<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="no"?><rss xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:blogger="http://schemas.google.com/blogger/2008" xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" xmlns:openSearch="http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/" xmlns:thr="http://purl.org/syndication/thread/1.0" version="2.0"><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-7718341072864739011</atom:id><lastBuildDate>Wed, 04 Feb 2026 13:11:00 +0000</lastBuildDate><category>momentum</category><category>renungan</category><category>tasawuf</category><category>syari'ah</category><category>artikel</category><category>filsafat</category><category>About-Me</category><category>tafsir</category><category>teologi</category><category>photo</category><category>Kajian Tokoh</category><category>kisah inspiratif</category><category>jurnal ilmiah</category><category>moderasi</category><title>INFO WIYONO</title><description>Belajar Tulis-Baca</description><link>http://www.mwiyono.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (M. Wiyono)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>130</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><language>en-us</language><itunes:explicit>no</itunes:explicit><itunes:subtitle>Belajar Tulis-Baca</itunes:subtitle><itunes:owner><itunes:email>noreply@blogger.com</itunes:email></itunes:owner><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7718341072864739011.post-8526572132736087055</guid><pubDate>Mon, 09 Jun 2025 04:48:00 +0000</pubDate><atom:updated>2025-06-09T11:48:52.815+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">artikel</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">jurnal ilmiah</category><title>Guru di Simpang Jalan Literasi dan Administrasi</title><description>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj-Xyh4k_4LINa5hxa7pAIqikvMoVoapOEwMgn0PCr151ynUWPs412i2Js0ZwSN-PQa-p-ft6nHwjzFNhZHAHXwEo_3Qr4ei7tuQ-ZEJmsg_SDlhPYUCwyOJ95U3DNrb6XJU2G8kvFFh3WuMqQt0KqaPBNx14hPYyhFkIcvGcK2nYTFjb3nQKekkigDdbL_/s320/mwiyonoCom.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="200" data-original-width="320" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj-Xyh4k_4LINa5hxa7pAIqikvMoVoapOEwMgn0PCr151ynUWPs412i2Js0ZwSN-PQa-p-ft6nHwjzFNhZHAHXwEo_3Qr4ei7tuQ-ZEJmsg_SDlhPYUCwyOJ95U3DNrb6XJU2G8kvFFh3WuMqQt0KqaPBNx14hPYyhFkIcvGcK2nYTFjb3nQKekkigDdbL_/s1600/mwiyonoCom.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: #999999;"&gt;Terbit, Februari 2025&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran guru sangat dibutuhkan oleh
setiap bangsa dalam kerangka mencetak generasi penerus yang handal, di pundak mereka
nasib bangsa ditentukan. John Dewey menekankan pentingnya pendidikan menjadi
alat utama dalam membangun masyarakat maju. Dalam hal ini guru punya peran strategis
menelurkan warga negara yang inovatif, produktif, kritis dan berdaya saing.
Senada dengan teori perubahan sosial melalui pendidikan yang digagas Emile
Durkheim yang mengatakan bahwa pendidikan adalah alat utama dalam membangun
kohesi sosial dan integrasi masyarakat. Pendek kata, guru merupakan pilar utama
dalam membangun kemajuan bangsa. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kalau pembaca yang budiman setuju
dengan mukaddimah di atas, berarti negara seharusnya selektif memilih guru dan
memberi ruang pengayaan wawasan terhadap semua guru supaya &lt;i&gt;up to date&lt;/i&gt; fokus
tidak pecah dalam proses transformasi pengetahuan kepada anak didiknya. Namun
faktanya tidak demikian, masih banyak guru yang disibukkan dengan administrasi
yang menyita waktu. &lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pagi-pagi, penulis garis bawahi,
tulisan ini bukan bentuk peng-abai-an terhadap pentingnya administrasi guru, karena
admninistrasi menciptakan efisiensi kerja, evaluasi siswa, profesionalisme dan
kordinasi dengan orang tua. Tapi bila terlalu banyak dan bertele-tele dengan
hal-hal yang bersifat administratif, bukan tidak mungkin menyebabkan defisit
waktu untuk membaca. &lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Seyogyanya guru menjadi pembaca
buku yang ‘rakus’ terhadap pengetahuan dan tidak cepat puas dengan penguasan
meteri bahan ajar saja, melainkan meningkatkan perkembagan diri melalui banyak membaca,
selain pengayaan wawasan juga sebagai teladan untuk siswa-siswinya, sesuai
adagium Jawa guru itu &lt;i&gt;digugu dan ditiru&lt;/i&gt;. &lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sungguh memprihatinkan baca di
Indonesia. Berdasarkan data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia tergolong
rendah, &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;menempati peringkat ke-60 dari
61 negara, sekitar 0,001% dari populasi yang gemar membaca, atau 1 dari 1.000
orang. Perkara seperti ini harus mendapat perhatian serius dari semua elemen
bangsa.&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apabila bangsa se-kaya Indonesia dengan
anugerah sumber daya melimpah, serta bonus demografi yang dimiliki tidak
dikelolah dengan baik, maka kelak akan menjadi bumerang bagi bangsa itu sendiri.
Bukan rahmat didapat melainkan laknat. &lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dahulu saya pernah mendengar pidato
BJ. Habibie yang mengatakan bahwa rakyat yang banyak satu sisi anugerah, tetapi
bila salah kelolah akan menjadi prahara bagi bangsa itu sendiri, karena
masyarakat yang banyak secara otomatis kebutuhan logistiknya besar dan rentan
masalah. Oleh sebab itu butuh SDM yang kreatif, inovatif dan bijak.
Pengkaderannya adalah sejak dibangku sekolah dan tumpuan harapannya adalah
kualitas guru.&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Berbagai strategi diupayakan,
perpustakaan didirikan, bahan ajar dicetak, kontennya dibuat semenarik mungkin,
namun kadang dilupakan, bahwa minat baca murid harus diimbangi minat baca guru,
bila minat baca guru rendah secara otomatis minat baca murid ikut rendah. Ingat
bahwa Hasil penelitian John Hattie seorang profesor dari Australia sekaligus
peneliti dalam penelitiannta menunjukkan bahwa guru adalah faktor terpenting
dalam keberhasilan siswa.&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sudah bukan rahasi ada sekian
banyak guru mengeluh bukan karena kegiatan belajar mengajar melainkan terlalu
disibukkan dengan segudang tugas administrasi yang harus diisi, hal ini menyita
konsentrasi guru dalam pengajaran, antara lain, program tahunan, laporan
program semester, silabus, analisis kopentensi, prosedur penilaian, RPP, jurnal
guru, buku presensi, daftar nilai, pembuatan modul, pembuatan soal dan lain
sebagainya. Belum lagi tuntutan administrasi dari lembaga dimana guru
ditempatkan. Jadi, sebenanrnya aktifitas guru tidak hanya pada proses mengajar,
melainkan guru juga harus melaksanakan evaluasi yang holistik dan formatif. &lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mantan Menteri Pendidikan Nadiem
Makarim juga pernah menyampaikan hal ini terkati dengan beban administrasi,
menurutnya "Tantangan lain yang sampai hari ini masih sering menjadi
kendala peningkatan mutu pendidikan adalah tugas-tugas administrasi yang harus
diselesaikan guru dan kepala sekolah," (Kamis, 20 Mei 2021)&lt;/p&gt;

&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; font-size: 12.0pt; mso-ansi-language: EN-ID; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-font-size: 11.0pt; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;Untuk
menjadi model guru sesuai yang diharapkan, dibutuhkan solusi yang salah satunya
adalah&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;mengurangi beban administratif,
di era modern ini seharusnya informasi bisa digali dengan cepat dan akurat
tanpa harus mengumpulkan bukti yang juga terkadang karya editan..Bila guru masih
dihadapkan dengan sederet aturan administrasi, lebih-lebih yang bersifat formil
maka fokus mengajar dan pengembangan diri berkurang sedang beban administrasi
terus menghantui&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.mwiyono.com/2025/06/guru-di-simpang-jalan-literasi-dan.html</link><author>noreply@blogger.com (M. Wiyono)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj-Xyh4k_4LINa5hxa7pAIqikvMoVoapOEwMgn0PCr151ynUWPs412i2Js0ZwSN-PQa-p-ft6nHwjzFNhZHAHXwEo_3Qr4ei7tuQ-ZEJmsg_SDlhPYUCwyOJ95U3DNrb6XJU2G8kvFFh3WuMqQt0KqaPBNx14hPYyhFkIcvGcK2nYTFjb3nQKekkigDdbL_/s72-c/mwiyonoCom.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7718341072864739011.post-2258698035120808240</guid><pubDate>Mon, 09 Jun 2025 04:36:00 +0000</pubDate><atom:updated>2025-06-09T11:36:49.172+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">renungan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">tasawuf</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">teologi</category><title>Kurban sebagai Simbol Abadi antara Ritual dan Spiritual</title><description>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbzlRL7lQzNawzmd6Y3chxnuDOpRXRT7lJ8ib8mrGLLELno6xkXytz3culPKY8DD0Fe_hx9Jfq2caeMIaAx0TeDtnKQQE_vwDwUpAhHNlAUgt6lHDv97bzTqz7uikbgP55Qa5-fiIraKFTZeQ6tRl2UaQpY9e0hGVE6POcHs6QuW61NwgQJRMbUuUSjQm-/s320/kurban-1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="momentum kurban 2025" border="0" data-original-height="200" data-original-width="320" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbzlRL7lQzNawzmd6Y3chxnuDOpRXRT7lJ8ib8mrGLLELno6xkXytz3culPKY8DD0Fe_hx9Jfq2caeMIaAx0TeDtnKQQE_vwDwUpAhHNlAUgt6lHDv97bzTqz7uikbgP55Qa5-fiIraKFTZeQ6tRl2UaQpY9e0hGVE6POcHs6QuW61NwgQJRMbUuUSjQm-/w320-h200/kurban-1.jpg" title="momentum kurban 2025" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="color: #999999;"&gt;Momentum kurban 2025&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Ada dua momen besar yang melekat dengan 10 Dzulhijjah yakni haji dan &lt;a href="https://www.mwiyono.com/2016/08/menegaskan-kurban-sapi-untuk-tujuh-orang.html"&gt;kurban&lt;/a&gt;. Keduanya bukan sekadar rangkaian prosesi atau sekadar formalitas tahunan tetapi keduanya ibadah yang sarat simbolik dan kaya makna.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pertama, haji tanpa pemahaman yang mendalam, bisa berubah menjadi sekadar safari biasa, bahkan ada yang sibuk selfie dan memotret Ka'bah. Haji menjadi wisata religius yang melelahkan tubuh tapi tidak menggugah ruh. Seperti itu pula kalau tawaf dilakukan tanpa perenungan, maka tak jauh beda dengan mengitari tumpukan batu yang disusun menjadi rumah tua. Padahal kandungan dalam ibadah tawaf sangat mendalam.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kedua, &lt;a href="https://www.mwiyono.com/2024/05/kewajiban-berkurban-bagi-orang-muslim.html"&gt;berkurban&lt;/a&gt;. Kurban adalah puncak pembuktian ujian cinta dipersimpangan jalan, antara cinta harta dengan cinta terhadap perintah Allah ta’ala. kurban tidak semata-mata tentang apa yang telah dilepaskan, tetapi bagian dari menyerahkan kepemilikan yang semu kepada Allah yang maha abadi.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kalau kita menyisir lembaran sejarah, sebenarnya ibadah kurban sama tuanya dengan usia manusia di alam persada ini, yaitu ketika putra Adam as diperintah berkurban, namun dalam perjalanan sejarah, kurban mengalami penyelewengan dimana kurban berwujud manusia, di  suku Aztec di Mexico mempersembahkan jantung manusia kepada dewa matahari. Di Kanaan (Irak kuno), bayi-bayi ditumbalkan untuk dewa Ba’al. Bangsa Viking mengorbankan tokoh agama untuk dewa perang mereka yakni dewa Odion, Sementara di Mesir kuno, gadis-gadis cantik ditenggelamkan sebagai sesajen bagi Dewi Sungai Nil.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Puncaknya adalah ketika Nabi Ibrahim as diperintah menyembelih putra semata wayangnya saat usia bocah yang sedang lucu-lucunya. Beliau lakukan tanpa tawar-menawar. Kemudian digantikan domba dari surga. Digantikannya Isma’il dengan domba bukan berarti Tuhan berubah ‘pikiran’ melainkan demikian kasihnya Tuhan sekaligus menjadi jawaban bahwa manusia terlalu mahal untuk dikurbankan, bahkan untuk pengabdian sekalipun.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Maka, bagaimana bisa manusia dikorbankan demi ambisi dunia, uang, kekuasaan terlebih untuk keuntungan pribadi? Ketika cinta pada dunia membuat seseorang tega mengorbankan sesamanya, saat itulah ia jatuh ke dalam kehinaan paling bawah.
Jadi, kurban bukan sekadar sembelihan, bukan tentang jumlah daging yang dibagikan, melainkan tentang keberanian meletakkan apa yang paling kita cintai di hadapan Allah. Bukan tentang daging yang terbagi, tetapi hati yang berserah.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di hadapan Allah, yang diterima bukan bentuk, darah atau dagingnya karena Allah bukan dewa yang haus darah atau seperti singa yang keranjingan makan daging mentah. Melainkan esensinya adalah ketaqwaannya.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang &lt;span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu…&lt;/i&gt; (QS. Al-Hajj: 37)&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di sinilah semua umat Islam tidak membiarkan 10 Dzulhijjah berlalu hanya sebagai tanggal merah, melainkan sebagai panggilan langit bagi hati yang bersedia disucikan, sebab yang Allah terima bukan darah dan daging, tapi ketakwaan dan kerelaan yang mengiringinya.
&lt;/p&gt;</description><link>http://www.mwiyono.com/2025/06/kurban-sebagai-simbol-abadi-antara.html</link><author>noreply@blogger.com (M. Wiyono)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbzlRL7lQzNawzmd6Y3chxnuDOpRXRT7lJ8ib8mrGLLELno6xkXytz3culPKY8DD0Fe_hx9Jfq2caeMIaAx0TeDtnKQQE_vwDwUpAhHNlAUgt6lHDv97bzTqz7uikbgP55Qa5-fiIraKFTZeQ6tRl2UaQpY9e0hGVE6POcHs6QuW61NwgQJRMbUuUSjQm-/s72-w320-h200-c/kurban-1.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>South Tangerang, South Tangerang City, Banten, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-6.2835218 106.7112933</georss:point><georss:box>-15.809273447269508 89.1331683 3.2422298472695088 124.2894183</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7718341072864739011.post-103092562632433681</guid><pubDate>Tue, 03 Jun 2025 05:08:00 +0000</pubDate><atom:updated>2025-06-03T14:27:40.726+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">kisah inspiratif</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">momentum</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">renungan</category><title>Jejak yang Tak Mati: Ziarah ke Pusara Para Wali</title><description>&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgRyTBl4qQQ5vQexn1cb-goStwnP6Fptf_GTkKsfTviq7IoDD5cl0kkgEqyOEwXN-5BNa5Lcl1UctEJKSFydhU7ue-g5O2_JkHcxTzdsm-wo8lG9XZtLKzJY1CPT-agch4YACsCTqaK0eCSSBVaB21WGPX9_gvTH1OzwnFYxq7p-9W0St3K-GyIPzkWAk9-/s719/ziara6.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="719" data-original-width="547" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgRyTBl4qQQ5vQexn1cb-goStwnP6Fptf_GTkKsfTviq7IoDD5cl0kkgEqyOEwXN-5BNa5Lcl1UctEJKSFydhU7ue-g5O2_JkHcxTzdsm-wo8lG9XZtLKzJY1CPT-agch4YACsCTqaK0eCSSBVaB21WGPX9_gvTH1OzwnFYxq7p-9W0St3K-GyIPzkWAk9-/s320/ziara6.jpg" width="243" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Kawasan makam Sunan Ampel&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&amp;nbsp;Kemarin, tiga hari lamanya menembus gelap malam menerjang teriknya siang bolong berziarah ke makam-makam wali di Jatim, tak kurang dari tujuh belas titik yang sengaja kami ziarahi. Ada banyak hal penting yang perlu dikenal dan diambil ‘ibrah dari perjalanan religi tersebut.&amp;nbsp;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ziarah bukan sekadar langkah kaki menuju tanah sunyi, bukan sekedar menunduk di hadapan batu nisan dan harum bunga setaman. Ziarah menjadi perjalanan spiritual dengan kaki  menapak lembut di antara tanah dan langit, relung fikiran kita berada antara fana dan abadi.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di sana, di balik pusara, tersimpan sejarah jiwa-jiwa besar yang telah menyelesaikan tugas sucinya: menjadi hamba Allah seutuhnya, menjadi cahaya di tengah gelapnya dunia.
Ziarah ke makam para wali, bukan sekadar mengingat kematian yang pasti, tetapi juga menyaksikan bukti, bahwa hidup bisa berakhir tanpa benar-benar mati. Bahwa ada manusia,
yang amalnya menjelma harum, yang namanya dikenang bukan karena dunia,
tetapi karena cintanya kepada Yang Maha Esa.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Makam para wali adalah monumen hidup, situs keabadian yang disingkap oleh Allah kepada mereka yang ingin mencari arah. Ia bukan berhala yang disembah, tetapi pelita yang menuntun, bahwa manusia bisa menjadi mulia, bila hidupnya untuk Allah semata.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Lihatlah, berapa banyak kaki melangkah ke sana, bukan untuk menyembah, tapi untuk berharap: agar hatinya diberi bara yang sama, bara cinta yang membakar dunia demi akhirat,
bara dzikir yang menembus malam-malam dingin, bara amal yang tak haus pujian.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Ziarah adalah pelajaran tanpa suara. Ia mengajarkan bahwa hidup ini bukan tentang panjang usia, tetapi tentang bagaimana meninggalkan jejak yang tak dilupa. Bahwa ada ruh-ruh mulia yang tubuhnya telah kembali ke tanah, tapi inspirasinya terus hidup,
mengalir dalam doa, dzikir, dan air mata.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Maka, wahai diri…ketika engkau bersimpuh di depan pusara para wali, jangan sekadar menunduk. Bangkitkan hatimu.Tanyakan pada dirimu sendiri: Apakah aku sedang berjalan di jalan yang sama? Ataukah hanya singgah sebagai tamu tanpa tujuan?
Karena sungguh, makam para wali bukan sekadar tempat, tetapi cermin jiwa yang mengingatkan, bahwa menjadi hamba yang dicintai Allah itu nyata, dan bisa diraih—
bila hidup ini benar-benar untuk-Nya.
&lt;/p&gt;</description><link>http://www.mwiyono.com/2025/06/jejak-yang-tak-mati-ziarah-ke-pusara.html</link><author>noreply@blogger.com (M. Wiyono)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgRyTBl4qQQ5vQexn1cb-goStwnP6Fptf_GTkKsfTviq7IoDD5cl0kkgEqyOEwXN-5BNa5Lcl1UctEJKSFydhU7ue-g5O2_JkHcxTzdsm-wo8lG9XZtLKzJY1CPT-agch4YACsCTqaK0eCSSBVaB21WGPX9_gvTH1OzwnFYxq7p-9W0St3K-GyIPzkWAk9-/s72-c/ziara6.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7718341072864739011.post-5994913252491720592</guid><pubDate>Wed, 01 Jan 2025 15:34:00 +0000</pubDate><atom:updated>2025-01-03T22:48:08.044+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">filsafat</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">renungan</category><title>Belanja Kebaikan di Tahun 2025</title><description>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh8_dJdwkT3pEMBwDZGeVri4QegNcPat5GbXMBTB3nYSPD7CGDD4dcI5SgAXn9rS6shsHkxDjtWUKQdMrVOardWuTPVZxKfmLPavqQ0g3DVRZ0LdUwaed8swUo44oPd-G8XXJM3oqsjQ2r_g0Lt7WmdXGW6BlaPXdzueeBv_L4Vz7UyGWNdDEXRsOtNjvP_/s320/pngtree-2025-.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="200" data-original-width="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh8_dJdwkT3pEMBwDZGeVri4QegNcPat5GbXMBTB3nYSPD7CGDD4dcI5SgAXn9rS6shsHkxDjtWUKQdMrVOardWuTPVZxKfmLPavqQ0g3DVRZ0LdUwaed8swUo44oPd-G8XXJM3oqsjQ2r_g0Lt7WmdXGW6BlaPXdzueeBv_L4Vz7UyGWNdDEXRsOtNjvP_/s16000/pngtree-2025-.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Saya tidak mau pusing berdebat soal definisi waktu, selain abstrak, waktu juga tidak memiliki pengertian tunggal, tergantung dari perspektif apa waktu didefinisikan. Yang jelas ada waktu psikologis apa yang biasanya dipikirkan orang ketika mereka bertanya apakah &lt;a href="https://www.mwiyono.com/2015/05/muhasabah.html"&gt;waktu hanyalah konstruksi pikiran&lt;/a&gt;, ada pula waktu fisik atau sering disebut waktu objektif dan waktu ilmiah.&amp;nbsp;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Terbukti sehari saat pesta dengan sehari di penjara secara ilmiah durasinya sama, tetapi dalam persepsi psikologis yang menjalaninya pasti berbeda. Saat pesta terasa singkat tetapi saat di penjara terasa sangat lama sekali, itulah perbedaan yang dapat dirasakan. Secara ilmiah saat ini kita telah ditakdirkan Tuhan menghirup udara tahun 2025, meski secara psikologis tidak atau belum merasakan perbedaannya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam konteks perjalanan hidup ini –tentu yang dimaksud adalah waktu ilmiah--kita bisa menganalogikan usia bagaikan modal untuk belanja kebaikan yang akan dibawa ke alam baka. Setiap individu diberi modal yang berbeda-beda. Ada yang modalnya 50 tahun, 60 tahun bahkan sampai 90 tahun lebih. Namun perlu diperhatikan bahwa keuntungan tidak tergantung besar atau kecilnya modal, melainkan dari kalkulasi nilai barang yang diperoleh dari aktivitas yang dikerjakan. Modal lima juta menjadi sepuluh juta itu lebih baik daripada modal seratus dikembangkan menjadi seratus dua puluh juta. Begitu pula usia, usia 50 tahun dengan seribu kebaikan itu lebih baik daripada satu abad dengan seribu lima ratus kebaikan.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dengan demikian, dapat disimpulkan sementara bahwa waktu merupakan kekayaan yang tidak bisa direnovasi, apabila waktu telah rusak maka rusak dan berakhirlah sebuah babak permainan (&lt;i&gt;end game&lt;/i&gt;). Oleh karena itu agama mengingatkan betapa pentingnya waktu. Kalau kita menyisir lembaran Al-Qur'an akan ditemukan aneka ragam sumpah yang dikaitkan dengan waktu seperti demi waktu fajar, demi waktu subuh, demi waktu dhuha, demi siang, demi malam dan masih sederet ayat ayat Al-Qur'an yang membincang seputar persoalan waktu.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Durasi 24 jam yang kita jalani dipergunakan untuk beraktifitas seperti ibadah, makan, minum, menonton film, bercanda, main dan lain-lain merupakan investasi untuk masa depan, aktifitas baik akan mendapat balasan kebaikan, karena hidup ini menggunakan prinsip siapa yang menabur benih dialah yang berpeluang memanen, siapa yang berbuat ia harus menanggung akibatnya. Semua penggunaan waktu merupakan investasi untung rugi di hadapan Allah, kelak ada pertanggungjawabannya. Rasulullah saw bersabda;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&amp;nbsp;لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أربع: عن عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Artinya, “Dua kaki seorang hamba tidak akan bergerak (pada hari kiamat) sampai dia ditanya tentang empat hal; tentang umurnya, ke mana dihabiskan; terkait ilmunya, apakah yang telah dilakukan dengan ilmu yang dimilikinya; soal hartanya, dari mana ia memperolehnya dan di mana dibelanjakan; dan tentang tubuh badannya, untuk apa ia gunakan.” (HR at-Tirmidzi)&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Perjalanan waktu detik demi detik, menit dan jam berganti hingga hari, bulan berganti bulan dan tahun pun berganti tahun, bagaikan titik demi titik yang membentuk sebuah gugusan garis yang solid. Kehadiran kita di tahun baru ini merupakan hal penting untuk disyukuri, karena masih punya kesempatan untuk belanja kebaikan yang lebih banyak lagi.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Saya berharap di tahun ini lebih baik dan lebih beruntung dari tahun sebelum-sebelumnya. Orang beruntung adalah dia yang hari ini lebih baik dari hari kemarin dan esok lebih baik dari sekarang. Saya berharap dipertemukan dengan orang orang yang mengisnpirasi, tidak ruwet dan tidak baper serta dipertemukan orang-orang yang kehadirannya memacu &lt;a href="https://www.mwiyono.com/2016/02/berkarya-kemudian-menyejarah.html"&gt;iman dan taqwa serta berkarya&lt;/a&gt;. Di tahun ini juga semoga lebih tekun menyelesaikan beberapa buku sebagai asupan bergizi untuk ruhani serta mencerdaskan dan menyehatkan. Semoga Allah mengabulkan… amiin.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selamat tinggal 2024…
&lt;/p&gt;</description><link>http://www.mwiyono.com/2025/01/belanja-kebaikan-di-tahun-2025.html</link><author>noreply@blogger.com (M. Wiyono)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh8_dJdwkT3pEMBwDZGeVri4QegNcPat5GbXMBTB3nYSPD7CGDD4dcI5SgAXn9rS6shsHkxDjtWUKQdMrVOardWuTPVZxKfmLPavqQ0g3DVRZ0LdUwaed8swUo44oPd-G8XXJM3oqsjQ2r_g0Lt7WmdXGW6BlaPXdzueeBv_L4Vz7UyGWNdDEXRsOtNjvP_/s72-c/pngtree-2025-.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7718341072864739011.post-1166647730390862189</guid><pubDate>Sat, 04 May 2024 09:28:00 +0000</pubDate><atom:updated>2024-05-04T16:28:55.660+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">syari'ah</category><title>Kewajiban Berkurban Bagi Orang Muslim</title><description>&lt;p&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh8B6XwDJXAQImFysPmaY37ccTrvhF6XC9Fvyne3_rKgD7dl80bI2GxdvHaMZNgRXrD1Yel_vBsAy_JlTRxlUjAOsTWz1g4oRvQSRU0ydZeJbPEItChk0jnj7axeF8NS76CyOgFiMIMEu8kYhF-Wmqi9AGFQHsFdm-6gksitZsXv4IXkfzT0-SbkbKUyQC4/s320/wiyonoCom.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img alt="Dokumentasi Kurban di Soebono tahun 2012" border="0" data-original-height="199" data-original-width="320" height="199" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh8B6XwDJXAQImFysPmaY37ccTrvhF6XC9Fvyne3_rKgD7dl80bI2GxdvHaMZNgRXrD1Yel_vBsAy_JlTRxlUjAOsTWz1g4oRvQSRU0ydZeJbPEItChk0jnj7axeF8NS76CyOgFiMIMEu8kYhF-Wmqi9AGFQHsFdm-6gksitZsXv4IXkfzT0-SbkbKUyQC4/w320-h199/wiyonoCom.JPG" title="Kurban di Soebono Mantofani 2012" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Dok. kurban di Yayasan Soebono 2012&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Dzulhijjah bagi umat muslim merupakan momentum bersejarah tak terlupakan, pada bulan tersebut peristiwa dahsyat yaitu Nabi Ibrahim diperintahkan Allah swt menyembelih puteranya sebagai kurban. Dari situlah akar historis &lt;a href="http://www.mwiyono.com/2016/08/menegaskan-kurban-sapi-untuk-tujuh-orang.html"&gt;ibadah kurban&lt;/a&gt; diambil. Selain itu, Dzulhijjah juga bulan terakhir dalam perhitungan kalender hijriyah. Di akhir tahun tersebut, seolah-olah setelah bekerja setahun penuh, sebagai hamba Allah yang taat ‘ditagih’ sebagian kecil penghasilannya untuk berkurban, sebagai bentuk syukur dan cara mendekatkan diri kepada Allah.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Adapun landasan hukum kurban didasarkan sebuah hadis yang diriwayatkan dari sahabat Anas ra yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Ibn Majah, At-Tirmidzi, An-nasa’I, Ibn Majah dan Imam Ahmad, semakna dengan riwayat Imam Muslim.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;nbsp;حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ، ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ، وَسَمَّى وَكَبَّرَ، وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Qatadah dari Anas, dia berkata: “Rasulullah saw. berkurban dengan dua ekor domba jantan yang berwarna putih kehitaman lagi bertanduk. Beliau menyembelih keduanya dengan tangannya sambil mengucapkan basmalah dan bertakbir dan meletakkan kakinya di salah satu sisi dari kedua hewan tersebut.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam hadis tersebut di atas, Rasul saw berkurban dua kambing, dirinci dalam riwayat Imam Baihaqi Nabi berkurban untuk beliau dan ummatnya. Dalam hadis tersebut juga disebutkan bertanduk dan warnanya, hal ini menurut ulama’ isyarat disunnahkan yang bertanduk dan pilihan warna putih yang ada hitamnya. Pendek kata, berkurban hendaknya dengan hewan yang terbaik dengan niat mendekatkan diri kepada Allah swt.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kemudian Nabi menyembalih dengan tangan beliau sendiri, artinya disunnahkan untuk menyembelihnya sendiri, kecuali ada uzur, baru diwakilkan kepada ahlinya atau panitia. dengan catatan sesuai dengan aturan syara’.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kemudian hadis di atas juga menyebutkan tata cara menyembelihnya, yaitu direbahkan terlebih dahulu, artinya tidak disembelih dalam keadaan berdiri. Hal ini akan dibicarakan khusus dalam kitab-kitab fiqh tentang cara penyembelihan.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Adapun berkaitan dengan hukumya, ulama’ berbeda pendapat. Sebagian ulama’ mewajibkan namun menurut jumhur menghukuminya sunnat, marilah kita udar satu persatu;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b style="color: #2b00fe;"&gt;Berkurban Hukumnya Wajib&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;nbsp;Pendapat yang menyatakan bahwa kurban itu wajib antara lain berdasarkan kepada Al-Qur'an dalam surat al-Kautsar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;nbsp;فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam kaidahnya, perintah menunjukkan wajib,  pada frase ‘berkorbanlah’ dalam surat al-Kautsar di atas difirmankan dengan bentuk &lt;i&gt;amar&lt;/i&gt; (perintah), hal ini menunjukkan bahwa berkurban hukumnya wajib. Diperkuat dengan hadis&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: من كان له سعة ولم يُضَحِّ فلا يقربنَّ مُصلاَّنا&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Barang siapa yang berkelapangan (harta) namun tidak mau berkurban, maka jangan sekali-kali mendekati tempat shalat kami” (H.R. Ibnu Majah).&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Larangan mendekati tempat shalat dalam hadis di atas mengindikasikan adanya kewajiban, Di dalam kitab &lt;i&gt;subul as-salam&lt;/i&gt;, Imam as-Shan’ani menuliskan pendapat ulama’ yang mengesankan bahwa tidak ada faidahnya melaksanakan shalat tetapi meninggalkan kewajiban ini (kurban). Adapun yang mempunyai pendapat wajibnya kurban antara lain adalah Ima Hanafi.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="color: #2b00fe;"&gt;Berkurban Hukumnya Sunnah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mayoritas ulama berpendapat sunnat, salah satu dasarnya adalah hadis Ummu Salamah,&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&amp;nbsp;أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «إذا دخلت العشر وأراد أحدكم أن يُضحى فلا يمسَّ من شعره وبشره شيئًا&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Jika 10 Dzulhijjah telah datang, dan Apabila salah satu diantara kamu hendak berkurban maka janganlah ia menyentuh (ikut memakan) rambut dan kulitnya sedikit pun”.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari hadis di atas terdapat frase, ‘apabila salah satu diantara mau menghendaki” ini menunjukkan tidak wajib. Jadi, hukum berkurban adalah sunnat, pendapat jumhur ulama’ mengatakan bahwa berkurban hukumnya sunah. Seperti pendapat  Imam Malik, asy-Syafi’i, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, Ibnu Mundir, Daud dan Ibnu Hazm.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Adapun berkaitan dengan hadis nabi yang bernuansa perintah/wajib, sebenarnya bagi rasul kurban adalah wajib tapi bagi ummatnya adalah sunah, Sebagaimana riwayat Imam Baihaqi, &lt;i&gt;kutiba alaiyya an-nahru wa walam yuktab alaikum&lt;/i&gt;, diwajibkan atasku tapi tidak wajib untuk kalian. Masih hadis yang diriwayatkan Imam Baihaqi bahwa “ada tiga amal yang wajib bagiku, namun sunnah bagi kalian”, salah satunya adalah ibadah kurban. 
