<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/rss2full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" xmlns:creativeCommons="http://backend.userland.com/creativeCommonsRssModule" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" version="2.0">

<channel>
	<title>HOMESCHOOLING-INDONESIA.COM</title>
	
	<link>http://homeschooling-indonesia.com</link>
	<description>Untuk Peminat Homeschooling</description>
	<lastBuildDate>Sun, 16 May 2010 04:27:20 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="self" type="application/rss+xml" href="http://feeds.feedburner.com/homeschooling-indonesia" /><feedburner:info uri="homeschooling-indonesia" /><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><creativeCommons:license>http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/3.0/</creativeCommons:license><image><link>http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/3.0/</link><url>http://creativecommons.org/images/public/somerights20.gif</url><title>Some Rights Reserved</title></image><xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" /><feedburner:emailServiceId>homeschooling-indonesia</feedburner:emailServiceId><feedburner:feedburnerHostname>http://feedburner.google.com</feedburner:feedburnerHostname><item>
		<title>Generalisasi tentang Praktisi Homeschooling</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/homeschooling-indonesia/~3/Zzf8C-uagz0/</link>
		<comments>http://homeschooling-indonesia.com/generalisasi-tentang-praktisi-homeschooling/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 May 2010 22:53:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andini Rizky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosialisasi Homeschooling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://homeschooling-indonesia.com/?p=238</guid>
		<description><![CDATA[Drawing by tabrandt &#8220;Semua generalisasi itu salah, termasuk yang ini.&#8221; Mark Twain. Baru-baru ini aku menemukan sebuah buku tentang homeschooling di toko buku yang tidak akan aku sebutkan judulnya karena aku rasa isinya memberikan gambaran yang keliru tentang dampak sosialisasi homeschooling. Tidak ada bukti ilmiah yang menyokong pemaparan penulisnya, hanya pengalaman seorang anak remaja yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<p><a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/hsxsV-Tdk0a8cSZ0V0e9ejWSRmo/0/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/hsxsV-Tdk0a8cSZ0V0e9ejWSRmo/0/di" border="0" ismap="true"></img></a><br/>
<a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/hsxsV-Tdk0a8cSZ0V0e9ejWSRmo/1/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/hsxsV-Tdk0a8cSZ0V0e9ejWSRmo/1/di" border="0" ismap="true"></img></a></p><div class="wp-caption alignnone" style="width: 250px;"><a href="http://www.flickr.com/photos/tabrandt/4487898996/"><img title="Drawing" src="http://farm3.static.flickr.com/2802/4487898996_5cb7401017_m.jpg" alt="Drawing" width="240" height="180" /></a></p>
<p class="wp-caption-text"><a href="http://www.flickr.com/photos/tabrandt/4487898996/">Drawing</a> by <a href="http://www.flickr.com/photos/tabrandt/">tabrandt</a></p>
</div>
<blockquote><p>&#8220;Semua generalisasi itu salah, termasuk yang ini.&#8221; Mark Twain.</p></blockquote>
<p>Baru-baru ini aku menemukan sebuah buku tentang <em>homeschooling </em>di toko buku yang tidak akan aku sebutkan judulnya karena aku rasa isinya memberikan gambaran yang keliru tentang dampak sosialisasi <em>homeschooling</em>. Tidak ada bukti ilmiah yang menyokong pemaparan penulisnya, hanya pengalaman seorang anak remaja yang tidak menyukai pilihan metode pendidikan yang diambil orang tuanya. OK, jadi satu orang tidak suka <em>homeschooling </em>lalu semua orang kena getahnya.</p>
<p>Aku teringat tulisan blog <em><a title="Just Enough Blog" href="http://www.justenoughblog.com/?p=47" target="_blank">Just Enough Blog</a></em> tentang pendapat di blog seorang remaja yang juga tidak menyukai <em>homeschooling</em>.</p>
<p>Anak itu menulis:</p>
