<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7547311571764217587</id><updated>2024-12-19T11:31:24.521+08:00</updated><category term="Dongeng"/><category term="Hiburan"/><category term="Cerita Rakyat"/><category term="Sejarah"/><category term="Biografi"/><category term="Group Band"/><title type='text'>Gerbang Cerita</title><subtitle type='html'>Berisi Tentang Cerita-Cerita</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default?redirect=false'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08946374405366963398</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>42</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7547311571764217587.post-4556053367509739098</id><published>2016-03-24T14:00:00.000+08:00</published><updated>2016-03-24T14:00:37.410+08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Rakyat"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Dongeng"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hiburan"/><title type='text'>Cerita Dongeng Tiga Anak Yang Beruntung</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Gerbang Cerita&lt;/b&gt; - Seorang ayah memanggil ketiga putranya ke hadapannya, lalu dia memberikan putra yang tertua seekor ayam jantan, kepada putra yang kedua diberinya sebuah sabit, dan yang ketiga mendapatkan seekor kucing. “ saya sudah tua,” katanya,” kematianku sudah dekat dan saya berharap kalian mendapatkan pelajaran sebelum saya meninggal, saya tidak memiliki uang, dan sepertinya apa yang saya berikan sekarang kepada kalian, nilainya sangat kecil, tetapi semua tergantung dari bagaimana kalian memanfaatkannya. Carilah suatu negeri dimana benda-benda yang saya berikan kepada kalian, tidak pernah dilihat ataupun dikenal oleh penduduk negeri itu. disanalah kalian akan mendapatkan kekayaan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiebdb95JgO-B63Hrl1VP7lKTaS0RWn5jtSA1llP5PxtDGTUBWGWVrUwkuHeztNOPjJ14tdQ1_HmzKh9ah2Bg7ikwBeSMxXGRXX7B_b1WjdbS9kCQNmBdL-GnDZIMhQWCHWfAMkerIFBns/s1600/cerita-dongeng-tiga-anak-yang-beruntung.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiebdb95JgO-B63Hrl1VP7lKTaS0RWn5jtSA1llP5PxtDGTUBWGWVrUwkuHeztNOPjJ14tdQ1_HmzKh9ah2Bg7ikwBeSMxXGRXX7B_b1WjdbS9kCQNmBdL-GnDZIMhQWCHWfAMkerIFBns/s400/cerita-dongeng-tiga-anak-yang-beruntung.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setelah ayah meninggal, anak yang tertua berangkat bersama ayam jantannya, tetapi kemanapun dia pergi, penduduk di negeri yang didatangi, sepertinya telah pernah melihat ayam jantan. Hal itu diketahuinya dengan melihat atap-atap rumah yang dihiasi dengan penunjuk arah angin yang berbentuk ayam, ataupun mendengarkan kokok ayam jantan dari kejauhan. Dan penduduk di negeri yang dilewati tidak menunjukkan kekaguman kepada ayamnya, sehingga sepertinya ia tidak akan bisa menjadi kaya di negeri tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Akhirnya ia tiba di suatu pulau dimana pennduduknya tidak tahu dan tidak pernah melihat ayam jantann, bahkan mereka tidak tahu bagaimana membedakan waktu. Mereka tahu bahwa hari sudah pagi, atau siang, tetapi di saat malam, apabila mereka tidak tidur, mereka tidak pernah tahu bagaimana mengetahui waktu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;“lihatlah!” kata putra tertua, “makhluk yang anggun ini ! ia memiliki mahkota berwarna merah ruby di kepalanya, memakai bulu seperti layaknya kesatria, berkokok tiga kali setiap malam pada waktu tertentu, dan saat ia berkokok untuk terakhir kalinya, matahari akan segera bersinar. Teapi jika ia berkokok disiang hari, perhatikanlah, karena akan terjadi perubahan cuaca.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Penduduk di pulau itu menjadi sangat senang, sehingga malam harinya mereka tidak tidur hanya untuk mendengarkan sang ayam jantan berkokok pada jam dua, empat dan enam, dengan keras dan jelas mengumumkan waktu. Peduduk disana kemudian melakukan penawaran untuk membeli ayam si putra tertua dan bertanya berapakah harga ayam yang pantas untuk ayam tersebut ? “emas seberat yang bisa dibawa oleh seekor keledai.” Jawabnya. “harganya yang sangat murah untuk makhluk yang sangat berharga!” kata putra tertua, dan penduduk di pulau itupun setuju untuk memberikan apa yang diminta oleh putra tertua.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Ketika dia pulang ke rumah dengan kekayaannya, saudara-saudaranya menjadi kagum dan selanjutnya yang keduapun berkata,” yah, aku akan pergi dan melihat apakah saya bisa mendapatkan keberuntungan dengan sabit saya.”t api itu tidak gampang baginya, karena setiap ia bertemu dengan pekerja kebun ataupun petani dimana-mana, mereka telah memiliki sabit yang disandarkan diatas bahunya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Akhirnya, putra kedua kebetulan tiba di ebuah pulau di mana penduduk di sana tidak tahu apa-apa tentang sabit. Ketika jagung sudah siap dipanen di sana, mereka membawa meriam ke ladang dan menembakkannya ke kebun jagung. Sudah jelas cara ini tidak benar, banyak tembakan meriam yang tidak tepat jatuhnya, terkadang yang kena adalah jagungnya dan bukan batang jagung sehingga banyak jagung yang rusak, dan selain itu, suara meriam tersebut mengeluarkan suara letusan yang mengejutkan. Jadi putra kedua mengeluarkan sabitnya lalu mulai bekerja memanen dan memotong batang jagung dari bawah dengan tenang dan cepat sehingga orang-orang yang melihatnya bekerja, membuka mulut mereka denga takjub. Akhirnya mereka sepakat untuk memberikan apa saja yang putera kedua inginkan sebagai ganti rugi untuk sabit tersebut, dan ia pun menerima kuda yang sarat dengan emas seberat yang bisa dibawa oleh kuda tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Dan sekarang putera ketiga juga ingin membawa kucingnya ke negeri yang tepat. Awalnya dia mengalami kesulitan seperti saudaranya yang lain sewaktu melakukan perjalanan, kemanapun ia pergi, di negeri-negeri tersebut banyak terdapat kucing.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Akhirnya ia berlayar ke sebuah pulau, dimana tidak ada kucing yang pernah terlihat di sana, sehingga tikus-tikus yang berada di pulai itu sudah tidak terkontrol bahkan mereka sampai menari-nari di atas meja dan kursi, walaupun pemilik rumah ada di rumah ataupun tidak. Orang-orang telah mengeluhkan hal ini kepada raja, tetapi raja sendiri di istana tidak tahu bagaimana caranya untuk mengamankan diri mereka dari gangguan tikus yang mencicit di setiap sudut ruangan, dan menggerogoti apa pun yang mereka temui dengan gigi mereka. Tapi sewaktu kucing putera ketiga hadir, kucing itu mulai mengejar tikus-tikus yang dilihatnya dan segera membersihkan beberapa kamar dari gangguan tikus, dan orang-orang pun memohon kepada raja untuk membeli hewan yang berguna untuk negara. Raja pun rela memberikan apa yang di minta oleh putera ketiga, yaitu keledai yang sarat dengan muatan emas, dan akhirnya putera ketiga pun pulang membawa harta kekayaan yang besar seperti saudara lainnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Sang kucing pun sangat gembira dengan banyaknya tikus di istana kerajaan, dan membunuh begitu banyak jumlah tikus ssampai tidak bisa dii hitung lagi. Akhirnya sang kucing menjadi sedikit letih dan kehausan setelah menagkap tikus. Dia pun berdiri diam, mengangkat kepalanya lalu mengeong, “meow meow!” ketika orang-orang mendengarkan teriakan aneh ini, raja dan seluruh rakyatnya menjadi ketakutan, dan karena takutnya, mereka berlari-larian sekaligus keluar dari istana. Kemudian raja memanggil penasihat dan bertanya apa yang sebaiknya mereka lakukan, dan mereka mengambil keputusan untuk mengirimkan utusan untuk meminta agar sang kucing meninggalkan istana itu dan jika sang kucing tidak meninggalkan istana, sang kucing akan diusir dari istana dengan paksa. Para anggota dewan penasihat mengatakan,”lebih baik kita membiarkan diri kita di ganggu oleh tikus, daripada menyerahkan hidup kita ke makhluk menakutkan seperti kucing itu. “ seorang pemuda bangsawan pun di utus untuk meminta sang kucing meninggalkan tempat itu “ apakah engkau akan meninggalkan tempat ini dengan damai ?” tanya bangsawa itu, tetapi kucing yang kehausan ini hanya menjawab,”meow meow!” pemuda ini mengartikan bahwa sang kucing tidak mau meninggalkan dan memberikan jawaban ini kepada sang raja. “kalau begitu,” kata anggota dewan penasihat,” dia akan kita paksa untuk keluar dari istana.” Meriampun dikeluarkan dan ditembakkan ke istana yang dengan segera terbakar oleh api. Ketika api mencapai ruang dimana kucing itu duduk, dengan ringannya sang kucing melompat dengan aman keluar dari jendela untuk meninggalkan&amp;nbsp; istana, tetapi para pengepung tidak mengetahui hal ini dan terus menembakkan sampai seluruh istana runtuh.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Demikian cerita dongeng tiga anak yang beruntung, semoga dapat menghibur Anda semua dimana pun Anda berada.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Baca Juga : &lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2016/03/cerita-dongeng-si-buta-dan-si-bungkuk.html&quot;&gt;Cerita Dongeng Si Buta dan Si Bungkuk&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Baca Juga : &lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2016/03/cerita-dongeng-sinbad-sang-pelaut.html&quot;&gt;Cerita Dongeng Sinbad Sang Pelaut&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2016/03/cerita-dongeng-sinbad-sang-pelaut.html&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2016/03/cerita-dongeng-sinbad-sang-pelaut.html&quot;&gt;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2016/03/cerita-dongeng-sinbad-sang-pelaut.html&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;Referensi Saya : Search Google&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/feeds/4556053367509739098/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/2016/03/cerita-dongeng-tiga-anak-yang-beruntung.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default/4556053367509739098'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default/4556053367509739098'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/2016/03/cerita-dongeng-tiga-anak-yang-beruntung.html' title='Cerita Dongeng Tiga Anak Yang Beruntung'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08946374405366963398</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiebdb95JgO-B63Hrl1VP7lKTaS0RWn5jtSA1llP5PxtDGTUBWGWVrUwkuHeztNOPjJ14tdQ1_HmzKh9ah2Bg7ikwBeSMxXGRXX7B_b1WjdbS9kCQNmBdL-GnDZIMhQWCHWfAMkerIFBns/s72-c/cerita-dongeng-tiga-anak-yang-beruntung.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7547311571764217587.post-8159976425406351882</id><published>2016-03-23T13:10:00.000+08:00</published><updated>2016-03-23T13:10:14.239+08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Rakyat"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Dongeng"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hiburan"/><title type='text'>Cerita Dongeng Si Buta dan Si Bungkuk</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Gerbang Cerita&lt;/b&gt; - Di suatu kampung tinggallah dua orang pemuda sebaya. Mereka bersahabat akrab sekali. Kemanapun mereka pergi selalu bersama. Boleh dikata tidak pernah terjadi pertengkaran di antara mereka. Jika yang seorang sedang marah, yang seorang lagi berdiam diri atau membujuk sehingga kemarahannya reda. Begitu juga jika ada kesulitan, selalu mereka arasi bersama.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhTjd_5va8y2g7kLxigp6jb1KxEGzTflrPt5ZfasZfJHpLsZVNf3iQgs_UbpJl-1eosIJRsqjO1HU9hYYQ3j7cEpHiyAQ-G6iHjrdLxAgLNficMgf8lwriMj20RDEr5WZTptN8J1O-_geE/s1600/cerita-dongeng-si-buta-dan-si-bungkuk.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhTjd_5va8y2g7kLxigp6jb1KxEGzTflrPt5ZfasZfJHpLsZVNf3iQgs_UbpJl-1eosIJRsqjO1HU9hYYQ3j7cEpHiyAQ-G6iHjrdLxAgLNficMgf8lwriMj20RDEr5WZTptN8J1O-_geE/s400/cerita-dongeng-si-buta-dan-si-bungkuk.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada dasarnya, mereka memang saling membutuhkan karena keadaan tubuh mereka mengharuskan demikian. Pemuda yang satu bertubuh kekar, tetapi buta matanya, pemuda yang lain dapat melihat tetapi bungkuk tubuhnya. Oleh karena itu, orang yang menyebut mereka, si buta dan si bungkuk. Si buta sangat baik hatinya. Tidak sedikitpun ia curiga kepada temannya, si bungkuk.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Ia percaya penuh kepada temannya itu walaupun si bungkuk sering menipu dirinya. Kejadian itu selalu berulang setiap mereka menghadiri selamatan. Si buta selalu duduk berdampingan dengan si bungkuk. Pada saat makan, si buta selalu mengeluh.” Pemilik rumah ini kikir sekali!” bisiknya kepada si bungkuk agar jangan didengar orang lain.” Tak ada secuil pun ikan, kecuali sayur labu.”&lt;br /&gt;Si bungkuk hanya tersenyum karena keluhan temannya itu akibat ulahnya. Secara diam-diam ia memotong daging ayam yang cukup besar di piring si buta dan di tukar dengan sayur labu.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Akibatnya, piring gulai si buta hanya berisi sayur labu. Si bungkuk merasa bahagia bersahabat dengan si buta. Setiap ada kesempatan, ia dapat memanfaatkan kebutaan mata temannya untuk kepentingan sendiri.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Si buta yang tidak mengetahui kelicikan si bungkuk juga merasa senang bersahabat dengan temannya itu. setiap saat si bungkuk dapat menjadi matanya. Pada suatu hari, si bungkuk mengajak si buta pergi berburu rusa. Tidak jauh dari kampung mereka ada hutan lebat. Bermacam-macam margasatwa hidup di sana seperti burung, siamang, binatang melata, dan rusa. Konon, pada waktu itu belum ada pemburu menggunakan senapan untuk membunuh hewan buruan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Penduduk yang ingin mendapatkan rusa atau binatang lain biasanya menggunakan jerat yang di sebut jipah(faring). Kadang mereka berburu menggunakan anjing pelacak dan tombak. Cara ini akan dipakai si bungkuk dan si buta untuk berburu. “ kalau kita dapat membunuh seekor rusa, hasilnya kita bagi dua sama rata,” ujar si bungkuk. Tentu saja si buta sangat gembira mendengar hal itu. si buta segera menuntun anjing pelacak yang tajam indra penciumannya, sedangkan si bungkuk siap dengan tombak di tangan kanannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Mereka berdua mengikuti arah yang ditunjukkan anjing pelacak itu. rupanya hari itu mereka bernasib baik. Seekor rusa jantan yang cukup besar berhasil mereka tombak. Tanduknya bercabang-cabang idah dan layak di jadikan hiasan dinding. Si bungkuk segera membagi rusa hasil buruan itu menjadi dua bagian. Akan tetapi, dengan segala kelicikannya, si buta hanya mendapat tulang-tulang. Daging dan lemak rusa sudah dibagi, kita masak sendiri sesuai selera kita,” kata si bungkuk. Si buta menurut saja karena pikirnya memang demikian seharusnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Padahal dengan cara itu, si bungkuk bermaksud agar daging yang dimilikinya jangan secuil pun dimakan si buta. Walaupun si buta tidak dapat melihat, kemampuannya memasak gulai tidak dapat di ragukan sedikit pun. Terbit air liur si bungkuk mencium memcium bau masakan si buta. Si bungkuk tidak pandai memasak. Si buta dan si bungkuk akhirnya menghadapi masakan rusa yang telah mereka masak dan siap menyantapnnya. “sedaaap!” kata si bungkuk sambil memasukkan potongan daging yang besar ke dalam mulutnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;“nikmat!” kata si buta sambil mengambil sepotong tulang yang besar dari piring dan mengigitnya. Si buta bersungut-sungut karena yang di gigit ternyata tulang semua.”sayang,” katanya, rusa begitu besar, tetapi tak punya daging! Besok kita berburu lagi, tetapi rusa itu harus gemuk dan banyak dagingnya.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Si bungkuk tersenyum mendengar perkataan si buta. Si buta merasa sayang jika tulang-tulang rusa yang telah dimasaknya dengan susah payah tidak di makan. Oleh karena itu, si buta mencoba mengigit tulang itu lagi. Kan tetapi, tulang itu sangat keras sehingga tetap tidak tergigit. Hali itu membuat si buta semakin penasaran. Ia mengerahkan segenap tenaga dan mengigit tulang itu sekuat-kuatnya hingga bola matanya hendak keluar dari lubang mata.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Tuhan sudah menakdirkan rupanya. Keajaiban pun terjadi. Mata si buta tidak buta lagi.”aku bisa melihat!” teriaknya kegirangan. Si buta menatap sekelilingnya. Ketika si buta melihat di piring si bungkuk daging yang empuk, bukan main marahnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;“sekarang, terbukalah topeng kebusukanmu selama ini!” katanya. Si buta memungut tulang rusa paling besar, lalu si bungkuk dipukuli dengan tulang itu. jeritan si bungkuk meminta ampun tidak dihiraukannya sama sekali. Seluruh tubuh si bungkuk babak belur. Seperti si buta, keanehan pun terjadi pada si bungkuk. Ketika ia bangkit, ternyata punggungnya menjadi lurus seperti orang sehat. “ aku tidak bungkuk lagi! Aku tidak bungkuk lagi!” teriak si bungkuk.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Demikian cerita dongeng si buta dan si bungkuk semoga dapat menghibur Anda semua dimana pun Anda berada.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Baca Juga :&lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2016/03/cerita-dongeng-sinbad-sang-pelaut.html&quot;&gt; Cerita Dongeng Sinbad Sang Pelaut&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Baca Juga : &lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2016/03/cerita-dongeng-putri-thumbelina.html&quot;&gt;Cerita Dongeng Putri Thumbelina&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;Referensi Saya : Search Google&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/feeds/8159976425406351882/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/2016/03/cerita-dongeng-si-buta-dan-si-bungkuk.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default/8159976425406351882'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default/8159976425406351882'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/2016/03/cerita-dongeng-si-buta-dan-si-bungkuk.html' title='Cerita Dongeng Si Buta dan Si Bungkuk'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08946374405366963398</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhTjd_5va8y2g7kLxigp6jb1KxEGzTflrPt5ZfasZfJHpLsZVNf3iQgs_UbpJl-1eosIJRsqjO1HU9hYYQ3j7cEpHiyAQ-G6iHjrdLxAgLNficMgf8lwriMj20RDEr5WZTptN8J1O-_geE/s72-c/cerita-dongeng-si-buta-dan-si-bungkuk.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7547311571764217587.post-6558042065579021330</id><published>2016-03-22T15:37:00.000+08:00</published><updated>2016-03-22T15:37:52.402+08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Rakyat"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Dongeng"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hiburan"/><title type='text'>Cerita Dongeng Sinbad Sang Pelaut</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Gerbang Cerita&lt;/b&gt; - Dahulu, di daerah baghdad, timur tengah, ada seorang pemuda bernama sinbad yang kerjanya memanggul barang-barang yang berat dengan upah yang sedikit, sehingga hidupnya tergolong miskin. Suatu hari, sinbad beristirahat di depan pintu rumah saudagar kaya karena sangat lelah dan kepanasan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgjHJr9I8CgceqeCUQ6axhhQ26frEQXJIkgA3n8vvYrwxKLDoSgWoAVEO8RfUzXJ4c9nW8OiWo_TAPvn9-L0A_dqAxWkotZBbi9pjhgklJ5JOXNF2g2q9f5G4jUP0UcopVE3AD5kUI0I2o/s1600/cerita-dongeng-sinbad-sang-pelaut.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgjHJr9I8CgceqeCUQ6axhhQ26frEQXJIkgA3n8vvYrwxKLDoSgWoAVEO8RfUzXJ4c9nW8OiWo_TAPvn9-L0A_dqAxWkotZBbi9pjhgklJ5JOXNF2g2q9f5G4jUP0UcopVE3AD5kUI0I2o/s400/cerita-dongeng-sinbad-sang-pelaut.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sambil beristirahat, ia menyanyikan lagu. “namaku sinbad, hidupku sangat malang, berapapun aku bekerja dengan memanggul beban di punggung tetaplah penderitaan yang kurasakan.” Tak berapa lam muncul pelayan rumah itu, menyuruh sinbad masuk karena di panggil tuannya.&amp;nbsp; “apakah namamu sinbad ?” benar&amp;nbsp; tuan.”namaku juga sinbad,” kata sang saudagar. Ia pun mulai bercerita,” dulu aku seorang pelaut. Ketika mendengar nyanyianmu, aku sangat sedih karena kau berpikir hanya kamu sendiri yang bernasib buruk, dulu&amp;nbsp; nasibku juga buruk, orangtuaku meninggalkan banyak warisan, tetapi aku hanya bermain dan menghabiskan harta saja.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Setelah jatuh miskin aku bertekad menjadi seorang pelaut. Aku menjual rumah dan semua perabotnya untuk membeli kapal dan seisinya. Karena sudah lama tidak menemui daratan, ketika ada daratan yang terlihat kami segera merapatkan kapal. Para awak kapal segera mempersiapkan makan siang. Mereka membakar daging dan ikan. Tiba-tiba, permukaan tanah bergoyang. Pulau itu bergerak ke atas, para pelaut berjatuhan ke laut.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Begitu jatuh kelaut, aku sempat melihat ke pulau itu, ternyata pulau tersebut, berada di atas badan ikan paus. Karena ikan paus itu sudah lama tak bergerak, tubuhnya ditumbuhi pohon dan rumput, mirip seperti pulau. Mungkin karena panas dari api unggun, ia mulai bergerak liar. Mereka yang terjatuh ke laut di bilas ekor ikan paus sehingga tenggelam. Aku berusaha menyelamatkan diri dengan memeluk sebuah gentong, hingga aku pun terapung-apung di laut. Beberapa hari kemudian, aku berhasil sampai kedaratan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Aku haus, disana ada pohon kelapa. Kemudian aku memanjatnya dan mengambil buah dan meminum airnya. Tiba-tiba aku melihat ada sebutir telur yang sangat besar. Ketika turun, dan mendekati telur itu, tiba-tiba dari arah langit, terdengar suara yang menakutkan disertai suara kepakan sayap yang mengerikan. Ternyata, seekor burung naga yang amat besar, setelah sampai disarangnya, burung naga itu tertidur sambil mengerami telurnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Sinbad menyelinap dikaki burung itu, dan mengikat erat badannya di kaki burung naga dengan kakinya.”kalau ia bangun, pasti ia langsung terbang dan pergi ke tempat di mana manusia tinggal.”benar, esoknya burung naga terbang mencari makanan. Ia terbang melewati pegunungan dan akhirnya tampak sebuah daratan. Burung naga turun di sebuah tempat yang dalam di ujung jurang. Sinbad segera melepas ikatan kainnya di kaki burung dan bersembunyi di balik batu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Sekarang sinbad berada di dasar jurang. Sinbad tertegun, melihat di sekelilingnya banyak berlian. Pada saat itu, “bruk” ada sesuatu yang jatuh. Ternyata gundukan daging yang besar. Di gundukan daging itu menempel banyak berlian yang bersinar-sinar. Untuk mengambil berlian manusia sengaja menjatuhkan daging ke jurang yang nantinya akan diambil oleh burung naga dengan berlian yang sudah menempel di daging itu. sinbad mempunyai ide. Ia segera mengikatkan dirinya ke gundukan daging.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Tak berapa lama burung naga datang dan mengambil gundukan daging. Lalu terbang dari dasar jurang. Tiba-tiba,”klang,klang! Terdengar suara gong dan suling yang bergema. Burung naga yang terkejut menjatuhkan gundukan daging dan cepat-cepat terbang tinggi. orang-orang yang datang untuk mengambil berlian, terkejut ketika melihat sinbad.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Sinbad menceritakan semua kejadian yang dialaminya. Kemudian orang-orang pengambil berlian mengantarkan sinbad ke pelabuhan untuk kembali ke negaranya. Sinbad menjual berlian yang di dapatnya dan membeli sebuah kapal yang besar dan awak kapal yang banyak. Ia berangkat berlayar sambil melakukan perdagangan. Suatu hari, kapal sinbad di rampok oleh perampok. Kemudian sinbad dijadikan budak dan akhirnya dijual kepada seorang pemburu gajah.”Apakah kau bisa memanah?” tanya pemburu gajah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Sang pemburu memberi sinbadh busur dan anak panah dan diajaknya ke padang rumput luas.”ini adalah jalan gajah. Naiklah ke atas pohon, tunggu mereka datang lalu bunuh gajah itu”.”baik, tuan&amp;lt;”jawab sinbad ketakutan. Esok pagi, datang gerombolan gajah. Saat itu pemimpin gajah melihat sinbad dan langsung menyerang pohon yang idnaiki sinbad. Sinbad jatuh tepat di depan gajah. Gajah itu kemudian menggulung sinbad dengan belalainya yang panjang. Sinbad mengira ia pasti akan di bunuh atau di banting ke tanah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Ternyata, gajah itu membawa sinbad dengan kelompok mereka&amp;nbsp; ke sebuah gunung batu. Akhirnya terlihat sebuah air terjun besar. Dengan membawa sinbad, gajah itu masuk ke dalam air terjun menuju ke sebuah gua.”ku...kuburan gajah!” sinbad terperanjat. Di gua yang luas bertumpuk tulang dan gading gajah. Pemimpin gajah berkata,”kalau kau ingin gading ambillah seperlunya. Sebagaimana gantinya, berhentilah membunuh kami.”sinbad berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Ia pulang dengan memanggul gading gajah dan menyerahkan ke tuannya denga syarat tuannya tidak akan membunuh gajah lagi. Tuannya berjanji dan kemudian memberikan sinbad uang.”sampai disini dulu ceritaku”, ujar sinbad yang seudah menjadi saudagar kaya.”aku bisa menjadi orang kaya, karena kerja keras dengan uang itu. jangan putus asa, sampai kapanpun, apalagi jika kita masih muda,”lanjut sang saudagar.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Demikian cerita dongeng sinbad sang pelaut, semoga dapat bermanfaat dan menghibur Anda dimana pun Anda berada.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Baca Juga : &lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2016/03/cerita-dongeng-putri-thumbelina.html&quot;&gt;Cerita Dongeng Putri Thumbelina&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Baca Juga : &lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2016/03/cerita-dongeng-putri-yang-sempurna.html&quot;&gt;Cerita Dongeng Putri yang Sempurna&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;Referensi Saya : Search Google&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/feeds/6558042065579021330/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/2016/03/cerita-dongeng-sinbad-sang-pelaut.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default/6558042065579021330'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default/6558042065579021330'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/2016/03/cerita-dongeng-sinbad-sang-pelaut.html' title='Cerita Dongeng Sinbad Sang Pelaut'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08946374405366963398</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgjHJr9I8CgceqeCUQ6axhhQ26frEQXJIkgA3n8vvYrwxKLDoSgWoAVEO8RfUzXJ4c9nW8OiWo_TAPvn9-L0A_dqAxWkotZBbi9pjhgklJ5JOXNF2g2q9f5G4jUP0UcopVE3AD5kUI0I2o/s72-c/cerita-dongeng-sinbad-sang-pelaut.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7547311571764217587.post-5699213182011534683</id><published>2016-03-10T16:56:00.000+08:00</published><updated>2016-03-10T16:56:52.142+08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Dongeng"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hiburan"/><title type='text'>Cerita Dongeng Putri Thumbelina</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Gerbang Cerita&lt;/b&gt; - Pada zaman dahulu kala, ada seorang wanita yang ingin memiliki seorang anak, tapi ia tidak tahu kemana untuk mendapatkannya. Maka, suatu hari ia pergi ke rumah seorang penyihir dan berkata “aku mendambakan anak kecil yang mungil. Dapatkah kau memberitahuku kemana aku mendapatkannya ?” oh, sekarang juga kita bisa memilikinya !” jawab si penyihir itu. “ini, ambillah barleycorn yang ditaburkan seorang petani di sawahnya atau untuk memberi makan ayam-ayam jantan dan betina. Taruhlah ia dalam pot bunga dan kemudian kau akan tahu apa yang akan terjadi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgLRY400Td43V44vD2StJWu8KQpV-3Zu7jI2o36RW6IhOeRqzG-WercMa1UU5qvLwz_M4iIYTEcMpY6G31sMgiZpRW9vz2LZn1K4t6cYTgCrQ4IIHOp8xXuPfQTisNPQyJv3tnnBeMrGPQ/s1600/cerita-dongeng-putri-thumbelina.