Bahkan dalam riwayat Imam Baihaqi yang lain dijelaskan Abu Bakar dan Umar pada tahun-tahun awal tidak berkurban karena khawatir dianggap sebagai syariat wajib, padahal secara finansial Abu Bakar termasuk sahabat yang kaya raya.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Meski tidak wajib, tapi berkurban sangat dianjurkan karena mempunyai nilai penting bagi kemaslahatan bersama, sebagai bagian dari &lt;a href="http://www.mwiyono.com/2017/03/tanggung-jawab-sosial-dalam-al-quran.html"&gt;tanggung jawab sosial&lt;/a&gt;. Saking pentingnya berkurban, dalam sebuah riwayat yang disandarkan kepada Imam Baihaqi, Ibn Abbas ketika jelang ‘Idul Adha memberikan dua dirham kepada budaknya untuk membel idaging dan mengabarkan kepada orang-orang sebagai kurbannya Ibn Abbas.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Riwayat yang lain, Bilal bin Rabah &lt;a href="http://www.mwiyono.com/2015/10/kurban-berwujud-manusia-gaya-baru.html"&gt;berkurban&lt;/a&gt; dengan ayam, pendek kata, berkurban itu penting bagi siapapun. Mental Islam didik sebagai mental pekurban bukan peminta-minta, hatta sahabat sekalipun, apalagi masih sekelas ustadz, karena perbuatan meminta-minta adalah memalukan dan tidak terpuji. 
&lt;/p&gt;</description><link>http://www.mwiyono.com/2024/05/kewajiban-berkurban-bagi-orang-muslim.html</link><author>noreply@blogger.com (M. Wiyono)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh8B6XwDJXAQImFysPmaY37ccTrvhF6XC9Fvyne3_rKgD7dl80bI2GxdvHaMZNgRXrD1Yel_vBsAy_JlTRxlUjAOsTWz1g4oRvQSRU0ydZeJbPEItChk0jnj7axeF8NS76CyOgFiMIMEu8kYhF-Wmqi9AGFQHsFdm-6gksitZsXv4IXkfzT0-SbkbKUyQC4/s72-w320-h199-c/wiyonoCom.JPG" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7718341072864739011.post-4819471022158172071</guid><pubDate>Sat, 20 Apr 2024 12:44:00 +0000</pubDate><atom:updated>2024-04-20T19:49:36.144+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">artikel</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">syari'ah</category><title>Multi Tafsir Makna Fi Sabilillah</title><description>

&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsvcB0vw0LEuWwjccCzqA-ooqCNV14Fmtuvpk1_Fyi6-WDpMKa2mwsnxt0-C59GFCsDw2_Bhf-WN4VS0koLqCmtAvcerS8azJOE-WA-VLtfGnHRsdgu4I7aJHjPEGFdESDxr91O_lxNLHpuUan1Iu_s7bfbY2Er0xHCUwwIkp39hX_F2DeH7dyOw94XM7M/s300/jihad.jpg" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="200" data-original-width="300" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsvcB0vw0LEuWwjccCzqA-ooqCNV14Fmtuvpk1_Fyi6-WDpMKa2mwsnxt0-C59GFCsDw2_Bhf-WN4VS0koLqCmtAvcerS8azJOE-WA-VLtfGnHRsdgu4I7aJHjPEGFdESDxr91O_lxNLHpuUan1Iu_s7bfbY2Er0xHCUwwIkp39hX_F2DeH7dyOw94XM7M/s1600/jihad.jpg" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan datang lagi, setiap
memasuki penghujung Ramadhan salah satu pertanyaan yang selalu terulang adalah
mustahik zakat dalam kategori &lt;i&gt;fi sabilillah&lt;/i&gt;. Penulis akan berusaha
menyajikan pendapat secara komprehensif dari berbagai sudut pandang mazhab baik
klasik maupun ulama’ kontemporer, agar maknanya jelas bagai bulan purnama (jw. &lt;i&gt;ceto
welo-welo&lt;/i&gt;). &lt;p&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kalau kita menyisir lembaran
Al-Qur'an maka kita akan temukan kata fisabilillah terulang 45 kali yang
tersebar dalam 42 ayat di 13 surat. Satu kali di surat Makiyyah yaitu surat
al-Muzammil dan selebihnya di dalam surat yang tergolong Madaniyah, paling
banyak terulang di surat al-Baqarah dan at-taubah, masing-masing terulang 9
kali. Namun yang akan kita kaji adalah fokus dengan fi sabilillah dalam
kaitannya dengan ashnaf mustahik zakat. Kami cukupkan sampai di sini profil
frase &lt;i&gt;fi sabilillah&lt;/i&gt; dalam Al-Qur'an. &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tulisan ini bukan pledoi yang
melihat penafsiran fi sabilillah dengan kaca mata kuda, melainkan mengungkap
secara ilmiah bahwa faktanya ada perbedaan pendapat yang tak dapat dihindari mengenai
makna &lt;i&gt;fi sabilillah&lt;/i&gt; sebagai ashnaf zakat sebagaimana ditunjuk dalam surat at-Taubah:
60. &lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Terminologi &lt;i&gt;fi sabilillah&lt;/i&gt;
tampak global, tidak ada target audiens yang spesifik, sehingga butuh keterangan
pendamping untuk menjelaskan maksudnya. Secara literal fi sabilillah bermakna
di jalan Allah.&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Secara garis besar, ada dua kelompok
besar yang berbeda, yaitu ulama’ kontemporer seperti Rasyid Ridha, mahmud
syaltut dan kawan-kawan, di sisi lain ada jumhur ulama’ dalam hal ini adalah imam
empat mazhab; Imam Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali.&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Fī Sabilillah Menurut Ulama
Kontemporer &lt;/b&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sayyid Rasyid Rida dalam tafsir &lt;i&gt;al-manār&lt;/i&gt;
menyimpulkan pendapatnya sendiri mengenai makna &lt;i&gt;fī sabīlillah.&lt;/i&gt; Sesungguhnya
yang dimaksud dengan sabīlillah di sini adalah kemaslahatan umat Islam secara
umum karena dengannya (zakat) dapat memperkuat urusan agama dan negara. Senada
dengan Rasyid Ridha, Mahmud Syaltut berpendapat, &lt;i&gt;fi sabīlillah&lt;/i&gt; lebih
dekat dengan makna kemaslahatan umum, Syaltut memberikan beberapa contoh yang
salah satunya adalah keperluan militer untuk meningkatkan keamanan negara.
Termasuk di dalamnya pendirian rumah sakit militer, pembuatan jalan, rel kereta
api dan keperluan umum lainnya untuk kepentingan militer. &lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mahmud Syaltut mengutip pendapat
ar-Rāzī dalam kitab tafsir &lt;i&gt;mafatihul ghaib&lt;/i&gt; (Juz, 16, 115): “Secara umum
makna &lt;i&gt;fī sabīlillah&lt;/i&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;tidak
dipersempit ke makna tentara perang. Oleh sebab itu al-Qaffāl menuliskan dalam
tafsirnya yang bersumber dari pendapat para ahli fikih bahwa mereka membolehkan
distribusi zakat (melalui asnaf ini) untuk keperluan kemaslahatan umum. Dan masih
banyak lain pendapat ulama’ kontemporer, namun tidak ditampilkan secara
keseluruhan di sini. Benang merah pendapat mereka dapat ditangkan bahwa di
jalan Allah yang dimaksud adalah semua jalan kebaikan (&lt;i&gt;sabilil khair&lt;/i&gt;) yang
berkaitan dengan kemaslahatan umum.&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Hasil penelitian Jamalia Idrus
tahun 2011, membagi perbedaan makna fi sabilillah menjadi dua katagori yakni
pengertian secara sempit dalam arti jihad atau perang di jalan Allah seperti
Ibnu Katsir, meskipun mufasir lain seperti&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;al-Maraghi, Buya Hamka dan lainnya memaknai &lt;i&gt;fi sabilillah&lt;/i&gt; dalam arti luas atau umum, yaitu meliputi semua jenis kebaikan, ketaatan, dan memasukkan
semua kegiatan sosial.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Perlu diketahui bahwa, ulama’
kontemporer juga tidak bulat satu suara menginterpretasikan &lt;i&gt;fi sabilillah&lt;/i&gt; dalam makna
luas, seperti Wahbah az-Zuhaily, seorang profesor produktif ahli di bidang
tafsir, fiqh dan keilmuan lainnya, beliau berpendapat &lt;i&gt;fī sabīlilah&lt;/i&gt; sebagaimana
pendapat para imam mazhab Maliki, Syafi’i dan Hambali yang memaknai &lt;i&gt;fī
sabīlilah&lt;/i&gt; sebagai tentara perang yang tidak mendapatkan tunjangan dari
pemerintah/negar (baca, &lt;i&gt;Mausū’atu al-Fiqh al-Islāmiy&lt;/i&gt;, 782-783).&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Syekh Yusuf al-Qaradhawi sendiri
sebenarnya netral, seperti pengakuannya dalam &lt;i&gt;Kitab az-Zakah&lt;/i&gt;
menurutnya, tidak ada perluasan arti sabilillah untuk segala perbuatan yang
menimbulkan kemaslahatan dan mendekatkan diri kepada Allah swt. Begitu pula
tidak mempersempit pengertian sabilillah hanya untuk jihad dalam arti tentara
saja. Beliau melihat bahwa jihad itu lebih umum pengertiannya dari pada &lt;i&gt;qital&lt;/i&gt;
(berperang), peperangan itu hanya bagian dari bentuk jihad yang diberi dana
zakat dari kelompok &lt;i&gt;fi sabilillah&lt;/i&gt;. Walaupun menurut penilaian penulis al-Qaradhawi lebih
condong kepada pemaknaan lebih luas, silahkan telusuri &lt;i&gt;Kitab az-Zakah&lt;/i&gt;,
di sana banyak makna yang dipaparkan. &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;Menurut Jumhur Ulama’ &lt;/b&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pendapat Imam
Hanafi, diwakili Abu Yusuf, &lt;i&gt;fī sabīlillāh&lt;/i&gt; adalah tentara perang yang
miskin, termasuk juga orang haji yang kehabisan perbekalannya, karena haji
termasuk jihad melawan nafsu. Imam Kasāni menafsirkan &lt;i&gt;fi sabilillah&lt;/i&gt; termasuk
semua amal saleh dan ketaatan kepada Allah Swt. Namun perlu digaris bawahi
tebal-tebal, seluruh Ulama' Hanafiyah di atas menurut Ibnu Najim dalam &lt;i&gt;al-Bahrur
Raiq&lt;/i&gt; mensyaratkan status fakir miksin. Ini yang terkadang luput dari
penceramah. Bahkan seorang tentara perang tidak diberi bagian zakat apabila ia
tidak fakir, lebih jelasnya, Ibn al-‘Arabi dalam ahkam al-Qur’an mengatakan &lt;i&gt;la
tu’tha al-ghazi illa idza kana faqiran&lt;/i&gt; (tentara perang tidak diberi bagian
fi sabilillah kecuali bila ia fakir)&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Kemudian Imam
Maliki sebagaimana dinukil oleh Ibn ‘Arabi dalam tafsirnya menyatakan, &lt;span dir="RTL" face="&amp;quot;Arial&amp;quot;,sans-serif" lang="AR-SA" style="font-size: 11pt; mso-ansi-font-size: 12.0pt; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-bidi-theme-font: minor-bidi; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p align="right" class="MsoNormal" style="text-align: right;"&gt;&lt;span dir="RTL" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;,serif; font-size: 18pt;"&gt;سُبُل
الله كثيرة, ولكنى لا أعلم خلافا في أن المراد بسبيل الله هاهنا الغزو من جملة
سبيل الله &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;Jalan-jalan
Allah itu ada banyak makna, akan tetapi aku tidak tahu perdebatan (pendapat
lain) bahwa makna dari fī sabīlillah di ayat ini adalah berperang (di jalan
Allah Swt.)&lt;span dir="RTL" face="&amp;quot;Arial&amp;quot;,sans-serif" lang="AR-SA" style="font-size: 11pt; mso-ansi-font-size: 12.0pt; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-bidi-theme-font: minor-bidi; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Muhammad bin
Abdul Hakam membolehkan keperluan diambil dari zakat. Sependapat dengan
ad-Dasūqi dalam &lt;i&gt;Hasyiah ad-Dasuqi&lt;/i&gt; mengatakan, harta zakat dapat
diberikan dalam bentuk peralatan perang yang dibagikan kepada mujahid, kalau
demikian dapat disimpulkan sementara bahwa &lt;i&gt;fī sabīlillah&lt;/i&gt; menurut
malikiyah berkenaan dengan perang dan jihad tanpa memandang status ekonomi
tentara. Penggunaan zakat juga bisa untuk bangunan perang atau peralatan
perang, tapi pada intinya adalah berkaitan dengan perang—tidak sembarang sesuatu
yang mengandung kemashlahatan umum. Jadi, jelas bahwa bukan untuk sekolahan, rumah
sakit umum, jalan raya atau publikasi, karena terlalu jauh dan terkesan dipaksakan
konteks kegunaannya dari zakat, kecuali kalau dari infaq atau sumber dana baitul
mal lainnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam kitab &lt;i&gt;al-minhāj&lt;/i&gt;,
Imam Nawawi juga musyarrihnya Ibnu Hajar al-Haitami, berpendapat, maksud &lt;i&gt;fī sabīlillah&lt;/i&gt;
adalah tentara perang sukarela yang tidak digaji pemerintah. Dapat ditarik
benang merahnya bahwa antara mazhab Malikiyah dan Syafi’iyah sepakat &lt;i&gt;fī
sabīlillah&lt;/i&gt; dalam konteks zakat hanya untuk hal hal yang berkaitan dengan perang.
Sepakat pula dalam pemberian zakat untuk tentara yang kaya sekalipun, serta
sepakat dalam membolehkan menggunakan dana zakat untuk kebutuhan/peralatan
perang. Bukan untuk pembangunan rumah sakit, jalan atau fasilitas umum lainnya.
Seperti gedung sekolah, pesantren. Sekali ini dalam pandangan imam mazhab.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Senada dengan
pandangan mazhab Syafi’I adalah pandangan fī sabīlillah menurut mazhab Hanbali,
yakni tentara perang sukarelawan yang tidak mendapatkan tunjangan khusus dari
pemerintah, walaupun mereka orang kaya boleh diambilkan dari dana zakat. Sayyid
Hasan Khan dalam kitab &lt;i&gt;Raudhatun Nadhiyyah&lt;/i&gt; yang dikutip oleh Qaradhawi
dalam &lt;i&gt;Kitabuz Zakah &lt;/i&gt;bahwa tak perduli kaya atau miskin semua ulama’
boleh mendapat bagian zakat dari sabilillah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dari uraian singkat
di atas, dapat dipahami bahwa jumhur empat mazhab berbeda pendapat dalam hal
tekhnis distribusi zakat kepada &lt;i&gt;ashnaf fi sabilillah&lt;/i&gt;, namun semua
sepakat bahwa jihad yang dimaksud adalah dalam arti perang baik secara langsung
maupun sarana prasaran perang atau keamanan, termasuk dibolehkan untuk
kesejahteraan tentara perang &lt;/p&gt;

&lt;p align="right" class="MsoNormal" style="text-align: right; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span dir="RTL" lang="AR-SA" style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;,serif; font-size: 20pt;"&gt;عَنْ
أَبِي سَعِيدٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
لَا تَحِلُّ الصَّدَقَةُ لِغَنِيٍّ إِلَّا فِي سَبِيلِ اللَّهِ، أَوِ ابْنِ
السَّبِيلِ، أَوْ جَارٍ فَقِيرٍ يُتَصَدَّقُ عَلَيْهِ، فَيُهْدِي لَكَ أَوْ
يَدْعُوكَ&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dalam hadis di atas disebutkan
bahwa tentara perang yang berjihad di jalan Allah dihalalkan baginya harta
zakat. Penyebutan kriteria tentara di hadis tersebut merupakan dalil yang jelas
bahwa yang dimaksud dengan fi sabilillah dalam ayat 60 di surah At-Taubah
adalah tentara perang. Seklai lagi, bukan kemashlahatan dalam makna umum.&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Kesimpulan &lt;/b&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Setelah mempertimbangan beragama
pendapat seperti terbaca di atas maka, dapat disimpulkan menjadi dua pemaknaan
fi sabilillah, pertama, para cerdik cendekia dan ulama kontemporer menginterpretasikan
&lt;i&gt;fi sabilillah&lt;/i&gt; dalam arti luas, yaitu dalam arti semua jalan kebaikan (fi
sabilil khoir) sehingga cabangnya tak terbatas, mengatanamakan kontekstualisasi
dan perbedaan zaman dalam memaknai perang. Inpirasi ini juga dapat ditemukan
pendapat al-Qaffal dalam Tafsir Murah Labiid atau yang dikenal dengan nama tafsir
al-munir karya Syeikh Nawawiy al-Bantani. &lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kedua, jumhur ulama’ dari empat
mazhab memaknai fi sabilillah dalam arti sempit yaitu sesuatu yang hal-hal yang
berkaitan dengan jihad dalam arti perang. karena jika fi sabilillah dimaknai
dalam arti luas yaitu fi sabilil khair, maka apapun kebaikan akan masuk calam
cakupannya, termasuk bagian kepada fakir miskin, yatim, jatah ‘amil, gharim dan
seterusnya semua masuk dalam sabilil khair dan ini akan menimbulkan kerancuan cakupan
makna fi sabilillah itu sendiri. Tidak perlu kitab tebal, kita bisa lihat di &lt;i&gt;Tafsir
al-Jalalain&lt;/i&gt; saja misalnya, &lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span dir="RTL" face="&amp;quot;Arial&amp;quot;,sans-serif" lang="AR-SA" style="font-size: 11pt; mso-ansi-font-size: 12.0pt; mso-ascii-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-hansi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;وفي
سبيل الله اي القائمين بالجهاد ممن لا فيء لهم ولو اغنياء&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Maksudnya: “ (fi sabilillah)
artinya adalah orang orang yang melaksanakan jihad (peperangan membela agama
allah SWT) yang tidak mendapatkan harta fai’ sekalipun mereka kaya”&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Jadi, fi sabilillah dalam arti
sempit lebih tepat menurut penulis, bukan semua kebaikan yang bersifat umum
dicakup dalam makna fi sabilillah, terlebih lagi pembangunan fasilitas umum
tidak ada batasannya yang jelas, yang mengkhawatirkan nasib kemanusiaannya
fakir, miskin dan ashnaf zakat lainnya. Penulis juga dikuatkan dengan karya DR.
