<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:blogger='http://schemas.google.com/blogger/2008' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd="http://schemas.google.com/g/2005" xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4296770913662180343</id><updated>2014-10-14T09:50:36.853-07:00</updated><category term="Semua Index Cerpen"/><category term="Kisah Inspiratif"/><category term="Humor"/><category term="Humor Dewasa"/><category term="Misteri"/><category term="Cerpen Cinta"/><title type='text'>InsYouLife</title><subtitle type='html'>Cerita Inspirasi, Cerita Humor, Cerita Misteri, Kisah Inspirasi, Cerpen, Novel, Aneka Cerita, Kumpulan Cerita, Beragam Cerita, Inspirasi, Lucu, Humor, Misteri</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://insyoulife.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default?redirect=false'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25&amp;redirect=false'/><author><name>Michael Steven</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-X0xLbESfLfE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAFuw/CF68oedTLEg/s512-c/photo.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>26</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4296770913662180343.post-6640057198755168007</id><published>2012-07-19T23:17:00.000-07:00</published><updated>2012-07-19T23:17:51.650-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kisah Inspiratif"/><title type='text'>Kesuksesan Chairul Tanjung, Pemilik Trans TV dan Trans 7</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://insyoulife.blogspot.com/&quot;&gt;&lt;b&gt;InsYouLife&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;,- &lt;br /&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both; text-align: center;&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://4.bp.blogspot.com/-7U1WFMtrY5o/UAhFe9RF4aI/AAAAAAAABVU/53mcwQ5Hqx8/s1600/Chairul-tanjung.jpg&quot; imageanchor=&quot;1&quot; style=&quot;clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;&quot;&gt;&lt;img border=&quot;0&quot; src=&quot;http://4.bp.blogspot.com/-7U1WFMtrY5o/UAhFe9RF4aI/AAAAAAAABVU/53mcwQ5Hqx8/s1600/Chairul-tanjung.jpg&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Apa jadinya jika seorang calon dokter gigi justru merambah bisnis televisi? Jika ingin tahu jawabannya, lihatlah sosok Chairul Tanjung, pebisnis asli pribumi yang kini namanya berkibar dengan Grup TransTV dan Trans7. Berkat kesulitan ekonomi yang menderanya, ternyata hal tersebut justru menjadi bekal mengasah ketajaman insting bisnisnya. &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Bermula dari awal kuliah di jurusan Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Biaya masuk kuliah kala tahun 1981 sebesar Rp 75 ribu, dengan uang kuliah per tahun Rp 45 ribu. Rupanya, untuk membayar uang kuliah tersebut, sang ibu sampai harus menggadaikan selembar kain halus.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&quot;Saya betul-betul terenyuh dan shock, sejak saat itu saya bersumpah tidak mau meminta uang lagi ke orang tua,&quot; kata dia pada pertengahan Januari 2009 ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Maka, kelahiran Jakarta, 18 Juni 1962 ini pun lantas memulai bisnis kecil-kecilan. Dia bekerjasama dengan pemilik mesin fotokopi, dan meletakkannya di tempat strategis yaitu di bawah tangga kampus. Mulai dari berjualan buku kuliah stensilan, kaos, sepatu, dan aneka barang lain di kampus dan kepada teman-temannya. Dari modal usaha itu, ia berhasil membuka sebuah toko peralatan kedokteran dan laboratorium di daerah Senen Raya, Jakarta. Sayang, karena sifat sosialnya - yang sering memberi fasilitas kepada rekan kuliah, serta sering menraktir teman - usaha itu bangkrut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Ternyata, ia justru bisa makin berkembang dengan berbagai usahanya. Ia pun lantas memfokuskan usahanya ke tiga bisnis inti, yakni: keuangan, properti, dan multimedia. Melalui tangan dinginnya, ia mengakuisisi sebuah bank kecil yang nyaris bangkrut, Bank Tugu. Keputusan yang dianggap kontoversial saat itu oleh orang dekatnya. Namun, pengalaman bangkit dari kegagalan rupanya mengajarkannya banyak hal. Ia justru berhasil mengangkat bank itu, - setelah mengubah namanya menjadi Bank Mega - menjadi bank papan atas dengan omset di atas Rp1 triliun saat ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Selain itu, suami dari dokter gigi Ratna Anitasari ini juga merambah bisnis sekuritas, asuransi jiwa dan asuransi kerugian. Kemudian, di bisnis properti, ia juga telah membuat sebuah proyek prestisius di Kota Bandung, yang dikenal dengan Bandung Supermall. Dan, salah satu usaha yang paling melambungkan namanya yaitu bisnis televisi, TransTV. Pada bisnis pertelevisian ini, ia juga dikenal berhasil mengakuisisi televisi yang nyaris bangkrut TV7, dan kini berhasil mengubahnya jadi Trans7 yang juga cukup sukses.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Tak heran, dengan semua prestasinya, ia layak disebut sebagai &quot;The Rising Star&quot;. Bahkan, baru-baru ini, ia dinobatkan sebagai orang terkaya Indonesia, di posisi ke-18, dengan total kekayaan mencapai 450 juta dolar AS. Sebuah prestasi yang mungkin tak pernah dibayangkannya saat memulai usaha kecil-kecilan, demi mendapat biaya kuliah, ketika masih kuliah di UI dulu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Hal itulah yang barangkali membuat Chairul Tanjung selalu tampil apa adanya, tanpa kesan ingin memamerkan kesuksesannya. Selain itu, rupanya ia pun tak lupa pada masa lalunya. Karenanya, ia pun kini getol menjalankan berbagai kegiatan sosial. Mulai dari PMI, Komite Kemanusiaan Indonesia, anggota Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia dan sebagainya. &quot;Kini waktu saya lebih dari 50% saya curahkan untuk kegiatan sosial kemasyarakatan,&quot; ungkapnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Kini Grup Para mempunyai kerajaan bisnis yang mengandalkan pada tiga bisnis inti. Pertama jasa keuangan seperti Bank Mega, Asuransi Umum Mega, Asuransi Jiwa Mega Life, Mega Capital Indonesia. Kedua, gaya hidup dan hiburan seperti Trans TV, Trans7. Ketiga berbasis sumber daya alam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Belakangan, Chairul bekerja sama dengan Jusuf Kalla membentuk taman wisata terbesar di Makassar.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Chairul merupakan salah satu dari tujuh orang kaya dunia asal Indonesia. Dia juga satu-satunya pengusaha pribumi yang masuk jajaran orang tajir sedunia. Enam wakil Indonesia lainnya adalah Michael Hartono, Budi Hartono, Martua Sitorus, Peter Sondakh, Sukanto Tanoto dan Low Tuck Kwong.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Berkat kesuksesannya itu Majalah Warta Ekonomi menganugerahi Pria Berdarah Minang/Padang sebagai salah seorang tokoh bisnis paling berpengaruh di tahun 2005 dan Dinobatkan sebagai salah satu orang terkaya di dunia tahun 2010 versi majalah Forbes dengan total kekayaan $1 Miliar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://insyoulife.blogspot.com/feeds/6640057198755168007/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/2012/07/kesuksesan-chairul-tanjung-pemilik-trans-tv-dan-trans-7.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default/6640057198755168007'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default/6640057198755168007'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/2012/07/kesuksesan-chairul-tanjung-pemilik-trans-tv-dan-trans-7.html' title='Kesuksesan Chairul Tanjung, Pemilik Trans TV dan Trans 7'/><author><name>Michael Steven</name><uri>https://plus.google.com/115260137958022279596</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-X0xLbESfLfE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAFuw/CF68oedTLEg/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://4.bp.blogspot.com/-7U1WFMtrY5o/UAhFe9RF4aI/AAAAAAAABVU/53mcwQ5Hqx8/s72-c/Chairul-tanjung.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4296770913662180343.post-7387369757668919320</id><published>2012-07-10T01:29:00.000-07:00</published><updated>2012-07-10T01:29:14.222-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Semua Index Cerpen"/><title type='text'>Alkisah Semut yang Berhemat</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://insyoulife.blogspot.com/&quot;&gt;&lt;b&gt;InsYouLife&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di zaman Mesir kuno, hiduplah seorang raja yang sangat terkenal keadilannya. Raja tersebut sangat mencintai rakyatnya. Bahkan raja tersebut dalam mencinta keluarganya tidak melebihi cintanya pada rakyatnya. Sehingga kalau ada anggota keluarganya yang bersalah tetaplah di hukum sebagaimana orang lain. Yang lebih istimewa lagi, raja ini juga penyayang binatang.&lt;br /&gt;Karena cintanya pada binatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari raja yang adil itu pergi berjalan-jalan menemui seekor semut. Si semut merasa senang dan bangga mendapat kunjungan dari raja. &quot;Bagaimana kabarmu, semut?&quot; tanya sang Raja. &quot;Hamba baik-baik saja Baginda,&quot; jawab semut gembira. &quot;Dari mana saja kau pergi?&quot; &quot;Hamba sejak pagi pergi ke beberapa tempat tetapi belum juga mendapatkan makanan, Baginda.&quot; &quot;Jadi sejak pagi kau belum makan?&quot; &quot;Benar, baginda.&quot; Raja yang adil itu pun termenung sejenak. Kemudian berkata, &quot;Hai, semut. Beberapa banyak makanan yang kau perlukan dalam setahun?&quot; &quot;Hanya sepotong roti saja baginda,&quot; jawab semut. &quot;Kalau begitu maukah kau kuberi sepotong roti untuk hidupmu setahun?&quot; &quot;Hamba sangat senang, Baginda.&quot; &quot;Kalau begitu, ayo engkau kubawa pulang ke istana,&quot; ujar Raja, lalu membawa semut itu ke istananya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semut sangat gembira karena mendapatkan anugerah makanan dari sang raja. Ia tidak susah-susah lagi mencari makanan dalam setahun. Dan tentu saja roti pemberian sang raja akan lebih manis dan enak.&quot;Sekarang engkau masuklah ke dalam tabung yang telah kuisi sepotong roti ini!&quot; perintah sang raja. &quot;Terimakasih, Baginda. Hamba akan masuk.&quot; &quot;Setahun yang akan datang tabung ini baru akan kubuka,&quot; ujar sang raja lagi.&quot;Hamba sangat senang, Baginda.&quot; Tabung berisi roti dan semut itu pun segera ditutup rapat oleh sang raja. Tutup tabung itu terbuat dari bahan khusus, sehingga udara tetap masuk ke dalamnya. Tabung tersebut kemudian disimpan di ruang khusus di dalam istana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari berikutnya sang raja tetap memimpin rakyatnya. Berbagai urusan ia selesaikan secara bijaksana. Akhirnya setelah genap setahun, teringatlah sang raja akan janjinya pada semut. Perlahan-lahan raja membuka tutup tabung berisi semut itu. Ketika tutup terbuka, si semut baru saja menikmati roti permberian raja setahun lalu.&quot;Bagaimana kabarmu, semut?&quot; tanya sang raja ketika matanya melihat semut di dalam tabung. &quot;Keadaan hamba baik-baik saja, Baginda.&quot; &quot;Tidak pernah sakit selama setahun di dalam tabung?&quot; &quot;Tidak baginda. Keadaan hamba tetap sehat selama setahun.&quot; Kemudian sang raja termenung sejenak sambil melihat sisa roti milik semut di dalam tabung. &quot;Mengapa roti pemberianku yang hanya sepotong masih kau sisakan separuh?&quot; tanya sang raja. &quot;Betul, Baginda.&quot; &quot;Katanya dalam setahun kau hanya memerlukan sepotong roti. Mengapa tak kau habiskan?&quot; &quot;Begini, Baginda. Roti itu memang hamba sisakan separuh. Sebab hamba khawatir jangan-jangan Baginda lupa membuka tutup tabung ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Baginda lupa membukanya, tentu saja hamba masih dapat makan roti setahun lagi. Tapi untunglah Baginda tidak lupa. Hamba senang sekali.&quot; Sang raja sangat terkejut mendengar penjelasaan si semut yang tahu hidup hemat. Sang raja tersenyum kecil di dekat semut. &quot;Kau semut yang hebat. Kau dapat menghemat kebutuhanmu. Hal ini akan kusiarkan ke seluruh negeri agar rakyatku dapat mencotohmu. Kalau semut saja dapat menghemat kebutuhannya, mengapa manusia justru gemar hidup boros?&quot;&quot;Sebaiknya Baginda jangan terlalu memuji hamba,&quot; jawab si semut. Semut itu akhirnya mendapat hadiah lagi dari raja. Sebagai tanda terimakasih karena telah mengajarinya hidup hemat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white;&quot;&gt;Hayuuu....&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;Belajar dari semut yukz ....&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://insyoulife.blogspot.com/feeds/7387369757668919320/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/2012/07/alkisah-semut-yang-berhemat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default/7387369757668919320'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default/7387369757668919320'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/2012/07/alkisah-semut-yang-berhemat.html' title='Alkisah Semut yang Berhemat'/><author><name>Michael Steven</name><uri>https://plus.google.com/115260137958022279596</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-X0xLbESfLfE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAFuw/CF68oedTLEg/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4296770913662180343.post-815692005661495061</id><published>2012-07-10T01:12:00.002-07:00</published><updated>2012-07-10T01:12:55.353-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Semua Index Cerpen"/><title type='text'>Cinta Mati Ternyata Ada by Eko Darmoko</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://insyoulife.blogspot.com/&quot;&gt;&lt;b&gt;InsYouLife&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah enam tahun suami Mbok Pinah tergolek sakit di atas ranjang dengan kasur lusuh sebagai alas. Kasur yang begitu lusuh sehingga tak pantas lagi disebut sebagai kasur. Kain kasurnya yang bermotif garis-garis warna biru dan putih itu robek di sana-sini. Sehingga, sesekali ada kapuk keluar dari persembunyiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada tempat yang lebih lebar lagi selain kasur lusuh itu. Di bawah kolong, sampai seluas-luasnya hingga mencapai bibir daratan, terhampar Pulau Jawa yang sungguh subur. Sebegitu luasnya, namun hanya beberapa ruas kaki yang sanggup dihuni suami Mbok Pinah. Ya, kasur itu hanya seluas dua-tiga ruas kaki orang dewasa saja. Tak lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, sepanjang sisa hidupnya dia harus rela menghabiskan di atas kasur itu. Rasanya, ingin sekali dia bangkit dari kasur itu dan kembali mencangkul di sawah. Namun apa yang dapat dikata. Tenaganya terbang entah ke mana.&lt;br /&gt;Enam tahun lalu ketika Wak Suto, suami Mbok Pinah, sedang asyik bekerja -mencangkul- di sawah, secara tiba-tiba tubuhnya tersungkur ke tanah penuh lumpur. Wak Suto kena stroke. Lalu dia dibawa oleh teman-temannya sesama petani pulang ke rumah. Melihat suaminya dalam keadaan tak sadarkan diri, Mbok Pinah juga ikut tersungkur ke tanah, pingsan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru setelah diberi bau-bauan dari minyak kayu putih, Mbok Pinah sadar. Namun, Wak Suto masih memejamkan matanya. Belum juga sadarkan diri. Karena lama tak sadarkan diri, teman-temannya memanggil &quot;orang pinter.&quot; Orang itu membacakan mantra-mantra di telinga Wak Suto. Lalu sadarlah Wak Suto. Ketika sadar dari stroke, dia hanya dapat melihat sebuah dunia yang hanya berwarna ungu pekat. Juga merasakan tubuhnya lemas tak bertenaga, sampai sekarang.&lt;br /&gt;Segala sesuatu yang menyangkut kebutuhan Wak Suto selalu dipenuhi dan dilayani sang istri. Mbok Pinah dengan tulus dan ikhlas selalu melayani suaminya yang tergolek sakit. Tak ada hal lain yang dapat dilakukan. Dengan kata lain, dunia Wak Suto hanya seluas dimensi kasur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makan, minum, mandi, hingga rutinitas buang air kecil dan besar pun harus dengan pelayanan istrinya. Suap demi suap bubur dengan cermatnya disodorkan ke mulut sang suami. Semua terkesan tulus dan ikhlas. Jika ada bubur yang membelepoti bibirnya, maka dengan hati-hati Mbok Pinah menyeka dengan sapu tangan.&lt;br /&gt;Mereka tinggal berdua di sebuah rumah yang rapuh. Temboknya terbuat dari papan ala kadarnya dan tiang penyangga tua. Sebentar lagi akan roboh jika terserempet puting beliung. Tak ada sesuatu apa pun yang berharga di rumah itu selain setrika listrik yang dibelikan anaknya yang merantau di Surabaya. Padahal, di rumahnya tak ada listrik. Walaupun, listrik sudah masuk desa dan dapat dinikmati penduduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua anaknya pergi meninggalkan emak dan bapaknya. Juga meninggalkan Desa Karangwungu yang membesarkannya. Hanya uang dan uang yang datang menjenguk Mbok Pinah dan suaminya. Uang yang tak cukup untuk menyambung hidup. Sudah dua kali Idul Fitri anaknya tak juga pulang dan menjenguk orang tuanya yang sakit. Ingin sekali orang tua itu melihat kedua anak perawannya pulang ke rumah. Memeluknya dengan cinta dan kasih sayang yang hangat. Namun, semua itu kini hanya menjadi awang-awang. Mereka lelah menantikan kedua anak perawannya yang mencari uang di Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membuat dapurnya tetap mengepul, Mbok Pinah bekerja sebagai pencari kayu bakar. Tempatnya di hutan yang cukup jauh dari Desa Karangwungu. Kayu bakar itu dijual kepada penduduk kampung sebelah.&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white;&quot;&gt;Untuk dapat mencapai hutan itu, dia harus berjalan menyusuri rawa-rawa dengan gestur tanah yang gembur.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white;&quot;&gt;Juga, masih ada bengawan atau sungai. Penyebutan itu mungkin timbul karena aliran sungai juga merupakan aliran anak Sungai Bengawan Solo. Selain mencari kayu bakar, Mbok Pinah juga membuat arang dari batok kelapa. Nantinya, arang itu dijual kepada pedagang sate yang tersebar di sekitar Telon Semlaran, Lamongan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kesulitan dan kerasnya hidup tak membuatnya menyerah. Dia masih semangat menyongsong hari esok. Dari raut wajahnya yang keriput, masih terlihat jelas bara api yang menyala-nyala. Sisa-sisa kecantikannya masih tampak meskipun keriput tersebar di sana-sini. Umurnya yang sekitar 60 tahun bukan halangan untuk tetap menerobos kejamnya kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada sesal sedikit pun di wajahnya mengenai nasib bersuami lelaki tua yang lumpuh. Dia masih tegar dan setia kepada sang suami. Bukan karena hasratnya yang kalah oleh umur, namun karena kesetiaan yang sampai pada tahap ma’rifat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, Wak Suto mengalami kejang-kejang yang sungguh dahsyat. Hingga ranjang yang menahan berat tubuhnya serasa mau ambruk. Serentak rumah mereka didatangi oleh para tetangga yang datang memastikan kabar itu. Salah seorang di antara tetangga itu kembali memanggil &quot;orang pinter.&quot;&lt;br /&gt;Orang yang sama seperti enam tahun lalu ketika Wak Suto tak sadarkan diri akibat stroke. Sama seperti enam tahun lalu, &quot;orang pinter&quot; itu kembali membacakan mantra-mantra yang ditujukannya pada telinga Wak Suto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini mantranya tak semanjur enam tahun yang lalu. Wak Suto masih kejang-kejang. Karena mantranya gagal, dia pun kembali mengulangi pembacaan mantra dengan suara agak keras. Namun, tetap dengan nuansa mistis dan khidmat. Kejang Wak Suto pun sedikit reda. Kecemasan dan kesedihan Mbok Pinah ikut-ikutan reda. Setelah seluruh kejang Wak Suto mereda, dia pun mengeluarkan suara. Suara yang terdengar berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Pinah, istriku, jika aku mati…&quot; suaranya terhenti sejenak. Dia mengumpulkan tenaga untuk meneruskan suaranya. &quot;Jika aku mati, hendaklah engkau menyusulku. Percuma engkau hidup, anak-anak kita tak akan peduli pada orang tuanya yang telah melahirkan dan membesarkannya.&quot;&lt;br /&gt;Tak hanya Mbok Pinah, para tetangga pun kaget mendengar perkataan Wak Suto. Lalu Wak Suto meneruskannya. &quot;Aku ngomomg begini bukan karena kedonyan. Tapi aku merasa itulah yang terbaik untukmu, juga untuk kita,&quot; ujarnya. Tak ada yang menanggapi. Semua yang mendengarkan hanya membisu dan mematung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air mata meleleh lembut dari mata Mbok Pinah. Selembut hatinya merelakan kepergian sang suami untuk selamanya. Arwah Wak Suto terbang entah ke mana. Yang tinggal hanya jasad yang kurus kering tergolek di kasur lusuh itu. Tugasnya untuk melihat dunia dan &quot;numpang minum&quot; telah selesai dijalani.&lt;br /&gt;Mendengar kematian Wak Suto, hampir seluruh penduduk kampung memberikan seserahan apa adanya. Ada yang memberikan gula, ketan, kopi, beras, juga ada yang memberikan uang kepada janda baru itu, Mbok Pinah. Tak heran bila penduduk kampung begitu solidaritas kepada sang kawan yang pergi meninggalkan mereka untuk selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wak Suto terkenal baik dan ramah. Tak ada satu musuh pun yang dimiliki. Justru kawan yang banyak. Bahkan, dari kampung sebelah pun dia juga banyak memiliki kawan.