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgLRY400Td43V44vD2StJWu8KQpV-3Zu7jI2o36RW6IhOeRqzG-WercMa1UU5qvLwz_M4iIYTEcMpY6G31sMgiZpRW9vz2LZn1K4t6cYTgCrQ4IIHOp8xXuPfQTisNPQyJv3tnnBeMrGPQ/s400/cerita-dongeng-putri-thumbelina.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;“oh terima kasih,” kata si wanita dan memberikan dua belas sen kepada si penyihir, karena sebanyak itulah harga barleycorn itu. kemudian ia pulang ke rumah dan menanamnya. Tak lama kemudian biji tersebut tumbuh sekuntum bunga tulip, tapi kelopak-kelopaknya tertutup rapat sekali seolah-olah ia masih kuncup saja.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;“betapa indahnya bunga ini!” seru wanita itu, dan ia mencium bau kelopak-kelopak yang berwarna merah dan kuning tersebut. Saat ia mencium kelopak-kelopak tersebut bunga itu terbuka. Ia benar-benar bunga tulip, jenis yang biasa kita lihat, tapi di tengah-tengah bunga itu, pada beludru, duduk seorang anak perempuan kecil mungil, yang lembut dan cantik. Besar tubuhnya tak lebih dari sebuah ibu jari, maka wanita tersebut dan suaminya menyebutnya Thumbelina.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Cangkang kenari yang dipelitur mengkilap berfungsi sebagai ayunan buat thumbelina, kelopak-kelopak biru bunga violet sebagai kasurnya dan sebuah kelopak mawar sebagai selimutnya. Disanalah ia tidur di malam hari, tapi di siang hari ia biasa bermain-main diatas meja. Di sini wanita tu menaruh sebuah mangkok, yang dikelilingi lingkaran bunga-bunga, tangkainya masuk dalam air, dimana mengambang sebuah kelopak tulip yang besar. Dikelopak inilah, Thumbelina duduk dan berlayar dari satu sisi mangkok ke sisi lainnya, mendayung dirinya sendiri dengan dua helai bulu kuda berwarna putih sebagai dayungnya. Sungguh pemandangan yang sangat menyenangkan ia juga menyanyi, dengan suaranya yang lebih lembut dan manis dari pada yang pernah terdengar sebelumnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Suatu malam ketika ia sedang berbaring di tempat tidurnya yang cantik, seekor kodok tua merangkak masuk lewat sebuah kaca jendela yang pecah. Ia kelihatan sangat jelek dan wagu, dan ia melompat ke atas meja di mana Thumbelina terbaring tidur di bawah selimut kelopak mawar merah. “ia akan menjadi seorang istri yang cantik bagi anakku,” kata si kodok. Setelah membawa cangkang kenari dengan Thumbelina di dalamnya, si kodok melompat keluar dengan membawa cangkang tersebut melalui jendela menuju kebun. Di sini mengalir sebuah sungai yang besar dan lebar, dengan tanggul-tanggul yang licin dan bersemak-semak, di mana si kodok hidup bersama anak laki-lakinya. Huh, betapa wagu dan jeleknya ia, persis seperti ibunya!&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;“Kroak, kroak, kroak!” itulah semua yang dapat ia katakan begitu melihat gadis kecil yang cantik tidur dalam cangkang kenari tersebut. “ jangan berbicara terlalu keras, itu bisa membangunkannya, “kata si kodok tua. “ia biasa meloloskan diri dari kita sekarang juga. Tubuhnya seringan bulu. Kita harus menempatkannya pada sebuah daun lidi yang luas di sungai itu. ia begitu kecil dan ringan sehingga daun itu akan seperti sebuah pulau baginya. Di sana ia tak akan bisa melarikan diri dari kita, sementara kita akan mempersiapkan ruang tamu di bawah semak-semak di mana ia akan tinggal.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Tumbuh di sungai itu banyak sekali bunga lili air dengan daun-daunnya yang luas dan berwarna&amp;nbsp; hijau yang kelihatan seolah-olah sedang mengambang diatas air. Daun yang paling jauh adalah daun yang terbesar, dan menujuk daun yang terbesar inilah si kodok berenang dengan Thunmbelina dalam cangkang kenarinya. Thumbelina yang mungil itu bangun saat awal di pagi hari, dan begitu melihat dimana ia berada ia mulai menangis keras sekali. Pada setiap tepi daun lili adalah air dan ia tidak dapat kembali ke darat. Si kodok tua ada di bawah semak-semak, sedang menghias kamarnya dengan berbagai kerucut dan kelopak-kelopak marigold berwarna kuning untuk membuatnya meriah bagi menantu perempuan barunya. Setelah selesai ia berenang keluar dengan anak laki-lakinya yang bertampang jelek menuju ke daun di mana Thumbelina berada. Ia ingin mengambil ayunan yang cantik ke kamar sebelum Thumbelina sendiri pergi ke sana. Si kodok tua membungkuk rendah dalam air di depannya, dan berkata,”inilah puteraku. Kau akan menikah dengannya kalian berdua akan hidup dalam kemewahan di bawah semak-semak itu.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;“kroak, kroak, kroak!” itulah semua yang dapat diucapkan anak kodok tersebut. Kemudian mereka mengambil dan membawa ayunan kecil yang rapi tersebut dan berenang pergi. Thumbelina duduk sendirian di atas daun hijau yang besar itu dan menangis, karena ia tak ingin hidup bersama si kodok atau menikah dengan anak laki-lakinya yang jelek itu. ikan-ikan kecil yang berenang-renang di bawah air telah melihat si kodok dengan sangat jelasnya dan mendengar apa yang ia katakan. Mereka menaikkan kepala mereka di atas air untuk melihat si Thumbelina dan berpendapat bahwa ia begitu cantik maka mereka merasa tak rela bila ia akan hidup bersama si kodok yang jelek itu. tidak, ini tidak boleh terjadi, itulah keputusan mereka. Maka mereka berkumpul dalam air di sekitar tangkai hijauu yang menopang daun dimana anak perempuan yang kecil mungil itu sedang duduk dan mengigit tangkai itu menjadi dua. Daun itu mengambang pergi mengikuti arus sungai, dengan membawa Thumbelina jauh hingga tak dapat di jangkau si kodok. Ia terus berlayar melewati beberapa negara, dan burung-burung yang duduk di semak-semak melihatnya dan menyanyi,”betapa cantiknya gadis itu!” daun itu terus mengambang pergi semakin jauh. Dengan demikian Thumbelina meninggalkan tanah kelahirannya sendiri.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Seekor kupu-kupu putih nan cantik berkedip-kedip di atasnya dan akhirnya hinggap pada daun itu. Thumbelina memepersilahkannya dan ia juga merasa senang. Sekarang si kodok tidak dapat menjangkaunya, dan segala sesuatu begitu indah ke mana saja ia berlayar. Matahari bersinar di atas air dan membuatnya berkilauan seperti perak yang paling cemerlang. Ia melepaskan pita pinangannya dan mengikatkan salah satu ujungnya pada tubuh si kupu-kupu, ujung lainnya ia ikatkan pada daun itu, sehingga si kupu-kupu meluncur bersama si Thumbelina lebih cepat dari pada sebelumnya. Segera setelah itu, seekor kumbang besar datang terbang melintas. Ia melihat Thumbelina dan dalam waktu singkat telah mencekeramkan kaki-kakinya di sekitar pinggangnya yang ramping dan terbang pergi bersamanya ke sebuah pohon. Si daun hijau terus mengambang pergi bersama dengan si kupu-kupu, karena Thumbelina telah mengikatnya pada daun itu dan tidak bisa melepaskan ikatan itu. betapa takutnya si Thumbelina ketika si kumbang terbang bersamanya ke pohon itu! dan khususnya ia sangat sedih mengingat si kupu-kupu putih nan indah itu karena ia telah mengikatnya pada daun itu. jika ia tidak bisa lepas ia bisa mati karena kelaparan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Tapi si kumbang tidak merasa harus memeperdulikan nasib si kupu-kupu. Ia duduk bersama Thumbelina pada sebuah daun besar berwarna hijau, memberinya madu yang berasal dari bunga-bunga untuk di makan dan mengatakan lepadanya bahwa ia sangat cantik, meskipun ia sama sekali tidak seperti seekor kumbang. Kemudian semua kumbang yang hidup di pohon yang sama datang berkunjung. Mereka meneliti Thumbelina dengan teliti, dan berkata,”mengapa, ia hanya memiliki dua buah kai! Betapa menjijikan!”ia tidak punya tanduk perasa!” teriak kumbang lainnya.&lt;br /&gt;“Betapa jeleknya ia” kata semua kumbang betina—meskipun sesungguhnya Thumbelina sangat cantik. Si kumbang yang telah mencurinya sangat tahu hali ini. Tapi ketika ia mendengar semua kumbang betina berkata bahwa Thumbelina jelek, ia juga mulai berpikir demikian dan memutuskan untuk tidak menahannya. Ia dapat pergi ke mana saja ia suka. Maka ia terbang turun bersamanya dan meletakkannya di atas sebuah bunga aster. Di sana ia duduk dan menangis, dengan mengira bahwa dirinya pasti bertampang jelek, karena si kumbang tidak melakukan apa-apa dengannya. Namun ia adalah makhluk paling cantik yang tak dapat dibayangkan, begitu lembut dan halus, seperti kelopak mawar yang paling indah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Selama musim panas penuh si Thumbelina yang malang hidup sendirian di hutan yang lebat. Ia menganyam sebuah tempat tidur bagi dirinya sendiri terbuat dari daun-daun rumput dan menggantungnya ke atas di bawah sebuah daun semanggi sehingga ia terlindung dari hujan. Ia mengumpulkan madu dari bunga-bunga untuk makan dan minum embun pada daun-daun setiap pagi. Demikianlah musim panas dan musim gugur berlalu. Tapi kemudian datanglah musim dingin. Musim dingin yang panjang dan sangat dingin. Semua burung yang menyanyi begitu merdu tentang dirinya telah terbang jauh. Daun-daun telah berguguran dari pohonnya, dan bunga-bunga mati semuanya. Daun semanggi yang besar di bawahnya ia tinggal telah melekuk dan tak ada yang tersisa kecuali tangkainya yang layu. Ia sangat kedinginan, karena pakaiannya telah rusak dan dirinya sendiri begitu kecil dan kurus. Si Thumbelina yang malang pasti akan mati membeku dengan segera. Salju mulai turun, dan setiap kepingan salju yang menimpa padanya seperti satu sekop penuh, karena ia hanya setinggi satu inci. Ia membungkus dirinya dengan sebuah daun kering, tapi karena daun itu robek tengahnya, ia tak merasa hangat sama sekali. Ia menggigil kedinginan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Sekarang, tepat diluar hutan di mana ia hidup terhampar sebidang sawah yang luas. Padinya telah dipanen lama sebelumnya. Yang tertinggal hanyalah tunggul jerami kering dan gundul yang berdiri di tanah yang beku. Ini menjadikan sebuah hutan baginya untuk berkeliaran di dalamnya. Tiba-tiba ia bertemu pintu seekor tikus sawah, yang mempunyai sebuah lubang kecil dibawah sebuah bukit kecil. Di sana si tikus hidup dengan hangat dan nyaman, dengan sebuah ruang gudang penuh dengan butir-butiran padi, sebuah dapur dan kamar makan yang mewah. Thumbelina kecil yang malang itu naik ke pintu itu dan memohon sepotong kecil gandum, karena ia sudah dua hari tidak makan sama sekali.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;“makhluk kecil yang malang!” kata si tikus sawah, karena ia seekor tikus tua yang baik hati. “masuklah kedalam kamarku yang hangat dan makan bersamaku.” Karena Thumbelina menyenangkan hatinya, ia berkata,”menurutku sebaiknya kau bisa tinggal disini selama musim dingin bersamaku. Kau harus menjaga kamarku tetap bersih dan rapi dan mengatakan kepadaku berbagai cerita, karena aku sangat menyukainya.” Dan Thumbelina melakukan semua yang diminta si tikus sawah dan juga mengerjakannya dengan sangat baik.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;“aku sedang mengharapkan seseorang yang akan berkunjung kesini malam ini,” kata si tikus sawah.”Tetanggaku datang menjengukku sekali seminggu. Ia berada dalam lingkungan-lingkungan yang lebih baik dari pada aku, memiliki kamar-kamar yang besar dan mengenakan jaket beludru hitam yang baik. Jika saja kau bisa menikah dengannya, kau akan hidup sejahtera, meskipun ia buta. Kau harus menceritakan kepada semua cerita yang terbagus yang kau ketahui.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Tapi Thumbelina tidak memusingkan kepalanya dan memikirkan tentangnya, karena ia hanyalah seekor tikus mondok. Ia datang berkunjung mengenakan jaket beludru hitamnya. “ia begitu kaya dan pandai,”kata si tikus sawah kepadanya.”rumahnya duapuluh kali lebih besar daripada rumahku. Ia mempunyai pengetahuan yang luas, tapi tidak tahan terhadap matahari dan bunga-bunga yang cantik dan selalu tidak suka membicarakan matahari dan bunga, karena ia belum pernah melihatnya.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Thumbelina harus menyanyi untuknya, maka ia menyanyi “burung betina, burung betina terbanglah pulang!” dan lagu-lagu lainnya dengan begitu merdu sehingga si tikus mondok jatuh cingta kepadanya. Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia adalah tikus yang sangat berhati-hati. Sesaat sebelumnya, ia telah menggali lorong panjang di bawah tanah dari rumahnya sendiri ke rumah tetangganya. Ia mengijinkan si tikus sawah dan Thumbelina untuk berjalan dalam lorong ini sesering mereka suka, tapi memohon mereka untuk tidak takut terhadap burung yang mati yang tergeletak di lorong tersebut. Ini adalah burung sungguhan dengan paruh dan bulu-bulu dan pasti telah mati waktu yang lama. Sekarang ia terkubur persis dimana si tikus mondok membuat lorongnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Satu hari si tikus mondok itu mengajak Thumbelina dan si tikus sawah memasuki lorong itu. ia mengambil sepotong kayu di mulutnya, karena kayu itu menyala dalam kegelapan, dan pergi di depan mereka, menerangi jalannya melalui lorong gelap yang panjang. Ketika mereka sampai ke tempat dimana tergeletak si Burung yang mati, si tikus mondok menempelkan hidungnya yang besar pada langit-langit dan mendorong sebuah lobang ke atas hingga tembus sehingga sinar matahari dapat masuk kedalam. Di tengah-tengah jalan itu tergeletak seekor burung layang-layang yang mati. Kedua sayapnya yang cantik dan kepalanya tertarik dibawah bulu-bulunya, si burung yang malang itu pasti telah mati karena kedinginan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Thumbelina sangat sedih, karena ia sangat senang dengan semua burung kecil. Burung-burung kecil itu menyanyi dan berkicau begitu indah baginya sepanjang musim panas. Tapi si tikus mondok menendang burung itu dengan kaki-kakinya yang bengkok dan berkata, “sekarang ia tak bisa nyanyi lagi! Pastimengenaskan menjadi seekor burung kecil! Aku sangat bersyukur bahwa anak-anakku tidak ada yang menjadi burung kecil. Burung-burung selalu kelaparan di musim dingin.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;“ya kau berbicara seperti orang yang bijaksana,” kata si tikus sawah.”apa yang dimiliki seekor burung, kecuali hanya bisa menyanyi, di waktu musim semi ? ia hanya bisa kelaparan dan membeku, dan harus katakan bahwa itu pasti sangat tak menyenangkan baginya!” Thumbelina tidak berkata apa-apa. Begitu kedua ekor tikus itu berlalu, ia membungkuk ke burung itu, merapikan bulu-bulunya dari kepala dan mencium kedua matanya yang tertutup dengan lembut. “mungkin ia bersi menyanyi untukku di musim panas,” katanya. “betapa senangnya ia menyanyi untukku, hai si burung kecil!” si tikus mondok menutup lobang yang bisa dilwati sinar dan kemudian mengantarkan kedua wanita itu pulang. Tapi Thumbelina tidak bisa tidur malam itu. ia bangun dari tempat tidur dan menenum selimut besar dari jerami dan membawanya pergi dan menutupkannya pada burung yang mati itu. ia menumpukkannya menghadap ke bawah selembut wool katun, yang ia temukan di kamar tikus sawah tersebut, sehingga si burung kecil yang malang tersebut harus terbaring terkubur dengan hangat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;“selamat jalan, burung kecil yang cantik!” katanya. “selamat berpisah, dan terima kasih karena lagu-lagumu yang merdu di musim panas, ketika pepohonan tumbuh hijau di matahari bersinar hangat pada tubuh kita!” kemudian ia meletakkan kepalanya pada dada burung itu. tapi si burung tidak mati. Ia telah beku, tapi sekarang ia telah menghangatkan tubuhnya, ia mulai hidup lagi. Pada musim gugur burung-burung layang-layang terbang pergi ke daratan-daratan asing. Tapi ada sebagian dari mereka yang terlambat berangkat dan kemudian menjadi kedinginan sehingga mereka jatuh seolah-olah mereka mati, dan salju turun dan menutupi mereka. Thumbelina mengigil, ia begitu takut. Burung itu sangat besar baginya, karena tubuhnya sendiri hanya setinggi satu inci. Tapi ia memberanikan diri, menumpuk bulu burung lebih dekat di sekitar si burung layang-layang yang malang itu. mengambil selimut kecilnya sendiri dan meletakkannya di atas kepalanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Malam berikutnya ia merangkak keluar ke tempat burung itu. disana ia berada, hidup tapi sangat lemah. Ia hanya bisa membuka kedua matanya selama sesaat dan memandang Thumbelina, yang sedang berdiri di depannya dengan sepotong kayu kawul di tangannya, karena ia tidak punya obor lainnya. “terima kasih anak kecil yang manis!” kata si burung layang-layang kepadanya.” Aku benar-benar merasa&amp;nbsp; hangat. Aku akan segera kuat lagi dan akan bisa terbang keluar sekali lagi ke dalam sinar matahari yang hangat.” Oh katanya, di luar masih sangat dingin. Sekarang sedang bersalju dan membeku!” tetaplah di ranjangmu yang hangat. Aku akan merawatmu!” kemudian ia membawakan air&amp;nbsp; dalam sebuah kelopak bunga untuknnya, yang ia minum. Burung layang-layang itu mengatakan kepadanya bagaimana salah satu sayapnya telah patah karena sebuah bramble sehingga ia tidak dapat terbang bersama-sama dengan burung-burung layang-layang lainnya, yang telah terbang jauh ke daratan-daratan yang lebih hangat. Akhirnya ia jatuh karena kelelahan dan kemudian ia tidak ingat apa-apa lagi. Selama musim dingin itu oa tetap berada di bawah sana, dan Thumbelina merawatnya dan mengobatinya dengan telaten. Ia tidak mengatakan apa-apa tentang hal ini kepada si tikus sawah maupun si tikus mondok, karena mereka tidak senang dengan burung layang-layang yang malang itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Begitu musim semi tiba, matahari menghangatkan bumi lagi, si burung layang-layang itu mengucapkan salam perppisahan kepada Thumbelina, yang membuka lobang baginya di atas yang telah dibuat oleh si tikus mondok. Matahari bersinar dengan terangnya ke atas dirinya, dan si burung layang-layang bertanya kepada Thumbelina apakah ia mau pergi dengannya. “tidak, aku tak boleh pergi!” kata Thumbelina.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;“selamat jalan, gadis kecil yang baik hati,” kata si burung layang-layang, dan terbang pergi menerobos sinar matahari. Thumbelina memandangnya dengan berlinangan air mata, karena ia sangat senang dengan si burung layang-layang. “twet, twet!” burung itu menyanyi, dan terbang ke dalam hutan yang hijau. Thumbelina sangat sedih. Ia tak diijinkan keluar menikmati hangatnya sinar matahari. Biji-bijian yang disebar di sawah di atas rumah si tikus sawah telah tumbuh tinggi di udara dan membuat hutan yang lebat bagi gadis kecil yang malang itu, yang hanya setinggi satu inci.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;“kau akan segera menjadi pengantin, Thumbelina,” kata si tikus sawah suatu hari”karena tetangga kita mengatakan bahwa ia ingin menikahimu. Betapa mujurnya seuorang gadis kecil yang malang sepertimu! Sekarang kau harus mulai bekerja membuat membuat pakaian pengantinmu sendiri, karena tak ada yang boleh kurang jika kau harus menjadi isteri tetanggaku, si tikus mondok itu!” Thumbelina harus menjahit sepanjang hari, dan setiap petang si tikus mondook mengunjunginya dan mengatakan kepadanya bahwa bila musim panas usai matahari tak akan bersinar begitu panas. Sekarang ia membakar bumi sekeras sebuah batu. Nah, musim panas telah lewat, mereka akan mengadakan pernikahan. Tapi ia sama sekali tidak merasa bahagia dengan pernikahan ini, karena ia tidak senang terhadap si tikus mondok yang pandir itu. setiap pagi begitu matahari terbit, dan setiap petang bila matahari terbenam, ia mencuri-curi untuk keluar dari pintu rumah, dan bila angin sepoi-sepoi memisahkan tunggak-tunggak jerami sehingga ia dapat melihat langit yang ceraj lewat tunggak-tunggak tersebut, ia berpikir betapa terang dan cerahnya keadaan diluar dan sangat ingin melihat burung layang-layangnya yang ia sayang lagi. Tapi ia tak pernah datang. Pasti ia telah terbang jauh kedalam hutan hijau yang lebat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Menjelang musim gugur Thumbelina telah merampungkan seluruh pakaian pengantinnya.”dalam empat minggu kau akan menikah,”kata si tikus sawah, tapi Thumbelina mengis dan menyatkan bahwa ia tidak akan menikah dengan si tikus mondok yang jelek rupa itu jangan keras kepala, atau aku akan mengigitmu dengan gigiku yang putih dan tajam ini! Kau akan memperoleh seorang suami yang baik. Raja sendiri tidak memiliki jaket beludru semacam ini. Kamar gudang dan gudang bawah tanah penuh, dan kau akan senang karenanya.”tibalah hari pernikahan itu. si tikus mondok telah datang menjemput Thumbelina untuk hidup bersamanya dalam di bawah tanah, tidak pernah keluar kesinar matahari yang hangat lagi, karena keluar menikmati matahari yang hangat adalah apa yang tidak disukai oleh tikus mondok. Gadis kecil yang malang itu sangat sedih, karena sekarang ia harus mengucapkan selamat berpisah dengan matahari yang indah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;“selamat tinggal, matahari yang cemerlang!” katanya sambil menagis, dengan merentangkan kedua tangannya kepadanya dan melangkah lagi keluar rumah. Sekarang padi itu telah di panen dan hanya tinggal tunggak yang masih berdiri.”selamat berpisah, selamat berpisah!” katany, dan memelukkan kedua tangannya kepada bunga merah yang tumbuh disana.”sampaikan salam sayangku pada si burung layang-layang bila kau melihatnya!”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;“twet, twet!” seketika itu juga terdengar suara si burung layang-layang di telinganya. Itu si burung layang-layang terbang melintas! Ia merasa ssangat senang begitu melihat Thumbelina ia mengatakan kepadanya bahwa ia harus hidup menikah dengan tikus mondok yang jelek, karena ia harus hidup dibawah tanah dimana tidak pernah ada sinar matahari, dan selagi ia mengatakan kesedihannya ia tak kuasa menahan tangisannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;“sekarang musim dingin yang dingin sudah mulai tiba,” kata si burung layang-layang”aku harus terbang jauh ke daratan-daratan yang lebih hangat. Maukah kau pergi denganku ? kau bisa duduk di punggungku, dan kita akan terbang jauh dari si tikus mondok yang jelek itu dan rumahnya yang gelap, ke atas gunung-gunung ke negara-negara yang hangat. Di sana sinar matahari lebih terang dari pada disini. Disana selalu ada musim panas dan bunga-bunga yang indah selalu mekar. Ikutlah aku, Thumbelina kecil sayang, yang telah menyelamatkan jiwaku ketika aku terbujur beku di terowongan yang gelap itu!”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;“ya, aku akan pergi bersamamu,”kata si Thumbelina dan memanjat ke punggung si burung layang-layang, dengan kaki-kakinya pada salah satu sayapnya yang terkembang tinggi di atas udara ia terbang, di atas hutan-hutan, dan laut-laut, di atas gunung-gunung yang tinggi yang selalu tertutup dengan salju. Ketika ia merasa dingin ia merangkak di bawah bulu-bulunya yang hangat, hanya menampakkan sedikit kepalanya untuk mengagumi semua benda yang indah di dunia di bawahnya. Akhirnya mereka sampai pada daratan-daratan yang hangat. Disana matahari lebih terang, langit kelihatan tinggi dua kali lipat, dan di pagar-pagar tanaman menggantung buah-buaha anggur hijau dan ungu yang paling enak. Di kebun buah-buahan tumbuh jeruk dan lemon. Udaranya wangi dengan bau myrtle dan mint dan anak-anak kecil yang manis-manis berlari-lari dan bermain di jalan-jalan dengan kupu-kupu besar yang indah. Tapi si burung layang-layang terus terbang lebih jauh, dan negara itu semakin indah. Di bawah pohon-pohonan hijau yang paling rindang di sisi sebuah danau nan biru berdiri sebuah benteng marmer putih yang berkilau-kilauan. Tanam-tanaman anggur merambat dari pilar-pilar dan di bagian atasnya terdapat banyak sarang burung layang-layang. Di salah satu sarang inilah tinggal si burung layang-layang yang sedang membawa Thumbelina.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;“inilah rumahku!” katanya. “tapi ini tidak cocok denganmu untuk tinggal bersamaku. Aku tidak cukup rapi untuk membuatmu senang. Carilah sebuah rumah untuk dirimu sendiri dalam salah satu bunga yang paling indah yang tumbuh di bawah sana. Sekarang aku akan menurunkanmu dan kau bisa melakukan apa saja yang kau suka.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;“itu akan baik sekali!” katanya, sambil bertepuk tangan. Di sana tergeletak sebuah tiang marmer putih besar yang telah jatuh ke tanah dan pecah menjadi tiga potong, tapi antara potongan-potongan ini tumbuh bunga-bunga putih yang paling indah. Si burung layang-layang terbang turun bersama Thumbelina dan menurunkannya di atas salah satu daun yang lebar. Di sana, herannya, ia menemukan seorang laki-laki kecil mungil yang duduk di tengah-tengah bunga itu, seputih dan sebening seolaholah ia terbuat dari kaca. Ia mengenakan mahkota keemasan yang paling indah di kepalanya dan sayap-sayap paling indah pada kedua bahunya. Ia sendiri tidak lebih besar dari pada Thumbelina. Ia adalah the spirit of flowers. Dalam masing-masing kuntum hidup seorang pria atau wanita yang mungil. Tapi ia adalah rajanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;“betapa tampannya ia!” bisik Thumbelina&amp;nbsp; kepada si burung layang-layang. Si raja kecil sangat ketakutan dengan si burung layang-layang, karena b ila dibandingkan dengan tubuhnya yang hanya sekecil itu burung layang-layang itu bagaikan seorang raksasa. Tapi begitu melihat Thumbelina, ia sangat senang karena ia adalah seorang gadis yang tercantik yang pernah ia lihat. Ia melepaskan mahkotanya dari kepalanya dan mengenakannya di kepala Thumbelina, sambil bertanya kepadanya apakah ia mau menjadi isterinya, dan ia akan menjadi ratu semua bunga. Memang, ia adalah seorang suami yang berbeda dari anak laki-laki si kodok dan si tikus mondok dengan jaket beludru hitamnya. Maka ia menjawab “Ya” kepada si raja itu dan dari masing-masing bunga keluarlah seorang wanita atau seorang pria, begitu mungil dan manis yang merupakan kesenangan tersendiri untuk melihat mereka. Setiap orang membawa hadiah buat Thumbelina, tapi yang paling indah dari hadiah-hadiah itu adalah sepasang sayap yang indah yang mereka pasang pada punggungnya, dan sekarang ia juga dapat terbang dari satu bunga ke bunga lainnya. Mereka mengharapkan ia bahagia, dan si burung layang-layang duduk di atas sarangnya dan menyanyikan mars pernikahan sebaik mungkin. Tapi ia merasa sedih, karena ia sangat senang dengan Thumbelina dan ia tidak ingin berpisah dengannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;“kau tak akan di panggil Thumbelina!” kata the spirit of the flowers.”itu nama yang jelek, dan kau jauh lebih cantik. Kami akan memanggilmu May Blossom.”selamat berpisah, selamat berpisah!” kata si burung layang-layang kecil dengan hati yang berat, dan ia terbang pergi ke daratan-daratan yang lebih jauh, jauh, jauh sekali, ke negara Denmark. Di sana ia mempunyai sebuah sarang kecil di atas jendela seseorang yang menceritakan cerita-cerita peri yang manis semacam ini.”Twet, Twet!” ia menyanyi kepada orang itu. dan itulah cara kita belajar keseluruhan cerita itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Baca Juga : &lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2016/03/cerita-dongeng-putri-yang-sempurna.html&quot;&gt;Cerita Dongeng Putri yang Sempurna &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Baca Juga : &lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2016/03/cerita-dongeng-gadis-penjual-korek-api.html&quot;&gt;Cerita Dongeng Gadis Penjual Korek Api&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;Referensi Saya : Search Google&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/feeds/5699213182011534683/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/2016/03/cerita-dongeng-putri-thumbelina.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default/5699213182011534683'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default/5699213182011534683'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/2016/03/cerita-dongeng-putri-thumbelina.html' title='Cerita Dongeng Putri Thumbelina'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08946374405366963398</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgLRY400Td43V44vD2StJWu8KQpV-3Zu7jI2o36RW6IhOeRqzG-WercMa1UU5qvLwz_M4iIYTEcMpY6G31sMgiZpRW9vz2LZn1K4t6cYTgCrQ4IIHOp8xXuPfQTisNPQyJv3tnnBeMrGPQ/s72-c/cerita-dongeng-putri-thumbelina.