<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569</id><updated>2022-04-08T21:44:34.037+07:00</updated><category term="Perubahan Iklim"/><category term="Hutan"/><category term="Agenda"/><category term="Satwa"/><category term="Laut"/><category term="Bencana"/><category term="Energi"/><category term="Air"/><category term="Limbah"/><category term="Tambang"/><category term="Gaya Hijau"/><category term="Blogger"/><category term="Sungai"/><category term="Kolom"/><category term="Wisata"/><category term="Sampah"/><category term="Flora"/><category term="Slider"/><category term="Green Press"/><category term="News"/><category term="Gempa"/><category term="Berita Lingkungan"/><category term="Blog"/><category term="Gerakan Lingkungan"/><category term="Greenpress"/><category term="Indeks"/><category term="Jurnalis Lingkungan"/><category term="Wartawan Lingkungan"/><category term="Adventure"/><category term="Ahmad Yunus"/><category term="Belajar Konservasi"/><category term="Ekspedisi  Ring of Fire Adventure (RoFA)"/><category term="Farid Gaban"/><category term="Google"/><category term="Green Press Indonesia"/><category term="Jane Jacobs"/><category term="Jeffry Polnaja"/><category term="Lingkungan Hidup"/><category term="Liputan Lingkungan"/><category term="OPINI"/><category term="Perubahan"/><category term="Program Greenpress"/><category term="Rider"/><category term="Tips Jurnalis Lingkungan"/><category term="Yos Hasrul"/><category term="Youk Tanzil"/><category term="jurnalis sekaligus petualang Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa"/><title type='text'>Green Press | Association of Environmental Journalists</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://www.greenpress.or.id/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default?redirect=false'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.greenpress.or.id/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>632</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569.post-3041484603500758652</id><published>2022-04-06T06:29:00.000+07:00</published><updated>2022-04-06T06:29:42.005+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Berita Lingkungan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Blog"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Gerakan Lingkungan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Green Press"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Jurnalis Lingkungan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kolom"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Lingkungan Hidup"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Liputan Lingkungan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Slider"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Tips Jurnalis Lingkungan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Wartawan Lingkungan"/><title type='text'>Jurnalistik Lingkungan : Tantangan dan Kiat</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://3.bp.blogspot.com/-z5S57gxfJlQ/RvzMHDYRVDI/AAAAAAAAABc/wjP6e301PWUUOXRkI_Ejohv_mwTJL1brgCPcBGAYYCw/s1600/Radio%2BGreen%2BNews.JPG&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;240&quot; data-original-width=&quot;320&quot; height=&quot;480&quot; src=&quot;https://3.bp.blogspot.com/-z5S57gxfJlQ/RvzMHDYRVDI/AAAAAAAAABc/wjP6e301PWUUOXRkI_Ejohv_mwTJL1brgCPcBGAYYCw/s640/Radio%2BGreen%2BNews.JPG&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Oleh : IGG Maha Adi  &lt;br /&gt;___________________________________________ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lingkungan hidup  &lt;br /&gt;• Seluruh benda, daya, keadaan dan makhluk hidup, yang memengaruhi perikehidupan dan kesejahteraan makhluk hidup. (UU No.23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup)    &lt;br /&gt;• Memengaruhi  Berinteraksi  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurnalistik Lingkungan  &lt;br /&gt;• Kegiatan pemberitaan [mengumpulkan, memproses dan menerbitkan informasi yang bernilai berita] masalah-masalah lingkungan hidup.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita Lingkungan &lt;br /&gt;Berita lingkungan hidup memiliki beberapa ciri, antara lain:  &lt;br /&gt;• menunjukkan interaksi saling memengaruhi antar- komponen lingkungan &lt;br /&gt;• berorientasi dampak lingkungan  &lt;br /&gt;• pemberitaan dapat dari level gen hingga level biosfer &lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa Itu Berita Lingkungan ?  &lt;br /&gt;• Berita lingkungan hidup sering tidak dapat dibedakan dari berita-berita masalah sosial seperti kesehatan, kemiskinan,  bahkan kriminalitas. Masalah dampak lingkungan hampir selalu berkaitan dengan persoalan lain yang kompleks. &lt;br /&gt;• Patokan yang fleksibel diperlukanKisi-kisi: interaksi antarkomponen lingkungan. &lt;br /&gt;• Dampak lingkungan yang merupakan isu sosial, ditulis dalam rubrik lingkungan.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap Dasar Wartawan Lingkungan &lt;br /&gt;Dalam interaksi antarkomponen lingkungan (hayati &amp;amp; non hayati), wartawan “memihak” kepada proses-proses yang meminimalkan dampak negatif kerusakan lingkungan hidup. Oleh sebab itu, wartawan lingkungan perlu menumbuhkan sikap: &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;• Pro Keberlanjutan: Lingkungan Hidup yang mampu mendukung kehidupan berkelanjutan, kondisi lingkungan hidup yang dapat dinikmati oleh generasi sekarang tanpa mengurangi kesempatan generasi mendatang &lt;br /&gt;• Biosentris: Kesetaraan spesies, mengakui bahwa setiap spesies memiliki hak terhadap ruang hidup, sehingga perubahan lingkungan hidup (pembangunan) harus memperhatikan   dan mempertimbangkan  keunikan setiap spesies dan sistem-sistem di dalamnya.  &lt;br /&gt;• Pro Keadilan Lingkungan: Berpihak pada kaum yang lemah, agar mendapatkan akses setara terhadap lingkungan yang bersih, sehat dan dapat   terhindar dari dampak negatif kerusakan lingkungan. &lt;br /&gt;• Profesional: Memahami materi dan isu-isu lingkungan hidup, menjalankan kaidah-kaidah jurnalistik, menghormati etika profesi, dan menaati hukum.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. Tantangan Jurnalistik Lingkungan Hidup  &lt;br /&gt;• Tingginya Laju kerusakan lingkungan: Kebijakan ekonomi dan politik pemerintah dari pusat hingga ke daerah (eksploitasi sumberdaya alam, deplesi keanekaragaman hayati, turunnya daya dukung lingkungan hidup, pertambahan penduduk, kemiskinan, rendahnya alternatif pendapatan penduduk, dll), aktivitas masyarakat yang merusak lingkungan hidup.     &lt;br /&gt;• Profesionalisme: lihat bagian Profesional  &lt;br /&gt;• Jurnalisme Positif: Berita tentang berbagai keberhasilan dalam pengelolaan lingkungan hidup untuk memberikan  harapan adanya perubahan kepada publik.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. Kiat Menulis Masalah Lingkungan Hidup &lt;br /&gt;• Mendefinisikan Berita Lingkungan: Pembahasan yang mendalam sebaiknya difokuskan pada interaksi antarkomponen lingkungan (hayati dan non hayati). Dampak dari interaksi tersebut biasanya kompleks dan menyentuh isu-isu di bidang lain.  &lt;br /&gt;Tips:  &lt;br /&gt; Redaksi mendefinisikan berita lingkungan (editorial policy) &lt;br /&gt;• Populerkan Masalahnya: Gunakan peristilahan yang tepat dan pengalihan  gagasan/konsep yang populer, sehingga dimengerti oleh pembaca/pemirsa   &lt;br /&gt;    Tips:  &lt;br /&gt; Berhati-hati terhadap penerjemahan istilah asing,dan    &lt;br /&gt;meminta pertimbangan para pakar. &lt;br /&gt; Istilah-istilah ilmiah [nama spesies, zat kimia, Dll]  &lt;br /&gt;    harus ditulis dengan kesepakatan dari komunitas ybs &lt;br /&gt; Menyusun style book [sikap kebahasaan] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Mendekatkan Persoalan: Jadikan masalah itu sebagai masalah lingkungan di tingkat lokal dan tingkat pengaruhnya. &lt;br /&gt;Tips:  &lt;br /&gt; Kandungan lokal biasanya disajikan dalam sidebar/box sebagai tambahan artikel utama, “dibuang sayang.” &lt;br /&gt;• Tampilkan Drama: Reportase,  drama tentang manusia selalu merupakan cerita paling menarik dan tidak pernah kering. &lt;br /&gt;Tips:  &lt;br /&gt; Meletakkan manusia sebagai pusat berita &lt;br /&gt; Carilah kisah yang paling dramatis &lt;br /&gt;• Driven by Design: Desain adalah salahsatu kunci sukses pemberitaan di media cetak. Gunakan foto, gambar,dan ilustrasi untuk menarik perhatian pembaca/pemirsa terhadap berita.  &lt;br /&gt;    Tips:  &lt;br /&gt;   Tampilkan foto manusia dengan lingkungannya  &lt;br /&gt;   Sesekali tampilkan esei foto yang dramatis  &lt;br /&gt;• Verifikasi Berlapis: Bahan pustaka, riset, narasumber/para pakar.  &lt;br /&gt;Tips:  &lt;br /&gt; Susunlah daftar buku, jurnal, laporan, website, atau daftar nama narasumber dan para pakar sebagai rujukan &lt;br /&gt; Perbarui informasi secara berkala melalui media massa, internet, dll &lt;br /&gt; Perbaiki kualitas penulisan melalui pendidikan &amp;amp; pelatihan &lt;br /&gt; Buku rujukan selalu tersedia di ruang kerja &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Rujukan  &lt;br /&gt;• Internet:  &lt;br /&gt;• Situs Umum/LSM dan Pemerintah: www.bapedal.go.id,  www.menlh.go.id,www.cites.org,www.walhi.or.id, www.nwf.org, www.conservation.org,www.redlist.org,www.pili.or.id, www.greenpeace.org,www.nature.org,www.jatam.org, www.wwf.or.id,www.minergynews.com,www.coremap.or.id, &lt;br /&gt;www.fwi.or.id,www.telapak.org, www.unep.org  &lt;br /&gt;• Milist Lingkungan: lingkungan@yahoogroups.com, wartawanlingkungan@yahoogroups.com, communitygallery@yahoogroups.com  &lt;br /&gt;• Situs Media:   &lt;br /&gt;• Kompas dan Kompas Cyber Media (http://kompas.com), Koran Tempo (http://tempointeraktif.com),  Sinar Harapan (www.sinarharapan.co.id),  Suara Pembaruan, Media Indonesia (www.mediaindo.co.id), Jawa Pos (www.jawapos.co.id dan www.jawapos.com), SCTV (www.sctv.co.id).   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;_____________________________________________________________ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budjono, Bambang, dan Toriq Hadad (ed.), Seandainya Saya &lt;br /&gt;Wartawan Tempo (Jakarta: Yayasan ISAI dan Alumni Tempo, Mei 1997) &lt;br /&gt;Keraf, A.Sonny, Etika Lingkungan, (Jakarta: Penerbit Buku  &lt;br /&gt;Kompas,2002) &lt;br /&gt;Charnley, V. Mitchell, Reporting (Minnesota: Holt,Rinehart and  &lt;br /&gt;Winston,Inc,1966) &lt;br /&gt;Skolimowski, Hendryk, Filsafat Lingkungan (Yogyakarta: Bentang &lt;br /&gt;Budaya,Maret 2004, terjemahan) &lt;br /&gt;West, Bernadette, Peter M. Sandman dan Michael R.Greenberg (ed.), &lt;br /&gt;Panduan Pemberitaan Lingkungan Hidup (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, September 1998, terjemahan)&lt;/span&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;&lt;!--
google_ad_client = &quot;ca-pub-6463152978813595&quot;;
/* Go Green 2 */
google_ad_slot = &quot;1542953554&quot;;
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;
src=&quot;http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js&quot;&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.greenpress.or.id/feeds/3041484603500758652/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8725791079724163569&amp;postID=3041484603500758652&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/3041484603500758652'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/3041484603500758652'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.greenpress.or.id/2007/10/jurnalistik-lingkungan-tantangan-dan.html' title='Jurnalistik Lingkungan : Tantangan dan Kiat'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://3.bp.blogspot.com/-z5S57gxfJlQ/RvzMHDYRVDI/AAAAAAAAABc/wjP6e301PWUUOXRkI_Ejohv_mwTJL1brgCPcBGAYYCw/s72-c/Radio%2BGreen%2BNews.JPG" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569.post-3157252980622540105</id><published>2022-04-05T06:32:00.000+07:00</published><updated>2022-04-06T06:32:38.521+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hutan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Slider"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Wisata"/><title type='text'>Menikmati Harmoni Alam Rawa Aopa Watumohai</title><content type='html'>&lt;h1 class=&quot;singlePageTitle&quot; style=&quot;font-weight: normal;&quot;&gt;&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;float: left; margin-right: 1em; text-align: left;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://1.bp.blogspot.com/-N1gkNaafOXs/T4EHQoS33FI/AAAAAAAAAGo/KM5ubWtNRqU/s1600/hujannnn.jpg&quot; style=&quot;clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;265&quot; src=&quot;https://1.bp.blogspot.com/-N1gkNaafOXs/T4EHQoS33FI/AAAAAAAAAGo/KM5ubWtNRqU/s400/hujannnn.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/h1&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Menikmati perjalanan &amp;nbsp;dibawah guyuran hujan lebat menjadi sensasi  tersendiri saat menjelajahi &amp;nbsp;Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai ( TNRAW)  Sulawesi Tenggara. Butiran-butiran hujan berjatuhan &amp;nbsp;membentuk harmoni  alam.&lt;br /&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sepanjang &amp;nbsp;memang menjadi surga hutan mangrove yang menjadi habitat ekosistem perairan laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentang hutan mangrove mulai  dari muara Sungai Roraya sampai Sungai Langkowala dengan luas 6.173 ha  atau 5,87% dari total luas kawasan TNRW seluas 105.000 Ha.&amp;nbsp; Kawasan ini  memiliki garis pantai terluar sepanjang lebih dari 24 km dan ketebalan  2-7 km.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://4.bp.blogspot.com/-lrXYAOLxbZE/T4E641OAhpI/AAAAAAAAAPs/ocifEG8ZDtw/s1600/nelayan+lanowulu.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;266&quot; src=&quot;https://4.bp.blogspot.com/-lrXYAOLxbZE/T4E641OAhpI/AAAAAAAAAPs/ocifEG8ZDtw/s400/nelayan+lanowulu.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Di balik hamparan bakau inilah  nelayan Muara Lanowulu melakukan aktivitas pemanfaatan, khususnya pada  areal-areal yang ditetapkan sebagai zona tradisional Taman  Nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nelayan yang membangun tempat tinggal sementara di Muara  Lanowulu adalah nelayan tradisional yang didominasi suku pendatang  Bugis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selebihnya adalah nelayan suku Tolaki (suku asli). Untuk memenuhi  kebutuhan hidupnya, masyarakat Muara Lanowulu umumnya bekerja sebagai  nelayan penangkap udang, kepiting dan petani rumput laut. Sedangkan  penangkapan ikan hanya untuk konsumsi sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;iframe allowfullscreen=&#39;allowfullscreen&#39; webkitallowfullscreen=&#39;webkitallowfullscreen&#39; mozallowfullscreen=&#39;mozallowfullscreen&#39; width=&#39;320&#39; height=&#39;266&#39; src=&#39;https://www.youtube.com/embed/V2RwLTin42E?feature=player_embedded&#39; frameborder=&#39;0&#39; /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Kawasan mangrove TNRAW berjajar  di muara Lanowulu secara administratif berada di Desa Tatangge,  Kecamatan Tinanggea, Kabupaten Konawe Selatan. Lokasi ini berjarak ± 120  km dari Kota Kendari dan dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat  selama ± 2,5 jam. Jalan utama yang dilalui merupakan jalan poros  propinsi yang kondisinya cukup bagus. Kondisi jalan Kendari-Lanowulu  semuanya telah beraspal, bisa menjadi pilihan menarik berpetualang sembari menikmati hawa sejuk hutan tropis di jasirah Tenggara Sulawesi. &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Foto dan Naskah : Yos Hasrul/Greenpress/Video dari&amp;nbsp; &lt;a class=&quot;yt-user-name author&quot; dir=&quot;ltr&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/goog_726847444&quot; rel=&quot;author&quot;&gt;Ismarrahman&lt;/a&gt;&lt;a href=&quot;http://www.youtube.com/watch?v=YZgF2moOU4c&amp;amp;feature=relmfu&quot;&gt; Youtube&lt;/a&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;&lt;!--
google_ad_client = &quot;ca-pub-6463152978813595&quot;;
/* Go Green 2 */
google_ad_slot = &quot;1542953554&quot;;
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;
