<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0' gd:etag='W/&quot;CEcGSH87eCp7ImA9WhVTEEU.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3692772326619476838</id><updated>2012-02-24T03:13:49.100-08:00</updated><title>Hippolyta</title><subtitle type='html'>Life is getting beautiful if we could share each other. Let's the journey begin!</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://hypolitha.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3692772326619476838/posts/default?redirect=false&amp;v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hypolitha.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Hipolita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03888437265812231685</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-W12ymAUOQME/TvHpTSSY6HI/AAAAAAAAA2k/8wxd7XAnn0k/s220/377473_2429309087037_1080886264_2515306_2126477044_n.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>14</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry gd:etag='W/&quot;D08MRnk6eip7ImA9WhRXFEo.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3692772326619476838.post-4763532023033477186</id><published>2011-12-21T05:58:00.000-08:00</published><updated>2011-12-21T05:58:07.712-08:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2011-12-21T05:58:07.712-08:00</app:edited><title>Syair Putri Akal</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;  &lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Malam ini saya membongkar semua &lt;em&gt;file&lt;/em&gt; yang ada di &lt;em&gt;hard disk&lt;/em&gt; saya dan menemukan sejumlah makalah sewaktu saya kuliah. Saya pernah mengambil mata kuliah Tradisi Sastra Nusantara tahun 2009 di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI. Ketika mendapat naskah kuno dan harus mengkajinya, saya mengalami sulitnya menemukan referensi dari internet. Karena pernah mengalami rasanya menjadi mahasiswa yang ketergantungan dengan sumber referensi internet, saya ingin membagi sedikit pemikirin saya tentang Syair Putri Akal yang saya tulis dalam makalah saya.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Syair adalah salah satu jenis puisi lama. Struktur bentuknya mempunyai aturan tertentu dengan rima tertentu pula, yaitu terdiri dari empat baris, setiap baris berisi empat kata yang sekurang-kurangnya terdiri dari sembilan sampai dua belas suku kata. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Syair Putri Akal&lt;/i&gt; merupakan sebuah naskah kuno yang diperkirakan berasal dari daerah Riau yang lebih dikenal sebagai pusat kebudayaan Melayu. Esensi dari &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Syair Putri Akal &lt;/i&gt;mengandung ajaran moral yang baik dan dipakai sebagai contoh untuk studi penelitian yang saat ini sedang menjadi pusat perhatian dunia, yaitu studi kajian wanita.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;strong&gt;Ringkasan Cerita&lt;/strong&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Di sebuah negeri bernama Belantadura hiduplah seorang putri cantik jelita dan cerdik bernama Putri Akal. Usianya baru empat belas tahun. Akan tetapi kecantikannya terdengar sampai ke seluruh penjuru Negeri. Raja Muda Damsik mendengar kabar tersebut. Raja Muda tertarik dan hendak melamar Putri Akal. Setelah ia mendapat izin dari kedua orang tuanya, ia pun berlayar menuju Belantadura dan langsung menghadap Baginda Sultan Bijakbestari untuk melamar Putri Akal. Karena belum ingin menikah, Putri Akal menolak pinangan Raja Muda.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Raja Muda merasa sedih dan kecewa. Kemudian dia menghibur diri dengan bermain-main bersama patung boneka emas miliknya yang sangat indah dan pandai menari. Putri Akal tidak sengaja melihat boneka emas Raja Muda tersebut. Dia sangat menginginkan boneka itu. Lalu Putri Akal pergi menemui ayahnya dan mengatakan bahwa ia bersedia menjadi istri Raja Muda Damsik. Namun Baginda Raja menolak keinginan putrinya itu. Akhirnya Putri Akal mencari akal agar dapat memiliki boneka tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Putri Akal menyuruh Dayang Puspa Candra untuk menyamar sebagai dirinya dan merayu Raja Muda Damsik supaya memberikan boneka emas untuk Putri Akal. Raja Muda berjanji akan memberikan boneka tersebut jika Putri Akal datang lagi keesokan harinya. Malam harinya, Putri Akal menyuruh dayangnya untuk kembali ke persinggahan Raja Muda.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Putri Akal berhasil mendapatkan boneka emas. Akan tetapi Raja Muda tahu bahwa dia sedang diperdaya oleh Putri Akal. Ia pun melamar Putri Akal kembali dan pinangannya diterima. Raja Muda akhirnya menikah dengan Putri Akal. Sebulan setelah pernikahan, Raja Muda memutuskan untuk membawa Putri Akal ke kerajaannya. Putri Akal sangat mencintai suaminya. Namun sebaliknya, Raja Muda hanya berpura-pura mencintai Putri Akal dan dalam hatinya sangat membenci Putri Akal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Di tengah perjalanan, secara tiba-tiba Raja Muda menghardik istrinya dan mengatakan tidak sudi lagi kepada Putri Akal. Kemudian ia menyerahkan Putri Akal kepada Lamat, budak Raja Muda Damsik, untuk dijadikan istri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Sesampainya di Negeri Damsik, Raja Muda menikahi Putri Datuk Bendahara. Sedangkan Lamat dan Putri Akal diberi tempat tinggal di bawah istana. Raja Muda menyuruh Lamat untuk tidak segan-segan menggauli Putri Akal. Akan tetapi Putri Akal selalu berhasil melepaskan diri untuk tidak tidur dengan Lamat. Suatu hari Putri Akal telah kehabisan akal untuk menghindari ajakan Lamat. Akhirnya dia membuat perjanjian dengan Putri Bendahara untuk bertukar kamar dengannya setiap malam. Putri Bendahara setuju dan dia mendapatkan boneka emas milik Putri Akal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Sesuai perjanjian, Putri Akal dan Putri Bendahara bertukar tempat setiap malam. Raja Muda tidak pernah menyadari hal itu. Sebaliknya, Lamat mengetahui tindakan kedua putri itu namun dia pura-pura tidak mengetahuinya. Beberapa lama kemudian, kedua putri itu melahirkan. Putri Akal melahirkan seorang anak lelaki yang wajahnya mirip Raja Muda. Sedangkan anak lelaki Putri Bendahara wajahnya sangat mirip dengan Lamat. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Suatu hari, ketika Raja Muda sedang bermain-main dengan anak Putri Bendahara, datanglah putra Putri Akal ke istana. Tiba-tiba putra Putri Bendahara berkata bahwa dia sebenarnya adalah anak Lamat dan anak Lamat yang saat itu adalah putra Raja Muda. Raja Muda tidak percaya. Putri Bendahara sampai bersumpah dan memanggil Putri Akal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Setelah mengetahui duduk perkara yang sebenarnya, Raja Muda sangat marah. Ia mengusir Lamat dan Putri Bendahara dari Istana beserta putranya. Kemudian Raja Muda mengajak anak kandungnya dan Putri Akal untuk tinggal di istana. Namun Putri Akal menolak sinis. Raja Muda pun meminta maaf atas segala kesalahan yang pernah dia lakukan terhadap Putri Akal. Setelah itu, Putri Akal dan Raja Muda hidup bahagia sepanjang sisa hidup mereka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;Isu gender sudah ada jauh sebelum pergerakan perempuan menyuarakan kesetaraannya. Hanya saja sedikit dari perempuan yang hidup di masa lampau belum mau menyadari ketidakadilan yang diterima dari lawan gendernya. Namun, beberapa dari kisah mereka biasanya diceritakan dalam bentuk sastra, salah satunya syair Putri Akal ini. Sangat menarik membahas isu gender yang terdapat dalam naskah syair ini karena tersurat dengan jelas dan kental akan ketidak setaraan perempuan di masa lampau yang masih istanasentris.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span lang="IN"&gt;NOTE: Ini adalah hasil pemikiran orisinal Happy Indah Nurlita Goeritman, M. Adi Nugroho, Nastasia Novita, Nerissa Rachmania, Nurul Fitriany, dan Nurul Handayani yang merupakan kekayaan intelektual penulis dan tim pemikir. Mahasiswa atau Pelajar yang meng-&lt;em&gt;copy-paste&lt;/em&gt; tulisan ini akan bertanggung jawab kepada moral diri sendiri. (&lt;em&gt;shame on you, copy-paster&lt;/em&gt;!)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3692772326619476838-4763532023033477186?l=hypolitha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hypolitha.blogspot.com/feeds/4763532023033477186/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hypolitha.blogspot.com/2011/12/syair-putri-akal.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3692772326619476838/posts/default/4763532023033477186?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3692772326619476838/posts/default/4763532023033477186?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hypolitha.blogspot.com/2011/12/syair-putri-akal.html' title='Syair Putri Akal'/><author><name>Hipolita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03888437265812231685</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-W12ymAUOQME/TvHpTSSY6HI/AAAAAAAAA2k/8wxd7XAnn0k/s220/377473_2429309087037_1080886264_2515306_2126477044_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;D04BRXcyfCp7ImA9WhRXFEo.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3692772326619476838.post-4889788634068887917</id><published>2011-12-21T05:34:00.001-08:00</published><updated>2011-12-21T05:59:14.994-08:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2011-12-21T05:59:14.994-08:00</app:edited><title>Ekplorasi Seksualitas Perempuan dan Feminisme dalam Sastra</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;Kalian mungkin sudah membaca novel &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Saman&lt;/i&gt; karya Ayu Utami, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Jangan Main-main dengan Kelaminmu&lt;/i&gt; atau &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Naila&lt;/i&gt; dari Djenar Maesa Ayu. Beberapa orang akan sangat menikmati buku tersebut dan menganggap gaya penceritaan yang digunakan sangat ekpresif, indah dan berani. Mereka adalah penulis yang cenderung mengeksplorasi seksualitas perempuan namun tetap mengangkat tema yang berkaitan dengan perempuan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Sebenarnya, feminisme adalah sebuah gerakan yang merupakan reaksi dari ketidakadilan gender yang terjadi menjelang masa pencerahan. Pada masa itu disebut dengan feminisme klasik yang merupakan doktrin yang menyerukan kesetaraan hak-hak sosial dan politik kaum perempuan dengan kaum laki-laki. Kemudian lahirlah para penulis perempuan yang mengusung tema-tema yang berkaitan dengan emansipasi wanita sebagai bentuk perjuangan untuk kesetaraan gender dan mematahkan sebuah dekonstruksi sosial yang mengikat perempuan secara kultural dengan sistem dan budaya patriarki.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Seiring berkembangnya zaman, pemikiran perempuan pun berkembang. Feminisme klasik terus berkembang menjadi feminisme radikal, moderen dan posmoderen. Kaum feminisme posmoderen sangat persuasif terhadap penulis perempuan untuk menulis tentang seksualitas perempuan dalam karya sastra, sehingga muncul istilah ”sexts” yang merupakan akronim dari &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;sex&lt;/i&gt; dan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;text&lt;/i&gt;. Mereka menganggap bahwa seksualitas yang dimiliki perempuan lebih menarik dan tidak membosankan ketimbang mengeksplorasi seksualitas laki-laki yang dinilai tidak banyak dan membosankan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Akibat dari pemikiran kaum posmoderen ini, banyak penulis perempuan yang menulis dengan mengeksplorasi seksualitas perempuan sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem dan budaya patriarki yang telah sekian lama mendominasi di masyarakat. Adegan seks dan seksualitas perempuan dideskripsikan secara detil. Mereka memang mengangkat tema-tema yang berkaitan dengan emansipasi perempuan dan kesetaraan untuk perempuan, namun semangat mereka yang menggebu-gebu untuk memperjuangkan itu justru menjadikan tubuh perempuan sebagai objek seks, bukan subjek seks.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Mungkin maksud para penulis perempuan ini sangat baik, yaitu untuk mengangkat derajat perempuan, menunjukkan bahwa perempuan memiliki kuasa atas tubuhnya dan inisiatif dalam melakukan hubungan seks. Sebaliknya, menurut saya hal ini justru akan menunjukkan bahwa perempuan terlihat sangat rendah dengan menjadi objek seks. Mungkin beberapa kritikus menganggap bahwa penuturan seks yang lebih gamblang saat ini merupakan sebuah bentuk ekspresi perempuan moderen atau bahkan posmoderen dan tidak terlalu berpengaruh. Namun sebenarnya perempuan pun dapat berbicara tanpa mengeksplorasi seksualitas mereka secara berlebihan untuk menopang kesetaraan gender jika memang ada ketimpangan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV" style="mso-ansi-language: SV;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Tergantung dari mana kita melihat permasalahan ini, melihat sastra sebagai bentuk kreativitas atau sebagai tombak perjuangan atas sesuatu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Happy Indah Nurlita G.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3692772326619476838-4889788634068887917?l=hypolitha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hypolitha.blogspot.com/feeds/4889788634068887917/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hypolitha.blogspot.com/2011/12/ekplorasi-seksualitas-perempuan-dan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3692772326619476838/posts/default/4889788634068887917?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3692772326619476838/posts/default/4889788634068887917?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hypolitha.blogspot.com/2011/12/ekplorasi-seksualitas-perempuan-dan.html' title='Ekplorasi Seksualitas Perempuan dan Feminisme dalam Sastra'/><author><name>Hipolita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03888437265812231685</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-W12ymAUOQME/TvHpTSSY6HI/AAAAAAAAA2k/8wxd7XAnn0k/s220/377473_2429309087037_1080886264_2515306_2126477044_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;DkMHRHc9fip7ImA9WhRXFEo.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3692772326619476838.post-3748568354249247458</id><published>2011-12-21T05:33:00.000-08:00</published><updated>2011-12-21T05:33:55.966-08:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2011-12-21T05:33:55.966-08:00</app:edited><title>Happy Cooking</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;  &lt;br /&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;strong&gt;RAINBOW YOGURT PARFAIT&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;One day when I had to do my cooking class for children, I was thinking about something simple, healthy and children do like the taste. The process of making should be different too. We have done baking, boiling, frying, and grilling. So I browsed in some kind of cooking recipes for children and found a recipe I haven’t made yet. Well it’s called Parfait. It’s a France thing and it’s pretty easy to make. Usually it only made from fruits and ice cream or with cream. But I decide to use yogurt.