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7547311571764217587.post-8563240162012656468</id><published>2016-03-02T12:53:00.000+08:00</published><updated>2016-03-02T12:53:58.240+08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Dongeng"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hiburan"/><title type='text'>Cerita Dongeng Putri yang Sempurna</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Gerbang Cerita&lt;/b&gt; - Dahulu kala, ada seorang&amp;nbsp; Pangeran yang menginginkan seorang Putri Raja, tetapi Putri tersebut haruslah sempurna. Dia kemudian melakukan perjalanan mengelilingi dunia hanya untuk mencari Putri tersebut, tetapi di aselalu menemukan bahwa ada sesuatu yang&amp;nbsp; tidak sempurna pada setiap Putri Raja yang di temuinya. Dia menemuka banyak Putri Raja, tapi tak ada yang benar-benar dianggap sempurna oleh Pangeran tersebut. Dengan putus asa akhirnya dia pulang kembali ke istananya dan merasa sangat sedih karena tidak menemukan apa yang dicarinya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjqkjwmXhpDa_N-HJGiKDl9LFunhPD43nzAOkKNymnpBFFRnyprTIHfTtkiJwriO1yhys1EMnuGU98waAcaSNFChTj2yUnPoVQ1vDT1VGb8HMEL5Z1Zn8YHBnyL9yxSKlb5fZajEfE6-Dc/s1600/cerita-dongeng-putri-yang-sempurna.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjqkjwmXhpDa_N-HJGiKDl9LFunhPD43nzAOkKNymnpBFFRnyprTIHfTtkiJwriO1yhys1EMnuGU98waAcaSNFChTj2yUnPoVQ1vDT1VGb8HMEL5Z1Zn8YHBnyL9yxSKlb5fZajEfE6-Dc/s400/cerita-dongeng-putri-yang-sempurna.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Suatu malam, terjadi hujan badai yang sangat keras, dimana kilat dan guntur beserta hujan turun dengar deras sekali. Malam itu sungguh menakutkan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Di tengah-tengah badai tiba-tiba seseorang mengetuk pintu istana, dan ayah Pangeran yang menjadi Raja waktu itu, sendiri keluar membuka pintu untuk tamu tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Seorang Putri yang sangat cantik beridir diluar pintu, kedinginan dan basah kuyup karena badai pada malam itu. Air mengalir dari rambut dan pakaiannya yang masih basah, mengalir turun ke kaki dan sepatunya. Putri tersebut mengaku bahwa dia adalah Putri yang sempurna.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;”kita akan segera mengetahui apakah yang dikatakan oleh putri tersbut benar atau tidak,” pikir sang Ratu, tetapi dia tidak berkata apa-apa. Dia masuk ke dalam kamar tidur, mengeluarkan seprei yang mengalas tempat tidur yang akan dipakai oleh sang Putri dan menaruh sebutir kacang polong di atas tempat tidur itu. kemudian dia mengambil dua puluh kasur dan meletakkannya di atas sebutir kacang tersebut. Malam itu sang Putri pun tidur di atas ranjang tersebut. Di pagi hari, mereka menanyakan apakah sang Putri tidur dengan nyenyak malam itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;“oh saya sangat susah tidur!” kata sang Putri,”saya sangat sulit untuk memejamkan mata sepanjang malam! Saya tidak tahu apa yang ada pada ranjang itu, saya merasa berbaring di atas sesuatu yang kasar, dan seluruh tubuh saya pegal-pegal dan memar di pagi ini, sungguh menakutkan!”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Raja dan Ratu langsung tahu bahawa sang Putri ini pastilah Putri yang benar-benar sempurna, karena hanya Putri yang sempurna dapat merasakan sebutir kacang yang di tempatkan di bawah dua puluh kasur dan dilapisi dengan dua puluh selimut. Hanya Putri yang benar-benar sempurna mempunyai kulit yang begitu halus.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Pangeran kemudian mengambilnya sebagi istri, dan sekarang dia telah menemukan seorang Putri yang selama ini dicarinya dan diidam-idamkannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Demikian cerita dongeng Putri yang sempurna, semoga dapat menghibur Anda semua di mana pun Anda berada.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Baca Juga : &lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2016/03/cerita-dongeng-gadis-penjual-korek-api.html&quot;&gt;Cerita Dongeng Gadis Penjual Korek Api&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Baca Juga : &lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2016/03/cerita-dongeng-putri-melati-wangi.html&quot;&gt;Cerita Dongeng Putri Melati Wangi&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;Referensi Saya : Search Google&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/feeds/8563240162012656468/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/2016/03/cerita-dongeng-putri-yang-sempurna.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default/8563240162012656468'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default/8563240162012656468'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/2016/03/cerita-dongeng-putri-yang-sempurna.html' title='Cerita Dongeng Putri yang Sempurna'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08946374405366963398</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjqkjwmXhpDa_N-HJGiKDl9LFunhPD43nzAOkKNymnpBFFRnyprTIHfTtkiJwriO1yhys1EMnuGU98waAcaSNFChTj2yUnPoVQ1vDT1VGb8HMEL5Z1Zn8YHBnyL9yxSKlb5fZajEfE6-Dc/s72-c/cerita-dongeng-putri-yang-sempurna.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7547311571764217587.post-1925695269093963809</id><published>2016-03-02T12:37:00.000+08:00</published><updated>2016-03-02T12:37:31.862+08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Dongeng"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hiburan"/><title type='text'>Cerita Dongeng Gadis Penjual Korek Api</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Gerbang Cerita&lt;/b&gt; - Di malam natal, orang-orang berjalan dengan wajah yang gembira memenuhi jalan di kota. Di jalan itu ada seorang gadis kecil mengenakan pakaian compang-camping sedang menjual korek api.”mau beli korek api?”ibu, belilah korek api ini.”aku tidak butuh korek api sebab di rumah ada banyak.”tidak ada seorang pun yang membeli korek api gadis itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj-Ro5Y3DMLIaSgcnwTI8OpoSATAaQMbo25-HrkMRHZ-_3PmGzv3zJMH7Vv8mifw2uG4Pr1qYJ5sGpzLdIcsfFzhP9VJhthewb58B22bTWveham0BbRh4EA-0erMmzYyMFnO8mUVKYfWU0/s1600/cerita-dongeng-gadis-penjual-korek-api.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj-Ro5Y3DMLIaSgcnwTI8OpoSATAaQMbo25-HrkMRHZ-_3PmGzv3zJMH7Vv8mifw2uG4Pr1qYJ5sGpzLdIcsfFzhP9VJhthewb58B22bTWveham0BbRh4EA-0erMmzYyMFnO8mUVKYfWU0/s400/cerita-dongeng-gadis-penjual-korek-api.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tetapi, kalau ia pulang tanpa membawa uang hasil penjualan korek api, akan di pukuli oleh ayahnya. Ketika akan menyeberangi jalan. Grek ! grek! Tiba-tiba sebuah kereta kuda berlari dengan kencangnya.”hyaaaa! awaaaaaaas!” gadis itu melompat karena terkejut. Pada saat itu sepatu yang dipakainya terlepas dan terlempar entah kemana. Sedangkan sepatu sebelahnya jatuh di seberang jalan. Ketika gadis itu bermaksud pergi untuk memungutnya, seorang anak laki-laki memungut sepatu itu lalu melarikan diri.”wah, aku menemukan barang yang bagus.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Akhirnya gadis itu bertelanjang kaki. Di sekitarnya, korek api jatuh berserakan. Sudah tidak bisa dijual lagi. Kalau pulang ke rumah begini saja, ia tidak dapat membayangkan bagaimana hukuman yang akan di terima dari ayahnya. Apa boleh buat, gadis itu membawa korek api yang tersisa, lalu berjalan dengan sangat lelahnya. Terlihatlah sinar yang terang dari jendela sebuah rumah. Ketika gadis itu pergi mendekatinya, terdengar suara tawa gembira dari dalam rumah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Di rumah, yang dihangatkan oleh api perapian, dan penghuninya terlihat sedang menikmati hidangan natal yang lezat. Gadis itu meneteskan air mata.”ketika ibu masih hidup, di rumahku juga merayakan natal seperti ini.” Dari jendela terlihat pohon natal berkelip-kelip dan anak-anak yang gembira menerima banyak hadiah. Akhirnya cahaya di sekitar jendela hilang, dan di sekelilingnya menjadi sunyi. Salju yang dingin terus turun. Sambil mengigil kedinginan, gadis itu duduk tertimpa curahan salju. Perut terasa lapar dan sudah tidak bisa bergerak. Gadis yang kedinginan itu, menghembus-hembuskan nafasnya ke tangan. Tetapi, sedikit pun tak menghangatkannya.”kalau aku menyalakan korek api ini, mungkin akan terasa hangat.” Kemudian gadis itu menyalakan sebatang korek api dengan menggoreskannya di dinding.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Crrrs.. lalu dari dalam nyala api muncul sebuah penghangat.” Oh hangatnya.” Gadis itu mengangkat tangannya ke arah tungku pemanas. Pada saat api itu padam tungku pemanaspun menghilang. Gadis itu menyalakan batang korek api yang kedua. Kali ini dari dalam nyala api muncul aneka macam hidangan. Di depan matanya, berdiri sebuah meja yang penuh dengan makanan hangat.” Wow! Kellihatannya enak.” Kemudian seekor angsa panggang melayang menghampirinya. Tetapi. Ketika ia berusaha menjangkau, apinya padam dan hidangan itu menghilang. Gadis itu segera mengambil korek apinya, lalu menyalakan lagi, Crrrrssss.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Tiba-tiba gadis itu sudah berada di bawah sebuah pohon natal yang besar. “wow! Lebih indah dari pada pohon natal yang terlihat dari jendela tadi.” Pada pohon natal yang terlihat dari jendela tadi.” Pada pohon natal itu terdapat banyak lilin yang bersinar.” Wah! Indah sekali!” gadis itu tanpa sadar menjulurkan tangannya lalu korek api bergoyang tertiup angin. Tetapi, cahaya lilin itu naik ke langit dan semakin redup. Lalu berubah menjadi bintang yang sangat banyak. Salah satu bintang itu dengan cepat menjadi bintang beralih.” Wah, malam ini ada seseorang yang mati dan pergi ke tempat Tuhan, ya..... waktu nenek masih hidup, aku diberitahu olehnya.” Sambil menatap ke arah langit, gadis itu teringat kepada neneknya yang baik hati. Kemudian gadis itu menyalakan&amp;nbsp; sebatang lilin lagi. Lalu di dalam cahaya api muncul wujud nenek yang dirindukannya. Sambil tersenyum, nenek menjulurkan tangannya ke arah gadis itu. “nenek!” serasa mimpi gadis itu melompat ke dalam pelukan nenek. “oh, nenek, sudah lama aku ingin bertemu,” gadis itu menceritakan peristiwa yang di alaminya, di dalam pelukan nenek yang di sayanginya.”kenapa nenek pergi meninggalkanku seorang gdiri ? jangan pergi lagi. Bawalah aku pergi ke tempat nenek.” Pada saat itu korek api yang dibakar anak itu padam.”ah, kalau apinya mati, nenekpun akan pergi juga. Seperti tungku pemanas dan makanan tadi...”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Gadis itu segera mengumpulkan korek api yang tersisa, lalu menggosokkan semuanya. Gulungan korek api itu terbakar, dan menyinari sekitarnya seperti siang hati. Nenek memeluk gadis itu dengan erat. Dengan diselimuti cahaya, nenek dan gadis itu pergi naik ek langit dengan&amp;nbsp; perlahan-lahan.” Nenek, kita mau pergi kemana ?” ke tempat tuhan berada.” Keduanya semakin lama semakin tinggi ke arah langit. Nenek berkata dengan lembut kepada gadis itu,”kalau sampai di surga, ibumu yang menunggu dan menyiapkan makanan yang enak untuk kita.” Gadis itu tertawa senang. Pagi harinya. Orang-orang yang lewat di jalan menemukan gadis penjual korek api tertelungkup di dalam salju.” Gawat! Gadis kecil ini jatuh pingsan di tempat seperti ini.” Cepat panggil dokter!”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Orang-orang yang berkumpul di sekitarnya semuanya menyesalkan kematian gadis itu. ibu yang menolak membeli korek api pada malam kemarin menangis dengan keras dan berkata,”kasihan kamu, nak. Kalau tidak ada tempat untuk pulang, sebaiknya kumasukkan ke dalam rumah.” Orang-orang&amp;nbsp; kota mengadakan upacara pemakaman gadis itu di gereja, dan berdoa kepada tuhan agar mereka berbuat ramah meskipun pada orang miskin.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Demikian cerita dongeng tentang gadis penjual korek api, semoga dapat bermanfaat juga dapat menghibur Anda semua.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Baca Juga : &lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2016/03/cerita-dongeng-putri-melati-wangi.html&quot;&gt;Cerita Dongeng Putri Melati Wangi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Baca Juga : &lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2016/03/cerita-dongeng-si-putri-bulan.html&quot;&gt;Cerita Dongeng Si Putri Bulan&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Referensi Saya : Serach Google&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/feeds/1925695269093963809/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/2016/03/cerita-dongeng-gadis-penjual-korek-api.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default/1925695269093963809'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default/1925695269093963809'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/2016/03/cerita-dongeng-gadis-penjual-korek-api.html' title='Cerita Dongeng Gadis Penjual Korek Api'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08946374405366963398</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj-Ro5Y3DMLIaSgcnwTI8OpoSATAaQMbo25-HrkMRHZ-_3PmGzv3zJMH7Vv8mifw2uG4Pr1qYJ5sGpzLdIcsfFzhP9VJhthewb58B22bTWveham0BbRh4EA-0erMmzYyMFnO8mUVKYfWU0/s72-c/cerita-dongeng-gadis-penjual-korek-api.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7547311571764217587.post-5873667954804241125</id><published>2016-03-01T13:16:00.000+08:00</published><updated>2016-03-01T13:16:02.469+08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Rakyat"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Dongeng"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hiburan"/><title type='text'>Cerita Dongeng Putri Melati Wangi</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Gerbang Cerita&lt;/b&gt; - Di sebuah kerajaan, ada seorang putri yang bernama melati wangi. Ia seorang putri yang cantik dan pandai. Di rumahnya ia selalu menyanyi. Tetapi sayangnya ia seorang yang sombong dan suka menganggap rendah orang lain. Di rumahnya ia tidak pernah mau jika disuruh menyapu oleh ibunya. Selain itu ia juga tidak mau jika disuruh belajar memasak.” Tidak, aku tidak mau menyapu dan memasak nanti tanganku kasar dan aku jadi kotor,” kata putri melati wangi setiap kali disuruh menyapu dan memasak.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhH050d4s-IBn4ymfmqKfAMjfocv4FwfiOc7GegmpSa1MeonD_-s5d3q-3iKeL0Y-tbOEnYc4b_eFwNtO3NbYYcm2pZlwdJacFn-TWwoQ4YjXy9mta8syWbfhrTl6FQrlujzBQ0JD3scsc/s1600/cerita-dongeng-putri-melati-wangi.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhH050d4s-IBn4ymfmqKfAMjfocv4FwfiOc7GegmpSa1MeonD_-s5d3q-3iKeL0Y-tbOEnYc4b_eFwNtO3NbYYcm2pZlwdJacFn-TWwoQ4YjXy9mta8syWbfhrTl6FQrlujzBQ0JD3scsc/s400/cerita-dongeng-putri-melati-wangi.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sejak kecil putri melati wangi sudah dijodohkan dengan seorang pangeran yang bernama tanduk rusa. Pangeran tanduk rusa adalah seorang pangeran yang tampak dan gagah. Ia selalu berburu rusa dan binatang lainnya tiap satu bula di hutan. Karena itu ia di panggil tanduk rusa.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Suatu hari, putri melati wangi berjalan-jalan di taman. Ia melihat seekor kupu-kupu yang cantik sekali warnanya. Ia ingin menangkap kupu-kupu itu tetapi kupu-kupu itu segera terbang. Putri melati wangi terus mengejarnya sampai ia tidak sadar sudah masuk ke hutan. Sesampainya di hutan, melati wangi tersesat. Ia tidak tahu jalan pulang dan haripun mulai gelap.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Akhirnya setelah terus berjalan, ia menemukan sebuah gubuk yang biasa digunakan para pemburu untuk beristirahat. Akhirnya melati wangi tinggal digubuk tersebut. Karena tidak ad makanan putri melati wangi terpaksa memakan buah-buahan yang ada di hutan itu. bajunya yang semula bagus, kini menjadi robek dan compang-camping akibat tersangkut duri dan ranting pohon. Kulitnya yang dulu putih dan mulus kini menjadi hitam dan tergores-gores karena terkena sinar matahari dan duri.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Setelah sebulan berada di hutan, ia melihat pangeran tanduk rusa datang sambil memanggul seekor rusa buruannya.’’hai tanduk rusa, aku melati wangi, tolong antarkan aku pulang,”kata melati wangi.”Siapa? melati wangi? Melati wangi seorang putri yang cantik dan bersih, sedang engkau mirip seorang pengemis.”kata pangeran tanduk rusa. Ia tidak mengenali lagi melati wangi. Karena melati wangi terus memohon, akhirnya pangeran tanduk rusa berkata,”baiklah, aku akan membawamu ke kerajaanku.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Setelah sampai di kerajaan pangeran tanduk rusa. Melati wangi di suruh mencuci, menyapu dan memasak. Ia juga di berikan kamar yang kecil dan gelap.”mengapa nasibku menjadi begini?”, keluh melati wangi. Setelah satu tahun berlalu, putri melati wangi bertekad untuk pulang. Ia merasa uang tabungan yang ia kumpulkan dari hasil kerjanya sudah mencukupi. Sesampainya di rumahnya, putri melati wangi disambut gembira oleh keluarganya yang mengira putri melati wangi sudah meninggal dunia.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Sejak itu putri melati wangi menjadi seorang putri yang rajin. Ia merasa mendapatkan pelajaran yang sangat berharga selama berada di hutan dan kerajaan pangeran tanduk rusa. Akhirnya setahun kemudian putri melati wangi dinikahkan dengan pangeran tanduk rusa. Setelah menikah, putri melati wangi dan pangeran tanduk rusa hidup berbahagia sampai hari tuanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Demikian cerita dongeng tentang Putri Melati Wangi, semoga dapat bermanfaat dan dapat menghibur Anda semua.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Baca Juga : &lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2016/03/cerita-dongeng-si-putri-bulan.html&quot;&gt;Cerita Dongeng Si Putri Bulan&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Baca Juga : &lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2016/03/si-peri-yang-jahat.html&quot;&gt;Si Peri yang Jahat&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;Referensi Saya : Search Google&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/feeds/5873667954804241125/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/2016/03/cerita-dongeng-putri-melati-wangi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default/5873667954804241125'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default/5873667954804241125'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/2016/03/cerita-dongeng-putri-melati-wangi.html' title='Cerita Dongeng Putri Melati Wangi'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08946374405366963398</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhH050d4s-IBn4ymfmqKfAMjfocv4FwfiOc7GegmpSa1MeonD_-s5d3q-3iKeL0Y-tbOEnYc4b_eFwNtO3NbYYcm2pZlwdJacFn-TWwoQ4YjXy9mta8syWbfhrTl6FQrlujzBQ0JD3scsc/s72-c/cerita-dongeng-putri-melati-wangi.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7547311571764217587.post-6943301358577821211</id><published>2016-03-01T12:57:00.000+08:00</published><updated>2016-03-01T12:57:48.942+08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Dongeng"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hiburan"/><title type='text'>Cerita Dongeng Si Putri Bulan</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Gerbang Cerita &lt;/b&gt;- Suatu hari salah satu teman Hou I menceritakan tentang “pil abadi” Hou I langsung mengirim utusannya untuk mendapatkan pil tersebut untuknya dari ratu barat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhDXP5iiHPozCMmSNB6Yz_RGyjoqDPVnJINthmppKrsjN3Ln8g5edMptejIJjt00rnpaEFbtBE1-jIzSSKiAaXOvWNFreoqGer-2haIAjEsBz7_odnw-xPC2MBAELf0Q8cOJQQ2XpZyreY/s1600/cerita-dongeng-si-putri-bulan.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhDXP5iiHPozCMmSNB6Yz_RGyjoqDPVnJINthmppKrsjN3Ln8g5edMptejIJjt00rnpaEFbtBE1-jIzSSKiAaXOvWNFreoqGer-2haIAjEsBz7_odnw-xPC2MBAELf0Q8cOJQQ2XpZyreY/s400/cerita-dongeng-si-putri-bulan.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sang ratu tinggal sendirian di atas sebuah gunung yang tinggi. dia sangat jelek, giginya panjang dan tajam seperti harimau, dia juga memiliki sembilan buah ekor. Dia menghabiskan waktu membuat obat dari rumput, daun dan bunga. Pada awalnya, dia tidak ingin memberikan pil itu pada hamba Hou I. Ketika ia mengatakan siapa tuannya itu, ia menjadi takut. Dia cepat menyerahkan pil tersebut kepadanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;“katakan pada majikanmu bahwa pil ini sangat kuat?” katanya.” Dia tidak boleh memakannya pada saat bulan purnama. Jika dia melakukannya, dia akan terbang langsung ke bulan.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Hou I sangat senang mendapatkan pil tersebut. Istrinya menyimpannya di sebuah lemari di kamarnya. Suatu mala, saat dia menatap bulan purnama, ia tiba-tiba memutuskan untuk memakan pil tersebut. Tubuhnya terasa menjadi ringan dan injakannya meninggalkan tanah. Dia mulai mengambang di langit menuju bulan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Ketika suaminya melihat kejadian tersebut, ia mencoba untuk menjatuhkannya dengan busur dan anak panah. Tapi dia sudah terlalu tinggi. dalam waktu singkat, dia mendarat di bulan. Dia merasa sangat dingin dan kesepian. Dia pun memikirkan suaminya setiap hari dan ingin kembali padanya. Tapi tidak ada jalan bagi dia untuk melakukannya. Akhirnya, ia membangun sebuah rumah kecil dimana dia menetap tinggal sendirian.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Demikian cerita dongeng singkat tentang Si Putri Bulan, semoga dapat menghibur Anda semua.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Baca Juga :&lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2016/03/si-peri-yang-jahat.html&quot;&gt; Si Peri yang Jahat&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Baca Juga : &lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2016/02/cerita-dongeng-serigala-dan-si-monyet.html&quot;&gt;Cerita Dongeng Serigala dan Si Monyet&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;Referensi Saya : Search Google&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/feeds/6943301358577821211/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/2016/03/cerita-dongeng-si-putri-bulan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default/6943301358577821211'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default/6943301358577821211'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/2016/03/cerita-dongeng-si-putri-bulan.html' title='Cerita Dongeng Si Putri Bulan'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08946374405366963398</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhDXP5iiHPozCMmSNB6Yz_RGyjoqDPVnJINthmppKrsjN3Ln8g5edMptejIJjt00rnpaEFbtBE1-jIzSSKiAaXOvWNFreoqGer-2haIAjEsBz7_odnw-xPC2MBAELf0Q8cOJQQ2XpZyreY/s72-c/cerita-dongeng-si-putri-bulan.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7547311571764217587.post-6230289344996274181</id><published>2016-03-01T12:38:00.000+08:00</published><updated>2016-03-01T12:38:42.292+08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Dongeng"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hiburan"/><title type='text'>Si Peri yang Jahat</title><content type='html'>&lt;b&gt;Gerbang Cerita&lt;/b&gt; - Suatu hari, dua orang bersaudara, adik dan kakak bermain-main di dekat sebuah sumur, dan saat mereka bermain, tanpa sengaja, mereka berdua terjatuh masuk. Di dalam sumur itu, tinggallah seorang peri air yang jahat, saat melihat kedua kakak beradik yang jatuh kesumur, dia lalu berkata” sekarang saya telah mendapatkan kalian, kalian harus bekerja keras untuk saya!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgX0v57Nv8alL1urznwPE5CzzvgQN0mAFD4_UXK8NmhkEJgJGflRUIuXiTto5sSw1n0Etdufdt-jlluvHsRsUFvhQyOnJSpK80bdyFa66Oz-yqXGib9nNuSd0D-z0tymb7FfHkPCtVGd9E/s1600/cerita-dongeng-si-peri-yang-jahat.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgX0v57Nv8alL1urznwPE5CzzvgQN0mAFD4_UXK8NmhkEJgJGflRUIuXiTto5sSw1n0Etdufdt-jlluvHsRsUFvhQyOnJSpK80bdyFa66Oz-yqXGib9nNuSd0D-z0tymb7FfHkPCtVGd9E/s400/cerita-dongeng-si-peri-yang-jahat.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;Lalu, si peri air itu membawa mereka pergi ke tempat tinggalnya. Dia menugaskan anak yang perempuan untuk menenun rami, dan anak yang laki-laki mengambil air dengan ember yang berlubang di tengahnya, dan anak laki-laki itu juga diharuskan menebang pohon dengan kapak yang sudah tumpul. Mereka pun tidak di beri makan yang layak, hanya makanan seadanya yang sekeras batu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Akhirnya kedua anak itu tidak tahan lagi, dan merencanakan untuk melarikan diri dari peri jahat itu. mereka menunggu hingga si peri air itu keluar dari rumah, dan saat itulah mereka melarikan diri. Tetapi ketika si peri air pulang dan melihat bahwa kedua anak tersebut telah menghilang, dia pun lalu mengikuti mereka dengan cepat. Saat kakak beradik ini melihatnya datang dari jauh, anak yang perempuan melemparkan sisir membentuk bukit besar yang penuh dengan ribuan tombak, di mana peri jahat itu terpaksa melewatinya dengan susah payah, namun akhirnya peri jahat itu melewati bukit itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Ketika kakak beradik melihat si peri jahat ini mendekat kembali, anak yang laki-laki melemparkan sisirnya ke belakang segera membentuk bukit besar dengan ribuan biji jeruji, tetapi peri jahat ini juga berhasil melewatinya dan tetap mengejar mereka berdua. Kemudian anak yang perempuan melemparkan cermin kacanya ke belakang yang segera membentuk bukit cermin yang sangat licin sehingga tidak memungkinkan si peri air itu melintasinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Kemudian si peri air itu berpikir,”aku akan pulang dan mengambil kapakku, dan akan memecahkan bukit kaca hingga pecah berantakan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Si peri air pun kembali ke rumah untuk mengambil kapak, datang kembali untuk memecahkan bukit kaca itu, tetapi anak-anak itu telah melarikan diri dan lolos keluar dari sumur tua. Si peri air terpaksa harus kembali ke rumahnya sendirian karena dia tidak bisa meninggalkan sumur itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;Demikian cerita tentang Si Peri yang jahat, semoga dapat menghibur Anda semua di mana pun Anda berada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Baca Juga : &lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2016/02/cerita-dongeng-serigala-dan-si-monyet.html&quot;&gt;Cerita Dongeng Serigala dan Si Monyet&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Baca Juga : &lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2016/02/cerita-dongeng-seekor-nyamuk.html&quot;&gt;Cerita Dongeng Seekor Nyamuk&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;Referensi Saya : Search Google&lt;/span&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/feeds/6230289344996274181/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/2016/03/si-peri-yang-jahat.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default/6230289344996274181'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default/6230289344996274181'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/2016/03/si-peri-yang-jahat.html' title='Si Peri yang Jahat'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08946374405366963398</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgX0v57Nv8alL1urznwPE5CzzvgQN0mAFD4_UXK8NmhkEJgJGflRUIuXiTto5sSw1n0Etdufdt-jlluvHsRsUFvhQyOnJSpK80bdyFa66Oz-yqXGib9nNuSd0D-z0tymb7FfHkPCtVGd9E/s72-c/cerita-dongeng-si-peri-yang-jahat.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7547311571764217587.post-596289685242283382</id><published>2016-02-12T23:26:00.000+08:00</published><updated>2016-02-12T23:26:40.000+08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Dongeng"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hiburan"/><title type='text'>Cerita Dongeng Serigala dan Si Monyet</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Gerbang Cerita&lt;/b&gt; - Di sebuah hutan yang belantara, hiduplah seekor serigala yang sedang hamil tua. Pada saat ia berjalan menyusuri hutan mencari mangsa, tiba-tiba terdengar bayi yang sedang menangis dis ela-sela semak belukar. Ketika serigala itu menghampiri, ternyata seekor anak monyet yang masih bayi tergolek sendirian tanpa diketahui kemana dan siapa induknya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEghCg9RooN50kUIjC8WNhhEUyOzPYMW9cAqw4a6wouW4s_t7h6a2lvbeREauARMp61TUpf9YI5lpDS_SN7-z0nzm-TowymJMi2w-YSLIfvTca8r6D9T3Oq3Gt3OQtrrPqAUVW-vGZ692Uc/s1600/cerita-dongeng-serigala-dan-si-monyet.