<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/atom10full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" gd:etag="W/&quot;DkQDQXY-fyp7ImA9WhRUF0k.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5575715850572509013</id><updated>2012-01-28T16:52:50.857+07:00</updated><category term="Quote" /><category term="Puisi" /><category term="tentang Kimi" /><category term="Kimi Raikkonen (Sunday Press Conference)" /><category term="Review Buku" /><category term="Review Serial" /><category term="Silly Poem" /><category term="Penulis" /><category term="Silly Me" /><category term="Info" /><category term="Formula One" /><category term="Fiksi" /><category term="Traktat Injil" /><category term="Tips" /><category term="Kimi Raikkonen (Sunday Quote)" /><category term="Film" /><category term="Kimi Raikkonen (WRC Quote)" /><category term="Tokoh" /><category term="Kutipan" /><category term="Health" /><category term="Kimi Raikkonen" /><category term="Film (Review)" /><title>Grace Receiver</title><subtitle type="html">My blog is all about my interests. So it must be Kimi Raikkonen, movie, quotes, inspirational people and else.</subtitle><link rel="http://schemas.google.com/g/2005#feed" type="application/atom+xml" href="http://slusman.blogspot.com/feeds/posts/default" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://slusman.blogspot.com/" /><link rel="next" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false&amp;v=2" /><author><name>Selvia Lusman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08512229134736619751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><generator version="7.00" uri="http://www.blogger.com">Blogger</generator><openSearch:totalResults>285</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/atom+xml" href="http://feeds.feedburner.com/GraceReceiver" /><feedburner:info uri="gracereceiver" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><feedburner:browserFriendly></feedburner:browserFriendly><entry gd:etag="W/&quot;DkMCQXk5cCp7ImA9WhRVGEU.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5575715850572509013.post-4134863894260875122</id><published>2012-01-18T18:01:00.000+07:00</published><updated>2012-01-18T18:01:00.728+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-18T18:01:00.728+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Film (Review)" /><title>Review Film Something Borrowed</title><content type="html">&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/c/cf/Something_borrowed_poster.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/c/cf/Something_borrowed_poster.jpg" width="135" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Saat perayaan ulang tahunnya yang ke-30 Rachel White (Ginnifer Goodwin) yang setengah mabuk tanpa direncanakan tidur dengan Dex Thaler (Colin Egglesfield) tunangan sahabat baiknya, Darcy Rhone (Kate Hudson). Darcy yang juga mabuk telah pulang lebih dulu. Sebenarnya sejak awal, semasih kuliah hukum, Rachel dan Dex telah saling menyukai. Hanya karena sifat Rachel yang pemalu, Dex malah mengira Rachel sengaja menjodohkan dirinya dengan Darcy. Dalam keadaan sama-sama setengah mabuk, kedua orang yang diam-diam masih saling mencintai itu berselingkuh. Tidak ingin menyakiti perasaan Darcy, keduanya pun berbohong untuk menutupi perselingkuhan mereka.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Saat Darcy mengajak keduanya berlibur bersama dengan teman mereka lainnya, antara lain Ethan (John Krasinski), Marcus (Steve Howey), dan Claire (Ashley Williams) situasi yang canggung pun berkembang di antara mereka. Ethan menyukai Rachel, tapi gadis yang disukainya justru diam-diam mencintai Dex, tunangan Darcy. Sementara itu Darcy bermaksud menjodohkan Rachel dengan Marcus karena keduanya masih lajang. Claire sendiri menyukai Ethan dan dengan terang-terangan menunjukkan rasa sukanya. Canggung dengan sikap agresif Claire, Ethan berpura-pura sebagai gay yang menyukai sesama jenis dan karena itu tidak mungkin menerima cinta Claire. Tapi, akhirnya Claire menyadari bahwa Ethan hanya berpura-pura dan itu dilakukan Ethan karena pria itu tidak menaruh hati padanya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Diam-diam Dex dan Rachel meneruskan perselingkuhan mereka. Meski merasa bersalah pada Darcy, keduanya tidak bisa membendung perasaan mereka. Ethan menasihati Rachel untuk meninggalkan Dex. Menurutnya Dex seharusnya bersikap tegas dan memutuskan pertunangannya dengan Darcy. Keduanya belum terikat tali pernikahan dan Dex seharusnya bisa lebih leluasa menjalin hubungan dengan Rachel setelah membatalkan pertunangannya dengan Darcy. Dex sendiri merasa berat untuk mengakhiri hubungannya dengan Darcy karena ibunya yang depresi menjadi lebih bahagia setelah mengetahui rencana pernikahannya. Apalagi ayahnya juga memperingatkan Dex untuk tidak mengacaukan hubungannya dengan Darcy.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Saat Ethan memutuskan untuk pindah ke London, Rachel mengunjungi pria itu. Sekembalinya ke New York, Dex telah menantikan dirinya di depan pintu apartemennya. Rachel dengan hati bahagia menerima cinta Dex setelah pria itu mengaku telah memutuskan Darcy. Tak lama Darcy tiba di apartemen Rachel dan mengaku bahwa ia telah memutuskan Dex. Darcy juga mengakui bahwa ia telah berselingkuh dengan Marcus tanpa sepengetahuan Dex dan bahwa ia tengah mengandung anak Marcus. Tapi, saat Darcy melihat jas Dex di apartemen Rachel, Darcy pun mengamuk dan meminta Dex yang bersembunyi untuk keluar. Darcy merasa dikhianati karena sebelumnya Rachel berbohong bahwa dia tengah menjalin hubungan dengan Ethan. Dua bulan kemudian saat tanpa sengaja berpapasan di jalan, Darcy dan Rachel pun berbaikan. Di akhir cerita giliran Darcy yang mengejar Ethan setelah hubungannya dengan Marcus tidak berhasil. Ethan pun berusaha menghindar dari Darcy.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Meskipun film ini berakhir happy ending; Dex dan Rachel akhirnya bisa bersama, tapi saya tidak menyukai plot film ini. Betapa mengenaskan tokoh-tokoh utama dalam film ini memiliki karakter yang terkesan plin-plan. Dex tidak bisa mengambil keputusan dengan cepat untuk memutuskan hubungannya dengan Darcy, bahkan setelah Rachel dengan sepenuh hati mengungkapkan perasaannya pada Dex. Rachel pun sepertinya tidak keberatan dijadikan cadangan oleh Dex dan dengan gembira segera menerima Dex setelah pria itu memutuskan pertunangannya dengan sahabatnya sendiri. Ethan pun tidak seperti Claire yang dengan bias menunjukkan rasa sukanya pada pria itu. Ethan justru berpura-pura sebagai homoseksual karena tidak bisa bersikap jujur pada Claire dan menunjukkan penolakannya dengan terus-terang. Saya sendiri lebih suka jika Rachel berpasangan dengan Ethan yang jauh lebih lucu dan sarkastis, ketimbang dengan Dex yang lemah dan tidak berani memperjuangkan impiannya sendiri dan hanya mengikuti kemauan orang tuanya. Justru karakter Claire yang bukan tokoh utama jauh lebih kuat ketimbang Rachel dan Dex. Setidaknya Claire berani memperjuangkan cintanya terhadap Ethan, meski berujung penolakan. Saya malah merasa karakter Rachel terkesan tidak menghargai dirinya sendiri. Di salah satu dialog Rachel berkata pada Ethan bahwa dia ingin menjadi pilihan pertama bagi Dex, tapi meski Dex telah menolak memutuskan hubungannya dengan Darcy, pada akhirnya Rachel mau saja kembali pada Dex setelah pria itu menghabiskan waktu bergumul dengan dirinya sendiri sebelum akhirnya berani mengikuti kata hati.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Berikut beberapa penggalan dialog yang menarik di film ini:&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Rachel: &lt;b&gt;&lt;i&gt;People who were friends as kids almost always lose touch eventually.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Darcy: &lt;b&gt;&lt;i&gt;I’m glad we didn’t.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Rachel: &lt;i&gt;&lt;b&gt;Me too.&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Darcy: &lt;i&gt;&lt;b&gt;And we never will, right?&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Rachel: &lt;i&gt;&lt;b&gt;No.&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Rachel: &lt;i&gt;&lt;b&gt;Live your own life the way you want to live it.&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Rachel: &lt;i&gt;&lt;b&gt;No. And besides, I didn’t want him to pick me by default. I wanna be someone’s first choice.&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ethan: &lt;b&gt;&lt;i&gt;Yeah, you are.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Rachel: &lt;b&gt;&lt;i&gt;No, I know what you’re saying. I’m not his first choice.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ethan: &lt;b&gt;&lt;i&gt;Maybe you’re someone first choice.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ethan: &lt;i&gt;&lt;b&gt;You are home for me.&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Rachel: &lt;i&gt;&lt;b&gt;She deserves better. So do you. So do I.&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
* Gambar dipinjam dari &lt;a href="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/c/cf/Something_borrowed_poster.jpg"&gt;Wikipedia&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5575715850572509013-4134863894260875122?l=slusman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://slusman.blogspot.com/feeds/4134863894260875122/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5575715850572509013&amp;postID=4134863894260875122" title="2 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default/4134863894260875122?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default/4134863894260875122?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://slusman.blogspot.com/2012/01/review-film-something-borrowed.html" title="Review Film Something Borrowed" /><author><name>Selvia Lusman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08512229134736619751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkQAQXg8fyp7ImA9WhRUF0k.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5575715850572509013.post-5462385413537531455</id><published>2012-01-17T17:59:00.004+07:00</published><updated>2012-01-28T16:52:20.677+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-28T16:52:20.677+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Silly Me" /><title>Resolusi dan Fakta</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setiap kali pergantian tahun, resolusi bagi sebagian orang adalah sebuah hal yang harus dibuat dan dikerjakan. Kadangkala resolusi itu tergantung sepenuhnya pada usaha kita, tapi sebagian lagi tergantung pada situasi yang memang tidak bisa kita kendalikan. Salah satu resolusi saya di tahun ini adalah sehat selama 365 hari di tahun 2012 ini. Nyatanya sejak pergantian tahun, saya sakit demam, flu, batuk, sakit kepala selama sedikitnya dua minggu. Sekarang pun saat menulis postingan ini, saya masih flu. Rasanya ironis mengingat resolusi yang saya buat berhubungan erat dengan kesehatan. Nyatanya sejak hari pertama di tahun yang baru, resolusi saya jelas-jelas tidak terwujud. Bukan awal yang menjanjikan untuk memulai tahun ini. Membuktikan bahwa resolusi bisa terwujud, tidak sepenuhnya tergantung pada usaha kita.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tentu saja, saya tahu untuk menjaga kesehatan, saya perlu mengubah gaya hidup saya yang ritmenya cenderung berantakan. Itu sebabnya kini saya menghindari kata-kata motivasi yang cenderung membuat orang jadi workaholic. Masih karena imbas kalimat motivasi yang pernah sangat mempengaruhi saya di waktu-waktu yang silam, sampai kini pun saya cenderung jadi insomnia kalau merasa belum mengerjakan sesuatu yang berarti selama sehari itu. Akibatnya saya jadi terbiasa tidur di pagi hari dan hanya tidur beberapa jam, karena beberapa jam berikutnya saya sudah harus memulai aktivitas saya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kadang saya merasa semua kalimat motivasi yang dilontarkan para motivator tak lebih dari sebuah pembodohan. Hampir semuanya menitikberatkan pada kerja keras. Tanpa sadar kita jadi terpola untuk bekerja dan berusaha terlalu keras, lupa istirahat, lupa rekreasi, lupa rileks, dan akhirnya lupa menjaga kesehatan. Hampir semuanya hanya menitikberatkan pada kesuksesan, tapi berapa banyak yang menyuarakan keseimbangan?&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebagian besar orang hari ini malah jadi merasa hidupnya tidak berarti kalau dia belum berprestasi. Semua orang ingin menjadi pemenang, dan kadang harga yang dia bayar terlalu mahal dan tidak sebanding dengan pencapaiannya. Benarkah eksistensi hidup kita hanya bergantung pada pencapaian kita?&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Saya jadi teringat salah satu eks murid saya (saat dulu saya masih menjadi guru). Eks murid saya ini tidak keberatan tidak menjadi juara kelas. Dia tidak ingin seperti teman sekelasnya yang hampir seluruh harinya dihabiskan untuk belajar hingga tidak punya waktu untuk bermain dengan adiknya. Betapa menyentuh bahwa anak usia dua belas tahun ternyata membuat pilihan yang lebih bijaksana ketimbang orang dewasa hari ini. Sementara masih ada saja orang tua yang menginginkan anak super, memaksa anaknya mengikuti berbagai kursus dan tambahan pelajaran untuk memastikan anaknya menjadi juara kelas dan menganggap diri mereka orang tua yang peduli pada pendidikan anaknya. Berikutnya saat anak mereka gagal mencapai tujuan yang mereka tetapkan, mereka akan memarahi anaknya dengan alasan klise bahwa mereka telah membanting tulang untuk membiayai pendidikan anaknya, termasuk kursus ini dan itu, tapi bahwasannya mereka terlupa bagaimana menjadi orang tua. Lupakah mereka bahwa anak bukan cuma butuh pendidikan, tapi juga butuh kasih sayang dari orang tuanya? Apakah bentuk kasih sayang harus selalu dengan menjejali anak dengan tambahan pelajaran? Apakah kasih sayang harus selalu dalam bentuk hadiah dan mainan jika mereka berhasil berprestasi? Tidak bisakah kasih sayang diberikan tanpa syarat, hanya karena anak mereka adalah darah daging mereka, tidak peduli apakah mereka anak berprestasi atau tidak?&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Saya sendiri belum merasakan menjadi orang tua dan mungkin saya lancang menilai mereka seperti itu. Mungkin saya tidak tahu apa pun tentang parenting, tapi saya tahu saya punya intuisi, dan seharusnya semua orang menggunakan intuisi mereka juga, bukan cuma akal sehat atau ego yang berujung pada pembenaran diri. Lupakah orang-orang dewasa itu bahwa hidup tidak melulu hanya untuk mencapai tujuan dan menjadi superior, di antaranya seharusnya masih tersisa ruang untuk menjadi manusia, yang masih butuh cinta dan kebersamaan?&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Saya juga jadi teringat lirik lagu Would You be Happier-nya The Corrs, &lt;i&gt;&lt;b&gt;“Would you be happier if you weren't so untogether? Would the sun shine brighter if you played a bigger part?”&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; Jadi benarkah mentari bersinar lebih cerah jika kita memainkan peran yang lebih besar? Setiap kali saya nyaris terlupa bagaimana menjadi manusia, saya menanyakan hal ini pada diri sendiri. Pada akhirnya saya dikembalikan pada keseimbangan yang saya perlukan. Alangkah sepinya menikmati sukses jika kita tidak tahu harus membaginya dengan siapa, karena pada proses mencapai sukses itu, kita tanpa sadar menyisihkan orang-orang terdekat, karena sebagian besar waktu kita habis untuk berusaha sangat keras mencapai resolusi, tujuan, sukses, dan setumpuk “mimpi” untuk menjadi besar.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tentu saja resolusi tetap penting untuk dicapai, tentu saja orang harus memiliki tujuan dan target dalam hidup, tentu saja sukses adalah bagian dari pencapaian dan eksistensi manusia, hanya saja, sisakanlah keseimbangan, jangan lupakan bahwa kita masih manusia. Jangan sampai kita lebih mencintai kesuksesan dan perasaan superior ketimbang diri sendiri dan manusia-manusia lain di sekeliling kita. Bagaimana pun, manusia jauh lebih berharga ketimbang kesuksesan sebesar apa pun itu.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5575715850572509013-5462385413537531455?l=slusman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://slusman.blogspot.com/feeds/5462385413537531455/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5575715850572509013&amp;postID=5462385413537531455" title="5 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default/5462385413537531455?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default/5462385413537531455?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://slusman.blogspot.com/2012/01/resolusi-dan-fakta.html" title="Resolusi dan Fakta" /><author><name>Selvia Lusman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08512229134736619751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;C04AQXsyfCp7ImA9WhRVF00.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5575715850572509013.post-6590269147317529764</id><published>2012-01-16T15:19:00.000+07:00</published><updated>2012-01-16T15:19:00.594+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-16T15:19:00.594+07:00</app:edited><title>Review Film Midnight in Paris</title><content type="html">&lt;div align="justify"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/9/9f/Midnight_in_Paris_Poster.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/9/9f/Midnight_in_Paris_Poster.jpg" width="135" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Saat berlibur bersama tunangannya, Inez (Rachel McAdams ) di Paris, Gil Pender (Owen Wilson) yang seorang penulis dan tengah mengerjakan novel pertamanya merasa jatuh cinta pada kota itu, khususnya di saat hujan mengguyur Paris. Berbeda terbalik dengan Gil, Inez justru menganggap Paris tidak lebih baik dari kota lainnya di dunia. Ia justru lebih sibuk mempersiapkan pernikahan mereka dengan memilih furniture yang akan ditempatkan di rumah mereka kelak. Bersama ibunya yang juga materialistis, mereka membuat Gil merasa tersudut karena barang-barang yang dipilih Inez semuanya adalah barang-barang yang mahal, tapi menurut Inez harga yang harus dia keluarkan sebenarnya murah. Gil makin tersisih saat Inez bertemu dengan temannya, Paul (Michael Sheen) dan Carol Bates (Nina Arianda). Apalagi Paul yang merasa dirinya berpengetahuan luas suka memamerkan pengetahuannya seputar sejarah dan seni, dan Inez sangat mengaguminya, bahkan dia lebih menghargai pendapat Paul ketimbang pendapat Gil yang notabene adalah tunangannya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Suatu malam ketika Inez yang ingin pergi berdansa menolak untuk pulang bersamanya, Gil yang mabuk terpaksa berjalan sendirian untuk kembali ke hotel. Karena tidak sepenuhnya mengenali jalan-jalan di Paris, tanpa sengaja tersasar ke bagian lain kota. Saat jam berdentang di tengah malam, ia tanpa sengaja didaulat oleh orang-orang yang mengendarai sebuah mobil kuno. Tak dinyana dia ternyata dibawa ke tahun 1920-an dan orang-orang di dalam mobil itu adalah Cole Porter (Yves Heck), Josephine Baker (Sonia Rolland), Zelda (Alison Pill) dan F. Scott Fitzgerald (Tom Hiddleston) yang lalu memperkenalkannya pada Ernest Hemingway (Corey Stoll) dan Gertrude Stein (Kathy Bates). Gil jelas merasa takjub dan senang karena era 20-an adalah masa keemasan. Gil sendiri merasa dia terlahir pada era yang salah dan karenanya sangat menikmati pertemuannya dengan penulis-penulis berbakat yang sangat ia kagumi itu. Ia bahkan memperlihatkan draft novelnya pada Gertrude Stein padahal ia tadinya tidak mau memperlihatkannya pada siapa pun, termasuk kepada Inez, apalagi kepada Paul yang menurut Inez dapat memberinya saran seputar pembuatan novelnya. Saat mobil itu menurunkannya ke bagian kota tempat dia tersesat, Gil pun kembali ke tahun 2010.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Petualangan Gil terus berlanjut. Saat tengah malam berikutnya, ia pun kembali ke tahun 1920-an. Gertrude Stein memperkenalkan Gil pada Pablo Picasso (Marcial Di Fonzo Bo) dan wanita simpanannya, Adriana (Marion Cotillard) yang juga menjadi model lukisannya. Gil merasa tertarik pada Adriana dan berniat menghadiahinya sepasang anting-anting. Tadinya Gil ingin memberikan anting-anting milik Inez ke adriana, tapi karena tunangannya itu menuduh pelayan hotel mencurinya, Gil terpaksa mengembalikan anting-anting itu sebelum sempat diberikan kepada Adriana. Gil akhirnya membeli anting-anting di sebuah toko dan ternyata Adriana sangat menyukai pemberiannya. Hal ini dilakukan Gil saat dia tanpa sengaja menemukan buku harian Adriana yang dijual di toko barang antik. Menurut buku hariannya, Adriana jatuh cinta pada Gil dan dia bermimpi Gil memberinya sepasang anting-anting.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurut Gertrude Stein, tulisan Gil menunjukkan kemajuan, tapi dia mengkritik kenaifan tokoh utamanya yang tidak menyadari bahwa tunangannya berselingkuh. Gil pun termakan ucapan Stein dan menganggap Inez berselingkuh dengan Paul. John (Kurt Fuller), ayah Paul yang mencurigai Gil berselingkuh karena tingkahnya yang makin aneh, lalu menyewa detektif untuk mengikutinya. Sayangnya sang detektif hilang setelah tanpa sengaja tersesat ke zaman yang lebih lampau.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Adriana yang tak sabar menjelang era yang baru memutuskan untuk tetap berada di eranya, apalagi dia ditawari pekerjaan untuk menjadi disainer kostum balet, sementara Gil bersikukuh bahwa era 1920-an adalah era terbaik. Karena itu Gil pun memutuskan untuk berpisah dengan Adriana dan kembali ke eranya sendiri. Setelah Inez mengaku bahwa ia sempat berselingkuh dengan Paul, Gil pun memutuskan pertunangannya. Gil lalu tanpa sengaja bertemu kembali dengan Gabrielle (Lea Seydoux) yang juga mengagumi era yang sama dengan yang dikagumi Gil dan sempat menawarinya untuk membeli piringan hitam karena mengingat betapa Gil sangat menyukai musik tempo dulu itu. Gabrielle juga ternyata menyukai Paris di saat hujan. Keduanya lalu berjalan di tengah siraman hujan sambil menyusuri kota Paris sambil berbincang.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Saya sangat menyukai film yang ditulis dan disutradarai oleh Woody Allen ini. Film ini membangkitkan imajinasi dan membuat penontonnya juga jadi berandai-andai dan membayangkan ke era mana mereka akan pergi jika mereka bisa seberuntung Gil bisa memasuki era yang sangat dikaguminya. Saya juga menyukai dialog film ini, khususnya mengenai berjalan di tengah siraman hujan. Sangat romantis, seromantis Paris.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Berikut beberapa dialog yang menarik di film ini:&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Gil: &lt;b&gt;&lt;i&gt;Can you picture how drop dead gorgeous this city is in the rain? Imagine this town in the 20’s. paris in the 20’s. in the rain, the artists and the writers.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Inez: &lt;i&gt;&lt;b&gt;Why does every city have to be in the rain? What’s wonderful about getting wet?&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hemingway: &lt;b&gt;&lt;i&gt;Writers are competitive.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Gil: &lt;b&gt;&lt;i&gt;I’m not gonna be competitive with you.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hemingway: &lt;i&gt;&lt;b&gt;You’re too self-effacing. It’s not manly. If you’re a writer, then clear yourself the best writer.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Gil: &lt;i&gt;&lt;b&gt;No, it’ll be nice walking in the rain. It’s beautiful.&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Inez: &lt;i&gt;&lt;b&gt;No. there’s nothing beautiful about walking in the rain.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Gil: &lt;i&gt;&lt;b&gt;Are you sure you don’t wanna walk in the rain?&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hemingway: &lt;i&gt;&lt;b&gt;You’ll never write well if you fear dying.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hemingway: &lt;b&gt;&lt;i&gt;I believe that love that is true and real creates a respite from death. All cowardice has come from not loving or not loving well, which is the same thing. And when the man who is brave and true looks death squarely in the face like some rhino hunters I know… or Belmonte… who’s truly brave. It is because they love with sufficient passion, to push death out of their minds. Until it returns as it does to all men. And then you must make really good love again. Think about it.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Gil: &lt;b&gt;&lt;i&gt;That’s… you know, what the present is. It’s a little unsatisfying because life is a litle unsatisfying.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Gabrielle: &lt;i&gt;&lt;b&gt;Actually, Paris is the most beautiful in the rain.&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Gil: &lt;i&gt;&lt;b&gt;I feel that… That’s what I’m always saying. I couldn’t agree more with you. Yes, it is more beautiful.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: normal;"&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Tahoma&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
