
		<category><![CDATA[De Stijl]]></category>
		<category><![CDATA[Desain Interior Modern]]></category>
		<category><![CDATA[Gerrit Rietveld]]></category>
		<category><![CDATA[Herman Hertzberger]]></category>
		<category><![CDATA[International Style]]></category>
		<category><![CDATA[Jugendstil]]></category>
		<category><![CDATA[Modernisme Desain]]></category>
		<category><![CDATA[Phillip Johnson]]></category>
		<category><![CDATA[Pierre Chareau]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah Desain interior]]></category>
		<category><![CDATA[upholstery]]></category>
		<category><![CDATA[Walter Gropius]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fsd.isi-dps.ac.id/?p=228</guid>
		<description><![CDATA[Oleh I Kadek Dwi Noorwatha* Berbicara masalah desain khususnya interior tentu tidak telepas dari keberadaan ruang arsitektural sebagai satu dari kebutuhan manusia dalam kehidupannya sebagai makhluk individu maupun sosial. Desain interior merupakan suatu keilmuan yang membahas hubungan manusia dengan ruang arsitektural dan seluruh elemen pendukungnya. Desain interior bertujuan untuk membuat manusia sebagai pemakai ruang dapat beraktifitas dalam ruangan tersebut [&#8230;]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_232" class="wp-caption alignleft" style="width: 367px"><a href="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2012/01/Brighton_Banqueting_Room_Nash_edited-446x300.jpeg"><img class=" wp-image-232 " title="Brighton_Banqueting_Room_Nash_edited-446x300" src="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2012/01/Brighton_Banqueting_Room_Nash_edited-446x300.jpeg" alt="" width="357" height="240" /></a><p class="wp-caption-text">Image source: www.janehall.com</p></div>
<p><strong>Oleh I Kadek Dwi Noorwatha*</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Berbicara masalah desain khususnya interior tentu tidak telepas dari keberadaan ruang arsitektural sebagai satu dari kebutuhan manusia dalam kehidupannya sebagai makhluk individu maupun sosial. Desain interior merupakan suatu keilmuan yang membahas hubungan manusia dengan ruang arsitektural dan seluruh elemen pendukungnya. Desain interior bertujuan untuk membuat manusia sebagai pemakai ruang dapat beraktifitas dalam ruangan tersebut dengan efektif dan merasa nyaman pada ruangan tersebut (Dodsworth, 2009: 8). Ruang entah itu berupa berwujud maupun tidak berwujud merupakan kebutuhan manusia yang mendasar dalam konteks hidup. Ruang merupakan substansi materi, seperti batu dan kayu. Walaupun demikian, ruang pada umumnya tidak berbentuk dan terdispersi. Ruang universil tidak mempunyai definisi. Pada saat suatu unsur diletakkan pada suatu bidang, barulah hubungan visualnya terbentuk. Ketika unsur-unsur lain mulai diletakkan pada bidang tersebut, terjadilah hubungan majemuk antara ruang dan unsur-unsur tersebut maupun antara unsur yang satu dengan unsur lainnya (Ching; 1996, 10). Pernyataan Ching seakan memperkuat pernyataan dari Dosworth tentang hubungan antara desain interior dan ruang. Ruang yang sebelumnya oleh Ching dijelaskan tidak berbentuk dan terdispersi, diberikan pemaknaan atau nilai oleh keilmuan desain interior sesuai dengan yang dijelaskan oleh Dodsworth.</p>
<p style="text-align: justify;">John Pile (2001) menyatakan bahwa dalam dunia modern, sebagian besar pengalaman hidup manusia (<em>human life experiences</em>) di&#8221;pentaskan&#8221; dalam ruang interior. Manusia mungkin sangat mencintai perasaan berada-di-ruang -luar (<em>out-of-doors</em>) yaitu kesenangan terhadap ruang terbuka dan beratapkan langit, kebebasan dari kehidupan di balik &#8220;pagar&#8221; (rumah, bangunan, arsitektur; penanda teritori), tetapi kesenangan berada di luar &#8220;pagar&#8221; tersebut merefleksikan sebuah realitas bahwa begitu banyak kehidupan yang dihabiskan di dalam ruang. Bangunan dan interior-nya dirancang (<em>planned</em>) untuk mengakomodasi tujuan dan gaya dari trend ketika bangunan tersebut mulai dibangun; dan bangunan juga mempengaruhi aktivitas dan kehidupan manusia sepanjang mereka menggunakan ruang tersebut. Keilmuan desain interior, perkembangan dan perubahannya melalui untaian sejarah adalah cara yang berguna untuk mengeksplorasi masa lalu dan untuk melogikakan ruang dimana kehidupan modern itu hidup. Desainer profesional diharapkan untuk mempelajari sejarah desain interior, untuk mengetahui praktek masa lalu dalam istilah &#8220;gaya (<em>styles</em>)&#8221; dan ntuk mengetahui tokoh dan ruang lingkup kontribusi tokoh tersebut yang merumuskan sesuatu yang menarik dan berpengaruh terhadap keilmuan desain khususnya desain interior selanjutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pile selanjutnya memaparkan beberapa tokoh dalam konteks sejarah desain interior yang mempengaruhi keilmuan desain interior tersebut selanjutnya baik sebagai sebuah praktek profesional maupun epistemologi-nya. Pile membatasi sejarah desain interior dengan memfokuskan pada era modern (setelah revolusi industri) dan tokoh-tokoh dibalik lahirnya gaya-gaya tersebut.  Tokoh-tokoh yang menurut Pile yang berperan penting adalah:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>1. Charles Rennie Mackintosh (1868-1928)</strong></p>
<div id="attachment_229" class="wp-caption alignleft" style="width: 218px"><a href="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2012/01/11528_image_2.jpeg"><img class="wp-image-229    " title="11528_image_2" src="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2012/01/11528_image_2-225x300.jpg" alt="" width="208" height="277" /></a><p class="wp-caption-text">Hill House, Hellenburgh, Durbartonshire, Scotland, 1902-1903; image source: www.architectureweek.com</p></div>
<p style="text-align: justify;">Di kota Glasgow, Skotlandia, sebuah karya yang dihubungkan dengan gerakan <strong>Art Nouveau</strong> dikerjakan dalam waktu singkat oleh beberapa desainer yang dipimpin oleh Charles Rennie Mackintosh. Karya Mackintosh berbasis pada seni dan Kriya (<strong><em>arts and crafts</em></strong>), namun bergerak lebih jauh menuju suatu gerakan pembebasan yang sdisebut gerakan Art Nouveau dan berpengaruh cukup besar di antara desainer daratan eropa (<strong><em>continental designer</em></strong>), terutama yang bermarkas di Vienna. Untuk klien privat dan flat pribadinya di Glasgow, Mackintosh mengembangkan desain furniture yang simple, bentuk geometris, namun menerapkan proporsi yang berlebihan, sandaran punggung kursi yang sangat tinggi, dan finishing hitam dan putih dengan aksen detail dekorasi berwarna ungu, perak atau emas.</p>
<p style="text-align: justify;">Elemen ornamen yang dicat berwarna kadangkala ditambahkan oleh istri dari Mackintosh, <strong>Margaret Macdonald</strong> (1865-1933), dengan saudara perempuannya <strong>Frances Macdonald</strong> (1874-1921) merupakan partisipan aktif dari gerakan <em>art and craft</em> dan gerakan yang berhubungan dengan desain yang berpusat di Glasgow pada tahun 1890-an. Faktanya gerakan art and craft, meskipun tujuannya untuk mereformasi desain victoria (<em><strong>victorian design</strong></em>) dan selera masyarakat (taste) pada masa itu, namun gerakan tersebut hanya berhasil mempengaruhi segelintir orang mengingat biaya produksinya yang sangat tinggi. Bagaimanapun juga, penolakannya terhadap ornamentasi produksi-massa yang tidak bermakna, dengan menekankan pada kejujuran dalam ekpresi desain terhadap realitas dari fungsi, material dan teknik, berpikir ke depan, meskipun dengan cara yang radikal juga kontroversial. Hal tersebut yang menghubungkannya dengan gerakan Art Nouveau, suatu gerakan penolakan total terhadap kesejarahan (<em><strong>historicism</strong></em>); yang membuatnya menjadi titik awal dari semua kajian terhadap <strong>modernisme</strong> dalam desain (interior).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2. Antoni Gaudi (1852-1926)</strong></p>
<div id="attachment_235" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2012/01/11534_image_2.jpeg"><img class="size-medium wp-image-235 " title="11534_image_2" src="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2012/01/11534_image_2-300x202.jpg" alt="" width="300" height="202" /></a><p class="wp-caption-text">Casa Batlló, Barcelona, 1904-06. Image Source: www.architectureweek.com</p></div>
<p style="text-align: justify;">Di Barcelona-Spanyol, meskipun banyak variasi karya dari gaya Art Nouveau, figur yang dominan adalah Antoni Gaudi,  tokoh pelopor dari &#8220;perbendaharaan bahasa visual&#8221; stiliasi bunga (<em>vocabulary of </em><em>flowing curves </em>) dalam interior dengan karakter yang kuat, teknik tinggi; dan detail yang sangat dekoratif.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada kisaran tahun 1904-1906 ia merekonstruksi sebuah bangunan tua &#8220;<strong>Casa Batllo</strong>&#8220;, termsuk di dalamnya fasad baru dari keseluruhan kompleks bangunan, bentuk menyerupai tulang (<strong>bone-like form</strong>), dengan garis atap yang fantastik,dan untuk beberapa apartemen, sebah interior yang mencengangkan. Pintu berpanel dihiasi dengan kaca kecil dengan bentk yang tidak beraturan (<em><strong>irregular shape</strong></em>); plafon plester dengan bentuk garis lengkung (<em><strong>swirling curved form</strong></em>).</p>
<p style="text-align: justify;">Gaudi mengembangkan garis lengkung yang fantastik, kadangkal menyerupai sambungan tulang, kadangkala bentuk yang organik (liat) pada furniture yang didesain khusus oleh tukang kayu dengan kemampuan tinggi pada proyek yang spesifik. <strong>The Guell Park</strong> (1905-1914) dan proyek terakhirnya <strong>Sagrada Familia Church</strong> (1903-1926) menunjukkan sbuah karya yang fantastik dan karakter personal stilistik Gaudi; dalam skala yang besar.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>3. Gerrit Rietveld (1888-1964)</strong></p>
<div id="attachment_238" class="wp-caption alignleft" style="width: 240px"><a href="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2012/01/11534_image_3.jpeg"><img class=" wp-image-238  " title="11534_image_3" src="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2012/01/11534_image_3-288x300.jpg" alt="" width="230" height="240" /></a><p class="wp-caption-text">Schröder House, Utrecht, The Netherlands, 1924. Image Source: www.architectureweek.com</p></div>
<p style="text-align: justify;">Karya yang paling terkenal dari gerakan &#8220;<em><strong>De Stijl</strong></em> (<em>the style</em>/gaya)&#8221; adalah karya yang dibuat oleh Gerrit Rietveld, yaitu Schroder house yang berlokasi di Utrecht adalah realisasi komplit dari ide pergerakan tersebut. Adalah sebuah blok garis lurus yang menciptakan sesuatu yang kompleks, dinding yang saling menopang (<em>interpenetrating planes of wall</em>), atap, dan geladak yang memproyeksikan, dengan void yang dilengkapi dengan kaca gelas dalam bingkai logam.</p>