<blockquote><p>Secara pribadi, aku merasa <strong><em>homescholing </em></strong>tidak efektif. Dari pengalamanku bertemu anak-anak dan remaja yang menerima pendidikan mereka dengan <strong><em>homeschooling</em></strong>, aku lihat mereka memiliki beberapa masalah. Pertama, aku perhatikan remaja-remaja <strong><em>homeschooling </em></strong>yang bekerja bersamaku pada beberapa pekerjaan berbeda, kurang punya kecakapan sosial. Mereka kesulitan bergaul dengan sesama pegawai, kesulitan mengikuti perintah dari manajer, kesulitan menerima kritik membangun, dan kesulitan menghadapi pelanggan. Aku perhatikan juga melalui pengalamanku bahwa anak-anak <strong><em>homeschooling </em></strong>yang lebih kecil juga memiliki hambatan dalam bersosialisasi. Pengalamanku ini bersumber hanya dari pengalamanku saja dan aku belum meneliti aspek mana pun dari <strong><em>homeschooling</em></strong>. Tetapi aku pernah melihat anak-anak <strong><em>homeschooling </em></strong>yang diizinkan melakukan segalanya semau-maunya oleh orang tua mereka dan anak-anak <strong><em>homeschooling </em></strong>yang tidak mendapatkan pendidikan yang baik.</p></blockquote>
<p>Tammy Takahashi dari <em>Just Enough Blog</em> bermaksud memperlihatkan, tidak ada logika sama sekali yang melatari generalisasi dalam pendapat remaja tersebut, dengan mengganti setiap kata &#8216;<em>homeschooling</em>&#8216; dengan &#8216;<em>public schoo</em>l&#8217; atau &#8216;sekolah negeri&#8217;, di sini aku ganti dengan &#8216;sekolah&#8217; saja.</p>
<blockquote><p>Secara pribadi, aku merasa <strong>sekolah </strong>tidak efektif. Dari  pengalamanku bertemu anak-anak dan remaja yang menerima pendidikan  mereka dari <strong>sekolah</strong>, aku lihat mereka memiliki beberapa  masalah. Pertama, aku perhatikan remaja-remaja <strong>bersekolah </strong>yang  bekerja bersamaku pada beberapa pekerjaan berbeda, kurang punya  kecakapan sosial. Mereka kesulitan bergaul dengan sesama pegawai,  kesulitan mengikuti perintah dari manajer, kesulitan menerima kritik  membangun, dan kesulitan menghadapi pelanggan. Aku perhatikan juga  melalui pengalamanku bahwa anak-anak <strong><em><em>sekolah</em></em><em> </em></strong>yang lebih  kecil juga memiliki hambatan dalam bersosialisasi. Pengalamanku ini  bersumber hanya dari pengalamanku saja dan aku belum meneliti aspek mana  pun dari <strong>sekolah</strong>. Tetapi aku pernah melihat anak-anak <strong>sekolah </strong>yang diizinkan melakukan segalanya semau-maunya oleh orang tua  mereka dan anak-anak <strong>sekolah </strong>yang tidak mendapatkan pendidikan  yang baik.</p></blockquote>
<p>Anak itu menulis:</p>
<blockquote><p><span style="font-size: x-small;">Sosialisasi adalah &#8216;kurikulum tersembunyi&#8217; di <strong>sekolah</strong>. Kurikulum tersembunyi artinya hal-hal yang diajarkan <strong>di sekolah </strong>tanpa diberikan sebagai pelajaran formal, seperti kecakapan sosial, kerja sama, menghargai orang lain, mengikuti perintah, dan tanggung jawab. Aku rasa kecakapan sosial paling baik dipelajari di <strong>sekolah </strong>dengan tujuan mempersiapkan anak-anak untuk dunia nyata. Ini tidak bisa diajarkan di rumah, yang anak-anaknya bersosialisasi dengan satu atau dua orang dewasa (<strong>orang tua</strong>) dan <strong>sesama saudara kandung saja.</strong></span></p></blockquote>
<p><span style="font-size: x-small;">Tammy Takahashi membuat penyesuaian seperti di bawah ini:</span></p>
<blockquote><p><span style="font-size: x-small;">Sosialisasi adalah &#8216;kurikulum tersembunyi&#8217; dalam <strong><em>homeschooling</em></strong>. </span>Kurikulum  tersembunyi artinya hal-hal yang diajarkan <strong>dalam keluarga </strong>tanpa diberikan  sebagai pelajaran formal, seperti kecakapan sosial, kerja sama,  menghargai orang lain, mengikuti perintah, dan tanggung jawab. Aku rasa  kecakapan sosial paling baik dipelajari di <strong>dunia nyata</strong> dengan tujuan  mempersiapkan anak-anak untuk dunia nyata. Ini tidak bisa diajarkan di <strong>sekolah</strong>, yang siswa-siswinya bersosialisasi dengan satu atau dua orang  dewasa (<strong>guru</strong>) dan <strong>sesama teman sekelas saja</strong>.</p></blockquote>