* Gambar dipinjam dari &lt;a href="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/9/9f/Midnight_in_Paris_Poster.jpg"&gt;Wikipedia&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5575715850572509013-6590269147317529764?l=slusman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://slusman.blogspot.com/feeds/6590269147317529764/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5575715850572509013&amp;postID=6590269147317529764" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default/6590269147317529764?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default/6590269147317529764?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://slusman.blogspot.com/2012/01/review-film-midnight-in-paris.html" title="Review Film Midnight in Paris" /><author><name>Selvia Lusman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08512229134736619751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkQDQXY9fyp7ImA9WhRUF0k.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5575715850572509013.post-1766184250007556940</id><published>2012-01-15T15:08:00.000+07:00</published><updated>2012-01-28T16:52:50.867+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-28T16:52:50.867+07:00</app:edited><title>Review Film From Prada to Nada</title><content type="html">&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/c/c3/From_Prada_to_Nada_Poster.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/c/c3/From_Prada_to_Nada_Poster.jpg" width="135" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Film ini bercerita tentang dua bersaudara, Mary (Alexa Vega) dan Nora (Camilla Belle) Dominguez yang setelah kematian ayahnya yang mendadak pada perayaan ulang tahun ayahnya, keduanya terpaksa harus berganti gaya hidup secara drastis. Ayah mereka ternyata berada di ambang kebangkrutan. Hal itu tidak pernah diketahui oleh keduanya. Lebih mengejutkan lagi, ayahnya ternyata pernah berselingkuh semasa hidupnya dan dari perselingkuhan itu lahir seorang putera, Gabe (Pablo Cruz Guerrero). Jadilah kedua bersaudara itu makin terkejut karena mereka ternyata memiliki saudara tiri. Olivia (April Bowlby), isteri Gabe yang materialistis serta-merta menyita rumah mereka dan langsung merombak seisi rumah dan melakukan renovasi besar-besaran.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Merasa tidak lagi memiliki kenangan atas rumah mereka, Nora memaksa Mary untuk meninggalkan rumah ketimbang diperlakukan semena-mena oleh Olivia. Meski sempat menolak, Mary akhirnya setuju untuk pindah karena tidak punya pilihan lain. Keduanya pun tinggal menumpang di rumah bibi mereka, Aurelia (Adriana Barraza) di lingkungan kumuh di bagian timur Los Angeles. Dari biasa hidup mewah dan serba berkecukupan, Mary dan Nora terpaksa hidup sederhana. Mereka harus hidup di ranjang berkutu dan beradaptasi dengan lingkungan baru mereka yang rawan kejahatan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Meski baru bertemu Nora satu kali, Edward (Nicholas D’Agosto), saudara laki-laki Olivia langsung menyukai Nora. Ia sengaja mengantarkan barang-barang penuh kenangan milik Nora. Ia mengantarkan sendiri pohon berbentuk profil ayah mereka, lukisan wajah ibu Nora, dan benda-benda lain yang berarti untuk gadis itu. Edward juga sempat menawarkan pekerjaan untuk Nora; tapi karena tidak ingin berhutang budi, Nora sengaja menolak lowongan pekerjaan yang diberikan Edward. Tidak dinyana dari surat kabar yang diberikan Edward, di luar dugaan Nora, ia ternyata melamar di firma hukum tempat Edward bekerja. Bukan itu saja, malah Edward sendiri yang menjadi atasannya. Nora sempat dicemburui pegawai-pegawai lain yang mengidolakan Edward. Tak ingin kariernya terganggu, Nora menolak cinta Edward dan akhirnya patah hati saat Edward yang juga patah hati setuju untuk dijodohkan dengan gadis lain yang diperkenalkan Olivia dan bahkan bertunangan dengannya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sementara itu, Mary diam-diam disukai oleh tetangga mereka, Bruno (Wilmer Valderrama) yang memperbaiki spion mobilnya dan mengajarinya menyalakan mobil bekas yang terpaksa harus ia kendarai setelah mobil mewahnya terpaksa dijual untuk menopang kehidupannya. Nora memaksa Mary untuk kuliah dan menyelesaikan pendidikannya, sementara ia bekerja di firma hukum. Tapi, Mary justru jatuh cinta pada Rodrigo Fuentes (Kuno Becker) yang sempat menjadi dosen tamu di kampusnya. Mary bahkan berbohong dan meyakinkan Rodrigo untuk membeli rumahnya yang sekarang dimiliki Olivia. Mary yang telah berangan-angan menjadi isteri Rodrigo berharap akan dapat mengambil-alih rumah lamanya dari Olivia. Sayangnya bukan Mary saja yang berbohong. Rodrigo ternyata telah beristeri dan hubungan mereka kandas setelah Mary yang menemani Nora ke pesta pertunangan Edward tanpa sengaja bertemu Rodrigo dan isterinya yang setuju membeli rumah mereka dari tangan Olivia.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Edward menyadari bahwa yang dicintainya adalah Nora. Ia pun membatalkan pertunangannya dan mendirikan firma hukum di dekat tempat tinggal Nora. Ia menawari Nora sebagai partnernya. Nora menerima tawaran Edward dan akhirnya menikahi pria itu. Mary yang mengalami kecelakaan dan sempat mengalami koma akhirnya tersadar bahwa selama ini ia telah menyia-nyiakan perhatian Bruno yang diam-diam selalu membantu dan menjaganya, termasuk menghalau preman perempuan yang ingin mem-bully-nya. Ia pun berbaikan dengan Bruno yang setelah mengetahui hubungannya dengan Rodrigo lalu memilih menjauhinya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Seperti layaknya film komedi romantis, film ini memang berakhir bahagia. Nora akhirnya menikah dengan Edward, dan Bruno akhirnya mendapatkan cinta Mary. Meski begitu film ini terasa lucu dan dialognya juga segar dan cerdas. Karenanya, film ini sangat menghibur untuk ditonton.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Berikut beberapa penggalan dialog yang lucu dan cerdas di film ini:&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mary: &lt;b&gt;&lt;i&gt;You know what? There’s lice on that mattress.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Nora: &lt;i&gt;&lt;b&gt;Then you won’t sleep alone.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aunt Aurelia: &lt;i&gt;&lt;b&gt;How is it possible that you don’t know the basics?&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Nora: &lt;b&gt;&lt;i&gt;Do you know how to fly a plane?&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aunt Aurelia: &lt;b&gt;&lt;i&gt;Of course not. Why should I?&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Nora: &lt;b&gt;&lt;i&gt;Right. Well, because you never had to. I never had to cook.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Edward: &lt;b&gt;&lt;i&gt;I’m looking for Nora Dominguez.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aunt Aurelia: &lt;i&gt;&lt;b&gt;I will ask her if she’s here.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Edward: &lt;i&gt;&lt;b&gt;You seem to have adapted well in such a short period of time.&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Nora: &lt;i&gt;&lt;b&gt;I’m a cockroach. Survival skills. I adapt&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Edward: &lt;b&gt;&lt;i&gt;Okay.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mary: &lt;i&gt;&lt;b&gt;Nora, in the real world, it’s called hitting on you.&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Nora: &lt;i&gt;&lt;b&gt;And what does that mean, really?&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mary: &lt;i&gt;&lt;b&gt;Duh, he likes you.&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mary: &lt;i&gt;&lt;b&gt;Don’t steal anything!&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bruno: &lt;i&gt;&lt;b&gt;You think all Mexican steal?&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mary: &lt;i&gt;&lt;b&gt;I don’t know. I’m not Mexican.&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bruno: &lt;i&gt;&lt;b&gt;You’re not Mexican? You should take a look at yourself in your new mirror. Because with a poncho and huaraches, you can make a killing selling tamales.&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mary: &lt;b&gt;&lt;i&gt;That’s really funny.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bruno: &lt;i&gt;&lt;b&gt;Hey, you know what a distributor is?&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mary: &lt;i&gt;&lt;b&gt;Do I need to?&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bruno: &lt;i&gt;&lt;b&gt;See, these two cables here, they come loose.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mary: &lt;i&gt;&lt;b&gt;Yeah?&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bruno: &lt;i&gt;&lt;b&gt;Just make sure that they still connect. Like your mouth and your brain should.&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Teacher: &lt;i&gt;&lt;b&gt;How many of you have read the book I assigned?&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mary’s friend: &lt;b&gt;&lt;i&gt;Did you read the book?&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mary: &lt;b&gt;&lt;i&gt;The title page.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mary: &lt;i&gt;&lt;b&gt;Well, I like the color red. My ipod is full. I don’t wake up before 10:00, and no hablo espanol. I love poetry, pasta, and Prada.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Nora: &lt;i&gt;&lt;b&gt;You’re studying?&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mary: &lt;i&gt;&lt;b&gt;I have to. The TA’s my future husband.&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Nora: &lt;i&gt;&lt;b&gt;The TA?&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mary: &lt;i&gt;&lt;b&gt;Yeah.&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Edward: &lt;b&gt;&lt;i&gt;I have been to your hood before, so I think I can risk it.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Nora: &lt;i&gt;&lt;b&gt;That’s pretty bold for an outsider.&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Edward: &lt;b&gt;&lt;i&gt;It’s amazing the things that one does for love…. of public good.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bruno: &lt;b&gt;&lt;i&gt;You know, sometimes you play a game even when you know you’re gonna lose.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Nora: &lt;i&gt;&lt;b&gt;Or sometimes, you leave a game even when you know you can win.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bruno: &lt;i&gt;&lt;b&gt;I wouldn’t leave that game.&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Edward: &lt;i&gt;&lt;b&gt;Nora, my heart is and always has been yours. I love you. Is that a yes?&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
* Gambar dipinjam dari &lt;a href="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/c/c3/From_Prada_to_Nada_Poster.jpg"&gt;Wikipedia&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5575715850572509013-1766184250007556940?l=slusman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://slusman.blogspot.com/feeds/1766184250007556940/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5575715850572509013&amp;postID=1766184250007556940" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default/1766184250007556940?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default/1766184250007556940?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://slusman.blogspot.com/2012/01/review-film-from-prada-to-nada.html" title="Review Film From Prada to Nada" /><author><name>Selvia Lusman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08512229134736619751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkcBR3o5eSp7ImA9WhRVF0Q.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5575715850572509013.post-3384088239058496566</id><published>2012-01-14T14:54:00.000+07:00</published><updated>2012-01-17T18:00:56.421+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-01-17T18:00:56.421+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Silly Me" /><title>Memaknai Desember</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bermula dari perasaan: betapa cepatnya waktu berlalu dan hampir setahun berselang, saya rasanya belum mengerjakan apa pun yang benar-benar penting dan berarti, saya mencoba "menangkap" momen-momen terakhir menjelang pergantian tahun, tepatnya selama 31 hari terakhir di tahun 2011 dengan mencatat hal pertama dan terakhir yang saya pikirkan setiap harinya. Itu sebabnya saya menamai "proyek kecil" ini First and Last Project. Tentu saja, seperti biasanya, saya mencoba mengajak teman-teman terdekat untuk ikut serta dalam proyek ini. Hanya, seperti biasanya pula, yang benar-benar berhasil saya yakinkan paling banter hanya satu orang. Dan kali ini orang itu adalah sahabat saya, &lt;a href="http://hernyyahya.blogspot.com/"&gt;Herny&lt;/a&gt;. Tidak seperti saya, dia memilih untuk mencatat apa yang dia pikirkan setiap harinya selama hari-hari di bulan Desember 2011, tapi tidak selalu merupakan hal pertama atau terakhir di setiap harinya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tanpa berpanjang kata lagi, inilah hasil catatan saya selama sebulan terakhir di tahun lalu:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
F&amp;amp;LP D1.&lt;br /&gt;
F: Hari ini saya bangun kesiangan. Hal pertama yang saya pikirkan adalah betapa saya masih sangat mengantuk dan persediaan kopi siap minum saya sudah habis dari kemarin.&lt;br /&gt;
L: Hujan. Pengantar tidur yang menenangkan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
F&amp;amp;LP D2.&lt;br /&gt;
F: Alarm bunyi. Sudah jam 6 lagi.&lt;br /&gt;
L: Segala sesuatu terjadi karena sebuah alasan. Meskipun alasan itu seringkali tersamar, kabur, dan tidak jelas, bukan berarti tidak ada manfaatnya.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
F&amp;amp;LP D3.&lt;br /&gt;
F: Sekarang jam berapa ya?&lt;br /&gt;
L: Saya tiba-tiba teringat lirik lagu Life yang dinyanyikan Des'ree, "Sometimes given up your dream ain't as easy as it seems." Menulis adalah bagian dari mimpi saya. Satu dasawarsa yang silam, saya pernah melepasnya, mengira itu tidak lebih dari hobi. Nyatanya, menulis masih bagian dari mimpi saya. Melepasnya begitu saja tidak semudah yang saya bayangkan, tepat seperti yang dinyanyikan Des'ree.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
F&amp;amp;LP D4.&lt;br /&gt;
F: Saya masih mengantuk. Alangkah malasnya memulai hari.&lt;br /&gt;
L: Saya ingin 2012 lekas tiba. Menyaksikan lagi Kimi Raikkonen di grid terdepan, meraih pole position, leading di sepanjang balapan, dan akhirnya saat chequered flag dikibaskan, Kimi meraup poin penuh di podium pertama. Semoga terjadi di setiap seri dan The Iceman memenangkan gelar WDC untuk kedua kalinya. The Flying Finn is back.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
F&amp;amp;LP D5.&lt;br /&gt;
F: Where's my coffee? I need my caffeine.&lt;br /&gt;
L: Masih ingin mengerjakan banyak hal, tapi mata tidak bisa diajak kompromi.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
F&amp;amp;LP D6.&lt;br /&gt;
F: Hah? Sekarang sudahjam 9?&lt;br /&gt;
L: Ernest Hemingway, T. S. Elliot, The Fitzgerald, Stein, Dali, Piccaso, dll. Beberapa jam dari sekarang... biografi!&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
F&amp;amp;LP D7.&lt;br /&gt;
F: Saya benci pagi hari dan satu hal yang saya benci melebihi saya membenci pagi hari adalah terpaksa bangun di pagi hari.&lt;br /&gt;
L: Saya tidak mengerti mengapa David Nicholls bisa menulis novel dengan ending yang luar biasa tragis. Bagaimana mungkin orang harus melewatkan selama 20 tahun sebelum menemukan bahwa cinta sejatinya berada tepat di depan matanya, lalu setelah melewati dua dekade harus terpisah tiba-tiba saat ajal menjemput? Oh, saya sedang bicara tentang plot film One Day yang diadaptasi dari novel karangan David Nicholls. Oh, saya benci dialog ini, "Whatever happens tomorrow, we've had today." Apa yang istimewa dari satu hari, sementara 20 tahun terbuang percuma? Saya cinta happy ending. Selalu, selamanya. Saya tidak pernah mengerti, mengapa ada novelis yang mau repot-repot menulis kisah cinta yang luar biasa indah, jika endingnya luar biasa tragis? Apakah penulis hebat harus selalu "psikopat"??? Saya menangis dan tak habis pikir, mengapa Anne Hathaway harus tewas di film ini?&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
F&amp;amp;LP D8.&lt;br /&gt;
F: I think the new concept of"best friends forever" means "shrink forever".&lt;br /&gt;
L: I think everybody deserves a happy ending. It can be a new home, a shelter, some understanding, emphaty, hope, or even faith. Whatever it is, I wish everyone can get their very own version of happy ending.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
F&amp;amp;LP D9.&lt;br /&gt;
F: Bangun! Sekarang sudah jam 6 lewat.&lt;br /&gt;
L:&amp;nbsp;Hah? Sudah hampir jam 2 pagi?&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
F&amp;amp;LP D10.&lt;br /&gt;
F: Hari yang baru...&lt;br /&gt;
L: Besok acaranya padat. Semoga tidak jadi penat.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
F&amp;amp;LP D11.&lt;br /&gt;
F: Astaga, sudah hampir jam 9! Bangun kesiangan lagi.&lt;br /&gt;
L: Baca A Lucky Child biar tidak gampang down kalau doa tidak terkabul. Sinopsisnya bilang, "A Lucky Child menjadi pengingat pendorong akan kuasa doa dan ketabahan semangat manusia."&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
F&amp;amp;LP D12. F: Senin dan hujan. Alasan untuk meringkuk di ranjang lebih lama. L: Flu memangkas kemampuan membaca cepat saya. Besok harus lebih produktif.&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
F&amp;amp;LP D13.&lt;br /&gt;
F: Saya benci alarm.&lt;br /&gt;
L: Membaca tentang perjuangan para survivor holocaust selama berada dalam kamp pekerja mau tidak mau membuat orang merasa malu untuk mengeluh. Dibandingkan dengan penderitaan dan ketabahan mereka, apa yang kita sebut sebagai kesulitan hari ini rasanya cuma setitik debu. Manusia mungkin belum benar-benar merasa hidup kalau belum mengalami nyaris mati. Mungkin akan menghemat waktu, jika kita bisa belajar untuk hidup dari mereka yang nyaris mati. Kita akan belajar arti ketabahan lebih cepat dan berhenti memboroskan waktu untuk merengek dan mengeluh.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;div style="text-align: auto;"&gt;
F&amp;amp;LP D14.&lt;br /&gt;
F: Alarm bunyi lagi. 6:10.&lt;br /&gt;
L: Mata sudah berat, sudah waktunya terlelap. Masih ada beberapa hal yang harus dituntaskan lebih dulu. Pagi sudah keburu menjelang...&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: auto;"&gt;
F&amp;amp;LP D15. &lt;br /&gt;F: Reptil mati itu masih berada di kamar saya. Padahal tadi malam ibu sudah berjanji untuk membuangnya karena saya terlalu jijik untuk melakukannya sendiri. Matanya yang tidak bisa berkedip menatap kosong. Kulitnya mengelupas sebagian. Dia terjepit di antara kedua lemari buku. Tak bergerak, diam, dan beku. &lt;br /&gt;L: Sudah lewat pukul 3 pagi. Hari sudah berganti sejak tadi.&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
F&amp;amp;LP D16.&lt;br /&gt;
F: Saya belum siap memulai hari.&lt;br /&gt;
L: Hampir menjelang pukul 1 pagi. Masih ada beberapa hal yang harus dibereskan. Menunda tidur hingga beberapa waktu lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
F&amp;amp;LP D17.&lt;br /&gt;
F: Hari baru kembali tercipta. Entah hujan benar turun atau saya hanya memimpikannya. Saat saya benar-benar terjaga, jejak hujan telah sirna.&lt;br /&gt;
L: Dikepung insomnia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
F&amp;amp;LP D18.&lt;br /&gt;
F: Bangun terlambat lagi.&lt;br /&gt;
L: Kadang manusia dapat merasa terhilang justru di saat bersama melewatkan waktu. Herannya, dia justru menemukan lagi dirinya di saat ia seorang diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
F&amp;amp;LP D19.&lt;br /&gt;
F: Seharusnya bangun pukul 6, tapi justru terjaga menjelang pukul 9.&lt;br /&gt;
L: Dikepung insomnia lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
F&amp;amp;LP D20.&lt;br /&gt;
F: Terjaga sesaat, lalu terlelap lagi.&lt;br /&gt;
L: Andai mesin waktu benar ada, saya ingin pergi ke masa depan, melongok sebentar apa yang akan terjadi pada saya. Tapi, saya juga ingin pergi ke masa lalu, mencari tahu apa yang terjadi pada orang-orang yang sudah keburu meninggal sebelum saya terlahir. Tapi, saya juga ingin berada di masa kini untuk terus menjalani apa yang saya miliki hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
F&amp;amp;LP D21.&lt;br /&gt;
F: Kali ini saya terbangun sepuluh menit lebih awal sebelum alarm bunyi. Tapi, saya masih ingin tidur lagi.&lt;br /&gt;
L: Senyap di luar. Gerimis turun perlahan. Suaranya teredam, nyaris tak terdengar. Sudah pukul 1 lewat. Beranjak tidur diiringi hujan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
F&amp;amp;LP D22.&lt;br /&gt;
F: Tak siap menjalani hari. Sedikit demam.&lt;br /&gt;
L: Setelah beberapa malam insomnia, kali ini kantuk datang dengan cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
F&amp;amp;LP D23.&lt;br /&gt;
F: Bangun tepat waktu, tapi tetap ingin tidur lagi. Tidak siap memulai hari. Malam nanti akan berangkat ke luar kota. Belum-belum sudah merindukan rumah.&lt;br /&gt;
L: Hari sudah berganti. Baru akan beranjak tidur. Hanya akan terlelap selama beberapa jam. Harus memulai hari tak lama lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
F&amp;amp;LP D24.&lt;br /&gt;
F: Tak dinyana, meski hanya terlelap dalam beberapa jam, bisa terbangun dengan mudah.&lt;br /&gt;
L: Butuh tidur nyenyak, tapi insomnia justru menyerang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
F&amp;amp;LP D25.&lt;br /&gt;
F: Hari baru menjelang. Siap atau pun tidak, harus kembali memulai hari.&lt;br /&gt;
L: Dua hari lagi tersisa. Sangat merindukan rumah. Berharap hari ini segera berlalu, hari esok segera tiba, dan lekas berlalu pula. Berharap lusa lekas tiba. Biarlah waktu membawaku pulang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
F&amp;amp;LP D26.&lt;br /&gt;
F: Hari yang baru menjelang. Tak sabar ingin lekas mengakhiri hari ini agar esok lekas menjelang. Berharap hari yang baru lekas tiba.&lt;br /&gt;