src=&quot;http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js&quot;&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.greenpress.or.id/feeds/3157252980622540105/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8725791079724163569&amp;postID=3157252980622540105&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/3157252980622540105'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/3157252980622540105'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.greenpress.or.id/2012/04/menanti-hujan-di-hutan-bakau-rawa-aopa.html' title='Menikmati Harmoni Alam Rawa Aopa Watumohai'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://1.bp.blogspot.com/-N1gkNaafOXs/T4EHQoS33FI/AAAAAAAAAGo/KM5ubWtNRqU/s72-c/hujannnn.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569.post-1217987721311420563</id><published>2022-04-04T06:33:00.000+07:00</published><updated>2022-04-06T06:34:00.990+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hutan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="News"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Slider"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Wisata"/><title type='text'>Mencumbu Wisata Air Terjun Moramo</title><content type='html'>&lt;h1 class=&quot;doublePageTitle1&quot;&gt;&lt;div style=&quot;float: right;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;addthis_toolbox addthis_default_style &quot;&gt;&lt;a class=&quot;addthis_button_preferred_1 addthis_button_facebook at300b&quot; href=&quot;http://www.kendarikita.com/2012/03/mencumbu-wisata-air-terjun-moramo.html#&quot; title=&quot;Send to Facebook&quot;&gt;&lt;span class=&quot;at16nc at300bs at15nc at15t_facebook at16t_facebook&quot;&gt;&lt;span class=&quot;at_a11y&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/h1&gt;&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;float: left; margin-right: 1em; text-align: left;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://4.bp.blogspot.com/-7uqRqAxOMsE/T3YTYFouNcI/AAAAAAAAANo/nUrrsn6d1Vc/s1600/moramo.jpg&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://4.bp.blogspot.com/-7uqRqAxOMsE/T3YTYFouNcI/AAAAAAAAANo/nUrrsn6d1Vc/s400/moramo.jpg&quot; width=&quot;265&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Air Terjun Moramo. Foto: Yos Hasrul/Greenpress&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Pepohonan rimbun tumbuh subur disepanjang jalan. Sebagain telah berumur dan berukuran besar.&lt;/span&gt;&amp;nbsp;  Batu dan pohon-pohon berbalur lumut begitu mudah dijumpai. &lt;br /&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;Siang  menjelang sore suara burung kian ramai seolah&amp;nbsp; berlomba dengan gemercik  air yang membentuk harmoni alam. Beberapa pengunjung nampak menikmati&amp;nbsp;&amp;nbsp;  pemandangan ini.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&quot;Sungguh pemandangan yang  indah,&quot;ucap Ema (38 tahun), seorang pengunjung yang baru pertama kali ke  obyek wisata air terjun moramo.&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Ya,  berkunjung ke Provinsi Sulawesi Tenggara memang tak lengkap rasanya  jika tak mengunjungi obyek wisata satu ini. Terletak di Desa Sumber  Sari, Kecamatan Moramo, Kabupaten Konawe Selatan obyek wisata andalan  bumi anoa&amp;nbsp; ini menyuguhkan panorama indah dengan pesona bebatuan yang  membentuk tingkatan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&lt;/span&gt;Air  terjun moramo sendiri terletak kawasan suaka alam tanjung peropa. Udara  di sekitar air terjun terasa sejuk serta menghadirkan suasana tenteram  bagi siapa saja yang berkunjung di sana. &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;float: right; margin-left: 0px; margin-right: 0px; text-align: left;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://1.bp.blogspot.com/-YoSfh6Mmx4U/T3YUwEmkRfI/AAAAAAAAANw/-4sNTOCiJco/s1600/Moramo+3.jpg&quot; style=&quot;clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;266&quot; src=&quot;https://1.bp.blogspot.com/-YoSfh6Mmx4U/T3YUwEmkRfI/AAAAAAAAANw/-4sNTOCiJco/s400/Moramo+3.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Foto : Marwan Azis/Greenpress&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Air  terjun moramo merupakan air terjun bertingkat (cascade) yang indah  dengan ketinggian sekitar 100 meter. Dari ketinggian tersebut, air  mengalir melewati tujuh tingkatan utama. Di samping tujuh tingkatan  utama tersebut, terdapat juga enam [uluh tingkatan kecil yang sekaligus  berfungsi sebagai tempat penampungan air (semacam kolam air). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Dari  sekian banyak kolam tersebut, hanya satu yang dapat dimanfaatkan untuk  berenang, yaitu kolam yang terletak di tingkat kedua dari 7 tingkatan  utama air terjun tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Keindahan  panorama alam, air terjun, kicauan burung yang bersahutan dan berpadu  dengan tarian kupu-kupu beraneka warna-warni, menjadi daya tarik kawasan  air terjun moramo.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Daya  pikat yang tidak kalah menariknya dari air terjun ini adalah pesona  bebatuan yang membentuk tingkatan. Bebatuan yang membentuk tingkatan  tersebut tidak licin meski dialiri air secara terus menerus, sehingga  para wisatawan yang berkunjung ke lokasi tersebut dapat mendaki sampai  ke puncak. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;float: left; margin-left: 0px; margin-right: 0px; text-align: left;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://3.bp.blogspot.com/-xSVPSH8MtvY/T3YVFzDe_YI/AAAAAAAAAN4/D7ZB4zIqQV0/s1600/moramo+2.jpg&quot; style=&quot;clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;400&quot; src=&quot;https://3.bp.blogspot.com/-xSVPSH8MtvY/T3YVFzDe_YI/AAAAAAAAAN4/D7ZB4zIqQV0/s400/moramo+2.jpg&quot; width=&quot;266&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Foto : Marwan Azis/Greenpress&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Jika  beruntung, Anda dapat melihat pelangi sebagai biasan cahaya di sekitar  air terjun. Tak heran, kendati cuma mitos, masyarakat setempat Nampak  mempercayai jika tempat ini sebagai pemandian para bidadari karena  keindahannya. Di samping itu, bebatuan tersebut juga memberi pesona yang  menakjubkan ketika tersentuh oleh sinar mentari. bebatuan tersebut akan  memancarkan kilauan warna-warni yang didominasi oleh warna hijau yang  begitu indah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Untuk  mencapai lokasi wisata ini, dengan jarak tempuh enam puluh lima  &amp;nbsp;kilometer dari Kota Kendari, ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara,  &amp;nbsp;wisatawan melakukan perjalanan darat selama dua jam menggunakan  angkutan umum atau kendaraan pribadi. Perjalanan dapat pula dimulai dari  bandara walter monginsidi yang terletak di Kabupaten Konawe  Selatan.Dari bandara tersebut/ dapat langsung menuju arah kecamatan  moramo/ langsung ke desa sumber sari. Setelah sampai di pemberhentian  akhir kendaraan, perjalanan dilanjutkan ke lokasi air terjun dengan  berjalan kaki sejauh dua kilometer.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Di  lokasi wisata ini sudah tersedia parkiran yang luas di sekitar lokasi  bagi para wisatawan yang datang menggunakan mobil pribadi. Sayangnya,  kurangnya perhatian pemerintah setempat membuat obyek wisata ini  terkesan kurang terawatt. Sejumlah sarana wisata kini mengalami  kerusakan dan tidak lagi bisa digunakana para pengunjung.&amp;nbsp; &lt;b style=&quot;mso-bidi-font-weight: normal;&quot;&gt;(Yoshasrul)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;&lt;!--
google_ad_client = &quot;ca-pub-6463152978813595&quot;;
/* Go Green 2 */
google_ad_slot = &quot;1542953554&quot;;
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;
src=&quot;http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js&quot;&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.greenpress.or.id/feeds/1217987721311420563/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8725791079724163569&amp;postID=1217987721311420563&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/1217987721311420563'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/1217987721311420563'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.greenpress.or.id/2012/04/air-terjun-moramo.html' title='Mencumbu Wisata Air Terjun Moramo'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://4.bp.blogspot.com/-7uqRqAxOMsE/T3YTYFouNcI/AAAAAAAAANo/nUrrsn6d1Vc/s72-c/moramo.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569.post-2555455252765531900</id><published>2022-04-03T06:35:00.000+07:00</published><updated>2022-04-06T06:35:14.983+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Belajar Konservasi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Greenpress"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Laut"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="News"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Slider"/><title type='text'>Belajar Konservasi Kima di Toli-Toli</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;float: left; margin-right: 1em; text-align: left;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://4.bp.blogspot.com/-3f4_yRmCn_U/T3s5hkJ-R-I/AAAAAAAAAPM/_chJSZhvJiI/s1600/Konservasi.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;266&quot; src=&quot;https://4.bp.blogspot.com/-3f4_yRmCn_U/T3s5hkJ-R-I/AAAAAAAAAPM/_chJSZhvJiI/s400/Konservasi.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Foto : Yos Hasrul/Greenpress. &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Iwan   (34 tahun) menghirup napas dalam-dalam sebelum akhirnya menghilang  dari  permukaan laut. Gerakan yang lincah membuatnya dengan cepat&amp;nbsp;  menggapai  dasar laut yang dalamnya mencapai 15 meter itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Berbekal  bantuan  kompresor sebagai alat bantu pernapasan, pemuda perkasa ini  leluasa  menjelajahi karang di dasar samudera membawa bibit-bibit kerang  kima  sebesar batok kepala untuk &amp;nbsp;dibudidayakan. Kima-kima berbagai  jenis itu  ditata dengan rapi &amp;nbsp;agar leluasa berkembang biak. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Ya,   kegiatan yang dilakukan Iwan dan kelompoknya di Desa Toli-Toli,   Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara ini   patut menjadi teladan bagi warga lainnya. Betapa warga yang tergabung   dalam&amp;nbsp; kelompok Balai Konservasi Taman Laut Kima toli-toli ini, sejak   dua tahun belakangan telah membudidayakan sekitar 8000 kerang kima   berbagai jenis dan ukuran. Ini dilakukan sebagai langkah penyelamatan   spesies kerang laut dilindungi ini, dari kepunahan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Hilangnya   kima di perairan desa mereka, menjadi alasan utama dan tentu saja&amp;nbsp;   keprihatinan besar dari kelompok konservasi ini. Perburuan besar-besaran   oleh nelayan luar maupun nelayan telah menimbulkan efek luar biasa  bagi  populasi kima karena untuk diperdagangkan&amp;nbsp; hingga ke luar negeri.  Ini  dapat dilihat dari hasil pengumpulan fosil cangkang kima yang telah  mati  berbagai ukuran yang dilakukan tim balai konserbvasi kima  toli-toli dua  tahun belakangan ini. Ratusan cangkang-cangkang kima kini  ditampung di  kantor balai balai konservasi sebagai barang temuan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;float: right; margin-left: 1em; text-align: right;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://1.bp.blogspot.com/-S95n4TB8QT4/T3UIejuodYI/AAAAAAAAADQ/0ls5F71m7qE/s1600/kimaku-2.jpg&quot; style=&quot;clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;266&quot; src=&quot;https://1.bp.blogspot.com/-S95n4TB8QT4/T3UIejuodYI/AAAAAAAAADQ/0ls5F71m7qE/s400/kimaku-2.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Foto : Yos Hasrul/Greenpress &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Kelompok   ini prihatin atas perburuan kima secara missal. Daging kima yang   diketahui memiliki protein tinggi menjadi alasan utama perburuan biota   laut itu. Kima menjadi komoditas eksport paling dicari oleh singapura,   Taiwan, Hongkong,Jepang hingga Amerika Serikat. Di pasar internasional,   harga daging kima kering mencapai USD 150 per kg.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;“Ancaman kepunahan kima ini, maka kehidupan ekosistem di lautan pun dalam ancaman kehancuran,”kata Iwan. &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Data   konservasi taman laut kima toli-toli menyebutkan terdapat sembilan   spesies kima didunia, yaitu: tridacna gigas, t. derasa, t.squamosa, t.   maxima, t. crosea, t. tevoroa, t. rosewate,hippupos-hippopus &amp;amp;   hippopus porcellanus. Tujuh diantara sembilan spesies itu hidup di   Indonesia. Tingkat pertumbuhan kima sendiri sangat lamban (2-12 cm/tahun   berdasarkan species-nya dan tingkat usia pertumbuhan), sehingga untuk   mencapai ukuran maksimal 150 cm/ kima memerlukan waktu tumbuh hingga   seratus tahun. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Iwan   bercerita, mulanya Ia sama sekali tidak mengerti tentang konservasi   kima. Perjumpaannya &amp;nbsp;dengan Habib Nadjar Buduha (47) membuatnya belajar   banyak tentang proses budidaya kima ini di desanya. “Jujur Pak Habiblah   yang mengajari kami tentang kepedulian dan konservasi kima   ini,”ungkapnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Iwan   mengaku konservasi dilakukan tergerak untuk menyelamatkan kima dengan   modal yang mereka kumpulkan sendiri. Awalnya jumlah cuma satu orang  lalu  mereka saling mengajak beberapa warga desa untuk bergerak bersama   hingga kini jumlahnya puluhan warga. Proses itu dilakukan Komunitas   Balai Konservasi sejak akhir tahun 2009 silam. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Secara   bersama-sama, kelompok ini&amp;nbsp; telah mengumpulkan delapan ribuan kima  dari  tujuh jenis yang ditempatkan dan dipelihara di konservasi laut  seluas  dua puluh&amp;nbsp; hektar ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Kima-kima   itu dikumpulkan dengan peralatan dan perlengkapan sederhana, yakni   sebuah kapal motor tradisional berbobot 3 ton dan peralatan menyelam   yang memakai mesin kompresor tambal ban sebagai pemasok udara. “Kami   mencari bibit kima hingga ke Provinsi Sulawesi Tengah,”kata Iwan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;float: left; margin-right: 1em; text-align: left;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://2.bp.blogspot.com/-F5glnUiDsLQ/T3UKQrU7GcI/AAAAAAAAADg/mf0qD6B8Kl4/s1600/kimaku-4.jpg&quot; style=&quot;clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;213&quot; src=&quot;https://2.bp.blogspot.com/-F5glnUiDsLQ/T3UKQrU7GcI/AAAAAAAAADg/mf0qD6B8Kl4/s320/kimaku-4.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Foto : Yos Hasrul/Kendarikita.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;“Wilayah   perairan laut Desa Toli-toli dan sekitarnya dinilai sebagai lokasi  yang  tepat untuk budidaya atau konservasi kima, karena memiliki rab  yang tak  jauh dari daratan. Daerah ini dulunya juga merupakan habitat  asli kima  serta memiliki bebatuan dan terumbu karang yang masih  terjaga,”ungkap  Iwan, salah&amp;nbsp; petugas Balai Konservasi Kima Toli-toli,  pecan lalu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Pemerintah   desa sendiri mendukung sepenuhnya upaya kelompok&amp;nbsp; balai konservasi  kima  toli-toli ini, bahkan telah mengajak warga desa untuk bersama-sama   membantu konservasi kima di desanya. &amp;nbsp;“Berkat kerja keras kelompok ini   telah membuat&amp;nbsp; laut di desa-toli menjadi bersih dan ikan—ikan semakin   banyak,”kata Jawahir Bardin, Kepala Desa Tolitoli.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Kima   (tridacna) menjadi komoditas bernilai tinggi karena dagingnya yang  kaya  protein. Harga daging kering kima di pasaran dunia mencapai 150  dollar  as per kilogram (sekitar rp 1,3 juta). Selain itu cangkangnya  menjadi  incaran industri perhiasan dan dekorasi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Kima   sendiri berfungsi sebagai penyaring alami air laut. Saat makan, Ia   menyedot air laut untuk menyerap plankton dan segala kotorannya. Setelah   dicerna, air laut dikeluarkan lagi dalam kondisi bersih// proses  itulah  yang menjaga kebersihan laut yang penting bagi kesehatan terumbu   karang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Hewan   yang biasa hidup di puncak gunung laut (rab) itu juga menjadi &quot;pabrik&quot;   makanan bagi satwa-satwa laut lainnya. Telur dan anak kima menjadi   santapan bagi ikan, gurita dan kepiting. Tubuh kima juga menjadi rumah   bagi berbagai terumbu karang. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Dari   sembilan jenis kima yang ada di dunia, tujuh di antaranya hidup di   perairan dangkal (maksimal kedalaman 20 meter) dan hangat di seantero   nusantara. jumlah itu termasuk dua jenis yang paling langka/ yakni   tridacna gigas (kima raksasa) dan tridacna derasa (kima selatan).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Dua   jenis kima itu sekarang hanya bisa ditemukan di perairan sepanjang   sulawesi hingga papua. tridacna gigas dan tridacna derasa menjadi langka   karena paling kerap diburu mengingat ukurannya yang besar. kima jenis   ini bisa mencapai panjang 1,3 meter dengan berat 200 kilogram.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Permasalahan   muncul karena eksploitasi yang berlebihan itu tak sebanding dengan  laju  pertumbuhan kima. Hewan ini lambat perkembangbiakannya, hanya  berkisar  2-12 sentimeter setiap tahun. Untuk tumbuh hingga sepanjang  setengah&amp;nbsp;  meter dibutuhkan waktu puluhan tahun.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Pemerintah   pun telah memasukkan lima jenis kima (tridacna crocea, tridacna  derasa,  tridacna gigas, tridacna maxima, dan tridacna squamosa) sebagai  satwa  yang dilindungi dalam peraturan pemerintah nomor 7 tahun 1999.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Sayang,   upaya penyelamatan hasil inisiatif dan swadaya warga itu belum  mendapat  perhatian pemerintah daerah kabupaten dan provinsi. “Jangankan  bantuan  materi atau peralatan/ proposal perizinan untuk konservasi  yang diajukan  kelompok ini sejak oktober tahun 2010 /yang hingga kini  belum ada  jawaban dari pemerintah,”ungkap Mahfud, petugas Balai  konservasi Taman  Laut Toli-toli lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;times new roman&amp;quot; , &amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Walau   begitu, di tengah keterbatasan dana, kelompok konservasi ini jalan   terus. Mereka tidak mau lagi menunggu pemerintah peduli atau tidak.   “Jika kami menunggu pemerintah&amp;nbsp; mungkin spesies kima sudah habis duluan,   sebab &amp;nbsp;para konservasi kima setiap hari harus berlomba dengan para   pemburu kima yang di antaranya memiliki perlengkapan canggih dan modal   besar. Kelompok konservasi ini bertekad untuk tetap menghidupkan upaya   konservasi, karena kelak anak cucu bisa melihat hewan laut kima hidup di   alam bebas. (&lt;b&gt;Yos Hasrul).&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;&lt;!--
google_ad_client = &quot;ca-pub-6463152978813595&quot;;
/* Go Green 2 */
google_ad_slot = &quot;1542953554&quot;;
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;