Muhammad bakr Isma’il dalam kitabnya &lt;i&gt;al-Fiqh al-Wadlih&lt;/i&gt; yang memilih
bahwa sabilillah dalam arti orang yang berjihad (berperang) di jalan Allah SWT
adalah yang paling benar. Perlu diingat itu pula pendapat mayoritas ulama’.&lt;/p&gt;

</description><link>http://www.mwiyono.com/2024/04/multi-tafsir-makna-fi-sabilillah.html</link><author>noreply@blogger.com (M. Wiyono)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgsvcB0vw0LEuWwjccCzqA-ooqCNV14Fmtuvpk1_Fyi6-WDpMKa2mwsnxt0-C59GFCsDw2_Bhf-WN4VS0koLqCmtAvcerS8azJOE-WA-VLtfGnHRsdgu4I7aJHjPEGFdESDxr91O_lxNLHpuUan1Iu_s7bfbY2Er0xHCUwwIkp39hX_F2DeH7dyOw94XM7M/s72-c/jihad.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7718341072864739011.post-2918651130961681715</guid><pubDate>Wed, 19 Oct 2022 01:32:00 +0000</pubDate><atom:updated>2022-10-19T11:01:19.642+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">tafsir</category><title>Profil Surat Al-Fatihah</title><description>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 107%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 107%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjJHFoOsjs4z3sal1kA2TrwRqbivi-U5NrXN0sioUNo2pHC7nZOeF16tmGlAXnPEDgKv_FpkjzWWbLd5c-qNvqPVNbFfw8xYNUnJBEqwwlmtubzaWnVNVUjBW2gu954YsYTKy63ZVmLrXtdhoJuhHGoo3ZibsIYxvX0tOuIF4WjvpODNbeL_Tk1hEH0IA/s300/alfatihah.jpg" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="200" data-original-width="300" height="200" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjJHFoOsjs4z3sal1kA2TrwRqbivi-U5NrXN0sioUNo2pHC7nZOeF16tmGlAXnPEDgKv_FpkjzWWbLd5c-qNvqPVNbFfw8xYNUnJBEqwwlmtubzaWnVNVUjBW2gu954YsYTKy63ZVmLrXtdhoJuhHGoo3ZibsIYxvX0tOuIF4WjvpODNbeL_Tk1hEH0IA/s1600/alfatihah.jpg" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 107%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Setelah beberapa hari yang lalu diposting tentang &lt;a href="http://www.mwiyono.com/2022/10/sejarah-mushaf-dari-penulisan-mushaf.html"&gt;Sejarah Mushaf; dari penulisan hingga tanda baca&lt;/a&gt; maka untuk melihat kehebatan Alquran kita bisa cermati profil al-Fatihah ini. Surat al-Fatihah adalah merupakan surat pertama dalam urutan mushaf
Utsmani. Namun secara perurutan wahyu, al-Fatihah termasuk surat yang turun di
era awal-awal diturunkan wahyu. Al-Fatihah termasuk surat makiyah yang
diturunkan setelah Nabi mendapatkan perintah shalat pada waktu mi’raj. Wajar,
karena dalam shalat bacaan surat Alfatihah merupakan rukun qauliy yang tidak
boleh ditinggalkan.&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 107%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 107%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Dalam kaitannya dengan hukum membaca Fatihah pada waktu shalat,
selain hadis yang sudah populer bahwa shalat tanpa fatihah tidak diterima, Al-Mubarakfury
mengutip beberapa hadits yang berkaitan dengan hukum membaca al-fatihah dari Abu
Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda. “Barangsiapa yang melaksanakan shalat
tanpa membaca surah al-Fatihah maka hal itu seperti bayi yang terlahir prematur
(beliau menyatukan hal itu tiga kali).&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 107%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 107%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 107%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Fatihah terdiri dari 141 huruf dengan &lt;i&gt;maaliki&lt;/i&gt;, namun apabila
dibaca tanpa alif maka jumlah hurufnya 140 huruf. Adapun jumlah &lt;i&gt;tasydid&lt;/i&gt;
dalam surat al-Fatihah berjumlah 14, tiga dalam &lt;i&gt;basmalah&lt;/i&gt; dan selebihnya
dalam ayat selanjutnya hingga ayat terakhir. Perkara &lt;i&gt;tasydid&lt;/i&gt; ini menjadi
sangat penting, karena &lt;i&gt;tasydid&lt;/i&gt; merupakan huruf &lt;i&gt;double&lt;/i&gt;, sedangkan
dalam pembacaan fatihah harus secara lengkap, apabila menghilangkan tasydid
berarti tidak membaca fatihah secara sempurna dan ini mengakibatkan tidak sah
dalam shalat.&lt;/span&gt;

&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 107%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Kewajiban dalam membaca fatihah ada 10 antara lain:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-left: 49.65pt; text-indent: -21.25pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 107%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;1.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 107%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Membaca
secara keseluruhan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 49.65pt; text-indent: -21.25pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 107%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;2.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 107%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Membacanya
pada saat berdiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 49.65pt; text-indent: -21.25pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 107%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;3.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 107%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Tidak
mengalihkan makna&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 49.65pt; text-indent: -21.25pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 107%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;4.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 107%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Membacanya
dapat didengar secara keseluruhan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 49.65pt; text-indent: -21.25pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 107%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;5.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 107%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Dengan
bahasa Arab&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 49.65pt; text-indent: -21.25pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 107%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;6.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 107%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Menjaga
tasydid-nya&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 49.65pt; text-indent: -21.25pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 107%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;7.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 107%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Membaca
semua huruf&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 49.65pt; text-indent: -21.25pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 107%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;8.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 107%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Tidak
lahn yang dapat mengubah makna&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 49.65pt; text-indent: -21.25pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 107%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;9.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 107%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Terus
menerus atau tidak dijedah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 49.65pt; text-indent: -21.25pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 107%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;10.&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;
&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 107%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Dibaca
secara tertib&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 21.3pt; text-indent: -21.3pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 107%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 107%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Ada banyak
sekali nama surat ini, paling tidak ada dua puluh lebih mengenai nama surat
tersebut. Al-Fatihah, Ummul Qur’an, ummul Kitab, Sab’ul Matsani dan masih
banyak lagi. salah satunya adalah ummul kitab karena di dalam surat Al-Fatihah
mencakup secara garis besar isi Alquran. Secara garis besar Alquran mengandung
tiga ajaran pokok dalam beragama, yaitu akidah, syariah dan sejarah, begitulah
isi surat Alfatihah ayat 1-4 berisi aqidah, ayat 4 dan 5 berisi syariah
sedangkan 6 dan 7 adalah sejarah. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 107%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Fahruddin
Ar-Razi seabgaimana diktuip dalam &lt;i&gt;Itqan fi ‘Ulumil Alquran&lt;/i&gt; karya Imam Suyuthi
dalam bab keutamaan ayat Alquran berpendapat, Alfatihah menetapkan empat
perkara tentang; ketuhanan, hari akhir tempat manusia kembali, kenabian dan
penetapan kehendak Allah swt.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 107%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,serif; font-size: 12pt; line-height: 107%; mso-ascii-theme-font: major-bidi; mso-bidi-theme-font: major-bidi; mso-hansi-theme-font: major-bidi;"&gt;Rasyad Khalifah
(w. 1990 M) telah menemukan sebuah perhitungan kemunculan kata kata dalam
Alquran yang sangat menakjubkan. hal tersebut dapat dilihat dalam &lt;a href="http://www.mwiyono.com/2022/08/al-quaran-ditinjau-dari-perspektif-angka.html" target="_blank"&gt;Alquran ditinjau dari &lt;blink&gt;perspektif angka&lt;/blink&gt;&lt;/a&gt;. Salah satunya adalah ketika menghitung
huruf-huruf dalam basmalah berjumlah 19, ini karena bismillah tidak ditulis
dengan &lt;i&gt;alif&lt;/i&gt;. Jumalh tersebut bisa habis dibagi dengan probabilitas atau
kemunculan kata ism, Alla, ar-Rahman dan ar-Rahim sebagaimana dalam
bismillaihirrahmanirrahiim. Ism dalam Alquran terulang 19 kali, sedangkan lafad
Allah terulang sebanyak 2698 kalau dibagi 19 menjadi 142. Sedangkan ar-rahman
terulang 57 kali, kalau dibagi 19 menjadi 3, sedangkan kata ar-Rahim terulang
114 kali, kalau dibagi 19 akan ktemu angka 6. Sebuah perulangan kata yang
sangat dahsyat dan menakjubkan. &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;

&lt;/p&gt;</description><link>http://www.mwiyono.com/2022/10/profil-surat-al-fatihah.html</link><author>noreply@blogger.com (M. Wiyono)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjJHFoOsjs4z3sal1kA2TrwRqbivi-U5NrXN0sioUNo2pHC7nZOeF16tmGlAXnPEDgKv_FpkjzWWbLd5c-qNvqPVNbFfw8xYNUnJBEqwwlmtubzaWnVNVUjBW2gu954YsYTKy63ZVmLrXtdhoJuhHGoo3ZibsIYxvX0tOuIF4WjvpODNbeL_Tk1hEH0IA/s72-c/alfatihah.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7718341072864739011.post-4437958436829005991</guid><pubDate>Tue, 11 Oct 2022 04:23:00 +0000</pubDate><atom:updated>2022-10-11T11:23:29.786+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">tafsir</category><title>Sejarah Mushaf; Dari Penulisan Mushaf hingga Tanda Baca </title><description>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjzyBVxn13MhIV0jr_QncdoSHf_VDF2eQyhaKt_6Fut2iJ_so0MjDI74YWK5JDuf6OW5YhkmGdqFsvd1847hiXF3kp3e-Nxf77GcPE4BubCF4Dj3YZK_oBUwYMnVLlnlSwuBCemPUchKdnEYqaPDGVqNLmWZlEcwE02KOh1_nANmM2GHND8UCat-FKULw/s497/quranklasik.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="375" data-original-width="497" height="241" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjzyBVxn13MhIV0jr_QncdoSHf_VDF2eQyhaKt_6Fut2iJ_so0MjDI74YWK5JDuf6OW5YhkmGdqFsvd1847hiXF3kp3e-Nxf77GcPE4BubCF4Dj3YZK_oBUwYMnVLlnlSwuBCemPUchKdnEYqaPDGVqNLmWZlEcwE02KOh1_nANmM2GHND8UCat-FKULw/s320/quranklasik.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Alquran merupakan sumber ajaran agama Islam yang tertinggi, berisi seperangkat ajaran akidah, syariah dan sejarah. Ia menjadi referensi paling paripurna dan menjadi soko guru keagamaan terpenting di atas hadis Nabi Muhammad saw. Beragam pengertian terkait dengan Alquran, tapi intinya hendak menjelaskan bahwa Alquran adalah wahyu Allah yang dituliskan, sedangkan tulisan Alquran yang dihimpun dalam satu buku dinamakan dengan mushaf. Pengertian Alquran, menurut Imam Al-Jurjani &lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;هُوَ اَلْمُنَزَّلُ عَلَى الرَّسُولِ المَكْتُوبِ فِى الْمَصَاحِفِ اَلْمَنْقُولُ عَنْهُ نَقْلًا مُتَوَاتِرًا بِلَا شُبْهَةٍ&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Alquran sendiri mempunyai banyak keistimewaan baik dari segi bahasa seperti diksi, susunan kebahasaan bahkan keunikan tersebut pernah dibuktikan oleh Abd Daim al-Khalil ketika melihat &lt;a href="http://www.mwiyono.com/2022/08/al-quaran-ditinjau-dari-perspektif-angka.html" target="_blank"&gt;Alquran ditinjau dari perspektif angka&lt;/a&gt;, ia menemukan banyak sekali probabilitas yang menakjubkan. Tidak hanya itu masih banyak sekali kemukjizatan Alquran yang sudah maupun belum ditemukan &amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Sejarah Perjalanan Penulisan Mushaf Alquran.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Secara global perjalanan penulisan Alquran melewati tiga periode yaitu masa Nabi Muhammad saw yang belum dibukuan, masa Abu Bakar yang berhasil membukukan Alquran atau disebut mushaf dan pada masa Utsman bin Affan ra. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pada masa Nabi saw tulisan Alquran belum dalam bentuk mushaf masih ada beberapa sahabat yang menulis di pelepah kurma, kulit bahkan berdasarkan sejarah ada juga yang sudah menulis di kertas, namun Alquran terjamin keasliannya karena diawetkan dalam bentuk hafalan para sahabat-sahabat Nabi Muhammad saw. Kemudian beliau wafat pada tahun 11 H.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kekhalifahan pertama ada ditangan Abu Bakar ash-Shiddiq, pada masa ini banyak peperangan besar yang menewaskan penghafal Alquran seperti perang Yamamah, orang-orang murtad serta fenomena munculnya Nabi-nabi palsu. Maka atas saran Umar bin Khattab untuk membukukan Alquran, dipanggillah juru tulis yang dahulu menuliskan Alquran ketika rasul mendapat wahyu, antara lain; &amp;nbsp;&lt;br /&gt;Dalam jangka waktu satu tahun, pada tahun 13 H. Alquran berhasil ditulis dalam satu buku yang disebut dengan mushaf. Setelah Abu Bakar wafat kemudian mushaf tersebut dipindah-tangankan ke Umar bin Khattab (13-23 H.) kemudian setelah Umar bin Khatab meninggal, mushaf dijaga oleh Hafsah binti Umar. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kekhalifahan dipimpin oleh Usman bin Affan (23-35 H.). Pada masa inilah babak baru penulisan mushaf kembali dimulai. Mengingat perkembangan Islam tersebar luas ke berbagai penjuru tidak hanya orang Arab saja yang membaca Alquran, melainkan di luar Arab juga banyak yang membaca Alquran. Hudzaifah al-Yamamah sebagai seorang hakim banyak menjumpai perkara silang sengketa soal bacaan Alquran. Sepulang dari perluasan Islam ke Azerbeijan dan menemukan kasus-kasus tersebut maka mengusulkan kepada Khalifah Usman bin Affan untuk membukukan Alquran. Usul tersebut disetujui, dan mengirim utusan kepada Hafsah untuk meminjam mushaf untuk diperbanyak. Sebagian ulama berpendapat diperbanyak menjadi lima atau enam kemudian disebarkan ke seluruh kota kota besar untuk diperbanyak, sekaligus memberikan pengumuman bahwa selain mushaf tersebut harus dibakar. Tulisan Mushaf&amp;nbsp; pada masa kekhalifahan ini masih berupa tulisan tangan dan kosong tanpa tanda baca berupa titik maupun syakalnya. &lt;br /&gt;Pemberian Tanda Baca &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada perkembangan selanjutnya Pemberian titik dan baris pada mushaf Alquran ini dilakukan dalam tiga fase. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pertama, pada zaman Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan kira-kira tahun 53 H. Saat itu, menugaskan gubernur Irak, kemudian gubernur Irak menunjuk kepada Abdul Aswad ad-Dualy untuk meletakkan tanda baca i'rab (&lt;i&gt;nuqthatul i’rab&lt;/i&gt;) pada tiap kalimat dalam bentuk titik untuk menghindari kesalahan membaca.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Fase kedua, pada masa Abdul Malik bin Marwan (65 H), khalifah kelima Dinasti Umayyah itu menugaskan salah seorang gubernur pada masa itu, al-Hajjaj bin Yusuf, untuk memberikan titik (&lt;i&gt;nuqthatul i’jam&lt;/i&gt;), awalnya berupa lingkaran kemudian berkembang berbentuk kubus dan ditulis berwarna untuk, misalnya, huruf &lt;i&gt;baa'&lt;/i&gt; dengan satu titik di bawah, huruf &lt;i&gt;ta’&lt;/i&gt; dengan dua titik di atas, dan &lt;i&gt;tsa&lt;/i&gt; dengan tiga titik di atas. Pada masa itu, al-Hajjaj minta bantuan kepada Nashr bin 'Ashim dan Hayy bin Ya'mar.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Baru kemudian, pada masa Dinasti Abbasiyah, diberikan tanda baris berupa damah, fathah, kasrah, dan sukun untuk memperindah Alquran. Pemberian tanda baris ini mengikuti cara pemberian yang telah dilakukan oleh Khalil bin Ahmad al-Farahidy (w. 170 H), seorang enseklopedi bahasa Arab terkemuka kala itu. Menurut sebuah riwayat, Khalil bin Ahmad juga yang memberikan tanda hamzah, tasydid, dan ismam pada kalimat-kalimat yang ada.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Jadi mereka menjadikan umat Islam saat ini apa pun ras dan sukunya mempunyai Alquran yang sama sesuai dengan sanad yang diterima dari guru-guru mereka. Sehingga memudahkan umat setelahnya untuk membaca Alquran. Sebenarnya kalau direnungkan sebenarnya pembukuan Alquran bukan perintah rasul saw. melainkan inisiatif dari sahabat khulafaur rasyidin dan berlanjut hingga masa tabi'in. Baru kemudian perkembangan selanjutnya adalah ilmu yang membaca Alquran atau tajwid yang baru disusun di akhir abad 3, yaitu Abu Muzahim Al-Khaqani. (lahir 248 H - 325 H).&amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://www.mwiyono.com/2022/10/sejarah-mushaf-dari-penulisan-mushaf.html</link><author>noreply@blogger.com (M. Wiyono)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjzyBVxn13MhIV0jr_QncdoSHf_VDF2eQyhaKt_6Fut2iJ_so0MjDI74YWK5JDuf6OW5YhkmGdqFsvd1847hiXF3kp3e-Nxf77GcPE4BubCF4Dj3YZK_oBUwYMnVLlnlSwuBCemPUchKdnEYqaPDGVqNLmWZlEcwE02KOh1_nANmM2GHND8UCat-FKULw/s72-c/quranklasik.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Jl. Sumatera No.75, Jombang, Kec. Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten 15414, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-6.2948016 106.7012547</georss:point><georss:box>-6.2948682490457246 106.70118764477463 -6.2947349509542763 106.70132175522538</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7718341072864739011.post-3280082014981657469</guid><pubDate>Thu, 25 Aug 2022 14:41:00 +0000</pubDate><atom:updated>2022-08-25T21:41:09.630+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">artikel</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">jurnal ilmiah</category><title>Al-Quar'an Ditinjau Dari Perspektif Angka</title><description>&lt;p style="margin-left: 40px; text-align: right;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgKlU-g0p8IJptzLjq4bTYzqEByCVJ8ITVT3Al9frapZhNPcw0HAWGBlZy3-JQw2f9eQduBfcEKCVdMDnpNH5qUYvauTTrspkwDz6L3wmLpExz_eimUZRNWFQ1Ycx2cgmHgohfxBqajVtQ8WAxk9tVyaEvpM6JqVKdnDXsw6u2zRip700Jz-Lbjft_qIw/s720/wiyono1.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="576" data-original-width="720" height="256" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgKlU-g0p8IJptzLjq4bTYzqEByCVJ8ITVT3Al9frapZhNPcw0HAWGBlZy3-JQw2f9eQduBfcEKCVdMDnpNH5qUYvauTTrspkwDz6L3wmLpExz_eimUZRNWFQ1Ycx2cgmHgohfxBqajVtQ8WAxk9tVyaEvpM6JqVKdnDXsw6u2zRip700Jz-Lbjft_qIw/w320-h256/wiyono1.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;ABSTRAK:&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; Dekade awal turunnya Qur'an setelah wafatnya Nabi saw kira kira abad 2 hijriyah, para mufasir mengira bahwa kemukjizatan Alquran hanya terdapat pada segi bahasa saja, kemudian dengan berkembangnya disiplin tema ulumul Alquran, mereka menemukan beberapa kemukjizatan lain di dalam Alquran, seperti kemukjizatan ‘ilmi, al-ghaibiy, at-tasyrī’iy hingga saat ini ditemukan adanya kemukjizatan alquran dari segi pengulangan kata dalam Alquran yang kemudian disebut dengan i’jaz ar-raqmiy atau i’jaz ‘adadi. Kemukjizatan Alquran dalam perspektif angka tergolong baru dan masih belum mempunyai metodologi baku, meski upaya ini sudah dilakukan sejak masa As-Saqafi dan Khalifah Marwan, kemudian kurun berikutnya dikembangkan oleh Rasad Khalifah, Abdul Razaq Naufal, Abd. Daim al-Kahil dan lain-lain. I’jāz ‘adadi masih perlu dikembangkan lebih sempurna lagi untuk menjadi metodologi baru dalam memahami kandungan isi Alquran. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;PENDAHULUAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Alquran sebagai sumber pokok ajaran Islam memberikan sajian yang mempesona dengan semua kajian keilmuan yang melekat didalamnya, baik dari segi gaya bahasa (uslub),&amp;nbsp; ketelitian redaksinya maupun hubungan pilihan diksi dengan&amp;nbsp; probabilitas kemunculan kata tersebut. Dari segi gaya bahasanya, alquran mempunyai gaya bahasa yang paling indah dalam literatur arab yang ada, Al-Khulli menyebutnya al-kitab al-‘arabiyyah al-akbar. Tidak mungkin ditandingi oleh gerombolan ahli sastra arab sekalipun. Segi otentisitas Alquran melalui periwayatan yang ketat, mustahil terjadi kesepakatan untuk berbohong. Argumen yang terkandung didalamnya tak bisa dipatahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dekade awal turunya Alquran ‘dituduh’ sebagai produk olah pikir Muhammad saw untuk mempengaruhi kaum Quraisy Mekah agar berkenan mengikuti risalah yang dibawanya, namun argumen tersebut terpatahkan oleh Nabi Muhammad saw yang tidak mengenal tulis baca (ummi). Sebenarnya pengakuan Nabi saw bahwa Alquran bersumber dari Allah adalah sudah cukup menjadi bukti, seandainya Muhammad adalah pembohong seperti yang kaum quraisy tuduhkan, mestinya beliau mengaku bahwa Alquran merupakan karyanya, untuk meningkatkan popularitas dirinya.&amp;nbsp; Bisa saja seseorang membantah sengaja dikatakan sebagai firman Allah agar ditaati dan diikuti, bukankah di dalamnya juga ada ayat-ayat yang ‘mengecam’ beliau?.&amp;nbsp; Belum lagi terkait dengan ke-ummi-an Nabi Muhammad itu sendiri. Masih sederet bukti lain yang bisa ditunjukkan dalam hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai abad modern ini –dan abad-abad berikutnya—Alquran tetap kokoh menjadi penuntun kebenaran dan informasi penting bagi kehidupan, salah satu petunjuk Alquran yang mencengangkan adalah akurasi probabilitas kata yang digunakan ternyata mempunyai pertalian makna yang sempurna dengan pengulangan kata tersebut, padahal ayat demi ayat turun secara gradual dalam kurun waktu yang cukup lama, namun setelah dibukukan, ditemukan berbagai keajaiban berupa angka-angka probabilitas kemunculan kata yang mempunyai pertalian dengan makna yang dikandungnya. Tapi tak jarang juga disalahgunakan dan dipaksakan untuk menyikapi kejadian tertentu yang dianggap fenomenal (baca; cocoklogi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah ada seorang ustadz yang khutbah dengan lantang bahwa runtuhnya gedung WTC tanggal 11 September 2001 terkait erat QS. At-Taubah ayat 109. Tanggal 11 adalah angka surat at-Taubah yang terletak di juz 11, tahun 2001 dikorelasikan dengan jumlah huruf dalam surat at-taubah. Jumlah tingkat di gedung WTC ada 109 dihubungkan sebagai ayatnya. Maka lahirlah kesimpulan serampangan dengan menunjuk kepada QS. at-Taubah: 109. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya itu. Kejadian runtuhnya WTC hanya satu dari sekian fenomena yang dihubungkan dengan ayat Alquran dari perspektif angka. Seperti Tsunami, gempa, jatuhnya pesawat termasuk aksi 212 dan lain sebagainya. Perujukan Alquran semacam ini perlu disikapi dengan tegas dan dikaji, agar tidak lahir tafsir yang serampangan tidak berdasar kajian yang ilmiah dan validitasnya diragukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketelitian redaksi Alquran memang sangat megagumkan sehingga setiap kata mengandung mukjizat. Termasuk kemukjizatan Alquran dilihat dari perspektif angka-angka dan pengulangan kata-katanya mengandung makna yang mencengangkan yang tak tertandingi oleh karya manusia. Namun benarkah cara-cara di atas adalah bagian dari metode mengungkap sisi kemukjizatan Alquran dalam perspektif angka (i’jāz al-raqmiy atau i’jāz ‘adadi) sebagaimana sudah dilakukan para penggiat kajian Alquran terdahulu. Butuh kajian lebih mendalam dalam hal ini.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Adapun obyek kajian tulisan ini seputar mengungkap temuan-temuan mukjizat Alquran ditinjau dari perspektif angka (i’jāz ‘adadi). Adapun yang akan diulas adalah berkaitan dengan angka 7, 19 dan 11. Untuk lebih fokus terhadap arah penulisan ini, maka dipandang perlu dibuat sebuah rumusan masalah; Apa pengertian i’jaz adadi dan Bagaimana kemu’jizatan angka 7, 19 dan 11 serta korelasi pertalian makna yang dikandungnya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjawab rumusan masalah tersebut, penulis menggunakan sumber-sumber terkait dengan mukjizat Alquran perspektif angka dalam kitab al mausu’ah i’jaz ar raqmi karya Abd Daim al Kahil, kemudian al i’jaz ‘adadi lil qur’ani al kariim karya Abdurrozaq Naufal,&amp;nbsp; serta beberapa karya lain yang berkaitan dengan pokok bahasan tersebut.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Karena keterbatasan tempat, selanjutnya bisa anda kutip, baca dan download di link berikut: &lt;a href="http://journal.ushuluddin.ptiq.ac.id/index.php/aldhikra/article/view/31" target="_blank"&gt;Jurnal Ushuluddin PTIQ: artikel M. Wiyono.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://www.mwiyono.com/2022/08/al-quaran-ditinjau-dari-perspektif-angka.html</link><author>noreply@blogger.com (M. Wiyono)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgKlU-g0p8IJptzLjq4bTYzqEByCVJ8ITVT3Al9frapZhNPcw0HAWGBlZy3-JQw2f9eQduBfcEKCVdMDnpNH5qUYvauTTrspkwDz6L3wmLpExz_eimUZRNWFQ1Ycx2cgmHgohfxBqajVtQ8WAxk9tVyaEvpM6JqVKdnDXsw6u2zRip700Jz-Lbjft_qIw/s72-w320-h256-c/wiyono1.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7718341072864739011.post-3537662764365883058</guid><pubDate>Fri, 02 Apr 2021 04:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2021-04-02T11:00:34.199+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">artikel</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">momentum</category><title>Potret Vaksin Dalam Rekonstruksi Tawakal</title><description>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhfesLZLkt9chUKhFsMgla4P8e4-U7hWF42MWdpIIrmGPwnPddY4UpHIgNeGebypZTGdRtTUpg7UQRTb1SIjOgUQjeD9mc7UphI5uAR6frhYHNTMEnS9uLw6pJ_C_tShL20LUSz9S9Ey404/s1280/vaksin.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="1280" data-original-width="1245" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhfesLZLkt9chUKhFsMgla4P8e4-U7hWF42MWdpIIrmGPwnPddY4UpHIgNeGebypZTGdRtTUpg7UQRTb1SIjOgUQjeD9mc7UphI5uAR6frhYHNTMEnS9uLw6pJ_C_tShL20LUSz9S9Ey404/s320/vaksin.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Terbit, 22 Pebruari 2021&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Semua bangsa di dunia berjibaku melawan penularan covid-19, beragam jurus dikeluarkan, namun belum ada tanda-tanda turun, justru belakangan ini menunjukkan trend peningkatan tajam, setiap harinya memakan korban puluhan ribu orang. Pendek kata, semua elemen masyarakat dibelahan dunia manapun kesulitan berdamai dengan pandemi, tak terkecuali Indonesia. &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Upaya pemerintah menghambat laju penularan covid dibuktikan dengan gencar melakukan sosialisasi protokol kesehatan sudah berlangsung satu tahun, puncaknya adalah ikhtiar pemerintah yang memberikan vaksin gratis kepada semua elemen masyarakat. Meski demikian, sebentuk penolakan terhadap vaksin oleh sebagian kelompok terdengar nyarin di awal-awal sosialisai, meskipun sampai saat ini sudah mulai senyap—tetapi bukan berarti tidak ada.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Di sisi lain, masyarakat mulai jenuh terhadap situasi dan kondisi ‘terpenjara’ di rumah sendiri, terbukti banyaknya pelanggaran protokol kesehatan, di jalan, perkatoran, pertokohan, tempat hiburan bahkan masih kita jumpai event resepsi yang tetap digelar meskipun sadar bahwa kerumunan massa tak terlekkan.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Pemerintah menghadapi dua masalah sekaligus yaitu masalah eksternal berupa pandemi dan problem internal berupa kejenuhan masyarakatnya untuk tetap sabar dan mengurangi mobilitas di luar rumah. Harus diakui sebagian memang terpaksa harus bekerja di luar rumah.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kejenuhan tersebut menimbulkan sebentuk ‘putus asa’ seraya berseloroh, hidup mati sudah suratan, orang yang malang melintang di jalanan faktanya sehat-sehat saja. Fakta-fakta seperti ini kerap menjadi papan bantalan masyarakat beragama dalam mengaplikasikan tawakal. Tawakal dimaknai serampangan sebagai sistem penyerahan total tanpa ikhtiar apa-apa. Pasrah yang lebih bersifat nekad dan konyol belaka. Oleh sebab itu, rancang bangun pemikiran tawakal butuh dikonstruksi ulang—minimal diluruskan. &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Tawakal disebut berulang kali dalam Alquran, namun perlu digarisbawahi, tawakkal dalam bentuk kata perintah (&lt;i&gt;fi’il amr&lt;/i&gt;) tak kurang dari sebelas kali, sepuluh diantaranya selalu didahului dengan tindakan yang bersifat aktif, bukan menyerah dan pasrah tanpa upaya apapun.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam hadis yang diriwayatkan Imam At-Tirmidzi Rasul saw. memberikan gambaran tawakalnya dengan mengambil pelajaran dari upaya seekor burung yang keluar dari sarangnya pagi hari dalam kondisi lapar, kemudian kembali ke sarangnya sore hari dalam kondisi kenyang. Hadis tersebut mengajarkan, untuk memperoleh anugerah harus didahului dengan aktivitas yang bersifat aktif, bukan berpangku tangan sembari mengharap keajaiban dari langit. Begitu pula dengan menghadapi pandemi saat ini, dibutuhkan ikhtiar untuk menghidarkan diri dari massifnya penularan yang terjadi. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dari sini nampak sekali, sesungguhnya konsep tawakal adalah konsep religi yang dikonstruk sebagai konsep yang aktif, namun tidak sedikit yang karena kekerdilan pengertiannya dan kurang menghayati ajaran agama sehingga konsep tersebut berubah sebaliknya, menjadi konsep yang pasif bahkan cenderung destruktif. Alih-alih mengaku bertawakal, menyerah dengan nihil usaha. &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Dalam masa pendemi seperti ini, mengaplikasikan tawakal secara aktif menjadi sangat penting. Hal itu dapat diaplikasikan ke dalam dua cara,&lt;i&gt;&lt;b&gt; Pertama&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;, menyerahkan suratan takdir setelah melakukan upaya keras yang bersifat aktif. Seperti, new normal, PSBB, PPKM, sosialisasi 5M; memakain masker, mencuci tangan dan menjaga jarak, menjauhi kerumunan dan mengurangin mobilitas. Karena hanya inilah langkah satu-satunya yang paling bijak hingga vaksin diberikan, bahkan setelah vaksin diberikan pun protokol kesehatan harus tetap digalakkan.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Kedua&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;, pengadaan vaksin, bila dikatakan vaksin yang ada adalah bersifat darurat karena terlalu cepat, maka jawabannya adalah ‘iya’. Tetapi dalam kondisi darurat seperti saat ini, bukan tidak beralasan menciptakan vaksin bersifat darurat. Ibarat orang lapar adalah, kondisi saat ini mendekati kelaparan, oleh karena itu tidak perlu menunggu makanan yang benar-benar bergizi, tetapi cukup untuk menjaga kelangsungan hidup adalag prioritas pertama, kira-kira itulah eksistensi vaksin yang ada pada saat ini.&amp;nbsp;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Kita tentu heran dengan pola pikir sebagian orang di masa pandemi seperti saat ini, sudah terpantau dengan mudah di Indonesia tiap harinya ribuan orang yang terpapar covid tapi pelanggaran protokol kesehatan sampai penolakan vaksin masih saja terdengar, nampaknya mereka hanya percaya dengan apa yang ia mau percaya sesuka hatinya. Salah dan benar, fakta dan fiktif hanya menjadi tumpukan berita belaka, tidak mampu mengubah ideologi dan tindakan kesehariannya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Sebagian masyarakat merasakan jenuh ‘terkurung’ di rumah hampir satu tahun ini terjadi lompatan berfikir tentang tawakal. Pemahaman tawakal yang mengandalkan kepasrahan perlu dikontruksi ulang supaya menduduki porsi yang sebenarnya, yakni tawakal sebagai konsep religi yang bersifat aktif dan jauh dari sifat pasif. Di sinilah peran agama dan pendakwah ditantang eksistensinya. 
