<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>Jari Rindu Blog</title><description>Tips &amp;amp; Trik Blogging, Komputer, Internet, Pendidikan, Makalah, Skripsi, Filsafat, Renungan, Tips Bagus, Facebook, Ebook, Budaya, Profil Tokoh, dll</description><managingEditor>noreply@blogger.com (Admin JR)</managingEditor><pubDate>Sun, 31 May 2026 03:09:40 +0800</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">199</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>http://jaririndu.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Tips &amp;amp; Trik Blogging, Komputer, Internet, Pendidikan, Makalah, Skripsi, Filsafat, Renungan, Tips Bagus, Facebook, Ebook, Budaya, Profil Tokoh, dll</itunes:subtitle><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><title>MAKALAH: Umar Ibn Al-Khaththāb (Perkembangan Islam Sebagai Kekuatan Politik)</title><link>http://jaririndu.blogspot.com/2026/04/umar-ibn-al-khaththab-perkembangan-islam-sebagai-kekuatan-politik.html</link><category>Makalah</category><category>Pendidikan</category><author>noreply@blogger.com (Admin JR)</author><pubDate>Thu, 16 Apr 2026 00:28:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7393750217607801487.post-5906305683055488405</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both;"&gt;&lt;img alt="Umar Ibn Al-Khaththāb (Perkembangan Islam Sebagai Kekuatan Politik)" border="0" data-original-height="360" data-original-width="640" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiYDIAwbGzjaPErzJzUfcFGS3dNAR8wgjR_hzFJVRWGpm19jv4wFCUMmKvqXwAzBzdYtiQ0WRlM4IbdQweZE0ZQ40uXTOYcQvkdzluJYU5rWGQxx5qrHqUqRT0KjxuyMTjqTqF1ncUY8SjOgPLEKk4eiImtB1hGnvoHXCZtjnVFBCIrJ06rUb_7TGN6eG4K/s1600/Umar%20Ibn%20Al-Khathth%C4%81b%20%28Perkembangan%20Islam%20Sebagai%20Kekuatan%20Politik%29.webp"/&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3 style="text-align: left;"&gt;BAB I&lt;br /&gt;
PENDAHULUAN&lt;/h3&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;

A.	Latar Belakang&lt;/h4&gt;
Kedatangan &lt;a href="https://jaririndu.blogspot.com/2026/04/makalah-umar-ibn-al-khaththab.html" target="_blank" rel="nofollow"&gt;Islam&lt;/a&gt; memberikan dinamika baru bagi manusia dan peradaban. Selain memberikan iklim politik baru, Islam juga memberikan sistem baru yang didasarkan pada ajaran-ajarannya, seperti: tidak mendapatkan tantangan, Islam memulai kegiatan politiknya berhadapan dengan suku-suku yang sudah eksis kemudian memperluas pengaruhnya. Bahkan dalam menjalankan kebijakan politiknya, Islam mengatur tata cara perang (jihad) demi untuk melindungi umatnya dan melebarkan sayap kekuasaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

&lt;div class="mbtTOC"&gt; 
&lt;button onclick="mbtToggle()"&gt;Daftar Isi &lt;svg style="height: 18px; width: 18px;" viewbox="0 0 18 18"&gt;
    &lt;path d="M19.5,3.09L15,7.59V4H13V11H20V9H16.41L20.91,4.5L19.5,3.09M4,13V15H7.59L3.09,19.5L4.5,20.91L9,16.41V20H11V13H4Z" fill="currentColor"&gt;
&lt;/path&gt;&lt;/svg&gt;&lt;/button&gt; 
&lt;ol id="mbtTOC"&gt;&lt;/ol&gt; 
&lt;/div&gt;

Dalam perjalanan sejarah diketahui bahwa, Umar adalah orang yang besar dalam kesederhanaan, orang yang dilahirkan oleh kemanusiaan dan didik oleh Islam. Beliau penguasa mukmin yang apabila disebutkan pemimpin-pemimpin negara dan pemerintahan sejak fajar sejarah manusia hingga akhir ini, maka beliau adalah orang yang terbesar di antara mereka, paling baik dan paling bersih. Beliau ahli ibadah dan pengajar yang membetulkan pengertian-pengertian kehidupan.  Dalam pandangan orang Nasrani, Umar merupakan orang Islam yang paling mirip dengan Paulus, rasul pengikut Nasrani. Bukan karena kisah kepindahannya yang sangat mengejutkan, tetapi karena Umar dalam menegakkan tiang agama baru itu tidak kurang penting dan tidak kalah jika dibandingkan peran Paulus dalam agama Nasrani.Bahkan Nabi &lt;i&gt;Shallallahu ‘Alaihi Wasallam&lt;/i&gt; pernah berkata kepada Umar:  &lt;i&gt;"Sesungguhnya Allah menjadikan kebenaran pada lidah dan hati Umar. Dan jika saja ada Nabi sesudah diriku, maka Umarlah nabi itu."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Dengan pernyataan tersebut, maka diperlukan sejarah terlebih dahulu, dan sebuah kajian yang mendalam tentang sosok Umar bin Khattab sebagai khalifah memiliki begitu banyak catatan sejarah yang menarik untuk diungkapkan baik yang berkaitan dengan riwayat hidupnya yang mulia, serta kegiatan-kegiatan yang di lakukannya selama menjabat sebagai khalifah, sehingga posisi Umar akan menjadi jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;

B.	Rumusan dan Batasan Masalah&lt;/h4&gt;
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis mencoba merumuskan permasalahan yang akan dibahas dalam penulisan makalah ini yang berjudul "&lt;a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Umar_bin_Khattab" target="_blank" rel="nofollow"&gt;Umar ibn al-Khattab&lt;/a&gt; (Perkembangan Islam Sebagai Kekuatan Politik) adalah:&lt;br /&gt;&lt;ol style="text-align: left;"&gt;&lt;li&gt;
Bagaimana biografi Umar bin Khattab?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;
Bagaimana proses pembai'atan Umar bin khattab?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;
Sejauh mana ekspansi wilayah Islam serta kebijaksanaan-kebijaksanaan yang diterapkan oleh Umar bin Khattab dalam menjalankan roda kepemimpinannya?
Bagaimana akhir pemerintahan Umar bin khattab?&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;


BAB II&lt;br /&gt;
PEMBAHASAN&lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;

A.	Biografi Umar bin Khaththab&lt;/h4&gt;
Beliau adalah Umar bin al-Khattab bin Nufail bin Abdil 'Uzza bin Rubah bin Abdullah bin Qurth bin Rizah bin 'Adiy bin Ka'ab bin Luay bin Galib al-Qurasyi al-'Adawy. Ibunya bernama Hantamah binti Hasyim bin al-Mughirah bin Abdillah bin Umar bin Makhzum saudara Abi Jahl, beliau masuk Islam tahun keenam kenabian dan berusia 27 tahun. 
Umar dilahirkan di Mekkah tahun 586 M dari keturunan suku Quraisy yang terpandang dan terhormat dikalangan kota Mekkah. Dari garis ayah, silsilah keturunan Umar bin Khaththab bertemu dengan garis keturunan nabi Muhammad &lt;i&gt;Shallallahu ‘Alaihi Wasallam&lt;/i&gt;. pada nenek yang ketujuh. Dari garis ibu, bertemu pula dengan garis keturunan nabi Muhammad &lt;i&gt;Shallallahu ‘Alaihi Wasallam&lt;/i&gt;. pada nenek yang keenam. Umar bin Khattab adalah seorang yang terkenal tegas, berani dan fasih berbicara dan berpidato. Karena itu beliau sering menjadi wakil atau utusan kaum Quraisy dalam pertemuan atau perundingan dengan suku-suku lainnya baik di Mekkah maupun diluar kota Mekkah.  Beliau semula dipanggil dengan gelar Abu Hafs, dan setelah memeluk Islam Nabi &lt;i&gt;Shallallahu ‘Alaihi Wasallam&lt;/i&gt; memberi gelar al-Faruq (pemisah antara yang hak dan batil). Pada masa mudanya, Umar adalah seorang pegulat dan orator yang ulung. Beliau merupakan salah seorang sahabat yang telah mengenal baca tulis. Berdagang merupakan usahanya yang paling utama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;

B.	Pembaiatan Umar bin Al-Khattab&lt;/h4&gt;
Tatkala &lt;a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Abu_Bakar_ash-Shiddiq" target="_blank" rel="nofollow"&gt;Abu Bakar r.a&lt;/a&gt; sakit dan merasa ajalnya sudah dekat, ia bermusyawarah dengan para pemuka sahabat tentang siapa yang bakal menggantikannya dan ia menunjuk Umar sebagai penggantinya dengan maksud untuk mencegah kemungkinan terjadihnya perselisihan dan perpecahan di kalangan umat Islam. Beberapa orang sahabat ketika mendengar saran-saran Abu Bakar mengenai penunjukan Umar sebagai khalifah, mereka merasa khawatir mengingat bahwa bawaan Umar begitu keras dan karena kekerasannya itu umat akan terpecah belah, karena merasa tidak cukup hanya bermusyawarah dengan orang-orang bijaksana di kalangan muslimin, terutama ada pihak yang menentang, dari dalam kamar di rumahnya itu, Abu Bakar menjenguk kepada orang-orang yang ada di masjid, dan kemudian berkata kepada mereka: " Apakah kalian menyetujui orang yang kutunjuk untuk menggantikan kedudukanku sepeninggalku? Sesungguhnya aku, demi Allah, telah bersungguh-sungguh berdaya-upaya memikirkan tentang hal ini, dan aku tidak mengangkat seseorang dari sanak keluargaku, tapi aku telah menunjuk Umar bin Khattab sebagai penggantiku, maka taatla kepadanya." Orang banyak pun berkata: "&lt;i&gt;Sami'na wa atha'na&lt;/i&gt;" ("Kami dengar dan kami taat").&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;

C.	Perkembangan Islam pada masa Pemerintahan Umar bin Khattab&lt;/h4&gt;
Keberhasilan yang dicapai pada &lt;a href="https://www.kompasiana.com/rabbaniah76874/6571f646c57afb29af298ec2/perkembangan-peradaban-islam-pasa-masa-umar-bin-khathab" target="_blank" rel="nofollow"&gt;masa pemerintahan Umar bin Khattab&lt;/a&gt; banyak ditentukan oleh berbagai kebijakan dalam mengatur dan menerapkan &lt;a href="https://www.scribd.com/document/714359079/Kelompok-3-Tarikh-Nabawi-PAI-3A-Perkembangan-Islam-Pada-Masa-Khalifah-Umar-Bin-Khattab" target="_blank" rel="nofollow"&gt;sistem pemerintahan&lt;/a&gt;. Tatkala Umar memangku sebagai khalifah, terdapat sejumlah peperangan dalam rangka upaya ekspansi wilayah Islam, antara lain pada tahun 14 H/635 M terjadi perang Yarmuk dimana kaum muslimin (berjumlah 24.000) berada di bawah panglima perang Khalid bin Walid sedang berperang melawan pasukan Romawi (lebih dari 200.000 personel). Meletuslah peperangan yang demikian sengit dimana Allah menggoyahkan pasukan musuh dan kafir. Orang-orang Romawi melarikan diri dan dikejar oleh kaum muslimin. Mereka berhasil memperoleh rampasan perang dalam jumlah besar dalam perang ini. Setelah itu pasukan Islam terus maju dengan panglimanya Ubaidah ibnul-jarrah yang juga ditemani oleh Khalid bin Walid menuju kota-kota di Syam. Pasuka Islam mampu menguasai Fahl Baisyan, kemudian Damaskus dan Himsh. Menyusul kemudian Qanisrin, Qaisarah, dan Biqa' serta Ba'labak. Setelah itu Ajnadain dan kota-kota Al-Jazirah serta kota-kota Lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;

D.	Akhir Kekhalifahan Umar bin Khaththab &lt;/h4&gt;
Umar memangku jabatan Amir al-Mukminīn selama sepuluh tahun lebih yang penuh dengan kejayaan, mengabdikan diri sepenuhnya kepada Allah dan agama Allah, pikiran, kalbu, dan segenap jiwa raganya dikerahkan semata-mata hanya untuk memikul tanggung jawab yang besar yang diletakkan dibahunya. Khalifah Umar meninggal sebab kekejaman tangan seorang budak Persia yang bernama "Abu Lu'lu'ah".  Khalifah Umar ditusuk dengan belati beracun pada saat dia sedang melakukan shalat. Ketika Umar bin Khattab mengucapkan Takbirat al-Ihram, Abu Lu'luah datang dan berdiri di shaf terdepan yang dekat dengan Khlifah, dia menikam beliau dari belakang perut dan dada, setelah itu Abu Lu'lu'ah menikam beberapa orang lagi yang ikut shalat berjamaah sebanyak 13 orang selain Umar bin Khattab sendiri, karena merasa dirinya sudah terancam budak itu pun bunuh diri. Sebelum meninggal, Umar bin Khattab menunjuk enam orang sahabatnya dan meminta kepada mereka untuk memilih salah seorang diantaranya menjadi khalifah. Mereka adalah Usman bin Affan, Ali, Thalhah, Zubair, Sa'ad bin Abi Waqqash dan Abdur Rahman bin 'Auf. Dan diakhir hayatnya. Umar bin Khattaab memanggil anaknya Abdullah bin Umar serta menyuruhnya agar meletakkan pipinya ke lantai dan beliau merasa ajalnya telah dekat. Setelah itu Umar menghembuskan nafasnya yang terakhir. Umar wafat pada bulan Dzulhijjah 23 H/644 M., jenasah beliau dishalatkan di dalam masjid dan dikuburkan disamping kuburan Nabi Muhammad &lt;i&gt;Shallallahu ‘Alaihi Wasallam&lt;/i&gt;, di Madinah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;DOWNLOAD MAKALAH &lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;
&lt;script&gt;mbtTOC();&lt;/script&gt;

&lt;blockquote&gt;Untuk download versi lengkapnya bisa lewat link di bawah!&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

&lt;div class="downJR"&gt;
&lt;h3&gt;&lt;b&gt;Download via Google Drive&lt;/b&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;a class="download1" href="https://drive.google.com/file/d/1c0yjCtcREQ0l4eOQ5NLGm303j056PIWk/view?usp=sharing" target="_blank" title="Download via Google Drive"&gt;DOWNLOAD GD&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;&lt;b&gt;Download via Mediafire&lt;/b&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;a class="download2" href="https://www.mediafire.com/file/b5swsi0rv8d8og7/MAKALAH_Umar_Ibn_Al-Khathth%25C4%2581b_%2528Perkembangan_Islam_Sebagai_Kekuatan_Politik%2529.pdf/file" target="_blank" title="Download via Google Mediafire"&gt;DOWNLOAD MF&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiYDIAwbGzjaPErzJzUfcFGS3dNAR8wgjR_hzFJVRWGpm19jv4wFCUMmKvqXwAzBzdYtiQ0WRlM4IbdQweZE0ZQ40uXTOYcQvkdzluJYU5rWGQxx5qrHqUqRT0KjxuyMTjqTqF1ncUY8SjOgPLEKk4eiImtB1hGnvoHXCZtjnVFBCIrJ06rUb_7TGN6eG4K/s72-c/Umar%20Ibn%20Al-Khathth%C4%81b%20%28Perkembangan%20Islam%20Sebagai%20Kekuatan%20Politik%29.webp" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>SKRIPSI: Perlindungan Korban Tindak Pidana Pencabulan Terhadap Anak Secara Berlanjut</title><link>http://jaririndu.blogspot.com/2026/04/skripsi-perlindungan-korban-tindak-pidana-pencabulan-terhadap-anak.html</link><category>Download</category><category>Pendidikan</category><category>Skripsi</category><author>noreply@blogger.com (Admin JR)</author><pubDate>Sun, 12 Apr 2026 00:25:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7393750217607801487.post-3229437950106881364</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both;"&gt;&lt;img alt="Perlindungan Korban Tindak Pidana Pencabulan Terhadap Anak Secara Berlanjut" border="0" data-original-height="507" data-original-width="901" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjEcF6KoEa9mW_aMqqCeptW20w7FMylczrPQmUCia8XJ35xjVHQEItCvuJc1Ohp5oj9UY-5MAlonqIkAFwDVgKY82-Y5H_Yyt2VUMT4MR8DTOkYX2MdjcNNxgnVjM7tK76vYC3EVIysUeXhmCADacLmWT0nxUnriffyKdjWsS4pvOJ8joIeDS_suh4YartA/s1600/Perlindungan%20Korban%20Tindak%20Pidana%20Pencabulan%20Terhadap%20Anak%20Secara%20Berlanjut_%281%29.webp" /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;h3 style="text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;BAB I&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;
PENDAHULUAN&lt;/b&gt;&lt;/h3&gt;

&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;A. Latar Belakang&lt;/h4&gt;
Pada hakikatnya kejahatan tidak akan pernah hilang dalam kehidupan bermasyarakat, entah dari mana asal-usulnya akan tetapi hampir seluruh manusia menerima dan setujuh dengan pernyataan bahwa ’’kejahatan tidak akan pernah dapat dihilangkan, kejahatan akan senantiasa ada selama manusia ada” untuk itu kejahatan adanya setua dengan usia manusia. Sebagai teman setia manusia, kejahatan juga mengikuti alur perjalanan waktu kehidupan manusia diduinia ini, benar bahwa Seiring dengan berkembangnya zaman yang semakin modern ini maka semakin beragam pula tindak kejahatan yang berkembang dalam masyarakat.1 Dari kejahatan- kejahatan yang berkembang dalam masyarakat salah satunya yang paling sering terjadi adalah tindak pidana yang bertentangan dengan norma kesusilaan. Jenis tindak pidana ini sudah ada sejak dulu hingga saat ini, atau dapat dikatakan sebagai suatu bentuk kejahatan klasik yang akan selalu mengikuti perkembangan kebudayaan manusia itu sendiri, dan mungkin akan selalu ada dan berkembang setiap saat walaupun tidak terlalu berbeda jauh dengan sebelumnya. Jenis Tindak pidana ini tidak hanya terjadi di kota-kota besar yang relatif lebih maju kebudayaan dan kesadaran atau pengetahuan hukumnya, tapi juga terjadi di pedesaan yang relatif masih memegang nilai tradisi dan adat istiadat. Tindak pidana yang berkaitan dengan kesusilaan yang paling banyak terjadi antara lain tindak pidana perkosaan dan pencabulan yang merupakan kejahatan yang sangat tercela yang merusak etika hingga moral manusia yang menyerang kehormatan kesusilaan yang bertentangan dengan moral dan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

&lt;div class="mbtTOC"&gt; 
&lt;button onclick="mbtToggle()"&gt;Daftar Isi &lt;svg style="height: 18px; width: 18px;" viewbox="0 0 18 18"&gt;
    &lt;path d="M19.5,3.09L15,7.59V4H13V11H20V9H16.41L20.91,4.5L19.5,3.09M4,13V15H7.59L3.09,19.5L4.5,20.91L9,16.41V20H11V13H4Z" fill="currentColor"&gt;
&lt;/path&gt;&lt;/svg&gt;&lt;/button&gt; 
&lt;ol id="mbtTOC"&gt;&lt;/ol&gt; 
&lt;/div&gt;&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;

B. Rumusan Masalah&lt;/h4&gt;
&lt;ol style="text-align: left;"&gt;&lt;li&gt;Bagaimana bentuk perlindungan korban tindak pidana pencabulan terhadap anak secara berlanjut dalam perkara putusan Nomor:61/Pid.Sus/2015/SGM.&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;Faktor-faktor apa yang mendorong dan menghambat pemberian perlindungan hukum kepada korban tindak pidana pencabulan terhadap anak secara berlanjut dalam perkara putusan Nomor:61/Pid.Sus/2015/PN.SGM.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;

C. Fokus Penelitian dan Deskripsi Fokus&lt;/h4&gt;
Dalam penelitian ini peneliti memfokuskan peneltian pada Bentuk Perlindungan Korban Tindak Pidana Pencabulan Terhadap Anak Secara Berlanjut, sesuai dengan putusan hakim dalam perkara nomor 61/pid.sus/2015/PN.Sgm, dan Faktor-Faktor Yang Menghambat dan Mendorong Pemberian Perlindungan Terhadap Korban Tindak Pidana Pencabulan Terhadap Anak Secara Berlanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;

D. Tujuan Penelitian&lt;/h4&gt;&lt;ol style="text-align: left;"&gt;&lt;li&gt;Untuk mengetahui bagaimana bentuk perlindungan korban tindak pidana pencabulan terhadap anak secara berlanjut dalam perkara putusan Nomor:61/Pid.Sus/2015/PN,SGM.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mendorong dan menghambat pemberian perlindungan hukum kepada korban tindak pidana pencabulan terhadap anak secara berlanjut dalam perkara putusan Nomor:61/Pid.Sus/2015/PN.SGM.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;

E. Kajian Pustaka&lt;/h4&gt;
Masalah yang akan dikaji dalam skripsi ini yaitu mengenai Perlindungan Korban Tindak Pidana Pencabulan Terhadap Anak Secara Berlanjut(Studi kasus putusan nomor :61/Pid.Sus/2015/PN .Sgm Agar pembahasan tersebut lebih fokus terhadap pokok kajian maka dalam penulisan skripsi ini, dilengkapi dengan beberapa literatur yang berkaitan dengan pembahasan yang dimaksud diantaranya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;ol style="text-align: left;"&gt;&lt;li&gt;Dr. H. Soeharto, Dalam bukunya Perlindungan Hak Tersangka, Terdakwa, Dan Korban dalam system peradilan pidana Indonesia, Korban adalah mereka yang menderita jasmaniah,dan rohania sebagai akibat dari tindakan orang lain yang mencari pemenuhan kepentingan diri sendiri atau orang lain yang bertentangan dengan kepentingan dan hak asasi pihak yang dirugikan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ledeng Marpaung dalam bukunya kejahatan terhadap kesusilaan dan masalah prevensinya, kejahatan asusila adalah Kesusilaan (zedelijkheid) adalah mengenai adat kebiasaan yang baik dalam hubungan antar berbagai masyarakat, tetapi khusus yang sedikit banyak mengenai kelamin (seks) seorang ,manusia, sedangkan kesopanan (zeden) pada umumnya mengenai adat kebiasaan yang baik.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Adhami chazawi dalam bukunya Tindak Pidana Mengenai Kesopanan Menjelaskan Bahwa Pencabulan adalah kontak atau interaksi antara anak dan orang dewasa dimana anak tersebut dipergunakan untuk stimulasi seksual oleh pelaku atau orang lain yang berada dalam posisi memilki kekuatan atau kendali atas korban.
&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;
F. Manfaat Penelitian&lt;/h4&gt;&lt;b&gt;
1. Secara teoritis&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Diharapkan dapat memberikan kontribusi pemikiran bagi ilmu pengetahuan pada umumnya dan ilmu pengetahuan hukum khususnya hokum pidana, dan dapat dijadikan sebagai referensi bagi para akademisi yang berminat pada masalah-masalah hukum pidana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;
2. Kegunaan Praktis&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Kegunaan praktis bagi para penegak hukum adalah untuk mengetahui bagaimana bentuki perlindungan terhadap para korban tindak pidana pencabulan, dan kegunaan praktis bagi para masyarakat adalah mengetahui bagaimana bentuk perlindungan terhadap korban serta bagaimana cara sehingga para korban tindak pidana dapat memeperoleh perlindungan, khususnya korban tindak pidana pencabulan yang saat ini marak terjadi dikalangan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;DOWNLOAD SKRIPSI &lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;

&lt;script&gt;mbtTOC();&lt;/script&gt;
&lt;blockquote&gt;Untuk download versi lengkapnya bisa lewat link di bawah!&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

&lt;div class="downJR"&gt;
&lt;h3&gt;&lt;b&gt;Download via Google Drive&lt;/b&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;a class="download1" href="https://drive.google.com/file/d/1hpj-gFF7xQJqA07y1KL-XM3Nc77spke4/view?usp=sharing" target="_blank" title="Download via Google Drive"&gt;DOWNLOAD GD&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;&lt;b&gt;Download via Mediafire&lt;/b&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;a class="download2" href="https://www.mediafire.com/file/a1lllo06k91urub/Skripsi_Perlindungan_Korban_Tindak_Pidana_Pencabulan_Terhadap_Anak_Secara_Berlanjut.pdf/file" target="_blank" title="Download via Google Mediafire"&gt;DOWNLOAD MF&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjEcF6KoEa9mW_aMqqCeptW20w7FMylczrPQmUCia8XJ35xjVHQEItCvuJc1Ohp5oj9UY-5MAlonqIkAFwDVgKY82-Y5H_Yyt2VUMT4MR8DTOkYX2MdjcNNxgnVjM7tK76vYC3EVIysUeXhmCADacLmWT0nxUnriffyKdjWsS4pvOJ8joIeDS_suh4YartA/s72-c/Perlindungan%20Korban%20Tindak%20Pidana%20Pencabulan%20Terhadap%20Anak%20Secara%20Berlanjut_%281%29.webp" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Berbicara Sebagai Suatu Cara Berkomunikasi</title><link>http://jaririndu.blogspot.com/2025/11/berbicara-sebagai-suatu-cara-berkomunikasi.html</link><category>Makalah</category><category>Pendidikan</category><author>noreply@blogger.com (Admin JR)</author><pubDate>Tue, 25 Nov 2025 08:00:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7393750217607801487.post-5805085784664964408</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both;"&gt;&lt;img alt="Berbicara Sebagai Suatu Cara Berkomunikasi" border="0" data-original-height="559" data-original-width="1024" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEikoLflCX7Fo2zYhLrqBwPG2Jfc4SuTeAlu1NyOcf-uX4ut87j5j6uR7ZmDNVka62yQh46maH6yUXKxKTKHgmNQoclWNd-UP01hGoOdjBvmBHi0jQIZgKXMW2S8fvPhfbTRiySOVUMYYJjuU_HibbXI_EUcaomAs9dsH_1xhXPDLscSfduRdTUAzh3IQnyB/s1600/Berbicara%20Sebagai%20Suatu%20Cara%20Berkomunikasi.webp" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Manusia adalah makhluk sosial dan tindakan pertama dan paling penting, adalah tindakan sosial, suatu tindakan tepat saling menukar pengalaman, saling mengemukakan dan menerima pikiran, saling mengutarakan perasaan atau saling mengekspresikan, serta menyetujui suatu pendirian atau keyakinan. Oleh karena itu, maka, di dalam tindakan sosial haruslah terdapat elemen-elemen umum, yang sama-sama disetujui dan dipahami oleh sejumlah orang yang merupakan suatu masyarakat. Untuk menghubungkan sesama anggota masyarakat maka diperlukanlah komunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

&lt;div class="mbtTOC"&gt; 
&lt;button onclick="mbtToggle()"&gt;Daftar Isi &lt;svg style="height: 18px; width: 18px;" viewbox="0 0 18 18"&gt;
    &lt;path d="M19.5,3.09L15,7.59V4H13V11H20V9H16.41L20.91,4.5L19.5,3.09M4,13V15H7.59L3.09,19.5L4.5,20.91L9,16.41V20H11V13H4Z" fill="currentColor"&gt;
&lt;/path&gt;&lt;/svg&gt;&lt;/button&gt; 
&lt;ol id="mbtTOC"&gt;&lt;/ol&gt; 
&lt;/div&gt;

&lt;h4&gt;A.	Peran Bahasa dalam Kehidupan Manusia&lt;/h4&gt;
Komunikasi mempersatukan para individu ke dalam kelompok- kelompok dengan jalan menggolongkan konsep-konsep umum. Selain itu, menciptakan serta mengawetkan ikatan-ikatan kepentingan umum, menciptakan suatu kesatuan lambang-lambang yang membedakannya dari kelompok-kelompok lain, dan menetapkan suatu tindakan. Oleh sebab itu hal tersebut tidak akan ada serta tidak akan bertahan lama tanpa adanya masyarakat-masyarakat bahasa. Dengan perkataan lain: masyarakat berada dalam komunikasi linguistik.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Ujaran sebagai suatu cara berkomunikasi sangat memengaruhi kehidupan-kehidupan individual kita. Dalam sistem inilah kita saling bertukar pendapat, gagasan, perasaan, dan keinginan, dengan bantuan lambang-lambang yang disebut kata-kata. Sistem inilah yang memberi keefektifan bagi individu dalam mendirikan hubungan mental dan emosional dengan anggota-anggota lainnya. Agaknya tidak perlu disangsikan lagi bahwa ujaran hanyalah merupakan ekspresi dari gagasan-gagasan pribadi seseorang, dan menekankan hubungan-hubungan yang bersifat dua arah, memberi - dan - menerima. (Powers, 1954: 5-6).
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Dari pembahasan di atas, dapat kita ketahui betapa besarnya peranan bahasa dalam kehidupan manusia.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;
B.	Prinsip-Prinsip Dasar Bahasa &lt;/h4&gt;
Sebelum kita memperbincangkan secara terperinci fungsi bahasa maka ada baiknya kita singgung sepintas kilas prinsip-prinsip dasar bahasa. Hal ini sangat penting diketahui serta dipahami oleh para guru bahasa yang selalu berhadapan dengan anak-anak didiknya.
&lt;br /&gt;
Profesor Anderson mengemukakan adanya 8 prinsip (linguistik) dasar, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;ol style="text-align: left;"&gt;&lt;li&gt;Bahasa adalah suatu sistem;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bahasa adalah vokal (bunyi ujaran);&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bahasa tersusun dari lambang-lambang mana suka (arbitrary symbols);&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Setiap bahasa bersifat unik; bersifat khas;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bahasa dibangun dari kebiasaan-kebiasaan;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bahasa adalah alat komunikasi;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bahasa berhubungan dengan kebudayaan tempatnya berada;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bahasa itu berubah-ubah. (Anderson, 1972: 35 - 36); lihat juga Tarigan, 1980: 16-18).&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;

&lt;br /&gt;
Seorang ahli lain, M. Douglas Brown, setelah menelaah batasan bahasa dari 6 buah sumber, membuat rangkuman, sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;ol style="text-align: left;"&gt;&lt;li&gt;Bahasa adalah sistem yang sistematis, barangkali juga untuk sistem generatif.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bahasa adalah seperangkat lambang-lambang mana suka (simbol-simbol).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lambang-lambang tersebut terutama sekali bersifat vokal, tetapi mungkin juga bersifat visual.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lambang-lambang itu mengandung makna-makna konvensional.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bahasa dipergunakan sebagai alat untuk komunikasi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bahasa beroperasi dalam suatu masyarakat bahasa (&lt;i&gt;a speech community&lt;/i&gt;) atau budaya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bahasa pada hakekatnya bersifat kemanusiaan, walaupun mungkin tidak terbatas pada manusia.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bahasa diperoleh oleh semua bangsa/orang dengan cara yang hampir/banyak bersamaan; bahasa dan belajar bahasa mempunyai ciri-ciri kesemestaan (&lt;i&gt;universal characteristics&lt;/i&gt;), (Brown, 1980: 5).&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Dari kedua sumber tersebut, walaupun dengan kata-kata yang berbeda di sana-sini, dapat kita lihat banyaknya persamaan pandangan dan gagasan mengenai bahasa (language) itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai persamaan pendapat kedua ahli tersebut, marilah kita perhatikan Gambar 4. (Lingkaran luar memuat pendapat Prof. Anderson dan lingkaran dalam mengetengahkan gagasan Brown).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img alt="delapan prinsip dasar bahasa" border="0" data-original-height="500" data-original-width="500" height="400" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiHFY4rFtJOBtSoRpy8v9OBK1lNGAXXSWHIXXz_fAZmCWCmQqDdTal6akJxcC9uJw43KB4GGdiZeZWtF4PkViIL-QykTT-zIKFXfiq9eKS3OGL1AvaQWTtQ0WEOsAbeg5vJS7pJ1MEiy868aQYHM_Hz2GxhynZh-ELjEMQ5WUUjQR4rMBTVwGoeWZCsAZS9/w400-h400/delapan%20prinsip%20dasar%20bahasa.webp" width="400" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;

Dari kedua sumber mengenai prinsip-prinsip dasar bahasa yang telah kita kemukakan di atas, mari kita pusatkan perhatian kita pada butir Anderson yang keenam dan butir Brown yang kelima, yang kedua-duanya mengatakan bahwa "bahasa dipergunakan sebagai alat untuk berkomunikasi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

&lt;h4&gt;C.	Komunikasi dipandang sebagai kombinasi perbuatan atau tindakan&lt;/h4&gt;
Komunikasi dapat dipandang sebagai suatu kombinasi perbuatan-perbuatan atau tindakan-tindakan serangkaian unsur-unsur yang mengandung maksud dan tujuan. Komunikasi bukan melulu merupakan suatu kejadian, peristiwa, atau sesuatu yang terjadi. Akan tetapi komunikasi adalah sesuatu yang fungsional, mengandung maksud, dan dirancang untuk menghasilkan beberapa efek atau akibat pada lingkungan para penyimak dan para pembicara. Komunikasi adalah serangkaian perbuatan komunikasi atau speech acts yang dipergunakan secara sistematis untuk menyelesaikan atau mencapai maksud-maksud tertentu. Dalam hal ini harus kita tekankan pentingnya konsekuensi-konsekuensi komunikasi linguistik. Sejumlah penelitian mengenai hal ini telah dilakukan oleh para ahli dan hasilnya menunjukkan bahwa efek atau akibat itu mempunyai implikasi-implikasi terhadap produksi dan komprehensi, terhadap penghasilan dan pemahaman sesuatu ucapan; kedua cara performansi atau penampilan itu cenderung mengarahkan perbuatan komunikasi pada tujuannya yang pokok, tujuan utamanya. (Brown, 1980: 193-4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Setiap anggota masyarakat terlibat dalam komunikasi linguistik; di satu pihak dia bertindak sebagai pembicara dan di pihak lain sebagai penyimak. Dalam komunikasi yang lancar, proses perubahan dari pembicara menjadi penyimak dan dari penyimak menjadi pembicara begitu cepat, terasa sebagai suatu peristiwa biasa dan wajar, yang bagi orang kebanyakan tidak perlu dipermasalahkan apalagi dianalisis. Lain halnya bagi para ahli dalam bidang linguistik dan pengajaran bahasa. Bila kita analisis "suatu peristiwa bahasa" atau "&lt;i&gt;a language event&lt;/i&gt;" yang terjadi antara si pembicara (speaker) dan si pendengar/penyimak (hearer/listener) terlihat seperti yang tertera pada Gambar 5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img alt="suatu peristiwa bahasa" border="0" data-original-height="500" data-original-width="500" height="400" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhINMuiPVNJ-TOa7o4XV00ew8rUailnB0_7pusnXSOP6PMjddH-5UGwZ_ANHoMka7C3Uy4w2omDZ0zM5Nz3jbRCT-E6PewURjJt1QmwGzFyPlYbcv6wAsa9fgLrKxqKEJFu9-D5zvxL8seqxhl9uCiM2l3hm06fuqWyBgYNuzLhPJbOvcJCGqUEPpOKPKbv/w400-h400/suatu%20peristiwa%20bahasa.webp" width="400" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;

&lt;h4&gt;D.	Tujuh Jenis Fungsi Bahasa&lt;/h4&gt;
Untuk menunjukkan hakekat purposif dari komunikasi itu, Halliday (1973) mempergunakan istilah fungsi. Dia memang telah mempergunakan banyak waktu untuk mengadakan penelitian serta penjelajahan mengenai hal itu, dan akhirnya dapat merangkumkan adanya tujuh jenis fungsi bahasa, yaitu:&lt;div&gt;&lt;br /&gt;
1)	Fungsi instrumental bertindak untuk menggerakkan serta memanipulasikan lingkungan, menyebabkan peristiwa-peristiwa tertentu terjadi. Kalimat-kalimat atau ucapan-ucapan seperti: "Para guru beranggapan bahwa kamu bersalah". "Jangan pegang pisau itu!" mengandung fungsi instrumental, merupakan perbuatan- perbuatan komunikasi yang menimbulkan suatu kondisi khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
2)	Fungsi regulasi atau fungsi pengaturan dari bahasa merupakan pengawasan terhadap peristiwa-peristiwa. Sementara pengawasan seperti itu kadang-kadang sukar dibedakan dari fungsi instrumental, maka fungsi-fungsi pengaturan bahasa tidaklah begitu banyak "melepaskan tali" kekuasaan tertentu sebagai pemeliharaan pengawasan. Ucapan "Saya menganggap kamu bersalah dan menghukum kalau selama tiga tahun di penjara" bertindak sebagai fungsi instrumental, tetapi ucapan "Demi keadilan untuk memperbaiki tindakanmu yang tidak bermoral, maka kamu akan disekap di penjara selama tiga tahun", lebih menonjolkan suatu fungsi pengaturan. Ketetapan atau peraturan pertemuan-pertemuan antara orang-orang persetujuan, celaan, pengawasan kelakuan, penetapan undang- undang dan peraturan-peraturan merupakan ciri-ciri pengaturan bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
3)	Fungsi representasional adalah penggunaan bahasa untuk membuat pernyataan-pernyataan, menyampaikan fakta-fakta dan pengetahuan, menjelaskan atau melaporkan dalam pengertian "menggambarkan" realitas yang terlihat oleh seseorang. Ucapan- ucapan seperti: "Matahari panas", "Presiden berpidato tadi malam", ataupun "Dunia rata" menampilkan fungsi-fungsi representasional, walaupun tak dapat disangkal bahwa penggambaran terakhir itu masih dapat diperdebatkan dengan seru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
4)	Fungsi interaksional bahasa bertindak untuk menjamin pemeliharaan sosial. Malinowski mempergunakan istilah "Phatic communion" yang mengacu kepada kontak komunikatif antara sesama manusia yang semata-mata mengizinkan mereka mendirikan kontak sosial serta menjaga agar saluran-saluran komunikasi itu tetap terbuka, merupakan bagian dari fungsi interaksional bahasa. Keberhasilan komunikasi interaksional menuntut pengetahuan mengenai slang, jargon, lelucon, cerita rakyat, adat-istiadat, sopan santun, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
5)	Fungsi personal membolehkan seorang pembicara menyatakan perasaan, emosi, kepribadian, reaksi-reaksi yang terkandung dalam hati sanubarinya. Kepribadian seseorang biasanya ditandai oleh penggunaan fungsi personal komunikasinya. Dalam ciri personal bahasa jelas bahwa kognisi atau pengertian, pengaruh, dan budaya saling memengaruhi dengan cara-cara yang belum banyak diselidiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
6)	Fungsi heuristik melibatkan bahasa yang dipergunakan untuk memeroleh pengetahuan dan memelajari lingkungan. Fungsi- fungsi heuristik seringkali disampaikan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang menuntut jawaban-jawaban. Anak- anak khususnya memperlihatkan dengan jelas penggunaan fungsi heuristik ini dalam pertanyaan-pertanyaan "mengapa" mengenai dunia sekeliling mereka. Penyelidikan (atau "rasa ingin tahu") merupakan suatu metode heuristik untuk memperoleh pemerian-pemerian realitas dari orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
7)	Fungsi imajinatif bertindak untuk menciptakan sistem-sistem atau gagasan-gagasan imajiner. Mengisahkan cerita-cerita dongeng, membuat lelucon-lelucon, atau menulis novel merupakan kegiatan yang mempergunakan fungsi imajinatif bahasa. Melalui dimensi-dimensi imajinatif bahasa kita bebas menjelajah ke seberang dunia yang nyata membumbung tinggi ke atas ketinggian keindahan bahasa itu sendiri, dan melalui bahasa itu menciptakan mimpi-mimpi yang mustahil, kalau kita menginginkannya. (Halliday, 1973; Brown, 1980: 1994-5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Perlu kita sadari benar-benar bahwa ketujuh fungsi yang telah dibedakan di atas tidaklah terpisah secara mutlak satu dan lainnya. Sebuah kalimat atau suatu ucapan mungkin saja sekaligus mengandung beberapa fungsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Walaupun perbuatan-perbuatan komunikatif dalam masyarakat begitu rumit dan beraneka ragam, namun semuanya itu sudah dapat kita golongkan ke dalam salah satu dari ketujuh fungsi bahasa tersebut di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Ketujuh fungsi bahasa yang telah ditelusuri serta dirangkumkan oleh Halliday itu kita sebut dengan istilah sapta guna basa seperti yang terlihat pada Gambar 6.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img alt="tujuh fungsi bahasa" border="0" data-original-height="500" data-original-width="500" height="400" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjoQEUlqpjpVMELuwvOa2Hi5v7LlLDVxEziN-4zUiC6DPpNFpZkl5ZrsvFUg9Xx6VENj9jDHGBU8dwipnHE28-6LmAun_sbCQFeYoKTr8B6YjvbWZOc0QSTuQDhIcOSAmqRy1zedoUPaAnlZ_MtRPceQYT5sC9hovIVME9qWdJZkYgCQV3KnQzmy28FInPe/w400-h400/tujuh%20fungsi%20bahasa.webp" width="400" /&gt;&lt;/div&gt;