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;So these are things I used for my yogurt parfait:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-indent: -.25in;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-indent: -.25in;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-indent: -.25in;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-indent: -.25in;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-indent: -.25in;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-indent: -.25in;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-indent: -.25in;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-indent: -.25in;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-indent: -.25in;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: .25in;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-indent: -.25in;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-indent: -.25in;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-indent: -.25in;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-indent: -.25in;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-indent: -.25in;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-indent: -.25in;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-indent: -.25in;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-indent: -.25in;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-indent: -.25in;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-indent: -.25in;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-indent: -.25in;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-indent: -.25in;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-indent: -.25in;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-indent: -.25in;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-indent: -.25in;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-indent: -.25in;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-indent: -.25in;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-indent: -.25in;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-left: 0in; mso-add-space: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;2 cups fresh strawberry, sliced&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0in; mso-add-space: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;¼ cup almonds, chopped&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0in; mso-add-space: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;1 can oranges&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0in; mso-add-space: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;2 cups kiwi, cube sliced&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0in; mso-add-space: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;1 cup vanilla yogurt (sometimes I use strawberry yogurt, depends on my mood)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0in; mso-add-space: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;200 ml liquid whipped cream&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0in; mso-add-space: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;1 cup blueberry&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0in; mso-add-space: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;2 cup dragon fruit, cube sliced&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-left: 0in; mso-add-space: auto;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Chocolate or strawberry toping&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-left: 0in; mso-add-space: auto;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-left: 0in; mso-add-space: auto;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-left: 0in; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-left: 0in; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;So this how I made:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: .25in;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: .25in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;1#step. Use a high speed mixer to stir whipped cream and yogurt in a big bowl. Stir them until it’s foamy enough. It won’t fall down if you turn the bowl back down.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: .25in;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: .25in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;2#step. We’re going to make layers from the fruits we have. First put the sliced strawberries as the first layer (in a big transparent bowl or glass, so you can see the beautiful layers you made). Afterwards, spoon yogurt whipped cream on top. Make the next layer with kiwis. Spoon yogurt whipped cream on top. Do it several times with oranges, dragon fruits and blueberries to make the layers. The pattern is fruit – yogurt – fruit – yogurt.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: .25in;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: .25in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;3#step. Pour the last yogurt whipped cream on top when you’re done with the layers. Sprinkle with chopped almonds and add chocolate or strawberry toping.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: .25in;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: .25in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;4#step. Enjoy your RAINBOW YOGURT PARFAIT.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: .25in;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: .25in;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: .25in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Why it’s called parfait?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: .25in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Parfait is French. It means layers. That’s why we make layers from fruit with patterns.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&amp;nbsp;note: I have NO picture or photo of this recipe cause my broken camera. Sorry.&amp;nbsp;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3692772326619476838-3748568354249247458?l=hypolitha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hypolitha.blogspot.com/feeds/3748568354249247458/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hypolitha.blogspot.com/2011/12/happy-cooking.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3692772326619476838/posts/default/3748568354249247458?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3692772326619476838/posts/default/3748568354249247458?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hypolitha.blogspot.com/2011/12/happy-cooking.html' title='Happy Cooking'/><author><name>Hipolita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03888437265812231685</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-W12ymAUOQME/TvHpTSSY6HI/AAAAAAAAA2k/8wxd7XAnn0k/s220/377473_2429309087037_1080886264_2515306_2126477044_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;AkIHQHs5eCp7ImA9WhdbFEw.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3692772326619476838.post-6601171224405287529</id><published>2011-10-12T04:22:00.000-07:00</published><updated>2011-10-12T04:22:11.520-07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2011-10-12T04:22:11.520-07:00</app:edited><title>My Travel Notes: Krakatau (part 3 - End)</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-WyoD8OzycoQ/TpVkWucrRII/AAAAAAAAAHc/SJjp453nvaE/s1600/2011-09-25+06.59.48.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://3.bp.blogspot.com/-WyoD8OzycoQ/TpVkWucrRII/AAAAAAAAAHc/SJjp453nvaE/s640/2011-09-25+06.59.48.jpg" width="480" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Puncak Anak Krakatau dari dekat: pasir, kerikil, batu gunung, dan kristal belerang.&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormalCxSpFirst" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;Never Stop To Be On Top&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Banyaknya pasir yang berulang kali masuk ke sepatu &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;crocs&lt;/i&gt; saya dan membuat perjalanan saya tidak nyaman, memaksa saya untuk mendaki dengan bertelanjang kaki. Tekstur pasir yang halus di antara sela jari-jari kaki saya membuat kaki saya tidak terasa sakit, tapi malah terasa nyaman. &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: NL; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;Saya pun mulai berjalan menembus hutan paku yang menjadi gerbang menuju pertapaan sang legenda. Setelah menembus hutan, sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah pasir hitam dan tanaman gundul. Di depan saya, tentu saja sudah tampak punggung Anak Krakatau.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: NL; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;Daratan landai lama-lama terasa semakin terjal. Untung saja matahari belum tinggi, jadi pasir tempat saya berpijak belum terasa panas. Lelah pun mulai terasa saat pendakian di kaki gunung. Dua kali saya menjejakkan langkah, satu kali saya tergelincir turun. &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: NL; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;Terang saja, tidak ada pijakan yang benar-benar padat. Tidak ada tanah keras atau pun bebatuan. Hanya pasir dan abu. Mendaki Anak Krakatau ternyata lebih berat daripada mendaki gunung bertanah padat atau pun menaiki 1000 anak tangga di Gunung Bromo.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-lFJw37-FCFI/TpVxp0Nkw8I/AAAAAAAAAHk/Rggc9lMVNeI/s1600/2011-09-25+06.49.37.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-lFJw37-FCFI/TpVxp0Nkw8I/AAAAAAAAAHk/Rggc9lMVNeI/s320/2011-09-25+06.49.37.jpg" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Jalur pendakian: naik dua langkah, turun satu langkah.&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: NL; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: NL; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;30 Menit saya mendaki dengan napas tersengal-sengal dan hidung kembang kempis, sampai juga di puncak Anak Krakatau. Saya masih ingat kata pertama yang keluar dari mulut saya, “Akhirnya... bisa liat salju juga.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: NL; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Itu bukan salju, tapi belerang.” Jawab teman saya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: NL; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Jika dilihat dari jauh, puncak krakatau memang tampak diselimuti salju tipis. Setelah saya pikir-pikir, benar juga. Mana mungkin ada salju di atas lapisan tanah yang di bawahnya terdapat cairan larva bersuhu ratusan derajat celcius. Mineral berwarna putih yang saya lihat itu ternyata adalah belerang yang telah mengkristal dan menjadi padat seperti batu. Sisanya, saya berdiri di atas jutaan ton pasir dan abu vulkanik. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Wow! Unbelievable! &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: NL; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Puncak yang saya capai sebenarnya bukan benar-benar puncaknya Anak Krakatau, tapi merupakan batas terdekat yang diperbolehkan untuk wisatawan. Demi keselamatan, berada tepat di atas puncaknya masih tidak memungkinkan mengingat Anak Krakatau bisa meletus kapan saja. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: NL; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;It’s unforgettable! While I turned around, all I saw has amazed me&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;. Dari puncak saya bisa melihat Pulau Panjang dan Pulau Sertung. Hanya Pulau Rakata yang tak tampak karena letaknya berada di belakang kubah Anak Krakatau. Saya juga bisa menyaksikan cahaya matahari beringsut dari balik Pulau Panjang. Berdiri dan mengabadikan momen di puncak Anak Krakatau rasanya puas sekaligus tegang mengingat bahwa ada lahar yang bergejolak di bawah kaki saya. Dengan jantung yang terus berdegub kencang, seperti ketika sedang jatuh cinta pada seseorang, saya menikmati petualangan ini. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;I love this adventure! Beauty combined with adrenaline, it set me free!&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Setelah puas menghabiskan waktu dan berfoto di semua sudut puncak Krakatau, saya dan teman-teman harus kembali ke pantai untuk sarapan dan akhirnya kembali berlabuh. Kami pun segera menuruni bukit terjal yang terasa jauh lebih ringan dan cepat dibandingkan mendaki, kembali menyusuri jalan setapak, dan menembus hutan. Tibalah kami di Pos Selamat Datang. &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: NL; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;Kami melahap sarapan lalu melipir ke pantai dan naik ke atas kapal. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: NL; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;3 Jam waktu yang dibutuhkan dari Anak Krakatau untuk kembali ke Dermaga Canti. Sepanjang perjalan pulang, matahari terlalu terik untuk menemani saya duduk di atas kapal, sehingga saya memilih bale di belakang kabin nakoda. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;Karena kelelahan, saya tertidur pulas dalam buaian ombak hingga kapal merapat di Canti. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Sesampainya di daratan, saya langsung mencari tempat kamar mandi umum karena badan saya sudah terasa sangat lengket dan asin. Kemudian saya dan teman-teman makan siang di warung makan sederhana yang sama saat kami pertama kali tiba di Canti. Beberapa mobil charteran sudah menanti kami dan siap mengantar kami kembali ke Pelabuhan Bakauheni. Kami pun naik dan satu jam kemudian tiba di pelabuhan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Dalam perjalanan pulang, waktu yang kami butuhkan untuk menyeberang tidak sampai empat jam seperti saat berangkat. Hanya dua jam ditambah menyaksikan pemandangan matahari tenggelam di ufuk barat, sampailah kami di pelabuhan Merak. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Hello again, Java…&lt;/i&gt; kami pun sudah berada lagi di Pulau Jawa. Tanah kelahiran saya ^^&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;This &lt;/em&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;is one of my greatest adventures in my life &lt;/i&gt;(^^)b &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;I met new friends, I learned to cope with my fears, I learned to defeat my dependency and went out of my homey cage. I satisfied my curiousity. I got more natural inspiration to write. I learned a lot from nature wise. I set my self free! And this can't be forgotten unless I got amnesia&lt;/i&gt; :p&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;~I hope the journey would never end, so no need to write "&lt;strong&gt;end&lt;/strong&gt;" here~&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;Happy Indah NG&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;12/10/2011, 17:43&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3692772326619476838-6601171224405287529?l=hypolitha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hypolitha.blogspot.com/feeds/6601171224405287529/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hypolitha.blogspot.com/2011/10/my-travel-notes-krakatau-part-3-end.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3692772326619476838/posts/default/6601171224405287529?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3692772326619476838/posts/default/6601171224405287529?