<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-8421755393181764849</atom:id><lastBuildDate>Thu, 12 Sep 2024 01:14:36 +0000</lastBuildDate><category>filsafat</category><category>kebijaksanaan</category><category>logika</category><title>GURU SADRACH</title><description>komunitas sadrach bersama sesamaku yang paling hina</description><link>http://karangyoso.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Villa Sophia Cimacan)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>4</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8421755393181764849.post-8556268778512963274</guid><pubDate>Sun, 25 Jan 2009 15:18:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-04-09T16:09:19.427+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">filsafat</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">kebijaksanaan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">logika</category><title>Filsafat</title><description>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhIvBgpOmEhZaL_4ILkQ5YoBZTZZVzVTPfETG1LhyHLf-3nT-_BGw7j3ALXC64IGDHExVfSmMRUxKY7oywiGBEU13p8TNu8NMg5nQpEh1NhdcGAvyQ7CboqJ0ZXh0CfP9sPi1l4Fw49bHo/s1600-h/Filsuf.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 204px; height: 224px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhIvBgpOmEhZaL_4ILkQ5YoBZTZZVzVTPfETG1LhyHLf-3nT-_BGw7j3ALXC64IGDHExVfSmMRUxKY7oywiGBEU13p8TNu8NMg5nQpEh1NhdcGAvyQ7CboqJ0ZXh0CfP9sPi1l4Fw49bHo/s320/Filsuf.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5295259711619982914&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot;  style=&quot;font-family:&#39;lucida grande&#39;;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot;  style=&quot;font-size:medium;&quot;&gt;Sore itu Mina tidur sore, karena hari berikutnya harus pergi menemani anaknya, Nina ke Cibodas bersama teman-teman sekolah untuk studi lapangan. Sulit tidur. Ketika tertidur sudah menjelang subuh. Segala persiapan berlangsung cepat. Mereka berangkat. Bis berjalan ngebut. Tiba di dekat Ciloto bis oleng. Menabrak satu motor, tiga mobil dan akhirnya menceburkan diri ke dalam jurang, belasan meter. Beberapa anak mati, termasuk Nina. Mina sendiri luka ringan. Di rumah sakit, ia menggugat Tuhan, atau entah siapa: kenapa bukan dirinya; kenapa harus Nina yang mati. Hatinya lebih sakit lagi, karena kakak Nina juga baru saja mati ditusuk temannya sendiri, sesudah bertengkar soal pacar. Waktu menggugat ke sekolah dan perusahaan bis, Mina diberi lima juta santunan. Dalam hati Mina masih tidak tenang: Itukah harga anaknya? Itukah harga orang-orang itu. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot;  style=&quot;font-family:&#39;lucida grande&#39;;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot;  style=&quot;font-size:medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Tak jauh dari rumahnya, Mina terkejut karena puluhan polisi pamong praja sedang membongkar rumah ratusan gelandangan. Seminggu sebelumnya mereka juga sudah diancam untuk dibongkar, karena tidak mempunyai ijin tinggal. Tetapi mereka meratap untuk mendapat pengampunan. Tiada ampun bagi mereka. Pada hari eksekusi ini orang-orang ini diusir. Terserah akan tinggal di mana. Rumah mereka dihargai 5 juta. Walau rumahnya sendiri tidak ikut tergusur, Mina tidak habis berpikir: Sekiankah harga orang-orang ini? Kalaulah kardus dan bungkusan pakaian orang-orang ini memang tidak semahal itu, semurah itukah taksiran Pemda atas orang gelandangan itu? Sepertinya, lembu di pasaran masih lebih mahal? Apalagi singa di Taman Safari!&lt;br /&gt;Waktu rapat Rukun Warga Mina masih penasaran. Apalagi banyak tetangganya juga tidak mau diam. Sebenarnya, dianggap apa sih warga negara ini? Sesungguhnya para pimpinan rakyat ini bagaimana? Menjelang Pemilihan Gubernur, mereka merayu rakyat: seakan-akan rakyat ini ratu kecantikan yang dipuja di mana dan dibutuhkan. Tidak segan-segan para calon pemimpin itu membuang bermilyard uang untuk mendapat suara.&lt;br /&gt;Rakyat ini apa sih? Manusia ini apa sih? Yah. sampai ke situ juga akhirnya: buat kita manusia ini apa ya? Onggokan daging yang kebetulan masih bernafas? Atau akhirnya seperti di mata salah satu pimpinan di Afrika sekian puluh tahun yang lalu, manusia itu ya tidak lebih dan tidak kurang hanya  bakal pengisi lemari es: jadi ya hanya bahan santapan orang kuasa!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot;  style=&quot;font-family:&#39;lucida grande&#39;;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot;  style=&quot;font-size:medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Kalau sedang kalut pikirannya: manusia dapat mempertanyakan diri sendiri: manusia ini apa. Namun banyak leluhur kita sudah mengajukan pertanyaan serupa: manusia itu apa? Pertanyaannya belum sampai ke &quot;manusia itu siapa?&quot; Pertanyaan itu, tidak senantiasa merupakan pertanyaan kaum cerdik pandai atau mereka yang &#39;tidak punya kerjaan&#39; sehingga dalam waktu luang itu membiarkan pikiran mengembara: &quot;manusia itu apa&quot; dan &quot;manusia itu siapa&quot;. Bila tidak sampai terjawab, memang pertanyaan itu tidak akan menyebabkan manusia saling membunuh; namun menggelitik juga. Itulah pertanyaan yang menyebabkan filsafat tumbuh dan berkembang. Sebab pertanyaan itu akan dapat bercabang-cabang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. a) filsafat sebagai “cinta kebijaksanaan”: berasal dari kata philos (=cinta) dan sophia (=kebijaksanaan); dalam arti ini filsafat berarti usaha tanpa henti mencari kebenaran.&lt;br /&gt;b) filsafat adalah ilmu mengenai segala sesuatu dari sudut adanya: artinya filsafat bertugas mencari hakikat/asas/esensi/prinsip dasariah dan memeriksa asumsi-asumsi yang mendasarinya.&lt;br /&gt;2.  a) filsafat sebagai “cinta kebijaksanaan”: berasal dari kata philos (=cinta) dan sophia (=kebijaksanaan); dalam arti ini filsafat berarti usaha tanpa henti mencari kebenaran.&lt;br /&gt;b) filsafat adalah ilmu mengenai segala sesuatu dari sudut adanya: artinya filsafat bertugas mencari hakikat/asas/esensi/prinsip dasariah dan memeriksa asumsi-asumsi yang mendasarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filsafat berasal dari kata philosophia, yang berarti &quot;cinta akan kebijaksanaan&quot;. Timbul pertanyaan, apakah yang disebut &quot;cinta&quot; dan apa yang disebut &quot;kebijaksanaan&quot;. Seseorang tidak dapat disebut mencintai sesuatu, kalau ia tidak pernah memikirkan hal itu. Namun apabila seseorang setiap detik memikirkan sesuatu, apakah dapat dikatakan bahwa ia mencintai sesuatu itu? Juga kalau sesuatu itu adalah seseorang? Apa artinya suka? Senang? Menyukai atau menyenangi? Lalu kebijaksanaan: apakah dapat disebut bijaksana, kalau seseorang menembak begitu saja seorang pemuda gondrong yang dikira pencopet di tengah pasar? Apakah bijaksana kalau selama kurun waktu tertentu setiap penjahat ditembak di tempat? Apakah bijaksana kalau setiap pemerkosa dihukum gantung di tengah kota? Apakah bijaksana kalau kita mengawinkan anak yang baru berusia 14 tahun? Siapa yang menentukan bahwa tindakan A atau B itu bijaksana? Lalu apa artinya &quot;mencintai kebijaksanaan&quot;? Apakah ‘kebijaksanaan’ itu dapat diilmukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijaksanaan yang diminta oleh seseorang kepada polisi lalu lintas karena ia baru saja melanggar lampu merah; itukah kebijaksanaan yang dicari orang? Apakah kebijaksanaan yang dipilih oleh seorang wasit guna meniup peluit dan menentukan pinalti: itu kebijaksanaan seperti dimaksudkan dalam &#39;philosophia&#39;? Ataukah yang dicari seperti yang diajarkan oleh para petapa? Jadi kebijaksanaan itu hanya ditemukan di gua-gua dan dalam permenungan yang penuh rahasia?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot;  style=&quot;font-family:&#39;lucida grande&#39;;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot;  style=&quot;font-size:medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Dalam ucapan &quot;Allah dengan kebijaksanaanNya telah mengirim AnakNya menjadi manusia dan menyerahkanNya kepada orang jahat untuk dibunuh&quot;, itukah kebijaksanaan yang dimaksudkan? Lalu siapa yang dapat mengembangkan kebijaksanaan Allah? Siapa yang dapat mengulang-ulang kebijaksanaan Allah, sebagaimana seharusnya dapat dilakukan dalam dunia ilmu? Apakah kebijaksanaan itu sesuatu yang dapat diilmukan? Lalu apa hubungan filsafat dengan program Magister Ministri?&lt;br /&gt;Filsafat lebih dekat dengan masalah kepribadian ataukah masalah keilmuan? Adakah hubungannya dengan psikhologi kepribadian? Jadi mana yang kita butuhkan: psikhologi ataukah filsafat? &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot;  style=&quot;font-family:&#39;lucida grande&#39;;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot;  style=&quot;font-size:medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Kadang kala ada ahli filsafat berbicara mengenai politik dan etika. Apa hubungan antara politik dan filsafat dan antara etika dengan filsafat? Bagaimana kaitan antara masalah politik dan etika dengan pelayanan suatu jemaat? Hidup kegerejaan harus erat ataukah harus dibedakan ataukah harus dipisahkan dengan hidup berpolitik? Bukankah kecenderungan sekarang adalah jangan sampai jemaat sebagai jemaat diseret masuk dalam pertengkaran politis? Bukankah banyak orang sudah menolak mempolitikkan agama dan mempolitikkan etika dst? Lagi pula, siapakah masih mempedulikan etika dalam berpolitik dan berdagang? Bukankah ekonomi akan berhenti apabila harus mengingat norma-norma moral? Jadi filsafat itu melambatkan usaha dagang dan berpolitik? Kalau demikian filsafat itu justru membuat bangsa kita terbelakang? Karena tidak dapat mengembangkan ilmu dan ekonomi seluas-luasnya?&lt;br /&gt;Apalagi kalau dihubungkan dengan teologi yang pegangannya dari Allah sendiri? Adakah peran filsafat dalam berteologi? Jaman sekarang ini teologi kan lebih bebas lagi: setiap orang dapat mengembangkan teologi sesuai dengan situasi dan kondisi hidup maupun jemaatnya? Apa masalah kontemporer sungguh harus dipecahkan dengan filsafat ataukah harus memakai ilmu fisika atau biologi atau ekonomi dll?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filsafat lebih dekat dengan masalah kepribadian ataukah masalah keilmuan? Adakah hubungannya dengan psikhologi kepribadian? Sejauh manakah ada pertanggungjawaban dalam berfilsafat? Adakah prinsip tertentu dalam filsafat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang kala ada ahli filsafat berbicara mengenai etika dalam politik. Apa hubungan antara politik dan filsafat? Bagaimana kaitan antara politik, etika dan jemaat? Hidup politik harus pisah dari agama? Padahal di mana-mana sekarang orang membawa pertengkaran politik ke dalam jemaat – dan sebaliknya. Adakah orang yang mempedulikan etika dalam politik? Dalam ekonomi? Dalam keamanan negara? Apakah memang ada hubungannya? Bukankah ekonomi akan macet kalau memakai etika?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi kalau dihubungkan dengan teologi, yang acuan dasarnya Allah. Teologi kan mengatasi batas-batas manusia. Apakah bisa memakai filsafat? Juga kalau teologi kontekstual?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah masalah kontemporer sungguh harus dipecahkan dengan filsafat ataukah harus memakai ilmu fisika, ilmu ekonomi atau ilmu politik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;color: rgb(51, 51, 255);&quot;&gt;&lt;b&gt;A. Kita semua adalah filsuf&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita mengikuti jalan pemikiran di atas, pertanyaan kaum filsuf itu sesungguhnya juga merupakan pertanyaan kita semua. Dalam arti itu, kita semua sedikit banyak adalah filsuf: dengan atau tanpa ijasah sekolah filsafat, dengan atau tanpa gelar apa pun. Tidak terbilang banyaknya orang yang karena itu belajar secara lebih tekun untuk berfilsafat: mendalami filsafat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Oxford Companion to Philosophy: filsafat adalah: memikirkan cara dan isi pikiran kita sendiri tentang sesuatu, khususnya tentang diri manusia, tentang keyakinannya, tentang kepercayaannya, mengenai &#39;percaya dirinya&#39;, tentang dunia. Kalau mau lebih teliti lagi: filsafat adalah tindakan untuk secara kritis dan teliti-rasional memikirkan dunia manusia, lebih sistematis dan mendalam daripada yang tampak secara inderawi (maka sering disebut &#39;metafisik&#39;). Dalam filsafat orang mencoba mempertanggungjawabkan hal hadirnya manusia di dunia ini dan cara orang memandang dunia ini secara keseluruhan (maka sering dikaitkan dengan &#39;Weltanschauung&#39;), atau mengenai hakikat tindakan manusiawi yang membedakan manusia dari hewan (maka mempunyai bagian yang disebut &#39;antropologi&#39;),  juga berkaitan dengan apa dan mengapanya orang menjunjung tinggi suata &#39;Zat Mahatinggi yang disembahnya (maka mencakup filsafat ketuhanan atau filsafat agama) dan juga seputar hakikat tindakan susila (sehingga mempunyai bidang filsafat etika) dst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Lorens Bagus, Kamus Filsafat, filsafat adalah upaya spekulatif untuk menyajikan suatu pandangan sistematik serta lengkap tentang seluruh realitas, atau upaya untuk melukiskan hakikat realitas akhir dan dasar serta nyata, atau upaya untuk menentukan batas-batas dan jangkauan pengetahuan: sumbernya, hakikatnya, keabsahannya, dan nilainya; bahkan penyelidikan kritis atas pengandaian-pengandaian dan aneka pernyataan-pernyataan yang diajukan oleh berbagai bidang pengetahuan. Dia juga menyebut filsafat sebagai disiplin ilmu yang berupaya untuk membantu Anda melihat apa yang Anda katakan dan untuk mengatakan apa yang Anda lihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Angus Sinclair, dalam An Introduction to Philosophy, mengatakan bahwa filsafat adalah percobaan untuk memahami alam semesta dan diri kita sendiri serta tempat diri kit dalam semesta, entah untuk kepentingan teoretis entah untuk tujuan praktis.Tiap orang pernah jutaan kali menginjakkan kakinya di halaman rumahnya. Tiap malam kita pasti pernah berbaring di tempat tidur dan memandangi langit-langit tempat kita merebahkan diri: dapat di suatu kamar mewah, dapat pula di beranda terminal bis atau stasiun kereta api, atau di bawah jembatan sekali pun. Tidak jarang kita langsung tertidur; namun tidak mustahil pada sesuatu waktu kita sulit tidur, dan mulai berpikir mengenai diri kita ini. Pekerjaan, pergaulan, kesehatan, keberhasilan, kegagalan, saudara, tetangga, dan tentang seribu satu hal. Dalam kesempatan seperti itu, Tina pernah terpikir mengenai Pernahkah Anda bertanya pada diri Anda sendiri, di manakah Anda berada saat ini? Mungkin pertanyaan ini muncul ketika kita menatap ribuan bintang di langit atau berada di pantai dengan pandangan ke arah laut lepas yang bergelora. Tiba-tiba saja kita sadar bahwa kita ada di dunia. Kita tidak menciptakan dunia dan tidak memilihnya; kita ada begitu saja di dalamnya. Karena bukan buatan kita, ada banyak hal yang tidak kita ketahui mengenai dunia, alamnya, dan orang-orang lain yang juga tinggal di dunia yang sama.