<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0"><channel><title>SEMUA TENTANG PENDIDIKAN</title><link>http://haryantotips.blogspot.com/</link><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/Haryantotips" /><description></description><language>en</language><managingEditor>noreply@blogger.com (KELAS XII IPS 1 TAHUN 2009/2010)</managingEditor><lastBuildDate>Thu, 12 Jan 2012 23:41:19 PST</lastBuildDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">11</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><feedburner:info uri="haryantotips" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><item><title>SEJARAH</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Haryantotips/~3/_bIz8mTLXck/sejarah.html</link><author>noreply@blogger.com (KELAS XII IPS 1 TAHUN 2009/2010)</author><pubDate>Fri, 10 Dec 2010 03:38:03 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8581253918985038641.post-4400832133805198443</guid><description>A.Pendahuluan&lt;br /&gt;Pancasila Sebagai dasar negara dari Negara Kesatuan Republik Indonesia telah diterima secara luas dan telah bersifat final. Namun walaupun pancasila saat ini telah dihayati sebagai filsafat hidup bangsa dan dasar negara, yang merupakan perwujudan dari jiwa bangsa,sikap mental,budaya dan karakteristik bangsa, saat ini asal usul dan kapan di keluarkan/disampaikannnya Pancasila masih dijadikan kajian yang menimbulkan banyak sekali penafsiran dan konflik yang belum selesai hingga saat ini.&lt;br /&gt;Namun dibalik itu semua ternyata pancasila memang mempunyai sejarah yang panjang tentang perumusan-perumusan terbentuknya pancasila, dalam perjalanan ketata negaraan Indonesia. Sejarah ini begitu sensitif dan salah-salah bisa mengancam keutuhan Negara Indonesia. Hal ini dikarenakan begitu banyak polemik serta kontroversi yang akut dan berkepanjangan baik mengenai siapa pengusul pertama sampai dengan pencetus istilah Pancasila..&lt;br /&gt;dari beberapa sumber, setidaknya ada beberapa rumusan Pancasila yang telah atau pernah muncul. Rumusan Pancasila yang satu dengan rumusan yang lain ada yang berbeda namun ada pula yang sama. Secara berturut turut akan dikemukakan rumusan dari Muh Yamin, Sukarno, Piagam Jakarta, Hasil BPUPKI, Hasil PPKI, Konstitusi RIS, UUD Sementara, UUD 1945 (Dekrit Presiden 5 Juli 1959), Versi Berbeda, dan Versi populer yang berkembang di masyarakat.&lt;br /&gt;a. Rumusan I: Muh. Yamin, Mr.&lt;br /&gt;Pada sesi pertama persidangan BPUPKI yang dilaksanakan pada 29 Mei – 1 Juni 1945 beberapa anggota BPUPKI diminta untuk menyampaikan usulan mengenai bahan-bahan konstitusi dan rancangan “blue print” Negara Republik Indonesia yang akan didirikan. Pada tanggal 29 Mei 1945 Mr. Muh. Yamin menyampaikan usul dasar negara dihadapan sidang pleno BPUPKI baik dalam pidato maupun secara tertulis yang disampaikan kepada BPUPKI.&lt;br /&gt;Rumusan Pidato&lt;br /&gt;Baik dalam kerangka uraian pidato maupun dalam presentasi lisan Muh Yamin mengemukakan lima calon dasar negara yaitu:&lt;br /&gt;1.Peri Kebangsaan&lt;br /&gt;2.Peri Kemanusiaan&lt;br /&gt;3.Peri ke-Tuhanan [sic!]&lt;br /&gt;4.Peri Kerakyatan&lt;br /&gt;5.Kesejahteraan Rakyat&lt;br /&gt;Selain usulan lisan Muh Yamin tercatat menyampaikan usulan tertulis mengenai rancangan dasar negara. Usulan tertulis yang disampaikan kepada BPUPKI oleh Muh Yamin berbeda dengan rumusan kata-kata dan sistematikanya dengan yang dipresentasikan secara lisan, yaitu:&lt;br /&gt;1.Ketuhanan Yang Maha Esa&lt;br /&gt;2.Kebangsaan Persatuan Indonesia&lt;br /&gt;3.Rasa Kemanusiaan yang Adil dan Beradab&lt;br /&gt;4.Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan [sic!]&lt;br /&gt;5.keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia [sic!]&lt;br /&gt;b. Rumusan II: Sukarno, Ir.&lt;br /&gt;Selain Muh Yamin, beberapa anggota BPUPKI juga menyampaikan usul dasar negara, diantaranya adalah Ir Sukarno[1]. Usul ini disampaikan pada 1 Juni 1945 yang kemudian dikenal sebagai hari lahir Pancasila. Usul Sukarno sebenarnya tidak hanya satu melainkan tiga buah usulan calon dasar negara yaitu lima prinsip, tiga prinsip, dan satu prinsip. Sukarno pula- lah yang mengemukakan dan menggunakan istilah “Pancasila” (secara harfiah berarti lima dasar) pada rumusannya ini atas saran seorang ahli bahasa (Muh Yamin) yang duduk di sebelah Sukarno. Oleh karena itu rumusan Sukarno di atas disebut dengan Pancasila, Trisila, dan Ekasila.&lt;br /&gt;Rumusan Pancasila&lt;br /&gt;1.Kebangsaan Indonesia&lt;br /&gt;2.Internasionalisme,-atau peri-kemanusiaan [sic!]&lt;br /&gt;3.Mufakat,-atau demokrasi [sic!]&lt;br /&gt;4.Kesejahteraan sosial&lt;br /&gt;5.ke-Tuhanan yang berkebudayaan [sic!]&lt;br /&gt;Rumusan Trisila&lt;br /&gt;1.Socio-nationalisme [sic!]&lt;br /&gt;2.Socio-demokratie [sic!]&lt;br /&gt;3.ke-Tuhanan [sic!]&lt;br /&gt;Rumusan Ekasila&lt;br /&gt;1.Gotong-Royong [sic!]&lt;br /&gt;c. Rumusan III: Piagam Jakarta&lt;br /&gt;Usulan-usulan blue print Negara Indonesia telah dikemukakan anggota-anggota BPUPKI pada sesi pertama yang berakhir tanggal 1 Juni 1945. Selama reses antara 2 Juni – 9 Juli 1945, delapan orang anggota BPUPKI ditunjuk sebagai panitia kecil yang bertugas untuk menampung dan menyelaraskan usul-usul anggota BPUPKI yang telah masuk. Pada 22 Juni 1945 panitia kecil tersebut mengadakan pertemuan dengan 38 anggota BPUPKI dalam rapat informal. Rapat tersebut memutuskan membentuk suatu panitia kecil berbeda (kemudian dikenal dengan sebutan “Panitia Sembilan”) yang bertugas untuk menyelaraskan mengenai hubungan Negara dan Agama.&lt;br /&gt;Dalam menentukan hubungan negara dan agama anggota BPUPKI terbelah antara golongan Islam yang menghendaki bentuk teokrasi Islam dengan golongan Kebangsaan yang menghendaki bentuk negara sekuler dimana negara sama sekali tidak diperbolehkan bergerak di bidang agama. Persetujuan di antara dua golongan yang dilakukan oleh Panitia Sembilan tercantum dalam sebuah dokumen “Rancangan Pembukaan Hukum Dasar”. Dokumen ini pula yang disebut Piagam Jakarta (Jakarta Charter) oleh Mr. Muh Yamin. Adapun rumusan rancangan dasar negara terdapat di akhir paragraf keempat dari dokumen “Rancangan Pembukaan Hukum Dasar” (paragraf 1-3 berisi rancangan pernyataan kemerdekaan/proklamasi/ declaration of independence). Rumucan ini merupakan rumusan pertamq sebagai hasil kesepakatan para “Pendiri Bangsa”.&lt;br /&gt;Rumusan kalimat&lt;br /&gt;“… dengan berdasar kepada: ke-Tuhanan, dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya, menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”&lt;br /&gt;Alternatif pembacaan&lt;br /&gt;Alternatif pembacaan rumusan kalimat rancangan dasar negara pada Piagam Jakarta dimaksudkan untuk memperjelas persetujuan kedua golongan dalam BPUPKI sebagaimana terekam dalam dokumen itu dengan menjadikan anak kalimat terakhir dalam paragraf keempat tersebut menjadi sub-sub anak kalimat.&lt;br /&gt;“… dengan berdasar kepada: ke-Tuhanan&lt;br /&gt;[A] dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya, menurut dasar,&lt;br /&gt;[A.1] kemanusiaan yang adil dan beradab,&lt;br /&gt;[A.2] persatuan Indonesia, dan&lt;br /&gt;[A.3] kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan[;] serta&lt;br /&gt;[B] dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”&lt;br /&gt;Rumusan dengan penomoran (utuh)&lt;br /&gt;1.Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya&lt;br /&gt;2.Menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab&lt;br /&gt;3.Persatuan Indonesia&lt;br /&gt;4.Dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan&lt;br /&gt;5.Serta dengan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia&lt;br /&gt;Rumusan populer&lt;br /&gt;Versi populer rumusan rancangan Pancasila menurut Piagam Jakarta yang beredar di masyarakat adalah:&lt;br /&gt;1.Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya&lt;br /&gt;2.Kemanusiaan yang adil dan beradab&lt;br /&gt;3.Persatuan Indonesia&lt;br /&gt;4.Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan&lt;br /&gt;5.Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia&lt;br /&gt;d. Rumusan IV: BPUPKI&lt;br /&gt;Pada sesi kedua persidangan BPUPKI yang berlangsung pada 10-17 Juli 1945, dokumen “Rancangan Pembukaan Hukum Dasar” (baca Piagam Jakarta) dibahas kembali secara resmi dalam rapat pleno tanggal 10 dan 14 Juli 1945. Dokumen “Rancangan Pembukaan Hukum Dasar” tersebut dipecah dan diperluas menjadi dua buah dokumen berbeda yaitu Declaration of Independence (berasal dari paragraf 1-3 yang diperluas menjadi 12 paragraf) dan Pembukaan (berasal dari paragraf 4 tanpa perluasan sedikitpun). Rumusan yang diterima oleh rapat pleno BPUPKI tanggal 14 Juli 1945 hanya sedikit berbeda dengan rumusan Piagam Jakarta yaitu dengan menghilangkan kata “serta” dalam sub anak kalimat terakhir. Rumusan rancangan dasar negara hasil sidang BPUPKI, yang merupakan rumusan resmi pertama, jarang dikenal oleh masyarakat luas.&lt;br /&gt;Rumusan kalimat&lt;br /&gt;“… dengan berdasar kepada: ke-Tuhanan, dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya, menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat-kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”&lt;br /&gt;Rumusan dengan penomoran (utuh)&lt;br /&gt;1.Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya&lt;br /&gt;2.Menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab&lt;br /&gt;3.Persatuan Indonesia&lt;br /&gt;4.Dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat-kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan&lt;br /&gt;5.Dengan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia&lt;br /&gt;e. Rumusan V: PPKI&lt;br /&gt;Menyerahnya Kekaisaran Jepang yang mendadak dan diikuti dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang diumumkan sendiri oleh Bangsa Indonesia (lebih awal dari kesepakatan semula dengan Tentara Angkatan Darat XVI Jepang) menimbulkan situasi darurat yang harus segera diselesaikan. Sore hari tanggal 17 Agustus 1945, wakil-wakil dari Indonesia daerah Kaigun (Papua, Maluku, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Kalimantan), diantaranya A. A. Maramis, Mr., menemui Sukarno menyatakan keberatan dengan rumusan “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” untuk ikut disahkan menjadi bagian dasar negara. Untuk menjaga integrasi bangsa yang baru diproklamasikan, Sukarno segera menghubungi Hatta dan berdua menemui wakil-wakil golongan Islam. Semula, wakil golongan Islam, diantaranya Teuku Moh Hasan, Mr. Kasman Singodimedjo, dan Ki Bagus Hadikusumo, keberatan dengan usul penghapusan itu. Setelah diadakan konsultasi mendalam akhirnya mereka menyetujui penggantian rumusan “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dengan rumusan “Ketuhanan Yang Maha Esa” sebagai sebuah “emergency exit” yang hanya bersifat sementara dan demi keutuhan Indonesia.&lt;br /&gt;Pagi harinya tanggal 18 Agustus 1945 usul penghilangan rumusan “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dikemukakan dalam rapat pleno PPKI. Selain itu dalam rapat pleno terdapat usulan untuk menghilangkan frasa “menurut dasar” dari Ki Bagus Hadikusumo. Rumusan dasar negara yang terdapat dalam paragraf keempat Pembukaan Undang-Undang Dasar ini merupakan rumusan resmi kedua dan nantinya akan dipakai oleh bangsa Indonesia hingga kini. UUD inilah yang nantinya dikenal dengan UUD 1945.&lt;br /&gt;Rumusan kalimat&lt;br /&gt;“… dengan berdasar kepada: ke-Tuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”&lt;br /&gt;Rumusan dengan penomoran (utuh)&lt;br /&gt;1.ke-Tuhanan Yang Maha Esa, [[sic!]]&lt;br /&gt;2.Kemanusiaan yang adil dan beradab,&lt;br /&gt;3.Persatuan Indonesia&lt;br /&gt;4.Dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan&lt;br /&gt;5.Serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.&lt;br /&gt;f. Rumusan VI: Konstitusi RIS&lt;br /&gt;Pendudukan wilayah Indonesia oleh NICA menjadikan wilayah Republik Indonesi semakin kecil dan terdesak. Akhirnya pada akhir 1949 Republik Indonesia yang berpusat di Yogyakarta (RI Yogyakarta) terpaksa menerima bentuk negara federal yang disodorkan pemerintah kolonial Belanda dengan nama Republik Indonesia Serikat (RIS) dan hanya menjadi sebuah negara bagian saja. Walaupun UUD yang disahkan oleh PPKI pada 18 Agustus 1945 tetap berlaku bagi RI Yogyakarta, namun RIS sendiri mempunyai sebuah Konstitusi Federal (Konstitusi RIS) sebagai hasil permufakatan seluruh negara bagian dari RIS. Dalam Konstitusi RIS rumusan dasar negara terdapat dalam Mukaddimah (pembukaan) paragraf ketiga. Konstitusi RIS disetujui pada 14 Desember 1949 oleh enam belas negara bagian dan satuan kenegaraan yang tergabung dalam RIS.&lt;br /&gt;Rumusan kalimat&lt;br /&gt;“…, berdasar pengakuan ke-Tuhanan Yang Maha Esa, perikemanusiaan, kebangsaan, kerakyatan dan keadilan sosial.”&lt;br /&gt;Rumusan dengan penomoran (utuh)&lt;br /&gt;1.ke-Tuhanan Yang Maha Esa,&lt;br /&gt;2.perikemanusiaan,&lt;br /&gt;3.kebangsaan,&lt;br /&gt;4.kerakyatan&lt;br /&gt;5.dan keadilan sosial&lt;br /&gt;g. Rumusan VII: UUD Sementara&lt;br /&gt;Segera setelah RIS berdiri, negara itu mulai menempuh jalan kehancuran. Hanya dalam hitungan bulan negara bagian RIS membubarkan diri dan bergabung dengan negara bagian RI Yogyakarta. Pada Mei 1950 hanya ada tiga negara bagian yang tetap eksis yaitu RI Yogyakarta, NIT[2], dan NST[3]. Setelah melalui beberapa pertemuan yang intensif RI Yogyakarta dan RIS, sebagai kuasa dari NIT dan NST, menyetujui pembentukan negara kesatuan dan mengadakan perubahan Konstitusi RIS menjadi UUD Sementara. Perubahan tersebut dilakukan dengan menerbitkan UU RIS No 7 Tahun 1950 tentang Perubahan Konstitusi Sementara Republik Indonesia Serikat menjadi Undang-Undang Dasar Sementara (LN RIS Tahun 1950 No 56, TLN RIS No 37) yang disahkan tanggal 15 Agustus 1950. Rumusan dasar negara kesatuan ini terdapat dalam paragraf keempat dari Mukaddimah (pembukaan) UUD Sementara Tahun 1950.&lt;br /&gt;Rumusan kalimat&lt;br /&gt;“…, berdasar pengakuan ke-Tuhanan Yang Maha Esa, perikemanusiaan, kebangsaan, kerakyatan dan keadilan sosial, …”&lt;br /&gt;Rumusan dengan penomoran (utuh)&lt;br /&gt;1.ke-Tuhanan Yang Maha Esa,&lt;br /&gt;2.perikemanusiaan,&lt;br /&gt;3.kebangsaan,&lt;br /&gt;4.kerakyatan&lt;br /&gt;5.dan keadilan sosial&lt;br /&gt;h. Rumusan VIII: UUD 1945&lt;br /&gt;Kegagalan Konstituante untuk menyusun sebuah UUD yang akan menggantikan UUD Sementara yang disahkan 15 Agustus 1950 menimbulkan bahaya bagi keutuhan negara. Untuk itulah pada 5 Juli 1959 Presiden Indonesia saat itu, Sukarno, mengambil langkah mengeluarkan Dekrit Kepala Negara yang salah satu isinya menetapkan berlakunya kembali UUD yang disahkan oleh PPKI pada 18 Agustus 1945 menjadi UUD Negara Indonesia menggantikan UUD Sementara. Dengan pemberlakuan kembali UUD 1945 maka rumusan Pancasila yang terdapat dalam Pembukaan UUD kembali menjadi rumusan resmi yang digunakan.&lt;br /&gt;Rumusan ini pula yang diterima oleh MPR, yang pernah menjadi lembaga tertinggi negara sebagai penjelmaan kedaulatan rakyat antara tahun 1960-2004, dalam berbagai produk ketetapannya, diantaranya:&lt;br /&gt;1.Tap MPR No XVIII/MPR/1998 tentang Pencabutan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia No. II/MPR/1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (Ekaprasetya Pancakarsa) dan Penetapan tentang Penegasan Pancasila sebagai Dasar Negara, dan&lt;br /&gt;2.Tap MPR No III/MPR/2000 tentang Sumber Hukum dan Tata Urutan Peraturan Perundang-undangan.&lt;br /&gt;Rumusan kalimat&lt;br /&gt;“… dengan berdasar kepada: Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”&lt;br /&gt;Rumusan dengan penomoran (utuh)&lt;br /&gt;1.Ketuhanan Yang Maha Esa,&lt;br /&gt;2.Kemanusiaan yang adil dan beradab,&lt;br /&gt;3.Persatuan Indonesia&lt;br /&gt;4.Dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan&lt;br /&gt;5.Serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.&lt;br /&gt;I. Rumusan IX: Versi Berbeda&lt;br /&gt;Selain mengutip secara utuh rumusan dalam UUD 1945, MPR pernah membuat rumusan yang agak sedikit berbeda. Rumusan ini terdapat dalam lampiran Ketetapan MPRS No. XX/MPRS/1966 tentang Memorandum DPR-GR mengenai Sumber Tertib Hukum Republik Indonesia dan Tata Urutan Peraturan Perundangan Republik Indonesia.&lt;br /&gt;Rumusan&lt;br /&gt;1.Ketuhanan Yang Maha Esa,&lt;br /&gt;2.Kemanusiaan yang adil dan beradab,&lt;br /&gt;3.Persatuan Indonesia&lt;br /&gt;4.Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan&lt;br /&gt;5.Keadilan sosial.&lt;br /&gt;j. Rumusan X: Versi Populer&lt;br /&gt;Rumusan terakhir yang akan dikemukakan adalah rumusan yang beredar dan diterima secara luas oleh masyarakat. Rumusan Pancasila versi populer inilah yang dikenal secara umum dan diajarkan secara luas di dunia pendidikan sebagai rumusan dasar negara. Rumusan ini pada dasarnya sama dengan rumusan dalam UUD 1945, hanya saja menghilangkan kata “dan” serta frasa “serta dengan mewujudkan suatu” pada sub anak kalimat terakhir.&lt;br /&gt;Rumusan ini pula yang terdapat dalam lampiran Tap MPR No II/MPR/1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (Ekaprasetya Pancakarsa)&lt;br /&gt;Rumusan&lt;br /&gt;1.Ketuhanan Yang Maha Esa,&lt;br /&gt;2.Kemanusiaan yang adil dan beradab,&lt;br /&gt;3.Persatuan Indonesia&lt;br /&gt;4.Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan&lt;br /&gt;5.Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.&lt;br /&gt;Catatan Kaki&lt;br /&gt;1.^ Sidang Sesi I BPUPKI tidak hanya membahas mengenai calon dasar negara namun juga membahas hal yang lain. Tercatat dua anggota Moh. Hatta, Drs. dan Supomo, Mr. mendapat kesempatan berpidato yang agak panjang. Hatta berpidato mengenai perekonomian Indonesia sedangkan Supomo yang kelak menjadi arsitek UUD berbicara mengenai corak Negara Integralistik&lt;br /&gt;2.^ Negara Indonesia Timur, wilayahnya meliputi Sulawesi dan pulau-pulau sekitarnya, Kepulauan Nusa Tenggara, dan seluruh kepulauan Maluku&lt;br /&gt;3.^ Negara Sumatra Timur, wilayahnya meliputi bagian timur provinsi Sumut (sekarang)&lt;br /&gt;“Pancasila sebagaimana dimaksud dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 adalah dasar negara dari Negara Kesatuan Republik Indonesia harus dilaksanakan secara konsisten dalam kehidupan bernegara” (Pasal 1 Ketetapan MPR No XVIII/MPR/1998 jo Ketetapan MPR No. I/MPR/2003 jo Pasal I Aturan Tambahan UUD 1945).&lt;br /&gt;Referensi&lt;br /&gt;1.UUD 1945&lt;br /&gt;2.Konstitusi RIS (1949)&lt;br /&gt;3.UUD Sementara (1950)&lt;br /&gt;4.Berbagai Ketetapan MPRS dan MPR RI&lt;br /&gt;5.Saafroedin Bahar (ed). (1992) Risalah Sidang BPUPKI-PPKI 29 Mei 1945-19 Agustus 1945. Edisi kedua. Jakarta: SetNeg RI&lt;br /&gt;6.Tim Fakultas Filsafat UGM (2005) Pendidikan Pancasila. Edisi 2. Jakarta: Universitas Terbuka&lt;br /&gt;7.http://id.wikipedia.org/wiki/Rumusan-rumusan_Pancasila#Rumusan_I:_Muh._Yamin.2C_Mr&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8581253918985038641-4400832133805198443?l=haryantotips.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=_bIz8mTLXck:LibeU4OjNZY:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=_bIz8mTLXck:LibeU4OjNZY:63t7Ie-LG7Y"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=63t7Ie-LG7Y" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=_bIz8mTLXck:LibeU4OjNZY:dnMXMwOfBR0"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=dnMXMwOfBR0" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=_bIz8mTLXck:LibeU4OjNZY:V_sGLiPBpWU"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?i=_bIz8mTLXck:LibeU4OjNZY:V_sGLiPBpWU" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=_bIz8mTLXck:LibeU4OjNZY:7Q72WNTAKBA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=7Q72WNTAKBA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=_bIz8mTLXck:LibeU4OjNZY:F7zBnMyn0Lo"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?i=_bIz8mTLXck:LibeU4OjNZY:F7zBnMyn0Lo" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=_bIz8mTLXck:LibeU4OjNZY:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=_bIz8mTLXck:LibeU4OjNZY:KwTdNBX3Jqk"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?i=_bIz8mTLXck:LibeU4OjNZY:KwTdNBX3Jqk" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=_bIz8mTLXck:LibeU4OjNZY:l6gmwiTKsz0"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=l6gmwiTKsz0" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=_bIz8mTLXck:LibeU4OjNZY:gIN9vFwOqvQ"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?i=_bIz8mTLXck:LibeU4OjNZY:gIN9vFwOqvQ" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total><category domain="http://rss.financialcontent.com/stocksymbol">RIS</category><feedburner:origLink>http://haryantotips.blogspot.com/2010/12/sejarah.html</feedburner:origLink></item><item><title>SOSIOLOGI</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Haryantotips/~3/4jZHHxukU3w/sosiologi.html</link><author>noreply@blogger.com (KELAS XII IPS 1 TAHUN 2009/2010)</author><pubDate>Fri, 10 Dec 2010 04:04:24 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8581253918985038641.post-2116439450496103526</guid><description>Revolusi adalah perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan masyarakat. Di dalam revolusi, perubahan yang terjadi dapat direncanakan atau tanpa direncanakan terlebih dahulu dan dapat dijalankan tanpa kekerasan atau melalui kekerasan. Ukuran kecepatan suatu perubahan sebenarnya relatif karena revolusi pun dapat memakan waktu lama. Misalnya revolusi industri di Inggris yang memakan waktu puluhan tahun, namun dianggap 'cepat' karena mampu mengubah sendi-sendi pokok kehidupan masyarakat —seperti sistem kekeluargaan dan hubungan antara buruh dan majikan— yang telah berlangsung selama ratusan tahun. Revolusi menghendaki suatu upaya untuk merobohkan, menjebol, dan membangun dari sistem lama kepada suatu sistem yang sama sekali baru. Revolusi senantiasa berkaitan dengan dialektika, logika, romantika, menjebol dan membangun. &lt;br /&gt;Dialektika revolusi mengatakan bahwa revolusi merupakan suatu usaha menuju perubahan menuju kemaslahatan rakyat yang ditunjang oleh beragam faktor, tak hanya figur pemimpin, namun juga segenap elemen perjuangan beserta sarananya. Logika revolusi merupakan bagaimana revolusi dapat dilaksanakan berdasarkan suatu perhitungan mapan, bahwa revolusi tidak bisa dipercepat atau diperlambat, ia akan datang pada waktunya. Kader-kader revolusi harus dibangun sedemikian rupa dengan kesadaran kelas dan kondisi nyata di sekelilingnya. Romantika revolusi merupakan nilai-nilai dari revolusi, beserta kenangan dan kebesarannya, di mana ia dibangun. Romantika ini menyangkut pemahaman historis dan bagaimana ia disandingkan dengan pencapaian terbesar revolusi, yaitu kemaslahatan rakyat. Telah banyak tugu peringatan dan museum yang melukiskan keperkasaan dan kemasyuran ravolusi di banyak negara yang telah menjalankan revolusi seperti yang terdapat di Vietnam, Rusia, China, Indonesia, dan banyak negara lainnya. Menjebol dan membangun merupakan bagian integral yang menjadi bukti fisik revolusi. Tatanan lama yang busuk dan menyesatkan serta menyengsarakan rakyat, diubah menjadi tatanan yang besar peranannya untuk rakyat, seperti di Bolivia, setelah Hugo Chavez menjadi presiden ia segera merombak tatanan agraria, di mana tanah untuk rakyat sungguh diutamakan yang menyingkirkan dominasi para tuan tanah di banyak daerah di negeri itu. &lt;br /&gt;Evolusi&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Evolusi pada dasarnya berarti proses perubahan dalam jangka waktu tertentu. Dalam konteks biologi modern, evolusi berarti perubahan sifat-sifat yang diwariskan dalam suatu populasi organisme dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sifat-sifat yang menjadi dasar dari evolusi ini dibawa oleh gen yang diwariskan pada keturunan suatu makhluk hidup. Sifat baru dapat diperoleh dari perubahan gen oleh mutasi, transfer gen antar populasi, seperti dalam migrasi, atau antar spesies seperti yang terjadi pada bakteria, serta kombinasi gen mealui reproduksi seksual. Meskipun teori evolusi selalu diasosiasikan dengan Charles Darwin, namun sebenarnya biologi evolusi telah berakar sejak jaman Aristoteles. Namun demikian, Darwin adalah ilmuwan pertama yang mencetuskan teori evolusi yang telah banyak terbukti mapan menghadapi pengujian ilmiah. Sampai saat ini, teori Darwin tentang evolusi yang terjadi karena seleksi alam dianggap oleh mayoritas masyarakat sains sebagai teori terbaik dalam menjelaskan peristiwa evolusi.&lt;br /&gt;Sumber: Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8581253918985038641-2116439450496103526?l=haryantotips.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=4jZHHxukU3w:NqYM4bNMBP4:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=4jZHHxukU3w:NqYM4bNMBP4:63t7Ie-LG7Y"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=63t7Ie-LG7Y" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=4jZHHxukU3w:NqYM4bNMBP4:dnMXMwOfBR0"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=dnMXMwOfBR0" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=4jZHHxukU3w:NqYM4bNMBP4:V_sGLiPBpWU"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?i=4jZHHxukU3w:NqYM4bNMBP4:V_sGLiPBpWU" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=4jZHHxukU3w:NqYM4bNMBP4:7Q72WNTAKBA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=7Q72WNTAKBA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=4jZHHxukU3w:NqYM4bNMBP4:F7zBnMyn0Lo"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?i=4jZHHxukU3w:NqYM4bNMBP4:F7zBnMyn0Lo" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=4jZHHxukU3w:NqYM4bNMBP4:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=4jZHHxukU3w:NqYM4bNMBP4:KwTdNBX3Jqk"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?i=4jZHHxukU3w:NqYM4bNMBP4:KwTdNBX3Jqk" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=4jZHHxukU3w:NqYM4bNMBP4:l6gmwiTKsz0"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=l6gmwiTKsz0" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=4jZHHxukU3w:NqYM4bNMBP4:gIN9vFwOqvQ"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?i=4jZHHxukU3w:NqYM4bNMBP4:gIN9vFwOqvQ" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">3</thr:total><feedburner:origLink>http://haryantotips.blogspot.com/2010/12/sosiologi.html</feedburner:origLink></item><item><title>Tentang Sosiologi Masyarakat</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Haryantotips/~3/wl0ZFHWW_98/tentang-sosiologi-masyarakat.html</link><author>noreply@blogger.com (KELAS XII IPS 1 TAHUN 2009/2010)</author><pubDate>Thu, 01 Dec 2011 11:18:11 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8581253918985038641.post-698910753465831065</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bicara eksistensi maka bicara popularitas di masyarakat. Sosiologi merupakan sebuah istilah yang berasal dari kata latin socius yang artinya teman, dan logos dari kata Yunani yang berarti cerita, diungkapkan pertama kalinya dalam buku yang berjudul “Cours De Philosophie Positive” karangan August Comte (1798-1857). Sosiologi muncul sejak ratusan, bahkan ribuan tahun yang lalu. Namun sosiologi sebagai ilmu yang mempelajari masyarakat baru lahir kemudian di Eropa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://galihdanary.files.wordpress.com/2011/03/pitirim_sorokin.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://galihdanary.files.wordpress.com/2011/03/pitirim_sorokin.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Pitriam Sorokin&amp;nbsp;&lt;/i&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut Pitriam Sorokin, Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial (misalnya gejala ekonomi, gejala keluarga, dan gejala moral), sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala non-sosial, dan yang terakhir, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan eksistensinya di masyarakat. Kalau di tahun-tahun sebelumnya Sosiologi merupakan suatu ilmu pengetahuan yang belum begitu eksis dibanding ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Yaitu seperti Matematika, sejarah Geografi dan lain sebagainya. Ini disebabkan karena tenaga pendidiknya yang masih jarang dari ilmu sosiologi. Dalam ilmu pendidikan, sosiologi baru dipelajari ketika kita duduk dibangku SMA. Namun, seiring dengan perkembangan zaman sosiologipun ditahun 2008/2009 itu sudah dipelajari sejak SMP. Ini berarti ilmu sosiologi semakin berkembang dan semakin eksis didalam di masyarakat sebab ilmu sosiologi merupakan ilmu yang sangat menarik untuk dipelajari. Apa yang kita dapat dari ilmu sosiologi bias kita aktualisasikan ke kedupan msyarakat. Setidaknya kita tidak begitu susah untuk berintraksi dan bersosialisasi dengan masyarakat lainnya. Gejala-gejala social yang ada di dalam masyarkatpun kita menjadi tahu sedikit demi sedikit.&lt;br /&gt;Pada ilmu sosiologi ini terdapat tiga tahap perkembangan intelektual, yang masing-masing merupakan perkembangan dari tahap sebelumya. Ini dikemukan oleh comte selaku bapak sosiologi. Tiga tahapan itu adalah :&lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: left;"&gt;&lt;li&gt;Tahap teologis; adalah tingkat pemikiran manusia bahwa semua benda di dunia mempunyai jiwa dan itu disebabkan oleh suatu kekuatan yang berada di atas manusia.