<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1769903451515941949</id><updated>2024-11-05T19:00:24.541-08:00</updated><category term="pembinaan usaha budidaya ikan bandeng air tawar"/><category term="Budidaya Ikan Nila"/><category term="Pembangunan Kelautan dan Perikanan"/><category term="ikan bandeng air tawar"/><category term="pemberdayaan kelompok"/><category term="penyuluh perikanan"/><category term="sekolah tinggi perikanan jurusan penyuluhan perikanan"/><category term="ASAL TAU AJA"/><category term="Analisa SWOT"/><category term="Bakso Ikan"/><category term="Bandeng Air Tawar"/><category term="Empek-emp2k panggang"/><category term="Gorontalo"/><category term="Hari Nusantara"/><category term="IPB"/><category term="KKP"/><category term="KP Pelatihan Kelautan dan Perikanan"/><category term="Kelautan dan Perikanan"/><category term="Makalah Seminar"/><category term="Nelayan"/><category term="PKL 2"/><category term="Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung"/><category term="Pembangunana Masyarakat Pesisir"/><category term="Pemberdayaan Masyarakat pesisir"/><category term="Penyelenggaraan penyuluhan"/><category term="Perikanan Darat"/><category term="Perikanan gorontalo"/><category term="Prasasti MIna"/><category term="SEJARAH stp bogor"/><category term="Tuna"/><category term="aspek ekonomi"/><category term="aspek pemasaran"/><category term="benih"/><category term="budidaya udang"/><category term="desa talun kecamatan kayen kabupaten pati."/><category term="kepulauan seribu"/><category term="kolam air deras"/><category term="lanjut insomnia"/><category term="lingkaran tulus hati dengan hati"/><category term="media penyuluhan"/><category term="menyelam"/><category term="metoda penyuluhan"/><category term="nenek moyang pelaut"/><category term="nie cerita kyak lagu &quot;BANG TOYIB GA  PULANG2&quot;"/><category term="nugget ikan"/><category term="oksigen terlarut"/><category term="pH"/><category term="pemberdayaan kelompok perikanan"/><category term="pembinaan usaha bandeng"/><category term="pendaftaran disini"/><category term="pengembangan perikanan"/><category term="penyuluh pns"/><category term="penyuluhan perikanan"/><category term="perencanaan penyuluhan"/><category term="produksi bandeng air tawar"/><category term="produksi dan produktivitas"/><category term="robot"/><category term="suhu"/><category term="tambak udang"/><category term="uu no. 16 tahun 2006"/><title type='text'>Warta Penyuluhan PPS Bitung</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://lunly713.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default?redirect=false'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lunly713.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03307642535889500865</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>38</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1769903451515941949.post-2845766921812296574</id><published>2011-03-28T01:19:00.000-07:00</published><updated>2011-03-28T01:19:48.834-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hari Nusantara"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung"/><title type='text'>SAMBUT HARI NUSANTARA WARGA BESERTA PEGAWAI PPS BITUNG RESIK-RESIK  DI DERMAGA PELABUHAN BITUNG</title><content type='html'>SAMBUT HARI NUSANTARA WARGA BESERTA PEGAWAI PPS BITUNG RESIK-RESIK &lt;br /&gt;
DI DERMAGA PELABUHAN BITUNG&lt;br /&gt;
BITUNG, Jum’at 10 November 2010 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari Nusantara dicetuskan berawal dari Deklarasi Djoeanda ada tanggal 13 Desember 1957. Deklarasi ini merupakan pernyataan Indonesia bahwa semua perairan di sekitar, diantara, dan yang menghubungkan pulau-pulau di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah bagian yang tak terpisahkan dari wilayah yurisdiksi Republik Indonesia. Konsep deklarasi ini mendasari perjuangan Indonesia untuk menjadi rezim negara kepulauan (Archipelagic State). &lt;br /&gt;
Deklarasi Djoeanda sempat mendapat tentangan dari negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan Australia. Namun, berkat diplomasi yang gigih, akhirnya konsep negara kepulauan itu diakui dunia setelah disahkannya United Nation Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) pada 10 Desember 1982. Indonesia kini telah meratifikasi UNCLOS dengan Undang-undang No 17 Tahun 1985.&lt;br /&gt;
Setelah diratifikasi oleh 60 negara, UNCLOS resmi berlaku pada 1994. setelah UNCLOS berlaku, maka wilayah Indonesia bertambah 3,1 juta km2. awalnya, sebagai warisan Hindia Belanda, wilayah perairan Indonesia seluas 100.000 km2. selain itu, Indonesia juga mendapat tambahan wilayah berupa Zone Economic Exlusive (ZEE) seluas 2,7 juta km2. Akhirnya, tanggal pencetusan Deklarasi Djoeanda dicanangkan sebagai Hari Nusantara oleh Presiden Abdurrahman Wahid. dan disahkan melalui Keputusan Presiden dua tahun berikutnya oleh Presiden Mega Wati Soekarno Putri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan berlakunya UNCLOS, maka luas laut Indonesia mencapai 75,3% dari seluruh luas wilayah negara. Untuk mengamankan laut diperlukan kekuatan dibidang maritim. selain itu, diperlukan juga batas laut yang pasti dan tegas sebagai”pagar” (maritim Boundaries).&lt;br /&gt;
Masalahnya, Indonesia masih memiliki batas wilayah laut yang belum jelas. berbgai konflik dengan negara tetangga yang sempat mencuat, merupakan dampak dari blelum tuntasnya penetapan batas laut itu, serta lemahnya wilayah laut. Kerugian ekonomis yang ditimbulkan pun cukup besar. di sektor perikanan saja kerugian mencapai Rp.20 Triliun pertahun. belum lagi illegal logging, illegal mining, illegal migrant, human trafficking, penyelundupan pasir, penyelundupan BBM, dan aktifitas ilegal lain. Bahkan kejahatan lintas negara atau Internasional Organized Crime (TOC) kerap terjadi dengan memanfaatkan jalan laut.&lt;br /&gt;
Melalui momentum Peringatan Hari Nusantara, pemerintah dan rakyat Indonesia harusnya menyadari bahwa Indonesia memiliki jati diri sebagai bangsa maritim dan sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Karena itu, peringatan Harnus tahun ini harus menjadi motivator untuk menjadikan pembangunan kelautan sebagai mainstreaming pembangunan nasional.&lt;br /&gt;
Sehubungan dengan itu, Dalam rangka memperingati Hari Nusantara  ke -11 yang jatuh tanggal 13 Desember 2010, seluruh pegawai PPS Bitung bersama warga sekitar komplek PPS Bitung menggelar kegiatan bersih-bersih Dermaga. Peserta yang  terdiri dari Pegawai Negeri Sipil dan Tenaga Kontrak PPS Bitung melakukan penyisiran dan membersihkannya dari sampah-sampah yang berserakan di dermaga Pelabuhan Bitung.  Kegiatan ini dimulai pada pukul 07.00 sampai dengan pukul 10.00. WITA. Saat ini kondisi kawasan darmaga pelabuhan bitung cukup memprihatinkan dengan banyaknya sampah yang berserakan akibat dari aktivitas nelayan yang melakukan kegiatan penangkapan ikan tanpa memperhatikan kondisi lingkungan sekitar. Kurangnya perhatian para nelayan atau warga sekitar akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan  sehingga membuat kondisi disepanjang dermaga dipenuhi sampah yang berserakan.  &lt;br /&gt;
Oleh karena itu, dengan semangat Hari Nusantara  ke -11 yang jatuh tanggal 13 Desember 2010 mendatang, seluruh pegawai PPS Bitung bersama warga sekitar komplek PPS Bitung menggelar kegiatan bersih-bersih di sepanjang Dermaga Pelabuhan Bitung.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lunly713.blogspot.com/feeds/2845766921812296574/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/1769903451515941949/2845766921812296574' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default/2845766921812296574'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default/2845766921812296574'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lunly713.blogspot.com/2011/03/sambut-hari-nusantara-warga-beserta.html' title='SAMBUT HARI NUSANTARA WARGA BESERTA PEGAWAI PPS BITUNG RESIK-RESIK  DI DERMAGA PELABUHAN BITUNG'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03307642535889500865</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1769903451515941949.post-310308849778045803</id><published>2010-09-22T20:28:00.001-07:00</published><updated>2010-10-24T17:44:59.339-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="KKP"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pengembangan perikanan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Perikanan gorontalo"/><title type='text'>PENGEMBANGAN PERIKANAN GORONTALO TERUS DITINGKATKAN</title><content type='html'>“Dengan potensi Gorontalo yang besar dan letak yang strategis untuk pemasaran ke manca negara, serta adanya keseriusan pemerintah daerah dan masyarakat setempat dalam mengembangkan kelautan dan perikanan, maka pada tahun 2011 Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tetap mendukung penuh pembangunan kelautan dan perikanan di Provinsi Gorontalo” demikian disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad dalam acara Pencanangan Kabupaten Pahuwato sebagai kawasan Minapolitan budidaya fokus rumput laut, Pahuwato (22/9).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dana APBN KKP untuk tahun 2011 meningkat tajam mencapai 134% dari sekitar 21,39 miliar menjadi Rp.50,22 miliar. Pada tahun 2011 dana dekonsentrasi sekitar Rp.9,8 miliar yang terbagi terutama untuk pengelolaan sumber daya perikanan budidaya, sumber daya perikanan tangkap, peningkatan pengawasan pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan, pengolahan dan pemasaran hasil perikanan. Sedangkan dana tugas pembantuan yang dialokasikan di provinsi dan kabupaten/kota untuk tahun 2011 adalah sekitar Rp. 26,17 miliar  terbagi untuk provinsi sekitar Rp. 16,28 miliar dan Rp. 9,89 miliar untuk DKP kab/kota sedangkan dana APBN UPT KKP di Gorontalo tahun 2011 yang digunakan untuk pembangunan lanjutan PPP Kwandang  dan Stasiun Karantina Ikan (SKI) kelas I Djalaludin Gorontalo adalah sekitar Rp. 14,22 miliar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tahun 2010 dana APBN KKP digunakan untuk pemberdayaan pembudidaya, nelayan, pengolah, wirausaha kecil lainnya, pembangunan Balai Benih di kawasan budidaya lainnya, pengembangan UPT Pelabuhan Perikanan Pantai Kwandang dan akan lebih ditingkatkan lagi pada tahun 2011 dengan pembangunan lanjutan PPP Kwandang, pengembangan sumber daya perikanan budidaya, sumber daya perikanan tangkap, peningkatan pengolahan dan pemasaran hasil perikanan. Dana Tugas pembantuan (TP) pada Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) provinsi diantaranya sebesar 1,17 miliar digunakan untuk pengembangan/rehabilitasi prasarana fisik BBIS (Balai Benih Ikan Sentral).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk penguatan pembangunan infrastruktur di daerah, KKP telah mengalokasikan dana perimbangan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk Kabupaten Pohuwato tahun 2010 sebesar Rp. 2,09 miliar dari total DAK sebesar 12,96 miliar. Dana sisanya tersebut digunakan untuk pengembangan sarana dan prasarana bidang kelautan dan perikanan seperti pengembangan Pelabuhan Perikanan kelas PPI, seperti PPI Gentuma si Kab. Gorontalo, PPI Tongo di kab Bone Bolango, PPI Tilamuta di Kab. Boalemo.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dukungan APBD (Anggaran Pendapatan Daerah) tahun 2010 Provinsi Gorontalo yang dialokasikan pada DKP Provinsi Gorontalo adalah sekitar Rp. 6,9 miliar yang digunakan untuk pengembangan budidaya perikanan, perikanantangkap, optimalisasi pengelolaan dan emasaran produksi perikanan, pemberdayaan masyarakat, pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir, pelayanan administrasi perkantoran, peningkatan sarana dan prasarana aparatur dan peningkatan sistem pelaporan capaian kinerja dan keuangan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembangunan kelautan dan perikanan di provinsi Gorontalo ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan, pembudidaya ikan, pengolah, pemasar, dan pelaku usaha kelautan dan perikanan lainnya, serta mendorong pengembangan ekonomi di daerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jakarta, 22 September 2010&lt;br /&gt;
Kepala Pusat Data, Statistik dan Informasi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dr. Soen’an H. Poernomo, M.E</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lunly713.blogspot.com/feeds/310308849778045803/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/1769903451515941949/310308849778045803' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default/310308849778045803'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default/310308849778045803'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lunly713.blogspot.com/2010/09/pengembangan-perikanan-gorontalo-terus.html' title='PENGEMBANGAN PERIKANAN GORONTALO TERUS DITINGKATKAN'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03307642535889500865</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1769903451515941949.post-5617576331608824830</id><published>2010-07-27T23:55:00.000-07:00</published><updated>2010-07-27T23:55:56.745-07:00</updated><title type='text'>Pembenihan Ikan Bawal Air Tawar</title><content type='html'>&lt;b&gt;I. PENDAHULUAN&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
1.1. Latar Belakang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Ikan bawal merupakan salah satu jenis ikan air tawar. Pertumbuhan ikan bawal relatif lebih cepat dibandingkan dengan beberapa jenis ikan air tawar lainnya. Ikan bawal yang hidup di perairan alami dapat tumbuh mencapai ukuran berat 30 kg/ekor dan panjangnya sekitar 90 cm.&lt;br /&gt;
Budidaya ikan bawal tidak sulit. Ikan ini dapat dibudidayakan dikolam tertutup atau tergenang dan kolam mengalir ataupun kolam air deras dan dipelihara dalam jala (jaring) apung. Ikan bawal  dapat berpijah secara alami diperairan umum.&lt;br /&gt;
Pemijahan ikan bawal di kolam hanya dapat dilakukan dengan cara hypofisasi atau rangsangan hormon (induce spawning) yang menggunakan ektraks kelenjar hypofisa dan ovaprim. Selanjutnya, induk yang telah dirangsang dipijahkan secara alami ataupun dilakukan stripping (ovulasi buatan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1.2. Tujuan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Tujuan pembenihan ikan adalah menghasilkan benih sebanyak-banyaknya dan terus menerus (kontinue) serta menghasilkan benih yang memiliki ketahanan fisik (tubuh) yang baik (sehat).&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
II. DASAR PERENCANAAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
2.1. Penentuan Lokasi&lt;br /&gt;
2.1.1. Kriteria Penentuan Lokasi&lt;br /&gt;
2.1.1.1. Ketinggian tempat&lt;br /&gt;
 Dari hasil pengamatan, bawal dapat hidup dengan baik pada ketinggian antara 100 – 800 m diatas permukaan laut dengan suhu air 25 – 30oC. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.1.1.2. Jenis Tanah&lt;br /&gt;
 Tanah liat merupakan jenis tanah yang paling cocok dibuat kolam budidaya bawal karena mudah dibuat kolam dengan pematang yang kokoh dan kondisinya subur. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.1.1.3. Air&lt;br /&gt;
Sumber Air&lt;br /&gt;
Air Sungai&lt;br /&gt;
 Air sungai cocok untuk perkolaman yang sangat luas, minimal 100 kolam karena debit airnya sangat besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Air Irigasi&lt;br /&gt;
 Air yang berasal dari irigasi ini akan cocok untuk perkolaman yang luasnya sedang, minimal 20 kolam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Air dari Saluran Kecil&lt;br /&gt;
 Air yang berasal dari saluran kecil cocok untuk kolam yang sempit atau kecil karena disesuaikan dengan debit yang diperlukan juga kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
- Berada dekat dengan sumber air atau memiliki sumber air sendiri.&lt;br /&gt;
- Letak sumber airnya lebih tinggi dari lokasi hatchery agar air mudah dialirkan kedalam hatchery (kecuali bila menggunakan pompa air).&lt;br /&gt;
- Kuantitas airnya cukup agar kegiatannya dapat berjalan secara continue (berkesinambungan).&lt;br /&gt;
- Kualitas airnya baik, misalnya jernih, kandungan oksigennya tinggi atau sekitar 4 ppm dan tidak mengandung unsur-unsur yang membahayakan ikan.&lt;br /&gt;
- Lokasinya dekat dengan areal perkolaman.&lt;br /&gt;
- Keamanannya terjamin.&lt;br /&gt;
- Dekat dengan jalan dan transportasinya lancar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.1.2. Rekayasa Penentuan Lokasi&lt;br /&gt;
Table 1. Kisaran parameter kualitas air untuk ikan bawal&lt;br /&gt;
Parameter Kisaran&lt;br /&gt;
Suhu&lt;br /&gt;
Warna&lt;br /&gt;
Kekeruhan&lt;br /&gt;
Oksigen&lt;br /&gt;
Karbondioksida&lt;br /&gt;
pH&lt;br /&gt;
Amoniak&lt;br /&gt;
Alkalinitas  25 – 30oC&lt;br /&gt;
Hijau kecoklatan&lt;br /&gt;
20 -40 cm oleh plankton&lt;br /&gt;
Minimal 4 mg/l&lt;br /&gt;
Maksimal 25 mg/l&lt;br /&gt;
7 – 8 &lt;br /&gt;
Maksimal 0,1 mg/l&lt;br /&gt;
50 – 300 mg/l&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.2. Pemilihan Sarana dan Prasarana&lt;br /&gt;
2.2.1. Prasarana &lt;br /&gt;
2.2.1.1. Hatchery&lt;br /&gt;
Agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya, hatchery harus memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut : &lt;br /&gt;
Fasilitas yang harus dibuat untuk hatchery ikan bawal yaitu :    &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bak Penampungan Air Bersih&lt;br /&gt;
Letak bak ini harus lebih rendah dari sumber air agar air mudah dialirkan. Bak penampungan harus kuat dan kokoh sehingga dapat menampung air dalam volume yang besar. Oleh sebab itu, sebaiknya bak ini dibuat dari beton atau tembok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bak Pemberokan&lt;br /&gt;
Bak pemberokan sebaiknya tidak terlalu luas sebab akan menyulitkan pada waktu menangkap induk yang akan dipijahkan. Bak pemberokan harus dilengkapi dengan pintu pemasukan dan pengeluaran air untuk memudahkan dalam mengisi maupun mengeringkan bak. Ukuran paralon pengeluaran lebih besar tujuannya agar bak dapat dikeringkan dengan cepat. Hal lain yang paling penting pada bak pemberokan ini adalah kondisi airnya. Air yang masuk kedalam bak pemberokan harus continue (berkesinambungan) dan tidak mengandung makanan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bak Pemijahan&lt;br /&gt;
Bak pemijahan harus dipasang kawat dan paku di bagian atasnya untuk tempat mengikat tali hapa pamijahan. Air yang masuk ke bak pemijahan tetap kontinue karena pada waktu pemijahan airnya harus tetap mengalir. Keadaan airnya juga harus bersih agar telur-telur tidak kotor dan tidak terbungkus lumpur yang dapat menurunkan daya tetas telur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tempat Penetasan Telur&lt;br /&gt;
Ada tiga macam tempat penetasan yang dapat digunakan, yaitu corong dari kain terilin, akuarium dan konikel. Ukuran dan daya tampung ketiga macam tampat penetasan telur tersebut diuraikan sebagai berikut :&lt;br /&gt;
a. Corong Penetasan&lt;br /&gt;
Telur-telur ikan bawal sifatnya tenggelam dan tidak menempel. Beberapa menit setelah terjadi pembuahan, telur-telur akan mengembang sampai 3-4 kali lipat diameter telurnya. Untuk menetaskannya, diperlukan kondisi lingkungan yang sesuai agar telur yang sudah mengembang tidak pecah.&lt;br /&gt;
Corong penetasan telur ikan bawal dibuat dari kain terilin atau kain lainnya yang halus dan tipis. Corong penetasan berbentuk kerucut dengan garis tengah bagian atas 40 - 60 cm dan tinggi 50 cm. Agar berbentuk bulat, bagian atas diberi kawat ukuran 0,5 cm. Bagian atas atau kawat tersebut diberi tali untuk mengikat corong tersebut agar kedudukannya tidak berubah. Pada bagian dasar corong atau bagian moncongnya diberi selang kecil ukuran ¼ inchi sebagai tempat mengalirkannya air. Jumlah corong yang harus dibuat tergantung jumlah induk yang akan dipijahkan. Untuk satu ekor induk ukuran 4 kg, dibutuhkan 15 – 20 buah corong.&lt;br /&gt;
Perlu dibangun pula baknya untuk memasang atau menempatkan corong tersebut. Bak ini dibuat dari tembok atau beton. Ukuran bak panjang 6 m, lebar 1,5 m dan tinggi 1 m. Untuk mengalirkan air ke masing-masing corong penetasan, bak ini dihubungkan langsung dengan menggunakan paralon 1,5 inchi. Pada bagian tepi bak, dipasang keran-keran sebagai pengatur debit air yang dialirkan ke setiap corong penetasan. Jumlah keran yang dipasang tergantung jumlah corong. Bak ini juga dilengkapi dengan batang-batang besi yang sudah dipasang memanjang sebagai tempat mengikatkan corong-corong tersebut agar kedudukannya tidak goyang.&lt;br /&gt;
Untuk memudahkan pengeringan setelah digunakan, bak penetasan dilengkapi pula dengan pintu yang dipasang di bagian ujung dan tengah bak. Pintu pengeluaran air dibuat dari pipa paralon 3 inchi. Untuk mengatur ketinggian airnya, paralon tersebut dipasang secara tegak lurus. Paralon ini juga digunakan untuk pembuangan air sehari-hari.&lt;br /&gt;
b. Akuarium &lt;br /&gt;
Akuarium yang digunakan untuk penetasan dan pemeliharaan larva sebaiknya berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran lebar 40 cm panjang 60 dan tinggi 40 cm. Jumlah akuarium yang digunakan tergantung dari jumlah induk yang akan dipijahkan. Untuk seekor induk yang beratnya 4 kg membutuhkan akuarium sebanyak 30 buah ukuran 60 × 40× 40 (cm) atau 20 buah ukuran 80 × 60 × 60 (cm).&lt;br /&gt;
c. Konikel&lt;br /&gt;
Konikel terbuat dari fiber glass berwarna putih. Garis tengahnya 150 cm dan tingginya 120 cm. Bagian atasnya tinggi 100 cm mempunyai tepi tegak lurus, sedangkan 20 cm ke bawahnya membentuk kerucut. Dengan bentuk seperti ini, sirkulasi air akan berjalan baik dan penyebaran telur yang ditetaskan bisa merata.&lt;br /&gt;
Konikel dilengkapi pula dengan lubang pengeluaran air yang dibuat di tengahnya atau moncongnya. Lubang pengeluaran air ini disambung dengan paralon ukuran 1 inchi dan panjang 90 cm. Fungsi lubang ini untuk mengeluarkan air atau mengeringkan konikel bila sudah digunakan serta pembuangan air sehari-hari. &lt;br /&gt;
Untuk mensuplai air ke dalam konikel ini dihubungkan ke bak penampungan air dengan paralon ukuran 1 inchi dan keran untuk mengatur debit airnya. Paralon tersebut kedudukannya sejajar dengan pipa pengeluaran air.  &lt;br /&gt;
1. Bak penampung benih.&lt;br /&gt;
Bak ini terbuat dari tembok agar kuat dan tidak bocor. Ukuran masing-masing bak dengan panjang 2 m, lebar 1 m dan tinggi 50 cm. untuk mensuplai air bak ini dihubungkan langsung ke bak penampungan air dengan paralon ukuran 1,5 inchi. Pada setiap baknya dipasang pula keran-keran sebagai alat mengatur debit airnya. Selain itu juga dilengkapi dengan lubang pengeluaran air. &lt;br /&gt;
2. Tempat blower (aerator)&lt;br /&gt;
3. Gudang.&lt;br /&gt;
4. Kantor.&lt;br /&gt;
5. Listrik.&lt;br /&gt;
Listrik selain akan digunakan untuk penerangan, juga untuk menghidupkan arator (blower) dan pemanas air (heater). Sumber listrik bisa berasal dari PLN, genset atau keduanya untuk menjaga kemungkinan aliran listrik dari PLN padam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.2.1.2. Kolam &lt;br /&gt;
Kolam Pemeliharaan Induk&lt;br /&gt;
Luas kolam yang ideal antara 100 – 200 m2. Sebaiknya kolam berbentuk empat persegi panjang sebab sirkulasi airnya lebih merata. Kedalaman kolam pemeliharaan induk sebaiknya 80 – 100 cm, sehingga kolam harus mempunyai ketinggian minimal 125 cm sehingga jarak antara permukaan air kolam dan bagian atas pematang 25 cm.&lt;br /&gt;
Kolam pemeliharaan induk juga harus memiliki sistem pengairan yang baik yaitu sistem pengairan secara paralel. Dengan system ini, setiap kolam akan mendapat air baru dan bila dikeringkan tidak mengganggu kolam yang lainnya. Kolam ini juga harus dilengkapi dengan pintu pemasukan dan pengeluaran air agar memudahkan pada waktu pengeringan dan pengisian air kembali. Letak pintu-pintu berada di tengah-tengah pada lebar kolam dalam posisi sejajar. Pintu pemasukan bisa dibuat dari paralon 4 inchi sedangkan pintu pengeluaran sebaiknya dibuat secara permanen (tembok) atau dikenal dengan istilah monik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kolam Pendederan&lt;br /&gt;
Pendederan ikan bawal dilakukan dalam beberapa tahap, yakni pendederan pertama dan pendederan kedua. Bentuk kolam ini empat persegi panjang. Pintu pemasukan airnya dibuat dari pipa paralon ukuran 5 inchi. Adapun pintu pengeluaran airnya dibuat dalam bentuk monik. Pintu pengeluaran seperti ini akan mempercepat proses pengeringan kolam. Luas ideal kolam pendederan adalah antara 500 – 1.000 m2. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kolam Pembesaran&lt;br /&gt;
Bentuk kolam pembesaran persegi panjang dengan ukuran antara 200 – 500 cm. Jumlah kolam pembesaran harus lebih banyak dari kolam pendederan. Kegiatan pembesaran akan memerlukan waktu minimal 4 – 5 bulan. &lt;br /&gt;
2.2.2. Sarana Produksi&lt;br /&gt;
Induk Jantan dan Induk Betina&lt;br /&gt;
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih induk yaitu :&lt;br /&gt;
- Bentuk tubuh harus normal.&lt;br /&gt;
- Induk jantan dan induk betina bukan satu keturunan.&lt;br /&gt;
- Induk tersebut harus sudah mencapai umur dewasa, yaitu 4 tahun untuk induk betina dan 3 tahun untuk induk jantan.&lt;br /&gt;
- Induk yang akan dipijahkan tersebut harus matang gonad.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pakan Tambahan&lt;br /&gt;
Pakan buatan untuk ikan bawal sebaiknya mengandung protein minimal 25% dan mengandug gizi yang komplit misalnya bahan nabati seperti sayuran atau daun-daunan, dedak halus, tepung daun, tepung jagung dan tepung kedelai. Bahan hewani misalnya tepung tulang, tepung ikan, minyak ikan dan minyak hati. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pupuk&lt;br /&gt;
Ada dua jenis pupuk yang dapat digunakan yaitu pupuk organik dan anorganik. Pupuk organik mengandung bahan nutrient yang lebih komplit dibanding pupuk anorganik. Beberapa pupuk anorganik yang berasal dari hewan bisa digunakan yaitu kotoran ayam, kotoran puyuh, kotoran sapi, kotoran kambing dan kotoran kerbau. Beberapa macam pupuk organik dari tumbuhan meliputi daun kipahit, petai cina, dadap solo, dadap lut, orok-orok, waru, jarung, kadoya, pingku dan daun harendong.&lt;br /&gt;
Contoh pupuk anorganik yang bisa digunakan yaitu urea, TSP dan NPK. Kolam yang luasnya 1.000 m2 membutuhkan 500 kg pupuk kandang 25 kg urea, 15 kg TSP dan 15 kg NPK.&lt;br /&gt;
   &lt;br /&gt;
Kapur&lt;br /&gt;
Kapur digunakan pada saat persiapan kolam. Pengapuran memiliki beberapa tujuan diantaranya untuk menaikkan pH, meningkatkan alkalinitas, serta memberantas hama dan penyakit. Jenis kapur yang digunakan yaitu kapur tohor (CaCO3). Jumlah yang harus disediakan pada kolam yang luasnya 1.000 m2 sekitar 5 kg kapur.   &lt;br /&gt;
1. Hormon perangsang.&lt;br /&gt;
Ada beberapa hormon yang sering digunakan untuk merangsang pematangan gonad diantaranya LHRH (Luteinizing Hormone Releasing Hormone), PG (Pituitary Gland) atau lebih dikenal dengan hipofisa, HCG (Human Choionic Gonadotropin) dan ovaprim (merk dagang).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.3. Teknik pengadaan induk&lt;br /&gt;
2.3.1. Seleksi Induk&lt;br /&gt;
Beberapa pertimbangan yang dipakai untuk melakukan seleksi induk adalah bentuk fisik, ukuran berat, umur, tingkat kesehatan, dan kematangan gonad.  Sekalipun ikan bawal diperairan tropis cendrung cepat matang gonad, namun umur ideal yang layak dan produktif untuk dipijah adalah 4 tahun dan beratnya telah mencapai 4 – 6 kg/ekor. Induk yang akan dipijahkan harus sehat secara fisik, yaitu tidak terinfeksi oleh penyakit parasit. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.3.2. Ciri-ciri Induk Jantan dan Induk Betina&lt;br /&gt;
Betina :&lt;br /&gt;
- Tubuh gemuk&lt;br /&gt;
- Warna lebih menyala&lt;br /&gt;
- Setelah matang gonad perut lebih gendut, gerakan lambat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jantan :&lt;br /&gt;
- Tubuh lebih langsing&lt;br /&gt;
- Warna kurang menyala&lt;br /&gt;
- setelah matang gonad, akan keluar cairan putih susu bila perut dipijat ke arah alat kelamin, gerakan agresif.&lt;br /&gt;
2.3.3. Asal Induk&lt;br /&gt;
Ikan yang digunakan untuk Induk adalah berasal dari hasil budidaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.3.4. Pemijahan&lt;br /&gt;
2.3.4.1. Pemijahan Buatan&lt;br /&gt;
Pembenihan ikan bawal dilakukan dengan cara memijahkan induk, menetaskan telur, merawat larva, dan mendederkan benih. Produk akhir usaha pembenihan adalah benih ikan yang secara biologi atau morfologi menyerupai induknya.&lt;br /&gt;
Usaha pembenihan ikan yang baik akan menghasilkan benih-benih  ikan yang telah aktif dan mampu beradaptasi terhadap perubahan lingkungan serta  resisten terhadap serangan hama dan penyakit. Keberhasilan usaha pembenihan ikan sangat ditentukan oleh metoda atau sistem yang digunakan.&lt;br /&gt;
Menurut pola pengelolaannya, usaha pembenihan ikan bawal dibedakan menjadi dua kategori, yaitu pembenihan ikan sistem konvesional (tradisional) dan modern  (terapan). Pembenihan secara tradisional dilakukan dikolam yang agak luas.  Induk dibiarkan pijah secara alami.  Sedangkan pembenihan secara modern (terapan) induk betina dipaksa mengeluarkan cairan sperma atau dipaksa kawin diluar kemauannya sendiri.  Proses pematangan kelamin (gonad) dipacu dengan suntikan (rangsangan hormon).&lt;br /&gt;
Pemijahan buatan dilakukan dengan cara mencampur telur hasil pengurutan (stripping) bagian perut induk betina dan sperma hasil pemijahan atau penyedotan melalui lubang urogenital (kelamin) induk jantan dalam cawan atau piring khusus. Pembuahan (fertilisasi) sel telur terjadi akibat pencampuran langsung antara telur dan cairan sperma, sedangkan mediator pembuahannya dalah pengaduk berupa bulu ayam.&lt;br /&gt;
Langkah-langkah pembenihan ikan bawal secara modern meliputi seleksi induk (induk matang gonad), seleksi ikan donor, persiapan dan pelaksanaan induce spawning (perawatan induk yang diinduce/disuntik), pemijahan atau stripping dan pembuahan telur, penetasan telur, perawatan larva, benih.&lt;br /&gt;
2.3.4.2. Penyediaan Ikan Donor&lt;br /&gt;
Ikan donor adalah sejumlah ikan yang sengaja dikorbankan sebagai sumber hormon gonadotropin. Hormon dihasilkan sekaligus disimpan dalam kelenjar hypofisa yang terletak pada tengkorak kepala dibawah otak.  &lt;br /&gt;
Berdasarkan perkembangan kelenjar hypofisa dan fluktuasi hormon gonadotropin tersebut, maka syarat ikan donor yang dipersiapkan adalah  ikan dewasa  dan sebaiknya ikan bawal jantan. Ikan bawal jantan relatif cepat dewasa dan periodesasi  pemijahannya cukup pendek sehingga kualitas hormon yang dimilikinya cukup stabil setiap saat.&lt;br /&gt;
Sumber hormon buatan  yang dapat digunakan adalah ovaprim dan LHRH-a. Hormon ini berupa cairan (ovaprim) dan tepung (LHRH-a) yang dikemas dalam botol atau kapsul tertutup rapat dan aman.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.4. Pematangan induk (Repening of Spawners)&lt;br /&gt;
Tidak semua induk hasil penangkapan di perairan umum atau kolam penampungan memiliki tingkat kematangan gonad yang sama atau seragam. Oleh karena itu, induk-induk tersebut sebelum dipijahkan perlu dirawat secara khusus.  Pelaksanaan pemijahan akan efektif jika tingkat kematangan gonad telah memasuki fase istrahat (dormand phase).&lt;br /&gt;
Pematangan gonad dilakukan selama 10 – 14 hari tanpa mengurangi tingkat kepadatan populasi, tetapi suplai oksigen ditambah dengan cara memperbesar aliran (debit) air dan mengatur pola makan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.4.1. Pemeliharaan Induk&lt;br /&gt;
 Kegiatan pemeliharaan induk merupakan kegiatan yang paling penting dari pembenihan. Hal ini disebabkan daya tetas telur bawal yang dipijahkan akan dipengaruhi oleh kualitas telurnya, sedangkan kualitas telur yang dihasilkan akan tergantung dari pemeliharaan induk. Dalam pemeliharaan induk ada beberapa hal yang harus diperhatikan seperti musim, lingkungan atau kondisi kolam dan pakan.&lt;br /&gt;
 Air yang masuk ke kolam harus mengalir secara kontinue dengan debit 1 liter/detik. Adapun kepadatan induk yaitu 2 – kg/m2 atau dengan berat 4 kg dalam kolam berukuran 400 m2.&lt;br /&gt;
 Pemeliharaan induk bawal dilakukan secara monokultur karena bila dilakukan polikultur dikhawatirkan ikan bawal dapat mengganggu ikan lainnya. Dalam pemeliharaan ini induk jantan dan induk betina dipelihara dalam kolam terpisah agar memudahkan pada waktu seleksi induk.&lt;br /&gt;
 Dalam pemeliharaan induk diberi pakan tambahan berupa pellet dengan kadar protein 35% dan dosis 3% per hari. selain itu induk bawal dapat diberi pakan berupa daging keong mas dengan dosis yang sama, menjelang musim hujan tiba dosisnya ditambah menjadi 4%. Pada saat musim hujan gonadnya sudah mulai berkembang sehingga induk perlu makanan yang cukup agar diperoleh kualitas telur yang baik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.4.2. Seleksi Induk&lt;br /&gt;
 Satu bulan sesudah musim hujan sekitar bulan oktober, dilakukan seleksi induk tahap awal. &lt;br /&gt;
Cara menyeleksi induk bawal :&lt;br /&gt;
- Air kolam disurutkan secara perlahan-lahan sampai mencapai ketinggian 40 cm.&lt;br /&gt;
- Induk-induk digiring ke salah satu sudut dengan menggunakan jarring. Bila sudah terkumpul, induk ditangkap dengan menggunakan tangan dan kemudian diperiksa satu persatu.&lt;br /&gt;
- Induk betina yang matang telur dicirikan dengan perut yang buncit dan lubang kelamin yang berwarna kemerah-merahan. Berat induk betina kisaran 4 kg.&lt;br /&gt;
- Ciri induk jantan yang matang gonad yaitu bila perut dipijat kea rah lubang kelamin akan keluar cairan berwarna putih susu atau sperma. Perut induk jantan tetap seperti biasa. Berat induk jantan berkisar 3 – 4 kg.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.4.3. Pemberokan &lt;br /&gt;
 Kegiatan ini dilakukan karena gonad induk masih banyak mengandung lemak. Kandungan lemak yang tinggi dapat menghambat keluarnya telur saat dipijahkan atau di streefing. Disamping itu pemberokan bertujuan juga untuk memudahkan dalam membedakan induk yang gendut karena telur atau karena makanan.&lt;br /&gt;
Hal penting yang harus diperhatikan dalam pemberokan yaitu :&lt;br /&gt;
1. Air harus bersih (tidak mengandung pakan) serta mengalir secara kontinue agar ikan tidak mengalami stress dan O2 dapat disuplai secara terus menerus.&lt;br /&gt;
2. Induk tidak boleh diberi pakan tambahan agar kandungan lemaknya tidak berubah.&lt;br /&gt;
Pemberokan dapat dilakukan selama 2 – 3 hari.&lt;br /&gt;
 Untuk meyakinkan lebih lanjut telur dalam gonad diperiksa dengan cara dikateter yaitu selang ukuran 1 mm dimasukkan ke dalam lubang kelamin induk betina, kemudian telur disedot sedikit demi sedikit. Telur yang diperoleh diletakkan dalam lempengan gelas. Telur yang matang dicirikan dari ukurannya yang seragam, antara 1,0 – 1,2 mm, berwarna kekuningan. Bila dimasukkan dalam larutan sera intinya berada dipinggiran dan telur-telur sudah berpisah satu dengan yang lainnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.4.4. Persiapan Induce Spawning &lt;br /&gt;
 Persiapan induce spawning (persiapan pemberian hormon perangsang)  meliputi  pencucian (desinfektisasi) peralatan, pengambilan kelenjar hypofisa  disenfektisasi dan pembuatan kelenjar hypofisa atau pengadaan hormon gonadrotopin awetan atau hormon perangsang syntetis (buatan).  Peralatan utama induce spawning terdiri atas pisau potong, pinset, gelas kimia, penggerus porselin, pipet hisap, sentrifuge, jarum injek (jarum suntik), sebelum digunakan peralatan dimaksud harus disucihamakan.&lt;br /&gt;
 Setelah pencucian peralatan dilanjutkan dengan  dengan pemotongan atau operasi ikan donor. Bagian kepala ikan donor dipenggal hingga putus dan terpisah dari badannya. Kemudian, tulang tengkorak dibelah persis diatas rongga otak.&lt;br /&gt;
 Untuk memudahkan pengambilan kelenjar hypofisa, bagian otak yang  dipungut dengan pinset. Selanjutnya, lapisan kelenjar hypofisa dihisap dengan pipet. Pengambilan kelenjar hypofisa diulang dengan cara yang sama pada ikan donor yang lain.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.4.5. Pelaksanaan Induce Spawning&lt;br /&gt;
 Langkah pertama pelaksanaan induce spawning adalah menentukan dosis hypofisa atau hormon buatan. Dosis hypofisa ditentukan berdasarkan berat induk (kg) yang akan menerima suntikan ekstrak hypofisa dan berat butiran induk (mg) yang berasal dari ikan donor sebelum dibuat ekstraks atau berat induk yang akan disuntik dan volume cairan atau berat tepung hormon perangsang buatan.&lt;br /&gt;
 Langkah kedua adalah menyuntik ekstrak hypofisa atau hormon lain (ovaprim) pada ikan penerima.  Pekerjaan ini dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu suntikan tunggal  dan suntikan bertahap. Penyuntikan tunggal dilakukan dengan penginjeksian, total dosis ekstrak hypofisa dalam tubuh induk ikan penerima. Sedangkan suntikan bertahap dapat dilakukan dengan cara membagi volume ekstrak hypofisa yang telah dipersiapkan sesuai dengan perhitungan dosis. Suntikan bertahap dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu sekali suntikan awal dan 1-2 kali suntikan penentu.&lt;br /&gt;
Alat yang digunakan meliputi pisau, talenan, pinset, penggerus, dan alat suntik. Adapun bahan-bahan yang digunakan yaitu hipofisa dari ikan donor (ikan mas atau sejenisnya seberat 500 – 600 gram), ovaprim atau HCG dan aquabidestilata.&lt;br /&gt;
 Dosis penyuntikan yang digunakan tergantung dari jenis hormon. Induk betina disuntik sebanyak 3 dosis bila menggunakan kelenjar hipofisa, 0,75 ml/kg induk bila menggunakan ovaprim, dan 3 µg/kg bila menggunakan LHRH analogue. Khusus untuk LHRH analogue sebelum digunakan harus dilarutkan terlebih dahulu dalam 1 ml larutan NaCl. Adapun pemberian hormon untuk induk jantan dengan hipofisa 1 dosis, ovaprim 0,5 ml/kg atau LHRH sebanyak 2 µg/kg.&lt;br /&gt;
 Penyuntikan hormon pada induk betina dilakukan dua kali. Penyutikan pertama sebanyak 1/3 bagian dan penyuntikan kedua sebanyak 2/3 bagian. Selang waktu penyuntikan pertama dengan penyuntikan kedua adalah 12 jam. Induk jantan hanya disuntik satu kali yaitu bersamaan waktunya dengan penyuntikan induk betina yang kedua.&lt;br /&gt;
 Apabila hormon yang akan digunakan adalah hipofisa maka perlu dilakukan langkah pembuatan larutan hipofisa. Caranya mula-mula ikan donor dipotong secara vertical tepat di belakang tutup insang, kemudian kepala ikan donor tersebut dipotong lagi secara horizontal tepat di atas hidung, kea rah bagian bawah mata sehingga akan terlihat otaknya.     &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
2.5. Pemijahan&lt;br /&gt;
Stripping dan pembuahan&lt;br /&gt;
Puncak kematangan gonada adalah ovulasi. Ovulasi telur tidak dapat dihentikan atau dihambat. Telur yang telah masak dan mengalami ovulasi harus dipijahkan (dikeluarkan melalui proses pemijahan) secara alami atau pun paksaan berpijah dengan pijitan atau stripping.&lt;br /&gt;
Proses pematangan telur berlangsung secara serentak. Perbedaan waktu antara telur yang pertama kali mengalami ovulasi dan yang terakhir hanya sekitar 15 – 20  menit. Dengan demikian induk-induk yang disuntik dalam waktu yang hampir bersamaan  akan mengalami ovulasi yang hampir  bersamaan pula.&lt;br /&gt;
Pembuahan telur dalam pemijahan ikan secara paksa (stripping)  dilakukan dalam cawan (mangkok). Sediakan bulu ayam yang kering, bersih dan steril. Dalam waktu yang bersamaan  dengan stripping induk betina, dilakukan juga  stripping atau penyedotan sperma induk jantan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.6. Teknik Penyediaan Pakan&lt;br /&gt;
Penyediaan pakan dilakukan dengan alami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.7. Teknik Penetasan Telur&lt;br /&gt;
2.7.1. Perawatan Telur&lt;br /&gt;
Telur fertile dan sehat akan membengkak terus. Telur yang membengkak terdiri atas inti, rongga previtilline, dan dinding (cangkang) telur. Inti mengandung kuning telur, lemak dan sel – sel yang berserakan. Kuning telur mengalami beberapa kromosom normal sebagai sel samotik. Sedangkan disekeliling inti adalah rongga  yang berisi cairan yang mengandung protein terlarut. Telur ikan tertutup oleh cangkang yang terdiri atas 3 lapis. Cangkang telur ikan sangat tipis, lembut, halus dan mudah pecah.&lt;br /&gt;
Telur fertile dan sehat akan berkembang menjadi embrio dan selanjutnya menetas menjadi larva.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.7.2. Penetasan&lt;br /&gt;
 Penetasan telur bawal dapat dilakukan dalam corong penetasan, konikel, atau akuarium. Kegiatan penetasan dibagi dalam beberapa tahap yakni persiapan, pemasukan air, penebaran telur, pembuangan telur yang tidak menetas dan pergantian air.&lt;br /&gt;
 Tempat penetasan sebelumnya dibersihkan dan dijemur terlebih dahulu selama 1 - 2 hari. Kemudian tempat penetasan diisi air setinggi 30 cm untuk akuarium, 80 cm untuk konikel dan sesuai ketinggian bak untuk corong penetasan. Untuk daerah yang suhu airnya dibawah 25oC, tempat penetasan tersebut perlu dilengkapi dengan pemenas air (heater) yang distel pada suhu 28oC. Bila memakai akuarium, perlu dilengkapi dengan aerator. Dua jam sebelum pemasukan telur, heater dan aerator sudah dihidupkan.&lt;br /&gt;
 Telur yang sudah bersih dari kegiatan streefing atau telur yang diambil dari bak pemijahan, dimasukkan sedikit demi sedikit dengan memakai gayung plastic atau gelas agar tidak rusak. Kepadatan telur yang dianjurkan 150 – 250 butir/liter. Jadi salam suatu akuarium ukuran panjang 60 cm, lebar 40 cm dan tinggi 40 cm dapat diisi 10.000 – 20.000 butir telur, satu konikel dapat diisi 150.000 – 200.000 butir dan satu corong diisi 5.000 – 10.000 butir.&lt;br /&gt;
 Apabila sudah dimasukkan semua, telur dibiarkan sampai menetas. Pengontrolan aliran air, aerasi dan suhu air harus dilakukan setiap hari. Jika kondisi lingkungan baik, telur akan menetas dalam waktu 18 – 24 jam dengan persentase minimal 80%. Daya tetas telur bawal tergantung dari kualitas telur, kualitas air dan factor-faktor lainnya seperti penggantian air dan aliran listrik untuk menghidupkan aerator.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.8. Perawatan Larva&lt;br /&gt;
Anatomi tubuh larva yang baru menetas belum sempurna, tetapi larva tersebut telah memiliki makanan cangkang berupa kuning telur. Biasanya kelangsungan hidup tergantung pada kualitas kuning telur makanan cadangan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.8.1. Pemberian Pakan&lt;br /&gt;
Larva ikan bawal yang baru menetas hingga umur tiga hari masih tersedia pakan cadangan dalam tubuhnya, namun setelah itu larva perlu diberi pakan. Jenis pakan yang diberikan yaitu naupli artemia atau artemia yang baru menetas hingga larva berumur 8-10 hari. Sesudah itu diberikan cacing rambut hingga umur 14 hari atau hingga larva dipelihara di kolam.&lt;br /&gt;
Dari uraian tersebut lerlihat bahwa pakan berupa pakan alami. Pakan alami ini sangat penting bagi larva karena organ tubuhnya belum terbentuk sempurna. Pakan alami harus memenuhi persyaratan , diantaranya :&lt;br /&gt;
a) Ukuran kecil dari bukaan mulut larva&lt;br /&gt;
b) Gizinya tinggi&lt;br /&gt;
c) Dapat bergerak, terapung, atau tersuspensi&lt;br /&gt;
d) Mudah dibudidayakan dalam jumlah besar&lt;br /&gt;
e) Dapat dibudikayaan dengan biaya murah&lt;br /&gt;
f) Dapat bermanfaat sumberdaya alam sekitar.&lt;br /&gt;
2.8.2. Pengelolaan Kuaitas Air&lt;br /&gt;
Mengingat larva ikan bawal sangat rentan, penangannya harus dilakukan secara hati-hati dan teliti. Di samping konsentrasi oksigen dalam media perawatan tetap terjamin, suhu media perawatan juga harus optimal. &lt;br /&gt;
Pekerjaan pokok perawatan larva ikan bawal adalah membersihakan cangkang dan telur busuk (rusak) serta mempertahankan konsentrasi oksigen pada suhu optimal. &lt;br /&gt;
Suplai air selama perawatan larva harus dikontrol secara cermat. Supalai air yang terlalu kecil akan menyebabkan terkumpulnya larva sehingga terjadi persaingan ( perebutan) oksigen. Sebaliknya suplai air yang terlalu besar akan menghanyutkan larva. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.8.3. Pengendalian Hama dan Penyakit&lt;br /&gt;
2.8.3.1. Pencegahan dan Pengobatan Secara Umum&lt;br /&gt;
a. Kolam dikeringkan sampai tanah dasarnya retak-retak.&lt;br /&gt;
b. Dilakukan pengapuran saat persiapan kolam.&lt;br /&gt;
c. Pada pintu pemasukan air dipasang saringan.&lt;br /&gt;
Adapun cara mencegah serangan penyakit dapat dengan beberapa cara, diantaranya yaitu :&lt;br /&gt;
a. Mengeringkan kolam untuk memotong siklus hidup penyakit.&lt;br /&gt;
b. Melakukan pengapuran saat persiapan kolam agar penyebab penyakit bisa mati.&lt;br /&gt;
c. Menjaga kondisi ikan agar tetap sehat dan tidak stress.&lt;br /&gt;
d. Menjaga kondisi lingkungan hidup agar sesuai dengan kebutuhan ikan.&lt;br /&gt;
e. Mengurangi kepadatan ikan untuk mencegah kontak langsung antar ikan, menghindari terjadinya penurunan kadar oksigen dalam air, serta meingkatnya kadar NH3.&lt;br /&gt;
f. Memberi pakan tambahan yang cukup, tetapi tidak berlebihan.&lt;br /&gt;
g. Mencegah terjadinya luka pada tubuh ikan dengan penanganan yanng baik.&lt;br /&gt;
h. Mencegah masuknya binatang pembawa penyakit, seperti burung, siput dan lain-lain.&lt;br /&gt;
Ada beberapa cara pengobatan yang dapat dilakukan diantaranya pengobatan melalui air kolam, perendaman, makanan dan langsung pada ikan.&lt;br /&gt;
1. Melalui air kolam&lt;br /&gt;
Cara ini dilakukan dengan mencampurkan obat pada air kolam yang berisi ikan yang sakit. Namun, sebelum ditebarkan, volume air kolam harus diketahui dahulu agar dosis obat yang diberikan sesuai dengan anjuran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Melalui perendaman&lt;br /&gt;
Dalam perendaman, ikan yang sakit harus dipanen dahulu, kemudian direndam dalam larutan obat dengan dosis sesuai anjuran.&lt;br /&gt;
3. Melalui makanan&lt;br /&gt;
Pengobatan melalui makanan atau system oral dilakukan dengan member pakan yang sudah diberi obat tertentu pada ikan yang sakit.&lt;br /&gt;
4. Melalui ikan langsung&lt;br /&gt;
Pengobatan langsung pada ikan yang sakit dilakukan dengan cara mengolesi obat pada tubuh ikan, terutama tubuh bagian luar, seperti sisik, kepala atau mata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.8.3.2. Pencegahan dan Pengobatan Secara Khusus&lt;br /&gt;
Hama&lt;br /&gt;
 Kehadiran hama dapat berasal dari luar maupun dari dalam, artinya hama tersebut sudah ada di dalam kolam. &lt;br /&gt;
a. Notonecta&lt;br /&gt;
Notonecta memiliki lima pasanga kaki. Tiga pasang kaki di bagian belakang digunakan untuk berenang, sedangkan dua pasang di bagian depan digunakan sebagai alat penyengat. Hama ini biasanya menyerang benih, terutama yang berukuran kecil. Serangannya dapat mematikan karena mangsanya dijepit.&lt;br /&gt;
Notonecta sangat menyenangi perairan yang banyak mengandung bahan organic dan terdapat tanaman air yang membusuk. Binatang ini biasa bergerak turun naik ke permukaan air untuk mengambil oksigen dari udara. Apabila perairan yang ditempati kurang cocok, binatang ini akan berpindah ke kolam lain dengan cara terbang.&lt;br /&gt;
Oleh Karen bisa terbang maka sampai saat ini pencegahan notonecta masih sulit dilakukan. Cara terbaik yang dilakukan yaitu dengan mengurangi kandungan bahan organik di kolam dan membuang tanaman air yang ada. Jika populasi hama ini sangat banyak maka dilakukan pemberantasan hama dengan cara menyiram minyak tanah sebanyak 5 liter/1000 m2 air kolam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
b. Ucrit &lt;br /&gt;
Ucrit memiliki badan seperti ulat, badannya kaku, tetapi dapat bergerak dengan cepat. Tubuhnya berwarna agak kehijauan. Ciri khas binatang ini adalah di bagian kepala memiliki taring sebagai alat penjepit mangsa dan di bagian ekornya memiliki alat penyengat. Serangan binatang ini lebih berbahaya disbanding notonecta karena dalam sehari dapat menyerang beberapa ikan. Cara penyerangannya dengan menjepit perut benih sampai robek, kemudian benih dimangsanya.&lt;br /&gt;
Lingkungan hidup yang disenangi ucrit hampir sama dengan notonecta, yaitu perairan yang banyak mengandung bahan organik, seperti adanya jerami dan rerumputan. Larva cybister yang sudah dewasa akan bermetamorfosis menjadi kumbang berwarna hitam. Kumbang ini akan terbang dari kolam satu ke kolam lainnya.&lt;br /&gt;
Keberadaan ucrit dapat dicegah dengan beberap cara, seperti mengurangi kandungan bahan organik di kolam dan melakukan persiapa kolam yang baik. Adapun pemberantasannya dapat dilakukan dengan menggunakan obat yang disebut Decis dengan dosis 2 mg/.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
c. Belut&lt;br /&gt;
Belut merupakan jenis ikan yang banyak ditemukan di sawah-sawah. Selain sawah, belut juga ditemukan di pematang-pematang kolam sehingga seringkali menyebabkan kebocoran pematang. Belut biasanya aktif pada malam hari, terutama dalam mencari makan, sedangkan pada siang hari lebih juga di lubang-lubang. Binatang ini termasuk karnivoran (pamakan daging). Makanan yang paling disukai adalah cacing. Selain itu juga dapat memangsa ikan. Satu ekor belut memang tidak banyak mekan ikan, tetapi bila jumlahnya banyak ikan yang dimangsanya juga bisa banyak. Oleh karenanya, binatang ini juga harus diberantas atau dicegah. Cara yang paling sederhana adalah dengan mengeringkan, kemudian lubang-lubangnya dibongkar, kemudian ditutup kembali. Bila ada belutnya segera dibunuh. Cara lainnya adalah melapisi pematang dengan anyaman bamboo sehingga belut yang ada dalam pematang tidak bisa keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
