<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-4489513683570848493</atom:id><lastBuildDate>Sat, 05 Oct 2024 01:55:44 +0000</lastBuildDate><category>Dunia</category><category>Fakta</category><category>Rahasia</category><title>Ikhwan Sesat</title><description></description><link>http://ikhwansesat.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (ikhwan sesat)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>17</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4489513683570848493.post-876544478561679054</guid><pubDate>Sun, 30 May 2010 22:59:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-05-31T06:09:49.223+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Dunia</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Fakta</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Rahasia</category><title>44 Fakta Dunia</title><description>1. Coca-cola dulu berwarna hijau.&lt;br /&gt;2. Nama yang paling umum digunakan di dunia adalah Mohammed.&lt;br /&gt;3. Dalam bahasa inggris, semua nama benua diawali dan diakhiri dengan huruf vokal yang sama.&lt;br /&gt;4. Otot terkuat yang ada di badan kita adalah lidah.&lt;br /&gt;5. Setiap orang di USA punya 2 kartu kredit!&lt;br /&gt;6. TYPEWRITER adalah kata terpanjang yang dapat diketik dalam satu baris tuts keyboard anda.&lt;br /&gt;7. Perempuan ngedip dua kali lebih banyak dari pada laki-laki.&lt;br /&gt;8. Menahan nafas tidak akan membuatmu mati.&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;9. Setiap manusia tidak dapat menjilat siku tangannya sendiri.&lt;br /&gt;10. Kalau ada orang mengucapkan doa setiap kali ada yang bersin karena memang setiap kali kau bersin, jantungmu berhenti satu milisecond.&lt;br /&gt;11. Secara fisik, setiap babi tidak bisa melihat ke langit.&lt;br /&gt;12. Ucapkan “sixth sick sheik’s sixth sheep’s sick” beberapa kali, nanti anda akan mahir berbahasa inggris!&lt;br /&gt;13. Bersin terlalu keras dapat mematahkan tulang iga, memutuskan pembuluh darah di kepala atau leher dan mengakibatkan kematian.&lt;br /&gt;14. Setiap raja dalam kartu remi melambangkan raja-raja besar jaman dahulu kala:&lt;br /&gt;Raja sekop - Raja Daud&lt;br /&gt;Raja keriting - Alexander Agung&lt;br /&gt;Raja hati - Raja Charlemagne&lt;br /&gt;Raja wajik - Julius Caesar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. 111,111,111 x 111,111,111 = 12,345,678,987, 654,321&lt;br /&gt;16. Kalau ada patung orang naik kuda dan dua kaki depan kuda itu naik di udara, itu tandanya orang itu mati dalam perang.&lt;br /&gt;17. Kalau kaki kudanya cuma satu yang diangkat berarti orang itu cuma terluka dalam perang.&lt;br /&gt;18. Kalau semua kaki kudanya menjejak tanah, berarti orang itu meninggal karena sakit.&lt;br /&gt;19. Apa persamaan rompi anti peluru, printer laser, tangga darurat dan wiper mobil? Jawabannya: semua ditemukan oleh perempuan! Hah!&lt;br /&gt;20. Satu-satunya makanan yang tidak bisa busuk? Jawaban: madu.&lt;br /&gt;22. Siput bisa tidur selama 3 tahun.&lt;br /&gt;23. Semua beruang kutub KIDAL!&lt;br /&gt;24. American Airlines menghemat $40,000 tahun 1987 dengan cara mengurangi 1 buah olive dari setiap piring salad yang mereka sajikan untuk penumpang kelas 1.&lt;br /&gt;25. Indera perasa kupu-kupu ada di kaki.&lt;br /&gt;26. Gajah adalah satu-satunya hewan yang tidak bisa lompat.&lt;br /&gt;27. Selama 4000 tahun belakangan ini, jenis hewan yang dipelihara di rumah cuma itu-itu saja.&lt;br /&gt;28. Rata-rata manusia lebih takut pada laba-laba daripada kematian.&lt;br /&gt;29. Shakespeare menemukan kata: “Assassination” dan “bump”&lt;br /&gt;30. Dengan menggunakan cara mengetik 10 jari, STEWARDESSES adalah kata terpanjang yang bisa diketik hanya dengan jari-jari tangan kiri.&lt;br /&gt;31. Semut selalu jatuh ke kanan setiap kali disemprot cairan anti hama&lt;br /&gt;32. Kursi listrik ditemukan oleh seorang dokter gigi&lt;br /&gt;33. Jantung manusia dapat menyemprotkan darah sejauh 30 kaki.&lt;br /&gt;34. Dalam 18 bulan, 2 ekor tikus bisa punya lebih dari sejuta anak tikus!&lt;br /&gt;35. Memakai headphone selama satu jam dapat menstimulasi perkembangan bakteri dalam telinga sebanyak 700 kali lipat!&lt;br /&gt;36. Pemantik ditemukan sebelum korek api.&lt;br /&gt;37. Setiap lipstik mengandung sisik ikan.&lt;br /&gt;38. Seperti sidik jari, lidah manusia pun mempunyai kontur yang berbeda-beda.&lt;br /&gt;39. Buaya nggak bisa melet lidah.&lt;br /&gt;40. Kata berita atau &quot;News&quot; dalam bahasa Inggris sebenarnya adalah singkatan keempat mata angin North (utara,) East (Timur,) West (Barat,) dan South (Selatan.)&lt;br /&gt;41. Orang yang membaca tulisan ini tidak sadar kalau di atas tidak ada no. 21&lt;br /&gt;42. Mereka akan mengecek kembali untuk memastikan bahwa n0. 21 benar-benar tidak ada&lt;br /&gt;43. 99% orang yang membaca tulisan ini mencoba mengalikan fakta no. 15&lt;br /&gt;44. Dan akhirnya, 99% orang yang baca tulisan ini pasti mencoba menjilat siku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;http://www.mylivesignature.com&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://signatures.mylivesignature.com/54488/128/CF081EB71C69BAF86BC18AF0FF318534.png&quot; style=&quot;border: 0 !important; background: transparent;&quot;/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://ikhwansesat.blogspot.com/2010/05/44-fakta-dunia.html</link><author>noreply@blogger.com (ikhwan sesat)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4489513683570848493.post-16785544732766492</guid><pubDate>Wed, 19 May 2010 23:27:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-05-20T06:36:55.772+07:00</atom:updated><title>Pandawa (5) - Sadewa</title><description>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;http://1.bp.blogspot.com/_Y3TtUiG8Q90/S_R1f8knOKI/AAAAAAAAACI/oJpYAc3NF5w/s1600/Sadewa.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 158px; height: 320px;&quot; src=&quot;http://1.bp.blogspot.com/_Y3TtUiG8Q90/S_R1f8knOKI/AAAAAAAAACI/oJpYAc3NF5w/s320/Sadewa.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5473128638858082466&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sahadewa (ejaan Sanskerta: सहदेव, Sahadéva), atau yang biasa disingkat Sadewa, adalah salah satu tokoh utama dalam wiracarita Mahabharata. Ia merupakan anggota Pandawa yang paling muda, yang memiliki saudara kembar bernama Nakula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun kembar, Nakula dikisahkan memiliki wajah yang lebih tampan daripada Sadewa, sedangkan Sadewa lebih&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; pandai daripada kakaknya itu. Terutama dalam hal perbintangan atau astronomi, kepandaian Sadewa jauh di atas murid-murid Resi Drona lainnya. Selain itu ia juga pandai dalam hal ilmu peternakan sapi. Maka ketika para Pandawa menjalani hukuman menyamar selama setahun di Kerajaan Matsya akibat kalah bermain dadu melawan Korawa, Sadewa pun memilih peran sebagai seorang gembala sapi bernama Tantripala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Asal-Usul&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sadewa merupakan yang termuda di antara para Pandawa, yaitu sebutan untuk kelima putra Pandu, raja Kerajaan Hastinapura. Sadewa dan saudara kembarnya, Nakula, lahir dari rahim putri Kerajaan Madra yang bernama Madri (dalam pewayangan disebut Madrim). Sementara itu ketiga kakak mereka, yaitu Yudistira, Bimasena, dan Arjuna lahir dari rahim Kunti. Meskipun demikian, Sadewa dikisahkan sebagai putra yang paling disayangi Kunti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nakula dan Sadewa lahir sebagai anugerah dewa kembar bernama Aswino untuk Madri, karena Pandu saat itu sedang menjalani kutukan tidak bisa bersetubuh dengan istrinya. Keduanya lahir di tengah hutan ketika Pandu sedang menjalani kehidupan sebagai pertapa.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Kepribadian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Meskipun Sadewa merupakan Pandawa yang paling muda, namun ia dianggap sebagai yang terbijak di antara mereka. Yudistira bahkan pernah berkata bahwa Sadewa lebih bijak daripada Wrehaspati, guru para dewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadewa merupakan ahli perbintangan yang ulung dan mampu mengetahui kejadian yang akan datang. Namun ia pernah dikutuk apabila sampai membeberkan rahasia takdir, maka kepalanya akan terbelah menjadi dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Keluarga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setelah kemenangan Arjuna atas sayembara memanah di Kerajaan Pancala, maka semua Pandawa bersama-sama menikah dengan Dropadi, putri negeri tersebut. Dari perkawinan tersebut Sadewa memiliki putra bernama Srutakirti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selain itu, Sadewa juga menikahi puteri Jarasanda, raja Kerajaan Magadha. Kemudian dari istrinya yang bernama Wijaya, lahir seorang putra bernama Suhotra.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Membunuh Sangkuni&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sangkuni adalah paman para Korawa dari pihak ibu. Ia merupakan tokoh licik yang menciptakan permusuhan antara Pandawa dan Korawa, sehingga meletus perang saudara besar-besaran yang terkenal dengan sebutan Baratayuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui permainan dadu, Sangkuni secara licik berhasil merebut Kerajaan Indraprastha dari tangan para Pandawa. Setelah itu Pandawa dan Dropadi dihukum menjalani pembuangan selama 12 tahun di hutan, serta setahun menyamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penyamaran di Kerajaan Matsya, Sadewa berperan sebagai seorang gembala sapi bernama Tantripala. Ia menyadari bahwa penderitaan para Pandawa adalah akibat ulah licik Sangkuni. Maka ia pun bersumpah akan membunuh orang itu apabila meletus perang saudara melawan Korawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah masa hukuman berakhir, pihak Korawa menolak mengembalikan hak-hak Pandawa. Upaya perundingan pun mengalami kegagalan. Perang di Kurukshetra pun meletus. Meskipun jumlah kekuatan pihak Pandawa lebih sedikit, namun mereka memperoleh kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari ke-18 Sangkuni bertempur melawan Sahadewa. Dengan mengandalkan ilmu sihirnya, Sangkuni menciptakan banjir besar melanda dataran Kurukshetra. Sadewa dengan susah payah akhirnya berhasil mangalahkan Sangkuni. Tokoh licik itu tewas terkena pedang Sadewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu dalam pewayangan Jawa, Sangkuni bukan mati di tangan Sadewa, melainkan di tangan Bimasena.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Tokoh Utama Sudamala&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sadewa merupakan tokoh utama dalam Kakawin Sudamala, yaitu karya sastra berbahasa Jawa Kuna peninggalan Kerajaan Majapahit. Naskah ini bercerita tentang kutukan yang menimpa istri Batara Guru bernama Umayi, akibat perbuatannya berselingkuh dengan Batara Brahma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umayi dikisahkan berubah menjadi Rakshasi bernama Ra Nini, dan hanya bisa kembali ke wujud asal apabila diruwat oleh bungsu Pandawa. Maka, Sadewa pun diculik dan dipaksa memimpin prosesi ruwatan. Setelah dirasuki Batara Guru, barulah Sadewa mampu menjalankan permintaan Ra Nini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadewa pun mendapat julukan baru, yaitu Sudamala yang bermakna &quot;menghilangkan penyakit&quot;. Atas petunjuk Ra Nini yang telah kembali menjadi Umayi, Sadewa pun pergi ke desa Prangalas menikahi putri seorang pertapa bernama Tambrapetra. Gadis itu bernama Predapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Versi Pewayangan Jawa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam pewayangan Jawa, Sadewa dikisahkan lahir di dalam istana Kerajaan Hastina, bukan di dalam hutan. Kelahirannya bersamaan dengan peristiwa perang antara Pandu melawan Tremboko, raja raksasa dari Kerajaan Pringgadani. Dalam perang tersebut keduanya tewas. Madrim ibu Sadewa melakukan bela pati dengan cara terjun ke dalam api pancaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi lain menyebutkan, Sadewa sejak lahir sudah kehilangan ibunya, karena Madrim meninggal dunia setelah melahirkan dirinya dan Nakula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu kecil, Sadewa memiliki nama panggilan Tangsen. Setelah para Pandawa membangun Kerajaan Amarta, Sadewa mendapatkan Kasatrian Baweratalun sebagai tempat tinggalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri Sadewa versi pewayangan hanya seorang, yaitu Perdapa putri Resi Tambrapetra. Dari perkawinan itu lahir dua orang anak bernama Niken Sayekti dan Bambang Sabekti. Masing-masing menikah dengan anak-anak Nakula yang bernama Pramusinta dan Pramuwati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi lain menyebutkan Sadewa memiliki anak perempuan bernama Rayungwulan, yang baru muncul jauh setelah perang Baratayuda berakhir, atau tepatnya pada saat Parikesit cucu Arjuna dilantik menjadi raja Kerajaan Hastina. Rayungwulan ini menikah dengan putra Nakula yang bernama Widapaksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh Lain Bernama Sama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mitologi Hindu dan sejarah India, terdapat beberapa tokoh lain yang bernama Sahadewa, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Putra Jarasanda, raja Kerajaan Magadha. Dengan demikian ia adalah saudara ipar Sahadewa putra Pandu. Dalam perang Baratayuda ia memihak para Pandawa.&lt;br /&gt;    * Salah satu raja dari kalangan Dinasti Surya, putera Dharmanandana juga bernama Sahadewa.&lt;br /&gt;    * Sahadewa juga merupakan nama putra Sudasa atau ayah Somaka, raja Kerajaan Pancala.&lt;br /&gt;    * Seorang raksasa putera Dumraksa dan juga ayah dari Kresawa.&lt;br /&gt;    * Paman Gautama Buddha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam legenda Jawa juga terdapat seorang bernama Sadewa dari zaman yang lebih tua. Ia merupakan cucu dari Watugunung raja Kerajaan Gilingwesi. Sadewa yang ini menderita kelainan seksual, yaitu mencintai sesama laki-laki atau homoseksual. Ia akhirnya berhasil menjadi raja di Kerajaan Medangkamulan bergelar Cingkaradewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cingkaradewa merupakan raja serakah yang ingin menguasai seluruh Pulau Jawa. Antara lain ia berhasil merebut Kerajaan Gilingwesi peninggalan kakeknya, yang saat itu dikuasai oleh Parikenan. Parikenan yang merupakan leluhur para Pandawa versi Jawa dikisahkan tewas di tangan Cingkaradewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cingkaradewa sendiri akhirnya berhasil dikalahkan seorang pertapa dari India bernama Resi Wisaka, yang merupakan samaran dari Aji Saka, seorang manusia setengah dewa yang melegenda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;http://www.mylivesignature.com&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://signatures.mylivesignature.com/54488/128/CF081EB71C69BAF86BC18AF0FF318534.png&quot; style=&quot;border: 0 !important; background: transparent;&quot;/&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://ikhwansesat.blogspot.com/2010/05/pandawa-5-sadewa.html</link><author>noreply@blogger.com (ikhwan sesat)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_Y3TtUiG8Q90/S_R1f8knOKI/AAAAAAAAACI/oJpYAc3NF5w/s72-c/Sadewa.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4489513683570848493.post-2168276416765654144</guid><pubDate>Wed, 19 May 2010 23:23:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-05-20T06:27:01.454+07:00</atom:updated><title>Pandawa (4) - Nakula</title><description>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;http://4.bp.blogspot.com/_Y3TtUiG8Q90/S_RzYjYzCrI/AAAAAAAAACA/z2UzqS05oyg/s1600/200px-Nakula.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 154px; height: 320px;&quot; src=&quot;http://4.bp.blogspot.com/_Y3TtUiG8Q90/S_RzYjYzCrI/AAAAAAAAACA/z2UzqS05oyg/s320/200px-Nakula.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5473126312815299250&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Nakula (Sansekerta: नकुल, Nakula), adalah seorang tokoh protagonis dari wiracarita Mahabharata. Ia merupakan putera Dewi Madri, kakak ipar Dewi Kunti. Ia adalah saudara kembar Sadewa dan dianggap putera Dewa Aswin, Dewa tabib kembar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut kitab Mahabharata, Nakula sangat tampan dan sangat elok parasnya. Menurut Dropadi, Nakula merupakan suami yang paling tampan di dunia. Namun, sifat buruk Nakula adalah&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; membanggakan ketampanan yang dimilikinya. Hal itu diungkapkan oleh Yudistira dalam kitab Prasthanikaparwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Arti Nama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Secara harfiah, kata nakula dalam bahasa Sansekerta merujuk kepada warna Ichneumon, sejenis tikus atau binatang pengerat dari Mesir. Nakula juga dapat berarti &quot;cerpelai&quot;, atau dapat juga berarti &quot;tikus benggala&quot;. Nakula juga merupakan nama lain dari Dewa Siwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Nakula Dalam Mahabharata&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menurut Mahabharata, si kembar Nakula dan Sadewa memiliki kemampuan istimewa dalam merawat kuda dan sapi. Nakula digambarkan sebagai orang yang sangat menghibur hati. Ia juga teliti dalam menjalankan tugasnya dan selalu mengawasi kenakalan kakaknya, Bima, dan bahkan terhadap senda gurau yang terasa serius. Nakula juga memiliki kemahiran dalam memainkan senjata pedang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat para Pandawa mengalami pengasingan di dalam hutan, keempat Pandawa (Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa) meninggal karena meminum air beracun dari sebuah danau. Ketika sesosok roh gaib memberi kesempatan kepada Yudistira untuk memilih salah satu dari keempat saudaranya untuk dihidupkan kembali, Nakula-lah dipilih oleh Yudistira untuk hidup kembali. Ini karena Nakula merupakan putera Madri, dan Yudistira, yang merupakan putera Kunti, ingin bersikap adil terhadap kedua ibu tersebut. Apabila ia memilih Bima atau Arjuna, maka tidak ada lagi putera Madri yang akan melanjutkan keturunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika para Pandawa harus menjalani masa penyamaran di Kerajaan Wirata, Nakula menyamar sebagai perawat kuda dengan nama samaran &quot;Grantika&quot;. Nakula turut serta dalam pertempuran akbar di Kurukshetra, dan memenangkan perang besar tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitab Prasthanikaparwa, yaitu kitab ketujuh belas dari seri Astadasaparwa Mahabharata, diceritakan bahwa Nakula tewas dalam perjalanan ketika para Pandawa hendak mencapai puncak gunung Himalaya. Sebelumnya, Dropadi tewas dan disusul oleh saudara kembar Nakula yang bernama Sadewa. Ketika Nakula terjerembab ke tanah, Bima bertanya kepada Yudistira, &quot;Kakakku, adik kita ini sangat rajin dan penurut. Ia juga sangat tampan dan tidak ada yang menandinginya. Mengapa ia meninggal sampai di sini?&quot;. Yudistira yang bijaksana menjawab, &quot;Memang benar bahwa ia sangat rajin dan senang menjalankan perintah kita. Namun ketahuilah, bahwa Nakula sangat membanggakan ketampanan yang dimilikinya, dan tidak mau mengalah. Karena sikapnya tersebut, ia hanya hidup sampai di sini&quot;. Setelah mendengar penjelasan Yudistira, maka Bima dan Arjuna melanjutkan perjalanan mereka. Mereka meninggalkan jenazah Nakula di sana, tanpa upacara pembakaran yang layak, namun arwah Nakula mencapai kedamaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Nakula Dalam Pewayangan Jawa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Nakula dalam pedalangan Jawa disebut pula dengan nama Pinten (nama tumbuh-tumbuhan yang daunnya dapat dipergunakan sebagai obat). Ia merupakan putera keempat Prabu Pandudewanata, raja negara Hastinapura dengan permaisuri Dewi Madri, puteri Prabu Mandrapati dengan Dewi Tejawati, dari negara Mandaraka. Ia lahir kembar bersama adiknya, Sahadewa atau Sadewa. Nakula juga menpunyai tiga saudara satu ayah, putra Prabu Pandu dengan Dewi Kunti, dari negara Mandura bernama Puntadewa (Yudistira), Bima alias Werkudara dan Arjuna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nakula adalah titisan Batara Aswin, Dewa tabib. Ia mahir menunggang kuda dan pandai mempergunakan senjata panah dan lembing. Nakula tidak akan dapat lupa tentang segala hal yang diketahui karena ia mepunyai Aji Pranawajati pemberian Ditya Sapujagad, Senapati negara Mretani. Ia juga mempunyai cupu berisi &quot;Banyu Panguripan&quot; atau &quot;Air kehidupan&quot; pemberian Bhatara Indra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nakula mempunyai watak jujur, setia, taat, belas kasih, tahu membalas guna dan dapat menyimpan rahasia. Ia tinggal di kesatrian Sawojajar, wilayah negara Amarta. Nakula mempunyai dua orang isteri yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Dewi Sayati puteri Prabu Kridakirata, raja negara Awuawulangit, dan memperoleh dua orang putera masing-masing bernama Bambang Pramusinta dan Dewi Pramuwati.&lt;br /&gt;    * Dewi Srengganawati, puteri Resi Badawanganala, kura-kura raksasa yang tinggal di sungai Wailu (menurut Purwacarita, Badawanangala dikenal sebagai raja negara Gisiksamodra alias Ekapratala) dan memperoleh seorang putri bernama Dewi Sritanjung. Dari perkawinan itu Nakula mendapat anugrah cupu pusaka berisi air kehidupan bernama Tirtamanik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai perang Bharatayuddha, Nakula diangkat menjadi raja negara Mandaraka sesuai amanat Prabu Salya kakak ibunya, Dewi Madrim. Akhir riwayatnya diceritakan, Nakula mati moksa di gunung Himalaya bersama keempat saudaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;http://www.mylivesignature.com&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://signatures.mylivesignature.com/54488/128/CF081EB71C69BAF86BC18AF0FF318534.png&quot; style=&quot;border: 0 !important; background: transparent;&quot;/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://ikhwansesat.blogspot.com/2010/05/pandawa-4-nakula.html</link><author>noreply@blogger.com (ikhwan sesat)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/_Y3TtUiG8Q90/S_RzYjYzCrI/AAAAAAAAACA/z2UzqS05oyg/s72-c/200px-Nakula.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4489513683570848493.post-8401944981400642642</guid><pubDate>Wed, 19 May 2010 23:11:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-05-20T06:22:59.000+07:00</atom:updated><title>Pandawa (3) - Arjuna</title><description>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;http://2.bp.blogspot.com/_Y3TtUiG8Q90/S_RyVgD1GWI/AAAAAAAAAB4/StCmBtszgFs/s1600/180px-Arjuna-kl.