&lt;br /&gt;Bagaikan menyatukan sebuah puzzle dari keping-keping yang menempati pojok-pojoknya, kita harus mencoba mencari jalan dari keping-keping yang sudah kita kenal. Dalam kehidupan sehari-hari, aktivitas kita yang paling biasa dipandu oleh pengetahuan-pengetahuan yang juga paling biasa. Pengetahuan tersebut kita peroleh lewat berbagai perjumpaan dengan pengalaman, dan dalam setiap perjumpaan itu, kita berusaha memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi. Setiap usaha untuk memahami semesta dan tempat kita di dalamnya, apakah untuk kepentingan teoretis maupun kebutuhan praktis, adalah filsafat. Kita semua adalah filsuf sejauh masih mempunyai kebutuhan untuk tahu mengenai semesta dan tempat kita di dalamnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot;  style=&quot;font-family:&#39;lucida grande&#39;;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot;  style=&quot;font-size:medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Pandangan kita mengenai dunia mungkin naif dan tampak asal-asalan tetapi ia tetaplah suatu pandangan filosofis. Misalnya, seorang laki-laki yang mengatakan, “Semua cewek sama saja” sebenarnya sedang menyatakan pendapat filosofis mengenai suatu struktur sosial dengan perhatian khusus pada separoh jumlah umat manusia yang dianggap punya perilaku yang menjengkelkan. Lumrahnya, tak ada orang yang menyebut omongan laki-laki tadi filosofis karena filsafat selalu dikaitkan dengan sesuatu yang serius dan rumit. Namun demikian, perbedaan sebenarnya hanyalah bahwa yang satu adalah filsafat yang sederhana sedangkan yang lain adalah filsafat yang dipikirkan secara serius. Keduanya tetap sama-sama merupakan usaha memahami dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;color: rgb(51, 51, 255);&quot;&gt;B. Enigma&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot;  style=&quot;font-family:&#39;lucida grande&#39;;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot;  style=&quot;font-size:medium;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;color: rgb(51, 51, 255);&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;Untuk memahami semesta, hal pertama-tama yang dibutuhkan adalah ketakjuban. Seorang anak yang mulai bisa berbicara biasanya akan merepotkan orang-orang di sekelilingnya dengan macam-macam pertanyaan yang terdengar aneh untuk orang dewasa. Misalnya saja, ketika anak itu diajak naik mobil, dia akan bertanya mengapa pohon-pohon di sepanjang jalan berlari ke arah yang berlawanan. Atau ketika diberi mainan, mainan itu akan dibongkarnya. Filsuf dan anak-anak punya kesamaan. Mereka sama-sama terus dikuasai oleh ketakjuban dan rasa ingin tahu. Bagi mereka, dunia ini adalah enigma, teka-teki yang mengundang penasaran.&lt;br /&gt;Bagi kebanyakan orang lain, dunia ini tidak mengherankan. Seperti orang dewasa yang menertawakan pertanyaan anak kecil, tak ada lagi rasa ingin tahu. Apalagi ilmu pengetahuan modern telah berhasil menyingkapkan banyak misteri alam. Saat masih berupa misteri, orang berspekulasi mengenai wajah bulan yang kelihatan hitam-hitam di beberapa bagian. Ada pula macam-macam legenda mengenai orang yang ada di bulan. Sekarang, kita tahu persis seperti apa bulan itu. Tak perlu lagi berdebat apalagi berspekulasi mengenai satelit bumi itu. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot;  style=&quot;font-family:&#39;lucida grande&#39;;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot;  style=&quot;font-size:medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan sehari-hari ada banyak teka-teki tersebar di sekeliling ruang hidup kita. Akan tetapi banyak orang tidak lagi direpotkan oleh teka-teki itu. Karena telanjur biasa, teka-teki itu tidak menarik lagi. Misalnya, apa yang menarik dari air yang mendidih ketika dipanaskan? Berapa kali dalam satu hari kita sadar bahwa gaya gravitasi membuat kita masih menempel di permukaan bumi? Kebiasaan. Inilah kunci dari sikap acuh manusia. Kebiasaan menumpulkan rasa ingin tahu kanak-kanak yang sebenarnya ada dalam diri setiap orang. Filsafat bertugas untuk memulihkan rasa ingin tahu tadi pada manusia.&lt;br /&gt;Sokrates pernah berujar, “Hanya satu hal yang kutahu, yaitu bahwa aku tidak tahu apa-apa.&quot; Bukan pengetahuan yang membuat orang bijaksana, melainkan sikap ingin tahu karena sadar bahwa dirinya tidak tahu apa-apa. Memang demikianlah, kata “filsafat” berasal dari dua kata Yunani philos (cinta) dan sophia (kebijaksanaan). Kata “filsafat” pertama kali dipakai oleh Phytagoras ketika membantah orang-orang yang menyebutnya orang bijak. Phytagoras protes bahwa dia bukan orang bijak karena justru kebijaksanaanlah yang ia cari. Menurutnya, ia sekedar seorang yang mencintai kebijaksanaan. Cinta pada kebijaksanaan berarti tanpa henti mencari kebenaran dipandu oleh ketakjuban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;color: rgb(51, 51, 255);&quot;&gt;C. Mitos&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot;  style=&quot;font-family:&#39;lucida grande&#39;;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot;  style=&quot;font-size:medium;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;color: rgb(51, 51, 255);&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;Teka-teki semesta pada mulanya ditanggapi oleh manusia dengan menciptakan mitos atau legenda. Mitos itu berisi kisah yang biasanya menceritakan asal mula sesuatu atau terjadinya suatu peristiwa. Gerhana matahari, misalnya, dalam tradisi masyarakat Jawa dipahami sebagai peristiwa Batara Kala (dalam rupa sesosok raksasa) yang memakan matahari. Di setiap kelompok etnis di nusantara ini, kita bisa menemukan kisah-kisah mengenai penciptaan bumi, hujan, petir, dan manusia.&lt;br /&gt;Dalam peristiwa-peristiwa alam tersebut, kekuatan adikodrati berperan dominan. Meskipun begitu manusia tidak diam saja. Ia harus berpartisipasi di dalamnya. Partisipasi manusia itu diwujudkan dalam bentuk ritus. Dalam peristiwa gerhana matahari tadi, orang-orang harus memukuli lesung dan segala alat yang menimbulkan bunyi supaya Batara Kala segera memuntahkan matahari. Mitos-mitos tersebut bukan sekedar kisah hiburan atau untuk menakut-nakuti anak kecil. Mitos itu dimaksud untuk menjelaskan peristiwa-peristiwa di sekeliling kita.&lt;br /&gt;Filsafat menandai berakhirnya mitos sebagai penjelas teka-teki dunia ini. Dalam filsafat orang mulai menggunakan penalarannya untuk memeriksa keyakinan-keyakinan yang selama ini memandu kehidupan. Para filsuf Yunani yang pertama memulai proyeknya dengan mengritik mitos-mitos dan para dewa-dewi. Bagi mereka mitos dan para dewa hanyalah rekaan manusia saja. Dengan demikian, filsafat juga berarti gerakan demitologisasi. Filsafat menelanjangi mitos dan membebaskan manusia dari cengkeraman keyakinan mitologis yang tidak masuk akal.&lt;br /&gt;Sekalipun demikian, tidak berarti riwayat mitos berakhir sama sekali. Ada kebenaran-kebenaran filosofis yang lebih menarik bila diterangkan dengan menggunakan mitos-mitos itu. Plato misalnya, memakai mitos manusia gua untuk menerangkan gagasan mengenai pengetahuan sejati. Lagipula, kehidupan modern pun sulit menghindar dari mitos; ia malah menciptakan mitos-mitos baru dalam rupa ideologi, kisah-kisah sukses, iklan, dan lain-lain. Oleh karena itu, filsafat sebagai demitologisasi akan selalu relevan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa sifat filsafat sebagai ilmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mencari asas&lt;br /&gt;Suatu ilmu biasanya mengandung dua jenis objek yaitu objek material dan objek formal. Objek material adalah sasaran penyelidikan yang berada dalam ruang lingkup ilmu tersebut. Fisika menyelidiki dunia materi; psikologi menyelidiki jiwa manusia. Objek formal adalah sudut pandang yang digunakan ilmu tersebut dalam melakukan penyelidikan. Bila hanya memperhatikan objek materialnya, ilmu-ilmu alam (fisika, kimia, geologi) mempunyai objek yang sama yaitu dunia materi dari alam, sementara ilmu-ilmu sosial (sosiologi, antropologi, ekonomi) juga sama-sama menyelidiki bentuk-bentuk relasi antarmanusia. Objek formal membedakan ilmu politik dari ekonomi karena ilmu politik menyelidiki relasi-relasi sosial antarmanusia dari sudut perebutan kekuasaan sementara ekonomi dari sudut kegiatan tukar-menukar barang dan jasa. Lalu bagaimana dengan filsafat?&lt;br /&gt;Filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dari sudut adanya. Dari rumusan ini kelihatan bahwa filsafat tidak memilih objek material yang tertentu. Kita nantinya akan menjumpai, sejak awal sejarahnya filsafat sudah merambah ke berbagai bidang: alam semesta, angka-angka, musik, kekuasaan, pengetahuan. Atau mungkin lebih tepat dikatakan bahwa ilmu-ilmu lain berinduk pada dan mengambil bagian dari filsafat. Yang membuat filsafat khas sebagai ilmu adalah objek formalnya. Filsafat membicarakan segala sesuatu dari sudut adanya. Ini berarti filsafat memusatkan perhatiannya pada asumsi-asumsi atau pengandaian-pengandaian yang mendasari suatu kenyataan.&lt;br /&gt;Asumsi-asumsi tersebut umumnya diandaikan begitu saja dalam ilmu-ilmu empiris. Adalah tugas filsafat untuk memeriksa asumsi-asumsi dan mencari hubungan logis di antara asumsi-asumsi tersebut. Dengan kata lain, filsafat bekerja dengan mencari asas atau prinsip paling dasariah dari suatu kenyataan. Filsafat tidak puas dengan hal-hal yang tampak di permukaan. Ia akan terus mencari ada apa di balik yang kelihatan itu.&lt;br /&gt;Mengenai asumsi tersebut, ada dua kenyataan yang menjadi perhatian filsafat. Pertama, kita selalu mempunyai asumsi. Tanpa asumsi, hidup ini menjadi terlalu repot. Misalnya, setiap kali memasuki kamar yang gelap kita memencet tombol untuk menghidupkan lampu. Jelas lampu akan menyala kalau tombolnya dipencet; kita tak perlu repot-repot memikirkan mengapa lampu menyala. Kenyataan kedua, kita lebih sering tidak sadar bahwa kita mempunyai asumsi. Sangat sering kita berbicara mengenai agama tanpa memeriksa ide-ide dasariah yang menentukan fenomen yang disebut agama itu.