<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1000589502291831411</id><updated>2025-10-26T11:54:20.946-07:00</updated><category term="Ilmu-Politik"/><category term="teori"/><category term="Filsafat-POlitik"/><category term="Analisis"/><category term="Politica"/><title type='text'>Homo Politica</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://homopolitica.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1000589502291831411/posts/default?alt=atom&amp;redirect=false'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://homopolitica.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Gemapol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16258437395228572060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>21</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1000589502291831411.post-1391347533804462664</id><published>2014-06-05T10:07:00.000-07:00</published><updated>2014-06-05T10:09:20.171-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Analisis"/><title type='text'>Realis, Marxis, Liberalis : Tiga Teori Ekonomi Politik Internasional Matthew Watson</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Matthew Watson dalam John Ravenhill (2008) membagi teori EPI dibagi menjadi tiga bagian (trikotomi) yaitu Liberalisme, Realisme, dan Marxisme. Watson kemudian berpendapat bahwa telah terjadi kesalahan dalam pemaknaan Realisme dan Marxisme dalam EPI. Banyak orang yang menganggap bahwa Realis dan Marxis mempunyai beberapa nama yang mempunyai kesamaan makna. Namun jika ditelusuri sejarahnya akan terlihat perbedaan-perbedaan dari beberapa nama tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Pertama adalah pendekatan realis. Pendekatan realis juga sering disebut pendekatan statis, pendekatan merkantilis, dan pendekatan nasionalis (Watson, 2008:32). Pendekatan realis sekilas sama dengan realis pada Hubungan Internasional namun hal yang membedakan adalah karena EPI sendiri berbicara mengenai hubungan antara ekonomi dan politik maka realis EPI lebih terkonsentrasi pada low politics daripada hard politics&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;https://www.blogger.com/null&quot; name=&quot;more&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;EPI realis menurut R.B.J.Walker (1993) dalam Watson (2008:33) memiliki dua tokoh klasik yang mendasari pemikiran era modern yaitu Hans Morgenthau dan E.H.Carr. Morgenthau sebagai realis struktural berpikir bahwa negara akan lebih peduli pada kepentingannya sendiri ketika ia menghitung kecenderungan pendiriannya pada sebuah negosiasi ekonomi internasional. Sedangkan E.H.Carr sebagai realis historisis lebih menekankan pada perilaku negara ketika mendapat tekanan dari negara lain. Ia menganggap bahwa negara akan menghindari ancaman dari negara lain karena hal tersebut dapat mengganggu ekonomi domestik. Agar ancaman negara lain dapat dihindari maka perlu adanya suatu lembaga yang mengatur norma ekonomi negara. Dengan disepakatinya norma tersebut oleh semua negara maka kemanan ekonomi menjadi lebih terjamin.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Kemudian sesuai pembahsan awal bahwa realis mempunyai nama lain yang sering disamakan. Yang pertama adalah pendekatan statis. Dunia EPI statis dideskripsikan adalah, di hati, sebuah dunia negara, dan setiap aspek lain dari dunia tersebut hanyalah cabang terhadap eksistensi, aktivitas, dan keputusan dari negara (Watson, 2008:34). Hal ini bermakna bahwa negara mempunyai peranan penting dalam ekonomi negara. Aktor utama dan satu-satunya yang dominan dalam ekonomi politik adalah negara. Aktor-aktor lain seperti MNC, dan NGO, atau institusi-institusi lainnya dianggap tidak memegang peranan penting. Mereka semua dijalankan oleh negara dan tidak dapat berjalan sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Kemudian pendekatan merkantilis dan nasionaliis. Pendekatan merkantilis adalah sebuah perspektif ekonomi politik yang mempertanyakan peran negara pada kehidupan ekonomi (Watson,2008:34). Perbedaan antara realis dan merkantilis sendiri terletak di seberapa luas jangkauan studinya. Untuk realis, masalah yang paling penting adalah bagaimana negara mengatur urusan ekonominya dalam politik internasional (Watson, 2008:34). Pemikiran ini dapat disebut sebagai outward-looking. Sedangkan merkantilis dapat dipelajari lebih sebagai pendekatan inward-looking peran negara, berkonsentrasi pada bagaimana merkantilis mengorganisasikan urusan ekonomi domestik agar perkembangan sumber daya ekonomi dapat memberikan posisi tawar lebih dalam negosiasi internasional (Watson, 2008:34).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Pendekatan nasionalis kurang lebih sama dengan pendekatan merkantilis. Perbedaan utama diantara keduanya adalah waktu ketika mereka berasal (Landreth dan Colander, 1994 dalam Watson,2008:35). Jika pendekatan merkantilis muncul tahun 1500-1700an sebelum adanya pemikiran Adam Smith Wealth of Nations maka nasionalis dianggap muncul setelah adanya pemikiran tersebut (setelah tahun 1700an). Pendekatan nasionalis muncul seiring dengan berkuasanya Inggris dalam ekonomi internasional. Inggris tidak hanya eksportir utama perdagangan barang di dalam dunia pasar, mereka juga telah sukses mengekspor ideologi pasar bebas laissez faire-nya (Watson, 2008:35). Keadaan ini sesuai dengan pemikiran Adam Smith yang menentang prinsip-prinsip merkantilis bahwa negara tidak hanya berkonsentrasi pada pasar domestik tetapi juga harus menguasai pasar internasional.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Marxis&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Marxis tidak dapat dipungkiri berasal dari pemikiran Karl Marx. Marxisme menolak kemunculan kapitalisme yang dianggapnya hanya menguntungkan kaum pemilik modal. Jika dibandingkan dengan realisme sendiri, marxis mempunyai perbedaan yang kontras. Perspektif realis akan mempertanyakan bagaimana negara dapat menyusun sistem kapitalis sehingga mereka dapat mendapatkan keuntungan relatif dari negara lain. Sedangkan marxisme sendiri mempertanyakan kapitalisme itu sendiri dengan pertanyaan seperti mengapa masyarakat seharusnya diharapkan untuk menyetujui perkembangbiakan sistem kapitalis. Disini tentu saja akan terjadi perbedaan yang kontras antara realis dan marxis. Realis telah menerima kapitalis dan berfikir bagaimana mendapat keuntungan di dalam sistem tersebut sedangkan marxis masih belum bisa menerima sistem kapitalisme dan berusaha untuk menghapuskan sistem tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Premis awal marxis terhadap kapitalis adalah sistem kapitalis hanya bisa menjadi entitas dinamis ketika kebutuhan dari sistem tersebut dipriioritaskan secara paksa atas hak-hak individu untuk hidup sebagai manusia otonom (Watson, 2008:36). Ketika sistem kapitalis berjalan maka individu dalam hal ini para buruh bekerja bukan untuk mensejahterakan dirinya atau untuk mendapat penghasilan lebih yang dapat dinikmati, namun individu seolah bekerja sebagai “mesin” yang berguna untuk melancarkan sistem itu sendiri. Dalam pandangan Marxis penyatuan individual sebagai input komodifikasi ke dalam sistem kapitalis selalu berakibat pada efek ketidakmanusiaan (Watson, 2008:36).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Kemudian marxis sama seperti realis mempunyai beberapa tata nama yang sering dianggap sama maknanya. Marxis kemudian sering disamakan dengan strukturalis modern. Perbedaan diantara keduanya adalah strukturalis cenderung untuk kurang memperhatikan rekonstruksi kerangka kerja penjelasan Marx karena titik nyata keberangkatan dapat ditemukan pada usaha Lenin untuk menginternasionalisasi tema Marxis fundamental (Watson, 2008:38). Berawal dari keinginan Lenin untuk menginternasionalisasikan Marx dengan menggabungkannya dengan hasil pemikirannya, Lenin kemudian berargumen bahwa imperialisme merupakan tahap tertinggi dari kapitalisme. Orang-orang borjuis domestik di negara-negara Eropa telah meningkat menjadi internasional borjuis melalui keinginannya untuk menyerang kompromi kelas domestik (Watson, 2008:38).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Selanjutnya Watson (2008) menganggap radikal dan kritikal sebagai perluasan dari Marxisme EPI. Marxisme dan Strukturalisme keduanya merupakan radikal (merepresentasikan perlawanan terhadap sistem kapitalis) dan juga kritikal ( tidak menerima sistem tersebut sebagai suatu hal yang “given”) (Watson, 2008:38). Penggunaan radikal dan kritikal disini lebih sebagai akibat dari munculnya pemikir feminis, green, dan post-strukturalis. Mereka menganggap bahwa marxisme kurang relevan dan intelektual ketika dibawa ke era kekinian. Oleh karena itu melalui Teori Kritis yang berkembang di Frankfurt School para akademisi kemudian mencoba untuk memberikan ekplasnasi penggunaan teori Marxis yang disesuaikan dengan perkembangan zaman.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Liberalisme&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Liberalisme menurut Watson sangat identik dengan pemikiran Adam Smith dan David Ricardo. Adam Smith mengidentifikasi “invisible hand” yang memungkinkan ekonomi pasar menjadi entitas yang bekerja sendiri. Sedangkan dari David Ricardo melalui comparative advantagenyamenjelaskan bagaimana invisible hand dapat memperluas kesejahteraan ekonomi global dengan mendorong negara untuk menjual barang produksinya yang tidak dimiliki negara lain.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Adam Smith kemudian menganggap bahwa sistem ekonomi liberal yang bekerja sendiri tanpa intervensi negara merupakan hal yang terbaik untuk mencapai keuntungan ekonomi. Harga barang harus dalam keadaan murni dalam arti bahwa harga barang merupakan akumulasi dari nilai input dan biaya tambahan lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Sedangkan David Ricardo mengembangkan pemikiran Smith melalui bukunya Principles of Political Economy and Taxation. Teori comparative advantage kemudian muncul melalui karyanya On Foreign Trade dengan maksud untuk berargumen mengenai masalah perdagangan bebas. David Ricardo lebih lanjut berpendapat bahwa produksi ekonomi modern harus diorganisasikan di setiap negara dengan berdasarkan pada comparative advantage.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Sumber :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Watson, Matthew. 2008. “Theoretical Traditions in Global Political Economy”, dalam John Ravenhill, Global Political Economy, Oxford: Oxford University Press, pp. 27-66&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://homopolitica.blogspot.com/feeds/1391347533804462664/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://homopolitica.blogspot.com/2014/06/realis-marxis-liberalis-tiga-teori.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1000589502291831411/posts/default/1391347533804462664'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1000589502291831411/posts/default/1391347533804462664'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://homopolitica.blogspot.com/2014/06/realis-marxis-liberalis-tiga-teori.html' title='Realis, Marxis, Liberalis : Tiga Teori Ekonomi Politik Internasional Matthew Watson'/><author><name>Gemapol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16258437395228572060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1000589502291831411.post-3508737480952679857</id><published>2014-06-05T10:01:00.000-07:00</published><updated>2014-06-05T10:01:02.086-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ilmu-Politik"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="teori"/><title type='text'>Teori Konflik Struktural dan Kritis</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;MsoSubtitle&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;(Positivisme dan Sosial Kritis)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 31.5pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;Bab singkat ini ingin mendiskusikan analisis konflik dalam dua aliran besar ilmu-ilmu sosial, yaitu tradisi konflik struktural dan kritis. Dua tradisi ini berakar dalam tradisi positivisme dan kritis. Fakta akademisnya, analisis konflik dalam ilmu sosial memang selalu didominasi oleh positivisme dan ilmu sosial kritik. Aliran humanisme-kultural tidak begitu populer sebagai kajian konflik. Aliran humanisme kultural—historis heuermenetik seringkali dipandang hanya menelaah apa-apa saja yang dipandang sebagai realitas kultural. Sebelumnya, menjadi cukup penting melakukan pemetaan teori konflik yang lahir dari tradisi positivisme dan kritis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;A. Perkembangan Umum Teori Konflik&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; margin: 0in; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;Teori konflik yang muncul pada abad ke sembilan belas dan dua puluh dapat dimengerti sebagai respon dari lahirnya&amp;nbsp;&lt;i&gt;dual revolution&lt;/i&gt;, yaitu demokratisasi dan industrialisasi, sehingga kemunculan sosiologi konflik modern, di Amerika khususnya, merupakan pengikutan, atau akibat dari, realitas konflik dalam masyarakat Amerika (Mc Quarrie, 1995: 65). Selain itu teori sosiologi konflik adalah alternatif dari ketidakpuasaan terhadap analisis fungsionalisme struktural Talcot Parsons dan Robert K. Merton, yang menilai masyarakat dengan paham konsensus dan integralistiknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; margin: 0in; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;Perspektif konflik dapat dilacak melalui pemikiran tokoh-tokoh klasik seperti&amp;nbsp;&lt;b&gt;KARL MARX (1818-1883), EMILE DURKHEIM (1879-1912), MAX WEBER (1864-1920), SAMPAI GEORGE SIMMEL (1858-1918).&amp;nbsp;&lt;/b&gt;Keempat pemikiran ini memberi kontribusi sangat besar terhadap perkembangan analisis konflik kontemporer. Satu pemikiran besar lainnya, yaitu Ibnu Khouldoun sesungguhnya juga berkontribusi terhadap teori konflik. Teori konflik Khouldun bahkan merupakan satu analisis komprehensive mengenai horisontal dan vertikal konflik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;Marx adalah satu tokoh yang pemikirannya mewarnai sangat jelas dalam perkembangan ilmu sosial. Pemikiran Marx berangkat dari filsafat dialektika Hegel. Hanya saja ia menggantikan dialektika ideal menjadi dialektika material, yang diambil dari filsafat Fuerbach, sehingga sejarah merupakan proses perubahan terus menerus secara material. Sebagaimana dijelaskan Cambell dalam Tujuh Teori Sosial (1994), bahwa Marx menciptakan tradisi materialisme historis yang menjelaskan proses dialektika sosial masyarakat, penghancuran dan penguasaan secara bergilir kekuatan-kekuatan ekonomis, dari masyarakat komunis primitif kepada feodalisme, berlanjut ke kapitalisme, dan terakhir adalah masyarakat komunis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; margin: 0in; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;Berkaitan dengan konflik, Marx mengajukan konsepsi mendasar tentang masyarakat kelas dan perjuangannya. Marx tidak mendefinisikan kelas secara panjang lebar tetapi ia menunjukkan bahwa dalam masyarakat, pada abad ke 19 di Eropa dimana dia hidup, terdiri dari kelas&amp;nbsp;&lt;b&gt;&lt;u&gt;pemilik modal (borjuis)&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&amp;nbsp;dan&amp;nbsp;&lt;b&gt;&lt;u&gt;kelas pekerja miskin&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;u&gt;&amp;nbsp;&lt;b&gt;sebagai kelas proletar.&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;a href=&quot;https://www.blogger.com/null&quot; name=&quot;_ftnref1&quot; style=&quot;text-decoration: none;&quot;&gt;&lt;/a&gt;Kedua kelas ini berada dalam suatu struktur sosial hirarkhis, dan borjuis melakukan eksploitasi terhadap proletar dalam sistem produksi kapitalis. Eksploitasi ini akan terus berjalan selama kesadaran semu eksis,&amp;nbsp;&lt;i&gt;false consiousness&lt;/i&gt;, dalam diri proletar, yaitu berupa rasa menyerah diri, menerima keadaan dan cita-cita akhirat. Dengan ini Marx mejadi orang yang tidak tertarik pada agama karena itu candu yang mengantar manusia pada halusinasi kosong dan menipu, untuk itulah komunisme selalu diintepretasikan dengan politik anti Tuhan (atheisme).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; margin: 0in; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;Ketegangan hubungan produksi dalam sistem produksi kapitalis antara kelas borjuis dan proletar mendorong terbentuknya gerakan sosial besar, yaitu revolusi. Ketegangan hubungan produksi terjadi ketika kelas proletar telah sadar akan eksploitasi borjuis terhadap mereka. Sampai pada tahap ini Marx adalah seorang yang sangat yakin terhadap perubahan sosial radikal, tetapi lepas dari moral Marx, esensi akademiknya adalah realitas kekuasaan kelas terhadap kelas lain yang lemah, konflik antar kelas karena adanya eksploitasi itu, dan suatu perubahan sosial melalui perjuangan kelas, dialektika material, yang sarat konflik dan determinisme ekonomi. Pemikiran ini nantinya sangat berpengaruh dan berkembang sebagai aliran Marxis, neoMarxis, madzab Kritis Frankurt, dan aliran-aliran konflik lainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; margin: 0in; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;Max Weber tidak sepakat dengan konsepsi Marx tentang determinisme ekonomi, ia mengajukan konsepsi sosiologis yang bagi sebagian ilmuwan sosial dipandang lebih komprehensive. Weber menciptakan teori tindakan yang mengklasifikasi tindakan individu kedalam empat tipe.&amp;nbsp;&lt;i&gt;Zwecrational&lt;/i&gt;,&amp;nbsp;&lt;i&gt;wertrational&lt;/i&gt;, tindakan afektif, dan tindakan tradisional.&lt;i&gt;Zwectrational&lt;/i&gt;&amp;nbsp;berkaitan dengan&amp;nbsp;&lt;i&gt;means and ends&lt;/i&gt;, dimana tujuan-tujuan (&lt;i&gt;ends&lt;/i&gt;) dicapai dengan menggunakan alat atau cara (&lt;i&gt;means&lt;/i&gt;), perhitungan yang tepat, dan bersifat matematis.&amp;nbsp;&lt;i&gt;Wertrational&lt;/i&gt;&amp;nbsp;adalah tindakan nilai dimana orientasi tindakan itu tidak berdasarkan pada alat atau caranya tetapi pada nilai, atau moralitas misalnya. Tindakan afektif individu didominasi oleh sisi emosional, dan tindakan tradisional adalah tindakan pada suatu kebiasaan yang dijunjung tinggi, sebagai sistem nilai yang diwariskan dan dipelihara bersama. Ada sebagian yang menyebutkan Weber adalah seorang teoritikus&amp;nbsp;&lt;i&gt;micro anlysis&lt;/i&gt;karena ia berangkat dari tindakan individual.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; margin: 0in; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;Tetapi, seperti yang ditulis George Ritzer (1960), Weber memang memulai konsepsi sosiologisnya dari tindakan tetapi ia sendiri membuat suatu analisis luas tentang masyarakat. Berkebalikan dengan Marx bahwa kelas adalah determinisme ekonomi, Weber memberikan konsep sosiologis kelas yang lebih luas dan lebih dapat diterima secara teoritis. &amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; margin: 0in; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;Stratifikasi tidak hanya dibentuk oleh ekonomi melainkan juga&amp;nbsp;&lt;i&gt;prestige&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(status), dan&lt;i&gt;power&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(kekuasaan/politik). Konflik muncul terutama dalam wilayah politik yang dalam kelompok sosial adalah kelompok-kelompok kekuasaan, seperti partai politik. Weber melihat persoalan wewenang dalam kerangka politik diperebutkan oleh partai-partai. Pengaruh pemikiran Weber ini akan banyak kita lihat dalam pemikiran Ralf Dahrendorf. Pemikiran Marx cenderung determinis dan Weber cenderung masuk ke subyektivisme, kemudian di Perancis pada kurun waktu yang sama&amp;nbsp;&lt;b&gt;Emile Durkheim&lt;/b&gt;&amp;nbsp;memberikan perhatian di luar pemikiran Marx dan Weber, pada apa yang disebutnya sebagai&amp;nbsp;&lt;b&gt;&lt;i&gt;social fact&lt;/i&gt;&amp;nbsp;atau fakta sosial.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; margin: 0in; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;Fakta sosial bersifat&amp;nbsp;&lt;i&gt;exteriority&lt;/i&gt;, yang diluar atau eksternal, dan mendesakkan kehendaknya kedalam diri individu-individu. Individu bergerak atas dasar nilai sosial yang eksternal, di luar dirinya dan memaksa dalam bertindak. Hal ini adalah suatu aturan yang tidak tertulis,&amp;nbsp;&lt;i&gt;unwritten&lt;/i&gt;, dan merupakan pembahasan sosiologi ilmiah. Konsepsi sosiologis Durkheim dapat dipahami melalui pembuktiannya tentang s&lt;i&gt;uicide&lt;/i&gt;, yang secara umum ia membagi masyarakat kedalam masyarakat mekanik dan organik. Masyarakat mekanik mempunyai&amp;nbsp;&lt;i&gt;conscience collective&lt;/i&gt;, kesadaran umum, yang mendasari tindakan-tindakan yang bersifat kolektif. Kesadaran umum dapat juga sebagai moral bersama yang koersif pada setiap anggota-anggotanya.&amp;nbsp;&lt;i&gt;Suicide&lt;/i&gt;&amp;nbsp;dalam masa ini berdasarkan kesadaran umum, Durkheim menyebutknya sebagai&amp;nbsp;&lt;i&gt;suicide altruism&lt;/i&gt;. Pokok pikiran Durkheim adalah fakta sosial, Giddens merinci dua makna yang saling berkaitan, dimana fakta-fakta sosial merupakan hal yang eksternal bagi individu. &amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; margin: 0in; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;Pertama-tama tiap orang dilahirkan dalam masyarakat yang terus berkembang dan yang telah mempunyai suatu organisasi atau strutur yang pasti serta yang mempengaruhi kepribadiannya. Kedua fakta-fakta sosial merupakan ‘hal yang berada di luar’ bagi seseorang dalam arti bahwa setiap individu manapun, hanyalah merupakan suatu unsur tunggal dari totalitas pola hubungan yang membentuk masyarakat (Giddens, 1986: 108). Baik Marx, Weber, dan Durkheim, sebenarnya menurut Giddens, mempunyai kepentingan terhadap kerangka teori yang mereka bangun terhadap realitas aktual masing-masing. Perkembangan ilmu sosial kemudian memperoleh kesempurnaannya setelah tradisi pemikiran Eropa melahirkan determinisme ekonomi atau pertentangan kelas dari Marx, teori teori tindakan dan stratifikasi sosial Weber, dan Fakta sosial dari Durkheim, di Jerman George Simmel memberikan pemikiran yang bercorak realis. Simmel adalah seorang ilmuwan murni, dalam arti tidak berpretensi membangun ideologi sebagaimana Marx, yang berfokus pada interaksi sosial, berusaha mengerti tentang struktur sosial.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; margin: 0in; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;Simmel konsern pada hubungan-hubungan sosial yang terjadi di dalam konteks sistematik yang hanya dapat ditipekan sebagai suatu percampuran organis dari proses asosiatif dan disasosiatif. Proses itu adalah satu refleksi dari impuls naluriah dari pelaku dan ketentuan yang memerintah oleh berbagai macam tipe hubungan sosial. Proses konflik adalah, oleh sebab itu, satu ciri dimana-mana dari sistem sosial, tetapi tidak memerlukan, dalam banyak kasus, petunjuk mengenai kerusakan sistem dan atau perubahan sosial.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; margin: 0in; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;Kenyataannya, konflik dalam satu proses prinsip pengoperasian pada pemeliharaan keseluruhan sosial dan atau beberapa sub bagiannya (Turner, 1985: 128), pemikiran ini akan banyak mempengaruhi Lewis Coser. Pada dasarnya, Turner mencatat, perbedaan antara Marx dan Simmel terletak pada bahwa hubungan sosial terjadi di dalam konteks sitematik yang hanya dapat ditipekan sebagai pecampuradukan organis dari proses asosiasi dan disasosiasi, konflik terjadi dimana-mana dalam sistem sosial, kenyataannya konflik adalah satu prinsip operasional memelihara keseluruhan sosial dan atau beberapa bagiannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; margin: 0in; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; margin: 0in; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; margin: 0in; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;B. Teori Konflik Struktural&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;Dielektika Konflik Ralf Dahrendorf&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; margin: 0in; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;Keberadaan teori konflik muncul setelah fungsionalisme, namun, sesungguhnya teori konflik sebenarnya sama saja dengan suatu sikap kritis terhadap Marxisme ortodox. Seperti Ralp Dahrendorf, yang membicarakan tentang konflik antara kelompok-kelompok terkoordinasi (&lt;i&gt;imperatively coordinated association&lt;/i&gt;), dan bukan analisis perjuangan kelas, lalu tentang elit dominan, daripada pengaturan kelas, dan manajemen pekerja, daripada modal dan buruh (Mc Quarie, 1995: 66).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; margin: 0in; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;Dahrendorf menolak utopia teori fungsionalisme yang lebih menekankan konsensus dalam sistem sosial secara berlebihan. Wajah masyarakat menurutnya tidak selalu dalam kondisi terintegrasi, harmonis, dan saling memenuhi, tetapi ada wajah lain yang memperlihatkan konflik dan perubahan. Baginya, pelembagaan melibatkan dunia kelompok-kelompok terkoordinasi (&lt;i&gt;imperatively coordinated association&lt;/i&gt;), dimana, istilah-istilah dari kriteria tidak khusus, mewakili peran-peran organisasi yang dapat dibedakan. Organisasi ini dikarakteri oleh hubungan kekuasaan (&lt;i&gt;power&lt;/i&gt;), dengan beberapa kelompok peranan mempunyai kekuasaan memaksakan dari yang lainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; margin: 0in; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;Saat kekuasaan merupakan tekanan (&lt;i&gt;coersive&lt;/i&gt;) satu sama lain, kekuasaan dalam hubungan kelompok-kelompok terkoordinasi ini memeliharanya menjadi&amp;nbsp;&lt;i&gt;legitimate&lt;/i&gt;&amp;nbsp;dan oleh sebab itu dapat dilihat sebagai hubungan “&lt;i&gt;authority&lt;/i&gt;”, dimana, beberapa posisi mempunyai hak normatif untuk menentukan atau memperlakukan yang lang lain (Turner, 1991: 144). Sehingga tatanan sosial menurut Dahrendorf , dipelihara oleh proses penciptaan hubungan-hubungan wewenang dalam bermacam-macam tipe kelompok terkordinasi yang ada hingga seluruh lapisan sistem sosial. Kekuasaan dan wewenang adalah sumber langka yang membuat kelompok-kelompok saling bersaing. &amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; margin: 0in; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;Resolusi dalam konflik antara kelompok-kelompok itu adalah redistribusi kekuasaan, atau wewenang, kemudian menjadikan konflik itu sebagai sumber dari perubahan dalam sistem sosial. Selanjutnya sekelompok peran baru memegang kunci kekuasaaan dan wewenang dan yang lainnya dalam posisi di bawahnya yang diatur. Redistribusi kekuasaan dan wewenang merupakan pelembagaan dari kelompok peranan baru yang mengatur (&lt;i&gt;ruling roles&lt;/i&gt;) versus peranan yang diatur&amp;nbsp;&lt;i&gt;(ruled roles&lt;/i&gt;), dimana dalam kondisi khusus kontes perebutan wewenang akan kembali muncul dengan inisiatif kelompok kepentingan yang ada, dan dengan situasi kondisi yang bisa berbeda. Sehinga kenyataan sosial merupakan siklus tak berakhir dari adanya konflik wewenang dalam bermacam-macam tipe kelompok terkoordinasi dari sistem sosial.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; margin: 0in; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;Konflik sosial dalam teori ini berasal dari upaya merebut dan mempertahankan wewenang dan kekuasaan antara kelompok-kelompok sosial yang ada di dalamnya. Hanya dalam bentuk wewenang dan kekuasaan yang bagaimanakah konflik tersebut dapat digambarkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; margin: 0in; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;Analisis Konflik Lewis Coser&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;Pada sisi lain dalam pemikiran teori konflik, Coser melihat konflik sebagai mekanisme perubahan sosial dan penyesuaian, dapat memberi peran positif, atau fungsi positif, dalam masyarakat. Pandangan teori Coser pada dasarnya usaha menjembatani teori fungsional dan teori konflik, hal itu terlihat dari fokus perhatiannya terhadap fungsi integratif konflik dalam sistem sosial. Coser sepakat pada fungsi konflik sosial dalam sistem sosial, lebih khususnya dalam hubungannya pada kelembagaan yang kaku, perkembangan teknis, dan produktivitas, dan kemudian konsern pada hubungan antara konflik dan perubahan sosial.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;Coser memberikan perhatian terhadap asal muasal konflik sosial, sama seperti pendapat Simmel, bahwa ada keagresifan atau bermusuhan dalam diri orang, dan dia memperhatikan bahwa dalam hubungan intim dan tertutup, antara cinta dan rasa benci hadir. Sehingga masyarakat akan selalu mengalami situasi konflik Karena itu Coser membedakan dua tipe dasar koflik (Wallace&amp;amp;Wolf, 1986: 124), yang realistik dan non realistik. Coser sendiri banyak dipengaruhi oleh George Simmel. Simmel dan Coser adalah orang realis yang melihat konflik dan integrasi sebagai dua sisi saling memperkuat atau memperlemah satu sama lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;Konflik realistik memiliki sumber yang kongkrit atau bersifat material, seperti sengketa sumber ekonomi atau wilayah. Jika mereka telah memperoleh sumber sengketa itu, dan bila dapat diperoleh tanpa perkelahian, maka konflik akan segera diatasi dengan baik. Konflik non realistik didorong oleh keinginan yang tidak rasional dan cenderung bersifat ideologis, konflik ini seperti konflik antar agama, antar etnis, dan konflik antar kepercayaan lainnya. Antara konflik yang pertama dan kedua, konflik yang non realistik lah cenderung sulit untuk menemukan solusi konflik atau sulitnya mencapai konsensus dan perdamaian. Bagi Coser sangat memungkinkan bahwa konflik melahirkan kedua tipe ini sekaligus dalam situasi konflik yang sama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;C. Teori Konflik Madzab Kritis&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;Tradisi kritis yang meyakini bahwa ilmuwan sosial mempunyai kewajiban moral mengajak dalam melakukan kritik masyarakat pada dasarnya melakukan usaha melpaskan hubungan dominatif penguasa terhadap masyarakat dalam struktur sosial. Karena itulah kepentingan teori sosial kritis adalah emansipasi yang membebaskan masyarakat dari kekejaman struktur sosial menindas yang dikuasi oleh kelompok kekuasaan. Mereka menolak memisahkan analisis dari pertimbangan atau fakta dari nilai. Kelompok ini diwakili oleh tradisi pemikiran Frankurt yang ditokohi Herbert Marcuse, Adorno, dan Jurgen Habermas (Jerman) serta Charles Wright Mills (Amerika) yang secara keseluruhan mereka banyak dipengaruhi oleh kerja-kerja intelektual Marx dan Max Weber dalam beberapa hal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;Suatu analisis sosiologis yangh kritis telah dilakukan dengan sangat jelas oleh Charles W. Mills dalam risetnya tentang struktur kekuasaan di Amerika (&lt;i&gt;The Power Elite&lt;/i&gt;, 1956). Mills tidak sepakat terhadap dua hubungan konflik yang hanya terdiri dari dimensi ekonomi, dia lebih sepakat terhadap paparan Weber tentang terbaginya stratifikasi sosial kedalam tiga dimensi, ekonomi, prestis, dan politik. Mills sendiri melihat hubungan konflik, yang mengandaikan hubungan dominasi, sangat dipengaruhi oleh ekonomi dan politik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;Mills melakukan riset terhadap struktur kekuasan Amerika yang dari penelitian itu diperoleh suatu hubungan dominatif, dimana stukrur sosial dikuasi elit dan rakyat adalah pihak ada di bawah kontrol politisnya. Hubungan dominatif itu muncul karena elit-elit berusaha memperoleh dukungan politis rakyat demi kepentingan mobilitas vertikal mereka secara ekonomi dan politik. Elit-elit itu adalah militer, politisi, dan para pengusaha (ekonomi).Mills menemukan bahwa mereka, para elit kekuasaan, mempunyai kencederungan untuk kaya, baik diperoleh melalui investasi atau duduk dalam posisi eksekutif. Satu hal penting lagi, mereka yang termasuk dalam elit kekuasaan sering kali pindah dari satu bidang yang posisinya tinggi dalam bidang yang lain. Kasus Amerika, Mills memberi contoh Jenderal Eisenhower yang kemudian menjadi Presiden Eisenhower.&amp;nbsp;&lt;st1:city w:st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:place w:st=&quot;on&quot;&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&amp;nbsp;contoh lain yang diungkapkan Mills, seperti seorang laksmana yang juga seorang bankir, seorang direktur, dan menjadi pimpinan perusahaan ekonomi terkemuka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;Elit-elit kekuasaan mempunyai keinginan besar terhadap perkembangan diri mereka dan tentu saja secara politis mereka membutuhkan dukungan dari rakyat. Media&amp;nbsp;&lt;st1:place w:st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:city w:st=&quot;on&quot;&gt;massa&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;&amp;nbsp;yang mempunyai posisi dan peran strategis dalam menyampaikan isu-isu nasional merupakan alat bagi elit kekuasaan untuk meraih dukungan itu, yaitu melalui proses komunikasi informasi satu arah bukan dialog. Proses itu merupakan bagian dari indoktrinisasi dan persuasi elit-elit kekuasaan. Masyarakat hanya bersifat pasif sebagai penadah informasi-informasi elit kekuasan. Satu hal penting lainnya, rakyat tidak cukup mengetahui realitas atau kebenaran sehingga begitu mudah menjadi salah satu pendukung dari isu atau informasi yang disebarkan elit melalui media&amp;nbsp;&lt;st1:place w:st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:city w:st=&quot;on&quot;&gt;massa&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Mills menyebut mereka sebagai masyarakat&amp;nbsp;&lt;st1:place w:st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:city w:st=&quot;on&quot;&gt;massa&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;(&lt;i&gt;mass society)&lt;/i&gt;. Masyarakat massa seperti kerbau yang dicocok hidungnya karena tidak memiliki pengetahuan dan kesadaran yang sejati tentang isi dari informasi atau isu-isu para elit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; margin: 0in; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;Kita bisa menyaksikan di Indonesia elit-elit kekuasaan yang disebutkan Mills dari golongan politisi, militer, dan pengusaha ekonomi mempunyai karakter dan gerakan yang serupa. Elit-elit kekuasaan di&amp;nbsp;&lt;st1:place w:st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:country-region w:st=&quot;on&quot;&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;&amp;nbsp;menciptakan hubungan dominatif antara mereka dan rakyat. Mereka juga bergerak mencapai posisi yang tinggi ke posisi (lebih) tinggi lainnya. Pada pemilihan presiden tahun 2004 ini dapat ditemukan dua orang elit dari militer berusaha mencapai posisi yang lebih tinggi dari yang sebelumnya, yaitu presiden atau wakil presiden.&lt;st1:place w:st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:city w:st=&quot;on&quot;&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;&amp;nbsp;dua orang calon wakil presiden yang sebelumnya merupakan elit pengusaha dan pejabat pemerintahan.&amp;nbsp;&lt;st1:place w:st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:city w:st=&quot;on&quot;&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;&amp;nbsp;juga yang dulunya hanya aktifis politik dan bersuami pengusaha bahkan telah menjadi presiden. Tampaknya jelas sekali bahwa para elit kekuasaan pada saat ini tengah melakukan pergerakan mendapatkan posisi yang lebih tinggi dari sebelumnya untuk mobilitas vertikal secara ekonomi maupun politik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; margin: 0in; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;Analisis kritis Mills sesungguhnya tidak langsung disebutkan sebagai bangunan teori konflik. Tetapi ciri-ciri penting dalam analisisnya menunjukkan hubungan dominatif dalam stukrur sosial antara kelompok-kelompok elit yang berusaha menambah kekayaannya dengan masyarakat. Sampai di sini, secara singkat, dapat ditemukan bahwa teori Mills tentang elit adalah pembuktian terhadap teorinya sebagai bagian dari teori konflik beraliran kritis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; margin: 0in; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;C. Penutup&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;School of tought&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;&amp;nbsp;tokoh-tokoh klasik ini berperan besar terhadap perkembangan selanjutnya dalam ilmu-ilmu sosial di Eropa maupun Amerika. Seolah kelengkapan sosiologi tidak bisa diperoleh dari satu pemikiran saja tetapi di sumbang oleh karya-karya seperti keempat tokoh klasik di atas. Sosiologi konflik kemudian adalah semacam pergolakan pemikiran mencari kebenaran di antara gejolak pemikiran dan respon terhadap konteks daerah pemikiran itu muncul.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;Kita melihat optimisme radikal tentang perubahan struktur kelas kapitalisme Marx dan pesimisme konservatif Weber dalam perhatiannya tentang rasionalisasi telah membentuk tema tak terpecahkan dalam sosiologi modern. Aliran konflik sendiri kemudian menjadi terbagi sebagai dua kubu pemikiran, antara madzab kritis Frankurt, termasuk Charles W. Mills dari Amerika, dan madzab sosiologi analitis Amerika, seperti Ralp Dahrendorf dan Lewis Coser, yang pada dasarnya adalah kelanjutan dari perdebatan antara Marx dan Weber (Wallace &amp;amp; Wolf, 1986: 63).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;Tradisi pertama adalah kelompok yang meyakini bahwa ilmuwan sosial mempunyai kewajiban moral mengajak dalam melakukan kritik masyarakat. Kepentingan teori sosial adalah emansipasi yang membebaskan masyarakat dari kekejaman struktur sosial menindas. Mereka menolak memisahkan analisis dari pertimbangan atau fakta dari nilai. Kelompok ini diwakili oleh tradisi pemikiran Frankurt yang ditokohi Herbert Marcuse, Adorno, dan Jurgen Habermas (Jerman) serta Charles Wright Mills (Amerika) yang secara keseluruhan mereka banyak dipengaruhi oleh kerja-kerja intelektual Marx dan Max Weber dalam beberapa hal. &amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;Kelompok kedua, sebaliknya, mempertimbangkan konflik menjadi tak terhindarkan dan aspek permanen kehidupan sosial; dan mereka juga menolak ide bahwa kesimpulan ilmuwan sosial sarat nilai. Sebaliknya, pendukungnya tertarik dalam pendirian ilmu sosial dengan ukuran sama obyektivitas sebagaimana ilmu alam. Kelompok kedua ini masih dipengaruhi oleh Marx namun lebih banyak melanjutkan pemikiran Max Weber, mereka seperti Lewis Coser yang dipengaruhi pemikiran realis George Simmel (1956, 1967) dengan fungsi-fungsi konfliknya, Ralf Dahrendorf yang banyak terpengaruh oleh Max Weber dan Marx dala sisi tertentu (1958/1959) dengan konflik dialektis yang ia kembangkan. &amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;Pada dasarnya walaupun analisis konflik terbagi menjadi dua tradisi pemikiran orientasi mereka dihubungkan oleh tiga asumsi umum yang menghubungkannya (Wallace &amp;amp; Wolf, 1986: 62-63),&amp;nbsp;&lt;i&gt;pertama&lt;/i&gt;&amp;nbsp;bahwa setiap orang mempunyai angka dasar kepentingan, mereka ingin dan mencoba mendapatkannya, dimana masyarakat selalu terlibat dalam situasi yang diciptakan oleh keinginan-keinginan dari setiap orang dalam meraih kepentingannya. &amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;Kedua&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;, dan pusat pada perspektif teori konflik secara keseluruhan, adalah satu pemusatan perhatian pada kekuasaan sebagai inti hubungan sosial. Teori konflik selalu melihat kekuasaan tidak hanya sebagai kelangkaan dan pembagian tak merata, dan oleh sebab itu satu sumber konflik, dan juga sebagai paksaan penting.&amp;nbsp;&lt;i&gt;Ketiga&amp;nbsp;&lt;/i&gt;aspek khusus teori konflik adalah bahwa nilai dan ide-ide dilihat sebagai senjata yang digunakan oleh kelompok-kelompok berbeda mempermudah tujuan mereka, daripada sebagai cara-cara pendefinisian satu identitas masyarakat keseluruhan dan tujuannya. &amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;Sampai di sini, sesungguhnya analisis konflik didominasi oleh dua aliran besar, positivisme atau empiris analitis dan tradisi ilmu sosial kritis. Artinya, analisis konflik dapat kita pilahkan teori konflik positivistis dan teori konflik kritis.&lt;a href=&quot;https://www.blogger.com/null&quot; name=&quot;_ftnref3&quot; style=&quot;text-decoration: none;&quot;&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;Lalu dimana posisi pendekatan humanisme-historis heurmenetik dalam analisis konflik? Untuk melihatnya, pada bab selanjutnya secara khusus akan dilihat bagaimana pendekatan humanisme kultural– historis heurmentik melakukan analisis konflik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;Referensi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;(terpisah)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoFootnoteText&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://www.blogger.com/null&quot; name=&quot;_ftn1&quot; style=&quot;text-decoration: none;&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;Lihat dalam bab tentang kelas dari Das Capital vol. 1&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoFootnoteText&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://www.blogger.com/null&quot; name=&quot;_ftn2&quot; style=&quot;text-decoration: none;&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;Lewis Coser, Social Conflict and The Theory of Social Change, British Journal of Sociology 8:3 (Sept. 1957).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoFootnoteText&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 28px; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: black;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://www.blogger.com/null&quot; name=&quot;_ftn3&quot; style=&quot;text-decoration: none;&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;Satu elaborasi baru yang tentang teori konflik dalam pandangan Ibn Khouldun, yang sesungguhnya teori Ibnu Kholudun mampu menjadi presentasi dari tradisi empiris sekaligus kritis. Lihat dalam Ikhwanul Hakim, 2004, Elaborasi Teori Konflik Ibn Khouldun, Pustaka Pelajar&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://homopolitica.blogspot.com/feeds/3508737480952679857/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://homopolitica.blogspot.com/2014/06/teori-konflik-struktural-dan-kritis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1000589502291831411/posts/default/3508737480952679857'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1000589502291831411/posts/default/3508737480952679857'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://homopolitica.blogspot.com/2014/06/teori-konflik-struktural-dan-kritis.html' title='Teori Konflik Struktural dan Kritis'/><author><name>Gemapol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16258437395228572060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1000589502291831411.post-1982755825914667499</id><published>2014-06-05T09:59:00.003-07:00</published><updated>2014-06-05T09:59:38.945-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ilmu-Politik"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="teori"/><title type='text'>FEMINISME : EMPIRIS, ANALITIK, NORMATIF</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Teori feminis muncul dalam Ilmu Politik sejak tahun 1990an. Teori ini mencoba untuk melawan dominasi dari kaum pria yang dianggap berlebih. Bersama dengan teori kritis, postmodernisme, konstruktivisme, dan green politics, feminisme mencoba untuk bersaing dengan teori-teorimainstream seperti realis dan liberalis. Seperti halnya teori-teori kontemporer lain, feminisme membahas Hubungan Internasional jauh dari fokus tunggal pada hubungan antar negara menuju analisis komprehensif aktor transnasional dan struktur dan transformasinya dalam politik global (True:2001).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://www.blogger.com/null&quot; name=&quot;more&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Sejak tahun 1980an sarjana Ilmu Politik yang mendalami tentang feminisme telah menawarkan pengetahuan yang segar dan menarik tantang politik global. Hubungan internasional juga berkaitan dengan feminisme. Seperti dinamika gender yang dapat mempengaruhi proses militerisasi dan ekonomi globalisasi. Cyntia Enloe (1989) berpendapat bahwa politik internasional sering melibatkan hubungan intim, identitas pribadi, dan kehidupan pribadi. Hal ini dianggap kurang transparan dan tidak normal oleh para penstudi Hubungan Internasional, oleh karena itu tidak jarang teori ini sering kali diabaikan oleh para penstudi tersebut. Mengambil pandangan dari bawah, kaum feminisme berusaha untuk menguhubungkan antara gender dengan hubungan internasional. Seperti kontrak perkawinan yang dipercaya sebagai fasilitator pencucian uang lintas negara dan perdagangan manusia. Peran gereja dan keluarga masyarakat untuk menggulingkan rezim otoriter dan melakukan perdamaian, dsb.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Generasi pertama feminisme muncul pada tahun 1980an. Mereka berusaha untuk menumbangkan dan mendekonstruksi pemikiran-pemikiran realisme yang seakan menjadi teori yang paling dominan setelah terjadinya Perang Dunia. Setelah itu pada tahun 1990an mulai muncul berbagai karya dari para sarjana feminisme seperti Tickner, Sylvester, Pettman, Steans, Peterson, dan Runyan. Generasi kedua feminisme muncul mulai akhir 1990an. Mereka lebih hati-hati dalam menggunakan analisis dan mulai mengaitkan dirinya pada perkembangan dunia internasional. Mereka juga menghasilkan wawasan teoretis baru tentang politik global.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Feminisme sendiri dapat dibagi menjadi tiga bagian kelompok. Yang pertama adalah feminisme empiris. Mereka berusaha untuk menjadikan feminisme sebagai aspek empiris dalam hubungan internasional. Feminisme empiris mengoreksi penolakan dan penafsiran yang salah atas wanita di dunia tentang kesalahan asumsi jika pengalaman laki-laki dapat mengatur baik pria maupun wanita dan menganggap perempuan absen dari dunia internasional dan tidak relevan dalam proses global (True:2001). Padahal tidak sepenuhnya seperti itu. Wanita akan selalu manjadi bagian dalam hubungan internasional. Wanita tidak dianggap ini lebih karena kehidupan dan pengalaman perempuan belum secara empiris diteliti dalam konteks politik dunia. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Grant dan Newland (1991) bahwa Hubungan Internasinal selama ini terlalu terfokus pada konflik dan anarki.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Pada mulanya penelitian feminisme bukan merupakan penelitan empiris. Sarjana feminisme memerlukan kejelasan konseptual yang lebih besar dari yang diperlukan untuk teoritis kritik untuk melakukan penelitian empiris (True:2001). Kemudian sejak tahun 1990an penilitian empiris feminisme mulai muncul. Seperti studi “Woman in International Development” (WID) dan juga Gender and Development (GAD). Studi empiris menunjukkan bahwa alokasi yang paling efisien untuk bantuan pembangunan sering untuk melayani wanita dengan teknologi pertanian yang tepat, pembiayaan kredit, pendidikan, dan sumber daya (True:2001).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Studi empiris feminis juga mengungkapkan konstruksi gender dalam organisasi internasional dimana yang sebelumnya didominasi oleh laki-laki saat ini mulai berubah dengan semakin banyaknya perempuan yang terlibat dalam organisasi internasional. Selain itu penelitian feminis mengungkapkan bahwa negara-negara dengan ketimpangan gender yang besar berakibat pada keterlibatan negara tersebut dalam berperang dan aksi kekerasan menjadi lebih besar juga.