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 162px; height: 320px;&quot; src=&quot;http://2.bp.blogspot.com/_Y3TtUiG8Q90/S_RyVgD1GWI/AAAAAAAAAB4/StCmBtszgFs/s320/180px-Arjuna-kl.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5473125160870812002&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Arjuna (Sanskerta: अर्जुन; Arjuna) adalah nama seorang tokoh protagonis dalam wiracarita Mahabharata. Ia dikenal sebagai sang Pandawa yang menawan parasnya dan lemah lembut budinya. Ia adalah putra Prabu Pandudewanata, raja di Hastinapura dengan Dewi Kunti atau Dewi Prita, yaitu putri Prabu Surasena, Raja Wangsa Yadawa di Mandura. Arjuna merupakan teman dekat Kresna, yaitu awatara (penjelmaan) Bhatara Wisnu yang turun ke dunia demi menyelamatkan dunia dari kejahatan. Arjuna juga merupakan salah orang yang sempat menyaksikan &quot;wujud semesta&quot; Kresna menjelang Bharatayuddha berlangsung. Ia juga menerima Bhagawadgita atau &quot;Nyanyian Orang Suci&quot;, yaitu&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; wejangan suci yang disampaikan oleh Kresna kepadanya sesaat sebelum Bharatayuddha berlangsung karena Arjuna masih segan untuk menunaikan kewajibannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Arti Nama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa Sanskerta, secara harfiah kata Arjuna berarti &quot;bersinar terang&quot;, &quot;putih&quot; , &quot;bersih&quot;. Dilihat dari maknanya, kata Arjuna bisa berarti &quot;jujur di dalam wajah dan pikiran&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arjuna mendapat julukan &quot;Kurusre??ha&quot; yang berarti &quot;keturunan dinasti Kuru yang terbaik&quot;. Ia merupakan manusia pilihan yang mendapat kesempatan untuk mendapat wejangan suci yang sangat mulia dari Kresna, yang terkenal sebagai Bhagawadgita (nyanyian Tuhan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memiliki sepuluh nama: Arjuna, Phalguna, Jishnu, Kirti, Shwetawahana, Wibhatsu, Wijaya, Partha, Sawyashachi (juga disamakan dengan Sabyasachi), dan Dhananjaya. Ketika ia ditanya tentang sepuluh namanya sebagai bukti identitas, maka ia menjawab:&lt;br /&gt;“Sepuluh namaku adalah: Arjuna, Phalguna, Jishnu, Kirti, Shwetawahana, Wibhatsu, Wijaya, Partha, Sawyashachi dan Dhananjaya. Aku dipanggil Dhananjaya ketika aku menaklukkan seluruh raja pada saat Yadnya Rajasuya dan mengumpulkan harta mereka. Aku selalu bertarung sampai akhir dan aku selalu menang, itulah sebabnya aku dipanggil Wijaya. Kuda yang diberikan Dewa Agni kepadaku berwarna putih, itulah sebabnya aku dipanggil Shwetawahana. Ayahku Indra memberiku mahkota indah ketika aku bersamanya, itulah sebabnya aku dipanggil Kriti. Aku tidak pernah bertarung dengan curang dalam pertempuran, itulah sebabnya aku dipanggil Wibhatsu. Aku tidak pernah menakuti musuhku dengan keji, aku bisa menggunakan kedua tanganku ketika menembakkan anah panah, itulah sebabnya aku disebut Sawyashachi. Raut wajahku unik bagaikan pohon Arjun, dan namaku adalah &quot;yang tak pernah lapuk&quot;, itulah sebabnya aku dipanggil Arjuna. Aku lahir di lereng gunung Himawan, di sebuah tempat yang disebut Satsringa pada hari ketika bintang Uttara Phalguni berada di atas, itulah sebabnya aku disebut Phalguna. Aku disebut Jishnu karena aku menjadi hebat ketika marah. Ibuku bernama Pritha, sehingga aku disebut juga Partha. Aku bersumpah bahwa aku akan menghancurkan setiap orang yang melukai kakakku Yudistira dan menaburkan darahnya di bumi. Aku tak bisa ditaklukkan oleh siapa pun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Kelahiran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam Mahabharata diceritakan bahwa Raja Hastinapura yang bernama Pandu tidak bisa melanjutkan keturunan karena dikutuk oleh seorang resi. Kunti (istri pertamanya) menerima anugerah dari Resi Durwasa agar mampu memanggil Dewa-Dewa sesuai dengan keinginannya, dan juga dapat memperoleh anak dari Dewa tersebut. Pandu dan Kunti memanfaatkan anugerah tersebut kemudian memanggil Dewa Yama (Dharmaraja; Yamadipati), Dewa Bayu (Marut), dan Dewa Indra (Sakra) yang kemudian memberi mereka tiga putra. Arjuna merupakan putra ketiga, lahir dari Indra, pemimpin para Dewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Sifat dan Kepribadian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Arjuna memiliki karakter yang mulia, berjiwa kesatria, imannya kuat, tahan terhadap godaan duniawi, gagah berani, dan selalu berhasil merebut kejayaan sehingga diberi julukan &quot;Dananjaya&quot;. Musuh seperti apapun pasti akan ditaklukkannya, sehingga ia juga diberi julukan &quot;Parantapa&quot;, yang berarti penakluk musuh. Di antara semua keturunan Kuru di dalam silsilah Dinasti Kuru, ia dijuluki &quot;Kurunandana&quot;, yang artinya putra kesayangan Kuru. Ia juga memiliki nama lain &quot;Kuruprawira&quot;, yang berarti &quot;kesatria Dinasti Kuru yang terbaik&quot;, sedangkan arti harfiahnya adalah &quot;Perwira Kuru&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara para Pandawa, Arjuna merupakan kesatria pertapa yang paling teguh. Pertapaannya sangat khusyuk. Ketika ia mengheningkan cipta, menyatukan dan memusatkan pikirannya kepada Tuhan, segala gangguan dan godaan duniawi tak akan bisa menggoyahkan hati dan pikirannya. Maka dari itu, Sri Kresna sangat kagum padanya, karena ia merupakan kawan yang sangat dicintai Kresna sekaligus pemuja Tuhan yang sangat tulus. Sri Kresna pernah berkata padanya, &quot;Pusatkan pikiranmu pada-Ku, berbaktilah kepada-Ku, dan serahkanlah dirimu pada-Ku, maka kau akan datang kepada-Ku. Aku berkata demikian, karena kaulah kawan-Ku yang sangat Kucintai&quot;.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Masa Muda dan Pendidikan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Arjuna dididik bersama dengan saudara-saudaranya yang lain (para Pandawa dan Korawa) oleh Bagawan Drona. Kemahirannya dalam ilmu memanah sudah tampak semenjak kecil. Pada usia muda ia sudah mendapat gelar &quot;Maharathi&quot; atau &quot;kesatria terkemuka&quot;. Ketika Guru Drona meletakkan burung kayu pada pohon, ia menyuruh muridnya satu-persatu untuk membidik burung tersebut, kemudian ia menanyakan kepada muridnya apa saja yang sudah mereka lihat. Banyak muridnya yang menjawab bahwa mereka melihat pohon, cabang, ranting, dan segala sesuatu yang dekat dengan burung tersebut, termasuk burung itu sendiri. Ketika tiba giliran Arjuna untuk membidik, Guru Drona menanyakan apa yang ia lihat. Arjuna menjawab bahwa ia hanya melihat burung saja, tidak melihat benda yang lainnya. Hal itu membuat Guru Drona kagum bahwa Arjuna sudah pintar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, ketika Drona sedang mandi di sungai Gangga, seekor buaya datang mengigitnya. Drona dapat membebaskan dirinya dengan mudah, namun karena ia ingin menguji keberanian murid-muridnya, maka ia berteriak meminta tolong. Di antara murid-muridnya, hanya Arjuna yang datang memberi pertolongan. Dengan panahnya, ia membunuh buaya yang menggigit gurunya. Atas pengabdian Arjuna, Drona memberikan sebuah astra yang bernama &quot;Brahmasirsa&quot;. Drona juga mengajarkan kepada Arjuna tentang cara memanggil dan menarik astra tersebut. Menurut Mahabharata, Brahmasirsa hanya dapat ditujukan kepada dewa, raksasa, setan jahat, dan makhluk sakti yang berbuat jahat, agar dampaknya tidak berbahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Pusaka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Arjuna memiliki senjata sakti yang merupakan anugerah para dewata, hasil pertapaannya. Ia memiliki panah Pasupati yang digunakannya untuk mengalahkan Karna dalam Bharatayuddha. Busurnya bernama Gandiwa, pemberian Dewa Baruna ketika ia hendak membakar hutan Kandawa. Ia juga memiliki sebuah terompet kerang (sangkala) bernama Dewadatta, yang berarti &quot;anugerah Dewa&quot;.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Arjuna Mendapatkan Dropadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu ketika, Raja Drupada dari Kerajaan Panchala mengadakan sayembara untuk mendapatkan Dropadi, puterinya. Sebuah ikan kayu diletakkan di atas kubah balairung, dan di bawahnya terdapat kolam yang memantulkan bayangan ikan yang berada di atas. Kesatria yang berhasil memanah ikan tersebut dengan hanya melihat pantulannya di kolam, berhak mendapatkan Dropadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai kesatria mencoba melakukannya, namun tidak berhasil. Ketika Karna yang hadir pada saat itu ikut mencoba, ia berhasil memanah ikan tersebut dengan baik. Namun ia ditolak oleh Dropadi dengan alasan Karna lahir di kasta rendah. Arjuna bersama saudaranya yang lain menyamar sebagai Brahmana, turut serta menghadiri sayembara tersebut. Arjuna berhasil memanah ikan tepat sasaran dengan hanya melihat pantulan bayangannya di kolam, dan ia berhak mendapatkan Dropadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika para Pandawa pulang membawa Dropadi, mereka berkata, &quot;Ibu, engkau pasti tidak akan percaya dengan apa yang kami bawa!&quot;. Kunti (Ibu para Pandawa) yang sedang sibuk, menjawab &quot;Bagi dengan rata apa yang sudah kalian peroleh&quot;. Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Kunti, maka para Pandawa bersepakat untuk membagi Dropadi sebagai istri mereka. Mereka juga berjanji tidak akan mengganggu Dropadi ketika sedang bermesraan di kamar bersama dengan salah satu dari Pandawa. Hukuman dari perbuatan yang mengganggu adalah pembuangan selama 1 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Perjalanan Menjelajahi Bharatawarsha&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, ketika Pandawa sedang memerintah kerajaannya di Indraprastha, seorang pendeta masuk ke istana dan melapor bahwa pertapaannya diganggu oleh para raksasa. Arjuna yang merasa memiliki kewajiban untuk menolongnya, bergegas mengambil senjatanya. Namun senjata tersebut disimpan di sebuah kamar dimana Yudistira dan Dropadi sedang menikmati malam mereka. Demi kewajibannya, Arjuna rela masuk kamar mengambil senjata, tidak mempedulikan Yudistira dan Dropadi yang sedang bermesraan di kamar. Atas perbuatan tersebut, Arjuna dihukum untuk menjalani pembuangan selama 1 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arjuna menghabiskan masa pengasingannya dengan menjelajahi penjuru Bharatawarsha atau daratan India Kuno. Ketika sampai di sungai Gangga, Arjuna bertemu dengan Ulupi, puteri Naga Korawya dari istana naga atau Nagaloka. Arjuna terpikat dengan kecantikan Ulupi lalu menikah dengannya. Dari hasil perkawinannya, ia dikaruniai seorang putra yang diberi nama Irawan. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanannya menuju wilayah pegunungan Himalaya. Setelah mengunjungi sungai-sungai suci yang ada di sana, ia berbelok ke selatan. Ia sampai di sebuah negeri yang bernama Manipura. Raja negeri tersebut bernama Citrasena. Ia memiliki seorang puteri yang sangat cantik bernama Citranggada. Arjuna jatuh cinta kepada puteri tersebut dan hendak menikahinya, namun Citrasena mengajukan suatu syarat bahwa apabila puterinya tersebut melahirkan seorang putra, maka anak puterinya tersebut harus menjadi penerus tahta Manipura oleh karena Citrasena tidak memiliki seorang putra. Arjuna menyetujui syarat tersebut. Dari hasil perkawinannya, Arjuna dan Citranggada memiliki seorang putra yang diberi nama Babruwahana. Oleh karena Arjuna terikat dengan janjinya terdahulu, maka ia meninggalkan Citranggada setelah beberapa bulan tinggal di Manipura. Ia tidak mengajak istrinya pergi ke Hastinapura.\&lt;br /&gt;Setelah meninggalkan Manipura, ia meneruskan perjalanannya menuju arah selatan. Dia sampai di lautan yang mengapit Bharatawarsha di sebelah selatan, setelah itu ia berbelok ke utara. Ia berjalan di sepanjang pantai Bharatawarsha bagian barat. Dalam pengembaraannya, Arjuna sampai di pantai Prabasa (Prabasatirta) yang terletak di dekat Dwaraka, yang kini dikenal sebagai Gujarat. Di sana ia menyamar sebagai seorang pertapa untuk mendekati adik Kresna yang bernama Subadra, tanpa diketahui oleh siapa pun. Atas perhatian dari Baladewa, Arjuna mendapat tempat peristirahatan yang layak di taman Subadra. Meskipun rencana untuk membiarkan dua pemuda tersebut tinggal bersama ditentang oleh Kresna, namun Baladewa meyakinkan bahwa peristiwa buruk tidak akan terjadi. Arjuna tinggal selama beberapa bulan di Dwaraka, dan Subadra telah melayani semua kebutuhannya selama itu. Ketika saat yang tepat tiba, Arjuna menyatakan perasaan cintanya kepada Subadra. Pernyataan itu disambut oleh Subadra. Dengan kereta yang sudah disiapkan oleh Kresna, mereka pergi ke Indraprastha untuk melangsungkan pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baladewa marah setelah mendengar kabar bahwa Subadra telah kabur bersama Arjuna. Kresna meyakinkan bahwa Subadra pergi atas kemauannya sendiri, dan Subadra sendiri yang mengemudikan kereta menuju Indraprastha, bukan Arjuna. Kresna juga mengingatkan Baladewa bahwa dulu ia menolak untuk membiarkan kedua pasangan tersebut tinggal bersama, namun usulnya ditentang oleh Baladewa. Setelah Baladewa sadar, ia membuat keputusan untuk menyelenggarakan upacara pernikahan yang mewah bagi Arjuna dan Subadra di Indraprastha. Ia juga mengajak kaum Yadawa untuk turut hadir di pesta pernikahan Arjuna-Subadra. Setelah pesta pernikahan berlangsung, kaum Yadawa tinggal di Indraprastha selama beberapa hari, lalu pulang kembali ke Dwaraka, namun Kresna tidak turut serta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Terbakarnya Hutan Kandawa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu ketika, Arjuna dan Kresna berkemah di tepi sungai Yamuna. Di tepi hutan tersebut terdapat hutan lebat yang bernama Kandawa. Di sana mereka bertemu dengan Agni, Dewa Api. Agni berkata bahwa hutan Kandawa seharusnya telah musnah dilalap api, namun Dewa Indra selalu menurunkan hujannya untuk melindungi temannya yang bernama Taksaka, yang hidup di hutan tersebut. Maka, Agni memohon agar Kresna dan Arjuna bersedia membantunya menghancurkan hutan Kandawa. Kresna dan Arjuna bersedia membantu Agni, namun terlebih dahulu mereka meminta Agni agar menyediakan senjata kuat bagi mereka berdua untuk menghalau gangguan yang akan muncul. Kemudian Agni memanggil Baruna, Dewa Lautan. Baruna memberikan busur suci bernama Gandiwa serta tabung berisi anak panah dengan jumlah tak terbatas kepada Arjuna. Untuk Kresna, Baruna memberikan Cakra Sudarsana. Dengan senjata tersebut, mereka berdua menjaga agar Agni mampu melalap hutan Kandawa sampai habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Arjuna Dalam Masa Pembuangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setelah Yudistira kalah bermain dadu, para Pandawa beserta Dropadi mengasingkan diri ke hutan. Kesempatan tersebut dimanfa&#39;atkan oleh Arjuna untuk bertapa demi memperoleh kesaktian dalam peperangan melawan para sepupunya yang jahat. Arjuna memilih lokasi bertapa di gunung Indrakila. Dalam usahanya, ia diuji oleh tujuh bidadari yang dipimpin oleh Supraba, namun keteguhan hati Arjuna mampu melawan berbagai godaan yang diberikan oleh para bidadari. Para bidadari yang kesal kembali ke kahyangan, dan melaporkan kegagalan mereka kepada Dewa Indra. Setelah mendengarkan laporan para bidadari, Indra turun di tempat Arjuna bertapa sambil menyamar sebagai seorang pendeta. Dia bertanya kepada Arjuna, mengenai tujuannya melakukan tapa di gunung Indrakila. Arjuna menjawab bahwa ia bertapa demi memperoleh kekuatan untuk mengurangi penderitaan rakyat, serta untuk menaklukkan musuh-musuhnya, terutama para Korawa yang selalu bersikap jahat terhadap para Pandawa. Setelah mendengar penjelasan dari Arjuna, Indra menampakkan wujudnya yang sebenarnya. Dia memberikan anugerah kepada Arjuna berupa senjata sakti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendapat anugerah dari Indra, Arjuna memperkuat tapanya ke hadapan Siwa. Siwa yang terkesan dengan tapa Arjuna kemudian mengirimkan seekor babi hutan berukuran besar. Ia menyeruduk gunung Indrakila hingga bergetar. Hal tersebut membuat Arjuna terbangun dari tapanya. Karena ia melihat seekor babi hutan sedang mengganggu tapanya, maka ia segera melepaskan anak panahnya untuk membunuh babi tersebut. Di saat yang bersamaan, Siwa datang dan menyamar sebagai pemburu, turut melepaskan anak panah ke arah babi hutan yang dipanah oleh Arjuna. Karena kesaktian Sang Dewa, kedua anak panah yang menancap di tubuh babi hutan itu menjadi satu.&lt;br /&gt;Pertengkaran hebat terjadi antara Arjuna dan Siwa yang menyamar menjadi pemburu. Mereka sama-sama mengaku telah membunuh babi hutan siluman, namun hanya satu anak panah saja yang menancap, bukan dua. Maka dari itu, Arjuna berpikir bahwa si pemburu telah mengklaim sesuatu yang sebenarnya menjadi hak Arjuna. Setelah adu mulut, mereka berdua berkelahi. Saat Arjuna menujukan serangannya kepada si pemburu, tiba-tiba orang itu menghilang dan berubah menjadi Siwa. Arjuna meminta ma&#39;af kepada Sang Dewa karena ia telah berani melakukan tantangan. Siwa tidak marah kepada Arjuna, justru sebaliknya ia merasa kagum. Atas keberaniannya, Siwa memberi anugerah berupa panah sakti bernama &quot;Pasupati&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menerima anugerah tersebut, Arjuna dijemput oleh para penghuni kahyangan untuk menuju kediaman Indra, raja para dewa. Di sana Arjuna menghabiskan waktu selama beberapa tahun. Di sana pula Arjuna bertemu dengan bidadari Urwasi. Karena Arjuna tidak mau menikahi bidadari Urwasi, maka Urwasi mengutuk Arjuna agar menjadi banci. Kutukan itu dimanfaatkan oleh Arjuna pada saat para Pandawa menyelesaikan hukuman pembuangan mereka dalam hutan. Sesuai dengan perjanjian yang sah, Pandawa harus hidup dalam penyamaran selama satu tahun. Pandawa beserta Dropadi menuju ke kerajaan Wirata. Di sana Arjuna menyamar sebagai guru tari yang banci, dengan nama samaran Brihanala. Meskipun demikian, Arjuna telah berhasil membantu putra mahkota kerajaan Wirata, yaitu pangeran Utara, dengan menghalau musuh yang hendak menyerbu kerajaan Wirata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Meletusnya Perang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setelah menjalani masa pembuangan selama 13 tahun para Pandawa ingin memperoleh kembali kerajaannya. Namun ketika sampai di sana, hak mereka ditolak dengan tegas oleh Duryodana, bahkan ia menantang untuk berperang. Demi kerajaannya, para Pandawa menyetujui untuk melakukan perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Arjuna Menerima Bhagawadgita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kresna, adik Baladewa, tidak ingin terlibat langsung dalam peperangan antara Pandawa dan Korawa. Ia ingin salah satu pihak memilih tentaranya, sedangkan pihak yang lain memilihnya sebagai penasihat. Akhirnya, Duryodana memilih tentaranya, sedangkan Arjuna memilih Kresna sebagai kusir keretanya selama delapan belas hari pertarungan di Medan Kuru atau Kurukshetra. Dalam Mahabharata, peran Kresna sebagai kusir bermakna &quot;pemandu&quot; atau &quot;penunjuk jalan&quot;, yaitu memandu Arjuna melewati segala kebimbangan hatinya dan menunjukkan jalan kebenaran kepada Arjuna. Ajaran kebenaran yang diuraikan Kresna kepada Arjuna disebut Bhagawadgita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu bermula beberapa saat sebelum perang di Kurukshetra. Arjuna melakukan inspeksi terhadap pasukannya, agar ia bisa mengetahui siapa yang harus ia bunuh dalam pertempuran nanti. Tiba-tiba Arjuna dilanda pergolakan batin ketika ia melihat kakeknya, guru besarnya, saudara sepupu, teman sepermainan, ipar, dan kerabatnya yang lain berkumpul di Kurukshetra untuk melakukan pembantaian besar-besaran. Arjuna menjadi tak tega untuk membunuh mereka semua. Dilanda oleh masalah batin, antara mana yang benar dan mana yang salah, Arjuna bertekad untuk mengundurkan diri dari pertempuran. Arjuna berkata:&lt;br /&gt;“Kresna yang baik hati, setelah melihat kawan-kawan dan sanak keluarga di hadapan saya, dengan semangat untuk bertempur seperti itu, saya merasa anggota-anggota badan saya gemetar dan mulut saya terasa kering.....Kita akan dikuasai dosa jika membunuh penyerang seperti itu. Karena itu, tidak pantas kalau kita membunuh para putra Drestarastra dan kawan-kawan kita. O Kresna, suami Dewi Laksmi, apa keuntungannya bagi kita, dan bagaimana mungkin kita berbahagia dengan membunuh sanak keluarga kita sendiri?”