&lt;br /&gt;Asumsi-asumsi tersebut bisa sangat menentukan kehidupan kita. Misalnya, petani modern berasumsi bahwa setiap tahun musim akan selalu berganti, dan menyesuaikan pola tanam seturut pergantian musim. Masyarakat yang masih sangat tradisional percaya bahwa pergantian musim itu tidak otomatis. Maka mereka membuat ritual korban untuk mengundang musim tanam. Asumsi kedua ini membuat orang harus melakukan hal-hal yang bagi orang modern dianggap tidak produktif. Filsafat bertugas memeriksa asumsi-asumsi tersebut dan menantang kita agar mengangkatnya ke tingkat sadar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Membicarakan barang lama secara baru&lt;br /&gt;Sebagai ilmu, filsafat juga mempunyai perbedaan mendasar lain dibandingkan ilmu-ilmu lain. Ilmu-ilmu biasanya mengajarkan fakta baru kepada yang bersangkutan. Bila belajar kimia, Anda akan mendapati sekian unsur dalam tabel unsur kimia. Psikologi mengajarkan berbagai bentuk sublimasi sebagai strategi mengatasi tekanan. Memang ada fakta baru yang diajarkan filsafat, namun pada umumnya filsafat membicarakan hal-hal yang sudah kita tahu. Bedanya, filsafat membicarakannya secara baru. Hal ini menuntut usaha ekstra dari semua saja yang ingin belajar filsafat persis karena kombinasi antara objek yang biasa dan cara yang tidak biasa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tidak baku&lt;br /&gt;Keistimewaan lainnya, filsafat itu tidak baku. Bila mempelajari bahasa Inggris, Anda akan menemukan satu paket informasi yang bernama tata bahasa atau grammar. Lalu Anda juga akan belajar percakapan-percakapan paling dasar. Dalam setiap ilmu ada semacam “kanon” atau paket baku informasi yang mau tidak mau harus diketahui kalau mau mempelajari ilmu tersebut di manapun. “Kanon” tersebut adalah pengendapan dari kesepahaman umum yang berlaku dalam disiplin ilmu tersebut. Misalnya, dalam biologi, studi mengenai anatomi hewan tak bertulangbelakang di mana-mana sama. “Kanon” ini tidak dapat tidak dipelajari kalau seseorang mau menguasai ilmu tersebut. Dalam filsafat tidak ada kesepahaman umum semacam itu. Memang, kita perlu tahu beberapa pemikiran Plato dan Aristoteles, namun pada prinsipnya filsafat membuka ruang seluas mungkin untuk menjadi tidak konvensional seturut hakikat filsafat yang adalah pencarian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;color: rgb(51, 51, 255);&quot;&gt;D. Pertanyaan-pertanyaan filosofis&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot;  style=&quot;font-family:&#39;lucida grande&#39;;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot;  style=&quot;font-size:medium;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;color: rgb(51, 51, 255);&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;Sebagai sebentuk pencarian, filsafat bekerja terutama dengan mengajukan pertanyaan. Metode bertanya sebenarnya tidak khas untuk filsafat. Semua ilmu pengetahuan juga mengajukan pertanyaan, dan pertanyaannya dibatasi oleh objek material dan formalnya. Dalam filsafat yang “membatasi” pertanyaan adalah objek formalnya. Sebenarnya tidak tepat kalau dikatakan “membatasi” (karena itu diletakkan dalam tanda kutip) karena objek formal filsafat justru mendorong pertanyaan filosofis untuk sedalam dan sepuas mungkin menggali lapisan-lapisan kenyataan. Pada dasarnya, ada empat unsur pokok dalam filsafat yang membimbing pertanyaan-pertanyaan filosofis. Empat unsur ini sekaligus menentukan cabang-cabang filsafat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Metafisika&lt;br /&gt;Pertanyaannya adalah “Apa yang merupakan realitas puncak?” Pertanyaan ini mengarahkan penyelidikan kita untuk menyelidiki realitas di balik realitas materi, “meta” (mengatasi) “fisika” (dunia materi). Dengan kata lain, metafisika mencari hakikat terdalam dari realitas. Apakah Tuhan ada? Apakah jiwa sungguh dapat dibedakan dari badan? Apakah manusia sungguh bebas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Epistemologi&lt;br /&gt;Unsur kedua berkaitan langsung dengan penyelidikan metafisis tersebut yaitu epistemologi. Metafisika berusaha mendapatkan pengetahuan mengenai realitas terdalam, dan epistemologi bertanya sejauh mana pengetahuan manusia dapat menjangkaunya. Epistemologi merupakan unsur pokok dalam filsafat yang bertugas meneliti asal-usul, hakikat dan jangkauan pengetahuan. Apakah pengalaman merupakan sumber yang dapat diandalkan untuk mendapatkan pengetahuan? Apa ukuran dari sebuah kebenaran?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Logika&lt;br /&gt;Kalau unsur pertama dan kedua tadi sangat teoretis, unsur ketiga dan keempat bersifat lebih praktis. Unsur ketiga adalah logika yaitu filsafat yang bertugas mengembangkan dan memeriksa asas-asas dan prosedur penalaran yang menjamin kebenaran rasional. Konkretnya, logika mencari prinsip-prinsip untuk menilai apakah suatu pernyataan dapat dibenarkan atau tidak. Mengapa pernyataan “Semua anjing adalah kucing. Sokrates adalah anjing. Maka Sokrates adalah kucing” dianggap valid?  Atas dasar prinsip-prinsip tersebut kita juga bisa menilai apakah suatu definisi dapat dikatakan valid atau tidak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Etika&lt;br /&gt;Unsur keempat adalah etika yang bertugas menyelidiki prinsip-prinsip yang mendasari perilaku manusia. Etika tidak menentukan apakah yang baik dan apakah yang jahat, melainkan bagaimana kita tahu bahwa sesuatu itu baik atau jahat. Apakah kesenangan merupakan satu-satunya ukuran untuk menentukan bahwa sesuatu itu baik? Apakah tujuan yang baik dapat membenarkan sarana yang kurang baik? Dari sini dirumuskan kewajiban-kewajiban etis manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat unsur tersebut masih dapat dirinci menjadi sekian cabang filsafat lagi. Sebut saja filsafat politik, filsafat agama, filsafat bahasa, dan sebagainya. Tanpa memasuki cabang-cabang yang lebih rinci itupun kita mendapat kesan bahwa filsafat mempunyai klaim yang paling luas daripada ilmu-ilmu lain. Filsafat Yunani memperlihatkan minat yang sangat jelas pada unsur-unsur pokok tersebut. Perkenalan dengan filsafat Yunani akan mengajak kita berkenalan dengan unsur-unsur pokok dari filsafat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusikan pernyataan-pernyataan berikut ini:&lt;br /&gt;1. Filsafat perlu jadi rekan teologi demi kelangsungan dan perkembangannya.&lt;br /&gt;2. Filsafat  karena tak mampu menjelaskan   serta bersifat post factum.&lt;br /&gt;3. Filsafat sama sekali berbeda dari ilmu-ilmu alam.&lt;br /&gt;4. Humanisme maupun naturalisme  tak memadai sebagai asumsi Filsafat.&lt;br /&gt;5. Objek Filsafat adalah “human beings as concept-bearing agents”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;color: rgb(255, 102, 0);&quot;&gt;&lt;i&gt;Plato, Sang Filsuf Mengenai Yang Ideal&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak masa mudanya, PLATO (427-347 SM) adalah murid dan pengagum Sokrates. Tidak heran kalau filsafatnya amat dipengaruhi oleh pandangan gurunya itu. Namun tidak seperti Sokrates, Plato rajin menulis buku dengan gaya sastra bermutu tinggi. Karangannya yang terakhir, Nomoi (=Undang-Undang) bahkan belum rampung ditulis saat Plato menghembuskan nafasnya yang terakhir dalam usia 80 th. Oleh sebab itu, Cicero mengatakan, “Plato scribens est mortuus” (=Plato meninggal sedang menulis).&lt;br /&gt;Kalau kita mencoba mencermati ciri corak filsafat Plato, maka kita akan menemukan adanya tiga sifat khusus filsafat Plato. Pertama, bersifat “sokratik”. Dalam karya-karya yang ditulis pada usia mudanya, Plato selalu menampilkan kepribadian dan perkataan Sokrates sebagai topik sentral karangannya. Kedua, berbentuk dialog. Hampir semua karya Plato berbentuk atau bernada dialog (misalnya, tanya-jawab, kalimat retoris). Hal ini memang di satu pihak merupakan ungkapan rasa takjub dan takzim Plato yang tulus kepada Sokrates, gurunya, yang juga memakai metode dialog/bercakap-cakap dalam berfilsafat. Di lain pihak Plato sendiri dalam Surat VII berpendapat bahwa pena dan tinta itu membekukan pemikiran sejati dalam huruf-huruf yang membisu. Kalau toh pemikiran itu perlu dituliskan, bentuk yang paling cocok untuk itu adalah bentuk percakapan (dialog-dialog). Ketiga, adanya mitos-mitos. Plato memakai mitos untuk mengemukakan ajarannya mengenai hal-hal abstrak dan adiduniawi (misalnya tentang ide-ide, keutamaan, jiwa). Khususnya berkat kedua ciri corak yang disebut terakhir inilah (ciri dialog dan adanya mitos-mitos), karya-karya Plato tidak bisa disebut sebagai karya ilmiah yang sistematis dan berurutan logis, melainkan sebagai karya sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan mengenai dualisme Plato&lt;br /&gt;Plato tumbuh dalam suasana negara kota yang mulai redup, kehilangan kejayaannya. Dihukumnya Sokrates, warga Athena yang paling setia, menjadi petunjuk paling jelas dari kemunduran negara kota Athena. Plato bangkit dengan semangat untuk mempertahankan gagasan mengenai negara kota secara ilmiah. Dalam pencariannya ini, Plato memusatkan perhatian pada gagasan mengenai Ide-ide. Gagasan mengenai Ide-ide ini dijabarkan dalam tiga tema khusus yaitu pengetahuan, realitas, dan nilai.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot;  style=&quot;font-family:&#39;lucida grande&#39;;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot;  style=&quot;font-size:medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;(1) Dualisme epistemologis: Pengetahuan Universal dan Pendapat Partikular&lt;br /&gt;Dalam wilayah pengetahuan, Plato membedakan dua pendekatan mendasar: indera dan akal. Pengenalan inderawi menangkap objek-objek yang terus-menerus berubah, relatif, dan partikular. Kesimpulannya, pengenalan inderawi hanya menghasilkan pendapat-pendapat yang dapat keliru, bukan pengetahuan yang sejati. Pengetahuan sejati yang mestinya stabil, mutlak, dan universal hanya ada pada pengertian, hasil kerja akal. Pengertian akan objek universal tertinggi merupakan jenis pengetahuan yang tertinggi, sementara pengenalan akan objek partikular yang paling rendah merupakan jenis pendapat yang paling rendah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot;  style=&quot;font-family:&#39;lucida grande&#39;;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot;  style=&quot;font-size:medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;(2) Dualisme metafisis: Realitas dan Fenomena&lt;br /&gt;Seturut dua jenis pengenalan tadi, Plato membedakan dua jenis entitas yang sama sekali berbeda. Pengenalan inderawi menangkap fenomena, sementara pengertian akal menangkap realitas. Sahnya pengetahuan yang sejati menuntut Ide-ide yang menjadi rujukan objektif bagi konsep-konsep universal. Objek-objek fenomenal hasil pengenalan inderawi hanya real dan rasional sejauh berpartisipasi pada Ide-ide yang sepenuhnya real.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot;  style=&quot;font-family:&#39;lucida grande&#39;;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot;  style=&quot;font-size:medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;(3) Dualisme etis: Nilai-nilai ideal dan Nilai-nilai fenomenal&lt;br /&gt;Dualisme tadi menjadi praktis dalam teori Plato mengenai nilai-nilai individual dan sosial. Semakin seseorang berusaha bertindak seturut Ide-ide etis, semakin ia mewujudkan dalam hidupnya nilai-nilai yang sejati seperti keadilan dan keberanian. Semakin ia mengejar nafsu-nafsu irasional, semakin hidupnya menjadi tidak real dan palsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;color: rgb(255, 102, 0); font-weight: bold;&quot;&gt;FILSAFAT KONTEMPORER&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;color: rgb(51, 51, 255);&quot;&gt;PERIODISASI FILOSOFI:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot;  style=&quot;font-family:&#39;lucida grande&#39;;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot;  style=&quot;font-size:medium;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;color: rgb(51, 51, 255);&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;Pertama, Filsafat Yunani dan Romawi (abad 6 SM sampai 529 M ketika Justinianus dari Byzantium menutup semua sekolah filosofi ‘kafir’ di Athena).&lt;br /&gt;Kedua, Filsafat Abad Pertengahan (abad 6 sampai abad 15: yi sejak Boethius sampai Nikolaus Cusa).&lt;br /&gt;Ketiga, Filsafat Modern (abad 16 sampai abad 19: yi sejak jaman Renaissance dengan tokoh utamanya Descartes dan ditutup dengan Nietzsche).&lt;br /&gt;Keempat, Filsafat Kontemporer (abad 20-21). Cakupan terpenting: daerah berbahasa Jerman, Inggris dan Perancis (yang sering dianggap terbentuk tradisinya sejak abad 16 dengan Montaigne dan abad 17 dengan Descartes).&lt;br /&gt;Tema-tema yang dapat dipikirkan:&lt;br /&gt;Di daerah berbahasa Inggris:&lt;br /&gt;Idealisme Inggris; George Moore dan Bertrand Russel dengan atomisme logis; Alfred Ayer dengan positivisme Logis; Ludwig Wittgenstein; kelompok Cambridge; kelompok Oxford, seperti Gilbert Ryle, John Austin dan Peter Strawson; Karl Popper dan rasionalisme kritis.&lt;br /&gt;Di daerah berbahasa Jerman:&lt;br /&gt;Neokantianisme; Wilhelm Dilthey dengan filsafat kehidupan; Neothomisme; Edmund Husserl dengan fenomenologi; Max Scheler; Nikolai Hartmann; Karl Jaspers dan filosofi eksistensi; Martin Heidegger; para filsuf Yahudi seperti Franz Rosenzweig, Martin Buber; Lingkaran Wina; Mazhab Frankfurt dengan tokoh-tokoh seperti Max Horkheimer, T.W. Adorno, Herbert Marcuse, Juergen Habermas; Hans-Georg Gadamer dan hermeneutika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ada banyak ilmu baru, seperti yang menyangkut computer dan ilmu perbintangan. Tidak sedikit masalah kontemporer lebih merupakan masalah yang timbul karena perebutan kekuasaan dan diselesaikan dengan kekerasan. Yang dianggap benar adalah mereka yang menang. Kemenangan itu diperoleh tidak jarang karena jumlah mereka besar atau karena senjata mereka lebih kuat. Maka berbicara dengan filsafat tidak membawa penyelesaian bagi masalah kontemporer.&lt;br /&gt;Filsafat Kontemporer mau mencermati masalah-masalah kontemporer pada lapisan terdalam: sebagai urusan setiap manusia dan mengenai manusia sedalam-dalamnya. Filsafat Kontemporer biasanya dianggap mulai pada akhir abad 19 dan awal abad 20. Filsafat Kontemporer membedakan dirinya dari aliran sebelumnya kerap kali dari kritik eksplisitnya terhadap tradisi modern dan kadang kala sikapnya ’indiferens’ terhadap tradisi modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Eropa, FK pada awal abad 20 sibuk dengan mengatasi masalah yang kerap kali dikaitkan dengan ’hubungan antara manusia yang mengetahui dengan hal-hal yang diketahuinya’. Orang ingin menyatukan manusia dengan dunianya, bukan hanya dengan dirinya sendiri. Latar belakangnya adalah filsafat sebelumnya, yang menekankan sekali hubungan antara manusia dengan dirinya sendiri. Contohnya: Descartes berbicara mengenai ”cogito ergo sum” yang artinya &quot;saya berpikir, maka saya ada”. Jelasnya: adaku itu erat berkaitan dengan berpikirku. Orang masa kini berbicara mengenai ”saya membeli maka saya ada”. Artinya, adaku itu erat berhubungan dengan relasiku dengan hal dan seluruh interaksi berjual beli barang yang ada di dunia ini.