<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>Hindu Dharma</title><description></description><managingEditor>noreply@blogger.com (Anonymous)</managingEditor><pubDate>Sun, 22 Sep 2024 08:14:10 +0800</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">32</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>http://hindu-akan-ada-selamanya.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:keywords>Hindu,Dharma</itunes:keywords><itunes:summary>Belajar Hindu</itunes:summary><itunes:subtitle>Hindu</itunes:subtitle><itunes:category text="Religion &amp; Spirituality"><itunes:category text="Hinduism"/></itunes:category><itunes:owner><itunes:email>agusindrakadek@gmail.com</itunes:email></itunes:owner><item><title>NASKAH QURAN KUNO SANA’A DAN RUNTUHNYA KLAIM KEILAHIAN QURAN</title><link>http://hindu-akan-ada-selamanya.blogspot.com/2014/04/naskah-quran-kuno-sanaa-dan-runtuhnya.html</link><pubDate>Tue, 15 Apr 2014 14:18:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5489880678200491726.post-2871533037671548303</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiPpMcfoAArEzk5cCRmbzDflq3UREi2zzrUsEWtRu5aB_rQkArrbRtg5QGsXhc4sWrvSah-bxLhfjBVhvuj91gHqJLhq0vOo_4vbvVjEvVOxgjqXv3he5oHJID5yyWfBttdRpiR0mzN3mXu/s1600/Sujit+Das+02.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiPpMcfoAArEzk5cCRmbzDflq3UREi2zzrUsEWtRu5aB_rQkArrbRtg5QGsXhc4sWrvSah-bxLhfjBVhvuj91gHqJLhq0vOo_4vbvVjEvVOxgjqXv3he5oHJID5yyWfBttdRpiR0mzN3mXu/s1600/Sujit+Das+02.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Hindu Dharma,&lt;br /&gt;
&lt;span class="userContent"&gt;NASKAH QURAN KUNO SANA’A DAN RUNTUHNYA KLAIM KEILAHIAN QURAN&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;
 Umat Muslim sering mengatakan bahwa baik Perjanjian Lama dan Perjanjian
 Baru telah mengalami perubahan yang serius. Mereka mengatakan bahwa 
agar Kitab Suci tetap otoritatif, kita&lt;span class="text_exposed_show"&gt;b 
itu harus dipertahankan tanpa perubahan sama sekali, dan menunjukan 
bahwa Al Qur'an, dengan klaim bahwa Allah telah mengungkapkan kata demi 
kata dan huruf demi huruf kepada Muhammad. Quran mengklaim, “Tidak ada 
perobahan bagi kalimat-kalimat Allah. Yang demikian itu adalah 
kemenangan yang besar”(QS 10:64) dan, “Tak ada seorangpun yang dapat 
merobah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah” ( QS 6:34).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Tapi 
kemudian sejarah Quran memperlihatkan sisi konyolnya dengan doktrin 
abrogasi atau pembatalan, dimana Allah membatalkan wahyu yang 
sebelumnya, seperti dalam QS (2:106) yang menegaskan, 'wahyu ... Kami 
batalkan atau menyebabkan untuk dilupakan'. Juga, sebuah hadis dari 
Sahih Bukhari (6:558) membenarkan bahwa Muhammad lupa banyak ayat. 
Sekali lagi Sunaan ibn Majah, (3: 1944) mencatat bahwa setelah kematian 
Muhammad beberapa wahyu dimakan oleh seekor kambing. Bagaimana kata-kata
 ilahi dapat dimakan, diubah, dibatalkan atau dihapuskan, meskipun konon
 ada klaim khusus Allah di QS 10:64 &amp;amp; 6:34? Kalau begitu Allah telah
 kalah dengan kambing dan sifat lupa manusia !&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Tidakkah semua 
klaim Allah ini mengandung kontradiksi dalam dirinya sendiri? Tapi luar 
biasa; fakta yang meluluh-lantakkan ini sama sekali tidak mengganggu 
Muslim sama sekali. Mungkin, jika kita dapat menghadirkan Quran lain 
yang "otentik" yang berbeda dari bentuk standar yang ada, Muslim akan 
mulai berpikir logis.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Fakta kebenaran yang meluluh-lantakkan 
itu adalah ditemukannya sejumlah besar naskah Quran kuno dari abad 
pertama Hijrah, yang ditemukan di Masjid Agung Sana'a (Yaman) yang 
secara signifikan berbeda dari Quran Standar saat ini. Sistem 
penanggalan karbon menegaskan bahwa naskah Qur'an ini bukan hasil 
pemaksaan otoritas-otoritas agama yang saling bersaing saat itu, yaitu 
Kilafah Usman dkk. Apalagi naskah Qur'an ini ditemukan oleh para pekerja
 bangunan yang beragama Islam. Jadi tidak perlu ada kecurigaan bahwa ini
 adalah suatu konspirasi dll.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Mungkin ini adalah peristiwa paling memalukan dalam sejarah Islam dalam 14 abad ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;
 Masjid Agung Sana'a adalah salah satu Mesjid tertua dalam sejarah 
Islam. Tanggal pembangunannya bisa dilacak sampai ke tahun 6 Hijrah 
ketika, menurut Tradisi Muslim, salah seorang Sahabat Muhammad 
dipercayakan untuk membangun Masjid di Yaman, yang kemudian diperpanjang
 dan diperbesar oleh penguasa Islam dari waktu ke waktu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Pada 
tahun 1972, selama restorasi ini Masjid Agung (hujan deras menyebabkan 
dinding barat Masjid runtuh), buruh yang bekerja di ruang mahkota antara
 struktur atap dalam dan luar, terantuk ke sebuah gundukan seperti 
kuburan. Karena ketidaktahuan, selama ini mereka tidak menyadari. Masjid
 biasanya tidak mengakomodasi kuburan, dan situs ini tidak mengandung 
batu nisan, tidak ada sisa-sisa manusia dan tidak ada peninggalan 
pemakaman. Ternyata isinya tidak lebih dari segunung perkamen dan 
kertas-kertas tua tidak menarik, buku-buku rusak dan halaman-halaman 
lepas teks-teks bahasa Arab, menyatu bersama-sama oleh hujan dan 
kelembaban selama lebih dari seribu tahun.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Para buruh yang 
tidak mengerti kemudian mengumpulkan naskah-naskah itu dan 
mem-press-kannya dengan ceroboh ke dalam 20 karung kentang, dan 
meletakkannya ke sebelah tangga di salah satu menara Masjid. Manuskrip 
itu tadinya akan sama sekali terlupakan kalau bukan Qadhi Isma'il 
al-Akwa, yang nantinya menjadi Presiden Yaman Antiquities Authority, 
menyadari pentingnya naskah-naskah tersebut. Al-Akwa kemudian mencari 
bantuan internasional untuk memeriksa dan melestarikan fragmen-fragmen 
tersebut, karena tidak ada sarjana di negaranya mampu mengolah data pada
 temuan besar ini. Pada tahun 1977, ia berhasil menarik seorang sarjana 
non-Muslim mengunjungi Jerman, yang pada gilirannya membujuk pemerintah 
Jerman untuk mengatur dan menemukan sebuah proyek restorasi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; 
Segera setelah proyek dimulai, menjadi jelaslah bahwa "kuburan kertas" 
tersebut adalah adalah tempat peristirahatan bagi, antara lain, puluhan 
ribu fragmen dari hampir seribu naskah kuno yang berbeda dari Al Qur'an,
 kitab suci umat Islam. Otoritas Muslim selama hari-hari awal menghargai
 keyakinan bahwa salinan aus dan rusak Alquran harus dihapus dari 
peredaran hanya menyisakan edisi yang tak bercacat dari kitab suci untuk
 digunakan. Juga tempat yang aman seperti itu dibutuhkan untuk 
melindungi buku dari penjarahan atau kerusakan jika penyerbu datang. 
Dari sinilah ide dari kuburan di Masjid Agung di Sana'a, yang merupakan 
tempat belajar dan penyebaran Alquran yang berasal dari abad pertama 
Hijriah tersebut.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Restorasi naskah diorganisir dan disupervisi 
oleh Gerd R. Puin dari Saarland University, Jerman. Puin adalah 
spesialis kaligrafi Arab dan paleografi Alquran yang sangat terkenal 
(studi tentang tulisan kuno dan dokumen). Selama sepuluh tahun ia secara
 ekstensif memeriksa fragmen-fragmen perkamen berharga tersebut. Pada 
tahun 1985, rekannya HC Graf V. Bothmer bergabung dengannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; 
Untuk usia bahasa perkamennya sendiri, pengujian Karbon-14 menanggalkan 
usia perkamen tesebut antara tahun 645 sampai 690 M. Namun usia 
sebenarnya mungkin agak lebih muda dari itu (di atas tahun 690), sebab 
C-14 memperkirakan tahun kematian dari suatu organisme (perkamen adalah 
kulit binatang), dan tidak diketahui berapa lama berselang antara proses
 dari pembuatan perkamen sampai saat penulisan akhir.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Namun 
dari gaya kaligrafi naskah itu menunjuk penanggalan antara tahun 710 s/d
 715 M. Beberapa halaman perkamen tampaknya ditulis di abad ketujuh dan 
kedelapan, atau abad pertama dan kedua Islam. Mungkin ini adalah 
Al-Qur'an tertua yang kita miliki.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Pada tahun 1984, Dar al 
Makhtutat, atau Rumah Naskah, didirikan dekat dengan Masjid Agung, 
sebagai bagian dari proyek kerjasama antara otoritas Yaman dan Jerman. 
Sebuah usaha besar dimulai untuk merestorasi fragmen – fragmen Alquran. 
Antara 1983 dan 1996, sekitar 15.000 (dari 40.000 halaman) telah 
dipulihkan, khususnya 12.000 fragmen perkamen dan naskah berasal dari 
abad ketujuh dan kedelapan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Sampai sekarang, hanya ada tiga 
salinan kuno Qur'an yang ditemukan. Yang disimpan di Perpustakaan 
Inggris di London, dengan penanggalan abad ke tujuh akhir dan dianggap 
yang tertua. Tapi manuskrip Sana'a bahkan lebih tua. Selain itu, 
manuskrip ini ditulis dalam naskah yang berasal dari Hijaz - wilayah 
Arab di mana Nabi Muhammad tinggal, yang membuat manuskrip ini tidak 
hanya yang paling tua yang bisa selamat, tapi salah satu salinan otentik
 awal Al-Qur'an yang pernah ada. Hijazi Arab adalah naskah (Mekah atau 
Madinah) di mana Al Qur'an yang paling awal ditulis. Meskipun 
potongan-potongan ini dari Al-Qur'an yang paling awal yang bisa ketahui ,
 namun mereka juga hanyalah palimpsests (manuskrip di mana tulisan asli 
telah dihapus, dikupas, ditulis ulang dan ditimpa, tapi masih bisa 
digunakan kembali).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Gaya tulisan tangan yang halus dan langka 
serta artistik telah mempesona baik Puin dan temannya Bothmer, tetapi 
kejutan yang lebih besar menanti mereka. Ketika Qur'an kuno ini 
dibandingkan dengan standar yang ada pada saat ini, keduanya tertegun. 
Teks-teks kuno yang ditemukan ternyata bertentangan dengan bentuk Quran 
yang ada sekarang. Ada penyusunan ayat-ayat yang tidak sama, variasi 
tekstual yang kecil tapi sangat signifikan berbeda, ortografi (ejaan) 
yang berbeda dan hiasan artistik yang berbeda.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Tersebar dalam 
keyakinan Muslim ortodoks bahwa Al-Qur'an seperti yang telah sampai 
kepada kita hari ini benar-benar "Firman yang sempurna, abadi, dan tidak
 berubah Allah". Namun penemuan Quran kuno di Sana’a dan perbedaannya 
yang mencolok dengan Quran yang ada pada kita sekarang membuktikan bahwa
 Al-Qur'an telah diselewengkan, menyimpang, direvisi, dimodifikasi dan 
dikoreksi, dan perubahan tekstual telah terjadi selama bertahun-tahun 
murni oleh tangan manusia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Aura suci di sekitar Kitab Suci 
Islam ini, yang katanya tetap utuh selama lebih dari 14 abad hilang 
dengan adanya penemuan yang menakjubkan ini. Dan keyakinan inti semiliar
 lebih Muslim bahwa Quran adalah firman Allah yang kekal dan tidak 
berubah Allah sekarang jelas terlihat sebagai besar pelebih-lebihan, 
tipuan dan kebohongan . Tidak hanya itu, klaim Al-Qur'an yang adalah 
kata-kata Allah yang tidak dapat berubah juga palsu. Al-Qur'an 
seharusnya, jika kita meminjam kata-kata dari Guillaume (1978, hal 74), 
"Ruang Maha Kudus, yaitu tempat dimana Tuhan “bertahta” tidak pernah 
harus berada di bawah buku-buku, tetapi selalu di atasnya nya. Orang 
tidak boleh minum atau merokok ketika sedang membacanya, dan firman itu 
sejatinya idengarkan dalam keheningan. Inilah ‘jimat’ yang melawan 
penyakit dan bencana."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Muslim menyebut Quran sebagai 'Induk 
segala Kitab' dan percaya tidak ada buku lain atau wahyu lain yang dapat
 menandinginya (Caner &amp;amp; Caner, 2002. P.84). Namun semua klaim itu 
berlalu sekarang. Hasil akhir dari seluruh perjuangan Islam selama empat
 belas abad adalah nol besar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Seakan tidak cukup, banyak 
manuskrip yang menunjukkan tanda palimpsest, yaitu, versi timpahan dari 
versi sebelumnya. Versi yang lama, yang telah dicuci kemudian ditimpa 
lagi, tentu saja sulit untuk dibaca dengan mata telanjang. namun 
alat-alat modern seperti fotografi ultraviolet dapat menyorot mereka. 
Ini menunjukkan bahwa naskah-naskah Sana'a bukan varian saja, tetapi, 
bahkan sebelum itu, teks Al-Quran telah diubah dan ditulis ulang pada 
kertas yang sama. Ini berarti, klaim Allah (QS 56: 77-78; 85:21-22) 
bahwa teks asli yang diawetkan dalam surga di dalam tablet emas, yang 
tidak dapat menyentuh kecuali para malaikat – juga nyata-nyata adalah 
mitos belaka.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Setelah mempelajari naskah-naskah itu secara 
ekstensif , puin sampai pada kesimpulan bahwa teks-teks Quran sebenarnya
 merupakan teks yang ber-evolusi atau berkembang, bukan firman Allah 
sebagaimana konon dinyatakan secara lengkap, menyeluruh dan final kepada
 Muhammad seorang diri saja (Warraq, 2002, hal 109). Dia tertegun, 
"Begitu banyak Muslim yang berkeyakinan bahwa segala sesuatu yang 
tertulis di antara cover depan dan cover belakang Al Qur'an adalah 
firman Allah belaka yang tidak berubah. Mereka suka sekali mengutip 
karya-karya teologis tekstual yang menunjukkan bahwa Alkitab memiliki 
sejarah dan tidak jatuh langsung dari langit, tetapi mereka sendiri 
menjauhkan Alquran dari penyelidikan yang serupa. Satu-satunya cara 
untuk menerobos dinding ini adalah untuk membuktikan bahwa Al Qur'an 
memiliki sejarah juga. Fragmen Sana'a akan membantu kita untuk melakukan
 hal ini". Puin bahkan menyimpulkan (dikutip oleh Taher, 2000), "Quran 
bukanlah karya tunggal yang telah bertahan dan tak berubah selama 
berabad-abad. Quran mungkin terdiri dari kisah-kisah yang telah ditulis 
oleh orang-orang di jaman sebelum nabi Muhammad memulai pelayanannya dan
 yang kemudian ditulis ulang."&lt;br /&gt; Selama penelitian mereka, sebagaimana
 Puin mengingatkan (Lester, 1999), "Mereka [pihak berwenang Yaman] ingin
 menjaga hal ini secara sembunyi-sembunyi, seperti yang kita ingin 
lakukan juga, meskipun untuk alasan yang berbeda. Mereka tidak ingin 
menarik dunia bahwa pada kenyataannya ada orang-orang Jerman dan 
lain-lain yang bekerja dalam menganalisa naskah-naskah Qur'an ini. 
Mereka tidak ingin membuat pekerjaan ini tersebar kepada publik bahwa 
ada pekerjaan yang dilakukan sama sekali, karena posisi Islam selama ini
 bahwa segala sesuatu yang perlu dikatakan tentang sejarah Al-Qur'an 
telah dikatakan secara cukup seribu tahun lalu."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Teori radikal 
lainnya dari Puin adalah bahwa sumber-sumber pra-Islam telah dimasukan 
ke dalam Qur'an. Dia berpendapat bahwa dua suku: As-Sahab-ar-Rass 
(sahabat Sumur) dan As-Sahab-al-Aiqa (sahabat Semak Berduri) yang bukan 
bagian dari tradisi Arab, dan orang-orang Muhammad pada waktu itu tentu 
tidak mengetahui apa-apa tentang kedua kaum ini. Dia juga tidak setuju 
jika Al-Qur'an ditulis dalam bahasa Arab murni. Kata ‘Al-Qur'an’ itu 
sendiri berasal dari asing. Berlawanan dengan kepercayaan Islam populer,
 arti dari "Al Qur'an" bukanlah “bacaan”. Kata ini sebenarnya berasal 
dari sebuah kata bahasa Aram, 'Qariyun', yang berarti leksionari, yaitu 
bagian-bagian kitab suci yang ditunjuk untuk dibaca pada waktu ibadah. 
Al Qur'an berisi sebagian dari cerita-cerita Alkitab tetapi dalam bentuk
 yang lebih pendek dan merupakan "ringkasan dari Alkitab untuk dibaca 
dalam kebaktian."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Puin tertarik untuk menulis buku tentang hal 
ini di masa depan. Ia sendiri sudah menulis beberapa esai pendek tentang
 temuan mereka dalam berbagai majalah ilmu pengetahuan, di mana dia 
menunjukkan beberapa penyimpangan antara Qur'an kuno dan Quran standar 
(dikutip Warraq, 2002. hlm 739-44). Unstuck menyanggah kesucian Al 
Qur'an, Puin menuliskan, “Menurut saya Quran adalah naskah campur aduk 
(cocktail of texts), yang tidak dipahami bahkan pada jaman Muhammad 
sendiri. Beberapa bagian dari quran mungkin berusia ratusan tahun telah 
ada sebelum jaman Islam. Bahkan dalam tradisi Islam terdapat begitu 
banyak informasi yang kontradiktif, termasuk cuplikan naskah Kristen 
yang signifikan. Seseorang bisa mendapatkan sejarah yang anti Islam 
secara keseluruhan darinya jika ia menginginkannya. Quran diklaim 
bersifat mu’bin, atau jelas dengan sendirinya, namun jika anda 
memeriksannya, anda akan melihat bahwa setiap kira-kira lima kalimat 
dibaca kita akan mendapati klaim tersebut tak masuk akal. Muslim akan 
bersikeras sebaliknya, tentu saja. Namun fakta bahwa seperlima bagian 
dari teks Quran tidak bisa dipahami. Hal ini yang telah menyebabkan 
tradisi kebingungan dalam penerjemahan. Jika Quran tidak bisa dipahami, 
jika ia bahkan tidak bisa dimengerti oleh orang Arab, maka ia tidak bisa
 diterjemahkan ke dalam bahasa manapun. Inilah yang muslim takutkan. 
Sebab Quran terus diklaim sebagai telah jelas namun kenyataannya tidak –
 terdapat kontradiksi yang jelas dan serius di sini. Suatu hal lain 
pasti telah terjadi.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Penemuan luar biasa dari Puin ini telah 
mempesona Andrew Rippin, seorang Profesor studi agama dan seorang ahli 
terkemuka pada studi Alquran. Rippin (dikutip Warraq, 2002. Hal.110) 
menyimpulkan, "Dampak dari manuskrip Yaman masih terasa sampai sekarang.
 Varian cara baca Quran dan penyusunan ayat-ayatnya, semuanya sangat 
signifikan. Semua orang setuju akan hal ini. Naskah ini menyatakan bahwa
 sejarah awal teks-teks Al-Quran lebih dari sebuah pertanyaan terbuka 
yang banyak mengundang kecurigaan. Teks-teks Quran ternyata kurang 
stabil dan karena itu memiliki otoritas yang sedikit daripada apa yang 
selalu diklaim selama ini."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Warraq (1998, h. 14) memiliki 
pandangan yang sama dengan Rippin, "sarjana Muslim dari tahun-tahun awal
 Islam jauh lebih fleksibel dalam posisi mereka, menyadari bahwa bagian 
dari Al-Qur'an telah hilang, diselewengkan dan bahwa ada banyak ribuan 
varian yang membuat mustahil untuk berbicara tentang "Al-Qur'an".&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;
 Ada bukti lain bahwa Al Qur'an adalah pesan terdistorsi pada hari-hari 
awal Islam dan tidak ada yang di sebut “Alquran” lagi sekarang. 
Inskripsi dari ayat-ayat Al-Quran yang tertulis di Kubah Batu Yerusalem 
(Dome of The Rock), yang paling mungkin adalah monumen Islam pertama 
dimaksudkan untuk menjadi prestasi artistik utama, dibangun pada 691 M 
(Whelan, 1998, pp 1-14). Inskripsi di Dome of The Rock ini secara 
signifikan berbeda dari teks standar Quran saat ini (Warraq, 2000, hal 
34).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Mingana (dikutip Warraq, 1998. P.80) menyesalkan, 
"Pertanyaan yang paling penting dalam studi Alquran adalah otoritas yang
 tak tertandingi". Inilah satu-satunya alasan; kenapa penyelidikan 
kritis atas teks Al-Quran masih menjadi studi immature – tidak dewasa. 
Sebagaimana Rippin (1991, hal ix) menyesalkan, "Saya sering bertemu 
orang yang datang untuk mempelajari Islam dengan latar belakang dalam 
studi sejarah Alkitab Ibrani atau Kekristenan awal, dan yang 
mengungkapkan keterkejutan atas kurangnya pemikiran kritis yang muncul 
dalam buku teks pengantar Islam. Gagasan bahwa "Islam lahir dalam 
sejarah yang terang benderang' nampaknya masih diasumsikan oleh banyak 
penulis besar teks-teks tersebut."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Cook dan Crone (1977, p. 18)
 menyimpulkan, "[Qur'an] benar-benar mencolok kekurangannya dalam 
struktur keseluruhan, sering tidak jelas dan ngawur baik dalam bahasa 
dan konten yang asal-asalan yang menyukai bahan ngawur yang berbeda dan 
tersebar dalam pengulangan seluruh kisah dalam versi yang berbeda-beda. 
Atas dasar ini, dapat dikatakan bahwa buku ini adalah produk dari 
editing yang terlambat dan tidak sempurna dari pluralitas tradisi"Crone 
(dikutip Warraq, 1998, hal 33) di tempat lain menulis," Qur'an telah 
menghasilkan. banyak informasi palsu ".Kritik pihak Muslim atas Al 
Qur'an sangat-sangat langka dan hampir tidak ada sama sekali, sebagaiman
 Sina (2008, hal 6) keluhkan, "Umat Muslim sangat benar-benar tidak 
mampu mempertanyakan Islam." Baru-baru ini website ex-Muslim tengah 
melakukan beberapa pekerjaan yang luar biasa ini. Pada akhirnya, 
orang-orang tercerahkan ini akan berhasil membebaskan saudara-saudari 
Muslim mereka dari penjara Islam. Jika tidak maka semua kritik kritik 
apapun pada Al-Qur'an selama ini hanya dilakukan oleh kalangan 
non-muslim saja, dalam hal ini kebanyakan adalah sarjana Kristen. Tapi 
Muslim tidak boleh menganggap bahwa kritik dari sarjana Kristen sebagai 
tanda penyerangan kepada agma mereka. Cendikiawan Kristen telah 
melakukan kritik lebih banyak atasa kekristenan sendiri dibandingkan 
atas Islam (Sproul &amp;amp; Saleeb, 2003 hlm 17;. Spencer, 2007, hal 1).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;
 Tapi manuskrip Sana'a juga akan memprovokasi pertanyaan lain. Jika 
Qur'an adalah sebuah kebohongan, bagaimana kebohongan ini bisa bertahan 
selama berabad-abad? Alasannya adalah bahwa “sifat keilahian yang 
melekat pada Al Qur'an” bukan sebuah Kebohongan Kecil, tapi Kebohongan 
Besar. . Kebohongan Besar sangat kuat, dan selalu memiliki efek 
psikologis terhadap para pendengarnya. Semakin besar kebohongannya, 
semakin dipercaya itu. Adolf Hitler menulis di Mein Kamph (1925), "Massa
 yang luas dari suatu bangsa akan mudah menjadi korban kebohongan besar ,
 bukan kebohongan kecil." Kebohongan Besar nampak sangat meyakinkan 
karena melampaui skala akal sehat pendengarnya, seperti Sina (2008 , 
hal. 179) menjelaskan, orang biasa tidak akan berani untuk menceritakan 
sebuah kebohongan besar dan berpikir bahwa hal itu tidak akan dipercayai
 dan ia akan ditertawakan. Karena tidak ada orang yang tidak pernah 
berbohong dalam hidupnya, kebohongan kecil sering terdeteksi cepat atau 
lambat. Tapi kebohongan besar sangat aneh sehingga dapat mempesona 
pendengarnya. Ketika kebohongan itu seukuran raksasa, rata-rata orang 
dibuat tidak berani bertanya-tanya bagaimana orang dapat memiliki 
keberanian, kelancangan untuk mengatakan hal seperti itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; 
Kebohongan Besar selalu bekerja secara luar biasa dalam politik. 
Sebagaimana George Orwell (dikutip Sina, 2008, hal 179) berkata, 
"Politik bahasa ... dirancang untuk membuat kebohongan terdengar benar, 
dan pembunuhan terlihat terhormat, dan memberikan penampilan solid 
sebagai angin sorga". Hari ini ketika klaim keilahian Qur'an dihancurkan
 oleh penemuan manuskrip Sana'a, sifat spiritual Islam juga terkena. 