&lt;/p&gt;</description><link>http://www.mwiyono.com/2021/04/potret-vaksin-dalam-rekonstruksi-tawakal.html</link><author>noreply@blogger.com (M. Wiyono)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhfesLZLkt9chUKhFsMgla4P8e4-U7hWF42MWdpIIrmGPwnPddY4UpHIgNeGebypZTGdRtTUpg7UQRTb1SIjOgUQjeD9mc7UphI5uAR6frhYHNTMEnS9uLw6pJ_C_tShL20LUSz9S9Ey404/s72-c/vaksin.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7718341072864739011.post-6786588121004290099</guid><pubDate>Fri, 02 Apr 2021 03:47:00 +0000</pubDate><atom:updated>2021-04-02T10:47:59.081+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">artikel</category><title>Banjir Perspektif Eko-Teologis</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhzcN5qPg4BFdjUfyNuY_5kqc-pNm3oBJjm3P5ZUHMMEHUJ44Kv4SBQBmGFc1cV_zaJu7OtmdHXgw-R7nUjaolwvlGN1U69nSz8v_MUYEHBJBR1S0-9Yu1LSCjD2NCJJB_wjLBtuXH8cXPM/s1280/banjir+perspektif.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="1134" data-original-width="1280" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhzcN5qPg4BFdjUfyNuY_5kqc-pNm3oBJjm3P5ZUHMMEHUJ44Kv4SBQBmGFc1cV_zaJu7OtmdHXgw-R7nUjaolwvlGN1U69nSz8v_MUYEHBJBR1S0-9Yu1LSCjD2NCJJB_wjLBtuXH8cXPM/s320/banjir+perspektif.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Terbit, 18 Pebruari 2021&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Manusia di daulat sebagai mandataris Tuhan di bumi (&lt;i&gt;khalifatullah fil-ardh&lt;/i&gt;) terkadang dimaknai berlebih, alih-alih sebagai khalifah semestinya melestarikan bumi, justru meng-eksploitasinya secara berlebih. Alam hanya dipandang sebagai kosmos berstruktur tumpukan material untuk ditundukkan, dinikmati dan diperalat untuk pemuas nafsu serakah belaka, efek dari semua itu adalah krisis ekologi. Dampak yang ditimbulkan ketika musim kemarau kekeringan, ketika musim hujan kebanjiran.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak diragukan lagi bahwa desain alam semesta pasti seimbang, tak terkecuali setting kemampuan bumi menyerap debit curah hujan kemudian menampungnya dalam rongga tanah sebagai cadangan air di musim kemarau. Namun pola pikir &lt;a href="http://www.mwiyono.com/2011/04/ulat-bulu-dalam-bingkai-teologis.html" rel="nofollow"&gt;teologis &lt;/a&gt;antroposentris yang dikotomis mendorong ego manusia sebagai makhluk superior bertindak sewenang-wenang, akibatnya peran dan fungsi bumi dalam mengolah air hujan terdegradasi.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wujud kesewenang-wenangan tersebut antara lain berupa penggundulan hutan, pendangkalan sungai, tata kelolah kota yang salah diperburuk lagi problematika sampah yang tak kunjung ditemukan jalan keluarnya. Berbanding terbalik dengan pertumbuhan demografi penduduk biasanya konservasi alam yang menurun. Sampai di sini, sebenarnya tidak salah bila dikatakan banjir disebabkan kesalahan tangan-tangan jahat manusianya itu sendiri.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut &lt;a href="http://www.mwiyono.com/2017/09/bumi-nusantara-selain-kaya-sumber-daya.html" rel="nofollow"&gt;Sayyid Hossein Nasr&lt;/a&gt;, kerusakan ekologis dalam pelbagai jenisnya dalam dua abad belakangan ini disebabkan krisis spiritual, mendudukkan manusia di singgasana penguasa alam (antroposentris), alam sebagai objek semata. Dampaknya, terjadi disharmonis antara penghuni dan lingkungannya. Walhasil, kerusakan ekologi makin parah, mata rantai ekosistem timpang, musim hujan kebanjiran, musim kemarau kekeringan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hujan mestinya anugerah berbalik jadi petaka, bukan rahmat melainkan laknat. Fritjof Capra mensinyalir, bahwa beragam krisis sejatinya disebabkan keserakahan dan kerakusan yang menempatkan ego manusia sebagai subyek penguasa di alam semesta ini. Kalau kita sepakat bahwa salah satu sumbangsih kerusakan ekologi akibat krisis spiritual yang antroposentris, maka tawaran solutifnya adalah meningkatkan wawasan eko-teologis secara massif.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&lt;b&gt;Wawasan Eko-teologis&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Teologi lingkungan (eco-theology) memandang alam dan manusia di hadapan Tuhan adalah sama, keduanya tidak boleh saling ‘menyakiti’. Pandangan semacam ini, satu sisi mendobrak ego, di sisi lain membangun kesadaran bahwa Tuhan poros seluruh kehidupan. Manusia dan alam sama-sama sebagai makhluk ciptaan-Nya. Oleh karena itu keduanya harus menjalin harmoni, pola hubungan subyek ineteraktif, mutualisme dan take and give bukan dieksploitasi atas dasar kehalifahan yang kerap ditunggangi sifat rakus.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wawasan eko-teologis menawarkan perspektif alternatif sebagai solusi atas penanggulangan banjir melalui dua hal; &lt;b&gt;&lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, kesetaraan manusia dan alam. Manusia dan alam adalah sejajar, masing-masing mengemban fungsi dan peran tersendiri saling menguntungkan dan bersimbiosis secara mutualistik. Eksistensi alam ini ditegaskan oleh Alquran, bahwa bukan diciptakan secara main-main (QS.44:39). Adapun karakter alam selalu bergerak konstan menuntut manusia sebagai khalifah di muka bumi untuk menyesuaikan dan menyeimbangkan, dalam konteks banjir manusia-lah yang semestinya bertanggung jawab melestarikan dan mengatur sedemikian rupa sehingga bumi tetap mampu menyerap debit hujan yang dikirim oleh langit. Bila terjadi langganan banjir, hal itu harus dipahami karena salah kelolah, bukan faktor cuaca semata.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, amanah dalam memelihara pesona alam persada dengan cara melestarikan dan mematuhi sunnatullahnya, tidak merusaknya (QS.2:11) supaya bumi ini tetap menjadi tempat yang survive untuk anak cucu kita. Bumi merupakan satu-satunya planet yang cocok kembang biak anak cucu manusia secara turun temurun, meskipun ada ilmuwan menemukan secercah kehidupan di planet lain. Pasti, ongkos hidup di sana sangat mahal sekali.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Konservasi alam dalam perspektif Islam sangat kental dengan ritual keagamaan, dimuat dalam berbagai literasi keagamaan. Misalnya, banyak dijumpai tema hadis tentang larangan membunuh hewan atau mencabut tumbuhan saat melaksanakan ibadah haji, larangan buang hajat di air tenang atau di bawah pohon rindang, memangkas pohon sedang berbuah dan masih banyak lagi tentang pelestarian lingkungan, namun terkadang karena kurang peka dengan makna esoteris, sehingga bentangan makna hadits menguap entah kemana.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hak milik seutuhnya terhadap alam semesta ini adalah Tuhan. Eksistensi manusia di dunia adalah hak pakai, karena itu harus melakukan harmoni serta melestarikannya dengan penuh amanah dan tanggung jawab sebagai mandataris Tuhan di alam raya ini. Banjir, tanah longsor dan sejenisnya tidak lain adalah bagian sabda alam dan protes karena telah diperlakukan semena-mena, seperti penggundulan hutan, buruknya drainase, sempitnya lahan hijau, tata kota yang buruk dan sederet masalah penyerta lainnya. Oleh karena itu, demi keselamatan dan kenyamanan samapi ke anak cucu  kita, wawasan lingkungan melalui perspektif teologis (&lt;i&gt;eco-theology&lt;/i&gt;) seharus terus disuarakan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.mwiyono.com/2021/04/banjir-perspektif-eko-teologis.html</link><author>noreply@blogger.com (M. Wiyono)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhzcN5qPg4BFdjUfyNuY_5kqc-pNm3oBJjm3P5ZUHMMEHUJ44Kv4SBQBmGFc1cV_zaJu7OtmdHXgw-R7nUjaolwvlGN1U69nSz8v_MUYEHBJBR1S0-9Yu1LSCjD2NCJJB_wjLBtuXH8cXPM/s72-c/banjir+perspektif.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Jl. Sumatera No.75, Jombang, Kec. Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten 15414, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-6.2929401 106.6936762</georss:point><georss:box>-10.673164996858919 102.29914495 -1.9127152031410821 111.08820745</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7718341072864739011.post-7766470907034867284</guid><pubDate>Wed, 02 Sep 2020 03:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2020-09-02T10:14:17.434+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">artikel</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">moderasi</category><title>Menyegarkan Nasionalisme Melawan Khilafah</title><description> 
&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg31p3eiJU_vG-_J9I-406EXSlq8EP38vizxI8JwDS3IbEMZ9OZ_fk9a0ppbrwzNmjKJk31SYItjMBSVr6zL8pDFSJOLFe0A4gKYOgvgs8fe6lI7-UfFqpODYlBgHDkyl0mIX4tZ2f8vb9C/w256-h254/28.+Opini_001.jpg" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="300" data-original-width="400" height="240" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg31p3eiJU_vG-_J9I-406EXSlq8EP38vizxI8JwDS3IbEMZ9OZ_fk9a0ppbrwzNmjKJk31SYItjMBSVr6zL8pDFSJOLFe0A4gKYOgvgs8fe6lI7-UfFqpODYlBgHDkyl0mIX4tZ2f8vb9C/w256-h254/28.+Opini_001.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Alquran menjadi kitab samawi terakhir paling sempurna diantara kitab samawai lainnya. Di dalamnya memuat aneka cakrawala pengetahuan yang tak lekang ditelan zaman. Alquran laksana samudera tak bertepi, kedalaman informasinya tidak terbatas. Untuk itulah, Alquran terus terbuka untuk diinterpretasi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
  
Nasionalisme menjadi perbincangan para akademisi sejak revolusi Amerika dan Perancis pada
abad ke-18. Isu nasionalisme berkembang ke Eropa Timur dan Tenggara pada abad
berikutnya hingga sampai di Afrika memasuki abad XX, termasuk di Indonesia
ditandai dengan Budi Utomo.&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;Nasionalisme didefinisikan sebagai paham cinta bangsa dan negara sendiri (KBBI). Adapaun tujuan paling esensial dari nasionalisme adalah membangun harmoni individu dengan masyarakat lain di atas papan bantalan cinta bangsa, negara dan tanah air. Kata kuncinya adalah cinta yang diasosiasikan secara lahiriyah dengan berperan serta merawat, mengasihi, tanggungjawab dalam mewujudkan kemanan dan kesejahteraan. Jadi, Nasionalisme secara substansi bukan ‘makhluk’ langka, meskipun secara wujud terbilang baru lahir. Kebaruannya itulah menimbulkan sebagian masyarakat gagal fokus dan menolaknya, dengan alasan nasionalisme tak berdalil. 
&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;
Indikasi penolakan tersebut dapat dilihat dari cuitan netizen dan sempat viral, kurang lebih dikatakan membela nasionalisme tidak berdalil, berbeda dengan memperjuangkan khilafah yang sudah jelas. Penulis duga, penolakan tersebut bukan satu-satunya, masih banyak kelompok kecil berkepala batu yang bersumsi nasionalisme itu ajaran baru dan kebarat-baratan, setiap yang baru dianggap tak berurat nadi terhadap sendi agama. 
&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;
Berbeda dengan kelompok moderat, baginya agama tanpa nasionalis akan mengantar pemeluknya menjadi ekstrimis, sebaliknya, nasionalis tanpa agama akan menggiring bangsanya menuju sekularisme yang kering spiritualitas. Antara negara dan agama dalam kontek kehidupan keduanya terletak dalam satu bingkai yang saling membutuhkan, karena berbicara agama, akan dibangun di mana jika tidak ada negara. Itulah yang menjadi pandangan para pendiri bangsa ini.
&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;
Akhir-akhir ini, keharmonisan hubungan keduanya sedikit terganggu oleh pengusung khilafah, fakta itulah menjadikan pekik nasionalisme beserta prinsip yang mengelilinginya laik untuk terus diteriakkan.
Tuduhan bahwa nasionalisme tidak berdalil, adalah kesalahan. Secara implisit, nasionalisme berurat dan berakar dalam ajaran agama, sejalan dan searah. Kalau kita menyisir lembaran-lembaran kitab suci Alquran, maka di sana akan ditemukan doa Nabi Ibrahim as., ” Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdo`a: Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya...” (QS. al-Baqarah: 126).
&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;
Ada dua hal yang sangat esensial dalam doa Nabi Ibrahim as tersebut. Pertama, keamanan sebagai kebutuhan, dalam konteks pelaksanaan ritual keagamaan, mustahil bisa melaksanakan agama dengan sempurna tanpa jaminan keamanan dari dalam negara. Oleh karena itu, kecintaan kepada negara yang diasosiasiakan dengan pengorbanan menjadi bagian dari cara beragama itu sendiri.
Kedua, rizki melimpah yang mengantar bangsanya kepada kesejahteraan. Hal ini dibutuhkan juga bagi orang beragama. Faktanya, banyak ajaran agama yang pelaksanaannya berbasis materi, misalnya zakat, infak, sedekah, wakaf, hadiah dan lain sebagainya. Lagi-lagi untuk mencapai kesejahteraan dibutuhkan situasi yang kondusif yang lahir dari dari kecintaan seseorang terhadap negerinya. 
&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;
Dua esesnsi doa Nabi Ibrahim as tersebut berbanding lurus dengan semangat nasionalis pancasila, yakni menciptakan keamanan bangsa dengan menjunjung persatuan dan kesatuan, sedangkan kesejahteraan sebagai tujuan akhir bernegara terwakili dengan membentuk keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya. Kedua esensi doa Nabi Ibrahim tersebut, secara tidak langsung, semangat dan ide-nya tercermin dalam sila-sila pancasila. 
&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;
Dengan demikian dapat disimpulkan sementara, apabila sepakat bahwa doa yang dipanjatkan Ibrahim adalah begian dari kecintaannya terhadap tanah air Mekah, maka semakin nampak jelas bahwa mencintai negeri (nasionalisme) mempunyai landasan yang cukup kuat. Tidak seperi yang dikatakan oleh sebagian kelompok yang anti nasionalisme. 
&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;
Di dalam Islam, sikap mencintai negeri (nasionalis) dapat dilacak dari kecintaan baginda Nabi saw terhadap Madinah, dimana beliau menetap dan dimakamkan. Ada riwayat dari ‘Aisyah ra, bahwa Rasulullah pernah bedoa, Ya Allah cintakanlah kami kepada Madinah sebagaimana engkau membuat kami mencintai Mekah, atau lebih cintakanlah kami kepada Madinah (HR. Bukhari). 
Secara eksplisit Nabi saw memohon agar hatinya ditanamkan benih kecintaan terhadap Madinah, di sana beliau bertempat tinggal dan jasad sucinya dikebumikan. Apa yang dipraktikkan dua Nabi dan Rasul di atas sudah cukup menjadi bukti yang kuat, bahwa mencintai negeri yang atau nasionalisme mempunyai pertalian yang kuat dengan agama.
&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;
Dapat ditambahkan di sini, bahwa karakter dasar manusia sangat mencintai tanah air. Tak heran seorang perantau merindukan kampung halamannya meskipun kondisinya jauh lebih terbatas daripada di kota tempat dia bekerja. Ibrahim bin Adham, seorang sufi termasyhur pernah berkata, “Saya tidak pernah merasakan penderitaan yang lebih berat daripada meninggalkan tanah air.” Hal itu menunjukkan betapa cintanya terhadap tanah air, dalam pribahasa dikatakan, hujan batu dinegara sendiri lebih dari pada hujan emas di negeri orang. 
&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;
Lebih jauh, Fakhr al-Din Al-Rāzi (w. 1210 M) mengatakan dalam tafsirnya, penderitaan orang yang meninggalkan kampun halamannya sama dengan orang yang bunuh diri. Hal itu menunjukkan betapa besar rasa cinta (nasionalisme) seseorang terhadap negeri kelahirannya. Sebaliknya, betapa tersiksanya orang yang terlempar jauh dari negeri sendiri. 
&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;
Rangkaian penjelasan di atas sudah lebih dari cukup, bahwa nasionalisme dalam arti mencintai tanah air yang berarti juga berkorban, membela serta merawatnya, tidak hanya bersadar terhadap tradisi keagamaan melainkan berurat-akar kuat dengan prinsip agama. 
&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://www.mwiyono.com/2020/09/menyegarkan-nasionalisme-melawan.html</link><author>noreply@blogger.com (M. Wiyono)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg31p3eiJU_vG-_J9I-406EXSlq8EP38vizxI8JwDS3IbEMZ9OZ_fk9a0ppbrwzNmjKJk31SYItjMBSVr6zL8pDFSJOLFe0A4gKYOgvgs8fe6lI7-UfFqpODYlBgHDkyl0mIX4tZ2f8vb9C/s72-w256-h254-c/28.+Opini_001.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7718341072864739011.post-2811330535940513945</guid><pubDate>Thu, 21 May 2020 10:46:00 +0000</pubDate><atom:updated>2020-05-22T11:17:53.549+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">tafsir</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">tasawuf</category><title>Tafsir Lailatul Qadar Perspektif Angka dan Hari</title><description>&lt;br /&gt;
&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi4n6DCGmkPTfo-nUfEhuyN-T9EW9gLQCDg5ty_P-c4uuR_78hpZavRQFH8KQGAdw1gzKkPm-QgZEA8t_jWxhoCnNaU8GW6xVvqxNDJB08pROLGZA1yl4cmSg1epwKIaPoRFbuzSHinE6X4/s1600/lailatul+qadar.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="300" data-original-width="400" height="240" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi4n6DCGmkPTfo-nUfEhuyN-T9EW9gLQCDg5ty_P-c4uuR_78hpZavRQFH8KQGAdw1gzKkPm-QgZEA8t_jWxhoCnNaU8GW6xVvqxNDJB08pROLGZA1yl4cmSg1epwKIaPoRFbuzSHinE6X4/s320/lailatul+qadar.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Alquran menjadi kitab samawi terakhir paling sempurna diantara kitab samawai lainnya. Di dalamnya memuat aneka cakrawala pengetahuan yang tak lekang ditelan zaman. Alquran laksana samudera tak bertepi, kedalaman informasinya tidak terbatas. Untuk itulah, Alquran terus terbuka untuk diinterpretasi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Berbagai pendekatan dilakukan untuk mengungkap kandungan isi Alquran, salah satunya adalah melalui pendekatan keajaiban angka-angka yang diaplikasikan untuk membedah misteri turunnya malam seribu bulan (&lt;i&gt;laylah al-qadr&lt;/i&gt;).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lailatul qadar menurut mayoritas ulama’ akan terjadi di setiap tahun di bulan Ramadhan. Pendapat tersebut menolak pendapat yang mengatakan bahwa lailatul qadar sudah tidak terjadi lagi. Selain itu, secara tidak langsung menolak pendapat yang mengatakan lailatu qadar--dalam arti malam penentuan perjalanan hidup—terjadi setiap malam Nisfu Sya’ban seperti dalam &lt;a href="http://www.mwiyono.com/2011/03/info-tafsir-al-jilani.html" target="_blank"&gt;tafsir&lt;/a&gt; al-Qurthubi yang disandarkan kepada Ikrimah. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Terjadinya lailatul qadar setiap tahun di bulan ramadhan diperkuat dengan penjelasan hadis tentang anjuran mencurahkan tenaga untuk ibadah di sepuluh hari terkahir setiap Ramadhan untuk mendapatkan lailatul qadar. Ulama’ berbeda pendapat mengenai waktu turunnya.   &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Secara bahasa, lailatul qadar bisa berarti malam penentuan, malam yang penentuan dan malam mulia. Disebut malam penentuan karena pada malam tersebut Allah menentukan nasib hambanya selama satu tahun ke depan. Penentuan tersebut ini merupakan realisasi dari penetuan taqdir azalinya Allah swt. Imam Mujahid menyebutnya dengan lailatul hukmi &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam Dar al-Masun karya al-Halibi, lailatul qadar diartikan sebagai malam yang sesak dan sempit, malam tersebut dunia seolah sempit dan sesak karena penuh sesak oleh malaikat yang turun ke bumi. Malam qadar juga diartikan malam mulia, beribadah pada malam tersebut pahalanya dilipatgandakan melebihi seribu bulan bahkan lebih. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Terminologi tersebut dapat ditampung secara keseluruhan, bahwa bahwa lailatul qadar merupakan malam yang mempunyai kemulyaan seribu bulan di mana malaikat turun ke bumi untuk mendoakan hamba Allah yang bermunajat seolah-olah alam ini menjadi sempit dengan banyaknya malaikat yang pada malam tersebut.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Lailatul Qadar dalam Perspektif Angka dan Hari &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mayoritas ulama’ sepakat, bahwa lailatul qadar turun pada malam di bulan bulan ramadhan setiap tahun, namun mereka berselisih pada hitungan malam keberapa lailatul qadar terjadi?. Ada beragam pendapat tentang hal ini. Dari sekian pendapat, yang paling populer adalah pendapat yang di sandarkan kepada Ibn Abbas bahwa bahwa laylah al-qadar terjadi pada setiap tanggal 27 Ramadhan. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam tafsir Ibn Katsir, dikutip sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah yang terdapat dalam musnad at-Thayalisi, bahwa Rasul saw&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
عن أبي هريرة : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال في ليلة القدر: "إنها ليلة سابعة - أو: تاسعة -وعشرين، وإن الملائكة تلك الليلة في الأرض أكثر من عدد الحصى&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sesuangguhnya Rasul saw bersabda: sesungguhnya lailatul qadar itu hari ke 27 atau 29, dan malaikat pada malam itu beradi dibumi lebih banyak daripada hitungan kerikil.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pendapat tersebut di atas didukung oleh ulama’ Hanabilah, Syafi’iyah dan Abu Hanifah. Bahkan menurut ulama Hanafiyah, bila ada orang yang berkata pada istrinya: “Kamu wanita yang dicerai pada malam Lailatul Qadar”, maka itu berarti talaknya jatuh pada tanggal 27 Ramadhan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam literatur kitab tafsir banyak dijumpai pendapat yang menyatakan lailatul qadar terjadi malam ke-27, sebut saja tafsir Dar al-Masun, Ruh al-Ma’ani maupun Murah Labid dan lain-lain. Argumen mereka disandarkan disandarkan kepada pendapat Ibn Abbas dan sebgian juga disandarkan kepada pendapat Hasan al-Bashri dan Ubay bin Ka’ab.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ibnu Abbas mempertimbangkan pendapatnya dengan argumentasi yang didasarkan kepada komposisi huruf yang terhimpun dalam kata “lailatul qadar" (&lt;i&gt;la-ya’-la-t a-l-qa-da-r&lt;/i&gt;),  jumlahnya  ada sembilan. Dalam surat al-Qadr.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ. وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ. لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ. &lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Frase “&lt;i&gt;laylah al-qadr&lt;/i&gt;” dalam surat tersebut terulang sebanyak tiga kali, apabila jumlah hurufnya dikalikan dengan banyaknya pengulangan kata tersebut, maka jumlahnya 27, angka inilah yang dikaitkan dengan malam ke-27 di bulan Ramadhan diduga sebagai malam lailatul qadar.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Masih menurut Ibn Abbas, dalam tafsir Ruh al-Bayan karya seorang mufasir sekaligus mutashawif, bahwa kalimat yang terdapat dalam surat al-Qadr secara keseluruhan berjumlah 30 kalimat, sedangkan  kata ganti “hiya” yang menunjuk kepada lailatul qadar pada surat tersebut tepat pada urutan ke-27. Hal ini dianggap sebagai isyarat turunnya lailatul qadar pada malam ke-27.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Perlu ditambahkan di sini, di dalam &lt;a href="http://www.mwiyono.com/2017/03/tanggung-jawab-sosial-dalam-al-quran.html" target="_blank"&gt;Alquran&lt;/a&gt; dan syariat banyak menyebut angka tujuh, seperti tujuh lapis langit, tujuh bumi, tujuh tingkatan surga, tawaf tujuh putaran, sa’i dan lain sebagainya. Hal ini secara tidak langsung mengarahkan lailatul qadar pada hari ke tujuh di sepuluh hari terakhir.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Selain interpretasi angka-angka seperti di atas, perlu penulis tambahkan sebagaimana yang dikutip oleh Abi Bakar Satha dalam I’anat al-Thalibin.  Lailatul qadar bisa juga ditafsirkan dengan menggunakan pedoman terjadinya awal bulan Ramadhan. Salah satunya adalah pendapat Syihab al-Qulyubi yang dirangkai dalam bentuk syair di bawah ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
يا سائلي عن ليلة القدر التي # في عشر رمضان الأخير حلت&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
فإنها في مفردات العشر #  تعرف من يوم ابتداء الشهر&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
فبالأحد والأربعاء التاسعة  # وجمعة مع الثلاثا السابعه&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
وإن بدا الخميس فالخامسة  # وإن بدا بالسبت فالثالثة&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&amp;nbsp;وإن بدا الاثنين فهي الحادي  # هذا عن الصوفية الزهاد&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Isi syair di atas dapat diterjemahkan bahwa apabila awal Ahad dan Rabu maka lailatul qadar nya Malam ke-29, apabilah Jumat dan Selasa malak lailatul qadar jatuh malam ke-27, bila Kamis maka malam ke-25, bila Sabtu  Malam ke-23 dan apabila awal Ramadhan hari Senin maka malam lailatul qadarnya adalah malam ke-21&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bagaimanapun upaya menemukan lailatl qadar seperti yang telah penulis paparkan di atas tidak lain adalah bagian dari ijtihad para ulama’, adapun kebenarannya bersifat relatif, yang pasti, hanya Allah yang mengetahuinya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lailatul qadar menjadi malam yang dirahasiakan oleh Allah, kerahasiannya itu terlihat dari penggunaan kata maa adraka ma laylat al-qadar. M Quraish Shihab menjelakan bahwa penggunaan ma adraka dalam Alquran dikaitkan dengan pertanyaan yang berkaitan dengan al-qiyamah, al-qari’ah, al-khuthamah, dapat diamati apa yang ditanyakan merupakan hal hal yang tidak mudah dicerna akal biasa.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam tafsir Bayan al-Ma’ani karya Sayyid Ali Ghozi al-‘Aniy (w. 1389 H) dijelaskan, ma adraka adalah kalimat tanya pengangungan, siapapun tidak akan mampu mengetahui makna asli dari hal yang dipertanyakan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mengamati alur pendapat Ibn Abbas dan Syihab al-Qulyubi, maka dapat disimpulkan sementara, bahwa melalui perhitungan angka maupun hari, lailatul qadar pada tahun ini jatuh pada malam ke-27, terlepas mengenai kebenarannya yang relatif, namun yang pasti, lailatul qadar tetap menjadi rahasia bagi setiap ummat. Dirahasiakannya lailatul qadar mengandung berbagai kebaikan, salah satunya adalah agar setiap hamba mencarinya di semua malam-malam bulan Ramadhan. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Wallahu a’lam bi shawab&lt;/div&gt;
</description><link>http://www.mwiyono.com/2020/05/tafsir-lailatul-qadar-perspektif-angka.html</link><author>noreply@blogger.com (M. Wiyono)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi4n6DCGmkPTfo-nUfEhuyN-T9EW9gLQCDg5ty_P-c4uuR_78hpZavRQFH8KQGAdw1gzKkPm-QgZEA8t_jWxhoCnNaU8GW6xVvqxNDJB08pROLGZA1yl4cmSg1epwKIaPoRFbuzSHinE6X4/s72-c/lailatul+qadar.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Jl. Sumatera No.75, Kp Jl. Jombang Rw. Lele No.02/007, Jombang, Kec. Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten 15414, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-6.2958748 106.7019902</georss:point><georss:box>-6.3587748 106.6213092 -6.2329748 106.7826712</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7718341072864739011.post-2007347307865009295</guid><pubDate>Wed, 20 May 2020 04:18:00 +0000</pubDate><atom:updated>2020-05-22T11:18:08.562+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">artikel</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">filsafat</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">teologi</category><title>Tanatophobia Di Tengah Corona Merona</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgZIlEZij5MYa3nXRB2_5GaFEIwh_q0ZCDMGtIsGaBrWJRC0Jdy445_7NBqoU3QQfAhss5FeHojlhcofFj7L8V8NDjT3EOKytD801TWaVWuv9NkdHGHXruz9xOWhQmbTVBh23BPg4hc_4vk/s1600/M.+Wiyono.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="624" data-original-width="669" height="298" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgZIlEZij5MYa3nXRB2_5GaFEIwh_q0ZCDMGtIsGaBrWJRC0Jdy445_7NBqoU3QQfAhss5FeHojlhcofFj7L8V8NDjT3EOKytD801TWaVWuv9NkdHGHXruz9xOWhQmbTVBh23BPg4hc_4vk/s320/M.+Wiyono.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dampak ‘serangan’ &lt;a href="http://www.mwiyono.com/2020/05/teologi-virus-corona.html" target="_blank"&gt;virus Corona&lt;/a&gt; saat ini telah dirasakan oleh seluruh dunia, secara fisik maupun mental. Pemerintahan di seluruh dunia berjibaku melawan melaluipembuatan kebijakan-kebijakan baru, semua fokus untuk menyelamatkan bangsanya masing-masing.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pandemi global yang terjadi saat ini, membuat mesin pemerintahan menjadi terganggu dan stagnan, tidak hanya terbatas secara fisik seperti ekonomi, politik, budaya dan pariwisata, tapi Corona juga menggelayuti mentalmasyarakat dunia. Banyak manusia di muka bumi saat ini merasa terancam, tidak nyaman dan cemas hingga takut terhadap kematian, walaupun setiap individu percaya bahwa kematian itu sebuah kepastian. Kalau tidak dicarikan solusinya dikhawatirkan akan menimbulkan penyakit thanatophobia. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Thanatophobia berasal dari bahasa latin yaitu &lt;i&gt;thanatos&lt;/i&gt; yang berarti kema ian dan &lt;i&gt;phobia&lt;/i&gt; yang berarti takut yang berlebihan. Jadi, thanatophobia diartikan sebagai gangguan kegelisahan yang diderita oleh individu karena takut yang berlebihan terhadap kematian. Pengidap thanatophobia melihat dirinya seolah sudah berada tepat di palang pintu kematian, sehingga aktivitasnya terhenti, karena takut mati ‘diserang’ Corona. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Penyebaran virus Corona yang sangat massif ke seluruh dunia dan grafik angkakorbannya terus meningkat, mengirimkan pesan kecemasan dan suasana kepanikan yang luar biasa, acap kali mendengar kata ‘Corona’. Belum lagi derasnya arus informasi yang hoax membuat galau ini semakin paripurna. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Untuk menghindari terjadinya sifat cemas yang berlebih itu, masyarakat butuh edukasi sebagai bentuk coping stress kepada mereka agar terhindar dari sifat thanatophobia. Menurut Rasmun dalam bukunya Stress, Coping dan Adaptasi, Coping merupakan respon individu terhadap situasi yang mengancam dirinya baik fisik maupun psikologik. (Rasmun, 2004; 29) &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Apabila tidak dipersiapkan dengan baik pasca stay at home maupun social distancing bukan tidak mungkin akan menyisakan pengalaman traumatik,mengubah prilaku sosial keseharian kita, dari ceria menjadi  pemurung. Padahal jaga jarak dan tinggal dirumah saja sementara ini adalah bertujuan untuk memutus mata rantai penyebaran belaka, bukan memupuk rasa takut mati&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