d. Ular sawah&lt;br /&gt;
Ular sawah merupakan sejenis ular yang biasa hidup di sawah-sawah. Kepalanya kecil dan bagian perutnya lebih besar. Bagin atas tubuh berwarna cokelat seperti tanah sawah dan bagian bawahnya berwarna putih. Selain di sawah binatang ini sering juga ditemukan di saluran-saluran air. Ular sawah aktif pada malam hari, termasuk mencari makan, sedangkan pada siang hari bersembunyi di lubang-lubang. Makanan kesukaannya adalah binatang yang ukurannya lebih kecil dari mulutnya, seperti anak katak, ikan dan binatang lainnya. Satu ekor ular dapat memakan ikan ukuran 2 – 3 cm sampai 10 ekor. Pencegahan ular sawah dapat dilakukan dengan memagar pematang dengan pagar bamboo yang rapat. Sedangkan pemberantasan ular dilakukan dengan membunuh ular yang masuk ke kolam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penyakit&lt;br /&gt;
 Penyakit adalah organisme yang hidup dan berkembang dalam tubuh ikan sehingga organ tubuhnya terganggu. Dengan terganggunya salah satu bagian tubuh maka terganggu pula anggota tubuh lainnya. Demikian juga aktifitas hidupnya terganggu sepeti gerakan, pernafasan ataupun nafsu makan. Serangan penyakit yang parah menimbulkan kematian total sehingga kerugian tak dapat dihindari.&lt;br /&gt;
 Timbulnya penyakit pada ikan dapat disebabkan oleh tiga faktor, yaitu lingkungan, kondisi ikan dan adanya bakteri pathogen. Ketiga faktor tersebut saling berhubungan, misalnya lingkungan memburuk maka kehidupan ikan akan terganggu dan penyakit lebih mudah menyerang. Ada beberapa penyakit yang biasa menyerang ikan bawal yaitu jamur, bintik putih dan trichodinas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
a. Jamur&lt;br /&gt;
Penyakit jamur pada ikan bawal disebabkan oleh jamur Saprolegnia sp. Dan Achlya sp. Selain menyerang bawal, Saprolegnia juga menyerang hampir semua jenis ikan air tawar, termasuk telurnya. Saprolegnia memiliki bentuk tubuh seperti benang halus, berwarna putih atau kadang berwarna cokelat. Pada serangan yang parah, benang tersebut tampak lebih panjang, banyak dan padat. Penyakit ini bisa menyerang tubuh bagian luar seperti kepala, tutup insang, sirip dan bagian luar lainnya.&lt;br /&gt;
Bentuk tubuh Achlya mirip dengan saprolegnia, tetapi jumlah sporanya lebih banyak dan bercabang-cabang bila serangannya parah, benang tersebut tampak lebih banyak dan padat dibandingkan saprolegnia.&lt;br /&gt;
Timbulnya penyaklit jamur dapat disebabkan oleh penanganan ikan yang kurang baik. Disamping itu kurangnya pakan, suhu air dan kandungan oksigen yang rendah, kualitas telur yang kurang baik, serta kepadatan telur yang terlalu tinggi juga dapat menjadi penyebab timbulnya penyakit ini.&lt;br /&gt;
Penyakit jamur dapat dicegah dengan beberapa cara, diantaranya dengan menjaga kualitas air agar tetap baik, menangani ikan atau telur dengan baik, member pakan tambahan yang cukup dan tidak menebarkan telur yang terlalu padat. Apabila telah terjadi serangan, pengobatan dapat dilakukan dengan cara merendam ikan atau telur dalam malachitegreen 1 mg/l selama 1 jam atau larutan NaCl 5 g/l selama 15 menit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
b. Penyakit Bintik Putih&lt;br /&gt;
Penyakit bintik putih (white spot) pada ikan bawal dan ikan air tawar lainnya biasanya disebabkan oleh parasit Ichthyopthirius multifilis. Parasit ini termasuk protozoa yang memiliki bulu getar. Penyakit ini bisa menyerang hampir semua jenis ikan air tawar, terutama benihnya.&lt;br /&gt;
Ikan yang terserang penyakit ini ditandai dengan adanya bintik-bintik putih pada permukaan tubuh sehingga bagian tersebut akan berwarna pucat. Tanda lainnya yaitu ikan sering menggosok-gosokkan tubuhnya pada dasar dan dinding kolam, serta sering terlihat megap-megap dan selalu berkumpul di sekitar air masuk.&lt;br /&gt;
Faktor pendukung timbulnya penyakit bintik putih yaitu kualitas air yang buruk, suhu air yang rendah (dibawah 24o C), ketersediaan pakan yang kurang dan terkontaminasi ikan liar. Penularan dapat terjadi akibat kontak langsung ikan dan aliran air.&lt;br /&gt;
Usaha pencegahan terhadap penyakit bintik putih yaitu dengan cara menjaga kualitas air tetap baik, mempertahankan suhu air 28o C dan menggunakan alat yang bersih. Adapun pengobatan yang dilakukan bila ikan telah terserang yaitu dengan merendam ikan dalam larutan formalin 25 ml/m3 yang dicampur dengan malachitgreen oxalate 0,15 g/m3 air selama 24 jam. Cara lain yang lebih praktis dan murah adalah dengan menyurutkan air kolam sampai 10 cm agar suhu air naik diatas 28°C. Keadaan ini dibiarkan selama 2 – 4 hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
c. Trichodiniasis&lt;br /&gt;
Penyakit trichodiniasis disebabkan oleh parasit yang disebut Trichodina sp. Trichodina termasuk parasit yang tergolong dalam Filum Coliophora karena mempunyai silia (rambut-rambut getar). Bentuk tubuhnya seperti piring atau topi yang diselimuti silia di ujung tubuhnya. Panjang tubuhnya sekitar 50 µ (milimikron).&lt;br /&gt;
Parasit Trichodina dapat menyerang hampir semua jenis ikan air tawar dan beberapa jenis ikan air laut. Biasanya, bagian yang diserang adalah organ tubuh bagian luar, seperti kulit, sirip dan insang. Cara menyerangnya dengan menempelkan tubuhnya pada organ tubuh yang menjadi sasarannya.&lt;br /&gt;
Ikan yang terserang ditandai dengan adanya luka atau kerusakan pada organ yang diserang dan disertai dengan infeksi sekunder. Tanda klinisnya tidak tampak karena ukuran tubuhnya sangat kecil sehingga cara mendiagnosisnya hanya dengan mikroskop.&lt;br /&gt;
Usaha pencegahan terhadap penyakit ini dengan member pakan tambahan yang cukup dan bergizi tinggi, filterisasi dan menaikkan suhu air (dengan menyurutkan air kolam sampai 10 – 15 cm). Adapun pemberantasan yang dapat dilakukan dengan merendam ikan yang terserang dalam larutan NaCl 500 – 1000 mg/l selama 24 jam atau dalam larutan formalin 25 mg/l selama 24 jam.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
2.8.3.3. Pemeliharaan Larva&lt;br /&gt;
Pemeliharaan Larva di Akuarium&lt;br /&gt;
 Akuarium yang sudah bersih dijemur selama 2 hari, kemudian diisi air bersih setinggi 30 cm. Pasang pula heater yang sudah distel suhunya 29oC, demikian juga aeratornya dijalankan. Heater dan aerator tersebut dibiarkan hidup selama masa pemeliharaan larva.&lt;br /&gt;
 Setelah akuarium dan perlengkapannya siap, larva dimasukkan dengan hati-hati. Larva ini dapat berasal dari konikel, corong atau akuarium.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Larva dari Konikel atau Corong&lt;br /&gt;
Larva dari Akuarium&lt;br /&gt;
 Kepadatan larva antara 50 – 75 ekor. Sebaiknya 2/3 bagian airnya harus dibuang karena biasanya mengandung telur-telur yang tidak menetas. Di samping itu airnya sudah berbau amis dan apabila tidak dibuang maka dapat menyebabkan kematian pada larva.&lt;br /&gt;
 Empat hari kemudian, pakan cadangan dalam tubuh larva akan habis. Pada saat itu, larva mulai diberi pakan. Jenis pakan yang diberikan yaitu naupli artemia (artemia yang baru menetas). Pada awalnya artemia yang diberikan kira-kira 1 sendok makan setiap pemberian untuk satu akuarium. Pemberian pakan ini dilakukan 3 kali sehari yaitu pukul 09.00, 14.00 dan 17.00.&lt;br /&gt;
 Artemia diberikan sampai larva berumur 8 – 10 hari. Sesudah itu larva sudah bisa diberikan cacing rambut. Pemberian cacing rambut dilakukan sampai umur 14 hari atau hingga larva siap dipelihara di kolam pendederan.&lt;br /&gt;
 Larva bawal juga bisa diberikan Brachionus (atau hewan yang termasuk golongan rotifera). Pemberiannya dapat dilakukan menjelang larva habis kuning telur, selama 2 - 3 hari. Untuk 2 hari berikutnya, larva diberikan moina yang baru menetas. Dua hari berikutnya, bisa diberi moina muda. Setelah itu hingga 14 hari larva dapat diberi moina dewasa. Bila kondisi air dan kualitas larva baik, kelangsungan hidup larva dapat mencapai 60 -70%. Larva sudah disebut benih bila telah berukuran 0,25 – 0,5 inchi.&lt;br /&gt;
Pagi hari sebelum pakan diberikan, air akuarium harus diganti dengan cara disipon. Air yang diganti cukup ½ bagian saja. Kemudian akuarium diisi air yang bersih dan baru hingga mencapai ketinggian semula. Saat penyiponan larva yang mati harus dibuang agar tidak membusuk dan menimbulkan bau.&lt;br /&gt;
Untuk mencegah adanya serangan penyakit, terutama air akuarium ditambah obat yang disebut GOLD 100 bakteri. Obat tersebut sebelumnya dilarutkan dalam 1 liter air. Ambil 50 ml (5 sendok makan) larutan GOLD 100 untuk satu akuarium. Satu bungkus GOLD 100 cukup untuk 20 buah akuarium. Tanda air yang bisa dilihat adalah jika airnya sudah berwarna kuning (muda). Pencegahannya cukup dilakukan 3 hari sekali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.8.3.4. Pemeliharaan Benih&lt;br /&gt;
 Benih yang dipelihara berukuran ¼ - ½ inchi sampai benih siap dipelihara di kolam pendederan. Padat tebar benih berkisar 60 -70 ekor/m2. Pemeliharaan benih cukup dilakukan selama 21 hari dan biasanya benih yang dihasilkan berukuran 1 – 1,5 inchi dengan SR (Survival Rate) dapat mencapai 90%.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penanganan Benih&lt;br /&gt;
Seleksi Benih&lt;br /&gt;
 Seleksi benih dilakukan untuk memisahkan antara benih yang berukuran besar dengan benih yang berukuran kecil. Masing-masing ukuran ditampung dalam bak yang berbeda. Pemisahan benih berdasarkan ukuran tersebut mempunyai tujuan agar dalam satu kolam hanya berisi benih dengan ukuran seragam sehingga tidak ada persaingan dalam makanan dan bila dijual, akan mendapat harga yang layak karena ukurannya seragam.&lt;br /&gt;
 Seleksi benih dapat dilakukan dengan dua cara yaitu &lt;br /&gt;
Seleksi Manual&lt;br /&gt;
 Artinya menyelaksi benih tanpa menggunakan alat (menggunakan tangan). Cara seleksi manual yaitu benh ditangkap dengan memakai sekup net halus kemudian diletakkan di atas bak lain yang sudah ada airnya, tangan kiri memegang gagang sekup net dan tangan kanan memilih ikan, benih berukuran besar langsung dimasukkan dalam bak tadi, sedangkan benih berukuran lebih kecil dimasukkan ke bak lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seleksi Dengan Alat      &lt;br /&gt;
 Alat yang digunakan berupa ayakan yang dapat terbuat dari bambu atau alumunium dengan ukuran mess (lubang ayakan) tergantung dari ukuran benih. Untuk benih hasil dari pemeliharaan larva digunakan mess berukuran 1 cm.&lt;br /&gt;
 Cara seleksi menggunakan alat adalah benih ditangkap dengan sekup net. Jumlah yang diambil jangan terlalu banyak agar benih tidak rusak. Ayakan diletakkan dalam bak lain yang telah berisi air dan belum ada ikannya. Masukkan benih kedalam ayakan dan biarkan beberapa saat. Benih yang berukuran kecil akan keluar dengan sendirinya. Adapun benih yang besar akan tertampung dalam ayakan, kemudian dimasukkan dalam bak lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penghitungan Benih&lt;br /&gt;
 Menghitung benih bawal hasil dari kolam pemeliharaan larva dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu :&lt;br /&gt;
Penghitungan langsung &lt;br /&gt;
Penghitungan volumetrik                    &lt;br /&gt;
  &lt;br /&gt;
2.9. Panen&lt;br /&gt;
Pemanenan dilakukan dengan cara menyurutkan air secara perlahan-lahan sampai 10 - 20 cm. Benih ditangkap sedikit demi sedikit dengan menggunakan waring. Benihnya dimasukkan ke dalam ember dan ditampung dalam hapa yang dipasang tidak jauh dari tempat panen. &lt;br /&gt;
Tingkat kelangsungan hidup ikan bawal air tawar dapat mencapai 90 %. Kepadatan benih dari hasil pendederan satu bila akan diangkut dalam satu kantong diisi 300 – 400 ekor.   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.9.1. Lama Pemeliharaan.&lt;br /&gt;
Masa pemeliharaan bawal di kolam pendederan sebaiknya tidak terlalu lama maksimal 1 bulan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.9.2. Ukuran&lt;br /&gt;
Bila kondisinya baik dan tidak ada kendala benih yang dihasilkan dari pendederan satu dapat mencapai panjang 2 – 3 inchi (5 g).&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
2.10. Pengangkutan &lt;br /&gt;
2.10.1. Terbuka&lt;br /&gt;
Sistem ini hanya bisa dilakukan untuk jarak dekat dan waktu tempuh yang singkat. Alat angkutnya berupa keramba atau ember besar. Untuk mengangkut benih bawal ukuran ½ - ¾ inchi dalam jarak 500 m dan waktu angkut 10 menit, satu ember besar atau keramba dapat diisi sebanyak 500 – 1.000 ekor. Air dalam ember atau keramba berupa air bersih dan tingginya hanya ½ bagian. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.10.2. Tertutup&lt;br /&gt;
Sistem ini dapat digunakan untuk mengangkut benih dalam jarak dekat dengan waktu yang singkat maupun jarak jauh dengan waktu yang lama. Wadah angkutnya berupa kantong plastik dengan lebar 40 – 50 cm, panjang 60 – 80 cm dan tebal 0,2 – 0,4 mm. Kepadatan benih dalam satu kantong tergantung dari jarak angkut dan waktu yang ditempuh. Untuk jarak 60 km dan waktu tempuh 3 jam, satu kantong dapat diisi benih bawal ukuran 0,5 – 0,75 inchi sebanyak 1.000 ekor. Untuk 100 km dan waktu tempuh 6 jam, satu kantong hanya dapat diisi 500 ekor.      &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.11. Perencanaan Produksi/Analisa Usaha&lt;br /&gt;
Analisis Usaha Pembenihan&lt;br /&gt;
Beberapa hal yang perlu diketahui :&lt;br /&gt;
Biaya tetap&lt;br /&gt;
- Sewa kolam 1.000 m2  selama 1,5 bulan   = Rp.    900.000,-&lt;br /&gt;
- Sewa hatchery 1 bulan     = Rp.    300.000,-&lt;br /&gt;
- Biaya tenaga kerja 2 jam × 60 hari × Rp. 12.750  = Rp. 1.530.000,- &lt;br /&gt;
- Biaya peralatan      = Rp.      60.000,-&lt;br /&gt;
Jumlah        = Rp. 2.790.000,-&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biaya variable&lt;br /&gt;
- Pembelian induk ()      =&lt;br /&gt;
- Artemia 4 kaleng @ Rp. 300.000   = Rp. 1.200.000,-&lt;br /&gt;
- Ovaprim       = Rp.    200.000,-&lt;br /&gt;
- Pakan tambahan 45 hari × 3 kg × Rp. 15.000,-  = Rp. 2.025.000,- &lt;br /&gt;
- Pupuk 20 karung @ Rp. 10.000    = Rp.    200.000,-&lt;br /&gt;
- Kapur 50 kg @ Rp. 1.800,-     = Rp.     90.000,-&lt;br /&gt;
- Obat        = Rp.     60.000,-&lt;br /&gt;
Jumlah        = Rp. 3.775.000,-&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Total modal       = Rp. 6.565.000,-&lt;br /&gt;
Bunga modal&lt;br /&gt;
2 bulan 2% × 6.565.000,-     = Rp.   218.000,-&lt;br /&gt;
Total biaya Rp. 2.790.000 +Rp. 3.775.000+ Rp. 218.000 = Rp. 6.783.000,-      &lt;br /&gt;
Pendapatan 200.000 ekor × Rp. 349,-   = Rp. 69.864.900,-  &lt;br /&gt;
Keuntungan&lt;br /&gt;
Rp. 69.864.000 – Rp. 6.783.000     = Rp. 63.081.900,-&lt;br /&gt;
B C rasio Rp.69.846.000,-/ Rp. 6.783.000,-   = 10,3&lt;br /&gt;
BEP volume produksi Rp. 6.783.000,-/349   = 19435 ekor&lt;br /&gt;
BEP harga produksi Rp. 6.783.000,-/200.000  = Rp. 33,915&lt;br /&gt;
Analisis pengembalian modal&lt;br /&gt;
Rp. 6.783.000,-/ Rp. 63.081.900,- × periode   = 0,10 kali&lt;br /&gt;
Analisis efisiensi modal&lt;br /&gt;
Rp. 63.081.900,-/ Rp. 6.783.000,- × 100%   = 930%&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;!-- Begin ShoutMix - http://www.shoutmix.com --&gt;&lt;iframe title=&quot;aquaka&quot; src=&quot;http://www6.shoutmix.com/?aquaka&quot; width=&quot;&quot; height=&quot;&quot; frameborder=&quot;0&quot; scrolling=&quot;auto&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://www6.shoutmix.com/?aquaka&quot;&gt;View shoutbox&lt;/a&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;http://www.shoutmix.com&quot; title=&quot;Get your own free shoutbox chat widget at ShoutMix!&quot;&gt;ShoutMix chat widget&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End ShoutMix --&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lunly713.blogspot.com/feeds/5617576331608824830/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/1769903451515941949/5617576331608824830' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default/5617576331608824830'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default/5617576331608824830'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lunly713.blogspot.com/2010/07/pembenihan-ikan-bawal-air-tawar.html' title='Pembenihan Ikan Bawal Air Tawar'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03307642535889500865</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1769903451515941949.post-2453277022936175205</id><published>2010-07-27T19:15:00.000-07:00</published><updated>2010-07-27T20:02:11.443-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pembangunan Kelautan dan Perikanan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pembangunana Masyarakat Pesisir"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="penyuluh perikanan"/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;b&gt;PEMBANGUNAN KELAUTAN DALAM KONTEKS PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PESISIR&lt;br /&gt;
&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Oleh : &lt;br /&gt;
Abdul Karim Anwar, S.St.Pi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Pendahuluan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Sudah menjadi suatu mitos yang berkembang ditengah-tengah masyarakat bahwa Indonesia memiliki kekayaan laut yang berlimpah, baik sumber hayatinya maupun non hayatinya, walaupun mitos seperti itu perlu dibuktikan dengan penelitian yang lebih mendalam dan komprehensif.  Terlepas dari mitos tersebut, kenyataannya Indonesia adalah negara maritim dengan 70% wilayahnya adalah laut, namun sangatlah ironis sejak 32 tahun yang lalu kebijakan pembangunan perikanan tidak pernah mendapat perhatian yang serius dari pemerintah.&lt;br /&gt;
Implikasi dari tidak adanya prioritas kebijakan pembangunan perikanan tersebut, mengakibatkan sangat minimnya prasarana perikanan di wilayah pesisir, terjadinya abrasi wilayah pesisir dan pantai, pengrusakan ekosistim laut dan terumbuh karang, serta belum teroptimalkannya pemanfaatan sumber daya perikanan dan kelautan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Persoalan Pembangunan Perikanan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Implikasi langsung terhadap peningkatan pertumbuhan penduduk adalah makin meningkatnya tuntutan kebutuhan hidup, sementara potensi sumber daya alam di darat yang kita miliki sangatlah terbatas.  Hal tersebut mendorong kita untuk mengalihkan alternatif potensi sumber daya alam lain yang kita miliki yaitu potensi kelautan.  Ada lima potensi kelautan yang dapat kita andalkan, yaitu: potensi perikanan, potensi wilayah pesisir, potensi sumber daya mineral, minyak dan gas bumi bawah laut, potensi pariwisata, dan potensi transportasi laut.&lt;br /&gt;
Kebijakan pembangunan kelautan, selama ini, cendrung lebih mengarah kepada kebijakan “produktivitas” dengan memaksimalkan hasil eksploitasi sumber daya laut tanpa ada kebijakan memadai yang mengendalikannya.  Akibat dari kebijakan tersebut telah mengakibatkan beberapa kecendrungan yang tidak menguntungkan dalam aspek kehidupan, seperti:&lt;br /&gt;
a) Aspek Ekologi, overfishing penggunaan sarana dan prasarana penangkapan ikan telah cendrung merusak ekologi laut dan pantai (trawl, bom, potas, pukat harimau, dll) akibatnya menyempitnya wilayah dan sumber daya tangkapan, sehingga sering menimbulkan konflik secara terbuka baik bersifat vertikal dan horisontal (antara sesama nelayan,  nelayan dengan masyarakat sekitar dan antara nelayan dengan pemerintah).&lt;br /&gt;
b) Aspek Sosial Ekonomi, akibat kesenjangan penggunaan teknologi antara pengusaha besar dan nelayan tradisional telah menimbulkan kesenjangan dan kemiskinan bagi nelayan tradisional.  Akibat dari kesenjangan tersebut menyebabkan sebagian besar nelayan tradisional mengubah profesinya menjadi buruh nelayan pada pengusaha perikanan besar.&lt;br /&gt;
c) Aspek Sosio Kultural, dengan adanya kesenjangan dan kemiskinan tersebut menyebabkan ketergantungan antara masyarakat nelayan kecil/ tradisional terhadap pemodal besar/modern, antara nelayan dan pedagang, antara pherphery terdapat center, antara masyarakat dengan pemerintah.  Hal ini menimbulkan penguatan terhadap adanya komunitas juragan dan buruh nelayan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Arah modernisasi di sektor perikanan yang dilakukan selama ini, hanya memberi keuntungan kepada sekelompok kecil yang punya kemampuan ekonomi dan politis, sehingga diperlukan alternatif paradigma dan strategis pembangunan yang holistik dan terintegrasi serta dapat menjaga keseimbangan antara kegiatan produksi, pengelolahan dan distribusi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Konsep Pembangunan Alternatif&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Paradigma pembangunan holistik, yaitu pembangunan yang dilakukan secara menyeluruh dan terintegrasi yang sangat memperhatikan aspek spasial, yaitu pembangunan berwawasan lingkungan, pembangunan berbasis komunitas, pembangunan berpusat pada rakyat, pembangunan berkelanjutan dan pembangunan berbasis kelembagaan.&lt;br /&gt;
Untuk mewujudkan pembangunan yang holistik tersebut diperlukan alternatif srategi, yaitu strategi yang berorientasi pada sumber daya atau Resource Base Strategy (RBS), yang meliputi ketersedian sumber daya, faktor keberhasilan serta proses belajar.&lt;br /&gt;
Pendekatan dalam RBS adalah strategi pengelolaan sumber daya lokal/pesisir dan kelautan yang berorientasi pada: kualitas, proses, kinerja, pengembangan, budaya, lingkungan (management by process) yang berdasarkan pada pembelajaran, kompetensi, keunggulan, berpikir sistematik, dan pengetahuan (knowledge based management).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Memberdayakan Masyarakat Pesisir&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Saat ini banyak program pemberdayaan yang menklaim sebagai program yang berdasar kepada keinginan dan kebutuhan masyarakat (bottom up), tapi ironisnya masyarakat tetap saja tidak merasa memiliki akan program-program tersebut sehingga tidak aneh banyak program yang hanya seumur masa proyek dan berakhir tanpa dampak berarti bagi kehidupan masyarakat.  &lt;br /&gt;
Pertanyaan kemudian muncul apakah konsep pemberdayaan yang salah atau pemberdayaan dijadikan alat untuk mencapai tujuan tertentu dari segolongan orang?&lt;br /&gt;
Memberdayakan masyarakat pesisir berarti menciptakan peluang bagi masyarakat pesisir untuk menentukan kebutuhannya, merencanakan dan melaksanakan kegiatannya, yang akhirnya menciptakan kemandirian permanen dalam kehidupan masyarakat itu sendiri.&lt;br /&gt;
Memberdayakan masyarakat pesisir tidaklah seperti memberdayakan kelompok-kelompok masyarakat lainnya, karena didalam habitat pesisir terdapat banyak kelompok kehidupan masayarakat diantaranya: &lt;br /&gt;
a) Masyarakat nelayan tangkap, adalah kelompok masyarakat pesisir yang mata pencaharian utamanya adalah menangkap ikan dilaut.  Kelompok ini dibagi lagi dalam dua kelompok besar, yaitu nelayan tangkap modern dan nelayan tangkap tradisional.  Keduanya kelompok ini dapat dibedakan dari jenis kapal/peralatan yang digunakan dan jangkauan wilayah tangkapannya.&lt;br /&gt;
b) Masyarakat nelayan pengumpul/bakul, adalah kelompok masyarakt pesisir yang bekerja disekitar tempat pendaratan dan pelelangan ikan.  Mereka akan mengumpulkan ikan-ikan hasil tangkapan baik melalui pelelangan maupun dari sisa ikan yang tidak terlelang yang selanjutnya dijual ke masyarakat sekitarnya atau dibawah ke pasar-pasar lokal.  Umumnya yang menjadi pengumpul ini adalah kelompok masyarakat pesisir perempuan.&lt;br /&gt;
c) Masayarakat nelayan buruh, adalah kelompok masyarakat nelayan yang paling banyak dijumpai dalam kehidupan masyarakat pesisir. Ciri dari mereka dapat terlihat dari kemiskinan yang selalu membelenggu kehidupan mereka, mereka tidak memiliki modal atau peralatan yang memadai untuk usaha produktif. Umumnya mereka bekerja sebagai buruh/anak buah kapal (ABK) pada kapal-kapal juragan dengan penghasilan yang minim.&lt;br /&gt;
d) Masyarakat nelayan tambak, masyarakat nelayan pengolah, dan kelompok masyarakat nelayan buruh.  &lt;br /&gt;
Setiap kelompok masyarakat tersebut haruslah mendapat penanganan dan perlakuan khusus sesuai dengan kelompok, usaha, dan aktivitas ekonomi mereka.  Pemberdayaan masyarakat tangkap minsalnya, mereka membutukan sarana penangkapan dan kepastian wilayah tangkap. Berbeda dengan kelompok masyarakat tambak, yang mereka butuhkan adalah modal kerja dan modal investasi, begitu juga untuk kelompok masyarakat pengolah dan buruh.  Kebutuhan setiap kelompok yang berbeda tersebut, menunjukkan keanekaragaman pola pemberdayaan yang akan diterapkan untuk setiap kelompok tersebut.&lt;br /&gt;
Dengan demikian program pemberdayaan untuk masyarakat pesisir haruslah dirancang dengan sedemikian rupa dengan tidak menyamaratakan antara satu kelompk dengan kelompok lainnya apalagi antara satu daerah dengan daerah pesisir lainnya.  Pemberdayaan masyarakat pesisir haruslah bersifat bottom up dan open menu, namun yang terpenting adalah pemberdayaan itu sendiri yang harus langsung menyentuh kelompok masyarakat sasaran. Persoalan yang mungkin harus dijawab adalah:  Bagaimana memberdayakannya?&lt;br /&gt;
Banyak sudah program pemberdayaan yang dilaksanakan pemerintah, salah satunya adalah pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir (PEMP).  Pada intinya program ini dilakukan melalui tiga pendekatan, yaitu: &lt;br /&gt;
(a) Kelembagaan. Bahwa untuk memperkuat posisi tawar masyarakat, mereka haruslah terhimpun dalam suatu kelembagaan yang kokoh, sehingga segala aspirasi dan tuntutan mereka dapat disalurkan secara baik. Kelembagaan ini juga dapat menjadi penghubung (intermediate) antara pemerintah dan swasta. Selain itu kelembagaan ini juga dapat menjadi suatu forum untuk menjamin terjadinya perguliran dana produktif diantara kelompok lainnya. &lt;br /&gt;
(b) Pendampingan. Keberadaan pendamping memang dirasakan sangat dibutuhkan dalam setiap program pemberdayaan. Masyarakat belum dapat berjalan sendiri mungkin karena kekurangtauan, tingkat penguasaan ilmu pengetahuan yang rendah, atau mungkin masih kuatnya tingkat ketergantungan mereka karena belum pulihnya rasa percaya diri mereka akibat paradigma-paradigma pembangunan masa lalu.  Terlepas dari itu semua, peran pendamping sangatlah vital terutama mendapingi masyarakat menjalankan aktivitas usahanya. Namun yang terpenting dari pendampingan ini adalah menempatkan orang yang tepat pada kelompok yang tepat pula. &lt;br /&gt;
(c) Dana Usaha Produktif Bergulir. Pada program PEMP juga disediakan dana untuk mengembangkan usaha-usaha produktif yang menjadi pilihan dari masyarakat itu sendiri. Setelah kelompok pemanfaat dana tersebut berhasil, mereka harus menyisihkan keuntungannya untuk digulirkan kepada kelompok masyarakat lain yang membutuhkannya.  Pengaturan pergulirannya akan disepakati di dalam forum atau lembaga yang dibentuk oleh masyarakat sendiri dengan fasilitasi pemerintah setempat dan tenaga pendamping.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bappenas, Pengembangan Ekonomi Masyarakat di Daerah.  Laporan Pilot Project Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir, 1999.&lt;br /&gt;
Bappenas, Pengembangan Ekonomi Masyarakat di Daerah.  Laporan Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir, 2000.&lt;br /&gt;
Departemen Kelautan dan Perikanan, Pedoman Umum Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir. 2001&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;!-- Begin ShoutMix - http://www.shoutmix.com --&gt;&lt;iframe title=&quot;aquaka&quot; src=&quot;http://www6.shoutmix.com/?aquaka&quot; width=&quot;&quot; height=&quot;&quot; frameborder=&quot;0&quot; scrolling=&quot;auto&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://www6.shoutmix.com/?aquaka&quot;&gt;View shoutbox&lt;/a&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;http://www.shoutmix.com&quot; title=&quot;Get your own free shoutbox chat widget at ShoutMix!&quot;&gt;ShoutMix chat widget&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End ShoutMix --&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lunly713.blogspot.com/feeds/2453277022936175205/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/1769903451515941949/2453277022936175205' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default/2453277022936175205'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default/2453277022936175205'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lunly713.blogspot.com/2010/07/pembangunan-kelautan-dalam-konteks_27.html' title=''/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03307642535889500865</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1769903451515941949.post-5026015779367139058</id><published>2010-07-23T00:53:00.000-07:00</published><updated>2010-07-27T20:03:17.495-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;b&gt;PEMBINAAN USAHA BUDIDAYA IKAN BANDENG AIR TAWAR &lt;i&gt;(Chanos chanos Forsk)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
MELALUI PEMBERDAYAAN KELOMPOK DI KECAMATAN KAYEN KABUPATEN PATI&lt;br /&gt;
PROVINSI  JAWA TENGAH &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh : Abdul Karim Anwar&lt;br /&gt;
&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
IV.  HASIL DAN PEMBAHASAN&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4.1  Kondisi dan Kinerja Usaha&lt;br /&gt;
4.1.1   Keadaan Umum&lt;br /&gt;
Kelompok budidaya ikan bandeng air tawar Mina Sejahtera berada dalam wilayah administrasi Desa Talun, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati.  Secara geografis Kecamatan Kayen terletak pada koordinat 110o.50”- 111o.15” Bujur Timur dan  6o.25” - 7o. Lintang Selatan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Batas-batas wilayah administrasi Desa Talun adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;
• Sebalah Utara : Ds. Wuwur Kec. Gabus Kab. Pati&lt;br /&gt;
• Sebelah Selatan : Ds. Pesagi Kec. Kayen Kab. Pati&lt;br /&gt;
• Sebalah Barat : Ds. Bulung Cangkring Kec. Jekulo Kab. Kudus&lt;br /&gt;
• Sebelah Timur : Ds. Boloagung Kec. Kayen Kab. Pati&lt;br /&gt;
Luas wilayah seluruhnya adalah 922,80 Ha dengan pembagian wilayah menurut penggunaannya terdiri dari :&lt;br /&gt;
• Perumahan dan pekarangan  : 46,74 ha&lt;br /&gt;
• Sawah irigasi teknis  : 416 ha&lt;br /&gt;
• Tanah bekas rawa  : 159 ha&lt;br /&gt;
• Kolam/tambak   : 162 ha &lt;br /&gt;
• Sungai     : 3,5 km&lt;br /&gt;
• Tegalan dan lain-lain  : 46,76 ha&lt;br /&gt;
• Pemukiman   : 109,06 ha&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara umum kondisi sumberdaya alam di Desa Talun adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;
• Derajat Keasaman (PH) tanah : 6 – 7&lt;br /&gt;
• Hujan/bulan kering  : 4 – 6 bln&lt;br /&gt;
• Suhu Rata – rata  : 22 – 32 ºC&lt;br /&gt;
• Kondisi Geografis  : Tinggi dari permukaan laut 13 m dpl&lt;br /&gt;
• Jenis tanah   : Alluvial&lt;br /&gt;
• Type iklim   : Type C&lt;br /&gt;
• Cuhan Hujan   : 2.051 ml&lt;br /&gt;
• Hari hujan   : 149 hari&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut formulir isian monografi kecamatan, jumlah total penduduk yang ada di Kecamatan Kayen pada bulan Juli- Desember tahun 2009 sebesar 82.555 jiwa. Secara umum data rincian pemetaaan penduduk yang tersebar di Kecamatan Kayen yaitu sebagai berikut :&lt;br /&gt;
a) Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Usia&lt;br /&gt;
• Usia    0 – 6 th  :   11.935  jiwa&lt;br /&gt;
• Usia  7 –12th              :   16.320  jiwa&lt;br /&gt;
• Usia  13 – 18 th  :   19.211  jiwa&lt;br /&gt;
• Usia  19 – 24 th  :   15.962  jiwa&lt;br /&gt;
• Usia  25 – 55 th  :     9.885  jiwa&lt;br /&gt;
• Usia  56 – 79 th  :     4.896  jiwa&lt;br /&gt;
• Usia  &gt; 80 th          :     4.346  jiwa&lt;br /&gt;
b) Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan&lt;br /&gt;
• Belum/ tidak tamat  :         4  jiwa&lt;br /&gt;
• Tamat SD/ Sederajat  : 1.521  jiwa&lt;br /&gt;
• Tamat SLTP/ Sedeajat  :    567  jiwa&lt;br /&gt;
• Tamat SMU/ Sederajat  :    294  jiwa&lt;br /&gt;
• Tamat Akademi/ Sederajat :      52 jiwa&lt;br /&gt;
• Tamat Perguruan Tinggi  :      71  jiwa&lt;br /&gt;
• Buta Huruf    :        2 jiwa&lt;br /&gt;
c) Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian&lt;br /&gt;
• Petani           :  35.050  jiwa&lt;br /&gt;
• Pengrajin/ Industri kecil  :  20.840 jiwa&lt;br /&gt;
• Buruh tani   :  20.100  jiwa&lt;br /&gt;
• Buruh Bangunan           :    3.340 jiwa&lt;br /&gt;
• Pedagang   :    1.080  jiwa&lt;br /&gt;
• Pengangkutan          :        560 jiwa&lt;br /&gt;
• PNS           :       450  jiwa&lt;br /&gt;
• TNI    :           8 jiwa&lt;br /&gt;
• Pensiunan (PNS/ TNI)         :       350 jiwa&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4.1.2   Kondisi Kelompok Mina Sejahtera&lt;br /&gt;
Pada Awal  usaha budidaya ikan bandeng air tawar di Desa Talun Kecamatan Kayen diprakarsai oleh Bapak Nur Salim yang melakukan usaha budidaya ikan bandeng air tawar setelah belajar dan mengamati proses usaha tersebut di Lamongan, Jawa Timur. Pada mulanya, beliau yang berniat melanjutkan pendidikan di salah satu Perguruan Tinggi yang ada di Lamongan, diperkenalkan dengan usaha budidaya ikan bandeng air tawar  yang pada saat  itu telah ada dan berkembang terlebih dahulu di daerah Lamongan. Tertarik dengan usaha tersebut, serta melihat potensi besar yang ada maka setelah lulus dan pulang ke desanya beliau mulai memperkenalkan usaha budidaya ikan bandeng air tawar tersebut kepada masyarakat sekitar.&lt;br /&gt;
Di periode awal tahun1997, bapak Nur Salim mulai memperkenalkan serta meyakinkan masyarakat desa Talun pada usaha budidaya ikan bandeng air tawar. Namun banyak kendala yang dihadapi dalam meyakinkan masyarakat, bahkan banyak juga warga yang menolak akan usaha tersebut. Pada akhirnya beliau dipertemukan dengan bapak Haji Muchamad Amir, kemudian dengan usahanya untuk meyakinkan maka di ajak ke Lamongan dan membeli nener ikan bandeng serta di uji cobakan di kolam yang ada di Desa Talun. Alhasil, lahan tidur yang tidak bisa di manfaatkan  itu, setelah di uji cobakan budidaya polikultur ikan bandeng air tawar dengan ikan mas pada areal seluas 1 hektar berhasil serta menghasilkan panen ikan bandeng yang cukup melimpah. Sebagian hasil panen oleh mereka dibagikan kepada seluruh penduduk yang ada di Desa Talun dan setelah kejadian itu maka animo masyarakat untuk membudidayakan bandeng air tawar  mulai tumbuh yang diindikasikan dengan semakin banyaknya warga masyarakat mengikuti usaha bandeng air tawar. &lt;br /&gt;
Pada awal tahun 1998 setelah warga masyarakat Desa Talun mulai banyak melaksanakan kegiatan budidaya ikan bandeng air tawar, maka timbul masalah dalam hal keamanan. Masyarakat dari luar desa Talun yakni dari desa atau kecamatan tetangga pada berdatangan ke tambak di Desa Talun untuk mencuri ikan yang dipelihara. Pada awalnya niat mereka adalah memancing ikan, namun pada perkembangannya berubah menjadi aksi pencurian massal dengan semakin banyak orang yang berdatangan sehingga kondisi tersebut sangat mengancam usaha budidaya ikan bandeng air tawar di Desa Talun. Melihat kejadian itu, bapak Maksum berinisiatif mengajak saudara-saudaranya untuk membentuk sebuah kelompok pembudidaya dengan nama kelompok pembudidaya ikan  “Mina Sejahtera:.  Kegiatan kelompok ini meliputi kegiatan usaha penggelondongan dan usaha pembesaran ikan bandeng air tawar dengan prioritas utama menjaga kondisi keamanan tambak tetap stabil.&lt;br /&gt;
Pada tanggal 23 Mei 2008, kelompok Mina Sejahtera yang diketuai oleh Bapak Maksum oleh Dinas Kelautan dan Perikanan dibagi menjadi 5 sub kelompok. Adapun kelima sub kelompok tersebut adalah sub kelompok pembenihan, sub kelompok pengolahan, sub kelompok budidaya, sub kelompok produksi pakan, dan sub kelompok pemasaran. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jenis  pembinaan yang pernah dilakukan pada kelompok Mina Sejahtera baik oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati maupun instansi terkait lainnya yaitu:&lt;br /&gt;
a. Pada tanggal 20 Agustus tahun 2008 kelompok Pelaku Utama bidang Perikanan &quot;Mina Sejahtera&quot; bersama-sama dengan Penyuluh Perikanan Kabupaten Pati mengadakan studi banding di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau Jepara. Diharapkan mereka dapat mengenal peralatan budidaya yang baik, sistem budidaya dan hasil-hasil penelitian yang ada korelasinya dengan usaha mereka. Walaupun kegiatan hanya sehari tetapi upaya ini tidak berhenti disini tetapi ada tindak lanjut dengan terjalinya hubungan baik ini, setiap saat BBPBAP Jepara membuka diri untuk menerima para Pelaku Utama dan Usaha untuk belajar dan memecahkan permasalahan dalam budidaya ikan Bandeng dan Udang Vanname yang di kembangkan di Talun. Hasil studi banding ini merupakan langkah awal membuka jalinan kerjasama antara pembudidaya ikan dan udang warga desa Talun dengan BBPBAP Jepara yang memiliki peralatan dan laboratorium lengkap. Harapan ke depan dapat meningkatkan produksi yang optimal dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan.&lt;br /&gt;
b. Mengikuti pelatihan di Desa Talun, kecamatan Kayen, kabupaten Pati pada tanggal 21 Juli - 25 Juli 2008. Pelaksanaan pelatihan bekerjasama dengan Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau Jepara. Instruktur berasal dari BBPBAP Jepara, Dinas Kelautan dan Perikanan Pati. Topik pelatihan adalah Budidaya Ikan Bandeng dan Udang Vanname pada salinitas rendah. &lt;br /&gt;
c. Pelaksanan magang di BPPP Tegal pada tanggal 24 November - 30 November 2008. Peserta magang pelaku Utama bidang Pengolahan Hasil Perikanan sejumlah 5 orang dengan didampingi oleh 1 orang Penyuluh Perikanan. Upaya peningkatan kasitas pelaku Utama dan Usaha diharapkan bisa meningkatkan pendapatan ibu-ibu sebagai pendamping suami, menambah nilai tambah barang mentah menjadi olahan dan merubah bentuk. Usaha pengolahan hasil perikanan yang ditekuni antara lain ; Bandeng Tanpa Duri, Pengasapan ikan, Bakso Tombro, Nugget, Dendeng Tombro dan sebagainya. Upaya meningkatkan nilai tambah tersebut terdapat kendala dalam pemasaran, usaha pengolahan hasil tersebut sangat penting dan mendukung keberhasilan usaha pengolahan.&lt;br /&gt;
d. Kegiatan magang pembesaran ikan air tawar merupakan upaya untuk meningkatkan Kapasitas Pelaku Utama dan Usaha bidang Pembesaran Ikan dilaksanakan pada tanggal 24 November - 29 November 2008. &lt;br /&gt;
e.  Penumbuhan dan  revitalisasi kelompok bidang perikanan dimaksudkan untuk memudahkan dalam pembinaan, pengelolaan dan pengembangan kelompok.&lt;br /&gt;
f. Diskusi kelompok dengan penyuluh Dempond dari Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Sumedang.  &lt;br /&gt;
Pembinaan kelompok yang telah dilaksanakan belum memberikan dampak secara signifikan terhadap tingkat kemampuan anggota kelompok Mina Sejahtera dalam menjalankan peran dari sebuah kelompok pembudidaya. Hal ini mengindikasikan bahwa dalam kelompok Mina Sejahtera memiliki kesenjangan dalam menjalankan peran kelompoknya.  Oleh karena itu, pembinaan kelompok yang telah dilaksanakan perlu ditindaklanjuti sebagai upaya dalam meningkatkan kemampuan kelompok terutama para pelaku usaha budidaya ikan bandeng air tawar yang menjadi ciri khas pada kelompok Mina Sejahtera.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apabila kegiatan pembinaan kelompok Mina Sejahtera di Desa Talun dapat dilaksanakan secara berkelanjutan, maka kelompok tersebut dapat menjalankan perannya lebih baik yaitu sebagai kelas belajar mengajar, unit produksi perikanan dan wahana kerjasama. Sehingga keberadaan kelompok Mina Sejahtera dapat mempercepat perkembangan usaha perikanan di wilayah Kecamatan Kayen, dengan cara menjadikan kelompok tersebut sebagai kelompok teladan bagi para pembudidaya lain yang berada di desa lain, baik secara perorangan maupun yang tergabung dalam sebuah kelompok pembudidaya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4.2 Potensi dan Kinerja &lt;br /&gt;
4.2.1  Potensi dan Tingkat Pemanfaatan Lahan&lt;br /&gt;
Kabupaten Pati mempunyai potensi yang cukup besar di bidang budidaya tambak yakni seluas 10.604,52 Ha. Untuk budidaya ikan bandeng air tawar sendiri di Kecamatan Kayen telah dimanfaatkan kolam seluas 162 Ha yang terbagi atas kolam pembesaran seluas 151 Ha dan kolam penggelondongan seluas 11 Ha. Pada awal usaha budidaya ikan bandeng air tawar ini sebelumnya hanya memanfaatkan lahan dari bekas sebaian areal persawahan padi dan palawija, namun sejalan dengan perkembangannya maka pemanfaatan lahan budidaya telah dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Hal ini diindikasikan dari lahan yang awalnya kurang dari 7 Ha, setelah adanya kegiatan budidaya ikan bandeng sistem polikultur maka berkembang menjadi 162 Ha dengan kombinasi beberapa sistem usaha yang ada.&lt;br /&gt;
Tingkat pemanfaatan lahan memberikan indikasi terhadap intensitas penggunaan lahan dalam kegiatan usaha budidaya ikan bandeng air tawar kelompok Mina Sejahtera.  Intensitas penggunaan lahan tersebut dibuktikan oleh luas lahan dan lama waktu efektif dari usaha penggunaan suatu satuan lahan. Dalam waktu lima tahun terakhir ini, budidaya ikan bandeng air tawar di Kecamatan Kayen menunjukan perkembangan yang sangat pesat, baik luas lahan maupun produksinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4.2.2 Ketersediaan Sarana dan Prasarana&lt;br /&gt;
Dalam usaha budidaya ikan bandeng air tawar, ketersediaan sarana dan prasarana sangat menunjang untuk keberhasilan suatu kegiatan budidaya. Sarana budidaya adalah peralatan yang diperlukan langsung dalam kegiatan produksi, sedangkan prasarana adalah segala sesuatu yang dapat menunjang kegiatan produksi. &lt;br /&gt;
Untuk mengetahui lebih jelas mengenai sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan budidaya ikan bandeng air tawar di Desa Talun  berikut ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
No Jenis Jumlah Satuan&lt;br /&gt;
1 Benih Ikan Bandeng 3.500 Ekor&lt;br /&gt;
2 Pakan Buatan (pellet) 3.800 Kg&lt;br /&gt;
3 Pupuk Organik 4.000 Kg&lt;br /&gt;
4 Pupuk Anorganik (urea) 500 Kg&lt;br /&gt;
5 Pupuk Anorganik (SP36) 500 Kg&lt;br /&gt;
6 Saponin 150 Kg&lt;br /&gt;
7 Kapur 1000 Kg&lt;br /&gt;
8 Probiotik 1 paket&lt;br /&gt;
9 Jala Tebar ukuran diameter 7 meter 1 Unit&lt;br /&gt;
10 Saringan Hitam 20 Meter&lt;br /&gt;
11 Saringan hijau 30 Meter&lt;br /&gt;
12 Timbangan (5 kg) 2 Buah&lt;br /&gt;
13 Ember 4 Buah&lt;br /&gt;
14 Gayung 4 Buah&lt;br /&gt;
15 Alat Ukur 1 Unit&lt;br /&gt;
Sumber :Laporan  Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati 2009&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perolehan sarana dan prasarana produksi perikanan yaitu dengan cara membeli sendiri dengan sistem pembayaran kontan kepada unit penyedia Sarana Produksi Perikananan (SAPROKAN) yang ada di Kabupaten Pati. Jenis pupuk yang biasa digunakan pembudidaya adalah urea dan TSP, Sedangkan jenis obat-obatan adalah saponin dan nutritfish (obat perangsang makan). Jenis saprokan ini dapat dengan mudah ditemui serta tersedia dalam jumlah yang cukup memadai untuk memenuhi usaha budidaya ikan bandeng air tawar.&lt;br /&gt;
Untuk kebutuhan nener dalam kegiatan usaha budidaya ikan bandeng air tawar  masih cukup terpenuhi dengan mendatangkan nener dari daerah Juwana atau Lamongan. Pada umumnya pembudidaya masih menggunakan teknologi yang sederhana sehingga pakan yang diberikan masih mengandalkan pakan alami yaitu berupa klekap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4.2.3 Pola Tanam&lt;br /&gt;
Pola tanam adalah pola kegiatan penebaran dan pemanenan ikan bandeng yang dibudidayakan dalam kolam selama periode tertentu. Faktor penentu dari pola tanam adalah tersedianya nener secara musiman dan air yang layak bagi kebutuhan budidaya. Proses budidaya ikan bandeng air tawar memerlukan pola tanam yang baik dan disesuaikan dengan kondisi sumberdaya alam yang tersedia. Tujuan dari pola tanam yaitu untuk mengatur penanaman dan menjaga agar produksi bandeng air tawar tetap tersedia secara kontinyuitas. Lama pemeliharaan untuk pembesaran ikan bandeng air tawar yaitu 3-4 bulan jadi dalam satu tahun ada 3 atau 4 siklus pola tanam.&lt;br /&gt;
Lama pemeliharaan ikan bandeng air tawar  pada segmen pembesaran  yang ada di Desa Talun  Kecamatan Kayen  rata – rata 60 hari, sehingga dalam satu tahun dilakukan panen sebanyak 3 -4 kali dengan waktu isterahat 1 bulan. Pola tanam seperti ini rata – rata sudah diterapkan oleh para pembudidaya ikan bandeng air tawar. Akan tetapi semuanya bergantung pada keadaan cuaca karena pada kondisi banjir para pembudidaya hanya dapat melakukan panen sebanyak satu kali disebabkan resiko yanga ada. Biasanya pada pertengahan bulan Juli sampai Desember banjir selalu mengenangi kawasan tambak milik pembudidaya. Selain itu juga, faktor finansial mempengaruhi kegiatan budidaya yaitu dalam hal penyediaan modal untukpembelian nener ikan bandeng air tawar, sehingga apabila kondisi keuangan yang mereka miliki apabila tidak ada maka kegiatan budidayapun  tidak dilakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4.2.4 Kinerja Produksi&lt;br /&gt;
Secara umum para pelaku pembudidaya ikan bandeng air tawar Mina Sejahtera di Desa Talun dalam melaksanakan kegiatan produksi masih menggunakan sistem tradisional yang mengandalkan pakan alami sehingga hasil produksi belum tercapai maksimal. Untuk keragaan produksi perikanan di desa Talun dapat dilihat sebagai berikut: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
No Unit Usaha  Volume Produksi Pemasaran&lt;br /&gt;
1 Penggelondongan ± 10.000 – 800.000 kg/nener/thn Waduk Kedung Ombo Kab. Sragen Prov. Jateng, Waduk Jatiluhur Kab. Purwakarta Prov Jabar, Kab Pati dan sekitarnya.&lt;br /&gt;
2 Pembesaran ± 3,5 – 4 ton/thn &lt;br /&gt;
Sumber. Data PA (2010)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Produksi rata-rata dari 24 RTP yang bergerak pada segmen pembesaran adalah 2.854,167 kg/ bulan dengan total produksi yang dihasilkan sebesar 68.500 kg/ bulan. Jika dalam satu tahun terdapat sejumlah 3-4 kali siklus produksi, maka estimasi produksi yang dihasilkan bisa mencapai  8.562,501 – 11.416,668 kg atau 8,5 – 11,5 ton/ tahun. Namun saat ini baru menghasilkan 3,5-4 ton/ tahun sehingga terjadi kekurangan sebesar 5 - 7,5 ton/ tahun. Hal ini disebabkan oleh pola tanam yang hanya bisa  menghasilkan satu siklus panen akibat banjir rutin yang terjadi di Kecamatan Kayen Kabupaten Pati. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4.2.5 Kinerja Pemasaran&lt;br /&gt;
Rantai pemasaran budidaya ikan bandeng pada kelompok Mina Sejahtera di Kecamatan Kayen melibatkan pendeder, pengumpul, pengecer dan konsumen. Di Kecamatan Kayen tidak terdapat lembaga pemasar benih/ nener ikan bandeng sehingga biasanya nener dibeli dari  pengumpul yang ada di daerah Juwana dan Lamongan (jawa Timur) kemudian nener hasil pendederan dijual ke pengumpul atau pendeder yang ada di desa Talun. &lt;br /&gt;
Menurut sumber informasi yang diperoleh dari pihak Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati serta wawancara langsung dengan pembudidaya, pemasaran ikan bandeng air tawar yang dilakukan di Kecamatan Kayen melalui tengkulak atau di Tempat Pelelangan Hasil Tambak (TPHT) kemudian dipasarkan ke daerah Juwana, Semarang, Kudus, wilayah waduk Kedung Ombo Kabupaten Sragen, Jatiluhur Kabupaten Purwakarta, dan kepada para pembakul yang ada di wilayah Kayen dan sekitarnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4.2.6 Kinerja Lembaga Penunjang&lt;br /&gt;
Keberhasilan proses budidaya ikan bandeng air tawar tidak terlepas dari peran beberapa lembaga penunjang yang ada di Desa Talun Kecamatan Kayen. Kondisi lembaga penunjang telah diuraikan di Bab sebelumnya (Bab III), maka setelah dilakukan evaluasi maka akan terlihat kinerja lembaga penunjang yang ada di Desa Talun. Untuk lebih jelas analisa kelembagaan yang menunjang di Desa Talun dirinci berikut ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
No Lembaga Masalah Potensi&lt;br /&gt;
1. BRI/BNI/BANK JATENG BKK/BPR : Peryaratan dan tingkat kepercayaan perbankan masih kurang Bunga tinggi,Tersedianya dana untuk pengembangan usaha &lt;br /&gt;
2. Kios Saprokan ,Pasar, Kios Konsumsi : Harga tidak sesuai dan tidak stabil, Belum mencukupi kebutuhan,Membantu sarana produksi dan kebutuhan masyarakat &lt;br /&gt;
3. KUD / Koperasi : Pelayanan belum optimal,Tersedianya sarana produksi dana dan pemasaran hasil. &lt;br /&gt;
4. Kelompok Pembudidaya Ikan: Teknologi sederhana, Permodalan &lt;br /&gt;
SDM , Wadah Pembinaan dan Pengembangan Usaha Perikanan &lt;br /&gt;
5. DKP / Penyuluh Perikanan : Pembinaan belum optimal,Kurangnya sarana teknis, Membina dan fasilisator kelompok usaha perikanan &lt;br /&gt;