&lt;br /&gt;Prosesi pemandian dan penguburan Wak Suto telah menyedot perhatian seluruh penduduk kampung. Seluruh warga bergotong royong mengantarkan kepergian Wak Suto ke tempat pengistirahatan yang terakhir. Juga malam harinya, tahlil untuk mengiringi kepergiannya dihadiri oleh penduduk kampung dan para sesepuh serta petinggi desa. Para tetangga perempuan sibuk di dapur membuat dan menyuguhkan makanan untuk para jamaah tahlilan. Semua biaya untuk melakukan hajatan itu didapati dari para tetangga-tetangga. Mbok Pinah tak sedikit pun mengeluarkan uang. Bukan karena tak punya uang, namun karena rasa kekeluargaan yang begitu luhur di antara penduduk desa.&lt;br /&gt;Tahlilan sudah sampai pada malam ketiga. Namun, kedua anak perawannya tak juga kunjung pulang. Padahal, mereka sudah dikirimi kabar melalui SMS oleh petinggi desa. SMS itu juga telah dibalas oleh mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Kami akan segera pulang. Secepatnya.&quot; Begitulah balasan yang diterima petinggi desa dari kedua anak perawan Mbok Pinah dan almarhum Wak Suto. Kata &quot;secepatnya&quot; adalah penekanan bahwa mereka pasti datang dengan segera. Namun, hingga hari ketiga tahlilan mereka tak juga pulang ke rumah.&lt;br /&gt;Malam ketiga tahlilan itu membukakan mata dan hati para penduduk kampung. Mereka menyaksikan sebuah peristiwa yang sungguh menyentuh lubuk hati sedalam-dalamnya. Mbok Pinah yang juga ikut membacakan tahlil dengan lembut pergi meninggalkan mereka untuk selamanya. Mbok Pinah pergi untuk selamanya dengan keadaan duduk sambil memegang buku tahlilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyaksikan kejadian itu aku hanya bisa duduk bersila mematung. Nagasari yang tinggal satu gigitan lagi tak juga aku makan. Aku diliputi rasa merinding sedalam-dalamnya. Alam pikiranku mengembara pada peristiwa ketika ajal menjemput Wak Suto. Di telingaku terngiang-ngiang suara Wak Suto: &quot;Jika aku mati, hendaklah engkau menyusulku.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanat Wak Suto sebelum mati telah dilaksanakan oleh istrinya. Mbok Pinah pergi menyusul. Kini mereka kembali bertemu. Hidup bersama kembali. Penuh kedamaian. Semoga. Suara Wak Suto yang terngiang di telingaku telah hilang ditelan hiruk-pikuk yang menyelimuti rumah itu. Salah seorang sesepuh desa yang duduk di sebelahku mengeluarkan suara. Suaranya terdengar lirih namun penuh keyakinan.&lt;br /&gt;&quot;Ternyata… di dunia yang penuh dengan kepura-puraan ini, cinta mati benar-benar ada…&quot;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://insyoulife.blogspot.com/feeds/815692005661495061/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/2012/07/cinta-mati-ternyata-ada-by-eko-darmoko.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default/815692005661495061'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default/815692005661495061'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/2012/07/cinta-mati-ternyata-ada-by-eko-darmoko.html' title='Cinta Mati Ternyata Ada by Eko Darmoko'/><author><name>Michael Steven</name><uri>https://plus.google.com/115260137958022279596</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-X0xLbESfLfE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAFuw/CF68oedTLEg/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4296770913662180343.post-4791909079684918981</id><published>2012-07-03T08:27:00.000-07:00</published><updated>2012-07-04T09:26:53.995-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Semua Index Cerpen"/><title type='text'>Cinta by Hermawan Aksan</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://insyoulife.blogspot.com/&quot;&gt;&lt;b&gt;InsYouLife&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PISAU lipat itu bergetar di genggamanku.Ah,pasti karena denyut jantungku yang kian kencang, seperti pegas di ambang retas. Pisau itu baru kubeli di toko kecil tak jauh dari rumahku.&lt;br /&gt;Hijau pupus warna tangkainya—seperti warna gaun kesukaannya, entah dari bahan apa,dan kecil saja ukurannya.Harganya pun tak seberapa.Dalam keadaan terlipat, palingpaling lima sentimeter panjangnya.Dalam keadaan terbuka,tajam ujungnya berkilat tatkala memantulkan cahaya. Kalau kita berkaca,akan tampak wajah kita yang sebenarnya: mengerikan seperti denawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap malam, keletak-keletuk sepatunya yang beradu dengan lapisan beton jalan gang kompleks perumahan memukulmukul keheningan.Memukul-mukul jantung. Mula-mula samar, seperti ketukan ujung jari di tembok, makin lama makin nyaring. Iramanya selalu sama. Seperti nyanyian dua per dua, dengan tempo alegro. Selalu ingin kusibakkan tirai jendela, kuintip remang jalan di muka, dan kunikmati sumber bunyi yang menggetarkan lebih dari komposisi Tchaikovski.Bila perlu,akan kubuka pintu kamarku, lalu keluar dan kutunggu dia di pintu pagar.Akan kusapa dia dengan ucapan selamat malam. Dan aku yakin dia akan menoleh dengan senyumnya yang paling mendebarkan. Udara akan tersaput dengan harum magnolia. Seandainya waktu berkurang lima atau enam tahun, aku bahkan akan menunggunya di ujung jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku akan menyapanya dengan segala kesopanan.Aku yakin dia akan menarik bibir merahnya dengan senyuman yang ramah.Kalaupun tidak, dia tentu akan menjawab sapaanku dengan lirik mata yang mendebarkan atau suara yang mendesis seperti bisik angin. Kalaupun tidak juga, aku akan memaksanya berjalan merendenginya di sepanjang gang yang sunyi.Bila perlu merangkulkan tanganku di pundaknya. Tapi sampai ketukan itu larut di udara malam, aku masih terempas dalam kesunyian yang makin mengimpit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya bisa membelai permukaan bilah pisauku, pelan-pelan dari pangkal, dan aku merasainya seakanakan jemariku menyusuri permukaan punggungnya—duhai, aku bahkan belum tahu namanya. Tak lama lagi dia, setelah lelah sejak sore menghibur para lelaki yang kelelahan, akan sampai di rumahnya. Tepatnya, salah satu kamar di rumah mewah hampir di ujung jalan. Dia akan membuka pagar besi rumah itu, lalu akan terdengar derit yang menyilet hening, membuka kunci pintu samping,menutupnya kembali,berjalan menaiki tangga,dan membuka pintu kamar depan di lantai dua.Ketika pintu terbuka, pasti akan meruap wangi yang tak kalah segar dari dalam kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin dia akan langsung merebahkan tubuh rampingnya di kasur yang empuk dengan seprai merah muda yang harum.Mungkin juga dia akan membuka dulu bajunya, mengambil handuk, lalu membasuh tubuh telanjangnya dengan air yang sejuk. Setelah itu, akan ia kenakan gaun tidur hijau pupus yang lembut.Sama lembutnya dengan hijau tangkai pisauku. Dia pasti sangat menyukai warna hijau.Gaun hijau sutra itu halus dan tipis sehingga akan menerawangkan warna kulitnya yang pualam dan bentuk tubuhnya yang mengingatkanku pada sosok Dewi Supraba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OH, kenapa kamu selalu gelisah, lelaki? Kamu ingin keluar mencegat perempuan malam itu? Keluarlah. Muncratkan semua kepenatan dalam dadamu. Aku tak ingin menjadi penjara bagimu. Kalau kauanggap bahwa apa yang ada dalam pikiranmu akan membuatmu menjadi laki-laki, ayolah kumpulkan keberanianmu, buka pintu hati-hati supaya kamu yakin tak akan membangunkanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku tak akan membuka mata seandainya pun aku bangun dan mengetahuinya. Bukalah pintu, menyelinaplah keluar seperti kucing. Bukankah laki-laki itu memang kucing? Tutup lagi pintu.Kalau perlu, kuncilah dari luar biar aku terkurung di dalam, dalam ketidaktahuan— setidaknya tidak tahu menurut anggapanmu. Senyampang keletak-keletuk suara sepatunya masih menggema di telinga, keluarlah melalui pintu muka.Sapalah dia dengan segala kesopanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yakin dia akan menarik bibir merahnya dengan senyuman yang ramah. Kalaupun tidak, dia akan menjawab sapaanmu dengan lirik mata yang mendebarkanmu atau suara yang mendesis seperti bisik angin. Tapi, kalaupun tidak juga, jangan memaksanya berjalan merendenginya di sepanjang gang yang sunyi, apalagi merangkulkan tanganmu di pundaknya. Pasti dia terlalu lelah karena sejak sore menghibur para lelaki yang kelelahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temani saja sampai rumahnya.Tepatnya,salah satu kamar di rumah mewah hampir di ujung jalan. Bukakan pagar besi rumah itu, hati-hati, pasti akan terdengar derit yang menyilet hening. Antar dia membuka kunci pintu samping, menutupnya kembali, berjalan menaiki tangga, dan membuka pintu kamar depan di lantai dua.Kamu pasti akan suka karena ketika pintu terbuka,akan meruap wangi yang tak kalah menyegarkan dari dalam kamar. Kamu pasti akan lebih suka kalau dia akan langsung merebahkan tubuh rampingnya di kasur yang empuk dengan seprai merah muda yang harum, apalagi kalau dia membuka dulu bajunya,mengambil handuk,lalu membasuh tubuh telanjangnya dengan air yang sejuk. Bukankah kamu selalu membayangkan indahnya pemandangan itu? Hei, kamu masih gelisah di sini, lelaki?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keletak-keletuk bunyi sepatuku yang beradu dengan lapisan beton memukul-mukul hening malam. Dan memukul-mukul dadaku.Aku seperti menjadi manusia soliter, sendirian hidup ketika alam semesta tidur.Dan sebentar pagi aku akan menjadi satusatunya manusia yang mati ketika alam semesta hidup disiram matahari.&lt;br /&gt;Oh, tidak, aku yakin, di sebuah kamar, seorang lelaki tengah gelisah. Hampir tiap malam aku merasakan sepasang mata memandang dari kegelapan seperti hendak menelanku. Aku tak pernah melihat mata itu.Tapi aku merasakan sorotnya, seperti sepasang garis sinar sejajar yang memancar dari sudut malam yang pudar. Dasar lelaki, ayolah sibakkan tirai jendelamu, intiplah keremangan jalan ini. Akan lebih baik lagi kalau kau tidak terus-menerus sembunyi, tapi bukalah pintu kamarmu, lalu keluar dan menungguku di pintu pagar. Sapalah aku dengan ucapan selamat malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau selamat pagi. Aku akan menoleh sambil kuberikan sisa senyumku. Tapi sampai kulewati kamarmu yang temaram,aku hanya menjumpai kesunyian yang makin mengimpit. Aku memang lelah karena sejak sore menghibur para lelaki yang mengaku kelelahan. Namun aku senang melakukannya karena dengan demikian aku menjadi makin tahu bahwa semua lelaki memang tolol. Mereka saling berebut kekayaan sepanjang siang seperti binatang yang berebut makanan, hanya untuk dibuang dalam beberapa kejapan malam harinya, dengan alasan untuk mengusir kelelahan. Ah, ayolah, lelaki, bukankah kamu sama dengan semua lelaki itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AH,perempuan,maafkan aku.Kau terlalu indah, karena itu izinkan aku melukis tubuhmu, untuk bisa kunikmati sendiri lukisannya.Kamu terlalu indah untuk juga dimiliki lelaki lain. Telah kusiapkan kuas yang khusus. Ujungnya memang tajam mengilat, dan tak perlu cat jenis apa pun untuk melukis tubuhmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin aku akan memulai dengan ujung telunjuk kiriku sebagai semacam garis kasar, yang akan diikuti dengan ujung pisau lipatku.Ya, ya, akan kumulai dari bawah tengkuk lehermu. Bukankah di sana ada tato kupu-kupu yang membentangkan sayapnya yang biru? “Kenapa kau senang tato kupu-kupu?” begitulah aku akan bertanya lebih dulu. “Karena indah sekaligus rapuh,” pasti demikian jawabmu. Ironi yang indah,bukan? Dari gambar kupu-kupu di tengkukmu, perlahan-lahan akan kususuri dengan ujung jariku, sekaligus ujung pisauku, lekukan di tengah punggungmu yang melandai dan berakhir di lembah di antara tonjolan bokongmu yang membukit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lukisan Rembrant atau Monet, repertoar Beethoven atau Mozart, puisi Keats atau apalagi sekadar Goenawan, hanyalah ujung kuku dibanding keindahanmu. Dan aku ingin menikmati sendiri. “Aku ingin memilikimu selama hidupku. Dengan cinta.” Begitulah aku akan berbisik,sebelum kau meregang nyawa di puncak cinta. Mungkin kau akan tertawa, disertai air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HEI, lelaki,apa artinya cinta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ha-ha-ha! &lt;i&gt;(Hermawan Aksan)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://insyoulife.blogspot.com/feeds/4791909079684918981/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/2012/07/cinta-cerpen.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default/4791909079684918981'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default/4791909079684918981'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/2012/07/cinta-cerpen.html' title='Cinta by Hermawan Aksan'/><author><name>Michael Steven</name><uri>https://plus.google.com/115260137958022279596</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-X0xLbESfLfE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAFuw/CF68oedTLEg/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4296770913662180343.post-8170901060730007774</id><published>2012-07-03T08:21:00.000-07:00</published><updated>2012-07-04T09:27:14.123-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Semua Index Cerpen"/><title type='text'>Cerpen, Aku by Agus Ainur R</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://insyoulife.blogspot.com/&quot;&gt;&lt;b&gt;InsYouLife&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mungkin sudah gila. Setidak-tidaknya berada dalam stadium awal menuju gila.Aku rebahkan tubuhku yang lelah. Di tepian jalan yang ramai.Aku gila ?.Apa salahnya menjadi gila? Tidak ada salahnya.&lt;br /&gt;Menjadi gila bisa menjadi jalan terbaik menyelesaikan beban hidupku. Aku bisa merdeka dari beban-beban hidup. Berjalan ke mana saja.Tidur di mana saja.Telanjang.Menyanyi. Menangis. Jika seandainya aku membunuh, tidak akan dipenjara.Paling-paling dilemparkan ke RSJ. Menjadi gila adalah sebuah kemerdekaan. Orang lalu lalang di trotoar. Aku dulu seorang pejabat penting di sebuah departemen yang basah.Dengan kekuasaan yang luas, menentukan abang birunya suatu proyek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi dalam hati sering timbul pertanyaan. Apakah aku ini pejabat ? Atau sekadar perampok !?.Tidak adanya bedanya. Semakin hari semakin tipis-tipis saja.Aku terkadang merampok.Mencopet. Mencuri.Memerkosa.Aku mengumpulkan harta. Menimbunnya. Menyantapnya dengan lahap di setiap malam.Mulai dari sudut - sudut restoran sampai kamar-kamar hotel. Sekarang, aku terbuang. Gila.Nyasar di sepanjang trotoar. Aku menghampiri seseorang yang menyandarkan tubuhnya di dinding pagar taman kota. Ia merokok.Asapnya mengepul.Putih.Ia begitu menikmatinya. Seperti sedang orgasme dengan rokok.Aku mencoba tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menepuk pundaknya.Sok akrab. ”Sudah lama.” Orang itu bengong ”Sudah lama aku tidak merokok.” Dia menyodorkan sebatang rokok kretek.Aku tersenyum.Tanganku bergerak cepat. Dengan rakus kumasukkan rokok itu ke mulutku.Dia memberiku korek api.Dinyalakan.Asap segera mengepul.Setiap sedotan kunikmati dengan kekhusyukan hati. Rasanya sudah berabad-abad tidak merokok. ”Rumahmu di mana ? ” Aku tertawa. ”Kamu tidak punya rumah !” ”Jika aku punya rumah.Aku tidak akan berada di sini.” Dia tertawa. Giginya kuning.Terlihat di antara asap rokok. ”Aku tahu.Kamu dibuang keluargamu, karena kamu gila.”&lt;br /&gt;”Aku tidak gila !” Ia tertawa.Jelek sekali tawanya. ”Aku sebenarnya seorang pejabat.” Tawanya semakin ngakak. ”Dasar orang gila.” Ia segera pergi meninggalkanku sendirian. Rokok kusedot dalam-dalam. Ia tidak percaya aku pejabat.Tapi,masak pejabat bajunya kucel, penuh tambalan, tubuhnya bau. Aku harus segera berganti baju.Biar orang percaya.Aku terkadang merasa masih pejabat. Biarpun sudah dipecat karena korupsi. Sesaat kemudian ia kembali.Tawanya jelek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Giginya kuning. Menjengkelkan. ”Kamu percaya aku pejabat ?” ”Iya,aku percaya.Tapi itu dulu.” Aku bengong.Dia tahu,siapa aku ?. ”Aku tahu,siapa kamu.Pejabat negara. Koruptor.” ”Aku tidak pernah korupsi.”Aku teriak Dia tertawa.Aku tidak berani melihat wajahnya. ”Kamu merasa masih pejabat !?” Aku mengangguk ” Sekarang,kamu orang gila.Yang bisa setiap saat mati di got.Digorok.Disodomi. Dicincang. Dagingmu untuk campuran bakso.” Aku merinding. ”Kamu takut ? Orang gila kok punya takut !.” ”Aku tidak gila !!.”aku teriak kembali ”Aku tahu kamu tidak gila.Tapi sinting. Sudrun.Grazy.Mad.” Aku melihat gigi kuningnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muak. Mau muntah.Aku jadi ingat sesuatu. Aku perhatikan wajah orang itu dalamdalam. Aku sepertinya mengenalnya. ” Kamu Sastro, iya kan !. Kamu ingat.Kita pernah satu partai.” Kami berpelukan. ”Kamu juga gila !?.”tanyaku Dia tertawa. ”Aku ikut kamu.Menjadi gila.” Aku mulai karierku sebagai orang gila sepuluh tahun yang lalu.Saat aku berhasil menjadi pejabat penting di sebuah departemen.Aku mengurusi proyek. Menentukan siapa yang akan menangani suatu proyek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dipilih atasan, bukan karena aku mampu di bidang proyek bangunan. Sedikit pun aku tidak paham. Hanya satu alasan. Atasan dekat denganku karena banyak kesamaan. Sama-sama suka mabuk. Ngelonte. Karaoke atas - bawah. Dan yang penting sama-sama doyan uang.Culas.Tidak jujur.Tentu maling akan berjamaah dengan maling juga. Dari sinilah aku belajar menjadi gila. Bagaimana tidak gila.Proyek yang sebesar tiga ratus juta rupiah.Aku kepras limapuluh juta.Tapi jangan bayangkan aku rakus.Aku hanya dapat lima juta.Yang lain,untuk setor ke atas dan kanan-kiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu tanpa kuitansi atau tanda terima lainnya.Dan yang lebih gila lagi,kontraktornya bisa membuat laporan dengan jumlah total tiga ratus juta rupiah.Entah dari mana dia mendapatkan uang lima juta untuk menggenapi.Gila. Kebiasaanku yang gila mendorong aku untuk menjadi gila sungguhan. Aku terbiasa hidup di alam maya.Sulit untuk menerima fakta.Aku tidak menerima fakta bahwa uang proyek sudah kukepras.Kontraktor harus membuat laporan uang utuh.Aku tidak bisa menerima fakta.kayu kusen-kusen sebuah sekolah SD hanya dari kayu meranti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontraktor harus membuat laporan sesuai bestek,kusen-kusen dari kayu jati dan bengkerai. Aku benci fakta. Aku biasa berdusta. Muak dengan kejujuran.Tapi akhirnya aku capek. Lelah.Perut istri dan anakku terlalu banyak diisi yang haram. Sehingga mereka menjadi jahat.Istri tergila-gila dengan seorang gigolo yang sebaya anaknya.Anak putriku, hamil dengan laki-laki yang ia sendiri lupa siapa namanya. Ini sungguh gila.Tapi ini fakta.Aku tidak suka fakta.Aku kaget. Shock. Depresi. Jika proyek yang aku urus dengan mudah aku bermain-main dengan angka,merekayasanya menjadi wajar dan rasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi istriku yang kabur dengan gigolo dan anakku yang bunting. Bagaimana aku merekayasanya ? Aku tidak bisa menerima fakta. Aku tidak biasa hidup dengan fakta. Satu fakta lagi menyusul.Aku dipecat dengan tidak hormat.Polisi memburuku. Aku korupsi katanya.Aku sadar aku memang telah mencuri uang rakyat.Tapi aku tidak sendiri. Bukankah uang itu juga aku setor ke atas dan kanan-kiri.Ini fakta.Tapi tidak pernah jadi fakta karena aku tidak mempunyai bukti otentik.Gila.Aku merasa seperti anjing kurap yang ditinggalkan di jalan menunggu digilas oleh mobil yang lewat.Ini permainan yang gila. Jika tersangka korupsi pura-pura sakit itu biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencari model baru. Aku pura-pura gila. Bukankah orang gila akan terbebas dari hukum ? Bahkan kalau seandainya aku membunuh, memerkosa, merampok, tidak ada jalan bagi hukum untuk menjerat. Pada awalnya aku agak tersiksa purapura gila. Risih, harus memakai baju penuh tambalan.Tertawa sendiri.Makan dari bak sampah.Tapi lama-lama aku merasakan kenikmatan. Aku sempat dikirim di rumah sakit jiwa. Itu lebih baik daripada aku dikirim ke penjara.Sebagai orang gila aku leluasa menggoda suster, mencolek pengunjung yang bahenol, atau pipis dan berak sembarang tempat.Aku bisa melakukan yang tidak bisa dilakukan orang waras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi aku tidak kuat lama-lama di RSJ. Aku kabur. Tentu lebih mudah kabur dari RSJ daripada dari penjara. Aku lari. Aku ingin pulang.Tapi semua hartaku musnah. Sebagian disita negara.Sebagian yang lain dibawa kabur istriku dengan PILnya. Aku shock.Depresi.Inifakta,bukan fiksi sebagaimana laporanku. Aku telah kehilangan semuanya. Aku menangis. Tertawa sendirian. Aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri. Pikiranku tak bisa dikontrol. Perbuatanku seperti sebuah refleks yang tak beraturan.Menangis.Tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku semakin merasakan kemerdekaan jadi orang gila.Aku mulai tidak tahu,aku pura-pura gila atau memang sudah gila sungguhan.Yang pasti lama-lama aku betah jadi gila.Aku menikmati menjadi gila.Aku merasa bahagia menjadi gila.Dulu juga sudah gila. Dengan segala kekuatan aku akan mempertahankan keadaan gila. Aku tertawa. Mengekspresikan kebahagiaan. Sastro gigi si gigi kuning ikut tertawa. ” Kita ini sudah gila sungguhan.” Kata Satro ”Kamu sedih menjadi orang gila ?.” ” Gila itu pilihan hidup. Tentu dengan berbagai risiko. Dulu kita gila dengan membunuh hati nurani.Menolak fakta.Membiasakan diri hidup dengan rekayasa. Mengepras uang proyek. Merampok raskin.Uang JPS.Kita sebut uang lelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uang transport.Uang syukuran.”Sastro berhenti.Wajahnya kelihatan semakin jelek dan culun ” Sekarang gila kita sudah masuk fase paripurna.Kita gila sungguhan.Hidup tidak di atas fakta lagi.Tapi di awangawang. Tertawa saat orang –orang sedih. Bukankah itu sama gilanya dengan kita dulu saat kita masih menjadi pejabat. Kita tertawa setelah mengambil uang JPS dan raskin. Si miskin menangis uangnya dipotong. Tetapi tidak berani bicara.Sedang kita tertawa terbahak-bahak. Berkaraoke. Ngorok di hotel.Makan pindang bule di ranjang-ranjang hotel.” ” Ini pengakuan dosamu !” sergahku cepat Ia tertawa lebar. Gigi kuning terlihat lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kamu sendiri bagaimana ?” Aku terdiam. ”Yang aku katakan tadi fakta, kan !? Bukan data yang telah disihir.” ” Sejak kapan kamu bisa membedakan fakta dan rekayasa !?” ” Sejak menjadi gila pada tingkat paripurna.” Aku tertawa. ”Sama dengan kamu,iya kan !” ”Mungkin.” ”Kok,mungkin.Yang pasti dong.” ” Otakku sudah error. Tidak bisa membedakan fakta dan bukan fakta. Aku gila itu fakta atau bukan. Istriku lari dengan gigolo itu fakta atau fiksi. Anakku bunting itu fakta atau fiksi. Kemudian aku dipecat. Disidang di meja hijau. Ditudung korupsi. Purapura gila.Lalu jadi gila sungguhan, itu fakta atau bukan !?.” Sastro tertawa. Dia sudah gila.Aku semakin tidak menyadari apa sesungguhnya terjadi. Fakta atau rekayasa.Aku tertawa sendiri. Menangis sendiri. Di sepanjang trotoar yang ramai. &lt;i&gt;(Agus Ainur R)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://insyoulife.blogspot.com/feeds/8170901060730007774/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/2012/07/cerpen-aku-cerpen.