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tahap metafisis; pada tahap ini manusia menganggap bahwa didalam setiap gejala terdapat kekuatan-kekuatan atau inti tertentu yang pada akhirnya akan dapat diungkapkan. Oleh karena adanya kepercayaan bahwa setiap cita-cita terkait pada suatu realitas tertentu dan tidak ada usaha untuk menemukan hukum-hukum alam yang seragam.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tahap positif; adalah tahap dimana manusia mulai berpikir secara ilmiah.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Banyak manfaat yang kita dapat dari mempelajari sosiologi. Seperti tiga tahapan yang dikemukan comte tersebut, itu merupakan gambaran tentang manusia sebagai makhluk social. Sebagai makhluk social kita sudah sewajarnya untuk mempelajari, memahami dan mengerti tentang sosiologi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/41590_241974889182_7943278_q.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/41590_241974889182_7943278_q.jpg" width="320" /&gt;&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Soerjono Soekanto&lt;/i&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut Soerjono Soekanto Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan perhatian pada segi-segi kemasyarakatan yang bersifat umum dan berusaha untuk mendapatkan pola-pola umum kehidupan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang manusia akan memiliki perilaku yang berbeda dengan manusia lainnya walaupun orang tersebut kembar siam. Ada yang baik hati suka menolong serta rajin menabung dan ada pula yang prilakunya jahat yang suka berbuat kriminal menyakitkan hati. Manusia juga saling berhubungan satu sama lainnya dengan melakukan interaksi dan membuat kelompok dalam masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosiologi berasal dari bahasa yunani yaitu kata socius dan logos, di mana socius memiliki arti kawan / teman dan logos berarti kata atau berbicara. Menurut Bapak Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut ahli sosiologi lain yakni Emile Durkheim, sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari fakta-fakta sosial, yakni fakta yang mengandung cara bertindak, berpikir, berperasaan yang berada di luar individu di mana fakta-fakta tersebut memiliki kekuatan untuk mengendalikan individu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Objek dari sosiologi adalah masyarakat dalam berhubungan dan juga proses yang dihasilkan dari hubungan tersebut. Tujuan dari ilmu sosiologi adalah untuk meningkatkan kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan lingkungan sosialnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pokok bahasan dari ilmu sosiologi adalah seperti kenyataan atau fakta sosial, tindakan sosial, khayalan sosiologis serta pengungkapan realitas sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh utama dalam sosiologi adalah Auguste Comte (1798-1857) berasal dari perancis yang merupakan manusia pertama yang memperkenalkan istilah sosiologi kepada masyarakat luas. Auguste Comte disebut sebagai Bapak Sosiologi di dunia internasional. Di Indonesia juga memiliki tokoh utama dalam ilmu sosiologi yang disebut sebagai Bapak Sosiologi Indonesia yaitu Selo Soemardjan / Selo Sumarjan / Selo Sumardjan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8581253918985038641-698910753465831065?l=haryantotips.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=wl0ZFHWW_98:G_tGg-QbYWs:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=wl0ZFHWW_98:G_tGg-QbYWs:63t7Ie-LG7Y"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=63t7Ie-LG7Y" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=wl0ZFHWW_98:G_tGg-QbYWs:dnMXMwOfBR0"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=dnMXMwOfBR0" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=wl0ZFHWW_98:G_tGg-QbYWs:V_sGLiPBpWU"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?i=wl0ZFHWW_98:G_tGg-QbYWs:V_sGLiPBpWU" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=wl0ZFHWW_98:G_tGg-QbYWs:7Q72WNTAKBA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=7Q72WNTAKBA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=wl0ZFHWW_98:G_tGg-QbYWs:F7zBnMyn0Lo"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?i=wl0ZFHWW_98:G_tGg-QbYWs:F7zBnMyn0Lo" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=wl0ZFHWW_98:G_tGg-QbYWs:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=wl0ZFHWW_98:G_tGg-QbYWs:KwTdNBX3Jqk"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?i=wl0ZFHWW_98:G_tGg-QbYWs:KwTdNBX3Jqk" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=wl0ZFHWW_98:G_tGg-QbYWs:l6gmwiTKsz0"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=l6gmwiTKsz0" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=wl0ZFHWW_98:G_tGg-QbYWs:gIN9vFwOqvQ"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?i=wl0ZFHWW_98:G_tGg-QbYWs:gIN9vFwOqvQ" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://haryantotips.blogspot.com/2011/12/tentang-sosiologi-masyarakat.html</feedburner:origLink></item><item><title>Sejarah Sosiologi Di Dunia Dan INDONESIA</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Haryantotips/~3/QZh8Ep3qWW8/sejarah-sosiologi-di-dunia-dan.html</link><author>noreply@blogger.com (KELAS XII IPS 1 TAHUN 2009/2010)</author><pubDate>Fri, 02 Dec 2011 00:20:33 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8581253918985038641.post-2845923311502631592</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;SEJARAH SOSIOLOGI DUNIA &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1842: Istilah Sosiologi sebagai cabang Ilmu Sosial dicetuskan pertama kali oleh ilmuwan Perancis, bernama August Comte tahun 1842 dan kemudian dikenal sebagai Bapak Sosiologi. Sosiologi sebagai ilmu yang mempelajari tentang masyarakat lahir di Eropa karena ilmuwan Eropa pada abad ke-19 mulai menyadari perlunya secara khusus mempelajari kondisi dan perubahan sosial.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Para ilmuwan itu kemudian berupaya membangun suatu teori sosial berdasarkan ciri-ciri hakiki masyarakat pada tiap tahap peradaban manusia. Comte membedakan antara sosiologi statis, dimana perhatian dipusatkan pada hukum-hukum statis yang menjadi dasar adanya masyarakat dan sosiologi dinamis dimana perhatian dipusatkan tentang perkembangan masyarakat dalam arti pembangunan. Rintisan Comte tersebut disambut hangat oleh masyarakat luas, tampak dari tampilnya sejumlah ilmuwan besar di bidang sosiologi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mereka antara lain Herbert Spencer, Karl Marx, Emile Durkheim, Ferdinand Tönnies, Georg Simmel, Max Weber, dan Pitirim Sorokin (semuanya berasal dari Eropa). &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masing-masing berjasa besar menyumbangkan beragam pendekatan mempelajari masyarakat yang amat berguna untuk perkembangan Sosiologi.&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Émile Durkheim [Ilmuwan Sosial Perancis]berhasil melembagakan Sosiologi sebagai disiplin akademis. Emile memperkenalkan pendekatan fungsionalisme yang berupaya menelusuri fungsi berbagai elemen sosial sebagai pengikat sekaligus pemelihara keteraturan sosial.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;1876: Di Inggris Herbert Spencer mempublikasikan Sosiology dan memperkenalkan pendekatan analogi organik, yang memahami masyarakat seperti tubuh manusia, sebagai suatu organisasi yang terdiri atas bagian-bagian yang tergantung satu sama lain.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Karl Marx memperkenalkan pendekatan materialisme dialektis, yang menganggap konflik antar-kelas sosial menjadi intisari perubahan dan perkembangan masyarakat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Max Weber memperkenalkan pendekatan verstehen (pemahaman), yang berupaya menelusuri nilai, kepercayaan, tujuan, dan sikap yang menjadi penuntun perilaku manusia.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Di Amerika Lester F. Ward mempublikasikan Dynamic Sosiology. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Sejarah Perkembangan Sosiologi Di INDONESIA&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang masyarakat. Masyarakat adalah sekelompok individu yang mempunyai hubungan, memiliki kepentingan bersama, dan memiliki budaya. Sosiologi hendak mempelajari masyarakat, perilaku masyarakat, dan perilaku sosial manusia dengan mengamati perilaku kelompok yang dibangunnya. Kelompok tersebut mencakup keluarga, suku bangsa, negara, dan berbagai organisasi politik, ekonomi, sosial. Istilah Sosiologi sebagai cabang Ilmu Sosial dicetuskan pertama kali oleh ilmuwan Perancis, bernama August Comtetahun 1842. Sehingga Comte dikenal sebagai Bapak Sosiologi. Selanjutnya Émile Durkheim [Ilmuwan Sosial Perancis] yang kemudian berhasil melembagakan Sosiologi sebagai disiplin akademis. Di Inggris Herbert Spencer mempublikasikan Sosiology pada tahun 1876. Di Amerika Lester F.Ward mempublikasikan Dynamic Sosiology. Sebagai sebuah ilmu, sosiologi merupakan pengetahuan kemasyarakatan yang tersusun dari hasil-hasil pemikiran ilmiah dan dapat di kontrol secara kritis oleh orang lain atau umum.&lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Pengertian&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Definisi Sosiologi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pokok bahasan sosiologi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Perkembangan sosiologi dari abad ke abad&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Perkembangan pada abad pencerahan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pengaruh perubahan yang terjadi di abad pencerahan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Gejolak abad revolusi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kelahiran sosiologi modern&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sosiologi merupakan sebuah istilah yang berasal dari kata latin socius yang artinya teman, dan logos dari kata Yunani yang berarti cerita, diungkapkan pertama kalinya dalam buku yang berjudul "Cours De Philosophie Positive" karangan August Comte (1798-1857). Sosiologi muncul sejak ratusan, bahkan ribuan tahun yang lalu. Namun sosiologi sebagai ilmu yang mempelajari masyarakat baru lahir kemudian di Eropa.&lt;br /&gt;Potret Auguste Comte.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal masehi hingga abad 19, Eropa dapat dikatakan menjadi pusat tumbuhnya peradaban dunia, para ilmuwan ketika itu mulai menyadari perlunya secara khusus mempelajari kondisi dan perubahan sosial. Para ilmuwan itu kemudian berupaya membangun suatu teori sosial berdasarkan ciri-ciri hakiki masyarakat pada tiap tahap peradaban manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku itu, Comte menyebutkan ada tiga tahap perkembangan intelektual, yang masing-masing merupakan perkembangan dari tahap sebelumya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga tahapan itu adalah :&lt;/div&gt;&lt;ol style="text-align: justify;"&gt;&lt;li&gt;Tahap teologis; adalah tingkat pemikiran manusia bahwa semua benda di dunia mempunyai jiwa dan itu disebabkan oleh suatu kekuatan yang berada di atas manusia.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tahap metafisis; pada tahap ini manusia menganggap bahwa didalam setiap gejala terdapat kekuatan-kekuatan atau inti tertentu yang pada akhirnya akan dapat diungkapkan. Oleh karena adanya kepercayaan bahwa setiap cita-cita terkait pada suatu realitas tertentu dan tidak ada usaha untuk menemukan hukum-hukum alam yang seragam.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tahap positif; adalah tahap dimana manusia mulai berpikir secara ilmiah.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Comte kemudian membedakan antara sosiologi statis dan sosiologi dinamis. Sosiologi statis memusatkan perhatian pada hukum-hukum statis yang menjadi dasar adanya masyarakat. Sosiologi dinamis memusatkan perhatian tentang perkembangan masyarakat dalam arti pembangunan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Rintisan Comte tersebut disambut hangat oleh masyarakat luas, tampak dari tampilnya sejumlah ilmuwan besar di bidang sosiologi. Mereka antara lain Herbert Spencer, Karl Marx, Emile Durkheim, Ferdinand Tönnies, Georg Simmel, Max Weber, dan Pitirim Sorokin(semuanya berasal dari Eropa). Masing-masing berjasa besar menyumbangkan beragam pendekatan mempelajari masyarakat yang amat berguna untuk perkembangan Sosiologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Herbert Spencer memperkenalkan pendekatan analogi organik, yang memahami masyarakat seperti tubuh manusia, sebagai suatu organisasi yang terdiri atas bagian-bagian yang tergantung satu sama lain.&lt;br /&gt;* Karl Marx memperkenalkan pendekatan materialisme dialektis, yang menganggap konflik antar-kelas sosial menjadi intisari perubahan dan perkembangan masyarakat.&lt;br /&gt;* Emile Durkheim memperkenalkan pendekatan fungsionalisme yang berupaya menelusuri fungsi berbagai elemen sosial sebagai pengikat sekaligus pemelihara keteraturan sosial.&lt;br /&gt;* Max Weber memperkenalkan pendekatan verstehen (pemahaman), yang berupaya menelusuri nilai, kepercayaan, tujuan, dan sikap yang menjadi penuntun perilaku manusia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berikut ini definisi-definisi sosiologi yang dikemukakan beberapa ahli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Pitirim Sorokin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial (misalnya gejala ekonomi, gejala keluarga, dan gejala moral), sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala non-sosial, dan yang terakhir, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Roucek dan Warren&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* William F. Ogburn dan Mayer F. Nimkopf&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosiologi adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya, yaitu organisasi sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* J.A.A Von Dorn dan C.J. Lammers&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang struktur-struktur dan proses-proses kemasyarakatan yang bersifat stabil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Max Weber&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosiologi adalah ilmu yang berupaya memahami tindakan-tindakan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Selo Sumardjan dan Soelaeman Soemardi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosiologi adalah ilmu kemasyarakatan yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial termasuk perubahan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Paul B. Horton&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan penelaahan pada kehidupan kelompok dan produk kehidupan kelompok tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Soejono Sukamto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan perhatian pada segi-segi kemasyarakatan yang bersifat umum dan berusaha untuk mendapatkan pola-pola umum kehidupan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* William Kornblum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosiologi adalah suatu upaya ilmiah untuk mempelajari masyarakat dan perilaku sosial anggotanya dan menjadikan masyarakat yang bersangkutan dalam berbagai kelompok dan kondisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Allan Jhonson&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari kehidupan dan perilaku, terutama dalam kaitannya dengan suatu sistem sosial dan bagaimana sistem tersebut mempengaruhi orang dan bagaimana pula orang yang terlibat didalamnya mempengaruhi sistem tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari berbagai definisi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa :&lt;br /&gt;“ Sosiologi adalah ilmu yang membicarakan apa yang sedang terjadi saat ini, khususnya pola-pola hubungan dalam masyarakat serta berusaha mencari pengertian-pengertian umum, rasional, empiris serta bersifat umum ”Pokok Bahasan Sosiologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Fakta Sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta sosial adalah cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang berada di luar individu dan mempunya kekuatan memaksa dan mengendalikan individu tersebut. Contoh, di sekolah seorang murid diwajidkan untuk datang tepat waktu, menggunakan seragam, dan bersikap hormat kepada guru. Kewajiban-kewajiban tersebut dituangkan ke dalam sebuah aturan dan memiliki sanksi tertentu jika dilanggar. Dari contoh tersebut bisa dilihat adanya cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang ada di luar individu (sekolah), yang bersifat memaksa dan mengendalikan individu (murid).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Tindakan Sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan sosial adalah suatu tindakan yang dilakukan dengan mempertimbangkan perilaku orang lain. Contoh, menanam bunga untuk kesenangan pribadi bukan merupakan tindakan sosial, tetapi menanam bunga untuk diikutsertakan dalam sebuah lomba sehingga mendapat perhatian orang lain, merupakan tindakan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Khayalan Sosiologis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khayalan sosiologis diperlukan untuk dapat memahami apa yang terjadi di masyarakat maupun yang ada dalam diri manusia. Menurut Wright Mills, dengan khayalan sosiologi, kita mampu memahami sejarah masyarakat, riwayat hidup pribadi, dan hubungan antara keduanya.&lt;br /&gt;Alat untuk melakukan khayalan sosiologis adalah troubles dan issues. Troubles adalah permasalahan pribadi individu dan merupakan ancaman terhadap nilai-nilai pribadi. Issues merupakan hal yang ada di luar jangkauan kehidupan pribadi individu. Contoh, jika suatu daerah hanya memiliki satu orang yang menganggur, maka pengangguran itu adalah trouble. Masalah individual ini pemecahannya bisa lewat peningkatan keterampilan pribadi. Sementara jika di kota tersebut ada 12 juta penduduk yang menganggur dari 18 juta jiwa yang ada, maka pengangguran tersebut merupakan issue, yang pemecahannya menuntut kajian lebih luas lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Realitas Sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang sosiolog harus bisa menyingkap berbagai tabir dan mengungkap tiap helai tabir menjadi suatu realitas yang tidak terduga. Syaratnya, sosiolog tersebut harus mengikuti aturan-aturan ilmiah dan melakukan pembuktian secara ilmiah dan objektif dengan pengendalian prasangka pribadi, dan pengamatan tabir secara jeli serta menghindari penilaian normatif.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perkembangan Sosiologi Dari Abad ke Abad&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perkembangan Pada Abad Pencerahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak ilmuwan-ilmuwan besar pada zaman dahulu, seperti Sokrates, Plato dan Aristoteles beranggapan bahwa manusia terbentuk begitu saja. Tanpa ada yang bisa mencegah, masyarakat mengalami perkembangan dan kemunduran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat itu kemudian ditegaskan lagi oleh para pemikir di abad pertengahan, seperti Agustinus, Ibnu Sina, dan Thomas Aquinas. Mereka berpendapat bahwa sebagai makhluk hidup yang fana, manusia tidak bisa mengetahui, apalagi menentukan apa yang akan terjadi dengan masyarakatnya. Pertanyaan dan pertanggungjawaban ilmiah tentang perubahan masyarakat belum terpikirkan pada masa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkembangnya ilmu pengetahuan di abad pencerahan (sekitar abad ke-17 M), turut berpengaruh terhadap pandangan mengenai perubahan masyarakat, ciri-ciri ilmiah mulai tampak di abad ini. Para ahli di zaman itu berpendapat bahwa pandangan mengenai perubahan masyarakat harus berpedoman pada akal budi manusia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengaruh perubahan yang terjadi di abad pencerahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan-perubahan besar di abad pencerahan, terus berkembang secara revolusioner sapanjang abad ke-18 M. Dengan cepat struktur masyarakat lama berganti dengan struktur yang lebih baru. Hal ini terlihat dengan jelas terutama dalam revolusi Amerika, revolusi industri, dan revolusi Perancis. Gejolak-gejolak yang diakibatkan oleh ketiga revolusi ini terasa pengaruhnya di seluruh dunia. Para ilmuwan tergugah, mereka mulai menyadari pentingnya menganalisis perubahan dalam masyarakat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Gejolak Abad Revolusi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan yang terjadi akibat revolusi benar-benar mencengangkan. Struktur masyarakat yang sudah berlaku ratusan tahun rusak. Bangasawan dan kaum Rohaniawan yang semula bergemilang harta dan kekuasaan, disetarakan haknya dengan rakyat jelata. Raja yang semula berkuasa penuh, kini harus memimpin berdasarkan undang-undang yang di tetapkan. Banyak kerajaan-kerajaan besar di Eropa yang jatuh dan terpecah.&lt;br /&gt;Revolusi Perancis berhasil mengubah struktur masyarakat feodal ke masyarakat yang bebas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejolak abad revolusi itu mulai menggugah para ilmuwan pada pemikiran bahwa perubahan masyarakat harus dapat dianalisis. Mereka telah menyakikan betapa perubahan masyarakat yang besar telah membawa banyak korban berupa perang, kemiskinan, pemberontakan dan kerusuhan. Bencana itu dapat dicegah sekiranya perubahan masyarakat sudah diantisipasi secara dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan drastis yang terjadi semasa abad revolusi menguatkan pandangan betapa perlunya penjelasan rasional terhadap perubahan besar dalam masyarakat. Artinya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Perubahan masyarakat bukan merupakan nasib yang harus diterima begitu saja, melainkan dapat diketahui penyebab dan akibatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Harus dicari metode ilmiah yang jelas agar dapat menjadi alat bantu untuk menjelaskan perubahan dalam masyarakat dengan bukti-bukti yang kuat serta masuk akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Dengan metode ilmiah yang tepat (penelitian berulang kali, penjelasan yang teliti, dan perumusan teori berdasarkan pembuktian), perubahan masyarakat sudah dapat diantisipasi sebelumnya sehingga krisis sosial yang parah dapat dicegah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Kelahiran Sosiologi Modern&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosiologi modern tumbuh pesat di benua Amerika, tepatnya di Amerika Serikat dan Kanada. Mengapa bukan di Eropa? (yang notabene merupakan tempat dimana sosiologi muncul pertama kalinya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada permulaan abad ke-20, gelombang besar imigran berdatangan ke Amerika Utara. Gejala itu berakibat pesatnya pertumbuhan penduduk, munculnya kota-kota industri baru, bertambahnya kriminalitas dan lain lain. Konsekuensi gejolak sosial itu, perubahan besar masyarakat pun tak terelakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan masyarakat itu menggugah para ilmuwan sosial untuk berpikir keras, untuk sampai pada kesadaran bahwa pendekatan sosiologi lama ala Eropa tidak relevan lagi. Mereka berupaya menemukan pendekatan baru yang sesuai dengan kondisi masyarakat pada saat itu. Maka lahirlah sosiologi modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkebalikan dengan pendapat sebelumnya, pendekatan sosiologi modern cenderung mikro (lebih sering disebut pendekatan empiris). Artinya, perubahan masyarakat dapat dipelajari mulai dari fakta sosial demi fakta sosial yang muncul. Berdasarkan fakta sosial itu dapat ditarik kesimpulan perubahan masyarakat secara menyeluruh. Sejak saat itulah disadari betapa pentingnya penelitian (research) dalam sosiologi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8581253918985038641-2845923311502631592?l=haryantotips.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=QZh8Ep3qWW8:eWazznPjSFc:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=QZh8Ep3qWW8:eWazznPjSFc:63t7Ie-LG7Y"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=63t7Ie-LG7Y" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=QZh8Ep3qWW8:eWazznPjSFc:dnMXMwOfBR0"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=dnMXMwOfBR0" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=QZh8Ep3qWW8:eWazznPjSFc:V_sGLiPBpWU"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?i=QZh8Ep3qWW8:eWazznPjSFc:V_sGLiPBpWU" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=QZh8Ep3qWW8:eWazznPjSFc:7Q72WNTAKBA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=7Q72WNTAKBA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=QZh8Ep3qWW8:eWazznPjSFc:F7zBnMyn0Lo"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?i=QZh8Ep3qWW8:eWazznPjSFc:F7zBnMyn0Lo" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=QZh8Ep3qWW8:eWazznPjSFc:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=QZh8Ep3qWW8:eWazznPjSFc:KwTdNBX3Jqk"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?i=QZh8Ep3qWW8:eWazznPjSFc:KwTdNBX3Jqk" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=QZh8Ep3qWW8:eWazznPjSFc:l6gmwiTKsz0"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=l6gmwiTKsz0" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=QZh8Ep3qWW8:eWazznPjSFc:gIN9vFwOqvQ"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?i=QZh8Ep3qWW8:eWazznPjSFc:gIN9vFwOqvQ" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://haryantotips.blogspot.com/2011/12/sejarah-sosiologi-di-dunia-dan.html</feedburner:origLink></item><item><title>DAMPAK GLOBALISASI TERHADAP KEMAJUAN IPTEK</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Haryantotips/~3/QYdPm7X4I3U/dampak-globalisasi-terhadap-kemajuan.html</link><author>noreply@blogger.com (KELAS XII IPS 1 TAHUN 2009/2010)</author><pubDate>Thu, 08 Dec 2011 06:35:06 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8581253918985038641.post-4912172408142406898</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;BAB I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita ketahui bahwa sebenarnya sejak dulu teknologi sudah ada atau manusia sudah menggunakan teknologi. Seseorang menggunakan teknologi karena manusia berakal. Dengan akalnya ia ingin keluar dari masalah, ingin hidup lebih baik, lebih aman dan sebagainya. Perkembangan teknologi terjadi karena seseorang menggunakan akalnya dan akalnya untuk menyelesaikan setiap masalah yang dihadapinya. &lt;br /&gt;Pada satu sisi, perkembangan dunia IPTEK yang demikian mengagumkan itu memang telah membawa manfaat yang luar biasa bagi kemajuan peradaban umat manusia. Jenis-jenis pekerjaan yang sebelumnya menuntut kemampuan fisik yang cukup besar, kini relatif sudah bisa digantikan oleh perangkat mesin-mesin otomatis, Demikian juga ditemukannya formulasi-formulasi baru kapasitas komputer, seolah sudah mampu menggeser posisi kemampuan otak manusia dalam berbagai bidang ilmu dan aktifitas manusia. Ringkas kata kemajuan IPTEK yang telah kita capai sekarang benar-benar telah diakui dan dirasakan memberikan banyak kemudahan dan kenyamanan bagi kehidupan umat manusia. Sumbangan IPTEK terhadap peradaban dan kesejahteraan manusia tidaklah dapat dipungkiri. Namun manusia tidak bisa pula menipu diri sendiri akan kenyataan bahwa IPTEK mendatangkan malapetaka dan kesengsaraan bagi manusia. &lt;br /&gt;Kalaupun teknologi mampu mengungkap semua tabir rahasia alam dan kehidupan, tidak berarti teknologi sinonim dengan kebenaran. Sebab iptek hanya mampu menampilkan kenyataan . Kebenaran yang manusiawi haruslah lebih dari sekedar kenyataan obyektif. Kebenaran harus mencakup pula unsur keadilan. Tentu saja iptek tidak mengenal moral kemanusiaan, oleh karena iptek tidak pernah bisa menjadi standar kebenaran ataupun solusi dari masalah-masalah manusia.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;B. Rumusan masalah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpijak dari latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan masalah pada penulisan makalah ini adalah : Apakah dampak dari teknologi terhadap kehidupan manusia? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Tujuan Penulisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Makalah ini dapat menjadi acuan dalam tentang teknologi dan&amp;nbsp; pemanfaatannya. &lt;br /&gt;B. Dapat mengetahui manfaat teknologi dalam berbagai bidang &lt;br /&gt;C. Dapat mengetahui dampak negatif dari perkembangan teknologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan dunia iptek yang demikian pesatnya telah membawa manfaat luar biasa bagi kemajuan peradaban umat manusia. Jenis-jenis pekerjaan yang sebelumnya menuntut kemampuan fisik cukup besar, kini relatif sudah bisa digantikan oleh perangkat mesin-mesin otomatis. Sistem kerja robotis telah mengalihfungsikan tenaga otot manusia dengan pembesaran dan percepatan yang menakjubkan. Begitupun dengan telah ditemukannya formulasi-formulasi baru aneka kapasitas komputer, seolah sudah mampu menggeser posisi kemampuan otak manusia dalam berbagai bidang ilmu dan aktivitas manusia. Ringkas kata, kemajuan iptek yang telah kita capai sekarang benar-benar telah diakui dan dirasakan memberikan banyak kemudahan dan kenyamanan bagi kehidupan umat manusia.