<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/atom10full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" gd:etag="W/&quot;CkQFR3g5fSp7ImA9WhVbFU8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569</id><updated>2012-06-01T10:11:56.625+07:00</updated><category term="Hutan" /><category term="Satwa" /><category term="Agenda" /><category term="Energi" /><category term="Wisata" /><category term="Sampah" /><category term="Laut" /><category term="Perubahan" /><category term="Flora" /><category term="Limbah" /><category term="Bencana" /><category term="Tambang" /><category term="Gaya Hijau" /><category term="OPINI" /><category term="Gempa" /><category term="Kolom" /><category term="Blogger" /><category term="Air" /><category term="Sungai" /><category term="Perubahan Iklim" /><title>GREENPRESS: Memotret dan Berbagi Informasi Lingkungan Hidup</title><subtitle type="html">GREENPRESS Blog</subtitle><link rel="http://schemas.google.com/g/2005#feed" type="application/atom+xml" href="http://www.greenpressreport.com/feeds/posts/default" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.greenpressreport.com/" /><link rel="next" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false&amp;v=2" /><author><name>Redaksi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02128513609653257159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><generator version="7.00" uri="http://www.blogger.com">Blogger</generator><openSearch:totalResults>627</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/atom+xml" href="http://feeds.feedburner.com/GreenPress" /><feedburner:info xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" uri="greenpress" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><entry gd:etag="W/&quot;AkUMR388fCp7ImA9WhVWGEQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569.post-7755635240007236904</id><published>2012-05-01T01:39:00.000+07:00</published><updated>2012-05-02T01:51:26.174+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-05-02T01:51:26.174+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Laut" /><title>7 Kapal Penangkap Ikan Hiu Beroperasi di Raja Ampat</title><content type="html">&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-nAls8HHftnw/T6AtRm7TwDI/AAAAAAAAARk/iT-ANrfk-Y0/s1600/raja+ampat.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://2.bp.blogspot.com/-nAls8HHftnw/T6AtRm7TwDI/AAAAAAAAARk/iT-ANrfk-Y0/s400/raja+ampat.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;kapal penangkap ikan hijau di&amp;nbsp; Raja Ampat.&amp;nbsp; Foto : Wayag Patrol. &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Tujuh kapal penangkap ikan&amp;nbsp; hiau  ditemukan beroperasi secara illegal di Kawasan Konservasi Perairan  Nasional (KKPN)&amp;nbsp; Waigeo Barat, Taman Nasional&amp;nbsp; Raja Ampat. &lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Aktivitas mereka mulai diketahui oleh tim Patroli Kawe pada 28 April  2012. Saat itu, tim Patroli Kawe langsung melakukan penangkapan. 7 Kapal  itu terdiri dari&amp;nbsp; 1 kapal ikan berasal dari Buton, 2 kapal ikan dari  Sorong. Setelah diperiksa seluruh awaknya berasal dari Buton, Sulawesi  Tenggara. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Sedangkan 4 kapal ikan&amp;nbsp; lainnya berasal dari Kampung Yoi, Halmahera.  Saat dilakukan penangkapan, kapal-kapal ini sempat mengintimidasi kapal  Tim Patroli Kawe dengan cara 2 kapal nelayan tersebut menjepit speed  Patroli Kawe.&amp;nbsp; Setelah kejadian ini, Tim Patroli Kawe melaporkan ke  kantor CII (Conservasi Internasional Indonesia) di Sorong melalui email,  dan kemudian diteruskan kantor CII Sorong ke kantor Pos Angkatan Laut  di Waisai.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Laporan itu kemudaian ditindak lanjuti oleh Angkatan Laut Wasai. Pada  tanggal 30 April pagi&amp;nbsp; petugas patroli Pos Angkatan Laut Waisai bergerak  ke KKPN Waigeo Barat dan berhasil menangkap ke 7 kapal ikan di Pulau  Sayang.&amp;nbsp; Seluruh dokumen kapal, alat-alat tangkap dan hasil tangkapan  disita sebagai barang bukti untuk dibawa ke Waisai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan ke 7 kapal&amp;nbsp; tersebut&amp;nbsp; hanya diminta untuk ke Waisai. Dari  cerita kronologis yang disampaikan pihak CII, tidak ada&amp;nbsp; penjelasan detail apakah ke 7 kapal  saat&amp;nbsp; perjalanan menuju Wasai dikawal oleh petugas patroli atau tidak?  Namun berdasarkan informasi yang dihimpun hingga berita ini ditulis, ke 7  kapal nelayan itu belum tiba di Wassai. Pihak CII memperkirakan,  kemungkinan mereka melarikan diri. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Laksmi Prasvita, Communication and  Corporate Engagement Manager Conservation International Indonesia  menilai&amp;nbsp; penangkapan ikan di kawasan konservasi Kepulauan Raja Ampat  tersebut dikategorikan illgal karena jika mengacu pada zonasi KKPN  Waigeo Barat yang terdiri dari 3 zonasi, yaitu zona inti, zona  pemanfaatan dan sub zona sasi, maka tidak ada kegiatan penangkapan ikan  yang diperbolehkan di kawasan ini kecuali untuk sasi masyarakat adat  dari Kampung Selpele dan Salio.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Pada umumnya nelayan yang menangkap ikan secara illegal di KKPN Waigeo  Barat berasal dari Halmahera, Buton dan Sorong.&amp;nbsp; Dari barang bukti yang  berhasil diaman petugas patroli, ikan-ikan yang mereka tangkap umumnya  hiu, lola, lobster dan teripang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Kepada petugas patroli, mereka mengaku menangkap ikan di KKPN Waigeo  Barat umumnya karena ketidapahaman mengenai status KKPN Waigeo Barat.  Padahal menurut pihak CII, sosialisasi status kawasan ini sudah  dilakukan sejak 2007 ke nelayan-nelayan yang menangkap ikan di KKPN  Waigeo Barat.&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Mereka juga menggangap Pulau Sayang dan Pulau Piai yang terdapat di  dalam KKPN Waigeo Barat dianggap berada dalam wilayah administrasi  Kabupaten Halmahera, sehingga ijin-ijin yang digunakan untuk menangkap  ikan di KKPN Waigeo Barat berasal dari kepala kampung Yoi, Halmahera.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Secara adat, kedua pulau tersebut milik hak ulayat suku Kawe yang  berdomisili di Kampung Selpele dan Salio, Kabupaten Raja Ampat. Selain  itu kawasan tersebut sudah ditetapkan sebagai kawasan konservasi oleh  pemerintah pusat. “Pemerintah kabupaten dan pusat seharusnya memberikan  bantuan penegakan hukum untuk kawasan konservasi tersebut,”kata Direktur  Eksekutif CII, Ketut Sarjana Putra saat ditemui di kantornya (1/5).  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Kantor sekretariat bersama CII, TNC, WWF&amp;nbsp; yang tergabung melalui program  Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) telah mengirim surat laporan aduan  kepada kepada Gubernur Papua Barat dengan tembusan ke Menteri Kelautan  dan Perikanan. Ketiga lembaga konservasi itu berharap agar Gubernur  Papua Barat mau bekerjasama membantu mengatasi aktivitas illegal di  kawasan konservasi&amp;nbsp; Kepulauan Raja Ampat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepulauan Raja Ampat terletak di barat laut kepala burung Pulau Papua,  memiliki kurang lebih 1500 pulau kecil dan atoll (kelompok pulau karang  yang melingkar) serta 4 pulau besar yang utama, yakni Misol, Salawati,  Bantata dan Waigeo. Luas area ini kurang lebih 4 juta hektar persegi  darat dan lautan – termasuk sebagian Teluk Cendrawasih&amp;nbsp; dan merupakan  sebagai taman laut terbesar di Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehidupan hayati dan biota laut Raja Ampat paling kaya dan beranekaragam  dari seluruh area taman laut di wilayah segitiga koral dunia, Philipina  – Indonesia – Papua Nuigini. Segitiga coral ini merupakan jantung  kekayaan terumbu karang dunia yang dilindungi dan ditetapkan berdasarkan  konservasi perlindungan alam Internasional.&amp;nbsp; Namun kini, kelestariannya  mulai terancam oleh aktivitas kapal penangkap ikan illegal yang  memasuki kawasan konservasi bawa laut&amp;nbsp; terindah di dunia itu.&lt;b&gt;(Surya Rinanda Ariani/Marwan Azis)&lt;/b&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "ca-pub-6463152978813595";
/* Go Green 2 */
google_ad_slot = "1542953554";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8725791079724163569-7755635240007236904?l=www.greenpressreport.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.greenpressreport.com/feeds/7755635240007236904/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8725791079724163569&amp;postID=7755635240007236904&amp;isPopup=true" title="2 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/7755635240007236904?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/7755635240007236904?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.greenpressreport.com/2012/05/7-kapal-penangkap-ikan-hiu-beroperasi.html" title="7 Kapal Penangkap Ikan Hiu Beroperasi di Raja Ampat" /><author><name>Redaksi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02128513609653257159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-nAls8HHftnw/T6AtRm7TwDI/AAAAAAAAARk/iT-ANrfk-Y0/s72-c/raja+ampat.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>2</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;CUAAQnY-eSp7ImA9WhVWGE0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569.post-9049281834070575557</id><published>2012-04-30T23:34:00.002+07:00</published><updated>2012-04-30T23:35:43.851+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-04-30T23:35:43.851+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Laut" /><title>WWF Tanggapi Tuduhan "Greenwashing"</title><content type="html">&lt;h1 class="singlePageTitle"&gt;&lt;a class="addthis_button_compact at300m" href="http://www.beritalingkungan.net/2012/04/wwf-tanggapi-tuduhan-greenwashing.html#"&gt;&lt;span class="at16nc at300bs at15nc at15t_compact at16t_compact"&gt;&lt;span class="at_a11y"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-FNUFF46kPFU/T56yCR3tJhI/AAAAAAAAAXo/a3e8pFnXMfE/s1600/10_bmp_penanganan_penyu_1_27292.jpg" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-FNUFF46kPFU/T56yCR3tJhI/AAAAAAAAAXo/a3e8pFnXMfE/s1600/10_bmp_penanganan_penyu_1_27292.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/h1&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;World Wildlife Fund (WWF) Indonesia akhirnya memberikan tanggapan terkait soal &lt;/span&gt;&lt;i style="font-weight: normal;"&gt;"Greenwashing"&lt;/i&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; yang diduga dilakukan WWF pada industri budidaya udang dan salmon.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="mbl notesBlogText clearfix"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam tanggapannya yang beredar di social media, WWF menyatakan, sebagai organisasi  konservasi, WWF sangat peduli terhadap dampak buruk yang ditimbulkan  oleh industri udang dan salmon, khususnya terhadap persoalan lingkungan  dan sosial di wilayah kerja&amp;nbsp; WWF&amp;nbsp; di seluruh dunia seperti di Chili,  Mekong, Coral Triangle termasuk Indonesia, dan juga tempat-tempat  lainnya dengan produksi budidaya perikanan sangat tinggi, seperti  Norwegia dan Skotlandia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pihak WWF juga menyatakan tidak  menutup mata terhadap pandangan kritis atas budidaya perikanan, termasuk  diantaranya budidaya salmon dan udang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak tahun 2007 sebuah forum multipihak yang dinamakan Forum Dialog  Budidaya Udang dan Forum Dialog Budidaya Salmon didirikan atas inisiatif  WWF untuk menjembatani kepentingan pelaku industri komoditas salmon dan  udang dengan pasar, masyarakat, dan aktivis lingkungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lebih dari 400 orang telah  berpartisipasi dalam forum yang pesertanya terdiri dari 30 persen LSM,  30 persen pelaku industri, 15 persen Peneliti, dan 25 persen pembeli,  pemerintah dan elemen masyarakat lainnya. Beberapa pelaku industri  budidaya udang dengan skala kecil juga terlibat seperti dari India,  Filipina, Vietnam, dan Thailand.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Forum dialog dalam perjalannya menyepakati standar prilaku produksi yang  lebih bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan.&amp;nbsp; Menurut WWF,  sertifikasi pada industri tersebut merupakan media untuk memantau  produksi komoditas tersebut agar memenuhi kriteria ramah sosial dan  lingkungan, tentu dengan prinsip prinsip kehati-hatian yang sangat  tinggi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Dengan terus meningkatnya permintaan seafood sebagai sumber protein  utama dunia, WWF memilih untuk menanggulangi dampak yang ditimbulkan  dari industri Salmon dan budidaya udang ketimbang mengabaikannya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
WWF meyakini bahwa upaya pendekatan kepada pelaku industri udang dan  solmon, dapat mengurangi dampak buruk yang ditimbulkannya. Jika dikelola  dengan benar, Industri budaya perikanan dapat menjadi solusi pemenuhan  kecukupan pangan bagi 9 miliar manusia di bumi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Di Chili misalnya dimana sepertiga produksi budidaya perikanan salmon  dihasilkan, WWF tidak mungkin mencapai tujuan konservasinya tanpa  melakukan pendampingan kepada para pelaku utama industri perikanan di  sana. Pendampingan tsb dimaksudkan untuk mengurangi dampak negatif yang  ditimbulkan industri. Hal yang sama juga dilakukan melalui pendampingan  terhadap industri perikanan tangkap Salmon di Alaska dan tempat-tempat  lainnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Khusus untuk Indonesia, WWF-Indonesia baru-baru ini menerbitkan Serial Panduan Praktik Perikanan  Bertanggungjawab atau Fisheries Better Management Practices untuk  sejumlah komoditi perikanan utama, yaitu kerapu, kakap, udang, tuna dan  nila. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Publikasi ini merupakan panduan perikanan praktis pertama di Indonesia,  berisi rekomendasi-rekomendasi untuk kelompok pelaku perikanan, yaitu  nelayan, pembudidaya dan pengusaha perikanan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Panduan ini disusun berdasarkan pembelajaran tim perikanan WWF-Indonesia  dengan para nelayan dan pembudidaya binaan di sejumlah wilayah kerja  WWF-Indonesia, yaitu Tarakan dan Berau di Kalimantan Timur, Aceh, Danau  Toba – Sumatera Utara, Wakatobi – Sulawesi Tenggara, Kepulauan Solor  Alor – Nusa Tenggara Timur, Bali, dan Bitung – Sulawesi Utara.&amp;nbsp; (Marwan  Azis).&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "ca-pub-6463152978813595";
/* Go Green 2 */
google_ad_slot = "1542953554";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8725791079724163569-9049281834070575557?l=www.greenpressreport.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.greenpressreport.com/feeds/9049281834070575557/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8725791079724163569&amp;postID=9049281834070575557&amp;isPopup=true" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/9049281834070575557?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/9049281834070575557?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.greenpressreport.com/2012/04/wwf-tanggapi-tuduhan-greenwashing.html" title="WWF Tanggapi Tuduhan &quot;Greenwashing&quot;" /><author><name>Redaksi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02128513609653257159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-FNUFF46kPFU/T56yCR3tJhI/AAAAAAAAAXo/a3e8pFnXMfE/s72-c/10_bmp_penanganan_penyu_1_27292.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;CUUDRXoyeSp7ImA9WhVWGE0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569.post-5023534921071712652</id><published>2012-04-30T23:25:00.001+07:00</published><updated>2012-04-30T23:27:54.491+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-04-30T23:27:54.491+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Laut" /><title>Ratusan NGO Tuding WWF Lakukan “Greenwashing”</title><content type="html">&lt;h1 class="singlePageTitle" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;/h1&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-omYoJ1ywacU/T569VEmcRaI/AAAAAAAAARY/wFbkCBCjN88/s1600/WWF.png" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="180" src="http://2.bp.blogspot.com/-omYoJ1ywacU/T569VEmcRaI/AAAAAAAAARY/wFbkCBCjN88/s320/WWF.png" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;World Wildlife Fund (WWF) dituding lakukan "Greenwashing" dalam pengembangan standar-standar tambak udang.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal tersebut disampaikan ratusan organisasi non  pemerintah di Asia, Amerika Latin, Africa, Amerika Utara dan Eropa yang mendatangi kantor WWF. Mereka memprotes WWF, sebagai organisasi yang kurang kepeduliannya terhadap  lingkungan dan penghidupan masyarakat, dan menyiratkan kepentingan  keuntungan industri dari tambak udang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cna-ecuador.com melaporkan, para  aktvis lingkungan itu menyerahkan surat terbuka kepada WWF di hari Rabu  lalu sebagai protes terhadap Komite Pengarah WWF untuk Dialog Budidaya  Udang WWF (SHAD) dan rencana Aquaculture Stewardship Council (ASC)  terkait standar akuakultur udang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“WWF sedang berupaya melakukan  pencucian tangan atas pengrusakan lingkungan (baca: greenwashing), dan  menjalankan praktik kotor (baca: corrupt) melalui sertifikasi produk  mewah ini,” ujar Luciana Queiroz dari Redmanglar, mewakili sebuah  jaringan 254 organisasi di 10 negera Amerika Latin.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"WWF greenwashing industri  merusak lingkungan dan korup melalui sertifikasi ini produk mewah," kata  Queiroz Luciana dari Redmanglar, mewakili sebuah jaringan dari 254  organisasi di 10 negara Amerika Latin.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam surat itu, mereka  memprotes penghancuran hutan bakau dan zona-zona pesisir. Tiga ratus  organisasi di Amerika Latin, Asia dan Afrika member tandatangan, juga 30  organisasi di Amerika Serikat dan Eropa. Surat tersebut dicap dengan  logo dari sejumlah organisasi tuan rumah, termasuk Food and Water Watch  dan&amp;nbsp; Stockholm Society for Nature Conservation.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mereka mengklaim WWF sudah  menghabiskan 4 tahun dan setidaknya 2 Juta dolar Amerika (atau 1,5 juta  euro) untuk mengembangkan standar, yang tanpa melibatkan para pemangku  kepentingan atau pun pengguna sumber daya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari total 13 poin keberatan  yang diajukan, organisasi tersebut mengklaim bahwa kriteria standarisasi  yang dikembangkan berdasarkan keinginan untuk memastikan agar 20 persen  industri udang yang ada mampu mendapatkan sertifikasi, segera setelah  standar dirilis. Standar itu akan mengukuhkan sistem yang tidak  berkelanjutan dan merusak perikanan budidaya, pungkas kelompok-kelompok  tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Beberapa poin keberatan lain :&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Konversi bakau dan zona-zona  pesisir menjadi tambak-tambak udang untuk industri ekspor yang  menyebabkan kerusakan lingkungan parah, keroposnya keanekaragaman hayati  dan sumber daya perikanan alam, juga erosi garis pantai. Hal tersebut  akan meningkatkan respon terhadap badai dan tsunami, yang serta merta  melepaskan sejumlah besar massa karbon, sehingga berkontribusi terhadap  perubahan iklim.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penggunaan pakan ikan skala  besar&amp;nbsp; menambah buruk, setelah semua persoalan di atas. Penduduk pesisir  di negara-negara tropis akan sangat terkena dampak berupa kehilangan  sumber pendapatan, ketahanan pangan dan menurunnya proteksi terhadap  badai. Mereka yang memprotesnya tidak jarang mengalami pelanggaran hak  azasi manusia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berlanjutnya produksi kebijakan  yang tidak memenuhi kelayakan&amp;nbsp; dan kurangnya penegakan hukum di  Negara-negara produsen menjadikan kepatuhan pada stadar sertifikasi  menjadi sulit terpenuhi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sertifikasi WWF melegitimasi situasi ini dengan memberikan “stempel hijau” untuk pengolahan udang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Standar sertifikasi mereka  baru-baru ini difinalisasi, dan akan diserahkan ke perusahaan  sertifikasi bernama Aquaculture Stewardship Council (ASC).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Standarisasi sudah dikembangkan  oleh WWF dan industri akuakultur melalui proses yang disebut Dialog  Akuakultur Udang (Shrimp Aquaculture Dialogue/ ShAD). WWF mengatakan  bahwa ShAD, membawa semua pemangku kepentingan, seperti produsen udang  dan elemen-elemen rantai pasokan, peneliti, organisasi non pemerintah,  dan pejabat pemerintah untuk terlibat dalam pengaturan standar secara  kolaboratif dan sukarela. (Marwan Azis).&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "ca-pub-6463152978813595";