&lt;br /&gt;&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;
Sumber:
&lt;/h4&gt;&lt;blockquote&gt;Buku Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa (Hal 8 – 15)&lt;br /&gt;
Penulis: Prof. Dr. Henry Guntur Tarigan&lt;br /&gt;
Penerbit: Angkasa Bandung&lt;br /&gt;
Tahun 1979 (Cetakan Pertama) dan Tahun 2008 (Edisi Revisi)&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;

&lt;script&gt;mbtTOC();&lt;/script&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEikoLflCX7Fo2zYhLrqBwPG2Jfc4SuTeAlu1NyOcf-uX4ut87j5j6uR7ZmDNVka62yQh46maH6yUXKxKTKHgmNQoclWNd-UP01hGoOdjBvmBHi0jQIZgKXMW2S8fvPhfbTRiySOVUMYYJjuU_HibbXI_EUcaomAs9dsH_1xhXPDLscSfduRdTUAzh3IQnyB/s72-c/Berbicara%20Sebagai%20Suatu%20Cara%20Berkomunikasi.webp" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Filsafat Pendidikan Islam - Ruang Lingkup Pemikiran Filsafat</title><link>http://jaririndu.blogspot.com/2025/09/ruang-lingkup-pemikiran-filsafat.html</link><category>Pendidikan</category><author>noreply@blogger.com (Admin JR)</author><pubDate>Fri, 19 Sep 2025 11:42:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7393750217607801487.post-88343311449280444</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both;"&gt;&lt;img alt="Ruang Lingkup Pemikiran Filsafat" border="0" data-original-height="559" data-original-width="1024" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjjaULI-DLlsbix1wGFTRUmfx6w5g_56iEJPrJrSoTiudc3ROueGj1Y2xQlpG7KL7ktWiAQQLQAQR60ce7S0mPC4YCW3cXBWf3XJEjqWuVbgBRPMtsJq1VC1ApNlB6PtxzfpVFwcJvU-17QCv3eb3AUleMm3CmS8p_O1TerO6U2EIADNv5PZk6vEV7yVLi6/s1600/Ruang%20Lingkup%20Pemikiran%20Filsafat.webp" /&gt;&lt;/div&gt; &lt;br /&gt;

Dalam rangka menggali, menyusun, dan mengembangkan pemikiran kefilsafatan tentang pendidikan, terutama pendidikan Islam, kiranya perlu diikuti pola dan sistem pemikiran dan kefilsafatan pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Adapun pola dan sistem pemikiran kefilsafatan sebagai suatu ilmu adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

&lt;div class="mbtTOC"&gt; 
&lt;button onclick="mbtToggle()"&gt;Daftar Isi &lt;svg style="height: 18px; width: 18px;" viewbox="0 0 18 18"&gt;
    &lt;path d="M19.5,3.09L15,7.59V4H13V11H20V9H16.41L20.91,4.5L19.5,3.09M4,13V15H7.59L3.09,19.5L4.5,20.91L9,16.41V20H11V13H4Z" fill="currentColor"&gt;
&lt;/path&gt;&lt;/svg&gt;&lt;/button&gt; 
&lt;ol id="mbtTOC"&gt;&lt;/ol&gt; 
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;h4&gt;&lt;b&gt;Sistem Pemikiran Kefilsafatan&lt;/b&gt;&lt;/h4&gt;
&lt;ol&gt;
  &lt;li&gt;Pemikiran kefilsafatan harus bersifat sistematis, dalam arti bahwa cara berpikirnya bersifat logis dan rasional tentang hakikat permasa- lahan yang dihadapi. Hasil pemikirannya tersusun secara sister natis, artinya satu bagian dengan bagian lainnya saling berhubungan secara bulat dan terpadu.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Tinjauan terhadap permasalahan yang dipikirkan bersifat radikal, artinya menyangkut persoalan-persoalan mendasar sampai ke akar-akarnya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ruang lingkup pemikirannya bersifat universal, artinya persoalan- persoalan yang dipikirkan mencakup hal-hal yang menyeluruh dan mengandung generalisasi bagi semua jenis dan tingkat kenyataan yang ada di alam ini, termasuk kehidupan umat manusia, baik di masa sekarang maupun di masa mendatang.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Meskipun pemikiran yang dilakukan lebih bersifat spekulatif, artinya pemikiran yang tidak didasari pembuktian-pembuktian empiris atau eksperimental (seperti dalam ilmu alam), tetapi mengandung nilai- nilai objektif, oleh karena permasalahannya adalah suatu realitas (kenyataan) yang ada pada objek yang dipikirkannya.
    &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h4&gt;&lt;b&gt;Ruang Lingkup Bidang&lt;/b&gt;&lt;/h4&gt;
Pola dan sistem berpikir filosofis demikian dilaksanakan dalam ruang lingkup yang menyangkut bidang-bidang sebagai berikut.&lt;br /&gt;
&lt;ul style="list-style-type: lower-alpha;"&gt;&lt;li&gt;&lt;a data-preview="" href="https://www.google.com/search?ved=1t:260882&amp;amp;q=define+Cosmologi&amp;amp;bbid=7393750217607801487&amp;amp;bpid=88343311449280444" target="_blank"&gt;Cosmologi&lt;/a&gt;, yaitu suatu pemikiran dalam permasalahan yang berhubungan dengan alam semesta, ruang dan waktu, kenyataan hidup manusia sebagai ciptaan Tuhan, serta proses kejadian dan perkembangan hidup manusia di alam nyata, dan sebagainya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;a data-preview="" href="https://www.google.com/search?ved=1t:260882&amp;amp;q=define+Ontologi&amp;amp;bbid=7393750217607801487&amp;amp;bpid=88343311449280444" target="_blank"&gt;Ontologi&lt;/a&gt;, yaitu suatu pemikiran tentang asal usul kejadian alam semesta, dari mana dan ke arah mana proses kejadiannya. Pemikiran ontologis akhimya akan menentukan suatu kekuatan yang menciptakan alam semesta ini, apakah Pencipta itu Satu Zat (&lt;a data-preview="" href="https://www.google.com/search?ved=1t:260882&amp;amp;q=define+Monoisme&amp;amp;bbid=7393750217607801487&amp;amp;bpid=88343311449280444" target="_blank"&gt;Monoisme&lt;/a&gt;) ataukah Dua Zat (&lt;a data-preview="" href="https://www.google.com/search?ved=1t:260882&amp;amp;q=define+Dualisme&amp;amp;bbid=7393750217607801487&amp;amp;bpid=88343311449280444" target="_blank"&gt;Dualisme&lt;/a&gt;) atau banyak Zat (&lt;a data-preview="" href="https://www.google.com/search?ved=1t:260882&amp;amp;q=define+Pluralisme&amp;amp;bbid=7393750217607801487&amp;amp;bpid=88343311449280444" target="_blank"&gt;Pluralisme&lt;/a&gt;). Dan apakah kekuatan penciptaan alam semesta ini bersifat kebendaan ataukah roh. Bilamana kekuatan itu bersifat kebendaan, paham ini disebut materialisme dan bila bersifat roh, paham ini disebut spiritualisme (serba roh).&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;a data-preview="" href="https://www.google.com/search?ved=1t:260882&amp;amp;q=define+Philosophy+of+mind&amp;amp;bbid=7393750217607801487&amp;amp;bpid=88343311449280444" target="_blank"&gt;Philosophy of mind&lt;/a&gt;, yaitu pemikiran filosofis tentang jiwa dan bagaimana hubungannya dengan jasmani serta bagaimana tentang kebebasan berkehendak manusia (&lt;a data-preview="" href="https://www.google.com/search?ved=1t:260882&amp;amp;q=define+free+will&amp;amp;bbid=7393750217607801487&amp;amp;bpid=88343311449280444" target="_blank"&gt;free will&lt;/a&gt;), dan sebagainya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;a data-preview="" href="https://www.google.com/search?ved=1t:260882&amp;amp;q=define+Epistemologi&amp;amp;bbid=7393750217607801487&amp;amp;bpid=88343311449280444" target="_blank"&gt;Epistemologi&lt;/a&gt;, yaitu pemikiran tentang apa dan bagaimana sumber pengetahuan manusia diperoleh; apakah dari akal pikiran (aliran &lt;a data-preview="" href="https://www.google.com/search?ved=1t:260882&amp;amp;q=define+Rasionalisme&amp;amp;bbid=7393750217607801487&amp;amp;bpid=88343311449280444" target="_blank"&gt;Rasionalisme&lt;/a&gt;) atau dari pengalaman pancaindra (aliran &lt;a data-preview="" href="https://www.google.com/search?ved=1t:260882&amp;amp;q=define+Empirisme&amp;amp;bbid=7393750217607801487&amp;amp;bpid=88343311449280444" target="_blank"&gt;Empirisme&lt;/a&gt;) atau dari ide-ide (aliran &lt;a data-preview="" href="https://www.google.com/search?ved=1t:260882&amp;amp;q=define+Idealisme&amp;amp;bbid=7393750217607801487&amp;amp;bpid=88343311449280444" target="_blank"&gt;Idealisme&lt;/a&gt;) atau dari Tuhan (aliran &lt;a data-preview="" href="https://www.google.com/search?ved=1t:260882&amp;amp;q=define+Teologisme&amp;amp;bbid=7393750217607801487&amp;amp;bpid=88343311449280444" target="_blank"&gt;Teologisme&lt;/a&gt;). Juga pemikiran tentang validitas pengetahuan manusia, artinya sampai di mana kebenaran pengetahuan kita. Hal ini menimbulkan berbagai paham seperti idealisme yang beranggapan bahwa kebenaran itu terletak dalam ide, sedang realisme beranggapan bahwa kebenaran terletak pada kenyataan yang ada (realitas). Juga paham pragmatisme bahwa kebenaran itu terletak pada kemanfaatan atau kegunaannya, bukan pada ide atau realitas.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;a data-preview="" href="https://www.google.com/search?ved=1t:260882&amp;amp;q=define+Aksiologi&amp;amp;bbid=7393750217607801487&amp;amp;bpid=88343311449280444" target="_blank"&gt;Aksiologi&lt;/a&gt;, yaitu suatu pemikiran tentang masalah nilai-nilai termasuk nilai-nilai tinggi dari Tuhan. Misalnya, nilai moral, nilai agama, nilai keindahan (estetika). Aksiologi ini mengandung pengertian lebih luas daripada etika atau higher values of life (nilai-nilai kehidupan yang bertaraf lebih tinggi).&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;
&lt;br /&gt;
Pola dan sistem berpikir filosofis dalam ruang lingkup yang menjangkau permasalahan kehidupan, manusia, dan alam sekitar di atas, menjadi objek pemikiran &lt;a data-preview="" href="https://www.google.com/search?ved=1t:260882&amp;amp;q=Filsafat+Pendidikan+Islam&amp;amp;bbid=7393750217607801487&amp;amp;bpid=88343311449280444" target="_blank"&gt;Filsafat Pendidikan Islam&lt;/a&gt;. Oleh karena Filsafat Pendidikan Islam mempunyai sasaran pembahasan tentang hakikat permasalahan pendidikan yang bersumberkan ajaran Islam maka pola dan sistem berpikir serta ruang lingkup permasalahan yang dibahas pun harus bertitik tolak dari pandangan Islam. Pandangan Islam adalah prinsip- prinsip yang telah diletakkan olah Allah dan Rasul-Nya dalam kitab suci Alquran dan Al Hadis yang dikembangkan oleh para mujtahid dari waktu ke waktu.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Adapun pola dan sistem pemikiran filosofis kependidikan yang berdimensi mikro adalah yang menyangkut proses pendidikan yang meliputi tiga faktor, yaitu&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;&lt;li&gt;pendidik,&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;anak didik, dan&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;alat-alat pendidikan, baik yang bersifat materiil maupun nonmateriil.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h4&gt;&lt;b&gt;Pola Pikir dari pemikir yang berkepribadian muslim&lt;/b&gt;&lt;/h4&gt;
Dengan demikian, akan tampak jelas bahwa hasil pemikiran filsafat tentang pendidikan Islam itu merupakan &lt;a data-preview="" href="https://www.google.com/search?ved=1t:260882&amp;amp;q=pattern+of+mind+psychology&amp;amp;bbid=7393750217607801487&amp;amp;bpid=88343311449280444" target="_blank"&gt;pattern of mind&lt;/a&gt; (pola pikir) dari &lt;a data-preview="" href="https://www.google.com/search?ved=1t:260882&amp;amp;q=Islamic+philosophers&amp;amp;bbid=7393750217607801487&amp;amp;bpid=88343311449280444" target="_blank"&gt;pemikir-pemikir yang bernapaskan Islam&lt;/a&gt; atau berkepribadian muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Filsafat pendidikan yang membahas permasalahan pendidikan Islam tidak berarti membatasi diri pada permasalahan yang ada di dalam ruang lingkup kehidupan beragama umat Islam semata-mata, melainkan juga menjangkau permasalahan yang luas yang berkaitan dengan pendidikan bagi umat Islam.
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Dengan demikian, seluruh permasalahan yang menyangkut kehidupan umat manusia yang berpengaruh terhadap kehidupan umat manusia juga termasuk pemikiran Filsafat Pendidikan Islam. Misalnya masalah pendidikan yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, masalah perubahan sosial, masalah kependudukan, masalah demoralisasi, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Akan tetapi, semua permasalahan yang bukan agamis (nonreligius) yang menyangkut masalah sosial dan ilmu pengetahuan serta teknologi itu dianalisis secara mendalam, sehingga diperoleh hakikatnya, dari segi pandangan Islam karena filsafat bertugas pokok mencari hakikat dari segala sesuatu. Dan dari hakikat itulah timbul pemikiran teoretis yang pada gilirannya menimbulkan pemikiran tentang strategi dan taktik atau operasionalisasi kependidikan Islam. Dari sinilah timbul pemikiran tentang cara yang tepat untuk melaksanakan ide-ide kependidikan Islam yang dituangkan ke dalam apa yang disebut "&lt;a data-preview="" href="https://www.google.com/search?ved=1t:260882&amp;amp;q=Sistem+Pendidikan+Islam&amp;amp;bbid=7393750217607801487&amp;amp;bpid=88343311449280444" target="_blank"&gt;Sistem Pendidikan Islam&lt;/a&gt;" (hal ini akan dibahas dalam Ilmu Pendidikan Islam secara terpisah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Sebagai contoh, dapat kiranya dilihat dari hasil pemikiran para filosof Islam zaman keemasan perkembangan Islam di Timur Tengah, Afrika Utara, dan Spanyol Islam dari abad ke-7 sampai abad ke-12 Masehi. Pada masa itu lahirlah hasil pemikiran filsafat yang bercorak keislaman dari ahli-ahli pikir besar muslim seperti &lt;a data-preview="" href="https://www.google.com/search?ved=1t:260882&amp;amp;q=Al+Kindi&amp;amp;bbid=7393750217607801487&amp;amp;bpid=88343311449280444" target="_blank"&gt;Al Kindi&lt;/a&gt;, &lt;a data-preview="" href="https://www.google.com/search?ved=1t:260882&amp;amp;q=Al-Farabi&amp;amp;bbid=7393750217607801487&amp;amp;bpid=88343311449280444" target="_blank"&gt;Al-Farabi&lt;/a&gt;, &lt;a data-preview="" href="https://www.google.com/search?ved=1t:260882&amp;amp;q=Ibnu+Sina&amp;amp;bbid=7393750217607801487&amp;amp;bpid=88343311449280444" target="_blank"&gt;Ibnu Sina&lt;/a&gt;, &lt;a data-preview="" href="https://www.google.com/search?ved=1t:260882&amp;amp;q=Ibnu+Rusyid&amp;amp;bbid=7393750217607801487&amp;amp;bpid=88343311449280444" target="_blank"&gt;Ibnu Rusyid&lt;/a&gt;, &lt;a data-preview="" href="https://www.google.com/search?ved=1t:260882&amp;amp;q=Ibnu+Khaldun&amp;amp;bbid=7393750217607801487&amp;amp;bpid=88343311449280444" target="_blank"&gt;Ibnu Khaldun&lt;/a&gt;, dan lain-lain. Meskipun pada umumnya mereka memiliki spesialisasi ilmu pengetahuan yang tidak semata-mata "agamis", misalnya ilmu kedokteran, sosiologi, dan sebagainya. Akan tetapi, jiwa dan corak keislamannyalah yang menonjol, karena agama menjadi sumber inspirasi serta motivasi mereka untuk berpikir, menyelidiki, menilai, menyimpulkan, serta menemukan suatu hakikat dari alam raya ini yang bermanfaat bagi umat manusia, yaitu ilmu pengetahuan yang luas dan dalam, meskipun ilmu yang telah mereka ungkapkan itu belum seberapa dibanding dengan ilmu Allah sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Di masa itu, Islam telah mampu mendorong para pemikirnya untuk menyelidiki, menganalisis, menemukan, mengembangkan, serta memperluas ilmu pengetahuan, baik yang berasal dari sumbernya yang asli, ajaran agama, maupun dari kebudayaan lain yang diolah sejalan dengan nilai-nilai islami. Kemudian hasil-hasil penemuan yang baru atas analisis keilmuan mereka dapat mempengaruhi dunia Barat, sehingga dunia Barat bangkit untuk mendalaminya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

&lt;h4&gt;&lt;b&gt;Iman dan Ilmu Pengetahuan dalam Islam&lt;/b&gt;&lt;/h4&gt;

Iman dan ilmu pengetahuan dalam Islam merupakan dua asas hidup manusia muslim yang saling mempengaruhi dalam pribadinya, sehingga ia terangkat dari keterbelakangan dan kebodohan menjadi pribadi yang bermartabat tinggi di mata Tuhan dan sesama manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Ajaran yang penuh motivasi untuk maju dalam ilmu pengetahuan seperti terkandung di dalam sabda Nabi di bawah ini benar-benar menjadi daya penggerak para ahli pikir muslim pada zamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

a)	&lt;a data-preview="" href="https://www.google.com/search?ved=1t:260882&amp;amp;q=Ambillah+hikmah+dari+mana+pun+datangnya&amp;amp;bbid=7393750217607801487&amp;amp;bpid=88343311449280444" target="_blank"&gt;Ambillah hikmah dari mana pun datangnya&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3 style="text-align: left;"&gt;

عد الحكْمَةَ مِنْ أَيِّ وعَاء خَرَجَتْ
&lt;/h3&gt;&lt;br /&gt;
b)	Hikmah itu merupakan barang yang hilang bagi orang mukmin. Barangsiapa menemuinya, ambillah segera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3 style="text-align: left;"&gt;

فَالْحَكْمَةُ ضَالَّةُ الْمُؤمن أنّى وَجَدَهَا الْتَقَطَهَا
&lt;/h3&gt;&lt;br /&gt;
c)	Agama itu adalah akal, barangsiapa tidak berakal, maka ia tidak bisa beragama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;h3 style="text-align: left;"&gt;
اَلدِّيْنُ هُوَ الْعَقْلُ لادينَ لَمَنْ لاَعَقْلَ لَهُ
&lt;/h3&gt;&lt;br /&gt;
d)	Carilah ilmu pengetahuan walaupun ke negeri Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h3 style="text-align: left;"&gt;
أطْلُبُوا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصَّيْنَ
&lt;/h3&gt;&lt;br /&gt;
Kata hikmah dari seorang sahabat Rasulullah &lt;i&gt;Shallallahu 'Alaihi Wasallam&lt;/i&gt;. di atas bersum- berkan dari firman Allah yang menyatakan:&lt;br /&gt;

&lt;blockquote&gt;Allah memberi hikmah kepada orang yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa diberi hikmah oleh Allah, maka sungguh dia akan mendapatkan kebaikan yang banyak.&lt;/blockquote&gt;

&lt;script&gt;mbtTOC();&lt;/script&gt;
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;Sumber:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Buku FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM (Prof. H. Muzayyin Arifin, M.Ed.)&lt;br /&gt;
Diterbitkan oleh PT Bumi Aksara&lt;br /&gt;
Edisi Revisi&lt;br /&gt;
Cetakan pertama, Oktober 2003&lt;br /&gt;
Cetakan kedua, September 2005&lt;br /&gt;
Cetakan ketiga, April 2008&lt;br /&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjjaULI-DLlsbix1wGFTRUmfx6w5g_56iEJPrJrSoTiudc3ROueGj1Y2xQlpG7KL7ktWiAQQLQAQR60ce7S0mPC4YCW3cXBWf3XJEjqWuVbgBRPMtsJq1VC1ApNlB6PtxzfpVFwcJvU-17QCv3eb3AUleMm3CmS8p_O1TerO6U2EIADNv5PZk6vEV7yVLi6/s72-c/Ruang%20Lingkup%20Pemikiran%20Filsafat.webp" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Mempelajari Filsafat Pendidikan Islam</title><link>http://jaririndu.blogspot.com/2025/09/mempelajari-filsafat-pendidikan-islam.html</link><category>Pendidikan</category><author>noreply@blogger.com (Admin JR)</author><pubDate>Wed, 17 Sep 2025 09:30:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7393750217607801487.post-653085695573590205</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both;"&gt;&lt;img alt="Mempelajari Filsafat Pendidikan Islam" border="0" data-original-height="559" data-original-width="1024" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgzE2xOtUWeOSY-5CtFpUALF9L7Jfy9nsmPmCeSq8mu1H_poSnc4NNHwejPfItj51CloL3F2_9EMDNa5JPMHeoRRbO72HgBmjpyqNlK6sNMWNU7OpPnm9orh5MkiHUCytIZLPVuS69uvBc1ZrFA2Zzr5tSv69AzIgdxd5fkWDy2rjWybrV7L2ptXU3hUnpt/s1600/Mempelajari%20Filsafat%20Pendidikan%20Islam.webp"/&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;

&lt;a href="https://jaririndu.blogspot.com/2019/07/filsafat-pendidikan-dan-teori-teori-landasan-filsafat-pendidikan.html" target="_blank" rel="nofollow"&gt;Filsafat Pendidikan&lt;/a&gt; pada umumnya dan Filsafat Pendidikan Islam pada khususnya, adalah bagian dari Ilmu Filsafat. Maka, dalam mempelajari filsafat ini perlu memahami lebih dahulu tentang pengertian filsafat terutama dalam hubungannya dengan masalah pendidikan, khususnya pendidikan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Secara harfiah, filsafat berarti "cinta kepada ilmu". Filsafat berasal dari kata Philo yang artinya cinta dan Sophos artinya ilmu/hikmah. Secara historis, filsafat menjadi induk segala ilmu pengetahuan yang berkembang sejak zaman Yunani kuno sampai zaman modern sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

&lt;div class="mbtTOC"&gt; 
&lt;button onclick="mbtToggle()"&gt;Daftar Isi &lt;svg style="height: 18px; width: 18px;" viewbox="0 0 18 18"&gt;
    &lt;path d="M19.5,3.09L15,7.59V4H13V11H20V9H16.41L20.91,4.5L19.5,3.09M4,13V15H7.59L3.09,19.5L4.5,20.91L9,16.41V20H11V13H4Z" fill="currentColor"&gt;
&lt;/path&gt;&lt;/svg&gt;&lt;/button&gt; 
&lt;ol id="mbtTOC"&gt;&lt;/ol&gt; 
&lt;/div&gt;

&lt;h4&gt;Pengertian Filsafat Pendidikan&lt;/h4&gt;
Berikut ini dikemukakan pengertian filsafat dalam kaitannya dengan &lt;a href="https://jaririndu.blogspot.com/2011/09/pendidikan-menurut-hamka.html" target="_blank" rel="nofollow"&gt;pendidikan&lt;/a&gt; pada umumnya dari beberapa ahli pikir sebagai berikut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

&lt;h4&gt;&lt;b&gt;1.	John Dewey&lt;/b&gt;&lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;
Ia memandang pendidikan sebagai suatu proses pembentukan kemampuan dasar yang fundamental, baik menyangkut daya pikir (intelektual) maupun daya perasaan (emosional), menuju ke arah tabiat manusia dan manusia biasa. Dari itu maka filsafat pendidikan dapat juga diartikan sebagai teori umum pendidikan. John Dewey juga memandang bahwa ada hubungan yang erat antara filsafat dengan pendidikan. Oleh karena itu, tugas filsafat dan pendidikan adalah seiring, yaitu sama-sama memajukan hidup manusia. Ahli filsafat lebih memperhatikan tugas yang berkaitan dengan strategi pembentukan manusia, sedang ahli pendidikan bertugas untuk lebih memperhatikan taktik (cara) agar strategi itu menjadi terwujud dalam kehidupan sehari-hari melalui proses kependidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

&lt;h4&gt;&lt;b&gt;2.	Menurut Thomson&lt;/b&gt;&lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;
Filsafat berarti "melihat seluruh masalah tanpa ada batas atau implikasinya. Ia melihat tujuan-tujuannya, tidak hanya melihat metodenya atau alat-alatnya serta meneliti dengan saksama hal-hal yang disebut kemudian dalam kaitan arti dengan yang terdahulu. Hal itu mengandung arti bahwa perlu bersikap ragu terhadap sesuatu yang diterima oleh kebanyakan orang sebagai hal yang tak perlu dipermasalahkan dan perlu menangguhkan dalam pemberian penilaian sampai seluruh persoalan telah dipikirkan masak- masak. Hal itu memerlukan usaha untuk berpikir secara konsisten dalam pribadinya (self consistency) serta tentang hal-hal yang dipikirkannya itu tidak mengenal kompromi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Jadi, di sini filsafat dipandang sebagai suatu bentuk pemikiran yang konsekuen, tanpa kenal kompromi tentang hal-hal yang harus diungkap secara menyeluruh dan bulat. Keseluruhan dan kebulatan masalah yang dipikirkan oleh filsafat itu tidak lain adalah untuk menemukan hakikat dari masalah itu. Sedang suatu hakikat tidak dapat ditetapkan melalui kompromi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

&lt;h4&gt;&lt;b&gt;3.	Van Cleve Morris&lt;/b&gt;&lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a href="https://www.amazon.com/Books-Van-Cleve-Morris/s?rh=n%3A283155%2Cp_27%3AVan%2BCleve%2BMorris" target="_blank" rel="nofollow"&gt;Van Cleve Morris&lt;/a&gt; menyatakan, "Secara ringkas kita mengatakan bahwa pendidikan adalah studi filosofis, karena ia pada dasarnya bukan alat sosial semata untuk mengalihkan cara hidup secara menyeluruh kepada setiap generasi, tetapi ia juga menjadi agen (lembaga) yang melayani hati nurani masyarakat dalam perjuangan mencapai hari depan yang lebih baik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Jadi, dilihat dari tugas dan fungsinya, pendidikan harus dapat menyerap, mengolah, dan menganalisis serta menjabarkan aspirasi dan idealitas masyarakat. Pendidikan harus mampu mengalihkan dan menanamkan aspirasi dan idealitas masyarakat itu ke dalam jiwa generasi penerusnya. Untuk itu, pendidikan harus menggali dan memahaminya melalui pemikiran filosofis secara menyeluruh, terutama tentang problemanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

&lt;h4&gt;&lt;b&gt;4.	Brubacher, ahli filsafat pendidikan Amerika&lt;/b&gt;&lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;
Ia berpendapat bahwa, "Ada pendapat yang menyatakan tidak ada filsafat pendidikan sama sekali. Menganggap filsafat yang berpredikat pendidikan, sebenarnya seperti menaruh sebuah kereta di depan seekor kuda. Filsafat dipandang sebagai bunga, bukan sebagai akar tunggang pendidikan. Pendapat lainnya menyatakan bahwa filsafat pendidikan itu dapat berdiri sendiri secara bebas. Ia memperoleh keuntungan karena punya kaitan dengan filsafat umum, meskipun kaitan demikian tidak penting. Oleh karenanya ada pendapat yang menyatakan bahwa telah terjadi perpaduan antara pandangan filosofis dengan filsafat pendidikan. Oleh karenanya, filsafat diartikan sebagai teori pendidikan dalam segala tahap."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Dengan demikian, jelaslah &lt;a href="https://jaririndu.blogspot.com/2011/07/filsafat-ilmu.html" target="_blank" rel="nofollow"&gt;filsafat&lt;/a&gt; pendidikan itu adalah filsafat yang memikirkan tentang masalah kependidikan. Oleh karena ada kaitan dengan pendidikan, filsafat diartikan sebagai teori pendidikan dengan segala tingkat. Sebenarnya, masalah ada atau tidaknya filsafat pendidikan tidak perlu dipersoalkan lagi, karena masa sekarang ia telah berkembang menjadi suatu disiplin keilmuan yang ada di dalam kubu ilmu pendidikan. Bahkan, ilmu- ilmu pengetahuan selain pendidikan pun hampir semuanya memiliki filsafatnya sendiri. Karena dengan memahami filsafatnya, orang akan dapat mengembangkan secara konsisten ilmu-ilmu pengetahuan yang dipelajari. Filsafat mengkaji dan memikirkan tentang hakikat segala sesuatu secara menyeluruh, sistematis, terpadu, universal, dan radikal, yang hasilnya menjadi pedoman dan arah dari perkembangan ilmu-ilmu yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Untuk menyelesaikan permasalahan kependidikan, ada tiga disiplin ilmu yang membantu filsafat pendidikan, yaitu:&lt;br /&gt;
&lt;ol style="text-align: left;"&gt;&lt;li&gt;etika atau teori tentang nilai,&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;teori ilmu pengetahuan atau epistimologi, dan&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;teori tentang realitas atau kenyataan dan yang ada di balik kenyataan, yang disebut metafisika.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;

Permasalahan yang diidentifikasikan dalam ketiga disiplin ilmu ini menjadi materi yang dibahas dalam filsafat pendidikan. Oleh karena filsafat pendidikan mempunyai ruang lingkup pemikiran yang mendasar tentang permasalahan fundamental manusia dihubungkan dengan ketiga disiplin ilmu di atas, maka menurut W.H. Kilpatrick, filsafat pendidikan mempunyai tiga tugas pokok, yaitu sebagai berikut.&lt;br /&gt;
a)	Memberikan kritik-kritik terhadap asumsi yang dipegang oleh para pendidik.&lt;br /&gt;
b)	Membantu memperjelas tujuan-tujuan pendidikan.&lt;br /&gt;
c)	Melakukan evaluasi secara kritis tentang berbagai metode pendidikan yang dipergunakan untuk mencapai tujuan-tujuan kependidikan yang telah dipilih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kaitannya dengan filsafat pendidikan Islam, pemikiran para ahli filsafat pendidikan pada umumnya, seperti telah disebutkan di atas, perlu kita jadikan bahan acuan yang memberikan ruang lingkup pemikiran filsafat pendidikan Islam. Kita berpendirian bahwa semua ilmu pengetahuan yang ada relevansinya dengan filsafat pendidikan Islam harus kita ambil untuk bahan memperdalam dan memperluas studi kita. Dari mana pun datangnya hikmah itu, kita ambil dan kita manfaatkan. Demikian perintah Nabi Besar Muhammad saw. Untuk itulah kita harus bersikap lapang dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;


&lt;blockquote&gt;Sumber:&lt;br /&gt;
Buku FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM (Prof. H. Muzayyin Arifin, M.Ed.)&lt;br /&gt;
Diterbitkan oleh PT Bumi Aksara&lt;br /&gt;
Edisi Revisi&lt;br /&gt;
Cetakan pertama, Oktober 2003&lt;br /&gt;
Cetakan kedua, September 2005&lt;br /&gt;
Cetakan ketiga, April 2008&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgzE2xOtUWeOSY-5CtFpUALF9L7Jfy9nsmPmCeSq8mu1H_poSnc4NNHwejPfItj51CloL3F2_9EMDNa5JPMHeoRRbO72HgBmjpyqNlK6sNMWNU7OpPnm9orh5MkiHUCytIZLPVuS69uvBc1ZrFA2Zzr5tSv69AzIgdxd5fkWDy2rjWybrV7L2ptXU3hUnpt/s72-c/Mempelajari%20Filsafat%20Pendidikan%20Islam.webp" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Apa, Mengapa, Bagaimana, dan Ciri-Ciri Profesi Menurut Ahli</title><link>http://jaririndu.blogspot.com/2022/08/apa-bagaimana-dan-ciri-ciri-profesi-menurut-ahli.html</link><category>Pendidikan</category><author>noreply@blogger.com (Admin JR)</author><pubDate>Fri, 12 Aug 2022 10:20:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7393750217607801487.post-1084124357593280688</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both;"&gt;&lt;img alt="Apa, Mengapa, Bagaimana, dan Ciri-Ciri Profesi Menurut Ahli" border="0" data-original-height="366" data-original-width="650" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj-I2zzikcEuBO06VlQwkEIn6HvD7PvplRcW9iphhD5OTgbjZiQFhul_5TACeYbl_xAhOkxVw6usEcDz8VHEokSILbWs6FQf7__zKLYLrZxVx32GWt9V3_Q_oDmvQ0WYDTAo12poK-EF2WS11_tl2PZWdrUotv6yw4rgk_zKUqlOQFoBp_LK36p0MqNXg/s16000/Apa,-Mengapa,-Bagaimana,-dan-Ciri-Ciri-Profesi-Menurut-Ahli.jpg" title="Apa, Mengapa, Bagaimana, dan Ciri-Ciri Profesi Menurut Ahli" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Dalam percakapan sehari-hari sering terdengar istilah profesi atau profesional.
Seseorang mengatakan bahwa profesinya sebagai seorang dokter, yang lain
mengatakan bahwa profesinya sebagai arsitek, atau ada pula sebagai pengacara,
guru, ada juga yang mengatakan profesinya pedagang, penyanyi, petinju, penari,
tukang koran, dan sebagainya. Para staf dan karyawan instansi militer dan
pemerintahan juga tidak henti-hentinya menyatakan akan meningkatkan
keprofesionalannya. Ini berarti bahwa jabatan mereka adalah suatu profesi
juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

&lt;div class="mbtTOC"&gt;
  &lt;button onclick="mbtToggle()"&gt;
    Daftar Isi
    &lt;svg style="height: 18px; width: 18px;" viewbox="0 0 18 18"&gt;
      &lt;path d="M19.5,3.09L15,7.59V4H13V11H20V9H16.41L20.91,4.5L19.5,3.09M4,13V15H7.59L3.09,19.5L4.5,20.91L9,16.41V20H11V13H4Z" fill="currentColor"&gt;&lt;/path&gt;
    &lt;/svg&gt;
  &lt;/button&gt;
  &lt;ol id="mbtTOC"&gt;&lt;/ol&gt;
&lt;/div&gt;

Jika diamati dengan cermat bermacam-macam profesi yang disebutkan di atas, belum
dapat dilihat dengan jelas apa yang merupakan kriteria bagi suatu pekerjaan
sehingga dapat disebut suatu profesi itu. Kelihatannya, kriterianya dapat
bergerak dari segi pendidikan formal yang diperlukan bagi seseorang untuk
mendapatkan suatu profesi, sampai kepada kemampuan yang dituntut seseorang dalam
melakukan tugasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Dokter dan arsitek harus melalui pendidikan tinggi yang
cukup lama, dan menjalankan pelatihan berupa pemagangan yang juga memakan waktu
yang tidak sedikit sebelum mereka diizinkan memangku jabatannya. Setelah
memangku jabatannya, mereka juga dituntut untuk selalu meningkatkan pengetahuan
dan keterampilan mereka dengan tujuan meningkatkan kualitas layanannya kepada
khalayak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Sementara itu untuk menjadi pedagang atau petinju mungkin tidak diperlukan
pendidikan tinggi, malah pendidikan khusus sebelum memangku jabatan itu pun
tidak perlu, meskipun latihan, baik sebelum ataupun setelah menggauli jabatan
itu, tentu saja sangat diperlukan. Oleh sebab itu, agar tidak menimbulkan
kerancuan dalam pembicaraan selanjutnya kita harus memperluas pengertian profesi
itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;

A. Pengertian dan Konsep Profesi, Profesional, Profesionalisme, Profesionalitas,
dan Profesionalisasi&lt;/h4&gt;&lt;b&gt;Profesi&lt;/b&gt; adalah suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian (expertise)
dari para anggotanya. Artinya, tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang yang
tidak terlatih dan tidak disiapkan secara khusus untuk melakukan pekerjaan itu.
Misalnya untuk mengoperasi seseorang yang mempunyai penyakit kanker, dibutuhkan
seorang dokter spesialis bedah yang memiliki kemampuan yang diperoleh dari
pendidikan khusus untuk itu, Keahlian diperoleh melalui apa yang disebut
profesionalisasi, yang dilakukan baik sebelum seseorang menjalani profesi itu
(pendidikan/latihan prajabatan) maupun setelah menjalani suatu profesi
(inservice training).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;

Profesional&lt;/b&gt; menunjuk pada dua hal. Pertama, orang yang menyandang suatu profesi,
misalnya, “Dia seorang profesional”. Kėdua, penampilan seseorang dalam melakukan
pekerjaannya yang sesuai dengan profesinya. Dalam pengertian kedua ini, istilah
profesional dikontraskan dengan “nonprofesional” atau “amatiran”. Dalam kegiatan
sehari-hari seorang profesional melakukan pekerjaan sesuai dengan ilmu yang
telah dimilikinya, jadi tidak asal tahu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;

Profesionalisme&lt;/b&gt; menunjuk kepada komitmen para anggota suatu profesi untuk
meningkatkan kemampuan profesionalnya dan terus menerus mengembangkan
strategi-strategi yang digunakannya dalam melakukan pekerjaan yang sesuai dengan
profesinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Profesionalitas, di pihak lain, mengacu kepada sikap para anggota profesi
terhadap profesinya serta derajat pengetahuan dan keahlian yang mereka miliki
dalam rangka melakukan pekerjaannya. Jadi seorang profesional tidak akan mau
mengerjakan sesuatu yang memang bukan bidangnya. Misalnya seorang guru akan
selalu memberikan pelayanan yang baik kepada murid-muridnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;