&lt;br /&gt;Mengapa cara baru dalam berpikir itu tumbuh? Sebab, orang tidak mau berkutat hanya dengan pikiran dan perasaan atau dirinya sendiri. Orang menyadari adanya itu justru dalam perjumpaannya dengan dunia di sekitarnya atau dunia tempat dia hidup. Semua itu menantang kita untuk berpikir: sering kali harus berpikir sendiri, tanpa bergantung pada penjelasan dari Alkitab atau Ajaran Gereja.&lt;br /&gt;Untuk itu diperlukan filsafat. Karena kita hidup di jaman ini, maka kita berusaha memakai Filsafat Masakini atau Filsafat Kontemporer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aristoteles, Sang Filsuf Mengenai Yang Aktual&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aristoteles (384-324SM) dilahirkan di Stagira (sekarang di wilayah Yunani Utara), menjadi murid Plato selama 20 tahun. Pada tahun 324 SM ia menjadi guru Alexander Agung. Kemudian ia mendirikan sekolah sendiri yang dinamainya Lykeion sebab tempatnya dekat halaman yang dipersembahkan kepada dewa Apollo Lykeios. Tulisan-tulisan Aristoteles yang sampai pada kita kebanyakan berupa naskah-naskah perkuliahan yang ia pergunakan di sekolahnya. Dari tulisan-tulisan inilah berasal apa yang kemudian disebut Corpus Aristotelicum, yakni kumpulan karangan Aristoteles mengenai logika (Organon), ilmu pengetahuan alam, metafisika, pelbagai tulisan tentang etika, dan buku-buku mengenai estetika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;color: rgb(51, 51, 255);&quot;&gt;Logika&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot;  style=&quot;font-family:&#39;lucida grande&#39;;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot;  style=&quot;font-size:medium;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;color: rgb(51, 51, 255);&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; Aristoteles dalam beberapa tulisannya membagi filsafat (pengetahuan) dalam tiga kategori pokok.&lt;br /&gt;(1) Filsafat teoretis: yaitu filsafat yang bertujuan mendapatkan pengetahuan semata-mata dan bukan hal-hal yang praktis. Dibagi lagi menjadi (a) Fisika atau Filsafat Alam yaitu bagian filsafat yang mempelajari benda-benda material yang dapat digerakkan, (b) Matematika yang mempelajari hal-hal yang tidak bergerak namun masih menjadi bagian dari benda, dan (c) Metafisika yang mempelajari hal-hal yang mengatasi (terpisah dari) materi dan tidak dapat digerakkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot;  style=&quot;font-family:&#39;lucida grande&#39;;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot;  style=&quot;font-size:medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;(2) Filsafat praktis:  filsafat yang bertujuan tidak hanya untuk mendapatkan pengetahuan melainkan juga untuk merumuskan tindakan, atau konkretnya mengubah cara hidup orang. Yang termasuk dalam kategori ini adalah Ilmu Politik yang di dalamnya termasuk etika, ekonomi, retorika, dan strategi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot;  style=&quot;font-family:&#39;lucida grande&#39;;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot;  style=&quot;font-size:medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;(3) Filsafat produktif/puitis: filsafat yang sanggup menghasilkan suatu karya. Termasuk di sini adalah ilmu teknik dan kesenian.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot;  style=&quot;font-family:&#39;lucida grande&#39;;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot;  style=&quot;font-size:medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Di luar ketiga kelompok ini, masih ada logika yaitu kerangka atau peralatan teknis yang diperlukan manusia supaya penalarannya berjalan dengan tepat. Dalam arti ini, logika bisa diterapkan pada ketiga macam filsafat atau ilmu pengetahuan tadi sebagai batu uji untuk mengetahui tingkat keilmiahannya. Logika inilah salah satu sumbangan Aristoteles yang berharga bagi dunia ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;Secara umum, ajaran Aristoteles tentang logika ini meliputi ajaran-ajaran mengenai induksi, deduksi, dan silogisme. Induksi dan deduksi merupakan dua jalan untuk mendapatkan pengetahuan. Induksi adalah metode pemikiran yang menghasilkan pengetahuan tentang yang umum dengan bertolak dari hal-hal khusus, sedangkan deduksi adalah, sebaliknya, metode pemikiran yang menemukan yang khusus dengan bertitik tolak dari hal yang umum. Cara induksi adalah cermin kegemaran Aristoteles melakukan observasi dan eksperimen terutama dalam biologi. Sekalipun demikian, Aristoteles mewarisi pula ajaran Plato gurunya yang ingin mendapatkan pengetahuan sejati yang pasti, tunggal dan universal. Dan yang menjamin pengetahuan sejati ini adalah deduksi. Bedanya, Aristoteles selalu ingin mendaratkan kembali deduksi itu pada realitas konkret, misalnya dengan mengasalkan salah satu premisnya pada hasil observasi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot;  style=&quot;font-family:&#39;lucida grande&#39;;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot;  style=&quot;font-size:medium;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Silogisme merupakan salah satu bentuk deduksi. Caranya adalah mengambil kesimpulan dari dua pernyataan atau premis yang diberitahukan sebelumnya. Misalnya, (1) Semua manusia akan mati&lt;br /&gt;(2) Sokrates adalah seorang manusia&lt;br /&gt;(3) Maka: Sokrates akan mati.&lt;br /&gt;Dalam silogisme tersebut, pernyataan (1) adalah premis umum/mayor, pernyataan (2) adalah premis khusus/minor, dan (3) adalah kesimpulan. Kata “manusia” adalah “kata tengah” (middle term atau terminus medius)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;     &lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot;  style=&quot;font-family:&#39;lucida grande&#39;;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span class=&quot;Apple-style-span&quot; style=&quot;color: rgb(255, 102, 0);&quot;&gt;by Galilean Mission&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://karangyoso.blogspot.com/2009/01/filsafat_25.html</link><author>noreply@blogger.com (Villa Sophia Cimacan)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhIvBgpOmEhZaL_4ILkQ5YoBZTZZVzVTPfETG1LhyHLf-3nT-_BGw7j3ALXC64IGDHExVfSmMRUxKY7oywiGBEU13p8TNu8NMg5nQpEh1NhdcGAvyQ7CboqJ0ZXh0CfP9sPi1l4Fw49bHo/s72-c/Filsuf.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8421755393181764849.post-723060945319679604</guid><pubDate>Fri, 26 Dec 2008 11:46:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-26T18:53:56.623+07:00</atom:updated><title>Denah Lokasi dan Foto Padepokan Sadrach</title><description>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhcPJrVOwLBdePphWYY5QXupmm-WZcdFRUTp5N4TYwSkkDhQ3q1HozbH2VXC49H4nUUQ2GCIathu0018um8gSDuAIPp8E1WxvhuO0VEK7sZ-HlBmPa86zlEG_VUR0bxnqgx7CbL3-5lGQU/s1600-h/Untitled-4.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 299px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhcPJrVOwLBdePphWYY5QXupmm-WZcdFRUTp5N4TYwSkkDhQ3q1HozbH2VXC49H4nUUQ2GCIathu0018um8gSDuAIPp8E1WxvhuO0VEK7sZ-HlBmPa86zlEG_VUR0bxnqgx7CbL3-5lGQU/s400/Untitled-4.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5284065436998853986&quot; border=&quot;0&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi8yr_Nn8g9Atacpv74No1jt-1737cWd33sIjHr94tFwhMgCUv4vry5KSHFWw-6zKGTFifYsfylGI_jNf38hxL4BEbu7tM6XT5exKHQp08jGvXWXDHpiWIdYh2RwdyAQk9BFZzqBzOI0Qg/s1600-h/Untitled-1.psd.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 299px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi8yr_Nn8g9Atacpv74No1jt-1737cWd33sIjHr94tFwhMgCUv4vry5KSHFWw-6zKGTFifYsfylGI_jNf38hxL4BEbu7tM6XT5exKHQp08jGvXWXDHpiWIdYh2RwdyAQk9BFZzqBzOI0Qg/s400/Untitled-1.psd.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5284065432570716258&quot; border=&quot;0&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjM00rhMVTwdOL9ORCmj1jNgNtkXz0umUFDy-ImNXe7cH0Wr4dt7U5_z9fyew8eaKX34eYV3BwTgX_gqr6xNbG4446kERMiIFgAeBD1kuYwCNv9LNg_KWysKMLXDY_2UknEAbz6EZMNlYY/s1600-h/P1042964.JPG&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjM00rhMVTwdOL9ORCmj1jNgNtkXz0umUFDy-ImNXe7cH0Wr4dt7U5_z9fyew8eaKX34eYV3BwTgX_gqr6xNbG4446kERMiIFgAeBD1kuYwCNv9LNg_KWysKMLXDY_2UknEAbz6EZMNlYY/s400/P1042964.JPG&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5284065431816815714&quot; border=&quot;0&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEji-AbQegVMd_zY94hNSlW5Z8y9KPtXr2OIXG0rTDyTxsK_Pn28wkYsu5GFI8xmSVW1xa45P_IFpj4-1j80-0qCMQlVIFW9p7mObMzncGraw1V1XYNnC7oGmFlOenRjeW_O2pTwIA6u0Aw/s1600-h/P1042848.JPG&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEji-AbQegVMd_zY94hNSlW5Z8y9KPtXr2OIXG0rTDyTxsK_Pn28wkYsu5GFI8xmSVW1xa45P_IFpj4-1j80-0qCMQlVIFW9p7mObMzncGraw1V1XYNnC7oGmFlOenRjeW_O2pTwIA6u0Aw/s400/P1042848.JPG&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5284065427490543074&quot; border=&quot;0&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiJWrkFd9wBIpGINgq02mGL-eRdpYrUq4ETBcumsEC5srmAY3adU-bvXTZr6E50JKvpT_W-8Un_NkEFyv4had3gc4cvxUHjxdT9HqYBaKZfMXq483XjOEptGbqu8KqWcWAHhder3SnJdNo/s1600-h/P1042843.JPG&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiJWrkFd9wBIpGINgq02mGL-eRdpYrUq4ETBcumsEC5srmAY3adU-bvXTZr6E50JKvpT_W-8Un_NkEFyv4had3gc4cvxUHjxdT9HqYBaKZfMXq483XjOEptGbqu8KqWcWAHhder3SnJdNo/s400/P1042843.JPG&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5284065421208542802&quot; border=&quot;0&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjTDAK0R-5wcsCuB164RN2xlMvn-eKLNhLSWgNcz0I0GKGizG8z0AvEI8YSiRqOv0Lz9tc0acfzCr4y4aexFg2vrkrnjVcAr4GUSyuh35D80ANRugC_-LU2oPYzfBvQU7Wh-9y2JEzU9L8/s1600-h/FOTO+BERSAMA1.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 268px; height: 400px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjTDAK0R-5wcsCuB164RN2xlMvn-eKLNhLSWgNcz0I0GKGizG8z0AvEI8YSiRqOv0Lz9tc0acfzCr4y4aexFg2vrkrnjVcAr4GUSyuh35D80ANRugC_-LU2oPYzfBvQU7Wh-9y2JEzU9L8/s400/FOTO+BERSAMA1.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5284064606831444002&quot; border=&quot;0&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgeqxYVj6XHwvl5LG3IBFgn7Mt077OlWgBfWWYYsF2x-NtllJRPVPCEiFkQPfX7KbA6RGSsJULgE3vttUltT3p5oG2fFGz5sgzy64fqKpuX-TND-gq5RUFAZBVkIPRVM9utx0IivC9Qcqg/s1600-h/gereja-pendopo.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 299px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgeqxYVj6XHwvl5LG3IBFgn7Mt077OlWgBfWWYYsF2x-NtllJRPVPCEiFkQPfX7KbA6RGSsJULgE3vttUltT3p5oG2fFGz5sgzy64fqKpuX-TND-gq5RUFAZBVkIPRVM9utx0IivC9Qcqg/s400/gereja-pendopo.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5284064608157036754&quot; border=&quot;0&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgdVnCF2WrD8gx6RfBhNmQpWQSDnjzpX4qpDMQfXp9h1NzLq82LrV8PPEPlZKgDfkVwTyDMK2v4AzI1ddTtZL1lgrC4IRMvzFU4jEkOHPOAGRZS5O7tsKdfSFVpciH2vE5wjzUxxI6m7Yg/s1600-h/ruang+dalam+gereja.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgdVnCF2WrD8gx6RfBhNmQpWQSDnjzpX4qpDMQfXp9h1NzLq82LrV8PPEPlZKgDfkVwTyDMK2v4AzI1ddTtZL1lgrC4IRMvzFU4jEkOHPOAGRZS5O7tsKdfSFVpciH2vE5wjzUxxI6m7Yg/s400/ruang+dalam+gereja.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5284064600500120018&quot; border=&quot;0&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjdok4HJ97ZMAjpSmsx-rMa8ZIjD4_37DJk886k6ULg2UeWBBR5EuMNrwKAgW5-64JFBqYgThWQy37TgwR7lMKSUqzqhO7NsyNTIDYfrFc0RqHGO4m1SgIGHw8N5mfKXYxYTKAqSbwCakc/s1600-h/gereja+kini.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 268px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjdok4HJ97ZMAjpSmsx-rMa8ZIjD4_37DJk886k6ULg2UeWBBR5EuMNrwKAgW5-64JFBqYgThWQy37TgwR7lMKSUqzqhO7NsyNTIDYfrFc0RqHGO4m1SgIGHw8N5mfKXYxYTKAqSbwCakc/s400/gereja+kini.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5284064602898158498&quot; border=&quot;0&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg6vf7MMOWYYTqSkxeXPXPhTRcQkBk_bqenXFljW9XT6TysMHMSEY-fb5Q9i971vR2vMRdQtTIE1WYrcksF_hHoa_SJdZ7ZRoxGjmGk1Rjw96bNOA5ZOtN-vhLSJdNuSkD1k8MQShnLcTc/s1600-h/denah+lokasi.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 278px; height: 400px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg6vf7MMOWYYTqSkxeXPXPhTRcQkBk_bqenXFljW9XT6TysMHMSEY-fb5Q9i971vR2vMRdQtTIE1WYrcksF_hHoa_SJdZ7ZRoxGjmGk1Rjw96bNOA5ZOtN-vhLSJdNuSkD1k8MQShnLcTc/s400/denah+lokasi.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5284064590444226114&quot; border=&quot;0&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;by Galilean Mission</description><link>http://karangyoso.blogspot.com/2008/12/denah-lokasi-dan-foto-padepokan-sadrach.html</link><author>noreply@blogger.com (Villa Sophia Cimacan)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhcPJrVOwLBdePphWYY5QXupmm-WZcdFRUTp5N4TYwSkkDhQ3q1HozbH2VXC49H4nUUQ2GCIathu0018um8gSDuAIPp8E1WxvhuO0VEK7sZ-HlBmPa86zlEG_VUR0bxnqgx7CbL3-5lGQU/s72-c/Untitled-4.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8421755393181764849.post-5185184875575100822</guid><pubDate>Fri, 26 Dec 2008 10:54:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-26T18:10:39.611+07:00</atom:updated><title>Makna Kehidupan</title><description>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhEY484evUPn1dI0bUeIekdoFfKjjFCWjU-3Oe83zhs160v_bII2x_uh8-JhSZFK7KawWKYS7GzBORJhz3LHvfKWgE5vLt2jRRquauDue1fbFSQRnHB-HjokQbuF3IzWeQ2U5WfyBIWNSw/s1600-h/Reconsiliation.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 220px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhEY484evUPn1dI0bUeIekdoFfKjjFCWjU-3Oe83zhs160v_bII2x_uh8-JhSZFK7KawWKYS7GzBORJhz3LHvfKWgE5vLt2jRRquauDue1fbFSQRnHB-HjokQbuF3IzWeQ2U5WfyBIWNSw/s320/Reconsiliation.