<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0"><channel><title>Indonesia Hot Stories</title><description>Story of human life that has always been folklore in modern life // Hot Stories-Sumatra-Java-Bali-Kalimantan-Sulawesi-Maluku-Papua-Etc...</description><managingEditor>noreply@blogger.com (super soccer)</managingEditor><pubDate>Mon, 24 Feb 2025 15:11:04 +0700</pubDate><generator>Blogger http://www.blogger.com</generator><openSearch:totalResults xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">28</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/">25</openSearch:itemsPerPage><link>http://indonesiahotstories.blogspot.com/</link><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Story of human life that has always been folklore in modern life // Hot Stories-Sumatra-Java-Bali-Kalimantan-Sulawesi-Maluku-Papua-Etc...</itunes:subtitle><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><title>Love Story of a Babysitter</title><link>http://indonesiahotstories.blogspot.com/2009/12/love-story-of-babysitter.html</link><category>Cerita Dewasa</category><author>noreply@blogger.com (super soccer)</author><pubDate>Thu, 24 Dec 2009 16:59:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1865751094759452973.post-3439915825078883913</guid><description>&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!-- google_ad_client = "pub-6738856414758845"; /* 468x60, dibuat 09/11/07 */ google_ad_slot = "2568847730"; google_ad_width = 468; google_ad_height = 60; //--&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;cinta seorang babysitter&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini pengalamanku 4 Tahun lalu. Malam telah larut dan jam telah menunjukan pukul 9 malam. Sedari siang tadi kakakku bersama suaminya menghadiri pertemuan sebuah Network Marketing dan diteruskan dengan pertemuan khusus para leaders. Untuk menghilangkan suntuk, aku connect ke internet dan berbagai macam situs aku buka, seperti biasa pasti terdapat banyak situs porno yang asal nyrobot. Biasanya aku langsung close karena aku enggak enak dengan kakakku, tetapi malam ini mereka tidak ada dirumah, hanya bersama dengan seorang baby siters keponakanku, namanya Imah baru berumur 18 Tahun dan berasal dari Wonosobo. Memang agak kolotan dan dusun sekali, tetapi kalau aku perhatikan lagi Imah memiliki body yang lumayan bagus dengan wajah yang tidak terlalu jelek. Kami biasa mengobrolkan acara tivi atau terkadang Im-im (panggilan Imah sehari-hari) aku ajari internet meskipun hasilnya sangat buruk. Entah kenapa malam ini keinginanku untuk melihat situs porno sangat besar dan libidoku naik saat aku lihat foto-foto telanjang di internet, tanpa aku sadari Im-im keluar dari kamar dan berjalan ke arahku entah sudah berapa lama dia berdiri disampingku ikut memperhatikan foto-foto telanjang yang ada di monitor komputer. "Apa enggak malu ya..?" tanya Im-im yang membuatku kaget dan segera aku ganti situsnya dengan yang "normal". Dengan berusaha tenang, aku minta Imah mengulangi pertanyaannya. "Itu lho tadi, gambar cewek telanjang yang Mas buat, emangnya nggak malu kalau dilihat orang?" Memang Imah sangat lugu dan ndusun kalau soal beginian. Dengan santai aku jawab sembari menyuruhnya duduk disebelahku. "Begini Im, ini foto bukan aku yang buat, orang yang buat ini (sambil aku perlihatkan lagi situs yang memuat foto telanjang tadi), merekakan model yang dibayar jadi ngapain malu kalau dapat duit." Kemudian Im-im melihat lebih seksama satu per satu foto telanjang itu dengan posisi badan agak membungkuk sehingga terlihat jelas bulatan kenyal panyudaranya, sudah sejak lama aku menikmati pemandangan ini dan aku sangat terobsesi untuk tidur dengan Im-im. Aku tersentak kaget saat Imah bertanya soal foto dimana seorang cowok sedang menjilati vagina cewek. "Apa nggak geli ceweknya dijilati kayak gitu terus lagian mau-maunya cowok itu jilatin punya ceweknya padahalkan tempat pipis?". Dengan otak yang sudah kotor aku mulai berfikir bagaimana aku memanfaatkan kesempatan ini dengan baik. "Gini Im, vaginanya cewek kalau dijilatin oleh cowok malah enak, memang awalnya geli tapi lama-lama ketagihan ceweknya. Kamu belum pernah coba kan?" tanyaku pada Im-im sambil tanganku membuka foto-foto yang lebih hot lagi. "Belum pernah sama sekali, tapi kalau ciuman bibir dan susuku diremes sudah pernah, aku takut kalau nanti hamil". (memang Im-im sangat terbuka tentang pacarnya yang di Bogor dan pernah suatu hari cerita kalau pacarnya ngajak tidur di hotel tapi Im-im nggak mau). "Kalau Cuma kayak gitu nggak bakal bikin hamil, gemana kalau kamu coba, nanti kalau kamu hamil aku mau tanggungjawab dan nggak perlu bingung soal uang, terus kalau ternyata kamu nggak hamil, kamu nanti aku ajari gaya-gaya yang ada difoto ini. Gimana?" Dan Im-im cuma diam sambil lihatin wajahku, sebenarnya aku tahu dia naksir aku sudah lama tapi karena posisi dia hanya babysiters yang membuatnya nggak PD. "Benar ya.., janji lho?" pintanya dengan sedikit ragu. Dan dengan wajah penuh semangat aku bersumpah untuk menepati janjiku, meskipun aku enggak ada niat untuk menepati janjiku. Aku putuskan sambungan internet dan mulai "melatih" Im-im dengan diawali teknik berciuman yang sudah pernah dia rasakan dengan pacarnya, sentuhan halus bibirnya yang lembut membuatku membalas dengan ganas hingga tanpa terasa tanganku telah meremas payudara Imah yang memang masih kencang. Desahan halus mulai muncul saat bibirku menelusuri lehernya yang agak berbulu seolah Im-im menikmati semua pelatihan yang aku berikan. Aku merasa cumbuan ini kurang nyaman, aku dan Imah pindah ke dalam kamar Im-im, perlahan aku rebahkan tubuhnya dan bibirku bergantian menjelajah bibir dan lehernya sedangkan tanganku berusaha membuka kaos dan BH-nya dan kini separoh tubuh Imah telah bugil membuat libidoku tidak karuan. Tanpa ada keluhan apapun Imah terus mendesah nikmat dan tangannya membimbing tangan kiriku meremas teteknya yang bulat sedangkan payudara kanannya aku lumat dengan bibirku hingga terdengar jeritan kecil Im-im. Entah berapa lama aku mencumbu bagian atas tubuhnya dan sebenarnya keinginanku untuk bercinta sudah sangat besar tetapi aku tahu ini bukan saat yang tepat. Perlahan aku turunkan celana pendek dan celana dalamnya bersama hingga Imah sepenuhnya bugil dan ini yang membuat dia malu. Untuk membuat Imah tidak merasa canggung aku mencumbunya lebih ganas lagi sehingga kini Imah mendesah lebih keras lagi dan tangan kanannya meremas kaosku untuk menyalurkan gairahnya yang mulai memuncak. Bibirku kini mulai menjalar kebawah menuju vaginanya yang tertutup kumpulan bulu hitam, perlahan aku angkat kedua pahanya hingga posisi selakangannya terlihat jelas. Samar-samar terlihat lipatan berwarna merah di vaginanya dan aku tahu baru aku yang melihat surga dunia milik Im-im. Kini bibirku mulai menjilati vaginanya yang mulai banjir dengan halus agar Im-im tidak merasa geli dan ternyata rencanaku berjalan lancar, desahan yang tadi menghiasi cumbuanku dengan Imah kini mulai diselingi lenguhan dan jeritan kecil yang menandakan kenikmatan luar biasa yang sedang dirasakan babysiters keponakanku. Semakin lama semakin banyak lendir yang keluar dari kemaluannya yang membuatku lebih bergairah lagi, tiba-tiba seluruh tubuh Imah kejang dan suara lenguhannya menjadi gagap sedangkan kedua tangannya meremas kuat kasurnya. Dengan diiringi lenguhan panjang Imah mencapai klimak, tubuhnya bergerak tidak beraturan dan aku lihat sepasang teteknya mengeras sehingga membuatku ingin meremasnya dengan kuat. Setelah kenikmatannya perlahan turun seiring tenaganya yang habis terkuras membuat tubuhnya yang bugil menjadi lunglai, dengan kepasrahannya aku menjadi sangat ingin segera menembus vaginanya dengan penisku yang sedari tadi sudah tegang. "Imah merasa sangat aneh, bingung aku jelasin rasanya" katanya dengan perlahan. "Belum pernah aku merasakan hal ini sebelumnya, aku takut kalau terjadi apa-apa," sambil memelukku erat. Sambil kukecup keningnya, aku jawab kekhawatiranya. "Ini yang disebut kenikmatan surga dunia dan kamu baru merasakan sebagian. Imah nggak perlu takut atau khawatir soal ini, kan aku mau tanggungjawab kalau kamu hamil," sambil kubalas pelukannya. Sekilas aku lupa libidoku dan berganti dengan perasaan ingin melindungi seorang cewek, kemudian tanpa disengaja tangan Im-im menyentuh penisku sehingga membuat penisku kembali menegang. Wajah Imah tersipu malu saat aku lihat wajahnya yang memerah, kucium bibirnya dan tanpa menunggu komandoku Im-im membalasnya dengan lebih panas lagi dan kini Imah terlihat lebih PD dalam mengimbangi cumbuanku. Teteknya aku remas dengan keras sehingga Im-im mengerang kecil. Kini bajuku dibuka oleh sepasang tangan yang sedari tadi hanya mampu meremas keras kasur yang kini sudah acak-acakan spreinya dan aku imbangi dengan melepas celana pendekku dan segera terlihat penis yang sudah tegang karena aku terbiasa tidak memakai CD saat dirumah. Melihat pemandangan itu, Imah malu dan menjadi sangat kikuk saat tangannya aku bimbing memegang penisku dan setelah terbiasa dengan pemandangan ini aku membuat gaya 69 dengan Imah berada diatas yang membuatnya lebih leluasa menelusuri penisku. Setelah beberapa lama aku bujuk untuk mengulumnya, akhirnya Im-im mau melakukan dan menjadi sangat menikmati, sedangkan aku terus menghujani vaginanya dengan jilatan lidahku yang memburunya dengan ganas. Karena tidak kuat menahan rasa nikmat yang menyerang seluruh tubuhnya, Im-im tak mampu meneruskan kulumannya dan lebih memilih menikmati jilatan lidahku di vaginanya dan aku tahu Imah menginginkan kenikmatan yang lebih lagi sehingga tubuh bugilnya aku rebahkan sedangkan kini tubuhku menindihnya sembari aku teruskan bibirku menjelajahi bibirnya yang memerah. Perlahan tanganku menuntun tangan kanan Im-im untuk memegang penisku hingga berada tepat di depan mulut vaginanya, aku gosok-gosok penisku di lipatan vaginanya dan mengakibatkan sensasi yang menyenangkan, erat sekali tangannya memelukku sambil telus mengerang nikmat tanpa memperdulikan lagi suaranya yang mulai parau. Vaginanya semakin basah dan perlahan penisku yang tidak terlalu besar mendesak masuk ke dalam vaginanya dan usahaku tidak begitu berhasil karena hanya bisa memasukkan kepala penisku. Perlahan aku mencoba lagi dan dengan inisiatif Im-im yang mengangkat kedua kakinya hingga selakangannya lebih terbuka lebar yang membuatku lebih leluasa menerobos masuk vaginanya dan ternyata usahaku tidak sia-sia. Dengan sedikit menjerit Imah mengeluh, "Aduh.., sakit. Pelan-pelan dong" dengan terbata-bata dan lemah kata-kata yang keluar dari mulutnya. Saat seluruh penisku telah masuk semua, aku diam sejenak untuk merasakan hangatnya lubang vaginanya. Perlahan aku gerakkan penisku keluar-masuk liang vaginanya hingga menjadi lebih lancar lagi, semakin lama semakin kencang aku gerakkan penisku hingga memasuki liang paling dalam. Berbagai rancauan yang aku dan Imah keluarkan untuk mengekspresikan kenikmatan yang kami alami sudah tidak terkendali lagi, hampir 15 menit aku menggenjot vaginanya yang baru pertama kali dimasuki penis hingga aku merasa seluruh syaraf kenikmatanku tegang. Rasa nikmat yang aku rasakan saat spermaku keluar dan memasuki lubang vaginanya membuat seluruh tubuhku menegang, aku lumat habis bibirnya yang memerah hingga Im-im dan kedua tanganku meremas teteknya yang mengeras. Akhirnya aku bisa merasakan tubuh Im-im yang lama ada dianganku. Kami berdua tergolek lemah seolah tubuhku tak bertulang, kupeluk tubuh Imah dengan erat agar dia tidak galau dan setelah tenagaku pulih aku berusaha memakaikan baju padanya karena Im-im tidak mampu berdiri lagi. Saat aku hendak mengenakan CD aku lihat sedikit bercak merah dipahanya dan aku bersihkan dengan CD ku agar Im-im tidak tahu kalau perawannya sudah aku renggut tanpa dia sadari. Kami berdua melakukan hal itu berulangkali dan Imah semakin pintar memuaskanku dan selama ini dia tidak hamil yang membuatnya sangat PD. Tanpa disadari 2 tahun aku menikmati tubuhnya gratis meskipun kini Imah tidak menjadi babysiters keponakanku sebab kakakku telah pindah rumah mengikuti suaminya yang dipindah tugaskan ke daerah lain. Sekarang Im-im menjadi penjaga rumahku dan sekaligus pemuas nafsuku saat pacar-pacarku tidak mau aku ajak bercinta. Saat lebaran seperti biasa Imah pulang kampung selama 2 minggu dan yang membuatku kaget dia membawa seorang cewek sebaya dengan Imah dan bernama Dina yang merupakan sepupunya. Memang lebih cantik dan lebih seksi dari Imah yang membuatku berpikir kotor saat melihat tubuh yang dimiliki Dina yang lugu seperti Imah 2 tahun lalu. Pada malam harinya, setelah kami melepas rasa kangen dengan bercinta hampir 2 jam, Imah tiba-tiba menjadi serius saat dia mengutarakan maksudnya. "Mas, aku sudah 2 tahun melayani Mas untuk membereskan urusah rumah dan juga memberikan kepuasan diranjang seperti yang aku berikan saat ini," Imah terdiam sejenak. "Aku ingin tahu, apakah ada keinginan Mas untuk menikahiku meskipun sampai saat ini aku tidak hamil. Apa Mas mau menikahiku?" Aku terhenyak dan diam saat disodori pertanyaan yang tidak pernah terlintas sedikitpun selama 2 tahun ini. Lama aku terdiam dan tidak tahu mau berkata apa dan akhirnya Imah meneruskan perkataannya. "Imah tahu kalau Mas nggak ada keinginan untuk menikahiku dan aku nggak menuntut untuk menjadi suamiku, 2 tahun ini aku merasa sangat bahagia dan sebelum itu aku telah mencintai Mas dan menjadi semakin besar saat aku tahu Mas sangat perhatian denganku." Imah terdiam lagi dan aku memeluknya erat penuh rasa sayang dan Imah pun membalas pelukanku. "Tapi.., aku ingin lebih dari ini. Aku ingin bisa menikmati cinta dan kasih sayang seorang suami dan itu yang membuatku menerima pinangan seorang pria yang rumahnya tidak jauh dari desaku." Aku terhenyak dan menjadi lebih bingung lagi dan belum bisa menerima kabar yang benar-benar mengagetkanku. Kami berdua hanya bisa diam dan tanpa terasa meleleh air mataku dan aku baru merasa bahwa aku ternyata benar-benar menginginkannya, namun ternyata sudah terlambat. Keesokan harinya aku mengantar Imah ke terminal untuk kembali pulang ke desanya dan menikah dengan seorang duda tanpa anak, menurutnya calon suaminya akan menerimanya meskipun dia sudah tidak perawan. Dengan langkah gontai aku kembali ke mobilku dan melalui hari-hariku tanpa Imah.End&lt;br /&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Miss Bond Withheld Stories</title><link>http://indonesiahotstories.blogspot.com/2009/12/miss-bond-withheld-stories.html</link><category>Cerita Dewasa</category><author>noreply@blogger.com (super soccer)</author><pubDate>Thu, 24 Dec 2009 16:55:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1865751094759452973.post-6967166820436014294</guid><description>&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!-- google_ad_client = "pub-6738856414758845"; /* 468x60, dibuat 09/11/07 */ google_ad_slot = "2568847730"; google_ad_width = 468; google_ad_height = 60; //--&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Belenggu Rindu yang Tertahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu di sebuah rumah yang cukup asri, seorang gadis yang berambut panjang terurai dengan raut wajah yang manis terlihat sedang menanti kedatangan seseorang. Tiba-tiba datang seorang pemuda yang mengenakan kaos biru di padu dengan jeans warna serupa. Dia berjalan menuju kerumah gadis yang sedang asyik duduk di depan rumahnya, si gadis sesekali mengawasi depan rumahnya kalau-kalau yang di tunggu sudah datang atau belum. Dengan senyum yang manis kemudian gadis itu menyapa sang pemuda yang kelihatan rapi, harum dan segar siang itu. "Hallo Mas Adietya sayang..." sapanya dengan panggilan khas yang mesra ke padaku. "Hallo juga... Sayang," balasku pendek. "Sudah lama yah nunggunya," lanjutku lagi. Antara aku dan si gadis memang terlihat mesra di setiap kesempatan apa aja. Baik itu melalui panggilan ataupun sikap terhadap masing-masing. Seperti halnya siang itu, yang kebetulan keadaan di rumah sang gadis nampaknya sedang sepi, dia bilang ortunya lagi ke rumah saudaranya yang pulangnya nanti sore. Dengan masih menyimpan rasa rindu yang tertahan, aku memeluk gadis pujaanku dengan mesra, sambil membisikan kata. "Adiet kangen banget nih sayang," bisikku di telinga nya sambil mencumbu daun telinganya. "aku juga kangen Mas sayang..." jawabnya pelan. Kemudian kita terlibat perbincangan sesaat, yang selanjutnya aku merengkuh bahu si gadis dan mengajaknya masuk ke dalam ruangan tamu. Di sofa kita duduk sangat dekat sekali, sampai-sampai kita bisa merasakan hembusan nafas masing-masing, saat kita bertatapan wajah. "Kamu cantik sekali siang ini sayang..." kataku lembut. Sembari tanganku meremas kedua tangannya dan kemudian aku lanjutkan untuk menarik tubuhnya lebih rapat. Si gadis tak menjawab hanya tersipu raut wajahnya, yang di ekspresikan dengan memelukku erat. Tanganku kemudian memegang kedua pipinya dan tak lama bibirku sudah mengulum bibirnya yang terbuka sedikit dan bentuknya yang ranum, sembari dia memejamkan kedua bola matanya. Lidahku bermain di rongga mulutnya untuk memberikan perasaan yang membuat nya mendesah sesaat setelahnya. Di balik punggungnya jemari tanganku dengan lembut masuk ke dalam kaos warna putihnya dan mencoba membuka kaitan bra dari belakang punggungnya. Dengan dua kali gerakan, terbukalah kaitan bra hitamnya yang berukuran 36b itu. Jemari tanganku langsung mengelus tepian payudaranya yang begitu kenyal dan menggairahkan itu. Dan tak lama setelah itu jariku sudah memilin putingnya yang mulai keras, yang nampaknya dia mulai menikmati dan sudah terangsang diiringi dengan desahannya yang sensual. "Ohhh... Mas sayang..." desahnya lembut. Sambil memilin, bibirku tak lepas dari bibirnya dan menyeruak lebih ke dalam yang sesekali mulutku menghisap lidahnya keluar masuk. Selanjutnya dengan gerakan pelan aku membuka kaos putihnya dan langsung mulutku menelusuri payudaranya dan berakhir di putingnya yang menonjol kecil. Aku menjulurkan lidahku tepat di ujung payudaranya, yang membuat dia menggelinjang dan mendesah kembali. "Ohh... Mas sayang... Enak sekali." Sesaat aku menghentikan cumbuanku kepadanya dan memegang kedua pipinya kembali sambil membisikkan kata. "Sayang... Payudara kamu sungguh indah bentukya," bisikku lirih di telinganya. Sang gadis hanya mengulum senyumnya yang manis sembari kembali memelukku mesra. Dengan mesra aku mengajak si gadis berjalan ke arah kamarnya yang lumayan besar dan bersih. Layaknya kamar seorang gadis yang tertata rapi dan aroma segar wangi bunga-bunga yang ada ditaman depan kamarnya terhirup olehku saat memasukinya. Tak berselang lama kemudian, aku mengangkat tubuh sexy sang gadis dan meletakkannya di atas meja belajar yang ada di kamarnya. Sang gadis masih mengenakan celana jeansnya, kecuali bagian atasnya yang sudah terbuka saat kita berasyik masyuk di ruang tamu. Perlahan aku memeluk tubuh sang gadis kembali, yang aku lanjutkan dengan menjelajahi leher jenjangnya dengan lembut. Bibirku mencumbui setiap senti permukaan kulitnya dan berpindah sesaat ketika lidahku mencapai belakang telinganya dan membuat tubuh sang gadis kembali bergetar pelan. Desahan dan getaran tubuhnya menandakan kalau sang gadis sudah sangat terangsang oleh setiap cumbuanku. Tanganku tak tinggal diam sementara bibirku mencumbui setiap titik sensitif yang ada di tubuh sang gadis. Jemariku mulai mengarah kebawah menuju celana jeans nya dan tanpa kesulitan aku menurunkan resliting celananya yang nampak olehku pinggiran celana dalam warna hitamnya yang sexy. Kemudian aku melemparkan celana jeansnya ke lantai dan seketika tanganku dengan lembut merengkuh bongkahan pantatnya yang padat berisi. Aku mengelus kedua bongkahannya pelan dan sesekali jariku menyelip di antara tepian celana dalamnya yag membuat bibirnya kembali bergetar mendesah lirih. "Oh... Mas sayang..." desahnya parau. Bibirku yang sejak tadi bermain di atas, kemudian berpindah setelah aku merasakan cukup untuk merangsangnya di bagian itu. Lidahku menjulur lembut ketika mencapai permukaan kulit perutnya yang berakhir di pusarnya dan bermain sejenak yang mengakibatkan tubuhnya menggelinjang kedepan. "Ssshhh..." desisnya lirih. Perlahan kemudian aku mulai menurunkan celana dalamnya dan aku membiarkan menggantung di lututnya yang sexy. Kembali aku melanjutkan cumbuan yang mengarah ke tepian pangkal pahanya dengan lembut dan sesekali aku mendengar sang gadis mendesah lagi. Aku mencium aroma khas setelah lidahku mencapai bukitnya yang berbulu hitam dan lebat sekali, namun cukup terawat terlihat olehku sekilas dari bentuk bulu vaginanya yang menyerupai garis segitiga. Dan tak lama lidahku sudah menjilati bibir luar vaginanya dengan memutar ujung lidahku lembut. Kemudian aku lanjutkan dengan menjulurkan lebih ke dalam lagi untuk mencapai bibir dalamnya yang sudah sangat basah oleh lendir kenikmatan yang di keluarkan dari lubang vaginanya. Tubuh sang gadis mengelinjang perlahan bersamaan dengan tersentuhnya benjolan kecil di atas vagina miliknya oleh ujung lidahku. "Ohhh... Mas sayang" jeritnya tertahan. "Aku nggak kuat Mas..." tambahnya lirih. Yang aku lanjutkan dengan menghentikan tindakanku sesaat. Aku menurunkan tubuh sang gadis dari atas meja, kemudian aku berdiri tepat di hadapanya yang sudah berjongkok sambil menatap penisku yang sudah berdiri tegang sekali. Dengan gerakan lincah bibir sang gadis langsung mengulum kepala penisku dengan lembut dan memutar lidahnya di dalam mulutnya yang mungil dan memilin kepala penisku yang mengkilat. Tubuhku bergetar hebat ketika menerima semua gerakan erotis mulai dari jemari tangannya yang lembut mengelus batang penisku serta bibir dan lidahnya yang lincah menelusuri buah zakarku. "Ohhh... Sayang" desahku pelan. Rambutnya yang hitam panjang ku remas sebagai expresi dari kenikmatan yang mengalir di sekujur tubuhku. Setelah beberapa saat sang gadis menjelajahi organ sensitifku, aku merengkuh bahunya serta memintanya berdiri dan kembali aku mendudukkan pantatnya yang padat berisi di tepian meja sementara salah satu kaki jenjangnya menjuntai ke lantai. Dengan gerakan lembut aku mengangkat paha kirinya dan bertumpu pada lenganku, di saat selanjutnya tangan kiriku memegang batang penisku yang sudah sangat tegang sekali menahan rangsangan yang menggelora dan mengarahkannya tepat di bibir vaginanya yang sudah basah oleh lendir birahi. Pada saat bersamaan ujung telunjukku juga mengelus belahan antara anus dan bibir bawah vaginyanya. "Oh... Mas sayang... Please... Aku enggak kuat" jeritnya lirih. Aku masih belum merespon atas jeritan lirihnya, sebaliknya aku menundukkan kepala untuk kembali menjilati kedua payudaranya bergantian dan berakhir di puting payudara yang sebelah kiri. Gerakanku membuatnya menggelinjang dan semakin keras desahannya terdengar. "Ohhh... Mas sayang... Sekarang yah" pintanya lirih, dengan mata yang sayup penuh nafsu. Perlahan aku mengarahkan batang penisku tepat di belahan vaginanya dan mendorongnya lembut. "Sleppp..." irama yang di timbulkan ketika penisku sudah menyeruak bibir vaginanya. Kembali bibir sang gadis mengeluarkan desahan sexynya. "Hekkk... Mmm..." gumamnya lirih. Setengah dari batang penisku sudah masuk ke dalam vaginanya, yang aku padukan dengan gerakan bibirku mengulum bibirnya yang ranum serta memilin dan memutar ujung lidahnya lembut. Untuk menambah kenikmatan buat dirinya, aku mulai memajukan sedikit demi sedikit sisa batang penisku ke rongga vaginanya yang paling dalam dan aku mengarahkan ujung penisku menyentuh G-spotnya. Mulut sang gadis menggumam lirih karena mulutku juga masih mengulum bibirnya. "Mmm... Mmm" gumamnya. Sambil menahan nikmat, tangan sang gadis menyentuh buah zakarku dan memijitnya lembut yang membuat tubuhku ikut mengelinjang menahan kenikmatan yang sama. Pinggulku membuat gerakan maju mundur untuk kesekian kalinya dan sepertinya sang gadis akan mendapatkan orgasme pertamanya ditandai dengan gerakan tangannya yang merengkuh bahuku erat dan menggigit bibir bawahnya lirih. "Ohhh... Mas sayanggg..." jeritnya bergetar. Bersamaan dengan aliran hangat yang kurasakan di dalam, rongga vaginanya menjepit erat batang penisku. Tangannya merengkuh bongkahan pantatku serta menariknya lebih erat lagi. Tak lama berselang sang gadis kemudian tersenyum manis dan mengecup bibirku kembali sambil mengucapkan kata. "Thanks yah... Mas sayang"ucapnya mesra. Aku membalasnya dengan memberikan senyum dan mengatakan. "Aku bahagia... kalau sayang bisa menikmati semua ini" ucapku kemudian. Hanya beberapa saat setelah sang gadis mendapatkan orgasmenya, aku membalikkan tubuhnya membelakangiku sembari kedua tanganya berpegang pada pingiran meja. Dengan pelan kutarik pinggangnya sambil memintanya menunduk, maka nampaklah di depanku bongkahan pantatnya yang sexy dengan belahan vaginanya yang menggairahkan. Perlahan aku memajukan tubuhku sambil memegang batang penisku dan mengarahkannya tepat di bibir vaginanya, sementara kaki kananku mengeser kaki kanannya untuk membuka pahanya sedikit melebar. Dengan gerakan mantap penisku menyeruak sedikit demi sedikit membelah vaginanya lembut. "Sleppp..." masuklah setengah batang penisku ke dalam rongga vaginanya. "Sss..." sang gadis mendesah menerima desakan penisku. Tanganku perlahan meremas payudaranya dari belakang mulai dari yang sebelah kiri dan dilanjutkan dengan yang sebelah kanan secara bergantian. Sementara pinggulku memulai gerakan maju mundur untuk kembali menyeruak rongga vaginanya lebih dalam. Posisi ini menimbulkan sensasi tersendiri dimana seluruh batang penisku dapat menyentuh G-spotnya, sementara tanganku dengan bebas menjelajahi seluruh organ sensitifnya mulai dari kedua payudara berikut putingnya dan belahan anus dan bagian tubuh lainnya. "Ohhh... Mas sayang" desahnya. Ketika ujung jemariku menyentuh lubang anusnya sambil aku berkonsentrasi memaju mundurkan penisku. Setelah cukup beberapa saat aku menggerakan pinggulku memompa belahan vaginanya. Dengan gerakan lembut aku menarik wajahnya mendekat, masih dalam posisi membelakangiku aku mengulum bibirnya dan meremas kedua payudaranya lembut. "Sayang aku mau keluar nih," bisiku lirih. "Ohhh... Mas sayang aku juga mau" sahutnya pelan. Aku mempercepat gerakanku memompa vaginanya dari belakang tanpa melepas ciumanku di bibirnya dan remasan ku di kedua payudaranya. Pada saat terakhir aku mencengkeram kedua pinggulnya erat dan memajukan penisku lebih dalam. "Creeettt... Ohhh... Sayang," jeritku kemudian. Menyemburlah spermaku yang cukup banyak ke dalam rongga vaginanya dan beberapa tetes meleleh keluar mengalir di kedua pahanya. Untuk beberapa saat aku mendiamkan kejadian ini sampai akhirnya penisku mengecil dengan sendirinya di dalam vaginanya yang telah memberikan kenikmatan yang tak bisa aku ungkapkan. Demikianlah rasa rinduku terhadap kekasihku setelah beberapa lamanya tidak saling bertemu. End&lt;br /&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Arabian Night ----&gt; Cerita Dewasa</title><link>http://indonesiahotstories.blogspot.com/2009/12/arabian-night-cerita-dewasa.html</link><category>Cerita Dewasa</category><author>noreply@blogger.com (super soccer)</author><pubDate>Thu, 24 Dec 2009 15:05:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1865751094759452973.post-7343454613496779340</guid><description>&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!-- google_ad_client = "pub-6738856414758845"; /* 468x60, dibuat 09/11/07 */ google_ad_slot = "2568847730"; google_ad_width = 468; google_ad_height = 60; //--&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Arabian Night&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu ulang-tahun gue yang ke 28. Cewek gue cakep, badannya pendek, kecil, pinggangnya langsing, pantatnya nonggeng, ukuran toketnya gede buat badannya yang kecil itu. Rambutnya hitam rada ikal, kulitnya putih dan hidungnya mancung. Umurnya kalo nggak salah 22 waktu itu. Dia ngajak gue keluar makan, tempatnya rahasia katanya, spesial surprise buat gue. Gue nurut aje, pengen tau apa surprisenya. Yang jelas Jasmine, cewek gue itu, dandan ekstra spesial, tapi nggak menor. Dan parfumnya samar-samar merangsang. Ternyata dia pesen kamar di hotel. Bukan hotel mewah, tapi bukan motel kelas kambing juga. Kamarnya udah didekor a la Timur Tengah, banyak bantal2 bertebaran di karpetnya, oiya dia mesennya suite, jadi agak gede dan ada ruang tamunya. Ada meja rendah juga, ada wangi2an khas Timur Tengah, dan ada musik khas daerah situ juga. "Wah, spesial amat ini, say", kata gue terheran-heran. "Bener2 gak disangka lho, kapan elo menghias ini semua?" Jasmine cuma senyum-senyum aja. "Udah, santai aja". Sini, dibuka jaketnya yah, kamu ini rapi2 amat"." Lalu dibawanya jaket gue itu ke lemari. Sepatu gue menyusul. Dan gak lama kemudian kita udah duduk nyantai, gaya lesehan, di bantal2 itu. Jasmine nuang red wine buat gue, udah disiapin juga sebelum kita masuk rupanya. Suasananya tambah intim, sesekali kita ciuman, dan Jasmine mengelus2 lenganku yang kekar. Gak lama kemudian pintu diketok. Gue baru mau bangun membukanya, tapi dicegah Jasmine. "Kamu duduk aja disitu", katanya, "Biar aku yang buka". Ternyata room service. Wah ekstra spesial juga nih, pikirku.. Menunya campuran antara makanan Asia dan Timur Tengah. Gue nggak tau namanya apa, tapi enak juga.. Ada daging kambing, ayam, nasi, dan banyak lauk pauk di cawan kecil, dan ada roti juga. Penutupnya semacam kue manis. Sebelum duduk makan, Jasmine mengunci pintu baik2, dan menghilang ke kamar mandi. "Aku ganti dulu ya, biar nggak panas", katanya dari dalam situ. "Apanya yang panas?", gue terheran2. "Ah pokoknya elo santai aja" jawabnya disambung cekikikan. Wah begitu dia keluar, udah pake kostum lho. Kaya gadis2 di harem jaman dulu kali ya. Rambutnya dihias semacam rantai koin emas, tetap tergerai seksi. Di telinganya dipasang anting2 lingkaran2 agak panjang bergoyang2, di lehernya juga berkalung emas kira2 tiga-empat kalung. Trus Jasmine cuma pake beha dan celana dalem, tapi ini juga spesial. Behanya warna biru muda, dihias mutiara2 palsu dan koin di sepanjang tali behanya, dan disekelilingnya. Tengahnya hampir transparan, hingga kelihatan jelas toket dan putting susunya yang aduhai itu. Behanya seakan nggak muat menampung semua susunya Jasmine. Gue sampe nelen ludah saking terpananya. Jasmine juga memakai semacam rok panjang yang transparan, warna biru muda juga, tipis. Di pinggangnya melingkar ikat pinggang koin yang bersusun2. Samar2 kelihatan kakinya yang mulus dan berlekuk indah. Di pergelangan kaki dan tangannya ada gelang2 emas dan rantai2 emas yang bergemerincing tiap kali dia bergerak. "Nah, mari kita makan sekarang," katanya dengan senyum manis. Gue makan rada-rada nggak konsen gara2 si Jasmine yang seksi itu. Tiap kali tangannya menjulur untuk ngambil lauk, toketnya otomatis keangkat juga, dan bergoyang sedikit. Lagian dari duduknya yang ngeleseh itu keliatan pahanya yang mulus dan bayangan di antara pahanya. Duh' bikin ereksi aja" Dengan anjuran Jasmine, kita saling menyuapi. Kadang dia ngasih aku sepotong daging atau lauk, dan karena kita makan dengan tangan, rasanya benar2 erotis. Gue mencoba menyuapinya juga, dan tiap kali Jarmine menyedot dan menjilati jari2ku. Seksi sekali, dan tiap kali kontolku bereaksi juga, seakan ikut merasakan rasanya disedot2 Jasmine. "Ini aku masak sendiri lho"."katanya sambil menyuapiku sepotong kentang. "Resepnya rahasia keluarga, dan bumbu2nya"".." "Emang enak sekali ini, say,"kataku sambil terus makan. "Bumbunya enak sekali lho' "Iya dong" dan kombinasi rempah2 ini bakal bikin kamu"." Matanya mengedip nakal,"kuat dan perkasa sepanjang malam"." "Hah?"kataku kaget. Bakal panjang malam ini"."Eh, tapi gue kira room service?" "Ah" cuma titip di ovennya aja, biar tetep anget.."jawabnya singkat. Gue beruntung sekali dapet cewek kaya si Jasmine ini. Tampangnya imut &amp;amp; innocent, tapi dalam urusan ranjang, wah" gak ada duanya. Sepongannya maut, ciumannya bermacam tehnik, dan adegan ranjangnya bikin gue geleng kepala kadang2. Soalnya gue merasa udah tau semua gaya main seks, eh si Jasmine masih bisa bikin gue kagum dengan tehnik2nya. Gak abis2nya surprise dari cewek satu ini. Abis makan kenyang, kita cuci tangan di cawan air yang ada bunga melati dan irisan jeruk lemonnya. Jasmine ngeringin tanganku dengan handuk kecil. Gue langsung narik dia dan ngajak ciuman. Udah gak tahan lagi sih, kita makan santai2 selama kurang lebih 30 menit-an, dan rasanya lamaaaaaa banget karena terus2an dirangsang dengan suap menyuap dan kostum transparan si Jasmine. Langsung gue lahap bibirnya yang merah alami itu, kukulum2 dan kita sedot menyedot lidah juga. Jasmine udah mendesah2 erotis. Tapi tiba2 dia mendorong dadaku. "Jangan sekarang, aku masih punya hadiah untuk elo,' katanya sambil tersenyum. "Ah, apa nggak bisa ditunda?" gue rada kecewa juga, udah tegang begini kok.. "Ssh"pokoknya dijamin gak nyesel nanti," katanya sambil menumpuk beberapa bantal di dekat dinding. Lalu disuruhnya gue nyender disitu. Dia menuang wine lagi di gelasku, naruh sepiring buah2an, anggur, pisang, jeruk, dll. Semua meja dan bantal yang lain digeser ke pinggir, mengosongkan area ruang itu sebisanya. Lalu ia meremangkan lampu di kamar itu. Lalu dia ke kamar mandi lagi, keluar2 udah pake secarik kain transparan, pasangan kostumnya. Kain itu menutup setengah wajahnya, hingga kini matanya yang indah mempesonaku. Dengan remote control ia memilih lagu dari CD yang sedang dipasang. Dan Jasmine mulai menari. Gak nyangka dapet tontonan tari perut di ulang tahunku ini. Aku melotot menonton tubuhnya yang indah itu bergoyang2 ditengah ruangan, persis di depan mataku. Musik mulai dengan lembut, mengalun, seperti suara seruling. Nadanya panjang mengalun. Jasmine mulai menggerakkan tangannya, kepalanya bergoyang ke kiri dan kanan, hiasan di telinganya ikut bergoyang. Lalu dadanya turun naik, kedepan belakang, toketnya yang gede itu seperti berputar2 disodor2kan padaku, lalu ia mulai menggerakkan pinggulnya, naik turun, naik turun, seirama dengan musik yang masih asing ditelingaku itu. Gue seperti terhipnotis dengan gerakan2 yang indah merangsang. Irama musik makin cepat, diiringi tabuhan semacam gendang, menurutku. Gue tidak terlalu tahu alat2 musik daerah Timur Tengah. Tapi yang jelas unik dan enak didengar, apalagi diikuti goyangan2 Jasmine yang makin hot. Pinggulnya kini berputar, pertama pelan, dan makin cepat, naik turun, lalu kaki kanannya maju kedepan, tangan kirinya naik keatas, lalu pinggul kanannya itu terhentak2 untuk tontonanku, lalu yang kiri. Musik mengalun lebih lembut, dan Jasmine berjalan berputar2 di depanku. Gaya Arabesque seperti penari balet. Gerakannya erotis sekali. Matanya menggodaku. Lalu musik seakan berhenti, tiba2 ia melepas roknya yang tipis itu, dan gue melotot melihat apa yang dipakai Jasmine. Celana dalemnya sepasang sama behanya, cuma bertali tipissssss, dihias koin2 emas juga, dan belakangnya model G-string, yang cuma tali doang, koin emasnya berhenti persis dibelahan pantatnya yang bulat. Penutup depannya mini, transparan juga, dan si Jasmine mencukur semua bulu jembutnya hingga belahan memeknya terlihat menantang dibalik secarik kain transparan itu. Lalu ia mendekatiku, dan mulai menari lagi persis depanku. Pinggulnya naik turun, menggodaku, karena sekarang kelihatan sekali kewanitaanya yang menantang. Tiap kali ia berputar kelihatan pantatnya yang seksi, bulat bergoyang. Koin2 emas bergermerincing. Ini pasti khusus untukku seorang. Gue belum pernah lihat tari perut, tapi pasti tidak hampir telanjang begini yang nari. Rasanya seperti sultan sehari aja gue ini. Lalu gerakan Jasmine makin cepat, makin cepat, seluruh tubuhnya bergetar, dan toketnya seakan terlempar-lempar ke kiri kanan, pinggulnya naik turun dengan cepat sekali Ia mulai menekuk lututnya, makin rendah,makin rendah, masih bergoyang cepat, dan dipuncak tarian itu ia jatuh menyembah dihadapanku, jemarinya menyentuh kakiku. Dan musik berhenti. Gue tak tahan lagi dan langsung menyergap tubuhnya, menindihnya, kita bergumul ditumpukan bantal diiringi alunan musik lembut. Kubantu ia melepas celana dalamnya, biar nggak robek, katanya. Gue melarang Jasmine mencopot behanya. Seksi sih kelihatan putting susunya dibalik kain itu. Kusentuh, kugosok2 pelan dengan jari2ku, sambil terus mencumbu bibirnya. Jasmine mengerang. Tangannya mengerayangi tubuhku, membantuku melepas bajuku satu demi satu sampai telanjang. Kontolku udah kaku dan bergetar menahan rasa. Tapi gue sengaja nggak langsung mengentotnya. Gue pengen denger dia memohon-mohon. Kuteruskan mengulum bibirnya, tanganku terus merabai puncak2 toketnya yang gede, sesekali meremas pelan, sesekali meremas kuat2 sampai ia merintih dan berontak. Kuelus perutnya yang putih mulus, pinggangnya. Ciumanku turun ke bawah, ke lehernya yang jenjang dihiasi kalung2 emas. Kutiup pelan toketnya, kupijit2 putting susunya. Lalu tanganku yang satunya meraba2 memeknya yang telanjang tanpa bulu itu. Dia sudah basah sekali. Jari2ku menyentuh klitorisnya yang sudah membengkak terangsang. Jasmine mendesah, mengerang makin kuat. "Sshhh".." kataku mencoba menenangkan. Telunjukku kumasukkan ke memeknya, berputar2 disitu, lalu kumasukkan juga jari tengahku. Jasmine mengerang makin hebat, pinggulnya naik memaksa jariku masuk makin dalam. Gue tertawa melihatnya makin meronta menahan rangsangan. "Ayo dong, Ndi" ayo" uh" ah"..ahhhh"..," ceracaunya sambil mengelinjang". Keringat mulai membasahi tubuhnya, membuatnya mengkilap seksi.. 