Profesionalisasi&lt;/b&gt;, menunjuk pada proses peningkatan kualifikasi maupun kemampuan
para anggota profesi dalam mencapai kriteria yang standar dalam penampilannya
sebagai suatu profesi. Profesionalisasi pada dasarnya merupakan serangkaian
proses pengembangan profesional (profesional development), baik dilakukan
melalui pendidikan/latihan “prajabatan" maupun latihan dalam jabatan (inservice
training). Oleh karena itu, profesionalisasi merupakan proses yang sepanjang
hayat (lifelong) dan tidak pernah berakhir (never ending), selama seseorang
telah menyatakan dirinya sebagai warga suatu profesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Jika dalam masa pendidikan/latihan prajabatan itu profesionalisasi lebih banyak
ditentukan oleh lembaga (community of scholars, faculty members) dengan
berpegang pada kaidah-kaidah akademik dan latihan praktek yang standar, maka
setelah bekerja, profesionalisasi lebih banyak tergantung kepada setiap individu
profesional tersebut, apakah ia/mereka mau meningkatkan profesionalitasnya
(skills yang ditampilkan) dan profesionalismenya (komitmen pada profesi), apakah
ia mau terus belajar, bergaul secara akrab dengan rekan sejawatnya untuk saling
memberi dan menerima dalam suatu iklim kesejawatan dan kebersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Berikut beberapa pendapat pakar tentang profesi: Didi Atmadilaga, secara bebas
menafsirkan makna “profesi” yang dikemukakan dalam &lt;a href="https://en.wikipedia.org/wiki/Encyclopaedia_of_the_Social_Sciences" target="_blank"&gt;Encyclopedia of SocialSciences&lt;/a&gt; sebagai berikut; ….Wewenang praktek suatu kejuruan yang bersifat
pelayanan pada kemanusiaan secara intelektual spesifik yang sangat tinggi, yang
didukung oleh penguasaan pengetahuan keahlian serta seperangkat sikap dan
keterampilan teknik, yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan khusus, yang
penyelenggaraannya dilimpahkan kepada lembaga pendidikan tinggi... yang bersama
memberikan izin praktek atau penolakan praktek dan kelayakan praktek dilindungi
oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku, baik yang diawasi langsung oleh
pemerintah maupun asosiasi profesi yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Selanjutnya, Walter Johnson (1959) mengartikan petugas profesional
(profesionals) sebagai “...seseorang yang menampilkan suatu tugas khusus yang
mempunyai tingkat kesulitan lebih dari biasa dan mempersyaratkan waktu persiapan
dan pendidikan cukup lama untuk menghasilkan pencapaian kemampuan, keterampilan
dan pengetahuan yang berkadar tinggi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;

B. Ciri-Ciri Profesi&lt;/h4&gt;

Dari definisi yang telah dikemukakan di atas, dapat diangkat beberapa kriteria
untuk menentukan ciri-ciri suatu &lt;a href="https://jaririndu.blogspot.com/2022/03/sifat-guru-sukses-sikap-kontradiksi-dan-sifat-guru-prustasi.html" target="_blank"&gt;profesi&lt;/a&gt;, yaitu sebagai berikut.&lt;br /&gt;
1. Ada standar untuk kerja yang baku dan jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
2. Ada lembaga pendidikan khusus yang menghasilkan pelakunya dengan program dan
jenjang pendidikan yang baku serta memiliki standar akademik yang memadai dan
yang bertanggung jawab tentang pengembangan ilmu pengetahuan yang melandasi
profesi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
3. Ada organisasi profesi yang mewadahi para pelakunya untuk mempertahankan dan
memperjuangkan eksistensi dan kesejahteraannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
4. Ada etika dan kode etik yang mengatur perilaku etik para pelakunya dalam
memperlakukan kliennya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
5. Ada sistem imbalan terhadap jasa layanannya yang adil dan baku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
6. Ada pengakuan masyarakat (profesional, penguasa, dan awam) terhadap pekerjaan
itu sebagai suatu profesi (Rochman Natawidjaja, 1989).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;

Dari uraian di atas tentang ciri-ciri suatu profesi, maka profesi mempunyai
ciri-ciri utama sebagai berikut.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
1. Fungsi dan signifikansi sosial: suatu profesi merupakan suatu pekerjaan yang
memiliki fungsi dan signifikansi sosial dan krusial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
2. Keterampilan/keahlian: untuk mewujudkan fungsi ini, dituntut derajat
keterampilan/keahlian tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
3. Pemerolehan keterampilan tersebut bukan hanya dilakukan secara rutin,
melainkan bersifat pemecahan masalah atau penanganan situasi kritis yang
menuntut pemecahan dengan menggunakan teori dan metode ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
4. Batang tubuh ilmu: suatu profesi didasarkan kepada suatu disiplin ilmu yang jelas,
sistematis, dan eksplisit (a systematic body of knowledge) dan bukan hanya common sense.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
5. Masa pendidikan: upaya mempelajari dan menguasai batang tubuh ilmu dan
keterampilan keahlian tersebut membutuhkan masa latihan yang lama,
bertahun-tahun dan tidak cukup hanya beberapa bulan. Hal ini dilakukan pada
tingkat perguruan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
6. Aplikasi dan sosialisasi nilai-nilai profesional: proses pendidikan tersebut
juga merupakan wahana untuk sosialisasi nilai-nilai profesional di kalangan para
siswa/mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
7. Kode etik dalam memberikan pelayanan kepada klien, seorang profesional
berpegang teguh kepada kode etik yang pelaksanaannya dikontrol oleh organisasi
profesi. Setiap pelanggaran terhadap kode etik dapat dikenakan sanksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
8. Kebebasan untuk memberikan judgment: anggota suatu proses mempunyai kebebasan
untuk menetapkan judgment-nya sendiri dalam menghadapi atau memecahkan sesuatu
dalam lingkup kerjanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
9. Tanggung jawab profesional dan otonomi: komitmen pada suatu profesi adalah
melayani klien dan masyarakat dengan sebaik-baiknya. Tanggung jawab profesional
harus diabdikan kepada mereka. Oleh karena itu, praktek profesional itu otonom
dari campur tangan pihak luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
10. Pengakuan dan imbalan: sebagai imbalan dari Pendidikan dan Latihan yang
lama, komitmennya dan seluruh jasa yang diberikan kepada klien, maka seorang
profesional mempunyai prestise yang tinggi di mata masyarakat dan karenanya juga
imbalan yang layak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;

C. Ciri-Ciri Profesi Menurut Para Ahli
&lt;/h4&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;

Ciri-ciri profesi menurut Omstein dan Levine adalah sebagai berikut.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
1. Melayani masyarakat, merupakan karier yang akan dilaksanakan sepanjang hayat
(tidak berganti-ganti pekerjaan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
2. Memerlukan bidang ilmu dan keterampilan tertentu di luar jangkauan gokhalayak
ramai (tidak setiap orang dapat melakukannya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
3. Menggunakan hasil penelitian dan aplikasi dari teori ke praktek (teori yang
baru dikembangkan dari hasil penelitian).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
4. Memerlukan pelatihan khusus dengan waktu yang panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
5. Terkendali berdasarkan lisensi baku dan atau mempunyai persyaratan masuk
(untuk menduduki jabatan tersebut memerlukan izin tertentu atau sada persyaratan
khusus yang ditentukan untuk dapat mendudukinya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
6. Otonomi dalam membuat keputusan tentang ruang lingkup kerja tertentu (tidak
diatur orang luar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
7. Menerima tanggung jawab terhadap keputusan yang diambil dan unjuk kerja yang
ditampilkan yang berhubungan dengan layanan yang diberikan (langsung bertanggung
jawab terhadap apa yang diputuskannya, tidak dipindahkan ke atasan atau instansi
yang lebih tinggi). Mempunyai sekumpulan unjuk kerja yang baku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
8. Mempunyai komitmen terhadap jabatan dan klien: dengan penekanan terhadap
layanan yang akan diberikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
9. Menggunakan administrator untuk memudahkan profesinya; relative bebas dari
supervisi dalam jabatan (misalnya dokter memakai tenaga administrasi untuk
mendata klien, sementara tidak ada supervisi dari luar terhadap pekerjaan dokter
sendiri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
10. Mempunyai organisasi yang diatur oleh anggota profesi sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
11. Mempunyai asosiasi profesi dan atau kelompok elite untuk mengetahui dan
mengakui keberhasilan anggotanya (keberhasilan tugas dokter dievaluasi dan
dihargai oleh organisasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI), bukan oleh Departemen
Kesehatan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
12. Mempunyai kode etik untuk menjelaskan hal-hal yang meragukan atau
menyangsikan yang berhubungan dengan layanan yang diberikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
13. Mempunyai kadar kepercayaan yang tinggi dari publik dan kepercaya dari
setiap anggotanya (anggota masyarakat selalu meyakini dokter lebih tahu tentang
penyakit pasien yang dilayaninya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
14. Mempunyai status sosial dan ekonomi yang tinggi (bila dibandino dengan
jabatan lainnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;

Ciri-ciri profesi menurut Sanusi et. al. (1991):&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
1. Suatu jabatan yang memiliki fungsi dan signifikansi sosial yang menentukan
(krusial).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
2. Jabatan yang menuntut keterampilan/keahlian tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
3. Keterampilan/keahlian yang dituntut jabatan itu didapat melalui pemecahan
masalah dengan menggunakan teori dan metode ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
4. Jabatan itu berdasarkan pada batang tubuh disiplin ilmu yang jelas,
sistematik dan eksplisit, yang bukan hanya sekedar pendapat khalayak umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
5. Jabatan itu memerlukan pendidikan perguruan tinggi dengan waktu yang cukup
lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
6. Proses pendidikan untuk jabatan itu juga merupakan aplikasi dan sosialisasi
nilai-nilai profesional itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
7. Dalam memberikan layanan kepada masyarakat anggota profesi itu berpegang
teguh pada kode etik yang dikontrol oleh organisasi profesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
8. Tiap anggota profesi mempunyai kebebasan dalam memberikan judgment terhadap
permasalahan profesi yang dihadapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
9. Dalam prakteknya melayani masyarakat, anggota profesi otonom dan bebas dari
campur tangan orang luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
10. Jabatan ini mempunyai prestise yang tinggi dalam masyarakat, dan karenanya
memperoleh imbalan yang tinggi pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;

Ciri-ciri profesi menurut Robert W. Richey (1974) sebagai berikut:&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
1. Lebih mementingkan pelayanan kemanusiaan yang ideal daripada kepentingan
pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
2. Seorang pekerja profesional, secara relatif memerlukan waktu yang panjang
untuk mempelajari konsep-konsep serta prinsip-prinsip pengetahuan khusus yang
mendukung keahliannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
3. Memiliki kualifikasi tertentu untuk memasuki profesi tersebut serta mampu
mengikuti perkembangan dalam pertumbuhan jabatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
4. Memiliki kode etik yang mengatur keanggotaan, tingkah laku, sikap serta cara
kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
5. Membutuhkan suatu kegiatan intelektual yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
6. Adanya organisasi yang dapat meningkatkan standar pelayanan, disiplin diri
dalam profesi, serta kesejahteraan anggotanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
7. Memberikan kesempatan untuk kemajuan, spesialisasi dan kemandirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
8. Memandang profesi sebagai suatu karier hidup (a live career) dan menjadi
seorang anggota yang permanen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;

Ciri-ciri profesi menurut D. Westby Gibson (1965) sebagai berikut:&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
1. Pengakuan oleh masyarakat terhadap layanan tertentu yang hanya dapat
dilakukan oleh kelompok pekerja yang dikategorikan sebagai suatu profesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
2. Dimilikinya sekumpulan bidang ilmu yang menjadi landasan sejumlah teknik dan
prosedur yang unik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
3. Diperlukannya persiapan yang sengaja dan sistematis sebelum orang mampu
melaksanakan suatu pekerjaan profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
4. Dimilikinya suatu mekanisme untuk menyaring sehingga hanya mereka yang
dianggap kompeten yang diperbolehkan bekerja untuk lapangan pekerjaan
tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
5. Dimilikinya organisasi profesional yang di samping melindungi kepentingan
anggotanya dari saingan kelompok luar, juga berfungsi untuk meningkatkan
kualitas layanan kepada masyarakat, termasuk tindak etis profesional pada
anggotanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

&lt;script&gt;
  mbtTOC();
&lt;/script&gt;

&lt;blockquote&gt;Sumber:&lt;br /&gt;
Profesi Keguruan&lt;br /&gt;
(Buku Materi Pokok MKDK4005/2SKS/Modul 1-6)&lt;br /&gt;
Edisi 1&lt;br /&gt;
Oleh Djam'an Satori, dkk.&lt;br /&gt;
Penerbit: Universitas Terbuka, Tangerang Selatan&lt;br /&gt;
Tahun: 2012&lt;br /&gt;
Halaman 1.3 - 1.10&lt;/blockquote&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj-I2zzikcEuBO06VlQwkEIn6HvD7PvplRcW9iphhD5OTgbjZiQFhul_5TACeYbl_xAhOkxVw6usEcDz8VHEokSILbWs6FQf7__zKLYLrZxVx32GWt9V3_Q_oDmvQ0WYDTAo12poK-EF2WS11_tl2PZWdrUotv6yw4rgk_zKUqlOQFoBp_LK36p0MqNXg/s72-c/Apa,-Mengapa,-Bagaimana,-dan-Ciri-Ciri-Profesi-Menurut-Ahli.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Sifat Guru Sukses, Sikap Kontradiksi dan Sifat Guru Prustasi</title><link>http://jaririndu.blogspot.com/2022/03/sifat-guru-sukses-sikap-kontradiksi-dan-sifat-guru-prustasi.html</link><category>Pendidikan</category><author>noreply@blogger.com (Admin JR)</author><pubDate>Mon, 28 Mar 2022 17:17:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7393750217607801487.post-5039405303139361789</guid><description>&lt;img alt="" border="0" data-original-height="366" data-original-width="650" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiCkeN8O0RFPx09KvDmy-HxokP_kzW9u6xb7Zspy4wWvCWuzhtvnkCyIQxrffTDExIuE5LJxNyjVyri2k1jnlMwuKy4k85odKvynTw7MvAwnuipld0zTLYEd9O8cW317pu3UqOvRVtUKs8aAKI8Po-vkBP91bXNW-M9FnHaPAddYas_QLCx7mf5xzce_Q/s1600/Sifat%20Guru%20Sukses,%20Sikap%20Kontradiksi%20dan%20Sifat%20Guru%20Prustasi.jpg"/&gt;
&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Sukses tidaknya pendidikan sangat dipengaruhi oleh peran seorang guru. Pada pendidikan formal di sekolah, guru memegang kendali penuh terhadap peserta didik di dalam kelas. Baik atau tidaknya pembelajaran dalam kelas bergantung pada guru sebagai ujung tombaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

&lt;div class="mbtTOC"&gt; 
&lt;button onclick="mbtToggle()"&gt;Daftar Isi &lt;svg style="height: 18px; width: 18px;" viewbox="0 0 18 18"&gt;
    &lt;path d="M19.5,3.09L15,7.59V4H13V11H20V9H16.41L20.91,4.5L19.5,3.09M4,13V15H7.59L3.09,19.5L4.5,20.91L9,16.41V20H11V13H4Z" fill="currentColor"&gt;
&lt;/path&gt;&lt;/svg&gt;&lt;/button&gt; 
&lt;ol id="mbtTOC"&gt;&lt;/ol&gt; 
&lt;/div&gt;

Sekarang ini, beberapa guru sering menyalahartikan perannya sebagai pendidik. Mereka mengganggap tugas guru hanya mentransfer ilmu. Padahal guru memegang peran strategis, terutama dalam upaya membentuk watak bangsa melalui pengembangan kepribadian dan nilai-nilai yang diinginkan. Maka dari itu, guru seharusnya memiliki sikap dan sifat yang baik agar anak didiknya dapat meniru dan mencontoh perilaku-perilaku baik tersebut. Dengan kata lain guru harus memiliki kualitas yang baik untuk menjadikan pendidikan lebih bermutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Dengan kepribadian yang baik tersebut nantinya akan memberikan dampak positif terhadap sikap dan perilaku siswa disekolah. Guru juga harus mampu memilih metode atau pembelajaran seperti apa yang pas untuk anak didik mereka. Tidak memaksa namun perlahan membuat anak didik menyukai cara belajar yang diterapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Seorang guru yang ideal menurut Uzer Usman (1992) mempunyai tugas pokok yaitu mendidik, mengajar dan melatih. Oleh karena itu seorang guru harus memiliki kompetensi. Dalam profesi keguruan kita mengenal istilah kompetensi. Kompetensi itulah yang digunakan untuk menilai apakah seorang guru berkualitas atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Ada tiga kompetensi yang harus dimiliki guru, yaitu kompetensi personal, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional (&lt;a href="https://jaririndu.blogspot.com/2020/03/ciri-ciri-dan-10-kualitas-guru-yang-baik.html" target="_blank"&gt;Baca di sini "Ciri-Ciri dan 10 Kualitas Guru yang Baik"&lt;/a&gt;). Karena itu, berikut penjelasan tentang sifat guru yang sukses dan sifat guru prustasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;

A. Sifat Guru Sukses&lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;

Beth Lewis mengemukakan pertanyaan “Apa yang kita bisa pelajari dari guru yang sukses?" Guru-guru yang paling dikagumi adalah mereka yang tetap ingin tahu pentingnya intelektual dan profesional, baik di dalam maupun di luar kelas selama beberapa dekade. Mereka menghindari stagnasi di semua lini dan memelihara gairah yang patut ditiru oleh anak-anak dalam proses pembelajaran. Mereka tetap hidup dalam kenangan siswa selamanya karena kreativitas, rasa menyenangkan, dan belas kasihan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Berikut adalah kualitas guru yang diduga kuat berkontribusi paling sukses bagi karir mengajar guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;

1. Guru yang sukses memiliki harapan tinggi secara terus-menerus&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Guru-guru yang paling efektif mengharapkan prestasi besar dari murid-murid mereka, dan tidak menerima begitu saja atas kekurangan prestasi siswanya. Dalam pendidikan, harapan itu membangun ramalan. Ketika guru percaya masing-masing dan setiap siswa bisa berprestasi membubung melampaui batas-batas yang dibayangkan, anak-anak akan merasakan keyakinan itu dan bekerja dengan guru untuk mewujudkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;

2. Mereka berpikir kreatif&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

&lt;a href="Karakteristik%20Guru%20dengan%20Kemampuan%20Mengajar%20yang%20Unggul" target="_blank"&gt;Guru-guru terbaik&lt;/a&gt; berpikir di luar kotak, di luar kelas, dan di luar kondisi yang "normal". Mereka melompat di luar dinding kelas dan membawa murid mereka bersamanya! Guru-guru berprestasi mencoba sebanyak mungkin membuat pengalaman kelas menarik dan mengesankan bagi siswa. Mereka mencari cara untuk mendorong siswa mereka masuk ke dalam sebuah aplikasi dunia nyata dan mengemas pengalaman tingkat berikutnya. Berpikirlah taktis, tak terduga, gerakan yang bertujuan, dan sedikit "gila", maka Anda akan berada di jalur yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;

3. Fleksibel dan sensitif tingkat tinggi&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Guru-guru terbaik bergerak melebihi kebutuhan mereka sendiri dan tetap peka terhadap kebutuhan orang lain, termasuk siswa, orang tua, kolega, dan masyarakat. Ini menantang karena setiap individu memiliki kebutuhan yang berbeda, namun guru yang paling sukses adalah mereka yang memainkan banyak peran yang berbeda dalam satu hari ketika menerima fluiditas dan rahmat, sambil tetap jujur terhadap diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;

4. Memiliki rasa ingin tahu, percaya diri, dan berkembang atau kuriositas&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Banyak orang yang akrab dengan kondisi stagnan, sinis, rendah energi yang tampaknya akan menunggu waktu mereka sampai pensiun, dan menunggu jam mengajar berakhir, bahkan lebih tidak intensif dibandingkan dengan siswa. Itulah yang tidak boleh dilakukan oleh guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Sebaliknya, guru yang paling dikagumi memperbarui energi mereka dengan belajar ide-ide baru dari guru muda, dan mereka tidak terancam oleh cara-cara baru dalam melakukan sesuatu di kampus sekolah. Mereka memiliki prinsip-prinsip inti yang kuat, tapi tetap memiliki semangat untuk berkembang sesuai dengan perubahan waktu. Mereka merangkul teknologi baru dan percaya diri dalam bergerak maju ke masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;

5. Mereka adalah manusia sempurna&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Guru-guru yang paling efektif membawa seluruh dirinya untuk pekerjaa Mereka merayakan keberhasilan siswa, muncul belas kasih berjuang untuk orang tua, menceritakan kisah-kisah dari kehidupan mereka sendiri, menertawakan kesalahan mereka, berbagi kebiasaan unik mereka, dan tidak takut untuk menjadi manusia sempurna di depan murid-murid mereka. Mereka mengerti bahwa guru tidak hanya memberikan kurikulum, tetapi bagi mereka yang terbaik adalah menjadi pemimpin inspiratif, menunjukkan siswa bagaimana harus bersikap di semua bidang kehidupan dan dalam semua jenis situasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Guru yang hebat mengakui secara jujur ketika mereka tidak tahu jawabannya. Mereka minta maaf ketika siswa memerlukan dan memperlakukan siswanya dengan hormat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;

6. Guru yang sukses senang belajar dan menjalani kehidupan&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Guru guru di kagumi memandang banyak hal secara ringan dan menyenangkan, serta menjadi pembelajar yang serius. Mereka tidak takut untuk menjadi bodoh karena karena memang selalu menjadi pembelajar dan menikmati kehidupan dengan segala perkembangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;

B. Sikap Kontradiksi&lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;

Sesungguhnya pendidikan harus dimulai dengan solusi dari kontradiksi guru-murid. Pendidikan harus mendamaikan kutub kontradiksi sehingga mampu memanusiawikan keduanya, yaitu guru dan siswa. Solusi ini tidak juga tidak bisa diterima dalam konsep perbankan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Sebaliknya, perbankan pendidikan mempertahankan dan bahkan merangsang kontradiksi melalui sikap berikut dan praktik yang menindas sebagai cermin masyarakat secara keseluruhan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

-  guru mengajar dan siswa diajar;&lt;br /&gt;
-  guru tahu segalanya dan siswa tahu apa-apa;&lt;br /&gt;
-  guru berpikir, siswa menyadap pikiran guru;&lt;br /&gt;
-  guru berbicara dan siswa patuh mendengarkan;&lt;br /&gt;
-  disiplin ditetapkan guru dan siswa mematuhi disiplin yang ditetapkan;&lt;br /&gt;
-  guru memilih dan melaksanakan pilihannya dan siswa mematuhinya;&lt;br /&gt;
-  guru bertindak dan siswa memiliki ilusi untuk bertindak melalui tindakan guru:&lt;br /&gt;
-  guru memilih isi program dan siswa secara tanpa dialog beradaptasi dengan isi program itu;&lt;br /&gt;
-  guru mengacaukan wewenang ilmu pengetahuan dengan wewenang profesionalnya sendiri yang dikemasnya secara bertentangan dengan kebebasan siswa;&lt;br /&gt;
-  guru adalah subjek proses belajar, sedangkan siswa adalah obyek belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Tidak mengherankan bahwa konsep perbankan pendidikan menganggap siswa sebagai beradaptasi, makhluk dikelola. Pekerjaan siswa tidak lebih dari menyimpan deposito yang dipercayakan kepada mereka. Siswa kurang mengembangkan kesadaran kritis akan hasil dari intervensi mereka di dunia sebagai transformator dari dunia itu. Semakin benar-benar mereka menerima peran pasif yang dikenakan pada mereka, semakin mereka cenderung hanya untuk beradaptasi dengan dunia seperti apa adanya dan keterampilan mereka terfragmentasi pada realitas yang disimpan di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;

C. Sifat Guru Frustrasi&lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;

Di banyak negara profesi guru sangat dihormati. Namun demikian, dari sisi pandang guru sendiri, penyandang profesi ini tidak luput dari belenggu permasalahan, karena mereka menghadapi aneka tantangan. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh &lt;a href="https://harris-interactive.co.uk/"&gt;Harris Interactive&lt;/a&gt; (2006), beberapa permasalahan yang dihadapi oleh guru disajikan berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Pertama, guru yang memandang tidak cukup waktu merencanakan pembelajaran sebanyak 65 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Kedua, 2 dari 3 guru menyatakan bahwa gaji tidak sesuai dengan beban pekerjaan sebanyak 64 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Ketiga, guru yang memandang bahwa membantu siswa secara indivi dual sebagai salah satutan tangan berat sebanyak 60 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Keempat, guru yang mempersepsi bahwa prestise profesional masih jauh dari harapan sebanyak 37 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Kelima, guru yang memandang bahwa pelaksanaan pembelajaran di kelas merupakan tanangan berat sebanyak 34 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Ini berarti bahwa masih ada guru yang belum secara sungguh-sungguh menjalankan tugas-tugas profesionalnya dalam suasana yang menyenangkan. Hal ini dapat mengundang frustrasi di kalangan siswa. Sebagaimana termuat dalam situs www.gladlywoulditeach.com, pada sebuah forum diskusi online untuk kelas bahasa Inggris terungkap ciri-ciri guru yang menyebab kan frustrasi bagi siswanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Berikut ini disajikan ciri-ciri guru yang menyebabkan siswanya frustasi akibat kinerja buruk guru ketika melaksanakan proses pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;

1. Pandangan negatif terhadap kegiatan mengajar atau pekerjaan mereka&lt;/i&gt;. Siswa berulang kali menyampaikan gagasan bahwa guru-guru yang membenci pekerjaan mereka harus mencari pekerjaan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;

2. Sibuk bekerja dan kurangnya varietas dalam kegiatan kelas&lt;/i&gt;. Siswa meraa terganggu oleh tugas-tugas yang tidak membangun keterampilan atau pengetahuan baru bagi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;

3. Kecongkakan&lt;/i&gt;. Siswa jengkel terhadap guru-guru yang meremehkan, menghina atau merendahkan mereka. Alih-alih mendukung mereka, siswa merasa bahwa beberapa guru memperlakukan mereka dengan cara merendahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;

4. Kurangnya pengetahuan&lt;/i&gt;. Guru yang mengajar langsung dari buku memunculkan frustrasi siswa karena mereka sering tidak mampu menjawab pertanyaan secara lebih rinci dari apa yang diberikan dalam buku teks, juga tidak mengaitkan materi pelajaran dengan dunia nyata atau contoh-contoh di luar buku teks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;

5. Tidak ada mengenal banyak tentang siswanya&lt;/i&gt;. Menurut siswa, beberapa guru hanya membuat sedikit usaha untuk mengenal murid-murid mereka, tahu sedikit tentang apa yang siswa lakukan di luar kelas, dan hanya sebagian kecil guru yang melakukan usaha untuk mempelajari dan mengenali nama-nama siswanya. siswa tahuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;

6. Keengganan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan siswa&lt;/i&gt;. Dalam beberapa kelas siswa menyela untuk mengajukan pertanyaan. Menurut siswa, beberapa guru meremehkan mereka. Sebagian guru menyatakan bahwa sesungguhnya pertanyaan itu sudah bisa dijawab oleh siswa. sendiri. Sebagian siswa lainnya menyatakan bahwa guru tidak bisa menjawab pertanyaan dengan jelas. Hal ini tampaknya menjadi da penyebab sampingan dari dua frustrasi lainnya: arogansi guru dan/atau kekurangan pengetahuan guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;

7. Apati&lt;/i&gt;. Siswa melaporkan bahwa beberapa guru tidak peduli dengan siswa-siswa mereka, kelas mereka, atau kegiatan dalam kelas. Siswa sangat cepat menentukan bahwa jika guru tidak peduli tentang proses pembelajaran di kelas kelas, mereka seharusnya juga tidak peduli terhadap guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Di samping itu, sebagian siswa menyatakan bahwa guru-guru mereka kurang mengenali etika pekerjaan yang baik. Sebagian dari guru hanya membuat beberapa tanda di atas kertas kerja, sehingga siswa tidak tahu perbaikan apa yang harus dilakukan. Sikap sebagian guru-guru yang menunjukkan sikap pilih kasih juga memunculkan frustrasi pada diri siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Meskipun siswa tidak kesulitan menjelaskan ciri-ciri guru mereka yang frustrasi, ternyata hampir semua siswa mengawali laporan mereka dengan mengekspresikan rasa hormat kepada guru dan menggarisbawahi bahwa sebagian besar dari guru mereka telah dipersiapkan dengan baik, peduli, berpengetahuan, dan seringkali inspirasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;


&lt;blockquote&gt;Sumber:
Buku Psikologi Pendidikan (Dalam Perspektif Baru). Penulis: Prof. Dr. Sudarwan Danim &amp;amp; Dr. H. Khairil. Diterbitkan Tahun 2010 (cetakan pertama) dan 2011 (cetakan kedua) oleh ALFABETA Bandung.&lt;/blockquote&gt;

&lt;script&gt;mbtTOC();&lt;/script&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiCkeN8O0RFPx09KvDmy-HxokP_kzW9u6xb7Zspy4wWvCWuzhtvnkCyIQxrffTDExIuE5LJxNyjVyri2k1jnlMwuKy4k85odKvynTw7MvAwnuipld0zTLYEd9O8cW317pu3UqOvRVtUKs8aAKI8Po-vkBP91bXNW-M9FnHaPAddYas_QLCx7mf5xzce_Q/s72-c/Sifat%20Guru%20Sukses,%20Sikap%20Kontradiksi%20dan%20Sifat%20Guru%20Prustasi.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Teori Perkembangan yang Sering Menjadi Acuan dalam Bidang Pendidikan</title><link>http://jaririndu.blogspot.com/2022/03/teori-perkembangan-dalam-bidang-pendidikan.html</link><category>Makalah</category><category>Pendidikan</category><author>noreply@blogger.com (Admin JR)</author><pubDate>Mon, 21 Mar 2022 09:30:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7393750217607801487.post-1902914505851507837</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both;"&gt;&lt;img alt="Teori Perkembangan yang Sering Menjadi Acuan dalam Bidang Pendidikan" border="0" data-original-height="366" data-original-width="650" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEj2ZAZnsNVzhHCR80SI1WfJ4mtU9wiZtNCqZ8LUGk4jUJ3EtctNJovrfkxUIFojczHJmEJyiBmZPoBdozGO5MTkJAi8rtjjQBoP5i7ogTs_Z38-fUZWSMhE-0JciyStKAnQpXlyeYPR8ix6oXTrIZ_HR-S05dcnSvDqED5crQe51TB9wcvGBn_sQVqRrw=s16000" title="Teori Perkembangan yang Sering Menjadi Acuan dalam Bidang Pendidikan" /&gt;&lt;/div&gt;
Ada berbagai teori perkembangan. Pada &lt;a href="https://jaririndu.blogspot.com/2022/03/pedagogik-karakteristik-siswa-sumber-belajar-penunjang.html" target="_blank"&gt;tulisan ini&lt;/a&gt; akan dibahas beberapa teori yang sering menjadi acuan dalam bidang pendidikan, yaitu teori yang termasuk teori menyeluruh/global (Rousseau, Stanley Hall, Havigurst), dan teori yang termasuk khusus/spesifik (Piaget, Kohlbergf, Erikson).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

&lt;div class="mbtTOC"&gt; 
&lt;button onclick="mbtToggle()"&gt;Daftar Isi &lt;svg style="height: 18px; width: 18px;" viewbox="0 0 18 18"&gt;
    &lt;path d="M19.5,3.09L15,7.59V4H13V11H20V9H16.41L20.91,4.5L19.5,3.09M4,13V15H7.59L3.09,19.5L4.5,20.91L9,16.41V20H11V13H4Z" fill="currentColor"&gt;
&lt;/path&gt;&lt;/svg&gt;&lt;/button&gt; 
&lt;ol id="mbtTOC"&gt;&lt;/ol&gt; 
&lt;/div&gt;

Nana Saodih Sukmadinata (2009) menguraikannya sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;

A. Jean Jacques Rousseau&lt;/h4&gt;&lt;a href="https://en.wikipedia.org/wiki/Jean-Jacques_Rousseau"&gt;Jean Jacques Rousseau&lt;/a&gt; merupakan ahli pendidikan beraliran liberal yang menjadi pendorong pembelajaran discovery. Rousseau mulai mendakan kajian pada 1800an. Menurutn Rousseau, perkembangan anak terbagi menjadi empat tahap, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

1) Masa bayi infancy (0-2 tahun), usia antara 0-2 tahun adalah masa perkembangan fisik. Kecepatan pertumbuhan fisik lebih dominan dibandingkan perkembangan aspek lain, sehingga anak disebut sebagai binatang yang sehat;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

2) Masa anak/childhood (2-12 tahun), disebut juga masa perkembangan sebagai manusia primitif. Kecuali masih terjadi pertumbuhan fisik secara pesat, aspek lain sebagai manusia juga mulai berkembang, misalnya kemampuan berbicara, berfikir, intelektual, moral, dll;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

3) Masa remaja awal/pubescence (12-15 tahun), disebut masa remaja awal/pubescence, ditandai dengan perkembangan pesat intelektual dan kemampuan bernalar juga disebut masa bertualang;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

4) Masa remaja/adolescence (15-25 tahun). Pada masa ini tejadi perkembangan pesat aspek seksual, social, moral, dan nurani, juga disebut masa hidup sebagai manusia beradab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;

B. Stanley Hall&lt;/h4&gt;

Stanley Hall, seorang psikolog dari Amerika Serikat, merupakan salah satu perintis kajian ilmiah tentang siklus hidup (life span) yang berteori bahwa perubahan menuju dewasa terjadi dalam sekuens (urutan) yang universal bagian dari proses evolusi, parallel dengan perkembangan psikologis, namun demikian, faktor lingkungan dapat mempengaruhi cepat lambatnya perubahan tersebut. Misalnya, usia enam tahun adalah usia masuk sekolah di lingkungan tertentu, tetapi ada yang memulai sekolah pada usia lebih lambat di lingkungan yang lain. Konsekuensinya, irama perkembangan anak di kedua lingkungan tersebut dapat berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="https://en.wikipedia.org/wiki/G._Stanley_Hall"&gt;Stanley Hall&lt;/a&gt; membagi masa perkembangan menjadi empat tahap, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

1) Masa kanak-kanak/infancy (0-4 tahun). Pada usia-usia ini, perkembangan anak disamakan dengan binatang, yaitu melata atau berjalan;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

2) Masa anak/childhood (4-8 tahun). Masa ini disebut masa pemburu, anak haus akan pemahaman lingkungannya, sehingga akan berburu kemanapun, mempelajari lingkungan sekitarnya;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

3) Masa puber/youth 8-12 tahun). Pada masa ini anak tumbuh dan berkembang tetapi sebhagai makhluk yang belum beradab. Banyak hal yang masih harus dipelajari untuk menjadi makhluk yang beradab di lingkungannya, seperti yangt berkaitan dengan sosial, emosi, moral, intelektual;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

4) Masa remaja/adolescence (12 – dewasa). Pada masa ini, anak mestinya sudah menjadi manusia beradab yang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan dan dunia yang selalu berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Perspektif &lt;i&gt;life span&lt;/i&gt; seperti yang dipelopori oleh Stanley Hall dkk., dapat dibuktikan pada tahap masa remaja sampai dewasa. Misalnya, pada masyarakat tertentu yang masih terbelakang, anak justru cepat menjadi dewasa. Karena pendidikan hanya tersedia sampai sekolah dasar, masayrakat cenderung mulai bekerja dan berkeluarga dalam usia muda. Sebaliknya, pada masyarakat yang semua warganegaranya mencapai pendidikan tinggi, anak-anak menjadi dewasa pada usia yang lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;

C. Robert J. Havigurst&lt;/h4&gt;

Robert J. Havigurst dari Universitas Chicago mulai mengembangkan konsep developmental task (tugas perkembangan) pada tahun 1940an, yang menggabungkan antara dorongan tumbuh/berkembang sesuai dengan kecepatan pertumbuhannya denga tantangan dan kesempatan yang diberikan oleh lingkungannya. Havigurst menyusun tahap-tahap perkembangan menjadi lima tahap berdasarkan problema yang harus dipecahkan dalam setiap fase, yaitu: 1) Masa bayi/&lt;i&gt;infancy&lt;/i&gt; (0 – ½ tahun); 2) Masa anak awal/&lt;i&gt;early childhood&lt;/i&gt; (2/3 – 5/7 tahun); 3) Masa anak/&lt;i&gt;late childhood&lt;/i&gt; (5/7 tahun – pubesen); 4) Masa adolesense awal/&lt;i&gt;early adolescence&lt;/i&gt; (pubesen – pubertas); 5) Masa adolescence/&lt;i&gt;late adolescence&lt;/i&gt; (pubertas – dewasa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Menurut teori ini, dalam perkembangan, anak melewati delapan tahap perkembangan (developmental stages). Ada sepuluh tugas perkembangan yang harus dikuasai anak pada setiap fase, yaitu: 1) Ketergantungan – kemandirian; 2) Memberi – menerima kasih sayang; 3) Hubungan social; 4) Perkembangan kata hati; 5) Peran biososio dan psikologis; 6) Penyesuaian dengan perubahan badan; 7) Penguasaan perubahan badan dan motoric; 8) Memahai dan mengendalikan lingkungan fisik; 9) Pengembangan kemampuan konseptual dan sistem simbol; 10) Kemampuan melihat hubungan dengan alam semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Dikuasai atau tidaknya tugas perkembangan pada setiap fase akan mempengaruhi penguasaan tugas-tugas pada fase berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;

D. Jean Piaget&lt;/h4&gt;

Jean Piaget latar belakangnya adalah pakar biologi dari Swiss yang hidup pada tahun 1897 sampai tahun 1980 (Harre dan Lamb), 1988). Teori-teorinya dikembangkan dari hasil pengamatan terhadap tiga orang anak kandungnya sendiri, kebanyakan berdasarkan hasil pengamatan pembicaraanya dengan anak atau antar anak-anak sendiri. Piaget lebih memfokuskan kajiannya dalam aspek perkembangan kognitif anak dan mengelompokkannya dalam empat tahap, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

1)Tahap sensorimotorik (0-2 tahun). Tahap ini juga disebut masa &lt;i&gt;discriminating&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;labeling&lt;/i&gt;. Pada masa ini kemampuan anak terbatas pada gerak-gerak refleks, bahasa awal, dan ruang waktu sekarang saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

2)Tahap praoperasional (2-4 ahun). Pada tahap praoperasional, atau prakonseptual, atau disebut juga dengan masa intuitif, anak mulai mengembangkan kemampuan menerima stimulus secara terbatas. Kemampuan bahasa mulai berkembang, pemikiran masih statis, belum dapat berfikir abstrak, dan kemampuan persepsi waktu dan ruang masih terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

3)Tahap operasional konkrit (7-11 tahun). Tahap ini juga disebut masa performing operation. Pada masa ini, anak sudah mampu menyelesaikan tugas-tugas menggabungkan, memisahkan, menyusun, menderetkan, melipat, dan membagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
4)Tahap operasonal formal (11-15 tahun). Tahap ini juga disebut masa proportional thinking. Pada masa ini, anak sudah mampu berfikir tingkat tinggi, seperti berfikir secara deduktif, induktif, menganalisis, mensintesis, mampu berfikir secara abstrak dan secara reflektif, serta mampu memecahkan berbagai masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;

E. Lawrence Kohlberg&lt;/h4&gt;

Mengacu kepada teori perkembangan Piaget yang berfokus pada perkembangan kognitif, &lt;a href="https://en.wikipedia.org/wiki/Lawrence_Kohlberg"&gt;Kohlberg&lt;/a&gt; lebih berfokus pada kognitif moral atau moral reasoning. Kemampuan kognitif moral seseorang dapat diukur dengan menghadapkannya dengan dilemna moral hipotesis yang terkait dengan kebenaran, keadilan, konflik terkait aturan dan kewajiban moral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Menurut Kohlberg, perkembangan moral kognitif anak terbagi menjadi tiga tahapan, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;1. Preconventional moral reasoning, yaitu:&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
a) &lt;i&gt;Obidience and paunisment orientation&lt;/i&gt;. Pada tahap ini, orientasi anak masih pada konsekuensi fisik dari perbuatan benar – salahnya, yaitu hukuman dan kepatuhan. Mereka hormat kepada penguasa, penguasalah yang menetapkan aturan/undang-undang, mereka berbuat benar untuk menghindari hukuman;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

b) &lt;i&gt;Naively egoistic orientation&lt;/i&gt;. Pada tahap ini, anak beorientasi pada instrument relative. Perbuatan benar adalah perbuatan yang secara instrument memuaskan keinginannya sendiri dan (kadang-kadang) juga orang lain. Kepeduliannya pada keadilan/ketidakadilan bersifat pragmatic, yaitu apakah mendatangkan keuntungan atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