Sumber: Data Praktek Akhir (2010)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4.2.7   Kinerja Lembaga Penyuluhan&lt;br /&gt;
Kelembagaan penyuluhan perikanan di Kecamatan Kayen belum ada sehingga kegiatan penyuluhan diselenggarakan dan masih di bawah koordinasi Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati yang mempunyai tugas dan fungsi di bidang Penyuluhan Perikanan.nJumlah pegawai (SDM) Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten secara resmi ada 72 orang PNS dan 12 pegawai honorer, sedangkan ketenagaan yang membidangi Penyuluhan sejumlah 17 orang PNS dan 1 orang CPNS. &lt;br /&gt;
Kelompok Mina Sejatera merupakan bagian dari binaan Penyuluh Perikanan  Kecamatan Kayen.  Sehingga Penyuluh Perikanan Kecamatan Kayen sangat berperan aktif dalam  kegiatan pembinaan kelompok Mina Sejahtera.  Bahkan, selama pelaksanaan praktek akhir (PA), upaya pengembangan kemampuan kelompok telah diwujudkan dengan bekerjasama dengan pengurus Mina Sejahtera, sehingga terbentuk rancangan program pengembangan kemampuan kelompok yang diketahui oleh pihak Desa Talun dan Kecamatan Kayen, serta Dinas Kelautan dan Perikanan kabupaten Pati. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para penyuluh melakukan pertemuan setiap 1 bulan sekali yang lokasinya disesuaikan oleh kesepakatan bersama, biasanya di luar kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati bahkan tidak jarang melakukan pertemuan di tambak di Desa Talun dengan berbagai kegiatan seperti evaluasi penyuluhan atau juga untuk melaporkan tentang kegiatan yang telah dilakukan di wilayah binaannya.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4.3 Pengembangan usaha&lt;br /&gt;
4.3.1 Pengembangan Bisnis Perikanan&lt;br /&gt;
Program Akselerasi dan Sosialisasi Teknologi Inovasi Kelautan dan Perikanan (Prasasti Mina) di Kabupaten Pati saat ini sudah mulai menginjak tahun ketiga yang dimulai sejak tahun 2007 yang lalu. Berdasarkan road map program prasasti mina di Kabupaten Pati bahwa pada tahun ketiga ini adalah pemantapan kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan pada tahun sebelumnya. Kegiatan tersebut diantaranya adalah pemantapan model kerjasama kelembagaan bisnis perikanan, pemantapan aplikasi introduksi teknologi perikanan, pemantapan diversifikasi komoditas perikanan, dan pemantapan integrasi usaha bisnis perikanan.&lt;br /&gt;
Sejauh ini pelaksanaan kegiatan di awal tahun 2010 ini adalah melanjutkan kegiatan yang belum terselesaikan pada tahun kedua. Kegiatan-kegiatan tersebut diantaranya adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;
1) Pertemuan Kelompok&lt;br /&gt;
Pelaksanaan kegiatan pertemuan kelompok pada Bulan Januari 2010 dilakukan pada kelompok Mina Sejahtera. Pelaksanaan pertemuan ini berkaitan dengan penempatan Keramba Jaring Apung menjelang masa-masa banjir yang ditandai dengan curah hujan yang sangat tinggi. Kegiatan pertemuan ini dilakukan di sekretariat kelompok Mina Sejahtera tepatnya pada hari Sabtu tanggal 9 Januari 2010. Dari kegiatan ini dihasilkan kesepakatan bahwa Keramba jaring apung yang ada tetap ditempatkan di “kali mati” dan dijadikan sebagai tempat penampungan induk. Namun demikian selama musim banjir nanti, pengelolaan keramba tersebut diserahkan kepada salah satu anggota kelompok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejauh ini jumlah keramba jaring apung yang sudah ada di kawasan perikanan Desa Talun Kecamatan Kayen Kabupaten Pati sudah berjumlah 3 buah keramba. Peningkatan jumlah keramba ini merupakan bentuk respon dari anggota kelompok dalam upayanya beradaptasi dengan musim banjir yang secara rutin menimpa lokasi sasaran. Dengan demikian, meskipun musim banjir tiba tetapi pelaku utama tetap dapat mejalankan usaha mereka dengan memanfaatkan keramba yang telah mereka buat secara pribadi. &lt;br /&gt;
2) Uji Adaptasi&lt;br /&gt;
Kegiatan uji adaptasi pembesaran ikan bandeng air tawar dengan beberapa perlakuan. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kegiatan aplikasi introduksi teknologi perikanan yang sebelumnya belum pernah dilakukan di kawasan perikanan Desa Talun. Kegiatan uji adaptasi ini juga dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk kegiatan penyuluhan dimana dalam kesempatan ini sasaran pelaku utama dapat melihat langsung setiap perlakuan dalam kegiatan yang dilaksanakan. sehingga diharapkan proses adopsi inovasi dapat berjalan lebih lancar. &lt;br /&gt;
Pelaksanaan kegiatan uji adaptasi ini sesungguhnya merupakan salah satu upaya dalam memecahkan masalah yang dihadapi oleh pelaku utama dimana usaha pembesaran khususnya Ikan Bandeng Air Tawar yang selama ini dilakukan oleh para pelaku utama di lokasi sasaran masih mengandalkan pakan alami melalui proses pemupukan tanpa menggunakan pakan buatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4.3.2 Penerapan Teknologi&lt;br /&gt;
Dalam rangka mendukung Program Prasasti Mina di Desa Talun Kecamatan Kayen Kabupaten Pati, telah dilakukan kegiatan uji adapatasi ikan bandeng air tawar yang dimaksudkan untuk mengetahui kesesuaian daya adaptasi komponen-komponen teknologi yang diselenggarakan di Desa Talun Kecamatan Kayen Kabupaten Pati. Hal ini dilakukan agar diperoleh kesesuaian teknologi dengan lokasi ataupun lingkungan pembudidayaan. Disamping untuk mendapatkan hasil produksi yang optimal per satuan unit usaha pembudidayaan ikan bandeng air tawar. &lt;br /&gt;
Uji adaptasi ini dirancang dengan tujuan mengetahui penerapan teknis budidaya ikan bandeng dengan perlakuan pemberian pakan buatan, pakan alami, dan mix antara pakan buatan dan pakan alami, dan pengaruhnya terhadap besarnya produksi yang dihasilkan per satuan unit usaha. Kegaiatan ini dilakukan pada petakan yang luasnya sama masing-masing 7.000 m2 namun dengan padat tebar yang berbeda serta dengan tiga perlakuan pemberian pakan yang berbeda pula yakni dengan pakan buatan (Kolam “A”),  menggunakan pakan alami (Kolam “B”), serta mix antara pakan buatan dan pakan alami ( Kolam “C”).&lt;br /&gt;
Sejauh ini, pelaksanaan kegiatan uji adaptasi ini telah memasuki bulan kedua masa pemeliharaan yang dilaksanakan mulai bulan Desember 2009 sampai April 2010. Selama proses pemeliharaan dibulan kedua ini beberapa kegiatan yang dilakukan adalah pemasangan jaring keliling, pemberian pakan, dan sampling. Pemasangan jaring keliling dimaksudkan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya banjir. Dalam proses pelaksanaannya, hanya 2 kolam yang dapat dipasangi jaring keliling yakni kolam dengan perlakuan pakan buatan (Kolam ‘A’) dan kolam dengan perlakuan mix antara pakan buatan dengan pakan alami (Kolam “C”). Sedangkan untuk kolam dengan perlakuan murni pakan alami tidak sempat dilakukan pemasangan jaring keliling dikarenakan banjir yang datang tiba-tiba tepatnya pada tanggal 14 februari 2010. Dengan demikian pelaksanaan kegiatan uji adaptasi sejauh ini hanya dengan 2 perlakuan yakni perlakuan murni pakan buatan dan perlakuan mix antara pakan buatan dan pakan alami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlakuan lain yang dilakukan ini adalah pemberian pakan. Sejauh ini, jumlah pakan yang telah diberikan pada kolam “A” adalah sebanyak 150 kg dengan frekuensi pemberian sebanyak 2-3 kali per hari. Sedangkan untuk kolam “C”, jumlah pakan buatan yang telah diberikan sebanyak 60 kg dengan frekuensi pemberian pakan sebanyak 1 kali per hari. Untuk memenenuhi kebutuhan pakan alami pada kolam “C” diberikan perlakuan pemupukan dengan menggunakan pupuk UREA dan TSP dengan perbandingan 1 : 3. Perlakuan pemupukan dilakukan setiap seminggu sekali atau ketika populasi plankton dikolam sudah mulai menurun.&lt;br /&gt;
Sebagaimana kegiatan pemberian pakan, kegiatan sampling juga dilakukan pada 2 kolam tersebut diatas. Sebagai catatan, padat tebar ikan pada kolam “A” adalah 3 ekor/M2 (total jumlah ikan 21.000 ekor), sedangkan pada kolam kedua ditebar ikan dengan kepadatan 1 ekor/M2 (jumlah ikan yang ditebar 7.000 ekor). Dari hasil sampling yang dilakukan pada tanggal 23 Februari diketahui bahwa ukuran rata-rata ikan bandeng pada kolam “A” adalah 33 – 40 gr/ekor atau lebih kecil dibanding kolam dengan perlakuan pada kolam “C” dimana ukuran ikan rata-rata adalah sebesar  50-60 gr/ekor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4.3.3 Tahapan Pelaksanaan&lt;br /&gt;
4.3.3.1 Tahap Persiapan&lt;br /&gt;
Tahap persiapan dilakukan dengan kegiatan pengeringan seluruh bagian kolam/ tambak selama 10 hari. Selanjutnya dilakukan pengolahan tanah dasar tambak yang dilanjutkan dengan proses pengapuran dengan dosis masing-masing 200 Kg per petak. Hal ini bertujuan untuk membunuh bibit penyakit yang timbul. Untuk perlakuan uji adaptasi ikan bandeng dengan pakan alami (Kolam “B”) dilakukan pemupukan urea dan TSP 36 dengan dosis masing-masing 200 kg/ha , sedangkan untuk perlakuan mix pakan alami dan pakan buatan (Kolam “C”) dilakukan pemupukan dengan dosis masing-masing 100 kg/ha.&lt;br /&gt;
Tahap selanjutnya adalah pengeringan tahap II selama 1 minggu. Pada hari ketiga dilakukan pemupukan susulan pupuk organik masing-masing sebanyak 1000 kg dengan cara disebar secara merata keseluruh dasar tambak. Kemudian dilakukan persiapan air media dengan pengisian air seluruh petak pemeliharaan setinggi 20 cm dan pengaplikasian saponin 5 ppm untuk memberantas ikan-ikan liar. Untuk perombakan dasar kolam secara berkesinambungan dilakukan aplikasi probiotik 5 hari setelah pemberian saponin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4.3.3.2 Tahap Pemeliharaan&lt;br /&gt;
a) Penebaran&lt;br /&gt;
Kepadatan nener yang ditebar untuk tiap-tiap perlakuan berbeda. Padat tebar nener yang ditebar untuk masing-masing perlakuan adalah 3 ekor/M2 untuk perlakuan pada Kolam “A”, 1 ekor/M2 untuk perlakuan pada kolam C, dan 0,5 ekor/M2 untuk perlakuan pada kolam B. Ukuran ikan yang ditebar berukuran 2-4 cm/ekor atau berat rata-rata 0,05 – 0,08 gr/ekor.&lt;br /&gt;
Kegiatan penebaran dilakukan pada saat suhu rendah yakni pada pagi hari yang terlebih dahulu dilakukan aklimatisasi selama beberapa menit. Penebaran dilakukan tepatnya pada tanggal 30 Desember 2009. &lt;br /&gt;
b) Pengelolaan Air&lt;br /&gt;
Air media pada petak pemeliharaan dikelola sesuai dengan kaidah budidaya ikan bandeng. Penambahan air dilakukan 2-4 minggu setelah penebaran nener yang dilakukan secara bertahap hingga mencapai ketinggian 50 cm. kegiatan pengisian air ini dilakukan dengan pompanisasi. Pengaturan suplai air dilakukan secara langsung dimana air media pemeliharaan ditransfer dari sumber air pasok menuju ke saluran air suplai untuk kemudian dipergunakan pada petak pemeliharaan.&lt;br /&gt;
c) Pengelolaan Pakan Buatan&lt;br /&gt;
Untuk perlakuan ikan bandeng di kolam A, pengelolaan pakan menggunakan pakan dengan kandungan protein berkisar 20-30%. Dosis pakan diberikan dengan dosis menurun 30-10% dari total biomass ikan bandeng/hari dengan frekuensi pemberian pakan sebanyk 2-3 kali. Untuk perlakuan ikan bandeng di Kolam C menggunakan pakan yang sama dengan dosis 5% dari total biomass ikan/hari. Sedangkan untuk mensuplai pakan alami dilakukan pemupukan dengan memperhatikan kondisi air (plankton) yang ada di tambak.&lt;br /&gt;
Kegiatan awal pemberian pakan pada kedua perlakuan tersebut diatas dilakukan secara bersama-sama tepatnya satu bulan setelah penebaran dengan menggunakan pakan ukuran 2mm yang digantung pada sebuah kantung yang terbuat dari jarring dan menempel tepat dipermukaan air. Dari perlakuan seperti ini diketahui bahwa waktu yang dibutuhkan oleh ikan pada perlakuan pertama dalam merespon terhadap pakan yang diberikan membutuhkan waktu 1,5 jam baru ikan bandeng mulai mendekati pakan, sedangkan pada perlakuan kedua membutuhkan waktu yang lebih lama mencapai 2 jam. Hal ini mungkin dikarenakan perbedaan padat tebar.&lt;br /&gt;
d) Pengamatan&lt;br /&gt;
Kegiatan pengamatan dilakukan terhadap beberapa hal, diantaranya pengamatan terhadap lingkungan sekitar tambak dan yang tidak kalah penting adalah pengamatan pertumbuhan ikan melalui kegiatan sampling. Dengan kegiatan sampling maka dapat diketahui berapa jumlah biomass ikan yang ada di dalam wadah pemeliharaan. Kegiatan sampling dilakukan secara periodik yakni setiap 1 bulan sekali. Hal ini dilakukan karena kondisi ikan bandeng yang mudah mati apabila terjadi kerusakan pada tubuhnya sehingga apabila jarak antara sampling satu dengan sampling berikutnya terlalu dekat dikhawatirkan akan meningkatkan nilai mortalitas. &lt;br /&gt;
Pelaksanaan kegiatan uji adaptasi sejauh ini telah dilkaksanakan dan memasuki usia 2 bulan masa pemeliharaan. Berdasarkan hasil sampling yang telah dillakukan ukuran ikan untuk kolam C sudah mencapai 50-60 g/ekor, sedangkan untuk kolam dengan perlakuan A, ukuran ikan rata-rata mencapai 33-40 g/ekor.&lt;br /&gt;
Dalam perjalanannya, terdapat beberapa kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan uji adaptasi ini. Kendala yang dianggap paling besar adalah datangnya musim banjir. Untuk mengantisipasi tersebut telah dilakukan pemberian pagar keliling dengan menggunkan waring. Pelaksanaan kegiatan pemagaran ini baru terlaksana pada dua kolam yakni kolam dengan perlakuan mix pakan alami dan pakan buatan (Kolam “C”) serta kolam dengan perlakuan murni pakan buatan (Kolam “A”). Sedangkan untuk kolam dengan perlakuan murni pakan alami (Kolam “B”) belum sempat dilaksanakan dikarenakan lebih dulu terendam baniir yang dating secara tiba-tiba tepatnya pada tanggal 14 Februari 2010 sehingga kegiatan pemeliharaan untuk kolam tersebut tidak dapat dilanjutkan. Hingga pada saat kedatangan kami di Lokasi Praktek Akhir di Desa Talun ini, kegiatan uji adaptasi masih tetap dilaksanakan dengan kondisi yang ada sekarang. &lt;br /&gt;
Pada pelaksanaan kegiatan Praktek Akhir ini penulis ikut juga bergabung serta melanjutkan pelaksanaan kegiatan pada program prasasti mina di Desa Talun. Kegiatan tersebut diantaranya adalah uji adaptasi yang hingga pada saat akhir dari pelaksanaan Praktek Akhir masih dilaksanakan. Penulis ikut serta juga  dalam kegiatan pembinaan rutin melalui pertemuan kelompok ataupun melalui kegiatan kunjungan usaha. Dalam pelaksanaannya kegiatan tersebut diatas dilakukan bersama-sama dengan petugas teknis dari BBPBAP Jepara selaku UPT pendamping kegiatan prasasti mina di Desa Talun serta Penyuluh Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati. Pelaksanaan kegiatan pada bulan Februari secara umum tidak berjalan lancar yaitu terjadi salah satu kolam yang terendam banjir yakni kolam dengan perlakuan murni pakan alami (Kolam”B”). Kondisi banjir itu sendiri sebenarnya merupakan siklus tahunan yang biasa menimpa Desa Talun. Pada saat akhir pelaksanaan kegiatan Praktek Akhirpun, yaitu di awal bulan Mei, sempat terjadi banjir di Desa Talun, namun tidak mengakibatkan kerugian serta menghambat kegiatan masyarakat khususnya pembudidaya ikan bandeng air tawar.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4.4 Aksi Penyuluhan&lt;br /&gt;
4.4.1 Program Prioritas yang Dikerjakan&lt;br /&gt;
Aksi penyuluhan yang dilakukan serta telah disepakati oleh pelaku utama dalam upaya meningkatkan kemampuan usaha budidaya ikan bandeng air tawar di Kecamatan Kayen terdiri dari beberapa kegiatan seperti: mengefektifkan kelompok dengan materi yang diberikan tentang pentingnya kelompok, mengembangkan kemampuan kelompok dengan penerapan teknologi budidaya tradisional plus, pengendalian hama dan penyakit, bimbingan administrasi kelompok, serta bimbingan dalam proses memasarkan produk.  Untuk lebih jelasnya dapat dilihat uraian sebagai berikut:&lt;br /&gt;
1. Mengefektifkan Kelompok&lt;br /&gt;
a. Tujuan&lt;br /&gt;
Setelah melaksanakan kegiatan aksi penyuluhan dengan materi yang diberikan tentang pentingnya kerjasama dan koordinasi dalam kelompok, pelaku pembudidaya ikan bandeng air tawar mampu mengelola kelompoknya dengan baik serta mampu mengkoordinasikan kelompok dengan baik. Pada kenyatannya kelompok perikanan Mina Sejahtera sangat jarang melakukan pertemuan kelompok dan dalam segi koordinasi antara anggota masih relatif kurang maksimal. Dalam hal kepercayaan kelompokpun baik antara anggota dengan ketua kelompok ataupun sebaliknya masih kurang sehingga tidak jarang terjadi konflik internal dalam kelompok. Disamping itu juga, mulai tahun 2009 sering terjadi masalah teknis ataupun non teknis dalam proses budidaya ikan bandeng air tawar sehingga kelompok sempat tidak produktif, seperti kejadian banjir yang merendami seluruh tambak yang menyebabkan kerugian bagi pihak pembudidaya.&lt;br /&gt;
b. Rencana Operasional&lt;br /&gt;
1) Waktu dan Tempat&lt;br /&gt;
Waktu dan tempat pelaksanaan kegiatan aksi penyuluhan disesuaikan dengan hasil kesepakatan dengan pembudidaya.&lt;br /&gt;
2) Evaluasi&lt;br /&gt;
Sebelum dilakukan aksi penyuluhan mengenai kegiatan pengefektifan kelompok, maka tingkat pengetahuan pelaku usaha dinilai terlebih dahulu sebagai evaluasi awal, selanjutnya dilakukan evaluasi akhir setelah aksi penyuluhan dilakukan.&lt;br /&gt;
c. Aksi Penyuluhan&lt;br /&gt;
Aksi penyuluhan yang dilakukan yaitu Kegiatan kunjungan rumah/usaha secara rutin setiap hari, biasanya dari hari Senin sampai Kamis atau menyesuaikan dengan keadaan lapangan. Kegiatan ini awalnya dilakukan bersama–sama dengan penyuluh perikanan setempat, namun sejalannya dengan perkembangannya maka kunjungan rumah ini dilakukan sendiri. Dalam kegiatan ini dilakukan obrolan ringan dan santai kepada anggota kelompok pembudidaya dengan membahas berbagai permasalahan yang dihadapi kelompok dan alternatif permasalahannya khususnya tentang keberadaaan kelompok itu sendiri, menyampaikan informasi penting dari dinas mengenai program “Mina Politan” sebagai pengganti dari adanya program “Prasasti Mina” , menyampaikan kuisioner serta melakukan penyuluhan. Kegiatan kunjungan rumah/tempat usaha dilakukan dengan cara berkeliling dari satu rumah/tempat usaha satu ke tempat yang lain. Dalam satu hari bisa mengunjungi 3 – 5 orang pembudidaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Pembinaan Kelompok&lt;br /&gt;
a. Tujuan&lt;br /&gt;
Setelah melaksanakan kegiatan aksi penyuluhan dengan melakukan pendampingan dan bimbingan dengan memberikan informasi teknologi yang lebih maju, pelaku usaha dapat mengetahui ilmu pengetahuan dan teknologi serta menerapkannya untuk meningkatkan produksi. Hal ini sangat bermanfaat bagi peningkatan kemampuan pelaku usaha dalam membudidayakan ikan bandeng air tawar di Kecamatan Kayen.&lt;br /&gt;
b. Rencana Operasional&lt;br /&gt;
1) Waktu dan Tempat&lt;br /&gt;
Waktu dan tempat pelaksanaan kegiatan aksi penyuluhan disesuaikan dengan hasil kesepakatan.&lt;br /&gt;
2) Evaluasi&lt;br /&gt;
Sebelum dilakukan aksi penyuluhan dengan melakukan pembinaan kelompok, maka tingkat pengetahuan pelaku usaha dinilai terlebih dahulu sebagai evaluasi awal, selanjutnya dilakukan evaluasui akhir setelah melakukan kegiatan penyuluhan.&lt;br /&gt;
c. Aksi Penyuluhan&lt;br /&gt;
Aksi penyuluhan dalam proses pembinaan dilakukan terhadap sub kelompok pengolahan “Mina Rezeki” dengan melakukan pertemuan kelompok sebanyak 2 kali pada tanggal 30 Maret 2010 (melakukan praktek pengolahan ikan bandeng asap), dan pada tanggal 27 April 2010 (melakukan praktek pengolahan empek-empek). Pada pertemuan pertama dihadiri oleh 12 orang anggota kelompok, dan pada pertemuan kedua dihadiri oleh 13 orang anggota kelompok. Selama pertemuan kelompok itu ikut hadir juga Penyuluh Perikanan Kecamatan Kayen dan di saksikan juga oleh perwakilan dari Pemerintah Desa Talun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Metoda yang digunakan yaitu “demonstrasi cara” dengan terlebih dahulu menyampaikan materi tentang alat, bahan dan proses pelaksanaannya secara teori, selanjutnya dilakukan praktek pengolahan bersama ibu-ibu yang tergabung dalam sub kelompok Mina Rezeki Desa Talun. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada pelaksanaan kegiatan Praktek Akhir ini kami juga ikut bergabung dalam melanjutkan pelaksanaan kegiatan pada program prasasti mina di Desa Talun. Kegiatan tersebut diantaranya adalah uji adaptasi yang hingga pada saat akhir dari pelaksanaan Praktek Akhir masih dilaksanakan. Kami juga ikut serta dalam kegiatan pembinaan rutin melalui pertemuan kelompok ataupun melalui kegiatan kunjungan usaha. Dalam pelaksanaan kegiatan pembinaan tersebut diatas dilakukan bersama-sama dengan petugas teknis dari BBPBAP Jepara selaku UPT pendamping kegiatan prasasti mina di Desa Talun serta Penyuluh Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati. Media yang digunakan dalam pembinaan Uji Adaptai ini berupa folder mengenai “Teknik Budidaya Ikan Bandeng Air Tawar”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Mengembangkan Kelompok &lt;br /&gt;
a. Tujuan&lt;br /&gt;
Setelah melaksanakan kegiatan aksi penyuluhan, pelaku pembudidaya ikan bandeng air tawar di Kecamatan Kayen mampu mengembangkan kelompoknya sehingga dapat meningkatkan kelas kelompok. Dalam hal administrasi, kelompok Mina Sejahtera masih sangat kurang sehingga kesulitan dalam menemukan data kelompok serta dalam hal peningkatan kelas kelompok. Diharapkan denga adanya kegiatan aksi penyuluhan dengan materi administrasi kelompok, sasaran penyuluhan yaitu para pengurus kelompok Mina Sejahtera dapat membenahi kembali administrasinya. Hal ini sangat bermanfaat bagi peningkatan kemampuan pengurus dalam mengelola kelembagaan kelompok Mina Sejahtera, selain itu juga dapat mengelola kelompok sehingga pelaku usaha dapat menentukan pola usaha perikanan yang menguntungkan berdasarkan teknologi terapan dan berorientasi pada kebutuhan pasar.&lt;br /&gt;
a. Rencana Operasional&lt;br /&gt;
1) Waktu dan Tempat&lt;br /&gt;
Waktu dan tempat pelaksanaan kegiatan aksi penyuluhan disesuaikan dengan hasil kesepakatan.&lt;br /&gt;
2) Evaluasi&lt;br /&gt;
Sebelum dilakukan aksi penyuluhan mengenai administrasi kelompok, maka tingkat pengetahuan pelaku usaha dinilai terlebih dahulu sebagai evaluasi awal.&lt;br /&gt;
b. Aksi Penyuluhan&lt;br /&gt;
Aksi penyuluhan dilakukan terhadap pengurus kelompok Mina Sejahtera dalam hal ini yaitu ketua dan sekretaris dengan waktu dan metode penyuluhan yang ditetapkan secara partisipatif, yaitu dilaksanakan selama beberapa hari mulai tanggal 5-8 Mei 2010 menggunakan metode diskusi dan media penyuluhan berupa buku-buku yang dibuat oleh penulis yang terdiri dari buku daftar anggota, buku tamu, buku agenda surat masuk, buku agenda surat keluar, buku daftar hadir kelompok, buku notulen, buku kegiatan kelompok, buku pengamatan kelompok, rencana kegiatan anggota kelompok, rekapitulasi data produksi,dan proses produksi.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4.4.2 Evaluasi Penyuluhan&lt;br /&gt;
1) Evaluasi Awal dan Akhir  Tingkat Pengetahuan&lt;br /&gt;
Dari Aksi penyuluhan yang dilakukan pada kegiatan pendampingan Uji Adaptasi dengan mula-mula menyebarkan kuisioner kepada pembudidaya ikan bandeng air tawar, dapat terlihat tingkat pengetahuan rata-rata untuk evaluasi awal dengan skor 12,33. Pengetahuan ini diperoleh dari pengalaman para pembudidaya ikan bandeng air tawar dengan menggunakan teknologi sederhana tanpa pemberian pakan buatan, sehingga padat tebar untuk masing-masing kolam rendah dan produksi yang dihasilkanpun rendah.&lt;br /&gt;
Setelah dilakukan aksi penyuluhan berupa kegiatan Uji Adaptasi berupa penerapan teknologi dengan perlakuan teknologi tradisional plus dan intensif, hasil dari evaluasi akhir rata-rata untuk pembudidaya ikan bandeng skornya sebesar 17,67. Terjadi perubahan sebesar rata-rata 5,33 untuk para pembudidaya, sehingga terjadi peningkatan untuk tingkat pengetahuan pembudidaya rata-rata sebesar 45,38%. Untuk lebih jelasnya mengenai analisa data evaluasi penyuluhan pada kegiatan Uji Adaptasi dapat dilihat pada Lampiran 10. &lt;br /&gt;
Dari aksi penyuluhan yang dilakukan pada kegiatan pengolahan ikan bandeng asap tanggal 30 Maret 2010, maka hasil evaluasi awal terlihat skor untuk tingkat pengetahuan kelompok Mina Rezeki adalah rata – rata 11,67. Tingkat pengetahuan para anggota kelompok banyak didapat dari pengalaman pada kegiatatan magang yang pernah dilakukan di BPPP Tegal pada tanggal 24 November - 30 November 2008. Peserta magang pelaku Utama bidang Pengolahan Hasil Perikanan sejumlah 5 orang dengan didampingi oleh 1 orang Penyuluh Perikanan. Melihat jumlah yang ikut hanya 5 orang dan tidak mewakili semua anggota kelompok yang berjumlah sekitar kurang lebih 25 orang maka perlu dilakukan aksi penyuluhan. Kegiatan penyuluhan ini diharapakan dapat meningkatkan pengetahuan serta bisa meningkatkan pendapatan ibu-ibu sebagai pendamping suami dan dapat menambah nilai tambah perekonomian keluarga., &lt;br /&gt;
Kelompok pengolahan Mina Rezeki untuk lebih memahami tentang cara pengolahan ikan bandeng yang baik dan benar maka selain dilakukan aksi penyuluhan dengan metode “demonstrasi cara” juga diberikan leflet tentang pengolahan ikan bandeng asap. Setelah dilakukan aksi penyuluhan, skor evaluasi akhir tingkat pengetahuan rata-rata kelompok pengolahan Mina Rezeki menjadi 18. Ini menunjukkan terjadi perubahan sebesar 8,83, sehingga untuk tingkat pengetahuan terjadi peningkatan rata-rata sebesar 58,80%.&lt;br /&gt;
Aksi penyuluhan yang dilakukan pada kegiatan pengolahan empek-empek panggang tanggal 27 April 2010, maka skor evaluasi awal terlihat tingkat pengetahuan kelompok Mina Rezeki adalah rata – rata 7,61.Pada dasarnya aksi penyuluhan pengolahan empek-empek ini dilakukan atas kesepakatan bersama serta inisiatif penulis sendiri akibat dari obrolan ringan dengan salah satu pembudidaya tentang hama ikan gabus yang sering memangsa nener ikan bandeng. Mengingat salah satu bahan baku dalam pembuatan empek-empek adalah daging ikan gabus, maka penulis menawarkan dan menyarankan kepada ketua dan anggota kelompok Mina Rezeki untuk mengadakan penyuluhan pengolahan empek-empek panggang dengan memanfaatkan daging ikan gabus. Kegiatan penyuluhan ini diharapakan selain dapat meningkatkan pengetahuan dan meningkatkan pendapatan ibu-ibu sebagai pendamping suami atau juga menambah nilai tambah perekonomian keluarga, juga diharapkan dapat memanfaatkan hama yakni ikan gabus menjadi olahan yang bermanfaat bagi kelompok. Evaluasi akhir menunjukan rata-rata tingkat pengetahuan kelompok pengolahan Mina Rezeki mejadi 9,46. Ini menunjukkan terjadi perubahan sebesar 1,85, sehingga  setelah kegiatan penyuluhan pengolahan ini dilakukan terjadi peningkatan pengetahuan rata-rata sebesar 25,27%. Untuk lebih jelasnya tentang analisa data evaluasi tingkat pengetahuan pada aksi penyuluhan pengolahan dapat dilihat pada Lampiran 13 dan Lampiran 16. &lt;br /&gt;
2) Evaluasi Awal dan Akhir Tingkat Sikap&lt;br /&gt;
Kelompok pengolahan Mina Rezeki di Kecamatan kayen secara sikap menerima kegiatan penyuluhan, dan inovasi/ teknologi baru tentang pengolahan perikanan. Namun untuk kegiatan kelompok seperti pertemuan kelompok sangat kurang. Sebelum dilaksanakan Praktek Akhir (PA) kegiatan pertemuan kelompok jarang dilaksanakan, untuk itu dilakukan kegiatan pertemuan kelompok. &lt;br /&gt;
Program yang dilakukan berupa pengaktifan kegiatan kelompok dengan cara melaksanakan kegiatan pertemuan kelompok dan demonstrasi cara. Dalam pertemuan kelompok ini dilakukan demonstrasi cara mengenai pengolahan ikan bandeng asap dan pengolahan empek-empek panggang pada kelompok Mina Rezeki di Desa Talun Kecamatan Kayen.&lt;br /&gt;
Evaluasi awal mengenai sikap anggota kelompok pengolahan Mina Rezeki di Kecamatan kayen adalah rata – rata skor untuk pengolahan ikan bandeng asap adalah 60,25 dan untuk pengolahan empek-empek panggang adalah 49,08. Pada evaluasi akhir mengenai sikap diperoleh skor rata-rata pada pengolahan ikan bandeng asap sebesar 89,16 dan tingkat sikap pada pengolahan empek-empek panggang menjadi 84,30. Dari hasil ini terjadi perubahan sikap masing-masing sebesar 28,91 dan 35,22. Untuk aksi penyuluhan pada kelompok pengolahan Mina Rezeki baik berupa kegiatan pengolahan ikan bandeng asap maupun pengolahan empek-empek panggang, dapat diketahui terjadi peningkatan sikap rata-rata kelompok pengolahan sebesar 51,65 % dan 76, 63%.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3) Evaluasi Penyuluhan&lt;br /&gt;
Evaluasi penyuluhan dilakukan sebanyak 2 kali yaitu pada saat awal kegiatan penyuluhan (pre evaluation) dan setelah kegiatan penyuluhan (post evaluation). Kegiatan evaluasi pada awal kegiatan penyuluhan bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan Pokdakan Mina Sejahtera di Desa Talun Kecamatan Kayen. Dari evaluasi awal akan diketahui hal apa saja yang perlu dibenahi dan diberikan penyuluhan sehingga kegiatan penyuluhan akan sesuai dengan kebutuhan para pembudidaya di Kecamatan Kayen. Kegiatan evaluasi awal dan akhir dilakukan dengan cara menyebar kuisioner kepada responden yang terpilih yang secara rinci dapat dilihat pada Lampiran 9, Lampiran12 dan Lampiran 15.&lt;br /&gt;
Dari aksi penyuluhan yang dilakukan berupa kegiatan uji adaptasi, penyuluhan pengolahan ikan bandeng asap, dan penyuluhan empek-empek panggang, maka secara umum hasil evaluasi penyuluhan di Kecamatan Kayen dapat dilihat pada tebel berikut ini :&lt;br /&gt;
Tabel 14. Pengolahan Data Secara Umum Evaluasi Penyuluhan di Kecamatan Kayen&lt;br /&gt;
Aksi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Evaluasi Uji Adaptasi Pengolahan Ikan Bandeng Asap Pengolahan&lt;br /&gt;
Empek-empek&lt;br /&gt;
Pengetahuan Sikap Pengetahuan Sikap Pengetahuan Sikap&lt;br /&gt;
Awal 12,33 - 11,67 60,25 7,61. 49,08&lt;br /&gt;
Akhir 17,67 - 18 89,16 9,46 84,30&lt;br /&gt;
Peningkatan 45,38%. - 58,80%. 51,65 % 25,27%. 76, 63%.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tabel 15. Rekapituluasi Hasil Evaluasi Penyuluhan di Kecamatan Kayen&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Evaluasi Penyuluhan &lt;br /&gt;
Pengetahuan &lt;br /&gt;
Sikap&lt;br /&gt;
Awal 31,61 109,33&lt;br /&gt;
Akhir 45,13 173,46&lt;br /&gt;
Perubahan 13,52 64,13&lt;br /&gt;
Peningkatan 42,77 % 58,66 %&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;!-- Begin ShoutMix - http://www.shoutmix.com --&gt;&lt;iframe title=&quot;aquaka&quot; src=&quot;http://www6.shoutmix.com/?aquaka&quot; width=&quot;&quot; height=&quot;&quot; frameborder=&quot;0&quot; scrolling=&quot;auto&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://www6.shoutmix.com/?aquaka&quot;&gt;View shoutbox&lt;/a&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;http://www.shoutmix.com&quot; title=&quot;Get your own free shoutbox chat widget at ShoutMix!&quot;&gt;ShoutMix chat widget&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End ShoutMix --&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lunly713.blogspot.com/feeds/5026015779367139058/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/1769903451515941949/5026015779367139058' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default/5026015779367139058'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default/5026015779367139058'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lunly713.blogspot.com/2010/07/pembinaan-usaha-budidaya-ikan-bandeng.html' title=''/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03307642535889500865</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1769903451515941949.post-2761642000148380366</id><published>2010-07-23T00:19:00.000-07:00</published><updated>2010-07-23T00:36:28.405-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Analisa SWOT"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pemberdayaan kelompok perikanan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pembinaan usaha bandeng"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pembinaan usaha budidaya ikan bandeng air tawar"/><title type='text'></title><content type='html'>P&lt;b&gt;EMBINAAN USAHA BUDIDAYA IKAN BANDENG AIR TAWAR (&lt;i&gt;Chanos chanos Forsk&lt;/i&gt;)&lt;br /&gt;
MELALUI PEMBERDAYAAN KELOMPOK DI KECAMATAN KAYEN KABUPATEN PATI&lt;br /&gt;
PROVINSI  JAWA TENGAH &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh : Abdul Karim Anwar&lt;br /&gt;
&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
III. METODE PELAKSANAAN&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.1. Lokasi dan Waktu&lt;br /&gt;
Praktek Akhir ini telah dilaksanakan selama kurang lebih dua bulan terhitung dari tanggal 19 Maret sampai dengan 20 Mei 2010 pada Kelompok Pembudidaya Ikan Bandeng Air Tawar yang bernama ”Mina Sejahtera” di Desa Talun Kecamatan Kayen Kabupaten Pati Provinsi Jawa Tengah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.2. Ruang Lingkup &lt;br /&gt;
3.2.1.  Potensi dan Kajian Usaha&lt;br /&gt;
3.2.1.1. Potensi&lt;br /&gt;
Ruang lingkup potensi dan kajian usaha budidaya ikan bandeng air tawar di Desa Talun Kecamatan Kayen meliputi potensi sumberdaya dan pemanfaatan lahannya, ketersediaan sarana dan prasarana, sistem produksi (persiapan tambak, tingkat pemanfaatan saprodi, pola tanam, dll), sistem pemasaran, penerimaan/ pendapatan, kelayakan usaha, kinerja kelompok pembudidaya, kinerja penyuluh perikanan dan kinerja lembaga penunjang.&lt;br /&gt;
3.2.2. Rencana Pengembangan Usaha&lt;br /&gt;
Rencana pengembangan usaha budidaya ikan bandeng air tawar didasarkan atas potensi wilayah dan perkembangan teknologi yang ada di Desa Talun Kecamatan Kayen. Pengembangan usaha tersebut dapat dilakukan melalui kegiatan intensifikasi dan ekstensifikasi yaitu melalui penerapan inovasi teknologi.&lt;br /&gt;
Rencana pengembangan usaha diperlukan untuk meningkatkan produksi dan pendapatan kelompok pembudidaya ikan bandeng air tawar. Rencana pengembangan usaha budidaya tersebut yaitu mengkaji dan merumuskan strategi pengembangan usaha budidaya ikan bandeng air tawar berdasarkan tingkat penerapan inovasi teknologi melalui kegiatan pembinaan dan pemberdayaan kelompok pembudidaya ikan bandeng air tawar di Desa Talun Kecamatan Kayen Kabupaten Pati..&lt;br /&gt;
Rencana pengembangan usaha budididaya ikan bandeng air tawar yang sesuai dengan potensi sumberdaya serta pengembangan teknologi yang dilaksanakan selama kegiatan praktek akhir yaitu :&lt;br /&gt;
Menambah pengetahuan dan keterampilan kelompok pembudidaya ikan bandeng air tawar dalam melakukan proses produksi yang tepat dengan cara pembinaan usaha melalui pemberdayaan kelompok.&lt;br /&gt;
Meningkatkan sistem teknologi budidaya ikan bandeng air tawar dari sistem tradisional menjadi tradisional plus.&lt;br /&gt;
Strategi pembinaan kelompok untuk meningkatkan kemampuan dalam usahanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.2.3. Pengelolaan Aksi Penyuluhan&lt;br /&gt;
Komponen dalam pengelolaan aksi penyuluhan adalah mulai dari perencanaan penyuluhan perikanan, pelaksanaan penyuluhan, materi penyuluhan, metode dan teknik penyuluhan, serta evaluasi dan pemantauan kegiatan penyuluhan. Untuk penyelenggaraan penyuluhan harus mengikuti tahapan-tahapan di atas dan selama dalam pelaksanaan praktek akhir ini, tahapan-tahapan tersebut telah dilakukan dengan mendekati sempurna. &lt;br /&gt;
Adapun ruang lingkup pengelolaan aksi penyuluhan yang telah dilaksanakan di Desa Talun Kecamatan Kayen dengan objeknya adalah Kelompok Pembudidaya Ikan ”Mina Sejahtera” yang bergerak dalam usaha budidaya ikan bandeng air tawar dapat dirincikan sebagai berikut :&lt;br /&gt;
Mengaktifkan kembali kegiatan kelompok pembudidaya, khususnya yang tergabung dalam sub kelompok penggelondongan dan pembesaran ikan bandeng air tawar yang  sebelumnya sempat vakum akibat kondisi banjir.&lt;br /&gt;
Mengembangkan kemampuan kelompok yang tergabung dalam sub kelompok pemasaran ikan bandeng air tawar.&lt;br /&gt;
Pembinaan kelompok melalui kegiatan penyuluhan dilakukan dengan cara merumuskan konsep strategi operasional penyuluhan berdasarkan pendekatan partisipasi yang meliputi teknologi budidaya yang baik, manajemen pakan, pengendalian hama dan penyakit, serta sebagai fasilitator dalam membenahi administrasi kelompok dan menjadi intermedier antara penyuluh yang membidangi perikanan di Kecamatan Kayen dengan anggota kelompok Mina Sejahtera sebagai upaya dalam mengembangkan kemampuan kelompok dalam mengelola kelembagaannya.&lt;br /&gt;
Melakukan aksi penyuluhan yang dilaksanakan berdasarkan kesepakatan bersama dengan anggota kelompok dengan cara: a) menentukan materi penyuluhan berdasarkan tingkat kebutuhan inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi dalam menunjang kegiatan usaha budidaya ikan bandeng air tawar; b) membuat rencana pelaksanaan aksi penyuluhan; c) pelaksanaan aksi penyuluhan;  d) evaluasi kegiatan aksi penyuluhan.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.3. Tahap Pelaksanaan&lt;br /&gt;
3.3.1. Pengumpulan Data&lt;br /&gt;
Data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Data primer diambil langsung dari pelaku utama dan pelaku usaha, sementara untuk pengumpulan data primer dilakukan dengan menggunakan metode wawancara dan observasi langsung di lapangan. Data sekunder didapatkan dari pengumpulan data dan informasi  berupa dokumen statistik wilayah, monografi dan data penunjang lainnya yang mendukung dalam pengembangan usaha budidaya ikan bandeng air tawar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.3.2. Analisis Potensi dan Kinerja&lt;br /&gt;
Potensi dan Kajian Usaha&lt;br /&gt;
Untuk menganalisis potensi dan kinerja dalam usaha budidaya ikan bandeng air tawar, hal yang perlu dilakukan terlebih dahulu adalah dengan menggunakan analisa SWOT. Analisa SWOT adalah identifikasi beberapa faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang (opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknes) dan ancaman (threats). Proses pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan misi, tujuan, strategi dan kebijakan perusahaan. Dengan demikian perencanaan strategis perusahaan (kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman) dalam kondisi yang ada saat ini. Hal ini disebut dengan Analisis Situasi. Model yang popular untuk analisis situasi adalah Analisis SWOT. &lt;br /&gt;
Dalam analisis SWOT ada yang dikenal dengan istilah bobot dan rating. Pemberian nilai bobot didasarkan pada kemungkinan faktor-faktor tersebut memberikan dampak pada faktor strategis. Pemberian bobot dimulai dari 1,0 (sangat penting) sampai 0,0 (tidak penting). Yang harus diperhatikan dalam pembobotan adalah nilai bobot total dari semua faktor tidak boleh lebih dari 1,0. Pemberian rating didasarkan pada pengaruh faktor tersebut terhadap kondisi perusahaan yang bersangkutan, mulai dari 4 (outstanding) sampai 1 (poor). Pemberian nilai rating untuk faktor peluang bersifat positif (peluang yang terbesar diberi rating 4, tetapi jika peluangnya kecil diberi rating1). Pemberian nilai rating ancaman, jika nilai ancamannya sangat besar ratinggnya 1, dan bila nilainya sedikit diberi nilai 4. Contoh matriks analisis SWOT berikut ini :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
IFAS    EFAS KEKUATAN (S) KELEMAHAN (W)&lt;br /&gt;
Tentukan 5-10 faktor-faktor kekuatan internal Tentukan 5-10 faktor-faktor kelemahan internal&lt;br /&gt;
PELUANG (O) STRATEGI S-O STRATEGI W-O&lt;br /&gt;
Tentukan 5-10 faktor-faktor peluang eksternal Ciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang Ciptakan strategi yang meminimalkan kelemahan untuk memanfaatkan peluang&lt;br /&gt;
ANCAMAN (T) STRATEGI S-T STRATEGI W-T&lt;br /&gt;
Tentukan 5-10 faktor-faktor ancaman eksternal Ciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk mengatasi ancaman Ciptakan strategi yang meminimalkan kelemahan dan menghindari ancaman&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah data terkumpul, tahapan selanjutnya adalah analisa data. Proses penyusunan program dalam analisa SWOT dibuat berdasarkan tingkat jumlah nilai dari perkalian antara bobot dan rating. Berdasarkan hasil analisis SWOT yang dilakukan, terdapat 4 kemungkinan strategi yaitu strategi SO, ST, WO, dan WT..&lt;br /&gt;
Penjelasan masing-masing srategi dalam matriks SWOT dapat diuraikan sebagai berikut :&lt;br /&gt;
Strategi SO (strength Opportunity) yaitu strategi dengan memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan peluang sebesar-besarnya.&lt;br /&gt;
Strategi ST (Strength Threath) yaitu strategi yang menggunakan kekuatan yang dimiliki suatu usaha untuk mengatasi ancaman.&lt;br /&gt;
Strategi WT (Weekness Opportunity) yaitu strategi pemanfaatan peluang yang ada dengan cara meminimalkan kelemahan yang ada.&lt;br /&gt;
Strategi WT (Weekness Threath) yaitu strategi yang didasarkan pada kegiatan yang bersifat defensive dan berusaha meminimalkan kelemahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.3.3. Sintesa Strategi Kebijakan Pengembangan Usaha &lt;br /&gt;
Strategi pengembangan usaha budidaya ikan bandeng air tawar akan diperoleh melalui hasil analisis potensi dan kinerja usaha budidaya yang dilakukan. Rencana strategi pengembangan yang didasarkan pada tingkat penggunaan lahan tambak, pola tanam, serta teknik jaringan irigasi adalah sebagai berikut : 1) Strategi pengembangan kawasan dan peningkatan pemanfaatan lahan usaha secara bertahap dengan tetap mengacu pada luas lahan potensial. 2) Strategi penerapan teknologi yang adaptif dan berkelanjutan dengan acuan pencapaian target produksi berdasarkan lahan budidaya. 3) pembinaan intensif pada RTP dan kelompok sesuai dengan teknik manajerial RTP serta kemampuan penyediaan modal, saprodi dan pengolahan hasil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.3.4.   Pengelolaan Aksi Penyuluhan &lt;br /&gt;
Program penyuluhan yang telah dilaksanakan pada saat melaksanakan kegiatan Praktek Akhir didasarkan pada pertimbangan yaitu ketentuan program strategis untuk dilaksanakan sesuai kondisi sumberdaya yang ada, kebutuhan sasaran, dan masalah yang dihadapi oleh Pokdakan Mina Sejahtera dalam menunjang program pemberdayaan pelaku utama dalam kegiatan budidaya ikan bandeng air tawar di Kecamatan Kayen. Kegiatan penyuluhan yang dilakukan berupa pembinaan usaha budidaya ikan bandeng air tawar melalui pemberdayaan kelompok yang ada di Kecamatan Kayen diantaranya adalah dengan pendekatan melalui ceramah, menggunakan poster, penyebaran folder dan leaflet. Pendekatan kelompok melalui diskusi kelompok, demontrasi, dan pendekatan perorangan melalui kunjungan usaha atau kunjungan rumah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.4. Pengumpulan Data dan Pengambilan Contoh &lt;br /&gt;
3.4.1. Pengumpulan Data&lt;br /&gt;
3.4.1.1. Data Primer&lt;br /&gt;
Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari objek yang diteliti. Data ini belum mengalami modifikasi atau pengolahan lebih lanjut. Sumber untuk memperoleh data primer adalah semua yang tergabung dalam kelompok pembudidaya ikan bandeng air tawar, penyuluh perikanan, pedagang, dan pihak yang mendukung kegiatan perikanan di Kecamatan Kayen. Data primer dikumpulkan dengan menggunakan 2 metode yakni metode wawancara dan metode observasi.&lt;br /&gt;
1. Metode wawancara&lt;br /&gt;
Metode wawancara dilakukan terhadap responden dari pelaku utama dan pelaku usaha. Data primer yang dikumpulkan meliputi potensi lahan, prasarana budidaya, lama proses produksi, tingkat pemanfaatan saprodi, produksi dan pendapatan usaha, kinerja pemasaran dan kinerja kelompok.&lt;br /&gt;
2. Metode observasi&lt;br /&gt;
Metode observasi dilakukan terhadap prasarana budidaya, peralatan serta tata letak lahan dan jaringan irigasi dan keberadaan fasilitas pasar ikan, konflik pemanfaatan lahan, dan sumber pencemar. Data-data ini menentukan kendala pemberdayaan kelompok dan pengembangan usaha budidaya ikan bandeng air tawar yang ada di Kecamatan Kayen untuk kedepannya.&lt;br /&gt;
3.4.1.2. Data Sekunder&lt;br /&gt;
Data sekunder adalah data yang diperoleh bukan langsung dari objek yang diteliti. Data ini biasanya berbentuk dokumen, baik yang belum atau sudah mengalami modifikasi serta pengolahan lebih lanjut. Untuk memperoleh data sekunder ini dilakukan dengan teknik dokumentasi. Data sekunder didapatkan dari pengumpulan data dan informasi berupa dokumen statistik wilayah, monografi dan data penunjang lainnya. Sumber untuk memperoleh data diambil dari Biro Pusat Statistik (BPS) Kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati, Laporan Tahunan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati, Kantor Kecamatan Kayen, Rencana Kerja Penyuluh Perikanan, studi literatur, dan internet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.4.2. Pengambilan Contoh&lt;br /&gt;
3.4.2.1. Penentuan Sebaran Lokasi Contoh&lt;br /&gt;
Penentuan sebaran lokasi dilakukan berdasarkan potensi lahan dan produksi ikan bandeng air tawar di Kecamatan Kayen Kabupaten Pati. Kabupaten Pati terdiri dari 21 Kecamatan, 400 desa dan 5 kelurahan.. Adapun dari sekian banyak kecamatan yang ada di Kabupaten Pati tersebut, maka Kecamatan Kayen yang dipilih sebagai lokasi Praktek Akhir.&lt;br /&gt;
Kecamatan Kayen itu sendiri terdiri dari 17 desa/ kelurahan yaitu : Desa Beketel, Boloagung, Brati, Durensawit, Jatiroto, Jimbaran,  Kayen, Pasuruhan,Pesagi, Purwokerto, Rogomulyo, Slungkep, Srikaton, Sumbersari,  Sundoluhur,  Talun, Trimulyo. Dari semua yang ada di Kecamatan Kayen, sebaran lokasi contoh terdapat di wilayah administrasi Desa Talun sebagai lokasi kegiatan usaha budidaya ikan bandeng air tawar.&lt;br /&gt;
3.4.2.2 . Penentuan Responden &lt;br /&gt;
Pembudidaya ikan bandeng air tawar yang ada di Kecamatan Kayen terdiri dari satu kelompok besar dengan jumlah anggota sekitar 230 orang yang tergabung dalam  “Pokdakan Mina Sejahtera”, sedangkan kelompok yang khusus melakukan kegiatan budidaya ikan bandeng air tawar sejumlah 24 orang. &lt;br /&gt;
Penentuan responden dilakukan dengan menggunakan teknik Random Sampling Berlapis (Stratified Random Sampling). Sampel yang diambil dari acak berlapis ini adalah dengan memisahkan elemen-elemen populasi dalam kelompok-kelompok, kemudian diambil sampel secara acak dari kelompok tersebut. &lt;br /&gt;
Berdasarkan perhitungan menggunakan rumus Slovin dengan menggunakan tingkat kesalahan 15 % (disesuaikan dengan kondisi lapangan) sehingga diperoleh jumlah sampel sebanyak 37 orang dari total RTP yang ada. &lt;br /&gt;
Setelah ukuran sampel diperoleh, kemudian dilakukan penarikan sampel responden dengan menggunakan salah satu cara yaitu penarikan sampel secara acak sederhana (Sample Random Sampling) dengan metode arisan. Nama-nama tersebut kemudian dikocok dan selanjutnya dikeluarkan dari lubang sesuai dengan kebutuhan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.4.3. Analisa Data &lt;br /&gt;
3.4.3.1. Potensi dan Tingkat Pemanfaatan Lahan&lt;br /&gt;
Analisa potensi dan pemanfaatan lahan dapat diketahui dengan mengumpulkan data mengenai luas wilayah potensial untuk kegiatan perikanan terutama dalam usaha budidaya ikan bandeng air tawar. Selain itu juga harus diketahui jumlah RTP (Rumah Tangga Perikanan) yang mengusahakan budidaya ikan bandeng, luas lahan yang digunakan, dan lama proses produksi, serta pola tanam yang diterapkan. Menurut Praptokardyo, (2008), tingkat pemanfaatan lahan ditentukan dengan menggunakan rumus :&lt;br /&gt;
LUI=A0/AT x nSi/(360 hari)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keterangan :&lt;br /&gt;
LUI  = Tingkat pemanfaatan lahan (Land Utility Index)&lt;br /&gt;
AO = Luas satuan lahan yang dimanfaatkan (m2)&lt;br /&gt;
N  = Jumlah frekuensi mas pemeliharaan&lt;br /&gt;
Si  = Lama hari satu siklus pemeliharaan&lt;br /&gt;
365 = Jumlah hari dalam setahun &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.4.3.2. Produksi dan Produktifitas&lt;br /&gt;
Produksi budidaya perikanan yaitu hasil pembentukan biomass ikan yang dihasilkan dari penerapan teknologi budidaya pada suatu luas tambak selama waktu pemeliharaan tertentu. Sedangkan produkstifitas yaitu jumlah biomass ikan yang dihasilkan dari suatu luas lahan tambak dan lama waktu pemeliharaan tertentu. Produsi dan produkstifitas (ton/ha/siklus) dapat dianalisa dengan mengetahui jumlah padat tebar, bobot tebar dan bobot panen, lama waktu pemeliharaan dan tingkat kelangsungan hidup. Produktifitas dapat dihitung menggunakan rumus :&lt;br /&gt;
Produktifitas=(Produksi )/(Luas tambak bandeng)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.4.3.3. Penerimaan Pendapatan dan Kelayakan Usaha&lt;br /&gt;
Analisa mengenai pendapatan yang diterima dan kelayakan dari usaha yang dijalankan oleh setiap kelompok pembudidaya ikan dapat dianalisa dengan menghitung analisa usaha. Analisa suatu usaha/ investasi perlu dilakukan untuk mngetahui kelayakan dan perkembangan usaha. Beberapa metode analisa yang dapat dipergunakan antara lain Renenue Cost Ratio (R/C ratio), Break Event Point (BEP) atau titik impas,  dan Payback Period. &lt;br /&gt;
Revenue Cost Ratio (R/C Ratio)&lt;br /&gt;
Revenue Cost Ratio (R/C Ratio) adalah membandingkan antara penerimaan dan pengeluaran biaya. Besarnya R/C Ratio akan menunjukan tingkat keuntungan yang dicapai. Apabila R/C Ratio lebih dari 1 maka usaha yang dijalankan adalah layak untuk diusahakan/ dapat diteruskan. Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;
R/C=(Total Pendapatan)/(Total Biaya)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Break Event Point (BEP)&lt;br /&gt;