/* Go Green 2 */
google_ad_slot = "1542953554";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8725791079724163569-5023534921071712652?l=www.greenpressreport.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.greenpressreport.com/feeds/5023534921071712652/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8725791079724163569&amp;postID=5023534921071712652&amp;isPopup=true" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/5023534921071712652?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/5023534921071712652?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.greenpressreport.com/2012/04/ratusan-ngo-tuding-wwf-lakukan.html" title="Ratusan NGO Tuding WWF Lakukan “Greenwashing”" /><author><name>Redaksi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02128513609653257159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-omYoJ1ywacU/T569VEmcRaI/AAAAAAAAARY/wFbkCBCjN88/s72-c/WWF.png" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkYFRH88eip7ImA9WhVWF04.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569.post-2872443388480666659</id><published>2012-04-27T05:09:00.002+07:00</published><updated>2012-04-30T05:21:55.172+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-04-30T05:21:55.172+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Laut" /><title>Corexit Cemari Laut NTT</title><content type="html">&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-E5TvsmrDmd8/T5o-5RyIx9I/AAAAAAAABRA/LTVpukTrgok/s1600/dispersant.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://2.bp.blogspot.com/-E5TvsmrDmd8/T5o-5RyIx9I/AAAAAAAABRA/LTVpukTrgok/s320/dispersant.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Penyemprotan dispersant jenis corexit 9500  yang digunakan Otorita Keselamatan Maritim Australia (AMSA) untuk  menemgelamkan tumpahan minyak di Laut Timor akibat meledaknya sumur  minyak Montara pada 21 Agustus 2009, diduga kuat telah mencemari seluruh  wilayah perairan Nusa Tenggara Timur (NTT).&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=8725791079724163569&amp;amp;postID=2872443388480666659" name="more"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Dugaan tersebut didasarkan pada penyebaran tumpahan minyak Montara  bercampur timah hitam yang kemudian ditenggelamkan oleh AMSA ke dasar  Laut Timor dengan menyemprotkan bubuk kimia sangat berbahaya dan beracun  dispersant Corexit 9500 yang terus mengalir seiring alur pergerakan  arus bawah laut dan angin.&amp;nbsp; Corexit bisa menyebabkan kematian pada  jutaan bahkan milyaran bentuk kehidupan laut dan perairan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal tersebut disampaikan Ferdi Tanoni, Ketua Yayasan Peduli Timor Barat  (YPTB) melalui keterangan tertulisnya kemarin. Dugaan pencemaraan itu didasarkan pada  sebuah laporan peneliti sejumlah ahli yang tergabung dalam YPTB Peduli  Laut Timor. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanoni meyakini seluruh perairan NTT dan Timor Timur telah tercemar  tumpahan minyak Montara dan dispersant Corexit 9500 yang sudah hampir  tiga tahun tanpa diikuti dengan sebuah penelitian ilmiah yang patut dan  transparan&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-LkIRCUqO7F0/T5pDzees26I/AAAAAAAABRU/RZObfvC7QeA/s1600/corexit.jpg" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="255" src="http://3.bp.blogspot.com/-LkIRCUqO7F0/T5pDzees26I/AAAAAAAABRU/RZObfvC7QeA/s400/corexit.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Foto : Greenpeace.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&amp;nbsp; "Ini masalah kemanusiaan yang sangat dahsyat, tetapi  pemerintahan kita di Jakarta terus berdiam diri tanpa ada upaya untuk  menangani masalah tersebut secara bersama-sama dengan Pemerintah  Australia dan perusahaan pencemar, PTTEP Australasia yang mengelolah  ladang Montara tersebut," katanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut penulis buku "Skandal Laut Timor, Sebuah Barter Ekonomi Politik  Canberra-Jakarta" itu, pihaknya sedang mengupayakan untuk melayangkan  gugatan ke Pengadilan Australia menuntut pemerintahan negara itu untuk  bertanggungjawab atas persoalan yang dialami masyarakat pesisir di  kepulauan Nusa Tenggara Timur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;"Hasil tangkapan nelayan kita turun drastis sejak wilayah perairan Laut  Timor yang menjadi ladang kehidupannya tercemar. Demikian pun halnya  dengan usaha budidaya rumput laut mengalami kegagalan akibat wilayah  perairan budidaya tercemar," ujarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atas dasar ini, lanjut Tanoni, pemerintah seharusnya lebih serius dan  membuka mata melihat persoalan yang dihadapi masyarakat petani dan  nelayan di Nusa Tenggara Timur yang menjadi korban dari  pencemaran.(Marwan Azis).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keterangan foto : Ilustrasi penyemprotan corexit di areal tumpuhan minyak Teluk Meksiko.&lt;br /&gt;
Dokumentasi gulfofmexicooilspillblog.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "ca-pub-6463152978813595";
/* Go Green 2 */
google_ad_slot = "1542953554";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8725791079724163569-2872443388480666659?l=www.greenpressreport.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.greenpressreport.com/feeds/2872443388480666659/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8725791079724163569&amp;postID=2872443388480666659&amp;isPopup=true" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/2872443388480666659?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/2872443388480666659?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.greenpressreport.com/2012/04/corexit-cemari-laut-ntt.html" title="Corexit Cemari Laut NTT" /><author><name>Redaksi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02128513609653257159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-E5TvsmrDmd8/T5o-5RyIx9I/AAAAAAAABRA/LTVpukTrgok/s72-c/dispersant.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;DU8DRXg-cCp7ImA9WhVWF04.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569.post-228778207141422920</id><published>2012-04-26T05:12:00.003+07:00</published><updated>2012-04-30T05:17:54.658+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-04-30T05:17:54.658+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hutan" /><title>Greenpeace Serukan Penyelamatan Hutan Papua</title><content type="html">&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-HVCUD02Yl0A/T529q9e-LAI/AAAAAAAAARM/CCqK6SUcZ-M/s1600/Hutan_Papua.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="265" src="http://4.bp.blogspot.com/-HVCUD02Yl0A/T529q9e-LAI/AAAAAAAAARM/CCqK6SUcZ-M/s400/Hutan_Papua.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Hutan Papua. Foto : Greenpeace.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;h1 class="singlePageTitle" style="font-weight: normal;"&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Aktivis Greenpeace bersama mahasiswa dari Fakultas Kehutanan  Universitas Negeri Papua (Fahutan UNIPA) hari ini menggelar pameran foto  bertajuk “Rekam Jejak Manusia, Hutan dan Alam Tanah Papua,” untuk  mengajak seluruh lapisan masyarakat Indonesia bergabung dalam upaya  penyelamatan hutan Papua yang terancam hancur.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Berlokasi  di halaman kantor BRI-Sanggeng Manokwari, acara tersebut tidak hanya  menampilkan lebih dari 60 foto tentang keindahan potensi alam  Papua,&amp;nbsp;tapi juga kerusakan yang ditimbulkan akibat dari pembangunan yang  tidak pro pada lingkungan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Pameran  ini juga menyajikan sejumlah foto hutan dan lahan gambut dari  Kalimantan dan Sumatera yang sudah hancur akibat aktivitas tidak  bertanggung jawab perkebunan kelapa sawit dan akasia. Acara ini  bertujuan untuk penyampaian informasi pada publik, dan mengajak semua  kalangan untuk lebih mengetahui dan peduli terhadap kenyataan ini. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Setelah  hutan Sumatera dan Kalimantan dijarah habis-habisan, maka yang tersisa  saat ini hanyalah Papua, sebagai pemilik hutan alam yang relatif masih  utuh. Tetapi keindahan hutan yang dimiliki Papua saat ini terancam  karena hutan di Papua sudah menjadi incaran banyak pihak,” ujar Charles  Tawaru, Jurukampanye Hutan Papua Greenpeace ketika dihubungi via telpon  selulernya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #353535; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Data  kementrian kehutanan tahun 2000, luas hutan di Irian Jaya (sekarang  Papua) adalah 42,22 juta Ha. Pada tahun 2011 Kementerian Kehutanan  menunjukkan luas hutan di papua adalah 34,03 juta Ha. Dari kedua fakta  tersebut, Greenpeace melihat hutan yang hilang pada periode 2000-2009  adalah 8,19 juta hektar atau rata-rata 910.000 hektar hutan hilang  setiap tahunnya. Pemerintah Indonesia sendiri, sebenarnya telah  berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 41% .&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Charles  juga menyampaikan, tahun ini Greenpeace Indonesia membuka kantor di  Papua, untuk mengawal berbagai isu kehutanan seperti konvesi hutan untuk  perkebunan sawit, illegal logging di Papua termasuk Merauke &lt;i&gt;Integrated Food and Energy Estate&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;MIFEE.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Menurutnya  dia, rencana penghancuran hutan seperti proyek&amp;nbsp; MIFEE dan rencana  penghancuran hutan lainnya hanya akan membawa kesengsaraan dimasa  datang, rencana penghancuran ini harus dikaji ulang.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Ke  depan, Greenpeace akan berupaya mengajak semua pihak untuk lebih peduli  lagi dalam melihat Papua, bukan hanya sebagai ladang untuk menggeruk  keuntungan yang sebesar-besarnya tapi juga bagaimana alam ini tetap  lestari dan mendatangkan manfaat yang besar bagai masyarakat  adat,”tandanya (Marwan Azis).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "ca-pub-6463152978813595";
/* Go Green 2 */
google_ad_slot = "1542953554";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8725791079724163569-228778207141422920?l=www.greenpressreport.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.greenpressreport.com/feeds/228778207141422920/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8725791079724163569&amp;postID=228778207141422920&amp;isPopup=true" title="1 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/228778207141422920?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/228778207141422920?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.greenpressreport.com/2012/04/greenpeace-serukan-penyelamatan-hutan.html" title="Greenpeace Serukan Penyelamatan Hutan Papua" /><author><name>Redaksi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02128513609653257159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-HVCUD02Yl0A/T529q9e-LAI/AAAAAAAAARM/CCqK6SUcZ-M/s72-c/Hutan_Papua.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>1</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0ENQ345fip7ImA9WhVWFEs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569.post-2230364585412491138</id><published>2012-04-25T02:45:00.000+07:00</published><updated>2012-04-27T02:48:12.026+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-04-27T02:48:12.026+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Satwa" /><title>ProFauna : Stop Perdagangan Satwa liar</title><content type="html">&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-9qDa6Uaz9Jw/T5mmNUNRcOI/AAAAAAAAARA/DGiTgc2triY/s1600/kampanye-anti-perdagangan-satwa-liar-07.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="214" src="http://2.bp.blogspot.com/-9qDa6Uaz9Jw/T5mmNUNRcOI/AAAAAAAAARA/DGiTgc2triY/s320/kampanye-anti-perdagangan-satwa-liar-07.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perdagangan satwa liar menjadi ancaman serius bagi kelestarian liar di Indonesia. Profauna memperkirakan, lebih dari 95% satwa yang dijual di pasar adalah hasil tangkapan dari alam, bukan hasil penangkaran.  &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
Kondisi tersebut juga diperparah dengan makin berkurang habitat alami satwa liar yang disebabkan konversi hutan secara besar-besar, tanpa mempertimbangkan keseimbangan ekosistem.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak tahun 1994 hingga sekarang ProFauna Indonesia gencar melakukan kampanye anti  perdagangan satwa liar illegal. Sayangnya aparat penegak hukum  dan pihak terkait terkesan membiarkan perdagangan satwa liar illegal terus terjadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Naskah : Marwan Azis - Jakarta | Foto : ProFauna | &lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "ca-pub-6463152978813595";
/* Go Green 2 */
google_ad_slot = "1542953554";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8725791079724163569-2230364585412491138?l=www.greenpressreport.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.greenpressreport.com/feeds/2230364585412491138/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8725791079724163569&amp;postID=2230364585412491138&amp;isPopup=true" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/2230364585412491138?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/2230364585412491138?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.greenpressreport.com/2012/04/profauna-stop-perdagangan-satwa-liar.html" title="ProFauna : Stop Perdagangan Satwa liar" /><author><name>Redaksi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02128513609653257159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-9qDa6Uaz9Jw/T5mmNUNRcOI/AAAAAAAAARA/DGiTgc2triY/s72-c/kampanye-anti-perdagangan-satwa-liar-07.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0AGQ3g6eyp7ImA9WhVWEUQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569.post-3986797997698270807</id><published>2012-04-23T22:39:00.001+07:00</published><updated>2012-04-23T22:42:02.613+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-04-23T22:42:02.613+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Satwa" /><title>Kasus Orangutan, COP Dukung Upaya Menhut</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://2.bp.blogspot.com/-vByXQEF07KM/T5VqIbGYM-I/AAAAAAAABQk/SivyulL3zDI/s400/P8230147.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;" width="400" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Foto : dok mediakonservasi.org  &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;Rencana  Kementerian Kehutanan melakukan banding atas vonis ringan terdakwa  karyawan PT Khaleda Agroprima Malindo (PT KHAM), anak perusahaan Metro  Kajang Holdings (MKH) Berhad yang terlibat dalam pembantaian orangutan  di Muara Kaman, Kalimantan Timur, mendapatkan dukungan dari Centre for  Orangutan Protection (COP). &lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Sebelumnya, Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan, menyatakan bahwa hukuman bagi &lt;a href="http://www.beritalingkungan.net/2012/04/cop-pembantai-orangutan-harus-dihukum.html"&gt;para terdakwa &lt;/a&gt;sangatlah ringan.&amp;nbsp; Karenanya, Kementerian Kehutanan akan mengajukan banding.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Kami sangat mendukung rencana  tersebut. Kami sepakat dengan Menhut bahwa hukuman tersebut setidaknya 4  tahun 10 bulan penjara. Ini sejalan dengan&amp;nbsp; Undang-undang No. 5 Tahun  1990 mengenai Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, para  pelaku dapat dituntut hukuman maksimal 5 tahun penjara."kata Arfiana  Khairunnisa, juru kampanye dari COP kepada Beritalingkungan.com.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut Arfiana, sudah  semestinya pula pemerintah menindaklanjuti dengan tegas pada perusahaan  pengrusak lingkungan, yaitu PT KHAM yang dalam hal ini memiliki  kebijakan dalam penghalauan hama, termasuk orangutan. Tidak hanya  menjatuhkan hukuman saja terhadap para eksekutornya, tetapi juga  terhadap perusahaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Saat ini masih ada 2 persidangan kasus pembantaian orangutan yang sedang  berjalan di Indonesia. "Kami khawatir, putusan yang ringan tersebut  akan dijadikan rujukan bagi &lt;a href="http://www.beritalingkungan.net/2012/04/soal-penanganan-kasus-orangutan-cop.html"&gt;persidangan&lt;/a&gt;  berikutnya. Dampaknya akan sangat besar, para penjahat hutan tidak akan  takut membantai orangutan. Sehingga nantinya tidak ada efek  jera."tandasnya. (Marwan Azis).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "ca-pub-6463152978813595";
/* Go Green 2 */