&lt;i&gt;&lt;b&gt;2. Conventional moral reasoning, yaitu:&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
a) &lt;i&gt;Good boy orientation&lt;/i&gt;. Pada tahap ini, orientasi perbuatan yang baik adalah yang menyenangkan, membantu, atau diepakati oleh orang lain. Orientasi ini juga disebut good/nice boy orientation. Anak patuh pada karakter tertentu yang dianggap alami, cenderung mengembangkan niat baik, menjadi anak baik, saling berhubungan baik, peduli terhadap orang lain;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

b) &lt;i&gt;Authority and social order maintenance orientation&lt;/i&gt;. Pada tahap ini, orientasi anak adalah pada aturan dan hukum. Anak menganggap perlunya menjaga ketertiban, memenuhi kewajiban dan tugas umum, mencegah terjadinya kekacauan sistem. Hukum dan perintah penguasa adalah mutlak dan final, penekanan pada kewajiban dan tugas terkait dengan perannya yang diterima di masyarakat dan publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

&lt;i&gt;&lt;b&gt;3. Post conventional moral reasoning, yaitu:&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
a) &lt;i&gt;Contranctual legalistic orientation&lt;/i&gt;. Pada tahap ini, orientasi anak pada legalitas kontrak social. Anak mulai peduli pada hak azasi individu, dan yang baik adalah yang disepakati oleh mayoritas masyarakat. Anak menyadari bahwa nilai (benar/salah, baik/buruk, suka/tidak suka, dll) adalah relatif, menyadari bahwa hukum adalah intrumen yang disetujui untuk mengatur kehidupan masyarakat, dan itu dapat diubha melalui diskusi apabila hukum gagal mengetur masyarakat;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

b) &lt;i&gt;Conscience or principle orientation&lt;/i&gt;. Pada tahap ini, orientasi adalah pada prinsip-prinsip etika yang bersifat universal. Benar-salah harus disesuaikan dengan tuntutan prinsip-prinsip etika yang bersifat ini sari dari etika universal. Aturan hukum legal harus dipisahkan dari aturan moral. Masing-masing (hukum legal dan moral) harus diakui terpisah, masing-masing mempunyai penerapannya sendiri, tetapi tetap mengacu pada nilai-nilai etika/moral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;

F. Erick Homburger Erickson&lt;/h4&gt;

Erickson merupakan salah seorang tokoh psikoanalisis pengikut Sigmund Freud. Dia memusatkan kajiannya pada perkembangan psikososial anak. Menurut Erickson (dalam Harre dan Lamb, 1988), dalam perkembangan, anak melewati delapan tahap perkembangan (developmental stages), disebut siklus kehidupan (life cycle) yang ditandai dengan adanya krisis psikososial tertentu. Teori Erickson ini secara luas banyak diterima, karena menggambarkan perkembangan manuasia mencakup seluruh siklus kehidupan dan mengakui adanya interaksi antara individu dengan konteks sosial. Kedelapan tahap tersebut digambarkan pada table di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

&lt;div class="separator" style="clear: both;"&gt;&lt;img alt="Tabel  perkembangan psikososial anak" border="0" data-original-height="366" data-original-width="650" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEg3iz6Ftwawh1KySS1x99pR_PoDQKztEZk6WAfxZscEAya0ASc9MxZU3ZmGgd0zx97k3lot422S06jbyccBfBxPajz6LsL11lcFQ8ViOk34KhB2SgUBLyrjCQYT3_FjjtAvPqEAIhROghlquAbhcJoYB9t4gv7n_uUY42eL8ebPInfvGvEO8caEQR294g=s16000" title="Tabel  perkembangan psikososial anak" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;

Pada tahap &lt;i&gt;basic trust vs mistrust&lt;/i&gt; (infancy – bayi), anak baru mulai mengenal dunia, perhatian anak adalah mencari rasa aman dan nyaman. Lingkungan dan sosok yang mampu menyediakan rasa nyaman/aman itulah yang dipercaya oleh anak, sebalinya, yang menjadikan sebaliknya, cenderung tidak dipercaya. Rasa aman dan nyaman ini terkait dengan kebutuhan primer seperti makan, minum, pakaian, kasih sayang. Sosok ibu atau pengasuh biasanya sangat dipercaya karena setiap mendatangkan kenyamanan. Sedangkan orang yang dianggap asing akan ditolaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Pada tahap &lt;i&gt;autonomy vs shame and doubt&lt;/i&gt; (toddler – masa bermain), anak tidak ingin sepenuhnya tergantung pada orang lain. Anak mulai mempunyai keinginan dan kemauan sendiri. Dalam masa ini, orangtua perlu memberikan kebebasan yang terkendali, karena apabila anak terlalu dikendalikan/didikte, pada diri anak dapat tumbuh rasa selalu was-was, ragu-ragu, kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Pada tahap Initiative vs guilt (preschool – prasekolah), pada diri anak mulai tumbuh inisiatif yang perlu difasilitasi, didorong, dan dibimbing oleh orang dewasa disekitarnya. Anak mulai bertanggungjawab atas dirinya sendiri. Berbagai aktifitas fisik seperti bermain, berlari, lompat, banyak dilakukan. Kurangnya dukungan dari lingkungan, misalnya terlalu dikendalikan, kurangnya fasilitas, sehingga inisiatifnya menjadi terkendala, pada diri anak akan timbul rasa kecewa dan bersalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Pada tahap ini, &lt;i&gt;industry vs inferiority&lt;/i&gt; (schoolage – masa sekolah), anak cenderung luar biasa sibuk melakukan berbagai aktifitas yang diharapkan mempunyai hasil dalam waktu dekat. Keberhasilan dalam aktifitas ini akan menjadikan anak merasa puas dan bangga. Sebaliknya, jika gagal, anak akan merasa rendah diri. Oleh karena itu, anak memerlukan bimbngan dan fasilitasi agar tidak gagal dan setiap aktifitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Pada tahap &lt;i&gt;identity vs role confusion&lt;/i&gt; (asolescence – remaja), anak dihadapkan pada kondisi pencarian identittas diri. Jatidiri ini akan akan berpengaruh besar pada masa depannya. Pengaruh lingkungan sangat penting. Lingkungan yang baik akan menjadikan anak memiliki jati diri sebagai orang baik, sebaliknya lingkunganh yang tidak baik anak membawanya menjadi pribadi yang kurang baik. Orang tua harus menjamin bahwa anak berada dalam lingkungan yang baik, sehingga hal-hal yang tidak diinginkan tidak terjadi, misalnya menjadi anggota geng anak nakal, anak jalanan, pemabuk, narkoba, dll., adalah disebabkan karena anak keliru dalam membangun identitas diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Pada tahap &lt;i&gt;intimacy vs isolation&lt;/i&gt; (young adulthood – dewasa awal), anak mulai menyadari bahwa meskipun dalam banyak hal memerlukan komunikasi dengan masyarakat dan teman sebaya, dalam hal-hal tertentu, ada yang memang harus bersifat privat. Ada hal-hal yang hanya dibicarakan dengan orang tertentu, ada orang tertentu tempat mencurahkan isi hati, memerlukan orang yang lebih dekat secara pribadi, termasuk pasangan lawan jenis. Kegagalan pada tahap ini dapat mengakibatkan anak merasa terisolasi di kehidupan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Tahap &lt;i&gt;generativity vs stagnation&lt;/i&gt; (middle adulthood – dewasa tengah-tengan) menandai munculnya rasa tanggungjawab atas generasi yang akan datang. Bentuk kepedulian ini tidak hanya dalam bentuk peran sebagai orangtua, tetapi juga perhatian dan kepeduliannya pada anak-anak yang merupakan generasi penerus. Ada rasa was-was akan generasi penerusnya (keturunannya), seperti apakah mereka nanti, bahagiakah, terpenuhi kebutuhannyakah? Atau akan stagnan, bertenti sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Tahap ini, &lt;i&gt;ego integrity vs despair&lt;/i&gt; (later adulthood – dewasa akhir), adalah tahap akhir dari siklus kehidupan. Individu akan melakukan introspeksi, mereview kembali perjalanan kehidupan yang telah dilalui dari hari ke hari, dari tahun ke tahun, dari karier satu ke karier lainnya. Yang paling diharapkan adalah jika tidak ada penyesalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;



&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;Daftar Pustaka&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Clark, b. (1984). Growing Up Gifted. Boston, MA: Prentice Hall.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Harre, R. and Lamb, R. (eds). (1988). The encyclopedic Dictionary of Psychology. Cambridge, MA: MIT Press.12.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Sugiman, Sumardiyono, Marfuah (2016). Guru Pembelajar: Modul Matematika SMP – Karakteristik Siswa. Jakarta: Dtjen Guru Dan Tenaga Kependidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Sukmadinata, N. S. (2009). Pengembangan Kurikulum. Bandung: Remaja Rosdakarya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
Sunardi dan Imam Sujadi (2016). Sumber Belajar Penunjang PLPG 2016 (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan 2016).
&lt;/blockquote&gt;
&lt;script&gt;mbtTOC();&lt;/script&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEj2ZAZnsNVzhHCR80SI1WfJ4mtU9wiZtNCqZ8LUGk4jUJ3EtctNJovrfkxUIFojczHJmEJyiBmZPoBdozGO5MTkJAi8rtjjQBoP5i7ogTs_Z38-fUZWSMhE-0JciyStKAnQpXlyeYPR8ix6oXTrIZ_HR-S05dcnSvDqED5crQe51TB9wcvGBn_sQVqRrw=s72-c" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Pedagogik: Karakteristik Siswa (Sumber Belajar Penunjang)</title><link>http://jaririndu.blogspot.com/2022/03/pedagogik-karakteristik-siswa-sumber-belajar-penunjang.html</link><category>Makalah</category><category>Pendidikan</category><author>noreply@blogger.com (Admin JR)</author><pubDate>Sun, 20 Mar 2022 00:27:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7393750217607801487.post-1609430562435690182</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEhBmWuD1jEaBpev-CoWSI9cxrrZiaRF6GhxBBuf8Wl82MfaYlc6YRISoYK-quDYdmT5iaLM7se9-QCFf6fJPfvzEkfqbwrzHU22tnFAednGADoIVSkOib2uECJD5s8_t_8benP6nrEd47B3QqBeUHlvs2Aq7frDq54unIzP6DtTYfaWoMwiY5p1Ei07bw" style="display: block; padding: 1em 0px; text-align: center;"&gt;&lt;img alt="Pedagogik: Karakteristik Siswa (Sumber Belajar Penunjang)" border="0" data-original-height="366" data-original-width="650" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEhBmWuD1jEaBpev-CoWSI9cxrrZiaRF6GhxBBuf8Wl82MfaYlc6YRISoYK-quDYdmT5iaLM7se9-QCFf6fJPfvzEkfqbwrzHU22tnFAednGADoIVSkOib2uECJD5s8_t_8benP6nrEd47B3QqBeUHlvs2Aq7frDq54unIzP6DtTYfaWoMwiY5p1Ei07bw=s16000" title="Pedagogik: Karakteristik Siswa (Sumber Belajar Penunjang)" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Siswa sebagai subyek pembelajaran merupakan individu aktif dengan berbagai karakteristiknya, sehingga dalam proses pembelajaran terjadi interaksi timbal balik, baik antara guru dengan siswa maupun antara siswa dengan siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

&lt;div class="mbtTOC"&gt; 
&lt;button onclick="mbtToggle()"&gt;Daftar Isi &lt;svg style="height: 18px; width: 18px;" viewbox="0 0 18 18"&gt;
    &lt;path d="M19.5,3.09L15,7.59V4H13V11H20V9H16.41L20.91,4.5L19.5,3.09M4,13V15H7.59L3.09,19.5L4.5,20.91L9,16.41V20H11V13H4Z" fill="currentColor"&gt;
&lt;/path&gt;&lt;/svg&gt;&lt;/button&gt; 
&lt;ol id="mbtTOC"&gt;&lt;/ol&gt; 
&lt;/div&gt;

Oleh karena itu, salah satu dari kompetensi pedagogik yang harus dikuasai guru adalah memahami karakteristik anak didiknya, sehingga tujuan pembelajaran, materi yang disiapkan, dan metode yang dirancang untuk menyampaikannya benar-benar sesuai dengan karakteristik siswanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Perbedaan karakteristik anak salah satunya dapat dipengaruhi oleh perkembangannya. Psikologi perkembangan membahas perkembangan individu sejak masa konsepsi, yaitu masa pertemkuan spermatozoid dengan sel telur sampai dengan dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;

1. Metode dalam psikologi perkembangan&lt;/h4&gt;

Ada dua metode yang sering dipakai dalam meneliti &lt;a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Psikologi_perkembangan"&gt;perkembangan manusia&lt;/a&gt;, yaitu longitudinal dan &lt;i&gt;cross sectional&lt;/i&gt;. Dengan metode longitudinal, peneliti mengamati dan mengkaji perkembangan satu atau banyak orang yang sama usia dalam waktu yang lama. Misalnya penelitan Luis Terman (dalam Clark, 1984) yang mengikuti perkembangan sekelompok anak jenius dari masa pra-sekolah sampai masa dewasa waktu mereka sudah mencapai karier dan kehidupan yang mapan. Perbedaan karakteristik setiap saat itulah yangt diasumsikan sebagai tahap perkembangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Penelitian dengan metode longitudinal mempunyai kelebihan, yaitu kesimpulan yang diambil lebih meyakinkan, karena membandingkan karakteristik anak yangbvsama pada usia yang berbeda-beda, sehingga setiap perbedaan dapat diasumsiukan sebagai hasil perkembangan dan pertumbuhan. Tetapi, metode ini memerlukan waktu sangat lama untuk mendapat hasil yang sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Dengan metode &lt;i&gt;cross sectional&lt;/i&gt;, peneliti mengamati dan mengkaji banyak anak dengan berbagai usia dalam waktu yang sama. Misalnya, penelitian yang pernah dilakukan oleh Arnold Gessel (dalam Nana Saodih Sukmadinata, 2009) yang mempelajari ribuan anak dari berbagai tingkatan usia, mencatat ciri-ciri fisik dan mentalnya, pola-pola perkembangan dan memampuannya, serta perilaku mereka. Perbedaan karakteristik setiap kelompok itulah yang diasumsikan sebagai tahapan perkembangan. Dengan pendekatan cross-sectional, proses penelitian tidak memerlukan waktu lama, hasil segera dapat diketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Kelemahannya, peneliti menganalisis perbedaan karakteristik anak-anak yang berbeda, sehingga diperlukan kehati-hatian dalam menarik kesimpulan, bahwa perbedaan itu semata-mata karena perkembangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;

2. Pendekatan dalam psikologi perkembangan&lt;/h4&gt;

Manusia merupakan kesatuan antara jasmani dan rohani yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Manusia merupakan individu yang kompleks, terdiri dari banyak aspek, termasuk jasmani, &lt;a href="https://jaririndu.blogspot.com/search/label/Pendidikan" target="_blank"&gt;intelektual&lt;/a&gt;, emosi, moral, sosial, yang membentuk keunikan pada setiap orang. Kajian perkembangan manuasi dapat menggunakan pendekatan menyeluruh atau pendekatan khusus (Nana Sodih Sukmadinata, 2009). Menganalisis seluruh segi perkembangan disebut pendekatan menyeluruh/global. Segala segi perkembangan dideskripsikan dalam pendekatan ini, seperti perkembangan fisik, motorik, social, intelektual, moral, intelektual, emosi, religi, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Walaupun demikian, untuk mempermudah penelitian, pembahasan dapat dilakukan per aspek perkembangan. Misalnya, ada peneliti yang memfokuskan kajiannya pada perkambangan aspek fisik saja, aspek intelektual saja, aspek moral saja, aspek emosi saja, dsb. Inilah yang dikenal dengan pendekatan khusus (spesifik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;

3. Teori perkembangan&lt;/h4&gt;

Ada berbagai teori perkembangan. Berikut ini akan dibahas beberapa teori yang sering menjadi acuan dalam bidang pendidikan, yaitu teori yang termasuk teori menyeluruh/global (Rousseau, Stanley Hall, Havigurst), dan teori yang termasuk khusus/spesifik (Piaget, Kohlbergf, Erikson), seperti yang diuraikan dalam Nana Saodih Sukmadinata (2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Pembahasan lengkap tentang teori perkembangan yang dimaksud di atas bisa dibaca pada artikel &lt;a href="https://jaririndu.blogspot.com/2022/03/teori-perkembangan-dalam-bidang-pendidikan.html" target="_blank"&gt;&lt;b&gt;Teori Perkembangan yang Sering Menjadi Acuan dalam Bidang Pendidikan&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;

&lt;script&gt;mbtTOC();&lt;/script&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEhBmWuD1jEaBpev-CoWSI9cxrrZiaRF6GhxBBuf8Wl82MfaYlc6YRISoYK-quDYdmT5iaLM7se9-QCFf6fJPfvzEkfqbwrzHU22tnFAednGADoIVSkOib2uECJD5s8_t_8benP6nrEd47B3QqBeUHlvs2Aq7frDq54unIzP6DtTYfaWoMwiY5p1Ei07bw=s72-c" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Skripsi Pengaruh Standardisasi Biaya Produksi Terhadap Total Quality Control pada Pabrik Gula Takalar</title><link>http://jaririndu.blogspot.com/2022/03/skripsi-pengaruh-standardisasi-biaya-produksi.html</link><category>Skripsi</category><author>noreply@blogger.com (Admin JR)</author><pubDate>Mon, 14 Mar 2022 14:13:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7393750217607801487.post-6060472310911182767</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEjqRMK1OXGMrSWhT2zoFb3QZmRyP7SQyfGJFlYwPqCe4DjTVNWonjaZR8LkNJtxKMCbS6RZkLpNjrSeoQwTqxr-GY2-zOPZoOyyLJDacy6zy3v6lFICakrb_n2R4z17VprSH1vq2DdoKx_7uOEu7Vcm_kpuuFW-KQDm3DXyU38uM5ivKG6Moycrskoqzw" style="display: block; padding: 1em 0px; text-align: center;"&gt;&lt;img alt="" border="0" data-original-height="366" data-original-width="650" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEjqRMK1OXGMrSWhT2zoFb3QZmRyP7SQyfGJFlYwPqCe4DjTVNWonjaZR8LkNJtxKMCbS6RZkLpNjrSeoQwTqxr-GY2-zOPZoOyyLJDacy6zy3v6lFICakrb_n2R4z17VprSH1vq2DdoKx_7uOEu7Vcm_kpuuFW-KQDm3DXyU38uM5ivKG6Moycrskoqzw" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;

&lt;h3 style="text-align: left;"&gt;I. PENDAHULUAN&lt;/h3&gt;&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;A. Latar Belakang&lt;/h4&gt;
Upaya untuk menjaga kontinuitas perusahaan, baik multi nasional maupun perusahaan asing dapat berkembang dengan baik maka pemerintah mengambil langkah-langkah dalam hal pengembangan dan pengawasan terhadap kegiatan perusahaan. Pengaruh standardisasi yang mempunyai peranan adalah kemampuan manajemen yang dimiliki perusahaan seperti faktor lingkungan usaha yang sering sulit dikendalikan oleh perusahaan, struktur distribusi segi budaya sosial dan etika serta persaingan dalam memasarkan hasil produk.&lt;br /&gt;

&lt;div class="mbtTOC"&gt; 
&lt;button onclick="mbtToggle()"&gt;Daftar Isi &lt;svg style="height: 18px; width: 18px;" viewbox="0 0 18 18"&gt;
    &lt;path d="M19.5,3.09L15,7.59V4H13V11H20V9H16.41L20.91,4.5L19.5,3.09M4,13V15H7.59L3.09,19.5L4.5,20.91L9,16.41V20H11V13H4Z" fill="currentColor"&gt;
&lt;/path&gt;&lt;/svg&gt;&lt;/button&gt; 
&lt;ol id="mbtTOC"&gt;&lt;/ol&gt; 
&lt;/div&gt;

Salah satu yang perlu diperhatikan perusahaan untuk menjamin kelangsungan hidup perusahaan yaitu pengendalian kualitas produksi. Maju mundurnya suatu perusahaan, baik ditinjau dari penekanan biaya produksi dan daya saing serta penyesuaian dengan konsumen tergantung dan kualitas barang yang dihasilkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Biaya produksi perusahaan diperlukan satu tolak ukur sebagai bahan untuk mengevaluasi dan mengukur tingkat efesiensi dan efektifitas biaya produksi untuk membandingkan hasil yang dicapai dengan yang di harapkan (Carter,2009). Biaya standar akan memudahkan manajemen dalam mengambil keputusan, mengontrol kegiatan produksi dan melakukan tindakan perbaikan yang berkaitan dengan pengeluaran biaya produksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Biaya standar adalah biaya yang ditentukan di muka, yang merupakan jumlah biaya yang seharusnya dikeluarkan untuk membuat satu kesatuan produk atau untuk membiayai kegiatan tertentu,dibawah asumsi bahwa kondisi ekonomi, efisiensi dan faktor-faktor lain tertentu (Mulyadi, 2012:387). Biaya standar akan menghasilkan selisih biaya yang ditetapkan sebelumnya dengan biaya sesungguhnya. Cara yang paling tepat untuk mengetahui dan menghitung besarnya penyimpangan yang terjadi dalam biaya produksi adalah dengan menggunakan &lt;a href="https://www.slideshare.net/AmaBustam/analisis-varians-27874984"&gt;analisis varians&lt;/a&gt; ( Mulyadi,2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Pengendalian kualitas penting untuk dilakukan oleh perusahaan agar produk yang dihasilkan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan perusahaan maupun standar yg telah ditetapkan oleh badan lokal dan internasional yang mengolah tentang standardisasi mutu/kualitas, dan tentunya sesuai dengan apa yang diharapkan oleh konsumen. Pengendalian kualitas yang dilaksanakan dengan baik akan memberikan dampak terhadap kualitas produk yang dihasilkan oleh perusahaan. Standar quality yang di maksud adalah bahan baku, proses produksi, dan produk jadi ( M.N Nasution,2005). Oleh karenanya kegiatan pengendalian kualitas tersebut dapat dilakukan mulai daribahan baku, selama proses produksi berlangsung sampai pada produk akhir dan disesuaikan dengan standar yang di tetapkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Mempertahankan hasil produksi yang berkualitas dan bermutu, dengan mempunyai standardisasi biaya yang telah ditetapkan untuk mempertahankan total quality control. Hal ini untuk memperoleh pengakuan dari konsumen (langganan) telah ditentukan produk untuk mengkompensasikan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi barang dan jasa sesuai dengan bidang perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

PTP. XIV Pabrik Gula Takalar Kabupaten Takalar penting untuk  mempertahankan  kualitas  produksi (quality control) dengan menggunakan biaya standardisasi yang efisien dan efektif. Keadaan ini merupakan suatu hal yang wajar, karena perusahaan adalah organisasi yang usahanya untuk mencapai kemakmuran. Perusahaan harus berusaha agar tetap memenuhi fungsinya dalam menunjang perkembangan dan kesuksesan menghadapi persaingan dengan perusahaan yang sejenis. Mencapai hal tersebut perlu adanya pengendalian kualitas, sehigga tetap diterima oleh konsumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Sehubungan usaha tersebut, maka perhatian utama perusahaan pada umumnya dititik beratkan pada standardisasi biaya dalam proses produksi dalam hubungan dengan quality control hasil produksi yang dihasilkan, karena biaya-biaya  yang dikeluarkan relevan dengan hasil produksinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Biaya total ataupun biaya per unit harus diketahui untuk menentukan harga jual. Besarnya keuntungan atau kerugian, dapat juga diketahui, sebab tiap-tiap transaksi perusahaan selalu membandingkan biaya (cost) yang  disertai dengan pengawasan pada saat berproduksi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Seorang pengusaha adalah lebih mudah untuk menghitung harga pokok barang dari proses produksi, sebab perhitungan biaya bagi produsen menurut proses produksi sampai barang itu dipasarkan. Bagi produsen, harga pokok merupakan salah satu masalah yang penting dan cukup ruwet untuk dipecahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Berdasarkan uraian tersebut penulis memilih perusahaan PTP. XIV Pabrik Gula Takalar Kabupaten Takalar sebagai obyek penelitian dengan mengangkat judul "&lt;a href="https://jaririndu.blogspot.com/2022/03/skripsi-pengaruh-standardisasi-biaya-produksi.html" target="_blank"&gt;Pengaruh Standardisasi Biaya Produksi Terhadap &lt;i&gt;Total Quality Control&lt;/i&gt;&lt;/a&gt; Pada PTP. XIV Pabrik Gula Takalar Kabupaten Takalar”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;B. Rumusan Masalah &lt;/h4&gt;
Berdasarkan latar belakang, maka yang menjadi masalah pokok dalam penelitian ini adalah Apakah Standardisasi Biaya Produksi berpengaruh terhadap &lt;i&gt;Total Quality Control&lt;/i&gt; pada &lt;a href="https://www.google.com/search?tbm=lcl&amp;amp;sxsrf=APq-WBuXJ_OwYqnPgRi9_Gq0tus3MubOGw:1647314168570&amp;amp;q=Pabrik+Gula+Takalar&amp;amp;rflfq=1&amp;amp;num=20&amp;amp;stick=H4sIAAAAAAAAABVQu03EQBTUBSByEzlyCe__qYAQAhpYpNPpOHOBkRuiAuqiCsbZ7uzs_J4e52dWKlVqsQwzd7cIoLiwpIcoORVJuwI1KbXMjiLACb7Ok5pJmFJ2Z3WA0vOUlc2dqkakJtlU88ROGpUpSWHEIXZYcUe3BGTd3EhhOU_C6ewu8MnWcOjOk3WElx66JQgVwmCWWwuxaWizplNDNCSTEv_SYA1GytFVCP_SIaesVU4O1BEW18AKJkfzOBREQh167VzMMOODa-SaVI3EcHNGbPQKtjQmdyyGsylAC4azkQkGIEY9bJVwVZfmFK92J7N5KgIxRQqLIQHaAhRCaMrCY1AwRcfv6fR3ml-3cb8s67jel8_9Mpav8_287t_7dv15mN7Gx3a9LS_7Opb3cRvr2P4BnEFKPOUBAAA&amp;amp;ved=2ahUKEwjblue-k8f2AhWbT2wGHdggAMsQjHJ6BAgmEAU&amp;amp;rldimm=13083309247644555466"&gt;PT. Perkebunan Nusantara (persero)&lt;/a&gt; kabupaten Takalar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;C. Tujuan Penelitian  &lt;/h4&gt;
Untuk mengetahui pengaruh standardisasi biaya produksi  terhadap&lt;i&gt; Total Quality Control&lt;/i&gt; pada PT. Perkebunan Nusantara (persero) kabupaten Takalar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;D. Manfaat penelitian &lt;/h4&gt;&lt;i&gt;
a. Manfaat Teoritis&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Sebagai konstribusi pengembangan ilmu akuntansi biaya, khususnya yang terkait dengan pengarus standarisasi biaya produksi terhadap total quality control.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;
b. Manfaat Praktis&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Hasil penelitian ini di harapkan dapat berguna sebagai referensi dasar untuk penelitian berikutnya dalam bidang yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;
c. Kebijakan &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
Sebagai bahan masukan perusahaan untuk mengevaluasi kembali sistem akuntansi biaya yang ada terutama mengenai standardisasi biaya produksi terhadap total quality control.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;DOWNLOAD SKRIPSI &lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

&lt;script&gt;mbtTOC();&lt;/script&gt;
&lt;blockquote&gt;Untuk download versi lengkapnya bisa lewat link di bawah!&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

&lt;div class="downJR"&gt;
&lt;h3&gt;&lt;b&gt;Download via Google Drive&lt;/b&gt;&lt;/h3&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a class="download1" href="https://drive.google.com/file/d/1h8lYvDRA_VU0FYDbk8WP3DfIzCkfKpwL/view?usp=drive_link" target="_blank" title="Download via Google Drive"&gt;DOWNLOAD GD&lt;/a&gt;
&lt;h3&gt;&lt;b&gt;Download via Mediafire&lt;/b&gt;&lt;/h3&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a class="download2" href="" target="_blank" title="Download via Google Mediafire"&gt;DOWNLOAD MF&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/a/AVvXsEjqRMK1OXGMrSWhT2zoFb3QZmRyP7SQyfGJFlYwPqCe4DjTVNWonjaZR8LkNJtxKMCbS6RZkLpNjrSeoQwTqxr-GY2-zOPZoOyyLJDacy6zy3v6lFICakrb_n2R4z17VprSH1vq2DdoKx_7uOEu7Vcm_kpuuFW-KQDm3DXyU38uM5ivKG6Moycrskoqzw=s72-c" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Skripsi Perlindungan Korban Tindak Pidana Pencabulan Terhadap Anak Secara Berlanjut (Abstrak)</title><link>http://jaririndu.blogspot.com/2020/10/skripsi-perlindungan-korban-tindak-pidana-pencabulan.html</link><category>Skripsi</category><author>noreply@blogger.com (Admin JR)</author><pubDate>Thu, 8 Oct 2020 19:09:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7393750217607801487.post-1139386930401223929</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both;"&gt;&lt;img alt="Skripsi Perlindungan Korban Tindak Pidana Pencabulan Terhadap Anak Secara Berlanjut (Abstrak)" border="0" data-original-height="563" data-original-width="1000" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEis0KGAEPdjf7Xpc7IirTgHBlIJ05lNF_-KIK5CJ4_Rh2Z-43WCk1lrxB-IpuMgCD88lQrw-Hxisw38ls7f7y5cVnVmZRLF5UeHKEY0UIWpcVQBT765UCZ-Le42NCmTOjogNS3ppc8PrOmH/s16000/Perlindungan-Korban-Tindak-Pidana-Pencabulan-Terhadap-Anak-Secara-Berlanjut.jpg" title="Skripsi Perlindungan Korban Tindak Pidana Pencabulan Terhadap Anak Secara Berlanjut (Abstrak)" /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;ABSTRAK&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Nama : NURFADILLAH&lt;br /&gt;
NIM : 104 001 142 03&lt;br /&gt;
Fakultas/Jurusan: Syari’ah dan Hukum/Ilmu Hukum&lt;br /&gt;
Judul : Perlindungan Korban Tindak Pidana Pencabulan Terhadap Anak Secara Berlanjut (Studi kasus putusan Nomor: 61/Pid.sus/2015/PN.Sgm)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

	
Skiripsi ini berjudul perlindungan korban tindak pidana pencabulan terhadap anak secara berlanjut (studi putusan nomor: 61/Pid.sus/2015/2015/PN.Sgm), pokok masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana bentuk perlindungan terhadap korban tindak pidana yang dilakukan secara berlanjut atau lebih dari satu kali terhadap anak, karena tindak pidana pencabulan merupakan salah satu bentuk tindak pidana terhadap anak yang merupakan contoh kerentangan posisi anak, terutama terhadap kepentingan seksual laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Ketidakmampuan anak untuk melawan dan rasa takut yang dimiliki membuat anak rentang menerima perbuatan cabul dari laki-laki. Perlindungan yang diberikan untuk melindungi hak-hak anak merupakan salah satu hal yang menarik untuk diperhatikan, seperti pada perkara dengan nomor putusan  61/Pid.sus/2015/PN.Sgm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Tujuan penelitian untuk mengetahui bentuk perlindungan Hukum terhadap korban tindak pidana pencabulan terhadap anak secara berlanjut pada perkara putusan nomor 61/Pid.sus/2015/PN.Sgm; mengetahui faktor yang mendorong dan menghambat pemberian perlindungan hukum kepada korban tindak pidana pencabulan terhadap anak secara berlanjut pada perkara putusan nomor 61/pid.sus/2015/PN.Sgm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Penelitian ini menggunakan metode penelitian pendekatan Yuridis sosiologis dengan spesifikasi penelitian deskriftif. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Penelitian ini mengungkapkan bentuk perlindungan yang diberikan terhadap korban tindak pidana pencabulan terhadap anak secara berlanjut pada perkara putusan nomor 61/Pid.sus/2015/PN.Sgm adalah bentuk perlindungan secara langsung yang meliputi upaya rehabilitasi, mencakup pelayanan medis dan bantuan hukum serta adanya konseling, dan perlindungan tidak langsung yang diberikan kepada korban adalah hakim melaksanakan sidang secara tertutup dan mengisolir terdakwa ke dalam penjara selama Sembilan tahun melalui putusannya, faktor penghambat pemberian perlindungan antara lain peraturan perundang-undangan, sumber daya manusia, kesadaran korban kurangnya fasilitas dan faktor pendorong pemberian perlindungan antara lain peraturan perundang-undangan yang mendukung dan dukungan pemerintah daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Skripsi&amp;nbsp;&lt;a href="https://jaririndu.blogspot.com/2020/10/skripsi-perlindungan-korban-tindak-pidana-pencabulan.html" target="_blank"&gt;&lt;b&gt;Perlindungan Korban Tindak Pidana Pencabulan Terhadap Anak Secara Berlanjut&lt;/b&gt;&lt;/a&gt; dengan klik tombol download di bawah!

&lt;div class="downJR"&gt;
&lt;h3&gt;&lt;b&gt;Download via Google Drive&lt;/b&gt;&lt;/h3&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a class="download1" href="https://drive.google.com/file/d/1hpj-gFF7xQJqA07y1KL-XM3Nc77spke4/view?usp=sharing" title="Download via Google Drive" target="_blank"&gt;DOWNLOAD GD&lt;/a&gt;
&lt;h3&gt;&lt;b&gt;Download via Mediafire&lt;/b&gt;&lt;/h3&gt;&lt;br /&gt;
&lt;a class="download2" href="http://www.mediafire.com/file/a1lllo06k91urub/Skripsi_Perlindungan_Korban_Tindak_Pidana_Pencabulan_Terhadap_Anak_Secara_Berlanjut.pdf/file" title="Download via Google Mediafire" target="_blank"&gt;DOWNLOAD MF&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEis0KGAEPdjf7Xpc7IirTgHBlIJ05lNF_-KIK5CJ4_Rh2Z-43WCk1lrxB-IpuMgCD88lQrw-Hxisw38ls7f7y5cVnVmZRLF5UeHKEY0UIWpcVQBT765UCZ-Le42NCmTOjogNS3ppc8PrOmH/s72-c/Perlindungan-Korban-Tindak-Pidana-Pencabulan-Terhadap-Anak-Secara-Berlanjut.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Semiotika Komunikasi Alex Sobur: Ideologi dan Mitologi</title><link>http://jaririndu.blogspot.com/2020/08/semiotika-komunikasi-alex-sobur-ideologi-dan-mitologi.html</link><category>Pendidikan</category><author>noreply@blogger.com (Admin JR)</author><pubDate>Sun, 9 Aug 2020 17:16:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7393750217607801487.post-7786119308874112169</guid><description>&lt;i&gt;&lt;blockquote style="text-align: center;"&gt;Ideologi dan mitologi di dalam hidup kita sama dengan kode-kode dalam perbuatan semiotis dan komunikasi kita. Tanpa itu, komunikasi tidak dapat berlangsung (Aart van Zoest, 1980).&lt;/blockquote&gt;
  
&lt;div class="separator" style="clear: both;"&gt;&lt;img alt="Semiotika Komunikasi Alex Sobur: Ideologi dan Mitologi" border="0" data-original-height="563" data-original-width="1000" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgboAvWJoSG-83OMO0UJotEADbARqDsdvJnoXf56n5XpqIf9FYqFmzsKFUBIU683by7fIHayB5LoBFYdfNi0XJ0l0uxD_AFig42R8VcD_I6ykERcSwA4u5ofnnZBVBpfXxFu8k1xX0AKaLQ/d/Semiotika-Komunikasi-Alex-Sobur-Ideologi-dan-Mitologi.jpg" title="Semiotika Komunikasi Alex Sobur: Ideologi dan Mitologi" /&gt;&lt;/div&gt;
  
&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="https://jaririndu.blogspot.com/2020/08/semiotika-komunikasi-alex-sobur-ideologi-dan-mitologi.html"&gt;Istilah &lt;/a&gt;&lt;i&gt;ideologi &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;mitologi &lt;/i&gt;sering disebut dalam analisis-analisis ekonomi-politik. Tidak cuma dalam argumentas akademis yang dibuat oleh para teoretikus kritis, namun juga dalam laporan-laporan jurnalistik. Pemberitaan pers umpamanya, bisa menciptakan citra yang mengandung unsur-unsur mitos. Namun ada &lt;i&gt;gap &lt;/i&gt;antara berita yang tak lengkap ata ulasan yang sangat spekulatif dengan realita. Ulasan penulis penulis asing ikut menciptakan unsur-unsur mitos itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

&lt;div class="mbtTOC"&gt; 
&lt;button onclick="mbtToggle()"&gt;Daftar Isi &lt;svg style="height: 18px; width: 18px;" viewbox="0 0 18 18"&gt;
    &lt;path d="M19.5,3.09L15,7.59V4H13V11H20V9H16.41L20.91,4.5L19.5,3.09M4,13V15H7.59L3.09,19.5L4.5,20.91L9,16.41V20H11V13H4Z" fill="currentColor"&gt;
&lt;/path&gt;&lt;/svg&gt;&lt;/button&gt; 
&lt;ol id="mbtTOC"&gt;&lt;/ol&gt; 
&lt;/div&gt;

Istilah mitos juga kerap dipakai dalam pemikiran ekonom politik, cuma saja dalam penggunaan yang lebih proporsional. Analisis ekonomi-politik sering merupakan kritik terhadap pemikiran ekonomi konvensional. Keduanya menggunakan paradigma yang berbeda. Karena itu penglihatan keduanya mengenai hal yang sama menghasilkan kesimpulan yang boleh jadi berbeda, bahkan bertentangan. Seringkali hasil pemikiran ekonomi konvensional dikatakan pengkritik ekonomi-politik sebagai tidak berdasarkan fakta empiris, bias kepada kepentingan kelas atau menyesatkan; misalnya, tentang soal pangan dan kelaparan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Sepuluh pandangan yang "tak benar” tentang masalah pangan dunia itu, misalnya, disebut oleh Francess Moore Lappe &amp;amp; Joseph Collins sebagai mitos-mitos dalam bukunya &lt;i&gt;World Hunger: 10 Myth&lt;/i&gt; (1979, 1982, dikutip Rahardjo, 1996:192). Salah satu gejala yang disebut mitos itu adalah tentang pendapat dominan bahwa kelaparan yang terjadi di berbagai tempat di dunia adalah karena kelangkaan (scarcity). Padahal menurut data yang mereka peroleh, produksi pangan dunia itu sebenarnya lebih dari cukup untuk kebutuhan pangan seluruh umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Boleh jadi, mitos adalah kebutuhan manusia. Itulah sebabnya mitos dieksploitasi sebagai media komunikasi, sebagaimana dikatakan Barthes dalam bukunya &lt;i&gt;Mythologies &lt;/i&gt;(1993). Dalam buku tersebut ia mengatakan bahwa sebagai bentuk simbol dalam komunikasi, mitos bukan hanya diciptakan dalam bentuk diskursus tertulis, melainkan sebagai produk sinema, fotografi, advertensi, olah raga dan televisi. Gejala ini memang kita saksikan sehari-hari, terutama dalam advertensi lewat televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Dikaitkan dengan ideologi maka, seperti dikatakan van Zoest (1980), “ideologi dan mitologi di dalam hidup kita sama dengan kode-kode dalam perbuatan semiotis dan komunikasi kita.” Tanpa itu, menurutnya, komunikasi tidak dapat berlangsung. Setiap penggunaan teks, setiap penanganan bahasa, setiap semiosis (penggunaan tanda) pada umumnya hanya timbul berkat suatu ideologi yang secara sadar atau tidak sadar dikenal oleh pemakai tanda. Sebuah teks tak pernah terlepas dari ideologi dan memiliki kemampuan untuk memanipulasi pembaca ke arah suatu ideologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;1. Peranan ideologi di dalam semiosis&lt;/h4&gt;