&lt;br /&gt;Bagi masyarakat sekarang, iptek sudah merupakan suatu religion. Pengembangan iptek dianggap sebagai solusi dari permasalahan yang ada. Sementara orang bahkan memuja iptek sebagai liberator yang akan membebaskan mereka dari kungkungan kefanaan dunia. Iptek diyakini akan memberi umat manusia kesehatan, kebahagiaan dan imortalitas. Sumbangan iptek terhadap peradaban dan kesejahteraan manusia tidaklah dapat dipungkiri. Namun manusia tidak bisa pula menipu diri akan kenyataan bahwa iptek mendatangkan malapetaka dan kesengsaraan bagi manusia. Dalam peradaban modern yang muda, terlalu sering manusia terhenyak oleh disilusi dari dampak negatif iptek terhadap kehidupan umat manusia. Kalaupun iptek mampu mengungkap semua tabir rahasia alam dan kehidupan, tidak berarti iptek sinonim dengan kebenaran. Sebab iptek hanya mampu menampilkan kenyataan. Kebenaran yang manusiawi haruslah lebih dari sekedar kenyataan obyektif. Kebenaran harus mencakup pula unsur keadilan. Tentu saja iptek tidak mengenal moral kemanusiaan, oleh karena itu iptek tidak pernah bisa mejadi standar kebenaran ataupun solusi dari masalah-masalah kemanusiaan. &lt;br /&gt;Dampak positif dan dampak negative dari perkembangan teknologi dilihat &lt;br /&gt;dari berbagai bidang: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bidang Informasi dan komunikasi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bidang informasi dan komunikasi telah terjadi kemajuan yang sangat pesat. Dari kemajuan dapat kita rasakan dampak positipnya antara lain: &lt;br /&gt;a) Kita akan lebih cepat mendapatkan informasi-informasi yang akurat dan terbaru di bumi bagian manapun melalui internet &lt;br /&gt;b) Kita dapat berkomunikasi dengan teman, maupun keluarga yang sangat jauh hanya dengan melalui handphone &lt;br /&gt;c) Kita mendapatkan layanan bank yang dengan sangat mudah. Dan lain-lain &lt;br /&gt;Disamping keuntungan-keuntungan yang kita peroleh ternyata kemajuan kemajuan teknologi tersebut dimanfaatkan juga untuk hal- hal yang negatif, antara lain: &lt;br /&gt;a) Pemanfaatan jasa komunikasi oleh jaringan teroris (Kompas) &lt;br /&gt;b) Penggunaan informasi tertentu dan situs tertentu yang terdapat di internet yang bisa disalah gunakan fihak tertentu untuk tujuan tertentu &lt;br /&gt;c) Kerahasiaan alat tes semakin terancam Melalui internet kita dapat memperoleh informasi tentang tes psikologi, dan bahkan dapat memperoleh layanan tes psikologi secara langsung dari internet. &lt;br /&gt;d) Kecemasan teknologi Selain itu ada kecemasan skala kecil akibat teknologi komputer. Kerusakan komputer karena terserang virus, kehilangan berbagai file penting dalam komputer inilah beberapa contoh stres yang terjadi karena teknologi. Rusaknya modem internet karena disambar petir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bidang Ekonomi dan Industri &lt;br /&gt;Dalam bidang ekonomi teknologi berkembang sangat pesat. Dari kemajuan teknologi dapat kita rasakan manfaat positifnya antara lain: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Pertumbuhan ekonomi yang semakin tinggi &lt;br /&gt;b) Terjadinya industrialisasi &lt;br /&gt;c) Produktifitas dunia industri semakin meningkat &lt;br /&gt;Kemajuan teknologi akan meningkatkan kemampuan produktivitas dunia industri baik dari aspek teknologi industri maupun pada aspek jenis produksi. Investasi dan reinvestasi yang berlangsung secara besar-besaran yang akan semakin meningkatkan produktivitas dunia ekonomi. Di masa depan, dampak perkembangan teknologi di dunia industri akan semakin penting. Tanda-tanda telah menunjukkan bahwa akan segera muncul teknologi bisnis yang memungkinkan konsumen secara individual melakukan kontak langsung dengan pabrik sehingga pelayanan dapat dilaksanakan secara langsung dan selera individu dapat dipenuhi, dan yang lebih penting konsumen tidak perlu pergi ke toko. &lt;br /&gt;d) Persaingan dalam dunia kerja sehingga menuntut pekerja untuk selalu menambah skill dan pengetahuan yang dimiliki. Kecenderungan perkembangan teknologi dan ekonomi, akan berdampak pada penyerapan tenaga kerja dan kualifikasi tenaga kerja yang diperlukan. Kualifikasi tenaga kerja dan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan akan mengalami perubahan yang cepat. Akibatnya, pendidikan yang diperlukan adalah pendidikan yang menghasilkan tenaga kerja yang mampu mentransformasikan pengetahuan dan skill sesuai dengan tuntutan kebutuhan tenaga kerja yang berubah tersebut. &lt;br /&gt;e) Di bidang kedokteran dan kemajauan ekonomi mampu menjadikan produk kedokteran menjadi komodit&lt;br /&gt;Meskipun demikian ada pula dampak negatifnya antara lain; &lt;br /&gt;a) Terjadinya pengangguran bagi tenaga kerja yang tidak mempunyai kualifikasi yang sesuai dengan yang dibutuhkan &lt;br /&gt;b) Sifat konsumtif sebagai akibat kompetisi yang ketat pada era globalisasi akan juga melahirkan generasi yang secara moral mengalami kemerosotan: konsumtif, boros dan memiliki jalan pintas yang bermental "instant". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Bidang Sosial dan Budaya &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat kemajuan teknologi bisa kita lihat &lt;br /&gt;a. Perbedaan kepribadian pria dan wanita. &lt;br /&gt;Banyak pakar yang berpendapat bahwa kini semakin besar porsi wanita yang memegang posisi sebagai pemimpin, baik dalam dunia pemerintahan maupun dalam dunia bisnis. Bahkan perubahan perilaku ke arah perilaku yang sebelumnya merupakan pekerjaan pria semakin menonjol. Data yang tertulis dalam buku Megatrend for Women:From Liberation to Leadership yang ditulis oleh Patricia Aburdene &amp;amp; John Naisbitt (1993) menunjukkan bahwa peran wanita dalam kepemimpinan semakin membesar. Semakin banyak wanita yang memasuki bidang politik, sebagai anggota parlemen, senator, gubernur, menteri, dan berbagai jabatan penting lainnya. &lt;br /&gt;b. Meningkatnya rasa percaya diri &lt;br /&gt;Kemajuan ekonomi di negara-negara Asia melahirkan fenomena yang menarik. Perkembangan dan kemajuan ekonomi telah meningkatkan rasa percaya diri dan ketahanan diri sebagai suatu bangsa akan semakin kokoh. Bangsa-bangsa Barat tidak lagi dapat melecehkan bangsa-bangsa Asia. &lt;br /&gt;c. Tekanan, kompetisi yang tajam di pelbagai aspek kehidupan sebagai konsekuensi globalisasi, akan melahirkan generasi yang disiplin, tekun dan pekerja keras &lt;br /&gt;Meskipun demikian kemajuan teknologi akan berpengaruh negatip pada aspek budaya: &lt;br /&gt;d. Kemerosotan moral di kalangan warga masyarakat, khususnya di kalangan remaja dan pelajar. Kemajuan kehidupan ekonomi yang terlalu menekankan pada upaya pemenuhan berbagai keinginan material, telah menyebabkan sebagian warga masyarakat menjadi "kaya dalam materi tetapi miskin dalam rohani". &lt;br /&gt;e. Kenakalan dan tindak menyimpang di kalangan remaja semakin meningkat semakin lemahnya kewibawaan tradisi- tradisi yang ada di masyarakat, seperti gotong royong dan tolong-menolong telah melemahkan kekuatan-kekuatan sentripetal yang berperan penting dalam menciptakan kesatuan sosial. Akibat lanjut bisa dilihat bersama, kenakalan dan tindak menyimpang di kalangan remaja dan pelajar semakin meningkat dalam berbagai bentuknya, seperti perkelahian, corat-coret, pelanggaran lalu lintas sampai tindak kejahatan. &lt;br /&gt;f. Pola interaksi antar manusia yang berubah &lt;br /&gt;Kehadiran komputer pada kebanyakan rumah tangga golongan menengah ke atas telah merubah pola interaksi keluarga. Komputer yang disambungkan dengan telpon telah membuka peluang bagi siapa saja untuk berhubungan dengan dunia luar. Program internet relay chatting (IRC), internet, dan e-mail telah membuat orang asyik dengan kehidupannya sendiri. Selain itu tersedianya berbagai warung internet (warnet) telah memberi peluang kepada banyak orang yang tidak memiliki komputer dan saluran internet sendiri untuk berkomunikasi dengan orang lain melalui internet. Kini semakin banyak orang yang menghabiskan waktunya sendirian dengan komputer. Melalui program internet relay chatting (IRC) anak-anak bisa asyik mengobrol dengan teman dan orang asing kapan saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Bidang Pendidikan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknologi mempunyai peran yang sangat penting dalam bidang pendidikan antara lain: &lt;br /&gt;a) Munculnya media massa, khususnya media elektronik sebagai sumber ilmu dan pusat pendidikan. Dampak dari hal ini adalah guru bukannya satu-satunya sumber ilmu pengetahuan. &lt;br /&gt;b) Munculnya metode-metode pembelajaran yang baru, yang memudahkan siswa dan guru dalam proses pembelajaran. Dengan kemajuan teknologi terciptalah metode-metode baru yang membuat siswa mampu memahami materi-materi yang abstrak, karena materi tersebut dengan bantuan teknologi bisa dibuat abstrak. &lt;br /&gt;c) Sistem pembelajaran tidak harus melalui tatap muka Dengan kemajuan teknologi proses pembelajaran tidak harus mempertemukan siswa dengan guru, tetapi bisa juga menggunakan jasa pos internet dan lain-lain. &lt;br /&gt;Disamping itu juga muncul dampak negatif dalam proses pendidikan antara lain: &lt;br /&gt;(a) Kerahasiaan alat tes semakin terancam Program tes inteligensi seperti tes Raven, Differential Aptitudes Test dapat diakses melalui compact disk.. Implikasi dari permasalahan ini adalah, tes psikologi yang ada akan mudah sekali bocor, dan pengembangan tes psikologi harus berpacu dengan kecepatan pembocoran melalui internet tersebut. &lt;br /&gt;(b) Penyalah gunaan pengetahuan bagi orang-orang tertentu untuk melakukan tindak kriminal. Kita tahu bahwa kemajuan di badang pendidikan juga mencetak generasi yang berepngetahuan tinggi tetapi mempunyai moral yang rendah. Contonya dengan ilmu komputer yang tingi maka orang akan berusaha menerobos sistem perbangkan dan lain-lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.Bidang politik &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Timbulnya kelas menengah baru &lt;br /&gt;Pertumbuhan teknologi dan ekonomi di kawasan ini akan mendorong munculnya kelas menengah baru. Kemampuan, keterampilan serta gaya hidup mereka sudah tidak banyak berbeda dengan kelas menengah di negara-negera Barat. Dapat diramalkan, kelas menengah baru ini akan menjadi pelopor untuk menuntut kebebasan politik dan kebebasan berpendapat yang lebih besar. &lt;br /&gt;b) Proses regenerasi kepemimpinan. &lt;br /&gt;Sudah barang tentu peralihan generasi kepemimpinan ini akan berdampak dalam gaya dan substansi politik yang diterapkan. Nafas kebebasan dan persamaan semakin kental. &lt;br /&gt;c) Di bidang politik internasional, juga terdapat kecenderungan tumbuh berkembangnya regionalisme. Kemajuan di bidang teknologi komunikasi telah menghasilkan kesadaran regionalisme. Ditambah dengan kemajuan di bidang teknologi transportasi telah menyebabkan meningkatnya kesadaran tersebut. Kesadaran itu akan terwujud dalam bidang kerjasama ekonomi, sehingga regionalisme akan melahirkan kekuatan ekonomi baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;KESIMPULAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemajuan teknologi adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari dalam kehidupan ini, karena kemajuan teknologi akan berjalan sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Perkembangan teknologi memang sangat diperlukan. &lt;br /&gt;Setiap inovasi diciptakan untuk memberikan manfaat positif bagi kehidupan manusia. Memberikan banyak kemudahan, serta sebagai cara baru dalam melakukan aktifitas manusia. Khusus dalam bidang teknologi masyarakat sudah menikmati banyak manfaat yang dibawa oleh inovasi- inovasi yang telah dihasilkan dalam dekade terakhir ini. Namun manusia tiudak bisa menipu diri sendiri akan kenyataan bahwa teknologi mendatangkan berbagai efek negatif bagi manusia.&lt;br /&gt;Oleh karena itu untuk mencegah atau mengurangi akibat negatif kemajuan teknologi, pemerintah di suatu negara harus membuat peraturan- peraturan atau melalui suatu konvensi internasional yang harus dipatuhi oleh pengguna teknologi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8581253918985038641-4912172408142406898?l=haryantotips.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=QYdPm7X4I3U:ttq3Kl-Hrms:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=QYdPm7X4I3U:ttq3Kl-Hrms:63t7Ie-LG7Y"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=63t7Ie-LG7Y" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=QYdPm7X4I3U:ttq3Kl-Hrms:dnMXMwOfBR0"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=dnMXMwOfBR0" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=QYdPm7X4I3U:ttq3Kl-Hrms:V_sGLiPBpWU"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?i=QYdPm7X4I3U:ttq3Kl-Hrms:V_sGLiPBpWU" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=QYdPm7X4I3U:ttq3Kl-Hrms:7Q72WNTAKBA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=7Q72WNTAKBA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=QYdPm7X4I3U:ttq3Kl-Hrms:F7zBnMyn0Lo"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?i=QYdPm7X4I3U:ttq3Kl-Hrms:F7zBnMyn0Lo" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=QYdPm7X4I3U:ttq3Kl-Hrms:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=QYdPm7X4I3U:ttq3Kl-Hrms:KwTdNBX3Jqk"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?i=QYdPm7X4I3U:ttq3Kl-Hrms:KwTdNBX3Jqk" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=QYdPm7X4I3U:ttq3Kl-Hrms:l6gmwiTKsz0"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=l6gmwiTKsz0" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=QYdPm7X4I3U:ttq3Kl-Hrms:gIN9vFwOqvQ"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?i=QYdPm7X4I3U:ttq3Kl-Hrms:gIN9vFwOqvQ" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><category domain="http://rss.financialcontent.com/stocksymbol">IRC</category><feedburner:origLink>http://haryantotips.blogspot.com/2011/12/dampak-globalisasi-terhadap-kemajuan.html</feedburner:origLink></item><item><title>ANALISIS KESALAHAN BAHASA LISAN</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Haryantotips/~3/vODVo4EUFxQ/analisis-kesalahan-bahasa-lisan.html</link><author>noreply@blogger.com (KELAS XII IPS 1 TAHUN 2009/2010)</author><pubDate>Mon, 12 Dec 2011 17:23:30 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8581253918985038641.post-7198738706199822381</guid><description>&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;BAHASA INDONESIA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KATA PENGANTAR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalamu’alaikum wr.wb&lt;br /&gt;Bismillahirrahmanirrahim.&lt;br /&gt;Alhamdulillah Rabbil Alamin sagala puji bagi Allah atas Nikmat dan Rahmatnya, sehingga kami masih diberi kesempatan untuk mengharap makalah ini sampai selesai.&lt;br /&gt;Kadua kalinya shalawat dan salam semoga tetap tercurah limpahkan atas junjungan kita yaitu bagindah kita Nabi Besar Muhammad SAW. Yang mana berkat perjuangan beliu lah kita semua biasa berada di zaman yang penuh cahaya dan tidak lagi buta ilmu.&lt;br /&gt;Tak lupa pula kami ucapkan terimakasih kepada kedua orang tua kami yang mana karena mereka kita bias tetap belajar dan mencari ilmu untuk menghilangkan kebodohan, mereka yang merawat kita dari sejak kecil hingga akhir hayat nanti, dan tak akan pernah tergantikan dengan apapun juga.&lt;br /&gt;Terima kasih juga kepada teman-taman sumua yang sudah membantu untuk menyelesaikan makalah ini.&lt;br /&gt;Demi sempurnanya makalah ini kritik dan saran, selalu dibuka untuk menjadi pelajaran yang baik dan lebih sempurnanya lagi makalah yang telah kami tulis ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halaman Judul&lt;br /&gt;Kata Pengantar&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;Daftar Isi&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;BAB I PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;1.1 Latar Belakang&lt;br /&gt;1.2 Rumusan Masalah&lt;br /&gt;1.3 Batasan Masalah&lt;br /&gt;1.4 Tujuan Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II KAJIAN TEORI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1 Analisis Kesalahan Berbahas &lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;2.2 Fonologi&lt;br /&gt;2.3 Kesalahan Fonologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1 Tampilan Data&lt;br /&gt;3.2 Analisis Data&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;3.3 Interpretasi Hasil Analisis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB IV PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.1 Kesimpulan&lt;br /&gt;4.2 Saran&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;BAB I&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial,Helvetica,sans-serif; text-align: justify;"&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Latar belakang&lt;br /&gt;Bahasa merupakan alat komunikasi yang dijadikan oleh alat ucap manusia. Bahasa terjadi karena adanya interaksi social tengak mitra tuturnya. Namun tidak setiap manusia bisa berinteraksi secara spontanitas terkadang manusia melakukan kesalahan dalam berbahasa tapi tidak disadari bahwa hal tersebut telah yang diucapkan salah ucap.&lt;br /&gt;Kesalahan dalam berbahasa ini dibagi menjadi dua yaitu kesalahan dalam ucapan /ujaran dalam bertutur juga kesalahan yang dilakukan oleh seseorang dalam penulisan, namun sebenarnya kesalahan berbahasa ini tidak hanya diklasifikasikan atas dua saja dalam kaian analisis kesalahan bahasa, kesalahan berbahasa itu meliputi kesalahan karena penghidangan, penambahan, salah susun baik kesalahan morofologi, leksikal maupun fonolofi. Namun secara fonologi keslahan terbagi atau dua aspek tersebut.&lt;br /&gt;Kesalahan yang terkadang atau bahkan sering dilakukan oleh seseroang dan sekelompok manusia terkadang di latar belakangi karena suku etnis, suku dan sebagainya, sehinggadalam mengucapkan kata atau kelimat bahsa Indonesia yang dijadikan bahasa kesatuan itu masih terikat kental dengan bahsa kebiasaan dalam satu suku yang ditempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita melihat atau bahkan menyimak pda satu satu kelompok suku yang ada dilingkup Indonesia ini dalam bertutur maka akan terlihat kekentalan itu walau situasi dan kondisi dimana mitra tutur itu adalah diruang resmi, misalnya orang jawa berbicara bahsa Indonesia, atau suku batak berbahasa Indonesia, atau&lt;br /&gt;bahkan seorang yang asli jawa berbahasa madura, maka disitulah akan nampak kesalahan berbahasa dari segi fonologi.&lt;br /&gt;Maka dari itu penyusunan makalah ini ingin mencoba menyusun makalah yang berjudul analisis kesalahan berbahasa dengan tujuan menganalisis kesalahan-kesalahan yang sering terjadi dilakukan oleh seseorang.&lt;br /&gt;Semoga penyusunan makalah ini bisa bermanfaat dan merupakan kontribusi besar bagi pembaca khususnya mahasiswa jurusan bahasa Indonesia, akan tetapi walau demikian kami yakin dalam penganalisisan yang kami lakukan ini tidak menutup banyak kesalahan maka dari itu, untuk penyusunan selanjutnya lebih sempurna kritik dan saran kami selalu tunggu&lt;br /&gt;Kami adalah pengguna bahasa serta penikmat makalah ini kami yakin juga pengguna bahasa yang telah menjadikan bahasa sebagai alat komunikasi hingga menghasilkan berbagai keuntungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2 Rumusan Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis makalah dapat merumuskan masalah ini sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Bagaimanakah yang disebut dendam kesalahan berbahasa?&lt;br /&gt;2. Seperti apa kesalahan berbahasa yang dilakukan orang madura dalam bertutur bahasa Indonesia?&lt;br /&gt;1.3 Batasan Masalah&lt;br /&gt;Karna latar belakang yang kami sajikan diatas terlalu luas, maka untuk memberikan pandangan yang lebih khusus dalam kaitan kesalahan berbahasa ini, penulis memberi batasan yang akan dijadikan pokok permasalahan adalah” kesalahan berbahasa Indonesia yang dilakukan oleh orang madura dari segi fonologi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4 Tujuan Pembahasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan dari pembahasan makalah ini adalah untuk mengetahui sekilas tentang kesalahan berbahasa () yang diujarkan oleh seseorang atau sekelompok jawa dalam berbahasa Indonesia, barupun kami semoga bisa memberikan ilmu kepada :&lt;br /&gt;- Setiap pembaca makalah ini&lt;br /&gt;- Kepada penyusun&lt;br /&gt;- Kepada pendengar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;KAJIAN TEORI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1. Analisis Kesalahan Berbahasa&lt;br /&gt;Kesalahan merupakan sisi yang mempunyai cacat pada ujaran atau tulisan sang pelajar, kesalahan tersebut merupakan bagian-bagian konversasi atau komposisi yang menyimpang dari norma atau norma terpilih dari permansi bahasa orang dewasa, para guru dan orang tua (terlebih pada ibu) yang telah berupaya menenangkan pertarungan begitu dan sabar terhadap kesalahan berbahasa murid-murid dan anak-anak tiba pada satu kesimpulan, pada suatu realisasi, bahwa terbuat kesalahan merupakan suatu bagian belajar yang tidak terhindarkan. Dengan perkataan lain, guru dan orang tua tidak perlu mengelak atau menghindar dari kesalahan, tetapi justru harus menghadapi serta memperbaiki kesalahan yang dibuat oleh murid dan anak mereka. Kita hendaklah menyadari benar-benar bahw orang tidak dapat belajar bahasa tanpa pertama sekali berbuat kesalahan-kesalahan secara sistematis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diatas telah kita singgung bahwa kesalahan adalah bagian konversasi atau komposisi yang menyimpang dari beberapa norma baku (atau norma terpilih) dari performansi bahasa orang dewasa (Dulay), 1982 : 277).&lt;br /&gt;Istilah “kesalahan” yang dipergunakan dalam buku ini adalah padanan dari kata “errors” dalam bahasa inggris. Dalam bahasa inggris sendiri kata errors mempunyai sinonim, antara lain:&lt;br /&gt;mistakes dan goofs. Demikian pula halnya dalam bahasa Indonesia, disamping kata kesalahan kita pun mengenal kata kekeliruan dan kata kegalatan.&lt;br /&gt;Mungkin saja ada orang yang mengajukan pertanyaan:“untuk apa menelaah atau menganalisis kesalahan berbahasa pada pelajar?“menelaah&lt;br /&gt;kesalahan para pelajar, khususnya kesalahan berbahasa, mengandung dua maksud utama, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Untuk memperoleh data yang dapat dipergunakan untuk membuat atau menarik kesimpulan-kesimpulan mengenai hakikat proses belajar bahasa;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Untuk memberikan indikasi atau petunjuk kepada para guru dan para pengembang kurikulum, bagian mana dari bahasa sasaran yang paling sukar diproduksi oleh pelajar secara baik dan benar, serta tipe kesalahan mana yang paling menyukarkan atau mengurangi kemampuan pelajar untuk berkomunikasi secara efektif (Dulay (et al), 1982: 138).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara awam, kita dapat mengatakan bahwa mengetahui kesalahan para pelajar mengandung beberapa keuntungan, antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Untuk mengetahui sebab-musabab (atau penyebab) kesalahan itu; untuk memahami latar belakang kesalahan tersebut;&lt;br /&gt;b) Untuk memperbaiki kesalahan yang dibuat oleh para pelajar;&lt;br /&gt;c) Untuk mencegah atau menghindari kesalahan yang sejenis pada waktu yang akan dating, agar para pelajar dapat menggunakan bahasa dengan baik dan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fonologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didalam penyelidikan, bunyi-bunyi bahasa itu banyak ragamnya. Karena itu bunyi-bunyi tersebut diklasifikan ke dalam klasifikasi tertentu. Ilmu yang mempelajari seluk beluk bunyi bahasa serta merumuskannya secara teratur dan sistematis dinamakan fonologi (phone = bunyi; logos = ilmu). Oleh karena itu, Wahab (1998: 32) mengatakan bahwa fonologi merupakan deskripsi bunyi yang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terdapat pada bahasa itu, dan bagaimana bunyi-bunyi itu disusun untuk membentuk kata-kata. Selain itu, Verhar (1987: 36) menjelaskan pula bahwa fonologi adalah bidang khusus dalam linguistic yang mengamati bunyi dalam suatu bahasa tertentu yang menurut fungsinya untuk membedakan makna leksikal, salah satu aspek didalamnya adalah masalah distribusi fonem.&lt;br /&gt;Fonetik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuturan bahasa terdiri atas bunyi. Bukan sembarang bunyi saja, melainkan bunyi tertentu, yang agak berbeda-beda menurut bahasa tertentu. Bunyi tersebut diselidiki oleh fonetik dan fonologi. Fonetik meneliti bunyi bahasa menurut cara pelafalannya, dan menurut sifat-sifat akustiknya. Berbeda dengan foenetik, ilmu fonologi meneliti bunyi tertentu menurut fungsinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya saja, bunyi/p/ lazimnya menurut sifatnya diapit antara kurung persegi dalam bahasa inggris dilafalkan dengan menutup kedua bibir ilau melepaskannya sehingga udara keluar dengan meletup. Deskripsi seperti itu adalah deskripsi fonetis. Deskripsi yang demikian dapat disempurnakan lebih terinci. Misalnya, dalam kata (Inggris) pot,/p/ - nya “berpariasi”, artinya disusul bunyi seperti bunyi (h) oleh karena (p) dalam pot adalah satu-satunya bunyi “ letupan” pada awal kata) ; akan tetapi dalam kata spot, (p)- nya tidak beraspirasi demikian (karena tidak merupakan satu-satunya konsonan pada awal kata). Perbedaan tersebut adalah perbedaan fonetis semata-mata tidak fonologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua bunyi yang secara fonetis berbeda dikatakan mempunyai perbedaan fonologis bila perbedaan tersebut menyebabkan perbedaan&lt;br /&gt;makna diantara dua kata. Misalnya saja, karena membedakan kata seperti dalam pasangan rupa: lupa. Makna untuk bahasa Indonesia/I/ dan /r/ merupakan fonem yang berbeda (lazimnya, lambang fonem diapit antara garis miring). Sebaliknya, dalam bahasa Jepang, (1) dan (r) tidak pernah membedakan kata-kata yang berbeda, atau, dengan perkataan lain, tidak berbeda secara fonologis, tidak merupakan fonem yang berbeda.&lt;br /&gt;Fonemik (phonemics)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bidang fonologi, pendekatan tagmemic itu dikenal sebagai fenomek (phonemics). Seperti yang dinyatakan oleh Kennth L. Pike, fonemik memberikan teknik untuk memproses data fonetik yang masih kasar untuk memperoleh kesatuan bunyi yang signifikan dan kemudian melambangkan ke dalam suatgu alphabet yang mudah dibaca oleh penuturnya. Karena itu, menurut Pike, tujuan praktis fonemik ialah memproyeksikan bahasa kedalam sistem tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesalahan Fonologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Kesalahan ucapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesalahan ucapan adalah kesalahan mengucapkan kata sehingga menyimpang dari ucapan baku atau bahkan menimbulkan perbedaan makna. Misalnya:&lt;br /&gt;enam diucapkan anam, anem&lt;br /&gt;saudara sudara, sodara&lt;br /&gt;rabu rebo&lt;br /&gt;mengubah mengobah&lt;br /&gt;telur telor&lt;br /&gt;menerangkan menerangken&lt;br /&gt;alasan alesan&lt;br /&gt;peletakan peletakkan&lt;br /&gt;makin mangkin&lt;br /&gt;tangkap tangkep&lt;br /&gt;hantam hantem, antem&lt;br /&gt;esa esa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Kesalahan ejaan&lt;br /&gt;Kesalahan ejaan ialah kesalahan menuliskan kata atau kesalahan menggunakan tanda baca. Contoh:&lt;br /&gt;Tuhan yang mahakuasa ditulis tuhan yang maha kuasa&lt;br /&gt;Tuhan yang maha pemurah tuhan yang mahapemurah&lt;br /&gt;Mengetengahkan mengketengahkan&lt;br /&gt;Mengesampingkan mengeyampingkan&lt;br /&gt;Melihat-lihat me-lihat2&lt;br /&gt;Mempertanggungjawabkan mempertanggung jawabkan&lt;br /&gt;Bertanggung jawab bertanggungjawab&lt;br /&gt;Pertanggungjawaban pertanggung jawaba&lt;br /&gt;Sekaligus sekali gus&lt;br /&gt;Tata bahasa tatabahasa&lt;br /&gt;Orang tua orangtua&lt;br /&gt;Dua puluh duapuluh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1. TAMPILAN DATA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesalahan Berbahasa Indonesia Yang Diucapkan Orang Madura&lt;br /&gt;Taksonomi bahasa Fonologi&lt;br /&gt;N0 Bahasa indonesia Pengucapan orang madura Keterangan&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt;6&lt;br /&gt;7&lt;br /&gt;8&lt;br /&gt;9&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;11 Soto&lt;br /&gt;HP&lt;br /&gt;Pentol&lt;br /&gt;SDN&lt;br /&gt;Bakso&lt;br /&gt;AQUA&lt;br /&gt;Sprite&lt;br /&gt;Foto&lt;br /&gt;TV&lt;br /&gt;Sepeda&lt;br /&gt;Sepatu Soto/u&lt;br /&gt;HPi&lt;br /&gt;Pento/ul&lt;br /&gt;SDiN&lt;br /&gt;Bakso/u&lt;br /&gt;AQOA&lt;br /&gt;Sprete&lt;br /&gt;Poto/u&lt;br /&gt;Tipi&lt;br /&gt;Speda’&lt;br /&gt;Spatu “o” berubah “u”&lt;br /&gt;P” ditambah i&lt;br /&gt;Tol berubah toul&lt;br /&gt;D ditambah i&lt;br /&gt;So berubah so/u&lt;br /&gt;Qu berubah Qo&lt;br /&gt;Pri berubah pre&lt;br /&gt;O berubah u&lt;br /&gt;Seperti ada i&lt;br /&gt;Sepe berubah spe&lt;br /&gt;Penghilangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2 Analisis Data&lt;br /&gt;1. Kata soto yang diucapkan orang madura seakan-akan berubah, u tidak mengarah langsung pada vokal o dan u tapi setelah ada campuran diantara dua vokal o dan u begitu juga kata yang lain seperti pada kata, pentol, bakso, foto namun pada kata foto ini bukan hanya pada perubahan o dan u tapi juga konsonan f diucapkan p&lt;br /&gt;2. HP diucapkan HPi, ada perubahan vokal I setelah “p” hingga ada perubahan dalam pengucapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. AQUA, kata Aqua yang diucapkan oleh orang madura berubah menjadi “AQOA”, konsonan u diubah menjadi o&lt;br /&gt;4. Sprite kata ini diucapkan “sprete” oleh orang madura yaitu vokal “i” berubah menjadi vokal “e”.