<p style="text-align: justify;">Ruang keluarga  (<em>living room</em>) bagian atas dipisahkan oleh sistem panel geser (<em>sliding panels</em>) yang mengijinkan pengaturan kembali untuk mendapatkan variasi bukaan ruang. Furniture tanam (<strong><em>built-in</em></strong>) dan bergerak (<em>movable</em>) berkonsep geometrik  dan abstrak. Hanya waran-warna primer dan warna hitam yang diterapkan dengan warna putih dan abu-abu pada setiap permukaan sebagai komplementer-nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dikarenakan anggotanya yang sedikit, masa yang singkat, dan sedikitnya pencapaian melalaui pembangunan proyek, Pengaruh gerakan De Stijl dalam konteks modernisme dalam desain (interior) tidak secemerlang dibandingkan dengan gerakan serupa yang muncul di Jerman dan Perancis</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>4. Alvar Aalto (1898-1976)</strong></p>
<div id="attachment_239" class="wp-caption alignleft" style="width: 209px"><a href="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2012/01/11534_image_4.jpeg"><img class=" wp-image-239 " title="11534_image_4" src="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2012/01/11534_image_4-249x300.jpg" alt="" width="199" height="240" /></a><p class="wp-caption-text">Finnish Pavilion, New York World&#39;s Fair, 1939. Image Source: www.architectureweek.com</p></div>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Generasi Kedua&#8217;&#8221; yang paling penting dalam era modernisme desain interior adalah seorang arsitek dan desainer Finlandia Alvar Aalto. Karir Aalto dimulai ketika gaya perkawinan antara gaya <strong>Romantisme</strong>-nya Napoleon (yang pada saat itu sedang trend di Eropa) dengan semangat nasionalisme Nordic yang didengungkan oleh Lars Sonck dan Eliel Saarinen, yang nantinya akan melahirkan suatu gaya bar yang disebut gerakan <strong>Neoclassicism</strong> dan <strong>Jugendstil</strong> pada akhir abad ke 19 (tahun 1800-an).</p>
<p style="text-align: justify;">Masyarakat Amerika akhirnya dapat menikmati karya desain dari Alvar Aalto secara langsung pada saat New York&#8217;s World Fair 1979. Ruang interior seperti kotak(<em>box-like</em>) pameran Finlandia dibat dengan sangat menarik dengan memperkenalkan dinding organik (<em>free-form</em>) yang mengalir (<em>flowing</em>). Sebuah dinding yang terbuat dari kayu yang melengkung dan memenuhi keseluruhan ruang utama pameran dan dipasangi layar pada ruang pameran tambahan pada bagian atas.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebuah balkon restoran dengan tujuan untuk memutarkan film dari sebuah booth proyeksi dengan bentuk organik yang menakjubkan menambahkan keindahan dari keselurhan desain tersebut. Meskipn keluasan ruang yang sempit dan posisi booth pameran tersebut berada di lokasi yang kurang tepat, namun desain Aalto telah menarik perhatian pengunjung dan mendapatkan suatu pujian khusus pada event tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>5. Pierre Chareau (1883-1950)</strong></p>
<div id="attachment_242" class="wp-caption alignleft" style="width: 250px"><a href="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2012/01/pierre-chareau3w.jpeg"><img class=" wp-image-242 " title="pierre chareau3w" src="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2012/01/pierre-chareau3w-300x226.jpg" alt="" width="240" height="181" /></a><p class="wp-caption-text">Maison de Verre,Paris, 1928-193; Image Source: jorgerovira.blogspot.com</p></div>
<p style="text-align: justify;">Karyanya yang terkenal dan bersejarah adalah Maison de Verre (house Of Glass) di Paris yang menggnakan bingkai baja dan are yang luas dari glass block dan plate glass. Desain furniture termasuk di dalamnya kayu solid dan <strong>upholstery</strong> yang tebal dan kursi yang gampang dilipat dengan bingkai logam dan anyam-anyaman (<em>wicker</em>) pada dudukan dan sandaran punggung. Karya desainnya mencerminkan suatu perpindahan dari gaya <strong>Art Deco</strong> ke arah<strong> International Style</strong> sebagai puncak atau era keemasan dari desain modern.</p>
<p style="text-align: justify;">Chareau adalah seorang arsitek dan desainer kelahiran Lehavre-Prancis dan menyelesaikan studinya pada Ecole Nationale Superieure des Beaux-arts di Paris pada usia 17 tahun. Karakter desain-nya menunjukkan suatu komplesitas dari perpaduan bentuk-bentuk dasar yang harmonis. Melalui karya pertamanya Maison de Vierre, Chareau langsung melejit menjadi satu desainer dan arsitek kenamaan dan mempengaruhi gaya desain dunia selanjutnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>6. Phillip Johnson (1906-2005)</strong></p>
<div id="attachment_243" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2012/01/Philip-Johnsons-Glass-House3.jpeg"><img class="size-medium wp-image-243" title="Philip-Johnsons-Glass-House3" src="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2012/01/Philip-Johnsons-Glass-House3-300x235.jpg" alt="" width="300" height="235" /></a><p class="wp-caption-text">Glass House, New Canaan, Connecticut, 1949.Image Source: ichalcarper.com</p></div>
<p style="text-align: justify;">Pada tahun 1946, dunia sedang dilanda demam &#8220;<strong>International Style</strong>&#8221; dan salah satu tokohnya arsitek Mies Van De Rohe yang membangun Farnsworth House telah menginspirasi seorang arsitek Amerika lainnya Phillip Johnson untuk mendesain rumahnya sendiri di New Canaan-Connecticut dengan gaya yang sama. Sebuah rumah dengan interior berdindingkan glass block dengan hanya batu bata silinder kecil yang ditampilkan pada rumah untuk menujukkan posisi  kamar mandi dan  lokasi untuk tempat penghangat (<em>fireplace</em>).</p>
<p style="text-align: justify;">Dapur dilengkapi dengan meja counter yang dapat diangkat ke atas (<em>lift tops</em>) untuk penyimpanan peralatan dapur. Sedangkan semua furniture-nya merupakan karya desain dari Mies Van De Rohe, dengan menggunakan <em>upholstery</em> kulit coklat dengan kerangkan berlapiskan krom, keseluruhan karya desain interior tersebut menunjukkan suatu bentuk ketelitian dalam ruang. Ubin yang merah pada lantai dan view yang menuju ke luar (<em>outward</em>) kepada eksterior yang hijau merupakan warna yag dominan pada interior tersebut. Rumah kaca ini merupakan contoh terkenal dari kemungkian untuk sebuah gagasan (<em>open plan</em>) yang logis dan eksekusi desain yang ekstrim</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>7. Walter Gropius (1883-1969)</strong></p>
<div id="attachment_247" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2012/01/11534_image_7.jpeg"><img class="size-medium wp-image-247" title="11534_image_7" src="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2012/01/11534_image_7-300x219.jpg" alt="" width="300" height="219" /></a><p class="wp-caption-text">Gropius House, 1937. Image Source: www.architectureweek.com</p></div>
<p style="text-align: justify;">Pengaruh langsung dari modernisme gaya Internasional (<em>international style</em>) bertambah besar ketika beberapa pimpinan Eropa dari gerakan tersebut tiba di Amerika Serikat. Peristiwa hijarah tersebut disebabkan situasi politik Eropa yang makin tidak menentu seiring meningkatnya aksi-aksi represif dari partai NAZI-Jerman pimpinan Kanselir Adolf Hitler.</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu pimpinan gerakan tersebut adalah Walter Gropius, bekas kepala sekolah sekolah desain yang terkenal di Weimar (bagian dari jerman) <strong>Bauhaus</strong>. Walter Gropius adalah seorang arsitek dengan mengarsiteki sendiri rumahnya sendiri di Lincoln-Massachussets (1937). Rumah tersebut merupakan conoth terbaik dari desain  international style, dengan tipikal atap datar, area kaca yang luas, dan penerapan detail pada fasad (<em>entrance shelter</em>) yang ditopang oleh kolom bulat, tangga spiral dan pemasangan glass block yang banyak.</p>
<p style="text-align: justify;">Dinding putih diciptakan bukan dari beton ataupun <em>stucco </em>(plesteran) melainkan dengan papan kayu lapis (<em>tongue-and-groove wood boards</em>) yang merupakan tipikal dari bangunan vernakular New England. Desain interior-nya elegan simplicity dan menampilkan beberapa jenis karya desain furniture hasil karya anggota gerakan modernisme. Sekarang rumah tersebut menjadi sebuah tanda daerah (<em>landmarks</em>) dan menjadi salah satu atraksi pariwisata yang terkenal di Massachussets yang dikunjungi banyak wisatawan.</p>
<p><strong>8. Herman Hertzberger (1932-)</strong></p>
<div id="attachment_248" class="wp-caption alignleft" style="width: 188px"><a href="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2012/01/57maujx3n4q64s9xhq4s0weh04tygv.jpeg"><img class=" wp-image-248   " title="57maujx3n4q64s9xhq4s0weh04tygv" src="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2012/01/57maujx3n4q64s9xhq4s0weh04tygv-195x300.jpg" alt="" width="178" height="273" /></a><p class="wp-caption-text">Centraal Beheer, Apeldoorm, The Netherlands, 1973, Image Source: laguna.pl</p></div>
<p style="text-align: justify;">Di Belanda, Herman Hertzberger mengimplementasikan gagasan Aldo Van Eyck tentang interior yang bertujuan untuk meningkatkan partisipasi civitas dalam interior yang terorganisir (<strong><em>organization of interior</em></strong>). Hertzberger menerapkannya pada bangunan kantor Central Beheer (1973) sebuah perusahaan asuransi di Apeldoorn.</p>
<p style="text-align: justify;">Bangunan ini dibuat dengan unit-unit modular dalam ruang persegi empat dengan pola yang tidak beraturan. Ruang interior adalah sebuah hasil dari kompleksitas ruang kecil dimana     pekerja individual dituntut untuk mengatur sendiri furnitre kerja-nya, peralatan, dan aksesoris pribadi-nya sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Hasilnya adalah sebuah kekacauan (clutter) dalam ruang interior yang sangat humanis, tidak seperti ruang kantor umumnya yang terkesan kaku, formal dan monoton.</p>
<p style="text-align: justify;">Hetzberger dengan Aldo Van Eyck merupakan pelopor gerrakan <strong><em>structuralist</em></strong> di Belanda (pada tahun 1960an). Ia percaya bahwa peran arsitek tidaklah menawarkan solusi yang komplit terhadap permasalahan bangunan, namun menyediakan kerangka spatial yang akan diisi oleh civitas pemakai ruang tersebut. Jadi Hetzberger menekankan pentingnya mendesain aktivitas manusia yang akan berada pada dengan memberikan kebebasan berekspresi pada ruang interior tersebut dibandingkan dengan bangunan yang formal dan kaku yang mengarahkan bahkan mendikte manusia untuk beraktivitas dalam ruang.</p>
<div id="attachment_249" class="wp-caption alignleft" style="width: 212px"><a href="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2012/01/steel_6_eames.jpeg"><img class=" wp-image-249 " title="steel_6_eames" src="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2012/01/steel_6_eames-253x300.jpg" alt="" width="202" height="240" /></a><p class="wp-caption-text">Eames House and studio, Santa Monica, California, 1949.Image Source: eischlernetwork.com</p></div>
<p><strong>9. Charles Eames (1940-2001)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Lebih dikenal sebagai desainer dari Eames chair (1940-1), Rumah pribadi Charles Eames adalah sebuah contoh awal dari sebuah &#8220;gerakan&#8221; yang disebut <strong><em>high-tech </em></strong>yang menggunakan logam dan kaca sebagai elemen pembentk dari keseluruhan desain tersebut. Menggunakan kerangka sambungan logam yang tanpa penutup (exposed) pada  atap, sedangkan dinding eksterior disusun oleh kaca dan panel solid dengan jendela standar industri dan elemen struktur.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>The Eames House </em>dibangun dengan bagian produksi industri, juga kadangkala dipandang sebagai desain yang berbasiskan teknologi (industri) juga mampu menciptakan suatu interior dengan keindahan dan bahkan untuk rumah tinggal.</p>