google_ad_slot = "1542953554";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8725791079724163569-3986797997698270807?l=www.greenpressreport.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.greenpressreport.com/feeds/3986797997698270807/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8725791079724163569&amp;postID=3986797997698270807&amp;isPopup=true" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/3986797997698270807?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/3986797997698270807?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.greenpressreport.com/2012/04/kasus-orangutan-cop-dukung-upaya-menhut.html" title="Kasus Orangutan, COP Dukung Upaya Menhut" /><author><name>Redaksi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02128513609653257159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-vByXQEF07KM/T5VqIbGYM-I/AAAAAAAABQk/SivyulL3zDI/s72-c/P8230147.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;CU4BR3szfyp7ImA9WhVWEkg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569.post-5776030498631890836</id><published>2012-04-23T17:52:00.002+07:00</published><updated>2012-04-24T14:52:36.587+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-04-24T14:52:36.587+07:00</app:edited><title>Pemerintah Gagal Lindungi Petani</title><content type="html">&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-oXnvVPw6M7I/T5U0OAZDIDI/AAAAAAAAAQ0/x4pQy3xeGJI/s1600/panen+padi.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="265" src="http://3.bp.blogspot.com/-oXnvVPw6M7I/T5U0OAZDIDI/AAAAAAAAAQ0/x4pQy3xeGJI/s400/panen+padi.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Ilustrasi, panen padi yang dilakukan petani di Jeneponto, Sulawesi Selatan. Foto : Greenpress/Marwan Azis.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Beras impor kembali membanjiri pasar ketika beberapa daerah sedang panen. Masuknya beras negeri tetangga ini secara psikologis mempengaruhi pasar yang diindikasikan oleh jatuhnya harga di level petani. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;Seperti diberitakan sejumlah media, ribuan ton beras asal Vietnam masuk ke pasar Cipinang. Padahal kuota impor yang dimandatkan kepada Bulog untuk tahun ini sudah terpenuhi dan pemerintah tidak memberikan izin impor tambahan. Diyakini beras diimpor dengan mengunakan izin impor beras khusus oleh importir.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;Masuknya impor beras ini menambah besar jumlah impor beras indonesia yang sebelumnya telah dilakukan Bulog. Setiap tahun indonesia terus mengimpor beras. Jika demikian predikat importir beras terbesar akan terus dipegang. Dari statistik impor beras dunia pada tahun 2010 lalu, Indonesia berada di posisi kesembilan sebagai&amp;nbsp; pengimpor beras. Bahkan menurut data UNINDO, pada periode tahun 1999-2003&amp;nbsp; Indonesia menjadi pengimpor terbesar seluruh dunia dengan volume mencapai 13,229 juta ton. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;Terkait masuknya impor beras disaat kuota Bulog telah terpenuhi, Said Abdullah, Koordinator Advokasi dan Jaringan, Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) menyayangkan sekaligus mempertanyakan terjadinya hal ini. Menurutnya, menjadi pertanyaan besar ketika tugas Bulog selesai tetapi impor masih ada. Padahal tugas pengadaan beras untuk memenuhi cadangan pangan dan stabilisasi harga hanya dimandatkan kepada Bulog. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;Selama ini impor beras khusus memang “sepi’ dari pengawasan. Dengan demikian membuka peluang bagi importir untuk berbuat nakal. Tahun 2007 lalu importir juga memasukkan beras untuk konsumsi hotel dan restoran hingga 185.000 ton. Selain beras ketan, beras khusus dibetes terselip beras menir padahal pada waktu itu produksi cukup.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;Menurut Said, fenomena ini menunjukkan kegagalan pemerintah dalam mengontrol perdagangan beras. Semestinya pemerintah selaku regulator memiliki niat kuat dan kemampuan&amp;nbsp; untuk mengendalikannya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;“Pemerintah telah gagal melindungi petani dalam negeri dengan membiarkan terjadinya praktek impor dengan izin khusus karena yang menerima dampak terbesar dari situasi ini tentu saja petani indonesia sendiri,”ujarnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
Perdagangan beras yang dilakukan oleh importir sangat rawan terjadi free rider. Izin impor sangat mungkin disalahgunakan dengan mengimpor beras untuk dilempar kepasar umum.&amp;nbsp; Sementara pengawasan sangat lemah. Selama ini publik lebih banyak ditarik perhatiannya pada impor yang dilakukan bulog. Sepinya pengawasan bisa jadi pintu belakang bagi masuknya beras impor dengan label izin impor beras khusus.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;Munculnya impor ini juga menunjukkan kuatnya tarik menarik kepentingan didalam pemerintah sendiri. Hal ini diindikasikan dengan saling lempar tanggung jawab antara Kementerian Pertanian dan Kementrian Perdagangan. Dalam pernyataannya seperti yang dilansir sejumlah media, Kementerian Pertanian menyatakan bahwa izin impor dikeluarkan oleh Kementerian Perdagangan setelah ada rekomendasi.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;Dalam realisasinya Kementerian Perdagangan yang melakukan pengawasan. Sementara Kementerian Perdagangan menyatakan bahwa secara teknis ketentuan impor beras khusus (jenis dan jumlah) diatur oleh Kementerian Pertanian. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;“Silang pendapat dan lempar tanggungjawab diantara kementerian menunjukkan pemerintah memang tak ingin melindungi produksi dan produsen dalam negeri. Ujar Said. “Jika memang pemerintah memiliki paradigma dan kemauan untuk melindungi dan menyejahterakan petani saling lempar tanggungjawab tidak dilakukan. bukankah kementerian-kementerian itu bagian dari satu pemerintahan?,”tambahnya.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;KRKP mengharapkan sikap pemerintah untuk lebih tegas dalam menunjukkan niatnya melindungi petani. Pemberian sanksi bagi importir nakal tidak lah cukup. Sanksi tidak dapat merubah banyak hal. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;Menurut Said, sudah saatnya pemerintah merubah paradigma dalam memandang pangan (beras). Pangan hendaknya dipandang sebagai hak dasar setiap warga negara. Karenanya sebuah pengingkaran jika pangan diserahkan ke pasar karena hanya akan menimbulkan persoalan. &lt;br /&gt;
&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;Sudah saatnya paradigma kedaulatan pangan dilakukan. dengan demikian persoalan pangan menjadi domainnya pemerintah bukan lagi pasar. “Pada akhirnya hak atas pangan setiap warga negara dapat terpenuhi. Pada sisi yang lain kesejahteraan petani selaku produsen pangan dapat ditingkatkan,”tandasnya. (Marwan Azis).&amp;nbsp;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "ca-pub-6463152978813595";
/* Go Green 2 */
google_ad_slot = "1542953554";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8725791079724163569-5776030498631890836?l=www.greenpressreport.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.greenpressreport.com/feeds/5776030498631890836/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8725791079724163569&amp;postID=5776030498631890836&amp;isPopup=true" title="2 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/5776030498631890836?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/5776030498631890836?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.greenpressreport.com/2012/04/pemerintah-gagal-lindungi-petani.html" title="Pemerintah Gagal Lindungi Petani" /><author><name>Redaksi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02128513609653257159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/-oXnvVPw6M7I/T5U0OAZDIDI/AAAAAAAAAQ0/x4pQy3xeGJI/s72-c/panen+padi.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>2</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkAAQn05fCp7ImA9WhVWF04.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569.post-6218688959646665013</id><published>2012-04-23T16:26:00.000+07:00</published><updated>2012-04-30T05:32:23.324+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-04-30T05:32:23.324+07:00</app:edited><title>Pesan Hijau dari Sukabumi</title><content type="html">&lt;iframe allowfullscreen="" frameborder="0" height="315" src="http://www.youtube.com/embed/xLEKMaIPh-g" width="560"&gt;&lt;/iframe&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam rangka memperingati Hari Bumi 22 April 2012, TK, SD, SMP Yuwati Bhakti- Sukabumi mempersembahkan video yang berisi pesan-pesan pelestarian lingkungan untuk seluruh penghuni bumi. &lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka tak hanya berkampanye menghimbau masyarakat dunia untuk melestarikan lingkungan. Sejak tahun 2011, mereka telah melakukan aksi nyata merawat bumi kita melalui penanaman di Kibitay (Hutan Kota) Sukabumi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
Aksi tersebut tentu tak lepas dari bimbingan guru-guru mereka yang mengenalkan upaya pelestarian lingkungan sejak dini, yang juga didukung sepenuhnya oleh orang tua murid dan alumni sekolah tersebut. Upaya mereka patut diapresasi dan dicontoh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Marwan Azis - Jakarta | Yuwati Bhakti |Youtube | BL.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "ca-pub-6463152978813595";
/* Go Green 2 */
google_ad_slot = "1542953554";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8725791079724163569-6218688959646665013?l=www.greenpressreport.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.greenpressreport.com/feeds/6218688959646665013/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8725791079724163569&amp;postID=6218688959646665013&amp;isPopup=true" title="1 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/6218688959646665013?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/6218688959646665013?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.greenpressreport.com/2012/04/dalam-rangka-memperingati-hari-bumi-22.html" title="Pesan Hijau dari Sukabumi" /><author><name>Redaksi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02128513609653257159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://img.youtube.com/vi/xLEKMaIPh-g/default.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>1</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEcGRnwzfSp7ImA9WhVWEUQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569.post-5879573200895425708</id><published>2012-04-22T22:43:00.004+07:00</published><updated>2012-04-23T22:47:07.285+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-04-23T22:47:07.285+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Bencana" /><title>Gempa Makowari, Belasan Rumah Rusak</title><content type="html">&lt;h1 class="singlePageTitle" style="text-align: justify;"&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="262" src="http://1.bp.blogspot.com/-TL9BRkdAvxQ/T5UmdsHRMlI/AAAAAAAAAQM/4ziM6Cw_wCk/s400/gempa-2.jpg" width="400" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/h1&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Guncangan gempa berkekuatan 6,8 SR dgn  kedalaman 10 km yg mengguncang Papua Barat, kemarin, menyebabkanbelasan rumah warga di Distrik Ransiki, Kabupaten Manokwari mengalami kerusakan. Beberapa  diantaranya rusak berat sehingga tidak bisa lagi dihuni. Sementara pada  malam hari warga memilih tidur di luar rumah.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Distrik yang terletak 103 Km arah Selatan Manokwari tersebut merupakan  pusat gempa yang terjadi kemarin di Papua Barat.&amp;nbsp; Berdasar pantauan,  selain rumah, sebuah gereja di pusat distrik tersebut dipenuhi retakan.  Salah satu rumah yang rusak berat adalah rumah milik Kepala Suku  Ransiki, Lewi Inden.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peringatan agar warga meningkatkan kewaspadaan dari BMKG menyusul adanya  kemungkinan gempa susulan, membuat ratusan warga menggelar tenda  darurat di halaman rumah. Ada juga warga yang merebahkan diri sekadarnya  tanpa tenda penaung. "Warga kuatir rumahnya rubuh bila gempa susulan  dgn kekuatan serupa kembali mengguncang Ransiki," kata Hamid, warga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gempa kemarin juga mengakibatkan terjadinya longsor di gunung Sayori  Distrik Tanah Rubuh. Gunung itu dilewati jalan utama yg menghubungkan  Manokwari dengan wilayah selatan semisal Distrik Ransiki dan Oransbari,  termasuk Kabupaten Teluk Bintuni.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
BMKG menyebut gempa yang terjadi pada Sabtu (21/4) tersebut tidak  berpotensi tsunami.&amp;nbsp; Tapi saat terjadi, warga Manokwari panik dan  menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi karena kuatir gempa  diikuti tsunami. Getaran pertama diikuti gempa susulan berskala 5.0 SR.&amp;nbsp;  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain di Kota Manokwari, ayunan gempa juga terasa di distrik Sidey yang  berjarak kurang lebih 150 Km dari Manokwari hingga di Kabupaten Teluk  Bintuni.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Hamid, pemerintah Distrik Ransiki yang dibantu oleh warga, telah  melakukan pendataan rumah serta fasilitas umum lainnya yang rusak  akibat gempa tersebut. (Patrix)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "ca-pub-6463152978813595";
/* Go Green 2 */
google_ad_slot = "1542953554";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8725791079724163569-5879573200895425708?l=www.greenpressreport.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.greenpressreport.com/feeds/5879573200895425708/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8725791079724163569&amp;postID=5879573200895425708&amp;isPopup=true" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/5879573200895425708?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/5879573200895425708?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.greenpressreport.com/2012/04/gempa-makowari-belasan-rumah-rusak.html" title="Gempa Makowari, Belasan Rumah Rusak" /><author><name>Redaksi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02128513609653257159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-TL9BRkdAvxQ/T5UmdsHRMlI/AAAAAAAAAQM/4ziM6Cw_wCk/s72-c/gempa-2.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;DE4ER347fyp7ImA9WhVXGUQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569.post-7176959343805148952</id><published>2012-04-21T15:26:00.002+07:00</published><updated>2012-04-21T15:28:26.007+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-04-21T15:28:26.007+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Bencana" /><title>Papua Barat Diayun Gempa</title><content type="html">&lt;h1 class="singlePageTitle"&gt;&lt;/h1&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;img alt="Ketgam: Tampak Kampung Makassar Kota Manokwari berhadapan dengan laut yang hari ini (21/4) diguncang gempa berkuatan 6,8 Skala Rektar. Foto : Beritalingkungan/Marwan Azis." class="bordered" height="222" src="http://www.beritalingkungan.com/media/cache/c0/1f/c01f47ea49ff784add57861c5671552c.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;" width="400" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Ketgam: Tampak  Kampung Makassar Kota  Manokwari berhadapan dengan laut yang hari ini  (21/4) diguncang gempa  berkuatan 6,8 Skala Rektar. Foto : Greenpress/Marwan Azis.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Gempa 6,8 SR dengan  kedalaman 10 km mengguncang Papua Barat, hari ini&amp;nbsp;  (21/4) sekitar pukul  08:16:51 WIB. Data dari mediacenter BMKG menyebut  pusat gempa berada  88 Km sebelah tenggara Manokwari dan tidak berpotensi  tsunami. Meski  begitu, warga panik dan menyelamatkan diri ke tempat  yang lebih tinggi  karena kuatir gempa diikuti tsunami.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="post-body"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di  Manokwari, tepatnya di  Kelurahan Wosi warga yang dikagetkan ayunan  gempa langsung berhamburan  keluar rumah. Imroatun (42 tahun) misalnya.  Ia menggendong cucunya yang  masih berusia 4 Bulan sambil lari ke luar  rumah bersama tetangganya.  Di Hadi Mall, salah satu pusat perbelanjaan  di kota ini, tampak puluhan  karyawan berhamburan ke jalan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di  sekitar Kampung Makassar,  warga lari ke arah kantor bupati yang berada  di atas bukit. Seorang  warga Wosi, terluka di bagian punggung karena  tersayat pagar duri saat  lari dari lorong rumahnya. Sejumlah sekolah  memilih memulangkan siswa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Getaran  pertama diikuti gempa  susulan berskala 5.0 SR.&amp;nbsp; Selain di Kota  Manokwari, ayunan gempa juga  terasa di distrik Sidey yang berjarak  kurang lebih 150 Km dari  Manokwari. "Agak keras, tetangga juga lari ke  luar rumah," kata Karno  warga Distrik Sidey.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Warga  di Kabupaten Teluk  Bintuni juga merasakan ayunan gempa ini. "Gempa  terasa sampai di LNG  Tangguh,Tanah Merah," kata Agus seorang pekerja  pada proyek LNG Tangguh  Distrik Babo Teluk Bintuni.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebelumnya,   Gempa berkekuatan 4,2 SR juga mengguncang Kota Sorong pada 19 April   lalu sekitar pukul 14:16:11 WIT.&amp;nbsp; Pusat gempa berlokasi di 5 km Barat   Laut Kota Sorong dengan Kedalaman 10 Km.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Informasi  dari BMKG menyebut,  gempa yg dirasakan masyarakat Sorong dan sekitarnya  itu adalah akibat  dari aktifitas&amp;nbsp; pergerakan Patahan Sorong yg melintas  dari teluk  Cendrawasih Papua&amp;nbsp; sampai Selatan Maluku Utara."Tidak ada  dampak yang  signifikan karena gempa relatif kecil," kata Edwan, warga  Kota  Sorong.(Patrix Barumbun Tandirerung)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "ca-pub-6463152978813595";
/* Go Green 2 */
google_ad_slot = "1542953554";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8725791079724163569-7176959343805148952?l=www.greenpressreport.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.greenpressreport.com/feeds/7176959343805148952/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8725791079724163569&amp;postID=7176959343805148952&amp;isPopup=true" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/7176959343805148952?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/7176959343805148952?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.greenpressreport.com/2012/04/papua-barat-diayun-gempa.html" title="Papua Barat Diayun Gempa" /><author><name>Redaksi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02128513609653257159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;CE4GSHcyfip7ImA9WhVXF08.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569.post-7137416198336379677</id><published>2012-04-17T11:18:00.002+07:00</published><updated>2012-04-18T11:22:09.996+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-04-18T11:22:09.996+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Satwa" /><title>COP : Pembantai Orangutan harus dihukum berat</title><content type="html">&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-hOd6Fbt8Y8U/T45BBtWyK0I/AAAAAAAAAQY/R74RbccN0Ws/s1600/PNTenggarong.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://1.bp.blogspot.com/-hOd6Fbt8Y8U/T45BBtWyK0I/AAAAAAAAAQY/R74RbccN0Ws/s400/PNTenggarong.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Centre for Orangutan Protection (COP) menilai tuntutan Jaksa 1 tahun penjarah bagi pelaku pembantaian orangutan di Kalimatan terlalu ringan. &lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