src=&quot;http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js&quot;&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.greenpress.or.id/feeds/2555455252765531900/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8725791079724163569&amp;postID=2555455252765531900&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/2555455252765531900'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/2555455252765531900'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.greenpress.or.id/2012/03/belajar-konservasi-kima-di-toli-toli.html' title='Belajar Konservasi Kima di Toli-Toli'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://4.bp.blogspot.com/-3f4_yRmCn_U/T3s5hkJ-R-I/AAAAAAAAAPM/_chJSZhvJiI/s72-c/Konservasi.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569.post-7431941420411589778</id><published>2017-06-16T18:19:00.001+07:00</published><updated>2022-04-01T17:02:44.355+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Green Press"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Green Press Indonesia"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Greenpress"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hutan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Indeks"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Program Greenpress"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Slider"/><title type='text'>Menjadi Jembatan, Menjadi Obor Kesadaran</title><content type='html'>&lt;a href=&quot;https://2.bp.blogspot.com/-LWG_Josz468/Rv901zYRVQI/AAAAAAAAADE/9Yx3LKpRXHIen94TGlHp38aI0jjd9UfRQCPcBGAYYCw/s1600/b%2527day%2B092.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;1200&quot; data-original-width=&quot;1600&quot; height=&quot;480&quot; src=&quot;https://2.bp.blogspot.com/-LWG_Josz468/Rv901zYRVQI/AAAAAAAAADE/9Yx3LKpRXHIen94TGlHp38aI0jjd9UfRQCPcBGAYYCw/s640/b%2527day%2B092.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Advokasi mitra MFP di Sulawesi Tenggara mendorong pentingnya komunikasi  dan informasi dalam advokasi kebijakan kehutanan dan medium pembelajaran  bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Asep Saefullah &amp;amp; Andrew Yuen &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href=&quot;https://1.bp.blogspot.com/-3AYiw5Sv8yU/RvzODTYRVFI/AAAAAAAAABs/-PM_nD-onRgrnk4rqjQOPsbT-1lCn47agCPcBGAYYCw/s1600/Pameran%2BLH.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;240&quot; data-original-width=&quot;320&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;https://1.bp.blogspot.com/-3AYiw5Sv8yU/RvzODTYRVFI/AAAAAAAAABs/-PM_nD-onRgrnk4rqjQOPsbT-1lCn47agCPcBGAYYCw/s400/Pameran%2BLH.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;“Kami sudah berkirim surat ke gubernur tahun lalu untuk meminta peraturan daerah tentang pengelolaan hutan berbasis masyarakat,” ungkap Asri Imran, Ketua Jaringan Masyarakat Desa (Jamasda), Kendari, Propinsi Sulawesi Tenggara. &lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;https://4.bp.blogspot.com/-w3FQTcFwTgc/RvzM4zYRVEI/AAAAAAAAABk/5d_gYmgxeFw31m3ZF2svCB8z35e3D3TtgCPcBGAYYCw/s1600/wartawan%2BLH.JPG&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;240&quot; data-original-width=&quot;320&quot; src=&quot;https://4.bp.blogspot.com/-w3FQTcFwTgc/RvzM4zYRVEI/AAAAAAAAABk/5d_gYmgxeFw31m3ZF2svCB8z35e3D3TtgCPcBGAYYCw/s1600/wartawan%2BLH.JPG&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&quot;Katanya mereka sudah membentuk tim penyusun rancangan peraturan. Tapi, hasilnya belum ada. Kami sudah bosan menunggu janji.” &lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekecewaan Asri terungkap ketika dia, mewakili para petani di kawasan Taman Hutan Raya Murhum, terlibat dalam sebuah diskusi regular yang diselenggrakan oleh Green Press (Perkumpulan Wartawan Lingkungan), Sulawesi Tenggara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada diskusi yang dihadiri berbagai kalangan, mulai dari jurnalis, lembaga swadaya masyarakat, perguruan tinggi, pemerintah daerah hingga kelompok tani itu membahas masalah Taman Hutan Raya Murhum. Hutan yang berada di jantung kota Kendari itu kini makin gawat kondisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi tersebut berlangsung sejak berlakunya Undang-undang Otonomi Daerah yang menyerahkan berbagai kewenangan pemerintah pusat ke daerah. Taman Hutan Raya Murhum yang dulunya dikelola oleh Departemen Kehutanan, kini bak tanpa tuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulitnya memperoleh pekerjaan yang dialami sebagain warga Kendari, membuat sebagian lahan hutan tersebut dimanfaatkan warga. Mereka bercocok tanam dan mengandalkan hutan itu untuk menjalani kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika makin banyak warga yang mengelola lahan, bahkan kini telah berdiri pula villa-villa di kawasan itu, pemerintah daerah mulai kebakaran jenggot. Namun, langkah pemerintah yang akan mengusir ratusan petani dari kawasan tersebut tak berjalan mulus. Berbagai masalah, mulai dari status kawasan, pengelolaan, serta nasib petani merupakan sebagain masalah yang muncul.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://3.bp.blogspot.com/-VYRr-pMoTHk/RvzQLzYRVHI/AAAAAAAAAB8/PT65qP8kA88v8NWEx2LzfZK_SG2uN9FFwCPcBGAYYCw/s1600/Awak%2BGreen%2BPress.JPG&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; data-original-height=&quot;240&quot; data-original-width=&quot;320&quot; src=&quot;https://3.bp.blogspot.com/-VYRr-pMoTHk/RvzQLzYRVHI/AAAAAAAAAB8/PT65qP8kA88v8NWEx2LzfZK_SG2uN9FFwCPcBGAYYCw/s1600/Awak%2BGreen%2BPress.JPG&quot; /&gt;&lt;/a&gt;Green Press memandang hal tersebut sebagai masalah yang sangata penting untuk dibahas dan perlu kajian mendalam. Yos Hasrul, Ketua Green Press, mengatakan ada banyak sekali masalah yang muncul dalam kasus itu. “Pada dasarnya, dengan mengajak berbagai pihak duduk bersama, kami ingin masalah tersebut diselesaikan dengan baik dan melibatkan semua pihak yang terkait,” ujar Yos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga mengatakan, dari beberapa kali diskusi yang diselenggarakan telah teridentifikasi beberapa masalah. “Salah satunya tentang pembentukan Peraturan Daerah tentang Taman Hutan Raya tersebut yang menguntungkan semua pihak dan kami mendorong proses ke arah itu,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini tim perumus Rancangan Peraturan Daerah mengenani hutan tersebut telah terbentuk. Dan yang menggembirakan, selain kalangan lembaga swadaya masyarakat, perwakilan dari petani juga ikut terlibat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusi seperti itu bukan hanya satu-satunya aktivitas Green Press. Berbagai pelatihan bagi para wartawan mengenai isu-isu lingkungan mereka gelar. Sehingga para jurnalis di Kendari memiliki wawasan dan perspektif lingkungan yang baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam berbagai aktivitasnya, Green Press kerap melibatkan berbagai pihak. Baik kalangan pemerintah, pegiat lembaga swadaya masyarakat, serta kalangan perguruan tinggi. “Dengan seringnya duduk bersama, kami menjadi akrab dan dapat mengatasi berbagai masalah yang menguntungkan semua pihak,” kata Marwan Azis, Sekretaris Jendral Green Press.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepedulian kalangan jurnalis terhadap lingkungan bukan hanya terjadi di Kendari. Di Makassar, beberapa orang jurnalis dan pegiat lembaga masyarakat berhimpun dalam sebuah wadah bernama Jurnal Celebes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mustam Arif, salahsatu pegiat Jurnal Celebes, mengatakan lembaganya terbentuk karena kalangan jurnalis perlu mendapatkan sosialisasi dan pendidikan yang cukup di bidang pelestarian lingkungan hidup. “Karena fungsi dan perannya sebagai penyebar informasi yang sangat strategis, jurnalis diperlukan untuk mendorong kampanye pengelolaan sumber daya alam,” ucapnya. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Lembaga yang dibentuk 5 Juli 2000 ini beranggotakan jurnalis pegiat lembaga swadaya masyarakat. Dengan anggota dari dua kalangan tersebut membuat mereka saling berbagai kemampuan dan wawasan dalam bidang lingkungan. Dari kolaborasi tersebut, hasil investigasi kasus-kasus lingkungan yang dilakukannya diapresiasi berbagai pihak.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Baik Green Press maupun Jurnal Celebes merupakan mitra Program Kehutanan Multipihak (Multistakeholders Forestry Programme - MFP), sebuah program kerjasama antara lembaga Inggris Department for International Development (DFID) dengan Departemen Kehutanan Republik Indonesia. Kedua lembaga informasi dan komunikasi itu berperan baik dalam menyebarluaskan kepedulian semua pihak terhadap pelestarian lingkungan maupun dalam menjembatani dialog antar berbagai komponen masyarakat yang memiliki kepentingan berbeda dengan tujuan mencari solusi yang bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam satu kesempatan, Jurnal Celebes mempresentasikan hasil investigasi penebangan dan perdagangan kayu ilegal di Sulawesi Selatan. Presentasi disampaikan kepada anggota komisi yang relevan di Dewan Perwakilan Daerah Sulawesi Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui paparan data dan didukung film dokumenter, mereka menunjukkan aktivitas penebangan liar di Kabupaten Luwu, Kota Palopo, Kabupaten Luwu Utara, Kabupaten Luwu Timur, Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Mamuju yang kini masuk wilayah Sulawesi Barat.  &lt;br /&gt;Melihat hasil investigasi dan wawasannya mengenai pengelolaan sumber daya alam, DPRD Sulawesi Selatan diminta untuk berpartisipasi dalam penyusunan draft Peraturan Daerah Pengelolaan Hutan di Sulawesi Selatan. Basri Andang, pegiat Jurnal Celebes, mengatakan dengan paparan dan bukti-bukti itu telah memicu anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah menggelar Rapat Kerja Khusus yang melibatkan  berbagai pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengalamannya bertahun-tahun mengkampanyekan pengelolaan sumber daya alam, Jurnal Celebes merasa bahwa kemasan menjadi sangat penting. Pola kampanye yang biasa dilakukan lembaga swadaya masyarakat dengan menampilkan data-data merupakan hal yang tidak menarik. “Kolaborasi dengan jurnalis yang mampu mengemas tulisan dengan menarik merupakan cara yang baik dalam kampanye,” jelas Basri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mardiana Rusli, kontributor ANTV di Makassar, merasa apa yang dilakukan Jurnal Celebes memberi manfaat yang besar baginya. “Diskusi dan perjalanan ke lapangan bersama mereka memberikan pengalaman dan perspektif yang baik bagi liputan saya mengenai lingkungan,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesungguhan dan konsistensi Jurnal Celebes mengkampanyekan pengelolaan sumber daya alam yang baik membuat para jurnalis senang. Apalagi data-data yang dipaparkan oleh Jurnal Celebes dikemas dengan menarik. “Konsistensi dan data-data yang mudah dipahami sangat memudahkan kami mengemasnya menjadi berita yang pantas disodorkan kepada pembaca,” kata Ina Rahlina, Redaktur Tribun Timur, sebuah koran milik Grup Kompas yang terbit di Makassar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengemasan data-data dan penulisan yang menarik dilakukan Jurnal Celebes muncul tidak seketika. “Hal itu terbentuk karena seringnya kami berdiskusi dengan berbagai kalangan. Dan yang terpenting, kami ingin kampanye mengenai lingkungan dapat diterima berbagai pihak,” kata Basri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialog dan bekerja dengan melibatkan berbagai pihak merupakan kunci dari semuanya. Kolaborasi jurnalis dan aktivis lingkungan dalam Jurnal Celebes telah membuktikan manfaatnya.[*]&lt;/span&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;&lt;!--
google_ad_client = &quot;ca-pub-6463152978813595&quot;;
/* Go Green 2 */
google_ad_slot = &quot;1542953554&quot;;
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;
src=&quot;http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js&quot;&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.greenpress.or.id/feeds/7431941420411589778/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8725791079724163569&amp;postID=7431941420411589778&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/7431941420411589778'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/7431941420411589778'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.greenpress.or.id/2007/10/menjadi-jembatan-menjadi-obor-kesadaran.html' title='Menjadi Jembatan, Menjadi Obor Kesadaran'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://2.bp.blogspot.com/-LWG_Josz468/Rv901zYRVQI/AAAAAAAAADE/9Yx3LKpRXHIen94TGlHp38aI0jjd9UfRQCPcBGAYYCw/s72-c/b%2527day%2B092.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569.post-5959370267555693228</id><published>2017-06-16T16:49:00.001+07:00</published><updated>2022-04-01T17:02:58.874+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Blog"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Gerakan Lingkungan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Green Press"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Indeks"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kolom"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Slider"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Yos Hasrul"/><title type='text'>Gerakan Pro Lingkungan Kian Tumpul</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://3.bp.blogspot.com/-xZJTcyJIOxc/WDHeVNZAbQI/AAAAAAAAA1Q/3k3-gTHCa9gtogBBv_-wWEcbN2__Upl8QCLcB/s1600/yoshasrul.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;320&quot; src=&quot;https://3.bp.blogspot.com/-xZJTcyJIOxc/WDHeVNZAbQI/AAAAAAAAA1Q/3k3-gTHCa9gtogBBv_-wWEcbN2__Upl8QCLcB/s320/yoshasrul.jpg&quot; width=&quot;272&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Oleh : Yos Hasrul*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat perkebunan dan tambang menyerbu . Bentang hutan alam di  negeri-negeri ini sebagian besar telah hilang. Coba lihat, gunung-gunung  telah gundul. Pohon-pohon tercerabut dari tanah. Tanah desa berubah  jadi kubangan raksasa. Jalan raya sebagian besar rusak parah. Kata  kesejahteraan masih sangat jauh dari rakyat.&lt;br /&gt;&lt;span id=&quot;more-270&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Nasib rakyat tetap sama, meski investor berlomba-lomba mengkavling tanah. Tak ada perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari lalu, saya sempat mampir di bumi konawe utara. Menjejal  jalan-jalan di ujung desa. Melewati rumah-rumah yang berdebu dan jauh  dari sebutan sejahtera. Sepanjang mata memandang hanya terlihat pohon  sawit berjejal hingga ke puncak bukit. Seluruh hutan alam telah berganti  pohon sawit. Di belakang desa, gunung-gunung mulai bolong-bolong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mampir di salah satu perkampungan eksodus ambon di Desa Tobi  Meita. Nama desa Tobi Meita dalam bahasa setempat berarti gunung tinggi.  Nama ini diambil karena di belakang desa gugus pengunung menjulang  berderet dengan pepohonan yang rapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di desa itu Saya bertemu seorang kawan, yang juga tokoh pemuda di  sana. Ia kemudian mengantar berkeliling kampung memperlihatkan kondisi  terkini di desanya. Kami melewati jalan tanah padat berwarna kemerahan.  Jalan desa ini beralih menjadi jalan produksi tambang, dimana  mobil-mobil raksasa lalulalang mengangkut ore nikel menuju pelabuhan di  ujung desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kejauhan koloni pohon di puncak gunung mengecil merapat di  sebelah utara desa. Tersisa itu saja. Sebagian hutan telah beralih  fungsi. Di bawah gunung puluhan alat berat ‘mengamuk’, meraung-raung  menggali perut gunung, mengambil material tanah ore (nikel)-nya.  Keliatannya, sebentar lagi, ‘kaki langit’ desa tobi meita itu akan  rontok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya gunung diterabas. Sebagian besar tanah datar di desa telah  digali dan berubah menjadi kubangan raksasa. Warga hanya bisa meratap  dan menatap nanar. Warga setempat sempat marah besar pada perusahaan  yang hanya datang mengambil tanah, kemudian pergi meninggalkan kubangan  danau sedalam lima belas meter. Meninggalkan rasa takut bagi warga. Saya  membayangkan warga desa akan kehilangan anak-anak mereka dikubangan  itu. Warga telah pula berkali-kali menagih janji perusahaan mereklamasi  ulang kubangan itu, tapi hingga kini belum direalisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Kendari, tak ada lagi yang mendiskusikan nasib lingkungan dan  rakyat di pelosok sana. Gerakan pro lingkungan kian tumpul. Tak seperti  dua atau tiga tahun lalu, selalu ada rasa prihatin, selalu ada amarah  setiap kali berdiskusi di kantor dan di hotel-hotel mewah. Prihatin  benar-benar prihatin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;*Penulis adalah jurnalis lingkungan dan juga Koordinator Greenpress Kendari.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;&lt;!--
google_ad_client = &quot;ca-pub-6463152978813595&quot;;
/* Go Green 2 */
google_ad_slot = &quot;1542953554&quot;;
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;
src=&quot;http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js&quot;&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.greenpress.or.id/feeds/5959370267555693228/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8725791079724163569&amp;postID=5959370267555693228&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/5959370267555693228'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/5959370267555693228'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.greenpress.or.id/2016/11/gerakan-pro-lingkungan-kian-tumpul.html' title='Gerakan Pro Lingkungan Kian Tumpul'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://3.bp.blogspot.com/-xZJTcyJIOxc/WDHeVNZAbQI/AAAAAAAAA1Q/3k3-gTHCa9gtogBBv_-wWEcbN2__Upl8QCLcB/s72-c/yoshasrul.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569.post-6266270442507032823</id><published>2017-05-08T07:26:00.001+07:00</published><updated>2017-05-08T07:26:00.325+07:00</updated><title type='text'>Ini 14 Surga Air Terjun Terindah di Sulawesi Tenggara</title><content type='html'>&lt;iframe allowfullscreen=&quot;&quot; frameborder=&quot;0&quot; height=&quot;270&quot; src=&quot;https://www.youtube.com/embed/V2eAofUPlhw&quot; width=&quot;480&quot;&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;&lt;!--
