<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2enclosuresfull.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:creativeCommons="http://backend.userland.com/creativeCommonsRssModule" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0">

<channel>
	<title>Gunawan Rudy</title>
	
	<link>http://gunawanrudy.com</link>
	<description>A weblog of Gunawan Rudy: freelance web-designer and writer-wannabe. He talks too much about culture, ethnography, politic, belief, adventure, philosophy, literature, and design.</description>
	<lastBuildDate>Sun, 17 Apr 2011 09:40:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/Gunawanrudydotcom" /><feedburner:info uri="gunawanrudydotcom" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>A weblog of Gunawan Rudy: freelance web-designer and writer-wannabe. He talks too much about culture, ethnography, politic, belief, adventure, philosophy, literature, and design.</itunes:subtitle><creativeCommons:license>http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/3.0/</creativeCommons:license><image><link>http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/3.0/</link><url>http://creativecommons.org/images/public/somerights20.gif</url><title>Some Rights Reserved</title></image><xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" /><meta xmlns="http://pipes.yahoo.com" name="pipes" content="noprocess" /><feedburner:emailServiceId>Gunawanrudydotcom</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><item>
		<title>Tanggal Merah</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Gunawanrudydotcom/~3/tOcDkj9pYEA/tanggal-merah.html</link>
		<comments>http://gunawanrudy.com/tanggal-merah.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 Dec 2010 11:12:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gunawan Rudy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[anthropology]]></category>
		<category><![CDATA[belief]]></category>
		<category><![CDATA[culture]]></category>
		<category><![CDATA[holiday]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[international]]></category>
		<category><![CDATA[philosophy]]></category>
		<category><![CDATA[rules]]></category>
		<category><![CDATA[social]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunawanrudy.com/?p=2172</guid>
		<description><![CDATA[ada makna tertentu dititipkan dalam momentum yang berwujud tanggal merah]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><img src="http://gunawanrudy.com/admin/wp-content/uploads/masa-kecil.jpg" alt="" /></p>
<p align="justify">Apa yang ada di benak Anda, orang Indonesia di Indonesia, ketika mendengar frasa &#8216;tanggal merah&#8217;? Sebagian besar pasti membayangkan &#8216;hari libur&#8217;. Tanggal merah, frasa unik yang berasal dari angka penanggalan berwarna merah di kalender yang menyimbolkan hari libur, entah hari Minggu atau hari-hari lainnya yang diakui negara sebagai hari libur.</p>
<p align="justify">Manusia perlu keteraturan dalam aktivitas hidup. Bekerja di hari ini dan itu, bahkan menetapkan dari jam sekian hingga sekian. Selanjutnya sebagai penyeimbang keteraturan itu, konsep suatu hari yang digunakan untuk beristirahat total pun diperlukan. Maka diadakan hari libur di mana manusia berhenti sejenak dari pekerjaan rutin di hari-hari lainnya.</p>
<p align="justify">Tak hanya manusia, bahkan dalam agama-agama Abrahamik, tuhan pun ternyata membutuhkan &#8216;hari libur&#8217;. Perjanjian Lama dalam kitab Kejadian pasal 2 ayat 3 menulis, &#8220;lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu.&#8221; Dari penuturan itulah sebagian besar manusia sekarang membenarkan pengunaan hari ketujuh ini untuk beristirahat dan beribadat. Yahudi meyakininya sebagai Sabtu, dan sebagian besar Nasrani yakin itu Minggu.</p>
<p align="justify">Jika memandang dengan bebas-nilai, maka setiap hari itu sama. Manusia lah yang memberikan makna kepada hari-hari tertentu, sehingga berbeda dengan hari-hari lainnya. Suatu hari bisa jadi spesial karena karena tuhan lahir di kandang domba. Suatu hari lainnya bisa jadi spesial karena pelarian sang nabi ke kota tetangga.</p>
<p align="justify">Mengapa manusia memberikan makna kepada hari-hari? Manusia membutuhkan pemberian makna kepada segala hal untuk menjelaskan fenomena-fenomena yang tak bisa ia jelaskan secara empiris, lewat panca indera. Manusia juga membutuhkan pemberian makna untuk belajar membedakan satu hal dengan hal lainnya. Termasuk di antaranya hari-hari.</p>
<p align="justify">Selain itu manusia juga membutuhkan momentum. Momentum untuk mengekspresikan sesuatu, dan itu mesti bersifat kolektif. Hambar dan aneh misalnya jika orang Indonesia meneriakkan &#8220;merdeka&#8221; pada suatu hari yang biasa di bulan Juni. Tapi lain jika teriakan &#8220;merdeka&#8221; itu dikumandangkan pada tanggal 17 bulan Agustus. Manusia membutuhkan sebuah momen bersama untuk menyatukan rasa dan aksi. Maka wajar jika tahun baru, Natal, Idul Fitri, hingga Waisak digunakan manusia sebagai momentum untuk menyatakan pelbagai hal. Meski tak semua momentum kolektif diwujudkan sebagai tanggal merah.</p>
<p align="justify">Maka simbol tanggal merah tak hanya sekadar dimaknai sebagai hari libur. Ada makna-makna tertentu yang dititipkan ke dalam momentum-momentum yang berwujud tanggal merah tersebut. Manusia berhasil menyebarkan pesan kepada sesamanya lewat tanggal-tanggal merah, yang bahkan dirayakan oleh jutaan orang secara bersamaan.</p>
<p align="justify">Ijinkan saya menutup tulisan ini dengan peribahasa Ethiopia yang kira-kira terjemahan bahasa Indonesianya seperti ini: tak ada yang menjadi kaya hanya karena ia melanggar hari libur, dan tak ada yang menjadi gemuk hanya karena ia tak berpuasa. Ya, begitulah sifat pemaknaan.</p>
<p align="justify">Besok adalah 1 Januari. Besok adalah tanggal merah. Selamat merayakannya!</p>
<p class="credit">* foto saya semasa kanak-kanak, [mungkin] dijepret oleh tuah purnama k. anwar</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=tOcDkj9pYEA:-N5dy1-MtMQ:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=tOcDkj9pYEA:-N5dy1-MtMQ:dnMXMwOfBR0"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?d=dnMXMwOfBR0" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=tOcDkj9pYEA:-N5dy1-MtMQ:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?i=tOcDkj9pYEA:-N5dy1-MtMQ:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=tOcDkj9pYEA:-N5dy1-MtMQ:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=tOcDkj9pYEA:-N5dy1-MtMQ:7Q72WNTAKBA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?d=7Q72WNTAKBA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=tOcDkj9pYEA:-N5dy1-MtMQ:F7zBnMyn0Lo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?i=tOcDkj9pYEA:-N5dy1-MtMQ:F7zBnMyn0Lo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=tOcDkj9pYEA:-N5dy1-MtMQ:YwkR-u9nhCs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?d=YwkR-u9nhCs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=tOcDkj9pYEA:-N5dy1-MtMQ:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?i=tOcDkj9pYEA:-N5dy1-MtMQ:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Gunawanrudydotcom/~4/tOcDkj9pYEA" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunawanrudy.com/tanggal-merah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://gunawanrudy.com/tanggal-merah.html</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Laser Malaysia dan Henry Fonda</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Gunawanrudydotcom/~3/IDUCcIyN8D4/laser-malaysia-dan-henry-fonda.html</link>
		<comments>http://gunawanrudy.com/laser-malaysia-dan-henry-fonda.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Dec 2010 21:41:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gunawan Rudy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[discussion]]></category>
		<category><![CDATA[fallacy]]></category>
		<category><![CDATA[football]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[movie]]></category>
		<category><![CDATA[philosophy]]></category>
		<category><![CDATA[review]]></category>
		<category><![CDATA[social]]></category>
		<category><![CDATA[struggle]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunawanrudy.com/?p=2116</guid>
		<description><![CDATA[keriuhan di sarang burung, ketika sinar laser menjadi kambing hitam di bukit jalil]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Jika boleh meminjam kata-kata mas <a href="http://blog.imanbrotoseno.com/?p=435" title="Iman Brotoseno" target="_blank">Iman Brotoseno</a>: lagi-lagi sepakbola! Ya, 26 Desember 2010 keriuhan terjadi di <em>Twitter</em>. Saat itu sedang berlangsung pertandingan final pertama AFF Suzuki Cup 2010 antara Malaysia kontra Indonesia di Bukit Jalil, Kuala Lumpur. Rupa-rupanya suporter Indonesia memperkarakan <a href="http://twitter.com/#!/search/%23malaysiacheatlaser" target="_blank" title="#malaysiacheatlaser">penggunaan sinar laser</a> oleh suporter Malaysia untuk merusak konsentrasi para pemain tamu.</p>
<p align="justify">Entah dari mana awal mulanya, entah siapa pionirnya, kabar perihal laser itu begitu cepat mewabah. Bisa jadi lebih cepat daripada laju gosip di pedesaan. Mulai dari anak SMP hingga pengusaha batik berteriak lewat tulisan, <em>&#8220;Malaysia cheat laser! Malaysia cheat laser!&#8221;</em> tanpa tedeng aling-aling, suara bulat dan lugas. Apalagi setelah ditambahi dengan bumbu foto yang katanya memperlihatkan bukti penggunaan laser itu.</p>
<p align="center"><img src="http://gunawanrudy.com/admin/wp-content/uploads/12-angry-men.jpg" alt="" /></p>
<p align="justify">Mari sejenak menoleh ke 1957, saat di mana Henry Fonda beraksi sebagai &#8216;juri kedelapan&#8217; dalam film drama klasik <a href="http://www.imdb.com/title/tt0050083/" target="_blank" title="12 Angry Men">12 Angry Men</a>. Selama durasi satu setengah jam itu, awalnya Fonda (saya memilih seterusnya menggunakan nama asli &#8216;Fonda&#8217; ketimbang nama lakon &#8216;Davis&#8217; seperti yang terungkap di akhir film) hanya sendirian melawan pendapat sebelas juri lainnya tentang sebuah kasus pembunuhan. Dikisahkan seorang anak muda didakwa membunuh ayahnya sendiri, dan keduabelas juri yang tidak saling mengenal &mdash;yang saling menyapa dan menyebut satu sama lain dengan panggilan <em>&#8216;gentleman&#8217;</em>&mdash; diminta berembuk secara tertutup memutuskan bersalah atau tidaknya si anak muda. Dengan banyaknya barang bukti yang ada dan juga saksi kunci yang memberatkan, nampaknya keputusan &#8216;bersalah&#8217; sudah pasti dikeluarkan.</p>
<p align="justify">Namun alih-alih berkata, <em>&#8220;guilty!&#8221;</em> Fonda malah memilih sebaliknya. Dijawabnya, <em>&#8220;there were eleven votes for guilty. It&#8217;s not easy to raise my hand and send a boy die without talking about first.&#8221;</em> Ia memilih untuk skeptis sebelum terburu-buru memvonis. Sebuah pilihan yang mulanya oleh kesebelas juri lain dianggap konyol dan hanya membuang-buang waktu.</p>
<p align="justify">Kembali maju 53 tahun. Apa yang diyakini oleh hampir seluruh suporter Indonesia di ranah maya bisa jadi merupakan refleksi pilihan kesebelas juri yang langsung menyatakan bersalah pada voting pertama. Memang alasan dan latar belakang pilihan kesebelas juri tersebut berbeda-beda, entah karena yakin dengan bukti dan saksi yang dihadirkan di pengadilan atau hanya karena ingin tugas jurinya selesai. Namun dengan suara bulat kata itu dinyatakan: <em>guilty!</em></p>
<p align="justify">Fonda dengan argumennya yang berani, mencoba melakukan reka ulang, menitikberatkan pada detail-detail, membuat satu demi satu juri yang lain mulai goyah pendiriannya dan akhirnya mengubah pendapatnya. Begitu juga akhirnya timbul suara-suara lain memecah keriuhan yang awalnya seolah-olah satu suara akan kecurangan Malaysia.</p>
<p align="justify">Mungkin hanya berawal dari ajakan untuk tidak perlu membalas &#8216;perlakuan laser&#8217; Malaysia di Gelora Bung Karno nantinya &mdash;ya, Fonda juga awalnya mengajak untuk berdiskusi terlebih dahulu. Beberapa lama lalu mencuat pendapat bahwa suporter Indonesia terlebih dahulu melakukan &#8216;perlakuan laser&#8217; pada pertandingan di penyisihan grup. Terlepas dari tepat atau kelirunya kabar ini, sudah ada usaha untuk menghindari vonis prematur dengan mengkaji ulang secara holistik fenomena kecurangan suporter.</p>