'Hm".?,"kataku santai sambil menggosok2 klitorisnya dan menusuk2kan jari2ku kedalam memeknya. Dia sudah dekat sekali, sebentar lagi orgasmenya pasti sampai. 'Oh..oh.. Ndi...Ndi" masukkan.. kontolmu.. Ndi".oh...�.,"katanya terbata-bata. Saat kutahu dia akan orgasme, dengan bengis kuhentikan rangsangan di memeknya. Dan kembali kucium bibirnya. Ia menjerit kecewa. Kuraba toketnya lagi" 'Bilang apa..??' kataku. 'Oh" kau kejam Ndi" kau mau aku memohon..oh'" katanya terengah engah.. "Ya, sayang" ayo"bilang""kataku sambil terus memijat toketnya. 'Oh..a..yo..entot aku, Ndi" pleaseeeeeeee... Oh.. aku tak tahan lagi". Oh..... Memekku serasa terbakar Ndi..."bisiknya. "Sekarang, Ndi... aku mohon... oh" . Kuselipkan salah satu bantal dibawah pantatnya, membuat posisi memeknya mendongak keatas. Dan dengan satu tusukan keras gue masukin seluruh kontolku dedalam memeknya yang rapat. "Aaaaahhhhhhhhh!!!!!,"jeritnya sambil kakinya melingkari pinggangku. Aku mulai menusuk-nusukkan kontolku, keluar masuk lembut empat kali, lalu kuhentakkan pinggulku sekuat2nya sekali, terus begitu, lembut, keras, lembut, lembut, keras.. keras sampai menyentuh dasar rahimnya. Dan Jasmine mengerang, menjerit, dan menghentak2kan pinggulnya serirama denganku. Kita ******* begini selama 20 menit.. "Ohhhhhhhhhhhh... Ndi... ohhhh...nikmatnya..oh... jangan berhenti...." katanya disela2 permainan kami. Uh... Hhh.... Kucabut kontolku dari memeknya. Kubalikkan dia, sekarang tengkurap. "Sini, sayang... ayo...nungging yang tinggi untukku.."kataku makin bernafsu. Ini posisi favorit gue, Jasmine terlihat pasrah sekali dalam posisi ini. Pantatnya yang bulat menantang, dan kalau dirumahku, kutaruh cermin besar didepannya, biar gue bisa liat ekspresi mukanya dalam keadaan terangsang, saat kusodok2 dari belakang. Setelah berdogi beberapa saat, kita ganti posisi lagi. Sekarang Jasmine terlentang, dengan bantal2 dibawah punggungnya. Kakinya kuangkat hingga bersandar di pundakku. Tanganku kutumpu dikiri kanan lehernya, dalam posisi ini Jasmine juga tak bisa bergerak, tak kuasa menghindari hantaman2 kontolku di memeknya. Dan karena pahanya merapat, memeknya terasa makin sempit buatku. Ia cuma bisa mengerang2 nikmat. Dan kemudian gue ngerasa ****** gue makin kenceng, aku hampir sampai. Dan kebiasaanku adalah menghujamkan kontolku sedalam2nya, ini menyebabkan si Jasmine orgasme juga, karena kontolku menghantam dasar rahimnya. "Aaaaaaaaaahhhhhhhhh.... Ndi.... aku sampaiiiiiiiiiiiii, ohhhhhhhhhh....."jeritnya melengking. Otot2 memeknya mencengkram kontolku. Tubuhnya bergetar kuat. Kukunya terasa mencakar punggungku. Aku makin asyik menghujamkan kontolku kedalam memeknya, lagi dan lagi dan lagi dan lagi. Sampai akhirnya gue nggak kuat lagi, dan ..."Ahhhhhh......" teriakku sambil menyemprotkan spermaku ke dalam memeknya. Karena udah terangsang dalam waktu yang lama, maniku kali ini banyak sekali. Kira2 lima semprotan ke dalam memeknya. Rasanya energiku terkuras. "You animal..." kata Jasmine sambil tersenyum lembut. Aku terbaring diatasnya. "Happy Birthday, Andie". Bisiknya mesra. "Hm... makasih sekali, cintaku," kataku sambil mencium bibirnya. Tak lama kita tertidur di ranjang hotel itu. Hari sudah malam saat kita bangun. Kita lalu mandi busa, ******* lagi sebentar di bak mandi marmer itu. Lalu tidur lagi, di tengah malam kurasakan kontolku naik lagi. Berkat masakan si Jasmine ya. Gue kerjain lagi si Jasmine sampai terampun-ampun. Habis itu baru aku tidur lelap sampai pagi. Ulang tahun paling berkesan seumur hidupku.&lt;br /&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>The desire of a nurse // Cerita Dewasa</title><link>http://indonesiahotstories.blogspot.com/2009/12/desire-of-nurse-cerita-dewasa.html</link><category>Cerita Dewasa</category><author>noreply@blogger.com (super soccer)</author><pubDate>Thu, 24 Dec 2009 14:40:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1865751094759452973.post-6087632331161048112</guid><description>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Birahi Seorang Perawat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini adalah hari pertamaku tinggal di kota Bandung. Karena tugas kantorku, aku terpaksa tinggal di Bandung selama 5 hari dan weekend di Jakarta. Di kota kembang ini, aku menyewa kamar di rumah temanku. Menurutnya, rumah itu hanya ditinggali oleh Ayahnya yang sudah pikun, seorang perawat, dan seorang pembantu. "Rumah yang asri" gumamku dalam hati. Halaman yang hijau, penuh tanaman dan bunga yang segar dikombinasikan dengan kolam ikan berbentuk oval. Aku mengetuk pintu rumah tersebut beberapa kali sampai pintu dibukakan. Sesosok tubuh semampai berbaju serba putih menyambutku dengan senyum manisnya. "Pak Rafi ya..". "Ya.., saya temannya Mas Anto yang akan menyewa kamar di sini. Lho, kamu kan pernah kerja di tetanggaku?", jawabku surprise. Perawat ini memang pernah bekerja pada tetanggaku di Bintaro sebagai baby sitter. "Iya..., saya dulu pengasuhnya Aurelia. Saya keluar dari sana karena ada rencana untuk kawin lagi. Saya kan dulu janda pak.., tapi mungkin belum jodo.., ee dianya pergi sama orang lain.., ya sudah, akhirnya saya kerja di sini..", Mataku memandangi sekujur tubuhnya. Tati (nama si perawat itu) secara fisik memang tidak pantas menjadi seorang perawat. Kulitnya putih mulus, wajahnya manis, rambutnya hitam sebahu, buah dadanya sedang menantang, dan kakinya panjang semampai. Kedua matanya yang bundar memandang langsung mataku, seakan ingin mengatakan sesuatu. Aku tergagap dan berkata, "Ee.., Mbak Tati, Bapak ada?". "Bapak sedang tidur. Tapi Mas Anto sudah nitip sama saya. Mari saya antarkan ke kamar..". Tati menunjukkan kamar yang sudah disediakan untukku. Kamar yang luas, ber-AC, tempat tidur besar, kamar mandi sendiri, dan sebuah meja kerja. Aku meletakkan koporku di lantai sambil melihat berkeliling, sementara Tati merunduk merapikan sprei ranjangku. Tanpa sengaja aku melirik Tati yang sedang menunduk. Dari balik baju putihnya yang kebetulan berdada rendah, terlihat dua buah dadanya yang ranum bergayut di hadapanku. Ujung buah dada yang berwarna putih itu ditutup oleh BH berwarna pink. Darahku terkesiap. Ahh..., perawat cantik, janda, di rumah yang relatif kosong.Sadar melihat aku terkesima akan keelokan buah dadanya, dengan tersipu-sipu Tati menghalangi pemandangan indah itu dengan tangannya. "Semuanya sudah beres Pak..., silakan beristirahat..". "Ee..., ya.., terima kasih", jawabku seperti baru saja terlepas dari lamunan panjang. Sore itu aku berkenalan dengan ayah Anto yang sudah pikun itu. Ia tinggal sendiri di rumah itu setelah ditinggalkan oleh istrinya 5 tahun yang lalu. Selama beramah-tamah dengan sang Bapak, mataku tak lepas memandangi Tati. Sore itu ia menggunakan daster tipis yang dikombinasikan dengan celana kulot yang juga tipis. Buah dadanya nampak semakin menyembul dengan dandanan seperti itu. Di rumah itu ada seorang pembantu berumur sekitar 17 tahun. Mukanya manis, walaupun tidak secantik Tati. Badannya bongsor dan motok. Ani namanya. Ia yang sehari-hari menyediakan makan untukku. Hari demi hari berlalu. Karena kepiawaianku dalam bergaul, aku sudah sangat akrab dengan orang-orang di rumah itu. Bahkan Ani sudah biasa mengurutku dan Tati sudah berani untuk ngobrol di kamarku. Bagi janda muda itu, aku sudah merupakan tempat mencurahkan isi hatinya. Begitu mudah keakraban itu terjadi hingga kadang-kadang Tati merasa tidak perlu mengetuk pintu sebelum masuk ke kamarku. Sampai suatu malam, ketika itu hujan turun dengan lebatnya. Aku, karena sedang suntuk memasang VCD porno kesukaanku di laptopku. Tengah asyik-asyiknya aku menonton tanpa sadar aku menoleh ke arah pintu, astaga..., Tati tengah berdiri di sana sambil juga ikut menonton. Rupanya aku lupa menutup pintu, dan ia tertarik akan suara-suara erotis yang dikeluarkan oleh film produksi Vivid interactive itu. Ketika sadar bahwa aku mengetahui kehadirannya, Tati tersipu dan berlari ke luar kamar. "Mbak Tati..", panggilku seraya mengejarnya ke luar. Kuraih tangannya dan kutarik kembali ke kamarku. "Mbak Tati..., mau nonton bareng? Ngga apa-apa kok..". "Ah, ngga Pak..., malu aku..", katanya sambil melengos. "Lho.., kok malu.., kayak sama siapa saja.., kamu itu.., wong kamu sudah cerita banyak tentang diri kamu dan keluarga.., dari yang jelek sampai yang bagus.., masak masih ngomong malu sama aku?", Kataku seraya menariknya ke arah ranjangku. "Yuk kita nonton bareng yuk..", Aku mendudukkan Tati di ranjangku dan pintu kamarku kukunci. Dengan santai aku duduk di samping Tati sambil mengeraskan suara laptopku. Adegan-adegan erotis yang diperlihatkan ke 2 bintang porno itu memang menakjubkan. Mereka bergumul dengan buas dan saling menghisap. Aku melirik Tati yang sedari tadi takjub memandangi adegan-adegan panas tersebut. Terlihat ia berkali-kali menelan ludah. Nafasnya mulai memburu, dan buah dadanya terlihat naik turun. Aku memberanikan diri untuk memegang tangannya yang putih mulus itu. Tati tampak sedikit kaget, namun ia membiarkan tanganku membelai telapak tangannya. Terasa benar bahwa telapak tangan Tati basah oleh keringat. Aku membelai-belai tangannya seraya perlahan-lahan mulai mengusap pergelangan tangannya dan terus merayap ke arah ketiaknya. Tati nampak pasrah saja ketika aku memberanikan diri melingkarkan tanganku ke bahunya sambil membelai mesra bahunya. Namun ia belum berani untuk menatap mataku. Sambil memeluk bahunya, tangan kananku kumasukkan ke dalam daster melalui lubang lehernya. Tanganku mulai merasakan montoknya pangkal buah dada Tati. Kubelai-belai seraya sesekali kutekan daging empuk yang menggunung di dada bagian kanannya. Ketika kulihat tak ada reaksi dari Tati, secepat kilat kusisipkan tangganku ke dalam BH-nya..., kuangkat cup BH-nya dan kugenggam buah dada ranum si janda muda itu. "Ohh.., Pak..., jangan..", Bisiknya dengan serak seraya menoleh ke arahku dan mencoba menolak dengan menahan pergelangan tangan kananku dengan tangannya. "Sshh..., ngga apa-apa Mbak..., ngga apa-apa..". "Nanti ketauanhh..". "Nggaa..., jangan takut..", Kataku seraya dengan sigap memegang ujung puting buah dada Tati dengan ibu jari dan telunjukku, lalu kupelintir-pelintir ke kiri dan kanan. "Ooh.., hh.., Pak.., Ouh.., jj.., jjanganhh.., ouh..", Tati mulai merintih-rintih sambil memejamkan matanya. Pegangan tangannya mulai mengendor di pergelangan tanganku. Saat itu juga, kusambar bibirnya yang sedari tadi sudah terbuka karena merintih-rintih. "Ouhh.., mmff.., cuphh.., mpffhh..", Dengan nafas tersengal-sengal Tati mulai membalas ciumanku. Kucoba mengulum lidahnya yang mungil, ketika kurasakan ia mulai membalas sedotanku. Bahkan ia kini mencoba menyedot lidahku ke dalam mulutnya seakan ingin menelannya bulat-bulat. Tangannya kini sudah tidak menahan pergelanganku lagi, namun kedua-duanya sudah melingkari leherku. Malahan tangan kanannya digunakannya untuk menekan belakang kepalaku sehingga ciuman kami berdua semakin lengket dan bergairah. Momentum ini tak kusia-siakan. Sementara Tati melingkarkan kedua tangannya di leherku, akupun melingkarkan kedua tanganku di pinggangnya. Aku melepaskan bibirku dari kulumannya, dan aku mulai menciumi leher putih Tati dengan buas. "aahh..Ouhh.." Tati menggelinjang kegelian dan tanganku mulai menyingkap daster di bagian pinggangnya. Kedua tanganku merayap cepat ke arah tali BH-nya dan, "tasss.." terlepaslah BH-nya dan dengan sigap kualihkan kedua tanganku ke dadanya. Saat itulah lurasakan betapa kencang dan ketatnya kedua buah dada Tati. Kenikmatan meremas-remas dan mempermainkan putingnya itu terasa betul sampai ke ujung sarafku. Penisku yang sedari tadi sudah menegang terasa semakin tegang dan keras. Rintihan-rintihan Tati mulai berubah menjadi jeritan-jeritan kecil terutama saat kuremas buah dadanya dengan keras. Tati sekarang lebih mengambil inisiatif. Dengan nafasnya yang sudah sangat terengah-engah, ia mulai menciumi leher dan mukaku. Ia bahkan mulai berani menjilati dan menggigit daun telingaku ketika tangan kananku mulai merayap ke arah selangkangannya. Dengan cepat aku menyelipkan jari-jariku ke dalam kulotnya melalui perut, langsung ke dalam celana dalamnya. Walaupun kami berdua masih dalam keadaan duduk berpelukan di atas ranjang, posisi paha Tati saat itu sudah dalam keadaan mengangkang seakan memberi jalan bagi jari-jemariku untuk secepatnya mempermainkan kemaluannya. Hujan semakin deras saja mengguyur kota Bandung. Sesekali terdengar suara guntur bersahutan. Namun cuaca dingin tersebut sama sekali tidak mengurangi gairah kami berdua di saat itu. Gairah seorang lajang yang memiliki libido yang sangat tinggi dan seorang janda muda yang sudah lama sekali tidak menikmati sentuhan lelaki. Tati mengeratkan pelukannya di leherku ketika jemariku menyentuh bulu-bulu lebat di ujung vaginanya. Ia menghentikan ciumannya di kupingku dan terdiam sambil terus memejamkan matanya. Tubuhnya terasa menegang ketika jari tengahku mulai menyentuh vaginanya yang sudah terasa basah dan berlendir itu. Aku mulai mempermainkan vagina itu dan membelainya ke atas dan ke bawah. "Ouuhh Pak.., ouhh.., aahh.., g..g.ggelliiihh?". Tati sudah tidak bisa berkata-kata lagi selain merintih penuh nafsu ketika clitorisnya kutemukan dan kupermainkan. Seluruh badan Tati bergetar dan bergelinjang. Ia nampak sudah tak dapat mengendalikan dirinya lagi. Jeritan-jeritannya mulai terdengar keras. Sempat juga aku kawatir dibuatnya. Jangan-jangan seisi rumah mendengar apa yang tengah kami lakukan. Namun kerasnya suara hujan dan geledek di luar rumah menenangkanku. Benda kecil sebesar kacang itu terasa nikmat di ujung jari tengahku ketika aku memutar-mutarnya. Sambil mempermainkan clitorisnya, aku mulai menundukkan kepalaku dan menciumi buah dadanya yang masih tertutupi oleh daster. Seolah mengerti, Tati menyingkapkan dasternya ke atas, sehingga dengan jelas aku bisa melihat buah dadanya yang ranum, kenyal dan berwarna putih mulus itu bergantung di hadapanku. Karena nafsuku sudah memuncak, dengan buas kusedot dan kuhisap buah dada yang berputing merah jambu itu. Putingnya terasa keras di dalam mulutku menandakan nafsu janda muda itupun sudah sampai di puncak. Tati mulai menjerit-jerit tidak karuan sambil menjambak rambutku. Sejenak kuhentikan hisapanku dan bertanya, "Enak Mbak?". Sebagai jawabannya, Tati membenamkan kembali kepalaku ke dalam ranumnya buah dadanya. Jari tengahku yang masih mempermainkan clitorisnya kini kuarahkan ke lubang vagina Tati yang sudah menganga karena basah dan posisi pahanya yang mengangkang. Dengan pelan tapi pasti kubenamkan jari tengahku itu ke dalamnya dan, "Auuhh.., P.Paak.., hh". Tati menjerit dan menaikkan kedua kakinya ke atas ranjang. "Terrusshh.., auhh..". Kugerakkan jariku keluar masuk di vaginanya dan Tati menggoyangkan pingggulnya mengikuti irama keluar masuknya jemariku itu. Aku menghentikan ciumanku di buah dada Tati dan mulai mengecup bibir ranum janda itu. Matanya tak lagi terpejam, tapi memandang sayu ke mataku seakan berharap kenikmatan yang ia rasakan ini jangan pernah berakhir. Tangan kiriku yang masih bebas, membimbing tangan kanan Tati ke balik celana pendekku. Ketika tangannya menyentuh penisku yang sudah sangat keras dan besar itu, terlihat ia agak terbelalak karena belum pernah melihat bentuk yang panjang dan besar seperti itu. Tati meremas penisku dan mulai mengocoknya naik turun naik turun.., kocokan yang nikmat yang membuatku tanpa sadar melenguh, "Ahh.., Mbaak.., enaknya.., terusin..". Saat itu kami berdua berada pada puncaknya nafsu. Aku yakin bahwa Mbak Tati sudah ingin secepatnya memasukkan penisku ke dalam vaginanya. Ia tidak mengatakannya secara langsung, namun dari tingkahnya menarik penisku dan mendekatkannya ke vaginanya sudah merupakan pertanda. Namun, di detik-detik yang paling menggairahkan itu terdegar suara si Bapak tua berteriak, "Tatiii..., Tatiii..". Kami berdua tersentak. Kukeluarkan jemariku dari vaginanya, Tati melepaskan kocokannya dan ia membenahi pakaian dan rambutnya yang berantakan. Sambil mengancingkan kembali BH-nya ia keluar dari kamarku menuju kamar Bapak tua itu. Sialan!, kepalaku terasa pening. Begitulah penyakitku kalau libidoku tak tersalurkan. Beberapa saat lamanya aku menanti siapa tahu janda muda itu akan kembali ke kamarku. Tapi nampaknya ia sibuk mengurus orang tua pikun itu, sampai aku tertidur. Entah berapa lama aku terlelap, tiba-tiba aku merasa napasku sesak. Dadaku serasa tertindih suatu beban yang berat. Aku terbangun dan membuka mataku. Aku terbelalak, karena tampak sesosok tubuh putih mulus telanjang bulat menindih tubuhku. "Mbak Tati?", Tanyaku tergagap karena masih mengagumi keindahan tubuh mulus yang berada di atas tubuhku. Lekukan pinggulnya terlihat landai, dan perutnya terasa masih kencang. Buah dadanya yang lancip dan montok itu menindih dadaku yang masih terbalut piyama itu. Seketika, rasa kantukku hilang. Mbak Tati tersenyum simpul ketika tangannya memegang celanaku dan merasakan betapa penisku sudah kembali menegang. "Kita tuntaskan ya Mbak?", Kataku sambil menyambut kuluman lidahnya. Sambil dalam posisi tertindih aku menanggalkan seluruh baju dan celanaku. Kegairahan yang sempat terputus itu, mendadak kembali lagi dan terasa bahkan lebih menggila. Kami berdua yang sudah dalam keadaan bugil saling meraba, meremas, mencium, merintih dengan keganasan yang luar biasa. Mbak Tati sudah tidak malu-malu lagi menggoyangkan pinggulnya di atas penisku sehingga bergesekan dengan vaginanya. Tidak lebih dari 5 menit, aku merasakan bahwa nafsu syahwat kami sudah kembali berada dipuncak. Aku tak ingin kehilangan momen lagi. Kubalikkan tubuh Tati, dan kutindih sehingga keempukan buah dadanya terasa benar menempel di dadaku. Perutku menggesek nikmat perutnya yang kencang, dan penisku yang sudah sangat menegang itu bergesekan dengan vaginanya. "Mbak.., buka kakinya.., sekarang kamu akan merasakan sorganya dunia Mbak..", bisikku sambil mengangkangkan kedua pahanya. Sambil tersengal-sengal Tati membuka pahanya selebar-lebarnya. Ia tersenyum manis dengan mata sayunya yang penuh harap itu. "Ayo Pak.., masukkan sekarang?", Aku menempelkan kepala penisku yang besar itu di mulut vagina Tati. Perlahan-lahan aku memasukkannya ke dalam, semakin dalam, semakin dalam dan, "aa.., Aooohh.., paakh?.., aahh..", rintihnya sambil membelalakkan matanya ketika hampir seluruh penisku kubenamkan ke dalam vaginanya. Setelah itu, "Blesss?", dengan sentakan yang kuat kubenamkan habis penisku diiringi jeritan erotisnya, "Ahh.., besarnyah.., ennnakk ppaak..". Aku mulai memompakan penisku keluar masuk, keluar masuk. Gerakanku makin cepat dan cepat. Semakin cepat gerakanku, semakin keras jeritan Tati terdengar di kamarku. Pinggul janda muda itu pun berputar-putar dengan cepat mengikuti irama pompaanku. Kadang-kadang pinggulnya sampai terangkat-angkat untuk mengimbangi kecepatan naik turunnya pinggulku. Buah dadanya yang terlihat bulat dalam keadaan berbaring itu bergetar dan bergoyang ke sana ke mari. Sungguh menggairahkan! Tiba-tiba aku merasakan pelukannya semakin mengeras. Terasa kuku-kukunya menancap di punggungku. Otot-ototnya mulai menegang. Nafas perempuan itu juga semakin cepat. Tiba-tiba tubuhnya mengejang, mulutnya terbuka, matanya terpejam,dan alisnya merengut "aahh..". Tati menjerit panjang seraya menjambak rambutku, dan penisku yang masih bergerak masuk keluar itu terasa disiram oleh suatu cairan hangat. Dari wajahnya yang menyeringai, tampak janda muda itu tengah menghayati orgasmenya yang mungkin sudah lama tidak pernah ia alami itu. Aku tidak mengendurkan goyangan pinggulku, karena aku sedang berada di puncak kenikmatanku. "Mbak.., goyang terus Mbak.., aku juga mau keluar..". Tati kembali menggoyang pinggulnya dengan cepat dan beberapa detik kemudian, seluruh tubuhku menegang. "Keluarkan di dalam saja pak", bisik Tati, "Aku masih pakai IUD". Begitu Tati selesai berbisik, aku melenguh. "Mbak.., aku keluar.., aku keluarr?., aahh..", dan..., "Crat.., crat.., craat", kubenamkan penisku dalam-dalam di vagina perempuan itu. Seakan mengerti, Tati mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi sehingga puncak kenikmatan ini terasa benar hingga ke tulang sumsumku. Kami berdua terkulai lemas sambil memejamkan mata. Pikiran kami melayang-layang entah ke mana. Tubuhku masih menindih tubuh montok Tati. Kami berdua masih saling berpelukan dan akupun membayangkan hari-hari penuh kenikmatan yang akan kualami sesudah itu di Bandung. Sejak kejadian malam itu, kesibukan di kantorku yang luar biasa membuatku sering pulang larut malam. Kepenatanku selalu membuatku langsung tertidur lelap. Kesibukan ini bahkan membuat aku jarang bisa berkomunikasi dengan Tati. Walaupun begitu, sering juga aku mempergunakan waktu makan siangku untuk mampir ke rumah dengan maksud untuk melakukan seks during lunch. Sayang, di waktu tersebut ternyata Ayah Anto senantiasa dalam keadaan bangun sehingga niatku tak pernah kesampaian. Namun suatu hari aku cukup beruntung walaupun orang tua itu tidak tidur. Aku mendapat apa yang kuinginkan. Ceritanya sebagai berikut: Tati diminta oleh Ayah Anto untuk mengambil sesuatu di kamarnya. Melihat peluang itu, aku diam-diam mengikutinya dari belakang. Kamar ayah Anto memang tidak terlihat dari tempat di mana orang tua itu biasa duduk. Sesampainya di kamar kuraih pinggang semampai perawat itu dari belakang. Tati terkejut dan tertawa kecil ketika sadar siapa yang memeluknya dan tanpa basa-basi langsung menyambut ciumanku dengan bibirnya yang mungil itu sambil dengan buas mengulum lidahku. Ia memang sudah tidak malu-malu lagi seperti awal pertemuan kami. Janda cantik itu sudah menunjukkan karakternya sebagai seorang pecinta sejati yang tanpa malu-malu lagi menunjukkan kebuasan gairahnya. Kadang aku tidak mengerti, kenapa suaminya tega meninggalkannya. Namun analisaku mengatakan, suaminya tak mampu mengimbangi gejolak gairah Tati di atas ranjang dan untuk menutupi rasa malu yang terus menerus terpaksa ia meninggalkan perempuan muda itu untuk hidup bersama dengan perempuan lain yang lebih 'low profile'. Aku memang belum sempat menanyakan pada Tati bagaimana ia menyalurkan kebutuhan biologisnya di saat menjanda. Aku berpikir, bawa masturbasi adalah jalan satu-satunya. Kami berdua masih saling berciuman dengan ganas ketika dengan sigap aku menyelipkan tanganku ke balik baju perawatnya yang putih itu. Sungguh terkejut ketika aku sadar bahwa ia sama sekali tidak memakai BH sehingga dengan mudahnya kuremas buah dada kanannya yang ranum itu. "Kok ngga pakai BH Mbak..?" Sambil menggelinjang dan mendesah, ia menjawab sambil tersenyum nakal. "Supaya gampang diremas sama kamu..". Benar-benar jawaban yang menggemaskan! Kembali kukulum bibir dan lidahnya yang menggairahkan itu sambil dengan cepat kubuka kancing bajunya yang pertama, kedua, dan ketiga. Lalu tanpa membuang waktu kutundukkan kepalaku, dengan tangan kananku kukeluarkan buah dada kanannya dan kuhisap sedemikian rupa sehingga hampir setengahnya masuk ke dalam mulutku. Tati mulai mengerang kegelian, "Ouhh.., geli Mas.., geliii.., ahh..". Sejak kejadian malam itu, ia memang membiasakan dirinya untuk memanggilku Mas. Sambil menggelinjang dan merintih, tangan kanan Tati mulai mengelus-elus bagian depan celana kantorku. Penisku yang terletak tepat di baliknya terasa semakin menegang dan menegang. Jari-jari lentik perempuan itu berusaha untuk mencari letak kepala penisku untuk kemudian digosok-gosoknya dari luar celana. Sensasi itu membuat nafasku semakin memburu seperti layaknya nafas kuda yang tengah berlari kencang. Seakan tak mau kalah darinya, tangan kiriku berusaha menyingkap rok janda muda itu dan dengan sigap kugosokkan jari-jemariku di celana dalamnya. Tepat diatas vaginanya, celana dalam Tati terasa sudah basah. Sungguh hebat! Hanya dalam beberapa menit saja, ia sudah sedemikian terangsangnya sehingga vaginanya sudah siap untuk dimasuki oleh penisku. Tanpa membuang waktu kuturunkan celana dalam tipis yang kali ini berwarna hitam, kudorong tubuh montok perawat itu ke dinding, lalu kuangkat paha kanannya sehingga dengkulnya menempel di pinggangku. Dengan sigap pula kubuka ritsluiting celanaku dan kukeluarkan penisku yang sudah sangat tegang dan besar itu. Tati sudah nampak pasrah. Ia hanya bersender di dinding sambil memejamkan matanya dan memeluk bahuku. "Tatiii.., mana minyak tawonnya.., kok lama betuul?". Suara orang tua itu terdengar dengan keras. Sungguh menjengkelkan. Tati sempat terkejut dan nampak panik ketika kemudian aku berbisik, "Tenang Mbak.., jawab aja.., kita selesaikan dulu ini.., kamu mau kan?" Ia mengangguk seraya tersenyum manis. "Sebentar Pak..", teriaknya. "Minyak tawonnya keselip entah ke mana.., ini lagi dicari kok?". Ia tertawa cekikikan, geli mendengar jawaban spontannya sendiri. Namun tawanya itu langsung berubah menjadi jerikan erotis kecil ketika kupukul-pukulkan kepala penisku ke selangkangannya. Perlahan-lahan kutempelkan kepala penisku itu di pintu vaginanya. Sambi kuputar-putar kecil kudorong pinggulku perlahan-lahan. Tati ternganga sambil terengah-engah, "aahh.., aahh.., ouhh.., Mas.., besar sekali.., pelan-pelan Mas..pelan-pelanhh..", dan, "aa?". Tati menjerit kecil ketika kumasukkan seluruh penisku ke dalam vaginanya yang becek dan terasa sangat sempit dalam posisi berdiri ini. Aku menyodokkan penisku maju mundur dengan gerakan yang percepatannya meningkat dari waktu ke waktu. Tubuh Tati terguncang-guncang, buah dadanya bergayut ke kiri dan kanan dan jeritannya semakin menjadi-jadi. Aku sudah tak peduli kalau ayah Anton sampai mendengarkan jeritan perempuan itu. Nafsuku sudah naik ke kepala. Janda muda ini memang memiliki daya pikat seks yang luar biasa. Walaupun ia hanya seorang perawat, namun kemulusan dan kemontokan badannya sungguh setara dengan perempuan kota jaman sekarang. Sangat terawat dan nikmat sekali bila digesek-gesekkankan di kulit kita. Gerakan pinggulku semakin cepat dan semakin cepat. Mulutku tak puas-puasnya menciumi dan menghisap puting buah dadanya yang meruncing panjang dan keras itu. Buah dadanya yang kenyal itu hampir seluruhnya dibasahi oleh air liurku. Aku memang sedang nafsu berat. Aku merasakan bahwa sebentar lagi aku akan orgasme dan bersamaan dengan itu juga tubuh Tati menegang. Kupercepat gerakan pinggulku dan tiba-tiba, "aahh.., Mas.., Masss?, aku keluarrr.., aahh", Jeritnya. Saat itu juga kusodokkan penisku ke dalam vagina janda muda itu sekeras-kerasnya dan, "Craat.., craatt.., craat". "Ahh..., Mbaak", erangku sambil meringis menikmati puncak orgasme kami yang waktunya jatuh bersamaan itu. Kami berpelukan sesaat dan Tati berbisik dengan suara serak. "Mas.., aku ngga pernah dipuasin laki-laki seperti kamu muasin saya.., kamu hebat..". Aku tersenyum simpul. "Mbak., aku masih punya 1001 teknik yang bisa membuat kamu melayang ke surga ke-7.., ngga bosan kan kalo lain waktu aku praktekkan sama kamu?". Perlahan Tati menurunkan paha kanannya dan mencabut penisku dari vaginanya. "Bosan? Aku gila apa.., yang beginian ngga akan membuatku bosan.., kalau bisa tiap hari aku mau Mas..". Benar-benar luar biasa libido perempuan ini. Beruntung aku mempunyai libido yang juga luar biasa besarnya. Sebagai partner seks, kami benar-benar seimbang. Setelah kejadian siang itu, aku dan Tati seperti pengantin baru saja. Tak ada waktu luang yang tak terlewatkan tanpa nafsu dan birahi. Walaupun demikian, aku tekankan pada Tati, bahwa hubungan antara aku dan dia, hanyalah sebatas hubungan untuk memuaskan nafsu birahi saja. Aku dan dia punya hak untuk berhubungan dengan orang lain. Tati si janda muda yang sudah merasakan kenikmatan seks bebas itu tentu saja menyetujuinya. Suatu hari, Tati masuk ke dalam kamarku dan ia berkata, "Mas, aku akan mengambil cuti selama 1 bulan. Aku harus mengurusi masalah tanah warisan di kampungku..". "Lha.., kalau Mbak pulang, siapa yang akan mengurusi Bapak?", tanyaku sambil membayangkan betapa kosongnya hari-hariku selama sebulan ke depan. "Mas Anto bilang, akan ada adik Bapak yang akan menggantikan aku selama 1 bulan.., namanya Mbak Ine.., dia ngga kawin.., umurnya sudah hampir 40 tahun.., orangnya baik kok.., cerewet.., tapi ramah..". Yah apa boleh buat, aku terpaksa kehilangan seorang teman berhubungan seks