&lt;br /&gt;Melihat hal itu, Kresna yang mengetahui dengan baik segala ajaran agama Hindu, menguraikan ajaran-ajaran kebenaran agar semua keraguan di hati Arjuna sirna. Kresna menjelaskan, mana yang benar dan mana yang salah, mana yang sepantasnya dilakukan Arjuna sebagai kewajibannya di medan perang. Selain itu Kresna menunjukkan bentuk semestanya kepada Arjuna. Ajaran kebenaran yang dijabarkan Kresna tersebut dikenal sebagai Bhagawadgita, yang berarti &quot;Nyanyian Tuhan&quot;. Kitab Bhagawad Gita yang sebenarnya merupakan suatu bagian dari Bhismaparwa, menjadi kitab tersendiri yang sangat terkenal dalam ajaran Hindu, karena dianggap merupakan intisari dari ajaran-ajaran Weda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Arjuna Dalam Bharatayuddha&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam pertempuran di Kurukshetra, atau Bharatayuddha, Arjuna bertarung dengan para kesatria hebat dari pihak Korawa, dan tidak jarang ia membunuh mereka, termasuk panglima besar pihak Korawa yaitu Bisma. Di awal pertempuran, Arjuna masih dibayangi oleh kasih sayang Bisma sehingga ia masih segan untuk membunuhnya. Hal itu membuat Kresna marah berkali-kali, dan Arjuna berjanji bahwa kelak ia akan mengakhiri nyawa Bisma. Pada pertempuran di hari kesepuluh, Arjuna berhasil membunuh Bisma, dan usaha tersebut dilakukan atas bantuan dari Srikandi. Setelah Abimanyu putra Arjuna gugur pada hari ketiga belas, Arjuna bertarung dengan Jayadrata untuk membalas dendam atas kematian putranya. Pertarungan antara Arjuna dan Jayadrata diakhiri menjelang senja hari, dengan bantuan dari Kresna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pertempuran di hari ketujuh belas, Arjuna terlibat dalam duel sengit melawan Karna. Ketika panah Karna melesat menuju kepala Arjuna, Kresna menekan kereta Arjuna ke dalam tanah dengan kekuatan saktinya sehingga panah Karna meleset beberapa inci dari kepala Arjuna. Saat Arjuna menyerang Karna kembali, kereta Karna terperosok ke dalam lubang (karena sebuah kutukan). Karna turun untuk mengangkat kembali keretanya yang terperosok. Salya, kusir keretanya, menolak untuk membantunya. Karena mematuhi etika peperangan, Arjuna menghentikan penyerangannya bila kereta Karna belum berhasil diangkat. Pada saat itulah Kresna mengingatkan Arjuna atas kematian Abimanyu, yang terbunuh dalam keadaan tanpa senjata dan tanpa kereta. Dilanda oleh pergolakan batin, Arjuna melepaskan panahnya yang mematikan ke kepala Karna. Senjata itu memenggal kepala Karna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Kehidupan Setelah Bharatayuddha&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tak lama setelah Bharatayuddha berakhir, Yudistira diangkat menjadi Raja Kuru dengan pusat pemerintahan di Hastinapura. Untuk menengakkan dharma di seluruh Bharatawarsha, sekaligus menaklukkan para raja kejam dengan pemerintahan tiran, maka Yudistira menyelenggarakan Aswamedha Yadnya. Upacara tersebut dilakukan dengan melepaskan seekor kuda dan kuda itu diikuti oleh Arjuna beserta para prajurit. Daerah yang dilalui oleh kuda tersebut menjadi wilayah Kerajaan Kuru. Ketika Arjuna sampai di Manipura, ia bertemu dengan Babruwahana, putra Arjuna yang tidak pernah melihat wajah ayahnya semenjak kecil. Babruwahana bertarung dengan Arjuna, dan berhasil membunuhnya. Ketika Babruwahana mengetahui hal yang sebenarnya, ia sangat menyesal. Atas bantuan Ulupi dari negeri Naga, Arjuna hidup kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga puluh enam tahun setelah Bharatayuddha berakhir, Dinasti Yadu musnah di Prabhasatirtha karena perang saudara. Kresna dan Baladewa, yang konon merupakan kesatria paling sakti dalam dinasti tersebut, ikut tewas namun tidak dalam waktu yang bersamaan. Setelah berita kehancuran itu disampaikan oleh Daruka, Arjuna datang ke kerajaan Dwaraka untuk menjemput para wanita dan anak-anak. Sesampainya di Dwaraka, Arjuna melihat bahwa kota gemerlap tersebut telah sepi. Basudewa yang masih hidup, tampak terkulai lemas dan kemudian wafat di mata Arjuna. Sesuai dengan amanat yang ditinggalkan Kresna, Arjuna mengajak para wanita dan anak-anak untuk mengungsi ke Kurukshetra. Dalam perjalanan, mereka diserang oleh segerombolan perampok. Arjuna berusaha untuk menghalau serbuan tersebut, namun kekuatannya menghilang pada saat ia sangat membutuhkannya. Dengan sedikit pengungsi dan sisa harta yang masih bisa diselamatkan, Arjuna menyebar mereka di wilayah Kurukshetra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Arjuna berhasil menjalankan misinya untuk menyelamatkan sisa penghuni Dwaraka, ia pergi menemui Resi Byasa demi memperoleh petunjuk. Arjuna mengadu kepada Byasa bahwa kekuatannya menghilang pada saat ia sangat membutuhkannya. Byasa yang bijaksana sadar bahwa itu semua adalah takdir Yang Maha Kuasa. Byasa menyarankan bahwa sudah selayaknya para Pandawa meninggalkan kehidupan duniawi. Setelah mendapat nasihat dari Byasa, para Pandawa spakat untuk melakukan perjalanan suci menjelajahi Bharatawarsha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Perjalanan Suci dan Kematian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan suci yang dilakukan oleh para Pandawa diceritakan dalam kitab Prasthanikaparwa atau Mahaprasthanikaparwa. Dalam perjalanan sucinya, para Pandawa dihadang oleh api yang sangat besar, yaitu Agni. Ia meminta Arjuna agar senjata Gandiwa beserta tabung anak panahnya yang tak pernah habis dikembalikan kepada Baruna, sebab tugas Nara sebagai Arjuna sudah berakhir di zaman Dwaparayuga tersebut. Dengan berat hati, Arjuna melemparkan senjata saktinya ke lautan, ke kediaman Baruna. Setelah itu, Agni lenyap dari hadapannya dan para Pandawa melanjutkan perjalanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika para Pandawa serta istrinya memilih untuk mendaki gunung Himalaya sebagai tujuan akhir perjalanan mereka, Arjuna gugur di tengah perjalanan setelah kematian Nakula, Sahadewa, dan Dropadi.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Arjuna di Nusantara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di Nusantara, tokoh Arjuna juga dikenal dan sudah terkenal dari dahulu kala. Arjuna terutama menjadi populer di daerah Jawa, Bali, Madura, dan Lombok. Di Jawa dan kemudian di Bali, Arjuna menjadi tokoh utama dalam beberapa kakawin, seperti misalnya Kakawin Arjunawiwaha, Kakawin Parthayajña, dan Kakawin Parthayana (juga dikenal dengan nama Kakawin Subhadrawiwaha. Selain itu Arjuna juga didapatkan dalam beberapa relief candi di pulau Jawa misalkan candi Surowono.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Arjuna Dalam Dunia Pewayangan Jawa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Arjuna juga merupakan seorang tokoh ternama dalam dunia pewayangan dalam budaya Jawa Baru. Di bawah ini disajikan beberapa ciri khas yang mungkin berbeda dengan ciri khas Arjuna dalam kitab Mahabharata versi India dengan bahasa Sansekerta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Sifat dan Kepribadian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Arjuna seorang kesatria yang gemar berkelana, bertapa dan berguru menuntut ilmu. Selain menjadi murid Resi Drona di Padepokan Sukalima, ia juga menjadi murid Resi Padmanaba dari Pertapaan Untarayana. Arjuna pernah menjadi brahmana di Goa Mintaraga, bergelar Bagawan Ciptaning. Ia dijadikan kesatria unggulan para dewa untuk membinasakan Prabu Niwatakawaca, raja raksasa dari negara Manimantaka. Atas jasanya itu, Arjuna dinobatkan sebagai raja di Kahyangan Dewa Indra, bergelar Prabu Karitin. dan mendapat anugrah pusaka-pusaka sakti dari para dewa, antara lain: Gendewa (dari Bhatara Indra), Panah Ardadadali (dari Bhatara Kuwera), Panah Cundamanik (dari Bhatara Narada).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arjuna memiliki sifat cerdik dan pandai, pendiam, teliti, sopan-santun, berani dan suka melindungi yang lemah. Ia memimpin Kadipaten Madukara, dalam wilayah negara Amarta. Setelah perang Bharatayuddha, Arjuna menjadi raja di Negara Banakeling, bekas kerajaan Jayadrata. Akhir riwayat Arjuna diceritakan, ia moksa (mati sempurna) bersama keempat saudaranya yang lain di gunung Himalaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia adalah petarung tanpa tanding di medan laga, meski bertubuh ramping berparas rupawan sebagaimana seorang dara, berhati lembut meski berkemauan baja, kesatria dengan segudang istri dan kekasih meski mampu melakukan tapa yang paling berat, seorang kesatria dengan kesetiaan terhadap keluarga yang mendalam tapi kemudian mampu memaksa dirinya sendiri untuk membunuh saudara tirinya. Bagi generasi tua Jawa, dia adalah perwujudan lelaki seutuhnya. Sangat berbeda dengan Yudistira, dia sangat menikmati hidup di dunia. Petualangan cintanya senantiasa memukau orang Jawa, tetapi secara aneh dia sepenuhnya berbeda dengan Don Juan yang selalu mengejar wanita. Konon Arjuna begitu halus dan tampan sosoknya sehingga para puteri begitu, juga para dayang, akan segera menawarkan diri mereka. Merekalah yang mendapat kehormatan, bukan Arjuna. Ia sangat berbeda dengan Wrekudara. Dia menampilkan keanggunan tubuh dan kelembutan hati yang begitu dihargai oleh orang Jawa berbagai generasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Pusaka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Arjuna juga memiliki pusaka-pusaka sakti lainnya, atara lain: Keris Kiai Kalanadah diberikan pada Gatotkaca saat mempersunting Dewi Pergiwa (putra Arjuna), Panah Sangkali (dari Resi Drona), Panah Candranila, Panah Sirsha, Panah Kiai Sarotama, Panah Pasupati, Panah Naracabala, Panah Ardhadhedhali, Keris Kiai Baruna, Keris Pulanggeni (diberikan pada Abimanyu), Terompet Dewanata, Cupu berisi minyak Jayengkaton (pemberian Bagawan Wilawuk dari pertapaan Pringcendani) dan Kuda Ciptawilaha dengan Cambuk Kiai Pamuk. Sedangkan ajian yang dimiliki Arjuna antara lain: Panglimunan, Tunggengmaya, Sepiangin, Mayabumi, Pengasih dan Asmaragama. Arjuna juga memiliki pakaian yang melambangkan kebesaran, yaitu Kampuh atau Kain Limarsawo, Ikat Pinggang Limarkatanggi, Gelung Minangkara, Kalung Candrakanta dan Cincin Mustika Ampal (dahulunya milik Prabu Ekalaya, raja negara Paranggelung).&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Istri dan Keturunan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam Mahabharata versi pewayangan Jawa, Arjuna mempunyai banyak sekali istri,itu semua sebagai simbol penghargaan atas jasanya ataupun atas keuletannya yang sekaku berguru kepada banyak pertapa. Berikut sebagian kecil istri dan anak-anaknya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Dewi Subadra, berputra Raden Abimanyu;&lt;br /&gt;   2. Dewi Sulastri, berputra Raden Sumitra;&lt;br /&gt;   3. Dewi Larasati, berputra Raden Bratalaras;&lt;br /&gt;   4. Dewi Ulupi atau Palupi, berputra Bambang Irawan;&lt;br /&gt;   5. Dewi Jimambang, berputra Kumaladewa dan Kumalasakti;&lt;br /&gt;   6. Dewi Ratri, berputra Bambang Wijanarka;&lt;br /&gt;   7. Dewi Dresanala, berputra Raden Wisanggeni;&lt;br /&gt;   8. Dewi Wilutama, berputra Bambang Wilugangga;&lt;br /&gt;   9. Dewi Manuhara, berputra Endang Pregiwa dan Endang Pregiwati;&lt;br /&gt;  10. Dewi Supraba, berputra Raden Prabakusuma;&lt;br /&gt;  11. Dewi Antakawulan, berputra Bambang Antakadewa;&lt;br /&gt;  12. Dewi Juwitaningrat, berputra Bambang Sumbada;&lt;br /&gt;  13. Dewi Maheswara;&lt;br /&gt;  14. Dewi Retno Kasimpar;&lt;br /&gt;  15. Dewi Dyah Sarimaya;&lt;br /&gt;  16. Dewi Srikandi.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Julukan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam wiracarita Mahabharata versi nusantara, Arjuna banyak memiliki nama dan nama julukan, antara lain: Parta (pahlawan perang), Janaka (memiliki banyak istri), Pemadi (tampan), Dananjaya, Kumbaljali, Ciptaning Mintaraga (pendeta suci), Pandusiwi, Indratanaya (putra Batara Indra), Jahnawi (gesit trengginas), Palguna, Indrasuta, Danasmara (perayu ulung) dan Margana (suka menolong). &quot;Begawan Mintaraga&quot; adalah nama yang digunakan oleh Arjuna saat menjalani laku tapa di puncak Indrakila dalam rangka memperoleh senjata sakti dari dewata, yang akan digunakan dalam perang yang tak terhindarkan melawan musuh-musuhnya, yaitu keluarga Korawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Nama Lain&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Nama lain Arjuna di bawah ini merupakan nama lain Arjuna yang sering muncul dalam kitab-kitab Mahabharata atau Bhagawad Gita yang merupakan bagian daripadanya, dalam versi bahasa Sanskerta. Nama-nama lain di bawah ini memiliki makna yang sangat dalam, mengandung pujian, dan untuk menyatakan rasa kekeluargaan (nama-nama yang dicetak tebal dan miring merupakan sepuluh nama Arjuna).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Anagha (Anaga, yang tak berdosa)&lt;br /&gt;   2. Bharata (Barata, keturunan Bharata)&lt;br /&gt;   3. Bharatasre??ha (Barata-sresta, keturunan Bharata yang terbaik)&lt;br /&gt;   4. Bharatasattama (Bharata-satama, keturunan Bharata yang utama)&lt;br /&gt;   5. Bharatasabha (Barata-saba, keturunan Bharata yang mulia)&lt;br /&gt;   6. Dhanañjaya (perebut kekayaan)*&lt;br /&gt;   7. Gandivi (Gandiwi, pemilik Gandiwa, senjata panahnya)&lt;br /&gt;   8. Gudakesa (penakluk rasa kantuk, yang berambut halus)&lt;br /&gt;   9. Jishnu (hebat ketika marah)*&lt;br /&gt;  10. Kapidhwaja (yang memakai panji berlambang monyet)&lt;br /&gt;  11. Kaunteya / Kuntiputra (putra Dewi Kunti)&lt;br /&gt;  12. Kirti (yang bermahkota indah)*&lt;br /&gt;  13. Kurunandana (putra kesayangan dinasti Kuru)&lt;br /&gt;  14. Kurupravira (Kuru-prawira, perwira Kuru, ksatria dinasti Kuru yang terbaik)&lt;br /&gt;  15. Kurusattama (Kuru-satama, keturunan dinasti Kuru yang utama)&lt;br /&gt;  16. Kurus???ha (Kuru-sresta, keturunan dinasti Kuru yang terbaik)&lt;br /&gt;  17. Mahabahu (Maha-bahu, yang berlengan perkasa)&lt;br /&gt;  18. Pa??ava (Pandawa, putra Pandu)&lt;br /&gt;  19. Parantapa (penakluk musuh)*&lt;br /&gt;  20. Partha (keturunan Partha atau Dewi Kunti)*&lt;br /&gt;  21. Phalguna (yang lahir saat bintang Uttara Phalguna muncul)*&lt;br /&gt;  22. Puru?a??abha (Purusa-rsaba, manusia terbaik)&lt;br /&gt;  23. Sawyasachi (Sawya-saci, yang mampu memanah dengan tangan kanan maupun kiri)*&lt;br /&gt;  24. Swetawahana (Sweta-wahana, yang memiliki kuda berwarna putih)*&lt;br /&gt;  25. Wibhatsu (yang bertarung dengan jujur)*&lt;br /&gt;  26. Wijaya (yang selalu memenangkan setiap pertempuran)*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;http://www.mylivesignature.com&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://signatures.mylivesignature.com/54488/128/CF081EB71C69BAF86BC18AF0FF318534.png&quot; style=&quot;border: 0 !important; background: transparent;&quot;/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://ikhwansesat.blogspot.com/2010/05/pandawa-3-arjuna.html</link><author>noreply@blogger.com (ikhwan sesat)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://2.bp.blogspot.com/_Y3TtUiG8Q90/S_RyVgD1GWI/AAAAAAAAAB4/StCmBtszgFs/s72-c/180px-Arjuna-kl.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4489513683570848493.post-7614031449961320869</guid><pubDate>Tue, 18 May 2010 23:04:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-05-19T06:10:02.109+07:00</atom:updated><title>Pandawa (2) - Bima</title><description>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;http://1.bp.blogspot.com/_Y3TtUiG8Q90/S_Mdn-KcCOI/AAAAAAAAABw/xvFzf0juJYI/s1600/240px-Bima-kl.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 315px;&quot; src=&quot;http://1.bp.blogspot.com/_Y3TtUiG8Q90/S_Mdn-KcCOI/AAAAAAAAABw/xvFzf0juJYI/s320/240px-Bima-kl.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5472750544724166882&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bima (Sanskerta: भीम, bhīma) atau Bimasena (Sanskerta: भीमसेन, bhīmaséna) adalah seorang tokoh protagonis dalam wiracarita Mahabharata. Ia dianggap sebagai seorang tokoh heroik. Ia adalah putra Dewi Kunti dan dikenal sebagai tokoh Pandawa yang kuat, bersifat selalu kasar dan menakutkan bagi musuh, walaupun sebenarnya hatinya lembut. Ia merupakan keluarga Pandawa di urutan yang kedua, dari lima bersaudara. Saudara se&#39;ayah&#39;-nya ialah wanara yang terkenal dalam epos Ramayana dan sering dipanggil dengan nama Hanoman. Akhir dari riwayat Bima diceritakan bahwa dia mati sempurna (moksa) bersama ke empat saudaranya setelah akhir perang Bharatayuddha. Cerita ini dikisahkan dalam episode atau lakon Prasthanikaparwa. Bima setia pada satu sikap, yaitu&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; tidak suka berbasa basi dan tak pernah bersikap mendua serta tidak pernah menjilat ludahnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Arti Nama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kata bhīma dalam bahasa Sanskerta artinya kurang lebih adalah &quot;mengerikan&quot;. Sedangkan nama lain Bima yaitu Wrekodara, dalam bahasa Sanskerta dieja vṛ(ri)kodara, artinya ialah &quot;perut serigala&quot;, dan merujuk ke kegemarannya makan. Nama julukan yang lain adalah Bhimasena yang berarti panglima perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Kelahiran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam wiracarita Mahabharata diceritakan bahwa karena Pandu tidak dapat membuat keturunan (akibat kutukan dari seorang resi di hutan), maka Kunti (istri Pandu) berseru kepada Bayu, dewa angin. Dari hubungan Kunti dengan Bayu, lahirlah Bima. Atas anugerah dari Bayu, Bima akan menjadi orang yang paling kuat dan penuh dengan kasih sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Masa Muda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada masa kanak-kanak Pandawa dan Korawa, kekuatan Bima tidak ada tandingannya di antara anak-anak sebayanya. Kekuatan tersebut sering dipakai untuk menjahili para sepupunya, yaitu Korawa. Salah satu Korawa yaitu Duryodana, menjadi sangat benci dengan sikap Bima yang selalu jahil. Kebencian tersebut tumbuh subur sehingga Duryodana berniat untuk membunuh Bima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari ketika para Korawa serta Pandawa pergi bertamasya di daerah sungai Gangga, Duryodana menyuguhkan makanan dan minuman kepada Bima, yang sebelumnya telah dicampur dengan racun. Karena Bima tidak senang mencurigai seseorang, ia memakan makanan yang diberikan oleh Duryodana. Tak lama kemudian, Bima pingsan. Lalu tubuhnya diikat kuat-kuat oleh Duryodana dengan menggunakan tanaman menjalar, setelah itu dihanyutkan ke sungai Gangga dengan rakit. Saat rakit yang membawa Bima sampai di tengah sungai, ular-ular yang hidup di sekitar sungai tersebut mematuk badan Bima. Ajaibnya, bisa ular tersebut berubah menjadi penangkal bagi racun yang dimakan Bima. Ketika sadar, Bima langsung melepaskan ikatan tanaman menjalar yang melilit tubuhnya, lalu ia membunuh ular-ular yang menggigit badannya. Beberapa ular menyelamatkan diri untuk menemui rajanya, yaitu Naga Basuki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Naga Basuki mendengar kabar bahwa putera Pandu yang bernama Bima telah membunuh anak buahnya, ia segera menyambut Bima dan memberinya minuman ilahi. Minuman tersebut diminum beberapa mangkuk oleh Bima, sehingga tubuhnya menjadi sangat kuat. Bima tinggal di istana Naga Basuki selama delapan hari, dan setelah itu ia pulang. Saat Bima pulang, Duryodana kesal karena orang yang dibencinya masih hidup. Ketika para [Pandawa] menyadari bahwa kebencian dalam hati Duryodana mulai bertunas, mereka mulai berhati-hati.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada usia remaja, Bima dan saudara-saudaranya dididik dan dilatih dalam bidang militer oleh Drona. Dalam mempelajari senjata, Bima lebih memusatkan perhatiannya untuk menguasai ilmu menggunakan gada, seperti Duryodana. Mereka berdua menjadi murid Baladewa, yaitu saudara Kresna yang sangat mahir dalam menggunakan senjata gada. Dibandingkan dengan Bima, Baladewa lebih menyayangi Duryodana, dan Duryodana juga setia kepada Baladewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Peristiwa di Waranawata&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ketika Bima beserta ibu dan saudara-saudaranya berlibur di Waranawata, ia dan Yudistira sadar bahwa rumah penginapan yang disediakan untuk mereka, telah dirancang untuk membunuh mereka serta ibu mereka. Pesuruh Duryodana, yaitu Purocana, telah membangun rumah tersebut sedemikian rupa dengan bahan seperti lilin sehingga cepat terbakar. Bima hendak segera pergi, namun atas saran Yudistira mereka tinggal di sana selama beberapa bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu malam, Kunti mengadakan pesta dan seorang wanita yang dekat dengan Purocana turut hadir di pesta itu bersama dengan kelima orang puteranya. Ketika Purocana beserta wanita dan kelima anaknya tersebut tertidur lelap karena makanan yang disuguhkan oleh Kunti, Bima segera menyuruh agar ibu dan saudara-saudaranya melarikan diri dengan melewati terowongan yang telah dibuat sebelumnya. Kemudian, Bima mulai membakar rumah lilin yang ditinggalkan mereka. Oleh karena ibu dan saudara-saudaranya merasa mengantuk dan lelah, Bima membawa mereka sekaligus dengan kekuatannya yang dahsyat. Kunti digendong di punggungnya, Nakula dan Sadewa berada di pahanya, sedangkan Yudistira dan Arjuna berada di lengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika keluar dari ujung terowongan, Bima dan saudaranya tiba di sungai Gangga. Di sana mereka diantar menyeberangi sungai oleh pesuruh Widura, yaitu menteri Hastinapura yang mengkhwatirkan keadaan mereka. Setelah menyeberangi sungai Gangga, mereka melewati Sidawata sampai Hidimbawana. Dalam perjalanan tersebut, Bima memikul semua saudaranya dan ibunya melewati jarak kurang lebih tujuh puluh dua mil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Peristiwa di Hidimbawana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di Hidimbawana, Bima bertemu dengan Hidimbi/Arimbi yang jatuh cinta dengannya. Kakak Hidimbi yang bernama Hidimba, menjadi marah karena Hidimbi telah jatuh cinta dengan seseorang yang seharusnya menjadi santapan mereka. Kemudian Bima dan Hidimba berkelahi. Dalam perkelahian tersebut, Bima memenangkan pertarungan dan berhasil membunuh Hidimba dengan tangannya sendiri. Lalu, Bima menikah dengan Hidimbi. Dari perkawinan mereka, lahirlah seorang putera yang diberi nama Gatotkaca. Bima dan keluarganya tinggal selama beberapa bulan bersama dengan Hidimbi dan Gatotkaca, setelah itu mereka melanjutkan perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Pembunuh Raksasa Baka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setelah melewati Hidimbawana, Bima dan saudara-saudaranya beserta ibunya tiba disebuah kota yang bernama Ekacakra. Di sana mereka menumpang di rumah keluarga brahmana. Pada suatu hari ketika Bima dan ibunya sedang sendiri, sementara keempat Pandawa lainnya pergi mengemis, brahmana pemilik rumah memberitahu mereka bahwa seorang raksasa yang bernama Bakasura meneror kota Ekacakra. Atas permohonan penduduk desa, raksasa tersebut berhenti mengganggu kota, namun sebaliknya seluruh penduduk kota diharuskan untuk mempersembahkan makanan yang enak serta seorang manusia setiap minggunya. Kini, keluarga brahmana yang menyediakan tempat tinggal bagi mereka yang mendapat giliran untuk mempersembahkan salah seorang keluarganya. Merasa berhutang budi dengan kebaikan hati keluarga brahmana tersebut, Kunti berkata bahwa ia akan menyerahkan Bima yang nantinya akan membunuh raksasa Baka. Mulanya Yudistira sangsi, namun akhirnya ia setuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari yang telah ditentukan, Bima membawa segerobak makanan ke gua Bakasura. Di sana ia menghabiskan makanan yang seharusnya dipersembahkan kepada sang raksasa. Setelah itu, Bima memanggil-manggil raksasa tersebut untuk berduel dengannya. Bakasura yang merasa dihina, marah lalu menerjang Bima. Seketika terjadilah pertarungan sengit. Setelah pertempuran berlangsung lama, Bima meremukkan tubuh Bakasura seperti memotong sebatang tebu. Lalu ia menyeret tubuh Bakasura sampai di pintu gerbang Ekacakra. Atas pertolongan dari Bima, kota Ekacakra tenang kembali. Ia tinggal di sana selama beberapa lama, sampai akhirnya Pandawa memutuskan untuk pergi ke Kampilya, ibukota Kerajaan Panchala, karena mendengar cerita mengenai Dropadi dari seorang brahmana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Bima dalam Bharatayuddha&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam perang di Kurukshetra, Bima berperan sebagai komandan tentara Pandawa. Ia berperang dengan menggunakan senjata gadanya yang sangat mengerikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari terakhir Bharatayuddha, Bima berkelahi melawan Duryodana dengan menggunakan senjata gada. Pertarungan berlangsung dengan sengit dan lama, sampai akhirnya Kresna mengingatkan Bima bahwa ia telah bersumpah akan mematahkan paha Duryodana. Seketika Bima mengayunkan gadanya ke arah paha Duryodana. Setelah pahanya diremukkan, Duryodana jatuh ke tanah, dan beberapa lama kemudian ia mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Bima dalam Pewayangan Jawa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bima adalah seorang tokoh yang populer dalam khazanah pewayangan Jawa. Suatu saat mantan presiden Indonesia, Ir. Soekarno pernah menyatakan bahwa ia sangat senang dan mengidentifikasikan dirinya mirip dengan karakter Bima.