<p style="text-align: justify;">Charles Eames memang besar di lingkungan arsitek dan menamatkan pendidikan arsitekturnya Washington University-St Louis. Ia sangat dipengaruhi oleh seorang arsitek Finlandia Eliel Saarinen; yang nantinya akan menjadi teman dan partnernya dalam profesi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="color: #3366ff;">**)Artikel ini merupakan terjemahan dan saduran dari &#8220;<em><strong>Histrory Of Interior Design</strong></em>&#8221; oleh </span><strong><a href="http://www.architectureweek.com/2001/0905/culture_1-1.html">John Pile</a> </strong><span style="color: #3366ff;">(2001)</span></p>
<p><strong style="text-align: justify;">Daftar Pustaka</strong></p>
<p>Ching, Francis D.K., 1996, <strong><em>Ilustrasi Desain Interior</em></strong>, Jakarta: Penerbit Erlangga</p>
<p>Dodsworth, Simon, 2009, <strong><em>The Fundamentals Of Interior Design</em></strong>, USA: AVA Publishing</p>
<p>Pile, John, 2001,<strong><em> The History Of Interior Design</em></strong>, Online Article @ www.architectureweek.com (5 September 2001) retrieved 5 Januari 2012</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>_______________________________________________________________________________________</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2012/01/n1008621217_30074870_7273.jpeg"><img class=" wp-image-234 alignleft" title="n1008621217_30074870_7273" src="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2012/01/n1008621217_30074870_7273.jpeg" alt="" width="42" height="64" /></a>*<strong>I Kadek Dwi Noorwatha</strong> adalah seorang dosen Desain Interior di FSRD ISI Denpasar,  mahasiswa Pascasarjana Magister Desain di ITB Bandung, bekas &#8220;wartawan kampus&#8221; di Humas ISI Denpasar dan juga seorang desainer profesional</p>
</blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fsd.isi-dps.ac.id/artikel/sejarah-dan-tokoh-tokoh-desain-interior-modern/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Proust Armchair: Pointilistik yang Menggelitik</title>
		<link>http://fsd.isi-dps.ac.id/artikel/proust-armchair-pointilistik-yang-menggelitik</link>
		<comments>http://fsd.isi-dps.ac.id/artikel/proust-armchair-pointilistik-yang-menggelitik#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Jan 2012 09:49:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Design and Artifact]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Double Coding]]></category>
		<category><![CDATA[Estetika Hybrid]]></category>
		<category><![CDATA[Posmodern]]></category>
		<category><![CDATA[Proust Armchair]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fsd.isi-dps.ac.id/?p=118</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Toddy Hendrawan Yupardhi* Kursi Proust atau lebih dikenal dengan Proust armchair adalah sebuah kursi yang di rancang oleh seorang desainer dan sekaligus arsitek dari Italia yaitu Alessandro Mendini pada tahun 1978. Alessandro Mendini adalah anggota dari Studio Alchimia (didirikan 1976), sekelompok desainer Italia eksperimental yang menolak prinsip-prinsip ketat dari modernisme, menyukai ornamen, simbolisme dan mengutamakan [&#8230;]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_119" class="wp-caption alignleft" style="width: 293px"><a href="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2011/12/proustchairshero.jpeg"><img class=" wp-image-119" title="proustchairshero" src="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2011/12/proustchairshero.jpeg" alt="" width="283" height="311" /></a><p class="wp-caption-text">Image source: ifitshipitshere.blogspot.com</p></div>
<p style="text-align: justify;"><strong>Oleh Toddy Hendrawan Yupardhi*</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kursi Proust atau lebih dikenal dengan Proust <em>armchair </em>adalah sebuah kursi yang di rancang oleh seorang desainer dan sekaligus arsitek dari Italia yaitu Alessandro Mendini pada tahun 1978. Alessandro Mendini adalah anggota dari Studio Alchimia (didirikan 1976), sekelompok desainer Italia eksperimental yang menolak prinsip-prinsip ketat dari modernisme, menyukai ornamen, simbolisme dan mengutamakan keahlian. Ia merancang kursi ini karena terinspirasi oleh teori penulis Prancis yaitu Marcel Proust, dimana awalnya rancangan ini adalah ditujukan sebagai sebuah bentuk teguran keras kepada modernisme yang mendefinisikan dualisme rasa desain yaitu desain yang baik dan buruk dan rancangan kursi ini kemudian menjadi salah satu ikon penting dari masa post-modern. Perwujudan kursi ini baru dilakukan pada tahun 1981 ketika akan ditampilkan pada sebuah pameran yang berjudul Robot berbasis kerja Sentimentale. Perwujudan fisiknya adalah dengan menggunakan kayu berbalut busa dan kain, dengan model ukiran <em>baroque</em> romantis, ukuran lebar 104 cm, tinggi 105 cm, kedalaman 90 cm dan tinggi <em>armrest</em> 67 cm kursi ini terlhat besar dengan model bantalan gemuk dan kenyal. Yang menarik disini adalah <em>upholstery</em> dari jok kursi yang menerapkan pola permainan titik warna-warni  yang ternyata terinspirasi dari lukisan-lukisan pada abad ke-19 dari seorang pelukis Prancis beraliran pointilisme yaitu Paul Signac.<span id="more-118"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kursi Proust dianggap sebagai salah satu ikon penting masa post-modern dikarenakan perwujudannya yang mengandung banyak unsur yang sesuai dengan semangat dari masa postmodern itu sendiri. Post-modernisme menurut Sutrisno (2005) memiliki dua karakter pokok yaitu: gaya estetik dan artistik yang menolak kode-kode artistik dan estetis dari era modernisme dan posisi teoretis dan filosofis yang menolak kaidah-kaidah pemikiran modern (seperti pascastrukturalisme). Ide pokoknya sendiri adalah bahwa telah terjadi perubahan radikal dari ekonomi era industri yang lebih banyak berkutat seputar produksi barang dan jasa menuju ekonomi pasca industri yang diorganisasikan seputar konsumsi budaya, permainan media massa, dan perkembangan teknologi informasi. Jameson (1991) pun menyatakan bahwa ciri utama post-modernisme adalah munculnya bentuk baru kedataran dan kedangkalan, sebuah bentuk baru kecintaan akan permukaan. Hal ini disampaikan kembali oleh Piliang (2010) yang menyatakan bahwa budaya post-modernisme adalah budaya yang mentolerir dan mengafirmasi kebanalan, keremeh-temehan dan kedangkalan citra.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika melihat dari sejarah perancangannya, kursi ini adalah merupakan karya parancang Alessandro Mendini yang menggabungkan unsur gaya <em>baroque</em> romantis pada bentuk fisik kursi, dan adaptasi lukisan bergaya pointilisme karya Paul Signac sebagai tampilan warna dan finishingnya. Gaya <em>baroque</em> romantis terlihat dari tampilan bentuk ukiran yang bermotif floral, sulur melengkung, simetris bagian kanan dan kiri, berbentuk kecil-kecil dan rapi, yang banyak digunakan pada jaman <em>baroque</em> dan <em>rococo</em>. Sedangkan pilihan tampilan finishing akhir dari <em>upholstery</em> dan catnya, terinspirasi oleh lukisan Signac pada tahun 1900 yang berjudul <em>Palais des Papes</em> <em>Avignon</em>. Dapat dilihat skemanya adalah sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: center;" align="center"><a href="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2011/12/proust.jpg"><img class=" wp-image-120 aligncenter" title="proust" src="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2011/12/proust.jpg" alt="" width="542" height="176" /></a></p>
<p style="text-align: center;" align="center"><em>Gambar 2. Skema rancangan Proust Armchair</em></p>
<p style="text-align: justify;">Jika melihat skema perancangan tersebut, terdapat dua kode yang dipersatukan dalam sebuah objek, yaitu kode bentuk fisik kursi dari masa <em>baroque</em> dan <em>rococo</em> yang digabungkan dengan gaya lukisan pointilisme pada finishing akhirnya. Hal ini bisa disebut sebagai kode ganda (<em>double coding)</em> pada objek post-modern. Disini terjadi intertekstualitas dimana definisi intertekstualitas menurut Saidi  (2011) adalah interaksi atau persilangan dialogis atara satu teks dengan teks lainnya dalam rentang waktu sejarah. Teks yang dimaksud disini adalah sebuah narasi dari jaman <em>baroque</em> yang tampil lewat perwujudan bentuk kursi dan ukiran dekoratif, sedangkan tekstual lainnya adalah gaya lukisan pointilisme pada awal abad 19, dan dihadirkan pada tahun 1980-an dimana secara sinkronik sudah jauh rentang perbedaannya. Maka penggabungan dari kursi bergaya <em>baroque</em> dan gaya lukisan pointilisme Signac melahirkan kode baru berupa tampilan fisik dari Proust Armchair.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari segi estetika, tampilannya pun menjadi estetika hybrid. Estetika klasik dari jaman <em>baroque</em> yang dipertemukan dengan estetika dari pointilisme membentuk estetika yang saling tumpang tindih. Penerapan ukiran <em>baroque</em> klasik yang dianggap bernilai tinggi kali ini bertemu dengan warna-warna mencolok dan tersebar secara acak pada bidang kursi. Jelas dua hal yang bertentangan dimana suatu keberaturan tinggi dari tema klasik bertemu dengan keekspresifan garis, warna dan tekstur dari pointilisme. Estetika yang tercipta menjadi sebuah kerancuan dan terkesan bermain-main. Hal ini sesuai dengan pendapat Sutrisno (2005) yang menyatakan bahwa hasil karya post-modern cenderung mengejek, ironis, serta menantang praktek dan konsep estetika yang sudah mapan dan nilai dari seni itu sendiri. Kode- kode yang berlawanan ditabrakkan begitu saja sehingga muncul sebuh kode baru yang jika dilihat sekilas nampak irasional dan sering tidak masuk pada logika.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p>Piliang, Yasraf Amir.(2011). <em>Dunia Yang Dilipat Tamasya Melampaui Batas-Batas Kebuduyaan</em>. Bandung : Matahari</p>
<p>Sutrisno, Mudji &amp; Putranto, Hendar. (2005). <em>Teori-Teori Kebudayaan.</em> Yogyakarta: Kanisius</p>
<p>__________________________________________________________________________________</p>
<blockquote><p><a href="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2012/01/set.jpeg"><img class=" wp-image-224 alignleft" title="set" src="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2012/01/set-150x150.jpg" alt="" width="54" height="54" /></a>*<strong>Toddy H. Yupardhi</strong> adalah seorang dosen Desain Interior di FSRD ISI Denpasar,  mahasiswa Pascasarjana Magister Desain di ITB Bandung dan juga seorang desainer profesional yang mengkhususkan diri pada bidang desain interior dan furniture.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fsd.isi-dps.ac.id/artikel/proust-armchair-pointilistik-yang-menggelitik/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ganesha Operation Study Center Interior-designed by Made Indra Arinta Kusuma Putra</title>
		<link>http://fsd.isi-dps.ac.id/galeri/ganesha-operation-study-center-interior-designed-by-made-indra-arinta-kusuma-putra</link>
