<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" media="screen" href="/~d/styles/atom10full.xsl"?><?xml-stylesheet type="text/css" media="screen" href="http://feeds.feedburner.com/~d/styles/itemcontent.css"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearch/1.1/" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:feedburner="http://rssnamespace.org/feedburner/ext/1.0" gd:etag="W/&quot;CUMAQnc9cSp7ImA9WxNaFUg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205399</id><updated>2009-11-30T10:57:23.969+07:00</updated><title>Ikatan Dokter Anak Indonesia</title><subtitle type="html">Kesehatan Anak Adalah Kesehatan Masa Depan Kita!</subtitle><link rel="http://schemas.google.com/g/2005#feed" type="application/atom+xml" href="http://dranak.blogspot.com/feeds/posts/default" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://dranak.blogspot.com/" /><link rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com/" /><link rel="next" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false&amp;v=2" /><author><name>.</name><email>noreply@blogger.com</email></author><generator version="7.00" uri="http://www.blogger.com">Blogger</generator><openSearch:totalResults>73</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><link rel="self" href="http://feeds.feedburner.com/IkatanDokterAnakIndonesia" type="application/atom+xml" /><feedburner:browserFriendly>This is an XML content feed. It is intended to be viewed in a newsreader or syndicated to another site, subject to copyright and fair use.</feedburner:browserFriendly><atom10:link xmlns:atom10="http://www.w3.org/2005/Atom" rel="hub" href="http://pubsubhubbub.appspot.com" /><entry gd:etag="W/&quot;D0cGSHYzfip7ImA9WxVUF0k.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205399.post-8634332332617488800</id><published>2009-03-23T01:03:00.000+07:00</published><updated>2009-03-23T01:03:49.886+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-03-23T01:03:49.886+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kulit" /><title>Gigitan nyamuk pada bayi...</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://koeaingpisan.blogspot.com/2006/04/njamoek-kewan-paling-bangsat.html"&gt;Gigitan nyamuk&lt;/a&gt; sebenernya tidakjadi masalah kalau saja yang ngegigit bukan nyamuk betina. Makanan nyamuk jantan (sebenarnya betina juga) makan dari sari bunga tanaman, tapi nyamuk betina butuh makan darah karena mereka perlu protein untuk mematangkan telur, yang akan mereka taruh di permukaan air tenang nantinya.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nyamuk sendiri adalah serangga kecil dengan kaki-panjang-yang-kelihatan-rapuh dan berparuh di mulutnya. Penampilan seperti itu menipu, sebenernya sih -- nyamuk betina dilengkapi dengan paruh berbentuk seperti tombak sangat tajam buat mencari makanan buat anak-anaknya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.michigan.gov/images/mosquito_65147_7.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="158" src="http://www.michigan.gov/images/mosquito_65147_7.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka dari itu nyamukjuga dikenal sebagai hewan vektor penular &lt;a href="http://www.drgreene.com/21_414.html"&gt;penyakit yang bersinggungan dengan darah&lt;/a&gt; dari satu korban ke korban lain. Mereka bertanggung jawab atas penularan demam kuning,malaria,DBD,kaki gajah dan penyakit gawat lainnya. Di tempat-tempat dimana penyakit menular yang disebabkan oleh nyamuk tidak terlalu serius, gigitan nyamuk sendiri itulah yang bikin jengkel. Banyak sekali bayi dan anak-anak yang digigit nyamuk dibanding serangga lainnya..&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika nyamuk menyuntikkan moncong tombaknya ke kulit manusia, sang nyamuk akan menyuntikkan air liurnya -- yang bercampur dengan enzim pencernaan dan anti pembekuan darah. Gigitan pertama tidak akan berasa. Gigitan berikutnya, orang akan merasakan adanya 'protein asing' masuk ke tubuh, dan bentol kecil, merah dan berasa gatal akan muncul beberapa waktu kemudian. Ini merupakan reaksi umum untuk anak-anak kecil. Setelah beberapa gigitan lagi, beberapa orang menjadi kurang sensitif lagi, kecuali yang punya alergi gigitan nyamuk. Beberapa anak kecil yang sudah agak besar tidak mengalami apa-apa setelah digigit nyamuk (kecuali mereka sudah lama tidak digigit nyamuk -- maka proses bisa terulang dari awal lagi). Sedangkan untuk beberapa anak yang lain, akan tampak reaksi alerginya. Merka bisa rewel, lebam atau reaksi berupa rasa terbakar di kulit. Untuk anak-anak yang seperti ini, menghindari gigitan nyamuk adalah sebuah keharusan.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nyamuk tertarik dengan sesuatu yang mengingatkan mereka pada sari bunga dan daging mamalia. Ketika anda berada di luar ruangan, pakailah pakaian berwarna terang yang menutupi hampir semua bagian tubuh anda, usahakan tidak ada kulit yang tebuka. Hindari warna-warna terlalu ngejreng seperti warna bunga. Warna Khaki, abu-abu, dan hijau lembut tidak terlalu menarik bagi nyamuk.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nyamuk juga tertarik oleh bau manusia, dan inilah mereka memilih menggigit seseorang ( &lt;span style="font-style: italic;"&gt;saya..he..he&lt;/span&gt;) lebih daripada yang lain !. Hindari wangi-wangian dalam sabun, sampo dan lulur. Hal-hal yang lain sih bagi nyamuk sama saja, kecuali mereka lebih memilih menggigit anak-anak dibanding orang dewasa. Banyak sepesies nyamuk yang memilih menggigit dari maghrib sampai fajar. Masalah akan lebih buruk kalau cuaca panas dan lembab. Hindari bermain di luar ruangan selagi musim gigitan nyamuk mencapai puncaknya di daerah anda. &lt;a href="http://candleandsoap.about.com/od/votivesandcontainers/ss/sscitronella.htm"&gt;Lilin citronella&lt;/a&gt; mungkin beruna kalau anak-anak anda sedang bermain di luar. Tentu saja kita juga harus menghindari genangan air tenang. Orang yang beraksi alergi tinggi harus menghindari berada di daerah berawa.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.cdc.gov/"&gt;Pusat Pencegahan dan KontrolPenyakit Menular Amerika (CDC)&lt;/a&gt; menyarankan penggunaan lulur anti-nyamuk di permukaan kulit yang terbuka. Senyawa efektifnya adalah DEET (N,N-diethyl meta-toluamide), yang merupakan formula anti serangga. Tapi lulur anti nyamuk yang mengandung DEET harus diberikan secara hati-hati kepada anak-anak. Jangan oleskan lulur ini dibawah pakaian, karena kandungan racunnya akan terserap oleh kulit. Jangan lupa, jangan oleskan di bagian tangan yang sekiranya akan bersentuhan dengan mata dan mulut. Lulur khusus anti nyamuk dengan kandungan 6-10% DEET boleh digunakan buat anak-anak. Untuk perlindungan yang lebih baik, selimut dan kelambu bisa direndam dulu dengan &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Permethrin"&gt;permethrin&lt;/a&gt;&amp;nbsp;, yang merupakan lulur anti nyamuk yang diijinkan untuk digunakan di pakaian atau selimut. Jika digunakan sesuai petunjuk, permethrin akan mencegah gigitan nyamuk untuk beberapa minggu. Barang-barang ini bisa dibeli di toko-toko khusus perlengkapan militer, pecinta alam maupun bahan bangunan.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kecuali anda tidak sedang bepergian ke daerah bernyamuk banyak, lebih baik menggunakan lulur anti nyamuk lembut untuk anak-anak. Lulur ini tidak akan membuat nyamuk pergi -- tapi mereka tidak akan menggigit. Jika anda melihat ada nyamuk menggigit anak anda, mungkin lulurnya masih bekerja, tapi kalau tetap digigit berarti lulurnya kurang manjur.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa penelitian menganjurkan untuk mengonsumsi thiamine (vitamin B1) 25 mg sampai 50 mg tiga kali sehari sebagai obat manjur untuk menghindari gigitan nyamuk. Vitamin yang aman ini akanmemproduksi bau kulit yang tidak tercium oleh manusia tapi bikin mual nyamuk yang sedang hamil (Pediatric Clinics of North America, 16:191, 1969). Obat ini cocok untuk orang-orang yang bereaksi &lt;a href="http://dranak.blogspot.com/2008/06/alergi-pada-bayi.html"&gt;alergi &lt;/a&gt;&amp;nbsp;tinggi terhadap gigitan nyamuk. Thiamine akan kelihatan hasilnya setelah 2 minggu setelah minum teratur, yaitu setlah baunyamerata ke seluruh permukaan kulit. Bawang putih juga bekerja dengan cara yang sama (kecuali tentu saja manusia juga ikut 'menikmati' baunya), tetapi penelitian belum pernah dilakukan untuk efek bau bawang putih ini. Satu penelitian terakhir gagal menunjukkan bahwa bawang putih berfungsi sebagai pencegah gigitan nyamuk (Med Vet Entomol, 2005, 19(1)84-9.)&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perwatan terhadap reaksi berlebihan akibat gigitan nyamuk adalah dengan kompres dingin, antihistamin, senyawa anti-gatal, dan obat-obat anti peradangan. Untuk kompres dingin, taruhlah satu pak es batu di dalam kain halus dan usap/tekan ke bagian yang bentol-bentol. Tanyakan ke apoteker anda obat-obat anti-peradanganyang tepat untuk buah hati anda. Beberap aobat hanya diperbolehkan lewat resep dokter.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Senyawa paling sederhana anti-gatal adalah pasta yang terdiri dari soda pengembang dan air. Gunakan air secukupnya untuk membikinadonan lengket, lalu sebarkan. Lulur calamin bekerja dengan cara yang sama, dan biasanya bekerja lebih lama. Anak-anak yang lain mungkin lebih cocok dengan lulur berbau menthol seperti balsem.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk obat anti peradangan, ibuprofen (Motrin atau Advil) atau naproxen (Alleve) bisa mengurangi bercak merah, nyeri, gatal, sakit menelan dan demam. beberapa cream steroid dengan kadar tertentu juga bisa digunakan. Pada beberapa kejadian, reaksi gigitan nyamuk bisa sangat menyakitkan dan mengancam ketahanan sistem steroid di dalam tubuh kita.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa penelitian membuktikan bahwa beberapa ramuan anti-radang alami sangat manjur untuk manusia: oral evening primrose oil (Lancet, 2:1120, 1982) dan papaverine (Journal of the American Academy of Dermatology, 13:806, 1985). Cari saja di apotek terdekat.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sedangkan perawatan yang bersifat lebih kuat dan dalam tahap penelitian adalah pemberian hormon thymic , recombinant gamma interferon, radiasi ultraviolet, berbagai obat kemoterapi, dan immunotherapy dengan sari nyamuk (Clinical Pediatric Dermatology, Saunders 1993, Ann Allergy Asthma Immunol, 2007 Sept:99(3):273-80), tapi kita hanya mempertimbangkan kalau reaksi penderita akan gigitan nyamuk betul-betul parah. Mungkin meeka akanmembaikdengan obat-obat eksperimen ini seiring jalannya waktu.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Memang kalau kita menganggap nyamuk seperti &lt;a href="http://dranak.blogspot.com/2006/10/si-manis-peracun-anak.html"&gt;tikus&lt;/a&gt; maka kita bisa membasmi semua nyamuk di muka bumi ini. Tapi ada beberapa spesies ikan rawa yang memerlukan telur nyamuk untuk makanan mereka. Sedangkan ikan-ikan ini memegang peranan penting dalam sistem rantai makanan kita. Jadi, meskipun nyamuk menjadi momok kesehatan selama berabad-abad,mereka tetap penting dalam siklus ekosistem rawa dan tentu saja bagi penghuni lingkungan yang lain. Jadi, pemusnahan nyamuk di seluruh dunia bukan merupakan jawaban yang bijak.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jadi, dengung nyamuk akan tetap ada di sekitar telinga kita. Dan IDAI blog telah banyak memberikan saran-saran yang mungkin bisa kita gunakan. Anda tidak perlu memakai semua saran tersebut, tapi anda butuh mencoba beberapa diantaranya demi kesehatan anak-anak kita. Jangan sampai karena saking takutnya nyamuk, kita melarang anak-anak kita bermain di luar ruangan, itu juga tidakbijak. Biarkan anak berkembang mengikuti dan menyesuaikan dengan alam sekitar.&lt;/div&gt;&lt;span style="color: #666666; font-family: Arial; font-size: 12px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: black; font-size: 13px;"&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalau artikel diatas bermanfaat, lebih baik anda berlangganan di bawah ini : &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;form action="http://www.feedblitz.com/feedblitz.exe?BurnUser" method="post"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;label for="email"&gt;Enter your email to subscribe:&lt;/label&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;input id="email" maxlength="255" name="email" size="26" type="text" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;input name="uri" type="hidden" value="http://feeds.feedburner.com/IkatanDokterAnakIndonesia" /&gt; &lt;input type="submit" value="Subscribe me!" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="poweredByFeedBlitz"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Powered by &lt;a href="http://www.feedblitz.com/"&gt;FeedBlitz&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/form&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205399-8634332332617488800?l=dranak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/IkatanDokterAnakIndonesia?a=D1zD31meWdw:MEbREqr70JA:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/IkatanDokterAnakIndonesia?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/IkatanDokterAnakIndonesia?a=D1zD31meWdw:MEbREqr70JA:63t7Ie-LG7Y"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/IkatanDokterAnakIndonesia?d=63t7Ie-LG7Y" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/IkatanDokterAnakIndonesia?a=D1zD31meWdw:MEbREqr70JA:dnMXMwOfBR0"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/IkatanDokterAnakIndonesia?d=dnMXMwOfBR0" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/IkatanDokterAnakIndonesia?a=D1zD31meWdw:MEbREqr70JA:wF9xT3WuBAs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/IkatanDokterAnakIndonesia?i=D1zD31meWdw:MEbREqr70JA:wF9xT3WuBAs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/IkatanDokterAnakIndonesia?a=D1zD31meWdw:MEbREqr70JA:F7zBnMyn0Lo"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/IkatanDokterAnakIndonesia?i=D1zD31meWdw:MEbREqr70JA:F7zBnMyn0Lo" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/IkatanDokterAnakIndonesia?a=D1zD31meWdw:MEbREqr70JA:7Q72WNTAKBA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/IkatanDokterAnakIndonesia?d=7Q72WNTAKBA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/IkatanDokterAnakIndonesia?a=D1zD31meWdw:MEbREqr70JA:V_sGLiPBpWU"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/IkatanDokterAnakIndonesia?i=D1zD31meWdw:MEbREqr70JA:V_sGLiPBpWU" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/IkatanDokterAnakIndonesia?a=D1zD31meWdw:MEbREqr70JA:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/IkatanDokterAnakIndonesia?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/IkatanDokterAnakIndonesia?a=D1zD31meWdw:MEbREqr70JA:KwTdNBX3Jqk"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/IkatanDokterAnakIndonesia?i=D1zD31meWdw:MEbREqr70JA:KwTdNBX3Jqk" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/IkatanDokterAnakIndonesia?a=D1zD31meWdw:MEbREqr70JA:l6gmwiTKsz0"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/IkatanDokterAnakIndonesia?d=l6gmwiTKsz0" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/IkatanDokterAnakIndonesia?a=D1zD31meWdw:MEbREqr70JA:gIN9vFwOqvQ"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/IkatanDokterAnakIndonesia?i=D1zD31meWdw:MEbREqr70JA:gIN9vFwOqvQ" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/IkatanDokterAnakIndonesia?a=D1zD31meWdw:MEbREqr70JA:_hfjFD1KiG8"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/IkatanDokterAnakIndonesia?i=D1zD31meWdw:MEbREqr70JA:_hfjFD1KiG8" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/IkatanDokterAnakIndonesia/~4/D1zD31meWdw" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://dranak.blogspot.com/feeds/8634332332617488800/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=19205399&amp;postID=8634332332617488800&amp;isPopup=true" title="1 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default/8634332332617488800?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default/8634332332617488800?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/IkatanDokterAnakIndonesia/~3/D1zD31meWdw/gigitan-nyamuk-pada-bayi.html" title="Gigitan nyamuk pada bayi..." /><author><name>.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="09722670870875166877" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total><georss:point>-6.211544 106.845172</georss:point><feedburner:origLink>http://dranak.blogspot.com/2009/03/gigitan-nyamuk-pada-bayi.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DUcBRHc6eyp7ImA9WxVUEkg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205399.post-5989362637753205146</id><published>2009-03-17T09:30:00.000+07:00</published><updated>2009-03-17T09:30:55.913+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2009-03-17T09:30:55.913+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Infeksi" /><title>Obat Radang Tenggorokan</title><content type="html">&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_7KrCJrbf01I/Rwny1TqtmII/AAAAAAAAABM/Dgjm_sAQVfY/s1600/250px-Pharyngitis.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://bp1.blogger.com/_7KrCJrbf01I/Rwny1TqtmII/AAAAAAAAABM/Dgjm_sAQVfY/s320/250px-Pharyngitis.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seperti kita ketahui minum obat merupakan jalan terakhir setelah sakit menyerang dan tetap saja yang paling penting mencegahnya. Tapi siapa yang tak tergiur dengan gorengan, minum yang seger-seger dan makanan yang pedas. Padahal ke-3 jenis makanan dan minuman itulah penyebab utama radang tenggorokan saya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Radang tenggorokan yang saya derita memiliki gejala-gejala badan panas, demam, jika digunakan untuk menelan rasanya sakit, suara serak bahkan sampai membuat suara hilang, dan kadang disertai dengan flu. Jika itu semua terjadi dan belum sedemikian parah, saya biasanya akan menghentikan kegiatan makan dan minum seperti diatas, tapi jika sudah parah maka obat dibawah ini bisa digunakan untuk mempercepat penyembuhan.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. &lt;a href="http://dranak.blogspot.com/2006/04/bahaya-antibiotik.html%20"&gt;ANTIBIOTIK&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;antibiotik yang umum yang bisa di gunakan Amoxicillin dan Cefadroxil. Harganya murah, hanya Rp 10.000-an sepapan yg berisi 10 biji obat. Diminum 2-3 kali sehari dan berhubung ini antibiotik maka harus dihabiskan. Ingat, jika anda minum obat antibiotik maka itu harus dihabiskan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. ANALGESIK DAN ANTIPIRETIK&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;obat ini seperti panadol, aspirin, paracetamol generik. Harga nya pun Rp 10.000-an sepapan diminum 3 kali sehari, jika panas mereda boleh menghentikan minum obatnya. Obat ini berguna sebagai pain killer untuk mengurangi nyeri dan menurunkan panas. Saya menggunakan obat ini jika sudah benar-2 tidak bisa mengakomodir panas dan nyeri di badan.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. MULTIVITAMIN&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Minum vitamin C dan atau B kompleks. Vitamin berguna untuk segera memulihkan daya tahan tubuh. Pilih yang murah atau mahal. Hanya saja seringnya saya makan buah-buahan saja untuk mendapatkan vitamin yang dibutuhkan. Buahnya bisa apa saja mulai dari apel, pisang, mangga sampai kurma.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan mengetahui obat radang tenggorokan seperti di atas, maka kita tidak perlu lagi ke dokter. Kenali gejalanya dan segera beli obatnya di apotek. Dengan begitu kita tidak perlu mengeluarkan uang untuk berobat ke dokter.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sedangkan untuk yang sering mengalami radang tenggorokan usahakan hindari makan dan minum yang saya sebutkan di atas, karena sejak saya mengurangi makan dan minum seperti diatas radang tenggorokan saya sudah lama tidak kambuh. Sayangi diri anda dan keluarga anda.&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalau artikel diatas bermanfaat, lebih baik anda berlangganan di bawah ini : &lt;/div&gt;&lt;form action="http://www.feedblitz.com/feedblitz.exe?BurnUser" method="post"&gt;&lt;label for="email"&gt;Enter your email to subscribe:&lt;/label&gt;&lt;br /&gt;
&lt;input id="email" maxlength="255" name="email" size="26" type="text" /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;input name="uri" type="hidden" value="http://feeds.feedburner.com/IkatanDokterAnakIndonesia" /&gt; &lt;input type="submit" value="Subscribe me!" /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div id="poweredByFeedBlitz"&gt;Powered by &lt;a href="http://www.feedblitz.com/"&gt;FeedBlitz&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/form&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205399-5989362637753205146?l=dranak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/IkatanDokterAnakIndonesia?a=eRXqgCrsjvY:1gK2mf8bzP8:yIl2AUoC8zA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/IkatanDokterAnakIndonesia?d=yIl2AUoC8zA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/IkatanDokterAnakIndonesia?a=eRXqgCrsjvY:1gK2mf8bzP8:63t7Ie-LG7Y"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/IkatanDokterAnakIndonesia?d=63t7Ie-LG7Y" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/IkatanDokterAnakIndonesia?a=eRXqgCrsjvY:1gK2mf8bzP8:dnMXMwOfBR0"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/IkatanDokterAnakIndonesia?d=dnMXMwOfBR0" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/IkatanDokterAnakIndonesia?a=eRXqgCrsjvY:1gK2mf8bzP8:wF9xT3WuBAs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/IkatanDokterAnakIndonesia?i=eRXqgCrsjvY:1gK2mf8bzP8:wF9xT3WuBAs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/IkatanDokterAnakIndonesia?a=eRXqgCrsjvY:1gK2mf8bzP8:F7zBnMyn0Lo"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/IkatanDokterAnakIndonesia?i=eRXqgCrsjvY:1gK2mf8bzP8:F7zBnMyn0Lo" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/IkatanDokterAnakIndonesia?a=eRXqgCrsjvY:1gK2mf8bzP8:7Q72WNTAKBA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/IkatanDokterAnakIndonesia?d=7Q72WNTAKBA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/IkatanDokterAnakIndonesia?a=eRXqgCrsjvY:1gK2mf8bzP8:V_sGLiPBpWU"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/IkatanDokterAnakIndonesia?i=eRXqgCrsjvY:1gK2mf8bzP8:V_sGLiPBpWU" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/IkatanDokterAnakIndonesia?a=eRXqgCrsjvY:1gK2mf8bzP8:qj6IDK7rITs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/IkatanDokterAnakIndonesia?d=qj6IDK7rITs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/IkatanDokterAnakIndonesia?a=eRXqgCrsjvY:1gK2mf8bzP8:KwTdNBX3Jqk"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/IkatanDokterAnakIndonesia?i=eRXqgCrsjvY:1gK2mf8bzP8:KwTdNBX3Jqk" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/IkatanDokterAnakIndonesia?a=eRXqgCrsjvY:1gK2mf8bzP8:l6gmwiTKsz0"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/IkatanDokterAnakIndonesia?d=l6gmwiTKsz0" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/IkatanDokterAnakIndonesia?a=eRXqgCrsjvY:1gK2mf8bzP8:gIN9vFwOqvQ"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/IkatanDokterAnakIndonesia?i=eRXqgCrsjvY:1gK2mf8bzP8:gIN9vFwOqvQ" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~ff/IkatanDokterAnakIndonesia?a=eRXqgCrsjvY:1gK2mf8bzP8:_hfjFD1KiG8"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~ff/IkatanDokterAnakIndonesia?i=eRXqgCrsjvY:1gK2mf8bzP8:_hfjFD1KiG8" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/IkatanDokterAnakIndonesia/~4/eRXqgCrsjvY" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://dranak.blogspot.com/feeds/5989362637753205146/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=19205399&amp;postID=5989362637753205146&amp;isPopup=true" title="6 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default/5989362637753205146?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default/5989362637753205146?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/IkatanDokterAnakIndonesia/~3/eRXqgCrsjvY/obat-radang-tenggorokan.html" title="Obat Radang Tenggorokan" /><author><name>.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="09722670870875166877" /></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://bp1.blogger.com/_7KrCJrbf01I/Rwny1TqtmII/AAAAAAAAABM/Dgjm_sAQVfY/s72-c/250px-Pharyngitis.jpg" height="72" width="72" /><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">6</thr:total><georss:point>-6.211544 106.845172</georss:point><feedburner:origLink>http://dranak.blogspot.com/2009/03/obat-radang-tenggorokan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0UAQ3kzfSp7ImA9WxdQEkg.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205399.post-4108867358387533848</id><published>2008-06-12T14:13:00.002+07:00</published><updated>2008-06-12T14:20:42.785+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-06-12T14:20:42.785+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pencernaan" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Psikologi Anak" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kulit" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Infeksi" /><title>Alergi Pada Bayi</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://medicalimages.allrefer.com/large/allergic-reactions-1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px;" src="http://medicalimages.allrefer.com/large/allergic-reactions-1.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;MANIFESTASI KLINIS YANG BERKAITAN DENGAN ALERGI PADA ANAK
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;·         Sering batuk, batuk lama (&gt;2 minggu), pilek, (TERUTAMA MALAM DAN PAGI HARI siang hari hilang) sinusitis,  bersin, mimisan.  tonsilitis (amandel), sesak, suara serak.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;·         Pembesaran kelenjar di leher dan kepala belakang bawah.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;·         Sering lebam kebiruan pada kaki/tangan seperti bekas terbentur.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;·         Kulit timbul bisul, kemerahan, bercak putih dan bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Sering menggosok mata, hidung atau telinga. Kotoran telinga berlebihan.
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;·         Nyeri otot &amp;amp; tulang berulang malam hari. Sering kencing, Bed wetting (Ngompol)
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;·         Sering muntah , nyeri perut,  SULIT MAKAN disertai berat badan kurang (biasanya setelah umur 4-6 bulan).
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;·         Sering sariawan, lidah sering putih/kotor nyeri gusi/gigi, mulut berbau, air liur berlebihan, bibir kering.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;·         Sering Buang air besar (&gt; 2 kali/hari), sulit buang air besar (obstipasi), kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, sering buang angin, berak di celana.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;·         Tidur larut malam/sering terbangun.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;·         Kepala,telapak kaki/tangan sering teraba hangat.Sering berkeringat (berlebihan)
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;·         Mata gatal, timbul bintil di kelopak mata, mata sering berkedip, memakai kaca mata sejak usia sangat muda (usia 6-12 tahun).
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;·         Gangguan hormonal : tumbuh rambut berlebihadi kaki/tangan, keputihan.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;·         Sering sakit kepala, migrain.
&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Manifestasi klinis yang sering dikaitkan dengan penderita alergi pada bayi.&lt;/span&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;·         GANGGUAN SALURAN CERNA : Sering muntah/gumoh, kembung,“cegukan”, sering buang angin, sering “ngeden /mulet”, sering REWEL / GELISAH/COLIK terutama malam hari), Sering buang air besar (&gt; 3 kali perhari), tidak BAB tiap hari, BERAK DARAH. Hernia Umbilikalis (pusar menonjol), Scrotalis, inguinalis (benjolan di selangkangan, daerah buah zakar atau pusar atau “turun berok”) karena sering ngeden sehingga tekanan di dalam perut meningkat.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;·         Kulit sensitif, sering timbul bintik atau bisul kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. Kerak di daerah rambut.Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Mata, telinga dan daerah sekitar rambut sering gatal, disertai pembesaran kelenjar di kepala belakang. Kotoran telinga berlebihan kadang sedikit berbau.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;·         Lidah sering timbul putih (seperti jamur). Bibir tampak kering atau bibir bagian tengah berwarna lebih gelap (biru).
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;·         Napas grok-grok, kadang disertai batuk sesekali terutama malam dan pagi hari siang hari hilang. Bayi seperti ini beresiko sering batuk atau bila batuk sering lama (&gt;7hari) dan dahak berlebihan )
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;·        Sesak bayi baru lahir disertai kelenjar thimus membesar (TRDN/TTNB).  Bayi seperti ini menurut penelitian beresiko asthma sebelum usia prasekolah.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;·         Sering bersin, pilek, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke salah satu sisi (Sehingga beresiko kepala “peyang”) karena hidung buntu, atau minum dominan hanya satu sisi bagian payudara. Karena hidung buntu dan bernapas dengan mulut waktu minum ASI sering tersedak
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;·         Mata sering berair atau sering timbul kotoran mata (belekan) salah satu sisi/kedua sisi.