L: Lega akhirnya tiba di rumah. Menjelang pukul 2 pagi ketika akan beranjak tidur. Pagi sudah menjelang. Hari baru sudah datang. Selamat pagi, dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
F&amp;amp;LP D27.&lt;br /&gt;
F: Mungkin karena imbas retreat, pagi ini doa saya seperti ini:&lt;i&gt; "Lord, I’m messy but thank you, You still love me. But Lord, I
want you to know, even though I’m messy, I still love You."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
L: 2011 hampi berakhir. Tidak ingin lagi memikirkan hal-hal yang sudah berlalu. Berharap tahun depan akan lebih baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
F&amp;amp;LP D28.&lt;br /&gt;
F: Tak sabar menantikan 2012 tiba. Tapi, tak ingin sisa hari di tahun ini menjadi tidak berarti.&lt;br /&gt;
L: Saya tidak pernah bosan menonton Kill Bill meski sudah menontonnya berkali-kali. Saya suka plotnya yang agak mirip komik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
F&amp;amp;LP D29.&lt;br /&gt;
F: Setelah beberapa malam insomnia, imbasnya baru terasa sekarang. Kantuk tak kunjung lenyap, memerangkap hingga pagi datang.&lt;br /&gt;
L: Lewat pukul tiga saat beranjak tidur. Sebelum tahun ini berakhir, tak ingin membiarkannya tak bermakna. Saya menikmati saat waktu merangkak pergi, dari pagi ke pagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
F&amp;amp;LP D30.&lt;br /&gt;
F: Di antara pukul 6 dan 7.25 saya tidak benar-benar terjaga.&lt;br /&gt;
L: Berlalunya waktu dan bertambahnya usia tidak menjamin seseorang lebih dewasa, lebih pemaaf, atau pun lebih bijaksana. "Forgiven, but not forgotten", terkadang hal ini pun terasa sudah maksimal. Saya rasa saya bukan pendendam, tapi saya merasa kadang-kadang manusia melakukan kesalahan fatal dan dia tetap lolos dari hukuman. Setidaknya, dia seharusnya mendapatkan sedikit ganjaran. Apa gunanya melewati waktu dan usia semakin beranjak senja, jika manusia tidak belajar apa-apa dari kesalahannya dan tetap melakukan kesalahan serupa di masa mendatang? Alangkah dungunya melakukan kesalahan, tapi tidak menyadarinya sama sekali!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
F&amp;amp;LP D31.&lt;br /&gt;
F: Hujan. Itu yang pertama kali saya sadari saat terbangun pagi ini. Dulu, sekarang, dan saya rasa hingga nanti, saya selalu suka hujan. Ada yang puitis tentang hujan. Dan tak ada yang lebih puitis dari sebuah kesadaran, ini adalah hujan yang turun di pagi terakhir di tahun ini.&lt;br /&gt;
L: Pukul 3 lewat saat beranjak tidur. Tahun telah berganti.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5575715850572509013-3384088239058496566?l=slusman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://slusman.blogspot.com/feeds/3384088239058496566/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5575715850572509013&amp;postID=3384088239058496566" title="2 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default/3384088239058496566?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default/3384088239058496566?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://slusman.blogspot.com/2012/01/memaknai-desember.html" title="Memaknai Desember" /><author><name>Selvia Lusman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08512229134736619751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;Ak4GQH4zcCp7ImA9WhRWEUg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5575715850572509013.post-616578867448233012</id><published>2011-12-29T18:42:00.000+07:00</published><updated>2011-12-29T18:42:01.088+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-29T18:42:01.088+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Silly Me" /><title>Homesick</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Berikut sedikit catatan yang saya tulis saat saya berada di luar kota dan sangat merindukan rumah:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;24 Desember 2011&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sangat mengantuk. Saat ini, tidur adalah kemewahan. Sangat merindukan peraduan. Sangat menantikan berlalunya waktu dan tibanya saat untuk memejamkan mata.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;25 Desember 2011&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pagi. Hiruk-pikuk. Merindukan kesenyapan. Merindukan kesendirian. Merindukan sunyi. Tersesat dalam kepungan suara. Sangat merindukan rumah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sendiri di tengah keramaian. Merindukan rumah, tapi juga merasa bisa sedikit bertahan. Berharap waktu lekas bergulir dan hari lekas berganti, membawaku pulang ke tempat aku seharusnya berada, merasakan lagi nyamannya sesuatu yang konstan. Rutinitas yang bisa kutentukan sendiri. Dalam hati berjanji, akan membuatnya terlalui lebih berarti, lebih dari hari-hari sebelumnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aku menunggu. Pada rutinitasku di tempat yang lain, di waktu yang lain, aku rasa aku juga tengah menunggu. Kali ini aku menekuri pikiran-pikiranku sendiri saat aku menunggu. Di lain waktu, di lain tempat, aku akan menunggu, sibuk membaca apa yang terjadi pada dunia. Benarkah hidup hanya menunggu? Betapa lamban waktu berlalu. Seharusnya aku, tak merasa cukup hanya dengan menunggu. Nyatanya aku, merasa tak cukup hanya menunggu. Berharap bisa melakukan lebih, mengerjakan lebih, membuat menunggu tak selamban biasanya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5575715850572509013-616578867448233012?l=slusman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://slusman.blogspot.com/feeds/616578867448233012/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5575715850572509013&amp;postID=616578867448233012" title="4 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default/616578867448233012?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default/616578867448233012?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://slusman.blogspot.com/2011/12/homesick.html" title="Homesick" /><author><name>Selvia Lusman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08512229134736619751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0IERnw4eSp7ImA9WhRWEEo.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5575715850572509013.post-1745897199706195254</id><published>2011-12-28T18:25:00.000+07:00</published><updated>2011-12-28T18:25:07.231+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-28T18:25:07.231+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Puisi" /><title>Perjalanan Pulang</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: bold;"&gt;Buat Irma dari Cimahi, teman baru saya. Jika kamu kebetulan membaca postingan ini, tolong tinggalkan komentar dan email kamu supaya saya bisa menghubungi kamu. Sepertinya kamu salah menyimpan nomor ponsel saya, karena kamu belum juga mengirim SMS untuk memberitahukan nomor kamu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Malam tak melulu pekat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Untaian cahaya memberikan warna.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kulihat seorang perempuan muda berlari mengejar angkot.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kulihat seorang pengendara sepeda,&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
dengan gesit mengayuh,&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
menyeberangi trotoar,&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
dengan karung-karung disampirkan di samping sepedanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kulihat truk di tepi jalan,&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
dan beberapa lelaki berjongkok di dekatnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kulihat mobil-mobil bergerak merayap,&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
mengarungi jalan tol yang padat.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pohon-pohon di tepi jalan tampak muram, dikepung gelap.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lampu jalan yang temaram,&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
tak mampu memberi petunjuk akan bentuknya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Truk dan mobil melaju membelah malam.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Berpacu dengan waktu dan ketergesaan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
* Dalam perjalanan pulang Bandung-Jakarta, 26-27 Desember 2011.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5575715850572509013-1745897199706195254?l=slusman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://slusman.blogspot.com/feeds/1745897199706195254/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5575715850572509013&amp;postID=1745897199706195254" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default/1745897199706195254?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default/1745897199706195254?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://slusman.blogspot.com/2011/12/perjalanan-pulang.html" title="Perjalanan Pulang" /><author><name>Selvia Lusman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08512229134736619751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0YGQX09fip7ImA9WhRXF0w.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5575715850572509013.post-8323251639301387807</id><published>2011-12-24T16:32:00.000+07:00</published><updated>2011-12-24T16:32:00.366+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-24T16:32:00.366+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Review Serial" /><title>Belajar Tentang Hidup dari Serial Last Christmas (11)</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Episode 11 (TAMAT)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aoi menghilang dari rumah sakit tempatnya dirawat. Haruki menemukannya di apartemennya, tengah sibuk menyiapkan makan malam Natal. Saat Haruki memintanya untuk kembali ke rumah sakit, Aoi marah dan melempar kue tart yang dia siapkan. Sambil menangis, Aoi meninggalkan apartemen Haruki dan kembali ke apartemennya sendiri. Meski Haruki mencoba membujuknya, Aoi tidak mau bicara. Haruki terpaksa meninggalkan pesan di mesin penjawab telepon hingga berkali-kali. Setelah Haruki bercerita bahwa beberapa hari yang lalu ia memimpikan dirinya dan Aoi menjadi kakek dan nenek dan memperebutkan santa claus di kue Natal mereka, Aoi pun luluh. Mereka lalu pergi melihat pohon Natal di pusat kota.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah Takase berhenti dari kantor lamanya, ia kini menjadi waitress di sebuah restauran. Shintani yang datang ke tempat Takase sekarang bekerja meminta maaf pada gadis itu atas batalnya pernikahan mereka.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Usai melihat pohon Natal, Aoi setuju kembali ke rumah sakit dan akan pergi ke Seattle untuk operasi. Kepada dokternya, Aoi menitipkan kado untuk Haruki yang harus dibukanya saat hari Natal. Kado itu sengaja ia titipkan karena ia belum tentu selamat jika operasi yang dijalaninya gagal. Shintani dan Sachiko sama-sama mendesak Haruki untuk mendampingi Aoi menjalani operasi dan tidak usah memusingkan masalah pekerjaannya yang akan terbengkalai sementara ia mengambil cuti.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hayama yang memenangkan lotere memberanikan diri meminta Takase menjadi isterinya. Karena terlalu gugup, ia pun terjatuh dari tangga restauran tempat Takase bekerja. Sementara Higaki menyusul Fujisawa ke bandara untuk mencegah kepergiannya ke New York. Fujisawa berjanji akan kembali padanya sekembalinya ia dari New York nanti.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Haruki akhirnya mendampingi Aoi pergi ke Seattle. Scene lalu kembali ke bagian awal episode satu di mana Haruki berjalan dengan dikawal oleh pemandu wisata. Ia harus bersusah-payah mencari orang yang mau mengantarnya ke bandara karena cuaca buruk dan libur perayaan Natal. Saat Haruki membuka kado dari Aoi, ia baru tahu bahwa isinya adalah rekaman suara Aoi bahwa ia telah melewati masa lima tahun berjuang melawan penyakit yang menggerogotinya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Scene lalu beralih ke tahun berikutnya. Setahun berselang, Fujisawa akhirnya kembali dari New York. Takase yang telah menikah dengan Hayama tengah mengandung. Haruki melihat ada penghuni baru di gedung apartemen yang ia diami. Ia pun teringat Aoi saat pertama kali menjejakkan kaki di apartemen di sebelahnya. Sachiko yang kembali bertengkar dengan suaminya membawa anjingnya, Bobby dan anak-anaknya mengungsi ke apartemen Haruki. Ibu Haruki dan dokter yang merawat Aoi menikah. Ibunya memberikan kastuba pada Haruki. Suami Sachiko juga membawakan kastuba untuk isterinya. Higaki juga membawa kastuba saat menjemput Fujisawa. Begitu pun Hayama yang akan menjemput Takase di rumah sakit setelah melahirkan anak mereka. Semua kastuba itu ternyata dikirim oleh Aoi yang mengirimkan pesan pada Haruki lewat email untuk menjemputnya jika bisa. Ia akan tiba saat hari Natal.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Scene lalu berganti ke Aoi yang mengikuti petunjuk yang ditancapkan di boneka salju. Scene lalu mundur ke saat Aoi akan menjalani operasi. Aoi meminta Haruki yang mewakilinya melihat aurora. Scene beralih lagi ke masa sekarang saat Haruki yang menyamar sebagai santa menjemput Aoi dengan mobil. Mereka menuju ke sebuah kapel dan menikah di sana secara sederhana. Meski terlambat satu tahun dari waktu yang telah mereka sepakati, Aoi dan Haruki akhirnya sampai juga di Yellow Knife dan berhasil melihat aurora seperti keinginan mereka.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Mari belajar menulis dari penulis script Last Christmas:&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Episode terakhir yang penuh kilas balik ini terbukti cukup menggugah rasa penasaran penonton yang hampir setengah dari episode ini dibuat penasaran apakah Aoi selamat dari operasi yang harus dijalaninya. Ternyata kata "last" pada judul serial ini bermakna positif. Aoi telah sembuh dan tidak perlu lagi bertanya-tanya apakah Natal berikutnya ia masih bertahan hidup. Cara bercerita dan plot yang bisa menggugah rasa penasaran penonton adalah satu hal yang perlu dipelajari, sekalipun untuk sebuah serial yang berakhir dengan happy ending. Entah mengapa kadang muncul stereotype bahwa film yang berakhir happy ending dianggap sebagai suatu hal yang picisan, padahal dalam hidup bagaimana pun juga manusia memang butuh harapan, dan itu bahkan bisa ditularkan melalui film dengan ending bahagia. Jadi, saya rasa "happy ending" bukan aib, bukan fantasi, juga tidak melulu fiksi. Singkatnya, semua orang berhak mendapatkan akhir bahagia, apa pun versinya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5575715850572509013-8323251639301387807?l=slusman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://slusman.blogspot.com/feeds/8323251639301387807/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5575715850572509013&amp;postID=8323251639301387807" title="1 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default/8323251639301387807?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default/8323251639301387807?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://slusman.blogspot.com/2011/12/belajar-tentang-hidup-dari-serial-last_24.html" title="Belajar Tentang Hidup dari Serial Last Christmas (11)" /><author><name>Selvia Lusman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08512229134736619751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEQCQXs_cCp7ImA9WhRXFk4.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5575715850572509013.post-7239311135920515406</id><published>2011-12-23T16:26:00.000+07:00</published><updated>2011-12-23T16:26:00.548+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-23T16:26:00.548+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Review Serial" /><title>Belajar Tentang Hidup dari Serial Last Christmas (10)</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Episode 10&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aoi menjalani pengobatan di rumah sakit. Ia juga memperkenalkan Haruki pada keluarganya. Dari mereka, Haruki baru tahu bahwa Aoi diam-diam menyalahkan dirinya saat ibunya meninggalkannya pada usia 9 tahun, begitu pula saat eks suaminya memilih meninggalkannya setelah mengetahui penyakitnya. Tapi, saat teman sekamar Aoi yang menderita penyakit yang sama dengannya meninggal hanya beberapa jam dari terakhir kali Aoi berbincang dengannya, Aoi berniat mengunjungi laut di dekat rumah masa kecilnya. Ia takut tak punya kesempatan melihat laut lagi.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari ayah Aoi, Haruki mengetahui berniat mengambil benda kenangannya yang tertinggal di rumah eks suaminya. Haruki pun mencari rumah eks suami Aoi, tapi tidak bertemu pria itu. Ia sempat dikira akan meminta uang oleh saudara perempuan eks suami Aoi. Ternyata benda kenangan yang sangat diinginkan Aoi adalah suling pemberian ibunya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aoi dan Haruki jadi juga mengunjungi laut di dekat rumah masa kecil Aoi. Saat akan berfoto bersama, Aoi berkali-kali mengacaukan posenya, membuat Haruki keheranan. Sambil menangis Aoi mengaku ia takut itu adalah kali terakhir mereka berfoto karena tak lama lagi ia mungkin meninggal akibat penyakitnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah Aoi kembali ke rumah sakit, Haruki melanjutkan bekerja. Aoi juga sudah kembali gembira saat mendengar acara radio yang dibawakan Sachiko yang mendaulat Hayama, Shintani, dan Higaki untuk menyanyi secara on air. Aoi berusaha mengiringi nyanyian mereka dengan suling pemberian ibunya yang sudah rusak. Sebelumnya, Takase yang batal menikah akhirnya mengundurkan diri dari perusahaan dan tidak mengurungkan niatnya meski dicegah Hayama yang menasihatinya untuk tidak melarikan diri.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Saat pulang kerja, Haruki menyempatkan diri menengok Aoi. Sayangnya dalam waktu singkat, penyakit Aoi bertambah parah dan ia dipindahkan ke ruang gawat darurat. Haruki pun pulang ke apartemennya dan tanpa sengaja menemukan album foto saat Aoi masih remaja di antara benda kenangan yang diambilnya dari rumah eks suami Aoi. Saat Sachiko meneleponnya, Haruki pun tak kuasa menahan tangisnya saat menceritakan perihal Aoi, apalagi saat melihat lagi fotonya bersama Aoi di tepi laut di dekat rumah masa kecil Aoi. Mengingat penyakit Aoi, bisa saja itu adalah momen terakhirnya bersama Aoi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Mari belajar tentang hidup dari Aoi Yuki:&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tidak ada manusia yang bisa benar-benar siap menjelang kematian, terlebih jika ia masih memiliki semangat dan harapan untuk hidup. Meski begitu, ketabahan Aoi dan kekuatan pribadinya membuat dia menjalani hari-harinya dengan menjadikannya bermakna, dan tidak melulu menyesali penyakit dan penderitaannya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5575715850572509013-7239311135920515406?l=slusman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://slusman.blogspot.com/feeds/7239311135920515406/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5575715850572509013&amp;postID=7239311135920515406" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default/7239311135920515406?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default/7239311135920515406?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://slusman.blogspot.com/2011/12/belajar-tentang-hidup-dari-serial-last_23.html" title="Belajar Tentang Hidup dari Serial Last Christmas (10)" /><author><name>Selvia Lusman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08512229134736619751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0YEQH49eCp7ImA9WhRXFUk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5575715850572509013.post-4367159073228298141</id><published>2011-12-22T15:05:00.000+07:00</published><updated>2011-12-22T15:05:01.060+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-22T15:05:01.060+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Review Serial" /><title>Belajar Tentang Hidup dari Serial Last Christmas (9)</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Episode 9&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dokter yang menangani Aoi menasihatinya untuk memberitahu Haruki mengenai penyakitnya. Menurutnya Haruki tidak akan bereaksi seperti eks suaminya yang memilih untuk meninggalkannya setelah tahu ia sakit parah. Saat Haruki menanyakan hasil pemeriksaannya, Aoi berusaha menghindar. Sementara itu Fujisawa yang telah kembali dari New York pergi bersama Higaki ke pesta yang diadakan Shintani dan Takase. Ayah Shintani yang tidak menyetujui hubungan putranya dengan Takase datang hanya untuk mengacaukan acara makan malam itu. Takase pun menangis di ruang ganti. Haruki yang datang terlambat di pesta itu tidak bertemu Aoi yang sudah pulang lebih dulu. Aoi yang dihubungi lewat ponsel tidak juga menjawab panggilannya. Haruki pun memutuskan untuk mengunjungi ibunya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bukan cuma Haruki yang mencemaskan kesehatan Aoi. Higaki pun menanyakan tentang kesehatan Aoi pada Haruki, membuat pria itu mendatangi lagi dokter yang merawat Aoi. Dokternya memberitahu Haruki bahwa penyakit Aoi kambuh lagi dan harapan hidupnya sangat rendah.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah berhasil menenangkan diri, Aoi akhirnya menelepon Haruki di ponselnya dan dengan berpura-pura gembira ia menyanyikan lagu Natal untuk pria itu, tidak menyadari bahwa Haruki sudah tahu mengenai penyakitnya. Haruki pun meminta Aoi tetap di tempatnya. Ia berniat menjemput Aoi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Mari belajar menulis dari penulis script Last Christmas:&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di episode sebelumnya, ada scene saat Haruki yang hendak pergi keluar kota terburu-buru memasuki bis yang ditumpanginya sehingga tak sempat menyelesaikan ceritanya. Waktu itu ia sedang bercerita ke Aoi (yang mengantarnya hingga ke halte bis) tentang orang yang menangkap salju pertama yang turun dari langit. Di episode ini, karena Aoi tak sempat mendengar cerita Haruki sampai habis, saat salju turun, ia langsung menangkapnya. Haruki terpaksa mengubah versi ceritanya bahwa siapa pun yang menangkap salju pertama yang turun akan sial. Mengingat episode kali ini bercerita tentang penyakit Aoi yang parah, detil ini lumayan "membangun suasana" haru, terlebih scene saat Aoi yang berusaha menyembunyikan penyakitnya dari Haruki berpura-pura ceria dengan menyanyikan lagu Natal, tapi yang menurut saya sangat brilian adalah pesan tersamar yang menyatakan bahwa takhayul tidak perlu dipercayai. Aoi menangkap salju pertama yang turun dan seharusnya mendapat sial, tapi&amp;nbsp;Aoi tidak mati. Dia bertahan tetap hidup hingga di episode terakhir. Pesan yang tidak menggurui, tapi mengena. Jadi, mari kita tepuk tangan untuk happy ending!&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5575715850572509013-4367159073228298141?l=slusman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://slusman.blogspot.com/feeds/4367159073228298141/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5575715850572509013&amp;postID=4367159073228298141" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default/4367159073228298141?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default/4367159073228298141?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://slusman.blogspot.com/2011/12/belajar-tentang-hidup-dari-serial-last_22.html" title="Belajar Tentang Hidup dari Serial Last Christmas (9)" /><author><name>Selvia Lusman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08512229134736619751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUMCQHgycSp7ImA9WhRXFUk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5575715850572509013.post-2593995990853588208</id><published>2011-12-21T15:18:00.000+07:00</published><updated>2011-12-22T16:51:01.699+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-22T16:51:01.699+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Fiksi" /><title>Mempertanyakan Alf</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;a href="http://slusman.blogspot.com/2011/04/dear-alf.html"&gt;Bagian 1: Dear Alf&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;a href="http://slusman.blogspot.com/2011/12/tentang-alf.html"&gt;Bagian 2: Tentang Alf&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Alf bilang, tidak seperti perempuan, laki-laki masih memakai logika jika memilih tambatan hati, tidak seperti perempuan yang menyerahkan seluruh hatinya. Aku tidak sepenuhnya setuju. Seluruh hidupku, aku selalu memakai kepalaku, bukan hatiku. Jadi pernyataannya tidak berlaku untukku.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dan aku mendadak merasa sakit hati dengan pernyataannya. Aku curiga. Mungkinkah dari segala bentuk kedekatan yang coba dia tebarkan, dia masih juga tidak menyatakan isi hatinya padaku karena menurutnya aku tidak sepadan untuknya?&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jadi, kuacuhkan dia dan aku sembunyi. Herannya, dia masih juga berada di sekitarku.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dia menyapaku saat kami berpapasan. Aku pura-pura tidak mendengar dan sibuk dengan kopiku. Dia berdiri di samping tempat dudukku berlama-lama padahal dia seharusnya hanya lewat saja. Dia terdengar lebih bersemangat saat aku memasuki ruangan. Dia diam-diam mencuri pandang ke arahku saat aku melintas di dekatnya. Dia mengawasi gerakanku saat aku meninggalkan ruangan dengan tergesa-gesa. Dan semalam saat aku berjalan pulang sendirian, dia menyempatkan diri menoleh dan tersenyum padaku sebelum melajukan kendaraannya. Entah dia akan pergi ke mana.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Selamanya di antara aku dan Alf tiada romansa. Dia tahu aku pemalu. Dia tidak akan begitu gegabah memperlihatkan perasaannya padaku. Aku jengkel berulangkali, tidak saja padanya, tapi juga pada diriku sendiri.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aku bersikeras bahwa dia tidak layak untukku. Dia begitu pengecut dan tidak berani menyatakan keinginannya untuk memiliki hatiku atau dia memang tidak punya rasa itu. Nyatanya ketika aku bangun dari tidurku, hal pertama yang kukerjakan adalah melantunkan sebait doa untuknya, meski hanya dalam hati dan tanpa suara, meminta Tuhan menjaganya sepanjang hari itu. Aku bersumpah untuk melupakannya, nyatanya aku tak berdaya mencegah rasa manis itu menyeruak ke hatiku setiap kali kusadari perhatiannya. Dia masih mengamati ekspresi wajahku meski sebagian besar rambutku sengaja kutata sedemikian rupa agar menutupi parasku. Tidak kubiarkan dia melihatku. Tidak kuijinkan dia membaca hatiku.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aku menunduk hampir sepanjang waktu. Kami mungkin berada dalam ruangan yang sama, tapi kupagari diriku dari dirinya. Aku sembunyi, tapi sialnya dia dengan sabar seolah sengaja menunggu kesempatan untuk tersenyum ke arahku. Jadi, apa maksudmu, Alf? Apa arti seulas senyummu?&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