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default/8170901060730007774'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default/8170901060730007774'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/2012/07/cerpen-aku-cerpen.html' title='Cerpen, Aku by Agus Ainur R'/><author><name>Michael Steven</name><uri>https://plus.google.com/115260137958022279596</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-X0xLbESfLfE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAFuw/CF68oedTLEg/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4296770913662180343.post-3171255248169124069</id><published>2012-07-03T08:17:00.001-07:00</published><updated>2012-07-04T09:27:55.658-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Semua Index Cerpen"/><title type='text'>Buncit 12 by Riz Koto</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://insyoulife.blogspot.com/&quot;&gt;&lt;b&gt;InsYouLife&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu, di halte bus Buncit 12, tiba-tiba saja hujan turun dengan lebatnya. Aku yang tadinya memperkirakan selamat dari hujan dalam perjalanan pulang dengan motor ke Pasar Minggu, terpaksa buru-buru berbelok dan berhenti di halte bus Buncit 12. Buru-buru pula aku turun dari motor untuk berteduh di bawah naungan atap halte.&lt;br /&gt;&quot;Hei!&quot; Aku kaget, tak sengaja kakiku mengenai sesorang yang agaknya juga buru-buru untuk berteduh di sana.&lt;br /&gt;&quot;Maaf...,&quot; kataku sebelum sempat melihat orang yang kukenai, tapi aku yakin dia seorang wanita, berdasarkan suaranya. Aku buru-buru berbalik dan sekali lagi meminta maaf. Aku melihat dia mengusap tangannya yang tersenggol kakiku sambil bersungut-sungut. Badannya agak kurus, mukanya pucat, tapi tatapan matanya itu....&lt;br /&gt;&quot;Hei... Lind...da...,&quot; kataku kemudian tercekat. Aku membuka helmku buru-buru. &quot;Linda...,&quot; kataku lagi senang. Jelas kulihat sekilas di wajahnya rasa senang, tapi kemudian tiba-tiba tak berekspresi, lalu cepat berubah cuek, bahkan berpaling. Apakah aku salah orang? Perasaan malu pun menerkamku. Apakah aku salah orang?&lt;br /&gt;&quot;Jangan sok kenal, deh, lihat-lihat orang, dong!&quot; Ia kembali bersungut-sungut tanpa memandangku, malah menunduk dan sedikit memalingkan muka. Apakah aku salah orang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah deru mobil dan gemuruh suara hujan, aku terpaku. Diam-diam, aku mencoba menegaskan kembali wajah itu. Benar! Wajah itu begitu kukenal, bahkan masih sering kukhayalkan meski sudah 20 tahun yang lalu aku begitu dekat dan amat mengaguminya: bibir itu dan tatapan senang yang tadi sempat kusaksikan sekilas. Apa ada orang semirip ini?&lt;br /&gt;Tapi, bagaimana aku lupa tatapan indah itu? Bagaimana aku lupa lembutnya bibir itu? Dua puluh tahun yang lalu... kami sama-sama terduduk setelah beradu ketika buru-buru naik bus kuning di kampus UI Depok menuju Sastra.&lt;br /&gt;&quot;Heh eh...&quot;&lt;br /&gt;&quot;Wadaw...&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Maaf, maaa...af... aku nggak sengaja...&quot;&lt;br /&gt;&quot;Eee...&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Maaaf... suwer, aku buru-buru, telat nih, sorry, deh.&quot; Aku terus meminta pengertiannya karena telah menyebabkan dia terjengkang karena aku benar-benar buru-buru. Kalau aku tidak mengejar dan seruduk naik bus kuning saat itu, paling tidak aku menunggu lima menit lagi untuk sampai di kampus Sastra. Padahal aku sudah hampir telat, bisa-bisa aku terlambat memulai ujian kajian sastra hari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Emangnya elu doang yang telat, yeee... Gue juga mau ujian tahu....&quot;&lt;br /&gt;&quot;Ya... iya sama, maaf deh, sungguh...&quot; Aku tak berani lagi berkata. Sambil merapi-rapikan ransel buku, sekali-sekali aku meliriknya yang juga merapi-rapikan tasnya. Ah, cakep juga, kataku dalam hati. Ah bodo, aku kembali fokus pada ujian yang beberapa menit lagi dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Aahh... selesai sudah, Jooook...,&quot; kataku pada temanku, sembari menghempaskan diri di bangku panjang balsem di bawah pohon karet di belakang kambus Sastra. Seperti biasa, sambil menghempaskan diri aku lalu mengangkat kaki tinggi-tinggi dan berbalik. Tapi kali ini hempasanku kurang pas sehingga aku justru terjatuh dengan kaki terjungkal ke belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Wadaw....&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Aduah... mmmaaf...&quot;&lt;br /&gt;&quot;Eh, lu lagi... Iiih, sialan, lu...&quot;&lt;br /&gt;&quot;Maaf....&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Sakit, tahu...&quot;&lt;br /&gt;&quot;Maaf...,&quot; kataku, sambil terus nyelonong hendak mengusap lengannya yang kena kakiku tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Ee. eeh... malah megang-megang!&quot;&lt;br /&gt;&quot;Bu bu kan....&quot;&lt;br /&gt;&quot;Ah.. lu Ron, bilang aja mau megang ha ha ha,&quot; tiba-tiba temanku nyela sambil tertawa diikuti yang lain.&lt;br /&gt;&quot;Maksudku... aku benar-benar...&quot; &quot;Ah dasar lu... Namanya Sinta tu, langsung aja,&quot; kata Romi menimpal. Aku kehabisan akal. Mukaku rasanya panas, aku yakin wajahku memerah. Tapi aku senang, Sinta, kalau memang itu namanya, wajahnya juga memerah. Ia tertunduk malu, lalu pergi menarik tangan temannya. Aku kemudian terpana memandangnya pergi.&lt;br /&gt;&quot;Woy... alaaah playboy cap kampak lu, pura-pura terpesona, Namanya Sinta, anak China tuh.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Oh ya... oooo.&quot; Aku duduk tak berkata-kata. Aku jadi membayang-bayangkan Sinta, kalau memang itu namanya. Kok dua kali?&lt;br /&gt;Dan, sejak itu hidupku pun berubah. Benar-benar aneh, sepenjang hari pikiranku dipenuhi bayangan Sinta, sampai berbulan-bulan. Bahkan, sampai seperti setengah gila, aku kadang-kadang tak sadar menyebut-nyebut namanya.&lt;br /&gt;Tak dapat kusangkal, aku semakin parah ketika dia terang-terangan menolakku ketika aku bersusah payah mengutarakan perasaan kepadanya. Seolah-olah dunia ini selesai sudah. Aku tak pernah lagi konsen kuliah. Setiap ada kesempatan, aku selalu memandangnya dari jauh, bagai seorang pengemis.&lt;br /&gt;Namun, setiap aku mendekatinya dia tetap menjauh, bagai aku ini pesakitan yang menularkan wabah. Sampai suatu saat aku memutuskan berbuat nekad, benar-benar nekad: menuturkan semua dengan titik bening berbulir dari mata hati apa adanya. Di rumah kosnya, tanpa malu kutumpahkan kasih kerinduan yang terantuk-antuk. Dan... jatuhlah juga keibaan Sinta, atau memang telah ada sejak lama tapi ditutupi rapat sekali. Perlahan pintu itu berderik lembut, menyeruakkan cahaya di baliknya, yang terasa telah lama menunggu. Selanjutnya, cahaya itu segera membuka dan aku jatuh lumat ke dalam kenikmatannya.... Bayangkan rasanya, &quot;Aku... ju..ga... suka...,&quot; katanya pelan waktu itu, menunduk, tanpa menatapku.&lt;br /&gt;Sore itu, setelah kuliah selesai, aku menunggunya di Kantin Sastra. Kira-kira pukul tiga sore dia muncul begitu anggun. Itu mungkin karena aku sudah begitu makin dalam menyukainya. Semua tampak indah.&lt;br /&gt;Tapi agak aneh, wajahnya memperlihatkan bayangan kesedihan yang ditutupi. Ah, biarlah. Senyumnya, yang saat itu agak terasa dipaksakan, telah memabukkan aku yang sudah teramat dalam jatuh cinta, yang membuat aku tak peduli.&lt;br /&gt;&quot;Hai... sudah lama ya.&quot;&lt;br /&gt;&quot;Wow....&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Ih... apanya yang waw....&quot;&lt;br /&gt;&quot;Wow....&quot; Wajah dan senyum itu kembali menyilaukan aku. Dia lalu menunduk. Rambutnya yang panjang jatuh menutupi sebagian wajahnya.&lt;br /&gt;&quot;Setiap aku memandangmu, aku jatuh cinta lagi,&quot; bisikku dekat telinganya yang tertutup rambut, wangi.&lt;br /&gt;&quot;Ihh... gombal.&quot; &quot;Sunguh!&quot;&lt;br /&gt;&quot;Mmmm... dah taaau...&quot; katanya lembut. &quot;Jadi kita ke....&quot;&lt;br /&gt;&quot;Ke mana saja... aku akan ikut... asal... bersamamu,&quot; cepat aku masih mengubar perasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh, tiba-tiba dia mengangkat muka pelan, menatapku dalam, seakan ada yang memberatkan pikirannya. Aku masih melayang, tak peduli duka itu. Kemudian dia pelan menunduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Oke, ayo,&quot; kataku sambil meraih lengannya. &quot;Kita berangkat.&quot; Kemudian kami berjalan bergandengan, rasanya dunia milik kami, paling tidak yang kurasakan sendiri.&lt;br /&gt;Benar, saat itu aku hanya mengusap-usap perasaanku, tanpa sedikit pun mengempati kegundahan yang tersembunyi pada sikapnya. Sampai di kosnya, bagai serigala lapar, aku melahap segala yang tersedia, melumat gelora bersama angin tanpa perasaan. Aku benar-benar egois. Sampai akhirnya desah dan tangis kecil yang ditutup-tutupi memecah puncak pemenuhan hasratku.&lt;br /&gt;Kami terhampar luluh di kamar itu, di atas lembut bunga-bunga penghias peraduan gadis muda belia. Kami saling berpandangan, saling menatap dalam hingga menembus jauh ke hati. Senyumnya mengembang, aku senang, tapi tak ada kata-kata yang mampu kuucapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Kamu puas, sayang,&quot; katanya. Aku tak langsung menjawab, karena memang tak bisa menjawab lantaran ada yang janggal dari kata-kata dalam pertanyaan itu. Agak lama.&lt;br /&gt;&quot;Ya... kamu, Say?&quot; aku akhirnya menjawab juga. Tiba-tiba ia memelukku erat sekali. Aku merasakan gemuruh tangis, meski tak ada suara.&lt;br /&gt;&quot;Ada apa, Say...&quot;&lt;br /&gt;&quot;Nggak ada apa-apa, aku juga senang...,&quot; katanya lembut sekali tertahan. Kami pun berpandangan lagi, lalu berpelukan, lama, lama sekali, hingga akhirnya jatuh tertidur.&lt;br /&gt;&quot;Linda... bukankah kamu Lind...da...,&quot; kataku pelan, hati-hati sekali, mendekati wanita di Halte Bucit 12 itu. Kulihat dia cemas, tapi dia tetap tenang seolah-olah tak mendengar. &quot;Boleh aku....&quot;&lt;br /&gt;&quot;Eh, siapa sih Linda? Linda-linda?&quot; Anehnya dia tak berani memandang ke arah aku. Suaranya agak serak. Aku makin yakin ini Lindaku. Perasaanku jadi tak menentu. Sudah bertahun-tahun aku mencarinya sejak aku terbangun dari tidur di rumah kos Linda 20 tahun lalu.&lt;br /&gt;&quot;Sudah dua puluh tahun, aku tetap mencarimu... sejak kamu tinggalkan aaak....&quot; Tiba-tiba dia memandangku sekejab, wajahnya pucat. Tiba-tiba bangkit dan lari menerobos hujan dan meloncat ke metromini yang lewat.&lt;br /&gt;Seperti ada kaitan, metromini pun tancap gas. Aku terpana, terdiam kaku. Tak lama kemudian aku tersadar. Itu pasti Linda, Lindaku, wajahnya, bibirnya, gerakan tubuhnya. &quot;Linda, Linda, Lindaaaa.... Ada apa, Linda...&quot; Air mataku berjatuhan bersama hujan. &lt;i&gt;(Riz Koto)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://insyoulife.blogspot.com/feeds/3171255248169124069/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/2012/07/buncit-12-cerpen.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default/3171255248169124069'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default/3171255248169124069'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/2012/07/buncit-12-cerpen.html' title='Buncit 12 by Riz Koto'/><author><name>Michael Steven</name><uri>https://plus.google.com/115260137958022279596</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-X0xLbESfLfE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAFuw/CF68oedTLEg/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4296770913662180343.post-3968527290793967028</id><published>2012-07-03T08:15:00.000-07:00</published><updated>2012-07-04T09:28:18.190-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Semua Index Cerpen"/><title type='text'>Bersama Kupu-kupu, Nuke Terbang by Ratna Indraswari I</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://insyoulife.blogspot.com/&quot;&gt;&lt;b&gt;InsYouLife&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa pun jenis kupu-kupu, siklus kehidupannya seperti ini: telur, ulat, kepompong dan akhirnya bermetamorfosa, menjadi kupu-kupu! Meski banyak orang jijik melihat ulat, tapi mereka menyukai kupu-kupu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nuke ingin mendirikan home stay, setelah merasa jenuh bekerja selama hampir 15 tahun di perusahaan asing. Di meja makan ini, Nuke bilang kepada suami, anak-anak dan semua handai taulan, &quot;Rumah peninggalan Mami ini akan kubuat home stay saja. Dengan begitu, aku bisa tetap bekerja dan sekaligus mengawasi anak-anak.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua mengangguk-angguk. Memang rumah tua ini cocok untuk home stay, karena halamannya luas dan asri (rumah semodel ini sudah jarang ada di kota Malang). Dari studi banding yang dilakukannya di beberapa home stay yang semodel dengan rumahnya, sekarang punya daya tarik tersendiri bagi wisatawan mancanegara dari negeri Belanda yang ingin melihat bangunan di zaman Hindia–Belanda yang digarap oleh Thomas Krasen pada tahun 1914.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, setelah berminggu-minggu, dibukanya home stay ini tak ada seorang pun tamu yang menginap di home stay itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, dia sudah mengiklankan di koran lokal, internet, dan radio-radio swasta. Apa yang menjadi keistimewaan dari home stay ini, yaitu suasana Hindia-Belanda tampak terpancar di setiap sudut rumah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam, ketika duduk sendirian di teras, dengan perasaan senyap, tiba-tiba Nuke teringat ucapan almarhum Mami, &quot;Hari ini ada banyak sekali kupu-kupu di halaman kita. Pertanda akan banyak tamu ke rumah. Bisa jadi saudaraku atau saudara Papimu akan datang.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian secara bergegas, Mami menanak nasi lebih banyak dari biasanya dan menyuruhnya (pada waktu itu dia sudah berusia 12 tahun dan duduk di kelas satu SMP), ke warung sebelah untuk membeli telor, tempe, minyak, lombok. Dan Mami selalu bilang, &quot;Kalau saudara-saudara kita datang, mereka kan dari luar kota, kita harus menjamu mereka dengan makanan. Namun, hari ini aku malas ke pasar, lauknya ditambahi telor yang dilomboki saja.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu, dia merasa Mami bahagia sekali.... Konon, ketika dia berusia delapan tahun, Papi pergi, tak pernah kembali! Menurut Mami, Papi-nya menderita amnesia. Bisa jadi tidak tahu jalan pulang ke rumah atau Papi sudah meninggal! Masih menurut Mami, Papi kadang-kadang datang dalam bentuk lain, menjadi kupu-kupu dan mengisyaratkan cintanya pada dia dan Mami. Mami juga bercerita, kalau ada sepasang kupu-kupu, mereka dahulunya adalah sepasang kekasih. Ketika Nuke menanyakan, &quot;Apakah Mami dan Papi akan menjadi sepasang kupu-kupu?&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Nduk, sekalipun pada waktu itu, kami sudah menikah selama 10 tahun, tetap seperti sepasang kekasih. Bisa jadi, aku dan Papimu akan menjadi sepasang kupu-kupu, atau mungkin juga tidak. Yang penting hari ini, aku harus bekerja keras, agar kau bisa sekolah dengan nyaman.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu, dia merasa kecewa, terpikirkan olehnya, Mami tidak pernah memiliki cinta itu lagi. Dia selalu ingat ucapan Mami itu. Namun, dia berpikir apakah dengan isyarat kupu-kupu itu, para tamu akan berdatangan ke home stay-nya, seperti ketika dia masih kecil. Yah di halaman rumahnya hampir tidak ada kupu-kupu lagi yang beterbangan seperti di masa kecilnya! Banyak orang bilang, itu karena polusi udara atau mungkin Mami dan Papi-nya merasa tidak perlu datang lagi untuk mengirim cintanya, karena dia sangat mencintai suami dan anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menceritakan itu di meja makan kepada anak-anak dan suaminya. &quot;Ma, kalau begitu kita harus mendatangkan kupu-kupu di kebun kita, agar kupu-kupu itu berdatangan lagi bersama cinta Kakek dan Nenek dan para tamu home stay. Coba saya carikan di internet, bagaimana mendatangkan kupu-kupu di kebun kita.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, Nuke membaca dari internet, bagaimana caranya membudidayakan kupu-kupu. Kamu dapat mendatangkan kupu-kupu di kebunmu dengan umpan, makanan, tumbuhan (tumbuhan dan bunga), air, perlindungan dan tempat untuk meletakkan telur. Kupu-kupu itu akan mengisap sari pati madu dari bunga, kemudian setelah bertelur akan menjadi ulat yang sangat rakus memakan daun-daunan. Dan ulat-ulat itu menjadi kepompong, kemudian menjadi kupu-kupu. Yang betina akan betah bertelur di kebunmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nuke mencoba mengikuti apa yang tertera dalam tulisan itu, melakukan hal-hal yang disarankan. Tiba-tiba Nuke ingat masa kecilnya, kala bermain-main di halaman rumahnya ini, sendirian saja. Karena merasa harus pergi jauh. Ketika Mami memarahinya atas kesalahan yang sampai sekarang tidak pernah dimengertinya. Ada kupu-kupu bagus hinggap di pundaknya, Nuke merasa yang datang itu Papi-nya yang sedang menghibur dirinya. Melihat kupu-kupu itu, sering sekali dia memimpikan terbang dan bersayap seperti kupu-kupu. Di kerajaan kupu-kupu, dia bertemu lagi dengan Papi yang dirasanya waktu itu bisa melindunginya dari kemarahan Mami. Papi mengajarkan kepadanya bagaimana memberi dan menerima isyarat cinta itu. &quot;Kalau kau sudah dewasa, jadilah orang yang bisa mencintai. Yah, seperti sepasang kupu-kupu yang berputar-putar di halaman ini.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, baru sekarang dia tahu bahwa kupu-kupu itu berimigrasi jauh sekali. Dari satu benua ke benua yang lain. Jenis luar biasa ini (kupu-kupu raja) hidup di Kanada bagian selatan. Mereka bisa berimigrasi ke California atau lebih ke selatan lagi yaitu Meksiko. Semua kupu-kupu jenis raja ini bertemu satu sama lain di sepanjang perjalanan. Mereka tidak memulai perjalanan dalam sembarang hari. Tapi pada satu hari tertentu di musim gugur, yaitu ketika siang dan malam memiliki panjang waktu yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membaca artikel ini, keinginannya agar kupu-kupu berdatangan semakin lebar. Karena setiap kali dia bermimpi dia bisa pergi terbang jauh, bersama kedua orangtuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nuke kemudian menanam bunga-bunga yang di rasanya penuh madu, agar kupu-kupu itu segera berdatangan dan betah di kebunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari selanjutnya, home stay Nuke tidak juga didatangi oleh seorang tamu pun dan bahkan tidak juga oleh kupu-kupu. Padahal, kalau dibanding dengan home stay lain, tempatnya tidak kalah menarik. Rumah tuanya, menjadi sangat artistik dengan ditata sana-sini, persis seperti zaman kolonial Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suaminya mengusulkan untuk membuat iklan di mana-mana lagi. Dan Nuke punya ide untuk menangkar kupu-kupu saja di halaman rumahnya. Dia mendapat sepasang kupu-kupu yang menurut penjualnya, adalah jantan dan betina. Dia ingin mengawinkan kupu-kupu itu. Ketika itu juga dibacanya dengan penuh semangat pendapat ahli biologi di universitas Buffalo (AS). Kupu-kupu betina lebih memilih pasangan kawinnya yang memiliki pupil atau titik putih pada sayapnya. Sebaliknya, bentuk ornamen sayap, warna dan ukurannya tidak terlalu dipedulikan oleh kupu-kupu betina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nuke, menaruh kedua kupu-kupu itu di sangkar, tapi kelihatan kedua kupu-kupu itu tidak melakukan apa pun. Sehingga, Nuke memutuskan untuk membuka sangkar itu dan membiarkan mereka secara alamiah saja, meletakkan kedua kupu-kupu itu pada bunga yang di rasanya penuh sari pati madu. Berhari-hari kedua kupu-kupu itu masih berada di sana, pada hari ketiga pagi ini, dia melihat kedua ekor kupu-kupu itu tiba-tiba sudah terbang tinggi di atas kepala Nuke, terbangnya jauh sekali meninggalkan Nuke, rumah dan kebun ini. Untuk sesaat, Nuke merasa sedih dan suaminya bilang begini, &quot;Kau tahu yang memberi rezeki itu Tuhan, bukan kupu-kupu. Jika kau suka pada kupu-kupu terserahlah, untuk menghilangkan stres agar kau tidak memarahi aku dan anak-anak.