Islam hanyalah sebuah gerakan politik murni Arab. ketika Arab mulai 
menaklukkan bangsa-bangsa sekitarnya dan Islam yang dikenakan pada 
mereka dengan kekerasan dan dibuat percaya dengan klaim “Keilahian yang 
melekat pada Al Qur'an”.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Bangsa Arab tidak hanya memaksakan 
Islam pada orang lain tetapi juga menanamkan kepercayaan irasional akan 
keilahian Al-Quran dalam pikiran korban mereka, sehingga sekali 
orang-orang Arab itu pergi, mereka yang ditaklukkan tidak bisa keluar 
dari perbudakan mental dan kembali ke iman asli mereka. Ini adalah 
keterampilan politik langka. Banyak sahabat Muhammad jelas tahu bahwa Al
 Qur'an itu palsu, tetapi mereka tetap dengan nabi mereka untuk berbagi 
rampasan dan untuk menikmati wanita. Kita semua tahu, setelah kematian 
Muhammad, beberapa suku Arab kembali kembali ke kepercayaan asli mereka 
dan penyembahan berhala berkembang lagi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Bagai terpaan badai 
bagi umat Islam; studi psikologi modern menyingkapkan kebenaran bahwa 
Muhammad (kalaupun orang ini pernah ada) adalah seorang penipu, orang 
yang menderita Narcissistic Personality Disorder. Narsisis adalah 
seorang pembohong patologis yang asik menikmati dirinya sendiri. Ini 
berarti, entah mereka tidak menyadari kebohongan mereka atau mereka 
merasa benar-benar dibenarkan dan mudah dalam berbohong kepada orang 
lain. Kondisi mental mereka sedemikian rupa sehingga mereka memiliki 
kemampuan langka untuk percaya kebohongan mereka sendiri (Vaknin, 1999, 
hal 24).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Dan, ya, Adolf Hitler, yang mengetahui kekuatan dari 
Kebohongan Besar dan jutaan rakyat Jerman yang juga disesatkan, juga 
diakui sebagai seorang narsisis. Hari ini Hitler adalah figur sejarah 
yang paling dibenci di Jerman. Seperti kepastian matematis Muhammad akan
 mendapatkan nasib yang sama. Tapi kita benar-benar tidak tahu, berapa 
juta orang akan meninggal sebelum kita dapat menempatkan Muhammad di 
tempat sampah dengan, Allah-nya Al Qur'an dan Islam sama sekali. Bagi 
Hitler itu Sosialisme Nasional (nama lain dari Nazisme) dan Muhammad itu
 Islam, namun jauh di lubuk hati, keduanya dua sisi dari koin yang sama -
 seorang manipulator yang sukses.Sina (2008, p. iv, 260) berkomentar, 
"Islam bagaikan rumah kartu, ditopang oleh kebohongan. Yang dibutuhkan 
untuk menghancurkannya adalah menantang satu saja dari 
kebohongan-kebohongan yang selama ini menopangnya bersama-sama. Ini 
adalah sebuah bangunan tinggi, yang berdiri di atas pasir; setelah Anda 
mengekspos fondasinya, pasir akan luruh dan struktur bangunan ini akan 
runtuh karena beratnya sendiri. “ Dan perkatan Sina lainnya ," Islam 
berdiri di tanah yang sangat rapuh. Ia tidak bersandar pada apapun 
kecuali kebohongan. Yang harus kita lakukan untuk menghancurkannya cuma 
mengekspos kebohongan-kebohongannya, dan bangunan raksasa teror dan 
penipuan ini akan runtuh".&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Mari kita lihat, sekali aura suci Al-Qur'an hilang, apa saja hal lainnya yang akan terkena:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;
 Pertama, jika ada dua atau lebih versi Qur'an, maka Quran yang satu 
berbicara begini, sedang Quran yang satu lagi berbicara begitu, dan 
dua-duanya mengklaim kebenaran yang mutlak, maka logikanya ada lebih 
dari satu Allah yang memberi firman. (Mungkin asumsi logis ini tampak 
goyah, namun kita lihat poin logis selanjutnya).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Kedua, jika kita masih percaya bahwa satu Qur'an adalah otentik, maka bagaimana Allah mengizinkan versi lain bisa bertahan?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;
 Ketiga, Jika QS 10:64 mengatakan kata-kata Allah tidak berubah, 
ternyata berubah juga, dengan demikian klaim-klaim Quran sama sekali 
tidak bisa dipercaya dengan sendirinya? Jika muslim masih ngotot dengan 
klaim keilahian Quran yang katanya tidak bisa berubah ,lalu kenapa ada 
lebih dari satu veris Quran? Bagaimana wahyu palsu itu tercatat dalam Al
 Qur'an? Apakah Setan meletakkannya?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Terakhir; Bukhari 
(4.52.233) mencatat "orang-orang kafir tidak akan pernah memahami 
tanda-tanda dan wahyu." Tapi kita lihat, untuk memahami Al Qur'an 
Sana'a, pemerintah Yaman mengundang para sarjana Jerman, karena tak ada 
seorang pun di Yaman, bahkan di dunia Islam, yang mampu mengerjakan 
temuan yang melimpah ini. Tidak heran bila Sina (2008) menyimpulkan, 
"Tidak peduli bagaimana Anda melihat Islam, tetap saja Islam agama 
konyol."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Muslim telah menjual jiwa mereka kepada Muhammad. 
Bisakah mereka secara logis menghapus keraguan di atas? Episode Sana'a 
telah menempatkan mereka dalam posisi yang sedemikian gamang, bahwa 
circular reasoning atau logka yang absurd-pun tidak akan membantu mereka
 dari kebingungan ini. Bukankah sudah waktunya bagi Muslim untuk 
bijaksana mempertimbangkan sehat tidaknya agama mereka sebenarnya?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;
 Untuk melindungi Qur'an dari penghinaan lagi, otoritas Yaman telah 
menghalangi Puin dan Bothmer untuk meneliti lebih lanjut naskah-naskah 
tersebut. Bahkan, sekarang mereka tidak mengizinkan siapa pun melihat 
naskah-naskah itu lagi kecuali beberapa perkamen non-Qur'an yang telah 
sangat hati-hati dipilih, yang dipajang di lantai dasar dari 
Perpustakaan Dar al-Makhtutat. Tapi ini tidak akan membantu. Burungnya 
sudah keluar dari kandang dan tidak ada gunanya menutup pintu sekarang. 
Lebih dari tiga puluh lima ribu mikrofilm yang berisikan teks-teks itu 
telah berada di luar Yaman sebelum pihak otoritas mengetahui, dan 
beberapa duplikat sudah dibuat. Penulis saat ini yakin bahwa pada saat 
ini, di beberapa lokasi yang tidak diketahui di Jerman, sekelompok ahli 
tanpa henti bekerja pada mikrofilm tersebut dan Puin sedang membakar 
minyak di tengah malam cukup untuk menyelesaikan bukunya, yang, setelah 
diterbitkan, akan memalu paku lainnya pada peti mati Islam. Islam sedang
 dalam bahaya nyata sekarang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Jelas, dengan menyadari 
klaim-klaim keilahian Quran akan gugur tak lama lagi, banyak muslim yang
 terganggu dan tersinggung. Para fundamentalis tidak akan menerima karya
 Puin dan Bothmer sebagai hasil karya yang telah dilakukan secara 
obyektif akademik, tetapi melihatnya sebagai serangan yang disengaja 
terhadap integritas teks-teks Quran (Taher, 2000). Tentu, dua sarjana 
Jerman akan berada di garis depan dalam kemarahan mereka. Puin takut 
reaksi kekerasan dari Muslim ortodoks karena "hujatan" teorinya, dia 
katakana tidak bisa dipandang ringan. Mengingat kasus yang terjadi pada 
Salman Rushdie, Puin menulis, "Kesimpulan saya telah menyulut reaksi 
marah dari Muslim ortodoks. Mereka bilang saya tidak benar-benar 
cendekiawan untuk membuat komentar pada naskah ini ". Jika pandangan 
Puin adalah diambil dan diberitakan di media, dan jika tidak ada banyak 
umat Islam yang rasional tentang hal itu, maka hal mengerikan akan 
terjadi. Akan ada beberapa respon yang bersikap memusuhi dan kerusuhan 
yang menyebabkan banyak kematian dan kehancuran, mungkin adalah fatwa 
lain dari Khomeini, dan tentu beberapa ancaman Al Qaeda dan dan 
saudara-saudara ideologisnya. Tapi bisakah mereka menghentikan 
kebenaran?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; UNESCO telah memperlihatkan minat yang tulus 
terhadap manuskrip Sana'a sejak Program Memori Dunia dimulai. Pada tahun
 1995, Organisasi ini juga memproduksi CD-ROM dalam bahasa Arab, Inggris
 dan Perancis yang menggambarkan sejarah pengumpulan material baik yang 
quranik maupun non-quranik. CD-ROM menawarkan 651 gambar dari 302 
fragmen Al-Quran, diindeks berdasarkan script, frame, dll, pengenalan 
umum untuk koleksi manuskrip Yaman dan deskripsi singkat tentang evolusi
 kaligrafi Arab (Abid, 1997).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Ursula Dreibholz, seorang ahli 
pelestarian yang bekerja pada proyek Sana'a selama delapan tahun sebagai
 konservator utama, banyak mengalami frustrasi dengan melihat kurangnya 
perhatian pemerintah Yaman untuk melindungi naskah-naskah dengan 
menggunakan teknologi modern (1983, hlm 30-8) . perangkat keamanan tidak
 benar, tidak pula ada perhatian yang memadai yang diberikan kepada 
naskah-naskah untuk menghindari kerusakan lebih lanjut (1996, pp 
131-45). Bahkan, Dreibholz (1999, pp 21-5) mengatakan kepeduliannya 
terbesarnya untuk menciptakan sistem penyimpanan yang aman, handal dan 
permanen bagi fragmen-fragmen yang telah dipulihkan ini. Juga, masalah 
miskinnya sistem penyimpanan. Hampir tidak ada perlindungan dari 
serangga dan air. Yang paling penting, masalah sebenarnya adalah 
kurangnya pencegahan kebakaran atau sistem deteksi, mengingat kebakaran 
yang benar-benar bencana yang telah menghancurkan perpustakaan penting 
dan karya seni di seluruh dunia sepanjang sejarah. Pihak berwenang Yaman
 mengatakan mereka tidak punya uang atau sarana untuk menginstal sistem 
proteksi kebakaran tersebut. Dia tidak mengerti alasan asli di balik 
sikap apatis otoritas Yaman.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Sekarang fundamentalis muslim 
dapat melihat masa depannya yang nyata. Tidak ada yang tahu kapan api 
yang menghancurkan akan dimulai 'secara sengaja' dan menghancurkan semua
 naskah Al-Quran, yang benar-benar menyebabkan ‘panas’. Akhirnya, untuk 
menyelamatkan Islam, Qur'an harus disimpan oleh Muslim kemanapun. Jika 
perlu mereka akan membakar Qur'an untuk menyelamatkannya dari analisa 
logis. Pengabdian mereka kepada kebodohan memang sangat tinggi. Mungkin,
 keengganan otoritas Yaman untuk menginstal sistem proteksi kebakaran 
tersebut merupakan persiapan awal untuk sebuah tindakan di masa depan. 
Jangan pernah meremehkan kemampuan merusak dari para fanatik tak 
berotak.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Referensi&lt;br /&gt; Journal:&lt;br /&gt; Abid, Abdelaziz (1997); 
“Memory of the World”: Preserving Our Documentary Heritage. Museum 
International, Vol. 49, No. 1, January 1997 issue. Blackwell Publishers,
 Oxford.&lt;br /&gt; Dreibholz, Ursula (1983); A treasure of early Islamic 
manuscripts on parchment. Significance of the find and its conservation 
treatment. AIC Preprints of papers presented at the 11th annual meeting 
in Baltimore, Maryland, 25-29 May 1983. Washington, DC.&lt;br /&gt; Dreibholz, 
Ursula (1996); The Treatment of Early Islamic Manuscript Fragments on 
Parchment in The Conservation and Preservation of Islamic Manuscripts, 
Al-Furqan Islamic Heritage Foundation, London&lt;br /&gt; Dreibholz, Ursula 
(1999); Preserving a treasure: the Sana’a manuscripts. Museum 
International. Islamic collections. Vol. LI, No. 3, July 1999 issue. 
Blackwell Publishers. Oxford.&lt;br /&gt; Whelan, Estelle (1998); Forgotten 
Witness: Evidence for the Early Codification of the Qur’an. Published in
 The Journal of America Oriental Society. January to March Issue, 1998. 
University of Michigan. USA.&lt;br /&gt; Buku:&lt;br /&gt; Ali, Daniel &amp;amp; Spencer, Robert (2003); Inside Islam: A guide for Catholics. Ascension Press. Pennsylvania.&lt;br /&gt; Caner E. M; Caner E.F (2002); Unveiling Islam. Kregel Publications. Grand Rapids. U.S.A&lt;br /&gt; Cook, Michael; Crone, Patricia (1977); Hagarism: The making of the Islamic world. Cambridge.&lt;br /&gt; (Dr) Vaknin, Sam (1999); Malignant Self Love: Narcissism Revisited. Narcissus Publications, Skopje. Czech Republic.&lt;br /&gt; (Ed.) Warraq, Ibn (1998); The origins of the Koran: Classic Essays on Islam’s holy book. Prometheus Books. NY.&lt;br /&gt; (Ed.) Warraq, Ibn (2000); The Quest for Historical Muhammad. Prometheus books. NY.&lt;br /&gt; (Ed.) Warraq, Ibn (2002); What the Koran really says – Language, Text and Commentary. Prometheus books. NY.&lt;br /&gt; Guillaume, Alfred (1978); Islam. Harmondsworth.&lt;br /&gt; Mein Kampf; a 1939 English translation by Houghton Mifflin and edited of verbosity. Reynal &amp;amp; Hitchcock&lt;br /&gt;
 Ohmyrus (2006); The Left and Islam: Tweedledum and Tweedledee in Beyond
 Jihad: Critical voices from the inside by Shienbaum, Kim and Hasan, 
Jamal. Academia Press, LLC, Bethesda.&lt;br /&gt; Peters, F.E (1986); Jerusalem and Mecca: The topology of the Holy City in the near east. NY.&lt;br /&gt; Rippin, Andrew (1991): Muslims: their religious beliefs and practices. London.&lt;br /&gt; Rodhinson, Maxime (1980); Muhammad (Original in French, translated to English by Anne Carter). The New Press. NY&lt;br /&gt;
 Rodhinson, Maxime (1981); A Critical Survey of Modern Studies on 
Muhammad inStudies on Islam ed. M. Swartz. Oxford University Press, USA&lt;br /&gt;
 Sagan, Karl (1997); The Demon-Haunted World. Science as a Candle in the
 Dark. Ballantine Books. The Random House Publishing group. NY.&lt;br /&gt; Sina, Ali (2008); Understanding Muhammad, A Psychobiography. Felibri.com&lt;br /&gt;
 Spencer, Robert (2002); Islam Unveiled: Disturbing questions about the 
world’s fastest growing faith. Encounter Books. San Francisco.&lt;br /&gt; Spencer, Robert (2007); Religion of Peace? Why Christianity is and Islam isn’t. Regnery Publishing, Inc. Washington DC.&lt;br /&gt;
 Sproul R. C &amp;amp; Saleeb, Abdul (2003); The dark side of Islam. 
Crossway Books (a division of Good News Publishers). Wheaton. Illinois.&lt;br /&gt; Sumber-sumber Internet:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Taher, Abul (2000): Querying the Koran. The Guardian. Guardian News and Media Limited. Published on 8th August, 2000. URL: &lt;a href="http://l.facebook.com/l.php?u=http%3A%2F%2Fwww.guardian.co.uk%2FArchive%2FArticle%2F0%2C4273%2C4048586%2C00.html&amp;amp;h=rAQETgGKF&amp;amp;enc=AZPBrQJz1IrHGrXrLihSjwm7kYFdgwXrn9KpzEmXoC3czUwht3JwkNUxYrEwGRblbsij8Y3GxbAIyUYwy0kUFJgf7gz2p_msMnYgCKSFXZpSty5tR6sq00qU1PtBqCwN5vOvydai_NAWFkyc3521LrZa&amp;amp;s=1" rel="nofollow nofollow" target="_blank"&gt;http://www.guardian.co.uk/Archive/Article/0,4273,4048586,00.html&lt;/a&gt; (Last accessed 3rd June / 2009)&lt;br /&gt; Sina, Ali (2008): Probing Islam. An internet based debate between J. A Ghamidi, K. Zaheer and Ali Sina, FFI. URL: &lt;a href="http://l.facebook.com/l.php?u=http%3A%2F%2Fwww.news.faithfreedom.org%2Fdownloads%2Fprobing-islam.pdf&amp;amp;h=qAQEMktBp&amp;amp;enc=AZPk0rp6Y-dh5Lvk64bKZ4gnLxSnClSuUDLBSOanjxjzH_cd2JihHJf3PhpWeLtNtxAc8S-eG3Nx_Z3F3fRYUt5YqCAMZiDBAZHggEVlhAlsGykdoJxBsMqoZlYGBTzUajj0ltdt9Xz_nwV1adH55oey&amp;amp;s=1" rel="nofollow nofollow" target="_blank"&gt;http://www.news.faithfreedom.org/downloads/probing-islam.pdf&lt;/a&gt; (Last accessed 7th February / 2008).&lt;br /&gt; Lester, Toby (1999); What Is the Koran? Atlantic Monthly January 1999 issue. URL: &lt;a href="http://l.facebook.com/l.php?u=http%3A%2F%2Fwww.theatlantic.com%2Fdoc%2F199901%2Fkoran&amp;amp;h=1AQEYoC-y&amp;amp;enc=AZMtdQ0TZ9KSKbTtIvPPwANp_6wGs5PDnOZbK4EOIaIY7vP-iItFx8WgDIr0X-I1N6cLd8iAZx-4iEZzr1TuoRLp5WWvWxol7bCCNZ7RpYV2dCx4VAGd8lBe9VfPvNz57Z90YgchBGn8_OCQ8SBqYDu3&amp;amp;s=1" rel="nofollow nofollow" target="_blank"&gt;http://www.theatlantic.com/doc/199901/koran&lt;/a&gt; (Last accessed 3rd June / 2009).&lt;br /&gt; Wikipedia (2009); Gerd R. Puin, URL: &lt;a href="http://l.facebook.com/l.php?u=http%3A%2F%2Fen.wikipedia.org%2Fw%2Findex.php%3Ftitle%3DSpecial%253ACite%26page%3DGerd_R._Puin%26id%3D287605376&amp;amp;h=nAQFR-Gpe&amp;amp;enc=AZMoZH6DQZm1MvmQ3R_kr7pQ0EebIGb6LWrzYtKEI8S-PAAb6qNeVRlim-OBYAjPrYGv4DHk81wo4mqQt5LbQsfa7aSFcwYX2eBi1CXwkrzcowwhpAEa5sGZ0PS9_7etTVwze9eA8Degd6BzIkXTnHPn&amp;amp;s=1" rel="nofollow nofollow" target="_blank"&gt;http://en.wikipedia.org/w/index.php?title=Special%3ACite&amp;amp;page=Gerd_R._Puin&amp;amp;id=287605376&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiPpMcfoAArEzk5cCRmbzDflq3UREi2zzrUsEWtRu5aB_rQkArrbRtg5QGsXhc4sWrvSah-bxLhfjBVhvuj91gHqJLhq0vOo_4vbvVjEvVOxgjqXv3he5oHJID5yyWfBttdRpiR0mzN3mXu/s72-c/Sujit+Das+02.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>agusindrakadek@gmail.com (Anonymous)</author></item><item><title>Ramalan Jayabaya</title><link>http://hindu-akan-ada-selamanya.blogspot.com/2014/04/ramalan-jayabaya.html</link><pubDate>Tue, 15 Apr 2014 14:15:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5489880678200491726.post-3103289151734839343</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgGW0XX6SJ_3sGHRCXAPjlG2aDJHlTIkTeFniXxS_gch9TNQWfLYk7ggxT76bDIZ7AZs46UYN-XJZXauYAUy0wTyXNSVXVoyTrgbjdwijWBCF6NET8v0Y6BOA88cLRVM7OnqIYULJIaeR-0/s1600/jayabaya+3.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgGW0XX6SJ_3sGHRCXAPjlG2aDJHlTIkTeFniXxS_gch9TNQWfLYk7ggxT76bDIZ7AZs46UYN-XJZXauYAUy0wTyXNSVXVoyTrgbjdwijWBCF6NET8v0Y6BOA88cLRVM7OnqIYULJIaeR-0/s1600/jayabaya+3.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Hindu Dharma,&lt;br /&gt;
&lt;span class="userContent"&gt;RAMALAN JAYABAYA&lt;br /&gt; Prabu Jayabaya raja 
Kediri bertemu pendita dari Rum yang sangat sakti, Maulana Ali Samsuyen.
 Ia pandai meramal serta tahu akan hal yang belum terjadi. Jayabaya lalu
 berguru padanya, sang pendeta menerangkan berbagai ramalan&lt;span class="text_exposed_show"&gt;
 yang tersebut dalam kitab Musaror dan menceritakan penanaman orang 
sebanyak 12.000 keluarga oleh utusan Sultan Galbah di Rum, orang itu 
lalu ditempatkan di pegunungan Kendenag, lalu bekerja membuka hutan 
tetapi banyak yang mati karena gangguan makhluk halus, jin dsb, itu pada
 th rum 437, lalu Sultan Rum memerintahkan lagi di Pulau Jawa dan 
kepulauan lainnya dgn mengambil orang dari India, Kandi, Siam. Sejak 
penanaman orang-orang ini sampai hari kiamat kobro terhitung 210 tahun 
matahari lamanya atau 2163 tahun bulan, Sang pendeta mengatakan orang di
 Jawa yang berguru padanya tentang isi ramalan hanyalah Hajar Subroto di
 G. Padang.&lt;br /&gt; Beberapa hari kemudian Jayabaya menulis ramalan Pulau 
Jawa sejak ditanami yang kedua kalinya hingga kiamat, lamanya 2.100 th 
matahari. Ramalannya menjadi Tri-takali, yaitu :&lt;br /&gt; I. Jaman permulaan 
disebut KALI-SWARA, lamanya 700 th matahari (721 th bulan). Pada waku 
itu di jawa banyak terdengar suara alam, gara-gara geger, halintar, 
petir, serta banyak kejadian-kejadian yang ajaib dikarenakan banyak 
manusia menjadi dewa dan dewa turun kebumi menjadi manusia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; II.
 Jaman pertengahan disebut KALI-YOGA, banyak perobahan pada bumi, bumi 
belah menyebabkan terjadinya pulau kecil-kecil, banyak makhluk yang 
salah jalan, karena orang yamg mati banyak menjelma (nitis).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; 
III. Jaman akhir disebut KALI-SANGARA, 700 th. Banyak hujan salah mangsa
 dan banyak kali dan bengawan bergeser, bumi kurang manfaatnya, 
menghambat datangnya kebahagian, mengurangi rasa-terima, sebab manusia 
yang yang mati banyak yang tetap memegang ilmunya.&lt;br /&gt; Tiga jaman 
tersebut masing-masing dibagi menjadi Saptama-kala, artinya jaman 
kecil-kecil, tiap jaman rata-rata berumur 100 th. Matahari (103 th. 
bulan), seperti dibawah ini :&lt;br /&gt; I. JAMAN KALI-SWARA dibagi menjadi :&lt;br /&gt;
 Kala-kukila 100 th, (th. 1-100): Hidupnya orang seperti burung, 
berebutan mana yang kuat dia yang menang, belum ada raja, jadi belum ada
 yang mengatur/memerintah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Kala-buddha (th. 101-200): Permulaan orang Jawa masuk agama Buddha menurut syariat Hyang agadnata (Batara Guru).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;
 Kala-brawa (th. 201 - 300): Orang-orang di Jawa mengatur ibadahnya 
kepada Dewa, sebab banyak Dewa yang turun kebumi menyiarkan ilmu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;
 Kala-tirta (th. 301-400): Banjir besar, air laut menggenang daratan, di
 sepanjang air itu bumi menjadi belah dua. Yang sebelah barat disebut 
pulau Sumatra, lalu banyak muncul sumber-sumber air, disebut umbul, 
sedang, telaga, dsb.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Kala-swabara (th. 401-500): Banyak keajaiban yang tampak atau menimpa diri manusia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Kala-rebawa (th. 501-600): Orang Jawa mengadakan keramaian2-kesenian dsb.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Kala-purwa (th. 601-700): Banyak tumbuh2an keturunan orang2 besar yang sudah menjadi orang biasa mulai jadi orang besar lagi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; II. JAMAN KALA-YOGA dibagi menjadi :&lt;br /&gt; Kala-brata (th. 701-800): Orang mengalami hidup sebagai fakir.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Kala-drawa (th. 801-900): Banyak orang mendapat ilham, orang pandai menerangkan hal-hal yang gaib.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Kala-dwawara (th. 901-1.000): Banyak kejadian yang mustahil.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Kala-praniti (th. 1.001- 1.101): Banyak orang mementingkan ulah pikir.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Kala-teteka (th. 1.101 - 1.200): Banyak oran g datang dari negeri-negeri lain.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Kala-wisesa (th. 1.201 - 1.300): Banyak orang yang terhukum.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Kala-wisaya (th. 1.301 - 1.400): Banyak orang memfitnah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; III. JAMAN KALA-SANGARA dibagi menjadi :&lt;br /&gt; Kala-jangga (th. 1.401 - 1.500): Banyak orang ulah kehebatan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Kala-sakti (th. 1.501 - 1.600): Banyak orang ulah kesaktian.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Kala-jaya (th. 1.601 - 1.700): Banyak orang ulah kekuatan untuk tulang punggung kehidupannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Kala-bendu (th. 1.701 - 1.800): Banyak orang senang berbantahan, akhirnya bentrokkan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Kala-suba (th. 1.801 - 1.900 ) : Pulau Jawa mulai sejahtera, tanpa kesulitan, orang bersenang hati.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Kala-sumbaga (th. 1.901 - 2.000) : Banyak orang tersohor pandai dan hebat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Kala-surasa (th. 2.001 - 2.100): Pulau Jawa ramai sejahtera, serba teratur, tak ada kesulitan, banyak orang ulah asmara.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;
 Ramalan yang ditulis Jayabaya itu disetujui oleh pendeta Ali Samsujen, 
kemudian sang pendeta pulang ke negerinya, diantar oleh Jayabaya dan 
putera mahkotanya Jaya-amijaya di Pagedongan, sampai di perbatasan. 