Break Event Point (BEP) mengkaji nilai tingkat penjualan yang mengakibatkan keadaan usaha tidak mengalami keuntungan ataupun kerugian (titik impas). Break Event Point (BEP) dinyatakan dalam nilai uang dan jumlah unit. Adapun rumus mencari BEP adalah : &lt;br /&gt;
BEP (Rp)=FC/(1-VC/S)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
BEP (Unit)=FC/(p-((VC X p))/S)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Payback Periode&lt;br /&gt;
Metode ini mencoba mengukur seberapa cepat investasi suatu usaha dapat kembali. Karena itu, satuan waktu yang digunakan adalah waktu (hari, bulan dan tahun). Apabila Payback Periode lebih pendek dari yang dipersyaratkan maka usaha  dikatakan menguntungkan, tapi bila lebih panjang maka usaha tersebut tidak menguntungkan. Adapun rumus yang digunakan adalah:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Payback Period=(Total Investasi )/(Laba usaha)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.4.3.4. Pemasaran Produk&lt;br /&gt;
Analisa mengenai pemasaran produk dapat diketahui dengan menganalisa data  mengenai hasil produksi yang diperoleh oleh pembudidaya, harga produk, saluran tataniaga yang digunakan, dan jenis pemasaran yang diterapkan oleh pembudidaya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.4.3.5. Kinerja Kemitraan Usaha/ Lembaga Penunjang &lt;br /&gt;
Analisa mengenai kinerja kemitraan usaha/ lembaga penunjang yang mempengaruhi usaha budidaya ikan bandeng dapat diketahui dengan menganalisa jenis dan jumlah lembaga yang ada di Kecamatan Kayen Kabupaten Pati. Salain itu juga dianalisa mengenai peran lembaga tersebut terhadap usaha budidaya ikan bandeng air tawar.&lt;br /&gt;
Adapun lembaga penunjang yang ada di Kecamatan Kayen sebagai berikut :&lt;br /&gt;
No Nama Lembaga Penunjang Jumlah Lokasi Keterangan&lt;br /&gt;
1 2 3 4 5&lt;br /&gt;
1 BRI Unit Desa 1 buah Kec. Kayen Simpan Pinjam&lt;br /&gt;
2 BKK 1 buah Kec. Kayen Simpan Pinjam&lt;br /&gt;
3 BPR 1 buah Kec. Kayen Simpan Pinjam&lt;br /&gt;
4 Koperasi Unit Desa 1 buah Kec. Kayen Simpan Pinjam dan Saprodi&lt;br /&gt;
5   Koperasi Mardi&lt;br /&gt;
Santosa 1 buah Dsa. Rogomulyo Saprodi&lt;br /&gt;
1 2 3 4 5&lt;br /&gt;
6 Kios Saprodi 9 buah Dsa. Talun Saprodi&lt;br /&gt;
7 Kios Konsumsi 19 buah Dsa. Talun Kebutuhan konsumsi&lt;br /&gt;
8 Kelompok Pembudidaya 1 kelompok Dsa Talun Pokdakan Mina Sejahtera&lt;br /&gt;
9 BBI (Balai Benih Ikan) 1 buah BBPBAP Jepara Suplai benih dan UPT pendamping kegiatan Prasasti Mina&lt;br /&gt;
10 Pasar Ikan (TPHT) 1 buah Kec. Kayen Kegiatan jual beli dan tempat bertemunya pelaku usaha dalam hal pemasaran produk perikanan&lt;br /&gt;
Sumber: Programa Penyuluhan Perikanan Kecamatan Kayen 2009&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.4.4. Perumusan Masalah&lt;br /&gt;
Rumusan masalah dapat diketahui dari adanya analisis yang sudah dianalisa yaitu analisis SWOT (Strengths, Weakness, Opportunities, Threats). Adapun tahapan dalam menganalisis sebagai berikut 1) Mengidentifikasi faktor eksternal dan internal, 2) Menentukan bobot dan rating dari masing-masing item dalam setiap faktor tersebut, 3) Membuat matriks analisa SWOT, 4) dan Penetapan perioritas masalah.&lt;br /&gt;
Dari rumusan masalah tersebut maka ditentukan strategi program pengembangan usaha budidaya ikan bandeng air tawar. Tahapan dari analisa SWOT budidaya ikan bandeng air tawar di Kecamatan Kayen yaitu :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
No Faktor  Penentu Internal S1 S2 S3 W1 W2 W3 Total Bobot&lt;br /&gt;
A Kekuatan (Strengths)&lt;br /&gt;
Ketersediaan SDA (Potensi Wilayah)&lt;br /&gt;
Terdapat Kelompok Usaha (SDM)&lt;br /&gt;
Ketersediaan Sarana dan Prasarana &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
B Kelemahan (Weakness)&lt;br /&gt;
Teknologi budidaya masih tradisional&lt;br /&gt;
Manajemen usaha belum baik&lt;br /&gt;
Kurangnya pembinaan kelompok &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
No Faktor  Penentu Eksternal O1 O2 O3 T1 T2 T3 Total Bobot&lt;br /&gt;
A Peluang (Opportunities)&lt;br /&gt;
Pasar tersedia&lt;br /&gt;
Dukungan pemerintah dan Lembaga Penunjang&lt;br /&gt;
Saprodi mudah diperoleh dan transportasi mendukung &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
B Ancaman (Threats)&lt;br /&gt;
Informasi pasar terbatas&lt;br /&gt;
Banjir &lt;br /&gt;
Harga produk tidak stabil &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matriks Evaluasi Faktor Internal Usaha Budidaya Ikan Bandeng Air Tawar di  &lt;br /&gt;
Kecamatan kayen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
No Faktor Internal Bobot (B) Rating (R) B x R&lt;br /&gt;
(1) (2) (3) (4) (5)&lt;br /&gt;
A Kekuatan (Strengths)&lt;br /&gt;
Ketersediaan SDA (Potensi Wilayah)&lt;br /&gt;
Terdapat Kelompok Usaha (SDM)&lt;br /&gt;
Ketersediaan Sarana dan Prasarana &lt;br /&gt;
0,200&lt;br /&gt;
0,133&lt;br /&gt;
0,177 &lt;br /&gt;
4&lt;br /&gt;
3&lt;br /&gt;
3 &lt;br /&gt;
0,800&lt;br /&gt;
0,399&lt;br /&gt;
0,351&lt;br /&gt;
Jumlah (A)   1,550&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
B Kelemahan (Weakness)&lt;br /&gt;
Teknologi budidaya masih tradisional&lt;br /&gt;
Manajemen usaha belum baik&lt;br /&gt;
Kurangnya pembinaan kelompok &lt;br /&gt;
0,217&lt;br /&gt;
0,133&lt;br /&gt;
0,200 &lt;br /&gt;
1&lt;br /&gt;
2&lt;br /&gt;
1 &lt;br /&gt;
0,217&lt;br /&gt;
0,266&lt;br /&gt;
0,200&lt;br /&gt;
Jumlah (B)   0,683&lt;br /&gt;
Jumlah Total (A+B) 1,00  2,33&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Matriks Evaluasi Faktor Eksternal Usaha Budidaya Ikan Bandeng Air Tawar di Kecamatan kayen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
No Faktor Eksternal Bobot (B) Rating (R) B x R&lt;br /&gt;
(1) (2) (3) (4) (5)&lt;br /&gt;
A Peluang (Opportunities)&lt;br /&gt;
Pasar tersedia&lt;br /&gt;
Dukungan pemerintah dan Lembaga Penunjang&lt;br /&gt;
Saprodi mudah diperoleh dan transportasi mendukung &lt;br /&gt;
0,167&lt;br /&gt;
0,200&lt;br /&gt;
0,167 &lt;br /&gt;
3&lt;br /&gt;
3&lt;br /&gt;
3 &lt;br /&gt;
0,501&lt;br /&gt;
0,600&lt;br /&gt;
0,501&lt;br /&gt;
Jumlah (A)   0,501&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
B Ancaman (Threats)&lt;br /&gt;
Informasi pasar terbatas&lt;br /&gt;
Banjir &lt;br /&gt;
Harga produk tidak stabil &lt;br /&gt;
0,216&lt;br /&gt;
0,100&lt;br /&gt;
0,150 &lt;br /&gt;
2&lt;br /&gt;
2&lt;br /&gt;
2 &lt;br /&gt;
0,432&lt;br /&gt;
0,200&lt;br /&gt;
0,300&lt;br /&gt;
Jumlah (B)   0,932&lt;br /&gt;
Jumlah Total A + B 1,00  2,534&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.4.5. Perumusan Strategi Pengembangan Usaha&lt;br /&gt;
3.4.5.1. Strategi Pengembangan Usaha&lt;br /&gt;
Perumusan strategi pengembangan usaha budidaya ikan bandeng air tawar dilakukan setelah melihat masalah yang ada dilapangan. Permasalahan yang dihadapi di Kecamatan Kayen berdasarkan hasil analis faktor internal dan eksternal SWOT dari analisis potensi kinerja yang ada dapat ditentukan strategi pengembangan usaha budidaya ikan bandeng air tawar yang dimuat pada tabel di berikut ini:&lt;br /&gt;
Tabel 8. Analisa Faktor Strategi Internal dan Eksternal Usaha Budidaya Ikan Bandeng Air Tawar di Kecamatan kayen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
IFAS&lt;br /&gt;
EFAS STRENGTHS (S)&lt;br /&gt;
WEAKNESSES (W)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketersediaan SDA (Potensi wilayah)&lt;br /&gt;
Terdapat Kelompok Usaha (SDM)&lt;br /&gt;
Ketresediaan sarana dan prasarana  Teknologi budidaya masih tradisional&lt;br /&gt;
Manajemen usaha belum baik&lt;br /&gt;
Kurangnya pembinaan kelompok&lt;br /&gt;
OPPORTUNIES (O)&lt;br /&gt;
STRATEGI S-O&lt;br /&gt;
STRATEGI W-O&lt;br /&gt;
Pasar tersedia&lt;br /&gt;
Dukungan pemerintah dan lembaga penunjang&lt;br /&gt;
Saprodi mudah diperoleh dan transportasi mendukung&lt;br /&gt;
Mengembangkan teknologi budidaya dengan pemanfaatan potensi SDA yang ada dalam meningkatkan produktivitas&lt;br /&gt;
Pembinaan Kelompok pembudidaya melalui kegiatan penyuluhan&lt;br /&gt;
Memanfaatkan lembaga penunjang  Pemanfaatan lembaga pendukung untuk membantu penyediaan modal dengan menjalin kerjasama melalui kelompok &lt;br /&gt;
Mengoptimalkan kegiatan penyuluhan untuk meningkatkan PSK dan motivasi pembudidaya&lt;br /&gt;
Peningkatan padat tebar melalui pengembangan teknologi &lt;br /&gt;
TREATHS (T)&lt;br /&gt;
STRATEGI S-T&lt;br /&gt;
STRATEGI W-T&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Informasi pasar terbatas&lt;br /&gt;
Banjir &lt;br /&gt;
Harga produk tidak stabil  Memperbaikai sarana budidaya dengan memperhatikan daya dukung lahan dalam menghadapi banjir&lt;br /&gt;
Menetapkan harga produk  Penyelenggraan penyuluhan yang optimal&lt;br /&gt;
Kerjasama dengan lembaga penunjang untukmendapatkan akses modal&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan hasil pembobotan dan rating dapat dilakukan pembuatan strategi dimana pemilihan didasarkan atas besarnya jumlah skor dari factor internal dan eksternal. Adapun perhitungan memilih strategi adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;
Strategi S-O = 1,550 + 1,602 = 3,152.&lt;br /&gt;
Strategi S-T = 1,550 + 0,932 = 2,482&lt;br /&gt;
Strategi W-O = 0,683 + 1,602 = 2,285&lt;br /&gt;
Strategi W-T = 0,683 + 0,9332 = 1,615&lt;br /&gt;
Berdasarkan perhitungan di atas, maka strategi pengembangan usaha yang dipilih adalah S-O (Strengths-Opportunities) yaitu menggunakan seluruh kekuatan untuk memanfatkan peluang. Adapun langkah-langkah yang diterapkan dalam strategi S-O ini adalah :&lt;br /&gt;
Mengembangkan teknologi budidaya dengan pemanfaatan SDA yang ada dalam meningkatkan produktivitas.&lt;br /&gt;
Pembinaan kelompok pembudidaya melalui kegiatan penyuluhan&lt;br /&gt;
Pemanfaatan lembaga penunjang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan analisa SWOT diatas maka dapat diambil beberapa prioritas masalah yang dirinci berikut ini :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Parameter Bobot Rating&lt;br /&gt;
(4) (3) (2) (1)&lt;br /&gt;
Teknologi budidaya masih tradisional&lt;br /&gt;
Informasi pasar terbatas&lt;br /&gt;
Kurangnya pembinaan kelompok&lt;br /&gt;
Harga produk tidak stabil&lt;br /&gt;
Manajemen usaha belum baik&lt;br /&gt;
Banjir &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rumusan masalah yang diambil dalam kegiatan budidaya ikan bandeng air tawar di Kecamatan Kayen meliputi :&lt;br /&gt;
Teknologi yang digunakan dalam budidaya ikan bandeng air tawar masih tradisional yang berpengaruh pada hasil produksi yang dicapaipun tidak maksimal sesuai yang diharapkan sehinggga diperlukan suatu pengembangan teknologi yang maju untuk meningkatkan produksi&lt;br /&gt;
Kelompok pembudidaya ikan kurang mendapatkan informasi tentang pasar yakni dalam hal promo produk atau informasi harga jual-beli produk.&lt;br /&gt;
Kegiatan kelompok pembudidaya ikan belum berjalan dengan baik yang diindikasikan dari segi administrasi dan koordinasi kelompok belum optimal. Oleh karena itu, perlu adanya kegiatan pembinaan kelompok melalui kegiatan penyuluhan untuk menambah pengetahuan, sikap dan keterampilan kelompok dalam mengembangkan dan memberdayakan kelompok dalam usaha budidaya ikan bandeng air tawar di Kecamatan Kayen.&lt;br /&gt;
Berdasarkan permasalahan yang ada, maka diperlukan beberapa program untuk pengembangan usaha budidaya ikan bandeng air tawar di Kecamatan Kayen yaitu melakukan peningkatan produksi secara terencana untuk memenuhi permintaan pasar, mengembangkan teknologi budidaya dan pembinaan kelompok melalui pemberdayaan kelompok. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengembangkan Teknologi Budidaya &lt;br /&gt;
Program pengembangan teknologi budidaya bertujuan dalam penerapan teknologi tepat guna dan upaya mendukung kegiatan Prasasti Mina di Desa Talun Kecamatan Kayen. Strategi pengembangan yang dilakukan yaitu Uji Adaptasi untuk mendapatkan hasil produksi yang optimal per satuan unit usaha sehingga diperoleh kesesuaian teknologi dengan lokasi ataupun lingkungan budidaya ikan bandeng air tawar yang dibudidayakan.  &lt;br /&gt;
Program pengembangan teknologi budidaya dimaksudkan untuk menambah padat tebar benih/ gelondongan sehingga produksi yang dihasilkan dapat lebih tinggi. Oleh karena kelompok pembudidaya ikan bandeng air tawar di Kecaatan Kayen masih dilakukan secara sederhana dengan padat tebarnya rendah dan pemberian pakan hanya memanfatkan pakan alami sehingga diperlukan adanya peningkatan padat tebar. Dengan peningkatan padat tebar tersebut perlu diimbangi dengan adanya pengembangan teknologi dari tradisional menjadi tradisional plus/ maju yaitu dengan penambahan pakan buatan sehingga produksi dapat meningkat.   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembinaan kelompok pembudidaya melalui kegiatan penyuluhan&lt;br /&gt;
Jumlah kelompok pembudidaya di Kecamatan Kayen yaitu satu kelompok besar berjumlah sekitar 230 orang yang tergabung dalam “Pokdakan Mina Sejahtera”, sedangkan kelompok yang khusus melakukan kegiatan budidaya ikan bandeng air tawar sejumlah 24 orang. Dilihat dari kurang optimalnya kegiatan pembinaan kelompok pembudidaya sehingga perlu adanya pembinaan melalui kegiatan penyuluhan secara kontinyu. Dengan kegiatan tersebut diharapkan pembudidaya dapat memperoleh informasi dan keterampilan untuk mengembangkan teknologi budidaya yang benar. Selain itu juga, pembinaan melalui aksi penyuluhan ditujukan kepada kelompok agar anggotanya dapat berpartisipasi aktif dalam mengembangkan kelompok perikanan yang ada di Kecamatan Kayen. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.4.5.2. Perencanaan Aksi Penyuluhan&lt;br /&gt;
Pengelolaan aksi penyuluhan dilakukan berdasarkan analisa kebutuhan pelaku utama. Kegiatan penyuluhan yang dilakukan untuk mendukung Penerapan Inovasi Teknologi melalui usaha pembinaaan serta pemberdayaan kelompok dalam kegiatan budidaya ikan bandeng air tawar di Kecamatan Kayen adalah : 1) Penanganan hama penyakit, 2) Temu lapang, 3) Temu usaha, 4) Kegiatan ajangsana, 5) Pertemuan rutin kelompok&lt;br /&gt;
Kegiatan penyuluhan ini dibahas mengenai budidaya ikan bandeng yang dilakukan, bertukar pengalaman antara pembudidaya yang satu dengan pembudidaya yang lain. Sasaran yang dituju yaitu kelompok pembudidaya ikan bandeng air tawar Mina Sejahtera yang ada di Kecamatan Kayen. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuan dari kegiatan penyuluhan ini yaitu : 1) Memberikan informasi secara langsung, 2) Menemukan masalah-masalah yang dihadapi oleh sasaran, 3) Bertukar fikiran, 4) Memberikan  keterampilan dan teknologi baru, 5) adanya perubahan PSK Pelaku utama.&lt;br /&gt;
Perencanaan Pengembangan Usaha secara Partisipatif&lt;br /&gt;
Dari berbagai alternatif pembinaan usaha budidaya ikan bandeng tersebut disosialisasikan kepada RTP untuk dimodifikasi, dipilih dan ditentukan mengenai program penyuluhan yang disepakati sebagai program penyuluhan partisipatif. Tujuan dan sasaran dari program tersebut ditentukan sesuai dengan kebutuhan RTP. Selanjutnya rencana operasional ditentukan bersama sesuai dengan peluang kesempatan pembudidaya, ketersediaan sumberdaya penyuluhan (tenaga penyuluh, materi dan pembiayaan penyuluhan), dan dukungan instansi terkait.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun kegiatan pelaksanaan program pembinaan usaha budidaya ikan bandeng air tawar di Kecamatan Kayen terdiri dari :&lt;br /&gt;
Mengefektifkan Kelompok &lt;br /&gt;
Kegiatan yang dilakukan dalam mengefektifkan kelompok yaitu dengan metode pertemuan kelompok dengan materi yang diberikan sesuai dengan kesepakatan bersama antara anggota kelompok dan pihak yang berkepentingan. Pada kenyataannya kelompok perikanan Mina Sejahtera di Kecamatan Kayen sangat jarang melakukan pertemuan untuk berkoordinasi dan bekerjasama sehingga dengan pertemuan kelompok ini dapat saling bertukar informasi antara anggotanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembinaan Kelompok&lt;br /&gt;
Jenis Pembinaan yang dilakukan kepada kelompok pembudidaya Mina Sejahtera di Kecamatan Kayen yaitu pertukaran informasi (sharing) teknologi budidaya ikan bandeng air tawar dengan anggota kelompok untuk meningkatkan produksi. Adapun metode yang dilakukan dalam kegiatan pembinaan yaitu :&lt;br /&gt;
Partisipasi dalam pengembangan usaha budidaya ikan bandeng air tawar dilakukan berdasarkan analisa potensi lahan dan kinerja kelompok Mina Sejahtera serta peluang pasar yang tersedia. Pendekatan yang dilakukan adalah temu lapang, kunjungan rumah/ anjangsana dan diskusi.&lt;br /&gt;
Dempond/ Percontohan yang dilakukan jika sarana dan prasarana tersedia di lapangan. Faktor yang paling menentukan dalam membuat percontohan/ dempond adalah: pemilihan lokasi, materi, pelaku dan waktu pelaksanaan.&lt;br /&gt;
Kunjungan kelompok dengan tujuan sharing informasi atau bimbingan dalam penerapan teknologi baru serta menjalin keakraban dan menumbuhkan kepercayaan pembudidaya. Sasaran dari kunjungan kelompok adalah semua yang tergabung dalam anggota kelompok Mina Sejahtera di Kecamatan Kayen waktu pelaksanaanya disesuaikan dengan kondisi lapangan, atau juga mengikuti jadwal pertemuan kelompok yang telah ditentukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengembangkan Kelompok&lt;br /&gt;
Administrasi kelompok Mina Sejahtera di Kecamatan Kayen kurang berjalan dengan baik sehingga dilakukan bimbingan dan pendampingan dalam pembuatan administrasi kelompok yang baik. Dengan adanya bimbingan tersebut dapat meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan kelompok dalam hal pengorganisasian kelompok serta dapat meningkatkan kelas kelompok.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aksi Penyuluhan&lt;br /&gt;
Adapun pelaksanaan dari program penyuluhan yang telah direncanakan sebelumnya adalah sebagai berikut: &lt;br /&gt;
Pertemuan kelompok&lt;br /&gt;
Pertemuan kelompok adalah pertemuan yang jumlah pesertanya tidak lebih dari 20 orang dan biasanya diadakan untuk bertukar pikiran atau pendapat mengenai suatu kegiatan yang akan diselenggarakan serta mencari alternatif pemecahan masalah. Aksi penyuluhan yang dilakukan dari pelaksanaan program yang telah direncanakan yakni mengajak kelompok perikanan Mina Sejahtera yang ada di Kecamatan Kayen untuk duduk bersama membicarakan dan memecahkan berbagai permasalahan yang timbul dalam kelompok yang berkaitan dengan usaha budidaya ikan bandeng air tawar baik dalam penerapan teknologi, penyaluran produk, pemasaran hasil, pengorganisasian kelompok dan akses permodalan. Pertemuan kelompok dilakukan sesuai dengan waktu dan tepat yang telah disepakati bersama, biasanya dilaksanakan di rumah ketua kelompok. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kunjungan rumah/ tempat usaha&lt;br /&gt;
Kunjungan rumah atau tempat usaha merupakan suatu bentuk kunjungan terencana yang dilakukan oleh penulis ke rumah atau tempat usaha pembudidaya dengan tujuan melakukan pembinaan dan bimbingan terhadap usaha yang dilakukan oleh pembudidaya ikan bandeng air tawar di Kecamatan Kayen. Selain menumbuhkan keakraban dan kepercayaan, juga memberikan bimbingan khusus serta pertukaran informasi baru kepada anggota kelompok Mina Sejahtera di Kecamatan Kayen yang dilakukan dengan diskusi santai. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demonstrasi&lt;br /&gt;
Demonstrasi adalah peragaan suatu teknologi (bahan,alat atau cara) atau hasil penerapannya secara nyata yang dilakukan oleh demonstrator kepada sasarannya. Aksi penyuluhan yang dilakukan dari pelaksanaan program yang telah direncanakan yakni melaksanakan demonstrasi cara pada kelompok pengolahan ikan Mina Rezeki Kecamatan Kayen. Materi yang diberikan yakni proses pengolahan ikan bandeng asap dan pembuatan empek-empek panggang, sedangkan pelaksanaanya disesuaikan dengan waktu yang telah disepakati bersama. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Temu usaha/ temu lapang&lt;br /&gt;
Temu usaha/ temu lapang yang rencananya akan dilaksanakan dengan melibatkan berbagai stakeholder perikanan, antara lain Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati, Penyuluh Perikanan, Kelompok Mina Sejahtera Kecamatan Kayen, tokoh masyarakat, pihak penyedia saprokan, pihak pemasok/ penampung hasil produksi, investor dan lembaga keuangan penyedia modal (bank dan lembaga pengkerditan lainnya). Dalam pelaksanaannya, ternyata mengalami kendala khususnya dalam segi finansial dan dukungan unsur pemerintah daerah dalam hal penyaluran anggaran perikanan ke Dinas Kelautan dan Perikanan Pati, serta beberapa kendala teknis lainnya yang dihadapi di lapangan sehingga kegiatan temu usaha/ temu lapang  yang dimaksudkan tidak telaksana. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Evaluasi Penyuluhan&lt;br /&gt;
Evaluasi hasil kegiatan penyuluhan dari program penyuluhan yang telah disepakati akan dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui efektivitas metoda pelaksanaan penyuluhan dalam meningkatkan pengetahuan RTP pembudidaya dan evaluasi terhadap keberhasilan penerapan teknologi pembudidaya ikan bandeng yang dianjurkan.  Sedangkan sasaran evaluasi yaitu RTP pembudidaya ikan bandeng terpilih yang telah mengikuti dan melaksanakan program penyuluhan perikanan. Evaluasi dilakukan dua kali, yaitu sebelum (pre evaluation) dan sesudah pelaksanaan penyuluhan (post evaluation). Pre evaluation dilakukan bersamaan dengan tahap pengumpulan data terhadap responden terpilih, sedangkan post evaluation dilakukan pada minggu terakhir kegiatan praktek akhir bersamaan dengan kompeling data.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lunly713.blogspot.com/feeds/2761642000148380366/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/1769903451515941949/2761642000148380366' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default/2761642000148380366'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default/2761642000148380366'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lunly713.blogspot.com/2010/07/p-embinaan-usaha-budidaya-ikan-bandeng.html' title=''/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03307642535889500865</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1769903451515941949.post-3739930574377676541</id><published>2010-07-23T00:08:00.000-07:00</published><updated>2010-07-23T00:14:48.738-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="aspek ekonomi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="aspek pemasaran"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="media penyuluhan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="metoda penyuluhan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Penyelenggaraan penyuluhan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="perencanaan penyuluhan"/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;b&gt;PEMBINAAN USAHA BUDIDAYA IKAN BANDENG AIR TAWAR (Chanos chanos Forsk)&lt;br /&gt;
MELALUI PEMBERDAYAAN KELOMPOK DI KECAMATAN KAYEN KABUPATEN PATI&lt;br /&gt;
 PROVINSI  JAWA TENGAH &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh : Abdul KArim Anwar&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;II.   DASAR PERENCANAAN&lt;br /&gt;
&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2.1  Sasaran&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Secara umum sasaran dari pembinaan usaha budidaya ikan bandeng  air tawar antara lain  :&lt;br /&gt;
a. Pelaku utama yaitu kelompok pembudidaya ikan bandeng air tawar di Kecamatan Kayen Kabupaten Pati. &lt;br /&gt;
b. Pelaku usaha yaitu RTP penghasil benih, padagang saprodi, pedagang peralatan dan pemasar hasil.&lt;br /&gt;
c. Stakeholder yaitu pihak yang berkepentingan dengan pengembangan usaha budidaya ikan bandeng air tawar antara lain pemerintah daerah, lembaga penyuluhan, dan lembaga perekonomian.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2.2 Pendekatan Perencanaan &lt;br /&gt;
2.2.1   Sistem Produksi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Menurut Praptokardiyo, (2008), Sistem produksi adalah keterkaitan unsur-unsur kohensif secara dinamik terlibat dalam proses-proses produksi kegiatan pengembangan budidaya guna peningkatan produksi yaitu perlu adanya perbaikan teknologi yang lebih tepat guna baik intensif maupun ekstensif, perbaikan teknologi berupa pemanfaatan sarana dan prasarana, padat tebar dan yang lainnya yang akan meningkatkan total produksi yang dijalankan.&lt;br /&gt;
Sistem produksi merupakan keterkaitan sarana produksi dalam proses pembentukan biomassa (sintasan dan pertumbuhan) dari biota ikan yang dibudidaya untuk mencapai target produksi yang diharapakan. Dari usaha budidaya ikan bandeng perlu diterapkan sistem produksi sesuai dengan kemampuan adaptasi ikan bandeng terhadap kualitas media budidaya (tambak), kebiasaan makan dan prilaku pertumbuhan ikan bandeng,dan kemampuan merespon pakan buatan yang diberikan.&lt;br /&gt;
Menurut Praptokardiyo, (2008), Sistem produksi bagi penyelenggaraan usaha budidaya ikan bandeng dapat dilakukan dalam 3 alternatif yaitu :&lt;br /&gt;
1) Sistem produksi sederhana yakni mengutamakan penyediaan pakan alami (klekap) sebagai sumber materi energi utama bagi pertumbuhan ikan bandeng. Untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pakan alami tersebut diperlukan komponen penentu berupa peningkatan produktifitas lahan yaitu berupa saprodi, pupuk organik (kotoran sapi dan ayam), pupuk an-organik (TSP dan Urea) pada salinitas media budidaya yang optimal. Salinitas yang optimal bagi pertumbuhan klekap yaitu 18 – 20,5 ppt. Untuk mempertahankan kelayakan kualitas habitat tanah dasar dan air digunakan komponen penunjang berupa pemberian kapur (CaCOH) dan saponin untuk pemberantasan ikan liar.&lt;br /&gt;
2) Sistem produksi maju (plus pakan buatan) yaitu selain penggunaan komponen penunjang bagi peningkatan pakan alami, juga digunakan  pakan buatan menjelang 2 bulan sebelum masa panen. Pemberian pakan buatan berkisar antara 3 – 5% dari perkiraan bobot biomasa dengan frekuensi pemberian sebanyak 3 kali dalam sehari.&lt;br /&gt;
3) Sistem produksi gabungan antara sistem produksi sederhana dan sistem produksi maju menggunakan pakan buatan. Pada tahap awal sistem produksi menggunakan sistem produksi sederhana yaitu sebelum nener ditebar dalam petak tambak dilakukan pemupukan dengan pupuk organik (kotoran sapi dan ayam) dan pupuk an-organik (TSP dan Urea) untuk menumbuhkan pakan alami (klekap). Penebaran nener dilakukan tepat menjelang perkembangan pakan alami melimpah maksimal sehingga nener tidak menghadapi kekurangan pakan. Setelah 20 hari nener mencapai gelondongan dapat mulai diberikan pakan buatan sampai mencapai ikan konsumsi dan siap panen. Untuk mempertahankan kelayakan habitat tanah dasar dan kualitas air digunakan komponen penunjang berupa kapur dan saponin sesuai dengan keberadaan organik dan pH tanah dasar dan air.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2.2.2   Sistem Bisnis&lt;br /&gt;
2.2.2.1  Ketersediaan Pasar &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Pemasaran menurut Mas’ud Machfoedz (2006), adalah proses perencanaan dan penerapan konsepsi, penetapan harga, dan distribusi barang, jasa dan ide untuk mewujudkan pertukaran yang memenuhi tujuan individu atau organisasi. Pemasaran merupakan suatu sistem keseluruhan dari kegiatan yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, maupun menghasilkan dan mendistribusikan (memasarkan) barang. Ketersediaan pasar sangat menentukan dalam kelancaran produksi ikan, sehingga usaha budidaya ikan bandeng air tawar ini harus didukung oleh ketersediaan pasar. Pasar saat ini berkembang jauh lebih luas dan lebih penting sebagai faktor penentu bagi produksi dan distribusi. Apabila kemampuan pasar untuk menyerap produksi sangat tinggi maka tidak menjadi masalah, tetapi bila kemampuan pasar untuk menyerap produksi perikanan lebih rendah maka akan merugikan pembudidaya ikan bandeng. Pengetahuan tentang pemasaran sangat dibutuhkan untuk memperoleh hasil yang optimal. Peningkatan produksi dengan tidak disertai perbaikan pemasaran tidak banyak memberi manfaat, baik bagi pembudidaya ikan maupun bagi konsumen. &lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2.2.2.2  Modal &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Dalam pengertian ekonomi, modal adalah barang atau uang yang bersama dengan faktor produksi lain akan menghasilkan barang baru. Sumber modal dibedakan menjadi lima, yaitu milik sendiri, pinjaman, warisan, usaha lain, dan kontrak sewa. Modal dalam usaha budidaya ikan bandeng air tawar ini adalah dana atau barang yang diinvestasikan untuk digunakan dalam produksi ikan bandeng. Besarnya modal untuk budidaya ikan bandeng tergantung dari luas areal  yang diusahakan. Modal untuk budidaya ikan bandeng antara lain digunakan untuk pembelian benih, pupuk, obat-obatan, pakan, bahan bakar, biaya panenan, dan biaya lain-lain yang mendukung usaha budidaya (Mas’ud Machfoedz, 2006 ).&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2.2.2.3  Hasil produksi&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
Hasil produksi atau produktivitas lahan adalah kemampuan suatu lahan untuk menghasilkan sesuatu atau daya produksi. Hasil produksi merupakan salah satu tolok ukur keberhasilan suatu usaha. Hasil produksi yang tinggi tentunya akan medorong pembuididaya untuk tetap membudidayakan ikan bandeng. Sebaliknya, hasil produksi yang rendah akan mempengaruhi untuk beralih pada budidaya selain ikan bandeng air tawar. &lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2.2.2.4  Penghasilan &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Menurut Mas’ud Machfoedz (2006), penghasilan ialah jumlah uang penjualan ditambah pendapatan lain yang diterima dari berbagai sumber berupa  gaji, upah, pendapatan dari usaha rumah tangga, pendapatan lain maupun pendapatan transfer atau sisa antara penerimaan atau kiriman. Dalam usaha budidaya ikan bandeng ini, yang dimaksud dengan penghasilan adalah pendapatan yang diperoleh kelompok pembudidaya ikan dari hasil produksi budidaya ikan bandeng air tawar di Kecamatan Kayen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2.2.3   Sistem Penyuluhan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Menurut Undang-undang No.16 Tahun 2006, tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan disebutkan bahwa sistem penyuluhan adalah seluruh rangkaian pengembangan kemampuan, pengetahuan, keterampilan, serta sikap pelaku utama dan pelaku melalui penyuluhan.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2.2.3.1  Pemberdayaan Kelompok &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Kelompok tani dan/atau pembudidaya adalah kumpulan petani dan/atau pembudidaya yang terbentuk berdasarkan keakraban dan keserasian serta kesamaan kepentingan dalam memanfaatkan sumberdaya pertanian dan/atau perikanan untuk meningkatkan kesejahteraan anggota kelompok pembudidaya merupakan media komunikasi yang berfungsi sebagai wahana pembelajaran, sebagai unit produksi usaha budidaya, dan sebagai wahana kerjasama (Suriatna, 2006).&lt;br /&gt;
Pemberdayaan kelompok adalah upaya mefasilitasi kelompok usaha agar mampu menggunakan potensi dan kreatifitasnya sendiri untuk melakukan usaha pengelolaan sumberdaya alam guna mencapai kesejahteraan para anggotanya. Berdasarkan pengertian tersebut dapat dianalogkan bahwa pemberdayaan kelompok pembudidaya ikan adalah upaya memfasilitasi kelompok budidaya ikan agar mampu menggunakan potensi dan kreatifitasnya sendiri untuk melakukan usaha pengelolaan sumberdaya ikan dan lingkungannya guna mencapai kesejahteraan anggotanya (Anonim, 2005).&lt;br /&gt;
1) Proses Pemberdayaan Kelompok &lt;br /&gt;
Proses pemberdayaan mengandung dua kecenderungan yaitu:                1) Kecenderungan primer, yaitu pemberdayaan yang menekankan kepada proses memberikan atau mengalihkan sebagai kekuasaan, kekuatan dan kemampuan kepada masyarakat agar individu lebih berdaya. 2) Kecenderungan sekunder, yaitu pemberdayaan yang menekankan kepada proses stimulus, atau memotivasi individu agar mempunyai kemampuan atau keberdayaan untuk menentukan apa yang menjadi pilihan hidupnya (Anonim, 2005).&lt;br /&gt;
2) Indikator Keberhasilan Pemberdayaan Kelompok &lt;br /&gt;
Pemberdayaan kelompok yang dilaksanakan dalam berbagai kegiatan penyuluhan tentunya memiliki indikator atau tolak ukur untuk menilai apakah kegiatan yang dilakukan menunjukan keberhasilan atau kegagalan. Dengan mengetahui keberhasilan maupun kegagalan yang terjadi dapat dijadikan bahan evaluasi dalam pembinaan selanjutnya.&lt;br /&gt;
Adapun beberapa aspek yang dapat menjadi indikator keberhasilan dari sebuah pemberdayaan yaitu :&lt;br /&gt;
a) Aspek Kelembagaan Kelompok&lt;br /&gt;
Tumbuhnya kesadaran kelompok, program pemberdayaan yang dilakukan harus dapat menumbuhkan kesadaran dan kepedulian pembudidaya terhadap kelestarian lingkungan budidaya. Kesadaran harus merupakan yang tumbuh dalam diri masing-masing anggota kelompok, yang ditujukan dengan perilaku dan tata cara masing-masing anggota dalam budidaya dan memeilhara lingkungannya (Anonim, 2005). &lt;br /&gt;
b) Aspek Kegiatan Budidaya dan Lingkungan&lt;br /&gt;
Meningkatkan kualitas hidup pembudidaya yang dapat dilihat dan diukur dari meningkatnya produksi, meningkatnya pendapatan anggota kelompok, distribusi pendapatan diantara anggota kelompok relatif merata, serta meningkatnya tingkat pendidikan anggota/ keluarga kelompok (Anonim, 2005).  &lt;br /&gt;
3) Pengembangan Usaha melalui  Pemberdayaan Kelompok &lt;br /&gt;
Dalam rangka mempertahankan keberadaan kelompok serta meningkatkan kinerja kelompok dalam pengelolaan budidaya perlu dialakukan pembinaan secara berkala. Pembinaan juga dimaksudkan dalam rangka evaluasi terhadap kegiatan atau program pemberdayaan kelompok (Anonim, 2005).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa aspek yang perlu dilakukan dalam pengembangan usaha melalui pemberdayaan kelompok antara lain yaitu :  &lt;br /&gt;
a) Aspek Sosial&lt;br /&gt;
Unsur-unsur aspek sosial yang perlu mendapat pembinaan dan evaluasi adalah Rencana Kerja Kelompok seperti mencakup rencana kegiatan, jadual kegiatan, permasalahan dan upaya mengatasinya, serta target yang ingin dicapai. Selain itu juga mengenai administrasi keanggotaan kelompok dan Anggran Dasar (AD) Anggaran Rumah Tangga (ART) Kelompok.&lt;br /&gt;
b) Aspek Ekonomi&lt;br /&gt;
Unsur-unsur yang termasuk aspek ekonomi yang perlu diperhatikan dalam pembinaan dan evaluasi kerja kelompok adalah alokasi hasil usaha budidaya, kas kelompok serta adanya diversifikasi usaha.&lt;br /&gt;
c) Aspek Teknis&lt;br /&gt;
Pembinaan teknis melaui pendekatan kelompok merupakan aspek yang sangat penting karena secara prinsip hal ini merupakan salah satu kunci keberhasilan pengelolaan budidaya. Beberapa unsur yaitu pengembangan budidaya ramah lingkungan, pengelolaan lingkungan budidaya serta pemantauan dan evaluasi lingkungan budidaya.&lt;br /&gt;
4) Efektifitas Kelompok &lt;br /&gt;
Sebuah kelompok mempunyai tujuan yang ingin dicapai sehingga harus ada kerjasama antara anggota kelompok masing-masing, sehingga dari kerjasama tersebut akan dapat terlihat apakah sebuah kelompok tersebut dikatakan efektif atau tidak. Kelompok yang efektif mempunyai dua kategori prilaku yaitu prilaku berorientasi pada tugas yang dapat dicirikan pada upaya mengingatkan dan mengajak bekerja dan perilaku yang bersifat memelihara hubungan antara anggota kelompok yang dapat dicirikan dengan adanya upaya untuk mengingatkan dan mengajak untuk mempertahankan keutuhan kelompok. Sebuah kelompok yang tidak efektif dapat disaksikan adanya prilaku anggotanya yang berorientasi pada dirinya sendiri (Hubies,1996).&lt;br /&gt;
5) Tingkatan Kelompok &lt;br /&gt;
Kelompok pembudidaya perlu meningkatkan kemampuan kelompoknya sehingga dapat lebih berperan dalam peningkatan produktivitas dan pendapatan usaha kelompok serta kesejahteraan anggota. Setiap kelompok mempunyai perbedaan dalam kemampuannya. Berdasarkan nilai tingkat kemampuan kelompok masing-masing kelompok terbagi dalam beberapa kelas yaitu Kelas Pemula (0-250), Kelas Lanjut (250-500), Kelas Madya (500-700) dan Kelas Utama (diatas 700).&lt;br /&gt;
Penentuan kelas kelompok pembudidaya menggunakan lima jurus kemampuan kelompok dan selanjutnya dinilai dengan menggunakan indikator-indikator tertentu. Kelas kemampuan kelompok ditetapkan berdasarkan nilai yang dicapai oleh masing-masing kelompok untuk lima tolak ukur tersebut dengan jumlah maksimal 1000. &lt;br /&gt;
Adapun Kelima jurus kemampuan kelompok yaitu sebagai berikut :&lt;br /&gt;
a) Kemampuan merencanakan kegiatan untuk menentukan produktivitas&lt;br /&gt;
b) Kemampuan melaksanakan dan menaati perjanjian dengan pihak lain&lt;br /&gt;
c) Kemampuan pemupukan modal dan pemanfaatan secara rasional&lt;br /&gt;
d) Kemampuan meningkatkan hubungan yang melembaga antara kelompok pembudidaya dengan koperasi&lt;br /&gt;
e) Kemampuan menerapkan teknologi, memanfaatakn informasi serta kerjasama kelompok   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2.2.3.2 Kelembagaan Penyuluhan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Menurut UU No.16 Tahun 2006 Pasal 8 Ayat 1, Kelembagaan Penyuluhan adalah lembaga pemerintah dan/atau masyarakat yang mempunyai tugas dan fungsi menyelenggrakan penyuluhan dapat berbentuk kelembagaan penyuluhan pemerintah, kelembagaan penyuluhan swasta dan kelembagaan penyuluhan swadaya.&lt;br /&gt;
1) Kelembagaan Penyuluhan Pemerintah&lt;br /&gt;
Kelembagaan penyuluhan yang ada terdiri dari :&lt;br /&gt;
a) Di tingkat Pusat berbentuk Badan yang menangani penyuluhan&lt;br /&gt;
b) Di tingkat Provinsi berbentuk Badan Koordinasi Penyuluhan&lt;br /&gt;
c) Di tingkat Kabupaten/ Kota berbentuk Badan Pelaksana Penyuluhan&lt;br /&gt;
d) Di Tingkat Kecamatan berbentuk Balai Penyuluhan  &lt;br /&gt;
2) Kelembagaan Penyuluhan Swasta&lt;br /&gt;
Penyuluh swasta adalah penyuluh yang berasal dari dunia usaha dan/atau lembaga yang mempunyai kompetensi dalam bidang penyuluhan dan dapat dibentuk oleh pelaku usaha dengan memperhatikan kepentingan pelaku utama serta pembangunan pertanian, perikanan, dan kehutanan setempat.&lt;br /&gt;
3) Kelembagaan Penyuluhan Swadaya&lt;br /&gt;
Penyuluh swadaya adalah pelaku utama yang berhasil dalam usahanya dan warga masyarakat lainnya yang dengan kesadarannya sendiri mau dan mampu menjadi penyuluh. &lt;br /&gt;
2.2.3.3  Ketenagaan Penyuluhan&lt;br /&gt;
Menurut UU No.16 Tahun 2006 Pasal 20, penyuluhan dilakukan oleh penyuluh PNS, penyuluh swasta, dan/atau penyuluh swadaya. Pengangkatan dan penempatan penyuluh PNS disesuaikan dengan kebutuhan dan formasi yang tersedia berdasarkan peraturan perundang-undangan. Keberadaan penyuluh swasta dan penyuluh swadaya bersifat mandiri untuk memenuhi kebutuhan pelaku utama dan pelaku usaha.&lt;br /&gt;
Menurut UU No. 16 Tahun 2006, pelaku penyuluhan perikanan meliputi :&lt;br /&gt;
a) Penyuluh fungsional adalah PNS yang diangkat oleh pejabat yang berwewenang dalam jabatan fungsional penyuluh.&lt;br /&gt;
b) Penyuluh non fungsional adalah PNS bukan pejabat fungsional penyuluh yang ditetapkan oleh pejabat yang berwewenang untuk melaksanakan tugas penyuluhan perikanan.&lt;br /&gt;
c) Penyuluh swasta adalah seseorang yang diberi tugas oleh perusahan terkait dengan usaha perikanan, baik secara langsung maupun tidak langsung melaksanakan tugas penyuluhan.&lt;br /&gt;
d) Penyuluh mandiri adalah seseorang atas kemauannya sendiri melaksanakan penyuluhan perikanan.&lt;br /&gt;
e) Penyuluh swadaya adalah para nelayan atau pembudidaya yang sudah realtif lebih maju dapat didorong dan difasilitasi oleh pemerintah untuk menjadi penyuluh mandiri.&lt;br /&gt;
f) Penyuluh kehormatan adalah seorang bukan petugas penyuluh perikanan yang karena jasanya diberi penghargaan sebagai Penyuluh Kehormatan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan berdasarkan rekomendasi Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan dan wakil masyarakat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2.2.3.4 Penyelenggaraan Penyuluhan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Menurut UU No.16 Tahun 2006 BAB VI, untuk pencapaian tujuan penyelenggaraan penyuluhan dibuatkan program penyuluhan dimaksudkan memberikan arah, pedoman juga sebagai alat pengendali dalam kelembagaan peyuluhan. Programa penyuluhan dapat dibuat oleh petugas lapangan di tingkat desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi dan pusat. Penyuluh menyusun dan melaksanakan rencana kerja berdasarkan programa penyuluhan.&lt;br /&gt;
Tahapan penyelenggaraan penyuluhan adalah sebagai berikut : &lt;br /&gt;
a) Perencanaan Penyelenggaraan Penyuluhan&lt;br /&gt;
Perencanaan atau persiapan penyuluhan perikanan dirumuskan dengan memperhatikan dinamika dan prinsip yang mengarah pada demokrasi, partisipasi, transparansi, otonomi daerah dan kepemerintahan yang baik. Untuk itu penyusunanya mengacu pada sasaran yang jelas meliputi sasaran yang terukur, lokasi, waktu, kelompok sasaran dan manfaat kelompok sasaran. Selain itu kegiatan penyuluhan perikanan disususn dengan memperhatikan kondisi sumberdaya alam, manusia, kapital, teknologi, keadaan internal dan eksternal, peraturan perundang-undangan, keterlibatan peran dan kewenangan. &lt;br /&gt;
b) Programa Penyuluhan &lt;br /&gt;
Menurut UU No. 16 Tahun 2006 pasal 23, programa penyuluhan dimaksudkan untuk memberi arah, pedoman dan alat pengendali pencapaian tujuan penyelenggaraan penyuluhan. Programa penyuluhan terdiri atas programa penyuluhan desa/kelurahan atau unit kerja lapangan, programa penyuluhan kecamatan, programa penyuluhan kabupaten/kota, programa penyuluhan provinsi dan programa penyuluhan nasional.   &lt;br /&gt;
c) Metode Penyuluhan&lt;br /&gt;
Menurut Pusat Manajemen Badan Pengembangan SDM Pertanian, (2003), metoda penyuluhan merupakan cara menyampaiakna materi penyuluhan melalui media komunikasi oleh penyuluh kepada petani nelayan serta keluarganya agar bisa dan membiasakan diri menggunakan teknologi yang lebih menguntungkan.&lt;br /&gt;
d) Media Penyuluhan&lt;br /&gt;
Menurut Pusat Manajemen Badan Pengembangan SDM Pertanian, (2003), media penyuluhan merupakan alat atau benda yang digunakan dalam menyampaikan informasi sasaran sehingga proses komunikasi dan interaksi antara sumber informasi (penyuluh) dan penerima informasi (petani/nelayan) sebagai sasaran dapat berjalan lebih efektif.&lt;br /&gt;
Media penyuluhan dapat dibedakan menjadi media yang bersifat audio (didengar), media yang bersifat visual (dilihat) dan audio-visual. Media audio erat kaitannya dengan indera pendengaran, pesan yang disajikan dalam bentuk lambang-lambang auditif baik verbal maupun non verbal. Sedangkan media visual adalah berupa media yang menyampaikan informasi melalui rupa yang dapat dilihat oleh indera penglihatan yaitu mata. Adapun media audio visual merupakan gabungan yaitu informasi dapat diterima oleh indera penglihatan dan pendengaran  (Badan Pengembangan SDM Pertanian, 2003).&lt;br /&gt;
e) Materi Penyuluhan&lt;br /&gt;
Menurut UU. No. 16 Tahun 2006 Pasal 27 ayat 1, materi penyuluhan dapat dirancang berdasarkan :1) Kebutuhan dan kepentingan pelaku utama dan pelaku usaha dengan memperhatikan kemanfaatan dan kelestarian sumberdaya perikanan; 2) Materi penyuluhan perikanan berisi unsur pengembangan sumber daya manusia dan peningkatan modal sosial serta unsur ilmu pengetahuan, teknologi, informasi, ekonomi, manajemen, hukum dan pelestarian lingkungan. &lt;br /&gt;
2.2.3.5  Pembiayaan Penyuluhan&lt;br /&gt;
Menurut UU No.16 Tahun 2006 Pasal 32, penyelenggraan penyuluhan yang efektif dan efisien diperlukan tersedianya pembiayaan yang memadai untuk memenuhi biaya penyuluhan. Sumber pembiayaan untuk penyuluhan disediakan melalui APBN, APBD baik provinsi maupun kabupaten/kota, baik secara sektoral maupun lintas sektoral, maupun sumber-sumber lain yang sah dan tidak mengikat. Pembiayaan penyuluhan yang berkaitan dengan tunjangan jabatan fungsional dan profesi, biaya operasional penyuluh PNS, serta sarana dan prasarana bersumber dari APBN, sedangkan pembiayaan penyelenggaraan penyuluhan di provinsi, kabupaten/kota, kecamatan dan desa/kelurahan bersumber dari APBD yang jumlah dan alokasinya disesuiakan dengan programa penyuluhan yang telah ada/ dibuat.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;2.2.3.6  Evaluasi Penyuluhan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
1) Evaluasi Awal&lt;br /&gt;
Evaluasi awal sering digunakan untuk kegiatan pelatihan yang bertujuan untuk mengetahui kesenjangan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki peserta sebelum pelatihan dilaksanakan.&lt;br /&gt;
2) Evaluasi Proses&lt;br /&gt;
Evaluasi ini berlangsung pada saat kegiatan sedang dilaksanakan. Data atau informasi yang diperoleh dikumpulkan dari kegiatan monitoring. Fokus utama evaluasi ini menyangkut proses pelaksanaan kegiatan yang berkaitan dengan efisiensi dan efektifitas pelaksanaannya.&lt;br /&gt;
3) Evaluasi Akhir&lt;br /&gt;
Evaluasi ini digunakan untuk megetahui pencapaian keseluruhan hasil kegiatan yang direncanakan dalam hubungannya dengan efisiensi, efektifitas dan kemungkinan-kemungkinan lainnya dari hasil akhir.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lunly713.blogspot.com/feeds/3739930574377676541/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/1769903451515941949/3739930574377676541' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default/3739930574377676541'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default/3739930574377676541'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lunly713.blogspot.com/2010/07/ii.html' title=''/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03307642535889500865</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1769903451515941949.post-5760436303572474729</id><published>2010-07-22T23:57:00.000-07:00</published><updated>2010-07-22T23:59:43.710-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ikan bandeng air tawar"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pemberdayaan kelompok"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pembinaan usaha budidaya ikan bandeng air tawar"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="penyuluhan perikanan"/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;b&gt;PEMBINAAN USAHA BUDIDAYA IKAN BANDENG AIR TAWAR &lt;i&gt;(Chanos chanos Forsk)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
MELALUI PEMBERDAYAAN KELOMPOK DI KECAMATAN KAYEN KABUPATEN PATI&lt;br /&gt;
PROVINSI  JAWA TENGAH &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh : Abdul Karim Anwar&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Taruna Jurusan Penyuluhan Perikanan Sekolah Tinggi Perikanan dibawah bimbingan H. Iskandar Musa, A.Pi. MM. selaku Pembimbing I, dan Ade Sunaryo, S.ST., M. Sc., selaku Pembimbing II.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I. PENDAHULUAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
1.1. Latar Belakang &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Berdasarkan Kebijakan Kementrian Perikanan dan Kelautan yaitu mencanangkan pengembangan peningkatan produksi perikanan budidaya untuk empat komoditas yang salah satunya adalah ikan bandeng sehingga perlu adanya pengembangan dalam kegiatan budidaya untuk meningkatkan produksi. Ikan bandeng merupakan salah satu jenis ikan yang paling populer di Indonesia karena orang dengan akrab mengkonsumsinya baik berupa ikan segar maupun sudah diolah duri lunak maupun pindang.&lt;br /&gt;
Bila dahulu ikan bandeng hanya dapat dipelihara di tambak yang berair asin, kini sejalan dengan perkembangan teknologi maka ikan bandeng sudah bisa dipelihara di kolam air tawar. Negara Taiwan adalah salah satu negara yang sudah mengembangkan bandeng di kolam air tawar karena jumlah kolam air tawarnya melimpah dan juga negara ini sebagai pelopor budidaya ikan bandeng air tawar sehingga banyak yang belajar dari Taiwan cara membudidayakan bandeng secara menguntungkan. Teknologi bandeng air tawar inipun berkembang juga di Indonesia, bahkan sejak tahun 1998 usaha budidaya ikan bandeng air tawar berhasil dikembangkan di Kabupaten Pati yakni terdapat di wilayah administrasi Desa Talun Kecamatan Kayen yang mempunyai lahan tambak seluas 162 Ha (Laporan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati, 2009).&lt;br /&gt;
Dalam hal teknologi yang digunakan, sampai saat ini sebagian besar tambak bandeng air tawar yang ada di Kecamatan Kayen masih menggunakan teknologi sederhana. Di Kecamatan Kayen 93% pengelolaan tambak bandeng air tawar masih menggunakan pola tradisional dan semi intensif, sisanya 7% menggunakan pola intensif. Dengan sistem tradisional produktivitas tambak bandeng hanya 1.000-3.500 kg per ha setiap musim tebar. Dengan sistem semi intensif dan intensif produktivitas tambak bandeng dapat ditingkatkan hingga mencapai  dua kali lipat atau lebih. Oleh karena itu, pembudidaya sebagai salah satu pelaku terdepan dalam pembangunan perikanan sudah selayaknya diberdayakan dengan dukugan dan bimbingan oleh beberapa pihak guna melaksanakan pembangunan dan usaha perikanan yang berdaya saing, berkerakyatan, berkelanjutan dan terdesentralisasi (Nitimulyo, 2009)&lt;br /&gt;