Peranan ideologi di dalam semiosis acapkali secara praktis jauh menyelinap, sehingga tidak begitu kentara. Van Zoest (1996b:104) mencontohkan, bagaimana kita dapat mengetahui apakah yang dikatakan sesuatu yang menyenangkan atau sesuatu yang tidak menyenangkan, bilamana orang mengatakan tentang seseorang “dia sangat sopan”. Di Indonesia, kata van Zoest, ucapan ini mungkin sekali menyenangkan. Di Nederland, hal ini sama sekali tidak pasti. Konotasi kata &lt;i&gt;sopan &lt;/i&gt;berhubungan dengan ideologi orang yang berbicara, dan juga berhubungan dengan ideologi orang yang diajak berbicara. Tidak mengetahui konteks dapat menghentikan komunikasi, tetapi tidak mengetahui masalah ideologi, menurut van Zoest, jaun lebih membahayakan: orang tanpa menyadarinya dapat keliru dalam menginterpretasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Balibar dan Macherey (1978), seperti dikutip van Zoest, berpendapat bahwa terutama sastralah yang melakukan manipulasi, meski van Zoest sendiri meragukan apakah benar bahwa “teks sastra sangat ideal untuk mereproduksi ideologi umum karena teks sastra dalam kaitan dengan ideologi-ideologinya yang khas mengenai penulis dan pembaca sebagai subjek yang bebas, tampaknya terlepas dari segala keharusan” (van Zoest, 1980:70). Bagi van Zoest, manipulasi cerita, atau bualan itu, cuma sekadar gaya. Dan itu lebih menyangkut kepada mitos individual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Memang dalam sastra, ideologi acapkali memunculkan kejutan, baru dan tak terduga, meski entah dengan cara bagaimana harus ada kontak antara ideologi dan pembaca. Yang jelas, kita bisa menemukan ideologi dalam teks dengan jalan meneliti pelbagai konotasi yang ada di dalamnya. Salah satu cara adalah mencari mitologi dalam teks-teks semacam itu. Ideologi adalah sesuatu yang abstrak, sementara mitologi (kesatuan mitos-mitos yang koheren) menyajikan inkarnasi makna-makna yang mempunyai wadah dalam ideologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

“Ideologi harus dapat diceritakan,” kata van Zoest. Cerita itulah mitos. Setiap bangsa mempunyai cerita-cerita kunonya dan cerita-cerita turun temurun yang disebut &lt;i&gt;mitos &lt;/i&gt;mengenai bangsanya. Mitos adalah uraian naratif atau penuturan tentang sesuatu yang suci (&lt;i&gt;sacred&lt;/i&gt;), yaitu kejadian-kejadian yang luar biasa, di luar dan mengatasi pengalaman manusia sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Penuturan itu umumnya diwujudkan dalam dongeng-dongeng, atau legenda tentang dunia supra-natural. Karena itu maka studi tentang mitos biasanya digali dari cerita-cerita rakyat (&lt;i&gt;folklore&lt;/i&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;2. Ideologi dan Mitos Sulit Dipisahkan&lt;/h4&gt;

Di negeri kita, mitos terkadang lebih efektif daripada ideologi pada saat-saat kritis seperti tahun 1965, sebab mitos bertumpu pada kepercayaan, sedangkan ideologi pada intelektualitas. Tetapi mitos akan lumpuh pada waktu normal. Jika merujuk pada sejarah, mitos lebih subjektif, ideologi lebih objektif (Kuntowijoyo, 1997:80).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Meski demikian, antara ideologi dan mitos tampaknya dua hal yang sulit dipisahkan. Karena itulah mengapa ideologi Amerika sering diceritakan dalam mitos-mitos. Lewat film-film, misalnya, kekerasan Amerika disahkan. Tidak hanya pada era film-film koboi tempo dulu yang kerap diperankan aktor John Wayne, namun juga sampai aktor-aktor “keras” masa kini: Stallone dan Swazzenegger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Dalam perspektif semiotika, mitos dapat dikaji atau ditemukan jejaknya dengan mencari indikasi fiksional dalam teks, yang secara keseluruhan disajikan sebagai nonfiksional (melalui indikasi nonfiksional dengan sifat referensial: nama-nama orang yang kita kenal sebagai nonfiktif).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Kelompok indikasi nonfiksional yang paling penting mungkin ialah indikasi peristiwaan. Peristiwa yang diceritakan boleh jadi sedemikian klise atau begitu tak bisa dipercaya sehingga dunia yang digambarkan, yang pada dasarnya nyata, memperlihatkan tanda-tanda dunia fiktif seperti yang kita kenal dalam dongeng dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Mitos, yang bisa dibaca pada “tuturan-tuturan” anonim seperti iklan, pers, dan lain-lain, dikendalikan secara sosial dan merupakan suatu "cerminan" yang terbalik: mitos membalik sesuatu yang kultural atau historis menjadi alamiah. Lewat sebuah kajian semiotika, inversi pada mitos ini dapat “dikembalikan” dengan cara memilah amanatnya ke dalam dua buah sistem signifikasi: pertama, sistem konotasi yang petanda-petandanya bersifat ideologis dan, kedua, sistem denotasi yang berfungsi untuk menaturalisasi proposisi dengan cara memberikan sebuah jaminan berupa sesuatu yang paling “inosens”, yaitu bahasa (Budiman, 1999:76).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Lantas, apa sebetulnya yang disebut ideologi? Apa yang terkandung atau akibat dalam penggunaannya? Apa pula yang dimaksud mitos atau mitologi? Untuk mendapatkan gambaran yang lebih luas, uraian berikut ini mencoba menjelaskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;3. Pengertian dan Teori-Teori Ideologi&lt;/h4&gt;

Ternyata, kata ideologi pun ditentukan oleh sejarah. Napoleon dalam kemarahannya terhadap lawan-lawannya menyebut mereka “kaum ideologis”, yaitu dengan konotasi bahwa mereka tidak mau tahu tentang realita-bahwa Napoleon telah menjadi Kaisar Prancis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Memang, kata ideologi itu asal-usulnya hanyalah berarti teori gagasan-gagasan. Kaum ideolog, seperti disebut-sebut Napoleon, adalah para anggota kelompok filosofis di Prancis yang dalam tradisi Condillac menolak metafisika dan mencari dasar ilmu-ilmu budaya pada dasar-dasar antropologis dan psikologis (Mannheim, 1991:74).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Konsep modern tentang ideologi lahir ketika Napoleon yang mendapati bahwa kelompok filsuf ini menentang ambisi-ambisi imperialnya mencemooh dan mencap mereka sebagai ideolog ideolog. Dari situ kata ideologi itu mengalami kemerosotan makna vang seperti kata “&lt;i&gt;doctrinaire&lt;/i&gt;”, yang menurut Mannheim (1991:75), kata itu bertahan sampai hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Pada akhir abad ke-18, Destut de Tracy memunculkan kata &lt;i&gt;ideologi &lt;/i&gt;sebagai istilah yang menunjuk pada “ilmu tentang gagasan” (Kaplan, 2000:154). Secara historis memang istilah ideologi pertama-tama dikemukakan oleh de Tracy, seorang Prancis yang nunya cita-cita membangun suatu sistem pengetahuan, yang ta sebut sebagai “&lt;i&gt;science of ideas&lt;/i&gt;” (Pranarka, 1987:415). De Tracy sendiri pernah menduduki jabatan penting sebagai orang yang dipercaya untuk membangun sistem pendidikan di Prancis. Oleh Napoleon orang-orang seperti de Tracy ini disebut sebagai orang-orang yang bermimpi. Maka itu bagi Napoleon, ideologi bukanlah hal yang besar dan terhormat, melainkan merupakan hal yang remeh dan tidak terpakai (walaupun Napoleon sendiri adalah orang yang mempunyai temperamen yang amat ideologikal).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Di abad ke-19, kata &lt;i&gt;ideologi &lt;/i&gt;terutama dipakai dalam arti aliran yang tidak mau mengetahui kenyataan, di mana kenyataan adalah apa yang dianggap benar karena terdapat dalam praktik politik. Dengan adanya kenyataan praktik politik ini, maka dianggap inilah kenyataan dan orang tidak perlu memikirkan persoalannya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Mulai saat itulah kata ideologi meninggalkan bidang ilmiah dan mendapat arti politik dan terutama dipengaruhi penggunaannya oleh Marxisme. Marxisme kemudian menggunakan istilah ideologi sebagai senjata melawan &lt;i&gt;middle class&lt;/i&gt; dengan pemikiran mereka. Pemikiran &lt;i&gt;middle class&lt;/i&gt; disebut teori saja, sementara teori Marxisme disebutnya “satu-satunya ideologi”. Sebaliknya, jika kata ideologi dipakai oleh Marxisme terhadap idea golongan lain, maka ideologi mendapat arti khas, yakni “&lt;i&gt;teori-teori yang menyembunyikan maksud tertentu&lt;/i&gt;” (Susanto, 1985:225).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;4. Ideologi Menurut Karl Marx&lt;/h4&gt;&lt;a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Karl_Marx" target="_blank"&gt;Karl Marx&lt;/a&gt;, ketika itu, banyak berbicara tentang ideologi. Bahkan salah satu bukunya ia beri judul &lt;i&gt;&lt;b&gt;The German Ideology&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;. Ideologi menjadi vokabuler yang penting di dalam pemikiran politik maupun ekonomi Karl Marx. Bagi Marx, ideologi adalah suatu bagian dari apa yang disebutnya sebagai suprastruktur. Ideologi adalah sebuah wawasan yang dihasilkan oleh kekuatan pada bangunan bawah, yaitu kekuatan yang memiliki faktor-faktor produksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Maka itu ideologi bukanlah wawasan yang sifatnya empirikal, diangkat dari kenyataan-kenyataan. Ideologi adalah sebuah rekayasa mental (Pranarka, 1987:415). Ideologi itu terjadi disebabkan karena kekuatan yang membentuk ideologi itu memerlukannya untuk dapat mempertahankan posisi dan kekuatannya. Makanya ideologi selalu bersifat fungsional. Ideologi tidak berbicara mengenai kebenaran, tidak berbicara mengenai kenyataan empirik, akan tetapi ideologi berbicara mengenai kemanfaatan, kepentingan, kemauan, dan pamrih. Itulah sebabnya maka pada hakikatnya suatu ideologi selalu dipandang sebagai sesuatu yang tidak ilmiah, sesuatu yang tertutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Menurut Marx, semua sistem ekonomi sampai sekaran oleh adanya kelas-kelas bawah dan kelas-kelas atas. Struktur kekuasaan dalam bidang ekonomi itu tercermin juga dalam bidang politik. Salah satu pokok teori Karl Marx adalah bahwa negara secara hakiki merupakan negara kelas, artinya negara dikuasai secara langsung atau tidak langsung oleh kelas-kelas yang menguasai bidang ekonomi (Magnis-Suseno, 2001:120). Karena itu, menurut Marx, negara bukanlah lembaga di atas masyarakat tanpa pamrih, melainkan merupakan alat dalam tangan kelas-kelas atas untuk mengamankan kekuasaan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Jadi, negara pertamatama tidak bertindak demi kepentingan umum, melainkan demi kepentingan kelas-kelas atas. Mengajukan sesuatu sebagai kepentingan umum sebenarnya merupakan kepentingan egois pihak yang berpamrih itulah inti dari apa yang oleh Marx disebut sebagai ideologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

“Ideologi adalah ajaran yang menjelaskan suatu keadaan, terutama struktur kekuasaan, sedemikian rupa, sehingga orang menganggapnya sah. Ideologi melayani kepentingan kelas berkuasa karena memberikan legitimasi kepada suatu keadaan yang sebenarnya tidak memiliki legitimasi” (Magnis-Suseno, 2001:122).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Kritik ideologi banyak disebut-sebut para ahli-Karl Mannheim, misalnya sebagai salah satu sumbangan terpenting teori Marx terhadap analisis struktur kekuasaan dalam masyarakat. Karl Mannheim (Sunarto, 2000:33) setuju pada kesimpulan Marx. Bahkan, dia menyumbangkan sebuah analisis ideologi dari perspektif sejarah. Mannheim membandingkan ideologi itu dari satu era ke era yang lain, dengan menyatakan tidak ada ideologi yang dapat dipahami sepenuhnya kecuali hubungan kesejaharahannya jelas mengenai gagasan-gagasan dari era sebelumnya dan meneliti pengaruh dari ideologi sebelumnya itu pada era terkini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Istilah ideologi memang seringkali hanya diartikan sebaga sebuah sistem ide seperti ketika orang berbicara tentang ideolog liberal, konservatif, atau sosialis. David Kaplan, misalnya, menggunakan istilah ideologi untuk mengacu kepada kawasan idea sional dalam suatu budaya (Kaplan, 2000:154). Arthur Schlesinger, Jr. melihat, pembedaan antara gagasan (ideas) dengan ideologi adalah hal yang bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;blockquote&gt;

Menurutnya (1960:47): Gagasan atau ide ialah kawasan atau pemahaman tertentu, sedangkan ideologi merupakan kristalisasi gagasan menjadi sistem yang bersifat universal. Gagasan relatif, sedangkan ideologi absolut. Ada orang yang menerima begitu saja pengalamannya yang campur-aduk, tetapi ada pula yang membutuhkan gambaran tentang sosok rasionalitas-akhir semesta ini. Pihak yang disebut belakangan itu mendambakan pola tunggal yang mendasar, yang serba-cakup dan serba menjelaskan serta dapat dipahami manusia dan memberikan serangkaian kaidah yang memadai untuk semua kemungkinan (tak terduga) dalam politik dan kehidupan.&lt;/blockquote&gt;&lt;/i&gt;

Bagi Gramsci, ideologi lebih dari sekadar sistem ide. Ia membedakan antara sistem yang berubah-ubah (&lt;i&gt;arbitrary systems&lt;/i&gt;) yang dikemukakan oleh intelektual dan filsuf tertentu, dan ideologi organik yang bersifat historis (&lt;i&gt;historically organic ideologies&lt;/i&gt;), yaitu ideologi yang diperlukan dalam kondisi sosial tertentu: “Sejauh ideologi itu secara historis diperlukan, ia mempunyai keabsahan yang bersifat psikologis: ideologi ‘mengatur’ manusia, dan memberikan tempat bagi manusia untuk bergerak, mendapatkan kesadaran akan posisi mereka, perjuangan mereka, dan sebagainya” (Simon, 2000:83). Ideologi bukanlah fantasi perorangan, namun terjelma dalam cara hidup kolektif masyarakat. Di sini Gramsci merujuk pada pendapat Marx tentang ‘solidaritas keyakinan masyarakat’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Sebenarnya, apa pun dan dari siapa pun yang mencoba merumuskan pengertian ideologi, kita secara singkat dapat mengklasifikasikannya ke dalam tiga pengertian atau kecenderungan: yang &lt;i&gt;positif&lt;/i&gt;, yang &lt;i&gt;negatif&lt;/i&gt;, dan yang &lt;i&gt;netral&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;5. Positif dan Negatif Ideologi Dikemukakan Jorge Larrain&lt;/h4&gt;

Pengertian ideologi secara positif dan negatif dikemukakan Jorge Larrain (dalam Sunarto, 2000:31). Secara positif, ideologi dipersepsi sebagai suatu pandangan dunia (&lt;i&gt;worldview&lt;/i&gt;) yang menyatakan nilai-nilai kelompok sosial tertentu untuk membela dan memajukan kepentingan-kepentingan mereka. Secara negatif, ideologi dilihat sebagai suatu kesadaran palsu, yaitu suatu kebutuhan untuk melakukan penipuan dengan cara memutarbalikkan pemahaman orang mengenai realitas sosial. Pengertian ideologi yang demikian juga tampak dari pendapat Franz MagnisSuseno yang menyatakan “Ideologi sebagai keseluruhan sistem berpikir, nilai-nilai, dan sikap-sikap dasar rohani sebuah gerakan, kelompok sosial, atau kebudayaan” (Magnis-Suseno, 1992:230).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Dalam pengertian netral, ideologi dipersepsi David Kaplan dalam penggunaannya tentang nilai, norma, falsafah, dan kepercayaan religius, sentimen, kaidah etis, pengetahuan atau wawasan tentang dunia, etos, dan semacamnya. “Kami menggunakannya dalam pengertian netral dan umum seperti dimaksudkan oleh penemunya, yakni de Tracy,” kata Kaplan (2000:154).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Bagi kebanyakan orang, ideologi mewakili suatu kecenderungan umum untuk menukarkan yang benar dengan apa yang tidak baik bagi kepentingan sendiri. Sekalipun anggapan yang sangat luas tersebar ini tidak harus berarti bahwa ideologi adalah suatu konsepsi palsu mengenai kebenaran, namun anggapan itu mengakui bahwa hanya ada satu ideologi saja yang dapat dikatakan benar; dan ada tanda-tanda bahwa kita dapat menemukan ideologi mana dikatakan Leonard Binder (1966:210), dapat mengajukan suatu pandangan lain yang juga telah tersebar luas bahwa selalu ada dua interpretasi atas setiap cerita. Teori yang kedua ini mengemukakan bahwa mungkin saja ada kebenaran dalam setiap dua macam (atau lebih?) perspektif yang berbeda tentang suatu keadaan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Di mata Binder, anggapan-anggapan mengenai ideologi ini menjadi lebih rumit lagi dengan adanya persoalan yang ketiga, yang dapat dirumuskan dalam suatu ucapan yang sering disebut “&lt;i&gt;things are not what they seem&lt;/i&gt;,” apa yang diketahui itu belum tentu sesuai dengan kebenaran (Binder, 1966:210). Persoalan yang ketiga ini, menurut Binder, menyangkut hubungan yang tidak begitu tegas antara dunia pikiran kita dan apa yang ada dalam dunia kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Teori mengenai ideologi terutama mempermasalahkan tiga soal ini (Binder, 1966:21).&amp;nbsp;&lt;div&gt;&lt;ol style="text-align: left;"&gt;&lt;li&gt;“&lt;i&gt;whether or how self or group interest distorts three understanding&lt;/i&gt;” (apakah benar dan bagaimanakah lepentingan sendiri dan kepentingan kelompok mengacaukan kemampuan untuk memahami sesuatu);&lt;/li&gt;&lt;li&gt;“&lt;i&gt;whether the only validity any ideological view can have is relative to circumstances&lt;/i&gt;” (apakah suatu ideologi itu diterima hanya jika sesuai dengan kenyataan); dan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;“&lt;i&gt;whether empirical observation gives us any test of the validity of an ideology&lt;/i&gt;” (apakah observasi empiris dapat memberi kita suatu batu ujian untuk mengetahui validitas suatu ideologi).&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/div&gt;

Batas-batas yang inheren dalam kemampuan observasi empass untuk menemukan validitas ideologi, menurut Binder, tidak dengan sendirinya membenarkan pendirian relativis kecuali mempersukar bahkan memustahilkan pembuktian pandangan mana yang benar. “Adalah merupakan sifat manusia, saya kira, untuk selalu berada dalam keadaan ragu-ragu dan berperasaan jangan-jangan lawannya berada pada pihak yang benar,” kata Binder.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Sebagai implikasi dari keadaan yang rumit ini, di mana relativisme ideologis dipertahankan, baik sebagai asumsi yang valid ataupun yang hanya praktis, kita, ujar Binder, dapat bertanya apakah perspektif-perspektif atau ideologi-ideologi berhubungan dengan sifat-sifat yang tidak berubah dan yang tetap dari setiap kelompok ataukah hal-hal ini berhubungan dengan tingkat-tingkat perkembangan yang universal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Apakah tanggapan seseorang mengenai realitas sebenarnya bergantung pada kedudukan sosialnya, ataukah kemampuan seseorang untuk mencapai kemajuan dalam dunia ini bergantung pada pandangannya mengenai sifat dari realitas? Apakah ideologiideologi itu berdasarkan pengalaman-pengalaman dan kenyataan sejarah yang unik yang sedemikian rupa sehingga sangat besar perbedaan-perbedaannya; atau apakah ideologi-ideologi itu berdasarkan tingkat rasionalitas dari tanggapan terhadap dunia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;6. Perbedaan Pendapat Para Ahli Mengenai Ideologi dan Filsafat&lt;/h4&gt;

Dalam hal ini, para ahli mengenai ideologi dan filsafat sangat berbeda pendapat (Binder, 1966:211). Ada yang berat pada pihak yang satu dan ada yang berat pada pihak yang lain, dan ada pula yang di tengah-tengah. Binder dalam hal ini melihatnya sebagai suatu dikotomi yang sederhana. la merumuskan dikotomi ini sebagai “romantik-nasionalis” dan “rasional-evolusionis”. Menurut Binder, kaum rasional-evolusionis telah banyak berjasa dalam memperkaya pengertian kita mengenai ide perkembangan. Biasanya, kata Binder, rumusan ini mengandung tiga tingkat perkembangan ontologis yang harus dilalui oleh setiap bangsa, sekalipun ada ahli-ahli yang mengemukakan dua tingkat saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Ketiga tingkat yang dimaksud Binder itu adalah animisme, spekulasi teologi dan metafisik, serta rasionalitas ilmiah-suatu trias yang mengingatkan kita pada penggunaan yang tidak jelas dan tidak tegas bentuknya dari kata-kata “tradisi” dan “kemodernan". Implikasi dari doktrin yang evolusioner ini adalah, tentunya, bidang ideologi setiap negara harus melalui suatu proses perubahan ide-ide dan nilai-nilai. Rupanya, tandas Binder, proses ini bisa dipercepat dengan menekankan elemen-elemen pikiran-pikiran rasional-ilmiah yang dimiliki secara universal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Sementara itu, dalam ilmu-ilmu sosial dikenal dua pengertian mengenai ideologi, yaitu ideologi secara &lt;i&gt;fungsional &lt;/i&gt;dan secara struktural (Surbakti, 1992:32). Ideologi secara fungsional diartikan seperangkat gagasan tentang kebaikan bersama atau tentang masyarakat dan negara yang dianggap paling baik, sedangkan ideologi secara &lt;i&gt;struktural &lt;/i&gt;diartikan sebagai sistem kebenaran, seperti gagasan dan formula politik atas setiap kebijakan dan tindakan yang diambil oleh penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Sekarang ini tampaknya banyak bermunculan interpretasi baru yang diberikan terhadap nilai-nilai dasar ideologi (Alfian, 1995:90). Ini adalah sesuatu yang wajar mengingat kenyataan bahwa masyarakat mengalami perubahan-perubahan. Mereka beranjak dari suatu realita ke realita yang lain dan baru. Proses perubahan atau perpindahan itu barangkali pada awalnya tidak terasa dan terlihat, namun pada jarak waktu tertentu ia muncul sebagai suatu kenyataan yang amat kentara dan tak mungkin ditolak lagi. Misalnya, masyarakat yang semulanya agraris kemudian mengalami proses industrialisasi, maka pada tingkat tertentu dari proses itu mereka mungkin akan menyadari dan melihat terjadinya perubahan yang mencolok dalam diri mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;u&gt;


Sumber:&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;
Buku SEMIOTIKA KOMUNIKASI&lt;br /&gt;
Hal: 207-216&lt;br /&gt;
Penulis: Drs. Alex Sobur, M. Si.&lt;br /&gt;
Tahun Terbit: 2003&lt;br /&gt;
Penerbit: Rosda&lt;/blockquote&gt;

&lt;script&gt;mbtTOC();&lt;/script&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgboAvWJoSG-83OMO0UJotEADbARqDsdvJnoXf56n5XpqIf9FYqFmzsKFUBIU683by7fIHayB5LoBFYdfNi0XJ0l0uxD_AFig42R8VcD_I6ykERcSwA4u5ofnnZBVBpfXxFu8k1xX0AKaLQ/s72-c-d/Semiotika-Komunikasi-Alex-Sobur-Ideologi-dan-Mitologi.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Paulo Freire dan Wacana Kekuasaan dalam Politik Pendidikan</title><link>http://jaririndu.blogspot.com/2020/06/paulo-freire-dan-wacana-kekuasaan-dalam-politik-pendidikan.html</link><category>Makalah</category><category>Pendidikan</category><author>noreply@blogger.com (Admin JR)</author><pubDate>Fri, 5 Jun 2020 10:00:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7393750217607801487.post-1858121681152829066</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img alt="Paulo Freire dan Wacana Kekuasaan dalam Politik Pendidikan" border="0" data-original-height="366" data-original-width="650" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEimjy9sBWrq2nBHx3zd69FOVIa9I9Ux34JJWSdGIRI2f9hv9DvOsfuOp6tFgNMEuRSdsSMQ1Y56Xy0BYfz_VwqQ6wnegQ8QSlfqiL1mGlsPndLI7UulD-cgrQSEcinfxg98VlQiKPeiUgu1/d/Paulo-Freire-dan-Wacana-Kekuasaan-dalam-Politik-Pendidikan.jpg" title="Paulo Freire dan Wacana Kekuasaan dalam Politik Pendidikan" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Freire telah membuat salah satu dari banyak konsep kekuasaan yang paling radikal dalam teori sosial kontemporer miliknya. Kekuasaan dipandang sebagai kekuatan yang negatif dan juga positif, sifatnya dialektis tetapi mode of operation-nya selalu represif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

&lt;div class="mbtTOC"&gt; 
&lt;button onclick="mbtToggle()"&gt;Daftar Isi &lt;svg style="height: 18px; width: 18px;" viewbox="0 0 18 18"&gt;
    &lt;path d="M19.5,3.09L15,7.59V4H13V11H20V9H16.41L20.91,4.5L19.5,3.09M4,13V15H7.59L3.09,19.5L4.5,20.91L9,16.41V20H11V13H4Z" fill="currentColor"&gt;
&lt;/path&gt;&lt;/svg&gt;&lt;/button&gt; 
&lt;ol id="mbtTOC"&gt;&lt;/ol&gt; 
&lt;/div&gt;

Menurut Freire, kekuasaan bekerja pada dan melalui masyarakat. Di satu sisi, ini berarti bahwa dominasi tidak pernah sepenuhnya mutlak, yang dalam hal ini kekuasaan bersifat eksklusif dan sebagai kekuatan negatif. Di sisi yang lain, kekuasaan merupakan daya dorong dari semua perilaku manusia di mana masyarakat mempertahankan hidupnya, berjuang dan berusaha mewujudkan cita-cita kehidupannya yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Secara umum teori Freire tentang kekuasaan dan gambarannya mengenai sifatnya yang dialektis menunjukkan bahwa fungsi kekuasaan ini sangat penting dan merasuk ke berbagai segi kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Dalam hal ini, kekuasaan tidak dipahami hanya dalam wilayah publik dan pribadi di mana pemerintah, kelas-kelas yang dominan dan kelompok-kelompok lainnya memainkan peran. Kekuasaan itu ada di tangan siapa saja dan menemukan bentuknya dalam ruang publik yang saling beroposisi yang secara tradisional telah kehilangan kekuasaannya dan bentuk bentuk resistensinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Pandangan Freire tentang kekuasaan bukan hanya merupakan cara pandang yang menjadi alternatif dan berguna bagi para teoritisi radikal yang terperangkap dalam keputusasaan dan sinisme, tetapi juga menekankan bahwa kekuasaan itu selalu diikuti dengan pertentangan, ketegangan dan kontradiksi dalam berbagai institusi sosial, seperti sekolah di mana kekuasaan seringkali dianggap sebagai kekuatan positif yang resisten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Akhirnya, Freire mengetahui bahwa kekuasaan sebagai sebuah bentuk dominasi tidak dipaksakan pemerintah secara sederhana melalui tangan-tangannya, seperti polisi, tentara dan departemen kehakiman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Dominasi dipraktikkan lewat kekuasaan, teknologi dan ideologi yang secara bersama-sama menghasilkan pengetahuan, hubungan sosial dan ekspresi budaya yang berfungsi secara aktif untuk membuat masyarakat diam. Pembicaraan dominasi tidak hanya mengacu pada ekspresi budaya yang mempengaruhi kaum tertindas dalam kesehariannya, namun juga menyangkut bagaimana kaum tertindas ini menginternalisasi pengaruh dan turut melestarikan penindasan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Pembicaraan ini merupakan topik yang sangat penting di dalam buku Freire dan mengindikasikan bagaimana dominasi itu dipraktikkan secara subjektif melalui proses internalisasi dan “pengendapan diri” dalam bentuk-bentuk kebutuhan pribadi.&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;

Pentingnya menyelidiki dominasi yang menindas secara psikis&lt;/h4&gt;

Apa yang sedang kita bicarakan adalah pemikiran Freire tentang betapa pentingnya usaha untuk menyelidiki dominasi yang menindas secara psikis, dan oleh karenanya, juga perlu pengamatan internal terhadap pengetahuan diri dan terhadap bentuk-bentuk emansipasi sosial dan individu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Konsep dominasi dan bagaimana kekuasaan bekerja secara represif terhadap jiwa manusia memperluas konsep belajar, termasuk bagaimana manusia belajar tanpa berkata-kata, bagaimana kebiasaan kemudian menjadi sejarah yang beku, dan bagaimana pengetahuan itu sendiri menghambat perkembangan subjektivitas tertentu dan cara manusia menjalani kehidupan di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Persepsi terhadap pengetahuan sangat penting karena akan menunjukkan bagaimana perbedaan-perbedaan konsep pengetahuan yang emansipatoris mungkin akan ditolak oleh orang yang mendapatkan keuntungan darinya. Dalam kasus yang seperti ini, masyarakat tertindas mendapatkan akses terhadap logika dominasi mungkin dikarenakan mereka mempertahankan pengetahuan yang bertentangan dengan pandangan dunia mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Pengetahuan justru turut mempertahankan status quo dominasi ini karena menjadi kekuatan aktif yang bersifat negatif dan menolak untuk melihat adanya kemungkinan lain dalam kehidupan ini. Dengan kondisi yang seperti ini, dari sudut pandang pendidikan muncul pertanyaan, bagaimana para pendidik yang radikal menilai dan mendiskusikan pihak-pihak yang melakukan represi dan yang melupakan tujuan inti dari dominasi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Bagaimana penjelasan terhadap kondisi yang tetap menolak untuk mengetahui dan menyelidiki bahwa pengetahuan mengandung kemungkinan yang bertentangan dengan dominasi itu sendiri?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;

Pesan Freire dari konsep pendidikannya&lt;/h4&gt;

Pesan yang ingin disampaikan Freire dari konsep pendidikannya relatif cukup jelas. Jika pendidik yang radikal mengetahui makna kebebasan, mereka pertama-tama harus menyadari bentuk-bentuk dominasi, di mana dominasi itu tumbuh subur, dan masalah apa yang dihadapi mereka yang ditindas oleh dominasi itu secara subjektif maupun objektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Akan tetapi, proyek ini tidak akan mungkin terlaksana jika mereka tidak mengetahui karakteristik sejarah dan kebudayaan yang spesifik, bentuk-bentuk kehidupan sosial, siapa kelompok penindas dan siapa yang tertindas, sebagai titik awal melakukan analisa. Inilah isu yang diangkat Freire dalam bukunya Politik Pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;


Sumber:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;
Buku Politik Pendidikan (Kebudayaan, Kekuasaan, dan Pembebasan)&lt;br /&gt;
Halaman 16-19&lt;br /&gt;
Penerbit: REaD (Research, Education, and Dialogue) bekerjasama dengan PUSTAKA PELAJAR 2007&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;

&lt;script&gt;mbtTOC();&lt;/script&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEimjy9sBWrq2nBHx3zd69FOVIa9I9Ux34JJWSdGIRI2f9hv9DvOsfuOp6tFgNMEuRSdsSMQ1Y56Xy0BYfz_VwqQ6wnegQ8QSlfqiL1mGlsPndLI7UulD-cgrQSEcinfxg98VlQiKPeiUgu1/s72-c-d/Paulo-Freire-dan-Wacana-Kekuasaan-dalam-Politik-Pendidikan.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Perilaku Belajar Paulo Freire (Mengembangkan Sikap Kritis dalam Belajar)</title><link>http://jaririndu.blogspot.com/2020/06/perilaku-belajar-paulo-freire-mengembangkan-sikap-kritis-dalam-belajar.html</link><category>Pendidikan</category><author>noreply@blogger.com (Admin JR)</author><pubDate>Wed, 3 Jun 2020 14:09:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7393750217607801487.post-7928721799697507814</guid><description>Pada saat menulis &lt;a href="https://kbbi.web.id/bibliografi"&gt;bibliografi&lt;/a&gt; (daftar pustaka) mestinya kita dengan sendirinya mempunyai satu tujuan yaitu untuk memfokuskan atau merangsang keinginan pembaca agar dapat mempelajari lebih lanjut materi yang telah dibacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

&lt;div class="mbtTOC"&gt; 
&lt;button onclick="mbtToggle()"&gt;Daftar Isi &lt;svg style="height: 18px; width: 18px;" viewbox="0 0 18 18"&gt;
    &lt;path d="M19.5,3.09L15,7.59V4H13V11H20V9H16.41L20.91,4.5L19.5,3.09M4,13V15H7.59L3.09,19.5L4.5,20.91L9,16.41V20H11V13H4Z" fill="currentColor"&gt;
&lt;/path&gt;&lt;/svg&gt;&lt;/button&gt; 
&lt;ol id="mbtTOC"&gt;&lt;/ol&gt; 
&lt;/div&gt;

Jika sebuah bibliografi tidak mempunyai tujuan seperti itu, jika dalam bibliografi tersebut tampaknya ada sesuatu yang hilang atau tidak menantang pembacanya, maka berkuranglah daya tarik bibliografi tersebut. Sehingga bibliografi menjadi tidak berguna, tertimbun oleh barang-barang lain di dalam laci meja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;img alt="Perilaku Belajar Paulo Freire (Mengembangkan Sikap Kritis dalam Belajar)" border="0" data-original-height="366" data-original-width="650" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgacAAq-Mwo7iRmNaLjr-wd2vGH32LUEB4ffrLz_Mk0FAEi8AIlcPWrW0DchDFo6x7ESyeAvUD-iMzici1l795Zhzv3vmJc2diykiT-XIWdsw5D_XZN2w0TilCwaWZkPRMfVXeRKaBMGqgA/d/Perilaku-Belajar-Paulo-Freire-%2528Mengembangkan-Sikap-Kritis-dalam-Belajar%2529.jpg" title="Perilaku Belajar Paulo Freire (Mengembangkan Sikap Kritis dalam Belajar)" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
Dalam menyusun bibliografi, ada tiga tipe pembaca yang perlu diperhatikan, yaitu pembaca yang memang menjadi sasaran utama, penulis yang bukunya dicantumkan dalam bibliografi itu sendiri, dan penulis-penulis bibliografi lainnya. Bibliografi tidak dapat disusun hanya dengan menuliskan judul-judul buku secara serampangan apalagi tidak mendasarkan pada sumber yang jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Lebih dari itu, sebuah bibliografi tidak boleh menjadi bacaan yang dogmatis, justru seharusnya menawarkan tantangan bagi mereka yang membacanya. Tantangan ini menjadi nyata kalau orang mulai mempelajari buku-buku yang ditulis itu, bukan hanya membaca secara serampangan atau hanya membuka-buka halaman demi halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Sesungguhnya, belajar (studying) itu merupakan pekerjaan yang cukup berat yang menuntut sikap kritis-sistematik (systematic critical attitude) dan kemampuan intelektual yang hanya dapat diperoleh dengan praktik langsung. Sikap kritis manusia sama sekali tidak dapat dihasilkan oleh pendidikan yang bergaya bank (banking education).&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sebaliknya pendidikan semacam itu justru pada dasarnya membunuh semangat, keingintahuan, dan kreativitas kita. Mata pelajaran sekolah mencerdaskan siswa, tetapi kecerdasan yang hanya berkaitan dengan teks, dan ini tidak akan menjadi kritik yang mendasar terhadap teks itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Ketika pembaca terlibat dalam proses yang sederhana itu, maka membaca hanya bersifat mekanis, dan proses itu - beserta faktor-faktor yang lain - menggambarkan bagaimana pembaca tidak memfokuskan diri pada buku yang dibacanya tetapi justru memikirkan hal yang lainnya. Intinya dalam pendidikan gaya bank ini, yang dibutuhkan pembaca bukanlah pemahaman akan isi, tetapi sekedar hafalan (memo rization). Sekali lagi bukannya memahami teks, tetapi tugasnya hanya menghafal dan jika siswa melakukannya berarti telah memenuhi kewajibannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Lain halnya dengan visi pendidikan yang kritis: seorang pembaca merasa tertantang oleh teks yang disodorkan padanya dan tujuan membaca adalah untuk memahami (appro priate) makna yang lebih dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Berikut ini beberapa cara untuk mengembangkan &lt;a href="https://jaririndu.blogspot.com/2022/03/pedagogik-karakteristik-siswa-sumber-belajar-penunjang.html" target="_blank"&gt;sikap kritis dalam belajar&lt;/a&gt;:&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;a. Pembaca harus mengetahui peran dirinya&lt;/h4&gt;

Tidak mungkin orang dapat belajar secara serius jika motivasi membaca disebabkan oleh ketertarikan terhadap daya pikat kata-kata pengarangnya, terpesona oleh kekuatan magis, atau jika dia bersikap pasif dan menjadi terbelenggu (domes ticated), hanya berusaha menghafal pemikiran pengarangnya, atau jika dia membiarkan dirinya ‘diserbu’ (invaded) oleh pemikiran pengarang, atau jika pembaca dijadikan sebuah ‘bejana’ yang cukup diisi dengan kutipan-kutipan dari teks yang termaktub di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Mempelajari sebuah teks secara serius memerlukan analisa terhadap sebuah bidang kajian yang ditulis oleh orang yang telah mempelajarinya. Ini juga memerlukan pemahaman terhadap sosio-historis ilmu pengetahuan. Selain itu, pun perlu meneliti isi teks tersebut dan mempelajari pengetahuan-pengetahuan yang lain.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Belajar adalah sebuah bentuk penemuan kembali (reinventing), penciptaan kembali (recreating), penulisan ulang (rewriting), dan ini merupakan tugas seorang subjek, bukan objek. Selanjutnya, dengan pendekatan ini pembaca tidak dapat memisahkan dirinya dari teks itu karena dia akan, jika dia melakukannya berarti, meninggalkan sikap kritis terhadap teks tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Sikap kritis dalam belajar sama dengan sikap yang diperlukan untuk menghadapi dunia (yakni dunia dan kehidupan nyata pada umumnya), untuk bertanya dalam hati, yang dimulai dengan terus mengamati kebenaran yang tersembunyi di balik fakta yang dipaparkan dalam teks-teks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Semakin tekun kita belajar semakin kita mempunyai pandangan global dan makin mampu mengaplikasikan nya ketika membaca suatu teks dengan cara memilah-milah komponennya. Membaca ulang sebuah teks untuk mengetahui batasan-batasan komponen tersebut akan menciptakan pemahaman yang lebih signifikan secara keseluruhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Ketika melihat kata-kata inti dalam indeks, pembaca yang kritis akan terkesima dengan susunan tema yang selalu tidak eksplisit dicantumkan dalam bagian indeks suatu buku. Garis pembatas antara tema-tema tersebut tentu saja akan menjadi kerangka acuan pembaca (frame of reference) sebagai pembaca atau subjek (subject-reader).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Sewaktu membaca sebuah teks, kita sebagai subjek harus merefleksikan (merenungkan) setiap topik pembicaraan, walaupun bukan merupakan tema utama teks (buku) tersebut. Dengan merenungkannya yang berarti menghubungkan antara tulisan yang kita baca dan pengetahuan yang telah kita miliki sebelumnya, maka sebagai pembaca yang baik kita seharusnya menganalisa teks tersebut, mencari hubungan antara gagasan utama teks tersebut dengan tujuan (kepentingan) membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Namun demikian, ada sebuah syarat yang perlu diperhatikan: Kita harus menganalisa isi teks dengan cara mengingat apa yang telah kita ketahui sebelum membaca teks tersebut atau sesudahnya, supaya kita tidak dianggap mengkhianati pemikiran utuh penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Sekali kita telah menemukan titik temu apa yang kita pelajari dengan kepentingan kita, maka harus dibuat catatan tentangnya di sebuah kartu dan diberi judul sesuai dengan topiknya. Kita harus meluangkan waktu untuk memikirkan topik itu ketika teks tadi menawarkan ruang gerak untuk kita. Kemudian, kita dapat melanjutkan membaca, berkonsentrasi pada teks yang mengundang refleksi yang mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Dalam analisa akhir, mempelajari sebuah teks de jangan serius, laiknya mempelajari sebuah artikel, mensyaratkan bukan hanya pengamatan yang kritis terhadap isi pokok tetapi juga pengamatan terhadap kepekaan, ketenangan intelektual yang mantap, dan keinginan untuk meneliti.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;b. Pada dasarnya praktik belajar adalah bersikap terhadap dunia&lt;/h4&gt;