Jaksa menuntut 2 eksekutif PT. Khaleda Agroprima Malindo yang merupakan anak perusahaan asal Malaysia, Metro Kajang Holdings (MKH) Berhad selama 1&amp;nbsp; tahun penjara, denda 50 juta rupiah subsider 6 bulan kurungan. Sedang 2 eksekutor lapangannya dituntut 1 (satu) tahun penjara, denda 20 juta subsider 6 bulan kurungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jaksa terlalu ringan memberikan tuntutan, padahal jaksa bisa menuntut maksimal karena kejahatan yang mereka lakukan juga besar, yakni membantai orangutan secara sistematis. Ini merujuk pada Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, mereka dapat diancam dengan hukuman penjara maksimum 5 (lima) tahun dan denda 100 (seratus) juta rupiah,”kata Michel Irarya, Juru Kampanye dari Centre for Orangutan Protection (17/4).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Michel melanjutkan, COP menduga bisa saja proses hukum ini mendapat tekanan dari pihak-pihak yang bersangkutan yang merasa dirugikan dengan tegaknya supremasi hukum di Indonesia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jangan sampai hukum Indonesia dianggap takut karena berhadapan dengan perusahaan transnasional seperti MKH Berhad asal Malaysia, sehingga lebih memilih untuk menghukum ringan pada pelaku kejahatan terhadap satwa liar ketimbang memberikan perlindungan penuh untuk satwa Indonesia. Indonesia adalah negara hukum, bangsa lain harus menghargai hukum Indonesia, bukan malah menginjak-injaknya.”ujarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemarin, Centre for Orangutan Protection kembali melakukan aksi mendesak para hakim untuk memberikan vonis maksimal bagi pembantai orangutan. Dalam aksinya para aktivis COP&amp;nbsp; membentangkan spanduk bertuliskan ‘Jangan Takut pada Malaysia’ dan Orangufriends yang mengenakan kostum orangutan di depan Pengadilan Negeri Tenggarong. Centre for Orangutan memberikan dukungan penuh pada hakim untuk memberikan vonis hukuman maksimal bagi pembantai orangutan. (Marwan Azis). &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "ca-pub-6463152978813595";
/* Go Green 2 */
google_ad_slot = "1542953554";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8725791079724163569-7137416198336379677?l=www.greenpressreport.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.greenpressreport.com/feeds/7137416198336379677/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8725791079724163569&amp;postID=7137416198336379677&amp;isPopup=true" title="1 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/7137416198336379677?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/7137416198336379677?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.greenpressreport.com/2012/04/cop-pembantai-orangutan-harus-dihukum.html" title="COP : Pembantai Orangutan harus dihukum berat" /><author><name>Redaksi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02128513609653257159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-hOd6Fbt8Y8U/T45BBtWyK0I/AAAAAAAAAQY/R74RbccN0Ws/s72-c/PNTenggarong.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>1</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkEEQHkyeip7ImA9WhVXFkw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569.post-3695124282081762838</id><published>2012-04-16T12:12:00.000+07:00</published><updated>2012-04-17T05:16:41.792+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-04-17T05:16:41.792+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Gempa" /><title>Gempa Guncang Sulawesi</title><content type="html">&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-u0akGyAcWiI/T4yZJ78NmnI/AAAAAAAAAQQ/I0sjzwstbIU/s1600/gempa+sulawesi.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://2.bp.blogspot.com/-u0akGyAcWiI/T4yZJ78NmnI/AAAAAAAAAQQ/I0sjzwstbIU/s400/gempa+sulawesi.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="uiStreamMessage" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:1}"&gt;&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;Gempa dengan kekuatan 5,5 skala richter mengguncang sejumlah wilayah di Sulawesi meliputi Luwu, Morowali, Kolaka dan Kendari. Gempa terjadi pukul 01.01 WIB&amp;nbsp; (16/4)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="uiStreamMessage" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:1}"&gt;&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="uiStreamMessage" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:1}"&gt;&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;Pusat gempa pada 93 km Tenggara Luwu Timur-Sulsel, 107 km Tenggara Morowali-Sulteng, 110 km Timur Laut Kolaka Utara-Sultra, 157 km Barat Laut Kendari-Sultra. Lokasi gempa berada pada 2.62 lintang selatan dan 121.94 bujur timur. Kedalaman gempa berada pada 13 km.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="uiStreamMessage" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:1}"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="uiStreamMessage" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:1}"&gt;&lt;span class="messageBody" data-ft="{&amp;quot;type&amp;quot;:3}"&gt;Berdasarkan rilis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa tersebut tidak berpotensi tsunami. (Marwan Azis) &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "ca-pub-6463152978813595";
/* Go Green 2 */
google_ad_slot = "1542953554";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8725791079724163569-3695124282081762838?l=www.greenpressreport.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.greenpressreport.com/feeds/3695124282081762838/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8725791079724163569&amp;postID=3695124282081762838&amp;isPopup=true" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/3695124282081762838?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/3695124282081762838?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.greenpressreport.com/2012/04/gempa-guncang-sulawesi.html" title="Gempa Guncang Sulawesi" /><author><name>Redaksi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02128513609653257159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-u0akGyAcWiI/T4yZJ78NmnI/AAAAAAAAAQQ/I0sjzwstbIU/s72-c/gempa+sulawesi.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;D04NR3k7fSp7ImA9WhVXE0g.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569.post-5131334195935390127</id><published>2012-04-14T05:23:00.002+07:00</published><updated>2012-04-14T05:26:36.705+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-04-14T05:26:36.705+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Satwa" /><title>Lagi Orangutan Terjebak Perangkap Warga</title><content type="html">&lt;h1 class="doublePageTitle1"&gt;&lt;div style="float: left;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a class="addthis_button_preferred_1 addthis_button_twitter at300b" href="http://www.beritalingkungan.net/2012/04/lagi-orangutan-terjebak-perangkap-warga.html#" title="Tweet This"&gt;&lt;span class="at16nc at300bs at15nc at15t_twitter at16t_twitter"&gt;&lt;span class="at_a11y"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-eVaxBAtMwh8/T4iLvHHfTzI/AAAAAAAAAGY/4HcXIzQTDeE/s1600/pelansi+terjebak.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="265" src="http://4.bp.blogspot.com/-eVaxBAtMwh8/T4iLvHHfTzI/AAAAAAAAAGY/4HcXIzQTDeE/s400/pelansi+terjebak.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/h1&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Satu lagi  kabar menyedikan dari dunia konservasi satwa. Pelansi, demikian nama  orangutan ditemukan terjebak perangkap yang dipasang warga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Bersyukur ada tim &lt;i&gt;rescue &lt;/i&gt;dari  Yayasan International Animal Rescue (IAR) Indonesia melakukan  penyelamatan terhadap orangutan bernama Pelansi Jumat 06 April 2012,  setelah mereka mendapatkan laporan dari warga lokal.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Nama Pelansi  diambil dari lokasi penemuan di hutan di daerah Pelansi, Kuala Satong.  Saat ditemukan kondisi Pelansi sangat mengenaskan. Salah satu tangannya  terjerat oleh perangkap yang dipasang oleh warga. Orangutan malang ini  telah terjebak selama 10 hari tanpa makan dan minum serta merasakan  kesakitan akibat luka yang membusuk di lengan kanannya. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sebenarnya 10  hari sebelumnya, Pelansi telah ditemukan oleh pemilik perangkap  tersebut, namun karena dia cukup agresif, pemilik perangkap menjadi  takut dan membiarkannya.&amp;nbsp; Pemilik perangkap juga takut untuk melaporkan  hal tersebut &amp;nbsp;kepada yang berwajib karena dia tahu menangkap orangutan  dilarang oleh pemerintah Indonesia dan dia tidak mau ditangkap.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Di area hutan  seluas 400 hektar ternyata orang tersebut telah memasang 60 perangkap  yang sama dan tersebar di seluruh areal hutan itu. Menurut keterangan  warga di area sekitar perkebunan kelapa sawit milik PT. KAL (Kayong Agro  Lestari), banyak terlihat orangutan. Bahkan, saat melakukan&lt;i&gt; rescue &lt;/i&gt;terhadap Pelansi tim juga sempat melihat orangutan liar lainnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-iq_wF-oPdAw/T4iMvPs7nUI/AAAAAAAAAGg/ohHOK-HSnzg/s1600/IMG_2512.jpg" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://3.bp.blogspot.com/-iq_wF-oPdAw/T4iMvPs7nUI/AAAAAAAAAGg/ohHOK-HSnzg/s400/IMG_2512.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Menurut  Drh. Karmele Llano Sanchez, Ketua Yayasan IAR Indonesia, kondisi Pelansi saat ini cukup kritis. Dia terkena  &lt;i&gt;septicemia&lt;/i&gt; yang disebabkan oleh luka dan infeksi dari tangannya yang terjerat. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pelansi diberikan &lt;i&gt;IV line &lt;/i&gt;(infus)  dan antibiotic serta berada dalam pengawasan tim medis IAR Indonesia  selama 24 jam. “Jika dia dapat melalui masa kritisnya, Pelansi harus  melalui satu perlakuan medis lagi yaitu amputasi. Hal ini&amp;nbsp; berarti hanya  ada sedikit kemungkinan Pelansi dapat kembali dilepaskan ke alam  liar,”jelasnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Penggunaan  perangkap diakui oleh pemiliknya ditujukan untuk menangkap babi dan rusa  yang kemudian akan mereka &amp;nbsp;jadikan santapan / makanan. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dia tidak  mengetahui bahwa perangkap tersebut bisa juga menjerat orangutan atau  satwa liar lainnya dan bahkan bisa mencelakai orang / warga masyarakat  yang sedang berada dalam hutan tersebut. Dengan rutinitas pengecekan  &amp;nbsp;perangkap setiap 7 hari sekali bisa dikatakan &amp;nbsp;bahwa satwa yang  terjebak akan menderita karena menunggu dalam waktu yang cukup lama  untuk dilepaskan dari jebakan tersebut, bahkan bisa saja satwa tersebut  mati.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Menurut  Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 13 tahun 1994 tentang  perburuan satwa buru, penggunaan jerat / perangkap dan lubang perangkap  tidak diperbolehkan dalam perburuan. &amp;nbsp;Selain itu orangutan adalah satwa  yang dikategorikan sebagai satwa yang dilindungi oleh Pemerintah  Indonesia sehingga kita tidak bisa memburu atau menangkapnya, jika  melakukannya maka sesuai dengan UU No. 5 Tahun 1990 kita bisa terkena  hukuman penjara 5 tahun dan denda Rp 100.000.000.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Akibat perusakan hutan dan&lt;a href="http://www.beritalingkungan.net/2012/04/lagi-orangutan-terjebak-perangkap-warga.html" name="_GoBack"&gt;&lt;/a&gt;  perkembangan industri kelapa sawit di kabupaten Ketapang, banyak  orangutan yang diburu atau tinggal di hutan yang terfragmentasi dan  terisolasi, akibatnya banyak &amp;nbsp;orangutan semakin terdesak keluar  habitatnya &amp;nbsp;sehingga banyak orangutan yang masuk di tempat penyelamatan  dan rehabilitasi”- kata drh. Adi, manager IAR Indonesia di Ketapang. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Perusahaan  harus ada komitmen dan tanggungjawab terhadap lingkungan dan  keanegaraman hayati yang mereka rusakan, seharusnya jika perkebunan  kelapa sawit dapat dikelola dengan mengikuti &lt;i&gt;Guidelines for the  Better Management Practices on Avoidance, Mitigation and Management of  Human – Orangutan Conflict in and around Oil Palm Plantation&lt;/i&gt; maka dapat mengurangi konflik yang terjadi antara orangutan dengan manusia”tambahnya. (Marwan Azis)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "ca-pub-6463152978813595";
/* Go Green 2 */
google_ad_slot = "1542953554";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8725791079724163569-5131334195935390127?l=www.greenpressreport.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.greenpressreport.com/feeds/5131334195935390127/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8725791079724163569&amp;postID=5131334195935390127&amp;isPopup=true" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/5131334195935390127?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/5131334195935390127?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.greenpressreport.com/2012/04/lagi-orangutan-terjebak-perangkap-warga.html" title="Lagi Orangutan Terjebak Perangkap Warga" /><author><name>Redaksi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02128513609653257159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-eVaxBAtMwh8/T4iLvHHfTzI/AAAAAAAAAGY/4HcXIzQTDeE/s72-c/pelansi+terjebak.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0MGQH0-cCp7ImA9WhVXE0o.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569.post-7454724436109936977</id><published>2012-04-13T11:52:00.001+07:00</published><updated>2012-04-14T11:57:01.358+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-04-14T11:57:01.358+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Satwa" /><title>Soal Penanganan Kasus Orangutan, COP Memprotes Jaksa</title><content type="html">&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-KsVJoavpmAk/T4kC7ijqr-I/AAAAAAAAAQI/GcVpNa-0oHE/s320/Kejaksaan.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;" width="320" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Aksi aktivis COP di kantor Kejaksaan Agung RI.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Pertama kali dalam sejarah hukum Indonesia, sidang kasus  pembantaian orangutan digelar di Pengadilan Negeri Tenggarong.&amp;nbsp; Namun,  Centre for Orangutan Protection (COP) menilai bahwa tuntutan jaksa pada  persidangan kasus pembantaian orangutan di Pengadilan Negeri Tenggarong  terlalu ringan. &lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dikhawatirkan, ringannya tuntutan dan vonis akan menjadi rujukan bagi  sidang peradilan atas kasus serupa karena saat ini sedang dilangsungkan 2  persidangan pembantaian orangutan yang dilakukan oleh perusahaan  perkebunan kelapa sawit PT. Sabhantara Rawi Santosa anak perusahaan  Makin Group dan PT. Prima Cipta Selaras di Kalimantan Timur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Empat terdakwa tersebut merupakan karyawan PT. Khaleda Agroprima Malindo  anak perusahaan asal Malaysia, Metro Kajang Holdings (MKH) Berhad.  Dalam sidang pemeriksaan, mereka telah mengakui membentuk tim penghalau  hama yaitu untuk orangutan dan monyet. Dalam prakteknya mereka  menggunakan anjing dan senapan. Selanjutnya, orangutan dan monyet yang  berhasil ditangkap dibayar oleh perusahaan. Satu individu orangutan  dihargai Rp. 500.000 sampai 1 juta rupiah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jelas sekali ini merupakan kejahatan yang terorganisir dan diketahui  oleh perusahaan. Di sini ada unsur kesengajaan. Dan tuntutan 1 tahun  kurungan penjara sangat ringan bagi kejahatan yang terorganisir. Kami  menduga bahwa persidangan berlangsung tidak bersih,"kata Daniek  Hendarto, Juru Kampanye dari Centre for Orangutan Protection (13/4).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jaksa penuntut umum menuntut ringan dengan alasan perusahaan belum  menguasai hukum dan perundangan Indonesia, bahwa orangutan adalah satwa  yang dilindungi." Bagi perusahaan transnasional yang bonafit seperti MKH  Berhad, seharusnya paham tentang hukum negara Indonesia. Jika mereka  tidak tahu, ini sangat janggal,”tambahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daniek melanjutkan, mengingat orangutan dan satwa liar lainnya yang  telah dibantai sebagai dampak dari kebijakan resmi perusahaan, terdakwa  pantas dihukum seberat-beratnya sesuai dengan undang-undang yang berlaku  di negara Indonesia. Yaitu, menurut Undang-undang No. 5 Tahun 1990  tentang Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistemnya, mereka dapat  dihukum penjara maksimal 5 tahun penjara dan denda 100 juta rupiah. "Dan  itu jauh dari tuntutan jaksa,"ujarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jaksa penuntut umum, Suroto, hanya menuntut 4 terdakwa masing-masing 1  tahun penjara. Yaitu 2 terdakwa yang merupakan eksekutif Phuah Chuan dan  Widiantoro dituntut 1 tahun kurungan, denda 50 juta rupiah, subsider 6  bulan kurungan. Sedang 2 eksekutor lapangan Imam Muhtarom dan Mujianto  dituntut 1 tahun kurungan, denda 20 juta rupiah, subsider 6 bulan  kurungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Jika hukuman terlalu ringan, akibatnya kejahatan yang sama akan terus  berulang karena tidak menimbulkan efek jera,"tandasnya. (Marwan Azis). &lt;br /&gt;
&lt;h1 class="singlePageTitle"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/h1&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "ca-pub-6463152978813595";
/* Go Green 2 */
google_ad_slot = "1542953554";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8725791079724163569-7454724436109936977?l=www.greenpressreport.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.greenpressreport.com/feeds/7454724436109936977/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8725791079724163569&amp;postID=7454724436109936977&amp;isPopup=true" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/7454724436109936977?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/7454724436109936977?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.greenpressreport.com/2012/04/soal-penanganan-kasus-orangutan-cop.html" title="Soal Penanganan Kasus Orangutan, COP Memprotes Jaksa" /><author><name>Redaksi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02128513609653257159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-KsVJoavpmAk/T4kC7ijqr-I/AAAAAAAAAQI/GcVpNa-0oHE/s72-c/Kejaksaan.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;CUQCQ38yfyp7ImA9WhVXFEU.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569.post-1856415561795111687</id><published>2012-04-11T17:52:00.001+07:00</published><updated>2012-04-15T16:49:22.197+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-04-15T16:49:22.197+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Bencana" /><title>Tips, Hidup di Negeri  Gempa dan Tsunami</title><content type="html">&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-INYuQPAaXWk/T4XETb4OyWI/AAAAAAAAAP0/T84UVBpSBZM/s1600/aceh3.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="225" src="http://4.bp.blogspot.com/-INYuQPAaXWk/T4XETb4OyWI/AAAAAAAAAP0/T84UVBpSBZM/s400/aceh3.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="field-content"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="field-content"&gt;(AFP)&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hari Rabu (11/4) mata masyarakat Indonesia dan dunia tertuju pada Bumi Serambi Mekah, Aceh dan sekitarnya.&amp;nbsp; Gempa berkekuatan 8.9 SR kembali mengguncang Aceh&amp;nbsp; sekitar pukul 15.38 WIB.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Menurut pihak BMKG, gempa tersebut berpotensi tsunami. Gempa bumi ini berada pada 434 Km barat daya Meulaboh dengan kedalaman 10 Km. Secara geografis lokasinya berada pada 2.31 LU&amp;nbsp; dan 92.67 BT.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Saat kejadian, masyarakat kembali panik, takut kejadian serupa terulang seperti pada tahun 2004 segera berhamburan keluar rumah.&amp;nbsp; Kebanyakan mereka menuju tempat yang lebih tinggi. Sebagian lagi lari menuju masjid. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Berbagai&amp;nbsp; kejadian gempa bumi dan tsunami yang pernah melanda Indonesia, memberikan kita pelajaran, akan pentingnya mengenal secara dini dua fenomena alam tersebut. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;object class="BLOGGER-youtube-video" classid="clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0" data-thumbnail-src="http://0.gvt0.com/vi/lfzHTKf-wTg/0.jpg" height="266" width="320"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/lfzHTKf-wTg&amp;fs=1&amp;source=uds" /&gt;&lt;param name="bgcolor" value="#FFFFFF" /&gt;&lt;embed width="320" height="266"  src="http://www.youtube.com/v/lfzHTKf-wTg&amp;fs=1&amp;source=uds" type="application/x-shockwave-flash"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Apalagi kita tinggal di pertemuan 3 lempeng ( lempeng Australia, Eurasia, dan Pasifik) yang sangat rentan digoyang gempa. Untuk itu sangat penting bagi kita yang tinggal dimanapun di Indonesia ini, baik yang di Sabang sampai Merauke harus mengetahui apa yang harus dilakukan jika menghadapi gempa dan tsunami. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