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Apakah, aku harus balik kerja? Perusahaan itu masih memberikan peluang padaku, karena mereka tidak cocok dengan penggantiku yang baru.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Kau kan sudah setengah jalan mengapa harus mundur, itu bukan watak seorang Nuke. Kau sendiri bilang, Mamimu mulai dengan sebuah toko kecil di rumah, sebelum ada toko lain di pusat kota. Dan kamu kan sudah berniat menjadikan kebun ini menjadi rumah bagi kupu-kupu.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nuke kembali membaca beberapa artikel yang didapatnya dari browsing. Sekali lagi, dibacanya bagaimana beternak kupu-kupu di kebunnya. Dia merasa sudah melakukan petunjuk-petunjuk yang ada dalam artikel tersebut. Namun, belum juga tampak hasilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Nuke merasa memiliki ide yang cemerlang lagi. Kalau belum juga kupu-kupu datang di kebunnya, dia ingin menghiasi kebunnya dengan kupu-kupu buatan. Oleh karena itu, dia meminta tolong temannya yang perajin kayu, untuk membuatkan kupu-kupu dari kayu. Nuke memberi contoh dari 150.000 jenis kupu-kupu, hanya yang pernah dilihatnya, di kebun waktu masa kecilnya, itu saja yang ingin dibuat tiruannya. Di mana kupu-kupu itu, pasti Papi dan Maminya yang mencintainya dan datang hanya untuk mengucapkan perasaan cintanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perajin itu membuat beraneka spesies kupu-kupu dengan sangat memuaskan Nuke. Pagi itu juga dia memasang seluruh kupu-kupu dari kayu di halaman home stay-nya. Suami dan anak-anaknya menganggap kupu-kupu buatan itu, kalau dari jauh sangat mirip dengan yang asli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besoknya ada tamu pertama yang datang. Tamu itu sekeluarga dengan dua anak laki-laki yang mungkin masih duduk di sekolah dasar. Kegembiraan Nuke menjadi lenyap, ketika dia tahu setelah tamu itu pulang. Kupu-kupu buatan itu hampir semuanya rusak karena ulah kedua anak tamu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nuke kemudian meminta kepada perajin kayu untuk membuatkan lagi kupu-kupu kayu yang sudah dirusak oleh anak-anak tamu itu. Menurut perajin itu, bahan baku kayu semakin sulit, sehingga tidak bisa memenuhi permintaan Nuke secepatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kesal, Nuke mencoba mencari kupu-kupu yang masih utuh. Dari sekian puluh kupu-kupu itu, Nuke hanya menemukan sepuluh kupu-kupu yang masih utuh. Dengan sedih ia menaruh kupu-kupu itu di setiap sudut rumahnya. Namun setelah itu, ia melupakan ide-idenya tentang kupu-kupu itu. Karena, tiba-tiba tamunya begitu banyak. Dan suaminya bilang, &quot;Nuk, ini bukan karena kupu-kupu, rezeki ini dari Tuhan.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nuke, mengangguk-anggukkan kepala, dia merasa menjadi sesuatu lagi, ketika kamar-kamar home stay-nya dipenuhi banyak tamu. Kali ini, dia merasa harus memeriksa kebun-kebunnya yang sudah dipenuhi lagi oleh kupu-kupu buatan perajin itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nuke tercengang, pagi ini dia merasa orang yang paling bahagia. Di seputar pohonnya, banyak sekali kepompong yang bergantungan dengan sebuah tali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupu-kupu yang berwarna-warni itu, beterbangan di kebunnya dan ketika isyarat cinta itu datang lewat kupu-kupu, Nuke sedang sibuk melayani tamu-tamunya! &lt;i&gt;(Ratna Indraswari I)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://insyoulife.blogspot.com/feeds/3968527290793967028/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/2012/07/bersama-kupu-kupu-nuke-terbang-cerpen.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default/3968527290793967028'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default/3968527290793967028'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/2012/07/bersama-kupu-kupu-nuke-terbang-cerpen.html' title='Bersama Kupu-kupu, Nuke Terbang by Ratna Indraswari I'/><author><name>Michael Steven</name><uri>https://plus.google.com/115260137958022279596</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-X0xLbESfLfE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAFuw/CF68oedTLEg/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4296770913662180343.post-3820242240402641306</id><published>2012-07-03T08:12:00.001-07:00</published><updated>2012-07-04T09:28:40.399-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Semua Index Cerpen"/><title type='text'>Belenggu Salju by Triyanto T</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://insyoulife.blogspot.com/&quot;&gt;&lt;b&gt;InsYouLife&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada kepak gagak di Compton yang selalu menguarkan bau sampah busuk, anggur murahan, dan bangkai manusia yang disembunyikan di ghettos atau rumah-rumah besar yang mengonggok tanpa lampu. Juga tak ada salju atau angin santer yang membekukan tiang listrik atau menggigilkan para negro yang sedang menari acakadut atau menyanyikan rap keras-keras di sembarang trotoar malam itu. Tetapi di kota yang seakan-akan tak pernah disentuh tangan Kristus itu, aku justru senantiasa mendengarkan jerit burung kematian memekik tak henti-henti sepanjang hari. Selalu terdengar berondongan peluru dan siapa pun menganggap letusan-letusan itu hanya sebagai derit mobil yang direm mendadak oleh pembalap kampungan. Selalu ada bisik-bisik transaksi kokain, morfin, ganja atau hasis, tetapi segala desis hanya terdengar sebagai siulan rahasia kanak-kanak untuk mengajak geng kecil mereka mengintip percumbuan sepasang kekasih di kegelapan taman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu pada Mei yang dipenuhi perkelahian-perkelahian sia-sia antara para petarung Meksiko dengan orang-orang negro, seharusnya aku tak perlu menggigil kedinginan, tetapi selalu saja kurasakan salju seperti membungkus tubuhku saat melakukan patroli di kawasan kumuh yang tak pernah dilewati mobil Paris Hilton atau jejak kaki Pamela Anderson ini. Dan musim semi yang tak menebarkan jutaan ulat juga kerap membuatku gatal saat aku mulai menyuruk-nyuruk ke gang-gang gelap penuh grafiti. Aku jadi mengidap psikosomatik akut dan setengah lumpuh sebelum menembakkan pistolku kepada siapa pun yang ingin mengacau keamanan dan ketertiban Los Angeles County.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celakanya, sebagai deputy sheriff atau dulu saat masih menjadi polisi, aku tak mungkin menghindar dari jerat celaka kota tanpa malaikat ini. Andai saja Grace, kucing jelita bergaun biru yang kerap mencakar punggung saat bercinta denganku, tak tinggal di salah satu apartemen kumuh di pusat Compton, tak sudi aku menginjak neraka yang mengingatkan aku pada carut-marut pinggiran Jakarta yang dihuni ribuan zombi berwajah celeng atau babi. Juga andai kata J Morgan—raja geng berkulit hitam arang yang senantiasa mengejekku sebagai herder busuk—tak bersembunyi di labirin membingungkan yang bertebaran di sini, tak akan mau aku kelayapan malam-malam di tengah-tengah berondongan peluru, dengus orang mabuk, dan celometan orang-orang yang tak lagi menganggap sinar bulan di pucuk katedral sebagai aurora harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Ayolah, Grace, tinggalah di apartemenku. Keluarlah dari neraka busuk ini,&quot; kataku setelah yakin hendak meminang perempuan blasteran Afrika-Meksiko itu tiga tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;O, Tito, Sayang, kota ini memang tak indah bagimu. Tapi di jalanannya yang riuh dengan rap dan gedebuk para penari, aku menulis grafiti jorok dan meneriakkan keinginan-keinginan kaumku yang melarat dan tak punya harapan,&quot; desis Grace mirip para politikus saat berpidato.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ingin mendebat omelan instruktur penari nudis yang kukenal di Sunset Boulevard itu, aku justru terkenang pada masa kecilku di Alas. Sampai seusia Sinchan, aku memang tinggal di kota kecil penuh sungai yang menghubungkan Semarang dan Solo itu. Di tengah-tengah hutan karet yang tak bisa kau lihat dalam peta Indonesia, aku bahkan pernah jadi gali kecil yang suka mencekik kucing di hadapan teman-temanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Kalau saja tidak diungsikan ke Los Angeles oleh Oma-mu, aku yakin kau juga tak akan meninggalkan kota kelahiranmu, Tito. Kau mungkin tak jadi polisi. Kau mungkin akan jadi penjahat paling busuk di kotamu.&quot;&lt;br /&gt;Meskipun segala yang dicelotehkan Grace setengah ngawur akibat martini yang ditenggak tak kunjung henti, sekali lagi aku tak berusaha mendebat. Pada saat-saat semacam itu Grace seperti menjelma cermin yang bisa memantulkan segala yang pernah kulakukan di sungai yang mengalir di belakang rumah. Aku ingat pada perahu-perahu kertas yang kuhanyutkan. Aku terkenang pada rakit-rakit pohon pisang yang meluncur tak keruan. Aku juga tak lupa pada setiap Sabtu sore dari berbagai lubang di sepanjang sungai muncul ular-ular yang melesat cepat ke gerojokan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tak ada sungai ular di Los Angeles. Tak ada juga hutan karet di tengah-tengah gedung tinggi. Bahkan dari apartemen Oma, aku nyaris tidak pernah melihat bulan. Meskipun demikian, Oma berusaha memberikan segala yang kuinginkan lewat televisi. Di televisi, aku bisa melihat salju yang mulai meleleh di bukit-bukit atau bulan yang tampak sebagai tampah kecil di ujung langit. Di televisi pula aku bisa menyaksikan para polisi atau sheriff dihajar oleh para penjahat di Compton, tetapi selalu menang setelah bala bantuan dari markas besar muncul menggasak bandit-bandit yang kadang-kadang hanya bersenjata pisau berkarat atau pentungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aha! Televisi pula yang menjadi ibu sejati yang selalu berbisik di telingaku menjelang tidur, &quot;Ayo, Tito, jadilah polisi. Gasak setiap maling. Pukul kepala bodoh mereka dengan pentungan baseball. Tembak punggung mereka kalau terbirit-birit melarikan diri saat kau kejar.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Grace selalu tak membiarkan aku menerawang jauh ke kota kelahiran, tempat ayah dan ibuku diculik tentara pada 1979 yang perih hanya karena mereka dianggap bersekongkol dengan para pejuang prodemokrasi dan neokomunis yang sedang bergerilya di Jakarta. Selalu pada saat-saat aku begitu ingin menikmati kesunyian—yang celakanya hanya bisa kuciptakan di kepalaku—ia selalu memelukku dari belakang, memberi gigitan kecil di telinga yang memabukkan, dan membisikkan kata-kata cinta serupa mantera serupa doa Kristus sebelum serdadu menusukkan lembing di lambung ringkih, sebelum langit tersaput awan hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Ayolah, Sayang, tak usah kau paksa aku meninggalkan kota yang selalu kau bayangkan sebagai neraka ini. Anggap saja aku ini bidadari busuk atau kucing biru dari ghetto Compton. Anggap saja aku bulan yang kau rindukan di sela-sela kegelapan gedung-gedung rusak yang ditinggalkan oleh orang-orang kaya yang kini melesat ke mana-mana dengan limosine di jalanan Los Angeles yang serba tertib dan beku.... O, kenapa kau diam saja, Sayang? Bukankah kau menyusup ke kamarku hanya untuk bercinta sambil bersama-sama mengintip orang-orang yang berkasak-kusuk di gang-gang sempit dari jendela? Bukankah sambil menggasak telingaku, kau akan selalu mengatakan padaku salju akan turun di Compton saat kau meminangku? Mengapa kau menipuku, Tito? Mengapa tak kau pindahkan saja musim dan bukit-bukit di sekitar Danau Tahoe ke ghettos busukku agar kita benar-benar merasakan keindahan salju?&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menyesal selalu tak menjawab berondongan pertanyaan Grace dengan baik atau sedikit serius. Selalu saja kurespons kalimat-kalimat yang kuanggap konyol itu dengan ciuman panjang dan bisikan-bisikan gombal tentang sepasang malaikat yang bakal hidup sepanjang zaman tanpa perlu katedral tanpa perlu nabi atau Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau pun akhirnya tahu itulah dengus cinta terakhir Grace yang diucapkan padaku sebelum tubuhnya diberondong tembakan membabi buta oleh penembak misterius yang menganggap penari ringkihku itu sebagai mata-mata polisi. Rupa-rupanya para anggota geng yang kerap mengklaim sebagai juru selamat atau Robinhood bagi orang miskin tak bisa menerima warga Compton mana pun bercinta dengan polisi. Polisi—lebih-lebih berkulit bewarna—bagi mereka adalah iblis yang harus dilenyapkan dengan cara-cara yang paling tidak terhormat. Menurut mereka, di luar orang- orang kulit putih, seharusnya setiap orang bersaudara dan tak perlu saling mengancam. Dan dalam kasusku, karena dianggap sebagai pengkhianat, mereka menyiksaku dengan cara membunuh kekasihku terlebih dulu. Lebih brengsek lagi Grace tidak punya kesempatan mengungkapkan dying declaration saat aku bersama Gabriel Lee, rekan kerjaku, menyusup ke kamarnya yang berantakan oleh berondongan peluru. Dengan tubuh penuh kucuran darah, dia memang masih bisa merangkul dan menggerak-gerakkan jari jemarinya di punggungku, tetapi saat kutanya siapa yang melakukan perbuatan biadab itu, mulut Grace seperti terkunci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Ayo, katakan kepadaku, siapa yang menembakmu, Sayang?&quot; teriakku setengah menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;O, my God, please, jangan keburu melihat surga, Grace! Katakan pada kami siapa yang melukaimu?&quot; pekik Lee—yang sering kuanggap sebagai malaikat pelindungku—kesetanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetap tak ada jawaban. Lima belas detik yang berharga lenyap begitu saja. Ya, dying declaration, ungkapan 15 detik Grace menjelang kematian yang bisa dipakai untuk menangkap atau melakukan penggeledahan tanpa warrant itu benar-benar hanya tersangkut di tenggorokan. Coba kalau saja ia mengatakan bahwa Morgan-lah yang menghabisi nyawanya, saat itu pula aku akan mengobrak-abrik setiap labirin Compton dan menangkap bajingan tengik itu dan menembak kepalanya berkali-kali. Tidak! Tidak! Mungkin lebih baik aku akan membawa bajingan tengik itu ke Penjara San Quentin agar dia bisa merasakan bagaimana membeku di sel yang sempit. Kalau perlu aku akan minta izin menyuntik mati atau memberlakukan kembali hukuman tabung gas kepada bandit busuk itu. O, ancaman death row, sel-sel dingin mematikan yang berjalur-jalur itu, pun rasanya kurang kejam untuk mengganjar perbuatan Morgan, belut sialan yang selalu lepas dari tembakan dan kejaran polisi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak Lee terpekik. &quot;Lihat, Tito, di punggungmu ada tulisan Jesus dari darah Grace. Tidakkah ini bisa kita gunakan sebagai dying declaration?&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm...darah Yesus memang berguna untuk para pendosa. Tapi tulisan &quot;Jesus&quot; di punggungku mungkin hanyalah ungkapan sia-sia Grace untuk menghadapi maut yang mencengkeram. Hanyalah grafiti tanpa arti di pakaian yang tentu tak akan kukenakan lagi saat mengejar Morgan atau penjahat-penjahat kambuhan di jalan-jalan. Meski begitu, kau tahu, Yesus di punggungku, akhirnya lebih kumaknai sebagai salib yang harus kupanggul dengan langkah yang terseok-seok saat kususuri trotoar Compton yang tak pernah bersih meski musim semi hinggap di pohon-pohon anggur atau murbei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tiga tahun setelah penembakan itu, tentu aku belum mampu melupakan malam-malam indah di Compton. Okelah aku memang berkali-kali memutar film komedi A Night in Compton, tetapi setelah itu aku justru teringat tawa renyah Grace saat mengguyur tubuhnya di shower. Aku justru teringat gerakan-gerakan tarian baru yang ia ciptakan menjelang kematiannya yang bagai kucing dicincang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat meratapi kematian Grace, aku kadang-kadang memang menyimpulkan telah mencari cinta di tempat yang salah. Jika saja aku bisa menulis puisi, mungkin aku akan memberi tajuk teks itu Looking for Love in the Wrong Place. Tapi aku polisi dan tak suka puisi. Jadi, caraku mengenang Grace cukuplah memutar No Woman No Cry keras-keras dan kuucapkan janji-janji untuk tak mati-mati sebelum bisa membunuh penembak misterius yang kini menghilang dari labirin Compton yang telah kususuri inci demi inci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, setelah melewati malam-malam panjang melelahkan dan setiap saat menjalani pekerjaan menjenuhkan sebagai pengantar para penjahat yang akan dieksekusi mati di Penjara San Quentin, aku kian yakin salju tetap akan turun di Compton sekali waktu. Meskipun demikian, semua berjalan seperti biasa. Cuap-cuap rap terus mengalir. Bisik-bisik mesum terus menguar. Berondongan peluru tetap ngawur dilesatkan di sembarang mobil polisi yang melintas pelan-pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata aku keliru. Dari pesawat radio di mobil kudengar pemberitahuan terjadi kejar-kejaran antara polisi dengan geng Morgan di sepanjang jalan. Aku dan Lee yang baru saja membereskan urusan pembunuhan mutilasi tak jauh dari apartemen Grace, pasti mudah menangkap musuh bebuyutan para polisi dan sheriff itu. Dan benar iring-iringan mobil yang menderu itu mengarah ke jalan yang telah kukuasai. Aku dan Lee tak akan kesulitan menembak ban mobil bobrok Morgan, setelah itu setan gila dan para anak buahnya dengan tubuh bersimbah darah tak mungkin tidak merangkak-rangkak memohon ampun dengan bahasa aneh tak keruan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Edan! Khayalan tinggal khayalan. Mobil sableng—yang astaga jelas-jelas dilukisi gambar pria dari Nazareth dan tulisan Jesus itu—berhasil meloloskan diri dari kejaran dan menyerempet mobil kami setelah berhasil menghindar dari tembakan-tembakan Lee maupun berondongan peluruku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menatap grafiti itu ingatanku melenting-lenting ke tulisan berdarah Grace di pakaianku. Itu membuatku kesetanan meloncat ke mobil dan segera mengejar sedan penuh warna itu. Ya, percayalah tak lama lagi aku akan berhasil memborgol Jesus yang memberondong tubuh Grace tiga tahun lalu. Tak lama lagi aku akan memenjara atau menyalib dia di San Quentin atau jika perlu menembak jidatnya dengan beberapa peluru. Setelah itu, aku berharap salju akan turun di Compton dalam warna serba biru. Serba biru, ya, serba biru. Apakah kau masih tetap mengatakan salju tak akan pernah turun di Compton sepanjang waktu, kucing jelitaku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Grace tentu tak bisa menjawab pertanyaanku. Dalam riuh desing peluru, setelah menabrak patung malaikat di kelokan jalan, lewat mikrofon kemrusek Morgan justru menirukan gonggong herder menyerupai Pangeran Srigala yang tak bisa dibunuh dengan sepuluh atau seratus peluru. Apakah salju benar-benar tak akan pernah turun di Compton, kekasihku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetap tak ada jawaban. Kini kurasakan labirin jalanan melahap mobil kami dan sedan Morgan yang terus-menerus meraung-raung membelah malam. &lt;i&gt;(Triyanto T)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://insyoulife.blogspot.com/feeds/3820242240402641306/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/2012/07/belenggu-salju-cerpen.