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEghCg9RooN50kUIjC8WNhhEUyOzPYMW9cAqw4a6wouW4s_t7h6a2lvbeREauARMp61TUpf9YI5lpDS_SN7-z0nzm-TowymJMi2w-YSLIfvTca8r6D9T3Oq3Gt3OQtrrPqAUVW-vGZ692Uc/s400/cerita-dongeng-serigala-dan-si-monyet.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Serigala iba melihatnya. Karena iapun merasa penat dan terasa akan melahirkan, maka ia memutuskan untuk beristirahat di situ, sampai akhirnya ia melahirkan 2 ekor bayi. Meskipun demikian, induk serigala tidak ingin meninggalkan anak monyet tersebut sendirian. Maka ia berniat mengurus 3 anak, di antaranya 1 anak monyet, dan 2 lagi anaknya. Dengan penuh kasih kasih, induk serigala tersebut mengasuh dan menyusui ketiganya. Anehnya anak monyet tidak segan-segan menyusu ke induk serigala.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Semakin lama ketiga anak tersebut semakin besar dan mulai bisa berjalan, tetapi anak monyet itu merasa bahwa induk serigala adalah ibunya. Setelah mereka mulai bisa makan, barulah terasa ada perbedaan d i antara mereka. Anak monyet gemar memakan buah-buahan. Dengan&amp;nbsp; mudahnya ia memanjat pepohonan yang ada di hutan itu untuk memetik buahnya, berbeda dengan anak-anak serigala. Mereka lebih suka memakan daging dan kerap kali induk serigala membawa mangsanya untuk diberikan kepada anak-anaknya. Setelah anak-anak serigala itu dapat mencari makanannya sendiri, barulah induk serigala melepasnya. Monyet dan sergala.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Ketika mereka semakin dewasa, anak-anak, serigala dan monyet pun akhirnya mulai mandiri. Mereka bertiga bermain, mencari mangsa dan tidur bersama. Dalam pencarian mencari mangsa yang jauh, tanpa di sadari satu dari anak serigala itu terpisah dari mereka dan hilang entah kemana, sehingga mereka tiinggal berdua menyusuri hutan belantara. Tiba-tiba mereka mendengar lolongan serigala yang minta tolong, suaranya sayup-sayup terdengar amat jauh. Keduanya baru mengetahui bahwa satu diantaranya tidak ada. Mereka berpikir bagaimana caranya menemukan anak serigala yang hilang itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Karena anak monyet bisa memanjat, dia mencarinya sambil bergelantung di atas pohon. Anak serigala yang satu berlari mengikuti monyet dari bawah. Sangat sulit menembus hutan belantara yang lebat itu. lolongan serigala itupun tiada henti dan semakin lama terdengar semakin dekat. Anak serigala mulai mengendus-endus dengan penciumannya yang tajam. Akhirnya, karena kecerdikannya, mereka berhasil menemukan tempat dimana anak serigala itu berada. Ternyata ia tercebur ke dalam sumur perangkap yang dibuat para pemburu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Untuk menolong saudaranya, monyet membuat tali yang terbuat dari kulit pohon yang ada di sekitar tempat itu. di masukkan tali tersebut ke dalam sumur. Sementara anak serigala yang satu menggigit ujung tali tersebut dengan giginya yang sangat kuat dari atas, anak monyet masuk kedalam sumur. Setelah sampai di bawah, monyet merasa iba melihat keadaan anak serigala yang lemah dan tak berdaya. “kasihan sekali engkau, sudah dua hari lamanya kita berpisah, dan pasti kau tidak makan apapun selama itu.”akhirnya mereka berhasil menarik anak serigala itu dari dalam sumur. Anak serigala yang satu terharu melihat keadaan saudaranya lemas tak berdaya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Dengan cepat monyet memanjat pohon untuk mencari minum untuk saudaranya itu. tidak beberapa lama setelah itu, sang anak serigala pun dengan perlahan&amp;nbsp; kembali segar. Keduanya amat berterima kasih kepada monyet karena telah menyelamatkannya. Mereka pun bersepakat untuk pulang ke sarang menemui induk serigala.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Sesampai di sarang, mereka mendapati induk serigala sedang berjalan kesana kemari dengan gelisah. Begitu melihat ketiga anaknya, ia pun bersatu, “anak-anakku, kemana saj akalian selama ini ? aku mencari kalian kemana-mana, bahkan aku berpikir bahwa kalian habis di mangsa singa atau di makan oleh pemburu.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Kedua anak serigala itu pun akhirnya menceritakan semua peristiwa yang baru saja mereka alami. Induk serigala merasa terharu dan amat berterima kasih kepada anak monyet. Ia juga tak henti-hentinya mengucap syukur kepada tuhan karenan mereka semua dapat bertemu kembali. Setelah keadaan tenang, induk serigala&amp;nbsp; berkata kepada anak-anaknya,”anak-anakku, sekarang aku sudah mulai tua, tidak kuat lagi mencari mangsa terlalu jauh. Karena itu, jika kalian berburu, jangan terlalu lama. Cepat kembali ke sarang ini untuk melihatku.”tanpa diminta anak monyet berkata,”aku, akulah yang akan menemanimu ibu. Bagiku mencari makan tidak harus jauh, disekitar sini buah-buahan dan daun-daun muda masih cukup banyak. Biarlah anak-anak ibu yang lain pergi jauh mencari mangsa, nanti kau akan memberitahukan keadaanmu pada mereka.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Mendengar apa yang dikatakan monyet padanya, maka tenanglah induk serigala. Ia bisa menikmati hari tuannya di temani oleh monyet dan kedua anaknya. Mereka bisa saling berbagi disaat suka maupun duka. Monyyet pun merasa puas dengan keadaan ini. Ia bersyukur di berikan kesempatan oleh Tuhan untuk membalas kebaikan serigala.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Demikian cerita dongeng serigala dan si monyet, semoga dapat bermanfaat dan menghibur bagi Anda semua.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Baca Juga : &lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2016/02/cerita-dongeng-seekor-nyamuk.html&quot;&gt;Cerita Dongeng Seekor Nyamuk &lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Baca Juga : &lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2016/02/cerita-dongeng-angin-utara-dan-matahari.html&quot;&gt;Cerita Dongeng Angin Utara dan Matahari &lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;Referensi Saya : Search Google&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/feeds/596289685242283382/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/2016/02/cerita-dongeng-serigala-dan-si-monyet.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default/596289685242283382'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default/596289685242283382'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/2016/02/cerita-dongeng-serigala-dan-si-monyet.html' title='Cerita Dongeng Serigala dan Si Monyet'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08946374405366963398</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEghCg9RooN50kUIjC8WNhhEUyOzPYMW9cAqw4a6wouW4s_t7h6a2lvbeREauARMp61TUpf9YI5lpDS_SN7-z0nzm-TowymJMi2w-YSLIfvTca8r6D9T3Oq3Gt3OQtrrPqAUVW-vGZ692Uc/s72-c/cerita-dongeng-serigala-dan-si-monyet.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7547311571764217587.post-7847605002187044624</id><published>2016-02-12T23:11:00.000+08:00</published><updated>2016-02-12T23:11:24.367+08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Dongeng"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hiburan"/><title type='text'>Cerita Dongeng Seekor Nyamuk</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Gerbang Cerita &lt;/b&gt;- Di suatu negeri antah-berantah bertahtalah seorang raja yang arif bijaksana. Raja itu hidup bersama permaisuri dan putri-putrinya. Rakyat sangat mencintainya. Istananya terbuka setiap waktu untuk dikunjungi siapa saja. Ia mau mendengar pendapat dan pengaduan rakyatnya. Anak-anak pun boleh bermain-main di halaman sekitar istana. Di negeri itu hidup juga seorang janda dan seorang anaknya yang senang bermain di sekitar istana. Setiap pergi ke istana, ia selalu membawa binatang kesayangannya, seekor nyamuk.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEirLoMGnLzKBdkW86SP_tSi8sw7MFk0K-GrQb-GolkmbhJWICb2NvTmK-C07icsIst1pgDpd22WkED10XJQ8L8jESNACC1TU_AyKcbaZU6cnMz0NMQlZwnuPJ4hGVTaSIhyHWULOPIduV4/s1600/cerita-dongeng-seekor-nyamuk.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEirLoMGnLzKBdkW86SP_tSi8sw7MFk0K-GrQb-GolkmbhJWICb2NvTmK-C07icsIst1pgDpd22WkED10XJQ8L8jESNACC1TU_AyKcbaZU6cnMz0NMQlZwnuPJ4hGVTaSIhyHWULOPIduV4/s400/cerita-dongeng-seekor-nyamuk.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Leher nyamuk itu di ikat dengan tali dan ujung tali dipegangnya. Nyamuk akan berjalan mengikuti ke mana pun anak itu pergi. Pada suatu sore, anak itu sedang bermain di sekitar halaman istana. Karena asyik bermain, ia lupa hari sudah mulai gelap. Raja yang baik itu mengingatkannya dan menyuruhnya pulang.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;“orang tuamu pasti gelisah menantimu’’ kata raja. “baik, tuanku,” sahutnya,”karena hamba harus cepat-cepat pulang, nyamuk ini hamba titipkan di istana.”ikatkan saja di tiang dekat tangga,”sahut raja. Keesokan harinya, anak itu datang ke istana. Ia amat terkejut melihat nyamuknya sedang di patuk dan di telan seekor ayam jantan. Sedih hatinya karena nyamuk yang amat disayanginya hilang.&lt;br /&gt;Ia mengadukan peristiwa itu kepada raja karena ayam jantan itu milik raja”ambillah ayam jantan itu sebagai ganti,” kata raja. Anak itu mengucapkan terima kasih kepada raja. Kaki ayam jantan itu pun di ikat dengan tali dan dibawa ke mana saja. Sore itu ia kembali bermain-main di sekitar istana. Ayam jantannya dilepas begitu saja sehingga bebas berkeliaran kesana kemari.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Ayam jantan itu melihat perempuan-perempuan pembantu raja sedang menumbuk padi di belakang istana, berlarilah dia kesana. Dia mematuk padi yang berhamburan di atas tikar di samping lesung, bahkan berkali-kali dia berusaha menyerobot padi yang ada di lubang lesung. Para pembantu raja mengusir ayam jantan itu agar tidak mengganggu pekerjaan mereka. Akan tetapi, tak lama kemudian ayam itu datang lagi dengan rakusnya berusaha mematuk padi dalam lesung.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Mereka menghalau ayam itu dengan alu mereka pegang. Seorang di antara mereka bukan hanya menghalau, tetapi memukulkan alu dan mengenai kepala ayam itu. ayam itu menggelepar-gelepar kesakitan. Darah segar mengalir dari kepala. Tidak lama kemudian, matilah ayam itu. alangkah sedih hati anak itu melihat ayam kesayangannya mati. Ia datang menghadap raja memohon keadilan.”ambillah alu itu sebagai ganti ayam jantanmu yang mati!”kata raja kepadanya. Anak itu bersimpuh di hadapan raja dan menyampaikan rasa terima kasih atas kemurahan hati raja.”hamba titipkan alu itu disini karena di rumah ibu hamba tidak ada tempat untuk menyimpannya,”pintanya.&lt;br /&gt;“sandarkanlah alu itu di pohon nangka,” kata raja. Pohon nangka itu rimbun daunnya dan lebat buahnya. Kesokan harinya, ketika hari sudah senja, ia bermaksud mengambil alu itu untuk di bawa pulang. Akan tetapi, alu itu ternyata patah dan tergeletak di tanah. Di sampingnya terguling sebuah nagngka amat besar dan semerbak baunya.”nangka ini rupanya penyebab patahnya aluku,”katanya”aku akan meminta nangka ini sebagai ganti aluku kepada raja!” raja tersenyum mendengar permintaan itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;“ambillah nangka itu kalau kau suka,”kata raja.”tetapi hari sudah mulai gelap!”kata anak itu.”hamba harus cepat tiba di rumah. Kalau terlambat, ibu akan marah kepada hamba. Hamba titipkan nangka ini di istana.” Boleh saja,” ujar raja,” letakkan nangka itu di samping pintu dapur!” bau nangka yang sedap itu tercium keseluruh istana. Salah seorang putri raja juga mencium bau nangka itu. seleranya pun timbul.” Aku mau memakan nangka itu!” kata putri berusaha mencari di mana nangka itu berada.&lt;br /&gt;“kalau nangka itu masih tergantung di dahan, aku akan memanjat untuk mengambilnya!” tentu saja putri raja tidak perlu bersusah payah memanjat pohon karena nangka itu ada di samping pintu dapur. Ia segera mengambil pisau dan nangka itupun di belah serta di makan sepuas-puasnya. Kita tentu dapat menerka kejadian selanjutnya. Anak itu menuntut ganti rugi kepada raja.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Pada mulanya raja bingung, tetapi dengan lapang dada beliau bertitah,” ketika nyamukmu dipatuk ayam jantan, ayam jantan itu menjadi gantinya. Ketika ayam jantan mati karena alu, kuserahkan alu itu kepadamu. Demikian pula ketika alumu patah tertimpa nangka, nangka itu menjadi milikmu. Sekarang, karena putriku menghabiskan nangkamu, tidak ada jalan lain selain menyerahkan putriku kepadamu.”putri raja sebaya dengan anak itu. akan tetapi, mereka belum dewasa sehingga tidak mungkin segera dinikahkan. Ketika dewasa, keduanya dinikahkan. Raja merayakan pesta secara meriah. Setelah raja meninggal, anak itu menggantikan mertuanya naik tahta. Ibunya juga diajak untuk tinggal di istana.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Demikian cerita dongeng seekor nyamuk semoga dapat bermanfaat serta dapat menghibur Anda semua.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Baca Juga : &lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2016/02/cerita-dongeng-angin-utara-dan-matahari.html&quot;&gt;Cerita Dongeng Angin Utara dan Matahari&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Baca Juga :&lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2015/10/cerita-dongeng-si-pemalas-telu-pak.html&quot;&gt; Cerita Dongeng Si Pemalas Telu Pak&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;&lt;b&gt;Referensi Saya : Search Google&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/feeds/7847605002187044624/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/2016/02/cerita-dongeng-seekor-nyamuk.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default/7847605002187044624'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default/7847605002187044624'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/2016/02/cerita-dongeng-seekor-nyamuk.html' title='Cerita Dongeng Seekor Nyamuk'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08946374405366963398</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEirLoMGnLzKBdkW86SP_tSi8sw7MFk0K-GrQb-GolkmbhJWICb2NvTmK-C07icsIst1pgDpd22WkED10XJQ8L8jESNACC1TU_AyKcbaZU6cnMz0NMQlZwnuPJ4hGVTaSIhyHWULOPIduV4/s72-c/cerita-dongeng-seekor-nyamuk.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7547311571764217587.post-8417566879458182904</id><published>2016-02-12T22:54:00.000+08:00</published><updated>2016-02-12T22:54:44.454+08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Dongeng"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hiburan"/><title type='text'>Cerita Dongeng Angin Utara dan Matahari</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Gerbang Cerita&lt;/b&gt; - Angin utara dan matahari berdebat tentang siapa diantara mereka yang lebih kuat. Sementara mereka berdebat dengan hebat, seorang pengembara berjalan melewati suatu jalan dengan badan terbungkus jubah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhS64UxOqAZwRLu1VbvPYB80DQK0ctrAxd4qCvFeouG7lfmPjp11OZ99ulcyIuR5WqSoBZH4hvB962l5LWEcYIVhogdtJKPrOJELfUdvuUMGqh6CoVNRbZ4iWkzYWH_htXXvVrov95SkA0/s1600/cerita-dongeng-angin-utara-dan-matahari.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhS64UxOqAZwRLu1VbvPYB80DQK0ctrAxd4qCvFeouG7lfmPjp11OZ99ulcyIuR5WqSoBZH4hvB962l5LWEcYIVhogdtJKPrOJELfUdvuUMGqh6CoVNRbZ4iWkzYWH_htXXvVrov95SkA0/s400/cerita-dongeng-angin-utara-dan-matahari.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
“mari kita buktikan” kata matahari,”bahwa yang terkuat diantra kita adalah siapa saja yang bisa membuat pengembara itu membuka jubahnya.”&lt;br /&gt;“baiklah,”kata angin utara, dan seketika itu juga meniupkan angin kencang yang dingin kepada pengembara itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Dengan hembusan angin yang kencang, ujung jubah yang dipakai pengembara, tertiup ke belakang. Tetapi ia segera membungkus erat jubah itu ke tubuhnya, dan semakin kuat angin bertiup, semakin erat ia membungkus tubuhnya. Angin utara berusaha merobek jubah pengembara itu dengan tiupan anginnya, namun semua usahanya sia-sia.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Tibalah giliran matahari. Matahari mulai memancarkan sinarnya. Pada awalnya sinar yang dikeluarkan cukup lembut, dan dalam sekejap,&amp;nbsp; kehangatan menggantikan rasa dingin dari angin utara. Sang pengembara kemudian melonggarkan jubahnya dan membiarkannya tergantung di bahunya. Sinar&amp;nbsp; matahari kemudian bersinar lebih terik dan makin terik. Pria itu melepaskan topinya dan mengusap alisnya yang basah oleh keringat.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Akhirnya ia menjadi kepanasan sehingga ia melepaskan jubahnya, dan untuk menghindari sinar matahari yang terik, ia berteduuh di bawah naungan bayangan pohon di pinggir jalan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Demikian cerita atau kisah angin utara dan matahari pesan moral yang dapat kita peroleh dari kisah tersebut ialah kelembutan lebih unggul dibandingkan dengan kekerasan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Baca Juga : &lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2015/10/cerita-dongeng-si-pemalas-telu-pak.html&quot;&gt;Cerita Dingeng Si Pemalas Telu Pak &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Baca Juga : &lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2015/10/cerita-rakyat-asal-mula-nama-kota-wamena.html&quot;&gt;Cerita Rakyat Asal Mula Nama Kota Wamena&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Referensi Saya : Search Google&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/feeds/8417566879458182904/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/2016/02/cerita-dongeng-angin-utara-dan-matahari.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default/8417566879458182904'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default/8417566879458182904'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/2016/02/cerita-dongeng-angin-utara-dan-matahari.html' title='Cerita Dongeng Angin Utara dan Matahari'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08946374405366963398</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhS64UxOqAZwRLu1VbvPYB80DQK0ctrAxd4qCvFeouG7lfmPjp11OZ99ulcyIuR5WqSoBZH4hvB962l5LWEcYIVhogdtJKPrOJELfUdvuUMGqh6CoVNRbZ4iWkzYWH_htXXvVrov95SkA0/s72-c/cerita-dongeng-angin-utara-dan-matahari.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7547311571764217587.post-491871881787943833</id><published>2015-10-25T22:47:00.000+08:00</published><updated>2015-10-25T22:47:35.720+08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Rakyat"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Dongeng"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hiburan"/><title type='text'>Cerita Dongeng Si Pemalas Telu Pak</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Gerbang Cerita&lt;/b&gt; - Tersebutlah pada zaman dahulu kala, di daerah lampung yang pernah hidup seorang anak manja bernama Buyung. Semua yang di inginkan si Buyung selalu di turuti oleh kedua orang tuanya. Hasilnya, ia menjadi anak yang pemalas dan sangat manja. Sifat ini terus menerus berlanjut sampai Buyung beranjak dewasa dan menikah dengan seorang perempuan cantik. Akan tetapi, karena masih memiliki kedua orangtua, Buyung masih merasa tetap tenang.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhdNnQu_G1WusbfxLAyG7rwbgDxC_4mqkn2VOf3eH08FUw0yKSck6TkyYu4GiWdR9aFkK7KTnhXB0ZrR3CEzEQBg7Q7L2NZzTRB3B-4uDTdhcVJFz_IqCjoD0_6NSuDYDOtJvwWmY6C3pQ/s1600/cerita-dongeng-si-pemalas-telu-pak.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhdNnQu_G1WusbfxLAyG7rwbgDxC_4mqkn2VOf3eH08FUw0yKSck6TkyYu4GiWdR9aFkK7KTnhXB0ZrR3CEzEQBg7Q7L2NZzTRB3B-4uDTdhcVJFz_IqCjoD0_6NSuDYDOtJvwWmY6C3pQ/s400/cerita-dongeng-si-pemalas-telu-pak.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Permasalahannya, kedua orang tua si Buyung tidak hidup selamanya. Suatu ketika mereka meninggal dunia lantaran sakit parah. Tak tanggung-tanggung, penyakit tersebut menyerang kedua orang tuanya sekaligus. Jadilah, Buyung ditinggal mereka berdua sekaligus. Saat itu lah Buyung tetap tenang. Toh, sebagai anak tunggal, ia mewarisi seluruh harta kedua orang tuanya dan berpikiran bahwa harta peninggalan orang tuanya tidak akan habis dimakan tujuh turunan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Dasar si Buyung, setelah kematian kedua orang tuanya pun, ia tetap tidak melakukan apapun untuk menambah atau setidaknya mempertahankan harta kedua orang tuanya itu. Malahan yang ia lakukan justru membuang-buang uang saja. Alhasil, harta yang seharusnya cukup dimakan tujuh turunan, ludes tanpa sisa dalam beberapa tahun. Inilah yang kemudian membuat si Buyung kebingungan bukan kepalang.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Istri si Buyung berbincang dengan suaminya, dan memberikan solusi kepadanya untuk berguru. &quot;Sebaiknya abang pergi merantau dan berguru kepada orang-orang pandai. siapa tahu mereka dapat membantu kita bisa keluar dari penderitaan ini.&quot; Kata sang istri membujuk.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Buyung pun menyetujui usulan istrinya tersebut. Apa yang dikatakan istrinya benar. Maka, ia pun merantau untuk berguru pada seseorang diluar daerahnya. Sesampainya di rumah seorang guru, ia sampaikan permasalahn hidup yang tengah membelitnya. Sang guru memberinya satu nasihat yang harus ia jalankan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&quot;Angon sukhhok bidi cutiku. Artinya kalau mengerjakan sesuatu yang baik, meskipun hati enggan, kamu harus memaksakan diri melakukannya. Pelajaran ini harus kamu terapkan selama tiga bulan dan niscaya hidupmu akan berubah total.&quot; Kata si guru.&lt;br /&gt;Setelah mendapat nasihat tersebut si Buyung pun kembali pulang ke kampung halamannya dan mempraktikkan nasihat sang guru tersebut. Akan tetapi, setelah tiga bulan, hidup Buyung tak kunjung berubah. Ia pun kecewa, tapi sang istri mendorongnya untuk pergi berguru ke tempat lain lagi. Pergilah, ia ke guru yang lain.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Ia pun mendapat nasihat dari guru keduanya, &quot;angon tilansu sepak cutik. artinya, jangan terlalu berangan-angan pada sesuatu yang tidak masuk akal.&quot; Kata si guru yang kedua.&lt;br /&gt;Sama seperti guru pertama, guru kedua itu menyuruhnya mempraktikkan nasihatnya selama tiga bulan. setelah itu, hidup si Buyung masih tetap sama. Sang istri memintanya untuk berguru lagi untuk kesekian kalinya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Pada guru ketiga, si Buyung diberi nasihat. &quot;cawani babai mak dapok titukhutkan, bila ditukhut kon cadang pendirianmu. artinya, perkataan perempuan sebaiknya jangan dituruti, bila semua di turuti akan rusak pendirianmu,&quot;titih gurunya yang ketiga tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Tapi, tetap saja tidak ada perubahan berarti pada hidup si Buyung dan istrinya. Karena, ingin berubah hidupnya, si Buyung berguru lagi pada guru keempatnya. Oleh guru keempatnya, ia mendapat nasihat. &quot;kiwat kilu tulung tengah bingi semawas mak dapok ditulak. Artinya, jika ada orang yang meminta pertolongan pada tengah malam atau dini hari sekalipun, jangan ditolak,&quot;kata sang guru. &quot;Jika kamu mengamalkan ajaran ini dengan sungguh-sungguh, niscaya hidupmu akan bahagia tapi ingat, setelah berguru kepadaku, kuharap kamu tidak berguru lagi kepada orang lain”. Pintanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Buyung pun kembali ke kampungnya dengan perasaan yakin akan berhasil dengan apa yang telah didapatnya selama ini. Sejak saat itulah, ia memutuskan untuk mengganti namanya menjadi “Telu Pak” (telu=tiga, pak=empat), yang berarti ia orang yang telah berguru kepada tiga sampai empat orang guru.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Telu Pak menemukan sinar di suatu tengah malam. Saat Telu Pak dan istrinya tertidur pulas, seseorang datang ke rumahnya ternyata yang datang adalah seorang prajurit istana, yang membawa seonggok jenazah. Ia meminta Telu Pak untuk menguburkannya dengan layak, sementara ia kembali ke istana. Awalnya, Telu Pak enggan untuk menuruti permintaan si prajurit kerajaan itu. Namun teringat nasihat gurunya yang terakhir dan langsung mengiyakannya. Sambil menggerutu, Telu Pak mencari tanah lapang untuk menguburkan jenazah tersebut.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Dalam beberapa kali cangkulan, dari dalam tanah memancarkan sinar yang sangat terang. Sinar tersebut dipakai Telu Pak untuk membantunya dalam penerangan malam itu. Setelah selesai, ia membawa pulang sinar tersebut dan diletakkannya dibawah jendela di depan rumahnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Sesampainya dirumah, sang istri yang melihat telu pak membawa sinar segera bertanya. &quot;apa itu, pak?&quot; tutur istrinya.&lt;br /&gt;&quot;Entahlah aku menemukan ini saat aku menguburkan jenazah tadi,&quot;sahut Telu Pak.&lt;br /&gt;“Ini kan batu intan! harganya pasti mahal.&quot; Kata sang istri kaget.&lt;br /&gt;&quot;Haahhh...Benarkah?&quot; balas Telu Pak.&lt;br /&gt;&quot;Kalau tidak percaya, besok kita bawa ke pedagang untuk dinilai.&quot;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Keesokan harinya, Telu Pak beserta istrinya menemui seorang pedagang dan bertanya mengenai sinar yang ditemukannya semalam. Si pedagang meyakini bahwa sinar tersebut adalah batu intan.&lt;br /&gt;&quot;Saya mau menukar intan itu dengan toko milik saya.&quot;tawar si pedagang itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Telu Pak dan istrinya senang mendengar hal tersebut. Namun, ia mesti meminta tanda tangan kesepakatan kepada rajanya. Kedua pihak tersebut sama-sama mendatangi sang raja di istana, Telu Pak ditanyai oleh sang raja.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&quot;Wahai Telu Pak, saya mendengar kamu memiliki batu intan, benarkah itu?&quot; tanya sang raja.&lt;br /&gt;&quot;Benar, paduka raja. hal inilah yang menjadi maksud kedatangan hamba kemari.&quot; Sahut Telu Pak.&lt;br /&gt;&quot;Saya memiliki batu yang serupa dengan batu intan milikmu. ketahuilah bahwa batu itu hanyalah anak dan punya saya adalah ibunya. Jadi, bisa dipastikan batu yang kamu miliki adalah milik saya.&quot; Pernyataan sang raja.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&quot;Maaf, paduka saya tidak mencuri milik paduka raja. saya mendapatkan batu intan ini di tempat yang jauh dari istana. Jadi, mana mungkin batu intan ini milik paduka? tapi, jika paduka tidak mempercayainya, marilah kita letakkan bersama-sama batu intan ini di lantai. Jika batu milik saya mendekat ke batu milik paduka, silahkan ambil batu tersebut. Sebaliknya, jika batu milik saya tidak mendekat ke batu milik paduka raja, tolong tanda tangani kesepakatan antara saya dengan pedagang ini.&quot; Pinta si Telu Pak.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Raja pun setuju mengenai usulan tersebut. Kedua orang itu sama-sama meletakkan batunya masing-masing di atas lantai. Dan apa yang terjadi? tidak terjadi apa-apa. Dua batu tetap diam tak bergerak di tempatnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&quot;Baiklah, paduka saya rasa cukup. Batu saya tidak tertarik ke batu paduka raja. Sehingga, dalam hal ini, saya benar dan menang.&quot;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Dengan muka yang masam, raja akhirnya menandatangani kesepakatan antara Telu Pak dengan si pedagang. Akhirnya, Telu Pak memiliki sebuah toko. Berbekal nasihat-nasihat dari guru-gurunya yang lain, Telu Pak menjalankan tokonya hingga besar dan terkenal.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Demikian cerita dongeng kisah si Telu Pak yang dulunya seorang yang pemalas. Semoga dapat bermanfaat untuk kita semua dan tentunya dapat menghibur kita semua.