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Kemudian kelompok feminisme kedua adalah feminisme analitis. Feminisme analitis mendekonstruksi kerangka teoretis Hubungan Internasional, mengungkapkan bias gender yang meliputi konsep kunci dan menghambat pemahaman yang akurat dan komprehensif hubungan internasional (True:2001). Pada feminisme analitis tidak memandang gender sebagai pembedaan secara biologis pria dan wanita melainkan lebih kepada konstruksi sosial terhadap maskulinitas-feminimitas. Para hegemonik barat memandang maskulinitas sangat cocok dengan otonomi, kedaulatan, objektivitas, dan universalisme, sedangkan feminitas dianggap tidak memiliki kesemua karakter tersebut. Dengan begitu maskulinitas seolah-olah telah tertanam pada suatu institusi. Analisis feminis berpendapat bahwa kemerdekaan politik domestik dari politik internasional dan pemisahan publik dari ruang privat tidak dapat menjadi dasar untuk batas disiplin, karena anarki diluar biasanya mendukung hirarki gender di rumah dan begitu juga sebaliknya (True:2001).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Yang ketiga adalah feminime normatif. Feminisme normatif mencerminkan pada proses Hubungan Internasional berteori sebagai bagian dari agenda normatif bagi perubahan global (True:2001). Feminisme melihat konteks sosial politik sebagai bagian dari penjelasan teoretik. Feminisme tidak hanya berisi dengan hal-hal yang empiris melainkan tentu saja hal-hal normatif. Feminisme normatif ini membawa hal-hal yang normatif seperti etika dan aktvisme sosial perempuan. Perpektif normatif juga memandang perbedaan gender tida hanya tentang hubungan maskulin-feminin tetapi juga politik pengetahuan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Sumber :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;True, Jacqui, 2001. Feminism, in; Scott Burchill, et al, Theories of International Relations, Palgrave, pp. 231-276&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://homopolitica.blogspot.com/feeds/1982755825914667499/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://homopolitica.blogspot.com/2014/06/feminisme-empiris-analitik-normatif.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1000589502291831411/posts/default/1982755825914667499'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1000589502291831411/posts/default/1982755825914667499'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://homopolitica.blogspot.com/2014/06/feminisme-empiris-analitik-normatif.html' title='FEMINISME : EMPIRIS, ANALITIK, NORMATIF'/><author><name>Gemapol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16258437395228572060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1000589502291831411.post-8799138946520493087</id><published>2014-06-05T09:55:00.000-07:00</published><updated>2014-06-05T09:55:43.455-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Filsafat-POlitik"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ilmu-Politik"/><title type='text'>Feminisme</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; margin-bottom: 0in; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Feminisme sebagai&amp;nbsp; filsafat sangat erat kaitannya dengan era pencerahan di Eropa yang dipelopori oleh&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Lady Mary Wortley Montagu&amp;nbsp;dan&amp;nbsp;Marquis de Condorcet&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Setelah Revolusi Amerika 1776 dan Revolusi Prancis pada 1792 berkembang pemikiran bahwa posisi perempuan kurang beruntung daripada laki-laki dalam realitas sosialnya. Ketika itu, perempuan, baik dari kalangan atas, menengah ataupun bawah, tidak memiliki hak-hak seperti hak untuk mendapatkan pendidikan, berpolitik, hak atas milik dan pekerjaan&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&amp;nbsp;Oleh karena itulah, kedudukan perempuan tidaklah sama dengan laki-laki dihadapan hukum. Pada&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;tahun&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;1785&amp;nbsp;perkumpulan masyarakat ilmiah untuk perempuan pertama kali didirikan di&amp;nbsp;Middelburg, sebuah kota di selatanBelanda.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&amp;nbsp;Pertemuan tersebut menginisiasi beberapa pertemuan berikutnya untuk mengkaji nasib kaum perempuan yang terdiskrimasi dan kemudian mencari solusi guna menciptakan kesetaraan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; margin-bottom: 0in; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Kata feminisme dicetuskan pertama kali oleh aktivis&amp;nbsp;sosialis utopis,&amp;nbsp;Charles Fourier&amp;nbsp;pada tahun&amp;nbsp;1837. Pergerakan yang berpusat di Eropa ini berpindah ke Amerika dan berkembang pesat sejak publikasi&amp;nbsp;John Stuart Mill, &quot;Perempuan sebagai Subyek&quot; (&lt;i&gt;The Subjection of Women&lt;/i&gt;) pada tahun (1869).&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&amp;nbsp;Dalam buku tersebut ditekankan bahwa perempuan juga bisa menjadi subyek atau pemegang kendali, bukan hanya sebagai obyek atau dikendalikan oleh laki-laki.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; margin-bottom: 0in; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Pada awalnya gerakan ditujukan untuk mengakhiri masa-masa pemasungan terhadap kebebasan perempuan. Secara umum kaum perempuan merasa dirugikan dalam semua bidang dan dinomor duakan oleh kaum laki-laki dalam bidang sosial, pekerjaan, pendidikan, dan politik khususnya&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;terutama dalam masyarakat yang bersifat&amp;nbsp;patriarki. Dalam masyarakat tradisional yang berorientasi Agraris, kaum laki-laki cenderung ditempatkan didepan, diluar rumah, sementara kaum perempuan didalam rumah. Situasi ini mulai mengalami perubahan ketika datangnya eraLiberalisme&amp;nbsp;di Eropa dan terjadinya&amp;nbsp;Revolusi Perancis&amp;nbsp;di abad ke-XVIII yang merambah ke&amp;nbsp;Amerika Serikat&amp;nbsp;dan ke seluruh dunia.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; margin-bottom: 0in; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Feminisme atau biasa juga disebut dengan femininisme merupakan suatu ideologi pembebasan terhadap perempuan. Semua pendekatan yang melekat pada feminisme adalah suatu keyakinan bahwa perempuan mengalami ketidakadilan karena jenis kelaminnya. Feminisme kemudian menggabungkan berbagai metode analisis dan teori dalam setiap praktik ideologi pembebasannya. Konsep feminisme lahir sekitar tahun 1800-an,&amp;nbsp; sebab banyak orang yang beranggapan bahwa perempuan hanya sebagai subordinat dan perannya dianggap tidak sepenting peran laki-laki. Pandangan masyarakat ketika itu bahwa tempat terbaik untuk kaum perempuan adalah rumah. Bahkan pada akhirnya itu telah menjadi suatu keharusan. Bukan hanya itu, undang-undang pun mencerminkan hal yang sama. Misalkan saja, larangan untuk memilih bagi perempuan pada pemilihan umum. Sebagian besar institusi, atau pendidikan tingkat tinggi, bahkan untuk pekerjaan tertentu juga tertutup untuk perempuan. Meskipun banyak yang menentang, gerakan ini akhirnya tumbuh pesat dan berhasil membuat perempuan memenangkan hak-hak politiknya. Gerakan feminis ini kemudian dikenal dengan gerakan feminis gelombang pertama.&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 18.399999618530273px;&quot;&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; margin-bottom: 0in; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Feminisme gelombang kedua muncul sekitar tahun 1960-an. Pada masa ini, perempuan sudah mulai memasuki dunia kerja yang pada awalnya hanya diperuntukkan dan diperbolehkan bagi kaum pria. Namun sayangnya, ketika pekerjaan sudah diberikan kepada perempuan, ketidakadilan malah dialami oleh perempuan dalam dunia kerja. Perempuan tidak diberi kesempatan untuk mendapat jabatan yang tinggi, melainkan hanya untuk laki-laki.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; margin-bottom: 0in; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Pada perkembangannya feminsme terbagi atas beberapa macam bentuk atau aliran, sesuai dengan konsep dan tujuan masing-masing. Namun tidak akan semua diuraikan dalam kerangka konseptual ini. Melainkan hanya aliran yang memiliki keterkaitan yang erat dengan gerakan politik perempuan saja yang akan diuraikan secara rinci. Diantara aliran tersebut ialah sebagai berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraph&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; margin-bottom: 0in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;11.&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;; font-size: 7pt; font-weight: normal; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Feminisme Liberal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; margin: 0in 0in 0in 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Feminisme Liberal&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;ialah pandangan untuk menempatkan perempuan yang memiliki kebebasan secara penuh dan individual. Aliran ini menyatakan bahwa kebebasan dan kesamaan berakar pada rasionalitas dan pemisahan antara dunia privat dan publik. Setiap manusia punya kapasitas untuk berpikir dan bertindak secara rasional, begitu pula pada perempuan. Akar ketertindasan dan keterbelak&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;ngan pada perempuan disebabkan oleh kesalahan perempuan itu sendiri. Perempuan harus mempersiapkan diri agar mereka bisa bersaing di dunia dalam kerangka persaingan bebas dan punya kedudukan setara dengan laki&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;-laki&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; margin: 0in 0in 0in 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Feminis Liberal memilki pandangan mengenai negara sebagai penguasa yang tidak memihak antara kepentingan kelompok yang berbeda yang beras&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;l dari teori pluralisme negara. Mereka menyadari bahwa negara itu didominasi oleh kaum&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;laki-laki&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;, yang terefleksikan menjadi kepentingan yang bersifat “maskulin”, tetapi mereka juga menganggap bahwa negara dapat didominasi kuat oleh kepentingan dan pengaruh kaum&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;laki-laki&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;. Negara&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;adalah cerminan dari kelompok kepentingan yang mem&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;ng memiliki kendali atas negara tersebut. Untuk kebanyakan kaum&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Feminis&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&amp;nbsp;Liberal&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;, perempuan cend&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;e&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;rung berada didalam negara hanya sebatas warga negara&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&amp;nbsp;bukannya sebagai pembuat kebijakan. Sehingga dalam hal ini ada ketidaksetaraan perempuan dalam politik atau bernegara.&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Perkembangan&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;berikutnya, pandangan dari kaum Feminis Liberal mengenai “kesetaraan” setidaknya memiliki pengaruhnya tersendiri terhadap perkembangan “pengaruh dan kesetaraan perempuan untuk melakukan kegiatan politik seperti membuat kebijakan di sebuah negara”&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; margin: 0in 0in 0in 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Naomi Wolf&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&amp;nbsp;adalah salah satu feminis liberal&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;,&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;yang mengatakan bahwa&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Feminisme&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;sebagai&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Kekuatan&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;merupakan solusi. Kini perempuan telah mempunyai kekuatan dari segi pendidikan dan pendapatan, dan perempuan harus terus menuntut persamaan haknya serta saatnya kini perempuan bebas berkehendak tanpa tergantung pada l&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;ki&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;-laki&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; margin: 0in 0in 0in 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Feminis liberal&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;berupaya&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&amp;nbsp;untuk menyadarkan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;perempuan&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&amp;nbsp;bahwa&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;perempuan&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&amp;nbsp;adalah golongan tertindas. Pekerjaan yang dilakukan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;perempuan&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;disektor domestik dikampanyekan sebagai hal yang tidak produktif dan menempatka&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;n&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;perempuan&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&amp;nbsp;pada posisi sub-ordinat.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Perempuan diarahkan untuk&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;keluar&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;dari wilayah privat (&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;rumah&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;)&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;, berkarier dengan bebas dan tidak tergantung lagi pada&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;laki-laki&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; margin: 0in 0in 0in 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Akar teori ini&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;mengacu&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&amp;nbsp;pada kebebasan dan kesetaraaan rasionalitas. Perempuan adalah makhluk rasional, kemampuannya sama dengan laki-laki, sehingga harus diberi hak yang sama. Permasalahannya terletak pada produk kebijakan negara yang bias gender. Oleh karena itu, pada abad 18 sering muncul tuntutan agar p&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;e&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;rempuan mendapat pendidikan yang&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;setara dengan laki-laki. Wollstonecraft dalam bukunya&amp;nbsp;&lt;i&gt;A Vindication of the Rights of Woman&lt;/i&gt;&amp;nbsp;mendorong perempuan untuk menjadi pembuat keputusan yang otonom. Disamping itu, ia secara terus menerus menekaankan, bahwa jalan menuju otonom harus ditempuh melalui pendidikan.&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 18.399999618530273px;&quot;&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; margin: 0in 0in 0in 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Pada&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;abad 19&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&amp;nbsp;banyak upaya memperjuangkan kesempatan hak&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;politik&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;dan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;kesempatan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;ekonomi&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;yang setara&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;bagi perempuan&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Pemikiran yang dipelopori oleh John Stuart Mill dan Harriet Taylor tetap memiliki kesamaan dengan pemikiran Wollstonecraft. Mill dan Taylor berangkat dari Wollstonecraft dalam keyakinan mereka, bahwa jika masyarakat ingin mencapai kesetaraan seksual, atau keadilan gender, maka masyarakat harus memberikan perempuan hak politik dan kesempatan, serta pendidikan yang sama yang dinikmati oleh laki-laki.&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 18.399999618530273px;&quot;&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;Sedangkan pada&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&amp;nbsp;abad 20&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;pemikiran sudah mulai menjadi gerakan. Banyak&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;organisasi-organisasi perempuan mulai dibentuk untuk menentang diskriminasi seksual di bidang politik, sosial, ekonomi, maupun personal.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Mill dan Taylor yakin bahwa perempuan harus memiliki hak pilih agar dapat menjadi setara dengan laki-laki. Dapat memilih, menurut keduanya, berarti berada dalam posisi yang tidak hanya untuk mengekspresikan pandangaan politik personal seseorang. Akan tetapi juga hak untuk ikut mengganti sistem, struktur, dan sikap yang memberikan kontribusi terhadap opresi yang lain atau opresi terhadap diri sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; margin: 0in 0in 0in 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Dalam konteks Indonesia,&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;pada abad 18 sudah ada Raden Ajeng Kartini yang memperjuangkan pendidikan bagi kaum perempuan.&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 18.399999618530273px;&quot;&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&amp;nbsp;Sebelumnya, sekitar abad 17 juga sudah ada Rohana Kudus di tanah Minang.&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 18.399999618530273px;&quot;&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;Namun perjuangan Rohana Kudus memang tidak terlalu sulit, sebab sejak awal masyarakat minang menganut budaya matrineal yang lebih menguntungkan bagi kaum perempuan. Gerakan feminisme terus berkembang dan mengalami puncaknya pada masa reformasi yang menghendaki terciptanya kesetaraan demokrasi. Kesetaraan baru terlihat secara nyata ketika Megawati menjadi wakil presiden pada tahun 1999, dan menjadi presiden pada tahun 2001. Namun banyak kalangan yang berkeyakinan bahwa keberhasilan Megawati menjadi wakil presiden dan akhirnya menjadi presiden bukan murni atas pemberian kepercayaan terhadap perempuan. Melainkan hanya karena ia adalah putri Bung Karno, proklamator bangsa ini. Terlepas dari semua argumen tersebut, naiknya Megawati menjadi presiden telah membawa pencerahan baru terhadap pergerakan politik perempuan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; margin: 0in 0in 0in 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Gerakan politik perempuan pun akhirnya berkembang, pada tingkat undang-undang dan peraturan Pemilu.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Reformasi&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;hukum yang berprerspektif keadilan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;akhirnya lahir&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;melalui desakan kuota&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;30%&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;bagi perempuan dalam parlemen adalah kontribusi dari pengalaman feminis liberal.&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Pada dasarnya feminis liberal menginginkan bahwa perempuan harus terus memperjuangkan hak politiknya. Hak politik yang dimaksud bukan hanya hak untuk memilih, tapi juga hak untuk ikut serta sebagi aktor. Perempuan harus ikut serta dalam pembuatan kebijakan yang akan diterapkan untuk masyarakat umum. Perempuan harus senantiasa berpartisipasi secara aktif, yang artinya masuk keranah politik. Namun feminis liberal menekankan, bahwa upaya tersebut dapat dicapai melalui pendidikan. Perempuan harus belajar secara formal setinggi-tingginya, sebab banyak alasan sebelumnya bahwa perempuan tidak mampu karena mereka tidak sekolah. Jika perempuan telah diberikan hak untuk mendapat pendidikan, maka mereka juga memiliki kapasitas seperti laki-laki. Apabila perempuan sudah memiliki kemampuan, maka ia harus berjuang untuk mendapatkan halk politiknya seperti yang didapatkan oleh laki-laki.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpFirst&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; margin-bottom: 0in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;22.&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;; font-size: 7pt; font-weight: normal; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Feminisme Psikoanalisis&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; margin: 0in 0in 0in 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Feminis psikoanalisis lebih memfokuskan diri pada faktor mikrokosmos seorang individu, ketimbang faktor makrokosmos (patriarki dan kapitalisme). Aliran ini mengklaim bahwa akar opresi terhadap perempuan adalah sesungguhnya tertanam dalam&amp;nbsp;&lt;i&gt;psike&lt;/i&gt;&amp;nbsp;seorang perempuan.&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 18.399999618530273px;&quot;&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; margin: 0in 0in 0in 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Feminis psikoanalisis fokus pada peran seksualitas dalam&amp;nbsp;&lt;i&gt;opresi&lt;/i&gt;terhadap perempuan muncul dari teori Freud, yaitu hubungan antara ibu dengan anak (bayi) yang kemudian membentuk&amp;nbsp;&lt;i&gt;psike&lt;/i&gt;&amp;nbsp;seorang anak atau biasa disebut masa pra-oedipal. Hubungan antara ibu dan anak adalah hubungan yang ambivalen, karena ibu pada waktu tertentu memberikan terlalu banyak dan kehadirannya terlalu membuaikan. Sementara pada waktu lain ibu memberikan terlalu sedikit, dan ketidakhadirannya mengecewakan. Tahap ini berakhir dengan apa yang disebut sebagai kompleks Oedipus, suatu proses yang membuat anak laki-laki meninggalkan objek cinta pertamanya, yaitu ibunya. Proses inilah yang merupakan salah satu faktor munculnya&amp;nbsp;&lt;i&gt;opresi&lt;/i&gt;&amp;nbsp;terhadap perempuan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; margin: 0in 0in 0in 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Anak bayi perempuan juga mengalami hal yang sama dengan anak bayi laki-laki. Mereka sama-sama mendapat cinta yang berlebihan, dan kemudian sama-sama kehilangan cinta itu. Akan tetapi keduanya memiliki perbedaan, ketika mereka beranjak dewasa atau masa oedipal. Anak perempuan memiliki cinta pertama yang sama dengan anak laki-laki, yaitu ibunya (perempuan). Tetapi ketika beranjak dewasa, anak perempuan harus berpindah untuk belajar mencintai laki-laki. Namun mereka, perempuan, tidak semudah laki-laki untuk mencintai. Sebab mereka memiliki satu kekurangan, yakni tidak memiliki penis. Mereka cenderung lebih ingin untuk dicintai oleh laki-laki. Oleh sebab itu, mereka selalu berusaha untuk tampil cantik. Semakin cantik seorang perempuan, semakin tinggi tuntutan dan harapannya untuk dicintai. Anak perempuan lebih memfokuskan diri pada penampilan fisiknya, seolah-olah penampilan yang baik akan dapat menutupi kekurangannya. Akhirnya anak perempuan menjadi korban dari rasa malu (&lt;i&gt;shame&lt;/i&gt;) yang dibesar-besarkan.&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 18.399999618530273px;&quot;&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&amp;nbsp;Rasa malu yang dibesar-besarkan tersebut terbawa sampai mereka dewasa, sehingga akan selalu muncul rasa minder ketika ingin berinteraksi dengan dunia luar. Rasa minder menghantui mereka untuk bekerja disektor publik apalagi harus masuk keranah politik yang sejak semula sudah didominasi oleh laki-laki. Kondisi yang sedemikian rupa itulah yang pada akhirnya membuat mereka mengalami&amp;nbsp;&lt;i&gt;opresi&lt;/i&gt;, khusunya dari pihak laki-laki.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; margin: 0in 0in 0in 0.25in; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Dengan melihat asumsi diatas, berarti&amp;nbsp;&lt;i&gt;opresi&lt;/i&gt;&amp;nbsp;terhadap perempuan sudah dimulai dari dalam keluarga bahkan sejak seorang anak belum dewasa. Yang lebih ironis adalah bahwa proses tersebut dilakukan oleh perempuan (ibu). Opresi yang terjadi sejak dini tersebut telah membangun rasa malu dan rasa tidak percaya dalam diri (&lt;i&gt;self&lt;/i&gt;) perempuan itu sendiri. Hal tersebutlah yang membuat perempuan enggan untuk masuk lebih jauh kedalam sektor publik, apalagi untuk masuk keranah politik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; margin: 0in; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Feminisme liberal digunakan untuk mendekati masalah gerakan perempuan dalam merespon kebebasan berpolitik yang diberikan kepada mereka. Hal tersebut karena feminisme liberal bertumpu pada pencapaian kebebasan dan kesetaraan, yang berakar pada pemisahan antara sektor privat dan sektor publik. Feminis liberal lebih melihat pada upaya yang dilakukan oleh objek atau aspek diluar perempuan itu sendiri, dalam hal ini adalah negara atau laki-laki dalam konteks yang lebih kecil. Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan, bahwa peneliti juga akan melihat bagaimana sistem yang ada diluar diri perempuan memberikan hak politik terhadap perempuan. Untuk melihat permasalahan tersebutlah, sehingga penulis menggunakan paradigma feminisme liberal dalam penelitian ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpLast&quot; style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; margin: 0in; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Rumusan masalah yang kedua adalah mengenai tindakan atau gerakan yang dilakukan oleh perempuan itu sendiri dalam memperjuangkan hak politiknya. Gerakan tersebut berkaitan erat dengan pribadi (&lt;i&gt;self&lt;/i&gt;) perempuan itu. Apakah mereka sudah berjuang untuk mendapatkan hak dan posisi yang sesuai dengan kompetensi mereka, atau mereka masih pasrah terhadap apa yang diberikan oleh laki-laki. Permasalahan ini sangat tepat jika dilihat dari paradigma feminisme psikoanalisis, sebab paradigma ini melihat&amp;nbsp;&lt;i&gt;psike&lt;/i&gt;&amp;nbsp;atau jiwa dari perempuan itu sendiri. Gerakan yang dilakukan oleh perempuan, baik di legislatif, eksekutif, yudikatif maupun dalam partai politik di Sulawesi Selatan, sangat tergantung dari psike mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot; /&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 20px;&quot;&gt;
&lt;br clear=&quot;all&quot; /&gt;&lt;hr align=&quot;left&quot; size=&quot;1&quot; width=&quot;33%&quot; /&gt;
&lt;div id=&quot;ftn1&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;MsoFootnoteText&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 10pt; line-height: 15.333332061767578px;&quot;&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;&amp;nbsp;Leo Agustino, Perihal Ilmu Politik (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007), hal. 236&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id=&quot;ftn2&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;MsoFootnoteText&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 10pt; line-height: 15.333332061767578px;&quot;&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;&amp;nbsp;Rosemarie Putman Tong, Loc.Cit, hal.21&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id=&quot;ftn3&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;MsoFootnoteText&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 10pt; line-height: 15.333332061767578px;&quot;&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;&amp;nbsp;Rosemarie Putman Tong, Loc.Cit, hal.23&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id=&quot;ftn4&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 10pt; line-height: 15.333332061767578px;&quot;&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif; font-size: 10pt;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;&amp;nbsp;Sekarang menjadi Provinsi Sumatera Barat&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id=&quot;ftn6&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;MsoFootnoteText&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 10pt; line-height: 15.333332061767578px;&quot;&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;&amp;nbsp;Rosemarie Putman tong, Loc.cit, hal 7&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id=&quot;ftn7&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;MsoFootnoteText&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 10pt; line-height: 15.333332061767578px;&quot;&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, sans-serif;&quot;&gt;&amp;nbsp;Rosemarie Putman Tong, Loc.cit, hal 195&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://homopolitica.blogspot.com/feeds/8799138946520493087/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://homopolitica.blogspot.com/2014/06/feminisme.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1000589502291831411/posts/default/8799138946520493087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1000589502291831411/posts/default/8799138946520493087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://homopolitica.blogspot.com/2014/06/feminisme.html' title='Feminisme'/><author><name>Gemapol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16258437395228572060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1000589502291831411.post-3858877404220213551</id><published>2014-06-05T09:53:00.002-07:00</published><updated>2014-06-05T09:53:50.658-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="teori"/><title type='text'>Teori Ekonomi Politik</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Perspektif ekonomi politik sebagai sebuah konsep untuk menjelaskan dan menganalisa prinsip-prinsip dalam mengatur the production, distribution, and the exchange of wealth, harus diakui bahwa perspektif ekonomi politik bukanlah perspektif yang baru, karena ia telah eksis sejak abad ke-16. Dan ini terbukti yaitu pada tahun 1775 Adam Smith secara transparan telah memperkenalkan dasar-dasar pemikiran ekonomi politik dalam sebuah karyanya yang dikenal dengan konsep&amp;nbsp;&lt;i&gt;The Wealth Of Nation&lt;/i&gt;. Pada perkembangan berikutnya, john s. mill (1874) dalam bukunya yang berjudul&amp;nbsp;&lt;i&gt;The Principal Of Political Economy&lt;/i&gt;, mencoba lebih untuk membahas secara spesifik tentang prinsip-prinsi dasar dari the production, distribution, dan the exchange of wealth, serta aplikasinya dalam kehidupan bernegara. Hal serupa juga dilakukan oleh Hendry Fawcett (1883) dalam bukunya yang berjudul&amp;nbsp;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Manual of political economy.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;https://www.blogger.com/null&quot; name=&quot;more&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Seperti yang dikemukakan sebelumnya, maka tidak dapat dihindari bila kemudian prspektif ekonomi politik pada tahap awal perkembangannya telah lebih banyak dipengaruhi oleh disiplin ilmu ekonomi. Sejalan dengan tahap-tahap perkembangan teori dalam disiplin ilmu ekonomi itu sendiri, kiranya juga dapat dimengerti bila perspektf ekonomi politik pada saat itu sangat dipengaruhi oleh dasar – dasar pemikiran dari mazhab ekonomi politik klasik yang antara lain menekankan pada pentingnya meminimalkan peran Negara dalam mengatur mekanisme perekonomian. Pada konteks inilah kita sampai pada pemahaman dan sekaligus penjelasan tentang mengapa konsep ekonomi politik yang dikemukakan oleh Adam Smith (1775), John S. Mill (1874), dan Hendry Fawcet (1883) telah di kategorikan sebagai perspektif ekonomi politik klasik.Ekonomi politik terdiri dari 2 perspektif yaitu: perspektif ekonomi politik klasik dan perspektif ekonomi neo-klasik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;•&amp;nbsp;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Perspektif ekonomi politik klasik.&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;Secara singkat perspektif klasik mendefinisikan ekonomi politik sebagai ilmu yang mempelajari tentang prinsip-prinsip yang diterapkan dalam mengatur produksi, distribusi dan pertukaran dari wealth. Ini berarti secara implisit, mengisyaratkan bahwa ruang lingkup kajian dari ilmu ekonomi politik berdasarkan perspektif klasik adalah mengkaji proses produksi, mekanisme distibusi serta pertukaran dari wealth.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;• Perspektif ekonomi politik neo-klasik&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. Secara singkat perspektif ekonomi politik neo-klasik yaitu para teoritisi ekonomi politik menjelaskan perilaku para birokrat, maka mereka mengatakan bahwa dalam dalam upaya untuk mewujudkan pencapaian berbagai tujuan individu para birokrat cenderung untuk memaksimalkan sumber daya ekonomi. Dengan kata lain perspektif neo-klasik digunakan untuk mencapakai kemakmuran individu dalam pencapaian jangka pendek.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Ada 2 perbedaan utama yang dimiliki oleh perspektif ekonomi neo-klasik dibandingkan dengan perspektif ekonomi klasik yaitu :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;a. Landasan teori yang digunakan lebih kompleks.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;b. Fokus perhatian lebih dititikberatkan pada mengkaji perilaku para penyelenggara Negara (state actors) dan aktor-aktor dari kalangan masyarakat (society actors) baik dalam proses pengambilan kebijaksanaan publik maupun pada tahap implementasinya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Teori – teori ekonomi politik. Teori ekonomi politik telah berkembang pesat karena dianggap relevan dengan praktik formulasi kebijakan maupun kegiatan ekonomi sehari-hari. Salah satu sumber kemajuan ekonomi politik juga berasal dari kenyataan gagalnya teori ekonomi konvensional untuk memetakan dan mencari solusi persoalan-persoalan ekonomi. banyak persoalan ekonomi yang gagal merampungkan masalah pendekatan ekonomi konvensional yang gagal.Dalam situasi inilah teori ekonomi politik masuk untuk memberikan alternative pemecahan pada 3 teori ekonomi politik yang cukup popular yaitu teori pilihan publik, teori rent-seeking dan teori redistributive combine dan keadilan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;1. Teori pilihan publik.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&amp;nbsp;Pendekatan ekonomi politik baru yang menganggap Negara/pemerintah, politisi, atau birokrat sebagai agen yang memiliki kepentingan sendiri merupakan pemicu lahirnya pendekatan public choice atau rational choice. Public choice tergolong ke dalam kelompok ilmu ekonomi politik baru yang berusaha menkaji tindakan rasional dari aktor-aktor politik, baik di lembaga parlemen, pemerintah, lembaga kepresidenan, masyarakat pemilih, dan lain sebagainya.Teori pilihan publik ini mendeskripsikan bahwa&amp;nbsp;&lt;i&gt;“secara tipikal ahli ekonomi politik melihat politik dalam wujud demokrasi, yang memberi ruang untuk saling melakukan pertukaran diantara masyarakat, partai politik, pemerintah dan birokrat.”&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Dalam konsep tersebut masyarakat pemilih diposisikan sebagai pembeli barang-barang kolektif (publik) sedangkan pemerintah dan partai politik dipertimbangkan sebagai alternatif penyedia kebijakan public “(barang dan jasa). Sehingga dalam jangka panjang mereka bias memungut dukungan dari pemilih lewat pemilihan umum.Banyak pandangan menyatakan bahwa teori pilihan public hanya ampuh digunakan untuk setiap formulasi kebijakan dan dukungan dianggap sebagai proses distribusi nisbah ekonomi melalui pasar politik. Pada level yang lebih luas, teori pilihan public bias diterjemahkan sebagai aplikasi metode ekonomi terhadap politik.Secara esensi teori pilihan publik berusaha untuk mengaplikasikan perangkat analisis ekonomi ke dalam proses non pasar atau politik dibawah formulasi dan implementasi kebijakan publik.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Teori pilihan publik berbeda dengan ilmu ekonomi konvensional, perbedaan tersebut bukan dalam hal konsepsinya terhadap individu dan aspek kekuatan motivasi melainkan dalam hal rintangan-rintangan dan kesempatan-kesempatan yang datang dari sisi politik (sebagai lawan pasar).Dalam pendekatan yang spesifik ekonomi sebagai pertukaran pasar, produksi dan konsumsi dan politik menganalisis interaksi para pelaku dalam lembaga-lembaga yang sudah mapan seperti amerika serikat (US). Dalam level analisis teori pilihan public dapat dibagi menjadi 2 kategori yaitu :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;i&gt;a. Teori pilihan publik normatif&lt;/i&gt;, yaitu teori yang fokus pada isu-isu yang terkait dengan desain politik dan aturan – aturan politik dasar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;i&gt;b.Teori pilihan publik positif,&lt;/i&gt;&amp;nbsp;yaitu teori yang mengkonsentrasikan untuk menjelaskan perilaku politik yang dapat diamati dalam wujud teori pilihan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Empat asumsi umum dalam teori pilihan publik yaitu :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;a. Kecukupan kepentingan material individu memotivasi adanya perilaku ekonomi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;b. Motif kecukupan tersebut lebih mudah dipahami dengan menggunakan teori ekonomi neoklasik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;c. Kecukupan kepentingan material individu yang sama memotivasi adanya perilaku politik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;d. Asumsi kecukupan kepentingan yang sama tersebut lebih mudah dipahami dengan menggunakan teori ekonomi neoklasik.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Teori pilihan publik&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&amp;nbsp;secara umum digunakan dalam berbagi disiplin ilmu dengan nama yang berbeda seperti :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;- Public choice (ilmu politik).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;- Rational choice theory (ilmu ekonomi dan sosiologi).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;- Expected utility theory (ilmu psikologi)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Pengertian rasional tersebut diaplikasikan kedalam banyak konsep, misalnya :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;- Keyakinan (beliefs)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;- Preferensi (preferences)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;- Pilihan (choices)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;- Tindakan (actions)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;- Pola perilaku (behavioral patterns)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;- Individu (persons).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Dalam operasionalisasinya pendekatan pilihan publik dibedakan dalam dua bagian yaitu supply dan demand. Dalam sisi penawaran (supply) terdapat dua subjek yang berperan dalam formulasi kebijakan yakni pusat kekuasaan yang dipilih (&lt;i&gt;&lt;b&gt;elected centers of power&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;) dan pusat kekuasaan yang tidak dipilih (&lt;i&gt;&lt;b&gt;non-elected centers of power&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;). Pada sisi permintaan (demand), aktornya juga bias dipilah dalam dua kategori yakni pemilih (voters) dan kelompok-kelompok penekan (pressure groups). Kontribusi terbesar dari teori pilihan publik adalah kemampuannya untuk menunjukkan bahwa politisi-politisi dalam setiap tindakannya selau dimotivasi oleh kepentingan pribadi.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Teori pilihan publik melihat politisi sebagai pelaku yang cenderung memaksimalkan kepuasan pribadi yang dimotivasi oleh banyak factor seperti gaji, reputasi publik, kekuasaan, dan ruang untuk mengontrol birokrasi. Berikut ini adalah perbandingan paradigma ekonomi klasik dan pilihan publik :&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;i&gt;Variabel Ekonomi klasik Pilihan publik Pemasok (supplier); Produsen, pengusaha, distributor. Politisi, parpol, birokrasi, pemerintah. Peminta (demander), Konsumen Pemilih (voters), Jenis komoditas Komoditas individu (private goods) Komoditas publik (public goods), Alat transaksi Uang Suara (vote)&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Jenis transaksi Transaksi sukarela Politik sebagai pertukaran.&amp;nbsp;Menurut o’dowd bahwa kegagalan pemerintah bias diklasifikasikan dalam 3 kategori, yaitu&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;:- Ketidakmungkinan yang melekat/otomatis (inherent impossibilities)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;- Kegagalan politik (political failures)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;- Kegagalan birokrasi (bureaucratic failures).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Tipologi dari kegagalan pemerintah dapat diklasifikasikan dalam 4 kegagalan. Yaitu :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;- Kegagalan legislatif (legislative failure), yakni kehadiran pengeluaran publik (Negara) yang berlebihan diakibatkan oleh perilaku memaksimalkan suara para politisi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;- Kegagalan administratif (dministrative failure), yakni pengamatan bahwa administrasi hukum yang memerlukan diskresi dan kombinasi dari tindakan informasi dan insentif untuk mempengaruhi jalur diskretif tersebut seringkali harus dilatih.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;- Kegagalan system pengadilan (judicial failure), yakni terjadi ketika system hukum legal tidak menghasilkan pencapaian ekonomi yang optimal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;- Kegagalan penegakan (enforcement failure), yakni penegakkan dan non-penegakkan yang kurang optimal dari pengadilan, legislatif atau arahan administrasi sehingga mempengaruhi efektifitas dari tindakan-tindakan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;2. Teori rent-seeking&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. Konsep pendapatan (income) ditransformasikan menjadi menjadi konsep perburuan rente, konsep ini sangat penting bagi ilmu ekonomi politik untuk menjelaskan perilaku pengusaha, politisi, dan kelompok kepentingan.Teori rent-seeking pertama kali diperkenalkan oleh Krueger (1974) yaitu membahas tentang praktik untuk memperoleh kuota impor yang kuota sendiri bisa dimaknai sebagai perbedaan antara harga batas/border price dan harga domestic. Dalam pengertian diatas perilaku mncari rente dianggap sebagai pengeluaran sumber daya untuk mengubah kebijakan ekonomiagar dapat memberikan keuntungan kepada pemburu rente (rent-seeker).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Secara teoritis, kegiatan mencari rente (rent-seeking) harus dimaknai secara netral karena individu atau kelompok bisa memperoleh keuntungan dari aktivitas ekonomi yang legal/sah, seperti menyewakan tanah, modal dan lain-lain.Konsep rent-seeking dalam teori ekonomi politik klasik tidak dimaknai secara negatif sebagai kegiatan ekonomi yang menimbulkan kerugian bahkan bisa berarti positif karena dapat memacu kegiatan ekonomi secara simultan, seperti halnya seseorang yang ingin mendapatkan laba maupun upah. Asumsi awal yang dibangun dari ekonomi politik adalah bahwa setiap kelompok kepentingan berupaya untuk mendapaykan keuntungan ekonomi yang sebesar-besarnya dengan upaya yang sekecil-kecilnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Kegiatan mencari rente atau rent-seeking didefenisikan sebagai upaya individual atau kelompok untuk meningkatkan pendapatan melalui pemanfaatan regulasi pemerintah. Menurut Prasad rent-seeking merupakan proses dimana individu memperoleh pendapatan tanpa secara actual meningkatkan produktivitas atau malah mengurangi produktivitas tersebut. Untuk kasus Indonesia misalnya dalam pemerintahan orde baru, rent-seeeking tersebut bisa ditelusuri dari persekutuan bisnis besar (yang menikmati fasilitas monopoli maupun lisensi impor) dengan birokrasi pemerintah.Krueger menerangkan bahwa aktivitas mencari rente sperti lobi untuk mendapatkan lisensi atau surat izin akan menndistorsi alokasi sumber daya sehingga membuat ekonomi menjadi tidak efisien. Bila kebijakan lisensi impor yang dipakai maka proses pembuatan kebijakan tersebut akan mudah dimasuki oleh pemburu rente sehingga hanya individu yang memiliki akses terhadap pembuat kebijakan yang akan mendapatkan keuntungan dari kebijakan tersebut seperti memiliki izin isensi impor. Perilaku rented pat di kurangi apabila dapat mengubah kebijakan lisensi impor menjadi kebijakan tarif, membuka aliran informasi, mengaplikasikan sanksi moral dan menerapkan kebijakan liberalisasi dan privatisasi yang terukur.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;3&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;.&amp;nbsp;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Teori redistributive combines dan keadilan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&amp;nbsp;Joseph stigler mengemukakan bahwa teori ini memusatkan perhatiannya untuk menerangkan siapa yang mendapatkan manfaat dan siapa yang menanggung beban akibat adanya suatu regulasi atau aturan ekonomi yang dikeluarkan pemerintah ataupun yang terjadi karena institusionalisasi yang terjadi didalam masyarakat.Menurut stigler ada 2 alternatif pandangan tentang bagaimana sebuah peraturan diberlakukan, yaitu :- Peraturan dilembagakan terutama untuk menberlakukan proteksi dan kemanfaatan tertentu untuk publik atau sebagian sebagian sub-kelas dari publik tersebut.- Suatu tipe analisis dimana proses politik dianggap merupakan suatu penjelasan yang rasional.Kembali kepada masalah pemanfaatan hukum bagi kepentingan kelompok tertentu, saat ini perkembangannya sudah sedemikian memuncak sehingga pembentukkan organisasi untuk memperoleh pendapatan dengan Cuma-Cuma yang dibagikan oleh Negara atau disalurkan melalui system hukum atau setidaknya untuk melindungi sendiri dari proses ini dengan membentuk apa yang dinamakan redistributive combines.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Perubahan-perubahan pada susunan dan pimpinan puncak direksi perusahaan sering disebabkan oleh perubahan dalam pemerintah. Kelompok-kelompok ini sering bertarung satu sama lain untuk menjaga jangan sampai suatu peraturan baru mengancam kepentingan mereka tetapi juga dapat menguntungkan.Menurut rachbini dalam pola redistributive combine ini merupakan sumber-sumber ekonomi, asset produktif dan modal didistribusikan secara terbatas hanya dilingkungan segelintir orang. Dalam kerangka pemikiran hernando de soto berlakunya pola redistributive combine terjadi akibat sistem politik yang tertutup karena dilindungi sistem hukum yang kabur dan ketiadaan rule of law dibidang ekonomi. dengan demikian sistem ekonomi bersedia mengabdi pada sistem politik dengan pola redistributive combines.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Disamping itu juga terhubungnya teori redistributive combines yang dekembangkan oleh hernando de soto dengan teori keadilan yang dibangun oleh john rawls. Relasi antara dua relasi ini bisa dilack dari 2 logika, yaitu :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;-&amp;nbsp;&lt;i&gt;Teori redistributive&lt;/i&gt;&amp;nbsp;combines mengandaikan adanya otoritas penuh dari Negara/pemerintah untuk mengalokasikan kebijakan kepada kelompok-kelompok ekonomi yang berkepentingan terhadap kebijakan tersebut. Akibatnya kebijakan yang muncul sebagai hasil dari interaksi antara kelompok kepentingan ekonomi dan pemerintah kerapkali Cuma menguntungkan salah satu pihak dan merugikan pihak yang lain, jadi disini muncu isu ketidakadilan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;- Kelompok kepentingan ekonomi yang eksis tidak selamanya mengandaikan tingkat kemerataan seperti yang diharapkan, khususnya masalah kekuatan ekonomi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Dengan pemahaman tersebut, rawls akhirnya mengonseptualisasikan teori keadilan yang bertolak dari 2 prinsip,yaitu :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;- Setiap orang harus memounyai hak yang sama terhadap skema kebebasan dasar yang sejajar (equal basic liberties), yang sekaligus kompatibel dengan skema kebebasan yang dimiliki oleh orang lain.