&lt;br /&gt;*Sifat&lt;br /&gt;Bima memiliki sifat gagah berani, teguh, kuat, tabah, patuh dan jujur, serta menganggap semua orang sama derajatnya, sehingga dia digambarkan tidak pernah menggunakan bahasa halus (krama inggil) atau pun duduk di depan lawan bicaranya. Bima melakukan kedua hal ini (bicara dengan bahasa krama inggil dan duduk) hanya ketika menjadi seorang resi dalam lakon Bima Suci, dan ketika dia bertemu dengan Dewa Ruci. Ia memiliki keistimewaan dan ahli bermain gada, serta memiliki berbagai macam senjata, antara lain: Kuku Pancanaka, Gada Rujakpala, Alugara, Bargawa (kapak besar) dan Bargawasta. Sedangkan jenis ajian yang dimilikinya antara lain: Aji Bandungbandawasa, Aji Ketuklindu, Aji Bayubraja dan Aji Blabak Pangantol-antol.&lt;br /&gt;Bima juga memiliki pakaian yang melambangkan kebesaran, yaitu: Gelung Pudaksategal, Pupuk Jarot Asem, Sumping Surengpati, Kelatbahu Candrakirana, ikat pinggang Nagabanda dan Celana Cinde Udaraga. Sedangkan beberapa anugerah Dewata yang diterimanya antara lain: Kampuh atau Kain Poleng Bintuluaji, Gelang Candrakirana, Kalung Nagasasra, Sumping Surengpati dan Pupuk Pudak Jarot Asem.&lt;br /&gt;*Istri dan keturunan&lt;br /&gt;Bima tinggal di kadipaten Jodipati, wilayah Indraprastha. Ia mempunyai tiga orang isteri dan 3 orang anak, yaitu:&lt;br /&gt;   1. Dewi Nagagini, berputera (mempunyai putera bernama) Arya Anantareja,&lt;br /&gt;   2. Dewi Arimbi, berputera Raden Gatotkaca dan&lt;br /&gt;   3. Dewi Urangayu, berputera Arya Anantasena.&lt;br /&gt;Menurut versi Banyumas, Bima mempunyai satu istri lagi, yaitu Dewi Rekatawati, berputera Srenggini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Nama lain&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;    * Bratasena&lt;br /&gt;    * Balawa&lt;br /&gt;    * Birawa&lt;br /&gt;    * Dandungwacana&lt;br /&gt;    * Nagata&lt;br /&gt;    * Kusumayuda&lt;br /&gt;    * Kowara&lt;br /&gt;    * Kusumadilaga&lt;br /&gt;    * Pandusiwi&lt;br /&gt;    * Bayusuta&lt;br /&gt;    * Sena&lt;br /&gt;    * Wijasena&lt;br /&gt;    * Jagal Abilowo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;http://www.mylivesignature.com&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://signatures.mylivesignature.com/54488/128/CF081EB71C69BAF86BC18AF0FF318534.png&quot; style=&quot;border: 0 !important; background: transparent;&quot;/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://ikhwansesat.blogspot.com/2010/05/pandawa-2-bima.html</link><author>noreply@blogger.com (ikhwan sesat)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/_Y3TtUiG8Q90/S_Mdn-KcCOI/AAAAAAAAABw/xvFzf0juJYI/s72-c/240px-Bima-kl.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4489513683570848493.post-786757670848555838</guid><pubDate>Tue, 18 May 2010 22:37:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-05-19T05:57:16.921+07:00</atom:updated><title>Pandawa (1)  - Yudistira</title><description>&lt;a onblur=&quot;try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}&quot; href=&quot;http://3.bp.blogspot.com/_Y3TtUiG8Q90/S_MXVV0EGkI/AAAAAAAAABo/EZYuGijZTdI/s1600/275px-Yudistira-kl.jpg&quot;&gt;&lt;img style=&quot;float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 178px; height: 320px;&quot; src=&quot;http://3.bp.blogspot.com/_Y3TtUiG8Q90/S_MXVV0EGkI/AAAAAAAAABo/EZYuGijZTdI/s320/275px-Yudistira-kl.jpg&quot; border=&quot;0&quot; alt=&quot;&quot;id=&quot;BLOGGER_PHOTO_ID_5472743627585493570&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Yudistira (Sanskerta: युधिष्ठिर; Yudhiṣṭhira) alias Dharmawangsa, adalah salah satu tokoh protagonis dalam wiracarita Mahabharata. Ia merupakan seorang raja yang memerintah kerajaan Kuru, dengan pusat pemerintahan di Hastinapura. Ia merupakan yang tertua di antara lima Pandawa, atau para putera Pandu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tradisi pewayangan, Yudistira diberi gelar &quot;Prabu&quot; dan memiliki julukan Puntadewa, sedangkan kerajaannya disebut dengan nama Kerajaan Amarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Arti nama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Nama Yudistira dalam bahasa Sanskerta bermakna&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; &quot;teguh atau kokoh dalam peperangan&quot;. Ia juga dikenal dengan sebutan Dharmaraja, yang bermakna &quot;raja Dharma&quot;, karena ia selalu berusaha menegakkan dharma sepanjang hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa julukan lain yang dimiliki Yudhisthira adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Ajataśatru, &quot;yang tidak memiliki musuh&quot;.&lt;br /&gt;    * Bhārata, &quot;keturunan Maharaja Bharata&quot;.&lt;br /&gt;    * Dharmawangsa atau Dharmaputra, &quot;keturunan Dewa Dharma&quot;.&lt;br /&gt;    * Kurumukhya, &quot;pemuka bangsa Kuru&quot;.&lt;br /&gt;    * Kurunandana, &quot;kesayangan Dinasti Kuru&quot;.&lt;br /&gt;    * Kurupati, &quot;raja Dinasti Kuru&quot;.&lt;br /&gt;    * Pandawa, &quot;putera Pandu&quot;.&lt;br /&gt;    * Partha, &quot;putera Prita atau Kunti&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa di antara nama-nama di atas juga dipakai oleh tokoh-tokoh Dinasti Kuru lainnya, misalnya Arjuna, Bisma, dan Duryodana. Selain nama-nama di atas, dalam versi pewayangan Jawa masih terdapat beberapa nama atau julukan yang lain lagi untuk Yudistira, misalnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Puntadewa, &quot;derajat keluhurannya setara para dewa&quot;.&lt;br /&gt;    * Yudistira, &quot;pandai memerangi nafsu pribadi&quot;.&lt;br /&gt;    * Gunatalikrama, &quot;pandai bertutur bahasa&quot;.&lt;br /&gt;    * Samiaji, &quot;menghormati orang lain bagai diri sendiri&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Sifat dan kesaktian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sifat-sifat Yudistira tercermin dalam nama-nama julukannya, sebagaimana telah disebutkan di atas. Sifatnya yang paling menonjol adalah adil, sabar, jujur, taat terhadap ajaran agama, penuh percaya diri, dan berani berspekulasi. Kesaktian Yudistira dalam Mahabharata terutama dalam hal memainkan senjata tombak. Sementara itu, versi pewayangan Jawa lebih menekankan pada kesaktian batin, misalnya ia pernah dikisahkan menjinakkan hewan-hewan buas di hutan Wanamarta dengan hanya meraba kepala mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yudistira dalam pewayangan beberapa pusaka, antara lain Jamus Kalimasada, Tunggulnaga, dan Robyong Mustikawarih. Kalimasada berupa kitab, sedangkan Tunggulnaga berupa payung. Keduanya menjadi pusaka utama kerajaan Amarta. Sementara itu, Robyong Mustikawarih berwujud kalung yang terdapat di dalam kulit Yudistira. Pusaka ini adalah pemberian Gandamana, yaitu patih kerajaan Hastina pada zaman pemerintahan Pandu. Apabila kesabaran Yudistira sampai pada batasnya, ia pun meraba kalung tersebut dan seketika itu pula ia pun berubah menjadi raksasa besar berkulit putih bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Kelahiran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Yudistira adalah putera tertua pasangan Pandu dan Kunti. Kitab Mahabharata bagian pertama atau Adiparwa mengisahkan tentang kutukan yang dialami Pandu setelah membunuh brahmana bernama Resi Kindama tanpa sengaja. Brahmana itu terkena panah Pandu ketika ia dan istrinya sedang bersanggama dalam wujud sepasang rusa. Menjelang ajalnya tiba, Resi Kindama sempat mengutuk Pandu bahwa kelak ia akan mati ketika mengawini istrinya. Dengan penuh penyesalan, Pandu meninggalkan tahta Hastinapura dan memulai hidup sebagai pertapa di hutan demi untuk mengurangi hawa nafsu. Kedua istrinya, yaitu Kunti dan Madri dengan setia mengikutinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, Pandu mengutarakan niatnya ingin memiliki anak. Kunti yang menguasai mantra Adityahredaya segera mewujudkan keinginan suaminya itu. Mantra tersebut adalah ilmu pemanggil dewa untuk mendapatkan putera. Dengan menggunakan mantra itu, Kunti berhasil mendatangkan Dewa Dharma dan mendapatkan anugerah putera darinya tanpa melalui persetubuhan. Putera pertama itu diberi nama Yudistira. Dengan demikian, Yudistira menjadi putera sulung Pandu, sebagai hasil pemberian Dharma, yaitu dewa keadilan dan kebijaksanaan. Sifat Dharma itulah yang kemudian diwarisi oleh Yudistira sepanjang hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Versi pewayangan Jawa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kisah dalam pewayangan Jawa agak berbeda. Menurut versi ini, Puntadewa merupakan anak kandung Pandu yang lahir di istana Hastinapura. Kedatangan Bhatara Dharma hanya sekadar menolong kelahiran Puntadewa dan memberi restu untuknya. Berkat bantuan dewa tersebut, Puntadewa lahir melalui ubun-ubun Kunti. Dalam pewayangan Jawa, nama Puntadewa lebih sering dipakai, sedangkan nama Yudistira baru digunakan setelah ia dewasa dan menjadi raja. Versi ini melukiskan Puntadewa sebagai seorang manusia berdarah putih, yang merupakan kiasan bahwa ia adalah sosok berhati suci dan selalu menegakkan kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Masa Kecil dan Pendidikan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Yudistira dan keempat adiknya, yaitu Bima (Bimasena), Arjuna, Nakula, dan Sadewa kembali ke Hastinapura setelah ayah mereka (Pandu) meninggal dunia. Adapun kelima putera Pandu itu terkenal dengan sebutan para Pandawa, yang semua lahir melalui mantra Adityahredaya. Kedatangan para Pandawa membuat sepupu mereka, yaitu para Korawa yang dipimpin Duryodana merasa cemas. Putera-putera Dretarastra itu takut kalau Pandawa sampai berkuasa di kerajaan Kuru. Dengan berbagai cara mereka berusaha menyingkirkan kelima Pandawa, terutama Bima yang dianggap paling kuat. Di lain pihak, Yudistira selalu berusaha untuk menyabarkan Bima supaya tidak membalas perbuatan para Korawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandawa dan Korawa kemudian mempelajari ilmu agama, hukum, dan tata negara kepada Resi Krepa. Dalam pendidikan tersebut, Yudistira tampil sebagai murid yang paling pandai. Krepa sangat mendukung apabila tahta Hastinapura diserahkan kepada Pandawa tertua itu. Setelah itu, Pandawa dan Korawa berguru ilmu perang kepada Resi Drona. Dalam pendidikan kedua ini, Arjuna tampil sebagai murid yang paling pandai, terutama dalam ilmu memanah. Sementara itu, Yudistira sendiri lebih terampil dalam menggunakan senjata tombak.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Konflik Memperebutkan Kerajaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Selama Pandu hidup di hutan sampai akhirnya meninggal dunia, tahta Hastinapura untuk sementara dipegang oleh kakaknya, yaitu Dretarastra, ayah para Korawa. Ketika Yudistira menginjak usia dewasa, sudah tiba saatnya bagi Dretarastra untuk menyerahkan tahta kepada Yudhisthira, selaku putera sulung Pandu. Sementara itu putera sulung Dretarastra, yaitu Duryodana berusaha keras merebut tahta dan menyingkirkan Pandawa. Dengan bantuan pamannya dari pihak ibu, yaitu Sangkuni, Duryodana pura-pura menjamu kelima sepupunya itu dalam sebuah gedung di Waranawata, dimana gedung itu terbuat dari bahan yang mudah terbakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika malam tiba, para Korawa membakar gedung tempat para Pandawa dan Kunti, ibu mereka, tidur. Namun, Yudistira sudah mempersiapkan diri karena rencana pembunuhan itu telah terdengar oleh pamannya, yaitu Widura adik Pandu. Akibatnya, kelima Pandawa dan Kunti berhasil lolos dari maut. Pandawa dan Kunti kemudian menjalani berbagai pengalaman sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Pernikahan dengan Dropadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setelah lolos dari jebakan maut Korawa, para Pandawa dan Kunti pergi melintasi kota Ekachakra, lalu tinggal sementara di kerajaan Panchala. Arjuna berhasil memenangkan sayembara di kerajaan tersebut dan memperoleh seorang puteri cantik yang bernama Dropadi. Tanpa sengaja Kunti memerintahkan agar Dropadi dibagi lima. Akibatnya, Dropadi pun menjadi istri kelima Pandawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari perkawinan dengan Yudistira, Dropadi melahirkan Pratiwindya, dari Bima lahir Sutasoma, dari Arjuna lahir Srutasena, dari Nakula lahir Satanika, dan dari Sadewa lahir Srutakirti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi Jawa menyebut Dropadi dengan nama &quot;Drupadi&quot;. Menurut pewayangan Jawa, setelah memenangkan sayembara, Arjuna menyerahkan putri itu kepada Puntadewa selaku kakak tertua. Semula Puntadewa menolak, namun setelah didesak oleh ibu dan keempat adiknya, akhirnya ia pun bersedia menikahi Drupadi. Dari perkawinan itu lahir seorang putera bernama Pancawala. Jadi, menurut versi asli, tokoh Dropadi menikah dengan kelima Pandawa, sedangkan menurut versi Jawa, ia hanya menikah dengan Yudistira seorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Raja Indraprastha&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setelah menikahi Dropadi, para Pandawa kembali ke Hastinapura dan memperoleh sambutan luar biasa, kecuali dari pihak Duryodana. Persaingan antara Pandawa dan Korawa atas tahta Hastinapura kembali terjadi. Para sesepuh akhirnya sepakat untuk memberi Pandawa sebagian dari wilayah kerajaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korawa yang licik mendapatkan istana Hastinapura, sedangkan Pandawa mendapatkan hutan Kandawaprastha sebagai tempat untuk membangun istana baru. Meskipun daerah tersebut sangat gersang dan angker, namun para Pandawa mau menerima wilayah tersebut. Selain wilayahnya yang seluas hampir setengah wilayah kerajaan Kuru, Kandawaprastha juga merupakan ibukota kerajaan Kuru yang dulu, sebelum Hastinapura. Para Pandawa dibantu sepupu mereka, yaitu Kresna dan Baladewa, dan berhasil membuka Kandawaprastha menjadi pemukiman baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para Pandawa kemudian memperoleh bantuan dari Wiswakarma, yaitu ahli bangunan dari kahyangan, dan juga Anggaraparna dari bangsa Gandharwa. Maka terciptalah sebuah istana megah dan indah bernama Indraprastha, yang bermakna &quot;kota Dewa Indra&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Pemerintahan Yudistira Versi Pewayangan Jawa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan Kerajaan Amarta&lt;br /&gt;Dalam versi pewayangan Jawa, nama Indraprastha lebih terkenal dengan sebutan kerajaan Amarta. Menurut versi ini, hutan yang dibuka para Pandawa bukan bernama Kandawaprastha, melainkan bernama Wanamarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Versi Jawa mengisahkan, setelah sayembara Dropadi, para Pandawa tidak kembali ke Hastinapura melainkan menuju kerajaan Wirata, tempat kerabat mereka yang bernama Prabu Matsyapati berkuasa. Matsyapati yang bersimpati pada pengalaman Pandawa menyarankan agar mereka membuka kawasan hutan tak bertuan bernama Wanamarta menjadi sebuah kerajaan baru. Hutan Wanamarta dihuni oleh berbagai makhluk halus yang dipimpin oleh lima bersaudara, bernama Yudistira, Danduncana, Suparta, Sapujagad, dan Sapulebu. Pekerjaan Pandawa dalam membuka hutan tersebut mengalami banyak rintangan. Akhirnya setelah melalui suatu percakapan, para makhluk halus merelakan Wanamarta kepada para Pandawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yudistira kemudian memindahkan istana Amarta dari alam jin ke alam nyata untuk dihuni para Pandawa. Setelah itu, ia dan keempat adiknya menghilang. Salah satu versi menyebut kelimanya masing-masing menyatu ke dalam diri lima Pandawa. Puntadewa kemudian menjadi Raja Amarta setelah didesak dan dipaksa oleh keempat adiknya. Untuk mengenang dan menghormati raja jin yang telah memberinya istana, Puntadewa pun memakai gelar Prabu Yudistira.&lt;br /&gt;Anugerah Ketentraman&lt;br /&gt;Setelah menjadi Raja Amarta, Puntadewa berusaha keras untuk memakmurkan negaranya. Konon terdengar berita bahwa barang siapa yang bisa menikahi puteri Kerajaan Slagahima yang bernama Dewi Kuntulwinanten, maka negeri tempat ia tinggal akan menjadi makmur dan sejahtera. Puntadewa sendiri telah memutuskan untuk memiliki seorang istri saja. Namun karena Dropadi mengizinkannya menikah lagi demi kemakmuran negara, maka ia pun berangkat menuju Kerajaan Slagahima. Di istana Slagahima telah berkumpul sekian banyak raja dan pangeran yang datang melamar Kuntulwinanten. Namun sang puteri hanya sudi menikah dengan seseorang yang berhati suci, dan ia menemukan kriteria itu dalam diri Puntadewa. Kemudian Kuntulwinanten tiba-tiba musnah dan menyatu ke dalam diri Puntadewa. Sebenarnya Kuntulwinanten bukan manusia asli, melainkan wujud penjelmaan anugerah dewata untuk seorang raja adil yang hanya memikirkan kesejahteraan negaranya. Sedangkan anak raja Slagahima yang asli bernama Tambakganggeng. Ia kemudian mengabdi kepada Puntadewa dan diangkat sebagai patih di kerajaan Amarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Upacara Rajasuya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kitab Mahabharata bagian kedua atau Sabhaparwa mengisahkan niat Yudistira untuk menyelenggarakan upacara Rajasuya demi menyebarkan dharma dan menyingkirkan raja-raja angkara murka. Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa memimpin tentara masing-masing ke empat penjuru Bharatawarsha (India Kuno) untuk mengumpulkan upeti dalam penyelenggaraan upacara agung tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat yang sama, seorang raja angkara murka juga mengadakan upacara mengorbankan seratus orang raja. Raja tersebut bernama Jarasanda dari kerajaan Magadha. Yudistira mengirim Bima dan Arjuna dengan didampingi Kresna sebagai penasihat untuk menumpas Jarasanda. Akhirnya, melalui sebuah pertandingan seru, Bima berhasil membunuh Jarasanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah semua persyaratan terpenuhi, Yudistira melaksanakan upacara Rajasuya yang dihadiri sekian banyak kaum raja dan pendeta. Dalam kesempatan itu, Yudistira ditetapkan sebagai Maharajadhiraja. Kemudian muncul seorang sekutu Jarasanda bernama Sisupala yang menghina Kresna di depan umum. Setelah melewati penghinaan ke-100, Krishna akhirnya memenggal kepala Sisupala di depan umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Kehilangan Kerajaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ketika menjadi tamu dalam acara Rajasuya, Duryodana sangat kagum sekaligus iri menyaksikan keindahan istana Indraprastha. Timbul niatnya untuk merebut kerajaan itu, apalagi setelah ia tersinggung oleh ucapan Dropadi dalam sebuah pertemuan. Sangkuni membantu niat Duryodhana dengan memanfaatkan kegemaran Yudistira terhadap permainan dadu. Yudistira memang seorang ahli agama, namun di sisi lain ia sangat menyukai permainan tersebut. Undangan Duryodana diterimanya dengan baik. Permainan dadu antara Pandawa melawan Korawa diadakan di istana Hastinapura. Mula-mula Yudistira hanya bertaruh kecil-kecilan. Namun semuanya jatuh ke tangan Duryodana berkat kepandaian Sakuni dalam melempar dadu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasutan Sangkuni membuat Yudistira nekad mempertaruhkan semua hartanya, bahkan Indraprastha. Akhirnya, negeri yang dibangun dengan susah payah itu pun jatuh ke tangan lawan. Yudistira yang sudah gelap mata juga mempertaruhkan keempat adiknya secara berurutan. Keempatnya pun jatuh pula ke tangan Duryodana satu per satu, bahkan akhirnya Yudistira sendiri. Duryodana tetap memaksa Yudistira yang sudah kehilangan kemerdekaannya untuk melanjutkan permainan, dengan mempertaruhkan Dropadi. Akibatnya, Dropadi pun ikut bernasib sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratapan Dropadi saat dipermalukan di depan umum terdengar oleh Gandari, ibu para Korawa. Ia memerintahkan agar Duryodana menghentikan permainan dan mengembalikan semuanya kepada Pandawa. Dengan berat hati, Duryodhana terpaksa mematuhi perintah ibunya itu. Duryodana yang kecewa kembali menantang Yudistira beberapa waktu kemudian. Kali ini peraturannya diganti. Barang siapa yang kalah harus menyerahkan negara beserta isinya, dan menjalani hidup di hutan selama 12 tahun serta menyamar selama setahun di dalam sebuah kerajaan. Apabila penyamaran itu terbongkar, maka wajib mengulangi lagi pembuangan selama 12 tahun dan menyamar setahun, begitulah seterusnya. Akhirnya berkat kelicikan Sakuni, pihak Pandawa pun mengalami kekalahan untuk yang kedua kalinya. Sejak saat itu lima Pandawa dan Dropadi menjalani masa pembuangan mereka di hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Kehidupan Dalam Pembuangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan para Pandawa dan Dropadi dalam menjalani masa pembuangan selama 12 tahun di hutan dikisahkan pada jilid ketiga kitab Mahabharata yang dikenal dengan sebutan Wanaparwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yudistira yang merasa paling bertanggung jawab atas apa yang menimpa keluarga dan negaranya berusaha untuk tetap tabah dalam menjalani hukuman. Ia sering berselisih paham dengan Bima yang ingin kembali ke Hastinapura untuk menumpas para Korawa. Meskipun demikian, Bima tetap tunduk dan patuh terhadap perintah Yudistira supaya menjalani hukuman sesuai perjanjian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika para Korawa datang ke dalam hutan untuk berpesta demi menyiksa perasaan para Pandawa. Namun, mereka justru berselisih dengan kaum Gandharwa yang dipimpin Citrasena. Dalam peristiwa itu Duryodana tertangkap oleh Citrasena. Akan tetapi, Yudistira justru mengirim Bima dan Arjuna untuk menolong Duryodana. Ia mengancam akan berangkat sendiri apabila kedua adiknya itu menolak perintah. Akhirnya kedua Pandawa itu berhasil membebaskan Duryodana. Niat Duryodana datang ke hutan untuk menyiksa perasaan para Pandawa justru berakhir dengan rasa malu luar biasa yang ia rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa lain yang terjadi adalah penculikan Dropadi oleh Jayadrata, adik ipar Duryodana. Bima dan Arjuna berhasil menangkap Jayadrata dan hampir saja membunuhnya. Yudistira muncul dan memaafkan raja kerajaan Sindu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Peristiwa Telaga Beracun&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari menjelang berakhirnya masa pembuangan, Yudistira dan keempat adiknya membantu seorang brahmana yang kehilangan peralatan upacaranya karena tersangkut pada tanduk seekor rusa liar. Dalam pengejaran terhadap rusa itu, kelima Pandawa merasa haus. Yudistira pun menyuruh Sadewa mencari air minum. Karena lama tidak kembali, Nakula disuruh menyusul, kemudian Arjuna, lalu akhirnya Bima menyusul pula. Yudistira semakin cemas karena keempat adiknya tidak ada yang kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yudistira kemudian berangkat menyusul Pandawa dan menjumpai mereka telah tewas di tepi sebuah telaga. Muncul seorang raksasa yang mengaku sebagai pemilik telaga itu. Ia menceritakan bahwa keempat Pandawa tewas keracunan air telaganya karena mereka menolak menjawab pertanyaan sang raksasa. Sambil menahan haus, Yudistira mempersilakan Sang Raksasa untuk bertanya. Satu per satu pertanyaan demi pertanyaan berhasil ia jawab. Akhirnya, Sang Raksasa pun mengaku kalah, namun ia hanya sanggup menghidupkan satu orang saja. Dalam hal ini, Yudistira memilih Nakula untuk dihidupkan kembali. Raksasa heran karena Nakula adalah adik tiri, bukan adik kandung. Yudistira menjawab bahwa dirinya harus berlaku adil. Ayahnya, yaitu Pandu memiliki dua orang istri. Karena Yudistira lahir dari Kunti, maka yang dipilihnya untuk hidup kembali harus putera yang lahir dari Madri, yaitu Nakula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raksasa terkesan pada keadilan Yudistira. Ia pun kembali ke wujud aslinya, yaitu Dewa Dharma. Kedatangannya dengan menyamar sebagai rusa liar dan raksasa adalah untuk memberikan ujian kepada para Pandawa. Berkat keadilan dan ketulusan Yudistira, maka tidak hanya Nakula yang dihidupkan kembali, melainkan juga Bima, Arjuna, dan Sadewa.