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Baca Juga : &lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2015/10/cerita-rakyat-asal-mula-nama-kota-wamena.html&quot;&gt;Cerita Rakyat Asal Mula Nama Kota Wamena&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Baca Juga :&lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2015/10/cerita-rakyat-legenda-untung-suropati.html&quot;&gt; Cerita Rakyat Legenda Untung Suropati&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Referensi Saya : Searc Google&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/feeds/491871881787943833/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/2015/10/cerita-dongeng-si-pemalas-telu-pak.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default/491871881787943833'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default/491871881787943833'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/2015/10/cerita-dongeng-si-pemalas-telu-pak.html' title='Cerita Dongeng Si Pemalas Telu Pak'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08946374405366963398</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhdNnQu_G1WusbfxLAyG7rwbgDxC_4mqkn2VOf3eH08FUw0yKSck6TkyYu4GiWdR9aFkK7KTnhXB0ZrR3CEzEQBg7Q7L2NZzTRB3B-4uDTdhcVJFz_IqCjoD0_6NSuDYDOtJvwWmY6C3pQ/s72-c/cerita-dongeng-si-pemalas-telu-pak.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7547311571764217587.post-6826403987753404074</id><published>2015-10-24T23:25:00.000+08:00</published><updated>2015-10-24T23:25:39.004+08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Rakyat"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hiburan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sejarah"/><title type='text'>Cerita Rakyat Asal Mula Nama Kota Wamena</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Gerbang Cerita&lt;/b&gt; - Pada suatu hari, para gadis-gadis Ahumpua seperti biasanya menjaga anak-anak babi. Di antara gadis-gadis itu hanya ada satu gadis yang pemberani yang dapat melakukan sesuatu dan bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Tempat di mana mereka menjaga babi-babi adalah di pinggiran kali Ahumpua (sekarang bernama kali Baliem).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgfOQqq9UrVaQeLKewTiV-Wx5elEQBdblRV85Y0g-mJpjc_tEOexH59vrhfxm5V0dIOokH-CAsod1u4kw20GT2dl1ETe5um-Oiufi5dHwPhX51__tiWzB_lZdItubY0C6M-2fHNy-qhkBk/s1600/cerita-rakyat-asal-mula-nama-kota-wamena.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgfOQqq9UrVaQeLKewTiV-Wx5elEQBdblRV85Y0g-mJpjc_tEOexH59vrhfxm5V0dIOokH-CAsod1u4kw20GT2dl1ETe5um-Oiufi5dHwPhX51__tiWzB_lZdItubY0C6M-2fHNy-qhkBk/s400/cerita-rakyat-asal-mula-nama-kota-wamena.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mereka menjaga anak-anak babi itu sejak pagi hari. Dan pada siang harinya, gadis-gadis ini pun mandi di kali Ahumpua. Akan tetapi sebelum mandi tiba-tiba ada seorang yang berkulit putih muncul di pinggir kali Ahumpua. Gadis-gadis itu pun terkejut dengan kemunculan pria misterius berkulit putih ini dan mereka semua berteriak, &quot;Eye...eye...eye...ap huluan...apa huluan..&quot; (&quot;eye&quot; artinya minta tolong untuk mnyelamatkan diri,&quot;ap huluan&quot; artinya adalah orang berkulit putih. Jadi artinya. &quot;tolong ada orang kulit putih). Gadis-gadis itu langsung berlari melarikan diri ke hutan, karena takut melihat orang berkulit putih.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Hanya ada satu orang yang berani manghadapi orang kulit putih tersebut. Ia tidak peduli apa yang akan terjadi nantinya. Orang kulit itu tahu klau gadis-gadis tadi itu takut kepadanya. Ia pun menjaga jarak dan memberikan salam dari kejauhan pada gadis pemberani itu. Salam yang disampaikannya adalah bahasa isyarat dengan cara menggerak-gerakkan tangan yang berarti jangan takut, namun gadis ini tidak mengerti.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Akhirnya, orang kulit putih ini pun mendekati si gadis pemberani dan memberikan salam dengan menjabat tangan gadis itu. Gadis itu membalas jabatan tangan tersebut. Setelah berjabat tangan. orang kulit putih lalu bertanya pada si gadis, &quot;Apakah nama tempat ini?&quot;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Ketika orang kulit putih ini menanyakan nama tempat, muncullah seekor anak babi, dan secara spontan si gadis berkata &quot;Tu Wamena...&quot; yang artinya ini anak babi (&quot;tu&quot; adalah ini, &quot;ea&quot; adalah anak, dan &quot;wam&quot; adalah babi). Orang kulit putih segera mengerti dan mencatat dalam buku agendanya. Jadi, arti dari Wamena adalah &quot;anak babi&quot;. Telah terjadi kesalahpahaman antara Ap huluan (orang kulit putih) dan si gadis, dan kesalahan tersebut tidak disadari oleh keduanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Percakapan pun kemudian berlanjut masih dengan menggunakan gerakan-gerakan tangan. Setelah itu, Ap huluan memberikan salam dan segera berjalan kaki ke arah Ahumpua bagian timur. Sekarang arah Ap huluan ini disebut &quot;Wamena Timur&quot;. Setelah Ap huluan pergi, si gadis segera berlari ke rumahnya sambil memanggil teman-temannya yang sedang bersembunyi ketakutan. Kemudian dengan menangis si gadis bercerita kepada orang tuanya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mendengar cerita si gadis ini ada yang percaya dan ada juga yang tidak. Bagi yang percaya, mereka segera menyiapkan alat-alat perang dan segera mengejar Ap huluan untuk membunuhnya. Namun, beruntunglah, Ap huluan tidak ditemukan. Peristiwa ini merupakan awal proses pembangunan di daerah tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Suatu ketika lewatlah sebuah pesawat yang ditumpangi oleh orang-orang berkebangsaan Belanda dan mendarat di daerah Ahumpua dengan suara yang menakutkan. Berturut-turut kemudian pesawat-pesawat lain mendarat di daerah tersebut selama kurang lebih satu minggu. Akhirnnya, daerah Ahumpua dikuasai oleh Belanda. Orang-orang Belanda mulai menetap di Ahumpua.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Mulailah orang-orang tersebut membangun rumah dengan atap dari seng. Nama daerah yang dulunya Ahumpua diganti menjadi &quot;Wamena&quot;, yang berarti anak babi. Pemberian nama ini akibat kesalapahaman percakapan antara si Ap huluan dengan si gadis pemberani. Dan itulah cerita asal mula nama kota Wamena.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Demikian cerita rakyat asal mula nama kota Wamena, semoga dapat menghibur Anda semua di mana pun Anda berada.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Baca Juga : &lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2015/10/cerita-rakyat-legenda-untung-suropati.html&quot;&gt;Cerita Rakyat Legenda Untung Suropati&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Baca Juga : &lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2015/10/cerita-rakyat-murtado-si-macan-kemayoran.html&quot;&gt;Cerita Rakyat Murtado Si Macan Kemayoran&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Referensi Saya : Search Google&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/feeds/6826403987753404074/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/2015/10/cerita-rakyat-asal-mula-nama-kota-wamena.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default/6826403987753404074'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default/6826403987753404074'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/2015/10/cerita-rakyat-asal-mula-nama-kota-wamena.html' title='Cerita Rakyat Asal Mula Nama Kota Wamena'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08946374405366963398</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgfOQqq9UrVaQeLKewTiV-Wx5elEQBdblRV85Y0g-mJpjc_tEOexH59vrhfxm5V0dIOokH-CAsod1u4kw20GT2dl1ETe5um-Oiufi5dHwPhX51__tiWzB_lZdItubY0C6M-2fHNy-qhkBk/s72-c/cerita-rakyat-asal-mula-nama-kota-wamena.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7547311571764217587.post-852352051193290371</id><published>2015-10-23T23:29:00.000+08:00</published><updated>2015-10-23T23:29:15.702+08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Rakyat"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Dongeng"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hiburan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sejarah"/><title type='text'>Cerita Rakyat Legenda Untung Suropati</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Gerbang Cerita&lt;/b&gt; - Cerita rakyat Indonesia ini yang berasal dari Babad Tanah Jawa, menyebutkan asal-usul Untung Suropati. Seorang Perwira VOC yang ditugaskan di kota Makassar, bernama Kapten van Beber, menemukan seorang bocah laki-laki yang tidak diketahui namanya oleh Kapten van Beber.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjgD0txmhL1XXA4zmb2q-BZj0PTu62ewlC4FlU6Bm7x4l8o7gAkBHx03Z_5Sp1qFbAJfDSqmtb04HWUEdHHH6FyW1t05kHqN-Lyx9IsjlAfIjvd50NtqK06-IXkWEoCHT5BcWrEVyUrma0/s1600/cerita-rakyat-legenda-untung-suropati.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjgD0txmhL1XXA4zmb2q-BZj0PTu62ewlC4FlU6Bm7x4l8o7gAkBHx03Z_5Sp1qFbAJfDSqmtb04HWUEdHHH6FyW1t05kHqN-Lyx9IsjlAfIjvd50NtqK06-IXkWEoCHT5BcWrEVyUrma0/s400/cerita-rakyat-legenda-untung-suropati.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Bocah laki-laki ini kemudian dijual kepada Perwira VOC di Batavia yang bernama &quot;Moor&quot;. Sejak mempunyai budak baru, karier serta kekayaan Moor meninggkat drastis. Karena itu, Moor memberi nama bocah laki-laki itu sebagai &quot;Untung&quot;.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Walaupun, seorang budak tapi Untung adalah seorang laki-laki yang pintar secara inteligensi dan secara fisik. Buktinya, saat usianya menginjak 20 tahun, ia berhasil memikat putri Moor yang bernama &quot;Suzane&quot;. Dikawinilah nona Belanda itu hingga menimbulkan kemurkaan Moor.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Akibatnya si Untung pun dijebloskan ke hotel prodeo. Berkat kepintarannya, Untung berhasil menghimpun kekuatan para tahanan untuk kemudian kabur dari bui. Sejak itu, ia pun menjadi buronan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Pada tahun 1683, berdasarkan catatan sejarah Indonesia, Sultan Ageng Tirtayasa yang bertakhta sebagai Raja Banten berhasil dijungkal oleh VOC, sementara itu ia sendiri ditangkap, putranya yaitu Pangeran Purbaya berhasil meloloskan diri ke Gunung Gede.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Selang beberapa waktu erikutnya, Pangeran Purbaya menyatakan menyerah kepada VOC. Tapi, dengan syarat yang diajukannya adalah ia hanya mau dijemput oleh Perwira VOC berdarah Pribumi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Sementara itu, Untung yang tengah menjadi buronan berhasil ditemukan oleh kelompok Kapten Ruys (Pemimpin Benteng Tanjungpura). Bukannya menangkap Untung, Kapten Ruys justru menawari Untung menjadi tentara VOC.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Saat itu tidak ada pilihan bagi si Untung selain menerimanya dari pada kembali di bui. Setelah itu, Untung pun dilatih ketentaraan, diberi pangkat Letnan dan selanjutnya, ia ditugasi untuk menjemput Pangeran Purbaya di Gunung Gede.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Dijemputlah sang Pangeran. Pangeran Purbaya pun dibawa ke Tanjungpura. Ia memperlakukan sang Pangeran dengan sangat baik. Di saat seperti itu, Pasukan Vandrig Kuffeler datang dan memperlakukan Pangeran Purbaya dengan kasar.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Merasa sesama Pribumi, si Untung tidak menerima Pangeran Purbaya diperlakukan dengan kasar. Maka, ia menghancurkan pasukan Kuffeler di Sungai Cikalong, 28 Januari 1684. Untung kini kembali menjadi buronan VOC lagi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Setelah menyerahkan Pangeran Purbaya ke Tanjungpura. Gusik Kusuma, istri pangeeran Purbaya, meminta tolong kepada Untung mengantarnya pulang ke Kartasura. Karena Untung burunan, VOC tidak tinggal diam. Mereka mengirim pasukan kacob Couper, yang kemudian dihancurkan oleh Untung di Desa Rajapalah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Di tengah-tengah pelariannya, ketika melewati Cirebon, Untung bertengkar dengan Raden Suropati anak angkat Sultan. Setelah diadili, yang terbukti bersalah adalah Suropati. Suropati pun dihukum mati. Sejak itu nama Suropati, diserahkan Sultan Cirebon kepada si Untung.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Untung alias Suropati tiba di Kartasura mengantarkan Raden Ayu Gusik Kusuma pada ayahnya yaitu Patih Nerangkusuma. Nerangkusuma adalah tokoh anti-VOC yang gencar mendesak Amangkurat II agar mengkhianati perjanjian dengan bangsa Belanda itu. Nerangkusuma juga menikahkan Gusik Kusuma dengan Suropati.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Kapten Francois Tack (Perwira VOC senior yang punya andil dalam menumpas Trunajaya dan Sultan Ageng Tirtayasa) tiba di Kartasura bulan Februari 1686 untuk menangkap Untung Suropati. Amangkurat II yang telah dipengaruhi Nerangkusuma, berpura-pura membantu VOC.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Pertempuran itu pun meletus di halaman Kraton. Pasuka VOC hancur sebanyak sekitar 75 orang Belanda tewas. Kapten Tack sendiri pun tewas di tangan Untung Suropati. Tentara Belanda yang masih hidup menyelamatkan diri ke benteng mereka.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Amangkurat II takut kalau pengkhianatannya terbongkar. Ia merestui Suropati dan Nerangkusuma merebut Pasuruan. Di kota itu, Suropati mengalahkan Bupati Anggajaya (Bupati Pasuruan), yang kemudian melarikan diri ke Surabaya. Bupati Surabaya bernama Adipati Jangrana tidak melakukan pembalasan karena ia sendiri sudah kenal dengan Suropati di Kartasura. Untung Suropati pun mengangkat diri menjadi Bupati Pasuruan bergelar Tumenggung Wiranegara.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Pada tahun 1690, Amangkurat II berpura-pura mengirim pasukan untuk merebut Pasuruan. Tentu saja pasukan ini mangalami kegagalan, karena pertempurannya hanya bersifat sandiwara sebagai bentuk usaha mengelabui VOC.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sepeninggalan Amangkurat II pada tahun 1703, terjadi perebutan takhta Kartasura antara Amangkurat III melawan Pangeran Puger. Pada tahun 1704, Pangeran Puger mengangkat diri menjadi Pakubuwana I dengan dukungan VOC. Pada tahun 1705, Amangkurat III diusir dari Kartasura dan berlindung ke Pasuruan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Pada bulan September 1706, gabungan pasukan VOC, Kartasura, Madura, dan Surabaya dipimpin Mayor Goovert Knole menyerbu Pasuruan. Pertempuran di Benteng Bangil akhirnya menewaskan Untung Suropati alias Wiranegara pada tanggal 17 Oktober 1706. Namun, ia berwasiat bahwa agar kematiannya dirahasiakan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Makam Suropati pun dibuat rata dengan tanah. Perjuangan dilanjutkan para putra-putranya dengan membawa tandu berisi Suropati Palsu. Pada tahun 1707, Herman de Wilde memimpin ekspedisi mengejar Amangkurat III. Ia menemukan makam Suropati yang segera dibongkarnya. Jenazah Suropati pun dibakar dan abunya dibuang ke laut.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Putra-putra Untung Suropati, antara lain Raden Pengantin, Raden Suropati, dan Raden Suradilaga memimpin pengikut ayah mereka (campuran orang Jawa dan Bali). Sebagian dari mereka ada yang tertangkap bersama Amangkurat III pada tahun 1708 dan ikut ke Srilangka.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Sebagian pengikut Untung Suropati bergabung dalam pemberontakan Arya Jayapuspita di Surabaya tahun 1717. Pemberontakan ini sebagai usaha belas dendam atas dihukum matinya Adipati Jayengrana yang terbukti diam-diam memihak Suropati dalam perang pada tahun 1706.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Setelah Jayapuspita kalah pada tahun 1718 dan mundur ke Mojokerto, pengikut Suropati masih setia mengikuti. Mereka semua kemudian bergabung dalam pemberontakan Pangeran Blitar menentang Amangkurat IV yang didukung oleh VOC pada tahun 1719.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pemberontakan ini berhasil dipadamkan pada tahun 1723. Putra-putra Untung Suropati dan para pengikutnya dibuang oleh VOC ke Srilangka.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Demikian cerita rakyat mengenai riwayat Untung Suropati, semoga dapat mengingatkan Anda semua kembali pada sejarah Indonesia dan tentunya dapat menghibur Anda semua di mana pun Anda berada.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Baca Juga : &lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2015/10/cerita-rakyat-murtado-si-macan-kemayoran.html&quot;&gt;Cerita Rakyat Murtado Si Macan Kemayoran&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Baca Juga : &lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2015/10/cerita-dongeng-legenda-pulau-catu.html&quot;&gt;Cerita Dongeng Legenda Bukit Catu&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Referensi Saya : Search Google&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/feeds/852352051193290371/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/2015/10/cerita-rakyat-legenda-untung-suropati.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default/852352051193290371'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default/852352051193290371'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/2015/10/cerita-rakyat-legenda-untung-suropati.html' title='Cerita Rakyat Legenda Untung Suropati'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08946374405366963398</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjgD0txmhL1XXA4zmb2q-BZj0PTu62ewlC4FlU6Bm7x4l8o7gAkBHx03Z_5Sp1qFbAJfDSqmtb04HWUEdHHH6FyW1t05kHqN-Lyx9IsjlAfIjvd50NtqK06-IXkWEoCHT5BcWrEVyUrma0/s72-c/cerita-rakyat-legenda-untung-suropati.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7547311571764217587.post-6963714308620059173</id><published>2015-10-23T23:13:00.001+08:00</published><updated>2015-10-23T23:13:47.725+08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Rakyat"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Dongeng"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hiburan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sejarah"/><title type='text'>Cerita Rakyat Murtado Si Macan Kemayoran</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Gerbang Cerita&lt;/b&gt; - Sudah jamak, semua orang di daerah Kemayoran mengenal sosok Murtado sebagai seorang anak yang baik hati. Sebagai anak mantan Lurah, si Murtado tidaklah seperti anak-anak kebanyakan yang gemar menekan masyarakat denagn kekuasaan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjw0vYkGvKxAW98p2c6ICj4wh_k3lKKBv7TsxRj5p98MG0xqF0RIDROd_PPHah_U3lHH_ailU2kXS8Suw3WlhGHtF8lKG8fyp_wjoIfnQH1lXskCzc4d-FJVK2Y6_hBLJT5COdm4SVPNoA/s1600/cerita-rakyat-si-murtado-macan-kemayoran.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjw0vYkGvKxAW98p2c6ICj4wh_k3lKKBv7TsxRj5p98MG0xqF0RIDROd_PPHah_U3lHH_ailU2kXS8Suw3WlhGHtF8lKG8fyp_wjoIfnQH1lXskCzc4d-FJVK2Y6_hBLJT5COdm4SVPNoA/s400/cerita-rakyat-si-murtado-macan-kemayoran.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Walau, ia jago dalam ilmu silat dan tekun menuntut ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu dunia. kerendahan hatinya ditunjukkan si Murtado dengan ringan tangan kepada siapa saja yang membutuhkan bantuannya. Karakter ini yang dinilai oleh masyarakat dan justru disukai.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Pada zaman Murtado masih hidup, tepat pada masa Hindia Belanda, banyak jagoan silat kenamaan di Kemayoran mengkhianati kaumnya sendiri. Mereka lebih suka menjadi antek-antek sinyo Belanda. Pasalnya, dengan menjadi antek sinyo-sinyo Belanda, uangnya lebih banyak dan lebih berkuasa tentunya dari masyarakat Pribumi lainnya, tapi tidak dari Belanda.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Alhasil, mereka banyak menebar teror demi memuluskan kebijakan tuan mereka-Belanda dan Tionghoa. Para jagoan silat kenamaan di Kemayoran ini dipegang dua orang yaitu Bek Lihun dan Mandor Bacan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Ketik di Kemayoran diadakan derapan padi (memanen padi), Mandor Bacan ditunjuk para kompeni untuk mengawasi kegiatan itu, si Murtado pun ikut dalam kegiatan itu untuk menemani seorang gadis yang berparas cantik yang tidak lain adalah kekasih Murtado sendiri.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Namun, ketika Mandor Bacan melihatnya, seperti kebanyakan centeng kompeni, ia langsung punya niat kurang ajar. Nammun, aksi Mandor Bacan dihalangi oleh Murtado. Merasa memiliki hak berbuat apapun di tempat itu, Mandor Bacan memerintahkan Murtado untuk menyingkir, jika tidak...&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&quot;Minggirlah, jika tidak ingin pulang tinggal nama!&quot; kata sang Mandor Bacan.&lt;br /&gt;&quot;Silahkan kalau Abang mau menjajal,&quot; tantang Murtado.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Terjadilah perkelahian antara Mandor Bacan dan Murtado. Awalnya, perkelahian itu tampak seimbang. Namun, lama-kelamaan terlihat siapa yang lebih unggul. Dengan satu pukulan pungkasan dari Murtado, Mandor Bacan limbung dan ambruk. Mandor Bacan berdiri dengan sempoyongan. Pikirannya bekerja, jika tetap melawan bocah ini, dirinya pasti kalah. Maka, ia memilih kabur meninggalkan tempat perkara untuk kemudian melapor kepada Bek Lihun.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Bek Lihun segera ke tempat perkara untuk menuntaskan masalah antara Mandor Bacan dengan Murtado. Namun, pembicaraan di antara para jagoan silat itu tidak menemukan titik temu sehingga harus diselesaikan sekali lagi dengan jalan bertarung. Maka, Bek Lihun pun menjajal kemampuan si Murtado.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Keduanya memakai jurus-jurus yang lumayan ribet di mata orang biasa. Namun, sayangnya, Murtado jauh lebih cepat, kuat, dan bertenaga. Ketika pukulan Murtado tepat mengenai Bek Lihun terpentallah orang tua itu beberapa langkah ke belakang dan muntah darah tapi tidak sampai tewas.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Murtado hendak memberikan pukulan penghabisan pada Bek Lihun, tapi orang tua itu mengangkat tangannya menginstruksikan bahwa ia menyerah dalam pertarungan itu. &quot;Gua menyerah...&quot; tukas si Bek Lihun. Murtado mengampuni si Bek Lihun dan Mandor Bacan dengan syarat mereka tidak mengganggu lagi siapapun yang ada di Kemayoran. Walaupun, mereka tetap menjadi antek-antek para kompeni.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Dan kehidupan pun berjalan seperti biasanya, hingga.....&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Segerombolan brocomorah di bawah pimpinan Warsa mmulai menggasak Kemayoran. Setiap malam gerombolan ini berhasil merauk harta penduduk, bahkan kadang kala melakukan pembunuhan. Aksi para brocomorah ini sebenarnya sudah mendapat respon dari Bek Lihun dan kawan-kawan, namun tampaknya gerombolan Warsa lebih kuat.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Karena itu, Kemayoran menjadi tidak aman lagi. Pihal kompeni marah kepada Bek Lihun dan kawan-kawannya. Mereka beranggapan dengan ketidakamanan di Kemayoran, aliran dana pajak dan lain-lainnya bakalan tidak berjalan dengan lancar seperti biasanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Di tengah-tengah kegalauan itu, Bek Lihun dan kawan-kawannya datang kepada si Murtado untuk meminta bantuannya. Merasa keamanan Kemayoran masuk dalam ranah tanggung jawabnya juga, Murtado setuju dengan permintaan Bek Lihun. Bersama dua orang karibnya, Saomin dan Sarpin, Murtado mencari markas Warsa dan kawanannya di sekitaran Karawang.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ketiga orang ini lalu menggosak-asik markas Warsa, membuat kawanannya kocar-kacir. Warsa sendiri tewas dalam perkelahian itu. Murtado dan dua kawannya mengambil kembali harta rampasan kawanan Warsa dan dikembalikan kepada masyarakat Kemayoran.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Semua masyarakat Kemayoran berterima kasih atas jasa si Murtado, termasuk para kompeni-kompeni. Para sinyo itu ingin mengangkat Murtado menjadi Bek Kemayoran menggantikan Bek Lihun. Tapi, tawaran Belanda ditolak mentah-mentah oleh Murtado.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Ia memang ingin menjaga keamanan Kemayoran tapi tidak ingin menjadi antek kompeni. Motonya &quot;Lebih baik hidup sebagai rakyat biasa, tapi ikut menjaga keamanan rakyat.&quot; Dalam sejarah Indonesia, Murtado di kenal orang-orang sebagai tokoh legendaris kota Kemayoran sama seperti &quot;Si Pitung&quot; dan lainnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Jadi, hikmah yang dapat kita ambil dari cerita di atas ialah jangan lah menjadi seorang yang arogan dan bertindak semenah-menah terhadap orang-orang karena memiliki kemampuan yang lebih. Akan tetapi jadikan kelebihan itu untuk melindungi orang lain. Demikian cerita dongeng legendaris si Murtado macan Kemayoran, semoga dapat bermanfaat dan tentunya dapat menghibur Anda semua.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Baca Juga : &lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2015/10/cerita-dongeng-legenda-pulau-catu.html&quot;&gt;Cerita Dongeng Legenda Bukit Catu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Baca Juga :&lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2015/10/cerita-dongeng-legenda-telaga-pasir.html&quot;&gt; Cerita Dongeng Legenda Telaga Pasir&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Referensi Saya : Search Google&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/feeds/6963714308620059173/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/2015/10/cerita-rakyat-murtado-si-macan-kemayoran.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default/6963714308620059173'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default/6963714308620059173'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/2015/10/cerita-rakyat-murtado-si-macan-kemayoran.html' title='Cerita Rakyat Murtado Si Macan Kemayoran'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08946374405366963398</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjw0vYkGvKxAW98p2c6ICj4wh_k3lKKBv7TsxRj5p98MG0xqF0RIDROd_PPHah_U3lHH_ailU2kXS8Suw3WlhGHtF8lKG8fyp_wjoIfnQH1lXskCzc4d-FJVK2Y6_hBLJT5COdm4SVPNoA/s72-c/cerita-rakyat-si-murtado-macan-kemayoran.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7547311571764217587.post-7221040738491352410</id><published>2015-10-22T21:34:00.000+08:00</published><updated>2015-10-22T21:43:03.641+08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Rakyat"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Dongeng"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hiburan"/><title type='text'>Cerita Dongeng Legenda Bukit Catu</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Gerbang Cerita&lt;/b&gt; - Pada zaman dahulu kala ada sebuah desa di Bali di mana mayoritas penduduknya bekerja sebagai seorang petani. Salah satu seorang dari petani itu bernama Jurna. Dia asalah seorang petani yang sangat rajin, yang selalu memiliki panen sangat besar. Nammun, dia tidak pernah merasa puas, ia ingin memiliki panen yang lebih banyak dan lebih banyak lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg-sm2q4D8YRhKShBIXcroBRL4YNUpBGaBgkIQkpZNGYVoSfAWH4cbibG3JRKZ4oEXZBQk66J7LC24XwCl8cJU38zpvgmUjXtCw1S43NE3cuZSemfAcubKtkhkblDXYVGY_bBAGQXKl2RM/s1600/cerita-dongeng-legenda-bukit-catu.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg-sm2q4D8YRhKShBIXcroBRL4YNUpBGaBgkIQkpZNGYVoSfAWH4cbibG3JRKZ4oEXZBQk66J7LC24XwCl8cJU38zpvgmUjXtCw1S43NE3cuZSemfAcubKtkhkblDXYVGY_bBAGQXKl2RM/s400/cerita-dongeng-legenda-bukit-catu.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Aku akan berjanji untuk Dewa. Jika mereka memberikan saya lebih daripada panen saya miliki sekarang, saya akan memberi mereka persembahan dan saya akan berbagi panen ke tetangga.&quot; kata Jurna pada istrinya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Saya setuju. Tapi ingatlah, Bapak harus memenuhi janji Bapak sendiri,&quot; sahut istrinya.&lt;br /&gt;