***&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Beberapa hari berselang, dia masih tersenyum padaku. Aku tidak membalas senyumnya, berpura-pura tidak menyadari keberadaannya. Belakangan aku menyesal sendiri. Kusadari dia tidak lagi sedominan biasanya. Mungkin dia tengah direpotkan dengan banyak urusan, karena itu antusiasmenya sedikit surut.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Saat dia memasuki ruangan, ekor matanya masih mencariku, tapi dia tidak terlihat antusias seperti biasanya. Seolah ada hal yang mengganggu pikirannya. Kurasakan sejumput lara menjalari hatiku. Ingin kusirnakan bebannya, tapi aku hanya bisa memanjatkan sebait doa, berharap dia akan segera kembali seperti sediakala: senyum yang lepas, antusiasme yang tergurat jelas.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aku merindukan dia; senyumnya, gurauannya, tawanya yang tanpa suara, antusiasmenya, dan sesekali sarkasme yang terselip di ujung kalimatnya; sarkasme yang halus dan memancing senyum. Aku merindukan Alf, berharap waktu berbaik hati padaku, memberi kesempatan padaku untuk melihatnya lagi, melihat senyumnya sekali lagi. Aku berjanji, jika bertemu dia lagi, kali ini aku akan membalas senyumnya. Tapi nyatanya saat akhirnya aku berjumpa dengannya lagi, kini malah giliran dia yang mencoba sembunyi.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dia bersikap seolah tak menyadari keberadaanku, membuatku tiada. Jadi kuputuskan untuk tidak lagi memikirkan tentang dia. Kuputuskan bahwa dia tidak sesempurna yang kupikirkan. Jadi saat kami berada dalam ruangan yang sama, kuputuskan tidak akan kubiarkan dia mempengaruhi diriku lagi. Dia sama dengan laki-laki lainnya yang tidak menempati hatiku. Tak kuijinkan dia menempati sudut-sudut jiwaku lagi. Kurasa inilah yang terbaik. Toh suatu hari dia akan pergi juga, menghilang selamanya dari pandanganku, juga hidupku. Kusadari hidup berjalan terus dan waktu terus bergulir. Aku tidak mungkin menantinya selamanya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Herannya baru sebentar kuputuskan begitu, hal kecil yang tak sengaja kutemukan, membuatku teringat dia lagi. Sejumput lara kembali menyelinap ke sudut hatiku. Betapa sukar menata perasaanku sendiri. Akal sehat ternyata tak cukup ampuh untuk mengusir dan mengenyahkan dia dari batinku. Bahkan litani dan doa pun tak cukup untuk meluruhkan dia dari benakku. Hingga kini, hari-hariku tak lebih dari terus mempertanyakan Alf berulang kali dan nyaris setiap saat. Betapa gundah, betapa nelangsa!&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setiap kali namanya disebutkan dalam percakapan teman-temanku, mau atau pun tidak, aku jadi berpikir tentang dia lagi. Setiap kali aku tanpa sengaja membaca judul berita dan artikel tentang selebritas yang memiliki nama depan atau belakang yang sama atau sekedar mirip dengan namanya, aku jadi teringat dia lagi. Alf bagaikan hantu. Sosoknya memang tak terlihat oleh mata, tapi sosoknya mengikutiku ke mana-mana.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ketika dia mencoba sembunyi, aku malah sengaja mencari dirinya. Saat dia tidak ingin menatap ke arahku, kupaksa dia agar mau atau pun tidak, dia terpaksa menatap ke arahku. Bahkan saat dia mencoba melihat ke arah lain, dia akhirnya terpaksa menatap ke arahku juga. Mungkin dia merasa bahwa diam-diam aku mengamatinya, meski dia pura-pura tidak tahu, sehingga tanpa kentara dia menatap ke arahku lagi, meski dia melakukannya dengan halus, seolah dia tidak sengaja.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mungkin Alf merasakan betapa ambigunya sikapku. Belakangan dia sengaja duduk di depanku, dekat, meski masih mengambil jarak. Dia sengaja menatap ke arah lain, seolah dia memang tidak ingin menatapku. Dia tidak mungkin mendengar debar jantungku yang berdetak lebih cepat saat kurasakan kehadirannya, tapi dia bisa membaca bahwa aku mungkin merasa tidak nyaman karena dia tanpa sengaja duduk terlalu dekat. Tidak ingin membuatku merasa tak nyaman, tanpa kentara beberapa kali dia menggeser kursinya. Betapa malunya saat dia memergokiku tengah mencuri pandang ke arahnya. Seperti orang bodoh saat dia balik menatapku, kualihkan pandanganku ke arah lain, lalu balik menatapnya lagi saat dia sedang tidak melihat ke arahku.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kusadari mempertanyakan sikapnya adalah mempertanyakan sikapku sendiri kepadanya. Karena asa dan akal sehat seringkali berseberangan dan saling bertentangan. Belakangan kecanggungan yang samar namun terasakan itu sirna. Segalanya kembali normal dan bagai tak pernah terjadi. Kubiarkan keberadaanku dia temukan dengan mudahnya, jika dia cukup peka mendeteksi keberadaanku. Kubiarkan dia menemukanku kembali. Kujadikan hadirku lebih tergurat dalam hadirnya. Kubiarkan dia mengawasiku dan menyadari keberadaanku, sementara aku membiarkan dia berpikir aku tidak menyadarinya. Kutindas perasaan kecewa saat dia menunjukkan perhatiannya hanya selintasan saja dan tanpa nuansa.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lalu Alf kembali dengan caranya, melindungiku sebisanya dari diriku sendiri, dari orang yang mengkritikku dengan menjadikan dirinya sebagai contoh untukku. Alf menunjukkan padaku bahwa dia memahami aku, tapi dia juga menganjuriku untuk berhenti menjadi diriku sendiri yang getas dan suka bersembunyi. Dia menghiburku dengan caranya yang tidak pernah lugas, dengan caranya yang selalu halus dan tersamar.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Namun aku lelah, Alf. Lelah dengan segala timbunan perasaan dan pemikiran tentang kita. Pusaran pertanyaan ini kini menenggelamkanku. Aku takut raib. Aku takut tersesat dan tidak bisa kembali ke realita, terperangkap di dalam ilusi.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aku mencarinya tapi dia tidak kutemukan. Lalu di saat kupikir aku tak akan bisa melihatnya hari itu, dia muncul begitu saja. Menyadari hadirnya membuatku melempar pandang ke arah lain. Mengapa sosoknya begitu mempengaruhiku? Saat dia tidak menunjukkan kepeduliannya akan hadirku, aku kembali kecewa. Betapa dungu permainan yang kami mainkan. Aku sembunyi, dia sembunyi. Dia tidak mencariku di saat aku ingin ditemukan. Saat aku mencarinya, dia menghilang. Dia muncul saat keberadaannya tidak kuharapkan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Permainan ini mulai terasa memuakkan, Alf! Aku terluka. Lara itu tak lagi sejumput. Dia menggunung, dia memfosil. Dia meresap, dia menyerap. Dia menikam, dia menghunjam. Dia memerangkap, dia mengerat. Dia menyiksa, dia memaksa. Dia mengacau, dia menghalau. Dia menguliti, dia menghabisi. Lara ini, Alf meruntuhkan kisaran peristiwa yang berceceran ingin membentuk makna, tak kuasa meyakinkanku bahwa kamu memang untukku.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
***&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada hari ketujuhbelas di bulan kesebelas pertanyaanku akhirnya terjawab. Kini kutahu dengan pasti Alf memang bukan untukku. Segala kebaikannya hanyalah bagian dari keramahannya, bagian dari persahabatannya yang salah kuartikan selama ini. Kini kutahu hatinya telah dia serahkan pada orang yang kupikir tak sepadan untuknya. Bukan karena dia tidak memberikan hatinya padaku; tapi entah mengapa, bahkan sebelum jawaban ini kutemukan, aku telah merasa, kelak nasibnya tak lebih dari menerima kutukan karena dia harus menjalani hari dan hidupnya bersama orang yang tak akan pernah memaknai hadirnya seperti aku memaknai keberadaannya, meski dia tidak akan pernah tahu. Kutukanku telah sirna. Aku tak lagi harus berada di dalam ladang fantasi. Aku tak lagi harus terbebani oleh perasaanku. Aku tak lagi harus mempertanyakan perhatiannya berulang-kali. Aku hanya menyesalkan waktu yang terbuang percuma karena aku tak jua menemukan jalan pulang saat labirin bernama ladang fantasi itu menawanku berlama-lama. Aku menyesalkan setiap perasaan membuncah yang menipu dan betapa lama aku harus menanti hingga aku mendapatkan penawar dari racun bernama ketidakpastian.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Alf pada akhirnya adalah sebuah jawaban yang membekukan. Alf adalah sebuah takdir yang tersingkapkan. Alf adalah nyanyian sukma yang lirih diperdengarkan. Nadanya sayu, liriknya menyayat kalbu.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Alf, ini adalah kali terakhir aku menyebut namamu. Gaungmu akan terlupakan. Sosokmu akan menghilang. Gemamu tak akan lagi terdengar. Aku berterimakasih pada waktu yang pada akhirnya berpihak padaku dan diberinya aku sebuah jawaban. Bagaimana pun, Alf, aku lebih menyukai realita meskipun tanpamu ketimbang kubiarkan diriku tersesat selamanya di ladang fantasiku. Aku tidak lagi teracuni. Aku telah meneguk penawarnya. Aku sembuh dan utuh. Aku tidak hancur! Aku tidak berkeping-keping! Aku jauh lebih kuat ketimbang fantasi, gumpalan asa, beribu keraguan, segala pertanyaan dan bentuknya yang tersimpul dalam satu kata: ALF!&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Litani dan doa telah berhenti. Aku kini boleh menegakkan kepala. Melupakan Alf tak akan lagi jadi hal tersukar untuk dikerjakan. Melupakan dia dan segala hal tentangnya akan jadi hal yang dengan sendirinya pasti kulakukan. Melupakanmu, Alf kini adalah sebuah kewajiban, sebuah keharusan! Kau tidak lagi menjadi alasan untuk setiap ambigu yang pernah ada.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Luka ini belum sepenuhnya sirna. Racun ini telanjur meresap di segenap pembuluh darahku, melumpuhkan jiwa. Meneguk penawarnya memang menyembuhkanku, namun bekas lukanya masih belum menghilang seluruhnya. Namun keutuhan dari sebuah kesadaran, bagaimana pun jauh lebih melegakan ketimbang gumpalan asa yang menyesakkan. Keutuhannya getir dan masam, tak terasa manis laksana sulur-sulur fantasi yang merambati diriku. Belitannya tak mesra dan manja, melecutkan onak, duri, dan dera. Aku hidup dan merasa sakit. Kusadari pedihnya, kusadari nyerinya. Aku tak lagi sekarat. Aku hidup dan merasa kuat. Aku akan berjuang sekerasnya agar bekas luka ini menghilang, mengering, dan luruh. Membuatnya tiada, seakan tak pernah ada.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada akhirnya, Alf adalah sebuah bekas luka. Tak akan kubiarkan berkarat. Tak akan kubiarkan tergurat. Tak akan kubiarkan tersirat, meski tersurat. Alf adalah sebentuk kata yang kehilangan makna. Untaian aksara itu luruh adanya, tersapu waktu, tersapu hujan, tersapu banjir, tersapu angin, terbawa debu, lenyap di bawah terik mentari, mati, dan sunyi. Laksana hujan menitik, dia kembali ke tanah, dia kembali ke kolam, dia kembali ke sungai, dia kembali ke laut, dia kembali ke asal, dia kembali pada Alf, namun siklusnya di sanubariku telah terhenti, tak akan lagi terulang. Tak kubiarkan terulang. Repetisi yang mati.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Alf adalah sebentuk kenangan. Bagai mimpi yang segera terlupakan begitu aku terjaga. Kesibukan akan membuatnya tak lebih dari secuil memori, potongan kecil yang bisa dengan mudahnya lenyap, bagai sehelai kertas yang diterbangkan angin. Dia pernah ada tapi akan segera berlalu.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aku mungkin masih akan menjumpainya. Aku mungkin masih akan bertemu dengannya. Aku mungkin masih akan dibelit nelangsa, menyaksikan relung jiwanya tidak dia peruntukkan untukku, tapi keberadaan dan sosoknya tak akan berlama-lama menghantuiku lagi. Bagai embun yang sirna karena terik mentari, dia akan menghilang dan tidak kuijinkan kembali. Kau tahu, Alf? Kuharap kutukan itu berbalik mengikutimu.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aku bukanlah malaikat dan aku jelas bukan pemaaf. Kau mengacaukan asa-asaku dan meluruhkan akal sehatku. Kau biarkan aku tertipu. Semoga dia yang kau percayakan seluruh hatimu akan jadi hantu baru dalam hidupmu. Aku tidak akan mendoakan kebahagiaanmu. Aku berharap dia menyiksamu seperti kau menyiksaku. Semoga segala kebaikanmu sirna oleh waktu. Semoga cemeti kutukan itu membuatmu lupa bagaimana kau selalu tersenyum padaku dan memerangkapku dalam angan-angan semu, ilusi dan delusi bersatu, menyapu kewarasanku.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Alf adalah sebentuk dendam yang kekanakan. Bukan kejahatannya yang menyakitiku, tapi kebaikannya yang membunuhku. Bukan kesinisannya yang menyinggung hatiku, tapi kelembutannya yang menghinakanku. Bukan kepahitan sikapnya yang meracuniku, tapi kemanisan perilakunya yang membodohiku. Bukan ucapannya yang bak sembilu yang menikamku, tapi untaian kalimatnya yang laksana madu yang menenggelamkanku.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Alf kelak adalah bagian dari masa lalu. Dia hantu yang tak akan kembali dan tak akan bisa menyusulku hingga ke masa depan. Andai kelak kuingat dia lagi namanya disebutkan orang, dia adalah untaian aksara tanpa makna, menyembulkan senyuman, membuatku terheran sendiri, mengapa dulu dia pernah menjadi bagian dari mimpi-mimpiku. Kelak saat sejumput kedewasaan yang menyegarkan merasuki relung kesadaranku, akan kumaafkan Alf. Nanti ketika seberkas cahaya terang berpendar menyinari lubukku, dengan setulus dan seutuhnya akan kudoakan kebahagiaan Alf bersama dia yang kini menjadi hantu untuknya. Hingga saat itu tiba, Alf, biarlah kutukan itu terus mengikutimu di setiap langkahmu, di setiap detak jantungmu, di setiap irama nadimu, di setiap hembusan nafasmu, di setiap asa-asamu, tersirat maupun tergurat. Hingga saat itu… aku akan selalu mendoakan kemalanganmu.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Alf, adalah sebentuk kata yang akan segera terlupakan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5575715850572509013-2593995990853588208?l=slusman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://slusman.blogspot.com/feeds/2593995990853588208/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5575715850572509013&amp;postID=2593995990853588208" title="2 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default/2593995990853588208?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default/2593995990853588208?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://slusman.blogspot.com/2011/12/mempertanyakan-alf.html" title="Mempertanyakan Alf" /><author><name>Selvia Lusman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08512229134736619751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0cDSHc5eCp7ImA9WhRXE0s.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5575715850572509013.post-7708169078885210788</id><published>2011-12-20T15:17:00.001+07:00</published><updated>2011-12-20T15:17:59.920+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-20T15:17:59.920+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Fiksi" /><title>Tentang Alf</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;a href="http://slusman.blogspot.com/2011/04/dear-alf.html"&gt;Bagian 1: Dear Alf&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Alf adalah sebentuk kata yang membuat inderaku menjadi lebih peka. Betapa mentari terasa lebih hangat, awan bergerak bagai menari, semilir angin menjadi lebih teduh, daun bergerak lebih gemulai, bunga menjadi lebih indah, warna-warna di sekelilingku menjadi lebih cerah, dan hari-hariku menjadi lebih semarak.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Keberadaan Alf memang mempengaruhi sukmaku. Aku menyukai segala hal tentangnya. Caranya tersenyum padaku. Seolah bukan hanya mulutnya yang tersenyum, hatinya juga, matanya juga. Aku suka caranya menatapku. Begitu teduh hingga menembus hatiku. Dia satu-satunya orang yang bisa membuatku tersipu malu, merasa jengah, juga gembira. Tak seorang pun mempengaruhi hatiku selain dia. Hanya Alf yang dengan tutur katanya yang lembut bisa menetralisir rasa maluku.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dia satu-satunya orang yang menelitiku dengan saksama. Seolah dia ingin memastikan aku baik-baik saja. Dia berharap aku selalu ceria. Meski begitu dia paham rasa jengahku. Dia hanya menyapa dan tersenyum jika aku merasa aman. Entah dia tahu atau tidak bahwa aku menyimpan rasa itu untuknya. Seolah dia tidak ingin membiarkan orang lain mengetahui hal itu. Dia tidak ingin seorang pun menggodaku dan membuatku malu. Dia bagai tak peduli jika aku sedang bersama teman-temanku, tapi dia selalu tersenyum jika aku berpapasan dengannya dan tak seorang pun berada di dekat kami.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dia paham rasa rikuhku. Dia tak pernah menganggapnya dungu. Dia seolah tahu keberadaannya memang sangat berpengaruh padaku. Dia menjaga perasaanku dari segala hal yang membuatku merasa tak senang. Aku suka antusiasmenya, terlihat jelas dari ekspresinya betapa dia berusaha menunjukkan padaku bahwa dia sebenarnya peduli. Aku suka ketidaksabarannya saat dia melihat situasi yang menurutnya tidak sesuai aturan. Dia sistematis, agak berbeda denganku. Aku kadang impulsif, tapi dia suka segala hal dikerjakan satu persatu dan rapi. Tidak ada yang random dari dirinya. Dia sangat terpola.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bagiku sempurna adalah hal yang membosankan. Untunglah dia tidak begitu. Dia bisa sangat pelupa. Dia kadang bisa kehilangan rasa sabarnya dan tidak berusaha menutupinya. Dia keras kepala. Selera humornya kadang tidak berhasil membuatku tertawa. Kadang tersenyum pun tidak, tapi aku suka usahanya. Dia juga mencintai kecepatan sepertiku. Hanya saja dia menghargai ketenangan dan ritme yang lebih lambat. Aku juga terkadang tak suka bergegas. Aku juga kadang lebih suka berlambatan. Aku juga kadang tidak tahu bagaimana berpacu dengan waktu.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dan dia tidak peduli akan kritik yang ditujukan padanya. Dia akan membela diri atau setidaknya berusaha menjelaskan jika menurutnya perlu. Meski begitu dia hanya tersenyum jika aku yang menyampaikan kritik itu. Alf adalah sebentuk kata yang sanggup melambungkan anganku. Terlalu sering memikirkannya aku jadi memimpikan dia. Bukan bersanding denganku, tapi orang lain yang memilikinya. Aku menangis ketika terjaga. Tak yakin karena merasa lega atau tersadar dengan tiba-tiba bahwa kemungkinan seperti itu bisa saja ada.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Alf selalu menjadi sebentuk kata yang membuat asaku menjadi lebih peka.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
***&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Alf adalah sebentuk kata yang kurindukan. Saat kutahu dirinya harus kembali ke kota asalnya selama beberapa hari, sukar bagiku untuk tidak memikirkan betapa jauh dia berada dari jangkauanku. Suatu hari dia dapat menghilang selamanya. Aku bisa saja tidak melihatnya lagi. Betapa aku akan merana.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Andai aku dapat membaca apa yang melintas di pikirannya saat ini. Andai aku dapat mengetahui apa yang tengah dia kerjakan sekarang. Andai kutahu apa yang tengah dia lihat, siapa yang dia temui hari ini. Andai sukmaku bisa ikut pergi bersamanya, mungkin aku tidak akan terlalu memikirkan dia.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Alf adalah sebentuk fantasi yang menyusup ke akal sehatku, mengaburkannya, menghantarkan ribuan imajinasi yang tidak akan jadi nyata. Aku tidak ingin memberikan hatiku untuknya. Aku tidak ingin merindukannya. Aku bahkan tidak ingin memikirkannya. Dia membuatku gundah gulana dan aku tidak menyukainya. Dia mencuil kebebasanku, memerangkapku dalam pengharapan yang tak jua terwujud.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Alf adalah sebentuk kata yang mengurungku, membelenggu, merampas kemerdekaanku. Haruskah kukutuki dirinya untuk setiap asa yang terus membuncah setiap kali kusebutkan namanya dalam relung jiwaku? Ah, andai aku tahu, apakah dia juga tengah memikirkanku saat ini!