google_ad_client = &quot;ca-pub-6463152978813595&quot;;
/* Go Green 2 */
google_ad_slot = &quot;1542953554&quot;;
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;
src=&quot;http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js&quot;&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.greenpress.or.id/feeds/6266270442507032823/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8725791079724163569&amp;postID=6266270442507032823&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/6266270442507032823'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/6266270442507032823'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.greenpress.or.id/2017/05/ini-14-surga-air-terjun-terindah-di.html' title='Ini 14 Surga Air Terjun Terindah di Sulawesi Tenggara'/><author><name>yoshasrul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06220060028969275961</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-j2L5rUWeQB4/Tq0s0dk9QgI/AAAAAAAAABE/gIaBxrzT2mM/s220/75161_181205545229430_100000199573929_762618_418008_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://img.youtube.com/vi/V2eAofUPlhw/default.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569.post-2475557652250313964</id><published>2017-04-06T21:39:00.001+07:00</published><updated>2017-06-16T23:21:10.359+07:00</updated><title type='text'>Das Limboto nasibmu kini</title><content type='html'>&lt;iframe allowfullscreen=&quot;&quot; frameborder=&quot;0&quot; height=&quot;344&quot; src=&quot;https://www.youtube.com/embed/IwIIVRm5n8I&quot; width=&quot;459&quot;&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim Greenpress mendokumentasikan pendangkalan Danau Limboto, Gorontalo termasuk mendengarkan suara-suara warga tentang kondisi danau yang memiliki nilai sejarah tersebut..&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;&lt;!--
google_ad_client = &quot;ca-pub-6463152978813595&quot;;
/* Go Green 2 */
google_ad_slot = &quot;1542953554&quot;;
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;
src=&quot;http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js&quot;&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.greenpress.or.id/feeds/2475557652250313964/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8725791079724163569&amp;postID=2475557652250313964&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/2475557652250313964'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/2475557652250313964'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.greenpress.or.id/2017/04/das-limboto.html' title='Das Limboto nasibmu kini'/><author><name>yoshasrul</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06220060028969275961</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/-j2L5rUWeQB4/Tq0s0dk9QgI/AAAAAAAAABE/gIaBxrzT2mM/s220/75161_181205545229430_100000199573929_762618_418008_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://img.youtube.com/vi/IwIIVRm5n8I/default.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569.post-5812932944155758734</id><published>2017-02-27T14:38:00.000+07:00</published><updated>2017-06-16T21:07:59.547+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Energi"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="OPINI"/><title type='text'>Energi Berbasis Ekotropika</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://1.bp.blogspot.com/-ca0J7s8ZrEg/T0vPBVVanGI/AAAAAAAAAEQ/TngDSvI1nCA/s1600/panel-sel-surya.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;211&quot; src=&quot;https://1.bp.blogspot.com/-ca0J7s8ZrEg/T0vPBVVanGI/AAAAAAAAAEQ/TngDSvI1nCA/s320/panel-sel-surya.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;Setiap pengurangan subsidi bahan bakar minyak, mempunyai sisi lain yaitu &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;kesempatan pemerintah untuk &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;secara serius mengembangkan energi alternatif yang &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;ramah lingkungan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: -webkit-auto;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;Subsidi minyak telah lama dikenal sebagai hambatan ekonomi-politik yang membuat pengembangan energi non-hidrokarbon, kecuali panas bumi, menjadi relatif mahal.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;Para pakar energi telah ditantang Presiden mengembangkan&lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt; blue energy, green energy&lt;/i&gt;, dan bentuk terbarukan lainnya. Selain pertimbangan ekonomi, teknologi, dan sosial-budaya, maka lingkungan hidup semestinya menjadi pertimbangan utama dalam kebijakan nasional ini. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;Salah satu prinsip yang penting adalah kebijakan energi yang tidak melawan alam, artinya selaras dengan kenyataan ruang hidup (biosfer) tempat bangsa Indonesia tinggal dan berkembang, yaitu energi berbasis ekologi tropis atau ekotropika.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;Basis ekotropika artinya mempertimbangkan semua kenyataan potensi yang ada di daerah tropis, dan menyusun serta mengembangkan kebijakan energi berdasarkan potensi itu. Kenyataan ekologis itu, antara lain, pertama, bahwa keanekaragaman spesies daerah tropis sangat tinggi, tetapi jumlah populasi tiap spesies rendah. Ada dua konsekuensi kondisi ini, yaitu bahan baku &lt;i style=&quot;mso-bidi-font-style: normal;&quot;&gt;green energy&lt;/i&gt; tersedia melimpah, tetapi alamnya tidak cocok untuk mengembangkan tanaman monokultur dalam hamparan yang sangat luas. &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;Membuka satu juta hektare hutan untuk perkebunan sawit yang akan diambil minyaknya, sangat membahayakan ekosistem tropis karena jumlah keanekaragaman jenis yang hilang akan sangat tinggi dibandingkan kawasan beriklim sedang dan dingin. Boleh jadi, di antara yang hilang itu adalah bahan baku energi yang potensial.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;Di dalam setiap hektare hutan tropis diperkirakan ada 320 pohon yang garis tengahnya lebih dari 10 cm, merupakan jumlah spesies tertinggi dibandingkan jenis hutan lainnya di bumi. &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: white; background-image: initial; background-origin: initial; font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;Menurut Mustaid Siregar, Kepala Pusat Konservasi Tumbuhan&lt;span class=&quot;apple-converted-space&quot;&gt;&amp;nbsp;Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;background-attachment: initial; background-clip: initial; background-color: white; background-image: initial; background-origin: initial; font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;, meskipun Indonesia kaya akan keragaman flora, namun, saat ini baru ada 8.000 jenis yang sudah teridentifikasi. Jumlah tersebut diperkirakan baru 20 persen dari jumlah flora yang ada di Indonesia. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;Hutan-hutan Indonesia juga menyimpan jumlah karbon yang sangat besar. Menurut FAO, jumlah total vegetasi hutan Indonesia meningkat lebih dari 14 miliar ton biomassa, jauh lebih tinggi daripada negara-negara lain di Asia dan setara dengan 20% biomassa di seluruh hutan tropis di Afrika dan jumlah biomassa ini secara kasar menyimpan 3,5 milliar ton karbon. &amp;nbsp;Artinya membuka hutan dalam skala massif untuk perkebunan kelapa sawit, sama saja dengan meningkatkan jumlah karbon di udara dan membuat Indonesia bertambah rentan terhadap dampak perubahan iklim&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;Kedua, berkaitan dengan posisi geografis dan faktor geologis. Proses geologis telah membentuk ruang hidup Indonesia sebagai kepulauan yang dipisahkan laut, sehingga bentuk pengembangan energi yang cocok adalah beragam, berskala kecil dan tersebar. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;Biarkan listrik yang dihasilkan oleh &amp;nbsp;Perusahaan Listrik Negara memasok energi untuk industri-industri besar, tetapi kampung dan dusun diterangi oleh energi mikrohidro, panel surya, atau wind turbin, dan biarkan ibu-ibu memasak dengan biomassa dari pembakaran sampah dan feses, bukan listrik dari luar daerahnya yang ditarik oleh jaringan tegangan tinggi yang sangat mahal. Prinsip ini sesuai dengan ketahanan ekosistem di alam: makin beragam spesies, makin kuat ekosistem itu. &amp;nbsp;Kota Bekasi di Jawa Barat telah memberikan contoh, bagaiman sampah perkotaan mereka ternyata mampu menghasilkan listrik untuk beberapa ribu rumah tangga dan tetap menjadi investasi yang menguntungkan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;line-height: 115%; margin-bottom: 7.5pt; margin-left: 0in; margin-right: 0in; margin-top: 7.5pt; text-align: justify;&quot;&gt;Posisi geografis membuat Indonesia berlimpah dengan kawasan hutan, cahaya matahari, hujan, angin, dan biomassa. Artinya, Indonesia tidak akan pernah kekurangan bahan baku energi bila lingkungan hidupnya terjaga. Air terjun akan selalu mengalir deras untuk memutar turbin mikrohidro, cahaya matahari dan hujan akan membuat hutan terus tumbuh dan menghasilkan biomassa yang dapat diolah menjadi energi. Indonesia membutuhkan dana investasi untuk pengembangan energi baru dan terbarukan sebesar Rp 134,6 triliun. Kebutuhan investasi tersebut selama 15 tahun ke depan tercantum dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;line-height: 115%; margin-bottom: 7.5pt; margin-left: 0in; margin-right: 0in; margin-top: 7.5pt; text-align: justify;&quot;&gt;Dana tersebut akan dialokasikan untuk pengembangan energi baru terbarukan di lima koridor yaitu Sumatera Rp 25,06 triliun, Jawa Rp 86,3 triliun, Sulawesi Rp 15,77 triliun, Bali-Nusa Tenggara 2,64 triliun serta Papua-Maluku Rp 4,83 triliun. Dan hanya lima persen dari potensi yang ini yang sudah dimanfaatkan di Indonesia.&amp;nbsp; Panas bumi misalnya, meskipun Indonesia merupakan negara dengan potensi panas bumi terbesar di dunia dengan potensi sebanyak 29.038 Megawatt, tetapi hanya 4 persen atau 1.189 Megawatt yang diproduksi.&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;Matahari cuma bersinar penuh di Eropa tak lebih dari tiga bulan, karena itulah mereka tidak mengutamakan energi surya kecuali beberapa lokasi di Spanyol. &amp;nbsp;Karena itulah mereka sangat berkepentingan melanggengkan penggunaan energi fosil terutama batubara. Perusahaan minyak Amerika dan Eropa telah berinvestasi begitu besar di seluruh dunia. Kepentingan terbesar adalah pemasaran barang dan teknologi berbahan bakar minyak bumi. Eropa Barat, Jepang, China, dan Amerika adalah produsen utama mesin-mesin dunia yang hampir semuanya masih berbasis energi karbon. Mustahil mereka menjadi pelopor penggunaan energi alternatif, karena itu akan memukul balik industrinya. Itu pula sebabnya, bahkan di negara-negara maju, pengembangan energi alternatif masih berskala inovasi individu.&amp;nbsp; Tetapi di Indonesia, matahari bersinar hampir sepanjang tahun yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;Ketiga, berkaitan dengan proses-proses alami hutan hujan tropis. Banyak sekali orang yakin tanah hutan tropis Indonesia sangat kaya unsur hara sehingga bernafsu mengkonversinya menjadi perkebunan. Kenyataannya, lapisan unsur haranya begitu tipis sehingga mudah luruh. Kanopi hutan yang tertutup dan struktur yang berlapis-lapis berfungsi menyaring unsur hara dari air yang jatuh, sehingga hanya sedikit zat hara yang sampai ke tanah.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;Ekolog Norman Myers menyimpulkan, banyak sekali tumbuhan tropis menyimpan hingga 90 persen zat hara di dalam vegetasinya, sehingga tanahnya miskin mineral yang dapat dipertukarkan tetap masam dan tidak subur. Pembukaan atau pembakaran hutan akan memicu aliran mineral ke dalam tanah, dan setelah pencucian akibat hujan, mineral itu menembus lebih jauh ke dalam tanah. Karena mata rantai daur hara terputus, maka tanaman berakar pendek seperti kelapa sawit tidak akan mampu menjangkaunya dan kesuburan hanya mampu dipulihkan dengan peningkatan jumlah pupuk. Konsekuensinya, &amp;nbsp;konversi hutan tropis membawa banyak sekali kerugian yang tak ternilai.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;Keempat, lahan kritis. Variasi iklim yang terbatas yakni hanya musim hujan dan kemarau, ditambah matahari yang bersinar sepanjang tahun, menyebabkan lahan-lahan yang dibiarkan kritis dan gundul di daerah tropis akan menderita kerusakan yang parah. Peluruhan hara akan terjadi sebelum dapat diambil kembali oleh tumbuhan. Pada 2011 luas kebun kelapa sawit 7,5 juta hektare, tetapi izin konversi hutan yang telah diberikan lebih dari 20 juta hektare, sehingga hampir&amp;nbsp; 60% dibiarkan menjadi lahan kritis. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;Desakan untuk mengkonversi lahan gambut menjadi kebun kelapa sawit juga layak ditolak karena gambut adalah penyimpan karbon utama sehingga konversinya akan melepas gas rumah kaca ke udara. Untuk menekan nafsu menggerus gambut, maka skema pendanaan lingkungan seperti REDD, perdagangan karbon, atau debt for nature swap harus dipercepat realisasinya. Jadi, sangat diperlukan aturan tegas yang mewajibkan pengusaha green energy memakai lahan kritis yang ada.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;Hambatan lain adalah kelembagaan. Sulit membayangkan kita menyerahkan urusan energi alternatif ini kepada lembaga pemerintah yang masih dikuasai cara berpikir carbon-minded seperti Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral atau perusahaan listrik negara (PLN). Presiden atau Wakil Presiden sebaiknya memimpin sekumpulan ilmuwan multidisiplin dalam sebuah badan independen dengan tenggat program yang jelas untuk menerabas rantai birokrasi dan cara berpikir konvensional ini. Indonesia juga tidak perlu berkonsentrasi pada energi biru, hijau, atau hitam saja, tetapi mengembangkannya sekaligus secara komprehensif dan padu seperti warna-warni pelangi. (IGG Maha Adi) *&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 18px;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;&lt;!--
google_ad_client = &quot;ca-pub-6463152978813595&quot;;
/* Go Green 2 */
google_ad_slot = &quot;1542953554&quot;;
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;
src=&quot;http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js&quot;&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.greenpress.or.id/feeds/5812932944155758734/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8725791079724163569&amp;postID=5812932944155758734&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/5812932944155758734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/5812932944155758734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.greenpress.or.id/2012/02/energi-berbasis-ekotropika.html' title='Energi Berbasis Ekotropika'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://1.bp.blogspot.com/-ca0J7s8ZrEg/T0vPBVVanGI/AAAAAAAAAEQ/TngDSvI1nCA/s72-c/panel-sel-surya.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569.post-3383545230151592445</id><published>2016-05-23T02:05:00.001+07:00</published><updated>2016-05-23T02:05:18.657+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="News"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Satwa"/><title type='text'>Orangutan betina tertua kedua di dunia mati di Illinois</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://1.bp.blogspot.com/-3Grw3ZCDLiI/V0ICy9-2u8I/AAAAAAAAAwo/Y5X9Wl5x0Ts7-zCRNzbFkNHV9AxEqjy7gCLcB/s1600/orangutan%2B4.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;426&quot; src=&quot;https://1.bp.blogspot.com/-3Grw3ZCDLiI/V0ICy9-2u8I/AAAAAAAAAwo/Y5X9Wl5x0Ts7-zCRNzbFkNHV9AxEqjy7gCLcB/s640/orangutan%2B4.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Orangutan Maggie saat menjadi ibu pengganti bagi Kecil di Brookfield  Zoo, Illinois, Amerika Serikat, dalam foto yang diambil pada 12 Juli  2014. Foto : Chicago Zoological Society/Brookfield Zoo.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;JAKARTA, Orangutan berusia 54 tahun di Brookfield Zoo di Illinois, Amerika  Serikat, mati pada Jumat (20/5), setelah menjadi orangutan betina tertua  kedua di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petugas melakukan prosedur eutanasia pada orangutan Kalimantan bernama Maggie itu karena kondisi kesehatannya terus memburuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebun  binatang menyatakan bahwa Maggie, yang punya reputasi sebagai orangutan  dengan rasa ingin tahu dan intelegensia, lahir di San Diego Zoo tahun  1961.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia melahirkan empat keturunan di sana sebelum menjadi ibu  pengganti bagi dua bayi orangutan menurut pernyataan kebun binatang yang  dikutip kantor berita Reuters.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orangutan betina tertua di dunia  lahir tahun 1955 dan saat ini tinggal di Tama Zoological Park di Tokyo,  kata juru bicara Chicago Zoological Society Sondra Katzen. (Antara)&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;&lt;!--
google_ad_client = &quot;ca-pub-6463152978813595&quot;;