<p align="justify">Di awal perundingan di ruang tertutup kesebelas juri mungkin hanya terfokus pada otoritas dan kemampuan dari para jaksa dan pengacara dalam persidangan, dan melupakan kenyataan misalnya faktor apa yang melatarbelakangi seorang saksi memberi kesaksian tertentu. Sebagian suporter Indonesia pun pada awalnya bisa dikatakan terkonsentrasi pada perkara ketidaksportifan suporter tim tuan rumah sebagai penyebab bobroknya permainan Indonesia. Fonda menawarkan skenario lain. Beberapa suporter pun begitu: kebobrokan manajemen kompetisi nasional, eksploitasi media dan pejabat politik, mental tandang yang belum membaik, dan lain sebagainya yang diyakini sebagai faktor di balik kekalahan tim nasional.</p>
<p align="justify">Dalam filsafat Schopenhauer, selain kehendak dan ide, tak ada sesuatu pun yang kita ketahui atau bisa kita pikirkan. Kita, sebagai warga negara Indonesia, berkehendak Indonesia mengalahkan Malaysia. Dari kehendak itu lahir secara otomatis sebuah keyakinan bahwa kecurangan ada di kubu Malaysia. Kemudian dinyatakan melalui kalimat-kalimat tuduhan tentang laser.</p>
<p align="justify">Schopenhauer lebih lanjut lagi mengemukakan bahwa sesuatu yang paling nyata bagi setiap orang ialah ketika memberikan realitas yang dimiliki masing-masing terhadap suatu ide dari fenomena. Suporter Indonesia memberikan realitas bahwa suporter Malaysia menggunakan laser sehingga merusak permainan Indonesia. Namun selanjutnya, jika realitas yang dimiliki masing-masing itu dikaji, ternyata lahir dari kehendak. Dan dalam fenomena ini, ia adalah sebuah kehendak akan kemenangan.</p>
<p align="justify">Mungkin tak ada salahnya kembali menoleh apa yang Sindhunata kutip dari Jerman, <em>der Sieg is alles, darum sind alle Mittel recht, die helfen, sein Spiel zu gewinnen</em>. Kemenangan adalah segala-galanya, maka adalah halal segala cara yang membantu untuk meraih kemenangan itu.</p>
<p align="justify">Sementara Fonda, dan segelintir suporter Indonesia yang mencoba fair dalam menyajikan, mengajarkan bahwa ada kehendak untuk mengetahui yang benar. Meski kehendak itu pada akhirnya mungkin bisa berujung pada sebuah kemenangan pandangan jua.</p>
<p align="justify">&#8230;..ketika semua bisa menjadi komentator sepakbola dadakan. Termasuk saya.</p>
<p class="credit">* foto dari the internet movie database &#8211; www.imdb.com/title/tt0050083</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=IDUCcIyN8D4:rFfcIAEx9YE:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=IDUCcIyN8D4:rFfcIAEx9YE:dnMXMwOfBR0"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?d=dnMXMwOfBR0" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=IDUCcIyN8D4:rFfcIAEx9YE:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?i=IDUCcIyN8D4:rFfcIAEx9YE:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=IDUCcIyN8D4:rFfcIAEx9YE:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=IDUCcIyN8D4:rFfcIAEx9YE:7Q72WNTAKBA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?d=7Q72WNTAKBA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=IDUCcIyN8D4:rFfcIAEx9YE:F7zBnMyn0Lo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?i=IDUCcIyN8D4:rFfcIAEx9YE:F7zBnMyn0Lo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=IDUCcIyN8D4:rFfcIAEx9YE:YwkR-u9nhCs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?d=YwkR-u9nhCs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=IDUCcIyN8D4:rFfcIAEx9YE:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?i=IDUCcIyN8D4:rFfcIAEx9YE:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Gunawanrudydotcom/~4/IDUCcIyN8D4" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunawanrudy.com/laser-malaysia-dan-henry-fonda.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://gunawanrudy.com/laser-malaysia-dan-henry-fonda.html</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Natal Indonesia: Ritus Angan-Angan</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Gunawanrudydotcom/~3/rHoCAIIu_Z0/natal-indonesia-sebuah-ritus-angan-angan.html</link>
		<comments>http://gunawanrudy.com/natal-indonesia-sebuah-ritus-angan-angan.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Dec 2009 19:25:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gunawan Rudy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[anthropology]]></category>
		<category><![CDATA[belief]]></category>
		<category><![CDATA[christian]]></category>
		<category><![CDATA[culture]]></category>
		<category><![CDATA[december]]></category>
		<category><![CDATA[hermeneutics]]></category>
		<category><![CDATA[jesus christ]]></category>
		<category><![CDATA[peace]]></category>
		<category><![CDATA[xmas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunawanrudy.com/?p=1772</guid>
		<description><![CDATA[perayaan natal di indonesia, ritus angan-angan mengenai imajinasi dan cita-cita]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><img src="http://gunawanrudy.com/admin/wp-content/uploads/blurry-christmas.jpg" alt="" /></p>
<p align="justify">Sembilan tahun yang lalu teror menghantui malam Natal di Indonesia. Sejumlah bom di beberapa gereja meledak hampir berbarengan, belasan orang terbunuh pada malam kudus tersebut. Perayaan Natal yang seharusnya disambut dengan suka cita dan penuh khidmat menjadi ketakukan dan masih menyisakan rasa trauma di tahun-tahun setelahnya.</p>
<p align="justify">Itu hanya sekelumit mimpi buruk mengenai tragedi Natal di negeri ini. Kini perasaan was-was orang sudah berangsur tenang setelah beberapa tahun terakhir tidak ada kejadian serupa yang terjadi. Natal kembali disambut dengan suka cita. Di rumah bersama keluarga, pertemuan besar famili dan sanak saudara, misa dan kebaktian di gereja, hingga perayaan Natal pelajar dan mahasiswa.</p>
<p><em>Oh malam sunyi senyap, bintang-bintang gemerlapan di atas padang Efrata.<br />
Angkatlah kepalamu. Trimalah Sabda Tuhanmu. Malam inilah sudah lahir, Kristus juru s&#8217;lamatmu.<br />
Malam sunyi senyap, bintang-bintang gemerlap. T&#8217;lah terdengar suara bawa kabar senang.<br />
Yesus Juru S&#8217;lamat datang di Bethlehem. Yesus Juru S&#8217;lamat datang di Bethehem.</em></p>
<p align="justify">Natal yang penuh sukacita tersebut selalu terkait dengan sejumlah tradisi, seperti rutinitas lagu-lagu Natal, cerita Natal yang menyentuh hati, hadiah dan kue Natal, kegiatan-kegiatan di gereja, pohon cemara, asosiasi salju, hingga Sinterklaas. Dan itu tak terkecuali di Indonesia.</p>
<p align="justify">Tradisi tersebut tak hanya sekadar tradisi, namun ada ritus tertentu yang saya lihat dari tradisi Natal di Indonesia. Sebuah ritus yang terutama sekali mempengaruhi pola pikir anak-anak dalam melihat dunia dan kehidupan.</p>
<p align="justify">Pada tahun 1960-an James L. Peacock pernah mengatakan bahwa <em>ludruk</em> adalah sebuah ritus modernisasi pada masyarakat Jawa. Tanpa disadari ludruk mulai membawa pesan-pesan seperti urbanisasi. Lakon ludruk tak lagi mementaskan latar pedesaan yang homogen, namun sudah menjadi latar perkotaan dengan banyak orang dari kebudayaan yang berbeda-beda. Tanpa disadari oleh pemainnya, mereka telah membawa pengaruh modernisasi terhadap masyarakat Jawa yang gemar menonton ludruk. Tanpa disadari oleh para penonton, mereka mulai mengenal hal-hal yang berbau modern dari ludruk. Itulah yang ditafsirkan secara hermeneutik oleh Peacock terhadap sebuah pertunjukan bernama ludruk di Jawa Timur.</p>
<p align="justify">Maka Natal bisa jadi merupakan sebuah ritus jua. Bukan ritus modernisasi, tapi &#8211;menggunakan bahasa saya&#8211; merupakan ritus angan-angan, sebuah ritus yang menawarkan mimpi terutama pada anak-anak. Tradisi tentang salju dan pohon cemara, serta Sinterklaas dan kereta rusa kutubnya secara tidak langsung menawarkan sesuatu yang baru, sesuatu yang konkritnya tidak ada di Indonesia pada anak-anak. Imajinasi dan fantasi anak-anak mengenai <em>White Christmas</em> dengan salju yang turun dan menutupi pohon cemara sembari menghangatkan diri di depan perapian, menggantungkan kaus kaki menanti hadiah dari Sinterklaas, akan menghiasi masa kecilnya. Lebih lanjut, angan-angannya tentang Eropa dan negara-negara di belahan utara menjadi lebih berkembang, serta makin memperkaya imajinasinya.</p>
<p align="justify">Tak hanya sampai di situ, imajinasi yang tertanam semenjak kecil itu lama-kelamaan akan menjadi sebuah cita-cita. Keinginan untuk menapakkan kaki di tempat yang memiliki musim dingin dan hujan salju akan lahir. Tentu saja karena hal tersebut tidak ditemukan di Indonesia. Pada saat seperti ini Natal menjadi sebuah ritus angan-angan yang mempengaruhi imajinasi dan cita-cita anak di Indonesia.</p>
<p align="justify">I&#8217;d miilad said oua sana saida! Selamat Natal bagi yang merayakan!</p>
<p class="credit">* foto oleh D&#8217;Arcy Norman &#8211; www.flickr.com/photos/dnorman</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=rHoCAIIu_Z0:XXN-g8kfekI:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=rHoCAIIu_Z0:XXN-g8kfekI:dnMXMwOfBR0"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?d=dnMXMwOfBR0" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=rHoCAIIu_Z0:XXN-g8kfekI:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?i=rHoCAIIu_Z0:XXN-g8kfekI:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=rHoCAIIu_Z0:XXN-g8kfekI:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=rHoCAIIu_Z0:XXN-g8kfekI:7Q72WNTAKBA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?d=7Q72WNTAKBA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=rHoCAIIu_Z0:XXN-g8kfekI:F7zBnMyn0Lo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?i=rHoCAIIu_Z0:XXN-g8kfekI:F7zBnMyn0Lo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=rHoCAIIu_Z0:XXN-g8kfekI:YwkR-u9nhCs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?d=YwkR-u9nhCs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=rHoCAIIu_Z0:XXN-g8kfekI:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?i=rHoCAIIu_Z0:XXN-g8kfekI:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Gunawanrudydotcom/~4/rHoCAIIu_Z0" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunawanrudy.com/natal-indonesia-sebuah-ritus-angan-angan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://gunawanrudy.com/natal-indonesia-sebuah-ritus-angan-angan.html</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Kontinuitas Egoisme</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Gunawanrudydotcom/~3/oGXMoQ4cdGE/kontinuitas-egoisme.html</link>
		<comments>http://gunawanrudy.com/kontinuitas-egoisme.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Dec 2009 11:04:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gunawan Rudy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[alcohol]]></category>
		<category><![CDATA[anthropology]]></category>
		<category><![CDATA[dialogue]]></category>
		<category><![CDATA[election]]></category>
		<category><![CDATA[fallacy]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[politic]]></category>
		<category><![CDATA[power]]></category>
		<category><![CDATA[red wine]]></category>
		<category><![CDATA[satire]]></category>
		<category><![CDATA[social]]></category>
		<category><![CDATA[student]]></category>
		<category><![CDATA[university]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunawanrudy.com/?p=1732</guid>
		<description><![CDATA[demi kontinuitas perjamuan air kedamaian di kampus menjelang larut malam]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><img src="http://gunawanrudy.com/admin/wp-content/uploads/mendem-anggur-abang.jpg" alt="" />
<p align="justify">Tak luput dari ingatan, suatu waktu seorang kenalan pernah menasehati [atau memaki-maki] saya perihal keikutsertaan dalam pemilihan presiden dan anggota legislatif mahasiswa sebuah perguruan tinggi antah barantah, yang aneh lagi tidak membanggakan.</p>
<p align="justify"><em>&#8220;Kamu harus ikut nyoblos! Tunjukkan kepedulianmu terhadap kampus ini. Jadi mahasiswa kok apatis.&#8221;</em></p>
<p align="justify"><em>&#8220;Aku lebih kenal merk-merk rokok ketimbang nama-nama mereka.&#8221;</em></p>
<p align="justify"><em>&#8220;Kamu sih, gaulnya terkotak-kotak gitu. Mainnya cuma yang satu fakultas, atau paling satu jurusan&#8230; Itupun paling mahasiswa nggak bener tukang mabuk.&#8221;</em></p>
<p align="justify"><em>&#8220;Hahahaa&#8230; Jadi apa nanti itu presiden dan para anggota legislatif mahasiswa itu mau melawan kebijakan kampus yang mengkotak-kotakkan mahasiswa berdasarkan disiplin ilmu?&#8221;</em></p>
<p align="justify"><em>&#8220;Maksudmu apa?&#8221;</em></p>
<p align="justify"><em>&#8220;Kamu anak kedokteran gigi toh, bisa atau pernah nggak kamu coba ambil mata kuliah di psikologi, filsafat, atau ilmu budaya?&#8221;</em></p>
<p align="justify"><em>&#8220;Loh ngapain? Buat apa coba? Mending konsen ke studi yang jelas-jelas berkaitan, daripada buang-buang waktu dan ilmu buat ngambil mata kuliah yang nggak berkaitan&#8230; Masa calon dokter belajar gali-gali candi, Marxisme, atau sejarah revolusi industri, yang benar aja!&#8221;</em></p>