&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Alf adalah sebentuk kata yang membersitkan kerinduan. Dia sukar ditindas, tak bisa raib, selalu muncul di permukaan. Kuingat kembali tatkala dia mencuri pandang ke arahku, ketika dia dengan tersamar menyatakan kelegaannya saat aku akhirnya muncul di dekatnya, seolah dia ingin memberitahuku bahwa dia menantikan kehadiranku. Jika aku balik mengamatinya, terkadang dia tidak menyadarinya, atau mungkin berpura-pura seolah tidak menyadarinya. Aku suka mengamati punggung dan bahunya saat dia tengah berdiri membelakangiku. Aku rasa dia tahu jika aku tengah memperhatikannya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Alf adalah sebentuk kata penuh kenangan. Mengingat dia adalah mengingat senyumnya saat dia mengetahui apa yang tengah kucemaskan. Dia seolah ingin meyakinkanku bahwa segala hal akan berakhir dengan baik. Mengingat dia adalah mengingat kecemasannya jika ada orang yang tanpa sengaja melukaiku dengan perkataan mereka. Kutenangkan dia dengan senyumku, memberitahunya bahwa aku tidak serapuh itu.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mengingat dia adalah mengingat petunjuknya saat dia memberitahuku bahwa aku harus menepiskan emosiku dan menjadi lebih kuat. Mengingat dia adalah mengingat pertanyaannya saat dia mencoba menjelaskan padaku apa yang kuanggap sukar untuk kupahami.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mengingat dia adalah mengingat ketidakrelaannya saat dia salah mengerti bahwa aku memiliki orang lain di hatiku. Mengingat dia adalah mengingat pernyataannya saat dia secara tersamar memberitahuku bahwa aku dan dia punya beberapa kesamaan: saat aku tertekan, dia juga tertekan; aku menghadapi kritik, dia juga. Kami juga sama-sama suka membaca dan memihak dan berempati dan... dia membuatku menyadari bahwa kami tidak terlalu berbeda. Kami bicara dalam bahasa yang sama, pemahaman yang sama.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mengingat dia adalah mengingat keprihatinannya saat dia mengamati air mukaku. Jika aku murung, dia akan ikut murung. Jika aku tersenyum, dia akan ikut tersenyum. Mengingat dia adalah mengingat caranya saat mencoba mengalihkan perhatianku tatkala aku merasa tak nyaman dan sengaja menyibukkan diri dengan hal yang tidak kubutuhkan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mengingat dia adalah mengingat perhatiannya saat dia menanyaiku tentang hal yang menggugah rasa ingin tahunya tentang aku. Dahulu kurasakan bagai interogasi. Belakangan kunikmati karena aku tahu diam-diam dia mengawasiku.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mengingat dia adalah mengingat sikapnya yang seolah tidak peduli. Kusadari dia punya harga diri pula dan dia tidak ingin terlalu bias menampakkan perasaannya. Dulu aku tidak mengerti, belakangan kusadari dia memang peduli, lebih dari yang ingin dia tunjukkan Mengingat dia adalah mengingat tawanya saat dia mendengar pujian orang atasku.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mengingat dia adalah mengingat sisi kekanakkannya saat dia mencoba mencuri perhatianku dengan candanya yang tidak langsung dia tujukan padaku. Mengingat dia adalah mengingat kegembiraannya saat dia menyadari betapa aku tidak terganggu oleh kecerobohannya, karena dia tahu, bahwa aku tahu, dia punya kendali untuk mengatasinya. Mengingat dia adalah mengingat usahanya saat mencariku. Terkadang aku memang bodoh dan sengaja bersembunyi darinya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mengingat dia adalah mengingat campur tangannya untuk melindungiku saat orang mengkritikku karena keputusan yang kubuat. Aku suka caranya memberitahu mereka bahwa aku punya kebebasan untuk memilih apa yang terbaik untukku, bagaimana aku ingin menjalani hidupku. Mengingat dia adalah mengingat rasa ingin tahunya tentang apa yang menjadi minatku dan apa yang kukerjakan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mengingat dia adalah mengingat betapa sukarnya dia berterus terang padaku bahwa dia ingin mengenalku lebih jauh. Betapa aku satu-satunya yang bisa membuatnya tersipu malu saat dia sadar aku mencoba menganalisanya. Betapa senyum tidak pernah pupus dari wajah tirusnya saat dia tahu aku merasa nyaman di dekatnya tanpa rasa jengah yang kadang-kadang mendera, tanpa rasa malu karena aku khawatir terlalu bias menunjukkan perasaanku terhadapnya. Alf adalah sejumput asa yang menyisakan pertanyaan. Akankah ada akhir bahagia untuk aku dan dia?&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jika hidup adalah dongeng yang bisa kureka sesuka hatiku, dia adalah pahlawan yang datang untuk menyelamatkanku, meski aku mampu menyelamatkan diriku sendiri. Jika hidup adalah untaian aksara, namanya kueja sempurna dan kutahu dia menyukainya saat kueja dengan benar tiap untai aksara itu.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
***&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Saat Alf akhirnya kembali, tak ada nuansa. Semuanya terasa samar dan menjauh. Aku tidak bisa meraihnya dan aku merasa dia tidak ingin mendekat. Hari berganti dan kuragukan penilaianku. Aku mendadak beku. Dia masih sebaik dahulu, tapi kini kusangsikan pengamatanku.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Belakangan kurasakan dia memaksakan diri mendekat, tapi aku tidak lagi percaya intuisiku. Aku bergantung pada nalarku. Lalu secercah rasa manis kembali menyusup ke hatiku saat segenap inderaku merasakan kehadirannya di dekatku. Aku mencoba mengabaikannya, tidak ingin lagi terperangkap dalam perasaan yang sama, tidak yakin itu nyata.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aku masih mengulas senyum untuknya. Aku masih merasa dia mencoba bicara lebih banyak padaku, tapi waktu dan banyak hal lainnya membuatnya urung mencoba. Aku tidak menerka yang tidak dapat diterka. Aku tidak bisa membaca pikiran dan hatinya. Aku lelah mencoba mengartikan sikapnya. Aku tidak ingin terluka karena ilusi semata. Jadi, meski keberadaannya nyata, betapa dia kuat, juga lembut di saat yang sama, aku mencoba menghapus dirinya dari ingatanku. Kuabaikan hatiku dan segala hal tentang dirinya. Meski begitu, bayangannya dengan kuat dan lembut masih menghantuiku hingga hari ini, hingga detik ini.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebelum Alf hadir dalam hari-hariku, aku baik-baik saja. Saat ini, entah dia ada atau pun tiada, aku seharusnya baik-baik saja. Kelak, saat dia pergi aku harus memastikan bahwa aku baik-baik saja. Sebelum dia hadir atau setelah dia pergi nanti seharusnya tetap sama: aku akan bak-baik saja. Saat nalarku yang bicara akan kupastikan diriku baik-baik saja. Seolah aku tak pernah bertemu dia. Alf akan menghilang begitu saja, seolah dia tak pernah ada. Setidaknya begitulah rencanaku, menjadikannya tiada.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jadi aku sembunyi dari Alf. Aku merasa mungkin sejak awal hatinya tidak pernah menjadi milikku. Mungkin aku yang keliru menafsirkan segala hal tentang dirinya. Mungkin dia telah memberikan hatinya pada orang lain atau mungkin dia masih mencari-cari siapakah orang yang paling berarti baginya yang dapat dia percayakan seluruh hatinya. Aku tidak tahu. Pada akhirnya aku enggan menerka segala tentangnya. Kuhukum diriku dengan mencoba tidak memikirkannya sama sekali. Kusibukkan diriku dengan banyak hal, tapi setelah malam menjelang dan tidak ada lagi yang bisa kukerjakan selain memaksakan agar kantuk segera menyeretku ke alam mimpi, sosoknya kembali membayang dan kusadari betapa sukarnya menindas perasaanku sendiri. Saat mentari pagi memaksaku membuka mata kusadari betapa sepinya mencoba menikam bayangnya yang masih menghantui. Alf adalah sebuah kutukan yang tak bisa sirna dari ingatan. Dia ada dan masih menghantui hari-hariku.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kadangkala kurasakan rasa manis itu kembali menyeruak ke hatiku. Kurasakan pula dia kadang ragu saat mencoba menatapku, bahkan kadang kurasa dia malu saat mencoba menatapku lebih lama. Seolah dia tidak ingin hatinya terbaca olehku. Seolah dia terpengaruh oleh caraku menatapnya. Terkadang aku merasa dia mencuri pandang ke arahku dengan cara yang tak kentara. Belakangan saat aku melewatkan beberapa jam bersamanya dalam cara yang tak nyata, seolah aku dan dia berada dalam waktu dan tempat yang sama, tapi juga begitu terpisah; aku dan dia saling mendekat, juga saling menjauh. Pada akhirnya segalanya berlalu tanpa nuansa. Seolah jam-jam itu tidak pernah ada, bagai kabut mimpi yang segera sirna begitu aku terjaga. Alangkah getas, rapuh, samar, dan maya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aku menduga dia tidak pernah mencoba memilikiku karena dia ragu apakah kurelakan hatiku untuk dimilikinya. Kukira dia ragu karena tidak yakin mampu menjagaku, karena dia merasa dia harus menjaga yang ingin dijaganya. Dia juga berusaha memberitahuku meski hanya tersirat bahwa hatinya tidak dimiliki siapa pun. Atau setidaknya dia belum memberikan hatinya pada siapa pun. Pada akhirnya Alf adalah sebentuk ketidakpastian. Sebuah misteri yang seolah tak ditakdirkan untuk tersingkap. Waktu tidak berpihak padaku. Di tengah segala kegalauan yang pernah ada, dia hanya ada untuk hari ini. Untuk beberapa jam tersamar dan sebuah kegetasan. Aku tidak akan menamainya kegundahan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Alf adalah sebentuk kata yang tidak terucapkan. Hanya sebuah bisikan tanpa suara yang digemakan hanya dalam pikiran dan imajinasi, hingga detik ini suaranya tak pernah didengungkan dalam realita. Tak pernah tertangkap dalam dunia yang nyata. Tak yakin saat itu akan pernah tiba. Alf adalah sebuah litani dan sebuah doa, disuarakan dalam kesunyian.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5575715850572509013-7708169078885210788?l=slusman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://slusman.blogspot.com/feeds/7708169078885210788/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5575715850572509013&amp;postID=7708169078885210788" title="1 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default/7708169078885210788?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default/7708169078885210788?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://slusman.blogspot.com/2011/12/tentang-alf.html" title="Tentang Alf" /><author><name>Selvia Lusman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08512229134736619751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0QFSHs_eSp7ImA9WhRXEE4.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5575715850572509013.post-6548955982602982404</id><published>2011-12-16T18:35:00.001+07:00</published><updated>2011-12-16T18:35:19.541+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-16T18:35:19.541+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Silly Me" /><title>Sajak Pagi Hari Telah Berganti</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Tadi pagi:&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Memulai hari kadang terlalu berat. Seringkali kita bahkan belum siap untuk melakukannya, tapi hari yang baru suda keburu menjelang. Hari ini terasa berat karena kantuk masih juga menahan saya untuk tetap terbaring di ranjang. Nyeri di tenggorokan dan skorbut di mulut membuat saya malas bangun dan menggosok gigi. Reptil peliharaan ibu saya yang tanpa sengaja salah masuk ke kamar saya dan akhirnya mati terjepit di antara kedua lemari buku masih tergeletak di lantai, menunggu dipindahkan; menunggu disemayamkan di tempat peristirahatan terakhir yaitu tempat sampah. Saya malas memulai hari.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bagi saya sangat tidak masuk akal bagaimana orang-orang yang sok optimis menggambarkan hari yang baru dengan menghirup udara pagi, sinar matahari yang menyeruak masuk, embun yang tersisa di dedaunan, burung berkicau, langit biru cerah, dan sebagainya. Manusia-manusia modern sudah demikian sibuknya. Tidak ada lagi waktu untuk sekedar melihat embun di daun, merasakan sinar matahari yang menghangatkan kulit. Kalau kamu terkena stroke dan terpaksa tinggal di rumah atau kamu baru saja diberhentikan dari pekerjaanmu, mungkin saja kamu melakukan semuanya itu. Siapa pula yang memiliki waktu untuk mendengarkan suara burung berkicau? Sajak pagi hari sudah berganti sejak lama.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pagi hari adalah bunyi alarm yang dipasang setidaknya tiga kali untuk memastikan kamu benar-benar bangun. Tiga kali alarm bunyi di waktu yang berbeda-beda. Dua di antaranya segera dimatikan oleh si pemasang alarm sebelum akhirnya ia tidur lagi. Saat alarm berbunyi untuk ketiga kalinya, barulah si pemasang alarm benar-benar terjaga dan baru sadar sepenuhnya. Sajak pagi hari sudah berganti. Tidak ada lagi burung-burung berkicau. Gedung-gedung tinggi tidak menyisakan pepohonan buat burung-burung bersarang. Burung-burung sudah bermigrasi entah ke mana bertahun-tahun yang lalu. Pohon-pohon yang ditanam sepanjang tepian jalan untuk mengurangi polusi atau di taman kota yang jumlahnya makin sedikit saja jelas tidak akan membuat betah burung-burung untuk tinggal di dahan-dahannya. Burung-burung akan jadi korban pertama polusi suara, di mana suara klakson, derum kendaraan bermotor, teriakan tukang parkir dan kenek angkot beradu menjadi satu. Burung-burung tak mungkin kerasan tinggal di kota. Mungkin mereka bermigrasi ke desa-desa, sementara orang-orang desa berurbanisasi ke kota-kota.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sajak pagi hari adalah suara derum kendaraan bermotor, suara teriakan ibu membangunkan anaknya, pekik kaget saat seseorang menyadari dirinya terlambat bangun. Jika kesiangan dan telat masuk kantor, itu artinya uang makan siang akan dipotong atau bahkan hilang, tergantung berapa menit kamu telat tiba di kantor. Siapa juga yang sempat memperhatikan langit? Kecuali hujan turun, manusia-manusia modern mana sempat memperhatikan langit?&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Penghiburan saya setiap kali memulai hari adalah secangkir kopi panas atau sekotak kopi siap minum yang saya ambil dari kulkas. Bukan udara pagi, sinar matahari, burung bernyanyi, embun di daun, atau langit yang biru cerah. Saya malah lebih mengapresiasi langit malam. Meski jarang, tapi kadang-kadang masih terlihat bintang. Rembulan lebih sering muncul. Kadang berbentuk sabit, kadang purnama. Kadang seekor kelelawar masih melintas, terbang naik-turun, tinggi-rendah, entah kebingungan atau kesepian. Terkadang terlihat kelip beberapa pesawat terbang membelah langit malam.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bahkan sejak saya masih kecil pun, saya paling susah kalau disuruh bangun pagi. Sejak dulu, sajak pagi hari berarti menggeliat beberapa kali, memicingkan mata sebentar, lalu bersiap-siap untuk tidur lagi. Saya bukan manusia pagi. Memang ada kalanya bangun pagi tidak lagi menjadi masalah besar. Tapi, sejujurnya saya tidak pernah benar-benar mengapresiasi pagi hari. Kecuali hujan turun, tidak ada yang puitis dari pagi hari.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Saya memang bukan manusia pagi; tapi saya tahu apa yang saya katakan ini benar. Sajak pagi hari sudah berganti. Bagi saya, alarm bunyi dan bersiap menikmati kopi. Apa sajak pagi harimu?&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5575715850572509013-6548955982602982404?l=slusman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://slusman.blogspot.com/feeds/6548955982602982404/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5575715850572509013&amp;postID=6548955982602982404" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default/6548955982602982404?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default/6548955982602982404?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://slusman.blogspot.com/2011/12/sajak-pagi-hari-telah-berganti.html" title="Sajak Pagi Hari Telah Berganti" /><author><name>Selvia Lusman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08512229134736619751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUYESX0zeCp7ImA9WhRQFEw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5575715850572509013.post-195475136528002171</id><published>2011-12-09T14:50:00.001+07:00</published><updated>2011-12-09T14:51:48.380+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-09T14:51:48.380+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Review Serial" /><title>Belajar Tentang Hidup dari Serial Last Christmas (8)</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Episode 8&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Haruki menceritakan masalahnya yang terkait dengan Aoi dan Hitomi kepada Sachiko. Ia juga menjelaskan pada Aoi bahwa Hitomi sekarang ini hanya ia anggap teman. Aoi sendiri sedang dalam masalah. Temannya, Shiho berhutang dengan mencatut namanya, sehingga kini Aoi ditagih hutang oleh debt collector. Belum lagi Higaki yang telah berubah pikiran, kini ganti mengejarnya. Higaki menolak kembali pada Fujisawa padahal gadis itu telah membatalkan rencana kepergiannya ke New York dan bersedia menikahi Higaki. Tentu saja, Aoi menolak pendekatan Higaki. Fujisawa yang kecewa akhirnya meneruskan rencananya untuk berangkat ke New York.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Takase yang tidak rela jika Aoi diperalat oleh Shiho menceritakan masalah Aoi pada Haruki. Untuk membantu melunasi hutang Shiho, Aoi terpaksa meminjam uang dari Higaki. Tanpa sepengetahuan Haruki, Hitomi memberitahu Aoi bahwa ia masih mencintai pria itu. Hitomi juga mengiba pada Haruki sambil menangis, meminta pria itu untuk meninggalkan Aoi dan kembali padanya. Haruki menolak permintaan Hitomi dan berjalan pulang sambil menembus hujan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aoi akhirnya menyadari bahwa melunasi hutang Shiho tidak akan membuatnya berubah. Ia pun menemui Shiho dan memberitahukan keputusannya. Shiho mengejutkan Aoi saat ia bercerita bahwa Haruki telah lebih dulu datang padanya dan memberitahunya bahwa Aoi tidak akan membantu melunasi hutangnya. Mendengar hal itu, Aoi pun bermaksud mengembalikan uang yang dipinjamnya dari Higaki.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hitomi masih berusaha mendapatkan Haruki kembali. Ia meneleponnya, tapi yang bersangkutan sedang sibuk bermain bowling melawan Shintani. Jika ia berhasil mengalahkan Shintani, maka Shintani setuju untuk menikahi Takase. Hitomi akhirnya bisa menerima kenyataan bahwa Haruki tidak akan kembali padanya. Higaki yang belakangan juga menyadari kesalahannya lalu menyusul Fujisawa ke New York.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aoi yang kembali melakukan check up kesehatan meminta dokternya untuk tidak memberitahu Haruki hasil pemeriksaannya. Sementara itu, pemilik apartemen yang ditinggali oleh Aoi dan Haruki jadi melakukan renovasi dan mencopot pintu yang menghubungkan kedua apartemen mereka dan menggantinya dengan dinding.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Mari belajar dari Takase Ayaka:&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Terkadang orang-orang di sekeliling kita adalah orang-orang yang demikian baiknya, sehingga tidak sadar tengah dimanfaatkan. Mereka tidak bisa bersikap tegas dan berkata "tidak". Takase adalah orang yang jeli melihat hal itu. Ia yang menjadi "penyambung lidah" bagi Aoi dan Haruki. Ia yang memberitahu Haruki bahwa Shiho memperalat Aoi untuk melunasi hutangnya, sehingga Haruki bisa mengambil inisiatif mendatangi Shiho lebih dulu, mendahului Aoi. Sedikit-banyak, hal ini mungkin menginspirasi Haruki bahwa ia tidak boleh bersikap terlalu baik pada Hitomi, agar tidak menimbulkan salah tafsir.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5575715850572509013-195475136528002171?l=slusman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://slusman.blogspot.com/feeds/195475136528002171/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5575715850572509013&amp;postID=195475136528002171" title="1 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default/195475136528002171?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default/195475136528002171?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://slusman.blogspot.com/2011/12/belajar-tentang-hidup-dari-serial-last.html" title="Belajar Tentang Hidup dari Serial Last Christmas (8)" /><author><name>Selvia Lusman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08512229134736619751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;DU4MQXw5eyp7ImA9WhRSF0o.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5575715850572509013.post-2114505569741240762</id><published>2011-11-20T15:33:00.000+07:00</published><updated>2011-11-20T15:33:00.223+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-11-20T15:33:00.223+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Review Serial" /><title>Belajar Tentang Hidup dari Serial Last Christmas (7)</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Episode 7&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hubungan Aoi dan Haruki mengalami ujian saat Hitomi, eks kekasih Haruki meneleponnya. Tak hanya itu, orang tua Hitomi bahkan tiba-tiba datang ke apartemen Haruki dengan membawa cucu mereka dan mengklaim bahwa bayi itu adalah hasil buah cinta antara Haruki dan Hitomi di masa lalu. Mereka memaksa Haruki untuk mengurusnya sementara Hitomi tengah berada di Hongkong. Aoi dan Haruki pun jadi kerepotan saat bergantian mengurus bayi Hitomi yang terus menangis. Keduanya kurang tidur karena terus terjaga untuk menenangkan sang bayi. Merasa kewalahan, Haruki akhirnya minta bantuan Sachiko untuk mengurusnya. Rekan sekantor mereka pun mengira kalau Haruki dan Aoi diam-diam telah lama menjalin hubungan hingga memiliki anak. Keadaan makin kisruh ketika Fujisawa melihat Higaki memeluk Aoi saat menghiburnya. Tak ingin menyakiti Aoi, Fujisawa pun bertanya pada Higaki tentang perasaan Aoi terhadapnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hitomi yang akhirnya muncul mengambil kembali bayinya dan mengatakan pada Haruki bahwa dia bukan ayah dari anaknya. Masalah tidak langsung selesai karena suami Hitomi yang seorang fotografer berperangai buruk dipekerjakan oleh perusahaan tempat Haruki bekerja untuk menangani pemotretan untuk iklan. Saat suami Hitomi menghinanya, Haruki pun kena jotos karena membela Hitomi. Aoi yang merasa menjadi penghalang bersatunya kembali Haruki dan Hitomi lalu memutuskan hubungannya dengan Haruki.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Mari belajar tentang hidup dari Haruki Kenji:&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Meski sempat kena pukul oleh suami Hitomi yang bertingkah menyebalkan, Haruki tetap profesional menjaga hubungannya dengan suami Hitomi yang notabene adalah juga rekan kerjanya. Ia tidak balas memukul, justru bersikap dewasa dan masih bersedia bekerjasama agar perusahaan tidak dirugikan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5575715850572509013-2114505569741240762?l=slusman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://slusman.blogspot.com/feeds/2114505569741240762/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5575715850572509013&amp;postID=2114505569741240762" title="1 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default/2114505569741240762?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default/2114505569741240762?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://slusman.blogspot.com/2011/11/belajar-tentang-hidup-dari-serial-last_20.html" title="Belajar Tentang Hidup dari Serial Last Christmas (7)" /><author><name>Selvia Lusman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08512229134736619751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;DE4NRn86fCp7ImA9WhRXFUk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5575715850572509013.post-3471475330808086583</id><published>2011-11-19T15:30:00.000+07:00</published><updated>2011-12-22T16:43:17.114+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-12-22T16:43:17.114+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Review Serial" /><title>Belajar Tentang Hidup dari Serial Last Christmas (6)</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Episode 6&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aoi bermaksud membuatkan sup untuk Haruki, tapi hasilnya justru "bencana" yang terjadi di dapur. Saat membahas "bencana" itu, Haruki tanpa sengaja melihat ke peta yang dia pasang di balik pintu, maka mereka pun lalu membuat keputusan untuk bersama-sama pergi ke Kanada.