&lt;br /&gt;5. Sepeda kata ini diucapkan speda yaitu vokal “e” setelah “s” dihilangkan, begitu dengan contoh yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3 Interpretasi Hasil Analisis&lt;br /&gt;Kata soto, pentol, bakso dan foto berubah menjadi campuran o dan u tapi pada AQUA itu ada perubahan pengucapan yang jelas berubah yaitu cokal u berubah”o” sprite berubah menjadi sprete, ini berubah vokal “e” jadi ditinjau dari fonologi itu salah, kata sepeda dan sepatu keduanya ada pengurangan vokal yang tidak diucapkan oleh orang madura&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB IV&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.1 Kesimpulan&lt;br /&gt;Berdasarkan bab II diatas dalam kajian teori maka dapat disimpulkan bahwa kesalahan berbahasa adalah sisi yang mempunyai cacat pada ujaran seseorang yang mana kesalahan tersebut merupakan konvensasi yang menyimpang dari norma-norma. Sedangkan kesalahan bahasa Indonesia yang diucapkan orang madura ada yang berupa perubahan antara vokal maupun ada yang penghilnangan sebagaimana dalam tabel tersebut.&lt;br /&gt;4.2 Saran-Saran&lt;br /&gt;Akhirnya dari saya, walaupun penyusunan makalah analisis kesalahan berbahasa ini yang diucapkan orang madura saya yakin banyak kekurangan-kekurangannya yang perlu saya pelajari, maka dari itu kritik dan saran selalu saya tunggu guna penyempurnaan penyusunan makalah berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendry Guntur. Jago Tarigan. 1990. Pengajaran Analisis Kesalahan Berbahasa. Bandung : Angkasa &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8581253918985038641-7198738706199822381?l=haryantotips.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=vODVo4EUFxQ:E6VrsgQLGGE:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=vODVo4EUFxQ:E6VrsgQLGGE:63t7Ie-LG7Y"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=63t7Ie-LG7Y" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=vODVo4EUFxQ:E6VrsgQLGGE:dnMXMwOfBR0"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=dnMXMwOfBR0" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=vODVo4EUFxQ:E6VrsgQLGGE:V_sGLiPBpWU"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?i=vODVo4EUFxQ:E6VrsgQLGGE:V_sGLiPBpWU" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=vODVo4EUFxQ:E6VrsgQLGGE:7Q72WNTAKBA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=7Q72WNTAKBA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=vODVo4EUFxQ:E6VrsgQLGGE:F7zBnMyn0Lo"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?i=vODVo4EUFxQ:E6VrsgQLGGE:F7zBnMyn0Lo" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=vODVo4EUFxQ:E6VrsgQLGGE:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=vODVo4EUFxQ:E6VrsgQLGGE:KwTdNBX3Jqk"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?i=vODVo4EUFxQ:E6VrsgQLGGE:KwTdNBX3Jqk" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=vODVo4EUFxQ:E6VrsgQLGGE:l6gmwiTKsz0"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=l6gmwiTKsz0" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=vODVo4EUFxQ:E6VrsgQLGGE:gIN9vFwOqvQ"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?i=vODVo4EUFxQ:E6VrsgQLGGE:gIN9vFwOqvQ" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://haryantotips.blogspot.com/2011/12/analisis-kesalahan-bahasa-lisan.html</feedburner:origLink></item><item><title>FAKTOR-FAKTOR PENDORONG PERUBAHAN</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Haryantotips/~3/Lwgph-MDCi0/faktor-faktor-pendorong-perubahan.html</link><author>noreply@blogger.com (KELAS XII IPS 1 TAHUN 2009/2010)</author><pubDate>Sat, 17 Dec 2011 02:16:05 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8581253918985038641.post-1528306656838819350</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setiap masyarakat dalam kehidupannya pasti mengalami perubahan-perubahan. Berdasarkan sifatnya, perubahan yang terjadi bukan hanya menuju ke arah kemajuan, namun dapat juga menuju ke arah kemunduran. Perubahan sosial yang terjadi memang telah ada sejak zaman dahulu. Ada kalanya perubahan-perubahan yang terjadi berlangsung demikian cepatnya, sehingga membingungkan manusia yang menghadapinya. Berikut ini beberapa ilmuwan yang mengungkapkan tentang batasan-batasan perubahan sosial. Gillin dan Gillin menyatakan bahwa perubahan sosial sebagai suatu variasi dari cara-cara hidup yang telah diterima, baik karena perubahan kondisi geografis, kebudayaan, dinamika dan komposisi penduduk, ideologi, ataupun karena adanya penemuan-penemuan baru di dalam masyarakat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Samuel Koenig&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; menjelaskan bahwa perubahan sosial menunjuk pada modifikasi-modifikasi yang terjadi dalam pola-pola kehidupan manusia. Modifikasi-modifikasi tersebut terjadi karena sebab-sebab intern atau sebab-sebab ekstern. Selo Soemardjan menjelaskan bahwa perubahan sosial adalah segala perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat yang memengaruhi&amp;nbsp; istem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap, dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat. Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa perubahan sosial adalah perubahan unsur-unsur atau struktur sosial dan perilaku manusia dalam masyarakat dari keadaan tertentu ke keadaan yang lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-OR3XVver_I4/TuxpIgOLKII/AAAAAAAAAC4/7l21mlVwkRc/s1600/A1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="286" src="http://4.bp.blogspot.com/-OR3XVver_I4/TuxpIgOLKII/AAAAAAAAAC4/7l21mlVwkRc/s400/A1.jpg" width="400" /&gt;&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;A. Bentuk-Bentuk Perubahan Sosial Budaya dan Penyebabnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan sosial budaya dapat dibedakan menjadi beberapa bentuk berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Perubahan Lambat dan Perubahan Cepat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan lambat disebut juga evolusi. Perubahan tersebut terjadi karena usaha-usaha masyarakat dalam menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan dan kondisi-kondisi baru yang timbul sejalan dengan pertumbuhan masyarakat. Contoh perubahan evolusi adalah perubahan pada struktur masyarakat. Suatu masyarakat pada masa tertentu bentuknya sangat sederhana, namun karena masyarakat mengalami perkembangan, maka bentuk yang sederhana tersebut akan berubah menjadi kompleks. Perubahan cepat disebut juga dengan revolusi, yaitu perubahan sosial mengenai unsur-unsur kehidupan atau lembaga-lembaga kemasyarakatan yang berlangsung relatif cepat. Seringkali perubahan revolusi diawali oleh munculnya konflik atau ketegangan dalam masyarakat, ketegangan-ketegangan tersebut sulit dihindari bahkan semakin berkembang dan tidak dapat dikendalikan. Terjadinya proses revolusi memerlukan persyaratan tertentu. Berikut ini beberapa persyaratan yang mendukung terciptanya revolusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Ada keinginan umum untuk mengadakan suatu perubahan.&lt;br /&gt;b. Adanya seorang pemimpin atau sekelompok orang yang mampu memimpin masyarakat tersebut.&lt;br /&gt;c. Harus bisa memanfaatkan momentum untuk melaksanakan revolusi.&lt;br /&gt;d. Harus ada tujuan gerakan yang jelas dan dapat ditunjukkan kepada rakyat.&lt;br /&gt;e. Kemampuan pemimpin dalam menampung, merumuskan, serta menegaskan rasa tidak puas masyarakat dan keinginan-keinginan yang diharapkan untuk dijadikan &lt;br /&gt;program dan arah gerakan revolusi.&lt;br /&gt;Contoh perubahan secara revolusi adalah gerakan Revolusi Islam Iran pada tahun 1978-1979 yang berhasil menjatuhkan pemerintahan Syah Mohammad Reza Pahlevi yang otoriter dan mengubah sistem pemerintahan monarki menjadi sistem Republik Islam dengan Ayatullah Khomeini sebagai pemimpinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Perubahan Kecil dan Perubahan Besar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan kecil adalah perubahan yang terjadi pada unsur-unsur struktur sosial yang tidak membawa pengaruh langsung atau pengaruh yang berarti bagi masyarakat. Contoh perubahan kecil adalah perubahan mode rambut atau perubahan mode pakaian. Sebaliknya, perubahan besar adalah perubahan yang terjadi pada unsur-unsur struktur sosial yang membawa pengaruh langsung atau pengaruh berarti bagi masyarakat. Contoh perubahan besar adalah dampak ledakan penduduk dan dampak industrialisasi bagi pola kehidupan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Perubahan yang Dikehendaki atau Direncanakan dan Perubahan yang Tidak Dikehendaki atau Tidak Direncanakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan yang dikehendaki atau yang direncanakan merupakan perubahan yang telah diperkirakan atau direncanakan terlebih dahulu oleh pihak-pihak yang hendak melakukan perubahan di masyarakat. Pihak-pihak tersebut dinamakan agent of change, yaitu seseorang atau sekelompok orang yang mendapat kepercayaan masyarakat untuk memimpin satu atau lebih lembaga-lembaga kemasyarakatan yang bertujuan untuk mengubah suatu sistem sosial. Contoh perubahan yang dikehendaki adalah pelaksanaan pembangunan atau perubahan tatanan pemerintahan, misalnya perubahan tata pemerintahan Orde Baru menjadi tata pemerintahan Orde Reformasi. Perubahan yang tidak dikehendaki atau yang tidak direncanakan merupakan perubahan yang terjadi di luar jangkauan pengawasan masyarakat dan dapat menyebabkan timbulnya akibat-akibat sosial yang tidak diharapkan.&lt;br /&gt;Contoh perubahan yang tidak dikehendaki atau tidak direncanakan adalah munculnya berbagai peristiwa kerusuhan menjelang masa peralihan tatanan Orde Lama ke Orde Baru dan peralihan tatanan Orde Baru ke Orde Reformasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Sebab-Sebab Perubahan Sosial Budaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan sosial dan kebudayaan di masyarakat dapat terjadi karena adanya sebab-sebab yang berasal dari masyarakat sendiri atau yang berasal dari luar masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a . Sebab-Sebab yang Berasal dari Dalam Masyarakat (Sebab Intern)&lt;br /&gt;Berikut ini sebab-sebab perubahan sosial yang bersumber dari dalam masyarakat (sebab intern)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Dinamika penduduk, yaitu pertambahan dan penurunan jumlah penduduk.&lt;br /&gt;2) Adanya penemuan-penemuan baru yang berkembang di masyarakat, baik penemuan yang bersifat baru (discovery) ataupun penemuan baru yang bersifat&lt;br /&gt;menyempurnakan dari bentuk penemuan lama (invention).&lt;br /&gt;3) Munculnya berbagai bentuk pertentangan (conflict) dalam masyarakat.&lt;br /&gt;4) Terjadinya pemberontakan atau revolusi sehingga mampu menyulut terjadinya perubahan-perubahan besar. Misalnya, Revolusi Rusia (Oktober 1917) yang mampu menggulingkan pemerintahan kekaisaran dan mengubahnya menjadi sistem diktator proletariat yang dilandaskan pada doktrin Marxis. Revolusi tersebut menyebabkan perubahan yang mendasar, baik dari tatanan negara hingga tatanan dalam keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b . Sebab-Sebab yang Berasal dari Luar Masyarakat (Sebab Ekstern)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan sosial dan kebudayaan juga dapat terjadi karena adanya sebab-sebab yang berasal dari luar masyarakat (sebab ekstern). Berikut ini sebab-sebab yang berasal dari luar masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Adanya pengaruh bencana alam. Kondisi ini terkadang memaksa masyarakat suatu daerah untuk mengungsi meninggalkan tanah kelahirannya. Apabila masyarakat tersebut mendiami tempat tinggal yang baru, maka mereka harus menyesuaikan diri dengan keadaan alam dan lingkungan yang baru tersebut. Hal ini kemungkinan besar juga dapat memengaruhi perubahan pada struktur dan pola kelembagaannya.&lt;br /&gt;2) Adanya peperangan, baik perang saudara maupun perang antarnegara dapat me-nyebabkan perubahan, karena pihak yang menang biasanya akan dapat memaksakan ideologi dan kebudayaannya kepada pihak yang kalah.&lt;br /&gt;3) Adanya pengaruh kebudayaan masyarakat lain. Bertemunya dua kebudayaan yang berbeda akan menghasilkan perubahan. Jika pengaruh suatu kebudayaan dapat diterima tanpa paksaan, maka disebut demonstration effect. Jika pengaruh suatu kebudayaan saling menolak, maka disebut cultural animosity. Jika suatu kebudayaan mempunyai taraf yang lebih tinggi dari kebudayaan lain, maka akan muncul proses imitasi yang lambat laun unsur-unsur kebudayaan asli dapat bergeser atau diganti oleh unsur-unsur kebudayaan baru tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Faktor Pendorong dan Penghambat Perubahan Sosial Budaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Faktor-Faktor Pendorong Perubahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Adanya Kontak dengan Kebudayaan Lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontak dengan kebudayaan lain dapat menyebabkan manusia saling berinteraksi dan mampu menghimpun penemuan-penemuan baru yang telah dihasilkan. Penemuan-penemuan baru tersebut dapat berasal dari kebudayaan asing atau merupakan perpaduan antara budaya asing dengan budaya sendiri. Proses tersebut dapat mendorong pertumbuhan suatu kebudayaan dan memperkaya kebudayaan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b . Sistem Pendidikan Formal yang Maju&lt;br /&gt;Pendidikan memberikan nilai-nilai tertentu bagi manusia, terutama membuka pikiran dan mem-biasakan berpola pikir ilmiah, rasional, dan objektif. Hal ini akan memberikan kemampuan manusia untuk menilai apakah kebudayaan masyarakatnya dapat memenuhi perkembangan zaman atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c . Sikap Menghargai Hasil Karya Orang Lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghargaan terhadap hasil karya seseorang akan mendorong seseorang untuk berkarya lebih baik lagi, sehingga masyarakat akan semakin terpacu untuk menghasilkan karya-karya lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d . Toleransi terhadap Perbuatan yang Menyimpang &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyimpangan sosial sejauh tidak melanggar hukum atau merupakan tindak pidana, dapat merupakan cikal bakal terjadinya perubahan sosial budaya.Untuk itu, toleransi dapat diberikan agarsemakin tercipta hal-hal baru yang kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e . Sistem Terbuka Masyarakat ( Open Stratification )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem terbuka memungkinkan adanya gerak sosial vertikal atau horizontal yang lebih luas kepada anggota masyarakat. Masyarakat tidak lagi mempermasalahkan status sosial dalam menjalin hubungan dengan sesamanya. Hal ini membuka kesempatan kepada para individu untuk dapat mengembangkan kemampuan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f . Heterogenitas Penduduk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam masyarakat heterogen yang mempunyai latar belakang budaya, ras, dan ideologi yang berbeda akan mudah terjadi pertentangan yang dapat menimbulkan kegoncangan sosial. Keadaan demikian merupakan pendorong terjadinya perubahan-perubahan baru dalam masyarakat dalam upayanya untuk mencapai keselarasan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g . Orientasi ke Masa Depan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran yang selalu berorientasi ke masa depan akan membuat masyarakat selalu berpikir maju dan mendorong terciptanya penemuan-penemuan baru yang disesuaikan dengan perkembangan dan tuntutan zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h. Ketidakpuasan Masyarakat terhadap Bidang-Bidang Tertentu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakpuasan yang berlangsung lama di kehidupan masyarakat dapat menimbulkan reaksi berupa perlawanan, pertentangan, dan gerakan revolusi untuk mengubahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;i . Nilai Bahwa Manusia Harus Senantiasa Berikhtiar untuk Memperbaiki Hidupnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhtiar harus selalu dilakukan manusia dalam upaya memenuhi kebutuhannya yang tidak terbatas dengan menggunakan sumber daya yang terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Faktor-Faktor Penghambat Perubahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Kurangnya Hubungan dengan Masyarakat Lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan terasing menyebabkan suatu masyarakat tidak mengetahui perkembangan-perkembangan yang telah terjadi. Hal ini menyebabkan pola-pola pemikiran dan kehidupan masyarakat menjadi statis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b . Terlambatnya Perkembangan Ilmu Pengetahuan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi ini dapat dikarenakan kehidupan masyarakat yang terasing dan tertutup, contohnya masyarakat pedalaman. Tapi mungkin juga karena masyarakat itu lama berada di bawah pengaruh masyarakat lain (terjajah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c . Sikap Masyarakat yang Masih Sangat Tradisional &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap yang mengagung-agungkan tradisi dan masa lampau dapat membuat terlena dan sulit menerima kemajuan dan perubahan zaman. Lebih parah lagi jika masyarakat yang bersangkutan didominasi oleh golongan konservatif (kolot).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d . Rasa Takut Terjadinya Kegoyahan pada Integritas Kebudayaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Integrasi kebudayaan seringkali berjalan tidak sempurna, kondisi seperti ini dikhawatirkan akan menggoyahkan pola kehidupan atau kebudayaan yang telah ada. Beberapa golongan masyarakat berupaya menghindari risiko ini dan tetap mempertahankan diri pada pola kehidupan atau kebudayaan yang telah ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e . Adanya Kepentingan-Kepentingan yang Telah Tertanam dengan Kuat ( Vested Interest Interest)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organisasi sosial yang mengenal sistem lapisan strata akan menghambat terjadinya perubahan. Golongan masyarakat yang mempunyai kedudukan lebih tinggi tentunya akan mempertahankan statusnya tersebut. Kondisi inilah yang menyebabkan terhambatnya proses perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f . Adanya Sikap Tertutup dan Prasangka Terhadap Hal Baru (Asing)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap yang demikian banyak dijumpai dalam masyarakat yang pernah dijajah oleh bangsa lain, misalnya oleh bangsa Barat. Mereka mencurigai semua hal yang berasal dari Barat karena belum bisa melupakan pengalaman pahit selama masa penjajahan, sehingga mereka cenderung menutup diri dari pengaruh-pengaruh asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g . Hambatan-Hambatan yang Bersifat Ideologis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap usaha perubahan pada unsur-unsur kebudayaan rohaniah, biasanya diartikan sebagai usaha yang berlawanan dengan ideologi&lt;br /&gt;masyarakat yang sudah menjadi dasar integrasi masyarakat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h. Adat atau Kebiasaan yang Telah Mengakar &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adat atau kebiasaan merupakan pola-pola perilaku bagi anggota masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Adakalanya adat dan kebiasaan begitu kuatnya sehingga sulit untuk diubah. Hal ini merupakan bentuk halangan terhadap perkembangan dan perubahan kebudayaan. Misalnya, memotong padi dengan mesin dapat mempercepat proses pemanenan, namun karena adat dan kebiasaan masyarakat masih banyak yang menggunakan sabit atau ani-ani, maka mesin pemotong padi tidak akan digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;i . Nilai Bahwa Hidup ini pada Hakikatnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buruk dan Tidak Mungkin Diperbaiki Pandangan tersebut adalah pandangan pesimistis. Masyarakat cenderung menerima kehidupan apa adanya dengan dalih suatu kehidupan telah diatur oleh Yang Mahakuasa. Pola pikir semacam ini tentu saja tidak akan memacu pekembangan kehidupan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Perilaku Masyarakat sebagai Akibat Adanya Perubahan Sosial Budaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan sosial budaya akan mengubah adat, kebiasaan, cara pandang, bahkan ideologi suatu masyarakat. Telah dijelaskan di depan bahwa perubahan sosial budaya dapat mengarah pada hal-hal positif (kemajuan) dan hal-hal negatif (kemunduran). Hal ini tentu saja memengaruhi pola dan perilaku masyarakatnya. &lt;br /&gt;Berikut ini hal-hal positif atau bentuk kemajuan akibat adanya perubahan sosial budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Memunculkan ide-ide budaya baru yang sesuai dengan perkembangan zaman.&lt;br /&gt;2. Membentuk pola pikir masyarakat yang lebih ilmiah dan rasional.&lt;br /&gt;3. Terciptanya penemuan-penemuan baru yang dapat membantu aktivitas manusia.&lt;br /&gt;4. Munculnya tatanan kehidupan masyarakat baru yang lebih modern dan ideal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini hal-hal negatif atau bentuk ke-munduran akibat adanya perubahan sosial budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tergesernya bentuk-bentuk budaya nasional oleh budaya asing yang terkadang tidak sesuai dengan kaidah budaya-budaya nasional.&lt;br /&gt;2. Adanya beberapa kelompok masyarakat yang mengalami ketertinggalan kemajuan budaya dan kemajuan zaman, baik dari sisi pola pikir ataupun dari sisi pola kehidupannya (cultural lag atau kesenjangan budaya).&lt;br /&gt;3. Munculnya bentuk-bentuk penyimpangan sosial baru yang makin kompleks.&lt;br /&gt;4. Lunturnya kaidah-kaidah atau norma budaya lama, misalnya lunturnya kesadaran bergotong-royong di dalam kehidupan masyarakat kota.&lt;br /&gt;D. Sikap Kritis terhadap Pengaruh Perubahan Sosial dan Budaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun bentuk perubahan sosial budaya akan menghasilkan suatu bentuk, pola, dan kondisi kehidupan masyarakat yang baru. Kalian sebagai pelajar tentu harus bisa menentukan sikap terhadap dampak perubahan sosial budaya yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.&amp;nbsp; Sikap apriori yang berlebihan tentu saja tidak perlu kalian kedepankan, mengingat sikap tersebut merupakan salah satu penyebab terhambatnya proses perubahan sosial budaya yang berujung pada terhambatnya proses perkembangan masyarakat dan modernisasi. Demikian juga dengan sikap menerima setiap perubahan tanpa terkecuali. Sikap tersebut cenderung akan membuat kita meniru (imitasi) terhadap setiap perubahan sosial budaya yang terjadi, meskipun perubahan tersebut mengarah pada perubahan yang bersifat negatif. Kalian diharapkan mampu memiliki dan mengembangkan sikap kritis terhadap proses perubahan sosial budaya yang terjadi di masyarakat. Perubahan sosial budaya yang bersifat positif dapat kita terima untuk memperkaya khazanah kebudayaan bangsa kita, sebaliknya perubahan sosial budaya yang bersifat negatif harus kita saring dan kita cegah perkembangannya dalam kehidupan masyarakat kita. Dalam pelaksanaannya, kalian harus mampu mengikuti perkembangan zaman dengan memperluas pengetahuan dan teknologi yang semakin berkembang. Namun di sisi lain, nilai-nilai dan norma kehidupan bangsa yang luhur harus dapat terus kalian jaga dan lestarikan. &lt;/div&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5CMaliNK%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5CMaliNK%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_editdata.mso" rel="Edit-Time-Data"&gt;&lt;/link&gt;&lt;!--[if !mso]&gt; &lt;style&gt;v\:* {behavior:url(#default#VML);}o\:* {behavior:url(#default#VML);}w\:* {behavior:url(#default#VML);}.shape {behavior:url(#default#VML);}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:OfficeDocumentSettings&gt;   &lt;o:TargetScreenSize&gt;800x600&lt;/o:TargetScreenSize&gt;  &lt;/o:OfficeDocumentSettings&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5CMaliNK%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5CMaliNK%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:EnableOpenTypeKerning/&gt;    &lt;w:DontFlipMirrorIndents/&gt;    &lt;w:OverrideTableStyleHps/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="&amp;#45;-"/&gt;    &lt;m:smallFrac m:val="off"/&gt;    &lt;m:dispDef/&gt;    &lt;m:lMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:rMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:defJc m:val="centerGroup"/&gt;    &lt;m:wrapIndent m:val="1440"/&gt;    &lt;m:intLim m:val="subSup"/&gt;    &lt;m:naryLim m:val="undOvr"/&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"  LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman","serif"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}.MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt;}@page WordSection1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;}div.WordSection1 {page:WordSection1;}--&gt;&lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin:0in; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman","serif";}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt;"&gt;&lt;a href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:Perubahan_Ssial_1.jpg" title="Perubahan Ssial 1.jpg"&gt;&lt;span style="color: blue; text-decoration: none;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" o:spt="75" o:preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"/&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"/&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"/&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"/&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"/&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"/&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"/&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"/&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"/&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"/&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"/&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"/&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"/&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path o:extrusionok="f" gradientshapeok="t" o:connecttype="rect"/&gt;  &lt;o:lock v:ext="edit" aspectratio="t"/&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" alt="" href="http://www.crayonpedia.org/mw/Berkas:Perubahan_Ssial_1.jpg" title="&amp;quot;Perubahan Ssial 1.jpg&amp;quot;" style='width:318.75pt;height:237.75pt' o:button="t"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\Users\MaliNK\AppData\Local\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image001.jpg"  o:href="http://www.crayonpedia.org/wiki/images/c/c6/Perubahan_Ssial_1.jpg"/&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8581253918985038641-1528306656838819350?l=haryantotips.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=Lwgph-MDCi0:9F9WOf3PRnk:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=Lwgph-MDCi0:9F9WOf3PRnk:63t7Ie-LG7Y"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=63t7Ie-LG7Y" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=Lwgph-MDCi0:9F9WOf3PRnk:dnMXMwOfBR0"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=dnMXMwOfBR0" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=Lwgph-MDCi0:9F9WOf3PRnk:V_sGLiPBpWU"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?i=Lwgph-MDCi0:9F9WOf3PRnk:V_sGLiPBpWU" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=Lwgph-MDCi0:9F9WOf3PRnk:7Q72WNTAKBA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=7Q72WNTAKBA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=Lwgph-MDCi0:9F9WOf3PRnk:F7zBnMyn0Lo"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?i=Lwgph-MDCi0:9F9WOf3PRnk:F7zBnMyn0Lo" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=Lwgph-MDCi0:9F9WOf3PRnk:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=Lwgph-MDCi0:9F9WOf3PRnk:KwTdNBX3Jqk"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?i=Lwgph-MDCi0:9F9WOf3PRnk:KwTdNBX3Jqk" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=Lwgph-MDCi0:9F9WOf3PRnk:l6gmwiTKsz0"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=l6gmwiTKsz0" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=Lwgph-MDCi0:9F9WOf3PRnk:gIN9vFwOqvQ"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?i=Lwgph-MDCi0:9F9WOf3PRnk:gIN9vFwOqvQ" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-OR3XVver_I4/TuxpIgOLKII/AAAAAAAAAC4/7l21mlVwkRc/s72-c/A1.