Jayabaya diiringi oleh puteranya pergi ke Gunung Padang, disambut oleh 
Ajar Subrata dan diterima di sanggar semadinya. Sang Anjar hendak 
menguji sang Prabu yang terkenal sebagai pejelmaan Batara Wisnu, maka ia
 memberi isyarat kepada endang-nya (pelayan wanita muda) agar 
menghidangkan suguhan yang terdiri dari :&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Kunir (kunyit) satu akar&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Juadah satu takir (mangkok dibuat dari daun pisang)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Geti (biji wijen bergula) satu takir&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Kajar (senthe sebangsa ubi rasanya pahit memabokkan satu batang)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Bawang putih satu takir&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Kembang melati satu takir&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Kembang seruni (serunai; tluki) satu takir&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;
 Anjar Subrata menyerahkan hidangan itu kepada sang prabu. Seketika 
Prabu Jayabaya menjadi murka dan menghunus kerisnya, sang Anjar 
ditikamnya hingga mati, jenazahnya muksa hilang. Endangnya yang hendak 
laripun ditikamnya pula dan mati seketika.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Sang putera mahkota 
sangat heran melihat murkanya Sang Prabu yang membunuh mertuanya (Anjar 
Subrata) tanpa dosa. Melihat putera mahkotanya sedih, sesudah pulang 
Prabu Jayabaya berkata dengan lemah lembut. "Ya anakku putera mahkota, 
janganlah engkau sedih karena matinya mertuamu, sebab sebenarnya ia 
berdosa terhadap Kraton. Ia bermaksud mempercepat berakhirnya, para raja
 di tanah Jawa yang belum terjadi. Hidangan sang Ajar menjadi perlambang
 akan hal-hal yang belum terjadi. Kalau ku-sambut (hidangan itu) niscaya
 tidak akan ada kerajaan melainkan hanya para pendeta yang menjadi 
orang-orang yang dihormati oleh orang banyak, sebab menurut guruku 
Baginda Ali Samsujen, semua ilmu Ajar itu sama dengan semua ilmuku".&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;
 Sang prabu anom bertunduk kepala memahami, kemudian mohon penjelasan 
tentang hidangan-hidangan sang pendeta dalam hubungannya dengan 
kraton-kraton yang bersangkutan, Sabda Prabu Jayabaya, "Ketahuilah 
anakku, bahwa aku ini penjelmaan Wisnu Murti, berkewajiban mendatangkan 
kesejahteraan kepada dunia, sedang penjelmaanku itu tinggal dua kali 
lagi. Sesudah penjelmaan di Kediri ini, aku akan menjelma Malawapati dan
 yang terakhir di Jenggala, sesudah itu aku tidak akan lagi menjelma di 
pulau Jawa, sebab hal itu tidak menjadi kewajibanku lagi. Tata atau 
rusaknya jagad aku tidak ikut-ikut, serta keadaanku sudah gaib bersatu 
dengan keadaan di dalam kepala-tongkat guruku. Waktu itulah terjadinya 
hal-hal yang dilambangkan dengan hidangan Sang Ajar tadi. Terdapat pada 7
 tingkat kerajaan, alamnya bergantian, berlainan peraturannya. 
Wasiatkanlah hal itu kepada anak cucumu di kemudian hari".&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Adapun keterangan tentang 7 (tujuh) kraton itu sbb:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;
 Jaman Anderpati dalam jaman Kalawisesa, ibukotanya Pajajaran, tanpa 
adil dan peraturan. Pengorbanan-pengabdian orang kecil berupa emas. 
Itulah yang diperlambangkan dalam suguhan si Ajar berupa kunyit. 
Lenyapnya kerajaan karena pertengkaran di antara saudara. Yang kuat 
menjadi-jadi kesukaanya akan perang dalam tahun rusaknya negara.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;
 Jaman Srikala Rajapati Dewaraja, ibukotanya Majapahit, ada peraturan 
negara sementara. Pengorbanan-pengabdian orang kecil berupa perak. 
Itulah diperlambangkan suguhan Ajar berupa juadah. Dalam 100 th. Kraton 
itu sirna, karena bertengkar dengan putera sendiri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Jaman 
Hadiyati dalam jaman Kalawisaya. Disanalah mulai ada hukum keadilan dan 
peraturan negara, ibukota kerajaan di Bintara. Pengorbanan-pengabdian 
orang kecil berupa tenaga kerja. Itulah yang diperlambangkan dalam 
suguhan berupa geti. Kraton sirna karena bertentangan dengan yang 
memegang kekuasaan peradilan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Jaman Kalajangga, bertakhtalah 
seorang raja bagaikan Batara, ibukotanya di Pajang. Disanalah mulai ada 
peraturan kerukunan dalam perkara. Pengorbanan-pengabdian orang kecil 
berupa segala macam hasil bumi di desa. Itulah yang diperlambangkan 
dalam suguhan Ajar berupa kajar sebatang. Sirnanya kerajaan karena 
bertengkar dengan putera angkat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Jaman Kala-sakti yang 
bertakhta raja bintara, ibukotanya Mataram. Disanalah mulai ada 
peraturan agama dan peraturan negara. Pengorbanan-pengabdian orang kecil
 berupa uang perak. Itulah yang dilambangkan dalam suguhan Ajar berupa 
bawang putih.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Jaman Kala-jaya dalam pemerintahan raja yang 
angkara murka, semua orang kecil bertabiat sebagai kera karena sulitnya 
penghidupan, ibukotanya di Wanakarta. Pengorbanan-pengabdian orang kecil
 berupa uang real. Itulah lambang suguhan yang berupa kembang melati. 
Kedudukan raja diganti oleh sesama saudara karena terjadi kutuk. 
Hilanglah manfaat bumi, banyak manusia menderita, ada yang bertempat 
tinggal di jalanan, ada yang di pasar. Sirnanya Karaton karena 
bertengkar dengan bangsa asing.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; . Jaman Kala-bedu di jaman raja
 hartati, artinya yang menjadi tujuan manusia hanya harta, terjadilah 
Karaton kembali di Pajang-Mataram. Pengorbanan-pengabdian orang kecil 
berupa macam-macam, ada yang berupa emas-perak, beras, padi dsb. Itulah 
yang dilambangkan Ajar dengan suguhannya yang berupa bunga serunai. 
Makin lama makin tinggi pajak orang kecil, berupa senjata dan hewan 
ternak dsb, sebab negara bertambah rusak, kacau, sebab 
pembesar-pembesarnya bertabiat buruk, orang kecil tidak menghormat. 
Rajanya tanpa paramarta, karena tidak ada lagi wahyunya, banyak wahyu 
setan, tabiat manusia berubah-ubah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Perempuan hilang malunya, 
tiada rindu pada sanak saudara, tak ada berita benar, banyak orang 
melarat, sering ada peperangan, orang pandai kebijaksanaannya 
terbelakang, kejahatan menjadi-jadi, orang-orang yang berani kurangajar 
tetap menonjol, tak kena dilarang, banyak maling menghadang di jalanan, 
banyak gerhana matahari dan bulan, hujan abu, gempa perlambang tahun, 
angin puyuh, hujan salah mangsa, perang rusuh, tak ketentuan musuhnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;
 Itulah semua perlambang si Ajar yang mengandung berbagai maksud yang 
dirahasiakan dengan endangnya ditemukan dengan Prabu Jayabaya. Saat itu 
sudah dekat dengan akhir jaman Kalabendu. Sirnanya raja karena 
bertentangan dengan saingannya (maru=madu). Lalu datanglah jaman 
kemuliaan raja.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Di saat inilah pulau Jawa sejahtera, hilang 
segala penyakit dunia, karena datangnya raja yang gaib, yaitu keturunan 
utama disebut Ratu Amisan karena sangat hina dan miskin, berdirinya 
tanpa syarat sedikitpun, bijaksanalah sang raja. Kratonnya Sunyaruri, 
artinya sepi tanpa sesuatu sarana tidak ada sesuatu halangan. Waktu 
masih dirahasiakan Tuhan membikin kebalikan keadaan, ia menjadi raja 
bagaikan pendeta, adil paramarta, menjauhi harta, disebut Sultan 
Herucakra.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Datangnya ratu itu tanpa asal, tidak mengadu bala 
manusia, prajuritnya hanya Sirullah, keagungannya berzikir, namun 
musuhnya takut. Yang memusuhinya jatuh, tumpes ludes menyingkir, sebab 
raja menghendaki kesejahteraan negara dan keselamatan dunia seluruhnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;
 Setahun bukannya dibatasi hanya 7.000 real tak boleh lebih. Bumi satu 
jung (ukuran lebar. kl. 4 bahu) pajaknya setahun hanya satu dinar, sawah
 seribu (jung?) hasilnya (pajaknya) hanya satu uwang sehari, bebas tidak
 ada kewajiban yang lain. Oleh karena semuanya sudah tobat, takut kena 
kutuk (kuwalat) ratu adil yang berkerajaan di bumi Pethikat dengan kali 
Katangga, di dalam hutan Punhak. Kecepit di Karangbaya. Sampai kepada 
puteranya ia sirna, karena bertentangan dengan nafsunya sendiri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;
 Lalu ada Ratu (raja) Asmarakingkin, sangat cantik rupanya, menjadi buah
 tutur pujian wadya punggawa, beribukota di Kediri. Keturunan ketiganya 
pindah ke tanah Madura. Tak lama kemudian Raja sirna karena bertentangan
 dengan kekasihnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Lalu ada 3 orang raja disatu jaman, yaitu :&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Ber-ibukota di bumi Kapanasan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Ber-ibukota di bumi Gegelang&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;
 Ber-ibukota di bumi Tembalang. Sesudah 30 th. mereka saling bertengkar,
 akhirnya ketiganya sirna semua. Pada waktu itu tidak ada raja, para 
bupati di Mancapraja berdiri sendiri-sendiri, karena tidak ada yang 
dianggap (disegani).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Beberapa tahun kemudian ada seorang raja 
yang berasal dari sabrang (lain negeri). Nusa Srenggi menjadi raja di 
Pulau Jawa ber-ibukotadi sebelah timur Gunung Indrakila, di kaki gunung 
candramuka. Beberapa tahun kemudian datang prajurit dari Rum memerangi 
raja dari Nusa Srenggi, raja dari Nusa Srenggi kalah, sirna dengan bala 
tentaranya. Para prajurit Rum mengangkat raja keturunan Herucakra, 
ber-ibukota di sebelah timur kali opak, negaranya menjadi lebih 
sejahtera, disebut Ngamartalaya. Sampai pada keturunanya yang ke tiga, 
sampailah umur Pulau jawa genap 210 matahari. Ramalan di atas disambung 
dengan "Lambang Praja" yang dengan kata-kata indah terbungkus melukiskan
 sifat keadaan kerajaan kerajaan di bawah ini&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; JANGGALA&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; PAJAJARAN&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; MAJAPAHIT&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; DEMAK&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; PAJANG&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; MATARAM KARTASURA&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; SURAKARTA&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; JOGJAKARTA.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Yang terakhir mengenai hal yang belum terjadi ialah :&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Negara Ketangga Pethik tanah madiun&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Negara Ketangga kajepit Karangboyo&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Kediri&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Bumi Kepanasan, Gegelang (Jipang), Tembilang (Dekat Tembayat)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Ngamartalaya&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;
 Perlu diterangkan bahwa tidak semua naskah Ramalan Jayabaya memuat 
"Lambang Praja". Maka hal ini banyak menimbulkan dugaan, bahwa ini 
sebuah tambahan belaka. Demikianlah pokok inti ramalan Jayabaya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgGW0XX6SJ_3sGHRCXAPjlG2aDJHlTIkTeFniXxS_gch9TNQWfLYk7ggxT76bDIZ7AZs46UYN-XJZXauYAUy0wTyXNSVXVoyTrgbjdwijWBCF6NET8v0Y6BOA88cLRVM7OnqIYULJIaeR-0/s72-c/jayabaya+3.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>agusindrakadek@gmail.com (Anonymous)</author></item><item><title>Komentar Ilmuwan Dunia Mengenai HINDU</title><link>http://hindu-akan-ada-selamanya.blogspot.com/2014/04/komentar-ilmuwan-dunia-mengenai-hindu.html</link><pubDate>Tue, 15 Apr 2014 14:12:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5489880678200491726.post-8922938708960632080</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhps50_zTFQ5H5x7tXAlCRyMJII9ZaI0S6t77O4rWP8OemTWKmsnotgxya_iljuBj1Kogl70-lKMWmYRRX1FrmiKGARBXs6BNXg5H2dau4wNZW2FGgptX3k3s-WeIJ87_VUS6Vt_H3hLXge/s1600/einstein1.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhps50_zTFQ5H5x7tXAlCRyMJII9ZaI0S6t77O4rWP8OemTWKmsnotgxya_iljuBj1Kogl70-lKMWmYRRX1FrmiKGARBXs6BNXg5H2dau4wNZW2FGgptX3k3s-WeIJ87_VUS6Vt_H3hLXge/s1600/einstein1.jpg" height="312" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Hindu Dharma,&lt;br /&gt;
&lt;span class="userContent"&gt;Komentar Ilmuwan Dunia tentang Hindu&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt; Albert Einstein&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; (1879-1955) Ahli Fisika:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;
 "Ketika aku membaca Bhagavad-Gita dan merenung tentang bagaimana Tuhan 
menciptakan alam semesta ini yang lainnya nampak demikian 
bberlebih-lebihan."&lt;br /&gt; &lt;span class="text_exposed_show"&gt;&lt;br /&gt; "Kita 
berhutang banyak kepada orang India yang mengajarkan kita bagaimana 
menghitung, tanpa itu penemuan yang bermanfaat ilmiah tidak mungkin 
dilakukan"&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt; Jean-Sylvain Bailly&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; (1763-1793) Ahli Astronomi:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;
 "Perjalanan bintang dihitung oleh orang-orang Hindu sebelum sekitar 
4500 tahun bahkan tidak berbeda semenitpun dari tabel Cassine dan Meyer 
(digunakan mulai abad 19). Tabel-tabel India memberikan variasi tahunan 
yang sama dari bulan sebagaimana ditemukan oleh Tycho Brahe- suatu 
variasi yang tidak dikenal sekolah Alexandria dan juga orang Arab yang 
mengikuti kalkulasi-kalkulasi dari sekolah itu.."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhps50_zTFQ5H5x7tXAlCRyMJII9ZaI0S6t77O4rWP8OemTWKmsnotgxya_iljuBj1Kogl70-lKMWmYRRX1FrmiKGARBXs6BNXg5H2dau4wNZW2FGgptX3k3s-WeIJ87_VUS6Vt_H3hLXge/s72-c/einstein1.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>agusindrakadek@gmail.com (Anonymous)</author></item><item><title>Lubdaka Menuju Swargaloka</title><link>http://hindu-akan-ada-selamanya.blogspot.com/2014/04/lubdaka-menuju-swargaloka.html</link><category>Cerita Hindu</category><pubDate>Mon, 14 Apr 2014 10:36:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5489880678200491726.post-7399525084930187824</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXpEwI_f537wXa97M3AZ_Z2EP-GylMNt9Qv7Z-hQXwVAsWhIq2oTQWii5aSv-MwkBHnbrxKzVniz5C70tuBnsGN8XVHRRFlIFjlzzF8ZymFtKENMQ81ZyDhzqX7Oo7cExsCw42zVJ16SGH/s1600/lubdaka.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXpEwI_f537wXa97M3AZ_Z2EP-GylMNt9Qv7Z-hQXwVAsWhIq2oTQWii5aSv-MwkBHnbrxKzVniz5C70tuBnsGN8XVHRRFlIFjlzzF8ZymFtKENMQ81ZyDhzqX7Oo7cExsCw42zVJ16SGH/s1600/lubdaka.jpg" height="256" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Cerita Hindu,&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 22px; margin-bottom: 1em; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;
Lubdaka adalah seorang kepala keluarga hidup di suatu desa menghidupi keluarganya dengan berburu binatang di hutan. Hasil buruannya sebagian ditukar dengan barang-barang kebutuhan keluarga, sebagian lagi dimakan untuk menghidupi keluarganya. Dia sangat rajin bekerja, dia juga cukup ahli sehingga tidak heran bila dia selalu pulang membawa banyak hasil buruan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 22px; margin-bottom: 1em; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;
Hari itu Lubdaka berburu sebagaimana biasanya, dia terus memasuki hutan, aneh pikirnya kenapa hari ini tak satupun binatang buruan yang muncul, dia semua peralatan berburu digotongnya tanpa kenal lelah, dia tidak menyerah terus memasuki hutan. Kalo sampe aku pulang gak membawa hasil buruan nanti apa yang akan dimakan oleh keluargaku..?, semangatnya semakin tinggi, langkahnya semakin cepat, matanya terus awas mencari-cari binatang buruan, namun hingga menjelang malam belum juga menemukan apa yang ia harapkan, hari telah terlalu gelap untuk melanjutkan kembali perburuannya, dan sudah cukup larut jika hendak kembali ke pernaungan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 22px; margin-bottom: 1em; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;
Ia memutuskan untuk tinggal di hutan, namun mencari tempat yang aman terlindungi dari ancaman bahaya, beberapa hewan buas terkenal berkeliaran di dalam gelapnya malam guna menemukan mangsa yang lelap dan lemah. Sebagai seorang pemburu tentu dia tahu betul dengan situasi ini. Tak perlu lama baginya guna menemukan tempat yang sesuai, sebuah pohon yang cukup tua dan tampak kokoh di pinggir sebuah telaga mata air yang tenang segera menjadi pilihannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 22px; margin-bottom: 1em; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;
Dengan cekatan dari sisa tenaga yang masih ada, ia memanjat batang pohon itu, melihat sekeliling sekejap, ia pun melihat sebuah dahan yang rasanya cukup kuat menahan beratnya, sebuah dahan yang menjorok ke arah tengah mata air, di mana tak satu pun hewan buas kiranya akan bisa menerkamnya dari bawah, sebuah dahan yang cukup rimbun, sehingga ia dapat bersembunyi dengan baik. Singkat kata, ia pun merebahkan dirinya, tersembunyikan dengan rapi di antara rerimbunan yang gulita.&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 22px; margin-bottom: 1em; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;
Ia merasa cukup aman dan yakin akan perlindungan yang diberikan oleh tempat yang telah dipilihnya. Sesaat kemudian keraguan muncul dalam dirinya. Kalo sampe dia tertidur dan jatuh tentu binatang buas seperti macan, singa, dll akan dengan senang hati memangsanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 22px; margin-bottom: 1em; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;
Ia resah dan gundah, badannya pun tak bisa tenang, setidaknya ia harapkan badannya bisa lebih diam dari pikirannya, itulah yang terbaik bagi orang yang dalam persembunyian. Namun nyatanya, badan ini bergerak tak menentu, sedikit geseran, terkadang hentakan kecil, atau sedesah napas panjang. Tak sengaja ia mematahkan beberapa helai daun dari bantalannya yang rapuh, entah kenapa Lubdaka tiba-tiba memandangi daun-daun yang terjatuh ke mata air itu. Riak-riak mungil tercipta ketika helaian daun itu menyentuh ketenangan yang terdiam sebelumnya. Ia memperhatikan riak-riak itu, namun ia tak dapat memikirkan apapun. Beberapa saat kemudian, riak-riak menghilang dan hanya menyisakan bayang gelombang yang semakin tersamarkan ketika masuk ke dalam kegelapan. Ia memetik sehelai daun lagi dan menjatuhkannya, kembali ia menatap, dan entah kenapa ia begitu ingin menatap. Ia memperhatikan dirinya, bahwa ia mungkin bisa tetap terjaga sepanjang malam, jika ia setiap kali menjatuhkan sehelai daun, dan mungkin ia bisa menyingkirkan ketakutannya, setidaknya karena ia akan tetap terjaga, itulah yang terpenting saat ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 22px; margin-bottom: 1em; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;
Lubdaka – si pemburu, kini menjadi pemetik daun, guna menyelamatkan hidupnya. Ia memperhatikan setiap kali riak gelombang terbentuk di permukaan air akan selalu riak balik, mereka saling berbenturan, kemudian menghilang kembali. Hal yang sama berulang, ketika setiap kali daun dijatuhkan ke atas permukaan air, sebelumnya ia melihat itu sepintas lalu setiap kali ia berburu, baru kali ia mengamati dengan begitu dekat dan penuh perhatian, bahwa gerak ini, gerak alam ini, begitu alaminya. Sebelumnya, ia mengenang kembali, ketika ia berburu, yang selalu ia lihat adalah si mangsa, dan mungkin si mara bahaya, namun tak sekalipun ia sempat memperhatikan hal-hal sederhana yang ia lalui ketika ia berburu. Lubdaka hanya ingat, bahwa di rumahnya, ada keluarga yang bergantung pada buruannya, dan ia hanya bisa berburu, itulah kehidupannya, itulah keberadaannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 22px; margin-bottom: 1em; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;
Ia terlalu sibuk dalam rutinitas itu, ya… sesaat ia menyadari bahwa hidup ini seakan berlalu begitu saja, ia bahkan tak sempat berkenalan dengan sang kehidupan, karena ia selalu sbuk lari dari si kematian, ia berpikir apakah si kematian akan datang ketika si kelaparan menyambanginya, ataukah si kematian akan berkunjung ketika si mara bahaya menyalaminya ketika ia lalai. Semua yang ia lakukan hanyalah sebuah upaya bertahan hidup. Ia tak tahu apapun selain itu, mungkin ia mengenal mengenal kode etik sebagai seorang pemburu, dan aturan moralitas atau agama, namun semua itu hanya sebatas pengetahuan, di dalamnya ia melihat, bahwa dirinya ternyata begitu kosong dan dangkal. Keberadaannya selama ini, adalah identitasnya sebagai seorang pemburu, ia tak mengenal yang lainnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 22px; margin-bottom: 1em; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;
Sesekali ia memetik helai demi helai, dan menatap dengan penuh, kenapa ia tak menyadari hal ini sebelumnya, ia bertanya pada dirinya, ia melihat kesibukan dan rutinitasnya telah terlalu menyita perhatiannya. Dalam kehinangan malam, dan sesekali riak air, ia bisa mendengar sayup-sayup suara malam yang terhantarkan bagai salam oleh sang angin, ia pun terhenyak, sekali lagi, ia tak pernah mendengarkan suara malam seperti saat ini, biasanya ia telah terlelap setelah membenahi daging buruannya dan santap malam sebagaimana biasanya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 22px; margin-bottom: 1em; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;
Terdengar lolongan srigala yang kelaparan tak jauh dari tempatnya berada, secara tiba-tiba ia mengurungkan niatnya memetik daun. Jantungnya mulai berdegup kencang, Lubdaka tahu, pikirannya berkata bahwa jika ia membuat sedikit saja suara, si pemilik lolongan itu bisa saja menghampirinya, dan bisa jadi ia akan mengajak serta keluarga serta kawan-kawannya untuk menunggu mangsa lesat di bawah pohon, walau hingga surya muncul kembali di ufuk Timur. Ia berusaha memelankan napasnya, dan menjernihkan pikirannya. Walau ia dapat memelankan napasnya, namun pikirannya telah melompat ke beberapa skenario kemungkinan kematiannya dan bagaimana sebaiknya lolos dari semua kemungkinan itu. Beberapa saat kemudian, ketenangan malam mulai dapat kembali padanya. Ia mendengarkan beberapa suara serangga malam, yang tadi tak terdengar, ah… ia ingat, ia terlalu ketakutan sehingga sekali lagi tak memperhatikan. Sebuah helaan napas yang panjang, ia masih hidup, dan memikirkan kembali bagaimana ia berencana untuk lolos dari kematian yang terjadi, ia pun tersenyum sendiri, ia cukup aman di sini. Namun Lubdaka melihat mulai melihat sesuatu dalam dirinya, yang dulu ia pandang sambil lalu, sesuatu yang yang ia sebut ketakutan. Lubdaka menyadari bahwa ia memiliki rasa takut ini di dalam dirinya, sesuatu yang bersembunyi di dalam dirinya, ia mulai melihat bahwa ia takut terjatuh dari pohon, ia takut dimangsa hewan buas, bahkan ia takut jika tempat persembunyiannya disadari oleh hewan-hewan yang buas, ia takut tak berjumpa lagi dengan keluarganya. Setidaknya ia tahu saat ini, ia berada di atas sini, karena takut akan tempat yang di bawah sana, tempat di bawah sana mungkin akan memberikan padanya apa yang disebut kematian. Dan ketakutan ini begitu mengganggunya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 22px; margin-bottom: 1em; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;
Ia kembali memetik sehelai daun dan menjatuhkannya ke mata air, namun secara tak sadar oleh kegugupannya, ia memetik sehelai daun lagi dengan segera, secepat itu juga ia sadar bahwa tangannya telah memetik sehelai daun terlalu cepat. Ia memandangi helaian daun itu, di sinilah ia melihat sesuatu yang sama dengan apa yang ia takutkan, ia melihat dengan jelas sesuatu pada daun itu, sesuatu yang disebut kematian. Daun yang ia pisahkan dari pohonnya kini mengalami kematian, namun daun itu bukan hewan atau manusia, ia tak bisa bersuara untuk menyampaikan apa yang ia rasakan, ia tak dapat berteriak atau menangis kesakitan, ia hanya … hanya mati, dan itulah apa yang si pemburu lihat ketika itu.&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 22px; margin-bottom: 1em; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;
Selama ini Lubdaka selalu melihat hewan-hewan yang berlari dari kematiannya dan yang menjerit kesakitan ketika kematian yang dihantarkan sang pemburu tiba pada mereka, Lubdaka telah mengenal sisi kematian sebagai suatu yang menyakitkan, dan kengerian yang timbul dari pengalamannya akan saksi kematian, telah menimbulkan ketakutan di dalam dirinya. Ia melihat ia sendiri telah menjadi buruan akan rasa takutnya. Lubdaka telah melihat bentuk kematian di luar sana, termasuk yang kini dalam kepalan tangannya, ia kini masuk ke dalam dirinya, dan ingin melihat kematian di dalam dirinya, namun semua yang ia temukan hanyalah ketakutan akan kematian, ketakutan yang begitu banyak, namun si kematian itu sendiri tak ada, tak nyata kecuali bayangan kematian itu sendiri. Lubdaka pun tersenyum, aku belum bertemu kematian, yang menumpuk di sini hanyalah ketakutan, hal ini begitu menggangguku, aku tak memerlukan semua ini. Lubdaka melihat dengan nyata bahwa ketakutannya sia-sia, ia pun membuang semua itu, kini ia telah membebaskan dirnya dari ketakutan. Ia pun melepas tangkai daun yang mati itu dari genggamanannya, dan jatuh dengan begitu indah di atas permukaan air. Diapun tidak menyadari bahwa malam itu adalah malam Siva (Siva Ratri). Dimana Siva sedang melakukan tapa brata yoga semadi. Barang siapa pada malam itu melakukan brata (mona brata: tidak berbicara, jagra: Tidak Tidur, upavasa: Tidak makan dan minum) maka mereka akan dibebaskan dari ikatan karma oleh Siva.&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 22px; margin-bottom: 1em; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;
Ufuk Timur mulai menunjukkan pijar kemerahan, Lubdaka memandangnya dari celah-celah dedaunan hutan, dalam semalam ia telah melihat begitu banyak hal yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Kini ia telah berkenalan dengan kehidupan dan melepas ketakutan-ketakutannya, ia telah mulai mengenal semua itu dengan mengenal dirinya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 22px; margin-bottom: 1em; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;