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Saat Aoi menemani Haruki menjenguk ibunya di rumah sakit, ibu Haruki bercerita tentang kisah nama Kenji yang adalah cinta pertama dari ibu Kenji, seorang pria bertangan besar yang tak pernah ia temui lagi. Aoi pun tergerak untuk mengatur kencan ganda antara dia dan Haruki, dan ibu Haruki dengan dokter yang merawatnya yang ia minta berpura-pura sebagai Kenji, cinta pertama ibu Haruki yang telah lama menghilang.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Shintani mengeluhkan masalahnya pada Haruki bahwa ia tidak bisa mengenalkan Takase pada keluarganya karena gadis itu berasal dari keluarga miskin. Hal itu tanpa sengaja didengar juga oleh Takase dan Hayama yang lalu membela Takase.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Haruki meminta Aoi untuk pergi ke Kanada bersamanya pada hari Natal berikutnya. Aoi menjawab bahwa Haruki akan sangat sibuk, tapi Haruki meyakinkannya bahwa mereka akan mencari jalan keluarnya. Aoi pun setuju dan menghabiskan malam bersama Haruki dan keesokan paginya menyiapkan sarapan untuknya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Higaki yang tanpa sengaja menemukan surat yang dikirim sahabat dari almarhum tunangan Fujisawa berikut surat dari almarhum yang ditulis sebelum kematiannya membuatnya marah karena Fujisawa berniat menetap di New York selama setahun. Setelah bertengkar dengan Higaki, Fujisawa pun berlari pergi sambil menangis. Aoi berusaha menengahi dengan mengejarnya dan memberitahu Fujisawa bahwa Higaki akan selalu mencintainya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah gagal menyabotase rencana Shintani yang menyewa seorang gadis untuk berpura-pura menjadi kekasihnya untuk diperkenalkan pada orang tuanya, Hayama lalu meminta Shintani untuk menikahi Takase dan meyakinkannya bahwa gadis itu adalah gadis yang baik.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Haruki sudah lebih dulu membeli tiket untuk perjalanan ke Kanada Natal berikutnya bersama Aoi. Tak dinyana eks kekasihnya tiba-tiba muncul dan mencoba menjelaskan padanya alasan mengapa dulu ia meninggalkan Haruki. Tanpa menggubris penjelasan itu, Haruki segera berlalu dan menunggu Aoi. Sementara yang ditunggunya tengah berusaha menyelesaikan lukisan pohon Natal yang dibuat oleh Fujisawa. Berhubung Aoi tidak punya bakat melukis, hasilnya justru berantakan, sehingga mau ataupun tidak, Higaki turun tangan untuk membantu menyelesaikan lukisan itu. Belakangan Higaki malah berusaha menahan Aoi untuk terus menghabiskan waktu bersamanya karena ia merasa kesepian setelah kepergian Fujisawa.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Mari belajar tentang hidup dari Hayama Tappei:&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Meski ia sebenarnya mencintai Takase, tapi Hayama tanpa ragu menolong gadis itu dengan meminta Shintani untuk menikahinya. Mengesampingkan perasaannya sendiri, ia justru meyakinkan Shintani bahwa Takase adalah gadis yang baik meski berasal dari keluarga miskin.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5575715850572509013-3471475330808086583?l=slusman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://slusman.blogspot.com/feeds/3471475330808086583/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5575715850572509013&amp;postID=3471475330808086583" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default/3471475330808086583?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default/3471475330808086583?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://slusman.blogspot.com/2011/11/belajar-tentang-hidup-dari-serial-last_19.html" title="Belajar Tentang Hidup dari Serial Last Christmas (6)" /><author><name>Selvia Lusman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08512229134736619751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;Dk8CQ3s_fSp7ImA9WhRSFk0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5575715850572509013.post-1718991763075440214</id><published>2011-11-18T15:24:00.001+07:00</published><updated>2011-11-18T15:27:42.545+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-11-18T15:27:42.545+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Review Serial" /><title>Belajar Tentang Hidup dari Serial Last Christmas (5)</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Episode 5&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Saat bicara dengan Haruki di telepon, Sachiko mengatakan bahwa Haruki tidak menyadari bahwa dia menyimpan perasaan khusus terhadap Aoi. Karena itu saat bertemu Aoi, Haruki pun jadi merasa canggung. Aoi mengira kecanggungan Haruki disebabkan dia sebelumnya meminjam bahu Haruki untuk bersandar; tapi tak lama hubungan keduanya kembali normal seperti biasanya. Sementara itu Higaki melamar Fujisawa yang setelah menerima sepucuk surat dari almarhum tunangannya memilih untuk menyembunyikan hal yang mengganggu pikirannya itu dari Higaki.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Di tempatnya bekerja, tiba-tiba beredar rumor bahwa Aoi mendapatkan posisi sekretaris karena bersedia tidur dengan Shintani. Haruki yang mengetahui rumor itu mencoba memberitahu Aoi. Sayangnya belum sempat ia memberitahu Aoi, gadis itu sudah telanjur mengetahuinya dari orang lain. Aoi pun mencoba bersikap tegar menghadapi cobaan itu. Takase yang prihatin menanyakan padanya apakah ia baik-baik saja, tapi rekannya segera mengingatkannya untuk menjauhi Aoi; kalau tidak, rekan-rekan yang lain akan menganggap dirinya sama dengan Aoi.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sejak kabar burung itu beredar, Aoi pun tersudutkan. Saat penyakitnya kambuh dan dia terjatuh ke lantai, tak seorang pun bersedia menolongnya. Hanya Haruki yang kebetulan melihatnya terkapar di lantai lalu mengantar Aoi pulang dan membuatkan makan malam.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Meski berusaha tabah, Aoi akhirnya memutuskan untuk berhenti dan pindah. Niatnya itu dicegah oleh Haruki yang mengatakan padanya bahwa Aoi akan menempatkannya pada situasi yang sulit jika ia harus menjalani hidupnya tanpa Aoi. Mendengar pernyataan Haruki, Aoi pun tak kuasa menahan tangisnya. Ia berujar bahwa ia masih menyimpan hal yang tak diketahui Haruki. Perkataan itu mendorong Haruki untuk menemui dokter yang merawat Aoi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tak ingin Aoi menderita, Haruki pun mengancam Shintani. Dia meminta atasannya itu untuk kembali mengembalikan Aoi ke posisinya semula. Jika Shintani menolak, ia mengancam akan berhenti juga. Saat Aoi mengetahui tentang kegigihan Haruki saat membelanya, dia pun tidak bisa berkata-kata dan langsung mencarinya. Sayangnya Haruki yang sedang sibuk menangani proyek yang dipercayakan kepadanya telah lebih dulu meninggalkan kantor. Aoi pun bertanya pada Sachiko yang lalu mengajaknya menemui ibu Haruki di rumah sakit. Setelah mendapat keterangan dari ibu Haruki, Aoi pun langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Apalagi perkataan yang diucapkan Sachiko saat siaran telah menggugah hatinya. Perjuangan cinta juga dialami Hayama yang hampir saja berkencan dengan gadis yang telah lama ia sukai, sampai ia menyadari bahwa Takase yang sebenarnya ia inginkan. Ia berusaha menggagalkan acara kencan Takase dengan Shintani namun gagal.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aoi memakai alasan mengantarkan sweater hasil rajutan ibu Haruki untuk menemui laki-laki itu. Haruki yang masih bingung membuat Aoi salah mengira bahwa Haruki tidak merasakan hal yang sama seperti yang ia rasakan. Aoi pun berlari pulang. Saat Haruki mengejarnya, Aoi pun mengucapkan selamat ulang tahun. Di bawah cahaya lampu dari pohon yang menaungi mereka, Aoi dan Haruki pun mengabsahkan hubungan mereka dengan ciuman panjang, lalu bersama-sama mendorong mobil Aoi yang mogok.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Mari belajar tentang hidup dari Haruki Kenji:&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Meski mengkhawatirkan kesehatan Aoi dan memperhatikan ibunya yang dirawat di rumah sakit, Haruki tetap fokus mengerjakan proyek yang dipercayakan padanya. Ia bahkan tetap giat bekerja hingga melupakan hari ulang tahunnya.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5575715850572509013-1718991763075440214?l=slusman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://slusman.blogspot.com/feeds/1718991763075440214/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5575715850572509013&amp;postID=1718991763075440214" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default/1718991763075440214?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default/1718991763075440214?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://slusman.blogspot.com/2011/11/belajar-tentang-hidup-dari-serial-last_18.html" title="Belajar Tentang Hidup dari Serial Last Christmas (5)" /><author><name>Selvia Lusman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08512229134736619751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;DE8MQX8-fCp7ImA9WhRTFEo.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5575715850572509013.post-1491811795962288351</id><published>2011-11-05T14:08:00.000+07:00</published><updated>2011-11-05T14:08:00.154+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-11-05T14:08:00.154+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Review Serial" /><title>Belajar Tentang Hidup dari Serial Last Christmas (4)</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Episode 4&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Suami Sachiko, Sugimura mendatangi apartemen Haruki untuk mencari isterinya dengan membawa anjingnya yang dinamai Bobby. Saat Sugimura tanpa sengaja menemukan name tag milik Haruki, dia baru menyadari bahwa apa yang dipikirkannya tentang Haruki dan isterinya ternyata keliru. Haruki malah menyempatkan membuatkan makan malam untuk Sachiko dan menjagai Bobby yang lupa dibawa pemiliknya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sugimura berusaha berbaikan dengan isterinya dengan mengirimkan surat yang lalu dibacakan oleh Sachiko yang seorang penyiar radio di saat siaran. Melalui surat itu Sugimura berusaha mengingatkan Sachiko akan kenangan mereka berdua. Sachiko yang merasa tersentuh lalu menelepon suaminya. Dia lalu bertanya apakah Sugimura masih ingat judul lagu yang diputar saat kencan pertama mereka. Saat suaminya menjawab dengan benar, Sachiko pun memaafkan suaminya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Haruki lalu meyakinkan Sugimura untuk segera menemui Sachiko. Dengan disaksikan oleh Haruki dan Bobby, Sugimura dan Sachiko pun memulihkan hubungan mereka.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Saat Aoi dan Haruki tengah menyantap hidangan yang tadinya dimaksudkan untuk Sachiko, Aoi tiba-tiba terkapar di lantai. Haruki tidak langsung menyadarinya. Begitu sadar penyakit Aoi kambuh, dia segera melarikan Aoi ke rumah sakit. Sayangnya baik Aoi maupun dokternya menolak memberitahu Haruki tentang penyakit yang diderita Aoi dan berkilah hanya flu biasa. Selama sakit, Aoi terpaksa beristirahat dan tidak pergi bekerja. Saat Haruki menanyakan hasil pemeriksaan kesehatan yang dijalani Aoi, dia merasa sangat lega saat Aoi mengatakan bahwa hasilnya baik. Menyadari bahwa Haruki benar-benar peduli padanya, dia pun bertanya apakah boleh meminjam sebentar bahu Haruki untuk bersandar.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Mari belajar tentang hidup dari Haruki Kenji:&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Meski sempat dicurigai oleh Sugimura bahwa dia berselingkuh dengan Sachiko, tapi Haruki tidak sakit hati. Sebaliknya dia malah berusaha menolong kedua temannya untuk berbaikan. Dia juga masih menyempatkan diri untuk memperhatikan Aoi.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5575715850572509013-1491811795962288351?l=slusman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://slusman.blogspot.com/feeds/1491811795962288351/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5575715850572509013&amp;postID=1491811795962288351" title="2 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default/1491811795962288351?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default/1491811795962288351?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://slusman.blogspot.com/2011/11/belajar-tentang-hidup-dari-serial-last_05.html" title="Belajar Tentang Hidup dari Serial Last Christmas (4)" /><author><name>Selvia Lusman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08512229134736619751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;CkMHRnsyfyp7ImA9WhRTE0Q.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5575715850572509013.post-6269915585886566028</id><published>2011-11-04T14:07:00.000+07:00</published><updated>2011-11-04T14:07:17.597+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-11-04T14:07:17.597+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Review Serial" /><title>Belajar Tentang Hidup dari Serial Last Christmas (3)</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Episode 3&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Aoi yang prihatin dengan Hayama Tappei (Moriyama Mirai) yang gajinya dirampas oleh Takase Ayaka (Megumi) berniat menolongnya dengan menjodohkan Takase dengan Shintani. Aoi juga tanpa sengaja bertemu dengan Sachiko di rumah sakit. Aoi pun bertanya padanya mengenai suaminya. Mereka ternyata telah menikah selama tiga tahun. Aoi pun mendesak Sachiko untuk memberitahu Haruki bahwa ia telah menikah. Aoi juga berusaha menolong Higaki yang menaruh hati pada Fujisawa Ritsuko (Katase Nana). Sebenarnya Fujisawa juga menaruh hati pada Higaki, tapi ia merasa bersalah pada almarhum tunangannya. Karena itu, Fujisawa menolak untuk jatuh cinta lagi. Aoi mencoba menolong kedua rekan kerjanya itu agar dapat bersama sebagai pasangan dan tidak menyerahkan begitu saja kesempatan mereka untuk meraih kebahagiaan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Haruki merasa heran saat Aoi tiba-tiba menangis. Aoi sebenarnya mencintai Higaki, tapi saat ia menyatakan perasaannya pada Higaki, pria itu tidak mempercayainya dan mengira ia hanya bercanda. Itu sebabnya dia tiba-tiba menangis. Hal ini segera disadari Haruki yang lalu mencoba menghibur Aoi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sementara itu, Takase yang mendapati Hayama kelaparan setelah seluruh uangnya ia rampas, akhirnya mengundang Hayama untuk makan malam bersama di rumahnya. Hayama baru tahu bahwa Takase menjadi tulang punggung bagi ayah dan ketiga adiknya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Suami Sachiko yang mengira bahwa Haruki berselingkuh dengan isterinya mendatangi apartemen Haruki dalam keadaan marah. Saat Shintani yang tengah berada di apartemen Haruki membukakan pintu untuknya, ia langsung menjadi sasaran kemarahan. Suami Sachiko yang tengah dibakar cemburu serta-merta meninju Shintani sebab ia salah mengira bahwa Shintani adalah Haruki.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Belajar dari hidup dari Aoi Yuki:&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Meski Aoi diam-diam juga mencintai Higaki seperti Fujisawa, tapi dia justru membantu lelaki yang dia cintai untuk mengejar cinta gadis lain, tanpa mementingkan perasaannya sendiri. Dia juga masih menyempatkan menolong Hayama dan menasihati Sachiko. Meski memiliki masalah, Aoi tidak bersikap egois dan tetap peduli pada teman-temannya dan mau menolong mereka tanpa pamrih.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5575715850572509013-6269915585886566028?l=slusman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://slusman.blogspot.com/feeds/6269915585886566028/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5575715850572509013&amp;postID=6269915585886566028" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default/6269915585886566028?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default/6269915585886566028?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://slusman.blogspot.com/2011/11/belajar-tentang-hidup-dari-serial-last.html" title="Belajar Tentang Hidup dari Serial Last Christmas (3)" /><author><name>Selvia Lusman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08512229134736619751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0ENQnkyfSp7ImA9WhdUE0o.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5575715850572509013.post-6656181448150753187</id><published>2011-09-30T16:41:00.000+07:00</published><updated>2011-09-30T16:41:33.795+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-09-30T16:41:33.795+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Review Serial" /><title>Belajar Tentang Hidup dari Serial Last Christmas (2)</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Episode 2&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah rekan-rekan sekantor mereka salah paham saat Aoi yang toiletnya rusak memaksa menumpang mandi di toiletnya, Haruki pun berinisiatif menjodohkan Aoi dengan Shintani. Supaya tidak kentara, Haruki mengajak Shibata Sally/Sachiko (Ryo) untuk melakukan kencan ganda bersama Aoi dan Shintani. Sayangnya Aoi dengan tegas menyatakan bahwa ia tidak menyukai Shintani.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah Shintani tahu bahwa Higaki Naoya (Tamaki Hiroshi) adalah eks kekasih Aoi, maka ia pun bermaksud memindahkan Higaki ke cabang lain karena ia khawatir Aoi masih menyimpan perasaan untuk mantan kekasihnya itu. Tidak ingin Higaki ikut terseret ke dalam masalahnya, Aoi pun setuju untuk pergi kencan dengan Shintani. Belakangan justru Haruki yang mengkhawatirkan Aoi. Ia takut jika Shintani memakai posisinya untuk mengintimidasi Aoi agar mau tidur dengannya. Aoi sendiri tidak khawatir. Ia meyakinkankan Haruki bahwa ia tahu bagaimana menghadapi Shintani tanpa harus tidur dengan atasannya. Masih&amp;nbsp;mencemaskan Aoi, Haruki langsung menariknya meninggalkan hotel tempat Shintani menunggu.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Saat model untuk iklan perusahaan mereka terlambat datang, maka Haruki dan Aoi didaulut untuk menjadi model dadakan dan berpose menirukan Jack dan Rose dalam film Titanic. Menyadari bahwa Haruki adalah pria yang baik, Aoi pun berpikir bahwa Sachiko dan Haruki cocok untuk satu sama lain, tapi Aoi benar-benar terkejut saat ia tahu bahwa Sachiko ternyata telah bersuami.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Mari belajar tentang hidup dari Haruki Kenji:&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Meski awalnya ia menjodohkan Aoi dengan Shintani untuk melepaskan diri dari masalah saat rekan-rekan sekantornya mengira ia memiliki hubungan khusus dengan Aoi, tapi belakangan ia merasa tidak tenang. Mengikuti hati nuraninya, ia mengambil inisiatif untuk "menyelamatkan" Aoi dari Shintani.&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5575715850572509013-6656181448150753187?l=slusman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://slusman.blogspot.com/feeds/6656181448150753187/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5575715850572509013&amp;postID=6656181448150753187" title="3 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default/6656181448150753187?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default/6656181448150753187?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://slusman.blogspot.com/2011/09/belajar-tentang-hidup-dari-serial-last_30.html" title="Belajar Tentang Hidup dari Serial Last Christmas (2)" /><author><name>Selvia Lusman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08512229134736619751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0MHQ388eCp7ImA9WhdUE0o.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5575715850572509013.post-3057237565574034453</id><published>2011-09-21T15:13:00.000+07:00</published><updated>2011-09-30T16:37:12.170+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-09-30T16:37:12.170+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Review Serial" /><title>Belajar Tentang Hidup dari Serial Last Christmas (1)</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Saya sebenarnya bukan penggemar berat serial-serial Asia, tapi karena saya sedang kehabisan stok film yang akan ditonton, maka saya pun mulai melirik koleksi film &lt;a href="http://hernyyahya.blogspot.com/"&gt;teman saya&lt;/a&gt; untuk dipinjam. Salah satu serial yang saya lahap dengan senang hati adalah yang satu ini. Tidak seperti serial Korea yang sering membuat saya merasa deja vu atau serial Mandarin yang tidak begitu cocok dengan selera saya yang menyukai plot yang cepat, maka serial yang berasal dari negeri sakura ini menurut saya masih asyik untuk ditonton meski penayangan di negara asalnya sudah berakhir sejak tahun 2004. Berikut sinopsis dan moral cerita yang saya dapat dari episode satu serial Last Christmas:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Episode 1&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Serial ini dibuka dengan scene Haruki Kenji (Oda Yuji) yang tengah berlibur bersama sahabat sekaligus atasannya, Shintani Goro (Ihara Tsuyoshi) dan sekretaris baru Shintani yang bernama Aoi Yuki (Yada Akiko) di Selandia Baru. Scene lalu berganti dengan keheranan Haruki dengan tetangga baru di apartemen di sebelahnya yang ternyata adalah Aoi. Setiap kali ada saja laki-laki yang datang ke apartemen Aoi dan meninggalkan hadiah di depan pintu karena Aoi tidak ada di rumah. Mulanya Haruki merasa terganggu karena Aoi yang mengacaukan sistem listrik di apartemen yang mereka tinggali membuat es kenangan dari salju yang disimpannya dalam kulkas mencair. Belakangan saat Haruki tanpa sengaja menemukan kaset rekaman Aoi dan menontonnya, ia jadi berbalik simpati. Aoi yang menderita penyakit parah diceraikan oleh suaminya yang tidak ingin merawat dan mendampinginya. Itu sebabnya Aoi lalu meneruskan studinya agar bisa menjadi wanita karier yang bisa berdiri sendiri. Haruki pun mencoba menjadi sahabat bagi Aoi, tapi tak urung ia membuat Aoi tersinggung saat Aoi tahu bahwa kebaikan Haruki disebabkan karena penyakit yang dideritanya. Aoi tidak ingin dikasihani. Sebelumnya, Aoi dan Haruki yang sama-sama pernah mengalami kegagalan dalam percintaan membuat taruhan, siapa pun yang berhasil mendapatkan cinta sejati lebih dulu akan ditraktir oleh yang kalah untuk pergi ke Kanada dan melihat aurora. Kedekatan Haruki-Aoi membuat Shintani yang menginginkan Aoi menjadi kekasihnya merasa gusar karena ia mengira Haruki diam-diam menikamnya dari belakang.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Mari belajar tentang hidup dari Aoi Yuki:&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menderita penyakit parah dan diceraikan suaminya akibat penyakitnya tidak membuat Aoi menyerah. Meski sempat frustasi dan bermabuk-mabukan, ia tidak ingin terus mengasihani dirinya sendiri dan menolak rasa iba&amp;nbsp;yang ditujukan kepadanya. Ia malah termotivasi untuk mengikuti mimpinya dan akhirnya bisa menjadi sekretaris. Ia juga terus melanjutkan hidup dan tidak lagi menangisi masa lalu dan nasibnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Berhubung waktu saya untuk blogging semakin sempit saja, saya baru akan menuliskan sinopsis dan moral cerita episode dua dan seterusnya di dalam postingan-postingan saya berikutnya.