/* Go Green 2 */
google_ad_slot = &quot;1542953554&quot;;
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;
src=&quot;http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js&quot;&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.greenpress.or.id/feeds/3383545230151592445/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8725791079724163569&amp;postID=3383545230151592445&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/3383545230151592445'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/3383545230151592445'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.greenpress.or.id/2016/05/orangutan-betina-tertua-kedua-di-dunia.html' title='Orangutan betina tertua kedua di dunia mati di Illinois'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://1.bp.blogspot.com/-3Grw3ZCDLiI/V0ICy9-2u8I/AAAAAAAAAwo/Y5X9Wl5x0Ts7-zCRNzbFkNHV9AxEqjy7gCLcB/s72-c/orangutan%2B4.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569.post-7955274238668100220</id><published>2016-05-04T02:59:00.000+07:00</published><updated>2016-11-21T03:02:00.091+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Google"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Green Press"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Jane Jacobs"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Jurnalis Lingkungan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="News"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Wartawan Lingkungan"/><title type='text'>Jane Jacobs, Wartawan Pencinta Lingkungan Nongol di Google Doodle</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://1.bp.blogspot.com/-hvWK3znYanc/WDIAmpcv5MI/AAAAAAAAA2s/u2LH-_28mMwshRORPwo46NMIDz4-Qv0RwCLcB/s1600/jurnalis%2Blingkungan.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;354&quot; src=&quot;https://1.bp.blogspot.com/-hvWK3znYanc/WDIAmpcv5MI/AAAAAAAAA2s/u2LH-_28mMwshRORPwo46NMIDz4-Qv0RwCLcB/s640/jurnalis%2Blingkungan.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;JAKARTA, GREENPRESS- Hari ini, Rabu (4/5/2016) Google memajang sosok Jane Jacobs di Google Doodle. Perempuan berkacamata itu tampak berdiri di antara gedung-gedung bertingkat di sebuah kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah  Jane Jacobs? Dikutip dari sejumlah sumber, perempuan yang terlahir  dengan nama Jane Butzner ini lahir di Pennsylvania, 4 Mei 1916. Jacobs  adalah seorang wartawan, penulis buku, sekaligus aktivis berdarah  Amerika-Kanada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lulusan Universitas Columbia ini juga dikenal  sebagai pemikir bidang studi urban. Ia berpendapat, pembaruan perkotaan  tidak mengedepankan kebutuhan masyarakat asli sebuah kota. &lt;br /&gt;&lt;div class=&quot;baca-juga&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Karena itu, pada 1950-1960-an, ia mencetuskan gerakan untuk menentang  penggusuran di tempat tinggalnya, yakni Greenwich Village di New York  City, Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu penggusuran dilakukan dengan  tujuan untuk membangun jalan bebas hambatan Lower Manhattan yang  menghubungkan SoHo dan Little Italy. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat pembangunan ini,  beberapa blok di Greenwich Village harus dihancurkan, sehingga 132  keluarga kehilangan tempat tinggal. Selain itu, seribu pebisnis kecil  harus mengungsikan usahanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penolakan ini menimbulkan  ketidaksepahaman dengan perencana kota. Hingga akhirnya pada 10 April  1968, Jacobs dipenjara karena dituduh menjadi dalang kerusuhan serta  menghalangi administrasi publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, perjuangannya  tidak pernah berhenti. Ia menuangkan seluruh pemikirannya mengenai  perkotaan ke sebuah buku berjudul &lt;i&gt;The Death and Life of Great American Cities.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku  tersebut dikabarkan banyak diadopsi menjadi bagian dari kebijakan tata  kota di daerah Toronto, Kanada. Jacobs pun kemudian tinggal di kota  tersebut hingga meninggal 25 April 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Google mengangkat Jane Jacobs menjadi Google Doodle edisi hari ini bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-100.(Tin/Why/liputan6)&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;&lt;!--
google_ad_client = &quot;ca-pub-6463152978813595&quot;;
/* Go Green 2 */
google_ad_slot = &quot;1542953554&quot;;
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;
src=&quot;http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js&quot;&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.greenpress.or.id/feeds/7955274238668100220/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8725791079724163569&amp;postID=7955274238668100220&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/7955274238668100220'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/7955274238668100220'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.greenpress.or.id/2016/05/jane-jacobs-wartawan-pencinta.html' title='Jane Jacobs, Wartawan Pencinta Lingkungan Nongol di Google Doodle'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://1.bp.blogspot.com/-hvWK3znYanc/WDIAmpcv5MI/AAAAAAAAA2s/u2LH-_28mMwshRORPwo46NMIDz4-Qv0RwCLcB/s72-c/jurnalis%2Blingkungan.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569.post-7043937464033935113</id><published>2016-05-02T02:09:00.000+07:00</published><updated>2016-05-23T02:10:09.440+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Berita Lingkungan"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Green Press"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Laut"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="News"/><title type='text'>Perkenalkan... saya obama, ikan jenis baru</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://4.bp.blogspot.com/-WxbZARrM_HQ/V0ID3JRPGNI/AAAAAAAAAww/tjKbsMZI5S87kzoIYSrm7Fla67UIky7owCLcB/s1600/ikan%2Bobama.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;302&quot; src=&quot;https://4.bp.blogspot.com/-WxbZARrM_HQ/V0ID3JRPGNI/AAAAAAAAAww/tjKbsMZI5S87kzoIYSrm7Fla67UIky7owCLcB/s640/ikan%2Bobama.jpg&quot; width=&quot;640&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Melekat &amp;nbsp;dengan lambang kepresidenan, Obama yang dikenal sebagai  presiden Amerika kini juga dikenal sebagai pemimpin suatu jenis ikan  setelah beberapa peneliti menamakan hasil penemuan terbaru spesies ikan  air tawar mereka dengan nama &lt;i&gt;Etheostoma obama.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jika species baru ikan air tawar itu bisa bicara, mungkin dia akan berkata, &quot;Perkenalkan... saya obama, ikan jenis baru..&quot;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Para  peneliti tersebut memberi nama kelima spesies ikan yang baru mereka  temukan dengan berbagai tokoh kenegaraan, tak terkecuali Obama, yang  dinilai memiliki kemiripan dalam karakteristik sifat dengan spesies ikan  terbaru tersebut.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&quot;Kami pilih nama presiden  Obama karena kepemimpinannya di bidang lingkungan, terutama menciptakan  energi bersih, dan karena dia merupakan salah satu pemimpin pertama yang  melakukan pendekatan konservasi dan perlindungan lingkungan,&quot; ujar  Layman.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Peneliti dari Geosyntec Consultant di  Georgia, Steve Layman, dan Ricky Mayden, dari Universitas Saint Louis,  melihat ikan spesis baru itu pertama kali di Sungai Duck and Buffalo,  yang menjadi bagian dari Sungai Tennessee. &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Beberapa  nama tokoh kenegaraan lain juga pernah dijadikan nama berbagai tempat  dan benda sebagai tanda penghormatan tempat seperti Teddy Roosevelt,  Jimmy Carter, Bill Clinton, dan Al Gore. Semuanya nama-nama petinggi  puncak Amerika Serikat.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ikan tersebut memiliki  beragam warna berbeda di sisiknya, pejantan biasanya berukuran  sepanjang 55 mm dan hidup di air tawar sungai yang membelah jantung  Amerika Serikat.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Nama ikan itu diambil dari cara ikan itu berenang cepat menghindari bebatuan dan benda sungai lain di dasar sungai.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ikan  ini kebanyakan ditemukan hidup di dasar sungai kecil di utara Alabama  dan sebelah timur Tennessee yang merupakan daerah basis Demokrat  berkumpul.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;Etheostoma obama&lt;/i&gt; merupakan ikan kecil berwarna orange dan biru yang berkilauan di sisik dan sirip tipisnya yang melambai-lambai di air. (Ant)&lt;/div&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;&lt;!--
google_ad_client = &quot;ca-pub-6463152978813595&quot;;
/* Go Green 2 */
google_ad_slot = &quot;1542953554&quot;;
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;
src=&quot;http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js&quot;&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.greenpress.or.id/feeds/7043937464033935113/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8725791079724163569&amp;postID=7043937464033935113&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/7043937464033935113'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/7043937464033935113'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.greenpress.or.id/2016/05/perkenalkan-saya-obama-ikan-jenis-baru.html' title='Perkenalkan... saya obama, ikan jenis baru'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://4.bp.blogspot.com/-WxbZARrM_HQ/V0ID3JRPGNI/AAAAAAAAAww/tjKbsMZI5S87kzoIYSrm7Fla67UIky7owCLcB/s72-c/ikan%2Bobama.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569.post-7755635240007236904</id><published>2012-05-01T01:39:00.000+07:00</published><updated>2012-05-02T01:51:26.174+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Laut"/><title type='text'>7 Kapal Penangkap Ikan Hiu Beroperasi di Raja Ampat</title><content type='html'>&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;float: right; margin-left: 1em; text-align: right;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://2.bp.blogspot.com/-nAls8HHftnw/T6AtRm7TwDI/AAAAAAAAARk/iT-ANrfk-Y0/s1600/raja+ampat.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;http://2.bp.blogspot.com/-nAls8HHftnw/T6AtRm7TwDI/AAAAAAAAARk/iT-ANrfk-Y0/s400/raja+ampat.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;kapal penangkap ikan hijau di&amp;nbsp; Raja Ampat.&amp;nbsp; Foto : Wayag Patrol. &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Tujuh kapal penangkap ikan&amp;nbsp; hiau  ditemukan beroperasi secara illegal di Kawasan Konservasi Perairan  Nasional (KKPN)&amp;nbsp; Waigeo Barat, Taman Nasional&amp;nbsp; Raja Ampat. &lt;br /&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas mereka mulai diketahui oleh tim Patroli Kawe pada 28 April  2012. Saat itu, tim Patroli Kawe langsung melakukan penangkapan. 7 Kapal  itu terdiri dari&amp;nbsp; 1 kapal ikan berasal dari Buton, 2 kapal ikan dari  Sorong. Setelah diperiksa seluruh awaknya berasal dari Buton, Sulawesi  Tenggara. &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan 4 kapal ikan&amp;nbsp; lainnya berasal dari Kampung Yoi, Halmahera.  Saat dilakukan penangkapan, kapal-kapal ini sempat mengintimidasi kapal  Tim Patroli Kawe dengan cara 2 kapal nelayan tersebut menjepit speed  Patroli Kawe.&amp;nbsp; Setelah kejadian ini, Tim Patroli Kawe melaporkan ke  kantor CII (Conservasi Internasional Indonesia) di Sorong melalui email,  dan kemudian diteruskan kantor CII Sorong ke kantor Pos Angkatan Laut  di Waisai.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Laporan itu kemudaian ditindak lanjuti oleh Angkatan Laut Wasai. Pada  tanggal 30 April pagi&amp;nbsp; petugas patroli Pos Angkatan Laut Waisai bergerak  ke KKPN Waigeo Barat dan berhasil menangkap ke 7 kapal ikan di Pulau  Sayang.&amp;nbsp; Seluruh dokumen kapal, alat-alat tangkap dan hasil tangkapan  disita sebagai barang bukti untuk dibawa ke Waisai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan ke 7 kapal&amp;nbsp; tersebut&amp;nbsp; hanya diminta untuk ke Waisai. Dari  cerita kronologis yang disampaikan pihak CII, tidak ada&amp;nbsp; penjelasan detail apakah ke 7 kapal  saat&amp;nbsp; perjalanan menuju Wasai dikawal oleh petugas patroli atau tidak?  Namun berdasarkan informasi yang dihimpun hingga berita ini ditulis, ke 7  kapal nelayan itu belum tiba di Wassai. Pihak CII memperkirakan,  kemungkinan mereka melarikan diri. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Laksmi Prasvita, Communication and  Corporate Engagement Manager Conservation International Indonesia  menilai&amp;nbsp; penangkapan ikan di kawasan konservasi Kepulauan Raja Ampat  tersebut dikategorikan illgal karena jika mengacu pada zonasi KKPN  Waigeo Barat yang terdiri dari 3 zonasi, yaitu zona inti, zona  pemanfaatan dan sub zona sasi, maka tidak ada kegiatan penangkapan ikan  yang diperbolehkan di kawasan ini kecuali untuk sasi masyarakat adat  dari Kampung Selpele dan Salio.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Pada umumnya nelayan yang menangkap ikan secara illegal di KKPN Waigeo  Barat berasal dari Halmahera, Buton dan Sorong.&amp;nbsp; Dari barang bukti yang  berhasil diaman petugas patroli, ikan-ikan yang mereka tangkap umumnya  hiu, lola, lobster dan teripang.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Kepada petugas patroli, mereka mengaku menangkap ikan di KKPN Waigeo  Barat umumnya karena ketidapahaman mengenai status KKPN Waigeo Barat.  Padahal menurut pihak CII, sosialisasi status kawasan ini sudah  dilakukan sejak 2007 ke nelayan-nelayan yang menangkap ikan di KKPN  Waigeo Barat.&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Mereka juga menggangap Pulau Sayang dan Pulau Piai yang terdapat di  dalam KKPN Waigeo Barat dianggap berada dalam wilayah administrasi  Kabupaten Halmahera, sehingga ijin-ijin yang digunakan untuk menangkap  ikan di KKPN Waigeo Barat berasal dari kepala kampung Yoi, Halmahera.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Secara adat, kedua pulau tersebut milik hak ulayat suku Kawe yang  berdomisili di Kampung Selpele dan Salio, Kabupaten Raja Ampat. Selain  itu kawasan tersebut sudah ditetapkan sebagai kawasan konservasi oleh  pemerintah pusat. “Pemerintah kabupaten dan pusat seharusnya memberikan  bantuan penegakan hukum untuk kawasan konservasi tersebut,”kata Direktur  Eksekutif CII, Ketut Sarjana Putra saat ditemui di kantornya (1/5).  &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Kantor sekretariat bersama CII, TNC, WWF&amp;nbsp; yang tergabung melalui program  Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) telah mengirim surat laporan aduan  kepada kepada Gubernur Papua Barat dengan tembusan ke Menteri Kelautan  dan Perikanan. Ketiga lembaga konservasi itu berharap agar Gubernur  Papua Barat mau bekerjasama membantu mengatasi aktivitas illegal di  kawasan konservasi&amp;nbsp; Kepulauan Raja Ampat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepulauan Raja Ampat terletak di barat laut kepala burung Pulau Papua,  memiliki kurang lebih 1500 pulau kecil dan atoll (kelompok pulau karang  yang melingkar) serta 4 pulau besar yang utama, yakni Misol, Salawati,  Bantata dan Waigeo. Luas area ini kurang lebih 4 juta hektar persegi  darat dan lautan – termasuk sebagian Teluk Cendrawasih&amp;nbsp; dan merupakan  sebagai taman laut terbesar di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan hayati dan biota laut Raja Ampat paling kaya dan beranekaragam  dari seluruh area taman laut di wilayah segitiga koral dunia, Philipina  – Indonesia – Papua Nuigini. Segitiga coral ini merupakan jantung  kekayaan terumbu karang dunia yang dilindungi dan ditetapkan berdasarkan  konservasi perlindungan alam Internasional.&amp;nbsp; Namun kini, kelestariannya  mulai terancam oleh aktivitas kapal penangkap ikan illegal yang  memasuki kawasan konservasi bawa laut&amp;nbsp; terindah di dunia itu.&lt;b&gt;(Surya Rinanda Ariani/Marwan Azis)&lt;/b&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;&lt;!--
google_ad_client = &quot;ca-pub-6463152978813595&quot;;
/* Go Green 2 */
google_ad_slot = &quot;1542953554&quot;;
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;