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hypolitha.blogspot.com/2011/10/my-travel-notes-krakatau-part-3-end.html' title='My Travel Notes: Krakatau (part 3 - End)'/><author><name>Hipolita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03888437265812231685</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-W12ymAUOQME/TvHpTSSY6HI/AAAAAAAAA2k/8wxd7XAnn0k/s220/377473_2429309087037_1080886264_2515306_2126477044_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-WyoD8OzycoQ/TpVkWucrRII/AAAAAAAAAHc/SJjp453nvaE/s72-c/2011-09-25+06.59.48.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;A0UNQHw-fSp7ImA9WhdbFE0.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3692772326619476838.post-4867001206155023534</id><published>2011-10-12T01:48:00.000-07:00</published><updated>2011-10-12T01:48:11.255-07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2011-10-12T01:48:11.255-07:00</app:edited><title>My Travel Notes: Krakatau (part 2)</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-cVzSnUkbYQg/TpVF0S-s6PI/AAAAAAAAAF0/ZmSJUoqaRGg/s1600/100_4872_2.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://3.bp.blogspot.com/-cVzSnUkbYQg/TpVF0S-s6PI/AAAAAAAAAF0/ZmSJUoqaRGg/s400/100_4872_2.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Dermaga Pulau Sebesi&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormalCxSpFirst" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;There’s a Life at Sebesi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Puas melihat keindahan bawah laut di perairan Sebuku, kami kembali berlayar menuju pulau berpenghuni tempat kami akan bermalam, Pulau Sebesi. Pulau ini dihuni sekitar 20.000 jiwa yang kebanyakan dari mereka adalah penghuni asli gugusan pulau Krakatau dan sebagian lagi berasal dari Lampung. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;Seorang penduduk yang memfasilitasi kami di pulau itu telah menunggu kami di dermaga Sebesi. Dengan berjalan kaki, ia lalu membawa kami ke pendopo tempat santap siang telah disediakan. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Yummy, all are seafood!&lt;/i&gt; Lalu ia membawa kami ke perkampungan yang letaknya tak jauh dari dermaga. Itu bukanlah perkampungan padat penduduk. Dalam satu jalan hanya terdapat sekitar 20 rumah saja. Saya memilih rumah yang terdekat. Rumah putih dengan kamar yang telah dikosongkan dan ruang tamu disulap menjadi tempat yang layak untuk beristirahat. Penghuninya tinggal di bagian belakang rumah selama kami bermalam. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;How about the electricity? There was no electricity before the sun goes down&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;. Listrik bertenaga diesel hanya bisa diakses jam setengah enam hingga tengah malam. Setelah tidak bisa&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;mengakses listrik, mereka akan menggunakan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;chargeable lamp&lt;/i&gt; sebagai penerangan. Mata pencaharian penduduknya juga beragam; nelayan, bercocok tanam, menyewakan rumahnya kepada wisatawan, dan pedagang. Di pulau ini tidak ada pasar. Namun ada beberapa penduduk yang memang membuka warung rumahan dan hanya menjual kebutuhan barang seperti peralatan mandi dan mie instant. Ketika saya harus menulis tentang pulau sebesi dan kehidupan yang ada di dalamnya, tidak akan cukup jika saya tuangkan dalam tulisan ini karena banyak sekali hal menarik yang ingin saya ceritakan. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;So, Let’s move on the track&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;Deep Blue Sea&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Menunggu matahari sedikit condong ke barat, saya dan teman-teman berteduh malas di bawah rindangnya pinus pantai. Terik matahari dihalau sejuknya angin laut, ditemani segarnya air kelapa yang kami seruput langsung dari buahnya. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;What a life!&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-Z1OEIY44LFI/TpVHB9LIL_I/AAAAAAAAAF8/UZMbx0nAWNM/s1600/100_4876.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-Z1OEIY44LFI/TpVHB9LIL_I/AAAAAAAAAF8/UZMbx0nAWNM/s1600/100_4876.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Bangkai kapal nelayan di Pantai Sebesi, tak jauh dari dermaga dan pendopo tempat kami makan siang.&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Pukul 3 siang, kami kembali ke kapal menuju titik penyelaman kedua. Lokasi snorkeling berikutnya sedikit lebih jauh dari pesisir pantai. Lautnya jelas lebih dalam dari sebelumnya. Jika sebelumnya saya bisa melihat warna-warni terumbu karang dari permukaan yang jernih, di lokasi berikutnya hanya laut biru yang dalam. Arusnya pun jauh lebih deras sehingga awak kapal harus menarik kami dengan tambang agar kami bisa kembali ke kapal. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;That time I failed to cope with my fear, just because of the stream&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: NL; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;Saya akhirnya memutuskan tidak turun ke laut dan hanya menyaksikan keasikan teman-teman saya dari dek kapal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: NL; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Tujuan akhir di penghujung hari adalah menikmati senja dan matahari terbenam di sebuah pulau kecil bernama Pulau Umang. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;Sering orang mengira ini adalah pulau eksklusif yang populer itu. No, it’s not! Ini hanya sebuah pulau kecil yang luasnya tidak sampai 500 meter, tidak berpenghuni, dan tidak ada resort. &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: NL; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;Kapal tidak bisa merapat ke tepi pantai karena karang di sekeliling pulau. Jadilah kami &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;nyebur&lt;/i&gt; terlebih dulu dan berenang menuju tepian. Karena karang-karang di sana benar-benar tajam, sebaiknya tetap pakai alas kaki. Jika tidak, relakan saja kaki terasa perih setelahnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-8bJ-INt-afM/TpVHn7qGriI/AAAAAAAAAGE/jJ6r2drzXGc/s1600/100_4895.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://2.bp.blogspot.com/-8bJ-INt-afM/TpVHn7qGriI/AAAAAAAAAGE/jJ6r2drzXGc/s400/100_4895.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Pulau Umang dan pasir putih&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-czvfbzeRg_4/TpVHskL2HgI/AAAAAAAAAGM/beun4tF6yOE/s1600/100_4898.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://3.bp.blogspot.com/-czvfbzeRg_4/TpVHskL2HgI/AAAAAAAAAGM/beun4tF6yOE/s400/100_4898.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Pagar Karang di salah satu sisi Pulau Umang, Selat Sunda.&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: NL; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: NL; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;Pulau Umang ini menjadi perhatian saya. Pasirnya tidak hanya putih tetapi juga halus seperti tepung. Batuan coral dan cangkang kerang yang saya temukan lebih beragam namun masih didominasi warna putih. Alam menyediakan semua keindahan untuk saya nikmati, termasuk untuk buah tangan. Jadilah sepanjang sore saya habiskan untuk memunguti cangkang kerang dan bangkai terumbu yang mungkin bisa saya jadikan pajangan di rumah atau akuarium. Begitu banyak yang bisa saya ambil hingga tangan saya tidak lagi bisa menampung, saya mencari plastik atau semacamnya yang mungkin terdampar di pulau itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;As my friend said: nature provides all what we need and men keep throwing rubbish to the sea&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;. Di bagian lain pulau, saya memang bisa menemukan keadaan yang sangat memprihatinkan. Sampah plastik, sterofoam, bungkus mie instant, kaleng cat, sandal, dan aneka sampah metropolitan lainnya bisa saya temukan dengan mudah. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;I had no words to say about it&lt;/i&gt;. Pulau Umang seperti koin, memiliki dua sisi yang berbeda: satu sisi pulau tampak sangat indah dan mempesona dengan pasir putihnya dan tebing karang yang dihantami ombak terus menerus, sementara sampah-sampah terdampar di sisi lainnya. Matahari pun perlahan tenggelam bersama kesedihan dan kekecewaan saya. Bukan karena pulau Umang melainkan orang-orang yang tidak pernah sadar kemana larinya sampah yang mereka buang. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;They think it’s just going to disappear without ending up somewhere. Stupid!&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-cctkIc-1mHo/TpVHu97m_MI/AAAAAAAAAGU/j2xBTuwgjVU/s1600/100_4904.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://3.bp.blogspot.com/-cctkIc-1mHo/TpVHu97m_MI/AAAAAAAAAGU/j2xBTuwgjVU/s400/100_4904.JPG" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Menyaksikan matahari terbenam di Pulau Umang.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-cfG6yie_FpE/TpVHw69CxxI/AAAAAAAAAGc/cgT2nKB53GY/s1600/100_4909.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://2.bp.blogspot.com/-cfG6yie_FpE/TpVHw69CxxI/AAAAAAAAAGc/cgT2nKB53GY/s400/100_4909.JPG" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Sunset at Sunda Strait. Matahari mulai menghilang di balik gunung Pulau Sebesi.&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-YhaC2yAjVRo/TpVHzWyA30I/AAAAAAAAAGk/sT2atMXZsLw/s1600/100_4907.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://2.bp.blogspot.com/-YhaC2yAjVRo/TpVHzWyA30I/AAAAAAAAAGk/sT2atMXZsLw/s400/100_4907.JPG" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Bangkai Terumbu dan Kulit Kerang yang berhasil saya pungut selamat sampai ke kapal. Kulit saya pun jadi gosong.&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;Darkness fall, journey at the sea begins&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Dalam satu rumah memang hanya terdapat satu kamar mandi atau sumur. &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: NL; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;Jadi, ketika kami pulang ke penginapan lokal dengan tubuh lengket dan penuh pasir, kami masih harus mengantri untuk mandi. Listrik yang sudah menyala pun juga harus digunakan dengan bijak karena hanya akan disediakan hingga tengah malam. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;Kami harus mengantri juga untuk men-&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;charge&lt;/i&gt; &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;handphone&lt;/i&gt;, senter, sampai baterai kamera yang sudah habis. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Setelah bersih dan salin, saya berjalan menuju pendopo untuk makan malam. Tak jauh dari jalan setapak yang saya lalui, saya bisa mendengar gema pengajian dari masjid yang letaknya mungkin di tengah perkampungan. Semua petualangan ini hampir saja membuat saya lupa dengan kehidupan saya di pulau seberang. Keluarga saya pasti ingin mendengar kabar saya. Tapi sayang, tidak ada sinyal sama sekali dari provider seluler yang saya pakai. Teman saya bilang, ada sedikit sinyal jika saya berdiri di dekat pantai. Saya mencoba dan benar saja, setidaknya saya bisa dapat satu bar sinyal. Cukup untuk membalas rentetan pesan yang baru saja masuk dan mengirim kabar kepada keluarga di rumah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Pukul dua pagi alarm berbunyi gaduh dan saya pun membangunkan teman-teman yang lain. Rumah kami menjadi sangat gelap. &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: NL; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;Listrik benar-benar sudah padam. Pukul tiga pagi kami selesai berkemas dan berkumpul di jalan setapak menuju dermaga. Barulah saya kemudian sadar, seharusnya saya membawa senter.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: NL; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Kami naik ke atas kapal. Sebenarnya saya memilih pindah kapal di mana kemungkinan saya terkena angin sangat kecil karena angin laut pagi itu sangat kencang dan dingin. Gelombang dan ombaknya pun sangat tinggi. Kapal kami bergoyang dari kanan ke kiri, naik dan turun, lalu “Byuuuuuurrrrr!” cipratan air laut menampar wajah saya. Berulang kali seperti itu hingga mendekati pulau anak krakatau. Beberapa teman saya tidak terganggu dengan ombang-ambing kapal yang kencang seperti itu. Mereka malah bisa melanjutkan tidurnya di atas tumpukan ransel kami. Saya mencoba untuk ikut melanjutkan tidur saya, tetapi kengerian terhadap ombak besar dan gelapnya laut dan langit malam membuat saya hanya bisa duduk kaku sambil memeluk &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;life jacket&lt;/i&gt;. Mata saya tidak bisa melihat apa-apa kecuali beberapa titik bintang. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;Selebihnya hanya laut hitam dan langit gelap tanpa garis cakrawala yang jelas. Fear &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;is a friend who’s accompanying me all the waves long&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Ketakutan menemani saya selama dua jam hingga kapal berlabuh di pesisir pantai hitam. Matahari belum keluar dari sarangnya tetapi langit sudah mulai terang. Perlahan kegelapan memudar. Kami di angkut sampan kecil untuk menyebrang dari kapal ke pantai. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;And then… I saw it! The adorable and legendaries one: Son of Krakatau&lt;/i&gt;.&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt; It’s very sexy and masculine! God is great!&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-XIw2Rf9KXzQ/TpVM-ZhjrQI/AAAAAAAAAGs/eX6fOrzRa20/s1600/2011-09-25+05.44.15.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="480" src="http://1.bp.blogspot.com/-XIw2Rf9KXzQ/TpVM-ZhjrQI/AAAAAAAAAGs/eX6fOrzRa20/s640/2011-09-25+05.44.15.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Subuh, hampir sampai di Pulau Anak Krakatau.&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Saya melepas sepatu dan menjejakkan kaki saya di atas pasir hitam, merasakan bekas abu vulkanik di antara jari-jari kaki saya. Rasanya luar biasa! &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Feels awesome!&lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: NL; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;Pasirnya masih terasa dingin dan halus. Saya dan teman-teman pun bersiap mendaki puncak Krakatau.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-i7WylZs_pVc/TpVO90Du0bI/AAAAAAAAAG0/JXzkr_9wL0Y/s1600/2011-09-25+05.50.53.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="480" src="http://2.bp.blogspot.com/-i7WylZs_pVc/TpVO90Du0bI/AAAAAAAAAG0/JXzkr_9wL0Y/s640/2011-09-25+05.50.53.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Pesisir pantai Anak Krakatau, pasir hitam membuat lautnya berwarna hitam.&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-mCYUx0ymDqE/TpVPwDDVk1I/AAAAAAAAAG8/DD0mJfcTJ9I/s1600/2011-09-25+06.00.03.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="480" src="http://3.bp.blogspot.com/-mCYUx0ymDqE/TpVPwDDVk1I/AAAAAAAAAG8/DD0mJfcTJ9I/s640/2011-09-25+06.00.03.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Kapal kami merapat ke pantai berpasir hitam.