<p align="justify"><em>&#8220;Tuh kan, jadi siapa juga yang terkotak-kotak? Tapi ya two wrongs don&#8217;t make a right, dab.&#8221;</em></p>
<p align="justify"><em>&#8220;Bukan begitu, bos&#8230; Ya soal kuliah dan cita-cita pekerjaan dengan soal pergaulan ya beda.&#8221;</em></p>
<p align="justify"><em>&#8220;Ah sudahlah, beda frekuensi nih. Kita sudah terkotak-kotak sejak awal masuk perguruan tinggi di Indonesia. Bahkan sejak kita di sekolah menengah. Nggak usah harus mengikuti yang aku bilang, toh aku sudah salah sejak awal.&#8221;</em></p>
<p align="justify"><em>&#8220;Aneh-aneh aja. Jadi kalau gitu maumu sebenarnya apa tho?&#8221;</em></p>
<p align="justify"><em>&#8220;Makan siang dulu, sambil ngudut kretek.&#8221;</em></p>
<p align="justify">Entah saya berada dalam kotak atau tidak. Yang jelas, bisa dikatakan saya hanya memperjuangan kepentingan pribadi ketika memilih seorang calon pada sebuah pemilihan berskala fakultas.</p>
<p align="justify">Kepentingan pribadi demi kontinuitas perjamuan air kedamaian di kampus menjelang larut malam.</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=oGXMoQ4cdGE:BYKT9TfVZK4:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=oGXMoQ4cdGE:BYKT9TfVZK4:dnMXMwOfBR0"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?d=dnMXMwOfBR0" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=oGXMoQ4cdGE:BYKT9TfVZK4:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?i=oGXMoQ4cdGE:BYKT9TfVZK4:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=oGXMoQ4cdGE:BYKT9TfVZK4:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=oGXMoQ4cdGE:BYKT9TfVZK4:7Q72WNTAKBA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?d=7Q72WNTAKBA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=oGXMoQ4cdGE:BYKT9TfVZK4:F7zBnMyn0Lo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?i=oGXMoQ4cdGE:BYKT9TfVZK4:F7zBnMyn0Lo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=oGXMoQ4cdGE:BYKT9TfVZK4:YwkR-u9nhCs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?d=YwkR-u9nhCs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=oGXMoQ4cdGE:BYKT9TfVZK4:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?i=oGXMoQ4cdGE:BYKT9TfVZK4:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Gunawanrudydotcom/~4/oGXMoQ4cdGE" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunawanrudy.com/kontinuitas-egoisme.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://gunawanrudy.com/kontinuitas-egoisme.html</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Pesona Persona</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Gunawanrudydotcom/~3/pWNWojvebJE/pesona-persona.html</link>
		<comments>http://gunawanrudy.com/pesona-persona.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 11:40:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gunawan Rudy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[art]]></category>
		<category><![CDATA[design]]></category>
		<category><![CDATA[enchantment]]></category>
		<category><![CDATA[love]]></category>
		<category><![CDATA[photography]]></category>
		<category><![CDATA[sex]]></category>
		<category><![CDATA[struggle]]></category>
		<category><![CDATA[temptation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunawanrudy.com/?p=1555</guid>
		<description><![CDATA[bagai sebuah mantera, apapun yang mengelabui manusia]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify"><img style="margin:0;" src="http://gunawanrudy.com/admin/wp-content/uploads/moko-artgraphy.jpg" alt="" /></p>
<blockquote><p><strong>pe&middot;so&middot;na</strong> <em>n</em> <strong>1</strong> guna-guna; jampi; mantra (sihir): <em>dukun itu membuat (mengenakan) &#8212; kpd gadis itu</em>; <strong>2</strong> daya tarik; daya pikat: <em>senyum gadis itu penuh &#8211;</em>;<br />
<strong>me&middot;me&middot;so&middot;na</strong> <em>v</em> sangat menarik perhatian; mengagumkan: <em>tari-tarian Minang klasik dng pakaiannya yg cemerlang sungguh ~</em>;<br />
<strong>me&middot;me&middot;so&middot;nai</strong> <em>v</em> membuat (seseorang) supaya kena pesona;<br />
<strong>me&middot;me&middot;so&middot;na&middot;kan</strong> <em>v</em> <strong>1</strong> mengenakan pesona (kpd); menjampi; <strong>2</strong> mengagumkan; memukau: <em>tari-tarian Sunda modern telah ~ para penonton</em>;<br />
<strong>ter&middot;pe&middot;so&middot;na</strong> <em>v</em> <strong>1</strong> kena pesona (guna-guna); <strong>2</strong> terkena daya tarik; sangat terpikat (tergiur) hatinya; terkagum-kagum: <em>saya ~ oleh pemandangan seindah itu</em></p>
</blockquote>
<p align="justify">Paling tidak itulah sekelumit pengertian dari kata &#8220;pesona&#8221; menurut <a href="http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php" target="_blank">Kamus Besar Bahasa Indonesia</a> dalam jaringan. Setelah terdiam menatap potret di atas, saya jadi memahami bagaimana perasaan Ken Arok yang terpesona ketika melihat betis Ken Dedes. Betis yang menurut ramalan Begawan Lohgawe mengisyaratkan bahwa dari rahim perempuan itu kelak akan terlahir raja-raja tanah Jawa.</p>
<p align="justify">Ketika menyelami sajak Wystan Hugh Auden tentang &#8220;kita mesti saling mencintai, atau mati,&#8221; <a href="http://goenawanmohamad.com/" target="_blank">Goenawan Mohamad</a> pernah menulis, pesona&mdash;atau terpesona kepada yang berbeda, adalah bagaikan mencintai. Lanjutnya, &#8220;menyentuh apa yang terbatas dalam diri sendiri pada saat bersua dengan yang-lain, dan sadar bahwa bahasa tak bisa menangkap apa yang ada dalam diriku dan yang-lain itu.&#8221; Dan ya, saya terpesona dengan apa yang tak saya miliki itu.</p>
<p align="justify">Pesona dapat dimiliki oleh banyak hal, entah itu yang berupa fisik, perilaku, kata-kata, gagasan, fenomena. Pesona-pesona itu terlahir karena menarik, dahsyat, bergairah, memikat, layaknya mukjizat, serta sifat adi dan maha lainnya. Kadang ada hasrat manusia untuk memiliki berbicara di sini. Pesona lantas merangsang kekurangan, menyuntikkan dorongan agar terus memiliki, hingga membawa pada keterikatan.</p>
<p align="justify">Dalam dunia patriarkis, sering digadang-gadangkan tiga racun dunia: harta, tahta, dan wanita. Jangan sampai tergoda oleh pesonanya, begitu nasihat klasik yang selalu diwariskan dari ayah ke anak. Namun nampaknya pesona seperti yang dilukiskan dalam nasihat tersebut juga ada berupa&mdash;atau dalam bentuk pandangan dan nasihat itu sendiri. Ada pada bagaimana seseorang terpesona dengan indahnya kalimat nasihat tersebut, yang lantas mengikutinya, entah menelaah kembali atau atau melepaskan segalanya pada pesona.</p>
<p align="right"><em>sparkling angel I believed // you were my saviour in my time of need<br />
blinded by faith I couldn&#8217;t hear // all the whispers, the warnings so clear</em></p>
<p align="justify">Pesona, seperti sihir, ujar Plato, ialah apapun yang mengelabui manusia&mdash;sebuah mantera yang memikat.</p>
<p class="credit">* <a href="http://www.moko.cc/post/1/81125.html" target="_blank">Temptation II</a>&mdash;photograph and poetry&mdash;by <a href="http://www.moko.cc/" target="_blank">MOKO</a></p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=pWNWojvebJE:RL8baiuImiw:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=pWNWojvebJE:RL8baiuImiw:dnMXMwOfBR0"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?d=dnMXMwOfBR0" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=pWNWojvebJE:RL8baiuImiw:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?i=pWNWojvebJE:RL8baiuImiw:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=pWNWojvebJE:RL8baiuImiw:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=pWNWojvebJE:RL8baiuImiw:7Q72WNTAKBA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?d=7Q72WNTAKBA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=pWNWojvebJE:RL8baiuImiw:F7zBnMyn0Lo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?i=pWNWojvebJE:RL8baiuImiw:F7zBnMyn0Lo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=pWNWojvebJE:RL8baiuImiw:YwkR-u9nhCs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?d=YwkR-u9nhCs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=pWNWojvebJE:RL8baiuImiw:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?i=pWNWojvebJE:RL8baiuImiw:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Gunawanrudydotcom/~4/pWNWojvebJE" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunawanrudy.com/pesona-persona.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://gunawanrudy.com/pesona-persona.html</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Tentang Pengorbanan</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Gunawanrudydotcom/~3/YNIB0tkQ2Mw/tentang-pengorbanan.html</link>
		<comments>http://gunawanrudy.com/tentang-pengorbanan.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 16:23:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gunawan Rudy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[anthropology]]></category>
		<category><![CDATA[belief]]></category>
		<category><![CDATA[buddha]]></category>
		<category><![CDATA[christian]]></category>
		<category><![CDATA[history]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[jew]]></category>
		<category><![CDATA[religion]]></category>
		<category><![CDATA[sacrifice]]></category>
		<category><![CDATA[social]]></category>
		<category><![CDATA[struggle]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunawanrudy.com/?p=1519</guid>
		<description><![CDATA[sebuah fenomena yang tak lekang dari sejarah manusia]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Pada suku-suku di Pegunungan Tengah Papua&#8211;seperti suku Dani, Yali, dan lain-lain&#8211;mengorbankan anggota tubuh ketika ada angota famili yang meninggal dunia adalah sebuah tradisi yang dipertahankan beratus-ratus tahun lamanya. Pengorbanan ini biasanya berupa pemotongan jari. Potong jari ini hanya dilakukan jika famili terdekat seperti suami, istri, ayah, ibu, anak, atau saudara kandung meninggal dunia.</p>
<p align="justify"><em>&#8220;Wene opakima dapulik welaikarek mekehasik.&#8221;</em></p>
<p align="justify">Pedoman dasar hidup bersama dalam satu keluarga, satu fam/marga, satu <em>honai</em> (rumah), satu suku, satu leluhur, satu bahasa, satu sejarah/asal-muasal, dan sebagainya (Yulianus Joli Hisage, 2005). Itulah yang mendasari pengorbanan yang mereka lakukan. Bagi warna Pegunungan Tengah yang sangat menjunjung tinggir arti keluarga, pengorbanan ini berarti pengungkapan rasa kepedihan yang mendalam dan juga sekaligus sebagai upaya untuk mencegah terulang kembalinya malapetaka yang telah merenggut nyawa familinya tersebut.</p>
<p align="justify">Anand Krishna pernah berujar bahwa kesadaran sama halnya dengan merelakan satu anggota badan untuk menyelamatkan seluruh badan kita. Jika merelakan sebagian anggota tubuh kita adalah sebuah bentuk pengorbanan, apakah pengorbanan itu perlu?</p>
<p align="justify">Tentu kita akan kembali ke pertanyaan: &#8220;untuk apa sebenarnya kita berkorban?&#8221;</p>
<p align="justify">Para brahmana dan guru spiritual di India pada zaman dahulu selalu menceritakan sebuah kisah mengenai pengorbanan. Bahkan Gautama Buddha pun pernah berkhotbah mengenai kisah ini.</p>
<p align="justify">Dikisahkan bahwa seorang brahmana tersesat di gunung bersalju selama berhari-hari, tanpa makanan dan minuman. Di tengah udara dingin yang menusuk, ia jatuh pingsan. Seekor beruang, rubah, dan kelinci melihat sang brahmana tergelak di tanah dan memutuskan untuk menolongnya dengan mencarikan makanan. Si beruang pergi ke sungai dan menangkap ikan. Si rubah menggali di salju dan menemukan buah-buahan dan dedaunan yang bisa dimakan. Si kelinci mencari ke segala arah, namun kembali dengan tangan hampa.</p>
<p align="justify">Setelah sang brahmana tersadar dari pingsannya, si kelinci memintanya agar membuat api. Ketika api telah membesar, si kelinci menyadari bahwa makanan yang dibawa oleh si beruang dan rubah tentu tidak cukup agar sang brahmana dapat bertahan hidup. Maka akhirnya si kelinci melemparkan dirinya ke dalam api sehingga tubuhnya dapat dimakan oleh sang brahmana.</p>
<p align="justify">Sang brahmana akhirnya terguncang dengan peristiwa tersebut, ia menangis di depan tubuh si kelinci. Dikatakan bahwa roh si kelinci terbang ke langit dan mendapat tempat yang mulia. Sang brahmana ketika turun gunung akhirnya mencapai pencerahan karena peristiwa tersebut.</p>