src=&quot;http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js&quot;&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.greenpress.or.id/feeds/7755635240007236904/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8725791079724163569&amp;postID=7755635240007236904&amp;isPopup=true' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/7755635240007236904'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/7755635240007236904'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.greenpress.or.id/2012/05/7-kapal-penangkap-ikan-hiu-beroperasi.html' title='7 Kapal Penangkap Ikan Hiu Beroperasi di Raja Ampat'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-nAls8HHftnw/T6AtRm7TwDI/AAAAAAAAARk/iT-ANrfk-Y0/s72-c/raja+ampat.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569.post-9049281834070575557</id><published>2012-04-30T23:34:00.002+07:00</published><updated>2012-04-30T23:35:43.851+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Laut"/><title type='text'>WWF Tanggapi Tuduhan &quot;Greenwashing&quot;</title><content type='html'>&lt;h1 class=&quot;singlePageTitle&quot;&gt;&lt;a class=&quot;addthis_button_compact at300m&quot; href=&quot;http://www.beritalingkungan.net/2012/04/wwf-tanggapi-tuduhan-greenwashing.html#&quot;&gt;&lt;span class=&quot;at16nc at300bs at15nc at15t_compact at16t_compact&quot;&gt;&lt;span class=&quot;at_a11y&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;float: left; text-align: left;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://4.bp.blogspot.com/-FNUFF46kPFU/T56yCR3tJhI/AAAAAAAAAXo/a3e8pFnXMfE/s1600/10_bmp_penanganan_penyu_1_27292.jpg&quot; style=&quot;clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;http://4.bp.blogspot.com/-FNUFF46kPFU/T56yCR3tJhI/AAAAAAAAAXo/a3e8pFnXMfE/s1600/10_bmp_penanganan_penyu_1_27292.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/h1&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: normal;&quot;&gt;World Wildlife Fund (WWF) Indonesia akhirnya memberikan tanggapan terkait soal &lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;font-weight: normal;&quot;&gt;&quot;Greenwashing&quot;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: normal;&quot;&gt; yang diduga dilakukan WWF pada industri budidaya udang dan salmon.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class=&quot;mbl notesBlogText clearfix&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam tanggapannya yang beredar di social media, WWF menyatakan, sebagai organisasi  konservasi, WWF sangat peduli terhadap dampak buruk yang ditimbulkan  oleh industri udang dan salmon, khususnya terhadap persoalan lingkungan  dan sosial di wilayah kerja&amp;nbsp; WWF&amp;nbsp; di seluruh dunia seperti di Chili,  Mekong, Coral Triangle termasuk Indonesia, dan juga tempat-tempat  lainnya dengan produksi budidaya perikanan sangat tinggi, seperti  Norwegia dan Skotlandia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Pihak WWF juga menyatakan tidak  menutup mata terhadap pandangan kritis atas budidaya perikanan, termasuk  diantaranya budidaya salmon dan udang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tahun 2007 sebuah forum multipihak yang dinamakan Forum Dialog  Budidaya Udang dan Forum Dialog Budidaya Salmon didirikan atas inisiatif  WWF untuk menjembatani kepentingan pelaku industri komoditas salmon dan  udang dengan pasar, masyarakat, dan aktivis lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Lebih dari 400 orang telah  berpartisipasi dalam forum yang pesertanya terdiri dari 30 persen LSM,  30 persen pelaku industri, 15 persen Peneliti, dan 25 persen pembeli,  pemerintah dan elemen masyarakat lainnya. Beberapa pelaku industri  budidaya udang dengan skala kecil juga terlibat seperti dari India,  Filipina, Vietnam, dan Thailand.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Forum dialog dalam perjalannya menyepakati standar prilaku produksi yang  lebih bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan.&amp;nbsp; Menurut WWF,  sertifikasi pada industri tersebut merupakan media untuk memantau  produksi komoditas tersebut agar memenuhi kriteria ramah sosial dan  lingkungan, tentu dengan prinsip prinsip kehati-hatian yang sangat  tinggi.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Dengan terus meningkatnya permintaan seafood sebagai sumber protein  utama dunia, WWF memilih untuk menanggulangi dampak yang ditimbulkan  dari industri Salmon dan budidaya udang ketimbang mengabaikannya. &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;WWF meyakini bahwa upaya pendekatan kepada pelaku industri udang dan  solmon, dapat mengurangi dampak buruk yang ditimbulkannya. Jika dikelola  dengan benar, Industri budaya perikanan dapat menjadi solusi pemenuhan  kecukupan pangan bagi 9 miliar manusia di bumi.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Di Chili misalnya dimana sepertiga produksi budidaya perikanan salmon  dihasilkan, WWF tidak mungkin mencapai tujuan konservasinya tanpa  melakukan pendampingan kepada para pelaku utama industri perikanan di  sana. Pendampingan tsb dimaksudkan untuk mengurangi dampak negatif yang  ditimbulkan industri. Hal yang sama juga dilakukan melalui pendampingan  terhadap industri perikanan tangkap Salmon di Alaska dan tempat-tempat  lainnya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Khusus untuk Indonesia, WWF-Indonesia baru-baru ini menerbitkan Serial Panduan Praktik Perikanan  Bertanggungjawab atau Fisheries Better Management Practices untuk  sejumlah komoditi perikanan utama, yaitu kerapu, kakap, udang, tuna dan  nila. &lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Publikasi ini merupakan panduan perikanan praktis pertama di Indonesia,  berisi rekomendasi-rekomendasi untuk kelompok pelaku perikanan, yaitu  nelayan, pembudidaya dan pengusaha perikanan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Panduan ini disusun berdasarkan pembelajaran tim perikanan WWF-Indonesia  dengan para nelayan dan pembudidaya binaan di sejumlah wilayah kerja  WWF-Indonesia, yaitu Tarakan dan Berau di Kalimantan Timur, Aceh, Danau  Toba – Sumatera Utara, Wakatobi – Sulawesi Tenggara, Kepulauan Solor  Alor – Nusa Tenggara Timur, Bali, dan Bitung – Sulawesi Utara.&amp;nbsp; (Marwan  Azis).&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;&lt;!--
google_ad_client = &quot;ca-pub-6463152978813595&quot;;
/* Go Green 2 */
google_ad_slot = &quot;1542953554&quot;;
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;
src=&quot;http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js&quot;&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.greenpress.or.id/feeds/9049281834070575557/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8725791079724163569&amp;postID=9049281834070575557&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/9049281834070575557'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/9049281834070575557'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.greenpress.or.id/2012/04/wwf-tanggapi-tuduhan-greenwashing.html' title='WWF Tanggapi Tuduhan &quot;Greenwashing&quot;'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-FNUFF46kPFU/T56yCR3tJhI/AAAAAAAAAXo/a3e8pFnXMfE/s72-c/10_bmp_penanganan_penyu_1_27292.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569.post-5023534921071712652</id><published>2012-04-30T23:25:00.001+07:00</published><updated>2012-04-30T23:27:54.491+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Laut"/><title type='text'>Ratusan NGO Tuding WWF Lakukan “Greenwashing”</title><content type='html'>&lt;h1 class=&quot;singlePageTitle&quot; style=&quot;clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;&quot;&gt;&lt;/h1&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://2.bp.blogspot.com/-omYoJ1ywacU/T569VEmcRaI/AAAAAAAAARY/wFbkCBCjN88/s1600/WWF.png&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;180&quot; src=&quot;http://2.bp.blogspot.com/-omYoJ1ywacU/T569VEmcRaI/AAAAAAAAARY/wFbkCBCjN88/s320/WWF.png&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;World Wildlife Fund (WWF) dituding lakukan &quot;Greenwashing&quot; dalam pengembangan standar-standar tambak udang.&lt;br /&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Hal tersebut disampaikan ratusan organisasi non  pemerintah di Asia, Amerika Latin, Africa, Amerika Utara dan Eropa yang mendatangi kantor WWF. Mereka memprotes WWF, sebagai organisasi yang kurang kepeduliannya terhadap  lingkungan dan penghidupan masyarakat, dan menyiratkan kepentingan  keuntungan industri dari tambak udang.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Cna-ecuador.com melaporkan, para  aktvis lingkungan itu menyerahkan surat terbuka kepada WWF di hari Rabu  lalu sebagai protes terhadap Komite Pengarah WWF untuk Dialog Budidaya  Udang WWF (SHAD) dan rencana Aquaculture Stewardship Council (ASC)  terkait standar akuakultur udang.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;“WWF sedang berupaya melakukan  pencucian tangan atas pengrusakan lingkungan (baca: greenwashing), dan  menjalankan praktik kotor (baca: corrupt) melalui sertifikasi produk  mewah ini,” ujar Luciana Queiroz dari Redmanglar, mewakili sebuah  jaringan 254 organisasi di 10 negera Amerika Latin.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&quot;WWF greenwashing industri  merusak lingkungan dan korup melalui sertifikasi ini produk mewah,&quot; kata  Queiroz Luciana dari Redmanglar, mewakili sebuah jaringan dari 254  organisasi di 10 negara Amerika Latin.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dalam surat itu, mereka  memprotes penghancuran hutan bakau dan zona-zona pesisir. Tiga ratus  organisasi di Amerika Latin, Asia dan Afrika member tandatangan, juga 30  organisasi di Amerika Serikat dan Eropa. Surat tersebut dicap dengan  logo dari sejumlah organisasi tuan rumah, termasuk Food and Water Watch  dan&amp;nbsp; Stockholm Society for Nature Conservation.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Mereka mengklaim WWF sudah  menghabiskan 4 tahun dan setidaknya 2 Juta dolar Amerika (atau 1,5 juta  euro) untuk mengembangkan standar, yang tanpa melibatkan para pemangku  kepentingan atau pun pengguna sumber daya.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Dari total 13 poin keberatan  yang diajukan, organisasi tersebut mengklaim bahwa kriteria standarisasi  yang dikembangkan berdasarkan keinginan untuk memastikan agar 20 persen  industri udang yang ada mampu mendapatkan sertifikasi, segera setelah  standar dirilis. Standar itu akan mengukuhkan sistem yang tidak  berkelanjutan dan merusak perikanan budidaya, pungkas kelompok-kelompok  tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;Beberapa poin keberatan lain :&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Konversi bakau dan zona-zona  pesisir menjadi tambak-tambak udang untuk industri ekspor yang  menyebabkan kerusakan lingkungan parah, keroposnya keanekaragaman hayati  dan sumber daya perikanan alam, juga erosi garis pantai. Hal tersebut  akan meningkatkan respon terhadap badai dan tsunami, yang serta merta  melepaskan sejumlah besar massa karbon, sehingga berkontribusi terhadap  perubahan iklim.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Penggunaan pakan ikan skala  besar&amp;nbsp; menambah buruk, setelah semua persoalan di atas. Penduduk pesisir  di negara-negara tropis akan sangat terkena dampak berupa kehilangan  sumber pendapatan, ketahanan pangan dan menurunnya proteksi terhadap  badai. Mereka yang memprotesnya tidak jarang mengalami pelanggaran hak  azasi manusia.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Berlanjutnya produksi kebijakan  yang tidak memenuhi kelayakan&amp;nbsp; dan kurangnya penegakan hukum di  Negara-negara produsen menjadikan kepatuhan pada stadar sertifikasi  menjadi sulit terpenuhi.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sertifikasi WWF melegitimasi situasi ini dengan memberikan “stempel hijau” untuk pengolahan udang.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Standar sertifikasi mereka  baru-baru ini difinalisasi, dan akan diserahkan ke perusahaan  sertifikasi bernama Aquaculture Stewardship Council (ASC).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Standarisasi sudah dikembangkan  oleh WWF dan industri akuakultur melalui proses yang disebut Dialog  Akuakultur Udang (Shrimp Aquaculture Dialogue/ ShAD). WWF mengatakan  bahwa ShAD, membawa semua pemangku kepentingan, seperti produsen udang  dan elemen-elemen rantai pasokan, peneliti, organisasi non pemerintah,  dan pejabat pemerintah untuk terlibat dalam pengaturan standar secara  kolaboratif dan sukarela. (Marwan Azis).&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;&lt;!--
google_ad_client = &quot;ca-pub-6463152978813595&quot;;
/* Go Green 2 */
google_ad_slot = &quot;1542953554&quot;;
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;
src=&quot;http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js&quot;&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.greenpress.or.id/feeds/5023534921071712652/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8725791079724163569&amp;postID=5023534921071712652&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/5023534921071712652'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/5023534921071712652'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.greenpress.or.id/2012/04/ratusan-ngo-tuding-wwf-lakukan.html' title='Ratusan NGO Tuding WWF Lakukan “Greenwashing”'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-omYoJ1ywacU/T569VEmcRaI/AAAAAAAAARY/wFbkCBCjN88/s72-c/WWF.png" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569.post-2872443388480666659</id><published>2012-04-27T05:09:00.002+07:00</published><updated>2012-04-30T05:21:55.172+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Laut"/><title type='text'>Corexit Cemari Laut NTT</title><content type='html'>&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;float: left; margin-right: 1em; text-align: left;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://2.bp.blogspot.com/-E5TvsmrDmd8/T5o-5RyIx9I/AAAAAAAABRA/LTVpukTrgok/s1600/dispersant.jpg&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;213&quot; src=&quot;http://2.bp.blogspot.com/-E5TvsmrDmd8/T5o-5RyIx9I/AAAAAAAABRA/LTVpukTrgok/s320/dispersant.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Penyemprotan dispersant jenis corexit 9500  yang digunakan Otorita Keselamatan Maritim Australia (AMSA) untuk  menemgelamkan tumpahan minyak di Laut Timor akibat meledaknya sumur  minyak Montara pada 21 Agustus 2009, diduga kuat telah mencemari seluruh  wilayah perairan Nusa Tenggara Timur (NTT).&lt;br /&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8725791079724163569&amp;amp;postID=2872443388480666659&quot; name=&quot;more&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dugaan tersebut didasarkan pada penyebaran tumpahan minyak Montara  bercampur timah hitam yang kemudian ditenggelamkan oleh AMSA ke dasar  Laut Timor dengan menyemprotkan bubuk kimia sangat berbahaya dan beracun  dispersant Corexit 9500 yang terus mengalir seiring alur pergerakan  arus bawah laut dan angin.&amp;nbsp; Corexit bisa menyebabkan kematian pada  jutaan bahkan milyaran bentuk kehidupan laut dan perairan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal tersebut disampaikan Ferdi Tanoni, Ketua Yayasan Peduli Timor Barat  (YPTB) melalui keterangan tertulisnya kemarin. Dugaan pencemaraan itu didasarkan pada  sebuah laporan peneliti sejumlah ahli yang tergabung dalam YPTB Peduli  Laut Timor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanoni meyakini seluruh perairan NTT dan Timor Timur telah tercemar  tumpahan minyak Montara dan dispersant Corexit 9500 yang sudah hampir  tiga tahun tanpa diikuti dengan sebuah penelitian ilmiah yang patut dan  transparan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;float: right; margin-left: 1em; text-align: right;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://3.bp.blogspot.com/-LkIRCUqO7F0/T5pDzees26I/AAAAAAAABRU/RZObfvC7QeA/s1600/corexit.jpg&quot; style=&quot;clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;255&quot; src=&quot;http://3.bp.blogspot.com/-LkIRCUqO7F0/T5pDzees26I/AAAAAAAABRU/RZObfvC7QeA/s400/corexit.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Foto : Greenpeace.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&amp;nbsp; &quot;Ini masalah kemanusiaan yang sangat dahsyat, tetapi  pemerintahan kita di Jakarta terus berdiam diri tanpa ada upaya untuk  menangani masalah tersebut secara bersama-sama dengan Pemerintah  Australia dan perusahaan pencemar, PTTEP Australasia yang mengelolah  ladang Montara tersebut,&quot; katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut penulis buku &quot;Skandal Laut Timor, Sebuah Barter Ekonomi Politik  Canberra-Jakarta&quot; itu, pihaknya sedang mengupayakan untuk melayangkan  gugatan ke Pengadilan Australia menuntut pemerintahan negara itu untuk  bertanggungjawab atas persoalan yang dialami masyarakat pesisir di  kepulauan Nusa Tenggara Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&quot;Hasil tangkapan nelayan kita turun drastis sejak wilayah perairan Laut  Timor yang menjadi ladang kehidupannya tercemar. Demikian pun halnya  dengan usaha budidaya rumput laut mengalami kegagalan akibat wilayah  perairan budidaya tercemar,&quot; ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar ini, lanjut Tanoni, pemerintah seharusnya lebih serius dan  membuka mata melihat persoalan yang dihadapi masyarakat petani dan  nelayan di Nusa Tenggara Timur yang menjadi korban dari  pencemaran.(Marwan Azis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan foto : Ilustrasi penyemprotan corexit di areal tumpuhan minyak Teluk Meksiko.&lt;br /&gt;Dokumentasi gulfofmexicooilspillblog.com&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;&lt;!--
google_ad_client = &quot;ca-pub-6463152978813595&quot;;
/* Go Green 2 */
google_ad_slot = &quot;1542953554&quot;;
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;