Segera, Jurna memiliki&amp;nbsp; panen lebih baik dan lebih banyak. Dia memilki lebih banyak beras dari pada yang pernah ia peroleh sebelumnya. Tentunya, dia merasa sangat senang. Dan seperti yang dijanjikan, ia mempersiapkan persembahan kepada para Dewa dan juga membagi perolehan panennya tersebut kepada tetangga-tetangganya dan mereka semua sangat bahagia.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya saja, Jurna masih merasa kurang puas dengan hasil yang diperolehnya sekarang ini. Dia ingin memiliki panen yang lebih baik lebih banyak dan jauh lebih benyak lagi. Oleh karena itu, ia kembali berjanji kepada Dewa bahwa ia akan menggandakan persembahannya dan berbagi lagi dengan tetangga-tetangganya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Kenginannya pun terkabulkan, panen yang diperolehnya pun jauh lebih baik dan jauh lebih banyak dibandingkan dengan panen sebelumnya. Para petni yang lain di desanya mengagumi keberhasilan sang Jurna. Mereka sangat senang dengan hal tersebut, karena Jurna membagi hasil penennya kepada mereka.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu hari, Jurna pergi ke sawahnya. Ketika tiba, dia melihat tumpukan tanah di tanah, seperti sebuah catu. Catu terbuat dari tempurung kelapa, yang dipakai untuk mengukur jumlah beras. Di rumah, Jurna membicarakan tentang tanah yang mencuat bak catu kepada istrinya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Istri Jurna lalu mempunyai ide. &quot;Mari kita membuat catu dari beras,&quot; kata istrinya. Jurna pun setuju dengan ide istrinya. Kemudian, mereka membentuk nasi seperti catu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Pada hari berikutnya, Jurna pergi ke sawahnya dan memperhatikan catu tanah yang ada di sawahnya. Dia memperhatikan catu tanah di sawahnya semakin membesar.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Aku akan membuat nasi catu lebih besar dari ini,&quot; kata si Jurna sendiri. Dia meminta istrinya untuk membuat catu nasi yang lebih besar lagi. Dia merasa sangat puas, dia ingin menunjukkan kenaikan catu kepada tetangganya. Ia berharap tetangganya akan mengungkit dia sebagai orang kaya, dan begitulah jadinya, para tetangganya memuji Jurna dan istrinya! Jurna pun semakin besar kepala.&lt;br /&gt;
Pada hari berikutnya, Jurna pergi ke sawahnya. Dia berharap catu tanah tidak semakin besar dan besar lagi. Akan tetapi harapannya tidak sesuai. Anehnya, catu tanah lebih besar lagi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
&quot;Jangan khawatir, saya punya banyak beras di rumah. Saya bisa membuat nasi catu besar seperti itu,&quot; kata si Jurna dengan gaya arogan. Sementara dia membuat catu beras, dia berpikir bagaimana tetangganya akan mengungkit dirinya. Dan keinginannya terpenuhi. Semua tetangga begitu kagum dengan besarnya catu beras. Mereka semua mengatakan bahwa Jurna sangat kaya. Si Jurna pun semakin arogan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian Jurna pergi ke sawahnya. Dia berharap catu tanah akan berhenti tumbuh. Tapi, dia salah. Sekali lagi, itu menjadi jauh lebih besar dari sebelumnya. Jurna benar-benar marah. Dia membuat beras catu lebih besar dari sebelumnya. Ini selalu berulang. Setiap kali pergi ke sawah, Jurna selalu menemukan catu tanah menjadi lebih besar dan lebih besar lagi dari pada sebelumnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Istri Jurna selalu mengingatkan Jurna untuk berhenti membuat beras catu. Sang istri mengatakan bahwa keuntungan yang didapat dari pertanian makin sedikit, karena terpakai untuk membuat catu nasi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, Jurna yang merasa jumawa mengabaikannya. Dia hanya berpikir begaimana dia bisa membuat catu berasnya lebih besar dari catu tanah. Segera dia kehilangan semua nasinya. Ia pun akhirnya menjadi miskin. Jurna pun menyesali perilaku buruk yang ia lakukan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sementara itu, catu tanah menjadi sangat besar, rasannya seperti bukit. Orang-orang kemudian menamakannya sebagai &quot;Catu Hill&quot; atau &quot;Bukit Catu&quot;.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
Hikmah yang dapat kita temui dari cerita ini yaitu ketamakan justru akan menjadi bumerang bagi diri kita sendiri. Demikianlah cerita dongeng legenda bukit catu, semoga dapat bermanfaat untuk kita dan tentunya dapat menghibur Anda semua.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Baca Juga : &lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2015/10/cerita-dongeng-legenda-telaga-pasir.html&quot;&gt;Cerita Dongeng Legenda Telaga Pasir &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Baca Juga :&lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2015/10/cerita-dongeng-asal-usul-nama-kota.html&quot;&gt; Cerita Dongeng Asal Usul Nama Kota Ampean&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Referensi Saya : Search Google&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/feeds/7221040738491352410/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/2015/10/cerita-dongeng-legenda-pulau-catu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default/7221040738491352410'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default/7221040738491352410'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/2015/10/cerita-dongeng-legenda-pulau-catu.html' title='Cerita Dongeng Legenda Bukit Catu'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08946374405366963398</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg-sm2q4D8YRhKShBIXcroBRL4YNUpBGaBgkIQkpZNGYVoSfAWH4cbibG3JRKZ4oEXZBQk66J7LC24XwCl8cJU38zpvgmUjXtCw1S43NE3cuZSemfAcubKtkhkblDXYVGY_bBAGQXKl2RM/s72-c/cerita-dongeng-legenda-bukit-catu.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7547311571764217587.post-5500495676161746694</id><published>2015-10-18T22:26:00.000+08:00</published><updated>2015-10-18T22:26:47.344+08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Rakyat"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Dongeng"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hiburan"/><title type='text'>Cerita Dongeng Legenda Telaga Pasir</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Gerbang Cerita&lt;/b&gt; - Telaga Pasir atau lebih dikenal Telaga Sarangan merupakan salah satu objek wisata air yang terkenal di Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Telaga ini memiliki luas sekitar 30 hektar dengan kedalaman mencapai 30 meter.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhD3VkS2Aq9HVS1rhyphenhyphen1CdzO_RrsUgGVkiWJAxsiYexcKPE5jpbb2Ci_CcCnX8RtBYwmU6r5cD2awq4HG5lDQfYa-xq9wlEh4_Q6hIlkhg-vZl0NM-Yu-rvo9vZ8PdRI385LSi4RY4aGWtY/s1600/cerita-dongeng-legenda-telaga-pasir.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhD3VkS2Aq9HVS1rhyphenhyphen1CdzO_RrsUgGVkiWJAxsiYexcKPE5jpbb2Ci_CcCnX8RtBYwmU6r5cD2awq4HG5lDQfYa-xq9wlEh4_Q6hIlkhg-vZl0NM-Yu-rvo9vZ8PdRI385LSi4RY4aGWtY/s400/cerita-dongeng-legenda-telaga-pasir.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Menurut cerita rakyatt Indonesia setempat, mulanya telaga ini sebuah ladang milik &quot;Kyai Pasir&quot;. Lalu, suatu peristiwa menyebabkan ladang ini menjadi telaga.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Di Kaki Gunung Lawu, Magetan, hiduplah sepasang suami istri bernama Kyai Pasir dan Nyai Pasir. Mereka orang miskin yang kerjanya sehari-hari menggarap ladang. Ya, itu sudah cukup memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari, walaupun pas-pasan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Suatu hari, ketika menggarap ladang, mata Kyai Pasir menatap sebuah telur besar yang teronggok di bawah pepohonan. Melihat hal tersebbut, Kyai Pasir mencoba menghapirinya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&quot;Telur apa ini ya?&quot; gumam Kyai Pasir terheran-heran. Kyai Pasir menjemputnya lalu mengamatinya dengan seksama.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&quot;Apa mungkin ini telur ayam. Mana mungkin ayam berkeliaran di sekitar sini?&quot; Kyai Pasir bertanya-tanya. &quot;Ah, bodo ah, mau telur apa kek, yang penting telur ini enak untuk dijadikan lauk untukku dan istriku.&quot;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Maka, Kyai Pasir segera pulang ke rumah untuk istirahat karena hari sudah siang sekaligus memberikan telur yang didapatnya supaa dimasak oleh istrinya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&quot;Bu, tolong masak telur ini,&quot; kata Kyai Pasir sesampainya di rumah.&lt;br /&gt;&quot;Telur apa ini, Pak? Besar sekali......&quot; tanya Nyai Pasir.&lt;br /&gt;&quot;Sudahlah Bu, tidak perlu kau pikirkan. Yang jelas itu telur bisa buat makan kita siang ini. Lekaslah, perutku sudah keroncongan.&quot;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Nyai Pasir segera memasak telur tersebut. Setelah matang telur tersebut dibagi dua sama rata. Suami istri itu masing-masing mendapatkan separuh-separuh. Usai istirahat dan makan siang, tubuh Kyai Pasir kembali bertenaga. Ia pun pamit pada istrinya untuk bekerja.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Di tengah perjalanan, Kyai Pasir mengelu-elus perutnya. Tampaknya ia masih merasakan nikmatnya telur tersebut tadi. Hanya saja, saat sampai di ladang, tiba-tiba sekujur tubuh Kyai Pasir terasa sakit, panas, dan kaku. Kyai Pasir bingung apa yang tengah terjadi pada dirinya. Matanya pun mulai berkunang-kunang.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&quot;Aduh, kenapa tubuhku ini?&quot; erang Kyai Pasir.&lt;br /&gt;Saking akitnya, Kyai Pasir rebah ke tanah dan berguling-guling ke sana ke mari. Selang beberapa waktu kemudian, dari tubuh Kyai Pasir mulai tumbuh sisik, sementara mulutnnya mulai maju moncong ke depan. Kyai Pasir berubah menjadi ular naga.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Di waktu yang bersamaan, Nyai Pasir juga mengalammi hal yang sama dengan suaminya. Ia mengeluhkan tubuhnya sakit. Maka, ia pun pergi ke ladang dan di saat itu ia melihat seekor naga yang&amp;nbsp; mengerikan. Tepat saat itu, Nyai Pasir juga berubah menjadi ular naga. Ternnyata telur yang mereka makan adalah telur naga.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Kedua naga itu mengais-ngais tanah, sehingga tanah di sekitar berserakan dan membentuk cekungan seperti habis digali. Lama kemudian, cekungan tanah itu pun makin luas dan dalam. Setelah itu, munculah semburan air yang sangat deras sehingga cekungan itu di penuhi air dan berubah menjadi telaga.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Masyarakat setempat menamakan telaga itu Telaga Pasir, yang mengambil nama dari Kyai dan Nyai Pasir. Dan karena lokasinya berada di Kelurahan Sarangan, telaga ini juga dikenal dengan Telaga Sarangan. Saat ini, Telaga Pasir atau Telaga Sarangan ini menjadi objek wisata andalan Kabupaten Magetan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Nah, begitulah legenda cerita mengenai Telaga Pasir ini. Cerita rakyat Indonesia ini masih digemari oleh masyarakat Jawa Timur, khususnya Magetan. Pesan moral yang bisa dipetik dari kisah atau cerita di atas yaitu hendaklah kita berhati-hati sebelum mengambil sesuatu yang belum jelas asal-usulnya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Semoga bisa dijadikan pembelajaran untuk kita semua dan tentunya dapat menghibur Anda semua di mana pun Anda berada.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Baca Juga : &lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2015/10/cerita-dongeng-asal-usul-nama-kota.html&quot;&gt;Cerita Dongeng Asal Usul Nama Kota Ampean&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Baca Juga : &lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2015/10/cerita-riwayat-nyai-dasima.html&quot;&gt;Cerita Riwayat Nyai Dasima&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
 &lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Referensi Saya : Search Google&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/feeds/5500495676161746694/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/2015/10/cerita-dongeng-legenda-telaga-pasir.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default/5500495676161746694'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default/5500495676161746694'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/2015/10/cerita-dongeng-legenda-telaga-pasir.html' title='Cerita Dongeng Legenda Telaga Pasir'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08946374405366963398</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhD3VkS2Aq9HVS1rhyphenhyphen1CdzO_RrsUgGVkiWJAxsiYexcKPE5jpbb2Ci_CcCnX8RtBYwmU6r5cD2awq4HG5lDQfYa-xq9wlEh4_Q6hIlkhg-vZl0NM-Yu-rvo9vZ8PdRI385LSi4RY4aGWtY/s72-c/cerita-dongeng-legenda-telaga-pasir.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7547311571764217587.post-8502160186280058579</id><published>2015-10-17T22:46:00.000+08:00</published><updated>2015-10-17T22:46:27.196+08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Rakyat"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Dongeng"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Sejarah"/><title type='text'>Cerita Dongeng Asal Usul Nama Kota Ampean</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;o:OfficeDocumentSettings&gt;
  &lt;o:RelyOnVML/&gt;
  &lt;o:AllowPNG/&gt;
 &lt;/o:OfficeDocumentSettings&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;w:WordDocument&gt;
  &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;
  &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;
  &lt;w:TrackMoves/&gt;
  &lt;w:TrackFormatting/&gt;
  &lt;w:PunctuationKerning/&gt;
  &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;
  &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;
  &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;
  &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;
  &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;
  &lt;w:LidThemeOther&gt;IN&lt;/w:LidThemeOther&gt;
  &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;
  &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;
  &lt;w:Compatibility&gt;
   &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;
   &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;
   &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;
   &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;
   &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;
   &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;
   &lt;w:DontVertAlignCellWithSp/&gt;
   &lt;w:DontBreakConstrainedForcedTables/&gt;
   &lt;w:DontVertAlignInTxbx/&gt;
   &lt;w:Word11KerningPairs/&gt;
   &lt;w:CachedColBalance/&gt;
  &lt;/w:Compatibility&gt;
  &lt;m:mathPr&gt;
   &lt;m:mathFont m:val=&quot;Cambria Math&quot;/&gt;
   &lt;m:brkBin m:val=&quot;before&quot;/&gt;
   &lt;m:brkBinSub m:val=&quot;--&quot;/&gt;
   &lt;m:smallFrac m:val=&quot;off&quot;/&gt;
   &lt;m:dispDef/&gt;
   &lt;m:lMargin m:val=&quot;0&quot;/&gt;
   &lt;m:rMargin m:val=&quot;0&quot;/&gt;
   &lt;m:defJc m:val=&quot;centerGroup&quot;/&gt;
   &lt;m:wrapIndent m:val=&quot;1440&quot;/&gt;
   &lt;m:intLim m:val=&quot;subSup&quot;/&gt;
   &lt;m:naryLim m:val=&quot;undOvr&quot;/&gt;
  &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;w:LatentStyles DefLockedState=&quot;false&quot; DefUnhideWhenUsed=&quot;true&quot;
  DefSemiHidden=&quot;true&quot; DefQFormat=&quot;false&quot; DefPriority=&quot;99&quot;
  LatentStyleCount=&quot;267&quot;&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;0&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Normal&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 7&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 8&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;9&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;heading 9&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 7&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 8&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; Name=&quot;toc 9&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;35&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;caption&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;10&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Title&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;1&quot; Name=&quot;Default Paragraph Font&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;11&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Subtitle&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;22&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Strong&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;20&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Emphasis&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;59&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Table Grid&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Placeholder Text&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;1&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;No Spacing&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1 Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2 Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1 Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Revision&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;34&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;List Paragraph&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;29&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Quote&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;30&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Intense Quote&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2 Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1 Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2 Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3 Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid Accent 1&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1 Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2 Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1 Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2 Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1 Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2 Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3 Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid Accent 2&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1 Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2 Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1 Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2 Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1 Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2 Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3 Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid Accent 3&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1 Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2 Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1 Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2 Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1 Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2 Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3 Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid Accent 4&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1 Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2 Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1 Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2 Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1 Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2 Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3 Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid Accent 5&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;60&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Shading Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;61&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light List Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;62&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Light Grid Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;63&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 1 Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;64&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Shading 2 Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;65&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 1 Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;66&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium List 2 Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;67&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 1 Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;68&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 2 Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;69&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Medium Grid 3 Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;70&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Dark List Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;71&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Shading Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;72&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful List Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;73&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; Name=&quot;Colorful Grid Accent 6&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;19&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Subtle Emphasis&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;21&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Intense Emphasis&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;31&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Subtle Reference&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;32&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Intense Reference&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;33&quot; SemiHidden=&quot;false&quot;
   UnhideWhenUsed=&quot;false&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;Book Title&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;37&quot; Name=&quot;Bibliography&quot;/&gt;
  &lt;w:LsdException Locked=&quot;false&quot; Priority=&quot;39&quot; QFormat=&quot;true&quot; Name=&quot;TOC Heading&quot;/&gt;
 &lt;/w:LatentStyles&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt;
&lt;style&gt;
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
 {mso-style-name:&quot;Table Normal&quot;;
 mso-tstyle-rowband-size:0;
 mso-tstyle-colband-size:0;
 mso-style-noshow:yes;
 mso-style-priority:99;
 mso-style-qformat:yes;
 mso-style-parent:&quot;&quot;;
 mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
 mso-para-margin-top:0cm;
 mso-para-margin-right:0cm;
 mso-para-margin-bottom:10.0pt;
 mso-para-margin-left:0cm;
 line-height:115%;
 mso-pagination:widow-orphan;
 font-size:11.0pt;
 font-family:&quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&quot;;
 mso-ascii-font-family:Calibri;
 mso-ascii-theme-font:minor-latin;
 mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
 mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
 mso-hansi-font-family:Calibri;
 mso-hansi-theme-font:minor-latin;}
&lt;/style&gt;
&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;o:shapedefaults v:ext=&quot;edit&quot; spidmax=&quot;1026&quot;/&gt;
&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;
 &lt;o:shapelayout v:ext=&quot;edit&quot;&gt;
  &lt;o:idmap v:ext=&quot;edit&quot; data=&quot;1&quot;/&gt;
 &lt;/o:shapelayout&gt;&lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;

&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Gerbang Cerita &lt;/b&gt;– Pada zaman
dahulu kala, kerajaan Bali berhasil membakar Desa Kenaga. Saat itu, yang
menjadi pusat pemerintahan kerajaan Kenaga adalah Suradadi. Paihnya bernama
Raden Satria Nata.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhV-MDKv18UjvDrFK8t61Vw05A6pBCdIaPlDNYMeDKsjCIFQ_vMGTKv_gDrIt6cAcWoYQsdz4c6JKBNGq9CNNdVE0o44_DXcXaLwdIL0AdiGokBsWOZPPP_l6nilugco8TutA_twgKs5NQ/s1600/Cerita-Dongeng-Asal-Usul-Nama-Kota-Ampean.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhV-MDKv18UjvDrFK8t61Vw05A6pBCdIaPlDNYMeDKsjCIFQ_vMGTKv_gDrIt6cAcWoYQsdz4c6JKBNGq9CNNdVE0o44_DXcXaLwdIL0AdiGokBsWOZPPP_l6nilugco8TutA_twgKs5NQ/s400/Cerita-Dongeng-Asal-Usul-Nama-Kota-Ampean.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setelah kalah perang dengan Bali,
Raden Satria Nata bersama pengikutnya mencari tempat untuk membuka desa baru.
Akhirnya, dijumpailah tempat yang mirip dengan desa Kenaga.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Desa itu bernama
Desa Madya. Raden Satria Nata dan pengikutnya kemudian membuka ladang dan
bercocok tanam di situ. Tanaman yang paling cocok adalah jenis “komak” (dalam
bahasa Jawa disebut “kara”). Konon, pada saat komak sedang berbunga, datanglah
putri Jin mangisap sari bunga komak. Salah satu putri Jin tertangkap oleh Raden
Satria Nata.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Singkat cerita, putri Jin itu kemudian menjadi permaisuri Raden
Satria Nata. Namun, kedua belah pihak telah bersepakat untuk tidak saling
berbicara selama menjadi suami istri.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dalam perkawinan mereka, lahirlah
seorang putra yang sangat disayang oleh Raden Satria Nata. Perasaan itu ingin
ia ucapkan kepada istrinya. Namun, hal itu tidak mungkin karena ia tidak ingin
melanggar janji yang telah disepakati.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada suatu hari, sang istri pergi
ke perigi (sumur) mengambil air. Anaknya ditidurkan di atas “geong” (ayunan).
Pada waktu itu, sang bayi sudah bisa duduk. Kesempatan itu dipergunakan oleh
Raden Satria Nata &lt;span style=&quot;mso-spacerun: yes;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;untuk mengambil
selendang yang biasa dipakai untuk menggendong putranya, lalu disembunyikan.
Sejenak ia mengelus putranya yang sedang tidur nyenyak.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Tidak berapa lama kemudian,
datanglah sang ibu. Sesampai di rumah, sang ibu melihat putranya sudah bangun
dan menangis. Maka datanglah putranya, sambil mencari-cari selendangnya. Tanpa
bicara sedikitpun sang ibu keluar masuk kamar mencari selendangnya, namun tidak
dijumpainya.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Melihat wajah istrinya dan
tingkah lakunya, Raden Satria Nata bertanya, “Apa yang engkau cari? Barang kali
ini.” Ia berkata sambil menyodorkan selendang yang diambilnnya.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Istrinya segera
mengambil selendang itu dan dengan sopannya ia bersimpuh dan berkata, “Sampai
di sini kita hidup bersama. Saya terpaksa meninggalkan kanda karena telah
melanggar janji yang telah kita sepakati.” Kemudian, ia bangkit dan pergi
mengambil “joman” (jerami) dan dibakarnya. Sang Putri bersama Putranya lenyap bersama
lenyapnya kumpulan asap jerami.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Raden Satria Nata tak mampu
menahan kepergian istrinya, kemudian ia pingsan. Setelah siuman ia dianjurkan
untuk bertapa di gunung Sesang, agar bisa bertemu dengan anak istrinya.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Selama sembilan hari sembilan
malam, ia tidak bisa berjumpa dengan istri dan anaknya. Hanya suara istrinya
yang terdengar. Istrinya mengatakan bahwa dirinnya tak mungkin kembali. Yang
mungkin kembali adalah putranya, dengan syarat harus diadakan upacara selamatan
dengan sesajen yang dilengkapi dengan dulang sebanyak empat puluh empat macam
dan dibawa ke desa Kenaga.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Setelah diadakan upacara yang
dipimpin oleh Nek Sura, putranya dapat kembali dan dipelihara oleh Nek Sura.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Raden Satria Nata tidak puas
sebelum berjumpa dengan istrinya, namun yang ditungggu tidak kunjung datang.
Akhirnya, Raden Satria Nata meninggal di pertapaan.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Sementara itu, putra Raden Satria
Nata telah berumur enam tahhun, namun belum diberi nama. Lalu, dicarilah orang
yang bisa memberi nama. Tujuannya adalah ke Gel-gel, tempat leluhurnya,
barangkali ada yang bisa memberi nama.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Konon, pada saat menunggu perahu untuk
menyebrang ke Bali, tiba-tiba datang seorang tua mengaku keturunan Satria
Dayak, satu-satunya yang berhak memberi nama kepada putra Raden Satria Nata.