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;·         Sering berkeringat (berlebihan)
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;·         Karena minum yang berlebihan atau sering minta minum berakibat berat badan lebih dan kegemukan (umur &lt;1tahun). method="post" action="http://www.feedblitz.com/feedblitz.exe?BurnUser"&gt;&lt;p&gt;&lt;label for="email"&gt;Enter your email to subscribe:&lt;/label&gt;
&lt;br /&gt;&lt;input name="email" maxlength="255" size="26" id="email" type="text"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;input name="uri" value="http://feeds.feedburner.com/IkatanDokterAnakIndonesia" type="hidden"&gt; &lt;input value="Subscribe me!" type="submit"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p id="poweredByFeedBlitz"&gt;Powered by &lt;a href="http://www.feedblitz.com/"&gt;FeedBlitz&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;/form&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205399-4108867358387533848?l=dranak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=DXJzltVH"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=41" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=WwaipjG4"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=42" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=I3it90ap"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=43" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=i2lviCWh"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=i2lviCWh" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=MwaVMosi"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=MwaVMosi" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=bFKBtPzi"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=50" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=RyuSnhtX"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=RyuSnhtX" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=dxY3tG2g"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=52" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=qjCjDpA2"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=54" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=6oX1nGMs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=6oX1nGMs" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=18ON7ZIE"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=18ON7ZIE" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/IkatanDokterAnakIndonesia/~4/dtYT3T9TdUk" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://dranak.blogspot.com/feeds/4108867358387533848/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=19205399&amp;postID=4108867358387533848&amp;isPopup=true" title="6 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default/4108867358387533848?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default/4108867358387533848?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/IkatanDokterAnakIndonesia/~3/dtYT3T9TdUk/alergi-pada-bayi.html" title="Alergi Pada Bayi" /><author><name>.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="09722670870875166877" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">6</thr:total><feedburner:origLink>http://dranak.blogspot.com/2008/06/alergi-pada-bayi.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEIDSHo7fyp7ImA9WxdRE0o.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205399.post-6045194996651800732</id><published>2008-06-02T08:48:00.003+07:00</published><updated>2008-06-02T09:09:39.407+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2008-06-02T09:09:39.407+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pertumbuhan" /><title>Bahaya Baby Walker !</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.marshallbrain.com/cp/gif/walker.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px;" src="http://www.marshallbrain.com/cp/gif/walker.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Penggunaan baby walkers merupakan topik kontroversial hingga saat ini. Tapi jelas, bahwa &lt;a href="http://www.aap.org/"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;the American Academy of Pediatrics&lt;/span&gt; &lt;/a&gt;mengatakan dalam laporan resmi mereka 'Baby Walkers itu BERBAHAYA!' mereka menyarankan agar anda &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'buang jauh-jauh saja baby walker anda'&lt;/span&gt; berdasar fakta bahwa:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;  * Baby walkers sudah bikin 14,000 anak-anak masuk rumah sakit tiap tahun, dan&lt;br /&gt;  * 34 anak-anak sudah menemui ajalnya semenjak tahun 1973 hanya karena baby walkers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan AAP lebih jauh lagi mengimbau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'sebuah pelarangan pembikinan dan penjualan baby walkers dengan roda '&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Walaupun begitu baby walkers bergerak masih tetep populer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak yang agak besar sepertinya memang menikmatinya, karena meeka memang gampang bosan dengan walkers yang tidak beroda, walaupun yang versi lebih baru yang dilengkapi dengan kincringan dan priwitan segala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Apakah baby walker membantu bayi agar lebih cepat berjalan ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak. Sudah dipercaya secara umum bahwa walkers bayi tidak menolong bayi anda untuk berjalan lebih cepat daripada bayi yang enggak memakai walker. Faktanya,sebuah studi pernah dilakukan, berjudul &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Efek dari baby walkers terhadap perkembangan motorik dan mental bayi manusia&lt;/span&gt;, menyimpulkan bahwa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'bayi yang duduk dan mengalami pengalaman menggunakan walkers, merangkak,akan berjalan lebih lambat nantinya daripada yang tidak memakai walkers, dan mereka mempunyai nilai lebih rendah di &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Bayley_Scales_of_Infant_Development"&gt;skor Bayley&lt;/a&gt; untuk perkembangan motorik dan mental.'&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Studi yang lain, Walkers bayi: alat perkembangan atau bahaya laten, menemukan bahwa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;'penggunaan walker bayi tidak berpengaruh terhadap kepiawaian bayi berjalan.'&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi senyampang kita bingung apakah aman atau tidak aman menggunakan walker bayi bergerak akan menunda anak anda belajar berjalan,lebih baik alami saja, di tetah.....&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205399-6045194996651800732?l=dranak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=CDzsrAfh"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=41" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=yuLW3OYb"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=42" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=n3jBHSlR"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=43" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=8q1PgnVr"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=8q1PgnVr" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=jZt54F5Y"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=jZt54F5Y" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=37cToRi6"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=50" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=XHNJcXvm"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=XHNJcXvm" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=SXTv4OEA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=52" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=qDY6hKMG"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=qDY6hKMG" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=Tw0ffQRB"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=54" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=jnsKZAYP"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=jnsKZAYP" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=WwDKCMsX"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=WwDKCMsX" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/IkatanDokterAnakIndonesia/~4/VYm9dQVqFGg" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://dranak.blogspot.com/feeds/6045194996651800732/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=19205399&amp;postID=6045194996651800732&amp;isPopup=true" title="4 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default/6045194996651800732?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default/6045194996651800732?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/IkatanDokterAnakIndonesia/~3/VYm9dQVqFGg/bahaya-baby-walker.html" title="Bahaya Baby Walker !" /><author><name>.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="09722670870875166877" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">4</thr:total><feedburner:origLink>http://dranak.blogspot.com/2008/06/bahaya-baby-walker.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0EBRn04cSp7ImA9WB9TFUs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205399.post-6510072739804977089</id><published>2007-09-23T21:10:00.000+07:00</published><updated>2007-09-23T23:40:57.339+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-09-23T23:40:57.339+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Rambut" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Psikologi Anak" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kulit" /><title>Bathing your baby - cara memandikan bayi yang benar</title><content type="html">&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://img120.imageshack.us/img120/1271/babybathtoysvy1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px;" src="http://img120.imageshack.us/img120/1271/babybathtoysvy1.jpg" alt="cara_memandikan_bayi" border="2" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mempersiapkan Mandi sang Bayi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;* Selalu rencanakan ritual &lt;a style="border-bottom-style: groove;" href="http://dranak.blogspot.com/2007/04/penyakit-eksim-cara-gampang-merawat.html"&gt;mandi&lt;/a&gt; bayi anda. Pastikan semuanya siap sebelum mulai memandikan bayi. Ini akan membikin lebih mudah dan aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Kalau anda bisa, turunkan suhu airnya sampai 40 derajad celsius. Ini membikin bayi lebih nyaman. Isilah bak mandinya dengan aer hangat. Selalu test airnya terlebih dahulu dengan lengan atau siku anda. Airnya haruslah hangat dan nyaman, bukan panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Pastikan segala keperluan buat mandi tersedia. Anda bisa menyediakan sabun lembut, bola-bola kapas dan sebuah popok bersih di wadahnya masing-masing. Lalu bawalah wadah yan gsudah berisi peralatan mandi itu dengan handuk dan kain pembilas ke ruangan dimana anda akan memandikan bayi. Kalau semuanya sudah siap, ambillah bayi anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Kalau anda kelupaan suatu barang, anda harus membawa bayi anda untuk mengambil barang yang kelupaan itu. Ini agak susah untuk dilakukan apalagi kalau bayinya masih licin dan basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Jangan pernah meninggalkan bayi anda sendiri di bak mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Sebaiknya tidak usah menjawab telpon masuk atau dering bel di pintu selagi anda memandikan anak. Kalaupun anda mau lakukan itu, ambil bayi anda dan bawa juga bersama anda. Jika pasangan anda, famili atau teman-teman anda sering menelpon anda, kasih tahu mereka jam-jam anda memandikan bayi. Katakan pada mereka bahwa anda tidak akan menjawab telpon atau membukakan pintu selama jam-jam tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Memandikan bayi anda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bayi anda pertama-tama akan memrlukan spons pembasuh. Mandikan bayi anda dengan spons pembasuh yang lembut terlebih dahulu sebelum puput tali pusernya atau sembuh luka sunatnya (kalau ada). Setelah itu barulah bayi anda boleh memakai bak mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isi sebuah ember besar atau wadah air yang besar dengan air hangat: gunakan pergelangan tangan ataupun siku anda untuk memastikan suhu yang tepat. Pastikan airnya tidak terlalu dingin ataupun panas. Air yang masih panas akan sangat berbahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambil ember air hangat dan sebuah pembasuh lembut di tempat dimana anda akan memandikan bayi anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambil tempat buat memandikan bayi yang bersuhu hangat dan jangan di tempat yang banyak anginnya. Tentunya anda tidak mau bayi anda kedinginan. Anda bisa menaruh bayi anda di handuk mandi di permukaan yang datar. Jika anda menaruh bayi anda di atas meja, pastikan tidak akan menggelinding. Jangan tinggalkan bayi anda sendirian sedetik pun, ingat itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Copot pakain bayi anda. Celupkan pembilas mandi di air hangat dan peres sampai hanya terasa basah saja. Gunakan pembasuh lembut yang sudah basah itu untuk membasuh tubuh bayi anda dengan pelan dan lembut. Bilas kepala dan lehernya, belakang telinga, dan diantara jari tangan maupun kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi yang baru lahir tidak perlu mandi setiap hari. Cukup bersihkan mukanya, leher dan area perpopokan jikalau mereka kotor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lembutlah ketika memandikan bayi anda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Anda bisa menggunakan bathtub anda, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kitchen sink&lt;/span&gt; atau bak mandi bayi dari plastik. Gunakan sesuatu untuk membersihkan dan mengelap bak mandi bayi anda biar tidak mudah tergelincir atau kepleset. Jika anda menggunakan busa buat membersihkan bak mandi bayi, itu perlu sering-sering dikeringkan tiap kali selesai digunakan. Ini berguna untuk mencegah perkembangbiakan kuman dan bakteri. Atau anda bisa mengeringkan bak mandi bayi dengan handuk kering. Pastikan cuci dan keringkan handuk itu tiap kali selesai digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Gunakan lap pembasuh bayi yang bersih, tanpa sabun, untuk membasuh mukanya. Basuhlah bagian luar dan dalam di tiap-tiap kupingya dan bilas dan keringkan lehernya juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Jangan pernah menggunakan sabun busa atau detergen di air mandi bayi karena bisa menyebabkan&lt;a style="border-bottom-style: groove;" href="http://dranak.blogspot.com/2007/03/penyakit-panu.html"&gt; ruam&lt;/a&gt; dan kulit mengelupas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Gunakan bola-bola kapas ataupun cotton pads untuk membersihkan mata bayi anda sebelum menaruhnya di bak mandi. Pastikan anda tahan bagian kepala bayi ketika di dalam bak mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Basuhlah &lt;a style="border-bottom-style: groove;" href="http://dranak.blogspot.com/2007/02/rambut-anak-sehat.html"&gt;rambut bayi anda&lt;/a&gt; dan bilas dengan penuh kelembutan, gunakan sabun dan shampo khusus bayi. Kerjakan hal ini hanya sekali atau dua kali seminggu saja. Bialslah dengan kain basah. Pastikan tidak ada busa sabun yang masuk mata bayi anda. Basuhlah badannya, dumulai dari bagian dada. Setelah dibersihkan dengan kain lembut, bilaslah kain itu dan gunakan sekali lagi untuk membilas bayi. Keringkan bayi anda dengan handuk kering lembut dan bersih. Selalu pastikan dia tertutup. Pastikan bayi anda selalu hangat dan kering dengan menyelimutinya dengan handuk bersih setelah dimandikan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205399-6510072739804977089?l=dranak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=PvF1QmrS"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=41" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=hpUhMVWZ"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=42" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=5w75WQrR"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=43" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=sBT3z7IN"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=sBT3z7IN" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=XHiamz4k"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=XHiamz4k" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=prbjJKQN"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=50" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=0vm1Tjfh"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=0vm1Tjfh" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=13jUcOMY"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=52" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=184tGmic"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=184tGmic" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=VfFXlOBu"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=54" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=hjbgFYWB"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=hjbgFYWB" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=aywfxeGg"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=aywfxeGg" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/IkatanDokterAnakIndonesia/~4/YUGQ3UXOhZQ" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://dranak.blogspot.com/feeds/6510072739804977089/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=19205399&amp;postID=6510072739804977089&amp;isPopup=true" title="5 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default/6510072739804977089?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default/6510072739804977089?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/IkatanDokterAnakIndonesia/~3/YUGQ3UXOhZQ/bathing-your-baby-cara-memandikan-bayi.html" title="Bathing your baby - cara memandikan bayi yang benar" /><author><name>.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="09722670870875166877" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">5</thr:total><feedburner:origLink>http://dranak.blogspot.com/2007/09/bathing-your-baby-cara-memandikan-bayi.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0IFSH4_fSp7ImA9WB5UF0g.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205399.post-1979848992645325488</id><published>2007-08-22T09:39:00.000+07:00</published><updated>2007-08-22T09:58:39.045+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-08-22T09:58:39.045+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pertumbuhan" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ASI" /><title>Mengurangi Ketergantungan Terhadap Susu Formula</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.hanyawanita.com/i/art/adved_1174988665.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px;" src="http://www.hanyawanita.com/i/art/adved_1174988665.jpg" alt="susu_formula" border="5" /&gt;&lt;/a&gt;Aksi Suara Ibu Peduli rupanya cukup menggelitik banyak pihak untuk ikut berkomentar.  Antara lain tulisan-tulisan Bung Zaim di harian Republika  (27/02/98 dan 05/03/98).  Kemudian sepucuk surat dari mbak Karlina yang mewakili Ibu-ibu Peduli menanggapi tulisan di harian yang sama  (05/03/98).  Rasanya sebagai ibu rumah tangga dan pengamat masalah Ibu dan Anak, penulispun tergelitik dan gatal tangannya untuk ikut "urun rembug" kalau dapat dikatakan demikian, untuk ikut menanggapi tulisan-tulisan atau publikasi terdahulu.  Hal ini jangan sampai menimbulkan suatu opini yang rancu di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Masalah yang dilontarkan Bung Zaim dan Mbak Karlina memang tidak dapat dengan penyelesaian jangka pendek dan hanya sepihak saja.  Banyak instansi baik pemerintah maupun non pemerintah terkait di sana.  Keduanya memandang dari sudut yang berbeda, dan juga tidak ada yang salah.  &lt;a href="http://dranak.blogspot.com/2006/08/bukti-ilmiah-terbaru-tentang-manfaat.html"&gt;Pengetahuan mbak Karlina akan ASI&lt;/a&gt; tidak perlu disangsikan lagi, bahkan beliau pendukung ASI sejak gerakan ASI belum dicanangkan.  Hanya bagaimana alternatif penyelesaiannya itulah yang menjadi tanggung jawab mereka yang peduli akan terbentuknya generasi suatu bangsa yang sehat dan cerdas di masa depan.  Mungkin dalam jangka pendek yang diharapkan adalah turunnya harga susu dengan segera, tetapi permasalahan tidak menjadi selesai karenanya.  Masyarakat luas pada umumnya tetap tinggi ketergantungan akan susu formula.&lt;span class="on" style="display: block;" id="formatbar_JustifyFull" title="Justify Full" onmouseover="ButtonHoverOn(this);" onmouseout="ButtonHoverOff(this);" onmouseup="" onmousedown="CheckFormatting(event);FormatbarButton('richeditorframe', this, 13);ButtonMouseDown(this);"&gt;&lt;img src="http://www.blogger.com/img/gl.align.full.gif" alt="Justify Full" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keadaan krisis ekonomi sekarang ini yang dirasakan berat bahkan sangat berat oleh banyak pihak, antara lain dengan membumbungtingginya harga susu formula.  Aksi yang digelar oleh Ibu-ibu Peduli, memang merupakan "nurani Ibu yang dipenuhi cinta universal, sehingga menjadikan derita orang lain menjadi bagian dari kisah hidupnya", sehingga sidang kasus Karlina yang diliput oleh wartawan dalam dan luar negri itu, sempat menarik banyak simpatisan.  Sementara tulisan Bung Zaim yang mewakili "Bapak-bapak pendukung Gerakan ASI", mungkin ada yang hanya membacanya selintas, bahkan mungkin segera terlupakan.  Padahal masalah keduanya adalah sama bahwa ketergantungan Ibu akan susu formula cenderung tinggi.  Sehingga ketika susu formula hilang dipasar dan kemudian muncul dengan harga tinggi, banyak ibu yang menjerit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kelompok- kelompok yang memerlukan susu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, yaitu ibu-ibu yang sepenuhnya menyusui anaknya dengan ASI tanpa diselingi susu formula dalam jangka waktu yang cukup bagi si anak untuk dihentikan pemberian ASI-nya.  Bagi golongan ini tidak perlu diganggu gugat, bahkan diberi penghargaan dari masyarakat terhadap "tekad"nya itu.  Mungkin yang dirasakan berat saat ini bagi mereka adalah untuk mendapatkan makanan bergizi sehingga kualitas ASI yang dihasilkanpun cukup baik.  Ketergantungan mereka akan susu formula dapat dikatakan tidak ada.  Rasanya merekapun tidak menjadi ikut panik ketika susu formula hilang dipasaran.  Demikian pula &lt;a href="http://dranak.blogspot.com/2006/01/susu-beruang.html"&gt;susu formula&lt;/a&gt; bagi ibu menyusui, dapat digantikan dengan bahan alami lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, adalah ibu-ibu yang digambarkan mbak Karlina sebagai bekerja sebagai pilihan sendiri bukan karena keterpaksaan soal makan atau tidak makan.  Untuk kelompok ibu-ibu ini bukan mereka tidak sadar atau tidak tahu pentingnya ASI, bahkan kadang sembunyi-sembunyi untuk mengeluarkan ASInya di WC kantor.  Susu formula adalah alternatif tercepat yang mereka pilih untuk mengatasi kebutuhan si bayi selama mereka bekerja apalagi mereka yang harus dinas luar kota selama beberapa hari misalnya.  Selanjutnya apa yang dikemukan mbak Karlina bahwa setelah mereka berada di rumah, sesegera mungkin dan selama mungkin menyusui anak dengan ASI, bahkan kalau perlu "sepanjang malam".  Pada kenyataannya dan didukung hasil-hasil penelitian serta tulisan -tulisan ilmiah, hal itu tak baik untuk dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi yang normal cukup 5-6 kali sehari mendapat ASI dengan waktu masing-masing pemberian ASI 10-20 menit dan tidak bisa dikompensasi sekaligus misalnya dengan. sepanjang malam atau selama mungkin karena sang Ibu pun perlu istirahat, untuk dapat berproduksi ASI lagi keesokan harinya dan si bayi tidak dibiasakan "mengempeng", dari dada ibu yang tak mengeluarkan ASInya lagi.  Berdasarkan suatu penelitian ilmiah pula bahwa ibu-ibu yang capai bekerja, apalagi stress di tempat kerja atau dalam perjalanan pulang dan pergi ke tempat kerja, dapat mempengaruhi produktivitas ASInya.  Hormon "Adrenalin" yang dapat terbentuk karena sang ibu mengalami stress atau kerja berat akan menghambat atau setidaknya mengurangi keluarnya ASI.  Jadi jangan salahkan siapa-siapa jika ketika pulang kantor si bayi hanya dapat tercukupi dengan satu atau dua kali ASI saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kelompok ibu-ibu ini perlu diberikan hak-hak yang lebih baik, disamping kerelaan si ibu juga untuk membagi hak gajinya yang berkurang.  Di Jerman di negara yang saat ini penulis bermukim di kenal "cuti pendidikan anak (erziehungurlaub)" selama 18 bulan.  Ibu-ibu yang bekerja diperusahaan atau kantor-kantor tidak akan kehilangan kursi ketika ia masuk lagi, karena selama ia cuti ada yang menggantikannya.  Hanya saja gajinya tidak diterima penuh karena perlu dibagi untuk penggantinya selama ia cuti.  Tapi mereka menikmati cuti tersebut untuk sepenuhnya menyusui anaknya dan ketika ditinggalkan untuk kembali &lt;a href="http://lowongankarir.blogspot.com/"&gt;bekerja&lt;/a&gt; anak-anak mereka sudah tidak lagi tergantung ASI juga tidak pada susu formula, karena mereka sudah mendapat asupan yang lengkap seperti halnya manusia dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain adalah membagi waktu kerja "part time".  Bagi mereka yang mempunyai bayi (di sana sampai usia 5-6 bulan disarankan ASI sepenuhnya).  Tentu saja konsekwensinya pun ibu-ibu tersebut harus rela gajinya berbagi dengan teman kerjanya.  Hal ini bukan saja berdampak positif bagi kelangsungan pemberian ASI, juga membuka lapangan dan kesempatan kerja bagi ibu-ibu yang tergolong kelompok ini dan tidak sedang adalam masa menyusui anak.  Hal ini perlu juga diupayakan menjadi undang-undang ketenagakerjaan di Indonesia misalnya.  Tidak saja Instansi ketenagakerjaan ataupun kesehatan yang ikut mengupayakannya, rasanya Menteri UPW yang akan datang pun diharapkan dapat menggolkan hak-hak ibu yang bekerja menjadi lebih baik, tidak hanya menambah jumlah lapangan dan kesempatan kerja bagi wanita.  Dengan ini ketergantungan akan susu formula pun dapat dikurangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberian ASI di tempat kerja juga suatu alternatif mengurangi ketergantungan akan susu formula, tetapi jika tempat kerja jauh dari rumah, sementara di sana tidak ada tempat penitipan anak, dengan siapa si bayi selama ibu bekerja?.  Imbauan mbak Karlina untuk para bapak agar mampir ke tempat istrinya pada saat istirahat untuk mengantar ASI yang dibotolkan juga, rasanya kurang relevan.  Berapa jauh jarak yang ditempuh sang bapak dan berapa biaya yang harus dikeluarkan setiap hari untuk ke sana ke sini menjemput dan mengantar ASI.  Pembotolan ASI pun bukan satu alternatif yang paling baik, karena seperti diungkapkan mbak Karlina sendiri adanya kedahsyatan hubungan psikhologis antara ibu dan anak ketika si anak berada dalam dekapan dan menyusu dari payudara ibunya.  Selain itu segi sanitasi dan kontaminasi ASI selama dalam botol sulit juga pengupayaannya, apalagi kalau harus dibawa ke sana kemari.  Dulu penulis pernah berupaya mencari tempat tinggal dekat tempat bekerja, sehingga sewaktu-waktu dapat pulang untuk memberikan ASInya.  Tetapi sulit untuk mendapat keadaan seperti itu sekarang, apalagi di kota-kota besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, adalah kelompok ibu yang oleh mbak Karlina sebagai memilih bekerja sebagai soal makan atau tidak makan.  Ibu-ibu yang ingin mendekap anaknya tapi tidak mempunyai pilihan.  Mereka pun jangan dijadikan "korban" penggunaan susu formula.  Bagi masyarakat kelas ekonomi rendah (para buruh harian misalnya), jangankan ketika harga susu formula melangit, ketika masih normalpun tidak terjangkau oleh mereka.  Mereka memberikan alternatif-alternatif lain sebagai penggantinya, antara lain air tajin yaitu air godokan beras (seperti yang pernah diberikan ibu penulis ketika kecil).  Pada kelompok ini yang harus diperjuangkan adalah "penerangan gizi yang baik dan benar".  &lt;a href="http://dranak.blogspot.com/2007/02/kesulitan-makan-pada-anak.html"&gt;Gizi&lt;/a&gt; yang baik dan benar tidak hanya diperoleh melalui susu formula.  Jadi gerakan-gerakan posyandu oleh ibu-ibu PKK maupun tim-tim kesehatan pun sebaiknya tidak memberikan susu-susu contoh pada kegiatannya ataupun seperti yang diistilahkan Bung Zaim sebagai suatu "medikalisasi", dengan mudahnya rumah-rumah sakit memberikan "susu contoh berupa susu formula".  Maka dalam hal ini Instansi-instansi kesehatan juga organisasi-organisasi masyarakat dapat turut serta menggalakkan pengurangan ketergantungan akan susu formula.  Suatu kejadian yang ironis, jika seorang yang bekerja menggerakkan kegiatan kembali pada ASI, tetapi bersamaan dengan itu, anaknya di rumah ditinggalkan dengan botol yang berisi susu formula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya lain yang dapat dilakukan pada kelompok ini seperti pada kelompok ke dua di atas, yaitu memberikan hak-hak yang lebih baik bagi ibu yang bekerja di pabrik-pabrik misalnya.  Cuti yang tiga bulan itu diberikan, dengan tetap memberikan upah walaupun tidak penuh.  Jadi Para pengusahapun harus mau ikut bertanggungjawab memikirkan hari depan generasi akan datang yang terbentuk antara lain dari pemenuhan kebutuhan fisiknya ketika masa bayi melalui pemberian hak yang wajar bagi para ibu-ibu yang bekerja, tidak hanya memeras tenaganya saja.  Pesan "moral" di sini sepatutnya cukup dihiraukan.  Alternatif lain seperti yang disarankan mbak karlina, mengupayakan adanya tempat penitipan anak di lingkungan pabrik.  Sehingga ibupun dapat tenang dan berproduksi optimal.  Tapi dalam keadaan seperti sekarang ini sulit untuk kedua hal di atas sulit untuk segera diterapkan oleh perusahaan atau pabrik tempat ibu-ibu tersebut bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, adalah kelompok ibu-ibu yang dengan sengaja meninggalkan kewajiban menyusui anaknya berdasarkan "keinginan sendiri", antara lain mereka yang enggan memberikan ASI karena akan kehilangan sebagian daya tarik seksualnya, karir akan terhambat atau repot karena urusan bisnis.  Mungkin kelompok inilah konsumen terbesar akan susu formula.  Dalam keadaan ekonomi sekarang ini mereka pun tidak terlalu banyak terguncang, harga tinggi tidak menjadi masalah, yang penting susu formula tersedia di pasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah kelompok ibu-ibu yang perlu diberi pengertian lebih mendalam akan pentingnya ASI dan "manajemen laktasi"nya.  Juga suatu kesadaran bahwa pengambilan keputusan untuk melahirkan anak, disertai tanggungjawab memenuhi kebutuhan si bayi akan ASI yang menjadi haknya.  Ketuklah hati mereka lebih dalam bahwa kembalinya mereka pada ASI akan memberi dampak positif bagi masyarakat pada umumnya.  Dengan memberi contoh memborong susu formula hanya akan menimbulkan dampak negatif saja, terutama bagi golongan mereka yang tak mampu untuk membelinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, adalah kelompok ibu-ibu yang karena sakit atau bahkan meninggal saat bayinya masih memerlukan ASI, antara lain bayi-bayi yang berada di panti asuhan.  Memberikan pengganti ibu pemberi ASI bukan suatu jalan keluar bahkan kemungkinannya sangat kecil.  Demikian juga pemberian susu formula bukan satu-satunya alternatif yang dapat diambil.  Sumbangan berkaleng-kaleng susu pada mereka tidak memecahkan masalah, apalagi jika keadaan seperti sekarang ini, dikala sumbangan menurun frekwensinya, maka sulitlah mereka mencari susu pengganti karena sudah terbiasa akan prosuk susu formula.  Alangkah lebih baik sumbangan itu dikonkritkan dengan lemari pendingin atau alat-alat sterilisasi sederhana, sehinggga panti-panti asuhan mampu menyiapkan susu pengganti dari susu sapi segar yang harganya relatif masih lebih rendah dari susu formula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu diberikan penerangan yang sebaik-baiknya bagaimana perlakuan terhadap susu segar itu, juga penerangan gizi yang memadai untuk mencukupi kebutuhan gizi si bayi yang perlu dilengkapi dari bahan-bahan alami lainnya.  Ini memang menambah pekerjaan bagi pengurus panti asuhan, tetapi dengan kesadaran semua pihak, bahwa kekurangan gizi tidak hanya bisa dicukupi dengan susu formula, maka pekerjaan itu selanjutnya akan tertangani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam, adalah kelompok balita yang sudah melampaui masa mendapatkan ASI, tetapi tetap membutuhkan susu.  Memang betul pertumbuhan kecerdasan mereka akan ditunjang oleh kecukupan gizi yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah susu dalam ilmu gizi sebagai bahan penyempurna setelah bahan lainnya (ingat ! 4 sehat 5 sempurna)  Memang dalam susu terutama susu formula tersedia semua bahan-bahan essensial yang dibutuhkan tubuh.  Akan tetapi apakah dengan meminum susu saja cukup?  Bahkan jika terlalu banyak susu pun anak menjadi kegemukan (obesitas), dan akan lamban dalam beraktivitas.  Hal lain, pemenuhan susu sebagai penyempurna itupun tidak harus berasal dari susu formula.  Jika kebutuhan susu dipenuhi dengan susu segar, dan kebutuhan lainnya dari makanan alami yang kita konsumsi sehari-hari.  Maka ketergantungan akan susu formula bagi si anakpun dapat dikurangi dengan tidak menjadikan sinak sebagai anak yang kurang gizi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak alternatif lain untuk mencukupi protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral bagi si anak, antara lain memasyarakatkan konsumsi sayuran dan buah bagi anak-anak.  Karena di sanalah sumber vitamin dan mineral yang sering diunggulkan oleh berbagai produk susu formula dalam "fortifikasinya".  Asam lemak tak jenuh dapat diperoleh dari minyak yang berasal dari tumbuh.tumbuhan.  Sedangkan enzim-enzim yang juga diiklankan susu formula dapat diganti dari bahan-bahan alami yang dimakan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi penerangan gizi yang baik ternyata perlu disebarkan ke seluruh masyarakat, baik dari lapisan kelas ekonomi rendah sampai yang tinggi sekalipun.  Karena kadang-kadang justru anak-anak dari mereka yang tergolong kelas ekonomi tinggi dengan mudahnya membeli makanan-makanan jajanan (misalnya Fast food), yang kadangkala masih harus dipertanyakan nilai gizinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Upaya Bersama untuk Menurunkan Ketergantungan Susu Formula&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman yang dirasakan penulis dan juga pengamatan yang dilakukan selama beberapa tahun bermukim di suatu negara yang tingkat ekonominya boleh dikatakan lebih maju, penggunaan susu formula bagi sebagian ibu banyak dijauhi, mereka lebih senang kembali ke bahan-bahan alami yang diolah sekedarnya (susu pasteurisasi).  Hanya mereka-mereka yang "terpaksalah" menggunakannya.  Padahal daya beli mereka masih cukup untuk memberikan susu formula bagi anaknya.  Di bawah ini penulis ingin mengemukakan beberapa contoh gerakan ASI yang menyeluruh dari semua pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah-rumah sakit, bagi ibu yang melahirkan segera bayinya dalam keadaan masih merah (belum dimandikan) segera diberikan pada dekapan sang ibu.  Setelah si ibu berisirahat sejenak, si bayi segera diserahkan kembali untuk mengisap puting susu ibunya, sehingga ASI akan cepat terangsang keluar.  Jika ASI belum keluar (seperti yang dialami penulis sampai hari ke2), si bayi tidak segera diberi susu botol tapi sementara diberi dulu teh berasal dari tumbuhan (Fenchel, Kamille dsb), kalau dirasa kurang kalori, diberi tambahan gula sedikit.  Usaha mengenalkan si bayi akan susu selain ASI dihindari sejauh mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susu-susu contoh yang berupa susu formula tidak diberikan atau diiklankan di rumah sakit ketika si pasien pulang, kecuali dalam hal-hal tertentu.  Dinas-dinas kesehatan baik pemerintah maupun non-pemerintah juga organisasi-organisasi kemasyarakan dan keagamaan, menyebarkan brosur-brosur yang berkenaan dengan ASI.  Bahkan bagi mereka yang menemui kesukaran dalam memberikan ASI bagi bayinya, ada grup-grup sosial yang dapat membantu memecahkan masalah tersebut.  Para pengusaha susu formula mengiklankan produknya melalui salesman yang datang dari rumah ke rumah atau di dalam brosur-brosur khusus bagi Ibu dan Anak, yang mereka keluarkan sendiri.  Sedikit sekali dijumpai dalam majalah atau koran-koran secara umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan penggunaan ASI, disadari oleh semua pihak dan dilakukan di mana-mana.  Dokter-dokter anak sangat menekankan si Ibu untuk memberikan ASInya.  Media massa audio visual, termasuk TV jarang mengiklankan susu formula.  Bahkan rasanya dari channel TV yang dapat ditangkap oleh penulis, tidak ada yang mengiklankannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susu segar banyak menjadi pilihan konsumen.  Karena mereka menganggap kandungan gizinya lebih alami.  Bahkan di beberapa supermaket yang melayani kebutuhan sehari-hari, tidak ditemukan produk-produk susu formula.  Susu tersebut hanya di dapat di rumah-rumah obat, apotik-apotik dan beberapa supermaket besar, itupun dalam jumlah terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang mengurangi ketergantungan terhadap susu formula harus melalui jalan yang panjang, termasuk peranan pemerintah untuk meningkatkan jumlah dan kualitas sapi perah hingga tercukupinya kebutuhan masyarakat.  Mungkin yang perlu diberi subsidi atau insentif tertentu adalah peternak-peternak sapi, kemudian juga mempermudah pendistribusian susu segar sampai ketangan konsumen termasuk pengupayaan penanganan susu segar kepada seluruh lapisan masyarakat.  Hingga nantinya mereka yang membutuhkan susu tinggal cari di kios atau toko terdekat dengan harga yang terjangkau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sementara mungkin sebagian hal yang ideal di atas masih suatu impian, tetapi dengan kerja keras dan kepedulian banyak pihak, persoalan ketergantungan akan susu formula dapat dikurangi. Melalui tulisan ini penulis ingin mengajak semua pihak turut memikirkan gaung yang telah diperdengarkan melalui aksi Suara Ibu Peduli, tentu saja untuk mencari jalan pemecahannya baik jangka pendek maupun jangka panjang.  