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5284053970414243154&quot; border=&quot;0&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tuhan yang Maha Baik memberi kita ikan,&lt;br /&gt;tetapi kita harus mengail untuk mendapatkannya.&lt;br /&gt;Demikian juga Jika kamu terus menunggu waktu yang tepat,&lt;br /&gt;mungkin kamu tidak akan pernah mulai.&lt;br /&gt;Mulailah sekarang...&lt;br /&gt;mulailah di mana kamu berada sekarang dengan apa adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan pernah pikirkan kenapa kita memilih seseorang untuk dicintai,&lt;br /&gt;tapi sadarilah bahwa cintalah yang memilih kita untuk mencintainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkawinan  memang memiliki  banyak kesusahan,&lt;br /&gt;tetapi kehidupan lajang juga memiliki suka-duka.&lt;br /&gt;Buka mata kamu lebar-lebar sebelum menikah,&lt;br /&gt;dan biarkan mata kamu setengah terpejam sesudahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menikahi wanita atau pria karena kecantikannya atau ketampanannya&lt;br /&gt;sama seperti membeli rumah karena lapisan catnya.&lt;br /&gt;Harta milik  yang paling berharga bagi seorang pria di dunia ini adalah&lt;br /&gt;hati seorang wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga Persahabatan, persahabatan adalah 1 jiwa dalam 2 raga&lt;br /&gt;Persahabatan sejati layaknya kesehatan,&lt;br /&gt;nilainya baru kita sadari setelah kita kehilangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang sahabat adalah yang dapat mendengarkan lagu didalam hatimu&lt;br /&gt;dan akan menyanyikan kembali tatkala kau lupa akan bait-baitnya.&lt;br /&gt;Sahabat adalah tangan Tuhan untuk menjaga kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa hormat tidak selalu membawa kepada persahabatan,&lt;br /&gt;tapi jangan pernah menyesal untuk bertemu dengan orang lain...&lt;br /&gt;tapi menyesal-lah jika orang itu menyesal bertemu dengan kamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertemanlah dengan orang yang suka membela kebenaran.&lt;br /&gt;Dialah hiasan dikala kamu senang dan perisai diwaktu kamu susah.&lt;br /&gt;Namun kamu tidak akan pernah memiliki seorang teman,&lt;br /&gt;jika kamu mengharapkan seseorang tanpa kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena semua manusia itu baik kalau kamu bisa melihat kebaikannya&lt;br /&gt;dan menyenangkan kalau kamu bisa melihat keunikannya&lt;br /&gt;tapi semua manusia itu akan buruk dan membosankan&lt;br /&gt;kalau kamu tidak bisa melihat keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga Kebijakan, Kebijakan itu seperti cairan,&lt;br /&gt;kegunaannya terletak  pada penerapan yang benar,&lt;br /&gt;orang pintar bisa gagal karena ia memikirkan terlalu banyak hal,&lt;br /&gt;sedangkan orang bodoh sering kali berhasil dengan melakukan tindakan tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Kebijakan sejati tidak datang dari pikiran kita saja,&lt;br /&gt;tetapi juga berdasarkan pada perasaan dan fakta.&lt;br /&gt;Tak seorang pun sempurna.&lt;br /&gt;Mereka yang mau belajar dari kesalahan adalah bijak.&lt;br /&gt;Menyedihkan melihat orang berkeras bahwa mereka benar&lt;br /&gt;meskipun terbukti salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang berada di belakang kita dan apa yang berada di depan&lt;br /&gt;kita adalah perkara kecil berbanding dengan apa yang berada di dalam kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu tak bisa mengubah masa lalu....&lt;br /&gt;tetapi dapat menghancurkan masa kini dengan mengkhawatirkan masa depan.&lt;br /&gt;Bila Kamu mengisi hati kamu ....&lt;br /&gt;dengan penyesalan untuk masa lalu dan kekhawatiran untuk masa depan,&lt;br /&gt;Kamu tak memiliki hari ini untuk kamu syukuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kamu berpikir tentang hari kemarin tanpa rasa penyesalan&lt;br /&gt;dan hari esok tanpa rasa takut,&lt;br /&gt;berarti kamu sudah berada dijalan yang benar menuju sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;by Galilean Mission</description><link>http://karangyoso.blogspot.com/2008/12/makna-kehidupan.html</link><author>noreply@blogger.com (Villa Sophia Cimacan)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhEY484evUPn1dI0bUeIekdoFfKjjFCWjU-3Oe83zhs160v_bII2x_uh8-JhSZFK7KawWKYS7GzBORJhz3LHvfKWgE5vLt2jRRquauDue1fbFSQRnHB-HjokQbuF3IzWeQ2U5WfyBIWNSw/s72-c/Reconsiliation.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8421755393181764849.post-8447754016411185279</guid><pubDate>Fri, 26 Dec 2008 10:32:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-12-26T19:37:13.531+07:00</atom:updated><title>Komunitas Kyai Sadrach</title><description>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjC8-XM_lHC-7c2XceUaCqWN8HexHrpggzxc1snnm_2EsoOGq8feR7N3omee83wqUx-T0NM8BG531i9upaEtypARyg-OBW_bcfJUIYcmzlX5CFib0jEwHEqxLkYVHwGTC93TzTSCwsJBrU/s1600-h/gks+1924.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 200px; height: 133px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjC8-XM_lHC-7c2XceUaCqWN8HexHrpggzxc1snnm_2EsoOGq8feR7N3omee83wqUx-T0NM8BG531i9upaEtypARyg-OBW_bcfJUIYcmzlX5CFib0jEwHEqxLkYVHwGTC93TzTSCwsJBrU/s200/gks+1924.jpg&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5284046722558048658&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgwZTPGZpWnyMJl4c7s45m4IMyuzXYrNr3csSsuDRDCe8zWAZr8rJMC8-lClCfCEGPt-9Z64tBFfsidgoU-QWBA8YDQA4kDv69Z5ERHQIdA1EJ-bKdgVdETO_dM9uFyMsLT3EtJVRo9kwU/s1600-h/P1042892.JPG&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgwZTPGZpWnyMJl4c7s45m4IMyuzXYrNr3csSsuDRDCe8zWAZr8rJMC8-lClCfCEGPt-9Z64tBFfsidgoU-QWBA8YDQA4kDv69Z5ERHQIdA1EJ-bKdgVdETO_dM9uFyMsLT3EtJVRo9kwU/s200/P1042892.JPG&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5284046720390818450&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj6Fn2PQIau4iCl7gwZ87ny-gEkdZGkzZtDJTCwhyphenhyphencbA5m-4fNTt9K-BUBEcx-ef2Ougmg9Oef8O9vrpjaErmglxrtzBiztLik9OWo7-10PeEF1h2D1Gs3fSqNSugBEOt6ghnqXpohHJ64/s1600-h/Gereja+Sadrach.JPG&quot;&gt;&lt;img style=&quot;margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 200px; height: 151px;&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj6Fn2PQIau4iCl7gwZ87ny-gEkdZGkzZtDJTCwhyphenhyphencbA5m-4fNTt9K-BUBEcx-ef2Ougmg9Oef8O9vrpjaErmglxrtzBiztLik9OWo7-10PeEF1h2D1Gs3fSqNSugBEOt6ghnqXpohHJ64/s200/Gereja+Sadrach.JPG&quot; alt=&quot;&quot; id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5284046719625676050&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv=&quot;Content-Type&quot; content=&quot;text/html; charset=utf-8&quot;&gt;&lt;meta name=&quot;ProgId&quot; content=&quot;Word.Document&quot;&gt;&lt;meta name=&quot;Generator&quot; content=&quot;Microsoft Word 11&quot;&gt;&lt;meta name=&quot;Originator&quot; content=&quot;Microsoft Word 11&quot;&gt;&lt;link rel=&quot;File-List&quot; href=&quot;file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cuser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml&quot;&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri=&quot;urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags&quot; name=&quot;place&quot;&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri=&quot;urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags&quot; name=&quot;country-region&quot;&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri=&quot;urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags&quot; name=&quot;City&quot;&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate=&quot;false&quot; latentstylecount=&quot;156&quot;&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid=&quot;clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D&quot; id=&quot;ieooui&quot;&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:&quot;Book Antiqua&quot;; 	panose-1:2 4 6 2 5 3 5 3 3 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Castellar; 	panose-1:2 10 4 2 6 4 6 1 3 1; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:&quot;&quot;; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:&quot;Times New Roman&quot;; 	mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;} p.MsoFootnoteText, li.MsoFootnoteText, div.MsoFootnoteText 	{mso-style-noshow:yes; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:&quot;Times New Roman&quot;; 	mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;} span.MsoFootnoteReference 	{mso-style-noshow:yes; 	vertical-align:super;}  /* Page Definitions */  @page 	{mso-footnote-separator:url(&quot;file:///C:/DOCUME~1/user/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm&quot;) fs; 	mso-footnote-continuation-separator:url(&quot;file:///C:/DOCUME~1/user/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm&quot;) fcs; 	mso-endnote-separator:url(&quot;file:///C:/DOCUME~1/user/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm&quot;) es; 	mso-endnote-continuation-separator:url(&quot;file:///C:/DOCUME~1/user/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_header.htm&quot;) ecs;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:1114405366; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1638935906 67698691 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:o; 	mso-level-tab-stop:.5in; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-.25in; 	font-family:&quot;Courier New&quot;; 	color:windowtext; 	mso-ansi-font-weight:normal;} ol 	{margin-bottom:0in;} ul 	{margin-bottom:0in;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:&quot;Table Normal&quot;; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:&quot;&quot;; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:&quot;Times New Roman&quot;; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background: rgb(224, 224, 224) none repeat scroll 0% 0%; text-align: center; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;&quot; align=&quot;center&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;FI&quot;&gt;PENDAHULUAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;FI&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;FI&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;          &lt;/span&gt;Masa kekuasaan kongsi dagang Belanda bernama &lt;i style=&quot;&quot;&gt;VOC&lt;/i&gt; (&lt;i style=&quot;&quot;&gt;Vereenigde Oost-Indische Compagnie&lt;/i&gt;, Kongsi Dagang Hindia-Timur) di Indonesia selama hampir 200 tahun sampai dengan tahun 1795 dan dilanjutkan di bawah penguasaan pemerintahan kolonial Belanda selama kurang lebih 150 tahun, merupakan juga masa sejarah awal penginjilan oleh Protestan di Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;FI&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;  &gt;Dalam perkembangannya ternyata bukan hirarki Gereja atau &lt;i style=&quot;&quot;&gt;Zending&lt;/i&gt; yang menimbulkan jemaat Kristen di Jawa tetapi hasil dari inisiatif sendiri para pekabar Injil awam (Indo Eropa/Belanda non-Gereja)&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8421755393181764849#_ftn1&quot; name=&quot;_ftnref1&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;  &gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; yang mengadakan pembinaan kelompok kecil Kristen Jawa termasuk Kiai Jawa di rumahnya. Dari “&lt;i style=&quot;&quot;&gt;Gereja Rumah&lt;/i&gt;” inilah menjadi tempat belajar penginjil-penginjil besar pribumi di Jawa pada abad XIX yang tercatat dalam sejarah seperti di antaranya Paulus Tosari, Kiai Tunggul Wulung dan Kiai Sadrach.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;  &gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;          &lt;/span&gt;Hal yang menarik dari sejarah pada masa itu adalah penginjilan dari seorang pribumi bernama Sadrach, yang mencapai sukses besar dalam jumlah orang yang dikristenkan dibanding hasil kerja petugas &lt;i style=&quot;&quot;&gt;zending&lt;/i&gt; pada abad XIX tersebut. Pada masa hidupnya, Sadrach pernah menjadi seorang pemimpin Jawa yang terhormat dari Gereja terbesar di Jawa. Sadrach merupakan contoh kepemimpinan Kristen mandiri dengan mengembangkan jemaat pribumi yang sangat erat kaitannya dengan kebudayaan Jawa. Karena alasan inilah pekabar Injil Belanda menaruh kecurigaan pada kepemimpinan dan jemaat Sadrach.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;  &gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;          &lt;/span&gt;Tulisan dalam buku kecil ini bersumber dari beberapa tulisan dalam buku yang berkaitan dengan kehidupan Kyai Sadrach terutama berasal dari buku berjudul &lt;i style=&quot;&quot;&gt;Komunitas Sadrach dan Akar Kontekstualnya, Suatu Ekspresi Kekristenan Jawa pada Abad XIX&lt;/i&gt;. Buku tersebut merupakan karya disertasi teologi oleh &lt;i style=&quot;&quot;&gt;Pdt Soetarman Soediman Partonadi, &lt;/i&gt;ketika menyelesaikan studi Doktor pada &lt;i style=&quot;&quot;&gt;Vrije Universiteit&lt;/i&gt; di Amsterdam pada tahun 1988. Buku tersebut telah memberikan gambaran yang benar tentang usaha kontekstualisasi Sadrach yang direfleksikan dalam jemaatnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center; line-height: 150%;&quot; align=&quot;center&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center; line-height: 150%;&quot; align=&quot;center&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;I&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background: rgb(224, 224, 224) none repeat scroll 0% 0%; text-align: center; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;&quot; align=&quot;center&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;JAWA TENGAH PADA ABAD XIX&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center; line-height: 150%;&quot; align=&quot;center&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;          &lt;/span&gt;Fragmentasi gambaran Jawa Tengah pada abad XIX dalam kaitannya dengan sejarah Sadrach dibagi dalam dua bagian yaitu pertama, mengenai gambaran kehidupan sosial budaya dan keagamaan masyarakat Jawa, kedua, mengenai gambaran misi Kristen di Jawa Tengah terutama aktivitas NGZV (&lt;i style=&quot;&quot;&gt;de Nederlandsche Gereformeerde Zendings Vereeniging&lt;/i&gt;).