***&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sebenarnya apa yang membuat kita takut menghadapi kematian?. Ragib al-Asfihani dalam kitab Adz-Dzari’ah ila Makarim as-Syari’ah menjelaskan bahwa ada empat hal yang membuat seseorang takut mati, salah satunya adalah disebabkan kehidupan setelah mati menjadi adalah kehidupan secara isterius. Siapapun tidak mengetahui secara pasti dan ilmiah apa yang terjadi di sana. Mereka yang telah mati tak pernah kembali dan mereka yang hidup tidak kuasa untuk coba-coba masuk ke alam baka, dimana para leluhur telah mendahului kita. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Novelis Amerika Serikat, Andrew Anselmo Smith pernah  mengatakan,  “Manusia itu mempunyai sifat takut pada hal-ihwal yang tidak bisa difahami dan benci terhadap sesuatu yang tidak bisa ditaklukkan.” &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kematian yang sedang kita bahas ini,berkesesuaian dengan ugkapan Smith, bahwa kematian merupakan sesuatu yang ‘tidak bisa dipahami’ dan ‘tidak bisa ditaklukkan’. Untuk menghindari&amp;nbsp; terjangkit thanatophobia sebagaimana yang telah dipaparkan di atas, maka ada beberapa hal yang bisa dijadikan sebagai obat. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Pertama&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;, kematian adalah kepastian. Orang yang takut dan yang berani,keduanya akan sama sama merasakan kematian (&lt;i&gt;dza’iqatul maut&lt;/i&gt;). Oleh karena itu memikirkan, kemampuan manusia yang lemah ini terbatas hanya memilih sebab-sebab yang mengantar kematian. Dalam arti, menginginkan kematian dalam keadaan berbuat baik dan menyenangkan. Lebih baik mati sebab sakit biasa daripada sebab korona, ikhtiyar itulah yang saat ini sedang dilakukan bersama-sama. Selebihnya kehendak Tuhan yang pasti menang. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Kedua&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;, hidup ini bagaikan tugas atau kerja, sedangkan kematian ibarat menjemput honornya. Segala aktivitas kebaikan maupun keburukan punya konsekuensi masing-masing, kebaikan berbalas kebaikan pun juga demikian sebaliknya (Qs. al-Isra’:7). Dengan analogi seperti ini, kematian mesti disambut dengan gembira karena akan menerima balasan. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Ketiga&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;, kematian adalah kembali kepada pemiliknya, sebenarnya manusia tidak ditempatkan di dunia yang fana ini, tetapi ditempatkan di alam yang lebih kekal, oleh karena itu ia ‘diperjalankan’ ke alam berikutnya untuk menuju alam akhirat. Jadi, kematian layaknya seperti pulang kampung halaman. Karena itulah orang Islam dikenalkan dengan istirja’ atau ucapan &lt;i&gt;innalillahi wa innal ilayhi raji’un&lt;/i&gt;. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kematian menjadi  keniscayaan yang tak terbantahkan, oleh siapapun dan agama manapun. Oleh karena itu tidak terlalu penting memikirikan kematian, yang terpenting adalah ikhtiyar mencari penyebab kematian. &lt;i&gt;Stay at home&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;social distancing&lt;/i&gt; dalam konteks wabah seperti saat ini bukan karena takut kematian, melainkan ikhtiyar untuk lari dari penyebab kematian yang satu menuju kematian yang lebih baik &lt;/div&gt;
</description><link>http://www.mwiyono.com/2020/05/tanatophobia-di-tengah-corona-merona.html</link><author>noreply@blogger.com (M. Wiyono)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgZIlEZij5MYa3nXRB2_5GaFEIwh_q0ZCDMGtIsGaBrWJRC0Jdy445_7NBqoU3QQfAhss5FeHojlhcofFj7L8V8NDjT3EOKytD801TWaVWuv9NkdHGHXruz9xOWhQmbTVBh23BPg4hc_4vk/s72-c/M.+Wiyono.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Jalan Sumatera No.75, Jombang, Ciputat, Jombang, Kec. Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten 15414, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-6.2954672103462181 106.7018347830776</georss:point><georss:box>-6.2959792103462178 106.7009227830776 -6.2949552103462185 106.7027467830776</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7718341072864739011.post-5039689378782941581</guid><pubDate>Wed, 20 May 2020 01:45:00 +0000</pubDate><atom:updated>2020-05-22T11:17:38.565+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">artikel</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">syari'ah</category><title>Urgensi Ta'jil Zakat Fitrah</title><description>&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNukF7nXd3len0E5byIgy6uEIgeHEBU5AnC2-PodazHdxsJC88xr-VqxpCqW6EKzK3GFztVFzXTm9-VcZbRlchG18IWAoGTGhzOs5CalJcExWQCsbADEZWgM_eyGw-xTOvduLLXEgiPlgc/s1600/Urgensi+ta%2527jil+Zakat+24-04-20.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="675" data-original-width="683" height="316" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNukF7nXd3len0E5byIgy6uEIgeHEBU5AnC2-PodazHdxsJC88xr-VqxpCqW6EKzK3GFztVFzXTm9-VcZbRlchG18IWAoGTGhzOs5CalJcExWQCsbADEZWgM_eyGw-xTOvduLLXEgiPlgc/s320/Urgensi+ta%2527jil+Zakat+24-04-20.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Diterbitkan tanggal, 24 April 2020&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Islam sebagai agama pamungkas, hadir menawarkan konsep zakat sebagai salah satu solusi memerangi kemiskiann dan kekuarangan pangan, terlebih dalam kondisi sulit di tengah ‘gempuran’ virus korona yang belum terlihat tanda-tanda menurunkan tensi serangannya. Dampak korona sangat luar biasa; penghasilan ekonomi tergerus, PHK tak terhindari, kemiskinan meningkat dan pengangguran semakin merajalela. Bersamaan dengan itu, kita memasuki &lt;a href="http://www.mwiyono.com/2014/07/rukhsah-dalam-puasa-ramadhan.html" target="_blank"&gt;bulan suci Ramadhan&lt;/a&gt;, di mana semua umat Islam diwajibkan membayar zakat fitrah, melalui pendekatan maqashid syariah, penulis yakin zakat fitrah semakin menemukan urgensinya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Zakat tidak lahir begitu saja dalam ruang hampa masalah, melainkan ada maksud terentu dibalik pensyariatan zakat tersebut, sebagaimana syariat agama lainnya seperti shalat, puasa, haji dan lain sebagainya. Al-Syathibi dalam karyanya al muwafaqat secara meyakinkan mengatakan, syari’at bertujuan untuk mewujudkan kemashlahatan dunia akhirat kepada penganutnya (Beirut: 1999, 281). Sejalan dengan Fathi al-Daraini, ia berpendapat hukum-hukum itu tidak dibuat untuk hukum itu sendiri, melainkan dibuat untuk tujuan lain, yakni kemaslahatan (Damaskus, 1975, 28). tidak terkecuali dengan zakat, baik zakat fitrah maupun zakat mal.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Secara geneologi, maqashid al-syari'ah didasarkan kepada pertimbangan yang logis, bahwa wahyu agama mengandung spirit yang berlaku untuk seluruh umat Islam dari masa ke masa dan abadi. Melalui interpretasi-interpretasi spirit wahyu tersebut menghasilkan produk hukum yang adaptatif, lentur, relevan dan &lt;i&gt;salih fi zaman wa makan&lt;/i&gt;. Termasuk dalam hal ini adalah spirit &lt;i&gt;ta’jil zakat fitrah&lt;/i&gt; di tengah pandemi &lt;a href="http://www.mwiyono.com/2020/05/teologi-virus-corona.html" target="_blank"&gt;korona&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;Zakat Fitrah di Tengah Korona &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Zakat melahirkan dimensi kesalehan ganda, satu sisi mengandung kesalehan individual, di sisi yang lain, zakat sarat dengan kesalehan sosial. Kesalehan individual zakat fitrah tercermin dari pensucian diri dan membersihkan diri dari kikir. Selain itu, zakat fitrah merupakan implementasi iman serta bukti kepatuhan terhadap perintah agama. Jadi, zakat bukan semata-mata lahir dari sifat iba si kaya kepada si miskin, melainkan menjadi bagian dari komitmen keagamaan the have kepada &lt;i&gt;the have not&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dimensi sosial zakat--termasuk fitrah--menghendaki adanya pemerataan dan tolong menolong kepada fakir miskin, pelakunya melakukan zakat dengan suka rela, bukan karena dorongan rasio timbal balik untung dan rugi. Zakat fitrah semata-mata dimaksudkan untuk meringankan himpitan beban hidup bagi fakir dan miskin.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Zakat fitrah diwajibkan kepada semua orang Islam; kecil, besar, lelaki maupun perempuan. Semakin besar jumlah pemeluk Islam, semakin besar pula potensi zakat yang bisa dihimpun. Menurut globalreligiusfutures tahun 2020 penduduk muslim di Indonesia diperkirakan mencapai 263,92 juta jiwa. Sebuah jumlah yang fantastis, apabila dikelola dengan baik, maka zakat fitrah pasti memberi kontribusi positif terhadap ketersediaan pangan bagi fakir-miskin yang terus menerus tergerus tergerus oleh pademi saat ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Besaran zakat fitrah memang tidak sebanyak zakat harta (&lt;i&gt;maal&lt;/i&gt;), namun karena jumlah muslim yang banyak tersebut sehingga memperoleh jumlah yang besar pula. Besarannya adalah satu sha’ kurma atau gandum (HR. Bukhari) atau setara dengan 2,7 kg bahan pokok. Dalam distribusinya, zakat fitrah difokuskan kepada konsumsi tradisional, dalam arti dapat dimanfaatkan secara langsung oleh penerimanya (&lt;i&gt;mustahiq&lt;/i&gt;) untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Berdasarkan kalkulasi matematis, zakat fitrah yang dibayarkan oleh 263,92 juta muslim, dapat menghimpun bahan makanan 712,5 ribu ton. Perolehan zakat fitrah tersebut apabila dibagikan kepada masyarakat miskin yang saat ini diperkiran 24.79 juta jiwa, maka masing-masing mendapat lebih dari 28 kg per-jiwa. Jumlah tersebut sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka selama satu bulan Ramadhan di rumah saja.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kemudian untuk kebutuhan lauk-pauk dan kebutuhan lainnya masih bisa dapat dipenuhi dari zakat harta (&lt;i&gt;maal&lt;/i&gt;). Zakat harta justru lebih besar lagi, dengan asumsi semua orang kaya membayar zakat secara penuh, diperkirakan tahun ini ada 340 trilyun rupiah yang bisa dihimpun. Artinya, kebutuhan makanan pokok dan lauk pauk untuk masyarakat miskin dalam masa pademi korona selama bulan Ramadhan sudah aman tercukupi dari zakat. Keluarga miskin pegawai harian tidak harus keluar rumah untuk mengais nafkah, sambil menunggu ‘gempuran’ virus korona reda. Di sinilah nilai urgensi menyegerakan waktu membayar zakat (&lt;i&gt;ta’jil zakat&lt;/i&gt;)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Waktu afdhal untuk membayar zakat fitrah adalah menjelang hari raya tiba, namun boleh juga dibayarkan di awal Ramadhan menurut mazhab Syafi’i. Dari dua pendapat tersebut, apabila kita merujuk kepada spirit syariat zakat sebagai kesalehan sosial dalam kondisi pandemi korona seperti saat ini, bisa jadi membayar zakat fitrah di awal ramadhan justru lebih dianjurkan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Alasannya, karena dalam rangka upaya pemutusan mata rantai penyebaran virus korona. masyarakat disarankan untuk tinggal di rumah, namun bagi orang miskin hal itu tidak mungkin, karena ada tuntutan hidup dengan mengais nafkah di luar rumah. Kenyataan itulah yang menuntut adanya perubahan waktu untuk menyegerakan bayar zakat fitrah di awal sebagai pembelajaran sikap &lt;i&gt;sensitive to the reality.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Himbauan menyegerakan zakat di awal Ramadhan, secara formal juga disuarakan pemerintah melalui Surat Edaran Kemenag Nomor 6 tahun 2020, walaupun pemerintah sudah punya otoritas yang kuat terkait isu pengelolaan zakat berdasarkan UU RI No. 38 tahun 1999. Sayangnya kurang efektif. Dalam konteks &lt;i&gt;ta’jil zakat&lt;/i&gt; fitrah ini, mungkin sosialisasinya akan lebih efektif bila ada keterlibatan para da’i, kyai, pemuka agama dan tokoh masyarakat setempat. Kita semua tentu berharap, semoga pandemi korona ini tidak berlangsung lama, agar tidak menimbulkan dampak yang lebih serius lagi dari sekedar persoalan pangan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;i&gt;Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan..!!&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://www.mwiyono.com/2020/05/urgensi-tajil-zakat-fitrah.html</link><author>noreply@blogger.com (M. Wiyono)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNukF7nXd3len0E5byIgy6uEIgeHEBU5AnC2-PodazHdxsJC88xr-VqxpCqW6EKzK3GFztVFzXTm9-VcZbRlchG18IWAoGTGhzOs5CalJcExWQCsbADEZWgM_eyGw-xTOvduLLXEgiPlgc/s72-c/Urgensi+ta%2527jil+Zakat+24-04-20.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Jl. Sumatera No.75, Jombang Ciputat Tangerang Selatan 15414h Istimewa Yogyakarta 55262, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-7.7811819999999994 110.3085704</georss:point><georss:box>-85.563276 -54.925804600000006 70.000912 -84.457054599999992</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7718341072864739011.post-3803322889856614617</guid><pubDate>Wed, 20 May 2020 01:01:00 +0000</pubDate><atom:updated>2020-05-22T11:18:46.607+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">artikel</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">filsafat</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">teologi</category><title>Teologi Virus Corona</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg6xokxIgJKhepfYcJGeUSCi7Diiq0LrPndijKXrmEjXGj4CeBssbA9Q9P8MHOoH5c9wfzkwJ3RhXDGGVKhHuBJxfosM8jS7kPmFA564USUJlKwzEW2laLH1Us67lEg9XKDNjHfzkjGK0aT/s1600/teologi+corona_001.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="451" data-original-width="619" height="233" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg6xokxIgJKhepfYcJGeUSCi7Diiq0LrPndijKXrmEjXGj4CeBssbA9Q9P8MHOoH5c9wfzkwJ3RhXDGGVKhHuBJxfosM8jS7kPmFA564USUJlKwzEW2laLH1Us67lEg9XKDNjHfzkjGK0aT/s320/teologi+corona_001.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tiongkok menjadi negara pertama yang melaporkan kasus warganya terinfeksi Corona Virus Disease (Covid-19). Kemudian virus tersebut menyebar secara massif ke seluruh belahan dunia. Corona ‘mengamuk’ menyerang siapapun tidak pandang bulu, melumpuhkan berbagai sektor; politik, pariwisata, ekonomi dan budaya, bahkan beberapa ritual agama juga mengadaptasi dengan kondisi yang ada. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dunia sebesar ini terguncang oleh makhluk super kecil bernama Corona. Ia bagai hantu menakutkan yang senantiasa menebar ancaman, Corona hakekatnya ada tapi tidak nampak kasat mata, sehingga sulit dilawan. Semakin hari korbannya bertambah, saat ini (29/03/20) sudah menyentuh angka dua puluh enam ribu jiwa melayang, angka ini dinamis, sangat terbuka kemungkinan untuk terus bertambah. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ada narasi keagamaan yang coba-coba dihadapkan dengan pandemi global ini. Misalnya narasi “takut kepada Allah saja, untuk apa takut kepada Corona, mestinya takut hanya kepada Allah saja”. Corona dimaknai sebagai abail, dajjal, azab dan semacamnya. Menyikapi hal itu, ada baiknya kita melihat wabah ini dari perspektif teologis. (seperti tulisan-tulisan sebelumnya seperti &lt;a href="http://www.mwiyono.com/2016/04/NARKOBA.html" target="_blank"&gt;teologi penanggulangan narkoba&lt;/a&gt; )&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurut perspektif teologis virus Corona adalah makhluk ciptaan Tuhan, seperti manusia juga. Setiap makhluk memiliki karakter masing-masing, termasuk virus Corona. ia bersifat parasit dan mampu me-replikasi dirinya sehingga terus bertambah. Adapun media yang dipakai untuk berkembang biak adalah diri manusia, inilah yang menyebabkan manusia tidak tinggal diam, bergerak untuk bersama-sama melawannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kemampuan me-replikasi dirinya merupakan kemampuan yang terberikan (&lt;i&gt;given&lt;/i&gt;) dari Sang Pencipta, seperti manusia dengan kemampuan reproduksinya. Jadi, hemat penulis, tidak perlu dikaitkan dengan ababil, azab, dajjal atau sejenisnya. Bukan berarti ingkar terhaap kuasa dan takdir-Nya, tetapi mendudukkan perkara ini dalam sudut pandang teologi antroposentris, sehingga tidak acuh dan fatalistik.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Perlu dicatat, Corona bukan makhluk sakti, secara teologis ia hanyalah makhluk, sama seperti manusia, pasti ada sisi lemahnya. Para pakar virologi menjelaskan bahwa  virus jenis ini cangkangnya mudah rusak dengan deterjen, oleh sebab itu dihimbau rajin cuci tangan memakai sabun dengan air mengalir. Adapun penyebaran virus ini adalah melalui &lt;i&gt;droplet&lt;/i&gt;, untuk menjauhinya, pemerintah menghimbau &lt;i&gt;social distancing&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;work from home&lt;/i&gt;. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Penulis tidak sepakat kalau tinggal di rumah (&lt;i&gt;stay at home&lt;/i&gt;) dua pekan untuk menghambat penyebaran covid-19 ini berbanding lurus dengan aksi takut mati, sama sekali tidak, rajin cuci tangan, menjaga hidup bersih, social distancing maupun stay at home semata-mata bagian dari ikhtiyar seorang hamba tuhan yang lemah. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
***&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari perspektif teologis, paling tidak ada tiga hal yang dapat dilakukan dalam menyikapi wabah covid-19 ini. &lt;i&gt;&lt;b&gt;Pertama&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;, setiap penyakit ada obatnya. “&lt;i&gt;Allah tidak menurunkan penyakti kecuali Allah juga menurunkan obatnya&lt;/i&gt;” (HR. Bukhari), hadis yang senada juga dapat ditemukan dalam riwayat Imam Muslim, Rasul saw bersabda, “&lt;i&gt;semua penyakit ada obatnya, bila komposisinya cocok antara penyakit dan obat maka akan sembuh dengan izin Allah&lt;/i&gt;.”  &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Keyakinan sepeti di atas harus dibangun agar tumbuh optimisme kepada masyarakat luas. Para ilmuwan dihadapkan kepada medan baru untuk melakukan penelitian dan penemuan vaksin penawarnya. Bagi ilmuan, kehadiran Corona seharusnya dianggap sebagai seorang guru baru, kehadirannya akan mengajarkan sebuah objek ilmu yang baru. Dengan demikian tidak ada yang tak bermakna dalam hidup ini. Semuanya punya arti. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;b&gt;&lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, yakin bahwa hakikat kematian itu datangnya dari Allah swt. Dia yang menghidupkan dan yang mematikan (QS. Al-Hadid: 2), kematian merupakan suratan takdir, adapun serangan binatang buas, kuman atau virus—termasuk Corona—pada hakikatnya hanyalah sebab belaka. Ikhtiyar tak lain dan tak bukan adalah memilih sebab kematian yang lebih baik.   &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;i&gt;&lt;b&gt;Ketiga&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;, berdoa dan tawakkal. Doa menjadi sarana yang efektif setelah ikhtiyar, karena dalam keyakinan beragama, doa adalah senjata. Doa menjadi sarana paling efektif untuk ‘meminjam’ kuasa Tuhan. Rasul saw pernah bersabda tidak ada yang bisa menolak qadha kecuali dengan doa. Dia-lah Sang Kuasa terhadap segala-galanya, kuasa-Nya itulah yang hendak dipinjam dengan cara menyusun untaian doa-doa. Setelah itu semua dilakukan barulah kemudian disusul dengan tawakkal kepada Sang Maha Kuasa.  &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pandemi global saat ini harus disikapi dengan logika yang rasional-teologis, yaitu mengedepankan penalaran yang benar dan komprehensif antara kekuasaan Allah swt dengan ikhtiyar hambanya, agar tetap berfikir moderat. Moderat dalam arti, tidak takut berlebihan juga tidak nekad tanpa perhitungan. Kita semua berharap seraya &lt;a href="http://www.mwiyono.com/2012/06/di-balik-kekuatan-doa.html" target="_blank"&gt;berdoa&lt;/a&gt; semoga wabah ini lekas usai dan bumi pertiwi ini kebali ceria seperti sebelumnya. &lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;</description><link>http://www.mwiyono.com/2020/05/teologi-virus-corona.html</link><author>noreply@blogger.com (M. Wiyono)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg6xokxIgJKhepfYcJGeUSCi7Diiq0LrPndijKXrmEjXGj4CeBssbA9Q9P8MHOoH5c9wfzkwJ3RhXDGGVKhHuBJxfosM8jS7kPmFA564USUJlKwzEW2laLH1Us67lEg9XKDNjHfzkjGK0aT/s72-c/teologi+corona_001.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Jalan Sumatera No.75, Jombang, Ciputat, Jombang, Kec. Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten 15414, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-6.2954688731063895 106.70183709458722</georss:point><georss:box>-6.2964433731063894 106.70001309458722 -6.29449437310639 106.70366109458722</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7718341072864739011.post-3826654849931465171</guid><pubDate>Sat, 16 Sep 2017 12:29:00 +0000</pubDate><atom:updated>2020-05-22T11:19:29.076+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">artikel</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">moderasi</category><title>Islam Moderat Merawat Kebhinekaan</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjz1kEqhCJeW4-Ii57h_tWj-YOSpcnWUOKchVf1aesTl60PbDi0FTzqZHj5UiM-EVyE6b7ChnFzXp43FwCEYW-Nugror2CfAoTIoPtPWg4mAWsnQqUxM_S2A4mScjHudlwh7_mGd19j7hko/s1600/merawat+kebhinekaan.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="400" data-original-width="400" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjz1kEqhCJeW4-Ii57h_tWj-YOSpcnWUOKchVf1aesTl60PbDi0FTzqZHj5UiM-EVyE6b7ChnFzXp43FwCEYW-Nugror2CfAoTIoPtPWg4mAWsnQqUxM_S2A4mScjHudlwh7_mGd19j7hko/s1600/merawat+kebhinekaan.jpeg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Diterbitkan, 13 September 2017&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
Bumi Nusantara selain kaya sumber daya alamnya juga kaya etnis, suku, bahasa budaya dan agama. Keberagaman ini selain menjadi daya tarik tersendiri bagi para peneliti juga menjadi sebuah ancaman yang mengerikan bila tidak pandai-pandai merawatnya, terlebih persoalan yang berkaitan dengan perbedaan agama dan keyakinan. Tentu masih lekat dalam benak kita, bahwa secara historis, sejak penetapan sila pertama pancasila sudah berpolemik antara rumusan pancasila Muhammad Yamin dan sudah rentan dalam pancasila sudah mengalami&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Meskipun mayoritas penduduk di bumi Nusantara ini beragama Islam, namun rupanya para pendiri negeri sadar, bahwa Indonesia lahir dari rahim perjuangan bersama, bukan pejuang Islam semata, di dalamnya ada juga non-muslim yang berperan secara aktif mengantarkan Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaan, karenanya secaral legal-formal, Indonesia memberikan payung teduh agama dan keyakinan lain bernaung di bawahnya, selama keyakinan tersebut tidak mengancam eksistensi NKRI, sebaliknya, apabila ada sekelompok orang yang mengancam persatuan dan kesatuan republik ini, mereka adalah musuh bersama (common enemy), meski mengaku berfaham Islam sekalipun.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bagi penulis, dasar negara berfungsi mengatur tata cara atau rambu-rambu etika berbangsa, selama prinsip dasar praktik beribadah tidak dibatasi kekuasaan dasar negara yang ada, maka tidak ada alasan untuk ‘menentang’ dasar negara yang telah dirumuskan oleh pendahulu-pendahulu negeri ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dr, Mukhlis Hanafi seorang penulis dan penggiat kajian al Qur'an dalam kuliah perdananya kepada kader mufasir dan pasca tahfiz di Masjid Bayt  Al Qur'an, memperkenalkan misi Pusat Studi Al Qur'an (PSQ) dalam merawat Islam moderat (al-Islamiyah al-wasathiyyah) yang dituangkan dalam trilogi pembacan kitab suci al Qur'an. Sederhanya adalah menghidangkan Islam moderat di tengah-tengah masyarakat yang mejemuk. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Konsep ini menjadi kebutuhan yang bersifat urgen, di saat praktik keber-agama-an mengalami dilematis, satu sisi kajian al Qur'an semakin marak menyentuh berbagai lapisan masyarakat, sejak usia dini, remaja, dewasan dan orang tua, termasuk ranah jelajahnya pun meluas tidak hanya di masjid, di sekolah atau di kampus tetapi juga sampai ke instansi atau perkantoran tertentu, namun pada saat yang bersamaan, pemaknaan atas nama al Qur'an (baca: tafsir) seringkali ‘dicurigai’ sebagai alat untuk melegitimasi kelompok tertentu. Akibatnya, memperuncing perbedaan –bila keberatan dikatakan perpecahan--antar golongan di dalam internal Islam itu sendiri, bahkan bisa menimbulkan teror bagi agama lain yang bertempat tinggal dalam wadah besar bernama NKRI.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