yang sangat menggairahkan. Hitung-hitung cuti 1 bulan.., atau kalau berpikir positif.., its time to look for a new partner!!! Hari ini adalah hari ke lima setelah kepergian Tati. Mbak Ine, pengganti sementara Tati, ternyata adalah adik ipar ayah Anto. Jadi, adik istri si bapak tua itu. Mbak Ine adalah seorang perempuan Sunda yang ramah. Wajahnya lumayan cantik, kulitnya berwarna hitam manis, badannya agak pendek dan bertubuh montok. Ukuran buah dadanya besar. Jauh lebih besar dari Tati dan senantiasa berdandan agak menor. Wanita yang berumur hampir 40 tahun itu mengaku belum pernah menikah karena merasa bahwa tak ada laki-laki yang bisa cocok dengan sifatnya yang avonturir. Saat ini ia bekerja secara freelance di sebuah stasiun televisi sebagai penulis naskah. Kemampuan bergaulku dan keramahannya membuat kami cepat sekali akrab. Lagi-lagi, kamarku itu kini menjadi markas curhatnya Mbak Ine. "Panggil saya teh Ine aja deh..", katanya suatu kali dengan logat Bandungnya yang kental. "Kalau gitu panggil saya Rafi aja ya teh.., ngga usah pake pak pak-an segala..", balasku sambil tertawa. Baru 5 hari kami bergaul, namun sepertinya kami sudah lama saling mengenal. Kami seperti dua orang yang kasmaran, saling memperhatikan dan saling bersimpati. Persis seperti cinta monyet ketika kita remaja. Saat itu seperti biasa, kami sedang ngobrol santai dari hati ke hati sambil duduk di atas ranjangku. Aku memakai baju kaos dan celana pendek yang ketat sehingga tanpa kusadari tekstur penis dan testisku tercetak dengan jelas. Bila kuperhatikan, beberapa kali tampak teh Ine mencuri-curi melirik selangkanganku yang dengan mudah dilihatnya karena aku duduk bersila. Aku sengaja membiarkan keadaan itu berlangsung. Malah kadang-kadang dengan sengaja aku meluruskan kedua kakiku dengan posisi agak mengangkang sehingga cetakan penisku makin nyata saja di celanaku. Sesekali, ditengah obrolan santai itu, tampak teh Ine melirik selangkanganku yang diikuti dengan nafasnya yang tertahan. Kenapa aku melakukan hal ini? Karena libidoku yang luar biasa, aku jadi tertantang untuk bisa meniduri teh Ine yang aku yakini sudah tak perawan lagi karena sifatnya yang avonturir itu. Dan lagi, dari sifatnya yang ramah, ceria, cerewet dan petualang itu, aku yakin di balik tubuh montok perempuan setengah baya tersimpan potensi libido yang tak kalah besar dengan Tati. Juga, gayanya dalam bergaul yang mudah bersentuhan dan saling memegang lengan sering membuat darahku berdesir. Apalagi kalau aku sedang dalam keadaan libido tinggi. Saat ini, teh Ine mengenakan daster berwarna putih tipis sehingga tampak kontras dengan warna kulitnya yang hitam manis itu. Belahan buah dadanya yang besar itu menyembul di balik lingkaran leher yang berpotongan rendah di bagian dada. Dasternya sendiri berpola terusan hingga sebatas lutut sehingga ketika duduk, pahanya yang montok itu terlihat dengan jelas. Aku selalu berusaha untuk bisa mengintip sesuatu yang terletak di antara kedua paha teh Ine. Namun karena posisi duduknya yang selalu sopan, aku tak dapat melihat apa-apa. Bukan main! Ternyata seorang wanita berusia 40-an masih mempunyai daya tarik sexual yang tinggi. Terus terang, baru kali ini aku berani berfantasi mengenai hubungan seks dengan teh Ine. Sementara ia bercerita tentang masa mudanya, pikiranku malah melayang dan membayangkan tubuh teh Ine sedang duduk di hadapanku tanpa selembar benangpun. Alangkah menggairahkannya. Aku seperti bisa melihat dengan jelas seluruh lekuk tubuhnya yang mulus tanpa cacat. Tanpa sadar, penisku menegang dan cairan madzi di ujungnya pun mulai keluar. Celanaku tampak basah di ujung penisku, dan cetakan penis serta testisku semakin jelas saja tercetak di selangkangan celanaku. Membesarnya penisku ternyata tak lepas dari perhatian teh Ine. Tampak jelas terlihat matanya terbelalak melihat ukuran penisku yang membesar dan tercetak jelas di celana pendekku. Obrolan kami mendadak terhenti karena beberapa saat teh Ine masih terpaku pada selangkanganku. "Kunaon teh..?", tanyaku memancing. "Eh.., enteu.., kamu teh mikirin apa sih??", katanya sambil tersenyum simpul. "Mikirin teh Ine teh.., entah kenapa barusan saya membayangkan teh Ine nggak pakai apa-apa.., aduh indahnya teh..", tiba-tiba saja jawaban itu meluncur dari mulutku. Aku sendiri terkejut dengan jawabanku yang sangat terus terang itu dan sempat membuatku terpaku memandang wajah teh Ine. Wajah teh Ine tampak memerah mendengar jawabanku itu. Napasnya mendadak memburu. Tiba-tiba teh Ine bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu. Ia menutup pintu kamarku dan menguncinya. Leherku tercekat, dan kurasakan jantungku berdegup semakin kencang. Dengan tersenyum dan sorot mata nakal ia menghampiriku dan duduk tepat di hadapan selangkanganku. Aku memang sedang dalam posisi selonjor dengan kedua kaki mengangkang. "Fi, kamu pingin sama teteh..? Hmm?", Desahnya seraya meraba penis tegangku dari luar celana. Aku menelan ludah sambil mengangguk perlahan dan tersenyum. Entah mengapa, aku jadi gugup sekali melihat wajah teh Ine yang semakin mendekat ke wajahku. Tanpa sadar aku menyandarkan punggungku ke tembok di ujung ranjang dan teh Ine menggeser duduknya mendekatiku sambil tetap menekan dan membelai selangkanganku. Nafas teh Ine yang semakin cepat terasa benar semakin menerpa hidung dan bibirku. Rasa nikmat dari belaian jemari teh Ine di selangkanganku semakin terasa keujung syaraf-syarafku. Napasku mulai memburu dan tanpa sadar mulutku mulai mengeluarkan suara erangan-erangan. Dengan lembut teh Ine menempelkan bibirnya di atas bibirku. Ia memulainya dengan mengecup ringan, menggigit bibir bawahku, dan tiba-tiba.., lidahnya memasuki mulutku dan berputar-putar di dalamnya dengan cepat. Langit-langit mulutku serasa geli disapu oleh lidah panjang milik perempuan setengah baya yang sangat menggairahkan itu. Aku mulai membalas ciuman, gigitan, dan kuluman teh Ine. Sambil berciuman, tangan kananku kuletakkan di buah dada kiri teh Ine. Uh.., alangkah besarnya.., walaupun masih ditutupi oleh daster, keempukan dan kekenyalannya sudah sangat terasa di telapak tanganku. Dengan cepat kuremas-remas buah dada teh Ine itu, "Emph.., emph..", rintihnya sambil terus mengulum lidahku dan menggosok-gosok selangkanganku. Mendadak teh Ine menghentikan ciumannya. Ia menahan tanganku yang tengah meremas buah dadanya dan berkata, "Fi, sekarang kamu diam dulu yah.., biar teteh yang duluan..". Tiba-tiba dengan cepat teh Ine menarik celana pendekku sekalian dengan celana dalamku. Saking cepatnya, penisku yang menegang melejit keluar. Sejenak teh Ine tertegun menatap penisku yang berdiri tegak laksana tugu monas itu. "Gusti Rafi.., ageung pisan..", bisiknya lirih. Dengan cepat teh Ine menundukkan kepalanya, dan seketika tubuhku terasa dialiri oleh aliran listrik yang mengalir cepat ketika mulut teh Ine hampir menelan seluruh penisku. Terasa ujung penisku itu menyentuh langit-langit belakang mulut teh Ine. Dengan sigap teh Ine memegang penisku sementara lidahnya memelintir bagian bawahnya. Kepala teh Ine naik turun dengan cepat mengiringi pegangan tangannya dan puntiran lidahnya. Aku benar-benar merasa melayang di udara ketika teh Ine memperkuat hisapannya. Aku melirik ke arah kaca riasku, dan di sana tampak diriku terduduk mengangkang sementara teh Ine dengan dasternya yang masih saja rapi merunduk di selangkanganku dan kepalanya bergerak naik turun. Suara isapan, jilatan dan kecupan bibir perempuan montok itu terdengar dengan jelas. Kenikmatan ini semakin menjadi-jadi ketika kurasakan teh Ine mulai meremas-remas kedua bola testisku secara bergantian. Perutku serasa mulas dan urat-urat di penisku serasa hendak putus karena tegangnya. Teh Ine tampak semakin buas menghisapi penisku seperti seseorang yang kehausan di padang pasir menemukan air yang segar. Jari-jemarinyapun semakin liar mempermainkan kedua testisku. "Slurrp.., Cuph.., Mphh..". Suara kecupan-kecupan di penisku semakin keras saja. Nafsuku sudah naik ke kepala. Aku berontak untuk berusaha meremas kedua buah dada montok dan besar milik wanita lajang berusia setengah baya itu, namun tangan teh Ine dengan kuat menghalangi tubuhku dan iapun semakin gila menghisapi dan menjilati penisku. Aku mulai bergelinjang-gelinjang tak karuan. "Teh Ine.., teeeh?, gantian dongg.., please.., saya udah ngga kuaat?, aahh.., sss..", erangku seakan memohon. Namun permintaanku tak digubrisnya. Kedua tangan dan mulutnya semakin cepat saja mengocok penisku. Terasa seluruh syaraf-syarafku semakin menegang dan menegang, degup jantungku berdetak semakin kencang.. napaskupun makin memburu. "Oohh..., Teh Ine.., Teh Ineee..., aahh?.", Aku berteriak sambil mengangkat pinggulku tinggi-tinggi dan, "Crat.., craat.., craat", aku memuncratkan spermaku di dalam mulut teh Ine. Dengan sigap pula teh Ine menelan dan menjilati spermaku seperti seorang yang menjilati es krim dengan nikmatnya. Setiap jilatan teh Ine terasa seperti setruman-setruman kecil di penisku. Aku benar-benar menikmati permainan ini.., luar biasa teh Ine, "Enak Fi..? Hmm?", teh Ine mengangkat kepalanya dari selangkanganku dan menatapku dengan senyum manisnya, tampak di seputar mulutnya banyak menempel bekas-bekas spermaku. "Fuhh nikmatnya sperma kamu Fi.." Bisiknya mesra seraya menjilat sisa-sisa spermaku di bibirnya. "Obat awet muda ya teh..", kataku bercanda. "Yaa gitulah..., antosan sekedap nya? Biar teteh ambilkan minum buat kamu". Oh my God.., benar-benar seorang wanita yang penuh pengabdian, dia belum mengalami orgasme apa-apa tapi perhatiannya pada pasangan lelakinya luar biasa besar, sungguh pasangan seks yang ideal! Kenyataan itu saja membuat rasa simpati dan birahiku pada teh Ine kembali bergejolak. Teh Ine kembali dari luar membawa segelas air. "Minum deh.., biar kamu segeran..". "Nuhun teh.., tapi janji ya abis ini giliran saya muasin teteh..". Aku meneguk habis air dingin buatan teh Ine dan saat itu pula aku merasakan kejantananku kembali. Birahiku kembali bergejolak melihat tubuh montok teh Ine yang ada di hadapanku. Aku meraih tangan teh Ine dan dengan sekali betot kubaringkan tubuhnya yang molek itu di atas ranjang. "Eeehh.., pelan-pelan Fi..", teriak teh Ine dengan geli. "Teteh mau diapain sih? ", lanjutnya manja. Tanpa menjawab, aku menindih tubuh montok itu, dan sekejap kurasakan nikmatnya buah dada besar itu tergencet oleh dadaku. Juga, syaraf-syaraf sekitar pinggulku merasakan nikmatnya penisku yang menempel dengan gundukan vaginanya walaupun masih ditutupi oleh daster dan celana dalamnya. Kupandangi wajah teh Ine yang bundar dan manis itu. Kalau diperhatikan, memang sudah terdapat kerut-kerut kecil di daerah mata dan keningnya. Tapi peduli setan! Teh Ine adalah seorang wanita setengah baya yang paling menggairahkan yang pernah kulihat. Pancaran aura sexualnya sungguh kuat menerangi sanubari lelaki yang memandangnya. "Teteh mau tau apa yang ingin saya lakukan terhadap teteh?", Kataku sambil tersenyum. "Saya akan memperkosa teteh sampai teteh ketagihan". Lalu dengan ganas, aku memulai menciumi bibir dan leher teh Ine. Teh Inepun dengan tak kalah ganasnya membalas ciuman-ciumanku. Keganasan kami berdua membuat suasana kamarku menjadi riuh oleh suara-suara kecupan dan rintihan-rintihan erotis. Dengan tak sabar aku menarik ritsluiting daster teh Ine, kulucuti dasternya, BH-nya, dan yang terakhir.., celana dalamnya. Wow.., sebuah gundukan daging tanpa bulu sama sekali terlihat sangat menantang terletak di selangkangan teh Ine. My God.., alangkah indahnya vagina teh Ine itu.., tak pernah kubayangkan bahwa ia mencukur habis bulu kemaluannya. "Kamu juga buka semua dong Fi", rengeknya sambil menarik baju kaosku ke atas. Dalam sekejap, kami berdua berdua berpelukan dan berciuman dengan penuh nafsu dalam keadaan bugil! Sambil menindih tubuhnya yang montok itu, bibirku menyelusuri lekuk tubuh teh Ine mulai dari bibir, kemudian turun ke leher, kemudian turun lagi ke dada, dan terus ke arah puting susu kirinya yang berwarna coklat kemerah-merahan itu. Alangkah kerasnya puting susunya, alangkah lancipnnya.., dan mmhh.., seketika itu juga kukulum, kuhisap dan kujilat puting kenyal itu.., karena gemasnya, sesekali kugigit juga puting itu. "Auuhh.., Fi.., gellii.., sss.., ahh", rintihnya ketika gigitanku agak kukeraskan. Badan montoknya mulai mengelinjang-gelinjang ke sana k emari.., dan mukanya menggeleng-geleng ke kiri dan ke kanan. Sambil menghisap, tangan kananku merayap turun ke selangkangannya. Dengan mudah kudapati vaginanya yang besar dan sudah sangat becek sekali. Akupun dengan sigap memain-mainkan jari tenganku di pintu vaginanya. "Crks.., crks.., crks", terdengar suara becek vagina teh Ine yang berwarna lebih putih dari kulit sekitarnya. Ketika jariku mengenai gundukan kecil daging yang mirip dengan sebutir kacang, ketika itu pula wanita setengah baya itu menjerit kecil. "Ahh.., geli Fi.., gelli", Putaran jariku di atas clitoris teh Ine dan hisapanku pada kedua puting buah dadanya makin membuat lajang montok berkulit hitam manis itu semakin bergelinjang dengan liar. "Fi.., masukin sekarang Fi.., sekarang.., please.., teteh udah nggak tahan..ahh..". Kulihat wajah teh Ine sudah meringis seperti orang kesakitan. Ringisan itu untuk menahan gejolak orgasmenya yang sudah hampir mencapai puncaknya. Dengan sigap kuarahkan penisku ke vagina montok milik teh Ine.., kutempelkan kepala penisku yang besar tepat di bawah clitorisnya, kuputar-putarkan sejenak dan teh Ine meresponnya dengan mengangkangkan pahanya selebar-lebarnya untuk memberi kemudahan bagiku untuk melakukan penetrasi.., saat itu pula kusodokkan pantatku sekuat-kuatnya dan, "Blesss", masuk semuanya! "Aahh?." Teh Ine menjerit panjang.., "Besar betul Fi.., auhh?., besar betuull..., duh gusti enaknya.., aahh..". Dengan penuh keganasan kupompa penisku keluar masuk vagina teh Ine. Dan iapun dengan liarnya memutar-mutar pinggulnya di bawah tindihanku. Astaga.., benar-benar pengalaman yang luar biasa! Bahkan keliaran teh Ine melebihi ganasnya Mbak Tati.., luar biasa! Kedua tubuh kami sudah sangat basah oleh keringat yang bercampur liur. Kasurkupun sudah basah di mana-mana oleh cairan mani maupun lendir yang meleleh dari vagina teh Ine, namun entah kekuatan apa yang ada pada diri kami..., kami masih saling memompa, merintih, melenguh, dan mengerang. Bunyi ranjangkupun sudah tak karuan.., "Kriet.., kriet.., krieeet", sesuai irama goyangan pinggul kami berdua. Penisku yang besar itu masih dengan buasnya menggesek-gesek vagina teh Ine yang terasa sempit namun becek itu. Setelah lebih dari 15 menit kami saling memompa, tiba-tiba kurasakan seluruh tubuh teh Ine menegang. "Fi.., Fi.., Teteh mau keluar..". "Iya teh, saya juga.., kita keluar sama-sama teh?", Goyanganku semakin kupercepat dan pada saat yang bersamaan kami berdua saling berciuman sambil berpelukan erat.., aku menancapkan penisku dalam-dalam dan teh Ine mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi..., "Crat.., crat.., crat.., crat", kami berdua mengerang dengan keras sambil menikmati tercapainya orgasme pada saat yang bersamaan. Kami sudah tak peduli bila seisi rumah akan mendengarkan jeritan-jeritan kami, karena aku yakin teh Inepun tak pernah merasakan kenikmatan yang luar biasa ini sepanjang hidupnnya. "Ahh.., Fi.., kamu hebaat.., kamu hebaathh.., hh.., Teteh ngga pernah ngerasain kenikmatan seperti ini". "Saya juga teh.., terima kasih untuk kenikmatan ini..", Kataku seraya mengecup kening teh Ine dengan mesra. "Mau tau suatu rahasia Fi?", tanyanya sambil membelai rambutku, "Teteh sudah lima tahun tidak bersentuhan dengan laki-laki.., tapi entah kenapa, dalam 5 hari bergaul dengan kamu.., teteh tidak bisa menahan gejolak birahi teteh.., ngga tau kenapa.., kamu itu punya aura seks yang luar biasa..". Teh Ine bangkit dari ranjangku dan mengambil sesuatu dari kantong dasternya. Sebutir pil KB. "Seperti punya fitasat, teteh sudah minum pil ini sejak 3 hari yang lalu..", katanya tersenyum, "Dan akan teteh minum selama teteh ada di sini..", Teh Ine mengerdipkan matanya padaku dengan manja sambil memakai dasternya. "Selamat tidur sayang?", Teh Ine melangkah keluar dari kamarku. Teh Ine memang luar biasa. Ia bukan saja dapat menggantikan kedudukan Tati sebagai partner seks yang baik, tetapi juga memberi sentuhan-sentuhan kasih sayang keibuan yang luar biasa. Aku benar-benar dimanja oleh wanita setengah baya itu. Fantasi sexualnya juga luar biasa. Mungkin itu pengaruh dari pekerjaannya sebagai penulis cerita drama. Coba bayangkan, ia pernah memijatku dalam keadaan bugil, kemudian sambil terus memijat ia bisa memasukkan penisku ke dalam vaginanya, dan aku disetubuhi sambil terus menikmati pijatan-pijatannya yang nikmat. Ia juga pernah meminta aku untuk menyetubuhinya di saat ia mandi pancuran di kamar mandi dan kami melakukannya dengan tubuh licin penuh sabun. Dan yang paling sensasional adalah.., Sore itu aku sudah berada di rumah. Karena load pekerjaan di kantorku tidak begitu tinggi, aku sengaja pulang cepat. Selesai mandi aku duduk di meja makan sambil menikmati pisang goreng buatan teh Ine. Perempuan binal itu memang luar biasa. Ia melayaniku seperti suaminya saja. Segala keperluan dan kesenanganku benar-benar diperhatikan olehnya. Seperti biasa, aku mengenakan baju kaos buntung dan celana pendek longgar kesukaanku dan (seperti biasa juga) aku tidak menggunakan celana dalam. Kebiasaan ini kumulai sejak adanya teh Ine di rumah ini, karena bisa dipastikan hampir tiap hari aku akan menikmati tubuh sintal adik ipar ayah si Anto itu. Sore itu sambil menikmati pisang goreng di meja makan, aku bercakap-cakap dengan ayah Anto. Orang tua itu duduk di pojok ruangan dekat pintu masuk untuk menikmati semilirnya angin sore kota Bandung. Jarak antara aku dengannya sekitar 6 meter. Sambil bercakap-cakap mataku tak lepas dari teh Ine yang mondar mandir menyediakan hidangan sore bagi kami. Entah ke mana PRT kami saat itu. Teh Ine mengenakan celana pendek yang ditutupi oleh kaos bergambar Mickey Mouse berukuran ekstra besar sehingga sering tampak kaos itu menutupi celana pendeknya yang memberi kesan teh Ine tidak mengenakan celana. Aku berani bertaruh perempuan itu tidak menggunakan BH karena bila ia berjalan melenggang, tampak buah dadanya bergayut ke atas ke bawah, dan di bagian dadanya tercetak puting buah dadanya yang besar itu. Tanpa sadar batang penisku mulai membesar. Setelah selesai dengan kesibukannya, teh Ine duduk di sebelah kiriku dan ikut menikmati pisang goreng buatannya. Kulihat ia melirik ke arahku sambil memasukkan pisang goreng perlahan-lahan ke dalam mulutnya. Sambil mengerdipkan matanya, ia memasukkan dan mengeluarkan pisang goreng itu dan sesekali menjilatnya. Sambil terus berbasa basi dengan orang tua Anto, aku menelan ludah dan merasakan bahwa urat-urat penisku mulai mengeras dan kepala penisku mulai membesar. Tiba-tiba kurasakan jari-jemari kanan teh Ine menyentuh pahaku. Lalu perlahan-lahan merayap naik sampai di daerah penisku. Dengan gemas teh Ine meremas penis tegangku dari luar celanaku sehingga membuat cairan beningku membuat tanda bercak di celanaku. Setelah beberapa lama meremas-remas, tangan itu bergerak ke daerah perut dan dengan cepat menyelip ke dalam celana pendekku. Aku sudah tidak tahu lagi apa isi percakapan orang tua Anto itu. Beberapa kali ia mengulangi pertanyaannya padaku karena jawabanku yang asal-asalan. Degup jantungku mulai meningkat. Jemari lentik itu kini sudah mencapai kedua bolaku. Dengan jari telunjuk dan tengah yang dirapatkan, perempuan lajang itu mengelus-elus dan menelusuri kedua bolaku.., mula-mula berputar bergantian kiri dan kanan kemudian naik ke bagian batang.., terus bergerak menelusuri urat-urat tegang yang membalut batang kerasku itu, "sss..., teteh..". Aku berdesis ketika kedua jarinya itu berhenti di urat yang terletak tepat di bawah kepala penisku.., itu memang daerah kelemahanku.., dan perempuan sintal ini mengetahuinya.., kedua jemarinya menggesek-gesekkan dengan cepat urat penisku itu sambil sesekali mencubitnya. "aahh...", erangku ketika akhirnya penisku masuk ke dalam genggamannya. "Kenapa Rafi?", Orang tua yang duduk agak jauh di depanku itu mengira aku mengucapkan sesuatu. "E.., ee..., ndak apa-apa Pak..", Jawabku tergagap sambil kembali meringis ketika teh Ine mulai mengocok penisku dengan cepat. Gila perempuan ini! Dia melakukannya di depan kakaknya sendiri walaupun tidak kelihatan karena terhalang meja. "Saya cuma merasa segar dengan udara Bandung yang dingin ini..", Jawabku sekenanya. "Ooo begitu.., saya pikir kamu sakit perut.., habis tampangmu meringis-meringis begitu..", Orang tua itu terkekeh sambil memalingkan mukanya ke jalan raya. Begitu kakaknya berpaling, teh Ine dengan cepat merebahkan kepalanya ke pangkuanku sehingga dari arah ayah Anto, teh Ine tak tampak lagi. Dengan cepat tangannya memelorotkan celanaku sehingga penisku yang masih digenggamnya dengan erat itu terasa dingin terterpa angin. Sejenak perempuan itu memandang penis besarku itu.., ia selalu memberikan kesempatan pada matanya untuk menikmati ukuran dan kekokohannya. Kemudian teh Ine menjulurkan lidahnya dan mulai menjilat mengelilingi lubang penisku.., kemudian ia memasukkan ujung lidahnya ke ujung lubang penisku dan mengecap cairan beningku.., lalu lidahnya diturunkan lagi-lagi ke urat di bawah penisku. Aku mulai menggelinjang-gelinjang tak karuan, walaupun dengan hati-hati takut ketahuan oleh kakak teh Ine yang duduk di depanku. Tanganku mulai meraba-raba buah dadanya yang besar itu dan meremasnya dengan gemas, "sss.., teeehh..", desisku agak keras ketika perempuan itu dengan kedua bibirnya menyedot urat di bawah kepala penisku itu.., sementara tangannya meremas-remas kedua bolaku..., aawwww nikmatnya..., aku begitu terangsang sehingga seluruh pori-pori kulitku meremang dan mukaku berwarna merah. Aku sudah dalam tahap ingin menindih dan sesegera mungkin memasukkan penisku ke dalam vagina perempuan ini tapi semua itu tak mungkin kulakukan di depan kakaknya yang masih duduk di depanku menikmati lalu lalang kendaraan di depan rumahnya. Tiba-tiba bibir teh Ine bergerak dengan cepat ke kepala penisku.., sambil terus kupermainkan putingnya kulihat ia membuka mulutnya dengan lebar dan tenggelamlah seluruh penisku ke dalam mulutnya. Aku kembali mendesis dan meringis sambil tetap duduk di meja makan mendengarkan ocehan orang tua Anto yang kembali mengajakku berbincang. Mulut teh Ine dengan cepat menghisap dan bergerak maju mundur di penisku. Tanganku menarik dasternya ke atas dari arah punggung sehingga terlihatlah pantatnya yang mulus tidak ditutupi oleh selembar benangpun. Aku ingin menjamah vaginanya, ingin rasanya kumasukkan jari-jariku dengan kasar ke dalamnya dan kukocok-kocok dengan keras tapi aku sudah tak kuat lagi. Jilatan lidah, kecupan, dan sedotan teh Ine di penisku membuat seluruh syarafku menegang. Tiba-tiba kujambak rambut teh Ine dan kutekan sekuat-kuatnya sehingga seluruh penisku tenggelam ke dalam mulutnya. Kurasakan ujung penisku menyentuh langit-langit tenggorokan teh Ine dan, "Creeet..., creeett..., creeettt", menyemburlah cairan maniku ke mulut teh Ine. "Ahh..., aahh.., aahh.., tetteeehh...", Aku meringis dan mendesis keras ketika cairan maniku bersemburan ke dalam mulut teh Ine. Perempuan itu dengan lahap menjilati dan menelan seluruh cairanku sehingga penisku yang hampir layu kembali sedikit menegang karena terus-terusan dijilat. Aku memejamkan mataku.., gilaa.., permainan ini benar-benar menakjubkan. Ada rasa was-was karena takut ketahuan, tapi rasa was-was itu justru meningkatkan nafsuku. Teh Ine memandang penisku yang sudah agak mengecil namun tetap saja dalam posisi tegak. "Luar biasa...", Bisiknya, "Siap-siap nanti malam yah?" Katanya sambil bangkit dan beranjak ke dapur. Aku cukup kagum dengan prestasi yang kucapai di rumah ini. Baru 2 bulan di Bandung, aku sudah bisa meniduri 2 orang wanita yang sudah lama tidak pernah menikmati sentuhan lelaki. Dan wanita-wanita itu, aku yakin akan selalu termimpi-mimpi akan besar dan nikmatnya gesekan penisku di dalam vagina mereka. Not bad!! TAMAT&lt;br /&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Indonesian Hot Stories : Cerita Dewasa</title><link>http://indonesiahotstories.blogspot.com/2009/12/indonesian-hot-stories-cerita-dewasa.html</link><category>Cerita Dewasa</category><author>noreply@blogger.com (super soccer)</author><pubDate>Thu, 24 Dec 2009 14:32:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1865751094759452973.post-9129580899277189901</guid><description>&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!-- google_ad_client = "pub-6738856414758845"; /* 468x60, dibuat 09/11/07 */ google_ad_slot = "2568847730"; google_ad_width = 468; google_ad_height = 60; //--&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KENA PELET&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yeni ditugaskan sebagai pimpinan unit sebuah bank BUMD di sebuah kabupaten. untuk itu maka ia harus berpisah dengan suaminya yang bekerja sebagai dosen dan pengusaha di kota. Yeni menyewa sebuah kamar paviliun yang dihuni oleh seorang wanita tua yang anak- anaknya pada ke kota semua. Pada hari pertama ia bertugas, banyak sekali kesan yang dapat di terimanya dari para bawahannya di kantor. Yeni pulang pergi ke kantor selalu menumpang bendi (delman) yang dimiliki oleh tetangganya yang bernama Udin, kebetulan Udin telah kenal baik dengan Mak Minah pemilik rumah yang ditempati Yeni. Udin seorang duda yang berumur kurang lebih 45 tahun, cerai dan tidak memiliki anak. Jarak rumah Udin dan Yeni memang jauh sebab di desa itu antara rumah dibatasi oleh kebun kelapa. Karena terlalu sering mengantar jemput Yeni, maka secara lambat laun ada perasaan suka Udin terhadap Yeni namun segala keinginan itu di buang jauh-jauh oleh Udin karena ia tahu Yeni telah mempunyai suami dan setiap minggu suami Yeni selalu datang, tingkah suami istri itu selalu membuat Udin tidak enak hati, namun ia harus pasrah bagaimanapun sebagai suami istri layaklah mereka berkumpul dan bermesraan untuk mengisi saat kebersamaan. Udin setiap hari selalu melihat sosok keelokan tubuh Yeni tapi bagaimana caranya menaklukannya, sedang birahinya selalu minta dituntaskan saat bersama Yeni diatas bendinya. Kemudian timbullah pikiran licik Udin dengan meminta pertolongan seorang dukun, ia berkeinginan agar Yeni mau dengannya. Atas bantuan dukun itu, Udin merasa puas dan mulailah ia mencoba pelet pemberian dukunnya. Siang saat Yeni menumpang bendi, Udin melihat paha Yeni yang putih mulus itu, kejadian itu membuat birahi Udin naik dan kejantanannya berdiri saat itu ia mengenakan celana katun yang longgar sehingga kejantanannya yang menonjol terlihat oleh Yeni, Udin malu dan berusaha membuang muka, sedang Yeni merasa tidak enak hati dan menutupkan pahanya, wajahnya bersemu merah ia merasakan bahwa batang kemaluan Udin itu memang besar dan panjang tidak seperti milik suaminya. Ia tahu pasti kalau bercinta dengan Udin akan dapat memberikan anak baginya serta kepuasan yang jauh berbeda saat bercinta dengan suaminya, memang saat akhir-akhir ini frekwensi hubungan seks dengan suaminya agak berkurang dan suaminya cepat selesai, telah 2 tahun menikah belum ada tanda-tanda ia hamil ini semakin membuat ia uring-uringan dan kepuasan yang dia harapkan dari suaminya tidak dapat Yeni nikmati. Sedang kalau ia melihat sosok Udin tidaklah sebanding dengannya karena status sosial dan intelektualnya jauh dibawah suaminya ditambah face-nya yang tidak masuk katagorinya di tambah lagi kehidupan Udin yang bergelimang dengan kuda kadang membuatnya jijik, namun semua itu dibiarkannya karena Yeni butuh bantuan Udin mengantar jemput, ditambah Udin memang baik terhadapnya. Kalau dilihat sosok Yeni, ia seorang wanita karier berusia 27 tahun dan ia telah bekerja di bank itu kurang lebih 4 tahun, ia menikah dengan Beni, belun dikaruniai anak, tingginya 161 cm, rambut sebahu dicat agak pirang, kulit putih bersih dan memiliki dada 34B sehingga membuat para lelaki ingin dekat dengannya dan menjamah payudaranya yang montok dan seksi. Dengan berbekal pelet yang diberikan gurunya, Udin mendatangi rumah Yeni. Malam itu gerimis dan Udin mengetuk pintu rumah Yeni. Kebetulan yang membukakan pintu adalah Yeni yang saat itu sedang membaca majalah. "Eee.. Bang Udin tumben ada apa Bang?" tanya Yeni. "Ooo.. saya ingin nonton acara bola sebab saya tidak punya televisi apa boleh Bu Yeni?" jawab Udin. "Ooo.. boleh.. masuklah.. Bang.. langsung aja ke ruang tengah, televisi disitu.." Yeni menerangkan sambil ia menutup pintu. Diluar hujan mulai lebat. "Sebentar ya Bang?" Yeni ke belakang, membuatkan minum untuk Udin. Udin duduk diruangan itu sambil melihat televisi. Tidak berapa lama Yeni keluar membawa nampan berisi segelas air dan makanan kecil, sambi l jongkok ia menyilakan Udin minum. Saat itu Udin sempat terlihat belahan dada Yeni yang mulus sehingga Udin berdesir dadanya karena kemulusan kulit dada Yeni. Sambil minum Udin menanyakan, "Mak Minah mana Bu, kok sepi aja?" "Ooo Mak Minah sudah tidur," jawab Yeni. "Bagaimana kabarnya Bang?" Yeni membuka pembicaraan. "Baik-baik saja," jawab Udin sambil melafalkan mantera peletnya. Sambil menonton Udin berulang-ulang mencoba manteranya, saat itu Yeni sedang asyik membaca majalah. Merasa manteranya telah mengenai sasaran, Udin berusaha mengajak Yeni bicara tentang rumah tangga Yeni dan suaminya, diselingi ngomong jorok untuk membuat Yeni terangsang. Bu, sudah berapa lama Ibu kawin dan kenapa belum hamil?" tanya Udin. "Lho malu saya Bang, soalnya suami saya sibuk dan saya juga sibuk bekerja bagaimana kami mau berhubungan dan suami saya selalu egois dalam bercinta." jawab Yeni menjelaskan. "Oh begitu? bagaimana kalau suami ibu jarang datang dan ibu butuh keintiman?" tanya Udin. "Jangan ngomong itu dong Bang, saya malu masa rahasia kamar mau saya omongin ama Abang?" jawab Yeni. "Bu Yeni, saya tau Ibu pasti kesepian dan butuh kehangatan lebih-lebih saat hujan dan dingin saat ini apa Ibu nggak mau mencobanya?" Udin berkata dengan nada terangsang. "Haa.. dengan siapa?" jawab Yeni, "Sedang Beni suamiku di kota," timpalnya. "Dengan saya.." jawab Udin. "Haa gila! masa saya selingkuh?" Yeni menerangkan sambil mengeser duduknya. Udin merasa yakin Yeni tidak menolak jika ia memegang tangannya. "Jangan lah Bang, nanti dilihat Mak Minah." Yeni mengeser duduknya. "Oooh.. Mak Minah udah tidur tapi..?" jawab Udin memegang tangan Yeni dan mencoba memeluk tubuh mulus itu. Sambil mencoba melepaskan diri dari Udin Yeni beranjak ke kamar, ia memang berusaha menolak namun pengaruh dari pelet Udin tadi telah mengundang birahinya. Ia biarkan Udin ikut ke kamarnya. Saat berada di kamar, Yeni hanya duduk di pingir ranjangnya dan Udin berusaha membangkitkan nafsu Yeni dengan meraba dada dan menciumi bibir Yeni dengan rakus sebagaimana ia telah lama tidak merasakan kehangatan tubuh wanita. Udin berusaha meremas dada Yeni dan membuka blous tidur itu dengan tergesa-gesa, ia tidak sabar ingin menuntaskan birahinya selama ini. Sementara mulutnya tidak puas- puasnya terus menjelajahi leher jenjang Yeni turun ke dada yang masih ditutupi BH pink itu. Sementara Yeni hanya pasrah terhadap perbuatan Udin, ia hanya menikmati saat birahinya ingin dituntaskan. Kemudian tangan Udin membuka tali pengikat BH itu dari belakang dan terlihatlah sepasang gunung kembar mulus yang putingnya telah memerah karena remasan tangan Udin. Dengan mulutnya, Udin menjilat dan mengigit puting susu itu sementara tangan Udin berusaha membuka CD Yeni dan mengorek isi goa terlarang itu. Udinpun telah telanjang bulat lalu ia meminta Yeni untuk mengulum batang kemaluannya, Yeni menolak karena batang kejantanan Udin panjang, besar dan baunya membuat Yeni jijik. Dengan paksa Udin memasukan batang kejantanannya ke mulut Yeni dengan terpaksa batang kejantanan itu masuk dan Yeni menjilatnya sambil memainkan lidah di ujung meriam Udin. Udinpun tidak ketinggalan dengan caranya ia memainkan lidahnya di liang kewanitaan Yeni, lebih- lebih saat ia menemukan daging kecil di belahan liang kewanitaan itu dan dijilatinya dengan telaten sampai akhirnaya setelah berualng-ulang Yeni klimaks dan menyemburkan air maninya ke mulut Udin. Saat lebih kurang 20 menit Udinpun memuncratkan maninya ke mulut Yeni dan sempat tertelan oleh Yeni. Kemudian Udin mengganti posisi berhadap-hadapan, Yeni ditelentangkannya di ranjang dan di pinggulnya diletakkan bantal lalu ia buka paha Yeni dengan menekuk tungkai Yeni ke bahunya. Sambil tangannya merangsang Yeni kedua kalinya Udinpun meremas payudara Yeni dan mengorek isi liang kewanitaan Yeni yang telah memerah itu, lalu Yeni kembali dapat dinaikkan nafsunya sehingga mudah untuk melakukan penetrasi. Bagi Udin inilah saat-saat yang di tunggu- tunggunya, paha ya ng telah terbuka itu ia masukkan batang kejantanannya dengan hati-hati takut akan menyakiti liang kewanitaan Yeni yang kecil itu. Berulang kali ia gagal dan setelah sedikit dipaksakan akhirnya batang kejantanannya dapat masuk dengan pelan dan ini sempat membuat Yeni kesakitan. "Ouu.. jangan keras- keras Bang, ntar berdarah," kata Yeni. "Sebentar ya.. Yen sedikit lagi," kata Udin sambil mendorong masuk batang kejantanannya ke dalam liang kewanitaan sempit itu. Dengan kesakitan Yeni hanya membiarkan aksi Udin itu dan mulutnya telah disumbat oleh bibir Udin supaya Yeni tidak kesakitan. "Ooouu.. ahh.. ahh.. aahh.." hanya itu yang terdengar dari mulut Yeni dan itu berlangsung lebih kurang 17 menit dan akhirnya Udin menyemburkan air kenikmatannya dalam liang kewanitaan Yeni sebanyak-banyaknya dan ia lalu rebah di samping Yeni hingga pagi. Permainan mesum itu berlangsung tiga kali dan membuat Yeni serasa dilolosi tulang benulang hingga ia merasa harus libur ke kantor karena ia tidak kuat dan energinya terkuras oleh Udin malam itu. Sejak kejadian itu hampir setiap kesempatan mereka selalu melakukan hubungan gelap itu, karena Yeni telah berada dibawah pengaruh pelet Udin dan saat suaminya datang Yeni pandai mengatur jadwal kencannya sehingga tidak membuat curiga suami dan masyarakat di desa itu, mereka kadang-kadang melakukan hubungan seks di gubuk Udin yang memang agak jauh dari rumah penduduk lainnya. Yenipun rajin menggunakan pil KB karena ia juga takut hamil karena hubungan gelapnya itu dan suatu hari ia terlupa dan ia positif hamil, ia amat gusar dan karena pintarnya Yeni memasang jadwal dengan suaminya maka suaminya amat suka cita dan padahal Udin tahu benih itu adalah anaknya karena hampir tiap ada kesempatan ia melakukanya dengan Yeni sedang dengan suaminya Yeni hanya sekali 20 hari dan tidak rutin. Akhirnya anak Yeni lahir di kota karena saat akhir kehamilannya, Yeni pindah ke kota sesuai permintaan suaminya, tidak ada kemiripan anaknya denagn Beni yang ada hanya mirip Udin. Sejak Yeni berada di kota, secara sembunyi- sembunyi Udin menyempatkan diri untuk berkencan dengan Yeni karena Yeni sudah tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh pelet Udin. TAMAT&lt;br /&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>The Story of Timun Emas - Indonesia folklore</title><link>http://indonesiahotstories.blogspot.com/2009/11/story-of-timun-emas-indonesia-folklore.html</link><category>West Java</category><author>noreply@blogger.com (super soccer)</author><pubDate>Thu, 26 Nov 2009 20:13:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1865751094759452973.post-2650770872334897539</guid><description>&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!