&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-roljIdEMZmQ/TpVQectMLeI/AAAAAAAAAHE/2iXGTnRPnHc/s1600/2011-09-25+06.00.19.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="480" src="http://1.bp.blogspot.com/-roljIdEMZmQ/TpVQectMLeI/AAAAAAAAAHE/2iXGTnRPnHc/s640/2011-09-25+06.00.19.jpg" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Tumbuh-tumbuhan di sekitar pantai.&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;Anak Krakatau: The World Heritage Site and Natural Succession &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Kepulauan Krakatau terdiri dari Pulau Rakata atau Krakatau Besar (1400 ha), Pulau Panjang atau Krakatau kecil (320 ha), Pulau Sertung (1060 ha), dan Pulau Anak Krakatau (320 ha). Sampai saat ini, Anak Krakatau yang muncul tahun 1927 merupakan gunung berapi yang masih aktif. Secara administratif, Kepulauan Krakatau terletak di kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan (Provinsi Lampung di Sumatera). Tapi, pada kenyataannya mereka membentuk bagian dari Ujung Kulon - Krakatau National Park, yang diakui oleh UNESCO sebagai situs Warisan Dunia pada tahun 1991.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;Pada tahun 1990, Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Departemen Kehutanan mengadakan pengelolaan Cagar Alam Kepulauan Krakatau ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam atau Kantor Konservasi Sumber Daya Alam Lampung, di Sumatera, dengan tujuan untuk melindungi dan melestarikan kepulauan Krakatau sebagai situs konservasi yang penting bagi ilmu pengetahuan dan pendidikan. Pada tahun yang sama cagar alam diperluas oleh Departemen Kehutanan dengan total area seperti yang ada sekarang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Pulau Anak Krakatau muncul sekitar tahun 1927 – 1929 dan kolonisasi jenis tumbuhan dan satwa baru berjalan beberapa puluh tahun terakhir (sekitar 75 tahun). Sementara proses kolonisasi flora dan fauna di pulau Rakata, Panjang dan Sertung sudah berjalan cukup lama, yaitu sejak pasca letusan 1883 hingga sekarang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Di pulau Anak Krakatau, daerah punggung gunung umumnya masih gundul karena suhu yang tinggi dan kekurangan air. Oleh sebab itu kita hanya akan menjumpai kolonisasi tumbuhan tak jauh dari pantai. Jenis tumbuhan pioneer seperti gelagah (&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Saccharum spontaneum&lt;/i&gt;) bersimbiosis dengan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Azospirillum lippoferrum&lt;/i&gt;. Kemudian terjadi proses pelapukan pasir di bagian bawah yang telah ditumbuhi gelaga dan tumbuhlah jenis &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Melastoma affine&lt;/i&gt; dan jenis-jenis tumbuhan lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Saat ini keanekaragaman flora di kepulauan Krakatau tercatat antara lain 206 Fungi, 13 jenis Lichenes, 61 jenis paku-pakuan (&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Pteridophyta&lt;/i&gt;), dan sekitar 257 jenis &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Spermatophyta&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Sedangkan faunanya terdiri dari jenis mamalia seperti &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Rattus&lt;/i&gt; (tikus) dan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Megaderma&lt;/i&gt; (kalong). Kelompok &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Aves&lt;/i&gt;&amp;nbsp; tercatat sekitar 40 jenis dari yang berukuran besar hingga yang berukuran kecil seperti Bubut Alang-Alang Jawa, Elang, Belibis, hingga kolibri. Kelompok reptilia yang menghuni pulau ini, selain biawak dan penyu, ada juga ular, baik yang berukuran besar seperti Sanca hingga yang berukuran relatif kecil.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-VLuRskdz7DQ/TpVSmor_OhI/AAAAAAAAAHM/TPz9Zq-9Z9U/s1600/Savana+Nighjar+%2528besgroup.org%2529.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="234" src="http://1.bp.blogspot.com/-VLuRskdz7DQ/TpVSmor_OhI/AAAAAAAAAHM/TPz9Zq-9Z9U/s320/Savana+Nighjar+%2528besgroup.org%2529.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Aves Coprimulgus offinis&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-68XqTPifyFc/TpVSqlWmGGI/AAAAAAAAAHU/vxfaCQ7apBg/s1600/falco+severus+%2528vnsharing.net%2529.jpeg" imageanchor="1" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-68XqTPifyFc/TpVSqlWmGGI/AAAAAAAAAHU/vxfaCQ7apBg/s320/falco+severus+%2528vnsharing.net%2529.jpeg" width="239" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Falco Severus&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3692772326619476838-4867001206155023534?l=hypolitha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hypolitha.blogspot.com/feeds/4867001206155023534/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hypolitha.blogspot.com/2011/10/my-travel-notes-krakatau-part-2.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3692772326619476838/posts/default/4867001206155023534?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3692772326619476838/posts/default/4867001206155023534?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hypolitha.blogspot.com/2011/10/my-travel-notes-krakatau-part-2.html' title='My Travel Notes: Krakatau (part 2)'/><author><name>Hipolita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03888437265812231685</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-W12ymAUOQME/TvHpTSSY6HI/AAAAAAAAA2k/8wxd7XAnn0k/s220/377473_2429309087037_1080886264_2515306_2126477044_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-cVzSnUkbYQg/TpVF0S-s6PI/AAAAAAAAAF0/ZmSJUoqaRGg/s72-c/100_4872_2.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;CkANQH8zcCp7ImA9WhdbFEw.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3692772326619476838.post-1590540208897389524</id><published>2011-10-09T20:38:00.000-07:00</published><updated>2011-10-12T02:13:11.188-07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2011-10-12T02:13:11.188-07:00</app:edited><title>My Travel Notes: Krakatau (part 1)</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNormalCxSpFirst" style="line-height: 150%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-add-space: auto; text-align: center;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 26pt; line-height: 150%;"&gt;Anak Krakatau: adorable journey to freedom&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-fQJjD3pHl_k/TpJZWY0bZaI/AAAAAAAAAE4/UAAHEf33RMw/s1600/2011-09-25+09.10.42.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-fQJjD3pHl_k/TpJZWY0bZaI/AAAAAAAAAE4/UAAHEf33RMw/s1600/2011-09-25+09.10.42.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Anak Krakatau from the boat&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Rasanya tidak bisa percaya saat itu saya berdiri di atas gunung pasir hitam, abu vulkanik dan belerang yang sudah mengkristal, mungkin sekitar 2 kilometer dari bibir kawah gunung anak Krakatau. Sempat merinding saat saya membelakangi punggung si anak Krakatau dan mendapati pemandangan yang menakjubkan; tentakel Batara Surya membuka jalan dari ufuk timur menyusul saya ke puncak. Kaki dan wajah saya yang sebelumnya terasa kelu karena angin dingin, perlahan tersapu kehangatan sang Batara Pagi. Laut, pesisir hitam, hutan pinus dan barisan pulau Krakata seperti bangun dari tidurnya. Saya sangat takjub dan tak bisa berhenti menutup mulut saya yang kerap menganga, “&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;waaaaaaaaaaauuuuuuuuw… wuhuuu!&lt;/i&gt;” &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;that was my first extreme journey since I went out of my homey cage&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;A Night to Remember&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;I slept with him and can’t get my eyes off of his darkness beauty&lt;/i&gt;. Semalam saya habiskan penuh dengan keromantisan sepanjang selat Sunda. Bertolak dari pelabuhan Merak, menumpang kapal Ferry menuju pelabuhan Bakauheni. Saya bisa saja memilih menghabiskan satu malam perjalanan di kompartemen kelas 1 atau kabin nyaman ber-AC kelas 2. Jika ingin menjalin kehangatan bersama petualang lainnya saya bisa saja tinggal di kelas ekonomi yang sangat sederhana, sangat merakyat dan sangat rendah diri. Hangat dan akrab bersama aroma rokok yang ramah bersahabat. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;But then I made a choice from my inquiry; what is it up there?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt; Di samping dek kapal, saya melihat sebuah tangga melingkar dan berakhir dengan keingintahuan: tangga itu akan membawa saya kemana? Tanpa ragu-ragu, saya dan dua orang teman seperjalanan saya langsung menaiki tangga itu yang membawa kami menuju geladak teratas. Kami menyebutnya geladak kelas 1 karena bisa menyuguhkan kami pemandangan malam yang sangat memukau. Saya menempati satu bangku panjang di mana saya bisa merebahkan tubuh saya yang sudah sangat letih bekerja. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Yes I was staring at him, the night, and it felt like he’s staring back at me. Afterwards, I fell in love to the dark sky and its stars. I fell in love to the night sea and its waves&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Dua jam sudah saya terombang-ambing di laut tanpa rasa mabuk atau paranoid yang biasanya saya alami. Kedua teman saya sudah jatuh terlelap tanpa menyaksikan sedikit pun kisah cinta dengan sang malam. Tapi perlahan gelombang yang semakin besar dan memaksa saya berdansa dengannya membuat saya muak. Jadilah saya berbaring telentang menatap mata langit. Dalam dan hitam. Ratusan bintang gemerlap membuai saya dengan alunan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;nina-bobo&lt;/i&gt;. Angin laut berhembus semakin kencang dan dingin tentunya, menyapu saya sesaat ke atas langit bertabur bintang yang tidak pernah bisa saya lihat dari teras rumah di Jakarta.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-sII3SllfVV8/TpJbk9s0gYI/AAAAAAAAAE8/sCMohIGSbeU/s1600/2011-09-24+05.29.51.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://4.bp.blogspot.com/-sII3SllfVV8/TpJbk9s0gYI/AAAAAAAAAE8/sCMohIGSbeU/s400/2011-09-24+05.29.51.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;dawn at Bakauheni harbour&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;The Journey Begins&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-OqInMd2vitk/TpJbnpblwtI/AAAAAAAAAFA/KWIQPZIUdx4/s1600/100_4859.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-OqInMd2vitk/TpJbnpblwtI/AAAAAAAAAFA/KWIQPZIUdx4/s1600/100_4859.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Kapal motor yang kami sewa&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Tuuuuuuuuuuuuttt! Kapal hampir merapat ke dermaga. Angin laut tidak lagi sehebat tadi malam dan kepergiannya lah yang membangunkan saya. Ternyata kedua teman saya sudah bangun dan sedang sibuk melipat &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;sleeping bag&lt;/i&gt; mereka lalu mengabadikan momen; pelabuhan Bakauheni masih berselimut kabut tipis di balik kelambu pagi. Saya mengikuti rombongan perjalanan saya keluar dari kapal. Menjejakkan kaki di dermaga, membalikkan tubuh saya ke arah laut; pulau Jawa sudah tidak terlihat. “&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Good bye for a while my life in Java!&lt;/i&gt;”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Keluar dari pelabuhan, kami menyewa mobil angkutan umum untuk membawa kami menuju pantai Canti. Letaknya tak jauh dari Bakauheni, hanya sekitar satu jam. Beberapa teman lain naik bersama kami, sibuk melanjutkan tidurnya di dalam mobil yang melaju di atas jalan kecil nan mulus. Saya lebih memilih menyaksikan apa saja yang bisa dijangkau mata saya. Hamparan ilalang kering di kanan kiri jalan, lapangan kosong, pohon-pohon pisang, dan beberapa petak tanah yang menggosong sisa dibakar. Tak ada perkampungan yang mencolok, tak ada persawahan, tak ada gedung tinggi. Tidak ada kemacetan, tidak ada polusi berlebihan yang membuat langit menjadi abu-abu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Satu jam menikmati perjalanan darat, kami sampai di Pantai Canti dengan sebuah dermaga kecil yang akan mengantar kami menuju kapal motor yang telah disewa, menuju beberapa pulau dan akhirnya, Anak Krakatau. Saya sarapan di sebuah warung makan tepat di samping dermaga. Warung sederhana yang menyajikan keramahan sebagai tempat singgah sementara.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Angkat Jangkarnya, Kelasi!&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Saatnya saya berangkat memulai petualangannya saya dengan laut. Sebenarnya sejak kecil saya sangat takut berlayar di laut terlalu lama. Bukan hanya karena saya tidak bisa berenang atau takut tenggelam maupun kecelakaan yang mungkin terjadi, dan semacamnya. Tapi karena saya memang tidak mau mengakrabkan diri dengan dalamnya misteri laut yang tidak bisa saya lihat dari permukaan sejak kecil. Rasanya seperti terlalu berisiko. Saya tidak bisa menjangkau dasarnya yang mungkin gelap dan dingin. Sama seperti saat saya tidak bisa membaca hati seseorang, sangat penuh praduga dan misteri. Kecuali saya mau mengambil risiko berenang ke dasarnya dan menemukan rahasia yang karam di bawah sana. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Ups, let’s leave the story behind&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Teman saya memberikan sebuah jaket pelampung untuk saya pakai. Segera, kami naik ke atas kapal. &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Benar-benar di ATAS kapal, bukan di dalam. Matahari belum terlalu terik. Jadi, saya sangat menikmati saat kapal motor kami berdansa dengan ombak. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Rasanya seperti berada di atas &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;banana boat&lt;/i&gt;. Sangat seru! Saat itulah saya mencoba mengalahkan ketakutan saya terhadap laut lepas dengan tidak duduk diam di dalam kapal. Lagipula, sesuatu yang ekstrim jadi sangat menyenangkan selama saya bisa menjaga keselamatan diri. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Satu jam bermain gelombang di atas kapal, lalu sampailah kami di Pulau Sebuku Kecil. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-EcbUpz5iBiI/TpJbp5w3F-I/AAAAAAAAAFE/YAAvqXZmdIY/s1600/100_4865.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/-EcbUpz5iBiI/TpJbp5w3F-I/AAAAAAAAAFE/YAAvqXZmdIY/s1600/100_4865.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Pulau Sebuku Kecil&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Heaven shells! &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Pulau Sebuku Kecil adalah surganya bangkai koral dan cangkang kerang. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Pasir putih dan benar-benar putih terhampar menyisir bibir pantai. Pantainya landai dan jernih. Sayangnya, ini bukan titik yang tepat untuk snorkeling karena yang saya lihat hanya pasir putih dan bangkai terumbu. Selain itu saya juga harus berhati-hati terhadap Bulu Babi. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Ouch!&lt;/i&gt; seorang teman saya sempat menginjak bulu babi saat ia asik menjelajah ke perairan yang lebih dalam. Sambil berjalan menyusuri pantai, saya memunguti beberapa cangkang kerang yang agak besar dan masih putih warnanya. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;I can use it as decoration on coffee table&lt;/i&gt;. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;It’s free!&lt;/i&gt; &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Ps: Provided by nature&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Puas bermain-main di pantai, menikmati sebagian keindahan gugusan pulau selat sunda, dan menemukan kedamaian batin, saya kembali naik ke kapal yang selanjutnya akan membawa saya ke &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;snorkeling spot&lt;/i&gt; di dekat Pulau Sebuku Besar yang letaknya di seberang. &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Hanya lima belas menit dan kami sudah sampai. Siap terjun?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“Hap, elo enggak akan loncat dari atas kapal kan?” tanya teman saya. Saya lalu mengangguk, “loncat dari atas kapal saja. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Gue belum pernah loncat setinggi ini.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-bottom: 6.0pt; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Once again, I made a choice from my inquiry&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Saatnya untuk snorkeling dan saya berhasil terjun dari atap kapal ke laut. &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;I coped with my fear and made it!&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt; Rasanya seperti mendarat di atas jelly yang akan membawa tubuh saya kembali ke atas permukaan. Mengerikan memang rasanya ketika jari kaki saya tidak bisa menyentuh dasar untuk berpijak. Pelampung saya menjaga saya tetap mengambang dan menikmati indahnya pemandangan bawah laut dari permukaan. Terumbu karang beraneka bentuk dan warna hidup di bawah laut. &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Ikan-ikan kecil warna-warni berenang-renang di sekitarnya dan sembunyi-sembunyi malu. Semakin dekat dengan pantai, semakin dangkal lautnya dan semakin besar risiko kaki kita menginjak terumbu karang baik sengaja atau pun tidak sengaja. Oleh sebab itu saya berusaha agar tetap berada di kedalaman minimal dua meter. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Comic Sans MS&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Sebuah terumbu karang membutuhkan waktu 30 tahun untuk tumbuh sepanjang 1 centimeter. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;That’s too pity if my toes broke one coral reefs, there’ll be 30 years guilty feeling&lt;/i&gt;. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Oh, no!&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-coEt_snZkcg/TpJbsGL4TvI/AAAAAAAAAFI/t6I2W9f4aAQ/s1600/100_4864.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="480" src="http://2.bp.blogspot.com/-coEt_snZkcg/TpJbsGL4TvI/AAAAAAAAAFI/t6I2W9f4aAQ/s640/100_4864.JPG" width="640" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;di seberang adalah Pulau Sebuku Besar&lt;/td&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3692772326619476838-1590540208897389524?l=hypolitha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hypolitha.blogspot.com/feeds/1590540208897389524/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hypolitha.blogspot.com/2011/10/my-travel-notes-krakatau-part-1.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3692772326619476838/posts/default/1590540208897389524?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3692772326619476838/posts/default/1590540208897389524?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hypolitha.blogspot.com/2011/10/my-travel-notes-krakatau-part-1.html' title='My Travel Notes: Krakatau (part 1)'/><author><name>Hipolita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03888437265812231685</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-W12ymAUOQME/TvHpTSSY6HI/AAAAAAAAA2k/8wxd7XAnn0k/s220/377473_2429309087037_1080886264_2515306_2126477044_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-fQJjD3pHl_k/TpJZWY0bZaI/AAAAAAAAAE4/UAAHEf33RMw/s72-c/2011-09-25+09.10.42.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;Dk4MQXY_cCp7ImA9WhdQEk0.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3692772326619476838.post-7243552044705097793</id><published>2011-08-12T19:58:00.000-07:00</published><updated>2011-08-12T20:09:40.848-07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2011-08-12T20:09:40.848-07:00</app:edited><title>came out the class</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-lETyoc6Vfws/TkXjsGZCOuI/AAAAAAAAAEw/Gu6QAFzyKyE/s1600/P6211673.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-lETyoc6Vfws/TkXjsGZCOuI/AAAAAAAAAEw/Gu6QAFzyKyE/s320/P6211673.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;The theme for learning was Up and Away. Children made 2D Picture on display board. They were encourage to draw their imagine kites. Some of them made princess-kites, or just draw their self. Ones just scratched, others made banana-kites, spider-kites, alien-kites, bird-kites. Afterwards they could coloring a figure outline which represent to their selves. for the grass, children were encourage &amp;nbsp;to cut on the black line of pieces green paper that I've made. Then we sticked all of our works on the board with push pins. From this simple activity, children learned that their kites could go up if there's wind, and wind can blow away all the light things.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-s5pUcXMDt5I/TkXoCXcN8jI/AAAAAAAAAE0/eH1_m1Dazwg/s1600/P6211674.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="640" src="http://1.bp.blogspot.com/-s5pUcXMDt5I/TkXoCXcN8jI/AAAAAAAAAE0/eH1_m1Dazwg/s640/P6211674.JPG" width="480" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3692772326619476838-7243552044705097793?l=hypolitha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hypolitha.blogspot.com/feeds/7243552044705097793/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hypolitha.blogspot.com/2011/08/came-out-class.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3692772326619476838/posts/default/7243552044705097793?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3692772326619476838/posts/default/7243552044705097793?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hypolitha.blogspot.com/2011/08/came-out-class.html' title='came out the class'/><author><name>Hipolita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03888437265812231685</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-W12ymAUOQME/TvHpTSSY6HI/AAAAAAAAA2k/8wxd7XAnn0k/s220/377473_2429309087037_1080886264_2515306_2126477044_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-lETyoc6Vfws/TkXjsGZCOuI/AAAAAAAAAEw/Gu6QAFzyKyE/s72-c/P6211673.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;CEcGSX0-eCp7ImA9WhdTGE4.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3692772326619476838.post-7150232384300230301</id><published>2011-07-16T09:00:00.000-07:00</published><updated>2011-07-16T09:00:28.350-07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2011-07-16T09:00:28.350-07:00</app:edited><title>Came out the class</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormalCxSpFirst" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: Arial, sans-serif; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: purple; font-size: large;"&gt;Butterfly Recycle-Made&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;Here is a simple idea to make a Butterfly from recycle stuffs. It’s easy and children between 3 to 4 years old surely can do it, of course with our assistance. My children in Nursery class which are 3 to 4 years old can made it with minimum help from me.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-_sUHhpHQt8k/TiGz4BPBI3I/AAAAAAAAAEo/VTdcOodsIoA/s1600/P6211676.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-_sUHhpHQt8k/TiGz4BPBI3I/AAAAAAAAAEo/VTdcOodsIoA/s320/P6211676.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;What do we need?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;The materials needed are:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;1 tissue roll/toilet roll&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;1 stick (ice cream stick)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;Butterfly outline on paper (you can make it by yourself. You just need to draw an outline of butterfly on a paper, or search it on Mr. Google and then print out in A3 size)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;2 googlie eyes&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;Pipe cleaner (about 10 cm length)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;Tempera paint&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;And the tools needed are:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;Scissor, paint brush, glue.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpLast" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;How to make it?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="line-height: 150%; margin-left: .25in; mso-add-space: auto; mso-list: l0 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt; mso-fareast-font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;1.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;Fold the outline of your butterfly into two. Make sure that you fold it in the middle and each side has same size. After that, paint it using tempera paint and small brush but only on one side. Then fold on the other side, so you’ll have paint refraction on the blank side. Open the folding again and let it dried.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: .25in; mso-add-space: auto; mso-list: l0 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt; mso-fareast-font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;2.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;Take your toilet roll. If you want to, you can paint it too for the body of your butterfly. When it dried, glue the one-third stick into the toilet roll (use strong glue which can glue wood).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: .25in; mso-add-space: auto; mso-list: l0 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt; mso-fareast-font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;3.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;Put the glue on the middle folding of your painted butterfly. Then paste it on your toilet roll. Let it dry in 5 minutes.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: .25in; mso-add-space: auto; mso-list: l0 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt; mso-fareast-font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;4.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;Paste a pair of googlie eyes on the head of your butterfly. And make your antenna from small size pipe cleaner. Fold your pipe cleaner into two (same size, in the form like ‘V’) and then stick it behind the head of your butterfly. Make sure that you use strong glue which can glue fabric material but it still safe for children.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="line-height: 150%; margin-left: .25in; mso-add-space: auto; mso-list: l0 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -.25in;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt; mso-fareast-font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;5.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;Your Butterfly ready to be hanged on your window, or to be played on your garden.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-aLGUWUYSjXc/TiG0OW-l6oI/AAAAAAAAAEs/qh5MW67iqj8/s1600/P6211675.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://3.bp.blogspot.com/-aLGUWUYSjXc/TiG0OW-l6oI/AAAAAAAAAEs/qh5MW67iqj8/s320/P6211675.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;Song about Butterfly:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;Fly , fly, fly the butterfly. In the meadow, it’s flying high. In the garden, it’s flying low…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-font-size: 11.0pt; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;Fly, fly, fly the butterfly.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3692772326619476838-7150232384300230301?l=hypolitha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hypolitha.blogspot.com/feeds/7150232384300230301/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hypolitha.blogspot.com/2011/07/came-out-class.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3692772326619476838/posts/default/7150232384300230301?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3692772326619476838/posts/default/7150232384300230301?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hypolitha.blogspot.com/2011/07/came-out-class.html' title='Came out the class'/><author><name>Hipolita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03888437265812231685</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-W12ymAUOQME/TvHpTSSY6HI/AAAAAAAAA2k/8wxd7XAnn0k/s220/377473_2429309087037_1080886264_2515306_2126477044_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-_sUHhpHQt8k/TiGz4BPBI3I/AAAAAAAAAEo/VTdcOodsIoA/s72-c/P6211676.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;CE8GQ3g8fyp7ImA9WhZUF08.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3692772326619476838.post-7417554765619172075</id><published>2011-06-10T09:20:00.000-07:00</published><updated>2011-06-10T09:20:22.677-07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2011-06-10T09:20:22.677-07:00</app:edited><title>Language</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Kindertaal: antara kreativitas dan imajinasi&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Pada awal bekerja di sekolah internasional Belanda di kawasan Cilandak Timur, rasanya sulit untuk bisa berkomunikasi dengan anak murid. Sampai-sampai saya berpikir, "jangan-jangan memang saya yang bodoh? Masa kuliah bahasa Belanda 4 tahun tidak ada hasilnya?"&lt;br /&gt;
Ternyata setelah saya mencoba memahami anak-anak murid saya yang usianya sekitar 2 - 4 tahun, bukan pendengaran saya yang salah dan bukan kemahiran bahasa Belanda saya yang tidak kompeten. Anak-anak didik saya memang gemar menggunakan bahasa mereka sendiri (kindertaal) yang terkadang hanya dipahami oleh anak-anak itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anak-anak usia dua tahun biasanya cenderung mulai memahami penggunaan bahasa mereka. mereka belum bisa mengucapkan satu kalimat penuh dengan konstruksi yang baik (sekitar 3-4 kata per kalimat). Mereka bicara dengan penggalan kata, misalnya:&lt;br /&gt;
mimik (untuk: aku mau minum), Bah! (untuk: jorok/kotor), Foeih! [baca: fuwi] untuk: tidak baik, tjoe-tjoe trein [baca: cu-cu trein] (untuk: kereta api), bum! (untuk: menabrak atau jatuh), auw! (untuk sakit atau aduh atau seseorang telah melakukan kontak fisik dengannya). Kata-kata yang bunyinya atau asalnya sama dengan bunyi aslinya disebut onomatopee.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada lagi seorang murid berusia empat tahun yang bahasanya juga sulit saya pahami karena ia cenderung menggunakan akronim untuk beberapa kata, seperti: makie, untuk makkelijk (mudah)&lt;br /&gt;
Ada juga yang menciptakan perbendaharaan kata baru, seperti:&lt;br /&gt;
- op er de pop /operdepop/: benar-benar habis&lt;br /&gt;