src=&quot;http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js&quot;&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.greenpress.or.id/feeds/2872443388480666659/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8725791079724163569&amp;postID=2872443388480666659&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/2872443388480666659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/2872443388480666659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.greenpress.or.id/2012/04/corexit-cemari-laut-ntt.html' title='Corexit Cemari Laut NTT'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-E5TvsmrDmd8/T5o-5RyIx9I/AAAAAAAABRA/LTVpukTrgok/s72-c/dispersant.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569.post-228778207141422920</id><published>2012-04-26T05:12:00.003+07:00</published><updated>2012-04-30T05:17:54.658+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hutan"/><title type='text'>Greenpeace Serukan Penyelamatan Hutan Papua</title><content type='html'>&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;float: left; margin-right: 1em; text-align: left;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://4.bp.blogspot.com/-HVCUD02Yl0A/T529q9e-LAI/AAAAAAAAARM/CCqK6SUcZ-M/s1600/Hutan_Papua.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;265&quot; src=&quot;http://4.bp.blogspot.com/-HVCUD02Yl0A/T529q9e-LAI/AAAAAAAAARM/CCqK6SUcZ-M/s400/Hutan_Papua.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Hutan Papua. Foto : Greenpeace.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;h1 class=&quot;singlePageTitle&quot; style=&quot;font-weight: normal;&quot;&gt; &lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Aktivis Greenpeace bersama mahasiswa dari Fakultas Kehutanan  Universitas Negeri Papua (Fahutan UNIPA) hari ini menggelar pameran foto  bertajuk “Rekam Jejak Manusia, Hutan dan Alam Tanah Papua,” untuk  mengajak seluruh lapisan masyarakat Indonesia bergabung dalam upaya  penyelamatan hutan Papua yang terancam hancur.&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Berlokasi  di halaman kantor BRI-Sanggeng Manokwari, acara tersebut tidak hanya  menampilkan lebih dari 60 foto tentang keindahan potensi alam  Papua,&amp;nbsp;tapi juga kerusakan yang ditimbulkan akibat dari pembangunan yang  tidak pro pada lingkungan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Pameran  ini juga menyajikan sejumlah foto hutan dan lahan gambut dari  Kalimantan dan Sumatera yang sudah hancur akibat aktivitas tidak  bertanggung jawab perkebunan kelapa sawit dan akasia. Acara ini  bertujuan untuk penyampaian informasi pada publik, dan mengajak semua  kalangan untuk lebih mengetahui dan peduli terhadap kenyataan ini. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;“Setelah  hutan Sumatera dan Kalimantan dijarah habis-habisan, maka yang tersisa  saat ini hanyalah Papua, sebagai pemilik hutan alam yang relatif masih  utuh. Tetapi keindahan hutan yang dimiliki Papua saat ini terancam  karena hutan di Papua sudah menjadi incaran banyak pihak,” ujar Charles  Tawaru, Jurukampanye Hutan Papua Greenpeace ketika dihubungi via telpon  selulernya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #353535; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Data  kementrian kehutanan tahun 2000, luas hutan di Irian Jaya (sekarang  Papua) adalah 42,22 juta Ha. Pada tahun 2011 Kementerian Kehutanan  menunjukkan luas hutan di papua adalah 34,03 juta Ha. Dari kedua fakta  tersebut, Greenpeace melihat hutan yang hilang pada periode 2000-2009  adalah 8,19 juta hektar atau rata-rata 910.000 hektar hutan hilang  setiap tahunnya. Pemerintah Indonesia sendiri, sebenarnya telah  berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 41% .&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Charles  juga menyampaikan, tahun ini Greenpeace Indonesia membuka kantor di  Papua, untuk mengawal berbagai isu kehutanan seperti konvesi hutan untuk  perkebunan sawit, illegal logging di Papua termasuk Merauke &lt;i&gt;Integrated Food and Energy Estate&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;MIFEE.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;Menurutnya  dia, rencana penghancuran hutan seperti proyek&amp;nbsp; MIFEE dan rencana  penghancuran hutan lainnya hanya akan membawa kesengsaraan dimasa  datang, rencana penghancuran ini harus dikaji ulang.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;“Ke  depan, Greenpeace akan berupaya mengajak semua pihak untuk lebih peduli  lagi dalam melihat Papua, bukan hanya sebagai ladang untuk menggeruk  keuntungan yang sebesar-besarnya tapi juga bagaimana alam ini tetap  lestari dan mendatangkan manfaat yang besar bagai masyarakat  adat,”tandanya (Marwan Azis).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: normal; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;&lt;!--
google_ad_client = &quot;ca-pub-6463152978813595&quot;;
/* Go Green 2 */
google_ad_slot = &quot;1542953554&quot;;
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;
src=&quot;http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js&quot;&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.greenpress.or.id/feeds/228778207141422920/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8725791079724163569&amp;postID=228778207141422920&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/228778207141422920'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/228778207141422920'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.greenpress.or.id/2012/04/greenpeace-serukan-penyelamatan-hutan.html' title='Greenpeace Serukan Penyelamatan Hutan Papua'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-HVCUD02Yl0A/T529q9e-LAI/AAAAAAAAARM/CCqK6SUcZ-M/s72-c/Hutan_Papua.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569.post-2230364585412491138</id><published>2012-04-25T02:45:00.000+07:00</published><updated>2012-04-27T02:48:12.026+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Satwa"/><title type='text'>ProFauna : Stop Perdagangan Satwa liar</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://2.bp.blogspot.com/-9qDa6Uaz9Jw/T5mmNUNRcOI/AAAAAAAAARA/DGiTgc2triY/s1600/kampanye-anti-perdagangan-satwa-liar-07.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;214&quot; src=&quot;http://2.bp.blogspot.com/-9qDa6Uaz9Jw/T5mmNUNRcOI/AAAAAAAAARA/DGiTgc2triY/s320/kampanye-anti-perdagangan-satwa-liar-07.jpg&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Perdagangan satwa liar menjadi ancaman serius bagi kelestarian liar di Indonesia. Profauna memperkirakan, lebih dari 95% satwa yang dijual di pasar adalah hasil tangkapan dari alam, bukan hasil penangkaran.  &lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;Kondisi tersebut juga diperparah dengan makin berkurang habitat alami satwa liar yang disebabkan konversi hutan secara besar-besar, tanpa mempertimbangkan keseimbangan ekosistem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tahun 1994 hingga sekarang ProFauna Indonesia gencar melakukan kampanye anti  perdagangan satwa liar illegal. Sayangnya aparat penegak hukum  dan pihak terkait terkesan membiarkan perdagangan satwa liar illegal terus terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah : Marwan Azis - Jakarta | Foto : ProFauna | &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;&lt;!--
google_ad_client = &quot;ca-pub-6463152978813595&quot;;
/* Go Green 2 */
google_ad_slot = &quot;1542953554&quot;;
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;
src=&quot;http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js&quot;&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.greenpress.or.id/feeds/2230364585412491138/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8725791079724163569&amp;postID=2230364585412491138&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/2230364585412491138'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/2230364585412491138'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.greenpress.or.id/2012/04/profauna-stop-perdagangan-satwa-liar.html' title='ProFauna : Stop Perdagangan Satwa liar'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-9qDa6Uaz9Jw/T5mmNUNRcOI/AAAAAAAAARA/DGiTgc2triY/s72-c/kampanye-anti-perdagangan-satwa-liar-07.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569.post-3986797997698270807</id><published>2012-04-23T22:39:00.001+07:00</published><updated>2012-04-23T22:42:02.613+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Satwa"/><title type='text'>Kasus Orangutan, COP Dukung Upaya Menhut</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;float: right; margin-left: 1em; text-align: right;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;http://2.bp.blogspot.com/-vByXQEF07KM/T5VqIbGYM-I/AAAAAAAABQk/SivyulL3zDI/s400/P8230147.jpg&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Foto : dok mediakonservasi.org  &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;/div&gt;Rencana  Kementerian Kehutanan melakukan banding atas vonis ringan terdakwa  karyawan PT Khaleda Agroprima Malindo (PT KHAM), anak perusahaan Metro  Kajang Holdings (MKH) Berhad yang terlibat dalam pembantaian orangutan  di Muara Kaman, Kalimantan Timur, mendapatkan dukungan dari Centre for  Orangutan Protection (COP). &lt;br /&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan, menyatakan bahwa hukuman bagi &lt;a href=&quot;http://www.beritalingkungan.net/2012/04/cop-pembantai-orangutan-harus-dihukum.html&quot;&gt;para terdakwa &lt;/a&gt;sangatlah ringan.&amp;nbsp; Karenanya, Kementerian Kehutanan akan mengajukan banding.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&quot;Kami sangat mendukung rencana  tersebut. Kami sepakat dengan Menhut bahwa hukuman tersebut setidaknya 4  tahun 10 bulan penjara. Ini sejalan dengan&amp;nbsp; Undang-undang No. 5 Tahun  1990 mengenai Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, para  pelaku dapat dituntut hukuman maksimal 5 tahun penjara.&quot;kata Arfiana  Khairunnisa, juru kampanye dari COP kepada Beritalingkungan.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Menurut Arfiana, sudah  semestinya pula pemerintah menindaklanjuti dengan tegas pada perusahaan  pengrusak lingkungan, yaitu PT KHAM yang dalam hal ini memiliki  kebijakan dalam penghalauan hama, termasuk orangutan. Tidak hanya  menjatuhkan hukuman saja terhadap para eksekutornya, tetapi juga  terhadap perusahaan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Saat ini masih ada 2 persidangan kasus pembantaian orangutan yang sedang  berjalan di Indonesia. &quot;Kami khawatir, putusan yang ringan tersebut  akan dijadikan rujukan bagi &lt;a href=&quot;http://www.beritalingkungan.net/2012/04/soal-penanganan-kasus-orangutan-cop.html&quot;&gt;persidangan&lt;/a&gt;  berikutnya. Dampaknya akan sangat besar, para penjahat hutan tidak akan  takut membantai orangutan. Sehingga nantinya tidak ada efek  jera.&quot;tandasnya. (Marwan Azis).&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;&lt;!--
google_ad_client = &quot;ca-pub-6463152978813595&quot;;
/* Go Green 2 */
google_ad_slot = &quot;1542953554&quot;;
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;
src=&quot;http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js&quot;&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.greenpress.or.id/feeds/3986797997698270807/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8725791079724163569&amp;postID=3986797997698270807&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/3986797997698270807'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/3986797997698270807'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.greenpress.or.id/2012/04/kasus-orangutan-cop-dukung-upaya-menhut.html' title='Kasus Orangutan, COP Dukung Upaya Menhut'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-vByXQEF07KM/T5VqIbGYM-I/AAAAAAAABQk/SivyulL3zDI/s72-c/P8230147.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569.post-5776030498631890836</id><published>2012-04-23T17:52:00.002+07:00</published><updated>2012-04-24T14:52:36.587+07:00</updated><title type='text'>Pemerintah Gagal Lindungi Petani</title><content type='html'>&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://3.bp.blogspot.com/-oXnvVPw6M7I/T5U0OAZDIDI/AAAAAAAAAQ0/x4pQy3xeGJI/s1600/panen+padi.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;265&quot; src=&quot;http://3.bp.blogspot.com/-oXnvVPw6M7I/T5U0OAZDIDI/AAAAAAAAAQ0/x4pQy3xeGJI/s400/panen+padi.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Ilustrasi, panen padi yang dilakukan petani di Jeneponto, Sulawesi Selatan. Foto : Greenpress/Marwan Azis.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Beras impor kembali membanjiri pasar ketika beberapa daerah sedang panen. Masuknya beras negeri tetangga ini secara psikologis mempengaruhi pasar yang diindikasikan oleh jatuhnya harga di level petani. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Seperti diberitakan sejumlah media, ribuan ton beras asal Vietnam masuk ke pasar Cipinang. Padahal kuota impor yang dimandatkan kepada Bulog untuk tahun ini sudah terpenuhi dan pemerintah tidak memberikan izin impor tambahan. Diyakini beras diimpor dengan mengunakan izin impor beras khusus oleh importir.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Masuknya impor beras ini menambah besar jumlah impor beras indonesia yang sebelumnya telah dilakukan Bulog. Setiap tahun indonesia terus mengimpor beras. Jika demikian predikat importir beras terbesar akan terus dipegang. Dari statistik impor beras dunia pada tahun 2010 lalu, Indonesia berada di posisi kesembilan sebagai&amp;nbsp; pengimpor beras. Bahkan menurut data UNINDO, pada periode tahun 1999-2003&amp;nbsp; Indonesia menjadi pengimpor terbesar seluruh dunia dengan volume mencapai 13,229 juta ton. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Terkait masuknya impor beras disaat kuota Bulog telah terpenuhi, Said Abdullah, Koordinator Advokasi dan Jaringan, Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) menyayangkan sekaligus mempertanyakan terjadinya hal ini. Menurutnya, menjadi pertanyaan besar ketika tugas Bulog selesai tetapi impor masih ada. Padahal tugas pengadaan beras untuk memenuhi cadangan pangan dan stabilisasi harga hanya dimandatkan kepada Bulog. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Selama ini impor beras khusus memang “sepi’ dari pengawasan. Dengan demikian membuka peluang bagi importir untuk berbuat nakal. Tahun 2007 lalu importir juga memasukkan beras untuk konsumsi hotel dan restoran hingga 185.000 ton. Selain beras ketan, beras khusus dibetes terselip beras menir padahal pada waktu itu produksi cukup.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Menurut Said, fenomena ini menunjukkan kegagalan pemerintah dalam mengontrol perdagangan beras. Semestinya pemerintah selaku regulator memiliki niat kuat dan kemampuan&amp;nbsp; untuk mengendalikannya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;“Pemerintah telah gagal melindungi petani dalam negeri dengan membiarkan terjadinya praktek impor dengan izin khusus karena yang menerima dampak terbesar dari situasi ini tentu saja petani indonesia sendiri,”ujarnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;Perdagangan beras yang dilakukan oleh importir sangat rawan terjadi free rider. Izin impor sangat mungkin disalahgunakan dengan mengimpor beras untuk dilempar kepasar umum.&amp;nbsp; Sementara pengawasan sangat lemah. Selama ini publik lebih banyak ditarik perhatiannya pada impor yang dilakukan bulog. Sepinya pengawasan bisa jadi pintu belakang bagi masuknya beras impor dengan label izin impor beras khusus.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Munculnya impor ini juga menunjukkan kuatnya tarik menarik kepentingan didalam pemerintah sendiri. Hal ini diindikasikan dengan saling lempar tanggung jawab antara Kementerian Pertanian dan Kementrian Perdagangan. Dalam pernyataannya seperti yang dilansir sejumlah media, Kementerian Pertanian menyatakan bahwa izin impor dikeluarkan oleh Kementerian Perdagangan setelah ada rekomendasi.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Dalam realisasinya Kementerian Perdagangan yang melakukan pengawasan. Sementara Kementerian Perdagangan menyatakan bahwa secara teknis ketentuan impor beras khusus (jenis dan jumlah) diatur oleh Kementerian Pertanian. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;“Silang pendapat dan lempar tanggungjawab diantara kementerian menunjukkan pemerintah memang tak ingin melindungi produksi dan produsen dalam negeri. Ujar Said. “Jika memang pemerintah memiliki paradigma dan kemauan untuk melindungi dan menyejahterakan petani saling lempar tanggungjawab tidak dilakukan. bukankah kementerian-kementerian itu bagian dari satu pemerintahan?,”tambahnya.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;KRKP mengharapkan sikap pemerintah untuk lebih tegas dalam menunjukkan niatnya melindungi petani. Pemberian sanksi bagi importir nakal tidak lah cukup. Sanksi tidak dapat merubah banyak hal. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Menurut Said, sudah saatnya pemerintah merubah paradigma dalam memandang pangan (beras). Pangan hendaknya dipandang sebagai hak dasar setiap warga negara. Karenanya sebuah pengingkaran jika pangan diserahkan ke pasar karena hanya akan menimbulkan persoalan. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Sudah saatnya paradigma kedaulatan pangan dilakukan. dengan demikian persoalan pangan menjadi domainnya pemerintah bukan lagi pasar. “Pada akhirnya hak atas pangan setiap warga negara dapat terpenuhi. Pada sisi yang lain kesejahteraan petani selaku produsen pangan dapat ditingkatkan,”tandasnya. (Marwan Azis).&amp;nbsp;    &lt;/span&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;&lt;!--
google_ad_client = &quot;ca-pub-6463152978813595&quot;;
/* Go Green 2 */
google_ad_slot = &quot;1542953554&quot;;
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;