		<comments>http://fsd.isi-dps.ac.id/galeri/ganesha-operation-study-center-interior-designed-by-made-indra-arinta-kusuma-putra#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Dec 2011 14:15:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Galeri]]></category>
		<category><![CDATA[Class Interior]]></category>
		<category><![CDATA[Fun Learning]]></category>
		<category><![CDATA[Learning Space]]></category>
		<category><![CDATA[Study Center Interior]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fsd.isi-dps.ac.id/?p=159</guid>
		<description><![CDATA[Klien: Ganesha Operation Study Center (Redesain) Jenis: Desain Interior 3 Project Konsep: Fun Learning Suasana (atmospheric) ruang belajar didesain agar murid tidak merasa jenuh dan aktivitas berlangsung dalam suatu ceria dan menyenangkan; dengan output yang ingin dicapai adalah transfer ilmu yang maksimal dengan didukung oleh interior yang &#8220;ceria&#8221;. Menggunakan warna-warna yang cerah dan desain furniture [&#8230;]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2011/12/3D.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-160" title="3D" src="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2011/12/3D-300x300.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: center;">Klien: Ganesha Operation Study Center (Redesain)</p>
<p style="text-align: center;">Jenis: Desain Interior 3 Project</p>
<p style="text-align: center;">Konsep: <strong>Fun Learning</strong></p>
<p style="text-align: center;">Suasana (<em>atmospheric</em>) ruang belajar didesain agar murid tidak merasa jenuh dan aktivitas berlangsung dalam suatu ceria dan menyenangkan; dengan output yang ingin dicapai adalah transfer ilmu yang maksimal dengan didukung oleh interior yang &#8220;ceria&#8221;. Menggunakan warna-warna yang cerah dan desain furniture yang dinamis (lay out dan desain) untuk memaksimalkan unusr kesenangan dan menghindari monoton.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2011/12/183362_1608463292459_1262503459_31426977_2942956_n.jpeg"><img class="aligncenter  wp-image-165" title="183362_1608463292459_1262503459_31426977_2942956_n" src="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2011/12/183362_1608463292459_1262503459_31426977_2942956_n.jpeg" alt="" width="107" height="111" /></a></p>
<p style="text-align: center;">Desainer: Made Arinta Kusuma  Putra</p>
<p style="text-align: center;">Masuk Kuliah: 2008-sekarang</p>
<p style="text-align: center;">________________________________________________________________________</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Review</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-align: justify;">Ruang belajar (</span><em style="text-align: justify;">learning space</em><span style="text-align: justify;">) merupakan isu yang terus mengemuka dan perbincangan terhadapnya akan terus berjalan seiring kondisi dunia yang sangat kompetitif. UNICEF sebagai badan PBB yang menaungi anak-anak, sangat </span><em style="text-align: justify;">concern</em><span style="text-align: justify;"> terhadap hal ini terutama dalam MDG (millenium development goal) yaitu pemerataan tingkat pendidikan anak-anak di dunia. Isu tersebut tampaknya diangkat oleh desainer ini. Desainer memberikan konsep yang sebenarnya cukup &#8220;naif &#8220;namun cukup pragmatis untuk memecahkan permasalahan  dunia pendidikan kita. Kata &#8220;Fun learning&#8221; diterjemahkan melalui bahasa desain (ruang dan visual) melalui warna cerah dan dinamis khas dunia anak-anak. &#8220;Fun&#8221; disini diartikan sebagai keceriaan anak-anak pada saat menerima suatu pengajaran yang dipersepsikan oleh ruang dengan warna yang senada. Namun karena &#8220;fun&#8221; tersebut pula desainer seakan &#8220;lupa&#8221; bahwa semestinya ruang belajar (learning space) juga memerlukan suatu konsentrasi untuk menyerap segala pengetahuan pada aktivitas belajar-mengajar tersebut.Dekorasi yang diterapkan di dinding yang secara visual tampak sebagai ilussory visual dengan motif garis2 lengkung dengan pola tertentu memberikan suatu pengaruh psikologis  baik secara teori gestalt maupun visual ruang, cukup &#8220;mengganggu&#8221; anak didik yang sedang belajar pada ruang tersebut. Terlepas dari hal tersebut usaha desainer untuk mengangkat suatu pemikiran (konsep) tersebut ntuk diterapkan pada ruang belajar cukup dapat diapresiasi lebih lanjut. Warna hijau seperti yang dikemukakan Meerwin dkk (2007: 31) mengesankan kesegaran (fresh) ringan (light) dan meluas (swelling) dan mengkomunikasikan keterbukaan dan menenangakan. Hal tersebut tampaknya digunakan sebagai &#8220;penyeimbang&#8221; dari dekorasi ruang tersebut demi menciptakan suasan fun learning yang berusaha di tampilkan oleh desainer.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Meerwin, G. dan Rodeck, B. dan Mahnke, F.H, 2007, Color: Communication In Architectural Space:Basel-Switzerland: Birkhauser Verlag AG</p>
<p style="text-align: justify;">_____________________________________________________________________________________</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fsd.isi-dps.ac.id/galeri/ganesha-operation-study-center-interior-designed-by-made-indra-arinta-kusuma-putra/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Struktur Komunikasi dan Desain Dalam Situs Jejaring Sosial</title>
		<link>http://fsd.isi-dps.ac.id/artikel/struktur-komunikasi-dan-desain-dalam-situs-jejaring-sosial</link>
		<comments>http://fsd.isi-dps.ac.id/artikel/struktur-komunikasi-dan-desain-dalam-situs-jejaring-sosial#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Dec 2011 02:57:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Design and Information]]></category>
		<category><![CDATA[Desain Web]]></category>
		<category><![CDATA[Komunikasi Situs Jejaring Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Social Web]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fsd.isi-dps.ac.id/?p=143</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Arya Pageh Wibawa* Manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan. Mereka selalu berinteraksi satu dengan yang lain. Interaksi ini diwujudkan lewat bentuk-bentuk komunikasi yang mereka lakukan. Intrapersonal, Interpersonal, small group, public dan mass communication (a) adalah realisasi dari komunikasi yang terjadi antar manusia. Inti dari komunikasi yang dilakukan bisa berarti sharing (berbagi), caring (kepedulian), feeding, loving [&#8230;]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_145" class="wp-caption alignleft" style="width: 198px"><a href="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2011/12/social-bookmarking-sites.jpeg"><img class=" wp-image-145  " title="social-bookmarking-sites" src="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2011/12/social-bookmarking-sites.jpeg" alt="" width="188" height="234" /></a><p class="wp-caption-text">Image source: aisle7.net</p></div>
<p style="text-align: justify;"><strong>Oleh Arya Pageh Wibawa*</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan. Mereka selalu berinteraksi satu dengan yang lain. Interaksi ini diwujudkan lewat bentuk-bentuk komunikasi yang mereka lakukan. <em>Intrapersonal</em>, <em>Interpersonal</em>, <em>small group</em>, <em>public</em> dan <em>mass communication</em> (a) adalah realisasi dari komunikasi yang terjadi antar manusia. Inti dari komunikasi yang dilakukan bisa berarti <em>sharing </em>(berbagi), <em>caring</em> (kepedulian), <em>feeding</em>, <em>loving</em> (saling mencintai), <em>fighting</em> (pertikaian), <em>conversing</em> (percakapan), <em>friendship</em> (persahabatan), <em>sex</em> (seksualitas), <em>envy</em> (kecemburuan), <em>shouting</em>, <em>arguing</em> (berargumentasi), <em>betrayal</em> (pengkhianatan), <em>rumor mongering</em>, <em>gossiping</em> (bergosip), <em>laughing</em> (tertawa), <em>crying</em> (menangis), <em>providing support</em> (memberikan dukungan), <em>whining</em> (rengekan), <em>advocating for others</em> (mendukung yang lain), <em>recommending</em> (rekomendasi), <em>swearing off</em> (meninggalkan/berhenti) (b) dan sebagainya.Inti komunikasi antar manusia ini kemudian diwujudkan dalam media yang lain yaitu situs jejaring sosial. <span id="more-143"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Situs jejaring sosial dapat didefinisikan sebagai layanan berbasis situs yang memungkinkan individu untuk (1) membangun suatu profil publik atau semi publik dalam sistem yang terbatas; (2) mengartikulasikan daftar pengguna lain dengan siapa saja mereka berbagi; (3) melihat dan menelusuri  daftar kolega mereka dan daftar kolega yang dibuat oleh orang lain dalam sistem. Tetapi masing-masing situs jejaring sosial memiliki karakteristik pada sistem dan cara berinteraksi yang berbeda satu dengan lainnya. Secara teknologi situs, situs jejaring sosial termasuk dalam teknologi web 2.0. Web 2.0 diciptakan pertama kali pada tahun 2004 oleh Tim O’Reiley dari O’Reilly Media dimana Web 2.0 mengijinkan dan menganjurkan seluruh pengguna untuk membuat, berbagi dan menyebarkan informasi dan gambar. Web 2.0 mencakup teknologi situs dan layanan, seperti blog, wiki, alat komunikasi, dan folksonomi yang menekankan berbagi konten antara pengguna dan kolaborasi secara online. Hal ini adalah bentuk aplikasi yang sangat baru dan interaktif. Dalam situs jejaring sosial, inti komunikasi antar manusia ini sebagian besar menjadi bahan acuan dalam membuat desain seperti <em>classmate.com, sixdegrees.com</em> dan<em> friendster.com </em> untuk persahabatan, <em>youtube.com</em> untuk berbagi video, <em>flickr.com</em> untuk berbagi foto dan sebagainya. <em>Classmate.com</em> memungkinkan orang untuk berafiliasi dengan sekolah tinggi atau perguruan tinggi dan juga mencari informasi orang lain yang melakukan afiliasi, tetapi pengguna tidak dapat membuat <em>profile</em> (jati diri) mereka atau memasukkan orang lain sebagai teman. Sedangkan <em>sixdegress.com</em> adalah yang pertama kali menggabungkan hal ini (c).</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2011/12/interaksi.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-147" title="interaksi" src="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2011/12/interaksi.jpg" alt="" width="299" height="402" /></a></p>
<p align="center"><strong>Gambar 1. Bentuk Interaksi Manusia dengan Komputer</strong></p>
<p align="center">Sumber:  Porter, J.<em>Designing For The Social Web</em>.Berkeley,New Riders, 2008, hlm 15</p>