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Yudistira Dalam Masa Penyamaran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setelah 12 tahun menjalani pembuangan di hutan, kelima Pandawa dan Dropadi kemudian memasuki masa penyamaran selama setahun. Sebagai tempat persembunyian, mereka memilih Kerajaan Matsya yang dipimpin oleh Wirata. Kisah ini terdapat dalam kitab Mahabharata jilid keempat atau Wirataparwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yudistira menyamar dengan nama Kanka di mana ia diterima sebagai kusir kereta Raja Wirata. Bima menjadi Balawa sebagai tukang masak, Arjuna menjadi Wrihanala sebagai banci guru tari, Nakula menjadi Damagranti sebagai tukang kuda, Sadewa menjadi Tantripala sebagai penggembala sapi, sedangkan Dropadi menjadi Sailandri sebagai dayang istana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhir tahun penyamaran Pandawa, terjadi peristiwa serangan kerajaan Kuru terhadap kekuasaan Wirata. Seluruh kekuatan kerajaan Matsya dikerahkan menghadapi tentara kerajaan Trigartha, sekutu Duryodhana. Akibatnya, istana Matsya menjadi kosong dan dalam keadaan terancam oleh serangan pasukan Hastinapura. Utara putera Wirata yang ditugasi menjaga istana, berangkat ditemani Wrihanala (Arjuna) sebagai kusir. Di medan perang Wrihanala membuka samaran dan tampil menghadapi pasukan Duryodana sebagai Arjuna. Seorang diri ia berhasil memukul mundur pasukan dari Hastinapura tersebut. Sementara itu, pasukan Wirata juga mendapat kemenangan atas pasukan Trigartha. Wirata dengan bangga memuji-muji kehebatan Utara yang berhasil mengalahkan para Korawa seorang diri. Kanka alias Yudistira menjelaskan bahwa kunci kemenangan Utara adalah Wrihanala. Hal itu membuat Wirata tersinggung dan memukul kepala Kanka sampai berdarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam versi pewayangan Jawa, Wirata adalah nama kerajaan, bukan nama orang. Sedangkan rajanya bernama Matsyapati. Dalam kerajaan tersebut, Yudistira atau Puntadewa menyamar sebagai pengelola pasar ibu kota bernama Dwijakangka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat batas waktu penyamaran telah genap setahun, kelima Pandawa dan Dropadi pun membuka penyamaran. Mengetahui hal itu, Wirata merasa sangat menyesal telah memperlakukan mereka dengan buruk. Ia pun berjanji akan menjadi sekutu Pandawa dalam usaha mendapatkan kembali takhta Indraprastha.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Yudistira saat Bharatayuddha&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ketika para Pandawa pulang ke Hastinapura demi menuntut hak yang seharusnya mereka terima, Duryodana bersikap sinis terhadap mereka. Ia tidak mau menyerahkan Hastinapura kepada Yudistira. Berbagai usaha damai dilancarkan pihak Pandawa namun selalu ditolak oleh Duryodana. Bahkan, Duryodana tetap menolak ketika Yudistira hanya meminta lima buah desa saja, bukan seluruh Indraprastha. Pada puncaknya, Duryodana berusaha membunuh duta Pandawa, yaitu Kresna, namun gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perang antara Pandawa dan Korawa tidak dapat lagi dihindari. Para pujangga Jawa menyebut peristiwa itu dengan nama Bharatayuddha. Sementara itu dalam Mahabharata kisah perang besar tersebut ditemukan pada jilid keenam sampai kesepuluh.&lt;br /&gt;Awal pertempuran&lt;br /&gt;Pada bagian Bhismaparwa dikisahkan bahwa sebelum perang hari pertama dimulai, Yudistira turun dari keretanya berjalan kaki ke arah pasukan Korawa yang berbaris di hadapannya. Duryodana mengejeknya sebagai pengecut yang langsung menyerah begitu melihat kekuatan Korawa dan sekutu mereka. Namun, kedatangan Yudistira bukan untuk menyerah, melainkan meminta doa restu kepada empat sesepuh yang berperang di pihak lawan. Mereka adalah Bisma, Krepa, Drona, dan Salya. Keempatnya mendoakan semoga pihak Pandawa menang. Hal itu tentu saja membuat Duryodana sakit hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yudistira kembali ke pasukannya. Ia mempersilakan siapa saja yang ingin pindah pasukan sebelum perang benar-benar dimulai. Ternyata yang pindah justru adik tiri Duryodhana yang lahir dari selir, bernama Yuyutsu, yang bergerak meninggalkan Korawa untuk bergabung bersama Pandawa.&lt;br /&gt;Pertempuran melawan Drona&lt;br /&gt;Bisma memimpin pasukan Korawa selama sepuluh hari. Setelah ia tumbang, kedudukannya digantikan oleh Drona, yang mendapat amanat dari Duryodana supaya menangkap Yudistira hidup-hidup. Drona senang atas tugas tersebut, padahal niat Duryodana adalah menjadikan Yudistira sebagai sandera untuk memaksa para pendukungnya menyerah. Berbagai cara dilancarkan Drona untuk menangkap Yudistira. Tidak terhitung banyaknya sekutu Pandawa yang tewas di tangan Drona karena melindungi Yudistira, misalnya Drupada dan Wirata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya pada hari ke-15, penasihat Pandawa, yaitu Kresna menemukan cara untuk mengalahkan Drona, yaitu dengan mengumumkan berita kematian seekor gajah bernama Aswatama. Aswatama juga merupakan nama putera tunggal Drona. Kemiripan nama tersebut dimanfaatkan oleh Kresna untuk menipu Drona. Atas perintah Kresna, Bima segera membunuh gajah itu dan berteriak mengumumkan kematiannya. Drona cemas mendengar berita kematian Aswatama. Ia segera mendatangi Yudistira yang dianggapnya sebagai manusia paling jujur untuk bertanya tentang kebenaran berita tersebut. Yudistira terpaksa bersikap tidak jujur. Ia membenarkan berita kematian Aswatama tanpa berusaha menjelaskan bahwa yang mati adalah gajah, bukan putera Drona.&lt;br /&gt;Jawaban Yudistira itu membuat Drona jatuh lemas. Ia membuang semua senjatanya dan duduk bermeditasi. Tiba-tiba saja Drestadyumna putera Drupada mendatanginya dan kemudian memenggal kepalanya dari belakang. Drona pun tewas seketika. Dalam peristiwa ini yang paling merasa bersalah adalah Yudistira.&lt;br /&gt;Pertempuran melawan Salya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salya adalah kakak ipar Pandu yang terpaksa membantu Korawa karena tipu daya mereka. Pada hari ke-18, ia diangkat sebagai panglima oleh Duryodana. Akhirnya ia pun tewas terkena tombak Yudistira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah Bharatayuddha berbahasa Jawa Kuno mengisahkan bahwa Salya memakai senjata bernama Rudrarohastra, sedangkan Yudistira memakai senjata bernama Kalimahosaddha. Pusaka Yudistira yang berupa kitab itu dilemparkannya dan tiba-tiba berubah menjadi tombak menembus dada Salya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu menurut versi pewayangan Jawa, Salya mengerahkan ilmu Candabirawa berupa raksasa kerdil mengerikan, yang jika dilukai jumlahnya justru bertambah banyak. Puntadewa maju mengheningkan cipta. Candabirawa lumpuh seketika karena Puntadewa telah dirasuki arwah Resi Bagaspati, yaitu pemilik asli ilmu tersebut. Selanjutnya, Puntadewa melepaskan Jamus Kalimasada yang melesat menghantam dada Salya. Salya pun tewas seketika.&lt;br /&gt;Tantangan bagi Duryodana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kehabisan pasukan, Duryodhana bersembunyi di dasar telaga. Kelima Pandawa didampingi Kresna berhasil menemukan tempat itu. Duryodana pun naik ke darat siap menghadapi kelima Pandawa sekaligus. Yudistira menolak tantangan Duryodhana karena Pandawa pantang berbuat pengecut dengan cara main keroyok, sebagaimana para Korawa ketika membunuh Abimanyu pada hari ke-13. Sebaliknya, Duryodana dipersilakan bertarung satu lawan satu melawan salah seorang di antara lima Pandawa. Apabila ia kalah, maka kerajaan harus dikembalikan kepada Pandawa. Sebaliknya apabila ia menang, Yudistira bersedia kembali hidup di hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bima terkejut mendengar keputusan Yudistira yang seolah-olah memberi kesempatan Duryodana untuk berkuasa lagi, padahal kemenangan Pandawa tinggal selangkah saja. Dalam hal ini Yudistira justru menyalahkan Bima yang dianggap kurang percaya diri. Duryodana meskipun bersifat angkara murka namun ia juga seorang pemberani. Ia memilih Bima sebagai lawan perang tanding, yang paling gagah di antara kelima Pandawa. Setelah pertarungan sengit terjadi cukup lama, akhirnya menjelang senja Duryodana berhasil dikalahkan dan kemudian menemui kematiannya.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;&lt;br /&gt;Maharaja Dunia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setelah perang berakhir, Yudistira melaksanakan upacara Tarpana untuk memuliakan mereka yang telah tewas. Ia kemudian diangkat sebagai raja Hastinapura sekaligus raja Indraprastha. Yudistira dengan sabar menerima Dretarastra sebagai raja sepuh di kota Hastinapura. Ia melarang adik-adiknya bersikap kasar dan menyinggung perasaan ayah para Korawa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yudistira kemudian menyelenggarakan Aswamedha Yadnya, yaitu suatu upacara pengorbanan untuk menegakkan kembali aturan dharma di seluruh dunia. Pada upacara ini, seekor kuda dilepas untuk mengembara selama setahun. Arjuna ditugasi memimpin pasukan untuk mengikuti dan mengawal kuda tersebut. Para raja yang wilayah negaranya dilalui oleh kuda tersebut harus memilih untuk mengikuti aturan Yudistira atau diperangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya semuanya memilih membayar upeti. Sekali lagi Yudistira pun dinobatkan sebagai Maharaja Dunia setelah Upacara Rajasuya dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naik Ke Sorga&lt;br /&gt;Setelah permulaan zaman Kaliyuga dan wafatnya Kresna, Yudistira dan keempat adiknya mengundurkan diri dari urusan duniawi. Mereka meninggalkan tahta kerajaan, harta, dan sifat keterikatan untuk melakukan perjalanan terakhir, mengelilingi Bharatawarsha lalu menuju puncak Himalaya. Di kaki gunung Himalaya, Yudistira menemukan anjing dan kemudian hewan tersebut menjdi pendamping perjalanan Pandawa yang setia. Saat mendaki puncak, satu per satu mulai dari Dropadi, Sadewa, Nakula, Arjuna, dan Bima meninggal dunia. Masing-masing terseret oleh kesalahan dan dosa yang pernah mereka perbuat. Hanya Yudistira dan aningnya yang berhasil mencapai puncak gunung, karena kesucian hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewa Indra, pemimpin masyarakat kahyangan, datang menjemput Yudistira untuk diajak naik ke swarga dengan kereta kencananya. Namun, Indra menolak anjing yang dibawa Yudistira dengan alasan bahwa hewan tersebut tidak suci dan tidak layak untuk masuk swarga. Yudistira menolak masuk swargaloka apabila harus berpisah dengan anjingnya. Indra merasa heran karena Yudistira tega meninggalkan saudara-saudaranya dan Dropadi tanpa mengadakan upacara pembakaran jenazah bagi mereka, namun lebih memilih untuk tidak mau meninggalkan seekor anjing. Yudistira menjawab bahwa bukan dirinya yang meninggalkan mereka, tapi merekalah yang meninggalkan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesetiaan Yudistira telah teruji. Anjingnya pun kembali ke wujud asli yaitu Dewa Dharma. Bersama-sama mereka naik ke sorga menggunakan kereta Indra. Namun ternyata keempat Pandawa tidak ditemukan di sana. Yang ada justru Duryodana dan adik-adiknya yang selama hidup mengumbar angkara murka. Indra menjelaskan bahwa keempat Pandawa dan para pahlawan lainnya sedang menjalani penyiksaan di neraka. Yudistira menyatakan siap masuk neraka menemani mereka. Namun, ketika terpampang pemandangan neraka yang disertai suara menyayat hati dan dihiasi darah kental membuatnya ngeri. Saat tergoda untuk kabur dari neraka, Yudistira berhasil menguasai diri. Terdengar suara saudara-saudaranya memanggil-manggil. Yudistira memutuskan untuk tinggal di neraka. Ia merasa lebih baik hidup tersiksa bersama sudara-saudaranya yang baik hati daripada bergembira di sorga namun ditemani oleh kerabat yang jahat. Tiba-tiba pemandangan berubah menjadi indah. Dewa Indra muncul dan berkata bahwa sekali lagi Yudistira lulus ujian. Ia menyatakan bahwa sejak saat itu, Pandawa Lima dan para pahlawan lainnya dinyatakan sebagai penghuni Surga, sementara para korawa akan menjalani siksaan yang kekal di neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut versi pewayangan Jawa, kematian para Pandawa terjadi bersamaan dengan Kresna ketika mereka bermeditasi di dalam Candi Sekar. Namun, versi ini kurang begitu populer karena banyak dalang yang lebih suka mementaskan versi Mahabharata yang penuh dramatisasi sebagaimana dikisahkan di atas.&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;http://www.mylivesignature.com&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://signatures.mylivesignature.com/54488/128/CF081EB71C69BAF86BC18AF0FF318534.png&quot; style=&quot;border: 0 !important; background: transparent;&quot;/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://ikhwansesat.blogspot.com/2010/05/pandawa-1-yudistira.html</link><author>noreply@blogger.com (ikhwan sesat)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://3.bp.blogspot.com/_Y3TtUiG8Q90/S_MXVV0EGkI/AAAAAAAAABo/EZYuGijZTdI/s72-c/275px-Yudistira-kl.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4489513683570848493.post-1958211398370691361</guid><pubDate>Wed, 12 May 2010 17:29:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-05-13T00:32:25.500+07:00</atom:updated><title>Mempertanyakan Kontribusi Mahasiswa</title><description>Belakangan ini sering kita melihat di TV, bentrokan-bentrokan yang terjadi antar mahasiswa, mahasiswa dengan polisi, bahkan mahasiswa dengan masyarakat. Apakah ini cerminan mahasiswa Indonesia sekarang ini? Saling berkelahi layaknya preman pasar, berbuat anarkis dan pengrusakan. Tentu saja kita setuju untuk menjawab bahwa itu bukan cerminan mahasiswa Indonesia, itulah segelintir manusia yang saling mementingkan egonya semata. Lalu seperti apakah mahasiswa Indonesia sekarang dan apa kontribusi mereka bagi bangsa Indonesia ini?&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;Dalam Tri Darma perguruan tinggi kita pasti sudah sama-sama tahu bahwa salah satu isinya adalah “Pengabdian Masyarakat”. Tapi apakah itu hanya frase yang cuma terdapat dalam bentuk lisan dan tulisan saja tanpa adanya tindakan nyata yang menyertainya.&lt;br /&gt;Seharusnya dengan adanya suatu perguruan tinggi di suatu wilayah, dengan datangnya orang-orang pilihan dari seluruh Indonesia untuk menuntut ilmu di perguruan tinggi tersebut, paling tidak masyarakat yang tinggal di sekitar perguruan tinggi akan memperoleh manfaatnya,  baik dari segi ekonomi, sosial, dan sebagainya. Tapi yang sekarang nampak, masyarakat hanya memperoleh manfaat dari segi ekonomi saja, misalnya dengan bisnis menyewakan tempat kos, rumah makan, warnet, laundry, fotocopy, dan lainnya. Itupun hanya segelintir orang saja yang bisa memperoleh manfaat itu, hanya orang yang mempunyai modal yang bisa memulai bisnis itu. Sedangkan untuk mereka yang tidak mampu, hanya bisa bekerja dengan memungut botol minuman bekas dan kertas  bekas, bahkan ada yang menjadi peminta-minta.&lt;br /&gt;Seharusnya kita ingat bahwa biaya operasional perguruan tinggi berasal dari pajak yang dibayar masyarakat. Apalagi kita sebagai mahasiswa perguruan tinggi kedinasan yang katanya tidak membayar uang perkuliahan sama sekali alias gratis. Sebaiknya pola pikir seperti ini harus kita buang jauh-jauh. Biaya kuliah tidak gratis, kita dibiayai oleh masyarakat, kita dibiayai dari pajak-pajak yang mereka bayarkan. Lalu apa yang kita perbuat untuk membalas budi mereka yang telah membiayai kuliah kita? Kontribusi apa yang bisa kita berikan?&lt;br /&gt;Kontribusi kita tidak perlu besar-besar, tidak perlu muluk-muluk. Kita hanya perlu melakukan hal yang sederhana namun berkelanjutan. Seperti kata pepatah “sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit”. Hal yang kelihatan sederhana, namun kita kerjakan dengan ikhlas dan berkelanjutan bisa saja menghasilkan manfaat yang besar. Contoh kecil saja, kita bisa mengajar anak-anak jalanan yang tidak mampu, kita bisa mengajari mereka baca tulis atau mengaji. Kita juga bisa mengajarkan ketrampilan kepada ibu-ibu yang kurang mampu agar mereka bisa mempunyai ketrampilan khusus sehingga dapat menambah penghasilan keluarga. Tapi apakah kita sudah bisa melakukan hal ini? Cobalah lebih peka sedikit, di sekitar kampus kita ada lingkungan pemulung yang membutuhkan kontribusi kita. Apakah kita siap untuk membantu mereka?&lt;br /&gt;Kita sebagai mahasiswa tidak hanya memerlukan kemampuan dalam bidang akademis saja, kita juga butuh mengasah soft skill kita. Dengan mengajar anak-anak jalanan atau melatih ketrampilan pada ibu-ibu paling tidak kita bisa lebih mengenal mereka, mempertajam kepekaan sosial kita, bahkan kita bisa menyalurkan minat, bakat, dan hobi kita. Selain itu kita juga bisa belajar tentang makna kehidupan dari sudut pandang mereka.&lt;br /&gt;Dua buah kata dalam Tri Darma perguruan tinggi yaitu “Pengabdian Masyarakat” seharusnya bisa kita pegang dan kita amalkan, tidak sekedar hanya sebagai slogan. Di internet pernah ada sebuah artikel yang menceritakan tentang kontribusi mahasiswa sebuah perguruan tinggi membantu masyarakat yang tinggal di sekitar kampus untuk menyuplai air bersih bagi mereka. Sebelumnya masyarakat sangat kesulitan untuk mencari air bersih, namun sekelompok mahasiswa, dengan ilmu ynag mereka dapat dari bangku kuliah menciptakan teknologi yang mampu menyaring air keruh menjadi air bersih dan layak pakai. Inilah contoh nyata yang patut kita tiru, walaupun mungkin mereka cuma bisa membantu masyarakat satu RT, tapi mereka melakukan tindakan nyata.&lt;br /&gt;Kembali kepada persoalan anarkisme yang dilakukan mahasiswa. Kita tidak bisa langsung meghakimi dan menyalahkan mereka begitu saja. Sebagai seorang remaja yang belum matang dalam hal berpikir dan bertindak, tentu banyak hal yang bisa terjadi. Emosi yang meluap-luap, rasa ingin menang sendiri, rasa bahwa drinya yang paling benar. Tentu saja bisa mengakibatkan perkelahian, bentrokan, sampai tindakan pengrusakan. Alangkah baiknya kalau mulai dari diri kita masing-masing mulai melatih pengendalian diri agar tenaga, waktu, dan pikiran kita tidak terbuang percuma untuk melakukan hal-hal yang negatif.&lt;br /&gt;Di sisi lain, kita tidak bisa memungkiri bahwa dinamika kehidupan bangsa Indonesia tidak lepas dari campur tangan mahsiswa. Mulai dari zaman penjajahan sampai bangsa Indonesia mendeklarasikan kemerdekaannya, tokoh-tokoh pemuda masa itu yang sebagian adalah mahasiswa mengambil peranan yang sangat vital. Mereka adalah para pendiri bangsa ini, sebut saja Ir. Soekarno dan Moh. Hatta.&lt;br /&gt;Di tahun 1966 saat Orde Lama tumbang, hal itu juga karena peran mahasiswa melalui Tritura. Saat itu mahasiswa begitu gencarnya menentang pemerintah yang dinilai  banyak sekali melakukan penyelewengan dengan melakukan aksi turun ke jalan ataupun protes melalui tulisan-tulisan di surat kabar. Mereka bak pahlawan yang membela rakyat kecil tanpa pamrih. Perjuangan mereka tidak sia-sia, akhirnya Orde Lama dapat digulingkan dan berdirilah rezim baru yaitu Orde Baru.&lt;br /&gt;Pada saat Orde Baru, peran mahasiswa dirasa sangat kurang, mereka seperti dibungkam. Akan tetapi, pada tahun 1998, mahasiswa kembali menunjukkan kekuatannya dengan memprotes Orde Baru yang dinillai sangat otoriter. Mereka menuntut adanya reformasi, dan puncaknya tanggal 21 Mei 1998, Soeharto mundur dari jabatannya sebagai presiden karena desakan dari mahasiswa.&lt;br /&gt;Momentum-mommentum penting dalam sejarah bangsa Indonesia tidak pernah lepas dari kehidupan mahasiswa. Dua kali pemerintahan lengser karena desakan dari mahasiswa. Mengutip dari pernyataan salah satu aktifis mahasiswa tahun 1960-an Soe Hok Gie, dia mengatakan bahwa mahasiswa adalah ibarat seorang koboi yang datang untuk memberantas kejahatan di sebuah kota dan akan langsung pergi menghilang setelah kejahatan itu telah hilang.&lt;br /&gt;Andai saja seluruh mahasiswa di Indonesia bisa meresapi makna dari “Pengabdian Masyarakat” sepenuhnya, maka Indonesia bisa menjadi bangsa yang maju. Mahasiswa akan memberikan kontribusinya untuk bangsa Indonesia dengan caranya masing-masing, mereka yang suka berdemo akan melakukan demo ketika terjadi penyelewengan dalam pemerintahan tanpa anarkisme. Mereka yang ahli dalam suatu disiplin ilmu akan memberikan kontribusinya sesuai dengan kealiannya. Andai saja seratus mahasiswa-mahasiswa unggulan berkumpul dan membahas apa yang terjadi di negeri saat ini dan mencari solusinya. Misalnya saat harga BBM naik, mahasiswa teknik akan memberikan solusi berupa inovasi-inovasi untuk menghemat BBM atau bahkan menciptakan sumber energi baru pengganti BBM. Mahasiswa ekonomi akan menganalisis kebijakan apa yang perlu diambil untuk mengatasi hal ini. Begitu juga mahasiswa-mahasiswa yang lain, semuanya memberikan ide untuk mengatasi dampak naiknya harga BBM bagi masyarakat, akan terkumpul seratus ide. Andai saja itu bisa terjadi.&lt;br /&gt;Untuk itu, sudah menjadi tugas kita bersama untuk berkontribusi pada bangsa ini melalui hal-hal kecil di sekitar kita. Kita akan mampu menjawab persoalan bangsa ini. Isi Tri Darma perguruan tinggi pun tidak hanya dalam bentuk lisan dan tulisan, tapi nyata dalam perbuatan, khususnya pada bagian “Pengabdian Masyarakat”. Di akhir tulisan ini saya kutip sebuah puisi dari Soe Hok Gie tentang sebuah harapan untuk dunia ini.