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://haryantotips.blogspot.com/2011/12/faktor-faktor-pendorong-perubahan.html</feedburner:origLink></item><item><title>MAKALAH DAMPAK GLOBALISASI TERHADAP PERDAGANGAN INTERNASIONAL</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Haryantotips/~3/RIyAzuFTl1Y/makalah-dampak-globalisasi-terhadap.html</link><author>noreply@blogger.com (KELAS XII IPS 1 TAHUN 2009/2010)</author><pubDate>Sun, 18 Dec 2011 03:56:40 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8581253918985038641.post-5843408868668097316</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Definisi Perdagangan Internasional&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Perdagangan Internasional adalah perdagangan yang dilakukan oleh penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain atas dasar kesepakatan bersama. Pendudukan yang dimaksud dapat berupa antar perorangan (individu dengan individu), antara individu dengan pemerintah suatu negara atau pemerintah suatu negara dengan pemerintah negara lain.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut &lt;b&gt;&lt;i&gt;Amir, M.S.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; seorang pengamat ekonomi, bila dibandingkan dengan pelaksanaan perdagangan Internasional sangatlah rumit dan kompleks. Kerumitan tersebut antara lain disebabkan karena adanya batas-batas politik dan kenegaraan yang dapat menghambat perdagangan internasional, misalnya dengan adanya perbedaan budaya, bahasa, mata uang, taksiran dan timbangan, dan hukum perdagangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan-Kebijakan Perdagangan Internasional&lt;br /&gt;Tindakan-tindakan ini meliputi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tarif &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarif adalah sejenis pajak yang dikenakan atas barang-barang yang diimpor. Tarif spesifik (Specific Tariffs) dikenakan sebagai beban tetap atas unit barang yang diimpor. Misalnya $6 untuk setiap barel minyak). Tarifold Valorem (od Valorem Tariffs) adalah pajak yang dikenakan berdasarkan persentase tertentu dari nilai barang-barang yang diimpor (Misalnya, tariff 25 persen atas mobil yang diimpor). Dalam kedua kasus dampak tarif akan meningkatkan biaya pengiriman barang ke suatu negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Subsidi Ekspor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subsidi ekspor adalah pembayaran sejumlah tertentu kepada perusahaan atau perseorangan yang menjual barang ke luar negeri, seperti tariff, subsidi ekspor dapat berbentuk spesifik (nilai tertentu per unit barang) atau Od Valorem (presentase dari nilai yang diekspor). Jika pemerintah memberikan subsidi ekspor, pengirim akan mengekspor, pengirim akan mengekspor barang sampai batas dimana selisih harga domestic dan harga luar negeri sama dengan nilai subsidi. Dampak dari subsidi ekspor adalah meningkatkan harga dinegara pengekspor sedangkan di negara pengimpor harganya turun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pembatasan Impor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembatasan impor (Import Quota) merupakan pembatasan langsung atas jumlah barang yang boleh diimpor. Pembatasan ini biasanya diberlakukan dengan memberikan lisensi kepada beberapa kelompok individu atau perusahaan. Misalnya, Amerika Serikat membatasi impor keju. Hanya perusahaan-perusahaan dagang tertentu yang diizinkan mengimpor keju, masing-masing yang diberikan jatah untuk mengimpor sejumlah tertentu setiap tahun, tak boleh melebihi jumlah maksimal yang telah ditetapkan. Besarnya kuota untuk setiap perusahaan didasarkan pada jumlah keju yang diimpor tahun-tahun sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Pengekangan Ekspor Sukarela&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk lain dari pembatasan impor adalah pengekangan sukarela (Voluntary Export Restraint), yang juga dikenal dengan kesepakatan pengendalian sukarela (Voluntary Restraint Agreement = ERA).&lt;br /&gt;VER adalah suatu pembatasan (Kuota0 atas perdagangan yang dikenakan oleh pihak negara pengekspor dan bukan pengimpor. Contoh yang paling dikenal adalah pembatasan atas ekspor mobil ke Amerika Serikat yang dilaksanakan oleh Jepang sejak 1981.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;VER pada umumnya dilaksanakan atas permintaan negara pengimpor dan disepakati oleh negara pengekspor untuk mencegah pembatasan-pembatasan perdagangan lainnya. VER mempunyai keuntungan-keuntungan politis dan legal yang membuatnya menjadi perangkat kebijakan perdagangan yang lebih disukai dalam beberapa tahun belakangan. Namun dari sudut pandang ekonomi, pengendalian ekspor sukarela persis sama dengan kuota impor dimana lisensi diberikan kepada pemerintah asing dan karena itu sangat mahal bagi negara pengimpor.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;VER selalu lebih mahal bagi negara pengimpor dibandingan dengan tariff yang membatasi impor dengan jumlah yang sama. Bedanya apa yang menjadi pendapatan pemerintah dalam tariff menjadi (rent) yang diperoleh pihak asing dalam VER, sehingga VER nyata-nyata mengakibatkan kerugian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Persyaratan Kandungan Lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persyaratan kandungan local (local content requirement) merupakan pengaturan yang mensyaratkan bahwa bagian-bagian tertentu dari unit-unit fisik, seperti kuota impor minyak AS ditahun 1960-an. Dalam kasus lain, persyaratan ditetapkan dalam nilai, yang mensyaratkan pangsa minimum tertentu dalam harga barang berawal dari nilali tambah domestic. Ketentuan kandungan local telah digunakan secara luas oleh negara berkembang yang beriktiar mengalihkan basis manufakturanya dari perakitan kepada pengolahan bahan-bahan antara (intermediate goods). Di amerika serikat rancangan undang-undang kandungan local untuk kendaraan bermotor diajukan tahun 1982 tetapi hingga kini berlum diberlakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Subsidi Kredit Ekspor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subsidi kredit ekspor ini semacam subsidi ekspor, hanya saja wujudnya dalam pinjaman yang di subsidi kepada pembeli. Amerika Serikat seperti juga kebanyakan negara, memilki suatu lembaga pemerintah, export-import bank (bank Ekspor-impor) yang diarahkan untuk paling tidak memberikan pinjaman-pinjaman yang disubsidi untuk membantu ekspor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Pengendalian Pemerintah (National Procurement)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelian-pembelian oleh pemerintah atau perusahaan-perusahaan yang diatur secara ketat dapat diarahkan pada barang-barang yang diproduksi di dalam negeri meskipun barang-barang tersebut lebih mahal daripada yang diimpor. Contoh yang klasik adalah industry telekomunikasi Eropa. Negara-negara mensyaratkan eropa pada dasarnya bebas berdagang satu sama lain. Namun pembeli-pembeli utama dari peralatan telekonumikasi adalah perusahaan-perusahaan telepon dan di Eropa perusahaan-perusahaan ini hingga kini dimiliki pemerintah, pemasok domestic meskipun jika para pemasok tersebut mengenakan harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan pemasok-pemasok lain. Akibatnya adalah hanya sedikit perdagangan peralatan komunikasi di Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Hambatan-Hambatan Birokrasi (Red Tape Barriers)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang pemerintah ingin membatasi impor tanpa melakukannya secara formal. Untungnya atau sayangnya, begitu mudah untuk membelitkan standar kesehatan, keamanan, dan prosedur pabean sedemikian rupa sehingga merupakan perintang dalam perdagangan. Contoh klasiknya adalah Surat Keputusan Pemerintah Perancis 1982 yang mengharuskan seluruh alat perekam kaset video melalui jawatan pabean yang kecil di Poltiers yang secara efektif membatasi realiasi sampai jumlah yang relative amat sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Globalisasi ekonomi adalah kehidupan ekonomi global yang bersifat terbuka dan tidak mengenal batas-batas territorial, atau kewilayahan antara daerah yang satu dengan daerah yanglain. Disini dunia dianggap sebagai suatu kesatuan yang semua daerah dapat terjangkau dengan cepat dan mudah. Sisi perdagangan dan investaris menuju kea rah liberalisasi kapitalisme sehingga semua orang bebas untuk berusaha dimana saja dan kapan saja didunia ini.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Globalisasi perekonomian merupakan suatu proses kegiatan ekonomi dan perdagangan, dimana negara-negara diseluruh dunia menjadi suatu kekuatan pasar yang semakin terintegrasi dengan tanpa rintangan batas territorial negara. Globalisasi perekonomian mengharuskan penghapusan seluruh batasan dan hambatan terhadap arus modal barang dan jasa.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;DAMPAK GLOBALISASI TERHADAP PERDAGANGAN INTERNASIONAL&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Dampak Positif :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Produksi global dapat ditingkatkan&lt;br /&gt;2. Meningkatkan kemakmuran masyarakat dalam suatu negara.&lt;br /&gt;3. Meluaskan pasar untuk produk dalam negeri.&lt;br /&gt;4. Dapat memperoleh lebih banyak modal dan teknologi yang lebih baik.&lt;br /&gt;5. Menyediakan dana tambahan untuk pembangunan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak Negatif : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Karena perkembangan sistem perdagangan luar negeri yang menjadi lebih bebas, sehingga dapat menghambat pertumbuhan sektor industri.&lt;br /&gt;2. Dapat memperburuk neraca pembayaran.&lt;br /&gt;3. Sektor keuangan semakin tidak stabil.&lt;br /&gt;4. Memperburuk proses pertumbuhan ekonomi jangka panjang.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8581253918985038641-5843408868668097316?l=haryantotips.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=RIyAzuFTl1Y:31GRw8uVmZo:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=RIyAzuFTl1Y:31GRw8uVmZo:63t7Ie-LG7Y"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=63t7Ie-LG7Y" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=RIyAzuFTl1Y:31GRw8uVmZo:dnMXMwOfBR0"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=dnMXMwOfBR0" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=RIyAzuFTl1Y:31GRw8uVmZo:V_sGLiPBpWU"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?i=RIyAzuFTl1Y:31GRw8uVmZo:V_sGLiPBpWU" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=RIyAzuFTl1Y:31GRw8uVmZo:7Q72WNTAKBA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=7Q72WNTAKBA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=RIyAzuFTl1Y:31GRw8uVmZo:F7zBnMyn0Lo"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?i=RIyAzuFTl1Y:31GRw8uVmZo:F7zBnMyn0Lo" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=RIyAzuFTl1Y:31GRw8uVmZo:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=RIyAzuFTl1Y:31GRw8uVmZo:KwTdNBX3Jqk"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?i=RIyAzuFTl1Y:31GRw8uVmZo:KwTdNBX3Jqk" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=RIyAzuFTl1Y:31GRw8uVmZo:l6gmwiTKsz0"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=l6gmwiTKsz0" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=RIyAzuFTl1Y:31GRw8uVmZo:gIN9vFwOqvQ"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?i=RIyAzuFTl1Y:31GRw8uVmZo:gIN9vFwOqvQ" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://haryantotips.blogspot.com/2011/12/makalah-dampak-globalisasi-terhadap.html</feedburner:origLink></item><item><title>INFLASI INVESTASI SUKU BUNGA KEBIJAKAN PEMERINTAH DAN HUBUNGANNYA DENGAN  PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA 2007</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Haryantotips/~3/96dKL9a2vsI/inflasi-investasi-suku-bunga-kebijakan.html</link><author>noreply@blogger.com (KELAS XII IPS 1 TAHUN 2009/2010)</author><pubDate>Sun, 18 Dec 2011 04:04:39 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8581253918985038641.post-6274445719535393019</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;BAB I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Latar Belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Banyak pakar ekonomi memprediksikan kebangkitan ekonomi dalam negeri akan terjadi pada tahun 2007, karena tahun sebelumnya (tahun 2006) perekonomian Indonesia dilanda inflasi dan suku bunga tinggi, merosotnya perekonomian dalam negeri pada tahun 2006 disebabkan oleh kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM dan kebijakan moneter yang hanya menyentuh sektor tertentu. Kebijakan ini telah berakibat buruk terhadap perekonomian dalam negeri, akibat dari kenaikkan BBM oktober 2006, daya beli masyarakat menjadi menurun karena kenaikan itu tidak dibarengi dengan kenaikan upah yang layak, di sektor manufaktur biaya produksi meningkat tajam sehingga menimbulkan kenaikan barang-barang dan pengurangan tenaga kerja. Kondisi ini menyebabkan meningkatnya angka inflasi, pada akhir tahun 2006 mencapai 6,5 %, secara otomatis pengangguran dan kemiskinan bertambah, walaupun beberapa sumber menyebutkan kenaikan itu tidak berarti dibanding dengan meningkatnya sektor tambang dan ekspor non migas. Namun kondisi ini ternyata tidak berpengaruh terhadap perkembangan ekonomi di Indonesia.Penulisan makalah ini membahas analisa makro ekonomi di Tahun 2007, terutama menyangkut inflasi, iklim investasi, pengangguran, suku bunga dan akhirnya kepada kebijakan fiskal dan moneter. Saya memilih tema gabungan dari beberapa hal tersebut diatas, karena memang pada dasarnya tingkat inflasi selalu berhubungan atau berdampak pada tingkat investasi, pengangguran, tingkat suku bunga yang biasanya melahirkan berbagai kebijakan dari pihak pemerintah. Akhir kata saya ucapkan terima kasih kepada semua sumber pengetahuan yang telah membantu saya menyelesaikan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca terutama kalangan mahasiswa yang tertarik dengan bidang makro ekonomi. Jakarta, 29 November 2007 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2 Rumusan Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kondisi perekonomian Indonesia masih tergolong lambat akibat dari berbagai permasalahan yang dihadapi sekarang ini. Beberapa permasalah tersebut antara lain seperti di bawah ini :1). Target Inflasi Tahun 2007 Terancam Tak Tercapai.Tingkat inflasi yang ditargetkan hanya 6 persen oleh pemerintah sepertinya makin sulit tercapai. Dua pekan pertama Oktober atau menjelang lebaran yang lalu menjadi penentu capaian target inflasi. Ini karena inflasi pada September sudah cukup tinggi yakni 0,80 persen, dan inflasi mulai Januari hingga September sudah 4,41 persen. Inflasi year on year bahkan berada di posisi 6,95 persen. 2). Peluang turunnya tingkat suku bunga sangat kecil.Pada tahun 2007 ruang bagi penurunan suku bunga diperkirakan hampir tidak ada. Jika ada, penurunan suku bunga jauh lebih ketat dan lebih kecil. Di samping itu, kemungkinan penurunan suku bunga pada tahun depan juga akan melihat apakah kondisi makroekonomi yang membaik sepanjang 2006 akan terulang pada tahun 2007 ini.3). Iklim investasi masih buruk.Meningkatnya sektor usaha infrastruktur dan lainnya ternyata tidak diikuti dengan peningkatan investasi. Apabila kondisi ini berlanjut sampai akhir 2007, maka akan berdampak negative pula bagi&amp;nbsp; pertumbuhan ekonomi tahun 2008 yang mungkin bisa anjlok dibawah 5 %, sektor investasi ini tidak berkembang karena resiko tinggi dan kesempatan yang didapat terbatas.4). Tingkat pengangguran tergolong masih tinggi.Masalah pengangguran di negeri ini memang merupakan masalah klasik yang tiap periode selalu menjadi perbincangan hangat. Meski sebenarnya telah terjadi penurunan, namun tetap saja tak banyak membantu bagi pertumbuhan ekonomi. Seperti yang telah dikutip berbagai media massa bahwa pemerintah bertekad mengurangi angka pengangguran. Tahun 2007 ini, Depnakertrans siap mengentaskan sekitar 1,5 juta orang pengangguran yang tersebar di seluruh Indonesia. Sebenarnya bukan hanya tahun ini saja, setiap tahun pun selalu terdengar kalimat itu, namun tingkat pengangguran masih belum mengalami penurunan yang berarti. 25). Kebijakan-kebijakan pemerintah belum dapat menarik naik perekonomian.Sama halnya dari tahun ke tahun kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah belum dapat mengatasi berbagai permasalahan ekonomi di negara ini. Bahkan arah kebijakan-kebijakan tersebut terkesan terlalu terburu-buru karena kerap kali setelah semua berjalan dilakukan perombakan kembali tentang kebijakan-kebijakan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Banyak pihak yang mengatakan target inflasi 6 persen pasti tak tercapai. Karena menurut mereka yang paling realistis adalah 6,5 persen. Berdasarkan berbagai analisa, inflasi disebabkan murni faktor dalam negeri. Sebab meskipun rupiah sempat terdepresiasi, posisinya kini relatif stabil. Sehingga dampaknya, insentif intermediasi perbankan makin sulit diberikan karena sukubunga tidak bisa diturunkan. Melihat keadaan saat ini, mungkin inflasi akhir tahun akan berada di kisaran 6,5-6,8 persen. Karenanya suku bunga BI belum akan turun. Sepertinya inflasi September lalu tidak disebabkan kenaikan empat kebutuhan pokok yakni beras, minyak goreng, minyak tanah, gula. Tetapi hal tersebut disebabkan harga keempat komoditas tersebut sudah lebih dahulu naik, sehingga kenaikannya pada September sudah melambat. Menurut data yang saya peroleh, minyak goreng hanya menyumbang inflasi 0,2 persen dan beras 0,1 persen. Secara umum, kenaikan indeks harga terjadi pada kelompok bahan makanan 1,81 persen; makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,45 persen; dan perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,18 persen. Kemudian kelompok sandang 1,22 persen; kesehatan 0,44 persen, rekreasi dan olahraga 1,70 persen; dan kelompok transpor. Tetapi setelah melihat perkembangan sampai saat ini, kita masih dapat optimis bahwa target inflasi masih tetap dapat dicapai. Adanya optimisme ini karena didukung dengan kebijakan yang hati-hati. Coba kita perhatikan meskipun terdapat guncangan akibat kenaikan harga minyak dunia, tetapi kita bisa meyakini guncangan tersebut tidak akan membuat krisis seperti tahun 1997. Sebelumnya Menko Perekonomian Boediono mengatakan, target inflasi 2007 sebesar 6,0 persen masih bisa dicapai meskipun pemerintah hanya memiliki ruang inflasi 0,76 persen dalam dua bulan ke depan yang artinya sampai saat ini. Saya kira bahan pokok stabil, saya kira bisa atau masih bisa mendekati. Yang penting kita fokuskan pada harga kebutuhan pokok.. Tetapi kita perlu mewaspadai tekanan inflasi terbesar yang diperkirakan akan datang pada bulan Desember, di mana ada hari Natal dan tahun baru.&amp;nbsp;&amp;nbsp; 4Sementara itu kita beralih ke tingkat suku bunga, dimana saat ini Bank Indonesia (BI) tidak mungkin menurunkan suku bunga hingga 300 basis poin (bps) seperti yang dilakukan sepanjang tahun 2006. Walaupun ruang untuk penurunan kemungkinan masih ada, pada tahun ini penurunan suku bunga oleh BI akan tetap dilakukan tetapi tak akan terlalu besar.Sangat mustahil suku bunga diturunkan 300 basis poin lagi pada tahun 2007 ini. BI tak mungkin menurunkan suku bunga hingga 6,75 persen pada tahun 2007, jika inflasi ditargetkan enam persen. Jika itu tetap dilakukan, itu menunjukkan bahwa BI kurang bijaksana dan kurang berhati-hati. Dalam menghadapi situasi ini, BI tak boleh hanya menganalisis satu hal saja sebagai dasar untuk menurunkan suku bunga. Ada banyak faktor yang harus dikaji, tak hanya melihat pertumbuhan ekonomi saja sebagai dasar untuk menurunkan suku bunga tetapi juga berbagai hal lainnya. Moneter policy, tak bisa one to one, seperti jika inflasi naik, suku bunga harus diturunkan, begitu pula sebaliknya. Sebenarnya pada tahun ini daya beli masyarakat dapat dikatakan berangsur mulai membaik, pemerintah juga melalui Bank Indonesia mengeluarkan kebijakan menurunkan suku bunga dengan asumsi dapat menstimulus kalangan usaha untuk kembali menggairahkan sektor-sektor strategis, kebijakan ini direspon positif oleh kalangan usaha yang terkait langsung dengan suku bunga. Selain itu dalam paket kebijakan ekonomi yang dikeluarkan pemerintah, mulai menunjukkan kemajuan. Namun dari segi investasi masih jauh dari optimal, hal ini disebabkan oleh peraturan investasi masih belum ada kejelasan.Sampai saat ini dapat kita lihat, pemerintah belum bisa melakukan restrukturisasi dalam bidang investasi, terutama menyangkut birokrasi yang panjang dan kepastian hukum. Sehingga Perbankan sebagai sumber dana bagi para investor menganggap resikonya terlalu tinggi jika mengeluarkan dana untuk kredit investasi, Perbankan lebih tertarik dengan kredit konsumsi. Ditambah lagi dengan berbagai aturan yang dibuat oleh DPR membuat para investor asing memutuskan untuk beralih menyimpan dananya di negara lain yang lebih mudah dan aman dalam ber-investasi.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; 5Beberapa proyek pembangunan infrastruktur yang menjadi prioritas pemerintah pada tahun 2007 terkesan ambisius, karena pembangunan ini tidak realistis dan cenderung terbatas pada perusahaan tertentu, misalnya saja, pembangunan infrastruktur pembangkit listrilk 10.000 MW tidak didukung oleh administratif dan teknis yang baik. Pembangunan jalan tol juga masih belum berjalan, padahal pemerintah telah menyiapkan dana sebesar 600 Milyar untuk pembebasan tanah. Pemerintah daerah juga lebih senang menyimpan dananya di SBI daripada dialokasikan untuk memenuhi menggerakkan sektor riil di daerah. Melihat kondisi ini, proyeksi ekonomi tahun 2007 masih dikatakan paradoks, disatu sisi ada kemajuan namun hanya sebatas sektoral, itupun tidak mempengaruhi kondisi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Oleh karena itu untuk keluar dari dilema ini, pemerintah harus segera menyelesaikan masalah peraturan dan perundang-undangan secepat mungkin.Untuk permasalahan sosial menyangkut ketenagakerjaan dan kemiskinan akan terus muncul di tahun 2007 dan 2008. Bisa jadi persentasenya meningkat, di tahun 2006 persentase angka kemiskinan masih berkisar antara 17 persen – 18,5 persen. Kemiskinan ini disebabkan oleh kesempatan kerja yang kurang atau klasik kita kenal dengan sebutan pengangguran, monopoli sektor strategis terutama masalah pangan. Masalah ini akan menjadi masalah serius pemerintah ditahun ini dan tahun 2008, upaya pemerintah di tahun 2006 dengan membuat program bantuan langsung tunai (BLT) pada masyarakat miskin tidak bisa lagi diterapkan di tahun 2007 ini, karena program ini tidak efektif dan tidak berdampak jangka panjang. Sektor usaha berusaha menyerap tenaga kerja dengan model tenaga kontrak. Sistem ini dianggap merugikan para pekerja, oleh sebab itu konflik antar pekerja tetap menghiasi dinamika ketenagakerjaan Indonesia ditahun ini. Revisi UU Ketenagakerjaan masih tarik ulur, disatu sisi pemerintah berusaha menyelesaikan hambatan investasi dan disisi lain pemerintah harus mengakomodir para pekerja.Menurut saya pemerintah dan DPR sebetulnya bisa menyelesaikan masalah ini dengan mengalokasikan anggaran untuk membuat kebijakan mengoptimalkan modal kerja bagi masyarakat miskin yang berdampak jangka panjang, peran pemerintah daerah dan UKM sangat dimungkinkan untuk memfasilitasi program ini.&amp;nbsp; 6 Pengangguran dan kemiskinan tetap akan tinggi apabila angka inflasi terus meningkat, kebijakan moneter yang terlalu dominan di tahun 2007 harus dikendalikan secar rasional. Karena kebijakan ini tidak mendorong sektor riil bergerak maksimal.Di awal tahun 2007, pertumbuhan ekonomi belum meningkat signifikan. Alasannya permintaan agregat hanya didorong oleh konsumsi yang dipicu oleh rencana kenaikan gaji Pegawai Negeri Sipil dan Upah Minimum Regional pada awal 2007, sedangkan investasi swasta belum bisa diharapkan. Pertumbuhan ekonomi 2007 berpotensi akan meningkat lebih tinggi mencapai 6,3 persen jika langkah yang dibutuhkan dapat direalisasikan lebih cepat. Semua itu membutuhkan kerjasama yang erat antara BI dan pemerintah untuk mencapai stabilitas makroekonomi dan pertumbuhan sebesar enam persen pada tahun 2007 ini. Sebab, sejumlah langkah yang dibutuhkan berada di bawah kendali pemerintah. Tapi sebaliknya, jika langkah yang dibutuhkan gagal diimplementasikan secara tuntas maka pertumbuhan ekonomi 2007 diperkirakan hanya 5,7 persen. Dengan demikian untuk mencegah kegagalan tersebut dan mencari solusi stabilitas ekonomi, maka pemerintah perlu membuat kebijakan yang strategis, tidak hanya sebatas kebijakan jangka pendek, seperti penurunan BI rate atau kebijakan moneter lainnya yang hanya bisa dirasakan dalam jangka pendek, tetapi pemerintah bisa mengoptimalkan kebijakan fiskal dan meningkatkan akselerasi penyelesaian perundang-undangan menyangkut kemudahan berinvestasi karena menyangkut beberapa faktor yang harus diwaspadai pada tahun 2007 agar target pertumbuhan ekonomi 6,3 persen bisa tercapai, yakni harga minyak, inflasi dalam negeri, BI Rate, Fed Rate, pengeluaran pemerintah, dan investasi swasta. Pertumbuhan 6,3 persen memakai asumsi bahwa perekonomian global tumbuh sehat, harga minyak stabil, dan Fed Rate stabil atau turun sehingga ekspor tetap bisa tumbuh, bunga kredit turun, dan daya beli pulih. Memang sejak awal tahun 2007, kalangan usaha mulai menanti kebijakan pemerintah yang berpihak pada pelaku ekonomi, terutama menyangkut kemudahan dalam melakukan transaksi bisnis dan investasi diberbagai sektor. Hasilnya pemerintah telah menyiapkan beberapa kebijakan agar pertumbuhan ekonomi dapat mencapai target diatas 6 % pada tahun 2007.&amp;nbsp; 7 Kebijakan itu diantaranya menyangkut kebijakan moneter, pemerintah telah menurunkan suku bunga di BI agar pelaku bisnis bisa leluasa melakukan usahanya. Selain itu pemerintah dengan DPR berusaha menyelesaikan UU Penanaman Modal Asing (PMA) dimana didalamnya menyangkut kebijakan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), serta paket UU Investasi yang terdiri dari revisi UU Perpajakan, revisi UU Ketenagakerjaan, RUU Investasi.Semua kebijakan yang sedang dan telah diputuskan oleh Pemerintah itu dari mulai Januari sampai dengan Mei 2007, belum menunjukkan perubahan optimal terhadap perekonomian nasional. Nilai inflasi tetap tinggi sebesar 6,29 persen, perkembangan investasi belum terlihat berubah dan gagasan KEK masih berputar diwilayah kepentingan politik.Namun karena konsumsi masyarakat meningkat dan didukung oleh daya beli tinggi, pertumbuhan ekonomi tetap berkembang, hal ini ditandai dengan mulai maraknya sektor perdagangan ritel diberbagai pelosok daerah di Indonesia. Selain itu menjamurnya bisnis telekomunikasi dengan produk beraneka ragam telah menggerakkan sektor lainnya terutama menyangkut infrastruktur. Bidang konstruksi tetap berkembang, pembangunan perumahan, apartemen, hotel dan properti lainnya diuntungkan oleh menurunnya suku bunga atau BI rate. Sektor Perbankan tentu saja membaik dengan dikuti oleh pertumbuhan sektor kredit konsumsi dalam bentuk modal kerja.Tingginya permintaan (demand) masyarakat pada tahun 2007 harus diimbangi dengan penawaran (supply). Bidang manufaktur diharapkan mampu merespon gejala ini dengan meningkatkan produksinya. Namun beban berat biaya produksi mengharuskan adanya pengurangan tenaga kerja agar kondisi perusahaan bisa tetap stabil.Akibatnya, pengangguran pada tahun 2007 masih tetap mengalami&amp;nbsp; peningkatan, disinilah peran pemerintah dalam mengendalikan sektor manufaktur sangat diperlukan oleh&amp;nbsp; para pelaku ekonomi di bidang ini. Dalam hal ini BI dapat menilai momentum ekonomi untuk menurunkan atau menaikkan suku bunga, selain itu yang paling penting juga pemerintah bisa mengajak sektor investasi untuk menambah geliat ekonomi dalam negeri.&amp;nbsp;&amp;nbsp; 8Namun yang perlu menjadi perhatian, pengendalian suku bunga atau BI rate harus mendorong sektor perbankan menurunkan suku bunga kredit konsumsi masyarakat, karena dengan begitu sektor riil akan bergerak perlahan. Kemajuan sektor riil ini akan berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.Dalam kerangka makro ekonomi memang tidak ada batasan untuk menilai apakah kemajuan itu disebabkan oleh sektor riil atau sektor moneter, karena yang terpenting pertumbuhan ekonomi meningkat, asumsi ini masih mengundang perdebatan. Karena ada kecenderungan merugikan salahsatu pihak. Sebaiknya ada keseimbangan dalam melihat kemajuan ekonomi, karena pelaku ekonomi tidak hanya kelas usaha besar atau sektoral tetapi ada juga usaha kecil dan menengah (UKM). Untuk mendorong keseimbangan itu perlu digerakkan sektor riil agar pertumbuhan ekonomi bisa dirasakan semua masyarakat.Peran pemerintah dan perbankan dalam mengelola dan menyalurkan kredit kepada UKM di tahun 2007 cukup tinggi, hal ini didukung oleh kinerja UKM yang baik dan resiko penyaluran kredit tidak tinggi. Pemerintah juga melalui Menteri UKM telah membuat kebijakan untuk memberdayakan pelaku ekonomi UKM dengan membuat paket kredit berkala, peluang ini harus diambil oleh pihak yang bergerak disektor riil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1 KESIMPULAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Seperti kita tahu, negara kita masih banyak memiliki keterbatasan dalam hal keuangan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Dengan terbatasnya kemampuan keuangan negara untuk mendorong perekonomian, kebijakan ekonomi makro diarahkan untuk mendorong peranan masyarakat dalam pembangunan dengan menghilangkan berbagai kendala yang menghambat. Di samping itu langkah-langkah kebijakan lebih serius akan ditempuh untuk meningkatkan pemerataan dan sekaligus mendorong potensi pembangunan yang belum termanfaatkan selama ini antara lain di sektor pertanian, industri, dan di wilayah perdesaan serta efektivitas dari kebijakan fiskal akan ditingkatkan dengan mempertajam prioritas pembangunan ke dalam kegiatan-kegiatan pembangunan yang memberi dampak besar bagi masyarakat luas.Dalam kaitan itu, pertumbuhan ekonomi didorong terutama dengan meningkatkan investasi dan ekspor non-migas. Peningkatan investasi dan daya saing ekspor dilakukan dengan mengurangi biaya tinggi yaitu dengan menyederhanakan prosedur perijinan, mengurangi tumpang tindih kebijakan antara pusat dan daerah serta antar sektor, meningkatkan kepastian hukum terhadap usaha, menyehatkan iklim ketenagakerjaan, meningkatkan penyediaan infrastruktur, menyederhanakan prosedur perpajakan dan kepabea-an, serta meningkatkan fungsi intermediasi perbankan dalam menyalurkan kredit kepada sektor usaha. Peranan masyarakat dalam penyediaan infrastruktur akan makin ditingkatkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.Selanjutnya, kualitas pertumbuhan ekonomi ditingkatkan dengan mendorong pemerataan pembangunan antara lain dengan mendorong pembangunan pertanian dan meningkatkan kegiatan ekonomi perdesaan. Kualitas pertumbuhan juga didorong dengan memperbaiki iklim ketenagakerjaan yang mampu meningkatkan penciptaan lapangan kerja dengan mengendalikan kenaikan Upah Minimum Provinsi agar tidak terlalu tinggi dibandingkan dengan laju inflasi, memastikan biaya-biaya non-UMP mengarah pada peningkatan produktivitas tenaga kerja, serta membangun hubungan industrial yang harmonis antara perusahaan dan tenaga kerja. Kualitas pertumbuhan juga didorong dengan meningkatkan akses usaha kecil, menengah, dan koperasi terhadap sumber daya pembangunan.