Lubdaka begitu senang ia dapat tetap terjaga walau dengan semua yang ia alami dengan kekalutan dan ketakutan, kini sesuatu yang lama telah padam dalam dirinya, keberadaannya begitu ringan, tak banyak kata yang dapat melukiskan apa yang ia rasakan, begitu hening, sehingga ia bisa merasakan setiap gerak alami kehidupan yang indah ini, setiap tiupan yang dibuat oleh angin, dan setiap terpaan sinar yang menyentuhnya. Kini sang pemburu memulai perjalanannya yang baru bersama kehidupan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 22px; margin-bottom: 1em; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;
Dia menyadari bahwa berburu bukanlah satu-satunya pilihan untuk menghidupi keluarganya. Setelah dia melewati perenungan di malam tersebut, kesadaran muncul dalam dirinya untuk merubah jalan hidupnya. Dia mulai bercocok tanam, bertani hingga ajal datang menjemputnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 22px; margin-bottom: 1em; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;
Saat dia meninggal, Atmanya (Rohnya) menuju sunia loka, bala tentara Sang Suratma (Malaikat yang bertugas menjaga kahyangan) telah datang menjemputnya. Mereka telah menyiapkan catatan hidup dari Lubdaka yang penuh dengan kegiatan Himsa Karma (memati-mati). Namun pada saat yang sama pengikut Siva pun datang menjemput Atma Lubdaka. Mereka menyiapkan kereta emas. Lubdaka menjadi rebutan dari kedua balatentara baik pengikut Sang Suratma maupun pengikut Siva. Ketegangan mulai muncul, semuanya memberikan argumennya masing-masing. Mereka patuh pada perintah atasannya untuk menjemput Atma Sang Lubdaka.&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 22px; margin-bottom: 1em; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;
Saat ketegangan memuncak Datanglah Sang Suratma dan Siva. Keduanya kemudian bertatap muka dan berdiskusi. Sang Suratma menunjukkan catatan hidup dari Lubdaka, Lubdaka telah melakukan banyak sekali pembunuhan, sudah ratusan bahkan mungkin ribuan binatang yang telah dibunuhnya, sehingga sudah sepatutnya kalo dia harus dijebloskan ke negara loka.&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 22px; margin-bottom: 1em; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;
Siva menjelaskan bahwa; Lubdaka memang betul selama hidupnya banyak melakukan kegiatan pembunuhan, tapi semua itu karena didasari oleh keinginan/niat untuk menghidupi keluarganya. Dan dia telah melakukan tapa brata (mona brata, jagra dan upavasa/puasa) salam Siva Ratri/Malam Siva, sehingga dia dibebaskan dari ikatan karma sebelumnya. Dan sejak malam itu Dia sang Lubdaka menempuh jalan hidup baru sebagai seorang petani. Oleh karena itu Sang Lubdaka sudah sepatutnya menuju Suarga Loka (Sorga). Akhirnya Sang Suratma melepaskan Atma Lubdaka dan menyerahkannya pada Siva. (Kisah ini adalah merupakan Karya Mpu Tanakung, yang sering digunakan sebagai dasar pelaksanaan Malam Siva Ratri).&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 22px; margin-bottom: 1em; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;
Di malam Siva Ratri ada tiga brata yang harus dilakukan:&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 22px; margin-bottom: 1em; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;
1. Mona: Tidak Berbicara&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 22px; margin-bottom: 1em; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;
2. Jagra: Tidak Tidur&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 22px; margin-bottom: 1em; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;
3. Upavasa: Tidak Makan dan Minum&lt;/div&gt;
&lt;div style="font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 13px; line-height: 22px; margin-bottom: 1em; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;
Siva Ratri datang setahun sekali setiap purwani Tilem ke-7 (bulan ke-7) tahun Caka.&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjXpEwI_f537wXa97M3AZ_Z2EP-GylMNt9Qv7Z-hQXwVAsWhIq2oTQWii5aSv-MwkBHnbrxKzVniz5C70tuBnsGN8XVHRRFlIFjlzzF8ZymFtKENMQ81ZyDhzqX7Oo7cExsCw42zVJ16SGH/s72-c/lubdaka.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>agusindrakadek@gmail.com (Anonymous)</author></item><item><title>Hindu Dharma - Keunggulan Hindu</title><link>http://hindu-akan-ada-selamanya.blogspot.com/2013/07/hindu-dharma-keunggulan-hindu.html</link><pubDate>Sat, 6 Jul 2013 16:59:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5489880678200491726.post-2993222501603400562</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
Hindu Dharma sekalian yang berbahagia. Sudah lama saya vacum untuk memposting di blog kesayangan kita semua ini, ini disebabkan kesibukan saya yang sangat padat. Postingan kali ini, saya akan membahas sesuatu yang sangat-sangat membanggakan bagi Umat Sedharma (tepuk tangan dong......). Kali ini saya akan membahas Keunggulan Hindu. kenapa saya membahas hal ini??mungkin itu yang ada dipikiran kalian semua. saya juga bingung kenapa saya bisa menjatuhkan pemikiran sehingga mau meluangkan waktu untuk postingan kali ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Keunggulan Hindu&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Banyak mungkin orang yang beragama lain mencemooh kita sebagai umat hindu, secara memang umat hindu di indonesia hanya mencapai 15 % penduduk Indonesia. Sangat jauh jika kita bandingkan dengan umat Islam yang mencapai 75%. Untuk itulah postingan saya kali ini akan membahas Keunggulan Umat Hindu dibandingkan dengan Umat-umat lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. &lt;b&gt;&lt;i&gt;Keselarasan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i style="font-weight: bold;"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &lt;/i&gt;mengapa saya taruh keselarasan menjadi keunggulan Hindu yang pertama??jawabannya sangat simple, itu karena Hindu merupakan Agama yang sangat menjujung tinggi keselarasan dalam hidup. Baik keselarasan beragama maupun keselarasan dengan Alam. Dalam Ajaran Hindu dikenal adanya istilah &lt;i&gt;Tri Hita Karana &lt;/i&gt;, Apakah Tri Hita Karana itu??Tri yang berarti tiga, Hita yang bermakna Kebahagiaan, dan Karana yang artinya Penyebab. Jadi bisa kita simpulkan bahwa Tri Hita Karana Merupakan tiga penyebab kebahagiaan. Saya tidak akan panjang lebar menjelaskan bagian dari tri hita karana tersebut, karena sudah banyak refrensi yang membahas mengenai itu. Jadi apa hubungan nya keselarasan dengan Tri Hita Karana??Tri Hita Karana Merupakan suatu ajaran yang sangat menjaga keselarasan hidup umat Hindu, Mengapa??karena Tri Hita Karana Mengajarkan kita untuk selaras dengan Alam, Selaras dengan sesama manusia, serta kita diajarkan untuk selaras dengan sang Pencipta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2.&lt;b&gt;&lt;i&gt; Ikut Dalam Menyelamatkan Dunia&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp;Masyarakat Hindu di Bali setiap Tilem Kesanga, menjalani Hari Besar yang sangat Suci, yakni NYEPI. dalam perayaan pergantian tahun baru caka itu, tidak akan dilihat kemeriahaan seperti tahun-tahun baru umat lain. Umat hindu akan sangat khusuk dalam melakukan Tapa Brata Penyepian atau yang umum dikenal sebagai pantangan-pantangan yang harus dihindari. sekarang apa hubungan nya dengan penyelamatan dunia??disaat nyepi itulah sesunggguh nya Umat hindu ikut serta dalam menyelamatkan dunia dari isu pemanasan global yang belakangan ini menyeruak di berbagai Negara. Disaat umat hindu melakukan tapa brata penyepian, segala aktivitas dihentikan total, tidak ada lagi asap dari kendaraan bermotor yang mencemari udara setiap hari. Pertamina dan PLN sangat bangga dengan Perayaan Nyepi, karena mereka dapat menghemat disaat Umat Hindu melaksanakan Nyepi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. &lt;i&gt;&lt;b&gt;Memiliki keakuratan penanggalan&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b style="font-style: italic;"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &lt;/b&gt;Sudah tidak diragukan lagi para cendekiawan-cendekiawan Hindu sangat mahir dalam penanggalan, maka tidak akan heran jika kita tidak pernah ribut dalam menentukan hari besar umat hindu. kita bisa lihat dari umat lain yang masih sangat sering berbeda pandangan mengenai menentukan hari besarnya sendiri. Kita harus bangga menjadi umat Hindu yang tidak seperti anak kecil hanya dalam menentukan hari suci masih berbeda keyakinan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Istilah Hindu Dipakai di Negara Mayoritas Muslim&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; Istilah-istilah Hindu baik dari bahasa sansekrta ataupun bahasa kawi sangat banyak digunakan oleh instansi-instansi pemerintahan di Indonesia. Walaupun mayoritas Agama di Indonesia adalah Islam, namun mereka tidak sadar jika tetap menggunakan istilah-istilah Hindu. Sebut saja &lt;b style="font-style: italic;"&gt;PARI PURNA &lt;/b&gt;, dalam sidang di DPR maka kita akan sering kali mendengar kalimat itu. kalimat PARI PURNA itu memiliki makana yang sempurna ataupun paling sempurna. &lt;i&gt;&lt;b&gt;Bhineka Tunggal Ika&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; menjadi istilah yang kedua yang dipakai di Indonesia, dan yang sangat membuat kita bangga sebagai umat Hindu adalah Kalimat Bhineka tunggal Ika tersebut menjadi lambang dari bangsa Indonesia. Bhineka TunggaL Ika yang memiliki arti "berbeda-beda tetapi tetap satu jua" sudah dikenal dari zaman kerajaan Maja Pahit yang terdapat juga dalam bahasa sansekerta. &amp;nbsp;&lt;i style="font-weight: bold;"&gt;Pancasila&lt;/i&gt;&amp;nbsp;sudah tidak asing lagi kita dengar, pancasila merupakan lima sikap atau pedoman perilaku dalam berbangsa dan bernegara. Istilah ini sebenarnya sudah ada ber abad-abad yang lalu, namun soekarno melihat bahwa pancasila ini cocok untuk menjadi pedoman dalam perilaku berbangsa dan bernegara sehingga soekarno saat itu mencetuskan ide untuk menjadikan Pancasila menjadi sebuah pedoman untuk berbangsa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">3</thr:total><author>agusindrakadek@gmail.com (Unknown)</author></item><item><title>tuhan semua agama "sama"??</title><link>http://hindu-akan-ada-selamanya.blogspot.com/2012/10/tuhan-semua-agama-sama.html</link><pubDate>Sat, 27 Oct 2012 14:01:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5489880678200491726.post-1790375935797502358</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;span class="Apple-style-span" style="-webkit-border-horizontal-spacing: 2px; -webkit-border-vertical-spacing: 2px; color: #333333; font-family: Helvetica, Arial, FreeSans, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px;"&gt;&lt;strong&gt;Persamaan Pendapat.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya semua agama mengajarkan keyakinan seperti dibawah ini : Tuhan adalah yang menciptakan semesta alam dan seisinya. Tuhan adalah yang menghidupi semua mahluk hidup. Tuhan adalah yang berkuasa atas semesta alam dan semua mahluk hidup. Tuhan adalah yang menjadi penyembahan dan pemujaan umat manusia. Tuhan adalah yang Maha Esa. Khusus di Indonesia semua agama sepakat dengan butir kelima yang menjadi sila pertama dari Pancasila yaitu KeTuhanan Yang Maha Esa.Akan tetapi apakah masing masing umat beragama memahami bahwa Tuhannya berbeda dengan Tuhan umat beragama lain? Jawabannya perlu pembahasan dibawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perbedaan Pendapat.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan bahasa. Masing masing bangsa (umat) menyebut Tuhan sesuai dengan bahasanya, seperti : Yahudi menyebut dengan nama Yahweh, Arab dengan nama Allah, Hindia – Brahman, Inggris – God, Yunani – Deo, Bali – Sang Hyang Widhi, Sunda ada yang menyebut Gusti, Jawa dengan berbagai sebutan seperti Pangeran, Hyang Manon, Hyang Widhi, Suksma Kawekas, dll. Termasuk bangsa bangsa lain diseluruh dunia ini menyebut sesuai dengan bahasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya adalah apakah kalau sebutannya berbeda, dapat dikatakan Tuhannya juga berbeda? Jawabannya perlu uraian dibawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umat beragama di dunia ini terutama yang berakal sehat, berpendapat bahwa meskipun berbeda agama, Tuhan tetap sama, karena keyakinan seperti tersebut di bab A. Perbedaan hanya karena bahasa atau sebutannya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ada sebagian umat agama tertentu yang berpendapat bahwa Tuhan yang benar adalah yang sesuai dengan bahasanya atau sebutannya. Dinyatakan bahwa Tuhan yang benar adalah yang sebutannya A, kalau sebutannya B, D, G, H, S dan Y maka itu Tuhan yang salah. Pertanyaannya adalah bagaimana Tuhan Yang Maha Esa, yang memiliki semesta alam seisinya termasuk seluruh bahasa didunia ini, menyikapi pernyataan agama tertentu tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan Yang Maha Luhur dan Maha Kasih, sumber segala ilmu lahir dan batin, yang mengatur setiap kejadian seperti kejadian adanya berbagai agama dan berbagai bahasa di dunia ini, pastinya menerima seluruh umat manusia yang menganut berbagai agama dan menggunakan berbagai bahasa dengan tanpa pilih kasih. Ibarat eorang ibu yang memiliki banyak anak, tidak akan membeda bedakan kasih sayangnya meskipun ada salah satu anaknya yang merasa paling benar dan menganggap saudara saudaranya salah. Apalagi Tuhan yang memiliki berbagai umat dunia ini sebagai anak anakNya, tidak akan membeda bedakan satu sama lain, meskipun ada salah satu anakNya yang merasa paling baik. Tuhan Yang Maha Mulia tentu juga tidak terprovokasi oleh yang suka menjelek jelekkan saudara saudaranya. Tapi Tuhan Maha Pengampun, maka mengampuni anakNya yang satu itu, maklum dulu lahir ditempat yang gersang dan panas sehingga bertemperamen keras. Akan tetapi Tuhan juga Maha Adil, maka anakNya yang paling berbakti mendapatkan anugerah berupa kelebihan dari pada yang lain, seperti kecerdasan, kecakapan, ketrampilan, dll kemampuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kesimpulannya Tuhan Yang Maha Esa ini tetap menjadi Tuhannya berbagai agama yang masing masing bisa saja menyebutNya dengan bahasa yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perbedaan pemahaman tentang Tuhan.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman tentang (Ilmu) keTuhanan, meliputi segala aspek tentang Tuhan. SifatNya, KarsaNya, keMaha SegalaanNya dan keberadaanNya. Didalam ajaran Islam termasuk Tauhid, sedang didalam ajaran Hindu termasuk Tatwa. Tentunya Tuhan mengajarkan dasar dasar Ilmu keTuhanan yang sama untuk berbagai agama. Apabila terjadi perbedaan, karena pemahaman (penafsiran) yang berbeda. Jadi umat agama yang satu dalam menafsirkan ilmu keTuhanan bisa ada perbedaan dengan umat agama lainnya. Sehingga ada hal hal tertentu yang satu sama lain tafsirannya sama, ada hal hal lain yang tafsirannya berbeda. Bahkan dalam satu agamapun yang berbeda golongan, bisa terjadi beda tafsir. Penyebabnya disamping perbedaan ruang dan waktu, juga karena perbedaan tingkat spiritual dan perbedaan kemampuan daya pikir, yang resultantenya berupa perbedaan tingkat kesadaran berkeTuhanan. Gus Dur secara bergurau menceritakan ada 3 orang yaitu seorang pastur, seorang pendeta Hindu dan seorang kyai, berdialog tentang kedekatan umat dengan Tuhan. Sang pastur mengatakan bahwa umatnya memanggil Tuhan dengan sebutan Bapak, untuk menunjukkan kedekatannya, ibarat bapak dengan anak. Sang pendeta mengatakan bahwa umatnya memanggil Tuhan dengan sebutan Om (yang oleh Gus Dur diartikan sebagai paman), bukankah antara paman dengan keponakan juga dekat. Sang kyai tadinya diam saja, kemudian didesak untuk berpendapat, akhirnya mengatakan : ”Umat saya boro boro dekat dengan Tuhan, untuk memanggil saja harus bikin menara terlebih dulu, sudah itu teriak teriak meskipun sudah pakai pengeras suara, supaya Tuhan yang jauh dilangit sap 7 bisa mendengar”. Guyonan ini menyiratkan perbedaan prinsip tentang dimana Tuhan berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh umat Hindu meyakini bahwa Tuhan sudah berada didalam hati manusia. Sedang umat Islam menafsirkan Tuhan berada di Arasy, yaitu bersinggasana di atas langit sap ke tujuh. Jika demikian apakah Tuhan umat Hindu berbeda dengan Tuhan umat Islam? Untuk menjawab perlu analogi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika Kulkas, Setlika dan Kipas angin berdialog tentang Sumber tenaganya yaitu Listrik. Kulkas berkata: “Listrik itu dingin, buktinya aliran listrik menjadikan saya menjadi dingin”. Setlika membantah dengan mengatakan: “Kulkas kamu salah, Listrik yang benar itu panas, buktinya kalau Listrik datang, saya menjadi panas”. Kipas angin berpendapat lain lagi: “Listrik yang benar itu berputar dan menimbulkan angin yang segar. Kalau menjadikan rasa dingin atau panas itu bukan Listrik”. Ketiganya berbantah berdasarkan yang dirasakan sendiri, sehingga tak ada ujung penyelesaiannya. Sampai kemudian datang Sarjana Listrik memberikan pencerahan dengan mengatakan: “Kulkas, Setlika dan Kipas angin, kalian semuanya benar sesuai dengan yang masing masing alami dan rasakan. Oleh karena itu tidak perlu menyalahkan satu sama lain. Ketahuilah bahwa Listrik itu dapat menimbulkan dingin, panas dan angin sesuai dengan kapasitas dan potensi kalian masing masing. Bahkan lebih dari itu, bila Lampu berhubungan dengan Listrik dapat menimbulkan cahaya, bila Radio berhubungan dengan Listrik dapat menimbulkan suara, bila TV berhubungan dengan listrik dapat menimbulkan gambar dan masih banyak lagi kemampuan Sang Listrik, sekali lagi sesuai dengan kapasitas dan potensi masing masing”. Setelah mendapatkan pencerahan dari Sarjana Listrik maka ketiga saudara Kulkas, Setlika dan Kipas angin menjadi faham dan rukun kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula dengan pemahaman umat Islam, bahwa Tuhan berada di Arasy yaitu singgasana diatas langit sap tujuh. Sedang pemahaman umat Hindu, Tuhan berada didalam hati setiap manusia. Keduanya satu sama lain berbeda pemahaman, tetapi keduanya bisa benar, karena Tuhan meliputi semesta alam dan seisinya. Bahkan apabila ada anggapan Tuhan berada lebih jauh dari langit sap tujuh yaitu di ujung galaxy yang jaraknya dari bumi membutuhkan waktu jutaan tahun kecepatan cahaya, juga tidak salah karena Tuhan memang juga ada disana. Sebaliknya apabila ada pendapat bahwa Tuhan sudah menyatu didalam hati setiap umatnya, sebagaimana anggapan kelompok penghayat kepercayaan, juga tidak dapat disalahkan, karena sekali lagi, Tuhan meliputi semesta alam seisinya baik itu ditempat yang dekat sekali maupun ditempat yang jauh sekali. Orang Jawa bijak menyatukan dua pendapat yang berbeda itu dengan ungkapan : Cedak ora sesenggolan, adoh tanpa antara. Terjemahannya dekat tidak bersinggungan jauh tanpa jarak, yang artinya adalah bertunggalnya umat dengan Tuhan yang meliputi semesta alam seisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman penulis tahun 1996 ketika masih dinas di Surakarta, dengan staf berjumlah 40 PNS. Yang beragama Islam sebanyak 30 orang kami kumpulkan di ruang rapat dan ditanya : “Apakah Tuhan agama Kristen sama dengan Tuhan agama Islam?”. Hampir semuanya menjawab tidak sama, kecuali 3 orang yang termasuk Islam Abangan (yang sekedar tercantum di KTP beragama Islam) serta 1 orang penganut kepercayaan (juga ber KTP Islam) menjawab sama. Dilain waktu 10 orang yang beragama Kristen ketika ditanya : “Apakah Tuhan agama Islam sama dengan Tuhan agama Kristen?”. Semuanya menjawab sama. Sambil menguji, pertanyaan kami selanjutnya :”Bagaimana dengan pandangan umat Islam bahwa umat Kristen berTuhan 2 yaitu Tuhan Allah (Allah Sang Bapa) dan Tuhan Yesus (Allah Sang Putra)?”. Sejenak diam hingga ada beberapa orang yang menjawab yang apabila dirangkum jawabannya sbb :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada prinsipnya Kristen menganut satu Tuhan juga, sedang sebutan Tuhan Yesus (Allah Sang Putra) mengandung maksud :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa Yesus itu sudah sedemikian dekatnya dengan Allah, ibarat anak dengan bapak, maka disebut Allah Sang Putra. Kami semua ini kalau betul betul menjadi Kristen seperti yang diajarkan Yesus, juga dapat disebut Anak Allah, karena dekat dengan Allah, ibarat anak dengan bapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebutan Tuhan Yesus, untuk memberikan pemahaman dan keyakinan kepada umat Kristen bahwa Yesus itu tidak hanya dekat dengan Tuhan, bahkan Roh Yesus itu sudah menyatu dengan Tuhan. Sehingga segala sesuatu yang dirasakan, diucapkan dan dilakukan Yesus adalah Kehendak Tuhan, Keadilan Tuhan, Kebijaksanaan Tuhan dan Kekuasaan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas pertanyaan :”Kalau begitu mengapa tidak menyebut saja Tuhan Allah, sedang sebutan Tuhan Yesus tidak usah dipakai?”, jawabnya adalah sebutan Tuhan Yesus untuk menunjukkan identitas sebagai umat Kristiani, sekaligus untuk selalu mengingat Yesus sebagai Nabi, Utusan Tuhan, Juru Penolong, Juru Penghibur dan Juru Penuntun dijalan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari rangkuman jawaban diatas, dapat ditambahkan bahwa ungkapan Yesus sebagai Anak Allah adalah kiasan, jadi bukan berarti anak biologis Tuhan. Sebutan Tuhan Yesus diberikan karena pada hakekatnya Yesus itu, mengambil istilah para penghayat kepercayaan, sudah mencapai tingkat Manunggaling Kawula Gusti, didalam ajaran Hindu disebut sebagai Moksha yaitu menyatunya Atman denga Brahman. Sedang Tuhan Yesus dan Tuhan Allah, bukan berarti ada 2 Tuhan. Seperti diagama Islam disebut Al Rahman, Al Rahiim, Al Malik, Al Quddus, Al Salaam, Al Mukmin, dstnya ada 99 nama didalam Asmaul Husna, bukan berarti Tuhan ada 99. Demikian pula didalam ajaran Hindu ada Brahma sebutan untuk Tuhan Yang Maha Pencipta, Wisnu sebutan untuk Tuhan Yang Maha Pemelihara dan Siwa sebutan untuk Tuhan Yang Maha Pelebur; bukan berarti Tuhan ada 3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Betulkah Ada Banyak Tuhan?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar umat Islam tingkatan awam, menyatakan bahwa Tuhan yang benar adalah yang satu, bukan 2 dan bukan 3, yang sebutannya Allah. Sang Hyang Widhi, Yahweh, Deo dan God adalah Tuhan agama lain! Pernyataan ini berarti bahwa mereka menganggap ada banyak Tuhan, yaitu Tuhannya agama lain. Ada Tuhan yang namanya Sang Hyang Widhi yang khusus menguasai kehidupan umat Hindu, ada Tuhan yang namanya Yahweh yang khusus mengatur nasib umat Yahudi, dstnya. Jadi bila penduduk dunia ini ada 7 milyard, maka Allah hanya berkuasa terhadap I,5 milyard yang beragama Islam, sedang yang 5,5 milyard dikuasai oleh Tuhan Tuhan lain yang sebutannya bukan Allah? Jika demikian halnya maka Tuhan yang telah menciptakan seluruh umat manusia yang berjumlah 7 milyard ini, tidak diakui oleh umat Islam yang Tuhannya hanya mencipta 1,5 M umat Islam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari anggapan diatas, adalah suatu fakta (kenyataan) bukan sekedar kepercayaan, bahwa Tuhan Yang Maha Tunggal itu, yang tiada duanya, adalah yang menguasai dan mengatur kehidupan seluruh 7 milyard manusia apapun agamanya dan apapun sebutan yang diberikan kepada Tuhan. Bahkan yang tidak berTuhan atau yang tidak percaya kepada Tuhanpun, tetap dikuasai oleh Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan sehari hari yang dialami orang perorang, meskipun untuk hal yang sangat sepele sekalipun, tidak bisa lepas dari Kekuasaan Tuhan, Keadilan Tuhan dan Kehendak Tuhan. Jadi sekecil apapun kebaikan akan memperoleh balasan kebaikan, sekecil apapun keburukan akan memperoleh balasan keburukan, inilah bukti Keadilan Tuhan. Didalam ajaran Hindu termasuk bagian dari Hukum Karma, meskipun para kyai dan ustadz mengatakan ajaran Islam tidak ada Hukum Karma, namun setiap umat Islam tetap tidak dapat lepas dari Hukum Karma, termasuk terhadap para kyai itu. Bahkan tujuan hidup umat Hindu yaitu Moksha (Manunggaling Kawula Gusti) adalah tujuan akhir dari setiap Ruh umat Islam juga, meskipun tidak disadarinya. Seperti reinkarnasi, tidak hanya terjadi pada umat Hindu dan Budha, tetapi seluruh umat manusia yang beragama Islam dan Kristen, bahkan yang tidak beragama dan yang tidak percaya reinkarnasi, akan mengalami reinkarnasi itu. Jadi meskipun umat Islam tidak mempercayai dan tidak menyadari bahwa Tuhannya dapat melakukan reinkarnasi terhadap mereka, namun Allah tetap melakukan reinkarnasi terhadap mereka. Apalagi doa bagi yang meninggal dunia hanya sebatas :”Kembali disisi Tuhan”, berarti meninggal belum sempurna, maka perlu dihidupkan kembali didunia sekali atau berkali kali lagi sampai pada tingkat meninggal yang sempurna yaitu : “ Bertunggal dengan Tuhan”. Penalaran spiritual mengatakan, kalau begitu umat Islam tidak pernah sampai pada tingkat bertunggal dengan Tuhan karena memahami saja belum, oleh karena itu setelah meninggal selalu dihidupkan kembali sampai memperoleh keberuntungan masuk dalam keluarga Hindu, sehingga mencapai tingkat kesadaran tertinggi yaitu bercita cita untuk bertunggal dengan Tuhan. Oleh karena itu keluarga Hindu harus menerima dengan tulus dan ikhlas, jiwa jiwa orang Islam yang telah meninggal dan hidup kembali (mungkin menjadi anak atau cucu) agar kematian berikutnya mencapai kesempurnaan, yaitu moksha. Sebab kalau hidup kembali tetap berada di keluarga Islam, kasihan sekali, tidak akan dapat bertunggal dengan Tuhan. Lebih kasihan lagi yang dulunya sudah Hindu, kemudian hidup kembali sebagai orang Islam. Inilah yang dialami oleh mayoritas orang Jawa dan Sunda yang hidup diabad ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kesimpulan.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Masing masing umat beragama pada dasarnya meyakini bahwa semesta alam dan seisinya, termasuk 7 milyard manusia ini, diciptakan dan dikuasai oleh Tuhan Yang Maha Esa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan Yang Maha Tunggal, sebagai satu satunya pencipta kejadian, termasuk menciptakan kejadian berbagai bahasa dan agama, adalah tetap menjadi satu satunya Tuhan yang dipercayai dan disembah oleh semua umat beragama, meskipun masing masing menyebut dengan nama yang berbeda, sesuai dengan bahasa atau sebutan yang dianut oleh masing masing agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan ajaran agama sebaiknya disikapi secara positif, sebagai pentahapan tingkat kesadaran yang berjenjang. Selayaknya yang berada ditingkat kesadaran diatas dapat memahami yang masih berada ditingkat kesadaran dibawahnya. Sebaliknya, tidaklah menjadi masalah apabila yang masih berada ditingkat bawah tidak dapat memahami yang diatasnya, karena hal ini adalah wajar. Sehingga apabila ada agama baru yang mengajarkan tingkat kesadaran berkeTuhanan yang masih rendah dengan menganggap Tuhannya yang paling benar dan agamanya yang paling baik, tidak perlu disikapi dengan cara yang sama oleh umat agama yang lebih tua. Mudah mudahan dengan melalui proses reinkarnasi, tahap demi tahap dapat mencapai tingkat kesadaran berkeTuhanan yang tertinggi, yaitu bertunggal dengan Tuhan Yang Maha Esa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;"Selama Tuhan tampak di luar dan jauh sekali, selama itu ada kebodohan. Tetapi di mana Tuhan direalisasikan di dalam, itu adalah pengetahuan yang benar." Sri Ramakrishna Paramahamsa (1836-1886)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>agusindrakadek@gmail.com (Unknown)</author></item><item><title>CERITA MENGHARUKAN DARI SEEKOR TIKUS</title><link>http://hindu-akan-ada-selamanya.blogspot.com/2012/06/cerita-mengharukan-dari-seekor-tikus.html</link><category>Cerita Hindu</category><pubDate>Wed, 13 Jun 2012 09:16:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5489880678200491726.post-7280080057310730594</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjQILpVeNhaqQHbSNfeRORVvdj-rDed5GXK9_QOXZlo1L-Z9H4FpmanAiAvxPG6GAvHtwWX8_4sRcv6krkl_Ik8KECU-QI6uHEGbnVJBzaT9PwN0J43gR0uWxdF8tv8lpdDAkc6eQ8hn5YH/s1600/tanaman-pengusir-tikus.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjQILpVeNhaqQHbSNfeRORVvdj-rDed5GXK9_QOXZlo1L-Z9H4FpmanAiAvxPG6GAvHtwWX8_4sRcv6krkl_Ik8KECU-QI6uHEGbnVJBzaT9PwN0J43gR0uWxdF8tv8lpdDAkc6eQ8hn5YH/s1600/tanaman-pengusir-tikus.jpg" height="320" width="308" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Sepasang suami istri petani pulang ke rumah setelah berbelanja. Ketika mereka membuka barang belanjaan, seekor tikus memperhatikan dengan seksama sambil menggumam,&lt;br /&gt;