Kemudian, putra Raden Satria Nata diberi nama &quot;Satria Tampena&quot;.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Dari nama Satria Tampena inilah
konon asal nama kota Ampenan. Keturunan Satria Tampena terdapat di desa
Suradadi, Kabupaten Lombok Timur.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Demikian cerita dongeng atau
cerita rakyat asal usul nama kota Ampean. Semoga dapat bermanfaat dan menghibur
Anda semua.&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;

&lt;/b&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Baca Juga : &lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2015/10/cerita-riwayat-nyai-dasima.html&quot;&gt;Cerita Riwayat Nyai Dasima&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;

&lt;/b&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Baca Juga : &lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2015/10/cerita-dongeng-watu-maladong.html&quot;&gt;Cerita Dongeng Watu Maladong&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Referensi Saya : Search Google&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/feeds/8502160186280058579/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/2015/10/cerita-dongeng-asal-usul-nama-kota.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default/8502160186280058579'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default/8502160186280058579'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/2015/10/cerita-dongeng-asal-usul-nama-kota.html' title='Cerita Dongeng Asal Usul Nama Kota Ampean'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08946374405366963398</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhV-MDKv18UjvDrFK8t61Vw05A6pBCdIaPlDNYMeDKsjCIFQ_vMGTKv_gDrIt6cAcWoYQsdz4c6JKBNGq9CNNdVE0o44_DXcXaLwdIL0AdiGokBsWOZPPP_l6nilugco8TutA_twgKs5NQ/s72-c/Cerita-Dongeng-Asal-Usul-Nama-Kota-Ampean.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7547311571764217587.post-1947664466666712645</id><published>2015-10-12T19:43:00.000+08:00</published><updated>2015-10-12T19:43:26.889+08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Rakyat"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Dongeng"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hiburan"/><title type='text'>Cerita Riwayat Nyai Dasima</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Gerbang Cerita&lt;/b&gt; – Bagi para lelaki, kecantikan Dasima bak madu yang dapat disesap setiap saat. Dasima adalah wanita yang berasal dari Kahuripan. Lantaran, enggan hidup melarat, ia rela dijadikan wanita simpanan Tuan Edward. Dengan menjadi wanita simpanan Tuan Edward, Dasima mendapat gelar “Nyai” yang kemudian disandangnya di depan namanya. Hasil hubungan mereka, lahirlah nancy.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjx2G_cqciXQYVNdRuE_5EPfXpm2XPzCEYVWSgWQ9YgsNBelOoP2KkOeqe951y0DK76WsRhz-FUjIIVbvkv-ppuJWnGFBpZ8jAb5_8jvKj_Bu_hO6CowKY6BW1HHTG-o5gTxnBJVIce0Jk/s1600/cerita-riwayat-nyai-dasima.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjx2G_cqciXQYVNdRuE_5EPfXpm2XPzCEYVWSgWQ9YgsNBelOoP2KkOeqe951y0DK76WsRhz-FUjIIVbvkv-ppuJWnGFBpZ8jAb5_8jvKj_Bu_hO6CowKY6BW1HHTG-o5gTxnBJVIce0Jk/s400/cerita-riwayat-nyai-dasima.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Atas kelahiran Nancy, Tuan Edward memberikan sebuah rumah di Pejambon untuk Nyai Dasima lengkap dengan para pembantu yang siap melayani kebutuhan Nyai Dasima. Kepindahan Nyai Dasima ke Pejambon tidak disertai oleh Tuan Edward, sehingga laki-laki yang lewat depan rumah Nyai Dasima pasti beedecak kagum pada si pemilik rumah. Sayangnya, mereka tidak berani masuk atau tidak punya kepentingan masuk karena memang tidak punya kepentingan.&lt;br /&gt;Dikisahkan dalam cerita rakyat ini, ada seorang laki-laki bernama Samiun. Bisa dikatakan bahwa si Samiun ini begitu beruntung, lantaran ia punya paman seorang Tentara dengan jabatan sebagai Komandan Onder Distrik Gambir. Berpeluanglah ia masuk ke rumah Nyai Dasima atas nama pamannya. Ketika bertemu dengan Nyonya pemilik rumah yang tidak lain tidak bukan adalah Nyai Dasima, bergetarlah sanubari Samiun. Ia tidak menyangka Nyonya pemilik rumah begitu canti bak Sinta dalam cerita wayang.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Sejak pulang dari rumah kuntum Pejambon itu, Samuin bolak-balik ke rumah Haji Salihun di Pecenongan untuk meminta ilmu pelet. Kemudian, ia menyuap Mak Buyung yang bekerja menjadi pembantu Nyai Dasima untuk mengambil sehelai rambut Nyai Dasima. Ia pun dengan lihai memainkan ilmu pelet yang diberikan Haji Salihun. Mantra pelet Samiun, tepat mengenai sasaran. Nyai Dasima menganggap Samiun pria tergagah di Batavia. Samiun pun membawa Nyai Dasima ke rumah ibunya, setelah berkongsi dengan Hayati istrinya dan ibunya untuk mengeruk harta Nyai Dasima melalui pernikahan. Kembang Pejambon itu bak kerbau dicucuk hidungnya, saat Samiun mengajaknya menikah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Melihat perilaku Hayati, Mak Soleha dan Samiun yang berubah total, Nyai Dasima sadr bahwa dirinya menjadi objek Samiun, Hayati dan Mak Soleha. Nyai Dasima tak tahan lagi dan minta cerai. Samiun setuju menceraikan dengan syarat harta Nyai Dasima yang ada di Pejambon pemberian Tuan Edward harus diserahkan pada Samiun.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Hayati sangat berperan dalam menentukan langkah Samiun. Hayati terus mendesak agar Samiun bisa memperoleh harta Nyai Dasima. Dengan berbagai upaya Samiun mencoba melunakkan hati Nyai Dasima agar bersedia mengalihkan hartanya, tetapi hal itu sulit dilakukan Nyai Dasima. Tidak mungkin ia kembali ke Pejambon menemui Tuan Edward, jangan-jangan kemurkaan dan penjara yang didapatnya karena telah mempermalukan Tuan Edward di mata orang Belanda dan Eropa umumnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Samiun menceraikan Nyai Dasima, tetapi tak mendapatkan hartanya. Sementara Nyai Dasima tetap berada di rumah karena tak punya saudara di Batavia, tak punya uang lagi untuk pulang ke kampungnya, tak punya keberanian menemui Tuan Edward untuk memohon pengampunan atas kecurangan yang dilakukannya.&lt;br /&gt;Hayati menjadi semakin kesal melihat Nyai Dasima yang telah berubah menjadi beban bagi keluarganya. Hayati mendesak Samiun untuk menyingkirkan Nyai Dasima, karena tidak bermanfaat lagi baginya, serta ketidaktepatan janji Samiun membuatnya linglung. Ia mengambil keputusan untuk menghabisi nyaea Nyai Dasima.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Untuk melakukan hal itu, Samiun tak ingin melakukannya dengan tangan sendiri, perlu menggunakan tangan orang lain. Untuk hal itu, Samiun menyewa Bang Puasa- jagoan Kwitang dengan upah 100 Pasmat. Samiun merundingkan teknis pelaksanaan penghabisan nyawa Nyai Dasima. Akhirnya, mereka menyepakati cara terbaik yang harus dilakukan Samiun menyerahkan panjar sebesar 5 pasmat kepada Bang Puasa.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Sikap Samiun mengembangkan senyum yang manis sekali kepada Nyai Dasima. Mak Soleha menjadi kaget, mengapa Samiun bukannya mengusir Nyai Dasima malah berbaikan. Hayati yang mendengarkan cerita dari Mak Soleha tentang sikap Samiun menjadi sangat kesal. Ingin saja ia pergi ke rumah itu untuk menghabisi nyawa Nyai Dasima.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Sikap Samiun yang simpatik dan terkesan melindunginya membuat semangat Nyai Dasima tumbuh, serta hadir persaan menyayangi kepada Samiun. Samiun mengajak Nyai Dasima ke kampung ketapang untuk mendengarkan pertunjukan seni tutur tentang Amir Hamzah. Nyai Dasima yang telah melimpahkan harapannya kepada Samiun langsung setuju dengan ajakan tersebut. Nyai Dasima berharap mungkin malam ini adalah malam terindah dengan Samiun, dapat berjalan di bawah sianr rembulan sambil bercengkrama menumpahkan perasaannya selama ini terkandas di dasar lautan kebencian Hayati dan Mak Soleha.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Nyai Dasima segera bersolek secantik mungkin dengan sisa kecantikan yang dimilikinya. Mak Soleha menjadi jijik dan hampir saja meludahi muka Nyai Dasima, untung ada Samiun, sehingga masih ada rasa segan pada sang anak. Mak Soleha menjadi aneh dengan perilaku Samiun, jangan-jangan ilmu pelet Samiun menjadi bumerang buat Samiun. Hayati yang mendengarkan laporan Mak Soleha kelihatannya acuh tak acuh.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Hayati sendiri sudah hilang kesabaran atas janji Samiun yang akan memberikan harta yang banyak buatnya. Sekarang Hayati masa bodoh, tak ada gunanya berharap lagi, dan rasanya tak ada urusannya lagi dengan Nyai Dasima dan Samiun.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;“Ti... Lu kok masa bodoh?” tanya Mak Soleha keheranan.&lt;br /&gt;“Abis, mau diapain lagi, gua nggak percaya ame Samiun.”&lt;br /&gt;“Kalu Samiun jadi pergi dengan Nyai Dasima dan nggak balik lagi gimana?”&lt;br /&gt;“Biarin, gue juga bisa cari lelaki lain.” Balas Hayati pada Mak Soleha.&lt;br /&gt;“Astaghfirullah!!!”&lt;br /&gt;“Percuma ngucap, kalau niatnya nggak baik.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Mak Soleha menjadi kaget dengan pernyataan Hayati, seakan menuding dirinya ikut dalam permainan kotor mendapatkan harta milik Nyai Dasima. Mak Soleha kemudian justru membenci Hayati dan bertekad minta pada Samiun untuk menceraikan Hayati, biarlah dengan Nnyai Dasima saja. Mak Soleha berubah pikiran dan menyesali sikapnya yang sempat membenci Nyai Dasima belakangan ini. Mak Soleha segera kembali ke rumahnya tetspi mendapati Samiun dan Nyai Dasima telah pergi.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Samiun dan Nyai Dasima pergi ke Ketapang. Mereka bergandengan tangan bagaikan dua sejoli yang baru mengenal cinta pertama. Sambil berjalan, Samiun kelihatan gugp. Ingin saja mengurungkan niat untuk tidak jadi pergi, tetapi menjadi bimbang menakala mengingat Hayati yang terus mendesaknya, dan Mak Soleha yang selalu menatap dengan nanar dan lecehan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;“Rangkulin pinggang saya Bang Miun,” pinta Nyai Dasima&lt;br /&gt;“Kayak orang baru jatuh cinta aja,” sahut Samiun, tetapi tangannya melingkar di pinggang Nyai Dasima. Samiun menghentikan langkah, Nyai Dasima ikut berhenti dan bertanya.&lt;br /&gt;“Ada apa Bang Miun?”&lt;br /&gt;“Kita lewat sana aja.”&lt;br /&gt;“Kan Jalan Ketapang lewat sini?”&lt;br /&gt;“Abang khawatir kalau-kalau ada opas Belanda, nanti kita ditangkap, lagian Tuan Edward masih nyariin lu.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Mereka menggunakan jalan lain, jalan setapak yang akan melewati sebuah kali dengan jembatan titian bambu. Di ujung tepian kali tempat menyebrang, Samiun melepaskan Nyai Dasima sendiri di belakang, bukannya menuntun tangan Nyai Dasima agar tidak terpeleset manakala menyebrang. Nyai Dasima tertinggal di belakang dan memanggil Samiun tetapi Samiun meneruskan langkah untuk sampai ke tepian seberang kali.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Dalam kesempatan itu, sebuah bayangan muncul. Bayangan seseorang lelaki kekar dengan sigap memburu ke arah Nyai Dasima. Sambil mengirimkan pukulan maut ke tengkuk Nyai Dasima. Pukulan itu meleset karena Nyai Dasima sempat melangkah sebelum tangan lelaki kekar itu mendarat, sehingga yang terkena bagian belakang tetapi sakitnya bukan main, Nyai Dasima menjerit memanggil Samiun. Samiun dengan tenang dan berkata, “Ajal itu sudah sampai, pasrahin aja diri lu.”&lt;br /&gt;Nyai Dasima berusaha lari untuk minta perlindungan pada Samiun yang telah berdiri di seberang tepian kali. Memang naas bagi Nyai Dasima, sebuah pukulan keras yang keluar dari tangan Bang Puasa, mendarat tepat pada posisi yang sensitif di bagian tengkorak kepala, dan Nyai Dasima ambruk bak daun kering disapu bagai gurun. Matannya sebelah kanan melotot, lidah terjulur keluar yang sebagian putus tergigit gigi yang merapat akibat tekanan dari atas, darah mengucur keluar dari hidung dan mulut. Setelah Nyai Dasima ambruk, Bang Puasa mengeluarkan golok tergenggam dan langsung menggorok leher Nyai Dasima. Tamatla riwayat Nyai Dasima yang disertai semburan darah yang semburat keluar dari urat di lehernya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Samiun berdiri terpaku, kemudian memburu Nyai Dasima yang telah berubah menjadi seonggok bangkai manusia. Samiun mengangkat mayat Nyai Dasima dengan sebelah tangannya. Kenangan indah ketika bersama Nyai Dasima melintas di benaknya bagaikan slide membuatnya menitikan air mata. Bang Puasa dan Samiun berumbuk sebentar, dan melemparkan mayat Nyai Dasima ke kali Ciliwung.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Ternyata peristiwa pembunuhan itu ada saksi matanya, yaitu Si Kuntum yang jalan bersama Bang Puasa. Namun, Si Kuntum bungkam karena Bang Puasa mengancamnya. Sementara di seberang kali dibalik rerimbunan pohon, Musanip dan Ganip yag sedang memancing juga menyaksikan peristiwa itu dengan jelas, dan keduanya ketakutan, bersembunyi agar tidak dilihat oleh Bang Puasa. Istri Musanip yang rumahnya berdekatan dengan tempat peristiwa itu terjadi, sempat mendengar suara jeritan Nyai Dasima, dan mengintip melalui celah dinding bambu rumahnya, dan ketakutan akan diketahui oleh Bang Puasa.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Bangkai Nyai Dasima hanyut terbawa arus kali Ciliwung. Bangkai tersebut kemudian menyangkut di tangga tempat mandinya Tuan Edward, orang yang pernah memeliharanya sebagai istri simpanan. Tuan Edward segera melaporkan ke polisi tentang kematian Nyai Dasima. Di depan polisi, Tuan Edward mengaku bahwa Nyai Dasima adalah istrinya. Karena pengaduan tersebut polisi Distrik Weltevreden menganggap hal ini sebagai persoalan serius yang bisa mengancam jiwa setiap orang&amp;nbsp; Eropa, khususnya orang Belanda. Polisi mengadakan sayembara berhadiah 200 pasmat bagi siapa pun yang dapat memberikan keterangan akurat tentang Nyai Dasima, siapa orang yang telah membunuhnya. Tergiur jumlah uang, Kuntum, Musanip, dan Ganip tak kuatir akan kemarahan Bang Puasa di kemudian hari. Mereka melaporkan kepada polisi tentang kejadian yang dilihat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;“Jadi Si Puasa yang bunuh itu Madam Edward?”&lt;br /&gt;“Betul, Tuan,”&lt;br /&gt;“Bagus, Kamu orang pantas diberi hadiah nanti.”&lt;br /&gt;“”Tapi kami takut, Tuan.”&lt;br /&gt;“Takut apa?”&lt;br /&gt;“Takut sama Bang Puasa.”&lt;br /&gt;“Neee, kamu orang jangan takut.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Atas dasar laporan tersebut, polisi menangkap Bang Puasa serta barang bukti golok yang belum sempat di bersihkan dari darah Nyai Dasima. Sedangkan Samiun melarikan diri dan tak kembali lagi ke Kwitang karena taku ditangkap, sebab dialah dalang ang menyewa Bang Puasa untuk membunuh Nyai Dasima yang malang.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Demikina cerita dongeng atau cerita rakyat Nayi Dasima yang cantik jelita, semoga bisa menjadi pembelajaran untuk kita semua.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Baca Juga :&lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2015/10/cerita-dongeng-watu-maladong.html&quot;&gt;&lt;i&gt; Cerita Dongeng Watu Maladong&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Baca Juga : &lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2015/10/cerita-dongeng-ratu-aji-bidara-putih.html&quot;&gt;&lt;i&gt;Cerita Dongeng Ratu Aji Bidara Putih&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;&lt;i&gt;Referensi Saya : Search Google&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/feeds/1947664466666712645/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/2015/10/cerita-riwayat-nyai-dasima.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default/1947664466666712645'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default/1947664466666712645'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/2015/10/cerita-riwayat-nyai-dasima.html' title='Cerita Riwayat Nyai Dasima'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08946374405366963398</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjx2G_cqciXQYVNdRuE_5EPfXpm2XPzCEYVWSgWQ9YgsNBelOoP2KkOeqe951y0DK76WsRhz-FUjIIVbvkv-ppuJWnGFBpZ8jAb5_8jvKj_Bu_hO6CowKY6BW1HHTG-o5gTxnBJVIce0Jk/s72-c/cerita-riwayat-nyai-dasima.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7547311571764217587.post-5444079143676479682</id><published>2015-10-12T19:30:00.000+08:00</published><updated>2015-10-12T19:30:37.247+08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Rakyat"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Dongeng"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hiburan"/><title type='text'>Cerita Dongeng Watu Maladong</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Gerbang Cerita&lt;/b&gt; – Di Sumba, Nusa Tenggara Timur, ada seorang petani. Sebut saja petani ini, Pak Tani. Sudah berapa malam ini Pak Tani kesal. Bagaimana tidak? Tanaman yang dengan segenap hati telah diriwayatnya ditemukan dalam keadaan rusak acak-acakan. Saat mengamati, ia tahu kalau ini kelakuan babi hutan. Padahal, kebun Pak Tani sudah dibuatkan pagar pembatas tinggi supaya tidak ada pengganggu. Makanya, Pak Tani memutuskan untuk menunggui kebun pada malam harinya, berbekal tongkat sakti warisan leluhur bernama Numbu Ranggata.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjKHTinmUf6xLttplwzlc_tF0TxSVOaxtSfjBnvVEXXPjaM6LB4db3YdxiHRiC6uM3pKRHxeJO8GokCYk9yQh6UqJ1stmdpKPCAK1H1f1Gg4prMg6wf7cvSMgy2IF8obE5ZiiF4T5q0YZQ/s1600/cerita-dongeng-watu-maladong.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjKHTinmUf6xLttplwzlc_tF0TxSVOaxtSfjBnvVEXXPjaM6LB4db3YdxiHRiC6uM3pKRHxeJO8GokCYk9yQh6UqJ1stmdpKPCAK1H1f1Gg4prMg6wf7cvSMgy2IF8obE5ZiiF4T5q0YZQ/s400/cerita-dongeng-watu-maladong.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Dugaan Pak Tani memang benar. Tepat tengah malam, sekawanan babi datang. Anehnya, mereka mampu menembus pagar pembatas kebun seperti jalan biasa. Pak Tani masih menunggu di balik tempat persembunyiannya. Begitu babi itu makan, Pak Tani keluar sambil membidik salah satu babi dengan Numbu Ranggata. Tembuslah perut si babi. Bukannya menggelepar, si babi lari terus. Celakanya, Numbu Ranggata terbawa oleh babi tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Pak Tani mengikuti jejak darah yang tertinggal di tanah. Sampai di pinggir pantai, jejak darah yang tertinggal di tanah tersebut menghilang. Pak Tani sempat kebingungan ke mana lari si babi. Disaat seperti itu, seekor penyu berusia ratusan tahun menghampiri Pak Tani.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;“Sedang apa kamu? “Tanya si Penyu.&lt;br /&gt;“Apa kamu melihat sekawanan babi liar di sekitar sini?” sahut Pak Tani.&lt;br /&gt;“Naiklah ke punggungku, biar ku bawa kamu ke tempat mereka.” Jawab si Penyu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Pak Tani kemudian langsung naik ke punggung si Penyu dan diantar lah ke pulau seberang. Bertemulah ia dengan seorang nenek. Kepada nenek itu, Pak Tani menceritakan apa yang menjadi ihwal ia ke pulau tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Si nenek mengatakan bahwa ia mengetahui si babi, yang ternyata adalah babi jadi-jadian. “Mereka sekelompok manusia berilmu gaib,” kata si nenek, “Orang-orang itu yang menguasai pulau ini.”&lt;br /&gt;Sayangnya, Pak Tani merasa tidak siap dengan ilmu-ilmuan. Tombak Numbu Ranggata tidak berada di tangannya. Beruntung si nenek bersedia menurunkan beberapa ilmunya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Kapala suku penguasa pulau dikabarkan tengah sakit. Perutnya terus mengeluarkan darah. Pak Tani yang mendengar hal tersebut segera datang menemui kapala suku. Dan ia meminta izin untuk mengobati perut kepala suku tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;“Aku akan menyembuhkanmu dengan dua syarat!” kata Pak Tani.&lt;br /&gt;“Apa itu?” tanya kepala suku.&lt;br /&gt;“Kembalikan tombak yang mengenai perutmu, itu tombakku yang diwariskan secara turun-temurun.”&lt;br /&gt;Kepala suku terkejut mendengar hal tersebut, ia tidak menyangka Pak Tani mengetahui tentang hal tersebut.&lt;br /&gt;“Kedua, aku minta watu maladong milikmu, karena rakyat kami membutuhkannya untuk menanam palawija dan membuat mata air.”&lt;br /&gt;Tambah terkejutlah kepala suku. Tapi, sebagai seorang pemimpin ia mencoba bersikap tenang. Dalam ketenangannya itu, ia berkata, “Untuk yang pertama, aku akan memberikannya setelah kamu mengobati lukaku. Untuk yang kedua, aku akan memberikannnya setelah kamu beradu kesaktian denganku.”&lt;br /&gt;“Baiklah,” ujar Pak Tani menyanggupi penawaran itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Pak Tani pun menyambuhkan luka kepala suku tersebut dengan ramuan ajaib darinya. Dan setelah sembuh, kepala suku memberikan tombak Numbu Ranggata. Pertarungan sengit di antara keduanya pun terjadi. Namun, akhirnya kepala suku kalah dan menyerahkan watu maladong miliknya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Demikian cerita dongeng watu maladong, semoga dapat menghibur Anda semua di mana pun Anda berada.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Baca Juga : &lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2015/10/cerita-dongeng-ratu-aji-bidara-putih.html&quot;&gt;&lt;i&gt;Cerita Dongeng Ratu Aji Bidara Putih&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Baca Juga : &lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2015/10/cerita-dongeng-legenda-bukit-kelam.html&quot;&gt;&lt;i&gt;Cerita Dongeng Legenda Bukit Kelam&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;&lt;i&gt;Referensi Saya : Search Google&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/feeds/5444079143676479682/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/2015/10/cerita-dongeng-watu-maladong.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default/5444079143676479682'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default/5444079143676479682'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/2015/10/cerita-dongeng-watu-maladong.html' title='Cerita Dongeng Watu Maladong'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08946374405366963398</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjKHTinmUf6xLttplwzlc_tF0TxSVOaxtSfjBnvVEXXPjaM6LB4db3YdxiHRiC6uM3pKRHxeJO8GokCYk9yQh6UqJ1stmdpKPCAK1H1f1Gg4prMg6wf7cvSMgy2IF8obE5ZiiF4T5q0YZQ/s72-c/cerita-dongeng-watu-maladong.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7547311571764217587.post-4730190773062246937</id><published>2015-10-11T19:08:00.000+08:00</published><updated>2015-10-11T19:08:56.344+08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Rakyat"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Dongeng"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hiburan"/><title type='text'>Cerita Dongeng Ratu Aji Bidara Putih</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Gerbang Cerita&lt;/b&gt; – Kecamatan Muara Kaman (Kalimantan Timur) terletak di tepi sungai Mahakam. Jaraknya cukup jauh dari kota Samarinda. Keadaan perkampungannya terdiri dari rumah-rumah papan yang sederhana. Di wilayah ini beredar sebuah cerita legenda yang sangat dikenal oleh penduduk. Kisah tentang seorang ratu yang cantik jelita dengan pasukan lipan raksasanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiofKFGa32CXy0JaRPRwPAgFDQ_IAvmC6TXk3_UXsac0AA5acS9A4jJBm2_EU1htyQlt84f5ZRz8Cia1dWWO43Z-HWjEGhBX4-yY2pRuoRxBdPspx2EFpTRCTVpqRhc2BP_F3-qz_YdxNk/s1600/cerita-dongeng-ratu-aji-bidara-putih.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiofKFGa32CXy0JaRPRwPAgFDQ_IAvmC6TXk3_UXsac0AA5acS9A4jJBm2_EU1htyQlt84f5ZRz8Cia1dWWO43Z-HWjEGhBX4-yY2pRuoRxBdPspx2EFpTRCTVpqRhc2BP_F3-qz_YdxNk/s400/cerita-dongeng-ratu-aji-bidara-putih.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Pada zaman dahulu kala, negeri Muara Kaman diperintah oleh seorang ratu namanya Ratu aji Bidara Putih. Ratu Aji Bidara Putih adalah seorang gadis yang cantik jelita. Memiliki pribadi yang anggun dan penampilannya yang sangat bijaksana. Semua kelebihannya itu membuat ia terkenal sampai di mana-mana, bahkan sampai ke manca negara. Sang Ratu benar-benar bagaikan kembang yang cantik, harum mewangi. Maka tidaklah mengherankan apabila kemudian banyak Raja, Pangeran, dan Bangsawan yang ingin mempersunting ia sebagai seorang istri.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Pinangan demi pinangan mengalir bagai air sungai Mahakam yang tak pernah berhenti mengalir. Namun san Ratu selalu menolaknya. “Belum saatnya aku memikirkan pernikahan. Diriku dan perhatianku masih dibutuhkan oleh rakyat yang kucintai. Aku masih ingin terus memajukan negeri ini.” Ujarnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Kemudian pada suatu hari, muncul lah sebuah kapal besar dari negeri China. Kapal itu melayari sungai Mahakam yang luas bagaikan lautan. Menuju ke arah hulu hingga akhirnya berlabuh tidak jauh dari pelabuhan negeri Muara Kaman.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Penduduk setempat mengira penumpang kapal itu datang untuk berdagang. Sebab waktu itu sudah umum bagi kapal-kapal asing datang dan singgah untuk berdagang. Akan tetapi, ternyata penumpang kapal tersebut itu mempunyai tujuan yang lain.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Sesungguhnya kapal itu adalah kapal milik seorang Pangeran yang terkenal kekayaannya di negeri China. Ia disertai sepasukan prajurit yang gagah perkasa dan sangat mahir dalam ilmu beladiri. Kedatangannya ke Muara Kaman semata-mata hanya dengan satu tujuan. Bukan mau datang untuk berdagang akan tetapi mau meminang Ratu Aji Bidara Putih.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Kemudian turunlah para utusan sang Pangeran. Mereka menghadap Ratu Aji Bidara Putih di istana negeri. Mereka membawa barang-barang antik dari emas, dan keramik China yang terkenal. Semua itu mereka persembahkan sebagai hadiah untuk Ratu Aji Bidara Putih dari junjungan mereka. Sambil berbuat demikian mereka menyampaikan pinangan Sang Pangeran.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Kali ini Sang Ratu tidak langsung menolak, ia mengatakan bahwa ia masih akan memikirkan pinangan Sang Pangeran. Lalu dipersilahkannya para utusan kembali ke kapal. Setelah para utusan meninggalkan istana, Sang Ratu memanggil seorang punggawa kepercayaannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;“Paman” ujar Sang Ratu, “para utusan tadi terasa sangat menyanjung-nyanjung junjungannya. Bahwa Pangeran itu tampan, kaya, dan perkasa. Aku jadi penasaran ingin tahu apakah itu semua benar atau Cuma bualan belaka. Untuk itu aku membutuhkan bantuanmu.”&lt;br /&gt;“Apa yang mesti saya lakukan, Tuanku?” tanya si punggawa.&lt;br /&gt;“Nanti malam usahakanlah kau menyelinap secara diam-diam ke atas kapal asing itu. Selidikilah keadaan Pangeran itu. Kemudian laporkan hasilnya kepadaku.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;“Baik, Tuanku. Perintah Anda akan saya laksanakan sebaik-baiknya.” Ketika selimut malam turun ke bumi, si punggawa pun berangkat melaksanakan perintah junjungannya. Dengan keahliannya ia menyebrangi sungai tanpa suara. Lau ia melompat naik ke atas geladak kapal yang sunyi. Dengan gerak-gerik waspada ia menghindari para penjaga. Dengan hati-hati ia mencari bilik Sang Pangeran sampai akhirnya ia berhasil menemukannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Pintu bilik yang sangat mewah itu tertutup rapat. Tetapi keadaan di dalamnya masih benderang, tanda bahwa Sang Pangeran belum tidur. Si punggawa mencari celah untuk mengintip ke dalam bilik, mendengarkan suara-suara dari dalam bilik.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Pada saat itu, sebenarnya Sang Pangeran China sedang makan dengan sumpit, sambil sesekali menyeruput arak dari cawan. Suara decap dan menyeruput mulutnya mengejutkan si punggawa Ratu Aji Bidara Putih.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;“Astaghfirullah... Suara ketika mengingatkanku kepada.. kepada apa ya?” pikir si punggawa sambil mengingat-ingat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Kemudia si punggawa benar-benar ingat. Pada waktu ia berburu dan melihat babi hutan sedang minum di anak sungai. Suaranya juga berdecap-decap dan menyeruput seperti itu. Ia juga mengingat pada suara dari mulut anjing dan kucing ketika sedang melahap makanan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;“Ah.. ya benar-benar persis.. persis seperti suara yang aku dengar! Jadi jangan-jangan..” Tiba-tiba mata si punggawa terbeladak. Seperti orang teringat sesuatu yang mengejutkan. Hampir serentak dengan itu, ia pun menyelinap meninggalkan tempat bersembunyi. Ia meninggalkan kapal dan segera cepat-cepat kembali untuk melaporkan kepada Ratu Aji Bidara Putih.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;“Kau jangan mengadaada Paman,” tegur Ratu setelah mendengar laporan si punggawanya itu.&lt;br /&gt;“Saya tidak mengada-ada, Tuanku! Suaranya ketika makan tadi meyakinkan saya,” kata si punggawa.