<p align="justify"><img src="http://gunawanrudy.com/admin/wp-content/uploads/pengorbanan-abraham.jpg" align="right" alt="" />Dan hari ini, umat Islam sedunia merayakan hari raya Idul Adha. Sebuah hari raya di mana diadakannya ritus <em>qurban</em> (kurban), yaitu menyembelih hewan ternak seperti sapi, kambing, atau domba yang akan dibagikan kepada mereka yang berhak. Tradisi kurban ini merujuk pada peristiwa ujian iman dan pengorbanan putra Abraham (Ibrahim).</p>
<p align="justify">Tuhan bersabda kepada Abraham, &#8220;ambillah putramu itu, yang engkau kasihi. Pergilah ke tanah Moria dan persembahkan dia di sana sebagai korban bakaranmu kepada-Ku.&#8221;</p>
<p align="justify">Abraham tentu berada dalam suasana hati yang gundah, ketika harus mengorbankan putra kesayangannya. Bagaimana mungkin seorang ayah rela membunuh darah dagingnya sendiri. Namun akhirnya karena imannya yang kuat dan diperkuat pula dengan kerelaan dan kepatuhan dari putranya tersebut, maka mantaplah tekad Abraham untuk mengorbankan anak kesayangannya.</p>
<p align="justify">Sesaat sebelum belati Abraham menyentuh leher putranya, Tuhan menggantikan putra Abraham dengan seekor domba jantan. Sehingga domba itulah yang akhirnya disembelih oleh Abraham. Sang putra Abraham yang hendak dikorbankan, Ismael&#8211;dalam penafsiran Islam&#8211;atau Ishak&#8211;menurut kepercayaan Yahudi dan Kristen&#8211;luput dari pengorbanan dan lantas tumbuh dewasa menjadi tokoh besar seperti ayahnya.</p>
<p align="justify">Peristiwa adalah salah satu bentuk ujian terberat bagi manusia&#8211;tentu tanpa menyebutkan pengorbanan Kristus di tiang salib&#8211;ketika Tuhan memerintahkannya untuk membunuh anak kandungnya sendiri. Abraham dan putranya rela mengorbankan diri demi perintah Tuhan, dan akhirnya mereka mendapat ganjaran atas kuatnya iman.</p>
<p align="justify">Sepanjang sejarah kehidupan manusia, di dalam kebudayaan manapun, pengorbanan&#8211;terlebih lagi terkait ranah religi&#8211;hampir tidak pernah absen. Apapun bentuknya. Tak hanya pengorbanan berbentuk fisik atau yang konkrit dan empiris saja, tapi bisa juga berupa yang abstrak seperti perilaku, waktu, atau pikiran. Dan, setiap saat kita selalu berkorban. Kita mengorbankan hal-hal yang kita pikir kurang jika kita mendapatkan yang lebih.</p>
<p align="justify">Dan kita akan kembali lagi ke pertanyaan: &#8220;untuk apa sebenarnya kita berkorban?&#8221;</p>
<p align="justify">Seperti yang telah dituturkan sebelumnya, warga Pegunungan Tengah Papua mengorbankan jari mereka sebagai rasa duka yang mendalam dan pengharapan agar tragedi serupa yang menyebabkan nyawa familinya hilang tidak terulang lagi. Si kelinci dalam kisah brahmana mengorbankan dirinya agar sang brahmana tidak mati kelaparan di gunung. Abraham mengorbankan putranya dan sang putra rela mengorbankan dirinya adalah karena perintah Tuhan.</p>
<p align="justify">Untuk apa sebenarnya kita berkorban? Ya, ada banyak alasan, seperti kisah dan peristiwa sebelumnya. Namun jika boleh disederhanakan, <em>jer basuki mawa beya</em>, semua keberhasilan membutuhkan pengorbanan. Maksudnya adalah pengorbanan adalah untuk keberhasilan. Entah keberhasilan diri sendiri, keberhasilan orang lain, keberhasilan banyak orang, dan lain-lain.</p>
<p align="justify">Ujar Anand Krishna lagi, pengorbanan membutuhkan pelayanan. Maka lakukan pelayanan terbaik yang bisa dilakukan, sebuah puncak tindakan pelayanan. Di hari ini, membeli hewan ternak untuk dikorbankan, mengawasi prosesnya hingga selesai, dan melayani mereka yang berhak dengan sepenuhnya. Tidak lantas menikmati sendiri apa yang dikorbankan. Selain atas perintah Tuhan, tentu pengorbanan hari ini adalah untuk orang banyak, untuk mereka yang berhak.</p>
<p align="justify">Pengorbanan yang dikatakan pengorbanan adalah <em>kada mambuang taruh</em>, yakni pengorbanan yang tidak sia-sia. Selamat Idul Adha 1430 H.</p>
<p class="credit">* lukisan pengorbanan Abraham oleh Rembrandt van Rijn, 1634</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=YNIB0tkQ2Mw:tpJTAnPiHFA:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=YNIB0tkQ2Mw:tpJTAnPiHFA:dnMXMwOfBR0"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?d=dnMXMwOfBR0" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=YNIB0tkQ2Mw:tpJTAnPiHFA:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?i=YNIB0tkQ2Mw:tpJTAnPiHFA:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=YNIB0tkQ2Mw:tpJTAnPiHFA:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=YNIB0tkQ2Mw:tpJTAnPiHFA:7Q72WNTAKBA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?d=7Q72WNTAKBA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=YNIB0tkQ2Mw:tpJTAnPiHFA:F7zBnMyn0Lo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?i=YNIB0tkQ2Mw:tpJTAnPiHFA:F7zBnMyn0Lo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=YNIB0tkQ2Mw:tpJTAnPiHFA:YwkR-u9nhCs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?d=YwkR-u9nhCs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=YNIB0tkQ2Mw:tpJTAnPiHFA:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?i=YNIB0tkQ2Mw:tpJTAnPiHFA:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Gunawanrudydotcom/~4/YNIB0tkQ2Mw" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunawanrudy.com/tentang-pengorbanan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://gunawanrudy.com/tentang-pengorbanan.html</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Sesat-Pikir Logika Dalam Politik</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Gunawanrudydotcom/~3/8w6PWt2aFP8/sesat-pikir-logika-dalam-politik.html</link>
		<comments>http://gunawanrudy.com/sesat-pikir-logika-dalam-politik.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Apr 2009 16:38:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gunawan Rudy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[cyberworld]]></category>
		<category><![CDATA[dialogue]]></category>
		<category><![CDATA[discussion]]></category>
		<category><![CDATA[fallacy]]></category>
		<category><![CDATA[philosophy]]></category>
		<category><![CDATA[politic]]></category>
		<category><![CDATA[social]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunawanrudy.com/?p=1040</guid>
		<description><![CDATA[Logical fallacy atau sesat-pikir logis adalah suatu komponen dalam argumen, muncul dalam statement klaim yang mengacaukan logika. Sesat-pikir logis menghasilkan kesimpulan yang menyesatkan karena klaim argumennya tidak disusun dengan logika yang benar. Mudahkah menghindari sesat-pikir logika? Tidak. Justru itu sangat susah. Saya pun masih banyak melakukan kesalahan berlogika dan penyusunan argumen, baik disengaja (?) atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Logical fallacy atau sesat-pikir logis adalah suatu komponen dalam argumen, muncul dalam statement klaim yang mengacaukan logika. Sesat-pikir logis menghasilkan kesimpulan yang menyesatkan karena klaim argumennya tidak disusun dengan logika yang benar.</p>
<p align="justify">Mudahkah menghindari sesat-pikir logika? Tidak. Justru itu sangat susah. Saya pun masih banyak melakukan kesalahan berlogika dan penyusunan argumen, baik disengaja (?) atau tidak.</p>
<p align="center"><img class="imgpost" src="http://i41.tinypic.com/rvaeyd.jpg" alt="" /></p>
<p align="justify">Seringkali sesat-pikir logika dilakukan oleh orang-orang yang kurang memahami tentang penalaran logis, orang yang tidak bisa menempatkan dirinya pada posisi orang lain, hingga orang-orang yang berpendapat bahwa ketika pendapat diserang maka egonya diserang. Golongan yang pertama ini disebut Paralogisme, yaitu pelaku sesat-pikir logis yang tidak menyadari sesat-pikir yang dilakukannya. Namun ada juga sesat-pikir logis yang disamarkan menjadi silat lidah, yang dilakukan oleh orang-orang yang berniat memperdaya, yang disebut Sofisme.</p>
<p align="justify">Sesat-pikir, terutama dalam politik, akan sangat efektif digunakan dalam provokasi, menggiring opini publik, debat perencanaan undang-undang, pembunuhan karakter, hingga menghindari jerat hukum. Memang, dengan memanfaatkan sesat-pikir logis sebagai silat lidah kita dapat memenangkan suatu diskusi, namun itu menjauhkan kita dari esensi permasalahan.</p>
<p align="justify">Di sini saya menuliskan beberapa logical fallacy atau sesat-pikir logika yang sering ditemukan dalam kampanye, debat, maupun diskusi politik&#8211;seperti halnya di <a href="http://politikana.com/" title="Politikana" target="_blank">Politikana</a>. Masih banyak sesat-pikir logika yang biasa ditemukan dalam politik yang ingin saya tuliskan, ini hanya sekelumit garis besarnya saja.</p>
<p><span id="more-1040"></span></p>
<p align="justify">Contoh yang saya berikan, walaupun terdapat nama tokoh atau unsur politik yang nyata (tidak fiktif), namun sebagian besarnya hanya karangan saya sendiri saja.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">***</p>
<p>&nbsp;</p>
<h3>Argumentum ad Hominem</h3>
<p align="justify">Argumentum ad Hominem adalah bentuk argumen yang tidak ditujukan untuk menangkal argumen yang disampaikan oleh orang lain tetapi justru menuju pada pribadi si pemberi argumen itu sendiri. Argumen itu akan menjadi sesat-pikir ketika ia ditujukan menyerang pribadi lawan demi merusak argumen lawan. Kalimat populernya adalah: shoot the messenger, not the message.</p>
<p align="justify">Ada banyak bentuk ad hominem, namun yang paling umum dan dijadikan contoh di sini adalah ad hominem cercaan. Ad hominem termasuk dalah satu sesat-pikir yang paling sering dijumpai dalam debat dan diskusi politik, yang biasanya akan membawa topik ke dalam debat kusir yang tak ada ujung pangkal.</p>
<p align="justify">Catatan Tambahan: Ad hominem tidak sama dengan penghinaan, celaan, atau cercaan. Sejatinya, ad hominem ada dalam premis dan pengambilan kesimpulan berupa logika yang langsung mengarahkan argumennya pada seseorang dibalik suatu argumen. Dan tendensinya bisa saja bukan merupakan penghinaan, namun hanya mengkaitkan dua hal yang tidak berhubungan sama sekali. Sederhananya, bisa dikatakan ad hominem jika itu berupa premis dan kesimpulan, untuk menjatuhkan argumen lawan.</p>
<blockquote>
<p align="justify">Contoh:</p>
<p align="justify">Kepada anggota dewan yang terhormat, harus saya ingatkan bahwa ketika Bung anggota Fraksi Merdeka yang menanyai saya ini memegang jabatan, tingkat pengangguran berlipat ganda, inflasi terus-menerus melonjak, dan harga sembako naik drastis. Dan Bung ini masih berani menanyai saya tentang masa depan proyek sekolah gratis ini.</p>
<p align="justify"><em>(cara yang berbelit-belit untuk mengatakan &#8220;no comment&#8221;, namun juga sekaligus menyerang lawan)</em></p>
</blockquote>
<h3>Red Herring</h3>
<p align="justify">Red Herring adalah argumen yang tak ada sangkut-pautnya dengan argumen lawan, yang digunakan untuk mendistraksi atau mengalihkan perhatian orang dari perkara yang sedang dibahas, serta menggiring menuju kesimpulan yang berbeda.</p>
<p align="justify">Sesat-pikir ini biasanya akan keluar jika seseorang tengah terdesak. Ia akan langsung melemparkan umpannya ke topik lain, di mana topik lain ini sukar dihindari untuk tidak dibahas. Itu karena biasanya pemilihan topik lain itu &#8216;baunya&#8217; cukup kuat seperti perumpamaan ikan merah (red herring) atau terasi bagi orang Indonesia (meminjam istilah Herman Saksono), antara lain topik yang aktual atau isu yang cukup dengan lawan debat atau audiens.</p>
<blockquote>
<p align="justify">Contoh:</p>
<p align="justify">Andi: Polisi harusnya menindak tegas para aktivis lingkungan yang berdemo hingga menyebabkan macet di beberapa ruas jalan.</p>
<p align="justify">Badu: Anda merasa makin panas dan gerah saat macet kan? Kita harus peduli dengan isu global warming itu, bagaimana opini Anda?</p>
<p align="justify"><em>(ketika Andi mengemukakan opininya tentang global warming, maka jatuhlah ia ke dalam topik baru)</em></p>
</blockquote>
<h3>Straw Man</h3>
<p align="justify">Straw Man yaitu argumen yang membuat sebuah skenario yang dengan suatu imej yang menyesatkan, kemudian menyerangnya. Untuk membuat &#8216;manusia jerami&#8217; (straw man) adalah dengan membuat ilusi telah menyangkal suatu proposisi dengan mensubstitusinya dengan sesuatu yang mirip namun dangkal dan mudah diserang, tanpa pernah benar-benar menyangkal argumen lawan yang sebenarnya.</p>
<p align="justify">Seperti namanya, manusia jerami adalah sasaran yang empuk dan mudah untuk diserang. Menyerang manusia jerami yang diciptakan dari manipulasi argumen lawan akan membuat argumen diri sendiri terlihat kuat dan bagus. Pada umumnya, selain terdapat dalam kampanye, manusia jerami ini akan dikeluarkan setelah lawan selesai bicara mengenai perkara yang dibahas.</p>