"Hmmm...makanan apa lagi yang dibawa mereka dari pasar?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ternyata, salah satu yang dibeli oleh petani ini adalah perangkap tikus. Sang tikus kaget bukan kepalang. Ia segera berlari menuju kandang dan berteriak,&lt;br /&gt;
"Ada perangkap tikus di rumah!....di rumah sekarang ada perangkap tikus!...."&lt;br /&gt;
Ia mendatangi ayam dan berteriak,&lt;br /&gt;
"Ada perangkap tikus!"&lt;br /&gt;
Sang Ayam berkata,&lt;br /&gt;
"Tuan Tikus, aku turut bersedih, tapi itu tidak berpengaruh terhadap diriku"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang Tikus lalu pergi menemui seekor Kambing sambil berteriak.&lt;br /&gt;
Sang Kambing pun berkata,&lt;br /&gt;
"Aku turut bersimpati...tapi tidak ada yang bisa aku lakukan."&lt;br /&gt;
Tikus lalu menemui Sapi. Ia mendapat jawaban sama.&lt;br /&gt;
" Maafkan aku, tapi perangkap tikus tidak berbahaya buat aku sama sekali"&lt;br /&gt;
Ia lalu lari ke hutan dan bertemu ular.&lt;br /&gt;
Sang ular berkata,&lt;br /&gt;
"Ahhh...Perangkap Tikus yang kecil tidak akan mencelakai aku"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya Sang Tikus kembali ke rumah dengan pasrah mengetahui kalau ia akan menghadapi bahaya sendiri. Suatu malam, pemilik rumah terbangun mendengar suara keras perangkap tikusnya berbunyi menandakan telah memakan korban. Ketika melihat perangkap tikusnya, ternyata seekor ular berbisa. Buntut ular yang terperangkap membuat ular semakin ganas dan menyerang istri pemilik rumah. Walaupun sang Suami sempat membunuh ular berbisa tersebut, sang istri tidak sempat diselamatkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang suami harus membawa istrinya ke rumah sakit dan kemudian istrinya sudah boleh pulang, namun beberapa hari kemudian istrinya tetap demam. Ia lalu minta dibuatkan sop ceker ayam oleh suaminya(kita semua tau, sop ceker ayam sangat bermanfaat buat mengurangi demam). Suaminya dengan segera menyembelih ayamnya untuk dimasak cekernya. Beberapa hari kemudian sakitnya tidak kunjung reda. Seorang teman menyarankan untuk makan hati kambing. Ia lalu menyembelih kambingnya untuk mengambil hatinya. Masih, istrinya tidak sembuh-sembuh dan akhirnya meninggal dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak sekali orang datang pada saat pemakaman. Sehingga sang Petani harus menyembelih sapinya untuk memberi makan orang-orang yang melayat. Dari kejauhan...Sang Tikus menatap dengan penuh kesedihan. Beberapa hari kemudian ia melihat Perangkap Tikus tersebut sudah tidak digunakan lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;"SUATU HARI.. KETIKA ANDA MENDENGAR SESEORANG DALAM KESULITAN DAN MENGIRA ITU BUKAN URUSAN ANDA... PIKIRKANLAH SEKALI LAGI.. "&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjQILpVeNhaqQHbSNfeRORVvdj-rDed5GXK9_QOXZlo1L-Z9H4FpmanAiAvxPG6GAvHtwWX8_4sRcv6krkl_Ik8KECU-QI6uHEGbnVJBzaT9PwN0J43gR0uWxdF8tv8lpdDAkc6eQ8hn5YH/s72-c/tanaman-pengusir-tikus.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>agusindrakadek@gmail.com (Unknown)</author></item><item><title>BERBAGI DAN BERBAHAGIALAH</title><link>http://hindu-akan-ada-selamanya.blogspot.com/2012/06/berbagi-dan-berbahagialah.html</link><category>Cerita Hindu</category><pubDate>Wed, 13 Jun 2012 09:13:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5489880678200491726.post-7027063693649557010</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgHz-gZSLNxSNOQhEISdk_p2P3sKRZm57boevzBK37syoewjALFZrU4yKSBOqGdCld7IeAH9KcyGbpzC-Fb-fw-7F43IksRvxZnKv4Vz8P7LGAoZj7ZN2UGXCpWcuqVW78M6OUYHuvecC6j/s1600/berbagi-kebahagiaan.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgHz-gZSLNxSNOQhEISdk_p2P3sKRZm57boevzBK37syoewjALFZrU4yKSBOqGdCld7IeAH9KcyGbpzC-Fb-fw-7F43IksRvxZnKv4Vz8P7LGAoZj7ZN2UGXCpWcuqVW78M6OUYHuvecC6j/s1600/berbagi-kebahagiaan.jpg" height="320" width="238" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Alkisah, ada seorang anak kelas 5 SD bernama Adi. Setiap hari, Adi tiba di sekolah pagi-pagi sekali. Biasanya saat ia datang, belum ada satu pun teman sekelasnya yang datang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu hari, saat istirahat, Adi terkejut melihat bekal yang dibawanya dari rumah berkurang separuh . “Siapakah gerangan yang mengambil bekalku?” batinnya dalam hati sambil mengitarkan pandangan curiga ke seputar kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepulang dari sekolah, diceritakan kasus bekal yang hilang kepada ibunya. “Ibu tidak lupa menyiapkan bekal untukku sebanyak dua potong kan?” tanya Adi penasaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, Ibu ingat sekali menyiapkan bekalmu dua potong, bukan sepotong,” jawab ibu Adi meyakinkan.&lt;br /&gt;
Seminggu kemudian, saat kembali ke kelas, tanpa sengaja, Adi terkejut melihat penjaga sekolah mengendap-endap memasuki kelas yang masih kosong. Dia membuka tas Adi dan mengambil sepotong bekalnya. Kemudian bergegas pergi dengan muka tampak tertekan dan murung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepulang dari sekolah, Adi menceritakan kejadian itu kepada ibunya. “Ibu, ternyata pencurinya si penjaga sekolah. Apa yang harus Adi lakukan, Bu? Kalau Adi laporkan ke wali kelas atau kepala sekolah, dia pasti diberi sanksi, bahkan mungkin dikeluarkan dari sekolah. Kasihan kan, Bu. Walaupun orangnya baik, tapi yang diperbuat kan salah”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan tersenyum sayang, ibunya menjawab, “Saran ibu, jangan dilaporkan dulu ke sekolah. Ibu kenal baik keluarga penjaga sekolahmu itu. Dia bukan penjahat. Pasti karena terpaksa dia mengambil setengah bekalmu. Dan masih berbaik hati meninggalkan setengahnya untuk Adi agar Adi tidak kelaparan. Begini saja, besok akan Ibu siapkan bekal lebih banyak, dua kali dari biasanya. Adi berikan sebungkus kepada penjaga sekolah. Cukup berikan saja, tidak perlu menegur atau berkata apapun kepadanya. Kita lihat apa reaksinya, setuju?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keesokan harinya, Adi menemui penjaga sekolah dan menyerahkan sebungkus bekal. Penjaga sekolah terkejut sesaat, wajahnya pucat dan takjub. Dengan tangan gemetar, diterimanya bingkisan itu. Tampak matanya berkaca-kaca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambil terbata-bata dia berkata, “Terima kasih, terima kasih Nak. Bapak minta maaf telah mengambil setengah jatah bekal Nak Adi. Bapak sungguh menyesal dan dihantui perasaan bersalah. Bapak lakukan karena terpaksa. Anak bapak sakit, sedangkan uang kami tidak cukup untuk membeli makanan karena istri bapak memerlukan biaya untuk melahirkan. Mohon maafkan Bapak, Nak. Bapak berjanji tidak akan mengulanginya. Dan terima kasih karena tidak melaporkan kepada pihak sekolah sehingga Bapak masih bisa bekerja. Sampaikan permintaan maaf dan terima kasih kami pada ibumu. Sungguh beliau seorang ibu yang baik dan bijak”. Sambil mengangguk senang, Adi meninggalkan penjaga sekolahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teman-teman yang luar biasa,&lt;br /&gt;
kesalahan, walau dengan alasan apapun, tidak akan menjadi benar. Mau menyadari, mengakui kesalahan, dan meminta maaf adalah sebuah kebesaran jiwa. Dan berjanji untuk tidak mengulangi adalah kebijaksanaan tertinggi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebaliknya, bisa memaafkan orang yang bersalah kepada kita bahkan rela memberi bantuan dan menyadarkannya, bukan hanya damai di hati tetapi sekaligus menunjukkan kita, manusia, sebagai makhluk yang ber-Tuhan. Maka jelas sekali, jika bisa berbagi, kita akan bahagia&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgHz-gZSLNxSNOQhEISdk_p2P3sKRZm57boevzBK37syoewjALFZrU4yKSBOqGdCld7IeAH9KcyGbpzC-Fb-fw-7F43IksRvxZnKv4Vz8P7LGAoZj7ZN2UGXCpWcuqVW78M6OUYHuvecC6j/s72-c/berbagi-kebahagiaan.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>agusindrakadek@gmail.com (Unknown)</author></item><item><title>DISEMBUHKAN KARENA MENGAMPUNI</title><link>http://hindu-akan-ada-selamanya.blogspot.com/2012/06/disembuhkan-karena-mengampuni-saya.html</link><category>Cerita Hindu</category><pubDate>Mon, 11 Jun 2012 12:58:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5489880678200491726.post-8332711687236867210</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;DISEMBUHKAN KARENA MENGAMPUNI&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgvWXAytbx8c1CREVdN4vFTrgZRWOl8SwsSsiFjMFx02zi1VRxyLZ7NKzgtJlWhnAvCP8JdvJ6zdMLHlWb0zf28JCFocTOIKPnxjOY9ymVm57HtlPqUIhK4xnp1R_3LJckq18PDTcgGB3B9/s1600/kasih.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgvWXAytbx8c1CREVdN4vFTrgZRWOl8SwsSsiFjMFx02zi1VRxyLZ7NKzgtJlWhnAvCP8JdvJ6zdMLHlWb0zf28JCFocTOIKPnxjOY9ymVm57HtlPqUIhK4xnp1R_3LJckq18PDTcgGB3B9/s1600/kasih.jpg" height="320" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Saya adalah seorang wanita muda dari desa kecil di Kupang NTB, nama saya &amp;nbsp;Marietha. Tiga tahun yang lalu saya divonis oleh dokter di RS Panti Rapih Jogja bahwa saya menderita Kanker Payudara stadium 1B. Selama 1 tahun lebih saya berusaha minum obat2an tradisional dan teh hijau, tapi setelah 1 tahun saya check kembali kedokter di Panti Rapih, stadium bertambah menjadi 2B, kemudian oleh seorang ibu di Semarang, saya dianjurkan ke seorang Pendeta Hindu untuk didoakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Pada waktu tangan Pendeta menumpangkan tangan di atas kepala saya,dia berkata: "Anda pasti meyimpan dendam yang sudah lama kepada seseorang yang disimpan di hati"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar itu saya menangis ter-sedu2 dan saya katakan kepada Pendeta: "Benar , saya memang membenci ayah saya sejak saya di SMP, karena ayah saya telah mengkhianati ibu, 2 kakak saya dan saya. Kami diusir dari rumah kami, kemudian ayah dan seorang wanita menempati rumah yang sudah ber-tahun2 kami tempati itu. Sejak saat itu ibu saya sakit2an dan akhirnya meninggalkan kami se-lama2nya. Dan sejak itu saya memendam kebencian terhadap ayah."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah mendengarkan cerita saya, Pendeta berkata: "Ya, itulah BIANG dari penyakit anda, selama anda tidak mau mengampuni ayah, obat apapun tidak akan menyembuhkan anda. Dan mengampuni bukan hanya dengan kata2 tapi harus dibuktikan dengan perbuatan."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah itu saya minta ijin cuti selam 6 bulan untuk menengok dan merawat ayah, karena saya dengar dari saudara, kalau ayah terkena stroke. Selama 6 bulan itu saya merawat ayah dengan cinta kasih yang tulus. Selama bersama ayah, saya tidak minum obat apapun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah selesai masa cuti, sebelum kembali ke Kupang, saya ke RS Panti Rapih di Jogja untuk check up, dokter yang merawat saya sangat heran dan bertanya: "Anda minum obat apa selama ini?" Saya jawab kalau tidak minum apa2, dan saya balik bertanya ada apa dokter?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dokter menjawab dari hasil pemeriksaan, baik darah maupun USG semuanya NEGATIVE. Langsung saya jawab obatnya PENGAMPUNAN. Dokter heran dan bertanya apa maksud anda? Saya ceritakan semuanya, kemudian dokter berkata wah kalau begitu kepada pasien2 saya yang menderita kanker, saya akan bertanya apakah anda punya perasaan dendam atau benci terhadap seseorang. Kalau jawabannya ya, saya akan suruh berdamai dan memberikan pengampunan seperti anda, sambil ter-tawa2 si dokter menepuk pundaksaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikianlah pengalaman &amp;nbsp;yang Marietha alami. Semoga bisa dibagikan kepada saudara2 semua, bahwa PENGAMPUNAN itu sangat besar manfaatnya, tidak hanya untuk jasmani tapi juga rohani kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salam Damai....&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgvWXAytbx8c1CREVdN4vFTrgZRWOl8SwsSsiFjMFx02zi1VRxyLZ7NKzgtJlWhnAvCP8JdvJ6zdMLHlWb0zf28JCFocTOIKPnxjOY9ymVm57HtlPqUIhK4xnp1R_3LJckq18PDTcgGB3B9/s72-c/kasih.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>agusindrakadek@gmail.com (Unknown)</author></item><item><title>Gundahnya Sang Arjuna</title><link>http://hindu-akan-ada-selamanya.blogspot.com/2012/06/gundahnya-sang-arjuna.html</link><category>Cerita Hindu</category><pubDate>Mon, 11 Jun 2012 08:25:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5489880678200491726.post-2784954791361796143</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgES4x91KbEtOvmwJGwc74NNIIxVi7qt3Vzyqd0HD51Zj_RVp6qdBz6wqXuh2Q6cLYmmooMInvAAglqJHIPQhwBtxXne58hVxjRPInl6VRknkWH9nmJzm51BcNDJhSa1kkUP-I9SBpCf7kx/s1600/Arjuna_M.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgES4x91KbEtOvmwJGwc74NNIIxVi7qt3Vzyqd0HD51Zj_RVp6qdBz6wqXuh2Q6cLYmmooMInvAAglqJHIPQhwBtxXne58hVxjRPInl6VRknkWH9nmJzm51BcNDJhSa1kkUP-I9SBpCf7kx/s1600/Arjuna_M.jpg" height="320" width="216" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Bermulalah di sini Gita suci yang dituturkan dari Yang Maha Suci Kreshna. Berkatalah Dhristarashtra :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;1. Di dataran nan suci ini (dharmakshetra), tanah kebenaran, tanahnya para Kuru, berkumpullah putra-putraku beserta laskar-laskar mereka, dan juga putra-putra Sang Pandu (Ayahanda Pandawa) bersiap-siap untuk suatu yudha. Apa saja yang sedang mereka lakukan beritakanlah kepadaku, wahai Sanjaya.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Keterangan) Kurukshetra disebut juga dharmakshetra, terletak di Hastinapura di utara kota New Delhi yang modern dewasa ini. Tempat ini di masa yang silam dianggap suci karena sering dipergunakan oleh para resi, kshatrya untuk bertapa, bahkan kabarnya juga oleh para dewa-dewa. Salah satu kata pertama yang disebut di sloka pembukaan Bhagavat Gita di atas ini adalah kata dharma, inilah inti sebenarnya yang harus diresapkan oleh sidang pembaca. karena inilah salah satu pesan sesungguhnya Bhagavat Gita. "Bangunlah jiwa dan ragamu dengan dan untuk dharma." Kata dharma berasal dari kata "Dhru" yang berarti "pegang." Dharma adalah kekuatan yang memegang hidup ini, dharma tidak terdapat dalam ucapan-ucapan manis. tetapi adalah kesaktian di dalam jiwa kita yang merupakan inti dari kehidupan kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bermulalah di sini Gita suci yang dituturkan dari Yang Maha Suci Kreshna. Berkatalah Dhristarashtra :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Di dataran nan suci ini (dharmakshetra), tanah kebenaran, tanahnya para Kuru, berkumpullah putra-putraku beserta laskar-laskar mereka, dan juga putra-putra Sang Pandu (Ayahanda Pandawa) bersiap-siap untuk suatu yudha. Apa saja yang sedang mereka lakukan beritakanlah kepadaku, wahai Sanjaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Keterangan) Kurukshetra disebut juga dharmakshetra, terletak di Hastinapura di utara kota New Delhi yang modern dewasa ini. Tempat ini di masa yang silam dianggap suci karena sering dipergunakan oleh para resi, kshatrya untuk bertapa, bahkan kabarnya juga oleh para dewa-dewa. Salah satu kata pertama yang disebut di sloka pembukaan Bhagavat Gita di atas ini adalah kata dharma, inilah inti sebenarnya yang harus diresapkan oleh sidang pembaca. karena inilah salah satu pesan sesungguhnya Bhagavat Gita. "Bangunlah jiwa dan ragamu dengan dan untuk dharma." Kata dharma berasal dari kata "Dhru" yang berarti "pegang." Dharma adalah kekuatan yang memegang hidup ini, dharma tidak terdapat dalam ucapan-ucapan manis. tetapi adalah kesaktian di dalam jiwa kita yang merupakan inti dari kehidupan kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan Kshetra berarti padang, ladang atau medan. Seyogyanyalah kita bertanya pada pribadi kita masing-masing, "apa sajakah yang selama ini yang telah kutanam dan kupetik dalam hidupku ini, dharma ataukah adarma? Bagi yang menanam dharma maka hidupnya akan menghasilkan karunia Ilahi, dan yang telah melakukan adharma maka kita dapat bercermin kepada para Kaurawa. "Bersiap-siap untuk suatu yudha," Kaurawa menginginkan perang, sedangkan para Pandawa sebenarnya menginginkan perdamaian. Sang Kreshna yang Maha Bijaksana berusaha agar perdamaian terwujud, tetapi para Kaurawa selalu menolaknya. maka untuk mempertahankan diri dan menegakkan dharma/kebenaran terpaksalah para Pandawa berperang walaupun dengan laskar yang sedikit. Tetapi yang sedikit ini akhirnya akan menang karena mereka berjalan tegak di jalan kebenaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam ucapan Dhritarashtra yang mengatakan di atas "tanahnya para Kuru" dan juga '"putra-putraku," tersirat adanya rasa egois atau ahankara (angkara) yang besar. inilah sebenarnya sumber dari segala tragedi dalam hidup ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkatalah Sanjaya :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Kemudian pangeran Duryodana, setelah melihat barisan laskar para Pandawa yang teratur rapi, menghampiri gurunya dan berkata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang dimaksud guru di sini adalah Dronacharya, guru sang Kaurawa dan Pandawa. Di Baratayudha ini Drona mendukung Kaurawa sampai akhir hayatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Lihatlah wahai guruku, barisan laskar para Pandawa yang telah siap untuk berperang, mereka semua dipimpin oleh murid Sang Guru yang bijaksana, yaitu putra Sang Drupada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang dimaksud "murid yang bijaksana" di sini adalah Dhristadyumna. la adalah putra Raja Drupada dari kerajaan Panchala. Dia diangkat para Pandawa menjadi panglima perang untuk pihak Pandawa; Dhristadyumna sebenarnya masih merupakan saudara ipar para Pandawa Dalam perang ini Resi Dorna akan membunuh Raja Drupada, kemudian Dhristadyumna akan membunuh Drona. Disusul putra Drona yang disebut Asvatama kemudian membunuh Dhristadyumna. Inilah lingkaran karma.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Di sinilah para pahlawan-pahlawan besar berkumpul, dari Bima, Arjuna dan yang tak kalah kehebatannya yaitu Yuyudana, Virata dan Drupada.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Juga Dhrishtaketu, Chekitana dan raja besar dari Kashi, Purujit, Kuntiboja dan Shaibya, semuanya pendekar-pendekar nan sakti wirawan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Juga yang gagah berani yaitu, Yudhamanyu dan Uttamauja, Saubadra dan putra-putra Draupadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bima : &amp;nbsp;Putra kedua dari Pandu. yang kedua dari para Pandawa.&lt;br /&gt;
Arjuna : Yang ketiga dari Pandawa bersaudara, dan yang paling dikasihi Sang Kreshna.&lt;br /&gt;
Yuyudana : Disebut Juga Setyaki. pahlawan yang gagah perkasa.&lt;br /&gt;
Virata: Raja dari Matsya-desha. seorang raja nan arif bijaksana. Selama pengasingan para Pandawa di hutan (13 tahun lamanya), tahun terakhir pengasingan ini para Pandawa menyamar dan bersembunyi di istana Raja Virata. Alkisah putri sang raja kemudian dikawinkan dengan Abimanyu, putra Arjuna.&lt;br /&gt;
Dhristaketu: Putra Sishupala, raja dari Chedi-desha.&lt;br /&gt;
Chekitana: Salah satu pendekar yang gagah berani yang memimpin salah satu dari tujuh divisi laskar Pandawa.&lt;br /&gt;
Purujit dan Kuntibhoja: Saudara-saudara laki dari ibu Kunti, ibunya sang Pandawa,&lt;br /&gt;
Shaibya: Raja suku Sibi. Duryodana menyebutnya sebagai banteng diantara manusia, karena ia adalah seorang pendekar sakti yang bertenaga luar biasa.&lt;br /&gt;
Yudhamanyu dan Uttamauja: Pangeran-pangeran dari Panchala, juga merupakan pendekar-pendekar nan sakti-wirawan. Keduanya dibunuh Ashvathama sewaktu sedang tidur.&lt;br /&gt;
Saubhadra: Putra Arjuna dan Subadra (adik sang Kreshna). la dikenal juga dengan nama Abimanyu. Dalam perang ini ia memperlihatkan kepahlawanannya yang luar biasa.&lt;br /&gt;
Putra-putra Draupadi: Mereka berjumlah lima orang, yaitu Prativindhya, Srutasoma, Srutakirtti, Satanika dan Srutukarman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendekar-pendekar di atas semuanya kalau bekerja untuk perdamaian niscaya akan menghasilkan suatu suasana damai bagi semuanya, tetapi rupanya takdir menentukan yang lain, dan itulah misteri Ilahi yang tak akan mungkin terjangkau oleh kita manusia ini.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: right;"&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &lt;a href="http://hindu-akan-ada-selamanya.blogspot.com/2012/06/page-2.html"&gt;&amp;nbsp;Next &amp;gt;&amp;gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgES4x91KbEtOvmwJGwc74NNIIxVi7qt3Vzyqd0HD51Zj_RVp6qdBz6wqXuh2Q6cLYmmooMInvAAglqJHIPQhwBtxXne58hVxjRPInl6VRknkWH9nmJzm51BcNDJhSa1kkUP-I9SBpCf7kx/s72-c/Arjuna_M.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>agusindrakadek@gmail.com (Unknown)</author></item><item><title>Dewi Durga</title><link>http://hindu-akan-ada-selamanya.blogspot.com/2012/06/dewi-durga.html</link><pubDate>Fri, 8 Jun 2012 12:22:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5489880678200491726.post-8320943130643720027</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://i1161.photobucket.com/albums/q520/indra189/durga-india.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://i1161.photobucket.com/albums/q520/indra189/durga-india.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Dewi Durga&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://i1161.photobucket.com/albums/q520/indra189/durga_puja_in_kolkata_2008.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://i1161.photobucket.com/albums/q520/indra189/durga_puja_in_kolkata_2008.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Durga di Kuil Kolkata&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://i1161.photobucket.com/albums/q520/indra189/durga1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://i1161.photobucket.com/albums/q520/indra189/durga1.jpg" width="272" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Durga&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://i1161.photobucket.com/albums/q520/indra189/bataridurga.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://i1161.photobucket.com/albums/q520/indra189/bataridurga.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Durga&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://i1161.photobucket.com/albums/q520/indra189/Patung-dewi-durga-225x300.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://i1161.photobucket.com/albums/q520/indra189/Patung-dewi-durga-225x300.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Patung Durga di Salah Satu Kuil Di Hindia&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://i1161.photobucket.com/albums/q520/indra189/27351_100001228611995_9224_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://i1161.photobucket.com/albums/q520/indra189/27351_100001228611995_9224_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Dewi Durga&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>agusindrakadek@gmail.com (Unknown)</author></item><item><title>Dewa Krisna</title><link>http://hindu-akan-ada-selamanya.blogspot.com/2012/06/dewa-krisna.html</link><pubDate>Fri, 8 Jun 2012 12:17:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5489880678200491726.post-5053275585139305086</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://i1161.photobucket.com/albums/q520/indra189/bal_krisna.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://i1161.photobucket.com/albums/q520/indra189/bal_krisna.jpg" width="250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Krisna Kecil&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://i1161.photobucket.com/albums/q520/indra189/BabyKrishna-yasoda.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="249" src="http://i1161.photobucket.com/albums/q520/indra189/BabyKrishna-yasoda.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Krisna kecil dengan Ibu Yasoda&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://i1161.photobucket.com/albums/q520/indra189/ArjunKrisna.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://i1161.photobucket.com/albums/q520/indra189/ArjunKrisna.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Krisna dan Arjuna&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://i1161.photobucket.com/albums/q520/indra189/images-4.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://i1161.photobucket.com/albums/q520/indra189/images-4.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Krisna Mengangkat Bukit&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://i1161.photobucket.com/albums/q520/indra189/dewa-krishna-di-iskcon-temple.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="233" src="http://i1161.photobucket.com/albums/q520/indra189/dewa-krishna-di-iskcon-temple.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Kuil Krisna&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://i1161.photobucket.com/albums/q520/indra189/174478_100002277994407_6806869_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://i1161.photobucket.com/albums/q520/indra189/174478_100002277994407_6806869_n.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Krisna&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://i1161.photobucket.com/albums/q520/indra189/KRISNA3362191342_sq_thumb_m.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://i1161.photobucket.com/albums/q520/indra189/KRISNA3362191342_sq_thumb_m.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Krisna&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://i1161.photobucket.com/albums/q520/indra189/275px-Krsna_flute_big.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://i1161.photobucket.com/albums/q520/indra189/275px-Krsna_flute_big.jpg" width="195" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Krisna Dengan Seruling&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>agusindrakadek@gmail.com (Unknown)</author></item><item><title>Kumpulan Link</title><link>http://hindu-akan-ada-selamanya.blogspot.com/2012/06/kumpulan-link.html</link><pubDate>Fri, 8 Jun 2012 11:50:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5489880678200491726.post-2245791526680211669</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;karena banyak sekali permintaan untuk menampilkan foto dewa-dewi Hindu. serta cerita Hindu yang dapat menginspirasi, jadi saya ingin mempermudah dalam akses anda untuk menikmati dan mencari foto serta cerita tersebut. ini link nya :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ol style="text-align: left;"&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://hindu-akan-ada-selamanya.blogspot.com/2012/05/foto-dewa-siwa.html"&gt;Dewa Siwa&amp;nbsp;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;a href="http://hindu-akan-ada-selamanya.blogspot.com/2012/05/dewa-brahma.html"&gt;Dewa Brahma&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;a href="http://hindu-akan-ada-selamanya.blogspot.com/2012/05/dewi-saraswati.html"&gt;Dewi Saraswati&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;a href="http://hindu-akan-ada-selamanya.blogspot.com/2012/06/dewi-durga.html"&gt;Dewi Durga&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;a href="http://hindu-akan-ada-selamanya.blogspot.com/2012/06/dewa-krisna.html"&gt;Dewa Krisna&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;a href="http://hindu-akan-ada-selamanya.blogspot.com/2012/06/sebuah-pura-untuk-tuhan.html"&gt;Sebuah Pura Untuk Tuhan&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;a href="http://hindu-akan-ada-selamanya.blogspot.com/2012/06/berbagi-dan-berbahagialah.html"&gt;Berbagi dan Berbahagialah&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;a href="http://hindu-akan-ada-selamanya.blogspot.com/2012/06/cerita-mengharukan-dari-seekor-tikus.html"&gt;Cerita Mengharukan Se Ekor Tikus&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>agusindrakadek@gmail.com (Unknown)</author></item><item><title>MAHA PRALAYA</title><link>http://hindu-akan-ada-selamanya.blogspot.com/2012/06/maha-pralaya.html</link><pubDate>Fri, 8 Jun 2012 11:14:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5489880678200491726.post-8406478130989716727</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;br /&gt;