Kelompok pembudidaya yang ada di Kecamatan Kayen terdiri dari satu kelompok besar dengan jumlah anggota sekitar 230 orang yang tergabung dalam  “Pokdakan Mina Sejahtera”, sedangkan kelompok yang khusus melakukan kegiatan budidaya ikan bandeng air tawar sejumlah 24 orang. Kegiatan kelompok tersebut belum berjalan secara optimal, hal ini dapat dilihat dari kurangnya koordinasi antara anggota kelompok dan belum berjalannya administrasi kelompok dengan baik. Oleh karena itu perlu dilakukan kegiatan penyuluhan secara terus menerus berupa kegiatan pengembangan usaha budidaya ikan bandeng air tawar melalui pemberdayaan kelompok di Kecamatan Kayen.&lt;br /&gt;
Kegiatan penyuluhan itu sendiri pada dasarnya adalah proses pembelajaran pembudidaya ikan bandeng  yang ada di Kecamatan Kayen untuk mampu menolong dirinya sendiri di dalam memecahkan masalah usaha budidayanya. Dengan demikian, hendaknya rencana kegiatan penyuluhan harus mengacu kepada pemecahan masalah dan kendala yang dihadapi pembudidaya ikan dalam mengelola usahanya. Sehingga diperlukan suatu kegiatan nyata secara langsung di lapangan untuk mengidentifikasi, menetapkan masalah dan rumusan masalah yang dihadapi pembudidaya ikan bandeng air tawar yang ada di Kecamatan Kayen.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
1.2. Identifikasi Perumusan Masalah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Beberapa masalah yang ditemukan selama kegiatan Praktek Akhir dirincikan sebagai berikut:&lt;br /&gt;
1. Pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki oleh para pembudidaya ikan bandeng air tawar di Kecamatan Kayen masih rendah yang diindikasikan dengan masih menggunakan teknologi yang sederhana sehingga produksi yang dihasilkanpun rendah.&lt;br /&gt;
2. Kurangnya pembinaan kelompok melalui kegiatan penyuluhan yang diindikasikan dengan kegiatan kelompok pembudidaya ikan bandeng air tawar tidak berjalan dengan baik. &lt;br /&gt;
3. Terdapat ancaman yang menjadi hambatan dalam kegiatan budidaya yaitu adanya serangan hama penyakit, adanya pencemaran air sebagai akibat dari penggunaan obat-obatan, mahalnya harga  pakan ikan serta banjir yang telah menjadi siklus tahunan.&lt;br /&gt;
4. Kelembagaan kelompok budidaya ikan bandeng air tawar belum berjalan dengan baik yang diindikasikan oleh kelengkapan administrasi kelompok yang masih sederhana, kurangnya kerjasama dengan pihak terkait, pengorganisasian kelompok belum profosional, serta dalam segi promosi produk yang dihasilkan masih kurang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1.3. Tujuan&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
Tujuan dari pelaksanaan kegiatan Praktek Akhir  ini, yaitu:&lt;br /&gt;
1. Mengembangkan kemampuan kelompok pembudidaya dalam menjalankan usahanya dengan cara peningkatan Pengetahuan, Sikap, dan Ketrampilan.&lt;br /&gt;
2. Meningkatkan pembinaan terhadap kelompok pembudidaya dalam menjalankan perannya melalui pemberdayaan kelompok.&lt;br /&gt;
3. Meningkatkan pendapatan kelompok pembudidaya melalui perbaikan teknologi tepat guna &lt;br /&gt;
4. Membantu membenahi kelembagaan kelompok pembudidaya ikan bandeng air tawar  dalam mengelola kelembagaanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;1.4. Manfaat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Manfaat Praktek Akhir  antara lain : &lt;br /&gt;
a. Terciptanya kelompok pembudidaya ikan bandeng air tawar yang mempunyai pengetahuan luas baik mengenai teknologi maupun kemampuan untuk manajerial usahanya.&lt;br /&gt;
b. Terlaksananya kegiatan penyuluhan dalam bentuk program pengembangan usaha budidaya ikan bandeng air tawar melalui pemberdayaan kelompok pembudidaya di Kecamatan Kayen.&lt;br /&gt;
c. Memberikan informasi kepada kelompok pembudidaya tentang potensi dan keragaan usaha sehingga dapat meningkatkan pendapatan kelompok pembudidaya ikan bandeng air tawar di Kecamatan Kayen. &lt;br /&gt;
d. Tumbuhnya minat kelompok dalam mengelola kelembagaan kelompok dan memiliki kemampuan administrasi kelompok pembudidaya ikan bandeng air tawar di Kecamatan Kayen. &lt;br /&gt;
e. Meningkatkan kemampuan mahasiswa/ taruna dalam menyampaikan dan menerapkan ilmu pengetahuan yang telah diterima dalam bentuk suatu sistem pengembangan usaha budidaya ikan bandeng air tawar pada kelompok pembudidaya di Kecamatan Kayen.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lunly713.blogspot.com/feeds/5760436303572474729/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/1769903451515941949/5760436303572474729' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default/5760436303572474729'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default/5760436303572474729'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lunly713.blogspot.com/2010/07/pembinaan-usaha-budidaya-ikan.html' title=''/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03307642535889500865</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1769903451515941949.post-7671242841067679492</id><published>2010-07-20T20:26:00.000-07:00</published><updated>2010-07-20T20:26:06.618-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="desa talun kecamatan kayen kabupaten pati."/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pemberdayaan kelompok"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="pembinaan usaha budidaya ikan bandeng air tawar"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="produksi bandeng air tawar"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sekolah tinggi perikanan jurusan penyuluhan perikanan"/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;b&gt;RINGKASAN lAPORAN KARYA ILMIAH PRAKTEK AKHIR 2010&lt;br /&gt;
&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Abdul Karim Anwar / NRP. 42066.1.7648“Pembinaan Usaha Budidaya Ikan Bandeng Air Tawar (Chanos chanos Forsk) Melalui Pemberdayaan Kelompok di Kecamatan Kayen Kabupaten Pati Provinsi Jawa Tengah“  Dibimbing oleh H. ISKANDAR MUSA, A.Pi., MM. dan ADE SUNARYO, S.ST., M.Sc.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak tahun 1998 usaha budidaya ikan bandeng air tawar berhasil dikembangkan di Kabupaten Pati yakni terdapat di wilayah administrasi Desa Talun Kecamatan Kayen yang mempunyai lahan tambak seluas 162 Ha. Dalam hal teknologi yang digunakan, sampai saat ini sebagian besar tambak bandeng air tawar yang ada di Kecamatan Kayen masih menggunakan teknologi sederhana. Di Kecamatan Kayen 93% pengelolaan tambak bandeng air tawar masih menggunakan pola tradisional dan semi intensif, sisanya 7% menggunakan pola intensif.&lt;br /&gt;
Kelompok pembudidaya yang ada di Kecamatan Kayen terdiri dari satu kelompok besar dengan jumlah anggota sekitar 230 orang yang tergabung dalam  “Pokdakan Mina Sejahtera”, sedangkan kelompok yang khusus melakukan kegiatan budidaya ikan bandeng air tawar sejumlah 24 orang. Kegiatan kelompok tersebut belum berjalan secara optimal, hal ini dapat dilihat dari kurangnya koordinasi antara anggota kelompok dan belum berjalannya administrasi kelompok dengan baik.&lt;br /&gt;
Tujuan kegiatan Praktek Akhir (PA) yaitu untuk merumuskan suatu program pembinaan usaha budidaya ikan bandeng air tawar (Chanos chanos Forsk) melalui pemberdayaan kelompok di Kecamatan Kayen Kabupaten Pati. Kegiatan  Praktek Akhir ini dilaksanakan mulai tanggal 19 Maret sampai dengan 20 Mei 2010 pada kelompok pembudidaya ikan bandeng air tawar yang bernama “Mina Sejahtera” di Desa Talun Kecamatan Kayen Kabupaten Pati. Tahap pelaksanaan  dilakukan dalam tiga tahap, yaitu 1) tahap pengumpulan dan analisis data, 2) strategi kebijakan pengembangan usaha, serta 3) pelaksanaan dan evaluasi penyuluhan. &lt;br /&gt;
Data primer diambil langsung dari pelaku utama dan pelaku usaha, sementara untuk pengumpulan data primer dilakukan dengan menggunakan metode wawancara dan observasi langsung di lapangan. Data sekunder didapatkan dari pengumpulan data dan informasi  berupa dokumen statistik wilayah, monografi dan data penunjang lainnya yang mendukung dalam pengembangan usaha budidaya ikan bandeng air tawar. &lt;br /&gt;
Penentuan sebaran contoh dilakukan berdasarkan potensi lahan dan produksi sehingga sebaran lokasi contoh terdapat di wilayah administrasi Desa Talun Kecamatan Kayen sebagai lokasi kegiatan usaha budidaya ikan bandeng air tawar. Sedangkan untuk penentuan responden dilakukan menggunakan Teknik Random Sampling Berlapis (Stratified Random Sampling) sehingga dari diperoleh jumlah sampel sebanyak 37 RTP  dari total 230 RTP yang ada. &lt;br /&gt;
Perumusan strategi pengembangan usaha dilakukan dengan menggunakan Analisa SWOT (Strengths, Weakness, Opportunities, Threats) dan strategi yang dipilih adalah S-O (Strengths-Opportunities) yaitu menggunakan seluruh kekuatan untuk memanfaatkan peluang. Berdasarkan analisa SWOT tersebut, maka program pengembangan usaha budidaya ikan bandeng melalui pemberdayaan kelompok yaitu mengembangkan teknologi budidaya dan pembinaan kelompok melalui pemberdayaan kelompok.&lt;br /&gt;
Program pengembangan teknologi budidaya bertujuan dalam penerapan teknologi tepat guna dan upaya mendukung kegiatan Prasasti Mina di Desa Talun Kecamatan Kayen. Strategi pengembangan yang dilakukan yaitu Uji Adaptasi untuk mendapatkan hasil produksi yang optimal per satuan unit usaha sehingga diperoleh kesesuaian teknologi dengan lokasi ataupun lingkungan budidaya ikan bandeng air tawar yang dibudidayakan.  Kegiatan ini dilakukan pada petakan yang luasnya sama masing-masing 7.000 m2 namun dengan padat tebar yang berbeda serta dengan tiga perlakuan berbeda. &lt;br /&gt;
Program pembinaan kelompok melalui kegiatan penyuluhan bertujuan agar kelompok dapat berpartisipasi aktif dalam mengembangkan kelompok perikanan yang dibagi dalam beberapa kegiatan yaitu : 1) Mengefektifkan kelompok, 2) Pembinaan kelompok, dan 3) Mengembangkan kelompok. &lt;br /&gt;
Kegiatan yang dilakukan dalam mengefektifkan kelompok yaitu kegiatan kunjungan rumah/usaha secara rutin setiap hari, biasanya dari hari Senin sampai Kamis atau menyesuaikan dengan keadaan lapangan. Kegiatan kunjungan rumah/tempat usaha dilakukan dengan cara berkeliling dari satu rumah/tempat usaha satu ke tempat yang lain. Dalam satu hari bisa mengunjungi 3 – 5 orang pembudidaya.&lt;br /&gt;
Jenis Pembinaan yang dilakukan kepada kelompok pembudidaya Mina Sejahtera di Kecamatan Kayen yaitu pertukaran informasi (sharing) teknologi budidaya ikan bandeng air tawar dengan anggota kelompok untuk meningkatkan produksi melalui pembinaan kegiatan Uji Adaptasi. Selain itu juga, dalam proses pembinaan dilakukan terhadap sub kelompok pengolahan “Mina Rezeki” dengan melakukan “demonstrasi cara” pada pengolahan ikan bandeng asap dan pengolahan empek-empek panggang.&lt;br /&gt;
Program pengembangan kelompok dilakukan bimbingan dan pendampingan dalam pembuatan administrasi kelompok yang baik. Program ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan kelompok dalam hal pengorganisasian kelompok serta dapat meningkatkan kelas kelompok. Aksi penyuluhan dilakukan terhadap pengurus kelompok Mina Sejahtera dengan waktu dan metode penyuluhan yang ditetapkan secara partisipatif, yaitu menggunakan metode diskusi dan media penyuluhan berupa buku-buku yang dibuat oleh penulis yang terdiri dari buku daftar anggota, buku tamu, buku agenda surat masuk, buku agenda surat keluar, buku daftar hadir kelompok, buku notulen, buku kegiatan kelompok, buku pengamatan kelompok, rencana kegiatan anggota kelompok, rekapitulasi data produksi,dan proses produksi.  &lt;br /&gt;
Dalam rangka pembinaan usaha budidaya ikan bandeng air tawar melalui pemberdayaan kelompok di Desa Talun Kecamatan Kayen, maka program yang berhasil dilakukan adalah pengaktifan kelompok, pembinaan kelompok dan pemberdayaaan kelompok dengan hasil evaluasi terjadi peningkatan pengetahuan pembudidaya sebesar 42,77% dan peningkatan sikap sebesar 58,66%. &lt;br /&gt;
Dibutuhkan kelembagaan penyuluhan pada tingkat kecamatan dalam rangka pembinaan dan pendampingan pelaku usaha yang tergabung pada Kelompok pembudidaya Ikan Mina Sejahtera. Selain itu, dukungan dari berbagai pihak yang terkait yang dapat memfasilitasi kerjasama antara pembudidaya dengan lembaga penunjang, serta pembinaan intensif untuk peningkatan sikap, pengetahuan dan keterampilan dari aspek teknis, ekonomi, maupun sosial budaya dalam menjalankan usaha budidaya ikan bandeng air tawar di Kecamatan Kayen Kabupaten Pati.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lunly713.blogspot.com/feeds/7671242841067679492/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/1769903451515941949/7671242841067679492' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default/7671242841067679492'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default/7671242841067679492'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lunly713.blogspot.com/2010/07/ringkasan-laporan-karya-ilmiah-praktek.html' title=''/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03307642535889500865</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1769903451515941949.post-5487245911432470065</id><published>2010-07-20T20:20:00.000-07:00</published><updated>2010-07-27T20:01:27.074-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pembangunan Kelautan dan Perikanan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pemberdayaan Masyarakat pesisir"/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;b&gt;PEMBANGUNAN KELAUTAN DALAM&lt;br /&gt;
KONTEKS PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PESISIR&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendahuluan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah menjadi suatu mitos yang berkembang ditengah-tengah masyarakat bahwa Indonesia memiliki kekayaan laut yang berlimpah, baik sumber hayatinya maupun non hayatinya, walaupun mitos seperti itu perlu dibuktikan dengan penelitian yang lebih mendalam dan komprehensif.  Terlepas dari mitos tersebut, kenyataannya Indonesia adalah negara maritim dengan 70% wilayahnya adalah laut, namun sangatlah ironis sejak 32 tahun yang lalu kebijakan pembangunan perikanan tidak pernah mendapat perhatian yang serius dari pemerintah.&lt;br /&gt;
Implikasi dari tidak adanya prioritas kebijakan pembangunan perikanan tersebut, mengakibatkan sangat minimnya prasarana perikanan di wilayah pesisir, terjadinya abrasi wilayah pesisir dan pantai, pengrusakan ekosistim laut dan terumbuh karang, serta belum teroptimalkannya pemanfaatan sumber daya perikanan dan kelautan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Persoalan Pembangunan Perikanan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Implikasi langsung terhadap peningkatan pertumbuhan penduduk adalah makin meningkatnya tuntutan kebutuhan hidup, sementara potensi sumber daya alam di darat yang kita miliki sangatlah terbatas.  Hal tersebut mendorong kita untuk mengalihkan alternatif potensi sumber daya alam lain yang kita miliki yaitu potensi kelautan.  Ada lima potensi kelautan yang dapat kita andalkan, yaitu: potensi perikanan, potensi wilayah pesisir, potensi sumber daya mineral, minyak dan gas bumi bawah laut, potensi pariwisata, dan potensi transportasi laut.&lt;br /&gt;
Kebijakan pembangunan kelautan, selama ini, cendrung lebih mengarah kepada kebijakan “produktivitas” dengan memaksimalkan hasil eksploitasi sumber daya laut tanpa ada kebijakan memadai yang mengendalikannya.  Akibat dari kebijakan tersebut telah mengakibatkan beberapa kecendrungan yang tidak menguntungkan dalam aspek kehidupan, seperti:&lt;br /&gt;
a) Aspek Ekologi, overfishing penggunaan sarana dan prasarana penangkapan ikan telah cendrung merusak ekologi laut dan pantai (trawl, bom, potas, pukat harimau, dll) akibatnya menyempitnya wilayah dan sumber daya tangkapan, sehingga sering menimbulkan konflik secara terbuka baik bersifat vertikal dan horisontal (antara sesama nelayan,  nelayan dengan masyarakat sekitar dan antara nelayan dengan pemerintah).&lt;br /&gt;
b) Aspek Sosial Ekonomi, akibat kesenjangan penggunaan teknologi antara pengusaha besar dan nelayan tradisional telah menimbulkan kesenjangan dan kemiskinan bagi nelayan tradisional.  Akibat dari kesenjangan tersebut menyebabkan sebagian besar nelayan tradisional mengubah profesinya menjadi buruh nelayan pada pengusaha perikanan besar.&lt;br /&gt;
c) Aspek Sosio Kultural, dengan adanya kesenjangan dan kemiskinan tersebut menyebabkan ketergantungan antara masyarakat nelayan kecil/ tradisional terhadap pemodal besar/modern, antara nelayan dan pedagang, antara pherphery terdapat center, antara masyarakat dengan pemerintah.  Hal ini menimbulkan penguatan terhadap adanya komunitas juragan dan buruh nelayan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Arah modernisasi di sektor perikanan yang dilakukan selama ini, hanya memberi keuntungan kepada sekelompok kecil yang punya kemampuan ekonomi dan politis, sehingga diperlukan alternatif paradigma dan strategis pembangunan yang holistik dan terintegrasi serta dapat menjaga keseimbangan antara kegiatan produksi, pengelolahan dan distribusi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
Konsep Pembangunan Alternatif&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Paradigma pembangunan holistik, yaitu pembangunan yang dilakukan secara menyeluruh dan terintegrasi yang sangat memperhatikan aspek spasial, yaitu pembangunan berwawasan lingkungan, pembangunan berbasis komunitas, pembangunan berpusat pada rakyat, pembangunan berkelanjutan dan pembangunan berbasis kelembagaan.&lt;br /&gt;
Untuk mewujudkan pembangunan yang holistik tersebut diperlukan alternatif srategi, yaitu strategi yang berorientasi pada sumber daya atau Resource Base Strategy (RBS), yang meliputi ketersedian sumber daya, faktor keberhasilan serta proses belajar.&lt;br /&gt;
Pendekatan dalam RBS adalah strategi pengelolaan sumber daya lokal/pesisir dan kelautan yang berorientasi pada: kualitas, proses, kinerja, pengembangan, budaya, lingkungan (management by process) yang berdasarkan pada pembelajaran, kompetensi, keunggulan, berpikir sistematik, dan pengetahuan (knowledge based management).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
Memberdayakan Masyarakat Pesisir&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Saat ini banyak program pemberdayaan yang menklaim sebagai program yang berdasar kepada keinginan dan kebutuhan masyarakat (bottom up), tapi ironisnya masyarakat tetap saja tidak merasa memiliki akan program-program tersebut sehingga tidak aneh banyak program yang hanya seumur masa proyek dan berakhir tanpa dampak berarti bagi kehidupan masyarakat.  &lt;br /&gt;
Pertanyaan kemudian muncul apakah konsep pemberdayaan yang salah atau pemberdayaan dijadikan alat untuk mencapai tujuan tertentu dari segolongan orang?&lt;br /&gt;
Memberdayakan masyarakat pesisir berarti menciptakan peluang bagi masyarakat pesisir untuk menentukan kebutuhannya, merencanakan dan melaksanakan kegiatannya, yang akhirnya menciptakan kemandirian permanen dalam kehidupan masyarakat itu sendiri.&lt;br /&gt;
Memberdayakan masyarakat pesisir tidaklah seperti memberdayakan kelompok-kelompok masyarakat lainnya, karena didalam habitat pesisir terdapat banyak kelompok kehidupan masayarakat diantaranya: &lt;br /&gt;
a) Masyarakat nelayan tangkap, adalah kelompok masyarakat pesisir yang mata pencaharian utamanya adalah menangkap ikan dilaut.  Kelompok ini dibagi lagi dalam dua kelompok besar, yaitu nelayan tangkap modern dan nelayan tangkap tradisional.  Keduanya kelompok ini dapat dibedakan dari jenis kapal/peralatan yang digunakan dan jangkauan wilayah tangkapannya.&lt;br /&gt;
b) Masyarakat nelayan pengumpul/bakul, adalah kelompok masyarakt pesisir yang bekerja disekitar tempat pendaratan dan pelelangan ikan.  Mereka akan mengumpulkan ikan-ikan hasil tangkapan baik melalui pelelangan maupun dari sisa ikan yang tidak terlelang yang selanjutnya dijual ke masyarakat sekitarnya atau dibawah ke pasar-pasar lokal.  Umumnya yang menjadi pengumpul ini adalah kelompok masyarakat pesisir perempuan.&lt;br /&gt;
c) Masayarakat nelayan buruh, adalah kelompok masyarakat nelayan yang paling banyak dijumpai dalam kehidupan masyarakat pesisir. Ciri dari mereka dapat terlihat dari kemiskinan yang selalu membelenggu kehidupan mereka, mereka tidak memiliki modal atau peralatan yang memadai untuk usaha produktif. Umumnya mereka bekerja sebagai buruh/anak buah kapal (ABK) pada kapal-kapal juragan dengan penghasilan yang minim.&lt;br /&gt;
d) Masyarakat nelayan tambak, masyarakat nelayan pengolah, dan kelompok masyarakat nelayan buruh.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap kelompok masyarakat tersebut haruslah mendapat penanganan dan perlakuan khusus sesuai dengan kelompok, usaha, dan aktivitas ekonomi mereka.  Pemberdayaan masyarakat tangkap minsalnya, mereka membutukan sarana penangkapan dan kepastian wilayah tangkap. Berbeda dengan kelompok masyarakat tambak, yang mereka butuhkan adalah modal kerja dan modal investasi, begitu juga untuk kelompok masyarakat pengolah dan buruh.  Kebutuhan setiap kelompok yang berbeda tersebut, menunjukkan keanekaragaman pola pemberdayaan yang akan diterapkan untuk setiap kelompok tersebut.&lt;br /&gt;
Dengan demikian program pemberdayaan untuk masyarakat pesisir haruslah dirancang dengan sedemikian rupa dengan tidak menyamaratakan antara satu kelompk dengan kelompok lainnya apalagi antara satu daerah dengan daerah pesisir lainnya.  Pemberdayaan masyarakat pesisir haruslah bersifat bottom up dan open menu, namun yang terpenting adalah pemberdayaan itu sendiri yang harus langsung menyentuh kelompok masyarakat sasaran. Persoalan yang mungkin harus dijawab adalah:  Bagaimana memberdayakannya?&lt;br /&gt;
Banyak sudah program pemberdayaan yang dilaksanakan pemerintah, salah satunya adalah pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir (PEMP).  Pada intinya program ini dilakukan melalui tiga pendekatan, yaitu: &lt;br /&gt;
(a) Kelembagaan. Bahwa untuk memperkuat posisi tawar masyarakat, mereka haruslah terhimpun dalam suatu kelembagaan yang kokoh, sehingga segala aspirasi dan tuntutan mereka dapat disalurkan secara baik. Kelembagaan ini juga dapat menjadi penghubung (intermediate) antara pemerintah dan swasta. Selain itu kelembagaan ini juga dapat menjadi suatu forum untuk menjamin terjadinya perguliran dana produktif diantara kelompok lainnya. &lt;br /&gt;
(b) Pendampingan. Keberadaan pendamping memang dirasakan sangat dibutuhkan dalam setiap program pemberdayaan. Masyarakat belum dapat berjalan sendiri mungkin karena kekurangtauan, tingkat penguasaan ilmu pengetahuan yang rendah, atau mungkin masih kuatnya tingkat ketergantungan mereka karena belum pulihnya rasa percaya diri mereka akibat paradigma-paradigma pembangunan masa lalu.  Terlepas dari itu semua, peran pendamping sangatlah vital terutama mendapingi masyarakat menjalankan aktivitas usahanya. Namun yang terpenting dari pendampingan ini adalah menempatkan orang yang tepat pada kelompok yang tepat pula. &lt;br /&gt;
(c) Dana Usaha Produktif Bergulir. Pada program PEMP juga disediakan dana untuk mengembangkan usaha-usaha produktif yang menjadi pilihan dari masyarakat itu sendiri. Setelah kelompok pemanfaat dana tersebut berhasil, mereka harus menyisihkan keuntungannya untuk digulirkan kepada kelompok masyarakat lain yang membutuhkannya.  Pengaturan pergulirannya akan disepakati di dalam forum atau lembaga yang dibentuk oleh masyarakat sendiri dengan fasilitasi pemerintah setempat dan tenaga pendamping.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bappenas, &lt;i&gt;Pengembangan Ekonomi Masyarakat di Daerah&lt;/i&gt;.  Laporan Pilot Project Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir, 1999.&lt;br /&gt;
Bappenas, &lt;i&gt;Pengembangan Ekonomi Masyarakat di Daerah&lt;/i&gt;.  Laporan Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir, 2000.&lt;br /&gt;
Departemen Kelautan dan Perikanan, &lt;i&gt;Pedoman Umum Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir&lt;/i&gt;. 2001&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;!-- Begin ShoutMix - http://www.shoutmix.com --&gt;&lt;iframe title=&quot;aquaka&quot; src=&quot;http://www6.shoutmix.com/?aquaka&quot; width=&quot;&quot; height=&quot;&quot; frameborder=&quot;0&quot; scrolling=&quot;auto&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://www6.shoutmix.com/?aquaka&quot;&gt;View shoutbox&lt;/a&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;http://www.shoutmix.com&quot; title=&quot;Get your own free shoutbox chat widget at ShoutMix!&quot;&gt;ShoutMix chat widget&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- End ShoutMix --&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lunly713.blogspot.com/feeds/5487245911432470065/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/1769903451515941949/5487245911432470065' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default/5487245911432470065'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default/5487245911432470065'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lunly713.blogspot.com/2010/07/pembangunan-kelautan-dalam-konteks.html' title=''/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03307642535889500865</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1769903451515941949.post-2746201837909597236</id><published>2010-07-20T19:01:00.000-07:00</published><updated>2010-07-20T19:01:16.511-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;b&gt;Pembuatan Ikan Bandeng Asap (Hot Smoking)&lt;br /&gt;
      Oleh :  1. Abdul Karim Anwar&lt;br /&gt;
&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ikan merupakan salah satu sumber protein yang mudah mengalami kemunduran mutu sehingga diperlukan suatu kegiatan pengawetan untuk mengurangi kadar air dalam tubuh ikan sehingga tidak mudah mengalami proses pembusukan. Beberapa macam cara pengawetan ikan diantaranya adalah dengan teknik pengasapan, Tujuan dari pengasapan adalah untuk mengawetkan dan memberi warna dan rasa spesifik pada ikan. Ada 2 cara pengasapan utama yang biasa dilakukan ialah Pengasapan Dingin (cold smoking) dan Pengasapan Panas (hot smoking), pada pengasapan dingin suhu asap tidak boleh melebihi 400C, kelembaban nisbi (R.H) yang terbaik antara 60 – 70%. Pada pengasapan panas, suhu asap mencapai 1200C atau lebih dan suhu pada daging ikan bagian dalam dapat mencapai 600C. Kadar air ikan asap yang dihasilkan relatif masih tinggi, sehingga daya awetnya lebih rendah daripada yang dihasilkan dengan cara pengasapan dingin. Pengasapan panas biasanya menghasilkan ikan asap yang mempunyai rasa yang baik. Pada kesempatan ini, kami akan mencoba menguraikan proses pengolahan ikan asap dengan menggunakan pengasapan panas.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;A. Alat dan Bahan&lt;br /&gt;
&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
No Alat         No Bahan&lt;br /&gt;
1 Pisau         1 Ikan bandeng &lt;br /&gt;
2 Talenan         2 Arang batok kelapa&lt;br /&gt;
3 Timbangan 3 Garam secukupnya&lt;br /&gt;
4 Loyang Plastik 4 Batok kelapa&lt;br /&gt;
6 Baskom    5 Minyak tanah&lt;br /&gt;
7 Literan air  &lt;br /&gt;
8 Piring  &lt;br /&gt;
9 Mesin pengasap  &lt;br /&gt;
   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;B. Langkah Kerja&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
1) Ikan bandeng dicuci bersih, lalu dibuang jeroan dan insangnya.&lt;br /&gt;
2) Ikan lalu dicuci kembali sampai bersih&lt;br /&gt;
3) Buat larutan garam dan air adalah 2:1 Jumlah garam yang digunakan adalah 1/5 dari berat ikan.&lt;br /&gt;
4) Setelah larutan garam dingin, ikan dimasukkan ke dalam larutan garam yang telah dibuat.&lt;br /&gt;
5) Ikan direndam selama 20 menit dalam larutan garam, lalu ditiriskan.&lt;br /&gt;
6) Ikan diasapi dengan menggunakan mesin pengasap pada suhu ± 80¬oC selama 2-3 jam.&lt;br /&gt;
7)  Ikan dikeluarkan dari mesin pengasap lalu didinginkan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengasapan dilakukan dengan cara menggantung ikan – ikan yang telah dibersihkan pada alat khusus untuk pengasapan. Alat yang digunakan adalah sebuh kotak yang terbuat dari seng berukuran sekitar tinggi 2 meter dan lebar 1 meter. Pada alat ini dipasang pintu yang terbuat dari kaca yang berguna untuk memudahkan dalam melihat apakah ikan yang diasap sudah matang apa belum dan juga untuk mengontrol ikan yang digantung apabila ada yang jatuh. Alat ini juga dilengkapi dengan thermometer sebagi pengukur suhu sehingga suhu dapat lebih terkontrol, jika suhu terlalu panas maka bahan bakar dapat dikurangi, jika suhu terlalu rendah maka bahan bakar dapat diperbanyak.&lt;br /&gt;
Pengaruh pengasapan pada ikan yang diasap yaitu Ikan asap mempunyai daya awet yang cukup tinggi (bisa tahan lama disimpan), rupa ikan berubah warnanya menjadi coklat mengkilap, ikan asap mempunyai rasa yang sangat spesifik sesuai dengan bahan bakar yang digunakan, yaitu rasa keasap-asapan yang unik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Disampaikan Pada :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembinaan / Pertemuan Kelompok&lt;br /&gt;
dalam rangka Program Kegiatan Taruna Sekolah Tinggi Perikanan&lt;br /&gt;
Jurusan Penyuluhan Perikanan Bogor &lt;br /&gt;
bekerjasama dengan&lt;br /&gt;
Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati&lt;br /&gt;
di Desa Talun Kecamatan Kayen – Kabupaten Pati&lt;br /&gt;
28 Maret 2010&lt;/i&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lunly713.blogspot.com/feeds/2746201837909597236/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/1769903451515941949/2746201837909597236' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default/2746201837909597236'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default/2746201837909597236'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lunly713.blogspot.com/2010/07/pembuatan-ikan-bandeng-asap-hot-smoking.html' title=''/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03307642535889500865</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1769903451515941949.post-3010497612620360432</id><published>2010-07-09T00:25:00.000-07:00</published><updated>2010-07-09T00:25:57.698-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Empek-emp2k panggang"/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;b&gt;Pembuatan Empek-Empek Panggang Palembang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
      &lt;i&gt;Oleh :  1. Abdul Karim Anwar&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
       &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Empek-empek  adalah makanan khas Serambi Sriwijaya yang merupakan salah satu bentuk olahan hasil perikanan. Makanan khas Palembang ini sudah dapat kita temukan di beberapa kota di Indonesia, hal ini menandakan bahwa makanan khas Palembang ini dapat dibuat oleh siapa saja yang berminat. Beberapa macam bentuk olahan empek-empek seperti yang namanya lenggang, empek-empek panggang, empek-empek keriting, dan sebagainya. Nah, kali ini, kita akan mengupas tentang cara pemuatan empek-empek panggang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
1. Alat&lt;br /&gt;
- Penggiling daging (Blender atau mixer)&lt;br /&gt;
- Baskom &lt;br /&gt;
- Nampan plastik&lt;br /&gt;
- Pisau &lt;br /&gt;
- Kompor&lt;br /&gt;
- Panggangan&lt;br /&gt;
2. Bahan&lt;br /&gt;
- Daging ikan yang telah digiling&lt;br /&gt;
- Tepung Tapioka/ Kanji&lt;br /&gt;
- Ebi/ udang rebon&lt;br /&gt;
- Kecap&lt;br /&gt;
- Air&lt;br /&gt;
- Garam secukupnya &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Catatan : &lt;br /&gt;
perbandingan antara Ikan dan tepung Tapioka/ Kanji bisa 1:1 atau 1:3/4 atau 1:1/2, semakin banyak ikan semakin enak, tapi maksimal ikan 1 kg tepung sagu 0,5 kg. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Prosedur Kerja&lt;br /&gt;
a. Membuat Adonan Dasar&lt;br /&gt;
 Keluarkan daging ikan giling, masukkan air dan garam secukupnya, aduk sampai lengket.&lt;br /&gt;
 Tambahkan tepung sagu/ kanji sedikit demi sedikit sambil diaduk dengan  tangan hingga adonan  tidak lagi menempel ditangan. Aduk adonan sampai rata.&lt;br /&gt;
 Ambil sedikit adonan dasar dan dibentuk sesuai dengan jenis pempek .&lt;br /&gt;
 Empek-empek siap dimasak&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
b. Membuat Cuka buat empek-empek&lt;br /&gt;
Bahan :&lt;br /&gt;
 500 gram gula merah/gula aren warna coklat tua &lt;br /&gt;
 50 gram asam jawa &lt;br /&gt;
 4 sendok teh cuka  (untuk mengawetkan) &lt;br /&gt;
 5 gelas air dingin &lt;br /&gt;
 5-8 siung bawang putih, cincang halus atau tumbuk &lt;br /&gt;
 2 sendok makan ebi dihaluskan &lt;br /&gt;
 20-30 buah cabai rawit, dihaluskan &lt;br /&gt;
 1-2 sendok teh garam (disesuaikan) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara Membuat&lt;br /&gt;
 Didihkan air dan gula merah, asam jawa, air, dan cuka dengan api kecil, setelah gula larut, angkat lalu saring. &lt;br /&gt;
 Masukkan bawang putih, ebi, cabai rawit, garam. &lt;br /&gt;
 Memasukkan cabai, garam sebaik nya sambil di cicip, disesuaikan dengan selera Didihkan kembali lalu angkat  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
c. Membuat Empek-Empek Panggang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Campurkan adonan dasar pempek yang telah jadi, lalu bentuk bulat pipih. &lt;br /&gt;
 Panggang di bara api sampai kecokelatan. &lt;br /&gt;
 Bila tak ada panggangan, gunakan wajan anti lengket (teflon), tutup wajan dan masak dengan api kecil hingga matang. &lt;br /&gt;
 Sajikan dengan cuko, atau &lt;br /&gt;
 Pempek dibelah dua  dari samping, beri kecap manis, beri sedikit cabai rawit halus, dan taburan bubuk ebi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disampaikan Pada :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembinaan / Pertemuan Kelompok&lt;br /&gt;
dalam rangka Program Kegiatan Taruna Sekolah Tinggi Perikanan&lt;br /&gt;
Jurusan Penyuluhan Perikanan Bogor &lt;br /&gt;
bekerjasama dengan&lt;br /&gt;
Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati&lt;br /&gt;
di Desa Talun Kecamatan Kayen – Kabupaten Pati&lt;br /&gt;
27 April 2010</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lunly713.blogspot.com/feeds/3010497612620360432/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/1769903451515941949/3010497612620360432' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default/3010497612620360432'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default/3010497612620360432'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lunly713.blogspot.com/2010/07/pembuatan-empek-empek-panggang.html' title=''/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03307642535889500865</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1769903451515941949.post-8787995592852253650</id><published>2010-07-09T00:19:00.000-07:00</published><updated>2010-07-09T00:19:31.197-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ikan bandeng air tawar"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Makalah Seminar"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Prasasti MIna"/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;b&gt;MAKALAH SEMINAR KARYA ILMIAH PRAKTEK AKHIR&lt;br /&gt;
SEKOLAH TINGGI PERIKANAN&lt;br /&gt;
JURUSAN PENYULUHAN PERIKANAN&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PEMBINAAN USAHA BUDIDAYA IKAN BANDENG AIR TAWAR (Chanos chanos Forsk)&lt;br /&gt;
MELALUI PEMBERDAYAAN KELOMPOK DI KECAMATAN KAYEN KABUPATEN PATI&lt;br /&gt;
 PROVINSI  JAWA TENGAH  )&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh : Abdul Karim Anwar )&lt;br /&gt;
&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
I. &lt;b&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;
1.1. Latar belakang&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Bila dahulu ikan bandeng hanya dapat dipelihara di tambak yang berair asin, kini sejalan dengan perkembangan teknologi maka ikan bandeng sudah bisa dipelihara di kolam air tawar. Negara Taiwan adalah salah satu negara yang sudah mengembangkan bandeng di kolam air tawar karena jumlah kolam air tawarnya melimpah dan juga negara ini sebagai pelopor budidaya ikan bandeng air tawar sehingga banyak yang belajar dari Taiwan cara membudidayakan bandeng secara menguntungkan. Teknologi bandeng air tawar inipun berkembang juga di Indonesia, bahkan sejak tahun 1998 usaha budidaya ikan bandeng air tawar berhasil dikembangkan di Kabupaten Pati yakni terdapat di wilayah administrasi Desa Talun Kecamatan Kayen yang mempunyai lahan tambak seluas 162 Ha (Nitimulyo, 2003).&lt;br /&gt;
Dalam hal teknologi yang digunakan, sampai saat ini sebagian besar tambak bandeng air tawar yang ada di Kecamatan Kayen masih menggunakan teknologi sederhana. Kelompok pembudidaya yang ada di Kecamatan Kayen terdiri dari satu kelompok besar dengan jumlah anggota sekitar 230 orang yang tergabung dalam  “Pokdakan Mina Sejahtera”, sedangkan kelompok yang khusus melakukan kegiatan budidaya ikan bandeng air tawar sejumlah 24 orang. Kegiatan kelompok tersebut belum berjalan secara optimal, hal ini dapat dilihat dari kurangnya koordinasi antara anggota kelompok dan belum berjalannya administrasi kelompok dengan baik. Oleh karena itu perlu dilakukan kegiatan penyuluhan secara terus menerus berupa kegiatan pembinaan usaha budidaya ikan bandeng air tawar melalui pemberdayaan kelompok di Kecamatan Kayen (DKP, 2008).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.2. Identifikasi Perumusan Masalah&lt;br /&gt;
Beberapa masalah yang ditemukan selama kegiatan Praktek Akhir dirincikan sebagai berikut:&lt;br /&gt;
1. Pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki oleh para pembudidaya ikan bandeng air tawar di Kecamatan Kayen masih rendah yang diindikasikan dengan masih menggunakan teknologi yang sederhana sehingga produksi yang dihasilkanpun rendah.&lt;br /&gt;
2. Kurangnya pembinaan kelompok melalui kegiatan penyuluhan yang diindikasikan dengan kegiatan kelompok pembudidaya ikan bandeng air tawar tidak berjalan dengan baik. &lt;br /&gt;
3. Terdapat ancaman yang menjadi hambatan dalam kegiatan budidaya yaitu adanya serangan hama penyakit, adanya pencemaran air sebagai akibat dari penggunaan obat-obatan, mahalnya harga  pakan ikan serta banjir yang telah menjadi siklus tahunan.&lt;br /&gt;
4. Kelembagaan kelompok budidaya ikan bandeng air tawar belum berjalan dengan baik yang diindikasikan oleh kelengkapan administrasi kelompok yang masih sederhana, kurangnya kerjasama dengan pihak terkait, pengorganisasian kelompok belum profosional, serta dalam segi promosi produk yang dihasilkan masih kurang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.3. Tujuan&lt;br /&gt;
Tujuan yang dicapai pada kegiatan Praktek Akhir  ini, yaitu:&lt;br /&gt;
1. Meningkatkan kemampuan kelompok pembudaya dalam menjalankan usahanya dengan cara peningkatan Pengetahuan, Sikap, dan Ketrampilan.&lt;br /&gt;
2. Meningkatkan pembinaan terhadap kelompok pembudidaya dalam menjalankan perannya melalui pemberdayaan kelompok.&lt;br /&gt;
3. Meningkatkan pendapatan kelompok pembudidaya melalui perbaikan teknologi tepat guna &lt;br /&gt;
4. Membantu membenahi kelembagaan kelompok pembudidaya ikan bandeng air tawar  dalam mengelola kelembagaanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.4. Manfaat &lt;br /&gt;
Manfaat Praktek Akhir  antara lain : &lt;br /&gt;
a. Terciptanya kelompok pembudidaya ikan bandeng air tawar yang mempunyai pengetahuan luas baik mengenai teknologi maupun kemampuan untuk manajerial usahanya.&lt;br /&gt;
b. Terlaksananya kegiatan penyuluhan dalam bentuk program pembinaan usaha budidaya ikan bandeng air tawar melalui pemberdayaan kelompok pembudidaya di Kecamatan Kayen.&lt;br /&gt;
c. Memberikan informasi kepada kelompok pembudidaya tentang potensi dan keragaan usaha sehingga dapat meningkatkan pendapatan kelompok pembudidaya ikan bandeng air tawar di Kecamatan Kayen. &lt;br /&gt;
d. Tumbuhnya minat kelompok dalam mengelola kelembagaan kelompok dan memiliki kemampuan administrasi kelompok pembudidaya ikan bandeng air tawar di Kecamatan Kayen. &lt;br /&gt;
e. Meningkatkan kemampuan mahasiswa/ taruna dalam menyampaikan dan menerapkan ilmu pengetahuan yang telah diterima dalam bentuk suatu sistem pembinaan usaha budidaya ikan bandeng air tawar pada kelompok pembudidaya di Kecamatan Kayen. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
II. DASAR PERENCANAAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.1. Sasaran &lt;br /&gt;
Secara umum sasaran dari pembinaan usaha budidaya ikan bandeng  air tawar antara lain  :&lt;br /&gt;
a) Pelaku utama yaitu kelompok pembudidaya ikan bandeng air tawar di Kecamatan Kayen Kabupaten Pati. &lt;br /&gt;
b) Pelaku usaha yaitu RTP penghasil benih, padagang saprodi, pedagang peralatan dan pemasar hasil.&lt;br /&gt;
c) Stakeholder yaitu pihak yang berkepentingan dengan pengembangan usaha budidaya ikan bandeng air tawar antara lain pemerintah daerah, lembaga penyuluhan, dan lembaga perekonomian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.2. Pendekatan Perencanaan&lt;br /&gt;
2.2.1. Sistem Produksi &lt;br /&gt;
Menurut Praptokardiyo, (2008), Sistem produksi adalah keterkaitan unsur-unsur kohensif secara dinamik terlibat dalam proses-proses produksi kegiatan pengembangan budidaya guna peningkatan produksi yaitu perlu adanya perbaikan teknologi yang lebih tepat guna baik intensif maupun ekstensif, perbaikan teknologi berupa pemanfaatan sarana dan prasarana, padat tebar dan yang lainnya yang akan meningkatkan total produksi yang dijalankan&lt;br /&gt;
2.2.2. Sistem Bisnis&lt;br /&gt;
Sistem Bisnis pada usaha budidaya ikan bandeng air tawar meliputi: 1) ketersediaan pasar, 2) Modal, 3) Hasil Produksi, dan 4) Penghasilan.&lt;br /&gt;
2.2.3. Sistem Penyuluhan&lt;br /&gt;
Sistem Penyuluhan pada usaha budidaya ikan bandeng air tawar meliputi: 1) Pemberdayaan kelompok, 2) Kelembagaan penyuluhan, 3) Ketenagaan penyuluhan, 4) Penyelenggaraan penyuluhan, 5) Pembiayaan penyuluhan, dan 6) Evaluasi penyuluhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.3. Kondisi dan Kinerja&lt;br /&gt;
2.3.1. Keadaan Umum&lt;br /&gt;
Kabupaten Pati adalah salah satu dari 35 daerah Kabupaten / Kota di Jawa Tengah yang secara geografis terletak antara 110º 50’ - 111º 15’ Bujur Timur dan 6º 25’ - 7º Lintang Selatan. Kabupaten Pati terdiri dari 21 Kecamatan, 400 desa dan 5 kelurahan. Adapun dari sekian banyak kecamatan yang ada di Kabupaten Pati tersebut, maka Kecamatan Kayen yang dipilih sebagai tempat pelaksanaan Praktek Akhir. Kecamatan Kayen itu sendiri terdiri dari 17 desa/kelurahan yaitu : Desa Beketel, Boloagung, Brati, Durensawit, Jatiroto, Jimbaran, Kayen, Pasuruhan, Pesagi, Purwokerto, Rogomulyo, Slungkep, Srikaton, Sumbersari, Sundoluhur, Talun, dan Trimulyo. Di desa Talun Kecamatan Kayen inilah merupakan tempat kegiatan usaha budidaya ikan bandeng air tawar yang berada di wilayah administrasi Kecamatan Kayen Kabupaten Pati.&lt;br /&gt;
2.3.2. Potensi dan Kinerja&lt;br /&gt;
Kabupaten Pati mempunyai potensi yang cukup besar di bidang budidaya  tambak dengan komoditi andalan yaitu  bandeng dan udang . Untuk budidaya tambak di Kabupaten Pati pada tahun 2008 mempunyai luas sebesar 10.604,52 Ha. Untuk budidaya ikan bandeng air tawar di Kecamatan Kayen telah dimanfaatkan kolam seluas 162 Ha terdiri atas kolam pembesaran seluas 151 Ha dan kolam pembenihan seluas 11 Ha (Soesono, 1998).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;III. METODA PELAKSANAAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.1. Lokasi, waktu dan tahap pelaksanaan &lt;br /&gt;
Praktek Akhir ini telah dilaksanakan di Desa Talun Kecamatan Kayen Kabupaten Pati mulai tanggal 19 Maret sampai dengan 20 Mei 2010 pada kelompok pembudidaya ikan bandeng air tawar “ Mina Sejahtera”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.2. Ruang Lingkup&lt;br /&gt;
3.2.1. Potensi dan Kajian Usaha&lt;br /&gt;
Ruang lingkup potensi dan kajian usaha budidaya ikan bandeng air tawar di Desa Talun Kecamatan Kayen meliputi potensi sumberdaya dan pemanfaatan lahannya, ketersediaan sarana dan prasarana, sistem produksi (persiapan tambak, tingkat pemanfaatan saprodi, pola tanam, dll), sistem pemasaran, penerimaan/ pendapatan, kelayakan usaha, kinerja kelompok pembudidaya, kinerja penyuluh perikanan dan kinerja lembaga penunjang.&lt;br /&gt;
3.2.2. Rencana Pengembangan usaha&lt;br /&gt;
Rencana pengembangan usaha budididaya ikan bandeng air tawar yang sesuai dengan potensi sumberdaya serta pengembangan teknologi yang dilaksanakan selama kegiatan praktek akhir yaitu :&lt;br /&gt;
1) Menambah pengetahuan dan keterampilan kelompok pembudidaya ikan bandeng air tawar dalam melakukan proses produksi yang tepat dengan cara pembinaan usaha melalui pemberdayaan kelompok.&lt;br /&gt;
2) Meningkatkan sistem teknologi budidaya ikan bandeng air tawar dari sistem tradisional menjadi tradisional plus.&lt;br /&gt;
3) Strategi pembinaan kelompok untuk meningkatkan kemampuan dalam usahanya.&lt;br /&gt;
3.2.3. Pengelolaan Aksi Penyuluhan&lt;br /&gt;
Adapun pengelolaan aksi penyuluhan yang telah dilaksanakan di Desa Talun Kecamatan Kayen dengan objeknya adalah Kelompok Pembudidaya Ikan ”Mina Sejahtera” yang bergerak dalam usaha budidaya ikan bandeng air tawar dapat dirincikan sebagai berikut :&lt;br /&gt;
1) Mengaktifkan kembali kegiatan kelompok pembudidaya, khususnya yang tergabung dalam sub kelompok penggelondongan dan pembesaran ikan bandeng air tawar yang  sebelumnya sempat vakum akibat kondisi banjir.&lt;br /&gt;
2) Mengembangkan kemampuan kelompok yang tergabung dalam sub kelompok pemasaran ikan bandeng air tawar.&lt;br /&gt;
3) Pembinaan kelompok melalui kegiatan penyuluhan dilakukan dengan cara merumuskan konsep strategi operasional penyuluhan berdasarkan pendekatan partisipasi yang meliputi teknologi budidaya yang baik, manajemen pakan, pengendalian hama dan penyakit, serta sebagai fasilitator dalam membenahi administrasi kelompok dan menjadi intermedier antara penyuluh yang membidangi perikanan di Kecamatan Kayen dengan anggota kelompok Mina Sejahtera sebagai upaya dalam mengembangkan kemampuan kelompok dalam mengelola kelembagaannya.&lt;br /&gt;
4) Melakukan aksi penyuluhan yang dilaksanakan berdasarkan kesepakatan bersama dengan anggota kelompok dengan cara: a) menentukan materi penyuluhan berdasarkan tingkat kebutuhan inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi dalam menunjang kegiatan usaha budidaya ikan bandeng air tawar; b) membuat rencana pelaksanaan aksi penyuluhan; c) pelaksanaan aksi penyuluhan;  d) evaluasi kegiatan aksi penyuluhan.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.3. Tahap Pelaksanaan&lt;br /&gt;
3.3.1. Pengumpulan Data&lt;br /&gt;
Rincian jenis, teknik pengambilan, dan sumber data dapat dilihat pada tabel berikut ini.&lt;br /&gt;
Tabel 1. Jenis, Teknik pengambilan dan sumber data.&lt;br /&gt;
No Jenis Data Teknik Pengumpulan Sumber Data&lt;br /&gt;
(1) (2) (3) (4)&lt;br /&gt;
1 Potensi SDA:&lt;br /&gt;
 Luas Wilayah&lt;br /&gt;
 Luas Peruntukan Lahan&lt;br /&gt;
 Debit Air &lt;br /&gt;
 Ketersediaan sumber air&lt;br /&gt;
 Kualitas air&lt;br /&gt;
 Curah Hujan&lt;br /&gt;
 Ketinggian tempat&lt;br /&gt;
 Suhu rata-rata&lt;br /&gt;
 Sumber pencemaran&lt;br /&gt;
 Tata guna lahan  Observasi&lt;br /&gt;
 Wawancara &lt;br /&gt;
 Pencatatan data sekunder  Pemerintah Kecamatan Kayen&lt;br /&gt;
 Pemerintah Desa Talun&lt;br /&gt;
2 Potensi SDM :&lt;br /&gt;
a. Perbandingan jumlah penduduk&lt;br /&gt;
 Umur&lt;br /&gt;
 Jenis kelamin&lt;br /&gt;
 Pekerjaan&lt;br /&gt;
 Pendidikan&lt;br /&gt;
b. Kelompok Pembudidaya Ikan&lt;br /&gt;
 Jumlah anggota&lt;br /&gt;
 Kerjasama kelompok&lt;br /&gt;
 Kelas kelompok&lt;br /&gt;
 Jenis usaha&lt;br /&gt;
 Luas garapan&lt;br /&gt;
 Produksi   Kuesioner&lt;br /&gt;
 Observasi&lt;br /&gt;
 Wawancara&lt;br /&gt;
 Pencatatan data sekunder  Pemerintah Kecamatan Kayen&lt;br /&gt;
 Pemerintah Desa Talun&lt;br /&gt;
 Laporan Penyuluh Perikanan&lt;br /&gt;
3 Kinerja Usaha :&lt;br /&gt;
 Sistem produksi&lt;br /&gt;
 Jenis komoditas&lt;br /&gt;
 Produktivitas  Kuesioner&lt;br /&gt;
 Observasi&lt;br /&gt;
 Wawancara&lt;br /&gt;
 Pencatatan data sekunder  Laporan Penyuluh Perikanan&lt;br /&gt;
 Pokdakan&lt;br /&gt;
4 Kinerja Pasar :&lt;br /&gt;
 Rantai tata niaga&lt;br /&gt;
 Harga jual beli&lt;br /&gt;
 Sistem pemasaran&lt;br /&gt;
 Wilayah pemasaran&lt;br /&gt;
 Prosedur pemasaran  Kuesioner&lt;br /&gt;
 Observasi&lt;br /&gt;
 Wawancara&lt;br /&gt;
 Pencatatan data sekunder  Pedagang&lt;br /&gt;
 Pokdakan&lt;br /&gt;
5 Lembaga Penunjang&lt;br /&gt;
 Jenis&lt;br /&gt;
 Jumlah&lt;br /&gt;
 Fungsi  Observasi&lt;br /&gt;
 Wawancara  Pemerintah Kecamatan Kayen&lt;br /&gt;
 Pemerintah Desa Talun&lt;br /&gt;
 Laporan Penyuluh Perikanan&lt;br /&gt;
Sumber. Data PA 2010&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.3.2. Analisis Potensi dan Kinerja&lt;br /&gt;