Dan itu baiknya kita mulai dari diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh:&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mira Suprayatmi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205399-1979848992645325488?l=dranak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=DF3jQ6mY"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=41" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=9QLsHCHa"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=42" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=SNjBHs98"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=43" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=LpHh2PiR"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=LpHh2PiR" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=icJgPWz1"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=icJgPWz1" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=DFhE2P9P"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=50" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=1sKdiq4i"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=1sKdiq4i" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=cR0imC25"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=52" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=8sC49hNV"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=8sC49hNV" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=HLvqsgpo"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=54" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=YNvCFvAQ"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=YNvCFvAQ" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=MSloN7Lu"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=MSloN7Lu" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/IkatanDokterAnakIndonesia/~4/G2md7W837jE" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://dranak.blogspot.com/feeds/1979848992645325488/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=19205399&amp;postID=1979848992645325488&amp;isPopup=true" title="8 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default/1979848992645325488?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default/1979848992645325488?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/IkatanDokterAnakIndonesia/~3/G2md7W837jE/mengurangi-ketergantungan-terhadap-susu.html" title="Mengurangi Ketergantungan Terhadap Susu Formula" /><author><name>.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="09722670870875166877" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">8</thr:total><feedburner:origLink>http://dranak.blogspot.com/2007/08/mengurangi-ketergantungan-terhadap-susu.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0YMRno9eyp7ImA9WB5QGUs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205399.post-860574314890689585</id><published>2007-07-09T15:18:00.000+07:00</published><updated>2007-07-09T15:19:47.463+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-07-09T15:19:47.463+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Obat" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Infeksi" /><title>Bumbu Tradisional untuk Obat Balita Anda !</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Air Kelapa Muda &amp; Kopi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dapat digunakan untuk obat muntaber karena air kelapa muda banyak mengandung mineral kalium, yang banyak keluar ketika anak muntaber. Dosisnya tak ada takarannya, sekehendak anak. Dicampur dengan sedikit kopi (seujung sendok saja)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Brotowali (Putrawali, andawali)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Untuk pemakaian luar bermanfaat menyembuhkan luka-luka dan gatal-gatal akibat kudis (scabies). Caranya, 2-3 jari batang brotowali dipotong kecil-kecil, rebus dengan 6 gelas air. Setelah mendidih, biarkan selama 1/2 jam. Saring air dan gunakan untuk mengobati luka serta gatal-gatal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jeruk Nipis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencairkan dahak dan obat batuk anak. Caranya, campur 1 sdm air perasan jeruk nipis, 3 sdm madu murni, 5 sdm air matang, lalu ditim selama 30 menit. Takaran minum bayi antara usia 6-1 tahun : 2 kali 1/2 sdt ; anak 1-3 tahun : 2 kali 1 sdt; anak 4-5 tahun : 2 kali 1 1/2 sdt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara lain, potong 1 buah jeruk nipis, peras airnya, taruh dalam gelas /cangkir. Tambahkan kecap manis, aduk. Takaran minum untuk anak, 3 kali 1 sdt per hari.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kentang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Untuk obat bisul. Caranya, parut kentang dan peras. Oleskan sari air dan parutan kendtang segar dioleskan pada bisul 3-4 kali per hari Bisa pula untuk ruam kulit yang disebabkan biang keringat atau keringat buntet (miliaria), karena sifat kentang yang mendinginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Banglai (bangle, panglai, manglai, pandhiyang)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Untuk menenangkan bayi dan anak yang sering rewel pada malam hari, balurkan parutan banglai segal di kening dan badan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Minyak zaitun&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengobati kerak kepala atau ketombe pada bayi (craddle crap), sebanyak 1-2 kali per hari dioleskan pada kulit kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lidah buaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengobati luka bakar pada bayi dan anak. Caranya dengan mengoleskan daging daun lidah buaya pada seluruh permukaan kulit yang menderita luka bakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Daun pepaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berkhasiat meningkatkan nafsu makan, menyembuhkan penyakit malaria, panas,beri-beri dan kejang perut. Caranya, daun pepaya muda ditumbuk, diperas, saring, lalu minum airnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Temulawak (koneng gede)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Untuk menambah nafsu makan. Caranya, 150 gram temulawak 50 gram kunyit segar dikupas, iris tipis, rendam dalam 500 cc madu kapuk dalam toples tertutup selama 2 minggu. Setelah 2 minggu ramuan siap untuk digunakan.Aturan minum 1 sendok makan madu temulawak dilarutkan dalam 1/2 cangkir air hangat, diminum pagi dan sore.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kencur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Untuk meringankan batuk pada anak. Caranya, 5 gram kencur segar dicuci bersih, parut, lalu tambahkan 2 sdm air putih matang dan diaduk. Setelah disaring, tambahkan 1 sdm madu murni. Berikan 2-3 kali sehari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Adas (fennel)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Teh adas dapat dipakai untuk meringankan bayi yang menderita kolik atau yang kesakitan akibat erupsi (keluarnya) gigi. Untuk obat masuk angin dan kolik, caranya 1sdt teh adas dilarutkan dengan 1 cangkir air mendidih, aduk hingga larut. Setelah agak dingin, larutan dapat diminumkan pada bayi/anak dengan takaran sesuai umurnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205399-860574314890689585?l=dranak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=kexQZYlz"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=41" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=EaA8AoH8"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=42" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=hN3neGDb"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=43" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=qIg7L6LX"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=qIg7L6LX" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=EslYIK6S"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=EslYIK6S" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=s97QWya4"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=50" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=SHfxnCTt"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=SHfxnCTt" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=Q8sB6pbB"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=52" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=KB0Qup4Q"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=KB0Qup4Q" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=CJyP2IMP"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=54" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=zZA0qVWY"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=zZA0qVWY" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=FtC3csK6"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=FtC3csK6" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/IkatanDokterAnakIndonesia/~4/Tp6OATeZ4bY" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://dranak.blogspot.com/feeds/860574314890689585/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=19205399&amp;postID=860574314890689585&amp;isPopup=true" title="6 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default/860574314890689585?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default/860574314890689585?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/IkatanDokterAnakIndonesia/~3/Tp6OATeZ4bY/bumbu-tradisional-untuk-obat-balita.html" title="Bumbu Tradisional untuk Obat Balita Anda !" /><author><name>.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="09722670870875166877" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">6</thr:total><feedburner:origLink>http://dranak.blogspot.com/2007/07/bumbu-tradisional-untuk-obat-balita.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;Dk8HRno6cSp7ImA9WBFaEU8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205399.post-5151717273000085749</id><published>2007-05-14T10:34:00.000+07:00</published><updated>2007-05-14T13:40:37.419+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-05-14T13:40:37.419+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Psikologi Anak" /><title>Pengaruh nonton TV pada anak-anak</title><content type="html">artikel diambil dari &lt;a href="http://www.kidia.org/news/tahun/2006/bulan/07/tanggal/10/id/14/"&gt;sini&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="line-height: normal; font-size: 18px;"&gt;&lt;span style="color: blue;"&gt;KURANGI NONTON TV, NIKMATI HIDUP!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mari kita kendalikan teknologi agar teknologi tidak mengendalikan kita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh Media terhadap anak makin besar, teknologi semakin canggih &amp; intensitasnya semakin tinggi. Padahal orangtua tidak punya waktu yang cukup untuk memerhatikan, mendampingi &amp;amp; mengawasi anak. Anak lebih banyak menghabiskan waktu menonton TV ketimbang melakukan hal lainnya. Dalam seminggu anak menonton TV sekitar 170 jam. Apa yang mereka pelajari selama itu? Mereka akan belajar bahwa kekerasan itu menyelesaikan masalah. Mereka juga belajar untuk duduk di rumah dan menonton, bukannya bermain di luar dan berolahraga. Hal ini menjauhkan mereka dari pelajaran-pelajaran hidup yang penting, seperti bagaimana cara berinteraksi dengan teman sebaya, belajar cara berkompromi dan berbagi di dunia yang penuh dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Faktanya..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;• Anak merupakan kelompok pemirsa yang paling rawan terhadap dampak negatif siaran TV.&lt;br /&gt;• Data th 2002 mengenai jumlah jam menonton TV pada anak di Indonesia adalah sekitar 30-35 jam/minggu atau 1560-1820 jam/ tahun . Angka ini jauh lebih besar dibanding jam belajar di sekolah dasar yang tidak sampai 1000 jam/tahun.&lt;br /&gt;• Tidak semua acara TV aman untuk anak. Bahkan, “Kidia” mencatat bahwa pada 2004 acara untuk anak yang aman hanya sekira 15% saja. Oleh karena itu harus betul-betul diseleksi.&lt;br /&gt;• Saat ini jumlah acara TV untuk anak usia prasekolah dan sekolah dasar perminggu sekitar 80 judul ditayangkan dalam 300 kali penayangan selama 170 jam. Padahal dalam seminggu ada 24 jam x 7 = 168 jam! Jadi, selain sudah sangat berlebihan, acara untuk anak juga banyak yang tidak aman.&lt;br /&gt;• Acara TV bisa dikelompokkan dalam 3 kategori: Aman, Hati-hati, dan Tidak Aman untuk anak.&lt;br /&gt;• Acara yang ‘Aman’: tidak banyak mengandung adegan kekerasan, seks, dan mistis. Acara ini aman karena kekuatan ceritanya yang sederhana dan mudah dipahami. Anak-anak boleh menonton tanpa didampingi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Acara yang ‘Hati-hati’: isi acara mengandung kekerasan, seks dan mistis namun tidak berlebihan. Tema cerita dan jalan cerita mungkin agak kurang cocok untuk anak usia SD sehingga harus didampingi ketika menonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Acara yang “Tidak Aman”: isi acara banyak mengandung adegan kekerasan, seks, dan mistis yang berlebihan dan terbuka. Daya tarik yang utama ada pada adegan-adegan tersebut. Sebaiknya anak-anak tidak menonton acara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kenapa Kita Harus Mengurangi Menonton TV?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Berpengaruh terhadap perkembangan otak&lt;br /&gt;Terhadap perkembangan otak anak usia 0-3 tahun dapat menimbulkan gangguan perkembangan bicara, menghambat kemampuan membaca-verbal maupun pemahaman. Juga, menghambat kemampuan anak dalam mengekspresikan pikiran melalui tulisan, meningkatkan agresivitas dan kekerasan dalam usia 5-10 tahun, serta tidak mampu membedakan antara realitas dan khayalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Mendorong anak menjadi konsumtif&lt;br /&gt;Anak-anak merupakan target pengiklan yang utama sehingga mendorong mereka menjadi konsumtif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Berpengaruh terhadap Sikap&lt;br /&gt;Anak yang banyak menonton TV namun belum memiliki daya kritis yang tinggi, besar kemungkinan terpengaruh oleh apa yang ditampilkan di televisi. Mereka bisa jadi berpikir bahwa semua orang dalam kelompok tertentu mempunyai sifat yang sama dengan orang di layar televisi. Hal ini akan mempengaruhi sikap mereka dan dapat terbawa hingga mereka dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Mengurangi semangat belajar&lt;br /&gt;Bahasa televisi simpel, memikat, dan membuat ketagihan sehingga sangat mungkin anak menjadi malas belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Membentuk pola pikir sederhana&lt;br /&gt;Terlalu sering menonton TV dan tidak pernah membaca menyebabkan anak akan memiliki pola pikir sederhana, kurang kritis, linier atau searah dan pada akhirnya akan mempengaruhi imajinasi, intelektualitas, kreativitas dan perkembangan kognitifnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Mengurangi konsentrasi&lt;br /&gt;Rentang waktu konsentrasi anak hanya sekitar 7 menit, persis seperti acara dari iklan ke iklan, akan dapat membatasi daya konsentrasi anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Mengurangi kreativitas&lt;br /&gt;Dengan adanya TV, anak-anak jadi kurang bermain, mereka menjadi manusia-manusia yang individualistis dan sendiri. Setiap kali mereka merasa bosan, mereka tinggal memencet remote control dan langsung menemukan hiburan. Sehingga waktu liburan, seperti akhir pekan atau libur sekolah, biasanya kebanyakan diisi dengan menonton TV. Mereka seakan-akan tidak punya pilihan lain karena tidak dibiasakan untuk mencari aktivitas lain yang menyenangkan. Ini membuat anak tidak kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Meningkatkan kemungkinan obesitas (kegemukan)&lt;br /&gt;Kita biasanya tidak berolahraga dengan cukup karena kita biasa menggunakan waktu senggang untuk menonton TV, padahal TV membentuk pola hidup yang tidak sehat. Penelitian membuktikan bahwa lebih banyak anak menonton TV, lebih banyak mereka mengemil di antara waktu makan, mengonsumsi makanan yang diiklankan di TV dan cenderung memengaruhi orangtua mereka untuk membeli makanan-makanan tersebut. Anak-anak yang tidak mematikan TV sehingga jadi kurang bergerak beresiko untuk tidak pernah bisa memenuhi potensi mereka secara penuh. Selain itu, duduk berjam-jam di depan layar membuat tubuh tidak banyak bergerak dan menurunkan metabolisme, sehingga lemak bertumpuk, tidak terbakar dan akhirnya menimbulkan kegemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Merenggangkan hubungan antar anggota keluarga&lt;br /&gt;Kebanyakan anak kita menonton TV lebih dari 4 jam sehari sehingga waktu untuk bercengkrama bersama keluarga biasanya ‘terpotong’ atau terkalahkan dengan TV. 40% keluarga menonton TV sambil menyantap makan malam, yang seharusnya menjadi ajang ’berbagi cerita’ antar anggota keluarga. Sehingga bila ada waktu dengan keluarga pun, kita menghabiskannya dengan mendiskusikan apa yang kita tonton di TV. Rata-rata, TV dalam rumah hidup selama 7 jam 40 menit. Yang lebih memprihatinkan adalah terkadang masing-masing anggota keluarga menonton acara yang berbeda di ruangan rumah yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Matang secara seksual lebih cepat&lt;br /&gt;Banyak sekali sekarang tontonan dengan adegan seksual ditayangkan pada waktu anak menonton TV sehingga anak mau tidak mau menyaksikan hal-hal yang tidak pantas baginya. Dengan gizi yang bagus dan rangsangan TV yang tidak pantas untuk usia anak, anak menjadi balig atau matang secara seksual lebih cepat dari seharusnya. Dan sayangnya, dengan rasa ingin tahu anak yang tinggi, mereka memiliki kecenderungan meniru dan mencoba melakukan apa yang mereka lihat. Akibatnya seperti yang sering kita lihat sekarang ini, anak menjadi pelaku dan sekaligus korban perilaku-perilaku seksual. Persaingan bisnis semakin ketat antar Media, sehingga mereka sering mengabaikan tanggung jawab sosial,moral &amp; etika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jadi, Siapa yang Seharusnya Mengurangi Menonton TV?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Semua dan setiap orang. Karena akibat buruk yang diberikan oleh TV tidak terbatas oleh usia, tingkat pendidikan, status sosial, keturunan dan suku bangsa. Semua lapisan masyarakat dapat terpengaruh dampak buruk dari TV, orangtua, anak-anak, si kaya ataupun si miskin, si pintar dan si bodoh, mereka dari latar belakang apa saja, tetap terkena dampak yang sama. Seharusnya instansi pemerintah, instansi pendidikan, instansi agama, keluarga dan individu semua bersama-sama mendukung program ‘Hari Tanpa TV’ ini, untuk membangun bangsa yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pertimbangkan Hidup tanpa TV&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dengan banyaknya bukti betapa TV bisa memberikan beragam dampak buruk, banyak keluarga sekarang membuat rumah mereka bebas-TV. Sangat penting untuk anak mempunyai kesempatan mempelajari dan mengalami langsung pengalaman hidup sehingga mereka dapat mengembangkan keterampilan yang mereka butukan untuk sukses di masa yang akan datang. Kalau menurut Anda hidup tanpa TV itu masih terlalu sulit, maka perlahan batasi dan awasi dengan saksama tontonan anak Anda sepanjang tahun.&lt;br /&gt;Mau melihat generasi anak yang lebih sehat? Keluarga yang lebih dekat? Masyarakat yang lebih madani? Matikan TV. Hal yang mungkin kecil tapi akan berdampak besaaar!&lt;br /&gt;Bantu kami untuk menyebarkan bahaya TV kepada masyarakat, dengan meningkatkan kewaspadaan publik, membantu orang untuk menikmati hidup tanpa TV, membantu mereka melakukan aktivitas yang bebas-TV, dan menawarkan tips-tips sederhana tentang cara melakukannya, kita akan membantu jutaan anak untuk mematikan TV dan menyadari bahwa hidup tanpa TV itu lebih menyenangkan dan menenangkan.&lt;br /&gt;Dengan mematikan TV, kita jadi punya waktu untuk keluarga, teman, dan untuk kita sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Apa Manfaat HARI TANPA TV?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dengan TV dalam keadaan mati, kita jadi memiliki kesempatan untuk berpikir, membaca, berkreasi dan melakukan sesuatu. Untuk menjalin hubungan yang lebih menyenangkan dalam keluarga dan masyarakat. Mengurangi waktu menonton TV membuat kita mempunyai lebih banyak waktu untuk bermain di luar, berjalan-jalan atau melakukan olahraga yang kita senangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bagaimana Caranya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Pergi ke perpustakaan atau ke toko buku terdekat&lt;br /&gt;Biasakan anak Anda membaca buku. Bila sempat, sisakan waktu setiap hari, kalau tidak, beberapa kali setiap minggu untuk membacakan cerita kepada anak Anda atau biarkan sekali-kali anak Anda yang membacakan cerita untuk Anda. Jangan lupa untuk membahas kembali apa yang telah dibaca. Tanyakan kepada mereka tentang ceritanya, bantu mereka menemukan kosakata baru dan ajak anak untuk membaca beragam macam bacaan. Buatlah membaca itu gampang dan menyenangkan bagi anak Anda dengan cara membuat buku berada di sekitar mereka. Ajak mereka ke perpustakaan. Sediakan sebanyak mungkin buku yang pantas di sekitar rumah dan minta kerjasama keluarga untuk menjadikan buku sebagai hadiah ulangtahun, liburan atau lebaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Bercocok tanam&lt;br /&gt;TV menjauhkan kita dari alam. Padahal banyak hal yang bisa diajarkan oleh alam, dan yang tidak bisa didapatkan dari menonton TV. Dengan mengajak anak bercocok tanam, Anda bisa mengajarkan kepada anak Anda banyak hal. Mulai membuat taman bunga sendiri, atau bahkan 1 pot saja. Dengan ini anak bisa belajar makna tumbuh dan bertanggung jawab. Jadi setiap kali ia menyiram bunganya di pagi hari, ia akan ingat bahwa tanaman, seperti kita semua itu mulai dari benih, tumbuh, berkembang dan kelak layu dan mati. Dan selalu perlu air dan matahari!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Bermain&lt;br /&gt;Hidup anak pada dasarnya adalah bermain. Dengan bermain, anak belajar banyak hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Melihat awan&lt;br /&gt;Aneh? Mungkin. Karena kita tidak dibiasakan menikmati langit. Atau kita biasa hanya terpaku dengan indahnya bintang-bintang di malam hari. Padahal awan itu hampir selalu ada, selalu bergerak dan kadang-kadang membentuk hal-hal yang unik, seperti kuda nil, atau pesawat terbang. Kita bisa mengajak anak untuk menggambarkan bentuk apa yang dia lihat di awan. Kadang mereka bisa melihat 1 awan tapi dengan 2 bentuk yang berbeda. Kita juga bisa mengajaknya membuat puisi tentang awan. Atau biarkan mereka mengarang cerita tentang apa kira-kira rasanya bila kita bisa hidup di awan. Hal ini bisa memicu daya imajinasi dan kreativitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Menulis surat&lt;br /&gt;Kebiasaan memiliki sahabat pena sudah begitu jauh dari kehidupan anak-anak kita. Dengan teknologi yang kini sudah begitu canggih, anak lebih senang menggunakan telepon untuk bercerita. Tapi ternyata menulis surat melatih banyak hal. Selain mengenali prosedur pengiriman barang (amplop, perangko dan jasa besar pak pos), menulis surat juga melatih motorik dan membuat anak senang bila menerima balasan. Ajak anak menulis surat ke nenek kakek atau saudara yang tinggal jauh. Dan tunggu balasannya! Jika anak mulai mengenal teknologi internet, bisa saja sarana e-mail bisa digunakan untuk melatih kebiasaan menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Jalan-jalan&lt;br /&gt;Jalan-jalan itu mudah dan murah. Tidak perlu banyak mengeluarkan uang. Jalan-jalan ke rumah teman atau sekadar berkeliling lingkungan rumah saja untuk menyapa tetangga. Kita juga bisa berjalan-jalan ke taman kota dan membuat piknik atau sekadar bermain di sana. Jalan-jalan itu baik untuk tubuh karena bisa menurunkan tekanan darah dan resiko terkena penyakit jantung. Dan yang lebih menguntungkan, jalan-jalan juga bisa mengurangi berat badan. Jalan-jalan juga bisa menenangkan pikiran dan melepaskan stres. Karena dengan berjalan, otak melepaskan zat yang bisa meringankan tekanan pada otot serta mengurangi kecemasan. Jalan-jalan juga bagus untuk lingkungan. Kalau kita lebih sering berjalan dari pada menggunakan transportasi bermesin, kita bisa menghemat 7 milyar gallon bensin dan 9.5 juta ton asap pembuangan kendaraan bermotor pertahunnya. Bayangkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Berenang&lt;br /&gt;Semua anak suka bermain air. Jadi ajak anak Anda berenang. Selain sangat menyenangkan, berenang itu juga salah satu cara berolahraga. Kalau bosan untuk berenang di kolam sekitar Anda, ajak anak untuk pergi ke pantai. Selain bermain dengan ombak, anak juga bisa diajak membuat istana yang indah dari pasir dan mengoleksi kerang-kerang yang cantik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Bersepeda&lt;br /&gt;Kalau dilakukan sendiri, mungkin bisa membosankan. Tapi coba lah bersepeda pagi-pagi bersama seluruh keluarga. Selain murah dan menyehatkan, kita bisa mengajak anak untuk menghias sepedanya menjadi sepeda yang indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Mendengarkan radio atau membaca koran&lt;br /&gt;Anak sekarang sudah jarang sekali mendengarkan radio, apalagi membaca koran. Padahal mungin mereka bisa mendapatkan informasi yang tidak kalah banyaknya dibanding mendengarkan berita di TV. Radio bisa melatih anak untuk mendengarkan dengan baik dan koran bisa mengajak anak untuk menambah wawasannya tentang dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Memasak bersama ibu&lt;br /&gt;Masak-memasak bukan hanya kerjaan ’perempuan’, bila sesuai, anak lelaki pun tidak ada salahnya diajak memasak bersama. Suatu hari keahlian itu pasti berguna juga baginya. Ajak anak Anda memasak makanan-makanan ringan yang unik dan mengasyikkan. Misalnya membuat puding semangka kuning atau es krim rasa pisang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Bikin lomba antar RT&lt;br /&gt;Ini selalu berhasil bila 17 Agustusan tiba. Sekarang kita tidak perli menunggu moment itu. Rancang rencana perRT/RW untuk membuat acara massal anak-anak yang murah meriah setiap minggunya, jadi anak tidak terpukau di depan TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Berolahraga&lt;br /&gt;Kadang kata olahraga terdengar berat, tapi setelah dilakukan biasanya menyenangkan. Selain jalan-jalan, bersepeda dan berenang, masih banyak lagi olahraga yang bisa dilakukan bersama keluarga. Kalau mau yang sederhana, main badminton. Kalau mau yang lebih menantang, pergi water rafting!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Bakti sosial&lt;br /&gt;Kita sering lupa mengajak anak untuk memerhatikan orang-orang di lingkungan sekitar yang tidak seberuntung mereka. Ajak anak Anda untuk bersama-sama membersihkan rumah dan lemari pakaian dari barang-barang yang tidak lagi digunakan tapi masih bagus dan layak pakai untuk disumbangkan ke panti-panti asuhan di sekitar rumahmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Rapikan rumah dan halaman&lt;br /&gt;Biasanya yang ini adalah tugas pembantu rumah tangga. Kali ini, ajak anak Anda untuk memerhatikan tempat tinggalnya sendiri. Karena pembantu tidak selalu ada untuk melayani. Ingatkan anak bahwa pembantu disebut demikian karena tugasnya memang ’membantu’ hal-hal yang kita tidak bisa kerjakan. Bukan sebaliknya. Dengan demikian anak akan belajar untuk bertanggung jawab dan lebih menghargai pembantu. Lagipula, tinggal di lingkungan yang rapi dan bersih itu sehat dan menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Ambil les&lt;br /&gt;Pelajaran di sekolah hanya melatih otak kiri. Jangan lupa untuk melatih otak kanannya. Ambil les yang menarik dan sesuai dengan bakat anak anda. Mulai dari les musik dengan piano, gitar, biola atau drumnya, atau les menari mulai dari tarian daerah, tarian modern dan ballet, atau les-les lainnya. Tapi ingat, jangan sampai les-les ini menambah beban belajar yang sudah menumpuk di sekolah. Pastikan anak mendapatkan waktu yang cukup untuk istirahat juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Bercengkrama dengan keluarga&lt;br /&gt;Nah ini yang mahal. Karena penelitian mengatakan bahwa 54% anak berusia 4-6 mengaku lebih senang menonton TV daripada bermain dengan ayahnya. Para orangtua juga mengaku bahwa mereka hanya menghabiskan sekitar 40 menit perhari untuk melakukan percakapan yang berarti dengan anaknya. Kedekatan dengan keluarga tidak bisa dibeli. Jangan biarkan televisi mencuri lagi waktu kita untuk keluarga yang memang sudah tinggal sedikit sekali karena terpotong aktivitas sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Belajar&lt;br /&gt;Sebetulnya apapun yang kita lakukan merupakan pembelajaran. Jadi belajar itu bukan hanya lewat buku. Belajar hal-hal baru yang belum kita ketahui. Belajar naik motor atau membuat sarang burung dari kayu. Belajar mengantri, belajar main basket atau belajar untuk sehari saja tidak nonton TV dulu..!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Mengerjakan keterampilan tangan&lt;br /&gt;Banyak buku sekarang yang mengajarkan membuat keterampilan tangan, sehingga kita bisa melakukannya secara otodidak. Keterampilan tangan bisa dalam bentuk bermacam ragam, mulai dari meyulam, origami sampai membuat bunga dari sabun mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Ke kebun binatang atau musium&lt;br /&gt;Mengunjungi kebun binatang selalu menyenangkan. Karena kita bisa melihat beragam binatang yang tidak biasa kita lihat sehari-hari. Anak-anak biasanya menyukainya. Bila berani, ada waktu, dan transportasi, kita juga bisa mengunjungi taman safari dan bersentuhan dengan binatang-binatang itu secara langsung. Selain itu, musium juga menarik untuk dikunjungi. Dari musium kita bisa banyak belajar tentang sejarah dan melihat langsung artifak-artifak menarik tentangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak punya waktu? Matikan saja TV-nya dulu. Mengurangi waktu menonton TV memang terkesan susah pada awalnya, tapi ternyata toh ada ribuan hal lain yang menarik untuk dilakukan, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tips cara mematikan TV&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;• Pindahkan TV ke tempat yang tidak begitu ‘mencolok’&lt;br /&gt;• Matikan TV pada waktu makan.&lt;br /&gt;• Tentukan hari-hari apa saja dalam seminggu yang akan dilalui tanpa TV.&lt;br /&gt;• Jangan gunakan kesempatan menonton TV sebagai hadiah.&lt;br /&gt;• Berhenti berlangganan channel tambahan (cable, dll) dan gunakan uangnya untuk membeli hal-hal yang berguna lainnya, seperti buku.&lt;br /&gt;• Pindahkan TV dari kamar anak Anda.&lt;br /&gt;• Sembunyikan remote controlnya.&lt;br /&gt;• Tidak ada TV di hari sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan terlalu khawatir bila anak mengaku bosan, karena kebosanan itu lama-lama akan menghilang dan biasanya justru menciptakan kreativitas. Karena anak banyak dipengaruhi dengan yang dilakukan orangtua mereka, adalah sangat penting untuk memperhatikan bahwa usaha apa saja, seperti lebih banyak berolahraga, mengonsumsi makanan yang lebih bergizi atau menonton TV lebih sedikit, dilakukan sebagai ‘acara keluarga’ sehingga mematikan TV adalah usaha yang dilakukan oleh setiap anggota keluarga untuk menyisihkan waktu bercengkrama bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Diolah dari: turnofftv.org oleh Yayasan Kita dan Buah Hati; dan Kidia.)&lt;/span&gt;(*)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205399-5151717273000085749?l=dranak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=kyIH0idq"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=41" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=oPD9WpGo"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=42" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=2RsFwfaz"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=43" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=Ag8gGSkY"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=Ag8gGSkY" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=QkxI2TVJ"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=QkxI2TVJ" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=rT71K9jJ"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=50" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=HKXP3M7e"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=HKXP3M7e" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=uC5BtMLV"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=52" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=Z1kGlvR2"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=54" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=MH4soU8q"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=MH4soU8q" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=SDHxBwlp"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=SDHxBwlp" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/IkatanDokterAnakIndonesia/~4/NwVVWQBNZzk" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://dranak.blogspot.com/feeds/5151717273000085749/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=19205399&amp;postID=5151717273000085749&amp;isPopup=true" title="7 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default/5151717273000085749?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default/5151717273000085749?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/IkatanDokterAnakIndonesia/~3/NwVVWQBNZzk/pengaruh-nonton-tv-pada-anak-anak.html" title="Pengaruh nonton TV pada anak-anak" /><author><name>.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="09722670870875166877" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">7</thr:total><feedburner:origLink>http://dranak.blogspot.com/2007/05/pengaruh-nonton-tv-pada-anak-anak.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEMHSX87eip7ImA9WBFUEEk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205399.post-4489979103910074714</id><published>2007-04-20T11:08:00.000+07:00</published><updated>2007-04-20T11:13:58.102+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-04-20T11:13:58.102+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Infeksi" /><title>penyakit eksim - CARA GAMPANG MERAWAT KULIT BAYI DAN BALITA</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.thachers.org/images/Atopic_dermatitis.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px;" src="http://www.thachers.org/images/Atopic_dermatitis.JPG" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Berbagai gangguan kulit pada bayi dan balita seperti biang keringat, eksim popok, dan eksim susu sebenarnya bisa diatasi bila orang tua rajin menjaga kesehatan kulit. Caranya dengan rajin mengganti popok, memilih bahan pakaian yang lembut, serta menjaga udara kamar agar tetap sejuk dan nyaman.