Berikut tips sederhana yang dianjurkan banyak ahli penanganan bencana yang bisa dilakukan oleh kelompok masyarakat dan individu dalam menghadapi gempa dan tsunami.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Langkah yang harus dilakukan Kelompok Sadar Bencana ini antara lain :&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Petakan daerah rawan genangan tertinggi tsunami, jalur evakuasi, dan tempat penampungan sementara yang cukup aman.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Berkoordinasi dengan Badan Meterologi dan Geofisika (BMG), kepolisian, pemerintah daerah, dan rumah sakit. Jika data dari BMG mengenai peringatan dini bencana tak bisa diharapkan kecepatannya, komunitas ini harus menghimpun gejala-gejala alam yang tidak biasa terjadi.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Melakukan pertemuan rutin untuk menambah pengetahuan mengenai gempa dan tsunami. Jika perlu, mendatangkan ahli.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Melakukan latihan secara reguler, baik terjadwal maupun tidak terjadwal.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Buat deadline waktu respon evakuasi untuk diterapkan saat latihan agar dalam bencana sesungguhnya telah terbiasa merespon secara cepat.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Buat kode tertentu yang dikenali masyarakat sekitar untuk menandakan evakuasi. Semisal di Pulau Simeuleu yang paling dekat dengan episentrum gempa Aceh, memiliki istilah Semong yang diteriakkan berulang kali untuk menunjukkan adanya tsunami. Dengan kode ini, otomatis harus dilakukan evakuasi secepatnya ke tempat yang lebih tinggi.Menyebarkan gambar peta evakuasi di pelosok daerah tempat anggota komunitas tinggal.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Menyebarkan gambar peta evakuasi di pelosok daerah tempat anggota komunitas tinggal.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;Sedangkan langkah yang harus dilakukan tiap individu adalah :&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Siapkan satu tas darurat yang sudah diisi keperluan-keperluan mengungsi untuk 3 hari. Di dalamnya termasuk, pakaian, makanan, surat-surat berharga, dan minuman secukupnya. Jangan membawa tas terlalu berat karena akan mengurangi kelincahan mobilitas.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Selalu merespon tiap latihan dengan serius sama seperti saat terjadinya bencana.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Selalu peka dengan fenomena alam yang tidak biasa.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Untuk membaca tanda-tanda alam sebelum terjadinya tsunami, Amien Widodo memberikan sejumlah petunjuk berdasarkan pengalaman tsunami-tsunami sebelumnya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Terdengar suara gemuruh yang terjadi akibat pergeseran lapisan tanah. Suara ini bisa didengar dalam radius ratusan kilometer seperti yang terjadi saat gempa dan tsunami di Pangandaran lalu.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Jika pusat gempa berada di bawah permukaan laut dikedalaman dangkal dan kekuatan lebih dari 6 skala richter, perlu diwaspadai adanya tsunami.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Jangka waktu sapuan gelombang tsunami di pesisir bisa dihitung berdasarkan jarak episentrumnya dengan pesisir.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Garis pantai dengan cepat surut karena gaya yang ditimbulkan pergeseran lapisan tanah. Surutnya garis pantai ini bisa jadi cukup jauh.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Karena surutnya garis pantai, tercium bau-bau yang khas seperti bau amis dan kadang bau belerang.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Untuk wilayah yang memiliki jaringan pipa bawah tanah, terjadi kerusakan jaringan-jaringan pipa akibat gerakan permukaan tanah.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Dalam sejumlah kasus, perilaku binatang juga bisa dijadikan peringatan dini terjadinya tsunami. Sesaat sebelum tsunami di Aceh, ribuan burung panik dan menjauhi pantai, sedangkan gajah-gajah di Thailand gelisah dan juga menjauhi pantai.&amp;nbsp; &lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;object class="BLOGGER-youtube-video" classid="clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0" data-thumbnail-src="http://1.gvt0.com/vi/1lgokFfa7PU/0.jpg" height="266" width="320"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/1lgokFfa7PU&amp;fs=1&amp;source=uds" /&gt;&lt;param name="bgcolor" value="#FFFFFF" /&gt;&lt;embed width="320" height="266"  src="http://www.youtube.com/v/1lgokFfa7PU&amp;fs=1&amp;source=uds" type="application/x-shockwave-flash"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt; &lt;/div&gt;Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "ca-pub-6463152978813595";
/* Go Green 2 */
google_ad_slot = "1542953554";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8725791079724163569-1856415561795111687?l=www.greenpressreport.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.greenpressreport.com/feeds/1856415561795111687/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8725791079724163569&amp;postID=1856415561795111687&amp;isPopup=true" title="5 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/1856415561795111687?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/1856415561795111687?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.greenpressreport.com/2012/04/tips-hidup-di-negeri-gempa-dan-tsunami.html" title="Tips, Hidup di Negeri  Gempa dan Tsunami" /><author><name>Redaksi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02128513609653257159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-INYuQPAaXWk/T4XETb4OyWI/AAAAAAAAAP0/T84UVBpSBZM/s72-c/aceh3.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>5</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0YERHk4eCp7ImA9WhVQGEo.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569.post-3157252980622540105</id><published>2012-04-08T14:17:00.011+07:00</published><updated>2012-04-08T15:51:45.730+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-04-08T15:51:45.730+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Wisata" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hutan" /><title>Menikmati Harmoni Alam Rawa Aopa Watumohai</title><content type="html">&lt;h1 class="singlePageTitle" style="font-weight: normal;"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-N1gkNaafOXs/T4EHQoS33FI/AAAAAAAAAGo/KM5ubWtNRqU/s1600/hujannnn.jpg" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="265" src="http://1.bp.blogspot.com/-N1gkNaafOXs/T4EHQoS33FI/AAAAAAAAAGo/KM5ubWtNRqU/s400/hujannnn.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/h1&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menikmati perjalanan &amp;nbsp;dibawah guyuran hujan lebat menjadi sensasi  tersendiri saat menjelajahi &amp;nbsp;Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai ( TNRAW)  Sulawesi Tenggara. Butiran-butiran hujan berjatuhan &amp;nbsp;membentuk harmoni  alam.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sepanjang &amp;nbsp;memang menjadi surga hutan mangrove yang menjadi habitat ekosistem perairan laut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bentang hutan mangrove mulai  dari muara Sungai Roraya sampai Sungai Langkowala dengan luas 6.173 ha  atau 5,87% dari total luas kawasan TNRW seluas 105.000 Ha.&amp;nbsp; Kawasan ini  memiliki garis pantai terluar sepanjang lebih dari 24 km dan ketebalan  2-7 km.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-lrXYAOLxbZE/T4E641OAhpI/AAAAAAAAAPs/ocifEG8ZDtw/s1600/nelayan+lanowulu.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://4.bp.blogspot.com/-lrXYAOLxbZE/T4E641OAhpI/AAAAAAAAAPs/ocifEG8ZDtw/s400/nelayan+lanowulu.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di balik hamparan bakau inilah  nelayan Muara Lanowulu melakukan aktivitas pemanfaatan, khususnya pada  areal-areal yang ditetapkan sebagai zona tradisional Taman  Nasional.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nelayan yang membangun tempat tinggal sementara di Muara  Lanowulu adalah nelayan tradisional yang didominasi suku pendatang  Bugis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selebihnya adalah nelayan suku Tolaki (suku asli). Untuk memenuhi  kebutuhan hidupnya, masyarakat Muara Lanowulu umumnya bekerja sebagai  nelayan penangkap udang, kepiting dan petani rumput laut. Sedangkan  penangkapan ikan hanya untuk konsumsi sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;object class="BLOGGER-youtube-video" classid="clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0" data-thumbnail-src="http://1.gvt0.com/vi/V2RwLTin42E/0.jpg" height="266" width="320"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/V2RwLTin42E&amp;fs=1&amp;source=uds" /&gt;&lt;param name="bgcolor" value="#FFFFFF" /&gt;&lt;embed width="320" height="266"  src="http://www.youtube.com/v/V2RwLTin42E&amp;fs=1&amp;source=uds" type="application/x-shockwave-flash"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kawasan mangrove TNRAW berjajar  di muara Lanowulu secara administratif berada di Desa Tatangge,  Kecamatan Tinanggea, Kabupaten Konawe Selatan. Lokasi ini berjarak ± 120  km dari Kota Kendari dan dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat  selama ± 2,5 jam. Jalan utama yang dilalui merupakan jalan poros  propinsi yang kondisinya cukup bagus. Kondisi jalan Kendari-Lanowulu  semuanya telah beraspal, bisa menjadi pilihan menarik berpetualang sembari menikmati hawa sejuk hutan tropis di jasirah Tenggara Sulawesi. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Foto dan Naskah : Yos Hasrul/Greenpress/Video dari&amp;nbsp; &lt;a class="yt-user-name author" dir="ltr" href="http://www.blogger.com/goog_726847444" rel="author"&gt;Ismarrahman&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.youtube.com/watch?v=YZgF2moOU4c&amp;amp;feature=relmfu"&gt; Youtube&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "ca-pub-6463152978813595";
/* Go Green 2 */
google_ad_slot = "1542953554";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8725791079724163569-3157252980622540105?l=www.greenpressreport.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.greenpressreport.com/feeds/3157252980622540105/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8725791079724163569&amp;postID=3157252980622540105&amp;isPopup=true" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/3157252980622540105?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/3157252980622540105?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.greenpressreport.com/2012/04/menanti-hujan-di-hutan-bakau-rawa-aopa.html" title="Menikmati Harmoni Alam Rawa Aopa Watumohai" /><author><name>Redaksi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02128513609653257159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-N1gkNaafOXs/T4EHQoS33FI/AAAAAAAAAGo/KM5ubWtNRqU/s72-c/hujannnn.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;C08FQXs9eCp7ImA9WhVQFk8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569.post-503830850787303798</id><published>2012-04-05T17:28:00.002+07:00</published><updated>2012-04-05T17:30:10.560+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-04-05T17:30:10.560+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Bencana" /><title>Banjir Kepung Jakarta</title><content type="html">&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-sUi7lBEOt1M/T31zbgBA9MI/AAAAAAAAAPk/MXm-X5KTo3c/s1600/banjir.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="297" src="http://1.bp.blogspot.com/-sUi7lBEOt1M/T31zbgBA9MI/AAAAAAAAAPk/MXm-X5KTo3c/s400/banjir.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ilustrasi banjir Jakarta, sejumlah bocah malah bermain dengan air banjir, meski dengan kondisi  air keruh dan bercampur dengan sampah yang tentu sangat rawan membawa  bibit penyakit. Foto : Marwan Azis/Greenpress.&lt;/span&gt; &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;span style="font-family: 'Lucida Console'; font-size: 10pt;"&gt;Curah hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi sejak Senin (2/4) hingga kemarin menyebabkan banjir di beberapa tempat di Jakarta.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Lucida Console'; font-size: 10pt;"&gt;Diantaranya, Kali Pesanggrahan, Kali Angke dan Kali Krukut yang menggenangi wilayah di Jakarta Barat, Jakarta Selatan hingga Tangerang. Banjir yang terjadi tingginya mencapai 1,5 meter. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Lucida Console'; font-size: 10pt;"&gt;Di Jakarta Timur, banjir terjadi di Kec. Pasar Rebo (Kel. Kali Sari,&amp;nbsp; Kel. Cijantung) dan Kec. Jatinegara (Kel. Kampung Melayu). Banjir terjadi akibat luapan Kali Ciliwung&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Lucida Console'; font-size: 10pt;"&gt;Sedangkan di Jakarta Selatan, banjir menggenangi Kec Pesanggrahan (Kel. Cipedak dan Kel. Ulujami) dan Kec. Kebayoran Baru (Kel.Petogogan).“Tidak ada korban jiwa dari banjir tersebut. Ratusan rumah terendam banjir, sebagian masyarakat mengungsi dan kemacetan parah terjadi di beberapa tempat”, kata Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Lucida Console'; font-size: 10pt;"&gt;Di Kecamatan Pesanggrahan dan Kebayoran baru terdapat 6 RW yang terendam dengan pengungsi 850 jiwa karena tergenang banjir 30-150 cm. Sementara di wilayah Kp. Melayu, Kec Jatinegara, wilayah terkena banjir RW 01, RW 02, RW 03, RW 04, RW 05, RW 07, warga terdampak 1.068 KK dengan ketinggian genangan 20-100 cm.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Lucida Console'; font-size: 10pt;"&gt;BPBD Prov. DKI Jakarta bersama Sudinkes dan Dinas Suku Dinas PU Jaktim sudah berada di lokasi untuk memantau setiap perkembangan. Sudinsos menyediakan 250 paket nasi box.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Lucida Console'; font-size: 10pt;"&gt;Posko Banjir dan tempat pengungsian telah disiagakan untuk mengantisipasi banjir sejak Rabu pagi. Posko banjir di pusatkan di aula berkapasitas 500 jiwa dan beberapa tenda telah didirikan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Lucida Console'; font-size: 10pt;"&gt;Berdasarkan prakiraan BMKG, Potensi banjir masih terjadi hingga 3 hari ke depan. Wilayah Jakarta akan masih diguyur hujan dengan intensitas ringan, sedang dan lebat. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Lucida Console'; font-size: 10pt;"&gt;Daerah-daerah yang terendam banjir saat ini diharapkan tetap meningkatkan kesiapsiagaan. Banjir yang terjadi pada daerah-daerah tersebut disebabkan oleh sempitnya alur dan lebar sungai.“Saat ini lebar sungai hanya berkisar 5 meter, bahkan ada yang&amp;nbsp; hanya 3 meter, padahal minimal idealnya 15 meter. Tidak aneh jika daerah-daerah tersebut rentan banjir”, tandasnya. (Jekson Simanjuntak)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "ca-pub-6463152978813595";
/* Go Green 2 */
google_ad_slot = "1542953554";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8725791079724163569-503830850787303798?l=www.greenpressreport.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.greenpressreport.com/feeds/503830850787303798/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8725791079724163569&amp;postID=503830850787303798&amp;isPopup=true" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/503830850787303798?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/503830850787303798?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.greenpressreport.com/2012/04/banjir-kepung-jakarta.html" title="Banjir Kepung Jakarta" /><author><name>Redaksi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02128513609653257159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-sUi7lBEOt1M/T31zbgBA9MI/AAAAAAAAAPk/MXm-X5KTo3c/s72-c/banjir.JPG" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkAASHk4fSp7ImA9WhVQFk0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569.post-5663289623086510485</id><published>2012-04-05T13:50:00.002+07:00</published><updated>2012-04-05T13:52:29.735+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-04-05T13:52:29.735+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Laut" /><title>Kapal Pukat Harimau Menyerbu, Nelayan Lokal Menjerit</title><content type="html">&lt;h1 class="singlePageTitle"&gt;&lt;/h1&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: 0px; margin-right: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-guuJcwY0Lic/T30Ej-RWHnI/AAAAAAAAAFA/RK0iayoxtk0/s1600/pukat+harimau2.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://1.bp.blogspot.com/-guuJcwY0Lic/T30Ej-RWHnI/AAAAAAAAAFA/RK0iayoxtk0/s400/pukat+harimau2.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Kapal bertonase  sedang &amp;nbsp;kini banyak beroperasi diperairan laut sulawesi tenggara, Diduga  kapal-kapal tersebut menggunakan pukat harimau. Foto: Yos Hasrul/ Greenpress&amp;nbsp; &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman',serif; font-size: 12pt;"&gt;Baso dongkol. Wajah pria parobaya ini masam, saat melihat sampannya masih kosong melompong. Sudah seharian Ia memelototi kailnya, tapi tak juga kunjung disambar ikan. “Pada ke mana semua&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman',serif; font-size: 12pt;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman',serif; font-size: 12pt;"&gt;ikan-ikan ini?,”katanya pelan. Ia berkali-kali berpindah lokasi pancingan, tapi tetap ikan tidak juga diperolehnya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman',serif; font-size: 12pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: 'Times New Roman',serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman',serif; font-size: 12pt;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman',serif; font-size: 12pt;"&gt;Tak hanya Baso, Usman rekan Baso juga bernasib serupa. “Saya hanya dapat tiga ekor ikan putih kecil,”katanya sambil memperlihatkan ikan yang didapatnya. Kedua nelayan asal pulau wawonii ini hanya bisa pasrah, pulang dengan hasil minim. Sudah seminggu dewi fortuna tidak memihak kedua nelayan ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: 'Times New Roman',serif; font-size: 12pt;"&gt;Wajar para nelayan tradisional di Sulawesi Tenggara ini mengeluh, sebab hari-hari &amp;nbsp;belakangan kapal-kapal yang menggunakan pukat harimau marak beroperasi di perairan Kendari. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: 'Times New Roman',serif; font-size: 12pt;"&gt;Kapal-kapal dari luar Kendari kini kian ‘bebas’ menangkap ikan menggunakan pukat harimau. Kapal itu biasa beroperasi di perairan luar Kendari seperti Moramo dan Pulau Wawoniui. Mereka memasang rumpon-rumpon di tengah laut untuk bersarang ikan. Kapal beroperasi pada malam hari dengan memasang lampu di atas rumpon-rumpon itu. Ikan yang berkumpul di bawah rumpon dikepung menggunakan pukat harimau dan diangkat ke kapal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-V_8ZWtT3R9Q/T30FvpWSTdI/AAAAAAAAAFI/bXFrbVW94e8/s1600/kapal+pukat+bagang.jpg" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://4.bp.blogspot.com/-V_8ZWtT3R9Q/T30FvpWSTdI/AAAAAAAAAFI/bXFrbVW94e8/s320/kapal+pukat+bagang.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;foto: Yos Hasrul/Greenpress&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: 'Times New Roman',serif; font-size: 12pt;"&gt;Kondisi ini menyebabkan nelayan tradisional semakin terjepit. "Kalau kapal-kapal pukat harimau tidak ditertibkan, nasib nelayan di Kendari&amp;nbsp; akan hancur dalam dua tahun ke depan. Hasil ikan terus berkurang dan biaya operasional terus naik. Kami semakin terjepit," ujar Baso. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: 'Times New Roman',serif; font-size: 12pt;"&gt;Ia berharap, penegakan hukum terhadap kapal-kapal pengguna pukat harimau ditingkatkan.Kapal-kapal itu menghabiskan ikan-ikan yang seharusnya menjadi tangkapan nelayan tradisional dengan peralatan terbatas.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: 'Times New Roman',serif; font-size: 12pt;"&gt;Saat gencar-gencarnya berita tentang pukat harimau, kapal-kapal yang didiuga asal Sulawesi Selatan itu tetap beroperasi."Masalah terbesar bagi nelayan di sini tetap penggunaan pukat harimau karena menghabiskan ikan. Kalau tidak ada pukat harimau, modal harga bahan bakar masih bisa ditutupi dengan hasil tangkapan," ujar Baso.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: 'Times New Roman',serif; font-size: 12pt;"&gt;Tak hanya nelayan kecil seperti Baso dan Usman yang mengeluh. Sejumlah nelayan tangkap di pelabuhan kendari juga meratap. Pasalnya saat ini rata-rata nelayan hanya bisa memperoleh ikan sekitar 500 ekor cakalang dengan berbagai ukuran. Seharusnya nelayan bisa menangkap kurang lebih &amp;nbsp;3000 ekor dalam waktu 4 -6 hari melaut. Hasil yang minim itu tertolong oleh harga ikan cakalang yang sedang bagus menyusul cuaca buruk akhir-akhir ini. Harga berkisar Rp 5.000 hingga Rp 12 ribu per ekor di tingkat nelayan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: 'Times New Roman',serif; font-size: 12pt;"&gt;Biaya operasional untuk satu minggu naik Rp 2 juta-Rp 3 juta tehitung &amp;nbsp;harga bahan bakar minyak. Kapal penangkap membutuhkan 10 drum minyak harganya Rp 13 juta yang harus dibeli di luar SPBU. Es pengawet ikan empat ton biayanya Rp 1,5 juta. Biaya air bersih dan konsumsi anak buah kapal sekitar Rp 2 juta.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman',serif; font-size: 12pt;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-left: 0px; margin-right: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-tZm-3ojlA0c/T30G-_M-4tI/AAAAAAAAAFQ/Ul2bD-YjOrw/s1600/nelayan.jpg" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://3.bp.blogspot.com/-tZm-3ojlA0c/T30G-_M-4tI/AAAAAAAAAFQ/Ul2bD-YjOrw/s320/nelayan.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;foto: yoshasrul/kendarikita.com &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman',serif; font-size: 12pt;"&gt;Selain  soal pukat harimau, nelayan lokal kian terpukul sejak kelangkaan BBM  jenis solar kian menggila. &amp;nbsp;"Sejak solar langka, kami terpaksa harus membeli secara  eceran . Nelayan katanya boleh membeli bahan bakar bersubsidi tetapi kenyataanya kita harus beli eceran&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman',serif; font-size: 16px;"&gt;dengan harga tinggi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman',serif; font-size: 12pt;"&gt;," ujar Rahmat, seorang nelayan tangkap di Kendari.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: 'Times New Roman',serif; font-size: 12pt;"&gt;Saat musim angin timur seperti saat ini, Rahmat (38 tahun), yang juga nahkoda kapal penangkap ikan tuna, konsumsi bahan bakar lebih boros. Kapal harus memindahkan lokasi pencarian ikan dari Wawonii ke Utara Saponda yang gelombang relatif kecil.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman',serif; font-size: 12pt;"&gt;Seperti diketahui pukat harimau atau Trawl adalah sejenis pukat yang besar digunakan untuk menjaring banyak ikan dalam waktu singkat. Tak hanya ikan besar yang terjaring melainkan ikan-ikan kecil hingga bibit ikan karena lubang pukat yang sangat kecil membuat ikan-ikan kecil tidak bisa lolos. Kondisi ini sangat membahayakan kelangsungan populasi ikan&amp;nbsp; di lautan karena tidak mampu melakukan budidaya. Saat terjaring ikan-ikan kecil akan mudah mati,. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: 'Times New Roman',serif; font-size: 12pt;"&gt;Sejumlah Negara di sudah mengeluyarkan aturan yang melarang penggunaan pukat harimau. Indon esiasendiri sudah melakukan pelarangan penggunaan pukat harimau sejak tahun 1980lewat Kepres Nomor 39 tahun 1980. Kendati sudah ada pelarangan namun masih ada saja nelayan &amp;nbsp;yang menggunakan pukat harimau, salah satunya di perairan sulawesi tenggara. (&lt;b&gt;Yos Hasrul)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "ca-pub-6463152978813595";
/* Go Green 2 */
google_ad_slot = "1542953554";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8725791079724163569-5663289623086510485?l=www.greenpressreport.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.greenpressreport.com/feeds/5663289623086510485/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8725791079724163569&amp;postID=5663289623086510485&amp;isPopup=true" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/5663289623086510485?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/5663289623086510485?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.greenpressreport.com/2012/04/kapal-pukat-harimau-menyerbu-nelayan.html" title="Kapal Pukat Harimau Menyerbu, Nelayan Lokal Menjerit" /><author><name>Redaksi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02128513609653257159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-guuJcwY0Lic/T30Ej-RWHnI/AAAAAAAAAFA/RK0iayoxtk0/s72-c/pukat+harimau2.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;CUEER3syfSp7ImA9WhVQFUs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569.post-5691096881043864031</id><published>2012-04-05T00:53:00.004+07:00</published><updated>2012-04-05T01:20:06.595+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-04-05T01:20:06.595+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hutan" /><title>Perusahaan Global Ramai-ramai Boikot APP</title><content type="html">&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-fcAj9_n3gNo/T3yKH_9h6oI/AAAAAAAAAPU/W1JHC4_oc88/s1600/APP.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="164" src="http://4.bp.blogspot.com/-fcAj9_n3gNo/T3yKH_9h6oI/AAAAAAAAAPU/W1JHC4_oc88/s320/APP.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Tumpukan kayu ramin di pabrik Indah Kiat Perawang. Foto : Greenpeace.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Sejumlah perusahaan global&amp;nbsp; yang selama ini mendapat suplai bahan  baku produk&amp;nbsp; Asia Pulp and Paper (APP) yang diduga mengandung serat  hutan hujan. Kini mulai melakukan pemutusan hubungan dengan APP. &lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Aksi boikot itu muncul sebagai respon atas &lt;a href="http://www.greenpressreport.com/2012/03/bukti-kejahatan-kehutanan-app-kembali.html"&gt;hasil investigasi Greenpeace&lt;/a&gt; yang diliris satu bulan lalu. Investigasi selama satu tahun  terhadap produsen kertas dan pulp terbesar ketiga dunia, Asia Pulp and  Paper (APP) yang mengungkapkan bagaimana perusahaan secara sistematis  melanggar hukum Indonesia yang melindungi spesies Ramin yang juga  dilindungi secara internasional. Ramin ditemukan beberapa kali di  tumpukan kayu milik milik APP di pabrik Indah Kiat Perawang yang siap  untuk diproses.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejumlah perusahaan global terlibat karena produknya bersumber  dari APP yang mengandung serat hutan hujan. Delapan dari sebelas  perusahaan yang disebut kini telah mengambil tindakan untuk menghapus  APP dari rantai suplai mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kini &lt;a href="http://www.danone.com/en/our-vision/app-danone.html"&gt;Danone&lt;/a&gt; telah mengkonfirmasi bahwa mereka tidak lagi  menggunakan produk dari APP dan mengumumkan kebijakan nol deforestasi.&amp;nbsp;&lt;a href="http://realbusinessatxerox.blogs.xerox.com/2012/03/16/xerox-statement-on-greenpeace-report/"&gt; Xerox&lt;/a&gt; juga telah mengambil tindakan lebih lanjut untuk melarang  pembelian produk APP secara global.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perusahaan lain yang telah bertindak termasuk &lt;a href="http://www.collinsdebden.com.au/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=5&amp;amp;Itemid=30"&gt;Collins Debden&lt;/a&gt;,  bagian dari&amp;nbsp; kelompok Nippecraft yang mayoritas dimiliki APP. Collins  Debden membuat pengumuman di Australia dan Inggris bahwa mereka tidak  lagi menggunakan sumber bahan baku dari APP. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi hingga saat ini sudah ada depalan perusahan yang merespon  hasil investigasi Greenpeace. Kedepalan perusahan global ini juga telah  mengumumkan kebijakan baru untuk menghapus APP atau yang mengkonfirmasi  tindakan lebih lanjut dari kebijakan yang ada yakni Danone, Xerox,  Mondi, &lt;a href="http://www.greenpressreport.com/2012/03/ngs-tanggapi-investigasi-greenpeace.html"&gt;National Geographic&lt;/a&gt;, Parragon, Constable and Robinson and Collins  Debden, bagian dari Kelompok Nippecraft. &lt;br /&gt;
Tambahannya Walmart China juga telah memastikan berhenti menjual produk  yang disorot Greenpeace, namun belum setuju menghentikan penyediaan  seluruh produk APP. Barnes and Noble, Countdown/Progressive Enterprises  belum memberikan tanggapan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;object class="BLOGGER-youtube-video" classid="clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0" data-thumbnail-src="http://2.gvt0.com/vi/NQkBMAYp5P4/0.jpg" height="266" width="320"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/NQkBMAYp5P4&amp;fs=1&amp;source=uds" /&gt;&lt;param name="bgcolor" value="#FFFFFF" /&gt;&lt;embed width="320" height="266"  src="http://www.youtube.com/v/NQkBMAYp5P4&amp;fs=1&amp;source=uds" type="application/x-shockwave-flash"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;Kepala Jurukampanye hutan Greenpeace Indonesia, Zulfahmi  mengatakan dalam beberapa bulan terakhir ini APP terus menerus  kehilangan pelanggan. Kini sudah ada sebuah &lt;a href="http://www.greenpressreport.com/2012/03/national-geographic-terlibat-skandal.html"&gt;koalisi global&lt;/a&gt;  perusahan-perusahaan yang belum pernah ada sebelumnya mengatakan tidak  pada penghancuran hutan untuk produk kertas APP.&amp;nbsp; Merek APP telah  menjadi racun yang bahkan anak perusahaannya sendiri tidak ingin  dikaitkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara sejumlah perusahaan di seluruh dunia telah mengambil  tindakan menghapus APP dari rantai suplai, sementara itu penyelidikan  yang dilakukan oleh otoritas Indonesia terhadap pabrik APP berjalan  sangat lambat. Bukti dari investigasi Greenpeace telah diserahkan kepada  Kementerian Kehutanan dan Kepolisian RI yang meminta penyelidikan  secepatnya atas kasus tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Zulfahmi melanjutkan Greenpeace telah membuktikan bahwa APP  melanggar hukum Indonesia yang melindungi Ramin, namun akibat lambatnya  tindakan yang diambil oleh Kemenhut memberikan waktu pada APP untuk  menghilangkan bukti di pabrik mereka. "Kami meminta Kementerian  Kehutanan harus tetap melakukan penyelidikan untuk memastikan penegakan  hukum terhadap pelaku kejahatan kehutanan dan pemerintah harus  memastikan perlindungan menyeluruh terhadap hutan alam yang  tersisa,"harapnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Greenpeace meminta APP untuk segera menerapkan kebijakan nol deforestasi  mengikuti langkah perusahaan saudaranya di sektor kelapa sawit, GAR  (Golden Agri Resources). (Marwan Azis).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "ca-pub-6463152978813595";
/* Go Green 2 */
google_ad_slot = "1542953554";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8725791079724163569-5691096881043864031?l=www.greenpressreport.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.greenpressreport.com/feeds/5691096881043864031/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8725791079724163569&amp;postID=5691096881043864031&amp;isPopup=true" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/5691096881043864031?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/5691096881043864031?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.greenpressreport.com/2012/04/perusahaan-global-ramai-ramai-boikot.html" title="Perusahaan Global Ramai-ramai Boikot APP" /><author><name>Redaksi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02128513609653257159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-fcAj9_n3gNo/T3yKH_9h6oI/AAAAAAAAAPU/W1JHC4_oc88/s72-c/APP.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;DEMGRH4zeCp7ImA9WhVQFEo.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569.post-1783767398106130776</id><published>2012-04-03T00:24:00.001+07:00</published><updated>2012-04-04T01:07:05.080+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-04-04T01:07:05.080+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hutan" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Laut" /><title>Bakau di Teluk Kendari Terus Menyusut</title><content type="html">&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-g_jwxF8l66M/T3sx-wrGQlI/AAAAAAAAAPE/nWeVrt8Vsdg/s1600/hutan+mangrove.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="245" src="http://2.bp.blogspot.com/-g_jwxF8l66M/T3sx-wrGQlI/AAAAAAAAAPE/nWeVrt8Vsdg/s400/hutan+mangrove.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Hutan Mangrove di Teluk Kendari. Foto : Yos Hasrul/Greenpress.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman',serif; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Masa kejayaan hutan bakau di sepanjang Teluk&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman',serif; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman',serif; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Kendari perlahan mulai redup, seiring maraknya pembangunan pemukiman di sekitarnya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman',serif; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Pohon-pohon mangrove yang tumbuh subur disepanjang pantai kini banyak yang hilang, ditebang orang tidak bertanggung jawab untuk berbagai keperluan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman',serif; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman',serif; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;“Setiap hari ada saja pohon mangrove ditebang para. Mereka memanfaatkan bakar untuk kebutuhan bahan bakar dan juga untuk bangunan rumah,”kata Usman, seorang warga nelayan di pesisir Kelurahan Kasilampe, Kecamatan Kendari Barat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman',serif; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman',serif; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Namun, menjadikan bakau sebagai bahan kebutuhan &amp;nbsp;&amp;nbsp;tidaklah sebanding dengan aktifitas pembalakan mangrove secara besar-besaran oleh oknum-oknum yang menguasai lahan. Praktik jual beli lahan menjadi masalah utama pemicu percepatan hilangnya populasi mangrove di teluk kendari. Permainan oknum masyarakat dan oknum aparat pemerintah khususnya kelurahan serta oknum-oknum di Kantor Pertanahan Kendari semakin member ruang kerusakan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman',serif; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman',serif; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Modus yang pakai pun beragam, dari berpura-pura membuat lahan tambak seorang warga bisa menguasai belasan hingga puluhan hektar lahan disekitar kawasan teluk. Kebanyakan dari mereka adalah para pendatang. “Saya heran lahan-lahan di sepanjang pesisir bisa dengan mudah berpindah tangan, padahal setahu saya sepanjang pesisir&amp;nbsp; ini adalah tanah negara,”kataUsman.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman',serif; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Para pelaku dengan sadarnya membongkar kawasan hutan yang berpuluh tahun ditumbuhi ratusan ribu pohon mangrove.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman',serif; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman',serif; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Diperkirakan tersisa&amp;nbsp; sekitar 40 persen hutan bakau di sepanjang pesisir teluk kendari. “Ini tentu sangat memprihatinkan,”kata Nur Salam penggiat lingkungan di Kendari .&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman',serif; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman',serif; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Ditambahkan Nur Salam, rusaknya&amp;nbsp; hutan bakau tak lepas aktifitas pembangunan di sepanjang pesisir, khususnya di bagian selatan hingga timur pesisr teluk kendari.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman',serif; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman',serif; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Universitas Haluoleo sendiri telah berkali-kali melakukan penataan dan penanaman pohon mangrove disepanjang kawasan teluk, terutama di sekitar kawasan baypass. Karena itu banyak pihak menyerukan agar pemerintah Kota Kendari bisa lebih peduli dan tegas terhadap para perusak kawasan mangrove di teluk kendari. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman',serif; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman',serif; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;“Ada banyak manfaat ketika hutan dipertahankan, selain mempertahankan ekosistem perairan laut, keberadaan mangrove juga bisa membantu sebagai pemecah gelombang besar seperti tsunami. Jadi sangat disayangkan kalau mangrove dimusnahkan,”ujar Nur Salam. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman',serif; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman',serif; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Saat ini hutan bakau juga menjadi sumber kehidupan nelayan-nelayan disepanjang teluk. Keberadaan hutan mangrove telah membantu ekonomi keluarga&amp;nbsp; mereka, dengan memperoleh banyak sekali hasil laut, seperti kepiting kerang-kerangan yang bisa dijual ke konsumen. &lt;b&gt;(Yos Hasrul)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "ca-pub-6463152978813595";
/* Go Green 2 */