Untuk menganalisis potensi dan kinerja dalam usaha budidaya ikan bandeng air tawar, hal yang perlu dilakukan terlebih dahulu adalah dengan menggunakan analisa SWOT. Analisa SWOT adalah identifikasi beberapa faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang (opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknes) dan ancaman (threats).&lt;br /&gt;
3.3.3. Sintesa Strategi Kebijakan Pengembangan Usaha&lt;br /&gt;
Rencana strategi pengembangan yang didasarkan pada tingkat penggunaan lahan tambak, pola tanam, serta teknik jaringan irigasi adalah sebagai berikut: 1) Strategi pengembangan kawasan dan peningkatan pemanfaatan lahan usaha secara bertahap dengan tetap mengacu pada luas lahan potensial. 2) Strategi penerapan teknologi yang adaptif dan berkelanjutan dengan acuan pencapaian target produksi berdasarkan lahan budidaya. 3) pembinaan intensif pada RTP dan kelompok sesuai dengan teknik manajerial RTP serta kemampuan penyediaan modal, saprodi dan pengolahan hasil.&lt;br /&gt;
3.3.4. Pengelolaan Aksi Penyuluhan &lt;br /&gt;
Kegiatan penyuluhan yang dilakukan berupa pembinaan usaha budidaya ikan bandeng air tawar melalui pemberdayaan kelompok yang ada di Kecamatan Kayen diantaranya adalah dengan pendekatan melalui ceramah, menggunakan poster, penyebaran folder dan leaflet. Pendekatan kelompok melalui diskusi kelompok, demontrasi, dan pendekatan perorangan melalui kunjungan usaha atau kunjungan rumah.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
3.4. Pengumpulan Data dan Pengambilan Contoh&lt;br /&gt;
3.4.1. Pengumpulan Data&lt;br /&gt;
Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari objek yang diteliti. Data ini belum mengalami modifikasi atau pengolahan lebih lanjut. Sumber untuk memperoleh data primer adalah semua yang tergabung dalam kelompok pembudidaya ikan bandeng air tawar, penyuluh perikanan, pedagang, dan pihak yang mendukung kegiatan perikanan di Kecamatan Kayen. Data primer dikumpulkan dengan menggunakan 2 metode yakni metode wawancara dan metode observasi. &lt;br /&gt;
Data sekunder adalah data yang diperoleh bukan langsung dari objek yang diteliti. Data ini biasanya berbentuk dokumen, baik yang belum atau sudah mengalami modifikasi serta pengolahan lebih lanjut. Untuk memperoleh data sekunder ini dilakukan dengan teknik dokumentasi. Data sekunder didapatkan dari pengumpulan data dan informasi berupa dokumen statistik wilayah, monografi dan data penunjang lainnya. Sumber untuk memperoleh data diambil dari Biro Pusat Statistik (BPS) Kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati, Laporan Tahunan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati, Kantor Kecamatan Kayen, Rencana Kerja Penyuluh Perikanan, studi literatur, dan internet.&lt;br /&gt;
3.4.2. Pengambilan Contoh&lt;br /&gt;
Penentuan sebaran lokasi dilakukan berdasarkan potensi lahan dan produksi ikan bandeng air tawar di Kecamatan Kayen Kabupaten Pati. Adapun dari sekian banyak kecamatan yang ada di Kabupaten Pati tersebut, maka Kecamatan Kayen yang dipilih sebagai lokasi Praktek Akhir dengan sebaran lokasi contoh terdapat di wilayah administrasi Desa Talun sebagai lokasi kegiatan usaha budidaya ikan bandeng air tawar.&lt;br /&gt;
Penentuan responden dilakukan dengan menggunakan teknik Random Sampling Berlapis (Stratified Random Sampling). Sampel yang diambil dari acak berlapis ini adalah dengan memisahkan elemen-elemen populasi dalam kelompok-kelompok, kemudian diambil sampel secara acak dari kelompok tersebut. Jumlah sampel yang diambil melalui perhitungan sebagai berikut :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
    N&lt;br /&gt;
1 + N (e)2&lt;br /&gt;
  N&lt;br /&gt;
           1 + N (e)2&lt;br /&gt;
     230&lt;br /&gt;
1 + 230(0,15)2 &lt;br /&gt;
   230&lt;br /&gt;
         1 + 230(0,0225)    &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan perhitungan menggunakan rumus Slovin dengan menggunakan tingkat kesalahan 15 % (disesuaikan dengan kondisi lapangan) sehingga diperoleh jumlah sampel sebanyak 37 orang dari total RTP yang ada. &lt;br /&gt;
3.4.3. Analisa Data&lt;br /&gt;
3.4.3.1. Potensi dan Tingkat Pemanfaatan Lahan&lt;br /&gt;
Analisa potensi dan pemanfaatan lahan dapat diketahui dengan mengumpulkan data mengenai luas wilayah potensial untuk kegiatan perikanan terutama dalam usaha budidaya ikan bandeng air tawar. Selain itu juga harus diketahui jumlah RTP (Rumah Tangga Perikanan) yang mengusahakan budidaya ikan bandeng, luas lahan yang digunakan, dan lama proses produksi, serta pola tanam yang diterapkan.&lt;br /&gt;
3.4.3.2. Produksi dan Produktivitas &lt;br /&gt;
Produsi dan produkstifitas (ton/ha/siklus) dapat dianalisa dengan mengetahui jumlah padat tebar, bobot tebar dan bobot panen, lama waktu pemeliharaan dan tingkat kelangsungan hidup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.4.3.3. Penerimaan Pendapatan dan Kelayakan Usaha&lt;br /&gt;
Analisa mengenai pendapatan yang diterima dan kelayakan dari usaha yang dijalankan oleh setiap kelompok pembudidaya ikan dapat dianalisa dengan menghitung analisa usaha. Analisa suatu usaha/ investasi perlu dilakukan untuk mngetahui kelayakan dan perkembangan usaha. Beberapa metode analisa yang dapat dipergunakan antara lain Renenue Cost Ratio (R/C ratio), Break Event Point (BEP) atau titik impas,  dan Payback Period. &lt;br /&gt;
3.4.3.4. Pemasaran Produk&lt;br /&gt;
Analisa mengenai pemasaran produk dapat diketahui dengan menganalisa data  mengenai hasil produksi yang diperoleh oleh pembudidaya, harga produk, saluran tataniaga yang digunakan, dan jenis pemasaran yang diterapkan oleh pembudidaya. &lt;br /&gt;
3.4.3.5. Kinerja Kemitraan Usaha/ Lembaga Penunjang&lt;br /&gt;
Adapun lembaga penunjang yang ada di Kecamatan Kayen dapat dilihat pada tabel berikut ini :&lt;br /&gt;
Tabel 2. Lembaga Penunjang Usaha Perikanan di Kecamatan Kayen &lt;br /&gt;
No Nama Lembaga Penunjang Jumlah Lokasi Keterangan&lt;br /&gt;
1 BRI Unit Desa 1 buah Kec. Kayen Simpan Pinjam&lt;br /&gt;
2 BKK  1 buah Kec. Kayen Simpan Pinjam&lt;br /&gt;
3 BPR 1 buah Kec. Kayen Simpan Pinjam&lt;br /&gt;
4 Koperasi Unit Desa 1 buah Kec. Kayen Simpan Pinjam dan Saprodi&lt;br /&gt;
5 Koperasi Mardi Santosa 1 buah Dsa. Rogomulyo Saprodi&lt;br /&gt;
6 Kios Saprodi 9 buah Dsa. Talun Saprodi&lt;br /&gt;
7 Kios Konsumsi 19 buah Dsa. Talun Kebutuhan konsumsi&lt;br /&gt;
8 Kelompok Pembudidaya 1 kelompok Dsa Talun Pokdakan Mina Sejahtera&lt;br /&gt;
9 BBI (Balai Benih Ikan) 1 buah BBPBAP Jepara Suplai benih dan UPT pendamping kegiatan Prasasti Mina  &lt;br /&gt;
10 Pasar Ikan (TPHT) 1 buah Kec. Kayen Kegiatan jual beli dan tempat bertemunya pelaku usaha dalam hal pemasaran produk perikanan&lt;br /&gt;
           Sumber: Programa Penyuluhan Perikanan Kecamatan Kayen 2009&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.4.4. Perumusan Masalah&lt;br /&gt;
Rumusan masalah dapat diketahui dari adanya analisis yang sudah dianalisa yaitu analisis SWOT (Strengths, Weakness, Opportunities, Threats). Adapun tahapan dalam menganalisis sebagai berikut 1) Mengidentifikasi faktor eksternal dan internal, 2) Menentukan bobot dan rating dari masing-masing item dalam setiap faktor tersebut, 3) Membuat matriks analisa SWOT, 4) dan Penetapan perioritas masalah.&lt;br /&gt;
Rumusan masalah dalam kegiatan budidaya ikan bandeng air tawar di Kecamatan Kayen meliputi :&lt;br /&gt;
1) Teknologi yang digunakan dalam budidaya ikan bandeng air tawar masih tradisional yang berpengaruh pada hasil produksi yang dicapaipun tidak maksimal sesuai yang diharapkan sehinggga diperlukan suatu pengembangan teknologi yang maju untuk meningkatkan produksi&lt;br /&gt;
2) Kelompok pembudidaya ikan kurang mendapatkan informasi tentang pasar yakni dalam hal promo produk atau informasi harga jual-beli produk.&lt;br /&gt;
3) Kegiatan kelompok pembudidaya ikan belum berjalan dengan baik yang diindikasikan dari segi administrasi dan koordinasi kelompok belum optimal. Oleh karena itu, perlu adanya kegiatan pembinaan kelompok melalui kegiatan penyuluhan untuk menambah pengetahuan, sikap dan keterampilan kelompok dalam mengembangkan dan memberdayakan kelompok dalam usaha budidaya ikan bandeng air tawar di Kecamatan Kayen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.4.5. Perumusan Strategi Pengembangan Usaha&lt;br /&gt;
3.4.5.1. Strategi Pengembangan Usaha&lt;br /&gt;
Perumusan strategi pengembangan usaha budidaya ikan bandeng air tawar dilakukan setelah melihat masalah yang ada dilapangan.&lt;br /&gt;
Berdasarkan permasalahan yang ada, maka diperlukan beberapa program untuk pengembangan usaha budidaya ikan bandeng air tawar di Kecamatan Kayen yaitu melakukan peningkatan produksi secara terencana untuk memenuhi permintaan pasar, mengembangkan teknologi budidaya dan pembinaan kelompok melalui pemberdayaan kelompok. &lt;br /&gt;
a. Mengembangkan Teknologi Budidaya &lt;br /&gt;
Program pengembangan teknologi budidaya dimaksudkan untuk menambah padat tebar benih/ gelondongan sehingga produksi yang dihasilkan dapat lebih tinggi. Oleh karena kelompok pembudidaya ikan bandeng air tawar di Kecaatan Kayen masih dilakukan secara sederhana dengan padat tebarnya rendah dan pemberian pakan hanya memanfatkan pakan alami sehingga diperlukan adanya peningkatan padat tebar. Dengan peningkatan padat tebar tersebut perlu diimbangi dengan adanya pengembangan teknologi dari tradisional menjadi tradisional plus/ maju yaitu dengan penambahan pakan buatan sehingga produksi dapat meningkat.   &lt;br /&gt;
b. Pembinaan kelompok pembudidaya melalui kegiatan penyuluhan&lt;br /&gt;
Jumlah kelompok pembudidaya di Kecamatan Kayen yaitu satu kelompok besar berjumlah sekitar 230 orang yang tergabung dalam “Pokdakan Mina Sejahtera”, sedangkan kelompok yang khusus melakukan kegiatan budidaya ikan bandeng air tawar sejumlah 24 orang. Dilihat dari kurang optimalnya kegiatan pembinaan kelompok pembudidaya sehingga perlu adanya pembinaan melalui kegiatan penyuluhan secara kontinyu. Dengan kegiatan tersebut diharapkan pembudidaya dapat memperoleh informasi dan keterampilan untuk mengembangkan teknologi budidaya yang benar. Selain itu juga, pembinaan melalui aksi penyuluhan ditujukan kepada kelompok agar anggotanya dapat berpartisipasi aktif dalam mengembangkan kelompok perikanan yang ada di Kecamatan Kayen. &lt;br /&gt;
3.4.5.2. Perencanaan Aksi Penyuluhan&lt;br /&gt;
a. Perencanaan Pengembangan Usaha secara Partisipatif&lt;br /&gt;
Adapun kegiatan pelaksanaan program pembinaan usaha budidaya ikan bandeng air tawar di Kecamatan Kayen terdiri dari :&lt;br /&gt;
1) Mengefektifkan Kelompok &lt;br /&gt;
Kegiatan yang dilakukan dalam mengefektifkan kelompok yaitu dengan metode pertemuan kelompok dengan materi yang diberikan sesuai dengan kesepakatan bersama antara anggota kelompok dan pihak yang berkepentingan. Pada kenyataannya kelompok perikanan Mina Sejahtera di Kecamatan Kayen sangat jarang melakukan pertemuan untuk berkoordinasi dan bekerjasama sehingga dengan pertemuan kelompok ini dapat saling bertukar informasi antara anggotanya..&lt;br /&gt;
2) Pembinaan Kelompok&lt;br /&gt;
Jenis Pembinaan yang dilakukan kepada kelompok pembudidaya Mina Sejahtera di Kecamatan Kayen yaitu pertukaran informasi (sharing) teknologi budidaya ikan bandeng air tawar dengan anggota kelompok untuk meningkatkan produksi. Adapun metode yang dilakukan dalam kegiatan pembinaan yaitu :&lt;br /&gt;
 Partisipasi dalam pengembangan usaha budidaya ikan bandeng air tawar dilakukan berdasarkan analisa potensi lahan dan kinerja kelompok Mina Sejahtera serta peluang pasar yang tersedia. Pendekatan yang dilakukan adalah temu lapang, kunjungan rumah/ anjangsana dan diskusi.&lt;br /&gt;
 Dempond/ Percontohan yang dilakukan jika sarana dan prasarana tersedia di lapangan. Faktor yang paling menentukan dalam membuat percontohan/ dempond adalah: pemilihan lokasi, materi, pelaku dan waktu pelaksanaan.&lt;br /&gt;
 Kunjungan kelompok dengan tujuan sharing informasi atau bimbingan dalam penerapan teknologi baru serta menjalin keakraban dan menumbuhkan kepercayaan pembudidaya. Sasaran dari kunjungan kelompok adalah semua yang tergabung dalam anggota kelompok Mina Sejahtera di Kecamatan Kayen waktu pelaksanaanya disesuaikan dengan kondisi lapangan, atau juga mengikuti jadwal pertemuan kelompok yang telah ditentukan.&lt;br /&gt;
3) Mengembangkan Kelompok&lt;br /&gt;
Administrasi kelompok Mina Sejahtera di Kecamatan Kayen kurang berjalan dengan baik sehingga dilakukan bimbingan dan pendampingan dalam pembuatan administrasi kelompok yang baik. Dengan adanya bimbingan tersebut dapat meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan kelompok dalam hal pengorganisasian kelompok serta dapat meningkatkan kelas kelompok.&lt;br /&gt;
b. Aksi Penyuluhan&lt;br /&gt;
Adapun pelaksanaan dari program penyuluhan yang telah direncanakan sebelumnya adalah sebagai berikut: &lt;br /&gt;
1) Pertemuan kelompok&lt;br /&gt;
Pertemuan kelompok adalah pertemuan yang jumlah pesertanya tidak lebih dari 20 orang dan biasanya diadakan untuk bertukar pikiran atau pendapat mengenai suatu kegiatan yang akan diselenggarakan serta mencari alternatif pemecahan masalah. Aksi penyuluhan yang dilakukan dari pelaksanaan program yang telah direncanakan yakni mengajak kelompok perikanan Mina Sejahtera yang ada di Kecamatan Kayen untuk duduk bersama membicarakan dan memecahkan berbagai permasalahan yang timbul dalam kelompok yang berkaitan dengan usaha budidaya ikan bandeng air tawar baik dalam penerapan teknologi, penyaluran produk, pemasaran hasil, pengorganisasian kelompok dan akses permodalan. Pertemuan kelompok dilakukan sesuai dengan waktu dan tepat yang telah disepakati bersama, biasanya dilaksanakan di rumah ketua kelompok.&lt;br /&gt;
2) Kunjungan rumah/ tempat usaha&lt;br /&gt;
Kunjungan rumah atau tempat usaha merupakan suatu bentuk kunjungan terencana yang dilakukan oleh penulis ke rumah atau tempat usaha pembudidaya dengan tujuan melakukan pembinaan dan bimbingan terhadap usaha yang dilakukan oleh pembudidaya ikan bandeng air tawar di Kecamatan Kayen. Selain menumbuhkan keakraban dan kepercayaan, juga memberikan bimbingan khusus serta pertukaran informasi baru kepada anggota kelompok Mina Sejahtera di Kecamatan Kayen yang dilakukan dengan diskusi santai.&lt;br /&gt;
3) Demonstrasi&lt;br /&gt;
Demonstrasi adalah peragaan suatu teknologi (bahan,alat atau cara) atau hasil penerapannya secara nyata yang dilakukan oleh demonstrator kepada sasarannya. Teknologi yang didemonstrasikan adalah teknologi yang sudah diuji baik dari segi penerapan, ekonomi, serta sosial budaya masyarakat setempat. Ditinjau dari materi yang didemonstrasikan, dibedakan atas demonstrasi cara, demonstrasi hasil, dan gabungan antara demonstrasi cara dan hasil. Aksi penyuluhan yang dilakukan dari pelaksanaan program yang telah direncanakan yakni melaksanakan demonstrasi cara pada kelompok pengolahan ikan Mina Rezeki Kecamatan Kayen. Materi yang diberikan yankni proses pengolahan ikan bandeng asap dan pembuatan empek-empek panggang, sedangkan pelaksanaanya disesuaikan dengan waktu yang telah disepakati bersama. &lt;br /&gt;
4) Temu usaha/ temu lapang&lt;br /&gt;
Menumbuhkan rangsangan ke arah usaha komersial, kerjasama usaha dan membuka kesempatan untuk menambah pengetahuan dalam teknologi produsi serta memperluas jaringan pemasaran dengan mengadakan tranksaksi usaha yang menguntungkan kedua belah pihak melalui proses diskusi antara pelaku usaha dengan pihak penyedia modal/ lembaga keuangan. Temu usaha/ temu lapang yang rencananya akan dilaksanakan dengan melibatkan berbagai stakeholder perikanan, antara lain Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati, Penyuluh Perikanan, Kelompok Mina Sejahtera Kecamatan Kayen, tokoh masyarakat, pihak penyedia saprokan, pihak pemasok/ penampung hasil produksi, investor dan lembaga keuangan penyedia modal (bank dan lembaga pengkerditan lainnya). Dalam pelaksanaannya, ternyata mengalami kendala khususnya dalam segi finansial dan dukungan unsur pemerintah daerah dalam hal penyaluran anggaran perikanan ke Dinas Kelautan dan Perikanan Pati, serta beberapa kendala teknis lainnya yang dihadapi di lapangan sehingga kegiatan temu usaha/ temu lapang  yang dimaksudkan tidak telaksana. &lt;br /&gt;
c. Evaluasi Penyuluhan&lt;br /&gt;
Evaluasi hasil kegiatan penyuluhan dari program penyuluhan yang telah disepakati akan dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui efektivitas metoda pelaksanaan penyuluhan dalam meningkatkan pengetahuan (kognitif) RTP pembudidaya dan evaluasi terhadap keberhasilan penerapan teknologi pembudidaya ikan bandeng yang dianjurkan.  Sedangkan sasaran evaluasi yaitu RTP pembudidaya ikan bandeng terpilih yang telah mengikuti dan melaksanakan program penyuluhan perikanan. &lt;br /&gt;
Evaluasi dilakukan dua kali, yaitu sebelum (pre evaluation) dan sesudah pelaksanaan penyuluhan (post evaluation). Pre evaluation dilakukan bersamaan dengan tahap pengumpulan data terhadap responden terpilih, sedangkan post evaluation dilakukan pada minggu terakhir kegiatan praktek akhir bersamaan dengan kompeling data. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;IV. HASIL DAN PEMBAHASAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4.1. Kondisi dan Kinerja Usaha&lt;br /&gt;
4.1.1. Keadaan Umum&lt;br /&gt;
Kelompok budidaya ikan bandeng air tawar Mina Sejahtera berada dalam wilayah administrasi Desa Talun, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati.  Secara geografis Kecamatan Kayen terletak pada koordinat 110o.50”- 111o.15” Bujur Timur dan  6o.25” - 7o. Lintang Selatan. Batas-batas wilayah administrasi Desa Talun adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;
• Sebalah Utara : Ds. Wuwur Kec. Gabus Kab. Pati&lt;br /&gt;
• Sebelah Selatan : Ds. Pesagi Kec. Kayen Kab. Pati&lt;br /&gt;
• Sebalah Barat : Ds. Bulung Cangkring Kec. Jekulo Kab. Kudus&lt;br /&gt;
• Sebelah Timur : Ds. Boloagung Kec. Kayen Kab. Pati&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4.1.2. Kondisi Kelompok Mina Sejahtera&lt;br /&gt;
Pada Awal  usaha budidaya ikan bandeng air tawar di Desa Talun Kecamatan Kayen diprakarsai oleh Bapak Nur Salim yang melakukan usaha budidaya ikan bandeng air tawar setelah belajar dan mengamati proses usaha tersebut di Lamongan, Jawa Timur. Di periode awal tahun1997, bapak Nur Salim mulai memperkenalkan serta meyakinkan masyarakat desa Talun pada usaha budidaya ikan bandeng air tawar. Namun banyak kendala yang dihadapi dalam meyakinkan masyarakat, bahkan banyak juga warga yang menolak akan usaha tersebut. Pada akhirnya beliau dipertemukan dengan bapak Haji Muchamad Amir, kemudian dengan usahanya untuk meyakinkan maka di ajak ke Lamongan dan membeli nener ikan bandeng serta di uji cobakan di kolam yang ada di Desa Talun. Alhasil, lahan tidur yang tidak bisa di manfaatkan  itu, setelah di uji cobakan budidaya polikultur ikan bandeng air tawar dengan ikan mas pada areal seluas 1 hektar berhasil serta menghasilkan panen ikan bandeng yang cukup melimpah. Sebagian hasil panen oleh mereka dibagikan kepada seluruh penduduk yang ada di Desa Talun dan setelah kejadian itu maka animo masyarakat untuk membudidayakan bandeng air tawar  mulai tumbuh yang diindikasikan dengan semakin banyaknya warga masyarakat mengikuti usaha bandeng air tawar.&lt;br /&gt;
Awal tahun 1998 setelah warga masyarakat Desa Talun mulai banyak melaksanakan kegiatan budidaya ikan bandeng air tawar, maka timbul masalah dalam hal keamanan. Masyarakat dari luar desa Talun yakni dari desa atau kecamatan tetangga pada berdatangan ke tambak di Desa Talun untuk mencuri ikan yang dipelihara. Melihat kejadian itu, bapak Maksum berinisiatif mengajak saudara-saudaranya untuk membentuk sebuah kelompok pembudidaya dengan nama kelompok pembudidaya ikan  “Mina Sejahtera:.  Kegiatan kelompok ini meliputi kegiatan usaha penggelondongan dan usaha pembesaran ikan bandeng air tawar dengan prioritas utama menjaga kondisi keamanan tambak tetap stabil. Pada tanggal 23 Mei 2008, kelompok Mina Sejahtera yang diketuai oleh Bapak Maksum oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati dibagi menjadi 5 sub kelompok. Adapun kelima sub kelompok tersebut adalah sub kelompok pembenihan, sub kelompok pengolahan, sub kelompok budidaya, sub kelompok produksi pakan, dan sub kelompok pemasaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4.2. Potensi dan Kinerja&lt;br /&gt;
4.2.1. Potensi dan Tingkat Pemanfaatan Lahan&lt;br /&gt;
Kabupaten Pati mempunyai potensi yang cukup besar di bidang budidaya tambak yakni seluas 10.604,52 Ha. Untuk budidaya ikan bandeng air tawar sendiri di Kecamatan Kayen telah dimanfaatkan kolam seluas 162 Ha yang terbagi atas kolam pembesaran seluas 151 Ha dan kolam penggelondongan seluas 11 Ha.&lt;br /&gt;
4.2.2. Ketersediaan Prasarana&lt;br /&gt;
Sarana budidaya adalah peralatan yang diperlukan langsung dalam kegiatan produksi, sedangkan prasarana adalah segala sesuatu yang dapat menunjang kegiatan produksi. Untuk ketersediaan sarana dan prasarana budidaya tidak mengalami kesulitan dalam pengadaannya dikarenakan dalam pengadaannya cukup mudah didapatkan.&lt;br /&gt;
4.2.3. Pola Tanam&lt;br /&gt;
Lama pemeliharaan ikan bandeng air tawar  pada segmen pembesaran  yang ada di Desa Talun  Kecamatan Kayen  rata – rata 60 hari, sehingga dalam satu tahun dilakukan panen sebanyak 3 -4 kali dengan waktu isterahat 1 bulan . Pola tanam seperti ini rata – rata sudah diterapkan oleh para pembudidaya ikan bandeng air tawar. Akan tetapi semuanya bergantung pada keadaan cuaca karena pada kondisi banjir para pembudidaya hanya dapat melakukan panen sebanyak satu kali disebabkan resiko yanga ada. Biasanya pada pertengahan bulan Juli sampai Desember banjir selalu mengenangi kawasan tambak milik pembudidaya. Selain itu juga, faktor finansial mempengaruhi kegiatan budidaya yaitu dalam hal penyediaan modal untukpembelian nener ikan bandeng air tawar, sehingga apabila kondisi keuangan yang mereka miliki apabila tidak ada maka kegiatan budidayapun  tidak dilakukan.&lt;br /&gt;
4.2.4. Kinerja Produksi &lt;br /&gt;
Secara umum para pelaku pembudidaya ikan bandeng air tawar Mina Sejahtera di Desa Talun dalam melaksanakan kegiatan produksi masih menggunakan sistem tradisional yang mengandalkan pakan alami sehingga hasil produksi belum tercapai maksimal. Dalam usaha budidaya ikan bandeng air tawar di Kecamatan Kayen telah dimanfaatkan kolam seluas 162 Ha yang terbagi atas kolam pembesaran seluas 151 Ha dan kolam penggelondongan seluas 11 Ha. Untuk keragaan produksi budidaya ikan bandeng air tawar pada segmen penggelondongan mencapai kurang lebih 800.000-10.000 ekor/nener/bln, sedangkan pada segmen pembesaran ikan bandeng air tawar di Kecamatan Kayen mencapai kurang lebih 3,5-4 ton/bln&lt;br /&gt;
4.2.5. Kinerja Pemasaran&lt;br /&gt;
Menurut sumber informasi yang diperoleh dari pihak Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati serta wawancara langsung dengan pembudidaya, maka pemasaran ikan bandeng air tawar yang dilakukan di Kecamatan Kayen melalui tengkulak atau di Tempat Pelelangan Hasil Tambak (TPHT) kemudian dipasarkan ke daerah Juwana, Semarang, Kudus, wilayah waduk Kedung Ombo Kabupaten Sragen, Jatiluhur Kabupaten Purwakarta, dan kepada para pembakul yang ada di wilayah Kayen dan sekitarnya.&lt;br /&gt;
4.2.6. Kinerja Lembaga Penunjang&lt;br /&gt;
Untuk kinerja lembaga penunjang dilakukan analisa kelembagaan yang menunjang di Desa Talun yang dirinci pada tabel berikut ini.&lt;br /&gt;
Tabel 3.  Analisa Kelembagaan Penunjang Kegiatan Budidaya di Desa Talun Kec. Kayen&lt;br /&gt;
No Lembaga Masalah Potensi&lt;br /&gt;
1.  BRI/BNI/BANK JATENG &lt;br /&gt;
 BKK/BPR   Peryaratan dan tingkat kepercayaan perbankan masih kurang &lt;br /&gt;
 Bunga tinggi   Tersedianya dana untuk pengembangan usaha &lt;br /&gt;
2.  Kios Saprokan &lt;br /&gt;
 Pasar &lt;br /&gt;
 Kios Konsumsi   Harga tidak sesuai dan tidak stabil&lt;br /&gt;
 Belum mencukupi kebutuhan   Membantu sarana produksi dan kebutuhan masyarakat &lt;br /&gt;
3.  KUD / Koperasi   Pelayanan belum optimal   Tersedianya sarana produksi dana dan pemasaran hasil &lt;br /&gt;
4.  Kelompok Pembudidaya Ikan   Teknologi &lt;br /&gt;
 Permodalan &lt;br /&gt;
 SDM   Wadah Pembinaan dan Pengembangan Usaha Perikanan &lt;br /&gt;
5.  DKP / Penyuluh Perikanan   Pembinaan belum optimal &lt;br /&gt;
 Kurangnya sarana teknis   Membina dan fasilisator kelompok usaha perikanan &lt;br /&gt;
          Sumber: Data Praktek Akhir (2010)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4.2.7. Kinerja Lembaga Penyuluhan&lt;br /&gt;
Kelompok Mina Sejatera merupakan bagian dari binaan Penyuluh Perikanan  Kecamatan Kayen.  Sehingga Penyuluh Perikanan Kecamatan Kayen sangat berperan aktif dalam  kegiatan pembinaan kelompok Mina Sejahtera.  Bahkan, selama pelaksanaan praktek akhir (PA), upaya pengembangan kemampuan kelompok telah diwujudkan dengan bekerjasama dengan pengurus Mina Sejahtera, sehingga terbentuk rancangan program pengembangan kemampuan kelompok yang diketahui oleh pihak Desa Talun dan Kecamatan Kayen, serta Dinas Kelautan dan Perikanan kabupaten Pati. Para penyuluh melakukan pertemuan setiap 1 bulan sekali yang lokasinya disesuaikan oleh kesepakatan bersama, biasanya di luar kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati bahkan tidak jarang melakukan pertemuan di tambak di Desa Talun dengan berbagai kegiatan seperti evaluasi penyuluhan atau juga untuk melaporkan tentang kegiatan yang telah dilakukan di wilayah binaannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4.3. Pengembangan Usaha&lt;br /&gt;
4.3.1. Pengembangan Bisnis Perikanan&lt;br /&gt;
Program Akselerasi dan Sosialisasi Teknologi Inovasi Kelautan dan Perikanan (Prasasti Mina) di Kabupaten Pati saat ini sudah mulai menginjak tahun ketiga yang dimulai sejak tahun 2007 yang lalu. Berdasarkan road map program prasasti mina di Kabupaten Pati bahwa pada tahun ketiga ini adalah pemantapan kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan pada tahun sebelumnya. Kegiatan tersebut diantaranya adalah pemantapan model kerjasama kelembagaan bisnis perikanan, pemantapan aplikasi introduksi teknologi perikanan, pemantapan diversifikasi komoditas perikanan, dan pemantapan integrasi usaha bisnis perikanan.&lt;br /&gt;
4.3.2. Penerapan Teknologi&lt;br /&gt;
Dalam rangka mendukung Program Prasasti Mina di Desa Talun Kecamatan Kayen Kabupaten Pati, telah dilakukan kegiatan uji adapatasi ikan bandeng air tawar yang dimaksudkan untuk mengetahui kesesuaian daya adaptasi komponen-komponen teknologi yang diselenggarakan di Desa Talun Kecamatan Kayen Kabupaten Pati. Hal ini dilakukan agar diperoleh kesesuaian teknologi dengan lokasi ataupun lingkungan pembudidayaan. Disamping untuk mendapatkan hasil produksi yang optimal per satuan unit usaha pembudidayaan ikan bandeng air tawar. Uji adaptasi ini dirancang dengan tujuan mengetahui penerapan teknis budidaya ikan bandeng dengan perlakuan pemberian pakan buatan, pakan alami, dan mix antara pakan buatan dan pakan alami, dan pengaruhnya terhadap besarnya produksi yang dihasilkan per satuan unit usaha. Kegaiatan ini dilakukan pada petakan yang luasnya sama masing-masing 7.000 m2 namun dengan padat tebar yang berbeda serta dengan tiga perlakuan pemberian pakan yang berbeda pula yakni dengan pakan buatan (Kolam “A”),  menggunakan pakan alami (Kolam “B”), serta mix antara pakan buatan dan pakan alami ( Kolam “C”). &lt;br /&gt;
4.3.3. Tahap Pelaksanaan&lt;br /&gt;
Pada pelaksanaan kegiatan Praktek Akhir, penulis ikut serta juga bergabung dalam melanjutkan pelaksanaan kegiatan pada program prasasti mina di Desa Talun. Kegiatan tersebut diantaranya adalah uji adaptasi yang hingga pada saat akhir dari pelaksanaan Praktek Akhir masih dilaksanakan. Penulis ikut serta juga  dalam kegiatan pembinaan rutin melalui pertemuan kelompok ataupun melalui kegiatan kunjungan usaha. Dalam pelaksanaannya kegiatan tersebut diatas dilakukan bersama-sama dengan petugas teknis dari BBPBAP Jepara selaku UPT pendamping kegiatan prasasti mina di Desa Talun serta Penyuluh Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati. Pelaksanaan kegiatan pada bulan Februari secara umum tidak berjalan lancar yaitu terjadi salah satu kolam yang terendam banjir yakni kolam dengan perlakuan murni pakan alami (Kolam”B”). Kondisi banjir itu sendiri sebenarnya merupakan siklus tahunan yang biasa menimpa Desa Talun. Pada saat akhir pelaksanaan kegiatan Praktek Akhirpun, yaitu di awal bulan Mei, sempat terjadi banjir di Desa Talun, namun tidak mengakibatkan kerugian serta menghambat kegiatan masyarakat khususnya pembudidaya ikan bandeng air tawar.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4.4. Aksi Penyuluhan&lt;br /&gt;
4.4.1. Program Prioritas yang Dikerjakan &lt;br /&gt;
Aksi penyuluhan yang dilakukan serta telah disepakati oleh pelaku utama dalam upaya meningkatkan kemampuan usaha budidaya ikan bandeng air tawar di Kecamatan Kayen terdiri dari beberapa kegiatan seperti: mengefektifkan kelompok dengan materi yang diberikan tentang pentingnya kelompok, mengembangkan kemampuan kelompok dengan penerapan teknologi budidaya tradisional plus, pengendalian hama dan penyakit, bimbingan administrasi kelompok, serta bimbingan dalam proses memasarkan produk.&lt;br /&gt;
1. Mengefektifkan Kelompok&lt;br /&gt;
a. Tujuan&lt;br /&gt;
Setelah melaksanakan kegiatan aksi penyuluhan dengan materi yang diberikan tentang pentingnya kerjasama dan koordinasi dalam kelompok, pelaku pembudidaya ikan bandeng air tawar mampu mengelola kelompoknya dengan baik serta mampu mengkoordinasikan kelompok dengan baik.&lt;br /&gt;
b. Rencana Operasional&lt;br /&gt;
1) Waktu dan Tempat&lt;br /&gt;
Waktu dan tempat pelaksanaan kegiatan aksi penyuluhan disesuaikan dengan hasil kesepakatan dengan pembudidaya.&lt;br /&gt;
2) Evaluasi&lt;br /&gt;
Sebelum dilakukan aksi penyuluhan mengenai kegiatan pengefektifan kelompok, maka tingkat pengetahuan pelaku usaha dinilai terlebih dahulu sebagai evaluasi awal, selanjutnya dilakukan evaluasi akhir setelah aksi penyuluhan dilakukan.&lt;br /&gt;
3) Aksi Penyuluhan&lt;br /&gt;
Aksi penyuluhan yang dilakukan yaitu Kegiatan kunjungan rumah/usaha secara rutin setiap hari, biasanya dari hari Senin sampai Kamis atau menyesuaikan dengan keadaan lapangan. Kegiatan ini awalnya dilakukan bersama–sama dengan penyuluh perikanan setempat, namun sejalannya dengan perkembangannya maka kunjungan rumah ini dilakukan sendiri. Dalam kegiatan ini dilakukan obrolan ringan dan santai kepada anggota kelompok pembudidaya dengan membahas berbagai permasalahan yang dihadapi kelompok dan alternatif permasalahannya khususnya tentang keberadaaan kelompok itu sendiri, menyampaikan informasi penting dari dinas mengenai program “Mina Politan” sebagai pengganti dari adanya program “Prasasti Mina” , menyampaikan kuisioner serta melakukan penyuluhan. Kegiatan kunjungan rumah/tempat usaha dilakukan dengan cara berkeliling dari satu rumah/tempat usaha satu ke tempat yang lain. Dalam satu hari bisa mengunjungi 3 – 5 orang pembudidaya.&lt;br /&gt;
2. Pembinaan Kelompok&lt;br /&gt;
a. Tujuan&lt;br /&gt;
Setelah melaksanakan kegiatan aksi penyuluhan dengan melakukan pendampingan dan bimbingan dengan memberikan informasi teknologi yang lebih maju, pelaku usaha dapat mengetahui ilmu pengetahuan dan teknologi serta menerapkannya untuk meningkatkan produksi.&lt;br /&gt;
b. Rencana Operasional&lt;br /&gt;
1) Waktu dan Tempat&lt;br /&gt;
Waktu dan tempat pelaksanaan kegiatan aksi penyuluhan disesuaikan dengan hasil kesepakatan.&lt;br /&gt;
2) Evaluasi&lt;br /&gt;
Sebelum dilakukan aksi penyuluhan dengan melakukan pembinaan kelompok, maka tingkat pengetahuan pelaku usaha dinilai terlebih dahulu sebagai evaluasi awal, selanjutnya dilakukan evaluasui akhir setelah melakukan kegiatan penyuluhan.&lt;br /&gt;
3) Aksi Penyuluhan&lt;br /&gt;
Aksi penyuluhan dalam proses pembinaan dilakukan terhadap sub kelompok pengolahan “Mina Rezeki” dengan melakukan pertemuan kelompok sebanyak 2 kali pada tanggal 30 Maret 2010 (melakukan praktek pengolahan ikan bandeng asap), dan pada tanggal 27 April 2010 (melakukan praktek pengolahan empek-empek). Pada pertemuan pertama dihadiri oleh 12 orang anggota kelompok, dan pada pertemuan kedua dihadiri oleh 13 orang anggota kelompok. Selama pertemuan kelompok itu ikut hadir juga Penyuluh Perikanan Kecamatan Kayen dan di saksikan juga oleh perwakilan dari Pemerintah Desa Talun. Metoda yang digunakan yaitu “demonstrasi cara” dengan terlebih dahulu menyampaikan materi tentang alat, bahan dan proses pelaksanaannya secara teori, selanjutnya dilakukan praktek pengolahan bersama ibu-ibu yang tergabung dalam sub kelompok Mina Rezeki Desa Talun. Media yang digunakan pada pelaksanaan aksi penyuluhan ini yaitu menggunakan liflet.&lt;br /&gt;
3. Mengembangkan Kelompok &lt;br /&gt;
a. Tujuan&lt;br /&gt;
Setelah melaksanakan kegiatan aksi penyuluhan, pelaku pembudidaya ikan bandeng air tawar di Kecamatan Kayen mampu mengembangkan kelompoknya sehingga dapat meningkatkan kelas kelompok. Dalam hal administrasi, kelompok Mina Sejahtera masih sangat kurang sehingga kesulitan dalam menemukan data kelompok serta dalam hal peningkatan kelas kelompok. Diharapkan denga adanya kegiatan aksi penyuluhan dengan materi administrasi kelompok, sasaran penyuluhan yaitu para pengurus kelompok Mina Sejahtera dapat membenahi kembali administrasinya. Hal ini sangat bermanfaat bagi peningkatan kemampuan pengurus dalam mengelola kelembagaan kelompok Mina Sejahtera, selain itu juga dapat mengelola kelompok sehingga pelaku usaha dapat menentukan pola usaha perikanan yang menguntungkan berdasarkan teknologi terapan dan berorientasi pada kebutuhan pasar.&lt;br /&gt;
b. Rencana Operasional&lt;br /&gt;
1) Waktu dan Tempat&lt;br /&gt;
Waktu dan tempat pelaksanaan kegiatan aksi penyuluhan disesuaikan dengan hasil kesepakatan.&lt;br /&gt;
2) Evaluasi&lt;br /&gt;
Sebelum dilakukan aksi penyuluhan mengenai administrasi kelompok, maka tingkat pengetahuan pelaku usaha dinilai terlebih dahulu sebagai evaluasi awal.&lt;br /&gt;
3) Aksi Penyuluhan&lt;br /&gt;
Aksi penyuluhan dilakukan terhadap pengurus kelompok Mina Sejahtera dalam hal ini yaitu ketua dan sekretaris dengan waktu dan metode penyuluhan yang ditetapkan secara partisipatif, yaitu dilaksanakan selama beberapa hari mulai tanggal 5-8 Mei 2010 menggunakan metode diskusi dan media penyuluhan berupa buku-buku yang dibuat oleh penulis yang terdiri dari buku daftar anggota, buku tamu, buku agenda surat masuk, buku agenda surat keluar, buku daftar hadir kelompok, buku notulen, buku kegiatan kelompok, buku pengamatan kelompok, rencana kegiatan anggota kelompok, rekapitulasi data produksi,dan proses produksi.&lt;br /&gt;
4.4.2. Evaluasi Penyuluhan&lt;br /&gt;
1) Evaluasi Awal dan Akhir  Tingkat Pengetahuan&lt;br /&gt;
Dari aksi penyuluhan yang dilakukan pada kegiatan pengolahan ikan bandeng asap tanggal 30 Maret 2010, maka hasil evaluasi awal terlihat tingkat pengetahuan kelompok Mina Rezeki adalah rata – rata 58,33%. Tingkat pengetahuan para anggota kelompok banyak didapat dari pengalaman pada kegiatatan magang yang pernah dilakukan di BPPP Tegal pada tanggal 24 November - 30 November 2008. Kelompok pengolahan Mina Rezeki untuk lebih memahami tentang cara pengolahan ikan bandeng yang baik dan benar maka selain dilakukan aksi penyuluhan dengan metode “demonstrasi cara” juga diberikan leflet tentang pengolahan ikan bandeng asap. Setelah dilakukan aksi penyuluhan tingkat pengetahuan kelompok pengolahan Mina Rezeki mejadi 90 %. Ini menunjukkan terjadi peningkatan setelah kegiatan penyuluhan sebesar 31,67%.&lt;br /&gt;
Aksi penyuluhan yang dilakukan pada kegiatan pengolahan empek-empek panggang tanggal 27 April 2010, maka hasil evaluasi awal terlihat tingkat pengetahuan kelompok Mina Rezeki adalah rata – rata 76,15%. Kegiatan penyuluhan ini diharapakan selain dapat meningkatkan pengetahuan dan meningkatkan pendapatan ibu-ibu sebagai pendamping suami atau juga menambah nilai tambah perekonomian keluarga, juga diharapkan dapat memanfaatkan hama yakni ikan gabus menjadi olahan yang bermanfaat bagi kelompok. Setelah dilakukan aksi penyuluhan tingkat pengetahuan kelompok pengolahan Mina Rezeki mejadi 94,61 %. Ini menunjukkan terjadi peningkatan setelah kegiatan penyuluhan dilakukan sebesar 18,46%.&lt;br /&gt;
2) Evaluasi Awal dan Akhir Tingkat Sikap&lt;br /&gt;
Evaluasi awal mengenai sikap anggota kelompok pengolahan Mina Rezeki di Kecamatan kayen adalah rata – rata untuk pengolahan ikan bandeng asap adalah 60,25% dan untuk pengolahan empek-empek panggang adalah 49,08%. Pada evaluasi akhir mengenai sikap diperoleh hasil pada pengolahan ikan bandeng asap sebesar 89,16% dan tingkat sikap pada pengolahan empek-empek panggang menjadi 84,30%. Dari hasil ini terjadi peningkatan sikap masing-masing sebesar 28,91% dan 35,22%.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;V. KESIMPULAN DAN SARAN&lt;br /&gt;
&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
5.1. Kesimpulan&lt;br /&gt;
a) Di Desa Talun Kecamatan Kayen terdapat Pokdakan Mina Sejahtera dengan jumlah anggota sekitar 230 orang yang dibagi dalam beberapa sub-sub kelompok, sedangkan yang bergerak dalam kegiatan budidaya ikan bandeng air tawar sejumlah 24 orang.&lt;br /&gt;
b) Untuk budidaya ikan bandeng air tawar di Kecamatan Kayen telah dimanfaatkan kolam seluas 162 Ha yang terbagi atas kolam pembesaran seluas 151 Ha dan kolam penggelondongan seluas 11 Ha. Produksi penggelondongan ikan bandeng air tawar di Kecamatan Kayen mencapai kurang lebih 800.000-10.000 kg/nener/bln, sedangkan pada segmen pembesaran mencapai kurang lebih 3,5-4 ton/bln. &lt;br /&gt;
c) Dalam usaha meningkatkan Pengetahuan, sikap dan keterampilan pembudidaya ikan bandeng air tawar dilakukan uji adaptasi yang merupakan program pendukung Prasasti Mina di Kecamatan Kayen. Uji adaptasi ini dirancang dengan tujuan mengetahui penerapan teknis budidaya ikan bandeng dengan perlakuan pemberian pakan buatan, pakan alami, dan mix antara pakan buatan dan pakan alami, dan pengaruhnya terhadap besarnya produksi yang dihasilkan per satuan unit usaha.&lt;br /&gt;
d) Uji adaptasi yang dilakukan pada petakan dengan luasan yang sama (7.000 m2) dengan padat tebar yang berbeda serta dengan tiga perlakuan pemberian pakan yang berbeda pula menghasilkan kenaikan pertumbuhan yang lebih baik terjadi pada kolam dengan perlakuan Mix pakan buatan dan pakan alami, dengan pertumbuhan rata-rata sebesar  50-60 gr/ekor. &lt;br /&gt;
e) Dalam rangka pembinaan usaha budidaya ikan bandeng air tawar melalui pemberdayaan kelompok di Desa Talun Kecamatan Kayen, maka program yang berhasil dilakukan adalah pengaktifan kelompok, pembinaan kelompok dan pemberdayaaan kelompok dengan hasil evaluasi terjadi peningkatan pengetahuan rata-rata sebesar 25,07% dan peningkatan sikap rata-rata 32.07%. &lt;br /&gt;
5.2. Saran &lt;br /&gt;
Secara umum Kelompok Mina Sejahtera yang bergerak dalam usaha budidaya ikan bandeng air tawar bisa dikatakan belum efektif, hal ini dapat dilihat dengan adanya perilakuan anggota yang hanya berorientasi pada diri sendiri dan bukan pada kelompok. Oleh karena itu, dalam rangka mewujudkan program pembinaan usaha melalui pemberdayaan kelompok, perlu adanya partisipasi aktif dari kelompok Mina Sejahtera untuk dapat berorientasi pada tugas yang dicirikan pada upaya mengingatkan dan mengajak bekerja dan perilaku yang bersifat memelihara hubungan antara anggota kelompok yang dicirikan dengan adanya upaya untuk mengingatkan dan mengajak untuk mempertahankan keutuhan kelompok tersebut. &lt;br /&gt;
Selain itu, dibutuhkan dukungan dari berbagai pihak yang terkait yang dapat memfasilitasi kerjasama antara pembudidaya dengan lembaga penunjang, serta pembinaan intensif untuk peningkatan sikap, pengetahuan dan keterampilan dari aspek teknis, ekonomi, maupun sosial budaya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;
DAFTAR PUSTAKA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anonim. 2008. Laporan Tahunan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati.&lt;br /&gt;
Nitimulyo, Kamsio Handoyo. 2003. Penelitian Kegagalan Pengelolaan Tambak di Kabupaten Pati. Pati: Litbang Kabupaten Pati.&lt;br /&gt;
Praptokardyo, K. dan Wellem Muskita.  2008.  Pengembangan Perikanan Budidaya. [Diktat mata kuliah Pengembangan Perikanan Budidaya].  Bogor: Materi Perkuliahan Sekolah Tinggi Perikanan Jurusan Penyuluhan Perikanan.  &lt;br /&gt;
Soesono, Slamet. 1988.  Budidaya Ikan dan Udang dalam Tambak.  Jakarta: P.T. Gramedia Pustaka Utama.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lunly713.blogspot.com/feeds/8787995592852253650/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/1769903451515941949/8787995592852253650' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default/8787995592852253650'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default/8787995592852253650'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lunly713.blogspot.com/2010/07/makalah-seminar-karya-ilmiah-praktek.html' title=''/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03307642535889500865</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1769903451515941949.post-139150073139436270</id><published>2010-04-05T01:32:00.001-07:00</published><updated>2010-04-05T01:32:23.603-07:00</updated><title type='text'>Free Blogger Icon Set | Blog Tutorial | Free Template | Download Software</title><content type='html'>&lt;a href=&quot;http://kolom-tutorial.blogspot.com/2010/01/free-blogger-icon-set.html&quot;&gt;Free Blogger Icon Set | Blog Tutorial | Free Template | Download Software&lt;/a&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lunly713.blogspot.com/feeds/139150073139436270/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/1769903451515941949/139150073139436270' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default/139150073139436270'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default/139150073139436270'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lunly713.blogspot.com/2010/04/free-blogger-icon-set-blog-tutorial_05.html' title='Free Blogger Icon Set | Blog Tutorial | Free Template | Download Software'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03307642535889500865</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1769903451515941949.post-2390582578354343195</id><published>2010-04-05T01:32:00.000-07:00</published><updated>2010-04-05T01:32:22.285-07:00</updated><title type='text'>Free Blogger Icon Set | Blog Tutorial | Free Template | Download Software</title><content type='html'>&lt;a href=&quot;http://kolom-tutorial.blogspot.com/2010/01/free-blogger-icon-set.html&quot;&gt;Free Blogger Icon Set | Blog Tutorial | Free Template | Download Software&lt;/a&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lunly713.blogspot.com/feeds/2390582578354343195/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/1769903451515941949/2390582578354343195' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default/2390582578354343195'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default/2390582578354343195'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lunly713.blogspot.com/2010/04/free-blogger-icon-set-blog-tutorial.html' title='Free Blogger Icon Set | Blog Tutorial | Free Template | Download Software'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03307642535889500865</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1769903451515941949.post-2993028854371428672</id><published>2010-04-05T01:12:00.000-07:00</published><updated>2010-04-05T01:12:54.028-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Bandeng Air Tawar"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Budidaya Ikan Nila"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Perikanan Darat"/><title type='text'>BudidayA Ikan Bandeng Air TawAr</title><content type='html'>MAKSUD DAN TUJUAN&lt;br /&gt;
Maksud dari penyusunan tulisan ini yaitu menjadi bahan rujukan atau pedoman bagi para pembudidaya yang berminat menyelenggarakan usaha budidaya ikan bandeng air tawar. Adapun tujuan yang diharapkan yaitu, pembudidaya dapat menerapkan teknologi dan manajerial budidaya ikan bandeng air tawar secara tepat sesuai dengan produktivitas lahan dan daya dukung lingkungan perairan sehingga produktif dan efisien. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
RUANG LINGKUP &lt;br /&gt;
Ikan bandeng termasuk ikan yang paling populer di seluruh Indonesia, baik segar maupun sudah diolah duri lunak maupun pindang, orang dengan akrab mengonsumsinya. Bila dahulu hanya bisa dipelihara di tambak yang berair asin, kini bandeng sudah bisa dipelihara di kolam air tawar.Taiwan adalah salah satu negara yang sudah mengembangkan bandeng di kolam air tawar karena jumlah kolam air tawar yang melimpah. Negara ini sebagai pelopor budi daya bandeng air tawar karena banyak yang belajar di Taiwan cara membudidayakan bandeng secara menguntungkan. Teknologi ini&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PENGENALAN JENIS.&lt;br /&gt;
Bandeng dapat dipelihara di air tawar karena memiliki sifat euryhaline. Artinya, ikan mampu hidup di kisaran salinitas yang tinggi, meskipun untuk memijahkan induk dan larva masih membutuhkan air asin. Bahkan, di air yang salinitasnya o per mil, seperti banyak sawah Bonorowo di Jawa Timur yang airnya tawar, bandeng mampu hidup dan tumbuh besar.&lt;br /&gt;
Di waduk Saguling maupun Cirata, keramba apung sudah banyak diisi dengan bibit bandeng karena lebih menjanjikan daripada ikan mas yang boros pakannya dengan harga jual yang semakin merosot. Dengan demikian, tidak berlebihan bila bandeng dipelihara di kolam pekarangan. Rasa bandeng air tawar umumnya lebih lezat karena tidak mengandung rasa seperti Lumpur. Hal tersebut disebabkan karena air di kolam relatif lebih lancar sirkulasinya. Bandeng yang dibudidayakan ada dua jenis yaitu bandeng hitam atau bandeng kepala besar dan bandeng rumput. Kedua strain ini terkenal merupakan strain yang cepat besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
KEBIASAAN HIDUP DI ALAM&lt;br /&gt;
Bandeng dewasa umumnya memijah di laut dalam, kemudian nenernya terbawa ke pantai. Setelah ketika dewasa, bandeng hidup di air payau dan kembali ke laut untuk memijah.&lt;br /&gt;
Kebiasaan Makan&lt;br /&gt;
Bandeng termasuk herbivore (pemakan tumbuh-tumbuhan). Ikan ini memakan klekap, yang tumbuh di pelataran kolam. Bila sudah terlepas dari permukaan tanah, kelekap ini sering disebut sebagai tahi air. Pakan bandeng terutama terdiri dari plankton (Chlorophyceae dan Diatomae), lumut dasar (Cyanophyceae), dan pucuk tanaman ganggang (Nanas dan Ruppia). Tumbuh-tumbuhan yang berbentuk benang dan yang lebih kasar lagi akan lebih mudah dimakan oleh ikan bandeng bila mulai membusuk.&lt;br /&gt;
Kebiasaan Berkembang Biak&lt;br /&gt;
Bandeng akan memijah di tengah laut yang salinitasnya tinggi. Nener (benih bandeng) bisa ditangkap di daerah pantai dengan menggunakan rumpon (fishing ground) berupa daun kelapa. Nener tersebut diambil dengan cara diseser.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
MEMILIH INDUK&lt;br /&gt;
Memilih induk secara ekonomis untuk dipijahkan memang hanya bisa dilakukan dari persediaan kolam pemeliharaan sendiri. Adapun ciri induk yang berkualitas di antaranya sebagai berikut.&lt;br /&gt;
Ciri induk yang berkualitas yaitu sebagai berikut :&lt;br /&gt;
 Betina jantan&lt;br /&gt;
Induk bandeng hitam Induk jantan bandeng hitam&lt;br /&gt;
Berumur 4 tahun dan perutnya membesar dan lembek Berumur 3 tahun dan tidak terlalu besar ukurannya agar tetap lincah gerakannya.&lt;br /&gt;
Induk bandeng rumput Induk bandeng rumput&lt;br /&gt;
Berumur 5 tahun dan perutnya tebal Berumur 4 tahun dan tidak terlalu besar ukurannya agar tetap lincah gerakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PEMIJAHAN DI KOLAM&lt;br /&gt;
Pemijahan bandeng biasanya dilakukan secara buatan, yaitu dengan penyuntikan hormon. Adapun yang harus diperhatikan adalah konstruksi kolam, persiapan kolam, dan proses pemijahannya.&lt;br /&gt;
Konstruksi Kolam&lt;br /&gt;
Kolam induk harus memiliki kedalaman 1-1,5 meter dan terbuka agar dapat menerima sinar matahari langsung, tetapi sejuk. Pematang harus cukup kuat dan diusahakan tidak bocor agar ketinggian air kolam dapat dipertahankan.&lt;br /&gt;
Kolam masing-masing memiliki pintu pemasukan dan pembuangan untuk menjamin sirkulasi air dengan baik. Hal ini berpengaruh positif terhadap percepatan kematangan induk bandeng.&lt;br /&gt;
Persiapan kolam&lt;br /&gt;
Kolam perlu dikapur agar pH air kolamnya naik dan menjadi idealsekitar 6,8-7,2. Sebelum dipergunakan, kolam juga harus diberi saponin(biji teh) untuk membunuh ikan-ikan liar dan siput yang sering mengganggu pertumbuhan kelekap. Kolam perlu dipupuk dengan urea untuk merangsang pertumbuhan plankton. Dosis pemupukan biasanya berkisar 10-15 g/m2. Pakan tambahan untuk induk diberikan juga untuk merangsang per­kembangan gonade. Pakan berupa campuran tepung kacang, dedak hales (bekatul), terigu, atau bubuk telur yang diberikan 3-5% dari berat ikan. Pemberian pakan dilakukan setup hari, pada pagi, siang, dan sore hari.&lt;br /&gt;
