<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<!-- If you are running a bot please visit this policy page outlining rules you must respect. https://www.livejournal.com/bots/ -->
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:lj="https://www.livejournal.com" xmlns:idx="urn:atom-extension:indexing" idx:index="no">
  <id>urn:lj:livejournal.com:atom1:prayudi</id>
  <title>Hujan Bulan Mei</title>
  <subtitle>A Novel by Imam Indra Prayudi</subtitle>
  <author>
    <name>Imam Indra Prayudi</name>
  </author>
  <link rel="alternate" type="text/html" href="https://prayudi.livejournal.com/"/>
  <link rel="self" type="text/xml" href="https://prayudi.livejournal.com/data/atom"/>
  <updated>2012-05-28T05:30:45Z</updated>
  <lj:journal userid="9083793" username="prayudi" type="personal"/>
  <link rel="service.feed" type="application/x.atom+xml" href="https://prayudi.livejournal.com/data/atom" title="Hujan Bulan Mei"/>
  <entry>
    <id>urn:lj:livejournal.com:atom1:prayudi:2583</id>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="https://prayudi.livejournal.com/2583.html"/>
    <link rel="self" type="text/xml" href="https://prayudi.livejournal.com/data/atom/?itemid=2583"/>
    <title>Chapter 2: Piece 1</title>
    <published>2007-06-12T10:41:20Z</published>
    <updated>2007-06-12T10:41:20Z</updated>
    <content type="html">&lt;i&gt;...I am the son and the heir, of a shyness that is criminally vulgar...&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;(How Soon Is Now, The Smiths)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan di saat 'kejayaannya', Puger selalu dikenal sebagai cowok pemalu dan pendiam. Dia populer sebagian karena kakak-kakaknya yang terlebih dahulu membuat sejarah di sekolahnya. Tentu akan sangat mudah menghubungkan Puger dengan poularitas kakaknya-kakaknya. Para guru akan mengatakan, "Oo, dia adiknya si ini dan itu yang dulu pintar dan aktif di organisasi". Sebagian lagi karena orang tuanya pejabat yang cukup terpandang di kota kelahirannya nan kecil itu. Di kota sekecil itu, seorang pejabat tingkat kabupaten sudah cukup mencolok. Terlebih lagi, karakternya yang dipandang relatif 'normal" dibanding putra-putri pejabat lain, yang sebagian lebih memilih bersekolah di kota besar, dan yang sebagian lagi cenderung bertingkah seenaknya. Tentu saja, Puger lebih dikenal karena kecerdasannya. Saat kuliah, mendadak semuanya hilang. Dia tidak lagi ikan besar di kolam kecil, namun hanya salah satu ikan kecil di samudera. Tak seorangpun mengenalnya, tinggallah dia dengan kebisuannya. Alhasil, Puger hanya berjaya di seputaran kos-kosannya, merancang dunia kecil yang berusaha mengendalikan dunia besar (kampus). Sedikit banyak, usahanya menampakkan hasil, dengan mengorbankan studinya sendiri. Alhasil, terdamparlah kembali dia di kampus lain, di kota asing. Ironisnya, kampus yang sama pernah ditolaknya saat lulus SMA dulu. Di sini, jangankan dunia besar, dunia kecilnya pun tak terbentuk, dunia-dunia itu malah tak terbentuk sama sekali. Statusnya sebagai mahasiswa kelas malam memaksanya untuk hanya berpikir satu dimensi. Namun, sebagian besar materi kuliah sudah pernah didapatkannya dari kampusnya dulu, sehingga membuatnya cepat bosan. &lt;br /&gt;</content>
  </entry>
  <entry>
    <id>urn:lj:livejournal.com:atom1:prayudi:2380</id>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="https://prayudi.livejournal.com/2380.html"/>
    <link rel="self" type="text/xml" href="https://prayudi.livejournal.com/data/atom/?itemid=2380"/>
    <title>Chapter 1: Piece 5</title>
    <published>2007-03-07T07:08:12Z</published>
    <updated>2007-05-23T08:40:54Z</updated>