<p>Tammy mengatakan versinya terasa lebih masuk akal, karena tidak ada tempat lebih baik untuk belajar bersosialisasi di dunia nyata selain di dunia nyata, dan di situlah kelebihan <em>homeschooling</em>.</p>
<p>Setiap <em>homeschooling </em>mendapatkan nama buruk (padahal cuma generalisasi tak berlogika seperti buku yang aku sebutkan), selalu muncul suara-suara untuk melarang <em>homeschooling </em>dan memaksa untuk memasukkan anak-anak <em>homeschooling </em>ke sekolah. Sedangkan kegagalan sekolah mempersiapkan siswanya menghadapi dunia nyata tidak akan pernah diikuti perintah untuk <em>homeschooling</em>.</p>
<p>Aku tidak mempermasalahkan metode pendidikan yang dipilih masing-masing orang tua, mau sekolah atau pesantren, atau pun <em>homeschooling </em>resiko tanggung sendiri <em>toh</em>. Namun aku lebih senang menganjurkan <em>homeschooling</em> karena pada saat orang tua tidak puas dengan sekolah, melakukan reformasi pendidikan di sekolah merupakan tugas mahaberat, bahkan lembaga negara Mahkamah Agung pun tidak sanggup melakukannya (ingat kasus UN).  Sedangkan melakukan reformasi pendidikan dalam <em>homeschooling </em>keluarga kita sendiri? Semudah membalik telapak tangan -termasuk urusan memperbanyak kesempatan bersosialisasi-.</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/homeschooling-indonesia/~4/Zzf8C-uagz0" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://homeschooling-indonesia.com/generalisasi-tentang-praktisi-homeschooling/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://homeschooling-indonesia.com/generalisasi-tentang-praktisi-homeschooling/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>35. Dicuekin</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/homeschooling-indonesia/~3/0HeeG-rYwQE/</link>
		<comments>http://homeschooling-indonesia.com/35-dicuekin/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Apr 2010 03:29:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andini Rizky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[bab 3]]></category>
		<category><![CDATA[homeschooling]]></category>
		<category><![CDATA[Sosialisasi Homeschooling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://homeschooling-indonesia.com/?p=230</guid>
		<description><![CDATA[Selang satu rumah kosong dari rumah tempat kami tinggal sementara ini, sebuah keluarga dengan lima anak laki-laki bersaudara, kira-kira usia SD, baru saja pindah. Sore pertama, anak-anak laki-laki itu bermain badminton di jalan depan rumah yang memang sepi dari lalu lalang mobil. Kanae, yang sedang main ayunan di depan rumah kami melihat mereka. Serta merta [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<p><a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ScokKOo5EeLuzStCcDHBnLFZgI8/0/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ScokKOo5EeLuzStCcDHBnLFZgI8/0/di" border="0" ismap="true"></img></a><br/>
<a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ScokKOo5EeLuzStCcDHBnLFZgI8/1/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/ScokKOo5EeLuzStCcDHBnLFZgI8/1/di" border="0" ismap="true"></img></a></p><p>Selang satu rumah kosong dari rumah tempat kami tinggal sementara ini, sebuah keluarga dengan lima anak laki-laki bersaudara, kira-kira usia SD, baru saja pindah. Sore pertama, anak-anak laki-laki itu bermain badminton di jalan depan rumah yang memang sepi dari lalu lalang mobil. Kanae, yang sedang main ayunan di depan rumah kami melihat mereka. Serta merta ia bergegas masuk rumah, mencari raket badminton milik Papa, memakai topi, dan berlari keluar.</p>
<p>&#8220;Mau ngapain?&#8221; tanya <em>Obaachan</em>, ibuku.</p>
<p>&#8220;Mau main badminton,&#8221; jawab Kanae semangat. &#8220;Sama teman-teman di situ.&#8221;</p>
<p><em>Obaachan </em>tidak mengikuti Kanae keluar, cuma mengawasi lewat jendela.</p>
<p>Aku sedang di depan komputer dan tidak mengindahkan apa yang sedang terjadi.</p>
<p>Menurut laporan siaran langsung dari ibuku itu, Kanae dengan percaya dirinya mendekati kelima anak laki-laki tadi. Kata Kanae, <em>main badminton yuk, main badminton yuk. Namanya siapa? Aku Kanae.</em></p>