Pemijahan&lt;br /&gt;
Kepadatan penebaran induk sebaiknya 4-5 ekor/m2 untuk membantu proses pematangan gonade. Pemijahan ikan bandeng secara kawin suntik. Namun, kawin suntik pada bandeng l00% mengandalkan hormon sintetik (buatan). Hormon yang biasanya digunakan di antaranya Synahorin, Gona Hormon, atau Puberogen. Penyuntikan induk betina dilakukan 2 kali agar efektif, sedangkan untuk jantan cukup sekali saja yaitu pada penyuntikan induk betina yang kedua. &lt;br /&gt;
Penyuntikan pertama biasanya dilakukan pada pukul 17-00-18-00 sebanyak 200 IU (International Unit) pada induk betina. Penyuntikan kedua dilakukan setelah 6 jam dari penyuntikan pertama yaitu pukul 24.00 sebanyak 200 IU juga pada induk betina, demikian juga untuk induk jantan disuntik 200 IU.&lt;br /&gt;
Penyuntikan dilakukan pada otot daging bagian punggung (intrumusculler), sekitar baris kedua atau ketiga yang sejajar dengan bagian kelamin. Ada juga tempat penyuntikan yang lebih efektif, tetapi harus hati-hati karena bisa melukai organ dalam bandeng, yaitu ruang rongga perut .&lt;br /&gt;
Setelah disuntik, kedua induk dimasukkan kembali ke tempat penampungan induk masing-masing dengan diberi aerasi dan sirkulasi air yang teratur. Setelah itu, diperhatikan tanda saat pengurutan yang tepat yaitu induk akan tampak gelisah yang dicirikan dari membuka dan menutupnya mulut lebih cepat dan sering muncul ke permukaan kolam. Menjelang akan bertelur, ikan berhenti berenang dan seluruh badannya mengejang. Saat itulah waktu yang tepat melakukan pengurutan. Ikan kemudian ditangkap dan bagian kepalanya ditutup dengan kelambu agar tidak berontak.&lt;br /&gt;
Stripping (pengurutan) biasanya dilakukan setelah 10-14 jam darisuntikan pertama bila suhu air 20-230 C, 7-8 jam bila suhu air 25— 260 C, atau 3-4 jam pada suhu air 300 C. Caranya, induk betina dipegang dengan tangan kiri di bagian punggung, sedangkan tangan kanan di bagian perut. Sementara ibu jari tangan kanan mengurut berulang-ulang pada bagian perut ke arah lubang pelepasan. Telur kemudian ditampung di dalam baskom bersih yang diberi sedikit air. Dengan cara yang sama pengurutan dilakukan pada induk jantan. Setelah sperma keluar, telur dan sperma diaduk perlahan-lahan dengan bulu ayam selama 0,5 menit. Telur yang sudah tercampur cairan sperma kemudian dibilas dengan air bersih untuk menghilangkan sisa cairan sperma, feses, dan darah.&lt;br /&gt;
Penetasan dan Perawatan Benih&lt;br /&gt;
Untuk keberhasilan penetasan telur-telur perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut.&lt;br /&gt;
a) Cuci bersih, lalu keringkan akuarium, hapa, bak penetasan, dan corong penetasan. Penetasan yang paling efektif dengan menggunakan corong penetasan karena memberikan jaminan pasokan oksigen yang terus-menerus dan mencegah penumpukan telur karena aliran air yang berputar terus menerus dari bawah corong penetasan.&lt;br /&gt;
b) Pasang tempat penetasan. Setiap, corong penetasan berdiameter 50 cm dapat dipergunakan untuk menetaskan 40.000-50.000 butir telur.&lt;br /&gt;
c) Tambahkan antijamur berupa Emolin atau Blitz Ich sebanyak 0,05 cc/liter air.&lt;br /&gt;
d) Telur bandeng akan menetas dalam waktu 28-36 jam pada suhu ruang 24-2800C. Prosentase penetasan biasanya mencapai 70-90%. Benih yang baru berumur 2 hari belum membutuhkan makanan tambahan karena masih mengandung kuning telur (yolk sack).&lt;br /&gt;
e) Setelah lewat dua hari, larva dipindahkan ke hapa yang dipasang di kolam pendederan yang telah dipersiapkan seminggu sebelumnya.&lt;br /&gt;
Pendederan&lt;br /&gt;
Pendederan dilakukan di hapa dan di kolam yang sudah dipupuk seminggu sebelumnya. Pupuk yang dimasukkan ke dalam kolam biasanya kotoran ayam sebanyak 0,5-1,5 kg/m2. Kolam juga diisi air agar tumbuh pakan alami yang dibutuhkan oleh burayak bandeng. Sementara pupuk buatan bisa diberikan TSP dengan dosis 10-15 g/m2 untuk melipatgandakan produktivitas kolam. Pemasukan air dilakukan secara bertahap. Pertama, air dimasukkan untuk menguraikan pupuk organik. Selanjutnya, air dinaikkan hingga 40-45 cm dan dibiarkan tergenang disinari matahari sampai 4-6 hari.&lt;br /&gt;
Benih tidak langsung ditebarkan di kolam, tetapi di dalam hapa berukuran panjang 4-5 meter, lebar 1-2 meter, dan dalam 1 meter dengan kepadatan penebaran benih antara 70-000-80.000 ekor/hapa. Pada bagian atas hapa diberi peneduh untuk mengurangi intensitas sinar matahari yang terlalu terik dan melindungi dari terpaan air hujan. Pemberian pakan tambahan dilakukan setelah 3-4 hari setelah penebaran benih karena diperkirakan persediaan pakan alarm di dalam hapa cepat berkurang karena padatnya nener di dalamnya. Pakan tambahan yang diberikan berupa campuran kuning telur, juice kedelai, bubuk ragi, dan Anemia. Frekuensi pemberian 5-6 kali sehari.&lt;br /&gt;
Setelah berumur 10 hari, benih bandeng (nener) sudah siap dipindahkan ke kolam tanah yang lebih lugs. Kolam seluas 1.000 m2 bisa ditebari 70.000-80.000 ekor nener. Sebulan kemudian nener dipindahkan lagi ke kolam lain, yang luasnya sama, tetapi padat penebarannya cukup 35.000-40.000 ekor saja.&lt;br /&gt;
Pembesaran&lt;br /&gt;
Pembesaran bandeng dilakukan di kolam yang memiliki pintu pemasukan dan pembuangan air tersendiri. Kolam boleh dipupuk terlebih dahulu atau tidak. Untuk memperoleh hasil yang optimal, pembesaran bandeng membutuhkan pemberian pakan tambahan. Pakan tambahan yang dibutuhkan berupa dedak halus (bekatul), tepung benawa, dan lain-lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sumber : Budidaya Ikan di Pekarangan Heru Susanto</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lunly713.blogspot.com/feeds/2993028854371428672/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/1769903451515941949/2993028854371428672' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default/2993028854371428672'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default/2993028854371428672'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lunly713.blogspot.com/2010/04/budidaya-ikan-bandeng-air-tawar.html' title='BudidayA Ikan Bandeng Air TawAr'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03307642535889500865</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1769903451515941949.post-8487209207945931766</id><published>2010-03-02T20:25:00.000-08:00</published><updated>2010-03-02T20:28:26.387-08:00</updated><title type='text'>MAKALAH SEMINAR PROPOSAL PRAKTEK AKHIRKU</title><content type='html'>&lt;b&gt;MAKALAH SEMINAR PROPOSAL PRAKTEK AKHIR&lt;br /&gt;
SEKOLAH TINGGI PERIKANAN&lt;br /&gt;
JURUSAN PENYULUHAN PERIKANAN&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PEMBINAAN USAHA BUDIDAYA IKAN BANDENG AIR TAWAR (Chanos chanos Forsk) MELALUI PEMBERDAYAAN KELOMPOK DI KECAMATAN KAYEN KABUPATEN PATI  PROVINSI JAWA TENGAH *)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh  : Abdul Karim Anwar**)&lt;br /&gt;
Pembimbing  : 1. Iskandar Musa, A.Pi., M.Si&lt;br /&gt;
2. Ade Sunaryo, S.ST., M.Sc&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I. PENDAHULUAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
1.1. Latar Belakang&lt;br /&gt;
Kabupaten Pati sudah sejak lama dikenal sebagai salah satu daerah penghasil ikan (khususnya bandeng) terbesar di Propinsi Jawa Tengah. Kabupaten yang secara geografis terletak di sepanjang pantai ini mempunyai potensi pengembangan usaha perikanan yang sangat besar, baik perikanan budidaya maupun perikanan tangkap. Potensi perikanan di Kabupaten Pati cukup potensial untuk dikembangkan dan diharapkan akan  menjadi salah satu sektor andalan dalam pengembangan potensi daerah  di masa yang akan datang. Mengingat potensi yang ada dan peran sektor perikanan yang sangat besar, maka perlu dilakukan berbagai langkah dalam rangka mempertahankan dan mengembangkan usaha perikanan. &lt;br /&gt;
Keberhasilan pengembangan usaha perikanan darat, terutama budidaya ikan bandeng ditentukan oleh banyak faktor. Faktor-faktor geografis yang mendukung pelaksanaan budidaya ikan bandeng antara lain adalah faktor fisik (kondisi tanah dan kondisi air) serta faktor sosial ekonomi (tenaga kerja, penyediaan benih, pemasaran,modal, hasil produksi, dan gangguan penyakit). Sejak tahun 1998 usaha budidaya ikan Bandeng Air Tawar berhasil dikembangkan di Kabupaten Pati yakni terdapat di wilayah administrasi Kecamatan Kayen yang mempunyai lahan tambak seluas 225,40 Ha (BPS, 2000). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.2. Identifikasi Perumusan Masalah&lt;br /&gt;
Beberapa masalah yang diperoleh selama kegiatan identifikasi dirincikan sebagai berikut:&lt;br /&gt;
1. Pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki oleh para pembudidaya ikan bandeng air tawar di Kecamatan Kayen masih kurang. Selain itu jumlah petugas perikanan, terutama petugas teknis yang profesional dan memahami bidang perikanan masih terbatas&lt;br /&gt;
2. Kurangnya minat masyarakat  dalam memanfaatkan pekarangannya untuk usaha  budidaya ikan bandeng air tawar.&lt;br /&gt;
3. Terdapat ancaman yang menjadi  hambatan dalam kegiatan budidaya ikan bandeng yaitu adanya serangan hama penyakit, adanya pencemaran air sebagai akibat dari penggunaan obat-obatan dan pestisida dari kegiatan pertanian, serta mahalnya harga pakan ikan.&lt;br /&gt;
4. Kelembagaan kelompok  usaha budidaya ikan bandeng ikan air tawar belum berjalan dengan baik yang diindikasikan oleh kelengkapan administrasi kelompok yang masih sederhana, kurang adanya kerjasama dengan pihak terkait, pengorganisasian belum profosional, serta dalam segi promosi produk yang dihasilkan masih kurang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1.2. Tujuan dan Manfaat&lt;br /&gt;
Tujuan yang ingin dicapai pada kegiatan Praktek Akhir (PA) ini, yaitu:&lt;br /&gt;
1. Mengembangkan kemampuan kelompok pembudaya ikan bandeng air tawar  di Kecamatan Kayen melalui pembinaan dan pemberdayaan kelompok dalam usaha budidaya ikan bandeng air tawar yang dirumuskan atas dasar pendekatan berbagai metoda penyuluhan secara partisipatif dan sesuai dengan kemampuan pelaku usaha (sasaran penyuluhan), sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan kelompok dalam menjalankan perannya sebagai kelompok pembudidaya, yaitu: 1) kelompok sebagai kelas belajar mengajar; 2) kelompok sebagai unit produksi perikanan; dan 3) kelompok sebagai  wahana kerjasama.&lt;br /&gt;
2. Meningkatkan kinerja kelompok pembudidaya dengan cara peningkatan Pengetahuan, Sikap, dan Ketrampilan (PSK) bagi pembudidaya melaui program penyuluhan dalam kegiatan kunjungan kelompok, kunjungan rumah/anjangsana, dan temu usaha.&lt;br /&gt;
3. Meningkatkan pendapatan kelompok pembudidaya melalui perbaikan teknologi tepat guna yang diterapkan dalam usaha budidaya ikan bandeng air tawar di Kecamatan Kayen Kabupaten Pati&lt;br /&gt;
4. Membantu membenahi kelembagaan kelompok dengan cara memfasilitasi dalam membuat administrasi kelompok dan menjadi intermedier antara kelompok pembudidaya dengan penyuluh yang membidangi perikanan di Kecamatan Kayen sebagai upaya dalam mengembangkan kemampuan kelompok pembudidaya ikan bandeng air tawar dalam mengelola kelembagaannya.&lt;br /&gt;
Sedangkan manfaat Praktek Akhir (PA) ini antara lain : &lt;br /&gt;
a. Memberikan informasi mengenai potensi dan keragaan usaha budidaya ikan bandeng air tawar serta program penyuluhan yang perlu dilakukan. &lt;br /&gt;
b. Meningkatkan kemampuan mahasiswa/ taruna dalam menyampaikan dan menerapkan ilmu pengetahuan yang telah diterima dalam bentuk suatu sistem pembinaan usaha budidaya ikan bandeng air tawar pada kelompok pembudidaya di Kecamatan Kayen. &lt;br /&gt;
c. Terciptanya pembudidaya ikan bandeng yang mempunyai pengetahuan luas baik mengenai teknologi usaha budidaya ikan bandeng air tawar maupun kemampuan untuk manajerial usahanya.&lt;br /&gt;
d. Secara umum kegiatan ini dapat membantu menumbuhkan inovasi kepada masyarakat khususnya pembudidaya ikan bandeng untuk lebih memperhatikan usahanya dengan  penerapan teknologi yang diberikan melalui kegiatan pembinaan dan pemberdayaan kelompok budidaya ikan bandeng air tawar yang ada di Kecamatan Kayen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;strike&gt;&lt;strike&gt;*)   Judul makalah seminar  proposal  Praktek Akhir yang diseminarkan pada tanggal  3 Maret 2010.&lt;br /&gt;
**) Taruna Jurusan Penyuluhan Perikanan Sekolah Tinggi Perikanan di bawah bimbingan Iskandar Musa,A.Pi., MSi sebagai pembimbing  I dan Ade Sunaryo S.ST., M.Sc  sebagai pembimbing II.&lt;/strike&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/strike&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
II. KERANGKA PEMBINAAN USAHA&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.1. Sasaran&lt;br /&gt;
Secara umum sasaran dari pembinaan usaha budidaya ikan bandeng  air tawar antara lain  :&lt;br /&gt;
c. Pelaku utama yaitu kelompok pembudidaya ikan bandeng air tawar di Kecamatan Kayen Kabupaten Pati. &lt;br /&gt;
d. Pelaku usaha yaitu RTP penghasil benih, padagang saprodi, pedagang peralatan dan pemasar hasil.&lt;br /&gt;
e. Stekaholder yaitu pihak yang berkepentingan dengan pengembangan usaha budidaya ikan bandeng air tawar antara lain pemerintah daerah, lembaga penyuluhan, dan lembaga perekonomian.&lt;br /&gt;
2.2. Pendekatan Perencanaan &lt;br /&gt;
2.1.1   Sistem Produksi&lt;br /&gt;
Sistem produksi bagi penyelenggaraan usaha budidaya ikan bandeng dapat dilakukan dalam 3 alternatif yaitu (Praptokardio, 2008) :&lt;br /&gt;
1) Sistem produksi sederhana yakni mengutamakan penyediaan pakan alami (klekap) sebagai sumber materi energi utama bagi pertumbuhan ikan bandeng. &lt;br /&gt;
2) Sistem produksi maju (plus pakan buatan) yaitu selain penggunaan komponen penunjang bagi peningkatan pakan alami, juga digunakan  pakan buatan menjelang 2 bulan sebelum masa panen. Pemberian pakan buatan berkisar antara 3 – 5% dari perkiraan bobot biomasa dengan frekuensi pemberian sebanyak 3 kali dalam sehari.&lt;br /&gt;
3) Sistem produksi gabungan antara sistem produksi sederhana dan sistem produksi maju menggunakan pakan buatan.&lt;br /&gt;
2.1.2   Sistem Bisnis&lt;br /&gt;
2.1.2.1  Ketersediaan Pasar &lt;br /&gt;
Pemasaran merupakan suatu sistem  keseluruhan dari kegiatan yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, maupun menghasilkan dan mendistribusikan (memasarkan) barang. Ketersediaan pasar sangat menentukan dalam kelancaran produksi ikan, sehingga usaha budidaya ikan bandeng air tawar  ini harus didukung oleh ketersediaan pasar&lt;br /&gt;
2.1.2.2 Modal &lt;br /&gt;
Besarnya modal untuk budidaya ikan bandeng tergantung dari luas areal  yang diusahakan. Modal untuk budidaya ikan bandeng antara lain digunakan untuk pembelian benih, pupuk,  obat-obatan, pakan, bahan bakar, biaya panenan, dan biaya lain-lain. &lt;br /&gt;
2.1.2.3 Hasil produksi &lt;br /&gt;
Hasil produksi atau produktivitas lahan adalah kemampuan suatu lahan untuk menghasilkan sesuatu atau daya produksi. Hasil produksi merupakan salah satu tolok ukur keberhasilan suatu usaha. Hasil produksi yang tinggi&lt;br /&gt;
2.1.2.4 Penghasilan &lt;br /&gt;
Menurut Biro Pusat Statistik (2000), yang dimaksud penghasilan adalah keseluruhan penerimaan semua  anggota keluarga yang diperoleh baik berupa gaji, upah, pendapatan dari  usaha rumah tangga, pendapatan lain maupun pendapatan transfer atau sisa  antara penerimaan atau kiriman.&lt;br /&gt;
2.1.3   Sistem Penyuluhan&lt;br /&gt;
Pembinaan usaha budidaya ikan bandeng air tawar merupakan suatu penerapan sistem penyuluhan dalam upaya meningkatkan pengetahuan, keterampilan serta sikap (PSK) pelaku utama dan pelaku usaha.  Dalam upaya mewujudkan usaha budidaya ikan bandeng air tawar yang produktif, berdaya saing dan berkelanjutan maka diperlukan pembinaan intensif.  Pembinaan usaha budidaya ikan bandeng air tawar merupakan pembinaan penguasaan teknis dan manajerial bagi kelompok usaha budidaya ikan bandeng air tawar yakni melalui kegiatan penyuluhan, pendampingan, bimbingan, dan pengawasan.  Metoda penyuluhan yang diterapkan dapat bersifat individu, kelompok maupun massal.  &lt;br /&gt;
2.3. Kondisi dan Kinerja Usaha&lt;br /&gt;
2.3.1. Keadaan Umum&lt;br /&gt;
 Kabupaten Pati adalah salah satu dari 35 daerah Kabupaten / Kota di Jawa Tengah yang secara geografis terletak antara 110º 50’ - 111º 15’ Bujur Timur dan 6º 25’ - 7º Lintang Selatan. Kabupaten Pati terdiri dari daerah pantai sepanjang + 60 Km. dataran rendah berbukit - bukit sampai dengan pegunungan dengan ketinggian 0 s/d 380 M dari permukaan air laut, dengan pembagian. sebagai berikut :&lt;br /&gt;
• Dataran rendah berada di bagian Utara, Tengah, Timur dan sebagian kecil Barat dan Selatan.&lt;br /&gt;
• Daerah pegunungan berada di lereng Muria, Gunung Clering dan daerah Pati Selatan.&lt;br /&gt;
• Daerah tanah kritis berada di lereng Gunung Muria dan Pegunungan Kendeng.&lt;br /&gt;
• Daerah waduk terletak di Kecamatan Gembong di lereng Gunung Muria berfungsi sebagai penyimpan air, untuk kegiatan pertanian termasuk perikanan dan juga pariwisata.&lt;br /&gt;
2.3.2. Potensi dan Kinerja&lt;br /&gt;
2.3.2.1.  Potensi dan Tingkat Pemanfaatan Lahan&lt;br /&gt;
Kabupaten Pati mempunyai  potensi yang cukup besar di bidang budidaya  tambak dengan komoditi andalan yaitu  bandeng dan udang. Untuk budidaya tambak di Kabupaten Pati pada tahun 2008 mempunyai luas sebesar 10.604,52 Ha. Dalam waktu lima tahun terakhir ini, budidaya bandeng air tawar di Kabupaten Pati menunjukkan perkembangan yang sangat pesat, baik luas lahan maupun produksinya. Adapun untuk mengetahui luas lahan, jumlah pembudidaya dan produksi bandeng air tawar dapat dilihat dalam tabel di bawah ini :&lt;br /&gt;
Tabel 1.  Luas Lahan, Jumlah Pembudidaya dan Produksi Bandeng Air Tawar di Kabupaten Pati Tahun 2008.&lt;br /&gt;
No Kecamatan /&lt;br /&gt;
Desa Luas (Ha) Jumlah Pembudidaya (Org) Produksi&lt;br /&gt;
(Kg)&lt;br /&gt;
1 2 3 4 5&lt;br /&gt;
1. Kayen   &lt;br /&gt;
  Talun 162 220 388.880&lt;br /&gt;
    &lt;br /&gt;
2. Gabus   &lt;br /&gt;
  Wuwur 78 68 234.000&lt;br /&gt;
    &lt;br /&gt;
 J u m l a h 220 288 612.880&lt;br /&gt;
2.3.2.2. Ketersediaan Sarana dan Prasarana&lt;br /&gt;
Dalam usaha budidaya ikan bandeng, ketersediaan sangat menunjang untuk keberhasilan sutu kegiatan usaha budidaya pertambakan. Sarana budidaya adalahperalatan yang diperlukan langsung dalam kegiatan produksi, sedangkan prasarana adalah segala sesuatu yang dapat menunjang kegiatan produksi&lt;br /&gt;
2.3.2.3. Pola Tanam&lt;br /&gt;
Pola Tanam adalah pola kegiatan penebaran dan pemanenan ikan bandeng  yang dibudidayakan dalam kolam/ tambak selama peride tertentu. Faktor penentu dari pola tanam adalah tersedianya nener secara musiman dan air yang layak bagi kebutuhan budidaya ikan bandeng. &lt;br /&gt;
2.3.2.4. Kinerja Produksi&lt;br /&gt;
Faktor-faktor yang mendukung usaha budidaya ikan bandeng ini meliputi faktor fisik dan faktor non fisik (sosial ekonomi). Kolam/  tambak yang diusahakan haruslah dapat memberikan keuntungan dan berlangsung secara terus menerus. Lokasi yang digunakan untuk tambak ikan bandeng harus berada di tempat yang masih termasuk daerah pantai. &lt;br /&gt;
2.3.2.5. Kinerja Pemasaran&lt;br /&gt;
Peluang dan pemasaran serta kemampuan menjangkau pasar menjadi faktor penentu jumlah hasil yang dapat dipasarkan berikut dengan harga yang wajar. sehingga proporsi jumlah hasil yang dipasarkan dengan jumlah hasil yang diperoleh mencerminkan efektifitas mekanisme pasar menyerap produk yang dihasilkan oleh pembudidaya. &lt;br /&gt;
2.3.2.6.  Kinerja Lembaga Penunjang&lt;br /&gt;
Ketersediaan lembaga penunjang dengan sendirinya akan mempercepat berlangsungnya perubahan ke arah positif. Selain koperasi dan bank, lembaga penunjang lain yang ada di Kecamatan Kayen yaitu kelompok pembudidaya dan penyuluh perikanan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.3.2.7. Kinerja Penyuluhan&lt;br /&gt;
Kelembagaan penyuluhan perikanan di Kecamatan Kayen diselenggarakan dibawah Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati yang mempunyai tugas dan fungsi di bidang penyuluhan perikanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
III. METODE PELAKSANAAN&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.1. Lokasi dan Waktu&lt;br /&gt;
Praktek Akhir ini dilaksanakan pada semester VIII (delapan), dimulai pada tanggal19 Maret sampai dengan 19 Mei 2010 dengan lokasi di Kecamatan Kayen Kabupaten Pati  Provinsi Jawa Tengah.&lt;br /&gt;
3.2. Ruang Lingkup &lt;br /&gt;
3.2.1.  Potensi dan Kajian Usaha&lt;br /&gt;
Ruang lingkup potensi dan kajian usaha budidaya ikan bandeng yang di lakukan melalui pembinaan dan pemberdayaan kelompok budidaya dalam perencanaan penerapan inovasi teknologi budidaya ikan bandeng air tawar yang ada di Kecamatan Kayen Kabupaten Pati  Provinsi Jawa Tengah meliputi : 1) sumber daya alam (SDA), 2) sumber daya manusia (SDM), 3) Teknologi.&lt;br /&gt;
Ruang lingkup kajian usaha budidaya ikan bandeng air tawar yang ada di Kecamatn Kayen meliputi : 1) Kajian usaha bidang ekonomi, 2) kajian usaha bidang finansial, 3) kajian usaha bidang sosial.&lt;br /&gt;
3.2.2. Rencana Pengembangan Usaha&lt;br /&gt;
Rencana pengembangan usaha budidaya ikan bandeng didasarkan atas potensi wilayah dan perkembangan teknologi yang ada di Kecamatan Kayen. Pengembangan usaha tersebut dapat dilakukan melalui kegiatan intensifikasi dan ekstensifikasi yaitu melalui penerapan inovasi teknologi.&lt;br /&gt;
3.2.3. Pengelolaan Aksi Penyuluhan&lt;br /&gt;
Ruang lingkup pengelolaan aksi penyuluhan meliputi 5 komponen. Lima komponen tersebut adalah mulai dari perencanaan penyuluhan perikanan, pelaksanaan  penyuluhan, materi penyuluhan, metode dan teknik penyuluhan, dan evaluasi dan pemantauan kegiatan penyuluhan. &lt;br /&gt;
3.3. Tahap Pelaksanaan&lt;br /&gt;
3.3.1. Pengumpulan Data&lt;br /&gt;
Pembudidaya ikan bandeng yang ada di Kecamatan kayen terdiri dari satu kelompok besar dengan jumlah anggotanya sangat banyak yakni 230 orang. Hal ini merupakan potensi yang cukup baik tetapi agak repot dalam pengelolaan kelompok, namun dari kelompok tersebut tidak semuanya untuk dijadikan sampel. Sehingga cara pengambilan sampel menggunakan metode acak yaitu dengan mengambil beberapa orang untuk mewakili keberadaan kelompok tersebut.&lt;br /&gt;
3.3.2. Analisis Potensi dan Kinerja&lt;br /&gt;
Analisis potensi dan tingkat pemanfaatan lahan dilakukan untuk mengetahui tingkat pemanfaatan lahan yang dimanfaatkan untuk kegiatan operasional dari keseluruhan lahan yang dimiliki oleh setiap RTP serta ketersediaan atau potensi lahan yang tersedia yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan usaha.  &lt;br /&gt;
3.3.3. Sintesa Strategi Kebijakan Pengembangan Usaha &lt;br /&gt;
Strategi pengembangan usaha budidaya ikan bandeng akan diperoleh melalui hasil analisis potensi dan kinerja usaha budidaya yang dilakukan. Rencana strategi pengembangan yang didasarkan pada tingkat penggunaan lahan tambak, pola tanam, serta teknik jaringan irigasi adalah sebagai berikut : 1) Strategi pengembangan kawasan dan peningkatan pemanfaatan lahan usaha secara bertahap dengan tetap mengacu pada luas lahan potensial. 2) Strategi penerapan teknologi yang adaptif dan berkelanjutan dengan acuan pencapaian target produksi berdasarkan lahan budidaya. 3) pembinaan intensif pada RTP dan kelompok sesuai dengan teknik manajerial RTP serta kemampuan penyediaan modal, saprodi dan pengolahan hasil.&lt;br /&gt;
3.3.4.   Pengelolaan Aksi Penyuluhan &lt;br /&gt;
Program penyuluhan yang dilaksanakan didasarkan atas kebutuhan dan karakteristik sasaran dalam menunjang program pemberdayaan pelaku utama dalam kegiatan budidaya ikan bandeng air tawar di Kecamatan Kayen. Dalam pelaksanaannya, kegiatan penyuluhan didasarkan pada pertimbangan yaitu ketentuan program strategis untuk dilaksanakan sesuai kondisi sumberdaya yang ada, kebutuhan sasaran, dan masalah yang dihadapi oleh pembudidaya. Kegiatan penyuluhan yang dilakukan berupa pembinaan usaha budidaya ikan bandeng melalui pemberdayaan kelompok yang ada di Kecamtan Kayen diantaranya adalah dengan pendekatan melalui ceramah, menggunakan poster, penyebaran folder dan leaflet. Pendekatan kelompok melalui kegiatan temu lapang, diskusi kelompok, demontrasi, temu usaha dan pendekatan perorangan melalui kunjungan usaha atau kunjungan rumah.&lt;br /&gt;
3.4. Pengumpulan Data dan Pengambilan Contoh &lt;br /&gt;
3.4.1. Pengumpulan Data&lt;br /&gt;
3.4.1.1. Data Primer&lt;br /&gt;
1. Metode wawancara&lt;br /&gt;
Metode wawancara dilakukan terhadap responden dari pelaku utama dan pelaku usaha. Data primer yang dikumpulkan meliputi potensi lahan, prasarana budidaya, lama proses produksi, tingkat pemanfaatan saprodi, produksi dan pendapatan usaha, serta  kinerja pemasaran.&lt;br /&gt;
2. Metode observasi&lt;br /&gt;
Metode observasi dilakukan terhadap prasarana budidaya, peralatan serta tata letak lahan dan jaringan irigasi dan keberadaan fasilitas pasar ikan, konflik pemanfaatan lahan, dan sumber pencemar. &lt;br /&gt;
3.4.1.2. Data Sekunder&lt;br /&gt;
Data sekunder didapatkan dari pengumpulan data dan informasi berupa dokumen statistik wilayah, monografi dan data penunjang lainnya. Data diambil dari instansi terkait dengan kegiatan usaha budidaya ikan bandeng air tawar di Kecamatan Kayen Kabupaten Pati.&lt;br /&gt;
3.4.2. Pengambilan contoh&lt;br /&gt;
3.4.2.1. Penentuan Sebaran Lokasi Contoh&lt;br /&gt;
Penentuan sebaran lokasi dilakukan berdasarkan potensi lahan dan produksi ikan bandeng di Kecamatan Kayen Kabupaten Pati. Kabupaten Pati terdiri dari  21 Kecamatan, 400 desa dan 5 kelurahan.. Adapun dari sekian banyak kecamatan yang ada di Kabupaten Pati tersebut, maka Kecamatan Kayen yang dipilih sebagai lokasi Praktek Akhir.&lt;br /&gt;
Kecamatan Kayen itu sendiri terdiri dari 17 desa/ kelurahan yaitu : Desa Beketel, Boloagung, Brati, Durensawit, Jatiroto, Jimbaran,  Kayen, Pasuruhan,Pesagi, Purwokerto, Rogomulyo, Slungkep, Srikaton, Sumbersari,  Sundoluhur,  Talun, Trimulyo. Dari semua desa yang ada di Kecamatan Kayen sebaran lokasi contoh terdapat di desa Talun tersebar sebagai lokasi kegiatan usaha budidaya ikan bandeng air tawar.&lt;br /&gt;
3.4.2.2 . Penentuan Responden &lt;br /&gt;
Penentuan responden dilakukan dengan menggunakan teknik Random Sampling Berlapis (Stratified Random Sampling). Sampel yang diambil dari acak berlapis ini adalah dengan memisahkan elemen-elemen populasi dalam kelompok-kelompok, kemudian diambil sampel secara acak dari kelompok tersebut.&lt;br /&gt;
3.4.3. Analisa Data &lt;br /&gt;
3.4.3.1. Potensi dan Tingkat Pemanfaatan Lahan&lt;br /&gt;
Analisa potensi dan pemanfaatan lahan dapat diketahui dengan mengumpulkan data mengenai luas wilayah potensial untuk kegiatan perikanan terutama dalam usaha budidaya ikan bandeng. Selain itu juga harus diketahui jumlah RTP (Rumah Tangga Perikanan) yang mengusahakan budidaya ikan bandeng, luas lahan yang digunakan, dan lama proses produksi, serta pola tanam yang diterapkan. &lt;br /&gt;
3.4.3.2. Produksi dan Produktifitas&lt;br /&gt;
Analisa mengenai produksi dari satu lahan yang dihasilkan oleh suatu kegiatan usaha dapat dihitung dengan mengetahui jumlah benih yang dihasilkan pada saat panen. Sedangkan untuk mengetahui produktivitas dari suatu lahan budidaya dapat diketahui dengan menganalisa mengenai luas lahan yang digunakan untuk dan jumlah produksi yang dihasilkan setiap musim atau setiap tahun sehingga diketahui setiap Ha atau m2 lahan mampu menghasilkan benih dalam satuan ekor.&lt;br /&gt;
3.4.3.3. Penerimaan Pendapatan dan Kelayakan Usaha&lt;br /&gt;
Analisis kinerja usaha dapat dilakukan dengan melakukan perhitungan usaha seperti menghitung Break Event Point,  R/C ratio dan Payback Period dari kegiatan usaha tersebut. &lt;br /&gt;
3.4.3.4. Pemasaran Produk&lt;br /&gt;
Analisa mengenai pemasaran produk dapat diketahui dengan menganalisa data  mengenai hasil produksi yang diperoleh oleh pembudidaya, harga produk, saluran tataniaga yang digunakan, dan jenis pemasaran yang diterapkan oleh pembudidaya. &lt;br /&gt;
3.4.3.5. Kinerja Kemitraan Usaha/ Lembaga Penunjang &lt;br /&gt;
Analisa mengenai kinerja kemitraan usaha/ lembaga penunjang yang mempengaruhi usaha budidaya ikan bandeng dapat diketahui dengan menganalisa jenis dan jumlah lembaga yang ada di Kecamatan Kayen Kabupaten Pati. Salain itu juga dianalisa mengenai peran lembaga tersebut terhadap usaha budidaya ikan bandeng.&lt;br /&gt;
3.4.4. Perumusan Masalah&lt;br /&gt;
Rumusan masalah dapat diketahui dari adanya analisis yang sudah dianalisa yaitu analisis SWOT (Strengths, Weakness, Opportunities, Threats). Adapun tahapan dalam menganalisis sebagai berikut 1) Mengidentifikasi faktor eksternal dan internal, 2) Menentukan bobot dan rating dari masing-masing item dalam setiap faktor tersebut, 3) Membuat matriks analisa SWOT, 4) dan Penetapan perioritas masalah.&lt;br /&gt;
Menentukan rumusan masalah dari hasil analisis SWOT dalam program penyuluhan perikanan dapat dibantu bentuk kuesioner, terdapat ada 3 jenis kuesioner, yaitu:  Kuesioner teknis, Kuesioner ekonomis dan Kuesioner sosial&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.4.5. Perumusan Strategi Pengembangan Usaha&lt;br /&gt;
3.4.5.1. Strategi Pengembangan Usaha&lt;br /&gt;
Tahap ini bertujuan untuk mengkaji dan merumuskan konsep strategi dan kebijakan operasional secara partisipatif bagi pengembangan usaha budidaya ikan bandeng air tawar di Kecamatan Kayen Kabupaten Pati. Untuk merumuskan konsep strategi tersebut maka dilakukan analisa SWOT pada data-data yang telah diperoleh. &lt;br /&gt;
Analisa SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi usaha. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (Strengths) dan peluang (Opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (Weakness) dan ancaman (Threats).  &lt;br /&gt;
Tabel 2. Matrik Analisis  SWOT pada Usaha Budidaya Ikan Bandeng. &lt;br /&gt;
                               IFAS&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
EFAS STRENGTHS (S)&lt;br /&gt;
Tentukan 5-10 faktor-faktor kekuatan internal WEAKNESSES (W)&lt;br /&gt;
Tentukan 5-10 kelemahan internal&lt;br /&gt;
OPPORTUNIES (O)&lt;br /&gt;
Tentukan 5-10 peluang eksternal STRATEGI S-O&lt;br /&gt;
Ciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang STRATEGI W-O&lt;br /&gt;
Ciptakan starategi yang meminimalkan kelemahan untuk memanfaatkan peluang&lt;br /&gt;
TREATHS (T)&lt;br /&gt;
Tentukan 5-10 faktor ancaman eksternal STRATEGI S-T&lt;br /&gt;
Ciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk mengatasi ancaman STRATEGI W-T&lt;br /&gt;
Ciptakan strategi yang meminimalkan kelemahan dan menghindari ancaman&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hasil yang diperoleh dari kerjasama antara pelaku dan pemangku kepentingan dengan lembaga terkait yaitu dapat menentukan prioritas ranking kegiatan operasional untuk pengembangan usaha budidaya ikan bandeng.&lt;br /&gt;
a. Penataan Pemanfaatan Lahan&lt;br /&gt;
Penataan pemantaatan lahan dalam penerapan Inovasi teknologi untuk usaha budidaya ikan bandeng didasarkan pada lahan atau kawasan potensial yang ada untuk usaha budidaya ikan bandeng. Ini dilakukan sesuai dengan ketersediaan sarana dan prasarana yang menunjang usaha budidaya ikan bandeng air tawar yang ada di Kecamatan Kayen. Penataan pemanfaatan lahan pada suatu kawasan dilakukan secara konsisten yang didukung oleh berbagai pihak terkait khususnya pembenih ikan serta lembaga penunjang yang ada di Kecamatan Kayen. &lt;br /&gt;
b. Penerapan Teknologi Inovasi&lt;br /&gt;
Penerapan teknologi budidaya ikan bandeng air tawar di Kecamatan Kayen berkenaan dengan proses produksi harus berdasarkan teknologi yang berwawasan lingkungan atau berkelanjutan yang bisa diterapkan oleh pembudidaya. Penerapan teknologi bisa dijadikan dasar peningkatan produksi saat ini dan menjamin keberlanjutan usaha budidaya ikan bandeng secara berkelanjutan. Penerapan inovasi teknologi dalam rangka memberdayakan kelompok usaha budidaya ikan bandeng melalui pembinaan yang dilakukan dengan memberikan contoh atau dempond dalam usaha budidaya ikan bandeng air tawar yang ada di Kecamatan Kayen &lt;br /&gt;
c. Bisinis Perikanan&lt;br /&gt;
Pemberdayaan pelaku utama budidaya ikan bandeng melalui pendekatan sistem bisnis perikanan. Dengan pendekatan bisnis perikanan pelaku utama diarahkan melalui pendekatan dari hulu ke hilir secara terpadu dengan menjalankan subsistem-subsistem bisnis perikanan mulai dari pengadaan sarana produksi, proses produksi, pasca produksi, pemasaran serta dengan adanya dukungan dari lembaga penunjang bisnis perikanan.&lt;br /&gt;
3.4.5.2. Perencanaan Aksi Penyuluhan&lt;br /&gt;
Pengelolaan aksi penyuluhan dilakukan berdasarkan analisa kebutuhan pelaku utama. Kegiatan penyuluhan yang dilakukan untuk mendukung Penerapan Inovasi Teknologi melalui usaha pembinaaan serta pemberdayaan kelompok dalam kegiatan budidaya ikan bandeng air tawar di Kecamatan Kayen adalah : 1) Penanganan hama penyakit, 2) Temu lapang, 3) Temu usaha, 4) Kegiatan ajangsana, 5) Pertemuan rutin kelompok&lt;br /&gt;
Kegiatan penyuluhan ini dibahas mengenai budidaya ikan bandeng yang dilakukan, bertukar pengalaman antara pembudidaya yang satu dengan pembudidaya yang lain. Sasaran yang dituju yaitu kelompok pembudidaya ikan bandeng air tawar yang ada di Kecamatan Kayen. Tujuan dari kegiatan penyuluhan ini yaitu : 1) Memberikan informasi secara langsung, 2) Menemukan masalah-masalah yang dihadapi oleh sasaran, 3) Bertukar fikiran, 4) Memberikan  keterampilan, &lt;br /&gt;
a) Perencanaan Pengembangan Usaha secara Partisipatif&lt;br /&gt;
Adapun kegiatan pelaksanaan program pembinaan usaha budidaya ikan bandeng terdiri dari :&lt;br /&gt;
a. Sosialisasi program yang dibutuhkan.&lt;br /&gt;
b. Pendaftaran bagi pembudidaya yang akan ikut serta dalam program yang telah ditetapkan.&lt;br /&gt;
c. Melakukan observasi untuk menentukan kelayakan lahan pembudidaya (tingkat keragaan prasarana atau kondisi fisik).&lt;br /&gt;
d. Menentukan pihak pelaksana penyuluhan perikanan.&lt;br /&gt;
e. Menentukan dana dan jadual opersional partisipatif. &lt;br /&gt;
b) Aksi Penyuluhan&lt;br /&gt;
Metoda dan tehnik penyuluhan yang akan ditawarkan antara lain :&lt;br /&gt;
a. Kunjungan pembinaan pelaku usaha sasaran perorangan dan/atau kelompok.&lt;br /&gt;
b. Gelar teknologi tepat guna atau pilot project untuk menguji kelayakan suatu lahan.&lt;br /&gt;
c. Partisipasi pada temu wicara, temu karya, temu usaha dan temu lapang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
DAFTAR PUSTAKA &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
BPS. 2000. Jawa Tengah dalam Angka. Semarang.&lt;br /&gt;
Praptokardiyo, K. dan Wellem Muskita. 2008. Pengembangan Perikanan Budidaya. Materi Perkuliahan Sekolah Tinggi Perikanan Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lunly713.blogspot.com/feeds/8487209207945931766/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/1769903451515941949/8487209207945931766' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default/8487209207945931766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default/8487209207945931766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lunly713.blogspot.com/2010/03/makalah-seminar-proposal-praktek.html' title='MAKALAH SEMINAR PROPOSAL PRAKTEK AKHIRKU'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03307642535889500865</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1769903451515941949.post-6691987330025658567</id><published>2009-11-04T17:32:00.000-08:00</published><updated>2009-11-12T19:59:00.805-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="IPB"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="kepulauan seribu"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="menyelam"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="robot"/><title type='text'>IPB Kembangkan Robot Jelajah Bawah Air 45</title><content type='html'>Robot jelajah bawah air yang dikembangkan oleh Prof. Dr.Ir. Indrajaya, Dekan &lt;a href=&quot;http://web.ipb.ac.id/~aquaculture/c1/index.php&quot;&gt;Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB&lt;a href=&quot;http://web.ipb.ac.id/~aquaculture/c1/index.php&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/a&gt; diberi nama Robot Jelajah 45 (RH 45). Robot sejenis ROV (remote operating vehicle) ini mampu menjelajahi bawah laut sampai kedalaman 45 m.  Prof. Indrajaya sendiri telah menghasilkan 11 inovasi yang enam diantaranya pernah mendapatkan penghargaan. Dan untuk RJ 45 mendapat penghargaan dalam ajang peringatan 100 tahun hari Kebangkitan Nasional 2008 lalu. Sebenarnya di negara-negara maju seperti Jepang, Amerika, Inggris dan Rusia sudah memiliki robot seperti ini yang dimanfaatkan untuk mengobservasi Air Laut Dalam (ALD). Namun untuk Indonesia sendiri, Prof. Indra mengatakan belum ada yang mengembangkannya selain IPB.  “Kita harus mulai dari sekarang jika tidak kapan mulainya,”ujar Prof. Indrajaya dalam press conference yang di gelar di&lt;a href=&quot;http://web.ipb.ac.id/~aquaculture/c1/index.php&quot;&gt; IPB&lt;/a&gt; Baranang Siang (29/10).  Prof. Indra menjelaskan saat RJ 45 melakukan observasi di bawah laut, robot tersebut terhubung dengan notebook peneliti yang memonitor langsung di atas kapal.  “Peneliti melalui notebook dapat langsung melihat kondisi bawah laut dan menggerakkan RJ 45 melalui joys stick di atas kapal. Jadi peneliti tidak lagi harus menyelam untuk mengetahui kondisi bawah laut, karena kemampuan manusia dalam menyelam ada batasnya. Dengan menggunakan RJ 45 ini, peneliti dapat melakukan observasi sesuai keinginannya,” jelasnya.   RJ-45 dirancang untuk memantau kondisi bawah air perairan, khususnya dalam penempatan obyek bawah air misalnya rumah ikan (fish shelter) atau rumpon bawah air. Selain itu RJ-45 dirancang untuk dapat mengamati penempatan pipa bawah air yang diletakkan pada dasar laut dangkal, karena dilengkapi dengan video-kamera bawah air.  Kemampuan RJ-45 yang dikembangkan lebih ke arah observasi bawah air, bukan pada ekstraksi (pemanfaatan) sumberdaya yang ada.  Pengembangan RJ-45 ini hasil kerjasama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Kepulauan Seribu. “Ke depan diarahkan untuk menjadi Autonomous Underwater Vehicle (AUV) dan diarahkan juga ke laut dalam,” ujarnya. Dengan model robot AUV, maka peneliti tidak perlu berada ditengah laut untuk melakukan observasi karena dengan sistem AUV ini robot tidak lagi memerlukan kabel listrik yang terhubung langsung dengan generator seperti halnya dengan ROV. Selain itu, Prof. Indra juga berharap di Indonesia ada semacam Venture Capital (perusahaan swasta di Amerika yang mendampingi peneliti sampai end product). “Hasil penelitian yang masih  baru atau inovasi baru itu masih mengandung ketidakpastian untuk masuk dalam dunia insutri. Hal ini akan menarik investor untuk menanamkan modalnya ke Indonesia karena orang Indonesia itu banyak yang pintar-pintar,” tambahnya. Sementara itu, ALD sendiri adalah air laut pada kedalaman lebih dari 200 m dari permukaan air, tidak ada penetrasi cahaya,  tidak ada kontak langsung dengan udara dan telah matang berabad-abad lamanya. Ciri ALD adalah bersuhu rendah (sekitar 3 ~ 9 0C) dan stabil (suhu relatif tetap sepanjang tahun), kaya akan bahan inorganik (seperti, nitrate, fosfat, silikat, dll) dan mineral, serta bersih atau sangat sedikit mengandung bakteri karena tidak terpengaruh langsung oleh lingkungan. Selain itu, keseimbangan sodium, magnesium dll yang ada dalam ALD menyerupai keseimbangan yang ada pada tubuh manusia dan adanya logam-logam langka, pengelompokan partikel-partikel air yang kecil dibawah tekanan tinggi. Manfaat ALD antara lain dalam pemasukan mineral, pengembangan fermentasi, dan makanan lebih kaya rasa dan lebih sehat, pengembangan pemupukan dan budidaya perikanan, serta kesehatan dan mengurangi kolesterol dalam darah</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lunly713.blogspot.com/feeds/6691987330025658567/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/1769903451515941949/6691987330025658567' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default/6691987330025658567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default/6691987330025658567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lunly713.blogspot.com/2009/11/ipb-kembangkan-robot-jelajah-bawah-air.html' title='IPB Kembangkan Robot Jelajah Bawah Air 45'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03307642535889500865</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1769903451515941949.post-2363339155793420694</id><published>2009-10-12T11:50:00.003-07:00</published><updated>2009-11-30T19:36:45.559-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Gorontalo"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Nelayan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="nenek moyang pelaut"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tuna"/><title type='text'>&gt;&gt;&gt;Mimpi Pemburu &quot;Baby&quot; Tuna &lt;&lt;&lt;</title><content type='html'>Ini Adalah sebuah Kisah Nyata yang meMberI gamBaran Betapa saNgat dIbutUhkan PenGeloLaan SuMber DayA KeLautAn dan PerikaNan Agar dpaT di MAnfaAtkan sebaiK2nyA deMI keseJahteraAn berSma. Betapa tIdak, meLihat sunGGuh Kayanya Laut KiTa, naMun Kita sendIri MasiH &quot;keLapaRAn&quot; deN9an KOndiS yanG ada. Dalam MeterI KuliAh KiTa (kHUsus teman-teman STP ) meMang Ada PenGeloLanan SD KElautAN dan PErikAnan, TaPi aPA HanyA sekeDar MAteri KuLiah Saja. Suatu KonsEp yang beraKhir Pada KertAs, dan ReAlitanya daPAt kIta LihAt sendiri. SmoGA denGAn memBAca ceRita Ini KiTA seBagaI masYaraKat Yang MEnGAku BahWa &quot;NENEK MOYANg seoRang PelaUt bUkan menJAdikAN Kita TaKut Ke-Laut&quot; dan SemAkin sAdar dan meNanAmkan Jiwa meMiliKi LaUt KIta,, SengAja, CeriTa iNI saYa amBil coNtoh pd Daerah senDiri, mUngkIn tiDak meWakili CeriTa2 tenTang &#39;kekeaYaan Laut yg terpeNdam&quot; di Daerah laen tApi setIdaknyA koNdisI yAng Ada aGaK mirIp denGAn kOndisI LAuT Yang Ada di daerah teman-teman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cerita Ini berawal dari seorang Nelayan, Rio Armain (25) bergegas menghampiri salah satu kapal layar motor yang merapat di pesisir Tanjung Keramat, Gorontalo. Ia mengamati isi perahu dari atas tanggul dan kembali untuk mengambil pikulan bambu.&lt;br /&gt;
Bersama seorang temannya, Rio memikul seekor tuna sirip kuning yang digantung dengan kepala di bawah. Air laut yang menetes dari mulut tuna membentuk noktah hitam di atas pasir putih. Jejaknya menuju gubuk kecil di depan dermaga.&lt;br /&gt;
Di gubuk penampungan ikan itu, tuna ditimbang. Jarum timbangan menunjuk satu garis hitam di antara angka 15 dan 20 kilogram.&lt;br /&gt;
”Beratnya hanya 17,5 kg. Ini masih baby tuna. Kalau masih di bawah 30 kg, belum bisa masuk perusahaan,” ujar Rio sambil melepas si bayi tuna dari timbangan.&lt;br /&gt;
Siang itu, akhir Agustus 2009, Rio masih menunggu perahu layar motor lainnya pulang melaut. Beberapa kali ia mengamati lautan yang berombak dengan teropong binokulernya. Di kejauhan, layar perahu motor berwarna cerah timbul tenggelam dipermainkan ombak. Perlahan perahu kecil itu berlabuh mendaratkan hasil tangkapannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aktivitas nelayan seperti itu setiap hari terjadi di Desa Tanjung Keramat, Kota Gorontalo. Pada saat musim ombak dan paceklik ikan pun nelayan tetap berusaha mengejar rezeki.&lt;br /&gt;
”Saat musim ombak begini yang melaut hanya perahu kecil. Kapal ukuran 5 ton sampai 10 ton tidak melaut. Hasilnya tidak sebanding dengan biaya untuk minyak,” ujar Aten Armain (35), warga Tanjung Keramat yang sudah tiga bulan libur melaut.Nelayan menggunakan perahu katinting untuk berlayar saat musim ombak karena biayanya murah. Pergi-pulang melaut antara pukul 05.00 dan 11.00 Wita, bahan bakarnya tidak lebih dari 20 liter. Penggunaan bahan bakar bisa dihemat dengan bantuan layar. Jika menggunakan kapal tuna berbobot 5 ton, dibutuhkan minimal 200 liter solar atau Rp 900.000 sekali trip untuk dua hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika dipaksakan melaut, seperti Kapal Motor (KM) Mitra Arjuna akhir Agustus lalu, paling hanya memperoleh enam kotak ikan sekitar 300 kg. Jenis ikan pun bukan tuna dan hanya bisa dijual ke pasar lokal dengan harga Rp 7.000 per kg. Saat musim ikan, mereka bisa memperoleh hingga 15 tuna dengan bobot 5-70 kg per ekor. ”Kami coba-coba saja melaut, siapa tahu sudah ada ikan. Ternyata hanya dapat enam kotak,” ujar Narvis Ibrahim (42), anak buah kapal (ABK) KM Mitra Arjuna yang berpangkalan di Desa Leato Selatan, Kecamatan Kota Timur, Gorontalo.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dinamika yang melambat akibat musim ombak di permukiman nelayan itu terekam sempurna dari ketinggian tebing di belakang Desa Tanjung Keramat. Puluhan kapal dan katinting parkir di sepanjang pantai karena nelayan libur melaut pada Juni-Agustus. Suasana seperti itu merata di pesisir selatan Gorontalo sampai laut teduh sekitar Oktober.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aten mengaku, sebenarnya masih ada peluang bagi nelayan memperoleh rezeki pada saat musim ombak. Ia beralih menangkap cumi-cumi selama tiga bulan ini. Ia menggunakan katinting, sejenis perahu motor tempel, yang dipasangi obor minyak tanah untuk menarik cumi-cumi mendekat. Saat bulan gelap ia bisa memperoleh 10 kg. Jika bulan terang, hasil tangkapan hanya 4 kg. Di pelelangan, cumi-cumi dihargai Rp 55.000 tiap ember berisi sekitar 4 kilogram.&lt;br /&gt;
”Cumi-cumi masih banyak dan harganya lumayan. Masalahnya sulit memperoleh minyak tanah untuk obor. Saya sudah tiga malam tidak mencari cumi-cumi karena tidak ada minyak tanah,” ujar Aten.&lt;br /&gt;
Perubahan pola tangkap juga dilakukan Hamid Dalila (41), warga Desa Pohe, Kota Selatan, Gorontalo. ABK kapal penangkap tuna ini beralih menangkap nener (benih bandeng) di pantai sekitar permukiman. Ia berenang di tepian pantai menggunakan ban dalam mobil untuk memasang jaring nener. Dua kali ia menarik jaring, hasilnya hanya 13 nener.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Kalau di pinggir begini hanya dapat sisa. Bagusnya agak ke tengah, tetapi saya tidak punya perahu,” ujar Hamid ditemani dua putranya yang masih usia sekolah dasar.&lt;br /&gt;
Awal tahun ini, Hamid berharap memperoleh bantuan katinting dari Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Gorontalo. Namun, ia tidak memperoleh bantuan itu. Justru nelayan lain yang sudah punya katinting (perahu motor tempel) yang memperoleh. Bahkan, pemilik kapal tuna pun memperoleh bantuan katinting. ”Penyaluran bantuan tidak tepat sasaran. Kami yang belum punya perahu justru tidak dapat bantuan. Sepertinya yang dapat bantuan hanya nelayan yang dekat dengan pemegang proyek,” ujar Makmur Sidiki (44), nelayan asal Pohe.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sektor perikanan tangkap Provinsi Gorontalo sangat menjanjikan karena berada di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) Teluk Tomini sampai Laut Seram dan WPP Laut Sulawesi sampai Samudra Pasifik. Potensi ikan jenis pelagis dan demersal diperkirakan mencapai 1,226 juta ton per tahun.&lt;br /&gt;
Potensi perikanan yang sangat besar itu dijadikan fokus pembangunan Provinsi Gorontalo setelah pertanian jagung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, sampai 2008 potensi perikanan tangkap baru termanfaatkan 62.921 ton dengan nilai Rp 535,6 miliar. Pemanfaatan potensi perikanan masih rendah, salah satunya disebabkan oleh keterbatasan alat tangkap. Jumlah kapal penangkap ikan pada 2008 yang berlabuh di tempat pelelangan ikan (TPI) dan pelabuhan pendaratan ikan (PPI) hanya 446 unit. Sebagian besar perahu berbobot kurang dari 5 ton, yaitu 351 unit, kapal berbobot 5-10 ton ada 66 unit, dan kapal berbobot 10 ton ke atas hanya 29 unit.&lt;br /&gt;
Sutrisno, Wakil Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Gorontalo, menjelaskan, salah satu langkah untuk meningkatan produksi perikanan adalah pelaksanaan program Taxi Mina Bahari (TMB). Program ini bertujuan memberdayakan nelayan dengan menyediakan seluruh kebutuhan menangkap ikan. Ada dua pola kerja sama TMB dan nelayan, yaitu bagi hasil dan sistem setoran sesuai kontrak.&lt;br /&gt;
Sejak diluncurkan pada 2004, nelayan anggota TMB meningkat dari 110 orang menjadi 2.135 orang pada 2008. Alat tangkap jenis katinting ada 756 unit dan 13 kapal mesin dalam berbobot 10 ton. TMB didukung oleh 19 tempat pendaratan dan pelelangan ikan di enam kabupaten/kota serta 11 pabrik es kapasitas 5-10 ton.&lt;br /&gt;
”Model TMB ini mengadopsi taksi Blue Bird. Nelayan tugasnya hanya mencari ikan. Seluruh kebutuhan mulai dari kapal, bahan bakar, es, konsumsi, bengkel, hingga penampungan ikan disediakan oleh TMB,” ujar Sutrisno. Saat ini hanya empat TMB yang beroperasi dari 10 TMB yang ada. Enam TMB macet karena nelayan tidak lancar mengembalikan pinjaman operasional. Pemerintah berusaha menggenjot pengembalian pinjaman saat musim ikan sekitar Oktober ini. Nelayan diharapkan bisa mencicil pinjaman hingga tiga kali lipat supaya modal TMB bisa bergulir.&lt;br /&gt;