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default/3820242240402641306'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default/3820242240402641306'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/2012/07/belenggu-salju-cerpen.html' title='Belenggu Salju by Triyanto T'/><author><name>Michael Steven</name><uri>https://plus.google.com/115260137958022279596</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-X0xLbESfLfE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAFuw/CF68oedTLEg/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4296770913662180343.post-4590402934404713115</id><published>2012-07-03T08:09:00.001-07:00</published><updated>2012-07-04T09:28:58.268-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Semua Index Cerpen"/><title type='text'>Bawah Rembulan by F.Moses</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://insyoulife.blogspot.com/&quot;&gt;&lt;b&gt;InsYouLife&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AWALNYA aku takut. Lama-lama jadi terbiasa. Hidup bersama orang-orang masa lalu di kota ini. Tanpa siang. Semua waktu adalah malam. Kadang hadir sebuah rembulan di langit. Membuatku senantiasa merasa sunyi walaupun sebenarnya aku suka sekali melihat rembulan. Malam rembulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang penduduk, salah satu dari orang-orang masa lalu, pernah berkata padaku, kalau sebenarnya mereka letih untuk kembali bekerja ketika siang hari. Karena itulah mereka berkeputusan membakar siang. Membakar matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sudah lama aku mendengar kala waktu yang katanya tanpa siang di kota ini. Siang sudah tak ada lagi. Siang telah menjadi malam. Kadang mereka juga kerap berpetuah pada pendatang yang kebingungan kerena menetap di kota yang selalu malam. Dalam ingatan, selintas petuah mereka terdengar: kau tak perlu ragu, jika hendak menetap di kota ini. Kata itulah yang masih terngiang sampai saat ini. Jangan pernah ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya. Selalu terngiang. Lantas, aku kembali berpikir, kenapa cemas? Cemas bagian sisi manusia. Kerap menghancurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang cemas, bagi orang-orang masa lalu hanyalah milik orang tak punya rasa syukur. Makanya, dahulu orang-orang masa lalu sepakat membakar matahari yang baginya membuat letih dan cemas. Terkadang sakit. Entah sakit yang bagaimana. Karena terbit sampai tenggelam matahari hanya menjadikannya bekerja. Alasan cengeng. Tapi sekarang mereka senang, petanda separuh hari telah mereka bakar. Semata, supaya tidak bekerja. Kalaupun bekerja, paling hanya untuk tidur. Tindakan aneh. Tidak masuk akal, tapi begitulah keadaannya. Begitulah seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hari yang selalu malam ini, terkadang aku melihat anak-anak kecil tampak riang bergembira tanpa beban. Betis ceking tanpa alas kaki, sambil bertelanjang dada, berlarian mengitari lapangan. Kembali lagi, dalam ingatanku, konon hal tersebut bagi mereka adalah ritual. Petanda bentuk penghormatan terhadap leluhur orang-orang masa lalu. Setiap hari mereka lakukan itu, sambil mengitari api unggun, mulai anak-anak sampai orang tua. Berkeliling. Begitulah seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, setiap hari malam rembulan. Dalam tatapan aku selalu melihat anak-anak berlarian. Saling kejar-kejaran. Dan remaja berpasang-pasangan, para orang tua asyik duduk tenang di setiap balkon depan rumahnya. Mereka menikmati malam. Malam bersahaja. Malam tak pernah mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sepanjang malam seperti ini, aku menikmati. Malam rembulan. Aku ingin mengerti semua ini. Aku tidak tahu, mengapa sedemikian berani mereka membakar siang. Aku makin hanyut oleh rasa ingin tahu. Menggelisahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh unik kehidupan di kota ini. Semua orang mampu menikmati kehidupan seperti ini. Barangkali inilah suatu kehidupan yang tak pernah ada di muka bumi ini. Kota tanpa siang. Selalu malam. Tanpa matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti tadi aku bilang, sekali lagi, semua orang mampu menikmati kehidupan seperti ini. Kecuali, perempuan itu. Sering aku memperhatikannya menyendiri. Sebenarnya hal itu kuperhatikan sejak pertama kali di kota ini. Aku tidak tahu namanya. Kerap aku memperhatikan, setiap gelagatnya jauh seperti perempuan umumnya yang selalu mampu menikmati malam. Tapi, sepertinya ia justru ternikmati sebagai suatu kesunyian. Bermain sunyi. Barangkali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika, aku memandangnya dari kejauhan. Ia jauh dari keramaian umumnya. Dengan langkah amat perlahan aku mendekatinya. Aku mendengar isak tangis perempuan itu. Sekali lagi, kembali aku tak tahu. Entah kenapa ia menangis. Aku pun ragu untuk lebih mendekat. Hanya bertanya dalam hati. Menduga-duga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dugaan salah. Di malam rembulan ini, yang tanpa siang, masih ada perempuan menangis. Menangis setiap saat. Sepengetahuanku, sejak kota ini menjadi malam tanpa siang, sungguh penuh suka cita. Tanpa duka. Terlebih oleh perempuan tengah menangisi kota ini. Kotanya sendiri. Sekali lagi, aku makin hanyut oleh rasa ingin tahu--selain keingintahuanku tentang mengapa sedemikian berani orang-orang di kota ini membakar siang. Membakar matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana aku nikmati menjadi begitu sunyi. Sunyi di balik derai tawa semua orang. Sunyi karena perempuan menangis. Menjadikan bukit-bukit tidak lagi tawarkan keindahan dari bayang-bayang selimut malam. Apalagi pagi, ketika embun membayang-bayangi bukit di tampak kejauhan. Laut juga tidak membawa debur ombak lagi. Apalagi ombak saling balap. Yang tersisa hanya gelap. Bermahkota bulan. Malam rembulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini aku benar-benar mendekati perempuan itu. Di belakangnya. Rupanya ia tahu. Tanpa kusadari, ia menangis sambil berkata-kata. Kata bersama isaknya yang terbata-bata. Sekarang aku benar-benar mendengarnya. Suatu hal paling aku inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika itu pula kudengar ia berkata. Sambil terisak-isak. Menjadikannya terdengar terputus-putus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Inikah kotaku? Kota hancur. Mati. Orang-orang serakah. Matahari sudah mereka hancurkan. Matahari sudah tak milik kota ini lagi. Hancur. Langit tak punya salah. Langit kehilangan mataharinya. Kota ini tak bercahaya lagi. Semua mata pada gelap! Barangkali pikirannya pun demikian.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak mengerti. Ucapnya bercampur isak begitu menampakkan emosi batinnya terasa olehku. Terputus-putus. Sebisa mungkin aku merasakannya. Aku diam. Aku biarkan sampai ia berkata-kata kembali. Cukup lama aku menunggu. Kembali terlihat olehku, ia tampak sibuk memainkan jemarinya. Mengelus-elus putih kuku kerasnya. Memijat tangan lembutnya sendiri. Rasanya seperti menghitung-hitung irama kegelisahannya. Gundah. Rasanya banyak pula ingin dikatakannya. Kata kesal. Barangkali sesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun memulainya. Setidaknya ia kembali untuk berkata-kata lagi. Aku mendengar kata-katanya kembali. Tidak jelas. Sekuat tenaga, aku berusaha menangkap maksudnya. Sekuat tenaga, aku ingin mengerti kegelisahan mendaging dari miliknya. Rasanya. Ucap kesal dan sesal terdengar banyak. Sulit aku mengungkapkannya. Ungkapan mengalir dan seterusnya. Begitulah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali ke rumah. Melintasi jalan-jalan sepi. Lengang: Sembari masih teringat perempuan itu. Oh, kehidupan malam. Malam rembulan. Kau membuat aku selalu bertanya-tanya. Entah kehidupan macam apa ini. Mengapa sedemikian nekat orang-orang kota ini membakar siang. Membakar matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pikiran, barangkali khayalan dalam angan, terlintas: Aku dan kekasihku masih berjauhan. Jarak jauh. Jarak terpisah oleh lautan. Bahkan pulau. Aku di sini, seperti aku bilang tadi, di pulau pada kota tak tanpa matahari. Siang mati. Sudahlah, aku hanya bayang. Seperti bayang dari wujud cahaya rembulan. Berpendar. Dari bulan tersiram matahari di pulau sana. Aku tak tahu. Di sini masih dan akan terus tanpa matahari. Malam selamanya. Sudahlah, sepertinya jadi makin mengigau sepanjang perjalanan ini. Gelap. Lengang. Selalu dan masih di bawah rembulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti tak tersadar. Entah kemana aku melangkahkan kaki ini. Terus berjalan. Di bawah rembulan mengitari kota ini. Seperti kukatakan tadi, kehidupan orang-orang di sini seperti lebih bercahaya. Entah cahaya bagaimana. Bahkan cahaya apa. Dari pancaran mata orang-orang di sini tak menampakkan sebuah beban. Beban kosong. Kelamaan terkesan tak berpengharapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika, kembali aku jumpai perempuan itu. Di pertigaan jalan itu. Seperti ada sesuatu ditunggunya. Tampak berpenampilan berbeda dari sebelumnya. Tampak anggun. Di bawah sinar rembulan, tampak cahaya menyepuh seluruh tubuhnya. Tak seperti aku lihat sebelumnya. Meskipun demikian, auranya masih menggelisahkan. Ia masih menangis. Entah ke berapa kalinya. Entah karena apa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali perlahan, aku mendekatinya. Amat perlahan. Entah kegelisahan apalagi darinya. Yang kutahu, sejak pertama memang cukup banyak seolah ia gelisahkan. Aku sudah mendekat. Ia tampak menangis. Seperti kala waktu aku menjumpainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini aku ingin berkata padanya, tapi tak dapat. Kecuali dalam hati: Entah kegelisahan apalagi kau punya. Padahal ingin banyak berkata-kata padanya. Ingin tahu, kesal maupun sesalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup lama aku menunggunya. Penasaran. Mungkin aku harus memulainya. Semata, memancingnya bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah kesekian kalinya kulihat kau menangis lagi. Entah duka apa kau punya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Malam tak ada lagi. Sungguh jahanam. Aku kehilangan segalanya dari orang-orang serakah yang telah membakar matahari.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih tak mengerti maksud bicaranya. Aku hanya melihat ia menangis kembali. Terisak-isak. Entah kepada siapa pula ia tujukan kata-kata itu. Entah apa yang mengganggunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba ia kembali berkata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Aku merindukan lelakiku dan matahariku. Semua di sini pada puas. Kepuasan mematikan kehidupan siang. Orang-orang di sini hanya ingin enaknya saja. Selalu menikmati malam. Menghalalkan haram. Mengharamkan halal. Lelakiku terbunuh karena memertahankan siang. Sekarang hanya malam. Malam di kota penuh kejahatan. Aku merindukan terang.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan langkah amat perlahan aku meninggalkannya. Tampak olehku dari kejauhan, ia masih berbicara seorang diri. Sambil sesekali terisak-isak. Aku kembali berjalan. Entah ke mana. Tidak ingin pulang ke rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sepi dan ramai. Kembali aku melintasi orang-orang menikmati malam bawah rembulan. Anak-anak masih tak letih berlarian. Penduduk kota masih dengan nikmatnya. Entah nikmat yang bagaimana. Semua tampak tanpa beban. Tempaan angin dari arah teluk cukup membuat dingin. Di kota selalu malam aku masih terus bertanya dalam hati. Kegilaan apa yang menjadikan mereka nekat membakar matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap hari, di malam bawah rembulan. Aku masih melewati ruas-ruas jalan di kota ini. Kota pekat. Kota nekat. Setibanya di pertigaan jalan itu, di sudut tembok, aku kembali melihat perempuan tengah menangis. Seorang diri. Kali ini bukan yang tadi kujumpai. Rasanya tak perlu lagi aku dekati. Hanya dalam hati: Entah kesedihan apalagi yang kau punya. &lt;i&gt;(F.Moses)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://insyoulife.blogspot.com/feeds/4590402934404713115/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/2012/07/bawah-rembulan-cerpen.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default/4590402934404713115'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default/4590402934404713115'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/2012/07/bawah-rembulan-cerpen.html' title='Bawah Rembulan by F.Moses'/><author><name>Michael Steven</name><uri>https://plus.google.com/115260137958022279596</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-X0xLbESfLfE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAFuw/CF68oedTLEg/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4296770913662180343.post-5211991142043158327</id><published>2012-06-30T19:44:00.000-07:00</published><updated>2012-07-04T09:29:39.859-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kisah Inspiratif"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Semua Index Cerpen"/><title type='text'>Bangkai Kegelapan by Restoe Prawironegoro I</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://insyoulife.blogspot.com/&quot;&gt;&lt;b&gt;InsYouLife&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana pun hidup harus dipandang lebih ke depan. Ini berarti hidup harus dimulai lagi. Berjalan di atas bayangan masa silam yang mengharubirukan, tidak boleh dibiarkan berlanjut sampai terbawa ajal. Tidak! Ia musti dikubur. Dan, kuburan itu musti dibikin secara baik agar bangkai yang tertanam di dalamnya tidak mampu menyemprotkan bau. Begitu keputusan Fil. Janda lusuh yang baru saja terpancar sinar keinginan hidup lebih baik dari wajahnya. Matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah setahun ditinggal mampus suaminya, Fil memang berubah drastis gaya hidupnya. Ia tidak saja terasing dari lingkungannya, melainkan dengan berani mengasingkan diri, juga dari semua kerabatnya dan lingkungan keluarganya. Fil menghabiskan sehari-harinya di sebuah kamar -- di rumah mertuanya -- yang pengap. Ia menciptakan penjara bagi dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau waktu makan datang, setiap pengantar makanan itu hanya sampai pada lubang pintu kamar yang sengaja dibuat Fil. Begitu tangan pengantar makanan menjalar, Fil segera mengambilnya dengan cara merapatkan badan ke samping pintu. Sulit memang untuk melihat bagaimana sesungguhnya Fil. Apakah masih montok? Cantik? Lincah? Ataukah sudah ..ah! Lalu, bagaimana pula kalau berak? Mudah. Tahinya selalu dibungkus koran. Ia cebok persis orang bule. Tahinya dibuang lewat jendela kamarnya yang juga diberi lubang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah berkali-kali mertua Fil memohon kepadanya agar keluar dari kamarnya. Buat apa menyiksa diri. Tapi ia tak peduli. Bahkan, ketika orang tuanya meminta hal serupa, juga tak ditanggapinya. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.&lt;br /&gt;Pernah terjadi ketegangan yang luar biasa. Waktu itu, mertua dan orang tua Fil mengancam akan bunuh diri bersama kalau Fil masih saja mengurung diri. Namun, apa kata Fil? &quot;Kalian mau bunuh diri kek, mau telanjang bulat kek, mau menangis sampai keluar air mata darah kek, mau membom rumah ini kek, saya tidak akan beranjak dari kamar ini.&quot;&lt;br /&gt;Mertua dan orang tua Fil malah jadi frustasi. Akhirnya mereka hanya mampu melawan ulah Fil dengan cara mendiamkan Fil, kendati pada dasarnya mereka gelisah sungguh. &quot;Kita harus menguji kekuatan kita,&quot; tegas orang tua Fil yang disetujui sang mertua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah sore yang bersih. Tak seperti biasa. Fil mengatur kamarnya. Foto-foto perkawinannya dibersihkan dan dipajang di dinding dengan amat teratur. Ia pasang seperti putih pada ranjang tidurnya. Ia atur meja belajar. Ia atur segala tetek-bengek yang dianggapnya membuat &lt;a href=&quot;http://kamusbahasaindonesia.org/sumpek&quot; rel=&quot;nofollow&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;sumpek&lt;/a&gt;. Ia menjadi begitu &lt;a href=&quot;http://kamusbahasaindonesia.org/feminin&quot; rel=&quot;nofollow&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;feminin&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Setelah selesai, ia melangkah ke depan cermin. Ia pandangi wajah dan seluruh tubuh. Ia bergaya mirip peragawati. Ia sendiri sebetulnya merasa aneh. Mungkin, sekarang ia betul-betul sudah tidak lagi waras. Mungkin. Tapi, kemudian keanehan itu segera dilenyapkan. &quot;Saya tidak gila. Dan, tidak ada yang gila di dunia ini,&quot; katanya di depan cermin. Lalu, ia tersenyum. Manis.&lt;br /&gt;Fil duduk di kursi jendela kamar rumahnya yang tidak seberapa besar itu. Lewat lubang jendela yang dibuatnya itu, ia pandangi sebuah ranting patah yang bergelayutan. Ia biarkan wajahnya diterobos matahari sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M&lt;span style=&quot;background-color: white;&quot;&gt;alam perkawinan itu kembali muncul. Fil bahagia. Semua orang yang hadir juga bahagia. Fil merasa harapan yang tadinya tak menentu, kembali menjadi utuh. Betapa tidak? Tiga hari menjelang perkawinan, Paimin -- calon suaminya -- datang. Menurut pengakuan Paimin, ia dibebaskan dari segala tuduhan merampok dan membunuh. &quot;Tuhan memang selalu melindungi orang yang tidak bersalah. Tuhan telah membuka mata dari jaksa penuntut dan pembela, juga hakim,&quot; tutur Paimin mantap di tengah peluk tangis Fil menyambut kedatangannya.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paimin ditangkap pihak berwajib karena tuduhan membunuh haji Sukron dalam suatu perampokan tengah malam di rumah juragan penggilingan padi itu. Entah perasaan apa yang tertanam di hati perampok itu, tiba-tiba para tetangga melihat ada bercak darah yang menempel di pintu dan jendela rumah Paimin.&lt;br /&gt;Tentu saja para tetangga jadi ribut. Panik. Apalagi tetangga yang suka usil, tanpa membuang waktu segera menggedor rumah Paimin. Seperti kena setan kesiangan para tetangga lainnya menyerbu masuk. Paimin yang terjaga dari tidurnya itu jadi kalang kabut. Ia coba menanyakan kesalahannya, tapi tampaknya para tetangga tidak lagi peduli. Mereka, terus menyeret Paimin ke pos Hansip. Bukan itu saja, ketika Paimin digiring, tangan-tangan usil pun tak bisa dihindari. Wajah Paimin babak-belur. Dan, sampai hati mereka membugili mangsanya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paimin ditangkap. Kasusnya diperiksa oleh polisi. Baru belakangan diketahui bahwa Paimin tidak bersalah. Koran-koran laris keras.&lt;br /&gt;Paimin memang nganggur, kendati sebulan lagi ia akan naik pelaminan bersama Fil. Bermula ia diajak Tomang, teman dekatnya, main judi. Tanpa banyak cukup Paimin menerima tawaran itu. Pada pikirannya, kalau menang, lumayan bisa tambah modal kawin. Lalu, mereka main judi.&lt;br /&gt;Iming-imingnya benar. Tomang kalah. Bahkan seluruh barang yang dipakai Tomang ludes. Berpindah tangan ke Paimin. Dengan bangga Paimin pulang bawa kemenangan. Hatinya sumringah, sebab harapannya terkabul, diajaknya Fil nonton film di bioskop. Dengan uang itu, ia bisa honeymoon.&lt;br /&gt;Rupanya kekalahan Tomang berbuntut. Hari berikutnya Tomang kembali menantang Paimin. Tapi, tantangan itu ditolak dengan wajah penuh penyesalan. Ia bilang kepada Tomang bahwa Fil tidak mau punya suami pemain judi. Fil mengancam putus kalau Paimin terus bermain judi. Tomang jadi berang. Tanpa banyak cakap Tomang meleset pergi. Melihat tingkah Tomang, Paimin tak ambil pusing. Ia sudah biasa melihat Tomang semacam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tomang dendam, lalu pasang aksi. &quot;Aku harus melakukan sesuatu!&quot; Begitu keputusan Tomang. Geram.&lt;br /&gt;Malam itu bulan tak ada. Langit merah. Angin mendayu-dayu. Tomang beraksi. Ia rampok rumah haji Sukron. Nasib sial menimpa Tomang. Belum sempat ia bongkar almari, haji Sukron memergokinya. Ia panik, dan haji Sukron bagai kena sirep. Sekali melompat -- entah sadar atau tidak -- Tomang segera menghujamkan pisaunya ke tubuh haji Sukron. Lalu haji Sukron mampus setelah sedikit mengerang dan berkolojotan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tomang tak menyia-nyiakan kesempatan sebelum seisi rumah itu bangun. Ia melesat pergi. Ia langsung menuju rumah Paimin. Begitu sampai, ia segera menyelipkan pisau yang berlumur darah itu ke atas daun pintu rumah Paimin, kemudian memberi bercak-bercak darah di pintu dan jendela, ke dinding-dinding. Mengerikan!&lt;br /&gt;Begitulah. Dan, seluruh peristiwa itu diketahui Paimin justru pada saat ia melangkah ke luar pintu muka bangunan penjara, ketika ia dinyatakan bebas. Ia beli koran. Bagian terakhir berita koran itu menyebutkan, Tomang datang sendiri ke kantor polisi dan mengakui kesalahan segala perbuatannya. Tomang tak betah dibayang-bayangi dosa. Yang membuat Paimin &lt;a href=&quot;http://kamusbahasaindonesia.org/trenyuh&quot; rel=&quot;nofollow&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;trenyuh&lt;/a&gt; adalah ketika membaca bagian paling akhir berita koran itu. &quot;Paimin, maafkan aku. Kalau kau mau balas dendam, aku takkan melawan,&quot; ucap Tomang dalam tulisan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bola mata Paimin berkaca-kaca. Perkawinan berlangsung meriah. Paimin dan Fil bahagia. Juga semua orang. Tak ada tanda yang dapat ditangkap bahwa akan ada peristiwa yang mengerikan. Seusai malam perkawinan. Di tengah gulita. Di tengah kenyenyakan tidur pengantin baru itu, telah terjadi suatu peristiwa berdarah, Paimin, suami Fil, mampus.&lt;br /&gt;Adzan shubuh bergema. Seperti biasa Fil terbangun dari tidurnya. Tapi, begitu ia menengok ke samping, mau memeluk sang suami, bukan kepalang kagetnya, suami Fil tergeletak. Ususnya berhamburan. Fil menjerit sekuat tenaga. Juga alam. Histeris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum tidur, memang ada percakapan yang mengasyikkan sepasang pengantin baru itu.&lt;br /&gt;&quot;Kamu bahagia?&quot; tanya Fil lembut. Paimin mengangguk cepat. &quot;Saya heran, kok yang datang banyak,&quot; ucap Fil lagi. Dan, Paimin hanya mengangkat bahu. &quot;Padahal kita akan hanya mengundang seratus orang.&quot; Lagi, Paimin mengangguk. &quot;Kok bisa lebih?&quot; tanya Fil.&lt;br /&gt;&quot;Saya hitung ada tiga ratus orang,&quot; tukas Paimin.&lt;br /&gt;&quot;Gila! Apa mereka kebagian makanan?