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;- Ketimpangan social dan ekonomi harus ditangani sehingga keduanya :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;a. Diekspetasikan secara logis menguntungkn bagi setiap orang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;b. Dicantumkan posisi dan jabatan yang terbuka bagi seluruh pihak.Melalui cara berpikir tersebut, rawls percaya bahwa suatu kebaikan datang dari sesuatu yang benar dan bukan sebaliknya. Oleh karena itu dia memfokuskan seluruh pemikirannya untuk menciptakan sistem prinsip-prinsip politik yang berbasis kontrak dan kesetaraan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Prinsip inilah yang kemudian membedakan konsep keadilan procedural dengan prinsip keadilan social yang di kembangkan oleh rawls. Keadilan sosial ini diarahkan pada penyiapan penilaian terhadap sebuah standar aspek distribusi dari struktur dasar masyarakat. Hal ini terjadi karena prinsip- prinsip keadilan tersebut seperti yang di klaim oleh rawls akan menghasilkan kesepakatan dan negosiasi yang imparsial, yakni situasi yang di desain untuk memperkuat ketiadaan kepentingan perwakilan yang dapat dibebankan kepada pihak lain. Poin inilah yang menjadi kunci dari teori keadilan yang digagas oleh rawls.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Selain itu, dalam kaitannya dengan pasar bebas (liberalisasi), teori keadilan rawls merupakan kritik terhadap teori keadilannya adam smith. Rawls sependapat bahwa sistem tentang pasar bebas sejalan dengan prinsip pertama keadilannya yakni sejalan dengan kebebasan yang sama dan kesamaan kesempatan yang fair. Rawls juga setuju dengan konsep Smith mengenai perwujudan diri manusia sesuai dengan pilihan bebas dan usaha setiap orang. Ia juga spakat dengan smith bahwa pasar bebas menyediakan kemungkinan terbaik bagi perwujudan penentuan diri manusia.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Namun, rawls melihat bahwa terlepas dari realitas bahwa pasar bebas sejalan dengan prinsip pertama dari konsep keadilannya, mekanisme pasar bebas gagal berfungsi secara baik paling kurang dalam pengertian sebagai berikut :&lt;i&gt;“ dalam kebebasa kodrati memang ada kesamaan kesmpatan yang formal, dalam pengertian bahwa semua orang paling kurang mempunyai hak legal yang sama untuk akses pada semua kedudukan social yang menguntungkan tetapi karena tidak ada usaha untuk mempertahankan suatu kesamaan atau kemiripan, kondisi social, distribusi awal dari suatu aset-aset untuk untuk suatu periode tertentu sangat di pengaruhi oleh keadaan alamiah dan social yang kebetulan. Distribusi pendapatan dan kemakmuran yang ada, demikian dapat diartikan merupakan akibat kumulatif dari distribusi aset alamiah yaitu bakat dan kemampuan sebelum distribusi pasar bebas.”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Oleh karena itu menurut Rawls, pasar bebas justru menimbulkan ketidak adilan. Bagi rawls keyidak adilan paling jelas dari sistem kebebasan kodrati adalah bahwa sistem ini mengizinkan pembagian kekayaan dipengaruhi secara tidak tepat oleh kondisi-kondisi alamiah dan social yang kebetulan ini, yang dari sudut pandang moral sedemikian sewenang-wenang.Menurut rawls, karena setiap orang masukkedalam pasar dengan bakat dan kemampuan alamiah yang berlainan, peluang sama yang diberikan pasar tidak akan menguntungkan semua peserta. Keadilan ini justru akan menimbulkan distribusi yang tidak adil atas kebutuhan-kebutuhab hidup, justru karena perbedaan bakat dan kondisi-kondisi social yang kebetulan tadi. Terlepas dari perbaikan kndisi sosial yang ada, pasar bebas akan melahirkan kepincangan karena perbedaan bakat dan kemampuan alamiah antara satu orang dengan yang lainnya. Oleh karena itu bagi rawls pasar justru merupakan pranata yang tidak adil.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://homopolitica.blogspot.com/feeds/3858877404220213551/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://homopolitica.blogspot.com/2014/06/teori-ekonomi-politik.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1000589502291831411/posts/default/3858877404220213551'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1000589502291831411/posts/default/3858877404220213551'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://homopolitica.blogspot.com/2014/06/teori-ekonomi-politik.html' title='Teori Ekonomi Politik'/><author><name>Gemapol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16258437395228572060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1000589502291831411.post-5527164877090357927</id><published>2014-06-05T09:52:00.000-07:00</published><updated>2014-06-05T09:52:03.249-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="teori"/><title type='text'>Partai Politik</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpFirst&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin: 12pt 0in 10pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Sejarah keberadaan partai politik di Indonesia dimulai ketika Belanda mencanangkan politik etis pada tahun&amp;nbsp;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;1912&lt;/span&gt;&amp;nbsp;dan berdiri orga&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;n&lt;/span&gt;isasi kemasyarakatan yang merupakan pelopor berdirinya partai politik di Indonesia yai&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;t&lt;/span&gt;u Boedi Utomo. Partai politik merupakan sarana bagi warga Negara untuk turut serta atau berpartisipasi dalam propses pengelolaan Negara. Dimana partai politik adalah suatu kelompok terorganisir yang anggota - anggotanya mempunyai orientasi, nilai - nilai, dan cita - cita yang sama.&lt;a href=&quot;file:///D:/Ebook/Proyek%20Skripsi/Acul/SKRIPSI%20(REVISI%2010).docx#_ftn1&quot; name=&quot;_ftnref1&quot; style=&quot;text-decoration: none;&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin: 12pt 0in 10pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Menurut UU No.2 Tahun 2011 Partai Politik adalah organisasi yang bersifat nasional dan dibentuk oleh sekelompok warga negara Indonesia secara sukarela atas dasar kesamaan kehendak dan cita&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;-&amp;nbsp;&lt;/span&gt;cita untuk memperjuangkan dan membela kepentingan politik anggota, masyarakat, bangsa dan negara, serta memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.&lt;a href=&quot;file:///D:/Ebook/Proyek%20Skripsi/Acul/SKRIPSI%20(REVISI%2010).docx#_ftn2&quot; name=&quot;_ftnref2&quot; style=&quot;text-decoration: none;&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin: 12pt 0in 10pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;i&gt;Carl J. Fiedrich&lt;/i&gt;&amp;nbsp;mendefinisikan partai politik &amp;nbsp;“sek&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;e&lt;/span&gt;lompok manusia yang terorganis&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;asi&lt;/span&gt;secara stabil dengan tujuan merebut atau mempertahankan penguasaan terhadap pemerintahan bagi pimpinan partainya dan berdasarkan penguasaan ini kemanfaatan yang bersifat idiil maupun materil&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;kepada anggotanya&lt;/span&gt;”.&lt;a href=&quot;file:///D:/Ebook/Proyek%20Skripsi/Acul/SKRIPSI%20(REVISI%2010).docx#_ftn3&quot; name=&quot;_ftnref3&quot; style=&quot;text-decoration: none;&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;Sedangkan menurut&amp;nbsp;&lt;i&gt;Giovanni Sartori,&lt;/i&gt;partai politik adalah “ suatu kelompok politik yang mengikuti pemilihan umum dan melalui pemilihan umum itu mampu men&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;e&lt;/span&gt;mpatkan calo&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;n&lt;/span&gt;nya untuk menduduki jabatan – jabatan.&lt;a href=&quot;file:///D:/Ebook/Proyek%20Skripsi/Acul/SKRIPSI%20(REVISI%2010).docx#_ftn4&quot; name=&quot;_ftnref4&quot; style=&quot;text-decoration: none;&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin: 12pt 0in 10pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Dari beberapa pengertian di atas maka penulis berusaha menggambarkan kembali bahwa partai politik&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;,&lt;/span&gt;&amp;nbsp; sesungguhnya adalah kumpulan dari beberapa orang yang mempunyai orientasi sama yang terbentuk dalam suatu wadah lembaga formal berdasar kepada ketentuan konstitusi kelembagaan dan mengikuti sistem politik dan sistem pemilihan yang ada.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin: 12pt 0in 10pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Secara hakiki partai politik memiliki fungsi utama yaitu mencari dan mempertahankan kekuasaan guna mewujudkan program–program yang disusun berdasarkan ideolog&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;i&lt;/span&gt;&amp;nbsp;tertentu. Selain fungsi di atas&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;,&lt;/span&gt;&amp;nbsp;partai politik juga memiliki fungsi&amp;nbsp;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;antara lain&lt;/span&gt;&amp;nbsp;:&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 63.8pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;a.&lt;span style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Sebagai Sarana Komunikasi Politik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Dalam menjalankan fungsi sebagai sarana komunikasi politik, partai politik mempunyai peran penting sebagai penghubung antara yang memerintah dan yang diperintah. Menurut Signmund Neumann dalam hubungannya dengan komunikasi politik, partai politik merupakan perantara besar yang menghubungkan kekuatan – kekuatan dan ideolog&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;i&lt;/span&gt;&amp;nbsp;so&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;s&lt;/span&gt;ial dengan lembaga pemerintah yang resmi dan mengaitkannya dengan aksi politik di dalam masyarakat politik yang lebih luas.&lt;a href=&quot;file:///D:/Ebook/Proyek%20Skripsi/Acul/SKRIPSI%20(REVISI%2010).docx#_ftn5&quot; name=&quot;_ftnref5&quot; style=&quot;text-decoration: none;&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 63.8pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;b.&lt;span style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Sebagai Sarana Sosialisai Politik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Fungsi sosialisai politik partai adalah upaya menciptakan citra&amp;nbsp;&lt;i&gt;(image)&lt;/i&gt;&amp;nbsp;bahwa partai politik memperjuangkan kepentingan umum dan lebih tinggi nilainya apabila mampu mendidik anggotanya menjadi manusia yang sadar akan tanggung jawabnya sebagai warga Negara dan menempatkan kepentingan sendiri dibawah kepentingan nasional.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 63.8pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;c.&lt;span style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Sebagai Sarana Rekrutmen Politik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Fungsi partai politik ini yakni seleksi kepemimpinan dan kader – kader yang berkualitas. Rekrutmen politik menjamin kont&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;i&lt;/span&gt;n&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;ui&lt;/span&gt;tas dan kelestar&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;i&lt;/span&gt;an partai sekaligus merupakan salah satu cara untuk menjaring dan melatih calon – calon&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;kader&lt;/span&gt;.&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 63.8pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;d.&lt;span style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Sebagai Sarana pengatur Konflik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 45pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Potensi konflik selalu ada di setiap masyarakat. Negara Indonesia yang bersifat heterogen yang terdiri dari etnis, agama, dan lain – lain. Perbedaan tersebut dapat menyebabkan konflik. Maka partai politik melaksanakan fungsi sebagai pengatur konflik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 0in; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Setiap manusia pasti punya tujuan hidup, begitu juga halnya dengan partai politik. Adapun tujuan umum partai politik &amp;nbsp;di&amp;nbsp;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Indonesia&amp;nbsp;&lt;/span&gt;sebagai berikut :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 63pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;(1)&lt;span style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Mewujudkan cita – cita nasional bangsa Indonesia, sebagai termaksud dalam pembukaan Undang – Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 63pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;(2)&lt;span style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Mengembangkan kehidupan demokrasi berdasarkan Pancasila dan menjunjung tinggi kedaulatan rakyat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin: 12pt 0in 10pt 63pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;(3)&lt;span style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Mewujudkan kesejahtraan bagi seluruh rakyat Indonesia.&lt;a href=&quot;file:///D:/Ebook/Proyek%20Skripsi/Acul/SKRIPSI%20(REVISI%2010).docx#_ftn6&quot; name=&quot;_ftnref6&quot; style=&quot;text-decoration: none;&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Tujuan khusus partai politik adalah memperjuangkan cita – citanya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang diwujudkan secara konstitusional.&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;A.&lt;span style=&quot;font-weight: normal; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;Prinsip Pendanaan Politik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Pendanaan politik tidak lepas dari tujuan pengaturan dana politik yaitu:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;a.&lt;span style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Sistem mengizinkan dan menyediakan uang yang cukup untuk mendukung kampanye yang kompetitif&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;b.&lt;span style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Sistem yang mendukung dan menjaga peluang bagi semua penduduk untuk berpartisipasi secara bersama&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;c.&lt;span style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Sistem yang dapat mencegah korupsi dan mencegah dampak negative dari pengelolaan dana&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;d.&lt;span style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Sistem yang dapat membebaskan dari iming-iming uang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.25in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Menurut Marcin Waleky (2004) pengaturan dana politik berdasarkan beberapa tujuan:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;a.&lt;span style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Mendekatkan jarak (&lt;i&gt;gap&lt;/i&gt;) antara elit politik dan masyarakat (mendorong&amp;nbsp;&lt;i&gt;representation dan accountability&lt;/i&gt;)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;b.&lt;span style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Mendorong kepercayaan public (&lt;i&gt;Trust&lt;/i&gt;) dan meningkatkan partisipasi publik untuk berpartisipasi dalam pemilu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;c.&lt;span style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Membantu politik lebih akuntabel tidak hanay terkait masalah uang atau keuntungan materil&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;d.&lt;span style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Mencegah menerima&amp;nbsp;&lt;i&gt;money politics&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;e.&lt;span style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Mencegah potensi penyelewengan dana Negara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;f.&lt;span style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Mendorong persaingan yang kompetitif&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;g.&lt;span style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Menguatkan penegakan hukum&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Basis akuntansi merupakan asumsi dasar yang melatarbelakangi pencatatan pembukuan dan pelaporan keuangan partai politik. Partai politik dianggap sebagai suatu entitas tunggal dan sebagai entitas tunggal maka tidak ada bagian lain dalam partai politik yang menyelenggarakan akuntasi/pembukuan selain partai politik itu sendiri. Semua jenis transaksi keuangan partai politik harus tercatat dan terangkum dalam laporan keuangan partai politik. Laporan keuangan partai politik merupakan hasil dari proses akuntansi transaksi-transaksi keuangan partai politik. Laporan keuangan partai politik terdiri dari laporan posisi keuangan, laporan aktifitas, laporan arus kas, dan catatan laporan keuangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Laporan posisi keuangan merupakan laporan yang menyediakan informasi mengenai aktiva, kewajiban, dan aktiva bersih dan informasi mengenai hubungan diantara unsur tersebut pada waktu tertentu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Laporan aktivitas merupakan laporan yang menyajikan perubahan bersih selama satu periode, mengenai pengaruh transaksi dengan peristiwa lain yang mengubah jumlah dan sifat aktiva bersih, dan bagaimana penggunaan sumber daya dalam pelaksanaan program.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Laporan arus kas merupakan laporan yang menyajikan arus kas menurut aktiva operasi, investasi, dan pendanaan selama periode tertentu dengan menggunakan periode langsung. Sedangkan catatan atas laporan keuangan merupakan penjelasan naratif rincian dari keseluruhan laporan, dalam catatan ini juga diungkapkan&amp;nbsp; mengenai penggunaan dana bantuan dari anggaran Negara kepada partai politik.&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpLast&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;B. Pendanaan Partai&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pendanaan partai memiliki beberapa komponen khusus.&amp;nbsp;&amp;nbsp;Komponen&amp;nbsp;- komponen ini muncul karena adanya undang&amp;nbsp;-&amp;nbsp;undang kepartaian, undang&amp;nbsp;-&amp;nbsp;undang tentang pendanaan partai dan undang-undang pemilu. Sederetan undang&amp;nbsp;-&amp;nbsp;undang ini memb&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;e&lt;/span&gt;rikan berbagai kemungkinan&amp;nbsp;-&amp;nbsp;kemungkinan legal dalam rangkaian pendanaan partai, sebagai berikut&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;:&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraph&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -9pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;a.&lt;span style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Iuran Anggota&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 35.45pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Iuran anggota biasanya dibayar secara rutin (setiap bulan, triwulan, semester atau setiap tahun) oleh para anggota.&amp;nbsp;Besarnya jumlah iuran tergantung pada pendapatan setiap anggota partai.&amp;nbsp;Asas hukum penarikan iuran seperti ini adalah anggaran dasar.&amp;nbsp;Anggaran dasar ini harus sesuai dengan aturan keuangan yang menjelaskan bagaimana pemasukan dari iuran anggota itu dibagikan ketingkatan partai yang berbeda.&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Pada prinsipnya, setiap partai harus menarik iuran dari anggotanya.&amp;nbsp;Hal ini penting bagi pendanaan partai dan juga kehidupan intern partai. Jika sebuah partai hanya bergantung pada sumbangan atau dana dari segelintir orang, atau kadang&amp;nbsp;-kadang hanya pada seorang anggota saja, hal ini bisa menyulitkan proses demokrasi dalam tubuh partai, dan partai akan selalu diperas.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Penagihan iuran dapat dilakukan oleh bendahara dalam dewan pengurus atau oleh seorang yang ditugaskan untuk itu.&amp;nbsp;Petugas ini juga ikut membayar iuran dengan presentase tertentu.&amp;nbsp;Para pengumpul uang ini bisa meneran&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;g&lt;/span&gt;kan peran penting dalam komunikasi in&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;t&lt;/span&gt;ernal partai karena mereka selalu berhubungan dengan para anggota.&amp;nbsp;Dengan demikian mereka berfungsi seperti seismograf ya&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;n&lt;/span&gt;g mencatat setiap goncangan kecil dalam keanggotaan partai dan menyampaikan kepada pimpinan partai.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Dalam masyarakat yang jarang membayar dengan uang tunai, usaha penagihan itu juga dapat diselesaikan oleh bank yang menarik uang dari rekening yang bersangkutan. Biasanya jumlah iuran anggota diberbagai partai dan negara sangat beragam, mulai dari beberapa perak per bulannya hingga dalam jumlah besar, dari tiga hingga lima persen pendapatan.&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraph&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 0in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;b.&lt;span style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Biaya Penerimaan Anggota&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Dalam partai menerapkan biaya masuk bagi anggota baru. Biaya ini khususnya menutupi biaya penerimaan, tapi tidak berfungsi sebagai dana rutin dan karenanya tidak begitu penting.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraph&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 0in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;c.&lt;span style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Sumbangan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 35.45pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jangkauan dan bentuk pencarian sumbangan diatur dalam undang&amp;nbsp;-undang kepartaian dan undang&amp;nbsp;-&amp;nbsp;undang pemilu yang relevan. Dalam UU No 2 tahun 2008 tentang Partai Politik dan UU No 10 tahun 2008 tentang Pemilu DPR, DPD, dan DPRD terdapat sederetan pembatasan terhadap sumber dan besarnya jumlah sumbangan.&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpFirst&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 49.65pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;1.&lt;span style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;Sumbangan dari luar negeri.&lt;/i&gt;&amp;nbsp;Di sebagian besar Negara&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;termasuk Indonesia&lt;/span&gt;dilarang&amp;nbsp;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;m&lt;/span&gt;enerima sumbangan dari luar negeri. Tujuannya agar partai tidak dikendalikan dari luar negeri atau agar partai tidak tergantung pada sekelompok orang asing jika partai tersebut harus membuat keputusan nasional.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 49.65pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;2.&lt;span style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;Larangan pendapatan partai oleh perusahan politik&lt;/i&gt;. Berbeda dengan pendanaan partai oleh pemerintah yang lazim dibanyak negara, pemberian dana dari perusahaan publik kepada partai dilarang di banyak negara. Larangan ini terutama disebabkan karena adanya praktek memprioritaskan partai-partai tertentu biasanya partai&amp;nbsp;-&amp;nbsp;partai yang berkuasa secara sepihak dengan cara membagi dana publik itu secara tidak merata. Tentu saja praktek itu bisa memberikan kesempatan yang berbeda bagi partai-partai yang ada.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpLast&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 49.65pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;3.&lt;span style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;Batas dana terbesar atau larangan sumbangan dari perusahaan dan aturan transparansi sumbangan.&lt;/i&gt;&amp;nbsp;Di beberapa negara dilarang menerima sumbangan dari pribadi&amp;nbsp;-&amp;nbsp;pribadi hukum (&lt;i&gt;Juristichen personnen&amp;nbsp;&lt;/i&gt;pribadi atau organisasi yang berbadan hukum, dalam hal ini termasuk menteri, gereja, perusahaan, dsb). Sementara sumbangan dari perseorangan (&lt;i&gt;Naturlichen Personnen)&lt;/i&gt;&amp;nbsp;boleh diterima. Tetapi, di sebagian besar negara tidak ada larangan mererima sumbangan dari pribadi-pribadi hukum tersebut. Persoalan dilarang atau tidaknya menerima sumbangan dari mereka itu pada das&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;a&lt;/span&gt;rnya berkaitan dengan pengaruh&amp;nbsp; yang akan diberikan oleh masyarakat ekonomi dan industri terhadap politik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 49.65pt; text-align: justify; text-indent: 35.4pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Bentuk&amp;nbsp;-&amp;nbsp;bentuk umum bantuan dana dan sasaran dari pemerintah kepada partai adalah :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpFirst&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 70.9pt; text-align: justify; text-indent: -21.25pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;1.&lt;span style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;Mendanai membiayai administrasi partai dengan cara pengalokasian dana secara kasar atau bertitik tolak pada jumlah anggota partai.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;Di sini partai memperoleh alokasi dana secara&amp;nbsp;&lt;i&gt;lumpsum&amp;nbsp;&lt;/i&gt;(jumlahnya sama untuk setiap partai), atau pemberian dana itu dibedakan berdasarkan jumlah anggota partai. Variasi dari bentuk ini adalah gabungan dari dana tetap dan alokasi dana berdasarkan jumlah anggota partai. Maksud dari variasi ini adalah untuk tujuan persiapan dan pelaksanaan pemilihan. Karena itu pembayaran bisa dilakukan kapan saja atau tidak tergantung pada pemilihan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 70.9pt; text-align: justify; text-indent: -21.25pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;2.&lt;span style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;Pembayaran sejumlah dana sesuai dengan hasil pemilihan.&lt;/i&gt;&amp;nbsp;Ada bebagai model dalam melakukan pembayaran “ganti rugi” biaya kampanye pemilihan. Pada prinsipnya model-model itu bertitik tolak pada jumlah su&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;ara&lt;/span&gt;&amp;nbsp;yang diraih. Artinya, pembayaran uang dalam jumlah tertentu itu dilakukan berdasarkan setiap perolehan suara. Jadi, ini bukan ganti rugi biaya kampanye, melainkan premi atau bonus atas keberhasilan dalam pemilihan. Dana yang telah dipergunakan dapat ditutupi atau paling tidak terbantu dengan metode ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 70.9pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Jumlah uang untuk setiap suara pemilih bervariasi di Negara-negara yang menerapkan sistem ini.Cara perhitungan suara pemilih untuk pembayaran jumlah sumbangan juga bisa beraneka ragam, karena hanya suara pemilih yang benar-benar telah diperoleh dan diserahkan yang dapat dijadikan dasar pembayaran uang hasil pemilihan.&amp;nbsp;Dalam s&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;i&lt;/span&gt;stem-sistem lain, prose&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;s&lt;/span&gt;perhitungan suara pemilih yang diraih dilakukan berdasarkan prediksi bahwa seluruh (100%) warga yang berhak memilih menggunakan hak pilihnya.&amp;nbsp;Tentu, jika partisipasi warga yang berhak memilih rendah, maka ini akan “menguntungkan” partai dalam segi finansial. Dalam kasus ini dimana perhitungan suara tersebut benar-benar berupaya untuk menerapkan strategi yang difokuskan pada&amp;nbsp;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;me&lt;/span&gt;motivasian warga untuk menggunakan hak pilihnya dalam pemilihan.Hal ini dilakukan bersamaan dengan pelaksanaa kampanye sebelum pemilihan.&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 70.9pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;3.&lt;span style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;Pembayaran ganti rugipengeluaran&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;y&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;ang sah.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;Pembayaran ganti rugi biaya pengeluaran yang telah dibuktikan kebenarannya (sah) ada batasannya atau pembayarannya bersifat prosentual. Pengeluaran yang dimaksud bisa berupa pengeluaran untuk kampanye pemilihan atau pengeluaran rutin administrasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 70.9pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;4.&lt;span style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;Menyediakan sarana publik&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;u&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;ntuk tujuan partai.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;Yang dimaksud dengan menyediakan sarana publik untuk tujuan partai ini contohnya adalah menyediakan waktu siar (airtime) di radio dan televisi secara gratis dengan catatan radio dan televisi itu harus bersifat publik (bertujuan melayani masyarakat dan untuk itudiberikan hak khusus). Atau menyediakan tempat-tempat untuk memasang plakat, seperti di sisi luar bangunan-bangunan publik, jembatan dan sebagainya untuk promosi partai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 70.9pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;5.&lt;span style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;Menyediakan ruangan, teknik dan personalia.&lt;/i&gt;&amp;nbsp;Pemerintah di beberapa negara menyediakan ruangan, rumah, gudang, sarana teknis, dan bahkan personil bagi partai atau fraksi di berbagai tingkat (cabang, daerah, pusat).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 70.9pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;6.&lt;span style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;Mendanai biaya pengeluaran fraksi.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;Bagi organisasi-organisasi partai di parlemen diberlakukan berbagai aturan. Di beberapa negara, fraksi-fraksi partai dilengkapi dengan sarana penunjang yang baik, sesuai subsidi dana untuk personil fraksi, sarana teknis, ruangan dan peralatan, bahkan mereka&amp;nbsp; diberi peluang untuk membentuk tim ahli sendiri. Dengan demikian dana untuk fraksi bahkan bisa lebih besar dari dana partai. Dalam kasus ini hampir tidak ada dukungan dari pemerintah, bahkan ruangan rapat untuk fraksi yang berada di dekat gedung parlemen pun tidak tersedia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 70.9pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Seberapa jauh dukungan yang diberikan kepada masing-masing fraksi dan khususnya kepada fraksi oposisi, sangat bergantung pada budaya politik dan stabilitas demokrasi serta pada besar atau tidaknya pengaruh parlemen terhadap kekuasaan ekskutif. Dala&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;m&lt;/span&gt;&amp;nbsp;sistem konstitusi predensial misalnya, sarana yang diberikan kepada fraksi jelas lebih buruk daripada sistem demokrasi parlemen.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 70.9pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;7.&lt;span style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;Membebaskan sumbangan dan iuran anggota dari pajak.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;Salah satu bentuk dukungan pemerintah kepada partai adalah membebaskan sumbangan dan iuran anggota dari pajak atau memberikan kompensasi pajak khusus terhadap pengeluaran - pengeluaran dana partai dan iuran anggota. Melalui pembebasan pajak ini jumlah sumbangan yang diterima tentu lebih besar. Sementara biaya pembebasan itu sendiri ditutupi dari anggaran publik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 70.9pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;8.&lt;span style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;Dukungan terhadap organisasi-organisasi garis depan&lt;/i&gt;, seperti organisasi pemuda, organisasi perempuan, yayasan dan sebagainya. Selain bantuan langsung pemerintah kepada partai, di beberapa negara ditingkatkan pembentukan inst&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;it&lt;/span&gt;usi - inst&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;it&lt;/span&gt;usi khusus yang dapat digolongkan ke dalam partai tertentu atau setidaknya ke dalam aliran politik tertentu. Institusi yang dimaksud adalah organisasi – organisasi pemuda yang sebagian langsung memperoleh subsidi untuk kegiatan mereka di berbagai tingkat politik yang berbeda, atau organisa&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;s&lt;/span&gt;i mahasiswa yang mendukung partai tertentu. Organisasi mahasiswa ini memperoleh dukungan dalam melaksanakan kegiatan mereka. Hal ini juga berlaku untuk organisasi perempuan dari berbagai partai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: 1.1pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Bentuk khusus dari dukungan pemerintah adalah bantuan terhadap yayasan yang dekat dengan partai tertentu. Yang dimaksud disini adalah yayasan - yayasan yang terutama bergerak dalam bidang pendidikan dan pekerjaan garis depan, yang mempunyai pengaruh langsung terhadap proses pembentukan kehendak rakyat. Hal ini dilakukan dengan cara memberikan penjelasan tentang haluan dasar politik dari sebuah partai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 70.9pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;9.&lt;span style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;Pendanaan bagi pengeluaran anggota parlemen.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;Bantuan dana kepada anggota parlemen dirangkaikan dengan pemberian dana kepada pekerja partai di daerah pemilihan dana yang lainnya. Selain itu pemerintah juga menanggung biaya perjalanan dan biaya teknis. Ini merupakan bentuk lain dari pendanaan secara tidak langsung oleh pemerintah kepada partai. Akan tetapi, di beberapa negara yang berbeda, bentuk ini menunjukkan hasil yang sama sekali lain. Ada negara yang memaksakan anggota parlemennya untuk melepaskan profesinya agar ia dapat bekerja penuh di parlem&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;en&lt;/span&gt;,&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;n&lt;/span&gt;amun pada saat yang bersamaan negara tersebut hanya membayar biaya kompensasi dalam jumlah yang kecil. Tentu saja ini berarti bahwa anggota parlemen yangterpilih harus “kehilangan” banyak uang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 70.9pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;10.&lt;span style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;Dana dari kegiatan bisnis partai.&lt;/i&gt;&amp;nbsp;Bentuk pendanaan partai yang lain daripada yang lain adalah adanya peraturan dalam undang-undang pemilu yang memperbolehkan partai melakukan kegiatan bisnis, mendirikan perusahaan sendiri, menyelenggarakan undian dan ikut serta dalam usaha dan persaingan bisnis. Pendanaan partai seperti ini dapat menyebabkan terjadinya penbelokan dan publik melalui kanalisasi order - order publik kepada perusahaan -perusahaan yang dimiliki partai. Ini akan meningkatkan&amp;nbsp; terjadinya praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme.&lt;a href=&quot;file:///D:/Ebook/Proyek%20Skripsi/Acul/SKRIPSI%20(REVISI%2010).docx#_ftn7&quot; name=&quot;_ftnref7&quot; style=&quot;text-decoration: none;&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 0in; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;M&lt;/span&gt;anajemen Keuangan adalah suatu kegiatan perencanaan, penganggaran, pemeriksaan, pengelolaan, pengendalian, pencarian dan penyimpanan dana yang dimiliki oleh organisasi atau perusahaan.&amp;nbsp;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Adapun Fungsi – Fungsi&amp;nbsp; Manajemen yaitu :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -21.25pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;1.&lt;span style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Perencanaan Keuangan&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Membuat rencana pemasukan dan pengeluaraan serta kegiatan-kegiatan lainnya untuk periode tertentu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -21.25pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;2.&lt;span style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Penganggaran Keuangan&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Tindak lanjut dari perencanaan keuangan dengan membuat detail pengeluaran dan pemasukan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -21.25pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;3.&lt;span style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Pengelolaan Keuangan&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Menggunakan dana&amp;nbsp;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;lembaga/organisasi&lt;/span&gt;&amp;nbsp;untuk memaksimalkan dana yang ada dengan berbagai cara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -21.25pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;4.&lt;span style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Pencarian Keuangan&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Mencari dan mengeksploitasi sumber dana yang ada untuk operasional kegiatan&amp;nbsp;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;organisasi&lt;/span&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -21.25pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;5.&lt;span style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Penyimpanan Keuangan&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Mengumpulkan dana&amp;nbsp;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;organisasi&lt;/span&gt;&amp;nbsp;serta menyimpan dana tersebut dengan aman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -21.25pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;6.&lt;span style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Pengendalian Keuangan&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Melakukan evaluasi serta perbaikan atas keuangan dan sistem keuangan pada&amp;nbsp;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;sebuah organisasi&lt;/span&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -21.25pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;7.&lt;span style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Pemeriksaan Keuangan&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Melakukan audit internal atas keuangan&amp;nbsp;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;organisasi&lt;/span&gt;&amp;nbsp;yang ada agar tidak terjadi penyimpangan.&lt;a href=&quot;file:///D:/Ebook/Proyek%20Skripsi/Acul/SKRIPSI%20(REVISI%2010).docx#_ftn8&quot; name=&quot;_ftnref8&quot; style=&quot;text-decoration: none;&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 0in; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Pengelolaan keuangan dalam suatu lembaga&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;/organisasi&amp;nbsp;&lt;/span&gt;dalam hal ini Partai Politik sebagai suatu lembaga publi&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;k&lt;/span&gt;&amp;nbsp;merupakan suatu hal yang sensitif. Apalagi jika uang yang mereka gunakan adalah uang rakyat, maka rakyat patut untuk mengetahui kemana saja aliran dana tersebut. Berikut ini beberapa penjelasan terkait&amp;nbsp;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;p&lt;/span&gt;engelolaan Keuangan/Dana pada Partai Politik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 0in; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -23.7pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;1.&lt;span style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Keuangan partai politik bersumber dari :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 63pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;a.&lt;span style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Iuran anggota.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 63pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;b.&lt;span style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Sumbangan yang sah menurut hukum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 63pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;c.&lt;span style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Bantuan dari anggaran Negara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -23.7pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;2.&lt;span style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Sumbangan yang sah menurut h&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;u&lt;/span&gt;kum dapat berupa uang, barang, fasilitas, peralatan, dan/atau jasa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -23.7pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;3.&lt;span style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Sumbangan perseorangan bukan anggota Partai Politik, paling banyak senilai Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) per orang dalam waktu 1 (satu) tahun anggaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;background-color: white; margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -23.7pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 28px;&quot;&gt;4.&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;span style=&quot;line-height: 28px;&quot;&gt;Sumbangan perusahaan dan/atau badan usaha, paling banyak senilai Rp 7.500.000.000,00 (tujuh miliar lima ratus juta rupiah) per perusahaan dan/atau badan usaha dalam waktu 1 (satu) tahun anggaran.&lt;/span&gt;&lt;a href=&quot;file:///D:/Ebook/Proyek%20Skripsi/Acul/SKRIPSI%20(REVISI%2010).docx#_ftn9&quot; name=&quot;_ftnref9&quot; style=&quot;line-height: 28px; text-decoration: none;&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 28px;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpLast&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Pengelolaan&lt;/span&gt;&amp;nbsp;keuanga&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;n&lt;/span&gt;&amp;nbsp;Organisa&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;s&lt;/span&gt;i Partai Politik , sebagai suatu entitas yang menggunakan dana publi&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;k&lt;/span&gt;&amp;nbsp;yang besar, haruslah transparan sehingga pertanggungjawaban keuangan merupakan hal yang tidak dapat ditawar lagi. Sebagai bentuk kepatuhan terhadap Undang – Undang Part&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;a&lt;/span&gt;i Politik, dan Undang – Undang Pemilu, seluruh sumber daya keuangan yang digunakan harus dipertanggungjawabkan kepada konstitu&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;ante&lt;/span&gt;nya. Bentuk pertanggungjawaban pengelolaan keuangan partai politik peserta pemilu adalah penyampaian Laporan Dana Kampanye (semua peserta pemilu) serta Laporan Keuangan (Khusu&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;s&lt;/span&gt;&amp;nbsp;Untuk Partai Politik), yang harus&amp;nbsp;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;d&lt;/span&gt;iaudit Akuntan Publik, ke KPU serta terbuka untuk diakses publik.&amp;nbsp;&amp;nbsp;Informasi menyangkut keuangan bis&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;a&lt;/span&gt;&amp;nbsp;menjadi dasar penilaian kemampuan P&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;a&lt;/span&gt;rtai Politik untuk melangsungkan aktifitasnya dan memperjuangkan kepentingan politik secara berkelanjutan.&amp;nbsp;Pemilih seperti dihadapkan dengan perusahaan yang dipercaya bis&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;a&lt;/span&gt;membawa aspirasinya secara berkesinambungan.&lt;a href=&quot;file:///D:/Ebook/Proyek%20Skripsi/Acul/SKRIPSI%20(REVISI%2010).docx#_ftn10&quot; name=&quot;_ftnref10&quot; style=&quot;text-decoration: none;&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;background-color: white; line-height: 20px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;hr size=&quot;1&quot; width=&quot;33%&quot; /&gt;