MAHA PRALAYA&lt;br /&gt;
&amp;nbsp;KIAMAT MENURUT AGAMA HINDU&lt;br /&gt;
"Kalau saja Aku berhenti bekerja, maka dunia ini jatuh dalam kemusnahan dan Aku akan menjadi sebab dari kekacauan hidup dan menghancurkan semua makhluk" &amp;nbsp;(Bhagawad Gita III. 24)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benarkah kiamat akan terjadi 21 Desember 2012? Ini lah momok yang menghantui dunia saat ini, setelah film "2012" Virus hari kiamat datang lagi. Sebenarnya hari kiamat atau the judgement day (hari penghitungan amal) bukanlah hal baru, karena sudah dibicarakan sejak tahun 500 M. banyak ramalan dilontarkan, pehitungan diutarakan. Misalnya seorang pendeta dari korea selatan mengatakan bahwa hari kiamat akan tiba pada bulan Oktober 1992. Wacana hari kiamat akan muncul lagi setelah "The Mayan Prophecies" (1995) spekulasi interpretasi Kalender Bangsa Maya, apa lagi film "2012 dirilis, yang meramalkan kiamat akan terjadi pada 21 Desember 2012 atau akhir siklus 5.125 kalender kuno Bangsa Maya. Dramatisasi kiamat suku Maya juga dikaitkan dengan proceedings of the National Academy Of Scineces, yang menyatakan lebah - lebah mati karena patogen dan 'pengurangan keragaman genetik' yang terjadi. Juga spekulasi ilmiah ledakan Betelguese yang digambarkan ilmuwan sebagai Core-Collapse Type II Supernova yang kemungkinan menyebabkan terjadinya pemusnahan Bumi, ditambah mitos Planet nibiru yang akan menghujani bumi tahun 2012. Hari kiamat sebenarnya berasal dari Kepercayaan Zoroaster, kemudian diadopsi oleh agama-agama maupun yahudi.&lt;br /&gt;
Hindu menyebut Maha Pralaya sebagai hari kiamat, berkaitan erat dengan evolusi umur bumi yang disebut Yuga. Kosmologi Hindu, menyatakan alam semesta dibangun dari lima unsur, disebut dengan Pancamahabutha. yakni :&lt;br /&gt;
1. Pertiwi atau zat padat&lt;br /&gt;
2. Apah atau Zat cair&lt;br /&gt;
3. Teja atau Api&lt;br /&gt;
4. Bayu atau Angin&lt;br /&gt;
5. Akasa atau Ether&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Awal dari proses penciptaan, diawali dari terciptanya Brahmanda atau telur tuhan. pada saat yang bersamaan terbentuk Purusa atau kekuatan kejiwaan dan Pradhana atau kekuatan Kebendaan. Pertemuan dua kekuatan ini mengakibatkan terciptanya alam semesta secara berangsur-angsur. Mula-mula muncul citta (alam pikiran), yang mulai dipengaruhi oleh sattwam, rajas dan tamas. Tahap selanjutnya Terbentuk Triantahkarana, yang terdiri dari Buddhi atau naluri, Manah atau akal pikiran dan perasaan, Ahamkara atau rasa ke Akuan. Selanjutnya munculah Pancabuddhindria dan pancakarmendria.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Dunia" yang tercipta pada saat penciptaan (srsti) bersifat kekal abadi karena diciptakan dariNya sendiri sepeti dinyatakan dalam kitab Upanisad : "purnamadah purnamidam, purnt purnam udayate, purnasya purnamadya, purnam eva awacisyate"&lt;br /&gt;
artinya : "Tuhan itu Maha Sempurna, alam semesta inipun sempurna, dari yang sempurna lahirlah yang sempurna, walaupun dari yang sempurna (tuhan) diambil oleh yang sempurna (alam semesta) tetapi sisanya (tuhan) tetap sempurna adanya"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; Seloka ini menunjukan bahwa alam diciptakan dan akan kembali kepadaNya. Saat itulah terjadi Maha Pralaya atau kiamat. Ibarat laba-laba membentuk jaring dari badannya dan saat Maha Pralaya itu terjadi benang akan ditarik lagi ke dalam dirinya. Jadi Maha Pralaya akan terjadi dalam suatu siklus yang sangat panjang dan rumit. Karena Maha Pralaya berhubungan dengan &amp;nbsp;siklus waktu yang disebut yuga, kalpa, manwantara menuju Maha Pralaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahwa alam semesta diciptakan, dimusnahkan, dan diciptakan lagi menurut siklus yang berputar abadi. Siklus ini dinamakan Kalpa atau seribu Yuga. satu kalpa sama dengan 4.320.000.000 tahun bagi manusia, atau sama dengan satu hari bagi Brahma. Kosmlogi Hindu, mengatakan alam semesta berlangsung satu kalpa, setelah itu dihancurkan oleh unsur api atau air. Lalu, Brahma beristirahat semalam. Proses itu disebut Maha Pralaya dan berulang-ulang selama seratus tahun bagi Brahma. (311 triliun tahun bagi manusia).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maha Yuga diawali zaman keemasan yang disebut dengan Satyuga, diakhiri zaman kegelapan yang disebut dengan zaman Kaliyuga yang kini sedang berlangsung. ketika kaliyuga berakhir, zaman baru akan muncul, dimana manusia-manusia jahat sudah dibinasakan sebelumnya untuk memulai kehidupan baru yang lebih baik dan damai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam wujud Awatara, wisnu turun kedunia untuk menyelamatkan umat manusia. awatara yang terakhir adalah kalki awatara yaitu wujud dewa wisnu sebagai seorang ksatria yang memegang &amp;nbsp;pedang yang sangat tajam serta menunggangi seekor kuda putih. pada saat nya nanti kalki awatara akan menumpas semua orang jahat dengan memenggal kepalanya menggunakan pedang tersebut.dalam kitab suci dikatakan kalki awatara belum terjadi. kalki awatara terjadi pada saat zaman kali yuga atau zaman sekarang berakhir, maka kalki awatara akan menyelamatkan dunia.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>agusindrakadek@gmail.com (Unknown)</author></item><item><title>SEBUAH PURA UNTUK TUHAN</title><link>http://hindu-akan-ada-selamanya.blogspot.com/2012/06/sebuah-pura-untuk-tuhan.html</link><category>Cerita Hindu</category><pubDate>Fri, 8 Jun 2012 11:04:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5489880678200491726.post-680121881832866940</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;
&lt;br /&gt;
Pusalar Membangun Pura&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhhi2VwdIdYNmVriNLKPTEsqWmf21nGd3j2vs5UA-UdzV5c7cFki2Poqv7GzdKwEIgdhrrapO59t4a6HuGKopODr0lYo-L3H2cTFGf5ZGmRkZAAlWBGnmLea_IgkeFjdeyIW30VLoDsjYNM/s1600/Pura_taman_ayun.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhhi2VwdIdYNmVriNLKPTEsqWmf21nGd3j2vs5UA-UdzV5c7cFki2Poqv7GzdKwEIgdhrrapO59t4a6HuGKopODr0lYo-L3H2cTFGf5ZGmRkZAAlWBGnmLea_IgkeFjdeyIW30VLoDsjYNM/s1600/Pura_taman_ayun.jpg" height="214" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Pusalar hidup di sebuah desa kecil di india selatan. Ia ingin membangun sebuah pura untuk Tuhan. Lalu ia memulainya dengan menggali pondasi disamping pondoknya diladangnya yang sempit. Setelah beberapa lama, lobang pondasi itu tetap menganga. Pusalar tidak mampu membeli batu bata untuk meneruskan pembangunan pura itu. Ia hamper putus asa. Tiba-tiba pikiran brilyan nya muncul di benaknya. Apa itu? Tak seorang pun orang yang tahu kecuali tuhan. Pusalar mulai menggali pondasi dilahan baru itu. Ia mulai membangun pura pura sedikit demi sedikit. Ia memasang batu bata sehari satu buah. Ia tidak mau buru-buru untuk menyelesaikan pura nya itu, sekalipun ia mampu, karena toh itu semua hanya dalam hati kecilnya. Sebab segala sesuatu mulainya dari hati yang suci. Ia ingin menikmati pekerjaan ia persembahkan untuk tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu hal sangat diperhatikan oleh pusalar dalam membangun pura itu, pintu puranya harus lebar. Agar setiap orang, terutama anak-anak dapat keluar dan masuk dengan nyaman. Dengan demikian mereka akan senang ke pura. Pusalar berpendapat, setiap orang harus mudah bertemu tuhan. Sebab tuhan tidak pernah mempersulit orang-orang yang ingin bertemu dengan-NYA&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Setelah bekerja keras selama satu tahun akhirnya pura yang dibangun oleh pusalar dapat terselesaikan. Ia merasa sangat lega dan bahagia. Ia bermaksud meresmikan pura itu, melakukan kumba abhiseka atau ngenteg linggih. Ia memohon kepada tuhan : “YA TUHAN, pura yang ku bangun untuk MU sudah hamba selesaikan. Besok saya akan melakukan upacara yang sederhana itu. Tapi Tuhan, tidak aka nada orang lain yang akan menyambut MU, kecuali saya sendiri Tuhan. Saya tidak memberi tahukan upacara ini kepada orang bukan karena apa-apa, saya hanya khawatir mereka akan menertawai saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagai mana kelanjutan cerita ini? Mari kita jauh pergi ke sebuah istana yang sangat megah, karena disana sang maha raja akan membangun pura. Selamat membaca!!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maha Raja Membangun Pura&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Entah kebetulan atau tidak, ketika pusalar mulai membangu sang maha raja juga memulai membangun sebuah pura di alun-alun di depan istana, ditengah-tengah ibu kota. Pura itu haruslah sebuah pura yang sangat megah, sebagai lambang kemegahan dari kerajaan yang makmur. Raja mendatangkan arsitek, tukang batu dan tukang ukir pilihan dari seluruh dunia. Bahan-bahan, seperti batu bata, marmer, kayu, batu, dipilih yang terbaik dari seluruh negeri. Ketika sudah selesai, pura itu menjadi konumen yang begitu megah dan mengagumkan. Ia merupakan hasil karya seni yang tinggi. Raja memutuskan untuk melakukan upacara kumba abhiseka yang besar dan megah. Rajamengundang paa duta besar Negara sahabat,. Sebuah pesta besar untuk rakyat telah dipersiapkan. Malam sebelum upacara itu, dalam tidurnya Maha Raja di datangi oleh tuhan.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Tuhan berkata : &amp;nbsp;“kamu harus mengundurkan upacara kumba abhiseka ini sehari!!”&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Raja kaget &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;: &amp;nbsp; “tuhan, semua sudah hamba siapkan. Ada apa gerangan?”&lt;br /&gt;
Tuhan bersabda: “ besok aku akan menghadiri upacara kumba abiseka pura yang dibangun &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; oleh pusalar. Jadi baginda harus mengundurkan &amp;nbsp;acara kumba abiseka tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuhan tiba-tiba menghilang. Maha raja pun terbangun dari tidurnya. Ia kaget dan kecewa. Siapa gerangan pusalar itu? Aku belum mendengar ada orang lain yang membangun pura diseluruh wilayah negriku. Siapa gerangan pusalar sehingga tuhan harus mendahulukan dia dari pada aku?&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Pagi itu juga maharaja mengadakan siding paripurna secara mendadak. Agenda sidang hanya satu : hari itu juga ia harus tahu siapa pusalar dan dimana ia tinggal. Tengah hari informasi diperoleh. Dan Maha raja berangkat menuju desa dimana pusalar tinggal. Seluruh desa kecil itupun sangat kaget dengan kedatangan sang maha raja yang tiba-tiba itu. Untuk apa raja mengunjungi pusalar? Ada apa dengan pusalar? Selama ini tidak ada yang memperdulikan petani miskin itu. Maha raja menghampiri gubuk Pusalar yang sangat sederhana. Pusalar kaget sekali, dan ia segera menyentuh kaki sang maha raja.&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; “dimana puramu pusalar?” maha raja bertanya. Pusalar menjadi sangat malu. Selama ini tidak ada orang yang tahu mengenai pura itu, karena semua itu hanya pusalar yang tahu. Mungkin hanya orang bodoh dan miskin seperti dirinya yang membangun pura. Takut ditertawakan oleh penduduk desa yang berkerumun ingin tahu, serta para pengiring raja yang penuh waspada, ia mencoba mengingkarinya. Maha raja lalu menceritakan mimpinya kepada pusalar. Pusalar kini merasa tidak takut lagi, karena tuhan mengetahui dan meberkati apa yang ia kerjakan. Pusalar menunjukan dadanya &amp;nbsp;: &amp;nbsp;“Di Sini Yang Mulia!”&lt;br /&gt;
&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Mendengar penjelasan pusalar, sang maha raja membungkuk dan menyentuh kaki pusalar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungguh cerita yang sangat menyentuh hati bukan?&lt;br /&gt;
Tunggu cerita-cerita yang lainnya yang akan saya berikan kepada anda.&lt;br /&gt;
NAMASKAR&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhhi2VwdIdYNmVriNLKPTEsqWmf21nGd3j2vs5UA-UdzV5c7cFki2Poqv7GzdKwEIgdhrrapO59t4a6HuGKopODr0lYo-L3H2cTFGf5ZGmRkZAAlWBGnmLea_IgkeFjdeyIW30VLoDsjYNM/s72-c/Pura_taman_ayun.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>agusindrakadek@gmail.com (Unknown)</author></item><item><title>BALI DIPECAH SECARA SISTEMATIS</title><link>http://hindu-akan-ada-selamanya.blogspot.com/2012/06/bali-dipecah-secara-sistematis.html</link><pubDate>Thu, 7 Jun 2012 11:37:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5489880678200491726.post-7792893188903354690</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;br /&gt;
Pedanda Gunung mengatakan sejak tahun 1930 Bali telah dibidik kelompok tertentu, Tapi tidak&lt;br /&gt;
berhasil. Kini, muncul UU Pornografi,&lt;br /&gt;
sehingga eksistensi masyarakat Bali&lt;br /&gt;
semakin terdesak&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemprov Bali sangat serius menyikapi pengesahan UU Pornografi oleh DPR, yang ditentang keras. masyarakat Pulau Dewata. Bahkan, 28 sulinggih dan semua kabupaten di Bali dikumpulkan untuk mencani masukan, dalam acara pesamuan khusus yang digelar di Wantilan Pura Besakih, Sabtu (22/ 11). Dan pesamuan itu, kalangan sulinggih merasa telah dipecundangi oleh UU Pomografi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Acara pesamuan sulinggih di Wantilan Pura Besakih, Desa Besakih, Kecamatan Rendang,&lt;br /&gt;
Karangasem, Sabtu pagi dihadiri Gubernur Bali Made Mangku Pastika,&lt;br /&gt;
Ketua DPRD Bali IBP Wesnawa, dan Kepala Biro Hukum Pemprov Bali I Gede Sudibia, selain 28 Pedanda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pesamuan sulinggih se-Bali ini diprakarsai Biro Kesra Pemprov Bali atas mstruksi Gubernur. Sebanyak 28 sulinggih diundang khusus untuk mencani masukan dan menyamakan persepsi soal UU Pornografi yang telah disahkan DPR, 30 Oktober 2008. Sedangkan Wantilan Pura Besakih dipilih sebagai tempat pelaksanaan pesamuan 28 sulinggih, sekalian untuk sembahyang bersama pada pura terbesar di Indonesia tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah Gubernur Pastika sendiri yang langsung bertindak sebagai semi moderator dalam paruman sulinggih untuk menyikapi UU Pornografi, yang digelar sejak pagi pukul 10.00 Wita tersebut. Setiap sulinggih menuangkan unek-unek mereka, yang dipandu dan dijawab sendini oleh Gubernur Pastika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan tajam dari sulinggih soal lolosnya UU Pomografi ini, tak pelak, ikut menyodok Gubernur. “Kenapa kedua kaki Gubernur tidak sepenuhnya membela rakyat Ba1i? Pedanda di Bali merasa sudah kalah atas diberlakukannya UU Pornografi itu. Apa ada celah untuk membatalkan UU Pornografi itu?” tanya Ida Pedanda Gede Buruan, dari Griya Sanding, Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Gianyar. “Pedanda hanya memberikan dukungan sesuai swadharmaning sebagai sulinggih. Jangan sampai atas dasar UU Pornografi itu, pelaksanaan adat dan agarna kita di Bali nantinya justru dicap pornografi,” lanjut Ida Pedanda Gede Buruan&lt;br /&gt;
Pertanyaan tak kalah pedas dilontarkan Ida Pedanda Gede Made Gunung, dari Grya Purnawati, Desa/ Kecamaan Sukawati, Giányar. “Sejauh mana kekuatan rakyat Bali untuk melawan UU Pornografi itu?” tanya Pedanda Gunung. Ditambahkan Pedanda Gunung, sejak tahun 1930, Bali telah dibidilc kelompok tertentu, tapi tidak pernah berhasil. Kini, muncul UU Pornografi. “Saya&lt;br /&gt;
dengar Komponen Rakyat Bali berencana melakukan judicial review terhadap UU Pornografi itu. Saya mendukungnya,” jelas Pedanda Gunung. “Namun,jikatidakbethasil, apa nantinya yang digunakan untuk mempertahankan eksistensi Bali?” imbuh bintang dharma wacana ini.&lt;br /&gt;
Pedanda Gunung menyebutkan, arca (patung-patung) di beberapa tempat suci yang dianggap porno, tidak mungkin dibongkar hanya gara-gara lahirnya UU Pornografi. “Kita sebenarnya tidak menolak pornografi. Tapi, definisi porno yang dibuat dalam UU itu tidak bisa kita diterima Budaya Nusantara yang agung ini telah dinodai,” tandas Pedanda Gunung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara, Ida Pedanda Wayan Bun dan Griya Sanur, Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Gianyar juga melontarkan sikap senada. Pedanda Bun mengingatkan, jangan beranggapan kalangan wiku tidak berhak menjalankan dharmanegara. Namun, dharma negara yang dijalankan bukan dengan cara demo, melainkan lewat berdoa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kekuatan doa paling ampuh, langsung berhubungan dengan Sang Maha Pencipta. Mari bela tanah Bali bersama-sama. Dalam perang Bharata Yudha, Prabu Salya yang terkenal sakti itu juga bisa dibunuh (oleh keponakannya, Dharma Wangsa), hanya dengan menggunakan senjata Kalima Sada,” jelas Pedanda Bun seolah memberikan dorongan semangat kepada Gubernur dan Ketua DPRD dalam perjuangan menolak UU Pornografi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tekanan dari Ida Pedanda Gede Wayan Keniten, asal Klungkung, lebih&lt;br /&gt;
tegas lagi. “Saya hanya berharap Gubernur dan DPRD Bali konsisten menolak UU Pornografi,” pinta Pedanda Keniten. Hal senada dipaparkan Ida Pedanda Gede Telaga, asal Denpasar “Kalau bisa, bagaimanalah caranya agar UU Pornografi itu tidak ditandatangani Presiden,” pinta Pedanda Telaga. Sementara, Ida Bujangga Kemenuh (dari Buleleng) menilai bahwa dengan disahkannya UU Pornografi oleh DPR, maka karma Bali mulai terdesak. Karena itu, harus dilakukan perlawanan terhadap UU yang potensial memecah persatuan dan meniadakan kebhinnekaan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ida Pedanda Ketut Abah dari Griya Jungutan, Desa Bungaya, Kecamatan Bebandem, Karangasem juga menyampaikan kekhawatirannya atas kehadiran UU Pornografi. Dia mempertanyakan maksud UU Pornografi itu. Ditegaskan Pedanda Abah, dalam cerita Arjuna Wiwaha, termuat adanya sejumlah bidadari mandi telanjang menggoda Arjuna (putra kedua dari lima Pandawa) yang sedang bertapa. Dalam kehidupan sehari-hari di pedesaan di Bali saat ini pun, banyak perempuan mandi telanjang di sungai hingga susunya terlihat jelas. “Apa yang model itu juga kena UU Pornografi?” Tanya Pedanda Abah. “Patung Acintya dipasang di setiap puncak palinggih Pura Jagatnatha. Kalau semua itu dilarang, nantinya bagaimana jadinya jagat Bali?”&lt;br /&gt;
sambung Ida Sri Bhagawan Wira Panji Yoginanda, dari Griya Taman Puri Pagerwesi Ashram, Kubutambahan, Buleleng.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menanggapi unek-unek kalangan sulinggih itu, Pastika selaku Gubernur Bali menyatakan tidak bias menolak diberlakukannya UU Pornografi. Pasalnya, Gubemur terikat sumpah jabatan dan merupakan perpanjangan tangan pemerintah pusat. “Setelah kami rundingkan, Rakyat Bali tak bisa menerima UU Pornografi. Tapi, yang menolak bukan pemerintah Bali,” jelas Gubernur. Ditambahkan Gubernur, begitu Presiden menandatangani UU Pornografi, maka sahlah berlakunya UU ini di seluruh Indonesia. Sementara, judicial review baru bisa ditempuh Rakyat Bali ke MK, jika UU Pornografi telah ditandatangani Presiden. Menurut Gubernur, UU Pornografl dibuat atas inisiatif DPR, yang sarat muatan politik tingkat tinggi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang paling diincar dalam pemberlakuan UU Pornografi itu adalah Bali. Makanya, saya selaku pribadi mendukung rencana judicial review,” katanya. Menurut Gubernur, keberadaan UU Pornografi merupakan masalah besar bagi Bali, karena mengancam eksistensi kehidupan masyarakat setempat. Lewat UU Pornografi ini, kata Gubernur, tanya masyarakat Bali diarahkan agar terpecah belah secara sistimatis, hingga menjadi lemah. “Saya memprediksi, kemungkinan UU Pornografi itu tidak akan ditandatangani Presiden. Maka, dampak secara politiknya nanti agak beda,” jelas Gubernur. Gubernur mengaku telah berkoordinasi dengan Kapolda Bali. Intinya, kalau UU Pornografi diberlakukan secara nasional, maka untuk sementara tidak mungkin diterapkan di Bali. “Saya bergeming sedikit pun untuk membela Bali, apapun resikonya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap detik hidup saya untuk Bali. Presiden tidak mungkin memecat saya.”&lt;br /&gt;
Sementara itu, Ketua DPRD IBP Wesnawa menyatakan Bali telah diguncang ledakan bom ketiga karena UU Pornografi. Bom ketiga dibuat dan dirancang DPR bernama UU Pornografi,” katanya.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>agusindrakadek@gmail.com (Unknown)</author></item><item><title>Melihat Dari Dekat Pura Jagadhita, Manado</title><link>http://hindu-akan-ada-selamanya.blogspot.com/2012/06/melihat-dari-dekat-pura-jagadhita.html</link><pubDate>Thu, 7 Jun 2012 11:34:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5489880678200491726.post-5753384908050181726</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;br /&gt;