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;          &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;  &gt;A. Kehidupan Orang Jawa pada Abad XIX&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;  &gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;          &lt;/span&gt;Struktur masyarakat feodalistik sangat berkembang saat itu membentuk pembagian golongan dalam masyarakat yang terdiri dari rakyat biasa atau &lt;i style=&quot;&quot;&gt;wong cilik&lt;/i&gt; (orang kecil), sedangkan kelompok lainnya disebut sebagai bangsawan (&lt;i style=&quot;&quot;&gt;priyayi&lt;/i&gt;) atau &lt;i style=&quot;&quot;&gt;wong gedhe&lt;/i&gt; (orang besar). &lt;i style=&quot;&quot;&gt;Priyayi &lt;/i&gt;merupakan perpanjangan tangan pemerintah kolonial untuk mengatur rakyat dan kraton menjadi pusat budaya dan hidup orang Jawa. Oleh karena itu hubungan antara &lt;i style=&quot;&quot;&gt;wong cilik&lt;/i&gt; dengan &lt;i style=&quot;&quot;&gt;priyayi&lt;/i&gt; berpolakan hubungan &lt;i style=&quot;&quot;&gt;kawulo&lt;/i&gt;-&lt;i style=&quot;&quot;&gt;gusti &lt;/i&gt;(pelayan-majikan) yang bersifat otoriter dan paternalistis.&lt;span style=&quot;&quot;&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;  &gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;          &lt;/span&gt;Buruknya kondisi sosial ekonomi dan penindasan yang dilakukan oleh pihak penguasa baik Belanda maupun &lt;i style=&quot;&quot;&gt;priyayi&lt;/i&gt; sering menimbulkan gerakan perlawanan oleh rakyat biasa. Aksi ini digerakkan oleh pemimpin informal yang berani yaitu guru-guru agama tradisional (kiai dan guru) sehingga mereka dianggap sebagai pahlawan pelindung rakyat biasa. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;Pemerintah kolonial Belanda selalu waspada serta menghindari konflik agama dengan guru-guru agama tradisional yang memiliki pengaruh kuat agama Islam. Oleh karena itu demi memelihara perdamaian dan ketertiban umum, pemerintah kolonial Belanda mengeluarkan kebijakan &lt;i style=&quot;&quot;&gt;represif &lt;/i&gt;berupa berbagai peraturan untuk membatasi misi Kristen hanya di daerah-daerah tertentu saja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;          &lt;/span&gt;Berdasarkan fakta sejarah, sebenarnya masyarakat Jawa merupakan masyarakat yang terbuka menerima kepercayaan apapun yang datang dari luar.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8421755393181764849#_ftn2&quot; name=&quot;_ftnref2&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;  &gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;  &gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt; Seperti diketahui bahwa agama Kristen adalah agama terbesar keempat yang datang di pulau Jawa setelah Hindu, Budha dan Islam. Sedangkan kepercayaan asli yang sudah ada yaitu bentuk &lt;i style=&quot;&quot;&gt;mistik&lt;/i&gt; (&lt;i style=&quot;&quot;&gt;Animisme-Dinamisme&lt;/i&gt;). Mistik Jawa atau &lt;i style=&quot;&quot;&gt;ngelmu &lt;/i&gt;tinggi (pengetahuan keagamaan) diajarkan di sekolah mistik yang disebut &lt;i style=&quot;&quot;&gt;peguron&lt;/i&gt; Jawa (sistem pemuridan) dan dipimpin oleh guru atau &lt;i style=&quot;&quot;&gt;kiai&lt;/i&gt;. Kehidupan mereka biasanya moralis dan menekankan perilaku kehidupan yang baik melalui disiplin keras seperti: puasa, &lt;i style=&quot;&quot;&gt;tirakat, tapa &lt;/i&gt;dan&lt;i style=&quot;&quot;&gt; semedi&lt;/i&gt;. Upacara religius dari kepercayaan ini kemudian diserap oleh penganut Islam &lt;i style=&quot;&quot;&gt;abangan&lt;/i&gt; Jawa seperti &lt;i style=&quot;&quot;&gt;slametan&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;          &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;FI&quot;&gt;B. Misi Kristen pada Abad XIX&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;FI&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;          &lt;/span&gt;Misi Kristen masuk di Indonesia bersamaan dengan imperialisme baik yang dilaksanakan oleh Gereja Katolik Roma (GKR) pada abad XVI dalam naungan Portugis maupun misi Gereja Protestan yang dibawa oleh Belanda sejak tahun 1605 melalui misi VOC dan misi &lt;i style=&quot;&quot;&gt;Indische Kerk&lt;/i&gt;. Misi pada saat itu dianggap sebagai milik Negara dan Gereja, oleh karena itu masyarakat pribumi memberikan stigma terhadap Kristen sebagai agama penjajah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;FI&quot;&gt;Konsep pemisahan Gereja dan Negara pada abad XIX di Eropa seiring dengan tumbuhnya semangat pekabaran Injil telah menyebabkan perubahan besar dalam pekabaran Injil di Belanda dan juga di Hindia-Belanda. Berbagai usaha penginjilan telah dilakukan baik oleh Gereja maupun organisasi misi. Penginjilan yang dilakukan oleh Gereja ditandai pada tahun 1835 dengan lahirnya &lt;i style=&quot;&quot;&gt;Indische Kerk&lt;/i&gt; yaitu Gereja Protestan yang merupakan hasil penyatuan dari berbagai denominasi di Indonesia saat itu. Gereja ini disebut juga sebagai “Gereja Negara” namun bukan bertujuan menyebarkan agama Kristen, melainkan hanya melayani umat Kristen yang telah ada.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8421755393181764849#_ftn3&quot; name=&quot;_ftnref3&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;  &gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;  &gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;FI&quot;&gt; Oleh karena itu tentu saja misi Kristen terhadap masyarakat pribumi kurang diperhatikan. Merasa prihatin dengan keadaan ini maka kelompok pekabar Injil Belanda mulai melakukan kegiatannya di berbagai wilayah seperti NZG (&lt;i style=&quot;&quot;&gt;het Nederlandsch Zendeling Genootschaap&lt;/i&gt;-Perserikatan Pekabar Injil Belanda) dengan mengirimkan Jellesma pada tahun 1848 yang menandai dimulainya Kristenisasi di Jawa. Selain itu ada juga organisasi misi NGZV (&lt;i style=&quot;&quot;&gt;Nederlandsch Gereformeerde Zending Vereeniging&lt;/i&gt;-Pekabaran Injil Gereja &lt;i style=&quot;&quot;&gt;Gereformeerd&lt;/i&gt; Belanda) memiliki wilayah kerja di Jawa Tengah, Perserikatan Injil Menonite Belanda DZV (&lt;i style=&quot;&quot;&gt;Doopsgezinde Zendins Vereeniging&lt;/i&gt;) memiliki wilayah kerja antara lain Tapanuli Selatan dan bagian utara Jawa Tengah. Jemaat-jemaat Kristen yang dihasilkan lembaga misi tersebut sangat minim dan bersifat &lt;i style=&quot;&quot;&gt;eksklusif &lt;/i&gt;karena menuntut pemisahan radikal dari budaya&lt;span style=&quot;&quot;&gt;  &lt;/span&gt;pribumi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;FI&quot;&gt;Sejarah kekristenan di Jawa Tengah dan Timur justru berasal dari hasil kerja orang-orang awam pensiunan Belanda dan Indo yang mengabdikan hidupnya bagi Kristus. Mereka melakukan kegiatan misi sebelum datangnya organisasi-organisasi pekabar Injil dari Eropa. Diantara penginjil tersebut adalah &lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;Emde (lahir 1774), Coolen (1773-1873)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8421755393181764849#_ftn4&quot; name=&quot;_ftnref4&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;  &gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;  &gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;FI&quot;&gt;, FL Anthing (1820-1883), CP Steven-Philips (1824-1876), JC Philips-van Oostrom (1815-1877) dan lain-lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8421755393181764849#_ftn5&quot; name=&quot;_ftnref5&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;  &gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;  &gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;  &gt; &lt;span lang=&quot;FI&quot;&gt;Mereka berhasil membangun jemaat yang bersifat &lt;i style=&quot;&quot;&gt;integratif&lt;/i&gt; yaitu jemaat Jawa yang tetap menjadi bagian dari budaya dan masyarakat setempat dan jemaat ini dapat tumbuh dengan pesat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;FI&quot;&gt;Adapun hambatan pekabaran Injil pada masa itu adalah bahwa orang Jawa masih memandang pekabar Injil Belanda sebagai bagian dari rezim kolonial akibatnya timbul pandangan negatif terhadap para pekabar Injil dan kekristenan. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;Bahkan orang Kristen Jawa disebut sebagai “&lt;i style=&quot;&quot;&gt;landa wurung, Jawa tanggung&lt;/i&gt;” artinya mereka bukan orang Belanda maupun orang Jawa. Masyarakat masih &lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;menganggap bahwa menjadi Kristen berarti meninggalkan cara hidup “kejawaan” sehingga Kristen lebih dipandang sebagai anti kebudayaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center; line-height: 150%;&quot; align=&quot;center&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;II&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background: rgb(224, 224, 224) none repeat scroll 0% 0%; text-align: center; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;&quot; align=&quot;center&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;SADRACH DAN KOMUNITASNYA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center; line-height: 150%;&quot; align=&quot;center&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;          &lt;/span&gt;Riwayat kelahiran Sadrach tidak begitu jelas diketahui, tetapi berdasarkan sumber yang dapat dipercaya seperti Adriaanse, Yotham Martareja dan Hayting&lt;i style=&quot;&quot;&gt; &lt;/i&gt;maka Sadrach diperkirakan lahir sekitar tahun 1835 di dekat Jepara, Demak, yaitu daerah pantai bagian utara Jawa Tengah.&lt;span style=&quot;&quot;&gt;  &lt;/span&gt;Nama aslinya adalah Radin, setelah menyelesaikan sekolah umum yaitu sekolah Alquran serta belajar di berbagai pesantren di Jawa Timur lalu kemudian ia tinggal dalam &lt;i style=&quot;&quot;&gt;kauman &lt;/i&gt;(tempat tinggal muslim yang eksklusif) di Semarang dan menambah nama Arab pada namanya menjadi Radin Abas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;          &lt;/span&gt;Ketertarikannya kepada Kristen adalah setelah mengetahui bahwa bekas &lt;i style=&quot;&quot;&gt;guru ngelmu&lt;/i&gt;nya, Kurmen telah menjadi Kristen oleh penginjil Tunggul Wulung. Radin Abas sangat serius dan terkesan dengan pengajaran Tunggul Wulung dan bersamanya ia pergi ke Batavia pada tahun 1866 untuk menemui Anthing. Ia mengambil keputusan untuk dibaptis pada tanggal 14 April 1867 di &lt;i style=&quot;&quot;&gt;Indische Kerk&lt;/i&gt;, Buitenkerk, dengan mengambil nama baptis Kristen yaitu Sadrach (dalam Alkitab tokoh Sadrach disebutkan dalam Kitab Daniel 3).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;  &gt;Setelah kembali dari Batavia, maka Sadrach&lt;span style=&quot;&quot;&gt;  &lt;/span&gt;mulai membantu penginjilan yang dilakukan oleh Tunggul Wulung di Semarang pada tahun 1868, serta oleh Steven-Philips di Tuksanga, Purwareja setahun kemudian. Ternyata Sadrach memiliki bakat yang besar dalam penginjilan, dalam melakukan penginjilan dia menggunakan metode debat umum yang dipakai guru-guru Jawa, yaitu dengan menantang guru lain untuk berdebat. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;Guru yang dikalahkan beserta murid-muridnya harus menjadi murid guru yang menang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;Sadrach tinggal bersama Steven-Philips&lt;i style=&quot;&quot;&gt; &lt;/i&gt;kurang lebih satu tahun sebelum pindah ke Karangjasa sebuah desa di selatan Purworejo. Karangjasa adalah desa pertama tempat Sadrach mendirikan sebuah jemaat Kristen Jawa setempat. Karangjasa menjadi pusat jemaatnya yang mandiri namun Sadrach tetap menganggap Steven-Philips&lt;i style=&quot;&quot;&gt; &lt;/i&gt;sebagai “pelindung formalnya”, “figur yang menjembatani” dengan para penguasa Belanda, termasuk &lt;i style=&quot;&quot;&gt;Indishe Kerk&lt;/i&gt; dan pekabar Injil Belanda. Semua murid Sadrach dibaptis oleh pendeta dari &lt;i style=&quot;&quot;&gt;Indische Kerk&lt;/i&gt; di Purwareja berkat perantaraan Steven-Philips. Pada tahun 1871 gedung Gereja pertama berdiri di Karangjasa sehingga jemaat tidak perlu lagi mengadakan perjalanan ke Purwareja setiap minggu untuk melakukan kebaktian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;          &lt;/span&gt;Pada akhir tahun 1873 keanggotaan jemaatnya sudah mencapai hampir 2500, suatu hasil yang fantastik dalam sejarah pekabaran Injil Jawa. Sebab jumlah besar ini dicapai hanya dalam waktu 3 tahun (1870-1873), selama masa itu lima Gereja telah didirikan. Setelah meninggalnya Steven-Philips pada tahun 1876, pusat kekristenan Jawa berpindah dan berkembang dari Tuksanga, Purwareja ke Karangjasa, ini membuktikan bahwa Sadrach merupakan seorang Kiai Kristen Jawa yang berpengaruh. Hal ini ditandai pula dengan penambahan nama “baru”nya menjadi Radin Abas Sadrach Surapranata.