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan kulit dewasa yang tebal dan mantap, kulit bayi dan balita relatif tipis dengan ikatan antarsel yang longgar. Karena itu kulit anak lebih rentan terhadap infeksi, iritasi, dan alergi. Secara struktural kulit bayi dan balita belum berkembang dan berfungsi optimal sehingga diperlukan perawatan khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perawatan yang lebih menekankan pada pemeliharaan kulit ketimbang dekorasi ini diharapkan bisa meningkatkan fungsi utama kulit sebagai pelindung dari pengaruh luar tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perawatan kulit bayi dan balita bisa dimulai dari kegiatan sehari-hari. Misalnya dengan memandikan secara teratur, membersihkan rambut, dan mengganti popok atau baju pada saat tepat. Mandi misalnya, diwajibkan dua kali sehari, pagi dan sore. Dalam memandikan, perhatikan hal-hal berikut: suhu air disesuaikan dengan umur anak, gunakan sabun bayi yang lunak, gunakan sampo bayi untuk membersihkan rambut, keringkan badan dengan handuk sendiri sampai lipatan kulit, dan berikan bedak dengan sapuan tipis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal pakaian bayi sebaiknya dari bahan lembut dan selalu bersih. Dengan memperhatikan pakaian yang digunakan berarti kita telah berupaya menghindari timbulnya gangguan. Pada sebagian anak penggunaan pakaian berbahan nilon atau wol bisa menimbulkan gatal-gatal di seluruh tubuh. Bahan katun yang gampang menyerap keringat haruslah menjadi pilihan pertama bagi anak berkulit peka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeliharaan kulit itu bisa dilakukan dengan menggunakan bermacam kosmetika bayi yang beredar saat ini. Sebagian berfungsi untuk membersihkan kulit misalnya sabun dan sampo; melembapkan dan pelindung terhadap sinar matahari seperti losion, krim, dan minyak khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan kosmetika berupa sabun, sampo, losion, minyak khusus untuk bayi perlu dipilih yang tepat dan disesuaikan dengan kondisi kulit bayi. Misalnya dengan mencermati zat warna dan bahan-bahan pengawet yang mungkin saja tidak sesuai dengan kulit bayi. Juga apakah pH-nya sesuai dengan kulit bayi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memilih dan menggunakan kosmetika pada bayi dan balita secara benar dan tidak berlebihan merupakan langkah utama menjaga kesehatan kulit. Oleh karena itu, banyaknya informasi tentang produk kosmetika bayi dan balita dewasa ini harus lebih dicermati oleh orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eksim popok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain perawatan kulit rutin, para orang tua perlu memperhatikan perawatan kulit yang berhubungan dengan beberapa penyakit kulit tertentu. Misalnya saja eksim popok, yaitu kelainan kulit yang timbul akibat radang di daerah tertutup popok. Penyakit kulit pada bayi dan balita ini banyak dikeluhkan orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyakit ini umumnya timbul pada lipatan-lipatan kulit paha, di antara kedua pantat, dan dapat menimpa di bagian kulit lain. Bagian tertutup popok mudah mengalami peradangan karena kulitnya hangat dan lembap serta peka terhadap bakteri serta senyawa yang dapat mengiritasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eksim popok dapat dicegah dengan cara mengganti popok sesering mungkin setiap kali popok basah. Sebaiknya kain popok terbuat dari bahan lembut dan cara pemakaiannya tidak terlalu ketat agar kulit tidak tergesek. Penggunaan celana plastik sedapat mungkin dihindari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eksim popok juga bisa muncul karena adanya zat-zat tajam, yang biasa ada dalam faeces bayi, yang menimbulkan peradangan di sekitar anus. Bercak begini umumnya terjadi bila si bayi diare. Penanggulangannya bisa dilakukan dengan mengganti popok setiap kali terasa basah. Usap semua bekas faeces dari badannya, balur dengan krim pelindung. Periksakan ke dokter bila bercaknya belum hilang dalam 10 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Popok yang basah bisa pula menimbulkan bercak yang tidak berpusat di sekitar anus. Ini terjadi karena reaksi antara zat di dalam ompol dengan zat di faeces dan menghasilkan amonia yang merangsang kulit bayi. Penanggulangannya bisa dengan mengganti popok sesering mungkin. Sebelum pemakaian popok usapkan krim pelindung kulit. Bila dalam 10 hari belum ada kemajuan, atau malah makin memburuk, ada kemungkinan kulitnya sudah terinfeksi candida - jamur yang biasa muncul di usus. Dalam hal itu periksakan ke dokter, yang mungkin memberi krim khusus dan juga obat khusus untuk melawan infeksinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal pilihan penggunaan popok kain atau popok sekali pakai tak jadi soal. Dari segi kesehatan keduanya sama-sama sehat. Yang penting jangan sampai terlambat mengganti. Untuk popok kain tentu harus segera diganti bila terlihat basah. Tetapi untuk popok sekali pakai frekuensi penggantiannya didasarkan atas daya tampungnya. Misalnya dengan melihat apakah popok sekali pakai itu sudah tampak menggelembung atau menggantung. Jika sudah, maka harus segera diganti. Setiap kali akan mengganti popok, bagian pantat bayi dan sekitarnya harus dibasahi. Kemudian bagian tadi dikeringkan, baru diberi bedak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering dianjurkan pemakaian baby oil pada bagian ini, untuk menjaga air seni tidak mudah meresap ke dalam kulit. Tentu saja baby oil ini harus diteteskan lebih dulu pada segumpal kapas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bayi perempuan, membersihkannya harus dari bagian atas ke arah anus, dengan menggunakan kapas basah. Sedangkan pada bayi laki-laki, dengan menarik kulup perlahan-lahan sehingga lubang kencingnya tampak, baru kemudian dibersihkan dengan kapas basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluhan gangguan kulit lain pada anak yang banyak ditemui adalah dermatitis atopik (eksim susu). Penting dicatat pula, bahwa dari berbagai penelitian terbukti bukan air susu ibu (ASI) penyebabnya. Bahkan, ASI sendiri mengandung zat pelindung tubuh terhadap alergi dan infeksi. Namun, nama eksim susu telah telanjur melekat sehingga tetap dipertahankan. Sementara istilah kedokterannya adalah dermatitis atopik (eksim di tempat yang tidak biasanya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyakit eksim susu biasanya sangat gatal. Tampak dari seringnya bayi menggaruk, gelisah, serta rewel. Kulit terlihat kemerahan dan terdapat gelembung-gelembung kecil berisi cairan jernih. Bila pecah akan tampak basah kemudian mengering dan menjadi koreng kekuningan atau kehitaman. Eksim ini terdapat pada kulit daerah tertentu sesuai dengan usia anak. Misalnya pada bayi banyak ditemukan di daerah pipi, sedangkan pada anak di daerah lekukan lengan dan kedua lekukan lutut. Di luar daerah tersebut kulitnya kering dan bersisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab penyakit ini sangat kompleks, dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik dari dalam tubuh, yaitu faktor keturunan, maupun lingkungan, misalnya debu, udara panas, dan kelembapan. Karena itu perawatan kulit yang paling penting adalah mencegah kulit agar jangan kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biang keringat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biang keringat juga merupakan keluhan umum yang sering ditemukan pada bayi dan balita. Biang keringat atau sering disebut juga keringat buntet timbul di daerah dahi, leher, dan bagian tubuh yang tertutup pakaian. Gejala utama adalah gatal, dapat disertai kulit kemerahan dan gelembung berair kecil-kecil. Penyakit ini biasa kambuh berulang, terutama bila udara panas dan berkeringat, sehingga menimbulkan masalah pada bayi, balita, maupun orang tua. Penyakit ini dapat dicegah dengan perawatan rutin, misalnya mandi dengan teratur dan membasuh anak yang berkeringat dengan lap basah sebelum dikeringkan dan diberi bedak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali terjadi bintik-bintik merah (ruam) pada leher dan ketiak bayi. Keadaan ini disebabkan oleh peradangan kulit pada bagian tersebut. Bisa disebabkan karena bagian ini tidak kering betul ketika dilap dengan handuk sehabis memandikannya. Apalagi jika si bayi gemuk, sehingga leher dan ketiaknya berlipat-lipat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruangan dengan ventilasi udara cukup sangat dianjurkan, terutama di kota-kota besar yang panas dan pengap. Usahakan kamar balita diberi jendela lebar sehingga pertukaran udara dari luar ke dalam ruangan lancar. Dari kasus-kasus biang keringat pada bayi dan balita, hampir 70% nya bisa diatasi bila pergerakan udara dalam ruangan lancar sehingga kamar terasa sejuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas dari soal kesehatan, perawatan kulit pada bayi dan balita sebenarnya mengekspresikan rasa cinta orang tua kepada buah hatinya. Sentuhan mereka akan sangat mempengaruhi perkembangan fisik dan mental seorang anak. (G. Sujayanto)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205399-4489979103910074714?l=dranak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=VQoEgjAL"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=41" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=uRcM1gIY"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=42" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=vRFbjUkO"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=43" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=IdB2fIGt"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=IdB2fIGt" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=qlA93tBu"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=qlA93tBu" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=n0v5Nb1l"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=50" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=j7xGtrWq"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=j7xGtrWq" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=Enn5uJCF"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=52" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=nxp9QcVL"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=nxp9QcVL" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=n5JW3ZC0"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=54" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=zbCYf6iD"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=zbCYf6iD" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=dPhMryXm"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=dPhMryXm" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/IkatanDokterAnakIndonesia/~4/0cf36ms9VNk" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://dranak.blogspot.com/feeds/4489979103910074714/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=19205399&amp;postID=4489979103910074714&amp;isPopup=true" title="3 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default/4489979103910074714?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default/4489979103910074714?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/IkatanDokterAnakIndonesia/~3/0cf36ms9VNk/penyakit-eksim-cara-gampang-merawat.html" title="penyakit eksim - CARA GAMPANG MERAWAT KULIT BAYI DAN BALITA" /><author><name>.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="09722670870875166877" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">3</thr:total><feedburner:origLink>http://dranak.blogspot.com/2007/04/penyakit-eksim-cara-gampang-merawat.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0ENQHk-fCp7ImA9WBFWE08.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205399.post-8749078819328014496</id><published>2007-03-31T14:17:00.000+07:00</published><updated>2007-03-31T14:21:31.754+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-03-31T14:21:31.754+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kehamilan" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="gigi" /><title>Pentingnya Perawatan Gigi Pada (Calon) Ibu Hamil</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.atlantadentist.com/Digital_Dental_Image.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px;" src="http://www.atlantadentist.com/Digital_Dental_Image.JPG" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Anda berencana segera hamil dalam waktu dekat? Hmmm, sebaiknya cek ke dokter gigi, apakah semuanya baik-baik saja. Jika ada gangguan, biar dapat segera tertangani dan tak menjadi ganjalan pada masa kehamilan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Pasalnya, ibu hamil yang mengalami sakit gigi kronis atau berat berisiko untuk melahirkan bayi berat lahir rendah (BBLR) karena pertumbuhannya terganggu, demikian menurut Heather Jaret, dari University of North Carolina di Chapel Hill, Amerika Serikat dalam presentasinya di Asosiasi Internasional untuk penelitian gigi. Sementara Dr. Steven Offenbacher, Direktur Center of Oral and Systemic Diseases di Universitas yang sama menjelaskan bahwa risiko tersebut sama kuatnya dengan risiko akibat merokok atau pemakaian alkohol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ahli mencari hubungan antara penyaki di gusi dengan bayi beral lahir rendah, dengan melihat kejadian selama 5-6 tahun belakangan. Penelitian dilakukan dengan memeriksa kesehatan gigi dan mulut pada 850 wanita hamil, dengan usia dua puluh tahunan, sebelum usia kehamilan 26 minggu. Setelah itu diperiksa kembali dalam waktu 48 jam setelah persalinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian ini juga memperhitungkan kontrol dan berbagai risiko, seperti umur, status merokoknya serta persalinan dini yang pernah dialami sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian itu menemukan bahwa peningkatan risiko dari bayi berat lahir rendah dan hambatan pertumbuhan janin terlihat kurang jika gangguan di gigi dan gusi memang ringan. Risiko itu menjadi signifikan jika penyakit giginya lebih berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan langsung antara penyakit gusi dan gigi mempengaruhi bayi memang belum diketahui dengan jelas, namun diperkirakan hal ini berhubungan dengan adanya respons terhadap bengkaknya gusi. Juga belum ada penelitian untuk membuktikan bahwa perawatan penyakit pada gusi dapat mengurangi efek negatif pada janin. Sekalipun begitu, dengan penelitian ini sebaiknya kita lebih memperhatikan kesehatan mulut dan gigi selama kehamilan berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, jangan sepelekan keluhan gigi, sekalipun ’hanya’ gigi yang terasa nyeri atau berlubang...&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205399-8749078819328014496?l=dranak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=47GuEcHy"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=41" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=J3wKZ5nA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=42" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=owopCCaK"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=43" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=Zw5CxmH1"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=Zw5CxmH1" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=gZ9Z3tfx"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=gZ9Z3tfx" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=4eMRfoid"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=50" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=HbGlSODr"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=HbGlSODr" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=XxkQygnX"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=52" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=aPdKZ9yK"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=54" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=APjU5CoN"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=APjU5CoN" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=EfDnD8pI"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=EfDnD8pI" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/IkatanDokterAnakIndonesia/~4/eHwXcxgZpVU" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://dranak.blogspot.com/feeds/8749078819328014496/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=19205399&amp;postID=8749078819328014496&amp;isPopup=true" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default/8749078819328014496?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default/8749078819328014496?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/IkatanDokterAnakIndonesia/~3/eHwXcxgZpVU/pentingnya-perawatan-gigi-pada-calon.html" title="Pentingnya Perawatan Gigi Pada (Calon) Ibu Hamil" /><author><name>.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="09722670870875166877" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://dranak.blogspot.com/2007/03/pentingnya-perawatan-gigi-pada-calon.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A0UGRHc-eip7ImA9WBFXGEo.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205399.post-6617974474371286866</id><published>2007-03-26T10:17:00.000+07:00</published><updated>2007-03-26T10:20:25.952+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-03-26T10:20:25.952+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pencernaan" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kulit" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Obat" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Infeksi" /><title>Aneka Resep Obat Tradisional Asli Indonesia</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;* Penurun panas, batuk, dan pilek&lt;br /&gt;Parut bawang merah, tambahkan minyak telon, lalu balurkan pada punggung sampai bagian pantat sambil sedikit diurut. Juga pusar dan ubun-ubun. Untuk ramuan minum: air kelapa satu cangkir ditambah 1 sendok teh madu, aduk, lalu kukus. Setelah dingin, berikan pada anak sebanyak 3 sendok teh setiap 2 jam sekali. Ramuan ini diberikan untuk bayi 8 bulan ke atas. Bila usia anak di bawah 8 bulan, cukup dengan pemberian ASI atau ibunya yang minum ramuan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada anak yang agak besar, gunakan ramuan minum berupa air kunyit dan madu. Setengah sampai satu ruas jari kunyit yang sudah bersih dibakar, dikerik kulitnya, diparut, lalu diberi air matang 1/2 cangkir, peras, kemudian diendapkan. Campur bagian air kunyit yang tanpa endapan dengan kocokan 1 butir kuning telur dan 1 sendok makan madu, kemudian disuapkan pada anak. Ramuan ini bisa untuk penurun panas seperti pada sakit cacar air, flu, atau apa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Perut kembung&lt;br /&gt;Parut bawang merah dan tambahkan minyak telon. Kemudian tapelkan bawang yang sudah diparut tersebut di bagian pusar. Bisa juga, gunakan daun jarak pagar yang dihangatkan. Olesi dengan minyak kelapa, pilin-pilin, lalu tempelkan pada pusar si kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Diare&lt;br /&gt;Sediakan 1/2 jari kunyit yang sudah bersih dibakar, dipotong-potong, 7 pucuk daun jambu biji, air 2 gelas, dan garam 1/4 sendok teh, rebus dengan api kecil. Minum airnya, 1 sendok teh satu jam sekali. Untuk mengusir gas, maka pusarnya ditapeli dengan parutan bawang merah yang sudah diberi minyak telon. Untuk anak yang sudah agak besar, boleh juga dengan mengunyah halus pucuk daun jambu klutuk yang sudah bersih ditambah garam lalu ditelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Muntah-muntah&lt;br /&gt;Muntah bisa disebabkan perut mual atau kembung. Sediakan 1/2 sendok teh ketumbar, 3 butir kapulaga, 5 butir adas hitam, dan air setengah gelas. Kemudian direbus. Setelah dingin, berikan ke anak sedikit-sedikit, sesering mungkin atau 2 jam sekali.&lt;br /&gt;Boleh juga dibuatkan air beras kencur. Caranya, cuci 1 sendok makan beras dan direndam sebentar. Sangrai beras tersebut sampai berwarna kecokelatan, lalu ditumbuk halus bersama dengan 1 ruas jari kencur, 1 ruas jari kunyit, dan 1/4 sendok teh adas manis. Setelah itu diseduh dengan air panas, tambahkan gula merah, sedikit garam, dan asam jawa. Saring, lalu diminumkan pada anak agar tubuhnya hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Batuk&lt;br /&gt;Sediakan air jeruk nipis 1 sendok makan ditambah madu 2 sendok makan dan air matang 2 sendok makan. Masukkan dalam cangkir dan kukus. Setelah agak dingin, minumkan pada anak sebanyak 1-2 sendok teh. Berikan sehari 5 kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Batuk seratus hari&lt;br /&gt; Sediakan umbi bidara upas sebesar 1/2 jempol yang sudah bersih, parut dan seduh dengan air panas, lalu aduk-aduk dan dinginkan. Saring dan tambahkan sedikit madu. Minum sampai habis. Buatlah ramuan ini 3 kali sehari. Bisa juga gunakan ramuan lidah buaya. Lidah buaya dikupas kulitnya dan ambil bagian dagingnya sebanyak dua jari, kemudian dicacah. Tambahkan air hangat dan madu, lalu diminumkan pada anak 1-2 kali sehari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Batuk karena angin atau dahak susah keluar&lt;br /&gt;Sediakan 1 butir bawang merah diparut, 1 ruas jari jahe diparut dan diperas airnya, 7 butir adas manis, 1 ruas jari kunyit diparut dan diperas airnya, 1 sendok makan air jeruk nipis, dan 1/2 gelas air. Masukkan semua bahan di cangkir, kemudian kukus dan setelah itu saring. Minum 3 kali sehari masing-masing 2 sendok teh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Batuk berlendir&lt;br /&gt;Campurkan air jahe 1 sendok makan, air kunyit 1 sendok makan, bawang putih 1 siung diparut, air jeruk nipis 1 sendok makan, madu 1 sendok makan, dan 3 sendok makan air matang, kemudian dikukus. Diminumkan 3-4 kali sehari 2 sendok teh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Pilek&lt;br /&gt;Siapkan bawang merah yang diparut, lalu tapelkan pada tulang leher ketujuh (bagian tengkuk) dan ubun-ubun anak setelah sebelumnya diolesi minyak kayu putih. Beri juga minuman yang hangat-hangat, seperti minuman beras kencur. Selain itu, jemur anak di bawah sinar matahari pagi sekitar jam 7 atau di bawah jam 9 pagi. Panaskan bagian dada seperempat jam dan kemudian punggung seperempat jam. Ini bisa dilakukan sambil jalan-jalan pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Mata bintitan&lt;br /&gt;Ambil getah dari batang tanaman patikan kebo atau getah dari batang pohon meniran. Tempelkan sedikit pada kapas, lalu oleskan pada bagian bintitnya, sedikit saja, jangan sampai terkena mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Mata merah&lt;br /&gt;Taruh 3 lembar daun sirih yang sudah dicuci bersih pada wadah mangkok. Seduh dengan air panas. Setelah airnya dingin, minta anak untuk mengedip-ngedipkan matanya dalam air tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Sariawan&lt;br /&gt;Ambil sebuah tomat matang, seduh dengan air panas dan kupas kulitnya. Haluskan tomat tersebut dengan menggunakan sendok, saring dan tambahkan sedikit gula. Beri anak minumam sari tomat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Tak nafsu makan&lt;br /&gt;Menurut Endah, hilangnya nafu makan dapat disebabkan cacingan atau hal lain seperti masuk angin. Cara mengatasinya, bersihkan 1 lembar daun jarak pagar, setelah itu hangatkan sebentar di atas tutup panci. Beri olesan minyak kelapa pada daun tersebut dan dipilin, kemudian tempelkan daun tersebut di atas pusar anak, yang sebelumnya sudah diolesi dengan minyak telon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila usia anak sudah lebih dari setahun, coba berikan ramuan 1 telapak tangan daun pepaya, 1 ruas jari temu hitam/temu ireng, seruas jari tempe bosok (tempe kemarin), dan sedikit garam. Semua bahan ditumbuk halus, lalu peras pakai kain dan masukkan ke mulut anak. "Khasiat temu hitam untuk mengeluarkan cacing, sedangkan daun pepaya untuk menambah nafsu makannya, dan tempe bosok untuk stamina atau kekuatan tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menambah nafsu makan anak bisa juga dengan ramuan: 1 ruas jari temulawak, gula merah, air secukupnya, dan sedikit garam, kemudian rebus dan saring. Minumkan pada anak 1-2 sendok makan sehari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Mimisan&lt;br /&gt;Selembar daun sirih yang sudah dicuci bersih dipilin dan disumpalkan ke hidung anak. Untuk pengobatan dari dalam tubuh lakukan dengan ramuan: 1/2 jempol umbi bidara upas yang sudah bersih diparut dan diseduh dengan 1 cangkir air panas, kemudian disaring, dan setelah dingin diminumkan ke anak ditambah sedikit madu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Benjol karena benturan&lt;br /&gt;Rendam 1 sendok makan beras. Tumbuk bersama kencur dan beri sedikit garam. Setelah halus, tempelkan ke bagian yang benjol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa juga diberi ramuan: bawang putih diparut dan diberi ramuan: bawang putih diparut dan diberi madu, setelah itu dioleskan ke bagian yang benjol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Keringat buntet&lt;br /&gt;Sesering mungkin dibedaki tepung kanji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Congekan&lt;br /&gt;Cuci bersih 3 lembar daun miana atau 7 lembar daun samiloto segar atau lengkuas merah muda, lalu tumbuk halus. Peras pakai kain bersih dan teteskan air perasannya ke telinga. Lakukan dua kali sehari, masing-masing 3 tetes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Panu&lt;br /&gt;Dua jari langkuas merah diparut dan diberi sedikit cuka, oles-oleskan pagi dan sore atau malam hari pada bagian tubuh yang berpanu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Koreng atau borok kepala&lt;br /&gt;Batang brotowali dipotong-potong sebanyak 5 jari. Rebus dengan sedikit air, oleskan pada bagian kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa juga diberi ramuan: daun brotowali, parutan kunyit dan sedikit garam ditumbuk halus. Oleskan ke kepala. Boleh juga hanya dengan kunyit saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Sakit gigi&lt;br /&gt;Bawang putih diparut, ditambah sedikit garam, kemudian sumpal ke gigi yang sakit karena berlubang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Digigit nyamuk&lt;br /&gt;Hilangkan bekas gigitannya dengan tanaman sambiloto yang diremas-remas dan dioleskan ke bagian bekas gigitan tersebut. Kalau tak ada sambiloto bisa digunakan minyak sereh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Asma&lt;br /&gt;Sepuluh siung bawang putih diparut, ditambah madu 1 gelas, kemudian dikukus. Berikan pada anak sebanyak 1 sendok teh, dua kali sehari. Bisa juga, 10 siung bawang putih diparut, 1 ons gula batu, direbus bersama 1 gelas air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Luka-luka berdarah&lt;br /&gt;Cuci bersih daun jambu biji atau daun bandotan, kemudian remas-remas. Tapelkan pada luka tersebut. Darah akan berhenti segera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Keracunan&lt;br /&gt;Minum air kelapa hijau muda 3 kali sehari 1/4 gelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Biduran atau kaligata&lt;br /&gt;Balurkan tubuh dengan minyak telon, minyak kayu putih atau minyak tawon. Untuk ramuan minum: 1 jari temulawak dipotong-potong, beri sedikit gula merah, dan garam direbus dengan 1 gelas air. Saring dan bila sudah dingin diminumkan 3 kali sehari 1/4 gelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dedeh Kurniasih&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205399-6617974474371286866?l=dranak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=t5I7VrUQ"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=41" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=iwFswT7N"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=42" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=vAY5NMpd"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=43" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=C43GHXfp"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=C43GHXfp" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=HdGzLXex"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=HdGzLXex" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=uXqoqgCq"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=50" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=BDXqGYNQ"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=BDXqGYNQ" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=msSfgVhm"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=52" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=fVAdyHDc"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=fVAdyHDc" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=yJSTsU6u"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=54" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=8FnSFv7j"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=8FnSFv7j" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=e8xaKicG"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=e8xaKicG" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/IkatanDokterAnakIndonesia/~4/gg8fcBjEDm0" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://dranak.blogspot.com/feeds/6617974474371286866/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=19205399&amp;postID=6617974474371286866&amp;isPopup=true" title="7 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default/6617974474371286866?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default/6617974474371286866?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/IkatanDokterAnakIndonesia/~3/gg8fcBjEDm0/aneka-resep-obat-tradisional-asli.html" title="Aneka Resep Obat Tradisional Asli Indonesia" /><author><name>.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="09722670870875166877" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">7</thr:total><feedburner:origLink>http://dranak.blogspot.com/2007/03/aneka-resep-obat-tradisional-asli.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;AkcASHc9eyp7ImA9WBFXFEk.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205399.post-4483069294110204091</id><published>2007-03-21T09:46:00.000+07:00</published><updated>2007-03-21T10:34:09.963+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-03-21T10:34:09.963+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kulit" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Infeksi" /><title>penyakit PANU</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://caticsuf.csufresno.edu/Images/MicroLab%20Yeast%20and%20Bacteria/Candida-krusei-NCYC-1398.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px;" src="http://caticsuf.csufresno.edu/Images/MicroLab%20Yeast%20and%20Bacteria/Candida-krusei-NCYC-1398.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Banyak orang beranggapan bahwa penyakit panu atau kurap sekadar masalah kosmetik. Pernah menikmati &lt;a href="http://koeaingpisan.blogspot.com/2006/08/passer-kaget-teroes.html"&gt;tempe&lt;/a&gt; atau tapai? Di masyarakat Indonesia kedua makanan ini sangat akrab sebagai hidangan di atas meja. Makanan dari kedua jenis bahan itu cukup lunak dan nikmat ketika dimakan. Ini tentu berbeda bila kita menyantap bahan bakunya. Tidak lunak, bukan?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kenikmatan rasa tempe, tapai, roti, oncom, dan masih banyak jenis makanan yang lainnya itu dihasilkan dari proses fermentasi jamur. Kehadiran jamur dimanfaatkan untuk hal lain, seperti untuk melengkapi sayuran dan lauk-pauk bagi keluarga, dan untuk menghasilkan obat antibiotik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dunia diperkirakan terdapat 100 ribuan jenis jamur. Tergolong ke dalam kelompok fungi, jamur bisa saja terdiri atas satu sel yang besarnya beberapa mikrometer, atau dapat juga membentuk tubuh buah yang besarnya mencapai satu meter. Sel-selnya tersusun berderet satu per satu dan membentuk hifa atau benang-benang (filamen). Alat perkembangbiakannya berupa spora.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tak punya hijau daun, jamur menjadi makhluk konsumen dan sangat bergantung pada medium yang menyediakan karbohidrat, protein, vitamin, dan persenyawaan kimia lainnya. Semua itu didapatkannya dengan cara menyerap unsur yang dibutuhkan dari lingkungan hidupnya melalui sistem hifa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain bisa melakukan fermentasi medium karbohidrat menjadi gula, jamur pun juga sangat penting dalam kehidupan manusia. Dengan jamur, sampah dan bangkai makhluk hidup lainnya bisa terurai. Namun, seringkali jamur juga dapat menguraikan bahan yang diperlukan manusia sehingga bisa mendatangkan kerugian. Pembusukan pada makanan dan pelapukan pada kayu cukup merepotkan manusia. Tak hanya itu, jamur bisa beracun dan menyebabkan penyakit tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jamur pada manusia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jamur memang sangat erat hubungannya dengan kehidupan manusia. Sedemikian eratnya sehingga manusia tak terlepas dari jamur. Jenis fungi-fungian ini bisa hidup dan tumbuh di mana saja, baik di udara, tanah, air, pakaian, bahkan di tubuh manusia sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;''Jelasnya, di mana pun jamur bisa hidup, terutama di lingkungan yang cocok baginya berkembang biak. Manusia itu termasuk salah satu tempat bagi jamur untuk tumbuh, di samping bakteri dan virus,''&lt;/span&gt; jelas pakar kesehatan kulit dan kelamin, Dr Kusmarinah Bramono dari FKUI (RSUPN-Cipto Mangunkusumo) dalam pemaparan tentang jamur di Jakarta, beberapa waktu lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jamur bisa menyebabkan penyakit yang cukup parah bagi manusia. Penyakit tersebut antara lain mikosis yang menyerang langsung pada kulit, mikotoksitosis akibat mengonsumsi toksin dari jamur yang ada dalam produk makanan, dan misetismus yang disebabkan oleh konsumsi jamur beracun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada manusia jamur hidup pada lapisan tanduk. Jamur itu kemudian melepaskan toksin yang bisa menimbulkan peradangan dan iritasi berwarna merah dan gatal. Infeksinya bisa berupa bercak-bercak warna putih, merah, atau hitam di kulit dengan bentuk simetris. Ada pula infeksi yang berbentuk lapisan-lapisan sisik pada kulit. Itu tergantung pada jenis jamur yang menyerang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Jimmy Sutomo dari perusahaan Janssen-Cilag, sebagai negara tropis Indonesia menjadi lahan subur tumbuhnya jamur. Karena itu, penyakit-penyakit akibat jamur sering kali menjangkiti masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Kita lihat, banyak masyarakat tak menyadari bahwa dirinya terinfeksi oleh jamur. Bahkan, jamur bisa mengenai manusia dari kepala hingga ujung kaki, dari bayi hingga orang dewasa dan orang lanjut usia,'' ujar Jimmy. Janssen-Cilag merupakan perusahaan farmasi yang memimpin pasaran dengan obat antijamur yang mengandung miconazole nitrate dua persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jimmy menjelaskan, banyak orang meremehkan penyakit karena jamur, seperti panu atau kurap. Padahal, penyakit ini bisa menular lewat persentuhan kulit, atau juga dari pakaian yang terkontaminasi spora jamur. Banyak anggapan, katanya, penyakit panu atau kurap sekadar masalah kosmetik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggapan ini dibenarkan Kusmarinah. ''Kami sering menangani pasien karena jamur. Mereka baru datang ke dokter kalau sudah merasakan gangguan kosmetik yang parah akibat infeksi jamur. Sebelumnya, mereka tak begitu memperhatikan penyakit ini.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengobatan&lt;br /&gt;Seharusnya, lanjut ahli kulit dari FKUI itu, masyarakat perlu memperhatikan kebersihan diri dan menjaga kekebalan tubuhnya bila ingin terhindar dari infeksi jamur. Bahaya infeksi jamur tak sekadar menyebabkan panu atau kurap saja, tapi juga bisa menyebakan kematian bila infeksinya meluas dan bahkan masuk ke organ dalam tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, bila mendapati dirinya terkena infeksi jamur maka seseorang itu perlu segera diobati. Pengobatan yang dilakukan biasanya dengan antijamur. Lamanya pengobatan tergantung pada tingkat infeksi yang terjadi. ''Pengobatan diusahakan dilakukan sampai penyakit hilang dan sembuh benar. Kami pun harus memilih jenis obat antijamur yang efektif membasmi jamur dengan efek samping yang minimal,'' sambung Kusmarinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengemukakan, ada jenis obat yang bersifat iritan. Maksudnya, cara kerja obat tersebut memapas jamur dengan mengikis permukaan yang terkena jamur tiap lapisan. Biasanya obat ini memerlukan waktu 1-4 minggu untuk jenis panu atau kurap. Tapi, kondisi inipun tergantung pada tingkat keparahannya. Jenis obat lainnya bersifat fungisida. Ini lebih mengarahkan sasaran pada jamur itu sendiri tanpa mengiritasi kulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusmarinah dan Jimmy mengakui, banyak produk farmasi khusus untuk obat jamur kulit yang dijual bebas di pasaran. Umumnya masyarakat pun melakukan self medication atau pengobatan sendiri dengan membeli obat antijamur yang bebas itu. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;''Bisa-bisa saja penderita melakukannya. Hanya saja, asal tahu jelas jenis infeksi jamur yang dideritanya. Namun, saya sering menemukan, masyarakat salah menggunakannya. Mereka biasanya berlebihan dalam menggunakan obat. Akibatnya, ketika kami diagnosis sulit bagi kami untuk melihat gejalanya,'' &lt;/span&gt;demikian Kusmarinah merincinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu juga karena persoalan informasi yang tak sampai pada masyarakat pengguna produk. ''Untuk informasi produk seharusnya disampaikan oleh ahli farmasi. Di negara kita, fungsi ini tak berjalan,'' cetus Jimmy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, masyarakat diharapkan berhati-hati dalam menggunakan obat. Sebab, infeksi jamur tak bisa dianggap enteng dan tak selalu bisa diatasi dengan pengobatan sendiri. Apalagi, dari seluruh penyakit kulit yang ditemui, masalah infeksi jamur ternyata tergolong cukup tinggi. Dengan demikian, masyarakat diharapkan meminta saran pengobatan kepada dokter dan melakukan pencegahan terhadap infeksi jamur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kenali Jenis Infeksi Jamur Kulit&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;* Panu (pitiriasis versikolor): menyerang kulit, bercak putih, merah, atau hitam.&lt;br /&gt;* Kurap (dermatofitosis) yang terdiri atas Tinea Apitis menyerang kulit kepala, Tinea Korporis pada permukaan kulit, Tinea Kruris pada lipatan kulit, Tinea Pedis pada sela jari kaki (athlete's foot), Tinea Manus pada kulit telapak tangan, Tinea Imbrikata berupa sisik pada kulit di daerah tertentu, dan Tinea Ungium (pada kuku). Umumnya berbentuk sisik kemerahan pada kulit atau sisik putih. Pada kuku, terjadi peradangan di sekitar kuku, dan bisa menyebabkan bentuk kuku tak rata permukaannya, berwarna kusam, atau membiru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Ketombe (Pitiriasis Sika).&lt;br /&gt;* Infeksi Kandida (kandidosis) pada lipatan kulit, sela jari, sela paha, ketiak, bawah payudara, mulut (sariawan), genetalia (keputihan), dan ruam popok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Faktor-faktor Pencetus Infeksi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;- Lembab dan panas dari lingkungan, dari pakaian ketat, dan pakaian tak menyerap keringat.&lt;br /&gt;- Keringat berlebihan karena berolahraga atau karena kegemukan.&lt;br /&gt;- Friksi atau trauma minor, misalnya gesekan pada paha orang gemuk.&lt;br /&gt;- Keseimbangan flora tubuh normal terganggu, antara lain karena pemakaian antibiotik, atau hormonal dalam jangka panjang.&lt;br /&gt;- Penyakit tertentu, misalnya HIV/AIDS, dan diabetes.&lt;br /&gt;- Kehamilan dan menstruasi. Kedua kondisi ini terjadi karena ketidakseimbangan hormon dalam tubuh sehingga rentan terhadap jamur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cara Memastikan Penyakit Jamur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;- Pemeriksaan tampilan secara klinis.&lt;br /&gt;- Pemeriksaan dengan bantuan sinar lampu Wood (UV), kerokan kulit, mukosa, kuku untuk pemeriksaan mikroskopik, dan pemeriksaan biakan untuk mengetahui jenis jamurnya.wed&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sumber : Republika Online - Selasa, 25 Mei 2004 - Penulis : wed&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205399-4483069294110204091?l=dranak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=XTdFP8Uz"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=41" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=XTC2jN7t"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=42" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=bGdnsWfp"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=43" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=v5gx3HJi"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=v5gx3HJi" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=99EVCqia"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=99EVCqia" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=jUWjCCNX"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=50" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=p5EXYqQy"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=p5EXYqQy" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=c8rASWKh"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=52" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=CSI76ltF"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=CSI76ltF" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=XCWRYoLh"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=54" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=3hWRfShc"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=3hWRfShc" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=sQeGUEAT"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=sQeGUEAT" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/IkatanDokterAnakIndonesia/~4/HEIgfsyHTJk" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://dranak.blogspot.com/feeds/4483069294110204091/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=19205399&amp;postID=4483069294110204091&amp;isPopup=true" title="3 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default/4483069294110204091?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default/4483069294110204091?