&lt;br /&gt;Saya mimpi tentang sebuah dunia,&lt;br /&gt;Dimana ulama?buruh dan pemuda,&lt;br /&gt;Bangkit dan berkata?Stop semua kemunafikan,&lt;br /&gt;Stop semua pembunuhan atas nama apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan para politisi di PBB,&lt;br /&gt;Sibuk mengatur pengangkutan gandum, susu&lt;br /&gt;dan beras,&lt;br /&gt;buat anak-anak yang lapar di tiga benua,&lt;br /&gt;dan lupa akan diplomasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada lagi ras benci pada siapa pun,&lt;br /&gt;Agama apa pun, rasa apa pun, dan bangsa&lt;br /&gt;apa pun&lt;br /&gt;Dan melupakan perang dan kebencian,&lt;br /&gt;Dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia&lt;br /&gt;yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan ? Saya mimpi tentang dunia tadi,&lt;br /&gt;Yang tak pernah akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Soe Hok-gie&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;http://www.mylivesignature.com&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://signatures.mylivesignature.com/54488/128/CF081EB71C69BAF86BC18AF0FF318534.png&quot; style=&quot;border: 0 !important; background: transparent;&quot;/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://ikhwansesat.blogspot.com/2010/05/mempertanyakan-kontribusi-mahasiswa.html</link><author>noreply@blogger.com (ikhwan sesat)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4489513683570848493.post-2672160083447426771</guid><pubDate>Tue, 11 May 2010 16:53:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-05-12T00:02:08.987+07:00</atom:updated><title>Pandawa</title><description>Pandawa adalah sebuah kata dari bahasa Sanskerta (Dewanagari: पाण्डव; dieja Pāṇḍava), yang secara harfiah berarti anak &quot;Pāṇḍu&quot; (Pandu), yaitu salah satu Raja Hastinapura dalam wiracarita Mahabharata. Dengan demikian, maka Pandawa merupakan putra mahkota kerajaan tersebut. Dalam wiracarita Mahabharata, para Pandawa adalah protagonis sedangkan antagonis adalah para Korawa, yaitu putera Dretarastra, saudara ayah mereka (Pandu). Menurut susastra Hindu (Mahabharata), setiap anggota Pandawa merupakan penjelmaan (penitisan) dari Dewa tertentu, dan setiap anggota Pandawa memiliki nama lain tertentu. Misalkan nama &quot;Werkodara&quot; arti harfiahnya adalah &quot;perut serigala&quot;. Kelima Pandawa menikah dengan Dropadi yang diperebutkan dalam sebuah sayembara di Kerajaan Panchala, dan memiliki (masing-masing) seorang putera darinya.&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para Pandawa merupakan tokoh penting dalam bagian penting dalam wiracarita Mahabharata, yaitu pertempuran besar di daratan Kurukshetra antara para Pandawa dengan para Korawa serta sekutu-sekutu mereka. Kisah tersebut menjadi kisah penting dalam wiracarita Mahabharata, selain kisah Pandawa dan Korawa main dadu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Masa kanak-kanak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pandawa lima yang terdiri atas Yudistira, Arjuna, Bima, Nakula dan Sadewa, memiliki saudara yang bernama Duryodana dan 99 adiknya yang merupakan anak dari Dretarastra yang tak lain adalah paman mereka, sekaligus Raja Hastinapura. Sewaktu kecil mereka suka bermain bersama, tetapi Bima suka mengganggu sepupunya. Lambat laun Duryodana merasa jengkel karena menjadi korban dan gangguan dari ejekan Bima. Suatu hari Duryodana berpikir ia bersama adiknya mustahil untuk dapat meneruskan tahta dinasti Kuru apabila sepupunya masih ada. Mereka semua (Pandawa lima dan sepupu-sepupunya atau yang dikenal juga sebagai Korawa) tinggal bersama dalam suatu kerajaan yang beribukota di Hastinapura. Akhirnya berbagai niat jahat muncul dalam benaknya untuk menyingkirkan para Pandawa beserta ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Usaha pertama untuk menyingkirkan Pandawa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dretarastra yang mencintai keponakannya secara berlebihan mengangkat Yudistira sebagai putra mahkota tetapi ia langsung menyesali perbuatannya yang terlalu terburu-buru sehingga ia tidak memikirkan perasaan anaknya. Hal ini menyebabkan Duryodana iri hati dengan Yudistira, ia mencoba untuk membunuh para Pandawa beserta ibu mereka yang bernama Kunti dengan cara menyuruh mereka berlibur ke tempat yang bernama Waranawata. Di sana terdapat bangunan yang megah, yang telah disiapkan Duryodana untuk mereka berlibur dan akan membakar bagunan itu di tengah malam pada saat Pandawa lima sedang terlelap tidur. Segala sesuatunya yang sudah direncanakan Duryodana dibocorkan oleh Widura yang merupakan paman dari Pandawa. Sebelum itu juga Yudistira juga telah diingatkan oleh seorang petapa yang datang ke dirinya bahwa akan ada bencana yang menimpannya oleh karena itu Yudistira pun sudah berwaspada terhadap segala kemungkinan. Untuk pertama kalinya Yudistira lolos dalam perangkap Duryodana dan melarikan diri ke hutan rimba. Di hutan rimba, Pandawa bertemu dengan raksasa Hidimba, dan adiknya Hidimbi. Hidimba dibunuh oleh Bima, lalu Hidimbi dinikahi. Dari pernikahan tersebut, lahirlah Gatotkaca. Setelah beberapa lama, Hidimbi dan Gatotkaca berpisah dengan para Pandawa sebab para pangeran tersebut harus melanjutkan perjalanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Panca Pandawa mendapatkan Drupadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pandawa lima yang melarikan diri ke rimba mengetahui akan diadakan sayembara di Kerajaan Panchala dengan syarat, barang siapa yang dapat membidik sasaran dengan tepat boleh menikahkan putri Raja Panchala (Drupada) yang bernama Panchali atau Dropadi. Arjuna pun mengikuti sayembara itu dan berhasil memenangkannya, tetapi Bima yang berkata kepada ibunya, &quot;lihat apa yang kami bawa ibu!&quot;. Kunti, menjawab, &quot;Bagi saja secara rata apa yang kalian dapat&quot;. Karena perkataan ibunya. Pancali pun bersuamikan lima orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Perselisihan antar keluarga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pamannya (Dretarastra) yang mengetahui bahwa Pandawa lima ternyata belum mati pun mengundang mereka untuk kembali ke Hastinapura dan memberikan hadiah berupa tanah dari sebagian kerajaannya, yang akhirnya Pandawa lima membangun kota dari sebagian tanah yang diberikan pamannya itu hingga menjadi megah dan makmur yang diberi nama Indraprastha. Duryodana yang pernah datang ke Indraprastha iri melihat bangunan yang begitu indah, megah dan artistik itu. Setelah pulang ke Hastinapura ia langsung memanggil arsitek terkemuka untuk membangun pendapa yang tidak kalah indahnya dari pendapa di Indraprastha. Bersamaan dengan pembangunan pendapa di Hastinapura ia pun merencanakan sesuatu untuk menjatuhkan Yudistira dan adik adiknya. Yang pada akhirnya Yudistra pun terjebak dalam rencananya Duryodana dan harus menjalani pengasingan selama 14 Tahun, di dalam pengasingan itu Yudistira pun menyusun rencana untuk membalas dendam atas penghinaan yang telah dilakukan Duryodana dan adik adiknya, yang akhirnya memicu terjadinya perang besar antara Pandawa dan Korawa serta sekutu-sekutunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Pertempuran besar di Kurukshetra&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pertempuran besar di Kurukshetra (atau lebih dikenal dengan istilah Bharatayuddha di Indonesia) merupakan pertempuran sengit yang berlangsung selama delapan belas hari. Pihak Pandawa maupun pihak Korawa sama-sama memiliki ksatria-ksatria besar dan angkatan perang yang kuat. Pasukan kedua belah pihak hampir gugur semuanya, dan kemenangan berada di pihak Pandawa karena mereka berhasil bertahan hidup dari pertempuran sengit tersebut. Semua Korawa gugur di tangan mereka, kecuali Yuyutsu, satu-satunya Korawa yang memihak Pandawa sesaat sebelum pertempuran berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;Akhir riwayat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setelah Kresna wafat, Byasa menyarankan para Pandawa agar meninggalkan kehidupan duniawi dan hidup sebagai pertapa. Sebelum meninggalkan kerajaan, Yudistira menyerahkan tahta kepada Parikesit, cucu Arjuna. Para Pandawa beserta Dropadi melakukan perjalanan terakhir mereka di Gunung Himalaya. Sebelum sampai di puncak, satu persatu dari mereka meninggal dalam perjalanan. Hanya Yudistira yang masih bertahan hidup dan didampingi oleh seekor anjing yang setia. Sesampainya di puncak, Yudistira dijemput oleh Dewa Indra yang menaiki kereta kencana. Yudistira menolak untuk mencapai surga jika harus meninggalkan anjingnya. Karena sikap tulus yang ditunjukkan oleh Yudistira, anjing tersebut menampakkan wujud aslinya, yaitu Dewa Dharma. Dewa Dharma berkata bahwa Yudistira telah melewati ujian yang diberikan kepadanya dengan tenang dan ia berhak berada di surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di surga, Yudistira terkejut karena ia tidak melihat saudara-saudaranya, sebaliknya ia melihat Duryodana beserta sekutunya di surga. Dewa Indra berkata bahwa saudara-saudara Yudistira berada di neraka. Mendengar hal itu, Yudistira lebih memilih tinggal di neraka bersama saudara-saudaranya daripada tinggal di surga. Pada saat itu, pemandangan tiba-tiba berubah. Dewa Indra pun berkata bahwa hal tersebut merupakan salah satu ujian yang diberikan kepadanya, dan sebenarnya saudara Yudistira telah berada di surga. Yudistira pun mendapatkan surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;http://www.mylivesignature.com&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://signatures.mylivesignature.com/54488/128/CF081EB71C69BAF86BC18AF0FF318534.png&quot; style=&quot;border: 0 !important; background: transparent;&quot;/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://ikhwansesat.blogspot.com/2010/05/pandawa.html</link><author>noreply@blogger.com (ikhwan sesat)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4489513683570848493.post-7182705500873952926</guid><pubDate>Tue, 11 May 2010 16:45:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-05-11T23:47:32.402+07:00</atom:updated><title>Makna Tembang Macapat</title><description>TRIWIKRAMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Triwikrama adalah tiga langkah “Dewa Wisnu” atau Atma Sejati (energi kehidupan) dalam melakukan proses penitisan. Awal mula kehidupan dimulai sejak roh manusia diciptakan Tuhan namun masih berada di alam sunyaruri yang jenjem jinem, dinamakan sebagai zaman kertayuga, zaman serba adem tenteram dan selamat di dalam alam keabadian. Di sana roh belum terpolusi nafsu jasad dan duniawi, atau dengan kata lain digoda oleh “setan” (nafsu negatif). Dari   alam keabadian selanjutnya roh manitis yang pertama kali yakni masuk ke dalam “air” sang bapa, dinamakanlah zaman tirtayuga.&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt; Air kehidupan (tirtamaya) yang bersemayam di dalam rahsa sejati sang bapa kemudian menitis ke dalam rahim sang rena (ibu). Penitisan atau langkah kedua Dewa Wisnu ini berproses di dalam zaman dwaparayuga. Sebagai zaman keanehan, karena asal mula wujud sukma adalah berbadan cahya lalu mengejawantah mewujud menjadi jasad manusia. Sang Bapa mengukir jiwa dan sang rena yang mengukir raga. Selama 9 bulan calon manusia berproses di dalam rahim sang rena dari wujud badan cahya menjadi badan raga.  Itulah zaman keanehan atau dwaparayuga. Setelah 9 bulan lamanya sang Dewa Wisnu berada di dalam zaman dwaparayuga. Kemudian langkah Dewa Wisnu menitis yang terakhir kalinya, yakni lahir ke bumi menjadi manusia yang utuh dengan segenap jiwa dan raganya. Panitisan terakhir Dewa Wisnu ke dalam zaman mercapadha. Merca artinya panas atau rusak, padha berarti papan atau tempat. Mercapadha adalah tempat yang panas dan mengalami kerusakan. Disebut juga sebagai Madyapada, madya itu tengah padha berarti tempat. Tempat yang berada di tengah-tengah, terhimpit di antara tempat-tempat gaib. Gaib sebelum kelahiran dan gaib setelah ajal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KIDUNG PANGURIPAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“SAKA GURU”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, di zaman Madya atau mercapadha ini manusia memiliki kecenderungan sifat-sifat yang negatif. Sebagai pembawaan unsur “setan”, setan tidak dipahami sebagai makhluk gaib gentayangan penggoda iman, melainkan sebagai kata kiasan dari nafsu negatif yang ada di dalam segumpal darah (kalbu).  Mercapadha merupakan perjalanan hidup PALING SINGKAT namun PALING BERAT dan SANGAT MENENTUKAN kemuliaan manusia dalam KEHIDUPAN SEBENARNYA yang sejati abadi azali. Para perintis bangsa di zaman dulu telah menggambarkan bagaimana keadaan manusia dalam berproses mengarungi kehidupan  di dunia selangkah demi selangkah yang dirangkum dalam tembang macapat (membaca sipat). Masing-masing tembang menggambarkan proses perkembangan manusia dari sejak lahir hingga mati. Ringkasnya, lirik nada yang digubah ke dalam berbagai bentuk tembang menceritakan sifat lahir, sifat hidup, dan sifat mati manusia sebagai sebuah perjalanan yang musti dilalui setiap insan. Penekanan ada pada sifat-sifat buruk manusia, agar supaya tembang tidak sekedar menjadi iming-iming, namun dapat menjadi pepeling dan saka guru untuk perjalanan hidup manusia. Berikut ini alurnya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. MIJIL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mijil artinya lahir. Hasil dari olah jiwa dan raga laki-laki dan perempuan menghasilkan si jabang bayi. Setelah 9 bulan lamanya berada di rahim sang ibu, sudah menjadi kehendak Hyang Widhi si jabang bayi lahir ke bumi. Disambut tangisan membahana waktu pertama merasakan betapa tidak nyamannya berada di alam mercapadha. Sang bayi terlanjur enak hidup di zaman dwaparayuga, namun harus netepi titah Gusti untuk lahir ke bumi. Sang bayi mengenal bahasa universal pertama kali dengan tangisan memilukan hati. Tangisan yang polos, tulus, dan alamiah bagaikan kekuatan getaran mantra tanpa tinulis. Kini orang tua bergembira hati, setelah sembilan bulan lamanya menjaga sikap dan laku prihatin agar sang rena (ibu) dan si ponang (bayi) lahir dengan selamat. Puja puji selalu dipanjat agar mendapat rahmat Tuhan Yang Maha Pemberi Rahmat atas lahirnya si jabang bayi idaman hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. MASKUMAMBANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lahir si jabang bayi, membuat hati orang tua bahagia tak terperi. Tiap hari suka ngudang melihat tingkah polah sang bayi yang lucu dan menggemaskan. Senyum si jabang bayi membuat riang bergembira yang memandang. Setiap saat sang bapa melantunkan tembang pertanda hati senang dan jiwanya terang. Takjub memandang kehidupan baru yang sangat menantang. Namun selalu waspada jangan sampai si ponang menangis dan demam hingga kejang. Orang tua takut kehilangan si ponang, dijaganya malam dan siang agar jangan sampai meregang. Buah hati bagaikan emas segantang. Menjadi tumpuan dan harapan kedua orang tuannya mengukir masa depan. Kelak jika sudah dewasa jadilah anak berbakti kepada orang tua, nusa dan bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. KINANTI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula berujud jabang bayi merah merekah, lalu berkembang menjadi anak yang selalu dikanthi-kanthi kinantenan orang tuannya sebagai anugrah dan berkah. Buah hati menjadi tumpuan dan harapan. Agar segala asa dan harapan tercipta, orang tua selalu membimbing dan mendampingi buah hati tercintanya. Buah hati bagaikan jembatan, yang dapat menyambung dan mempererat cinta kasih suami istri. Buah hati menjadi anugrah ilahi yang harus dijaga siang ratri. Dikanthi-kanthi (diarahkan dan dibimbing) agar menjadi manusia sejati. Yang selalu menjaga bumi pertiwi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. SINOM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinom isih enom. Jabang bayi berkembang menjadi remaja sang pujaan dan dambaan orang tua dan keluarga. Manusia yang masih muda usia. Orang tua menjadi gelisah, siang malam selalu berdoa dan menjaga agar pergaulannya tidak salah arah. Walupun badan sudah besar namun remaja belajar hidup masih susah. Pengalamannya belum banyak, batinnya belum matang, masih sering salah menentukan arah dan langkah. Maka segala tindak tanduk menjadi pertanyaan sang bapa dan ibu. Dasar manusia masih enom (muda) hidupnya sering salah kaprah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. DHANDANGGULA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Remaja beranjak menjadi dewasa. Segala lamunan berubah ingin berkelana. Mencoba hal-hal yang belum pernah dirasa. Biarpun dilarang agama, budaya dan orang tua, anak dewasa tetap ingin mencobanya. Angan dan asa gemar melamun dalam keindahan dunia fana. Tak sadar jiwa dan raga menjadi tersiksa. Bagi anak baru dewasa, yang manis adalah gemerlap dunia dan menuruti nafsu angkara, jika perlu malah berani melawan orang tua. Anak baru dewasa, remaja bukan dewasa juga belum, masih sering terperdaya bujukan nafsu angkara dan nikmat dunia. Sering pula ditakut-takuti api neraka, namun tak akan membuat sikapnya  menjadi jera. Tak mau mengikuti kareping rahsa, yang ada selalu nguja hawa. Anak dewasa merasa rugi bila tak mengecap manisnya dunia. Tak peduli orang tua terlunta, yang penting hati senang gembira. Tak sadar tindak tanduknya bikin celaka, bagi diri sendiri, orang tua dan keluarga. Cita-citanya setinggi langit, sebentar-sebentar minta duit, tak mau hidup irit. Jika tersinggung langsung sengit. Enggan berusaha yang penting apa-apa harus tersedia. Jiwanya masih muda, mudah sekali tergoda api asmara. Lihat celana saja menjadi bergemuruh rasa di dada. Anak dewasa sering bikin orang tua ngelus dada. Bagaimanapun juga mereka buah dada hati yang dicinta. Itulah sebabnya orang tua tak punya rasa benci kepada pujaan hati. Hati-hati bimbing anak muda yang belum mampu membuka panca indera, salah-salah justru bisa celaka semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. ASMARADANA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asmaradana atau asmara dahana yakni api asmara yang membakar jiwa dan raga. Kehidupannya digerakkan oleh motifasi harapan dan asa asmara. Seolah dunia ini miliknya saja. Membayangkan dirinya bagaikan sang pujangga atau pangeran muda. Apa yang dicitakan haruslah terlaksana, tak pandang bulu apa akibatnya. Hidup menjadi terasa semakin hidup lantaran gema asmara membahana dari dalam dada. Biarlah asmara membakar semangat hidupnya, yang penting jangan sampai terlena. Jika tidak, akan menderita dikejar-kejar tanggungjawab hamil muda. Sebaliknya akan hidup mulia dan tergapai cita-citanya. Maka sudah menjadi tugas orang tua membimbing mengarahkan agar tidak salah memilih idola. Sebab sebentar lagi akan memasuki gerbang kehidupan baru yang mungkin akan banyak mengharu biru. Seyogyanya suka meniru tindak tanduk sang gurulaku, yang sabar membimbing setiap waktu dan tak pernah menggerutu. Jangan suka berpangku namun pandailah  memanfaatkan waktu. Agar cita-cita dapat dituju. Asmaradana adalah saat-saat yang menjadi penentu, apakah dirimu akan menjadi orang bermutu, atau polisi akan memburu dirimu. Salah-salah gagal menjadi menantu, malah akan menjadi seteru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. GAMBUH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambuh atau Gampang Nambuh, sikap angkuh serta acuh tak acuh, seolah sudah menjadi orang yang teguh, ampuh dan keluarganya tak akan runtuh. Belum pandai sudah berlagak pintar. Padahal otaknya buyar matanya nanar merasa cita-citanya sudah bersinar. Menjadikannya tak pandai melihat mana yang salah dan benar. Di mana-mana ingin diakui bak pejuang, walau hatinya tak lapang. Pahlawan bukanlah orang yang berani mati, sebaliknya berani hidup menjadi manusia sejati. Sulitnya mencari jati diri kemana-mana terus berlari tanpa henti.  Memperoleh sedikit sudah dirasakan banyak, membuat sikapnya mentang-mentang bagaikan sang pemenang. Sulit mawas diri, mengukur diri terlalu tinggi. Ilmu yang didapatkannya seolah menjadi senjata ampuh tiada tertandingi lagi. Padahal pemahamannya sebatas kata orang. Alias belum bisa menjalani dan menghayati. Bila merasa ada  yang kurang, menjadikannya sakit hati dan rendah diri. Jika tak tahan ia akan berlari menjauh mengasingkan diri. Menjadi pemuda pemudi yang jauh dari anugrah ilahi. Maka, belajarlah dengan teliti dan hati-hati. Jangan menjadi orang yang mudah gumunan dan kagetan. Bila sudah paham hayatilah dalam setiap perbuatan. Agar ditemukan dirimu yang sejati sebelum raga yang dibangga-banggakan itu menjadi mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. DURMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munduring tata krama. Dalam cerita wayang purwa dikenal  banyak tokoh dari kalangan “hitam” yang jahat. Sebut saja misalnya Dursasana, Durmagati,Duryudana. Dalam terminologi Jawa dikenal berbagai istilah menggunakan suku kata dur/ dura (nglengkara) yang mewakili makna negatif (awon). Sebut saja misalnya : duraatmoko, duroko, dursila, dura sengkara, duracara (bicara buruk), durajaya, dursahasya, durmala, durniti, durta, durtama, udur, dst.  Tembang Durma, diciptakan untuk mengingatkan sekaligus  menggambarkan keadaan manusia yang cenderung berbuat buruk atau jahat. Manusia gemar udur atau cekcok, cari menang dan benernya sendiri, tak mau memahami perasaan orang lain. Sementara manusia cendrung mengikuti hawa nafsu yang dirasakan sendiri (nuruti rahsaning karep). Walaupun merugikan orang lain tidak peduli lagi. Nasehat bapa-ibu sudah tidak digubris dan dihiraukan lagi. Lupa diri selalu merasa iri hati. Manusia walaupun tidak mau disakiti, namun gemar menyakiti hati. Suka berdalih niatnya baik, namun tak peduli caranya yang kurang baik. Begitulah keadaan manusia di planet bumi, suka bertengkar, emosi, tak terkendali, mencelakai, dan menyakiti. Maka hati-hatilah, yang selalu eling dan waspadha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. PANGKUR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila usia telah uzur, datanglah penyesalan. Manusia menoleh kebelakang (mungkur) merenungkan apa yang dilakukan pada masa lalu. Manusia terlambat mengkoreksi diri, kadang kaget atas apa yang pernah ia lakukan, hingga kini yang ada  tinggalah menyesali diri. Kenapa dulu tidak begini tidak begitu. Merasa diri menjadi manusia renta yang hina dina sudah tak berguna.  Anak cucu kadang menggoda, masih meminta-minta sementara sudah tak punya lagi sesuatu yang berharga. Hidup merana yang dia punya tinggalah penyakit tua. Siang malam selalu berdoa saja, sedangkan raga tak mampu berbuat apa-apa.  Hidup enggan mati pun sungkan. Lantas bingung mau berbuat apa. Ke sana-ke mari ingin mengaji, tak tahu jati diri, memalukan seharusnya sudah menjadi guru ngaji. Tabungan menghilang sementara penyakit kian meradang. Lebih banyak waktu untuk telentang di atas ranjang. Jangankan teriak lantang, anunya pun sudah tak bisa tegang, yang ada hanyalah mengerang terasa nyawa hendak melayang. Sanak kadhang enggan datang, karena ingat ulahnya di masa lalu yang gemar mentang-mentang. Rasain loh bentar lagi menjadi bathang..!