-- google_ad_client = "pub-6738856414758845"; /* 468x60, dibuat 09/11/07 */ google_ad_slot = "2568847730"; google_ad_width = 468; google_ad_height = 60; //--&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;THE STORY OF TIMUN EMAS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Long time ago in the island of Java, Indonesia, lived a couple of farmer. They had married for some years but they had no children. So they prayed to a monster called Buta Ijo to give them children. Buta Ijo was a ferocious and powerful monster. He granted their wish on one condition. When their children had grown up, they had to sacrifice them to Buta Ijo. He liked eating fresh meat of human being. The farmers agreed to his condition. Several months later the wife was pregnant.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;She gave birth to a beautiful baby girl. They named her Timun Emas. The farmers were happy. Timun Emas was very healthy and a very smart girl. She was also very diligent. When she was a teenager Buta Ijo came to their house. Timun Emas was frightened so she ran away to hide. The farmers then told Buta Ijo that Timun Emas was still a child. They asked him to postpone. Buta Ijo agreed. He promised to come again. The following year Buta Ijo came again. But again and again their parents said that Timun Emas was still a child.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When the third time Buta Ijo came their parents had prepared something for him. They gave Timun Emas several bamboo needles, seeds of cucumber, dressing and salt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Timun, take these things’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘What are these things?’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘These are your weapons. Buta Ijo will chase you. He will eat you alive. So run as fast as you can. And if he will catch you spread this to the ground. Now go!’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Timun Emas was scared so she ran as quickly as she could. When Buta Ijo arrived she was far from home. He was very angry when he realized that his prey had left. So he ran to chase her. He had a sharp nose so he knew what direction his prey ran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Timun Emas was just a girl while Buta Ijo was a monster so he could easily catch her up. When he was just several steps behind Timun Emas quickly spread the seeds of cucumber. In seconds they turned into many vines of cucumber. The exhausted Buta Ijo was very thirsty so he grabbed and ate them. When Buta Ijo was busy eating cucumber Timun Emas could run away.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But soon Buta Ijo realized and started running again. When he was just several steps behind Timun Emas threw her bamboo needles. Soon they turned into dense bamboo trees. Buta Ijo found it hard to pass. It took him some time to break the dense bamboo forest. Meanwhile Timun Emas could run farther.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buta Ijo chased her again. When he almost catch her again and again Timun Emas threw her dressing. This time it turned into a lake. Buta Ijo was busy to save himself so Timun Emas ran way. But Buta Ijo could overcome it and continued chasing her.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Finally when Timun Emas was almost caught she threw her salt. Soon the land where Buta Ijo stood turned into ocean. Buta Ijo was drowned and died instantly.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Timun Emas was thankful to god and came back to her home.&lt;br /&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Success stories in google adsense for current publishers</title><link>http://indonesiahotstories.blogspot.com/2009/11/success-stories-in-google-adsense-for_1241.html</link><category>Adsense</category><author>noreply@blogger.com (super soccer)</author><pubDate>Thu, 26 Nov 2009 20:09:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1865751094759452973.post-7770153019293844001</guid><description>&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!-- google_ad_client = "pub-6738856414758845"; /* 468x60, dibuat 09/11/07 */ google_ad_slot = "2568847730"; google_ad_width = 468; google_ad_height = 60; //--&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Google AdSense Case Study&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Challenge&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Neopets website first launched it in November 1999, and rapidly attracted a passionate following. In June 2005, drawn to the site because of its unique offerings and target audience, Viacom International's MTV Networks – which also runs Nickelodeon and Nick.com – acquired Neopets. Today, Neopets has a membership of more than 30 million virtual pet owners around the world. The online network generates more than 5 billion pageviews per month and is available in English, Japanese, traditional and simplified Chinese, Korean, Spanish, French, German, Italian, Dutch and Portuguese. Although it is primarily a youthoriented network, Neopets reaches a broad demographic, with approximately 40 percent of members under 13 years old, 40% of members 13-17, and 20 percent over 18, and a broad age mix making up the remaining audience – all spending an average of 6 hours per month on Neopets.com. The site offers everything from message boards, games, and shopping to the Neodaq, a fictitious stock market.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Approach&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Among Neopets' top priorities is earning revenue on the billions of pageviews it draws every month. Chris Davis, Vice President of Sales, wields several strategies to help Neopets capitalize on its loyal following. Among the most powerful tools is User Initiated Brand Integrated Advertising – activities or games built around advertisers' products and services that help build relationships and generate revenues with Neopets visitors. "User Initiated Brand Integrated advertising is the biggest chunk of our revenue," explains Davis. "But we realized it wasn't taking advantage of all of our pageviews."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To reach more Neopets followers, Davis began investigating contextual advertising options, including Google AdSense. A top priority for any ad program he considered was ensuring that it would deliver ads that were correctly targeted and relevant to the content on the site. Even more important, ads had to express a community feeling and meet or exceed Children's Online Privacy Protection Act requirements. With these goals in mind, Neopets began running Google AdSense ads. Davis and his team began with AdSense on a heavily trafficked page where members go to feed their virtual pets. After a successful initial test, they began running AdSense ads throughout the site.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Results&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It was very easy to get started, Davis says, but what impressed him most about AdSense was how appropriate the ads were for his target audience. "We are always extremely careful about advertising on our pages because of the age of most of our members," says Davis. "There have been no inappropriate ads from AdSense – the quality has been excellent. We've also found that the ads are very targeted. AdSense helps us provide useful information for members that engenders loyalty."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;From the beginning, AdSense has been a key source of revenue. Davis estimates that AdSense ads on Neopets garner roughly 50 million impressions each day. Davis and his team have since optimized their AdSense campaigns to achieve even better results. They used channels and A/B testing to discover that bolder colors that made ads stand out worked better than blended colors. After making these changes, Neopets doubled both its clickthrough rate and revenue. "It's worth the effort to test and experiment. We've found that our optimization efforts on AdSense have had a substantial positive impact on revenues," says Davis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By adding site targeting to the AdSense mix, Davis noticed several positive outcomes. Site targeting drew more brand-name advertisers and more rich-media ads that his users respond well to. Even more impressive was a dramatic increase in revenues. "Our overall revenue doubled as a result of site targeting," says Davis. "Now, site targeting accounts for 30 to 40 percent of our AdSense income."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In terms of AdSense features, Davis appreciates the ability to block competitive ads and quickly change ad formats and colors to maximize income. He also likes the excellent service from the Google AdSense team and informative Google blogs that help him work through questions or issues.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"We're pleased with Google as a company, and with the Google AdSense program," says Davis. "Our next step is to experiment with AdSense for search, where we think there's even more revenue potential."usiness."&lt;br /&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Success stories in google adsense for new publishers</title><link>http://indonesiahotstories.blogspot.com/2009/11/success-stories-in-google-adsense-for_9521.html</link><category>Adsense</category><author>noreply@blogger.com (super soccer)</author><pubDate>Thu, 26 Nov 2009 20:06:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1865751094759452973.post-6052291795709204839</guid><description>&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!-- google_ad_client = "pub-6738856414758845"; /* 468x60, dibuat 09/11/07 */ google_ad_slot = "2568847730"; google_ad_width = 468; google_ad_height = 60; //--&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;HomeTips.com nails down big revenue with Google AdSense.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Home advice website HomeTips.com started out in a backyard clubhouse. Seeking a quiet, woodsy spot for writing home improvement books, author Don Vandervort converted the bottom floor of his sons' two-story treehouse into a small office. He launched HomeTips.com from that office in 1997, essentially as an online portfolio to promote his books.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the decade since, HomeTips has grown into a large and popular site, thanks to the authority Vandervort has developed and the volume of content he has collected and posted from his more than two dozen books, scores of magazine articles, and many television appearances on ABC and HGTV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Challenge&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Until about three years ago, HomeTips' main source of revenue came from writing, publishing, and licensing books and content to other companies, such as Sunset Books and Microsoft. This business expanded significantly after Vandervort moved to larger offices in Glendale, California, and assembled a team of editors, writers, and artists.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Though his book and content business was thriving, the website's meager revenue came from online sales of guides and reports. When a visitor requested one of these, Vandervort would email it to them and trust them to send three dollars. "At that time, I couldn't find a good system for these small transactions," he recalls. "It was an interesting way for us to stay in touch with our visitors' needs, but a money-losing proposition. We needed advertising for the web business to be viable." But the small editorial team was far too busy working at their core business of creating content to develop an advertising program.&lt;br /&gt;Results&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In 2003, Vandervort heard about the Google AdSense program and thought it might be helpful for creating incremental revenue that could work for HomeTips. As he notes, "It took about 20 minutes to set it up - and that 20 minutes completely changed our business."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He started by testing AdSense on a few pages. During the first week, he remembers that AdSense revenue paid for coffee; the second week, it paid for lunches. The model clearly worked, so he began expanding the program across the entire site. Now AdSense revenue pays for all salaries, overhead, and business development.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Google's ability to deliver targeted ads is remarkable," says Vandervort. "In fact, because the ads are so relevant to the content on any given page, we believe that they are a very useful resource for our visitors. This is evidenced by the fact that, on many of our pages, more than 10 percent of our visitors click through to the advertisers for more information," he adds.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HomeTips now sees more than 1 million online visitors each month. "Solid content is the secret to developing a following," says Vandervort. "If you write expert content with your visitor's needs in mind, the rest will follow."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As the business has grown up, so have the sons whose backyard clubhouse Vandervort first commandeered for an office. Now they bring media experience to the business: Gabriel as a former writer/producer of shows for The History Channel and Christian as a cinematographer and film editor. HomeTips anticipates online video to be the next area of growth. "Nothing can show you how to do something as clearly and adeptly as a video," says Vandervort. "As we see the migration of advertising dollars from television to the web, we expect video content and advertising to do very well."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The HomeTips team constantly tests site design, navigation, and ad optimization to improve both the user experience and the success of advertising. Vandervort points out the fact that channel reporting and Google Analytics are a big help in this effort. "These analytics help us zero in on where we're doing the best job and where we need to do more. As a result, our performance just keeps going up."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HomeTips.com nails down big revenue with Google AdSense.Home advice website HomeTips.com started out in a backyard clubhouse. Seeking a quiet, woodsy spot for writing home improvement books, author Don Vandervort converted the bottom floor of his sons' two-story treehouse into a small office. He launched HomeTips.com from that office in 1997, essentially as an online portfolio to promote his books.In the decade since, HomeTips has grown into a large and popular site, thanks to the authority Vandervort has developed and the volume of content he has collected and posted from his more than two dozen books, scores of magazine articles, and many television appearances on ABC and HGTV.ChallengeUntil about three years ago, HomeTips' main source of revenue came from writing, publishing, and licensing books and content to other companies, such as Sunset Books and Microsoft. This business expanded significantly after Vandervort moved to larger offices in Glendale, California, and assembled a team of editors, writers, and artists.Though his book and content business was thriving, the website's meager revenue came from online sales of guides and reports. When a visitor requested one of these, Vandervort would email it to them and trust them to send three dollars. "At that time, I couldn't find a good system for these small transactions," he recalls. "It was an interesting way for us to stay in touch with our visitors' needs, but a money-losing proposition. We needed advertising for the web business to be viable." But the small editorial team was far too busy working at their core business of creating content to develop an advertising program.ResultsIn 2003, Vandervort heard about the Google AdSense program and thought it might be helpful for creating incremental revenue that could work for HomeTips. As he notes, "It took about 20 minutes to set it up - and that 20 minutes completely changed our business."He started by testing AdSense on a few pages. During the first week, he remembers that AdSense revenue paid for coffee; the second week, it paid for lunches. The model clearly worked, so he began expanding the program across the entire site. Now AdSense revenue pays for all salaries, overhead, and business development."Google's ability to deliver targeted ads is remarkable," says Vandervort. "In fact, because the ads are so relevant to the content on any given page, we believe that they are a very useful resource for our visitors. This is evidenced by the fact that, on many of our pages, more than 10 percent of our visitors click through to the advertisers for more information," he adds.HomeTips now sees more than 1 million online visitors each month. "Solid content is the secret to developing a following," says Vandervort. "If you write expert content with your visitor's needs in mind, the rest will follow."As the business has grown up, so have the sons whose backyard clubhouse Vandervort first commandeered for an office. Now they bring media experience to the business: Gabriel as a former writer/producer of shows for The History Channel and Christian as a cinematographer and film editor. HomeTips anticipates online video to be the next area of growth. "Nothing can show you how to do something as clearly and adeptly as a video," says Vandervort. "As we see the migration of advertising dollars from television to the web, we expect video content and advertising to do very well."The HomeTips team constantly tests site design, navigation, and ad optimization to improve both the user experience and the success of advertising. Vandervort points out the fact that channel reporting and Google Analytics are a big help in this effort. "These analytics help us zero in on where we're doing the best job and where we need to do more. As a result, our performance just keeps going up."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source : &lt;a href="https://www.google.com/adsense/static/in/Success.html?sourceid=aso&amp;amp;medium=link&amp;amp;subid=ww-ww-et-resourcestab"&gt;https://www.google.com/adsense&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Last offerings to My Mother // Love Story</title><link>http://indonesiahotstories.blogspot.com/2009/11/last-offerings-to-my-mother-love-story.html</link><category>Love Story</category><author>noreply@blogger.com (super soccer)</author><pubDate>Sun, 8 Nov 2009 12:12:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1865751094759452973.post-5026176363276417770</guid><description>Today is Saturday, the day I hate. This afternoon I had to go to a building called the annoying music school. Perhaps for most of my friends there, the place was really fun. Musical instruments played with a beautiful acoustic. They can choose their own instruments they wanted to learn.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
But not for me. I hate the music, what more classical music, which had I listened every Saturday afternoon. Uh ... ... .... Saturate!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Eva ... make haste to get ready, four hours later you are not a music school?" Admonished Mother from behind the door slightly open.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Yes Mother .... In a minute I go!" I yelled from the room.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yup, I was forced to obey the will of the Mother that I learned to play the violin in the building's annoying. I know Mother would be very disappointed in me if I refused. I still have enough heart to it. Mother was so obsessed with the violin. I do not wonder why. Mother used to love the violin. In fact, he often went outside the State to attend a concert or play the violin competition. But the Mother's dream because they have vanished once lost an arm because of an accident. So Mother vent all his dreams to me ..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Eva ... .... Hurry up, lest you be late. Here, the violin you have prepared Mother "&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I woke from my reverie. The clock struck 15:50. I also said goodbye to Mother, and flew with my favorite bike.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fate took a fatherless only child who made the Virgin placed high hopes on me. I do not want to take the Mother wants, but it's not my world. However I have to say this at the Mother of one day.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
******&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
That afternoon, when I came home after playing basketball with male friends I am, I found the house was so quiet. More quiet than usual.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Where is Mother?" I thought to myself.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I saw the kitchen, Mother was there. Similarly in the reading room, the former first father's study. Mother did not appear there.&lt;br /&gt;
"Mother ... ... ... ... Eva's mother came home" I shouted. But there was no answer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
But finally I found Mother lying limply on the bed. Her face was pale, and she seemed in pain. I sat on the edge of the bed, and talk to Mother&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Mother, Mother why? What Mother sick? Come Mother, Eva driven to the doctor "&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Mother's okay honey, just a normal headache. Just a break, too, would heal, Mother was always like this "Mother said, smiling thinly.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I gently stroked her forehead Mother. I trim the hair of children who hung on her forehead was the most I love this. I will not force him. Because I know that Mother nature did not like being forced.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Eva ..."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Yes Mother"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Learn to play the violin seriously, do not disappoint the Mother"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I just smiled, did not dare say yes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Mother is old, yes, ye also grown. Mother wanted to see Eva's success before Mother passed away "said Mother gently&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Mother, do not talk nonsense, Eva dear Mother"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Mother is a shame as Eva ..." replied Mother&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Our words just make me flinch. How could I achieve if I can not play even though only one song that has been taught? Would you later disappointed me Mother-in times at last? I felt guilty at the Mother.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mother beside me was asleep. I looked at her lovingly. Faint lines are listed in the face indicate fatigue in his old age. Her hair had turned white. The more I love the Blessed Virgin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I gently stroked her cheek. But suddenly I felt something was missing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Oh God, Mother! Wake up Mother! "I yelled in panic&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I just realized, breath halting Mother. I immediately sought help from the neighbors. I cried on the way to the hospital. I'm afraid of the Blessed Virgin. I continue to pray that the Mother was given the opportunity to stay alive.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
At the hospital, doctors and nurses passing in front of me. I pray constantly. I could not stem the tears. It all happened so fast.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
After a long wait, a doctor met me and brought the news&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Your mother managed to save us. But there is one thing you should know "&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"What's Doc?"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Mother you have stage four brain cancer. And we predict, the rest of his life to stay one more year "&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I flinched to hear it. It really shocked. Mother who was so dear will go away forever. I, an Eva that the people value this tomboyish crying all day because of this problem. Do not know what to do after the Mother of dead later.&lt;br /&gt;
*****&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
After that, I'm always trying to please the Mother. I did not tell Mother about the rest of her life soon. But Mother had apparently had a feeling.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saturday afternoons are usually spent with languid, now changed. My more serious attempt to learn the violin. Understanding the song, and learn to love it. Also I tried to follow in selecting a player selection or election of representatives concert in a race school. Still ringing in my ears, the words of the Mother who wants me succeed. Particularly successful as a violinist.&lt;br /&gt;
A few months later, I managed to make the Mother's dream. I managed to win a national contest of classical music with my violin. Proud of it. Moreover, Mother, I can see deep joy in tears when I came home as champions.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
This victory also brought me to go outside the State to compete in the world arena. Indeed, only this time I felt happy parents dream.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Not so long after my return to the Motherland with the title, Mother of the weaker state. Mother seemed to have no stronger hold that misery. I can only accompany the remains of his time.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Eva ... thank you dear, you have become like what Mother please. Mother proud of you "Mother said quietly&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I smiled. Mother's right hand I grabbed the still functioning, and hugged me affectionately.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"The next time Mother dead, so do not be sad child. Life still goes on. Live is your own, Eva. Eva independent child, is not it? "&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I nodded slowly. Sad to hear Mother's voice is trembling.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Only one message the Virgin. Do not stop playing the violin, Eva "&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Yes Mother, Eva promise. Mother will not disappoint. Eva will continue to play the violin "I replied in a hoarse voice, fought back tears.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Our trust Mother Eva ... may listen to a song from the violin you, dear? As the first and last song of the Mother hear from you. "&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I nodded, and went to take my violin. Then, I was standing near the bed Mother. Play a song my Mother's favorite. I played my violin with feeling. Feeling my gratitude to the Virgin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mother shed tears when he heard my game. She smiled sweetly, before finally closing her eyes when the song was not finished playing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I was crying beside the body of the Mother. I can not cover up my sadness. But it's cool to see the smiling mother before she died. I hope my songs can bring her go to heaven. That is my prayer time.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Now I am living. Thanks to my record of achievement, first, I got a high school art scholarship in Germany. All the government needs covered. In Germany and I'm reunited with my life companion.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
My plan to return to Indonesia one more week. I want to see relics of the Mother of the house which I have donated a library of art school who has upheld my name. I also want to visit Mother's grave not far from there. I'll play my violin in front of the dining Mother. To be happy to see me now Mother who came with daughter and grandson.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-6738856414758845";
/* 468x60, dibuat 09/11/07 */
google_ad_slot = "2568847730";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Princess Mandalika - Cerita rakyat from Nusa Tenggara Barat</title><link>http://indonesiahotstories.blogspot.com/2009/11/princess-mandalika-cerita-rakyat-from.html</link><category>Nusa Tenggara Barat</category><author>noreply@blogger.com (super soccer)</author><pubDate>Sat, 7 Nov 2009 22:26:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1865751094759452973.post-2000281496164895932</guid><description>Once upon a time, there was a kingdom in Lombok Island that was ruled by a king named Raja Tonjang Beru. He was a wise king. He had a queen named Dewi Seranting. He also had a beautiful daughter named Princess Mandalika. It is said that princess Mandalika was the prettiest girl in the whole island. Everybody knew about Princess Mandalika’s beauty and kindness, even the people from other kingdom around the island. &lt;br /&gt;
Princes from all over the place wanted to marry her. One by one, they came to propose her. Princess Mandalika was a kind girl. She hated to make people sad. So, when those princes came to propose her, she was very confused. She could not decide, and she didn’t want to make them sad. She also didn’t want to cause a war to happen because of her. &lt;br /&gt;