&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5575715850572509013-3057237565574034453?l=slusman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://slusman.blogspot.com/feeds/3057237565574034453/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5575715850572509013&amp;postID=3057237565574034453" title="2 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default/3057237565574034453?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default/3057237565574034453?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://slusman.blogspot.com/2011/09/belajar-tentang-hidup-dari-serial-last.html" title="Belajar Tentang Hidup dari Serial Last Christmas (1)" /><author><name>Selvia Lusman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08512229134736619751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;CU8DSH84eCp7ImA9WhdVEE0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5575715850572509013.post-4156854075832606001</id><published>2011-09-14T19:37:00.000+07:00</published><updated>2011-09-14T19:37:59.130+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-09-14T19:37:59.130+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Film (Review)" /><title>Review Film Larry Crowne</title><content type="html">&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/d/df/Larry_Crowne_Poster.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/d/df/Larry_Crowne_Poster.jpg" width="134" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Film ini bercerita tentang Larry Crowne (Tom Hanks) yang menghabiskan dua puluh tahun masa hidupnya di angkatan laut sebelum akhirnya bekerja di perusahaan Newmark. Mencalonkan dirinya sendiri sebagai “employee of the month”, Larry ternyata malah dipecat karena dianggap tidak memenuhi syarat untuk mengiklankan produk sebab dia sama sekali tidak pernah kuliah. Setelah melamar kerja di berbagai tempat dan masih juga gagal, tetangganya, Lamar (Cedric the Entertainer) mengusulkan padanya untuk mengikuti kelas berbicara dan kelas ekonomi. Maka Larry pun mengikuti kelas berbicara yang diajarkan oleh Mercedes Tainot (Julia Roberts) sambil bekerja sebagai waiter. Tadinya Mercedes berniat membubarkan kelasnya yang pesertanya kurang dari sepuluh orang, tapi batal, setelah Larry yang hadir terlambat menggenapi jumlah pesertanya menjadi sepuluh orang.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mercedes sendiri sebenarnya merasa tidak bahagia dengan hidupnya. Suaminya, Dean Tainot (Bryan Cranston) adalah pecandu pornografi yang diaksesnya melalui internet, membuat Mercedes merasa gusar oleh tingkah laku suaminya. Puncaknya saat mereka bertengkar di dalam mobil yang dikemudikan Dean yang dipicu karena hal sepele. Dean meminta Mercedes untuk tidak meletakkan kotak karton berisi kue keju di dashboard mobil. Mercedes yang jengkel setelah Dean menghinanya akhirnya meminta diturunkan di jalan. Karena itu dalam kondisi mabuk, Mercedes pun berciuman dengan Larry yang memang jatuh cinta padanya setelah mengikuti kelas yang diajarkan Mercedes. Sayangnya Mercedes meminta Larry untuk merahasiakan hal itu karena dapat mempengaruhi posisinya sebagai guru Larry. Di akhir cerita, Larry menyelesaikan kelas dan mendapat nilai A+ dalam ujian akhir yang diberikan Mercedes. Karena kini Larry tidak menjadi muridnya lagi, Mercedes pun mengikuti kata hatinya dan melanjutkan hubungannya dengan Larry.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Untuk sebuah film komedi, film ini cukup membosankan dan dialognya pun tidak memancing tawa. Saya sendiri hampir ketiduran saat menonton film ini. Scene saat Mercedes minta diturunkan di jalan hanya karena dipicu oleh kue keju bagi saya terasa berlebihan dan tadinya saya malah mengira satu-satunya dialog cerdas dalam film ini adalah saat Dean yang mabuk pulang ke rumah sambil bergumam, “Oh, God, I need coffee”. Untungnya di bagian akhir film Larry memberikan presentasi tentang George Bernard Shaw dan menghubungkannya dengan angkatan laut, keliling dunia, pasta, dan kentang. Setidaknya saya harus berterimakasih pada Tom Hanks dan Nia Vardalos, salah satu dari mereka (atau keduanya) yang sudah merangkai kalimat presentasi Larry yang terkesan agak dipaksakan, tapi setidaknya masih catchy. Jadi jika Anda tengah depresi dan berpikir bahwa menonton film komedi mungkin akan membantu mengurangi tingkat depresi Anda, percayalah film ini bukan salah satu alternatif yang harus Anda pilih. Tapi, jika Anda penggemar berat Julia Roberts atau Tom Hanks dan tidak pernah melewatkan akting mereka, ya silakan tonton dan rasakan sendiri betapa garing humor yang dijejalkan sepanjang 99 menit ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
* Gambar dipinjam dari&amp;nbsp;&lt;a href="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/d/df/Larry_Crowne_Poster.jpg"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5575715850572509013-4156854075832606001?l=slusman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://slusman.blogspot.com/feeds/4156854075832606001/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5575715850572509013&amp;postID=4156854075832606001" title="4 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default/4156854075832606001?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default/4156854075832606001?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://slusman.blogspot.com/2011/09/review-film-larry-crowne.html" title="Review Film Larry Crowne" /><author><name>Selvia Lusman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08512229134736619751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;CUcGRn85eip7ImA9WhdWEEk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5575715850572509013.post-1233889170807522101</id><published>2011-09-03T16:43:00.000+07:00</published><updated>2011-09-03T16:43:47.122+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-09-03T16:43:47.122+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tips" /><title>Galat bX-fa9wwp</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jika sebelumnya pengguna blogspot biasa masuk (sign in) dari www.blogger.com tanpa pernah ada masalah, maka beberapa waktu ini setiap kali mencoba sign in dari www.blogger.com akan muncul kode galat&amp;nbsp;bX-fa9wwp. Sebelumnya saya juga tidak tahu cara mengatasinya, tapi setelah mencaritahu di sana-sini, solusinya cukup sederhana, yaitu sebagai berikut:&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Sign in dari &lt;a href="http://draft.blogger.com/home"&gt;http://draft.blogger.com/home&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ganti bahasa jadi bahasa Inggris&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ganti kembali bahasa ke bahasa yang Anda gunakan (misal: bahasa Indonesia)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Untuk membuat postingan baru, klik go to post list&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Untuk membuat label, klik labels (ada di sebelah kanan)&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;
&lt;div align="justify"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5575715850572509013-1233889170807522101?l=slusman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://slusman.blogspot.com/feeds/1233889170807522101/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5575715850572509013&amp;postID=1233889170807522101" title="4 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default/1233889170807522101?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default/1233889170807522101?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://slusman.blogspot.com/2011/09/galat-bx-fa9wwp.html" title="Galat bX-fa9wwp" /><author><name>Selvia Lusman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08512229134736619751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0cDSH89eSp7ImA9WhdQGU4.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5575715850572509013.post-7779381621984365867</id><published>2011-08-21T19:49:00.001+07:00</published><updated>2011-08-21T19:51:19.161+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-08-21T19:51:19.161+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Puisi" /><title>AKU ADALAH SEBUAH BOM WAKTU</title><content type="html">&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://www.mobileapples.com/Assets/Content/Wallpapers/bomb_qqchrxzo.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em; text-decoration: none;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://www.mobileapples.com/Assets/Content/Wallpapers/bomb_qqchrxzo.jpg" width="150" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Aku adalah sebuah bom waktu yang hampir meledak,&lt;br /&gt;
&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;saat kau berusaha mengubahku menjadi orang lain.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Aku adalah sebuah bom waktu yang hampir meledak,&lt;/div&gt;&lt;div&gt;saat kau memaksaku mengenakan warna yang lain.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Aku adalah sebuah bom waktu yang hampir meledak,&lt;/div&gt;&lt;div&gt;saat kau kira kau menolongku,&lt;/div&gt;&lt;div&gt;namun nyatanya kau membunuhku hidup-hidup.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Aku adalah sebuah bom waktu yang hampir meledak,&lt;/div&gt;&lt;div&gt;saat kau mengira kau memahami aku,&lt;/div&gt;&lt;div&gt;tapi nyatanya tidak.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kau hanya melihat permukaanku,&lt;/div&gt;&lt;div&gt;tapi bukan kedalaman jiwaku.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kau mengira kau mengenalku,&lt;/div&gt;&lt;div&gt;tapi nyatanya kau asing bagiku.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kau mengira kau tengah menyelamatkanku,&lt;/div&gt;&lt;div&gt;tapi nyatanya kau meracuniku.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saat aku membeku ketika kau raibkan suhu jiwaku,&lt;/div&gt;&lt;div&gt;kau tidak membantu aku.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kau menguburku hidup-hidup,&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;dalam lautan pengharapan,&lt;/div&gt;&lt;div&gt;yang membuatku tak bisa bernapas.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Aku adalah sebuah bom waktu yang hampir meledak,&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sebelum sukmaku hilang, tak lagi berbekas,&lt;/div&gt;&lt;div&gt;berhentilah menekan detonatornya!&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Aku tidak berjanji, aku tidak bersumpah,&lt;/div&gt;&lt;div&gt;jika detik penghabisan tiba,&lt;/div&gt;&lt;div&gt;kumusnahkan diriku,&lt;/div&gt;&lt;div&gt;juga kumusnahkan kamu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div&gt;* Gambar dipinjam dari &lt;a href="http://www.mobileapples.com/Assets/Content/Wallpapers/bomb_qqchrxzo.jpg"&gt;sini&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5575715850572509013-7779381621984365867?l=slusman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://slusman.blogspot.com/feeds/7779381621984365867/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5575715850572509013&amp;postID=7779381621984365867" title="6 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default/7779381621984365867?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default/7779381621984365867?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://slusman.blogspot.com/2011/08/aku-adalah-sebuah-bom-waktu.html" title="AKU ADALAH SEBUAH BOM WAKTU" /><author><name>Selvia Lusman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08512229134736619751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEUMQ3YzeCp7ImA9WhdQGU8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-5575715850572509013.post-9005001939130282122</id><published>2011-08-13T14:39:00.004+07:00</published><updated>2011-08-21T17:24:42.880+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2011-08-21T17:24:42.880+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Review Serial" /><title>Review Serial Moonlight</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/8/8a/Moonlight_series2.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="177" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/8/8a/Moonlight_series2.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Serial yang diciptakan oleh Ron Koslow dan Trevor Munson ini terdiri dari 16 episode. Di negara asalnya (Amerika), serial ini diputar dari September 2007 hingga Mei 2008. Berikut sinopsis Moonlight per episodenya:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Episode 1: No Such Things as Vampires&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Film dibuka dengan prolog dari Mick St. John (Alex O'Loughlin), vampir yang sehari-harinya bekerja sebagai penyelidik privat. Scene lalu beralih ke Beth Turner (Sophia Myles), reporter Buzzwire yang tengah meliput berita tentang wanita yang terbunuh dan jasadnya diletakkan di dekat air mancur oleh pembunuhnya. Keduanya lalu bekerjasama mengusut kasus itu. Beth sendiri berkaitan erat dengan masa lalu Mick. Dua puluh dua tahun sebelumnya saat Beth masih kecil, ia diculik oleh Coraline (Shannyn Sossamon), isteri Mick, vampir yang mengubah Mick sehingga menjadi vampir juga. Mick lalu menolong Beth kecil dan membiarkan isterinya terperangkap di dalam ruangan yang tengah terbakar. Sejak saat itu Mick selalu mengawasi Beth hingga ia dewasa, sedang Beth justru hanya samar-samar saja mengingat kejadian penculikan yang dialaminya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penyelidikan Mick dan Beth membawa mereka kepada tersangka utama, Christian Ellis, seorang profesor di jurusan antroplogi yang mengakui bahwa dirinya adalah vampir dan justru memikat para mahasiswanya untuk bergabung dengan kegiatan diskusi yang diadakannya. Beth pun menyamar sebagai salah satu mahasiswi dan mengikuti mata kuliah yang diberikan Christian. Sementara itu, Josef Kostan (Jason Dohring), teman baik Mick yang juga vampir meminta Mick untuk membunuh Christian karena ulahnya yang memangsa manusia seenaknya dikhawatirkan akan membongkar keberadaan komunitas vampir.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saat Beth diserang oleh Daniel, kaki tangan Christian, maka Mick pun bergegas menolongnya. Benturan di kepala Beth yang dialaminya saat diserang justru mengembalikan ingatannya yang terblokir. Ia kini dapat mengingat dengan jelas bahwa Mick-lah yang menolongnya dua puluh dua tahun yang lalu saat diculik Coraline. Mick yang tidak ingin identitasnya terbongkar berdalih bahwa kepala Beth terbentur sehingga berpikir seperti itu.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Episode 2: Out of the Past&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Episode kedua ini dibuka dengan narasi dari Mick yang bercerita tentang perasaannya terhadap Beth, &lt;i&gt;&lt;b&gt;"Holding her in my arms, it almost feels like it could work between us. But monsters don't get happily ever after."&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; Scene lalu beralih ke Los Angeles pada tahun 1983, di mana klien Mick meminta perlindungan dari suaminya sendiri, Lee Jay Spaulding yang sering menganiayanya. Saat tengah memperingatkan Lee Jay polisi tiba-tiba saja datang sehingga mengejutkan Mick yang lalu melarikan diri. Lee Jay pun tahu kalau Mick bukan manusia, tapi vampir.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Meski Lee Jay terbukti bersalah membunuh dua orang wanita yang salah satunya adalah istrinya sendiri dan kemudian pria itu dipenjarakan, tapi sekeluarnya dari penjara Lee Jay disambut bak selebriti setelah salah satu teman Beth, Julia menulis buku berjudul Wronged Man. Isi buku itu menyatakan bahwa Lee Jay sebenarnya tidak bersalah.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sementara itu Beth memimpikan kejadian dua puluh lima tahun yang lalu saat istri Mick yang juga vampir, Coraline menculiknya. Ia juga mengingat bagaimana Mick menyelamatkannya. Saat temannya memperlihatkan foto detektif yang menangani kasus Lee Jay, Beth pun terkejut saat mengetahui pria itu bernama Mick St John dan wajahnya pun bagai kembaran Mick. Saat Beth bertanya pada Mick, pria itu mengaku sebagai anaknya dan memperingatkan agar Beth dan temannya menjauh dari Lee Jay karena pria itu berbahaya. Beth merasa Mick menyembunyikan sesuatu. Ia lalu mengunjungi Bobby Desmond yang membuat Beth tambah curiga karena narasumbernya mengatakan bahwa Mick tidak memiliki anak.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saat bertemu lagi dengan Mick, Lee Jay pun membalaskan dendamnya pada Mick karena telah memenjarakannya. Ia menusuk Mick dengan pasak lalu menabrakkan kepalanya ke kaca, lalu memfitnah Mick telah menyerangnya. Di kesempatan berikutnya Lee Jay datang ke apartemen Mick dan menembak dirinya sendiri, lalu kembali memfitnah Mick dengan mengatakan bahwa Mick yang telah menembaknya. Mick pun di tengah kepanikannya menemui Beth, tapi Josh, kekasih Beth menolak untuk memberikan tempat persembunyian untuk Mick karena jabatannya sebagai jaksa wilayah.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beth akhirnya mewawancarai Mick dan menyiarkan hasil wawancaranya melalui Buzzwire, media online tempat Beth bekerja. Hal ini membuat Julia marah. Belakangan justru Julia disandera oleh Lee Jay dan akan dibunuh jika Mick tidak mau mengaku bersalah. Mick yang bermaksud menolong Julia terluka parah saat ia ditembak oleh Lee Jay dengan pistol berpeluru perak. Beth pun berinisiatif merobohkan Lee Jay dengan menembaknya di leher hingga tewas. Saat Mick lekas menghilang, Beth pun menyusul Mick. Saat itu Mick tengah menghisap darah dari kantong berisi darah. Meski sempat menghindar, Mick yang tersudut akhirnya mengakui identitasnya yang sebenarnya bahwa ia bukan manusia, tapi vampir.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Episode 3: Dr. Feelgood&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah mengetahui kalau Mick bukan manusia, tapi vampir, Beth tidak menjauhi Mick. Sebaliknya ia justru ingin tahu bagaimana caranya Mick bisa berubah menjadi vampir. Mick tidak langsung memberitahu Beth. Ia bahkan terkesan menghindar dari Beth, tapi tidak bisa terlalu lama karena mereka lagi-lagi harus bekerjasama karena kasus yang sama yang harus mereka tangani. Setelah seorang dokter tanpa sengaja menabrak seorang pria yang ternyata vampir, ia pun digigit hingga berubah menjadi vampir juga yang lalu menyerang orang-orang tak berdosa hingga tewas, termasuk menghisap darah isterinya sendiri hingga tewas. Pada saat melihat jenazah korban penyerangan vampir itulah, Mick bertemu lagi dengan Beth di kamar jenazah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mendapat informasi dari Cleaner (vampir-vampir yang bertugas menghilangkan jejak manusia yang menjadi korban penyerangan vampir), Mick dan Beth lalu menemui Gerald Stovsky, vampir yang telah menggigit Dr Jeff Pollock dan mengubahnya menjadi vampir. Tidak seperti pengakuan awal Gerald, ternyata ia memang sengaja mengubah Jeff menjadi vampir namun gagal menjalankan perannya sebagai "sire" yang seharusnya bisa membantu vampir yang baru diubahnya mengontrol rasa laparnya. Karena tidak ingin Mick membunuh Jeff yang akan ia jadikan "anak", maka Gerald menusuk Mick dengan pasak kayu. Beruntung Beth yang tidak menuruti permintaan Mick untuk menunggu berinisiatif menyusul Mick dan menarik keluar pasak dari tubuh Mick. Beth dan Mick lalu menyusul Jeff ke rumah sakit. Gerald yang datang lebih dulu juga tidak bisa mengarahkan Jeff sehingga Cleaner lalu menangkap Gerald karena telah mengacau. Mick lalu menikam Jeff dan mengkremasinya meski sempat diprotes Beth. Mick menjelaskan bahwa vampir bisa melakukan hal-hal buruk karena tidak bisa mengendalikan nalurinya, hal-hal buruk yang juga pernah ia lakukan dan sangat ia sesali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Belakangan Mick mendatangi apartemen Beth dan&amp;nbsp;menceritakan pada wanita itu bagaimana ia berubah menjadi vampir. Pada tahun 1952 Mick menikahi Coraline, seorang wanita yang ternyata vampir dan mengubahnya menjadi vampir juga setelah ia menikahinya. Mick juga memberitahu Beth bahwa ia manusia pertama yang ia beritahu tentang hal ini karena ia mempercayai Beth.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Episode 4: Fever&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kali ini Mick dimintai bantuannya oleh Josh, kekasih Beth untuk melacak keberadaan Leni Hayes, saksi di sebuah kasus pembunuhan yang melarikan diri dari rumah perlindungan setelah dua orang detektif yang bertugas menjaganya tewas terbunuh. Mick menyanggupi, tapi dengan konflik batin karena ia masih akan bertemu dengan Beth. Dalam monolognya Mick mengungkapkan perasaannya tentang Beth, &lt;b&gt;&lt;i&gt;"Some couples just aren't meant to be together. Take me and Beth. She has a very real boyfriend. And well, after Coraline, I have understandable trust issues. Still, when I see it's Beth calling... I always pick up."&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: auto;"&gt;Dengan insting vampirnya, Mick berhasil melacak keberadaan Leni dan menemukannya. Ia malah sempat ditembak oleh Leni yang mengira Mick adalah suruhan penjahat yang ingin membunuhnya. Nyatanya ada kebocoran informasi yang melibatkan rekan kerja Josh sehingga Mick terpaksa membawa Leni melarikan diri. Mereka terpaksa berjalan menyusuri gurun karena mobil yang mereka pakai untuk melarikan diri telah diledakkan oleh roket dari helikopter yang melacak mereka. Mick yang terluka membutuhkan darah segar untuk mengobati lukanya. Ia takut tidak bisa menahan insting vampirnya untuk memangsa Leni. Beruntung mereka menemukan tempat persembunyian dan Leni berhasil mengontak Beth langsung ke ponselnya. Beth yang sempat mengira Mick dan Leni terbunuh langsung mendatangi tempat mereka sembunyi dan Beth memberikan darahnya untuk dihisap Mick.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Episode 5: Arrested Development&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Sejak kejadian Beth memberikan darahnya untuk menyelamatkan Mick yang terluka, Mick sengaja menghindari Beth, tapi tak urung ia tanpa sengaja berpapasan dengan Josh dan Beth di depan lift saat Beth diantar Josh ke rumah sakit untuk memeriksa lukanya akibat gigitan Mick saat Beth memberikan darahnya untuk Mick. Tidak ingin menyinggung Mick, Beth pun beralasan, &lt;i&gt;&lt;b&gt;"Uh... for this. Josh thought I might have tetanus, you know... from the chain link fence."&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; Josh yang sempat mempertanyakan mengapa Mick tiba-tiba menghilang padahal ia biasanya selalu di sekitar Beth, lalu mengundang Mick untuk merayakan hari jadinya dengan Beth dan pasangan teman Josh. Mick menolak dengan halus, tapi tak urung membatin dalam hati mengenai kejadian tak sengaja saat ia bertemu lagi dengan Beth yang mati-matian ia hindari, &lt;i&gt;&lt;b&gt;"There's what we want... then there are the million coincidences we have no control over. The events that put us in a certain place at a certain time... and changes our lives forever. Who controls these coincidences? All I know, it's not us." &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena menangani kasus menghilangnya seorang gadis, Mick dan Beth kembali bertemu dan bekerjasama. Ternyata yang bertanggungjawab atas terbunuhnya gadis-gadis yang menghilang itu adalah vampir berusia 197 1/2 tahun. Gadis terakhir yang hampir menjadi korbannya adalah Cherish. Beruntung Mick dan Beth berhasil mengamankan Cherish sebelum gadis itu terbunuh dan vampir yang memangsanya mati terpenggal setelah kepalanya tanpa sengaja tertabrak kereta di sebuah wahana permainan. Meski berusaha sembunyi dari Beth, Mick tetap bertemu Beth juga, maka ia pun menyimpulkan, &lt;i&gt;&lt;b&gt;"Maybe it's the sum of a million coincidences we don't quite control that brings us to a particular place at a particular time or maybe it's the choices we make. The actions we take."