&lt;div id=&quot;ftn1&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;MsoFootnoteText&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;file:///D:/Ebook/Proyek%20Skripsi/Acul/SKRIPSI%20(REVISI%2010).docx#_ftnref1&quot; name=&quot;_ftn1&quot; style=&quot;text-decoration: none;&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;Miriam Budiarjo,&amp;nbsp;&lt;i&gt;Dasar-Dasar Ilmu Politik&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(Jakarta:Gramedia Pustaka Utama 2006) Hal.160&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id=&quot;ftn2&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;MsoFootnoteText&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;file:///D:/Ebook/Proyek%20Skripsi/Acul/SKRIPSI%20(REVISI%2010).docx#_ftnref2&quot; name=&quot;_ftn2&quot; style=&quot;text-decoration: none;&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;Pasal 1, ayat 1 UU No. 2 tahun 2011&amp;nbsp; tentang Partai Politik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id=&quot;ftn3&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;MsoFootnoteText&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;file:///D:/Ebook/Proyek%20Skripsi/Acul/SKRIPSI%20(REVISI%2010).docx#_ftnref3&quot; name=&quot;_ftn3&quot; style=&quot;text-decoration: none;&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;Miriam Budiarjo, Op.Cit Hal.161&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id=&quot;ftn4&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;MsoFootnoteText&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;file:///D:/Ebook/Proyek%20Skripsi/Acul/SKRIPSI%20(REVISI%2010).docx#_ftnref4&quot; name=&quot;_ftn4&quot; style=&quot;text-decoration: none;&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;a href=&quot;http://id.wikipedia.org/wiki/politik&quot; style=&quot;text-decoration: none;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Http://Id.Wikipedia.Org/Wiki/Politik&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;diakses pada&amp;nbsp;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;tangga 13-03-2011&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id=&quot;ftn5&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;MsoFootnoteText&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;file:///D:/Ebook/Proyek%20Skripsi/Acul/SKRIPSI%20(REVISI%2010).docx#_ftnref5&quot; name=&quot;_ftn5&quot; style=&quot;text-decoration: none;&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;a href=&quot;http://bimaaryasugiarto.blogspot.com/2008/03/partai-politik-dan-prospek.html&quot; style=&quot;text-decoration: none;&quot;&gt;Http://Bimaaryasugiarto.Blogspot.Com/2008/03/Partai-Politik-Dan-Prospek.Html&lt;/a&gt;&amp;nbsp;diakses pada&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&amp;nbsp;tanggal 04-03-2011&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id=&quot;ftn6&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;MsoFootnoteText&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;file:///D:/Ebook/Proyek%20Skripsi/Acul/SKRIPSI%20(REVISI%2010).docx#_ftnref6&quot; name=&quot;_ftn6&quot; style=&quot;text-decoration: none;&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;Indra Bastian,&amp;nbsp;&lt;i&gt;Akutansi Untuk LSM dan Partai Politik&lt;/i&gt;. (Jakarta.Erlangga.2007) Hal.154&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id=&quot;ftn7&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;MsoFootnoteText&quot; style=&quot;margin-left: 13.5pt; text-align: justify; text-indent: -13.5pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;file:///D:/Ebook/Proyek%20Skripsi/Acul/SKRIPSI%20(REVISI%2010).docx#_ftnref7&quot; name=&quot;_ftn7&quot; style=&quot;text-decoration: none;&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Toni Adrianus Pito dan Efriza&lt;/span&gt;,&amp;nbsp;&lt;i&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Mengenal Teori – Teori Politik Dari Sistem Politik Sampai Korupsi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;(&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Bandung: Nuansa.&lt;/span&gt;2006). Hal 15&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id=&quot;ftn8&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;MsoFootnoteText&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;file:///D:/Ebook/Proyek%20Skripsi/Acul/SKRIPSI%20(REVISI%2010).docx#_ftnref8&quot; name=&quot;_ftn8&quot; style=&quot;text-decoration: none;&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;a href=&quot;http://www.slideshare.net/manajemenkeuangan10/1fungsi-dan-tujuan-manajemen&quot; style=&quot;text-decoration: none;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;http://www.slideshare.net/manajemenkeuangan10/1fungsi-dan-tujuan-manajemen&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;keuangan diakses pada tanggal 24-04-2011&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoFootnoteText&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id=&quot;ftn9&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;MsoFootnoteText&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;file:///D:/Ebook/Proyek%20Skripsi/Acul/SKRIPSI%20(REVISI%2010).docx#_ftnref9&quot; name=&quot;_ftn9&quot; style=&quot;text-decoration: none;&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;UU No. 2, Pasal 35, Ayat 1-3, Tahun 2011&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id=&quot;ftn10&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;MsoFootnoteText&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;file:///D:/Ebook/Proyek%20Skripsi/Acul/SKRIPSI%20(REVISI%2010).docx#_ftnref10&quot; name=&quot;_ftn10&quot; style=&quot;text-decoration: none;&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;Haryono Umar, 2003&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://homopolitica.blogspot.com/feeds/5527164877090357927/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://homopolitica.blogspot.com/2014/06/partai-politik.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1000589502291831411/posts/default/5527164877090357927'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1000589502291831411/posts/default/5527164877090357927'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://homopolitica.blogspot.com/2014/06/partai-politik.html' title='Partai Politik'/><author><name>Gemapol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16258437395228572060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1000589502291831411.post-7706990539719685312</id><published>2014-06-05T09:48:00.003-07:00</published><updated>2014-06-05T09:48:38.711-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ilmu-Politik"/><title type='text'>ARTICLES OF CONFEDERATION</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Bangsa Amerika pada mulanya berawal dari kedatangan bangsa Eropa ke Amerika, sebagian besar dari mereka adalah orang Inggris yang ingin mencari wilayah baru. Mereka mengharapkan bisa menikmati hak-hak yang sama seperti orang-orang di negara asalnya, Inggris. Tuntutan untuk memperoleh kesamaan hak inilah yang memunculkan adanya Revolusi Amerika yang akhirnya menjadi negara baru yaitu Amerika Serikat dan melepaskan diri dari kolonialisme Inggris. Nasionalisme yang berkembang dan keinginan untuk bersekutu serta mengorganisir diri untuk menjadi sebuah negara membuat mereka mulai memupuk rasa identitas diri mereka sendiri. Puncak perjuangan itu terwujud dalam kemerdekaan Amerika pada tanggal 4 Juli 1776, namun masing-masing negara bagian menganggap diri mereka menjadi negara bagian yang saling berdiri sendiri. Untuk itulah pada bulan Maret tahun 1781 konggres mengeluarkan undang-undang tertulis pertama yang pasal-pasalnya berisi aturan-aturan dalam bidang pemerintahan nasional Amerika yang disebut The Article of Confederation.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;https://www.blogger.com/null&quot; name=&quot;more&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Articles of Confederation atau yang dikenal dengan nama formal Articles of Confederation and Perpetual Union adalah sebuah perjanjian diantara 13 negara bagian yang ada di Amerika Serikat. Kesepakatan ini diakui secara hukum di Amerika Serikat sebagai penegasan bahwa Amerika Serikat negara konfederasi yang berdaulat serta merupakan konstitusi pertama Amerika Serikat. Perjanjian ini pertama kali disusun oleh Continental Cogress pada pertengahan tahun 1776, dan versi yang disetujui telah dikirim ke negara-negara bagian untuk diratifikasi pada tahun 1777. Ratifikasi formal dari kesemua 13 negara bagian selesai pada awal tahun 1781.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Pada 12 Juni 1776 sehari setelah menunjuk komite untuk menyiapkan sebuah rancangan Declaration of Independence, Continental Congress kedua memutuskan untuk menunjuk sebuah komite dari 13 negara bagian untuk mempersiapkan draf konstitusi untuk penyatuan negara. Komite ini beretemu berulang kali, dan ketuanya John Dickinson mempresentasikan hasil dari pertemuan tersebut kepada kongres pada tanggal 12 Juli 1776. Terdapat perdebatan panjang mengenai isi draf konstitusi, seperti isu-isu kedaulatan, kakuasaan yang tepat untuk diberikan pada pemerintahan federal, apakah akan memiliki peradilan dan prosedur pemungutan suara. Artikel yang diusulkan Dickinson ini telah berubah drastis sebelum dikirim ke semua negara untuk diratifikasi. Draf akhir dari artikel telah dipersiapkan pada musim panas 1777 dan Continental Congress kedua menyetujui draf tersebut untuk diratifikasi oleh masing-masing negara pada tanggal 15 November 1777.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Draf yang ada harus diratifikasi oleh semua negara bagian yang kesemuanya berjumlah 13 negara. Negara pertama yang meratifikasi adalah Virginia pada 16 Desember 1977. Disusul oleh South Carolina, New York, Rhode Island, dan negara bagian lainnya. Proses ratifikasi memakan waktu sekitar tiga tahun. Hal ini disebabkan karena proses sempat terhenti oleh beberapa negara yang enggan untuk membatalkan klaim mereka terhadap wilayah di barat. Maryland adalah negara terakhir yang meratifikasi draf. Maryland menolak untuk meratifikasi, sampai Virginia dan New York setuju untuk menyerahkan klaim mereka di lembah sungai Ohio. Dan akhirnya Maryland meratifikasi draf tanggal 1 Maret 1781.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Dalam prakteknya, draf akhir yang pada awalnya digunakan pada tahun 1777 itu disiapkan sebagai sistem pemerintahan de facto sampai pada akhirnya menjadi de jure oleh ratifikasi final pada tanggal 1 Maret 1781. Kongres Kontinental kedua lalu pindah ke kongres konfederasi berdasarkan ratifikasi artikel konfederasi. Artikel ini berisi antara lain ;masing-masing negara memiliki kedaulatan ;tiap negara bagian memiliki satu suara dalam konggres tanpa mempedulikan luas wilayah dan jumlah penduduk; konggres tidak berhak memungut pajak, mengatur perdagangan dan ikut dalam urusan internal negara bagian; konggres berhak menangani hubungan luar negeri, mengumumkan perang, mengumumkan perdamaian, membangun angkatan perang dan meminjam uang; keputusan konggres sah apabila disetujui oleh 2/3 anggota konggres; konggres berhak menengahi dan menjadi hakim atas perselisihan antar negara bagian serta ; konggres tidak berhak mengeluarkan uang dan menentukan senat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Diterapkannya rencana kerja pemerintah yang dibentuk dengan menggunakan The Article of Confederation membuat Amerika menyatakan sebagai negara baru yaitu The United States of America (USA). Prancis pada tahun 1778 adalah negara pertama yang mengakui Amerika sebagai negara, Prancis juga membantu Amerika untuk melawan Inggris dengan mengirimkan Jendral Lafayette ke Amerika. Pada tahun 1783 Inggris mengakui kemerdekaan Amerika setelah ditandatanganinya perjanjian Paris, dimana Jendral Inggris yaitu Comwallis dan pasukanya menyerah kepada George Washington dan Lafayette.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Sejak diadakan perjanjian Paris membuat tokoh-tokoh Amerika seperti Thomas Jefferson dan Alexander Hamilton merasa bahwa konfederasi merupakan suatu ikatan bagi rakyat Amerika yang lemah. Para tokoh tersebut khawatir bila kondisi Amerika tidak diperkuat dengan persatuan oleh negara-negara bagian, maka Amerika yang utuh tidak dapat dipertahankan lagi. Mereka melihat bahwa The Article of Confederation memiliki kelemahan yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Pemerintah nasional kurang memiliki wewenang untuk menetapkan besarnya tarif, untuk mengatur perdagangan dan memungut pajak. Kedua, terjadinya konflik dagang antar negara bagian. Yang ketiga terjadinya kekacauan karena terlalu banyaknya jenis mata uang yang dibuat oleh masing-masing negara bagian. Dan yang terakhir pemerintah pusat kurang mempuyai kendali atas hubungan internasional.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Keadaan yang memburuk akibat The Article of Confederation membuat George Washington pada tahun 1785 mengadakan pertemuan di Virginia yang dihadiri wakil dari 13 negara bagian untuk mengubah The Article of Confederation, hasilnya yaitu kesadaran akan perlunya pertemuan yang lebih luas yang dihadiri oleh wakil-wakil dari negara bagian dan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;kesadaran akan perlunya memperkokoh persatuan antara negara bagian yang menghasilkan konstitusi di Philadelphia pada tahun 1787. Pertemuan itu menghasilkan konstitusi tertulis yang dapat mempersatukan rakyat Amerika.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Walaupun memiliki kelemahan, namun The Article of Confederation menghasilkan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;kesatuan antara negara - negara bagian dan pemerintah pusat memilki kekuasaan yang lebih tinggi daripada kekuasaan yang dimiliki negara bagian, serta hasil dari konstitusi menghasilkan badan eksekutif yaitu pelaksana keputusan konggres yang dapat dimintai pertanggung jawaban.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://homopolitica.blogspot.com/feeds/7706990539719685312/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://homopolitica.blogspot.com/2014/06/articles-of-confederation.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1000589502291831411/posts/default/7706990539719685312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1000589502291831411/posts/default/7706990539719685312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://homopolitica.blogspot.com/2014/06/articles-of-confederation.html' title='ARTICLES OF CONFEDERATION'/><author><name>Gemapol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16258437395228572060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1000589502291831411.post-2130092591716273457</id><published>2014-06-05T09:47:00.003-07:00</published><updated>2014-06-05T09:47:39.047-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ilmu-Politik"/><title type='text'>FROM BILL TO ACT : PROSES PEMBUATAN UNDANG-UNDANG DI AMERIKA SERIKAT</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;post-body entry-content&quot; id=&quot;post-body-4012388182653727049&quot; style=&quot;background-color: white; border-top-color: rgb(221, 221, 221); border-top-style: solid; border-top-width: 5px; font-family: Verdana; line-height: 20px; margin: 1em 0px 0.75em; padding-top: 10px;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Proses rancangan undang undang untuk menjadi undang-undang yang sebenarnya membutuhkan berbagai proses yang cukup panjang. Di Amerika Serikat butuh persetujuan mulai dari komite, House of Representative (HoR), Senat, dan pada tahap-tahap terakhir presiden ikut bertindak dalam pengesahan rancangan undang-undang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Di Amerika Serikat yang berhak untuk mengajukan rancangan undang-undang adalah para anggota kongres (HoR atau Senat). Anggota kongres yang mengajukan rancangan undang-undang dapat dikatakan menjadi “sponsor”. Sementara legislator lain yang mendukung rancangan undang-undang yang diajukan atau ikut terlibat dalam pembuatan rancangan undang-undang dapat meminta dicatatkan sebagai “co-sponsor”. Rancangan undang-undang ini resmi diperkenalkan ketika telah diberi nomor (HR untuk RUU Hor dan S untuk RUU Senat) dan dicetak dalam Congressional Records oleh kantor percetakan pemerintah. Semua rancangan undang-undang atau resolusi diberikan ke satu atau lebih komite HoR atau Senat menurut peraturan khusus mereka (HoR dan atau Senat). Komite ini bertugas untuk mempertimbangkan rancangan undang-undang secara rinci, sebagai contoh adalah mempertimbangkan dampak rancangan undang-undang pada aspek keuangan negara. Berapa biayanya, dananya mencukupi atau tidak, dan lain sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://www.blogger.com/null&quot; name=&quot;more&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Ada dua kemungkinan yang ada ketika rancangan undang-undang sampai ke komite yaitu dapat diterima atau tidak. Jika komite menyetujui rancangan undang-undang maka akan lanjut bergerak ke proses legislatif. Apabila tidak disetujui maka rancangan undang-undang tersebut gagal terlaksana. Komite dapat menolak rancangan undang-undang dengan cara tidak melakukan tindakan apapun terhadap rancangan undang-undang yang sudah diajukan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Setelah berhasil disetujui komite , maka komite akan mengirimkan rancangan undang-undang pada sub-komite. Oleh sub-komite rancangan undang-undang ini akan dipelajari lebih lanjut serta sub-komite akan menerima dan mendengar pendapat publik tentang rancangan undang-undang tersebut. Hampir semua orang dapat memberikan kesaksian pada audiensi. Pejabat pemerintah, pakar industri, masyarakat, dan siapapun yang berkepentingan dalam rancangan undang-undang dapat memberikan kesaksian baik secara langsung maupun tertulis. Pemberitaan mengenai audiensi atau dengar pendapat, serta instruksi untuk memberikan keterangan secara resmi diterbitkan dalam Daftar Federal (Federal Register).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Apabila sub-komite memutuskan untuk melaporkan atau menyarankan rancangan undang-undang kembali ke komite untuk disetujui. Dengan dikirimnya kembali rancangan undang-undang, maka terbuka kesempatan bagi komite untuk membuat perubahan pertama kali pada rancangan undang-undang. Proses ini disebut “Mark Up”. Namun apabila sub-komite tidak menyerahkan kembali rancangan undang-undang kepada komite maka berakhirlah perjalanan rancangan undang-undang tersebut untuk menjadi undang-undang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Rancangan undang-undnag telah sampai di komite, maka komite akan mengkaji berbagai pertimbangan dari sub-komite. Komite dapat melakukan penelaahan, mendengarkan pendapat umum atau hanya memilih atau voting pada laporan sub-komite tersebut. Jika rancangan undang-undang tersebut masih bertahan maka komite akan mempersiapkan dan memberi rekomendasi akhir pada HoR atau Senat. Setelah berhasil melewati tahap ini maka rancangan undang-undang dapat dikatakan “ordered reported” atau “reported”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Setelah rancangan undang-undang dilaporkan, maka laporan tentang rancangan undang-undang akan ditulis dan diterbitkan. Isi laporan tersebut diantaranya adalah tujuan rancangan undang-undang, dampaknya terhadap hukum yang sudah ada, pertimbangan anggaran, pajak baru atau kenaikan pajak yang dibutuhkan oleh rancangan undang-undang serta termasuk juga transkrip dari dengar pendapat umum, dan berbagai pendapat dari komite yang mendukung dan menolak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Rancangan undang-undang ditempatkan pada kalender legislatif HoR atau Senat dan telah dijadwalkan untuk “floor action” atau tahap perdebatan. Speaker of The House (Ketua HoR) dan House Majority Leader (Pimpinan Mayoritas HoR) memutuskan laporan undang-undang mana yang akan diperdebatkan. Setelah debat berakhir, dan amandemen undang-undang disetujui para anggota (full membership) akan melakukan voting menyetujui atau tidak pada rancangan undang-undang. Metode pemilihan yang diizinkan adalah voice vote atau roll-call vote.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Rancangan undang-undang disetujui oleh salah satu kamar kongres (House atau Senat). Lalu dikirimkan ke kamar lain untuk mengambil keputusan. House atau Senat dapat menyetujui, menolak, mengabaikan, atau mengubah rancangan undang-undang. Jika kamar kedua merasa perlu untuk mempertimbangkan sekali lagi rancangan undang-undang maka dibentuk “conference committee” yang anggotanya terdiri dari kedua kamar tersebut. Conference committee bertugas untuk mendamaikan rancangan undang-undang dari HoR dan Senat. Jika komite (conference committee) tidak menyetujui maka komite ikut mengusulkan rancangan undang-undang atau komite dapat mengakhiri “perjalanan” rancangan undang-undang. HoR atau Senat harus menyetujui laporan komite atau rancangan undang-undang akan dikirim kembali ke HoR atau Senat untuk dikaji lebih lanjut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Setelah HoR dan Senat menyetujui atau bisa dikatakan telah “terdaftar” (Enrolled) maka rancangan undang-undang dikirim ke Presiden Amerika Serikat. Presiden dapat menandatangani rancangan undang-undang untuk kemudian menjadi undang-undang atau Presiden dapat menolaknya dengan mengeluarkan hak vetonya. Presiden juga bisa tidak menandatangani rancangan undang-undang dan tidak dikembalikan ke kongres dalam waktu sepuluh hari menjelang congress reses (masa sidang berakhir). Tindakan ini dinamakan “pocket veto”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Kongres juga dapat membatalkan hak veto presiden pada rancangan undang-undang dan memaksanya menjadi undang-undang dengan cara voting. Pemilihan atau voting ini membutuhkan 2/3 suara seluruh anggota kuorum baik HoR maupun Senat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;clear: both;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; border-bottom-color: rgb(78, 171, 255); border-bottom-style: solid; border-bottom-width: 1px; border-top-color: rgb(78, 171, 255); border-top-style: dotted; border-top-width: 3px; font-family: Arial; height: 25px; margin: 10px 0px; padding: 10px 0px 5px; width: 590px;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://homopolitica.blogspot.com/feeds/2130092591716273457/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://homopolitica.blogspot.com/2014/06/from-bill-to-act-proses-pembuatan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1000589502291831411/posts/default/2130092591716273457'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1000589502291831411/posts/default/2130092591716273457'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://homopolitica.blogspot.com/2014/06/from-bill-to-act-proses-pembuatan.html' title='FROM BILL TO ACT : PROSES PEMBUATAN UNDANG-UNDANG DI AMERIKA SERIKAT'/><author><name>Gemapol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16258437395228572060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1000589502291831411.post-7889625752158836478</id><published>2014-06-05T09:46:00.003-07:00</published><updated>2014-06-05T09:46:34.424-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ilmu-Politik"/><title type='text'>Iowa Caucus as The First Caucus</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;post-body entry-content&quot; id=&quot;post-body-1773874406922025897&quot; style=&quot;background-color: white; border-top-color: rgb(221, 221, 221); border-top-style: solid; border-top-width: 5px; line-height: 20px; margin: 1em 0px 0.75em; padding-top: 10px;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Kaukus Iowa merupakan acara pemilihan dimana penduduk negara bagian Iowa memilih calon presiden dari partai Demokrat maupun Republik. Kaukus Iowa merupakan tahap pertama dalam proses pemilihan presiden Amerika Serikat. Iowa menjadi kaukus pertama sejak tahun 1972. Hal ini mejadi perhatian utama pada tahun 1972 dengan adanya artikel seri di New York Times yang membahas tentang bagaimana non-primary states memilih delegasi mereka untuk konvensi nasional. Partai Demokrat menjadi partai pertama yang mengadakan kaukus di Iowa lalu diikuti oleh partai Republik empat tahun kemudian yaitu 1976. Kaukus Iowa ini diselanggerakan pada awal bulan Januari saat tahun pemilihan presiden datang. Kaukus Iowa pertama kali mendapat perhatian besar karena suksesnya McGovern dalam berkampanye. Ia berhasil menarik perhatian media. Dan sejak itu pula pers menaruh perhatian besar pada kaukus Iowa. Para kandidat presiden berusaha untuk menarik perhatian besar di Iowa, begitu pula media akan mengekspos secara lebih besar&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;https://www.blogger.com/null&quot; name=&quot;more&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Kaukus ini hanyalah sebuah pertemuan sederhana, terbuka bagi semua penduduk yang telah terdaftar sebagai pemilih. Penduduk Iowa berkumpul di antara 1774 precincts. Pertemuan ini sering diselenggarakan di gereja, sekolah, perpusatakaan, dan bahkan rumah pribadi. Ketika kaukus dimulai, para pemilih yang hadir membagi diri mereka menjadi beberapa kelompok sesuai dengan calon yang mereka dukung. Para pemilih yang ragu-ragu berkumpul dalam kelompok mereka sendiri dan mempersiapkan diri untuk dirayu oleh pendukung kandidat lainnya. Para pemilih dari masing-masing kelompok kemudian diundang untuk memberikan pidato yang mendukung calon mereka dan mencoba untuk membujuk calon lain untuk bergabung dengan grup mereka. Pada akhir kaukus, penyelenggara menghitung pemilih di setiap kelompok kandidat dan menghitung berapa banyak delegasi ke konvensi daerah masing-masing&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Hasil di Iowa tidak selalu mewakili seluruh penduduk Amerika. Dan , meskipun Iowa adalah salah satu dari sedikit negara yang mengadakan kaukus, namun masih ada 49 negara lainnya yang memegang surat suara yang sama, sehingga masih terbuka kemungkinan bagi calon lain untuk mewakili partai mereka dalam konvensi nasional. Namun, suara dari Iowa sangat didamba-dambakan. Surat kabar dan organisasi politik sering mengambil jejak pendapat untuk mengetahui apa yang penduduk Iowa pikirkan. Mengapa Iowa begitu penting ? Jawaban paling sederhana adalah bahwa Iowa adalah negara bagian pertama di Amerika Serikat yang memiliki kesempatan untuk menunjukkan dukungannya kepada para kandidat yang ada. Senator McGovern pada pmilu 1974 mengatakan bahwa &quot;Iowa is terribly important. It&#39;s the first test in the nation, where we get any test at all&quot; [source: University of Iowa]. “ Iowa adalah sangat penting. Ini adalah tes pertama negara, dimana kita mendapatkan tes keseluruhan”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Tingkat dukungan calon yang diterima di Iowa memberikan indikasi yang masuk akal bagaimana dukungan yang ada di seluruh Amerika Serikat. Jika penduduk Iowa mendukung seorang calon, maka calon ini akan memiliki kesempatan untuk menjadi tumpuan Amerika Serikat. Calon inilah yang dianggap akan menjadi, minimal wakil dari partai tempat calon ini berpolitik atau bahkan akan menjadi presiden Amerika Serikat. Hasil dari kaukus Iowa memberi tahu kepada publik bagaimana platform yang diinginkan. Ini adalah kesempatan pertama bagi para calon untuk mengatahui apakah pesannya itu dapat mempengaruhi pemilih. Sehingga para calon dapat memilih untuk menggunakan model kampanye yang tetap atau mengubahnya. Dan kaukus Iowa sangat penting karena beberapa calon akan mengundurkan diri dari persaingan jika mereka meraih hasil buruk di Iowa&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Sumber :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2012/01/06/172598/Arti-Penting-Kaukus-Iowa&quot; style=&quot;text-decoration: none;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: blue; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2012/01/06/172598/Arti-Penting-Kaukus-Iowa&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: blue; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;http://en.wikipedia.org/wiki/Iowa_caucuses&quot; style=&quot;text-decoration: none;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: blue; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Iowa_caucuses&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: blue; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;http://usgovinfo.about.com/cs/politicalsystem/a/delegateprocess.htm&quot; style=&quot;text-decoration: none;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: blue; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;http://usgovinfo.about.com/cs/politicalsystem/a/delegateprocess.htm&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: blue; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;http://www.pikiran-rakyat.com/node/171863&quot; style=&quot;text-decoration: none;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: blue; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;http://www.pikiran-rakyat.com/node/171863&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: blue; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: blue; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; text-decoration: none;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://history.howstuffworks.com/american-history/iowa-caucus.htm&quot; style=&quot;text-decoration: none;&quot;&gt;http://history.howstuffworks.com/american-history/iowa-caucus.htm&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://homopolitica.blogspot.com/feeds/7889625752158836478/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://homopolitica.blogspot.com/2014/06/iowa-caucus-as-first-caucus.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1000589502291831411/posts/default/7889625752158836478'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1000589502291831411/posts/default/7889625752158836478'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://homopolitica.blogspot.com/2014/06/iowa-caucus-as-first-caucus.html' title='Iowa Caucus as The First Caucus'/><author><name>Gemapol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16258437395228572060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1000589502291831411.post-5892932019435789014</id><published>2014-06-05T09:42:00.001-07:00</published><updated>2014-06-05T09:42:32.641-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ilmu-Politik"/><title type='text'>Monroe Doctrine, Truman Doctrine, Nixon Doctrine, Bush Doctrine</title><content type='html'>&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Doktrin Monroe merupakan kebijakan luar negeri yang terkenal pada masa pemerintahan Presiden James Monroe. Doktrin ini lahir muncul pada tanggal 2 Desember 1823. Pada saat itu Presiden Monroe melarang segala tindakan campur tangan negara-negara Eropa terhadap Amerika Serikat. Doktrin ini juga menegaskan bahwa Amerika Serikat akan bersikap netral terhadap segala konflik-konflik yang mungkin akan muncul di Eropa pada masa yang akan datang. Doktrin ini tidak secara langsung menjadi doktrin nasional. Namun baru pada tahun 1840 doktrin ini mulai diperhitungkan setelah terjadi beberapa peristiwa seperti upaya Inggris dan Prancis untuk melibatkan diri dalam aneksasi Texas, serta perselisihan Inggris di Oregon dan keterlibatannya di California.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;https://www.blogger.com/null&quot; name=&quot;more&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Dalam sejarahnya doktrin ini dikeluarkan untuk menanggapi intervensi dari negara-negara Eropa ke wilayah Amerika Serikat seperti Rusia yang mencoba menebarkan pengaruhnya di Alaska, Amerika Tengah, dan Selatan serta adanya kebangkitan kolonialisme dari Spanyol. Juga termasuk Inggris yang mulai menebarkan pengaruhnya di wilayah Amerika. Dikeluarkannya deklarasi atau doktrin ini sesunggunya merupakan monopoli Amerika Serikat untuk menguasai Amerika Selatan dan Tengah. Dan pada akhirnya doktrin ini juga digunakan oleh Presiden Amerika Serikat seperti John Quincy Adams dan Franklin D. Roosevelt.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Doktrin Truman berasal dari pidato Presiden Harry Truman pada tanggal 12 Maret 1947. Saat itu Truman melakukan pidato sebagai akibat dari keputusan Inggris untuk menghentikan bantuan militer dan ekonominya kepada pemerintah Yunani dalam perang sipil melawan Partai Komunis Yunani. Truman meminta kepada anggota Kongres untuk menyetujui pemberian bantuan kepada Yunani untuk melawan Komunis, selain itu Truman juga mengusulkan untuk membantu Turki karena Inggris juga sudah “lepas tangan” terhadap negara tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Pemerintah Amerika Serikat dalam hal ini mempunyai kepentingan untuk menghambat menyebarnya nilai-nilai komunis. Mereka khawatir apabila Partai Komunis Yunani dapat memenangi perang sipil maka pengaruh ideologi Komunisme bersama Uni Soviet juga akan menyebar luas di Yunani. Untuk itu Presiden Truman mengusulkan kepada Kongres untuk segara memberikan dana bantuan kepada Yunani dan Turki senilai $400.000.000 serta mendukung pengiriman personil sipil dan militer Amerika Serikat ke kedua negara tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Keputusan Truman ini akhirnya disetujui pada tanggal 22 Mei 1947 dengan dua alasan. Yang pertama adalah karena Presiden Truman berpendapat jika peperangan sipil di Yunani dimenangkan oleh kelompok Komunis maka akan menciptakan ketidakstabilan pollitik di Turki, dan pada akhirnya ketidakstabilan tersebut akan menyebar ke seluruh daerah Timur Tengah. Hal ini menurut Amerika Serikat tentu saja tidak bisa dibiarkan karena Amerika Serikat sendiri mempunyai kepentingan yang sangat besar di negara-negara Timur Tengah. Yang kedua adalah pendapat Presiden Truman bahwa Amerika Serikat dipaksa untuk membantu “free peoples” dalam perjuangan mereka melawan “totalitarian regimes”. Rezim totaliter menurut Amerika Serikat hanya akan merusak perdamaian internasional sehingga keberadaannya harus segera dihapuskan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Selanjutnya adalah doktrin Nixon. Doktrin ini muncul pada tahun 1969 ketika Richard Nixon menjabat sebagai presiden Amerika Serikat. Ketika itu perang Vietnam telah berlangsung selama empat tahun. Perang tersebut telah merenggut kurang lebih 25000 nyawa tentara Amerika Serikat maupun Vietnam. Dan nampaknya perang tersebut tidak membawa perkembangan signifikan bagi Amerika Serikat. Ketika masa kampanye presiden tahun 1968 , Presiden Nixon menjanjikan adanya perdamaian terhormat di Vietnam. Ketika Nixon berkunjung ke Guam, pada tanggal 25 Juli 1969 presiden mengeluarkan pernyataan bahwa Amerika Serikat “cukup tegas pada dua poin”. Yang pertama adalah meyakinkan teman Amerika di Asia bahwa “Kami akan menjaga komitmen perjanjian kita” “Namun, sejauh masalah pertahanan militer, kecuali ancaman kekuatan besar yang menggunakan senjata nuklir” Amerika Serikat akan mengambil sikap yang berbeda. Pada masalah Vietnam War Amerika Serikat melalui presidennya mengumumkan rencana Vietnamization. Dimana Amerika akan menarik perlahan-lahan pasukannya dari konflik di Asia Tenggara dan digantikan oleh pasukan Vietnam Selatan. Pada tahun 1973, Amerika Serikat dan Vietnam melakukan perjanjian perdamaian secara resmi. Dan dua tahun kemudian Vietnam Utara berhasil mengalahkan Vietnam Selatan kemudian bersatu kembali di bawah rezim komunis.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Doktrin yang terakhir adalah doktrin Bush. Doktrin ini merupakan kebijakan luar negeri Amerika Serikat pada saat pemerintah George W. Bush. Ungkapan ini pertama kali digunakan oleh Charles Krauthammer pada bulan Juni 2001 untuk menggambarkan penarikan sepihak Amerika Serikat dari perjanjian ABM dan Protokol Kyoto. Setelah kejadian 9/11 muncul kebijakan Amerika untuk memiliki hak dalam mengamankan diri dari negara-negara yang menjadi “sarang” atau memberi bantuan pada terorisme. Doktrin Bush ini sendiri menekankan pada perlawanan terhadap terorisme. Amerika Serikat mengambil kebijakan kontroversial untuk menggulingkan rezim yang dianggap akan mengancam keamanan Amerika Serikat. Berbagai kebijakan ini secara spesifik terdapat dalam teks Dewan Keamanan Nasional yang berjudul National Security Strategy of the United States yang diterbitkan pada tanggal 20 September 2002. Doktrin Bush ini dapat didefinisikan sebagai kumpulan prinsip-prinsip strategi, keputusan kebijakan, dan ide-ide atau dasar pemikiran yang akan membimbing Amerika Serikat dalam melaksanakan kebijakan luar negerinya. Di dalam doktri ini juga terdapat dua pilar utama yaitu (1) Serangan preemptive terhadap musuh potensial dan (2) mempromosikan perubahan rezim menjadi lebih demokratis. Penggunaan kata Doktrin Bush ini di Amerika Serikat, pemerintahannya khususnya, masih jarang digunakan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Sumber :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;http://en.wikipedia.org/wiki/Bush_Doctrine&quot; style=&quot;text-decoration: none;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Bush_Doctrine&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;http://history.state.gov/milestones/1945-1952/TrumanDoctrine&quot; style=&quot;text-decoration: none;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;http://history.state.gov/milestones/1945-1952/TrumanDoctrine&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;http://indonesian.irib.ir/dunia/-/asset_publisher/d8fG/content/id/4929840&quot; style=&quot;text-decoration: none;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;http://indonesian.irib.ir/dunia/-/asset_publisher/d8fG/content/id/4929840&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;http://www.history.com/this-day-in-history/the-nixon-doctrine-is-announced&quot; style=&quot;text-decoration: none;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;http://www.history.com/this-day-in-history/the-nixon-doctrine-is-announced&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;http://www.mediaindonesia.com/read/2010/12/12/185367/77/21/1823-Doktrin-Monroe-Dideklarasikan&quot; style=&quot;text-decoration: none;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;http://www.mediaindonesia.com/read/2010/12/12/185367/77/21/1823-Doktrin-Monroe-Dideklarasikan&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;http://www.u-s-history.com/pages/h1780.html&quot; style=&quot;text-decoration: none;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;http://www.u-s-history.com/pages/h1780.html&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;http://www.u-s-history.com/pages/h255.html&quot; style=&quot;text-decoration: none;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: black; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;http://www.u-s-history.com/pages/h255.html&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://homopolitica.blogspot.com/feeds/5892932019435789014/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://homopolitica.blogspot.com/2014/06/monroe-doctrine-truman-doctrine-nixon.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1000589502291831411/posts/default/5892932019435789014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1000589502291831411/posts/default/5892932019435789014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://homopolitica.blogspot.com/2014/06/monroe-doctrine-truman-doctrine-nixon.html' title='Monroe Doctrine, Truman Doctrine, Nixon Doctrine, Bush Doctrine'/><author><name>Gemapol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16258437395228572060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1000589502291831411.post-2243262609918823677</id><published>2014-06-05T09:39:00.000-07:00</published><updated>2014-06-05T09:39:38.117-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ilmu-Politik"/><title type='text'>Kritik Marx Terhadap Hegel</title><content type='html'>&lt;h1 style=&quot;background-color: white; font-weight: normal; line-height: 1.2em; margin: 0in; padding: 4px 0px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: small;&quot;&gt;&lt;i&gt;Oleh: Cyril Smith&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Adalah Hegel yang pertama kali mengetahui bahwa ‘setiap filsafat... diperuntukkan untuk zamannya sendiri dan terperangkap di dalam keterbatasan-keterbatasan zaman yang bersangkutan’. Tetapi hal itu menimbulkan sebuah pertanyaan: bagaimana sebuah pandangan filsafat dapat tetap hidup sesudah ‘zamannya’ lewat? Jawaban daripada pertanyaan ini membawa kita melebihi argumentasi filosofis ke sebuah penetrasi yang lebih mendalam mengenai ‘zamannya’ dan zaman kita. Itulah mengapa kunci untuk menuju apa yang masih hidup dari pemikiran Hegel terdapat di dalam kritik Marx terhadapnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Pertama-tama, mari kita bahas mengenai apa yang dimaksud oleh Marx dengan &quot;kritik&quot;. Hal itu terkait erat dengan ide Hegel mengenai ‘peleburan’ [&lt;i&gt;aufheben&lt;/i&gt;] [2]: untuk menegasikan, dan dengan demikian memelihara kebenaran yang terdapat di dalam sesuatu. Hal ini sama dengan sikap Marx terhadap agama: yang penting adalah bukan menolak sentimen religius karena sentimen tersebut ‘tidak benar’, tanpa dasar, dan kemudian merencanakan sebuah bentuk agama baru. Tetapi, kita harus menemukan aspek-aspek dari cara hidup yang menimbulkan adanya agama-dan kemudian merevolusionerkan aspek-aspek tersebut. Agama adalah ‘hati dari dunia yang tidak berhati’, sehingga yang penting adalah untuk mendirikan sebuah dunia dengan hati. Daripada sebuah solusi yang bersifat ilusi, kita harus, di dalam praktek, menemukan solusi yang bersifat riil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Karya filosofis daripada Hegel adalah sebuah upaya untuk meringkas essensi daripada keseluruhan sejarah filsafat, dan baginya hal itu adalah sejarah secara keseluruhan. Sehingga, kritik Marx terhadap Hegel adalah sebuah kritik terhadap ilmu filsafat itu sendiri. Ia mengambil kesimpulan bahwa filsafat tidak dapat menjawab pertanyaan yang telah dibawa oleh filsafat ke permukaan. Pada akhirnya, pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak bersifat filosofis, tetapi bersifat praktis. Ketika Marx mengklaim bahwa karyanya bersifat ilmiah [&lt;i&gt;wissenschaftlich&lt;/i&gt;], ini tidaklah berarti bahwa dia sedang mengelaborasi seperangkat doktrin, yang terdiri dari ‘teori-teori’, tetapi, dengan melacak kontradiksi dari ilmu pengetahuan yang ada ke akarnya yang mana adalah cara hidup manusia yang tidak manusiawi, ia dapat menjelaskan kebutuhan untuk merevolusionerkan cara hidup tersebut, untuk melangkah dari kontemplasi ke solusi revolusioner yang ‘kritis-praktis’.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Hal ini sedikit sekali berhubungan dengan cerita kuno mengenai Hegel, sang idealis dan Marx, sang materialis, mengenai transisi dari ‘idealisme’ dan ‘demokrasi’ ke ‘materialisme’ dan komunisme, atau mengenai Marx yang melemparkan sistem konservatif Hegel, untuk mempertahankan metode revolusionernya. Apabila kita menerima seperangkat prasangka yang dulu pernah disebut dengan ‘Marxisme’, maka kita tidak dapat bahkan untuk menjawab pertanyaan kami yang pertama. (Dan itu hanya sebagian kecil daripada permasalahannya.)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Hampir di dalam seluruh hidupnya, Marx secara terus-menerus kembali kepada Hegel, setiap saat mempertajam, baik perbedaannya maupun persetujuannya dengan Hegel. Marx memulai kritiknya terhadap Hegel dengan sejarah daripada filsafat Yunani, di dalam tesis doktoralnya. Ia mengamati secara kritis ringkasan Hegel mengenai sejarah daripada filsafat politik, yang berjudul Philosophy of Right (Filsafat Hukum). Setelah memperlihatkan bahwa konsepsi Hegel mengenai negara modern didasarkan pada relasi ekonomi borjuis, Marx dapat mengidentifikasi sudut pandang Hegel mengenai ekonomi politik. Sekarang ia dapat memulai kritiknya terhadap pencapaian-pencapaian dari pemikiran ekonomi borjuis, sebagai ekspresi yang tertinggi dari ketidakmanusiawian masyarakat borjuis. Di dalam setiap tahap daripada kerjanya, Marx menggunakan studinya terhadap Hegel untuk menembus ke dalam koneksi yang essensial antara sikap filsafat terhadap dunia dan bentuk-bentuk keterasingan sosial yang secara alamiah tidak manusiawi, eksploitatif, dan menindas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Tesis doktoral Marx, yang dikerjakannya antara tahun 1839 dan 1841, adalah mengenai ‘Perbedaan antara Filsafat Alam Demokritean dan Epikurean’. Caranya memperlakukan dua atomis Yunani tersebut, kontradiktif dengan pendapat daripada Hegel-dan hampir semua orang-di mana ia menekankan keaslian daripada Epikurus. Marx mengumumkan bahwa tujuannya adalah untuk menemukan sumber daripada kesadaran-diri manusia dan idea di realitas material. Yang lainnya adalah pendiriannya bahwa filsafat harus ‘keluar menuju dunia’. Menemukan bahwa eksistensi tidak sesuai dengan essensi, maka filsafat harus menjadi praktis, dan ‘memalingkan kemauannya terhadap dunia penampakan’. (I: 85.) Lebih jauh lagi, ‘dunia yang berhadapan dengan sebuah filsafat yang bersifat total di dalam dirinya, adalah...sebuah dunia yang terkoyak-koyak’. (I: 491) Hal ini memberikan arah kepada kritik Marx terhadap agama. Berbeda dengan Kant, Marx menganggap bahwa keyakinan agama tidak hanya sebuah ilusi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Semua tuhan/dewa, baik yang penyembah berhala maupun Kristen, telah memiliki sebuah eksistensi yang riil. Bukankah dewa Moloch berkuasa di zaman purbakala? Bukankah dewa Apollo di Delphi adalah sebuah kekuatan yang riil di dalam kehidupan orang-orang Yunani? (I: 104).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Pada tahun 1843, Marx memulai karyanya mengenai analisis yang terinci dari bagian tentang negara di dalam Philosophy of Right. Ini adalah merupakan puncak dari karya terakhir Hegel, di mana ia berupaya memperlihatkan bagaimana kekuatan negara modern, dipahami secara rasional, merekonsiliasikan kontradiksi-kontradiksi dari ‘masyarakat sipil’, yang mana adalah, masyarakat borjuis. Di mana masyarakat sipil adalah ‘&lt;st1:place w:st=&quot;on&quot;&gt;medan&lt;/st1:place&gt;&amp;nbsp;perang daripada kepentingan pribadi’, filsafat menunjukkan bagaimana negara mengekspresikan kesatuan daripada sebuah kehidupan bangsa. Negara adalah ‘aktualitas dari kebebasan yang konkrit’. Kritik Marx terhadap filsafat negara dari Hegel membuat ia melihat bahwa masyarakat sipil dan negara adalah asing terhadap kehidupan manusia yang sejati, yang mana pada waktu itu disebutkannya sebagai ‘demokrasi sejati’.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Tidak lama setelah ia meninggalkan karyanya mengenai negara, Marx membuat tiga langkah maju ke depan, yang mana merubah hidupnya: ia melihat pentingnya peranan revolusioner dari proletariat; ia menemukan bahwa apa yang ia namakan dengan ‘demokrasi sejati’ berhubungan dengan apa yang disebut oleh yang lain dengan ‘komunisme’; dan ia menyadari bahwa ia harus membuat sebuah studi yang kritis tentang ekonomi politik. Hegel melihat ‘ruh’ maju dengan cara seperti ini: di dalam setiap tahapan penyingkapannya, ruh-totalitas daripada kehidupan dan aktifitas manusia-menemukan dirinya berkontradiksi dengan apa yag telah diproduksi oleh dirinya, yang mana sekarang berhadapan dengannya sebagai sesuatu yang asing. Filsafat merefleksikan keterasingan ini, dan menyelesaikannya melalui refleksi ini, dan hal ini, menurut Hegel, adalah bagaimana ruh menciptakan dirinya. Relasi daripada negara dengan masyarakat sipil adalah sebuah contoh yang utama dari gerakan ini. Pada tahun 1844, kritik Marx, baik terhadap filsafat maupun ekonomi politik, telah mencapai tingkatan di mana ia dapat menemukan sesuatu yang lain di dalam kategori-kategori dan ekspresi Hegel: kemanusiaan memang menciptakan dirinya sendiri-hal ini adalah penemuan yang hebat dari Hegel-tetapi yang fundamental adalah bukan tindakan daripada ruh, tidak pula kerja daripada filsafat, tetapi adalah tenaga kerja material.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Dengan demikian kritik Marx terhadap Hegel melangkah dari sejarah filsafat kuno, ke konsepsi daripada negara. Kemudian baru terlihat bahwa ‘bentuk-bentuk politik berasal dari masyarakat sipil dan anatomi daripada masyarakat sipil dapat ditemukan pada ekonomi politik’. Adalah kritik ekonomi politik yang dikonsentrasikan oleh Marx sampai dengan akhir hayatnya, tetapi hal ini dapat disalahpahami. Marx tidak terlibat di dalam ‘kritik terhadap kapitalisme’, seperti yang sering kita dengar. Hal itu dapat membuat kita terjebak di dalam perangkap utopian. Tugasnya adalah untuk mempelajari ekspresi teoretis tertinggi dari relasi-relasi borjuis, dan memperlihatkan bagaimana teori-teori ini menyembunyikan cara di mana relasi-relasi tersebut menolak apa yang secara essensial adalah manusia. Hubungan pertukaran daripada kepemilikan pribadi, yang dipresentasikan oleh para tokoh Pencerahan sebagai dasar daripada kebebasan, persamaan, dan persaudaraan, sebenarnya adalah ‘lawan daripada relasi sosial’. Uang dan kapital menggabungkan manusia secara bersama-sama, tetapi hanya dengan cara memisahkan mereka. Karena masyarakat telah terfragmentasi, relasi-relasi sosial borjuis memegang kekuasaan atas individu-individu yang dihubungkannya. Manusia memperlakukan sesamanya-dan dirinya sendiri-sebagai benda, sementara kapital menjadi subyek riil yang memerintah hidup mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Hegel telah berupaya untuk mengekspresikan cara kebebasan berkembang hanya di tingkatan masyarakat secara keseluruhan, apa yang disebutnya dengan ‘Ruh’. Marx, yang telah melangkah melebihi tujuan tradisional daripada filsafat, berupaya untuk menyingkap kemungkinan dari individu sosial, yang mana perkembangan bebasnya adalah kondisi, yang tanpanya ‘kebebasan perkembangan daripada semua’ tidak dapat terwujud.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;hr align=&quot;center&quot; size=&quot;2&quot; width=&quot;100%&quot; /&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: black; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;1&lt;/b&gt;&amp;nbsp;Tulisan ini adalah merupakan makalah yang ditulis oleh Cyril Smith untuk seminar Hegel pada tanggal 18 Juni 1999.&amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; margin: 0in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: black; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;2&lt;/b&gt;&amp;nbsp;Untuk lebih jelasnya, kata &quot;&lt;i&gt;aufheben&lt;/i&gt;&quot; dari Hegel berkaitan dengan fase ketiga dari dialektika yang dikenal dengan fase sintesis. Di dalam fase ini, terjadi&amp;nbsp;&lt;i&gt;aufheben&lt;/i&gt;yang berarti terjadinya negasi dan pengangkatan. Terjadinya negasi berarti bahwa tesis dan antitesis sudah lewat dan tidak ada lagi, sedangkan pengangkatan memiliki arti bahwa walaupun tesis dan antitesis dinegasikan, tetapi kebenaran daripada tesis dan&amp;nbsp;&lt;i&gt;antitesis&lt;/i&gt;&amp;nbsp;tetap dipertahankan dan disimpan di dalam sintesis dengan bentuk yang lebih sempurna.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://homopolitica.blogspot.com/feeds/2243262609918823677/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://homopolitica.blogspot.com/2014/06/kritik-marx-terhadap-hegel.