To solve the problem, Raja Tonjang Beru then held a competition in Seger Kuta beach. He asked all the princes to take part in archery competition. The rule was simple; whoever shot the target perfectly will be accepted as Princess Mandalika’s future husband. One by one, all participants tried their best. After some time, there was no winner. All the participants were great in archery. &lt;br /&gt;
Because there was no a winner, all the participants started to argue. They claimed to be the best. The argument was getting hotter. Finally, they all were fighting. Soon, the fighting got bigger. It was like a war, because all the princes brought their soldiers in the archery competition. Princess Mandalika was really worried. She did not want the war to get bigger and hurt many people. Finally, she had an idea. "Everybody, listen up! I know you all love me and want me to be your wife. But I don't want you to fight because of me. And I don't want you to be sad either. I want you all to have me, but not as your wife. I want to be someone that everybody can have," said Princess Mandalika. &lt;br /&gt;
Raja Tonjang Beru and all other people in the beach did not understand what she meant. The king then came to her. But suddenly, Princess Mandalika jumped to the sea. She disappeared in the big waves. Everybody was surprised. It was chaos on the beach. All the princes tried to swim to find the princess, but they found nothing. &lt;br /&gt;
After several hours trying to search the princess, suddenly they found a lot of colorful sea worms on the beach. Raja Tonjang Beru then realized that his daughter had returned as sea worms. The worms were then called nyale. Until now, people in Lombok always try to catch nyale. Nyale is very delicious and that is why a lot of people come to Lombok to catch it. However, they can only find it once a year, in February or March. The tradition to catch the sea worms is called Bau Nyale.&lt;br /&gt;
&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-6738856414758845";
/* 468x60, dibuat 09/11/07 */
google_ad_slot = "2568847730";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;
&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Lutung Kasarung - Indonesia Folklore</title><link>http://indonesiahotstories.blogspot.com/2009/11/lutung-kasarung-indonesia-floklore.html</link><category>West Java</category><author>noreply@blogger.com (super soccer)</author><pubDate>Sat, 7 Nov 2009 22:20:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1865751094759452973.post-5804736591705530521</guid><description>Prabu Tapa Agung had led a kingdom in West Java for a long time. He was getting old and therefore wanted to choose a successor. But unfortunately, he had no son. He thought of choosing one of his daughters, Purbararang and Purbasari. But it wasn’t an easy choice. They were both very pretty and smart. The only difference was their temperament. Purbararang was rude and dishonest, while Purbasari was kind and caring. With those considerations, Prabu Tapa Agung finally chose Purbasari to be his successor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Purbararang didn’t agree with her father’s decision. “It’s supposed to be me, Father. I’m the eldest daughter!” Purbararang said. Prabu Tapa Agung smiled. “Purbararang, to be a queen takes more than age. There are many other qualities that one must possess,” explained Prabu Tapa Agung wisely. “What does Purbasari have that I don’t?” Purbararang pouted. “You’ll find out when Purbasari has replaced me,” Prabu Tapa Agung answered.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
After the discussion, Purbararang went back to her room. “Is there something wrong?” asked Indrajaya. Indrajaya is Purbararang’s future husband. “I’m upset! Father chose Purbasari as his successor and not me! I have to do something!” Purbararang said. Driven mad by her anger, she came to a witch and asked her to send rash all over Purbasari’s body.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Before going to bed, Purbasari started to feel itch all over her body. She tried applying powder to her body, but it’s no use. Instead, the itching grew even worse. She didn’t want to scratch it, but she just couldn’t help it. In the next morning, there were scratch mark all over Purbasari’s body. “What happened to you?” asked Purbararang, pretending to be concerned. “I don’t know, sis. Last night, my body suddenly felt very itchy. I scratched and scratched, and this is what happened,” Purbasari answered. Purbararang shook her head. “You must have done something really awful. You’ve been punished by the gods!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
That day, the whole kingdom was scandalized. “What have you done, Purbasari?” demanded Prabu Tapa Agung. Purbasari shook her head. “I didn’t do anything that would upset the gods, Father,” she answered. “Then how can you explain what happened to your body?” Prabu Tapa Agung asked again. “If you don’t confess, I’ll banish you to the woods.” Purbasari took a deep breath. “Like I said before, I didn’t do anything wrong. And I’d rather be thrown into the woods than to confess to a deed I didn’t commit.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
After a short discussion with his advisor, Prabu Tapa Agung ordered Purbasari to be moved to the woods. Purbasari was very sad, but she couldn’t do anything to defy her father’s order. She was accompanied to the woods by a messenger. He built a simple hut for Purbasari. After the messenger left, suddenly a black monkey came to Purbasari’s hut. He carried a bunch of bananas. From behind him, some animals looked on. “Are the bananas for me?’ Purbasari asked. The black monkey nodded, as if he understood what Purbasari said. Purbasari took the bananas with pleasure. She also said thanks. The other animals that were looking on also seemed to smile. “Are you willing to be my friend?” Purbasari asked them. All the animals nodded happily. Although she was living by herself in the woods, Purbasari never lacked of supplies. Everyday, there were always animals bringing her fruits and fish to eat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
A long time had passed since Purbasari was banished to the woods, but her body still itched. At some places, her skin was even ulcerating. What am I supposed to do?” Purbasari sighed. The monkey who was sitting next to her stayed still, there were tears in his eyes. He hoped Purbasari would remain patient and strong.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
One night, on a full moon, the monkey took Purbasari to a valley. There is a pond with hot spring water. The monkey suddenly spoke, “The water of this pond will heal your skin,” he said. Purbasari was surprised, ”You can talk? Who are you?” she asked. “You’ll find out, in time,” the monkey said. Purbasari didn’t want to force the monkey. She then walked to the pond. She bathed there. After a few hours, Purbasari walked out of the pond. She was shocked to see her face reflected on the clear pond water. Her face was beautiful again, with smooth and clean skin. Purbasari observed her entire body. There were no traces of any skin ailments. “I’m cured! I’m cured!” Purbasari shouted in joy. She quickly offered thanks to the gods and also to the monkey.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The news of Purbasari’s condition quickly spread to the kingdom, irritating Purbararang. She then accompanied by Indrajaya go to the woods to see Purbasari. Purbasari asked if she would be allowed to go home. Purbararang said she would let Purbasari return to the palace if Purbasari’s hair were longer than hers. Purbararang then let her hair down. It was so long, it almost touched the ground. But it turned out that Purbasari’s hair was twice longer than Purbararang’s hair.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Fine, so your hair is longer than mine.” Purbararang admitted. “But there is one more condition you must fulfill, do you have a future husband who is handsomer than mine?” said Purbararang as she walked toward Indrajaya. Purbasari felt miserable. She didn’t have a future husband yet. So, without much thought, she pulled the black monkey beside her.&lt;br /&gt;
Purbararang and Indrajaya burst out, but their laughter didn’t last long. The monkey meditates and suddenly transformed into a very handsome young man, a lot more handsome than Indrajaya. “I’m a prince from a kingdom far away. I was cursed to be a monkey because of a mistake I committed. I could regain my true form only if there’s a girl who would be willing to be my wife,” said the young man.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Finally, Purbararang gave up. She accepted Purbasari as the queen, and also confessed everything she had done. “Please forgive me. Please don’t punish me,” Purbararang said, asking for forgiveness. Instead of being angry, Purbasari smiled. “I forgive you, sis,” she said. Soon after, Purbasari become queen. Beside her was the handsome prince, the former monkey known as Lutung Kasarung&lt;br /&gt;
&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-6738856414758845";
/* 468x60, dibuat 09/11/07 */
google_ad_slot = "2568847730";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;
&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;!--Session data--&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Dang Gedunai - Certia rakyat From Indonesia</title><link>http://indonesiahotstories.blogspot.com/2009/11/dang-gedunai-certia-rakyat-from.html</link><category>Riau</category><author>noreply@blogger.com (super soccer)</author><pubDate>Sat, 7 Nov 2009 22:16:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1865751094759452973.post-6090318552624166610</guid><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;Dang Gedunai&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Long time ago in Riau, lived a kid named Dang Gedunai. He lived with his mother. Dang Gedunai was a stubborn kid. His mother was sad. Dang Gedunai was her only child but he never made her happy. One day, Dang Gedunai went to the river to catch some fish. “Mother, I want to go to the river. I want to go fishing,” said Dang Gedunai to his mother. “It’s cloudy outside. Rain will soon fall. Why don’t you just stay at home?” said his mother. As always Dang Gedunai ignored her. He then went to the river.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
It was very cloudy when he arrived at the river. Soon it was drizzling, but Dang Gedunai was still busy fishing. Later rain fell down heavily. Dang Gedunai finally gave up. However right before he left, he saw something shining in the river. It was a very big egg. Dang Gedunai then brought the egg home.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
His mother was surprised to see him brought a big egg. “What egg is that? Where did you find it?” she asked. “I found it in the river, Mother,” replied Dang Gedunai. “Be careful with the egg. It’s not yours. You should return it,” advised his mother. As always, Dang Gedunai ignored his mother’s advice. He planned to eat the egg even though his mother said not to.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
In the morning, his mother was ready to go to the paddy field. Again, she advised Dang Gedunai to put the egg back to the river. Dang Gedunai did not say anything. When his mother left the house, he immediately boiled the egg. Then he ate it. It was so delicious. He was so full and suddenly he fell asleep. He had a dream. A giant dragon came to him in his dream. “Human, you stole my egg! For the punishment, you will become a dragon.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dang Gedunai woke up with fear. He was sweating. He felt very thirsty. Later his mother went home. She saw her son panicking. “What happened?” she asked. “I don’t know, Mother. Suddenly I feel very thirsty. My throat is like burning,” said Dang Gedunai. His mother then gave him a glass of water. It’s not enough. He drank another glass, and then another glass until there was not any water left in the house. His mother told him to go the pond. Dang Gedunai drank all the water until the pond was dried. But it was not enough. Then they went to the river.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Again it was not enough. Dang Gedunai knew his dream would come true. He would become a dragon. “Mother, please forgive me. I ignored you. I ate the egg. It was a dragon’s egg. I will change to a dragon. I cannot live with you anymore. I will live in the sea. If you see big waves in the sea, that means I’m eating. But if the waves are calmed, then it means I’m sleeping,” said Dang Gedunai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Then Dang Gedunai left his mother. He headed for the sea. His mother couldn’t do anything to stop him. She just cried. Until now fishermen don’t want to go fishing in the sea when the waves are big. They know that the dragon is eating. They just wait until the dragon is finished eating and the waves are calmed.&lt;br /&gt;
&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-6738856414758845";
/* 468x60, dibuat 09/11/07 */
google_ad_slot = "2568847730";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;
&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;!--Session data--&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Folklore from Papua</title><link>http://indonesiahotstories.blogspot.com/2009/11/folklore-from-papua.html</link><category>Papua</category><author>noreply@blogger.com (super soccer)</author><pubDate>Thu, 5 Nov 2009 21:33:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1865751094759452973.post-8228741466327293695</guid><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;Biwar and the Dragon&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
One day, the people from the village of Mimika were very busy. They prepared twelve boats and set off on a journey to find sago (traditional food of the people in the island of Papua). After three days, their boats were filled with sago. But on their way back to the village, they were attacked by a dragon. The dragon’s tail caused a big wave in the river. Most of the villagers were drown, but there’s a woman who managed to save herself. She was hanging to a tree log and finally arrives in a land.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The woman was the only survivor from the incident. She was pregnant. Her boat was broken so she couldn’t go back to the village. The woman then lived in the forest near the river. Later she gave birth to a son. She named her son Biwar. He grew up as a skillful hunter. He can make various weapons, set traps to catch animals, and provided sufficient food for both of them.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
One day he brought some fish for their food. When his mother saw him bringing fish, she asked where Biwar got them. He said it was from the river. The mother was still afraid of the dragon, so she forbade Biwar to go near the river again. She also told him about his father and the villagers that were killed by the dragon, "Your father was killed by the dragon. I'm the only one survived from the incident. That's why we live alone here, Son."&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biwar then decided to hunt the dragon so that he and his mother could go back to the village. He set traps near the river. Then he made some noise by playing the tifa (traditional drums). Attracted by the noise, the dragon came to Biwar. When the dragon started to attack, Biwar pulled the rope that linked to his traps, releasing spears that hit the dragon’s head directly. The dragon died instantly.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biwar then came to his mother and told her about the death of the dragon. The next day, he built a boat and set sail to return to the village. When they arrived in the village, all the people were so happy to hear the news about the dragon’s death. Thanks to Biwar, they are not afraid to sail in the river anymore.&lt;br /&gt;
&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-6738856414758845";
/* 468x60, dibuat 09/11/07 */
google_ad_slot = "2568847730";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;
&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;!--Session data--&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Folklore from Bali</title><link>http://indonesiahotstories.blogspot.com/2009/11/folklore-from-bali_05.html</link><category>Bali</category><author>noreply@blogger.com (super soccer)</author><pubDate>Thu, 5 Nov 2009 21:31:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1865751094759452973.post-5097019894462060998</guid><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;KEBO IWA&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Once upon a time in Bali, lived a wealthy man and his wife. They have been married for a long time but did not have any children. They prayed to God to give them a child. They prayed and prayed. God finally answered their pray. The wife got pregnant and they had a baby boy. They were very happy. The baby was extraordinary. He was very much different from other babies. He ate and drank a lot. Day after day he ate more and more. His body was getting bigger and bigger. And by the time he was a teenager, his body was as big as a buffalo. That’s why people called him Kebo Iwa, it means uncle buffalo. Because of his eating habit, Kebo Iwa’s parents spent a lot of money to buy his food. They finally went bankrupt. They had no other choice but to ask the villagers to help them provide the food.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The villagers then worked together to cook and build a big house for Kebo Iwa. He was like a giant. He could not stay in his parents’ house anymore because of his big body. After a few months, the villagers also couldn’t afford to cook him the food anymore. They then asked Kebo Iwa to cook his own food. The villagers just prepared the raw materials. Kebo Iwa agreed and as an expression of his gratitude to the villagers, he help built a dam, dug wells, and he also protected the villagers from animals and people who wanted to attack their village. It was easy task for him since he also had incredible strength.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meanwhile, the kingdom of Majapahit was planning to attack Bali. They knew about Kebo Iwa. And they also knew that they could not conquer Bali with Kebo Iwa there. Kebo Iwa was more powerful than they were. The Maha Patih of Majapahit then planned something. They were pretending to invite Kebo Iwa to Majapahit to help them dig some wells. They said that Majapahit was suffering from a long dry season and needed water. Kebo Iwa did not know the plan, so he went to Majapahit to help them. When Kebo Iwa was busy digging a well, the Majapahit troops covered the well. Kebo Iwa had difficulty in breathing and buried alive. He died inside the well. After the death of Kebo Iwa, Bali was conquered by Majapahit. Until now, people still remember Kebo Iwa because he had done a lot for Bali.&lt;br /&gt;
&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-6738856414758845";
/* 468x60, dibuat 09/11/07 */
google_ad_slot = "2568847730";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;
&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;!--Session data--&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Folklore from Bali</title><link>http://indonesiahotstories.blogspot.com/2009/11/folklore-from-bali.html</link><category>Bali</category><author>noreply@blogger.com (super soccer)</author><pubDate>Thu, 5 Nov 2009 21:28:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1865751094759452973.post-6265245448434498703</guid><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;MANIK ANGKERAN&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
A long time ago, lived a rich man named Begawan Sidi Mantra. He was very famous for his kindness and also for his supernatural power. He had a son named Manik Angkeran who liked to gamble. Because of Manik Angkeran’s bad habit, his father soon bankrupt. Begawan Sidi Mantra had spent all of his money to pay his son‘s debts. But, Manik Angkeran still liked to gamble and he still owed some people a lot of money.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begawan Sidi Mantra wanted to help his son to pay the remaining debts. He meditated for days, and finally he got a clue from the gods to go to Agung Mountain. He went to the mountain. There, he met with a dragon named Naga Besukih. It is said that Naga Besukih could provide gold and jewelries to those who could say a certain prayer and ring the sacred bell. Fortunately, Begawan Sidi Mantra had the bell, and he also knew the prayer from his meditation. “My name is Sidi Mantra. I have a problem. My son likes to gamble. I’ve spent all of my money to pay his debts, but it’s still not enough. I came here to ask for your help,” explained Begawan Sidi Mantra after he met with Naga Besukih. “I’ll help you, but you have to advise your son so he would not gamble again,” said Naga Besukih. The dragon then shakes his body and cause some of his scales fall of. Magically, the scales turn into gold and diamonds.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begawan Sidi Mantra took the gold and diamonds and return home. He paid all the remaining debt and advised his son about his gambling habit. Manik Angkeran promised to stop gambling, but soon he broke the promise. Bagawan Sidi Mantra had to go to the dragon for help once again. “What brought you here again?” asked Naga Besukih. “I’m very sorry, Naga Besukih. My son had disappointed me; he broke his promise to me. I beg for your help once again,” said Begawan Sidi Mantra to the dragon. “I’ll help you, but this is the last time,” said Naga Besukih.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begawan Sidi Mantra once again paid Manik Angkeran’s debts and advised him not to gamble again. Manik Angkeran promised and soon he broke his promise again. This time, Begawan Sidi Mantra didn’t want to help him anymore. He was too ashamed to meet with the dragon.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manik Angkeran knew that his father got the jewelries from the dragon. So, he stole his father’s sacred bell and went to Agung Mountain. After he arrived, Manik Angkeran rang the bell. Naga Besukih heard the bell but there’s no prayer. He decided to see who was calling him. “Hey, Manik Angkeran. What are you doing here with your father’s bell? Did you steal it?” asked Naga Besukih angrily when he saw Manik Angkeran. “Please help me, Naga Besukih. I really need the money to pay my debts. Those people would kill me if I don’t pay them in time. Please, I beg for your mercy,” said Manik Angkeran to the dragon. “Okay, I’ll help you. But this is the last time, and you have to promise to stop gambling,” Naga Besukih then give him the jewelries.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
But suddenly, Manik Angkeran had a bad idea. He wanted to kill the dragon and take all the jewelries. So he drew his keris and attacked Naga Besukih. He managed to cut the dragon’s tail, but he was no match for Naga Besukih. With his great power, Naga Besukih burned Manik Angkeran and killed him instantly.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
In his home, Begawan Sidi Mantra couldn’t find his sacred bell. He knew that his son had stolen it, so he went to Agung Mountain. He was so sad when he found out what happened in the mountain. “I’m very sorry, Naga Besukih. But he was my only son. I beg you, please bring him back to life,” Begawan Sidi Mantra begged the dragon for mercy. Naga Besukih agreed with one condition, Manik Angkeran had to stay at Agung Mountain. Naga Besukih said some prayer and after few moments, Manik Angkeran lived again. Begawan Sidi Mantra then used a stick to make a big line between them on the ground. From the line, water flowed. Soon it became a river. Finally it became a strait. It separated Java and Bali. People then named the strait as Bali Strait.&lt;br /&gt;
&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-6738856414758845";
/* 468x60, dibuat 09/11/07 */
google_ad_slot = "2568847730";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;
&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;!--Session data--&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Folklore from Nanggroe Aceh Darussalam</title><link>http://indonesiahotstories.blogspot.com/2009/11/folklore-from-nanggroe-aceh-darussalam.html</link><category>Aceh</category><author>noreply@blogger.com (super soccer)</author><pubDate>Thu, 5 Nov 2009 21:26:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1865751094759452973.post-1334056707607523696</guid><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;The PARAKEET KING&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Once upon a time, there was a group of parakeets in the forest. The parakeets group was led by a king. One day, their peaceful life was threatened by a hunter who planned to catch and sell them in the market. The hunter put some glues around the parakeet’s nests to trap them. Some parakeets and the parakeet king were trapped on the glues that the hunter set up before. They had tried to release themselves from the trap, but their efforts resulted nothing. All of them cried for help, except their king. “Relax my friends! This glue is put by the hunter. He wants to catch us alive. If we die, he will not bring us with him. I suggest we all pretend to be dead when he comes to take us tomorrow. When the hunter releases us from this trap, he will checks whether we still alive or not. If he thinks we are dead, he will leave us here. Please wait for my counting to one hundred, and then we will fly together,” the parakeet king said calmly. All parakeets agreed with the idea, “Good idea. Tomorrow we will pretend to be dead to free ourselves from the hunter.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The hunter came in the next morning, and released those parakeets one by one from the trap. Finding all of them had not breathed, the hunter was very upset. The parakeets were left unattended in the ground, and the hunter walked home. But suddenly, the hunter slipped and felt down. Surprised by the accident, the pretending parakeets flied and scattered to all directions without waiting for the king‘s counting. The hunter realized that the parakeets had deceived him. But then he saw one bird was still on the ground. It was the parakeet king who was still pretending to be dead. "Gotcha!" he seized the parakeet king. “I’ll kill you,” said the hunter in his anger. “Forgive me, sir! Please do not kill me! Please release me,” the parakeet king asked for mercy. But the hunter replied angrily, “I will not release you. Your friends and you have fooled me. But I’ll not kill you if you promise to entertain me,” the hunter said. “Okay, sir. I’ll chirp for you everyday,” said the parakeet king agreed.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The hunter then brought the parakeet king to his home. He put the parakeet in a cage. The parakeet king chirped melodiously everyday to please the hunter. “Wonderful voice, luckily I didn’t kill him,” said the hunter. The news about the beautiful voice of the parakeet king was heard by the king of Aceh. The king decided to invite the hunter to come to his palace. The king intended to buy the parakeet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
At first, the hunter refused to sell the parakeet. “Oh my Majesty, I do not intend to go up against your wish to have this bird, but it is hard for me to hand over him to you,” said the hunter. “I would like to buy him with high price,” replied the king. After thought the price offered by the king for a while, the hunter finally said, “Oh my Majesty, if you really intend to have the bird, I would gladly sell it to you.” The king was delighted to hear the hunter‘s answer, and quickly paid him the amount of the promised money.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
At the palace, the parakeet king was put in a golden cage. He was given so many delicious foods, but he still felt imprisoned. He wished that he could back home to the forest and could fly freely with his parakeet fellow. His sorrow made him sick. He stopped singing at all. “Why does my beloved bird stop chirping? Is he sick?” the king asked the guard. “My Majesty, I do not know exactly the causes. I have provided him with many delicious foods and taken care of him carefully, but he still keeps silent,” replied the guard. The king was so sad hearing the guard‘s explanation.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meanwhile, in his golden cage, the parakeet king began to think a way to escape. He came up with an idea. “I will pretend to be dead as I had ever done before,” he said to himself. In the next morning he began to do his plan and imagined could fly freely. The palace guard who saw the condition of the parakeet king came to the king to tell the bad news. The king was very sad hearing the news, because the parakeet‘s beautiful twitter was no longer be heard. To express his love for the parakeet king, the king had his guards dug a cemetery for the dead parakeet.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The burial ceremony would be held with the kingdom tradition in the next morning. The parakeet was then taken out from the golden cage. Everybody thought that he had been dead. Suddenly, the parakeet king flied fast and high on the sky. All people were amazed seeing him, because they thought that he had died. The parakeet king got his freedom again, and flied directly to the forest.&lt;br /&gt;
&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-6738856414758845";
/* 468x60, dibuat 09/11/07 */
google_ad_slot = "2568847730";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;
&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;!--Session data--&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Folklore from Central Java</title><link>http://indonesiahotstories.blogspot.com/2009/11/folklore-from-central-java.html</link><category>Central Java</category><author>noreply@blogger.com (super soccer)</author><pubDate>Thu, 5 Nov 2009 21:19:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1865751094759452973.post-6758760122122525071</guid><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;TIMUN EMAS&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Long time ago, lived an old women named Mbok Sirni. She lived by herself because her husband had long passed away and she had no children. Every day, she prayed so God would give her a child. One night, when she was praying, a giant passed her house and heard her pray. “I can give you a child on one condition,” the giant said to Mbok Sirni, “You must give the child back to me when it is six years old.” Mbok Sirni was so happy; she did not think about the risk of losing the child later and agreed to take the giant’s offer. The giant then gave her a bunch of cucumber seeds. “Plant it around your house.” The giant then left without saying anything else. In the morning, Mbok Sirni planted the seeds. The seeds grew within mere days, and blossomed plentifully.Not longer after that, a big golden cucumber grew from plants. Carefully, Mbok Sirni plucked the golden cucumber and carried it home. With caution and care, she sliced the cucumber. She was very surprised to see a beautiful baby girl inside the cucumber. She then named the baby Timun Emas (it means Golden Cucumber).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Years passed by and Timun Emas has grew to become a lovely and beautiful little girl. She was also smart and kind. Mbok Sirni loved her very much. But she kept thinking about the time the giant would take Timun Emas away from her. One night, Mbok Sirni had a dream. In order to save Timun Emas from the giant, she had to meet the holy man who lived in Mount Gundul. The next morning, Mbok Sirni took leave of Timun Emas to go to Mount Gundul. The holy man then gave her four little bags, each one containing cucumber seeds, needles, salt, and shrimp paste. “Timun Emas can use these to protect herself,” said the holy man to Mbok Sirni.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