<blockquote>
<p align="justify">Contoh:</p>
<p align="justify">Tono: Kita harus mengendurkan lagi status hukum ganja.</p>
<p align="justify">Rudi: Tidak. Obat-obatan terlarang itu akan merusak generasi muda kita.</p>
<p align="justify"><em>(kalimat &#8216;obat-obatan terlarang yang merusak&#8217; adalah manusia jerami untuk menggantikan menyerang &#8216;ganja&#8217;)</em></p>
</blockquote>
<h3>Guilt by Association</h3>
<p align="justify">Guilt by Association berciri-ciri tipe generalisasi umum&#8211;yang terlalu cepat mengambil kesimpulan&#8211;yang meyakini bahwa sifat-sifat suatu hal berasal dari sifat-sifat suatu hal lain. Sesat-pikir ini bisa berupa ad hominem, biasanya dengan menghubungkan argumen dengan sesuatu hal diluar argumen itu, kemudian menyerang si pembuat argumen.</p>
<p align="justify">Ini adalah bentuk ekstrim dari majas Totum pro parte yang mana berupa seolah-olah pengungkapan keseluruhan objek padahal yang dimaksud hanya sebagian. Intinya adalah mencari kesalahan seseorang dari apa saja yang berkaitan dengannya, lalu jadikan hal tersebut argumen untuk menjatuhkannya.</p>
<blockquote>
<p align="justify">Contoh:</p>
<p align="justify">Gusdur banyak bergaul dengan golongan sekuler. Golongan sekuler itu kebanyakan berasal dari Amerika. Pasti Gusdur adalah seorang liberal dan antek-antek Amerika.</p>
<p align="justify"><em>(lihat bagaimana dengan mudah menggeneralisasikan seseorang berdasarkan hubungannya dengan hal lain)</em></p>
</blockquote>
<h3>Perfect Solution Fallacy</h3>
<p align="justify">Perfect Solution Fallacy adalah sesat-pikir yang terjadi ketika suatu argumen berasumsi bahwa sebuah solusi sempurna itu ada, dan sebuah solusi harus ditolak karena sebagian dari masalah yang ditangani akan tetap ada setelah solusi tersebut diterapkan.</p>
<p align="justify">Asumsinya, jika tidak ada solusi sempurna, tidak akan ada solusi yang bertahan lama secara politik setelah diimplementasi. Tetap saja, banyak orang tergiur oleh ide solusi sempurna, mungkin karena itu sangat mudah untuk dibayangkan.</p>
<blockquote>
<p align="justify">Contoh:</p>
<p align="justify">Penerapan UU Pornografi ini tidak akan berjalan dengan baik. Pemerkosaan akan tetap terjadi.</p>
<p align="justify"><em>(argumen yang tidak memperhatikan penurunan tingkat kriminalitas asusila)</em></p>
</blockquote>
<h3>Argumentum ad Verecundiam</h3>
<p align="justify">Argumentum ad Verecundiam terjadi ketika mengacu pada seseorang yang dianggap positif sebagai pakar atau ahli sehingga apa yang diucapkannya adalah sebuah kebenaran.</p>
<p align="justify">Otoritas kepakaran seseorang yang mengucapkan suatu hal tersebut kemudian otomatis diakui sebagai sesuatu yang pasti benar, meskipun otoritas itu tidak relevan</p>
<blockquote>
<p align="justify">Contoh:</p>
<p align="justify">Banyak ahli mengakui kapitalisme itu telah runtuh dan banyak boroknya. Jadi mana yang sebaiknya saya percaya, para ahli terkemuka itu atau Anda yang kuliah saja belum lulus?</p>
<p align="justify"><em>(tembakan plus ad hominem, dan ya, bisa juga menambahkan sederet nama orang terkenal dalam argumennya)</em></p>
</blockquote>
<h3>Poisoning the Well</h3>
<p align="justify">Poisoning the Well adalah sesat-pikir yang mencegah argumen atau balasan dari lawan dengan cara membuat lawan dianggap tercela dengan berbagai tuduhan bahkan sebelum lawan sempat bicara.</p>
<p align="justify">Teknik meracuni sumur ini lebih licik dari sekadar mencela lawan karena akan membuatnya menghina diri sendiri karena menyambut argumen yang telah diracuni tersebut.</p>
<blockquote>
<p align="justify">Contoh:</p>
<p align="justify">Kami menduga Sintong akan melakukan negative campaign untuk menjatuhkan Gerindra.</p>
<p align="justify"><em>(dan apa yang Sintong tulis tentang Prabowo dalam bukunya akan dianggap sebagai upaya menjatuhkan Gerindra)</em></p>
</blockquote>
<h3>Argumentum ad Temperantiam</h3>
<p align="justify">Argumentum ad Temperantiam adalah kesesatan yang menyatakan bahwa pandangan pertengahan adalah sesuatu yang benar tanpa peduli nilai-nilai lainnya. Serta juga menganggap jalan tengah sebagai pertanda kekuatan suatu posisi.</p>
<p align="justify">Meskipun dapat menjadi nasihat yang bagus, namun kesesatannya disebabkan karena ia tak punya dasar yang kuat dalam argumen karena selalu berpatokan bahwa jalan tengah adalah yang benar. Penggunaannya kadang dengan membuat-buat posisi lain sebagai posisi yang ekstrim.</p>
<blockquote>
<p align="justify">Contoh:</p>
<p align="justify">Daripada mendukung komunisme atau mendukung kapitalisme, lebih baik ideologi Pancasila yang merupakan jalan tengah keduanya.</p>
<p align="justify"><em>(sedikitpun tidak menjabarkan kelebihan dan kekurangan masing-masing sistem)</em></p>
</blockquote>
<h3>Ipse-dixitism</h3>
<p align="justify">Ipse-dixitism adalah argumen dengan dasar keyakinan yang dogmatis. Seseorang yang menggunakan Ipse-dixitism mengasumsikan secara sepihak premisnya sebagai sesuatu yang disepakati, padahal tidak demikian.</p>
<p align="justify">Premis yang diajukan dalam argumen seolah-olah merupakan fakta mutlak dan telah disepakati bersama kebenarannya, padahal itu hanya dipegang oleh pemberi argumen, tidak bagi lawannya. Sesat-pikir ini akan berujung pada debat kusir.</p>
<blockquote>
<p align="justify">Contoh:</p>
<p align="justify">Ideologi liberalis dan kapitalis telah terbukti gagal dan hanya menyengsarakan rakyat, karena itu harus diganti dengan sistem spiritual.</p>
<p align="justify"><em>(ideologi yang gagal itu belum disepakati lawan bicaranya, jadi bagaimana langsung dapat menggulirkan solusi?)</em></p>
</blockquote>
<h3>Proof by Assertion</h3>
<p align="justify">Proof by Assertion adalah kesesatan dimana suatu argumen terus-menerus diulang tanpa mengacuhkan kontradiksi terhadapnya. Kadang ini diulang hingga diskusi pun jenuh, dan pada titik ini akan dianggap sebagai fakta karena belum dikontradiksi.</p>
<p align="justify">Sesat-pikir ini sering digunakan sebagai retorika oleh politikus, atau dalam debat sebagai usaha menggagalkan penetapan suatu undang-undang dengan pidato yang amat panjang dan tak habis-habis. Dalam bentuk yang lebih ekstrim lagi, juga bisa menjadi salah satu bentuk pencucian otak. Penggunaannya dapat diamati dari penggunaan slogan politik yang terus-menerus diulang.</p>
<blockquote>
<p align="justify">Contoh:</p>
<p align="justify">Tapi Bapak Menteri, seperti yang telah saya jelaskan selama dua bulan terakhir ini, tak mungkin kita memotong anggaran biaya departemen ini. Tiap posisi dan jabatan di dalamnya amat penting bagi efesiensi kerja dan prestasi departemen. Lihat saja office boy yang selalu mengantarkan kopi, atau mereka yang memunguti penjepit kertas di ruang kerja, maka blablablablablaaa&#8230; [dan seterusnya, berbelit-belit]</p>
<p align="justify"><em>(selama dua bulan cuek terhadap argumen balasan dan terus mengulang perkara yang sama)</em></p>
</blockquote>
<h3>Two Wrongs Make a Right</h3>
<p align="justify">Two Wrongs Make a Right adalah kesesatan yang terjadi ketika diasumsi bahwa jika dilakukan suatu hal yang salah, tindakan salah yang lain akan menyeimbanginya.</p>
<p align="justify">Sesat-pikir ini biasa digunakan untuk menggagalkan tuduhan dengan menyerang tuduhan lain yang juga dianggap salah.</p>
<blockquote>
<p align="justify">Contoh:</p>
<p align="justify">Dedi: Soeharto merebut kekuasaan dari Bung Karno dan akhirnya ia berkuasa dengan tangan besi.</p>
<p align="justify">Amir: Tapi Soekarno juga mengangkat dirinya sebagai presiden seumur hidup!</p>
<p align="justify"><em>(ya, tapi itu bukan berarti apa yang dilakukan Soeharto itu benar)</em></p>
</blockquote>
<h3>Argumentum ad Novitam</h3>
<p align="justify">Argumentum ad Novitam muncul ketika sesuatu hal yang baru dapat dikatakan benar dan lebih baik, dengan mengasumsikan penggunaan hal yang baru berbanding lurus dengan kemajuan zaman dan sama dengan kemajuan baru yang lebih baik.</p>
<p align="justify">Sesat-pikir ini selalu menjual kata &#8216;baru&#8217;, dengan menyerang suatu hal yang lama sebagai hal yang gagal dan harus diganti dengan yang lebih baru.</p>
<blockquote>
<p align="justify">Contoh:</p>
<p align="justify">Mengganti golongan tua dengan golongan muda serta wajah baru di parlemen akan membuat negara ini lebih baik.</p>
<p align="justify"><em>(tapi masalah seperti korupsi bukan perkara tua atau muda)</em></p>
</blockquote>
<h3>Argumentum ad Antiquitam</h3>
<p align="justify">Kebalikan dari Argumentum ad Novitatem, ketika sesuatu benar dan lebih baik karena merupakan sesuatu yang sudah dipercaya dan digunakan sejak lama. Argumen ini adalah favorit bagi golongan konservatif. Nilai-nilai lama pasti benar. Patriotisme, kejayaan negara, dan harga diri sejak puluhan tahun silam.</p>
<p align="justify">Sederhananya, sesat-pikir ini adalah kebiasaan malas berpikir. Dengan selalu berpatokan bahwa cara lama telah dijalankan bertahun-tahun, maka itu dianggap sesuatu yang pasti benar.</p>
<blockquote>
<p align="justify">Contoh:</p>
<p align="justify">PDI-Perjuangan telah memperjuangkan nasib wong cilik sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu, maka pilihlah moncong putih.</p>
<p align="justify"><em>(berpuluh-puluh tahun berjuang, lalu apa hasilnya?)</em></p>
</blockquote>
<h3>False Dichotomy</h3>
<p align="justify">False Dichotomy atau False Dilemma terjadi apabila argumen hanya melibatkan dua opsi, yang seringkali berupa dua titik ekstrim dari beberapa kemungkinan, di mana masih ada cara lain namun tidak disertakan ke dalam argumen.</p>
<p align="justify">Biasanya sesat-pikir ini menyempitkan opsi menjadi dua saja, walaupun masih ada opsi lain. Bahkan kadang-kadang menyempitkan opsi menjadi satu, sehingga seolah-olah mau tidak mau harus menyetujuinya.</p>
<blockquote>
<p align="justify">Contoh:</p>
<p align="justify">Sistem pendidikan yang fraksi kami ajukan harus segera disahkan dan dilaksanakan, jika tidak, kemerosotan moral pasti akan menghinggapi generasi muda kita.</p>
<p align="justify"><em>(opsi lainnya tidak disertakan sehingga membuat argumennya mau tidak mau harus disetujui)</em></p>
</blockquote>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">***</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="justify"><strong>CATATAN:</strong><br />
Artikel yang hanya memuat sesat-pikir logika yang sering dijumpai dalam politik (kampanye, debat dan diskusi politik, dan sebagainya) ini khusus <a href="http://politikana.com/profil/gunawanrudy" title="gunawanrudy" target="_blank">saya</a> tulis untuk <a href="http://politikana.com/" title="Politikana" target="_blank">Politikana</a> dengan judul <a href="http://politikana.com/baca/2009/04/09/sesat-pikir-logika-dalam-politik" title="Sesat-Pikir Logika Dalam Politik" target="_blank">Sesat-Pikir Logika Dalam Politik</a>. Dan dirilis ulang di blog ini hanya sebagai dokumentasi saja. Segala perubahan dan pengembangan hanya dilakukan pada artikel yang sama di Politikana, tidak di blog ini. Namun walaupun begitu, komentar dan tanggapan di blog ini akan tetap dibuka dan berjalan seperti biasanya. Terima kasih atas perhatiannya. Salam!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="font-size:11px;"><em>~ foto <a href="http://denis2.deviantart.com/art/Debate-44961626" title="Debate..." target="_blank">debat</a> oleh <a href="http://denis2.deviantart.com/" title="Denis Grzetic" target="_blank">Denis Grzetic</a>.</em></p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=8w6PWt2aFP8:2XLL7cimlhY:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=8w6PWt2aFP8:2XLL7cimlhY:dnMXMwOfBR0"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?d=dnMXMwOfBR0" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=8w6PWt2aFP8:2XLL7cimlhY:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?i=8w6PWt2aFP8:2XLL7cimlhY:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=8w6PWt2aFP8:2XLL7cimlhY:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=8w6PWt2aFP8:2XLL7cimlhY:7Q72WNTAKBA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?d=7Q72WNTAKBA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=8w6PWt2aFP8:2XLL7cimlhY:F7zBnMyn0Lo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?i=8w6PWt2aFP8:2XLL7cimlhY:F7zBnMyn0Lo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=8w6PWt2aFP8:2XLL7cimlhY:YwkR-u9nhCs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?d=YwkR-u9nhCs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=8w6PWt2aFP8:2XLL7cimlhY:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?i=8w6PWt2aFP8:2XLL7cimlhY:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Gunawanrudydotcom/~4/8w6PWt2aFP8" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunawanrudy.com/sesat-pikir-logika-dalam-politik.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>60</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://gunawanrudy.com/sesat-pikir-logika-dalam-politik.html</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Pembenaran Di Dalam Belukar</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Gunawanrudydotcom/~3/rjpUHL-MIsI/pembenaran-di-dalam-belukar.html</link>