&amp;nbsp; 10Upaya untuk mengurangi jumlah penduduk miskin akan didorong oleh berbagai kebijakan lintas sektor mengarah pada penciptaan kesempatan usaha bagi masyarakat miskin, pemberdayaan masyarakat miskin, peningkatan kemampuan masyarakat miskin, serta pemberian perlindungan sosial bagi masyarakat miskin. Stabilitas ekonomi dijaga melalui pelaksanaan kebijakan moneter yang berhati-hati serta pelaksanaan kebijakan fiskal yang mengarah pada kesinambungan fiskal dengan tetap memberi ruang gerak bagi peningkatan kegiatan ekonomi. Stabilitas ekonomi juga akan didukung dengan ketahanan sektor keuangan melalui penguatan dan pengaturan jasa keuangan, perlindungan dana masyarakat, serta peningkatan koordinasi berbagai otoritas keuangan melalui jaring pengaman sistem keuangan secara bertahap. Dengan demikian, perlu dicatat sekurang-kurangnya terdapat delapan langkah atau syarat yang dibutuhkan untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi pada tahun 2007 ini.-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Pertama, pengeluaran pemerintah yang tepat waktu dan tepat sasaran. -&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Kedua, implementasi pembangunan infrastruktur bidang energi dan transportasi serta restrukturisasi mesin-mesin tesktil. -&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Ketiga, peningkatan ekspor nonmigas. -&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Keempat, tidak naiknya harga-harga komoditas yang diatur pemerintah.-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Kelima, kelancaran distribusi terutama barang-barang kebutuhan pokok.-&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Keenam, peningkatan investasi dan kapasitas produksi sektor riil. Keenam langkah ini merupakan wewenang dan tanggung jawab pemerintah selaku otoritas fiskal dan sektor riil. Adapun dua agenda lainnya ialah menjaga kestabilan makroekonomi terutama inflasi dan mendorong fungsi intermediasi perbankan. Kedua agenda ini merupakan tanggung jawab BI sebagai otoritas moneter dan perbankan.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;BI: Perekonomian Tahun 2007 Bertambah Baik dengan 8 Syarat. KOMPAS.Jakarta. 20072).&lt;br /&gt;&amp;nbsp;Proyeksi Bank Dunia “pertumbuhan ekonomi Indonesia 2007 sebesar 6,3 persen dan 6,5 persen pada 2008”. ANTARA News. Jakarta, 11 april 20073). www. investorindonesia. com, 12/11/2007, 17:08:06 WIB 4). BPS Provinsi Kalimantan Tengah5). “Pemerintah Janji Entaskan 1,5 juta Pengangguran”. CyberNews. Yogyakarta6). www. Metrotvnews.com 7). Seputar-Indonesia, 16 Juli 2007 12 INFLASI INVESTASI SUKU BUNGA KEBIJAKAN PEMERINTAH DAN HUBUNGANNYA DENGAN&amp;nbsp; PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8581253918985038641-6274445719535393019?l=haryantotips.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=96dKL9a2vsI:qT9RtMrtX3Y:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=96dKL9a2vsI:qT9RtMrtX3Y:63t7Ie-LG7Y"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=63t7Ie-LG7Y" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=96dKL9a2vsI:qT9RtMrtX3Y:dnMXMwOfBR0"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=dnMXMwOfBR0" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=96dKL9a2vsI:qT9RtMrtX3Y:V_sGLiPBpWU"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?i=96dKL9a2vsI:qT9RtMrtX3Y:V_sGLiPBpWU" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=96dKL9a2vsI:qT9RtMrtX3Y:7Q72WNTAKBA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=7Q72WNTAKBA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=96dKL9a2vsI:qT9RtMrtX3Y:F7zBnMyn0Lo"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?i=96dKL9a2vsI:qT9RtMrtX3Y:F7zBnMyn0Lo" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=96dKL9a2vsI:qT9RtMrtX3Y:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=96dKL9a2vsI:qT9RtMrtX3Y:KwTdNBX3Jqk"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?i=96dKL9a2vsI:qT9RtMrtX3Y:KwTdNBX3Jqk" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=96dKL9a2vsI:qT9RtMrtX3Y:l6gmwiTKsz0"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=l6gmwiTKsz0" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=96dKL9a2vsI:qT9RtMrtX3Y:gIN9vFwOqvQ"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?i=96dKL9a2vsI:qT9RtMrtX3Y:gIN9vFwOqvQ" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><category domain="http://rss.financialcontent.com/stocksymbol">PMA</category><category domain="http://rss.financialcontent.com/stocksymbol">BI</category><category domain="http://rss.financialcontent.com/stocksymbol">UKM</category><category domain="http://rss.financialcontent.com/stocksymbol">KEK</category><category domain="http://rss.financialcontent.com/stocksymbol">BLT</category><feedburner:origLink>http://haryantotips.blogspot.com/2011/12/inflasi-investasi-suku-bunga-kebijakan.html</feedburner:origLink></item><item><title>Hubungan Agama Kristen Protestan dengan Pancasila di Indonesia</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Haryantotips/~3/J4tWiDgb6f8/hubungan-agama-kristen-protestan-dengan.html</link><author>noreply@blogger.com (KELAS XII IPS 1 TAHUN 2009/2010)</author><pubDate>Sun, 18 Dec 2011 04:25:52 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8581253918985038641.post-349575523253773525</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;BAB I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bangsa Indonesia, sejak semula telah dikenal sebagai bangsa yang religius, bangsa yang memiliki kepercayaan dan hubungan dengan Sang Pencipta yaitu Tuhan Yang Maha Esa, yang dinyatakan dalam sikap hidup yang didasarkan kepada ajaran-ajaran agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang penuh toleransi di antara pemeluk-pemeluknya.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa telah diakui oleh masyarakat Indonesia. Namun sejarah dari masa ke masa menunjukkan, bahwa agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa telah menjadi dasar dan memberikan warna terhadap semua segi kehidupan bangsa. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Menurut pandangan Kristen Protestan, tidak ada masalah untuk menerima Pancasila. Bahwa Pancasila telah memberikan banyak inspirasi, selama pemahaman tentang kelima sila dari Pancasila tetap terbuka dan Pancasila tidak kemudian menjadi doktrin yang tertutup. Orang-orang Kristen Protestan dapat memahami sila pertama, dengan menyatakan bahwa di dalam kerangka kepercayaan kepada yang transenden, orang-orang yang sudah memiliki agama dapatlah terus melakukan dialog berdasarkan sikap saling menghargai demi tanggung jawab bersama. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Negara Indonesia yang memilki Pancasila sebagai dasar negara maupun filsafat hidup atau pegangan hidup bangsa Indonesia, setiap rakyat Indonesia harus mempercayai Tuhan Yang Maha Esa, pada dasarnya sila-sila dari Pancasila itu telah berakar pada jiwa Bangsa Indonesia.&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Pancasila berfungsi sebagai bimbingan moral dan etika, yang telah ditransformasikan menjadi dasar konsep politik yang sedemikian rupa. Ada dua kelompok yang sangat berpengaruh dalam pembentukan ideologi suatu bangsa. Pertama, kelompok nasionalis sekuler kedua kelompok nasionalis muslim. Yang dimaksud nasionalis sekuler adalah kelompok-kelompok yang menjadi pemimpin politik yang di Indonesia seperti pemimpin pilitik dari kalangan muslim, pemimpin politik dari kalangan Katolik, pemimpin politik dari kalangan Protestan, pemimpin politik dari kalangan Hindu. Secara tegas kelompok-kelompok nasionalis sekuler menolak agama dijadikan sebagai dasar negara. Meskipun secara personal nasionalis sekuler bukan kaum sekuleris, bahkan nasionalis sekuler tidak menggunakan agama sebagai ideologi atau sistem politik.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kelompok nasionalis muslim adalah kelompok yang mempunyai gagasan bahwa Islam harus dijadikan&amp;nbsp; sebagai dasar negara, antara agama dan politik tidak dapat dipisahkan karena tidak ada pemisahan antara persoalan duniawi dan ukhrawi dalam Islam.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Di bumi Indonesia tidak hanya mayoritas agama Islam saja tetapi masih ada agama-agama lain seperti Katolik, Protestan, Hindu dan Budha yang butuh perlindungan dari negara. Oleh sebab itu , yang pantas dijadikan dasar negara adalah Pancasila, agar semua agama yang ada di Indonesia dapat menerimanya, bukan berarti setelah ber Pancasila lalu meninggalkan agama, tetapi Pancasila dan agama harus sejalan, Pancasila tanpa agama akan kosong hasilnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut &lt;i&gt;Faisal Ismail&lt;/i&gt; Konflik antara kelompok nasionalis sekuler dengan kelompok nasionalis muslim mengenai landasan falsafah negara tetap tegang, sehingga terbentuklah Piagam Jakarta pada butir pertama yang berbunyi “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Bunyi butir pertama Piagam Jakarta yang memberikan posisi umat Islam di Indonesia yang memungkinkan untuk menerapkan syariat Islam, di negara Indonesia yang meskipun umat Islam yang pada dasarnya harus menerima Pancasila sebagai ideologi negara. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bunyi butir pertama dari Piagam Jakarta mendapatkan tantangan yang keras dari orang-orang yang non muslim, yang menyatakan bahwa konsekuensi kalimat Islam sangat mengesampingkan agama-agama lain yang ada di Indonesia. Seakan-akan menonjolkan agama orang yang mayoritas yaitu&amp;nbsp; agama Islam,&amp;nbsp; jika tidak diganti butir pertama dari Piagam Jakarta, maka dari kalangan agama orang yang minoritas&amp;nbsp; yaitu&amp;nbsp; agama non&amp;nbsp; Islam akan memisahkan diri dari Republik Indonesia.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Agar bangsa Indonesia tidak terpecah-pecah maka kedua kelompok tersebut melakukan musyawarah untuk mengganti bunyi pertama dari Piagam Jakarta agar tidak menyinggung perasaan dari kalangan agama minoritas, maka dengan kesepakatan&amp;nbsp; bersama antara kelompok nasionalis sekuler dengan kelompok nasionalis muslim , maka Piagam Jakarta diganti dengan bunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa”.9&lt;br /&gt;Untuk mengakhiri konflik yang berkepanjangan antara kelompok nasionalis sekuler dan kelompok nasionalis muslim, maka PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 mengesahkan Pancasila sebagai dasar negara.10 Dengan disahkannya UUD 45, maka nilai-nilai yang esensial dalam Pancasila adalah:&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Ketuhanan Yang Maha Esa&lt;br /&gt;2. Kemanusiaan yang adil dan beradab&lt;br /&gt;3. Persatuan Indonesia&lt;br /&gt;4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan /perwakilan&lt;br /&gt;5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2&amp;nbsp; Rumusan Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan latar belakang di atas, yang menjadi fokus perhatian untuk&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; diteliti adalah:&lt;br /&gt;1. Bagaimana pemikiran &lt;i&gt;T.B. Simatupang&lt;/i&gt; tentang hubungan Kristen Protestan dengan Pancasila di Indonesia ?&lt;br /&gt;2. Apa pengaruh pemikiran &lt;i&gt;T.B. Simatupang&lt;/i&gt;&amp;nbsp; terhadap agama Kristen Protestan di Indonesia ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3 Tujuan Penulisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian tentang pemikiran &lt;i&gt;T.B. Simatupang&lt;/i&gt; tentang hubungan Kristen Protestan dengan Pancasila di Indonesia mempunyai beberapa tujuan yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4 Untuk mengetahui dan menelusuri pemikiran &lt;i&gt;T.B. Simatupang&lt;/i&gt; tentang hubungan Kristen Protestan dengan Pancasila di Indonesia dalam konteks yang lebih spesifik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.5 Untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang sejauh mana pengaruh pemikiran &lt;i&gt;T.B. Simatupang&lt;/i&gt; terhadap agama&amp;nbsp; Kristen Protestan di Indonesia.&lt;br /&gt;Sedangkan kegunaan penelitian ini adalah:&lt;br /&gt;• Secara akademik penelitian ini sebagai sumbangan pemikiran di bidang ilmu perbandingan agama.&lt;br /&gt;• Untuk menambah pengetahuan tentang pemahaman umat Kristen Protestan dalam menerima Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1 Pengertian &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;T. B. Simatupang,&lt;/i&gt; lahir di Sidikalang Kabupaten Dairi Sumatra Utara tanggal 28 Januari 1920-1990. T.B. Simatupang singkatan dari Tahi Bonar dalam bahasa Batak yang berarti permufakatan atau tujuan yang benar. Sedangkan Simatupang merupakan nama marga untuk orang Batak dari pihak ayahnya. T.B. Simatupang adalah anak dari seorang Pegawai Negeri, Kepala Kantor Pos Sidikalang, ayahnya bernama Sutan Mangaraja Soaduan Simatupang, berasal dari Laguboti, dan ibunya, seorang wanita yang penuh kasih sayang kepada anak-anaknya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;T. B. Simatupang&lt;/i&gt; mempunyai delapan bersaudara, beliau anak yang kedua, dari delapan bersaudara. Nama-nama yang diberikan oleh ayahnya untuk nama anaknya menciri khaskan nama-nama orang Batak, seperti nama anak yang pertama dari ayahnya. Sahala Hamonangan, yang mempunyai arti wibawa kemenangan, anak yang kedua Tahi Bonar yang memiliki arti permufakatan atau tujuan yang benar, anak yang ketiga Frieda Theodora, yang memiliki arti anak pemberian Tuhan yang lahir pada hari Jumat, anak yang keempat Pinta Pasu, yang berarti perempuan, anak kelima Maruli Humala Diasi, yang berarti laki-laki, anak yang keenam Tapi Omas yang berarti &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; perempuan, anak yang ketujuh Batara Ningrat, Batara dari mitologi Batak-Hindu ditambah dengan Ningrat, kesadaran nasionalisme yang lebih luas dari nasionalis Batak, dan anak yang kedelapan Riaraja,&amp;nbsp; yang artinya anak laki-laki.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;T.B. Simatupang&lt;/i&gt; pada usia 6 tahun keluarganya pindah ke Siborong-borong, di sinilah beliau masuk sekolah Zending, tapi keluarga beliau tinggal hanya 9 bulan di Siborong-borong, kemudian keluarganya pindah ke Pematang Siantar. Di Pematang Siantar inilah T. B. Simatupang masuk sekolah HIS (Hollands Inlandse School) yaitu pada tahun 1927.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;2.2 Karir dan Kegiatannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;T. B. Simatupang,&lt;/i&gt; memiliki pengalaman militer sangat banyak sekali, yang ia dapatkan dari orang-orang Belanda/militer Belanda yang pernah medidik ia untuk mejadi militer, dari pengalaman-pengalaman yang ia peroleh dapat dikembangkan kepada tentara-tentara atau militer Indonesia, yang berjuang untuk merebut kemerdekaan Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Karir &lt;i&gt;T. B. Simatupang&lt;/i&gt; tentang militer, sangat dibanggakan sebagai anak bangsa dapat mejadi militer yang profesional, ia juga dipercaya untuk membantu sepenuhnya pembangunan militer angkatan bersenjata Indonesia, dan selalu mejadi perwakilan dari pihak angkatan bersenjata dalam delegasi Indonesia berbagai perundingan dengan Belanda di Konfrensi Meja Bundar. Misi utamanya adalah mendesak Belanda membubarkan KNIL (tentara boneka ciptaan Belanda) serta mengukuhkan TNI sebagai kekuatan inti bagi angkatan perang RI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.3 Pemahaman &lt;i&gt;T.B. Simatupang&lt;/i&gt; Tentang Kristen Protestan di&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut &lt;i&gt;T. B. Simatupang&lt;/i&gt; bangsa Indonesia sebelum kedatangan bangsa-bangsa Barat seperti Portugis, Spanyol, Belanda dan Inggris, bahwa di bumi Indonesia yang tercinta ini telah memiliki budaya yang tinggi dan sudah menganut agama pribumi yang telah lama hadir di bumi Indonesia seperti, agama Hindu, agama Budha, agama Islam. Agama-agama tersebut telah dianut oleh rakyat Indonesia jauh sebelum kedatangan orang-orang Barat ke Indonesia.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari tiga agama yang disebutkan di atas, bahwa setiap agama memiliki misi untuk menyebarkan agamanya ke seluruh wilayah Indonesia, seperti yang dialami oleh agama Islam dengan misi dakwahnya, sehingga dapat menyebar luas misi tersebut sampai kepelosok nusantara Indonesia. Akan tetapi masih ada daerah-daerah yang belum begitu mengenal Islam dalam arti Islam belum tersiar di daerah tersebut seperti, Maluku, Ambon, Irian Jaya, Medan dan masih banyak lagi daerah yang lain. Oleh karena itu kadatangan Kristen, baik itu Kristen Katolik, dan Protestan, yang dibawa oleh Spanyol, Portugis, dan Belanda, telah banyak dianut oleh daerah-daerah yang masih sedikit menganut agama Islamnya.1 Untuk lebih jelasnya tentang pembahasan sejarah masuknya Kristen&amp;nbsp; Protestan di Indonesia sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.4 Sejarah Singkat Masuknya Kristen Protestan di Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada abad XVI&amp;nbsp; tahun 1511 Portugis dan Spanyol datang ke Indonesia dengan tujuan berdagang, Portugis dan Spanyol menganut agama Kristen Katolik, tapi lama kelamaan melihat bangsa Indonesia yang rakyatnya bodoh-bodoh dapat ditipu daya oleh orang-orang Portugis dan Spanyol, maka mereka melakukan suatu penjajahan terhadap bangsa Indonesia. Mereka menyebarkan agama Kristen Katolik kepada rakyat Indonesia pada wilayah-wilayah yang belum banyak menganut agama Islam, sehingga penyebaran agama Kristen berhasil dan banyak rakyat Indonesia yang masuk Kristen Katolik, dan pada akhir abad XVI tahun 1512 sudah berdiri beberapa gereja seperti di Minahasa, Sangir dan Talaud.2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesuburan dan kekayaan hasil bumi Indonesia sangat mengundang simpati bangsa-bangsa Barat datang ke Indonesia. Setelah bangsa Portugis dan Spanyol dapat menguasai Indonesia, kemudian disusul kedatangan Belanda ke Indonesia, yaitu pada tahun 1596, yang membawa Kristen Protestan. Kedatangan Belanda sangat mengganggu kestabilan ekonomi Portugis di Indonesia karena ada yang menyaingi dalam bidang perdagangan dan kekuasaan jajahannya, sehingga Portugis dan Spanyol tidak senang atas kedatangan Belanda ke Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belanda datang ke Indonesia dengan tujuan berdagang untuk lebih mengkoordinasi dalam perdagangan Belanda di Indonesia, lalu Belanda membentuk&amp;nbsp; suatu perkumpulan dagang dengan nama V.O.C (Verenigde Oost Indische Compagne) yang didirikan pada tanggal 20 Maret 1602. Sehingga VOC dapat mendominasi perdagangan di Indonesia. Dengan dukungan penuh oleh pemerintah Belanda.3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VOC untuk memperluas perdagangan di Indonesia agar tidak ada yang menyaingi perdagangannya maka VOC melakukan penyerangan terhadap Portugis&amp;nbsp; sehingga terjadilah peperangan antara Belanda dengan Portugis yang kemudian dimenangkan oleh Belanda dan benteng Portugis yang ada di Ambon dapat direbut oleh Belanda pada tanggal 23 Februari 1605 dan disusul kota Tidore pada tahun yang sama. Sehingga kekuasaan Portugis di Indonesia telah berakhir dan digantikan oleh Belanda.4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan VOC yang berkuasa di Indonesia yang sangat menindas rakyat Indonesia, maka rakyat Indonesia melakukan perlawanan terhadap VOC tetapi semua itu gagal, tidak ada hasil. Dengan demikian VOC leluasa melakukan monopoli perdagangannya, sehingga sampai dengan masa pembubaran VOC, pada tanggal 31 Desember 1799 dengan demikian Indonesia resmi dijajah oleh Belanda.5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belanda adalah yang pertama kali membawa agama Kristen Protestan masuk di Indonesia dan banyak rakyat yang masuk Kristen Protestan. Pada masa Portugis rakyat Indonesia banyak memeluk Kristen Katolik, tetapi setelah Portugis kalah perang dengan Belanda, maka Kristen Katolik dilarang di bumi Indonesia, rakyat yang sudah beragama Kristen Katolik harus pindah ke Kristen Protestan karena yang berkuasa di Indonesia sekarang adalah Belanda.6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua faktor yang menyebabkan penyiaran Kristen Protestan di masa kolonial Belanda menjadi lebih efektif, baik itu dalam arti konsolidasi untuk orang yang sudah memeluk Kristen atau dalam arti “zending” dalam kalangan yang belum menganut agam Islam, Hindu, Budha. kedua faktor itu adalah pertama timbulnya gerakan Kristen Protestan. Kedua timbulnya gerakan penyebaran Kristen yang lebih terorganisir dalam bentuk lembaga penyiaran Kristen yang mantap.7&lt;br /&gt;Sekitar tahun 1850-an Belanda mulai melakukan usaha yang lebih intensif untuk mengadakan Kristenisasi di Indonesia yang dilakukan oleh Kristen Protestan sendiri&amp;nbsp; melalui organisasi gereja, yang disebut dengan zending. Biasanya satu daerah hanya dilayani oleh satu organisasi zending, seperti di daerah Batak itu di tempatkan organisasi zending dari Jerman Barat yang bernama Rheinisehe Missionsgesell . Di pulau Jawa dan Sulawesi kegiatan zending didominasi oleh Belanda.8 Derasnya arus misi dan zending&amp;nbsp; yang masuk ke Indonesia semakin meramaikan proses Kristenisasi di Indonesia. Fenomena semacam ini&amp;nbsp; tidak hanya membuat penyebaran Kristen berlangsung secara substansial, melainkan dapat memberikan dampak yang negatif dalam arti fisik bagi kehadiran agama tersebut. Untuk mendukung para misionaris datang ke Indonesia maka infrastruktur sosial keagamaan harus disediakan seperti sekolah-sekolah dan gereja-gereja, karena Indonesia sebagai lahan terbuka bagi Kristenisasi. Kehadiran orang-orang Eropa jumlahnya sangat meningkat dan tujuannya untuk meningkatkan pendidikan dan meningkatkan pelayanan gereja-gereja terhadap masyarakat&amp;nbsp; di Indonesia.9 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar tahun 1851 di Indonesia telah berdiri suatu organisasi Pekabaran Injil, Konsolidasi atas penduduk yang sudah beragama Kristen sejak zaman Portugis dan Spanyol, diambil tanggung jawabnya oleh pemerintah Hindia Belanda sejak tahun 1800-an. Dengan adanya lambaga Penyiaran Injil yang datang dari luar negeri akan memantapkan Kristenisasi di Indonesia. Setelah tahun 1800-an perkembangan agama Kristen Protestan sangat meluas, sampai ke pelosok-pelosok Indonesia sehingga dengan praktis daerah-daerah tersebut menganut Kristen Protestan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah masuknya Kristen Protestan di Indonesia tidak terlepas dari misi dagang Belanda yang ingin menguasai perdagangan yang akan mendapatkan keuntungan yang sangat besar dari daerah-daerah jajahannya yang dapat melakukan eksploitasi ekonomi di tanah jajahannya dan kemudian sambil menyebarkan ajaran agama Kristen Protestan.10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran Belanda di Indonesia makin lama makin menindas rakyat Indonesia, maka rakyat Indonesia tidak segan-segan melakukan perlawanan seperti peristiwa di Maluku (1817), Baharuddin di Palembang (1819), Imam Bonjol di Minangkabau (1821-1837 ), Pangeran Diponegoro di Jawa Tengah (1825-1830), Jlentik, Polim, Teuku Umar, Tjik di Tiro di Aceh (1860) Anak Agung Made di Lombok (1894-1895), Sisinga Mangaraja di tanah Batak (1900). Rakyat Indonesia pada waktu itu belum tumbuh rasa kesatuan dan persatuan, maka rakyat Indonesia banyak mengalami korban dan akhirnya mengalami kekalahan, tapi rakyat Indonesia tidak putus asa dalam melakukan perlawanan terhadap penjajah sampai Indonesia merdeka.11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.5&amp;nbsp; Orang Orang Yang Mempangaruhi Pemikiran &lt;i&gt;T.B Simatupang&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa pemikiran yang mempengaruhi perjalanan intelektual &lt;i&gt;T. B. Simatupang&lt;/i&gt; yaitu &lt;i&gt;Carl Von Clausewitz,&lt;/i&gt; untuk mempelajari tentang perang, &lt;i&gt;T. B. Simatupang&lt;/i&gt; pada masa mudanya mengagumi tentang pemikiran &lt;i&gt;Carl Von Clausewitz&lt;/i&gt; tentang perang, sehingga ia dapat mempelajari dengan sungguh-sungguh, kemudia ia memberikan landasan teoritis bagi sumbangan dalam perjuangan bangsa dan negara Indonesia, khususnya bidang militer serta masalah-masalah diplomasi dan politik yang terkait dengan perjuangan militer.8 &lt;i&gt;T. B. Simatupang&lt;/i&gt; setelah mendapat pengetahuan tentang perang dari pemikiran &lt;i&gt;Carl Von Clausewitz,&lt;/i&gt; kemudian Pengetahuan yang ia miliki tentang perang ia praktekkan dan ikut terlibat dalam pengorganisasian tentara dalam melakukan perang gerilya, dalam menumpas penjajah.9&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada pemikiran yang mempengaruhi intelektual T. B. Simatupang yaitu Karl Marx, untuk mempelajari tentang revolusi yang dibangun oleh Karl Marx tentang struktur sosial yang ada dalam masyarakat, perjuangan kelas sosial akan melukiskan revolusi, T. B. Simatupang sejak dari muda ia sudah mempelajari atau menambah wawasannya tentang revolusi yang dibangun oleh Karl Marx. Menurut Karl Marx revolusi harus dibedakan menjadi dua yaitu: revolusi politik dan revolusi sosial. Revolusi Politik apabila kekuasaan politik dipegang oleh kaum proletar (kelas bawah). Revolusi sosial, kaum proletar dapat memegang kekuasaan dari kaum borjuis, kekayaan-kekayaan yang dimiliki kaum borjuis dapat dimanfaatkan oleh kaum proletar untuk kepentingan dan perubahan yang ada dalam masyarakat , T. B. Simatupang mempelajari revolusi ini untuk mengetahui sebagai mana pentingnya perubahan-perubahan yang harus dilakukan dan tidak ada penindasan terhadap rakyat, semajak ia mempelajari revolusi nya Karl Marx dapat menambah rasa sosialismenya terhadap rakyat Indonesia atau bangsa Indonesia.10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1 Kesimpulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Menurut T.B. Simatupang hubungan Kristen&amp;nbsp; Protestan dengan Pancasila di Indonesia tidak terlepas dari beberapa aspek, yaitu :&lt;br /&gt;a. aspek sejarah&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Ditinjau dari sejarah bahwa hubungan Kristen Protestan dengan Pancasila tidak terlepas dari masa penjajahan Belanda yang membawa agama Kristen Protestan di Indonesia. Maka yang dulunya sebahagian rakyat Indonesia&amp;nbsp; yang sudah beragama Katolik di Protestankan oleh orang Belanda, maka rakyat Indonesia banyak yang menganut agama Kristen Protestan.&lt;br /&gt;Tercetusnya kemerdekaan Indonesia tidak terlepas dari perjuangan rakyat Indonesia, tidak terkecuali rakyat Indonesia yang sudah beragama Kristen Protestan ikut&amp;nbsp; memperjuangkan nagara ini dari tangan penjajah,tidak heran jika bangsa Indonesia sudah merdeka umat Kristen Protestan ikut juga dalam merumuskan dasar negara&amp;nbsp; Indonesia yitu Pancasila .