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/IkatanDokterAnakIndonesia/~3/HEIgfsyHTJk/penyakit-panu.html" title="penyakit PANU" /><author><name>.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="09722670870875166877" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">3</thr:total><feedburner:origLink>http://dranak.blogspot.com/2007/03/penyakit-panu.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkYFQ3o7eSp7ImA9WBFRGU8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205399.post-425010984808261044</id><published>2007-03-03T19:09:00.000+07:00</published><updated>2007-03-03T19:15:12.401+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-03-03T19:15:12.401+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pertumbuhan" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Imunisasi" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Infeksi" /><title>Jadwal Imunisasi</title><content type="html">&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Arial;" &gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jadwal Imunisasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;    Rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Periode 2004* &lt;span style="font-size:78%;"&gt;(*     Revisi September 2003)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;     &lt;table style="color: rgb(0, 0, 0);" border="1" cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;       &lt;tbody&gt;         &lt;tr&gt;           &lt;td border rowspan="3" align="center" bg width="15%" style="color:#66ccff;"&gt;             &lt;p style="background-color: rgb(102, 204, 255);"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Vaksin&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;           &lt;/td&gt;           &lt;td border colspan="17" align="center" bg width="85%" style="color:#66ccff;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Umur             pemberian Imunisasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;         &lt;tr&gt;           &lt;td border colspan="11" align="center" bg width="60%" style="color:#333399;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Bulan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td border colspan="6" align="center" bg width="25%" style="color:#ccffff;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Tahun&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;         &lt;tr&gt;           &lt;td border align="center" bg width="10%" style="color:#333399;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Lhr&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" bg width="5%" style="color:#333399;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" bg width="5%" style="color:#333399;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" bg width="5%" style="color:#333399;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;3&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" bg width="5%" style="color:#333399;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;4&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" bg width="5%" style="color:#333399;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;5&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" bg width="5%" style="color:#333399;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;6&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" bg width="5%" style="color:#333399;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;9&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" bg width="5%" style="color:#333399;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;12&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" bg width="5%" style="color:#333399;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;15&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" bg width="5%" style="color:#333399;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;18&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" bg width="4%" style="color:#ccffff;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" bg width="4%" style="color:#ccffff;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;3&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" bg width="4%" style="color:#ccffff;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;5&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" bg width="4%" style="color:#ccffff;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;6&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" bg width="4%" style="color:#ccffff;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;10&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" bg width="5%" style="color:#ccffff;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;12&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;         &lt;tr&gt;           &lt;td border colspan="18" width="100%" style="color:#000000;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;              Program Pengembangan Imunisasi (PPI, diwajibkan)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;         &lt;tr&gt;           &lt;td border bg width="15%" style="color:#ffcc66;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;              BCG&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td border bg width="10%" style="color:#ffcc66;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" bgcolor="#ffcc66" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" bgcolor="#ffcc66" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td border width="5%" style="color:#000000;"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td border width="4%" style="color:#000000;"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td border width="4%" style="color:#000000;"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td border width="4%" style="color:#000000;"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td border width="4%" style="color:#000000;"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="4%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;         &lt;tr&gt;           &lt;td border bg width="15%" style="color:#ffff66;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;              Hepatitis B&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" bg width="10%" style="color:#ffff66;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" bg width="5%" style="color:#ffff66;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" width="5%" style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" width="5%" style="color:#000000;"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" width="5%" style="color:#000000;"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" width="5%" style="color:#000000;"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" bg width="5%" style="color:#ffff66;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;3&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" width="5%" style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="4%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="4%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="4%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="4%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="4%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;         &lt;tr&gt;           &lt;td border bg width="15%" style="color:#ff9900;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;              Polio&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" bg width="10%" style="color:#ff9900;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;0&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" width="5%" style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" bg width="5%" style="color:#ff9900;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" width="5%" style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" bg width="5%" style="color:#ff9900;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" width="5%" style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" bg width="5%" style="color:#ff9900;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;3&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" width="5%" style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" width="5%" style="color:#000000;"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" width="5%" style="color:#000000;"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" bg width="5%" style="color:#ff9900;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;4&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" width="4%" style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" width="4%" style="color:#000000;"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" bg width="4%" style="color:#ff9900;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;5&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" width="4%" style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="4%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;         &lt;tr&gt;           &lt;td border bg width="15%" style="color:#cc6600;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;              DTP&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td border width="10%" style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" bg width="5%" style="color:#cc6600;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" width="5%" style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" bg width="5%" style="color:#cc6600;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" width="5%" style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" bg width="5%" style="color:#cc6600;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;3&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" width="5%" style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" width="5%" style="color:#000000;"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" width="5%" style="color:#000000;"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" bg width="5%" style="color:#cc6600;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;4&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" align="center" width="4%"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" align="center" width="4%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" bg width="4%" style="color:#cc6600;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;5&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="4%"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="4%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td border bg width="5%" style="color:#ff9900;"&gt;             &lt;p align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;6 dT atau TT&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;           &lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;         &lt;tr&gt;           &lt;td border bg width="15%" style="color:#009933;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;              Campak&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td border width="10%" style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td border bg width="5%" style="color:#009933;"&gt;             &lt;p align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;           &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="4%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="4%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="4%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td border bg width="4%" style="color:#009933;"&gt;             &lt;p align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;           &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="4%"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;         &lt;tr&gt;           &lt;td border colspan="18" width="100%" style="color:#000000;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;              Program Pengembangan Imunisasi Non PPI (Non PPI, dianjurkan)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;         &lt;tr&gt;           &lt;td border bg width="15%" style="color:#cc3300;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;              Hib   &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="10%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" bg width="5%" style="color:#cc3300;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" align="center" width="5%"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" bg width="5%" style="color:#cc3300;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" align="center" width="5%"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" bg width="5%" style="color:#cc3300;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;3&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" align="center" width="5%"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" align="center" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td border colspan="2" align="center" bg width="10%" style="color:#cc3300;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;4&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="4%"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="4%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="4%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="4%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="4%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;         &lt;tr&gt;           &lt;td border bg width="15%" style="color:#006600;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;              MMR &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="10%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" bg width="5%" style="color:#006600;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" align="center" width="5%"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" align="center" width="4%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" align="center" width="4%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" align="center" width="4%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td border align="center" bg width="4%" style="color:#006600;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;2&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="4%"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;         &lt;tr&gt;           &lt;td border bg width="15%" style="color:#33cc33;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;             Tifoid&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="10%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" align="center" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" align="center" width="5%"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td border colspan="6" align="center" bg width="25%" style="color:#33cc33;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Ulangan,             tiap 3 tahun&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;         &lt;tr&gt;           &lt;td border bg width="15%" style="color:#00cc66;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;              &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Hepatitis A&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="10%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" align="center" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" align="center" width="5%"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td border colspan="6" align="center" bg width="25%" style="color:#00cc66;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Diberikan             2x, interval&lt;br /&gt;            6 - 12bl&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; &lt;/span&gt;&lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;         &lt;tr&gt;           &lt;td border bg width="15%" style="color:#99ccff;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;              Varisela &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="10%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" align="center" width="5%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" align="center" width="5%"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" align="center" width="4%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" align="center" width="4%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" align="center" width="4%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td bordercolor="#000000" align="center" width="4%"&gt; &lt;/td&gt;           &lt;td border colspan="2" bg width="9%" style="color:#99ccff;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;       &lt;/tbody&gt;     &lt;/table&gt;     &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;    Keterangan Jadwal Imunisasi IDAI, Periode 2004&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;     &lt;table style="color: rgb(0, 0, 0);" border="1" border cellpadding="2" width="100%"&gt;       &lt;tbody&gt;         &lt;tr&gt;           &lt;td align="center" bg valign="top" width="9%" style="color:#99ccff;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Umur&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td align="center" bg valign="top" width="11%" style="color:#99ccff;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Vaksin&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td align="center" bg valign="top" width="80%" style="color:#99ccff;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Keterangan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;         &lt;tr&gt;           &lt;td valign="top" width="9%"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Saat lahir&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td valign="top" width="11%"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Hepatitis B-1&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;            Polio-0&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td valign="top" width="80%"&gt;             &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;HB-1 harus diberikan dalam waktu                 12 jam setelah lahir, dilanjutkan pada umur 1 dan 6 bulan.                 Apabila status HbsAg-B ibu positif, dalam waktu 12 jam setelah                 lahir diberikan HBlg 0,5 ml bersamaan dengan vaksin HB-1.                 Apabila semula status HbsAg ibu tidak diketahui dan ternyata                 dalam perjalanan selanjutnya diketahui bahwa ibu HbsAg positif                 maka masih dapat diberikan HBlg 0,5 ml sebelum bayi berumur 7                 hari.&lt;/span&gt;               &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Polio-0 diberikan saat kunjungan                 pertama. Untuk bayi yang lahir di RB/RS polio oral diberikan                 saat bayi dipulangkan (untuk menghindari transmisi virus vaksin                 kepada bayi lain).&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;           &lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;         &lt;tr&gt;           &lt;td valign="top" width="9%"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;1 bulan&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td valign="top" width="11%"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Hepatitis B-2&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td valign="top" width="80%"&gt;             &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Hb-2 diberikan pada umur 1 bulan,                 interval HB-1 dan HB-2 adalah 1 bulan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;           &lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;         &lt;tr&gt;           &lt;td valign="top" width="9%"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;0-2 bulan&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td valign="top" width="11%"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;BCG&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td valign="top" width="80%"&gt;             &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;BCG dapat diberikan sejak lahir.                 Apabila BCG akan diberikan pada umur &gt;3 bulan  sebaiknya                 dilakukan uji tuberkulin terlebih dulu dan BCG diberikan apabila                 uji tuberkulin negatif.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;           &lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;         &lt;tr&gt;           &lt;td valign="top" width="9%"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;2 bulan&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td valign="top" width="11%"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;DTP-1&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;            Hib-1&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;            Polio-1&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td valign="top" width="80%"&gt;             &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;DTP-1 diberikan pada umur lebih                 dari 6 minggu, dapat dipergunakan DTwp atau DTap. DTP-1                 diberikan secara kombinasi dengan Hib-1 (PRP-T)&lt;/span&gt;               &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Hib-1 diberikan mulai umur 2 bulan                 dengan interval 2 bulan. Hib-1 dapat diberikan secara terpisah                 atau dikombinasikan dengan DTP-1.&lt;/span&gt;               &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Polio-1 dapat diberikan bersamaan                 dengan DTP-1 &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;           &lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;         &lt;tr&gt;           &lt;td valign="top" width="9%"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;4 bulan&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td valign="top" width="11%"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;DTP-2&lt;br /&gt;            Hib-2&lt;br /&gt;            Polio-2&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td valign="top" width="80%"&gt;             &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;DTP-2 (DTwP atau DTaP) dapat                 diberikan terpisah atau dikombinasikan dengan Hib-2 (PRP-T)&lt;/span&gt;               &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Hib-2 dapat diberikan terpisah                 atau dikombinasikan dengan DTP-2&lt;/span&gt;               &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Polio-2 diberikan bersamaan dengan                 DTP-2&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;           &lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;         &lt;tr&gt;           &lt;td valign="top" width="9%"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;6 bulan&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td valign="top" width="11%"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;DTP-3&lt;br /&gt;            Hib-3&lt;br /&gt;            Polio-3&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td valign="top" width="80%"&gt;             &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;DTP-3 dapat diberikan terpisah                 atau dikombinasikan dengan Hib-3 (PRP-T)&lt;/span&gt;               &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Apabila mempergunakan Hib-OMP,                 Hib-3 pada umur 6 bulan tidak perlu diberikan.&lt;/span&gt;               &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Polio-3 diberikan bersamaan dengan                 DTP-3 &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;           &lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;         &lt;tr&gt;           &lt;td valign="top" width="9%"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;6 bulan&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td valign="top" width="11%"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Hepatitis B-3&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td valign="top" width="80%"&gt;             &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;HB-3 diberikan umur 6 bulan. Untuk                 mendapat respons imun optimal interval HB-2 dan HB-3 minimal 2                 bulan, terbaik 5 bulan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;           &lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;         &lt;tr&gt;           &lt;td valign="top" width="9%"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;9 bulan&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td valign="top" width="11%"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Campak-1&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td valign="top" width="80%"&gt;             &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Campak-1 diberikan pada umur 9                 bulan, campak-2 merupakan program BIAS pada SD kl 1, umur 6                 tahun. Apabila telah mendapat MMR pada umur 15 bulan, campak-2                 tidak perlu diberikan&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;           &lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;         &lt;tr&gt;           &lt;td valign="top" width="9%"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;15-18 bulan&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td valign="top" width="11%"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;MMR&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;            Hib-4&lt;br /&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td valign="top" width="80%"&gt;             &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Apabila sampai umur 12 bulan belum                 mendapat imunisasi campak, MMR dapat diberikan pada umur 12 bln&lt;/span&gt;               &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Hib-4 diberikan pada 15 bulan (PRP-T                 atau PRP-OMP).&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;           &lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;         &lt;tr&gt;           &lt;td valign="top" width="9%"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;18 bulan&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td valign="top" width="11%"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;DTP-4&lt;br /&gt;            Polio-4&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td valign="top" width="80%"&gt;             &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;DTP-4 (DTwP atau DTaP) diberikan 1                 tahun setelah DTP-3.&lt;/span&gt;               &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Polio-4 diberikan bersamaan dengan                 DTP-5&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;           &lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;         &lt;tr&gt;           &lt;td valign="top" width="9%"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;2 tahun&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td valign="top" width="11%"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Hepatitis A&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td valign="top" width="80%"&gt;             &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Vaksin HepA direkomendasikan pada                 umur &gt;2 tahun, diberikan  dua kali dengan interval 6-12                 bulan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;           &lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;         &lt;tr&gt;           &lt;td valign="top" width="9%"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;2-3 tahun&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td valign="top" width="11%"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Tifoid&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td valign="top" width="80%"&gt;             &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Vaksin tifoid polisakarida injeksi                 direkomendasikan untuk umur &gt;2 tahun. Imunisasi tifoid                 polisakarida injeksi perlu diulang setiap 3 tahun.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;           &lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;         &lt;tr&gt;           &lt;td valign="top" width="9%"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;5 tahun&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td valign="top" width="11%"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;DTP-5&lt;br /&gt;            Polio-5&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td valign="top" width="80%"&gt;             &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;DTP-5 diberikan pada umur 5 tahun                 (DTwp/DTap)&lt;/span&gt;               &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Polio-5 diberikan bersamaan dengan                 DTP-5 &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;           &lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;         &lt;tr&gt;           &lt;td valign="top" width="9%"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;6 tahun&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td valign="top" width="11%"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;MMR&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td valign="top" width="80%"&gt;             &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Diberikan untuk &lt;i&gt;catch-up                 imunization &lt;/i&gt;pada anak yang belum mendapat MMR-1&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;           &lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;         &lt;tr&gt;           &lt;td valign="top" width="9%"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;10 tahun&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td valign="top" width="11%"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;dT/TT&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;            Varisela&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td valign="top" width="80%"&gt;             &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Menjelang pubertas vaksin tetanus                 ke-5 (dT atau TT) diberikan untuk mendapat imunitas selama 25                 tahun.&lt;/span&gt;               &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Vaksin varisela diberikan pada                 umur 10 tahun.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;           &lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;       &lt;/tbody&gt;     &lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205399-425010984808261044?l=dranak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=ulARSTOm"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=41" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=bjDFusOD"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=42" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=8Bi5VypJ"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=43" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=Yir9d2QT"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=Yir9d2QT" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=kQOQ8Gzx"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=kQOQ8Gzx" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=ukumDDcQ"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=50" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=IhdwqhBU"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=IhdwqhBU" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=yI3bFZoP"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=52" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=rZNMbq2c"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=rZNMbq2c" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=xsJx801A"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=54" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=czBXZ7Sn"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=czBXZ7Sn" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=IWxjIaEM"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=IWxjIaEM" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/IkatanDokterAnakIndonesia/~4/vRXYjvsQj2k" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://dranak.blogspot.com/feeds/425010984808261044/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=19205399&amp;postID=425010984808261044&amp;isPopup=true" title="7 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default/425010984808261044?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default/425010984808261044?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/IkatanDokterAnakIndonesia/~3/vRXYjvsQj2k/jadwal-imunisasi.html" title="Jadwal Imunisasi" /><author><name>.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="09722670870875166877" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">7</thr:total><feedburner:origLink>http://dranak.blogspot.com/2007/03/jadwal-imunisasi.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;C0YFQnYzeCp7ImA9WBFSEEw.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205399.post-7569548346708535599</id><published>2007-02-12T18:10:00.000+07:00</published><updated>2007-02-09T15:51:53.880+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-02-09T15:51:53.880+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pertumbuhan" /><title>lingkar kepala anak</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.gentlebirth.org/archives/babyinbagCloseup.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px;" src="http://www.gentlebirth.org/archives/babyinbagCloseup.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pertumbuhan ( growth) berkaitan dengan dengan masalah      perubahan dalam ukuran fisik seseorang. Sedangkan perkembangan (development)      berkaitan dengan pematangan dan penambahan kemampuan (skill) fungsi organ       atau individu. Kedua proses ini terjadi secara sinkron pada setiap individu.                          Proses  tumbuh kembang seseorang merupakan hasil      interaksi berbagai faktor yang saling terkait, yaitu ; faktor genetik /      keturunan , lingkungan bio-fisiko-psiko-sosial dan perilaku.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Proses ini      bersifat individual dan unik sehingga memberikan hasil akhir yang berbeda      dan ciri tersendiri pada setiap anak.Penilaian terhadap pertumbuhan seorang anak dapat      dinilai melalui pertambahan berat dan tinggi badan dan  sampai anak berusia      2 tahun masih dapat digunakan penilaian melalui lingkar kepala yang biasanya      dibandingkan dengan usia anak. Beberapa cara penilaian melalui  pemeriksaan      fisik atau klinikal , pemeriksaan antropometri ( membandingkan tinggi badan      terhadap umur, berat badan terhadap umur, lingkaran kepala terhadap umur,      lingkar lengan atas terhadap umur ) , contohnya  KMS (kartu menuju sehat )      yang membandingkan berat badan terhadap umur , pemeriksaan radiologis,      laboratorium, dan analisa diet.&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Beberapa faktor yang mempegaruhi pertumbuhan  anak :     &lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: -0.25in; margin-left: 39pt; text-align: justify;"&gt;     &lt;span style="font-family:Wingdings;"&gt;v&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal;font-family:Times New Roman;font-size:7;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Faktor heredo konstitusional ; tergantung ras, genetic, jenis      kelamin dan kelainan bawaan &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: -0.25in; margin-left: 39pt; text-align: justify;"&gt;     &lt;span style="font-family:Wingdings;"&gt;v&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal;font-family:Times New Roman;font-size:7;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Faktor hormonal ; insulin , tiroid, hormon sex dan steroid.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: -0.25in; margin-left: 39pt; text-align: justify;"&gt;     &lt;span style="font-family:Wingdings;"&gt;v&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal;font-family:Times New Roman;font-size:7;"  &gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Faktor lingkungan selama dan sesudah lahir ; gizi, trauma,      sosio – ekonomi, iklim, aktivitas fisik, penyakit, dll.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Perkiraan  berat badan yang dapat mudah dilakukan      dalam kilogram  adalah&lt;/b&gt; berat badan  waktu lahir bayi cukup bulan akan      kembali pada hari ke 10.Berat badan menjadi 2 kali berat waktu lahir saat      usia 5 bulan, menjadi 3 kali berat lahir saat usia satu tahun, dan menjadi 4      kali berat waktu lahir saat usia 2 tahun. Pada  masa prasekolah kenaikan      berat badan rata– rata 2 kg/ tahun.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Perkiraan tinggi badan dapat pula dilakukan  dalam      sentimeter yaitu&lt;/b&gt;  usia 1 tahun 1,5 kali tinggi badan lahir, usia 4 tahun      2 kali tinggi badan lahir, 6 tahun 1,5 kali tinggi badan 1 tahun,.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Kita dapat pula me&lt;b&gt;Prediksikan tinggi akhir anak      sesuai potensi genetic &lt;/b&gt;berdasarkan tinggi badan orang tua dengan asumsi      bahwa semuanya tumbuh optimal sesuai potensinya. Rumus yang digunakan ;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;TB anak perempuan&lt;/b&gt; = ( TB ayah – 13 cm ) + TB ibu        &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;                                         _________________________       ± 8,5 cm&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;                                                                  2 &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;TB anak laki-laki &lt;/b&gt;  = ( TB ibu +13 cm ) + TB      ayah &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;                                      __________________________         ± 8,5 cm&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;                                                                  2&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:85%;"  &gt;  &lt;br /&gt;  © Dr. SuriViana &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205399-7569548346708535599?l=dranak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=F1LzsbEO"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=41" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=J5LrYiPe"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=42" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=b6JfzsLP"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=43" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=FhRZ04gb"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=FhRZ04gb" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=dgB5pmCP"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=dgB5pmCP" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=niWReexu"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=50" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=nFyjWrlw"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=nFyjWrlw" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=aUUnzgaD"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=52" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=C3YeAbPX"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=54" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=ISXO070Q"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=ISXO070Q" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=ScdNaq87"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=ScdNaq87" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/IkatanDokterAnakIndonesia/~4/gkOwxukTd70" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://dranak.blogspot.com/feeds/7569548346708535599/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=19205399&amp;postID=7569548346708535599&amp;isPopup=true" title="3 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default/7569548346708535599?