&lt;br /&gt;“Pangeran itu pasti bukan manusia seperti kita. Pasti dia siluman!! Entah siluman babi hutan, anjing, atau kucing. Pokonya siluman! Hanya pada waktu siang hari ia berubah wujud menjadi manusia! Percayalah Tuanku. Saya tiidak mengada-ada...”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Penjelasan si punggawa yang meyakinkan membuat Sang Ratu akhirnya percaya. Tidak lucu pikirnya, kalau ia sampai menikah dengan siluman. Padahal banyak Raja dan Pangeran tampan yang telah meminangnya. Maka pada keesokan harinya dengan tegas ia menyatakan penolakannya terhadap pinangan Pangeran tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Sang Pangeran sangat murka mendengar penolakkan Ratu Aji Bidara Putih. “Berani benar putri itu menolaknya.” Kata Sang Pangeran geram. Dalam kemurkaanya ia segera memerintahkan pada para prajuritnya untuk menyerang negeri Muara Kaman.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Pera perajurit itu pun mulai menyerbu negeri Muara Kaman. Sangat terlihat bahwa mereka lebih berpengalaman dalam seni bertempur. Para perajurit Muara Kaman terdesak, korban yang jatuh pun semakin bertambah banyak. Sementara para perajurit suruhan Sang Pangeran semakin dekat ke arah istana.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Ratu Aji Bidara Putih merasa sangat sedih dan panik. Namun kemudian ia berusaha menenangkan pikirannya. Ia mengheningkan cipta setelah itu ia mengunyah sirih. Kemudia kunyahan sepah sirih itu digenggamnya erat-erat. Lalu berkata, “Jika benar aku keturunan Raja-Raja yang sakti, terjadillah sesuatu yang dapat mengusir musuh yang sedang mengancam negeriku!”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Serentak dengan itu dilemparkannya sepah sirih itu ke arena pertempuran dan tiba-tiba sepah sirih itu berubah menjadi lipan-lipan besar dan segera menyerang para perajurit Pangeran China. Para perajurit itu menjadi sangat ketakutan mereka semua langsung lari tunggang-langgang dan kembali ke kapal.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Tetapi lipan-lipan itu tidak berhenti menyerbu. Tiga ekor lipan raksasa mewakili kelompoknya. Mereka berenang ke kapal, lalu membalikannya hingga kapal itu terballik dan tenggelam beserta seluruh penumpang dan isinya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Tempat bekas tenggelamnya kapal itu pun hingga kini oleh penduduk Muara Kaman disebut Danau Lipan. Konon, menurut empunya cerita, dulu di tempat itu sesekali ditemukan barang-barang antik dari negeri China.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Demikian cerita dongeng atau cerita rakyat Ratu Aji Bidara Putih, semoga dapat menghibur Anda semua di mana pun Anda berada.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Baca Juga : &lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2015/10/cerita-dongeng-legenda-bukit-kelam.html&quot;&gt;&lt;i&gt;Cerita Dongeng Legenda Bukit Kelam&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Baca Juga : &lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2015/10/cerita-dongeng-buaya-ajaib.html&quot;&gt;&lt;i&gt;Cerita Dongeng Buaya Ajaib&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;&lt;i&gt;Referensi Saya : Search Google&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/feeds/4730190773062246937/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/2015/10/cerita-dongeng-ratu-aji-bidara-putih.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default/4730190773062246937'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default/4730190773062246937'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/2015/10/cerita-dongeng-ratu-aji-bidara-putih.html' title='Cerita Dongeng Ratu Aji Bidara Putih'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08946374405366963398</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiofKFGa32CXy0JaRPRwPAgFDQ_IAvmC6TXk3_UXsac0AA5acS9A4jJBm2_EU1htyQlt84f5ZRz8Cia1dWWO43Z-HWjEGhBX4-yY2pRuoRxBdPspx2EFpTRCTVpqRhc2BP_F3-qz_YdxNk/s72-c/cerita-dongeng-ratu-aji-bidara-putih.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7547311571764217587.post-7309784719579947238</id><published>2015-10-11T18:50:00.000+08:00</published><updated>2015-10-11T18:50:29.408+08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Rakyat"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Dongeng"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hiburan"/><title type='text'>Cerita Dongeng Legenda Bukit Kelam</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Gerbang Cerita&lt;/b&gt; - Tersebutlah di Santang, Kalimantan Barat, seorang pemimpin sakti bernama Sabeji atau disebut Bujang Beji. Yang sayangnya, memiliki karakter yang buruk. Bersama para pengikutnya, Bujang Beji tinggal di kampung nelayan pinggiran Sungai Simpang Kapuas.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi9YFBTfwMnK5RioiyEeLSLEOXvOxruJTl4FxihGSmPMT-DOBY_y5a47aVUxTFTLVudru4aK7a8WP02H14bibhiydPBACgYfDQal61QQoDQbVYk4EQtqzISp-XoRpxPJ-rousiJSyHKlms/s1600/cerita-dongeng-legenda-bukit-kelam.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi9YFBTfwMnK5RioiyEeLSLEOXvOxruJTl4FxihGSmPMT-DOBY_y5a47aVUxTFTLVudru4aK7a8WP02H14bibhiydPBACgYfDQal61QQoDQbVYk4EQtqzISp-XoRpxPJ-rousiJSyHKlms/s400/cerita-dongeng-legenda-bukit-kelam.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Berkebalikan dengan Bujang Beji, di kampung nelayan pinggirang Sungai Simpang Melawi, tinggal seorang pemimpin bijak berkarakter baik yang bernama Temenggung Marubai. Semua tindak-tanduknya didasarkan pada kebaikan dan manfaat semua pihak.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Dan, di sinilah segalanya bermuara.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Karakter buruk yang melekat pada Bujang Beji membawa hatinya pada rasa iri. Begitu dengki Bujang Beji saat anak buahnya melaporkan bahwa ikan-ikan di Simpang Melawi jauh lebih berlimpah jumlahnya dibandingkan dengan Simpang Kapuas. Tentu saja ini lantaran cara menangkap ikan yang diterapkan kedua pemimpin ini berbanding terbalik. Bujang Beji dalam tiap tangkapan selalu berusaha mendapatkan ikan banyak tanpa peduli ikan besar dan ikan kecil. Sedangkan, Temenggung Marubai mempunyai trik yang berbeda. Ia selalu memisahkan ikan besar dan ikan yang kecil dalam tangkapannya. Ikan besar diambilnya, ikan kecil dikembalikannya ke sungai ditunggu sampai besar baru ditangkap kembali.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Dilaporkan begitu bukannya membuat Bujang Beji berpikir untuk melakukan cara yang sama dengan Temenggung Marubai. Hal pertama yang dipikirkan Bujang Beji adalah bagaimana menyaingi Temenggug Marubai.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Hal ini memberi ide pada Bujang Beji untuk menangkap ikan denga menabur menuba (sejenis racun ikan). Pada awalnya, hasil ikan tangkapan Bujang Beji pun jauh melimpah dibandingkan Temenggung Marubai. Bujang Beji pun boleh sombong diri. Hanya saja, akibat manuba yang ditabur setiap harinya, lama klamaan ikan-ikan di Simpang Kapuas semakin menipis. Kebanyakan sudah ditangkap, sisanya mati membusuk. Bujang Beji pun menghentikan aksinya sebelum semuanya terlambat.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Ia memikirkan langkah selanjutnya, yaitu menjatuhkan Temenggung Marubai. Setelah dipikir-pikir, ia harus mengurangi jumlah ikan yang ada di Simpang Melawi. Caranya, ia akan menutup aliran di hulu Simpang Melawi dengan batu besar. Saat aliran air terbendung secara otomatis ikan-ikan akan menetap di hulu sungai.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Bujang Beji memilih puncak Bukit Batu di Nanga Silat, Kabupaten Kapuas Hulu. Demi mengangkatnya, Bujang Beji mengeluarkan kesaktiannya hanya berbekal tujuh lembar daun ilalang.&lt;br /&gt;Di tengah perjalanan, Bujang Beji ditertawai oleh bidadari yang melihat perbuatannya. Tentu Bujang Beji dongkol bukan kepalang. Ketika hendak sampai di persimpangan Kapuas-Melawi, Bujang Beji melihat ke atas. Ia ingin meludahi wajah cantik para bidadari yang tengah mengejeknya. Belum lagi ia melakukan itu, rupanya kaki Bujang Beji menginjak duri. Ia pun berjingkat-jingkat.&lt;br /&gt;Seketika itu pula tujuh lembar daun ilalang yang digunakan untuk mengikat puncak Bukit Batu terputus. Alhasil, puncak Bukit Batu jatuh dan tenggelam di sebuah rantau, yang diseut jetak. Geram betul tampaknya Bujang Beji ketika menatap wajah para bidadari yang masih menertawakannya.&lt;br /&gt;“Awas, kalian!! Tunggu pembalasanku!” gertak Bujang Beji kepada para bidadari khayangan tersebut, sambil mencukil duri dari kakinya. “Enyah kau duri berengsek!” seru Bujang Beji, perasaannya marah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Setelah itu, ia segera mengangkat sebuah bukit yang bentuknya memanjang untuk digunakan mencongkel puncak Bukit Batu yang terbenam di rantau (Jetak) itu. Namun, Bukit Batu itu sudah melekat pada jetak, sehingga bukit panjang yang digunakan mencongkel itu patah menjadi dua. Akhirnya, Bujang Beji gagal memindahkan puncak Bukit Batu dari Nanga Silat untuk menutup hulu Sungan Melawi. Ia sangat marah dan berniat untuk membalas dendam kepada dewi-dewi yang telah menertawakannya itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Bujang Beji kemudian menanam pohon kumpang mambu (sejenis pohon kayu raksasa yang menjulang tinggi ke langit) yang akan digunakan sebagai jalan untuk mencapai Khayangan dan membinasakann para bidadari yang telah menggagalkan rencananya itu. Dalam waktu beberapa hari, pohon itu tumbuh dengan subur dan tinggi menjulang ke angkasa. Puncaknya tidak tampak jika dipandang dengan mata kepala dari bawah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Sebelum memanjat pohon kumpang kambu, Bujang Beji melakukan upacara sesajian adat yang disebut dengan Bedarak Begelak, yaitu memberikan makan kepada seluruh binatang dan roh jahat di sekitarnya agar tidak menghalangi niatnya dan berharap dapat membantunya sampai ke khayangan untuk membinasakan dewi-dewi tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Namun, dalam upacara tersebut ada beberapa binatang yang terlupakan oleh Bujang Beji, sehingga tidak dapat menikmati sesajiannya. Binatang itu adalah kawanan sampok (Rayap) dan beruang. Mereka sangat marah dan murka, karena merasa diremehkan oleh Bujang Beji. Mereka kemudian bermusyawarah untuk mufakat bagaimana cara menggagalkan niat Bujang Beji agar tidak mencapai khayangan.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;“Apa yang harus kita lakukan, Raja Beruang?” tanya Raja Sampok kepada Raja Beruang dalam pertemuan itu.&lt;br /&gt;“Kita robohkan pohon kumpang mambu itu,” jawab Raja Beruang.&lt;br /&gt;“Bagaimana caranya?” tanya Raja Sampok penasaran.&lt;br /&gt;“Kita beramai-ramai menggerogoti akar pohon itu ketika Bujang Beji sedang memanjatnya,” jelas Raja Beruang.&lt;br /&gt;Seluruh peserta rapat, baik dari pihak sampok maupun beruang, setuju dengan pendapat Raja Beruang.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Keesokan harinya, ketika Bujang Beji memanjat pohon itu, mereka pun berdatangan menggerogoti akar pohon itu. Pleh karena jumlah mereka yang sangat banyak, pohon kumpang mambu yang besar dan tinggi itu pun mulai goyah. Pada saat Bujang Beji akan mencapai khayangan, tiba-tiba terdengar suara keras yang teramat dahsyat.&lt;br /&gt;“Kretak....kretaakk.kreetaaakkkk...!!!”&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian, pohon kumpang mambu setinggi langit itu pun roboh bersama dengan Bujang Beji.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;“Toolooong...! Toooloooooong!” terdengar suara Bujang Beji menjerit meminta tolong.&lt;br /&gt;Pohon tinggi itu terhempas di hulu sungai Kapuas Hulu, tepatnya di Danau Luar dan Danau Belidak. Bujang Beji yang ikut terhempas bersama pohon itu mati seketika. Maka gagallah usaha Bujang Beji membinasakan para bidadari di khayangan. Sedangkan, Temenggu Marubai terhindar dari bencana yang telah direncanakan oleh Bujang Beji.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Menurut cerita, tubuh Bujang Beji dibagi-bagi oleh masyarakat di sekitarnya untuk dijadikan jimat kesaktian. Sementara puncak Bukit Nanga Silat yang terlepas dari pikulan Bujang Beji menjelma menjadi Bukit Kelam. Patahan bukit yang berbentuk panjang yang digunakan Bujang Beji untuk mencongkelnya menjelma menjadi Bukit Liut. Adapun bukit yang menjadi tempat pelampiasan Bujang Beji saat menginjak duri beracun, diberi nama Bukit Rentap.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Demikian lah cerita dongeng ini, semoga bisa dijadikan pembelajaran dalam menjalani hidup.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Baca Juga : &lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2015/10/cerita-dongeng-buaya-ajaib.html&quot;&gt;&lt;i&gt;Cerita Dongeng Buaya Ajaib&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Baca Juga : &lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2015/10/cerita-dongeng-gajah-yang-takut-pada.html&quot;&gt;&lt;i&gt;Cerita Dongeng Gajah yang Takut Pada Tikus &lt;/i&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;&lt;i&gt;Referensi Saya : Search Google&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/feeds/7309784719579947238/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/2015/10/cerita-dongeng-legenda-bukit-kelam.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default/7309784719579947238'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default/7309784719579947238'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/2015/10/cerita-dongeng-legenda-bukit-kelam.html' title='Cerita Dongeng Legenda Bukit Kelam'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08946374405366963398</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi9YFBTfwMnK5RioiyEeLSLEOXvOxruJTl4FxihGSmPMT-DOBY_y5a47aVUxTFTLVudru4aK7a8WP02H14bibhiydPBACgYfDQal61QQoDQbVYk4EQtqzISp-XoRpxPJ-rousiJSyHKlms/s72-c/cerita-dongeng-legenda-bukit-kelam.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7547311571764217587.post-2095899446236030862</id><published>2015-10-11T18:36:00.000+08:00</published><updated>2015-10-11T18:36:06.303+08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerita Rakyat"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Dongeng"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hiburan"/><title type='text'>Cerita Dongeng Buaya Ajaib</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Gerbang Cerita&lt;/b&gt; - Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang lelaki yang bernama Towjatuwa di tepian sungai Tami di tanah Irian Jaya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjICpn7PSOp0SI34SfVKaOrvGEMgmNODpNlt80Y645WnNbH2i1DPt5FwNApgRXG4Z1_mvVACV2WrkbV3tUSNNbiRsGOR3D5fp1XJFdTTLYJ4lCIv_JvsgDDKnpBAmiMWHcyllU9ahWOo7Q/s1600/cerita-dongeng-buaya-ajaib.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjICpn7PSOp0SI34SfVKaOrvGEMgmNODpNlt80Y645WnNbH2i1DPt5FwNApgRXG4Z1_mvVACV2WrkbV3tUSNNbiRsGOR3D5fp1XJFdTTLYJ4lCIv_JvsgDDKnpBAmiMWHcyllU9ahWOo7Q/s400/cerita-dongeng-buaya-ajaib.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Lelaki itu sedang merasa gundah, karena istrinya yang sedang hamil tua mengalami kesulitan dalam melahirkan. Untuk membantu melahirkan anaknya itu, ia membutuhkan operasi yang menggunakan batu tajam dari sungan Tami.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Keesokan harinya, Towjatuwa pun memutuskan untuk pergi ke tepi sungai Tami untuk mencari batu tersebut. Dalam perjalanan Towjatuwa pun berpikir apakah dirinya bisa mendapat batu tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Sesampainya di sungai Tami, ia pun mulai mencari batu tersebut. Ketika ia sedang sibuk mencari batu tajam tersebut, ia mendengar suara yang aneh dari sisi belakangnya. Alangkah terkejutnya Towjatuwa ketika ia melihat seekor buaya yang sangat besar di depannya. Ia pun sangat ketakutan dan hampir pingsan. Buaya besar itu pun perlahan bergerak mendekati Towjatuwa. Tidak seperti buaya lainnya, binatang ini memiliki bulu-bulu dari burung Kaswari di punggungnya. Sehingga ketika buaya itu bergerak, binatang itu nampak menyeramkan dan menakutkan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Towjatuwa pun berpikir untuk lari dan berhenti untuk mencari batu tajam. Namun, saat Towjatuwa hendak melarikan diri, buaya tersebut menyapanya dengan ramah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;“Apa yang sedang kamu lakukan di sini?” Tanya Si Buaya.&lt;br /&gt;“Saya sedang mencari batu tajam,” sahut Towjatuwa dengan rasa gugup ketakutan.&lt;br /&gt;“Untuk apa batu tajam itu?” balas Si Buaya.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;“Istri saya sedang hamil tua dan membutuhkan batu tersebut untuk membantu proses melahirkannya!!!” jawab Towjatuwa.&lt;br /&gt;“Tidak usah khawatir, saya akan datang kerumahmu nanti malam. Saya akan menolong istrimu melahirkan.”&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Dengan rasa penasaran disertai rasa gembira Towjatuwa pun beranjak pulang ke rumahnya menemui sang isteri tersebut. Dengan rasa sangat bahagia, ia pun menceritakan perihal pertemuannya dengan seekor buaya ajaib di sunagi Tami.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Malam itu pun tiba, seperti yang dijanjikan, buaya ajaib itu datang ke rumah Towjatuwa. Buaya itu pun memasuki rumah Towjatuwa. Dengan kekuatan ajaibnya, buaya yang bernama Watuwe itu menolong proses kelahiran seorang bayi laki-laki dengan selamat. Bayi laki-laki itu pun diberi nama Narrowa. Watuwe meramalkan bahwa kelak bayi tersebut akan tumbuh menjadi seorang pemburu yang handal.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Watuwe lalu mengingatkan agar Towjatuwa dan keturunannya tidak membunuh dan memakan daging buaya. Apabila larangan itu dilanggar, maka Towjatuwa dan seluruh keturunannya akan mati. Sejak saat itulah, Towjatuwa dan keturunannya berjanji untuk melindungi binatang yang berada di sekitar sungai Tami terutama buaya dari para pemburu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Demikianlah cerita dongeng buaya ajaib semoga dapat menghibur Anda semua di mana pun Anda berada.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Baca Juga : &lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2015/10/cerita-dongeng-gajah-yang-takut-pada.html&quot;&gt;&lt;i&gt;Cerita Dongeng Gajah yang Takut Pada Tikus&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Baca Juga : &lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2015/10/cerita-dongeng-kelinci-yang-sombong.html&quot;&gt;&lt;i&gt;Cerita Dongeng Kelinci Yang Sombong&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;&lt;i&gt;Referensi Saya : Search Google&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/feeds/2095899446236030862/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/2015/10/cerita-dongeng-buaya-ajaib.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default/2095899446236030862'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default/2095899446236030862'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/2015/10/cerita-dongeng-buaya-ajaib.html' title='Cerita Dongeng Buaya Ajaib'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08946374405366963398</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjICpn7PSOp0SI34SfVKaOrvGEMgmNODpNlt80Y645WnNbH2i1DPt5FwNApgRXG4Z1_mvVACV2WrkbV3tUSNNbiRsGOR3D5fp1XJFdTTLYJ4lCIv_JvsgDDKnpBAmiMWHcyllU9ahWOo7Q/s72-c/cerita-dongeng-buaya-ajaib.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7547311571764217587.post-4898116955705123646</id><published>2015-10-08T06:55:00.000+08:00</published><updated>2015-10-08T06:55:52.975+08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Dongeng"/><title type='text'>Cerita Dongeng Gajah yang Takut Pada Tikus</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Gerbang Cerita&lt;/b&gt; - Pada suatu hari, si Kancil berniat untuk berkunjung ke kediaman si tikus sahabat lamanya. Pagi-pagi sekali si Kancil sudah berangkat dari rumahnya, agar dia tak terlalu siang tiba di rumah si Tikus. Si Tikus tinggal di sebuah kawasan kecil di pinggiran hutan, tempat itu sangat indah karena terdapat sebuah danau kecil. Si Tikus tinggal secara berkelompok, terdiri dari beberapa keluarga dan di pimpim oleh tetua tikus yang menjadi sahabat karib si kancil.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiR2SEq1euabYmiD6qO6JWk5tfQi2dgI0g5TPZKY9rLoCxU7K3PpPtNiF2n-JTxyMGPPWDv3UuBBlrDKLKH8wS77wrNU-6NWKgU-llA4MYF0IUxAiNehtCVF7rLIiazoqcEl6MOZv46LCI/s1600/cerita-dongeng-gajah-yang-takut-pada-tikus.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiR2SEq1euabYmiD6qO6JWk5tfQi2dgI0g5TPZKY9rLoCxU7K3PpPtNiF2n-JTxyMGPPWDv3UuBBlrDKLKH8wS77wrNU-6NWKgU-llA4MYF0IUxAiNehtCVF7rLIiazoqcEl6MOZv46LCI/s400/cerita-dongeng-gajah-yang-takut-pada-tikus.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
Akhirnya setelah berjalan hampir setengah hari, si kancil tiba di perkampungan tikus dan di sambut gembira oleh tikus sahabatnya. “ Wah.. kancil sahabat ku, sudah lama kita tak jumpa. Tapi kau masih saja kurus tak gemuk-gemuk”. Canda si tikus menggoda si kancil. “ Ah.. benar.. sejak peristiwa terakhir kali kita bertemu dengan si singa yang angkuh itu, hingga kini kita baru bertemu lagi. Tapi anehnya, badan mu tetap saja kecil tak tinggi-tinggi sedikit pun. Hehehe..”. si kancil membalas candaan sahabatnya itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Mereka memang sudah lama tak bertemu sejak peristiwa si kancil menolong si tikus dari cengkraman singa, bahkan karena pertolongan si kancil tikus dan singa akhirnya bersahabat juga. Kedua kawan lama itu bersenda gurau dengan hangatnya mengenang masa lalu mereka. Saling puji dan saling ejek seakan menjadi hal biasa yang selalu bisa mendatangkan tawa yang membuat mereka lebih akrab dari sebelumnya. Tapi beberapa waktu kemudian, mereka dikagetkan oleh tanah yang terguncang hebatnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Mereka lari keluar dari rumah karena mengira terjadi gempa bumi, tek terkecuali si kancil. Tapi ternyata anggapan mereka salah. Karena yang membuat bumi berguncang adalah segerombolan gajah yang merangsak masuk ke daerah pinggiran&amp;nbsp; hutan dan memakan semua tumbuhan di sana. Akibatnya, tempat itu menjadi porak porandakan karena banyak pohon yang tumbang dan patah diterjang oleh kawanan gajah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Melihat hal itu, si tikus menjadi perihatin. Merasa memiliki tanggung jawab sebagai kepala kampung, si tikus pun menghampiri kawanan gajah itu untuk memberikan nasehat. Melihat kawanya berjalan ke arah gerombolan gajah, si kancil mengikuti karena takut jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan pada si tikus. “ Hai kawan-kawan.. aku mohon jangan merusak alam di sekitar sini. Ini kampung kami, jadi silahkan kembali dan mencari makan ke padang rumput tempat biasa kalian mencari makan. Lihatlah, banyak pohon yang patah dan tumbang karena kalian terjang dengan membabi buta”. Kata si tikus.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Mendengar ada yang berkata pada mereka, gerombolan gajah mencari-cari dari mana arah suara itu muncul. Lama mereka mencari tapi tak melihat satu sosok yang mereka lihat. Tapi begitu mereka tahu bahwa yang berkata pada mereka adalah seekor tikus yang sedang berdiri di atas batu, spontan mereka langsung tertawa terbahak-bahak. Lalu datanglah satu gajah yang cukup besar menghampiri si tikus yang ditemani kancil disampingnya. Mungkin gajah besar itu adalah kepala gerombolan.&lt;br /&gt;“Hai makhluk kecil, apa yang kau bilang tadi? Mau mengatur kami? Mahluk kecil rendahan seperti kamu tak pantas berada disini sok menasehati kami semua. Bisa-bisa kamu terinjak oleh kami lalu gepeng dan mati. Hahahahaha..”. kata kepala gerombolan gajah itu. Si tikus terdiam, dia agak takut karena gajah itu memiliki tubuh yang besar dan kuat. Sedangkan dirinya bertubuh kecil dan lemah jika dibandingkan dengan para gajah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Melihat temanya yang ketakutan, si kancil akhirnya ikut angkat bicara. “ Hai makhluk sombong.. kamu tak tahu dengan siapa kamu bicara?”. Teriak kancil. Para gajah pun mengalihkan pandangannya pada si kancil yang bertubuh mungil dan kecil. “Hahahaha.. ada hewan mungil lagi yang sok jadi pahlawan kesiangan di sini. Memangnya si kerdil itu siapa? Kamu tak tahu kalau kami ini hewan terkuat di sini? Bahkan harimau dan singa, tak ada yang berani melawan kami semu..”. kata gajah menyombongkan diri.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Dengan geram kancil menjawab.. “ Dia itu adalah raja hutan di sini. Jangankan cuma kamu, harimau dan singa saja mampu dia makan dengan giginya yang tajam dan kuat”. Kata kancil. “hahahaha.. apa kamu bilang? Kamu mimpi ya? Makhluk kecil rendahan seperti ini mau memakan kami juga? Sudah gila kau ya?”. Kata gajah mengejek sambil tertawa terbahak-bahak. “Oooo.. jadi kalian meragukan kemampuan raja kami ini? mau bukti?”. Tantang kancil. “Buktikan kalau memang benar begitu.. apa yang ingin kau tunjukan hewan kecil?”. Tanya gajah mulai marah karena tersinggung. “ Baik.. apa kau mampu memakan batang pohon dan kayu?” Tanya kancil. “ Hah.. gila kau..!! mana mungkin ada hewan yang mampu memakan batang kayu? Bahkan gigi singa dan harimau pun yang tajam, tak akan mampu memakan kayu”. Kata gajah.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Seakan tahu dengan siasat kancil, si tikus berusaha sok angkuh dan berani. “ Raja ku ini, giginya sangat kuat dan tajam, jangankan daging kalian, batang kayu yang besarpun tak menjadi masalah untuk dirinya. Mampu dia robohkan dan dia makan..”. kata kancil. “ Hahahahahaha.. dua hewan kecil yang gila..”. kata gajah semakin mengejek.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;“Baiklah kalau kalian tak percaya.. tapi jika semua kata-kata ku mampu dibuktikan, kalian harus bersedia menjadi santapan raja ku ini. Dia sudah cukup lama tak makan daging gajah, kalian jangan lari ya..”. Kata si kancil menantang kawanan gajah. Si kancil lalu memberi&amp;nbsp; isyarat pada si tikus untuk melanjutkan tugasnya, tikus pun lalu menuju sebuah pohon yang cukup besar dengan gayanya yang sombong. Lalu menggigit batang pohon itu dengan wajah yang garang, mengeratnya hingga pohon itu lama-lama terkikis dan hampir tumbang. Melihat hal itu, para gerombolan gajah menjadi shok terkaget-kaget, mereka mengira bahwa tikus memang kuat dan mampu memakan segalanya termasuk mereka.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Tanpa menunggu komando, semua kawanan gajah itu pun lari kalang kabut mencari keselamatan diri sndiri karena takut jika tikus benar-benar akan memakan mereka semua. Melihat hal itu, tikus dan kancil tertawa geli melihat gajah-gajah besar yang lari terbirit0birit ” Ya.. lari sana.. tapi jika sampai raja ku bertemu kalian lagi, maka dia tak akan segan memakan kalian hidup-hidup.. ingat itu..!!”. Gajah adalah hewan yang memiliki ingatan yang cukup kuat. Semenjak hari itu, kawanan gajah tak ada lagi yang berani ke tempat itu. Bahkan setiap gajah bertemu dengan tikus, mereka akan merasa ketakutan karena takut dimakan olehnya. Dan itu terus berlanjut hingga saat ini. dan menjadi sebab kenapa gajah takut dengan tikus.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;Demikian cerita dongeng tentang gajah yang takut terhadap tikus, semoga bisa menjadi pelajaran dan tentunya dapat menghibur Anda semua di mana pun Anda berada.&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Baca Juga : &lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2015/10/cerita-dongeng-kelinci-yang-sombong.html&quot;&gt;&lt;i&gt;Cerita Dongeng Kelinci Yang Sombong&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Baca Juga : &lt;a href=&quot;http://gerbangcerita.blogspot.co.id/2015/10/cerita-dongeng-katak-yang-sombong.html&quot;&gt;&lt;i&gt;Cerita Dongeng Katak Yang Sombong&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-size: x-small;&quot;&gt;&lt;i&gt;Referensi Saya : Search Google&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/feeds/4898116955705123646/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/2015/10/cerita-dongeng-gajah-yang-takut-pada.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default/4898116955705123646'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7547311571764217587/posts/default/4898116955705123646'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gerbangcerita.blogspot.com/2015/10/cerita-dongeng-gajah-yang-takut-pada.html' title='Cerita Dongeng Gajah yang Takut Pada Tikus'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08946374405366963398</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiR2SEq1euabYmiD6qO6JWk5tfQi2dgI0g5TPZKY9rLoCxU7K3PpPtNiF2n-JTxyMGPPWDv3UuBBlrDKLKH8wS77wrNU-6NWKgU-llA4MYF0IUxAiNehtCVF7rLIiazoqcEl6MOZv46LCI/s72-c/cerita-dongeng-gajah-yang-takut-pada-tikus.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>