<div style="text-align: justify;"><span style="text-align: justify;">Dalam proses </span><em style="text-align: justify;">meme</em><span style="text-align: justify;"> terdapat istilah </span><em style="text-align: justify;">copy-the-product</em><span style="text-align: justify;"> dan </span><em style="text-align: justify;">copy-the-instruction </em><span style="text-align: justify;">(d). </span><em style="text-align: justify;">Copy-of-product </em><span style="text-align: justify;">melakukan salinan secara langsung terhadap sebuah produk yang sebelumnya telah dibuat oleh orang lain, sedangkan </span><em style="text-align: justify;">copy-the-instruction</em><span style="text-align: justify;"> adalah melakukan salinan instruksi atau perintah dari suatu produk yang telah dihasilkan oleh orang lain. Situs jejaring sosial secara umum merupakan bentuk </span><em style="text-align: justify;">copy-the-instruction</em><span style="text-align: justify;"> komunikasi dari manusia yang disalin melalui media komputer menjadi bentuk-bentuk fitur-fitur yang berbasis pengguna seperti </span><em style="text-align: justify;">friend</em><span style="text-align: justify;">s, </span><em style="text-align: justify;">contact</em><span style="text-align: justify;">, </span><em style="text-align: justify;">leave messages</em><span style="text-align: justify;"> dan sebagainya. Sedangkan situs-situs sosial yang muncul di Indonesia sebagai fenomena, merupakan copy-the-product dari situs-situs sosial yang sebelumnya telah dibuat oleh orang lain walaupun mereka berargumentasi bahwa situs yang mereka buat adalah tidak mengikuti situs-situs yang telah ada. </span></div>
<p style="text-align: justify;">Situs jejaring sosial secara umum merupakan interpretasi dari bentuk-bentuk komunikasi antar manusia. Lahirnya situs-situs jejaring sosial di merupakan bentuk-bentuk meme dari sebelumnya dimana konsep, fungsi dan struktur diambil dari yang sudah ada sebelumnya. konsep, fungsi dan situs jejaring sosial adalah membangun komunitas dimana konsep ini diambil dari situs-situs sosial yang sudah terlebih dahulu muncul, walaupun para pembuat situs-situs jejaring sosial mengatakan bahwa mereka memiliki konsep yang berbeda, tetapi intinya sama. Yang membedakan adalah bentuknya. Terkadang sebuah situs merupakan tiga kombinasi atau lebih situs jejaring sosial yang sebelumnya telah ada. Penambahan beberapa fitur-fitur yang sama sekali belum ada sebelumnya dimana merupakan bagian-bagian dianggap baru dari sebelumnya, hal itu merupakan kelebihan tersendiri yang merupakan <em>meme</em> yang dinamis dari suatu gagasan.</p>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p>a. Adler &amp; Rodman, <em>Understanding Human Communication</em>, Oxford University Press, 2006, hlm 6-9</p>
</div>
<div>
<p>b. Porter, <em>Designing for The Social Web</em>, New Riders, 2008, hlm 6</p>
</div>
<div>
<p>c. Lihat Boyd, D. M., &amp; Ellison, N. B.Boyd, D. M., &amp; Ellison, N. B., <em>Social Network Sites: Definition, History, and Scholarship</em> dalam Journal of Computer-Mediated Communication Edisi 13 Vol. 1, 2007,  hlm 210-230</p>
</div>
<div>
<p>d. Lihat Distin, <em>The Selfish of Meme: A Critical Reassessment</em>, Cambridge University Press, 2005, hlm 92-95</p>
<p>______________________________________________________________________________</p>
<blockquote><p><strong><a href="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2011/12/162842_487343087818_645337818_6118653_6505794_n.jpeg"><img class=" wp-image-204 alignleft" title="162842_487343087818_645337818_6118653_6505794_n" src="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2011/12/162842_487343087818_645337818_6118653_6505794_n.jpeg" alt="" width="44" height="51" /></a>*Arya Pageh Wibawa</strong> adalah seorang dosen Desain Komunikasi Visual di FSRD ISI Denpasar, Mahasiswa Pascasarjana di Magister Desain di ITB Bandung, seorang teknokrat dan desainer profesional yang mengkhususkan diri pada desain web</p></blockquote>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fsd.isi-dps.ac.id/artikel/struktur-komunikasi-dan-desain-dalam-situs-jejaring-sosial/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Desain Interior Spa Langon Bali</title>
		<link>http://fsd.isi-dps.ac.id/galeri/desain-interior-spa-langon-bali</link>
		<comments>http://fsd.isi-dps.ac.id/galeri/desain-interior-spa-langon-bali#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Dec 2011 04:06:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Galeri]]></category>
		<category><![CDATA[desain interior]]></category>
		<category><![CDATA[Interior Spa]]></category>
		<category><![CDATA[Spa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fsd.isi-dps.ac.id/?p=105</guid>
		<description><![CDATA[Klien: Spa Langon Bali (Redesain) Jenis : Final Project konsep : Fresh ingin memberikan rasa bugar dan segar kembali saat relaksasi di spa ini dari segi interior mengadopsi unsur dan suasana alam kedalam setiap ruang dan memanfaatkan view sekitar. Desainer: Ida Bgs Indra Kusuma Atmaja, S.Sn TTl : Ubud, 29 januari 1986 Kuliah : Desain [&#8230;]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div></div>
<div><a href="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2011/12/4.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-106" title="4" src="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2011/12/4.jpg" alt="" width="609" height="346" /></a></div>
<div><a href="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2011/12/pameran-oke.jpeg"><img class="aligncenter  wp-image-113" title="pameran oke" src="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2011/12/pameran-oke.jpeg" alt="" width="605" height="341" /></a></div>
<div style="text-align: center;">Klien: Spa Langon Bali (Redesain)</div>
<div style="text-align: center;">Jenis : Final Project</div>
<div style="text-align: center;">konsep : <strong>Fresh</strong></div>
<div style="text-align: center;">ingin memberikan rasa bugar dan segar kembali saat relaksasi di spa ini dari segi interior mengadopsi unsur dan suasana alam kedalam setiap ruang dan memanfaatkan view sekitar.</div>
<div>
<blockquote>
<div style="text-align: center;"><a href="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2011/12/254065_1565050546011_1827836874_997943_3294707_n.jpeg"><img class="wp-image-130 aligncenter" title="254065_1565050546011_1827836874_997943_3294707_n" src="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2011/12/254065_1565050546011_1827836874_997943_3294707_n.jpeg" alt="" width="90" height="90" /></a>Desainer: Ida Bgs Indra Kusuma Atmaja, S.Sn</div>
<div style="text-align: center;">TTl : Ubud, 29 januari 1986</div>
<div style="text-align: center;">Kuliah : Desain Interior FSRD ISI Denpasar 2004</div>
<div style="text-align: center;">Tamat : 2010</div>
<div style="text-align: center;">Kerja: CV.Wasat Property<span id="more-105"></span></div>
</blockquote>
<div>____________________________________________________________________________</div>
<div style="text-align: justify;"><strong>Review </strong></div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">Spa (Squash Per Aqua) adalah salah satu objek desain interior yang unik, khususnya di Bali bahkan Indonesia desain interior Spa biasanya digabung dengan Resort dan memanfaatkan suasana alam natural sebagai pemilihan lokasinya. Pada kasus Spa Langon yang berlokasi di Bali ini, tampaknya desainer menonjolkan keadaan alam sekitar (pemakaian jendela lebar) dan suatu impresi tentang Bali sebagai daya tarik desain interior ini. Konsep fresh menurut desainer, diterjemahkan sebagai penyatuan ruang dalam (interior) dan luar (eksterior); sudah barang tentu secara fungsional-arsitektural, bangunan Spa merupakan bangunan ruang komersial yang memang diperuntukan untuk relaksasi, refreshing dan bahkan <em>medical therapy</em> khusus yang bersifat holistik (<em>body-mind-soul</em>). Kekuatan desain dalam keseluruhan desain interior terletak penerjemahan konsep fresh tersebut menjadi satu bentuk fluid-natural form yang tercermin melalui desain furniture dan memaksimalkan tekstur dari material yang secara visual-estetik mengesankan suasana alam. <em>Atmospheric</em> (suasana ruang) yang ingin dicapai oleh desainer cenderung ke arah natural, elegan dan modern dengan memaksimalkan karakter dari bahan khas desain modern (<em>internasional style</em>) dengan meminimalisir ornamen (senada dengan pemikiran adolf loos-<em>ornament is crime</em>);  untuk segmen pasar turis asing dan kalangan kelas atas.</div>
<div style="text-align: justify;"></div>
<div style="text-align: justify;">
<div>__________________________________________________________________________</div>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fsd.isi-dps.ac.id/galeri/desain-interior-spa-langon-bali/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Virtual Office: Kantor Maya dan  Ruang yang Menghilang</title>
		<link>http://fsd.isi-dps.ac.id/artikel/virtual-office-kantor-maya-dan-ruang-yang-menghilang</link>
		<comments>http://fsd.isi-dps.ac.id/artikel/virtual-office-kantor-maya-dan-ruang-yang-menghilang#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Dec 2011 11:40:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Design and Information]]></category>
		<category><![CDATA[Design and System]]></category>
		<category><![CDATA[kantor maya]]></category>
		<category><![CDATA[ruang]]></category>
		<category><![CDATA[virtual office]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fsd.isi-dps.ac.id/?p=78</guid>
		<description><![CDATA[Oleh *Toddy H. Yupardhi Belakangan ini bisnis melalui internet sangat ramai dijalankan oleh kalangan pebisnis baik yang kategori pemula maupun yang sudah profesional. Kemacetan di kota-kota besar dan tingginya biaya untuk kelangsungan perusahaan membuat para pelaku bisnis beralih menggunakan media internet sebagai motor penggerak utama bagi kelangsungan perputaran usaha mereka. Dengan peranan internet yang praktis, simple, [&#8230;]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_79" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2011/12/9_1.jpeg"><img class="size-medium wp-image-79" title="9_1" src="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2011/12/9_1-300x214.jpg" alt="" width="300" height="214" /></a><p class="wp-caption-text">Image source: soffice.vn</p></div>
<p style="text-align: justify;">Oleh *<strong>Toddy H. Yupardhi</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong></strong>Belakangan ini bisnis melalui internet sangat ramai dijalankan oleh kalangan pebisnis baik yang kategori pemula maupun yang sudah profesional. Kemacetan di kota-kota besar dan tingginya biaya untuk kelangsungan perusahaan membuat para pelaku bisnis beralih menggunakan media internet sebagai motor penggerak utama bagi kelangsungan perputaran usaha mereka. Dengan peranan internet yang praktis, simple, efektif, efisien dan <em>mobile</em>, berbagai keuntungan dapat diraih dengan lebih maksimal. Perkembangan usaha via nirkabel ini semakin lama semakin tumbuh dan berkembang sehingga menjadi sebuah trend dimana pandangan masyarakat kini mulai dikonstruksikan bahwa untuk memulai usaha tidak diperlukan gedung besar dan mewah, namun cukup seperangkat komputer dan jaringan internet. Dan untuk melaksanakannya tidak harus berada pada satu tempat yang statis. Bisa dimana saja selama jaringan internet masih dapat menjangkau. Banyak yang menggunakan cara seperti ini  dan menyebutnya dengan sebutan <em>virtual office</em>. Trend praktik <em>virtual office</em> terutama di kota-kota besar terus berkembang dan bahkan sudah menjadi gaya hidup, dimana hal ini juga terjadi karena tuntutan pekerjaan yang mengharuskan seseorang untuk bekerja cepat tanpa harus terikat ruang dan waktu.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-78"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Virtual office</em> atau sering juga disebut sebagai kantor maya adalah otomasi proses bisnis yang sebelumnya secara manual (<em>document –driven</em>) menjadi otomatis (<em>electronic-driven</em>) sehingga dokumen yang dipergunakan dalam proses bisnis adalah dokumen dalam bentuk elektronik, bukan <em>hard</em> <em>copy</em>. Kantor <em>virtual</em> adalah istilah untuk layanan kantor bersama, yang biasanya mencakup alamat bisnis, layanan mail &amp; kurir, layanan telepon, layanan resepsionis, layanan faks, layanan menjawab, web hosting layanan, dan fasilitas pertemuan &amp; konferensi <a href="http://www.keykoloniplaza.com">(1)</a>. Shield (2003) memberi pendapat bahwa dalam pekerjaan <em>virtual</em>, hubungan dengan aktivitas fisik terpotong. Mesin menggantikan manusia atau menyelesaikan tugas dari jarak jauh. Material tidak lagi digerakkan secara langsung melalui penerapan kekuatan seseorang atau suatu tim menggunakan peralatan tangan. Aktivitas yang ditampilkan mungkin dipandu mesin lainnya (komputer) atau agen manusia lain (seperti programer atau bahkan komputer yang menjalankan sistem ahli dengan penilaian alternatif berdasarkan data digital dari respons ahli terhadap suatu situasi).</p>