&quot;&lt;br /&gt;&quot;Mudah-mudahan.&quot;&lt;br /&gt;&quot;Apa mungkin?&quot;&lt;br /&gt;&quot;Namanya saja mudah-mudahan.&quot;&lt;br /&gt;Fil tidak berkata lagi, kecuali menghela napas panjang. Paimin bangkit dari ranjang, lalu berjalan ke dapur. Fil tak peduli. Dengan sigap Fil membuka kado-kado yang menumpuk di ranjangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kado berisi pakaian bayi. Fil asyik memandanginya. Ia kaget ketika ditegur sekonyong-konyong suaminya yang sudah berada di mulut pintu kamar. &quot;Kamu mau minta perempuan atau laki-laki?&quot; Fil hanya tersenyum saja. Lalu, Paimin duduk di ranjang, berhadapan dengan Fil. Lalu, ikut membukakan kado. Suami Fil agak tersipu ketika ia temukan benda yang tak asing dalam kado itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Ada yang aneh?&quot; tanya Fil main-main. Suami Fil mengangguk. &quot;Boleh lihat?&quot; sambung Fil. Tanpa banyak cakap Paimin segera menyodorkan bungkusan kado itu. Begitu dibuka, Fil terperanjat. Namun, hal itu hanya sejenak. Wajahnya berubah malu. Lalu, mereka tak sanggup menahan geli. Dan, tawa mereka berakhir dengan pelukan Paimin.&lt;br /&gt;&quot;Nggak capek?&quot; tanya Fil lirih.&lt;br /&gt;&quot;Nggak,&quot; balas suami Fil semangat. Lalu, mereka tertawa lagi, dan sekejap tawa mereka berhenti. Malam hanya tinggal lampu-lampu yang berkelap-kelip dan bulan-bintang yang bergelayutan. Malam hanya tinggal desir angin. Malam hanya tinggal desah napas. Malam hanya tinggal.&lt;br /&gt;Begitulah!&lt;br /&gt;Fil menjerit sekuat tenaga. Histeris. Seisi rumah bangun. Kelabakan. Menyerbu kamar pengantin baru itu. Dan, seisi rumah itu menjerit histeris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kursi itu. Di sudut jendela itu. Di sore itu. Fil menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia merasa seluruh tubuhnya bergetar. Keringatnya menyembul dari pori-pori kulitnya. Jantungnya berdegup kencang. Aliran darahnya ngilu, liar, saling tumpang tindih. Fil menjadi lemas. Ia tidak kuasa menemukan jawaban siapa sebenarnya pembunuh suaminya, Tomang, atau teman-teman Tomang? Seperti dugaan koran. Tidak mungkin. Tomang telah menulis pernyataan secara terbuka di koran, dan semua orang pasti baca. Lalu siapa? Petrus? Tidak mungkin, Paimin bukan penjahat. Paimin tidak pantas untuk di petrus!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fil coba bangkit dengan sisa tenaga dan sisa pertanyaannya, tapi ia tak sanggup. Setahun sudah peristiwa itu, sampai sekarang tak diketahui ujung pangkalnya. Koran-koran tak lagi memberitakannya. Fil pun putus asa. Dengan suara terpatah-patah, ia bicara sendirian. &quot;Kalau memang Engkau ingin mengakhiri sejarah akhirilah.&quot;&lt;br /&gt;Dalam keputusannya itu, ada suara yang jatuh di luar. Fil mengintip dari lubang jendela. Ranting patah yang bergelayutan itu. Mencium bumi kendati angin tidak ada. Dan begitu Fil memejamkan mata, matahari sore hilang. Sayup-sayup terdengar suara adzan maghrib. Lagi, entah sadar atau tidak, Fil berucap, &quot;Ampunilah saya, Tuhan.&quot; Fil lalu berdiri. Dan, ia baru sadar kalau sanggup berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Ya, hidup harus dimulai lagi. Cukup lama saya menghirup bangkai kegelapan, untuk menyingkap alam sebenarnya pembunuh suami saya. O, saya sia-sia. Dan, sekarang saya tak ingin sia-sia. Saya harus seperti koran. Perlu diingat pada saat tertentu saja.&quot; Begitu kata hati Fil. Lalu, ia membuka jendela. Lalu, ia berjalan ke sumur. Lalu, ia mengambil wudhu. Lalu, ia sembahyang. Lalu, ia tidur dengan tenang, seisi rumah seperti orang gila ketika melihat perubahan Fil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;THE END&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: left;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: inherit;&quot;&gt;Penulis &amp;nbsp;: &lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white;&quot;&gt;Restoe Prawironegoro Ibrahim&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white; font-family: inherit;&quot;&gt;Penerbit &amp;nbsp;: &amp;nbsp;Suara Karya, 09 Februari 2008&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://insyoulife.blogspot.com/feeds/5211991142043158327/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/2012/06/bangkai-kegelapan-inspirasicerpen.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default/5211991142043158327'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default/5211991142043158327'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/2012/06/bangkai-kegelapan-inspirasicerpen.html' title='Bangkai Kegelapan by Restoe Prawironegoro I'/><author><name>Michael Steven</name><uri>https://plus.google.com/115260137958022279596</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-X0xLbESfLfE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAFuw/CF68oedTLEg/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4296770913662180343.post-5007724310425987665</id><published>2012-06-30T09:54:00.000-07:00</published><updated>2012-07-04T09:30:01.925-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Misteri"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Semua Index Cerpen"/><title type='text'>Hantu Gentayangan di Sekolah Bekas Kuburan</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://insyoulife.blogspot.com/&quot;&gt;&lt;b&gt;InsYouLife&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white;&quot;&gt;Cerita ini berawal sekitar tahun 1998 di kota Jepara, sewaktu Rudi bekerja di sebuah PTS di kota Kudus. Dia sebagai staf kantor. Kebetulan karena belum mendapatkan tempat kos, Rudi disarankan atasannya tinggal di kantor. Ada 2 kamar yang bisa dipakai, selain kamar yang ditempatinya bersama teman sekerja, Kasno, kamar satunya dipakai Bu Isa, tukang bersih-bersih kantor.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hari pertama tidur di mes, tahu-tahu Rudi sudah mengalami kejadian aneh. Waktu tengah malam dia mendengar langkah kaki berat berjalan dan seperti berdiri di depan kamar. Disusul suara seperti orang berdehem. Membuat malam itu terasa gerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi harinya ketika kejadian semalam ditanyakan bu Isa dan dan Kasno jawabannya ternyata pendek saja, “Oh, Pakdhenya datang,” komentar mereka. Hari berikutnya terus terjadi keanehan yang sama, ketika ditanyakan&lt;br /&gt;Kasno setengah mendesak, dengan enteng dijawab yang disebut Pakdhe itu genderuwo! Spontan Rudi kaget mendengar nama genderuwo.&lt;br /&gt;Malam berikutnya, sekitar jam 02.00 Rudi tidur di luar karena di dalam terasa panas. Waktu tidur dia diganggu suara besi di pukul-pukul “teng teng teng” membuatnya terbangun untuk mencari asal suara tersebut. Sepertinya suara di lantai 2, sehingga dia menuju arah suara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat di pojok ruang di bawah remang-remang lampu dilihatnya sebentuk warna putih tegak sedang berdiri. Penasaran dengan apa yang dilihatnya, sosok itu didekati, setelah jelas Rudi langsung berjingkat. Sosok yang ada dihadapannya itu ternyata pocongan ! Terlihat jelas sosok itu menatap ke arahnya.&lt;br /&gt;Spontan Rudi lari terbirit-birit masuk kamar. “Aku melihat sebentuk pocongan anak-anak tapi lama kelamaan menjadi besar. Benar-benar gila,” ujarnya kepada Kasno. Jawaban tentang hantu-hantu yang tiap malam berkelana dalam kantor, baru dapat ditemukan pada esok harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat jalan di belakang gedung sekolah dia melihat di tengah lapangan yang di paving ada cekungan yang berderet-deret sejajar. Dia lalu bertanya pada Bu Isa, barulah ditemukan jawaban jelas, jika gedung sekolah yang dihuni sebelumnya bekas tanah pemakaman. Bu Isa dan Kasno sendiri sudah terbiasa tinggal di tempat itu, sehingga tidak begitu mengubris kalaupun ada kejadian aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendengar penuturan itu sekujur tubuh Rudi langsung lemas. Dia tidak mampu berbuat apa-apa karena kenyatannya lahan kuburan telah berganti gedung sekolah yang megah. Menurut penuturannya hantu-hantu itu sampai sekarang masih bergentayangan. Namun, dia sudah lama tidak berkeja di sekolahan itu lagi. &lt;i&gt;(&lt;a href=&quot;http://naskah-teater.blogspot.com/&quot; rel=&quot;nofollow&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;NaskahTeater&lt;/a&gt;)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://insyoulife.blogspot.com/feeds/5007724310425987665/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/2012/06/hantu-gentayangan-di-sekolah-bekas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default/5007724310425987665'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default/5007724310425987665'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/2012/06/hantu-gentayangan-di-sekolah-bekas.html' title='Hantu Gentayangan di Sekolah Bekas Kuburan'/><author><name>Michael Steven</name><uri>https://plus.google.com/115260137958022279596</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-X0xLbESfLfE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAFuw/CF68oedTLEg/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4296770913662180343.post-8965090772133312065</id><published>2012-06-30T09:47:00.000-07:00</published><updated>2012-07-04T09:30:26.176-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Misteri"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Semua Index Cerpen"/><title type='text'>Misteri Arwah Saraswati</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://insyoulife.blogspot.com/&quot;&gt;&lt;b&gt;InsYouLife&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white;&quot;&gt;Memasuki Desa Rejo serentak kami semua terdiam. Suasana saat itu langsung berubah sunyi senyap, seakan-akan kampung itu tak berpenghuni. Mobil yang kami tumpangi berlima pun berjalan pelan seolah enggan memasuki desa yang berada di pesisir pantai selatan itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah, ini dia kampungnya. Asyik juga. Wah aku berharap di sini punya pengalaman menarik yang seumur hidupku baru kali ini mengalami. Ketemu kembang desa kek, atau…,” belum selesai Heru merampungkan kalimat tersebut tiba-tiba kami serentak terkesima melihat ada seorang nenek-nenek berdiri di pinggir jalan. Tampak tangannya membawa lampu senthir, padahal hari masih siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebaiknya kita berhati-hati jangan gegabah, kalau ngomong diatur soalnya kita tidak tahu adat di sini, lagi pula kita tidak tahu apakah mang Samin masih ingat aku, ” ujar Didik Arif. Kami yang berlima yakni Didik, Heru, Rio, Santo dan aku Dion, memang berniat mengisi liburan di desa mang Samin, mantan tukang kebun keluarga Didik. Desa Rejo terletak di tepi pantai selatan, merupakan desa yang masih alami dan belum terkontaminasi budaya asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami memutuskan untuk berlibur di sini karena cerita Didik yang menurut mang Samin, dia tinggal di desa yang alami, dan yang membuat kami tertarik untuk mengunjunginya adalah cerita tentang sebuah tebing yang indah dan siap untuk didaki. Dasar Heru, dia yang paling getol mengajak kami ke sana karena kami memang punya hoby panjat tebing. Akhirnya sampai juga di rumah sederhana&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white;&quot;&gt;Yang asri. Dari dalam tampak tergopoh-gopoh lelaki paruh baya menyambut kami.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“Mas Didik, akhirnya datang juga mari, mari, silahkan,” sambut mang Samin sambil mengajak kami untuk langsung masuk ke rumahnya. “Enak juga yah suasana desa waktu sore, wah aku jadi langsung pengin jalan-jalan nih,” ajak Heru. Namun dengan gugup mang Samin segera mengajak masuk rumah dahulu dengan setengah memaksa, bahkan istrinya yang muncul kemudian malah langsung menggandeng tanganku untuk masuk ke dalam rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seusai mandi, dan istirahat sebentar langsung kami disuguhi makan malam. “Mang, ini kan masih sore, baru jam 6 kok sudah makan, nanti saja lah, aku pengin jalan-jalan,” ajak Heru tak sabaran. Tapi dengan sigap mang Samin segera melarang dan menyuruh makan dulu. “Oke deh, aku sudah lapar juga kok, eh mang tadi didepan desa aku melihat seorang nenek duduk di pinggir jalan tapi kok siang-siang menyalakan sentir yah, siapa dia mang,” ujar Didik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Makan dulu saja, nanti sehabis makan mamang akan ceritakan tentang desa ini dan aturan-aturannya,” ujar mang Samin. Dengan penuh penasaran akhirnya kami menikmati makan malam denga tergesa-gesa. Seusai makan sambil nyeruput wedang jahe suguhan kami duduk di ruang tengah untuk mendengarkan penjelasan mang Samin. “Mas, sebenarnya kedatangan mas-mas disini agak kurang tepat, mungkin kalau kalian memperhatikan sejak memasuki desa ini akan terasa aneh kan, ini karena beberapa hari ini arwah Saras muncul lagi,”. “Saras, siapa Saras mang,” tanyaku penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf mas, membicarakan asal usul Saras adalah tabu di desa ini, yang penting kita tidak boleh&amp;nbsp;&lt;span style=&quot;background-color: white;&quot;&gt;mengganggunya dan cara yang dilakukan oleh warga desa adalah dengan tidak keluar rumah selepas magrib dan tidak boleh berkata-kata kotor, tapi ini cuma terjadi selama sepasar (5 hari) saja setelah itu seperti biasa,” ujar mang Samin serius. Akhirnya, kami cuma melewatkan malam pertama dengan saling diam, walaupun ada guyonan malah terkesan hambar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Esok paginya kita sudah siap pergi menuju tebing seperti yang dimaksud oleh mang samin, dengan diantar oleh mang samin akhirnya kami sampai ditempat tujuan. Sengaja mang samin hari itu libur ke ladang hanya untuk menunggui kami, sepertinya takut kalau-kalau kami terkena sesuatu. Dengan bentuk tebing yang masih asli, berjarak sekitar 100 meter dari garis pantai, pemandangannya begitu menakjubkan memandang hamparan pantai selatan dari atas tebing, karena dari dasar tebing kita tidak bisa melihat laut. Memang bentuk tebing sangat memudahkan pemanjat untuk mendakinya selain banyak tumpuan juga banyak cekungan untuk pegangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heru sebagai leader (orang pertama, red) yang sampai atas sambil menunggu yang lainnya. Heru melihat-lihat sekeliling tempatnya berdiri, tak jauh dari tempatnya berdiri dilihatnya seorang gadis berdiri menghadap pantai duduk di atas batu. Bajunya khas orang desa dan didekatnya terdapat tenggok yang berisi singkong. ‘’Ah pasti dia gadis desa sini, tapi kok bisa sampai atas ya, lewat mana ?” pikir Heru. Kemudian dia menghampiri gadis itu dan menyapanya. “Pagi mbak, sendirian yah habis dari kebon ?,” sapa Heru sok ramah. “Iya,” jawabnya singkat. “Saya Heru dari Solo, mbak namanya siapa ?,” seloroh Heru lagi, muncul sikap playboynya. “Wati,” ucap gadis itu lirih sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. “Wah kesempatan nih, waduh tangannya halus banget tapi kok dingin, ya,’’ pikir Heru. “Kok bisa naik ke atas, lewat mana ?,”. Pertanyaan Heru itu cuma dijawab dengan arah telunjuk Wati yang menuju jalan kecil terjal dipinggir bukit. Tiba-tiba. “Her, ngapain kamu, eh malah cengar-cengir kok aku tidak bantu naik,” teriak Rio yang kedatangannya disusul oleh Dion.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hoi sini dong aku dapet kenalan cewek cantik nih, sini,” teriak Heru. Tapi, “Lho mana Wati, kok hilang, wah pasti gara-gara kalian Wati pergi,” ujar Heru sambil memandang jalan terjal yang mungkin dilalui Wati. Selepas siang kami pulang ke rumah mang Samin lagi dan cerita Heru ketemu dengan Wati agaknya tidak terdengar lagi dari mulut Heru. Hingga malam tiba, mendadak tubuh Heru menggigil kedinginan tapi tubuhnya panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Her kenapa kamu wah, susah kalau bawa anak mami, pasti dia kangen ibunya,” kelakar Santo. Tapi mang samin menanggapinya lain. “Apa yang terjadi dengan kalian diatas tadi ?,” tanya mang Samin. “Tidak ada apa-apa kok, entah kalau Heru,” ujar Santo. “Eh, ya, tadi Heru bilang ketemu dengan gadis bernama siapa Rio?,”. “O,Wati” sahut Rio. Tiba-tiba wajah mang Samin dan istrinya berubah, seperti ketakutan. “Mas kalian tunggu sebentar di sini yah, tapi aku minta ditemani salah satu dari kalian untuk keluar sebentar,” ujar mang Samin tambah membuat kami heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah nanti saya ceritakan,” akhirnya Didik yang pergi menemani mang Samin dan sebentar kemudian mereka datang bersama dengan mbok Nah, dikenal sebagai tabib di desa tersebut. Setelah diberi japa mantra akhirnya tubuh Heru jadi tenang dan hilang sesak panasnya. “Tolong setelah siuman minumkan ramuan ini, sudah saya mau langsung pulang tidak usah diantar,” ujar mbok Nah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white;&quot;&gt;Heru masih belum sadar, sepertinya tidur. Akhirnya mang Samin bercerita, kalau gadis yang dtemui Heru bernama Wati tersebut tak lain adalah Saras, alias Saraswati. Dan, hingga Heru kejang seperti itu pasti karena Heru telah menyentuh tubuh Saraswati. “Jangankan bersalaman, menyentuh saja sudah terkena sawab-nya, tapi untung belum parah jadi masih bisa tertolong, dan nenek yang kalian temui di depan desa itu adalah ibu Saraswati. Dia masih hidup tapi kurang waras, dia selalu menyalakan lampu kerena ingin mencari anaknya siang maupun malam,” terang mang Samin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi Saras tidak kejam, hanya sebatas menggoda saja,” imbuhnya. “Kalau boleh tahu siapa Sarawati pak, kenapa bisa jadi begitu,” tanya Dion. Mang Samin takut menceritakan kisah Saraswati pada malam hari, setelah esok pagi baru dia cerita tentang Saraswati. Tuturnya, dia seorang anak yang lahir dari hubungan wanita desa setempat dengan seorang pria pendatang. Namun setelah Saraswati tumbuh menjadi seorang gadis dewasa sang ayah yang bejat malah memperkosanya dan akhirnya Saraswati bunuh diri nyemplung laut. Ayahnya sendiri tewas dihakimi massa. Kisah tersebut sudah terjadi sejak 10 tahun yang lalu, tapi sang ibu Saraswati sampai sekarang masih belum ketemu mencari anaknya. &lt;i&gt;(&lt;a href=&quot;http://naskah-teater.blogspot.com/&quot; rel=&quot;nofollow&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;NaskahTeater&lt;/a&gt;)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://insyoulife.blogspot.com/feeds/8965090772133312065/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/2012/06/misteri-arwah-saraswati-mistericerpen.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default/8965090772133312065'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default/8965090772133312065'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/2012/06/misteri-arwah-saraswati-mistericerpen.html' title='Misteri Arwah Saraswati'/><author><name>Michael Steven</name><uri>https://plus.google.com/115260137958022279596</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-X0xLbESfLfE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAFuw/CF68oedTLEg/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4296770913662180343.post-2371564875465861610</id><published>2012-06-30T03:18:00.000-07:00</published><updated>2012-07-04T09:30:38.482-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Misteri"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Semua Index Cerpen"/><title type='text'>Misteri Hantu Penunggu WC Kampus</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://insyoulife.blogspot.com/&quot;&gt;&lt;b&gt;InsYouLife&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar hantu penunggu kampus gentayangan sudah lama didengar Rudi. Belakangan kabar kemunculan hantu berwajah seram itu makin santer jadi bahan pembicaraan. Menurut kabar yang berhembus salah seorang mahasiswi putri Jumat Kliwon yang lalu mendadak jatuh pingsan di WC kampus. Kabarnya, dia kaget setengah mati ketemu hantu kampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rudi semula tidak begitu menanggapi kabar burung yang ia sendiri belum pernah mengalami. Meski dalam hati kecilnya mengakui jika di dunia ini masih ada alam lain, alaming lelembut yang tidak selalu bisa dilihat dengan kasat mata. Sampai pula Rudi mendengar kabar korban jatuh yang kali ketiga, juga masih mahasiswi putri yang ditemukan pingsan di WC kampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah siuman dia mengakui kaget bercampur takut setengah mati menyaksikan makhluk menyeramkan tiba-tiba muncul di WC yang berada di ujung bangunan kampus paling belakang. Mahasiswi itu jatuh pingsan, karena saking takutnya melihat sosok menyeramkan itu hendak mendekatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, hantu yang saya lihat berwujud manusia. Cuma wajahnya amat menakutkan, ahh…saya tidak mau membayangkannya lagi,” tutur mahasiswi itu ketika ditanya Rudi. Keterangan yang didapat belumlah memuaskan, membuat Rudi semakin penasaran untuk mengungkap misteri di balik kemunculan hantu kampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebagai orang beriman aku tidak boleh takut dengan lelembut macam apapun. Wong derajad saya sebagai manusia lebih tinggi dibandingkan ‘begundal-begundal’ itu,” bisik batin Rudi mengumpat hantu itu dengan sengit. Di kalangan mahasiswa Fakultas Kedokteran angkatan 1999 tempat Rudi menimba ilmu, keberanian Rudi berhadapan dengan lelembut memang bolehlah diacungi jempol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia paling sering menunggui jenazah yang outopsi ketika ada praktik anastesi. Wajar saja berani, pasalnya ketika masih duduk di bangku SLTP dulu Rudi pernah masuk pondok pesantren. Amalan dan doa-doa untuk mengusir makhluk halus banyak yang dia kuasai. Lalu berhasilkan dia menguak misteri kemunculan hantu kampus ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamis pagi itu Rudi mulai merencanakan bertemu dengan hantu. Awalnya, dia mencari keterangan pada beberapa warga yang tinggal di sekitar kampus, mencari asal-usul tempat yang kini dibangun kampus berada di pinggiran kota itu. Ada beberapa versi yang memberi keterangan berbeda. Kabar yang didapat tempat itu dulunya bekas penjagalan hewan, bekas kuburan kuno, dan kabar terakhir yang dia dengar tempat itu dulunya bekas markas pembantaian para gerombolan PKI ! Mana yang benar ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku harus membuktikan sendiri,” bisiknya lagi. Satu lagi kabar yang dia dengar dari warga setempat, beberapa tahun lalu sebelum dibangun kampus pada tahun 1984, warga sekitar sering ditemui sosok pria yang suka mondar-mandir di sekitar tanah lapang setempat tanpa kepala. Dibarengi dengan kemunculan sosok seorang wanita gemuk bertaring, dan pria berkulit hitam legam yang bisa keluar masuk tanah.