Kendala lain yang dialami TMB, lanjut Sutrisno, adalah belum dapat bahan bakar subsidi untuk nelayan. Pemerintah Provinsi Gorontalo sedang mengusahakan supaya Pertamina mengalokasikan bahan bakar bersubsidi untuk nelayan Gorontalo.&lt;br /&gt;
”Pertamina sudah menyetujui alokasi bahan bakar bersubsidi untuk nelayan, tetapi transportasi ditanggung oleh pemerintah daerah,” ujar Sutrisno.&lt;br /&gt;
Keberadaan TMB dinilai positif oleh para nelayan karena seluruh kebutuhan sudah tersedia. Harga beli ikan juga lebih tinggi dibandingkan dengan di tengkulak, Rp 28.000 per kg. ”Kalau ada TMB sebenarnya enak karena mudah memperoleh bahan bakar dan jual ikannya cepat. Sayang TMB sudah tidak aktif di sini,” ujar Aten, nelayan Tanjung Keramat.&lt;br /&gt;
Para nelayan di Tanjung Keramat mengaku bergantung pada para tengkulak yang menyediakan bahan bakar, es, dan bekal konsumsi. Kelengkapan melaut itu dibayar dari hasil tangkapan ikan.&lt;br /&gt;
Nelayan tidak bisa membiayai sendiri keperluan melaut karena modalnya terbatas. Karena itu, mereka berharap ada perbaikan sistem perberdayaan, seperti subsidi bahan bakar dan kapal yang memadai supaya daya jelajahnya lebih jauh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka berharap Pemerintah Provinsi Gorontalo menunda kerja sama dengan para nelayan dari Jawa yang memiliki keterampilan dan alat tangkap lebih unggul. Kedatangan para nelayan dari luar melalui transmigrasi bahari berpotensi mengerdilkan nelayan lokal yang masih membutuhkan pemberdayaan. Jika nelayan lokal harus bersaing dengan nelayan pendatang yang lebih unggul peralatan dan keterampilannya, pembangunan perikanan tangkap di Gorontalo tidak akan dinikmati oleh masyarakat lokal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengenai kerja sama dengan nelayan dari Jawa untuk menggenjot produksi perikanan tangkap, Sutrisno berjanji akan menerapkan sistem yang adil. Nelayan pendatang dan lokal didorong untuk bekerja sama hingga terjadi transfer keterampilan. Di sisi lain, pemerintah terus meningkatkan kemampuan nelayan melalui program pemberdayaan.&lt;br /&gt;
Nelayan kecil di Gorontalo berharap program pemberdayaan terlaksana. Harapan mereka sederhana, bisa ikut menikmati kekayaan Teluk Tomini dan Laut Sulawesi yang berlimpah ikan. Mereka mau menjadi penangkap tuna, bukan baby tuna. Kini, mimpi para nelayan itu masih terombang-ambing ombak Teluk Tomini, menunggu uluran tangan pemerintah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah, SeteLah memBaca ceriTa diAtas ada beberepa kata kunci yng harus kita sIkapi seprTi Musim omBak yang membuat Nelayan lokal kesuliTAn meLaut, apaLagi menGGunakan peRahu KecIl,, DiperLUkan alternaTif LAin uNtuk NelayAn yg tIdK meLAut, PerMasaLahan baRu yang munCul Yakni KEgiAtN aPa Yang akN diLakUkan Untuk MenggAnti neLAyan Untuk MelaUt dan Apa reAksi Para NElayAN meNeriMA ataw tiDAK kOndiSi DemikiAn ???,, PruBAhaN POla TangKAp MungKin BisA meMbantu neLAyan, Tapi dengan moDal KApaL KecIl serTa penGetahuan yg MinIM apakah akan Bisa MEmecaHkan MAsaLAh terseBUt ??? subsidi dan DistriBusi darI pemerIntah seOlah-Olah &quot;memanJaKan&quot; neLayan LokaL sehiNgGa apAbilA dAtaNG sauTu MAsaAlah maka berharap program pemberdayaan terlaksana unTuk MereKa tanPa berUsaHa senDiri Untuk MencOba menCari AlterNAtif pemecahan mAsalH yang ada, tradIsi MenTal sPerti Ini yanG aPAbilA selLAu di BudidaYakan Maka akan MenJAdi KebiAsaaN yg SulIt diLepas oleh nelAyan LokAl seHInggA seLaLu &quot;MenUng9U daTangNya MukjIzaT&quot; Yg dApAt meNgelUArkn meReKa darI kondIsi sperti itu. ProGram PeMeriNtah ???&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
KomenTar temaN-temAn sepertI apA??&lt;br /&gt;
iNgat denGan 5 W+ 1H...</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default/2363339155793420694'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default/2363339155793420694'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lunly713.blogspot.com/2009/10/mimpi-pemburu-baby-tuna.html' title='&gt;&gt;&gt;Mimpi Pemburu &quot;Baby&quot; Tuna &lt;&lt;&lt;'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03307642535889500865</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1769903451515941949.post-6109690864859186949</id><published>2009-10-12T10:14:00.000-07:00</published><updated>2009-11-30T19:42:59.726-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="nugget ikan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="sekolah tinggi perikanan jurusan penyuluhan perikanan"/><title type='text'>Nug9eT iKan,, Hummm, ewNakkk,,,,</title><content type='html'>SiaPa sie yg Ga suKa nUggEt Ikan, Ewnak, Lezat,, BergIzi,, Humm,, ApaLAgi di TawarIn GratIs Lagi.. MAkan nuGget iKan GraTis,,HAnyA aDa di LAb PengOlhaN SekoLah TinGGi PeriKAnan JuruSan PEnyuLuhaN PeriKanan BogOr. DijAmin HaLaL 100% seRTA ga BaKaLan PuLang TanPa pEruT BuncIt., Uhm., EwnAK,, ApaLagi GraTIs Lagi,, &lt;br /&gt;
SeMUa oRang PasTi terGoda,,&lt;br /&gt;
Ada yAng BermInaT ???&lt;br /&gt;
BagI yanG beLum berUtung MeLewaTkaN keSempatan yg LAnGka iNi mAKA JangAN kHawaTir,, SaYa akAn meMbUka ReHASIA RESEP EwnAk MEmBUat NUgGet Ikan.. Upz, Szszszttt,, JanGAn Bilang2 DoseN yUa,, Ntar KetaHUan dOSen PEngoLahan LAgi,,, NAh,, SIlahkAn andA baca dan MemPraktekan&#39;y diruMah. GampANg kO anD ga ButuH tenAga dan ModaL yaNg BuaNyak,,, SelamaT menCoba,,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
AlaT &lt;br /&gt;
Giingan daging, loyaNg ukuran 20 X 6 cm (disesuaikan), Kompor, Panci, Blender, fReeZer dan WajaN &lt;br /&gt;
BAhan&lt;br /&gt;
1 kg ikan&lt;br /&gt;
Sedikit garam&lt;br /&gt;
1 siung bawang merah besar&lt;br /&gt;
6 siung bawang putih &lt;br /&gt;
2,5 cm jahe&lt;br /&gt;
4 - 5 bh cabe merah&lt;br /&gt;
2 butir telur (dikocok lepas)&lt;br /&gt;
5 sdk makan tepung goreng Kentucky&lt;br /&gt;
merica secukupnya&lt;br /&gt;
15 keping biskuit crakers (digiling halus)&lt;br /&gt;
400 ml minyak utk menggoreng&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Directions:&lt;br /&gt;
PeNyiangan ikan dengan cara dibuang kepala dan isi perut  ikan, selanjutnya  ikan di cuci dengan air bersih. Pisahkan daging ikan dari duri dan tulangnya dengan cara ikan diletakkan di atas talenan kemudian disayat memanjang dengan pisau pada bagian pnggung sehingga diperolah bentuk fillet ikan. Bersihkan ikan, daging ikan yang diperoleh selanjutnya digiling hingga halus.  Hancuran daging ikan dicuci dengan air garam 0.15 % dengan cara diaduk dalam air pencuci agar kotoran, lemak, protein rusak, sisa darah, bau amis, dan bakteri dapat dipisahkan dari daging ikan. - Giling bawang merah, bawang putih, jahe dan cabe, - - Lumatkan dan dan campurkan dengan bumbu yg sudah digiling-. Masukkan kuning telur, tepung, garam dan merica. Aduk hingga menyatu. Masukan campuran bahan kedalam Loyang yang sudah diolesi minyak dan padatkan. Kukus selama kurang lebih 15 meni.    adonan dikeluarkan dari Loyang dan setelah dingin Bentuk adonan dipotong dengan ukuran panjang4 cm, lebar 2 cm, and tebal 1,5 cm atau   sesuai selera. Kemudian celupkan kedalam putih telur, lumuri dengan tepung biscuit kemudian tunggu selama 12 jam. - Panaskan minyak dan goreng hingga kekuningan.&lt;br /&gt;
- Atur diatas piring dan sajikan bersama saus tomat dan cabe. SiLahkan MencoBA..</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default/6109690864859186949'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default/6109690864859186949'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lunly713.blogspot.com/2009/10/nug9et-ikan-hummm-ewnakkk.html' title='Nug9eT iKan,, Hummm, ewNakkk,,,,'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03307642535889500865</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1769903451515941949.post-1821095294105494357</id><published>2009-10-11T21:50:00.001-07:00</published><updated>2009-10-11T21:50:40.107-07:00</updated><title type='text'>YahuDi 2 ( MeNyeBar VirUS)</title><content type='html'>Akidah dan Amalan Yahudi Ditiru oleh Sebagian Muslimin&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Israel (YahuDi) tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Indonesia, sebuah negara yang jumlah penduduknya mayoritas beragama Islam. Namun, menurut berbagai informasi perlahan-lahan mulai dibuka hubungan tidak resmi antara Israel – Indonesia. Dan, menurut berbagai sumber telah berlangsung saling kunjungan antara sejumlah diplomat tingkat tinggi ke Jerusalem dan Jakarta. Kunjungan itu berawal, ketika tahun 2006, dan ini merupakan kunjungan pertama ke negara muslim, Wakil Direktur Jendral untuk Asia dan Pasific, Departemen Luar Negeri Israel, Amos Nadai, serta Duta Besar Israel di Bangkok, Yael Ruinstein, tiba di Jakarta, menghadiri sebuah konvensi Komisi Sosial dan Ekonomi untuk Asia dan Pasific.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kontak diplomatic dan organisasi sosial antara Jerusalem – Jakarta terus berlangsung. Di tahun 2007, Duta Besar Israel untuk PBB, Dan Gillerman, melakukan pertemuan dengan seorang Duta Besar, Rezlan Ishar Jenie. Tahun 2008, delapan wartawan melakukan kunjungan yang bersejarah ke Israel, dan bergabung dengan Australian Israel and Jewish Affairs Committee (AIJAC) dan American Jews Committee (AJC). Mereka membentuk sebuah jaringan dan kerjasama dibidang informasi antara AIJAC, AJC dan para wartawan Indonesia. &lt;br /&gt;
Sejumlah ormas Islam pernah berkunjung ke Israel, seperti Markus Sudibjo, Habib Chirzin dari Muhammadiyah. Abdurrahman Wahid, beberapa kali berkunjung ke Israel. Abdurrahman Wahid, juga menjadi salah satu pengurus Yayasan Simon Peres. Ketika, belum lama ini berkunjung ke Amerika, tokoh NU, yang kerap di panggil Gus Dur melakukan pertemuan dengan sejumlah tokoh Yahudi dan Rabbi, dan di jamu di sebuah rumah makan, yang khas miliki orang Yahudi di California. Dan, Gus mendapatkan sebuah medali (penghargaan) atas jasa-jasanya mengembangkan kehidupan pluralisme di Indonesia. Memang tidak banyak Yahudi di Indonesia dan di Jakarta.Tapi, pengaruhnya kian terasa di Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut berbagai sumber yang ada, jumlah orang Yahudi di Jakarta, tak lebih dari 10 orang. Dan, selebihnya mereka berada di Manado. Umumnya, mereka ekspatriat, yang berasal dari Amerika, Eropa dan Israel. Orang-orang Yahudi yang asli berasal dari Nederland (Belanda). Yaakov Baruch, seorang Yahudi, yang sudah ada di Indonesia, menyampaikan : “Dengan kedatangan Ny.Ellise, di Kedutaan Amerika, kami mempunyai pemimpin baru di Jakarta”, ucapnya. Mereka untuk tetap menjaga keyakinannya dan mendalami kitab Taorah mererka memiliki copy, dan mereka melakukan komunikasi melalui email. Sekarang orang-orang Yahudi (Israel) yang melakukan kunjungan ke Jakarta, sebagian mereka mempunyai kepentingan dagang (bisnis), dan sebagian lainnya berlibur, dan ada juga yang mereka melakukan penelitian guna mengumpulkan data tentang Indonesia. Nampaknya, para Yahudi yang ada di Indonesia, mereka mengelola kegiatan dan hubungan dengan komunitas Yahudi di seluruh dunia, melalui Kedutaan Amerika dan klub Masyarakat Amerika di Jakarta. Di sini mereka bertemu, bertukar pikiran, dan merekatkan hubungan diantara mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kaum Yahudi adl orang2 kafir yg kebencian kepada kaum muslimin sangatlah besar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِيْنَ آمَنُوا الْيَهُوْدَ وَالَّذِيْنَ أَشْرَكُوا&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sungguh engkau akan dapati orang yg paling keras permusuhan kepada kalian adl orang2 Yahudi dan kaum musyrikin.” Mereka adl kaum yg dimurkai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka terus berupaya agar ada di antara kelompok kaum muslimin yg mengikuti mereka. &lt;br /&gt;
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُوْدُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ&lt;br /&gt;
“orang2 Yahudi dan Nasrani tdk akan ridha kepada kalian hingga kalian mengikuti agama mereka. ”Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang kita berloyalitas dgn mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: &lt;br /&gt;
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا لاَ تَتَّخِذُوا الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِيْنَ&lt;br /&gt;
“Hai orang2 yg beriman janganlah kalian menjadikan orang2 Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin ; sebagian mereka adl pemimpin bagi sebagian yg lain. Barangsiapa di antara kalian menjadikan mereka menjadi pemimpin mk sesungguh orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguh Allah tdk memberi petunjuk kepada orang2 yg zalim. ”&lt;br /&gt;
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita utk senantiasa menyelisihi mereka</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default/1821095294105494357'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default/1821095294105494357'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lunly713.blogspot.com/2009/10/yahudi-2-menyebar-virus.html' title='YahuDi 2 ( MeNyeBar VirUS)'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03307642535889500865</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1769903451515941949.post-3495199265148551587</id><published>2009-10-11T21:38:00.001-07:00</published><updated>2009-10-11T21:38:40.821-07:00</updated><title type='text'>YahuDi 1 (SEMUT YanG memErIntah GAjAh)</title><content type='html'>Apabila dunia tidak sedang melaju menuju benturan peradaban (clash of civilizations), maka sedikitnya telah terjadi pengkaburan distingsi antara gereja dan negara di AS dan mendorong umat Islam untuk mempercayai keunggulan Yahudi Israel di dunia, yang sangat merugikan Islam. Kita mungkin masih ingat dengan Pidato dari  mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad pada pertemuan puncak Organisasi Konferensi Islam (OKI). Beliau menyatakan: “Selama lebih dari setengah abad kita telah berjuang untuk Palestina. Apa yang telah kita capai? Tidak ada.” Ia menyerukan umat Islam untuk berpikir, bukan hanya marah dan marah. Dan mengajak umat Islam untuk meniru langkah Yahudi: “Orang Eropa membunuh enam juta Yahudi dari total jumlah Yahudi yang berjumlah 12 juta, tetapi saat ini Yahudi menguasai dunia. Mereka dapat mengatur bangsa lain untuk berperang dan mati demi mereka… Kita tidak pernah menghargai individu Muslim yang berpikir. Yahudi dapat bertahan dari pembunuhan massal selama 2000 tahun bukan dengan membalas dendam tetapi dengan berpikir. Mereka (KAum Yahudi) dapat mengontrol negara-negara yang paling kuat dan mereka, komunitas kecil ini, menjadi sebuah kekuatan dunia.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh Karena itu, melihat pernyataan di ats menggugah saya untuk mengenal dan  mengkaji lebih jauh lagi tentang KOMUNITAS KECIL tetaPi memIliki POWER serTA menGuasai DUNIA. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama kita Mengenal terlebih dahulu istilah kemunculan YAHUDI&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yahudi ialah sebuah istilah yang sedikit rancu sebab bisa merujuk kepada sebuah agama atau suku bangsa. Jika dilihat berdasarkan agama, istilah ini merujuk kepada umat agama Yahudi, tidak peduli apakah mereka keturunan Yahudi atau tidak. Berdasarkan etnisitas, kata ini merujuk kepada keturunan Eber (Kejadian 10:21) atau Yakub, anak Ishak, anak Abraham (Ibrahim) dan Sarah. Etnik Yahudi juga termasuk Yahudi yang tidak memegang kepada agama Yahudi tetapi beridentitas Yahudi dari segi tradisi.&lt;br /&gt;
Agama Yahudi ialah kombinasi antara agama dan suku bangsa. Agama Yahudi dibahas lebih lanjut dalam posting berilutnya. Posting kali ini hanya membahas dari segi suku bangsa saja, dalam arti dan defenisi mengenai YAHUDI. Kepercayaan semata-mata dalam agama Yahudi tidak menjadikan seseorang menjadi Yahudi. Di samping itu, dengan tidak memegang kepada prinsip-prinsip agama Yahudi tidak menjadikan seorang Yahudi kehilangan status Yahudinya. Tetapi, definisi Yahudi undang-undang kerajaan Israel tidak termasuk Yahudi yang memeluk agama yang lain. Halakha, atau hukum-hukum agama Yahudi, memberikan definisi Yahudi kepada seorang yang:&lt;br /&gt;
Suku Bangsa Yahudi, suku bangsa ini terbagi lagi menjadi dua &lt;br /&gt;
1. Seorang anak yang terlahir dari ayah dan ibu Yahudi disebut Yahudi asli, &lt;br /&gt;
Seorang anak yang terlahir dari ayah Yahudi dan ibu dari bangsa lain, Yahudi campuran ini termasuk kategori Yahudi Kelas Dua, &lt;br /&gt;
2. Seorang yang memeluk agama Yahudi menurut hukum-hukum Yahudi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Definisi ini diwajibkan oleh Talmud, sumber Hukum-Hukum Tak-tertulis yang menerangkan Taurat, kitab suci asal hukum-hukum Yahudi (lima kitab pertama kitab Tanakh/Perjanjian Lama). Menurut Talmud, definisi ini dipegang semenjak pemberian Sepuluh Perintah Allah di Gunung Sinai kira-kira 3.500 tahun dahulu kepada nabi Musa. Sejarawan Yahudi non-Ortodoks berkeyakinan bahwa definisi ini tidak diikuti sehingga tidak lama berlaku, tetapi ia mengaku bahwa definisi ini digunakan sekurang-kurangnya 2.000 tahun sampai saat ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada akhir abad ke-20, dua kumpulan Yahudi (terutama di Amerika Serikat) yang liberal dari segi teologi, Yahudi Reformasi dan Yahudi Rekonstruksi telah membenarkan orang yang tidak memenuhi kriteria tersebut untuk menyebut diri mereka sebagai Yahudi. Mereka tidak lagi mewajibkan orang memeluk agama tersebut demi memenuhi adat istiadat pemelukan tradisional, dan mereka menganggap seseorang sebagai Yahudi jika ibu mereka bukan Yahudi, asalkan berayah Yahudi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengenal AGAMA YAHUDI&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yudaisme atau Agama Yahudi adalah kepercayaan yang unik untuk orang/bangsa Yahudi (penduduk negara Israel maupun orang Israel yang bermukim di luar negeri). Inti kepercayaan penganut agama Yahudi adalah wujudnya Tuhan yang Maha Esa, pencipta dunia yang menyelamatkan bangsa Israel dari penindasan di Mesir, menurunkan undang-undang Tuhan (Torah) kepada mereka dan memilih mereka sebagai cahaya kepada manusia sedunia.&lt;br /&gt;
Kitab Suci agama Yahudi menuliskan Tuhan telah membuat perjanjian dengan Abraham bahwa beliau dan cucu-cicitnya akan diberi rahmat apabila mereka selalu beriman kepada Tuhan. Perjanjian ini kemudian diulangi oleh Ishak dan Yakub. Dan karena Ishak dan Yakub berasal dari bangsa Yahudi, maka mereka meyakini bahwa merekalah bangsa yang terpilih. Penganut Yahudi dipilih untuk melaksanakan tugas-tugas dan tanggung jawab khusus, seperti mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur dan beriman kepada Tuhan. Sebagai balasannya, mereka akan menerima cinta serta perlindungan Tuhan. Tuhan kemudian menganugerahkan mereka Sepuluh Perintah Allah melalui pemimpin mereka, Musa.&lt;br /&gt;
Sinagoga merupakan pusat masyarakat serta keagamaan yang utama dalam agama Yahudi, dan Rabi adalah sebutan bagi mereka yang pakar dalam hal-hal keagamaan&lt;br /&gt;
Keluarga merupakan hal yang utama dalam agama ini dan penganutnya yang setia akan bersembahyang setiap hari. Hari Sabtu merupakan hari utama yang biasa disebut hari Sabat. Antara Jumat sore sampai Sabtu sore mereka akan menyalakan lilin dan meminum anggur serta roti yang telah diberkati. Di samping Sabat, hari besar yang lain termasuk Rosh Hashanah (Tahun Baru) dan Yom Kippur (Hari Penerimaan Tobat).&lt;br /&gt;
Kitab Ibrani disebut Tanakh dan terdiri dari 24 buku yang dihimpun dari 3 kumpulan:&lt;br /&gt;
Torah atau Taurat (Pentateuch) &lt;br /&gt;
Nevi’im (Para Nabi) &lt;br /&gt;
Ketubim (Tulisan) &lt;br /&gt;
Selain itu terdapat juga Talmud yang merupakan terjemahan serta komentar mengenai Torah dari para rabi dan cendekiawan undang-undang. Ini termasuk Mishnah dan Halakah (kode undang-undang masyarakat utama penganut agama Yahudi), Gemara, Midrash dan Aggadah (legenda dan kisah-kisah lama).&lt;br /&gt;
Kabballah pula ialah teks lama yang berunsur mistik, dan menceritakan zat-zat Tuhan&lt;br /&gt;
Kebanyakan penganut Yahudi mengikuti peraturan dalam memilih makanan yang tertulis di dalam Taurat yang melarang campuran susu dengan daging. Daging babi juga dilarang dalam agama Yahudi. Makanan yang disediakan harus menuruti undang-undang tersebut, dan daging harus disembelih oleh kaum Rabi, dinamakan kosyer.&lt;br /&gt;
Anak laki-laki juga diharapkan untuk disunat (sewaktu masih bayi) seperti perjanjian nabi Ibrahim dengan Tuhan. Apabila seorang anak laki-laki mencapai kematangan dia akan dirayakan karena menjadi anggota masyarakat Yahudi dalam upacara yang dinamakan Bar Mitzvah. Setelah kematian seseorang, orang-orang Yahudi akan mengadakan satu minggu berkabung di mana mereka membaca Kaddish. Agama dan kemasyarakatan saling berkaitan di dalam masyarakat Yahudi. Misalnya pengambilan riba dianggap berdosa sesama kaum Yahudi, tetapi dibenarkan dengan mereka yang bukan Yahudi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejarah kaUm YAhudi diCeritakan daLam Al-Qur’an&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Arab dengan Yahudi telah bermusuhan sejak sekian lama. Kalau dikaji dari sudut sejarah, asal usul keturunan mereka ini dari Sam bin Noh (semitik). Nabi Ibrahim mempunyai dua orang anak lelaki iaitu, Ismail dan Ishak. dari keturunan Ismail - ialah Nabi akhir zaman, Muhammad s.a.w. Manakala dari keturunan Ishak lahirnya ramai dari kalangan Nabi Bani Israil, antaranya Nabi Yaakob (nama gelarannya, Israil - kerana suka mengembara di waktu malam), Yusuf, Musa, Daud, Sulaiman, Isa etc.  &lt;br /&gt;
Ismail dan Ishak walaupun mereka bersaudara, tetapi mengikut sejarahnya hubungan mereka tidaklah begitu mesra. Ini memandangkan mereka tinggal berjauhan Sejak kecil lagi. Mereka juga mempunyai ibu yang berlainan – ibu Ismail ialah Siti Hajar, seorang dayang Raja Mesir yang diserahkan kepada Ibrahim sebagai isteri. dan ibu Ishak , ialah Siti Hajar isteri pertama Ibrahim. Pada mulanya Siti Sarah dan Hajar mempunyai hubungan yang baik – namun ianya berubah sebaik sahaja Hajar mengandungkan Ismail, sedangakan Sarah yang telah lama berkahwin dengan Ibrahim masih belum dikurniakan anak. Timbullah rasa cemburu dihati Sarah terhadap Hajar, semakin hari semakin membuak. Maka Hajar meminta Ibrahim membawa Hajar jauh-jauh dari hidupnya. Ibrahim telah membawa Hajar ke Mekah dan ditinggalkan di sana (ini hidayah dari tuhan supaya Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail di Mekah). Sarah kemudiannya dikurniakan juga dengan seorang anak lelaki, iaitu Ishak. &lt;br /&gt;
Diriwayatkan Ismail pernah datang berjumpa saudaranya Ishak untuk menuntut bahagian harta pusaka setelah kemangkatan Ibrahim. Ishak tidak mempedulikan permintaan Ismail. Walaupun kedua-dua mereka ini (Ismail dan Ishak) merupakan nabi dan rasul, tetapi sebagai manusia mereka seolah-olah ada ‘permusuhan’ peribadi. Dari keturunan Ismail dan Ishak ini lahirlah dua bangsa yang dikenali sebagai Bangsa Arab dan Yahudi. (adalah dimaklumkan Ibrahim, Ishak dan Ismail bukan orang Arab ataupun Yahudi). Orang-orang Arab telah ujud ketika itu di sekitar Jazirah Arab. Di mana Ismail telah berkahwin dengan Arab suku Jurhum yang datang tinggal di Mekah setelah ada sumber air dari telaga zam-zam. &lt;br /&gt;
Keturunan dari Ismail diistilahkan Musta’rabah (المستعربة) atau di’Arabkan secara asimilasi. Nabi Muhammad S.A.W adalah dari keturunan ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dari keturunan Ishak pula, lahir Yaakob, yang juga dikenali sebagai Israil (إسرائيل), dari turunan Yaakob ini ramai dilahirkan nabi dan rasul utusan tuhan. Antaranya Yusuf, Musa, Harun, Daud, Sulaiman, Zakariya, Yahia, Isa dan ramai lagi, sesetengahnya kita tidak ketahui atau tidak begitu terkenal.. Walaupun dikalangan Nabi dan Rasul majoritinya bangsa Yahudi, tetapi ramai dari kalangan mereka yang sangat keras penentangannya terhadap Nabi tersebut. Contohnya di zaman Nabi Musa A.S., kaum Yahudi amat ingkar kepada arahan Nabi. Ketika Nabi Musa meninggalkan kaumnya untuk pergi ke Bukit Thursina berjumpa tuhan, baginda telah meamanahkan kepada saudaranya Harun untuk menjaga kaum Yahudi. Sekembalinaya Musa kepada kaumnya beliau telah melihat ramai dari kalangan mereka telah kembali menyembah berhala, patung2 anak kambing dsb. Ini menyebabkan Musa naik marah. &lt;br /&gt;
Begitu juga ketika Musa mengarahkan kaumnya pindah ke Palestin dari Mesir, ramai yang tidak mahu ikut – ada diantara mereka yang tersesat bertahun-tahun. Begitu juga dengan peristiwa Black Sabbath – kerana keingkaran melanggari perintah tuhan. Keingkaran Yahudi terhadap perintah tuhan yang diwahyukan kepada Nabi bukan setakat enggan mengikut, hatta sehingga membunuh nabi utusan Tuhan, antara nabi yang dibunuh Yahudi ialah Nabi Yahya anak kepada Zakariya yang menjaga Maryam. Kemudiannya mereka membunuh pula Nabi Isa A.S. ( ada pendapat Isa diselamatkan tuhan dan naik ke sorga). Begitu juga dengan Nabi Muhammad S.A.W, walaupun ada perjanjian untuk mendiami secara aman di Madinah, tetapi Yahudi ini bersetongkol dengan Musyrikin untuk memerangi Muhammad. Amat patut mereka ini dihukum. &lt;br /&gt;
Untuk me’legal’kan perampasan tanah Palestin, mereka berhujjah, Negara Israil telah ujud 2000 tahun lampau di situ, dan dengan bersandarkan ajaran agama dan kitab Taurat tanah itu milik mereka.. Memang benar tuhan pernah janjikan tanah itu untuk kaum Musa (yahudi), tapi itu dulu dan yahudi itu pun bukannya patuh kepada ajaran Taurat. Mereka yang datang merampas Palestin bukannya dari yang tahu agama- mereka ini sekularis, komunis, atheis dan entahkan mereka ini penjahat2 dari Pernacis Rusia, Jerman Poland, US dsb. Mereka ini tidak percayakan Kitab – mereka sepatutnya malu untuk mendakwa sebagai pewaris kerajaan dari nabi Sulaiman kerana ketika baginda wafat tiada siapa yang pedulikannya (diriwayatkan Nabi Sulaiman A.S. wafat ketika berdiri dan ditahan oleh tongkatnya dari jatuh – sehingga tongkat itu buruk dimakan anai-anai baharulah tubuhnya jatuh di mehrabnya. Mungkin juga baginda sedang berkhalwat untuk beribadah ketika itu ditempat yang agak terasing dari orang ramai).</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default/3495199265148551587'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default/3495199265148551587'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lunly713.blogspot.com/2009/10/yahudi-1-semut-yang-memerintah-gajah.html' title='YahuDi 1 (SEMUT YanG memErIntah GAjAh)'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03307642535889500865</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1769903451515941949.post-1715649823930251921</id><published>2009-10-01T19:40:00.001-07:00</published><updated>2009-10-06T20:46:48.159-07:00</updated><title type='text'>three in one daLm PengeloLaan SDA KeLautan..</title><content type='html'>Tidak dapat disangkal bahwa menjelang lahirnya Otorita Teluk Tomini [OTT] telah menjadi aktual pada saat ini ramai dibicarakan, terutama manyangkut masalah tempat kesekretariatannya, padahal sebenarnya hal ini bukanlah suatu masalah yang perlu dibesar-besarkan; Sebenarnya yang menjadi pokok permasalahan secara substansial adalah bagaimana dapat mengelola sumber daya alam [SDA] kelautan sebagai sumber pendapatan dalam wilayah yang terkait dalam kawasan Teluk Tomini tersebut. Seperti diberitakan oleh mass media bahwa Presiden RI merencanakan akan meresmikan OTT itu melalui Keppres yang akan ditanda tangani diatas sebuah kapal di Teluk Tomini pada tanggal 11 Oktober 2003 yang akan datang. &lt;br /&gt;
Apa makna OTT itu ? Sebelum menjawab pertanyaan ini, ada baiknya lebih dahulu menjelaskan makna kata otorita itu sendiri agar persoalannya lebih jelas. Sebenarnya otorita itu bila dikaitkan dengan suatu wilayah maka boleh dikatakan bahwa di kawasan itu memiliki suatu &quot;Otoritas&quot; artinya hak atau kekuasaan yang berwenang penuh dan sah diberikan kepada lembaga, pejabat atau penguasa suatu wilayah untuk menjalankan tugas atau fungsinya sesuai dengan peraturan, sehingga masing-masing wilayah administrasi otonomi provinsi mempunyai hubungan interkoneksitas untuk mengelola OTT tersebut, guna dapat memajukan kesejahteraan masing-masing. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tegasnya OTT yang berwenang mengelola kawasan teluk Tomini yang melibatkan tiga wilayah administrasi otonomi yang terdiri dari tiga provinsi yaitu wilayah Sulawesi Tengah [Sulteng], Gorontalo dan Sulawesi Utara [Sulut]. Ketiga wilayah inilah secara mutlak yang menguasai sesuai wewenang yang dimilikinya dalam rangka bekerja sama untuk &quot;mengeksplorasi&quot; dan selanjutnya &quot;mengeksploitasi&quot; segala macam sumber daya alamnya sesuai ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku demi terciptanya kesejahteraan bersama khususnya dalam wilayah otonomi masing-masing yang selalu terikat sebagai ikatan tata ruang NKRI; Ketiganya terikat oleh suatu hubungan yang harmonis dan merupakan hubungan yang bersifat simbiose mutualistis artinya saling menguntungkan dan saling bergantungan serta adanya hubungan resiprokal [saling mendukung] satu sama lain; Sehingga sangat diharapkan agar tidak ada salah satu wilayah administrasi otonomi merasa lebih berhak daripada yang lainnya di dalam pengelolaan OTT ini. Kawasan ini seharusnya dijaga dan dipelihara bersama sebagaimana mestinya agar tidak menimbulkan apa yang dinamakan konflik tata ruang yang berkelanjutan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlu diketahui bahwa substansi yang dibicarakan dalam OTT ini tidak lain adalah masalah SDA kelautan dengan segala isinya dan sama sekali bukan menyangkut SDA daratan dengan segala isinya, sehingga tidak boleh salah satu wilayah administrasi otonomi mengklaimnya dengan berpatokan jumlah kabupaten/kota yang dimiliki oleh masing-masing provinsi. Dalam hal ini tidaklah pas kalau ada pihak-pihak yang mengklaim dirinya sebagai pihak yang paling berhak dengan menggunakan ukuran berdasarkan &quot;Geopilitik&quot; tetapi seharusnya dilihat dari sudut kepentingan &quot;strategi maritim&quot;, dimana ketiga provinsi itu melekat terkait didalam teluk Tomini itu sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau kita mau jujur dan berpikiran akademis, marilah kita memperhatikan peta kawasan teluk Tomini yang melibatkan tiga provinsi tersebut mulai dari Sulut, Gorontalo sampai ke wilayah Sulteng maka akan terbentang di pesisir atau bibir teluk dari Bitung, Lemito [provinsi Sulut dan Gorontalo] selanjutnya dari Moutong, Santigi, Tomini, Palasa, Tinombo, Kasimbar, Toribulu, Marantale, Toboli, Parigi, Poso, Ampana, Bunta, Pagimana, sampai ke Balantak [provinsi Sulteng], maka seorang anak SD pun yang belajar ilmu bumi akan mengatakan bahwa pesisir Sulteng lebih panjang dari pesisir Gorontalo bergabung dengan Sulut. Berdasarkan penelitian peta teluk Tomini yang ada kalau ingin menggunakan skala peta ilmu bumi maka Sulut-Gorontalo sepanjang pesisir yang terletak dari Manado-Gorontalo sampai Lemito hanya kurang lebih 544 km lari; Sedangkan dari Moutong sampai Balantak panjang pesisirnya kurang lebih 930 km lari. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun pesisirnya berdasarkan penelitian peta seperti disebutkan diatas, dimana pesisir Sulteng di teluk Tomini lebih panjang, penulis yakin dan percaya bahwa aparat di wilayah administrasi otonomi Sulteng tidak akan mengklaim dirinya sebagai wilayah yang paling berhak. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebaiknya marilah semua wilayah administrasi otonomi yang terikat dengan lembaga OTT mengadakan musyawarah dengan berpatokan secara yuridis konstitusional menurut UUD 1945 khususnya pasal 33 ayat (1,2,3) dan ayat (4) serta ayat (5) yang berbunyi [setelah amandemen keempat UUD 1945] yaitu ayat (4); &quot;Perekonomian nasional diselenggarakan berdasarkan atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional&quot;. Ayat [5] &quot;Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam Undang-Undang&quot;. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalau memang pemerintah/presiden benar-benar akan menandatangani Keppres pada tanggal 11 Oktober 2003 yang akan datang, penulis berpendapat bahwa hal itu tidak ada masalah dengan catatan bahwa tempat sekretariatnya sebaiknya dimusyawarahkan oleh pihak-pihak yang terkait, seperti Departemen Kelautan, melibatkan aktivis LSM dan organisasi terkait lainnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut anda BagaImana ???</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lunly713.blogspot.com/feeds/1715649823930251921/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/1769903451515941949/1715649823930251921' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default/1715649823930251921'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default/1715649823930251921'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lunly713.blogspot.com/2009/10/three-in-one-dalm-pengelolaan-sda.html' title='three in one daLm PengeloLaan SDA KeLautan..'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03307642535889500865</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1769903451515941949.post-199436384150000094</id><published>2008-11-13T23:00:00.000-08:00</published><updated>2009-11-30T19:45:49.157-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="budidaya udang"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kelautan dan Perikanan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="tambak udang"/><title type='text'>Budidaya Udang Sistem Tertutup</title><content type='html'>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjIjjCFLWIqu1GHpoxO_6QQ8nC1uWLGORHqamA2Ew9p_uPkzoUcTK2MEfxbffXgqF-pyMh1YhXFtk9uKwQ01nZCDw1PU6hmfdRirR3XUCSQBv3zBdwhKSK_yoNQcesNTAnlJt9ej_iK54N-/s1600-h/tek.JPG&quot;&gt;&lt;img style=&quot;float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 137px; height: 202px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjIjjCFLWIqu1GHpoxO_6QQ8nC1uWLGORHqamA2Ew9p_uPkzoUcTK2MEfxbffXgqF-pyMh1YhXFtk9uKwQ01nZCDw1PU6hmfdRirR3XUCSQBv3zBdwhKSK_yoNQcesNTAnlJt9ej_iK54N-/s320/tek.JPG&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5268406913699496914&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Pada dekade 80-an Indonesia merupakan sebuah Negara yang menduduki papan atas sebagai produsen udang. Dan ini merupakan tahun keemasan bagi usaha budidaya udang di tambak, bahkan pada tahun 1994 mampu mencapai angka produksi hingga &gt; 300.000 ton/tahun. Namun sejak tahun 1997 hingga sekarang produksi udang Indonesia mengalami penurun yang tidak sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penurunan produksi tambak tersebut disebabkan oleh berbagai faktor, utamanya karena kelalaian manusia itu sendiri. Karena terbuai oleh sukses yang telah diraih kemudian manusia mengabaikan kontrol atas prinsip mikrobiologis dan proses eutrofikasi (penyuburan) lingkungan, sehingga tambak-tambak di Indonesia mulai berkurang produktivitasnya. Kondisi yang tidak disadari ini lebih diperparah oleh meledaknya tingkat infeksi penyakit virus bercak putih/White Spots Virus (WSSV) atau Systemic Ectodherma/Mesodherma/ Bacculo Virus (SEMBV) pada benih udang di tambak dan jenis-jenis krustasea liar di sekitar tambak yang selalu menyebabkan kematian massal pada udang yang dipelihara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karenanya perlu diterapkan prinsip prinsip dasar budidaya perikanan yang sesungguhnya yaitu: melaksanakan pencegahan intrusi hama penular, hama penyaing dari jenis krustasea dan bertanggung jawab mengolah limbah yang dihasilkan. BBPBAP Jepara sebagai ujung tombak pemerintah dalam inovasi teknologi sejak awal tahun 1997 telah berusaha untuk tetap konsisten dalam mengotimalkan kemampuannya dibidang budidaya udang di tambak. Bersamaan dengan itu maka ditemukan modifikasi inovasi baru dalam paket teknologi budidaya udang di tambak dengan menerapkan sistem resirkulasi tertutup atau semi tertutup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Budidaya udang sistem resirkulasi tertutup merupakan sistem budidaya udang dengan menggunakan kembali air pembuangan dari hasil limbah pemeliharaan udang, setelah melalui proses filtrasi pada petak-petak tandon. Filtrasi air dapat dilakukan dengan proses secara fisika, kimia dan biologis pada setiap tahapan tandon air. Penambahan air dapat dilakukan, apabila konstruksi pematang tambak banyak rembesan/bocor, tingkat porositas tanah tinggi, tingkat evapotranspirasi (penguapan air) tinggi, kondisi parameter kualitas air media pemeliharaan tidak optimal, kemelimpahan fitoplankton tinggi (transparasi rendah, di atas 20 cm), kepekatan salinitas meningkat, kondisi udang ada masalah (karena penyakit atau nafsu makan menurun).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Persyaratan&lt;br /&gt;
Dalam penerapan sistem tertutup perlu diperhatikan faktor-faktor yang sangat menentukan keberhasilannya, antara lain konstruksi tambak harus kedap air. Jika sebelumnya konstruksi tambak merupakan konstruksi lahan yang secara umum dipergunakan, maka diperlukan redesign konstruksi (1 unit tambak sistem tertutup terdiri dari : petak pembesaran, tandon biofilter, tandon endapan, dan tandon karantina/treatmen).&lt;br /&gt;
Gunakan benih bebas virus dan ukuran seragam (Ukuran &gt; PL 12, atau tokolan). Air media pemeliharaan steril (standar air baku), menggunakan disinfektan yang mudah terurai dan resiko pencemaran zero (netral)&lt;br /&gt;
Hendaknya dilakukan penumbuhan fitoplankton dengan menggunakan pupuk yang tepat, dan lakukan pengendaliannya selama pemeliharaan. Gunakan pakan yang standar; Feed additive (immonostimulant) yang digunakan harus yang beresiko rendah atau yang tidak dilarang, serta terprogram. Demikian pula pengunaan probiotik, harus tepat dan terkendali. Pengelolaan air dan lumpur dilakukan secara periodik. Perlu pengendalian oksigen (minimal pagi hari &gt; 3/5 ppm). Kendalikan pula pH serta alkalinitas harian agar tidak terjadi goncangan yang mencolok (tidak lebih dari 0,5). Hindarkan krustase liar masuk lewat air dengan menggunakan saringan yang ketat dan yang lewat darat ke tambak gunakan pagar keliling.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konstruksi Tambak&lt;br /&gt;
Sistem Tertutup&lt;br /&gt;
Dimensi pematang yang ideal (terbuat dari tanah) untuk tambak udang adalah lebar atas antara 2,5 - 3,5 m, lebar bawah antara 7,0 - 9,0 m dan tinggi antara 1,5 - 2,0 m, kemiringan 45 - 60 derajat. Pada umumnya komoditas udang lebih menyukai dasar tambak liat– berpasir/lumpur – berpasir/ liat debu - berpasir (70 - 30 %). Pembuatan pematang tambak dapat disesuaikan dengan konstruksi dasar dan pematang, alternatif konstruksi tambak dapat terbuat dari beberapa komponen seperti tanah liat, padat dan kedap, atau biocrete (campuran semen, ijuk, bambu dan dasar plastik), maupun plastik PE, Geotextile. Bisa juga terbuat dari plastik berlapis pasir, dasar semen/concrete, batako, atau bata putih (kapur gunung).&lt;br /&gt;
Petak Karantina (Petak Air Baku Siap Pakai), merupakan petakan tambak yang berfungsi sebagai tempat untuk menampung volume air yang mempunyai standar baku mutu air, yang nantinya digunakan sebagai suplai air pada saat penggantian/ penambahan air baru ke petak pembesaran atau petak tandon lainnya. Posisi petakan ditempatkan sebelum air disalurkan ke petak pembesaran atau petak distribusi air suplai. Volume (luas) petakan yang optimal, sama dengan yang digunakan untuk dapat mengganti air baru pada kondisi kritis, berkisar antara 30 - 50% (tergantung tingkatan teknologi yang diterapkan).&lt;br /&gt;
Petak/Saluran Distribusi Air, merupakan saluran/ petakan pembagi air untuk mensuplai air harian ke petak-petak pembesaran. Letak dan posisi petakan berada pada tempat yang strategis untuk mensuplai air ke petak-petak pembesaran tersebut, dengan mempertimbangkan efektifitas dan efisiensi penggunaan sarana dan fasilitas tambak. Luas (volume) air yang optimal untuk petak distribusi air berkisar antara 30 - 50 % dari luas petak pembesaran. Petak ini dapat berfungsi sebagai petak karantina dengan tujuan untuk menghemat lahan, dan memiliki dwi fungsi.&lt;br /&gt;
Petak Pembesaran, merupakan petakan tambak yang digunakan sebagai petak pemeliharaan (pembesaran) udang dengan posisi yang umumnya berada di tengah unit tambak. Luas petak pembesaran yang optimal untuk tambak udang teknologi intensif dan super-intensif pada sistem ini berkisar antara 2.000 - 4.000 m2. Untuk tambak udang teknologi sederhana dan semi-intensif berkisar antara 5.000 - 8.000 m2. Bentuk tambak yang ideal adalah sama sisi (kubus) dengan sudut tumpul. Tujuan bentuk petakan seperti ini diharapkan dapat memudahkan dalam proses pengelolaan air dan lumpur dasar secara fisik (memudahkan pengkonsentrasian kotoran udang/lumpur ke pintu air dengan sistem central drain).&lt;br /&gt;
Petak/Saluran Pembuangan Air Limbah/Endapan Lumpur (ditebari biofilter)- merupakan petak/saluran pembuangan yang berasal air buangan dari petak pembesaran. Petak ini berfungsi sebagai petak pengendapan Lumpur/ limbah, dengan Posisi petakan berada di ujung pintu monik dan PVC sentral drain pembuangan air. Luas petak pembuangan air (petak pengendapan kotoran udang) pada prinsipnya adalah dapat menampung air yang dibuang dari petak pembesaran.&lt;br /&gt;
Petak tandon utama, merupakan petak tambak yang ditebari organisme jenis ikan predator multispecies sebagai bioscreen/biofilter guna untuk memangsa hama penular penyakit udang. Letak dan posisi petakan ditempatkan setelah dari aliran air petak pengendapan (saluran pembuangan air). Volume petakan ini sama dengan petak distribusi air suplai dengan bentuk diusahakan memanjang (2 : 1). Perbandingan petak tandon dan petak pembesaran untuk teknologi intensif dan super-intensif antara 50 - 100 % atau dengan kata lain volume tandon mampu untuk mengganti air pada petak pembesaran minimal 50 %, sedangkan untuk paket teknologi sederhana dan semi-intensif berkisar anatara 30-50%.&lt;br /&gt;
Petak Pengolah Limbah, ditebari berbagai jenis ikan dan biofilter lainnya dan merupakan petak pengolahan limbah yang berfungsi sebagai petak penampungan air buangan kotoran (limbah) udang, terutama air buangan limbah tambak yang bermasalah (terserang penyakit virus). Pada petak ini terlebih dahulu di-treatment baik secara kimia maupun secara biologis, dimana setelah kondisi air tersebut aman dan steril maka dapat dibuang ke laut (alam) atau saluran umum. Letak dan posisi petak ini berada dekat dengan petak pembuangan air (petak endapan air Iimbah/kotoran). Pada petak ini dapat ditanami pohon bakau (10 - 15 % dari luas petakan) sebagai probiotik alami dan ditebari organisme habitat pantai lainnya yang tidak beresiko sebagai penular penyakit. Dapat pula dengan cara men-treatment dengan bahan desinfektan seperti kaporit atau sejenisnya.&lt;br /&gt;
Elevasi dasar tambak terhadap saluran pembuangan (terhadap air surut terendah), merupakan suatu petakan yang memiliki elevasi dasar tambak yang standar untuk mempermudah pengelolaan air dan pembuangan lumpur/kotoran, baik secara harian maupun dalam kondisi tertentu. Kondisi elevasi tambak yang ideal akan mempermudah pula pada saat pemanenan dan persiapan lahan. Elevasi dasar tambak yang optimal yakni dasar tambak lebih tinggi dari saluran pembuangan, berkisar antara 30 - 40 cm.&lt;br /&gt;
Central Drain, merupakan sistem pembuangan air yang dibuat di bagian tengah-tengah petak pembesaran udang. Terbuat dari pasangan bata/batu standar (cor semen), berbentuk bulat dengan diameter tergantung kebutuhan (umumnya 2 - 3 m). Tujuannya untuk mengalirkan air ke arah saluran pembuangan, di bagian tengah lingkaran cor semen tersebut dipasang PVC ukuran 8 - 12 inchi atau buis beton diameter 20-30 cm (tergantung kebutuhan dan teknologi yang diterapkan)&lt;br /&gt;
Pintu Monik, merupakan model pintu pembuangan air yang terbuat dari pasangan bata/batu dan cor semen serta buis beton/gorong-gorong. Pintu pengatur berada pada pematang bagian sisi dalam, sementara buis beton pembuangan air menghadap ke saluran pembuangan air. Ukuran/dimensi pintu monik pada umumnya tergantung luas petakan dan konstruksi pematang tambak yang dioperasionalkan. Ukuran pintu monik yang sering digunakan pada tambak udang intensif adalah: lebar bukaan pintu berkisar 60 - 100 cm, tinggi 1,6 - 2,0 m, panjang 80 - 120 cm, diameter buis beton (gorong¬gorong) 60 - 80 cm, dan panjang buis beton tergantung lebar pematang bagian bawah. Bagi tambak teknologi sederhana dan semi-intensif pintu pembuangan air dapat terbuat dari pintu kayu atau PVC dengan ukuran disesuaikan kebutuhan.</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default/199436384150000094'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default/199436384150000094'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lunly713.blogspot.com/2008/11/budidaya-udang-sistem-tertutup.html' title='Budidaya Udang Sistem Tertutup'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03307642535889500865</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjIjjCFLWIqu1GHpoxO_6QQ8nC1uWLGORHqamA2Ew9p_uPkzoUcTK2MEfxbffXgqF-pyMh1YhXFtk9uKwQ01nZCDw1PU6hmfdRirR3XUCSQBv3zBdwhKSK_yoNQcesNTAnlJt9ej_iK54N-/s72-c/tek.JPG" height="72" width="72"/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1769903451515941949.post-7407938971242026108</id><published>2008-11-11T00:49:00.000-08:00</published><updated>2008-11-11T01:10:14.176-08:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Bakso Ikan"/><title type='text'>Uhmm,,, eeewnaaakkk..</title><content type='html'>Bakso merupakan produk makanan yang sangat digemari orang mulai dari anak-anak sampai orang dewasa.  Bentuk bakso umumnya bulat dengan ukuran sesuai permintaan pasar/konsumen. Umumnya bahan baku bakso adalah daging sapi atau kambing, tapi untuk kali ini kita akan mencoba membuat bakso dari bahan baku daging ikan.&lt;br /&gt;Untuk dapat diperoleh bakso yang berkualitas dan bernilat gizi tinggi diperlukan daging ikan 80 – 90 % dari jumlah keseluruhan bahan . Jika mutu bakso bagus , bakso ikan dapat dijadikan usaha yang menarik dan cukup menguntungkan. &lt;br /&gt;Untuk itu perlu diperhatikan cara memproduksi bakso yang baik, mulai dari penanganan bahan baku sampai pemasaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun bahan yg dibutuhkan adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. daging ikan &lt;br /&gt;Daging ikan merupakan  bahan utama untuk membuat bakso ikan,.  Daging yang baik adalah daging ikan yang berwarna putih yang sering terdapat pada jenis-jenis ikan seperti : kakap, kerapu, tenggiri, cumang, kemang dan lain-lain.  Dengan daging berwarna putih ini akan dapat diperoleh warna yang lebih menarik dari bakso.  &lt;br /&gt;2. Tepung tapioca &lt;br /&gt;Agar baksonya terasa lezat, bertekstur bagus dan bermutu tinggi, maka jumlah tepung yang digunakan sebaiknya antara10 – 15 % dari berat daging. &lt;br /&gt;3. Es &lt;br /&gt;Bahan penting lainnya dalam pembuatan bakso adalah es atau air es untuk melarutkan serta mempertahankan suhu. &lt;br /&gt;4. Bumbu &lt;br /&gt;Bumbu yang digunakan berupa garam dapur halus, bumbu penyedap (bawang putih dan merica). &lt;br /&gt;Garam diperlukan sekitar 2,5 % dan penyedap 2 % dari berat daging. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah membuat Bakso Ikan yaitu :  &lt;br /&gt;1. Setelah tiris daging dilumatkan sambil ditambah garam dan bumbu secukupnya.&lt;br /&gt;2. Setelah daging lumat dan bumbu tercampur rata dan diperoleh adonan yang homogen, tambahkan es batu 15 – 20 % dari berat daging ikan.&lt;br /&gt;3. Adapun fungsi es ini adalah untuk mempertahankan suhu dan menambah air kedalam adonan.  &lt;br /&gt;4. Adonan yang sudah homogen dicetak berbentuk bola bakso yang siap direbus, dengan ukuran sesuai selera.&lt;br /&gt;5. Bentuk bola bakso tadi direbus dalam air mendidih hingga matang, yaitu bakso diangkat jika sudah mengapung dipermukaan air. &lt;br /&gt;6. Kemudian bakso ditiriskan dan didinginkan dan selanjutnya bakso siap disajikan.&lt;br /&gt;Apabila ingin dipasarkan maka bakso dapat dikemas dalam kantong-kantong plastik sesuai pesanan. &lt;br /&gt;7. Sebelum bakso sempat dikirim, bakso dapat disimpan pada lemari pendingin atau refrigator bersuhu 5 O C.  Dengan suhu 5 O C  bakso tahan sampai 32 hari.  Jika untuk pengiriman jarak jauh bakso dikirim dalam bentuk beku yang disimpan dalam cold storage.</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://lunly713.blogspot.com/feeds/7407938971242026108/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment/fullpage/post/1769903451515941949/7407938971242026108' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default/7407938971242026108'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1769903451515941949/posts/default/7407938971242026108'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://lunly713.blogspot.com/2008/11/uhmm-eeewnaaakkk.html' title='Uhmm,,, eeewnaaakkk..'/><author><name>Anonymous</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03307642535889500865</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>