    <content type="html">Malam itu berlalu cepat, tak ada kata-kata yang bergema di telinga. Semuanya telah diselesaikan bertahun-tahun yang lalu. Dia hadir di sini karena suatu alasan, yang pasti bukan untuk mendengarkan teori yang sekian lama tercetak dan diulang-ulang setiap saat. Dia bisa memilih untuk menghapus kelas ini dari mata kuliah yang harus diambil semester ini, terlebih lagi dia pernah menyelesaikan mata kuliah yang sama dengan hasil cukup memuaskan. Ada sesuatu yang lebih besar dari itu, lebih dari kehadiran sejumlah kecil temannya yang mengambil mata kuliah yang sama dengan harapan mendapatkan bonus nilai untuk mendongkrak indeks prestasi semester ini. Sebuah pencerahan, meski mungkin terlalu berlebihan dikatakan demikian, tentang jalan hidup dan bagaiman sebuah keputusan mengubahnya, dan keputusan lain mengembalikan semua kemungkinan, bagai plot berbeda dalam epidode cerita yang sama.</content>
  </entry>
  <entry>
    <id>urn:lj:livejournal.com:atom1:prayudi:2055</id>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="https://prayudi.livejournal.com/2055.html"/>
    <link rel="self" type="text/xml" href="https://prayudi.livejournal.com/data/atom/?itemid=2055"/>
    <title>Chapter 1: Piece 4</title>
    <published>2006-12-29T12:27:16Z</published>
    <updated>2007-03-07T07:14:35Z</updated>
    <content type="html">Tersadar kembali, Puger menatap ke depan kelas. Hanya ada keraguan dan penyesalan. Seharusnya ia bisa berada di sana sekarang. Mungkin tidak di ruangan ini, namun di tempat lain. Terlalu lama ia tersudut di belakang meja di atas kursi kuliah selama bertahun-tahun. Ia mengerti sekarang, hantu masa depannya tergambar jelas di depan matanya. Seakan-akan menari mengejek ketertinggalannya selama ini. Tahun-tahun yang berlalu tak lagi berarti baginya. Sejarah telah berputar ulang, ia kembali ke jalur takdirnya. Saat semuanya sudah terlambat. Jarak yang terentang kini semakin lebar, bahkan impiannya tak mampu lagi menjangkau sosok yang sedang berdiri di depan kelas, sosok yang selama ini diam-diam dirindukannya. Tentu saja, ia belum pernah bertemu sebelumnya, tapi sekali lagi, bahkan waktu itu relatif. Sekali seseorang menyimpang dari jalurnya, butuh waktu untuk mengembalikannya ke jalur takdirnya. Saat kita merasa waktu berjalan lambat atau cepat, dan tiba-tiba kita menghadapi sesuatu yang tidak terelakkan, sejauh apapun kita menghindar, secepat apapun kita berlari. Kini Puger menyadari, mengapa mimpi-mimpinya selama ini terasa begitu hampa. Karena semua impiannya direnggut dari dunia khayalinya menuju dunia nyata, menghukum kesalahan-kesalahannya di masa silam. Suasana kali ini begitu menyiksa sekaligus membahagiakannya.</content>
  </entry>
  <entry>
    <id>urn:lj:livejournal.com:atom1:prayudi:1818</id>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="https://prayudi.livejournal.com/1818.html"/>
    <link rel="self" type="text/xml" href="https://prayudi.livejournal.com/data/atom/?itemid=1818"/>
    <title>Chapter 1: Piece 3</title>
    <published>2006-11-30T05:15:31Z</published>
    <updated>2006-11-30T05:15:31Z</updated>
    <content type="html">Puger menatap sosok di depan kelas, yang nampak adalah seseorang dari masa yang berbeda. Ia belum pernah bertemu sebelumnya, namun terasa sangat akrab, tidak dalam masa lalu, kini, maupun yang akan datang. Bahkan tidak dalam konteks ruang dan waktu di dunia ini. Setahun terakhir Puger memendam frustrasi, berlanjut dari tahun-tahun terakhirnya di Bandung, sebelum dia dikeluarkan dari kampusnya dulu. Dia terus bertanya mengapa hidupnya berjalan tidak seperti yang diinginkannya. Dia terus bertanya-tanya seandainya dia mengambil