Karena praktik ini merupakan sikap terhadap dunia, maka praktik ini tidak dapat direduksi menjadi sekedar hubungan antara pembaca dengan teks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Sebenarnya sebuah teks merupakan refleksi dan mengekspresikan pergulatan penulis dengan dunia. Dan bahkan ketika seorang penulis tidak begitu mena ruh perhatian terhadap kenyataan yang sesungguhnya, dia tetap akan mengekspresikan bagaimana dia berseteru dengan dunia. Dengan demikian, belajar adalah memikirkan pengalaman, dan memikirkan pengalaman adalah cara terbaik untuk berpikir secara benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Orang yang sedang belajar tidak boleh menghentikan rasa ingin tahunya terhadap orang lain dan kehidupan nyata. Mereka itu selalu bertanya dan berusaha menemukan jawaban, serta terus mencarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Dengan memelihara sikap ingin tahu ini menyebabkan kita menjadi cekatan (skillfull) dan mendapat banyak keuntungan. Dalam hal ini sebenarnya kita memanfaatkan apa yang telah kita pelajari dalam pergulatan antara pengalaman sehari-hari dan apa yang kita bicarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Sepercik ide-ide yang seringkali menghantam kita ketika sedang berjalan-jalan adalah akibat dari apa yang disebut Wright Mills dengan file of ideas. Ide-ide itu jika disimpan dengan tepat menjadi tantangan nyata yang harus kita tangkap. Ketika kita memikirkan secara lebih mendalam ide-ide tersebut maka akan menjadi alat refleksi yang lebih tajam pada saat kita membaca sebuah teks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;c. Kapan saja mempelajari sesuatu kita dituntut menjadi lebih akrab dengan bibliografi yang telah kita baca, dan juga bidang studi secara umum atau bidang studi yang kita alami.&lt;/h4&gt;&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;d. Perilaku belajar mengasumsikan hubungan dialektis antara pembaca dan penulis yang refleksinya dapat ditemukan dalam tema teks tersebut.&lt;/h4&gt;

Dialektika ini melibatkan pengalaman sosio-historis dan ideologis penulis, yang tentu tidak sama dengan pengalaman pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;e. Perilaku belajar menuntut rasa rendah hati (sense of modesty)&lt;/h4&gt;

Jika kita benar-benar mempunyai sikap rendah hati dan kritis, kita tidak perlu merasa bodoh sewaktu kita dihadapkan pada kesulitan yang besar untuk memahami makna sebenarnya dari suatu teks. Teks yang kita baca tidak selalu mudah untuk dipahami. Dengan sikap rendah hati dan kritis kita lantas mengetahui bahwa teks tersebut bisa jadi berada di luar kemampuan kita untuk memahaminya, sehingga teks itu menjadi sebuah tan tangan tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Dalam hal ini, apa yang harus kita ketahui adalah pentingnya meningkatkan diri menjadi lebih baik, dan ketika suatu saat nanti kita ‘sudah siap’ maka kita dapat kembali membaca teks tersebut. Sungguh, tidak akan berguna jika kita meneruskan membaca apa yang tidak kita pahami. Sebaliknya, kita mestinya berhenti dan membiarkannya untuk sementara waktu. Memahami suatu teks bukanlah hadiah dari orang lain. Ini membutuhkan kesabaran dan komitmen kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Kualitas perilaku belajar (the act of study) tidak bisa diukur dengan jumlah halaman yang dibaca selama satu malam atau jumlah buku yang dibaca selama satu semester.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

Belajar bukanlah mengkonsumsi ide, namun ciptakan dan terus menciptakan ide.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;


Sumber:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;
Buku Politik Pendidikan (Kebudayaan, Kekuasaan, dan Pembebasan)&lt;br /&gt;
Bab I Halaman 27 - 33&lt;br /&gt;
Penerbit: REaD (Research, Education, and Dialogue) bekerjasama dengan PUSTAKA PELAJAR 2007&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;

&lt;script&gt;mbtTOC();&lt;/script&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgacAAq-Mwo7iRmNaLjr-wd2vGH32LUEB4ffrLz_Mk0FAEi8AIlcPWrW0DchDFo6x7ESyeAvUD-iMzici1l795Zhzv3vmJc2diykiT-XIWdsw5D_XZN2w0TilCwaWZkPRMfVXeRKaBMGqgA/s72-c-d/Perilaku-Belajar-Paulo-Freire-%2528Mengembangkan-Sikap-Kritis-dalam-Belajar%2529.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Karakteristik Guru dengan Kemampuan Mengajar yang Unggul</title><link>http://jaririndu.blogspot.com/2020/03/karakteristik-guru-dengan-kemampuan.html</link><category>Pendidikan</category><author>noreply@blogger.com (Admin JR)</author><pubDate>Tue, 17 Mar 2020 22:22:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7393750217607801487.post-2327956498872329426</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;img alt="Karakteristik Guru dengan Kemampuan Mengajar yang Unggul" border="0" data-original-height="366" data-original-width="650" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjUVY9I_05jnBg8p2Odvc02e5YEw0Tv6WfQgG-VYd3c-VVu2gNpGXzjHyw7UhRa8Wh6xaWp56XwlILQSNdfDGo3N6DNjsNzF7szYsavV16wbKgOcIxOJOL7DtfNVCg8OmcgMPS55EvtltHY/s1600/Karakteristik-Guru-dengan-Kemampuan-Mengajar-yang-Unggul.jpg" title="Karakteristik Guru dengan Kemampuan Mengajar yang Unggul" /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Guru harus mampu menginspirasi siswa. Inilah yang disebut guru inspirasional. Guru harus selalu tampil dengan mental yang unggul. Kegiatan mengajar yang unggul dipandang sebagai proses akademik, dimana siswa termotivasi belajar secara berkelanjutan, substansial, dan positif terutama berkaitan dengan bagaimana mereka berpikir, bertindak, dan merasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="mbtTOC"&gt; 
&lt;button onclick="mbtToggle()"&gt;Daftar Isi &lt;svg style="height: 18px; width: 18px;" viewbox="0 0 18 18"&gt;
    &lt;path d="M19.5,3.09L15,7.59V4H13V11H20V9H16.41L20.91,4.5L19.5,3.09M4,13V15H7.59L3.09,19.5L4.5,20.91L9,16.41V20H11V13H4Z" fill="currentColor"&gt;
&lt;/path&gt;&lt;/svg&gt;&lt;/button&gt; 
&lt;ol id="mbtTOC"&gt;&lt;/ol&gt; 
&lt;/div&gt;
Keunggulan ini juga bermakna suatu proses yang mengangkat motivasi belajar siswa ke tingkat yang lebih tinggi dibandingkan dengan efek mengjar biasa. Kegiatan mengajar semacam ini menginspirasi siswa untuk terus belajar, selayaknya orang terhipnotis karena inspirasi dari gurunya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang guru yang sangat baik dipandang sebagai salah satu energi yang memberikan kontribusi positif yang luar biasa terhadap terciptanya suasana belajar siswa, termasuk membangkitkan minat mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan hasil kajian terhadap beberapa referensi, &lt;a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Guru" target="_blank"&gt;guru &lt;/a&gt;dengan kemampuan mengajar yang unggul memiliki karakteristik seperti berikut ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;
1. Keahlian pokok&lt;/h4&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;memiliki pengetahuan tentang materi pelajaran secara menyeluruh dan menunjukkan antusiasme yang menular untuk itu;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;menguasai materi lebih jauh dari sekadar yang tertuang dalam buku teks standar;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;meneliti dan mengembangkan pikiran-pikiran penting dan asli mengenai materi pelajaran khusus;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;mendalami secara kontinyu mata pelajaran, menganalisis sifat dan cakupan materi pelajaran, dan mengevaluasi kualitas;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;mengikuti perkembangan secara teratur dalam mata pelajaran terkait dan pengembangan intelektual bidang lain yang menunjang;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;memiliki minat yang kuat dalam isu-isu yang lebih luas demi pengembangan intelektual yang mengagumkan.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;
2. Ahli pedagogis&lt;/h4&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;menetapkan tujuan-tujuan pembelajaran yang sesuai dan mampu mengkomunikasinya dengan jelas;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;menunjukkan sikap positif dan kepercayaan terhadap siswa, serta secara kontinyu bekerja untuk mengatasi kendala yang mungkin menghambat kemajuan belajar;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;mengevaluasi dan menilai siswa secara adil dan cepat;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;mendorong siswa berpikir dan memberdayakan diri untuk menemukan kreativitas mereka sendiri;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;mempromosikan berbagai ide-ide, ekspresi, dan pendapat terbuka yang beragam, dengan tetap menjaga suasana integritas, kesopanan, dan rasa hormat;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;memandu siswa berhasil belajar melalui eksplorasi proses pemecahan masalah secara kreatif dan kritis, serta dan membantu siswa bergulat dengan ide-ide dan informasi yang mereka butuhkan untuk mengem bangkan pemahaman mereka sendiri;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;mempromosikan penemuan siswa;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;menjadikan mengajar dan belajar sebagai kegiatan ilmiah;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;menunjukkan rasa komitmen yang kuat bagi komunitas akademis di samping keberhasilan pribadi di dalam kelas;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;memberikan umpan balik secara teratur, konstruktif, dan obyektif untuk siswa;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;menemukan cara yang unik dan kreatif untuk menghubungkan siswa satu sama lain.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;
3. Komunikator yang unggul&lt;/h4&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;menunjukkan kemampuan berkomunikasi lisan dan tulisan yang efektif;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;menunjukkan kemampuan berorganisasi dan keterampilan perencanaan yang baik;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;membantu siswa belajar menggunakan keterampilan berkomunikasi yang efektif; mendengarkan dengan penuh perhatian, bersemangat, dan menunjukkan keakraban;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;memanfaatkan alat pembelajaran secara tepat dan efektif; menyederhanakan dan menjelaskan materi pelajaran yang kompleks, serta menghasilkan wawasan yang menginspirasi;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;menggunakan bahasa sebagai jembatan budaya.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;
4. Mentor yang berpusat pada siswa&lt;/h4&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;menjadikan dan membuat kegiatan belajar siswa sebagai prioritas tertinggi;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;menyediakan waktu secara ikhlas untuk mempengaruhi motivasi belajar siswa;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;berusaha untuk merangsang setiap siswa belajar melalui berbagai metode serta mendorong dan mengundang partisipasi aktif siswa;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;membantu siswa menghubungkan pengalaman pembelajaran dan memfasilitasi pengembangan pengetahuan dirinya;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;menyampaikan kepada siswa bahwa mereka harus mampu memahami fakta dengan pemahaman dan aplikasi konsep-konsep;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;menanamkan keinginan pada siswa untuk belajar seumur hidup;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;mengilhami mereka untuk mencapai tingkat intelektual yang lebih tinggi dan tidak menyerah ketika menghadapi kesulitan belajar;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;membuat siswa dengan mudah memahami kepribadiannya.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;
5. Asesor yang sistematis dan berkelanjutan&lt;/h4&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;mengembangkan dan menggunakan hasil penilaian untuk terus meningkatkan pengalaman belajar siswa sesuai dengan tujuan program;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;menggunakan pendekatan sistematis untuk menilai kemampuan diri dalam mengajar, menyiapkan bahan belajar yang segar dan baru, membuat perubahan yang sesuai pada saat yang tepat dan menetapkan tujuan yang jelas, serta menunjukkan cara berpikir dan bertindak yang diharapkan dari siswa;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;menciptakan lingkungan yang mengundang umpan balik siswa yang membangun untuk perbaikan pembelajaran;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;menyesuaikan gaya mengajar untuk mencapai tujuan belajar siswa yang berhasil;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;mengakui keterbatasan dan kekurangan sendiri, menerima realitas keterbukaan dan daya kritis siswa, serta belajar dari mereka;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;mendukung upaya pengujian untuk mengetahui keberhasilan kegiatan pembelajaran.&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan selanjutnya adalah calon guru seperti apa yang diinginkan? Windsor dan Rowland (2005) melakukan survei terhadap sekelompok administrator sekolah mengenai calon guru yang mereka inginkan. Administrator sekolah yang disurvei ternyata menghendaki calon guru yang memiliki sifat-sifat spesifik atau keterampilan yang merupakan ciri khas dari administrators seorang guru yang efektif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;
Karakteristik Calon Guru
&lt;/h4&gt;
&lt;a href="https://jaririndu.blogspot.com/2020/03/ciri-ciri-dan-10-kualitas-guru-yang-baik.html" target="_blank"&gt;Karakteristik &lt;/a&gt;calon guru yang dikehendaki oleh inistrator sekolah di Amerika Serikat disajikan berikut ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Memiliki kepribadian yang asli, yaitu tulus dan rendah hati setiap saat.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik, tertulis dan lisan. Guru-guru yang memiliki pola berpikir yang buruk atau berkomunikasi dengan cara yang tidak jelas dengan cepat akan membawa guru itu segera "keluar” dari lembaganya bertugas.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Menjadi pendengar yang baik dan memahami apa yang dikomunikasikan kepadanya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Memiliki sikap yang kooperatif. Calon guru yang dikehendaki adalah individu-individu yang fleksibel dan mudah bekerjasama dengan komunitas sekolah dan masyarakat.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Memiliki pandangan positif pada pengajaran, pembelajaran, dan siswa.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Dapat dipercaya dan diandalkan. Guru harus mampu menampilkan peran guru model untuk siswa dan dia sangat unggul dalam bidang ini.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Memahami apa yang dibutuhkan untuk menjadi guru yang efektif. Mereka harus mengetahui tentang bagaimana siswa belajar dan bagaimana guru mampu memfasilitasi proses pembelajaran.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Dapat mengelola siswa di dalam dan di luar kelas.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Memiliki sikap ambisius untuk mencapai prestasi dan berkinerja terbaik. Administrator sekolah menghendaki guru yang mampu menjadi pemrakarsa kegiatan dan aneka acara. Guru yang mereka kehendaki adalah yang bisa membuat sesuatu benar-benar terwujud.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Memiliki keterampilan kepemimpinan, tampil hati-hati dan tidak berperilaku kasar.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Memiliki pemahaman dasar tentang prinsip-prinsip yang berlaku umum di pendidikan psikologi. Calon guru dapat menggunakan dan mengaplikasikan istilah-istilah seperti "penguatan," "penguasaan," "tujuan pembelajaran," dan "hasil belajar", khususnya ketika berbicara tentang proses belajar.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Memahami materi pelajaran dengan baik dan dapat menyajikannya secara merangsang dan menarik.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Memiliki kemampuan lebih dari satu mata pelajaran. Administrator sekolah menghendaki calon guru yang memiliki kemampuan mengajar untuk lebih dari satu subjek area. Bagi calon guru sekolah dasar, mereka menghendaki calon guru yang memiliki kemampuan dan keterampilan mengajar di berbagai tingkat kelas.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Memiliki harapan atas standar pribadi yang tinggi dan profesional, namun tidak menampilkan kekakuan. Bagi mereka, guru yang baik harus memahami realitas siswanya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Dapat memodifikasi teknik pengajaran untuk mengakomodasi keragaman kemampuan siswa dan gaya belajar mereka yang berbeda.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Dapat menghubungkan kegiatan mengajar dengan tujuan lain dari aneka kegiatan sekolah.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mampu mengorganisasikan kegiatan bersama guru lainnya. Juga memiliki kemampuan melakukan tindak lanjut atas aneka kegiatan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Memiliki selera bagus dalam berpakaian. Bagus dalam berdandan akan sangat mengesankan siswa.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Memiliki selera humor yang baik. Tersenyum atau tertawa adalah jarak terpendek di antara dua orang.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Memiliki semangat untuk berkembang sebagai seorang profesional. Administrator sekolah menghendaki calon guru yang terbuka dengan ide-ide, teknik, dan pendekatan baru yang dapat meningkatkan efektivitas kerja guru secara keseluruhan.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;br /&gt;
=============================================&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
Sumber: &lt;b&gt;Buku PROFESIONALISME GURU DALAM PEMBELAJARAN&lt;/b&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
Penulis: &lt;b&gt;Drs. H. Zainal Aqib, M.Pd.&lt;/b&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
Cetakan pertama, 2002 Cetakan kedua, 2007 Cetakan ketiga, 2010&lt;/blockquote&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
Percetakan Insan Cendekia, SURABAYA&lt;/blockquote&gt;

&lt;script&gt;mbtTOC();&lt;/script&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjUVY9I_05jnBg8p2Odvc02e5YEw0Tv6WfQgG-VYd3c-VVu2gNpGXzjHyw7UhRa8Wh6xaWp56XwlILQSNdfDGo3N6DNjsNzF7szYsavV16wbKgOcIxOJOL7DtfNVCg8OmcgMPS55EvtltHY/s72-c/Karakteristik-Guru-dengan-Kemampuan-Mengajar-yang-Unggul.jpg" width="72"/></item><item><title>Ciri-Ciri dan 10 Kualitas Guru yang Baik</title><link>http://jaririndu.blogspot.com/2020/03/ciri-ciri-dan-10-kualitas-guru-yang-baik.html</link><category>Pendidikan</category><category>Renungan</category><author>noreply@blogger.com (Admin JR)</author><pubDate>Fri, 13 Mar 2020 17:48:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7393750217607801487.post-2076123762246652838</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;img alt="Ciri-Ciri dan 10 Kualitas Guru yang Baik" border="0" data-original-height="366" data-original-width="650" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgodVieEOQMqVcRh1j7hpHJCxxXJo6CO4DzcNIJAgAkY7l79AZXaPhV5jqnl5dcQIDB14jNh8t4U9GUfsImClT9K1VhIqOy6pGdbkqPz8J-EJz3UqcMpJEVtPMQAUBM4aFVgmKmHCJUA__V/s1600/Ciri-Ciri-dan-10-Kualitas-Guru-yang-Baik.jpg" title="Ciri-Ciri dan 10 Kualitas Guru yang Baik" /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Marie F. Hassett mengemukakan bahwa ketika berbicara tentang kualitas mengajar seorang guru, fokusnya berkaitan dengan masalah-masalah teknik, konten, dan presentasi. Tapi pada kenyataannya, banyak orang yang tahu bahwa guru yang memiliki pengetahuan yang luar biasa terkadang gagal berkomunikasi secara baik dengan siswanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru semacam ini, di atas kertas sangat hebat penguasaannya di bidang mata pelajaran, tapi sayangnya siswa bosan atau frustrasi ketika menerima pelajaran darinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;a href="https://jaririndu.blogspot.com/2020/03/ciri-ciri-dan-10-kualitas-guru-yang-baik.html" target="_blank"&gt;Banyak orang&lt;/a&gt;, termasuk siswa mengakui bahwa mengajar yang baik sering kali tidak terlalu terkait dengan pengetahuan dan keterampilan dibandingkan dengan sikap terhadap siswa, materi yang diajarkan, dan pekerjaan itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu, bagaimana karakteristik yang menunjukkan guru yang baik itu? Hal ini tidak dimaksudkan untuk menjadikan semua ciri-ciri itu harus dipenuhi seluruhnya. Karena banyak guru yang oleh siswa dinilai sangat baik ternyata hanya memiliki beberapa sifat dominan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karakteristik rinci yang disajikan di sini hanya sebagai pilihan alat yang memungkinkan guru-guru menciptakan dan mempertahankan konektivitas di kelas mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru yang baik memiliki &lt;b&gt;ciri-ciri&lt;/b&gt; seperti berikut ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Memiliki kesadaran akan tujuan;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Harapan akan keberhasilan bagi semua siswa;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ambiguitas;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Menunjukkan kemauan beradaptasi dan berubah untuk memenuhi kebutuhan siswa;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Merasa tidak nyaman jika kurang mengetahui;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Mencerminkan komitmen pada pekerjaan mereka, belajar dari berbagai model;&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Menikmati pekerjaan dan siswa mereka&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;
10 Kualitas Guru yang Baik&lt;/h3&gt;
Semua guru harus menjadi &lt;a href="https://www.uin-malang.ac.id/r/131101/menjadi-guru-terbaik.html" target="_blank"&gt;guru yang baik&lt;/a&gt;. Kalau ada yang menyatakan bahwa "salah satu tujuan terbesar saya adalah menjadi seorang guru", orang itu sangat potensial akan menjadi guru yang baik. Orang seperti ini biasanya memiliki misi untuk memperoleh pengalaman hidup melalui mengajar orang lain. Orang semacam ini akan menghindari perilaku sebagai guru yang membosankan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita semua tahu guru itu dikategorikan baik atau buruk ketika melihatnya tampil di kelas dan di luar kelas. Dari situs &lt;i&gt;Ripplesofimprovement.com&lt;/i&gt; terungkap top 10 kualitas guru yang baik, yang bukan tidak mungkin sangat sedikit yang memilikinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h4&gt;
1. &lt;i&gt;Confidence&lt;/i&gt; atau keyakinan diri sendiri&lt;/h4&gt;
Guru yang baik tetap memiliki kepercayaan diri, meski sesekali merasakan kemunduran. Guru yang baik menghadapi semua situasi dan waktu yang bisa saja olchnya dianggap sebagai kemunduran. Anak-anak bisa saja kejam. baik sesama rekannya maupun kepada guru. Mereka adakalanya bersikap kurang menyenangkan, terutama anak-anak remaja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada juga guru yang gugup ketika mengajar. Guru yang lainnya malu malu dan hanya setengah berkomitmen untuk mata pelajaran mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi guru yang terbaik menertawakan kesalahan mereka melempar kapur tulis atau menjatuhkan buku. Beberapa guru bingung dan meng banu, meski tetap melanjutkan pelajaran, bahkan kadang-kadang Bercanda yang mengacaukan, Guru-guru tahu mereka manusia biasa akan kesalahannya. Mereka tidak mengambil proporsi pribadi yang terlalu besar dan membiarkan masalah yang membuat mereka marah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h4&gt;
2. &lt;i&gt;Patience&lt;/i&gt; atau kesabaran&lt;/h4&gt;
Guru-guru terbaik bisa membantu siswa yang mengalami gangguan mental. Bukan berarti mereka harus tetapi mereka begitu sabar, meski mungkin bukan lagi menjadi tugas utamanya. Guru yang terbaik adalah mereka yang bersedia terus menjelaskan mengetahui, dan akhirnya menerima bahwa hal itu masuk akal. Mereka bersedia menunggu sampai siswa yang mengganggu menjadi tenang dan tidak meninggalkan pelajaran sepenuhnya, apakah materi itu telah jelas atau perlu ditinjau kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru-guru terbaik tidak terjebak dengan hal itu. Mereka bersedia melakukan apa yang diperlukan, tidak peduli berapa lama waktu yang diperlukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h4&gt;
3.&lt;i&gt;True compassion for their students&lt;/i&gt; atau memiliki rasa kasih sayang sejati pada siswanya&lt;/h4&gt;
Barangkali siswa pernah berhadapan dengan seorang guru yang jahat, yang tidak peduli apa alasan siswanya berperilaku ter tentu. Tentu saja ini ada alasannya, meski tidak valid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru-guru terbaik peduli dengan siswa mereka sebagai individu dan ingin membantunya. Mereka memiliki indera keenam ketika siswa membutuhkan perhatian ekstra dan memberikannya dengan senang hati. Mereka tidak mengharapkan siswa meninggalkan pikiran tentang dunia luar di depan pintu kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka mengambil waktu untuk mendiskusikan mata pela jaran di luar tugas mengajarnya, dengan mengetahui bahwa kadang kadang pelajaran masih dapat diajarkan tanpa mengikuti buku teks.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru yang baik bersedia berbicara kepada semua siswa dan guru-guru lain, jika perlu. Mereka peduli tentang siswanya meski berada di luar tembok kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h4&gt;
4.&lt;i&gt;Understanding &lt;/i&gt;atau pemahaman&lt;/h4&gt;
Guru yang baik memiliki pemahaman yang benar prima tentang bagaimana mengajar. Mereka tidak memiliki teknik yang kaku dan bersikeras menggunakannya, sehingga hal itu membantu kelancaran dan kemudahan siswa belajar. Guru yang baik fleksibel dalam gaya mengajar dan menyesuaikannya setiap hari, jika perlu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka mengerti hal-hal kecil yang dapat memberi dampak bagi kemampuan siswa untuk belajar, seperti iklim dan suasana di dalam kelas. Dia memiliki pemahaman tentang sifat siswa dan perkembangannya sebagai remaja. Guru yang baik tahu bahwa siswanya tidak suka disebut “masih anak-anak” dengan konotasi "kekanak-kanakan" secara “dihakimi”. Siswa menghendaki agar gurunya memperlakukan mereka sebagai manusia nyata, bukan hanya sebagai "siswa" semata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h4&gt;
5.&lt;i&gt;The ability to look at life in a different way and to explain a topic in a different way&lt;/i&gt; atau kemampuan melihat kehidupan dengan cara yang berbeda dan menjelaskan topik dengan cara yang berbeda.&lt;/h4&gt;
Ada banyak gaya belajar yang berbeda di kalangan siswa. Tidak semua siswa dapat menyerap materi pelajaran seperti yang diajarkan oleh setiap guru secara sama cepat. Guru harus memberi perlakuan yang berbeda untuk siswa yang berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru yang baik tidak menggunakan satu cara untuk semua pokok bahasan yang disajikan. Guru yang baik melakukan perbuatan mengajar berdasarkan bagaimana cara siswanya belajar, meski ini bukan pekerjaan yang mudah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, setidaknya bergerak ke arah itu. Cara guru bekerja sangat mungkin bernilai tinggi bagi sebagian siswa, tapi gagal untuk siswa lainnya. Guru-guru yang baik adalah yang mampu mengajar untuk gaya belajar yang berbeda. Jika siswa tidak memahami mata pelajaran, mereka mengajar dengan cara yang berbeda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daripada melihat rumus abstrak, ada baiknya guru menjelaskan rumus dengan gambar yang mewakili.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h4&gt;
6. &lt;i&gt;Dedication to excellence&lt;/i&gt; atau dedikasi untuk keunggulan&lt;/h4&gt;
Guru yang baik memiliki dedikasi dan menginginkan capaian yang terbaik dari siswa-siswanya dan diri mereka sendiri. Mereka tidak puas dengan nilai siswanya yang kecil, melainkan mengabdikan diri untuk secara penuh menuju kemampuan siswa untuk unggul.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru-guru terbaik mendorong berbagi ide dan menawarkan insentif, tidak harus melakukan pekerjaan rumah setiap sehari, untuk mendapatkan siswa bisa berpikir di luar kotak sekolah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka tidak mentolerir guru lain menjelek-jelekan guru lainnya di depan siswa. Mereka akan melakukan yang terbaik untuk menunjukkan bahwa guru-guru lain juga manusia. Mereka mendorong siswa untuk menjadi orang baik, tidak hanya baik dalam mengingat teks, melainkan memahami dan dapat mengaplikasikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka ingin siswa belajar dan dapat menerapkan apa yang mereka pelajari, tidak hanya sebatas bisa lulus tes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h4&gt;
7. &lt;i&gt;Unwavering support&lt;/i&gt; atau teguh dalam memberikan dukungan&lt;/h4&gt;
Guru guru terbaik tahu bahwa setiap siswa dapat melakukan kegiatan belajar dengan baik jika mereka memiliki guru yang tepat. Mereka tidak menerima bahwa sSiswa adalah penyebab kegagalan kegiatan pembelajaran. Mereka mendorong siswa yang frustasi untuk berprestasi dan memberikan keyakinan besar kepada siswanya, bahwa dia bisa memahami materi pelajaran dengan baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka berdiri secara adil di mata siswa, serta tidak memuji satu pihak dan mengejek pihak lain. Kadang-kadang, mereka bahkan memperpanjang waktu mengajar di luar sesi kelas, walaupun ada ejekan siswa lain di lorong sekolah dan itu memang sangat sulit bagi guru untuk menghindarinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru-guru terbaik selalu ada di samping siswa jika dia memerlukan bantuan dan dorongan ekstra.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h4&gt;
8.&amp;nbsp;&lt;i&gt;Willingness to help student achieve&lt;/i&gt; atau kesediaan untuk membantu siswa mencapai prestasi&lt;/h4&gt;
Guru-guru terbaik adalah mereka yang tidak secara otomatis "berhenti mengajar” ketika bel berbunyi. Mereka mengadakan sesi tambahan untuk persiapan tes prestasi siswa (TPS/SAT), dan karenanya mereka memberi pelajaran tambahan bagi siswa setelah sesi kelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka tahu bahwa beberapa hal yang memerlukan perhatian atau bantuan ekstra. Mereka tidak bertindak dengan prinsip: itu bukan tugas saya atau tugas saya sudah selesai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru melaksanakan pekerjaan secara serius dan tahu bahwa siswa tidak hanya bermaksud mendapatkan nilai matematika yang lebih tinggi, melainkan juga bagaimana manfaatnya dalam kehidupan. Mereka menyadari bahwa prestasi siswa bukan hanya nilai bagus pada ujian, tapi rasa berprestasi dengan menguasai materi pelajaran, dan mereka bersedia bekerja dengan siswa untuk mencapai rasa berprestasi itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h4&gt;
9. &lt;i&gt;Pride in student's accomplishments&lt;/i&gt; atau bangga atas prestasi siswa&lt;/h4&gt;
Guru-guru terbaik sangat bangga dengan siswanya yang mendapatkan nilai yang baik atau memperoleh kehormatan dari masyarakat. Mereka tersenyum dan memberitahu siswanya dan masyarakat, bahwa dia melakukan pekerjaan yang baik demi anak didiknya. Mereka memberitahu guru lainnya tentang bagaimana mereka juga melakukannya. Di luar mungkin dia masih “merasa malu", tetapi di dalam dia bercahaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Guru-guru terbaik merayakan keberhasilan untuk siswa terbaik. Mereka pun merayakan keberhasilan semua siswa, mengetahui bahwa semua siswa mampu melakukan yang terbaik sesuai dengan kemampuannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka optimis dan positif, berfokus pada bagaimana siswa melakukan tugasnya dengan baik, tidak hanya memperhatikan seberapa baik mereka mengajar. Mereka mungkin tahu bahwa prestasi itu adalah hasil kekuatan membantu siswa untuk meneapal prestal, tetapi mereka yakin baliwae siswanya sudah benar-benar bertanggungjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h4&gt;
10. &lt;i&gt;Passion for life&lt;/i&gt; atau berairah untuk hidup&lt;/h4&gt;
Guru-guru terbaik tidak hanya tertarik pada bidang tugasnya, melainkan juga mereka bersemangat tentang hal itu. Guru-guru terbaik bersemangat tentang hal-hal lainnya. Mereka memuji iklim belajar yang baik dan tersenyum ketika mampu mengambil beberapa menit untuk membahas episode dari sebuah acara yang populer di sebuah jaringan televisi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka memiliki energi yang bercahaya dan memberi pewarnaan positif sebanyak mungkin. Mereka menghadapi tugas-tugas sebagai tantangan, bukan rutin semata. Mereka mengambil bola “kurva alam semesta” dan mengubahnya menjadi menyenangkan sebisa mungkin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka adalah manusia biasa, tetapi selalu membuat siswa terus maju.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Sumber:&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Psikologi Pendidikan (Dalam Perspektif Baru)&lt;br /&gt;Hal 248-253&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Penulis:&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Prof. Dr. Sudarwan Danim&lt;br /&gt;Dr. H. Khairil&lt;/blockquote&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgodVieEOQMqVcRh1j7hpHJCxxXJo6CO4DzcNIJAgAkY7l79AZXaPhV5jqnl5dcQIDB14jNh8t4U9GUfsImClT9K1VhIqOy6pGdbkqPz8J-EJz3UqcMpJEVtPMQAUBM4aFVgmKmHCJUA__V/s72-c/Ciri-Ciri-dan-10-Kualitas-Guru-yang-Baik.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Manusia, Bahasa, dan Komunikasi</title><link>http://jaririndu.blogspot.com/2020/02/manusia-bahasa-dan-komunikasi.html</link><category>Pendidikan</category><author>noreply@blogger.com (Admin JR)</author><pubDate>Mon, 24 Feb 2020 00:05:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7393750217607801487.post-536925264759963746</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;img alt="Manusia, Bahasa, dan Komunikasi" border="0" data-original-height="366" data-original-width="650" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh-VqJf8b2P3BL0TNKrsNRLbPRvu0QMIRLjnYRVAqYS2bC-c4VBP118smH3s-wNbd0ox7igwjh4z99TQs6PnMQN0IxYlTi_piaVebJXDQN2dus2NaTGI5P1HQowo0RsMKpQ-7n2UcFWwIJp/s1600/Manusia%252C-Bahasa%252C-dan-Komunikasi.jpg" title="Manusia, Bahasa, dan Komunikasi" /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;Memahami &lt;a href="https://jaririndu.blogspot.com/2011/09/keuniversalan-bahasa.html" target="_blank"&gt;bahasa&lt;/a&gt;&lt;/b&gt; tampaknya sebagian besar manusia di dunia kini menghabiskan waktunya dengan bahasa. Para hakim, jaksa, pengacara, dosen, wartawan, penulis, penyiar radio televisi, dan perancangan iklan memperoleh nafkahnya dari &lt;a href="https://jaririndu.blogspot.com/2011/10/bahasa-sebagai-alat-komunikasi.html" target="_blank"&gt;kemahiran berbahasa&lt;/a&gt;. Bahasa meluber di tempat kita bekerja, di kantor, di bengkel, di toko, atau di mall-mall. Berdebat di ruang pengadilan, belajar di bangku kuliah, mengisi teka-teki silang di kamar penjara, membeli tahu tempe di pasar, semuanya berjalan dengan perantaraan bahasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu sebabnya Ariel Heryanto mengibaratkan, kecuali tidur dan mengunyah makanan, hidup ini hampir-hampir tak terbebas dari bahasa buka kurung Heriyanto, 2000: 143). Bahkan, kata Heriyanto lagi, dalam tidur pun ada orang yang berbicara, kalau bukan bermimpi berbincang dengan orang lain titik bahasa kemudian benar-benar menjadi alat penggerak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang menakjubkan bagaimana bahasa itu bisa menjadi semacam alat penggerak dari jauh dalam satu mekanisme remote control bagi individu yang ratusan ribu jumlahnya. "Dengan bahasa...," kata &lt;a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Jalaludin_Rakhmat" target="_blank"&gt;Jalaludin Rakhmat&lt;/a&gt;, "Anda dapat mengatur perilaku orang lain. Ibu anda dari Amerika dapat anda gerakan untuk datang ke rumah kontrakan anda di Bandung dengan mengirimkan kata-kata lewat telepon atau surat. Dengan teriakan 'Bapak!' seorang anak kecil dapat menggerakkan lelaki besar di seberang jalan dengan mendekatinya. Dengan aba-aba maju - jalan, sersang dapat menggerakkan puluhan tentara menghentakkan kakinya dan berjalan dengan langkah langkah tegap" (Rakhmat, 1994:268).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah kekuatan bahasa, kekuatan kata-kata, &lt;i&gt;the power of words&lt;/i&gt;. "Mungkin inilah yang membedakan kita dengan binatang," ujar Rakhmat. "Melalui kata dan logat yang tepat, seseorang dapat menggerakkan dunia," kata Joseph Conrad (Brussel, 1987: 114), bukan suatu perlengkapan yang melengkapi manusia di dunia ini. Di dalam dan pada bahasa letaknya kenyataan bahwa manusia mempunyai dunia. Keberadaan dunia diletakkan secara bahasa titik di dalam bahasa, aspek-aspek dunia terungkap. Mempunyai dunia adalah serentak juga mempunyai bahasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sepanjang sejarah, kekuatan kata-kata telah memulai dan mengakhiri perang. Kata-kata menggerakkan para pemilih untuk memilih presiden Amerika Serikat dan menyingkirkan politikus lain yang ikut pemilihan presiden. "Pepatah yang mengatakan ‘tongkat dan batu dapat memecahkan tulang-tulang saya’ tetapi kata-kata tidak pernah dapat melukai saya tidak jauh dari kenyataan," kata Curtis, Floyd, dan Winsor (1996: 333).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka, bahasa pun kemudian ikut berfungsi sebagai pengontrol tingkah laku individu. Seseorang ditimbang martabat dan latar belakangnya, apakah ia bangsawan atau bukan, dari cara ia menempatkan kata-kata dari cara ia mengucapkan kalimat. Hal ini bisa terlihat dengan jelas dalam bahasa Jawa, misalnya. Seorang Jawa yang berlaga priayi, tapi tak tahu dimana ia harus menempatkan kata &lt;i&gt;sare &lt;/i&gt;dan dimana ia harus menggunakan kata &lt;i&gt;tilem &lt;/i&gt;(kedua-duanya berarti tidur,) akan tak diakui sebagai anggota lapisan yang luhur. Setidaknya ia akan dianggap kurang tahu adat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahasa memang memiliki kemampuan untuk menyatakan lebih dari apa yang disampaikan. "Bahasa lebih dari sekadar alat mengkomunikasikan realitas; bahasa merupakan alat untuk menyusun realitas" (Spradley, 1997: 23). Efek wilayah tak sadar manusia pun bahkan dapat dilihat dalam bahasa dan seringkali tampil dalam bentuk salah ucap (misalnya, keseleo lidah, kelupaan akan nama, dan sebagainya). Wacana komunikasi umumnya terganggu karena wilayah tak-sadar mengalami gangguan tetapi menurut keteraturan struktural tertentu. Dengan cara ini Lacan menghubungkan yang tak-sadar dengan bahasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak dahulu, para ahli pikir menyebut manusia sebagai makhluk yang dilengkapi dengan tutur bahasa (istilah animal rationale berpangkal pada istilah Yunani &lt;i&gt;logon ekhoon&lt;/i&gt;: dilengkapi dengan tutur kata dan akal budi). Istilah Yunani &lt;i&gt;logos &lt;/i&gt;menunjukkan arti sesuatu perbuatan ataupun isyarat, inti sesuatu hal, cerita, kata ataupun susunan. &lt;i&gt;Logos &lt;/i&gt;menunjukkan ke arah manusia yang mengatakan sesuatu mengenai dunia yang mengitari riya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka itu, para filsuf Yunani berbicara sekaligus mengenai &lt;i&gt;logos &lt;/i&gt;di dalam manusia sendiri kata, akal budi) dan logos di dalam dunia (arti, susunan alam raya). &lt;i&gt;Logos &lt;/i&gt;berarti mengatakan sesuatu yang komponennya berkaitan yang satu dengan yang lain, karenanya menyesuaikan diri, mendengarkan; kenyataan yang kita tuturkan lewat kata-kata sekaligus terangkum dalam istilah "logos" itu (van Peursen, 1991: 4).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hakikat bahasa adalah bahasa tutur (Poepoprodjo, 1987: 110). Begitulah mulanya. Bahasa membahasa dalam bahasa tutur, tidak dalam bahasa tulis: didengar, tidak dilihat. Bahasa terlepas dari proses pelaksanaannya begitu dibahasatuliskan. Bahasa tulis kehilangan daya ekspresif ketimbang bahasa yang diucapkan. Dengan ditulis, bahasa memang dilestarikan, tetapi bahasa pun menjadi lemah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam hal ini Gadamer mengutip Plato, yang dalam berbagai karyanya menandaskan kelemahan dan tidak berdayanya bahasa tulis &lt;i&gt;(to asthenes toon logoon)&lt;/i&gt;. Bahasa, dengan menjadi bahasa tulis, mengalami alienasi. Bahasa tutur, kata Poespoprodjo, memiliki daya pesona yang begitu kuat, namun menjadi kehilangan begitu banyak daya pesonanya manakala diwujudkan ke dalam gambar-gambar visual.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karya sastra memakai kata-kata sedemikian rupa guna memaksimumkan daya gunanya, namun banyak daya tenaga nya terserap manakala mendengar sekadar berupa proses visual pembacaan. Munculnya tulisan perlu disyukuri, namun hendaknya jangan dilupakan bahwa bahasa dalam bentuk asalnya mulanya didengar, bukan ditulis (Poespoprodjo, 1987: 110).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang dikatakan Poespoprodjo boleh jadi benar. Sebab nyatanya, apa yang disebut bahasa tutur itu memang dapat lebih mudah dipahami ketimbang bahasa tulis. Itu sebabnya Goenawan Mohamad jauh-jauh hari sudah mengingatkan, "Ketika para ahli bahasa kita sibuk memikirkan bahasa tulisan (ejaan adalah sendi pertamanya), kita pun seperti bahwa sekitar 30% bangsa kita tak mengenal bahasa yang disusun dalam huruf Latin itu. Kita lupa pentingnya bahasa lisan, yang mungkin merupakan bahasa komunikasi 75% atau lebih dalam hidup kita: radio, TV, khotbah, pidato di balai desa. Kita lalai barangkali bahwa dengan mem prioritaskan bahasa tulisan, kita memprioritaskan satu segi dari bahasa kita yang terbatas" (Mohamad, 1982: 321).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h4&gt;
Lalu, apakah bahasa itu?&lt;/h4&gt;
Dalam pengertian yang populer, bahasa adalah percakapan (Hidayat, 1996:27); sementara dalam wacana linguistik bahasa diartikan sebagai sistem simbol bunyi bermakna dan berartikulasi (dihasilkan oleh alat ucap), yang bersifat arbitrer dan konvensional, yang dipakai sebagai alat berkomunikasi oleh sekelompok manusia untuk melahirkan perasaan dan pikiran (Wibowo, 2001: 3).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengertian bahasa sebagai percakapan atau pembicaraan, tampaknya tidak sepenuhnya benar, sebab dalam aktivitas berpikir, berbahasa, dan berbicara, masih ada faktor lain yang terlibat. Emosi, misalnya, juga tindakan. Apabila pengertian bahasa hanya ditekankan pada berbicara, maka elemen pokok dalam bahasa pun menjadi sirna. Sebab, bahasa, pikiran, dan emosi tak lagi bisa dipisahkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut &lt;a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Ensiklopedi_Nasional_Indonesia" target="_blank"&gt;Ensiklopedia Indonesia&lt;/a&gt; (Bandung/Den Haag, t.t.) kata bahasa berarti “alat untuk melukiskan sesuatu pikiran, perasaan atau pengalaman; alat ini terdiri dari kata-kata. Dalam hubungan antara manusia dan manusia dipakai orang bahasa (kata-kata) itu sebagai simbol (lambang) yang objektif untuk memaparkan sesuatu pikiran atau perasaan yang subjektif”. Kutipan ini dapat diuraikan dan digunakan untuk penelitian yang terinci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dilihat dari sudut ilmu-ilmu sosial, bahasa adalah dasar komunikasi antarmanusia. Tanpa bahasa, perhubungan antarmanusia seperti ini tidaklah mungkin. Dalam pandangan teori linguistik yang dipengaruhi Chomsky, bahasa adalah sejumlah kalimat yang tak terbatas dan setiap kalimat bersifat tunggal-salah setiap kalimat hanya satu kali terbentuk dalam suatu bentuk yang tertentu (Kratz, 1974: 72).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h4&gt;
Lantas, apakah dasar ketunggalan itu?&lt;/h4&gt;
Kalimat itu terdiri atas sejumlah tanda bahasa (kata-kata yang terbatas dan yang disebut kode (code). Hanya dengan penyusunan menurut aturan tertentu (kodifikasi), tanda-tanda bahasa ini menjadi ungkapan. Penyusunan ini tidak terjadi menurut sebuah pola yang tunggal-misalnya menurut tata bahasa saja-tetapi dipengaruhi juga oleh hal-hal lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengaruh lain misalnya keadaan diri sendiri si pembicara dan keadaan di mana kalimat-kalimat tertentu itu diungkapkan. Keadaan ini disebut persyaratan situasi &lt;i&gt;(situative conditions)&lt;/i&gt; dan yang memang tidak pernah sama, seperti ketunggalan setiap pembicara menghasilkan ketunggalan setiap kalimat dalam bahasanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jumlah tanda-tanda bahasa dalam suatu bahasa tertentu selalu lebih besar daripada jumlah tanda-tanda bahasa yang diketahui oleh seseorang. Pengetahuan yang kuantitatif saja serta kemampuan orang memilih tanda-tanda tertentu untuk mengungkapkan kalimat-kalimat, disebut kemampuan bahasa &lt;i&gt;(language compe tence)&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua anggota sesuatu kelompok bahasa disebut pembicara mampu (competent speaker), karena mereka sanggup memilih tanda tanda bahasa dari kodenya yang tersedia, dari bahasa yang mereka kuasai untuk berkomunikasi dengan manusia lain. Jalannya perhubungan itu, ialah penyerahan kemungkinan-kemungkinan bahasa ke dalam ungkapan dan tulisan, disebut &lt;i&gt;performance &lt;/i&gt;(penampilan). Kalau seorang pembicara menguasai banyak tanda tanda bahasa maka ia memiliki performans yang baik, kalau pengetahuan tanda-tanda bahasa seorang pembicara sedikit, performansnya disebut kurang baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, performans itu tergantung kepada kemampuan si pembicara. Dalam arti luas, bahasa dapat ditafsirkan sebagai suatu penukaran (komunikasi) tanda-tanda (dan ini berlaku baik bagi bahasa menurut arti sempit: bahasa kata-kata, maupun mengenai semua tanda Janinnya). Ilmu yang mempelajari komunikasi tanda-tanda itulah yang disebut semiotika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanah yang luas itu meliputi bidang-bidang yang lebih terbatas, yaitu bahasa-bahasa alamiah dan bahasa-bahasa buatan (logika, aljabar, bahasa komputer, dan sebagainya). Dalam ilmu semiotika, itu dibedakan tiga tahap kaidah-kaidah (dan hal ini juga berlaku, biarpun lebih terinci, bagi bahasa pada umumnya dan bahasa-bahasa yang dibuat secara logis).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama-tama, terdapat kaidah-kaidah yang mengatur hubungan antara tanda-tanda atau lambang-lambang itu sendiri: sintaksis. Kemudian, kaidah-kaidah mengenai cara-cara tanda tanda tadi menunjukkan kepada objek-objek tertentu (orang-orang, barang-barang, peristiwa-peristiwa): semantik. Ketiga, kaidah kaidah yang menentukan hubungan semantis tadi dalam konteks yang lebih luas lagi, yakni dalam hubungan dengan si pemakai tanda-tanda: pragmatik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kaitan dengan pengertian bahasa ini, Rakhmat (1994: 268-269) menyebut dua cara untuk mendefinisikan bahasa: fungsional dan formal. Definisi fungsional melihat bahasa dari segi fungsinya, sehingga bahasa diartikan sebagai alat yang dimiliki bersama untuk mengungkapkan gagasan (&lt;i&gt;socially shares means for expressing ideas&lt;/i&gt;).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Definisi formal menyatakan bahasa sebagai semua kalimat yang terbayangkan, yang dapat dibuat menurut peraturan tata bahasa &lt;i&gt;(all the conceivable sentences that could be generated ac cording to the rules of its grammar)&lt;/i&gt;. “Setiap bahasa mempunyai peraturan bagaimana kata-kata harus disusun dan dirangkaikan supaya memberikan arti,” jelas Rakhmat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berkaitan dengan hakikat bahasa ini, Anderson (1972) mengemukakan delapan (8) prinsip dasar, yaitu:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;bahasa adalah suatu sistem&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;bahasa adalah vokal (bunyi ujaran)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;bahasa tersusun dari lambang-lambang mana suka&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;setiap bahasa bersifat unik, bersifat khas&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;bahasa dibangun dari kebiasaan-kebiasaan&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;bahasa adalah alat komunikasi&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;bahasa berhubungan erat dengan budaya tempat bahasa itu berada&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;bahasa itu berubah-ubah.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara itu, setelah menelaah batasan bahasa dari berbagai sumber, Brown (1980: 5) membuat rangkuman sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Bahasa adalah suatu sistem yang sistematis, barangkali juga untuk sistem generatif.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bahasa adalah seperangkat lambang-lambang mana suka atau simbol-simbol arbitrer.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Lambang-lambang tersebut terutama sekali bersifat vokal, tetapi mungkin juga bersifat visual.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Lambang-lambang itu mengandung makna konvensional.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bahasa dipergunakan sebagai alat komunikasi.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bahasa beroperasi dalam suatu masyarakat bahasa atau budaya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bahasa pada hakikatnya bersifat kemanusiaan, walaupun mungkin tidak terbatas pada manusia saja.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bahasa diperoleh semua orang atau bangsa dengan cara yang hampir/banyak bersamaan; bahasa dan belajar mempunyai ciri-ciri keuniversalan.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah pendapat dua orang pakar tentang hakikat bahasa. Meski dengan kata-kata yang agak berbeda di sana-sini, dari kedua pendapat di atas bisa kita lihat banyaknya persamaan pandangan dan gagasan mengenai bahasa itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahasa muncul manakala bunyi dan ide tampil bersama dalam obrolan ataupun wacana (discourse). Berbeda dari obrolan yang acapkali tidak memiliki arah, wacana adalah suatu aktivitas pembicaraan yang bersifat dialogis yang memiliki kualitas serta komitmen intelektual untuk memperoleh kebenaran bersama Ormiston &amp;amp; Schrift, 1990: 86-87. Hidayat, 1996:27-28).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam kaitan ini, berbahasa sebetulnya tidak selalu muncul dalam bentuk dialog, melainkan juga monolog. Hanya saja, ketika seseorang berbicara sendirian, sesungguhnya pembicaraan itu ditujukan kepada orang lain sebagai “pendengar,” yaitu “diri sendiri,” atau bisa jadi kepada figur yang tidak hadir secara nyata, misalnya Tuhan, atau orang yang hadir dalam imajinasinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengertian bahwa bahasa adalah percakapan, tidaklah salah, meskipun tidak juga sepenuhnya benar, karena percakapan hanyalah sebagian saja dari elemen bahasa. Dalam tindakan berbahasa, terdapat berbagai variabel yang melekat, antara lain variabel psikis, ide, gerak fisik, jaringan saraf, bahkan juga sistem nilai tempat sebuah bahasa tumbuh dan berkembang. Dalam kasus orang bisu, umpamanya, medium bahasa yang digunakan bukan suara, melainkan gerak anggota tubuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesatuan bahasa yang lengkap sebenarnya bukanlah kata atau kalimat, sebagaimana dianggap beberapa kalangan dewasa ini, melainkan wacana (Lubis, 1993: 20). Dikarenakan bahasa merupakan wacana, tempat semua praktik sosial berlangsung, maka bahasa juga dapat dianggap sebagai tempat membentuk individu-individu dalam sistem sosial (Piliang, 1999: 294). Berdasarkan pengertian inilah, dalam suatu wacana, manusia disebut sebagai subjek, yakni individu sebagai pengguna bahasa, yang terlibat di dalam satu sistem pertukaran tanda dengan individu lain dalam satu komunitas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut semiotika Saussurean, apa pun bentuk pertukaran tanda, ia harus mengikuti model kaitan struktural antara penanda dan petanda yang bersifat stabil dan pasti. Coward dan Ellis (dalam Piliang, 1999: 294) melihat ada tiga bentuk utama pertukaran yang digunakan masyarakat dalam mereproduksi sistemnya sendiri (bahasa, seksualitas, dan ekonomi), yang menurut pandangan strukturalisme, masing-masing memerlukan penempatan posisinya yang pasti secara oposisi biner (addresserladdresse, maskulin/ feminin, pembeli/penjual).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
&lt;i&gt;Sumber:&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Buku Semiotika Komunikasi&lt;/b&gt;&lt;i&gt;Penulis:&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Drs. Alex Sobur, M. Si.&lt;/b&gt;&lt;/blockquote&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh-VqJf8b2P3BL0TNKrsNRLbPRvu0QMIRLjnYRVAqYS2bC-c4VBP118smH3s-wNbd0ox7igwjh4z99TQs6PnMQN0IxYlTi_piaVebJXDQN2dus2NaTGI5P1HQowo0RsMKpQ-7n2UcFWwIJp/s72-c/Manusia%252C-Bahasa%252C-dan-Komunikasi.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>SKRIPSI: Pengaruh Standardisasi Biaya Produksi Terhadap Total Quality Control</title><link>http://jaririndu.blogspot.com/2019/12/skripsi-pengaruh-standardisasi-biaya-produksi-terhadap-total-quality-control.html</link><category>Download</category><category>Makalah</category><category>Pendidikan</category><category>Skripsi</category><author>noreply@blogger.com (Admin JR)</author><pubDate>Fri, 6 Dec 2019 23:27:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7393750217607801487.post-8744368214964571721</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;img alt="SKRIPSI: Pengaruh Standardisasi Biaya Produksi Terhadap Total Quality Control" border="0" data-original-height="366" data-original-width="650" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhshHOJYTsge0BpDJ0f7iDJnQZwGa4mVRR3vG9XuS1aZauy5-PDH3-kYBHfq4K4QjhFzMzuwYD6gdIZ78P2M-y6RDye5jGZJFCQ5KI3zGh_l2oIAEcdbJXHrRP7s_TZyJo9GVVincDqP6Cp/s1600/Pengaruh-Standardisasi-Biaya-Produksi-Terhadap-Total-Quality-Control.jpg" title="SKRIPSI: Pengaruh Standardisasi Biaya Produksi Terhadap Total Quality Control" /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;I. PENDAHULUAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
A. Latar Belakang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Upaya untuk menjaga kontinuitas perusahaan, baik multi nasional maupun perusahaan asing dapat berkembang dengan baik maka pemerintah mengambil langkah-langkah dalam hal pengembangan dan pengawasan terhadap kegiatan perusahaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengaruh standardisasi yang mempunyai peranan adalah kemampuan manajemen yang dimiliki perusahaan seperti faktor lingkungan usaha yang sering sulit dikendalikan oleh perusahaan, struktur distribusi segi budaya sosial dan etika serta persaingan dalam memasarkan hasil produk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu yang perlu diperhatikan perusahaan untuk menjamin kelangsungan hidup perusahaan yaitu pengendalian kualitas produksi. Maju mundurnya suatu perusahaan, baik ditinjau dari penekanan biaya produksi dan daya saing serta penyesuaian dengan konsumen tergantung dan kualitas barang yang dihasilkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biaya produksi perusahaan diperlukan satu tolak ukur sebagai bahan untuk mengevaluasi dan mengukur tingkat efesiensi dan efektifitas biaya produksi untuk membandingkan hasil yang dicapai dengan yang di harapkan (Carter,2009).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biaya standar akan menghasilkan selisih biaya yang ditetapkan sebelumnya dengan biaya sesungguhnya. Cara yang paling tepat untuk mengetahui dan menghitung besarnya penyimpangan yang terjadi dalam biaya produksi adalah dengan menggunakan analisis varians ( Mulyadi,2009).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengendalian kualitas penting untuk dilakukan oleh perusahaan agar produk yang dihasilkan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan perusahaan maupun standar yg telah ditetapkan oleh badan lokal dan internasional yang mengolah tentang standardisasi mutu/kualitas, dan tentunya sesuai dengan apa yang diharapkan oleh konsumen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mempertahankan hasil produksi yang berkualitas dan bermutu, dengan mempunyai standardisasi biaya yang telah ditetapkan untuk mempertahankan total quality control. Hal ini untuk memperoleh pengakuan dari konsumen (langganan) telah ditentukan produk untuk mengkompensasikan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi barang dan jasa sesuai dengan bidang perusahaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
PTP. XIV Pabrik Gula Takalar Kabupaten Takalar penting untuk  mempertahankan  kualitas  produksi (quality control) dengan menggunakan biaya standardisasi yang efisien dan efektif. Keadaan ini merupakan suatu hal yang wajar, karena perusahaan adalah organisasi yang usahanya untuk mencapai kemakmuran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biaya total ataupun biaya per unit harus diketahui untuk menentukan harga jual. Besarnya keuntungan atau kerugian, dapat juga diketahui, sebab tiap-tiap transaksi perusahaan selalu membandingkan biaya (cost) yang  disertai dengan pengawasan pada saat berproduksi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan uraian tersebut penulis memilih perusahaan PTP. XIV Pabrik Gula Takalar Kabupaten Takalar sebagai obyek penelitian dengan mengangkat judul "Pengaruh Standardisasi Biaya Produksi Terhadap Total Quality Control Pada PTP. XIV Pabrik Takalar Kabupaten Takalar”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
B. Rumusan Masalah&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan latar belakang, maka yang menjadi masalah pokok dalam penelitian ini adalah Apakah Standardisasi Biaya Produksi berpengaruh terhadap Total Quality Control pada PT. Perkebunan Nusantara (persero) kabupaten Takalar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
C. Tujuan Penelitian &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk mengetahui pengaruh standardisasi biaya produksi  terhadap Total Quality Control pada PT. Perkebunan Nusantara (persero) kabupaten Takalar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
D. Manfaat penelitian&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
a. Manfaat Teoritis&lt;br /&gt;
Sebagai konstribusi pengembangan ilmu akuntansi biaya, khususnya yang terkait dengan pengarus standarisasi biaya produksi terhadap total quality control.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
b. Manfaat Praktis&lt;br /&gt;
Hasil penelitian ini di harapkan dapat berguna sebagai referensi dasar untuk penelitian berikutnya dalam bidang yang sama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
c. Kebijakan&lt;br /&gt;
Sebagai bahan masukan perusahaan untuk mengevaluasi kembali sistem akuntansi biaya yang ada terutama mengenai standardisasi biaya produksi terhadap total quality control.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;h4 style="text-align: left;"&gt;DOWNLOAD SKRIPSI &lt;/h4&gt;&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;Untuk download versi lengkapnya bisa lewat link di bawah!&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;