A few days later, the giant came to see Mbok Sirni about her promise. “Mbok Sirni! Where is Timun Emas?” shouted the giant. "My daughter, take these bag with you. It can save you from the giant. Now, run through the back door," said Mbok Sirni. But the giant saw Timun Emas running to the woods. The giant was angry. Starved and enraged, he rushed toward Timun Emas. Mbok Sirni tried to stop him, but the giant was unstoppable.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The giant was getting closer and closer, so Timun Emas opened the first bag she got from Mbok Sirni. Inside the bag were cucumber seeds. She threw the seeds, and instantly they grew into large cucumber field. But the giant ate them all, giving him more strength. As the giant was getting close, Timun Emas took the second bag with needles inside and spilled the content behind her. The needles turned into bamboo trees, sharp and thorny. The giant’s body was scratched and bled. “Aaargh, I’ll get you, Timun Emas!” shouted the giant as he tried to get himself out from the bamboo field. He made it and still chasing Timun Emas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Timun Emas then reached the third bag and spilled the salt inside. The ground which the salt touched turned into a deep sea. The giant almost drown and had to swim to cross the sea. After some time, he managed to get out from the water. Timun Emas saw the giant coming, so she reached for the last bag. She took the shrimp paste and threw it. The shrimp paste became a big swamp of boiling mud. The giant was trapped in the middle of the swamp. The mud slowly but surely drowned him. Helpless, he roared out, “Help! Heeeeelp…!” Then the giant drown and died. Timun Mas then immediately went home. Since then, Timun Emas and Mbok Sirni live happily ever after.&lt;br /&gt;
&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-6738856414758845";
/* 468x60, dibuat 09/11/07 */
google_ad_slot = "2568847730";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;
&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;!--Session data--&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Folklore from East Java</title><link>http://indonesiahotstories.blogspot.com/2009/11/folklore-from-east-java.html</link><category>East Java</category><author>noreply@blogger.com (super soccer)</author><pubDate>Thu, 5 Nov 2009 21:15:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1865751094759452973.post-6311909174267953234</guid><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;JAKA TARUB and NAWANG WULAN&amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Jaka Tarub was a handsome and diligent young man. He lived in a village near a lake. One day, when Jaka Tarub passed the lake, he heard some giggles and laughs of some girls who were bathing in the lake. He was curious, so he peeped through the bushes. There were seven beautiful girls in the lake. They’re fairies from the heavenly kingdom of kahyangan. Jaka Tarub saw a scarf near the bushes. It belonged to one of the fairies. Jaka Tarub then took it and hid it.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Crack!!! Accidentally, Jaka Tarub stepped on a twig. “There’s someone!” said one of the fairies. “Let’s get back. Hurry!” she said. They pulled over and wear their scarf. “Where is my scarf?” one of the fairies couldn’t find her scarf. She was the youngest fairy called Nawang Wulan. They tried to search for it, but it was no where to be found. “We’re sorry, Wulan. We have to go back to kahyangan,” said the eldest fairy. “You’ll have to find it by yourself. We’ll wait for you in kahyangan,” she said in empathy. The other fairies then flew to the sky leaving Nawang Wulan behind. Nawang Wulan saw them leaving in tears. She was so sad.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Excuse me …,” said Jaka Tarub, startling Nawang Wulan. “Are you okay?” he asked. Nawang Wulan moved backward, “Who are you?” she asked. “My name is Jaka Tarub. I was passing by and I heard you crying, so I came to see what happen,” Jaka Tarub lied. Nawang Wulan then told him about her problem. “I can’t fly without my scarf,” she said. Jaka Tarub then asked Nawang Wulan to come home with him. At first, Nawang Wulan refused the offer. But since she didn’t have anywhere else to go, Nawang Wulan then decided to follow Jaka Tarub.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nawang Wulan stayed with Jaka Tarub in the village. A month passed, and they decided to get married. Nawang Wulan was willing to marry a human because she fell in love with Jaka Tarub. After a year, they had a beautiful daughter. They named her Kumalasari. They lived happily.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jaka Tarub was also happy to live with Nawang Wulan and Kumalasari. Especially because he always got a lot of harvest since he married Nawang Wulan. He couldn’t even keep all of his harvest in the barn because it was always full. “It’s so weird. Nawang Wulan cooked everyday, but why is my barn always full,” Jaka Tarub mumbled to himself. He was so curious. One day, Jaka Tarub stayed at home. “I want to stay home today. I’d like to play with Kumalasari,” he said to his wife. “Well, I’ll go to the river to wash the clothes. Please keep an eye on Kumalasari,” asked Nawang Wulan. “I’m cooking rice now. Please do not open the pan cover before it’s done,” she said just before she left. “Could this be the secret?” Jaka Tarub thought. After Nawang Wulan left, he curiously opened the pan cover. He found only one single paddy. “How come?” he wondered.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Before lunch, Nawang Wulan came home. She headed to the kitchen to see the rice she had cooked. She found that the rice turned into only a few grains. “Did you open the pan cover?” she asked her husband. “I… I’m sorry. I was curious,” Jaka Tarub said as he realized his fault.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ever since, Nawang Wulan had lost her power. She couldn’t cook rice with only a single paddy. Their paddy supply was slowly lessened. Their barn was almost empty. One day, Nawang Wulan went to the barn to get some paddy. When she took one of them, she found a scarf. “What’s this? This is my scarf,” said Nawang Wulan startled.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
That night, Nawang Wulan asked her husband about the scarf. Jaka Tarub’s eyes widened, “You found it?” he asked. Jaka Tarub looked down and asked for her forgiveness. “Because I’ve found my scarf, it’s time for me to go back to where I belong,” Nawang Wulan said. Jaka Tarub tried to stop her, but Nawang Wulan had made up her mind. “Please take good care of Kumalasari,” she said. “If she wanted to see me, take seven grains of candlenut and put it into a basket. Shake it as you play the bamboo flute. I’ll come to see her,” she explained.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jaka Tarub promised to take good care of their daughter. He once again asked for forgiveness for all of his mistakes. “I’ve forgiven you, so you don’t have to feel guilty. I must go now. Take care,” said Nawang Wulan as she flew to the bright full moon.&lt;br /&gt;
&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-6738856414758845";
/* 468x60, dibuat 09/11/07 */
google_ad_slot = "2568847730";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;
&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;!--Session data--&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Sangkuriang - Folklore from West Java</title><link>http://indonesiahotstories.blogspot.com/2009/11/sangkuriang-folklore-from-west-java.html</link><category>West Java</category><author>noreply@blogger.com (super soccer)</author><pubDate>Thu, 5 Nov 2009 21:02:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1865751094759452973.post-7830068076167186386</guid><description>&lt;div style="text-align: center;"&gt;SANGKURIANG &lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;
Long time ago in West Java, lived a beautiful girl named Dayang Sumbi. She was also smart and clever. Her beauty and intelligence made a prince from the heavenly kingdom of Kahyangan desire her as his wife. The prince asked permission from his father to marry Dayang Sumbi. People from Kahyangan could never live side by side with humans, but his father approved on one condition, when they had a child, the prince would transform into a dog. The prince accepted the condition.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
They get married and lived happily in the woods until Dayang Sumbi gave birth to a baby boy. The prince then changed into a dog named Tumang. Their son is named Sangkuriang. He was very smart and handsome like his father. Everyday, he hunted animals and looked for fruits to eat. One day, when he was hunting, Sangkuriang accidentally killed Tumang. His arrow missed the deer he was targeting and hit Tumang instead. He went home and tells her mother about the dog. “What?” Dayang Sumbi was appalled. Driven by sadness and anger, she grabbed a weaving tool and hit Sangkuriang’s head with it. Dayang Sumbi was so sad; she didn’t pay any attention to Sangkuriang and started to cry.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sangkuriang feel sad and also confused. How can his mother love a dog more than him? Sangkuriang then decided to go away from their home and went on a journey. In the morning, Dayang Sumbi finally stopped crying. She started to feel better, so she went to find Sangkuriang. But her son was no where to be found. She looked everywhere but still couldn’t find him. Finally, she went home with nothing. She was exhausted. She fell asleep, and in her dream, she meets her husband. “Dayang Sumbi, don’t be sad. Go look for my body in the woods and get the heart. Soak it with water, and use the water to bathe, and you will look young forever,” said the prince in her dream. After bathing with the water used to soak the dog’s heart, Dayang Sumbi looked more beautiful and even younger.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
And time passed by. Sangkuriang on his journey stopped at a village and met and fell in love with a beautiful girl.He didn't realize that the village was his homeland and the beautiful girl was his own mother, Dayang Sumbi. Their love grew naturally and he asked the girl to marry him. One day, Sangkuriang was going on a hunt. He asked Dayang Sumbi to fix the turban on his head. Dayang Sumbi was startled when she saw a scar on his head at the same place where she, years ago, hit Sangkuriang on the head.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
After the young man left, Dayang Sumbi prayed for guidance. After praying, she became convinced that the young man was indeed her missing son. She realized that she had to do something to prevent Sangkuriang from marrying her. But she did not wish to disappoint him by cancelling the wedding. So, although she agreed to marry Sangkuriang, she would do so only on the condition that he provides her with a lake and built a beautiful boat, all in one night.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sangkuriang accepted this condition without a doubt. He had spent his youth studying magical arts. After the sun went down, Sangkuriang went to the hill. Then he called a group of genie to build a dam around Citarum River. Then, he commands the genies to cut down trees and build a boat. A few moments before dawn, Sangkuriang and his genie servants almost finished the boat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dayang Sumbi, who had been spying on him, realised that Sangkuriang would fulfill the condition she had set. Dayang Sumbi immediately woke all the women in the village and asked them to wave a long red scarf. All the women in the village were waving red scarf, making it look as if dawn was breaking. Deceived by false dawn, the cock crowed and farmers rose for the new day.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sangkuriang’s genie servants immediately dropped their work and ran for cover from the sun, which they feared. Sangkuriang grew furious. With all his anger, he kicked the unfinished boat. The boat flew and landed on a valley. The boat then became a mountain, called Mount Tangkuban Perahu (Tangkuban means upturned or upside down, and Perahu means boat). With his power, he destroyed the dam. The water drained from the lake becoming a wide plain and nowadays became a city called Bandung.&lt;br /&gt;
&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-6738856414758845";
/* 468x60, dibuat 09/11/07 */
google_ad_slot = "2568847730";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Legend - The origin of Lake Toba ( English )</title><link>http://indonesiahotstories.blogspot.com/2009/11/legend-origin-of-lake-toba-english.html</link><category>North Sumatra</category><author>noreply@blogger.com (super soccer)</author><pubDate>Wed, 4 Nov 2009 17:28:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1865751094759452973.post-7473916902833808232</guid><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiZmjljhkxjzxj69ot6HBpv5dk3sWk7S1rhrWUceE2tRawtkcGaCzd-fgrYAL0t9tzB41AyVEydOsfn-C24mRIsTnFTDJNGipC27-LE8mS36tr5D9Wnfb9aVDwAmqw1vee8mWYA04HSlIE/s1600-h/1.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiZmjljhkxjzxj69ot6HBpv5dk3sWk7S1rhrWUceE2tRawtkcGaCzd-fgrYAL0t9tzB41AyVEydOsfn-C24mRIsTnFTDJNGipC27-LE8mS36tr5D9Wnfb9aVDwAmqw1vee8mWYA04HSlIE/s320/1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;/div&gt;Legend - The origin of Lake Toba&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
In a village in the area of Sumatra, there lived a farmer. He was a farmer who diligently worked the farm, although not large. He can be sufficient from which his work was tireless. Actually he was old enough to marry, but he still chose to live alone. On a bright morning, the farmer on the river fishing. "Hopefully today I got a big fish," the farmer murmured to himself. Some time after kailnya cast, kailnya seen rocking. He immediately pulled kailnya. Farmers were cheered with joy after getting a big enough fish.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
He was amazed to see the color of a beautiful fish scales. Fish scales golden yellow flushed. His eyes were round and prominent emit flashes of amazing. "Wait, I do not eat! I will agree with you if you did not eat me." Farmers are surprised to hear the voice of the fish. Since the shock, the fish they catch fell to the ground. Then do not how long, the fish was transformed into a beautiful girl. "I Bermimpikah?," Muttered the farmer.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Do not worry sir, I am also human being like you. I am deeply indebted to you for having sa&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;ved me from the curse of the Gods," she said. "My name is Princess, I do not mind to be your wife," said the girl as urgent. Farmers Itupun nodded. So they were a husband and wife. However, there is one promise that has been agreed, ie they should not be told that the origin of a fish Princess. If the promise is broken there will be a tremendous disaster.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Having reached the village, the villagers stirred see beautiful girls with these farmers. "He's probably an angel who fell from the sky," they muttered. Farmers felt very happy and peaceful. As a good husband, he continued to work to make a living by cultivating the fields and fields with a diligent and tenacious. Due diligence and tenacity, the farmer's life without shortcomings in his life. Many people are jealous, and they spread the bad suspicion that the business success of farmers dropped. "I know the farmer must maintain a ghost!" Someone said to her friend. It reached the ears of farmers and Princess. But they do not feel offended, even more diligent work.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
A year later, happiness and wife Petan increases, because the farmer's wife gave birth to a baby boy. She was named Son. Their happiness does not make them forget themselves. Sons grow into a child's healthy and strong. He became a good boy but a little naughty. He has a habit of making surprise his parents, which is always hungry. Foods that should be eaten three of them can be eaten alone.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Over time, the Son always annoy his father. If asked to help parents work, she always refused. The farmer's wife always reminds farmers to be patient over their child's behavior. "Yes, I'll be patient, however he was our son!" The farmer said to his wife. "Thank God, Kanda thought that way. Kanda was a husband and good father," said daughter to her husband.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
It said the man, that patience has limits. This is experienced by the farmer. One day, Son of the task of food and beverages delivered to the field where his father was working. But the Son does not fulfill his duty. Farmers wait for the arrival of her son, holding thirsty and hungry. He went straight home. See her son in playing ball. Farmers became angry as he grabbed his son's ear. "Children do not know diuntung! Not know myself! Elementary kids fish!," The farmer detraction unconsciously that taboo word.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
After the farmers say the words, immediately lost his wife and daughter disappeared. Without a trace and trail. From the former stamping his feet, suddenly menyemburlah water was strong and growing fast. Village Farmer and all the surrounding villages submerged. Water flooding is very high and wide to form a lake. And eventually form a lake. The lake was eventually known as the Lake Toba. Meanwhile, a small island in the middle of the island called Samosir.&lt;br /&gt;
&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-6738856414758845";
/* 468x60, dibuat 09/11/07 */
google_ad_slot = "2568847730";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;
&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;!--Session data--&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;</description><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiZmjljhkxjzxj69ot6HBpv5dk3sWk7S1rhrWUceE2tRawtkcGaCzd-fgrYAL0t9tzB41AyVEydOsfn-C24mRIsTnFTDJNGipC27-LE8mS36tr5D9Wnfb9aVDwAmqw1vee8mWYA04HSlIE/s72-c/1.jpg" width="72"/><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>The origins of the lake Maninjau ( English )</title><link>http://indonesiahotstories.blogspot.com/2009/11/origins-of-lake-maninjau.html</link><category>West Sumatra</category><author>noreply@blogger.com (super soccer)</author><pubDate>Tue, 3 Nov 2009 17:00:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1865751094759452973.post-1475750840412979764</guid><description>The origins of the lake Maninjau &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maninjau Lake is a volcanic lake located in Tanjung Raya district, Agam regency, West Sumatra Province, Indonesia. Lake with an area of about 99.5 km2 with a depth reaching 495 meters is the eleventh largest lake in Indonesia, and the second largest in West Sumatra. According to the story, initially Maninjau Lake is an active volcano at the top there is a large crater. Because of human activity, the volcano erupted and formed a vast lake. What could cause the volcano erupted and turned into a lake? The story you can follow the story of Lake Maninjau ORIGIN following!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* * *&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Once, in an area in West Sumatra is a very active volcano named Mount View High. At its peak there is a large crater, and at his feet there are several villages. Its people prosper and prosper, because they are very diligent farming. In addition, the land around Mountain View is very fertile, as they often have a natural fertilizer in the form of mountain ash.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
In one village at the foot of Mountain View's brothers lived ten people consisting of nine men and one woman. Ordinary citizens about their call Bujang Sembilan. These ten brothers are Kukuban, Kudun, Bayua, MALINTANG, Galapuang, Beam, Trunk, Imagine, and the youngest man named Kaciak. While their brother the youngest was a girl named Siti Rasani, nicknamed Sani. Both their parents died long ago, so Kukuban as the eldest son became the head of household. All decisions in his hand.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tenth brothers lived in a house of their parents' heritage. To make ends meet, they worked on farms large enough legacy of their parents. They are very skilled at farming, because they diligently to help his father and mother when they were alive. In addition, they are also guided by their uncle named Datuk Limbatang, which they called Hang familiar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Datuk Limbatang is a mamak in the village and has a son named edge. As a mamak, Datuk Limbatang have great responsibility to educate and watched the life of its citizens, including the nephew's tenth man. For that, every other day, he visited the house Kukuban brothers to teach them farming skills and various customs procedures for the area. Not infrequently Datuk Limbatang also took his wife and son to participate with him.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
On one day, when Datuk Limbatang with his wife and visited the house edge Bujang Sembilan, Sani accidentally exchanged edge. Apparently, both boys and girls are equally placed liver. Edge Sani was invited to meet in a field on the riverbank. With hearts pounding, edge even express his feelings to Sani.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"It's been a long soak basil&lt;br /&gt;
It was only now going to expand&lt;br /&gt;
Has long kupendam love&lt;br /&gt;
It was only now seeing eyes "&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"It has long been the embroider&lt;br /&gt;
Making slps wide&lt;br /&gt;
Old brother has captivated&lt;br /&gt;
To meet the chest thumping "&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Apparently perangaipun exquisite beauty&lt;br /&gt;
His life is like doing good&lt;br /&gt;
People praised the downstream and forth&lt;br /&gt;
Who saw the heart interested "&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Brother, Sani! You're pretty beautiful nan, nan good temper gentle. Will you be a lover Brother? "Asked edge.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The question made Sani heart skipped a beat. In his heart, he also likes to edge. So he responded with a string of rhymes.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"The fruit jackfruit from across the&lt;br /&gt;
Made delicious vegetable&lt;br /&gt;
I have long later brother&lt;br /&gt;
Only now can call "&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"If the collapse of Melaka&lt;br /&gt;
The sign on my Java enforce&lt;br /&gt;
If you really Kanda said&lt;br /&gt;
Board and submit my life "&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
What a pleasure to hear answers from the edge of Sani. He was really happy because cintahnya intercepted.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
So since then, edge and Sani love relationship. At first, they intend to hide their relationship. However, for fear of a cause of temptation, and both finally come clean to their families each. Knowing this, the family Sani edge and felt pleased and happy, because it can strengthen their family relationships. Since a relationship with Sani, edge often visited the house Bujang Sembilan. In fact, he often helped Bujang Sembilan working in the fields.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
When harvest season arrives, all the villagers abundant results. To celebrate these successes, the traditional leaders and all residents agree to hold the event arena, the agility to play martial arts contest. The youth village welcomed the event. With a fiery passion, they immediately signed up to the steering committee. Do not miss and edge Kukuban also took part in the event.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
On the appointed day, all participants gathered in a clearing. Audience cheering sound support their champion. A few moments later, the committee soon to hit the gong signal the ceremony began. Apparently, the first turn Kukuban performed with an opponent from neighboring villages. Seemed both facing each other in the middle of the arena to race each other agility. Whoever wins the fight, then he will fight the next participant. Apparently, Kukuban managed to beat his opponent. After that, the next participant one by one into the arena arena to fight Kukuban event, but not one was able to defeat him. The remaining one another participant who has not developed, namely the edge. Now, facing Kukuban match.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Hi, edge! Go if you dare! "Kukuban challenged.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Well, Bang! Be prepared to accept seranganku! "Replied directly attacking edge and Kukuban.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Then there was fierce fighting between the edge and Kukuban. Initially, the edge in offensive barrage toward Kububan, but all of his attacks can be dodged by Kukubun. A few moments later, things were reversed. Kukuban a back attack. He continued attacking edge with its flagship moves in a barrage. Edge of urgency and difficulty was to avoid his attacks. At the time, Kukuban cast a hard kick to the left foot edge. Edge is no longer able to escape, had deflected it with both hands.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ouch, it hurts ...! I broke my leg! "Cried Kukuban and direct rolling on the ground, screaming in pain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apparently, defense edge that made his left leg broken. He was not able to continue the match and declared lost in the arena. Since then, frustrated and Kukuban grudge against edge because he felt humiliated in public. However, vengeance is buried in the heart.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
A few months later, buried Kukuban revenge himself was finally revealed as well. It started when one night, when the full moon light illuminating the township around Mountain View, Datuk Limbatang with his wife visited the house Bujang Sembilan. The arrival of the parent edge is not to teach them how to grow crops or customary procedure, but wanted to convey to the edge of Sani proposal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sorry, Bujang Sembilan! The purpose of our coming here want to strengthen our family relationships, "said Datuk Limbatang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"What do you mean, Hang?" Asked the Kudun confused.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Yeah, Hang! Is not our family relationships has been okay? "Continued Kaciak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"It is true that you said it, my son," replied the Limbatang Datuk Bujang Sembilan thinks like a son.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Look, My children! To further strengthen our family relationships, we intend to marry edge with your younger sister, Siti Rasani, "said Datuk Limbatang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Basically, we also feel the same way, Hang! We feel like if edge is married to our brother. Edge is a good young man and diligent, "said the Kudun.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
However, the sentence was just out of the mouth of the Kudun, suddenly heard the sound of very loud screaming from Kukuban.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"No! I do not agree with their marriage! I know who the edge, "said blushing Kukuban.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"He's arrogant, does not know his manners and brash. He does not deserve a husband Sani, "he added.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Why do you say that, my son? Are there any words or behavior has ever offended you? "Said Datuk Limbatang calmly.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"There, Hang! Remember edge action in the arena toward the event a few months ago? He has broken my left leg and still have the scar, "he said as he rolled Kukuban trousers to show the former with a broken leg.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Oooh, that!" Said Datuk Limbatang brief smile.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Problem sprained foot and leg broken, lost or won in the gelanggan common. It was so when fighting, "said Datuk Limbatang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"But, Hang! Hang child has been humiliated in front of the crowd, "said Kukuban.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"I think edge is not meant to embarrass his own brother," said Datuk Limbatang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ah, it said Hang, because he wanted to defend himself! Where is the justice Hang as customary leaders? "Said Kukuban while throwing his hands into the floor.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Everything in the silent meeting. Eighth brother neither dared to speak. The atmosphere became quiet and tense. Except Datuk Limbatang, who looked calm.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sorry, son! I'm not defending anyone. I'm just telling the truth. Justice must be based on truth, "said Datuk Limbatang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"The truth let alone the Hang purpose. Is not edge has obviously tarnished my face in the crowd? "&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Know, my son! According to the testimony of many people who see it, you own the attacking edge of urgency with a hard kick, and then deflected by the edge. Parry is what makes your legs broken. Do you think it fend off fraudulent and wrong? "Said Datuk Limbatang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kukuban only paused at the question. Although in his heart to admit that what is said Datuk Limbatang is true, but because his heart was covered with a feeling of revenge, he still refused to accept it.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Hang up if you still want to defend their own children. But, Sani is our brother. I'm not going to marry the child's Hang Sani, "he said tartly Kukuban.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Well, my son! I'm also not going to force you. But, we hope that someday this decision can be changed, "said Datuk Limbatang as he said goodbye to go home with his wife.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apparently, Siti Rasani inside the room to hear all their conversations. He was sad to hear the verdict that his eldest brother. For him, the edge was a prospective husband who she dreamed for so long. Since the incident, Sani always looked glum. Almost every day he thought of magazines sat out for his problems. Neither the edge, thinking the same thing. For days the two lovers were thinking, but have not found a way out. Finally, they both agreed to meet at the usual place, ie in a field beside the river, to discuss problems they are facing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"What should we do, brother?" Asked edge.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"I do not know, Bang! Brother did not know what to do. All decisions in the family is in the hands of brother Kukuban Bang. While she is very hate and revenge to Brother, "Sani said he took a deep breath.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Some time they conferred on the banks of the river, but have not found a way out. With frantic feeling, Sani moved from his seat. Suddenly a twig stuck in the scabbard thorny.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Oh, sarungku torn!" Cried Sani surprise.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Well, it looks like thorns cut your legs. Sit Brother, Brother will heal your wounds that! "Said edge.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Edge of the leaf immediately seek drug and meramunya around. After that, she cleaned the blood from the thigh Sani, and then treat the wound. At that moment, suddenly dozens of people came out from behind the trees and immediately locked both. They are Bujang Sembilan with several other residents.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Hey, apparently you here!" Exclaimed Kukuban.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sani edge and did not know what to do. Both of them really do not think if there are dozens of people were stalking their movements.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Catch them! We take them to court customs! "Kukuban command.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Boy, Bang! We did not do anything. I just treat an infected wound Sani thorns, "the edge.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"You liar! I saw myself caressing your thigh my brother! "Kukuban snapped.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Yeah right! You have done the forbidden act. You must be brought to trial customary to be punished, "said a villager.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Finally, edge and Sani herded into the village to the courtroom. Kukuban with eight brothers and several other residents testified that they saw themselves forbidden by the edge and Sani. Although edge and Sani have defense and assisted by Datuk Limbatang, but the court decided that both are guilty of violating the prevailing custom in the village. Their actions are embarrassing and can bring bad luck. So as punishment, they should be discarded into the crater of Mount View to the village is protected from disaster.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