pilihan yang berbeda saat lulus SMA dulu dan apa yang akan terjadi dengan hidupnya sekarang. Terbayang teori tentang dunia paralel yang terbentuk saat kita mengambil pilihan antara dua alternatif yang memungkinkan. Dari waktu ke waktu dia menanyakan hal itu pada dirinya sendiri. Sekarang, di depan kelas, Puger telah menemukan jawabannya. Saat suara lembut itu terus mengalun, Puger merasakan seluruh kisah hidupnya ditulis kembali, semua kesedihannya berlalu, rasa frustrasinya terkubur, penyesalannya tinggal sejarah, dan seluruh beban di pundaknya terangkat.</content>
  </entry>
  <entry>
    <id>urn:lj:livejournal.com:atom1:prayudi:1641</id>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="https://prayudi.livejournal.com/1641.html"/>
    <link rel="self" type="text/xml" href="https://prayudi.livejournal.com/data/atom/?itemid=1641"/>
    <title>Theme Song</title>
    <published>2006-10-17T01:12:31Z</published>
    <updated>2006-10-17T01:12:31Z</updated>
    <content type="html">Remember the Feeling&lt;br /&gt;written by Peter Cetera and Bill Chmaplin&lt;br /&gt;from album Chicago 17&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shadows were hiding what I couldn't see&lt;br /&gt;Out in the dark she was calling to me&lt;br /&gt;Calling to me with a voice&lt;br /&gt;I'll never forget&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;She was the vision, I couldn't believe&lt;br /&gt;I held her close so that she wouldn't leave&lt;br /&gt;Suddenly helpless&lt;br /&gt;Hopelessly falling in love&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I remember the feeling, I remember the way&lt;br /&gt;She came up and wrapped her arms around me&lt;br /&gt;Told me that she cared&lt;br /&gt;Said she'd always be there&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taking me places, I've never been&lt;br /&gt;She had the beauty that comes from within&lt;br /&gt;Was I just dreaming&lt;br /&gt;Was it too good to be true&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I was a man all alone in the night&lt;br /&gt;She came along and she showed me the light&lt;br /&gt;I was confused, then she told me the way&lt;br /&gt;I was alone, and I begged her to stay&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;She was alive, I was caught by the fire&lt;br /&gt;She had emotions that filled my desire&lt;br /&gt;I should have noticed that something was wrong&lt;br /&gt;When I awoke, she was gone&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I remember the feeling, I remember the way&lt;br /&gt;She came up and wrapped her arms around me&lt;br /&gt;Told me that she cared&lt;br /&gt;Said she'd always be there&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;She was alive, I was caught by the fire&lt;br /&gt;She had emotions that filled my desire&lt;br /&gt;I should have noticed that something was wrong&lt;br /&gt;When I awoke, I could have seen that she was gone&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gone, gone, she was gone...</content>
  </entry>
  <entry>
    <id>urn:lj:livejournal.com:atom1:prayudi:1453</id>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="https://prayudi.livejournal.com/1453.html"/>
    <link rel="self" type="text/xml" href="https://prayudi.livejournal.com/data/atom/?itemid=1453"/>
    <title>Chapter 1: Piece 2</title>
    <published>2006-02-28T09:58:55Z</published>
    <updated>2006-02-28T09:58:55Z</updated>