		<comments>http://gunawanrudy.com/pembenaran-di-dalam-belukar.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Mar 2009 11:54:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gunawan Rudy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[history]]></category>
		<category><![CDATA[japanese]]></category>
		<category><![CDATA[philosophy]]></category>
		<category><![CDATA[psychology]]></category>
		<category><![CDATA[struggle]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunawanrudy.com/?p=987</guid>
		<description><![CDATA[Sampai di mana tingkat subjektivitas manusia dalam menyampaikan kebenaran lewat pembenarannya? Terlepas dari skizofrenia yang diderita serta gaya cerita yang berbeda setiap kali menulis, Ryunosuke Akutagawa mempertanyakan kemampuan atau keinginan manusia untuk menanggapi dan menyampaikan kenyataan yang objektif tersebut lewat cerita pendek karyanya, Yabu no Naka, Di Dalam Belukar. Cerita pendek Akutagawa ini berisi tujuh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Sampai di mana tingkat subjektivitas manusia dalam menyampaikan kebenaran lewat pembenarannya? Terlepas dari skizofrenia yang diderita serta gaya cerita yang berbeda setiap kali menulis, Ryunosuke Akutagawa mempertanyakan kemampuan atau keinginan manusia untuk menanggapi dan menyampaikan kenyataan yang objektif tersebut lewat cerita pendek karyanya, Yabu no Naka, Di Dalam Belukar.</p>
<p align="center"><img src="http://i30.photobucket.com/albums/c331/gunawanrudy/Rashomon_1.jpg" alt="" class="imgpost" /></p>
<p align="justify">Cerita pendek Akutagawa ini berisi tujuh kesaksian yang berbeda mengenai kasus pembunuhan seorang samurai, Kanazawa no Takehiro, yang jasadnya ditemukan di hutan bambu pinggiran kota Kyoto. Tiap kesaksian mengklarifikasi  namun juga mengaburkan apa yang diketahui pembaca tentang peristiwa pembunuhan tersebut, hingga pada akhirnya menciptakan sebuah gambaran yang rumit dan penuh kontradiksi tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi.</p>
<p><span id="more-987"></span></p>
<p align="justify">Kisah ini bermula dengan empat laporan dan kesaksian minor dari seorang penebang kayu, rahib Buddha, agen polisi, dan wanita tua. Lalu menyusul kesaksian seorang bandit, pengakuan istri dari samurai yang terbunuh, hingga arwah sang samurai yang berbicara melalui perantara seorang dukun.</p>
<p align="justify">Si penebang kayu yang menemukan mayat seorang lelaki di hutan menyatakan bahwa lelaki tersebut kelihatannya meninggal karena satu sabetan pedang di dada. Keadaan di tempat kejadian perkara antara lain dedaunan yang terinjak di sekitar mayat menunjukkan bahwa telah terjadi sebuah perkelahian yang sengit. Yang ia temukan selain mayat hanya seuntai tali, suatu sisir, dan banyak darah.</p>
<p align="justify">Kesaksian selanjutnya diberikan oleh seorang rahib Buddha yang mengaku pernah bertemu dengan lelaki itu&#8211;yang sedang bersama seorang wanita yang menunggang kuda palomino&#8211;di jalan besar pada tengah hari sehari sebelum pembunuhan. Lelaki itu membawa sebilah pedang dan sebuah busur, serta tabung panah berwarna hitam. Semua ini tidak ada di lokasi ketika sang penebang kayu menemukan lelaki tersebut.</p>
<p align="justify">Seorang agen polisi yang menangkap seorang penjahat terkenal bernama Tajoumaru maju bersaksi. Ia menangkapnya ketika Tajoumaru terluka setelah terlempar dari punggung seekor kuda palomino, dan dia membawa sebuah busur dan tabung panah hitam. Senjata yang tidak biasanya dibawa oleh Tajoumaru. Ujarnya ini membuktikan bahwa Tajoumaru adalah pelakunya. Namun Tajoumaru tidak membawa pedang lelaki itu, yang juga hilang dari lokasi pembunuhan.</p>
<p align="justify">Sebuah laporan datang dari seorang wanita tua, yang menyatakan dirinya sebagai ibu dari wanita yang belum ditemukan itu. Putrinya adalah seorang wanita berusia sembilan belas tahun yang bernama Masago, dan menikah dengan Kanazawa no Takehiro, seorang samurai berusia dua puluh enam tahun dari Wakasa. Putrinya yang bertekad kuat itu, ujarnya, tidak pernah dekat atau bersama lelaki selain Takehiro. Dia memohon kepada polisi untuk menemukan Masago.</p>
<p align="justify">Setelah penyidikan keempat laporan minor tersebut, Tajoumaru akhirnya mengakui kesalahannya. Dia mengatakan bahwa dia bertemu dengan dua orang itu di sebuah jalan di luar Kyoto. Ia tertarik pada Masago dan ingin memperkosanya. Untuk memperkosa Masago tanpa halangan, ia mencoba memisahkan pasangan itu dengan memancing Takehiro ke dalam hutan dengan iming-iming harta karun. Setelah melumpuhkan Takehiro, ia menyumpal mulut Takehiro dengan dedaunan, mengikatnya di sebuah pohon, dan langsung mencari Masago. Ketika Masago melihat suaminya terikat pada pohon, ia menarik sebuah belati dari pakaiannya dan mencoba menusuk Tajoumaru. Tajoumaru lebih gesit dan berhasil merebut belati dari tangan Masago, dan dia pun berhasil memperkosanya. Pada awalnya, ia tidak bertujuan membunuh lelaki itu, tegasnya, namun setelah pemerkosaan, Masago memohon padanya untuk membunuh suaminya atau dirinya sendiri, karena dia tidak akan tahan bila dua lelaki mengetahui aibnya itu. Dia akan pergi dengan lelaki terakhir yang hidup. Tajoumaru tidak ingin membunuh Takehiro dengan cara pengecut, jadi ia melepaskannya dan mereka berduel pedang. Pada duel itu, Masago melarikan diri. Tajoumaru berhasil membunuh Takehiro, dan mengambil pedang, busur, serta tabung panahnya, juga kuda Masago. Dia menyatakan bahwa dia telah menjual pedangnya sebelum dia tertangkap oleh sang agen polisi.</p>
<p align="justify">Sementara di Kuil Shimizu, seorang wanita melakukan pengakuan dosa. Pengakuan yang sama juga dituturkannya ke polisi. Menurutnya, setelah pemerkosaan, Tajoumaru pergi, dan suaminya yang masih terikat di pohon menatapnya hina. Dia merasa malu karena telah diperkosa, dan tidak ingin lagi hidup, namun ia ingin suaminya mati bersamanya. Akhirnya ia menancapkan belati ke dada suaminya. Kemudian ia memotong tali yang mengikat suaminya yang telah tewas, dan lalu berlari ke hutan, dimana ia mencoba membunuh dirinya sendiri beberapa kali. Tetapi terus-menerus gagal, ada suatu hal yang membuatnya tak bisa mati saat itu: ia harus melakukan pengakuan tentang kejadian tersebut lebih dulu. Pada akhir pengakuannya, ia menangis.</p>
<p align="justify">Kesaksian terakhir berasal dari arwah Takehiro, yang melalui perantara seorang dukun. Dengan penuh emosi&#8211;sedih bercampur marah&#8211;arwah Takehiro mengatakan bahwa setelah pemerkosaan, Tajoumaru meyakinkan Masago untuk meninggalkan suaminya dan menjadi istri Tajoumaru sendiri, yang akhirnya disetujui Masago dengan satu kondisi: Tajoumaru harus membunuh Takehiro. Entah kenapa Tajoumaru marah mendengar usulan ini, menendangnya ke tanah, dan menanyakan Takehiro apakah dia harus membunuh wanita tanpa harga diri itu. Mendengar ini, Masago berlari ke hutan. Kemudian, Tajoumaru memotong tali yang mengikat Takehiro dan turut melarikan diri. Takehiro mengambil belati Masago yang terjatuh, dan menancapkannya ke dadanya sendiri. Sesaat sebelum kematiannya, dia merasa bahwa seseorang berjalan pelan mendekatinya dan mencabut belati dari dadanya.</p>
<p align="justify">Pasti ada kebenaran dari tujuh laporan dan kesaksian dalam cerita pendek tersebut, atau bisa juga kesemuanya berdusta. Dalam naskah cerita pendek aslinya, laporan yang banyak terdapat ketidaksesuaian dengan laporan lainnya adalah dari sang penebang kayu. Namun yang paling menarik dari cerita ini tentu bukanlah itu.</p>
<p align="justify">Akutagawa nampaknya sengaja menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar pembunuhan dan investigasi, yaitu ambiguitas manusia. Manusia, menurut Akutagawa, akan melihat pembenaran sebagai kebenaran melalui kaca mata perspektifnya masing-masing. Misalnya, mengambil satu perspektif dan percaya dengan itu. Akutagawa memang tidak berniat menyampaikan perkara siapa membunuh, dibunuh, atau bunuh diri, maupun menemukan kebenaran dalam kasus terbunuhnya sang samurai seperti layaknya cerita misteri dan detektif lainnya. Lebih dari itu, Akutagawa ingin menunjukkan bahwa manusia sangat sulit untuk mengutarakan kebenaran absolut. Yang ada hanya pembenaran.</p>
<p align="justify">Selain itu, jika ketiga pengakuan utama&#8211;Tajoumaru, Masago, dan Takehiro&#8211;terhadap kebohongan, apa faktor yang membuat mereka berbohong. Jika berpatokan pada budaya Jepang, terutama latar waktu peristiwa, yaitu berabad-abad yang lalu, sebuah jawaban bisa disodorkan: kehormatan.</p>
<p align="justify">Ketiga pengakuan itu sama sekali tidak bertujuan menghindari hukuman, namun untuk menempatkan diri di tempat yang terhormat. Membunuh lawan dengan berduel bagi Tajoumaru adalah sebuah kehormatan. Bunuh diri bersama suami&#8211;namun kemudian ia berpendapat bahwa ia harus memberikan kesaksian dulu sebelum mati&#8211;bagi Masago adalah sebuah kehormatan. Dan bunuh diri bagi Takehiro adalah sebuah kehormatan juga. Manusia memang memiliki banyak kelemahan, namun karena ego dan harga diri, kehormatan terkadang dipertahankan dengan pembenaran, atau bisa jadi kebohongan. Inilah salah satu ambiguitas yang dipertanyakannya.</p>
<p align="justify">&#8220;Hanya kegelisahan yang usulnya tak jelas&#8230;&#8221; ujar Akutagawa dalam surat kematian sebelum ia bunuh diri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="font-size:11px;"><em>~ foto diambil dari film Rashomon (1950) karya Akira Kurosawa.</em></p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=rjpUHL-MIsI:NgtNLoYYzQs:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=rjpUHL-MIsI:NgtNLoYYzQs:dnMXMwOfBR0"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?d=dnMXMwOfBR0" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=rjpUHL-MIsI:NgtNLoYYzQs:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?i=rjpUHL-MIsI:NgtNLoYYzQs:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=rjpUHL-MIsI:NgtNLoYYzQs:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=rjpUHL-MIsI:NgtNLoYYzQs:7Q72WNTAKBA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?d=7Q72WNTAKBA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=rjpUHL-MIsI:NgtNLoYYzQs:F7zBnMyn0Lo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?i=rjpUHL-MIsI:NgtNLoYYzQs:F7zBnMyn0Lo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=rjpUHL-MIsI:NgtNLoYYzQs:YwkR-u9nhCs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?d=YwkR-u9nhCs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=rjpUHL-MIsI:NgtNLoYYzQs:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?i=rjpUHL-MIsI:NgtNLoYYzQs:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Gunawanrudydotcom/~4/rjpUHL-MIsI" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunawanrudy.com/pembenaran-di-dalam-belukar.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>46</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://gunawanrudy.com/pembenaran-di-dalam-belukar.html</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Bragaweg</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Gunawanrudydotcom/~3/GofChhCMyok/bragaweg.html</link>
		<comments>http://gunawanrudy.com/bragaweg.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Mar 2009 13:03:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gunawan Rudy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[culture]]></category>
		<category><![CDATA[economy]]></category>
		<category><![CDATA[history]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[social]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunawanrudy.com/?p=980</guid>
		<description><![CDATA[Bukan. Bukan pusat jeans itu, bukan Cihampelas. Bukan pula dataran tingi yang sejuk itu, bukan Lembang. Bukan pula Jalan Dago, juga bukan Riau. Apalagi mall, pusat perbelanjaan, factory outlet, kafe serta tempat kongkow terkenal lainnya di Kota Bandung yang kini semakin menjamur dan membikin semarak kota pegunungan itu. Satu tempat yang dapat membuat saya jatuh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Bukan. Bukan pusat jeans itu, bukan Cihampelas. Bukan pula dataran tingi yang sejuk itu, bukan Lembang. Bukan pula Jalan Dago, juga bukan Riau. Apalagi mall, pusat perbelanjaan, factory outlet, kafe serta tempat kongkow terkenal lainnya di Kota Bandung yang kini semakin menjamur dan membikin semarak kota pegunungan itu. Satu tempat yang dapat membuat saya jatuh cinta pada kunjungan pertama itu adalah Bragaweg, sebuah kawasan kota tua di tengah-tengah Kota Bandung, yang kini dikenal sebagai Jalan Braga.</p>