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;          &lt;/span&gt;Pesatnya ekspansi jemaat Sadrach membuat pemerintah setempat (Residen Bagelen, W Ligvoet), &lt;i style=&quot;&quot;&gt;Indische Kerk&lt;/i&gt; (pendeta Heyting) maupun NGZV (Bieger) ingin mengatur dan mengawasi jemaat tersebut dengan berbagai alasan baik politis maupun alasan misi yang ingin mengumpulkan “petobat” dengan cepat dan mudah. Sehingga ketika terjadi wabah cacar dimana pemerintah meminta semua orang agar divaksinasi tetapi Sadrach menolak vaksinasi itu maka terbukalah peluang untuk memecat Sadrach dari kedudukannya dalam jemaat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;Meskipun Residen telah menahannya namun kemudian Gubernur Jenderal membebaskannya karena tidak cukup bukti pada tahun 1882. Wilhelm yang dikenalnya ketika menjalani “tahanan rumah” di rumah Bieger merupakan satu-satunya pekabar Injil yang menaruh perhatian pada nasib malang yang menimpa Sadrach. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;Pada tanggal 17 April 1883, ketika para sesepuh berkumpul di Kareangjasa, Wilhelm juga hadir. Pada pertemuan tersebut jemaat secara resmi memberi nama persekutuan mereka sebagai &lt;i style=&quot;&quot;&gt;Golongane Wong Kristen Kang Mardiko &lt;/i&gt;(Kelompok orang Kristen yang merdeka) dan mengakui Wilhelm sebagai satu-satunya pendeta mereka. Pada saat itu hasil penginjilan Sadrach sangat mengagumkan, barangkali bisa dicatat sebagai jumlah orang yang bertobat tertinggi dalam sejarah pekabaran Injil di dunia Muslim. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;          &lt;/span&gt;Berbagai polemik mengenai Sadrach telah sampai kepada pimpinan NGZV di Belanda, oleh karena itu diputuskanlah suatu penyelidikan mengenai jemaat-jemaat di Jawa Tengah dengan mengirimkan &lt;i style=&quot;&quot;&gt;Lion Cachet&lt;/i&gt;, pendeta sebuah jemaat di Rotterdam, ke Jawa Tengah selama kurang lebih satu tahun (1891-1892). Hasil penyelidikan &lt;i style=&quot;&quot;&gt;Cachet&lt;/i&gt; telah mengakibatkan putusnya hubungan Sadrach dengan NGZV, ajaran Sadrach dinilai salah, bahkan merupakan kebohongan jika diukur dengan sabda Tuhan. Wilhelm yang sangat tertekan akibat tuduhan ini jatuh sakit dan meninggal pada tanggal 3 Maret 1892.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;          &lt;/span&gt;Namun peristiwa tragis tersebut malah membuat posisi Sadrach semakin kokoh. Di sisi lain, Sadrach juga membina hubungan dengan &lt;i style=&quot;&quot;&gt;Apostolische Kerk&lt;/i&gt; (yang dianggap suatu sekte). Pada tahun 1899, Sadrach ditahbiskan menjadi Rasul Jawa di Batavia. Kedudukan rasul ini diakui internasional oleh karena itu sekarang ia memiliki hak untuk memberikan sakramen, hak yang sangat didambakannya bertahun-tahun. Sejak saat itu kedudukan Sadrach sebagai pemimpin Gereja adalah sejajar dengan pemimpin Gereja yang lain demikian juga jemaatnya sejajar dengan kelompok jemaat yang lain. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;Pada tanggal 14 November 1924 dalam usia 90 tahun, tokoh besar dalam pekabaran Injil di Karangjasa, Radin Abas Sadrach Surapranata, meninggal dengan tenang dirumahnya. Yotham Martareja, anak angkat Sadrach menggantikan ayahnya selama delapan tahun (1925-1933). Perubahan ini selanjutnya juga mempengaruhi perkembangan jemaat Kristen saat itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;Dalam ketiadaan pemimpin berkepribadian kuat serta adanya kebijakan pekabaran Injil yang baru oleh ZGKN yang dikelola secara professional, telah dibangun sekolah-sekolah dan rumah sakit misi yang menawarkan kualitas hidup lebih baik. Jemaat Sadrach semakin tertinggal jauh dan pada akhirnya jemaat Sadrach, “Gereja” terbesar di Jawa Tengah pada masa hidup Sadrach, berakhir dengan perpecahan yang tak terelakkan sepuluh tahun setelah kematian pendirinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center; line-height: 150%;&quot; align=&quot;center&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center; line-height: 150%;&quot; align=&quot;center&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center; line-height: 150%;&quot; align=&quot;center&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;III&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background: rgb(224, 224, 224) none repeat scroll 0% 0%; text-align: center; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;&quot; align=&quot;center&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;GAMBARAN KOMUNITAS SADRACH&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;          &lt;/span&gt;Ciri-ciri khas dan karakter unik dari jemaat Sadrach meliputi tiga bidang yaitu: 1. organisasi, kepemimpinan dan keanggotaan; 2. kebaktian, khotbah dan upacara keagamaan; 3. kehidupan rohani dan jiwa yang mandiri dan merdeka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;          &lt;/span&gt;Sadrach adalah &lt;i style=&quot;&quot;&gt;guru ngelmu&lt;/i&gt; dan &lt;i style=&quot;&quot;&gt;kiai&lt;/i&gt; yang sengaja tidak menaruh perhatian besar pada aspek kelembagaan jemaat. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;  &gt;Jemaat lebih bersifat mistis, lebih menekankan spiritualitas ketimbang kelembagaan Gereja. Minimnya sarana transportasi dan komunikasi sedangkan jemaat tersebar pada desa yang berjauhan namun kesatuan antar jemaat tetap dapat dipertahankan. Hal ini dapat terjadi karena beberapa hal antara lain yaitu: hubungan guru-murid yang kental, wewenang Sadrach untuk mengangkat imam-imam setempat, rapat rutin para sesepuh yang diadakan di Karangjasa serta kerjasama para pembantu utama Sadrach. Wilhelm juga berperan membentuk jemaat menjadi “Gereja yang benar”, seperti dilihat dari perumusan pengakuan iman yang unik, pembentukan majelis sinode dan pembentukan jabatan sesepuh (penatua) serta diaken. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;  &gt;Saat itu Sadrach menduduki tempat teratas di antara guru-guru Jawa yang lain dengan sebutan khusus &lt;i style=&quot;&quot;&gt;Kiai&lt;/i&gt;. Jemaat Sadrach pernah mencapai angka 7000 pada tahun 1890 dan mencapai 20.000 pada saat Sadrach meninggal.&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8421755393181764849#_ftn6&quot; name=&quot;_ftnref6&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;  &gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; Jemaat tersebar di seluruh keresidenan Jawa Tengah termasuk pada dua kerajaan saat itu yaitu kesultanan Yogyakarta dan kasunanan &lt;st1:place st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:city st=&quot;on&quot;&gt;Surakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Pemberitaan Yesus Kristus sebagai &lt;i style=&quot;&quot;&gt;ratu adil&lt;/i&gt; penyelamat tampaknya menjadi unsur penarik dalam &lt;i style=&quot;&quot;&gt;ngelmu&lt;/i&gt; Sadrach.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;  &gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;          &lt;/span&gt;Jemaat Sadrach mempunyai format kebaktian dan sistem ritual sendiri yang terikat erat dengan tradisi Jawa yang ada, ini terlihat dari bentuk Gereja yang mirip &lt;i style=&quot;&quot;&gt;langgar&lt;/i&gt; atau &lt;i style=&quot;&quot;&gt;mesjid&lt;/i&gt; serta pemakaian busana Jawa pada kebaktian. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;Ada tembang dan &lt;i style=&quot;&quot;&gt;dzikiran &lt;/i&gt;yang berisi Sepuluh Hukum Allah, Pengakuan Iman Rasuli dan Doa Bapa Kami.&lt;i style=&quot;&quot;&gt; &lt;/i&gt;Sadrach menyusun buku pegangan sebagai panduan praktis bagi para pengikutnya berisi Doa Bapa Kami dan Sepuluh Perintah Allah bersama ringkasan hukum yang terdapat dalam Matius 22: 37-40. Ketika debat umum yang digunakan dengan &lt;i style=&quot;&quot;&gt;guru ngelmu&lt;/i&gt; Jawa di dalam mengabarkan Injil, Sadrach menyatakan bahwa Yesus adalah Nabi yang luar biasa karena kebangkitan-Nya dan menjadi Juruslamat yang dapat menyelamatkan semua orang berdosa. Yesus melebihi Nabi lainnya dan kita harus taat kepada Nabi yang paling berkuasa dan mengikuti teladan-Nya. Usaha para anggota jemaat Sadrach untuk mengkristenkan adat dan tatacara muslim Jawa mengesankan, mereka tetap mempertahankan warisan leluhur tanpa mengingkari iman baru mereka dengan mengutamakan kebaktian dan doa ucapan syukur dan dilanjutkan dengan adat kebiasaan Jawa. Sadrach menolak tatacara adat &lt;i style=&quot;&quot;&gt;slametan&lt;/i&gt; untuk menghormati roh yang sudah meninggal, &lt;i style=&quot;&quot;&gt;suran&lt;/i&gt; pada bulan sura dan &lt;i style=&quot;&quot;&gt;muludan&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;          &lt;/span&gt;Kehidupan spiritual baru jemaat Sadrach terlihat dari cara kehidupan &lt;i style=&quot;&quot;&gt;ngelmu&lt;/i&gt; (berorientasi kepada diri sendiri) berangsur-angsur diubah menjadi kehidupan dalam Kristus (penyangkalan diri). Perilaku jujur Sadrach mempengaruhi kehidupan jemaat sehingga menjadi saksi pemasyuran Injil yang efektif ditengah-tengah masyarakat Jawa yang bukan Kristen. Sadrach menentang keras poligami, pelacuran dan melarang pesta tradisional &lt;i style=&quot;&quot;&gt;tayuban&lt;/i&gt;. Mereka tetap menjaga hubungan baik dengan tetangga muslim. Jemaat benar-benar menyadari bahwa sebagai pengikut &lt;i style=&quot;&quot;&gt;ratu adil&lt;/i&gt; Yesus Kristus, mereka harus menaati perintah-Nya. Guru Injil dan para imam Jawa menganggap Sepuluh Perintah Allah sebagai &lt;i style=&quot;&quot;&gt;ngelmu &lt;/i&gt;dari &lt;i style=&quot;&quot;&gt;ratu adil&lt;/i&gt; yang harus ditaati. Mereka menganggap &lt;i style=&quot;&quot;&gt;ngelmu&lt;/i&gt; yang diajarkan &lt;i style=&quot;&quot;&gt;ratu adil &lt;/i&gt;Yesus, lebih unggul dibanding segala &lt;i style=&quot;&quot;&gt;ngelmu&lt;/i&gt; yang lain. Sebagai jemaat yang bebas dan mandiri (&lt;i style=&quot;&quot;&gt;mardiko&lt;/i&gt;) maka masalah kemiskinan diatasi melalui semangat gotong royong menyewa tanah untuk dibagikan kepada kaum miskin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center; line-height: 150%;&quot; align=&quot;center&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center; line-height: 150%;&quot; align=&quot;center&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;IV&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background: rgb(224, 224, 224) none repeat scroll 0% 0%; text-align: center; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;&quot; align=&quot;center&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;ISU-ISU YANG DIANGKAT MELAWAN SADRACH DAN KOMUNITASNYA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;          &lt;/span&gt;Tuduhan yang paling menonjol pada saat itu terhadap Sadrach dan jemaatnya pada saat itu adalah berkaitan dengan penyimpangan &lt;i style=&quot;&quot;&gt;konfesional&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;  &gt;Seperti diketahui bahwa para pakar &lt;i style=&quot;&quot;&gt;Gereformeerd&lt;/i&gt; sangat menentukan arah teologi pekabaran Injil yang khas dari NGZV. Pada saat itu tujuan pekabaran Injil berkembang untuk memenangkan jiwa-jiwa bagi kemulian Tuhan. Gereja adalah pemilik misi sedangkan organisasi misi seperti NGZV adalah pengganti sementara Gereja dalam menjalankan misi. Kemurnian pemberitaan firman dan mempertahankan iman yang ortodoks adalah ciri pekabaran Injil &lt;i style=&quot;&quot;&gt;Gereformeerd&lt;/i&gt; yang eksklusif pada saat itu, tujuan utama pekabaran Injil adalah mendirikan Gereja sebagai institusi. Pada abad XIX, kriteria dari Gereja &lt;i style=&quot;&quot;&gt;Gereformeerd&lt;/i&gt; menjadi tolok ukur satu-satunya bagi para pekabar Injil untuk menentukan ajaran benar dan ajaran sesat. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;Lion Cachet menggunakan standar ini untuk mengukur kehidupan jemaat Kristen di Jawa Tengah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;          &lt;/span&gt;Tuduhan yang paling keras terhadap Sadrach baik sebelum maupun sesudah peristiwa vaksinasi adalah bahwa dia menyatakan dirinya sebagai Kristus atau &lt;i style=&quot;&quot;&gt;ratu adil&lt;/i&gt; dan Sadrach dianggap telah melakukan penipuan terhadap umatnya dengan memutarbalikkan ajaran demi kemulian dan status sosialnya. Isu ini tentu saja dilontarkan oleh para pekabar Injil yang selama ini tidak senang dengan cara penginjilan Sadrach yang menolak untuk bekerjasama dengan mereka. Para pekabar Injil menganggap bahwa Sadrach perlu dibina dan tidak boleh menempati kedudukan sebagai pemimpin jemaat. Oleh karena itu pertentangan Sadrach dengan para pekabar Injil sebenarnya bukan karena masalah doktrin, melainkan masalah kekuasaan atau kalau boleh disebut sebagai suatu keinginan untuk melakukan &lt;i style=&quot;&quot;&gt;penjajahan rohani&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8421755393181764849#_ftn7&quot; name=&quot;_ftnref7&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;  &gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;  &gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;          &lt;/span&gt;Persoalan lain yang mendasar menyangkut ajaran Sadrach adalah tuduhan &lt;i style=&quot;&quot;&gt;sinkretisme&lt;/i&gt;, ia dituduh telah mencampuradukkan Jawa-&lt;i style=&quot;&quot;&gt;isme &lt;/i&gt;dengan Injil. Ajaran &lt;i style=&quot;&quot;&gt;ngelmu&lt;/i&gt;, ratu adil, adat Jawa dari sudut pandang &lt;i style=&quot;&quot;&gt;Gereformeerd&lt;/i&gt; pada saat itu dianggap memutarbalikkan ajaran Kerajaan Allah. Namun Sadrach bersikeras bahwa petobat Jawa tetap merupakan orang Jawa, ia membela dan mendukung pelestarian adat yang berfungsi memperkaya kehidupan spiritual jemaat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;          &lt;/span&gt;Secara garis besar tuduhan yang diangkat untuk melawan Sadrach, oleh penulis buku dibagi menjadi dua jenis yaitu, tuduhan yang tidak mendasar dan tuduhan yang mendasar. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;  &gt;Semua tuduhan yang mendasar berpangkal tolak dari perbedaan pendapat mengenai sifat utama dan penerapan kontekstualisasi dalam praktek pekabaran Injil kepada orang-orang Jawa. Menurut penulis para penginjil Barat memandang kontekstualisasi dari sudut pandang yang berbeda sebab pedoman teologis mereka belum cukup komprehensif sehingga mereka lebih mengandalkan semangat, inisiatif dan kreativitas dalam melaksanakan tugas di lapangan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center; line-height: 150%;&quot; align=&quot;center&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center; line-height: 150%;&quot; align=&quot;center&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;V&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background: rgb(224, 224, 224) none repeat scroll 0% 0%; text-align: center; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;&quot; align=&quot;center&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;MAKNA SUMBANGAN KOMUNITAS SADRACH BAGI UPAYA KONTEKSTUALISASI GEREJA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;  &gt;Sadrach telah mengembangkan suatu jemaat Kristen pribumi yang direfleksikan kepada organisasi, kepemimpinan, pengajaran dan tradisi. Namun dia membentuk jemaat bukan hanya berdasar nilai-nilai tradisional dan adat istiadat Jawa, melainkan juga melakukan koreksi kritis terhadap pembangunan jemaat dan adat istiadat itu sendiri. Sadrach telah memelopori suatu ekspresi kepercayaan Kristen yang mengakar dalam hati, pikiran, perasaan, pengalaman, kebutuhan, keinginan dan harapan serta aspirasi jemaat setempat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;  &gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;Jemaat Sadrach yang berbasis pedesaan dan berlatar belakang Islam &lt;i style=&quot;&quot;&gt;abangan&lt;/i&gt; tetap menjaga hubungan dengan masyarakat Islam pada umumnya. Ia sangat cerdas memilih adat atau tradisi Jawa yang dapat “dikristenkan” dan tidak terikat dengan tradisi Islam serta memilih simbol-simbol Jawa yang ada pada Kristus. Oleh karena itu dia berhasil meletakkan dasar transformasi budaya dengan membentuk budaya baru yaitu budaya Kristen yang berwatak pribumi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;          &lt;/span&gt;Pemahaman Sadrach tentang partisipasi masyarakat pribumi merupakan suatu prestasi tersendiri dalam masyarakat Jawa pada abad XIX. Ia melakukan perjuangan kebebasan sosial-politik dengan prinsip kasih tanpa kekerasan, hal ini berbeda dengan kebiasaan saat itu. Sehingga Sadrach menjadi sosok pembawa berita pembebasan bagi “&lt;i style=&quot;&quot;&gt;wong cilik&lt;/i&gt;” yang dimarginalkan. Namun demikian Sadrach harus dilihat sebagai pemimpin religius daripada pemimpin politik karena ia mampu mengatasi penilaian negatif atas teologinya karena telah menghadirkan kekristenan dalam terang baru dan lebih bersifat Jawa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;          &lt;/span&gt;Harus diakui bahwa Sadrach mampu membangun suatu teologi yang membuat iman Kristen mudah dikomunikasikan kepada para pendengarnya, merefleksikan makna kehidupan dalam hubungannya dengan nilai-nilai, sumber-sumber dan tujuan akhir kehidupan. Kristologi Sadrach adalah memberitakan bahwa jejak Sang Guru Yesus sebagai guru dan panutan yang sempurna, penuh kuasa dan berwibawa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;          &lt;/span&gt;Mengenai misi dan budaya maka Sadrach menggunakan metode yang berproses secara alami dengan pola &lt;i style=&quot;&quot;&gt;interaksi&lt;/i&gt; melalui proses &lt;i style=&quot;&quot;&gt;inkulturasi&lt;/i&gt; sehingga merangsang proses transformasi budaya. Hasilnya adalah jemaat Kristen pribumi asli menurut pola budaya setempat, sehingga budaya Jawa akan ditransformasikan dalam Kristus dan karya Kristus yang membebaskan itu mewujudnyata dalam segala aspek kehidupan. Hal ini mengingatkan kita kepada teolog dari Asia, Choan Seng Song yang menjelaskan bahwa teologi kontekstual harus mampu menjawab pertanyaan dari interaksi antara penafsiran ulang iman Kristen dengan suatu konteks budaya dan sejarah.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8421755393181764849#_ftn8&quot; name=&quot;_ftnref8&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;  &gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;  &gt;[8]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8421755393181764849#_ftn8&quot; name=&quot;_ftnref8&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;  &gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8421755393181764849#_ftn8&quot; name=&quot;_ftnref8&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;  &gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;  &gt; &lt;span lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background: rgb(224, 224, 224) none repeat scroll 0% 0%; text-align: center; line-height: 150%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;&quot; align=&quot;center&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;PENUTUP&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: center; line-height: 150%;&quot; align=&quot;center&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;          &lt;/span&gt;Kita sadar bahwa ditengah perkembangan pesat pemikiran intelektual dan informasi dalam segala aspek termasuk mengenai teologi dan metode misi, Kita telah menyaksikan bahwa di negara tercinta ini lebih dari satu setengah abad yang lalu pernah ada seorang anak Tuhan bernama Sadrach yang sudah memiliki hasil karya dalam melakukan misi dan pembangunan jemaat, pemikiran dan hasil karya tersebut masih relevan dengan konteks abad ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;   lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;  &gt;Proses kontekstual teologi memang seyogyanya memperhatikan situasi sosial-budaya masyarakat sehingga berita keselamatan dapat diterima dan diaplikasikan dalam sistem kemasyarakatan tersebut. Hal ini memerlukan pemahaman yang mendalam tentang firman Allah sehingga kita tidak tertawan kedalam sikap &lt;i style=&quot;&quot;&gt;ortodoks&lt;/i&gt; tetapi harus mampu untuk melakukan tindakan yang benar di dalam dunia di mana kita berada. Namun demikian tidak berarti umat Kristen memisahkan diri dengan yang universal karena kita tetap harus saling menghargai dan tidak memaksakan kebudayaan kita sendiri kepada orang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;  &gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;          &lt;/span&gt;Dari buku ini kita dapat merefleksikan dalam realitas konteks masyarakat saat ini yaitu masyarakat dengan kemajemukan agama dan budaya serta sebahagian besar masih hidup dalam kemiskinan. Oleh karena itu hendaklah kita mengakui terlebih dahulu bahwa misi adalah milik Allah (&lt;i style=&quot;&quot;&gt;missio Dei&lt;/i&gt;), misi bukanlah hal yang eksklusif dan mencakup seluruh aspek kehidupan masyarakat. Kita harus mau untuk berdialog dengan yang lain, kata-kata &lt;i style=&quot;&quot;&gt;merebut, menguasai, mengambil&lt;/i&gt; atau &lt;i style=&quot;&quot;&gt;merampas&lt;/i&gt; kita ganti dengan kata &lt;i style=&quot;&quot;&gt;berbagi bersama yang lain&lt;/i&gt; baik dengan sesama maupun seluruh &lt;span style=&quot;&quot;&gt; &lt;/span&gt;ciptaan-Nya di dunia ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;b style=&quot;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;  &gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;          &lt;/span&gt;Melalui buku ini penulis seakan hendak mengatakan Kristen tidak perlu khawatir dengan kebudayaan, bukankah kebudayaan itu juga merupakan ciptaan dan karya Allah melalui akal pikiran yang diberikan kepada umat-Nya? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify; line-height: 150%;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 150%;font-family:&amp;quot;;font-size:14;&quot;  &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style=&quot;&quot;&gt;   &lt;hr align=&quot;left&quot; size=&quot;1&quot; width=&quot;33%&quot;&gt;  &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;div style=&quot;&quot; id=&quot;ftn1&quot;&gt;  &lt;p class=&quot;MsoFootnoteText&quot;&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8421755393181764849#_ftnref1&quot; name=&quot;_ftn1&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:&amp;quot;;font-size:10;&quot;  &gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FI&quot;&gt; C Guillot, &lt;i style=&quot;&quot;&gt;Kyai Sadrach : Riwayat Kristenisasi di Jawa &lt;/i&gt;(Jakarta: GrafitiPers, 1985), 20-21.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style=&quot;&quot; id=&quot;ftn2&quot;&gt;  &lt;p class=&quot;MsoFootnoteText&quot;&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8421755393181764849#_ftnref2&quot; name=&quot;_ftn2&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:&amp;quot;;font-size:10;&quot;  &gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FI&quot;&gt; Hadi Purnomo et al ( Ed ), &lt;i style=&quot;&quot;&gt;GKJ- Benih yang Tumbuh dan Berkembang di Tanah Jawa&lt;/i&gt; (Yogyakarta: Taman Pustaka Kristen,1988), 20-21.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style=&quot;&quot; id=&quot;ftn3&quot;&gt;  &lt;p class=&quot;MsoFootnoteText&quot;&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8421755393181764849#_ftnref3&quot; name=&quot;_ftn3&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:&amp;quot;;font-size:10;&quot;  &gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FI&quot;&gt; C Guillot, &lt;i style=&quot;&quot;&gt;Kyai Sadrach : Riwayat Kristenisasi di Jawa &lt;/i&gt;(Jakarta: GrafitiPers, 1985), 6.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style=&quot;&quot; id=&quot;ftn4&quot;&gt;  &lt;p class=&quot;MsoFootnoteText&quot;&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8421755393181764849#_ftnref4&quot; name=&quot;_ftn4&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:&amp;quot;;font-size:10;&quot;  &gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FI&quot;&gt; C Guillot, &lt;i style=&quot;&quot;&gt;Kyai Sadrach : Riwayat Kristenisasi di Jawa &lt;/i&gt;(Jakarta: GrafitiPers, 1985), 39.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style=&quot;&quot; id=&quot;ftn5&quot;&gt;  &lt;p class=&quot;MsoFootnoteText&quot;&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8421755393181764849#_ftnref5&quot; name=&quot;_ftn5&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:&amp;quot;;font-size:10;&quot;  &gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FI&quot;&gt; Sutarman S Partonadi, &lt;i style=&quot;&quot;&gt;Komunitas Sadrach dan Akar Kontekstualnya &lt;/i&gt;(Jakarta: Gunung Mulia: Yogyakarta: Taman Pustaka Kristen, 2001), 47-50.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style=&quot;&quot; id=&quot;ftn6&quot;&gt;  &lt;p class=&quot;MsoFootnoteText&quot;&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8421755393181764849#_ftnref6&quot; name=&quot;_ftn6&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:&amp;quot;;font-size:10;&quot;  &gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FI&quot;&gt; Sutarman S Partonadi, &lt;i style=&quot;&quot;&gt;Komunitas Sadrach dan Akar Kontekstualnya &lt;/i&gt;(Jakarta: Gunung Mulia; Yogyakarta: Taman Pustaka Kristen, 2001), 149,150.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class=&quot;MsoFootnoteText&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FI&quot;&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style=&quot;&quot; id=&quot;ftn7&quot;&gt;  &lt;p class=&quot;MsoFootnoteText&quot;&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8421755393181764849#_ftnref7&quot; name=&quot;_ftn7&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:&amp;quot;;font-size:10;&quot;  &gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FI&quot;&gt; Patmono, SK, &lt;i style=&quot;&quot;&gt;Sadrach Sang Pamong&lt;/i&gt; ( Yayasan Cipta Sejahtera Indonesia, 1994), 121&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;div style=&quot;&quot; id=&quot;ftn8&quot;&gt;  &lt;p class=&quot;MsoFootnoteText&quot;&gt;&lt;a style=&quot;&quot; href=&quot;http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=8421755393181764849#_ftnref8&quot; name=&quot;_ftn8&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;;font-family:&amp;quot;;font-size:10;&quot;  &gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;&quot; lang=&quot;FI&quot;&gt; Daniel J Adams, &lt;i style=&quot;&quot;&gt;Teologi Lintas Budaya: Refleksi Barat di Asia&lt;/i&gt; ( Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006), 92&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;by Galilean Mission</description><link>http://karangyoso.blogspot.com/2008/12/kyai-sadrach.html</link><author>noreply@blogger.com (Villa Sophia Cimacan)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjC8-XM_lHC-7c2XceUaCqWN8HexHrpggzxc1snnm_2EsoOGq8feR7N3omee83wqUx-T0NM8BG531i9upaEtypARyg-OBW_bcfJUIYcmzlX5CFib0jEwHEqxLkYVHwGTC93TzTSCwsJBrU/s72-c/gks+1924.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>1</thr:total></item></channel></rss>