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. MEGATRUH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Megat ruh, artinya putusnya nyawa dari raga. Jika pegat tanpa aruh-aruh. Datanya ajal akan tiba sekonyong-konyong. Tanpa kompromi sehingga manusia banyak yang disesali.  Sudah terlambat untuk memperbaiki diri. Terlanjur tak paham jati diri. Selama ini menyembah tuhan penuh dengan pamrih dalam hati, karena takut neraka dan berharap-harap pahala surga. Kaget setengah mati saat mengerti kehidupan yang sejati. Betapa kebaikan di dunia menjadi penentu yang sangat berarti. Untuk menggapai kemuliaan yang sejati dalam kehidupan yang azali abadi. Duh Gusti, jadi begini, kenapa diri ini sewaktu masih muda hidup di dunia fana, sewaktu masih kuat dan bertenaga, namun tidak melakukan kebaikan kepada sesama. Menyesali diri ingat dulu kala telah menjadi durjana. Sembahyangnya rajin namun tak sadar sering mencelakai dan menyakiti hati sesama manusia. Kini telah tiba saatnya menebus segala dosa, sedih sekali ingat tak berbekal pahala. Harapan akan masuk surga, telah sirna tertutup bayangan neraka menganga di depan mata. Di saat ini manusia baru menjadi saksi mati, betapa penyakit hati menjadi penentu dalam meraih kemuliaan hidup yang sejati. Manusia tak sadar diri sering merasa benci, iri hati, dan dengki. Seolah menjadi yang paling benar, apapun tindakanya ia merasa paling pintar,  namun segala keburukannya dianggapnya demi membela diri.  Kini dalam kehidupan yang sejati, sungguh baru bisa dimengerti, penyakit hati sangat merugikan diri sendiri. Duh Gusti…!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. POCUNG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pocung atau pocong adalah orang yang telah mati lalu dibungkus kain kafan. Itulah batas antara kehidupan mercapadha yang panas dan rusak dengan kehidupan yang sejati dan abadi. Bagi orang yang baik kematian justru menyenangkan sebagai kelahirannya kembali, dan merasa kapok hidup di dunia yang penuh derita. Saat nyawa meregang, rasa bahagia bagai lenyapkan dahaga mereguk embun pagi. Bahagia sekali disambut dan dijemput para leluhurnya sendiri. Berkumpul lagi di alam yang abadi azali. Kehidupan baru setelah raganya mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa bila diri telah mati. Yang dirasa semua orang kok tak mengenalinya lagi. Rasa sakit hilang badan menjadi ringan. Heran melihat raga sendiri dibungkus dengan kain kafan.  Sentuh sana sentuh sini tak ada yang mengerti. Di sana-di sini ketemu orang yang menangisi. Ada apa kok jadi begini, merasa heran kenapa sudah bahagia dan senang kok masih ditangisi. Ketemunya para kadhang yang telah lama nyawanya meregang. Dalam dimensi yang tenang, hawanya sejuk tak terbayang. Kemana mau pergi terasa dekat sekali. Tak ada lagi rasa lelah otot menegang. Belum juga sadar bahwa diri telah mati. Hingga beberapa hari barulah sadar..oh jasad ini telah mati. Yang abadi tinggalah roh yang suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara yang durjana, meregang nyawa tiada yang peduli. Betapa sulit dan sakit meregang nyawanya sendiri, menjadi sekarat yang tak kunjung mati. Bingung kemana harus pergi, toleh kanan dan kiri  semua bikin gelisah hati.  Seram mengancam dan mencekam. Rasa sakit kian terasa meradang. Walau mengerang tak satupun yang bisa menolongnya. Siapapun yang hidup di dunia pasti mengalami dosa. Tuhan Maha Tahu dan Bijaksana tak pernah luput menimbang kebaikan dan keburukan walau sejumput. Manusia baru sadar, yang dituduh kapir belum tentu kapir bagi Tuhan, yang dianggap sesat belum tentu sesat menurut Tuhan.  Malah-malah yang suka menuduh  menjadi tertuduh. Yang suka menyalahkan justru bersalah. Yang suka mencaci dan menghina justru orang yang hina dina. Yang gemar menghakimi orang akan tersiksa. Yang suka mengadili akan diadili. Yang ada tinggalah rintihan lirih tak berarti, “Duh Gusti pripun kok kados niki…! Oleh sebab itu, hidup kudu jeli, nastiti, dan ngati-ati. Jangan suka menghakimi orang lain yang tak sepaham dengan diri sendiri. Bisa jadi yang salah malah pribadi kita sendiri. Lebih baik kita selalu mawas diri, agar kelak jika mati arwahmu tidak nyasar menjadi memedi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. WIRANGRONG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup di dunia ini penuh dengan siksaan, derita, pahit dan getir, musibah dan bencana. Namun manusia bertugas untuk merubah semua itu menjadi anugrah dan bahagia. Manusia harus melepaskan derita diri pribadi, maupun derita orang lain. Manusia harus saling asah asih dan asuh kepada sesama. Hidup yang penuh cinta kasih sayang, bukan berarti mencintai dunia secara membabi-buta, namun artinya manusia harus peduli, memelihara dan merawat, tidak membuat kerusakan bagi sesama manusia lainnya, bagi makhluk hidup dan maupun jagad raya seisinya. Itulah nilai kebaikan yang bersifat universal. Sebagai wujud nyata hamemayu hayuning bawana, rahmatan lil alamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan lah terlambat, akan mengadu pada siapa bila jasad sudah masuk ke liang lahat (ngerong). Wirangrong, Sak wirange mlebu ngerong, berikut segala perbuatan memalukan selama hidup ikut dikubur bersama jasad yang kaku. Keburukannya akan diingat masyarakat, aibnya dirasakan oleh anak, cucu, dan menantu. Jika kesadaran terlambat manusia akan menyesal namun tak bisa lagi bertobat. Tidak pandang bulu, yang kaya atau melarat, pandai maupun bodoh keparat,  yang jelata maupun berpangkat, tidak pandang derajat seluruh umat. Semua itu sekedar pakaian di dunia, tidak bisa menolong kemuliaan di akherat. Hidup di dunia sangatlah singkat, namun mengapa manusia banyak yang keparat. Ajalnya mengalami sekarat. Gagal total merawat barang titipan Yang Mahakuasa,  yakni  segenap jiwa dan raganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika manusia tak bermanfaat untuk kebaikan kepada sesama umat, dan kepada seluruh jagad, merekalah manusia bejat dan laknat. Pakaian itu hanya akan mencelakai manusia di dalam kehidupan yang sejati dan abadi. Orang kaya namun pelit dan suka menindas,  orang miskin namun kejam dan pemarah, orang pandai namun suka berbohong dan licik, orang bodoh namun suka mencelakai sesama, semua itu akan menyusahkan diri sendiri dalam kehidupan yang abadi. Datanglah penyesalan kini, semua yang benar dan salah tak tertutup nafsu duniawi. Yang ada tinggalah kebenaran yang sejati. Mana yang benar dan mana yang salah telah dilucuti, tak ada lagi secuil tabirpun yang bisa menutupi. Semua sudah menjadi rumus Ilahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di alam penantian nanti, manusia tak berguna tetap hidup di alam yang sejati dan hakiki, namun ia akan merana, menderita, dan terlunta-lunta. Menebus segala dosa dan kesalahan sewaktu hidup di planet bumi. Lain halnya manusia yang  berguna untuk sesama di alam semesta, hidupnya di alam keabadian meraih kemuliaan yang sejati. Bahagia tak terperi, kemana-mana pergi dengan mudah sekehendak hati. Ibarat “lepas segala tujuannya” dan “luas kuburnya”. Tiada penghalang lagi, seringkali menengok anak cucu cicit yang masih hidup di dimensi bumi. Senang gembira rasa hati, hidup sepanjang masa di alam keabadian yang langgeng tan owah gingsir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;http://www.mylivesignature.com&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://signatures.mylivesignature.com/54488/128/CF081EB71C69BAF86BC18AF0FF318534.png&quot; style=&quot;border: 0 !important; background: transparent;&quot;/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://ikhwansesat.blogspot.com/2010/05/makna-tembang-macapat.html</link><author>noreply@blogger.com (ikhwan sesat)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4489513683570848493.post-1677332687738139328</guid><pubDate>Fri, 07 May 2010 23:45:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-05-08T07:40:17.745+07:00</atom:updated><title>Di Balik Perjalanan Nabi Musa AS</title><description>Ketika itu nabi Musa AS sedang berdakwah kemudian dia ditanya oleh pengikutnya &quot;apakah ada manusia yang lebih alim dari nabi musa?&quot;&lt;br /&gt;kemudian dengan agak marah maka nabi musa menjawab,bahwa tidak ada yang libih alim darinya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar perkataan tersebut..Rabbnya mengutus malaikat jibril bahwa sesungguhnya ada hamba-Nya yang lebih alim dari dirinya..,&lt;br /&gt;kemudian nabi musa bertanya kepada malaikat jibril..&lt;br /&gt;&quot;dimana aku bisa bertemu dengan dia&quot;?&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;kemudian jibril menjawab..&lt;br /&gt;jika kamu menemukan perbatasan antara dua laut dan kamu bawa ikan tersebut(ikan tersebut mati)di temuimu hidup dan berenang bebas di tempat itu ,maka di situlah kamu bisa bertemu dengan hamba-Nya yang sholeh..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kemdian nabi musa pun berangkat dengan kedua orang pengikutnya..&lt;br /&gt;kemudian nabi musa berjalan dengan pengikutnya mencari tempat dimana dia bisa bertemu dengan hamba-NYA yang sholeh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setelah lama berjalan nabi musa kemduian istirahat di sebuah batu..waktu itu nabi Musa AS tertidur sedangkan para pengikutnya tetap terjaga memerhatikan ikan itu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saat pengikutnya berjlan ke arah laut,pengikutnya itu melihat bahwa ikan itu hidup dan berenang dengan menakjubkannya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi pengikutnya itu tidak tahu arti tanda-tanda itu....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kemudian mereka melanjutkan perjalanan...lama mereka berjalan tapi tidak juga menemukan tempat tersebut.......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kemudian saat nabi musa melihat bahwa ikan yang di keranjang sudah tidak ada,maka Beliau bertanya pada pengikutnya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;kemana ikan itu????&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu pengikutnya pun menceritakan apa yang telah dilihatnya malam itu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;akhirnya mereka kembali ketempat itu lagi...kemudian nabi musa berjalan ke arah tengah laut dan dia pun bertemu dengan hamba-Nya yang sholeh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;akhirnya bertemulah nabi musa dengan hamba tersebut....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kemudian terjadilah dialog..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(dikisahkan dalam Alquran bahwa hamba itu bernama khidir)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nabi musa : &quot;wahai hamba Allah mohon ijinkan aku untuk mengikutimu agar aku bisa menjadi sepertimu....&quot;&lt;br /&gt;khidir : &quot;sesungguhnya kamu tidak akan bisa mengikutiku...&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nabi musa : &quot;sesungguhnya aku cukup bersabar dan cukup sholeh untuk mengikutmu....&quot;&lt;br /&gt;khidir : &quot;sesungguhnya kamu tidak akan bisa mengikutiku...,tapi jika memang kamu hendak tau, aku akan mengadakan perjalanan,ikutlah denganku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kemudian mereka pun berjalan, di tengah perjalanan nabi khidir mengulangi lagi perkataannya bahwa ia (nabi musa) tak akan bisa mengikutinya..&lt;br /&gt;kemudian nabi khidir berkata bahwa nanti nabi musa tidak boleh bertanya apa yang dilakukan oleh nabi khidir,sebelum nabi khidir sendri yang menjelaskannya,,,,,&lt;br /&gt;nabi musa pun menyanggupinya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kemudian mereka hendak menyebrangi sungai...kemudian ada nelayan miskin yang kenal dengan nabi khidir..akhirnya berdua itu naiklah ke perahu nelayan itu...sesampainya di seberang sungai tiba&quot; nabi khidir melubangi kapal itu..dan mencopoti papannya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;melihat hal tersubut nabi musa kaget dan berkata kepada nabi khidir dengan nada agak marah...&lt;br /&gt;nabi musa : &quot;mengapa kau lakukan itu....,,sesungguhnya kau telah melakukan perbuatan dzolim...&quot;&lt;br /&gt;nabi khidir : &quot;kamu tidak akan mampu bersabar denganku...&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sadar akan kesalahannya nabi musa meminta maaf kepada nabi khidir&lt;br /&gt;kemudian mereka berdua berjalan menuju suatu desa kemudian ada beberapa anak yang bermain&lt;br /&gt;dan salah 1 anak itu tengah tertidur di bawah pohon..&lt;br /&gt;melihat hal tersebut tiba-tiba khidir pun mendekatinya dan membunuh anak itu dengan memutus lehernya&lt;br /&gt;karena melihat perbuatan khidir itu nabi musa marah&lt;br /&gt;namun nabi khdir hanya mengingatkan janji nabi musa kepadanya..&lt;br /&gt;kemdian nabi musa berkata jika dia tidak akan bertnya lagi tentang yang dilakukan oleh khidir sebelum khidir sendiri yang menjelaskan&lt;br /&gt;kemudian mereka berdua melewati sebuah desa ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;desa itu tampah rapi,rumahnya bagus-bagus dan mewah-mewah,,,karena hari sudah malam lalu mereka hendak menginap di salah satu rumah itu... tapi ternyata tidak ada satupun yang mau mempersilahkan mereka untuk menginap...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;namun ada satu rumah yang dilewati oleh mereka(nabi musa dan nabi khidir) yang beda dari yang lain, rumah itu tampak tua dan reot hampir rubuh,,,di dalamnya tinggal seorang anak yatim piatu yang baru ditinggal oleh ayahnya,,,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lalu mereka pun menginap di rumah itu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;keesokan harinya mereka bangun,,lalu nabi khidir pun memperbaiki rumah itu sehingga menjadi bagus lagi....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nabi musa yang melihat perbuatan yang dilakukan oleh sang hamba Allah tersebut itu bingung,,,,&lt;br /&gt;mengapa dirinya rela bersusah payah memperbaiki rumah itu padahal orang-orang disitu bakhil dan kikir...&lt;br /&gt;dan mengapa ia rela memperbaiki rumah yang hanya dihuni oleh seorang anak yatim piatu itu....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karena bingung dan heran melihat yang dilakukan khidir maka nabi musa pun bertanya&lt;br /&gt;musa : &quot;apa yang kau lakukan?? mengapa kau bersusah payah melakukan semua itu??? padahal itu belum tentu bermanfaat untukmu&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;khidir : &quot;sesungguhya kau tidak mampu bersabar denganku,,,sudah cukup kau menguikutiku... sesungguhnya ketika ak melubangi perahu nelayan itu karena aku tau bahwa nanti akan ada raja yang dzalim yang akan merebut kapal-kapal yang di miliki oleh para nelayan itu,,padahal aku tau bahwa perahu itu digunakan untuk dia untuk menafkahi keluarganya,,dengan aku lubangi maka perahunya tidak akan dirampas dan ia bisa perbaiki lagi sehingga ia bisa tetap mencari nafkah untuk keluarganya,,&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;kemudian saat aku membunuh anak kecil itu,,sebenarnya karena aku tau bahwa nanti saat dewasa dia akan menjadi anak yang dzalim kepada orang tuanya,,dengan membunuhnya maka aku berdoa pada Allah agar Allah menggantinya dengan anak yang sholeh..&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;dan saat aku memperbaiki rumah itu ,,karena aku tau ada harta karun yang sangat melimpah yang tersimpan di rumah itu,,,orang tua anak tersebut adalah orang yang sholeh..,,,Allah merencanakan bahwa harta karun itu akan dipergunakan jika anak tersebut dewasa ,,,oleh karena itu maka rumah tersebut aku perbaiki supaya harta tersebut tetap terjaga sampai anak tersebut dewasa,,,&quot;&lt;br /&gt;&quot;semua itu lah sebenarnya makna tentang kehidupan,,tidak selalu apa yang menurut hukum benar itu adalah hal yang benar,,itulah hakikat kehidupan..&quot;&lt;br /&gt;khidir : &quot;sudah cukuplah pertemuan kau ini denganku,,karena sesungguhnya kau tidak bisa mengikutiku,,&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;musa :&quot;hamba meminta maaf sesungguhnya hamba tidak tahu apa yang sedang anda pikirkan dan yang sedang Allah rencanakan,,baiklah aku juga akan menepati janjiku pada anda...terima kasih atas ilmu yang anda ajarkan padaku..&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kghidir : &quot;jangan berterima kasih kepadaku tapi berterima kasihlah pada Allah karena aku hanyalah alatnya yang digunakan untuk memberitahumu bahwa tak ada manusia yang paling bijak dan paling pintar yang melebihi Dia,,,sekalipun manusia itu nabi,,sesungguhnya baik nabi maupun bukan adalah sama yang membedakan adalah kewajibannya..&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;itulah akhir dari cerita tersebut...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari cerita di atas dapat kita ambil suatu pelajaran yang bermakna&lt;br /&gt;yaitu bahwa tidak ada manusia yang lebih tau dari Robbnya&lt;br /&gt;karena kita hanyalah milikNya apa pun yang kita miliki pada hakekatnya adalah milikNya&lt;br /&gt;termasuk tubuh dan jiwa kita,,,semua yang ada di bumi dan langit beserta isinya adalah milik Allah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kemudian ada hamba-hamba Allah yang Sholeh yang bukan dari golongan nabi dan bukan dari golongan syuhada yang diberikan ilmu dari sisiNya,,,(seperti Khidir)&lt;br /&gt;yang tau tentang makna kehidupan yang kadang orang melihat hal yang dilakukan itu adalah salah padahal sesungguhnya apa yang di lakukannya itu benar menurut Allah&lt;br /&gt;mereka itulah yg diberi oleh Allah sesuatu yang berharga dan amanat untuk menjadi khalifah yang sesungguhnya di bumi ini..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(ditulis ulang dengan sedikit perubahan dari notes teman, thanks buat mbah Singgih, trus nulis mbah) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;http://www.mylivesignature.com&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://signatures.mylivesignature.com/54488/128/CF081EB71C69BAF86BC18AF0FF318534.png&quot; style=&quot;border: 0 !important; background: transparent;&quot;/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://ikhwansesat.blogspot.com/2010/05/di-balik-perjalanan-nabi-musa-as.html</link><author>noreply@blogger.com (ikhwan sesat)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4489513683570848493.post-5618817105513293340</guid><pubDate>Wed, 28 Apr 2010 14:34:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-04-28T21:55:28.164+07:00</atom:updated><title>Trik Baru (lumayan buat ngerjain orang)</title><description>lumayan nih buat yang mau coba&quot; iseng...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kali ini q mau bikin icon&quot; di desktop biar ngga bisa di klik..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pasti nyebelin buat orang yang masih awam ma komputer (lumayan, buat di warnet, sama lab sekolah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;step 1&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kosongkan area desktop (mouse taruh di ujung kanan bawah, tutup semua open windows, jadi cuman sisain icon&quot; desktop.&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;step 2&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pencet tombol &quot;print screen&quot; atau &quot;prtscrn&quot; pada keyboard.&lt;br /&gt;lalu buka aplikasi &quot;paint&quot; (bawaan windows), photohop, corel draw atau aplikasi edit gambar yang lain juga bisa.&lt;br /&gt;terus, paste gambar yang udah di print screen tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalo udah, save gambar hasil print screen, terserah mau ditaruh dimana. jangan lupa format gambarnya *.jpg yah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-weight:bold;&quot;&gt;step 3&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jadiin gambar tadi sebagai wallpaper, sepintas sih sama aja.&lt;br /&gt;nah, sekarang klik kanan pada area kosong di desktop, lalu klik [Arrange Icons By] &gt; [Show Desktop Icons]&lt;br /&gt;Buat vista. [View] &gt; [Show Desktop Icons]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;coba, klik icon yang ada di desktop, ga bisa kan...?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;http://www.mylivesignature.com&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://signatures.mylivesignature.com/54488/128/CF081EB71C69BAF86BC18AF0FF318534.png&quot; style=&quot;border: 0 !important; background: transparent;&quot;/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://ikhwansesat.blogspot.com/2010/04/trik-baru-lumayan-buat-ngerjain-orang.html</link><author>noreply@blogger.com (ikhwan sesat)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4489513683570848493.post-2297904684954667987</guid><pubDate>Thu, 15 Apr 2010 05:50:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-04-15T13:12:52.008+07:00</atom:updated><title>Info Pendaftaran USM STAN Tahun 2010</title><description>[ USM STAN 2010 ]&lt;br /&gt;1. Pengumuman pendaftaran USM&lt;br /&gt;   sekitar akhir bulan ini (tunggu aja yah...)&lt;br /&gt;2. Pendaftaran&lt;br /&gt;   Tanggal 3 s.d. 21 Mei 2010&lt;br /&gt;3. Pelaksanaan USM&lt;br /&gt;   Tanggal 13 Juni 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Info lain:&lt;br /&gt;- Pendaftaran TIDAK melalui sistem e-reg seperti tahun lalu.&lt;br /&gt;- D-III Reguler Seluruh Spesialisasi dan Crash Program Bea &amp; Cukai.&lt;br /&gt;- Biaya pendaftaran Rp 150.000,00.&lt;br /&gt;- Tunggu pengumuman resminya. (sumber: Kepala Sekretariat STAN)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;syarat pendaftaran dan info lainnya silahkan kunjungi &lt;a href=&#39;http//:www.stan.ac.id&#39;&gt;www.stan.ac.id&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;http://www.mylivesignature.com&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://signatures.mylivesignature.com/54488/128/CF081EB71C69BAF86BC18AF0FF318534.png&quot; style=&quot;border: 0 !important; background: transparent;&quot;/&gt;&lt;/a&gt;</description><link>http://ikhwansesat.blogspot.com/2010/04/info-pendaftaran-usm-stan-tahun-2010.html</link><author>noreply@blogger.com (ikhwan sesat)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4489513683570848493.post-7761072335072820415</guid><pubDate>Mon, 12 Apr 2010 19:20:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-04-13T02:31:54.010+07:00</atom:updated><title>Jadi Ikhwan Jangan Cengeng</title><description>Tulisan ini aku kopas dari blog temen (&lt;a href=&#39;http://scaciody.blogspot.com&#39;&gt;scaciody.blogspot.com&lt;/a&gt;). soalnya waktu pertama aku baca langsung nGarsa kalo tulisan ini aku banget....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;=====START=====&lt;br /&gt;*copy paste* dari Notes kakak tingkat yang katanya juga copy paste ndak tahu dari siapa. hehehe... :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JADI IKHWAN JANGAN CENGENG..