<p>Anak-anak itu cuma saling berpandangan, tetapi tidak menjawab ajakan Kanae. Mereka tetap main sendiri, tidak perduli dengan tawaran persahabatan anak perempuan kecil empat tahunku. Ibuku dengan gemasnya mengatakan, <em>mana mau anak laki-laki main dengan anak perempuan, mana mau anak-anak besar main dengan anak kecil. Kasihan Kanae, kasihan Kanae.</em></p>
<p>Tidak berapa lama Kanae kemudian kembali ke rumah. Raket badminton dan topinya diletakkan di sudut kamar.</p>
<p>&#8220;Nggak jadi main ya?&#8221; tanyaku sambil tetap mengetik di komputer.</p>
<p>&#8220;Teman nggak mau main dengan Kanae,&#8221; jawabnya dengan ekspresi biasa saja.</p>
<p>Besoknya, anak-anak laki-laki itu bermain badminton lagi di depan rumah mereka. Tahukah apa yang dilakukan Kanae? Dia ambil raket dan topi lagi, menghampiri mereka lagi, mengajak main lagi, dan&#8230; dicuekin lagi. Ha ha.</p>
<p><em>Kanae&#8230; Kanae&#8230; kok kamu terlalu supel sih?</em> keluh neneknya yang tidak tega cucunya dicuekin.</p>
<p><em>Optimistis dan berpikiran positif</em>, komentarku.</p>
<p>Keesokan harinya dan hari-hari selanjutnya, kami tidak pernah melihat lagi anak-anak laki-laki itu bermain di depan rumah mereka. Sekolah, barangkali?</p>
<p>Dan kata mereka, anak <em>homeschooling </em>punya masalah sosialisasi. Jadi <em>pengen ketawa.</em></p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/homeschooling-indonesia/~4/0HeeG-rYwQE" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://homeschooling-indonesia.com/35-dicuekin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://homeschooling-indonesia.com/35-dicuekin/</feedburner:origLink></item>
		<item>
		<title>34. Sosialisasi Homeschooling (2)</title>
		<link>http://feedproxy.google.com/~r/homeschooling-indonesia/~3/_1Lh6IbK8PM/</link>
		<comments>http://homeschooling-indonesia.com/34-sosialisasi-homeschooling-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Apr 2010 23:48:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Andini Rizky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosialisasi Homeschooling]]></category>
		<category><![CDATA[bab 3]]></category>
		<category><![CDATA[homeschooling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://homeschooling-indonesia.com/?p=228</guid>
		<description><![CDATA[Aku yakin tidak ada orang tua homeschool yang tidak ditanyai masalah sosialisasi. Capek ya. Tetapi kebetulan siang ini aku sedang tidak capek dan ingin curhatan lagi tentang sosialisasi homechooling. Sori kalau berita ulangan. Bagiku pertimbangan sosialisasi bukanlah sisi negatif/kekurangan dari pilihan ber-homeschooling. Sosialisasi itu adalah alasan utama aku memilih homeschooling. Berikut beberapa alasan mengapa aku pikir homeschooling lebih baik untuk Kanae [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[
<p><a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/G4Cudgy_rGrgFb9d1JGSTeNv2iU/0/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/G4Cudgy_rGrgFb9d1JGSTeNv2iU/0/di" border="0" ismap="true"></img></a><br/>
<a href="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/G4Cudgy_rGrgFb9d1JGSTeNv2iU/1/da"><img src="http://feedads.g.doubleclick.net/~a/G4Cudgy_rGrgFb9d1JGSTeNv2iU/1/di" border="0" ismap="true"></img></a></p><p>Aku yakin tidak ada orang tua <em>homeschool </em>yang tidak ditanyai masalah sosialisasi. Capek ya. Tetapi kebetulan siang ini aku sedang tidak capek dan ingin curhatan lagi tentang sosialisasi <em>homechooling</em>. Sori kalau berita ulangan.</p>
<p>Bagiku pertimbangan sosialisasi bukanlah sisi negatif/kekurangan dari pilihan ber-<em>homeschooling</em>. Sosialisasi itu adalah alasan utama aku memilih <em>homeschooling</em>.</p>
<p>Berikut beberapa alasan mengapa aku pikir <em>homeschooling </em>lebih baik untuk Kanae (5) dari segi sosialisasi daripada sekolah formal.</p>
<p>1.          Baik aku sebagai ibunya maupun Kanae punya kendali lebih besar dalam memilih teman bergaul dia. Dia masih lima tahun, jadi yang kami utamakan saat ini, pokoknya tidak perlu bertemu setiap hari dengan anak-anak yang memukul. Nanti kalau dia sudah besar, mungkin filternya menjadi: tidak perlu teman yang nge-<em>drug</em>, yang berpacaran, maupun yang aktif secara seksual di usia remaja.</p>