<div id="attachment_81" class="wp-caption aligncenter" style="width: 483px"><a href="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2011/12/virtual-office.jpeg"><img class=" wp-image-81 " title="virtual-office" src="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2011/12/virtual-office.jpeg" alt="" width="473" height="403" /></a><p class="wp-caption-text">Image source: usa-business-service.com</p></div>
<p style="text-align: justify;">Kantor regional Xerox di Waltham, negara bagian Massachussets adalah kantor yang pertama kali menerapkan konsep <em>virtual office</em> ini. Konsep konvensional kantor yang jika terjadi transaksi harus melewati banyak langkah kerja, dirubah konsepnya sehingga lebih mudah aksesnya bagi para salesmen ataupun orang yang akan bertransaksi. Konsep ini berhasil dalam mengurangi atau bahkan meniadakan penggunaan kertas, serta mengurangi penggunaan kantor secara fisik. Pengurangan-pengurangan tersebut ternyata berimbas kepada efektifitas dan efisiensi kerja yang meningkat dan berujung pada penekanan biaya (<em>cost reduction</em>).</p>
<p style="text-align: justify;">Pengurangan penggunaan sarana fisik dan fasilitas kantor tentu tidak sama dengan pengurangan tenaga kerja. Yang ditiadakan disini adalah fasilitas fisik berupa bangunan, meja, kursi, cabinet arsip dan lain lain. Karyawan tetap bisa bekerja melalui jaringan yang menghubungkan mereka dengan system utama kantor. <em>Virtual office</em> berupaya untuk meningkatkan produktifitas para karyawannya, dimana dengan adanya sistem <em>virtual office</em> seorang karyawan dapat datang dan pergi dengan cepat ke kantor karena berlangsung secara <em>virtual</em>, bukan fisik yang hadir dilingkungan kantor. Adapun cara kerja sistem <em>virtual office</em> ini pada awalnya berasal dari pengembangan <em>Office</em> <em>Automation</em> (OA) yang membantu pekerjaan yang bersifat administratif berupa informasi atau data dari pekerjaan manual yang dirubah menjadi digital. Perkembangannya kemudian membuat sistem OA ini dapat mencakup semua informasi baik formal maupun informal yang terutama berkaitan dengan komunikasi dan informasi ke dan dari orang-orang di dalam maupun di luar perusahaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada saat ini sebuah perusahaan atau secara perorangan jika memiliki OA yang terancang dengan baik, sudah bisa melaksanakan sistem <em>virtual office</em> ini. Bagi perorangan yang tidak memiliki gedung tetap, sekarang telah muncul perusahaan-perusahaan penyedia layanan <em>virtual</em> <em>office</em> yang siap memberikan jasa untuk pengadaan fasilitas kantor fisik, mulai dari <em>receptionist</em>, ruang kerja, ruang rapat atau bahkan aula pertemuan tanpa seseorang itu harus memiliki itu semua. Cukup dengan cara <em>check in</em> seperti layaknya di hotel, butuh ruang kerja atau ruang rapat hanya dengan menelepon untuk memesannya terlebih dahulu, dan <em>check out</em> ketika pekerjaan selesai. Ini tentu akan sangat membantu jika seseorang yang baru memulai merintis sebuah usaha tanpa harus memiliki sebuah gedung namun tetap bisa tampil dengan memberi image baik, profesional dan nyata bagi calon kliennya. Ini juga merupakan sebuah sebuah dampak nyata eliminasi dari ruang-ruang kantor yang sekiranya bila dimiliki oleh beberapa orang dari bentuk perusahaan yang berbeda, tentu akan semakin menambah padatnya penampilan fisik dan fungsi kota sebagai sebuah pusat kegiatan dan hunian.</p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan untuk perusahaan-perusahaan yang memiliki karyawan yang cukup banyak dengan kondisi fisik gedung tidak memadai, mereka biasanya memiliki ruang <em>virtual</em> di dunia maya untuk bisa bertemu dengan menggunakan <em>avatar</em> masing-masing, dan membicarakan hal-hal mengenai pekerjaan atau apapun dari tempat mereka masing-masing yang mungkin saling berjauhan. Sebuah bentuk komunikasi yang sama sekali tidak memerlukan media perantara fisikal selain gadget pendukung dan jaringan internet. Tidak memerlukan sebuah ruang kantor dengan berbagai macam fasilitas penunjang seperti meja, rak arsip, kursi tamu dan sebagainya secara fisik. Namun bisa divisualisasikan secara digital dengan proyeksi gambar 3D yang nampak pada layar (<em>desktop</em>) masing-masing personal</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p>Shield, Rob. (2003), <em>Virtual, Sebuah Pengantar Komprehensif (Terj.)</em>, Yogyakarta; Jalasutra</p>
<p>________________________________________________________________________________</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2011/12/set2.jpeg"><img class="alignleft  wp-image-92" title="set" src="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2011/12/set2.jpeg" alt="" width="35" height="50" /></a>*<strong>Toddy H. Yupardhi</strong> adalah seorang dosen Desain Interior di FSRD ISI Denpasar,  mahasiswa Pascasarjana Magister Desain di ITB Bandung dan juga seorang desainer profesional yang mengkhususkan diri pada bidang desain interior dan furniture.</p>
</blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fsd.isi-dps.ac.id/artikel/virtual-office-kantor-maya-dan-ruang-yang-menghilang/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Karim Rashid: Pink Is New Black!</title>
		<link>http://fsd.isi-dps.ac.id/biografi-desainer/karim-rashid-pink-is-new-black</link>
		<comments>http://fsd.isi-dps.ac.id/biografi-desainer/karim-rashid-pink-is-new-black#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Dec 2011 14:27:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biografi Desainer]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Borderless Design]]></category>
		<category><![CDATA[Karim Rashid]]></category>
		<category><![CDATA[Multi Tasking]]></category>
		<category><![CDATA[Pink]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fsd.isi-dps.ac.id/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[Oleh I Kadek Dwi Noorwatha Tensi percepatan kehidupan pada era teknologi informasi menuntut manusia menjadi multi tasking dan berpengaruh terhadap dengan hibriditas berbagai disiplin keilmuan. Fenomena ini juga berpengaruh terhadap keilmuan desain yang semakin borderless dan integratif juga dituntut untuk menggunakan desain bukan sekedar konten yang teknis-fungsional semata namun lebih ke konteks dengan menekankan taste, hasrat, [&#8230;]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><br />
<a href="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2011/12/karim-rashid-kant-stools-11.jpeg"><img class="alignleft  wp-image-74" title="karim-rashid-kant-stools-1" src="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2011/12/karim-rashid-kant-stools-11.jpeg" alt="" width="210" height="243" /></a>Oleh I Kadek Dwi Noorwatha</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Tensi percepatan kehidupan pada era teknologi informasi menuntut manusia menjadi <em>multi tasking </em>dan berpengaruh terhadap dengan hibriditas berbagai disiplin keilmuan. Fenomena ini juga berpengaruh terhadap keilmuan desain yang semakin <em>borderless</em> dan integratif juga dituntut untuk menggunakan desain bukan sekedar konten yang teknis-fungsional semata namun lebih ke konteks dengan menekankan <em>taste</em>, <em>hasrat</em>, fantasi dan menyentuh sisi emosional manusia yang paling dalam. Karim Rashid merupakan satu dari sekian desainer dari generasi sekarang yang mampu &#8216;berbicara&#8217; di berbagai disiplin keilmuan desain (industrial, <em>lighting</em>, graphic (<em>visual-communication</em>), interior, arsitektur, furnitur, fashion (<em>fabric</em>) bahkan sampai ke bidang seni dan musik). Karim tercatat telah menciptakan lebih dari 3000 hasil karya desain dan lebih dari 300 penghargaan desain tingkat internasional sebagai pengakuan terhadap kinerjanya.  Pria kelahiran Kairo-Mesir pada 18 September 1960 ini pada mulanya adalah seorang desainer produk (<em>industrial designer</em>) dan menimba keilmuan desainnya dengan mendapatkan gelar Bachelor of Art (BA) <em>industrial design</em> dari Universitas Charleton, Ottawa-Kanada pada tahun 1982. Tidak puas dengan gelar tersebut ia melanjutkannya (<em>postgraduates</em>) di Italia. Salah satu kekuatan desainnya terletak pada bentuk-bentuk <em>fluid</em>, <em>soft form</em> inspirasi dari alam, kreatif berkarakter, pola pikir pemecahan masalah desain yang luar biasa dan tentu saja warna-warna mencolok khususnya <strong>warna pink!</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-54"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong></strong>Desain memdapatkan suatu gairah baru ketika melihat karya-karya Karim Rashid yang orisinil, kreatif, <em>naughty</em>, <em>fun</em>, hasrat, emosional dan pastinya kontemporer. Untuk mendapatkan ilustrasi, berikut contoh2-contoh desain dari Karim Rashid:</p>
<div id="attachment_72" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2011/12/karim-rashid.jpeg"><img class="size-full wp-image-72 " title="karim-rashid" src="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2011/12/karim-rashid.jpeg" alt="" width="500" height="468" /></a><p class="wp-caption-text">image source: teoriadodesign.wordpress.com</p></div>
<div class="mceTemp" style="text-align: justify;"></div>
<div class="mceTemp" style="text-align: justify;"><span style="text-align: justify;">Dari gambar di atas dapat dilihat bagaimana karakter desain dari Karim Rashid yang identik dengan bentuk-bentuk digital organik, warna-warna menyolok yang mencerminkan emosional, hasrat, dan fun. Desain yang berkarakter tersebut telah menghantarkan Karim Rashid untuk mendapatkan guru besar kehormatan dari Ontario College Of Art &amp; Desain dan Corcoran College Of Art &amp; Design. Karim juga sering diundang sebagai dosen tamu pada universitas-universitas seni dan desain dan juga aktif dalam kegiatan konferensi dan seminar tentang pentingnya desain dalam kehidupan sehari-hari. Sukses menjadi desainer profesional tidak membuat Karim larut dalam dunianya tersebut sebagai sebuah pertanggung jawaban akademis dan sumbangsih bagi kemajuan keilmuan desain, ia juga aktif menulis beberapa judul buku tentunya masih di sekitaran dunia desain.</span></div>