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1000589502291831411/posts/default/2243262609918823677'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1000589502291831411/posts/default/2243262609918823677'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://homopolitica.blogspot.com/2014/06/kritik-marx-terhadap-hegel.html' title='Kritik Marx Terhadap Hegel'/><author><name>Gemapol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16258437395228572060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1000589502291831411.post-905093510041923928</id><published>2014-06-03T10:15:00.000-07:00</published><updated>2014-06-05T10:16:08.657-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Filsafat-POlitik"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ilmu-Politik"/><title type='text'>Karl Marx</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/d/d4/Karl_Marx_001.jpg/220px-Karl_Marx_001.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/d/d4/Karl_Marx_001.jpg/220px-Karl_Marx_001.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;Karl Heinrich Marx&lt;/b&gt;&amp;nbsp;(lahir di Trier, Prusia, 5 Mei 1818 – meninggal di London, Inggris, 14 Maret 1883 pada umur 64 tahun) adalah seorang filsuf, pakar ekonomi politik dan teori kemasyarakatan dari Prusia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Walaupun Marx menulis tentang banyak hal semasa hidupnya, ia paling terkenal atas analisisnya terhadap sejarah, terutama mengenai pertentangan kelas, yang dapat diringkas sebagai&amp;nbsp;&lt;i&gt;&quot;Sejarah dari berbagai masyarakat hingga saat ini pada dasarnya adalah sejarah pertentangan kelas&quot;&lt;/i&gt;, sebagaimana yang tertulis dalam kalimat pembuka dari Manifesto Komunis&lt;span style=&quot;line-height: 22.399999618530273px;&quot;&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 22.399999618530273px;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;b&gt;Biografi&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br style=&quot;background-color: white; line-height: 20px;&quot; /&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Karl Marx adalah seseorang yang lahir dari keluarga progresif Yahudi. Ayahnya bernama Herschel, keturunan para rabi, walaupun begitu ayahnya cenderung menjadi deis, yang kemudian meninggalkan agama Yahudi dan beralih ke agama resmi Prusia, Protestanaliran Lutheran yang relatif liberal untuk menjadi pengacara. Herschel pun mengganti namanya menjadi Heinrich. Saudara Herschel, Samuel seperti juga leluhurnya adalah rabi kepala di Trier. Keluarga Marx amat liberal dan rumah Marx sering dikunjungi oleh cendekiawan dan artis masa-masa awal Karl Marx.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white; line-height: 20px;&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;Pendidikan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Marx menjalani sekolah di rumah sampai ia berumur 13 tahun. Setelah lulus dari Gymnasium Trier, Marx melanjutkan pendidikan nya di Universitas Bonn jurusan hukum pada tahun 1835. Pada usia nya yang ke-17, dimana ia bergabung dengan klub minuman keras Trier Tavern yang mengakibatkan ia mendapat nilai yang buruk. Marx tertarik untuk belajar kesustraan dan filosofi, namun ayahnya tidak menyetujuinya karena ia tak percaya bahwa anaknya akan berhasil memotivasi dirinya sendiri untuk mendapatkan gelar sarjana. Pada tahun berikutnya, ayahnya memaksa Karl Marx untuk pindah ke universitas yang lebih baik, yaitu Friedrich-Wilhelms-Universität di Berlin. Pada saat itu, Marx menulis banyak puisi dan esai tentang kehidupan, menggunakan bahasa teologiyang diwarisi dari ayahnya seperti ‘&lt;b&gt;&lt;i&gt;The Deity&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;’ namun ia juga menerapkan filosofi atheis dari Young Hegelian yang terkenal di Berlin pada saat itu. Marx mendapat gelar Doktor pada tahun 1841 dengan tesis nya yang berjudul ‘&lt;i&gt;The Difference Between the Democritean and Epicurean Philosophy of Nature’&lt;/i&gt;&amp;nbsp;namun, ia harus menyerahkan disertasi nya ke Universitas Jena karena Marx menyadari bahwa status nya sebagai Young Hegelian radikal akan diterima dengan kesan buruk di Berlin. Marx mempunyai keponakan yang bernama Azariel, Hans, dan Gerald yang sangat membantunya dalam semua teori yang telah ia ciptakan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Di Berlin, minat Marx beralih ke filsafat, dan bergabung ke lingkaran mahasiswa dan dosen muda yang dikenal sebagai Pemuda Hegelian. Sebagian dari mereka, yang disebut juga sebagai Hegelian-kiri, menggunakan metode dialektika Hegel, yang dipisahkan dari isi teologisnya, sebagai alat yang ampuh untuk melakukan kritik terhadap politik dan agama mapan saat itu. Pada tahun 1981 Marx memperoleh gelar doktor filsafatnya dari Universitas Berlin, sekolah yang dulu sangat dipengaruhi Hegel dan para Hegelian Muda, yang suportif namun kritis terhadap guru mereka. Desertasi doktoral Marx hanyalah satu risalah filosofis yang hambar, namun hal ini mengantisipasi banyak gagasannya kemudian. Setelah lulus ia menjadi penulis di koran radikal-liberal. Dalam kurun waktu sepuluh bulan bekerja disana menjadi editor kepala. Namun, karena posisi politisnya,koran ini ditutup sepuluh bulan kemudian oleh pemerintah. Esai-esai awal yang di publikasikan pada waktu itu mulai merefleksikan sejumlah pandangan-pandangan yang akan mengarahkan Marx sepanjang hidupnya. Dengan bebas, esai-esai tersebut menyebarkan prinsip-prinsip demokrasi, humanisme, dan idealisme muda. Ia menolak sifat abstrak filsafat Hegelian, impian naif komunis utopis, dan para aktivis yang menyerukan hal-hal yang dipandangnya sebagai aksi politik prematur.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Ketika menolak aktivis-aktivis tersebut, Marx meletakkan landasan karyanya. Marx terkenal karena analisis nya di bidang sejarah yang dikemukakannya di kalimat pembuka pada buku&lt;i&gt;&lt;b&gt;‘Communist Manifesto’&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(1848) :&amp;nbsp;&lt;i&gt;&quot;Sejarah dari berbagai masyarakat hingga saat ini pada dasarnya adalah sejarah tentang pertentangan kelas.”&lt;/i&gt;&amp;nbsp;Marx percaya bahwa kapitalisme yang ada akan digantikan dengan komunisme, masyarakat tanpa kelas setelah beberapa periode dari sosialisme radikal yang menjadikan negara sebagai revolusi keditaktoran proletariat (kaum paling bawah di negara Romawi)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br style=&quot;background-color: white; line-height: 20px;&quot; /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Akhir dari Kapitalisme&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Marx sering dijuluki sebagai bapak dari komunisme yang berasal dari kaum terpelajar dan politikus. Ia memperdebatkan bahwa analisis tentang kapitalisme miliknya membuktikan bahwa kontradiksi dari kapitalisme akan berakhir dan memberikan jalan untuk komunisme.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Di lain tangan, Marx menulis bahwa kapitalisme akan berakhir karena aksi yang terorganisasi dari kelas kerja internasional. “Komunisme untuk kita bukanlah hubungan yang diciptakan oleh negara, tetapi merupakan cara ideal untuk keadaan negara pada saat ini. Hasil dari pergerakan ini kita yang akan mengatur dirinya sendiri secara otomatis. Komunisme adalah pergerakan yang akan menghilangkan keadaan yang ada pada saat ini. Dan hasil dari pergerakan ini menciptakan hasil dari yang lingkungan yang ada dari saat ini.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Hubungan antara Marx dan Marxism adalah titik kontroversi. Marxism tetap berpengaruh dan kontroversial dalam bidang akademi dan politik sampai saat ini. Dalam bukunya Marx,&amp;nbsp;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Das Kapital (2006)&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;, penulis biografi Francis Wheen mengulangi penelitian David McLellan yang menyatakan bahwa sejak Marxisme tidak berhasil di Barat, hal tersebut tidak menjadikan Marxisme sebagai ideologi formal, namun hal tersebut tidak dihalangi oleh kontrol pemerintah untuk dipelajari.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Marx Menikah pada tahun 1843 dan segera terpaksa meninggalkan Jerman untuk mencari atmosfer yang lebih liberal di Paris. Disana ia terus menganut gagasan Hegel dan para pendukungnya, namun ia juga mendalami dua gagasan baru –sosialisme Perancis dan ekonomi politik Inggris. Inilah cara uniknya mengawinkan Hegelianisme, sosialisme, dengan ekonomi politik yang membangun orientasi intelektualitasnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Di Perancis ia bertemu dengan Friedrich Engels sahabat sepanjang hayatnya, penopang finansialnya dan kolaboratornya. Engels adalah anak seorang pemilik pabrik tekstil, dan menjadi seorang sosialis yang bersifat kritis terhadap kondisi yang dihadapi oleh para kelas pekerja. Kendati Marx dan Engels memiliki kesamaan orientasi teoritis, ada banyak perbedaan di antara kedua orang ini. Marx cenderung lebih teoritis, intelektual berantakan, dan sangat berorientasi pada keluarga. Engels adalah pemikir praktis, seorang pengusaha yang rapi dan cermat, serta orang yang sangat tidak percaya pada institusi keluarga. Banyak kesaksian Marx atas nestapa kelas pekerja berasal dari paparan Engels dan gagasan-gagasannya. Pada tahun 1844 Engels dan Marx berbincang lama disalah satu kafe terkenal di Perancis dan ini mendasari pertalian seumur hidup keduanya. Dalam percakapan itu Engels mengatakan,&amp;nbsp;&lt;i&gt;&quot;Persetujuan penuh kita atas arena teoritis telah menjadi gamblang dan kerja sama kita berawal dari sini.&quot;&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Tahun berikutnya, Engels mepublikasikan satu karya penting, The Condition of the Working Class in England. Selama masa itu Marx menulis sejumlah karya rumit (banyak di antaranya tidak dipublikasikan sepanjang hayatnya), termasuk&amp;nbsp;&lt;b&gt;&lt;i&gt;The Holy Family&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&amp;nbsp;dan&amp;nbsp;&lt;b&gt;&lt;i&gt;The German Ideology&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&amp;nbsp;(keduanya ditulis bersama dengan Engels), namun ia pun menulis&amp;nbsp;&lt;b&gt;&lt;i&gt;The Economic and Philosophic Manuscripts of 1844&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, yang memayungi perhatiannya yang semakin meningkat terhadap ranah ekonomi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Di tengah-tengah perbedaan tersebut, Marx dan Engels membangun persekutuan kuat tempat mereka berkolabirasi menulis sejumlah buku dan artikel serta bekerja sama dalam organisasi radikal, dan bahkan Engels menopang Marx sepanjang hidupnya sehingga Marx menagbdikan diri untuk petualang politik dan intelektualnya. Kendati mereka berasosiasi begitu kuat dengan nama Marx dan Engels, Engels menjelaskan bahwa dirinya partner junior Marx.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Sebenarnya banyak orang percaya bahwa Engels sering gagal memahami karya Marx. Setelah kematian Marx, Engels menjadi juru bicara terkemuka bagi teori Marxian dan dengan mendistorsi dan terlalu meyederhanakan teorinya, meskipun ia tetap setia pada perspektif politik yang telah ia bangun bersama Marx. Karena beberapa tulisannya meresahkan pemerintah Prussia, Pemerintahan Perancis pada akhirnya mengusir Marx pada tahun 1845, dan ia berpindah ke Brussel. Radikalismenya tumbuh, dan ia menjadi anggota aktif gerakan revolusioner internasional. Ia juga bergabung dengan liga komunis dan diminta menulis satu dokumen yang memaparkan tujuan dan kepercayaannya. Hasilnya adalah&amp;nbsp;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Communist Manifesto&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&amp;nbsp;yang terbit pada tahun 1848, satu karya yang ditandai dengan kumandang slogan politik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Pada tahun 1849 Marx pindah ke London, dan karena kegagalan revolusi politiknya pada tahun 1848, ia mulai menarik diri dari aktivitas revolusioner lalu beralih ke penelitian yang lebih serius dan terperinci tentang bekerjanya sistem kapitalis. Pada tahun 1852, ia mulai studi terkenalnya tentang kondisi kerja dalam kapitalisme di British Museum. Studi-studi ini akhirnya menghasilkan tiga jilid buku Capital, yang jilid pertamanya terbit pada tahun 1867; dua jilid lainnya terbit setelah ia meninggal. Ia hidup miskin selama tahun-tahun itu, dan hampir tidak mampu bertahan hidup dengan sedikitnya pendapatan dari tulisan-tulisannya dan dari bantuan Engels.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Pada tahun 1864 Marx terlibat dalam aktivitas politik dengan bergabung dengan gerakan pekerja Internasional. Ia segera mengemuka dalam gerakan ini dan menghabiskan selama beberapa tahun di dalamnya. Namun disintegrasi yang terjadi di dalam gerakan ini pada tahun 1876, gagalnya sejumlah gerakan revolusioner, dan penyakit yang dideritanya menandai akhir karier Marx. Istrinya meninggal pada tahun 1881, anak perempuannya tahun 1882, dan Marx sendiri meninggal pada tanggal 14 Maret 1883.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Dalam hidupnya, Marx terkenal sebagai orang yang sukar dimengerti. Ide-ide nya mulai menunjukkan pengaruh yang besar dalam perkembangan pekerja segera setelah ia meninggal. Pengaruh ini berkembang karena didorong oleh kemenangan dari Marxist Bolsheviks dalamRevolusi Oktober Rusia. Ide Marxian baru mulai mendunia pada abad ke-20.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://homopolitica.blogspot.com/feeds/905093510041923928/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://homopolitica.blogspot.com/2014/06/karl-marx.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1000589502291831411/posts/default/905093510041923928'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1000589502291831411/posts/default/905093510041923928'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://homopolitica.blogspot.com/2014/06/karl-marx.html' title='Karl Marx'/><author><name>Gemapol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16258437395228572060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1000589502291831411.post-4386224525337742489</id><published>2014-06-02T10:17:00.000-07:00</published><updated>2014-06-05T10:18:15.366-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Analisis"/><title type='text'>Kelas di dalam Kelas Pekerja</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSqwgTPDThAXPtPY_PQuZuPRUjG3qvUryGKrBC-1cEcmp7DYsOZSw&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSqwgTPDThAXPtPY_PQuZuPRUjG3qvUryGKrBC-1cEcmp7DYsOZSw&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Di pemakaman Highgate, London, pada sebuah batu makam tertulis “Kelas Pekerja Sedunia, Bersatulah!”. Tulisan tersebut tertera di makam Karl Marx, yang meninggal 130 tahun yang lalu. Pertanyaannya, apakah impian besar Kelas Pekerja Sedunia telah terwujud? Tentu saja tidak, jika yang kita harapkan ialah penghapusan kerja upahan bagi kelas pekerja, namun jawabannya bisa jadi ya, apabila kita menjawabnya bahwa kelas pekerja sedunia dipersatukan oleh rantai besar kapitalisme di manapun ia berada.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Kelas pekerja, seringkali dikenal dengan istilah proletariat, berasal dari bahasa Romawi, proletarius-dengan suku kata utama proles (keturunan)-mereka yang hanya memiliki keturunan untuk didaftarkan sebagai “sesuatu yang dimiliki” di dalam sistem sensus Romawi. Karl Marx (yang mempelajari tata hukum Romawi, di Universitas Berlin), meminjam istilah proletariat untuk mendefinikan “kaum yang ada di corak produksi kapitalisme, yang ditandai dengan kerja-upahan, karena kaum tersebut tidak memiliki kuasa atas faktor produksi (modal, mesin-mesin, tanah dan bangunan), maka mereka bertahan hidup dengan cara menukarkan waktu dan kapasitas kerja mereka untuk memproduksi komoditi (barang dan jasa yang gunanya diproduksi adalah untuk diperjual-belikan) bagi para pemilik modal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Lebih lanjut lagi, Karl Marx mendefinisikan proletariat sebagai:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;(1) proletariat ialah “Kelas Pekerja Modern”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;(2) proletarian, atau orang-orang yang termasuk dalam kategori kelas proletariat, tak memiliki cara lain untuk bertahan hidup selain dengan menjual tenaga kerjanya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;(3) posisi mereka membuat mereka sangat tergantung hidupnya pada para kapitalis, pemilik kapital&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;(4) proletariat menjual dirinya sendiri, bukan menjual produk seperti yang dilakukan oleh borjuis-kecil dan kapitalis&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;(5) proletariat menjual diri mereka sendiri untuk mendapatkan upah, bukan seperti budak yang diperjual-belikan oleh individu-individu lain dan menjadi harta milik bagi sang pemilik budak&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;(6) walaupun terminologi ‘kelas pekerja’ selalu dikonotasikan sebagai pekerja fisikal, dengan menggunakan tenaga fisiknya, Marx telah mendeskripsikan dengan tepat bahwa kerja dengan menggunakan otak pun termasuk proletariat selama ia melakukannya untuk mendapatkan upah dari kapitalis, yang dengan demikian maka&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;(7) proletariat adalah sebuah kelas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Satu hal lain yang perlu diperhatikan adalah adanya hubungan/keterkaitan dari definisi proletariat dengan konteks kerja-upahan. Kerja-upahan adalah bentuk produksi di mana proletariat terlibat penuh dalam proses kerjanya, yaitu, dengan menjual waktu dan tenaga kerja milik mereka mereka sesuai dengan waktu kerja dan jenis kerja yang ditentukan oleh Kapitalis (para pemilik modal), dimana nantinya, kapitalis akan memberikan gaji atau bayaran bagi proletariat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Di Indonesia sendiri, istilah proletariat digunakan secara terbatas, lebih umum dikenal dengan istilah kelas pekerja. Dalam kaidah Bahasa Indonesia pun, yang kita gunakan sehari-hari, Prof. Nugroho Notosusanto, seorang aktor propaganda yang sangat anti-komunis, yang menjadi jajaran menteri di masa Orde Baru, mendefinisikan kata “pekerja”, “pegawai” dan “karyawan” sebagai sebutan untuk mereka yang bekerja, terutama di bidang jasa, di sektor yang sedikit atau hampir sama sekali tidak menggunakan kerja fisik, biasa kita kenal dengan istilah “pekerja kerah putih” atau “pekerja kantoran”. Sementara kata “buruh” digunakan sebagai sebutan bagi mereka yang bekerja di bidang manufaktur dan sebagian besar pekerjaannya dilakukan dengan tenaga fisik, biasa kita kenal dengan istilah “pekerja kerah biru”. Akibatnya, kedua kaum yang menjual waktu serta tenaganya ini merasa terpisah, karena masing-masing, satu sama lainnya menganggap diri mereka sebagai dua bagian yang terpisah. Kita pun seolah mengiyakan, apakah semua pekerja berada dalam keadaan yang serupa ataupun setara? Berdasarkan kenyataan yang coba dibentuk oleh Kapitalisme, kita dapat memahami dan mengamati bahwa ada perbedaan pola kerja maupun pola pengupahan di satu perusahaan dengan perusahaan lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Belum lagi adanya kekacauan yang ditimbulkan oleh perbedaan lainnya, baik dalam istilah maupun dalam praktek, seperti pekerja paruh waktu dan pekerja penuh waktu, pekerja outsourcing (alih daya), pekerja kontrak, dan pekerja tetap, pekerja jam reguler (8 jam kerja sehari, selama minggu kerja) dan pekerja jam non reguler (contoh: supir taksi, petugas keamanan, dimana jadwal kerjanya bisa saja tidak libur di hari Sabtu dan atau Minggu, namun diluar hari-hari tersebut), pekerja formal dan pekerja informal (mereka yang bekerja di UKM-UMKM, perusahaan kecil,serta industri rumah tangga, pekerja rumah tangga), “pekerja keterampilan khusus” dan “pekerja tanpa keterampilan khusus” dan masih banyak contoh lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Dalam struktur organisasi pun kita melihat adanya jenjang dari kelas pekerja ini mulai CEO (Chief Executive Officer, orang yang dipercaya pemegang saham-kapitalis-sebagai pelaksana bisnis perusahaan) di level yang paling atas, kemudian direktur, manajemen, supervisor, staff, hingga “pegawai rendah” macam office boy/office girl, pegawai magang, operator mesin fotokopi dan lain-lainnya. Ditambah lagi dengan adanya perlakuan istimewa terhadap mereka yang lama bekerja, adalah sangat umum, bahwa perusahaan menambahkan titel “senior” pada jabatan kerja tertentu (contoh: Senior Supervisor) yang juga memunculkan tunjangan yang diukur berdasarkan lamanya waktu bekerja (waktu pengabdian terhadap perusahaan).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Keragaman dan perbedaan-perbedaan yang dialami oleh kelas pekerja, memunculkan perbedaan cara pandang atas kenyataan sehari-hari dan hubungan sosial mereka. Salah satu contoh yang lumrah ialah, dilarangnya pekerja dengan jenjang manajemen untuk aktif dan tergabung di dalam serikat buruh, cara pandang pekerja dengan tingkatan yang lebih tinggi lebih berpihak terhadap borjuasi kapital, tuntutan tolak outsourcing yang mengabaikan teman-teman pekerja lainnya di 5 bidang (jasa kebersihan, jasa keamanan, jasa angkutan (transportasi), penyediaan makanan dan minuman (catering), konstruksi dan pertambangan), isu-isu buruh tani dan nelayan yang tidak masuk kedalam kepentingan besar serikat pekerja industri, dan tentu saja kita dapat menyebutkan beberapa permasalahan yang dihadapi lainnya, yang menjelaskan adanya perbedaan sikap yang didasarkan atas perbedaan cara pandang yang dibentuk oleh kenyatan sehari-hari dan hubungan sosial. Kebobrokan pada perjuangan kelas pekerja, ditambah lagi dengan adanya mitos “kelas menengah”, dimana sebagian besar anggotanya terdiri dari kelas pekerja yang lebih tinggi atau lebih mapan jabatannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Di Indonesia saat ini, serikat-serikat pekerja entah berapa banyak jumlahnya, namun upaya untuk membentuk sebuah gabungan serikat buruh yang otonom (mandiri, terlepas dari kekuatan ekonomi politik kaum borjuis) dan non-hierarkis (tidak berjenjang) belum dapat dikatakan ”menuju titik cerah”. Sementara di sisi lainnya borjuis berupaya untuk menciptakan serikat-serikat pekerja tandingan. Belum lagi sifat beberapa serikat pekerja yang cenderung mau berkompromi dengan penguasa serta kecenderungan nasionalisme sempit yang diusungnya. Gerakan pekerja Indonesia bahkan terpisah dan asing dengan gerakan pekerja Internasional, bahkan sejak zaman PKI pun, gerakan pekerja hanya berhubungan dengan gerakan pekerja di Blok Soviet, walaupun beberapa saat belakangan keaktifan pekerja migran Indonesia, membuka harapan bagi terciptanya sebuah solidaritas pekerja Internasional. Kegagalan gerakan pekerja (yang cenderung dimotori oleh serikat pekerja) dalam membahas isu-isu yang ditimbulkan oleh Kapitalisme di luar hubungan kerja dan pengupahan, seperti isu lingkungan hidup, penindasan atas perbedaan kelamin (dominasi patriarki, genderisasi, isu pelecehan seksual), isu kebebasan beragama, Hak Asasi Manusia, hak masyarakat adat, perampasan lahan, pengelolaan kota dan militerisme serta isu-isu lainnya menjadikan sebagian besar kelas pekerja (terutama yang diharapkan akan lebih progresif dan militan setelah bergabung dengan serikat pekerja) seolah katak dalam tempurung.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Kegagalan, untuk memandang bahwa istilah pekerja dan buruh hanya mencakup golongan tertentu saja, telah berhasil merombak pemikiran kita di Indonesia untuk tunduk kepada kenyataan yang diciptakan oleh kapitalisme. Sekat-sekat yang masuk lewat bahasa berubah menjadi anggapan atas kenyataan sehari-hari yang berujung kepada tindakan-tindakan yang merugikan bagi proletariat itu sendiri. Di titik inilah istilah proletariat menjadi penting. Karena ia mampu melampaui sekat-sekat antara masing-masing kita yang menganggap diri kita buruh, karyawan, pegawai, pekerja,serta jenjang-jenjang jabatan dalam organisasi kerja dan istilah-istilah lainnya, lalu menyatukan diri kita semua sebagai proletariat. Sudah seharusnya May Day menjadi hari kita semua, hari di mana proletariat mengingatnya sebagai hari penentangan proletariat terhadap kapitalisme. Sudah seharusnya kejahatan kapitalisme, bukan hanya menjadi perhatian para Marxis dan pekerja industri kerah biru, melainkan juga pekerja kerah putih, pelajar dan mahasiswa, ibu rumah tangga, penganggur, buruh tani, pekerja jasa, dan siapapun juga yang merayakannya atas nama mereka sendiri, bukan lagi atas nama solidaritas ataupun belas kasihan terhadap pekerja industri kerah biru dan mereka yang dimiskinkan. Tapi atas nama diri kita sendiri, diri kita semua, demi solidaritas universal sesama proletariat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; font-family: Verdana; line-height: 20px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Adalah sebuah pilihan bagi proletariat di Indonesia, untuk terus tersekat-sekat, untuk terus tertindas dan dibodohi, untuk membiarkan kapitalisme menguasai dan menghancurkan bumi, untuk membuktikan kegagalan bahwa proletariat akan tampil sebagai kelas yang menghapuskan kerja upahan dan kelas diantara manusia. Atau apakah proletariat Indonesia, akan lebih memilih mengubah pandangan hidup, serta perjuangannya? Entahlah, jawaban ada di setiap masing-masing diri proletariat Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://homopolitica.blogspot.com/feeds/4386224525337742489/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://homopolitica.blogspot.com/2014/06/kelas-di-dalam-kelas-pekerja.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1000589502291831411/posts/default/4386224525337742489'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1000589502291831411/posts/default/4386224525337742489'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://homopolitica.blogspot.com/2014/06/kelas-di-dalam-kelas-pekerja.html' title='Kelas di dalam Kelas Pekerja'/><author><name>Gemapol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16258437395228572060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1000589502291831411.post-6174239830787846869</id><published>2014-06-02T10:03:00.000-07:00</published><updated>2014-06-05T10:07:36.791-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Analisis"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ilmu-Politik"/><title type='text'>Demokrasi dan Pendekatan Budaya</title><content type='html'>&lt;h2 class=&quot;post-title entry-title&quot; style=&quot;background-color: white; border: none; font-weight: normal; line-height: 30px; list-style: none; margin: 0px 0px 5px; outline: none; padding: 0px; text-shadow: rgb(157, 157, 157) 0px 1px 1px; text-transform: capitalize;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: small;&quot;&gt;Arti, Ciri-Ciri, Dan Prinsip Demokrasi&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 20px;&quot;&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;line-height: 22px;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Pengertian demokrasi:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 22px;&quot;&gt;Secara etimologi, demokrasi berasal dari bahasa Yunani yaitu dari kata&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 22px;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;line-height: 22px;&quot;&gt;demos&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 22px;&quot;&gt;(rakyat) dan&lt;/span&gt;&lt;i style=&quot;line-height: 22px;&quot;&gt;&amp;nbsp;kratos&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 22px;&quot;&gt;(pemerintah). Jadi, demokrasi berarti pemerintahan rakyat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;line-height: 22px;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Secara umum, demokrasi adalah system pemerintahan yang melibatkan rakyat dalam berlangsungnya pemerintahan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 22px;&quot;&gt;Menurut Abraham Lincoln, demokrasi yaitu pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 22px;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;line-height: 22px;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Ciri-ciri demokrasi:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ol style=&quot;line-height: 22px;&quot;&gt;
&lt;li style=&quot;border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Adanya jaminan HAM (pasal 28A-J UUD 1945)&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li style=&quot;border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Adanya jaminan kemerdekaan bagi warga Negara untuk berkumpuldan beroposisi&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li style=&quot;border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Perlakuan dan kedudukan sama bagi seluruh warga negara dalam hukum (pasal 27 ayat 1 UUD)&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li style=&quot;border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Kekuasaan yang dikontrol oleh rakyat melalui perwakilan yang dipilih rakyat&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li style=&quot;border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Jaminan kekuasaan yang telah disepakati bersama&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;line-height: 22px;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Prinsip-prinsip demokrasi:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;ol style=&quot;line-height: 22px;&quot;&gt;
&lt;li style=&quot;border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Kekuasaan pemerintah dibatasi oleh konstitusi&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li style=&quot;border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Pemilu yang bebas, jujur, dan adil (agar mendapat wakil rakyat yang sesuai aspirasi rakyat)&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li style=&quot;border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Jaminan Hak Asasi Manusia&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li style=&quot;border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Persamaan kedudukan di depan hukum&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li style=&quot;border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Peradilan yang jujur dan tidak memihak untuk mencapai keadilan&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li style=&quot;border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Kebebasan berserikat dan mengeluarkan pendapat&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;li style=&quot;border: none; list-style: none; margin: 0px; outline: none; padding: 0px; text-align: justify;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Kebebasan pers&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 16px; padding: 6px 0px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Diskursus dan diskusi umum mengenai hubungan antara demokrasi dengan toleransi atau sikap toleran harus dimasukkan ke dalam kerangka makro-nya, yaitu pendekatan kultural terhadap demokrasi dan sistem politik lainnya. Pendekatan kultural terhadap demokrasi harus diakui lebih terasa kaya makna dan kreatif (more nuanced), di tengah hegemoni pendekatan struktural dan/atau institusional terhadap demokrasi atau sistem politik lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 16px; padding: 6px 0px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Pendekatan kultural ini memiliki jejak cukup panjang dalam kajian sosial, dan secara khusus mengenai demokrasi atau sistem politik khususnya di era 1940 an dan 1950 an, seperti Gabriel Almond, Sydney Verba, Lucian Pye, dan Martin Lipset, dan yang sedikit baru kemunculannya adalah Lawrence Harrison. Kajian budaya terhadap isu sosial, dengan mengedepankan isu demokratisasi, modernisasi, dan globalisasi, banyak merujuk tokoh-tokoh ternama, seperti Robert Putnam, Francis Fukuyama, Robert Kaplan dan tentunya Samuel Hantington (Zuhroh 2011; Huntington 1991, 1968). Kajian kultural secara umum lebih menekankan faktor-faktor budaya dan juga sosio-ekonomis dalam menjelaskan demokrasi. Pada sisi lain, pendekatan struktural-instutisional banyak berkutat pada pembangunan dan penataan institusi-institusi politik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 16px; padding: 6px 0px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Secara khusus, misalnya, studi yang dilakukan oleh Lipset pada tahun 1959, yang secara jelas banyak dipengaruhi dominasi teori modernisasi pada saat itu, lebih banyak didasarkan pada hubungan antara income per-capita dengan demokrasi. Lipset secara khusus berargumentasi bahwa demokrasi itu muncul dalam masyarakat yang telah me-modernisasi. Modernisasi sendiri, dalam konteks ini, dapat dimaknai sebagai suatu proses yang identik dengan urbanisasi, industrialisasi, pentingnya peningkatan pendidikan, dsb. Beberapa penemuan penting Lipset yang mendukung arguemntasinya tersebut adalah, diantaranya, negara yang kaya cenderung lebih demokratis; negara yang penduduknya lebih berpendidikan cenderung lebih demokratis; dsb. (Lispset 1959). Sejalan dengan Lipset adalah pendekatan yang dugunakan oleh Moore (1966) walapun Moore sendiri banyak mengkritik Lipset yang dianggap cenderung melihat faktor modernisasi sebagai faktor ”one-sided” yang tidak ambigu terhadap munculnya demokrasi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 16px; padding: 6px 0px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Diskusi mengenai demokrasi, dalam perspektif kultural, banyak melihat unsur-unsur nilai dan budaya dalam hubunganya dengan munculnya demokrasi dan demokratisasi. Secara khusus, bagaimana nilai-nilai dan prinsip-prisnip universal demokrasi tersebut bertemu dengan nilai-nilai budaya lokal politik. Pertanyaanya adalah apakah demokrasi memberikan kontribusi dan peran dalam tumbuhnya nilai-nilai toleransi dan penciptaan haromoni? Atau apakah pembangunan dan/atau konstruksi sosial nilai-nilai toleransi diharuskan sebagai prasyarat sosio-ekologis tumbuhnya demokrasi? Atau apakah karakrer politik atau demokrasi mengarah pada penciptaan harmoni antar kelompok, baik secara sosial maupun ethnis? ” Dose democracy require harmony and tolerance? OR does democracy lead to social harmony and tolerance?”.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 16px; padding: 6px 0px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, pertama-tama, perlu ditelusuri jejak transportasi demokrasi di Indonesia, dan secara umum di Dunia Ketiga. Dari upaya penelusuran sosio-historis tersebut, perlu dikaji secara lebih khusus aspek epistemologis dari produk impor demokrasi tersebut. Terakhir, kita perlu melihat hubungan dan interaksi antara prinsip dan nilai universal demokrasi dengan nilai dan budaya lokal Indonesia, dengan fokus pada isu khusus toleransi dan munculnya harmoni sosial.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 16px; padding: 6px 0px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;strong style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Demokrasi, Transportasi dan Nilai&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 16px; padding: 6px 0px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Demokrasi, harus diakui, merupakan produk budaya Barat yang berisikan seperangkat nilai dan budaya masyarakatnya. Demokrasi menjelma menjadi suatu sistem politik tersendiri yang banyak membawa masyarakat Barat menjadi maju dan makmur. Kemajuan yang dibawakan oleh sistem politik demokrasi tersebut antara lain berupa kemajuna ilmu pengetahuan, tehnologi, pemenuhan hak-hak warganya tanpa membedakan ras, agama dan suku. Kemakmuran yang dirasakan oleh masyarakat Barat sebagai efek dari demokrasi ini banyak bersinergi dengan dengan filosofi liberalisme dan materialisme yang mereka pegang. Kemakmuran berarti tersedianya dan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan materalistik mereka (Rauf, dalam Zuhro 2011).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 16px; padding: 6px 0px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Demokrasi sendiri sebagai seperangkat pengetahuan abstrak dan praktek terbatas dapat merujuk Roma dan Yunani Kuno, pada sebelum abad ke-5 S.M., di mana banyak berdiri polis-polis atau ”city-state” (negara kota) di Yunani, dan secara khsusu berutang pada para filusuf Yunani Kuno, ternasuk Plato dan Aristoteles. Masalah umum yang muncul dalam perdebatan folosofis tersebut adalah bagaimana mengorganisasikan pemerintahan negara kota tersebut agar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dan menciptakan kemakmuran untuk masyarakat. Paling tidak hal tersebut sampai dengan abad ke-17 di Inggris, khususnya selama perang sipil (Acemoglu &amp;amp; Robinson 2006)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 16px; padding: 6px 0px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Secara singkat demokrasi muncul sebagai suatu sistem politik yang secara umum banyak dipakai ebagai sistem politik permanen oleh negara-negara Barat (Eropa dan Amerika Utara) adalah sejak abad ke 19 an. Sebelum abad ke-19, dapat dikatakan hanya sedikit abstraksi dan teorisasi mengenai demokrasi yang muncul, sampai dengan munculnya tokoh-tokoh seperti Thomas Jefferson, Jhon Stuart Mills, Alexis de Tocqueville, dan Abraham Lincoln (Mayo 1968). Pertanyaannya adalah mengapa dalam abad ke-19? Sebelum abad ke-19, komunitas Eropa yang hidup secara terpencar di daerah-daerah pedesaan. Dalam koteks ini, kita dapat memikirkan revolusi besar-besaran di Eropa pada abad ke-19 yang menciptakan kombinasi antara meningkatnya peroses urbanisasi dan pekerjaan-pekerjaan di pabrik. Faktor-faktor inilah yang menginisiasi munculnya gelombang beasar-besaran demokrasi di abad ke-19 Eropa. Kasus-kasus revolusi 1830 di Perancis dan 1848 di Jerman dapat menjadi kasus penting tersendiri (Acemoglu &amp;amp; Anderson 2006).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 16px; padding: 6px 0px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Kehadiran demokrasi yang telah banyak menciptakan kemakmuran dan kemajuan bagi bangsa-bangsa Barat tersebut telah menjadi bangsa-bangsa tersebut sebagai referensi dan model utama pembangunan politik dan ekonomi bangsa-bangsa di Asia dan Afrika. Transportasi demokrasi ke negara-negara di Asia dan Afrika tersebut secara khusus banyak difasilitasi oleh kehadiran negara-negara Barat tersebut sebagai penjajah. Kolonialisasi yang dilakukan oleh negara-negara Barat tersebut sebagai refleksi, dan bahkan eskpresi keserakahan (greediness), dari watak materialsme mereka secara tidak sengaja telah membawa banyak pelajaran dan pengetahuan mengenai sistem politik demokrasi terhadap negara-negara jajahannya. Secara umum, harus diakui bahwa munculnya kecendrungan untuk meniru model pembangunan politik dan ekonomi Barat ini muncul sejak awal abad 20.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 16px; padding: 6px 0px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Secara khusus, negara-negara Asia dan Afrika secara konkrit mentrasportasi sistem demokrasi tersebut setelah perang Dunia Ke-II, di mana banyak di antara negara-negara tersebut yang telah memperoleh kemerdekaanya, tidak terkecuali Indonesia yang telah mengklaim kemerdekaanya di bawah kepemimpinan Soekarno pada tahun 1945. Setelah merdeka, banyak negara-negara tersebut yang tidak memiliki referensi model pemerintahan. Model demokrasi menjadi pilihan utama, daripada sistem komunisme, yang dalam pespektif ”rational-choice”, dianggap kurang membawa dan memberikan kemakmuran dan kesejahteraan pada rakyatnya. Oleh karenanya, pilihan demokrasi sebagai sistem poltik negara-negara tersebut, dalam tataran teretentu, merupakan pilihan rasional.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 16px; padding: 6px 0px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Indonesia, yang telah memperoleh kemerdekaan di bawah kepemimpinan Soekarno, juga telah mentrasnportasi sistem demokrasi tersebut, mejadi demokrasi terpimpin (guided democracy). Transportasi demokrasi, yang pada dasarnya dibangun di atas nilai-nilai Barat/nilai-nilai liberal, telah menciptakan suatu kondisi di mana masyarakat di Dunia Ketiga tersebut kemudian merasa asing dengan nilai-nilai tersebut, dan dalam tataran teretntu, bahkan bertentangan dengan nilai dan budaya lokal/nasional mereka. Banyak diantara negara-negara di Asia dan Afrika yang lebih banyak didominasi oleh nilai-nilai feodal. Pada sisi lain, muncul dan berkembangnya demokrasi di Barat sendiri merupakan kemenangan atas feodalisme.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 16px; padding: 6px 0px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Secara epistemologis, demokrasi bukanlah ”free value”, tapi mengandung di dalamnya adalah nilai, budaya dan konteks historis dan sosio-politis. Konsekwensinya, ketika demokrasi ini ditransfer ke negara-negara non-Barat, khususnya Asia dan Afrika yang secara kultural jauh lebih heterogen, banyak muncul perbedaan nilai-nilai. Bahkan dalam tataran tertentum, nilai-nilai tersebut bersifat negatif (negating) terhadap nilai-nilai pendukung demokrasi, walaupun tentunya terdapat juga yang positif-supportive terhadap nilai-nilai prinsipil demokrasi tersebut, seperti libralisme, kebebasan, persamaan, toleransi, dsb. Akibatnya, banyak adjustment kultural yang dilakukan dalam proses demokratisasi di negara-negara Dunia Ketiga tersebut. Oleh karenanya, sebagaimana yang ditegaskan oleh Acemoglu &amp;amp; Anderson (2006), banyak negera yang diasosiasikan dengan demokrasi, tatapi tidak ada satupun yang serupa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 16px; padding: 6px 0px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;strong style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Demokrasi, Toleransi dan Harmoni di Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 16px; padding: 6px 0px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Indonesia merupakan salah satu negara yang paling heterogen di dunia, baik secara ethnis maupun agama (Mancini 2008; Malley 2002; Ross 2005). Setiap suku memiliki budaya dan nilai masing-masing yang unik. Tidak ada budaya nasional yang dianggap berlaku untuk seluruh suku dan/atau kelompok komunal di Indonesia. Pada sisi lain, kenyataanya adalah bahwa banyak sekali suku dan kelompok komunal tersebut yang masih memegang teguh budaya-budaya feodal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 16px; padding: 6px 0px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Demokratisasi hanya akan berjalan secara lancar jika lingkungan tumbuh dan berkembangnya disokong oleh budaya politik yang mendukungnya, seperti toleransi, kebebasan, persamaan, perlindungan hak-hak individu, dsb. Pertanyaan menjadi sejuahmana budaya-budaya tersebut sinkron dengan budaya dan nilai-nilai yang dibutuhkan oleh sistem demokrasi. Salah satu budaya penting nusantara yang dianggap sangat positif-supportive terhadap demokrasi adalah budaya musyawarah dan gotong-royong, yang secara prinsipil hampir terdapat dalam budaya-budaya lokal di Indonesia. Dengan hanya dua nilai penting itu saja, sebagaimana yang ditegaskan oleh Maswadi Rauf (Zuhroh 2011), sangat sulit untuk benar-benar menegakkan sistem politik demokratis. Nilai-nilai penting lainnya tentunya sangat diperlukan, terutama kebebasan dan persamaan yang sangat sulit ditemukan dalam budaya yang lebih banyak diwarnai paternalitas. Akan tetapi, paling tidak dalam tataran ini, tidak ada alasan kuat untuk mengatakan bahwa Indonesia tidak memiliki nilai atau budaya demokratis sama sekali. Bahkan, dalam konteks resolusi konflik, budaya musyawarah banyak dianggap sebagai salah bentuk bentuk alami/lokal resolusi konflik di Indonesia, sebagaimana&amp;nbsp;&lt;em style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot;&gt;Ho’oponopono&amp;nbsp;&lt;/em&gt;di Hawaii dan&amp;nbsp;&lt;em style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot;&gt;Monkalun&amp;nbsp;&lt;/em&gt;di Filipina (Barnes 2007), dibandingkan dengan model Barat yang dilandaskan pada nilai-nilai liberalisme-demokratis (Raby 1994).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 16px; padding: 6px 0px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Budaya politik diterjemahkan oleh Almond dan Verba sebagai sikap individu terhadap sistem dan komponen-komponennya, dan juga sikap individu terhadap peranan yang dimainkan dalam sistem politik. Menurut Gaffar, budaya politik sendiri sebagai orientasi psikologis terhadap objek sosial, yang secara spesifik adalah sistem politik (Zuhroh 2009). Salah satu nilai dan budaya demokratis penting lainnya yang perlu dikembangkan untuk menopang sistem demokrasi adalah toleransi. Nilai luhur ini tidak secara otomatis dan dengan sendirinya tumbuh begitu saja sejalan dengan berlangsungnya proses demokratisasi di Indonesia. Apalagi, jika secara jelas-jelas disepakati bahwa nilai toleransi tersebut bukanlah salah satu nilai kultural yang umum dalam budaya-budaya di Indonesia. Demokrasi tidak melahirkan dan membuat seseorang berprilaku toleran secara otomatis. Diperlukan upaya sosialisasi dan pembelajaran dan waktu yang panjang untuk meng-internalisasi nilai-nilai toleran tersebut. Oleh karenanya, jangan heran, jika Sekjen PBB sendiri, Ban Ki-moon, menegaskan:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 16px; padding: 6px 0px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;“&lt;em style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot;&gt;Democracies are not born overnight, nor built in a year…[r]eform must be real…[i]nclusive dialogue is critical. Diversity is a strength&lt;/em&gt;.” (dalam Noyleen Hayzer 2013).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 16px; padding: 6px 0px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Budaya politik yang demokratis ini seringkali disebut dengan “civic culture”. Agar seseorang dapat memiliki budaya politik demokratis, negara-negara tertentu mendesain suatu pendidikan khusus untuk warganya, yang seringkali disebut dengan “civic education”. Pendidikan ini seringkali juga disebut dengan citizenship education (pendidikan kewarganegaan) yang bertujuan untuk mengembangkan dan mengimplementasikan nilai-nilai pendidikan melalui “civic culture”. Dalam banyak kasus do negara-negara lain, civic education ini juga seringkali disebut dengan conflit resolution education atau peace education, yang merupakan fondasi untuk budaya politik dan demokratis. Konstruksi masyarakat demokratis sangat tergantung pada suksusnya pembentukan pribadi yang demokratis (Finger, at.al, 2007).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 16px; padding: 6px 0px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Berdasarkan perspektif konstruktifis, budaya dan identitas ethnis bukanlah sesuatu yang ”given”, tetapi dikonstruksi secara sosial dalam proses panjang yang bersifat politis, sosial dan kultural (Yang, 2000; Cerulo 1997; Nagel 1995; Barth 1969: Williams 1994). Begitu juga dengan demokrasi sebagai suatu budaya yang telah diciptakan sedemikian rupa dalam proses sosio-politis yang panjang, dan bukanlah ada begitu saja (given). Dengan demikian, nilai-nilai yang diperlukan untuk menopang demokratisasi tersebut dapat disosialisasikan lewat proses pendidikan kewargaan secara konsisten dan serius.