&lt;div class="downJR"&gt;
&lt;h3&gt;&lt;b&gt;Download via Google Drive&lt;/b&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;a class="download1" href="https://drive.google.com/file/d/1h8lYvDRA_VU0FYDbk8WP3DfIzCkfKpwL/view?usp=drive_link" target="_blank" title="Download via Google Drive"&gt;DOWNLOAD GD&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;&lt;b&gt;Download via Mediafire&lt;/b&gt;&lt;/h3&gt;
&lt;a class="download2" href="https://www.mediafire.com/file/g673on1xncvxhw9/Pengaruh_Standardisasi_Biaya_Produksi_Terhadap_Total_Quality_Control_Pada_PTP._XIV_Pabrik_Gula_Takalar.pdf/file" target="_blank" title="Download via Google Mediafire"&gt;DOWNLOAD MF&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhshHOJYTsge0BpDJ0f7iDJnQZwGa4mVRR3vG9XuS1aZauy5-PDH3-kYBHfq4K4QjhFzMzuwYD6gdIZ78P2M-y6RDye5jGZJFCQ5KI3zGh_l2oIAEcdbJXHrRP7s_TZyJo9GVVincDqP6Cp/s72-c/Pengaruh-Standardisasi-Biaya-Produksi-Terhadap-Total-Quality-Control.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa</title><link>http://jaririndu.blogspot.com/2019/11/berbicara-sebagai-suatu-keterampilan-berbahasa.html</link><category>Pendidikan</category><author>noreply@blogger.com (Admin JR)</author><pubDate>Wed, 27 Nov 2019 19:15:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7393750217607801487.post-1797210003197734804</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;img alt="Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa" border="0" data-original-height="366" data-original-width="650" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg4CgzY5pDl1lGotZ6bySjVpYbH29shh__TnVhixmEt_wvDve9UFpzFxVmzdgPmO0gr2BfGX66Zhv1sLwEE0SWwIRnTb90x6hp4KfmLFZpNw_iuk4pUypdddzfDnd3-6_2_47pUAGE8LOSe/s1600/Berbicara-Sebagai-Suatu-Keterampilan-Berbahasa.jpg" title="Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa" /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Linguis berkata bahwa "speaking is language". Berbicara adalah suatu keterampilan berbahasa yang berkembang pada kehidupan anak, yang hanya didahului oleh ketrampilan menyimak, dan pada masa tersebutlah kemampuan berbicara atau berujar dipelajari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbicara sudah barang tentu berhubungan erat dengan perkembangan kosakata yang diperoleh oleh sang anak; melalui kegiatan menyimak dan membaca. Kebelum-matangan dalam perkembangan bahasa juga merupakan suatu keterlambatan dalam kegiatan-kegiatan berbahasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlu kita sadari juga bahwa keterampilan keterampilan yang diperlukan bagi kegiatan berbicara yang efektif banyak persamaannya dengan yang dibutuhkan bagi komunikasi efektif dalam keterampilan-keterampilan berbahasa yang lainnya im (Greene &amp;amp; Petty, 1971: 39-40).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk memeroleh gambaran yang lebih jelas, berikut ini akar kita tinjau secara lebih terperinci hubungan antara:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
a)  berbicara dan menyimak,&lt;br /&gt;
b)  berbicara dan membaca,&lt;br /&gt;
c) ekspresi lisan dan ekspresi tulis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;
1. Hubungan antara berbicara dan menyimak&lt;/h3&gt;
&lt;br /&gt;
Berbicara dan menyimak merupakan kegiatan komunikasi dua arah yang langsung serta merupakan komunikasi tatap-muka atau face- to-face communication (Brooks, 1964: 134).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal-hal yang dapat memperlihatkan eratnya hubungan antara berbicara dan menyimak, adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;Ujaran (speech) biasanya dipelajari melalui menyimak dan meniru (imitasi). Oleh karena itu, contoh atau model yang disimak atau direkam oleh sang anak sangat penting dalam penguasaan kecakapan berbicara.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kata-kata yang akan dipakai serta dipelajari oleh sang anak biasanya ditentukan oleh perangsang (stimulus) yang mereka temui (misalnya kehidupan desa/kota) dan kata-kata yang paling banyak memberi bantuan atau pelayanan dalam menyampaikan ide-ide atau gagasan mereka.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ujaran sang anak mencerminkan pemakaian bahasa di rumah dan dalam masyarakat tempatnya hidup. Misalnya, ucapan, intonasi, kosakata, penggunaan kata-kata, dan pola-pola kalimat.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Anak yang lebih muda lebih dapat memahami kalimat-kalimat yang jauh lebih panjang dan rumit ketimbang kalimat-kalimat yang dapat diucapkannya.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Meningkatkan keterampilan menyimak berarti membantu meningkatkan kualitas berbicara seseorang.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bunyi atau suara merupakan faktor penting dalam meningkatkan cara pemakaian kata-kata sang anak. Oleh karena itu sang anak akan tertolong kalau mereka menyimak ujaran-ujaran yang baik dari para guru, rekaman-rekaman yang bermutu, cerita-cerita yang bernilai tinggi, dan lain-lain.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Berbicara dengan bantuan alat-alat peraga (visual aids) akan menghasilkan penangkapan informasi yang lebih baik pada pihak penyimak. Umumnya, sang anak mempergunakan/meniru bahasa yang didengarnya. (Tarigan, 1980: 1 – 2; Dawson [et al], 1963: 29).&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h4&gt;
2. Hubungan antara berbicara dan membaca&lt;/h4&gt;
Beberapa proyek penelitian telah memperlihatkan adanya hubungan yang erat antara perkembangan kecakapan berbahasa lisan dan kesiapan baca. Telaah-telaah tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan-kemampuan umum berbahasa lisan turut melengkapi suatu latar belakang pengalaman-pengalaman yang menguntungkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keterampilan-keterampilan tersebut mencakup ujaran yang jelas dan lancar, kosa kata yang luas dan beraneka ragam, penggunaan kalimat-kalimat lengkap serta sempurna bila diperlukan, pembedaan pendengaran yang tepat, dan kemampuan mengikuti serta menelusuri perkembangan urutan suatu cerita, atau menghubungkan kejadian kejadian dalam urutan yang wajar serta logis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hubungan-hubungan antara bidang kegiatan lisan dan membaca telah dapat diketahui dari beberapa telaah penelitian, antara lain:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ul&gt;
&lt;li&gt;performansi atau penampilan membaca berbeda sekali dengan kecakapan berbahasa lisan.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;pola-pola ujaran yang tuna-aksara mungkin mengganggu pelajaran membaca bagi anak-anak.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;kalau pada tahun-tahun awal sekolah, ujaran membentuk suatu dasar bagi pelajaran membaca, maka membaca bagi anak-anak kelas yang lebih tinggi turut membantu meningkatkan bahasa lisan mereka; misalnya: kesadaran linguistik mereka terhadap istilah-istilah baru, struktur kalimat yang baik dan efektif, serta penggunaan kata-akta yang tepat.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;kosa kata khusus mengenai bahan bacaan haruslah diajarkan secara langsung. Seandainya muncul kata-kata baru dalam buku bacaan siswa, maka sang guru hendaknya mendiskusikannya dengan siswa agar mereka memahami maknanya sebelum mereka mulai membacanya. (Tarigan, 1980: 4; Tarigan, 1980: 6-7, Dawson [et al], 1963:30).&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;
3. Hubungan antara ekspresi lisan dan ekspresi tulis&lt;/h3&gt;
Adalah wajar bila komunikasi lisan dan komunikasi tulis erat sekali berhubungan karena keduanya mempunyai banyak persamaan antara lain:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(a)  Sang anak belajar berbicara jauh sebelum dia dapat menulis dan kosa kata, pola-pola kalimat, serta organisasi ide-ide yang memberi ciri kepada ujarannya merupakan dasar bagi ekspresi tulis berikutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(b)  Sang anak yang telah dapat menulis dengan lancar biasanya dapat pula menuliskan pengalaman pengalaman pertamanya secara tepat tanpa diskusi lisan pendahuluan tetapi dia masih perlu membicarakan ide ide yang rumit yang diperolehnya dari tangan kedua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila seorang anak harus menulis suatu uraian, menjelaskan suatu proses ataupun melaporkan suatu kejadian sejarah yang secara pribadi belum pernah dialaminya), maka dia memetik pelajaran dari suatu diskusi kelompok pendahuluan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian maka dia dapat mempercerah pikirannya, mengisi kekosongan-kekosongan, memperbaiki impresi atau kesan-kesan yang salah, serta mengatur ide-idenya sebelum dia mulai menulis sesuatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(c)  Perbedaan-perbedaan terdapat pula antara komunikasi lisan dan komunikasi tulis. Ekspresi lisan cenderung ke arah kurang berstruktur, lebih sering berubah-ubah, tidak tetap, dan biasanya lebih kacau serta membingungkan ketimbang komunikasi tulis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebanyakan pidato atau pembicaraan bersifat informal, dan seringkali kalimat-kalimat orang yang berpidato atau berbicara itu tidak ada hubungannya satu dan lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Si pembicara memikirkan ide-idenya sambil berbicara, dan kerap kali dia lupa bagaimana terjadinya suatu kalimat lama sebelum dia menyelesaikannya. Karena adanya masalah-masalah seperti ini pada ekspresi lisan, pengajaran mengenai keterampilan berbicara dan menyimak perlu mendapat perhatian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengalaman telah menunjukkan bahwa meningkatkan ekspresi lisan pada individu berarti turut pula meningkatkan daya pikir mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Membasmi kebiasaan-kebiasaan yang ceroboh ketidakteraturan dalam ujaran, kalimat-kalimat yang tidak menentu ujung pangkalnya serta berulang-ulang, pikiran-pikiran yang tidak sempurna dan tidak konsekuen dalam ekspresi lisan memang sangat perlu dan selalu harus dilakukan agar kita dapat membimbing para individu ke arah kebiasaan berpikir yang tepat dan logis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebaliknya, komunikasi tulis cenderung lebih unggul dalam isi pikiran maupun struktur kalimat, lebih formal dalam gaya bahasa dan jauh lebih teratur dalam pengertian ide-ide.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang penulis biasanya telah memikirkan dalam-dalam setiap kalimat sebelum dia menulis naskahnya; dia sering memeriksa serta memperbaiki kalimat-kalimatnya beberapa kali sebelum dia menyelesaikan tulisannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(d) Pembuat catatan serta pembuat bagan atau rangka ide-ide yang akan disampaikan pada suatu pembicaraan, akan menolong siswa untuk mengutarakan ide-ide tersebut kepada para pendengar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para siswa harus belajar berbicara dari catatan-catatan. Mereka membutuhkan banyak latihan berbicara dari catatan agar penyajiannya jangan terputus-putus dan tertegun-tegun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biasanya bagan atau rangka yang dipakai sebagai pedoman dalam berbicara sudah cukup memadai, kecuali dalam kasus laporan formal dan terperinci yang memerlukan penulisan naskah yang lengkap sebelumnya.&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;
***&lt;/h3&gt;
Begitulah, guru bahasa haruslah melihat instruksi atau pengajarannya dalam konteks yang tepat lagi wajar. Sang guru harus melihat bahwa pengajaran menyimak, berbicara, dan menulis itu haruslah sering berhubungan serta berkaitan erat dengan keterampilan berbahasa yang keempat, yaitu membaca.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segala usaha yang dilakukan untuk meningkatkan salah satu segi tersebut jelas akan berpengaruh kepada ketiga segi lainnya; dan melalaikan salah satu di antaranya, jelas pula memberi pengaruh jelek pada yang lainnya. Yah, kita harus selalu mengingat bahwa "learning is an ie grated thing" (Dawson [et al], 1063: 30 32; Tarigan, 1980: 571).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikianlah dalam pendahuluan ini telah kita bicarakan sepintas kilas mengenai ketrampilan berbahasa yang dalam bahasa Inggris disebut language (arts and) skills. Istilah art "seni dipergunakan untuk melukiskan sesuatu yang bersifat personal, kreatif, dan.original; sedangkan kata skill "keterampilan" dipakai untuk menyatakan sesuatu yang bersifat mekanis, eksak, impersonal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menyimak dan membaca erat berhubungan dalam hal bahwa keduanya merupakan alat untuk menerima komunikasi. Berbicara dan menulis erat berhubungan dalam hal bahwa keduanya merupakan cara untuk mengekspresikan makna atau arti. Dalam penggunaannya, keempat ketrampilan tersebut sering sekali berhubungan satu sama lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang mahasiswa menulis catatan waktu dia menyimak atau membaca. Seorang pembicara menafsirkan respons pendengaran terhadap suaranya sendiri. Dalam percakapan jelas terlihat bahwa berbicara dan menyimak hampir-hampir merupakan proses yang sama. (Anderson, 1972: 3).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h4&gt;
&lt;b&gt;Sumber:&lt;/b&gt;&lt;/h4&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Buku Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa (Hal 3 – 8)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Penulis: Prof. Dr. Henry Guntur Tarigan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Penerbit: Angkasa Bandung&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Tahun 1979 (Cetakan Pertama) &amp;amp; Tahun 2008 (Edisi Revisi)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg4CgzY5pDl1lGotZ6bySjVpYbH29shh__TnVhixmEt_wvDve9UFpzFxVmzdgPmO0gr2BfGX66Zhv1sLwEE0SWwIRnTb90x6hp4KfmLFZpNw_iuk4pUypdddzfDnd3-6_2_47pUAGE8LOSe/s72-c/Berbicara-Sebagai-Suatu-Keterampilan-Berbahasa.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Memahami Semiotika: Semiotika dan Semiologi</title><link>http://jaririndu.blogspot.com/2019/11/semiotika-dan-semiologi.html</link><category>Pendidikan</category><author>noreply@blogger.com (Admin JR)</author><pubDate>Tue, 19 Nov 2019 16:07:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7393750217607801487.post-4736338963492305960</guid><description>&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
Ada sekian banyak orang di seluruh belahan dunia yang memahami hal-hal dalam semiotika justru bukan sebagai semiotika (Umberto Eco Travels in Hyperreality, 1986).&lt;/blockquote&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;img alt="Memahami Semiotika: Semiotika dan Semiologi" border="0" data-original-height="343" data-original-width="624" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi8CNUZCyUz51jYsBTegTcTB2v9MtizefsTfGXkQFns4jntKIHD1p5oFlUoWKUynnkMcfLodzl33xrHwF66-NhyphenhyphenreqqJl4frH3a4BzDyddIvbyPBdaOcD6BdLk2FQzo40hpWFZ66P6eUVCp/s1600/Semiotika-dan-Semiologi.jpg" title="Memahami Semiotika: Semiotika dan Semiologi" /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Istilah manakah yang lebih disukai, &lt;i&gt;semiotika &lt;/i&gt;atau &lt;i&gt;semiologi&lt;/i&gt;; &lt;i&gt;semiotics &lt;/i&gt;atau &lt;i&gt;semiology&lt;/i&gt;? Yang jelas, kata semiotika di samping kata semiologi sampai kini masih dipakai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain istilah semiotika dan semiologi dalam sejarah linguistik ada pula digunakan istilah lain seperti semasiologi, sememik, dan semik untuk merujuk pada bidang studi yang mempelajari makna atau arti dari suatu tanda atau lambang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tampaknya, pembahasan yang luas tentang nama bidang studi yang disebut "semiotika" telah muncul di negara-negara Anglo-Saxon (Segers, 2000:5).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang menyebut semiologi jika ia berpikir tentang tradisi &lt;a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Ferdinand_de_Saussure" target="_blank"&gt;Saussurean&lt;/a&gt;. Dalam penerbitan-penerbitan Prancis, istilah-istilah semiologie kerap dipakai. Elements de Semiologie, misalnya, adalah salah satu judul yang dipakai oleh Roland Barthes (1964).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, istilah &lt;i&gt;semiotics &lt;/i&gt;digunakan dalam kaitannya dengan karya Charles Sanders Peirce dan Charles Morris.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, sesungguhnya kedua istilah ini, semiotika dan semiologi, mengandung pengertian yang persis sama, walaupun penggunaan salah satu dari kedua istilah tersebut biasanya menunjukkan pemikiran pemakainya: mereka yang bergabung dengan Peirce menggunakan kata semiotika, dan mereka yang bergabung dengan Saussure menggunakan kata semiologi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun yang terakhir, jika dibandingkan dengan yang pertama, kian jarang dipakai (van Zoest, 1993:2). Tommy Christomy (2001:7) menyebutkan, “Ada kecenderungan, istilah semiotika lebih populer daripada istilah semiologi sehingga para penganut Saussure pun sering menggunakannya."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baik semiotika maupun semiologi, keduanya kurang lebih dapat saling menggantikan karena sama-sama digunakan untuk mengacu kepada ilmu tentang tanda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para ahli umumnya cenderung tidak begitu mau dipusingkan oleh kedua istilah tersebut, karena mereka menganggap keduanya sebenarnya sama saja.&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;
Perbedaan &lt;a href="https://jaririndu.blogspot.com/search/label/Pendidikan" target="_blank"&gt;antara&lt;/a&gt;&amp;nbsp;keduanya&lt;/h3&gt;
Satu-satunya perbedaan antara keduanya, menurut Hawkes (dalam Sobur, 2001b:107) adalah bahwa istilah semiologi biasanya digunakan di Eropa, sementara semiotika cenderung dipakai oleh mereka yang berbahasa Inggris.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, seperti sudah disinggung, penggunaan kata semiologi menunjukkan pengaruh kubu Saussure, sedangkan semiotika lebih tertuju kepada kubu Peirce (van Zoest, 1996:2).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Perbedaan istilah itu,” kata Masinambow (2000b:iii), "menunjukkan perbedaan orientasi: yang pertama (semiologi) mengacu pada tradisi Eropa yang bermula pada Ferdinand de Saussure (1857-1913), sedangkan yang kedua (semiotika) pada tradisi Amerika yang bermula pada Charles Sanders Peirce (1839-1914).”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam definisi Saussure (Budiman, 1999a:107), semiologi merupakan “sebuah ilmu yang mengkaji kehidupan tanda-tanda di tengah masyarakat" dan, dengan demikian, menjadi bagian dari disiplin psikologi sosial. Tujuannya adalah untuk menunjukkan bagaimana terbentuknya tanda-tanda beserta kaidah-kaidah yang mengaturnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para ahli semiotika Prancis tetap mempertahankan istilah semiologi yang Saussurean ini bagi bidang-bidang kajiannya. Dengan cara itu mereka ingin menegaskan perbedaan antara karyakarya mereka dengan karya-karya semiotika yang kini menonjol di Eropa Timur, Italia, dan Amerika Serikat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara, istilah semiotika atau semiotik, yang dimunculkan pada akhir abad ke-19 oleh filsuf aliran pragmatik Amerika, Charles Sanders Peirce, merujuk kepada "doktrin formal tentang tanda-tanda”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang menjadi dasar dari semiotika adalah konsep tentang tanda: tak hanya bahasa dan sistem komunikasi yang tersusun oleh tanda-tanda, melainkan dunia itu sendiri pun sejauh terkait dengan pikiran manusia-seluruhnya terdiri atas tanda-tanda karena, jika tidak begitu, manusia tidak akan bisa menjalin hubungannya dengan realitas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahasa itu sendiri merupakan sistem tanda yang paling fundamental bagi manusia, sedangkan tanda-tanda non verbal seperti gerak-gerik, bentuk-bentuk pakaian, serta beraneka praktik sosial konvensional lainnya, dapat dipandang sebagai sejenis bahasa yang tersusun dari tanda-tanda bermakna yang dikomunikasikan berdasarkan relasi-relasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam buku ini (Buku Memahami Semiotika), yang akan dipakai hanya istilah semiotika, mengikuti contoh yang diberikan Umberto Eco. Maka itu, perbedaan implikasi filosofis dan metodologis dari kedua istilah tersebut, setidaknya, dapat dihindari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keputusan untuk hanya memakai istilah semiotika (semiotics), seperti dikatakan Eco (1975:9; lihat juga Segers, 2000:5), adalah sesuai dengan resolusi yang diambil oleh komite internasional di Paris bulan Januari 1969.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pilihan ini kemudian dikukuhkan oleh &lt;i&gt;Association for Semiotics Studies&lt;/i&gt; pada kongresnya yang pertama tahun 1974. Dalam konteks ini, &lt;i&gt;semiotics &lt;/i&gt;(dan ekuivalensinya dalam bahasa Prancis &lt;i&gt;semiotique&lt;/i&gt;) menjadi istilah untuk semua peristilahan lama &lt;i&gt;semiology &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;semiotics&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Sumber:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
Dari buku Semiotika Komunikasi (hal 11-13), 2003.&lt;br /&gt;Penulis: Drs. Alex Sobur, M. Si.&lt;br /&gt;Diterbitkan oleh Rosda&lt;/blockquote&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi8CNUZCyUz51jYsBTegTcTB2v9MtizefsTfGXkQFns4jntKIHD1p5oFlUoWKUynnkMcfLodzl33xrHwF66-NhyphenhyphenreqqJl4frH3a4BzDyddIvbyPBdaOcD6BdLk2FQzo40hpWFZ66P6eUVCp/s72-c/Semiotika-dan-Semiologi.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Makalah: Pemanfaatan Perpustakaan Perguruan Tinggi dalam Memenuhi Kebutuhan Informasi Kepada Pengguna</title><link>http://jaririndu.blogspot.com/2019/10/makalah-pemanfaatan-perpustakaan-perguruan-tinggi.html</link><category>Download</category><category>Makalah</category><category>Pendidikan</category><author>noreply@blogger.com (Admin JR)</author><pubDate>Wed, 2 Oct 2019 14:17:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7393750217607801487.post-6156898895357619144</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;img alt="Makalah: Pemanfaatan Perpustakaan Perguruan Tinggi dalam Memenuhi Kebutuhan Informasi Kepada Pengguna" border="0" data-original-height="343" data-original-width="624" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjqzIQBw3dEyneC224nkIEGLKSrtHSfWlqGcZOtjHYbXJjJojzN3zx7IwuWNq4t1W6C-gpMtzXJJ1GBdVzCrmqtW1WLJFLL7c-SaZJh2-DypnhHSUhZSNCCNjHG8iW6sxvThlnVNdmNarF6/s1600/Pemanfaatan-Perpustakaan-Perguruan-Tinggi-dalam-Memenuhi-Kebutuhan-Informasi-Kepada-Pengguna.jpg" title="Makalah: Pemanfaatan Perpustakaan Perguruan Tinggi dalam Memenuhi Kebutuhan Informasi Kepada Pengguna" /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;BAB I&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;PENDAHULUAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perpustakaan Perguruan Tinggi merupakan salah satu unsur utama dalam menunjang kegiatan Tri Darma Perguruan Tinggi atau dapat disebut jantung dari Perguruan Tinggi. Perpustakaan Perguruan Tinggi merupakan sarana untuk pemenuhan kebutuhan informasi sivitas akademika, khususnya mahasiswa dan dosen. Koleksi perpustakaan sangat penting untuk terus dikembangkan sesuai dengan perkembangan informasi dari waktu ke waktu, perkembangan informasi akan meningkatkan pemanfaatan perpustakaan dalam memenuhi kebutuhan informasi mahasiswa dan sivitas akademika perguruan tinggi pada umumnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebutuhan pengguna untuk memenuhi informasi yang berguna sebagai pendukung kegiatan belajar bagi seluruh sivitas akademika. Kebutuhan informasi setiap orang berbeda-beda. Begitu juga dengan kebutuhan informasi pengguna perpustakaan lainnya. Sehingga infomasi tersebut tidak up to date dan tidak sesuai dengan kebutuhan informasi pengguna saat ini. Seharusnya perpustakaan harus mampu menyediakan kebutuhan informasi bagi penggunanya untuk memaksimalkan fungsi perpustakaan dan pemanfaatan pengguna terhadap perpustakaan dalam rangka pemenuhan kebutuhan informasi bagi sivitas akademika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan adanya perpustakaan mendukung pemenuhan informasi penggunanya. Oleh karena itu, perpustakaan sebagai penyedia informasi (information provider), sudah saatnya memposisikan diri sebagai institusi terdepan dimana saat ini seluruh masyarakat secara global telah mengarah kepada kebutuhan informasi sebagai komponen utama masyarakat modern. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan tentang bagaimana pemanfaatan Perpustakaan apakah sudah memenuhi kebutuhan informasi dari pengguna, Jika belum perlu diperbaiki agar pemanfaatan perpustakaan dapat memenuhi kebutuhan informasi pengguna secara maksimal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;