***&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Merujuk kepada arti trilogi itu sendiri adalah kesatuan gagasan atau pokok pikiran yang dituangkan dalam tiga bagian yang saling terhubung. Dalam ranah kesusastraan, istilah ini memiliki arti seri karya yang terdiri atas tiga kesatuan yang utuh. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tiga kesatuan dalam pemahaman al Qur'an itu meliputi, pertama, membaca al Qur'an dan menghafal (tilawatan wa tahfidzan), kedua, pemahaman dan penafsiran (fahman wa tafsiran) kandungan isi al Qur'an atau penafsiran yang benar sesuai kaidah tafsir yang telah disepakati oleh para ulama’, ketiga, pengamalan dan dakwah (amalan wa da’watan), orientasi pemahaman tersebut dimaksudkan untuk pengamalan sehari hari secara pribadi, kemudian berlanjut kepada tuntutan berdakwah diformulasikan untuk menularkan ‘virus’ kebenaran interpretasi kitab suci kepada masyarakat yang mulai dikungkung penafsiran tekstual, bahkan terkadang rigid. Seorang muslim tidak hanya diarahkan membaca al Qur'an untuk dinikmati keindahan susunan bahasanya belaka, lebih dari itu, pembacaan terhadap al Qur'an harus diarahkan untuk membuka cakrawala makna pengatahuan yang terkandung di dalamnya. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pemahaman terhadap kandungan isi al Qur'an tidak hanya sebatas pelepas dahaga pengetahuan semata, bagai oase di tengah padang pasir, akan tetapi menuntut pembacanya untuk diamalkan, dipedomi dan dijadikan pegangan hidup sehari-hari, mampu tampil menjadi teladan masyarakat sekelilingnya. Perlu segera dicatat, bahwa toleransi di sini tidak identik dengan ‘pembiaran’ manafikan dakwah, melainkan harus terus menerus mengajak kepada jalan kebenaran sesuai dengan yang kita yakini, tetapi terus menerus melakukan gerakan dialogis dengan budaya yang berkembang tanpa melahirkan kekerasan dan kebencian kepada kelompok lain.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Baru baru ini, terlahir disertasi yang ditulis oleh Dr. Irawan, ia membincang empat tokoh pluralis dengan pendekatan filsafat perenial, keempat tokoh tersebut adalah Sayyid Husein Nasr, Gary Legenhausen, Gus Dur dan Cak Nur, keempat-empatnya mempunyai pandangan yang seragam, bahwa semua pemeluk agama berkeyakinan memperoleh keselamatan di alam ‘sana’. Dalam konteks kindonesiaan, pandangan tersebut ekuivalen dengan kebebasan beragama dan menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinan masing masing, mereka sejajar sama-sama berpayung teduh di bawah Pasal 29 UUD 1945. Bila demikian, maka harus ada komitmen bersama antar-intern ummat beragama merawat kebinekaan dalam bingkai persatuan dan kesatuan, tidak sekedar wacana tapi harus diwujudkan dalam bentuk nyata.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Prof. Nasaruddin Umar, guru besar bidang tafsir, dalam pengantar Muslim moderat: toleransi, terorisme, dan oase perdamaian dengan tegas mengatakan, salah satu ide dasar pemeliharaan moderasi Islam di negeri ini diwujudkan dalam komitmennya dalam melestarikan warisan khazanah Islam klasik dengan mengambil aspek-aspek hal baru yang relevan atau lebih dikenal dengan diktum al-muḥāfadhah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Harus diakui, memang bukan tugas ringan memuluskan jalannya agenda moderasi Islam, jalan yang dilalui penuh onak duri, banyak aral melintang, terlebih buku panduan sucinya berupa teks yang sudah final, sedangkan problem kehidupan berjalan secara dinamis, dibutuhkan keterampilan dan pengetahuan dalam bidang tafsir, supaya penafsiran kandungan teks suci tetap terjaga sakralitasnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Melalui penerapan konsep trilogi qur’ani tersebut di atas, terselip secercah harapan terang menciptakan Islam moderasi di negeri yang majemuk ini, sekaligus mengawal jalannya dinamisasi konstelasi perkembangan NKRI yang semakin majemuk. Selain itu trilogi qurani ini juga diusung dalam rangka menghindarkan masyarakat dari interpretasi ‘menyimpang’ yang berwawasan dangkal, tradisonalis-literalis atau liberal-rasionalis. Keterliabtan pakar tafsir, sarjana muslim dan pemerintah menjadi sebuah keniscayaan tak terbantahkan demi terwujudnya praktik beragama yang pluralis, toleran dan damai&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tulisan dimuat di Koran Harian Duta Masyarakat, 13 September 2017&lt;/div&gt;
</description><link>http://www.mwiyono.com/2017/09/bumi-nusantara-selain-kaya-sumber-daya.html</link><author>noreply@blogger.com (M. Wiyono)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjz1kEqhCJeW4-Ii57h_tWj-YOSpcnWUOKchVf1aesTl60PbDi0FTzqZHj5UiM-EVyE6b7ChnFzXp43FwCEYW-Nugror2CfAoTIoPtPWg4mAWsnQqUxM_S2A4mScjHudlwh7_mGd19j7hko/s72-c/merawat+kebhinekaan.jpeg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Jl. Sumatera No.75, Jombang, Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten 15414, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-6.2957712 106.70947479999995</georss:point><georss:box>-6.2958022 106.70943529999995 -6.2957402 106.70951429999995</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7718341072864739011.post-6826798273946599151</guid><pubDate>Sun, 25 Jun 2017 14:19:00 +0000</pubDate><atom:updated>2020-05-22T11:21:07.665+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">About-Me</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">syari'ah</category><title>Mohon Maaf Lahir Bathin</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sabtu senja, saat matahari tenggelam di kaki bumi bagian barat, serentak takbir menggema dimana-mana, dari segala penjuru kota hingga ke plososk-plosok desa, di masjid-masjid maupun di mushollah, di surau dan di meunasah, alunan takbir berlangsung semalam suntuk hingga pagi tiba.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhq488qYd_7ztC95v1gVhqz4CV0TITz7rMoHavkM1JVazAokiM4ZOEIME2DSjM7ywt2CjuRPLKY-A4El1_Y5USMacsKlY1SS0fxbcIZd1aA1iY0z4ivIo6gXrOjPR59JVplbvvvTBB-FSsK/s1600/wiyono+khutbah.jpeg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="400" data-original-width="400" height="320" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhq488qYd_7ztC95v1gVhqz4CV0TITz7rMoHavkM1JVazAokiM4ZOEIME2DSjM7ywt2CjuRPLKY-A4El1_Y5USMacsKlY1SS0fxbcIZd1aA1iY0z4ivIo6gXrOjPR59JVplbvvvTBB-FSsK/s320/wiyono+khutbah.jpeg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Rasa suka cita, haru dan sedih campur aduk bergemuruh menjadi satu dalam kalbu, seiring datangnya syawal tanggal 1, Bersuka cita karena sukses menuntaskan ibadah puasa satu bulan lamanya, didalamnya kita dilatih mengendalikan nafsu, syahwat perut serta keserakahan dalam berbagai jenisnya. Bukan bersuka ria karena melepas Ramadhan yang seyogyanya selalu dinanti kehadirannya&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kini…Idul Fithri adalah momentum penting menenun kembali persaudaraan dan merekatkan persahabatan yang mungkin pernah terkoyak oleh prilaku yang alpa atau pernah salah kata baik disengaja maupun terpaksa, di momentum Idul Fithri ini marilah kita tebar permaafan kepada sesama. Memaafkan merupakan manifestasi sikap luhur hasil dar oleh oleh hari raya, karena melalui sikap pemaaf benang persatuan mudah ditata, persaudaraan lebih mudah untuk dijaga. Memaafkan tidak lain adalah menghapus kesalahan orang lain, hingga kesalahan yang pernah terjadi tidak berbekas samasekali. Tak peduli dengan jatuhnya gengsi, permintaan maaf harus kita haturkan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Idul Fithri juga menjadi hari pertama praktik hasil puasa Ramadhan kita dan akan berjalan kontinyu sebelas bulan yang akan datang, semoga kita semua selalu dalam bingkai rajutan persaudaraan dan persatuan yang utuh. Amiin ya rabbal alamin&lt;/div&gt;
</description><link>http://www.mwiyono.com/2017/06/mohon-maaf-lahir-bathin.html</link><author>noreply@blogger.com (M. Wiyono)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhq488qYd_7ztC95v1gVhqz4CV0TITz7rMoHavkM1JVazAokiM4ZOEIME2DSjM7ywt2CjuRPLKY-A4El1_Y5USMacsKlY1SS0fxbcIZd1aA1iY0z4ivIo6gXrOjPR59JVplbvvvTBB-FSsK/s72-c/wiyono+khutbah.jpeg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Jl. Sumatera No.75, Jombang, Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten 15414, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-6.2957712 106.70947479999995</georss:point><georss:box>-6.2958022 106.70943529999995 -6.2957402 106.70951429999995</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7718341072864739011.post-5932645163254182492</guid><pubDate>Thu, 25 May 2017 14:59:00 +0000</pubDate><atom:updated>2020-05-22T11:25:20.335+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">renungan</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">syari'ah</category><title>Al-Qur'an Versus WhatsApp</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiNjsrgzgYh0cMGixEh7bJCCOlZ1MJlhUyUehPOg5rPP31SmMsju4qjUXCrG3vk0biNGo9c_-Rm3iW_Y4nOcBD-E5bnk-0ghvTgR9Zra730IAkRaAGtzGsAS329S7-f4Ld1vaU2YQOPg4C7/s1600/mwiyono+quran+vs+ramadhan.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" data-original-height="280" data-original-width="450" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiNjsrgzgYh0cMGixEh7bJCCOlZ1MJlhUyUehPOg5rPP31SmMsju4qjUXCrG3vk0biNGo9c_-Rm3iW_Y4nOcBD-E5bnk-0ghvTgR9Zra730IAkRaAGtzGsAS329S7-f4Ld1vaU2YQOPg4C7/s1600/mwiyono+quran+vs+ramadhan.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Saya tidak punya pilihan judul tulisan yang paling tepat selain pertarungan membaca al Qur'an dengan membaca WA (&lt;i&gt;WhatsApp&lt;/i&gt;) untuk menggambarkan pertarungan hebat saling tarik menarik antara membaca postingan di WA dengan membaca al Qur'an. Bagi orang lain mungkin mudah untuk meninggalkan ikut arus dalam percakapan ringan berbau candaan belaka, tapi tentu tidak bagi saya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Memang cukup menarik, bercakap-cakap di sebuah grup &lt;i&gt;ngalor-ngidul&lt;/i&gt;, selain tidak terikat oleh tema tertentu yang menegangkan syaraf otak untuk berfikir, temanya juga tak terbatas, lazimnya di WA membahas sekitar persoalan canda tawa, tegur sapa di alam maya, berkirim foto atau meme-meme lucu, bila ada tema serius, prosentasenya tak lebih dari satu sampai dua persen belaka. Alih alih ingin menggeser menjadi tema bagus, serius dan bermanfaat tetapi justru malah ikut terbawa oleh derasnya arus tema yang sedang mereka usung.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Satu lagi yang sering melintas dalam lini masa di WA saya adalah sharing dari grup lain yang murni hasil copy paste (&lt;i&gt;copas&lt;/i&gt;). Sehingga penulis dan pembaca sulit diklarifikasi secara ilmiah dengan data-data akademis. Bisa dibayangkan betapa durasi waktu yang terkuras untuk sebuah medsos WA khusunya, sosial media lain umumnya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Keutamaan waktu hari-hari biasa selain Ramadhan berbeda dengan sepanjang waktu dalam bulan Ramadhan, banyak hadits dan atsar sahabat yang membahas tentang hal itu, sehingga saran para ulama’ untuk memanfaatkan bulan Ramadhan yang sangat singkat dan terbatas tersebut hendaknya difokuskan mengeruk amal kebaikan sebanyak-banyaknya. Termasuk membaca al Qur'an dan menyelami lebih dalam kandungan isinya. Nah, disitulah terbayangkan bagaimana sulitnya menghindar dari godaan membaca canda tawa di grup WA yang tidak terbatas &lt;i&gt;vis a-vis&lt;/i&gt; membaca al Qur'an dalam durasi Ramadhan yang sangat singkat dan terbatas, tentu akan terjadi pertempuran sengit berebut waktu.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menghindari hal-hal yang tidak perlu memang butuh tekad kuat, ribuan tahun yang lalu kita diingatkan oleh Rasul saw, bahwa keimanan seseorang bisa dibaca dari kemampuannya menghindar dari sesuatu yang tidak berguna. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Setelah itu lalu &lt;i&gt;heninggg&lt;/i&gt;… sambil &lt;i&gt;mikir-mikir &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;</description><link>http://www.mwiyono.com/2017/05/al-quran-versus-whatsapp.html</link><author>noreply@blogger.com (M. Wiyono)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiNjsrgzgYh0cMGixEh7bJCCOlZ1MJlhUyUehPOg5rPP31SmMsju4qjUXCrG3vk0biNGo9c_-Rm3iW_Y4nOcBD-E5bnk-0ghvTgR9Zra730IAkRaAGtzGsAS329S7-f4Ld1vaU2YQOPg4C7/s72-c/mwiyono+quran+vs+ramadhan.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Jl. Sumatera No.75, Jombang, Kec. Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten 15414</georss:featurename><georss:point>-6.2929401 106.6936762</georss:point><georss:box>-58.6448121 24.0764887 46.0589319 -170.68913629999997</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7718341072864739011.post-2739397755013216760</guid><pubDate>Mon, 06 Mar 2017 15:14:00 +0000</pubDate><atom:updated>2020-05-22T11:26:46.181+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">artikel</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">jurnal ilmiah</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">tafsir</category><title>Tanggung Jawab Sosial dalam al-Quran </title><description>&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZ2yOTvxaFpikvYKQLfy7yMkH08RAKVzy5d_X9Ge8w-Yg36_a51m7yNaGSr_E0hYK-DaFgVHbO1a56tp108J59APIynsvuj8U-RVDR19Vb2OFYQ1U0T0IFH_oR5XjuNv48GmEuIV3kB8qh/s1600/tanggung+jawab+sosial.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="199" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZ2yOTvxaFpikvYKQLfy7yMkH08RAKVzy5d_X9Ge8w-Yg36_a51m7yNaGSr_E0hYK-DaFgVHbO1a56tp108J59APIynsvuj8U-RVDR19Vb2OFYQ1U0T0IFH_oR5XjuNv48GmEuIV3kB8qh/s320/tanggung+jawab+sosial.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Jurnal diya al-Afkar, vol.4, no.2 (2016)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;b&gt;Abstrak&lt;/b&gt;: Dalam al Qur'an tanggung jawab sosial merupakan salah satu bentuk kegiatan dalam rangka mempererat sekaligus sebagai perekat persatuan dan persaudaraan ummat, termasuk tanggung jawab sosial di bidang ekonomi, konsentrasi al Qur'an dalam bidang ekonomi sangat diperhatikan, mengingat ekonomi menjadi salah satu elemen pembentuk kesejahteraan, prilaku ekonomi yang dimaksud adalah meliputi produksi, kepemilikan dan dsitribusi, dalam kepemilikan al Qur'an mempunyai pola yang khas, berbeda dengan kepemilikan, kapitalis, sosialis maupun liberalis. Keunikan tersebut bila digali lebih dalam maka kita akan mendapatkan sebuah pola baru dalam pengentasan kemiskinan dan pemerataan. Konsep pemerataan dijelaskan oleh mufasir dengan berbagai cara, diantaranya adalah mengambil metode tematik sebagai pilihannya, sebagaimana yang tertuang dalam Tafsir Tematik Kemenag RI. Tulisan ini hendak melihat lebih dekat keunikan metode tematik yang digunakan oleh al Qur'an dalam menggali konsep-konsep tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Kata Kuci:  al-Qura’an, metode tafsir, tematik, tanggungjawab sosial.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;PENDAHULUAN&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Al Qur'an menempati posisi sentral sebagai sumber inspirasi, pandu kehidupan, sumber keilmuan dan sumber segala sumber, lautan keilmuan yang terkandung dalam al Qur'an bagaikan samudera yang tak pernah kering untuk dikaji, kedalaman maknanya tidak terbatas serta tak pernah membuat jenuh bagi yang mengimaninya. Namun di sisi lain, serangan, tantangan dan kritikan terus datang bergelombang menghantam al Qur'an, semakin keras pertentangannya bukan malah melemahkan justru melahirkan berbagai disiplin keilmuan yang melimpah. Karena itu, memahami metode tafsir menjadi kebutuhan yang urgen bagi para cerdik cendekia. Agar memperoleh makna yang utuh dan penjelasan yang akurat mengenai apa yang dikehendaki al Qur'an itu sendiri.   &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sejarah perkembangan metode tafsir, jika dirunut dari upaya penjelasannya terhadap kandungan isi al Qur'an sebenarnya telah dimulai pada masa Nabi dan para sahabat, meskipun pada saat itu belum disebut sebagai metode tafsir seperti saat ini. Pola penafsirannya pada masa itu masih bersifat global (ijmaliy). Dalam arti penafsiran yang dilakukan tidak menampilkan penjelasan secara rinci dengan argumen dan uraian maksud secara detail. Karena itu tidak keliru apabila dikatakan bahwa metode ijmali merupakan metode tafsir al-Qur’an yang pertama kali muncul dalam kajian tafsir Qur’an.  karakteristiknya bersifat singkat dan global, pemaknaannya biasanya tidak jauh dari makna aslinya, sesuai dengan namanya metode ijmāly. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ada beberapa cara yang ditempuh oleh para pakar tafsir dalam mengungkap kedalaman isi al Qur'an, ada yang menyajikan isi al Qur'an secara berurutan sesuai susunan mushaf seperti yang ada saat  ini, di sela sela ayat mereka jelaskan (tahlīly) dengan menonjolkan sisi kebahasaan dan kaitannya antara satu ayat dengan ayat lain (munāsabah) tanpa mengabaikan latar belakang ayat tersebut diturunkan (asbābun nuzūl). Kemudian yang lebih sering kita kenal sebagai metode tahlīly. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Metode lain dalam menjelaskan pesan al Qur'an adalah metode muqāran, yaitu mengumpulkan beberapa ayat yang berkaitan dengan tema tertentu, kemudian menganalisa kecenderungan beberapa mufasir untuk dikomparasikan, tentu  dengan memperhatikan latar belakang terlahirnya penafsiran tersebut.  Mufassir dalam menggunakan metode ini, dituntut menguasai banyak pendapat dan argumen mufassir yang berkaitan dengan tema yang dibahas tersebut.    &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Untuk menghilangkan kekaburan metode tematik dan komparasi, al-Farmawi menegaskan pembeda antara metode muqāran dan mauḍu’iy terletak pada tujuannya, bila tematik untuk sampai pada tujuan dengan cara menghimpun seluruh ayat dan menganalisis berdasarkan pemahaman ayat itu sendiri, sedangkan muqāran untuk mencapai tujuan dengan cara menghimpun berbagai pendapat mufasir dan kecenderungan pendapat-pendapatnya yang pernah ditulis mereka.  Perlu segera dicatat, bahwa semua metode yang dipakai oleh pakar penafsir tersebut, tidak lain adalah sebuah upaya untuk memberi pemahaman sedalam dalamnya maksud isi al Qur'an.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Melihat perkemabangan penafsiran dan pengetahuan yang demikian pesatnya, maka dibutuhkan kajian metode penafsiran yang bersifat tematik, hal ini dimungkinkan agar tercapainya usaha membiarkan al Qur'an berbicara dengan dirinya sendiri atau sering disebut dengan istantiqu al Qur'ān bi al Qur'ān dengan cara mengumpulkan ayat ayat dalam satu tema tertentu kemudian dianalisa dan disimpulkan kandungannya. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tafsir al Qur'an Tematik yang disusun oleh Tim Penyusun Lajnah Pentashihan al Qur'an Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI edisi 2 tahun 2011 ini adalah salah satu tafsir yang ditulis dengan menggunakan metode tematik, diharapkan dapat menjawab pelbagai permasalah ummat, karena itu tafsir tematik layak untuk ditulis dan digiatkan serta mengembangkan tema tema penting keummatan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam makalah ini, penulis hendak melakukan anilisis keunikan karakteristik metode penulisan tafsir tematik Kemenag RI dibanding dengan tafsir lainnya, Penulis mengambil bagian ke-2 dari lima tema yang telah diterbitkan, tema yang diangkat adalah tema yang berkaitan dengan Tanggung Jawab Sosial yang akan dibandingkan dengan metode penulisan tagsir tematik lain, yaitu tafsir al māl fi al Qur'an wa as-sunnah karya Dr. Musa Syahin dan tafsir at-takāful fi al Qur'an wa as-sunnah karya Badruddin an-Naajiy,   dengan perbadingan tersebut, diharapkan memperoleh perbedaan yang unik dalam tafsir al Qur'an tematik Kemenag RI. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dengan batasan masalah tersebut di atas diharapkan penelitian kepustakaan mampu menjawab rumusan masalah sebagai berikut: metode tematik apa yang dipakai dalam penulisan tafsir al Qur'an tematik Kemenag RI? dan Bagaimana karakteristik dan keunikan tafsir al Qur'an tematik Kemenag RI dibanding dengan tafsir tematik lainnya ?. Untuk menjawab rumusan masalah tersebut, penulis melakukan analisan data dari buku, jurnal maupun karya tulis yang berkaitan dengan tema tersebut di atas.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Selengkapnya lihat &lt;a href="http://www.syekhnurjati.ac.id/jurnal/index.php/diya/article/view/1142" target="_blank"&gt;link &lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://www.mwiyono.com/2017/03/tanggung-jawab-sosial-dalam-al-quran.html</link><author>noreply@blogger.com (M. Wiyono)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjZ2yOTvxaFpikvYKQLfy7yMkH08RAKVzy5d_X9Ge8w-Yg36_a51m7yNaGSr_E0hYK-DaFgVHbO1a56tp108J59APIynsvuj8U-RVDR19Vb2OFYQ1U0T0IFH_oR5XjuNv48GmEuIV3kB8qh/s72-c/tanggung+jawab+sosial.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Jl. Sumatera No.75, Jombang, Kec. Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten 15414</georss:featurename><georss:point>25.562265237136518 -8.7011722500000115</georss:point><georss:box>-49.366078262863482 -173.93554725 90 156.53320275</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7718341072864739011.post-2585277994992961112</guid><pubDate>Mon, 06 Mar 2017 15:01:00 +0000</pubDate><atom:updated>2020-05-22T11:28:29.334+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">artikel</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">moderasi</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">renungan</category><title>Pancasila, Merah Putih dan NKRI</title><description>&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjI6Izkl3A8C2q8aVkwN4EI2uXckez6p6uP0G2hcAQT82JtoZ0cVWmok51bgV1gvrAjNyRTroc6XN5iRW12BtLI_0tdUlgFWUZbW7_jgAaDiIW9gMF90jIKK78vavIEFryCMr2D2g78MIlj/s1600/pancasila+merah+putih+dan+NKRI.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjI6Izkl3A8C2q8aVkwN4EI2uXckez6p6uP0G2hcAQT82JtoZ0cVWmok51bgV1gvrAjNyRTroc6XN5iRW12BtLI_0tdUlgFWUZbW7_jgAaDiIW9gMF90jIKK78vavIEFryCMr2D2g78MIlj/s1600/pancasila+merah+putih+dan+NKRI.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Duta Harian, 25 Peb 2017&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kita tinggalkan sejenak gegap gempita pesta demokrasi pemilukada yang telah usai digelar, bagi pasangan calon (paslon) yang menang dalam raihan suara terbanyak jangan jumawah, sebaliknya bagi pasangan calon yang kalah harus legowo. Kalah dan menang kompetisi di dalam negara demokrasi merupakan hal biasa, keduanya sama-sama terhormat sebagai putera bangsa yang telah beri’tikad mempersembahkan dirinya mengabdi kepada NKRI, marilah kita fokus kembali kepada persatuan dan kesatuan membangun negeri dalam kerangka bacaan yang sama, yakni persatuan dalam bingkai satu bangsa dan negara di bawah ideologi Pancasila dan Sang Saka Merah Putih. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bukan lahir dari proses sulap ‘aba gadabra’, tapi diawali serangkaian perjuangan panjang yang melibatkan berbagai kalangan; etnis, suku dan agamawan yang berbeda-beda, serta pengorbanan yang tak ternilai harganya berupa tenaga, harta, airmata, darah bahkan nyawa. Oleh karena itu, tidak dibenarkan klaim agama claim terhadap NKRI ini milik etnis atau agama tertentu. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Biasanya, setiap peristiwa monumental ditandai dengan berbagai konsepsi dan simbol-simbol sebagai tonggak sejarah, tak terkecuali momentum lahirnya NKRI, sebut saja pancasila, bendera, patung proklamasi, tugu dan sederet simbol monumental lainnya. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Simbol-simbol tersebut dimaksudkan untuk mengenang peristiwa yang pernah terjadi masa lampau agar generasi setelahnya tidak mengalami ‘penyakit’ amnesia sejarah, meminjam istilah Bung karno, ‘jasmerah’ kepanjangan dari jangan lupakan sejarah. Dari perspektif komunikasi, simbol-simbol tersebut dimaksudkan menghidupkan kembali teladan patriotik secara dialogis yang berkesinambungan membentengi status merdeka yang telah susah payah diraih.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sangat tidak masuk di akal, bila muncul sekelompok kecil ‘alergi’ terhadap simbol-simbol tonggak sejarah tersebut yang notabene-nya secara legalitas formal diakui sebagai lambang negara sejak awal berdirinya bangsa ini, bahkan sejak kelompok kecil tersebut belum lahir. Menurut penulis, penghormatan terhadap simbol-simbol tersebut jauh panggang dari api dengan penghormatan dalam konteks beragama. Setidaknya ada dua simbol tonggak sejarah yang sedang hangat diperbincangkan dalam ranah publik, baik media cetak maupun online  &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pertama, Pancasila. Sewaktu masih duduk di bangku sekolah dasar, saya membayangkan burung Garuda yang bulu di lehernya dan sayapnya berjumlah 45 dan 17 helai, kemudian bulu ekornya persis berjumlah delapan helai. Kemudian lima sila adalah ucapan burung garuda tersebut, rupanya asumsi itu tidak benar. Garuda adalah lambang negara, sedangkan numerik di atas adalah simbol yang bertalian dengan hari kemerdekaan, lima sila yang melekat abstrak di dalamnya menjadi falsafah kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Bila demikian, maka pancasila menjadi hal yang sangat fundamental dan terhormat, siapapun yang menghinanya harus ditindak tegas.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Konstruk filosofis rumusan Pancasila sebangun dengan kultur kehidupan bangsa Indonesia yang heterogen dan plural. Penjabaran reflektif kelima silanya harus meng-ejahwentah dalam bentuk etika prilaku berbangsa dan bernegara, semua individu maupun kelompok yang tumbuh-kembang di bumi pertiwi ‘haram’ berseberangan dengan falsafah pancasila terlebih lagi bertentangan. Pendek kata, manusia Indonesia harus hidup berketuhanan, beradab, bersatu, suka musyawarah dan berkeadilan. Oleh karena itu, semua aktifitas kebangsaan harus mencerminkan penjabaran dari sila-sila Pancasila yang sudah diajarkan oleh guru-guru kita sejak usia dini itu, ia menjadi soko guru etik NKRI, karenanya tidak dibenarkan menolak kehadiran Pancasila.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
TAP MPRS/No.XX/MPRS/1966 menegaskan bahwa Pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum, dari sana diharapkan memancarkan sumber-sumber etika politik, ekonomi, sosial dan budaya. Hiruk-pikuk aktifitas berbangsa dan bernegara harus bertumpu dalam tatanan nilai yang terkandung dalam Pancasila, bagi Indonesia Pancasila laksana ‘kompas’ penunjuk arah untuk menyamakan visi dalam konteks pembangunan NKRI yang lebih kokoh dan solid, karena itu, tidak ada pilihan lain bagi orang orang yang tidak sepaham dengan pancasila, kecuali dia harus mencari lahan di belahan bumi lain sebagai tempat berdiam diri selain tanah pertiwi nan permai ini. Semua prolog diatas mengantarkan kepata kita untuk menyimpulkan, pancasila adalah perekat persatuan dan kesatuan dimana semua hiruk pikuk aktifitas kebangsaan berada di bawah falsafah nilainya. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kedua, Bendera Merah Putih, Secara jelas disebutkan dalam pasal 35 UUD 1945, Bendera Negara Indonesia ialah Sang Merah Putih, perlakuannya secara tekhnis diatur dalam UU No 24 Tahun 2009. Pasal tersebut berlaku universal berlaku semua rakyat Indonesia, keberlakuannya tidak diskriminatif, tak peduli berbeda agama, keyakinan, etnis, suku, maupun kelas sosialnya, baik pejabat maupun rakyat jelatah, tokoh masyarakat maupun orang biasa, semua ‘wajib’ berbedera negara Merah Putih dan harus menghormatinya sebagai bentuk kecintaan terhadap NKRI, melalui kibarnya semangat darah patriot bergolak melawan penjajah dengan niat yang suci yaitu memperjuangkan pekik kemmerdekaan Indonesia. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bendera Merah Putih sebagai sebuah simbol merdeka dikibarkan pertama kali oleh Bung Karno dan kawan-kawan, pada tanggal 17 Agustus di Jl. pengangsaan No. 56 Jakarta. Dari sana tonggak dimulainya tinta sejarah bangsa Indonesia meng-ada dalam statusnya yang merdeka. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam catatan sejarah, konon warna merah putih sudah masyhur sejak zaman majapahit, bahkan ada sejarah yang menyebutkan, Jayakatwang menyerang Singosari sudah menggunakan bendera merah putih, sekitar tahun 1292. Terlepas benar dan tidaknya, yang pasti, bendera Merah Putih saat ini sudah sah di mata dunia menjadi bendera negara Indonesia, di bawah kibarnya bangsa ini berdiam diri.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Sangsaka Merah Putih memang tak bertuliskan kata-kata, grafik image atau numerik, namun eksistensi warnanya memancarkan makna, merah artinya berani dan putih artinya suci. Ia harus dijaga, dihormati dan dibela bila ada yang coba-coba ‘mengubah’ ptronase orisinilitasnya. bukan membela sepotong kain dwi warna, tetapi membela Merah Putih berarti membela bangsa dan segala isinya. Di mana pembelaannya dibebankan di atas pundak putera bangsa dengan tekad baja dan semangat empat lima laksana pejuang terdahulu merebut bangsa ini dari cengkeraman kuku penjajah. Kira-kira penghormatan seperti itulah yang diamanatkan oleh UUD 1945 tersebut. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Perlu dicatat, menghormati bendera bukan kultus terhadap benda mati, melainkan bukti tanggung jawab dan cinta tanah air, dari sana kita dipatri menjadi NKRI yang jaya dan bebas dari penjajah. Pembelokan tafsir atas penghormatan yang dikait-kaitkan dengan agama –menurut penulis—adalah tafsir yang berlebihan dan a-historis. Keduanya beda kapling pemikirannya, bila akidah dalam ranah hidup beragama, maka bendera berada dalam ranah bernegara. Dengan demikian jelaslah kiranya, Pancasila, Bendera Merah Putih dan NKRI adalah tiga serangkai yang saling terkait dan terikat.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
selengkapnya linknya ada &lt;a href="https://harianduta.com/pancasila-merah-putih-dan-nkri/" target="_blank"&gt;di sini &lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
</description><link>http://www.mwiyono.com/2017/03/pancasila-merah-putih-dan-nkri.html</link><author>noreply@blogger.com (M. Wiyono)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjI6Izkl3A8C2q8aVkwN4EI2uXckez6p6uP0G2hcAQT82JtoZ0cVWmok51bgV1gvrAjNyRTroc6XN5iRW12BtLI_0tdUlgFWUZbW7_jgAaDiIW9gMF90jIKK78vavIEFryCMr2D2g78MIlj/s72-c/pancasila+merah+putih+dan+NKRI.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Jl. Sumatera No.75, Jombang, Kec. Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten 15414, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-6.2929401 106.6936762</georss:point><georss:box>-31.8149746 65.3850822 19.2290944 148.0022702</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7718341072864739011.post-5725154998506380122</guid><pubDate>Sun, 27 Nov 2016 15:44:00 +0000</pubDate><atom:updated>2020-05-22T11:30:00.683+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">artikel</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">filsafat</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">jurnal ilmiah</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">Kajian Tokoh</category><title>Filsafat Al Farabi; Metafisika, Kenabian dan Negara Utama </title><description>&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjRGY4Rvv7vn1m95LhqAHLA8JNaQ4eVYNdwfqsTkb6zJD1ZCagfOHPpbMJBLsZcEIl4W_IcXYQPkS55F3-K1XTb9yCY3r-wizkZMVZNG7LjIlT1LejDJL-4A_WDcirpVCPCP-qwnQ0iJYv9/s1600/alfarabi.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjRGY4Rvv7vn1m95LhqAHLA8JNaQ4eVYNdwfqsTkb6zJD1ZCagfOHPpbMJBLsZcEIl4W_IcXYQPkS55F3-K1XTb9yCY3r-wizkZMVZNG7LjIlT1LejDJL-4A_WDcirpVCPCP-qwnQ0iJYv9/s1600/alfarabi.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;Jurnal Sibstantia, April 2016&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
&lt;i&gt;Abstrack&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;
&lt;i&gt;Al farabi is a muslim philosopher who create the foundation of islamic philosophy in systemic and detailed to ease understanding for the later. The thought of his philosophy influenced by the the thought of greek philosophy, including problems the creation of the universe, in the sight of alfarabi that the universe is happening out from allah as a fist form called emanation. To obtain the truth, the philosopher can find it by using the sense, while the prophets find it by inspiration given among to the men as a god's choices. In the political field, alfarabi's viem with the concept of 'almadinat al fadilat' resembling the plato's concept of idealized country. In the concept of 'almadinat alfadilat', he said leaders are the first locomotion of the community for getting happiness, as a heart in the body which members of other body is an accomplice in that happiness desired&lt;/i&gt;.&lt;/blockquote&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