<p style="text-align: justify;">&#8216;Resep&#8217; desain Karim Rashid mungkin dapat dilihat melalui <strong>manifesto-</strong>nya yang menegaskan karakter dari desain dari Karim Rashid itu sendiri.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sekarang ini bahasa puisi desain berdasarkan kepada sebuah kriteria kompleks tentang sesuatu hal yang kebanyakan membahas: pengalaman manusia, perilaku sosial, global, ekonomi dan isu politik, interaksi fisikal dan mental, bentuk, pandangan, dan pemahaman yang teliti dan hasrat untuk budaya kontemporer. Pabrikasi (manufacturing) berdasarkan pada kelompok kriteria : investasi modal, pembagian pasar, kemudahan produksi, diseminasi, pertumbuhan, distribusi. Proses perawatan (maintenance), pelayanan, penampilan, kualitas, isu ekologikal dan keterkelanjutan (sustainability). Kombinasi dari faktor ini membentuk objek kita, mengkomunikasi bentuk kita (inform our forms), ruang fisikal kita, budaya visual, dan pengalaman kontemporer kita. Kuantifikasi ini mengonstruksikan bentuk bisnis, identitas, brand dan nilai. Ini adalah sebuah bisnis keindahan. Setiap bisnis seharusnya secara lengkap corcern terhadap keindahan-itu adalah di atas segalanya adalah kebtuhan manusia yang kolektif.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya percaya bahwa kita dapat hidup di sebuah dunia yang sepenuhnya berbeda-satu yang penuh dengan objek nyata yang menginspirasi secara kontemporer, ruang, tempat, dunia, jiwa dan pengalaman. Desain telah menjadi pembentuk kebudayaan dari dunia kita dari awal. Kita telah mendesain sistem, kota-kota dan komoditas. Kita telah menyelesaikan persoalan dunia. Sekarang desain bukan lagi sebagai sebuah proses pemecahan masalah, tetapi proses pengindahan (<em>beautification</em>) dari lingkungan binaan kita. Desain adalah proses pembaikan (<em>betterment</em>) dari kehidupan kita secara puitik, estetik, experientally, sensorially dan emosional. Hasrat sejati ku adalah melihat orang hidup dalam cara waktu kita (<em>modus of our time</em>), untuk berpartisipasi dalam dunia kontemporer, dan melepaskandirinya dari nostalgia, tradisi klasik, ritual kuno, kitsch dan tanpa makna. Kita harus sadar dan mau menyesuaikan diri dengan dunia ini pada saat ini. Jika memang natural manusia (<em>human nature</em>) adalah untuk hidup di masa lalu-maka untuk mengubah dunia adalah mengubah natural manusia&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: right;"><strong>Karim Rashid Manifesto</strong></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Begitulah Karim Rashid dengan mimpinya untuk mengubah dunia ke arah kontemporer lepas dari masa lalu sepenuhnya, dengan memakai konsep &#8216;keindahan&#8217; yang versi-nya . Ada suatu cerita yang menggambarkan komitmen Karim Rashid tersebut. Suatu waktu Karim Rashid  diundang ke dalam acara resmi para desainer terkemuka  internasional. Seluruh desainer pada acara itu menggunakan baju jas hitam resmi ataupun tuxedo sebagai bagian dari <em>attribute</em> pesta resmi. Karim Rashid datang dengan jas pink, dan celana panjang putih kebesarannya. Ia tampak menyolok di tengah lautan hitam, sampai-sampai seorang wartawan menghampiri &#8221; Maaf, mister Rashid kenapa anda pakaian anda sangat menyolok untuk acara resmi dan elit seperti ini..?&#8221; sambil tersenyum dan memegang segelas <em>Champagne</em> ia (Karim) berkata &#8220;bagiku <em>Pink is New Black</em>!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Penghargaan</strong></p>
<ul>
<li>Red Dot distinction for high design quality, 2005–2010</li>
<li>Special Pentaward for creativity in packaging design, 2009</li>
<li>Honorary Graduate of AWARD School, Australasia 2009</li>
<li>The Fragrance Foundation&#8217;s FiFi Awards: Best Packaging &#8211; Women&#8217;s Prestige for <em>Kenzo Amour</em>, 2007</li>
<li>Honorary Doctorate from the Ontario College of Art and Design (OCAD), 2006</li>
<li>Pratt Legends Award, 2006</li>
<li>The Semiramis Hotel earned the Sleep05 European Hotel Design Award, 2005</li>
<li>Honorary Doctorate from Corcoran College of Art and Design, 2005</li>
<li>A.D. Dunton Alumni Award of Distinction from Carleton University (his alma mater), 2004</li>
<li>Best Retail Store in the USA, 2003</li>
<li>I.D. Magazine Annual Design Review Best of Category, 2002</li>
</ul>
<p><strong>Publikasi</strong></p>
<ul>
<li><em>Spacebook</em> (Rizzoli, 2009), an interior architecture monograph</li>
<li><em>Design Your Self: Rethinking the Way You Live, Love, Work, and Play</em> (Collins Design / Regan Books, 2006), a guide to living</li>
<li><em>Digipop</em> (Taschen, 2005), a digital exploration of computer graphics</li>
<li>a portfolio book (Chronicle Books, 2004)</li>
<li><em>Evolution</em> (Universe, 2004), a monograph</li>
<li><em>I Want to Change the World</em> (Universe, 2001), a monograph</li>
<li>Two CDs on a boutique label, Neverstop</li>
<li>Rashid also edited the <em>International Design Yearbook 18</em> (Calmann and King, 2003)</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Sumber</p>
<p style="text-align: left;">www.karimrashid.com</p>
<p>________________________________________________________________________________</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2011/12/n1008621217_30074870_7273.jpg"><img class="alignleft  wp-image-116" title="n1008621217_30074870_7273" src="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2011/12/n1008621217_30074870_7273.jpg" alt="" width="40" height="60" /></a>*<strong>I Kadek Dwi Noorwatha</strong> adalah seorang dosen Desain Interior di FSRD ISI Denpasar,  mahasiswa Pascasarjana Magister Desain di ITB Bandung, bekas &#8220;wartawan kampus&#8221; di Humas ISI Denpasar dan juga seorang desainer profesional</p>
</blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fsd.isi-dps.ac.id/biografi-desainer/karim-rashid-pink-is-new-black/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Branded Space: Sebuah Merek yang Meruang</title>
		<link>http://fsd.isi-dps.ac.id/artikel/branded-space-sebuah-merek-yang-meruang</link>
		<comments>http://fsd.isi-dps.ac.id/artikel/branded-space-sebuah-merek-yang-meruang#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Dec 2011 01:26:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Design and System]]></category>
		<category><![CDATA[brand]]></category>
		<category><![CDATA[branded space]]></category>
		<category><![CDATA[desain interior]]></category>
		<category><![CDATA[ruang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://fsd.isi-dps.ac.id/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Oleh I Kadek Dwi Noorwatha* Pertumbuhan ruang komersial di era perdagangan bebas ini semakin meningkat, konsekuensinya keilmuan desain khususnya desain interior (environmental design) dituntut untuk mengakomodasi fenomena tersebut. Proses tersebut mengintegrasikan Brand (merek) sebagai sebuah identitas  suatu perusahaan atau produk diterjemahkan menjadi bahasa ruang (language of space) dan bahasa visual melalui desain interior. Desain interior merupakan [&#8230;]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_24" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2011/12/J+Co_interior_09.jpg"><img class="size-medium wp-image-24 " title="J+Co_interior_09" src="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2011/12/J+Co_interior_09-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">Image Source: stompchomp.blogspot.com</p></div>
<p style="text-align: justify;"><strong>Oleh I Kadek Dwi Noorwatha*</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pertumbuhan ruang komersial di era perdagangan bebas ini semakin meningkat, konsekuensinya keilmuan desain khususnya desain interior (<em>environmental design</em>) dituntut untuk mengakomodasi fenomena tersebut. Proses tersebut mengintegrasikan Brand (merek) sebagai sebuah identitas  suatu perusahaan atau produk diterjemahkan menjadi bahasa ruang <em>(language of space</em>) dan bahasa visual melalui desain interior. Desain interior merupakan suatu keilmuan yang membahas hubungan manusia dengan ruang arsitektural dan seluruh elemen pendukungnya. Desain interior bertujuan untuk membuat manusia sebagai pemakai ruang dapat beraktifitas dalam ruangan tersebut dengan efektif dan merasa nyaman pada ruangan tersebut (Dodsworth, 2009: 8). Ruang entah itu berupa berwujud maupun tidak berwujud merupakan kebutuhan manusia yang mendasar dalam konteks hidup. Ruang merupakan substansi materi, seperti batu dan kayu. Walaupun demikian, ruang pada umumnya tidak berbentuk dan terdispersi. Ruang universil tidak mempunyai definisi. Pada saat suatu unsur diletakkan pada suatu bidang, barulah hubungan visualnya  terbentuk. Ketika unsur-unsur lain mulai diletakkan pada bidang tersebut, terjadilah hubungan majemuk antara ruang dan unsur-unsur tersebut maupun antara unsur yang satu dengan unsur lainnya (Ching; 1996, 10). Pernyataan Ching seakan memperkuat pernyataan dari Dosworth tentang hubungan antara desain interior dan ruang. Ruang yang sebelumnya oleh Ching dijelaskan tidak berbentuk dan terdispersi, diberikan pemaknaan atau nilai oleh keilmuan desain interior sesuai dengan yang dijelaskan oleh Dodsworth. Dalam konteks ruang komersial ruang berusaha untuk mempengaruhi persepsi, emosi dan juga memberikan suatu konsep pengalaman yang dalam konteks brand disebut <em>brand experience</em>.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-21"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Brand menurut Speak (1998 dalam Karjalainen, 2004:32) dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang unik, hubungan dengan pasar (konsumen) yang memberikan nilai strategis jangka panjang bagi organisasi (produsen). Brand menjadi sebuah proses komunikasi dua arah antara produsen dengan konsumennya yang diwujudkan menjadi kesetiaan konsumen dalam memilih brand tersebut seperti yang terlihat pada gambar 1.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2011/12/kuukks1.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-26" title="komunikasi brand" src="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2011/12/kuukks1.jpg" alt="" width="336" height="190" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Gambar 1. Posisi Brand Dalam Proses Komunikasi Antara Perusahaan dan Konsumen</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong></strong>Sumber: Reproduksi Dari Karjalainen, 2004: 43</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Branding </em>adalah sebuah pengembangan kata kerja dari brand, yang mempunyai pengertian aktivitas yang berhubungan kata benda “brands”<em>. Branding adalah </em>tentang usaha memperkuat tentang keunggulan suatu merk dengan merk yang lain. (Wheeler, 2009; 6). Alina Wheeler menjelaskan bahwa <em>branding </em>adalah cerminan strategi perusahaan untuk menarik pengaruh dan kesetiaan pelanggan untuk mengkonsumsi suatu produk. Terdapat perbedaan yang mendasar antara proses pengambil keputusan ketika membeli sebuah produk sebagai sebuah komoditas dibandingkan dengan keputusan membeli berdasarkan sebuah brand. Brand sangat berpengaruh terhadap pemilihan konsumen terhadap suatu produk (Wasesa, 2011:11), oleh sebab itu pengalaman (<em>experience</em>) konsumen dalam berinteraksi dengan brand menjadi sangat penting dalam menambah nilai dari brand itu sendiri. Menurut John Dewey konsep tentang pengalaman (<em>experience</em>) adalah jalinan (<em>intertwining</em>) manusia dengan lingkungannya (dalam Brakus dkk, 2009: 54). Jalinan hubungan ini merupakan sebuah kesadaran yang dimiliki manusia melalui proses psikologi, afektif dan kognitif untuk mengingat suatu fenomena dan merupakan suatu respons untuk bertindak di kemudian hari. Jika dikaitkan dengan brand sebagai sebuah proses komunikasi, maka suatu keadaan dimana konsumer sudah terpengaruh dan bereaksi oleh sebuah <em>brand </em>disebut <em>brand experience.