<p align="center"><img src="http://i44.tinypic.com/2hi8j2x.jpg" class="imgpost" alt="" /></p>
<p align="justify">Parijs van Java, julukan itulah yang melekat di benak orang-orang jika membicarakan soal Kota Bandung. Percakapan mulai dari kelas warung kopi hingga kafe terkait dengan julukan tersebut pasti tak lepas dari soal mode dan fashion hingga para mojangnya yang geulis. Memang mode dan fashion identik dengan Kota Paris di Eropa sana. Namun julukan ini sebenarnya tak baru lagi, karena sudah melekat sejak awal abad ke-20, hampir berbarengan dengan lahirnya julukan lawas lainnya seperti Bloemen Stad (Kota Kembang), de Bloem van Bergsteden (Bunganya Kota Pegunungan), serta Europa in de Tropen (Eropa di Wilayah Tropis). Catatan-catatan awal mengenai julukan ini misalnya ada pada Boekoe Penoendjoek Djalan boeat Plesiran di Kota Bandoeng dan Daerahnja, terbit tahun 1906. Di sana dituliskan Bandung sebagai &#8220;Parisnja Tanah Djawa&#8221;.</p>
<p><span id="more-980"></span></p>
<p align="justify">Namun julukan itu baru hidup dan terdengar gaungnya pada periode 1910 hingga 1940. Saat itu Bandung sebagai pemukiman warga Eropa terbesar di Hindia Belanda dikenal dengan kesemarakan dan kegemerlapannya, laiknya Kota Paris. Istilah &#8220;jaman ngalantrah van reup tot bray&#8221;, zaman kehidupan malam Bandung yang begitu gemerlap dengan hiburan di mana-mana, begitu melekat dengan kota tersebut.</p>
<p align="justify">Julukan Parijs van Java yang terkenal hingga Eropa sana tak selalu direspon positif. Dalam buku Guide to Java, Peter Hutton mengkritik bahwa Bandung tidak bisa disamakan dengan Paris. Bandung tidak punya sungai seperti Sungai Seine, alih-alih hanya punya Cikapundung yang sekarang tidak jernih lagi. Bandung juga ujarnya tak memiliki bangunan selevel Museum Louvre atau Notre Dame. Dan sebaliknya, Paris tidak berada di dataran tinggi dan beriklim tropis, dua hal yang dipunyai Bandung. Namun di luar semua itu Bandung dan Paris sama-sama identik dalam Rue de la Paix, jejeran pertokoan elit yang berbaris rapi di kedua sisi jalan sepanjang jalurnya dengan kegemerlapan yang menghiasinya.</p>
<p align="justify">Adalah Bragaweg, Rue de la Paix-nya Bandung, kawasan senta kemeriahan dan kegemerlapan Bandung saat itu. Bragaweg sebelumnya adalah jalan kecil yang menghubungkan gudang kopi milik seorang preangerplanter (tuan tanah atau kebun di Priangan) kaya, Andries de Wilde, dengan Grotepostweg (Jalan Raya Pos), jalan raya Daendels, yang menjadi jalan raya utama di Pulau Jawa. Jalan kecil ini kemudian ramai dilalui orang, alat transportasi yang paling sering melewatinya adalah pedati. Maka akhirnya jalan ini dikenal sebagai Pedatiweg atau Karrenweg dalam Bahasa Belanda. Saat itu Pedatiweg hanya memiliki sedikit bangunan.</p>
<p align="justify">Lambat laun Pedatiweg mulai ramai dengan gedung pertokoan, perkantoran, restoran, hingga tempat hiburan lainnya seperti bioskop dan kafe teras. Terlebih lagi karena dibangunnya Hotel Savoy Homann, Hotel Preanger, dan juga Societeit Concordia (sekarang Gedung Merdeka, atau Gedung Asia-Afrika) di persimpangan Pedatiweg dan Grotepostweg yang menjadi sebuah schouwburg sebagai pusat kesenian dan tempat berkumpulkan kalangan elit Eropa di Kota Bandung dan daerah sekitarnya. Pedatiweg yang mulai ramai sebagai koloni pemukiman Eropa dan pertokoan elit akhirnya dikenal sebagai Bragaweg.</p>
<p align="justify">Bagaimana akhirnya nama jalan ini berubah menjadi Bragaweg mempunyai banyak versi. Ada yang bilang nama tersebut berasal dari nama minuman khas Rumania yang disajikan di Societeit Concordia. Versi sejarawan dan sastrawan Sunda sendiri seperti menurut Soewarno Darsoprajitno dan M. A. Salmun, nama Braga berasal dari Bahasa Sunda &#8220;baraga&#8221; atau &#8220;ngabaraga&#8221;, yang berarti &#8220;berjalan berangin-angin menyusuri sungai&#8221;. Kebetulan Sungai Cikapundung bersebelahan dengan Pedatiweg ini. Namun versi yang cukup kuat hingga sekarang adalah nama Braga berasal dari kelompok orkes terkenal masa itu yang bernama Toneelvereeniging Braga. Orkes ini kerap manggung di Societeit Concordia hingga akhirnya menempati bangunan di ujung selatan Bragaweg, yang sekarang dikenal sebagai Museum Konferensi Asia-Afrika. Dan pertanyaan selanjutnya dari mana asal nama Braga pada kelompok musik ini. Bisa jadi diambil dari nama dewa kesusastraan Eropa Utara, Bragi. Atau nama kota kuno di Portugal yang masih berdiri megah hingga kini.</p>
<p align="justify">Gedung Societeit Concordia yang hanya bisa dimasuki oleh kaum Eropa, itupun yang kelas elit dan terpandang, uniknya pernah mengundang Ismail Marzuki (yang tentu seorang bumiputera, inlander) sebagai pemain musim paruh waktu di sana. Kala itu Ismail Marzuki dan grup musiknya Lief Java sangat populer terutama di kalangan Eropa, dengan lagu Als de Orchideen Bloien bahkan yang populer sampai Nederland. Namun demikian, Ismail Marzuki menolak tawaran Julius Foorman yang saat itu menjadi pimpinan orkes di Societeit Concordia.</p>
<p align="justify">Bangunan yang menyokong julukan Parijs van Java antara lain adalah rumah-rumah mode elit seperti Au Bon Marche dan Onderling Belang yang kini dikenal sebagai Toko Sarinah, hingga bangunan besar seperti DENIS Bank (sekarang Bank JaBar Banten) dan Gedung Gas. Tak ketinggalan pula kafe-restoran Maison Bogerijen yang sangat terkenal pada masanya, bahkan Kerajaan Belanda dan Gubernur Jenderal berlangganan di sini. Sekarang bangunan lama Maison Bogerijen sudah tak ada lagi, betrganti dengan Braga Permai. Meskipun serba Eropa yang bergaya art deco, di Bragaweg juga ditemukan gaya arsitektur Indo-Europeeschen architectuur stijl. Yaitu bangunan Eropa dengan corak Nusantara, misalnya Majestic Theater dan toko buku van Dorp yang memiliki ornamen kepala kala (biasa terdapat di gerbang candi di Jawa Tengah dan Jawa Timur) ukuran besar di bagian depan gedung.</p>
<p align="justify">Karena saking Eropa-nya kawasan Bragaweg ini, maka yang terlihat wira-wiri hanyalah mereka dari golongan Eropa, dan juga sedikit dari saudagar Tionghoa. Itupun tidak semua bisa karena beberapa bangunan hanya diperuntukan bagi warga Eropa kelas atas. Bagi pribumi paling-paling hanya kalangan priyayi saja. Beberapa bangunan malah memasang papan peringatan &#8220;verboden voor honden en inlander&#8221;, dilarang masuk bagi anjing dan pribumi.</p>
<p align="justify">Hein Buitenweg memberikan pujian atas kebangkitan Bandung lewat Bragaweg ini, &#8220;werd er ergens ter wereld meer en beter gedanst dan in he oude indie&#8221;, bagian dunia mana yang sanggup mengalahkan kemeriahan Hindia Belanda di masa lalu.</p>
<p align="justify">Kini masa-masa kejayaan Hindia Belanda di masa lalu itu masih tersisa di Jalan Braga, seperti juga di Jalan Kayutangan Malang, Jalan Malioboro Yogyakarta. Walau sedikit ironi terasa ketika melihat bangunan tua yang tak terawat bersanding dengan bangunan modern yang telah mengganti wajah beberapa bangunan yang kini hanya tinggal nama saja.</p>
<p align="justify">Setelah kedatangan Jepang hingga proklamasi kemerdekaan, banyak warga Eropa dan Indo yang hengkang keluar Indonesia. Jalan Braga mulai sepi dan mati suri. Sebagian bangunan berganti kepemilikan dan beberapa telah direnovasi penuh hingga hampir tak menyisakan bentuk bangunan lamanya. Sebagiannya lagi dibiarkan kosong dan bangunan tuanya menjadi terlantar. Ironisnya lagi, walaupun sudah mengalami renovasi kawasan Braga tetap sepi konsumen walau lalu lintas kendaraan bermotor tetap cukup padat. Pembangunan mall Braga City Walk tetap belum terlihat hasilnya. Beberapa kali penyelenggaraan Festival Braga hanya menghidupkan Braga saat acara tersebut dan kembali mati suri setelahnya. Beberapa bulan terakhir terlihat upaya penggantian aspal jalan dengan batu andesit hitam, namun karena padatnya lalu lintas, banyak bagian jalan yang pecah-pecah.</p>
<p align="center"><img src="http://i42.tinypic.com/27y372r.jpg" class="imgpost" alt="" /></p>
<p align="justify">Ternyata memang satu bidang usaha yang tetap tidak ada matinya sejak zaman nabi-nabi hingga sekarang ini, hiburan malam, dan tentu saja akan merujuk kepada pelacuran. Lengkap dengan diskotik, karaoke, bar, bilyard, plus neng geulis yang siap melayani. Tempat-tempat ini terutama bisa ditemukan di sekitar simpang Bragaweg dengan Jalan Suniaraja dan Oude-Hospitalweg (sekarang Jalan Lembong).</p>
<p align="justify">Pramoedya Ananta Toer pernah menulis dalam Mereka Yang Dilumpuhkan, bahwa perempuan Sunda harganya paling tinggi. Menurut Pram itu karena perkebunan-perkebunan di Jawa Barat banyak dikuasai orang Eropa sehingga anak-anaknya banyak yang menjadi Indo. Ini masih terkait dengan kawasan Gang Coorde (sekarang Jalan Kejaksaan) atau bordeelsteeg (jalanan bordil). Gang Coorde yang simpangnya terletak di tengah Bragaweg ini adalah kompleks red light kelas atas yang menawarkan perempuan-perempuan Indo yang datang dari penjuru Priangan. Mereka adalah turunan tidak resmi dari para preangerplanters warga Eropa.</p>
<p align="justify">Sisi gelap Parijs van Java ini pernah dituliskan oleh seorang jurnalis Melayu-Tionghoa, Kim Lang, &#8220;soeda beroelang-oelang orang sohorken bahoewa Bandoeng itoelah apa Parisnja tanah Djawa. Tapi, sepandjang pengetahoean saja jang di seboet Paris itoe boekannja tentang hal kabaekan peratoeran politie, roema-roema dan toko-toko dan laen-laen sebaginja, hanjalah dari banjaknja koepoe-koepoe malem sadja, itoelah jang kenamaan Paris tanah Djawa&#8230;&#8221; Remy Sylado pun menggambarkan dunia malam Bandung era 1920-an ini lewat novel Parijs van Java.</p>
<p align="justify">Itulah mengapa jangan heran seabad yang lalu perkumpulan Bandoeng Vooruit mempromosikan Kota Bandung dengan disertai ungkapan &#8220;don&#8217;t come to Bandoeng if you left wife at home!&#8221; Para tuan-tuan Turis sebaiknya tidak mengunjungi Bandung apabila tidak membawa istri atau meninggalkan istri di rumah. Dan bisnis ini terus tetap hidup di dalam mati surinya Bragaweg.</p>
<p align="justify">Beginilah dunia yang sedang berubah dengan cepat, mengutip jargon&#8211;juga dijadikan guyon&#8211;Orde Baru, &#8220;lepas landas&#8221;. Tak hanya bangunan-bangunan tua yang ditumbuhi lumut, cat terkelupas, dan kadang hanya menyisakan puing dan pondasi bekas kejayaan masa lalunya, namun juga ideologi yang rontok, manipulasi yang terkuak, hingga agama yang kurang berhasil mencerahkan umatnya. Kehidupan berubah.</p>
<p align="justify">Dan seperti Resi Bisma dalam perwayangan, sesuatu yang &#8220;tua&#8221; tak harus selalu digantikan oleh yang &#8220;muda&#8221;, karena mereka punya porsi dan perannya masing-masing. Resi Bisma menjadi Senapati Agung Astina pertama di medan Kurusetra di usia yang sangat tua, itu porsinya, dan akhirnya nanti dia digantikan juga oleh Begawan Dorna, Prabu Salya, hingga Adipati Karna. Bangunan tua Bragaweg yang antara lain buah karya arsitek Wolff Schoemaker dan Richard Schoemaker tersebut menjadi saksi bisu penggalan-penggalan kisah masa lalu dan sebagai pengingat bahwa sebuah kota terus mengalami perjalanan sejarah yang panjang, itulah sedikit dari porsi mereka sekarang.</p>
<p align="justify">Bisa saja nasib Bragaweg akan masuk ke dalam bahasa Rendra dalam Kisah Perjuangan Suku Naga.</p>
<p><em>Kemarin dan esok<br />
adalah hari ini<br />
Bencana dan keberuntungan<br />
sama saja</em></p>
<p align="justify">Jammer dat je, Bragaweg!</p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=GofChhCMyok:xBnpqGFfTrw:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=GofChhCMyok:xBnpqGFfTrw:dnMXMwOfBR0"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?d=dnMXMwOfBR0" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=GofChhCMyok:xBnpqGFfTrw:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?i=GofChhCMyok:xBnpqGFfTrw:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=GofChhCMyok:xBnpqGFfTrw:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=GofChhCMyok:xBnpqGFfTrw:7Q72WNTAKBA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?d=7Q72WNTAKBA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=GofChhCMyok:xBnpqGFfTrw:F7zBnMyn0Lo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?i=GofChhCMyok:xBnpqGFfTrw:F7zBnMyn0Lo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=GofChhCMyok:xBnpqGFfTrw:YwkR-u9nhCs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?d=YwkR-u9nhCs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=GofChhCMyok:xBnpqGFfTrw:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?i=GofChhCMyok:xBnpqGFfTrw:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Gunawanrudydotcom/~4/GofChhCMyok" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunawanrudy.com/bragaweg.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>53</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://gunawanrudy.com/bragaweg.html</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>Bahasa Nasional[is] dan Kebudayaan</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/Gunawanrudydotcom/~3/uxWjbRLyEP8/bahasa-nasionalis-dan-kebudayaan.html</link>