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi Ikhwan jangan cengeng..&lt;br /&gt;Dikasih amanah pura-pura batuk..&lt;br /&gt;Nyebutin satu persatu kerjaan biar dikira sibuk..&lt;br /&gt;Afwan ane sakit.. Afwan PR ane numpuk..&lt;br /&gt;Afwan ane banyak kerjaan, kalo nggak selesai bisa dituntut..&lt;br /&gt;Afwan ane ngurus anu ngurus itu jadinya suntuk..&lt;br /&gt;Terus dakwah gimana? digebuk?&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi Ikhwan jangan cengeng..&lt;br /&gt;Dikit-dikit dengerin lagunya edcoustic..&lt;br /&gt;udah gitu yang nantikanku di batas waktu, bikin nyelekit..&lt;br /&gt;Ke-GR-an tuh kalo ente melilit..&lt;br /&gt;Kesehariannya malah jadi genit..&lt;br /&gt;Jauh dari kaca jadi hal yang sulit..&lt;br /&gt;Hati-hati kalo ditolak, bisa sakiiiittt…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi Ikhwan jangan cengeng…&lt;br /&gt;Dikit-dikit SMSan sama akhwat pake Paketan SMS biar murah..&lt;br /&gt;Rencana awal cuma kirim Tausyiah..&lt;br /&gt;Lama-lama nanya kabar ruhiyah.. sampe kabar orang rumah..&lt;br /&gt;Terselip mikir rencana walimah?&lt;br /&gt;Tapi nggak berani karena terlalu wah!&lt;br /&gt;Akhirnya hubungan tanpa status aja dah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi Ikhwan jangan cengeng…&lt;br /&gt;Abis nonton film palestina semangat membara..&lt;br /&gt;Eh pas disuruh jadi mentor pergi entah kemana..&lt;br /&gt;Semangat jadi penontonnya luar biasa..&lt;br /&gt;Tapi nggak siap jadi pemainnya.. yang diartikan sama dengan hidup sengsara..&lt;br /&gt;Enak ya bisa milih-milih yang enaknya aja..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi Ikhwan jangan cengeng..&lt;br /&gt;Ngumpet-ngumpet buat pacaran..&lt;br /&gt;Ketemuan di mol yang banyak taman..&lt;br /&gt;Emang sih nggak pegangan tangan..&lt;br /&gt;Cuma lirik-lirikkan dan makan bakso berduaan..&lt;br /&gt;Oh romantisnya, dunia pun heran..&lt;br /&gt;Kalo ketemu Murabbi atau binaan..&lt;br /&gt;Mau taruh di mana tuh muka yang jerawatan?&lt;br /&gt;Oh malunya sama Murabbi atau binaan?&lt;br /&gt;Sama Allah? Nggak kepikiran..&lt;br /&gt;Yang penting nyes nyes romantis semriwing asoy-asoy-yaannn..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi Ikhwan jangan cengeng..&lt;br /&gt;Disuruh infaq cengar-cengir..&lt;br /&gt;Buat beli tabloid bola nggak pake mikir..&lt;br /&gt;Dibilang kikir marah-marah dah tuh bibir..&lt;br /&gt;Suruh tenang dan berdzikir..&lt;br /&gt;Malah tangan yang ketar-ketir..&lt;br /&gt;Leher saudaranya mau dipelintir!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi Ikhwan jangan cengeng…&lt;br /&gt;Semangat dakwah ternyata bukan untuk amanah..&lt;br /&gt;Malah nyari Aminah..&lt;br /&gt;Aminah dapet, terus Walimah..&lt;br /&gt;Dakwah pun hilang di hutan antah berantah..&lt;br /&gt;Dakwah yang dulu kemanakah?&lt;br /&gt;Dakwah kawin lari.. lari sama Aminah..&lt;br /&gt;Duh duh… Amanah Aminah..&lt;br /&gt;Dakwah.. dakwah..&lt;br /&gt;Kalah sama Aminah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi Ikhwan jangan cengeng..&lt;br /&gt;Buka facebook liatin foto akhwat..&lt;br /&gt;Dicari yang mengkilat..&lt;br /&gt;Kalo udah dapet ya tinggal sikat..&lt;br /&gt;Jurus maut Ikhwan padahal gak jago silat..&lt;br /&gt;“Assalammu’alaykum Ukhti, salam ukhuwah.. udah kuliah? Suka coklat?”&lt;br /&gt;Disambut baik sama ukhti, mulai berpikir untuk traktir Es Krim Coklat ..&lt;br /&gt;Akhwatnya terpikat..&lt;br /&gt;Mau juga ditraktir secara cepat..&lt;br /&gt;Asik, akhirnya bisa jg ikhtilat…&lt;br /&gt;yaudah.. langsung TEMBAK CEPAT!&lt;br /&gt;Akhwatnya mau-mau tapi malu bikin penat..&lt;br /&gt;badan goyang-goyang kayak ulat..&lt;br /&gt;Ikhwannya nyamperin dengan kata-kata yang memikat..&lt;br /&gt;Kasusnya sih kebanyakan yang ‘gulat’..&lt;br /&gt;Zina pun menjadi hal yang nikmat..&lt;br /&gt;Udah pasti dapet laknat..&lt;br /&gt;Duh.. maksiat.. maksiat…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi Ikhwan jangan cengeng…&lt;br /&gt;Ilmu nggak seberapa hebat..&lt;br /&gt;Udah mengatai Ustadz..&lt;br /&gt;Nyadar diri woi lu tuh lulusan pesantren kilat..&lt;br /&gt;Baca qur’an tajwid masih perlu banyak ralat..&lt;br /&gt;Lho kok udah berani nuduh ustadz..&lt;br /&gt;Semoga tuh otaknya dikasih sehat..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi Ikhwan jangan cengeng…&lt;br /&gt;Status facebook tiap menit ganti..&lt;br /&gt;Isinya tentang isi hati..&lt;br /&gt;Buka-bukaan ngincer si wati..&lt;br /&gt;Nunjukkin diri kalau lagi patah hati..&lt;br /&gt;Minta komen buat dikuatin biar gak mati bunuh diri..&lt;br /&gt;Duh duh.. status kok bikin ruhiyah mati..&lt;br /&gt;Dikemanakan materi yang ustadz sampaikan tadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi Ikhwan jangan cengeng..&lt;br /&gt;Ngeliat ikhwan-ikhwan yang lain deket banget sama akhwat mau ikutan..&lt;br /&gt;Hidup jadi kayak sendirian di tengah hutan rambutan..&lt;br /&gt;Mau ikutan tapi udah tau kayak gitu nggak boleh.. tau dari pengajian..&lt;br /&gt;Kepala cenat-cenut kebingungan..&lt;br /&gt;Oh kasihan.. Mendingan cacingan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi Ikhwan jangan cengeng..&lt;br /&gt;Ngeliat pendakwah akhlaknya kayak preman..&lt;br /&gt;Makin bingung nyari teladan..&lt;br /&gt;Teladannya bukan lagi idaman..&lt;br /&gt;Hidup jadi abu-abu kayak mendungnya awan..&lt;br /&gt;Mau jadi putih nggak kuat nahan..&lt;br /&gt;Ah biarlah kutumpahkan semua dengan cacian makian..&lt;br /&gt;Akhirnya aku ikut-ikutan jadi preman..&lt;br /&gt;Teladan pun sekarang ini susah ditemukan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi Ikhwan jangan cengeng..&lt;br /&gt;Diajakain dauroh alasannya segudang..&lt;br /&gt;Semangat cuma pas diajak ke warung padang..&lt;br /&gt;Atau maen game bola sampe begadang..&lt;br /&gt;Mata tidur pas ada lantunan tilawah yang mengundang..&lt;br /&gt;Tapi mata kebuka lebar waktu nyicipin lauk rendang..&lt;br /&gt;Duh.. berdendang…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi Ikhwan jangan cengeng..&lt;br /&gt;Bangga disebut ikhwan.. hati jadi wah..&lt;br /&gt;Tapi jarang banget yang namanya tilawah..&lt;br /&gt;Yang ada sering baca komik naruto di depan sawah..&lt;br /&gt;Hidup sekarang jadinya agak mewah..&lt;br /&gt;Hidup mewah emang sah..&lt;br /&gt;Tapi.. kesederhanaan yang dulu berakhir sudah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi Ikhwan jangan cengeng..&lt;br /&gt;Dulunya di dakwah banyak amanah..&lt;br /&gt;Sekarang katanya berhenti sejenak untuk menyiapkan langkah..&lt;br /&gt;Tapi entah kenapa berdiamnya jadi hilang arah..&lt;br /&gt;Akhirnya timbul perasaan sudah pernah berdakwah..&lt;br /&gt;Merasa lebih senior dan lebih mengerti tentang dakwah..&lt;br /&gt;Anak baru dipandang dengan mata sebelah..&lt;br /&gt;Akhirnya diam dalam singgasana kenangan dakwah..&lt;br /&gt;Dari situ bilang.. Dadaaahhh.. Saya dulu lebih berat dalam dakwah..&lt;br /&gt;Lanjutin perjuangan saya yah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi Ikhwan jangan cengeng…&lt;br /&gt;Nggak punya duit jadinya nggak dateng Liqo..&lt;br /&gt;Nggak ada motor yaa halaqoh boro-boro..&lt;br /&gt;Murabbi ikhlas dibikin melongo..&lt;br /&gt;Binaan nggak ada satupun yang ngasih info..&lt;br /&gt;Ngeliat binaan malah pada nonton tv liat presenter homo..&lt;br /&gt;Adapula yang tidur sambil meluk bantal guling bentuk si komo..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh noo…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi Ikhwan jangan cengeng…&lt;br /&gt;Jadi Ikhwan jangan cengeng…&lt;br /&gt;Jadi Ikhwan jangan cengeng…&lt;br /&gt;Jadi Ikhwan jangan cengeng…&lt;br /&gt;Jadi Ikhwan jangan cengeng…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhi… banyak sekali sebenarnya masalah Ikhwan..&lt;br /&gt;Dimanapun harokahnya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhi.. Di saat engkau tak mengambil bagian dari dakwah ini..&lt;br /&gt;Maka akan makin banyak Ikhwan lain yang selalu menangis di saat mereka mengendarai motor.. Ia berani menangis karena wajahnya tertutup helm… Ia menangis karena tak kuat menahan beban amanah dakwah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhi.. Di saat engkau kecewa oleh orang yang dulunya engkau percaya.. Ikhwan-ikhwan lain sebenarnya lebih kecewa dari mu.. mereka menahan dua kekecewaan.. kecewa karena orang yang mereka percaya.. dan kecewa karena tidak diperhatikan lagi olehmu.. tapi mereka tetap bertahan.. menahan dua kekecewaan… karena mereka sadar.. kekecewaan adalah hal yang manusiawi.. tapi dakwah harus selalu terukir dalam hati..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhi.. disaat engkau menjauh dari amanah.. dengan berbagai alasan.. sebenarnya, banyak ikhwan di luar sana yang alasannya lebih kuat dan masuk akal berkali-kali lipat dari mu.. tapi mereka sadar akan tujuan hidup.. mereka memang punya alasan.. tapi mereka tidak beralasan dalam jalan dakwah.. untuk Allah.. demi Allah.. mereka.. di saat lelah yang sangat.. masih menyempatkan diri untuk bangun dari tidurnya untuk tahajjud.. bukan untuk meminta sesuatu.. tapi mereka menangis.. curhat ke Allah.. berharap Allah meringankan amanah mereka.. mengisi perut mereka yang sering kosong karena uang habis untuk membiayai dakwah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhi.. Sungguh.. dakwah ini jalan yang berat.. jalan yang terjal.. Rasul berdakwah hingga giginya patah.. dilempari batu.. dilempari kotoran.. diteror.. ancaman pembunuhan….. dakwah ini berat akhi.. dakwah ini bukan sebatas teori.. tapi pengalaman dan pengamalan… tak ada kata-kata ‘Jadilah..!’ maka hal itu akan terjadi.. yang ada ‘jadilah!’ lalu kau bergerak untuk menjadikannya.. maka hal itu akan terjadi.. itulah dakwah… ilmu yang kau jadikan ia menjadi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhi.. jika saudaramu selalu menangis tiap hari..&lt;br /&gt;Bolehkah mereka meminta sedikit bantuanmu..? meminjam bahumu..? berkumpul dan berjuang bersama-sama…?&lt;br /&gt;Agar mereka dapat menyimpan beberapa butir tangisnya.. untuk berterima kasih padamu..&lt;br /&gt;Juga untuk tangis haru saat mereka bermunajat kepada Allah dalam sepertiga malamnya..&lt;br /&gt;“Yaa Allah.. Terimakasih sudah memberi saudara seperjuangan kepadaku.. demi tegaknya Perintah dan laranganMu… Kuatkanlah ikatan kami…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yaa Allah, Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta kepada-Mu, bertemu dalam taat kepada-Mu, bersatu dalam da’wah kepada-Mu, berpadu dalam membela syariat-Mu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yaa Allah, kokohkanlah ikatannya, kekalkanlah cintanya, tunjukillah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tidak pernah pudar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal kepada-Mu. Hidupkanlah hati kami dengan ma’rifat kepada-Mu. Matikanlah kami dalam keadaan syahid di jalan-Mu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Engkaulah Sebaik-baik Pelindung dan Sebaik-baik Penolong. Yaa Allah, kabulkanlah. Yaa Allah, dan sampaikanlah salam sejahtera kepada junjungan kami, Muhammad SAW, kepada para keluarganya, dan kepada para sahabatnya, limpahkanlah keselamatan untuk mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aamiin Allahumma aamiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~~~&lt;br /&gt;Tulisan ini diperuntukkan untuk yang merasa.. sama sepertiku yang juga merasa… Semoga dikuatkan.. Amiieenn…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depok, 18 Maret 2010&lt;br /&gt;Muhammad Maula Nurudin Al-haq&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Doa Rabithah di atas silahkan ditanggapi jika ada yang mau menanggapi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu A’lam…&lt;br /&gt;=====END===== &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;http://www.mylivesignature.com&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://signatures.mylivesignature.com/54488/128/CF081EB71C69BAF86BC18AF0FF318534.png&quot; style=&quot;border: 0 !important; background: transparent;&quot;/&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://ikhwansesat.blogspot.com/2010/04/jadi-ikhwan-jangan-cengeng.html</link><author>noreply@blogger.com (ikhwan sesat)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4489513683570848493.post-4202087964270272164</guid><pubDate>Mon, 05 Apr 2010 10:39:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-04-08T13:27:00.550+07:00</atom:updated><title>d&#39; GREAT of A5</title><description>ini salah satu kenangan di A5 SMANSA &lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style=&quot;visibility:visible;&quot;&gt;&lt;object type=&quot;application/x-shockwave-flash&quot; data=&quot;http://widget-69.slide.com/widgets/slideticker.swf&quot; height=&quot;320&quot; width=&quot;426&quot; style=&quot;width:426px;height:320px&quot;&gt;&lt;param name=&quot;movie&quot; value=&quot;http://widget-69.slide.com/widgets/slideticker.swf&quot; /&gt;&lt;param name=&quot;quality&quot; value=&quot;high&quot; /&gt;&lt;param name=&quot;scale&quot; value=&quot;noscale&quot; /&gt;&lt;param name=&quot;salign&quot; value=&quot;l&quot; /&gt;&lt;param name=&quot;wmode&quot; value=&quot;transparent&quot;/&gt; &lt;param name=&quot;flashvars&quot; value=&quot;cy=ms&amp;il=1&amp;channel=2449958197322148201&amp;site=widget-69.slide.com&quot;/&gt;&lt;/object&gt;&lt;p style=&quot;white-space:nowrap&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://www.slide.com/pivot?cy=ms&amp;at=un&amp;id=2449958197322148201&amp;map=1&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://widget-69.slide.com/p1/2449958197322148201/ms_t016_v000_s0un_f00/images/xslide1.gif&quot; border=&quot;0&quot; ismap=&quot;ismap&quot; /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href=&quot;http://www.slide.com/pivot?cy=ms&amp;at=un&amp;id=2449958197322148201&amp;map=2&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://widget-69.slide.com/p2/2449958197322148201/ms_t016_v000_s0un_f00/images/xslide2.gif&quot; border=&quot;0&quot; ismap=&quot;ismap&quot; /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href=&quot;http://www.slide.com/pivot?cy=ms&amp;at=un&amp;id=2449958197322148201&amp;map=F&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://widget-69.slide.com/p4/2449958197322148201/ms_t016_v000_s0un_f00/images/xslide42.gif&quot; border=&quot;0&quot; ismap=&quot;ismap&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;http://www.mylivesignature.com/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://signatures.mylivesignature.com/54488/128/CF081EB71C69BAF86BC18AF0FF318534.png&quot; style=&quot;border: 0 !important; background: transparent;&quot; /&gt;&lt;/a&gt;</description><link>http://ikhwansesat.blogspot.com/2010/04/blog-post.html</link><author>noreply@blogger.com (ikhwan sesat)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4489513683570848493.post-2769178872941362391</guid><pubDate>Mon, 05 Apr 2010 09:52:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-04-09T23:40:59.845+07:00</atom:updated><title>Tips Jitu jadi orang kaya</title><description>&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt; Ada beberapa cara cepat untuk kaya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Jadilah anak orang kaya, so kita bisa dapat banyak warisan dari ortu  kita…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo kita tidak terlahir dari orang kaya, gimana ? Ada cara kedua..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Cari Pasangan anak orang kaya, so… pasangan kita pasti dapat warisan  dan kita juga bisa ikut menikmatinya… &lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo kita udah terlanjur dapat pasangan yang bukan dari keluarga yang  kaya gimana ? Apa musti cari lagi ? Eits… nanti dulu… berfikirlah 1000  kali untuk cari pasangan baru, bukan makin kaya, malah makin susah, he  he he… Tenang, ada cara ketiga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Cari teman-teman yang kaya, NAH… kalo ini kayaknya bisa kita lakukan  kapanpun, bergaul dan berkumpullah dengan orang-orang kaya, terutama  orang yang kaya karena usaha kerasnya, Robert T Kiyosaki pernah berkata,  penghasilan kita adalah : Jumlahkan semua penghasilan temen-temen kita,  kemudian bagi dengan banyaknya temen kita, itulah penghasilan kita  sebenarnya… Gak percaya ? Coba aja deh…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas dengan punya banyak teman yang sukses dan mau bekerja keras,  dan gw yakin orang yang sukses pasti orang yang selalu berfikir positif  dan selalu mencari solusi, bukan orang yang suka mengeluh dan putus asa,  kita pasti ketularan… ketularan untuk berfikir positif, mau bekerja  keras, ogah mengeluh dan gak gampang putus asa…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayo, cari temen-temen yang sukses sebanyak-banyaknya, dan lihat  kehidupan anda berikutnya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenernya gimana sih deskripsi orang kaya itu gimana sih ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Orang yang punya banyak duit ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Punya banyak mobil ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Punya banyak rumah ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Punya banyak istri ? No way ! itu mah nafsunya yang gede he he he…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo menurut saya, orang kaya adalah ORANG YANG PALING BANYAK MEMBERI  BUAT ORANG LAIN !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Logikanya sederhana, orang yang bisa membagikan kekayaannya atau apapun  yang dia miliki, berarti dia memiliki kelebihan, dan ajaibnya  orang-orang semacam itu pasti akan tetap kaya dan bahkan makin kaya di  setiap waktunya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, berapapun harta yang kita punya, apapun yang kita miliki, bagikan  ke orang lain ! Share to another people… Berapapun jumlahnya gak  masalah, misalnya kita cuma punya duit 100 rb, yang 50 rb kasih ke orang  lain, sedekahkan, artinya kita lebih kaya 50 rb, dan hukum matematis  dalam bersedekah, harta kita tidak akan berkurang, bahkan  dilipatgandakan ! 10x, 100x, 1000x, unlimited ! Tergantung kita, mau  yang mana, Allah pasti akan memberikan gantinya, itu sudah janji Allah…  Syaratnya cuma satu kita harus ikhlas dan berpikir positif, berbaik  sangka terhadap Allah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, mungkin ada yang seperti ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya akan sedekah kalo saya sudah kaya, kalo saya sudah sukses… Tapi  kebanyakan orang yang berpikir seperti itu malah akan lama kayanya,  suksesnya, bahkan bisa jadi gak kaya-kaya dan gak sukses-sukses, gimana  kalo kita balik ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sedekah dulu, kita bersyukur dahulu apa yang sudah kita miliki  dengan cara kita sedekahkan, berapapun, sekecil apapun, wong sedekah gak  ada minimum payment-nya kok (yang punya kartu kredit pastiakrab dengan  istilah ini, he he he…), dalam Qur’an disebutkan, bersyukurlah, niscaya  akan Ku tambah nikmatmu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bersyukur adalah merupakan satu-satunya cara untuk menjaga kita  tetap kaya, bahkan makin kaya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jadi lakukan hal-hal ini :&lt;br /&gt;1. Bersyukur atas apa yang sudah kita miliki&lt;br /&gt;2. Sedekah sebagai wujud dari rasa syukur tersebut&lt;br /&gt;3. Cari teman-teman yang sukses, kaya dan berfikir positif…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hindari hal-hal ini:&lt;br /&gt;1. Suka mengeluh, terutama mengeluh terhadap keadaan&lt;br /&gt;2. Pelit&lt;br /&gt;3. Menutup diri, terhadap apapun, apatis,&lt;br /&gt;4. Takut sebelun bertindak,&lt;br /&gt;5. Takut mencoba…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke ? Semoga bermanfaat, saya rasa akan bermanfaat kalau dicoba, jangan  hanya dibaca saja…&lt;br /&gt;Maaf Klo repost &lt;img src=&quot;http://www.indonesiaindonesia.com/images/smilies/nice/smile.gif&quot; alt=&quot;&quot; title=&quot;Smile&quot; class=&quot;inlineimg&quot; border=&quot;0&quot; /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;sumber: &lt;a rel=&quot;nofollow&quot; href=&quot;http://carajadipengusaha.blogspot.com/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;http://carajadipengusaha.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href=&quot;http://www.mylivesignature.com/&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://signatures.mylivesignature.com/54488/128/CF081EB71C69BAF86BC18AF0FF318534.png&quot; style=&quot;border: 0 !important; background: transparent;&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;</description><link>http://ikhwansesat.blogspot.com/2010/04/tips-jitu-jadi-orang-kaya.html</link><author>noreply@blogger.com (ikhwan sesat)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4489513683570848493.post-1921728684521248289</guid><pubDate>Thu, 24 Dec 2009 15:14:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-04-13T01:48:52.715+07:00</atom:updated><title>arti hitam putih</title><description>apakah arti sesungguhnya hitam dan putih? pasti banyak jawaban yg berbeda-beda yg akan kita temukan. dikalangan orang awam munkin akan diartikan sebagai perlambang kebaikan dan kejahatan.&lt;br /&gt;Namun dikalangan para waliyullah, warna putih diartikan sebagai kesucian sedangkan warna hitam diartikan sebagai keteguhan atau kebulatan tekad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;http://www.mylivesignature.com&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://signatures.mylivesignature.com/54488/128/CF081EB71C69BAF86BC18AF0FF318534.png&quot; style=&quot;border: 0 !important; background: transparent;&quot;/&gt;&lt;/a&gt;</description><link>http://ikhwansesat.blogspot.com/2009/12/arti-hitam-putih.html</link><author>noreply@blogger.com (ikhwan sesat)</author><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-4489513683570848493.post-1038198081459111884</guid><pubDate>Thu, 24 Dec 2009 13:46:00 +0000</pubDate><atom:updated>2010-04-13T01:49:29.575+07:00</atom:updated><title>belajar...</title><description>pertama kalinya ak nge blog nih... asik juga c... smoga bisa bermanfaat... amin...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href=&quot;http://www.mylivesignature.com&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://signatures.mylivesignature.com/54488/128/CF081EB71C69BAF86BC18AF0FF318534.png&quot; style=&quot;border: 0 !important; background: transparent;&quot;/&gt;&lt;/a&gt;</description><link>http://ikhwansesat.blogspot.com/2009/12/belajar.html</link><author>noreply@blogger.com (ikhwan sesat)</author><thr:total>2</thr:total></item></channel></rss>