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default/7569548346708535599?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/IkatanDokterAnakIndonesia/~3/gkOwxukTd70/lingkar-kepala-anak.html" title="lingkar kepala anak" /><author><name>.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="09722670870875166877" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">3</thr:total><feedburner:origLink>http://dranak.blogspot.com/2007/02/lingkar-kepala-anak.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;D0UBSXg-eip7ImA9WBFTFEQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205399.post-7100058838248919880</id><published>2007-02-03T16:19:00.000+07:00</published><updated>2007-02-03T16:34:18.652+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-02-03T16:34:18.652+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Rambut" /><title>rambut anak sehat</title><content type="html">&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://growabrain.typepad.com/photos/uncategorized/baby_hair.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px;" src="http://growabrain.typepad.com/photos/uncategorized/baby_hair.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KOK, RAMBUT SI KECIL TIPIS?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu khawatir jika rambut anak tipis. Selama ia sehat, tak ada masalah. Apalagi pada bayi, yang tumbuh adalah rambut sementara, bukan rambut permanen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak mitos yang masih dipercaya tentang perawatan rambut bayi dan anak. Misalnya, rambut digunduli agar nantinya tumbuh lebat. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Hal itu tidak benar. Memang, sehabis dicukur, rambut yang tumbuh akan terlihat tebal,"&lt;/span&gt; ujar dr. Titi Lestari Sugito, Sp.KK dari Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FKUI-RSCM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggunduli rambut bayi, kata Titi, sebetulnya hanya tradisi. Dari segi medis, tidak ada hubungannya mencukur rambut dengan rambut tebal. Rambut bayi sangat tergantung faktor genetik. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Kalau memang dari sononya jenis rambutnya tipis, mau dicukur berapa kali pun, keluarnya akan tetap tipis juga,"&lt;/span&gt; kata Titi. Selain tebal-tipis rambut, warna rambut pun sudah ditentukan secara genetik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Folikel (selubung akar rambut) terbentuk sejak anak berada dalam kandungan dan terus berkembang hingga lahir. Rambut bayi baru lahir adalah rambut sementara atau velus. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Rambut velus biasanya sangat halus dan lebih tipis dari rambut tetap,"&lt;/span&gt; terang Titi. Rambut sementara ini akan rontok dengan sendirinya sebelum anak berusia setahun, kemudian berganti dengan rambut tetap (permanen).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada &lt;a href="http://dranak.blogspot.com/2005/12/perlu-second-opinion-anakku-menderita.html"&gt;minggu pertama kelahiran&lt;/a&gt;, kadang bayi mengalami kebotakan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Enggak apa-apa. Ini biasa terjadi di daerah yang biasa tertekan. Misalnya, karena terlalu lama tidur telentang atau karena gesekan dengan bantal."&lt;/span&gt; Tekanan dan gesekan akan memudahkan velus rontok, sehingga timbul kebotakan. Setelah setahun, velus biasanya rontok seluruhnya dan berganti rambut permanen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, rambut pada bayi dan anak adalah akumulasi dari faktor genetik ditambah faktor-faktor luar yang mempengaruhi. Faktor genetik tak sebatas ayah-ibu tapi juga bisa dari kakek-nenek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;FAKTOR LUAR&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Selain faktor genetik, faktor gizi juga berperan. Anak kurang gizi, misalnya, tekstur rambutnya pasti akan terpengaruh. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Warna rambut jadi merah, lebih kering, lebih mudah patah, tipis, mudah rontok,"&lt;/span&gt; jelas Titi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, dipengaruhi pula oleh hormon. Salah satunya hormon androgen. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Sering ada bayi yang rambutnya sangat lebat saat lahir. Bisa saja itu karena pengaruh hormon androgen ibunya. Soalnya, dia belum bisa memproduksi hormon androgen." &lt;/span&gt;Setelah lahir, lanjut Titi, lama-lama efek androgen yang terbawa dari ibunya hilang. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Rambut si kecil pun rontok, berganti dengan rambut aslinya yang mungkin lebih tipis."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor lingkungan juga sangat berperan. Banyak kena sinar matahari atau polusi, juga akan mempengaruhi tekstur rambut. Begitu pula penyakit, semisal &lt;a href="http://koeaingpisan.blogspot.com/2006/11/sindab-sang-pelaoet.html"&gt;seboroik&lt;/a&gt; (ketombe), yang sering terjadi pada bayi atau anak. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Ini juga ikut mempengaruhi."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah fase rambut tetap, faktor-faktor tadi bisa mempengaruhi tekstur rambut anak. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Pada rambut, sifat aslinya ditentukan oleh gen, tetapi dipengaruhi faktor luar pula."&lt;/span&gt; Jangan lupa, perawatan juga ikut mempengaruhi tekstur rambut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski rambut anak sudah permanen, menurut Titi, orangtua tak usah bingung bila menjumpai rambut rontok. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Itu lumrah. Siklus kehidupan rambut memang begitu,"&lt;/span&gt; ujarnya. Kerontokan masih dianggap normal asalkan tak lebih dari 100 helai per harinya, sementara kecepatan tumbuh rambut sekitar 0,3 mm per hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, selama anak sehat, pertumbuhan rambut akan sesuai dengan faktor genetik. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Cuma, faktor-faktor lain di luar faktor genetik juga bisa mempengaruhi tekstur rambut."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SOAL SELEDRI &amp; &lt;a href="http://dranak.blogspot.com/2005/12/minyak-kemiri-penumbuh-rambut-balita.html"&gt;KEMIRI&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sebagian besar mitos tentang rambut tak bisa dijelaskan secara medis, ada beberapa di antaranya yang masuk di akal. Misalnya, agar rambut tebal, harus diolesi minyak kemiri. Ada juga yang menyarankan pemakaian seledri atau air kelapa muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Titi, secara empiris atau berdasar pengalaman, mungkin mitos tadi ada benarnya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Kemiri, kan, mengandung minyak. Nah, minyak bisa digunakan untuk mengatasi rambut yang kering atau kurang subur. Tapi dari segi farmakologis belum pernah diteliti, apa isi, kandungan, dan dampak kemiri."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, lanjutnya, selama tidak menimbulkan efek samping, mencoba cara-cara tadi tentu boleh-boleh saja. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Cuma terkadang bahan alami seperti itu mengandung zat yang tak kita ketahui yang bisa mengiritasi kulit kepala bayi. Padahal, kulit bayi lebih rentan dan mudah teriritasi oleh bahan-bahan dari luar. Ini yang harus hati-hati."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;RAGAM GANGGUAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berikut sejumlah gangguan pada rambut anak.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;1. Gangguan akibat &lt;a href="http://dranak.blogspot.com/2006/04/bahaya-antibiotik.html"&gt;infeksi.&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Misalnya infeksi jamur. Ini yang paling sering pada bayi dan anak, karena di kulit kepala banyak kelenjar lemak yang disukai jamur. Pengobatannya bisa dengan obat antijamur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Kerak kepala atau seboroik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sering menyerang bayi, diduga akibat pengaruh hormon androgen dari ibunya, sehingga kelenjar lemak aktif. Kelenjar lemak kulit (sebum) keluar dari tempat yang sama dengan keluarnya rambut. Jika kelenjar lemak sangat aktif, akan mengeluarkan lemak lebih banyak. Nah, lemak inilah yang akan menimbulkan lapisan yang menumbuhkan kerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerak kepala bersifat sementara. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Bila hormon androgen habis, kerak akan hilang dengan sendirinya."&lt;/span&gt; Namun, karena seringkali kerak kepala disertai rasa gatal, tentu tak perlu menunggu sampai hormon habis. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Meski tidak membahayakan, kerak ini mengganggu kenyamanan dan dapat mengganggu pertumbuhan rambut secara sehat."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua bisa menghilangkannya dengan semacam minyak dan bahan-bahan antiseboroik yang membantu mempercepat pengelupasan. Biarkan semalaman agar kerak menjadi lunak. Esok harinya, cuci rambut dengan air hangat hingga bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. Infeksi bakteri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Misalnya terjadi bisul-bisul di kepala. Untuk mengatasinya, bisa diberi antibiotik. Kalau hanya di kulit, memang tidak membahayakan. Dengan menjaga kebersihan, akan hilang dengan sendirinya. Kecuali jika imunitas dan gizi sang bayi buruk, infeksi bisa meluas. Tapi ini jarang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://dranak.blogspot.com/2005/11/tanya-inflamatory-bowel-disease.html"&gt; &lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;a href="http://dranak.blogspot.com/2005/11/tanya-inflamatory-bowel-disease.html"&gt;4. &lt;/a&gt;&lt;a href="http://dranak.blogspot.com/2005/11/tanya-inflamatory-bowel-disease.html"&gt;Penyakit genetik.&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Beberapa penyakit genetik akan membuat rambut tidak bisa tumbuh lagi. Tapi hal ini biasanya disertai kelainan pada kelenjar keringat, sehingga anak tidak bisa mengeluarkan keringat. Bisa juga penyakit genetik akibat faktor autoimun. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Badannya menghasilkan antibodi terhadap akar rambut, sehingga rambut jadi rusak. Akibatnya, rambut tak bisa tumbuh. Penyakit genetik ini bisa membuat rambut rontok di seluruh kepala bahkan ada yang sampai alis dan bulu mata."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jika ini yang terjadi, segera bawa ke dokter.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205399-7100058838248919880?l=dranak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=xlsB0UcL"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=41" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=jwg11sb2"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=42" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=LaukN2Td"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=43" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=HritekYy"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=HritekYy" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=C5R6fqfa"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=C5R6fqfa" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=5jfQ78mZ"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=50" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=xW4rufCC"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=xW4rufCC" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=Bq36GTDG"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=52" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=SgA7XUG9"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=SgA7XUG9" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=EzkIgcvj"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=54" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=ko0U1PDc"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=ko0U1PDc" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=FKZYXKb9"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=FKZYXKb9" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/IkatanDokterAnakIndonesia/~4/nFz9BpQwKtg" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://dranak.blogspot.com/feeds/7100058838248919880/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=19205399&amp;postID=7100058838248919880&amp;isPopup=true" title="7 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default/7100058838248919880?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default/7100058838248919880?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/IkatanDokterAnakIndonesia/~3/nFz9BpQwKtg/rambut-anak-sehat.html" title="rambut anak sehat" /><author><name>.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="09722670870875166877" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">7</thr:total><feedburner:origLink>http://dranak.blogspot.com/2007/02/rambut-anak-sehat.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;DkEGQH0_fSp7ImA9WBFTFE0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205399.post-5268704908441920303</id><published>2007-02-02T15:09:00.000+07:00</published><updated>2007-02-02T15:23:41.345+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-02-02T15:23:41.345+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pencernaan" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Psikologi Anak" /><title>KESULITAN MAKAN PADA ANAK</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;" class="post-body"&gt;               &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;GANGGUAN PENCERNAAN,&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; PENYEBAB UTAMA KESULITAN MAKAN PADA ANAK&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Pemberian makan pada anak memang sering menjadi masalah buat orangtua atau pengasuh anak. &lt;/span&gt;Keluhan tersebut sering dikeluhkan orang tua  kepada dokter yang merawat anaknya. Faktor kesulitan makan pada anak inilah yang sering dialami oleh sekitar  25% pada usia anak, jumlah akan meningkat sekitar 40-70% pada anak yang lahir prematur atau dengan penyakit kronik. Hal ini pulalah yang sering membuat masalah tersendiri bagi orang tua, bahkan dokter yang merawatnya. Penelitian yang dilakukan di Jakarta menyebutkan pada anak prasekolah usia 4-6 tahun, didapatkan prevalensi kesulitan makan sebesar 33,6%. Sebagian besar 79,2% telah berlangsung lebih dari 3 bulan&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Kesulitan makan karena sering dan berlangsung lama sering dianggap biasa. Sehingga akhirnya timbul komplikasi dan gangguan tumbuh kembang lainnya pada anak. Salah satu keterlambatan penanganan masalah tersebut adalah pemberian vitamin tanpa mencari penyebabnya sehingga kesulitan makan tersebut terjadi berkepanjangan. Akhirnya orang tua berpindah-pindah dokter dan berganti-ganti vitamin tapi tampak anak kesulitan makannya tidak membaik. Sering juga terjadi bahwa kesulitan makan tersebut dianggap dan diobati sebagai infeksi tuberkulosis yang belum tentu benar diderita anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;Dengan penanganan kesulitan makan pada anak yang optimal diharapkan dapat mencegah komplikasi yang ditimbulkan, sehingga dapat meningkatkan kualitas anak Indonesia dalam menghadapi persaingan di era globalisasi mendatang khususnya. Tumbuh kembang dalam usia anak  sangat menentukan kualitas seseorang bila sudah dewasa nantinya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;GEJALA SUATU PENYAKIT&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span&gt;Kesulitan makan bukanlah diagnosis atau penyakit, tetapi merupakan gejala atau tanda adanya penyimpangan, kelainan dan penyakit yang sedang terjadi pada tubuh anak. Pengertian kesulitan makan adalah jika anak  tidak mau atau menolak untuk makan, atau mengalami kesulitan mengkonsumsi makanan atau minuman dengan jenis dan jumlah sesuai usia secara fisiologis (alamiah dan wajar), yaitu mulai dari membuka mulutnya tanpa paksaan, mengunyah, menelan hingga sampai terserap dipencernaan secara baik tanpa paksaan  dan tanpa pemberian vitamin dan obat tertentu. Gejala kesulitan makan pada anak  (1). Kesulitan mengunyah, menghisap, menelan makanan atau hanya bisa makanan lunak atau cair, (2) Memuntahkan atau menyembur-nyemburkan makanan yang sudah masuk di mulut anak, (3).Makan berlama-lama  dan memainkan makanan, (4) Sama sekali tidak mau memasukkan makanan ke dalam mulut atau menutup mulut rapat, (5) Memuntahkan atau menumpahkan makanan, menepis suapan dari orangtua, (6). Tidak menyukai banyak variasi makanan dan (7), Kebiasaan makan yang aneh dan ganjil.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;PENYEBAB UTAMA KESULITAN MAKAN&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span&gt;Penyebab  kesulitan makanan itu sangatlah banyak. Semua gangguan fungsi organ tubuh dan penyakit bisa berupa adanya kelainan fis&lt;/span&gt;ik, maupun psikis dapat dianggap sebagai penyebab kesulitan makan pada anak. Kelainan fisik dapat berupa kelainan organ bawaan atau infeksi bawaan sejak lahir dan infeksi didapat dalam usia anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum penyebab umum kesulitan makan pada anak dibedakan dalam 3 faktor, diantaranya adalah hilang nafsu makan, gangguan proses makan di mulut dan pengaruh psikologis. &lt;span&gt;Beberapa faktor tersebut dapat berdiri sendiri tetapi sering kali terjadi  lebih dari 1 faktor. Penyebab paling sering adalah hilangnya nafsu makan, diikuti gangguan proses makan. Sedangkan faktor psikologis yang dulu dianggap sebagai penyebab utama, mungkin saat mulai ditinggalkan atau sangat jarang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh hilang atau berkurangnya nafsu makan tampaknya merupakan penyebab utama masalah kesulitan makan pada anak. Pengaruh nafsu makan ini bisa mulai dari yang ringan (berkurang nafsu makan) hingga berat (tidak ada nafsu makan). Tampilan gangguan yang ringan berupa minum susu botol sering sisa,  waktu minum ASI berkurang (sebelumnya 20 menit menjadi 10 menit), makan sering sisa atau hanya sedikit atau mengeluarkan dan menyembur-nyemburkan makanan di mulut.  Sedangkan gangguan yang lebih berat tampak anak menutup rapat mulutnya atau tidak mau makan dan minum sama sekali. Berkurang atau hilangnya nafsu makan ini sering diakibatkan karena gangguan fungsi saluran cerna.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;Gangguan fungsi pencernaan tersebut kadang tampak ringan seperti tidak ada gangguan. Tanda dan gejala yang  menunjukkan adanya gangguan tersebut adalah perut kembung, sering “&lt;em&gt;cegukan”&lt;/em&gt;, sering buang angin, sering muntah atau seperti hendak muntah bila disuapin makan. Gampang timbul muntah terutama bila menangis, berteriak, tertawa, berlari atau bila marah. Sering nyeri perut sesasaat, bersifat  hilang timbul. Sulit buang air besar (bila buang air besar ”&lt;em&gt;ngeden&lt;/em&gt;”, tidak setiap hari buang air besar, atau sebaliknya buang air besar sering (&gt;2 kali/perhari). Kotoran tinja berwarna hitam atau hijau, berbentuk keras, bulat  (seperti kotoran kambing) atau cair disertai bentuk seperti biji lombok, pernah ada riwayat berak darah. Gangguan tidur malam : malam rewel, kolik, tiba-tiba mengigau atau menjerit, tidur bolak balik dari ujung ke ujung lain tempat tidur. Lidah tampak kotor, berwarna putih serta air liur bertambah banyak atau mulut berbau&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;Gangguan saluran cerna biasanya disertai kulit yang sensitif. Sering timbul bintik-bintik kemerahan seperti digigit nyamuk atau serangga, biang keringat, kulit berwarna putih (seperti panu) di wajah atau di bagian badan lainnya. Saat bayi sering timbul gangguan kulit di pipi, sekitar mulut, sekitar daerah popok dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;Tanda dan gejala tersebut di atas sering dianggap biasa karena sering terjadi pada banyak anak. &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Padahal bila di amati secara cermat tanda dan gejala tersebut merupakan manifestasi adanya gangguan pencernaan, yang sangat mungkin berkaitan dengan kesulitan makan pada anak.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;GANGGUAN PROSES MAKAN DI MULUT&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span&gt;Proses makan terjadi mulai dari memasukkan makan dimulut, mengunyah dan menelan. Ketrampilan dan kemampuan koordinasi pergerakan motorik kasar di sekitar mulut sangat berperanan dalam proses makan tersebut. Pergerakan morik tersebut berupa koordinasi gerakan menggigit, mengunyah dan menelan dilakukan oleh otot di rahang atas dan bawah, bibir, lidah dan banyak otot lainnya di sekitar mulut. Gangguan proses makan di mulut tersebut seringkali berupa gangguan mengunyah makanan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;Tampilan klinis gangguan mengunyah adalah keterlambatan makanan kasar tidak bisa makan nasi tim saat usia 9 bulan, belum bisa makan nasi saat usia 1 tahun, tidak bisa makan daging sapi (empal) atau sayur berserat seperti kangkung. Bila anak sedang muntah dan akan terlihat tumpahannya terdapat bentukan nasi yang masih utuh.  Hal ini menunjukkan bahwa proses mengunyah nasi tersebut tidak sempurna. Tetapi kemampuan untuk makan bahan makanan yang keras seperti krupuk atau biskuit tidak terganggu, karena hanya memerlukan beberapa kunyahan. Gangguan koordinasi motorik mulut ini juga mengakibatkani kejadian tergigit sendiri bagian bibir atau lidah secara tidak sengaja.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;Kelainan lain yang berkaitan dengan koordinasi motorik mulut adalah keterlambatan bicara dan gangguan bicara (cedal, gagap, bicara terlalu cepat sehingga sulit dimengerti). Gangguan motorik proses makan ini biasanya disertai oleh gangguan keseimbangan dan motorik kasar lainnya seperti tidak mengalami proses perkembangan normal duduk, merangkak dan berdiri.  Sehingga terlambat bolak-balik (normal usia 4 bulan), terlambat duduk merangkak (normal 6-8 bulan) atau tidak merangkak tetapi langsung berjalan, keterlambatan kemampuan mengayuh sepeda (normal usia 2,5 tahun), jalan jinjit, duduk bersimpuh leter “W”. Bila berjalan selalu cepat, terburu-buru seperti berlari, sering jatuh atau menabrak, sehingga sering terlambat berjalan. Ciri lainnya biasanya disertai gejala anak tidak bisa diam, mulai dari overaktif hingga hiperaktif. Mudah marah serta sulit berkonsentrasi, gampang bosan dan selalu terburu-buru.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;Gangguan saluran pencernaan tampaknya merupakan faktor penyebab terpenting dalam gangguan proses makan di mulut. Hal ini dapat dijelaskan bahwa dengan teori ”Gut Brain Axis”. Teori ini menunjukkan bahwa bila terdapat gangguan saluran cerna maka mempengaruhi fungsi susunan saraf pusat atau otak. Gangguan fungsi susunan saraf pusat tersebut berupa gangguan neuroanatomis dan neurofungsional. Salah satu manifestasi klinis yang terjadi adalah  gangguan koordinasi motorik kasar mulut.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;Kelainan bawaan adalah gangguan fungsi organ tubuh atau kelainan anatomis organ tubuh yang terjadi sejak pembentukan organ dalam kehamilan.Diantaranya adalah kelainan mulut, tenggorok, dan esofagus: sumbing, lidah besar, tenggorok terbelah, fistula trakeoesofagus, atresia esofagus, Laringomalasia, trakeomalasia, kista laring,  tumor, tidak ada lubang hidung, serebral palsi, kelainan paru, jantung, ginjal dan organ lainnya sejak lahir atau sejak dalam kandungan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;Bila fungsi otak tersebut terganggu maka kemampuan motorik untuk makan akan terpengaruh. Gangguan fungsi otak tersebut dapat berupa infeksi, kelainan bawaan atau gangguan lainnya seperti serebral palsi, miastenia gravis, poliomielitis.. Bila kelainan susunan saraf pusat ini terjadi karena kelainan bawaan sejak lahir biasanya disertai dengan gangguan motorik atau gangguan perilaku dan perkembangan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;GANGGUAN PSIKOLOGIS&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span&gt;Gangguan psikologis  dahulu dianggap sebagai penyebab utama kesulitan makan pada anak. Tampaknya hal ini terjadi karena dahulu kalau kita kesulitan dalam menemukan penyebab kesulitan makan pada anak maka gangguan psikologis dianggap sebagai diagnosis keranjang sampah untuk mencari penyebab kesulitan makan pada anak. Untuk memastikan gangguan psikologis sebagai penyebab utama kesulitan makan pada anak harus dipastikan tidak adanya kelainan organik pada anak. Kemungkinan lain yang sering terjadi, gangguan psikologis memperberat masalah kesulitan makan yang memang sudah terjadi sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;Gangguan pskologis bisa dianggap sebagai penyebab bila kesulitan makan itu waktunya bersamaan dengan masalah psikologis yang dihadapi. &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Bila faktor psikologis tersebut membaik maka gangguan kesulitan makanpun akan membaik. Untuk memastikannya kadang sulit, karena dibutuhkan pengamatan yang cermat dari dekat dan dalam jangka waktu yang cukup lama. Karenanya hal tersebut hanya mungkin dilakukan oleh orang tua bekerjasama dengan psikater atau psikolog.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;Pakar psikologis menyebutkan sebab meliputi gangguan s&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;ikap negatifisme, menarik perhatian, ketidak bahagian atau perasaan lain pada anak, kebiasaan rewel pada anak digunakan sebagai upaya untuk mendapatkan yang  sangat diinginkannya, sedang tertarik permainan atau benda lainya, meniru pola makan orang tua atau saudaranya reaksi anak yang manja.&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;Beberapa aspek psikologis dalam hubungan keluarga, baik antara anak dengan orang tua, antara ayah dan ibu atau hubungan antara anggota keluarga lainnya dapat mempengaruhi kondisi psikologis anak. Misalnya bila hubungan antara orang tua yang tidak harmonis, hubungan antara anggota keluarga lainnya tidak baik  atau suasana keluarga yang penuh pertentangan, permusuhan atau emosi yang tinggi akan mengakibatkan anak mengalami ketakutan, kecemasan, tidak bahagia, sedih atau depresi. Hal itu mengakibatkan anak tidak aman dan nyaman sehingga bisa membuat anak menarik diri dari kegiatan atau lingkungan keluarga termasuk aktifitas makannya&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;Sikap orang tua dalam hubungannya dengan anak sangat menentukan untuk terjadinya gangguan psikologis yang dapat mengakibatkan gangguan makan. Beberapa hal tersebut diantaranya adalah : &lt;/span&gt;&lt;span&gt; perlindungan dan perhatian berlebihan  pada anak, orang tua yang pemarah, stress dan tegang terus menerus, kurangnya kasih sayang baik secara kualitas dan kuantitas, urangnya pengertian dan pemahaman orang tua terhadap kondisi psikologis anak, hubungan antara orang tua yang tidak harmonis, sering ada pertengkaran dan permusuhan.&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;SERING OVERDIAGNOSIS PENYAKIT TUBERKULOSIS&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span&gt;Penyakit TBC sering dianggap biang keladi penyebab utama kesulitan makan pada anak. Diagnosis pasti TBC anak sulit oleh karena penemuan kuman Micobacterium TBC (M.TBC) pada anak tidak mudah. Cara-cara lain untuk pemeriksaan laboratorium darah secara bakteriologis atau serologis masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk dapat dipakai secara praktis - klinis.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;Karena kesulitan diagnosis tersebut sering terjadi overdiagnosis atau underdiagnosis. Overdiagnosis artinya diagnosis TBC yang diberikan pada anak oleh dokter terlalu berlebihan atau terlalu cepat mendiagnosis dengan data yang minimal walaupun anak belum tentu menderita TBC.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;Apabila terjadi overdiagnosis TBC pada anak terdapat konsekuensi yang tidak ringan dihadapi oleh si anak, karena anak harus mengkonsumsi 2 atau 3 obat sekaligus  minimal 6 bulan. Bahkan kadangkala diberikan lebih lama apabila dokter menemukan tidak ada perbaikan klinis. Padahal obat TBC dalam jangka waktu lama beresiko mengganggu fungsi hati,persyarafan telinga dan organ tubuh lainnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;Sering terjadi anak dengan keluhan alergi pernapasan atau gangguan pencernaan kronis (seperti coeliac dsbnya) yang disertai berat badan yang kurang dan sulit makan diobati sebagai penyakit Tuberkulosis (TBC) paru yang harus minum obat selama 6 bulan hingga 1 tahun. Padahal belum tentu anak tersebut mengidap penyakit tuberculosis. Bahkan orang tua heran saat anaknya divonis dokter mengidap penyakit TBC padahal tidak ada seorangpun di rumah yang mengalami penyakit TBC. Overdiagnosis dan overtreatment pada anak dengan gejala alergi tersebut sering terjadi karena  keluhan alergi dan TBC hampir sama, sementara mendiagnosis penyakit TBC tidaklah mudah. &lt;strong&gt;        &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;Diagnosis Tuberkulosis anak menurut Pertemuan Dokter Anak pulmunologi tahun 2000 harus dengan pengamatan seksama tentang adanya : Gejala  klinis, kontak erat serumah penderita TBC (dipastikan dengan dengan pemeriksaan dahak positif), pemeriksaan yang harus dilakukan adalah Foto polos dada (roentgen), &lt;/span&gt;&lt;span&gt;tes mantouxt (positif : &gt; 15mm bila sudah BCG, Positif &gt; 10 mm bila belum BCG). Sering terjadi hanya dengan melakukan pemeriksaan satu jenis pemeriksaan saja, anak sudah divonis dengan penyakit TBC. &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Seharusnya pemeriksaan harus dilakukan secara lengkap dan  teliti seperti di atas. Karena sulitnya mendiagnosis TBC pada anak dan kosekuensi lamanya pengobatan maka bila meragukan lebih baik dikonsultasikan atau dikonfirmasikan ke &lt;em&gt;Dokter Spesialis Paru Anak (Pulmonologi Anak&lt;/em&gt;). Ciri lain yang menunjukkan kemungkinan anak sudah mengalami gangguan saluran cerna secara genetik atau sejak lahir dan bhuka penyakit TBC adalah anak sejak lahir beratnya tidak pernah optimal dan biasanya salah satu orangtuanya mempunyai berat badan yang kurus saat usia anak.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;KOMPLIKASI KESULITAN MAKAN&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;span&gt;Peristiwa kesulitan makan yang terjadi pada penderita Autis biasanya berlangsung lama. Komplikasi yang bisa ditimbulkan adalah gangguan asupan gizi seperti kekurangan kalori, protein, vitamin, mineral dan anemia (kurang darah). Defisiensi zat gizi ini ternyata juga akan memperberat masalah gangguan metabolisme dan gangguan fungsi tubuh lainnya yang terjadi pada penderita Autis.  Keadaan ini tentunya akan menghambat beberapa upaya penanganan dan terapi yang sudah dilakukan selama ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;Kekurangan kalori dan protein yang terjadi tentunya akan mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada penderita Autis. Tampilan klinis yang dapat dilihat adalah kegagalan dalam peningkatan berat badan atau tinggi badan. Dalam keadaan normal anak usia di atas 2 tahun seharusnya terjadi peningkatan berat badan 2 kilogram dalam setahun. Pada penderita kesulitan makan  sering terjadi kenaikkan berat badan terjadi agak susah bahkan terjadi kecenderunagn tetap dalam keadaan yang cukup lama.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;PENANGANAN KESULITAN MAKAN PADA ANAK&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span&gt;Beberapa  langkah yang dilakukan pada penatalaksanaan kesulitan makan pada anak yang harus dilakukan adalah : (1). Pastikan apakah betul anak mengalami kesulitan makan Cari penyebab kesulitan makanan pada anak, (2). Identifikasi adakah komplikasi yang terjadi, (3) Pemberian pengobatan terhadap penyebab, (4). Bila penyebabnya gangguan saluran cerna (seperti alergi, intoleransi atau coeliac), hindari makanan tertentu yang menjadi penyebab gangguan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;Gangguan fungsi pencernaan kronis pada anak tampaknya sebagai penyebab paling penting dalam kesulitan makan. &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Gangguan fungsi saluran cerna kronis yang terjadi seperti alergi makanan, intoleransi makanan, penyakit coeliac dan sebagainya. Reaksi simpang makanan tersebut tampaknya sebagai  penyebab utama gangguan-gangguan tersebut. Hal ini bisa dilihat dengan timbulnya permasalahan kesulitan makan ini terbanyak saat usia di atas 6 bulan ketika mulai diperkenalkannya variasi makanan tambahan baru. Penelitian yang dilakukan di Picky Eater Clinic Jakarta menunjukkan,  setelah dilakukan penghindaran makanan tertentu pada 218 anak dengan kesulitan makan  dengan gangguan intoleransi makanan, alergi makanan, penyakit coeliac, Setelah dilakukan penghindaran makanan selama 3 minggu, tampak perbaikan kesulitan makan sejumlah 78% pada minggu pertama, 92% pada minggu ke dua dan 96% pada minggu ketiga. &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Gangguan saluran cerna juga tampak membaik sekitar 84% dan 94% penderita antara minggu pertama dan ketiga. Tetapi perbaikan gangguan mengunyah dan menelan hanya bisa diperbaiki sekitar 30%. Mungkin gangguan ini akan membaik maksimal seiring dengan pertambahan usia.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;Penanganan dalam segi neuromotorik dapat melalui pencapaian tingkat kesadaran yang optimal dengan stimulasi sistem multisensoris, stimulasi kontrol gerak oral dan refleks menelan, teknik khusus untuk posisi yang baik. Penggunaan sikat gigi listrik dan minum dengan sedotan kadang membantu memperbaiki masalah ini. Aktifitas meniup balon atau harmonika dan senam mulut dengan gerakan tertentu juga sering dianjurkan untuk gangguan  ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;Pemberian suplemen vitamin atau obat tertentu sering diberikan pada kasus kesulitan makan pada anak. Tindakan ini bukanlah cara terbaik untuk menyelesaikan masalah, bila tidak disertai dengan mencari  penyebabnya. Kadangkala pemberian vitamin atau obat-obatan justru menutupi penyebab gangguan tersebut, kalau penyebabnya tidak tertangani tuntas maka keluhan tersebut terus berulang. Bila penyebabnya tidak segera terdeteksi maka anak akan tergantung dengan pemberian vitamin tersebut Bila kita tidak waspada terdapat beberapa akibat dari pemberian obat-obatan dan vitamin dalam jangka waktu yang lama.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;Selain mengatasi penyebab kesulitan makan sesuai dengan penyebab, harus ditunjang dengan cara pemberian makan yang sesuai untuk anak dengan kesulitan makan pada anak. Karena anak dengan gangguan makan kebiasaan dan perilaku makannya berbeda dengan anak yang sehat lainnya. Kesulitan makan disertai gangguan fungsi saluran cerna  biasanya terjadi jangka panjang, dan sebagian akan berkurang pada usia tertentu. Gangguan alergi makanan akan membaik setelah usia setelah usia 5-7 tahun. Tetapi pada kasus penyakit coeliac atau intoleransi makanan terjadi dalam waktu yang lebih lama bahkan tidak sedikit yang terjadi hingga dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Dr Widodo Judarwanto SpA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;ALLERGY BEHAVIOUR CLINIC – &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;PICKY EATERS CLINIC &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;(Klinik Khusus Kesulitan makan pada Anak)&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;JL Rawasari Selatan 50, &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;Cempaka Putih&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt; Jakarta Pusat&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;Rumah Sakit Bunda Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1&lt;/span&gt;.Motala, C: New perspectives in the diagnosis of food allergy. Current Allergy and Clinical Immunology, September/October 2002, Vol 15, No. 3: 96-100&lt;br /&gt;2.Opper FH, Burakoff R. Food allergy and intolerance. Gastroenterologist. 1993;1(3):211-220.&lt;br /&gt;3.&lt;a href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?cmd=Retrieve&amp;db=pubmed&amp;amp;dopt=Abstract&amp;list_uids=14702019&amp;amp;query_hl=19&amp;itool=pubmed_docsum"&gt;Carruth BR, Ziegler PJ, Gordon A, Barr SI.&lt;/a&gt;. Prevalence of picky eaters among infants and toddlers and their caregivers’ decisions about offering a new food. J Am Diet Assoc. 2004 Jan;104(1 Suppl 1):s57-64.&lt;br /&gt;4.Solihin Pujiadi. Ilmu Gizi Klinis pada Anak. Balai penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, 1993&lt;br /&gt;5.Agus Firmansyah.Aspek.  Gastroenterology problem makan pada bayi dan anak. Pediatric Nutrition Update, 2003.&lt;br /&gt;6.