Kata Kunci : Al farabi, Filsafat, Metafisika, Negara Utama, Emanasi&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Pendahuluan&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Al Farabi (latin: Alpharabius) menduduki posisi yang sangat istimewa di jajaran para filososf muslim terkemuka. Terbukti pemikirannya masih mengilhami pemikiran filsafat paripatetik lainnya. Masignon memuji al Farabi sebagai pemikir muslim pertama yang setiap kalimatnya bermakna. Bahkan, Ibn Khulkan memujinya sebagai filosof muslim yang tak mungkin tertandingi derajat keilmuannya.  Ia telah berhasil merekonstruksi bangunan ilmu logika (manthiq) yang telah diletakkan pertama kali oleh Aristoteles. Bila Aristoteles yang telah berjasa memperkenalkan ilmu logika (manthiq) dan mendapat sebutan ‘guru pertama’, maka al Farabi atas jasa besarnya mengkombinasikan filsafat Plato dan Aristoteles ia layak disebut sebagai guru kedua  (al-mu’alim ats-tsāni).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Julukan guru kedua yang disematkan kepada al Farabi antara lain dengan alasan;  Pertama, sangat menonjol dalam ilmu logika (manthīq) yang menjadi pondasi semua cabang ilmu, terutama ilmu filsafat, logika yang dibangun Aristoteles dijelaskan kembali dalam karyanya fil ‘ībārat, penguasaannya terhadap ilmu logika dalam usia yang relatif sangat muda, bahkan mampu mengungguli gurunya Abu Bisyir Matta bin Yunus yang kala itu termasuk orang termasyhur bidang logika di Baghdad, kedua, al-Farabi filososf terbesar setelah filososf Yunani yang berhasil mengharmoniskan pemikiran-pemikiran Aristoteles dan Neo-Platonis. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ketiga, kepiawaiannya menyusun rambu-rambu pengetahuan filsafat sehingga mudah dikaji orang orang sesudahnya, ia tuangkan dalam kitab ihshā’ul ‘ulūm.  Kitab tersebut berisi lima bab dengan kategori berbeda yaitu ilmu lisan yang membahas lafadz dan pedoman pengambilan dalil bayaninya, ilmu matiq atau silogisme, ilmu pendidikan, ilmu jiwa dan teologi serta ilmu fiqh dan ilmu kalam,   Dalam kitab tersebut Sebagaimana Aristoteles yang membuat rumusan filsafat dan bisa dimengerti dengan sistematis orang orang setelahnya. Dalam ihsha’ul ulum al Farabi menjelas beberapa kategori ilmu dan urutan mempelajarinya.      &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Definisi filsafat menurut al-Farabi adalah al-‘ilm bi al-maujūdāt bi māhiya al-maujudāt. Ilmu yang menyelidiki hakikat sebenarnya dari segala yang ada, termasuk menyingkap tabir metafisika penciptaan.  Al Farabi menuangkan pemikiran filsafat penciptaannya dalam karyanya Ārā’ ahl al-madīnah al-fadhīlah dimulai pembahasan tentang tuhan sebagai sebab pertama, menunjukkan keseriusannya menyingkap tabir gelap pemikiran filsafat metafisika. Tuhan menurutnya sebab pertama dari semua wujud yang ada di jagat raya ini,  sama dengan konsep tuhan menurut madzhab Aristoteles bahwa, tuhan maha hidup, azali dan abadi, tiada yang paling awal darinya dan tiada yang paling akhir selainnya, tidak memerlukan iradah yang muaranya adalah sebuah pilihan, karena tuhan telah sempurna.  Dia tidak percaya bahwa tuhan tiba-tiba saja memutuskan untuk menciptakan alam, karena hal itu akan menimbulkan pemahaman tuhan yang abadi dan statis tiba-tiba mengalami perubahan.  &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Al Farabi sependapat bahwa alam ini ‘baru’ yang terjadi dari tidak ada --sama dengan pendapat al Kindi--, Berbeda dengan konsep filsafat metafisikanya Plato yang dikonsepsikan dengan alam idea, Plato hendak mengingkari sifat wujud tuhan dalam mensucikan tuhan, karena apabila mempunyai sifat maka tuhan tidak berbeda dengan wujud yang lain. Al Farabi mengartikan alam idea dari segi kekekalannya --mirip dengan alam akhirat--.  Dalam perjalanan sejarahnya ‘alam idea’ Plato ini dihidupkan kembali oleh Plotinus, yang kemudian lebih masyhur dikenal dengan nama neoplatonis. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Al Farabi memandang wujud yang ada ini, merupakan mata rantai wujud abadi yang memancar dari wujud tunggal, kekal dan abadi.  Penciptaan jagad raya ini terjadi dalam sepuluh emanasi secara bertingkat, masing masing membentuk bidang wujud  tersendiri, langit, bintang dan seterusnya,  pada tingkat kesepuluh emanasi terhenti karena daya akal sudah melemah. Bila ditelisik hingga relung-relung pemikiran al Farabi akan kita dapati samudera keilmuannya yang sangat luas bagai lautan yang tak bertepi. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Untuk itu, tulisan ini hanya akan mengulas secara kritis, tentang filsafat metafisika penciptaan alam, konsep akal dan wahyu yang berhubungan dengan kenabian serta ditambahkan dengan konsep negara utama, kesemuanya mempunyai kaitan yang sangat erat satu dengan lainnya. Adapun tujuannya adalah supay kita mendapatkan pemahaman yang integral dan menyeluruh antara hubungan akal-akal dalam filsafat al Farabi dengan filsafat kenabian dan filsafat politik tentang tujuan bernegara.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Biografi Singkat al-Farabi&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Nama aslinya Abu Nasr Muhammad Bin Muhammad Bin Lharkhan ibn Uzalagh al Farabi, lahir di kota Wesij tahun 259H/872,  selisih satu tahun setelah wafatnya filosof muslim pertama yaitu al-Kindi. Ayahnya dari Iran menikah dengan wanita Turki kemudian ia menjadi perwira tentara Turki. Atas dasar itulah al-Farabi dinasabkan sebagai orang Turki.  Karir pemikiran filsafatnya dalam menjembatani pemikiran Yunani dan Islam terutama dalam ilmu logika (manthiq) dan filsafat sangat gemilang, sehingga gelar sebagai guru kedua (al-mu’allim tsāni), layak disematkan. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Diriwayatkan telah belajar logika di Baghdad dari para sarjana kristen Yuhanna ibn Hailan (w. 910 M) dan Abu Bisyr Matta (w.940 M), perlu segera dicatat bahwa, Baghdad saat itu termasuk pewaris utama tradisi filsafat dan kedokteran di Alexandria.  Pertemuan dan pergumulan pemikiran di situlah nantinya menjadi konektor pemikiran al-Farabi yang meramu filsafat Islam dengan filsafat Yunani Neo-Platonis,  Al Farabi dalam perkembangannya juga tercatat sebagai guru Yahya ibn Adi (w. 974 M), seorang penerjemah kristen nestorian sebagai tokoh logika Ibn al-Sarraj.  Karir pendidikannya cukup panjang hingga pada tahun 330/941 M, al Farabi meninggalkan Baghdad menuju Aleppo kemudian ke Kairo dan menghembuskan nafas terakhirnya di Damaskus, tepatnya pada bulan Rajab pada tahun 339 H atau Desember 950 M. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Beliau termasuk filososf yang produktif dalam melahirkan berbagai karya tulis, baik berupa buku maupun berupa tulisan essai pendek dan makalah. Di antara karyanya adalah; Aghrādhu mā ba’da ath-thābi’ah, Al-Jam’u baina Ra’yai al-Hākimain,  karya ini menurut beberapa sumber berisi tentang kemampuan al Farabi mengulas dan mempertemukan pemikiran filsafat Plato dan Aristoteles. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Karya penting lainnya adalah Risālah al-itsbāt al-mufāraqāt, At-Ta’līqāt, al jam’u baina ra’yul al-h ā kimain, kitab as-syiyāsāt al-madīnah al-fadhīlah, al mūsiqā  al-kabīr, Risālah tahsīlu as-sā’adah,‘Uyūn ul-Masāil, al-Madīnah al fadhīlah, Ārā’ ahl al-madīnah al-fadhīlah, adapun al ihshāul ulūm konon merupakan karya terakhir sebelum ia wafat.  Bukti bahwa al Farabi sebagai filosof yang mendalami filsafat Aristoteles adalah, konon pada saat Ibn Sina tidak memahami isi Maqālah fī Aghrād al-hakīm fī kulli Maqālah al-marsūm bi al-hurūf karya Aristoteles dan ia membacanya berulangkali hingga hingga 40 kali, akhirnya berlabuh pada karya al Farabi yang berjudul Tahqīq Gharad Aristātālīs fī Kitāb mā ba’da al-Thabī’ah kemudian tersingkap ‘tabir gelap’ isi pemikiran karya aristoteles tersebut. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Filsafat Metafisika&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tak perlu dipungkiri bahwa semua muslim percaya bahwa semua wujud yang ada adalah ciptaan Allah SWT, tetapi bila dikejar pada pertanyaan paling mendasar tentang dari mana dan bagaimana prosesnya tuhan yang maha tunggal itu menciptakan jagad raya menjadi beragam?, karena hal ikhwal penciptaan secara detai tidak pernah dikupas secara elaboratif oleh al Qur'an maupun hadits, karena kita teahu bahwa al Qur'an memuat hal-hal yang bersifat pokok dan global saja.  Bagi filosof memandang proses penciptaan semesta tak cukup puas dengan sekedar kata ‘percaya’ dan akhirnya berfikir mencari rujukan karya-karya filosof Yunani sebagai tangga bantu dan sarana untuk menjawabnya secara rinci dan logis serta sistematis.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam dunia filsafat menyoal penciptaan , ada dua pendapat tentang penciptaan, Pandangan para filosof Yunani umumnya menyatakan bahwa, alam semesta dengan segala pernak-perniknya yang ada ini tidak diciptakan dari bahan tertentu bentuknya, melainkan dari ketiadaan (creatio ex nihilo), Tuhan menyelenggarakan penciptaan (creatio) dengan tidak memakai bahan apapun, melainkan dari katiadaan (ex nihilo).   dengan hal ini berarti alam semesta adalah suatu creatio ex nihilo dari pihak tuhan. Sedangkan pandangan lain menyatakan bahwa alam ini diciptakan dari materi awal (al-hayūlā) yang bersifat abadi, alam ini tidak dicipta dari tiada (creatio an ex nihilo) melainkan ada sejak tuhan ada, mustahil tuhan ada namun tanpa ciptaan, meski secara prioritas waktu berdekatan, namun Tuhan harus dipandang sebagai pencipta.          &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Mengawali filsafat emanasi versi al Farabi, mungkin akan lebih mudah dimengerti bila dirunut melalui tangga filsafat metafisika neo-platonisme, keduanya mempunyai kedekatan dalam pola pikirnya. Menurut Plato (w. 347 SM) di balik wujud alam ini, ada alam ide (‘alam mitsāl) yang kekal dan abadi. Ide-ide abadi tersebut bersifat non-material bersifat tetap dan tidak berubah-ubah.  Dunia ide adalah dunia kekal dan abadi, sementara yang tampak di dunia ini adalah dunia bayang-bayang atau copy dari dunia ide yang abadi tersebut. Dunia ide tetap ada dan kekal meskipun dunia bayangannya musnah, seperti manusia ini akan musnah tetapi dunia ‘ide’ manusia akan abadi selamanya, dengan pemikirannya yang selalu berkaitan dengan ide ini, menujukkan bahwa Plato termasuk aliran filsafat idealisme. Dengan membagi realitas menjadi dua seperti itu, Plato berusaha mempertemukan antara ‘filsafat ada’  menurut Parmenindes dan ‘filsafat menjadi’  menurut Heraklitos. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Lain Plato lain pula Aristoteles (w. 324 SM) selaku murid Plato, ia mencoba melengkapi gagasan Plato yang masih sederhana, baginya ide-ide yang dijelaskan plato tidak menghasilkan jawaban apa-apa. Aristoteles memecah dualisme Plato antara alam idea dan alam materi dengan mengemukakan bahwa, alam ide dan materi itu menyatu, sejalan dengan filsafat metafisikanya Aristoteles bahwa setiap benda terdiri dari jiwa (matter) dan bentuk (form) jiwa adalah substansinya sedangkan melalui bentuk itulah jiwa menampakkan eksistensi. Ia telah mengatasi dualisme Plato tentang idea dan wujud, sedangkan Aristoteles lebih kepada jiwa dan materi menyatu dalam sebuah wujud.  Penggeraknya –menurut Aristoteles-- adalah sesuatu yang tak bergerak yang bersifat abadi dan kekal atau lebih dikenal dengan penggerak yang tidak bergerak (al-muhārik al-ladzī lam yatakharrāk) yaitu Tuhan atau dikenal dengan causa prima.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bagi neo-Platonis, akal menjadi adalah wujud yang paling jelas ‘menyerupai’ Tuhan dari segala alam semesta. Kemudian dari akal tersebut ber-emanasi dan menghasilkan jiwa,  jiwa-jiwa ini mempunyai daya pemahaman dan melahirkan bentuk. Ada tiga jiwa yang berbeda yaitu jiwa tumbuhan, hewan dan manusia.  dari jiwa melahirkan jasad yang merupakan pelimpahan wujud tingkat ketiga, &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Akal   Ide&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jiwa   Pemahaman&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Jasad   Bentuk&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada wujud ketiga ini telah mengalami perubahan yang jauh dari sempurna. Mengingat jasad lebih jauh posisinya dengan Akal ((bc. Tuhan). Namun demikian, hal itu tidak kemudian mempunyai kemiripan dari segala-galanya. Jika akal mempunyai ide, jiwa memiliki pemahaman, maka jasad memiliki bentuk.  Semoga gambaran singkat tersebut bisa dijadikan batu loncatan untuk memahami teori emanasi ala al Farabi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Untuk mendapatkan pemahaman mendalam, Al Farabi setelah membaca karya metafisika-nya Aristoteles ratusan kali tapi tidak mendapat jawaban yang memuaskan, kemudian memutuskan untuk menjelaskan kembali konsep metafisika penciptaan alam dari wujud tunggal yang abadi dengan penjelasan yang lebih detail dan sempurna, menurut al Farabi, alam tercipta melalui pelimpahan atau emanasi.  Proses emanasi berlangsung dari akal pertama hingga akal ke sepuluh secara serentak dan bertingkat. Disinilah nampak sekali pengaruh Neoplatonisme terhadap pemikiran metafisikanya al Farabi, dan dapat disimpulkan bahwa alam ini berasal dari zat yang maha tunggal, kekal dan suci melalui pelimpahan (emanasi).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Argumen al Farabi dalam penciptaan alam ini diawali dengan adanya semua alam ini berasal dari wujud tunggal yang mesti ada (wajibul wujūd) yaitu Tuhan, kemudian melimpah menghasilkan (mumkin al-wujūd)  . Argumen lain yang dijadikan dasar oleh al Farabi adalah keteraturan alam dan tata letaknya yang sangat teratur seperti anggota tubuh yang bekerja sesuai fungsinya.  Hal ini menunjukkan alam ini tidak terjadi secara kebetulan, melainkan dari wujud yang tunggal dan melimpah sedemimikian rupa. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Emanasi semua wujud pada dasarnya berasal dari wujud yang satu dan menghasilkan wujud lain,  terjadi dalam bentuk tunggal dan bertingkat secara mekanis-determinis yang melahirkan alam beraneka ragam. Menurutnya akal murni berfikir tetang dirinya yang menghasil wujud pertama (al maujud al awwal) yaitu Tuhan sebagai akal yang berdaya fikir tentang diri-Nya. Dari daya pemikiran Tuhan yang besar dan hebat itu timbul wujud kedua yang merupakan akal pertama yang juga punya subtansi &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Wujud kedua atau akal pertama berfikir tentang dirinya dan menghasilkan wujud berupa langit pertama, akal kedua berfikir tentang tuhan melahirkan akal ketiga, akal ketiga berfikir tuhan menghasilakan akal ke empat dan seterus sampai akal kesepuluh, dari kesepuluh akal akal tersebut berfikir tentang dirinya menghasilkan wujud materi berupa Lanit, Bintang, Saturnus, Yupitaer, Mars, Matahari, Venus, Mercury dan Rembulan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Maujudul Awwal&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Tuhan Befikir tentang Tuhan Akal berfikir &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
tentang dirinya &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Wujud 2 Akal 1 Langit&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Wujdu 3 Akal 2 Bintang&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Wujud 4 Akal 3 Saturnus&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Wujud 5 Akal 4 Yupiter&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Wujud 6 Akal 5 Mars&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Wujud 7 Akal 6 Matahari&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Wujud 8 Akal 7 Venus&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Wujud 9 Akal 8 Mercuri&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Wujud 10 Akal 9 Rembulan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Wujud 11 Akal 10 &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
(Akal Fa’al) Wujud Roh&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pada akal kesepuluh dayanya sudah melemah dan tidak mampu lagi beremanasi. Begitulah mata rantai emanasi berlangsung. Akal kesepuluh ini mengatur dunia fana dan ruh ruh manusia serta empat unsur materi pertama dalam bentuk yakni air, tanah, api, udara.  Selanjutnya dari unsur-unsur ini bermunculan materi lain seperti besi, aluminium, tembaga, perak, emas dan muncul juga tanaman dan hewan, termasuk manusia yang diaktualkan oleh akal-akal yang berhubungan dengan akal kesepuluh (‘aql fa’al). &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dengan demikian, al Farabi hendak menjelaskan bahwa walaupun alam itu berasal dari dzat yang satu yaitu Tuhan, akan tetapi keberadaannya qadim karena dalam proses emanasi menurutnya tidak berada dalam lingkup ruang dan waktu seperti waktu di mana kita berada pada saat ini. Mungkin itulah yang dimaksud dengan waktu transenden.  &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Menurut Harun Nasution, kalau kaum Mu‟tazilah, berusaha memurnikan tauhid dengan jalan peniadaan sifat-sifat Tuhan, berbeda dengan kaum sufi yang mensucikan tuhan dengan cara peniadaan wujud hakikat yang tampak selain wujud Allah,  maka kaum filosof Islam yang dipelopori oleh al-Farabi melalui teori emanasinya (al-faidh al ilāhiy) hendak mentaqdis-kan tuhan dengan jalan meniadakan arti banyak dalam diri Tuhan,  di sini dapat ditarik benang merahnya, bahwa, baik pemikiran filsafat, tasawuf dan wahyu sama sama ingin mengokohkan ke-esa-an Tuhan melalui metode yang berbeda beda. yang membedakan adalah metode yang ditempuhnya.   Rupanya tidak hanya al Kindi dan Al Farabi, tetapi hal yang sama juga dijadikan pedoman oleh Ibn Sina sebagai generasi sekaligus murid al Farabi.  &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Hubungan Akal, Wahyu dan Konsep Kenabian&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Akal dalam pemikiran filsafat al Farabi menempati tempat istimewa sebagai pangkal epistemologinya, termasuk filsafat metafisika yang berhubungan dengan penciptaan. Konsep akal ini erat kaitannya dengan teori kenabian, di mana akal Nabi mampu berhubungan dengan akal ke sepuluh untuk mendapatkan gambaran ‘ada’ dari yang abstrak berupa pengetahuan.  Secara garis besarnya akal menurut al Farabi dibagi menjadi dua, &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
1) akal praktis yang berfungsi menyelesaikan hal hal tekhnis dan keterampilan, &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
2) akal teoritis yang membantu jiwa mendapatkan inspirasi atau ilham, &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dari akal teoritis tersebut ia mampu menangkap konsep yang tak bermateri (akal actual), kemampuan akal aktual ini dalam menangkap obyek-obyek yang abstrak semata mata hanya dimiliki oleh orang orang tertentu, termasuk di dalamnya adalah Nabi dan Filosof, atau disebut dengan akal intelektual.  &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Melalui akal intelektual, manusia bisa mencerap hal-hal abstrak yang sama sekali tidak berhubungan dengan materi, bagi seorang Nabi dengan akal intelektual akal mustafadh, seorang Nabi bisa menerima kode atau isyarat wahyu.  Sedangkan upaya filosof untuk berkomunikasi dengan akal fa’al melalui akal intelektual dapat dicapai melalui jalan kontemplasi dan perenungan atau melalui kegiatan berfikir mendalam terhadap sesuatu. Akal inilah yang nantinya akan menjadi modal bagi kita untuk memahami konsep kenabian (nubuwwah) ala al Farabi.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Secara bahasa, wahyu berasal dari kata waha, yahyi, wahyan yang berarti samar atau rahasia adalah pemberitahuan dari Allah secara cepat dan samar disertai dengan keyakinan yang penuh. Baik dengan perantara maupun tidak, denga suara maupun langsung dihujamkan ke dalam hati.  Wahyu dituangkan oleh Tuhan secara langsung kepada Nabi pilihannya, bukan berdasarkan keinginannya sendiri.  Sehingga tidak diketahui oleh manusia, wahyu merupakan bisikan Tuhan kepada Nabinya sebagai pengetahuan yang cepat dan sangat halus yang muncul dengan sendirinya tanpa harus berijtihad. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Para nabi diberi kemampuan akal mustafadh untuk mencercap isyarat wahyu  dalam bentuk kemampuan akal intelek berkomunikas dengan aql fa’al sehingga kebenaran yang dihasilkan wahyu adalah kebenaran yang pasti bukan kebenaran nisbi. Kemampuan istimewa untuk berkomunikasi dengan aql fa’al ini bersifat given dari Allah. Menurut Amin Abdullah, pembahasan filsafat kenabian dalam filsafat Islam merupakan pembahasan yang khas, tidak ditemui di dalam filsafat Yunani secara detail.   &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Filsafat kenabian ini juga disinalir sebagai jawaban atas keraguan filosof sebelumnya yaitu Abu Bakar Muhammad Ar-Razi (w.925 M) yang menolak adanya kenabian. Menurutnya, para filosof bisa mempunyai kemampuan berkomunikasi dengan ‘aql fa’al untuk mendapatkan kebenaran yang hakiki, oleh karena itu diperlukan kehadiran seorang Nabi untuk menjelaskan kebaikan dan keburukan. Bahkan menganggap al Qura’an bukan mu’jizat, melainkan adalah semacam cerita khayal belaka.  Ar Razi ingin membebaskan pemikirannya meskipun pemikiran semacam ini cenderung elitis dan inklusif terbatas hanya para filososf yang memungkinkan untuk melakukannya.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Al Farabi hadir dengan knsep kenabian untuk menepis keraguan Ar-Razi dan pengikutnya. Bagi al Farabi, Nabi merupakan gelar kehormatan yang disematkan oleh Allah kepada hamba pilihan-Nya. Kepadanya dituangkan kalam tuhan berupa wahyu untuk di sampaikan kepada makhluk di alam ini. Menurut al Farabi, manusia bisa berhubungan dengan aql fa’al melalui dua cara, yakni: penalaran atau perenungan pemikiran dan imaginasi atau intuisi (ilham). Cara pertama hanya bisa dilakukan oleh pribadi terpilih yang dapat menembus alam materi untuk mencapai cahaya ketuhanan. Sedangkan cara kedua hanya dapat dilakukan oleh para Nabi. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Denga cara kontemplasi dan latihan berfikir seseorang bisa sampai pada derajat akal kesepuluh, sementara melalui penelitian jiwa, pembelajaran dan latihan, jiwanya akan sampai pada akal mustafad untuk merespon dan menerima cahaya ilahi sebagai puncak imajinasi tertinggi (al quwwah al mutakhayyilah). Orang yang mampu mencapai derajat ini tentu hanya para Nabi, bukan orang biasa secara umum.  &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Konsep kenabian al Farabi ada kaitan erat dengan politik pada waktu itu, di mana ia berpendapat bahwa pemimpin yang ideal adalah para Nabi atau Filosof, karena ia mempunyai kedekatan dan mampu berhubungan dengan akal fa’al, yang merupakan sumber kebaikan. Pemimpin ideal seperti yang digagas oleh al Farabi memang jauh dari fakta yang terjadi, sehingga sangat sulit untuk direalisasikan, setidaknya dengan konsep ini memberikan bekal dalam memilih seorang pemimpin.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Seperti pemikir-pemikir lainnya, al Farabi tidak menjadi pemikir yang kebal kritik, pendapatnya tentang imajinasi tertinggi (al Quwwah al Mutakhayyilah) bisa mendekatkan diri kepada aql fa’al sehingga—nyaris-- sama antara filosof dengan Nabi dalam mendapatkan kritik dari Ibn Taymiyah (w. 728) dengan argumen mukjizat kauniyah seorang Nabi, seperti terbelahnya lautan oleh tongkat Musa, turunnya manisan dan burung puyuh (manna wa salwa), memperbanyak makanan dan minuman dari sela-sela jari, dibakar tidak terpanggang dan lain lain tidak mungkin bisa dilakukakan semata mata dengan imajinasi. Walaupun bisa saja mukjizat yang termaktub dalam kitab suci bisa ditakwilkan menjadi makna lain oleh filosof.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Konsep Negara Utama (al-Madīnah al-Fadhīlah)&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ada banyak ragam definisi negara, rupanya sesuai dengan latar belakang tokoh dan keilmuwan yang digelutinya.  Robert N Bella, membagi negara menjadi tiga teori, pertama,  Negara Kota yang kemudian dilanjutkan oleh al-Farabi dengan konsepsi yang dinamai dengan negara utama (al madinat al fadhilat), kedua, Masyarakat Universal yang diawali oleh Romawi dan berkembang terus hingga abad pertengahan, kemudian dilanjutkan oleh al-Ghazali, ketiga Negara Nasional yang dimulai dari zaman renaisance pada abad ke-15 sampai berkembangnya prinsip nasionalis sampai saat ini. Teori ini dalam islam dipelopori oleh Ibnu Khaldun dengan teori ashabiyah dan Negara Kemakmurannya. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam konteks filsafat al-Farabi mengenai negara utama (al madinah al fadhilah), ia tuangkan dalam karyanya monumentalnya Ara’ ahl madinah al fadhilah banyak diilhami dari konsep Yunani, terutama konsep negara ideal Plato. Plato membangun idenya tentang negara menurut skema tubuh yang disebutnya macro anthropos (manusia makro), sebuah gambaran yang mendominasi filsafat politik sepanjang zaman. Penduduk politik tubuh itu pemerintah adalah kepalanya, militer adalah dadanya dan anggota tubuh lain adalah elemen negara penting lainnya.  Konsep negara menurut Plato tidak lain adalah negara etik, bahwa peraturan yang menjadi dasar untuk mengurus kepentingan umum--menurut Plato-- tidak boleh diputus oleh kemauan atau pendapat seorang atau oleh rakyat seluruhnya, melainkan ditentukan oleh suatu ajaran yang berdasarkan pengetahuan dengan budi pekerti. Sehingga mencerminkan pemerintahan dipimpin oleh idea yang tertinggi, yaitu idea kebaikan atau pengetahuan. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Secara ringkas al Farabi dalam karyanya al-Madīnah al-Fadhīlah menyatakan bahwa kecenderungan manusia hidup bersosial dengan orang lain yang kemudian melaluoi proses yang panjang terbentuklah sebuah negara. Dari Negara tersebut mereka hendak mencapai kebahagiaan secara bersama sama,  indikasi kebahagiaannya adalah tercukupinya sandang, pangan, papan dan keamanan kebahagiaan yang dicita-citakan tersebut bisa dicapai dengan cara membentuk sebuah negara yang disebut negara utama (al-madinat al-fadhilat).  Dalam pandangan al Farabi, negara utama diserupakan bagaikan badan sehat yang dilengkapi anggota tubuh sempurna, saling membantu dan bersinergi dengan anggota tubuh lain dalam upaya menyempurnakan kehidupan, di dalamnya mempunyai satu pemimpin yaitu jantung.  Penisbatan jantung sebagai pemimpin ini dalam hal sebagai penggeraknya, oleh karena itu, semua anggota masyarakat bisa menjadi pemimpin negara, seseorang yang bisa memimpin negara adalah orang yang mempunyai kapasitas tertinggi dalam sebuah negara. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kriterian pemimpin yang ideal adalah, fisik sempurna, cerdas, mempunyai pemahaman yang baik, pandai memberikan pemahaman kepada oranag lain, cinta terhadap ilmu pengetahuan, tidak rakus terhadap makanan, pandai bersosialisasi dengan orang lain, mempunyai sifat berjiwa besar, tidak memandang kekayaan dunia adalah segala-galanya, berlaku adil dan membenci kedhaliman, memiliki keseriusan yang tinggi terhadap sesuatu yang dianggap penting.  Dari sini nampak bahwa al-Farabi ingin mengkombinasikan konsep negara pemikiran filsafat Yunani dengan Konsep Negara Islam. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Ali Maksum menuliskan, Menurut pendapat al Farabi, Nabi Muhammad adalah seorang pemimpin yang sama persis seperti pemimpin yang dikonsepsikan oleh Plato, yakni seorang ideal yang telah mampu mengungkapkan kebenaran universal yang bersifat imajinatif yang bisa dimengerti oleh orang awam.  Adapun sebagai mata rantai kenabian sebagai pemimpin sebuah negara, negara utama haruslah dipimpin oleh seseorang yang mempunyai pengetahuan yang luas, akal yang jernih dan mempunyai kemampuan daya pikir yang kuat, pemimpin yang demikian ini tidak lain adalah seorang filosof.   &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Kesimpulan&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pertalian pemikiran al Farabi sangat erat dengan filsafat Yunani, Oleh karena itu untuk memahami pokok pikiran al Farabi mutlak dibutuhkan menyelami pemikiran filsafat Yunani. Al Farabi adalah sosok filosof muslim yang pengetahuannya mapan, di samping  ilmuwan juga ‘alim yan ghidup dalam kesederhanaan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dalam filsafat metafisika, al Farabi berpendapat bahwa penciptaan alam ini terjadi secara emanasi atau pancaran tuhan (al faidh al ilahiy) melalui daya akal yang tunggal dan esa, kekal, abadi yang disebut akal murni, kemudian menjadi alam raya yang beraneka ragam, proses emanasi berhenti pada akal ke sepuluh yang dinamai akal fa’al, pada akal ke sepuluh ini tidak lagi ber-emanasi karena daya kekuatan akalnya melemah. Dari akal kesepuluh ini melahirkan materi, seperti air, api, udara, tanah kemudian diikuti berbagai unsur lainnya. Pada konsep emanasi ini, nampak sekali pengaruh filsafat metafisikanya neo-platonisme. &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Bagi al Farabi, baik Nabi, Filosof dan Raja adalah satu kesatuan makna, namun berbeda pendekatannya. Nabi adalah orang suci yang terpilih untuk menerima titah kebenaran berupa wahyu, sedangkan filosof melalui logika berpikirnya dapat mencapai sebuah kebenaran yang hakiki, sedangka raja atau pemimpin adalah orang yang berkemampuan dan kecerdasan tinggi serta kepribadian yang luhur untuk mempropagandakan kebaikan kepada rakyatnya. Dari kepribadian luhur itulah negara digerakkan, anggota tubuh sebagai menterinya, sinergisasi fungsinya akan menciptakan kebahagiaan sebagai salah satu tujuan dibentuknya negara, konsep negaranya disebut negara utama (al madinah al fadhilah)  &lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