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. aspek politik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gereja ditempatakan oleh Tuhan sendiri untuk melaksanakan tugas panggilannya dalam kontek sosial, politik, ekonomi dan budaya. Demikian halnya dengan gereja –gereja di Indonesia dipanggil dan ditempatkan oleh Tuhan&amp;nbsp; untuk melaksanakan panggilannya pada&amp;nbsp; bangsa dan negara&amp;nbsp;&amp;nbsp; Indonesia yang merdeka dan berdaulat berdasarkan Pancasila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negara Pancasila ruang bagi orang&amp;nbsp; Kristen Protestan dalam bidang politik tidak di batasi. Bagi orang Kristen Protestan berpartisipasi dalam bidang politik yang mempunyai jiwa kritis dan kreatif yang dapat disumbangkan sepenuhnya kepada perkembangan negara dan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. aspek agama &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam negara Pancasila setiap agama mempunyai tugas dan panggilan bersama dalam masyarakat, bangsa dan negara,seperti&amp;nbsp; agama Kristen Protestan&amp;nbsp; misalnya: dari segi teologi orang Kristen Protestan baik sendiri-sendiri&amp;nbsp; maupun dalam persekutuan ( gereja) mempunyai tanggung jawab dalam kehidupan masyarakat bangsa dan negara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pengaruh pemikiran T. B. Simatupang terhadap agama Kristen Protestan di Indonesia,&amp;nbsp; di bagi menjadi dua : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: meliputi pemahaman Kristen Protestan terhadap sila Ketuhanan Yang Maha Esa, yang merupakan suatu keputusan yang mutlak yang harus diterima oleh setiap agama-agama yang ada di Indonesia. Makna yang terkandung dari sila pertama bukanlah kepercayaan “Kepada Allah” tetapi lebih berarti kepercayaan kepada “Ide Ketuhanan” oleh karena itu kata yang dipakai bukan kata “Allah” tetapi lebih netral yaitu “Ketuhanan” kemudian ditambah Keesaan dan Kemahaan.&lt;br /&gt;Dengan demikian sila Ketuhanan Yang Maha Esa, bukan hanya sebagai alat pemersatu bangsa, tetapi juga merupakan manifestasi kepribadian bangsa bagi setiap orang yang mengaku dirinya orang yang beragma.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, meliputi partisipasi gereja dalam membangun bengsa Indonesia sebagai pengamalan Pancasila. Tugas penggilan gereja dalam membangun bangsa ini tidak hanya tertuju pada pembangunan nasional saja, akan tapi&amp;nbsp; mengajak kepada semua warga Indonesia untuk bersama-sama dalam&amp;nbsp; membangun dan mengatasi bangsa yang tercinta ini dari ketertindasan&amp;nbsp; dan kemiskinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2Saran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila, maka setiap agama harus menerima Pancasila sebagai dasar negara, maka dari itu jangan sampai ada suatu golongan umat beragama yang ingin menggantikan dasar negara Pancasila dengan dasar yang lain. Oleh karena itu setiap agama yang ada di Indonesia harus mengakui Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia.&lt;br /&gt;2. Penulis menyarankan kepada setiap jurusan di MA.MAMBAUL ULUM 2 bahwasanya makalah-makalah yang lama yang terdapat di ruang guru supaya di susun dengan rapi atau disimpan dalam almari khusus supaya tidak acak-acakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aminah, Wiwin Siti (dkk.). Sejarah Teologi dan Etika Agama-Agama .Yogyakarta: Dian/Interpedi, 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bakry,Hasbulah. Ilmu Perbandingan Agama . Jakarta : Widjaya, 1986&lt;br /&gt;Basyir, Ahmad Azhar. Hubungan Agama dan Pancasila .Yogyakarta: Fakultas Hukum UII, 1985&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daman, Rozikin. Pancasila Dasar Falsafah Negara . Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1995&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darmaputra, Eka. Pancasila Identitas dan Modernitas, Tinjauan Etis dan Budaya. Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 1997&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darmodihardjo, Darji. Pancasila Suatu Orientasi Singkat.&amp;nbsp; Malang: Lembaga Penerbit Universitas Brawijaya, 1979&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----------.( dkk .). Santiaji Pancasila. Surabaya: Usaha Nasional, 1991&lt;br /&gt;Efendy,Bahtiar. Masyarakat Agama dan Pluralisme Keagamaan Perbincangan Mengenai Islam, Masyarakat Madani, dan Etos Kewirausahaan. Yogyakarta: Galang Press, 2001&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Green, Clifford . Karl Barth, Teologi Kemerdekaan: kumpulan cuplikan Karya Karl Bath, ( terj ) Marie Claire Barth . Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 1989&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanggoro, Wisnu Tri (edit.). Bunga Rampai Pancasila .Yogyakarta: Taman Pustaka Kristen, 1986&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hitti, Philip K. Dunia Arab; Sejarah Ringkas (terj) Usuludin Hutagalung dan Sihombing. Bandung: Sumur Bandung , 1970&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hoekema, A.G. Berfikir dalam Keseimbangan yang Dinamis Sejarah Lahirnya Teologi Protestan Nasional di Indonesia( 1860-) 1960)&amp;nbsp; ( terj.). Ny. Susilaradeya. Jakarta : BPK. Gunung Mulia, 1997&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ismail , Faisal. Ideologi Hegemoni dan Otoritas Agama, Wacana Ketegangan Kreatif Isalan dan Pancasila .Yogyakarta: Tiara Wacana, 1999&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8581253918985038641-349575523253773525?l=haryantotips.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=J4tWiDgb6f8:86BPOIL1XUY:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=J4tWiDgb6f8:86BPOIL1XUY:63t7Ie-LG7Y"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=63t7Ie-LG7Y" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=J4tWiDgb6f8:86BPOIL1XUY:dnMXMwOfBR0"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=dnMXMwOfBR0" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=J4tWiDgb6f8:86BPOIL1XUY:V_sGLiPBpWU"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?i=J4tWiDgb6f8:86BPOIL1XUY:V_sGLiPBpWU" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=J4tWiDgb6f8:86BPOIL1XUY:7Q72WNTAKBA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=7Q72WNTAKBA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=J4tWiDgb6f8:86BPOIL1XUY:F7zBnMyn0Lo"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?i=J4tWiDgb6f8:86BPOIL1XUY:F7zBnMyn0Lo" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=J4tWiDgb6f8:86BPOIL1XUY:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=J4tWiDgb6f8:86BPOIL1XUY:KwTdNBX3Jqk"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?i=J4tWiDgb6f8:86BPOIL1XUY:KwTdNBX3Jqk" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=J4tWiDgb6f8:86BPOIL1XUY:l6gmwiTKsz0"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=l6gmwiTKsz0" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=J4tWiDgb6f8:86BPOIL1XUY:gIN9vFwOqvQ"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?i=J4tWiDgb6f8:86BPOIL1XUY:gIN9vFwOqvQ" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://haryantotips.blogspot.com/2011/12/hubungan-agama-kristen-protestan-dengan.html</feedburner:origLink></item><item><title>HAK ASASI MANUSIA</title><link>http://feedproxy.google.com/~r/Haryantotips/~3/qoMKqPRBOGA/hak-asasi-manusia.html</link><author>noreply@blogger.com (KELAS XII IPS 1 TAHUN 2009/2010)</author><pubDate>Thu, 12 Jan 2012 23:41:19 PST</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-8581253918985038641.post-3583912898674786491</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5CMaGiS%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5CMaGiS%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_editdata.mso" rel="Edit-Time-Data"&gt;&lt;/link&gt;&lt;!--[if !mso]&gt; &lt;style&gt;v\:* {behavior:url(#default#VML);}o\:* {behavior:url(#default#VML);}w\:* {behavior:url(#default#VML);}.shape {behavior:url(#default#VML);}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:OfficeDocumentSettings&gt;   &lt;o:TargetScreenSize&gt;800x600&lt;/o:TargetScreenSize&gt;  &lt;/o:OfficeDocumentSettings&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5CMaGiS%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5CMaGiS%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:EnableOpenTypeKerning/&gt;    &lt;w:DontFlipMirrorIndents/&gt;    &lt;w:OverrideTableStyleHps/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:BrowserLevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="&amp;#45;-"/&gt;    &lt;m:smallFrac m:val="off"/&gt;    &lt;m:dispDef/&gt;    &lt;m:lMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:rMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:defJc m:val="centerGroup"/&gt;    &lt;m:wrapIndent m:val="1440"/&gt;    &lt;m:intLim m:val="subSup"/&gt;    &lt;m:naryLim m:val="undOvr"/&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"  LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" Name="Hyperlink"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" Name="Normal (Web)"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt;&lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Wingdings; panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:2; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;}@font-face {font-family:Wingdings; panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:2; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman","serif"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}p.MsoHeader, li.MsoHeader, div.MsoHeader {mso-style-priority:99; mso-style-unhide:no; mso-style-link:"Header Char"; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; tab-stops:center 225.65pt right 451.3pt; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman","serif"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter {mso-style-priority:99; mso-style-unhide:no; mso-style-link:"Footer Char"; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; tab-stops:center 225.65pt right 451.3pt; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman","serif"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}a:link, span.MsoHyperlink {mso-style-unhide:no; color:blue; text-decoration:underline; text-underline:single;}a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed {mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; color:purple; mso-themecolor:followedhyperlink; text-decoration:underline; text-underline:single;}p {mso-style-unhide:no; mso-margin-top-alt:auto; margin-right:0in; mso-margin-bottom-alt:auto; margin-left:0in; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman","serif"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}p.MsoListParagraph, li.MsoListParagraph, div.MsoListParagraph {mso-style-priority:34; mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:0in; margin-left:.5in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman","serif"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}span.HeaderChar {mso-style-name:"Header Char"; mso-style-priority:99; mso-style-unhide:no; mso-style-locked:yes; mso-style-link:Header; mso-ansi-font-size:12.0pt; mso-bidi-font-size:12.0pt;}span.FooterChar {mso-style-name:"Footer Char"; mso-style-priority:99; mso-style-unhide:no; mso-style-locked:yes; mso-style-link:Footer; mso-ansi-font-size:12.0pt; mso-bidi-font-size:12.0pt;}.MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt;}@page WordSection1 {size:612.1pt 935.55pt; margin:1.0in 89.85pt 1.0in 89.85pt; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; border:windowtext 24.0pt; mso-page-border-art:white-flowers; padding:24.0pt 24.0pt 24.0pt 24.0pt; mso-paper-source:0;}div.WordSection1 {page:WordSection1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:277566381; mso-list-template-ids:-1032399502;}@list l0:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Symbol;}@list l0:level2 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:o; mso-level-tab-stop:1.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:"Courier New"; mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}@list l0:level3 {mso-level-tab-stop:1.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;}@list l0:level4 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:2.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Wingdings;}@list l0:level5 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:2.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Wingdings;}@list l0:level6 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:3.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Wingdings;}@list l0:level7 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:3.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Wingdings;}@list l0:level8 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:4.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Wingdings;}@list l0:level9 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:4.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Wingdings;}@list l1 {mso-list-id:392890066; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1904036944 69271559 69271555 69271557 69271553 69271555 69271557 69271553 69271555 69271557;}@list l1:level1 {mso-level-number-format:image; list-style-image:url("file:///C:/Users/MaGiS/AppData/Local/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif"); mso-level-text:; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:50.2pt; text-indent:-.25in; font-family:Symbol;}@list l1:level2 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:o; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:86.2pt; text-indent:-.25in; font-family:"Courier New";}@list l1:level3 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:122.2pt; text-indent:-.25in; font-family:Wingdings;}@list l1:level4 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:158.2pt; text-indent:-.25in; font-family:Symbol;}@list l1:level5 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:o; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:194.2pt; text-indent:-.25in; font-family:"Courier New";}@list l1:level6 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:230.2pt; text-indent:-.25in; font-family:Wingdings;}@list l1:level7 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:266.2pt; text-indent:-.25in; font-family:Symbol;}@list l1:level8 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:o; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:302.2pt; text-indent:-.25in; font-family:"Courier New";}@list l1:level9 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:338.2pt; text-indent:-.25in; font-family:Wingdings;}@list l2 {mso-list-id:616176444; mso-list-template-ids:467181532;}@list l2:level1 {mso-level-tab-stop:78.6pt; mso-level-number-position:left; margin-left:78.6pt; text-indent:-.25in;}@list l2:level2 {mso-level-tab-stop:114.6pt; mso-level-number-position:left; margin-left:114.6pt; text-indent:-.25in;}@list l2:level3 {mso-level-tab-stop:150.6pt; mso-level-number-position:left; margin-left:150.6pt; text-indent:-.25in;}@list l2:level4 {mso-level-tab-stop:186.6pt; mso-level-number-position:left; margin-left:186.6pt; text-indent:-.25in;}@list l2:level5 {mso-level-tab-stop:222.6pt; mso-level-number-position:left; margin-left:222.6pt; text-indent:-.25in;}@list l2:level6 {mso-level-tab-stop:258.6pt; mso-level-number-position:left; margin-left:258.6pt; text-indent:-.25in;}@list l2:level7 {mso-level-tab-stop:294.6pt; mso-level-number-position:left; margin-left:294.6pt; text-indent:-.25in;}@list l2:level8 {mso-level-tab-stop:330.6pt; mso-level-number-position:left; margin-left:330.6pt; text-indent:-.25in;}@list l2:level9 {mso-level-tab-stop:366.6pt; mso-level-number-position:left; margin-left:366.6pt; text-indent:-.25in;}@list l3 {mso-list-id:653336253; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1884393146 69271563 69271555 69271557 69271553 69271555 69271557 69271553 69271555 69271557;}@list l3:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:Wingdings;}@list l3:level2 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:o; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:"Courier New";}@list l3:level3 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:Wingdings;}@list l3:level4 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:Symbol;}@list l3:level5 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:o; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:"Courier New";}@list l3:level6 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:Wingdings;}@list l3:level7 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:Symbol;}@list l3:level8 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:o; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:"Courier New";}@list l3:level9 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:Wingdings;}@list l4 {mso-list-id:1481456153; mso-list-template-ids:285102128;}@list l4:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Symbol;}@list l4:level2 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:o; mso-level-tab-stop:1.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:"Courier New"; mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}@list l4:level3 {mso-level-tab-stop:1.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;}@list l4:level4 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:2.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Wingdings;}@list l4:level5 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:2.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Wingdings;}@list l4:level6 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:3.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Wingdings;}@list l4:level7 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:3.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Wingdings;}@list l4:level8 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:4.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Wingdings;}@list l4:level9 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:4.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Wingdings;}@list l5 {mso-list-id:1513454541; mso-list-template-ids:1823480302;}@list l5:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Symbol;}@list l5:level2 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:o; mso-level-tab-stop:1.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:"Courier New"; mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}@list l5:level3 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:1.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Wingdings;}@list l5:level4 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:2.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Wingdings;}@list l5:level5 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:2.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Wingdings;}@list l5:level6 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:3.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Wingdings;}@list l5:level7 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:3.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Wingdings;}@list l5:level8 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:4.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Wingdings;}@list l5:level9 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:4.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Wingdings;}@list l6 {mso-list-id:1600288694; mso-list-template-ids:-1040427050;}@list l6:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Symbol;}@list l6:level2 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:o; mso-level-tab-stop:1.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:"Courier New"; mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}@list l6:level3 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:1.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Wingdings;}@list l6:level4 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:2.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Wingdings;}@list l6:level5 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:2.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Wingdings;}@list l6:level6 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:3.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Wingdings;}@list l6:level7 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:3.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Wingdings;}@list l6:level8 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:4.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Wingdings;}@list l6:level9 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:4.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Wingdings;}@list l7 {mso-list-id:1628706495; mso-list-template-ids:-1986514156;}@list l7:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Symbol;}@list l7:level2 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:o; mso-level-tab-stop:1.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:"Courier New"; mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}@list l7:level3 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:1.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Wingdings;}@list l7:level4 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:2.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Wingdings;}@list l7:level5 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:2.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Wingdings;}@list l7:level6 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:3.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Wingdings;}@list l7:level7 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:3.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Wingdings;}@list l7:level8 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:4.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Wingdings;}@list l7:level9 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:4.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Wingdings;}@list l8 {mso-list-id:1757630409; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:809299206 69271561 69271555 69271557 69271553 69271555 69271557 69271553 69271555 69271557;}@list l8:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:Wingdings;}@list l8:level2 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:o; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:"Courier New";}@list l8:level3 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:Wingdings;}@list l8:level4 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:Symbol;}@list l8:level5 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:o; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:"Courier New";}@list l8:level6 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:Wingdings;}@list l8:level7 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:Symbol;}@list l8:level8 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:o; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:"Courier New";}@list l8:level9 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; font-family:Wingdings;}@list l9 {mso-list-id:1773159261; mso-list-template-ids:472965342;}@list l9:level1 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Symbol;}@list l9:level2 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:o; mso-level-tab-stop:1.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:"Courier New"; mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}@list l9:level3 {mso-level-tab-stop:1.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;}@list l9:level4 {mso-level-tab-stop:2.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;}@list l9:level5 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:2.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Wingdings;}@list l9:level6 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:3.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Wingdings;}@list l9:level7 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:3.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Wingdings;}@list l9:level8 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:4.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Wingdings;}@list l9:level9 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:; mso-level-tab-stop:4.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:Wingdings;}@list l10 {mso-list-id:1816489524; mso-list-template-ids:137539492;}@list l10:level1 {mso-level-start-at:7; mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;}@list l10:level2 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:o; mso-level-tab-stop:1.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in; mso-ansi-font-size:10.0pt; font-family:"Courier New"; mso-bidi-font-family:"Times New Roman";}@list l10:level3 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:1.5in; mso-level-number-position:right; text-indent:-.25in;}@list l10:level4 {mso-level-tab-stop:2.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;}@list l10:level5 {mso-level-tab-stop:2.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;}@list l10:level6 {mso-level-tab-stop:3.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;}@list l10:level7 {mso-level-tab-stop:3.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;}@list l10:level8 {mso-level-tab-stop:4.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;}@list l10:level9 {mso-level-tab-stop:4.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;}@list l11 {mso-list-id:1860510981; mso-list-template-ids:-694279518;}@list l11:level1 {mso-level-tab-stop:.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;}@list l11:level2 {mso-level-tab-stop:1.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;}@list l11:level3 {mso-level-tab-stop:1.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;}@list l11:level4 {mso-level-tab-stop:2.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;}@list l11:level5 {mso-level-tab-stop:2.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;}@list l11:level6 {mso-level-tab-stop:3.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;}@list l11:level7 {mso-level-tab-stop:3.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;}@list l11:level8 {mso-level-tab-stop:4.0in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;}@list l11:level9 {mso-level-tab-stop:4.5in; mso-level-number-position:left; text-indent:-.25in;}ol {margin-bottom:0in;}ul {margin-bottom:0in;}--&gt;&lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin:0in; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman","serif";}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div align="center" style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 18pt; line-height: 200%;"&gt;BAB &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 18pt; line-height: 200%;"&gt;I&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 200%;"&gt;PENDAHULUAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 16pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;A. &lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Latar Belakang Masalah &lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: 21.25pt;"&gt;Hak merupakan unsur normatif yang melekat pada diri setiap manusia yang dalam penerapannya berada pada ruang lingkup hak persamaan dan hak kebebasan yang terkait dengan interaksinya antara individu atau dengan instansi. Hak juga merupakan sesuatu yang harus diperoleh. Masalah HAM adalah sesuatu hal yang sering kali dibicarakan dan dibahas terutama dalam era reformasi ini. HAM lebih dijunjung tinggi dan lebih diperhatikan dalam era reformasi dari pada era sebelum reformasi. Perlu diingat bahwa dalam hal pemenuhan hak, kita hidup tidak sendiri dan kita hidup bersosialisasi dengan orang lain. Jangan sampai kita melakukan pelanggaran HAM terhadap orang lain dalam usaha perolehan atau pemenuhan HAM pada diri kita sendiri. Dalam hal ini penulis merasa tertarik untuk membuat makalah tentang HAM. Maka dengan ini penulis mengambil judul “Hak Asasi Manusia”. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;B. &lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Identifikasi Masalah&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 14.2pt; text-indent: 14.15pt;"&gt;Dalam makalah ini penulis mengidentifikasi masalah sebagai berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-indent: 14.2pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Pengertian HAM&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-indent: 14.2pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Perkembangan HAM&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-indent: 14.2pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span&gt;3.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;HAM dalam tinjauan Islam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-indent: 14.2pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span&gt;4.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Contoh-contoh pelanggaran HAM&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;C.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Batasan Masalah &lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Agar masalah pembahasan tidak terlalu luas dan lebih terfokus pada masalah dan tujuan dalam hal ini pembuatan makalah ini, maka dengan ini penyusun membatasi masalah hanya pada ruang lingkup HAM.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;D.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Metode Pembahasan&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-indent: 42.55pt;"&gt;Dalam hal ini penulis menggunakan: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: 0in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Metode deskritif, sebagaimana ditunjukan oleh namanya, pembahasan ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang suatu masyarakat atau kelompok orang tertentu atau gambaran tentang suatu gejala atau hubungan antara dua gejala atau lebih (Atherton dan Klemmack: 1982).