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Brand </em><em>experience </em>menurut Brakus dkk (2009; 52), yaitu suatu pengalaman konsumen dalam menggunakan suatu <em>brand </em>yang dikonseptualisasikan (<em>conceptualized</em>) sebagai suatu sensasi, perasaan, kognisi dan respon tingkah laku (<em>behaviorial</em>) yang dibangkitkan oleh stimuli dari suatu brand (<em>brand-related stimuli</em>); yang merupakan bagian dari desain dan identitas suatu <em>brand</em>, kemasan (<em>packaging</em>), komunikasi dan lingkungan (<em>environments</em>). Brakus dkk (2009; 52) merumuskan konsepsi pengalaman (<em>experience</em>) yang ditimbulkan oleh suatu <em>brand </em>dapat dibagi menjadi:</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Pengalaman terhadap produk (<em>product experience</em>) yaitu pengalaman yang ditimbulkan ketika konsumer berinteraksi dengan produk. Dalam tulisan ini dipahami sebagai pengalaman konsumen ketika menikmati makanan dalam restoran sebagai produk yang dijual restoran tersebut. Dalam pengalaman terhadap produk konsumen telah melakukan proses pemilihan (<em>examines</em>) dan evaluasi terhadap produk tersebut.</li>
<li>Pengalaman tentang pelayanan dan berbelanja (<em>shopping dan service </em><em>experience</em>) yaitu pengalaman yang ditimbulkan ketika konsumen berinteraksi dengan lingkungan fisik dari restoran tersebut, khususnya dengan desain interior restoran tersebut.</li>
<li>Pengalaman dalam menggunakan brand tersebut (<em>consumption experience</em>) yaitu pengalaman yang ditimbulkan ketika konsumen mengkonsumsi dan menggunakan produk tersebut yang bersifat holistik. Holbrook dan Hirschman, 1992 dalam Brakus, 2009: 53) menyebutkan pengalaman menggunakan brand (<em>consumption experiences</em>) bersifat multidimensional termasuk didalamnya dimensi hedonisme (<em>hedonic dimensions</em>) seperti perasaan, fantasi dan kegembiraan (<em>fun</em>).</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">Pada point kedua konsep <em>brand experience </em>menegaskan bahwa peran ruang fisik merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pengalaman konsumen dalam menggunakan brand. Schmitt (1999,2003 dalam Keller dan Lehman, 2006:742) menghubungkan konsep <em>Customer Experience Management </em>(CEM) yaitu proses manajemen stategis yang mengatur pengalaman konsumen dengan produk atau perusahaan. Schmitt memaparkan bahwa Brand dapat membantu untuk menciptakan 5 jenis pengalaman (<em>experiences</em>):</p>
<ol>
<li><em>Sense experiences </em>(pengalaman indera) yang melibatkan sensor persepsi</li>
<li> <em>Feel experiences </em>(pengalaman perasaan) yang melibatkan perasaan (<em>affect</em>) dan emosi</li>
<li><em>Think experiences </em>(pengalaman berpikir) yang dipengaruhi oleh sesuatu yang bersifat kreatif dan kognitif</li>
<li><em>Act experiences </em>(pengalaman bertindak) yang melibatkan perilaku fisik dan menggabungkan aksi individual dan gaya hidup</li>
<li><em>Relate experience </em>(pengalaman berhubungan) yang dihasilkan dengan mengacu kepada grup atau budaya tertentu (Keller dan Lehman, 2006: 742).</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-align: justify;">Dari konsepsi CEM tersebut dapat dinaungi oleh ruang sebagai lingkungan fisik dimana brand sebagai strategi perusahaan diimplementasikan dan secara langsung mempengaruhi pengalaman konsumen dalam berinteraksi dengan brand. Berbicara masalah ruang tentu tidak bisa terlepas dari keilmuan desain interior. </span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Branding experience </em>dalam ruang merupakan kontruksi persepsi konsumen berinteraksi dengan brand dalam ruang, dimana ruang tersebut merupakan strategi pemasaran perusahaan (dalam hal ini restoran). Menurut Halim (2005: 170) informasi yang didapat seseorang dari lingkungan memiliki properti-properti simbolis yang memberi makna, kualitas <em>ambient </em>(tidak kasat mata), memunculkan respon-respon emosional, dan pesan-pesan motivasional yang menstimulasi kebutuhan. Menurut Lawson (2001: 6) ruang adalah sesuatu yang sangat mendasar dan bentuk universal dari sebuah proses komunikasi. Keilmuan arsitektur mengorganisasikan dan menyusun ruang untuk manusia, dimana interior dan objek di dalamnya yang menggabungkan atau memisahkan suatu kamar (<em>rooms</em>); dapat memfasilitasi atau menghalangi kegiatan manusia dengan cara menggunakan “bahasa” ini. Lawson menegaskan peran ruang sebagai sebuah proses komunikasi antara desainerruang- dan pemakai ruang tersebut melalui bahasa ruang yang ditangkap oleh persepsi pemakai ruang tersebut. Dalam hal ini ruang memediasi suatu bentuk komunikasi antara desainer dengan pengguna ruang dengan tujuan akhir yaitu aktivitas pengguna ruang sesuai dengan yang diinginkan oleh desainer itu sendiri.Media (medium) pada dasarnya yaitu proses mengubah pesan secara teknisdan fisik menjadi <em>signal </em>sehingga dapat ditransmisikan melalui saluran (<em>channel</em>) tertentu (Fiske, 1990:18).</p>
<p style="text-align: justify;">Fiske Juga memaparkan sebuah konsep media representasional, yaitu media yang menggunakan kebudayaan dan konvensi aestetik untuk menghasilkan “teks” dalam berbagai jenis. Mereka merupakan perwakilan dari suatu makna dan kreatifitas. Media ini menghasilkan teks yang dapat merekam media yang termasuk media presentasional dan dapat eksis secara independen tanpa kehadiran komunikator. Media ini menghasilkan proses kerja (<em>works</em>) dari komunikasi (Fiske, 1990:18). Berdasarkan pengertian di atas maka ruang (desain interior) termasuk ke dalam media representasional pada proses komunikasi. Ruang mengkomunikasikan sebuah pesan kepada penggunanya yang akhirnya menjadi sebuah pengalaman pengguna dalam ruang tersebut. Dalam konteks ruang komersial, ruang bertindaksebagai media representasi sebuah <em>brand </em>untuk menumbuhkan pengalaman konsumen dalam menggunakan brand tersebut. Desainer memanfaatkan <em>visual </em><em>grammar </em>yang merupakan elemen dari desain untuk menyampaikan pesan kepada konsumen yang menggunakan ruang tersebut. Proses komunikasi dalam ruang (<em>environments</em>) sebagai media representasional dan hubungan antara keilmuan desain dan perilaku konsumen (<em>consumer behaviour</em>) dapat dilihat pada gambar 2.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2011/12/stimulus.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-28" title="stimulus" src="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2011/12/stimulus.jpg" alt="" width="564" height="231" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Gambar 2. Proses Komunikasi Antara Desain (ruang) dan Perilaku Konsumen</strong></p>
<p style="text-align: center;">Sumber: Reproduksi dari de Mozzota, 2003: 89</p>
<p style="text-align: justify;">Dari gambar di atas dapat dilihat bagaimana dalam konteks ruang komersial, persepsi konsumen dikontruksikan melalui stimulus desain yang akan bertujuan untuk meningkatkan pengalaman khususnya sensasi konsumen ketika berinteraksi dengan brand tersebut. Ruang (<em>environment</em>) sebagai bagian dari stimulus desain yang mempengaruhi persepsi dan pengalaman konsumen dalam berinteraksi dengan sebuah brand. Ruang dengan sentuhan desain melingkupi suatu bahasa estetis yang menawarkan suatu nilai dari suatu brand yang dihubungkan dengan gaya hidup konsumen tersebut melalui strategi pemasaran dan komunikasi perusahaan yang komprehensif. Keberhasilan dari keberadaan sebuah brand merupakan suatu proses peningkatan kesadaran konsumen terhadap brand (<em>brand awareness</em>) yang dipicu oleh identitas brand (<em>brand identity</em>) tersebut. Dalam konteks tersebut ruang dalam koridor desain interior mempunyai peranan penting yaitu menguatkan  identitas brand tersebut melalui bahasa ruang, desain dan estetika untuk meningkatkan brand awareness konsumen. Tentu tujuan dari proses ini adalah nilai ekuitas brand (<em>brand equity</em>) dimana kesetiaan konsumen terhadap brand tersebut sangat tinggi.</p>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p>Brakus, J. Josko dan Schmitt, Bernd H. dan Zarantonello, Lia, 2009, <em>Brand </em><em>Experience: WhatIs It? How Is It Measured? Does It Affect Loyalty</em>, USA: American Marketing Association Journal Of Marketing Vol. 73 (May 2009, 52- 68)</p>
<p>Ching, Francis D.K., 1996, <em>Ilustrasi Desain Interior</em>, Jakarta: Penerbit Erlangga</p>
<p>De Mozota, Brigitte Borja, 2003, Design Management: Using Design To Build Brand Value And Corporate Innovation, New York: Allworth Press.</p>
<p>Dodsworth, Simon, 2009, <em>The Fundamentals Of Interior Design</em>, USA: AVA Publishing</p>
<p>Fiske, John, 1990, <em>Introduction To Communication Studies Second Edition</em>, New York: Rouledge</p>
<p>Halim, Deddy, 2005, <em>Psikologi Arsitektur Pengantar Kajian Lintas Disiplin</em>, Jakarta: Grasindo</p>
<p>Karjalainen, Toni-Matti, 2004, <em>Semantic Transformation In Design: Communicating </em><em>Strategic Brand Identity Through Product Design References</em>, Helsinki-Finland: University Of Art And Design Helsinki</p>
<p>Keller, Kevin Lane dan Lehmann, Donald R., 2006, <em>Brands and Branding: Research </em><em>Findings and Future Priorities, Journal Of Marketing Science</em>, Vol.25, No.6, November-December 2006, pp.740-759</p>
<p>Lawson, Fred, 1998, <em>Restaurants, Clubs &amp; Bars, Planning, Design And Investment </em><em>For Food Service Facilities</em>, Oxford-UK: Architectural Press</p>
<p>Wasesa, Silih Agung, 2011, <em>Political Branding &amp; Public Relations: Saatnya </em><em>Kampanye Sehat, Hemat, dan Bermartabat</em>, Jakarta: Gramedia</p>
<p>Wheeler, Alina, 2009, <em>Designing Brand Identity, USA</em>: John Wiley &amp; Sons Publishing Inc</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>________________________________________________________________________________</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2011/12/n1008621217_30074870_7273.jpg"><img class="alignleft  wp-image-116" title="n1008621217_30074870_7273" src="http://fsd.isi-dps.ac.id/wp-content/uploads/2011/12/n1008621217_30074870_7273.jpg" alt="" width="40" height="60" /></a>*<strong>I Kadek Dwi Noorwatha</strong> adalah seorang dosen Desain Interior di FSRD ISI Denpasar,  mahasiswa Pascasarjana Magister Desain di ITB Bandung, bekas &#8220;wartawan kampus&#8221; di Humas ISI Denpasar dan juga seorang desainer profesional</p>
</blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://fsd.isi-dps.ac.id/artikel/branded-space-sebuah-merek-yang-meruang/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