google_ad_slot = "1542953554";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8725791079724163569-1783767398106130776?l=www.greenpressreport.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.greenpressreport.com/feeds/1783767398106130776/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8725791079724163569&amp;postID=1783767398106130776&amp;isPopup=true" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/1783767398106130776?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/1783767398106130776?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.greenpressreport.com/2012/04/bakau-di-teluk-kendari-terus-menyusut.html" title="Bakau di Teluk Kendari Terus Menyusut" /><author><name>Redaksi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02128513609653257159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/-g_jwxF8l66M/T3sx-wrGQlI/AAAAAAAAAPE/nWeVrt8Vsdg/s72-c/hutan+mangrove.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkQDR304cCp7ImA9WhVQFEo.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569.post-1217987721311420563</id><published>2012-03-30T00:29:00.000+07:00</published><updated>2012-04-04T00:32:56.338+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-04-04T00:32:56.338+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Wisata" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Hutan" /><title>Mencumbu Wisata Air Terjun Moramo</title><content type="html">&lt;h1 class="doublePageTitle1"&gt;&lt;div style="float: right;"&gt;&lt;div class="addthis_toolbox addthis_default_style "&gt;&lt;a class="addthis_button_preferred_1 addthis_button_facebook at300b" href="http://www.kendarikita.com/2012/03/mencumbu-wisata-air-terjun-moramo.html#" title="Send to Facebook"&gt;&lt;span class="at16nc at300bs at15nc at15t_facebook at16t_facebook"&gt;&lt;span class="at_a11y"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/h1&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-7uqRqAxOMsE/T3YTYFouNcI/AAAAAAAAANo/nUrrsn6d1Vc/s1600/moramo.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://4.bp.blogspot.com/-7uqRqAxOMsE/T3YTYFouNcI/AAAAAAAAANo/nUrrsn6d1Vc/s400/moramo.jpg" width="265" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Air Terjun Moramo. Foto: Yos Hasrul/Greenpress&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Pepohonan rimbun tumbuh subur disepanjang jalan. Sebagain telah berumur dan berukuran besar.&lt;/span&gt;&amp;nbsp;  Batu dan pohon-pohon berbalur lumut begitu mudah dijumpai. &lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Siang  menjelang sore suara burung kian ramai seolah&amp;nbsp; berlomba dengan gemercik  air yang membentuk harmoni alam. Beberapa pengunjung nampak menikmati&amp;nbsp;&amp;nbsp;  pemandangan ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Sungguh pemandangan yang  indah,"ucap Ema (38 tahun), seorang pengunjung yang baru pertama kali ke  obyek wisata air terjun moramo.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Ya,  berkunjung ke Provinsi Sulawesi Tenggara memang tak lengkap rasanya  jika tak mengunjungi obyek wisata satu ini. Terletak di Desa Sumber  Sari, Kecamatan Moramo, Kabupaten Konawe Selatan obyek wisata andalan  bumi anoa&amp;nbsp; ini menyuguhkan panorama indah dengan pesona bebatuan yang  membentuk tingkatan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;Air  terjun moramo sendiri terletak kawasan suaka alam tanjung peropa. Udara  di sekitar air terjun terasa sejuk serta menghadirkan suasana tenteram  bagi siapa saja yang berkunjung di sana. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 0px; margin-right: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-YoSfh6Mmx4U/T3YUwEmkRfI/AAAAAAAAANw/-4sNTOCiJco/s1600/Moramo+3.jpg" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://1.bp.blogspot.com/-YoSfh6Mmx4U/T3YUwEmkRfI/AAAAAAAAANw/-4sNTOCiJco/s400/Moramo+3.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Foto : Marwan Azis/Greenpress&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Air  terjun moramo merupakan air terjun bertingkat (cascade) yang indah  dengan ketinggian sekitar 100 meter. Dari ketinggian tersebut, air  mengalir melewati tujuh tingkatan utama. Di samping tujuh tingkatan  utama tersebut, terdapat juga enam [uluh tingkatan kecil yang sekaligus  berfungsi sebagai tempat penampungan air (semacam kolam air). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Dari  sekian banyak kolam tersebut, hanya satu yang dapat dimanfaatkan untuk  berenang, yaitu kolam yang terletak di tingkat kedua dari 7 tingkatan  utama air terjun tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Keindahan  panorama alam, air terjun, kicauan burung yang bersahutan dan berpadu  dengan tarian kupu-kupu beraneka warna-warni, menjadi daya tarik kawasan  air terjun moramo.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Daya  pikat yang tidak kalah menariknya dari air terjun ini adalah pesona  bebatuan yang membentuk tingkatan. Bebatuan yang membentuk tingkatan  tersebut tidak licin meski dialiri air secara terus menerus, sehingga  para wisatawan yang berkunjung ke lokasi tersebut dapat mendaki sampai  ke puncak. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-left: 0px; margin-right: 0px; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-xSVPSH8MtvY/T3YVFzDe_YI/AAAAAAAAAN4/D7ZB4zIqQV0/s1600/moramo+2.jpg" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://3.bp.blogspot.com/-xSVPSH8MtvY/T3YVFzDe_YI/AAAAAAAAAN4/D7ZB4zIqQV0/s400/moramo+2.jpg" width="266" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Foto : Marwan Azis/Greenpress&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Jika  beruntung, Anda dapat melihat pelangi sebagai biasan cahaya di sekitar  air terjun. Tak heran, kendati cuma mitos, masyarakat setempat Nampak  mempercayai jika tempat ini sebagai pemandian para bidadari karena  keindahannya. Di samping itu, bebatuan tersebut juga memberi pesona yang  menakjubkan ketika tersentuh oleh sinar mentari. bebatuan tersebut akan  memancarkan kilauan warna-warni yang didominasi oleh warna hijau yang  begitu indah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Untuk  mencapai lokasi wisata ini, dengan jarak tempuh enam puluh lima  &amp;nbsp;kilometer dari Kota Kendari, ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara,  &amp;nbsp;wisatawan melakukan perjalanan darat selama dua jam menggunakan  angkutan umum atau kendaraan pribadi. Perjalanan dapat pula dimulai dari  bandara walter monginsidi yang terletak di Kabupaten Konawe  Selatan.Dari bandara tersebut/ dapat langsung menuju arah kecamatan  moramo/ langsung ke desa sumber sari. Setelah sampai di pemberhentian  akhir kendaraan, perjalanan dilanjutkan ke lokasi air terjun dengan  berjalan kaki sejauh dua kilometer.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Di  lokasi wisata ini sudah tersedia parkiran yang luas di sekitar lokasi  bagi para wisatawan yang datang menggunakan mobil pribadi. Sayangnya,  kurangnya perhatian pemerintah setempat membuat obyek wisata ini  terkesan kurang terawatt. Sejumlah sarana wisata kini mengalami  kerusakan dan tidak lagi bisa digunakana para pengunjung.&amp;nbsp; &lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;(Yoshasrul)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "ca-pub-6463152978813595";
/* Go Green 2 */
google_ad_slot = "1542953554";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8725791079724163569-1217987721311420563?l=www.greenpressreport.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.greenpressreport.com/feeds/1217987721311420563/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8725791079724163569&amp;postID=1217987721311420563&amp;isPopup=true" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/1217987721311420563?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/1217987721311420563?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.greenpressreport.com/2012/04/air-terjun-moramo.html" title="Mencumbu Wisata Air Terjun Moramo" /><author><name>Redaksi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02128513609653257159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-7uqRqAxOMsE/T3YTYFouNcI/AAAAAAAAANo/nUrrsn6d1Vc/s72-c/moramo.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;D08CQno-fip7ImA9WhVQFEo.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569.post-2555455252765531900</id><published>2012-03-29T00:53:00.000+07:00</published><updated>2012-04-04T00:57:43.456+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-04-04T00:57:43.456+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Laut" /><title>Belajar Konservasi Kima di Toli-Toli</title><content type="html">&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-3f4_yRmCn_U/T3s5hkJ-R-I/AAAAAAAAAPM/_chJSZhvJiI/s1600/Konservasi.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://4.bp.blogspot.com/-3f4_yRmCn_U/T3s5hkJ-R-I/AAAAAAAAAPM/_chJSZhvJiI/s400/Konservasi.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Foto : Yos Hasrul/Greenpress. &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Iwan   (34 tahun) menghirup napas dalam-dalam sebelum akhirnya menghilang  dari  permukaan laut. Gerakan yang lincah membuatnya dengan cepat&amp;nbsp;  menggapai  dasar laut yang dalamnya mencapai 15 meter itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Berbekal  bantuan  kompresor sebagai alat bantu pernapasan, pemuda perkasa ini  leluasa  menjelajahi karang di dasar samudera membawa bibit-bibit kerang  kima  sebesar batok kepala untuk &amp;nbsp;dibudidayakan. Kima-kima berbagai  jenis itu  ditata dengan rapi &amp;nbsp;agar leluasa berkembang biak. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Ya,   kegiatan yang dilakukan Iwan dan kelompoknya di Desa Toli-Toli,   Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara ini   patut menjadi teladan bagi warga lainnya. Betapa warga yang tergabung   dalam&amp;nbsp; kelompok Balai Konservasi Taman Laut Kima toli-toli ini, sejak   dua tahun belakangan telah membudidayakan sekitar 8000 kerang kima   berbagai jenis dan ukuran. Ini dilakukan sebagai langkah penyelamatan   spesies kerang laut dilindungi ini, dari kepunahan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Hilangnya   kima di perairan desa mereka, menjadi alasan utama dan tentu saja&amp;nbsp;   keprihatinan besar dari kelompok konservasi ini. Perburuan besar-besaran   oleh nelayan luar maupun nelayan telah menimbulkan efek luar biasa  bagi  populasi kima karena untuk diperdagangkan&amp;nbsp; hingga ke luar negeri.  Ini  dapat dilihat dari hasil pengumpulan fosil cangkang kima yang telah  mati  berbagai ukuran yang dilakukan tim balai konserbvasi kima  toli-toli dua  tahun belakangan ini. Ratusan cangkang-cangkang kima kini  ditampung di  kantor balai balai konservasi sebagai barang temuan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-S95n4TB8QT4/T3UIejuodYI/AAAAAAAAADQ/0ls5F71m7qE/s1600/kimaku-2.jpg" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://1.bp.blogspot.com/-S95n4TB8QT4/T3UIejuodYI/AAAAAAAAADQ/0ls5F71m7qE/s400/kimaku-2.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Foto : Yos Hasrul/Greenpress &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Kelompok   ini prihatin atas perburuan kima secara missal. Daging kima yang   diketahui memiliki protein tinggi menjadi alasan utama perburuan biota   laut itu. Kima menjadi komoditas eksport paling dicari oleh singapura,   Taiwan, Hongkong,Jepang hingga Amerika Serikat. Di pasar internasional,   harga daging kima kering mencapai USD 150 per kg.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Ancaman kepunahan kima ini, maka kehidupan ekosistem di lautan pun dalam ancaman kehancuran,”kata Iwan. &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Data   konservasi taman laut kima toli-toli menyebutkan terdapat sembilan   spesies kima didunia, yaitu: tridacna gigas, t. derasa, t.squamosa, t.   maxima, t. crosea, t. tevoroa, t. rosewate,hippupos-hippopus &amp;amp;   hippopus porcellanus. Tujuh diantara sembilan spesies itu hidup di   Indonesia. Tingkat pertumbuhan kima sendiri sangat lamban (2-12 cm/tahun   berdasarkan species-nya dan tingkat usia pertumbuhan), sehingga untuk   mencapai ukuran maksimal 150 cm/ kima memerlukan waktu tumbuh hingga   seratus tahun. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Iwan   bercerita, mulanya Ia sama sekali tidak mengerti tentang konservasi   kima. Perjumpaannya &amp;nbsp;dengan Habib Nadjar Buduha (47) membuatnya belajar   banyak tentang proses budidaya kima ini di desanya. “Jujur Pak Habiblah   yang mengajari kami tentang kepedulian dan konservasi kima   ini,”ungkapnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-autospace: none;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Iwan   mengaku konservasi dilakukan tergerak untuk menyelamatkan kima dengan   modal yang mereka kumpulkan sendiri. Awalnya jumlah cuma satu orang  lalu  mereka saling mengajak beberapa warga desa untuk bergerak bersama   hingga kini jumlahnya puluhan warga. Proses itu dilakukan Komunitas   Balai Konservasi sejak akhir tahun 2009 silam. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Secara   bersama-sama, kelompok ini&amp;nbsp; telah mengumpulkan delapan ribuan kima  dari  tujuh jenis yang ditempatkan dan dipelihara di konservasi laut  seluas  dua puluh&amp;nbsp; hektar ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Kima-kima   itu dikumpulkan dengan peralatan dan perlengkapan sederhana, yakni   sebuah kapal motor tradisional berbobot 3 ton dan peralatan menyelam   yang memakai mesin kompresor tambal ban sebagai pemasok udara. “Kami   mencari bibit kima hingga ke Provinsi Sulawesi Tengah,”kata Iwan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-F5glnUiDsLQ/T3UKQrU7GcI/AAAAAAAAADg/mf0qD6B8Kl4/s1600/kimaku-4.jpg" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://2.bp.blogspot.com/-F5glnUiDsLQ/T3UKQrU7GcI/AAAAAAAAADg/mf0qD6B8Kl4/s320/kimaku-4.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Foto : Yos Hasrul/Kendarikita.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;“Wilayah   perairan laut Desa Toli-toli dan sekitarnya dinilai sebagai lokasi  yang  tepat untuk budidaya atau konservasi kima, karena memiliki rab  yang tak  jauh dari daratan. Daerah ini dulunya juga merupakan habitat  asli kima  serta memiliki bebatuan dan terumbu karang yang masih  terjaga,”ungkap  Iwan, salah&amp;nbsp; petugas Balai Konservasi Kima Toli-toli,  pecan lalu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Pemerintah   desa sendiri mendukung sepenuhnya upaya kelompok&amp;nbsp; balai konservasi  kima  toli-toli ini, bahkan telah mengajak warga desa untuk bersama-sama   membantu konservasi kima di desanya. &amp;nbsp;“Berkat kerja keras kelompok ini   telah membuat&amp;nbsp; laut di desa-toli menjadi bersih dan ikan—ikan semakin   banyak,”kata Jawahir Bardin, Kepala Desa Tolitoli.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Kima   (tridacna) menjadi komoditas bernilai tinggi karena dagingnya yang  kaya  protein. Harga daging kering kima di pasaran dunia mencapai 150  dollar  as per kilogram (sekitar rp 1,3 juta). Selain itu cangkangnya  menjadi  incaran industri perhiasan dan dekorasi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Kima   sendiri berfungsi sebagai penyaring alami air laut. Saat makan, Ia   menyedot air laut untuk menyerap plankton dan segala kotorannya. Setelah   dicerna, air laut dikeluarkan lagi dalam kondisi bersih// proses  itulah  yang menjaga kebersihan laut yang penting bagi kesehatan terumbu   karang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Hewan   yang biasa hidup di puncak gunung laut (rab) itu juga menjadi "pabrik"   makanan bagi satwa-satwa laut lainnya. Telur dan anak kima menjadi   santapan bagi ikan, gurita dan kepiting. Tubuh kima juga menjadi rumah   bagi berbagai terumbu karang. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Dari   sembilan jenis kima yang ada di dunia, tujuh di antaranya hidup di   perairan dangkal (maksimal kedalaman 20 meter) dan hangat di seantero   nusantara. jumlah itu termasuk dua jenis yang paling langka/ yakni   tridacna gigas (kima raksasa) dan tridacna derasa (kima selatan).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Dua   jenis kima itu sekarang hanya bisa ditemukan di perairan sepanjang   sulawesi hingga papua. tridacna gigas dan tridacna derasa menjadi langka   karena paling kerap diburu mengingat ukurannya yang besar. kima jenis   ini bisa mencapai panjang 1,3 meter dengan berat 200 kilogram.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Permasalahan   muncul karena eksploitasi yang berlebihan itu tak sebanding dengan  laju  pertumbuhan kima. Hewan ini lambat perkembangbiakannya, hanya  berkisar  2-12 sentimeter setiap tahun. Untuk tumbuh hingga sepanjang  setengah&amp;nbsp;  meter dibutuhkan waktu puluhan tahun.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Pemerintah   pun telah memasukkan lima jenis kima (tridacna crocea, tridacna  derasa,  tridacna gigas, tridacna maxima, dan tridacna squamosa) sebagai  satwa  yang dilindungi dalam peraturan pemerintah nomor 7 tahun 1999.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Sayang,   upaya penyelamatan hasil inisiatif dan swadaya warga itu belum  mendapat  perhatian pemerintah daerah kabupaten dan provinsi. “Jangankan  bantuan  materi atau peralatan/ proposal perizinan untuk konservasi  yang diajukan  kelompok ini sejak oktober tahun 2010 /yang hingga kini  belum ada  jawaban dari pemerintah,”ungkap Mahfud, petugas Balai  konservasi Taman  Laut Toli-toli lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;Walau   begitu, di tengah keterbatasan dana, kelompok konservasi ini jalan   terus. Mereka tidak mau lagi menunggu pemerintah peduli atau tidak.   “Jika kami menunggu pemerintah&amp;nbsp; mungkin spesies kima sudah habis duluan,   sebab &amp;nbsp;para konservasi kima setiap hari harus berlomba dengan para   pemburu kima yang di antaranya memiliki perlengkapan canggih dan modal   besar. Kelompok konservasi ini bertekad untuk tetap menghidupkan upaya   konservasi, karena kelak anak cucu bisa melihat hewan laut kima hidup di   alam bebas. (&lt;b&gt;Yos Hasrul).&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: normal; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "ca-pub-6463152978813595";
/* Go Green 2 */
google_ad_slot = "1542953554";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8725791079724163569-2555455252765531900?l=www.greenpressreport.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.greenpressreport.com/feeds/2555455252765531900/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8725791079724163569&amp;postID=2555455252765531900&amp;isPopup=true" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/2555455252765531900?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/2555455252765531900?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.greenpressreport.com/2012/03/belajar-konservasi-kima-di-toli-toli.html" title="Belajar Konservasi Kima di Toli-Toli" /><author><name>Redaksi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02128513609653257159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-3f4_yRmCn_U/T3s5hkJ-R-I/AAAAAAAAAPM/_chJSZhvJiI/s72-c/Konservasi.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUECQn87fSp7ImA9WhVQEEw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569.post-7212362238984702492</id><published>2012-03-22T13:01:00.007+07:00</published><updated>2012-03-29T17:41:03.105+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-03-29T17:41:03.105+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Air" /><title>10 Tips Hemat Air di Hari Air Sedunia</title><content type="html">&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-f0bw_oqFklU/T2rAE0eIyGI/AAAAAAAAAMI/jkcBWAJScIE/s1600/hari+air+sedunia.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="180" src="http://1.bp.blogspot.com/-f0bw_oqFklU/T2rAE0eIyGI/AAAAAAAAAMI/jkcBWAJScIE/s320/hari+air+sedunia.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div&gt;Hari ini, 22 Maret 21012&amp;nbsp; kita  kembali memperingari Hari Air Sedunia&amp;nbsp; dengan&amp;nbsp; tema “Water and Food  Security”&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Seluruh warga bumi kembali diingatkan untuk  memelihara ketahanan air demi  kelangsungan kebutuhan pangan. Tanpa air  pangan akan musnah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perserikatanan Bangsa-bangsa (PBB) melalui UN-Water  mengajak masyarakat  dunia untuk “Water and Food Security” mengingat  semakin langkanya  sumberdaya air yang layak konsumsi dan tekanan yang  makin kuat terhadap  air.  Tindakan kecil seperti tidak membuang atau  memboroskan makanan,  diet sehat, mengkonsumsi makanan yang bergizi yang  diproduksi dengan  hemat air serta tindakan kecil yang bisa berdampak  pada ketahanan ai  dan pangan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span class="fullpost"&gt;Hari Air Sedunia diperingati setiap tanggal 22 Maret. Peringatan ini merupakan wahana memperbarui tekad kita untuk melaksanakan Agenda 21 yang dicetuskan pada tahun 1992 dalam United Nations Conference on Environment and Development (UNCED) yang diselenggarakan di Rio de Janeiro, atau secara populer disebut sebagai Earth Summit.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;