&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; Di akhir episode ini Beth akhirnya mengikuti kata hatinya dan mengecup Mick di tempat parkir. Meski sempat terkejut, tak urung Mick membalas perlakuan Beth dan dalam hati berujar, &lt;i&gt;&lt;b&gt;"What we want doesn't always matter. But then again sometimes it's all that does."&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Episode 6: B.C.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Mick mendapat permintaan dari Josef, temannya sesama vampir untuk mencari Dolores Maxford Whitaker yang telah mencuri uangnya sebesar setengah juta dollar. Sementara Beth mendapatkan tugas dari atasannya untuk mencaritahu tentang semacam obat yang membuat sejumlah model tiba-tiba meninggal. Salah satu di antaranya adalah model bernama Renee yang tiba-tiba jatuh, kejang-kejang dan akhirnya meninggal. Hal ini memaksa Beth untuk menyusup ke Valis, sebuah klub yang tertutup untuk umum, tempat terakhir yang didatangi Renee sebelum meninggal. Lagi-lagi hal ini membuat Beth berada dalam bahaya, karena klub ini ternyata dikelola oleh vampir. Di sini Beth ditawari cairan bernama Black Crystal yang ternyata adalah darah vampir. Setelah merasai sedikit Black Crystal maka Beth pun tanpa ragu menggoda Mick padahal sebelumnya ia dan Mick setuju bahwa kejadian saat ia mencium Mick di tempat parkir murni adalah sebuah kesalahan. Mick pun berusaha menghilangkan pengaruh Black Crystal dari diri Beth.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dialog yang lucu dari episode ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beth: &lt;i&gt;&lt;b&gt;So this isn't awkard or anything, running into each other in the middle of the night in a morgue.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Mick: &lt;b&gt;&lt;i&gt;Again.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beth: &lt;b&gt;&lt;i&gt;By the way, the whole kiss thing.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Mick: &lt;i&gt;&lt;b&gt;Yeah, the kiss. I was thinking that maybe that was, like an accident.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Beth: &lt;b&gt;&lt;i&gt;Oh, okay.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Josef lalu meminta Mick untuk membungkam aksi Lola, vampir yang mengelola klub Valis karena Josef khawatir kegiatan Lola akan membuat keberadaan vampir lainnya terungkap. Lola yang sedikitnya berusia 500 tahun berniat menjadikan semua manusia menjadi vampir. Di akhir cerita Mick berhasil menghancurkan laboratorium milik Lola berikut pemiliknya dengan meledakkannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Episode 7: The Ringer&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Saat Mick tengah melihat sebuah gedung yang terbakar, ia tanpa sengaja melihat seorang gadis yang sangat mirip Coraline. Gadis itu bernama Morgan Vincent, fotografer yang baru saja diterima bekerja di Buzzwire. Mick yakin kalau Morgan adalah Coraline. Ia menyatakan keyakinannya itu pada Josef dan meminta Josef untuk melihat sendiri Morgan agar ia mempercayai apa yang dikatakan Mick. Meski belakangan Josef mengakui bahwa Morgan memang mirip sekali dengan Coraline, tapi ia menolak mempercayai bahwa Morgan itu Coraline. Sementara itu Morgan minta tolong Beth untuk bicara pada Mick. Ia mengaku terluka saat melawan pencuri yang mencuri kameranya. Ia tanpa sengaja mengambil gambar seorang wanita yang dibunuh saat terjadi kebakaran.Mick menyanggupi untuk menyelidiki kasus bersama Morgan. Korban pembunuhan itu bernama Diane Apple, gadis berusia 27 tahun yang dibunuh oleh Mottola, kekasihnya sendiri yang ternyata vampir. Sebelumnya Mick menuduh Beth cemburu saat ia menanyai Beth tentang Morgan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mick: &lt;b&gt;&lt;i&gt;You're jealous.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Beth: &lt;i&gt;&lt;b&gt;Don't flatter yourself.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Mick: &lt;i&gt;&lt;b&gt;Okay.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Episode 8: 12:04 AM&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Saat Beth tengah meliput para demonstran yang menolak hukuman mati terhadap Donovan Shepard, terpidana kasus pembunuhan, ia lalu menawari Audrey, korban selamat yang orang tuanya dibunuh Donovan saat ia masih berusia 14 tahun pulang ke apartemen bersamanya. Beth lalu menceritakan pengalamannya pada Audrey saat ia diculik sewaktu masih kecil. Ia juga mengajak Audrey menemui Mick karena Beth cemas akan keselamatan Audrey. Para pendukung Donovan yang fanatik dikhawatirkan akan membalas dendam pada Audrey dan melukainya. Mick lalu meminta Beth dan Audrey tinggal di apartemennya karena para pendukung Donovan berhasil melacak alamat tempat Beth tinggal. Dari rekaman video sebelum eksekusi Donovan, Mick menemukan bahwa pendeta yang menemui Donovan telah mengubahnya menjadi vampir demi imbalan sejumlah uang dari Jerry, kenalan Donovan. Nyatanya Donovan justru membunuh Jerry dan meminum darahnya yang ia tampung ke dalam gelas. Saat Donovan mencoba menyerang Beth dan Audrey di apartemen Mick, maka Mick pun mengerahkan segenap kekuatannya untuk melindungi mereka dan membunuh Donovan dengan menebas kepalanya. Sebelumnya Beth yang tidak bisa membendung rasa ingin tahunya menemukan berkas tentang dirinya di apartemen Mick. Ia pun menyadari bahwa Mick lah yang telah menyelamatkannya dari Coraline sewaktu ia masih kecil. Ia kini memahami mengapa ia selalu merasa aman karena diam-diam Mick selalu menjaganya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Episode 9: Fleur de Lis&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Episode kesembilan ini diawali dengan scene Beth yang baru saja menyadari bahwa Morgan itu sebenarnya Coraline. Ia lalu menemui Mick dan saat melihat Coraline di sana, Beth langsung menikamnya. Scene lalu mundur ke 24 jam sebelumnya. Mick yang mendapat tugas dari klien-nya, Mr Hannigan untuk membuntuti Tina, isterinya yang ia duga selingkuh, lalu meminta Morgan membantunya dengan mengambil gambar Tina dan pria yang menjadi selingkuhannya. Ternyata Tina berselingkuh dengan anak tirinya, Owen, putra Hannigan. Mick tanpa sengaja menangkap kata membunuh dalam pembicaraan Tina-Owen. Khawatir jika Hannigan akan membunuh Tina dan selingkuhannya, Mick tidak langsung memberikan hasil jepretan Morgan dan bukti perselingkuhan Tina. Nyatanya justru Tina-Owen yang berencana membunuh Hannigan. Beruntung Mick dan Morgan tiba tepat waktu dan menyelamatkan Hannigan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beth yang curiga akan Morgan lalu menyelidikinya hingga menyusup ke apartemen Morgan. Ia juga berhasil menemukan tempat ia disekap Coraline semasa kecilnya. Maka dengan kemarahan memuncak, Beth pun bergegas ke apartemen Mick dan menikam Coraline yang tengah bersama Mick. Hal ini membuat Mick panik karena sekarang Coraline adalah manusia, bukan vampir. Ia pun berusaha menolong Coraline karena ia ingin tahu cara yang ditempuh Coraline sehingga bisa menjadi manusia lagi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dialog yang menarik dari episode ini: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beth: &lt;i&gt;&lt;b&gt;Memories can be fragile. Fleeting as a whisper one moment, powerful as a scream the next.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Episode 10: Sleeping Beauty&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Coraline sedang dirawat di rumah sakit saat Mick mendapat kabar bahwa sahabatnya, Josef dibunuh saat apartemennya diledakkan. Dari rekaman CCTV di apartemen Josef, Mick mencoba menyelidiki siapa yang sudah membunuh Josef. Mick pun gusar saat Beth datang untuk meliput ke apartemen Josef dengan membawa camera man. Nyatanya Josef tidak mati. Ia justru berada di apartemen Mick dan mengadakan pesta. Mick pun langsung memarahi Josef karena bersikap gegabah di saat nyawanya tengah diincar. Sementara itu Coraline berubah menjadi vampir lagi dan menghisap darah perawat yang bertugas mengukur suhu tubuhnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah Mick berhasil mengorek keterangan dari Martan, pembunuh bayaran yang ditugasi membunuh Josef, mereka mendapatkan nama John Whitley sebagai dalang usaha pembunuhan Josef. John memiliki anak perempuan bernama Sarah. Saat Josef gagal mengubah Sarah menjadi vampir pada tahun 1955, ia lalu mengalami koma dan tidak pernah siuman lagi. Karena cintanya pada Sarah, Josef lalu menjaganya di sebuah rumah sehingga John tidak pernah bertemu anaknya lagi. Beth yang menyelidiki keberadaan John bersama Mick lalu menyerahkan buku harian Sarah pada Josef. Di dalam buku hariannya Sarah mengungkapkan perasaan cintanya pada Josef dan keinginannya untuk menjadi vampir juga agar bisa terus melewati waktu bersama dengan Josef.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dialog yang lucu dan menarik di episode ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beth: &lt;b&gt;&lt;i&gt;Where are you going?&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Mick: &lt;i&gt;&lt;b&gt;New York. I have to stop Josef before he does something stupid.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Beth: &lt;i&gt;&lt;b&gt;I'm going with you.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Mick: &lt;b&gt;&lt;i&gt;Why?&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Beth: &lt;i&gt;&lt;b&gt;to stop you from doing something stupid.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Josef: &lt;b&gt;&lt;i&gt;The longer we were together, the more I began to think that the whole reason that I became a vampire was... You know, so I could live long enough to meet her. You know, it took me over 350 years to find her. And only a year to lose her forever.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Josef: &lt;i&gt;&lt;b&gt;Love can show you a part of yourself you never knew existed...&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Mick: &lt;i&gt;&lt;b&gt;or a part that you thought you lost forever.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Episode 11: Love Lasts Forever&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Josh yang sedang dalam perjalanan pulang ke apartemennya sambil menyiapkan diri untuk kasus yang tengah ia tangani tiba-tiba diserang oleh beberapa pria. Bahkan mereka juga mengancam akan melukai Beth jika Josh tidak mundur dari kasus yang tengah ditanganinya yang melibatkan seorang pria bernama Tejada. Tadinya Josh ingin mundur dari kasusnya karena takut Beth akan dilukai, tapi karena Beth meyakinkannya untuk tetap menangani kasusnya; apalagi karena ia tahu Josh telah menangani kasus itu selama dua tahun, Josh pun tetap menjalankan tugasnya seperti biasa. Sementara itu Mick heran karena Beth tidak menemuinya, padahal Beth telah berjanji untuk menemaninya ke tempat bioanalisa untuk menguji sample darah Coraline. Mick ingin tahu cara Coraline mengubah dirinya menjadi manusia lagi. Mick lalu mengunjungi Beth dan berjanji pada Josh untuk melindunginya selama tim yang ditugaskan melindungi Beth belum tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Polisi lalu menangkap Tejada pada saat ulang tahun anak perempuannya. Sayangnya karena kurangnya bukti, Tejada pun bisa bebas setelah membayar uang jaminan. Tejada lalu mengirim anak buahnya untuk menghabisi Beth. Beruntung Mick melindunginya sehingga hanya siku Beth yang tergores pecahan kaca dari mobil mereka yang terkena tembakan. Malang bagi Mick. Contoh darah Coraline yang disimpannya dalam pipet juga ikut tertembak dan tumpah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu Josh tahu Beth diserang, ia pun langsung meminta petugas melindungi Beth. Nyatanya Tejada justru meminta anak buahnya menculik Josh. Kendati Beth dan Mick berusaha melacak keberadaan Josh dan mencoba menyelamatkannya, Josh akhirnya mati tertembak. Mick berusaha keras menyelamatkan Josh sementara tim medis belum tiba di lokasi, tapi nyawa Josh tidak tertolong. Beth yang masih dirundung kesedihan marah pada Mick karena ia menolak mengubah Josh menjadi vampir dan malah membiarkannya mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dialog yang menarik di episode ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mick: &lt;i&gt;&lt;b&gt;I can't help myself from entertaining the idea of telling Beth how I feel.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: auto;"&gt;&lt;br /&gt;
Beth: &lt;i&gt;&lt;b&gt;If you hate what you are so much, then why do you go on living?&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Mick: &lt;i&gt;&lt;b&gt;You make me want to (in mind). I'm not really sure. I did a lot of bad things after I was turned, Beth. Things I carry tremendous amounts of guilt about. I wanna make up for them. Beth?&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Beth:&amp;nbsp;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;I just can't stop thinking about him. If you'd have done it, he'd still be here. What if it were me lying there instead of Josh seconds before death, would you have saved me? Would you have saved me?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Mick: &lt;i&gt;&lt;b&gt;I would've done the&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;same thing.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: auto;"&gt;&lt;br /&gt;
Mick: &lt;i&gt;&lt;b&gt;She asked me something I've asked myself over and over again. The truth is I don't know what I would do. What I do know is at the end of the day not a lot separates life and death. Only one thing: eternity.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Episode 12: The Mortal Cure&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Beth yang masih marah pada Mick menolak bicara padanya saat mereka berpapasan. Saat memeriksa barang-barang peninggalan Josh, Beth menemukan bahwa Josh memiliki janji temu dengan Celeste, seorang disainer perhiasan. Ternyata sebelum kematiannya, Josh berniat melamar Beth.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mick didatangi dua vampir yang meminta bantuannya untuk mencari Coraline. Meski sempat menyangkal bahwa ia mengenal Coraline, Mick pun tidak bisa mengelak saat vampir itu memperlihatkan sertifikat pernikahannya dengan Coraline. Mick lalu menyelidiki dari CCTV rumah sakit tempat Coraline dirawat. Mick mengenali Chyntia, vampir yang adalah sahabat lama Coraline ternyata bekerja di rumah sakit itu sebagai perawat dan membantu Coraline melarikan diri dari rumah sakit. Mick pun mengunjungi Chyntia untuk mencaritahu keberadaan Coraline, tapi ia tidak mendapat jawaban yang memuaskan. Belakangan justru Coraline sendiri yang mendatangi Mick di apartemennya dan memberikan cairan yang dicurinya dari vampir yang telah hidup sejak abad ke-18. Dengan cairan itu, Coraline bisa berubah menjadi manusia lagi. Saat Mick telah berubah menjadi manusia, ia tidak berdaya menolong Coraline saat saudara-saudara kandung Coraline yang juga vampir menyerangnya dan membawanya pergi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dialog yang lucu dan menarik di episode ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Coraline:&lt;b&gt;&lt;i&gt; I think Beth is starting to like me. She didn't stab me this time.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mick: &lt;i&gt;&lt;b&gt;Why this sudden interest in becoming mortal?&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Coraline: &lt;i&gt;&lt;b&gt;I wanted to feel life again. And maybe love can't exist without mortality.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Episode 13: Fated to Pretend&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Mick yang sudah berbaikan dengan Beth dan telah menjadi manusia memanfaatkan waktunya untuk melakukan hal-hal yang tidak pernah bisa ia lakukan sewaktu menjadi vampir. Ia piknik dengan Beth di pantai dan menikmati sinar matahari. Sayangnya kesenangannya bersama Beth tidak bisa berlangsung lama. Beth mendapati rekan kerjanya, Maureen tewas terbunuh. Mick pun membantu Beth menyelidiki kematian Maureen. Saat Beth dan jaksa wilayah bernama Benjamin Talbot disekap oleh dr Pierce Anders, vampir yang terlibat dalam pembunuhan Maureen, Mick pun meminta Josef mengubahnya menjadi vampir lagi karena sebagai manusia ia tidak memiliki kekuatan untuk menolong Beth. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dialog yang menarik di episode ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mick: &lt;i&gt;&lt;b&gt;Secrets are like a disease. And if we don't share them, then they eat us up on the inside until there's nothing left until it feels like we're already dead.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: auto;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Episode 14: Click&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Mick memiliki klien baru bernama Tierney, seorang selebriti. Ia bertugas sebagai pengawal pribadi Tierney. Mick curiga kekasih Tierney yang bernama Scott Walsh yang membocorkan keberadaan Tierney kepada media karena butuh publikasi untuk album barunya. Mick pun kewalahan saat paparazzi merubung mereka. Beth yang kebetulan ada janji makan siang dengan Benjamin Talbot juga sempat melihat Mick dan Tierney. Atasan baru Beth, Mr Lewis lalu memintanya untuk menulis tentang Mick.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sebuah event, saat Mick tengah berbincang dengan Beth, Mick mendengar Tierney bertengkar dengan Scott. Khawatir dengan keselamatan kliennya Mick langsung berusaha menolong. Sayangnya ia terlambat. Tierney sudah keburu jatuh ke laut dan tewas. Ia diduga mabuk dan tewas tenggelam. Mick curiga pada salah satu paparazzi bernama Foster. Apalagi saat Foster juga berusaha menabraknya dengan mobil. Saat Mick tidak terluka, Foster pun berusaha memeras Mick karena ia tahu Mick bukan manusia. Beth terpaksa minta bantuan Josef karena tidak ingin rahasia Mick terbongkar. Josef lalu mengirim dua vampir untuk menghabisi Foster. Tanpa sepengetahuan siapa pun, Foster sempat mengirimkan foto-foto Mick saat luput dari tabrakan tanpa terluka kepada jaksa wilayah, Benjamin Talbot.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Episode 15: What's Left Behind&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Mick dan Beth menyelidiki kasus seorang anak yang diculik. Modus operandinya yang sama dengan kasus penculikan dan pembunuhan yang pernah terjadi sebelumnya membuat mereka menduga pelakunya adalah orang yang sama. Saat Mick dan Beth mendatangi rumah Robert Fordham, sang ayah, Mick pun curiga jika Robert adalah anaknya. Dahulu Mick dan Ray berteman karib. Mick juga tanpa sepengetahuan siapa pun sempat berselingkuh dengan Lilah, isteri Ray. Jika Robert benar anak Mick, maka cucu Mick yang diculik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meski pada akhirnya Mick berhasil menyelamatkan anak Robert, tapi tak urung ia kecewa karena dari tes DNA terbukti bahwa Robert bukan anaknya. Beth pun mencoba menghiburnya, &lt;i&gt;"Family's not only about DNA."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Episode 16: Sonata&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Saat Mick dan Beth menghadiri pesta yang diadakan Josef, salah seorang tamu yang bernama Dominic tewas terbunuh. Simone yang menemukan mayat Dominic menjadi tersangka utama. Tapi setelah Mick dan Josef menghisap darah Simone, mereka memastikan bahwa ia tidak bersalah. Simone adalah freshies (manusia yang dengan sukarela memberikan darahnya untuk dihisap vampir) bagi Josef. Beth sempat gusar pada Mick saat ia melihatnya menghisap darah Simone juga. Penyelidikan berlanjut hingga diketahui manager Dominic yang bernama Emma yang membunuhnya. Emma bahkan mengancam akan memberikan daftar nama semua vampir jika ia tidak dibebaskan dari penjara. The Cleaner akhirnya memutuskan Emma dan suaminya harus dibinasakan karena sudah mengancam membongkar komunitas para vampir. Hal ini membuat Beth ragu melanjutkan hubungannya dengan Mick. Meski begitu, Beth akhirnya memilih untuk mengikuti kata hatinya dan kembali menerima Mick.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dialog yang lucu dan menarik di episode ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beth: &lt;b&gt;&lt;i&gt;Do you realize this is our fourth official date? &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Mick: &lt;i&gt;&lt;b&gt;Define official.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Beth: &lt;i&gt;&lt;b&gt;Any outing that doesn't involve dead bodies.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Mick: &lt;i&gt;&lt;b&gt;You're such a romantic, you know that?&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mick: &lt;i&gt;&lt;b&gt;This is about us and how we feel about one another. Right here, right now.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Beth: &lt;i&gt;&lt;b&gt;That night that we first met, or met again, whatever, what was I wearing?&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Mick: &lt;i&gt;&lt;b&gt;Blue jeans, white-striped shirt, cream jacket.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Beth: &lt;i&gt;&lt;b&gt;What about my shoes?&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Mick: &lt;b&gt;&lt;i&gt;You were barefoot.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Beth: &lt;b&gt;&lt;i&gt;How can you remember that?&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Mick: &lt;i&gt;&lt;b&gt;Because I love you.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dibandingkan dengan serial vampir lainnya, sebut saja The Vampire Diaries, Moonlight jauh lebih sederhana. Meski sama-sama bercerita tentang cinta segitiga, penyelesaian konflik dalam Moonlight juga tidak berbelit-belit. Josh yang tewas terbunuh di episode 11 dengan otomatis membuat ceritanya menjadi lebih sederhana. Moonlight memang hanya terdiri dari satu musim tayang, tidak seperti The Vampire Diaries yang sampai saat ini memasuki musim tayang kedua. Konflik di Moonlight juga tidak serumit dalam Vampire Diaries. Mick tidak harus melindungi Beth dari saingan cintanya seperti Stefan yang harus melindungi Elena dari Damon, saudaranya yang berwatak jahat. Tidak seperti kebanyakan vampir, Mick tidak tidur di dalam peti mati. Ia tidur di dalam freezer. Ia juga tidak tewas oleh pasak kayu, tapi hanya tidak sadarkan diri. Tidak seperti vampir lain, sebut saja Edward dalam Twilight, Mick tetap tidur dan ia meminum darah manusia yang dibelinya dari bank darah, tidak seperti Edward yang hanya minum darah binatang karena ia vampir yang vegetarian. Pendeknya, untuk sebuah serial bertema vampir, plot Moonlight jauh lebih masuk akal dan rapi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Gambar dipinjam dari &lt;a href="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/8/8a/Moonlight_series2.JPG"&gt;Wikipedia&lt;/a&gt;.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5575715850572509013-9005001939130282122?l=slusman.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://slusman.blogspot.com/feeds/9005001939130282122/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5575715850572509013&amp;postID=9005001939130282122" title="2 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default/9005001939130282122?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/5575715850572509013/posts/default/9005001939130282122?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://slusman.blogspot.com/2011/08/review-serial-moonlight.html" title="Review Serial Moonlight" /><author><name>Selvia Lusman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08512229134736619751</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>2</thr:total></entry></feed>