    <content type="html">"Selamat Malam..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan suara yang biasa terdengar, apalagi di kelas kuliah pilihan. Di kelas ini, hanya ada sebelas mahasiswa. Semester ini ada enam mata kuliah tambahan, dan semuanya terisi. Puger memilih kelas ini, karena relatif mudah juga karena tiga sahabatnya, Yan, Margo, dan Sono memilih kelas yang sama. Tidak mudah mencari teman yang bisa diajak 'berkomplot' alias kroni, apalagi di kelas kuliah pilihan. Belum lagi soal cewek, di jurusan ini termasuk sangat jarang, barangkali jumlah dosen perempuan dan mahasiswinya sama banyak. Sebagai jurusan baru, dosen pun bisa seawam mahasiswanya. Malam ini kuliah perdana, dan suara lembut itu memecah kebisuan kelas.</content>
  </entry>
  <entry>
    <id>urn:lj:livejournal.com:atom1:prayudi:1137</id>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="https://prayudi.livejournal.com/1137.html"/>
    <link rel="self" type="text/xml" href="https://prayudi.livejournal.com/data/atom/?itemid=1137"/>
    <title>Chapter 1</title>
    <published>2006-01-26T09:32:32Z</published>
    <updated>2006-01-26T09:32:32Z</updated>
    <content type="html">Sore itu, matahari mulai surut ke barat. Azan Asar baru saja bergema dan hampir  semua pekerja dan pelajar sudah sampai di rumah masing-masing. Namun, hari ini  baru dimulai bagi Puger dan ratusan mahasiswa ekstensi lainnya. Jam belajar  mereka adalah saat mayoritas mahasiswa (kelas pagi) telah masuk ke siklus  istirahat, siklus yang terbolak-balik bagi Puger dan kawan-kawannya. Pukul  setengah empat sore sampai sembilan malam adalah waktu mereka kuliah. Lebih daripada sekolah sore, yang pulang sebelum Maghrib, mereka harus pulang jauh setelah Isya'.</content>
  </entry>
  <entry>
    <id>urn:lj:livejournal.com:atom1:prayudi:786</id>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="https://prayudi.livejournal.com/786.html"/>
    <link rel="self" type="text/xml" href="https://prayudi.livejournal.com/data/atom/?itemid=786"/>
    <title>Chapter 0: Pengantar</title>
    <published>2006-01-16T07:27:31Z</published>
    <updated>2012-05-16T10:11:11Z</updated>
    <content type="html">Hujan, Kenapa mesti hujan? Banyak inspirasi tertuang saat hujan turun, seperti saat ini, atau mungkin hanya kesal karena tidak banyak kerjaan yang bisa dilakukan saat hujan, terutama bila listrik padam. Hujan sering melambangkan kesedihan, karena melambangkan air mata, bahkan The Everly Brothers menyanyikan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Crying in the Rain&lt;/span&gt; karena malu kalau ketahuan menangis, atau karena air matanya sudah habis. Tapi bagi Penulis, hujan bia melambangkan cinta, yang hanya memberi tak harap kembali. Cinta yang tidak memandang siapa, yang menyejukkan, namun juga bisa membuat demam jika tak terkendali. Tentu saja bukan berarti memakai payung atau jas hujan berarti menolak cinta, hanya menyeleksi, sebab kata Freddie Mercury, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Too Much Love Will Kill You&lt;/span&gt; (!). Dalam jumlah yang cukup, hujan akan menyuburkan tanah dan memberi kehidupan, saat berlebihan maka banjir dan tanah longsor pun mengancam. Hujan pun turun tidak selalu merata, pada waktu dan tempat yang berbeda-beda, ada yang deras ada yang gerimis. Dan hujan turun melalui sebuah proses yang panjang dan kontinyu.&lt;br&gt;</content>
  </entry>
  <entry>
    <id>urn:lj:livejournal.com:atom1:prayudi:577</id>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="https://prayudi.livejournal.com/577.html"/>
    <link rel="self" type="text/xml" href="https://prayudi.livejournal.com/data/atom/?itemid=577"/>
    <title>Prologue</title>
    <published>2005-12-23T09:28:24Z</published>
    <updated>2005-12-23T09:28:24Z</updated>