Menjadi minoritas di sebuah wilayah dengan mayoritas agama berbeda tak membuat krama Hindu di Manado berkecil hati. Apalagi kini mereka sudah memiliki Pura Khayangan Tiga. Bagaimana aktivitas mereka?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mencari pura di Manado, Sulawesi Utara (sulut) tentu bukan urusan gampang. Maklum, mayoritas warga ibukota Sulut ini beragama Kristen dan Islam. Namun beruntung karena ternyata di kota yang berjarak ratusan kilometer dari pusat Hindu di Bali itu, terdapat sebuah pura agung. Namanya Pura Jagadita. Tidak susah mencari Pura jenis Khayangan Tiga di Sulawesi Utara tersebut. Lokasinya masih berada di salah satu kecamatan Kota Manado, tepatnya berada di Desa Kaas, Kecamatan Tikala, di Jalan Siswa Delapan, No 103.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daerah ini masih bisa dikategorikan pusat kota Manado. Dari tempat kami menginap di Jalan Piere Tendean, hanya butuh waktu sekitar setengah jam menggunakan bus untuk menuju ke pura ini. Hanya kondisi jalannya agak sempit. Lebarnya hanya 5 meter dan berkelok-kelok seperti di kawasan Bedugul. Saking sempitnya di satu tikungan sebelum tiba di pelataran pura, bus yang kami tumpangi harus ngatret karena tidak bisa mendapat haluan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maklum pura Jagadita terletak di perbukitan. Ini juga disebabkan karena topografi Manado yang berbukit-bukit. Untuk bisa menggapai lokasi tersebut, kami para awak media tidak bisa langsung menemukan pura. Begitu turun dari bus, kami harus berjalan kaki mendaki bukit setinggi 60 meter. Ukurannya dekat, tapi karena kemiringannya hingga 60 derajat membuat beberapa awak media ngos-ngosan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Waduh kalau begini lututnya bisa bergetar," seloroh salah seorang awak media sambil tertawa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersyukur rasa lelah kami akhirnya terbayar. Ketika berjalan sekitar 5 menit, salah seorang krama Bali menyapa dengan ramah. "Inggih, ngiring-ngiring," sahut salah seorang berpakaian upacara begitu kami tiba di pelataran pura. Pria tersebut kami kenal dengan nama Putu Tunas,50. Tunas mengaku pindah ke Manado sejak tahun 1977. Ia adalah Ketua Yayasan Jagadita, sebuah yayasan yang menaungi keberadaan Pura Jagadita. Tunas pula yang mengantarkan awak media menuju ke bagian jaba tengah pura untuk sembahyang bagi anggota rombongan yang beragama Hindu. Nah, untuk menuju berjalan kaki. Lumayan rombongan harus menapaki 115 anak tangga. Meski jumlahnya lebih sedikit, lokasi pura mengingatkan akan Pura Agung Besakih di Karangasem.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunas yang masih fasih berbahasa Bali ini dengan ramah menceritakan ihwal berdirinya Pura Jagadita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kami memelaspas tahun 1994. Setelah tiga kali mencari lokasi tepat dan akhirnya menemukan lokasi di sini karena ada sumber mata airnya yang tidak pernah mati," ujar Tunas kepada awak media yang penasaran. Sebelum didirikan pura, lokasi pura hanya berisi padmasana buatan krama Bali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kami membersihkan semak-semak di sini sedikit demi sedikit," terangnya menjelaskan perjalanan berdirinya Pura Jagadita ketika tahun 1980-an.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendirian pura baru dilakukan pada awal tahun 1983. Ketika itu menurutnya, krama Bali di Manado memiliki padmasana di desa Keleak, Manado. Lokasi padmasana merupakan pemberian PHDI Sulut dan seluas 3 are. Namun semakin hari, keberadaan padmasana dirasa tidak cukup karena jumlah krama kian bertambah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Awalnya hanya puluhan tapi kini sudah ratusan," tuturnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Proses pendirian pura pun dilakukan dengan mengumpulkan dana punia dari berbagai pihak. Tidak itu saja, nasib baik juga menaungi krama Bali di Manado. Lantaran bisa mendapatkan tanah seharga Rp 3 juta untuk seluas 80 are. Akhirnya di tahun 1989, bangunan pura setinggi 9 meter didirikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk membangunnya menghabiskan dana mencapai Rp 17,5 juta. "Padahal awalnya modal kami hanya Rp 3 juta," tegas pria asal Klungkung itu&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>agusindrakadek@gmail.com (Unknown)</author></item><item><title>Islam Bisa Menerima Yoga</title><link>http://hindu-akan-ada-selamanya.blogspot.com/2012/06/islam-bisa-menerima-yoga.html</link><pubDate>Thu, 7 Jun 2012 11:33:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5489880678200491726.post-876166271530455272</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;br /&gt;
Puluhan kelompok penekun yoga dari Indonesia dan sejumlah negara sahabat sejak Selasa (3/3) kemarin mengikuti International Bali-India Yoga Festival (IBIYF). Acara dibuka Gubernur Bali diwakili oleh Karo Kesra Gusti Putu Yudi Arnawa, S.H. di Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Bajra Sandhi Renon.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembukaan kemarin dihadiri sejumlah sulinggih termasuk Ida Pedanda Made Gunung, Bupati Gianyar Tjok Ace dan tokoh lintas agama, pimpinan asram dan guru yoga asal India, Acharya Laxmi Narayan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Festival yang berlangsung hingga 10 Maret nanti menurut Ketua IBIYF, Dr. Somvir tiap pagi diisi dengan pelatihan yoga secara gratis di lapangan Renon. Sementara di Bali-India Foundation (BIF) dilakukan pameran buku dan lukisan yang bertemakan soal yoga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Somvir menginginkan tiap tahun penekun yoga berkumpul di Bali untuk perdamaian dan festival. Yoga memang lahir di India dan Bali tempat yang bagus untuk yoga. Ia mengharapkan festival ini bisa diikuti masyarakat Bali karena bertemakan yoga untuk kesehatan dan perdamaian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tokoh Islam dari Univ. Negeri Islam Jakarta Prof. Dr. H. Salman Harun saat menjadi pembicara tunggal menegaskan bahwa Islam tak ada masalah dengan yoga. Yoga adalah pandangan hidup dan mengajak orang berbuat kebaikan. Ini sejalan dengan ajaran Islam. Kita dilahirkan penuh dengan perbedaan bukan untuk saling membunuh melainkan saling mengenal dan harmoni. Makanya ia menegaskan Islam menerima yoga apalagi misinya perdamaian karena arti Islam sendiri adalah damai. Hanya saja ia akui citra Islam berubah dicap sebagai teroris karena perubahan mainset oknum tertentu. 'Keimanan bukan urusan manusia saat ini tapi nanti di sisi Tuhan,' ujarnya seraya mengajak umat untuk tak saling menghujat agama lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara itu Ketua Yayasan BIF Prof. Dr. I Nyoman Sirtha memaparkan festival yang kali pertama diadakan BIF ini untuk menggairahkan yoga di kalangan masyarakat dan membantu perkembangan pariwisata spiritual di Bali. Yoga selain baik bagi kesehatan, juga bisa dijadikan media untuk mengumpulkan devisa negara.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Acara pembukaan semalam makin meriah berkat penampilan 20 menit Didik Nini Thowok dengan tari 'Panca Muka' untuk memberi pesan bahwa yoga itu sangat universal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agenda IBIYF hari ini, Rabu (4/3) diadakan festival yoga oleh klub yoga se-Indonesia di Bajra Sandhi. Kamis (5/3) di BIF digelar seminar bertemakan Yoga dan pluralisme serta pandangan Islam tentang perdamaian&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>agusindrakadek@gmail.com (Unknown)</author></item><item><title>Ditemukan pemandian zaman Hindu di Pringapus</title><link>http://hindu-akan-ada-selamanya.blogspot.com/2012/06/ditemukan-pemandian-zaman-hindu-di.html</link><pubDate>Thu, 7 Jun 2012 11:31:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5489880678200491726.post-6451235192185600576</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;br /&gt;
PRINGAPUS - Sebuah bangunan kuno yang diperkirakan berupa pemandian peninggalan zaman Hindu ditemukan di Desa Derekan, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang. Keberadaan pemandian ini diperkirakan satu rangkaian dengan Candi Ngempon yang lokasinya tak jauh dari pemandian yang baru saja ditemukan tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keterangan yang dihimpun di lokasi penemuan, Selasa (30/6), menyebutkan orang yang kali pertama menemukan pemandian tersebut adalah Supriyanto (45) warga Derekan. Penemuan benda cagar budaya itu bermula saat Supriyanto hendak membuat tangga sebagai jalan menuju pemandian air hangat yang letaknya dibawah bangunan kuno ditemukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Supriyanto, saat menggali tanah berkedalaman sekitar 1,3 meter mata cangkulnya membentur benda keras. Setelah tanah sekitarnya digali ditemukan sebuah susunan batu berbentuk balok. Ia lantas melaporkan penemuan itu kepada petugas Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah yang berada di Candi Ngempon.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Susunan batu itu tertanam dalam tanah. Saya menemukan saat akan membuat anak tangga untuk jalan menuju tempat pemandian di bawah susunan batu itu. Penemuan ini sudah saya laporkan kepada petugas purbakala di Candi Ngempon dan dinyatakan sebagai benda cagar budaya, ungkap Supriyanto saat dijumpai di lokasi penemuan, siang kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atas penemuan itu Su-priyanto diminta untuk menghentikan penggalian oleh petugas BP3. Ia juga diwanti-wanti agar tidak mengubah posisi susunan batu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan pengamatan dilapangan, susunan batu itu berupa balok berukuran panjang antara 50-60 cm dengan ketebalan 10-18 cm. Selain batu berupa balok juga terdapat batu bulat yang memiliki delapan sudut berdiameter 36 cm.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut petugas BP3 Jateng Wagiyo, susunan batu yang baru terlihat satu sudut itu merupakan peninggalan zaman Hindu. BP3 masih menyelidiki struktur bangunan tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Perkiraan sementara susunan batu itu berupa pemandian yang digunakan untuk bersih diri sebelum menuju ke Candi Ngempon.Diperkirakan dibangun bersamaan pembangunan Candi Ngempon, yakni sekitar abad VIII,’’ jelasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia menambahkan, BP3 telah berkoordinasi dengan pemerintah desa Derekan dan masyarakat sekitar untuk ikut mengamankan. BP3 segera mengangani temuan itu karena rawan rusak dan hilang&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>agusindrakadek@gmail.com (Unknown)</author></item><item><title>Umat Hindu Harus Dijadikan Contoh</title><link>http://hindu-akan-ada-selamanya.blogspot.com/2012/06/umat-hindu-harus-dijadikan-contoh.html</link><pubDate>Thu, 7 Jun 2012 11:29:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5489880678200491726.post-1433074728700832076</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Umat Hindu Harus Dijadikan Contoh&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Kerukunan Umat Sedang Diuji&lt;br /&gt;
Umat Hindu Harus Dijadikan Contoh&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jakarta (Bali Post) Jumat, 11 Pebruari 2011.&lt;br /&gt;
Menteri Agama Suryadharma Ali mengingatkan agar umat beragama di Indonesia mencontoh umat Hindu dalam masalah toleransi dan kerukunan umat beragama. “Umat Hindu memiliki kearifan yang luar biasa, karena sampai dengan hari ini tidak pernah ada gesekan dengan umat mana pun,” katanya usai menerima Panitia Nasional Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1933 di Kementerian Agama, Jakarta, Kamis (10/2) kemarin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hadir dalam kesempatan tersebut, IBG Yudha Triguna (Penasihat), I Made Gde Erata (Ketua Umum PHDI), Erlangga Mantik (Ketua Umum Panitia), Wayan Koster (Sekretaris Umum), AAK Diatmika (Koordinator Puldok) dan Wayan Suharta (Ketua V). Selain mengundang Menag, panitia juga berharap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wapres Boediono hadir pada acara Dharma Shanti Nyepi yang dilaksanakan 20 Maret 2011 di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menag mengingatkan agar umat Hindu selalu meningkatkan keimanan, peningkatan pengamalan dan penghayatan agama sehingga menjadi umat Hindu yang berkualitas yaitu mengamalkan ajaran agama dengan benar. Dengan demikian, kata Menag, umat Hindu akan menjadi warga negara yang penuh dengan iman, ketenangan, kesejukan, dan kebersihan hati.&lt;br /&gt;
Pada saat ini, kata Menag, kerukunan dan kehidupan umat beragama di Indonesia sedang diuji. Namun, Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini yakin, umat Hindu memberi contoh yang baik pada warga negara lainnya tentang toleransi dan kerukunan umat beragama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melalui forum perayanan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1933 ini, Suryadharma mengharapkan umat Hindu dapat menularkan kearifan tersebut atau perilaku keagamaan kepada umat beragama yang lain agar kerukunan umat, kerukunan antarwarga negara, kerukunan sesama saudara sebangsa bisa terwujud dengan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>agusindrakadek@gmail.com (Unknown)</author></item><item><title>Sendratari Triyoni Saraswati tampil di Australia</title><link>http://hindu-akan-ada-selamanya.blogspot.com/2012/06/sendratari-triyoni-saraswati-tampil-di.html</link><pubDate>Thu, 7 Jun 2012 11:25:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5489880678200491726.post-4749027352002287588</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;br /&gt;
Sendratari Triyoni Saraswati yang dibawakan oleh para penari asal Indonesia akan tampil di hadapan peserta Kongres Parlemen Agama Dunia, 3-9 Desember 2009 di Melbourne, Australia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;img alt="Image" border="0" height="266" hspace="6" src="http://www.parisada.org/images/stories/foto/aussie-02.jpg" style="background-color: white; color: #333333; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: -webkit-center;" title="Image" width="400" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: small; text-align: left;"&gt;Aktifitas Dharmadyaksa di Kongres Parlemen Agama Dunia - Australia&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;
Sendratari Triyoni Saraswati tersebut menggambar cerita tentang kewanitaan yang mempunyai ilmu kebijaksanaan yang diangkat dari budaya Jawa (Solo), Bali dan Makasar, kata Suprapto Suryodarmo pemilik padepokan Tari Lemah Putih Solo, di Solo, Jumat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tarian Triyoni Saraswati yang menggambarkan kewanitaan yang bijaksana, serta memberikan doa keselamatan dunia," kata Suprapto dan menambahkan lewat budaya ini juga sekaligus untuk menjalin keakraban bangsa satu dengan yang lainnya.&lt;br /&gt;
Dalam acara tersebut juga akan diisi tentang masalah budaya yang terkait dalam kepercayaan.&lt;br /&gt;
Untuk peserta yang akan tampil dalam sendra tari tersebut yaitu GRAy Koes Murtiyah dari Keraton Kasunanan Surakarta, Arini penari asal Bali, Ida Pedanda Arimbawa dari Bali, Nurlia penari Pakarena asal Makassar, serta Supreapto dari Padepokan Tari Lemah Putih Solo.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terselenggaranya sendra Tari Triyoni Saraswati di hadapan para peserta Kongres Parlemen Agama Dunia ini berkat kerja sama antara Yayasan Dharma Samuan Tiga Bali dengan Padepokan Lemah Putih Solo. (jy)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: -webkit-auto;"&gt;&lt;span style="color: #333333; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;"&gt;&lt;span style="font-size: 12px; line-height: 16px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: -webkit-auto;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>agusindrakadek@gmail.com (Unknown)</author></item><item><title>10.000 Orang Afrika Beralih Ke Agama Hindu</title><link>http://hindu-akan-ada-selamanya.blogspot.com/2012/06/10000-orang-afrika-beralih-ke-agama.html</link><pubDate>Thu, 7 Jun 2012 11:19:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5489880678200491726.post-3894911519031979068</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;br /&gt;
Mungkin tidak banyak yang mengetahui jika pertumbuhan Agama Hindu sedemikian pesatnya di Benua Afrika. Sebuah situs hindu, Haindava Kairalam melansir berita ini pada bulan Agustus 2009 lalu. Tentu berita ini menjadi berita yang menggembirakan disela-sela kabar lain yang dilansir sumber yang tidak jelas tentang kemerosotan jumlah penganut agama Hindu di muka bumi ini. Berita tentang melonjaknya jumlah penganut Hindu baru ini tentu bertolak belakang dengan berita-berita para penyebar agama sebelah yang entah mendapatkan data dari mana yang selalu mengatakan orang-orang Hindu berduyun-duyun meninggalkan Agama Hindu dan memeluk agama tetangga.&lt;br /&gt;
&lt;br style="background-color: #fafafa; color: #333333; font-family: Verdana, Arial, Tahoma, Calibri, Geneva, sans-serif; font-size: 13px; text-align: -webkit-auto;" /&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://tehelka.com/channels/TheHub/2009/Aug/15/images/sw2.jpg" style="background-color: #fafafa; border: 0px; color: #333333; font-family: Verdana, Arial, Tahoma, Calibri, Geneva, sans-serif; font-size: 13px; max-width: 100%; text-align: -webkit-auto;" /&gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gambar di atas adalah gambar tokoh yang sangat berjasa dalam penyebaran agama Hindui di Afrika. Beliau adalah Swami Ghanananda Saraswati, seorang suku Asli Afrika dari Ghana. Guru agung ini sedemikian dicintai oleh orang-orang asli Ghana, sehingga uluran tangan beliau mampu menarik 10.000 lebih suku asli Afrika ke jalan Weda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berikut beritanya :&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
10,000 Africans embrace Hindu Dharma in Ghana&lt;br /&gt;
11/08/2009 07:04:20 VHP-International&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Song of songs Woman singing bhajans at the monastery&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
As an Indian in Ghana, I soon became aware of the country’s Indian community. It was while working on a photo-essay about crosscultural interactions, especially interracial marriages, that I learnt of the African Hindu Monastery. Now, Ghana is by no means homogenous when it comes to religion. Though predominantly Christian, with Islam being prominent in the north, most Ghanaians still maintain their connections to older traditions of ancestor worship and belief in the spirit world. Hinduism, though, is a foreign and recent entrant, associated with the Sindhi business families who dominate the immigrant Indian population. The presence of an African Hindu community, therefore, came as a surprise. I decided to go and see the place for myself.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The African Hindu Monastery (AHM) is a simple white structure in Odorkor, a suburb of the Ghanaian capital city of Accra. Started in 1975, it is headed by Swami Ghanananda Saraswati. The gentle-voiced Saraswati was born into the traditional African faith. Although he converted to Christianity when both his parents became Christian priests, he continued his search for truth. Attracted by Hindu beliefs and the practice of yoga, he travelled to India. While staying at Swami Sivananda’s ashram in Rishikesh, he decided to embrace Hinduism. At 35, he returned to Ghana and acquired his first disciples, holding lectures to educate Ghanaians about this ancient and foreign religion. Initially, his teachings attracted the literate and the academic – university lecturers and lawyers. Soon, some Indian families started to come. Later, a meeting with one Swami Krishnananda (who was visiting from India) inspired him to set up a monastery “where he could tell people about all that he had learnt in India”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
TODAY, GHANA’S population of 23 million includes 12,500 Hindus, of which 10,000, like their Swami Ghanananda Saraswati, are indigenous Africans. While an older Sindhi temple still exists in Accra (and the Sathya Sais, the Ananda Margis, ISKCON and the Brahma Kumaris are also active), the African Hindu Monastery (AHM) is now Ghana’s largest centre of Hindu worship.&lt;br /&gt;
Ghana now has a Hindu population of 12,500, of which as many as 10,000 are indigenous Africans.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The AHM’s iconography and practices provide clues to its hybrid origins. Its nonexclusionist attitude is apparent from the picture of Jesus alongside the Hindu gods on the main mantelpiece, as well as images of spiritual leaders from other religions. There are even images of secular leaders from India. The monastery’s members also believe that the Supreme God is known by other names, such as Yahweh and Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
While it identifies itself with Vedic philosophy, with Vishnu as the primary deity, there is an adjoining temple for Shiva. In fact, the day starts with a Shiva Abhishek, followed by an aarti, conducted by the Swami or one of his disciples. This is followed by a havan (fire sacrifice) and the reciting of the Hanuman Chalisa. In contrast to the specially commissioned havans in most Indian temples, all those present can pour a spoonful of oil into the sacred fire. Bhajans in Hindi — sung exquisitely in a Ghanaian accent — might follow. Later, a Vedic text might be discussed, either in English or in a Ghanaian dialect.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The AHM is not just accommodating of multiple religious traditions but also open to people of all races, classes and communities. Indian worshippers are not only members of the dominant Sindhi community, but also recent immigrants: managers and contract labour alike. But most worshippers are Africans, again from different professions and backgrounds. When I asked a disciple about the group’s opinion of the caste system, he pointed out that there is no society in the world that does not break its people up into the privileged and the unprivileged, be it through profession, ancestry or race. Ghanaian Hindus like him, however, are clear that people have an equal right to education, the means to a good life and most importantly, religion.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Some have given their children Hindu names like Rama or Krishna after a naming ceremony CONTRARY TO its name, the monastery has only one monk. Saraswati explains, “Hinduism is a new thing [in West Africa], and I do not want to make somebody a monk who later on abandons monkhood. It would bring a bad name to me and to Hinduism.” Believers who want to become disciples enroll in a six-week residential course, after which they are initiated. The transition to Hinduism is a gradual one. For instance, an African Hindu would continue to have a Christian or Muslim first name and a traditional African last name – for example, Daniele Otchere. But there are disciples who have given their children Hindu first names like Rama or Krishna after a Hindu naming ceremony. Hindu rituals at marriage and cremation (rather than burial) at death are also beginning to be adopted, though not obligatory.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The monastery likes disciples to pray and perform pujas at home. In fact, the performance of rituals is seen as essential to being Hindu. Sometimes, new believers’ desire to perform Hindu-ness is so great that it feels like they are play-acting – like the time when several people fell at the feet of a visiting dignitary to show respect ‘in the traditional Hindu manner’. But then, ritual is often the embodied route to faith.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam artikel tersebut diberitakan juga jumlah populasi penganut Hindu Dharma di Ghana mencapai 12.000 orang dengan penganut Agama Hindu dari suku Ghana asli sebanyak 10.000.&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>agusindrakadek@gmail.com (Unknown)</author></item><item><title>Pulau Bali Gelap Gulita di Malam Perayaan Nyepi</title><link>http://hindu-akan-ada-selamanya.blogspot.com/2012/06/pulau-bali-gelap-gulita-di-malam.html</link><pubDate>Thu, 7 Jun 2012 11:04:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5489880678200491726.post-398547665525702233</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;span style="background-color: none; font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: justify;"&gt;Pulau Bali gelap gulita saat umat Hindu menunaikan ibadah Tapa Brata Penyepian menyambut Tahun Baru Saka 1934, Jumat (23/3) malam.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="background-color: none; font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="background-color: none; font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: justify;"&gt;Salah satu dari empat pantangan yang dilakukan Umat Hindu pada malam peralihan tahun dari tahun saka 1933 ke 1934 itu menyangkut Amati Geni, yakni tidak menyalakan api maupun lampu penerangan listrik.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="background-color: none; font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="background-color: none; font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: justify;"&gt;Dengan demikian, suasana gelap gulita terjadi di mana-mana dan masyarakat sejak pagi hari "mengurung" diri dalam rumah masing-masing.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="background-color: none; font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: justify;"&gt;Pada malam kegelapan itu petugas keamanan desa adat (pecalang) dan tokoh masyarakat di masing-masing desa adat terus melakukan pemantauan menyangkut keamanan di wilayah desa pekraman masing-masing.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="background-color: none; font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="background-color: none; font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: justify;"&gt;Bali pada malam Hari Raya Nyepi menjadi gelap gulita karena seluruh penerangan listrik di jalan, rumah-rumah milik sekitar 839.619 konsumen tersebar di delapan kabupaten dan satu kota di daerah ini dipadamkan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: none; font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="background-color: none; font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="background-color: none; font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: justify;"&gt;Sementara semua hotel yang tersebar di kawasan Sanur, Kuta, Nusa Dua, dan kawasan wisata lainnya di Bali sedapat mungkin juga tidak menyalakan listrik. Jika dalam kondisi terpaksa, sinarnya tidak sampai menembus jendela atau celah hingga memancar ke luar.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="background-color: none; font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="background-color: none; font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: justify;"&gt;Kondisi demikian menambah kekhusukan umat Hindu melaksanakan Catur Tapa Brata Penyepian yang meliputi "amati geni" (tidak menyalakan api atau listrik).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: none; font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="background-color: none; font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="background-color: none; font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: justify;"&gt;Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali I Gusti Ngurah Sudiana mengatakan bahwa pada hakekatnya merupakan tuntunan untuk mengheningkan pikiran dengan mengendalikan api nafsu indria (keserakahan).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="background-color: white; font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="background-color: none; font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: justify;"&gt;Umat Hindu wajib mematuhinya, dan umat lain dapat melakukan hal yang yang sama. Namun, kalau toh harus menyalakan lampu, tidak mencolok, yakni sinarnya tidak sampai menyorot ke luar rumah.