&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;Sejauh ini misteri kemunculan sosok-sosok itu belum berhasil diungkap warga setempat. Upaya&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white; font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;untuk melacak pernah dilakukan dengan memanggil orang pintar, namun tidak berhasil karena dia merasa kalah kuat dengan lelembut tersebut. Sampai kemudian Rudi bertemu dengan sesepuh kawasan tersebut, Mbah Karso.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white; font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot; style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;Mbah Karso diam-diam sudah tahu maksud Rudi memintai keterangan warga. Dia sebagai warga yang sudah lama tinggal di tempat sekitar, pengakui salut terhadap jiwa muda Rudi. “Datang saja di tempat yang biasa dia muncul. Nanti kan Jumat Kliwon, mbah yakin di sana pasti sepi. Begundal-begundal itu pasti muncul,” ucap Mbah Karso membuat Rudi terkejut. Dari mana Mbah Karso tahu dia menjuluki lelembut itu ‘begundal’ ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 18px;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot; style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;Pukul 21.00 WIB ketika suasana kampus mulai sepi. Terlihat dari kejauhan sesosok pemuda bertubuh tegap mengendap-endap mendekati bangunan WC ujung belakang kampus. Langkahnya pelan sambil kedua matanya tidak henti mengawasi setiap sudut bangunan. Menyelidik kemungkinan hantu yang bikin takut mahasiswi itu muncul.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot; style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot; style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;Langkah dia terhenti di pojok belakang WC. Tatapan matanya nanar memandangi semak-semak di belakang WC. Sejenak itu dia menyelidik lalu kemudian duduk bersila, dan kedua matanya pun terpejam. Tidak ubahnya orang duduk bersemedi. Sekitar 10 menit berdiam diri, mendadak desiran angin malam berhembus tidak seperti biasanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 18px;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot; style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;Agak kencang dan terasa hanya di sekitar tubuhnya. Tiba-tiba pundaknya terasa seperti ditepuk dari belakang. Dia terkesiap, lalu menoleh ke belakang. Ternyata tiga sosok yang disebut-sebut hantu itu memandanginya nanar. Wajah mengerikan mengerikan sama seperti yang dituturkan para warga. “Tolong aku nak…tolong aku…,” ujar ketiganya sambil menunjuk semak-semak di belakang WC.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 18px;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot; style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;Jantung pemuda itu berguncang keras menatap hantu-hantu berwajah seram itu. Belum habis dia berpikir dari balik lorong WC muncul orang tua yang ringkih, Mbah Karso. “Biarkan dia Nak Rudi. Jangan diusik, dia tampaknya butuh pertolongan kita,” tutur pak tua itu. Tidak beberapa lama bayangan hantu itu berlahan-lahan hilang seiring keluarnya asap tipis. “Tolonglah aku malam ini juga…,” seru ketiganya sebelum menghilang. Rudi dan Mbah Karso bertatapan seperti tidak percaya dengan yang baru dilihat, di tempat sepi itu pun hanya tinggal dia berdua.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 18px;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot; style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;“Ayo bantu Mbah menggali semak-semak. Di situ pasti ada tulang mereka. Dia itu arwah mati penasaran. Dulu di tempat sini memang pernah tinggal sekeluarga, mereka mati dibunuh,” tutur Mbah Karso yang membuat Rudi semakin bertanya-tanya. “Anehnya, mayat mereka tidak ditemukan. Nah, mungkin mereka dikubur di situ,”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;line-height: 18px;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot; style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;Diakui Mbah Karso selama ini dia hanya diam mendengar kabar kemunculan hantu, karena merasa belum menemukan orang yang seperti Rudi. Pemberani dan selalu ingin tahu tentang misteri di balik kemunculan makhluk gaib. “Nah, itu warga sudah datang. Mereka pada datang ke sini setelah saya beri tahu,” paparnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white; font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;Dalam sekejab tempat itu ramai dipenuhi puluhan warga yang ingin menyaksikan penggalian mayat yang pernah dikabarkan hilang puluhan tahun yang lalu. Tidak berapa lama semak-semak telah berganti galian. Dan, memang benar di dalamnya ditemukan tumpukan tulang belulang yang sudah rusak. Dalam hati Rudi bersyukur telah membantu menenangkan ketiga arwah.&lt;/span&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;Terlebih lagi yang membuat dia lega, kejadian penggalian mayat itu tidak ada satu pun mahasiswa yang tahu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;span class=&quot;fullpost&quot;&gt;&lt;span style=&quot;font-family: &#39;Times New Roman&#39;, serif; font-size: 12pt; line-height: 115%;&quot;&gt;&lt;i&gt;(&lt;a href=&quot;http://naskah-teater.blogspot.com/&quot; rel=&quot;nofollow&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;NaskahTeater&lt;/a&gt;)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://insyoulife.blogspot.com/feeds/2371564875465861610/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/2012/06/misteri-hantu-penunggu-wc-kampus.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default/2371564875465861610'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default/2371564875465861610'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/2012/06/misteri-hantu-penunggu-wc-kampus.html' title='Misteri Hantu Penunggu WC Kampus'/><author><name>Michael Steven</name><uri>https://plus.google.com/115260137958022279596</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-X0xLbESfLfE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAFuw/CF68oedTLEg/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4296770913662180343.post-7024351663736563484</id><published>2012-06-30T03:07:00.000-07:00</published><updated>2012-07-04T09:36:55.149-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Humor"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Humor Dewasa"/><title type='text'>Sarang Burung</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://insyoulife.blogspot.com/&quot;&gt;&lt;b&gt;InsYouLife&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white;&quot;&gt;Pada suatu hari,,,ad seorang pria dewasa sdng mabuk di tepi pantai.Mungkin saking ta sedarnya ia pun sampai te****ang bulat.Sedang asyik tidur di tepi pantai,tiba&quot;datang anak kcil menghampirinya.Diapun trs mentupi bagian sensitifnya dg selembar kertas.Tiba tiba anak itu bertanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Adik:bang kenapa ko bagian ini di tutup??&lt;br /&gt;Abang mabok: ooooh de ini biar burung aku ga kepanasan!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tauulaah dia kan anak kecil jd ia trs bertnya lagi&lt;br /&gt;Adik: burung apa baang???&lt;br /&gt;Abang mabok : burung pipit!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stlh adik kcil prgi pemabuk to pun tdr lg,tp alangkah kgtnya dia waktu ia sedar dia sudah berada di tempat lain.Dan diapin merasa burungnya sakit dan panas.Diapun kebingungan,lalu brtanya pd juru rawat di situ.&lt;br /&gt;Pemabok : mbaaa knapa aku berada di sini???&lt;br /&gt;Juru rawat : oooh abang td kecelaka&#39;an!!!!&lt;br /&gt;Pemabok : haaaah kenapa nii???&lt;br /&gt;Juru rawat: abang itunya dah hilaaang??&lt;br /&gt;Pemabok : hiillaaaang,dimanaaa??&lt;br /&gt;Juru rawta : td waktu abang tidur di panta ada anak kecil dekat abang.Dia kata dia sedang main burung,tp katanya burung itu meludahi dia.Jadi dia cekik leher burung itu,lalu pecahkan telur&quot;nya.Saking marahnya dia bakar to punya sarang!!!!!!&lt;br /&gt;Jd untuk para pembaca janganlah suka main&quot;sama anak kecil.hahahahahaha.........Ok!!! &lt;i&gt;(&lt;a href=&quot;http://www.lokerseni.web.id/2011/08/kumpulan-cerpen-lucu.html&quot; rel=&quot;nofollow&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;LokerSeni&lt;/a&gt;)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://insyoulife.blogspot.com/feeds/7024351663736563484/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/2012/06/sarang-burung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default/7024351663736563484'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default/7024351663736563484'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/2012/06/sarang-burung.html' title='Sarang Burung'/><author><name>Michael Steven</name><uri>https://plus.google.com/115260137958022279596</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-X0xLbESfLfE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAFuw/CF68oedTLEg/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4296770913662180343.post-7126122060329853603</id><published>2012-06-30T02:01:00.000-07:00</published><updated>2012-07-04T09:37:20.311-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Humor"/><title type='text'>Interisti Sejati</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://insyoulife.blogspot.com/&quot;&gt;&lt;b&gt;InsYouLife&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white;&quot;&gt;Karena tidak mempunyai tiket untuk menonton pertandingan secara langsung, seorang interisti, julukan bagi suporter fanatik Inter Milan mencoba memasuki stadion dengan cara memanjat tembok stadion Geusepe Meaza untuk melihat derbi klasik antara AC Milan vs Inter Milan. Setelah berhasil memasuki stadion, dia melihat satu tempat duduk belum terisi dan disebelahnya duduk seorang Kakek yang dengan tenang menunggu dimulainya derbi itu. Interisti yang belakangan diketahui bernama Francisco Tapanuli itu kemudian mendatangi si Kakek dan bertanya kepadanya, “Permisi Kek, apakah tempat duduk di sebelah anda ini memang kosong atau ada orang lain yang akan menempatinnya tetapi belum datang kesini?”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakek yang memakai kaos bermotif garis biru hitam, (Seragam tim Inter Milan) lengkap dengan syal bertuliskan Internazionale Milano itu menjawab, “Tempat duduk ini memang kosong!. Kalau mau anda boleh menempatinya!”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih Kek!”, jawab Fransisco sambil duduk di sebelah Kakek itu. “Ngomong-ngomong, kenapa anda menonton pertandingan ini sendirian?”, lanjut Francisco.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selama lebih dari 20 tahun, saya bersama istri saya tak pernah sekalipun melewatkan derbi antara Inter Milan vs AC Milan, dan biasanya dia duduk di tempat duduk yang sedang anda tempati sekarang”, jawab si Kakek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terus, dimana istri anda sekarang Kek?”, tanya Francisco dengan penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memandang ke wajah Fancisco Kakek menjawab, “Dia sudah meninggal dunia!”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar jawaban Kakek, Francisco berkata, “Oh... Maaf Kek. Saya turut berbelasungkawa atas meninggalnya istri anda”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih!”, tutur si Kakek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Francisco dan Kakek terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian Francisco kembali bertanya kepada si Kakek, “Kenapa anda tidak mengajak kerabat yang lain untuk menonton pertandingan ini?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang mereka semua sedang sibuk!”, jawab Kakek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sibuk apa mereka Kek?”, Francisco bertanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tenang si Kakek menjawab, “Mereka sedang menghadiri pemakaman istri saya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Francisco, “...!!!”, (dalam hati dia berkata, “Bener-bener Interisti Sejati”).&lt;br /&gt;&lt;i&gt;(&lt;a href=&quot;http://www.lokerseni.web.id/2011/08/kumpulan-cerpen-lucu.html&quot; rel=&quot;nofollow&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;LokerSeni&lt;/a&gt;)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://insyoulife.blogspot.com/feeds/7126122060329853603/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/2012/06/interisti-sejati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default/7126122060329853603'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default/7126122060329853603'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/2012/06/interisti-sejati.html' title='Interisti Sejati'/><author><name>Michael Steven</name><uri>https://plus.google.com/115260137958022279596</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-X0xLbESfLfE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAFuw/CF68oedTLEg/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4296770913662180343.post-2213881405484292756</id><published>2012-06-30T01:52:00.000-07:00</published><updated>2012-07-04T09:36:55.142-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Humor"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Humor Dewasa"/><title type='text'>Salah Nurunin Resleting</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://insyoulife.blogspot.com/&quot;&gt;&lt;b&gt;InsYouLife&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white;&quot;&gt;Tumini seorang wanita dewasa pegawai sebuah kantor swasta asing pagi itu mau berangkat kerja dan lagi menunggu bus kota di mulut gang rumahnya. Seperti biasa pakaian yang dikenakan cukup ketat, roknya semi-mini, sehingga bodinya yang seksi semakin kelihatan lekuk likunya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bus kota datang, tumini berusaha naik lewat pintu belakang, tapi kakinya kok tidak sampai di tangga bus. Menyadari keketatan roknya, tangan kiri menjulur ke belakang untuk menurunkan sedikit resleting roknya supaya agak longgar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, ough, masih juga belum bisa naik. Ia mengulangi untuk menurunkan lagi resleting roknya. Belum bisa naik juga ke tangga bus. Untuk usaha yang ketiga kalinya, belum sampai dia menurunkan lagi resleting roknya, tiba-tiba ada tangan kuat mendorong pantatnya dari belakang sampai Marini terloncat dan masuk ke dalam bus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumini melihat ke belakang ingin tahu siapa yang mendorongnya, ternyata ada pemuda gondrong yang cengar-cengir melihat Tumini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, kurang ajar kau. Berani-beraninya nggak sopan pegang-pegang pantat orang!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si pemuda menjawab kalem, “Yang nggak sopan itu situ, Mbak. Masak belum kenal aja berani-beraninya nurunin resleting celana gue.” &lt;i&gt;(&lt;a href=&quot;http://www.lokerseni.web.id/2011/08/kumpulan-cerpen-lucu.html&quot; rel=&quot;nofollow&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;LokerSeni&lt;/a&gt;)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://insyoulife.blogspot.com/feeds/2213881405484292756/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/2012/06/salah-nurunin-resleting.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default/2213881405484292756'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default/2213881405484292756'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/2012/06/salah-nurunin-resleting.html' title='Salah Nurunin Resleting'/><author><name>Michael Steven</name><uri>https://plus.google.com/115260137958022279596</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-X0xLbESfLfE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAFuw/CF68oedTLEg/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4296770913662180343.post-1253781420738682344</id><published>2012-06-29T22:56:00.000-07:00</published><updated>2012-07-04T09:37:20.308-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Humor"/><title type='text'>Cinta Bersegi yang Lurus</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://insyoulife.blogspot.com/&quot;&gt;&lt;b&gt;InsYouLife&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawa seorang pemuda &quot;tambun&quot;. &quot;Red&quot;:terserah!! Bisa postur tubuh bisa juga nama kota di bekasi. Dia berteman baik dengan once dan riko. Hmmm..ga matching ni nama sama orangnya..tanya kenapa??? Karna bukan pemberian orang tuanya tapi pemberian saya hehe tapi ga papalah sekali kali kerenan dikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari once memperlihatkan foto seorang gadis pada wawa. Rumah gadis itu di samping rumah once. Dan entah kesambet angin apa..sepertinya sih angin cinta sepoi-sepoi..wawa seketika saat itu juga langsung jatuh cinta pada gadis yang ada di foto, padahal belum kenalan...woo pede ya wawa hehe..langsung ni wawa cari 1001 cara untuk bisa kenalan sama gadis itu dengan bantuan once dan riko tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah pertama via dunia maya yaitu add facebooknya cari nama vava. Nama gadis itu vava.&lt;br /&gt;“Alhamdulillah bisa temenan akhirnya sama vava. Siap siap ni online sepanjang waktu buat jaga jaga kalau vava online bisa spek spek..”aelaaahh..tiap liat beranda yang di liat hanya nama vava yang lain di lewatin..ga penting..saat ini yang terpenting cuma vava. Kalau ga ada nama vava di beranda langsung menuju profilnya..&lt;br /&gt;”hmm ga ada aktivitas juga...” batin wawa. Dia pun tetap rajin rajin buka facebook, maklum facebooker. Eits....update status juga akhirnya, langsung pantengin dalam-dalam.&lt;br /&gt;&quot;laper jadi pengen makan sate..2.30WIB via blackberry&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawa yang stand by di facebook langsung ambil langkah 1000 ngajak once dan riko..kemana??? beli sate buat vava. Langsung wawa telpon once&lt;br /&gt;“nce temenin gue yuk”&lt;br /&gt;“kemana??”&lt;br /&gt;“beli sate”&lt;br /&gt;“Whhaatttttttt...malem-malem gini yang bener aja tar kalo ketemu Suzana yang beli sate juga gimana??..*Bang sate 200 tusuk bang*..kan serem”&lt;br /&gt;“Ga bakalan!! tar gue yang ngadepin kalo ada”&lt;br /&gt;“buat apaan sih??”&lt;br /&gt;“buat vava”&lt;br /&gt;“emang dia minta”&lt;br /&gt;“ga sih...inisiatif gue aja baca dari status fbnya”&lt;br /&gt;“zzzz Dezzziggg...sebaiknya jangan!! ga sopan malem-malem gini bertamu...apa kata pak ustad nanti”&lt;br /&gt;“tapi ga bisa tidur ni gue inget vava mulu”&lt;br /&gt;“ya udah lo beliin satenya dalam mimpi aja trus anterin ke rumahnya sekalian ngelamar dia..dengan gitu pasti lo pengen tidur kan biar bisa mimpi”&lt;br /&gt;“boleh juga ide lo..ya udah gue mau tidur ah biar bisa mimpiin vava..doain lamaran gue di terima ya *dalam mimpi*”&lt;br /&gt;“oke sob..good luck ya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhari-hari pikiran wawa di penuhi oleh nama vava kadang namanya sendiri ga kebagian tempat saking penuhnya. Berhari-hari mantengin facebook menanti-nanti postingan vava. Tiba-tiba wawa loncat-loncat, vava upadaate status lagi ternyata...Yippiii Yipppiii wawa senang bukan main-main&lt;br /&gt;“Ingin pergi dan menghilang.. 00.00WIB via blackberry” setelah membaca jadi galau hhuuuuuffff apa ya maksudnya??? Tanya once ah...&lt;br /&gt;“nce dia upadaate status gini nce *Ingin pergi dan menghilang* maknanya apa ya nce”&lt;br /&gt;“coba lo cari di kamus ada ga”&lt;br /&gt;“kamus apa nce??”&lt;br /&gt;“kamus hati dia..wkwkwkkk”&lt;br /&gt;“ahhh lo nce...gue lagi serius juga”&lt;br /&gt;“ya udah spek spek aja tanya kenapa”&lt;br /&gt;“oke tar gue coba deh”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya wawa mencoba menulis coment dan langsung dapat pertamax di status vava&lt;br /&gt;“pergi kemana?? jangan pergi dong” tapi beberapa saat kemudian statusnya hilang..