- stinkie stankie: bau tidak sedap&lt;br /&gt;
- yekie yakie: untuk hal yang menjijikkan&lt;br /&gt;
- uit de fluit: untuk makna "selesai" setelah membacakan buku&lt;br /&gt;
- puppe druppe: seonggok 'pup'&lt;br /&gt;
perbendaharaan kata baru tersebut dibuat seperti menyerupai rima. Memang anak-anak yang usianya lebih tua (3-4 tahun) senang bereksplorasi dengan bahasa hingga menciptakan perbendaharaan katanya sendiri yang bunyinya memiliki rima.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berarti, bahasa anak-anak mungkin memang terbentuk karena imajinasi atau kreativitas yang muncul dari pengalaman empiris yang mereka lihat, dengar dan rasa.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3692772326619476838-7417554765619172075?l=hypolitha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hypolitha.blogspot.com/feeds/7417554765619172075/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hypolitha.blogspot.com/2011/06/language.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3692772326619476838/posts/default/7417554765619172075?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3692772326619476838/posts/default/7417554765619172075?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hypolitha.blogspot.com/2011/06/language.html' title='Language'/><author><name>Hipolita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03888437265812231685</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-W12ymAUOQME/TvHpTSSY6HI/AAAAAAAAA2k/8wxd7XAnn0k/s220/377473_2429309087037_1080886264_2515306_2126477044_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;D0QEQXc9fip7ImA9WhZWGEQ.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3692772326619476838.post-7911131218569986929</id><published>2011-05-20T05:41:00.000-07:00</published><updated>2011-05-20T05:41:40.966-07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2011-05-20T05:41:40.966-07:00</app:edited><title>Indie Book Corner: Penerbit yang Gak Tebang Pilih</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;Baru saja saya melihat recent feed di home page facebook saya (www.facebook.com/happyindah) dan status seorang teman sangat menarik perhatian saya. memang saya sangat hobi menulis dan bermimpi bisa menerbitkan buku saya, dibaca banyak orang dan menjadi setenar Ayu Utami atau&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
teman saya menyarankan dua site yang bisa membantu para penulis untuk menerbitkan bukunya, tidak secara hard copy tetapi dalam bentuk e-book. dua site itu adalah:&lt;br /&gt;
http://indiebook.wordpress.com/feed/&lt;br /&gt;
dan&lt;br /&gt;
http://www.nulisbuku.com&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
setelah mengunjungi dua site itu, saya lebih tertarik dengan site yang kedua karena tidak dikenakan biaya apapun. meskipun dalam bentuk e-book tetapi kita sebagai penulis akan tetap mendapatkan hak royalti kita.&lt;br /&gt;
so, you there.. the young writers! if you're interesting to make a book, you can just go to that site above and sign up! hopefully you find the way to make many people read your works og literature! keep on writing!&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3692772326619476838-7911131218569986929?l=hypolitha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://indiebook.wordpress.com' title='Indie Book Corner: Penerbit yang Gak Tebang Pilih'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hypolitha.blogspot.com/feeds/7911131218569986929/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hypolitha.blogspot.com/2011/05/indie-book-corner-penerbit-yang-gak.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3692772326619476838/posts/default/7911131218569986929?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3692772326619476838/posts/default/7911131218569986929?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hypolitha.blogspot.com/2011/05/indie-book-corner-penerbit-yang-gak.html' title='Indie Book Corner: Penerbit yang Gak Tebang Pilih'/><author><name>Hipolita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03888437265812231685</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-W12ymAUOQME/TvHpTSSY6HI/AAAAAAAAA2k/8wxd7XAnn0k/s220/377473_2429309087037_1080886264_2515306_2126477044_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;C0ADRX08cCp7ImA9WhZWFk4.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3692772326619476838.post-4865005923448228158</id><published>2011-05-17T04:29:00.000-07:00</published><updated>2011-05-17T04:29:34.378-07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2011-05-17T04:29:34.378-07:00</app:edited><title>Kembali ke Masa Lampau</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div align="center" class="MsoNormalCxSpFirst" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Kristen ITC&amp;quot;; font-size: 18.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;Ayo ke Onrust!&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;16 April 2011&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-WFqsBcjZrpI/TdJNJ9nlSII/AAAAAAAAADU/xkRsmru2SsE/s1600/P8301100.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-WFqsBcjZrpI/TdJNJ9nlSII/AAAAAAAAADU/xkRsmru2SsE/s320/P8301100.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Bersama komunitas Nol Derajat Indonesia, saya melakukan sebuah &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;back to the past trip&lt;/i&gt; ke tiga pulau tak berpenghuni di kawasan kepulauan seribu, yaitu Pulau Kelor, Pulau Cipir dan Pulau Onrust. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;Bertitik tolak dari Musium Jakarta, kami langsung menuju ke dermaga nelayan di Muara Angke dengan menyewa sebuah bis. Setibanya di Pelabuhan, kami melanjutkan perjalanan dengan kapal motor milik nelayan setempat yang bisa disewa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-v3kH6E5kqys/TdJP05C4OuI/AAAAAAAAADY/vYN4mfHiyXk/s1600/P8301216.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://3.bp.blogspot.com/-v3kH6E5kqys/TdJP05C4OuI/AAAAAAAAADY/vYN4mfHiyXk/s320/P8301216.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-lfkmM8gMauU/TdJP6DwfEzI/AAAAAAAAADc/t_MLSzaHbEI/s1600/208674_1911358498203_1069101458_32295684_5982494_n.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-lfkmM8gMauU/TdJP6DwfEzI/AAAAAAAAADc/t_MLSzaHbEI/s320/208674_1911358498203_1069101458_32295684_5982494_n.jpg" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-PZ2OrCUb20A/TdJQl9Sd1gI/AAAAAAAAADg/p5sd8vPPZyk/s1600/P8301131.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/-PZ2OrCUb20A/TdJQl9Sd1gI/AAAAAAAAADg/p5sd8vPPZyk/s320/P8301131.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-font-size: 11.0pt; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;Pulau kelor menjadi tujuan pertama kami. Sepertinya, pepatah “dunia tak selebar daun kelor” mampu mengintepretasikan luas pulau ini. Pulau kecil berpasir putih ini seperti menyembul dari permukaan laut. Di atasnya masih berdiri sebuah peninggalan bangsa Belanda berupa galangan kapal dan benteng Martello yang dibangun oleh VOC pada abad ke-17 untuk menghadapi serangan kapal perang bangsa Portugis. Meskipun benteng tersebut terlihat masih kokoh, namun usia empat abad telah membuatnya semakin rapuh, terlihat &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-font-size: 11.0pt; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;dari batu bata yang mulai runtuh dan pecah serta beberapa sudut sudah retak. Di pulau ini juga terdapat kuburan awak kapal pribumi yang memberontak dan akhirnya gugur di tangan Belanda. Ada pula cerita mistis yang beredar mengenai Pulau Kelor. Pulau kosong ini ternyata dihuni oleh belasan kucing di sekitar benteng Martello. Sayangnya, keindahan Pulau Kelor yang sempat mampir ke telinga saya tidak bisa saya temukan selain hanya sampah-sampah plastik di sepanjang bibir pantai.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-font-size: 11.0pt; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/--ILuNNOWV0s/TdJR_XBvdrI/AAAAAAAAADk/s__xUIA18lI/s1600/215510_10150170915747370_704562369_6622790_2903570_n.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://2.bp.blogspot.com/--ILuNNOWV0s/TdJR_XBvdrI/AAAAAAAAADk/s__xUIA18lI/s320/215510_10150170915747370_704562369_6622790_2903570_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-rrM_8PRVRg8/TdJSMKTyH7I/AAAAAAAAADo/O460SxCE5z0/s1600/207859_10150171276962370_704562369_6626311_104168_n.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://4.bp.blogspot.com/-rrM_8PRVRg8/TdJSMKTyH7I/AAAAAAAAADo/O460SxCE5z0/s320/207859_10150171276962370_704562369_6626311_104168_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-6jz1dhY7Ff4/TdJSWCdDlnI/AAAAAAAAADs/l0_z8wsjc1w/s1600/216936_10150171279092370_704562369_6626352_7793598_n.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://4.bp.blogspot.com/-6jz1dhY7Ff4/TdJSWCdDlnI/AAAAAAAAADs/l0_z8wsjc1w/s320/216936_10150171279092370_704562369_6626352_7793598_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-w1jkFfJ0nz4/TdJSi6MRcuI/AAAAAAAAADw/LUesSRM4gyA/s1600/221816_1820521347724_1080886264_1937838_3660223_n.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/-w1jkFfJ0nz4/TdJSi6MRcuI/AAAAAAAAADw/LUesSRM4gyA/s320/221816_1820521347724_1080886264_1937838_3660223_n.jpg" width="212" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-gS_iVuDAp94/TdJS-wEIVQI/AAAAAAAAAD0/gouzEKus_No/s1600/P8301149.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-gS_iVuDAp94/TdJS-wEIVQI/AAAAAAAAAD0/gouzEKus_No/s320/P8301149.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-6dih8QgIUfs/TdJTYHj2mdI/AAAAAAAAAD4/snUi2WBOF4k/s1600/P8301151.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/-6dih8QgIUfs/TdJTYHj2mdI/AAAAAAAAAD4/snUi2WBOF4k/s320/P8301151.JPG" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-absdaL0RX7o/TdJTukC3NEI/AAAAAAAAAD8/-2lsx2ikdSA/s1600/P8301174.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-absdaL0RX7o/TdJTukC3NEI/AAAAAAAAAD8/-2lsx2ikdSA/s320/P8301174.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;Selanjutnya kami bertandang ke Pulau Cipir atau juga disebut sebagai Pulau Kahyangan. Pulau Cipir letaknya berhadapan dengan Pulau Onrust. Pulau ini pernah digunakan oleh pemerintah Belanda sebagai tempat karantina haji pada tahun 1911-1933. Kini yang tampak hanya tinggal puing-puing bangunan yang dulu adalah barak haji, rumah sakit, dan tempat penampungan jemaah haji yang terkena penyakit menular. Tak jauh dari dermaga, terdapat tugu tiga batu besar dan beberapa meriam kuno buatan Belgia yang usianya sudah mencapai tiga abad dan dulunya berfungsi sebagai senjata pertahanan Pulau Cipir. Di ujung pulau yang berhadapan dengan Pulau Onrust terdapat barisan fondasi jembatan penghubung yang diperkirakan sudah ada sejak tahun 1911. Saat air laut surut akan nampak barisan batu bata merah yang tersusun menuju ke arah Pulau Onrust. Sayangnya lagi, situs bersejarah ini tidak mendapat perhatian yang baik dari pemerintah Indonesia. Banyak terjadi vandalisme terhadap puing-puing bangunan yang tersisa dan sampah rumah tangga&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;Destinasi terakhir kami adalah Pulau Onrust. Dalam bahasa Belanda, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Onrust&lt;/i&gt; artinya “tidak beristirahat” atau “tidak tenang” atau dalam bahasa Inggris “Unrest”. Pada zaman Belanda, Pulau Onrust merupakan pelabuhan utama VOC untuk kapal-kapal yang akan masuk ke Batavia. &lt;/span&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: NL; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;Pulau ini juga menjadi markas tentara Belanda dalam melakukan bongkar muat logistik perang. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: NL; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;Setelah masa kemerdekaan, Pulau Onrust dijadikan rumah sakit karantina bagi penderita penyakit menular, penampungan para tunawisma dan pelatihan militer. Dalam sejarahnya, tahun 1968 Pulau Onrust dijarah habis-habisan sehingga bangunan-bangunan bersejarah itu tidak ada lagi dan hanya menyisakan puing-puing dan pondasi bangunan saja. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;span lang="NL" style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: NL; mso-bidi-font-size: 11.0pt;"&gt;Di salah satu ujung pulau terdapat kompleks pemakaman Belanda dan pemakaman pribumi yang letaknya terpisah. Beberapa makam Belanda masih dapat diidentifikasi dari prasasti yang tertulis pada batu nisannya, sedangkan makam-makam pribumi tidak satu pun memiliki nisan untuk diidentifikasi. Selain itu juga terdapat makam yang dikeramatkan, yaitu makam seorang petinggi DI/TII yang dihukum mati di pulau ini. Menurut cerita yang beredar, konon seorang gadis muda Belanda bernama Maria masih sering menampakkan diri di Pulau Onrust saat malam hari. Kebersihan di Pulau Onrust masih jauh lebih baik daripada dua pulau sebelumnya. Sampah yang berserakan di bibir pantai sangat terminimalisir, terdapat toilet umum yang keadaannya bisa disebut layak pakai, terdapat pula juru kunci dan penjaga pulau yang menghuni pulau tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormalCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3692772326619476838-4865005923448228158?l=hypolitha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hypolitha.blogspot.com/feeds/4865005923448228158/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hypolitha.blogspot.com/2011/05/kembali-ke-masa-lampau.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3692772326619476838/posts/default/4865005923448228158?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3692772326619476838/posts/default/4865005923448228158?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hypolitha.blogspot.com/2011/05/kembali-ke-masa-lampau.html' title='Kembali ke Masa Lampau'/><author><name>Hipolita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03888437265812231685</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-W12ymAUOQME/TvHpTSSY6HI/AAAAAAAAA2k/8wxd7XAnn0k/s220/377473_2429309087037_1080886264_2515306_2126477044_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-WFqsBcjZrpI/TdJNJ9nlSII/AAAAAAAAADU/xkRsmru2SsE/s72-c/P8301100.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;DEMMR347eyp7ImA9WhRXFEo.