<p>2.          Kanae saat ini tidak tergantung pada persetujuan teman-teman hanya untuk berkawan. Dia tidak merasa wajib suka <em>Disney Princess</em> untuk main dengan sesama anak perempuan, tidak merasa wajib tertarik main PS2 hanya karena anak laki-laki tuan rumah cuma mau main itu saja, tetapi juga tidak memaksakan kehendak pada anak-anak lain. Bagi Kanae dia suka semua orang yang mau bermain bersamanya, dia tidak harus menjadi sama, bahkan tidak harus punya kesamaan dalam berkawan. Kalau dia remaja nanti kepercayaan diri dan sikap dia yang begini akan bermanfaat. Cuma kalau dia sekolah, dengan lingkungan teman-teman yang usianya sama semua, aku nggak yakin bisa dia pertahankan. Kalau sekolah sangat mungkin dia jadi seperti aku dulu yang nggak berani mengaku bahwa aku nggak suka NKOTB. Dan menurut aku kakak kelas yang namanya Bimo itu sama sekali nggak ganteng.</p>
<p>3.          Kanae menghabiskan waktu berjam-jam untuk bermain bebas dengan sesama anak-anak di setiap akhir pekan. Menurut aku itu sudah cukup menggantikan waktu sosialisasi di jam istirahat 2 kali 15 menit setiap hari kalau dia sekolah. Sering kali aku terkejut di rumah kami sudah berkumpul anak-anak tetangga yang tidak aku kenal. Kanae yang mengundang mereka bermain di teras. Anak-anak itu sukarela <em>lho </em>berada di rumah kami, dan pergaulan sukarela dan multiusia begitu kan lebih baik daripada bergaul karena dikurung sama-sama di sekolah. Terlebih lagi, apakah sekolah bisa mengajarkan keterampilan sosial seperti yang sudah dikuasai Kanae tanpa bantuan siapa pun itu?</p>
<p>4.          Dia tidak punya masalah dengan kenyataan bahwa dia sekolahrumah, dan semua temannya anak sekolahan. Kalau ditanya sekolah di mana, dia akan menjawab,&#8221;Aku sekolah rumah&#8221;. Dia tidak punya masalah menjadi berbeda, dan berteman dengan anak-anak yang berbeda dengan dia.</p>
<p>5.           Kemampuan bicara Kanae melampaui anak-anak Indonesia seusianya meskipun dia baru setahun terakhir belajar bahasa Indonesia. Dia terbiasa menggunakan imbuhan me-, ber-, ter-, dan lain-lain. Dia menggunakan kata-kata seperti bermigrasi, mengoperasikan, hari keberuntungan, dan sebagainya yang aku sendiri tidak selalu ngeh dia pungut dari mana. Dia belajar dari membaca buku dan majalah, menonton film kartun <em>dubbing </em>ke bahasa Indonesia yang bermutu baik, dan dalam keseharian tidak merasa perlu menurunkan level berbahasanya ke level sesama anak lima tahun.</p>
<p>6.          Apa gunanya sekolah kalau dia malah kehilangan kepercayaan diri dan menjadi takut bergaul pada orang lain? Sekolah pernah membuat dia punya masalah sosialisasi seperti itu dan aku khawatir sekali dia akan kembali seperti itu kalau dipaksa masuk TK.</p>
<p>7.          Kanae lebih supel, ceria, kritis, dan teman bicara yang menyenangkan saat ini. Berkat <em>homeschooling</em>. Dia sayang sekali pada adik-adiknya. Nggak ada tuh cemburu-cemburuan. Berkat <em>homeschooling</em>. Dia memandikan, memakaikan pakaian dan sepatu untuk adiknya, membantu aku mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Berkat <em>homeschooling</em>.</p>
<p>Kalau dia sekolah, dan dia pernah sekolah, setiap hari aku kelimpungan mengobati luka-luka emosionalnya yang dia dapat dari interaksi di sekolah, tidak ada waktu lagi tersisa untuk belajar ilmu yang lain, dan tidak ada waktu untuk mengembangkan empatinya, kasih sayang pada orang lain, tidak ada waktu merenung tentang banyak hal termasuk tentang Allah. Dia anak yang lebih baik, alhamdulillah, berkat <em>homeschooling</em>.</p>
<p>Dari segi sosialisasi, <em>homeschooling</em> pilihan terbaik yang tersedia untuk anakku.</p>
<img src="http://feeds.feedburner.com/~r/homeschooling-indonesia/~4/_1Lh6IbK8PM" height="1" width="1"/>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://homeschooling-indonesia.com/34-sosialisasi-homeschooling-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		<feedburner:origLink>http://homeschooling-indonesia.com/34-sosialisasi-homeschooling-2/</feedburner:origLink></item>
	</channel>
</rss>