That decision was announced all over the village at around Mountain View. After that, edge and Sani paraded toward the top of Mount View with hands tied behind. Arriving at the edge of the crater, their eyes covered with black cloth. Before the sentence carried out, they were given the opportunity to speak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"O you all, know! We are not doing anything forbidden. Therefore, we believe is innocent, "said edge.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
After that, the edge of the second lifted her hand to the sky and prayed.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Oh my God! Please hear and grant our prayers. If we were really guilty, destroy our bodies in the water hot crater of this mountain. However, if we are not guilty, this mountain letuskanlah Bujang Sembilan and curses into fish! "&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
After the prayer, edge and Sani immediately jumped into the crater. Both had drowned in the water crater. Some people who witnessed the incident is overwhelmed by a sense of tension and anxiety. If the edge was not guilty and his prayer was granted, then they will all perish. It was true. The application was granted by God's edge. Some time ago, the mountain suddenly shaking and followed by a very loud explosion. Hot lava was pouring out of the crater, flowing toward the village and destroyed everything in its path. Everyone tried to save themselves. However, their unfortunate fate. Review eruption of increasingly violent until the mountain was falling apart. No one is safe. Nine Bujang was transformed into a fish.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* * *&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Thus the story of Lake Maninjau Origin of Agam, West Sumatra, Indonesia. It is said that the eruption of Mount View was leaving a vast crater and eventually turned into a lake. By the communities, the name of the mountain was later immortalized the name of the lake, namely Lake Maninjau. While the names of the leaders involved in the incident became immortalized in the name of villages around Lake Maninjau, such as the Cape Sani, Sikudun, Bayua, MALINTANG Koto, Koto Kaciak, Sigalapuang, Block, Kukuban, and Batang.&lt;br /&gt;
&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-6738856414758845";
/* 468x60, dibuat 09/11/07 */
google_ad_slot = "2568847730";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;
&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;&lt;input id="gwProxy" type="hidden" /&gt;&lt;!--Session data--&gt;&lt;input id="jsProxy" onclick="jsCall();" type="hidden" /&gt;&lt;div id="refHTML"&gt;&lt;/div&gt;</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Romance of Two Brothers - 7 ( Finished )</title><link>http://indonesiahotstories.blogspot.com/2009/11/romance-of-two-brothers-7-finished.html</link><category>Hot Stories</category><author>noreply@blogger.com (super soccer)</author><pubDate>Tue, 3 Nov 2009 10:56:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1865751094759452973.post-6392714801150981607</guid><description>Romance of Two Brothers - 7 ( Finished )&lt;br /&gt;
&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-6738856414758845";
/* 468x60, dibuat 09/11/07 */
google_ad_slot = "2568847730";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;
Hari itu Bang Atin mengajak Kak Antan untuk pergi berburu ke hutan. Bang Atin bercerita bahwa dia sering berburu dan dapat banyak hewan seperti pelanduk, kancil dan bahkan ada rusa juga. Mendengar hal itu tentu saja kakakku sangat tertarik. Setelah makan pagi mereka berdua berangkat dengan peralatan yang telah disiapkan oleh Bang Atin. Tinggallah aku sendiri di rumah itu. Di rumah tersebut aku bekerja mencuci pinggan mangkok yang sudah kotor serta juga mencuci kain-kain yang sudah kotor. Saat itu memang masih kurasakan perih di selangkanganku, apalagi bila kena air, karena pengobatan yang dilakukan oleh Bang Atin. Setelah selesai semua pekerjaan tersebut lalu aku tidur-tiduran di kamar. Aku merenung mengenang masa lalu dan memikirkan tentang apa yang baru saja kualami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya dengan tanpa sadar aku pun tertidur. Aku terbangun dari tidurku setelah ada suara yang memanggilku dari luar rumah. Aku terus bangun dan keluar membukakan pintu, ternyata Bang Atin telah pulang dari berburu dengan membawa seekor pelanduk. Hari saat itu baru kira-kira tengah hari karena kulihat matahari tepat berada di atas kepala. Namun aku menjadi heran kenapa Bang Atin pulang sendirian. Seharusnya dia pulang bersama kakakku. Bang Atin tersenyum kepadaku. Setelah meletakkan hasil buruannya di lantai, dia merengkuh kepalaku dan langsung mencium pipiku. Aku terkejut karena keherananku belum terjawab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya aku pun bertanya: "Bang, Kak Antan mana?" tanyaku padanya.&lt;br /&gt;
"Oo, kakakmu masih berburu di hutan. Aku tadi berjanji kepadanya pada waktu sedang dalam perjalanan ke hutan, apabila nanti dapat satu ekor hewan maka akan Abang Atin antarkan langsung pulang agar dapat dimasak oleh Adik Munah. Selain itu Abang juga sampaikan padanya bahwa Abang akan mengobatimu siang ini sebentar," cerita Bang Atin panjang lebar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar cerita itu tahulah aku apa yang akan terjadi. Pastilah epot mungilku ini nanti akan jadi bulan-bulanan kitang Bang Atin. Belum sempat aku berpikir tentang itu, tangan Bang Atin telah merengkuh tanganku dan menarikku ke kamar. Setelah sampai di kamar Bang Atin menyuruhku berbaring di ranjang sementara itu dia pergi keluar dan tampaknya dia pergi menutup pintu. Kemudian dia masuk lagi dan dengan tergesa-gesa dia menanggalkan pakaian berburunya satu persatu hingga akhirnya dia telanjang bulat. Dia memandangku dengan sorot mata tajam seperti hendak menelanku saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari inilah baru pertama kali aku melihat tubuhnya dengan jelas karena semalam aku hanya melihatnya dalam keremangan sinar lampu togok. Dengan jelas kulihat raut tubuhnya yang hitam manis berminyak diselingi bulubulu halus di sekujur tubuhnya. Aku melihat jelas kitang Bang Atin yang berwarna hitam berurat itu sedang tegak-tegaknya. Dengan tersenyum dia mendekatiku dan menaiki ranjang tersebut. Hatiku terkesiap dan merasakan akan terjadi sesuatu yang di luar perkiraanku. Dia menyuruhku segera membuka pakaian.&lt;br /&gt;
&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Munah, tolong buka pakaianmu!" perintahnya padaku.&lt;br /&gt;
"Ii.. I.. Ya," jawabku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku segera duduk dan mulai membuka satu persatu pakaianku mulai dari baju dan terus ke sarung yang kupakai. Sambil membuka baju aku merasakan dia mempermainkan kitangnya di punggungku. Ikh, terasa benda itu menggesek-gesek pinggulku. Setelah aku bugil tanpa sehelai benang pun, dia merengkuh bahuku dan langsung membaringkanku di atas ranjang itu. Aku ditelentangkannya sambil tangannya mengelus tubuhku dari dada sampai ke perut. Kemudian dia mulai merangkak ke atasku dan bertumpu pada kedua sikunya. Sementara itu aku merasakan tubuh bagian bawahnya sudah merapat ke pahaku. Sangat nyata kurasakan kitang Bang Atin yang sudah keras itu menusuk selangkanganku. Berat tubuhnya menambah tertekannya epotku oleh kitangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sayang, Abang tadi waktu berburu ingat dengan Munah. Abang masih merasakan kenikmatan sewaktu mengobatimu tadi malam," katanya setengah berbisik padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hanya mengangguk saja. Kemudian Bang Atin memulai operasinya pada tubuhku dengan menggelitik telingaku dengan ujung lidahnya. Seterusnya dia semakin ke bawah menggerakkan lidahnya hingga sampai pada leherku dan berputar-putar di situ. Dengan gemasnya Bang Atin melumat-lumat bibirku entah beberapa puluh kali hingga aku merasa kegelian. Selanjutnya Bang Atin mengisap-isap puting susuku bergantian kiri kanan dengan rakusnya hingga kadang-kadang aku merasa kesakitan. Sementara itu aku juga merasakan tekanan-tekanan pada selangkanganku oleh kitang Bang Atin semakin kuat saja. Bang Atin sedikit mengangkat badannya dan mulailah kitangnya menusuk-nusuk epot mungilku ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasakan bibir-bibir epotku timbul tenggelam seiring tusukannya. Semakin lama dia menekan-nekan kitangnya semakin basah epotku dan semakin terasa keenakannya hingga akhirnya kitang Bang Atin yang lumayan itu mulai menyeruak ke antara bibir epotku. Masuk sedikit demi sedikit seiring tarik dorong yang di lakukannya. Cukup lama juga dia berusaha menerobos epotku dengan cara begitu sampai keringatnya membanjiri tubuhnya dan menetes di dadaku. Setelah sekian lama terasa sudah separuh kitangnya yang masuk namun dia tetap menarik dan mendorong ke keluar dan kedalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aww, sakiit, Baang!" teriakku ketika satu hentakan yang sangat kuat menghantam epotku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rupanya Bang Atin sengaja mempermainkan aku dengan menunda-nunda memasukkan kitangnya. Sekarang kitang besar itu sudah terbenam habis dan sudah bersarang dalam epotku. Selangkangan kami sudah bertaut tidak ada jarak lagi. Tubuh kami telah menyatu, keringat Bang Atin pun sudah membasahi dada dan perutku. Bang Atin merapatkan tubuhnya serapat-rapatnya sehingga aku jadi sesak untuk bernafas. Sementara itu rasa perih juga masih terasa pada epotku yang saat ini menampung benda besar itu. Benda itu masih diam di sarangnya tanpa gerak dan secara otomatis epotku menyesuaikan diri dengan kehadirannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak berapa lama kemudian aku sudah merasakan gerakan-gerakan kitangnya menerjang ke atas dan ke bawah. Seiring dengan itu tubuh Bang Atin bergerak lincah menggesek dan menggilas tubuhku. Semakin lama semakin kurasakan rangsangan yang enak melanda epotku. Berjuta-juta rasa nikmat melanda seiring terjangan-terjangan kitang Bang Atin dan ditambah lagi cumbuan-cumbuannya pada leher dan seluruh wajahku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Alangkah nikmatnya pengobatan ini," pikirku saat itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah agak lama menyodok keluar masuk, aku merasakan jemari tangan Bang Atin menyelinap ke bawah bongkahan pantatku. Kemudian kurasakan tangan itu meremasremas pantatku, sehingga ada kenikmatan lain yang kurasakan. Selanjutnya kedua tangannya mendekap erat pantatku hingga kurasakan epotku merapat erat dengan milik Bang Atin. Ketika itulah dia memutar-mutar pinggulnya yang menimbulkan kenikmatan luar biasa bagiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ohh.. Ohh.. Ohh.." rintihku saat itu karena meregang nikmat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian tubuhku mengejang dan bergetar sejadi-jadinya karena orgasme yang telah melanda diriku. Tidak berapa lama kemudian dengan beringasnya Bang Atin menggoyang tubuhku kuat sekali dan..&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Crot.. Crot.. semburan cairannya memenuhi ruang epotku. Kami berdua terkapar lemas, Bang Atin kemudian mencabut kitangnya dan berbisik padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Munah, kamu istirahat di rumah ya? Masak daging pelanduk tadi dan makan sepuaspuasmu. Nanti malam Abang akan mengobatimu lagi," bisiknya lembut dekat telingaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dia bergegas berpakaian dan langsung pergi meninggalkanku. Dia kembali pergi menemui kakakku Antan yang sedang berburu di hutan. Sorenya mereka kembali dari berburu dan mendapat banyak hewan buruan seperti kancil dan pelanduk serta ayam hutan. Bang Atin dan kakakku sibuk membersihkan hasil buruan mereka dan sebagian dimasak sore itu juga. Malamnya kami pun makan bersama. Setelah selesai makan dan bercerita sebentar, semuanya bersiap-siap untuk tidur. Kakakku Antan karena sangat capek berburu langsung tertidur lelap di ranjang ruang tengah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara itu aku mulai beringsut ke kamar dan berbaring di ranjang. Mataku menerawang membayangkan akan terjadi lagi pengobatan rutin oleh Bang Atin. Benar saja! Sebentar kemudian Bang Atin telah muncul di kamar dan naik ke ranjang. Dia langsung memelukku dan menciumiku bertubi-tubi, dia sangat rindu dan bernafsu sekali. Malam itu adalah seperti malam sebelumnya, Bang Atin sampai tiga kali mengarungi kenikmatan bersamaku hingga paginya. Pertama sekali ketika akan tidur, selanjutnya ketika aku terjaga tengah malam dia telah lebih dahulu menaiki tubuhku dan terakhir ketika pagi harinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku terbangun paginya ketika matahari sudah meninggi. Bang Atin dan Kak Antan sudah tidak di rumah lagi, mereka telah berangkat berburu. Hari itu adalah hari kedua kami di rumah Bang Atin. Kira-kira tengah harinya kembali aku dikejutkan dengan kedatangan Bang Atin dari berburu. Herannya masih seperti hari sebelumnya hanya dia sendiri yang pulang, namun hari ini dia tidak membawa hewan buruan. Dia cuma membawa dedaunan hutan. Katanya dedaunan ini agar disayur saja sebagai obat. Ketika kutanyakan keberadaan kakakku, dia bilang bahwa kakakku lagi berburu dan menunggu di hutan. Bang Atin minta izin pada kakakku mengantarkan dedaunan tersebut untuk obatku. Aku tahu apa yang akan terjadi. Pasti sebentar lagi aku akan bergumul dengan kitang Bang Atin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan benar saja, setelah Bang Atin keluar dari kamar mandi langsung saja mengajakku ke ranjang di kamar. Dengan pasrah aku menurut perintahnya untuk membuka seluruh pakaian. Kejadian seperti hari kemarin kembali terjadi, namun hari ini aku betul-betul menikmati permainan obat Bang Atin. Hari ini aku diberikan sebuah cara yang menurutku cukup nikmat yaitu ketika kitangnya sedang enak-enaknya membenam dalam epotku, posisi kami dibaliknya sehingga aku tepat berada di atasnya. Pinggulku digoyang-goyangnya sehingga kenikmatan kitangnya dapat kuatur sesuai seleraku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku betul-betul menikmati permainan ini. Sambil mengatur kenikmatan kitang Bang Atin, aku merasakan bibir-bibirnya mengecup ganas puting susuku sehingga aku semakin berkelojotan dan akhirnya mengejang menahan kenikmatan orgasme. Melihat aku terkapar lemas, Bang Atin membalikkan posisi. Sekarang dia berada di atasku, dengan bersemangat dan bernafsu sekali dia mengerjai epotku menyudahi permainan ini. Dia menghabiskan beberapa waktu untuk mengobarak-abrik empotku hingga akhirnya aku kembali orgasme dan terakhir dia menyemprotkan cairan itu ke dalam epotku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama tiga malam dan tiga hari itu aku betul-betul diobati Bang Atin sepuaspuasnya. Ketika kakakku terlelap dan ketika berburu dia berkesempatan melakukan itu kepadaku. Malam hari entah beberapa kali aku harus pergi ke sumur untuk membersihkan epotku dari sperma Bang Atin, sambil lewat aku memperhatikan bahwa Kak Antan malah enak-enaknya tidur lelap di ruang tengah. Sementara itu aku membanting tulang melayani keperkasaan Bang Atin di ranjang. Bahkan pada saat-saat perpisahan kami di hari ketiga, siang itu Bang Atin meminta kepada kakakku untuk mengobatiku sebentar di kamar. Anehnya, kakakku malah mengiyakan hingga terjadilah kembali pergumulan perpisahan yang betul-betul dimanfaatkan Bang Atin untuk menghajar dan mengobarak-abrik milikku dengan sepuas-puasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan senyum kemenangan Bang Atin berpesan padaku agar aku tetap menjaga tubuh dengan baik, kalau menginginkan hal seperti ini lagi agar aku mendatanginya. Dia malah mengajakku agar tinggal saja bersamanya, namun aku tidak mau karena memikirkan kakakku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*****&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikianlah cerita ini berakhir bersama Bang Atin saat itu. Petualangan pun kami mulai lagi bersama Kak Antan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang aku telah balik ke hutan lagi bersama kakak kandungku, Kak Antan. Di hutan ini ada lagi petualangan hidup yang kami alami. Di sini aku akan ceritakan kepada anda, semoga anda puas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*****&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam perjalanan pulang dari rumah Bang Atin, kami menemukan kesulitan untuk kembali karena kami harus melawan arus sungai ke hulu. Kak Antan berpikir bahwa jika diteruskan maka kami pasti tidak akan mampu lagi, apalagi melihat kondisiku yang sudah payah dan letih setelah berobat dengan Bang Atin. Anda pasti tahu bahwa selama tiga hari tiga malam aku diobati Bang Atin, seluruh tenagaku terkuras untuk mengimbangi alat suntik Bang Atin yang begitu perkasa mengoabrak-abrik kemaluanku yang masih mungil dan kecil ini. Sehingga Kak Antan memutuskan untuk mencari pemukiman baru yang tidak jauh dari kampung itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dekat pinggir sungai itu kami membuat dangau tempat tinggal. Kak Antan yang cekatan dengan tangkasnya hanya memerlukan waktu sebentar untuk membuat tempat tinggal kami. Akhirnya selesai sudah pembuatan satu buah dangau kecil yang akan kami tempati berdua. Dangau kami yang baru ini jauh lebih kecil dari dangau yang kami tempati dulu. Setelah malam tiba kami tidur. Kak Antan tidur seperti biasa dekat pintu sedang kan aku tidur di tepi dinding sebelahnya lagi. Kami tidur nyenyak sekali, apalagi aku yang sudah tiga malam kekurangan tidur akibat dibangunkan selalu oleh Bang Atin untuk melayani pengobatan yang dilakukannya padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siang harinya seperti biasa Kak Antan pergi berburu dan mencari buah-buahan untuk makanan, sedangkan aku hanya menunggu di rumah sambil bekerja menyiangi sekitar rumah. Jika dulu aku sering ikut Kak Antan berburu namun sekarang Kak Antan malah melarangku ikut karena dia khawatir dengan sakitku. Begitulah kehidupan kami setelah menetap di dangau itu. Setelah seminggu tinggal di dangau itu aku mulai kembali mengingat Bang Atin. Ada rasa inginku untuk kembali dibelai dan dicumbuinya. Mungkin perasaan alamiah yang kurasakan, sehingga setiap hari aku selalu bermenung dan melamun. Keadaanku yang seperti ini diperhatikan oleh kakakku sehingga dia pun menanyakan padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Munah, aku lihat kamu setiap hari hanya melamun saja, ada apa denganmu?" tanya Kak Antan suatu hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku terkejut dari lamunanku dan mencoba biasa-biasa saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Aku mengingat Bang Atin, Kak. Sudah lama kita tidak berjumpa," jawabku jujur.&lt;br /&gt;
"Oo, jadi kamu mau diobati lagi sama Bang Atin? Bagaimana jika kakak saja yang mengobatimu? Kamu kan tahu apa bahan yang dibuat mengobatinya?" jawab kakakku.&lt;br /&gt;
"Ah, biar sajalah Kak," jawabku lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya berlalu begitu saja. Suatu malam ketika kami mau tidur, Kak Antan mulai lagi membicarakan tentang pengobatan yang dilakukan oleh Bang Atin. Saat itu aku betul-betul merindukan Bang Atin, aku membayangkan bagaimana dia dengan lembutnya mengerjai epot mungilku. Aku membayangkan saat-saat kitang Bang Atin menembus epotku yang membuatku merasa nikmat yang luar biasa. Aku mengingat saat-saat kitang itu menyemprotkan cairan obatnya ke dalam epotku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Akh, sungguh aku merindukanmu Bang Atin," hasratku.&lt;br /&gt;
"Munah, waktu kita di rumah Bang Atin, kakak mendengar suara ribut dari kamar pengobatanmu. Aku mendengar seperti suara rintihan kamu, apakah Bang Atin menyakiti sewaktu mengobatimu?" tanya Kak Antan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku berpikir bahwa rupanya Kak Antan tidak tidur waktu itu sehingga dia mendengar suara-suara kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Tidak, Kak. Malah Bang Atin membuat Munah merasa keenakan diobati," jawabku seenaknya.&lt;br /&gt;
"Kalau begitu, biar kakak saja yang mengobati Munah, ajarkan saja caranya!" pinta Kak Antan padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena sudah didesak seperti itu, maka aku pun bersedia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Pertama, harus buka dulu pakaian kakak!" kataku memulai.&lt;br /&gt;
"Apa? Kok pakaian kakak yang dibuka? Yang diobati kan kamu!" bantah Kak Antan.&lt;br /&gt;
"Iya, aku juga," jawabku sambil menanggalkan pakaianku satu persatu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kak Antan hanya melongo saja melihat aku sudah telanjang bulat. Rupanya dia belum pernah melihat aku telanjang bulat. Dari atas sampai ke bawah dipandangnya aku dengan mata tak berkedip.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Sekarang, buka pakaian kakak!" perintahku padanya. Namun dia hanya diam.&lt;br /&gt;
"Kakak sungguh mau mengobatiku? Jika ya, buka pakaian kakak!" perintahku lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya dibukalah pakaiannya satu persatu. Aku memperhatikan dia mempreteli satu persatu kain-kainnya dalam terang cahaya lampu togok itu. Aku menunggu saat dia membuka celananya, membayangkan bentuk kitang Kak Antan, apakah masih seperti kepunyaan Bang Atin juga atau tidak. Aku sudah merindukan saat-saat benda itu menerobos epot mungilku dan mengoyak-ngoyak liangku. Aku tidak peduli lagi akan pengobatan diriku, yang kuinginkan sekarang adalah benda panjang itu mengaduk-aduk milikku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Oops, ehh," ketika celananya terselak, ternyata punya Kak Antan masih lisut dan kempes, besarnya lebih sedikit dari jempol.&lt;br /&gt;
"Waduhh," pikirku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tidak kehilangan akal, kusuruh Kak Antan memegang payudaraku seperti Bang Atin pernah lakukan padaku. Kak Antan bergerak mendekatiku dan sambil duduk dia mulai memegang payudaraku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Remas, Kak!" kataku. Kak Antan mulai meremas-remasnya.&lt;br /&gt;
"Munah, rasanya kok lembut sekali? Malah enak meremasnya" kata Kak Antan.&lt;br /&gt;
"Terus saja Kak!" jawabku lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya aku lihat kitang Bang Atin bergerak sendiri semakin membesar. Setelah ukurannya maksimal, aku perhatikan kok bentuknya membengkok ke kanan, tidak lurus seperti punya Bang Atin. Semakin ke ujung semakin membesar namun lingkaran pangkalnya cukup kecil dan ukuran panjangnya menyamai kitang Bang Atin. Aku tidak tahan lagi, segera kuraih benda itu. Namun Kak Antan terkejut dan menghindar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ehh, Munah, kamu mau apa?" tanyanya.&lt;br /&gt;
"Kak, waktu Bang Atin mengobatiku, dia menggunakan benda punyanya seperti punya Kakak itu. Namanya kitang," terangku kepadanya.&lt;br /&gt;
"Benda itulah yang menyalurkan obat ke tubuhku," jelasku lagi.&lt;br /&gt;
"Eh, kok bisa, bagaimana caranya?" tanya Kak Antan heran.&lt;br /&gt;
"Caranya akan Munah jelaskan asalkan Kakak menuruti perintahku," jawabku tak sabar.&lt;br /&gt;
"Baiklah, kakak akan menuruti" Kak Antan menyerah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mulai berbaring telentang. Kak Antan kusuruh meremas-remas payudaraku, setelah agak lama, aku menyuruhnya menelungkup di atasku. Kucari bibirnya dan kukulum-kulum bibir Kak Antan. Bibirnya terasa dingin, namun aku merasakan kitangnya sudah terimpit di antara pahaku. Aku menyuruhnya memasukkan kitangnya ke epotku, karena aku tidak sabar lagi. Namun, dia malah tidak mengerti. Terpaksa aku bantu dengan tanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bles, bles... Kitang kakakku mulai masuk dan dia langsung menekannya sekuatkuatnya. Sepertinya dia menemukan suatu kenikmatan baru yang belum pernah dirasakannya. Ampun! Suara nafasnya memburu seperti habis berlari jauh. Kemudian belum sempat aku menikmati permainan ini, dengan tergesa-gesa dia memaju mundurkan kitangnya dengan cepat sekali, sehingga terasa panas epotku dan tidak berapa lama kemudian crot.. crot... obatnya (air maninya) kurasakan menyemprot banyak sekali. Setelah itu dengan cepat langsung dicabutnya kitangnya tanpa menunggu rileks, sehingga menimbulkan rasa perih di epotku. Biasanya Bang Atin membiarkan dulu beberapa saat sebelum mencabutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Akh, Dik, apa yang telah Kakak lakukan padamu?" tanyanya padaku.&lt;br /&gt;
"Kak, begitulah Bang Atin mengobatiku selama 3 hari itu. Namun Bang Atin bisa membuat Munah merasa enak karena dia melama-lamakannya." jawabku dengan kecewa.&lt;br /&gt;
"Apa kamu tidak merasa sakit?"&lt;br /&gt;
"Waktu pertama saja Kak sakitnya, setelah itu tidak lagi" jawabku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kejadian itu merupakan pengalaman pertamaku dengan Kakak Antan, selanjutnya di gubuk kecil itu hampir setiap malam kami melakukannya. Aku mengajari Kakak Antan bagaimana yang telah dilakukan oleh Bang Atin. Aku menjadi ketagihan dan setiap hari aku selalu menunggu Kak Antan pulang dari berburu untuk kemudian berburu kenikmatan dengan dalih mengobatiku. Perbuatan ini kami lakukan berbulan-bulan, hingga suatu saat aku merasa ada keganjilan pada perut dan perasaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perutku bertambah besar dan payudaraku pun semakin besar, padahal tujuan kami sebelumnya adalah mengobati agar payudaraku jangan membesar. Disamping itu ada perasaan aneh pada diriku, yaitu selalu mual-mual dan ingin muntah. Sedangkan darah yang selama ini selalu keluar setiap bulannya dari epotku sudah sembuh. Dalam kebingungan ini akhirnya kami putuskan untuk kembali menemui Bang Atin. Kembali kami ke rumah Bang Atin pada suatu sore dan menjumpai Bang Atin sedang duduk-duduk di depan rumahnya. Melihat kami datang Bang Atin terkejut dan kemudian tersenyum. Dia melirik nakal ke arahku. Aku kembali merasa denyut birahi yang dulu selalu diobati Bang Atin kembali muncul ketika melihat Bang Atin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Apa kabar kalian sekarang," tanya Bang Atin.&lt;br /&gt;
"Bang, adikku bukannya sembuh tapi malah semakin bertambah penyakitnya," jawab Kak Antan gusar.&lt;br /&gt;
"Oh, itu masalahnya. Dik Antan jangan marah dulu. Nanti aku ceritakan," kata Bang Atin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sore itu dijelaskanlah oleh Bang Atin, bahwa sebenarnya aku hamil karena telah melakukan suatu perkawinan antara lelaki dengan wanita. Terungkaplah di sana cerita kakakku bahwa kami pun telah melakukannya di rumah. Mendengar itu Bang Atin malah marah dan mengatakan bahwa yang kami lakukan itu terlarang karena kami bersaudara. Kak Antan menangis menyesali itu semua, namun Bang Atin mengatakan bahwa janin yang ada di perutku bukan milik Kak Antan tetapi miliknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penyelesaiannya saat itu adalah bahwa aku harus menjadi istri Bang Atin dan Kak Antan boleh tinggal di rumah itu dan nanti akan dicarikan pula istrinya. Malam itu kami tidur kembali di rumah Bang Atin. Setelah kakakku tertidur, Bang Atin dengan berbisik kemudian mengajakku ke kamarnya dan kami pun melepaskan rindu di sana. Jadilah malam itu merupakan malam kenikmatan yang tak dapat kulupakan. Mengingat aku yang hamil, maka Bang Atin memasukkan kitangnya dari belakang dan posisiku menungging. Sensasi lain yang kurasakan saat itu membuat aku menggapai orgasme berkali-kali. Akhirnya malam itu selesai juga, terobati pulalah rindu kami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehidupan kami selanjutnya dan sampai saat ini tetap bermukim di kampung itu. Aku telah menjadi istri Bang Atin dan telah mempunyai dua orang anak yang lucu sekali, keduanya perempuan. Sedangkan Kak Antan baru setahun dinikahkan dengan famili Bang Atin, saat ini istrinya sedang hamil tua. Kami selalu merahasiakan kisah kami kepada famili dan penduduk kampung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
E N D</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Romance of Two Brothers - 6</title><link>http://indonesiahotstories.blogspot.com/2009/11/romance-of-two-brothers-6.html</link><category>Hot Stories</category><author>noreply@blogger.com (super soccer)</author><pubDate>Tue, 3 Nov 2009 10:51:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1865751094759452973.post-8277852617986844821</guid><description>Ramance of Two Brothers - 6&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selanjutnya kembali dia mendekapku sangat erat sepertinya terasa lengket tubuh kami. Saat itulah dia membisikkan kepadaku: "Munah, aku mencintaimu!"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu kata yang sangat asing bagiku. Aku tidak mengerti dengan kata "mencintai" tersebut. Namun aku merasakan nyaman ketika dia mengatakannya secara lembut di telingaku. Bang Atin mengatur posisinya. Ujung kitangnya tepat diarahkannya ke epotku yang sudah basah. Kemudian dia kembali mendekapku sambil kurasakan tekanan-tekanan pada epotku oleh ujung kitangnya. Aku merasa posisinya telah tepat dan sambil menunggu sodokannya aku merasakan kenikmatan yang sangat indah kala itu. Aku merasa damai dengan kedua tubuh kami yang berimpit dan terasa menyatu luar dalam. Dengan lembut Bang Atin menggesekkan tubuhnya dengan tubuhku sementara itu bibir dan lidahnya selalu bermain disekitar wajahku. Aku tidak lagi merasakan pedih pada epotku seperti waktu itu, yang ada hanyalah rasa gatal dan ingin segera dimasuki oleh Bang Atin. Bang Atin mulai menekan pantatnya menyebabkan kepala kitangnya menekan-nekan bibir epotku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa kali ditekan-tekannya sampai akhirnya kepala kitangnya masuk sedikit. Kemudian dia mendiamkannya sebentar dan dicoba menekan lagi hingga masuk sedikit demi sedikit. Dia menariknya kembali dan terus didorongnya dan malah semakin dalam masuknya. Karena rasa gairahku yang semakin tinggi menyebabkan rasa pedih dan perih seperti yang lalu tidak begitu terasa, walaupun ada sedikit rasa ngilu. Beberapa kali ditariksorongnya oleh Bang Atin menyebabkan epotku basah, sehingga semakin lancar saja kitang Bang Atin keluar masuk. Aku merasakan nikmat yang sangat luar biasa karena Bang Atin bukan hanya melakukan tarik sorong saja tetapi juga melumat-lumat bibir, telinga dan leherku.&lt;br /&gt;
&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-6738856414758845";
/* 468x60, dibuat 09/11/07 */
google_ad_slot = "2568847730";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;
Sesekali Bang Atin menghunjamkan dalam-dalam miliknya hingga membuatku tersentak dan tubuh kami semakin rapat dan basah oleh peluh. Bang Atin semakin rajin menggenjot kitangnya yang sangat keras itu keluar masuk epotku. Ketika dia menarik keluar serasa bagian dalam epotku menjemputnya ke atas dan ketika dibenamkannya dalam-dalam terasa sisi dalam epotku menyibak dan menimbulkan rasa nikmat yang sangat luar biasa. Itulah yang kurasakan saat itu. Aku tidak sadar lagi bahwa ranjang kami berderit-derit keras dan kelambu bergoyang hebat dan kedengarannya riuh rendah suara derit, dengus nafas dan juga rintihanku bergabung satu memenuhi kamar kecil tersebut. Bang Atin sudah tidak peduli lagi dengan sekelilingnya, bahkan dengan keras dia menyodok epotku hingga aku tercungapcungap kehilangan nafas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bunyi kecipak-kecipuk suara lendir epotku semakin menambah semangat Bang Atin mengobarak-abrik epot mungilku ini. Aku betul-betul kelelahan dan tekanan-tekanan dalam epotku membuatku berkelojotan dan menegang. Aku telah sampai pada orgasme, seluruh otot-ototku meregang nikmat, sementara itu Bang Atin semakin beringas menghajar milikku.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ohh, ohh, Munah, Abang sayang kamu. Enak sekali Munah. Abang tidak ingin berhenti sayang. Kamu disini saja selamanya. Abang enak mengobatimu," begitulah suara racau Bang Atin ketika mengobrak-abrik milikku ini.&lt;br /&gt;