src=&quot;http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js&quot;&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.greenpress.or.id/feeds/5776030498631890836/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8725791079724163569&amp;postID=5776030498631890836&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/5776030498631890836'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/5776030498631890836'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.greenpress.or.id/2012/04/pemerintah-gagal-lindungi-petani.html' title='Pemerintah Gagal Lindungi Petani'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-oXnvVPw6M7I/T5U0OAZDIDI/AAAAAAAAAQ0/x4pQy3xeGJI/s72-c/panen+padi.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569.post-6218688959646665013</id><published>2012-04-23T16:26:00.000+07:00</published><updated>2012-04-30T05:32:23.324+07:00</updated><title type='text'>Pesan Hijau dari Sukabumi</title><content type='html'>&lt;iframe allowfullscreen=&quot;&quot; frameborder=&quot;0&quot; height=&quot;315&quot; src=&quot;http://www.youtube.com/embed/xLEKMaIPh-g&quot; width=&quot;560&quot;&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka memperingati Hari Bumi 22 April 2012, TK, SD, SMP Yuwati Bhakti- Sukabumi mempersembahkan video yang berisi pesan-pesan pelestarian lingkungan untuk seluruh penghuni bumi. &lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tak hanya berkampanye menghimbau masyarakat dunia untuk melestarikan lingkungan. Sejak tahun 2011, mereka telah melakukan aksi nyata merawat bumi kita melalui penanaman di Kibitay (Hutan Kota) Sukabumi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;Aksi tersebut tentu tak lepas dari bimbingan guru-guru mereka yang mengenalkan upaya pelestarian lingkungan sejak dini, yang juga didukung sepenuhnya oleh orang tua murid dan alumni sekolah tersebut. Upaya mereka patut diapresasi dan dicontoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Marwan Azis - Jakarta | Yuwati Bhakti |Youtube | BL.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;&lt;!--
google_ad_client = &quot;ca-pub-6463152978813595&quot;;
/* Go Green 2 */
google_ad_slot = &quot;1542953554&quot;;
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;
src=&quot;http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js&quot;&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.greenpress.or.id/feeds/6218688959646665013/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8725791079724163569&amp;postID=6218688959646665013&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/6218688959646665013'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/6218688959646665013'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.greenpress.or.id/2012/04/dalam-rangka-memperingati-hari-bumi-22.html' title='Pesan Hijau dari Sukabumi'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://img.youtube.com/vi/xLEKMaIPh-g/default.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569.post-5879573200895425708</id><published>2012-04-22T22:43:00.004+07:00</published><updated>2012-04-23T22:47:07.285+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Bencana"/><title type='text'>Gempa Makowari, Belasan Rumah Rusak</title><content type='html'>&lt;h1 class=&quot;singlePageTitle&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;table cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;float: right; margin-left: 1em; text-align: right;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;262&quot; src=&quot;http://1.bp.blogspot.com/-TL9BRkdAvxQ/T5UmdsHRMlI/AAAAAAAAAQM/4ziM6Cw_wCk/s400/gempa-2.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/h1&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Guncangan gempa berkekuatan 6,8 SR dgn  kedalaman 10 km yg mengguncang Papua Barat, kemarin, menyebabkanbelasan rumah warga di Distrik Ransiki, Kabupaten Manokwari mengalami kerusakan. Beberapa  diantaranya rusak berat sehingga tidak bisa lagi dihuni. Sementara pada  malam hari warga memilih tidur di luar rumah.&lt;/div&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Distrik yang terletak 103 Km arah Selatan Manokwari tersebut merupakan  pusat gempa yang terjadi kemarin di Papua Barat.&amp;nbsp; Berdasar pantauan,  selain rumah, sebuah gereja di pusat distrik tersebut dipenuhi retakan.  Salah satu rumah yang rusak berat adalah rumah milik Kepala Suku  Ransiki, Lewi Inden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peringatan agar warga meningkatkan kewaspadaan dari BMKG menyusul adanya  kemungkinan gempa susulan, membuat ratusan warga menggelar tenda  darurat di halaman rumah. Ada juga warga yang merebahkan diri sekadarnya  tanpa tenda penaung. &quot;Warga kuatir rumahnya rubuh bila gempa susulan  dgn kekuatan serupa kembali mengguncang Ransiki,&quot; kata Hamid, warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gempa kemarin juga mengakibatkan terjadinya longsor di gunung Sayori  Distrik Tanah Rubuh. Gunung itu dilewati jalan utama yg menghubungkan  Manokwari dengan wilayah selatan semisal Distrik Ransiki dan Oransbari,  termasuk Kabupaten Teluk Bintuni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BMKG menyebut gempa yang terjadi pada Sabtu (21/4) tersebut tidak  berpotensi tsunami.&amp;nbsp; Tapi saat terjadi, warga Manokwari panik dan  menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi karena kuatir gempa  diikuti tsunami. Getaran pertama diikuti gempa susulan berskala 5.0 SR.&amp;nbsp;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain di Kota Manokwari, ayunan gempa juga terasa di distrik Sidey yang  berjarak kurang lebih 150 Km dari Manokwari hingga di Kabupaten Teluk  Bintuni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Hamid, pemerintah Distrik Ransiki yang dibantu oleh warga, telah  melakukan pendataan rumah serta fasilitas umum lainnya yang rusak  akibat gempa tersebut. (Patrix)&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;&lt;!--
google_ad_client = &quot;ca-pub-6463152978813595&quot;;
/* Go Green 2 */
google_ad_slot = &quot;1542953554&quot;;
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;
src=&quot;http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js&quot;&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.greenpress.or.id/feeds/5879573200895425708/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8725791079724163569&amp;postID=5879573200895425708&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/5879573200895425708'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/5879573200895425708'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.greenpress.or.id/2012/04/gempa-makowari-belasan-rumah-rusak.html' title='Gempa Makowari, Belasan Rumah Rusak'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-TL9BRkdAvxQ/T5UmdsHRMlI/AAAAAAAAAQM/4ziM6Cw_wCk/s72-c/gempa-2.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569.post-7176959343805148952</id><published>2012-04-21T15:26:00.002+07:00</published><updated>2012-04-21T15:28:26.007+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Bencana"/><title type='text'>Papua Barat Diayun Gempa</title><content type='html'>&lt;h1 class=&quot;singlePageTitle&quot;&gt;&lt;/h1&gt;&lt;table align=&quot;center&quot; cellpadding=&quot;0&quot; cellspacing=&quot;0&quot; class=&quot;tr-caption-container&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: right;&quot;&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img alt=&quot;Ketgam: Tampak Kampung Makassar Kota Manokwari berhadapan dengan laut yang hari ini (21/4) diguncang gempa berkuatan 6,8 Skala Rektar. Foto : Beritalingkungan/Marwan Azis.&quot; class=&quot;bordered&quot; height=&quot;222&quot; src=&quot;http://www.beritalingkungan.com/media/cache/c0/1f/c01f47ea49ff784add57861c5671552c.jpg&quot; style=&quot;margin-left: auto; margin-right: auto;&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class=&quot;tr-caption&quot; style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Ketgam: Tampak  Kampung Makassar Kota  Manokwari berhadapan dengan laut yang hari ini  (21/4) diguncang gempa  berkuatan 6,8 Skala Rektar. Foto : Greenpress/Marwan Azis.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;span style=&quot;font-weight: normal;&quot;&gt;Gempa 6,8 SR dengan  kedalaman 10 km mengguncang Papua Barat, hari ini&amp;nbsp;  (21/4) sekitar pukul  08:16:51 WIB. Data dari mediacenter BMKG menyebut  pusat gempa berada  88 Km sebelah tenggara Manokwari dan tidak berpotensi  tsunami. Meski  begitu, warga panik dan menyelamatkan diri ke tempat  yang lebih tinggi  karena kuatir gempa diikuti tsunami.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class=&quot;post-body&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Di  Manokwari, tepatnya di  Kelurahan Wosi warga yang dikagetkan ayunan  gempa langsung berhamburan  keluar rumah. Imroatun (42 tahun) misalnya.  Ia menggendong cucunya yang  masih berusia 4 Bulan sambil lari ke luar  rumah bersama tetangganya.  Di Hadi Mall, salah satu pusat perbelanjaan  di kota ini, tampak puluhan  karyawan berhamburan ke jalan.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Di  sekitar Kampung Makassar,  warga lari ke arah kantor bupati yang berada  di atas bukit. Seorang  warga Wosi, terluka di bagian punggung karena  tersayat pagar duri saat  lari dari lorong rumahnya. Sejumlah sekolah  memilih memulangkan siswa.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Getaran  pertama diikuti gempa  susulan berskala 5.0 SR.&amp;nbsp; Selain di Kota  Manokwari, ayunan gempa juga  terasa di distrik Sidey yang berjarak  kurang lebih 150 Km dari  Manokwari. &quot;Agak keras, tetangga juga lari ke  luar rumah,&quot; kata Karno  warga Distrik Sidey.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Warga  di Kabupaten Teluk  Bintuni juga merasakan ayunan gempa ini. &quot;Gempa  terasa sampai di LNG  Tangguh,Tanah Merah,&quot; kata Agus seorang pekerja  pada proyek LNG Tangguh  Distrik Babo Teluk Bintuni.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Sebelumnya,   Gempa berkekuatan 4,2 SR juga mengguncang Kota Sorong pada 19 April   lalu sekitar pukul 14:16:11 WIT.&amp;nbsp; Pusat gempa berlokasi di 5 km Barat   Laut Kota Sorong dengan Kedalaman 10 Km.&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;Informasi  dari BMKG menyebut,  gempa yg dirasakan masyarakat Sorong dan sekitarnya  itu adalah akibat  dari aktifitas&amp;nbsp; pergerakan Patahan Sorong yg melintas  dari teluk  Cendrawasih Papua&amp;nbsp; sampai Selatan Maluku Utara.&quot;Tidak ada  dampak yang  signifikan karena gempa relatif kecil,&quot; kata Edwan, warga  Kota  Sorong.(Patrix Barumbun Tandirerung)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;&lt;!--
google_ad_client = &quot;ca-pub-6463152978813595&quot;;
/* Go Green 2 */
google_ad_slot = &quot;1542953554&quot;;
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;
src=&quot;http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js&quot;&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.greenpress.or.id/feeds/7176959343805148952/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8725791079724163569&amp;postID=7176959343805148952&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/7176959343805148952'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/7176959343805148952'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.greenpress.or.id/2012/04/papua-barat-diayun-gempa.html' title='Papua Barat Diayun Gempa'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569.post-7137416198336379677</id><published>2012-04-17T11:18:00.002+07:00</published><updated>2012-04-18T11:22:09.996+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Satwa"/><title type='text'>COP : Pembantai Orangutan harus dihukum berat</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://1.bp.blogspot.com/-hOd6Fbt8Y8U/T45BBtWyK0I/AAAAAAAAAQY/R74RbccN0Ws/s1600/PNTenggarong.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;300&quot; src=&quot;http://1.bp.blogspot.com/-hOd6Fbt8Y8U/T45BBtWyK0I/AAAAAAAAAQY/R74RbccN0Ws/s400/PNTenggarong.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;Centre for Orangutan Protection (COP) menilai tuntutan Jaksa 1 tahun penjarah bagi pelaku pembantaian orangutan di Kalimatan terlalu ringan. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;Jaksa menuntut 2 eksekutif PT. Khaleda Agroprima Malindo yang merupakan anak perusahaan asal Malaysia, Metro Kajang Holdings (MKH) Berhad selama 1&amp;nbsp; tahun penjara, denda 50 juta rupiah subsider 6 bulan kurungan. Sedang 2 eksekutor lapangannya dituntut 1 (satu) tahun penjara, denda 20 juta subsider 6 bulan kurungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jaksa terlalu ringan memberikan tuntutan, padahal jaksa bisa menuntut maksimal karena kejahatan yang mereka lakukan juga besar, yakni membantai orangutan secara sistematis. Ini merujuk pada Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, mereka dapat diancam dengan hukuman penjara maksimum 5 (lima) tahun dan denda 100 (seratus) juta rupiah,”kata Michel Irarya, Juru Kampanye dari Centre for Orangutan Protection (17/4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Michel melanjutkan, COP menduga bisa saja proses hukum ini mendapat tekanan dari pihak-pihak yang bersangkutan yang merasa dirugikan dengan tegaknya supremasi hukum di Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan sampai hukum Indonesia dianggap takut karena berhadapan dengan perusahaan transnasional seperti MKH Berhad asal Malaysia, sehingga lebih memilih untuk menghukum ringan pada pelaku kejahatan terhadap satwa liar ketimbang memberikan perlindungan penuh untuk satwa Indonesia. Indonesia adalah negara hukum, bangsa lain harus menghargai hukum Indonesia, bukan malah menginjak-injaknya.”ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin, Centre for Orangutan Protection kembali melakukan aksi mendesak para hakim untuk memberikan vonis maksimal bagi pembantai orangutan. Dalam aksinya para aktivis COP&amp;nbsp; membentangkan spanduk bertuliskan ‘Jangan Takut pada Malaysia’ dan Orangufriends yang mengenakan kostum orangutan di depan Pengadilan Negeri Tenggarong. Centre for Orangutan memberikan dukungan penuh pada hakim untuk memberikan vonis hukuman maksimal bagi pembantai orangutan. (Marwan Azis). &lt;/span&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;&lt;!--
google_ad_client = &quot;ca-pub-6463152978813595&quot;;
/* Go Green 2 */
google_ad_slot = &quot;1542953554&quot;;
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;
src=&quot;http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js&quot;&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.greenpress.or.id/feeds/7137416198336379677/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8725791079724163569&amp;postID=7137416198336379677&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/7137416198336379677'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/7137416198336379677'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.greenpress.or.id/2012/04/cop-pembantai-orangutan-harus-dihukum.html' title='COP : Pembantai Orangutan harus dihukum berat'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-hOd6Fbt8Y8U/T45BBtWyK0I/AAAAAAAAAQY/R74RbccN0Ws/s72-c/PNTenggarong.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569.post-3695124282081762838</id><published>2012-04-16T12:12:00.000+07:00</published><updated>2012-04-17T05:16:41.792+07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Gempa"/><title type='text'>Gempa Guncang Sulawesi</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://2.bp.blogspot.com/-u0akGyAcWiI/T4yZJ78NmnI/AAAAAAAAAQQ/I0sjzwstbIU/s1600/gempa+sulawesi.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; height=&quot;200&quot; src=&quot;http://2.bp.blogspot.com/-u0akGyAcWiI/T4yZJ78NmnI/AAAAAAAAAQQ/I0sjzwstbIU/s400/gempa+sulawesi.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;uiStreamMessage&quot; data-ft=&quot;{&amp;quot;type&amp;quot;:1}&quot;&gt;&lt;span class=&quot;messageBody&quot; data-ft=&quot;{&amp;quot;type&amp;quot;:3}&quot;&gt;Gempa dengan kekuatan 5,5 skala richter mengguncang sejumlah wilayah di Sulawesi meliputi Luwu, Morowali, Kolaka dan Kendari. Gempa terjadi pukul 01.01 WIB&amp;nbsp; (16/4)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name=&#39;more&#39;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class=&quot;uiStreamMessage&quot; data-ft=&quot;{&amp;quot;type&amp;quot;:1}&quot;&gt;&lt;span class=&quot;messageBody&quot; data-ft=&quot;{&amp;quot;type&amp;quot;:3}&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;uiStreamMessage&quot; data-ft=&quot;{&amp;quot;type&amp;quot;:1}&quot;&gt;&lt;span class=&quot;messageBody&quot; data-ft=&quot;{&amp;quot;type&amp;quot;:3}&quot;&gt;Pusat gempa pada 93 km Tenggara Luwu Timur-Sulsel, 107 km Tenggara Morowali-Sulteng, 110 km Timur Laut Kolaka Utara-Sultra, 157 km Barat Laut Kendari-Sultra. Lokasi gempa berada pada 2.62 lintang selatan dan 121.94 bujur timur. Kedalaman gempa berada pada 13 km.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;uiStreamMessage&quot; data-ft=&quot;{&amp;quot;type&amp;quot;:1}&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;uiStreamMessage&quot; data-ft=&quot;{&amp;quot;type&amp;quot;:1}&quot;&gt;&lt;span class=&quot;messageBody&quot; data-ft=&quot;{&amp;quot;type&amp;quot;:3}&quot;&gt;Berdasarkan rilis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa tersebut tidak berpotensi tsunami. (Marwan Azis) &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;blogger-post-footer&quot;&gt;&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;&gt;&lt;!--
google_ad_client = &quot;ca-pub-6463152978813595&quot;;
/* Go Green 2 */
google_ad_slot = &quot;1542953554&quot;;
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type=&quot;text/javascript&quot;
src=&quot;http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js&quot;&gt;
&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.greenpress.or.id/feeds/3695124282081762838/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8725791079724163569&amp;postID=3695124282081762838&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/3695124282081762838'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/3695124282081762838'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.greenpress.or.id/2012/04/gempa-guncang-sulawesi.html' title='Gempa Guncang Sulawesi'/><author><name>Unknown</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-u0akGyAcWiI/T4yZJ78NmnI/AAAAAAAAAQQ/I0sjzwstbIU/s72-c/gempa+sulawesi.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>