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 16px; padding: 6px 0px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Toleransi diperlukan sebagai salah satu nilai penting penopang demokrasi karena politik dan demokrasi sendiri secara inherent bersifat konfliktual. Setiap pilihan-pilihan kebijakan tertentu melalui proses demokratis pasti merupakan distribusi konfliktual karena akan memihak pada kelompok tertentu, apakah itu kelompok kaya, mayoritas, suku tertentu, agama tertentu, dsb. (Acemoglu &amp;amp; Anderson 2006). Dalam konteks ini, sikap toleran sangat diperlukan untuk menghindari dan mencegah terjadinya konflik dan kekerasan, yang saat ini banyak terjadi dalam pemilukada di Indonesia. Di mana, kandidat yang kalah seringkali tidak bisa menerima hasil pemilukada tersebut dan melakukan apa saja, termasuk kekerasan politis. Berdasarkan data Bawaslu mengenai kekerasan dalam pemilikukada (2010-2011), telah terjadi 18 konflik kekerasan di tingkat propinsi dan 28 di tingkay kabupaten. Jumlah tersebut tidak dapat dikatakan sedikit. Namun yang perlu digarisbawahi adalah bahwa konflik dan kekerasan tersebut merupakan ekspresi dari nilai-nilai demokratis yang belum sepenuhnya terinternalisasi dengan baik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 16px; padding: 6px 0px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Oleh karenanya, menciptakan harmoni sosial dan nasional harus dilakukan dengan mengimplementasikan nilai-nilai dan budaya demokratis secara benar, khususnya nilai toleransi. Lebih dari itu, meningkatkan harmoni nasional dan sosial adalah berkenaan dengan pembangunan trust, saling menghargai dan memahami, serta penghromatan terhadap hak-hak individu. Demokrasi tidak dengan sendirinya secara otomatis menciptakan harmoni tersebut. Akan tetapi, kita harus menciptakan harmoni tersebut dengan membangun dan mengimplementasikan budaya-budaya demokratis secara benar dan konsisten. Harmoni sosial merupakan prasyarat penting pembangunan demokrasi. Demokrasi sendiri lahir dan berkembang dari proses terjadinya perang saudara (civil war), baik di Eropa maupun di Amerika Utara (Acemoglu &amp;amp; Anderson 2006). Dalam suasana konflik, hampir mustahil demokratisasi dan konsolidasi demokrasi dapat berjalan dengan lancar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 16px; padding: 6px 0px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;strong style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Referensi&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 16px; padding: 6px 0px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Acemoglu, D. &amp;amp; Robinson, J.A. (2006). Economic origins of dictatorship and democracy. New York: Cambridge University Press.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 16px; padding: 6px 0px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Barnes, B (2007).&amp;nbsp;&lt;em style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot;&gt;Culture, conflict, and mediation in the Asian Pacific&lt;/em&gt;. New York: University Press of America. (pp. vii-viii)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 16px; padding: 6px 0px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Cerulo, K.A. (1997). Identity construction: new issues, new directions. In&amp;nbsp;&lt;em style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot;&gt;Annual Review of Sociology&lt;/em&gt;. Vol. 23, pp. 385-409.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 16px; padding: 6px 0px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Chai, S. (2001).&amp;nbsp;&lt;em style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot;&gt;Choosing an identity: a general model of preference and belief formation.&amp;nbsp;&lt;/em&gt;Ann Arbor: University of Michigan Press.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 16px; padding: 6px 0px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Cornell, S.E. (1997&lt;em style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot;&gt;). Ethnicity and race: making identities in a changing world&lt;/em&gt;. New York: Thousands Oaks.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 16px; padding: 6px 0px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;De Vos, G. &amp;amp; Ross, L.M. (eds.) (1982).&amp;nbsp;&lt;em style=&quot;margin: 0px; padding: 0px;&quot;&gt;Ethnic identity: cultural continuities and change&lt;/em&gt;. Chicago: University of Chicago Press.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style=&quot;background-color: white; line-height: 16px; padding: 6px 0px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Finger, et.al. (2007). Conflict resolution education; a key tool for the construction of citizenship in Argentina. Dalam Jhon. T.S. (ed.). Conflict resolution quarterly. Confict Resolution Association, pp. 87-92.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://homopolitica.blogspot.com/feeds/6174239830787846869/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://homopolitica.blogspot.com/2014/06/demokrasi-dan-pendekatan-budaya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1000589502291831411/posts/default/6174239830787846869'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1000589502291831411/posts/default/6174239830787846869'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://homopolitica.blogspot.com/2014/06/demokrasi-dan-pendekatan-budaya.html' title='Demokrasi dan Pendekatan Budaya'/><author><name>Gemapol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16258437395228572060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1000589502291831411.post-137809514879825852</id><published>2014-06-01T10:24:00.000-07:00</published><updated>2014-06-05T10:33:57.775-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Filsafat-POlitik"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ilmu-Politik"/><title type='text'>Pemikiran Rousseau</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot;&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/b/b7/Jean-Jacques_Rousseau_(painted_portrait).jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/b/b7/Jean-Jacques_Rousseau_(painted_portrait).jpg&quot; height=&quot;320&quot; width=&quot;228&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Jean -Jacquas Rousseau di lahirkan di GenevaSwiss pada tahun 1712, anak dari seorang tukang arloji. Pada tahun 1728 dia melarikan diri dari rumah dan memulai pengembaraannya, suatu pengembaraan yang berlangsung selama kehidupannya. Selama petualangannya itu dia kawin sebanyak tiga kali dan mempunyai anak yang cukup banyak namun tidak pernah diakuinya sebagai anaknya dan sebagian dirnasukkannya ke pantai asuhan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Suatu pengalaman yang merobah jalan pikirannya terjadi pada tahun 1749. Ketika dia berjalan-jalan di pinggiran sebuah hutan dia membaca iklan yang dikeluarkan oleh .Akademi&lt;st1:place w:st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:city w:st=&quot;on&quot;&gt;Dijon&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;&amp;nbsp;yang mengajak masyarakat dan para pemikir untuk menulis suatu karangan untuk menjawab suatu pertanyaan :apakah kemajuan ilmu pengetahuan dan kesenian dapat membantu memurnikan adat. Kemudian dia menjawab pertanyaan tersebut dalam suatu karangan yang berjudul &quot;Discours Sur Les Sciences etles Arts ( Bahasan Tentang Ilmu Pengetahuan dan Seni) dan ternyata tulisannya ini keluar sebagai pemenangnya . Inti jawaban yang diberikannya adalah bahwa kemajuan dalam kesenian dan ilmu pengetahuan tidak memajukan melainkan merusak kemurnian moral manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Pada tahun 1762 dia kembali ke Geneva, tetapi kaum Calvinis sudah tidak menerimanya lagi, bahkan kaum Calvinis Ortodox membakar semua karyanya yang terkenal yakni &quot;Emile” dan “du Contact Social&quot;.&amp;nbsp;&lt;span lang=&quot;SV&quot;&gt;Selama itu dia senentiasa berpindah-pindah karena terus dibayangi perasaan takut dikejar oleh musuh-musuhnya. Perasaan ini terus membayanginya hingga ahir hayatnya pada tahun 1778 di desa Ermenon Ville di Perancis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot;&gt;Dalam kehidupannya yang penuh dengan paradox itu juga Rousseau juga merupakan filosof yang besar dan paling berpengaruh (Sibley,1970,388).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Dia adalah seorang pembawa panji tentang kedaulatan rakyat atau demokrasi, seorang pemikir tentang negara dan kebebasan warga negara dalam suatu kehidupan negara tersebut. Baginya sekalipun negara itu bersifat mencakup semua , akan tetapi kehidupan individual warga negara juga harus terjamin. Karena konsern yang seperti inilah maka di dalam bukunya Du Contrct Social didahuluinya dengan perkataan yang sangat terkenal yakni &quot; semua manusia dilahirkan bebas&quot; pandangan ini di anggap adalah sesuatu yang mendahului zamannya, karena terbukti beberapa abad kemudian ada pengakuan secara universal terhadap pandangannya itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Sebagai seorang filsuf Rousseau di kenal pula sebagai salah seorang peletak dari teori perjanjian sosial di samping John Locke, Thomas Hobbes, dan Montesquieu. Mereka ini adalah para pemikir masa pencerahan di Eropah dengan fokus utama yang mereka geluiti adalah persoalan individual dan persoalan negara. Walaupun di antara mereka terdapat perbedaan pendapat tentang sifat individual manusia itu namun secara umum ada suatu kesamaan pendapat yang mereka miliki bahwa keadaan bernegara adalah jauh lebih baik dari pada individu itu hidup dalam keadaan tanpa negara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot;&gt;Secara umum teori perjanjian negara menganggap bahwa negara itu tercipta adalah dengan persetujuan dari masyarakat.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Mereka mengadakan suatu musyawarah untuk membentuk negara dan pemerintahan yang akan mengatur dan menjamin kepentingan individual mereka, sehingga kehidupan mereka secara individual dapat terjamin . Pemerintah dianggap sebagai institusi yang telah disepakati bersama diantara masyarakat dan dipilih dari anggota masyarakat itu sendiri, sehingga secara moral pemerintah ini juga harus bertanggung jawab kepada masyarakat karena masyarakat tersebutlah yang mengangkat mereka.&lt;span lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Menurut Rousseau bahwa manusia pada hakekatnya adalah baik sehingga manusia pada saat sebelum adanya negara(state of nature) tetap dapat eksis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Berbeda halnya dengan Hobbes yang menganggap manusia merupakan mahluk yang saling memangsa, sehingga dianggapnya bahwa manusia merupakan serigala dengan manusia lainnya . Menurut konsep Hobbes ini karena manusia itu saling memangsa maka diperlukanlah adanya lembaga negara yang akan mengatur kehidupan masyarakat itu,sehingga ada lembaga yang menjamin dihargainya hak-hak alami manusia . Sementara Rousseau berpendapat sebaliknya bahwa manusia itu pada hakekatnya baik. Alasan pembentukan negara menurut dia adalah supaya ada kekuatan memaksa yang bersifat legal untuk mempergunakan kekerasan kalau terdapat pengingkaran terhadap hak alamiah manusia itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Tetapi walaupun begitu jelasnya uraian yang te lah disampaikan oleh pemikir teori perjanjian sosial akan pembentukan negara dapat dikatakan bahwa teori ini bersifat a historis. Artinya adalah bahwa tidak ada satu negara di dunia ini terbukti dalam sejarah dibentuk berdasarkan permufakatan seluruh warga masyarakat dari negara itu. Sehingga dapat dikatakan bahwa teori yang telah dikemukakan ini hanyalah berfungsi sebagai alat analisis saja, tanpa pernah terbukti secara empiri. Tetapi teori ini telah memberikan sumbangan yang besar yang menempatkan warga negara sebagai variabel yang harus diperhatikan dan memegang peranan dalam kehidupan kenegaraan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div align=&quot;center&quot; class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 48px;&quot;&gt;Pemikiran Rousseau Tentang Negara&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 48px;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot;&gt;Garis besar kritikan Rousseau dalam semua karya tulisnya adalah pendapat yang mengatakan agar kembali ke alam (back to nature).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Rousseau mempunyai kepercayaan yang kuat bahwa pada kodratnya manusia itu adalah baik, anggapan ini&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;SV&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;menjadi prinsip dasar dari tulisannya tentang etika, di mana hal ini bukan suatu keyakinan menurut inteleknya, tetapi kebalikan dari ketakutannya yang hakiki bahwa dia adalah orang yang jahat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot;&gt;Disebutkan juga oleh Rousseau bahwa manusia alamiah itu hidup dalam keadaan polos dan mencintai dirinya sendiri secara spontan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Ia bebas dari wewenang orang lain dan secara hakiki semua individu itu sama kedudukannya. Kepolosan manusia itu hancur sewaktu manusia untuk menjamin kebutuhan-kebutuhannya masuk kedalam kesatuan masyarakat. Dengan menusia telah bermasyarakat maka ketidaksamaan menjadi begian yang tak terpisahkan dengan kehidupan mereka, dan sebagai ketidaksamaan itu maka timbullah segala kemerosotan dan egoisme. Di lain pihak Rousseau melihat bahwa manusia tidak mungkin kembali kepada keadaan state of nature. Sosialisasi adalah yang tak dapat dihindari karena hanya dalam kesatuan masyarakat itu manusia dapat menjamin kebutuhan-kebutuhannya. Dalam hal ini Rousseau berhadapan dengan suatu dilemma yakni di satu pihak proses pemasyarakatan manusia menghasilkan suatu keadaan akan kehilangan akan kepolosan dan kebebasannya yang alamiah, sementara di pihak lain manusia itu tidak dapat tidak bermasyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Untuk menghadapi realitas yang ada di hadapan Rousseau maka dia memandang diperlukannya suatu institusi negara yang dapat menjamin dengan sungguh-sunguh akan kebebasan setiap warga negara. Dalam hal ini antara kehendak negara dengan kehendak warganya tidak ada perbedaan ataupun pertentangan,melainkan ditandai oleh suatu identitas di mana spontanitas alamiah manusia tidak dipatahkan, melainkan ditampung. Dengan keadaan seperti itu individu yang masuk kedalam negara itu tidak kehilangan apa-apa dari individualitas alamiahnya.&amp;nbsp;&lt;span lang=&quot;SV&quot;&gt;Sarana untuk merancang negara yang ideal menurutnya adalah paham kehendak umum.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;SV&quot;&gt;Pengaruh filsafat plato sangat nampak dalam tulisan Rousseau.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Hal itu kelihatan : Pertama, keyakinan bahwa pendudukan politik pada hakekatnya adalah persoalan etika dan baru pada persoalan ke dua pada tingkat hukum dan kekuasaan. kedua, ia mengambil dari Plato dalil-dalilnya yang termaktub dalam segala filsafat tentang negara&amp;nbsp;&lt;st1:place w:st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:city w:st=&quot;on&quot;&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, bahwa masyarakat itu sendirilah yang menjadi lembaga pembentuk kesusilaan yang utama , oleh karena itu masyarakat itu sendiri menjadi nilai susila yang tertinggi. Dalam hal filsafat tentang negara&amp;nbsp;&lt;st1:place w:st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:city w:st=&quot;on&quot;&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;&amp;nbsp;ini maka Rousseau melihat bahwa bentuk suatu negara ideal adalah negara dengan besar wilayah yang kecil dan dengan jumlah penduduk yang tidak terlalu banyak. Hal ini berarti bentuk negara yang kira-kira ideal itu adalah bentuk negara&amp;nbsp;&lt;st1:place w:st=&quot;on&quot;&gt;&lt;st1:city w:st=&quot;on&quot;&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;(city state) sebagaimana yang terdapat pada masa Plato Zaman Junani kuno.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;span lang=&quot;SV&quot;&gt;Dengan penggambaran sebagaimana telah dikemukan maka adanya identitas individu masyarakat dan identitas negara akan teratasi dengan baik.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Menurut keterangan ini manusia itu secara keseluruhan memasukkan dirinya ke dalam negara tanpa hilangnya sama sekali kebebasan dan kepolosan manusia itu. Keadaan yang seperti adanya kontras antara kepentingan negara dengan keadaan akan kebebasan individual manusia dapat teratasi dengan adanya suatu mekanisme yang mengatur supaya tidak bersentuhan antara keduanya. Mekanisme ini diatur oleh Rousseau dengan cara yang ideal yaitu pelepasan total manusia ke dalam negara. Rakyat tetap berdaulat sepenuhnya di mana kedaulatannya itu tidak diserahkannya kepada negara tetapi tetap menjadi miliknya yang hakiki. Masyarakat dapat menjalankan kebebasannya sepenuhnya berada dalam ikatan adanya suatu negara tanpa ada pambatasan yang dilakukan oleh negara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;span lang=&quot;SV&quot;&gt;Dengan alasan yang seperti ini Rousseau menolak adanya lembaga perwakilan rakyat.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Dia berpendapat bahwa kedaulatan itu tidak dapat diwakilkan dengan cara apapun juga. Setiap bentuk perwakilan sebagaimana yang dihasilkan dalam pemilihan umum dengan sendirinya sudah mencampuri identitas dengan memasukkannya ke dalam kehendak negara yang dengan demikian terdapat keterasingan yang dialami oleh individu tersebut. Untuk mengatasi hal ini diperlukan adanya sistem perwakilan langsung sebagaimana yang terdapat di Junani Kuno. Undang-undang dan segala kebijaksanaan yang berkenaan dengan negara diputuskan secara bersama-sama dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh seluruh masyarakat. Upaya yang seperti ini memungkinkan kebebasan dari setiap orang itu dapat dibatasi karena mereka mempunyai kehendak dan kebebasan yang sama-maka kehendak itu perlu disalurkan dengan bebas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dengan demikian Rousseau menganggap negara itu sebagai panitia yang diangkat oleh rakyat untuk jangka waktu tertentu dengan tugas utama melakukan kehendak rakyat yang tertuang dalam undang-undang. Pemerintah itu hanya sah sepanjang masih dapat menjamin kepentingan dan kebebasan warga negara.Kebebasan ini adalah menjadi persyaratan yang diharapkan dalam pembertukan negara tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Rousseau menganggap bahwa kehendak umum itu hanya ada satu karena kepentingan umum itu memang hanya satu adanya. Tetapi dalam kenyataanya tidak akan semua orang menyetujui suatu kebijaksanaan yang dikeluarkan oleh pemerintah dari suatu negara. Menurut Rousseau keadaan ini akan dapat mengancam konstruksi negara secara keseluruhan. Untuk tujuan itu ada dua masalah yang hendak dipecahkannya, yakni : Pertama, bahwa bagaimana fakta ketidak sepakatan itu dapat diatasi sehingga kehendak negara tetap satu. Kedua, bagaimana fakta ketidak sepakatan itu dijelaskan dalam teorinya. Untuk itu dia berupaya memberi penjelasan bahwa kehendak umum muncul dalam kehendak mayoritas. Kalau ada pertentangan dalam kehendak maka yang lebih diutamakan adalah kehendak urnum di mana kehendak umum itu ditafsirkan sebagai kehendak mayoritas pendapat ini merupakan kelemahan utama dari teorinya, karena dengan demikian pendapat kaum minoritas tidak diperhatikan atau tertampung lagi. Padahal untuk keadaan seperi ini dia menolak dengan tegas akan kebebasan warga negara di mana tak seorangpun warga negara itu tidak tertampung kehendaknya dalam negara sehingga tak setuju juga dengan konsep perwakilan, karena kedaulatan tidak dapat diwakilkan kepada siapapun juga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kemudian dijelaskan oleh Rousseau bahwa orang yang berkehendak minoritas ini tidak perlu diindahkan karena mereka memiliki pandangan yang menyimpang dan terlalu egois, belum sadar dan keliru, dimana mereka ini perlu ditatar dan diajar terlebih dahulu agar mereka sadar dan sederajat dengan orang yang berpendapat mayoritas. Untuk tujuan itu diperlukan adanya lembaga yang bertugas untuk mengembangkan kesadaran politik masyarakat, sehingga dengan demikian dapat dieliminir orang-orang yang tak sadar ini dengan cara memberikan penerangan kepada mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;span lang=&quot;SV&quot;&gt;Dengan demikian nampak adanya kontradiksi yang besar dalam faham kebebasan ini.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Dia rnelihat kebebasan yang diperoleh dari alam hendaknya dipertahankan terus di lain pihak dikatakannya juga bahwa negara sebagai suatu kondisi yang tak dapat dihindarkan,sehingga wujud kebebasan yang diinginkan dengan terbentuknya negara itu semakin kabur.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://homopolitica.blogspot.com/feeds/137809514879825852/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://homopolitica.blogspot.com/2014/06/pemikiran-rousseau.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1000589502291831411/posts/default/137809514879825852'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1000589502291831411/posts/default/137809514879825852'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://homopolitica.blogspot.com/2014/06/pemikiran-rousseau.html' title='Pemikiran Rousseau'/><author><name>Gemapol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16258437395228572060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1000589502291831411.post-5965306310319245037</id><published>2014-05-31T13:45:00.001-07:00</published><updated>2014-05-31T13:45:22.998-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ilmu-Politik"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="teori"/><title type='text'>Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;MsoListParagraph&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-bottom: .0001pt; margin: 0in; mso-add-space: auto; mso-layout-grid-align: none; mso-list: l0 level4 lfo1; text-align: justify; text-autospace: none; text-indent: 0in;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%; mso-fareast-font-family: Arial;&quot;&gt;1.&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;; font-size: 7pt; font-weight: normal; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Pengertian
APBD&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none; text-indent: 40.5pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Menurut UU No. 33 tahun 2004, “Anggaran pendapatan dan
belanja daerah yang selanjutnya disebut APBD adalah suatu rencana keuangan
tahunan daerah yang ditetapkan berdasarkan peraturan daerah tentang APBD”.&amp;nbsp; Pada Permendagri Nomor 11 Tahun 2006, “APBD
merupakan dasar pengelolaan keuangan daerah dalam masa 1 (satu) tahun anggaran
terhitung 1 Januari sampai 31 Desamber”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none; text-indent: 27.0pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Menurut Saragih &amp;nbsp;“APBD merupakan suatu gambaran atau tolak ukur
penting keberhasilan suatu daerah di dalam meningkatkan potensi perekonomian
daerah. Artinya, jika perekonomian daerah mengalami pertumbuhan, maka akan
berdampak positif terhadap peningkatan pendapatan daerah (PAD)”. Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), adalah rencana keuangan tahunan
pemerintahan daerah yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none; text-indent: 27.0pt;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraph&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-bottom: .0001pt; margin: 0in; mso-add-space: auto; mso-layout-grid-align: none; mso-list: l0 level4 lfo1; text-align: justify; text-autospace: none; text-indent: 0in;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%; mso-fareast-font-family: Arial;&quot;&gt;2.&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;; font-size: 7pt; font-weight: normal; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Struktur
APBD&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Dengan dikeluarkannya kebijakan otonomi daerah, maka akan
membawa konsekuensi terhadap berbagai perubahan dalam keuangan daerah, termasuk
terhadap struktur APBD. Sebelum UU Otonomi Daerah dikeluarkan, struktur APBD
yang berlaku selama ini adalah anggaran yang berimbang dimana jumlah penerimaan
atau pendapatan sama dengan jumlah pengeluaran atau belanja. Kini struktur APBD
mengalami perubahan bukan lagi anggaran berimbang, tetapi disesuaikan dengan
kondisi keuangan daerah. Artinya, setiap daerah memiliki perbedaan struktur
APBD sesuai dengan kapasitas keuangan atau pendapatan masing-masing daerah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Adapun struktur APBD berdasarkan Permendagri No.13 Tahun
2006, “Struktur APBD merupakan satu kesatuan terdiri dari: 1. Pendapatan
Daerah, 2. Belanja Daerah, dan 3. Pembiayaan Daerah”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;1. Anggaran pendapatan daerah, terdiri atas:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; - Pendapatan
Asli Daerah (PAD), yang meliputi pajak daerah, retribusi daerah, hasil
pengelolaan kekayaan daerah, dan penerimaan lain-lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; - Bagian dana
perimbangan, yang meliputi Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana
Alokasi Khusus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; - Pendapatan
lain-lain yang sah seperti dana hibah atau dana darurat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;2. Anggaran belanja daerah&lt;b&gt;,&lt;/b&gt; yang digunakan untuk keperluan penyelenggaraan tugas pemerintahan
di daerah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;3.&lt;b&gt; &lt;/b&gt;Pembiayaan
daerah, yaitu setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran
yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun
tahun-tahun anggaran berikutnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 200%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;3. Tahapan Penyusunan APBD&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Sesuai
ketentuan perundang-undangan yang berlaku, yaitu Undang-Undang No. 25 Tahun
2004, tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, menegaskan bahwa dokumen
perencanaan yang harus ada di daerah untuk jangka panjang dikenal dengan
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) untuk jangka waktu 20 (dua
puluh) tahun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Dokumen
tersebut selanjutnya dijabarkan ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Daerah (RPJMD) untuk jangka waktu 5 (lima) tahun yang wajib disusun oleh Kepala
Daerah terpilih. Hal ini dijelaskan dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004
Pasal 5 ayat (2) yang menegaskan bahwa RPJM Daerah merupakan penjabaran dari
visi, misi, dan program Kepala Daerah yang penyusunannya berpedoman pada RPJP
Daerah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Rencana
Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD) ini dirinci tiap tahun untuk dijadikan
sebagai Rencana Tahunan Daerah yang dikenal dengan nama Rencana Kerja
Pemerintah Daerah (RKPD) yang harus ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah
(Gubernur). Sesuai Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006, tentang
Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, Pasal 82 ayat (2) bahwa penyusunan RKPD
diselesaikan paling lambat akhir bulan Mei sebelum tahun anggaran berkenaan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Oleh
setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) selanjutnya menjabarkan RPJMD yang
sudah ditetapkan untuk jangka waktu 5 (lima) tahun ke dalam Rencana Strategis (Renstra
SKPD). Renstra SKPD ini berisi rencana tugas masing-masing unit dalam SKPD,
yang secara keseluruhan digabung menjadi Rencana Strategis (Renstra) Satuan
Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Rencana Strategis SKPD (Renstra SKPD) tersebut
selanjutnya dirinci untuk tiap tahun sebagai Rencana Tahunan yang dikenal
dengan Rencana Kerja SKPD (Renja SKPD) dengan berpedoman pada Rencana Kerja
Pemerintah Daerah (RKPD) yang sudah ditetapkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Sebelum
melakukan penyusunan anggaran kinerja (APBD), dokumen-dokumen perencanaan di
daerah seperti dikemukakan di atas yaitu RPJPD, RPJMD dan RKPD merupakan
rangkaian dokumen yang menjadi dasar bagi penyusunan APBD atau pengelolaan
keuangan daerah, seperti yang ditegaskan dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun
2004 (Pasal 25 ayat 2) bahwa : RKPD menjadi pedoman penyusunan RAPBD.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005, Pasal 34 ayat (1) dinyatakan bahwa
Kepala Daerah berdasarkan RKPD sebagaimana dimaksud dalam pasal 32 ayat (1),
menyusun Rancangan Kebijakan Umum APBD. Sedang dalam Pasal 34 ayat (2)
disebutkan bahwa Penyusunan Rancangan Kebijakan Umum APBD sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) berpedoman pada Pedoman Penyusunan APBD yang ditetapkan oleh
Menteri Dalam Negeri setiap tahun. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Ketentuan
di atas dipertegas lagi dalam Pasal 83 ayat (1) Peraturan Menteri Dalam Negeri
Nomor 59 Tahun 2007 yang menyatakan bahwa Kepala Daerah menyusun Rancangan
Kebijakan Umum APBD (KUA) dan Rancangan Prioritas dan Plafond Anggaran
Sementara (PPAS) berdasarkan RKPD dan Pedoman Penyusunan APBD yang ditetapkan
Menteri Dalam Negeri setiap tahun. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Selanjutnya
dalam pasal 35 ayat (1) dikemukakan bahwa berdasarkan kebijakan umum APBD yang
telah disepakati, pemerintah daerah dan DPRD membahas rancangan prioritas dan
plafond anggaran sementara yang disampaikan oleh kepala daerah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Penyusunan
Rancangan KUA dan Rancangan PPAS, dilakukan oleh Tim Anggaran Pemerintah Daerah
(TAPD) yang dipimpin oleh Sekretaris Daerah. Sesuai ketentuan dalam Peraturan
Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 Pasal 84 ayat (2), menyatakan bahwa
setelah rancangan KUA dan PPAS disusun, Sekretaris Daerah selaku ketua Tim
Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD), menyampaikan rancangan KUA dan PPAS kepada
Kepala Daerah paling lambat Minggu I (Pertama) Bulan Juni setiap tahun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Sesuai
ketentuan dalam Pasal 87 ayat (1), kedua dokumen perencanaan tersebut, yaitu
Rancangan KUA dan Rancangan PPAS selanjutnya disampaikan oleh Kepala Daerah
kepada DPRD untuk dibahas dalam forum pembicaraan pendahuluan mengenai
Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) tahun anggaran
berikutnya, paling lambat Pertengahan Bulan Juni. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Pembahasan
dilakukan oleh TAPD bersama Panitia Anggaran DPRD. Rancangan KUA dan Rancangan
PPAS yang telah dibahas selanjutnya disepakati menjadi KUA dan PPAS dan
masing-masing dituangkan ke dalam Nota Kesepakatan yang ditandatangani bersama
antara Kepala Daerah dengan pimpinan DPRD dalam waktu bersamaan. Dalam
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 (Pasal 87 ayat 3) dijelaskan
bahwa : Rancangan KUA dan rancangan PPAS yang telah dibahas sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) selanjutnya disepakati menjadi KUA dan PPAS paling
lambat akhir bulan Juli tahun anggaran berjalan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Atas
dasar Nota Kesepakatan yang telah ditandatangani bersama sebagaimana dimaksud,
selanjutnya TAPD menyiapkan Rancangan Surat Edaran Kepala Daerah tentang
Pedoman Penyusunan RKA-SKPD sebagai acuan atau pedoman bagi setiap Kepala SKPD
dalam menyusun RKA-SKPD. Penyusunan RKA-SKPD ini dilakukan menurut bentuk dan
tatacara yang telah ditetapkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Berdasar
Surat Edaran Kepala Daerah perihal Pedoman Penyusunan RKA-SKPD seperti telah
disebutkan, para Kepala SKPD beserta staf melakukan penyusunan RKA-SKPD sesuai
bidang tugas dan fungsinya serta menurut ketentuan lainnya yang berlaku. Dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 Pasal 41 ayat (1) dan (2) menyatakan
bahwa :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 200%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;(1)
RKA-SKPD yang telah disusun oleh Kepala SKPD sebagaimana dimaksud dalam pasal 36
ayat (1) disampaikan kepada &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN;&quot;&gt;PPK&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;D.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 200%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;(2)
RKA-SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1), selanjutnya dibahas oleh Tim Anggaran
Pemerintah Daerah (TAPD).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Pembahasan
tersebut terutama untuk menelaah berbagai aspek seperti kesesuaian RKA-SKPD
dengan KUA, PPAS, dan dokumen lainnya dan dihadiri oleh SKPD terkait. Dalam hal
hasil pembahasan RKA-SKPD terdapat ketidaksesuaian, maka Kepala SKPD melakukan
penyempurnaan sesuai petunjuk yang diberikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Setelah
disempurnakan oleh kepala SKPD, selanjutnya disampaikan kepada Pejabat
Pengelola Keuangan Daerah (PPKD), yaitu Kepala Badan Pengelolaan Keuangan
Daerah sebagai bahan penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD dan
Rancangan Peraturan Kepala Daerah tentang Penjabaran APBD. Rancangan peraturan
daerah tentang APBD yang telah disusun oleh PPKD disampaikan kepada Kepala
Daerah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Dalam
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006, Pasal 103 ayat (1), (2),
(3) dan (4) selanjutnya dinyatakan bahwa :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 200%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;(1)
Rancangan peraturan daerah tentang APBD yang telah disusun oleh PPKD
disampaikan kepada kepala daerah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 200%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;(2)
Rancangan peraturan daerah tentang APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
sebelum disampaikan kepada DPRD disosialisasikan kepada masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 200%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;(3)
Sosialisasi rancangan peraturan daerah tentang APBD sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) bersifat memberikan informasi mengenai hak dan kewajiban pemerintah
daerah serta masyarakat dalam pelaksanaan APBD tahun anggaran yang
direncanakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 200%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;(4)
Penyebarluasan rancangan peraturan daerah tentang APBD dilaksanakan oleh
sekretaris daerah selaku koordinator pengelolaan keuangan daerah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Jika
telah dilakukan sosialisasi oleh Sekretaris Daerah, Kepala Daerah menyampaikan
Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD tersebut beserta Nota Keuangannya
kepada DPRD untuk dibahas lebih lanjut dalam rangka mendapatkan persetujuan
bersama, yang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 Pasal 43,
menyebutkan bahwa Kepala Daerah menyampaikan rancangan peraturan daerah tentang
APBD kepada DPRD disertai penjelasan dan dokumen pendukungnya pada Minggu
Pertama Bulan Oktober tahun sebelumnya untuk dibahas dalam rangka memperoleh
persetujuan bersama. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Mekanisme
pembahasan yang dilakukan antara Pemerintah Daerah dan DPRD menurut tata cara
yang ditetapkan dalam peraturan tata tertib DPRD yang bersangkutan, antara lain
dengan melalui rapat-rapat kerja dengan SKPD. Dengan kata lain bahwa pembahasan
di DPRD melibatkan SKPD yang bersangkutan, apabila SKPD tersebut sudah mendapat
kesempatan untuk dibahas rancangan kegiatan dan anggarannya yang tercantum
dalam Rancangan APBD. Setelah melalui pembahasan di DPRD antara pemerintah
daerah/SKPD dan DPRD, dan telah menemukan atau menghasilkan kesepakatan dalam
bentuk keputusan bersama, maka dianggap bahwa pembahasan pada tingkat daerah di
DPRD sudah berakhir, untuk dilanjutkan pada tahap berikutnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005, Pasal 45 ayat (1) dinyatakan bahwa
Pengambilan keputusan bersama DPRD dan Kepala Daerah terhadap rancangan
peraturan daerah tentang APBD dilakukan selambat-lambatnya 1 (satu) bulan
sebelum tahun anggaran yang bersangkutan dilaksanakan. Setelah penandatanganan
persetujuan bersama antara Kepala daerah dengan DPRD selesai, maka pembahasan
rencana kegiatan dan anggaran (RAPBD) telah berakhir, dan atas dasar keputusan
bersama terhadap rancangan Peraturan Daerah tentang APBD seperti tersebut di
atas, Kepala Daerah selanjutnya menyusun Rancangan Peraturan Kepala Daerah
tentang Penjabaran APBD.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;&amp;nbsp;Dalam rangka penetapannya secara sah, maka
Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD yang sudah dibahas, dan Rancangan
Peraturan Kepala Daerah tentang Penjabaran APBD Provinsi tersebut selanjutnya disampaikan
kepada Menteri Dalam Negeri, sedang Kabupaten/Kota ke Gubernur untuk
dievaluasi. Keharusan evaluasi terhadap kedua dokumen perencanaan tersebut
diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 Pasal 47 ayat (1) dan
(2), yang menegaskan bahwa : (1) Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD yang
telah disetujui bersama DPRD dan Rancangan Peraturan Gubernur tentang
Penjabaran APBD sebelum ditetapkan oleh Gubernur, paling lambat 3 (tiga) hari
kerja disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri untuk dievaluasi. (2) Hasil
evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan oleh Menteri Dalam
Negeri kepada Gubernur selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari terhitung sejak
diterimanya rancangan dimaksud.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Ketentuan
seperti ini juga berlaku bagi Rancangan Peraturan Daerah tentang Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan Rancangan Peraturan Kepala Daerah
tentang Penjabaran APBD Kabupaten dan Kota yang wajib dievaluasi oleh Gubernur
yang bersangkutan dalam kedudukannya sebagai wakil pemerintah pusat di daerah.
Dokumen berupa Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD dan Rancangan Peraturan
Kepala Daerah tentang Penjabaran APBD yang telah dievaluasi dan telah disetujui
oleh Menteri Dalam Negeri bagi Provinsi, dan Gubernur bagi Kabupaten/Kota,
hasil evaluasinya dituangkan dalam Keputusan Menteri Dalam Negeri/Gubernur, dan
selanjutnya ditetapkan oleh Kepala Daerah menjadi Peraturan Daerah tentang
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan Peraturan Kepala Daerah
tentang Penjabaran APBD. Mengenai ketentuan waktu penetapan Peraturan Daerah
tentang APBD dan penjabarannya diatur dalam Pasal 53 ayat (1) dan (2) Peraturan
Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005, dan Pasal 116 ayat (1) dan (2) Peraturan
Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007, sebagai berikut :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;(1)
Rancangan peraturan daerah tentang APBD dan rancangan peraturan kepala daerah
tentang penjabaran APBD yang telah dievaluasi ditetapkan oleh kepala daerah
menjadi peraturan daerah tentang APBD dan peraturan kepala daerah tentang
penjabaran APBD.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;(2)
Penetapan rancangan peraturan daerah tentang APBD dan peraturan kepala daerah
tentang penjabaran APBD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan paling
lambat tanggal 31 Desember tahun anggaran sebelumnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Dengan
ditetapkannya kedua dokumen anggaran tersebut, maka berarti bahwa seluruh
materi atau muatan yang ada dalam Rancangan APBD telah disetujui untuk
dilaksanakan, dengan kata lain bahwa proses atau tahap perencanaan, pembahasan
dan penetapan anggaran telah berakhir untuk tahun anggaran yang bersangkutan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;UU
32 tahun 2004 menyatakan bahwa DPRD bersama Kepala Daerah menetapkan APBD. Tata
cara dan prosedur penyusunan APBD sebagai berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 200%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;a.
Dalam rangka menyiapkan RAPBD, Pemerintah Daerah bersama DPRD menyusun arah dan
kebijaksanaan umum APBD&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 200%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;b.
Berdasarkan arah dan kebijaksanaan umum APBD, Pemerintah daerah menyusun strategi
dan prioritas APBD.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 200%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;c.
Berdasarkan strategi dan prioritas yang telah ditetapkan, Pemerintah daerah menyiapkan
RAPBD.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 200%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;d.
Kepala Daerah menyerahkan RAPBD kepada DPRD untuk mendapatkan persetujuan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 200%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;e.
Sebelum disetujui, DPRD membahas RAPBD berdasarkan tata tertib yang ada.&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://homopolitica.blogspot.com/feeds/5965306310319245037/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://homopolitica.blogspot.com/2014/05/anggaran-pendapatan-dan-belanja-daerah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1000589502291831411/posts/default/5965306310319245037'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1000589502291831411/posts/default/5965306310319245037'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://homopolitica.blogspot.com/2014/05/anggaran-pendapatan-dan-belanja-daerah.html' title='Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)'/><author><name>Gemapol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16258437395228572060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1000589502291831411.post-1220345036028627671</id><published>2014-05-31T13:44:00.002-07:00</published><updated>2014-05-31T13:44:20.397-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ilmu-Politik"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="teori"/><title type='text'>Kebijakan Publik</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpFirst&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 0in; mso-add-space: auto; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Agar pemaparan kebijakan publik lebih jelas sebelum
membahas kebijakan publik terlebih dahulu akan dibahas pengertian kebijakan dan
pengertian publik. Baru setelah kedua pengertian tersebut dibahas dilanjutkan
kemudian pengertian kebijakan publik.&lt;br /&gt;
Istilah policy (kebijakan) seringkali penggunaannya saling dipertukarkan dengan
istilah-istilah lain seperti tujuan (goals), program, keputusan, undang-undang
ketentuan-ketentuan usulan-usulan dan rancangan-rancangan besar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 0in; mso-add-space: auto; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Secara Etimologis, istilah Kebijakan (policy) berasal
bahasa Yunani,Sangsekerta, dan Latin. Dimana istilah kebijakan ini memiliki
arti menangani masalah-masalah publik atau pemerintahan&lt;a href=&quot;file:///D:/Ebook/Proyek%20Skripsi/Deliar/skripsi.doc#_ftn1&quot; name=&quot;_ftnref1&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.
Secara umum, saat ini kebijakan lebih dikenal sebagai keputusan yang dibuat
oleh lembaga pemerintah, yang bertujuan untuk menyelesaikan permasalah-permasalahan
yang terjadi dimasyarakat dalam sebuah negara&lt;a href=&quot;file:///D:/Ebook/Proyek%20Skripsi/Deliar/skripsi.doc#_ftn2&quot; name=&quot;_ftnref2&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 0in; mso-add-space: auto; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Seorang ahli, Anderson &amp;nbsp;merumuskan bahwa kebijakan itu adalah &lt;i&gt;A purposive course of action followed by an
actor or set actors in dealing with problem or matter of concern&lt;a href=&quot;file:///D:/Ebook/Proyek%20Skripsi/Deliar/skripsi.doc#_ftn3&quot; name=&quot;_ftnref3&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;
(serangkaian tindakan yang mempunyai tujuan tertentu yang diikuti dan
dilaksanakan oleh seorang atau kelompok pelaku guna memecahkan suatu masalah
tertentu).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 0in; mso-add-space: auto; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Sedangkan pengertian publik; dalam bukunya, Islamy &amp;nbsp;menjelaskan: Kata publik mempunyai dimensi
arti agak banyak, secara sosiologis kita tidak boleh menyamakan dengan
masyarakat&lt;a href=&quot;file:///D:/Ebook/Proyek%20Skripsi/Deliar/skripsi.doc#_ftn4&quot; name=&quot;_ftnref4&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.
Perbedaan pengertian masyarakat diartikan sebagai “sistem antar hubungan sosial
dimana manusia hidup dan tinggal secara bersama –sama”. Didalam masyarakat
tersebut norma-norma atau nilai-nilai tertentu yang mengikat atau membatasi
kehidupan anggota-anggotanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 0in; mso-add-space: auto; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Dilain pihak kata publik diartikan sebagai “kumpulan
orang-orang yang menaruh perhatian, minat atau kepentingan yang sama”. Tidak
ada norma yang mengikat /membatasi perilaku publik sebagaimana halnya pada
masyarakat, karena publik itu sulit dikenali sifat-sifat kepribadiannya
(identifikasinya) secara jelas. Satu hal yang menonjol mereka mempunyai
perhatian atau minat yang sama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpLast&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 0in; mso-add-space: auto; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Untuk selanjutnya pengertian publik sebagaimana yang
telah diuraikan diataslah yang digunakan sebagai pembatas. Selanjutnya
pengertian kebijakan publik (public policy), Dye memberikan definisi kebijakan
publik sebagai “is whatever governments choose to do or not to do”. Edwards dan
Sharkansky mengartikan public policy yang hampir mirip dengan definisi Dye
tersebut diatas, yaitu sebagai berikut: “……….is what governments say and do, or
not do. It is the goals or purpose of governments programs…&lt;a href=&quot;file:///D:/Ebook/Proyek%20Skripsi/Deliar/skripsi.doc#_ftn5&quot; name=&quot;_ftnref5&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;”
(“adalah apa yang dinyatakan dan dilakukan atau tidak dilakukan oleh
pemerintah. Kebijakan publik itu berupa sasaran atau tujuan program-program
pemerintah….”).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 200%; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Edwards dan
Sharkansky kemudian mengatakan bahwa kebijakan negara itu dapat ditetapkan
secara jelas dalam bentuk pidato-pidato pejabat teras pemerintah ataupun berupa
program-program dan tindakan-tindakan yang dilakukan pemerintah. Kemudian,
berkaitan dengan definisi kebijakan Anderson yang telah dikemukakan diatas,
Anderson mengatakan “&lt;i&gt;public policies are
those policies developed by governmental bodies and official&lt;/i&gt;&lt;a href=&quot;file:///D:/Ebook/Proyek%20Skripsi/Deliar/skripsi.doc#_ftn6&quot; name=&quot;_ftnref6&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;
“. Berdasarkan pengertian dari Anderson tentu saja pengertian kebijakan dapat
dijabarkan sebagaimana diartikan Anderson pada uraian sebelumnya. Jadi menurut
Anderson setiap kebijakan yang dikembangkan oleh badan atau pejabat pemerintah
dapat disebut kebijakan publik. Kebijakan publik tidak hanya yang dibuat oleh
lembaga/ badan negara tertinggi/tinggi saja, seperti dinegara kita MPR dan
Presiden tetapi juga oleh badan/pejabat disemua jenjang pemerintahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 200%; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Sofian Effendi &amp;nbsp;memberikan batasan kebijakan publik adalah
suatu tindakan pemerintah yang bertujuan untuk mengatasi masalah-masalah yang
ada dalam masyarakat yang antara lain tidak mau bertanggungjawab. Jadi
kebijakan publik merupakan tindakan pemerintah yang bertujuan untuk mengatasi masalah-masalah
dalam masyarakat yang orang lain tidak mau mengatasinya&lt;a href=&quot;file:///D:/Ebook/Proyek%20Skripsi/Deliar/skripsi.doc#_ftn7&quot; name=&quot;_ftnref7&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.