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: 0in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Penelitian kepustakaan, yaitu Penelitian yang dilakukan melalui kepustakaan, mengumpulkan data-data dan keterangan melalui buku-buku dan bahan lainnya yang ada hubungannya dengan masalah-masalah yang diteliti.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 18pt; line-height: 200%;"&gt;BAB II&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 200%;"&gt;HAK ASASI MANUSIA (HAM)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;b&gt;Pengertian&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;,&lt;/span&gt; Ciri Pokok Hakikat HAM&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;, dan Perkembangan Pemikiran HAM&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;A.&lt;span&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;Pengertian&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt; HAM&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -7.1pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; font-size: 10pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;HAM adalah hak-hak dasar yang dimiliki oleh manusia, sesuai dengan kodratnya (Kaelan: 2002).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -7.1pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; font-size: 10pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Menurut pendapat Jan Materson (dari komisi HAM PBB), dalam Teaching Human Rights, United Nations sebagaimana dikutip Baharuddin Lopa menegaskan bahwa HAM adalah hak-hak yang melekat pada setiap manusia, yang tanpanya manusia mustahil dapat hidup sebagai manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -7.1pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; font-size: 10pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;John Locke menyatakan bahwa HAM adalah hak-hak yang diberikan langsung oleh Tuhan Yang Maha Pencipta sebagai hak yang kodrati. (Mansyur Effendi, 1994).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 21.3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -7.1pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; font-size: 10pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Dalam pasal 1 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM disebutkan bahwa “Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakekat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah dan setiap orang, demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;B. &lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Ciri Pokok Hakikat HAM&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 21.3pt; text-align: justify; text-indent: 14.15pt;"&gt;Berdasarkan beberapa rumusan HAM di atas, dapat ditarik kesimpulan tentang beberapa ciri pokok hakikat HAM yaitu:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -7.1pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; font-size: 10pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;HAM tidak perlu diberikan, dibeli ataupun diwarisi. HAM adalah bagian dari manusia secara otomatis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 21.3pt; text-align: justify; text-indent: -7.1pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; font-size: 10pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;HAM berlaku untuk semua orang tanpa memandang jenis kelamin, ras, agama, etnis, pandangan politik atau asal-usul sosial dan bangsa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 28.35pt; text-align: justify; text-indent: -14.15pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; font-size: 10pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;HAM tidak bisa dilanggar. Tidak seorangpun mempunyai hak untuk membatasi atau melanggar hak orang lain. Orang tetap mempunyai HAM walaupun sebuah Negara membuat hukum yang tidak melindungi atau melanggar HAM (Mansyur Fakih, 2003). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;C. &lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Perkembangan Pemikiran HAM&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-indent: 14.2pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; font-size: 10pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Dibagi dalam 4 generasi, yaitu :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: 14.15pt;"&gt;Generasi pertama berpendapat bahwa pemikiran HAM hanya berpusat pada bidang hukum dan politik. Fokus pemikiran HAM generasi pertama pada bidang hukum dan politik disebabkan oleh dampak dan situasi perang dunia II, totaliterisme dan adanya keinginan Negara-negara yang baru merdeka untuk menciptakan sesuatu tertib hukum yang baru.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: 14.15pt;"&gt;Generasi kedua pemikiran HAM tidak saja menuntut hak yuridis melainkan juga hak-hak sosial, ekonomi, politik dan budaya. Jadi pemikiran HAM generasi kedua menunjukan perluasan pengertian konsep dan cakupan hak asasi manusia. Pada masa generasi kedua, hak yuridis kurang mendapat penekanan sehingga terjadi ketidakseimbangan dengan hak sosial-budaya, hak ekonomi dan hak politik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: 14.15pt;"&gt;Generasi ketiga sebagai reaksi pemikiran HAM generasi kedua. Generasi ketiga menjanjikan adanya kesatuan antara hak ekonomi, sosial, budaya, politik dan hukum dalam suatu keranjang yang disebut dengan hak-hak melaksanakan pembangunan. Dalam pelaksanaannya hasil pemikiran HAM generasi ketiga juga mengalami ketidakseimbangan dimana terjadi penekanan terhadap hak ekonomi dalam arti pembangunan ekonomi menjadi prioritas utama, sedangkan hak lainnya terabaikan sehingga menimbulkan banyak korban, karena banyak hak-hak rakyat lainnya yang dilanggar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: 14.15pt;"&gt;Generasi keempat yang mengkritik peranan negara yang sangat dominant dalam proses pembangunan yang terfokus pada pembangunan ekonomi dan menimbulkan dampak negative seperti diabaikannya aspek kesejahteraan rakyat. Selain itu program pembangunan yang dijalankan tidak berdasarkan kebutuhan rakyat secara keseluruhan melainkan memenuhi kebutuhan sekelompok elit. Pemikiran HAM generasi keempat dipelopori oleh Negara-negara di kawasan Asia yang pada tahun 1983 melahirkan deklarasi hak asasi manusia yang disebut &lt;i&gt;Declaration of the basic Duties of Asia People and Government&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-indent: 14.2pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; font-size: 10pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;span&gt;·&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;Perkembangan pemikiran HAM dunia bermula dari:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 50.2pt; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span&gt;&lt;img alt="*" height="13" src="file:///C:/Users/MaGiS/AppData/Local/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif" width="13" /&gt;&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Magna Charta&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 21.3pt; text-align: justify; text-indent: 35.45pt;"&gt;Pada umumnya para pakar di Eropa berpendapat bahwa lahirnya HAM di kawasan Eropa dimulai dengan lahirnya magna Charta yang antara lain memuat pandangan bahwa raja yang tadinya memiliki kekuasaan absolute (raja yang menciptakan hukum, tetapi ia sendiri tidak terikat dengan hukum yang dibuatnya), menjadi dibatasi kekuasaannya dan mulai dapat diminta pertanggung jawabannya dimuka hukum(Mansyur Effendi,1994).&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 21.3pt; text-indent: 35.45pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 50.2pt; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span&gt;&lt;img alt="*" height="13" src="file:///C:/Users/MaGiS/AppData/Local/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif" width="13" /&gt;&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;The American declaration&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 21.3pt; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt;Perkembangan HAM selanjutnya ditandai dengan munculnya The American Declaration of Independence yang lahir dari paham Rousseau dan Montesquuieu. Mulailah dipertegas bahwa manusia adalah merdeka sejak di dalam perut ibunya, sehingga tidaklah logis bila sesudah lahir ia harus dibelenggu. &lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 21.3pt; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 50.2pt; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span&gt;&lt;img alt="*" height="13" src="file:///C:/Users/MaGiS/AppData/Local/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif" width="13" /&gt;&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;The French declaration&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 21.3pt; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt;Selanjutnya, pada tahun 1789 lahirlah The French Declaration (Deklarasi Perancis), dimana ketentuan tentang hak lebih dirinci lagi sebagaimana dimuat dalam The Rule of Law yang antara lain berbunyi tidak boleh ada penangkapan tanpa alasan yang sah. Dalam kaitan itu berlaku prinsip presumption of innocent, artinya orang-orang yang ditangkap, kemudian ditahan dan dituduh, berhak dinyatakan tidak bersalah, sampai ada keputusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap yang menyatakan ia bersalah. &lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 50.2pt; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Symbol;"&gt;&lt;span&gt;&lt;img alt="*" height="13" src="file:///C:/Users/MaGiS/AppData/Local/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif" width="13" /&gt;&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;The four freedom&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 21.3pt; text-align: justify; text-indent: 21.25pt;"&gt;Ada empat hak kebebasan berbicara dan menyatakan pendapat, hak kebebasan memeluk agama dan beribadah sesuai dengan ajaran agama yang diperlukannya, hak kebebasan dari kemiskinan dalam Pengertian setiap bangsa berusaha mencapai tingkat kehidupan yang damai dan sejahtera bagi penduduknya, hak kebebasan dari ketakutan, yang meliputi usaha, pengurangan persenjataan, sehingga tidak satupun bangsa berada dalam posisi berkeinginan untuk melakukan serangan terhadap Negara lain ( Mansyur Effendi,1994). &lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 21.3pt; text-align: justify; text-indent: 21.25pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-indent: 14.2pt;"&gt;&lt;b&gt;Perkembangan pemikiran HAM di Indonesia&lt;/b&gt;:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 28.35pt; text-align: justify; text-indent: -7.05pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;Ø&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Pemikiran HAM periode sebelum kemerdekaan yang paling menonjol pada Indische Partij adalah hak untuk mendapatkan kemerdekaan serta mendapatkan perlakukan yang sama hak kemerdekaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 28.35pt; text-align: justify; text-indent: -7.05pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;Ø&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Sejak kemerdekaan tahun 1945 sampai sekarang di Indonesia telah berlaku 3 UUD dalam 4 periode, yaitu:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 42.55pt; text-indent: -14.15pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Periode 18 Agustus 1945 sampai 27 Desember 1949, berlaku UUD 1945&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -14.15pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Periode 27 Desember 1949 sampai 17 Agustus 1950, berlaku konstitusi Republik Indonesia Serikat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 42.55pt; text-indent: -14.15pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span&gt;3.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Periode 17 Agustus sampai 5 Juli 1959, berlaku UUD 1950&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 42.55pt; text-indent: -14.15pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span&gt;4.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Periode 5 Juli 1959 sampai sekarang, berlaku Kembali UUD 1945&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 16pt; line-height: 200%;"&gt;BAB III&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 16pt; line-height: 200%;"&gt;Pandangan Hak Asasi Manusia ( HAM )&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;A. &lt;/span&gt;HAM Dalam Tinjauan Islam&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: 21.8pt;"&gt;Adanya ajaran tentang HAM dalam Islam menunjukan bahwa Islam sebagai agama telah menempatkan manusia sebagai makhluk terhormat dan mulia. Oleh karena itu, perlindungan dan penghormatan terhadap manusia merupakan tuntutan ajaran itu sendiri yang wajib dilaksanakan oleh umatnya terhadap sesama manusia tanpa terkecuali. Hak-hak yang diberikan Allah itu bersifat permanent, kekal dan abadi, tidak boleh dirubah atau dimodifikasi (Abu A’la Almaududi, 1998). Dalam Islam terdapat dua konsep tentang hak, yakni hak manusia (hak al insan) dan hak Allah. Setiap hak itu saling melandasi satu sama lain. Hak Allah melandasi manusia dan juga sebaliknya. Dalam aplikasinya, tidak ada satupun hak yang terlepas dari kedua hak tersebut, misalnya sholat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: 21.8pt;"&gt;Sementara dalam hal al insan seperti hak kepemilikan, setiap manusia berhak untuk mengelola harta yang dimilikinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: 21.8pt;"&gt;Konsep islam mengenai kehidupan manusia didasarkan pada pendekatan teosentris (theocentries) atau yang menempatkan Allah melalui ketentuan syariatnya sebagai tolak ukur tentang baik buruk tatanan kehidupan manusia baik sebagai pribadi maupun sebagai warga masyarakjat atau warga bangsa. Dengan demikian konsep Islam tentang HAM berpijak pada ajaran tauhid. Konsep tauhid mengandung ide persamaan dan persaudaraan manusia. Konsep tauhid juga mencakup ide persamaan dan persatuan semua makhluk yang oleh Harun Nasution dan Bahtiar Effendi disebut dengan ide perikemakhlukan. Islam datang secara inheren membawa ajaran tentang HAM, ajaran islam tentang HAM dapat dijumpai dalam sumber utama ajaran islam yaitu al-Qur’an dan al-Hadits yang merupakan sumber ajaran normative, juga terdapat praktek kehidupan umat islam. &lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: 21.8pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;Dilihat dari tingkatannya, ada 3 bentuk HAM dalam Islam, pertama, Hak &lt;i&gt;Darury&lt;/i&gt; (hak dasar). Sesuatu dianggap hak dasar apabila hak tersebut dilanggar, bukan hanya membuat manusia sengsara, tetapi juga eksistensinya bahkan hilang harkat kemanusiaannya. Sebagai misal, bila hak hidup dilanggar maka berarti orang itu mati. Kedua, hak sekunder (&lt;i&gt;hajy&lt;/i&gt;) yakni hak-hak yang bila tidak dipenuhi akan berakibat hilangnya hak-hak elementer misalnya, hak seseorang untuk memperoleh sandang pangan yang layak maka akan mengakibatkan hilangnya hak hidup. Ketiga hak tersier &lt;i&gt;(tahsiny)&lt;/i&gt; yakni hak yang tingkatannya lebih rendah dari hak primer dan sekunder (Masdar F. Mas’udi, 2002) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 21.3pt; text-align: justify; text-indent: 14.7pt;"&gt;Mengenai HAM yang berkaitan dengan hak-hak warga Negara, Al Maududi menjelaskan bahwa dalam Islam hak asasi pertama dan utama warga negara adalah:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 28.35pt; text-align: justify; text-indent: -7.05pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Melindungi nyawa, harta dan martabat mereka bersama-sama dengan jaminan bahwa hak ini tidak kami dicampuri, kecuali dengan alasan-alasan yang sah dan ilegal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 28.35pt; text-align: justify; text-indent: -7.05pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Perlindungan atas kebebasan pribadi. Kebebasan pribadi tidak bisa dilanggar kecuali setelah melalui proses pembuktian yang meyakinkan secara hukum dan memberikan kesempatan kepada tertuduh untuk mengajukan pembelaan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 28.35pt; text-align: justify; text-indent: -7.05pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span&gt;3.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Kemerdekaan mengemukakan pendapat serta menganut keyakinan masing-masing &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 28.35pt; text-align: justify; text-indent: -7.05pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span&gt;4.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Jaminan pemenuhan kebutuhan pokok bagi semua warga negara tanpa membedakan kasta atau keyakinan. Salah satu kewajiban zakat kepada umat Islam, salah satunya untuk memenuhi kebutuhan pokok warga negara. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 28.35pt; text-indent: 14.2pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;B. &lt;/span&gt;HAM Dalam Perundang-Undangan Nasional&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: 21.25pt;"&gt;Dalam perundang-undangan RI paling tidak terdapat bentuk hukum tertulis yang memuat aturan tentang HAM. Pertama, dalam konstitusi (UUD Negara). Kedua, dalam ketetapan MPR (TAP MPR). Ketiga, dalam Undang-undang. Keempat, dalam peraturan pelaksanaan perundang-undangan seperti peraturan pemerintah, keputusan presiden dan peraturan pelaksanaan lainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: 21.25pt;"&gt;Kelebihan pengaturan HAM dalam konstitusi memberikan jaminan yang sangat kuat karena perubahan dan atau penghapusan satu pasal dalam konstitusi seperti dalam ketatanegaraan di Indonesia mengalami proses yang sangat berat dan panjang, antara lain melalui amandemen dan referendum, sedangkan kelemahannya karena yang diatur dalam konstitusi hanya memuat aturan yang masih global seperti ketentuan tentang HAM dalam konstitusi RI yang masih bersifat global. Sementara itu bila pengaturan HAM dalam bentuk Undang-undang dan peraturan pelaksanaannya kelemahannya, pada kemungkinan seringnya mengalami perubahan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;C. &lt;/span&gt;Pelanggaran HAM dan pengadilan HAM&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: 21.25pt;"&gt;Pelanggaran HAM adalah setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang termasuk aparat negara baik disengaja ataupun tidak disengaja atau kelalaian yang secara hukum mengurangi, menghalangi, membatasi dan atau mencabut HAM seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh Undang-Undang ini, dan tidak didapatkan atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian hukum yang berlaku (UU No. 26/2000 tentang pengadilan HAM). Sedangkan bentuk pelanggaran HAM ringan selain dari kedua bentuk pelanggaran HAM berat itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: 21.25pt;"&gt;Kejahatan genosida adalah setiap perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok bangsa, ras, kelompok etnis dan kelompok agama. Kejahatan genosida dilakukan dengan cara membunuh anggota kelompok, mengakibatkan penderitaan fisik atau mental yang berat terhadap anggota-anggota kelompok, menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang akan mengakibatkan kemusnahan secara fisik baik seluruh atau sebagiannya, memaksakan tindakan-tindakan yang bertujuan mencegah kelahiran di dalam kelompok, dan memindahkan secara paksa anak-anak dari kelompok tertentu ke kelompok lain (UU No. 26/2000 tentang pengadilan HAM).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: 21.25pt;"&gt;Sementara itu kejahatan kemanusiaan adalah salah satu perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan yang meluas atau sistematik yang diketahuinya bahwa serangan tersebut tujukan secara langsung terhadap penduduk sipil berupa pembunuhan, pemusnahan, perbudakan, pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa, perampasan kemerdekaan atau perampasan kebebasan fisik lain secara sewenang-wenang yang melanggar (asas-asas) ketentuan pokok hukum internasional, penyiksaan, perkosaan, perbudakan seksual, pelacuran secara paksa atau bentuk-bentuk kekerasan seksual lain yang setara, penganiayaan terhadap suatu kelompok tertentu atau perkumpulan yang didasari persamaan paham politik, ras, kebangsaan, etnis, budaya, agama, jenis kelamin atau alasan lain yang telah diakui secara universal sebagai hal yang dilarang menurut hukum internasional, penghilangan orang secara paksa, dan kejahatan apartheid.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: 21.25pt;"&gt;Pelanggaran terhadap HAM dapat dilakukan oleh baik aparatur negara maupun bukan aparatur negara (UU No. 26/2000 tentang pengadilan HAM). Karena itu penindakan terhadap pelanggaran HAM tidak boleh hanya ditujukan terhadap aparatur negara, tetapi juga pelanggaran yang dilakukan bukan oleh aparatur negara. Penindakan terhadap pelanggaran HAM mulai dari penyelidikan, penuntutan, dan persidangan terhadap pelanggaran yang terjadi harus bersifat non-diskriminatif dan berkeadilan. Pengadilan HAM merupakan pengadilan khusus yang berada di lingkungan pengadilan umum. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;b&gt;Penaggung jawab dalam penegakan (respection), pemajuan (promotion), perlindungan (protection) dan pemenuhan (fulfill) HAM.&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: 21.8pt;"&gt;Tanggung jawab pemajuan, penghormatan dan perlindungan HAM tidak saja dibebankan kepada negara, melainkan juga kepada individu warga negara. Artinya negara dan individu sama-sama memiliki tanggung jawab terhadap pemajuan, penghormatan dan perlindungan HAM. Karena itu, pelanggaran HAM sebenarnya tidak saja dilakukan oleh negara kepada rakyatnya, melainkan juga oleh rakyat kepada rakyat yang disebut dengan pelanggaran HAM secara horizontal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;b&gt;Contoh-Contoh Kasus Pelanggaran HAM &lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -14.15pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Terjadinya penganiayaan pada praja STPDN oleh seniornya dengan dalih pembinaan yang menyebabkan meninggalnya Klip Muntu pada tahun 2003.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -14.15pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span&gt;2.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Dosen yang malas masuk kelas atau malas memberikan penjelasan pada suatu mata kuliah kepada mahasiswa merupakan pelanggaran HAM ringan kepada setiap mahasiswa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -14.15pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span&gt;3.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Para pedagang yang berjualan di trotoar merupakan pelanggaran HAM terhadap para pejalan kaki, sehingga menyebabkan para pejalan kaki berjalan di pinggir jalan sehingga sangat rentan terjadi kecelakaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -14.15pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span&gt;4.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;Para pedagang tradisioanal yang berdagang di pinggir jalan merupakan pelanggaran HAM ringan terhadap pengguna jalan sehingga para pengguna jalan tidak bisa menikmati arus kendaraan yang tertib dan lancar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 35.45pt; text-align: justify; text-indent: -14.15pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span&gt;5.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Orang tua yang memaksakan kehendaknya agar anaknya masuk pada suatu jurusan tertentu dalam kuliahnya merupakan pelanggaran HAM terhadap anak, sehingga seorang anak tidak bisa memilih jurusan yang sesuai dengan minat dan bakatnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 18pt; line-height: 200%;"&gt;BAB I&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 18pt; line-height: 200%;"&gt;V&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 18pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 200%;"&gt;PENUTUP&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; line-height: 200%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;A.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Kesimpulan&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: 21.8pt;"&gt;HAM adalah hak-hak dasar yang dimiliki oleh manusia sesuai dengan kiprahnya. Setiap individu mempunyai keinginan agar HAM-nya terpenuhi, tapi satu hal yang perlu kita ingat bahwa Jangan pernah melanggar atau menindas HAM orang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: 21.25pt;"&gt;HAM setiap individu dibatasi oleh HAM orang lain. Dalam Islam, Islam sudah lebih dulu memperhatikan HAM. Ajaran Islam tentang Islam dapat dijumpai dalam sumber utama ajaran Islam itu yaitu Al-Qur’an dan Hadits yang merupakan sumber ajaran normatif, juga terdapat dalam praktik kehidupan umat Islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: 21.25pt;"&gt;Dalam kehidupan bernegara HAM diatur dan dilindungi oleh perundang-undangan RI, dimana setiap bentuk pelanggaran HAM baik yang dilakukan oleh seseorang, kelompok atau suatu instansi atau bahkan suatu Negara akan diadili dalam pelaksanaan peradilan HAM, pengadilan HAM menempuh proses pengadilan melalui hukum acara peradilan HAM sebagaimana terdapat dalam Undang-Undang pengadilan HAM.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;B.&lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Saran-saran&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: 28.35pt;"&gt;Sebagai makhluk sosial kita harus mampu mempertahankan dan memperjuangkan HAM kita sendiri. Di samping itu kita juga harus bisa menghormati dan menjaga HAM orang lain jangan sampai kita melakukan pelanggaran HAM. Dan Jangan sampai pula HAM kita dilanggar dan dinjak-injak oleh orang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: 21.25pt;"&gt;Jadi dalam menjaga HAM kita harus mampu menyelaraskan dan mengimbangi antara HAM kita dengan HAM orang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sumber :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;a href="http://www.google.com/"&gt;www.google.com&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="color: #0070c0;"&gt;Kata –kata Mutiara :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;v&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Kita tidak akan pernah merasa kaya jika kita hanya melihat orang yang lebih kaya dari kita, kita akan merasa kaya jika kita melihat orang yang jauh dibawah kita atau orang yang kurang mampu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;v&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tuhan tidak akan melihat kaumnya dari seberapa besar kekayaan yang dimilikinya melainkan tuhan akan melihat seberapa besar kekayaan yang mereka bagi untuk orang-orang yang kurang mampu. Ayo bersedekah ..!!!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;v&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Jika kita menginginkan hidup yang biasa-biasa saja maka jalanilah kehidupan ini ala sekedarnya atau biasa-biasa saja, namun jika kita menginginkan hidup yang luar biasa, maka jalani kehidupan ini dengan langkah yang luar biasa pula.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;v&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Waktu akan berubah dengan sendirinya, namun kita tidak akan pernah berubah jika kita tidak pernah ingin merubahnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span&gt;v&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Hidup adalah 30 % takdir dan sisanya adalah PERJUANGAN ..!!!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8581253918985038641-3583912898674786491?l=haryantotips.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=qoMKqPRBOGA:FtSlSXWQzZI:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=qoMKqPRBOGA:FtSlSXWQzZI:63t7Ie-LG7Y"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=63t7Ie-LG7Y" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=qoMKqPRBOGA:FtSlSXWQzZI:dnMXMwOfBR0"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=dnMXMwOfBR0" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=qoMKqPRBOGA:FtSlSXWQzZI:V_sGLiPBpWU"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?i=qoMKqPRBOGA:FtSlSXWQzZI:V_sGLiPBpWU" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=qoMKqPRBOGA:FtSlSXWQzZI:7Q72WNTAKBA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=7Q72WNTAKBA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=qoMKqPRBOGA:FtSlSXWQzZI:F7zBnMyn0Lo"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?i=qoMKqPRBOGA:FtSlSXWQzZI:F7zBnMyn0Lo" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=qoMKqPRBOGA:FtSlSXWQzZI:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=qoMKqPRBOGA:FtSlSXWQzZI:l6gmwiTKsz0"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?d=l6gmwiTKsz0" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?a=qoMKqPRBOGA:FtSlSXWQzZI:gIN9vFwOqvQ"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/Haryantotips?i=qoMKqPRBOGA:FtSlSXWQzZI:gIN9vFwOqvQ" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><category domain="http://rss.financialcontent.com/stocksymbol">HAM</category><feedburner:origLink>http://haryantotips.blogspot.com/2012/01/hak-asasi-manusia.html</feedburner:origLink></item></channel></rss>