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3692772326619476838.post-3687989059148508889</id><published>2010-06-30T21:07:00.000-07:00</published><updated>2011-12-21T06:08:06.003-08:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2011-12-21T06:08:06.003-08:00</app:edited><title>Language</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: #d5a6bd; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;Gender dalam Bahasa Indonesia&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: #d5a6bd; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;disampaikan oleh Hein Steinhauer dalam kuliah umum Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: #b4a7d6; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Dalam sebuah kuliah umum, Hein menjelaskan tentang penggunaan kata-kata yang mengandung gender baik dalam bahasa Indonesia dan perbandingan contohnya dengan sistem kata ber-gender dalam bahasa asing. Menurut saya, sistem bahasa suatu daerah atau negara sangat erat kaitannya dengan kultus budaya yang dianut dan dipahami masyarakatnya. Namun Hein hanya menjelaskan faktor penyebab penggunaan gender dalam bahasa dari segi semiotik dan linguistiknya saja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: #b4a7d6;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: #b4a7d6; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Dalam bahasa asing, misalnya bahasa Belanda, sebuah kata dilansir memiliki jenis kelamin. Dengan penggunaan kata sandang “de” atau “het”, artinya telah mendikotomikan sebuah kata untuk memiliki gender. Namun yang menjadi pertanyaan saya sesudahnya adalah: jika kata-kata yang menggunakan kata sandang tersebut diubah ke dalam bentuk pronomina/kata ganti orang ketiga, mengapa pronomina yang tersedia hanya sebatas “hij” (maskulin) dan “het” (netral)? Sepanjang apa yang saya pelajari dalam bahasa Belanda, tidak ada kata ganti “haar” (feminin) untuk pronomina berkata sandang “de/het”. Saya menyimpulkan bahwa dalam bahasa Belanda pun masih terdapat ketidaksetaraan gender. Hein mengungkapkan bahwa beliau juga tidak mengetahui apa sebabnya kata ganti feminin tidak dipakai atau digunakan. Hein mengatakan sulit untuk mengetahui&amp;nbsp;apakah sebuah benda itu maskulin atau feminin baik dari bentuk fisik maupun makna.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: #b4a7d6;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: #b4a7d6; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Dalam bahasa Indonesia sendiri, menurut saya, penggunaan gender maskulin dan feminin sangat mudah dipahami dan dilihat. Penggunaan kata sapa untuk perempuan (ibu, nyonya, nona, mbak, dsb) sangat berbeda dengan penggunaan kata sapa laki-laki (bapak, tuan, mas, dsb). Bahasa Indonesia menggunakan perumpamaan ibu atau perempuan untuk idiom-idiom tertentu, contohnya ibu jari, ibu kota dan ibu pertiwi. Ibu jari artinya jempol/jari yang paling besar, ibu kota artinya kota terbesar/terpusat dari suatu daerah, dan ibu pertiwi artinya negeri/tanah air. Mengapa yang digunakan adalah kata feminin (secara makna) dan bukannya kata maskulin (ayah jari, bapak kota, bapak pertiwi)? Ternyata penggunaan kata “ibu” dalam tiga contoh tadi disebabkan karena pemuliaan perempuan dalam masyarakat. “Ibu” dianggap sosok yang mulia, besar, mengayomi dan memang karakternya sesuai untuk tiga makna tadi. Jadi, penggunaan kata feminin untuk ketiga frase di atas disesuaikan dengan sifat dan ciri dari “ibu”. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: #b4a7d6;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: #b4a7d6; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Jika idiom yang menggunakan kata feminin seperti yang disebutkan di atas berdasarkan sifat dan ciri karakternya, maka berbeda dengan frase yang menggunakan kata maskulin. Contohnya, bapak pembangunan, bapak koperasi dan bapak negara. Kata “bapak” digunakan tidak untuk mewakili makna yang tersirat melainkan tersurat, baik secara ciri fisik ataupun karakter. Inilah yang membedakan penggunaan gender kata dalam berbahasa. Saya menyimpulkan kata feminin lebih sering digunakan untuk idiom atau ungkapan, sedangkan kata maskulin digunakan untuk makna yang tersurat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: #b4a7d6;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: #b4a7d6; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;, &amp;quot;Helvetica&amp;quot;, sans-serif;"&gt;Saya melihat penggunaan perbedaan gender dalam kata/frase/idiom bahasa Indonesia tidak sekental/mutlak seperti dalam bahasa asing lain, yakni Belanda, Rusia, Swahili, Jerman dan Perancis. Sepertinya bahasa Indonesia masih lebih menerima perbedaan itu walau terkadang masih menggunakan kata feminin untuk suatu ungkapan. Mungkin itu merupakan suatu penghormatan untuk sosok perempuan atau memang kata feminin tersebut lebih dekat dengan masyarakat dan budayanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: #b4a7d6;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;span style="color: #b4a7d6;"&gt;-19 November 2009-&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3692772326619476838-3687989059148508889?l=hypolitha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hypolitha.blogspot.com/feeds/3687989059148508889/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hypolitha.blogspot.com/2010/06/gender-dalam-bahasa-indonesia.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3692772326619476838/posts/default/3687989059148508889?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3692772326619476838/posts/default/3687989059148508889?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hypolitha.blogspot.com/2010/06/gender-dalam-bahasa-indonesia.html' title='Language'/><author><name>Hipolita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03888437265812231685</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-W12ymAUOQME/TvHpTSSY6HI/AAAAAAAAA2k/8wxd7XAnn0k/s220/377473_2429309087037_1080886264_2515306_2126477044_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;CkQDSHwzfCp7ImA9WhdbEko.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3692772326619476838.post-4215066858322400096</id><published>2010-06-25T04:06:00.000-07:00</published><updated>2011-10-10T11:12:59.284-07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2011-10-10T11:12:59.284-07:00</app:edited><title>Verhaaltje (2)</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;Sang Pelukis Senyum&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_B7bhTsH6ATc/TCSNmCy_0zI/AAAAAAAAAAw/wGSb17oc_p4/s1600/IMG_6899.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; cssfloat: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" ru="true" src="http://2.bp.blogspot.com/_B7bhTsH6ATc/TCSNmCy_0zI/AAAAAAAAAAw/wGSb17oc_p4/s320/IMG_6899.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;”Tersenyum yang manis, biar dunia lari ke sinar cerah,” [Naif]&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Api menari-nari pada sumbu hio, mendalang bayang-bayang genting pada dinding kayu tak berpelitur. Sesekali angin ikut memainkannya, membuatnya meliuk melikuk kikuk bersama debu lalu dan tergelitik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Hatchuuuu!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersin Kim baru saja membuyarkan lamunanku. Aroma dupa yang dibakar merasuki hidungku. Aku menatap ke arah Kim. Udara tidak cukup dingin untuk meletuskan sebuah bersin dari pangkal hidungnya. Namun dalam semburat cahaya siang, debu terlihat menggerayang di sekelilingnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kim berdiri geming, hening menyayupi. Dia merapatkan kedua telapak tangannya dan menempelkan ujung-ujung jarinya ke bibirnya yang tipis. Kepalanya menunduk dan matanya tetap terpejam. Sesekali dia berdengum panjang, ”Oooooooom....”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku selalu bisa menemukan Kim di situ, vihara kecil di sudut jalan pecinan yang selalu sepi. Sebuah sungai meretas usia di depannya, menjadi teman bagi kuil yang hampir ditinggalkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, saat aku tak bisa menemukannya berjaga bersama Encik Mai di kedai mie seberang sungai, aku tahu dia pasti sedang menenangkan diri dalam sembahyang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kim menengadahkan kepalanya dan membuka matanya, menatap sebuah patung porselen yang dua kali lebih tinggi darinya. Aku tidak tahu dewa apa yang berdiri dihadapannya; laki-laki berjanggut panjang dengan kelopak mata berwarna merah. Bibirnya yang juga merah mengulas senyum. Jubah kuning dengan benang-benang emas menyelimuti kemegahannya. Seorang dewa kaya raya yang sangat ramah, pikirku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kim mengusap wajahnya dengan tangan-tangannya yang terbuka. Dia mengakhiri doanya dan berbalik sembari kaget melihatku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Aku selalu tahu tempat pelarianmu saat kau menemui jalan buntu, Kim,” mulaiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kim hanya tersenyum dan hampir melenyapkan sekelumit mata yang tersisa dari wajah kuningnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Jangan melempar senyum kepadaku, aku tahu kau sedang tidak bisa melakukan itu,” tukasku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagi-lagi Kim tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Mengapa kau selalu saja marah, To?” tanyanya dengan nada sabar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejujurnya aku tidak marah. Aku hanya merasa tertekan. Bagaimana kau bisa merasa tenang ketika sebuah masalah besar sedang bermain-main dalam hidupmu, Kim? Dan dia hanya tersenyum menghadapinya. Itulah yang kusuka darinya, Kim sangat sabar dan berhati lapang. Dia tidak pernah menangis. Tapi itulah yang kutakutkan darinya, pribadi yang terlalu kuat hati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekali saja dalam hidupmu, menangislah di pundakku. Akan kuberikan pundakku yang terlalu lapang ini untuk menjadi sandaran kepalamu dan resapan air matamu. Menangislah, sebagai tanda kau manusia biasa sepertiku. Menangislah, Kim! Aku tahu masalah yang kau hadapi sangat pelik dan rumit, pasti kau ingin berteriak, berlari ke tempat sempit dan gelap, lalu mengejar kencang hingga habis suaramu, lalu akhirnya kau pun menangis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Tidak, semua akan baik-baik saja, To. Kau harus yakin. Cepat atau lambat aku pasti akan bisa keluar dari labirin ini. Berusahalah untuk tetap hidup dan percaya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Masih ingat kisah pewayangan yang kau ceritakan itu?” lanjutnya pelan. ”Masalahku ini belum seberapa dengan apa yang telah dialami oleh Drupadi. Setidaknya aku tidak ditelanjangi bulat-bulat. Aku hanya dipermalukan dengan celaan dan tuduhan yang keluar dari lidah-lidah bercabang yang terus mendesis. Bukan harga diriku yang dicarut, hanya sebuah nama yang melekat sejak lahir.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oh, aku tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan wataknya. Entah aku harus berkata apa, atau memikirkan apa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kim selalu menjadi pelukis senyumku saat aku lupa bagaimana caranya tersenyum, saat aku tidak tahu untuk apa aku tersenyum atau mati rasa untuk merasakan sebuah senyuman. Sedangkan Kim yang selalu tersenyum, nampaknya tak butuh seorang pelukis senyum. Garis lengkung yang indah selalu menyimpul pada bibirnya, membentuk sebuah senyuman yang bisa mengobati hati yang terluka. Sebelum aku tersenyum, dia sudah tersenyum terlebih dulu. Lagipula, siapa yang bisa menjadi pelukis senyum bagi seorang pelukis senyum?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Yakin kau tidak ingin menangis, Kim?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kim menggeleng pelan dan tersenyum, ”Aku masih kuat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menggenggam tangannya yang dingin. Sekali lagi Kim telah melukis sebuah senyum yang tadinya tidak ingin kutunjukkan. Tapi karena dia, aku tersenyum untuk sebuah harapan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nafasku terengah-engah. Seperti dugaanku, aku pasti bisa menemukan Kim di dalam vihara di seberang kedai mie milik Encik Mai. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Kim, kau memenangkan perkara ini!” teriakku senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menghampiri Kim dan dia langsung memelukku erat. Di wajahnya tergurat rona bahagia dan puas. Aku balas memeluknya dan tinggiku membuatnya sedikit terangkat dari tanah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kali itu adalah pertama kalinya aku melihat Kim menangis sambil tersenyum. Apakah akhir dari masalahnya yang telah membuat dia menangis haru atau aku terlalu erat memeluknya hingga dia kesakitan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku melihat ada danau di mata Kim. Sekelumit mata sipit dengan sedikit bulu yang menjulang di tepinya memantulkan binar langit. Bendungannya luber dan membanjiri pipi gembil yang merona merah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kim menangis dengan senyum yang perlahan pudar. Garis bibir yang melengkung perlahan mencembung, dan senyumnya pun lenyap. Rasa khawatir menjalari romaku. Tangis Kim makin lama makin besar. Aku memeluknya semakin erat, berharap dia tenang dan membiarkan kemejaku menjadi asin. Kim tersengguk-sengguk. Aku membawanya duduk dan menyandarkan kepalanya ke bahuku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Aku sudah tidak bisa lagi menjadi kuat,” ucapnya lirih. ”Tidak bisa,” ulangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menepuk-nepuk pundaknya, membelai rambutnya yang sangat halus, dan tidak menghentikan tangisannya. ”Teruslah menangis,” kataku. ”Sampai kau tidak bisa menangis lagi.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aroma dupa memenuhi ruangan. Api-api pada sumbu-sumbu hio bertapa tanpa seruan: ”Oooooooom....”. Mengingat pertemuan terakhir dengan Kim selalu membuatku menitikkan air mata dan mengguratkan senyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Lihat sekarang siapa yang menjadi pelukis senyum?” goda Kim kala itu setelah menangis. ”Kau salah Darto jika menganggap seorang pelukis senyum tak butuh pelukis lain untuk melukis dirinya.” Kim bersandar lunglai di bahuku. Tangannya semakin dingin. Rona merah di pipinya memudar. ”Kau adalah pelukis senyumku,” lanjut Kim. Lalu dia memejamkan matanya dan tertidur dalam damai pertapaan. Hingga saat ini, Kim tak pernah lagi terbangun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
27/3/2010, 03:08&lt;br /&gt;