"Abang, ingin menembak obatnya, terima ya?," kata Bang Atin dengan nafas sesak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku yang sudah letih meneguk orgasme dari tadi, terkulai lemas dan terkapar tak berdaya. Melihat kondisiku seperti itu, Bang Atin malah semakin mempercepat kocokannya pada epotku dan akhirnya semburan panas itu kuterima jua. Berdenyut-denyut kitang Bang Atin menyemprotkan sisa cairannya sampai akhirnya dia terkapar di atasku dengan suara nafas yang sangat keras dan cepat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Abang sangat bahagia, sayang. Kamu begitu cantik, kamu telah memberikan Abang segalanya," bisik Bang Atin kepadaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam diamku yang lemas, aku sempat berpikir apa memang begini pengobatan yang harus dilakukan kepadaku. Apakah betul begini pengobatan itu, akh sudahlah, aku sudah merasakan ada dunia lain yang betul-betul nikmat. Dalam merenung itu aku merasakan Bang Atin mengelap pangkal pahaku dengan selembar kain. Antara sadar dan tidak karena letih aku terus diam dan tertidur. Aku baru terbangun ketika kurasakan ada orang yang menaikiku, ketika kubuka mata ternyata Bang Atin sudah berada di atasku dalam keadaan telanjang dan begitu pula aku. Rupanya sewaktu kutidur dia bekerja membugilkanku. Dia membelai-belai rambutku dan sesekali diciumnya pipiku. Tangannya mulai mengelus dadaku dan berhenti pada puting itupku, kemudian memutar-mutarnya sehingga membuatku kegelian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Munah, Abang masih ingin melakukannya lagi sebelum kita keluar," begitu kata Bang Atin padaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti biasa aku hanya diam dan mengangguk saja. Aku teruskan menikmati gesekangesekan yang diberikan Bang Atin. Tidak berapa lama kemudian dengan mengubah posisinya, dia mengarahkan kitangnya ke lubang epotku. Dia menekannya kemudian ditarik lagi, ditekan lagi ditarik lagi, begitu seterusnya hingga kurasakan kepala kitangnya terjepit bibir epotku. Agaknya dia begitu kesulitan memasukkan batangnya karena epotku belum basah. Dengan gigih terus disodok-sodok dan dicabut-cabut serta tekan tusuk ke lubang epotku, hingga kurasakan sedikit demi sedikit benda itu menyeruak memasuki epotku. Setelah separuh masuk dia berhenti dan mengatur nafas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Oh, sempit sekali punyamu Munah. Tidak seperti tadi," katanya.&lt;br /&gt;
"Abang berkeringat dibuatnya," sambungnya lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dia meneruskan usahanya menekan kitangnya hingga kurasakan kandas. Aku merasakan panas sekali seakan terbakar epotku dibuatnya. Dimulainya tusuk tekan pada epotku. Seiring gerakan tusuk tarik itu begitu pula kurasakan perih dan panas bibir-bibir epotku. Dia tetap terus dengan sodokan-sodokannya dan bahkan tidak peduli dengan rintihan kesakitan yang kurasakan. Semakin lama dia melakukan gerakan-gerakan itu semakin berkurang rasa perih karena epotku sudah mulai basah. Bang Atin malah semakin beringas. Bunyi derit ranjang dan lenguhannya menjadi satu. Aku pun sudah mulai menikmati. Dengan cepat diaduknya lubang epotku seakan hancur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Oh, oh, Munah, Abang akan hantam punyamu. Rasakan! Abang akan lantak sampai pagi. Ohh, nikmatnya," racau Bang Atin saat itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dengan gerakan yang tidak teratur dan beringas, dia menyudahi pekerjaannya dengan menyemprotkan cairan-cairan itu ke epotku. Seperti sebelumnya kurasakan denyut-denyut kitangnya menyudahi pengobatan ini. Sebentar kemudian dia sudah terkapar dengan nafas memburu di sampingku. Dia mengecup keningku dan terus mengelap pahaku. Bang Atin bangkit dan memakai sarung serta singletnya kemudian terus ke pintu dan membukanya. Aku terkejut begitu melihat cahaya pagi sudah memasuki rumah itu. Berarti semalaman aku telah diobati oleh Bang Atin dengan penuh pengalaman yang menarik bagiku. Aku membereskan diri dan memakai sarung serta handuk dan berniat untuk terus ke kamar mandi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika berjalan keluar, kulihat Kak Antan sedang duduk-duduk di luar rumah. Aku teruskan ke kamar mandi dan sesampainya di kamar mandi tersebut langsung kubuka handuk dan sarung dan terus mengambil air. Aku tidak sadar bahwa Bang Atin juga di situ memperhatikanku. Aku terkejut ketika mengetahuinya, namun Bang Atin begitu cepat memelukku dan menciumi pipiku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Abang sangat bahagia, Munah. Maukah kau tetap tinggal di sini?," tanyanya padaku sambil berbisik di telingaku.&lt;br /&gt;
"Ehm, ooh, aku tak tahu, Bang. Terserah sama Kakak Antan," jawabku.&lt;br /&gt;
"Baiklah," balasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selanjutnya dia meninggalkan kamar mandi dan aku terus membersihkan diri serta mandi sepuas-puasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
To be Continued......</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item><item><title>Romance of Two Brothers - 5</title><link>http://indonesiahotstories.blogspot.com/2009/11/romance-of-two-brothers-5.html</link><category>Hot Stories</category><author>noreply@blogger.com (super soccer)</author><pubDate>Mon, 2 Nov 2009 15:49:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1865751094759452973.post-2558282686572013533</guid><description>&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-6738856414758845";
/* 468x60, dibuat 09/11/07 */
google_ad_slot = "2568847730";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;
Romance of Two Brothers - 5&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian Bang Atin beralih ke payudara satu lagi yang membuatku semakin dilanda kenikmatan. Dia malah terus menyonyot itupku. Aku hanya mampu mendesis menahan gejolak nafsu. Bang Atin kemudian menyusurkan lidahnya melewati pusarku dan terus ke bawah, kemudian naik lagi ke atas dan menggelitik pusarku. Setelah itu kurasakan lidahnya telah sampai ke gundukan epotku. Lidahnya menjalari kitaran selangkanganku dan terus memandikan bulu-bulu halus yang tumbuh di sana hingga aku merasakan kegelian sangat dan menyebabkan aku merasa ada cairan yang keluar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sesekali lidahnya menerobos masuk ke dalam lubang epotku dan terasa seperti mengadukaduk seluruh isinya. Kemudian dia menggerakkan ujung lidahnya pada kacangan dalam epotku (aku tahu namanya kemudian sebagai klitoris) hingga membuatku berkelojotan dan kembali pinggulku menghentak-hentak kuat menahan kenikmatan hebat yang sedang kurasakan. Semakin kuat aku mengerang semakin kuat lidahnya mengaduk-aduk epotku dan malah kedua tangannya pun memegang pantatku dan meremasnya kuat-kuat sampai akhirnya kenikmatan luar biasa kembali melanda diriku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasa pipis kembali, seluruh tubuhku menegang dan aku menangkap kepalanya dan dengan erat kutekan ke epotku. Aku sudah dua kali merasakannya. Pastilah ranjang dan kelambu kami itu bergoyang seperti gajah yang dikasih selimut. Bayangkan betapa gaduhnya suara ranjang, dan bisa saja membangunkan kakakku. Aku kemudian tersadar melihat kelambu kami rupanya tersingkap dan pintu kamar tidak tertutup. Rupanya Bang Antan tadi lupa menutupnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasa lemas sekali saat itu, kemudian kulihat Bang Atin menegakkan kepalanya dan tersenyum kepadaku. Kemudian dia berkata: "Sekarang Abang mau mengobatimu. Abang akan memasukkan obat ke dalam dirimu"&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku terdiam dengan nafas yang ngos-ngosan. Kulihat bibirnya kembali mendekati mulutku dan kemudian kembali berlabuh melumat bibirku. Aku berusaha melepaskan diri dan menunjuk-nunjuk ke arah pintu, berharap Bang Atin sadar dan tahu bahwa kakakku masih di luar. Dengan cepat dan dalam kondisi telanjang Bang Atin melangkah ke pintu dan melongok ke luar kemudian masuk lagi langsung menutup pintu. Mungkin Bang Atin masih tidur. Kira-kira waktu itu sudah hampir tengah malam.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia pun naik ke ranjang dan menutup kelambu yang tersingkap, kemudian kembali dia merangkak ke atasku. Dia merendahkan pinggulnya dan mulai kurasakan sentuhan benda panasnya itu pada selangkanganku. Kemudian dia menindihku rapat sekali hingga dadaku dihimpit oleh dada bidangnya. Tangannya bergerak ke bawah menggapai pahaku dan menyibakkan pahaku yang tadi kurapatkan hingga kurasakan pinggulnya berlabuh di antara dua pahaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terasa kitangnya semakin menekan epotku dan dia tidak henti-hentinya menggesekkan pahanya dengan pahaku. Selanjutnya dia mengangkat dadanya dan mengubah posisi sehingga kurasakan ada sesuatu yang menusuknusuk epotku. Epotku yang sudah basah karena campuran lendir dan ludahnya itu, kembali dicucuk-cucuk dan kemudian dia diam sejenak. Sebentar kemudian dia menekan lagi hingga kurasakan ada benda yang mau memasuki liang epotku. Benda itu menyundul-nyundul lubang milikku itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Abang akan masukkan obat ke dalam diri kamu, kamu harus bantu Abang dan jangan takut. Kamu tenang saja dan rasakan saja jika nanti agak sakit katakan pada Abang tapi jika enak nikmati saja," katanya setengah berbisik di sela-sela nafasnya yang bergemuruh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tetap diam menunggu apa yang akan dilakukannya. Aku terus terang merasakan kenikmatan ketika benda miliknya itu menyentuh bibir epotku. Kemudian dia mulai lagi menggerak-gerakkan pinggulnya dan terasa kitangnya tepat persis di liang milikku, dia mulai mendorongnya sedikit dan aku merasakan bibir epotku telah menjepit benda itu. Dia mendiamkannya sambil mengatur posisi tubuhnya dengan bertumpu pada sikunya. Kemudian lidahnya dijulurkannya ke mulutku dan terus dilumatnya bibirku. Cukup lama juga dia melumat bibirku hingga membuatku terangsang kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seketika kemudian pinggulnya ditekannya hingga kitangnya terbenam lagi sedikit dan aku merasa agak perih di sekitar epotku. Otot-otot epotku bereaksi menerima masuknya benda asing itu walaupun mungkin baru ujungnya saja yang masuk. Dia kembali terdiam seperti membiarkan aku merasakan benda itu. Kemudian aku merasakan kegelian yang amat sangat ketika dia menjilat-jilat telinga kiriku dan kadang-kadang ujung lidahnya menjolok-jolok lubang telingaku. Entah berapa lama pula dia merangsangku dengan cara demikian dan kemudian dia berpindah pula ke telinga kananku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Posisinya rapat menindih tubuhku, tangannya diletakkan di bawah kepalaku dan kurasakan kepalaku diangkat-angkat olehnya. Sepertinya dia sangat geram sekali dengan aku. Rangsangan demi rangsangan itu membuatku betul-betul terlena hingga tidak sadar pinggulku kugerakkan ke kiri dan ke kanan. Menikmati gerakan-gerakanku itu, Bang Atin malah semakin gencar melumat-lumat telingaku, bibirku, hidungku dan juga pipiku tidak luput dari sapuan lidahnya. Pada saat aku begitu terlena, dengan kuat ditekannya pantatnya hingga membuatku terkejut karena kurasakan ada benda panas yang menerobos epot ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Auuw.. Ohh," teriakku.&lt;br /&gt;
"Maaf, sayang, Abang mau memasukkannya. Nanti akan terasa enak," katanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian semua hening dan terdiam hanya suara nafas kami saja yang terdengar. Bang Atin membiarkan kitangnya terbenam, mungkin belum separuh miliknya masuk, agar epotku mulai menyesuaikannya. Aku masih merasakan perih dan pedih pada bibir epotku. Kemudian Bang Atin mulai lagi menjilat-jilat leherku dan kembali mengulangi lagi lumatan-lumatannya pada bibir, telinga dan semua wajahku tidak luput dari lidahnya. Aku tentu saja kembali dilanda birahi yang amat sangat, sehingga dengan tidak sadar seluruh tubuhku bergerak bergetar serta pinggulku kembali meliuk-liuk dan aku pun merasakan gerakan tubuh Bang Atin di atasku menggesekkan perut dan dadanya pada tubuhku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungguh suatu perasaan yang luar biasa sekali. Aku merasakan otot epotku mulai meremas-remas kitang Bang Atin, keadaan ini sangat nikmat sekali. Aku berharap Bang Atin menggerak-gerakkan kitangnya, tetapi dia malah diam saja. Namun rangsangan yang kuterima dari cumbuan-cumbuannya cukup membuat tubuhku menggelinjang hebat hingga sampai aku merasa tubuhku menegang dan pinggulku bergerak liar dan kembali kenikmatan orgasme mulai melandaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika aku tengah menikmati denyutan orgasme itu dengan tiba-tiba aku terkejut dan menjerit, "Auuww, sakiit, oohh," teriakku kuat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kurasakan ada sesuatu yang membelah selangkanganku dan merobek alur epotku. Rupanya Bang Atin menunggu kesempatan ini untuk memasukkan miliknya. Menunggu aku lupa dengan benda yang menunggu di pintu epotku itu. Alangkah perihnya lubang epotku saat itu dan aku merasa ada yang robek. Ketika kulihat ke bawah ternyata pinggul kami sudah menyatu. Bang Atin malah mencari-cari bibirku untuk mendiamkan suaraku dan langsung melumatnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi rasa perih dan pedih itu belum hilang ketika kurasakan Bang Atin mulai menggerak-gerakkan kitangnya di dalam milikku. Mulanya dia hanya gerakkan sedikit saja ke atas dan ke bawah, namun kemudian dia menariknya dan ditekan lagi sedikit. Aku menggigit bibir menahan sakit karena tidak terbiasa menerima benda itu. Semakin lama dia semakin gencar mendorong dan menarik milikknya keluar masuk milikku. Kadang ditekannya kuat-kuat dicabutnya perlahan, kemudian ditekan lagi dengan cepat dan ditariknya dengan cepat pula.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasa milikku itu menguncup dan mengembang seiring keluar masuknya milik Bang Atin. Aku belum bisa menikmatinya karena keterkejutan tadi. Kitang Bang Atin semakin cepat keluar masuk menghajar epotku. Kadang-kadang dia pelintir-pelintir ke kiri dan kanan sehingga rasa perih masih tetap terasa. Kemudian dengus nafasnya semakin cepat saja dan kurasakan tubuhku terasa remuk diobrak-abriknya. Pinggulnya menghantam selangkanganku dengan keras dan bertenaga sekali sehingga bunyi ranjang berderit-derit tak beraturan. Kelambu pun bergoyang goyang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku hanya sanggup mengaduh menahan sakit, aku tidak berani menjerit. Tidak berapa lama Bang Atin mengobrak-abrik epotku dengan kitangnya akhirnya dengan gerakan yang kuat sekali kurasakan tubuhnya menghimpit dadaku dan pinggulnya menekan rapat selangkanganku hingga aku sesak. Ketika itulah kurasakan cairan panas menyemprot dalam epotku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ahh, ahh, Abang telah masukkan obatnya," katanya dengan nafas sesak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian kitangnya masih terus mengeluarkan cairan itu sambil berdenyut-denyut. Aku merasakan cairan itu meleleh ke bibir epotku. Dia masih mendiamkan kitangnya dalam epotku namun aneh aku masih ingin benda itu tetap di dalam. Padahal tadi aku sangat kesakitan sekali. Aku merasakan rangsangan aneh sejak cairan tadi (sperma) menyemprot ke dalam epotku, mungkin aku bergairah kembali. Bang Atin mulai mencabut kitangnya sedikit demi sedikit, tetapi aku sebenarnya tidak rela, namun aku pasrah saja. Bang Atin pun berguling ke samping. Nafasnya masih berbunyi berat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dia tersenyum padaku. Kemudian dia mengatakan bahwa dia senang mengobatiku dan nanti pengobatannya akan dia lakukan lagi. Kemudian aku meraba selangkanganku dan terasa cairan yang sangat banyak sekali. Aku mencoba melihatnya dan aku terkejut karena warnanya bercampur antara putih dan merah darah. Aku kaget dan muncul rasa takut. Namun Bang Atin mengetahui perasaanku. Dia menenangkanku dengan mengatakan bahwa itu biasa saja karena aku masih perawan. Dia katakan bahwa orang perawan kalau dilakukan pengobatan akan mengeluarkan darah sedikit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian dia mengambil selembar kain dan mengelap cairan dan darah yang ada di selangkanganku setelah itu dia pun mengelap cairan yang ada pada kitangnya. Aku melihat kitangnya sudah tidak sebesar tadi lagi. Kemudian dia mencium pipiku kiri dan kanan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Abang keluar kamar dulu, ya? Kamu tunggu saja di sini dan tidurlah!" bisiknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia mengambil handuk dan menyelimuti tubuhku kemudian dia menyingkapkan kelambu dan terus memakai sarung dan singlet. Setelah itu dia berjalan ke pintu dan membukanya serta terus keluar. Kudengar langkah-langkahnya menuju ke perigi belakang rumah. Tidak berapa lama terdengar suara guyuran air, mungkin dia mandi setelah melakukan pengobatan tadi kepadaku. Aku masih menerawang membayangkan apa yang telah kami lakukan, sayang Kakak Antan tidak mengetahuinya karena saat ini mungkin dia masih tidur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku menjadi orang yang benar-benar bingung, bahwa seperti mimpi rasanya menikmati pengobatan tadi dengan perasaan yang senikmatnikmatnya namun kemudian malah berganti dengan rasa perih yang sangat dan saat ini aku masih menginginkan kitang Bang Atin memasuki milikku. Namun akhirnya karena keletihan tersebut aku tertidur. Entah berapa lama aku tertidur, sampai sayup-sayup kudengar suara percakapan dua lelaki di luar. Kudengar suara kakakku berbincang-bincang dengan Bang Atin. Kakakku menanyakan keadaan pengobatanku dan Bang Atin menjawabnya dengan mengatakan bahwa aku baik-baik saja dan akan segera sembuh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kudengar Bang Atin mengatakan bahwa pengobatannya masih ada 2 hari lagi dan selanjutnya nanti biar kakakku yang meneruskan. Setelah beberapa lama tidak ada lagi suara mereka yang kudengar. Kemudian kulihat pintu kamar terkuak dan dari balik pintu muncul Bang Atin dengan memakai kain sarung dan singlet, kemudian dia masuk dan menutup pintu kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Klik," kudengar suara pintu dikunci.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bang Atin menyibakkan kelambu dan naik ke ranjang kemudian dia langsung berbaring di sampingku. Sekilas kulihat dia tersenyum sambil membuka singletnya dan setelah itu dia miring menghadapku. Dia menatap wajahku dengan pandangan lembut yang penuh arti, seperti pandangannya saat mulai mencumbuiku beberapa waktu yang lalu. Aku hanya memandangnya dengan mata sayu. Kemudian dia mengelus pipiku dan membelai rambutku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kakakmu sudah tidur. Katanya dia baru kali ini dapat tidur nyenyak seperti ini," kata Bang Atin menceritakan kakakku, Antan. Memang selama ini aku dan kakakku tidur hanya di beralaskan tikar lusuh saja.&lt;br /&gt;
"Kamu tidak tidur ya? Apa kamu lapar, Munah? Atau kamu mau minum?" tanya Bang Atin kepadaku.&lt;br /&gt;
"Aku mau buang air, Bang," jawabku.&lt;br /&gt;
"Baiklah. Sekarang Abang antar kamu ke belakang," tawar Bang Atin.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tangan Bang Atin menarik lenganku dan mendudukkanku, kemudian dia membelitkan handuk di pinggangku. Diambilkannya bajuku dan disuruhnya kupakai. Aku menurutinya dengan patuh. Selanjutnya ditariknya tanganku untuk turun dari ranjang. Dia menyibakkan kelambu dan terus membimbingku menuju pintu. Aku merasakan perih di selangkanganku yang masih belum hilang. Ketika berjalan aku masih tertatih-tatih dan terpincang-pincang. Di ruang tengah memang kulihat Kak Antan tertidur pulas dengan suara dengkurnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bang Atin rupanya telah menyelimutinya sehingga pantas Kak Antan tertidur nyenyak. Setelah sampai ke perigi aku mengambil segayung air dan mulai buang air. Terasa pedih epotku ketika disirami oleh air kencingku. Mungkin luka karena kitang Bang Atin tadi masih membekas dan belum hilang. Kemudian aku menyiramnya dan semakin terasa perih dan pedih terkena air yang dingin itu. Aku harus menahan rasa itu. Bang Atin menyodorkan sabun kepadaku dan menyuruhku menyabun selangkanganku. Aku mulai mengoleskan sabun dan rasa pedih terpaksa kutahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kamu harus bersihkan dulu, karena nanti Bang Atin akan obati lagi," katanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku tersentak dan terbayang olehku kitang Bang Atin pasti akan mengobrak-abrik lagi epotku yang perih ini. Aku hanya mampu menurut karena aku harus sembuh. Setelah selesai Bang Atin kembali membimbing tanganku untuk kembali ke kamar. Sambil berjalan masih sempat ku melirik kakakku yang tertidur. Bagaimana reaksi kakakku nanti seandainya dia tahu Bang Atin mengobatiku seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah membuka pintu kami pun masuk ke kamar dan Bang Atin langsung mengunci pintu. Sambil berjalan ke arah ranjang kulihat Bang Atin langsung menaggalkan sarungnya, dan terpacaklah kitangnya yang besar itu. Rupanya kitangnya kembali besar seperti saat dia mengobatiku tadi. Kemudian dilepasnya singletnya, sementara itu aku terus naik ranjang dan segera berbaring. Aku siap untuk menerima pengobatan lagi oleh Bang Atin. Bang Atin segera menaiki ranjang dan langsung merangkak ke atasku. Kitangnya yang besar tadi benar-benar mencanak dan mengarah ke selangkanganku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segera dia melepaskan lilitan handukku dan dia mulai membuka kancing-kancing bajuku. Nafasku kembali sesak dan rasa cemas kembali menghantui. Sambil menolong membukakan bajuku kurasakan tubuh bagian bawahku sudah ditindihnya. Kitangnya sudah terjepit selangkanganku. Bulu romaku pun berdiri merasakan kegelian akibat sentuhan-sentuhan Bang Atin itu. Sekarang aku berada dalam dekapan eratnya. Dia membisikkan kata-kata bahwa dia sangat senang dapat mengobatiku dan katanya dia ingin terus melakukannya selama tiga hari ini. Sambil mendekap erat tubuhku, bibirnya mulai melumat-lumat bibirku yang membuatku merasa sesak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian lidahnya menyapu lembut pipi dan leherku dan terus ke arah telingaku dan menjolok-jolok lubang telingaku yang membuatku menggelinjang hebat. Pinggulnya pun digerak-gerakkan sehingga kitangnya yang terasa hangat itu menggesek-gesek milikku. Perasaan tubuhku saat itu dilanda kegelian yang sangat. Setelah puas memainkan bibir dan lidahnya di wajah dan telingaku, kemudian dia beralih ke payudaraku. Puting kiri dan kananku jadi bulan-bulanan Bang Atin. Kadang-kadang dihisapnya kuat-kuat kadang-kala diremas-remasnya. Semua perlakuan Bang Atin terhadap itup (puting)ku itu membuatku menggelinjang dan menahan rasa gatal yang amat sangat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasa epotku telah basah karena rangsangan tadi, namun Bang Atin masih belum puas menyonyot payudaraku. Dia masih sibuk meremas dan memilin-milin. Aku rasanya tak sanggup lagi menahan dan ingin segera agar kitang Bang Atin kembali mengobati epotku. Aku mendesis-desis dan akhirnya aku beranikan diri berkata kepada Bang Atin yang selama ini aku hanya diam saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Bang, Munah tidak tahan. Munah ingin diobati lagi," pintaku padanya.&lt;br /&gt;
"Oh iyya, tentu Munah," jawabnya segera dan dia langsung mendongakkan kepalanya dan tersenyum kepadaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
To be Continued</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">1</thr:total></item><item><title>Romance of Two Brothers - 4</title><link>http://indonesiahotstories.blogspot.com/2009/11/romance-of-two-brothers-4.html</link><category>Hot Stories</category><author>noreply@blogger.com (super soccer)</author><pubDate>Mon, 2 Nov 2009 15:44:00 +0700</pubDate><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-1865751094759452973.post-7995669646316043868</guid><description>Romance of Two Brothers - 4&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku mendengar lenguhan nafasnya yang keras dan membuatku seperti senang begitu saja. Aku betul-betul terpedaya dengan perlakuan yang diberikan oleh Bang Atin. Aku tidak tahu apakah kakakku di luar mendengar atau tidak suara kami di kamar itu apalagi suara derit ranjang kayu itu. Perlahan kemudian jemari Bang Atin berpindah menyusuri perutku ke bawah dan kemudian naik lagi ke atas dan begitu berulang-ulang hingga aku merasakan sesuatu yang enak di pangkal pahaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Dik, ini kamu tahu namanya?" tanyanya padaku ketika tapak tangannya ditempelkan pada gundukan pangkal pahaku.&lt;br /&gt;
"Itu tempat kencing aku Bang," jawabku karena memang aku belum tahu namanya.&lt;br /&gt;
"Ya, namanya epot, dan gunanya bukan untuk kencing saja," terangnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku diam sambil menunggu gerakan tangannya yang kurasa semakin berkurang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Abang akan tunjukkan cara menggunakannya dan pasti kamu senang," katanya lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian kurasakan tangannya mulai mengelus-elus milikku itu yang baru ditumbuhi bulu-bulu halus tersebut. Aku merasa sensasi yang aneh dan nikmat. Sesekali ujung jemarinya menyentuh lubang vaginaku dan terasa sangat geli sekali. Ada rasa pancaran energi kejutan listrik yang muncul saat itu. Kemudian Bang Atin kulihat membuka kain sarungnya dan kulihat dari selangkangnya keluar benda besar panjang. Aku terpana melihatnya dalam keremangan cahaya saat itu. Aku terkejut ketika tangannya mencoba mengangkat tanganku dan meyentuhkannya ke batang besar tadi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Oh, tidak apa-apa Munah, ini namanya Kitang, milik laki-laki," katanya.&lt;br /&gt;
"Kitang Abang ini gunanya untuk mengobati kamu," tambahnya lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku diam dan mencerna kata-katanya. Aku merasa benda itu panas dan berdenyut, tetapi aku tidak menggenggamnya karena aku masih gugup. Akh, aku tidak mampu berpikir logis lagi. Aku percayakan saja kepadanya. Kemudian Bang Atin menggeser posisinya. Dia merangkak di atasku dan kulihat benda besar itu tergantung keras di atas pinggangku. Kemudian dia merendahkan kepalanya dan aku hanya pasrah sambil memejamkan mata.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tiba-tiba kudengar dengus nafasnya semakin dekat saja dan kurasakan mulutnya mulai melumat bibirku. Aku semakin terkejut dan seperti tersengat arus listrik saja. Beberapa kali bibirnya melumat-lumat bibirku, kadang-kadang lidahnya menerobos masuk menyapu-nyapu langit-langit rongga mulutku. Aku merasa kegelian sangat. Tiba-tiba ujung lidahnya menggoyang-goyang lidahku. Aku semakin terpana dan merasa semakin aneh dengan itu. Aku merasa tubuhnya semakin rendah saja dan akhirnya kurasakan semakin merapat ke badanku dan terasa sudah menindih tubuhku. Dadaku serasa sesak dan degup nafasku hampir tak terkendali lagi.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku merasakan ada sesuatu yang membelah celah pahaku yang terasa panas dan lembut. Aku berpikir mungkin itu benda besar tadi yang dikenalkannya dengan nama "kitang" Bibirnya masih tetap menggumuli mulutku. Tidak henti-hentinya lidahnya menyapu tenggorokanku dan aku pun mulai mencoba untuk menggerakkan lidahku mencari rasa yang lebih enak. Kadang-kadang dia mengisap lidahku hingga aku merasa seakan putus saja namun kemudian dilepasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara itu tangannya merengkuh punggung ku, dan menghimpitkan dadaku dengan dadanya. Sedangkan benda yang dibawah tadi berdenyut-denyut dan semakin panas saja. Aku semakin tersiksa ketika dia mulai menggerakkan pahanya menggeser-geser pahaku. Rasa yang aneh lagi muncul pada gundukan epotku itu, akhirnya kutahu itu yang namanya terangsang berat. Kitangnya mulai menyundul lubang epotku dan terasa enak sekali. Kemudian seluruh tubuhnya kurasakan bergerak-gerak di atasku yang menimbulkan rangsangan hebat pada bibirku, dadaku dan tentu saja epotku. Aku merasa diriku tidak terkendali lagi, bergerak ke kiri dan kanan menahan kenikmatan yang pertama itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara suara derit ranjang semakin menjadi-jadi dan kelambu pun bergoyang-goyang serta enguh nafas Bang Atin dan aku pun tidak beraturan lagi. Tubuhku bergetar hebat dan pinggulku menghentak-hentak dan aku merasakan seakan mau pipis yang tertahan. Sensasi yang tidak terbendung akhirnya kualami, tubuhku menegang dan akhirnya lemas setelah menghentak-hentak sejadi-jadinya. Rupanya aku telah mengalami yang namanya orgasme pertama dalam hidupku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bang Atin melepaskan kuluman bibirnya dan aku pun lega dapat bernapas kembali, namun dia masih tetap di atasku. Aku masih merasakan benda itu dicelah pahaku yang kurapatkan. Kulihat Bang Atin tersenyum kepadaku. Aku merasakan itu suatu senyuman indah yang merasuki hatiku. Mungkin adalah senyuman kemenangan baginya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Munah, kamu pasti tadi rasakan nikmat sangat, bukan?" tanyanya padaku.&lt;br /&gt;
"Ehm, ya," jawabku sambil menahan deru nafasku yang belum normal.&lt;br /&gt;
"Masih ada kenikmatan lain yang harus kau dapatkan," katanya lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku terdiam dan kucoba mencerna kata-katanya. Kenikmatan macam apa lagi yang akan diberikannya. Namun kemudian dia berguling dan dengan cepat dia menyambar handuk dan melilitkannya di pinggangnya. Selanjutnya dia turun dari ranjang dan menyibakkan kelambu serta terus keluar. Aku masih terdiam dan perlahan kuraba-raba tubuhku, hingga aku tersadar bahwa aku rupanya telanjang bulat. Aku mencoba membuka pikiran dan akhirnya aku ingat kakakku, Antan, yang tidur di luar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku pun duduk dan segera kuambil handukku, kulilitkan dipinggangku. Aku menyibakkan kelambu dan suara derit ranjang pun bergema kembali dan aku terus berjalan ke dekat pintu, rencanaku akan keluar melihat kakakku. Tiba-tiba Bang Atin sudah kembali masuk dan aku terkejut ketika kami hampir bertabrakan di pintu. Secepat kilat Bang Atin memelukku dan berbisik kepadaku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Ayo ke dalam lagi, kakakmu masih tidur pulas!" ajaknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku terpaksa menurut saja. Dengan cekatan dia mengangkatku dan menggendongku ke ranjang. Kulihat dia menanggalkan handuknya dan melemparkannya ke lantai, kemudian giliran handukku yang dilemparkannya ke lantai. Jadilah aku kembali bugil di hadapannya. Aku beranikan mataku yang sayu menatapnya dan kulihat matanya tajam seperti ingin memakanku hingga timbul juga rasa ngeriku. Namun dia menenangkanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
"Kamu jangan takut, Abang tadi janji akan mengobatimu," bisiknya.&lt;br /&gt;
"Sebentar lagi Abang akan gunakan kitang Abang mengobatimu, dan kamu akan merasa senang," tambahnya lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku kembali pasrah ketika mulutnya mulai mengulum bibirku, terus dilumatnya dan semakin lama mulutnya kurasakan berpindah ke leherku dan melumuri leherku kiri dan kanan. Aku merasakan kegelian seperti tadi yang mulai melanda. Kemudian dia menaikiku dan menindihku kembali. Benda panas tadi kembali membelah celah pahaku. Bibirnya terus bergerak ke bawah dan berlabuh di itupku sebelah kanan, sementara jemari kirinya memutar-mutar itup kiriku. Begitu lama mulutnya bersarang di situ sambil menyedot-nyedot itupku. Aku sempat berpikir mungkin itu cara pengobatan supaya payudaraku mengecil. Tetapi aku heran kenapa pengobatannya menjadi enak begini.&lt;br /&gt;
&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--
google_ad_client = "pub-6738856414758845";
/* 468x60, dibuat 09/11/07 */
google_ad_slot = "2568847730";
google_ad_width = 468;
google_ad_height = 60;
//--&gt;
&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;
&lt;script type="text/javascript"
src="http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js"&gt;
&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;
To Be Continued...</description><thr:total xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0">0</thr:total></item></channel></rss>