&lt;a href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?cmd=Retrieve&amp;db=pubmed&amp;amp;dopt=Abstract&amp;list_uids=8783060&amp;amp;query_hl=19&amp;itool=pubmed_docsum"&gt;&lt;span&gt;Reau NR, Senturia YD, Lebailly SA, Christoffel KK.&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;. &lt;/span&gt;Infant and toddler feeding patterns and problems: normative data and a new direction. Pediatric Practice Research Group.J Dev Behav Pediatr. 1996 Jun;17(3):149-53.&lt;br /&gt;7. Berg, Frances., ed. &lt;em&gt;Afraid to Eat: Children and Teens in Weight Crisis.&lt;/em&gt; Hettinger, ND: Healthy Weight Institute, 402 S. 14th St., Hettinger, ND 58639, 1996.&lt;br /&gt;8. &lt;a href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?cmd=Retrieve&amp;db=pubmed&amp;amp;dopt=Abstract&amp;list_uids=10846309&amp;amp;query_hl=19&amp;itool=pubmed_docsum"&gt;&lt;span&gt;Chatoor I, Ganiban J, Hirsch R, Borman-Spurrell E, Mrazek DA.&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;. &lt;/span&gt;Maternal characteristics and toddler temperament in infantile anorexia. J Am Acad Child Adolesc Psychiatry. 2000 Jun;39(6):743-51.&lt;br /&gt;9.&lt;a href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?cmd=Retrieve&amp;db=pubmed&amp;amp;dopt=Abstract&amp;list_uids=9550462&amp;amp;query_hl=19&amp;itool=pubmed_docsum"&gt;Carruth BR, Skinner J, Houck K, Moran J 3rd, Coletta F, Ott D.&lt;/a&gt;. The phenomenon of "picky eater": a behavioral marker in eating patterns of toddlers.J Am Coll Nutr. 1998 Apr;17(2):180-6.&lt;br /&gt;10. Hall, Lindsey, and Cohn, Leigh &lt;em&gt;Bulimia: A Guide to Recovery&lt;/em&gt; Carlsbad, CA: Gürze Books, 1986.A two-week recovery program and a guide for support groups.&lt;br /&gt;11.&lt;a href="http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.fcgi?cmd=Retrieve&amp;db=pubmed&amp;amp;dopt=Abstract&amp;list_uids=12500079&amp;amp;query_hl=19&amp;itool=pubmed_docsum"&gt;Jacobi C, Agras WS, Bryson S, Hammer LD.&lt;/a&gt;Behavioral validation, precursors, and concomitants of picky eating in childhood. J Am Acad Child Adolesc Psychiatry. 2003 Jan;42(1):76-84.&lt;br /&gt;12.Hirschmann, Jane R., CSW, and Zaphiropoulos, Lela, CSW. &lt;em&gt;Preventing Childhood Eating Problems: A Practical, Positive Approach to Raising Children Free of Food &amp; Weight Conflicts&lt;/em&gt; Carlsbad, CA: Gürze Books, 1993&lt;br /&gt;13.Kubersky, Rachel. &lt;em&gt;Everything You Need to Know about Eating Disorders&lt;/em&gt; New York: Rosen Publishing Group, 1992.&lt;br /&gt;14.Levine, Michael, PhD, and Hill, Laura, PhD. &lt;em&gt;A 5-Day Lesson Plan on Eating Disorders: Grades 7-12&lt;/em&gt; Tulsa, OK: NEDO, 1996.&lt;br /&gt;Maine, Margo, PhD. &lt;em&gt;Father Hunger: Fathers, Daughters, &amp;amp; Food&lt;/em&gt; Carlsbad, CA: Gürze Books, 1991.&lt;br /&gt;15. Judarwanto W. Mengatasi kesulitan makan Anak, Puspaswara, publisher, 2004.&lt;br /&gt;16.Judarwanti W. Pendekatan diet  sebagai terapi kesulitan makan pada anak  (belum dipublikasikan)&lt;br /&gt;17.Judarwanto W. Pengalaman Penatalaksanaan Kesulitan Makan pada Anak di Picky Eaters Clinic Jakrta.&lt;br /&gt;18.Satter, Ellyn, RD, ACSW. &lt;em&gt;How to Get Your Kid to Eat…But Not Too Much: From Birth to Adolescence&lt;/em&gt; Palo Alto: Bull Publishing, 1987.&lt;br /&gt;19.Soepardi Soedibyo, Sri Nasar. Feeding problem from nutrition perspective.Pediatric nutrition update,2003.&lt;br /&gt;20.&lt;span&gt;Agras S., Hammer L., McNicholas F. (1999). &lt;/span&gt;A prospective study of the influence of eating-disordered mothers on their children. International Journal of Eating Disorders, 25(3), 253-62.&lt;br /&gt;21.Bryant-Waugh R., Lask B. Eating Disorders in Children. Journal of Child Psychology and Psychiatry and Allied Disciplines 36 (3), 191-202, 1995.&lt;br /&gt;22.Kreipe RE. Eating disorders among children and adolescents. Pediatrics in Review, 16(10), 370-9, 1995.&lt;br /&gt;23.Marchi M., Cohen P. (1990). Early childhood eating behaviors and adolescent eating disorders. Journal of the American Academy of Child and Adolescent Psychiatry,29(1), 112-7. &lt;p&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205399-5268704908441920303?l=dranak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=zajMGXZB"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=41" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=1v4zapl6"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=42" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=qACTptQJ"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=43" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=2QctVbYI"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=2QctVbYI" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=Rzu3ynHL"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=Rzu3ynHL" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=B3id3SDS"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=50" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=bV5xcW8D"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=bV5xcW8D" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=55qFlfKk"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=52" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=pb9ETMrf"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=54" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=m7P8T4VQ"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=m7P8T4VQ" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=aIkr1bE0"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=aIkr1bE0" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/IkatanDokterAnakIndonesia/~4/BYEmZkSz9dY" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://dranak.blogspot.com/feeds/5268704908441920303/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=19205399&amp;postID=5268704908441920303&amp;isPopup=true" title="15 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default/5268704908441920303?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default/5268704908441920303?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/IkatanDokterAnakIndonesia/~3/BYEmZkSz9dY/kesulitan-makan-pada-anak.html" title="KESULITAN MAKAN PADA ANAK" /><author><name>.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="09722670870875166877" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">15</thr:total><feedburner:origLink>http://dranak.blogspot.com/2007/02/kesulitan-makan-pada-anak.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEYHQXs4fyp7ImA9WBBbEEo.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205399.post-5155091599399799724</id><published>2007-01-06T14:58:00.000+07:00</published><updated>2007-01-06T15:28:50.537+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2007-01-06T15:28:50.537+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pencernaan" /><title>Resep Makanan bayi</title><content type="html">*     Bila ASI berkurang dapat diberikan PASI.&lt;br /&gt;**     Makanan keluarga yang lembek, mudah dicerna dan tidak pedas.&lt;br /&gt;***     Makanan kecil berupa biskuit, bubur kacang hijau dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara Pembuatan makanan bayi&lt;br /&gt;Air jeruk&lt;br /&gt;B a h a n     :     1 buah jeruk garut atau jeruk siam, + (100 gr).&lt;br /&gt;Cara membuat     :     Jeruk dicuci bersih dan dipotong melintang lalu diperas dan disaring.&lt;br /&gt;Cara pemberian     :     Untuk pertama kali air jeruk tersebut diencerkan dengan air putih masak dengan perbandingan 1 : 1 dan diberikan sebanyak 1 sdt. Pemberian ini ditambah dari hari ke hari sampai dapat menghabiskan 1 buah jeruk, maka selanjutnya tidak perlu diencerkan lagi. Bila rasanya asam, dapat ditambah gula dalam bentuk sirup secukupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air tomat&lt;br /&gt;B a h a n     :     1 buah tomat (+ 60 gr)&lt;br /&gt;Cara membuat     :     Tomat dicuci bersih masukkan ke dalam panci yang berisi air panas lalu panci ditutup dan biarkan 3 - 5 menit angkat tomat dari air panas, kupas kulit arinya lalu disaring. Air tomat yang didapat + 6 sdm (50 cc)&lt;br /&gt;Cara pemberian     :     Untuk pertama kali air tomat diencerkan dengan air putih masak dengan perbandingan 1 : 1 dan diberikan sebanyak 1 sdt. Pemberian ini dari hari ke hari ditambah sampai dapat menghabiskan 1 buah tomat, maka selanjutnya tidak usah diencerkan lagi. Bila rasanya asam, dapat ditambah gula dalam bentuk sirup secukupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pepaya saring&lt;br /&gt;B a h a n     :     1 potong pepaya masak dengan berat + 100 gr&lt;br /&gt;Cara membuat     :     Pepaya dicuci bersih dan dikupas, buang biji dan bagian yang keras pepaya dipotong-potong atau dihaluskan lalu disaring. Pepaya halus yang didapat + 9 sdm.&lt;br /&gt;Cara pemberian     :     Untuk pertama kali diberikan 1 sdt, hari-hari selanjutnya ditambah sampai dapat menghabiskan 1 ptg pepaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pisang ambon&lt;br /&gt;B a h a n     :     1 buah pisang ambon.&lt;br /&gt;Cara membuat     :     Pisang dicuci bersih lalu dikupas.&lt;br /&gt;Pisang dikerik halus dan dimasukkan ke dalam cangkir.&lt;br /&gt;Pisang yang telah dikerik sebaiknya dicampur dengan air jeruk/air tomat.&lt;br /&gt;Cara pemberian     :     Untuk pertama kali diberikan sebanyak 1 sdt. hari-hari selanjutnya ditambah sehingga dapat menghabiskan 1 atau 2 pisang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bubur susu&lt;br /&gt;B a h a n     :     150 cc susu (3/4 gls)&lt;br /&gt;50 cc air putih (1/4 gls)&lt;br /&gt;10 gr gula putih (1 sdm)&lt;br /&gt;20 gr tepung beras (2 sdm)&lt;br /&gt;garam sedikit, menurut selera.&lt;br /&gt;Cara membuat     :     Susu didihkan.&lt;br /&gt;Tepung beras diencerkan dengan air 50 cc dan dimasukkan ke dalam susu yang telah mendidih sampai masak, masukkan gula pasir ke dalam bubur tersebut dan ditambah garam kemudian angkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim saring&lt;br /&gt;B a h a n     :     20 gr beras (2 sdm)&lt;br /&gt;10 gr kacang hijau (1 sdm)&lt;br /&gt;25 gr hati ayam (1 ptg)&lt;br /&gt;atau hati sapi, daging cincang atau daging ikan, atau 1 btr telor ayam&lt;br /&gt;10 gr daun bayam (1 genggam)&lt;br /&gt;20 gr tomat (1 bh sdg)&lt;br /&gt;20 gr wortel (1 ptg sdg)&lt;br /&gt;Cara membuat     :     Beras dan kacang hijau yang telah direndam semalam dicuci lalu ditim dengan 150 cc (3/4 gls) air. Bila sudah 1/2 masak, masukkan hati dan wortel ke dalamnya, biarkan sebentar sampai hati atau penggantinya agak lunak.&lt;br /&gt;Kemudian masukkan bayam, tomat dan garam. Tunggu sampai masak, angkat lalu saring dengan saringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arti Singkatan :&lt;br /&gt;gr     :     gram    &lt;br /&gt;    bh     :     buah&lt;br /&gt;sdg     :     sedang    &lt;br /&gt;    gls     :     gelas&lt;br /&gt;ptg     :     potong    &lt;br /&gt;    bj     :     biji&lt;br /&gt;sdm     :     sendok makan    &lt;br /&gt;    bsr     :     besar&lt;br /&gt;sdt     :     sendok teh    &lt;br /&gt;    kcl     :     kecil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kiriman: Ny. Anita - Surabaya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205399-5155091599399799724?l=dranak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=O5d11NGj"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=41" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=kiijj2tR"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=42" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=5vAA78Td"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=43" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=rNNkgPf8"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=rNNkgPf8" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=s7ECCUjW"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=s7ECCUjW" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=y9Sa8Sh6"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=50" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=4hMsPYlJ"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=4hMsPYlJ" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=ZXFSGvRG"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=52" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=OFt0Gi1p"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=OFt0Gi1p" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=GQhAKzOk"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=54" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=CnESYRub"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=CnESYRub" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=QAOEqhEp"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=QAOEqhEp" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/IkatanDokterAnakIndonesia/~4/pAR1uV6xh7g" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://dranak.blogspot.com/feeds/5155091599399799724/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=19205399&amp;postID=5155091599399799724&amp;isPopup=true" title="8 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default/5155091599399799724?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default/5155091599399799724?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/IkatanDokterAnakIndonesia/~3/pAR1uV6xh7g/resep-makanan-bayi.html" title="Resep Makanan bayi" /><author><name>.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="09722670870875166877" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">8</thr:total><feedburner:origLink>http://dranak.blogspot.com/2007/01/resep-makanan-bayi.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEEHRH46fip7ImA9WBBVGEs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205399.post-116657762193542325</id><published>2006-12-20T08:20:00.000+07:00</published><updated>2006-12-23T15:30:35.016+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2006-12-23T15:30:35.016+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Infeksi" /><title>Kepala Tumbuh Bisul</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.netterimages.com/images/vtn/000/000/000/528-150x150.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px;" src="http://www.netterimages.com/images/vtn/000/000/000/528-150x150.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;!--~-|**|PrettyHtmlStartT|**|-~--&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dear Milistner &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya Papanya RAMA Saya akan sedikit bercerita tentang Kondisi anak saya. Usia anak saya 2 bulan 2 hari di belakang &lt;a href="http://dranak.blogspot.com/2005/12/minyak-kemiri-penumbuh-rambut-balita.html"&gt;kepala&lt;/a&gt; anak saya timbul bisul sebesar ibu jari, bisul tersebut berisi darah dan nanah. Setiap kali bisul pecah dan berangsur sembuh selalu timbul bisul yang lain dikepala.Padahal saya dan istri selalu membersihkan tangan setiap kali mau menggendok anak saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah saya periksakan ke Bidan terdekat katanya akibat biyang keringat yang infeksi, yang saya tidak bisa mengerti kenapa bisul itu selalu bergantian datang dan  pergi, Dari bidan sudah dikasih salep gatal untuk mencegah timbulnya bisul itu.untung nya anak saya ngga rewel atau panas dengan keadaannya yang seperti itu,Kata tetangga makan ibunya yang jorok ( istri saya selain sayur juga makan telur, ayam, ikan) apa makanan di atas termasuk kategori jorok...? Mohon saran dari milisner&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="ygrp-mlmsg" style="width: 655px; position: relative;"&gt;&lt;div&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div id="ygrp-msg" style="padding: 0pt 15px 0pt 0pt; width: 490px; float: left; z-index: 1;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;!--~-|**|PrettyHtmlEndT|**|-~--&gt;      &lt;/div&gt;&lt;div id="ygrp-text"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;             &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Salam&lt;br /&gt;Papanya RAMA&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/div&gt;        &lt;!--~-|**|PrettyHtmlStart|**|-~--&gt;     &lt;span width="1"  style="color:white;"&gt;__._,_.___&lt;/span&gt;     &lt;!-- Start the section with Message In topic --&gt;&lt;!-- |**|end egp html banner|**| --&gt;   &lt;/div&gt; &lt;!-- ygrp-msg --&gt;       &lt;!-- Sponsor --&gt;   &lt;!-- |**|begin egp html banner|**| --&gt;   &lt;div id="ygrp-sponsor" style="background: white none repeat scroll 0% 50%; width: 140px; float: left; clear: none; margin-left: 5px; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; margin-bottom: 25px; position: absolute; top: 0pt; right: 0pt;"&gt;     &lt;!-- Network content --&gt;          &lt;!-- Start vitality --&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt; &lt;!--~-|**|PrettyHtmlEnd|**|-~--&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205399-116657762193542325?l=dranak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=1I6XtfGm"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=41" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=v5yy6nlZ"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=42" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=gOv7KNrd"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=43" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=BBy3SBnA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=BBy3SBnA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=Ff72zzaB"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=Ff72zzaB" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=VJPxYOmb"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=50" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=eLSGFVaU"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=eLSGFVaU" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=QzGXwYJ3"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=52" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=Iun5hImf"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=Iun5hImf" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=M7dIcCDY"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=54" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=8aRoBIFk"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=8aRoBIFk" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=e1JeZFhh"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=e1JeZFhh" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/IkatanDokterAnakIndonesia/~4/lZI1OnB1BaM" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://dranak.blogspot.com/feeds/116657762193542325/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=19205399&amp;postID=116657762193542325&amp;isPopup=true" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default/116657762193542325?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default/116657762193542325?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/IkatanDokterAnakIndonesia/~3/lZI1OnB1BaM/dika-ot-kepala-tumbuh-bisul.html" title="Kepala Tumbuh Bisul" /><author><name>.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="09722670870875166877" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://dranak.blogspot.com/2006/12/dika-ot-kepala-tumbuh-bisul.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A04GRX04eCp7ImA9WBBVFEQ.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205399.post-116614200399438870</id><published>2006-12-15T07:20:00.000+07:00</published><updated>2006-12-19T10:45:24.330+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2006-12-19T10:45:24.330+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pencernaan" /><title>BAB Mengeras</title><content type="html">&lt;!--~-|**|PrettyHtmlStartT|**|-~--&gt; &lt;div id="ygrp-mlmsg" style="width: 655px; position: relative;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div id="ygrp-msg" style="padding: 0pt 15px 0pt 0pt; width: 490px; float: left; z-index: 1;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;!--~-|**|PrettyHtmlEndT|**|-~--&gt;      &lt;/div&gt;&lt;div id="ygrp-text"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;             &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;dear DSA dan milister,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 hari ini anak kami (16 bulan) BAB-nya selalu keras yang mengakibatkan susah keluar. memang anak kami susah sekali makan, saat ini hanya dari susu saja makannya (bukan &lt;a href="http://dranak.blogspot.com/2006/08/bukti-ilmiah-terbaru-tentang-manfaat.html"&gt;susu ASI&lt;/a&gt;). makan &lt;a href="http://dranak.blogspot.com/2006/11/kisah-di-balik-vitamin-c-dosis-tinggi.html"&gt;buah&lt;/a&gt; ato sayuran pun susah.. :(&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; (L) sudah dicoba divariasikan belom pak utk makanannya? Misalnya utk buah, kalau memang susah dimakan seperti bentuk aselinya, khan bisa dibuat juice atau dicampur yoghurt atau campur dengan ice cream atau dicampur dg susunya, dll. Bisa juga mamanya utk buatkan puding buat shafa. Perbanyak minum air putih juga katanya sih bisa memperlancar BAB (cmiiw)selain hrs juga konsumsi makanan yg berserat). Insya Allah BABnya bisa lancar kembali.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apakah ada obat/sirup/apapun yang bisa memperlancar BAB pada bayi..? mohon pencerahannya gimana solusinya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; (L) Sependek pengetahuan saya ada namanya microlax, tapi kalau boleh saran sih lebih baik digunakan sebagai opsi yg paling terakhir. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kami takut anak kami terkena ambien krn BAB yang selalu keras itu :(&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; (L) Kalau boleh saran, coba dibiasakan dikeluarga juga makan sayuran dan buah jadi bukan hanya si anak saja yg diharuskan. jadi si anak tdk merasa dibedakan ... &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Children are smart. Never underestimate them. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Kalau anak saya Khaled (23 bln) suka sekali meniru dan biasanya anak2 itu memang peniru sejati. Terkadang hal diatas juga terjadi sama Khaled. Biasanya, kita sekeluarga lesehan (s'kalian kasih contoh) utk bareng2 makan buahnya atau sayuran. Nah, pada saat itu biasanya Khaled lgs ikutan bareng sama kita makannya karena dia mau hal yg sama dilakukan org lain yg lebih besar dan tdk mau dibedakan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Mohon maaf kalau ada kata2 yg kurang berkenan ...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Lia/K's mom&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  .&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;!-- |**|end egp html banner|**| --&gt;   &lt;/div&gt; &lt;!-- ygrp-msg --&gt;       &lt;!-- Sponsor --&gt;   &lt;!-- |**|begin egp html banner|**| --&gt;   &lt;div id="ygrp-sponsor" style="background: white none repeat scroll 0% 50%; width: 140px; float: left; clear: none; margin-left: 5px; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial; margin-bottom: 25px; position: absolute; top: 0pt; right: 0pt;"&gt;     &lt;!-- Network content --&gt;          &lt;!-- Start vitality --&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt; &lt;!--~-|**|PrettyHtmlEnd|**|-~--&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205399-116614200399438870?l=dranak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=v83xZyQI"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=41" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=wSCdNlkD"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=42" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=h28qM82V"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=43" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=Hp4Pe9Ei"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=Hp4Pe9Ei" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=Xc9e5Je7"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=Xc9e5Je7" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=SKYRNVE1"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=50" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=Ke0jixjM"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=Ke0jixjM" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=UrgGRRwB"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=52" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=7ORTmdv9"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=7ORTmdv9" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=yCHBjb6d"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=54" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=kj0ocARX"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=kj0ocARX" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=sCAhO1xT"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=sCAhO1xT" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/IkatanDokterAnakIndonesia/~4/NFjnEFQbXSA" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://dranak.blogspot.com/feeds/116614200399438870/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=19205399&amp;postID=116614200399438870&amp;isPopup=true" title="2 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default/116614200399438870?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default/116614200399438870?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/IkatanDokterAnakIndonesia/~3/NFjnEFQbXSA/bab-mengeras.html" title="BAB Mengeras" /><author><name>.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="09722670870875166877" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">2</thr:total><feedburner:origLink>http://dranak.blogspot.com/2006/12/bab-mengeras.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;Dk8NQnw5eyp7ImA9WBBWFko.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205399.post-116567489269104603</id><published>2006-12-09T21:26:00.000+07:00</published><updated>2006-12-09T21:34:53.223+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2006-12-09T21:34:53.223+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Pencernaan" /><title>Diare pada anak</title><content type="html">&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://tell.fll.purdue.edu/JapanProj/FLClipart/Medical/diarrhea.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px;" src="http://tell.fll.purdue.edu/JapanProj/FLClipart/Medical/diarrhea.gif" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Apakah &lt;a href="http://dranak.blogspot.com/2005_11_20_dranak_archive.html"&gt;diare&lt;/a&gt; itu ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Diare merupakan keadaan di mana seseorang menderita mencret-mencret. Penderita buang air berkali-kali, tinjanya encer dan kadang-kadang muntah. Diare disebut juga muntahber (muntah berak), muntah menceret atau muntah bocor. Kadang-kadang tinjanya juga mengandung darah atau lendir. Diare menyebabkan cairan tubuh terkuras keluar melalui tinja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Apakah Diare Dapat menyebabkan kematian ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bila penderita diare banyak sekali kehilangan cairan tubuh maka hal ini dapat menyebabkan kematian, terutama pada bayi dan anak-anak di bawah umur lima tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Apa yang menyebabkan Diare ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penyebab diare yang terpenting adalah :&lt;br /&gt;-  Karena peradangan usus, misalnya  : kholera, disentri, bakteri-bakteri lain, virus dsb.&lt;br /&gt;-  Karena kekurangan gizi misalnya : kelaparan, kekurangan zat putih telur.&lt;br /&gt;-  Karena keracunan makanan.&lt;br /&gt;-  Karena tak tahan terhadap makanan tertentu, misalnya : si anak tak tahan &lt;a href="http://dranak.blogspot.com/2006/06/susu-untuk-anak-diatas-1-tahun.html"&gt;meminum susu&lt;/a&gt; yang mengandung lemak atau laktosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Bagaimana terjadinya diare ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Diare dapat ditularkan melalui tinja yang mengandung kuman penyebab diare. Tinja tersebut dikeluarkan oleh orang sakit atau pembawa kuman yang berak di sembarang tempat. Tinja tadi mencemari lingkungan misalnya tanah, sungai, air sumur. Orang sehat yang menggunakan air sumur atau air sungai yang sudah tercemari, kemudian menderita diare.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Bagaimana cara menolong diare ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Minumlah garam ORALIT untuk mencegah terjadinya kekurangan cairan tubuh sebagai akibat diare. Minumkanlah cairan oralit sebanyak mungkin penderita mau. 1 bungkus kecil oralit dilarutkan ke dalam 1 gelas air masak (200 cc) Kalau oralit tidak ada buatlah : LARUTAN GARAM GULA. Ambillah air teh (masak) 1 gelas. Masukkan dua sendok teh peres gula pasir, dan seujung sendok teh garam dapur. Diaduk rata dan diberikan kepada penderita sebanyak mungkin ia mau minum. Bila diare tak terhenti dalam sehari atau penderita lemas sekali bawalah segera ke Puskesmas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Bagaimana cara mencegah diare ?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Berak di kakus, tidak di kali, pantai, sawah atau sembarang tempat. Cuci tangan sebelum makan, dan sesudah buang air besar. Minum air dan makanan yang sudah dimasak Susui anak anda selama mungkin, di samping makanan lainnya sesuai umur. Bayi yang minum susu botol lebih mudah diserang diare dari pada bayi yang disusui ibunya. Tetaplah&lt;a href="http://dranak.blogspot.com/2006/08/bukti-ilmiah-terbaru-tentang-manfaat.html"&gt; anak disusui&lt;/a&gt; walaupun anak menderita diare.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205399-116567489269104603?l=dranak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=nr8E4Ppj"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=41" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=JrLCWhwa"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=42" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=ZKgmDRST"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=43" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=f6ulajo0"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=f6ulajo0" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=0vOObZLL"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=0vOObZLL" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=agIqzTU2"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=50" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=p2f8KwvW"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=p2f8KwvW" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=vP7PaSjl"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=52" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=Q3ahfR3T"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=Q3ahfR3T" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=6TqdG8uu"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=54" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=lGV9K4I7"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=lGV9K4I7" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=cecNOHkz"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=cecNOHkz" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/IkatanDokterAnakIndonesia/~4/yGwmcPP3GfE" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://dranak.blogspot.com/feeds/116567489269104603/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=19205399&amp;postID=116567489269104603&amp;isPopup=true" title="8 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default/116567489269104603?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default/116567489269104603?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/IkatanDokterAnakIndonesia/~3/yGwmcPP3GfE/diare-pada-anak.html" title="Diare pada anak" /><author><name>.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="09722670870875166877" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">8</thr:total><feedburner:origLink>http://dranak.blogspot.com/2006/12/diare-pada-anak.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;A04AQ34yeyp7ImA9WBBWFUs.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205399.post-116556994183109030</id><published>2006-12-08T16:02:00.000+07:00</published><updated>2006-12-08T16:25:42.093+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2006-12-08T16:25:42.093+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kehamilan" /><title>Seks Yang Aman Selama Kehamilan</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.kompas.com/wanita/news/0511/30/3011sek.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px;" src="http://www.kompas.com/wanita/news/0511/30/3011sek.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-size:130%;" &gt;Selain perubahan fisik, wanita yang sedang hamil biasanya memiliki perubahan kebutuhan akan perhatian dan keintiman dalam hubungan dengan pasangannya.  Dari sisi emosianal, &lt;a href="http://dranak.blogspot.com/2006_04_02_dranak_archive.html"&gt;wanita hamil&lt;/a&gt; lebih sensitif, dan keintiman sudah bisa mereka rasakan lewat sentuhan atau sekedar bicara berdua dengan pasangan di tempat tidur sambil berpegangan tangan, meski begitu &lt;a href="http://dranak.blogspot.com/2006/07/mungkinkah-memilih-jenis-kelamin.html"&gt;hubungan seks&lt;/a&gt; sama sekali tidak dilarang selama masa kehamilan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;Berikut rambu-rambu yang perlu Anda ketahui untuk melakukan seks yang aman ketika hamil :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Posisi woman on top atau menyamping adalah posisi yang nyaman untuk wanita hamil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Sebelum melakukan penetrasi yang dalam, yang harus diutamakan adalah kenyamanan dan kebebasan ibu hamil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Penggunaan benda asing di sekitar vagina atau alat bantu seks, sebisa mungkin dihindari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Rasa pengertian, empati, kreatifitas dan humor adalah aspek yang sebaiknya ada ketika melakukan hubungan seksual pada saat kehamilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Kapan pun, ibu hamil berhak mengatakan ’Tidak’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Jika kehamilannya memiliki resiko tinggi, penetrasi dan orgasme sebaiknya dihindari sampai dokter menyatakan aman. Rangsangan melalui puting juga harus dihindari pada kondisi kehamilan seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Hindari penetrasi jika air ketuban bocor atau pecah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Kontak seksual dalam bentuk apa pun harus dihindari jika ibu hamil atau pasangannya telah terkontaminasi atau terkena virus HIV. Gunakan kondom jika memang tetap ingin melakukan aktivitas seksual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;a href="http://www.kompas.com/wanita/news/0511/30/141133.htm"&gt;KCM&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205399-116556994183109030?l=dranak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=eB8synOQ"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=41" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=WrPqL2J0"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=42" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=AHAF3WRL"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=43" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=xH5pIjeR"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=xH5pIjeR" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=VtsK1sfN"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=VtsK1sfN" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=h8iOlGWQ"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=50" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=tHgwGa6v"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=tHgwGa6v" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=rdqtpF0Y"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=52" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=VDhUZhou"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=54" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=6DOHHPlC"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=6DOHHPlC" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=JU0mzu6S"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=JU0mzu6S" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/IkatanDokterAnakIndonesia/~4/cbORJ7ggPfs" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://dranak.blogspot.com/feeds/116556994183109030/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=19205399&amp;postID=116556994183109030&amp;isPopup=true" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default/116556994183109030?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default/116556994183109030?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/IkatanDokterAnakIndonesia/~3/cbORJ7ggPfs/seks-yang-aman-selama-kehamilan.html" title="Seks Yang Aman Selama Kehamilan" /><author><name>.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="09722670870875166877" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://dranak.blogspot.com/2006/12/seks-yang-aman-selama-kehamilan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEIHQXo5fip7ImA9WBBWEk8.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205399.post-116522239892472587</id><published>2006-12-04T15:44:00.000+07:00</published><updated>2006-12-04T15:55:30.426+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2006-12-04T15:55:30.426+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kehamilan" /><title>Mo nanya, Hamil boleh pijet kan??</title><content type="html">&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.bodytherapyassociates.com/pic2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px;" src="http://www.bodytherapyassociates.com/pic2.