    <content type="html">&lt;i&gt;...There's nothing for me here, so I will disappear...&lt;/i&gt; (I Don't Want to Spoil the Party, The Beatles)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puger menatap sekali lagi gedung berlantai dua itu dari kejauhan. Rasanya baru kemarin dia terkagum-kagum pada kemegahan kampus barunya ini. Sekarang, di tangannya tergenggam selembar kertas yang resmi memisahkannya dari lingkungan tempatnya berpijak selama ini. Diingat-ingatnya lagi senja yang mengantarnya ke dalam ruangan dakam gedung itu, masih didengarnya suara gaduh teman-temannya yang satu per satu sudah meninggalkan tempat ini. Meninggalkannya sendiri, sesendiri saat dia masuk ke sini tiga tahun yang lalu. Sesendiri saat dia termangu-mangu menatap puluhan mata yang asing baginya. Kini, hanya satu tatapan mata yang dia harapkan, dari balik kacamata minus yang menyejukkan hatinya. Walau tatapan itu tidak tertuju padanya seorang, tapi memancar ke segala penjuru. Dia tahu pasti tatapan itu tak akan hadir hari ini, walau tetap terpatri di angannya, entah kapan mampu dia lupakan. Inilah rahasia hatinya yang terdalam, yang tak pernah terungkap walau sepatah kata, sampai kini. Pagi ini kegiatan tetap berjalan seperti biasa, namun Puger tidak merasakannya. Berjalan perlahan ke depan gedung kuliahnya, Puger bahkan tidak merasakan sesuatu di kiri-kanannya, semuanya beku. Kini pintu masuk itu tepat di hadapannya. Tak perlu mengetuk, Puger pun melangkah masuk.</content>
  </entry>
  <entry>
    <id>urn:lj:livejournal.com:atom1:prayudi:349</id>
    <link rel="alternate" type="text/html" href="https://prayudi.livejournal.com/349.html"/>
    <link rel="self" type="text/xml" href="https://prayudi.livejournal.com/data/atom/?itemid=349"/>
    <title>NBlog Project: Pengantar</title>
    <published>2005-12-23T01:52:26Z</published>
    <updated>2012-05-28T05:30:45Z</updated>
    <content type="html">Kenapa mesti bikin blog lagi? Karena masih ada obsesi untuk membuat novel atau cerita panjang yang masih terpendam. Ternyata yang paling sulit adalah memulai. Sekali memulai, maunya tidak berhenti sebelum selesai. Kesulitan lainnya adalah menerjemahkan pulsa-pulsa otak yang lebih tersalur dalam gerutuan/gerutuan dalam perjalanan yang membosankan. Parahnya, tak terpikir untuk merekamnya, karena selain memang tidak punya (dan malas beli) perangkatnya, juga agak ngeri mendengarkan suara sendiri (creepy). Mulai tahun 2006, direncanakan projek ini akan dimulai, tanpa batas waktu tertentu, karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi besok. Bisa saja akses ke internet jadi terbatas tahun depan, atau server blog ini mengalami masalah. Kenapa di blog, bukan disimpan di komputer sendiri? Karena akses ke komputer sendiri lebih terbatas dibandingkan ke internet (!) Komputer penulis tertinggal di kampung dan belum ada kejelasan rencana pembelian laptop, setidaknya setahun ke depan. Nama projek ada banyak pilihan, kebanyakan terlalu aneh untuk dicerna: C-Blog, CerBlog, Novellog, Novel on the Blog, BlogNov, ... (silakan isi sendiri). Kenapa harus LiveJournal? karena bisa dikerjakan secara offline menggunakan klien standalone, tanpa harus dikerjakan di browser (online). Kenapa harus blog khusus, karena untuk mengisolasi dari blog-blog lain (di Friendster, Multiply, BlogSpot) agar tidak tercampur dengan hal-hal lain yang lebih konkret.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DISCLAIMER :&lt;br /&gt;Novel ini diilhami pengalaman pribadi Penulis, namun ceritanya sepenuhnya FIKTIF. Kesamaan dalam bentuk apapun, bisa dianggap kebetulan, atau penafsiran subjektif atas pengalaman Penulis. Jika ada keberatan, koreksi, atau sekadar berbagi pengalaman, silakan tulis komentar atau hubungi Penulis.</content>
  </entry>
</feed>