&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 200%; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Sedangkan menurut Dye
kebijakan publik adalah semua pilihan atau tindakan yang dilakukan pemerintah,
baik untuk melaksanakan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu, lebih jauh lagi
dikatakan bahwa pemerintah memilih untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan
sesuatu, harus ada tujuannya (objek). Dan kebijakan publik itu harus meliputi
semua tindakan-tindakan pemerintah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 200%; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Dari berbagai
definisi diatas, pada dasarnya yang dimaksud dengan kebijakan publik adalah
semua tindakan pemerintah baik untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan
sesuatu, untuk mengatasi masalah-masalah dalam masyarakat, bentuknya berupa
Peraturan perundang-undangan atau program-program.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpFirst&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 0in; mso-add-space: auto; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Membuat atau merumuskan suatu kebijakan, apalagi
kebijakan itu berupa Peraturan atau Peraturan Daerah, bukanlah suatu proses
yang sederhana dan mudah. Hal ini disebabkan karena terdapat banyak faktor atau
kekuatan-kekuatan yang berpengaruh terhadap proses pembuatan kebijakan
tersebut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 0in; mso-add-space: auto; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Suatu kebijakan atau Peraturan dibuat bukan untuk
kepentingan politik (misalnya guna mempertahankan status quo pembuat keputusan)
tetapi justru untuk meningkatkan kesejahteraan hidup anggota masyarakat secara
keseluruhan. Untuk memperjelas makna yang terkandung dalam perumusan kebijakan,
Charles Lindblom, menuturkan bahwa pembuatan kebijakan negara
(Public-Policy-marking) itu pada hakekatnya merupakan &lt;i&gt;“an extermely complex, analytical and politica process to which there
is no beginning or end, and the boundaries of which are mosed uncertain.
Somehow a complex set of forces that we call policy making all taken together,
produses effects called policies&lt;a href=&quot;file:///D:/Ebook/Proyek%20Skripsi/Deliar/skripsi.doc#_ftn8&quot; name=&quot;_ftnref8&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.”&lt;/i&gt;
(merupakan proses politik yang amat kompleks dan analisis dimana tidak mengenal
saat dimulai dan diakhirinya, dan batas-batas dari proses itu sesungguhnya yang
paling tidak pasti. Serangkaian kekuatan-kekuatan yang agak kompleks yang kita
sebut sebagai pembuatan kebijakan negara itulah yang membuahkan hasil yang
disebut kebijakan). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 0in; mso-add-space: auto; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Raymond Bour merumuskan pembuatan kebijakan negara
sebagai proses transformasi atau pengubahan input-input politik menjadi
output-output politik. Sementara kalau kita mengikuti pendapat Anderson&lt;a href=&quot;file:///D:/Ebook/Proyek%20Skripsi/Deliar/skripsi.doc#_ftn9&quot; name=&quot;_ftnref9&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;
membedakan pengertian pembuatan keputusan dan pembuatan kebijakan dengan
mengatakan: pembuatan kebijakan atau &lt;i&gt;policy
formulation&lt;/i&gt; sering disebut juga &lt;i&gt;policy
making&lt;/i&gt; dan ini berbeda dengan pengambilan keputusan karena pengambilan
keputusan adalah pengambilan pilihan sesuatu alternatif yang bersaing mengenai
sesuatu hal dan selesai sampai disitu. Sedangkan policy making meliputi banyak
pengambilan keputusan. Jadi menurut Tjokroamidjoyo, apabila pemilihan
alternatif itu sekali dilakukan dan selesai, maka kegiatan itu disebut
pembuatan keputusan, sebaliknya bila pemilihan alternatif itu terus-menerus dan
tidak pernah selesai, maka kegiatan tersebut dinamakan perumusan kebijakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpLast&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 0in; mso-add-space: auto; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-margin-top-alt: auto; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Dalam defenisi diatas dapat dilihat dengan jelas adalah
bahwa pelaku yang melahirkan kebijakan adalah pemerintah. Dimana untuk
melahirkan suatu kebijakan tidaklah dapat dilakukan hanya dalam waktu yang
seketika. Namun untuk membuat suatu kebijakan dibutuhkan suatu proses yang
sering disebut dengan proses pembuatan kebijakan. Proses pembuatan kebijakan
itu sendiri memiliki makna sebagai serangkaian aktivitas intelektual yang
divisualisasikan sebagai serangkaian tahap yang saling bergantung yang diatur
menurut urutan waktu. Adapun tahapan yang harus dilalui dalam proses pembuatan
kebijakan adalah penyusunan agenda, formulasi kebijakan, adopsi kebijakan,
implementasi kebijakan, serta evaluasi kebijakan. Skripsi ini membatasi tahapan
kebijakan public sampai pada formulasi kebijakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;br clear=&quot;all&quot; /&gt;

&lt;hr align=&quot;left&quot; size=&quot;1&quot; width=&quot;33%&quot; /&gt;

&lt;!--[endif]--&gt;

&lt;div id=&quot;ftn1&quot;&gt;

&lt;div class=&quot;MsoFootnoteText&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;file:///D:/Ebook/Proyek%20Skripsi/Deliar/skripsi.doc#_ftnref1&quot; name=&quot;_ftn1&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-language: EN-US;&quot;&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;
William Dunn, Pengantar Analisa Kebijakan Publik (Edisi II), Yogyakarta: Gadjah
Mada&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoFootnoteText&quot;&gt;
University Press, 1999. Hal. 51&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id=&quot;ftn2&quot;&gt;

&lt;div class=&quot;MsoFootnoteText&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;file:///D:/Ebook/Proyek%20Skripsi/Deliar/skripsi.doc#_ftnref2&quot; name=&quot;_ftn2&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-language: EN-US;&quot;&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;
Ibid, Hal 32.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id=&quot;ftn3&quot;&gt;

&lt;div class=&quot;MsoFootnoteText&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;file:///D:/Ebook/Proyek%20Skripsi/Deliar/skripsi.doc#_ftnref3&quot; name=&quot;_ftn3&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-language: EN-US;&quot;&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;
Anderson, 1979, Public Policy Making Hoolt, Rinehart and Weston, NewYork hal
77.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id=&quot;ftn4&quot;&gt;

&lt;div class=&quot;MsoFootnoteText&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;file:///D:/Ebook/Proyek%20Skripsi/Deliar/skripsi.doc#_ftnref4&quot; name=&quot;_ftn4&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-language: EN-US;&quot;&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;
Islamy, 1998, Agenda Kebijakan Administrasi Negara, Universitas Brawijaya,
Malang hal 23.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id=&quot;ftn5&quot;&gt;

&lt;div class=&quot;MsoFootnoteText&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;file:///D:/Ebook/Proyek%20Skripsi/Deliar/skripsi.doc#_ftnref5&quot; name=&quot;_ftn5&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-language: EN-US;&quot;&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;
Edwards dan Sharkansky dalam Islamy, 1998, Agenda Kebijakan Administrasi
Negara, Universitas Brawijaya, Malang hal 58.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id=&quot;ftn6&quot;&gt;

&lt;div class=&quot;MsoFootnoteText&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;file:///D:/Ebook/Proyek%20Skripsi/Deliar/skripsi.doc#_ftnref6&quot; name=&quot;_ftn6&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-language: EN-US;&quot;&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;
Anderson, 1979, Public Policy Making Hoolt, Rinehart and Weston, NewYork hal
30.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id=&quot;ftn7&quot;&gt;

&lt;div class=&quot;MsoFootnoteText&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;file:///D:/Ebook/Proyek%20Skripsi/Deliar/skripsi.doc#_ftnref7&quot; name=&quot;_ftn7&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-language: EN-US;&quot;&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;
Sofian., 1990, Kebijakan Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam Menghadapi Era
Tinggal Landas, Solo hal 15.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id=&quot;ftn8&quot;&gt;

&lt;div class=&quot;MsoFootnoteText&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;file:///D:/Ebook/Proyek%20Skripsi/Deliar/skripsi.doc#_ftnref8&quot; name=&quot;_ftn8&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-language: EN-US;&quot;&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp; Charles Lindblom dalam Abdul Wahab, Pengantar
Analisis Kebijakan Negara, Rienika Cipta, Jakarta, 1990 hal 54.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id=&quot;ftn9&quot;&gt;

&lt;div class=&quot;MsoFootnoteText&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;file:///D:/Ebook/Proyek%20Skripsi/Deliar/skripsi.doc#_ftnref9&quot; name=&quot;_ftn9&quot; title=&quot;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 10.0pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-language: EN-US;&quot;&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;
Anderson, Public Policy Making Hoolt, Rinehart and Weston, NewYork, &amp;nbsp;1979, hal 95.&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://homopolitica.blogspot.com/feeds/1220345036028627671/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://homopolitica.blogspot.com/2014/05/kebijakan-publik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1000589502291831411/posts/default/1220345036028627671'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1000589502291831411/posts/default/1220345036028627671'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://homopolitica.blogspot.com/2014/05/kebijakan-publik.html' title='Kebijakan Publik'/><author><name>Gemapol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16258437395228572060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1000589502291831411.post-2023748022197433146</id><published>2014-05-31T13:34:00.002-07:00</published><updated>2014-05-31T13:42:15.134-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ilmu-Politik"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="teori"/><title type='text'>Fungsi Legislasi </title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiug4m6kNm1npyzTpDNCTzLZrx984B7AXVuL9aI7PXM4L-iAL6V4C_hottyRD2nfo_GvJE5XlayE2rJPNWMSVUgNeOaHOZ6PENWV_hag9bANlOIw4rg3WuSwK2EUqGDZiD_SU-e_okotEaF/s1600/3F137F43-C226-4D64-91BD-F4B3C5A7F99F_w640_r1_s_cx0_cy4_cw0.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiug4m6kNm1npyzTpDNCTzLZrx984B7AXVuL9aI7PXM4L-iAL6V4C_hottyRD2nfo_GvJE5XlayE2rJPNWMSVUgNeOaHOZ6PENWV_hag9bANlOIw4rg3WuSwK2EUqGDZiD_SU-e_okotEaF/s1600/3F137F43-C226-4D64-91BD-F4B3C5A7F99F_w640_r1_s_cx0_cy4_cw0.jpg&quot; height=&quot;180&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Kata “legislasi” berasal dari Bahasa Inggris “legislation”
yang berarti&amp;nbsp; 1) perundang-undangan dan
2) pembuatan undang-undang. Sementara itu kata “legislation” berasal dari kata
kerja&amp;nbsp; “to legislate” yang berarti
mengatur atau membuat undang-undang.&amp;nbsp;
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata legislasi berarti pembuatan
undang-undang. Dengan demikian, fungsi legislasi adalah fungsi membuat
undang-undang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-bottom: .0001pt; margin-bottom: 0in; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Sebagai sebuah fungsi untuk membentuk undang-undang,
legislasi merupakan sebuah proses. Oleh karena itu, Woodrow Wilson dalam
bukunya “&lt;i&gt;Congressional Government&lt;/i&gt;”
mengatakan bahwa &lt;i&gt;legislation is an
aggregate, not a simple production&lt;/i&gt;. Berhubungan dengan hal itu, Jeremy
Bentham dan John Austin mengatakan bahwa legislasi sebagai&amp;nbsp; “&lt;i&gt;any
form of law-making&lt;/i&gt;”. Dengan demikian, bentuk peraturan yang ditetapkan oleh
lembaga legislative untuk maksud mengikat umum dapat dikaitkan dengan
pengertian perundang-undangan dalam arti luas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpFirst&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-bottom: .0001pt; margin: 0in; mso-add-space: auto; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Pada hakekatnya fungsi utama
dari legilatif adalah membuat undang-undang (legislasi), hal ini juga sejalan
dengan fungsi-fungsi yang lain seperti&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-bottom: .0001pt; margin: 0in; mso-add-space: auto; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;&amp;nbsp;fungsi
pengawasan (controlling) juga merupakan bagian fungsi legislasi, karena dalam
menjalankan fungsi pengawasan tentunya terlebih dahulu melahirkan peraturan
perundangan-undangan yang dijadikan sebagai acuan dalam melakukan pengawasan
terhadap pemerintah dalam menjalankan tugasnya. Begitu juga fungsi anggaran
(budgeting) yang merupakan sebagian dari fungsi legislasi karena untuk
menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) juga ditetapkan dengan
Peraturan Daerah APBD setiap tahun anggaran.&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-bottom: .0001pt; margin: 0in; mso-add-space: auto; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Maka yang menjadi fungsi
pokok dari DPRD adalah pembentukan Peraturan Daerah sebagai landasan hukum bagi
pemerintah dalam membuat kebijakan publik. Sebagaimana dijelaskan bahwa dalam
konsep demokrasi menempatkan partipasi sebagai intinya, berarti menghendaki
diikutsertakannya masyarakat dalam pembuatan kebijakan publik (public policy).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-bottom: .0001pt; margin: 0in; mso-add-space: auto; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Pembuatan kebijakan hukum
merupakan tindakan politik sehingga dalam proses Rancangan Peraturan Daerah terjadi
tiga proses pelaksanaan fungsi sistem politik yaitu fungsi input, fungsi
pengolahan dan fungsi output.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpLast&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-bottom: .0001pt; margin: 0in; mso-add-space: auto; mso-layout-grid-align: none; text-align: justify; text-autospace: none; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Input dibedakan menjadi dua
yaitu tuntutan dan dukungan yang keduanya merupakan tindakan politik yang
sangat beragam sifat dan jenisnya. Tidak semua tuntutan dan dukungan, baik yang
berasal dari individu maupun kelompok yang ada dalam masyarakat dapat terpenuhi
secara memuaskan untuk menjadi output.&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) merupakan lembaga perwakilan rakyat daerah dan
berkedudukan sebagai unsur penyelenggaraan pemerintaha daerah.Lembaga ini
mempunyai fungsi legislasi, anggaran dan pengawasan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Secara
umum yang dimaksudkan dengan fungsi legislasi adalah fungsi untuk membuat
peraturan daerah. Hal ini ditegaskan pada pasal 42, UU No 32 Tahun 2004 yang
menyatakan bahwa:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: .5in; mso-list: l0 level4 lfo1; text-align: justify; text-indent: 0in;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%; mso-fareast-font-family: Arial;&quot;&gt;1.&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;; font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;DPRD mempunyai tugas dan wewenang&amp;nbsp; membentuk peraturan daerah yang dibahas
dengan Kepala Daerah untuk mendapatkan persetujuan bersama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: .5in; mso-list: l0 level4 lfo1; text-align: justify; text-indent: 0in;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%; mso-fareast-font-family: Arial;&quot;&gt;2.&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;; font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;DPRD membahas dan menyetujui rancangan
peraturan daerah tentang APBD bersama dengan Kepala Daerah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: .5in; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Dengan
berdasarkan pada ketentuan Pasal 1 angka 1 UU Nomor 10 Tahun 2004, Pembentukan
Peraturan Daerah pada dasamya dimulai dari: tahap perencanaan, persiapan,
teknik penyusunan, Perumusan, pembahasan, pengesahan, pengundangan, dan
penyebarluasan. Kedelapan tahapan tersebut adalah prosedur baku yang harus
dilewati oleh setiap Pembentukan Peraturan Daerah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: .5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;Dalam
menyusun APBD tahun 2011, Pemerintah Daerah dan DPRD perlu memperhatikan
hal-hal sebagai berikut&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;
:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 200%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;1.
Dalam rangka memberikan pelayanan masyarakat secara lebih optimal dan sebagai
wujud tanggung jawab pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,
agar pemerintah daerah menyusun dan menetapkan APBD tahun anggaran 2011 secara
tepat waktu, yaitu paling lambat tanggal 31 Desember 2010.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNoSpacing&quot; style=&quot;line-height: 200%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 200%;&quot;&gt;2. Sejalan
dengan hal tersebut, diminta kepada Pemerintah Daerah agar memenuhi jadwal
proses penyusunan APBD, mulai dari penyusunan dan penetapan KUA-PPAS bersama
DPRD hingga dicapai kesepakatan terhadap Raperda APBD antara pemerintah daerah
dengan DPRD, paling lambat tanggal 30 November 2010.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;[1]Arbi Sanit, Perwakilan Politik: Suatu Stdi Awal Dalam Pencarian Analisa Sistem Perwakilan politik di Indonesia, Imu dan Budaya, Edisi 2, tahun V, Jakarta : Penerbit Universitas Nasional1982 , hal. 48-52 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2]David Easton, A System Analysis of Political Life, New York : John Willey and Sons Inc, 1965, hal. 57-69 : David Easton, A Framework, hal.120.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Permendagri No.37 Tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan APBD 2011</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://homopolitica.blogspot.com/feeds/2023748022197433146/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://homopolitica.blogspot.com/2014/05/fungsi-legislasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1000589502291831411/posts/default/2023748022197433146'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1000589502291831411/posts/default/2023748022197433146'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://homopolitica.blogspot.com/2014/05/fungsi-legislasi.html' title='Fungsi Legislasi '/><author><name>Gemapol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16258437395228572060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiug4m6kNm1npyzTpDNCTzLZrx984B7AXVuL9aI7PXM4L-iAL6V4C_hottyRD2nfo_GvJE5XlayE2rJPNWMSVUgNeOaHOZ6PENWV_hag9bANlOIw4rg3WuSwK2EUqGDZiD_SU-e_okotEaF/s72-c/3F137F43-C226-4D64-91BD-F4B3C5A7F99F_w640_r1_s_cx0_cy4_cw0.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1000589502291831411.post-6984710608388164915</id><published>2014-05-31T10:22:00.000-07:00</published><updated>2014-06-05T10:22:35.905-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Filsafat-POlitik"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ilmu-Politik"/><title type='text'>PEMIKIRAN POLITIK JOHN LOCKE(1632-1704)</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTCZZ43eh7GaTwcgmR3JeZV0aT5-4KRCEwF1xoXPRRqQWYMqoGm&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: right; display: inline !important; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTCZZ43eh7GaTwcgmR3JeZV0aT5-4KRCEwF1xoXPRRqQWYMqoGm&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;John locke termasuk salah seorang yang tidak menyukai kekuasaan mutlak berada ditangan penguasa. Tulisan locke sangat kurang mengandung dogma. Pada pokokmya ia mengemukakan bahwa berdasarkan akal, kebenaran itu sukar sekali ditetapkan, dan bahwa suatu pendapat itu mengandung keraguan dalam kebenarannya. Sungguhpun akal itu dianggapsebagai hakim tertinggi dalam menilai, tetapi locke menganggap kesimpulannya sebagai suatu kemungkinan saja, bukan suatu yang mutlak. Pendapat ini antara lain menyampaikan pemikir ini pada toleransi terhadap agama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;Two treatises of government&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Locke menolak pendapat yang mengatakan bahwa kekuasaan itu didasarkan pada warisan seperti yang terdapat pada hubungan keluarga. Locke kemudian memberikan pembahasan khusus kepada buku Patriarcha yang ditulis oleh Sir Robert Filmer. Filmer berpendapat bahwa kekuasaan memerintah mulanya diberikan tuhan kepada adam, dan adam menurunkannya kepada ahli-ahli warisnya dan akhirnya sampai kepada ahli-ahli waris selanjutnya. Terhadap pendapat filmer ini, locke mengemukakan bahwa Adam hanya mungkin mempunyai seorang “putra mahkota”, kalau memang kekuasaan itu turun tenurun sifatnya. Tetapi siapa putra mahkita ini tidak seorang pun yang tahu apalagi putra mahkota yang hidup dizaman Locke itu. Kalaupun dapatlah diketahui ahli waris ini, locke bertanya apakahsemua penguasa yang ada akan menyerahkan semua kemahkotaannya masing-masing kepada putra mahkota yang sesungguhnya itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Locke meneruskan bahwa manusia itu lahir dengan persamaan dan kebebasan. Ia melukiskan manusia dalam keadaan alami, dan kemudian dalam keadaan bernegara setelah melalui perjanjian bersama. Dalam keadaan alami manusia berada dalam kebebasan, tetapi bukanlah kebebasan yang seperti digambarkan oleh Hobbes. Kebebasan .&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Menurut Locke bukan kebebasan sesuka hati (lisensi) tetapi mengandung batas-batas yang ditentukan oleh hukum alam, hukum yang memberikan ketentuan bahwa “tidak seorangpun dibenarkan merusakkan oranglain dalam soal hidup matinya, kesehatannya, kemerdekaannya, ataupun miliknya. Hukum alam ini bersifat normatif, hukum yang menyuruh orang bagaimana Ia seharusnya bersikap, bukan bagaimana ia sebenarnya bersikap.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Manusia cenderung memiliki nafsu dan dendam yang akan menyebabkan hilangnya pengendalian diri dalam memberikan batas-batas hukum sehingga mudahlah muncul kekacauan. Untuk mencegah hal tersebut dibutuhkan badan tersendiri yang mempunyai kekuasaan politik. Menurut Locke, penguasa atau pemerintah itu bukanlah suatu pertumbuhan yang dengan sendirinya muncul dari perkembangan kodrat alam. Pembentukan masyarakat politik ini ada atas kemauan dan izin mereka sendiri, bukan dengan paksaan, dan kesadaran mereka yang menyuruh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Untuk melaksanakan maksud membentuk masyarakat politik tadi, maka dibuatlah undang-undang atau hukum. Badan legislatif, dipilih dan dibentuk oleh masyarakat. Badan ini mempunyai kekuasaan tertinggi tetapi masih terikat oleh ketentuan-ketentuan, antara lain bahwa tidak boleh bertindak sewenang-wenang terhadap hidup dan nasib orang-orang yang bersekutu, harus bertindak adil dan untuk kepentingan umum, tidak boleh menyita milik orang tanpa persetujuan atau izinnya termasuk masalah pajak, dan tidak pula boleh menyerahkan hak lkegislatif yang diperoleh dari masyarakat ke pihak lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 0in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;-&lt;span style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Badan eksekutif, kedudukannya bergantung pada badan legislative. Badan ini memiliki hak prerogratif, menurut Locke hak ini tidak berdasar pada suatu undang-undang, malah kadang-kadang hak ini berlawanan dengan undang-undang itu tetapi tidak berlawanan dengan kepentingan umum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; margin-left: 0in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;-&lt;span style=&quot;line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Kekuasaan federatif, kekuasaan yang berhubungan dengan kekuasaan tentang hal perang dan damai, dengan pembuatan perjanjian dan persekutuan serta apapun yang diperlukan dalam berhubungan dengan pihak-pihak luar negara. Kekuasaan ini juga tunduk pada badan Legislatif&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Berbicara masalah agama, Locke berpendirian agar dalam agama dipegang toleransi. Ia juga seorang penganjur pemisahan gereja dari negara. Menurutnya, negara dan agama mempunyai daerah serndiri-sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Masyarakat politik atau sipil dibentuk untuk “memajukan kepentingan-kepentingan sipil mereka sendiri yaitu hidup, kemerdekaan, kesehatan, dan sakit senang badaniah, dan menjaga milik berupa benda lahir. Sebaliknya gereja adalah kumpulan manusia secara sukarela untuk memuja bersama tuhan dengan cara yang menurut mereka dapat ia terima dan bisa berpengaruh terhadap keselamatan jiwa mereka. Dalam kumpulan ini tiada sesuatu pun yang harus ataupun dapat diselesaikan yang bersangkutan dengan milik berupa benda-benda keduniawian, disini tidak dapat dipergunakan kekerasan, jadi tidak ada paksaan dalam agama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Menurut Locke, tujuan pokok dan utama manusia untuk bersatu dan membentuk negara dan menempatkan diri mereka dibawah satu pemerintahan, adalah untuk melindungi mereka. Locke melihat, pada mulanya manusia itu tidak mempunyai milik, tetapi kemudian ia memperoleh sebagai hasil kerja keras. Jadi Locke mengemukakan teori nilai menurut tenaga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Masalah lain dalam hubungan rakyat keseluruhan dan sebagian rakyat ialah masalah mayoritas dan minoritas. Locke sangat mengagungkan kekuasaan mayoritas, dan efeknya sebenarnya ialah kemungkinan yang sama seperti yang dijumpai pada penguasa absolute.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;KRITIK TERHADAP LOCKE&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Gagasan Locke tentang model negara terlalu mengedepankan kepentingan kaum bangsawan dan kaum pemodal dibandingkan kepentingan seluruh rakyat. Hal itu terlihat dari model pembatasan kekuasaan negara yang menggunakan pembagian kekuasaan antara legislatif dan eksekutif, yang mana golongan eksekutif dan federatif diduduki oleh raja dan para menteri, sedangkan golongan legislatif diisi golongan bangsawan dan orang-orang kaya. Tidak ada tempat bagi rakyat biasa di dalam model pembagian kekuasaan ini. Jikalau tidak ada tempat bagi rakyat biasa untuk mengawasi jalannya pemerintahan, maka pembuatan Undang-Undang dan pelaksanaannya dapat saja disalahgunakan bagi kepentingan pemerintah dan kaum bangsawan saja. Bila ini terjadi, rakyat tidak dapat memperjuangkan kepentingannya melalui sistem negara yang ada, dan akhirnya hanya akan membuat negara kembali ke &quot;keadaan perang&quot; karena terjadi ketidakadilan. Padahal situasi &quot;keadaan perang&quot; itulah yang ingin diatasi Locke.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Locke merumuskan wewenang negara dan agama dengan amat ketat sehingga keduanya menjadi terpisah dan tidak boleh saling mencampuri wewenang yang lain. Urusan agama adalah keselamatan akhirat sedang urusan negara adalah keselamatan di dunia saat ini, ketika manusia masih hidup. Persoalannya, apakah pemisahan itu sesuai dengan pandangan agama itu sendiri? Kebanyakan agama memiliki pandangan bahwa agama harus ikut campur dalam soal-soal publik, seperti keadilan sosial, wewenang pemerintahan, dan tuntutan moral umum. Perwujudan iman setiap pemeluk agama seringkali harus berfungsi juga di dalam persoalan-persoalan umum, sehingga pemisahan antara agama dan agama seperti yang diusulkan Locke dapat melanggar keyakinan agama-agama tertentu dan tidak dapat diterima.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://homopolitica.blogspot.com/feeds/6984710608388164915/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://homopolitica.blogspot.com/2014/06/pemikiran-politik-john-locke1632-1704.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1000589502291831411/posts/default/6984710608388164915'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1000589502291831411/posts/default/6984710608388164915'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://homopolitica.blogspot.com/2014/06/pemikiran-politik-john-locke1632-1704.html' title='PEMIKIRAN POLITIK JOHN LOCKE(1632-1704)'/><author><name>Gemapol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16258437395228572060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1000589502291831411.post-4542311748455857042</id><published>2014-05-30T10:26:00.000-07:00</published><updated>2014-06-05T10:31:22.284-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Filsafat-POlitik"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ilmu-Politik"/><title type='text'>Pemikiran THOMAS AQUINAS</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;http://www.thomasaquinas.edu/sites/default/files/the-popes-and-st-thomas.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;http://www.thomasaquinas.edu/sites/default/files/the-popes-and-st-thomas.jpg&quot; height=&quot;222&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; color: dimgrey; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Thomas Aquinas merupakan filsuf terbesar pada abad pertengahan di Eropa. Pikirannya sampai sekarang masih sangat berpengaruh. Thomas Aquinas berhasil mempersatukan ajaran-ajaran Augustinus yang sampai saat ini menentukan pemikiran di Eropa dengan filasafat Aristoteles dan dengan demikian memberikan impuls-impuls baru bagi kehidupan intelektual di Barat. Sejak itu filasafat mulai berkembang sebagai ilmu tersendiri.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; color: dimgrey; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Selama hampir seribu tahun pemikiran Kristiani di Eropa Barat memang amat dipengaruhi oleh sosok raksasa Santo Augustinus. Augustinus sendiri dekat dengan tradisi Neoplatonisme. Adapun Aristoteles semula kurang dikenal di Eropa Kristiani. Itu berubah karena Ibnu Sina dan lebih-lebih Ibnu Rushd dua filsuf besar Islam, serta Maimonides, filsuf Yahudi paling termasur diabad pertengahan yang tinggal di Kairo. Mereka memperkenalkan karya-karya Aristoteles ke Eropa.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; color: dimgrey; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;M&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;suknya Aristoteles menimbulkan perdebatan. Pemikirannya yang tanpa dimensi transenden, duniawi, analitis, dan bertolak belakang dari pengalaman indrawi terasa jauh kedalaman metafisik dan kehangatan teologis gaya berfilsafat Plato. Diperdebatkan apakah filasafat Aristoteles dapat disesuaikan dengan ajaran Kristiani. Orang pertama yang berhasil menunjukkan kepada pentingnya dan kedalaman pemikiran Aristotelas adalah Albertus Agung (1993-1280), seorang anggota terekat Santo Dominicus. Albertus juga berhasil menjelaskan dimana interpretasi Aristoteles oleh Ibnu Rushd berdasarkan salah pengertian terhadap teks asli Aristoteles.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; color: dimgrey; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Thomas Aquinas lahir pada tahun 1225 di Roccasecca, Itali. Ia masuk tarekat Santo Dominicus dan menjadi murid Albertus Agung di Koln. Ia mengajar di Koln Paris dan di Italia. Ia meninggal pada usia sekitar 50 tahun pada tahun 1274 di biara Fossanuova dalam perjalanan ke Konsili (Muktamar Gereja) di Lyon. Thomas Aquinas yang menjadikan Aristoteles dasar pemikirannya, tetapi dengan tidak menyingkirkan gagasan-gagasan dasar Augustinus. Ia memperlihatkan bahwa atas dasar kerangka pemikiran Aristoteles Teologi Augustinus dapat diberikan pendasaran yang lebih mantap.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; color: dimgrey; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Thomas mempunyai karya yang luas, ditulis dalam gaya yang ketat dan langsung mengena pada pokok pembicaraan, memperlihatkan keluasan pengetahuan, ketajaman analitis dan kedalaman spekulatif yang jarang ditemukan. Sumbangannya pada filsafat politik walaupun hanya merupakan sebagian kecil dari seluruh tulisannya semakin diakui sebagai hakiki bagi etika kekuasaan. Thomas Aquinas membicarakan masalah etika politik dalam dua tulisan, pertama dalam Summa Theologiae I dan II, kedua dalam tulisan mungilnya De Regimine Principum (tentang pemerintahan raja).&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; color: dimgrey; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Dalam uaraian pertama Thomas membicarakan tiga macam hukum dan hubungan yang terdapat diantara hukum-hukum ini, yang pertama adalah Lex Aterna (Hukum Abadi) atau kebijakan Ilahi sendiri sejauh merupakan dasar kodratnya, karena kodrat mahluk-mahluk mencerminkan kebijaksanaan yang menciptakannya. Bahwa mahluk itu ada dan bahwa mahluk berbentuk atau berkodrat sebagaimana adanya adalah karenaitulah yang dikehendaki Sang Pencipta.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; color: dimgrey; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Kenyataan ini mempunyai akibat, bahwa kodratnya aadalah normatif bagi ciptaanya. Bagi cipta tak berakal budi halnya dengan sendirinya demikian; mahluk itu dengan sendirinya tumbuh, bergerak, dan berkembang menurut hukum alam. Tetapi lain halnya dengan manusia. Manusia memiliki pengertian dan kemauan bebas dan oleh karena itu dapat menentukan sendiri bagaimana ia mau bertindak. Maka baginya kodratnya merupakan hukum dalam artiyang sungguh-sungguh : ia wajib hidup sesuai dengan kodratnya.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; color: dimgrey; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Hukum kodrat (Lex Naturalis) itulah dasar semua tuntutan moral. Dengan menghubungkan hukum moral dengan hukum kkodrat, Thomas mencapai dua hal sekaligus : ia mendasarkan norma-norma moral pada wewenang mutlak Sang Pencipta. Dan ia sekaligus menunjukkan rasionalitasnya. Rasionalitasnya tuntutan-tuntutan moral terletak dalam kenyataan, bahwa tuntutan-tuntutan itu sesuai, dan berdasarkan, keperluan kodrat manusia. Jadi Thomas mengatasi irasionalisme banyak etika religius yang begitu saja mengembalikan norma-norma moral pada kehendak Tuhan tanpa menjelaskan mengapa Tuhan berkehendak demikian. Menurut kodratnya Tuhan menghendaki agar manusia hidup sesuai dengan kodratnya dan itu berarti, hidup sedemikian rupa hingga ia dapat berkembang. Dapat membangun dan menemukan identitasnya, dapat menjadi bahagia. Dalam bahasan moral : hukum kodrat menuntut manusia agar hidup sesuai dengan martabatnya.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; color: dimgrey; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Dengan demikian Thomas pada akar hukum moral menolak segala paham kewajiban yang tidak dapat dilegitimasikan secara rasional, dari kebutuhan manusia sendiri yang sebenarnya. Prinsip itu diterapkan dengan tegas pada hukum buatan manusia, Lex Humana. Menurut Thomas suatu hukum buatan manusia&amp;nbsp; hanya berlaku apabila menurut dimensinya berdasarkan hukum kodrat isinya harus seuai dengan hukum kodrat dan pihak yang memasang hukum itu memiliki wewenangnya berdasarkan hukum kodrat.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; color: dimgrey; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Dengan demikian Thomas Aquinas secara radikial menolak kekuasaan sebagai dasar hukum. Suatu peraturan hanya bersifat hukum, artinya hanya mengikat, apabila isinya dapat dilegitimasi secara rasional dari hukum kodrat. Suatu “hukum” yang bertentangan dengan hukum kodrat, menurut Thomas tidak memiliki status hukum, melainkan merupakan “Corruplio Legis” atau penghancuran hukum.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; color: dimgrey; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Jadi Thomas Aquinas secara radikal menuntut legitimasi etis penggunaan kekuasaan. Kekuasaan tidak dapat membenarkan dirinya sendiri. Kekuasaan hanyalah suatu kenyataan fiksi dan sosial, tetapi tidak memuat suatu wewenang. Bagi Thomas tak ada satu orang pun yang secara asasi mempunyai wewenang atas manusia lainnya, yang berwenang hanyalah satu ialah Sang Pencipta dan segenap wewenang atas manusia haruslah mendapat hak dan wewenang yang pertama itu. Hukum kodrat adalah tolok ukur legitimasi segala tindakan kekuasaan. Suatu ketentuan penguasa yang tidak sesuai dengan hukum kodrat, tidak mengikat. Dengan demikian filsafat Thomas Aquinas membuka fakta kekuasaan terhadap kritik dan tuntutan pertanggungjawaban. Sekaligus dipastikan bahwa segenap kekuasaan manusia terbatas sifatnya dan tidak pernah mutlak.Kekuasaan itu perlu sejauh manusia, sebagai mahluk berkodraat sosial, membutuhkan kesatuan pimpinan agar ia dapat menjalankan kemanusiaannya secara utuh. Kekuasaan adalah fungsional demi kesejahteraan masing-masing orang. Keperluan manusia dalam martabatnya adalah batas prinsipil segala kekuasaan.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; color: dimgrey; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Dalam buku kecil tentang “Pemerintahan Para Raja” yang ditujukan kepada Raja Hugo di Cyprus, Thomas menjelaskan perbedaan antara pemerintahan yang sah dan pemerintahan yang disebut despotik. Pemerintahan despotik adalah pemerintahan yang hanya berdasarkan kekuasaan saja, sedangkan pemerintahan politik yang sah harus sesuai dengan kodrat manusia sebagai orang yang bebas. “Jadi apabila kesatuan orang-orang bebas dibimbing kearah kesejahteraan umum masyarakat, pemerintah ini bersifat betul dan adil sebagaimana sudah semestinya bagi orang-orang yang bebas. Tetapi apabila pimpinan tidak mengusahakan kesejahteraan umum masyarakat, melainkan keuntungan pribadi sang pemimpin, pemerintahan itu tidak adil dan bertentangan dengan kodrat.” Kekuasaan pada dasarnya hanya benar dan baik sejauh berjalan dalam batas-batas yang presis, sedangkan hukum sendiri harus menunjang tujuan negara, yaitu mengusahakan kemakmuran bersama dan bukan kepentingan pribadi penguasa sendiri atau kelompok tertentu. Yang boleh disebut raja bukanlah segenap orang yang kebetulanduduk diatas tahta, melainkan hanyalah penguasa yang memerintah demi kesejahteraan umum masyarakat bukan demi kepentingan diri sendiri.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; color: dimgrey; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Dalam hubungan ini Thomas Aquinas mengutamakan ajaran yang termasyur tentang perjanjian pemerintahan. Bagi Aquinas tidak pernah seorang dengan sendirinya berhak untuk memerintah orang lain. Sebagai sesama ciptaan Tuhan tak ada manusia yang sebagai manusia mengungguli manusia lain. Bahwa ada orang yang memerintah dan diperintah berdasarkan kodrat manusia sebagai mahluk sosial. Fungsi suatu pemerintahan diatas masyarakat memang diperlukan agar semua prasarana yang diandaikan manusia dalam usahanya meweujudkan kehidupannya dapat tersedia. Tetapi kepada siapa pemerintahan itu dipercayakan, masyarakatlah yang berhak menentukan (rakyat, populus, dalam bahasa Thomas Aquinas). Menurut Aquinas, setiap raja atau penguasa yang sah menduduki jabatannya berdasarkan suatu perjanjian dengan rakyatnya. Dalam perjanjian itu rakyat disatu pihak berjanji akan taat kepada raja. Di lain pihak raja berjanji bahwa ia akan mempergunakan kekuasaanya demi tujuan yang sebenarnya, yaitu untuk mengusahakan kepentingan rakyat atau kesejahteraan umum. Apabila raja menyalahgunakan kekuasaannya demi kepentingan sendiri, ia melanggar perjanjian. Dengan demikian perjanjian ini tidak berlaku lagi. Thomas Aquinas menulis, “Karena apabila termasuk hak rakyat untuk menentukan sendiri, siapa yang menjadi rajanya, maka berdasarkan hak yang sama raja yang diangkat itu dapat disingkirkan dari kedudukannya oleh rakyat yang sama, atau kekuasaannya dapat dibatasi. Dan jangan dikira bahwa rakyat itu dengan demikian melanggar kesetiannya..... karena Raja sudah sepantasnya mengalami bahwa bawahannya tidak menepati perjanjian mereka dengannya, karena ia sendiri dalam memerintah rakyatnya tidak setia kepadanya sebagaimana menjadi kewajiban seoarang raja.”&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; color: dimgrey; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Untuk mencegah timbulnya Tiranis itu kekuasaan hendaknya diatur sedemikian rupa sehingga “raja tidak memiliki kesempatan untuk mendirikan pemerintahan yang despotik. Sekaligus kekuasaannya harus dibatasi sedemikian rupa sehingga raja tidak mudah dapat menjadai Tiran.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; color: dimgrey; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Pendasaran segenap kekuasaan yang sah pada legitimasi etis berdasarkan kodrat dan martabat manusia sebagai mahluk yang bebas merupakan sumbangan Thomas Aquinas yang hakiki pada etika politik.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; color: dimgrey; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Dalam etikanya Aquinas mengikuti kerangka dasar dari Aristoteles tapi memberikan dimensi yang baru. Bagi Aquinas pun tujuan manusia adalah kebahagiaan. Seperti menurut Aristoteles kebahagiaan dalam Conteplatio, yang memandang Ilahi. Namun ia tidak berhenti pada pikiran filsafati. Pemikiran filsuf tidak sungguh-sungguh dapat memuaskan manusia. Satu-satunya pendangan yang memuaskan manusia sepenuhnya adalah pandangan nilai tertinggi dan abadi adalah Tuhan sendiri.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; color: dimgrey; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Thomas Aquinas mendobrak keterbatasan etika Aristoteles pada dunia ini. Tidak mungkin manusia mencapai tujuan terakhirnya dalam dunia ini. Adapun yang diciptakan tidak dapat membahagiakan manusia sepenuhnya karena manusia berakal budi, terarah kepada yang tak terbatas. Sebagaimana akal budi terarah kepada realitas tak terbatas, begitu pula kehendak manusia barupuas apabila sampai pada nilai yang tertinggi, dan nilai tertinggi itu adalah Tuhan.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; color: dimgrey; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Dalam pengertian Aquinas, akal budi merupakan kemampuan yang secara hakiki terbuka bagi yang tak terhingga. Meskipun objek akal budi dianggap menurut pola objek indrawi dan memahami yang terhingga. Karena itu, manusia berakal budi dan binatang tidak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; color: dimgrey; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Akal budi dapat dianggap sebagai keterbukaan yang tak terhingga atau sebagai cakrawalatak terhingga, tetapi karena cakrawala tak terhingga, manusia menangkap objek terhingga sebagai terhingga dan dengan demikian sudah mengatasi keterhinggaan (Hegel). Karena itu Tuhan dapat mewahyukan diri kepada manusia, tapi tidak kepada binatang. Binatang tidak mempunyai cakrawala tak terhingga, sehingga Tuhan tidak mungkin masuk kedalam wawasannya. Namun cakrawala pengertian manusia adalah tak terhingga, sehingga yang tak terhingga dapat mewahyukan diri kepada manusia. Manusia secara kodrati terbuka terhadap Tuhan jadi apabila ketakterhinggaan memenuhi keterbukaan manusia itu. Itulah sebabnya manusia ahnya dapat bahagia apabila memandang Tuhan jadi apabila ketakterhinggaan memenuhi keterbukaan manusia yang terarah pada yang tak terhingga.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; color: dimgrey; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Namun manusia hanyalah keterbukaan agar potensialitasnya tak terhingga. Oleh karena itu, manuisa dari kekuatannya sendiri tidak dapat mencapai Tuhan. Ia hanya dapat menerima Tuhan karena Tuhan memberikan diri sendiri. Pemberian diri Tuhan itu sama sekali bukan suatu hak manusia, melainkan tindak bebas Tuhan. Atasnya manusia tidak mempunyai klaim apapun. Ia hanya dapat menerimanya.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; color: dimgrey; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Dalam tradisi Kristiani, kerelaan Tuhan membuka diri kepada manusia disebut rahmat. Kata Rahmat memuat arti bahwa pemberian diri Tuhan itu seluruhnya atas kerelaan dan inisiatif Tuhan sendiri, dan bahwa dasarnya adalah kasih sayang Tuhan. Bahwa Tuhan memberikan diri, bahwa Tuhan bersifat maha rahim, itu diketahui dengan pasti hanya karena wahyu, karena Tuhan sendiri memberitahukannya.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; color: dimgrey; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Dari sini kita lihat bahwa Aquinas tidak lagi bicara murni&amp;nbsp; sebagai filsuf melainkan sebagai teolog. Karena itu, dalam etikanya Thomas melampaui metode filsof murni dan bicara sebagai orang beriman, sebagai orang Kristen. Namun, tentu tidak dalam artian eksklusif. Pandangan yang membahagiakan adalah tujuan akhir segenap orang, sebagai manusia, dan segenap orang dipanggil kepandangan itu. Agama-agama lainpun menyadari bahwa Tuhan bersifat maharahim. Namun kenyataannya itu bukan hasil dari pikiran akal budi manusia saja. Bahwa tujuan manusia yang berkahir dan paling luhur bukan sekedar berfikir yang kabur, melainkan suatu tawaran nyata, tidak diketahui manusia dari filsafat murni, melainkan dari akal budi yang telah diterangi oleh cahaya sabda Allah sendiri, sebagaimana disadari dalam agama-agama yang tahu bahwa Tuhan memang menyapa manusia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; color: dimgrey; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Bahwa tujuan akhir merupakan pemberian Tuhan yang berdaulat tidak berarti bahwa manusia tidak perlu berusaha sendiri. Aristoteles sudah menegaskan bahwa tindakan manusia bersifat bebas. Stoa, mendahului kant, sadar bahwa kualitas manusia akan moral ditentukan oleh kehendaknya, bukan tindakan lahiriah yang menentukan orang baik atau buruk dalam arti moral melainkan sebagai ungkapan kehendak. Manusia itu baik apabila ia berkehendak baik, jahat apabila berkehendak jahat. Augustinu berpendapat sama demikian juga Thomas.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; color: dimgrey; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Menurut Thomas, manusia memilih antara baik dan buruk dan itu harus. Perbuatan baik mengarahkan kepada tujuan akhir, perbuatan buruk menjauhkan daripadanya. Kebebasan itu padanan dari akal budi. Sebagai mana akal budi merupakan kemampuan kognitif manusia yang terbuka kepada yang tak terhingga begitu pula kehendak adalah dorongan manusia yang mengarah kepada yang baik, yaitu nilai yang tak terhingga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; color: dimgrey; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Thomas membedakan antara dua macam kegiatan manusia yaitu kegiatan manusiawi dan kegiatan manusia.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; color: dimgrey; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Kegiatan manusia adalah segala macam gerak, perkembangan, dan perubahan pada manusia yang tidak disengaja, yang munri vegetatif ataau sensitif dan instingtif. Kegiatan ini diluar kuasa manusia, tidak perlu dipertanggung jawabkan, itu berarti kegiatan pada manusia itu tidak mempunyai kualitas moral mereka bukan baik atau buruk.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; color: dimgrey; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Kegiatan manusia justru tidak khas manusia, melainkan juga ada pada binatang dan sebagian juga pada tumbuhan. Kegiatan yang khas bagi manusia disebut kegiatan manusiawi, yaitu kegiatan sebagai manusia yang tidak ada pada organisme lain. Itulah kegiatan yang disengaja, tindakan dalam arti yang sebenarnya. Tindakan itu dikuasai. Berarti berlaku dengan bebas karena kita menentukan diri sendiri. Atas tindakan, kita bertanggung jawab. Karena itu, tindakan menentukan kualitas moral manusia. Tindakan baik berarti manusia baik, tindakan buruk berarti manusia jahat.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; color: dimgrey; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Apakah manusia mendekati tujuan akhir atau tidak adalah tanggung jawab manusia itu sendiri. Ia wajib bertindak kearah yang baik dan tidak bertindak kearah yang jahat. Perintah moral paling dasar menurut Thomas Aquinas adalah, “Lakukanlah yang baik, jangan melakukan yang salah. Yang baik adalah tujuan terakhir manusia, yang buruk adalah apa yang tidak sesuai. Tindakan ini didahului oleh pengertian bahwa sesudah mengetahui yang baik kita wajib menghendaki melakukan. Begitu pula, kita wajib menghindari apa yang kita ketahui sebagai jahat.”&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; color: dimgrey; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Kemantapan dalam berbuat baik dan menolak yang jahat disebut keutamaan. Aquinas mengambil faham keutamaan dari Aristoteles. Keutamaan merupakan sikap hati yang sudah mantap, seakan-akan diandalkan. Sikap akan kebiasaan hati itu terbentuk karena tindakan. Manusia diharapkan mengusahakan keutamaan agar ia dengan mudah dapat bertindak sesuai dengan apa yang disadarinya dengan baik, agar kehendak, bagian dari jiwa yang menuju baik semakin terarah kepada apa yang diketahui dengan baik, yang sesuai dengan akal budi.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; color: dimgrey; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Sebagaimana bagi Aristoteles begitu juga bagi Thomas, keutamaan pada umumnya merupakan sikap yang ditengah. Artinya keutamaan berada diantara dua sikap yang ekstrim yang dua-duanya buruk (kebijaksanaan, misalnya, terletak diantara ketololan dan sikap berhati-hati yang berlebihan).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; color: dimgrey; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Dengan melihat pemikiran-pemikiran yang dilontarkan oleh Thomas Aquinas terutama tentang etika politiknya dengan mewariskan hukum kodratnya sangat berkembang dengan lebih meyakinkan dimana dalam negara hukum konstitusional yang keberadabannya diukur pada perlindungan yang diberikan kepada hak-hak asasi manusia. Dalam kesepakatan etika politik modern bahwa kekuasaan politik memerlukan legitimasi demokrasi dan dalam tuntutan bahwa negara dibebani tanggung jawab untuk mewujudkan keadilan sosial.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; color: dimgrey; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Mengenai etika Thimas Aquinas adalah etika yang berkaitan erat dengan iman kepercayaan kepada Allah pencipta. Dalam arti ini, etika Aquinas memiliki unsur teologis. Namun, unsur itu tidak menghilangkan cirinya yang khas filosofis bahwa etika itu memungkinkan orang menemukan garis hidup yang masuk akal, tanpa mengandaikan kepercayaan atau keyakinan agama tertentu.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; color: dimgrey; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Keunggulan Etika Thomas dibandingkan dengan etika teonom lainnya adalah bahwa dia tidak sekedar merupakan etika peraturan. Kebanyakan etika yang mendasarkan kewajiban moral manusia kepada kehendak Tuhan bersifat Etika peraturan yang diberikan Tuhan dan karena itu harus ditaati oleh manusia. Meskipun tidak salah, pola etika peraturan itu tidak dapat menjawab pertanyaan mengapa peraturan itu diterapkan; jadi, ada defisit dalam rasionalitas.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; color: dimgrey; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Orang dewasa mau saja taat pada peraturan, tetapi ia ingin tahu mengapa peraturan itu dipasang. Bahwa peraturan itu dipasang oleh yang berwenang tidak membuatnya rasional. Kecuali itu, etika peraturan mereduksi sikap moral manusia pada pertanyaan; boleh atau tidak boleh; pertanyaan itu tidak memberi ruang kepada salah satu faham moral yang paling penting dsan paling dibutuhkan pada zaman pasca tradisional, yaitu tanggung jawab.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; color: dimgrey; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Thomas mengatasi kelemahan itu karena hukum abadi yang diperintahkan oleh Tuhan adalah pengembangan dan penyempurnaan manusia sendiri. Jadi ada rasionalitas internal; hidup menurut hukum kodrat, hanya memenuhi perintah Tuhan melainkan memang sesuai dengan dinamika internal manusia sendiri. Dengan demikian, manusia menemukan diri menjadi nyata. Ketakwaan dan kebijaksanaan menyatu; takwa karena taat kepada Tuhan, bijaksana karena memang demi keutuhan manusia sendiri.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; color: dimgrey; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Thomas berhasil mengkombinasikan dua pola etika, etika teonom dan eudemodisme. Taat kepada Allah secara intrinsik menjadikan manusia bahagia karena dengan demikian ia menemukan kepenuhan dan kesempurnaannya. Berbeda dengan etika Kant yang mereduksi moralitas pada kewajiban, Etika Thomas berkaitan dengan desakan dasar hati manusia kearah kebahagiaan. Setiap orang ingin bahagia. Keinginan itu yang terlaksana lewat etika hukum kodrat.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; color: dimgrey; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Dengan demikian, Thomas mempertahankan faham Yunani bahwa etika mengajarkan seni hidup. Seni hidup, dalam arti bahwa orang yang mengikuti tuntutan etika menjadi semakin pandai atau bijaksana dalam cara mengurus gaya hidupnya&amp;nbsp; dengan sedemikian rupa sehingga maju, bermakna, terasa bermutu, mendukung daripada mencecerkan identitas diri. Segi itu menghilang dalam pola etika kewajiban sebagaimana dicanangkan oleh Kant. Seperti Thomas Aquinas tidak memisahkan antara ketakwaan dan kebijaksanaan, begitu pula antara keutamaan moral dan kebijaksanaan. Dalam kerangka teori hukum kodrat, orang bijaksana akan hidup lebih baik karena itulah yang paling membahagiakan dan memang itulah yang paling membahagiakan dan memang itulah yang dikendaki oleh Tuhan Pencipta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; color: dimgrey; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Kelemahan Etika Thomas Aquinas tidak terletak pada polanya melainkan dalam paham-pahamnya. Koodrta manusia terdiri dari apa ?. Pertanyaan ini merupakan kunci karena daripadanya tergantung bagaimana manusia harus hidup namun Thomas tidak menyediakan suatu metode untuk memastikan isi paham kodrat.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; color: dimgrey; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Yang kedua, kalaupun kita mencapai kesatuan paham tentang kodrat manusia, hukum kodrat juga belum berisi. Hukum kodrat menuntut agar kita bertindak sesuai dengan kodrat, tapi tindakan mana yang sesuai dengan kodrat manusia ?.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; color: dimgrey; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;background-color: white; color: dimgrey; font-family: Verdana; font-size: 14px; line-height: 28px; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #262626; font-family: Arial, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 32px;&quot;&gt;Namun demikian Etika Thomas Aquinas memilikirasionalitas tinggi. Disamping itu pula hukum kodrat mempunyai sifat yang universal karena meskipun acuan kepada Allah pencipata bersifat teologis, dalam strukturnya sendiri etika ini tidak berdasarkan iman kepercayaan atau agama tertentu. Etika hukum kodrat terbuka bagi siapa saja mengembangkan potensi-potensinya, menyempurnakan diri secara utuh, mengusahakan identitasnya, merupakan tujuan yang masuk akal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://homopolitica.blogspot.com/feeds/4542311748455857042/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://homopolitica.blogspot.com/2014/05/pemikiran-thomas-aquinas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1000589502291831411/posts/default/4542311748455857042'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1000589502291831411/posts/default/4542311748455857042'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://homopolitica.blogspot.com/2014/05/pemikiran-thomas-aquinas.html' title='Pemikiran THOMAS AQUINAS'/><author><name>Gemapol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16258437395228572060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1000589502291831411.post-7465205340436322790</id><published>2014-05-28T12:39:00.000-07:00</published><updated>2014-05-31T09:55:51.490-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Ilmu-Politik"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Politica"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="teori"/><title type='text'>Partai Politik</title><content type='html'>&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpFirst&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin: 12pt 0in 10pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;
&lt;a href=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEigtFI3yhQ6vtw2be2OfM1J0pHPrNoW1FmQJSYs1CIiQTTB1ICynnavAqvpnmfw-XVcR2U0fsweHCHWvKt_MLotfyRlvMBN3KXuM1e5aj6edGaza4u1Q7Zxhv53ws_WU7K2rDWByNJWrvCU/s1600/political-party-quiz.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;margin-left: 1em; margin-right: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEigtFI3yhQ6vtw2be2OfM1J0pHPrNoW1FmQJSYs1CIiQTTB1ICynnavAqvpnmfw-XVcR2U0fsweHCHWvKt_MLotfyRlvMBN3KXuM1e5aj6edGaza4u1Q7Zxhv53ws_WU7K2rDWByNJWrvCU/s1600/political-party-quiz.jpg&quot; height=&quot;213&quot; width=&quot;320&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Sejarah keberadaan partai politik di Indonesia dimulai ketika Belanda
mencanangkan politik etis pada tahun &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;1912&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; dan berdiri orga&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;n&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;isasi
kemasyarakatan yang merupakan pelopor berdirinya partai politik di Indonesia
yai&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;t&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;u Boedi Utomo. Partai politik merupakan sarana bagi warga
Negara untuk turut serta atau berpartisipasi dalam propses pengelolaan Negara.