		<comments>http://gunawanrudy.com/bahasa-nasionalis-dan-kebudayaan.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Feb 2009 11:29:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gunawan Rudy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>
		<category><![CDATA[anthropology]]></category>
		<category><![CDATA[culture]]></category>
		<category><![CDATA[ethnic]]></category>
		<category><![CDATA[identity]]></category>
		<category><![CDATA[javanese]]></category>
		<category><![CDATA[language]]></category>
		<category><![CDATA[social]]></category>
		<category><![CDATA[struggle]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gunawanrudy.com/?p=1340</guid>
		<description><![CDATA[bilamana bahasa menunjukkan bagaimana penuturnya memandang hidup]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Momen yang disebut sebagai &#8220;Sumpah Pemuda&#8221; memang telah lewat. Ada hal yang menarik terkait dengan momen tersebut, sebagaimana adanya dengan fenomena-fenomena mutakhir: tak lain ialah bahasa.</p>
<p align="justify">Momen &#8220;Sumpah Pemuda&#8221; menyinggung bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, selain menyoal bangsa dan tanahair yang satu. Momen tersebut tahun ini sedikit-banyak mengangkat persoalan bahasa terkait dengan &#8220;sengketa kebudayaan&#8221; antara Indonesia dan Malaysia, fenomena &#8220;bahasa alay&#8221; di kalangan generasi internet, serta &#8220;bahasa gado-gado&#8221; yang memakai berbagai macam bahasa dalam satu kalimat (seringkali menyisipkan bahasa Inggris dalam dialog berbahasa Indonesia), juga masalah-masalah klasik seperti berkurangnya pemakaian bahasa daerah dan punahnya beberapa bahasa daerah karena tidak ada lagi penutur aselinya.</p>
<p align="center"><img class="imgpost" src="http://betang.com/wp-content/uploads/bahasa-pantomim.jpg" alt="" /></p>
<p align="justify">Dari fenomena-fenomena di atas, salah satu wacana yang paling menonjol adalah bahasa Indonesia versus bahasa daerah atau bahasa lokal. Satu pihak mengklaim bahwa penggunaan bahasa Indonesia &mdash;entah sesuai EYD atau tidak&mdash; menandakan rasa nasionalisme yang tinggi, pihak lain ada yang menyatakan bahwa bahasa Indonesia adalah tidak aseli Indonesia tapi hampir semuanya berupa serapan dari berbagai bahasa [asing] (lihat Alif Dasya Munsyi alias Remy Sylado, 2003: 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing), dan ada pula yang menggalakkan kampanye mengenai penggunaan bahasa daerah sebagai wujud pelestarian kebudayaan.</p>
<p align="justify">Mengenai perihal ini saya kurang-lebih sependapat &mdash;walau di lain pihak juga mengkritisi beberapa bagian&mdash; dengan guru saya, Prof. Heddy Shri Ahimsa-Putra dalam salah satu tulisannya. Izinkan saya untuk mengetik ulang petikan [bagian akhir] dari tulisan beliau tersebut, yang berjudul &#8220;Etnolinguistik: Beberapa Bentuk Kajian&#8221;, lebih tepatnya sub-bab &#8220;Etnolinguistik: Artinya Bagi Indonesia&#8221; bertarikh 1997.</p>
<p><span id="more-1340"></span></p>
<p align="center">***</p>
<h3>Etnolinguistik: Artinya Bagi Indonesia</h3>
<p align="justify">Berbagai contoh yang telah saya kemukakan di atas cukup kiranya untuk membuka mata kita akan pentingnya studi etnolinguistik bagi kita di Indonesia. Kita ingat bahwa salah sebuah <strong>slogan yang masih tetap penting hingga kini adalah slogan &#8220;melestarikan kebudayaan&#8221;</strong>. Slogan ini memang sangat menarik dan memang layak disetujui. Tetapi tampaknya hanya sedikit orang yang memikirkan betul-betul bagaimana hal ini bisa dilakukan. Di sinilah etnolinguistik dapat memainkan peranannya yang sangat penting.</p>
<p align="justify">Jika kita setuju bahwa bahasa adalah sistem simbol yang teramat penting dalam kehidupan dan perkembangan kebudayaan manusia; bahwa dalam bahasalah tersimpan khasanah pengetahuan suatu masyarakat atau suku bangsa; bahwa mengenai bahasalah sebenarnya orang &#8220;memandang&#8221; lingkungannya; kita tentunya akan setuju bahwa <strong>pelestarian kebudayaan dalam bentuknya yang paling konkret tidak lain adalah pelestarian bahasa-bahasa lokal di seluruh kawasan Indonesia</strong>. Pandangan ini mungkin akan segera membuat banyak orang berkata &#8220;itu suatu hal yang mustahil&#8221;. Oleh karena itu, perlu dijelaskan lebih lanjut, apa arti melestarikan bahasa lokal tersebut.</p>
<p align="justify">Pelestarian bahasa-bahasa lokal di sini <strong>tidaklah harus diartikan sebagai upaya untuk mempertahankan eksistensi bahasa-bahasa tersebut, artinya orang dipaksa untuk menggunakan bahasa daerahnya dalam kehidupan sehari-hari</strong> sebab hal semacam itu tidak akan mungkin dilakukan. Misalnya, orang boleh saja tidak bersedia belajar bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, tetapi dia akan merasakan sendiri bahwa ketidakmampuannya menggunakan bahasa-bahasa tersebut akan membuatnya tidak mampu bersaing dalam mencari pekerjaan dengan mereka yang menguasai bahasa-bahasa tersebut. Oleh karena itu, pelestarian bahasa lokal tidak harus diartikan bahwa bahasa tersebut harus digunakan dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p align="justify">Pelestarian dalam konteks ini dapat diartikan sebagai segala upaya untuk <strong>mendeskripsikan berbagai bahasa lokal di Indonesia dengan segala seluk-beluknya, mulai dari soal tata bahasa, morfologi, semantik, hingga fonologinya</strong>. Pendokumentasian bahasa ini kelihatannya memang tidak begitu penting, tetapi sebenarnya akan sangat banyak memberikan manfaat jika kita memang menyadari manfaatnya serta dapat memetik manfaat tersebut. Manfaat ini tidak hanya akan dipetik oleh ahli-ahli bahasa, yang akan dapat menggunakannya untuk memperkaya khasanah bahasa Indonesia, tetapi juga akan dapat dipetik oleh para ahli ilmu pengetahuan yang lain.</p>
<p align="justify">Sebagai contoh, dengan menganalisis berbagai bidang pengetahuan yang dimiliki oleh suatu masyarakat lewat bahasa mereka, kita akan dapat mengetahui berbagai pandangan hidup mereka yang secara implisit ada di balik bahasa, yang tidak dapat diungkapkan oleh pemilik bahasa itu sendiri. Dengan mengetahui pandangan hidup yang implisit ini, paling tidak kita akan dapat memahami cara pandang mereka serta berbagai perilaku mereka yang berdasarkan pandangan hidup tersebut. Dengan begitu pula, kita akan dapat <strong>menghargai dan memberikan toleransi</strong> pada mereka.</p>
<p align="justify">Lebih lanjut dengan mengetahui budaya suatu masyarakat dari bahasa yang mereka miliki, serta penguasaan atas bahasa mereka, kita akan dapat melakukan dialog dengan para pendukung kebudayaan tersebut. Dari dialog ini akan tercipta suatu kerangka berpikir bersama, yang akan menjadi kerangka acuan bersama dalam kehidupan sehari-hari, dan ini akan mengurangi kemungkinan timbulnya salah pengertian, yang akan dapat membawa kita pada konflik yang membahayakan kehidupan kita sendiri.</p>
<p align="justify">Sayang sekali, bahwa hal semacam ini masih belum sepenuhnya disadari oleh banyak warga masyarakat kita. <strong>Banyak orang masih menganggap bahwa persoalan bahasa akan dapat terselesaikan dengan sendirinya asalkan sudah ada bahasa nasional</strong>; konflik dan kericuhan akan berkurang bilamana masalah ekonomi dapat terpecahkan; salah pengertian dan konflik yang diakibatkannya dapat dicegah bilamana orang semakin sadar akan agamanya, semakin tinggi pendidikannya, dan sebagainya. Mereka yang mengikuti pandangan semacam ini lupa bahwa semua itu akhirnya bermuara pada soal <strong>komunikasi antarkelompok dan antarindividu</strong>. Bagaimana komunikasi bisa berjalan dan salah pengertian bisa dijamin tidak terjadi jika kita tidak mengetahui bahasa masing-masing dengan baik?</p>
<p align="center">***</p>
<p align="justify">Salah satu yang saya kritisi adalah paragraf terakhir dalam sub-bab ini, yang kurang menjelaskan kalimat <em>&#8220;bagaimana komunikasi bisa berjalan dan salah pengertian bisa dijamin tidak terjadi jika kita tidak mengetahui bahasa masing-masing dengan baik?&#8221;</em> sehingga maksudnya ambigu, dan bisa saja orang akan menjawab: <em>&#8220;karena itu, agar lebih mudah, berkomunikasilah dengan satu bahasa, bahasa pemersatu&#8221;</em>.</p>
<p align="justify">Kalimat tersebut tentu tidak dapat langsung dimaknai sesederhana itu, karena menurut saya di situ Prof. Ahimsa-Putra bermaksud merujuk pada konteks bahasa dan cara [pemikiran] penuturnya memandang hidup, kenyataan, dan lingkungan. Kita ambil contoh yang cukup dekat, dalam bahasa Indonesia dikenal berbagai macam istilah padi, gabah, nasi yang dalam bahasa Inggris hanya dikenal sebagai <em>rice</em>. Dalam bahasa Jawa, istilah ini lebih kaya lagi dengan tambahan <em>sega</em>, <em>upa</em>, dan <em>intip</em>. Barulah istilah <em>paddy</em> kemudian lahir untuk menyesuaikan (mohon koreksinya). Di sini terlihat perbedaan pada masyarakat Indonesia dan Inggris dalam memandang padi, gabah, nasi, atau <em>rice</em> tersebut &mdash;yang dalam hal ini terkait pada Indonesia sebagai negara agraris yang mengenal bercocok tanam dengan sistem bersawah, yang mana hal ini tidak ditemukan di Inggris. Karena perbedaan kebudayaan (sistem mata pencaharian adalah salah satu unsur kebudayaan, menurut beberapa pandangan) tersebut, maka sangat tidak mungkin untuk dapat memahami satu sama lain sepenuhnya hanya dengan satu bahasa.</p>
<p align="justify">Semoga sedikit penjelasan ini dapat membantu atas pengertian terhadap tulisan di atas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="justify"><em>Tulisan ini juga diterbitkan di <a href="http://betang.com/artikel/humaniora/bahasa-nasionalis-dan-kebudayaan.html">Betang.COM</a>.</em></p>
<p align="justify"><em>* petikan tulisan &#8220;Etnolinguistik&#8221; oleh H. S. Ahimsa-Putra, foto oleh <a href="http://antobilang.wordpress.com/">antobilang</a></em></p>
<div class="feedflare">
<a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=uxWjbRLyEP8:MY27nfFdzys:yIl2AUoC8zA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?d=yIl2AUoC8zA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=uxWjbRLyEP8:MY27nfFdzys:dnMXMwOfBR0"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?d=dnMXMwOfBR0" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=uxWjbRLyEP8:MY27nfFdzys:V_sGLiPBpWU"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?i=uxWjbRLyEP8:MY27nfFdzys:V_sGLiPBpWU" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=uxWjbRLyEP8:MY27nfFdzys:qj6IDK7rITs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?d=qj6IDK7rITs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=uxWjbRLyEP8:MY27nfFdzys:7Q72WNTAKBA"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?d=7Q72WNTAKBA" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=uxWjbRLyEP8:MY27nfFdzys:F7zBnMyn0Lo"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?i=uxWjbRLyEP8:MY27nfFdzys:F7zBnMyn0Lo" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=uxWjbRLyEP8:MY27nfFdzys:YwkR-u9nhCs"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?d=YwkR-u9nhCs" border="0"></img></a> <a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?a=uxWjbRLyEP8:MY27nfFdzys:D7DqB2pKExk"><img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Gunawanrudydotcom?i=uxWjbRLyEP8:MY27nfFdzys:D7DqB2pKExk" border="0"></img></a>
</div><img src="http://feeds.feedburner.com/~r/Gunawanrudydotcom/~4/uxWjbRLyEP8" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gunawanrudy.com/bahasa-nasionalis-dan-kebudayaan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://gunawanrudy.com/bahasa-nasionalis-dan-kebudayaan.html</feedburner:origLink></item>
	<media:rating>nonadult</media:rating></channel>
</rss><!-- Dynamic page generated in 0.944 seconds. --><!-- Cached page generated by WP-Super-Cache on 2012-02-07 15:48:19 -->