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: none; font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="background-color: none; font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="background-color: none; font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: justify;"&gt;PT PLN Distribusi Bali menurut Humasnya Agung Mastika tetap mengoperasikan seluruh pusat pembangkit listrik saat Hari Raya Nyepi. Beberapa instansi vital, khususnya rumah sakit, tetap memerlukan adanya pasokan energi listrik.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: none; font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="background-color: none; font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="background-color: none; font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: justify;"&gt;Namun, momen Nyepi ini menadikan PLN Distribusi Bali mampu menghemat lebih dari 50 persen dari kebutuhan. Beban puncak selama ini sekitar 540--545 MW per hari.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: none; font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="background-color: none; font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="background-color: none; font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: justify;"&gt;Dengan demikian, pemasukan dana dari penjualan energi listrik itu akan berkurang dari selama ini rata-rata setiap harinya Rp8 miliar.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br style="background-color: white; font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: justify;" /&gt;&lt;br style="background-color: none; font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: justify;" /&gt;&lt;span style="background-color: none; font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: justify;"&gt;"Itu artinya momentum hari suci Nyepi mampu menghematkan pemakaian energi listrik lebih dari 50 persen," ujar Agung Mastika.&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>agusindrakadek@gmail.com (Unknown)</author></item><item><title>Nyepi, Pertamina Hemat 3.000 KL BBM di Bali</title><link>http://hindu-akan-ada-selamanya.blogspot.com/2012/06/nyepi-pertamina-hemat-3000-kl-bbm-di.html</link><pubDate>Thu, 7 Jun 2012 10:55:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5489880678200491726.post-3450921971118450530</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: justify;"&gt;PT Pertamina bisa menghemat 3.000 kiloliter bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di Bali pada saat umat Hindu melaksakanan ritual Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1934. "Hanya Bali yang bisa menghemat BBM sebanyak itu," kata Manajer Penjualan PT Pertamina Area Bali-Nusa Tenggara Barat, Iin Febrian, di Denpasar, Jumat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="background-color: none; font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: justify;"&gt;Ia mengemukakan bahwa dalam satu hari kebutuhan masyarakat Bali akan BBM bersubsidi mencapai 3.000 kiloliter yang terdiri atas 2.300 kiloliter premium dan 700 kiloliter solar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="background-color: none; font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: justify;"&gt;Dia merasa perlu menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Bali yang dalam perayaan Nyepi tidak menggunakan kendaraan bermotor selama 24 jam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="background-color: none; font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: justify;"&gt;Selain BBM bersubsidi, Pertamina juga menghentikan pasokan 80 kiloliter avtur karena sejak Jumat pukul 06.00 Wita hingga Sabtu (24/3) pukul 06.00 Wita lalu lintas udara melalui Bandar Udara Ngurah Rai ditutup total. "Pada saat pemerintah sedang memikirkan subsidi BBM, masyarakat Bali sudah mampu menghemat penggunaan BBM. Kemungkinan besar, energi listrik juga megalami penghematan," kata Iin menambahkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="background-color: none; font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: justify;"&gt;Dia memperkirakan bahwa penggunaan BBM pada hari Sabtu (24/3) akan berkurang 20 persen karena sebagian umat Hindu di Bali masih ada yang melaksanakan ritual. "Sebenarnya mulai Kamis (22/3) sudah berkurang, tapi kami belum bisa menghitung karena waktu itu proses distribusi masih berjalan hingga malam hari," katanya menambahkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="background-color: none; font-family: Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 16px; text-align: justify;"&gt;Selama Hari Raya Nyepi umat Hindu di Bali menjalani ritual tidak melakukan empat hal, yakni bekerja (amati karya), menyalakan api (amati geni), bepergian (amati lelungan), dan mencari kesenangan (amati lelanguan). Selama 24 jam, jalanan di Bali bebas dari asap kendaraan bermotor dan nyala lampu penerangan, baik di jalan umum maupun di rumah warga, berkurang. Siaran televisi lokal dan nasional di Bali juga dimatikan selama 24 jam, termasuk televisi berlangganan di hotel.&amp;nbsp;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>agusindrakadek@gmail.com (Unknown)</author></item><item><title>10 Patung Buddha Paling Terkenal di Dunia</title><link>http://hindu-akan-ada-selamanya.blogspot.com/2012/05/10-patung-buddha-paling-terkenal-di.html</link><pubDate>Fri, 25 May 2012 10:42:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-5489880678200491726.post-6432061833132002038</guid><description>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;h1 style="background-color: white; border: 0px; color: #3c6fa6; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 30px; font-weight: normal; margin: 0px 0px 5px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;10 Patung Buddha Paling Terkenal di Dunia&lt;/h1&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #262626; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Sebuah website travelling,&amp;nbsp;&lt;em style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;touropia&lt;/em&gt;.&lt;em style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;com&lt;/em&gt;, membuat peringkat 10 patung Buddha yang paling terkenal di dunia. Sebagai sebuah website travelling, tentu saja indikator yang dipergunakan dalam pemeringkatan ini adalah popularitas dalam aspek wisata. Daftar ini dikeluarkan Mei 2009, tapi rasanya sampai sekarang pun tidak terlalu terjadi banyak perubahan. Sayangnya tidak ada nama Borobudur dalam daftar tersebut..&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #262626; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #262626; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;a href="http://www.buddhazine.com/2011/12/14/10-patung-buddha-paling-terkenal-di-dunia/10-hussain-sagar-3/" rel="attachment wp-att-458" style="background-color: transparent; border: 0px; color: black; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;img alt="" class="alignnone size-full wp-image-458" height="283" src="http://www.buddhazine.com/wp-content/uploads/2011/12/10.-Hussain-Sagar2.jpg" style="background-color: transparent; border: 0px; clear: both; display: block; height: auto; margin: 0px 0px 15px; max-width: 610px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;" title="10. Hussain Sagar" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #262626; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;strong style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;10. Hussain Sagar Buddha Statue&lt;/strong&gt;&lt;strong style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;, India&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #262626; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Patung Buddha yang terletak di tengah danau buatan di kota Hyderabad ini adalah salah satu patung Buddha paling terkenal di India. Patung ini tingginya 17 meter dan berat 320 ton. Patung monolitik satu-satunya tertinggi di India ini dipahat dari satu bongkah batu. Tragisnya, pada saat pemasangan patung ini di tahun 1992, patung terbalik dan jatuh ke danau, menyebabkan kematian 8 pekerja. Pemerintah India kemudian memperbaiki kembali patung dan sekarang menjadi salah satu daya tarik wisata utama di Hyderabad.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #262626; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #262626; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;a href="http://www.buddhazine.com/2011/12/14/10-patung-buddha-paling-terkenal-di-dunia/09-tian-tan-3/" rel="attachment wp-att-457" style="background-color: transparent; border: 0px; color: black; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;img alt="" class="alignnone size-full wp-image-457" height="283" src="http://www.buddhazine.com/wp-content/uploads/2011/12/09.-Tian-Tan2.jpg" style="background-color: transparent; border: 0px; clear: both; display: block; height: auto; margin: 0px 0px 15px; max-width: 610px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;" title="09. Tian Tan" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #262626; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;strong style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;9. Tian Tan Buddha&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;strong style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Statue, Hongkong&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #262626; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Patung Buddha Tian Tan oleh warga lokal sering disebut sebagai Buddha Besar. Terletak di Pulau Lantau, Hong Kong, patung ini merupakan ciri utama dari Po Lin Monastery yang dibentuk dari perunggu tahun 1993&lt;em style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;.&amp;nbsp;&lt;/em&gt;Patung ini merupakan simbol harmoni antara manusia, alam, masyarakat, dan agama. Nama patung Tian Tan Buddha&lt;em style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/em&gt;diambil karena bagian bawahnya merupakan replika dari Kuil Tian Tan (Kuil Surga) di Beijing. Patung Tian Tan dalam posisi duduk di singgasana lotus di atas tiga jenjang altar. Dengan tinggi 34 meter, Tian Tan Buddha&lt;em style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/em&gt;disimbolkan sebagai lambang ketenangan. Tangan kanan diangkat melambangkan menghilangkan penderitaan, sedangkan tangan kiri berada di lutut dalam postur tenang sebagai simbol kebahagiaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #262626; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #262626; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;a href="http://www.buddhazine.com/2011/12/14/10-patung-buddha-paling-terkenal-di-dunia/08-monywa/" rel="attachment wp-att-456" style="background-color: transparent; border: 0px; color: black; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;img alt="" class="alignnone size-full wp-image-456" height="283" src="http://www.buddhazine.com/wp-content/uploads/2011/12/08.-Monywa.jpg" style="background-color: transparent; border: 0px; clear: both; display: block; height: auto; margin: 0px 0px 15px; max-width: 610px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;" title="08. Monywa" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #262626; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border: 0px; font-weight: bold; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;8. Monywa Buddha, Myanmar&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #262626; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: transparent; border: 0px; font-weight: bold; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="background-color: transparent; border: 0px; font-weight: normal; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Monywa adalah sebuah kota di Myanmar tengah yang terletak di pinggir Sungai Chindwin. Di sebelah kiri kota Monywa ada Po Khaung Taung&lt;em style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;,&amp;nbsp;&lt;/em&gt;sebuah barisan bukit dimana Anda bisa melihat Buddha Monywa, patung Buddha dalam posisi berbaring terbesar di dunia. Patung raksasa ini memiliki panjang total 90 meter. Patung Buddha Monywa dibangun pada 1991 dan kosong pada bagian dalam, sehingga wisatawan dapat berjalan dari kepala menuju kaki. Di dalam patung terdapat 9.000 gambar yang terbuat dari besi setinggi 1 kaki tentang Buddha dan murid-muridNya, menggambarkan berbagai kejadian penting dalam kehidupan Buddha. Kini malah sebuah patung Buddha dalam posisi berdiri terbesar di dunia dibangun di atas bukit Po Khaung dengan tinggi 132 meter.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #262626; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #262626; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;a href="http://www.buddhazine.com/2011/12/14/10-patung-buddha-paling-terkenal-di-dunia/07-ayutthaya/" rel="attachment wp-att-455" style="background-color: transparent; border: 0px; color: black; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;img alt="" class="alignnone size-full wp-image-455" height="283" src="http://www.buddhazine.com/wp-content/uploads/2011/12/07.-Ayutthaya.jpg" style="background-color: transparent; border: 0px; clear: both; display: block; height: auto; margin: 0px 0px 15px; max-width: 610px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;" title="07. Ayutthaya" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #262626; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;strong style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;7. Ayutthaya&lt;/strong&gt;&lt;strong style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;Buddha Head, Thailand&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #262626; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Kota Ayutthaya di Thailand memiliki salah satu patung Buddha yang tidak lazim. Di antara reruntuhan Wat Mahathat (vihara relik agung) terdapat patung Buddha dari batu paras yang telah hilang bagian badannya tetapi hanya tersisa bagian kepalanya tepat berada di dalam belitan akar pepohonan. Jadilah sebuah patung kepala Buddha yang unik yang seakan dibelit akar pepohonan.&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #262626; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #262626; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;a href="http://www.buddhazine.com/2011/12/14/10-patung-buddha-paling-terkenal-di-dunia/06-gal-viharaya/" rel="attachment wp-att-454" style="background-color: transparent; border: 0px; color: black; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; text-decoration: none; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;img alt="" class="alignnone size-full wp-image-454" height="283" src="http://www.buddhazine.com/wp-content/uploads/2011/12/06.-Gal-Viharaya.jpg" style="background-color: transparent; border: 0px; clear: both; display: block; height: auto; margin: 0px 0px 15px; max-width: 610px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;" title="06. Gal Viharaya" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #262626; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="background-color: white; border: 0px; color: #262626; font-family: Helvetica, Arial, sans-serif; font-size: 12px; line-height: 18px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border: 0px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;strong style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;6. Gal Viharaya&lt;/strong&gt;&lt;strong style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;, Srilanka&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border: 0px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Terletak di Sri Lanka Tengah bagian utara, Polonnaruwa adalah salah satu situs patung Buddha paling mempesona. Gal Viharaya adalah vihara batu besar yang didirikan oleh Parakramabahu Agung pada abad ke-12. Pusat keindahan vihara ini terletak pada 4 patung Buddha besar yang dipahat di wajah menggunakan batuan granit. Di antara 4 patung Buddha besar ini terdapat patung Buddha berbaring sepanjang 14 meter dan patung Buddha berdiri yang tingginya 7 meter.&lt;/div&gt;&lt;div style="border: 0px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="border: 0px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;a href="http://www.buddhazine.com/2011/12/14/10-patung-buddha-paling-terkenal-di-dunia/05-ushiku-daibutsu/" rel="attachment wp-att-453" style="background-color: transparent; border: 0px; color: black; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;img alt="" class="alignnone size-full wp-image-453" height="283" src="http://www.buddhazine.com/wp-content/uploads/2011/12/05.-Ushiku-Daibutsu.jpg" style="background-color: transparent; border: 0px; clear: both; display: block; height: auto; margin: 0px 0px 15px; max-width: 610px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;" title="05. Ushiku Daibutsu" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border: 0px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;strong style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;5. Ushiku Daibutsu&lt;/strong&gt;&lt;strong style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;, Jepang&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border: 0px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Ushiku Daibutsu terletak di kota Ushiku, Jepang. Selesai pada 1995, patung ini adalah salah satu patung tertinggi di dunia, dengan total tinggi 120 meter, termasuk pondasi 10 meter dan platform&lt;em style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;berbentuk teratai 10 meter. Pengunjung dapat menggunakan lift untuk menuju platform,&lt;em style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/em&gt;tempat dimana dek observasi berada. Patung dari perunggu ini menggambarkan Buddha Amitabha, dan dikenal sebagai Ushiku Arcadia&lt;em style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border: 0px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="border: 0px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;a href="http://www.buddhazine.com/2011/12/14/10-patung-buddha-paling-terkenal-di-dunia/04-temple-of-reclining/" rel="attachment wp-att-452" style="background-color: transparent; border: 0px; color: black; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;img alt="" class="alignnone size-full wp-image-452" height="283" src="http://www.buddhazine.com/wp-content/uploads/2011/12/04.-Temple-of-Reclining.jpg" style="background-color: transparent; border: 0px; clear: both; display: block; height: auto; margin: 0px 0px 15px; max-width: 610px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;" title="04. Temple of Reclining" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border: 0px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;em style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border: 0px; font-style: normal; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;strong style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;4.&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;strong style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Temple of the Reclining Buddha, Thailand&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border: 0px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Terletak di Bangkok, Thailand, Wat Pho terkenal karena memiliki patung Buddha berbaring yang terbesar di Bangkok dan terbanyak di Thailand. Wat Pho merupakan salah satu vihara terbesar di Bangkok dan juga yang paling tua, dibangun sekitar 200 tahun sebelum Bangkok menjadi ibukota Thailand. Patung Buddha berbaring yang terbuat dari emas ini memiliki panjang 46 meter dan tinggi 15 meter, dibuat untuk memperingati Buddha ketika parinirvana (wafat)&lt;em style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;.&amp;nbsp;&lt;/em&gt;Mata dan kaki patung dihiasi dengan ukiran mutiara, di bagian kaki memperlihatkan 108 karakter tanda baik yang dimiliki oleh Buddha.&lt;/div&gt;&lt;div style="border: 0px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="border: 0px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;a href="http://www.buddhazine.com/2011/12/14/10-patung-buddha-paling-terkenal-di-dunia/03-kamakura/" rel="attachment wp-att-451" style="background-color: transparent; border: 0px; color: black; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;img alt="" class="alignnone size-full wp-image-451" height="283" src="http://www.buddhazine.com/wp-content/uploads/2011/12/03.-Kamakura.jpg" style="background-color: transparent; border: 0px; clear: both; display: block; height: auto; margin: 0px 0px 15px; max-width: 610px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;" title="03. Kamakura" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border: 0px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;strong style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;3.&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;strong style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Great&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;strong style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Buddha of Kamakura&lt;/strong&gt;&lt;strong style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;, Jepang&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border: 0px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Kotoku-in adalah sebuah vihara Buddha di Jodo Shu yang terletak di kota Kamakura, Jepang. Vihara ini terkenal karena memiliki patung Buddha yang besar, dalam bahasa Jepang sering disebut sebagai Daibutsu Buddha&lt;em style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;.&lt;/em&gt;Buddha Agung Kamakura merupakan sebuah patung perunggu Amitabha Buddha. Dibuat dari perunggu, patung Buddha besar ini memiliki tinggi 13 meter dan berat hampir 93 ton. Patung ini dikabarkan dibangun pada tahun 1252 dan diyakini digagas oleh bhiksu Buddha Joko. Walaupun awalnya patung Buddha ini terletak di dalam vihara kayu kecil, sekarang patung Buddha besar ini terletak di area terbuka karena vihara asalnya tersapu tsunami pada abad ke-15.&lt;/div&gt;&lt;div style="border: 0px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="border: 0px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;a href="http://www.buddhazine.com/2011/12/14/10-patung-buddha-paling-terkenal-di-dunia/02-emerald/" rel="attachment wp-att-450" style="background-color: transparent; border: 0px; color: black; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;img alt="" class="alignnone size-full wp-image-450" height="283" src="http://www.buddhazine.com/wp-content/uploads/2011/12/02.-Emerald.jpg" style="background-color: transparent; border: 0px; clear: both; display: block; height: auto; margin: 0px 0px 15px; max-width: 610px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;" title="02. Emerald" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border: 0px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;strong style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;2.&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;strong style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Temple of the Emerald Buddha, Thailand&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border: 0px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Vihara Buddha lain yang terkenal di Bangkok adalah Wat Phra Kaew, Vihara Buddha Zamrud, salah satu patung Buddha tertua dan terkenal di dunia. Vihara ini &amp;nbsp;terletak di dalam kompleks Istana Kerajaan Thailand. Berupa giok yang dibalut emas, menurut legenda, patung ini dibuat di India pada 43 SM di kota Pataliputra, dan berada di sana selama 300 tahun. Pada abad ke-4, patung ini dibawa ke Sri Lanka untuk menyelamatkannya dari perang. Kemudian patung ini dibawa ke Thailand dan dipindahkan ke Wat Phra Kaew pada tahun 1779. Patung ini memiliki tiga set pakaian emas, yang diganti oleh raja Thailand pada upacara pergantian musim.&lt;/div&gt;&lt;div style="border: 0px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="border: 0px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;a href="http://www.buddhazine.com/2011/12/14/10-patung-buddha-paling-terkenal-di-dunia/01-leshan-3/" rel="attachment wp-att-449" style="background-color: transparent; border: 0px; color: black; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;img alt="" class="alignnone size-full wp-image-449" height="283" src="http://www.buddhazine.com/wp-content/uploads/2011/12/01.-Leshan2.jpg" style="background-color: transparent; border: 0px; clear: both; display: block; height: auto; margin: 0px 0px 15px; max-width: 610px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;" title="01. Leshan" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border: 0px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;strong style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;1. Leshan&lt;/strong&gt;&lt;strong style="background-color: transparent; border: 0px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;&amp;nbsp;Giant Buddha, China&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="border: 0px; margin-bottom: 10px; margin-top: 10px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;"&gt;Patung Buddha raksasa Leshan adalah sebuah mahakarya manusia. Patung Buddha besar ini dipahat di tebing area Gunung Emei yang langsung menghadap laut di Sichuan, Cina bagian barat. Di bagian kaki gunung terdapat Sungai Qingyi yang mengalir cukup pelan. Figur patung adalah Maitreya Bodhisattva dalam posisi duduk. Patung ini mulai dipahat pada tahun 773 pada masa Dinasti Tang dan baru selesai pada tahun 803, dengan melibatkan ribuan pemahat dan pekerja. Sebagai patung batu pahat Buddha terbesar di dunia, patung ini juga sering disebut-sebut dalam puisi, lagu, dan cerita. Pahatan patung ini memiliki tinggi 71 meter. Sebelum patung Buddha Bamiyan ditemukan, patung Buddha Leshan adalah patung terbesar dan tertinggi di dunia. UNESCO telah menjadikannya salah satu situs warisan dunia pada tahun 1996. (touropia.com)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><author>agusindrakadek@gmail.com (Unknown)</author></item></channel></rss>