&lt;b&gt;BAB II&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;PEMANFAATAN PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI DALAM MEMENUHI KEBUTUHAN INFORMASI KEPADA PENGGUNA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;2.1 Perpustakaan Perguruan Tinggi &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Perpustakaan perguruan tinggi sering disebut sebagai jantungnya universitas karena tanpa perpustakaan tersebut maka proses pelaksanaan belajar mengajar disivitas akademika mungkin kurang optimal. Perpustakaan perguruan tinggi seperti yang telah diketahui secara umum merupakan salah satu fasilitas yang harus ada pada sebuah perguruan tinggi. Karena perpustakaan menjadi tempat pencarian dan perolehan informasi yang dibutuhkan oleh mahasiswa perguruan tinggi dalam kegiatan pembelajaran dan menunjang kegiatan penelitian. Seperti yang dikatakan oleh Sutarno (2006, 36).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di bawah ini dijelaskan beberapa pendapat tentang pengertian perpustakaan perguruan tinggi sebagai berikut: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut Hasugian (2009:79) menyatakan pengertian perpustakaan perguruan tinggi adalah Perpustakaan yang dikelola oleh perguruan tinggi dengan tujuan membantu terpenuhinya tujuan perguruan tinggi. Perpustakaan perguruan tinggi sebagai perpustakaan yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan tinggi yang layanannya diperuntukkan sivitas akademika perguruan tinggi yang bersangkutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendapat Sutarno dalam bukunya Perpustakaan dan Masyarakat (2003:35) mendefenisikan “perpustakan perguruan tinggi merupakan yang berada dalam suatu perguruan tinggi dan yang sederajat yang berfungsi mencapai tri dharma perguruan tinggi, sedangkan penggunanya adalah seluruh civitas akademika”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sedangkan menurut Syahrial-Pamuntjak (2000:5) dalam bukunya Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan, menyatakan bahwa: Perpustakaan Perguruan Tinggi adalah perpustakaan yang tergabung dalam lingkungan pendidikan tinggi, baik yang berupa perpustakaan universitas, perpustakaan fakultas, perpustakaan akademi, dan perpustakaan sekolah tinggi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan beberapa defenisi dapat disimpulkan bahwa perpustakaan perguruan tinggi adalah perpustakaan yang berada di bawah naungan sebuah universitas atau perguruan tinggi lainnya yang sederajat yang penggunanya adalah mahasiswa dan civitas akademika.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
===========================&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Untuk makalah lengkapnya bisa di downlad melalui salah satu tombol download di bawah!&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div class="downJR"&gt;
&lt;a class="download1" href="https://drive.google.com/file/d/1k550libj053rbxkB6SEJOulxaDUYpvxE/view?usp=sharing" target="_blank" title="Download via Google Drive"&gt;DOWNLOAD GD&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjqzIQBw3dEyneC224nkIEGLKSrtHSfWlqGcZOtjHYbXJjJojzN3zx7IwuWNq4t1W6C-gpMtzXJJ1GBdVzCrmqtW1WLJFLL7c-SaZJh2-DypnhHSUhZSNCCNjHG8iW6sxvThlnVNdmNarF6/s72-c/Pemanfaatan-Perpustakaan-Perguruan-Tinggi-dalam-Memenuhi-Kebutuhan-Informasi-Kepada-Pengguna.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Dasar-Dasar Pendidikan: Konsep dan Prinsip Belajar dan Pembelajaran</title><link>http://jaririndu.blogspot.com/2019/09/konsep-dan-prinsip-belajar-dan-pembelajaran.html</link><category>Makalah</category><category>Pendidikan</category><author>noreply@blogger.com (Admin JR)</author><pubDate>Sat, 28 Sep 2019 09:21:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7393750217607801487.post-8973931654289788377</guid><description>&lt;b&gt;Dasar-Dasar Pendidikan: Konsep dan Prinsip Belajar dan Pembelajaran&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;img alt="Konsep dan Prinsip Belajar dan Pembelajaran" border="0" data-original-height="343" data-original-width="624" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjiwixEQF-hij-DpF8wcG-6CvTwiPyPL1MrjpM26kj7jhO4lSYlrjNuh6ylyOpe0FYWKztN9NhxSNidwNxoP5Ue8SNFQpWXFDz48XRohyphenhyphenymK8NsqLsm5IbwNBo_pORP9Sk4mvYDoyGJ5Sx_/s1600/Konsep-dan-Prinsip-Belajar-dan-Pembelajaran.jpg" title="Konsep dan Prinsip Belajar dan Pembelajaran" /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Belajar&lt;/b&gt; memiliki tiga atribut pokok ialah: 1) Belajar merupakan proses mental dan emosional atau aktivitas pikiran dan perasaan; 2) Hasil belajar berupa perubahan perilaku, baik yang menyangkut kognitif, psiko-motorik, maupun afektif; 3) Belajar berkat mengalami baik mengalami secara langsung maupun mengalami secara tidak langsung (melalui media). Dengan kata lain, belajar terjadi di dalam interaksi dengan lingkungan (lingkungan fisik dan sosial).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Supaya belajar terjadi secara efektif perlu diperhatikan beberapa prinsip antara lain:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1) Motivasi, yaitu dorongan untuk melakukan kegiatan belajar, baik motivasi intrinsik maupun motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik dinilai lebih baik sebab berkaitan langsung dengan tujuan pembelajaran itu sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2) Perhatian atau pemusatan energi psikis terhadap pelajaran erat kaitannya dengan motivasi. Untuk memusatkan perhatian siswa terhadap pelajaran bisa didasarkan terhadap diri siswa itu sendiri dan/atau terhadap situasi pembelajarannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3) Aktivitas belajar itu sendiri adalah aktivitas. Bila pikiran dan perasaan siswa tidak terlibat aktif dalam situasi pembelajaran, pada hakikatnya siswa tersebut tidak belajar. Penggunaan metode dan modia yang bervariasi dapat merangsang siswa lebih aktif belajar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4) Umpan balik di dalam belajar sangat penting, supaya siswa segera mengetahui benar tidaknya pekerjaan yang ia lakukan. Umpan balik dari guru, sebaiknya yang mampu menyadarkan siswa terhadap kesalahan mereka dan meningkatkan pemahaman siswa akan pelajaran tersebut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5) Perbedaan individual adalah individu tersendiri yang memiliki perbedaan dari yang lain. Guru hendaknya mampu memperhatikan dan melayani siswa sesuai dengan hakikat mereka masing-masingBerkaitan dengan ini catatan pribadi setiap siswa sangat diperlukan. Pembelajaran merupakan suatu sistem lingkungan belajar yang terdiri dari unsur lujuan, bahan pelajaran, strategi. alat, siswa, dan guru. Semua unsur atau komponen tersebut saling berkaitan, saling mempengaruhi, dan semuanya berfungsi dengan berorientasi kepada tujuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;b&gt;Sumber buku:&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Judul: PROFESIONALISME GURU DALAM PEMBELAJARAN&lt;br /&gt;
Penulis: Drs. H. Zainal Aqib, M. Pd.&lt;br /&gt;
Dicetak oleh: Percetakan Insan Cendekia, Jl. Kaliwaron 58, Surabaya.&lt;br /&gt;
Cetakan Pertama, 2002. Cetakan Kedua, 2007, Cetakan Ketiga, 2010.&lt;/blockquote&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjiwixEQF-hij-DpF8wcG-6CvTwiPyPL1MrjpM26kj7jhO4lSYlrjNuh6ylyOpe0FYWKztN9NhxSNidwNxoP5Ue8SNFQpWXFDz48XRohyphenhyphenymK8NsqLsm5IbwNBo_pORP9Sk4mvYDoyGJ5Sx_/s72-c/Konsep-dan-Prinsip-Belajar-dan-Pembelajaran.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Dasar-Dasar Pendidikan: 8 Tipe-Tipe Belajar</title><link>http://jaririndu.blogspot.com/2019/09/8-tipe-tipe-belajar.html</link><category>Pendidikan</category><author>noreply@blogger.com (Admin JR)</author><pubDate>Mon, 23 Sep 2019 11:04:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7393750217607801487.post-2978714512829979316</guid><description>&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;img alt="Dasar-Dasar Pendidikan 8 Tipe-Tipe Belajar" border="0" data-original-height="343" data-original-width="624" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiXIHGGCESHp9HgUAL2fBGgeS_Piy3roGVTEDu44j5SnYgZaKjVa_q7pH4gYhuHYou_IVIFT4_YfPnGtSl50kx-thQsVBGxUqqrfADG0kaVVYBMARYR3qE-TVxveWW_bRtOAvQVK7FaPhV-/s1600/Dasar-Dasar+Pendidikan%252C+8+Tipe-Tipe+Belajar.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;" title="Dasar-Dasar Pendidikan 8 Tipe-Tipe Belajar" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Sumber gambar:&amp;nbsp;gurubumi.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;b&gt;Dalam&lt;/b&gt; praktik pengajaran, penggunaan suatu dasar teori untuk segala situasi merupakan tindakan yang kurang bijaksana. Tidak ada suatu teori belajarpun yang cocok untuk segala situasi. Karena masing-masing mempunyai landasan yang berbeda dan cocok untuk situasi tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Robert M. Gagne&lt;/b&gt; mencoba melihat berbagai macam teori belajar dalam satu kebulatan yang saling melengkapi dan tidak bertentangan. Menurutnya, belajar mempunyai delapan tipe. Kedelapan tipe itu bertingkat – ada  hierarki dalam masing-masing tipe. Setiap tipe belajar merupakan prasyarat bagi tipe belajar di atasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tipe belajar yang dikemukakan oleh Gagne pada hakikatnya merupakan prinsip umum baik dalam belajar maupun mengajar. Artinya, dalam mengajar atau membimbing siswa belajar pun terdapat tingkatan sebagaimana tingkatan belajar tersebut di atas. Kedelapan tipe itu adalah:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h4&gt;
1. Belajar Isyarat (Signal Learning)&lt;/h4&gt;
Belajar isyarat mirip dengan &lt;i&gt;conditioned respons&lt;/i&gt; atau respons bersyarat. Seperti menutup mulut dengan telunjuk, isyarat mengambil sikap tak bicara. Lambaian tangan, isyarat untuk datang mendekat. Menutup mulut dengan telunjuk dan lambaian tangan adalah isyarat, sedangkan diam dan datang adalah respon. Tipe belajar semacam ini dilakukan dengan merespon atau isyarat. Jadi, respons yang dilakukan itu bersifat umum, kabur, dan emosional. Menurut Kimble (1961), bentuk belajar semacam ini biasanya bersifat tidak disadari dalam arti respons diberikan secara tidak sadar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h4&gt;
2. Belajar Stimulus - Respons (Stimulus Respons Learning)&lt;/h4&gt;
Berbeda dengan bahasa isyarat, respons bersifat umum, kabur, dan emosional. Tipe belajar S – R , respons bersifat spesifik. 2 x 3=6 adalah bentuk suatu hubungan S – R. Mencium bau masakan sedap, keluar air liur, itupun ikatan S - R. Jadi, belajar stimulus respons sama dengan teori asosiasi (S-R bond). Setiap respons dapat diperkuat dengan reinforcement. Hal ini berlaku pula pada tipe belajar &lt;i&gt;stimulus respons&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h4&gt;
3. Belajar Rangkaian (Chaining)&lt;/h4&gt;
Rangkaian atau rantai dalam &lt;i&gt;chaining &lt;/i&gt;adalah semacam rangkaian antara berbagai S – R yang bersifat segera. Hal ini terjadi dalam rangkaian motorik, seperti gerakan dalam mengikat sepatu, makan-minum-merokok atau gerakan verbal, seperti selamat tinggal, bapak-ibu, dan sebagainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h4&gt;
4. Asosiasi Verbal (Verbal Assosiation)&lt;/h4&gt;
Suatu kalimat "piramida itu berbangun limas" adalah contoh asosiasi verbal. Seseorang dapat menyatakan bahwa piramida berbangun limas kalau ia mengetahui berbagai bangun seperti balok, kubus, atau kerucut. Hubungan atau asosiasi verbal terbentuk bila unsur-unsurnya terdapat dalam urutan tertentu dan yang satu mengikuti yang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h4&gt;
5. Belajar Diskriminasi (Discriminition Learning)&lt;/h4&gt;
Tipe belajar ini adalah perbedaan terhadap berbagai rangkaian. Seperti membedakan berbagai bentuk wajah, binatang, atau tumbuh-tumbuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h4&gt;
6. Belajar Konsep (Concept Learning)&lt;/h4&gt;
Konsep merupakan simbol berpikir. Hal ini diperoleh dari hasil membuat tafsiran terhadap fakta atau realita dan hubungan antar berbagai fakta. Dengan konsep tersebut, maka dapat digolongkan binatang bertulang belakang menurut ciri-ciri khusus (kelas). Seperti kelas mamalia, reptilia, amphibia, burung, dan ikan. Dapat pula digolongkan manusia berdasarkan ras (warna kulit) atau kebangsaan, suku bangsa, atau hubungan keluarga. Kemampuan membentuk konsep ini terjadi bila orang dapat melakukan diskriminasi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h4&gt;
7. Belajar Aturan (Rule Learning)&lt;/h4&gt;
Hukum, dalil, atau rumus adalah &lt;i&gt;rule &lt;/i&gt;(aturan). Tipe balajar ini banyak terdapat dalam semua pelajaran di sekolah, seperti benda memuai bila dipanaskan atau besar sudut dalam sebuah segitiga sama dengan 180°. Belajar aturan temyata mirip dengan &lt;i&gt;verbal chaining&lt;/i&gt; (rangkaian verbal), terutama bila aturan itu tidak diketahui artinya. Oleh karena itu, setiap dalil atau rumus yang dipelajari harus dipahami artinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h4&gt;
8. Belajar Pemecahan Masalah (Problem Solving)&lt;/h4&gt;
Memecahkan masalah adalah biasa dalam kehidupan Ini memerlukan pemikiran. Upaya pemecahan masalah dilakukan dengan menghubungkan berbagai aturan yang relevan dengan masalah itu. Dalam memecahkan masalah diperlukan waktu adakalanya singkat dan adakalanya lama. Juga seringkali harus dilalui berbagai langkah, seperti tiap unsur dalam masalah itu mencari hubungannya dengan aturan (rule) tertentu, dan sebagainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam segala langkah diperlukan pemikiran. Tampaknya pemecahan masalah terjadi dengan tiba-tiba (insight). Dengan ulangan-ulangan masalah tidak terpecahkan dan apa yang dipecahkan sendiri - yang penyelesaiannya ditemukan sendiri lebih mantap dan dapat ditransfer kepada situasi atau problem lain. Kesanggupan memecahkan masalah memperbesar kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Sumber buku:&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;Judul: PROFESIONALISME GURU DALAM PEMBELAJARAN&lt;br /&gt;
Penulis: Drs. H. Zainal Aqib, M. Pd.&lt;br /&gt;
Dicetak oleh: Percetakan Insan Cendekia, Jl. Kaliwaron 58, Surabaya.&lt;br /&gt;
Cetakan Pertama, 2002. Cetakan Kedua, 2007, Cetakan Ketiga, 2010.&lt;/blockquote&gt;
</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiXIHGGCESHp9HgUAL2fBGgeS_Piy3roGVTEDu44j5SnYgZaKjVa_q7pH4gYhuHYou_IVIFT4_YfPnGtSl50kx-thQsVBGxUqqrfADG0kaVVYBMARYR3qE-TVxveWW_bRtOAvQVK7FaPhV-/s72-c/Dasar-Dasar+Pendidikan%252C+8+Tipe-Tipe+Belajar.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Tokoh Pendidikan dan Teori Pendidikan di Indonesia dan di Dunia</title><link>http://jaririndu.blogspot.com/2019/07/tokoh-pendidikan-dan-teori-pendidikan.html</link><category>Pendidikan</category><author>noreply@blogger.com (Admin JR)</author><pubDate>Fri, 12 Jul 2019 09:38:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7393750217607801487.post-4312588659147506755</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div class="separator" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em; text-align: center;"&gt;
&lt;img alt="Tokoh Pendidikan dan Teori Pendidikan di Indonesia dan di Dunia" border="0" data-original-height="343" data-original-width="624" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjBwPcahTcojtBaBqTP_ZR8C8qPgTFAv5HvLjHkOvGveIS4pH2HQMePou-gGjQjLXJc0TfZOmXobEkv214hkP7FybDKkMwj5_JZVZEm8tcYB3IVkRhFo9C9_i0-7esLbAdycEoYZB1uasVj/s1600/Ki-Hadjar-Dewantara.jpg" title="Tokoh Pendidikan dan Teori Pendidikan di Indonesia dan di Dunia" /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berikut tokoh-tokoh pendidikan dan teori pendidikan yang ada di Indonesia dan di dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;1. Berikut ini nama-nama tokoh pendidikan dunia berdasarkan periodisasinya.&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;a. Zaman Kuno&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
- Sokrates&lt;br /&gt;
- Isokrates&lt;br /&gt;
- Plato&lt;br /&gt;
- Aristoteles&lt;br /&gt;
- Cecero&lt;br /&gt;
- Lucretius&lt;br /&gt;
- Quilintian&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;b. Abad Pertengahan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
- Justinian&lt;br /&gt;
- Alcuin&lt;br /&gt;
- Charkmagne&lt;br /&gt;
- Alfred&lt;br /&gt;
- Albertus Magnus&lt;br /&gt;
- Saint Thomas Aquinos&lt;br /&gt;
- Roger Bacon&lt;br /&gt;
- John Duns Scotus&lt;br /&gt;
- William Ockhan&lt;br /&gt;
- Waldenses&lt;br /&gt;
- Albigenses&lt;br /&gt;
- John Wycliffe&lt;br /&gt;
- John Huss&lt;br /&gt;
- Petrarch&lt;br /&gt;
- Boccaccio&lt;br /&gt;
- Vittorino&lt;br /&gt;
- Feltre&lt;br /&gt;
- Guarino da Verona&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;c. Zaman Modern&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
- Johannes Sturm&lt;br /&gt;
- Martin Luther&lt;br /&gt;
- John Calvin&lt;br /&gt;
- Ignatius Layola&lt;br /&gt;
- Richard Mulcaster&lt;br /&gt;
- Francois Rabelaris&lt;br /&gt;
- Michel de Montaigne&lt;br /&gt;
- Francis Bacon&lt;br /&gt;
- John Milton&lt;br /&gt;
- Wolfgang Ratke&lt;br /&gt;
- John Amos Comenius&lt;br /&gt;
- Augustus Hermann Francke&lt;br /&gt;
- John Locke&lt;br /&gt;
- Jean Jacques Rousseau&lt;br /&gt;
- Johann Bernhard Basedown&lt;br /&gt;
- Immanuel Kant&lt;br /&gt;
- Campe Salzmann Rochow&lt;br /&gt;
- Zedhtz&lt;br /&gt;
- Franklin&lt;br /&gt;
- Jefferson&lt;br /&gt;
- Johann Heinrich Pestalozzi&lt;br /&gt;
- Johann Friedrich Froebel&lt;br /&gt;
- Robert Owen&lt;br /&gt;
- Herbert Spencer&lt;br /&gt;
- Horace Mann&lt;br /&gt;
- Henry Bernard&lt;br /&gt;
- Charles William Eliot&lt;br /&gt;
- John Dewey&lt;br /&gt;
- Herman Harrel Home&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;2. Para Tokoh Pendidikan Nasional&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;
1. R.A Kartini (1879 – 1904), lembaga pendidikan Sekolah Gadis tahun 1903.&lt;br /&gt;
2. R. Dewi Sartika (1884 – 1947), lembaga pendidikan Sekolah Istri tahun 1904.&lt;br /&gt;
3. Rohana Kudus (1884 - ?), lembaga pendidikan Sekolah Gadis tahun 1905.&lt;br /&gt;
4. KH. Ahmad Dahlan (1868 – 1923), lembaga pendidikan Muhammadiyah 1912.&lt;br /&gt;
5.  Ki Hajar Dewantara (1889 – 1959), lembaga pendidikan Taman Siswa tahun 1922.&lt;br /&gt;
6. Moh. Syafei (1899 - ?), lembaga pendidikan INS 1922.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;3. Beberapa tokoh pendidikan di antaranya memberikan teorinya sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;a) Plato (428 SM)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Berdasarkan psikologi dan teori masyarakat, Plato mengemukakan beberapa fakta tentang pola pendidikan, di mana keterampilan. seni, dan pengetahuan diwariskan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;b) Quintilian (35-90 M)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Pendidikan hendaknya menghasilkan manusia baik yang terampil berbicara ("a good man skilled in speaking").&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;c) Augustine (354 M)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Metode pengajaran Augustine mementingkan pengertian dan bukan dogma. Untuk itu, digunakan penalaran atau berpikir logis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;d) Comenius (1592)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Pendidikan hendaknya universal, seragam, dan melalui sekolahsekolah rendah dan wajib belajar. Pengajaran hendaknya memperhatikan minat murid.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;e) John Locke (1632)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Menurut Locke, tujuan akhir pendidikan ialah kebahagiaan alau kesejahteraan bangsa. Untuk itu, warga negara diperlengkapi dengan pendidikan jasmani, pendidikan moral, dan pendidikan intelek.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;f) Rousseau (1712)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Teori pendidikan Rousseau dibagi menjadi 3 bagian, yaitu pendidikan swasta bagi orang laki-laki, pendidikan negeri bagi orang laki-laki, dan pendidikan kaum wanita. Teori Rousseau terdapat pengungkapan fakta yang berkaitan dengan hakikat manusia dan sejarah manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;g) Immanuel Kant (1724)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Bagi Kant, pendidikan berarti keseksamaan, disiplin, dan pengajaran. Jelasnya, anak harus diasuh dan dijaga jika ia mandeg. Disiplin ialah pemunahan kebuasan dan kekerasan, sedangkan pengajaran ialah memperbaiki keamanan dan kognisi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;h) Johann Heinrich Pestalozzi (1746)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Pada hakikatnya, anak didik adalah pribadi yang memiliki dayadaya yang perlu dikembangkan. Anak bukan hanya sebagai individu, akan tetapi dipandang sebagai anggota masyarakat. Tujuan pendidikan adalah membimbing anak menjadi orang yang baik dengan jalan mengembangkan daya-daya yang ada pada anak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;i) Johann Friederich Herbart (1776)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Menurut Herbart, tujuan pendidikan adalah menyatukan anak didik pengalaman yang baik dengan kemauan yang baik, sehingga anak didik dalam semua perbuatannya menunjukkan kepribadian dan berbuat berdasarkan sila moral.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;j) Johann Friedrich Frobel (1782)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Tujuan pendidikan Frobel adalah untuk mengembangkan manusia dengan segala daya jasmani dan rohani yang ada padanya. Pendidikan harus sesuai dengan kebutuhan hidup sekarang dan mendatang agar anak dapat hidup dalam kemurian dan kesucian, dengan memenuhi panggilan di dunia ini sebagai makhluk yang berasal dari Tuhan dan akan menuju ke Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;k) Jan Lighthart (1859)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Pendidikan bertujuan pembentukan manusia yang berbudi pekerti Kecerdasan otak memang perlu, tetapi itu bukan yang terpenting. Pengajaran hendaknya menghindari intelektualisme dan verbalisme.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;l) Maria Montessori (1870)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Pendidikan adalah hanya pertolongan bagi perkembangan anak didik. Segenap faktor pendidikan hendaknya btertolak dari kodrat dan pembawaan anak didik (pedosentris).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;m) Helen Parkhurst (1887)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Parkhurst adalah pencipta sistem pengajaran Dalton (Laboratorium Plan). Dalam sistein Dalton ini, hahan pengajaran yang diberikan sekaligus dalam bentuk tugas untuk tahunan, bulanan, dan mingguan. Sistem Dalton dengan bentuk tugas ini memenuhi dasar didaktik efisien.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;n) John Dewey (1859)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Tujuan pendidikan menurut Dewey adalah untuk mencapai kekebalan semua generasi penerus masyarakat yang dididik. Metode pendidikan mananamkan suatu disiplin, tetapi bukan otoriter. Isi pendidikan adalah mata pelajaran mata pelajaran yang memberikan "impulse" atau dorongan kepada anak didik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h2&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;4. Selain teori pendidikan para tokoh pendidik dunia, bersama ini dikemukakan beberapa pengertian pendidikan menurut tokoh pendidikan, misalnya:&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;a) Langeveld&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Pemberian bimbingan dan pertolongan rohani dari orang dewasa kepada mereka yang masih memerlukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;b) Crow &amp;amp; Crow&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Proses pengalaman yang memberikan pengertian, pandangan (insight), dan penyesuaian bagi seseorang yang menyebabkan ia berkembang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;c) Cryns&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Pertolongan yang diberikan oleh siapa yang bertanggung jawab atas pertumbuhan anak untuk membawanya ke tingkat dewasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;d) John Dewey&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Pendidikan adalah suatu proses pengalaman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;e) Ki Hajar Dewantara&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelek), dan tubuh anak untuk memajukan kehidupan anak didik selaras dengan dunianya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;&lt;b&gt;Sumber buku:&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Judul: PROFESIONALISME GURU DALAM PEMBELAJARAN&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Penulis: Drs. H. Zainal Aqib, M. Pd.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Dicetak oleh: Percetakan Insan Cendekia, Jl. Kaliwaron 58, Surabaya.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Cetakan Pertama, 2002. Cetakan Kedua, 2007, Cetakan Ketiga, 2010.&lt;/i&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjBwPcahTcojtBaBqTP_ZR8C8qPgTFAv5HvLjHkOvGveIS4pH2HQMePou-gGjQjLXJc0TfZOmXobEkv214hkP7FybDKkMwj5_JZVZEm8tcYB3IVkRhFo9C9_i0-7esLbAdycEoYZB1uasVj/s72-c/Ki-Hadjar-Dewantara.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Filsafat Pendidikan dan Teori-Teori Landasan Filsafat Pendidikan</title><link>http://jaririndu.blogspot.com/2019/07/filsafat-pendidikan-dan-teori-teori-landasan-filsafat-pendidikan.html</link><category>Pendidikan</category><author>noreply@blogger.com (Admin JR)</author><pubDate>Sat, 6 Jul 2019 08:42:00 +0800</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7393750217607801487.post-4608174104609640026</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;img alt="Filsafat Pendidikan dan Teori-Teori Landasan Filsafat Pendidikan" border="0" data-original-height="343" data-original-width="624" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhIFCGNqoBDrx_XQB_SOH8NvIMwcNhyTmMahcEJ3a9lkEwObHxCEOYT1atT4Y6qOKg0O3Gb6aB3uHKOV-MKyH22DFuxcSdShl1xjMG6MaAZaZNiwSOHgsjGp4P674gLE8Xz12VInwBd2SwK/s1600/Filsafat-Pendidikan-dan-Teori-Teori-Landasan-Filsafat-Pendidikan.jpg" title="Filsafat Pendidikan dan Teori-Teori Landasan Filsafat Pendidikan" /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;A.  FILSAFAT PENDIDIKAN&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;
Filsafat Pendidikan merupakan ilmu yang memberi jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan dan persoalan-persoalan dalam lapangan pendidikan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menurut ahli-ahli filsafat Amerika di antaranya John S. Brubacher dan Theodore Brameld, ada empat aliran filsafat pendidikan, yaitu:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Perenialisme&lt;/b&gt;, memandang bahwa keadaan sekarang ini diliputi oleh kekacauan dan kesimpangsiuran dalam dunia pendidikan dan kebudayaan. Hal ini disebabkan manusia telah melupakan dan mengabaikan nilai-nilai luhur keagamaan, seperti yang terdapat pada abad pertengahan. Oleh karena itu, Perenialisme merupakan filsafat pendidikan yang bersifat regresif (seperti pada waktu abad pertengahan).&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Esensialisme&lt;/b&gt;, merupakan filsafat pendidikan yang tidak menyetujui simbolisme mutlak dan dogmatis abad pertengahan. Jadi, merupakan reaksi terhadap pendapat aliran Perenialisme Esensialisme menghendaki pendidikan yang stabil, tidak berubah-ubah, dan sistematis yang memenuhi tuntutan zaman modern.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Progresivisme&lt;/b&gt;, menghendaki pendidikan yang fleksibel dan senantiasa disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Progresivisme tidak menyetujui pendidikan yang otoriter, sehingga yang diutamakan Progresivisme ialah bagian-bagian utama dan kebudayaan, yaitu kelompok ilmu hayat, antropologi, psikologi. dan ilmu alam.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;&lt;b&gt;Re-Konstruksionisme&lt;/b&gt;, pada dasarnya sama dengan Progresivisme, tetapi dapat dikatakan lebih progresif lagi.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;br /&gt;
Keempat aliran filsafat pendidikan tersebut di atas dipengaruhi dan didukung oleh empat aliran filsafat, yaitu:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;a. Naturalisme&lt;/b&gt;, mengatakan bahwa kenyataan yang sebenarnya dan segala sesuatu itu berasal dari dalam dan tidak ada sesuatupun yang ada ini terdapat di balik alam ini.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;b.  Idealisme&lt;/b&gt;, berpendapat bahwa kenyataan itu terdiri dari ide-ide atau spirit, sedangkan alam fisik ini tergantung pada atau merupakan ekspresi dari jiwa universal atau Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;c.  Realisme&lt;/b&gt;, berpendirian bahwa dunia luar itu merupakan kenyataan yang sebenarnya.&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;d.  Pragmatisme&lt;/b&gt;, mengatakan bahwa yang benar itu hanyalah yang berguna untuk masyarakat. Hal ini terkenal juga dengan nama &lt;i&gt;utilities principle&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti kita ketahui bahwa aliran-aliran filsafat pendidikan yang telah dibicarakan di atas adalah buah pikiran dari ahli-ahli filsafat barat. Untuk Indonesia, falsafah hidup bangsanya adalah Pancasila.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;B.  LANDASAN FILSAFAT PENDIDIKAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/h3&gt;
Perkembangan teori pendidikan mengalami proses yang berangkat dari pandangan-pandangan, sudut tinjau, atau kerangka acuan yang melandasi penyelenggaraan pendidikan. Landasan ini menyangkut pandangan suatu teori terhadap hakikat anak sebagai subjek didik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Landasan teori ini biasanya menjadi keyakinan yang melekat ketat dalam individu-individu yang mengelola pendidikan Dengan demikian, maka &lt;i&gt;policy&lt;/i&gt; dan praktik kerjanya akan diwarnai oleh prinsip dan keyakinan yang dianutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teori-teori yang menjadi landasan filsafat pendidikan yang telah herkembang sejak abad ke-17 adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;1. Teori Empirisme&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/h3&gt;
Teori ini mengatakan bahwa perkembangan manusia sangat ditentukan oleh faktor lingkungan, terutama pendidikan Anak lahir bagaikan kertas putih yang belum ada tulisannya. Lingkunganlah yang akan membubuhkan aneka ragam tulisan pada kertas putih itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian juga manusia, pribadinya baik atau buruk menurut ukuran normatif tergantung lingkungan yang membentuknya. Oleh sebab itu, pendidikan merupakan faktor vital dalam membentuk pribadi manusia. Pendidikan sebagai lingkungan berkuasa penuh atas pembentukan pribadi manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teori ini dipelopori oleh ahli filsafat dan ahli pendidikan yang bernama John Locke (1632-1704). Teorinya biasa dikenal dengan teori "Tabularasa". Ia menganggap bahwa manusia lahir bagaikan tabularasa (meja yang di atasnya dilapisi lilin).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tulisan apa pun yang dituangkan pada tabularasa itu, demikian pulalah jenis bentuk dan warna meja itu. Teori inilah yang kemudian diterapkan dalam dunia pendidikan karena seorang anak dilahirkan dalam keadaan bersih tanpa noda dan suci adanya, maka lingkunganlah yang membentuk pribadi anak di kemudian hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pandangan di atas sejalan dengan teori J.J. Rouseau yang menyatakan bahwa, "&lt;i&gt;All things are good as they came out of the hands of their creator but everything generates in the hands of man&lt;/i&gt;".&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segala sesuatu pada dasarnya baik sebagaimana datang dari penciptanya, namun segala sesuatu menurun ke tangan tangan manusia. Berarti pembentukan pribadi manusia tergantung kepada manusianya itu sendiri dalam mendayagunakan lingkungan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh sebab itu, berhubung lingkungan relatif dapat didayagunakan dan dikuasai oleh manusia, maka aliran ini memiliki ciri optimisme dalam perkembangan pribadi manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;
&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;2. Teori Nativisme&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/h3&gt;
Teori ini menyatakan bahwa perkembangan pribadi sangat ditentukan oleh faktor hereditas atau pembawaan yang potensial berasal dari dalam diri seseorang. Anak lahir telah membawa potensi-potensi yang berasal dari dalam diri anak itu secara kodrati. Pembentukan pribadi anak selanjutnya tergantung bagaimana ia mengembangkan pembawaan ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teori ini mengabaikan lingkungan secara dominan dalam pembentukan pribadi seseorang dan pendidikan memainkan peranan hanya dalam rangka perealisasi potensi-potensi pembawaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teori ini dipelopori oleh Arthur Schopenhauer (1788 - 1860). Pendapatnya mengenai pribadi manusia adalah bahwa faktor pembawaan yang telah dibawa sejak lahir tidak dapat diubah oleh pengaruh lingkungan atau pendidikan. Apabila manusia sejak lahir memiliki potensi-potensi yang secara kodrati tinggi, maka perkembangan pribadi mendatang akan tinggi pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebaliknya, jika anak lahir tanpa potensi-potensi hereditas yang baik, maka seseorang nantinya akan memiliki potensi yang kurang baik. Pendidikan tidak akan mengubah kodrat manusia yang telah membawa potensi-potensi sejak lahir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;h3&gt;
&lt;span style="font-size: small;"&gt;3. Teori Konvergensi&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;
Teori ini menyatakan bahwa perkembangan pribadi manusia merupakan hasil dari proses kerja sama antara hereditas (pembawaan) dan &lt;i&gt;environment&lt;/i&gt; (lingkungan). Tiap pribadi merupakan perpaduan atau konvergensi dari faktor internal (potensi-potensi dalam diri) dengan faktor eksternal (lingkungan termasuk pendidikan).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimanapun baiknya hereditas, apabila lingkungan tidak menunjang dan mengembangkannya, maka hereditas yang sudah baik itu akan menjadi laten (tetap tidur). Begitu juga sebaliknya, apabila hereditas sudah tidak baik, namun lingkungan memungkinkan dan menunjang, maka kepribadian yang ideal akan tercapai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teori ini dipelopori oleh William Stern (1871-1938). Teori ini menekankan kedua faktor yang berasal dari pembawaan maupun lingkungan. Aliran ini mengakui bahwa anak lahir sudah membawa potensi-potensi tertentu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun demikian, potensi potensi tersebut bersifat potensial dan lingkungan (baca: pendidikan) akan berperan juga dalam membentuk pribadi manusia, sehingga pribadi manusia merupakan perpaduan di antara keduanya.&lt;br /&gt;
***&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masing-masing dari ketiga teori di atas memiliki penganut sesuai dengan keyakinan pandangan dan sudut tinjauannya. Namun, berkembangnya ilmu pengetahuan membawa konsekuensi arah yang lebih realistis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenyataan menunjukkan bahwa pribadi orang sangat diwarnai oleh lingkungan di mana ia hidup. Di samping manusia membawa potensi-potensi sejak lahir, pendidikan sangat memengaruhinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai contoh, seorang anak yang lahir dari seorang pendeta atau alim ulama, belum menjamin ia menjadi orang yang soleh di kemudian hari, jika sejak kecil ia dididik pada orang yang suka main judi, merampok, dan sebangsanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di lain pihak, anak yang lahir dengan potensi yang serba lemah (anak dalam kategori &lt;i&gt;debile&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;embicile&lt;/i&gt;, ediot, dan sebagainya), walaupun dididik oleh ilmuwan tangguh, maka lingkungan tidak kuasa mengubah serba kekurangan tersebut menjadi orang yang berpribadi lengkap secara maksimal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh sebab itu, teori konvergensi ini banyak dianut oleh para ahli pendidikan dewasa ini karena sifatnya yang realistis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Sumber buku:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Judul: PROFESIONALISME GURU DALAM PEMBELAJARAN&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Penulis: Drs. H. Zainal Aqib, M. Pd.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Dicetak oleh: Percetakan Insan Cendekia, Jl. Kaliwaron 58, Surabaya.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Cetakan Pertama, 2002. Cetakan Kedua, 2007, Cetakan Ketiga, 2010.
&lt;/i&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhIFCGNqoBDrx_XQB_SOH8NvIMwcNhyTmMahcEJ3a9lkEwObHxCEOYT1atT4Y6qOKg0O3Gb6aB3uHKOV-MKyH22DFuxcSdShl1xjMG6MaAZaZNiwSOHgsjGp4P674gLE8Xz12VInwBd2SwK/s72-c/Filsafat-Pendidikan-dan-Teori-Teori-Landasan-Filsafat-Pendidikan.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item></channel></rss>