Saat malam menjamah nadir&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Hippolyta-&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3692772326619476838-4215066858322400096?l=hypolitha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hypolitha.blogspot.com/feeds/4215066858322400096/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hypolitha.blogspot.com/2010/06/sang-pelukis-senyum-tersenyum-yang.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3692772326619476838/posts/default/4215066858322400096?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3692772326619476838/posts/default/4215066858322400096?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hypolitha.blogspot.com/2010/06/sang-pelukis-senyum-tersenyum-yang.html' title='Verhaaltje (2)'/><author><name>Hipolita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03888437265812231685</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-W12ymAUOQME/TvHpTSSY6HI/AAAAAAAAA2k/8wxd7XAnn0k/s220/377473_2429309087037_1080886264_2515306_2126477044_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_B7bhTsH6ATc/TCSNmCy_0zI/AAAAAAAAAAw/wGSb17oc_p4/s72-c/IMG_6899.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry gd:etag='W/&quot;CkAER3k-fSp7ImA9WhdbEko.&quot;'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3692772326619476838.post-919827608416252853</id><published>2010-06-25T04:02:00.000-07:00</published><updated>2011-10-10T11:18:26.755-07:00</updated><app:edited xmlns:app='http://www.w3.org/2007/app'>2011-10-10T11:18:26.755-07:00</app:edited><title>Verhaaltje</title><content type='html'>&lt;div dir="ltr" style="text-align: left;" trbidi="on"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: x-large;"&gt;Sebuah Pertemuan Saat Gerimis Abu&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Langit semakin kelabu. Kepalaku bersandar pada kaca bis yang dipenuhi bulir-bulir air hujan. Aku sedang menempuh perjalanan menuju sebuah desa terpencil, tempat tinggal seorang dukun aborsi yang sangat tersohor.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Keputusanku sudah bulat. Perutku mulai terlihat besar. Kehamilanku sudah memasuki usia dua bulan. Sebenarnya, kehamilan ini tidak pernah aku inginkan. Aku melakukannya dengan pacarku. Jelas kami mengakui, melakukan itu atas dasar suka sama suka. Tetapi setelah semua kenistaan itu terjadi, dia tidak bisa kuhubungi. Berminggu-minggu dia tidak pernah mengabariku lagi. Dia seolah-olah menghilang ditelan bumi. Semua janjinya untuk mempertangungjawabkan apa yang telah kami perbuat, hanyalah sebuah bayangan tak bertuan. Perlahan semua harapan dan cinta yang kuberikan kepadanya berubah menjadi keputusasaan dan kebencian yang keruh. Tidak ada lagi hasrat di diriku. Aku sangat membencinya dan akan mengubur semua cinta dan kenangan tentangnya, termasuk jabang bayi di rahimku ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gerimis menemani perjalananku. Langit abu-abu terbingkai oleh kaca jendela bis. Bis antarkota yang kutumpangi berhenti di sebuah terminal. Aku memperhatikan para penumpang yang telah mengantri di depan pintu bis. Satu per satu mereka masuk dan menempati kursi yang kosong. Kursi di sampingku masih kosong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tak lama seorang ibu separuh baya duduk di sampingku. Dipelukannya tertidur seorang balita yang usianya mungkin masih sekitar dua tahun. Gadis kecil itu tidur dengan sangat pulas. Tangannya yang mungil mendekap boneka teddy bear ke dadanya. Pipinya merona merah akibat udara dingin. Ibunya terlihat kesulitan mengangkat tas bawaannya ke dalam kabin bis. Aku bangun dan membantu ibu itu. Kumasukkan tasnya ke dalam bagasi dan mempersilakannya duduk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Terima kasih, De,” katanya tersenyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sama-sama, Bu,” balasku dengan senyum.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibu itu duduk. Kini kursi penumpang yang kutempati menjadi lebih sempit dari sebelumnya karena antara aku dan ibu itu terdapat tas bayi miliknya. Namun bagiku itu tidak masalah. Toh sebentar lagi aku akan turun di tempat tujuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf ya, De, kalau jadi sempit,” kata ibu itu tiba-tiba.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, nggak kok, Bu. Sama sekali nggak sempit,” balasku dengan penuh keramahan. Batinku tersentak, bagaimana dia tahu kalau aku sebenarnya merasa sedikit lebih sempit dari sebelumnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Turunnya di mana, De?” tanyanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ehm, sebentar lagi, Bu. Tinggal dua terminal lagi dari sini. Kalau ibu turun di mana?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya mau ke Solo. Nganterin si kecil ketemu kakeknya.” Ibu itu menunjuk gadis kecil itu dengan dagunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku memperhatikan detail wajah ibu itu. Meskipun sudah banyak kerutan di wajahnya, parasnya masih nampak lembut bagiku. Senyumnya ikhlas dan suaranya sangat lembut. Rambutnya sudah sedikit beruban. Dalam hati aku mencoba mereka-reka usia ibu itu. Mungkin sekitar tiga puluh lima sampai empat puluh tahun. Dengan usia segitu, tidak mungkin bocah yang sekarang mendekap di pelukannya adalah anaknya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pasti cucunya, kan tadi dia bilang mau mengantar si kecil ke kakeknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anak itu kemudian menggeliat kecil, namun masih terlelap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dingin ya, nak?” ucap ibu itu kepada “cucunya” dan merapatkan jaket yang melekat di tubuh si mungil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Cucu ibu umurnya berapa?” tanyanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ibu itu tertawa kecil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ini anak saya, De. Umurnya udah mau dua tahun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, maaf, Bu. Saya pikir cucu ibu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Nggak apa-apa kok, De. Banyak orang yang menyangka dia adalah cucu saya. Usia saya sudah kepala empat tapi baru dikaruniai anak dua tahun yang lalu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Maaf kalau saya sudah bikin ibu tersinggung.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh, tidak apa-apa, De. Saya senang bisa berbagi cerita dengan Ade sepanjang perjalanan ini. Daripada melamun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hehe…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya menikah dengan suami saya waktu umur saya dua puluh delapan tahun. Tadinya saya bekerja di perusahaan ternama dan sangat menikmati pekerjaan saya. Tapi karena saya dan suami mau cepat-cepat punya keturunan, saya berhenti dari pekerjaan saya. Setelah kami menunggu-nunggu, di rahim saya belum ada juga tanda-tanda, De. Sedih sekali. Saya pikir mungkin memang belum waktunya. Sampai saya ikut banyak terapi, tapi belum berhasil juga. Sampai akhirnya waktu tidak terasa sudah berlalu dua belas tahun. Tadinya saya pikir mungkin memang ada kelainan di rahim saya yang tidak memungkinkan adanya pertumbuhan janin.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa begitu, Bu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Karena dulu saya pernah operasi pengangkatan kista rahim.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh. Ibu kan sangat ingin sekali punya anak. Kenapa tidak coba adopsi anak saja, Bu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang saya inginkan adalah anak keturunan saya, penerus saya, pewaris saya. Mungkin saya terlalu idealis, tetapi menurut saya anak-anak di panti asuhan itu bukan tanggung jawab saya. Memang terdengar egois. Jika mereka dibuang oleh orang tua yang tidak menginginkan mereka, itu adalah tanggung jawab orang itu. Bagaimana kalau kejadiannya saya sudah terlanjur sayang dengan anak adopsi saya dan tiba-tiba suatu hari datang ibunya memohon-mohon pada saya, meminta kembali anak yang pernah disia-siakan kemudian bilang bahwa dia sangat menyesali perbuatannya. Seperti yang sering kita lihat di reality show. Itu akan sangat lebih menyakitkan, De.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar perkataan ibu itu, pandanganku bergidik sesaat ke luar jendela. Aku tidak tahu apakah topik pembicaraan ini tepat atau tidak. Aku kurang menyukai arah pembicaraan ini. Semua cerita dan perkataannya membuat jantungku berdegup semakin kencang. Bahkan aku takut dia bisa mendengar detaknya di tengah deru mesin di bawah kami. Kemudian aku sadar bahwa aku sedang diombang-ambing kegalauan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu terminal sudah terlewati. Aku tinggal menunggu satu terminal lagi dan perjalananku dengan bis itu akan berakhir. Kebencian dan rasa maluku juga akan berakhir di sana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ade, mau liburan?” tanya ibu itu melanjutkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Deg!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jantungku seakan terpaku oleh pertanyaannya. Hidungku pun tidak bisa merasakan tarikan napas. Tenggorokanku seolah menjadi gersang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ehm, saya mau… tidak… bukan liburan, hanya mengunjungi teman lama.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Oh… Masih kuliah atau sudah kerja?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah kerja, Bu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sudah menikah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ehm, belum. Hehehe.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berarti punya pacar dong? Masa gadis secantik Ade belum punya pacar?” ibu itu bertanya dengan nada menggoda. Pertanyaannya sangat menggangguku. Namun aku tidak melihat maksud tidak baik di matanya. Ini hanyalah sekadar obrolan kacangan untuk menemani perjalananku dan dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Haha, Ibu bisa aja. Saya udah nggak ada pacar lagi kok, Bu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hehehe. Saya doakan Ade cepat dapat pacar yang baik, yang bertanggung jawab dan pengertian. Ketika sudah nikah nanti, cepat punya anak. Hehehe. Itu kan harapan semua perempuan untuk menjadi wanita seutuhnya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perasaanku semakin tak bisa kupilah. Di sebagian diriku, aku bisa merasakan kemarahan karena singgungan ibu itu. Tapi di sebagian diriku yang lain, aku merasakan kakalutan menyelimuti. Hatiku teriris kemirisan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia tidak tahu. Tidak ada yang tahu. Bahkan orang tuaku pun tidak tahu. Memang aku belum menikah, tapi aku sedang mengandung. Aku hamil dan jabang bayi yang ada di rahimku ini adalah anak dari laki-laki bajingan pengecut dan brengsek! Laki-laki yang hanya ingin menikmati tubuhku sesaat dan menjadikan aku sebagai objek seksual semata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keadaan sudah kembali tenang. Entah pikiran apa yang memengaruhiku, aku memberanikan diri menanyakan hal yang selama ini kusebut keputusan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bu, boleh saya tanya sesuatu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, tentu saja boleh selama saya bisa jawab.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bagaimana kalau seandainya ibu… atau saudara… atau teman ibu…ehm… hamil di luar nikah? Sedangkan kalian atau mereka tidak menginginkan anak itu, karena takut menanggung malu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ehm, susah juga ya… kalau saya sih, sebisa mungkin menghindari hamil di luar nikah, tidak melakukan hubungan sebelum saatnya. Tapi toh kalau pun itu tidak terhindari juga, ya saya akan tetap mempertahankan anak itu, meski tanpa ayah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku diam, masih berharap ada kalimat lain yang diucapkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yang jelas, saya tidak akan aborsi. Itu perbuatan yang terkutuk, De. Bayangkan jika Ade melihat ke posisi orang-orang yang sangat menginginkan anak tapi tidak bisa. Ya… yang seperti saya ini. Saya harus menunggu dua belas tahun untuk punya anak, lho! Di luar sana, saya yakin ada banyak perempuan seperti saya. Makanya, sayang sekali kalau harus membuang-buang karunia Tuhan padahal untuk membuat anak lagi belum tentu bisa langsung jadi. Saya sendiri heran… kenapa ada saja orang yang melakukan aborsi padahal ada banyak pasangan yang susah punya keturunan. Kalau mereka malu, ya itu toh akibat yang harus mereka pertanggungjawabkan dari perbuatan mereka. Bukan dengan cara menukar nyawa bayi yang berharap dilahirkan ke dunia ini dengan kenistaan seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kenapa Ade tanya begitu?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ehm, nggak, Bu. Ada teman saya yang punya masalah seperti itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bohong Besar! Yang mengalami masalah itu bukan teman, tapi aku. Benar. Seharusnya aku berpikir, banyak orang yang tidak bisa punya anak, tapi sangat menginginkan anak. Bahkan mereka rela melakukan apa saja untuk mendaparkan keturunan. Sedangkan aku malah akan pergi ke dukun beranak dan menghancurkan janinku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Bisa minta tolong sebentar? Tolong pangku anak saya sebentar. Saya mau ambil botol susunya di tas kabin.” Ibu itu menyerahkan anaknya dan tersandar di pangkuanku. Tanganku mengambil posisi yang nyaman untuk anak itu. Satu tanganku merangkul lehernya, dan satu tangan yang lain menepuk-nepuk pahanya yang gempal dengan lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hatiku membatin. Beginikah rasanya menimang seorang anak? Entah bagaimana, tapi aku merasakan kehangatan saat sedang memangku anak ini… dia seperti memberikan kedamaian. Bunga senyumnya menghiasi wajah mungilnya saat tidur. Sangat damai dan hangat…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada yang salah denganku. Aku tidak pernah menyadari bahwa aku terlalu egois. Aku telah dibutakan oleh kebencian akibat cinta. Aku tidak pernah mau mempertanggungjawabkan kesalahanku dan selalu lari dari masalahku. Aku putus asa dan tenggelam di dasarnya. Aku hina dan akan lebih hina jika aku tidak mengubah keputusanku. Aku terlalu angkuh dan yakin bahwa aku bisa menyelesaikan masalahku sendiri. Ternyata aku salah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bis sudah sampai di terminal yang aku tunggu. Aku turun dan menjejakkan kakiku di tanah yang basah. Aroma tanah basah menjelajahi relung kosong di paru-paruku. Aku berdiri di samping bis, berjalan menyusuri jendela bis yang panjang, menuju tempat aku duduk tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sana aku melihat bayangan diriku tertinggal. Anak kecil itu sudah bangun dan melambaikan tangannya kepadaku. Ibunya juga memberikan senyum yang penuh dengan keramahan. Mesin diesel menderu. Bis melanjutkan kembali perjalanannya. Kami terus melambaikan tangan. Udara dingin menyadarkanku, setetes air mata membeku di pipiku. “Terima kasih!” teriakku. Bis itu semakin jauh, ibu dan anaknya juga semakin menghilang dari pandanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berbalik, mengamati terminal yang sepi karena gerimis abu. Kemudian aku melangkahkan kakiku mantap ke salah satu deretan bis yang harus kunaiki berikutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ke Jakarta, Bang?” tanyaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Iya, Neng! Yok, Jakarta, Jakarta! Terminal Kampung Rambutan, Pinang Ranti, Pulo gadung! Jakarta!” seru kondektur bis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku duduk dekat jendela. Gerimis abu terlihat cerah bagiku. Lagi-lagi air mata turun ke pipiku. Aku menekuk leherku dan tersenyum. Aku mengelus-elus perutku seraya berkata, “Maaf ya, Nak. Hampir saja Bunda kehilangan kamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-Depok 2009-&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3692772326619476838-919827608416252853?l=hypolitha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hypolitha.blogspot.com/feeds/919827608416252853/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hypolitha.blogspot.com/2010/06/sebuah-pertemuan-saat-gerimis-abu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3692772326619476838/posts/default/919827608416252853?v=2'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3692772326619476838/posts/default/919827608416252853?v=2'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hypolitha.blogspot.com/2010/06/sebuah-pertemuan-saat-gerimis-abu.html' title='Verhaaltje'/><author><name>Hipolita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03888437265812231685</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-W12ymAUOQME/TvHpTSSY6HI/AAAAAAAAA2k/8wxd7XAnn0k/s220/377473_2429309087037_1080886264_2515306_2126477044_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>