Hari Air Dunia mulai diperingati sejak tahun 1993 oleh negara-negara anggota PBB. Setiap tahunnya, pada Hari Air Sedunia terdapat tema khusus agar menjadi perhatian bagi warga dunia tentang betapa pentingnya air sebagai sumber kehidupan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Berdasarkan Survei Direktorat  Pengembangan Air Minum, Direktorat  Jenderal Cipta Karya pada tahun 2006 melaporkan&amp;nbsp; setiap hari orang  Indonesia mengkonsumsi air  rata-rat 144 liter!&amp;nbsp; Separuh dari konsumsi  air tersebut adalah untuk  mandi. &lt;br /&gt;
&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Oh ya berikut ini 10 langkah hemat air berikut ini. Dengan mencoba menerapkan 10 tips berikut, bukan hanya kita telah ikut menghemat lebih dari 70% konsumsi air per hari.&amp;nbsp; Tapi ketersediaan air tanah yang makin menipis pun bisa dijaga.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;LANGKAH  1: Mandi dengan &lt;i&gt;shower&lt;/i&gt;, daripada gayung dan &lt;i&gt;bathtub &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div align="justify"&gt;Mandi dengan gayung bisa menghabiskan seiktar 15 liter  air sementara dengan &lt;i&gt;bathtub&lt;/i&gt;,  paling tidak 100-300 liter air  habis.&amp;nbsp; Dengan pori yang membuat  sebaran air lebih luas, menurut  Nasrullah Salim, pemerhati masalah  energi dan lingkungan, shower bisa  menghemat air lebih dari 60%.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;LANGKAH 2: Matikan kran  ketika mencuci tangan, gosok gigi, bahkan ber-wudhu&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div align="justify"&gt;Batasi konsumsi air dengan gelas atau gayung. Menurut &lt;i&gt;Metropolitan  Water District of Southern California &lt;/i&gt;(MWDSC), AS, hal ini sanggup  menghemat 11 liter air per hari.&amp;nbsp; Tip dari Komunitas &lt;i&gt;GreenLifestyle&lt;/i&gt;   juga boleh ditiru.&amp;nbsp; Sediakan gayung berdiameter 15 cm.&amp;nbsp; Dengan solder   kecil, lubangi dinding gayung bagian bawah.&amp;nbsp; Penuhi gayung dan gunakan   kucuran airnya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;LANGKAH 3:&amp;nbsp; Cuci peralatan makan dan  pakaian dengan air tampungan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div align="justify"&gt;Untuk  membilas alat makan, gunakan air mengalir agar  kotoran terbuang.&amp;nbsp; "Pakai  shower untuk menghemat," kata Nasrullah.&amp;nbsp;  Tiap mencuci, kumpulkan alat  makan dan pakaian kotor, lantas cuci  sekaligus.&amp;nbsp; Penuhi kapasitas  maksimal jika memakai mesin.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;LANGKAH 4:&amp;nbsp; Tampung air bekas  cucian tanpa deterjen untuk menyiram tanaman atau kloset&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div align="justify"&gt;Menurut MWDSC, kegiatan ini bisa menghemat 750-1.150   liter air sebulannya.&amp;nbsp; Kita bisa juga menampung air hujan untuk  menyiram  tanaman, bahkan untuk minum setelah diolah terlebih dahulu.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;LANGKAH  5:&amp;nbsp; Kurangi konsumsi barang yang "menyedot" air&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div align="justify"&gt;Misalnya, kertas, daging, dan nasih putih.&amp;nbsp; Tahukah  kita  bahwa produksi selembar kertas ukuran A4 seberat 80 gram  membutuhkan 10  liter air?&amp;nbsp; Produksi 1 kg daging sapi menghabiskan  15.500 liter air,  sedangkan 1 kg beras putih membutuhkan 3.400 liter  air.&amp;nbsp; Belum lagi air  yang digunakan untuk memasak daging dan beras.&amp;nbsp;  Silahkan klik &lt;b&gt;www.waterfootprint.org&lt;/b&gt;  untuk informasi lebih lengkap.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;LANGKAH 6:&amp;nbsp; Gunakan ulang  alat makan dan pakaian jika belum terlalu kotor&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div align="justify"&gt;Kalau kita sering berganti gelas, kita mengkonsumsi  air  lebih banyak untuk mencucinya.&amp;nbsp; Itu juga berlaku untuk pakaian yang   belum kotor karena keringat atau noda.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;LANGKAH 7:&amp;nbsp; Pakai  sedikit deterjen untuk mencuci&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div align="justify"&gt;"Membilas  deterjen butuh lebih banyak air," jelas  staf divisi program AMPL (Air  Minum dan Penyehatan Lingkungan), Dyota  Condrorini.&amp;nbsp; Gunakan sabun  bio-degradable dari bahan organik sehingga  air bekasnya dapat dipakai  ulang setelah disaring dengan sumur resapan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;LANGKAH 8:&amp;nbsp;  Siram tanaman di pagi hari&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div align="justify"&gt;Jika menyiram  saat siang, matahari akan membuat air  menguap sebelum diserap.&amp;nbsp; Usahakan  menanam di musim hujan saja karena  pada awal perkembangannya, tumbuhan  membutuhkan lebih banyak air.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;LANGKAH 9:&amp;nbsp; Kurangi  frekuensi memotong rumput&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div align="justify"&gt;Kita bisa  menghemat 1.900-5.700 liter per bulan, menurut MWDSC.&amp;nbsp; Rumput yang lebih  pendek butuh lebih banyak air.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;LANGKAH 10:&amp;nbsp; Perbanyak  bidang resapan di halaman&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Metode ini  disebut biopori.&amp;nbsp; Tujuannya, air meresap  ke dalam tanah daripada  mengalir di permukaan.&amp;nbsp; Buat lubang silindris  secara vertikal ke dalam  tanah dengan diameter 10 cm dan kedalaman 100  cm.&amp;nbsp; Buat lubang lain  dengan jarak 50-100 cm dari yang pertama.&amp;nbsp;  Silahkan klik &lt;b&gt;www.biopori.com&lt;/b&gt;  untuk informasi lebih lengkap.&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Teman-2  selamat memperingati Hari Sedunia ya, semoga kita  makin hemat  menggunakan air&amp;nbsp; untuk menyelamatkan pangan dan kehidupan. Mari kita  terus berupaya melestarikan lingkungan  hidup kita sesuai kemampuan dan  profesi kita masing-masing.&amp;nbsp; (Marwan Azis).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "ca-pub-6463152978813595";
/* Go Green 2 */
google_ad_slot = "1542953554";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8725791079724163569-7212362238984702492?l=www.greenpressreport.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.greenpressreport.com/feeds/7212362238984702492/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8725791079724163569&amp;postID=7212362238984702492&amp;isPopup=true" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/7212362238984702492?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/7212362238984702492?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.greenpressreport.com/2012/03/selamat-hari-sedunia.html" title="10 Tips Hemat Air di Hari Air Sedunia" /><author><name>Redaksi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02128513609653257159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-f0bw_oqFklU/T2rAE0eIyGI/AAAAAAAAAMI/jkcBWAJScIE/s72-c/hari+air+sedunia.jpg" height="72" width="72" /><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUcNQnY7cCp7ImA9WhVQGEo.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-8725791079724163569.post-3710251079365796065</id><published>2012-03-21T16:19:00.003+07:00</published><updated>2012-04-08T16:24:53.808+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2012-04-08T16:24:53.808+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Wisata" /><title>RoFA, Melihat Indonesia yang Sesungguhnya</title><content type="html">&lt;center&gt;&lt;img alt="Perjalanan tim ROFA. Foto: RoFA." class="bordered" height="353" src="http://www.beritalingkungan.com/media/cache/6d/40/6d40e3156069fb2e8b755a86b0dc9fc0.jpg" width="640" /&gt;&lt;/center&gt;                             Perjalanan tim ROFA. Foto: RoFA.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak banyak anak negeri yang rela menghabiskan waktu, pikiran, dan energinya menjejalahi kepulauan Nusantara. Adalah Youk Tanzil bersama anaknya beriniasif melakukan perjalanan panjang menjelajahi Nusantara sebagai bentuk dedikasi dan kepedulian mereka pada Indonesia. Ini merupakan cita-cita besar yang memang telah mereka idamkan sejak lama.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
Melalui ekspedisi yang dilakukan dengan kendaraan roda dua ini, Youk ingin mewujudkan cita-cita tersebut. Budaya dan tradisi masyarakat, kekayaan alam, termasuk laut, darat, dan rangkaian gunung berapi menjadikan Indonesia sebagai bagian dari sabuk vulkanik dunia alias ring of fire, yang memang ingin ia lihat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesungguhnya tim ekpedisi RoFA terdiri dari 12 orang. Mereka merupakan bagian dari tim suport yang selalu bergerak bersama-sama. Tak jarang mereka akan menjangkau pelosok hutan, sawah dan ladang di pedesaan. Mereka juga melakukan melakukan pendakian puncak gunung, menjelajahi pantai, mengarungi lautan dan mengungkap keindahan hayati dan keramah-tamahan masyarakat Indonesia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Misi kami adalah memperlihatkan kepada masyarakat Indonesia, kepada generasi muda, kepada dunia, tentang keindahan Indonesia dengan sebenar-benarnya,"kata&amp;nbsp; Youk Tanzil, Rider sekaligus&amp;nbsp; Expedition Leader RoFA.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama melakukan ekpedisi mereka mendokumentasikan semua kegiatan dalam bentuk audio visual, foto dan catatan perjalanan. Sebagian besar hasil perjalanan mereka&amp;nbsp; bisa diliat di situs  dan Youtube.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;5 Fase&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
Secara umum, Ekpesidisi RoFA dibagi menjadi 5 fase. Fase pertama telah dilakukan pada 30 April 2011 lalu, dengan memakan waktu 55 hari. Rutenya, Kupang, Timor, dengan jarak sejauh 6.000 KM. Perjalanan ini melalui 9 provinsi dan 5 gunung berapi sampai akhirnya tiba di Jakarta. Perjalanan fase 1 ini bisa dinikmati masyarakat melalui acara Kick Andy di Metro Tv, awal April 2012 jam 21.05 WIB&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada malam syukuran RoFA yang bertempat di Cafe&amp;nbsp; Rolling Stones, Kemang, Jakarta Selatan, &lt;i&gt;Beritalingkungan.com&lt;/i&gt; berkesempatan hadir.&amp;nbsp; Di pelataran Cafe Rolling Stones terlihat dua mobil adventure berwarna merah lengkap dengan peratan petualangan. Kedua mobil ini memang yang sengaja dipamerkan kepada pengunjung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak seperti malam-malam biasanya, Cafe Rolling Stones, Kemang, Jakarta Selatan disulap menjadi lokasi pameran produk, peralatan dan perlengkapan adventure yang dipakai tim Ekspedisi&amp;nbsp; &lt;i&gt;Ring of Fire Adventure&lt;/i&gt; (RoFA) saat ekspedisi tahap pertama. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Halaman belakang&amp;nbsp; Cafe tersebut segera disesaki pengunjung yang ingin melihat perlengkapan petualangan termasuk 5 motor gede Yamaha Tenere XT660Z ABS yang dipakai tim RoFA. Para pengunjung dan jurnalis juga dipersilakan berfoto dengan tim ekspedisi.&amp;nbsp; Kesempatan itu tak disia-siakan oleh pengunjung termasuk sejumlah jurnalis dari berbagai media.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malam itu Youk Tanzil bersama tim RoFA menggelar syukuran sekaligus temu kangen dengan jurnalis untuk mensosialisikan rencana ekpedisi tahap dua dari &lt;i&gt;Ring Of Fire Adventure&lt;/i&gt; yang meliputi Sulawesi dan Maluku. &lt;br /&gt;
"Ekspedisi dengan sepeda motor ini memungkinkan kami untuk menjelajahi wilayah-wilayah di luar tujuan wisata populer untuk menceritakan Indonesia yang lebih nyata," kata Om Younk, begitu dia akrab disapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Turut hadir acara syukuran kesuksesan tim RoFA adalah Jeffrey Polnaja, sang petualang yang berhasil mengunjungi 72 negara di tiga benua selama 2 tahun 7 bulan, serta Ahmad Yunus, jurnalis sekaligus petualang Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa yang kini juga ikut bergabung dan memperkuat tim&amp;nbsp; RoFA. &lt;br /&gt;
Dalam kesempatan itu, pengunjung juga dihibur dengan penayangan film ekpedisi &lt;i&gt;Ring Of Fire Adventure&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Film itu selain menayangkan keindahan alam Nusantara berikut manusia, juga mengungkap kisah Younk Tanzil yang sempat terjatuh dari motor dan terpaksa dilarikan di rumah sakit. Namun kondisi tersebut tak mengurangi semangatnya untuk tetap melanjutkan perjalanan.&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ekspedisi &lt;i&gt;Ring of Fire Adventure&lt;/i&gt; tahap pertama ini dimulai pada tanggal 6 Mei 2011. Jadwal ini terlambat seminggu dari yang ditentukan karena mereka mengalami kendala teknis—motor hilang dalam proses pengiriman, akibat jadwal shipping dari ekspedisi pengiriman yang tidak jelas. Kick off atau titik awal dimulai dari Kupang, Nusa Tenggara Timur, mengarah barat, melalui 9 provinsi, sepanjang 6.000 kilometer, sampai Jakarta. Waktu perjalanan pada rute pertama Kupang – Jakarta ini memakan waktu 50 hari. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Selama perjalanan mereka juga diperhadapkan pada berbagai persoalan dan hambatan. Pada tanggal 10 Mei 2011, Youk Tanzil mengalami kecelakaan di Desa Fatuana, Insana, Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. Pimpinan ekspedisi, Youk Tanzil, ditabrak oleh pengendara sepeda motor yang mengakibatkan patah tulang kaki. Giovanni Tanzil, anaknya, mengalami keseleo tangan. Sementara kapten perjalanan Edy Sucipto luka di kaki. Peristiwa tersebut terjadi sebuah tikungan saat menyusuri jalan berliku dengan alang-alang tinggi yang mengganggu pandangan. Kecelakaan tersebut memaksa Youk untuk kemudian diterbangkan ke Jakarta guna menjalani perawatan.&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah operasi sukses dilakukan, Youk bicara dengan dokter yang menanganinya. Ia meminta ijin untuk kembali ke tim dan melanjutkan ekspedisi &lt;i&gt;Ring of Fire Adventure&lt;/i&gt;. Dengan setengah mengijinkan --dokter Muljana dari RSPAD Gatot Soebroto--&amp;nbsp; mewanti-wanti agar Youk peduli dengan luka hasil operasi. Akhirnya Youk pun kembali ke tim &lt;i&gt;Ring of Fire Adventure&lt;/i&gt; hanya 3 hari pasca operasi. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Pada tanggal 18 Mei 2011- tim ekspedisi &lt;i&gt;Ring of Fire Adventure&lt;/i&gt; tiba di Gunung Kelimutu yang terkenal dengan danau tiga warnanya. Danau ini merupakan salah satu target yang dijelajah oleh tim &lt;i&gt;Ring of Fire&lt;/i&gt; di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Tim Ring of Fire Adventure, termasuk Youk yang cedera patah kaki, ikut mendaki, meski dengan tongkat yang menyangga. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pasca melepas jahitan luka operasi – oleh seorang paramedik yang didatangkan dari RSPAD Gatot Soebroto--, rasa percaya diri Youk Tanzil kembali bangkit. Walau kondisi kakinya masih bengkak, dengan menggunakan sepatu &lt;i&gt;keds&lt;/i&gt;, Youk kembali mengendarai motornya dari Sumbawa Besar menuju Lombok. Di Lombok, tujuan mereka adalah mendaki Gunung Rinjani. Setelah semua kendaraan ditinggal di hotel, tim bergerak mendaki hingga puncak. Sayangnya, Youk yang didampingi suster Lady hanya sampai ketinggian 2800 meter. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Younk, bumi dan masyarakat Indonesia memiliki banyak kisah yang harus diungkapkan ke dunia Internasional. "Dengan masuk ke dalam hutan tropis, sawah, pegunungan, pantai, dan desa-desa untuk menjadi satu dengan masyarakat. Kami akan menceritakan kisah dari penduduk setempat yang diselingi dengan informasi menarik tentang sejarah, budaya, dan tradisi sekitarnya,"ujarnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Younk bersama tim RoFA menyadari, bahwa Indonesia adalah negara berkembang yang masih dibayangi kemiskinan.&amp;nbsp; "Ini sebabnya kami berkerjasama dengan Kick Andy Foundation, World Vision, dan mitra lokal terpercaya Wahana Visi Indonesia, untuk memperlihatkan kepada para penonton keadaan Indonesia yang sesungguhnya. Kami ingin menggugah kesadaran orang akan kondisi negara kita,"jelasnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inisiatif tim RoFA ini juga mendapat dukungan dari berbagai perusahaan besar seperti Panasonic, IAI Financial, Yamaha Motor, Toyota Astra, Eiger, RS Taichi, ASDP Fery Indonesia, Indine, dan Comfort.&lt;br /&gt;
Ekspedisi Ring of Fire dilakukan menggunakan 5 motor Yamaha Tenere XT660Z ABS yang baru kali ini di uji coba di Indonesia. Tak ketinggalan 2 mobil Toyota Hilux dan Fortuner yang dilengkapi perangkat canggih yang memungkin komunikasi antar kendaraan, navigasi perjalanan, serta siaran langsung dan konferensi video. Streaming livenya bisa dinikmati melalui situs . &lt;br /&gt;
"Saya mengundang Anda untuk bergabung di dalam perjalanan kami. Perkenankan kami untuk memperlihatkan kepada anda warna Indonesia yang sesungguhnya,"tandasnya. (Marwan Azis).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "ca-pub-6463152978813595";
/* Go Green 2 */
google_ad_slot = "1542953554";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8725791079724163569-3710251079365796065?l=www.greenpressreport.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://www.greenpressreport.com/feeds/3710251079365796065/comments/default" title="Poskan Komentar" /><link rel="replies" type="text/html" href="http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8725791079724163569&amp;postID=3710251079365796065&amp;isPopup=true" title="0 Komentar" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/3710251079365796065?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/8725791079724163569/posts/default/3710251079365796065?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://www.greenpressreport.com/2012/03/rofa-melihat-indonesia-yang.html" title="RoFA, Melihat Indonesia yang Sesungguhnya" /><author><name>Redaksi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/02128513609653257159</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel="http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail" width="16" height="16" src="http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif" /></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>