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:130%;"  &gt;Arlita Soedjito&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:130%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:130%;"  &gt;Mon, 04 Dec 2006 00:34:29 -0800&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:130%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:130%;"  &gt;Gak apa-apa asal jangan di daerah Rahim/perut, usahakan dg org yg &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:130%;"  &gt;bener2 ngerti biar gak asal pijat, jangan yg pijat refleksi krn kalo di &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:130%;"  &gt;telapak kaki byk juga urat2 yg berhubungan dg &lt;a href="http://dranak.blogspot.com/2006/07/mungkinkah-memilih-jenis-kelamin.html"&gt;rahim&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;2. trisemester pertama harus hati2 juga deh aku pernah pas hamil kedua &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;(10 minggu) PP ke Semarang naik pesawat, pas sampai JKT sempet flek &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;terus ke DSOG dan blio bilang bisa aja pengaruh dr naik pesawat ini Cuma &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;penyebabnya apa aku lupa mbak&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sorry kalo gak byk membantu&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:arial;" &gt;----- Original Message ----- &lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;font-family:arial;" &gt;From: "Niken Ariati" &lt;/span&gt;   &lt;span style="font-style: italic;font-family:arial;" &gt;Moms,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mo nanya nih, (setelah enam tahun ndak hamil lagi..jadi lupa semua&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; deh..)&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. hamil itu masih boleh pijet (sama mbok-mbok pijet ) kan?&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Berhubung saya pernah keguguran, kata dokter selama 3 bulan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;pertama, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;saya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; &lt;a href="http://dranak.blogspot.com/2006_04_02_dranak_archive.html"&gt;nggak boleh pergi-pergi naik pesawat&lt;/a&gt;, katanya beresiko..kira-kira &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;resikonya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt; apa ya?? bukannya yang ngak boleh itu kalo lagi hamil tua??&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Tengkyu buat jawabannya ya...&lt;/span&gt; &lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205399-116522239892472587?l=dranak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=vYAzm2GQ"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=41" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=GjkFY6NK"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=42" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=tS2k9l4m"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=43" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=ZXHbArJI"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=ZXHbArJI" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=HucncAzL"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=HucncAzL" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=1UIO6JKs"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=50" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=vvEAElmr"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=vvEAElmr" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=DNUeJy5s"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=52" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=s2uVYmkM"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=s2uVYmkM" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=jiuVZUDn"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=54" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=eECVlKyu"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=eECVlKyu" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=tFWYOaPE"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=tFWYOaPE" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/IkatanDokterAnakIndonesia/~4/v3XExSJyFjs" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://dranak.blogspot.com/feeds/116522239892472587/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=19205399&amp;postID=116522239892472587&amp;isPopup=true" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default/116522239892472587?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default/116522239892472587?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/IkatanDokterAnakIndonesia/~3/v3XExSJyFjs/mo-nanya-hamil-boleh-pijet-kan.html" title="Mo nanya, Hamil boleh pijet kan??" /><author><name>.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="09722670870875166877" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://dranak.blogspot.com/2006/12/mo-nanya-hamil-boleh-pijet-kan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CUQBQn4yfip7ImA9WBBXFk0.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205399.post-116460335257488310</id><published>2006-11-27T11:46:00.000+07:00</published><updated>2006-11-27T11:55:53.096+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2006-11-27T11:55:53.096+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kehamilan" /><title>Suntik ILA..?? untuk mempercepat proses persalinan</title><content type="html">&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.sandostatin.com/images/about_sandostatin/administering/injection/abo_2.3_image4.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px;" src="http://www.sandostatin.com/images/about_sandostatin/administering/injection/abo_2.3_image4.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;" class="sender"&gt;priscaw&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p  style="text-align: justify; font-style: italic;font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="date"&gt;Tue, 06 Jun 2006 20:22:12 -0700&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;    &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: arial;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;!--X-Subject-Header-End--&gt;&lt;!--X-Head-of-Message--&gt;&lt;!--X-Head-of-Message-End--&gt;&lt;!--X-Head-Body-Sep-Begin--&gt; &lt;!--X-Head-Body-Sep-End--&gt;     &lt;!--X-Body-of-Message--&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dear P'Haris,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;saya cuma mau sharing wkt dulu melahirkan anak ke-2, tapi maaf saya ngak &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;familiar ttg suntik ILA. Berhubung kejadiannya 5thn yll, maaf saya juga &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;lupa nama obat utk mempercepat proses persalinannya. Wkt &lt;a href="http://dranak.blogspot.com/2006_04_02_dranak_archive.html"&gt;kehamilan&lt;/a&gt; anak &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;ke-2, seharusnya hari senin depannya kontrol ke dokter lagi dan wkt itu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;seharusnya sdh wktnya mules, tapi kok anteng2 aja meski udah mulai lewat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; wktnya, rada khawatir juga, sehingga suami cepat mengambil keputusan utk &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;tdk tunggu hari kontrol "senin" dpn itu, dan segera sabtunya kontrol &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;kehamilan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;pre&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kami ceritakan kekhawatiran ke dokter, dan ternyata stlh dicek dalam memang harusnya sdh wktnya persalinan tp krn tdk mulas2, shg dokter &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;memberikan resep obat mulas utk dimasukkan ke lubang vagina (cuma 1 bh btknya spt kapsul lonjong yg spt obat keputihan) dan dtg kembali sabtu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;sorenya utk pemasukan obat tsb. Ternyata ngak ada 2 jam stlh pemasukan obat mulas di lubang vagina tsb, saya mengalami mulas, dan stlh dibawa ke rumah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;sakit, ternyata sdh pembukaan ke-5 dan proses sampai kelahiran tdk lama dan rasa sakitpun normal spt sakit melahirkan yg lain dan rasanya sesdh itu &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;beda dg rasa melahirkan dg caesar lho, pak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;pre&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Anyway, keputusan utk cepat kontrol kembali dan menanyakan kpd dokter &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;sungguh tepat wkt itu, krn ternyata setlh anak lahir, baru ketahuan air&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; ketuban saya sdh hijau. Kl kelamaan lagi......... &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Well, pak Haris, ada sharing teman saya use suntik anti sakit wkt&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; melahirkan, ternyata juga tetap rasa sakit meski tdk terlalu sakit biasanya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;tanpa suntikan, tp rasa sakit itu cepat kok berlalunya, buat apa buang uang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;kecuali memang dijamin tdk ada rasa sakit sama sekali?!?!? itu menurut saya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;lho, pak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Percepetan persalinan juga dipengaruhi &lt;a href="http://dranak.blogspot.com/2006_07_23_dranak_archive.html"&gt;bentuk rahim&lt;/a&gt; dan letak bayi terakhir&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; dll., spt ada yg inform kl lingkar pinggul besar biasanya mudah melahirkan, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;tp kl kondisi bayi terlilit usus or else yah bayi juga tdk bisa keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Semoga membantu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pris.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;pre&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                          &lt;br /&gt;                            &lt;br /&gt;                  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/pre&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kalo saya gak tau dan belum pernah dengar  tentang suntik ILA, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Alhamdulillah dulu sewaktu ngelahirin normal gak pake apa2. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kalo memang suntikan itu untuk mengurangi rasa sakit, ya yang namanya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;ngelahirin pasti sakit sih dan mengenai prosesnya yang lama, kan setiap&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; orang ada bawaannya masing2.  Memang sih kalo anak pertama emang suka rada &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;lama prosesnya , tapi kalo anak yang kedua katanya sih agak cepetan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;daripada anak pertama.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Btw ini kelahiran anak yang keberapa Pak ?&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Menurut saya sih mendingan yang alami aja Pak, kecuali kalo ada masalah. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Atau mungkin nakitaers punya opini yang lain ?&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; Semoga istri Bapak melahirkan dengan lancar dan anak serta ibunya sehat ya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;salam,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mama Diva&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;----- Original Message -----&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;From: A. Haris A&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;To: milis-nakita List Member&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sent: Sunday, June 04, 2006 8:45 PM&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Subject: [***SPAM*** Score/Req: 05.06/05.00] [milis-nakita] Suntik ILA..??&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;untuk mempercepat proses persalinan {01}&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dear All member..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kami sedang menanti saat-saat kelahiran anak kami.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dokter kami ada tawarkan untuk menggunakan suntik ILA (betul gak &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;tulisannya), pada bukaan kelima, nanti di Suntik untuk mempercepat proses &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;kelahiran dan mengurangi rasa sakit.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Yang kami ingin tanyakan apakah memang benar, bisa mengurangi rasa sakit&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; dan apa plus minusnya...?? resiko buat Istri saya atau calon bayi saya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Terima kasih atas informasinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Salam,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Haris&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205399-116460335257488310?l=dranak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=SDVcjCV6"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=41" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=DD2gxh8X"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=42" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=SLxPST5N"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=43" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=TW4Yrgy7"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=TW4Yrgy7" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=gjAq3fZk"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=gjAq3fZk" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=ZntmjxNf"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=50" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=labPALQU"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=labPALQU" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=RBMoygGw"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=52" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=PAvnkWO5"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=PAvnkWO5" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=j6H8B8at"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=54" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=j6XepuPK"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=j6XepuPK" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=iob5B0Wu"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=iob5B0Wu" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/IkatanDokterAnakIndonesia/~4/wpQU2-6tgq4" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://dranak.blogspot.com/feeds/116460335257488310/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=19205399&amp;postID=116460335257488310&amp;isPopup=true" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default/116460335257488310?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default/116460335257488310?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/IkatanDokterAnakIndonesia/~3/wpQU2-6tgq4/suntik-ila-untuk-mempercepat-proses.html" title="Suntik ILA..?? untuk mempercepat proses persalinan" /><author><name>.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="09722670870875166877" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://dranak.blogspot.com/2006/11/suntik-ila-untuk-mempercepat-proses.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;Dk4CRng8fip7ImA9WBBQF0g.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205399.post-116375496723592289</id><published>2006-11-17T16:11:00.000+07:00</published><updated>2006-11-17T16:16:07.676+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2006-11-17T16:16:07.676+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Psikologi Anak" /><title>Rebutan Mainan</title><content type="html">&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.dansdata.com/images/toyguns/toys600.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px;" src="http://www.dansdata.com/images/toyguns/toys600.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:78%;color:#ff0000;"&gt;Sumber: Ibu-ibu DI&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;p&gt;      &lt;/p&gt;       &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Tanya&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang mau aku tanyakan. Bagaimana ya mengajarkan anak umur 4 tahun untuk tidak rebutan mainan sama teman-temannya ? Sebenarnya anakku sudah mengerti soal berbagi. Dengan anak yang lebih kecil cenderung mengalah, pengertian pokoknya. Tapi kalau sama per groups, kadang suka rebutan juga. Tidak selalu terkadang suka dipicu oleh temannya yang tiba-tiba ingin main mainan yang dipegangnya. Akhirnya rebutan. Bagaimana ya caranya memberi pengertian sama mereka? Peraturannya seperti apa yang biasanya ibu-ibu terapkan ke anak-anak? Aku biasanya bilang kalau temanmu sedang main dengan mainan tertentu, kamu harus menunggu sampai temanmu selesai bermain atau tanya ke temanmu kalau bisa bermain bersama. Nah kadang dia situasinya terbalik, temannya yang tidak sabar menunggu. Jadi, apa yang sebaiknya pengertian yang aku kasih ke anakku itu kalau kebetulan ada temannya yang mau mainan yang dipegang anakku. Karena akhirnya rebutan lagi. Jadi bagaimana mengajarkan soal berbagi yang baik? Jangan-jangan selama ini pengertianku salah. Tapi di sisi lain berbagi itu tidak berarti harus terus mengalah. Ada tips tidak bu? Terima kasih [DA]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Jawab&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pernah diskusi dengan temanku tentang hal ini. Dia punya saran yang menurutku menarik juga. Mainan yang hanya satu itu bisa dimainkan secara bergantian. Beri batas waktu untuk tiap anak, misalnya hanya boleh pegang 5 menit terus berikan ke kita dulu baru kemudian kita berikan ke temannya. Begitu terus sampai semua kebagian. Cara ini harus disosialisasikan terlebih dahulu pada anak-anak yang terlibat. Dengan begitu diharapkan bisa mengurangi keributan. Kenapa tidak langsung diberikan ke temannya, karena kalau begitu, si pemegang mainan nanti tidak rela untuk berbagi. Tapi kalau diberikan ke kita dulu, dia akan merasa, Ok saya akan bermain lebih dulu. Memang tidak bisa sekali langsung manjur ya, harus dibiasakan juga. Jadi setiap kali bermain dengan anak kita aturan ini berlaku, sehingga lama-lama anak akan memahami artinya berbagi. Mudah-mudahan membantu ya. [Ann]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar sekali, manjur di anak-anakku. Mereka jadi tahu berapa lama menunggu &amp; berapa lama dia boleh main dengan benda itu. Ya, karena mereka masih kecil, masih belum ngeh juga 5 menit itu batasnya berapa, kita yang harus ingatkan. Tapi sedikit-sedikit mereka pada akhirnya mengerti, mungkin karena aku memang pakai patokan waktu itu untuk banyak proses negosiasi. Misalnya, ketika pulang sekolah anakku yang sulung tidak mau langsung makan, aku bilang oke, 5 menit lagi makannya (kadang dia nawar jadi 10 menit ;-)). Begitu juga kalau disuruh tidur siang, mandi, bereskan mainan, main sebelum tidur malam, dan lain-lain, pokoknya kalau dia tidak mau saat itu juga mengerjakan apa yang aku suruh, aku bilang 5 menit ya, sejauh ini dia setuju saja, alhamdulillah, jadi aku juga tidak stress [MM]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, sama mbak MM, aku juga sering pakai metode 5 menit ini kalau tawar menawar sama Pasha. Malah kadang dianya sendiri yang suka begitu ke aku. Misalnya, kita mau pergi, terus dia mau main ke rumah kakak iparku di sebelah, kalau aku bilang jangan, pasti dia bilang, 5 menit saja mah..padahal dia juga belum tahu 5 menit itu berapa lama. Tapi kalau soal berbagi mainan, aku malah tidak pernah pakai cara batas waktu seperti itu. Kalau buat anakku yang besar, lebih manjur diomongi baik-baik, soalnya dia gengsinya tinggi sekali, kalau terlalu diatur atau dipaksa malah tambah kekeh sama pendiriannya. Misalnya, kalau dia lagi pelit, tidak mau berbagi mainan, aku bilang, kalau sekarang kamu tidak mau pinjamkan mainan kamu, nanti lain kali kalau Sasi punya mainan baru, kamu tidak dipinjami juga lho... Nah, secara dia paling senang melihat mainan baru, khawatir juga bakal tidak dipinjamkan, jadi, biasanya pada akhirnya dia dengan sukarela meminjamkan mainannya [Rn]&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205399-116375496723592289?l=dranak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=zF6m1mN2"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=41" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=PtvJF76f"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=42" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=0tFnigOq"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=43" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=wKZm0W7j"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=wKZm0W7j" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=Gggv64dB"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=Gggv64dB" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=Q03FPHXy"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=50" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=8PxpkXGO"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=8PxpkXGO" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=2gJiopXS"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=52" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=hRNl5bWt"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=hRNl5bWt" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=PJviTqJJ"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=54" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=Grt8RS79"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=Grt8RS79" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=TEAE5p5e"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=TEAE5p5e" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/IkatanDokterAnakIndonesia/~4/ETk3y5hT36Y" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://dranak.blogspot.com/feeds/116375496723592289/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=19205399&amp;postID=116375496723592289&amp;isPopup=true" title="0 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default/116375496723592289?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default/116375496723592289?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/IkatanDokterAnakIndonesia/~3/ETk3y5hT36Y/rebutan-mainan.html" title="Rebutan Mainan" /><author><name>.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="09722670870875166877" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total><feedburner:origLink>http://dranak.blogspot.com/2006/11/rebutan-mainan.html</feedburner:origLink></entry><entry gd:etag="W/&quot;CEEARXw_fip7ImA9WBBQFEo.&quot;"><id>tag:blogger.com,1999:blog-19205399.post-116347255609849998</id><published>2006-11-14T09:42:00.000+07:00</published><updated>2006-11-14T09:50:44.246+07:00</updated><app:edited xmlns:app="http://www.w3.org/2007/app">2006-11-14T09:50:44.246+07:00</app:edited><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="ASI" /><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Obat" /><title>Kisah Di balik vitamin C dosis tinggi</title><content type="html">&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://img.epinions.com/images/opti/15/94/pr-Vitamins-Nature_Made_Vitamin_C_With_Rose_Hips_1000_mg_Timed_Release_Tablets-resized200.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px;" src="http://img.epinions.com/images/opti/15/94/pr-Vitamins-Nature_Made_Vitamin_C_With_Rose_Hips_1000_mg_Timed_Release_Tablets-resized200.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;September 30th, 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Kenapa ya, akhir-akhir ini produsen senang sekali memberi dosis tinggi?&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt; Supaya harganya lebih mahal? Supaya konsumen tertarik? Supaya kelihatan &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;'peduli' pada kesehatan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Dari "Mengandung DHA paling tinggi" sampai "Vitamin C dosis tinggi" atau &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;"Minum sekarang, untuk nanti" (atau semacam itulah.. emang vitamin &amp; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;mineral bisa ditabung gituh?), produsen berusaha bilang ke objek iklannya &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;bahwa mereka membutuhkan produk dengan zat tertentu yang konsentrasinya &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;tinggi. Setahu sayah, -dan dibenarkan oleh dr. Wati tercinta serta prof.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt; Sri Rahardjo dari UGM- yang namanya nutrisi tidak bisa ditabung, apalagi &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;mikronutrien seperti vitamin dan mineral. Kedua mahluk ini dibutuhkan &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;dalam jumlah kecil setiap harinya, dalam artian asupannya bersifat wajib &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;setiap hari dalam dosis yang sesuai dengan yang dibutuhkan (sebab&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;kelebihannya akan dibuang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Paling gencar adalah iklan suplemen vitamin C dan kalsium (so far begitu&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt; sih, walaupun penasaran juga dengan iklan "Vitamin otak" yang entah &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;binatang nutrisi apa yang dimaksud, saya belum tahu ). Dosis konsumsi &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;vitamin C adalah 90 mg/hari (untuk laki-laki berusia lebih dari 18 thn); &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;75 mg/hari (untuk perempuan berusia lebih dari 18 thn); 85 mg/hari (untuk&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt; ibu hamil berusia lebih dari 18 thn); 120 mg/hari (untuk ibu menyusui &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;berusia lebih dari 18 thn). Jadi kebutuhan vitamin C paling tinggi adalah &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;pada ibu menyusui, sebesar 120 mg/hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Dan apa yang kita saksikan di iklan hampir setiap hari? "One thousand &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;miligrams of vitamin C", says Amelia Vega, "Vitamin C 1000 mg, agar tak &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;mudah sakit", kata iklan lain.  Hampir 10 kali lipat dari kebutuhan ibu &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;menyusui! Lalu, kemana sisa vitamin C yang tidak terserap? Tentu saja&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt; keluar lagi dalam bentuk larutan (alias terlarut dalam air, begituâ€¦),&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt; which is keringat dannnnâ€¦ pipis!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;So what? Soâ€¦ pipis anda-anda sekalian yang mengkonsumsi suplemen vitamin &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;C dosis tinggi ini berharga mahal, sodara-sodara! Anda hanya mengambil 10% &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;manfaat dari uang yang anda bayar untuk suplemen ini, dan membuang 90%-nya &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;di toilet, yang kalau di tempat umum kemungkinan besar harus bayar (means, &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;mengeluarkan uang lagi). AND WHAT ARE YOU DOING EXACTLY? Tidak efisien dan &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;tidak efektif!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Beberapa iklan sempat saya cemooh, karena menawarkan sesuatu yang&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt; 'instant' tapi tampak bodoh untuk saya. Contohnya ya iklan vitamin C ini. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Lebih baik mengkonsumsi buah-buahan kaya vitamin (yang isinya tidak hanya &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;vitamin C thok!) setiap hari , daripada minum suplemen vitamin C dosis &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;tinggi tapi kadang-kadang atau hanya menjelang/saat sakit saja. Percuma,&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt; toh terbuang 90%. Padahal dari buah-buahan kita dapat serat, vitamin lain &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;(misalnya vitamin A di kulit apel), mineral (misalnya kalium di pisang), &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;rasa enak (enakan mana sih, suplemen sama jeruk segar?), dan pelatihan &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;pencernaan (eits jangan salah! kalau jarang dipake, pencernaan -mulai dari&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt; gigi sampai usus- bisa jadi malas lho!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Diantara kegunaan suplemen vitamin C adalah : 1) mengobati kekurangan &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;vitamin C (scurvy, scorbut ) [grade A; Strong scientific evidence for this &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;use], 2) pencegahan flu (cold) hingga 50% dalam lingkungan ekstrim &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;(sub-arktik, pelari maraton, pemain ski) [grade B; Good scientific&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt; evidence for this use], 3) memperbaiki penyerapan zat besi [grade B]. Di &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;luar itu, pencegahan dan pengobatan flu secara umum (maksudnya untuk &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;orang-orang dalam kondisi normal) termasuk dalam grade D ( it may not &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;work).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;So, SAVE YOUR MONEY. Get other useful things to buy. Memang bener ilmu itu&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt; mahal, karena bisa mencegah pengeluaran untuk baanyaaaakkkk sekali hal-hal &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;yang ternyata tak perlu dalam hidup ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Kisah di Balik 1000 mg Vitamin C&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;March 24th, 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Di belakang maraknya suplemen vitamin megadosis ada seorang tokoh yang&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt; berjasa. Linus Pauling, Ph.D ., peraih dua penghargaan Nobel untuk kimia &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;(1954) dan perdamaian (1962).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Temuannya yang paling populer adalah:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Vitamin C dosis tinggi dapat mencegah selesma dan flu hingga 45%, mencegah &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;serta menyembuhkan 75% dari semua kanker, dan memperpanjang masa hidup &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;penderita kanker hingga 4-5 kali lebih lama (dibandingkan dengan yang &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;tidak mendapat terapi vitamin C tersebut).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Secara umum, Pauling mengklaim bahwa konsumsi vitamin(-vitamin) dalam&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt; megadosis dapat &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;"memperbaiki kesehatanâ€¦ meningkatkan kenikmatan hidup dan membantu &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;mengendalikan penyakit jantung, kanker, dan penyakit lain serta &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;memperlambat proses penuaan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Merasa pernah mendengar bunyi klaim tersebut dari produsen suplemen dan&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt; menjadi tertarik mengonsumsi produknya? SELAMAT! Anda sudah terjebak dalam &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;quackery!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Terjemah bebas quackery dalam bahasa Indonesia adalah usaha apapun yang &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;melibatkan promosi suatu produk atau sistem kesehatan secara berlebihan . &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Klaim Pauling mengenai terapi megadosis vitamin C untuk penderita kanker &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;diuji dan dikaji ulang oleh MayoClinic sebanyak 3 kali dengan hasil:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;TIDAK ADA keuntungan yang konsisten dari vitamin C yang diberikan pada &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;penderita kanker stadium lanjut. Bahkan, vitamin C dosis tinggi dapat &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;memberikan dampak yang berlawanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Dosis oral (diminum) yang tinggi dapat menyebabkan diare. Sedangkan dosis &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;tinggi yang diberikan lewat infus (intravenous) menyebabkan gagal ginjal &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;akibat penyumbatan oleh kristal oksalat. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Walaupun fakta ini sudah gamblang dinyatakan, mengapa masih banyak orang&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt; yang 'bersaksi' bahwa vitamin C dosis tinggi berguna dan banyak membantu? &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Vitamin C memberikan efek antihistamin. Sedangkan histamin -dalam &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;konsentrasi berbeda-beda- hampir selalu dilepas dalam saluran pernafasan &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;sebagai reaksi serupa-alergi terhadap selesma. Sehingga yang dirasakan &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;oleh penderita selesma (atau flu) adalah perbaikan yang 'palsu'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Rekomendasi penggunaan vitamin dalam megadosis oleh Pauling bisa jadi&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt; 'menyemangati' para produsen suplemen (atau mereka biasa bilang 'makanan &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;kesehatan' a.k.a. health foods) untuk membanjiri pasar dunia dengan produk &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Tuduhan 'main mata' antara Pauling dan industri vitamin bukan omong&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt; kosong, sebab donor utama Linus Pauling Institute of Medicine adalah &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Hoffmann-La Roche, perusahaan farmasi besar yang memproduksi mayoritas &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;vitamin C yang beredar di dunia pada saat itu (sekitar tahun 1973).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Pada tahun 1994, Arthur Robinson (kolega Linus Pauling dalam penelitian)&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt; membuat rangkuman hasil penelitian yang menyebabkannya dipecat dari Linus &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Pauling Institute of Medicine:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Vitamin C dosis 1 - 5 gram per hari meningkatkan laju pertumbuhan kanker &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;pada manusia. Namun pertumbuhan kanker  terhambat pada dosis 100 gram per &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;hari, mendekati dosis mematikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Masih berpikir bahwa semakin besar dosis vitamin maka akan semakin besar &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;manfaatnya? Saya harap tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Save your money. Think smart, act wise, live healthy. Jangan terjebak pada&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt; klaim indah suplemen.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19205399-116347255609849998?l=dranak.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="feedflare"&gt;
&lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=AOBuYNrc"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=41" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=D2iJnA9k"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=42" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=DRo2G3la"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=43" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=AKLbyA8I"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=AKLbyA8I" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=yjhKV1zF"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=yjhKV1zF" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=g0MbNhNC"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=50" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=DKV1H1tf"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=DKV1H1tf" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=yz7AXofn"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=52" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=wSeztqQc"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?d=54" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=INjM8kqA"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=INjM8kqA" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?a=X9Mz2bCY"&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~f/IkatanDokterAnakIndonesia?i=X9Mz2bCY" border="0"&gt;&lt;/img&gt;&lt;/a&gt;
&lt;/div&gt;&lt;img src="http://feeds.feedburner.com/~r/IkatanDokterAnakIndonesia/~4/LqYZviCKzyM" height="1" width="1"/&gt;</content><link rel="replies" type="application/atom+xml" href="http://dranak.blogspot.com/feeds/116347255609849998/comments/default" title="Post Comments" /><link rel="replies" type="text/html" href="https://www.blogger.com/comment.g?blogID=19205399&amp;postID=116347255609849998&amp;isPopup=true" title="4 Comments" /><link rel="edit" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default/116347255609849998?v=2" /><link rel="self" type="application/atom+xml" href="http://www.blogger.com/feeds/19205399/posts/default/116347255609849998?v=2" /><link rel="alternate" type="text/html" href="http://feedproxy.google.com/~r/IkatanDokterAnakIndonesia/~3/LqYZviCKzyM/kisah-di-balik-vitamin-c-dosis-tinggi.html" title="Kisah Di balik vitamin C dosis tinggi" /><author><name>.</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty name="OpenSocialUserId" value="09722670870875166877" /></author><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">4</thr:total><feedburner:origLink>http://dranak.blogspot.com/2006/11/kisah-di-balik-vitamin-c-dosis-tinggi.html</feedburner:origLink></entry></feed>