Dimana partai politik adalah suatu kelompok terorganisir yang anggota - anggotanya
mempunyai orientasi, nilai - nilai, dan cita - cita yang sama.&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; font-size: 12pt;&quot;&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;
&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin: 12pt 0in 10pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Menurut UU No.2 Tahun 2011 Partai Politik adalah organisasi yang bersifat
nasional dan dibentuk oleh sekelompok warga negara Indonesia secara sukarela
atas dasar kesamaan kehendak dan cita&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; - &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;cita untuk memperjuangkan dan membela kepentingan
politik anggota, masyarakat, bangsa dan negara, serta memelihara keutuhan
Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; font-size: 12pt;&quot;&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin: 12pt 0in 10pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Carl J. Fiedrich&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; mendefinisikan partai politik &amp;nbsp;“sek&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;e&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;lompok manusia yang terorganis&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;asi&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; secara stabil dengan
tujuan merebut atau mempertahankan penguasaan terhadap pemerintahan bagi
pimpinan partainya dan berdasarkan penguasaan ini kemanfaatan yang bersifat
idiil maupun materil&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; kepada anggotanya&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;”.&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; font-size: 12pt;&quot;&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;
Sedangkan menurut &lt;i&gt;Giovanni Sartori,&lt;/i&gt;
partai politik adalah “ suatu kelompok politik yang mengikuti pemilihan umum
dan melalui pemilihan umum itu mampu men&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;e&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;mpatkan calo&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;n&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;nya untuk menduduki jabatan – jabatan.&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; font-size: 12pt;&quot;&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin: 12pt 0in 10pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Dari beberapa pengertian di atas maka penulis berusaha menggambarkan
kembali bahwa partai politik&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;&amp;nbsp; sesungguhnya
adalah kumpulan dari beberapa orang yang mempunyai orientasi sama yang
terbentuk dalam suatu wadah lembaga formal berdasar kepada ketentuan konstitusi
kelembagaan dan mengikuti sistem politik dan sistem pemilihan yang ada.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin: 12pt 0in 10pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Secara hakiki partai politik memiliki fungsi utama yaitu mencari dan
mempertahankan kekuasaan guna mewujudkan program–program yang disusun
berdasarkan ideolog&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;i&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; tertentu. Selain fungsi di atas&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; partai politik juga
memiliki fungsi &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;antara lain&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; :&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 63.8pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Arial; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;a.&lt;span style=&quot;font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Sebagai Sarana Komunikasi Politik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Dalam menjalankan fungsi sebagai sarana komunikasi politik,
partai politik mempunyai peran penting sebagai penghubung antara yang
memerintah dan yang diperintah. Menurut Signmund Neumann dalam hubungannya
dengan komunikasi politik, partai politik merupakan perantara besar yang
menghubungkan kekuatan – kekuatan dan ideolog&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;i&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; so&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;s&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;ial dengan lembaga
pemerintah yang resmi dan mengaitkannya dengan aksi politik di dalam masyarakat
politik yang lebih luas.&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; font-size: 12pt;&quot;&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 63.8pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Arial; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;b.&lt;span style=&quot;font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Sebagai Sarana Sosialisai Politik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Fungsi sosialisai politik partai adalah upaya menciptakan
citra &lt;i&gt;(image)&lt;/i&gt; bahwa partai politik
memperjuangkan kepentingan umum dan lebih tinggi nilainya apabila mampu
mendidik anggotanya menjadi manusia yang sadar akan tanggung jawabnya sebagai
warga Negara dan menempatkan kepentingan sendiri dibawah kepentingan nasional.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 63.8pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Arial; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;c.&lt;span style=&quot;font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Sebagai Sarana Rekrutmen Politik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: 27pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Fungsi partai politik ini yakni seleksi kepemimpinan dan
kader – kader yang berkualitas. Rekrutmen politik menjamin kont&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;i&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;n&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;ui&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;tas dan kelestar&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;i&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;an partai sekaligus merupakan salah satu cara untuk
menjaring dan melatih calon – calon&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; kader&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 63.8pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Arial; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;d.&lt;span style=&quot;font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Sebagai Sarana pengatur Konflik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 45pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Potensi konflik selalu ada di setiap masyarakat. Negara Indonesia yang
bersifat heterogen yang terdiri dari etnis, agama, dan lain – lain. Perbedaan
tersebut dapat menyebabkan konflik. Maka partai politik melaksanakan fungsi
sebagai pengatur konflik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 0in; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Setiap manusia pasti punya tujuan hidup, begitu juga halnya
dengan partai politik. Adapun tujuan umum partai politik &amp;nbsp;di &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Indonesia &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;sebagai berikut :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 63pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Arial; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;(1)&lt;span style=&quot;font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Mewujudkan cita – cita nasional bangsa Indonesia, sebagai
termaksud dalam pembukaan Undang – Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 63pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Arial; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;(2)&lt;span style=&quot;font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Mengembangkan kehidupan demokrasi berdasarkan Pancasila dan
menjunjung tinggi kedaulatan rakyat dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin: 12pt 0in 10pt 63pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Arial; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;(3)&lt;span style=&quot;font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Mewujudkan kesejahtraan bagi seluruh rakyat Indonesia.&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; font-size: 12pt;&quot;&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Tujuan khusus partai politik adalah memperjuangkan
cita – citanya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang
diwujudkan secara konstitusional.&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt 0.25in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Arial; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;A.&lt;span style=&quot;font-size: 7pt; font-weight: normal; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Prinsip Pendanaan Politik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Pendanaan politik tidak lepas dari tujuan pengaturan
dana politik yaitu:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Arial; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;a.&lt;span style=&quot;font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Sistem mengizinkan dan menyediakan uang yang cukup untuk
mendukung kampanye yang kompetitif&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Arial; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;b.&lt;span style=&quot;font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Sistem yang mendukung dan menjaga peluang bagi semua
penduduk untuk berpartisipasi secara bersama&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Arial; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;c.&lt;span style=&quot;font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Sistem yang dapat mencegah korupsi dan mencegah dampak
negative dari pengelolaan dana&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Arial; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;d.&lt;span style=&quot;font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Sistem yang dapat membebaskan dari iming-iming uang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.25in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Menurut Marcin Waleky (2004) pengaturan dana politik
berdasarkan beberapa tujuan:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Arial; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;a.&lt;span style=&quot;font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Mendekatkan jarak (&lt;i&gt;gap&lt;/i&gt;)
antara elit politik dan masyarakat (mendorong &lt;i&gt;representation dan accountability&lt;/i&gt;)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Arial; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;b.&lt;span style=&quot;font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Mendorong kepercayaan public (&lt;i&gt;Trust&lt;/i&gt;) dan meningkatkan partisipasi publik untuk berpartisipasi
dalam pemilu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Arial; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;c.&lt;span style=&quot;font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Membantu politik lebih akuntabel tidak hanay terkait masalah
uang atau keuntungan materil&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Arial; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;d.&lt;span style=&quot;font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Mencegah menerima &lt;i&gt;money
politics&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Arial; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;e.&lt;span style=&quot;font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Mencegah potensi penyelewengan dana Negara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Arial; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;f.&lt;span style=&quot;font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Mendorong persaingan yang kompetitif&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Arial; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;g.&lt;span style=&quot;font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Menguatkan penegakan hukum&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Basis akuntansi merupakan asumsi dasar yang
melatarbelakangi pencatatan pembukuan dan pelaporan keuangan partai politik.
Partai politik dianggap sebagai suatu entitas tunggal dan sebagai entitas
tunggal maka tidak ada bagian lain dalam partai politik yang menyelenggarakan
akuntasi/pembukuan selain partai politik itu sendiri. Semua jenis transaksi
keuangan partai politik harus tercatat dan terangkum dalam laporan keuangan
partai politik. Laporan keuangan partai politik merupakan hasil dari proses
akuntansi transaksi-transaksi keuangan partai politik. Laporan keuangan partai
politik terdiri dari laporan posisi keuangan, laporan aktifitas, laporan arus
kas, dan catatan laporan keuangan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Laporan posisi keuangan merupakan laporan yang
menyediakan informasi mengenai aktiva, kewajiban, dan aktiva bersih dan
informasi mengenai hubungan diantara unsur tersebut pada waktu tertentu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Laporan aktivitas merupakan laporan yang menyajikan
perubahan bersih selama satu periode, mengenai pengaruh transaksi dengan
peristiwa lain yang mengubah jumlah dan sifat aktiva bersih, dan bagaimana
penggunaan sumber daya dalam pelaksanaan program.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Laporan arus kas merupakan laporan yang menyajikan
arus kas menurut aktiva operasi, investasi, dan pendanaan selama periode
tertentu dengan menggunakan periode langsung. Sedangkan catatan atas laporan
keuangan merupakan penjelasan naratif rincian dari keseluruhan laporan, dalam
catatan ini juga diungkapkan&amp;nbsp; mengenai
penggunaan dana bantuan dari anggaran Negara kepada partai politik.&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpLast&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;C. Pendanaan Partai&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 200%; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pendanaan
partai memiliki beberapa komponen khusus.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;&amp;nbsp;Komponen&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;- komponen ini muncul
karena adanya undang&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;undang kepartaian, undang&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;undang tentang pendanaan partai dan undang-undang
pemilu. Sederetan undang&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;undang ini memb&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;e&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;rikan berbagai kemungkinan&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;kemungkinan legal dalam
rangkaian pendanaan partai, sebagai berikut&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; :&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraph&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -9pt;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Arial; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;a.&lt;span style=&quot;font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Iuran Anggota&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 35.45pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Iuran
anggota biasanya dibayar secara rutin (setiap bulan, triwulan, semester atau
setiap tahun) oleh para anggota.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Besarnya jumlah iuran tergantung pada pendapatan
setiap anggota partai.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Asas hukum penarikan iuran seperti ini adalah anggaran
dasar.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Anggaran dasar ini harus sesuai dengan aturan keuangan yang
menjelaskan bagaimana pemasukan dari iuran anggota itu dibagikan ketingkatan
partai yang berbeda.&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;&amp;nbsp;Pada prinsipnya, setiap
partai harus menarik iuran dari anggotanya.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Hal ini penting bagi pendanaan partai dan juga
kehidupan intern partai. Jika sebuah partai hanya bergantung pada sumbangan
atau dana dari segelintir orang, atau kadang&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;kadang hanya pada seorang anggota saja, hal ini bisa
menyulitkan proses demokrasi dalam tubuh partai, dan partai akan selalu
diperas.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Penagihan iuran dapat
dilakukan oleh bendahara dalam dewan pengurus atau oleh seorang yang ditugaskan
untuk itu.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Petugas ini juga ikut membayar iuran dengan presentase
tertentu.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Para pengumpul uang ini bisa meneran&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;g&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;kan peran penting dalam
komunikasi in&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;t&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;ernal partai karena mereka selalu berhubungan dengan para
anggota.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Dengan demikian mereka berfungsi seperti seismograf ya&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;n&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;g mencatat setiap
goncangan kecil dalam keanggotaan partai dan menyampaikan kepada pimpinan
partai.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Dalam masyarakat yang
jarang membayar dengan uang tunai, usaha penagihan itu juga dapat diselesaikan
oleh bank yang menarik uang dari rekening yang bersangkutan. Biasanya jumlah
iuran anggota diberbagai partai dan negara sangat beragam, mulai dari beberapa
perak per bulannya hingga dalam jumlah besar, dari tiga hingga lima persen
pendapatan.&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraph&quot; style=&quot;line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 0in;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Arial; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;b.&lt;span style=&quot;font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Biaya Penerimaan Anggota&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 0.5in; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Dalam partai menerapkan
biaya masuk bagi anggota baru. Biaya ini khususnya menutupi biaya penerimaan,
tapi tidak berfungsi sebagai dana rutin dan karenanya tidak begitu penting.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraph&quot; style=&quot;line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 0in;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Arial; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;c.&lt;span style=&quot;font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Sumbangan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 35.45pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Jangkauan
dan bentuk pencarian sumbangan diatur dalam undang&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;undang kepartaian dan
undang&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;undang pemilu yang relevan. Dalam UU No 2 tahun 2008 tentang
Partai Politik dan UU No 10 tahun 2008 tentang Pemilu DPR, DPD, dan DPRD
terdapat sederetan pembatasan terhadap sumber dan besarnya jumlah sumbangan.&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpFirst&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 49.65pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Arial; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;1.&lt;span style=&quot;font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Sumbangan dari luar negeri.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; Di sebagian besar Negara&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; termasuk Indonesia&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; dilarang &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;m&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;enerima sumbangan dari luar negeri. Tujuannya agar
partai tidak dikendalikan dari luar negeri atau agar partai tidak tergantung
pada sekelompok orang asing jika partai tersebut harus membuat keputusan
nasional.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 49.65pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Arial; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;2.&lt;span style=&quot;font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Larangan pendapatan
partai oleh perusahan politik&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;. Berbeda dengan pendanaan partai oleh pemerintah yang lazim
dibanyak negara, pemberian dana dari perusahaan publik kepada partai dilarang
di banyak negara. Larangan ini terutama disebabkan karena adanya praktek
memprioritaskan partai-partai tertentu biasanya partai&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;partai yang berkuasa
secara sepihak dengan cara membagi dana publik itu secara tidak merata. Tentu
saja praktek itu bisa memberikan kesempatan yang berbeda bagi partai-partai
yang ada. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpLast&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 49.65pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Arial; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;3.&lt;span style=&quot;font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Batas dana terbesar atau
larangan sumbangan dari perusahaan dan aturan transparansi sumbangan.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; Di beberapa negara
dilarang menerima sumbangan dari pribadi&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;pribadi hukum (&lt;i&gt;Juristichen
personnen &lt;/i&gt;pribadi atau organisasi yang berbadan hukum, dalam hal ini
termasuk menteri, gereja, perusahaan, dsb). Sementara sumbangan dari
perseorangan (&lt;i&gt;Naturlichen Personnen)&lt;/i&gt;
boleh diterima. Tetapi, di sebagian besar negara tidak ada larangan mererima
sumbangan dari pribadi-pribadi hukum tersebut. Persoalan dilarang atau tidaknya
menerima sumbangan dari mereka itu pada das&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;rnya berkaitan dengan
pengaruh&amp;nbsp; yang akan diberikan oleh
masyarakat ekonomi dan industri terhadap politik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoNormal&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 49.65pt; text-align: justify; text-indent: 35.4pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Bentuk&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;-&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;bentuk umum bantuan dana
dan sasaran dari pemerintah kepada partai adalah :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpFirst&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 70.9pt; text-align: justify; text-indent: -21.25pt;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Arial; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;1.&lt;span style=&quot;font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Mendanai membiayai
administrasi partai dengan cara pengalokasian dana secara kasar atau bertitik
tolak pada jumlah anggota partai. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Di sini partai memperoleh alokasi dana secara &lt;i&gt;lumpsum &lt;/i&gt;(jumlahnya sama untuk setiap
partai), atau pemberian dana itu dibedakan berdasarkan jumlah anggota partai.
Variasi dari bentuk ini adalah gabungan dari dana tetap dan alokasi dana
berdasarkan jumlah anggota partai. Maksud dari variasi ini adalah untuk tujuan
persiapan dan pelaksanaan pemilihan. Karena itu pembayaran bisa dilakukan kapan
saja atau tidak tergantung pada pemilihan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 70.9pt; text-align: justify; text-indent: -21.25pt;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Arial; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;2.&lt;span style=&quot;font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Pembayaran sejumlah dana
sesuai dengan hasil pemilihan.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; Ada bebagai model dalam melakukan pembayaran “ganti rugi”
biaya kampanye pemilihan. Pada prinsipnya model-model itu bertitik tolak pada
jumlah su&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;ara&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; yang diraih. Artinya, pembayaran uang dalam jumlah tertentu
itu dilakukan berdasarkan setiap perolehan suara. Jadi, ini bukan ganti rugi
biaya kampanye, melainkan premi atau bonus atas keberhasilan dalam pemilihan.
Dana yang telah dipergunakan dapat ditutupi atau paling tidak terbantu dengan
metode ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 70.9pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Jumlah uang untuk setiap suara pemilih bervariasi di Negara-negara yang
menerapkan sistem ini.Cara perhitungan suara pemilih untuk pembayaran jumlah
sumbangan juga bisa beraneka ragam, karena hanya suara pemilih yang benar-benar
telah diperoleh dan diserahkan yang dapat dijadikan dasar pembayaran uang hasil
pemilihan.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Dalam s&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;i&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;stem-sistem lain, prose&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;s&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; perhitungan suara
pemilih yang diraih dilakukan berdasarkan prediksi bahwa seluruh (100%) warga
yang berhak memilih menggunakan hak pilihnya.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Tentu, jika partisipasi warga yang berhak memilih
rendah, maka ini akan “menguntungkan” partai dalam segi finansial. Dalam kasus
ini dimana perhitungan suara tersebut benar-benar berupaya untuk menerapkan
strategi yang difokuskan pada &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;me&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;motivasian warga untuk menggunakan hak pilihnya dalam
pemilihan.Hal ini dilakukan bersamaan dengan pelaksanaa kampanye sebelum
pemilihan.&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 70.9pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Arial; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;3.&lt;span style=&quot;font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Pembayaran ganti
rugipengeluaran&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; y&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;ang sah. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Pembayaran ganti rugi biaya pengeluaran yang telah
dibuktikan kebenarannya (sah) ada batasannya atau pembayarannya bersifat
prosentual. Pengeluaran yang dimaksud bisa berupa pengeluaran untuk kampanye
pemilihan atau pengeluaran rutin administrasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 70.9pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Arial; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;4.&lt;span style=&quot;font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Menyediakan sarana publik
&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;u&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;ntuk tujuan partai. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Yang dimaksud dengan menyediakan sarana publik untuk
tujuan partai ini contohnya adalah menyediakan waktu siar (airtime) di radio
dan televisi secara gratis dengan catatan radio dan televisi itu harus bersifat
publik (bertujuan melayani masyarakat dan untuk itudiberikan hak khusus). Atau
menyediakan tempat-tempat untuk memasang plakat, seperti di sisi luar
bangunan-bangunan publik, jembatan dan sebagainya untuk promosi partai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 70.9pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Arial; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;5.&lt;span style=&quot;font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Menyediakan ruangan,
teknik dan personalia.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; Pemerintah di beberapa negara menyediakan ruangan, rumah,
gudang, sarana teknis, dan bahkan personil bagi partai atau fraksi di berbagai
tingkat (cabang, daerah, pusat).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 70.9pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Arial; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;6.&lt;span style=&quot;font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Mendanai biaya
pengeluaran fraksi. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Bagi organisasi-organisasi partai di parlemen diberlakukan
berbagai aturan. Di beberapa negara, fraksi-fraksi partai dilengkapi dengan
sarana penunjang yang baik, sesuai subsidi dana untuk personil fraksi, sarana
teknis, ruangan dan peralatan, bahkan mereka&amp;nbsp;
diberi peluang untuk membentuk tim ahli sendiri. Dengan demikian dana
untuk fraksi bahkan bisa lebih besar dari dana partai. Dalam kasus ini hampir
tidak ada dukungan dari pemerintah, bahkan ruangan rapat untuk fraksi yang
berada di dekat gedung parlemen pun tidak tersedia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 70.9pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Seberapa jauh dukungan yang diberikan kepada masing-masing fraksi dan
khususnya kepada fraksi oposisi, sangat bergantung pada budaya politik dan
stabilitas demokrasi serta pada besar atau tidaknya pengaruh parlemen terhadap
kekuasaan ekskutif. Dala&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;m&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; sistem konstitusi predensial misalnya, sarana yang
diberikan kepada fraksi jelas lebih buruk daripada sistem demokrasi parlemen.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 70.9pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Arial; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;7.&lt;span style=&quot;font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Membebaskan sumbangan dan
iuran anggota dari pajak. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Salah satu bentuk dukungan pemerintah kepada partai adalah
membebaskan sumbangan dan iuran anggota dari pajak atau memberikan kompensasi
pajak khusus terhadap pengeluaran - pengeluaran dana partai dan iuran anggota.
Melalui pembebasan pajak ini jumlah sumbangan yang diterima tentu lebih besar.
Sementara biaya pembebasan itu sendiri ditutupi dari anggaran publik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 70.9pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Arial; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;8.&lt;span style=&quot;font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Dukungan terhadap
organisasi-organisasi garis depan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;, seperti organisasi pemuda, organisasi perempuan,
yayasan dan sebagainya. Selain bantuan langsung pemerintah kepada partai, di
beberapa negara ditingkatkan pembentukan inst&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;it&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;usi - inst&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;it&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;usi khusus yang dapat digolongkan ke dalam partai tertentu atau setidaknya
ke dalam aliran politik tertentu. Institusi yang dimaksud adalah organisasi – organisasi
pemuda yang sebagian langsung memperoleh subsidi untuk kegiatan mereka di
berbagai tingkat politik yang berbeda, atau organisa&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;s&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;i mahasiswa yang
mendukung partai tertentu. Organisasi mahasiswa ini memperoleh dukungan dalam
melaksanakan kegiatan mereka. Hal ini juga berlaku untuk organisasi perempuan
dari berbagai partai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 1in; text-align: justify; text-indent: 1.1pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;Bentuk khusus dari dukungan pemerintah adalah bantuan
terhadap yayasan yang dekat dengan partai tertentu. Yang dimaksud disini adalah
yayasan - yayasan yang terutama bergerak dalam bidang pendidikan dan pekerjaan
garis depan, yang mempunyai pengaruh langsung terhadap proses pembentukan
kehendak rakyat. Hal ini dilakukan dengan cara memberikan penjelasan tentang
haluan dasar politik dari sebuah partai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 70.9pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Arial; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;9.&lt;span style=&quot;font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Pendanaan bagi
pengeluaran anggota parlemen. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Bantuan dana kepada anggota parlemen dirangkaikan dengan
pemberian dana kepada pekerja partai di daerah pemilihan dana yang lainnya.
Selain itu pemerintah juga menanggung biaya perjalanan dan biaya teknis. Ini
merupakan bentuk lain dari pendanaan secara tidak langsung oleh pemerintah
kepada partai. Akan tetapi, di beberapa negara yang berbeda, bentuk ini
menunjukkan hasil yang sama sekali lain. Ada negara yang memaksakan anggota
parlemennya untuk melepaskan profesinya agar ia dapat bekerja penuh di parlem&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;en&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; n&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;amun pada saat yang bersamaan negara tersebut hanya membayar
biaya kompensasi dalam jumlah yang kecil. Tentu saja ini berarti bahwa anggota
parlemen yangterpilih harus “kehilangan” banyak uang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 70.9pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Arial; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;10.&lt;span style=&quot;font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Dana dari kegiatan bisnis
partai.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; Bentuk pendanaan partai yang lain daripada yang lain adalah adanya
peraturan dalam undang-undang pemilu yang memperbolehkan partai melakukan
kegiatan bisnis, mendirikan perusahaan sendiri, menyelenggarakan undian dan
ikut serta dalam usaha dan persaingan bisnis. Pendanaan partai seperti ini
dapat menyebabkan terjadinya penbelokan dan publik melalui kanalisasi order - order
publik kepada perusahaan -perusahaan yang dimiliki partai. Ini akan
meningkatkan&amp;nbsp; terjadinya praktek korupsi,
kolusi, dan nepotisme.&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; font-size: 12pt;&quot;&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 0in; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;M&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;anajemen Keuangan adalah suatu kegiatan perencanaan,
penganggaran, pemeriksaan, pengelolaan, pengendalian, pencarian dan penyimpanan
dana yang dimiliki oleh organisasi atau perusahaan. &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Adapun Fungsi – Fungsi&amp;nbsp; Manajemen yaitu : &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -21.25pt;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Arial; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;1.&lt;span style=&quot;font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Perencanaan
Keuangan&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Membuat rencana pemasukan dan pengeluaraan serta kegiatan-kegiatan lainnya
untuk periode tertentu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -21.25pt;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Arial; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;2.&lt;span style=&quot;font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Penganggaran
Keuangan&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Tindak lanjut dari perencanaan keuangan dengan membuat detail pengeluaran
dan pemasukan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -21.25pt;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Arial; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;3.&lt;span style=&quot;font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Pengelolaan
Keuangan&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Menggunakan dana &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;lembaga/organisasi&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; untuk memaksimalkan dana
yang ada dengan berbagai cara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -21.25pt;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Arial; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;4.&lt;span style=&quot;font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Pencarian Keuangan&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Mencari dan
mengeksploitasi sumber dana yang ada untuk operasional kegiatan &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;organisasi&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -21.25pt;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Arial; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;5.&lt;span style=&quot;font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Penyimpanan
Keuangan&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Mengumpulkan dana &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;organisasi&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; serta menyimpan dana
tersebut dengan aman.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -21.25pt;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Arial; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;6.&lt;span style=&quot;font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Pengendalian
Keuangan&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Melakukan evaluasi serta perbaikan atas keuangan dan sistem keuangan pada &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;sebuah organisasi&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -21.25pt;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Arial; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;7.&lt;span style=&quot;font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Pemeriksaan
Keuangan&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Melakukan audit internal atas keuangan &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;organisasi&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; yang ada agar
tidak terjadi penyimpangan.&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; font-size: 12pt;&quot;&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 0in; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Pengelolaan keuangan dalam suatu lembaga&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;/organisasi &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;dalam hal ini Partai Politik sebagai suatu lembaga publi&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;k&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; merupakan suatu
hal yang sensitif. Apalagi jika uang yang mereka gunakan adalah uang rakyat,
maka rakyat patut untuk mengetahui kemana saja aliran dana tersebut. Berikut
ini beberapa penjelasan terkait &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;p&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;engelolaan Keuangan/Dana pada Partai Politik.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -23.7pt;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Arial; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;1.&lt;span style=&quot;font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Keuangan partai politik bersumber dari :&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 63pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Arial; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;a.&lt;span style=&quot;font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Iuran anggota.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 63pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Arial; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;b.&lt;span style=&quot;font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Sumbangan yang sah menurut hukum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 63pt; text-align: justify; text-indent: -0.25in;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Arial; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;c.&lt;span style=&quot;font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Bantuan dari anggaran Negara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -23.7pt;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Arial; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;2.&lt;span style=&quot;font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Sumbangan yang sah menurut h&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;u&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;kum dapat berupa uang,
barang, fasilitas, peralatan, dan/atau jasa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -23.7pt;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Arial; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;3.&lt;span style=&quot;font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Sumbangan perseorangan bukan anggota Partai Politik, paling
banyak senilai Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) per orang dalam waktu 1
(satu) tahun anggaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpMiddle&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -23.7pt;&quot;&gt;
&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Arial; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;4.&lt;span style=&quot;font-size: 7pt; line-height: normal;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Sumbangan perusahaan dan/atau badan usaha, paling banyak
senilai Rp 7.500.000.000,00 (tujuh miliar lima ratus juta rupiah) per
perusahaan dan/atau badan usaha dalam waktu 1 (satu) tahun anggaran.&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; font-size: 12pt;&quot;&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoListParagraphCxSpLast&quot; style=&quot;line-height: 200%; margin: 0in 0in 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Pengelolaan&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; keuanga&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;n&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; Organisa&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;s&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;i Partai Politik ,
sebagai suatu entitas yang menggunakan dana publi&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;k&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; yang besar, haruslah transparan
sehingga pertanggungjawaban keuangan merupakan hal yang tidak dapat ditawar
lagi. Sebagai bentuk kepatuhan terhadap Undang – Undang Part&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;i Politik, dan
Undang – Undang Pemilu, seluruh sumber daya keuangan yang digunakan harus
dipertanggungjawabkan kepada konstitu&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;ante&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;nya. Bentuk
pertanggungjawaban pengelolaan keuangan partai politik peserta pemilu adalah
penyampaian Laporan Dana Kampanye (semua peserta pemilu) serta Laporan Keuangan
(Khusu&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;s&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; Untuk Partai Politik), yang harus &lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;d&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;iaudit Akuntan Publik, ke
KPU serta terbuka untuk diakses publik. &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Informasi menyangkut keuangan bis&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; menjadi dasar penilaian
kemampuan P&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;rtai Politik untuk melangsungkan aktifitasnya dan
memperjuangkan kepentingan politik secara berkelanjutan.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;Pemilih seperti
dihadapkan dengan perusahaan yang dipercaya bis&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot; style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-ansi-language: IN; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; line-height: 200%; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-themecolor: text1; mso-themetint: 242;&quot;&gt; membawa aspirasinya
secara berkesinambungan.&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;color: #0d0d0d; font-size: 12pt;&quot;&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div&gt;
&lt;div style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;br /&gt;
&lt;hr size=&quot;1&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; width=&quot;33%&quot; /&gt;
&lt;!--[endif]--&gt;

&lt;br /&gt;
&lt;div id=&quot;ftn1&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;MsoFootnoteText&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 10pt;&quot;&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt; Miriam Budiarjo, &lt;i&gt;Dasar-Dasar Ilmu Politik&lt;/i&gt; (Jakarta:Gramedia
Pustaka Utama 2006) Hal.160&lt;span style=&quot;font-size: 9.0pt;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id=&quot;ftn2&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;MsoFootnoteText&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 10pt;&quot;&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt; Pasal 1, ayat 1 UU No. 2 tahun
2011&amp;nbsp; tentang Partai Politik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id=&quot;ftn3&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;MsoFootnoteText&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 10pt;&quot;&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt; Miriam Budiarjo, Op.Cit Hal.161&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id=&quot;ftn4&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;MsoFootnoteText&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 10pt;&quot;&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Http://Id.Wikipedia.Org/Wiki/Politik&lt;/span&gt; diakses pada &lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;tangga
13-03-2011&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id=&quot;ftn5&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;MsoFootnoteText&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 10pt;&quot;&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt; Http://Bimaaryasugiarto.Blogspot.Com/2008/03/Partai-Politik-Dan-Prospek.Html diakses pada&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt; tanggal
04-03-2011&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id=&quot;ftn6&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;MsoFootnoteText&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 10pt;&quot;&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt; Indra Bastian, &lt;i&gt;Akutansi Untuk LSM dan Partai Politik&lt;/i&gt;. (Jakarta.Erlangga.2007) Hal.154&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id=&quot;ftn7&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;MsoFootnoteText&quot; style=&quot;margin-left: 13.5pt; text-align: justify; text-indent: -13.5pt;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 10pt;&quot;&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Toni
Adrianus Pito dan Efriza&lt;/span&gt;,
&lt;i&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Mengenal Teori – Teori Politik
Dari Sistem Politik Sampai Korupsi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;. &lt;/span&gt;(&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;Bandung: Nuansa.&lt;/span&gt;2006).
Hal 15&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id=&quot;ftn8&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;MsoFootnoteText&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 10pt;&quot;&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt; &lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;http://www.slideshare.net/manajemenkeuangan10/1fungsi-dan-tujuan-manajemen&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;
keuangan diakses pada tanggal 24-04-2011&lt;/span&gt;&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div class=&quot;MsoFootnoteText&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span lang=&quot;IN&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id=&quot;ftn9&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;MsoFootnoteText&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 10pt;&quot;&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt; UU No. 2, Pasal 35, Ayat 1-3, Tahun
2011&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div id=&quot;ftn10&quot;&gt;
&lt;div class=&quot;MsoFootnoteText&quot; style=&quot;text-align: justify;&quot;&gt;
&lt;span style=&quot;font-family: Arial, Helvetica, sans-serif;&quot;&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span class=&quot;MsoFootnoteReference&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-size: 10pt;&quot;&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt; Haryono Umar, 2003&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: Calibri, sans-serif;&quot;&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;/div&gt;
</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://homopolitica.blogspot.com/feeds/7465205340436322790/comments/default' title='Posting Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://homopolitica.blogspot.com/2014/05/partai-politik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1000589502291831411/posts/default/7465205340436322790'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1000589502291831411/posts/default/7465205340436322790'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://homopolitica.blogspot.com/2014/05/partai-politik.html' title='Partai Politik'/><author><name>Gemapol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16258437395228572060</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='https://img1.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEigtFI3yhQ6vtw2be2OfM1J0pHPrNoW1FmQJSYs1CIiQTTB1ICynnavAqvpnmfw-XVcR2U0fsweHCHWvKt_MLotfyRlvMBN3KXuM1e5aj6edGaza4u1Q7Zxhv53ws_WU7K2rDWByNJWrvCU/s72-c/political-party-quiz.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>