==============&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;div style="text-align: center;"&gt;
DAFTAR PUSTAKA&lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;ol&gt;
&lt;li&gt;Al Qur’an dan Terjemah.&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Abdul Karim, Aim, 2006, &lt;i&gt;Pendidikan kwarganegaraan&lt;/i&gt;, (Jakarta: Grafindo)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;al Badawiy, Abd. Rahman, &lt;i&gt;Rasa’il falsafiyyah&lt;/i&gt;, (Beirut: Dār Andalusi, tt)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Al Farabi, ‘Arā’ ahl al-Madīnah al-Fadhīlah, tahqiq, Dr. Al Biir Nasri Nadir, (Beirut: Daar Al Masyriq)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;__________,  Ihshā’ul ‘Ulūm , (Beirut : Inmaul Qaumiy, tt)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;__________, Tahshīlus Sa’ādat, 1995, tahqiq  DR. Alibu Mulham, (Beirut: Daar al Hilal)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Amin Abdullah, 1992, Aspek Epistemologis Filsafat Islam, (Diss Yogyakarta)&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Armstrong, Karen, 2003, Sejarah Tuhan, terj. Zaimul Am, Bandung: Mizan Utama&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bagir, Haidar, 2006, Buku Saku Filsafat, Bandung: Mizan&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Bakar, Osman, 1997, Hierarki Ilmu: Membangun Rangka Pikir Islamisasi Ilmu Menurut Al-Farabi, Al Ghazali Dan Quthb Al-Din Al-Syirazi, Terj. Purwanto Bandung: Mizan &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Darmodiharjo, Darji, Prof., SH. 2006, Pokok-pokok Filsafat Hukum Indonesia, Jakarta: Gramedia&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Drajat, Dr. Amroeni, 2005, Suhrawardi: Kritik Falsafah Paripatetik, Yogyakarta: LkiS&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Fuadi, 2013, Peran Akal menurut Pandangan al-Ghazali, Jurnal Substatia, Vol. 15, No. 1  &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Halim Mahmud, Ahmad,  at-Tafkīr al-Falsafī  al-Islamī, Kairo: Dār al Ma’ārif, tt&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Hardiman, F. Budi., 2009, Politik sebagai Pengawasan Tubuh, Sebuah Tinjauan Filosofis atas Hubungan Politik dan Erotik dalam Politea Plato, Studia Philosophica et Theologica. Volume 9. No.1&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Hatta, Muhammad, 2001,  Alam Pikiran Yunani, Jakarta: UI Press&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Hawa, Said, 1998, Allah Jallā Jalāluhu, terj. Muhtadi Abdul Mun’im, Allah swt., Jakarta; Gema Insani Press&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Husein Nashr, Sayyed dan Oliver Leaman, 2003, Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam I, Terj. Penerjemah Mizan, Bandung: Mizan, Cet I.  &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Ibn Taymiyah, Kitab al-Safagiyah, tahqiq Dr. Muhammad Rasyid Salim &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Irfan, A.N., 2014, Masuknya Unsur-unsur Pemikiran Spekulatif Dalam Islam: Kajian Atas Logika Dan Metafisika al-Farabi, CMES: Jurnal Studi Timur Tengah. Volume 7, No. 2&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Juwaini and Nik Yusri bin Musa. 2010, Konsep Akal :Suatu Analisis Terhadap Pemikiran al-Farabi dan Ibnu Sina." Substantia Volume12. No.2&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;K. Bertens, Prof., 2008, Ringkasan Sejarah Filsafat, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, cet.V&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Kartanegara, Mulyadhi, 2007, Mengislamkan Nalar: Sebuah Respon Terhadap Modernitas, Jakarta: Erlangga &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;M. Hatta,  Alam Pikiran Yunani, Jakarta: UI Press&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Majid, Abdul. Filsafat Al-Farabi Dalam Praktek Pendidikan Islam. Jurnal Manarul Al Qur'an, abcd.unsiq.ac.id&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Maksum, Ali, 2009, Pengantar Filsafat, Yogyakarta: Ar-Ruz Media&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Masfoefah, Siti., 1996, Eksistensi Jiwa Menurut al Kindi. Diss. UIN Sunan Ampel Surabaya&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Muhammad, Hasbi, 2010 “Pemikiran Emanasi Dalam Filsafat Islam Dan Hubungannya Dengan Sains Modern”, Al-Fikr. Volume 14. No. 3&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Nasutuion, Harun, 2000, Islam Rasional: Gagasan dan Pemikiran Harun Nasution, Bandung: Mizan&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Nurdin, M. Amin, Sejarah Pemikiran Islam, (ed), (Jakarta: AMZAH), 2015 &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Nurseha Dzulhadi, Qosim, 2014 “Al Farabi Dan Filsafat Kenabian”, Jurnal Kalimah, Maret, volume. 12&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Petrus L.Tjahjayi, Simon, 2004, Petualangan Intelektual: konfrontasi dengan para filusuf dari zaman yunani hingga modern, Yogyakarta: Kanisius.    &lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Salmah, S. Pd I. "Aktualisasi Filsafat Al-Farabi dalam Era Modern”, Telaah Kritis Teori Kenegaraan al-Madinah al-Fadhilah."&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Sholihin, KH. Muhammad, 2008, Filsafat dan Metafisika dalam Islam, Yogyakarta: Narasi&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Uliri, Daulasi, 1961, al-fikr al-‘arabiy wa makānuhū fīt-tārīkh, Kairo:  Ālam al-Kutub&lt;/li&gt;
&lt;li&gt;Wahid, Dr. Ali Abdul Wafi, al-Madīnah al-Fadhīlah lil Farabi, Kairo: Nahdhoh Mishri, tt  &lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;</description><link>http://www.mwiyono.com/2016/11/filsafat-al-farabi-metafisika-kenabian.html</link><author>noreply@blogger.com (M. Wiyono)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjRGY4Rvv7vn1m95LhqAHLA8JNaQ4eVYNdwfqsTkb6zJD1ZCagfOHPpbMJBLsZcEIl4W_IcXYQPkS55F3-K1XTb9yCY3r-wizkZMVZNG7LjIlT1LejDJL-4A_WDcirpVCPCP-qwnQ0iJYv9/s72-c/alfarabi.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Jombang, Ciputat, South Tangerang City, Banten, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-6.2953921999999993 106.70282500000008</georss:point><georss:box>-6.3269581999999991 106.66248450000008 -6.2638262 106.74316550000007</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7718341072864739011.post-3892128557400277251</guid><pubDate>Sun, 27 Nov 2016 15:29:00 +0000</pubDate><atom:updated>2020-05-22T11:30:58.064+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">artikel</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">renungan</category><title>Peran Pemerintah Dalam Peningkatan Minat Baca</title><description>&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj2PLOjAMLgd_b3UCddFk2Mth0C-8DfORbICwmNPIQh4cye5Q2v9OiwxrO_wDkWPnhYnzOf_LD4Tj0PMGfBtfSlwGvQ_V9W1Yt9CHMG58kcqfU-XJtsqvSTVOkAw032Tw6IpWEUytLHiY_p/s1600/m+wiyono-1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj2PLOjAMLgd_b3UCddFk2Mth0C-8DfORbICwmNPIQh4cye5Q2v9OiwxrO_wDkWPnhYnzOf_LD4Tj0PMGfBtfSlwGvQ_V9W1Yt9CHMG58kcqfU-XJtsqvSTVOkAw032Tw6IpWEUytLHiY_p/s1600/m+wiyono-1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Terbit, 25 Nopember 2016&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Peran Pemerintah Dalam Peningkatan Minat Baca adalah artikel yang sempat di terbitkan di koran lokas bertepatan pada hari guru, cukup beralasan kiranya pimpinan redaksi Tangselpos menertbitkan bertepatan dengan hari guru, karena tema tulisan ini sangat kental dengan nuansa pendidikan. &lt;i&gt;selamat membaca&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Seiring dengan kuatnya bacaan orientasi keahlian dan peneguhan cita-cita anak bangsa ditemukan bentuknya, cendekiawan bijak bestari pernah mengatakan, buku adalah gudang ilmu, membaca adalah kuncinya. Buku bergizi akan menambah supply pengetahuan yang berkualitas, pada akhirnya tercetak generasi berpengetahuan luas yang didedikasikan sebagai aset bangsa. Sebuah bangsa dengan pengetahuan maju akan lebih percaya diri untuk tetap duduk sama rendah berdiri sama tinggi di hadapan bangsa-bangsa lain di dunia.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Negara-negara maju banyak menerapkan pengetahuan sebagai kekuatan dan aset bangsanya, Francis Bacon pernah mengatakan knowledge is power, mereka sadar bahwa sumber daya alam yang dimiliki sangat terbatas seiring tumbuh kembangnya jumlah penduduk yang terus bertambah. Lalu bagaimana pergulatan putera puteri ibu pertiwi ini dengan minat baca.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Minat baca bangsa Indonesia sangat memprihatinkan, terbukti melalui hasil survey "Most Littered Nation In the World" oleh  Central Connecticut State Univesity Maret 2016 yang menempatkan Indonesia jatuh di peringkat ke-60 dari 61 negara,  Posisi Indonesia persis berada di bawah Thailand peringkat 59 (Kompas, 29/8/2016).&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Komitmen peningkatan minat baca anak bangsa yang diinisiasi PT Gramedia Asri Media patut diberikan penghargaan setinggi-tingginya, ide cemerlang melalui event big sale yang diselenggarakan di kawasan Industri Pergudangan Taman Tekno, XI Blok D 12B-15 BSD City, Tangerang Selatan, sejak tanggal 8 sampai dengan 22 Nopember tak pernah sepi pengunjung. Tak kurang dari 20.000 judul buku dijual dengan harga murah di sana.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Masyarakat berbondong-bondong rela masuk dalam jajaran anggota antrean  panjang, hingga diberlakukan buka tutup, masing masing pengunjung diberi kesempatan satu jam untuk membrong buku yang diminatinya. Pemandangan seperti ini kiranya sudah cukup menjadi bukti, bahwa minat baca bangsa ini masih relatif tinggi, adapun fakta menempatkan Indonesia berada pada di peringkat ke- 60 dunia, lebih disebabkan faktor ekonomi menghadapi realitas harga buku tidak terjangkau oleh kalangan masyarakat menengah ke bawah. Tinggal bagaimana respon pemerintah menangani realitas perbukuan yang ada saat ini, supaya penerbit mampu mematok harga yang lebih terjangkau oleh semua kalangan.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Upaya pemerintah dalam meningkatkan pendidikan –termasuk minat baca--  memang sudah dilakukan antara lain berupa naungan payung hukum di bawah UU. No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas dan Pencanangan Gerakan Membaca. Disusul dengan Permendikbud No. 23 tahun 2015 tentang penumbuhan budi pekerti, bentuk implementasinya berupa penggunaan 15 menit sebelum hari pembelajaran untuk membaca buku selain buku mata pelajaran, hal ini dimaksudkan untuk menemu-kenali potensi siswa, dalam konteks siswa sebagai subjek sedangkan Permendikbud berfungsi sebagai predikat. Hemat penulis, langkah tersebut masih harus diikuti dengan objek sasarannya, yaitu buku murah yang terjangkau oleh orang-orang  berkantong dangkal.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Problem peningkatan mutu sumber daya manusia dimana pendidikan dan pengetahuan sebagai tolak ukurnya memang banyak menemui banyak kendala, selain peroalan jumlah anggaran, sistem pembelajaran, kompetensi guru, infrastruktur, juga diperparah oleh rendahnya minat baca, walhasil penyediaan buku murah menjadi salah satu mesin dongkrak meningkatkan pendidikan secara umum dan merata, segmentasinya tidak hanya di bangku-bangku sekolah atau kuliah, terbatas hanya pelajar dan mahasiswa, upaya ini dimaksudkan mampu menggeser paradigma warga negara menjadi lebih maju, lebih kreatif dan orienntatif dalam menyongsong masa depannya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Dengan buku murah, setiap warga diharapkan menjadi kolektor buku kemudian menelusuri kandungan pengetahuan dalam buku koleksinya, baik di rumah, di tempat kerja, terutama di lembaga-lembaga pendidikan. Pemanfaatan waktu luang untuk membaca lebih terbentang luas, bukankah Cicero seorang orator dan penulis dunia pernah mengatakan: “a room without book like body without soul”. Membaca buku berkualitas akan mempercepat roda penggerak agenda perubahan, karena dalam buku yang dibaca tergambar isi dunia, letak, pelaku dengan segala karekater yang melingkupinya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pendek kata membaca adalah jendela dunia. Inilah sesungguhnya yang perlu dilakukan oleh pemerintah sebagai salah satu implementasi jargon ‘revolusi mental’ yang mana gaungnya telah diperdengarkan di ruang dengan kita di babak-babak awal kampanye pemilihan presiden terpilih saat ini, melalui bacaan ranah wawasan bertambah serta memicu imajinasi dan kreatifitas generasi selanjutnya. Bermula dari imajinasi selanjutkan dilakukan sebuah aksi atas gambara dunia dengan segala isi dan hiruk pikunya penduduk dunia, termasuk letak dan segala karakter yang melingnkupinya. Sketsa kejadian di dunia terpampang jelas dan membentang luas di hadapan pembacanya. Dari ruang baca tersebut akan lahir ide-ide tiruan atau bahkan menciptakan hal hal baru untuk kemajuan bangsa ini.&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Pertanyaan mendasarnya adalah, bagaimana cara menciptakan buku murah yang sesuai dengan kompetensi pembacanya, bila buku hibah terkadang tidak sesuai dengan keinginan pembaca. Tentunya selain upaya-upaya tekhnis di atas, Tidak lain adalah upaya campurtangan pemerintah secara praktis dengan menyisihkan anggaran dana belanja pendidikan dialihkan ke penerbit-penerbit yang berkompeten diwujudkan dalam bentuk subsidi kertas untuk menerbitkan buku, mengingat bahan dasar buku adalah kertas.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;
&lt;div style="text-align: justify;"&gt;
Langkah alternatif ini dimaksudkan supaya penerbit mampu mencetak buku dengan biaya murah, kemudian diikuti dengan harga buku murah pula. Fasilitas subsidi kertas juga semakin meningkatkan daya rangsang penulis dengan memberikan lebih insentif dari alokasi pendanaan untuk kertas tersebut, Murahnya harga buku tersebut pada akhirnya akan terjangkau oleh semua kalangan, utamanya pera pelajar dan mahasiswa. Keuntungan langkah alternatif ini juga akan memacu peningkatan produksi kertas diikuti budidaya bahan baku kertas, tidak hanya itu saya kira, penulis penulis akan bermunculan dan penerbit bersaing di bawah pengawasan pemerintah. &lt;/div&gt;
&lt;br /&gt;</description><link>http://www.mwiyono.com/2016/11/peran-pemerintah-dalam-peningkatan.html</link><author>noreply@blogger.com (M. Wiyono)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj2PLOjAMLgd_b3UCddFk2Mth0C-8DfORbICwmNPIQh4cye5Q2v9OiwxrO_wDkWPnhYnzOf_LD4Tj0PMGfBtfSlwGvQ_V9W1Yt9CHMG58kcqfU-XJtsqvSTVOkAw032Tw6IpWEUytLHiY_p/s72-c/m+wiyono-1.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Jl. Sumatera No.75, Jombang, Kec. Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten 15414, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-6.2929401 106.6936762</georss:point><georss:box>-6.3560716 106.6129952 -6.2298086 106.7743572</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7718341072864739011.post-5408151281367652170</guid><pubDate>Sat, 27 Aug 2016 09:11:00 +0000</pubDate><atom:updated>2020-05-22T11:32:30.594+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">syari'ah</category><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">tasawuf</category><title>Menegaskan Kurban Sapi Untuk Tujuh Orang</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgJ28qZa6CmB_it2gWsf6VdehHIiBWZAAJ9y34_s3UeVtOho2mUUfG6H12I99woyC7WyeyJyvJ49DbUIyWgW0nktX9TgGpcawyK510MwamLV2ckZ5IGnkv5fBDDQ3rGhmTtb73To87avHyz/s1600/kurban+7+orang.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img alt="Kurban sapi untuk tujuh orang" border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgJ28qZa6CmB_it2gWsf6VdehHIiBWZAAJ9y34_s3UeVtOho2mUUfG6H12I99woyC7WyeyJyvJ49DbUIyWgW0nktX9TgGpcawyK510MwamLV2ckZ5IGnkv5fBDDQ3rGhmTtb73To87avHyz/s1600/kurban+7+orang.JPG" title="Kurban satu sapi tujuh orang" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Tanpa sedikitpun memperuncing perdebatan soal peruntukan hewan kurban kambing untuk 1 orang dan Sapi 7 orang seperti opini dari video seseorang yang kurang lebih isinya adalah mempertanyakan dalil kurban sapi untuk tujuh orang. Maka perlu adanya pembanding pendapat, setidaknya untuk mempertajam kehati-hatian dalam berfatwa, karena ilmu ini tak bertepi maka tak pantas menyalahkan orang lain sebelum meneliti lebih detail jejak epistemologi yang dijadikan sebagai dasar sebuah pengetahuan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah mafhum kiranya, bahwa Nabi pernah berkurban untuk keluarganya dengan satu domba, namun juga ditemukan hadits yang dikaitkan unta atau sapi untuk 7 seperti hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dengan menyebut jenis unta badanah dan sapi boleh untuk tujuh orang dalam hadyu (dam). Kita juga mesti mengenal ada syariat kehususan untuk Nabi, misalnya dalam menyembelih kurban rasul berdoa&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ هَذَا عَنِّى وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِى&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
Namun do’a ini tidak pernah dilakukan oleh sahabat yang menunjukkan adanya isyarat tentang kehususan Nabi. Namun untuk mengatakan kurban yang dilakukan oleh Nabi saw adalah sebuah bentuk kehususan masih perlu kajian yang mendalam lagi untuk mengetahui isyarat persisnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam beberapa kitab fiqh as-Syafi’i, sebut saja kitab &lt;i&gt;at-tanbīh fi fiqh Imam Syafi’i&lt;/i&gt; karya Yusuf As-Sirazi, memasukkan pada bab uḍhiyah (kurban) menjelaskan bahwa, satu sapi untuk tujuh orang, dalam karya yang lain As-Syirazi memperjelas bahwa sapi untuk tujuh orang sedang kambing untuk satu orang senada dengan pendapat Taqiyuddin as-Syafi’i dalam &lt;i&gt;kifayatul akhyar&lt;/i&gt; yang menerangkan bahwa satu unta badanah untuk tujuh orang dan kambing untuk satu orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Badanah bermakna unta atau sapi yang telah digemukkan dan disiapkan untuk dikurbankan dalam Haji, sedangkan Jazur bermakna unta yang disiapkan untuk disembelih. Dalam penjelasan tentang hadits yang membolehkan badanah untuk tujuh orang. Adapun hadits yang dimaksud adalah:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;span style="font-size: large;"&gt;عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي أَبُو الزُّبَيْرِ أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ اشْتَرَكْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ كُلُّ سَبْعَةٍ فِي بَدَنَةٍ فَقَالَ رَجُلٌ لِجَابِرٍ أَيُشْتَرَكُ فِي الْبَدَنَةِ مَا يُشْتَرَكُ فِي الْجَزُورِ قَالَ مَا هِيَ إِلَّا مِنْ الْبُدْنِ وَحَضَرَ جَابِرٌ الْحُدَيْبِيَةَ قَالَ نَحَرْنَا يَوْمَئِذٍ سَبْعِينَ بَدَنَةً اشْتَرَكْنَا كُلُّ سَبْعَةٍ فِي بَدَنَةٍ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;
&lt;i&gt;Dari Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku Abu Zubair bahwa ia mendengar Jabir bin Abdillah berkata; “Kami bersekutu (patungan) bersama Nabi Saw di dalam haji dan umrah, yakni tujuh orang berkurban seekor badanah (unta  yang  disiapkan untuk kurban saat haji) atau seekor Sapi.” Kemudian seorang laki-laki bertanya kepada Jabir, “Bolehkah bersekutu dalam Jazur (hewan kurban yang sudah siap disembelih) sebagaimana bolehnya bersekutu dalam badanah (unta  yang  disiapkan untuk kurban saat haji) atau sapi?” Jabir menjawab, “Jazur itu sudah termasuk badanah.” Jabir juga turut serta dalam peristiwa Hudaibiyah. Ia berkata, “Di hari itu, kami menyembelih tujuh puluh ekor badanah. Setiap tujuh orang dari kami bersekutu untuk kurban seekor Badanah&lt;/i&gt;.” (H.R. Muslim).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengenai hadits riwayat Jabir bin Abdullah ia berkata; “&lt;i&gt;Kami pernah menyembelih kurban bersama Rasulullah Saw di tahun perjanjian Hudaibiyah, untuk kurban seekor unta atau seekor sapi, kami bersekutu tujuh orang&lt;/i&gt;.” (H.R. Muslim), Zakariyah Anshoriy dalam kitab &lt;i&gt;Asna al Mathalib&lt;/i&gt; menegaskan, bahwa ketujuh orang tersebut bukan satu keluarga, seperti yang dikatakan oleh Muhammad al-Ghamrawiy dalam kitabnya &lt;i&gt;as-siraj al wahaj ‘ala matnil minhaj&lt;/i&gt;, bahkan Khatib al-Syarbini dalam kitabnya Mughni al-Muhtaj juga menegaskan diperbolehkannya seandainya diantara mereka ada sebagian yang diniatkan membayar dam dan sebagiannya lagi untuk berkurban. Hal itu memperkuat dugaan diperbolehkannya untuk berkurban sapi untuk tujuh orang. &lt;br /&gt;
Adapun hadits-hadits semakna dengan hadits di atas adalah &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
وحَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمٍ، حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، حَدَّثَنَا عَزْرَةُ بْنُ ثَابِتٍ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، قَالَ: «حَجَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَحَرْنَا الْبَعِيرَ عَنْ سَبْعَةٍ، وَالْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ»&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى، أَخْبَرَنَا هُشَيْمٌ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ، عَنْ عَطَاءٍ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، قَالَ: «كُنَّا نَتَمَتَّعُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْعُمْرَةِ، فَنَذْبَحُ الْبَقَرَةَ عَنْ سَبْعَةٍ نَشْتَرِكُ فِيهَا»&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sisi teologis berkurban yang patut direnungkan adalah nilai pengorbanan atas kepatuhannya kepada perintah Allah dan nilainya dalam berbagi, tidak hanya sekedar mengukur besar dan kecilnya hewan sesembelihan, karena Allah bukan kanibal pemakan daging juga bukan Tuhan yang haus darah seperti kepercayaan mereka terhadap para dewa dan berhala sesembahannya. Penilaian Allah terletak pada nilai taqwa yang diwujudkan secara nyata dalam bentuk hewan kurban, sebagai salah satu bentuk syukur kepada Allah atas kelebihan karunia yang diberikan kepada kita. &lt;i&gt;Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya..&lt;/i&gt; (Al Hajj: 37)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian makin banyak yang dikurbankan disertai dengan keikhlasan semata mata menjalankan perintah Allah maka nilai kebaikannya tentu semakin berlimpah bila dibandingkan dengan pengorbanan yang kecil dengan kadar keikhlasan yang sama.     &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;</description><link>http://www.mwiyono.com/2016/08/menegaskan-kurban-sapi-untuk-tujuh-orang.html</link><author>noreply@blogger.com (M. Wiyono)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgJ28qZa6CmB_it2gWsf6VdehHIiBWZAAJ9y34_s3UeVtOho2mUUfG6H12I99woyC7WyeyJyvJ49DbUIyWgW0nktX9TgGpcawyK510MwamLV2ckZ5IGnkv5fBDDQ3rGhmTtb73To87avHyz/s72-c/kurban+7+orang.JPG" width="72"/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Jl. Sumatera No.75, Jombang, Kec. Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten 15414, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-6.2929401 106.6936762</georss:point><georss:box>-6.3560716 106.6129952 -6.2298086 106.7743572</georss:box></item><item><guid isPermaLink="false">tag:blogger.com,1999:blog-7718341072864739011.post-1500601513832821229</guid><pubDate>Wed, 06 Jul 2016 17:33:00 +0000</pubDate><atom:updated>2020-05-22T11:33:41.940+07:00</atom:updated><category domain="http://www.blogger.com/atom/ns#">About-Me</category><title>Sahur Pisang Lauknya Sate</title><description>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;
&lt;a href="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhBPa3BV0zJxFlL63amATdHD3cwo5YpVfxI3bqq9vaMLuOHJ8oWQDrbuX2qVM0cBnC9KrzLHS1LTj0rKktK0z3NRd9w9GRNRbG3W3QsjQreJoof6zzh-ur9Cn9sdO41uDm5Bq6Y3BPEdUXX/s1600/wiyono1.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhBPa3BV0zJxFlL63amATdHD3cwo5YpVfxI3bqq9vaMLuOHJ8oWQDrbuX2qVM0cBnC9KrzLHS1LTj0rKktK0z3NRd9w9GRNRbG3W3QsjQreJoof6zzh-ur9Cn9sdO41uDm5Bq6Y3BPEdUXX/s1600/wiyono1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;
Meskipun Ramadan telah usai, namun kenangan &lt;a href="http://www.mwiyono.com/2016/07/sahur-pisang-lauknya-sate.html"&gt;sahur pisang lauknya sate&lt;/a&gt; sulit terlupakan, hingga tak tertahan jemari ini mengamankannya dalam bentuk tulisan. Inilah kisah lika-liku laki laki yang ditinggal isteri dan anak-anak mudik lebaran Juli 2016 atau bertepatan dengan Ramadhan 1437 H. semoga bermanfaat dan bisa dipetik hikmahnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu dari tanda kebesaran Allah menjodohkan laki-laki dan perempuan adalah untuk menjadikan hidup yang lebih sakinah dan saling menyayangi (QS. ar-Ruum:21), karena perjodohan itu akan saling melengkapi tapak perjalanan hidup ini, karenanya keduanya (laki-perempuan) tidak diciptakan dengan karakter yang sama persis. Pada umumnya, sekali lagi pada umumnya karakter dasar antara lelaki dan perempuan berbeda. Kaum hawa lebih lemah-lembut, perasa, pandai memasak, rapi dan pola hidupnya lebih teratur, sedangkan kaum Adam, lebih keras, egois, tak suka memasak, berantakan, dan pola hidupnya kurang teratur. Kisah menarik ini lebih banyak diinspirasi oleh kedua karakter tersebut, sebagai alat bantu memahami saling keterlengkapannya dalam menapaki jalan hidup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya dua kali sahur dan dua kali berbuka puasa ditinggal oleh isteri mudik lebaran,  tapi nuansanya sangat berbeda dengan sahur-berbuka hari hari sebelumnya. Bila sebelumnya teratur berbuka dan sahur bersama dengan rapi dan terjadwal apik, lain ceritanya dengan dua hari dipenghujung ramadhan usai ini.. hahaha.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Dua kali berbuka puasa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Berbuka puasa di hari pertama, ku tunggu sambil rebahan menonton tayangan televisi khas ramadhan, ternyata pulas tertidur hingga tinggal beberapa menit saja waktu maghrib tiba. Akhirnya secepat kilat memasak air panas membuat kopi, belum tuntas adukan kopi, maghribpun tiba, kebingungan setelah minum air putih dan kopi, baru terpikir santap malam untuk mengganjal perut setelah diajak berpuasa seharian. Semua bahan masih mentah, telur dan tahu yang telah disiapkan oleh isteri tercinta. Tak berpikir panjang, seketika masak nasi, goreng tahu, untuk melezatkannya ambil kacang asin di meja sedianya untuk hidangan lebaran, sambel kacang pun siyap menjadi teman santap malam. Lha… kok asinnya tidak ketulungan, apa boleh buat karena diburu waktu tarawih, asin juga harus dimakan #plakk. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ternyata hari kedua lebih tragis, janji teman mengajak berbuka puasa di masjid dimana tempat saya kadang mengisi pengajian, sehingga tak ada persiapan menu apapun untuk berbuka, kurang lima menit hendak berangkat tiba-tiba hujan deras mengguyur hingga waktu Isya’ tiba, terpaksa, bikin kopi dan goreng tahu lagi, Hahaha… sambil bergumam:”kalau tau begini, mendingan dari tadi aja aku bersiap siap bikin ta’jil dan menu buka puasa sendiri”. Sambil senyam-senyum sendiri. Allah memang indah mengatur manusia dan mengajarkan untuk tidak menggantungkan hidup kepada selain-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;b&gt;Dua Kali sahur&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;
Sahur pertama berharap aman, akhirnya masak sendiri, sembari menunggu matang saya menonton piala uero 2016, tentu masih dengan tahu yang sudah digoreng saat berbuka puasa tadi. Eeealah, ternyata nasinya kebanyakan air #nasiiibbbb. Akhirnya terpaksa makan nasi mirip bubur, lauk tahu sisa berbuka puasa. Hahaha…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sahur kedua, berharap lebih indah dari sebelumnya, karena sahur kali ini adalah sahur terakhir di bulan ramadhan 2016, malam harinya membeli sate 10 tusuk ditambah membeli buah pisang dan jeruk tujuannya suplay gizi dan serat, yaaah.. biar mirip pesta pora sahur gitu lah, karena serangan kantuk yang tak tertahan, akhirnya tertidur pulas hingga jam empat, lauknya siyap ternyata lupa belum masak, sedangkan nasi di rice coocker basi, hahaha.. akhirnya dengan sigap bak super hero, bekerja dengan cepat untuk masak nasi sembari seduh kopi, namun malang tak bisa dihindari, terpaksa makan nasi setengah matang, tak kehilangan akal, akhirnya sahur dengan pisang lauknya sate, imsakpun tiba #plakk kembali saya tersenyum, rupanya karakter yang berbeda antara kaum hawa dan adam adalah untuk saling melengkpai. Semoga tidak terulang lagi…</description><link>http://www.mwiyono.com/2016/07/sahur-pisang-lauknya-sate.html</link><author>noreply@blogger.com (M. Wiyono)</author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" height="72" url="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhBPa3BV0zJxFlL63amATdHD3cwo5YpVfxI3bqq9vaMLuOHJ8oWQDrbuX2qVM0cBnC9KrzLHS1LTj0rKktK0z3NRd9w9GRNRbG3W3QsjQreJoof6zzh-ur9Cn9sdO41uDm5Bq6Y3BPEdUXX/s72-c/wiyono1.jpg" width="72"/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Jl. Sumatera No.75, Jombang, Kec. Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten 15414, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-6.2929401 106.6936762</georss:point><georss:box>-6.4191936 106.5323147 -6.1666866 106.8550377</georss:box></item></channel></rss>