&lt;br /&gt;”loohh ko ga ada?? Di hapuskah??”&lt;br /&gt;“nce statusnya di hapus nce..berarti dia dengerin kata-kata gue nce”&lt;br /&gt;“masa sih hahaha”&lt;br /&gt;“ada harapan ni nce kayanya, menurut lo gimana nce”&lt;br /&gt;“ya udah terus aja pantang mundur”&lt;br /&gt;“Okeh sob..ya udah tar gue ke rumah lo ya”&lt;br /&gt;“mau ngapain??”&lt;br /&gt;“ketemu vava..masa ketemu lo..bantuin gue ya biar bisa ketemu dia”&lt;br /&gt;“ya udah beres asal ada makan-makan gratisss”&lt;br /&gt;“okeehhh..bisa di atur, Thanks Nce”&lt;br /&gt;“sama-sama sob”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawa pun siap-siap ke rumah once “Akhirnya hari ini ketemu vava juga, siap-siap ah pake baju paling rapi rambut jeli kaya orang mau lamaran gitu..lamaran pekerjaan maksudnya hehe. Okeeehh saatnya meluncur ke rumah once” Sampai sana wawa ketemu once dan riko.&lt;br /&gt;“mana rik?? panggilin si vava dong suruh kesini”&lt;br /&gt;“suruh ngapain”&lt;br /&gt;“suruh bersih-bersih mesjid &amp;amp;^$$, ya gue mau ngomong serius lah sama dia tentang masa depan, gimana sih lo”&lt;br /&gt;“emang lo udah siap??”&lt;br /&gt;“siap insyaAlloh...eh tapi gimana ngomongnya?? Ajarin dong”&lt;br /&gt;“siap ga?? Gue panggil sekarang ni”&lt;br /&gt;“eh eh e..eentar dulu..eh iya sekarang aja..eh tapi gimana ngomongnya” wawa bingung..berdiri..duduk.. berdiri lagi..balik kanan..balik kiri..muter-muter..nari balet..alah.&lt;br /&gt;“itung sampe tiga ni!! Jadi ga”&lt;br /&gt;“eengg entar dulu deh nunggu dia lewat aja”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya mereka bertiga menanti vava lewat depan rumah once. 5 jam kemudian vava lewat..ahhhh senangnya. Hati wawa langsung berbunga-bunga..ada bunga kol bunga bank dan bunga zainal.&lt;br /&gt;“tu tu lewat tu panggil..panggil” teriak once&lt;br /&gt;“jangan nce belum siap gue..gue mau liat dia dari sini aja”&lt;br /&gt;“yaaahhh ini yang lo maksud ngomongin masa depan” Once dan riko cuma bisa pasrah dengan sikap wawa yang belum berani bertindak.&lt;br /&gt;“Ternyata mengutarakan perasaan itu tak semudah membalikan badan ya, bahkan badan yang gendut sekalipun, ya udah gue pulang dulu ya sob..mau mempersiapkan jiwa raga dan tenaga untuk melamar vava”&lt;br /&gt;“Haha okeh sob semoga lo berhasil” once dan riko hanya bisa tertawa melihat tingkah sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya wawa pulang lagi dengan galau tapi seenggaknya dia bisa melihat vava hari ini. Sampai rumah wawa bergumam sendiri “Ahhhh kenapa susah sekali mengutarakan isi hati ini kepadanya. Vava seandainya kamu tau isi hatiku.. kata pelajaran biologi ada darah mengalir disana..letaknya di sebelah jantung makanya ada istilah jantung hati..dan saat ini jantung hatiku itu kamu vava. Seandainya kamu bisa baca hatiku..ingin ku tulis isi hatiku ini pada selembar surat cinta dan ku kirimkan padamu tapi aku ga boleh surat-suratan sama mama...jadi hanya bisa ku tulis di dalam hati...tapi sebagian sudah aku tulis di status facebook biar kamu bisa baca..dan sebagian lagi masih ada di dalam hati dan aku berharap kamu tetep bisa baca meskipun di dalam hati..kalau ga bisa juga..coba diikutin pelatihan membaca dulu hatinya “pelatihan membaca hati”. Mungkin wajahku biasa saja tapi kekagumanku padamu luar biasa. Bukankah nama kita itu kalau di sandingkan di undangan pernikahan sangatlah indah “Wawa &amp;amp; Vava” seperti sebuah judul dongeng dari negri cinta”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berusaha menyiapkan jiwa raga dan tenaga akhirnya wawa punya keberanian mengungkapkan isi hatinya pada vava. Ditemuilah vava saat itu dan disampaikan isi hatinya, tapi sayang ternyata vava hanya ingin berteman dengannya. Wawa kecewa tapi dia lega bisa menyampaikan isi hatinya pada vava, mungkin sekarang vava belum bisa menerimanya tapi suatu saat bisa saja dia berubah pikiran. Di lain cerita once juga sedang mengejar cintanya, meskipun yang di kejar ga merasa di kejar...lari engga di tangkap juga ga mau..hayo loo gimana tu hehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita vava menyampaikan sesuatu pada wawa bahwa sebenernya yang dia suka itu bukan dia tapi once, kelurga pun menyetujui kalau dia sama once. Dan keluarganya minta supaya bisa di percepat ke jenjang yang lebih serius supaya bisa sama-sama menjaga agama. “Tenggg” mendengar hal itu wawa kaget, hatinya seperti di tusuk...jarum jam *yaahhh patah dong jarum jamnya..biarlah itu urusan dia* seketika wawa di rundung kegalauan yang menyeruak. Tak disangka sahabatnya sendiri adalah saingannya.&lt;br /&gt;&quot;kayanya lebih baik aku loncat dari sini ni, semua tak ada artinya lagi&quot; wawa mulai putus asa. dan akhirnya loncatlah dia&lt;br /&gt;&quot;aaaaahhhhh...gedebuk buk..buk.buk..buk..masyaalloh suara tubuhku menggema di kamar sekecil ini, untung kasurnya pendek&quot; wawa mencoba loncat dari kasur, untungnya masih bisa di selamatkan.&lt;br /&gt;&quot;huuuhhhff sakit hati itu seperti sariawan ya..ga berdarah tapi sakitt banget.&quot; Berkali-kali wawa menarik nafas panjang, nafasnya pun mulai molor karna sering di tarik-tarik, tapi dia masih berharap semua akan baik-baik saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Once pun bingung dengan perubahan sikap wawa padanya yang agak jutek di tahan gitu. Tapi akhirnya once tau penyebabnya bahwa ternyata vava menaruh hati padanya. Once belum tau vava menaruh hatinya di sebelah mana, setelah dia mengecek hatinya ternyata benar ada hati vava di sana..tsaahh!! &quot;waduuhh&quot; Once kaget dia bingung dengan situasi ini, dia berada di sebuah persimpangan jalan yang sulit dipilih. Di satu sisi ketika dia siap menikah tiba-tiba panggilan itu datang melalui seorang vava maka untuk bisa sama-sama terjaga once seharusnya bisa mendatangi panggilan itu, tapi di sisi lain dia memikirkan perasaan sobatnya yang sangat mengharapkan vava, dari kejauhan sayup-sayup terdengar suara musik tetangga &quot;sobat maafkan aku mencintainya&quot; jlebb hihi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya once minta petunjuk pada alloh dan mengajak wawa membicarakan masalah ini dari hati ke hati, mencoba mencari jalan tengah tanpa ada yang merasa terluka. Dan mereka pun menemukan jalan tengah itu. Mereka akhirnya tau cinta mana yang harus di menangkan, bukan cinta once, cinta vava, atau cinta wawa tapi cinta yang mutlak &quot;cinta alloh&quot;. Ketika alloh sudah berkehendak maka manusia tak bisa menolaknya termasuk once yang memang harus mendatangi panggilan itu dari alloh. Dan wawa pun akhirnya ikhlas merelakan dia untuk dia karena alloh, untuk ibadahnya juga untuk ibadah once maupun vava. Disini tidak ada yang kalah melainkan sama-sama menang. Sama-sama bisa memenangkan cinta yang menciptakan cinta, karna tujuan mereka bukan semata-mata karna ego &amp;amp; perasaan tapi karna &quot;ibadah&quot; kepada alloh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka teringat pada satu nasehat “Sesuatu yang menurutmu baik bagimu, belum tentu baik menurut Alloh. Dan sesuatu yang menurutmu buruk bagimu, belum tentu buruk menurut Alloh” sehingga cinta bersegi di antara mereka bisa di luruskan dengan baik.&lt;br /&gt;&quot;semoga lo sama vava lancar barokah nce&quot;&lt;br /&gt;&quot;amiiin Tks wa, gue yakin lo bisa dapet yang lebih baik&quot;&lt;br /&gt;&quot;amiin ga nyangka ya cerita kita jadi serius gini sampe jadi cerpen haha&quot;&lt;br /&gt;&quot;iya gue juga ga nyangka, ini sudah jadi skenario Alloh sob..semoga bermanfaat ya bagi yang baca haha&quot;&lt;br /&gt;Mereka pun larut dalam canda dan keikhlasan. &lt;i&gt;(&lt;a href=&quot;http://www.lokerseni.web.id/2011/08/kumpulan-cerpen-lucu.html&quot; rel=&quot;nofollow&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;LokerSeni&lt;/a&gt;)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://insyoulife.blogspot.com/feeds/1253781420738682344/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/2012/06/cinta-bersegi-yang-lurus.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default/1253781420738682344'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default/1253781420738682344'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/2012/06/cinta-bersegi-yang-lurus.html' title='Cinta Bersegi yang Lurus'/><author><name>Michael Steven</name><uri>https://plus.google.com/115260137958022279596</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-X0xLbESfLfE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAFuw/CF68oedTLEg/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4296770913662180343.post-7805002609485950756</id><published>2012-06-29T11:54:00.000-07:00</published><updated>2012-07-04T09:37:20.315-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Humor"/><title type='text'>Raja Tukang Tidur dan Anak Penjual Nasehat</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;a href=&quot;http://insyoulife.blogspot.com/&quot;&gt;InsYouLife&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white;&quot;&gt;Pada zaman dahulu ,ada seorang raja yang hidup dikerajaan yang kaya akan hartanya ,serta kaya akan tambang emas .tapi sayang raja ini memiliki sifat pemalas dan pelit. Suatu saat rakyat berbicara tentang raja,bahwa pekerja mengeluh tentang upah pembayaran yang kurang ,serta kurang nya perhatian dari raja akibat raja yang suka tidur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus anak penjual nasihat itu mendengarkan cerita dari rakyat.dan berusahalah ia menjualkan nasehat nya pada raja ,anak itu pun langsung mendatangi kerajaannya si raja pemalas itu!! ketika sampai ia langsung mendaggangkan jualan sambil berkata nasehat…nasehat .…siapa mau beli ….lalu raja pun mendengarkan kan anak yang menjual nasihat itu lalu raja ..memanggil nya sambil berkata :nasehat apa yang akan kau jual pada ku nak ..???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak itu pun menjawab pertanyaan raja …&lt;br /&gt;Nasehat pertama cobalah raja besok pergi ke tempat penambangan emas&lt;br /&gt;Nasehat kedua raja harus merubah sifat raja yang suka tidur itu dan raja harus memperhatikan rakyat raja ..&lt;br /&gt;Apakah benar aku harus begitu ????(RAJA PUN BINGGUNG) lalu raja berkata apakah benar aku harus begitu apa jaminan dari nasehat mu ini.anak itu pun menjawab kau boleh menghukum aku dan jika benar nasehat ku maka kau serahkan sebagian hartamu ke aku. (ANAK ITU BERKATA).lalu raja menyetujui janji anak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;Keesokan hari nya raja pun pergi ke tempat penambangan emas dan sesampai nya ditambang ia melihat banyak rakyat yang mengeluh dan raja mendengarkan pembicaraan salah satu prajurit yang akan berbuat jahat pada nya .ternyata nasehat yang diberikan anak itu benar ,lalu raja pun pulang lagi ke kerajaan.&lt;br /&gt;Dan akhir nya tiba lah saat raja mau minum obat prajurit yang ingin berbuat jahat pun datang dengan membawa obat dan secangkir minum yang telah diberikan racun . lalu diserahkan lah kepada raja.tapi raja udah mengetahui nya .lalu raja berkata coba kau minum air itu ….tapi raja ….minumlah (Kata raja )lalu prajurit itu meminum nya…akhir nya prajurit itu mati akibat meminum air yang berisikan racun buatan nya sendiri…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah nasehat yang diberikan pada raja Itu benar.maka raja memanggil anak itu dan menempati janji raja memberikan sebagian hartanya ke anak penjual nasehat.(RAJA BERKATA) nasehat mu benar dan kamu berhak mengambil sebagian harta ku ,lalu anak itu berkata terimakasih raja ..kau telah menepati janji mu .jangan berbicara begitu harus nya raja yang mengucapkan banyak terimakasih karna berkat nasehat mu aku bisa tau bahwa apa yang ku lakukan selama ini sangatlah membuat rakyat menderita,dan tidak senang pada ku aku berjanji aku akan merubah sikap buruk ku ini. &lt;i&gt;(&lt;a href=&quot;http://www.lokerseni.web.id/2011/08/kumpulan-cerpen-lucu.html&quot; rel=&quot;nofollow&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;LokerSeni&lt;/a&gt;)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://insyoulife.blogspot.com/feeds/7805002609485950756/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/2012/06/raja-tukang-tidur-dan-anak-penjual.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default/7805002609485950756'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default/7805002609485950756'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/2012/06/raja-tukang-tidur-dan-anak-penjual.html' title='Raja Tukang Tidur dan Anak Penjual Nasehat'/><author><name>Michael Steven</name><uri>https://plus.google.com/115260137958022279596</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-X0xLbESfLfE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAFuw/CF68oedTLEg/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4296770913662180343.post-1630156666128381778</id><published>2012-06-29T10:46:00.000-07:00</published><updated>2012-07-04T09:36:55.118-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Humor"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Humor Dewasa"/><title type='text'>Anak Dalam Celana</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;span style=&quot;background-color: white;&quot;&gt;Suatu ketika di pemberhentian sebuah Bis, naiklah seorang Ibu muda yang tengah hamil kurang lebih 5 bulan...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both;&quot;&gt;Namun Ibu muda ini merasa agak kesal setelah naik Bis tsb. karena Bis telah penuh...namun tiba2 ia punya ide &amp;gt;gmna klo dia minta kursi sama seorang Pemuda tanggung yg ada di dekatnya&amp;lt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both;&quot;&gt;kemudian ia berkata kepada pemuda tsb.&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both;&quot;&gt;&quot; Boleh ga saya minta tempat duduknya Mas? kalo cuma saya sih ga apa2, tapi Anak dalam perut nie kasihan!!&quot; katanya dengan agak manja dan sedikit memelas...&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both;&quot;&gt;&quot;Ehhhmmm&quot; gumam si Pemuda tsb sambil berdiri memberikan tempat duduknya kepada si Ibu muda&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both;&quot;&gt;tak lama kemudian Pemuda ini sambil berdiri dekat Si ibu muda menyalakan rokoknya. alhasil perbuatannya menuai protes dari si ibu muda&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both;&quot;&gt;&quot;Boleh ga Rokoknya dimatikan? kalo cuma saya sih ga apa2, tapi Anak dalam perut nie kasihan!!&quot;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both;&quot;&gt;Dengan muka masam Pemuda tsb kembali memenuhi permintaan Si ibu muda ini sambil menggerutu dalam hati (uuuuggh sudah dikasih tempat duduk, ngelarang orang ngerokok lagi)gumamnya.&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both;&quot;&gt;Tiba-tiba bis berhenti mendadak berhenti membuat seluruh penumpang tersentak &amp;amp; kaget termasuk Pemuda dan ibu muda yg sedang dalam cerita ini, gkgkgkgk&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both;&quot;&gt;Saking tersentaknya si ibu muda tersebut sampai2 Daster yang ia pakai tersingkap hingga bagian pangkal pahanya. si pemuda meliat hal itu sebagai ajang balas dendam dengan berkata&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class=&quot;separator&quot; style=&quot;clear: both;&quot;&gt;Mbak, boleh gak tuh paha ditutupin!kalo cuma saya sih ga apa2, tapi Anak dalam celana nie kasihan!!&quot; &lt;i&gt;(&lt;a href=&quot;http://www.lokerseni.web.id/2011/08/kumpulan-cerpen-lucu.html&quot; rel=&quot;nofollow&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;LokerSeni&lt;/a&gt;)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://insyoulife.blogspot.com/feeds/1630156666128381778/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/2012/06/anak-dalam-celana.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default/1630156666128381778'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default/1630156666128381778'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/2012/06/anak-dalam-celana.html' title='Anak Dalam Celana'/><author><name>Michael Steven</name><uri>https://plus.google.com/115260137958022279596</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-X0xLbESfLfE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAFuw/CF68oedTLEg/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4296770913662180343.post-873935396901075082</id><published>2012-06-28T03:19:00.000-07:00</published><updated>2012-07-04T09:32:28.514-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kisah Inspiratif"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Semua Index Cerpen"/><title type='text'>Pelajaran Tersenyum</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah. Kelas terakhir yang saya ambil adalah sosiologi. Dosen kami adalah seorang yang sangat inspiratif dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya. Tugas terakhirnya diberi nama &quot;Tersenyum&quot;. Seluruh mahasiswa diminta untuk pergi keluar dan tersenyum kepada tiga orang dan mendokumentasikan reaksi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya adalah seorang yang mudah bersahabat, selalu tersenyum pada setiap orang, dan menyapa &quot;hallo&quot;. Saya pikir, tugas ini sangatlah mudah. Segera setelah menerima tugas itu, saya bersama suami dan anak bungsu saya pergi ke restoran McDonald&#39;s. Waktu itu pagi di bulan Maret yang sangat dingin dan kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berdiri dalam antrian menunggu untuk dilayani. Tiba-tiba semua orang di sekitar kami menyingkir, bahkan suami saya ikut menyingkir. Saya tidak bergerak sama sekali. Suatu perasaan panik menguasai diri saya. Saya berbalik untuk melihat mengapa mereka semua menyingkir. Ketika itulah saya membaui suatu &quot;bau badan kotor&quot; yang sangat menyengat. Tepat di belakang saya berdiri dua orang lelaki tunawisma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya memandang laki-laki yang lebih pendek, yang berdiri dekat dengan saya, ia &quot;tersenyum&quot;. Matanya berwarna biru langit indah seakan berharap untuk dapat diterima. &quot;Good day,&quot; katanya sambil menghitung beberapa koin yang telah ia kumpulkan. Lelaki yang kedua berdiri di belakang temannya. Tangan bergerak-gerak aneh. Saya menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita keterbelakangan mental. Sedangkan lelaki bermata biru adalah penolongnya. Saya menahan haru ketika berdiri di sana bersama mereka. Wanita muda di counter menanyai pesanan lelaki itu. Yang lalu dijawabnya, &quot;Kopi saja, nona&quot; karena hanya itulah yang mampu mereka beli. Asal tahu saja, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh, kita harus membeli sesuatu. Ia hanya ingin menghangatkan badan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian saya benar-benar merasakan desakan yang sedemikian kuat sehingga saya hampir saja merengkuh dan memeluk lelaki kecil bermata biru itu. Tetapi saya menyadari bahwa semua mata di restoran menatap saya, menilai semua tindakan saya. Saya tersenyum dan berkata pada wanita di belakang counter untuk memberikan pada saya dua paket makan pagi lagi dalam nampan terpisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian saya berjalan melingkari sudut ke arah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu sebagai tempat istirahatnya. Saya meletakkan nampan itu di atas meja. Saya menyentuh tangan tangan dingin lelaki bermata biru itu. Ia melihat ke arah saya, dengan air mata berlinang ia berkata &quot;Terima kasih.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menepuk tangannya dan berkata, &quot;Saya tidak melakukannya untukmu. Tuhan berada di sini bekerja melalui diriku untuk memberimu harapan.&quot; Saya mulai menangis ketika saya berjalan meninggalkannya dan bergabung dengan suami dan anak saya. Ketika saya duduk, suami saya tersenyum dan berkata, &quot;Itulah sebabnya mengapa Tuhan memberikan kamu kepadaku, Sayang. Untuk memberiku harapan.&quot; Kami saling berpegangan tangan. Saat itu kami tahu bahwa hanya karena rahmat-Nyalah kami dapat memberikan sesuatu pada orang lain. Hari itu, cahaya kasih Tuhan yang murni dan indah ditunjukkan pada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------&lt;br /&gt;Saya kembali ke kampus, pada hari terakhir kuliah, dengan cerita ini di tangan. Saya menyerahkan &quot;proyek&quot; itu dan dosen membacanya. Kemudian ia memandang saya dan berkata, &quot;Bolehkan saya membagikan ceritamu kepada yang lain?&quot; Saya mengangguk perlahan. Kemudian ia meminta perhatian dari kelas. Ia mulai membaca dan saat itu saya tahu bahwa kami, sebagai manusia dan bagian dari Tuhan, membagikan pengalaman ini untuk menyembuhkan dan untuk disembuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan caraku sendiri saya telah menyentuh orang-orang yang ada di McDonald&#39;s, suamiku, anakku, guruku, dan setiap jiwa yang menghadiri ruang kelas di malam terakhir saya sebagai mahasiswi. Saya lulus dengan satu pelajaran terbesar yang pernah saya pelajari : &quot;Penerimaan Tanpa Syarat&quot;. Banyak cinta dan kasih sayang yang dikirimkan kepada setiap orang yang mungkin membaca cerita ini dan mempelajari bagaimana untuk &quot;Mencintai Sesama Dan Memanfaatkan Benda-Benda - Bukannya Mencintai Benda Dan Memanfaatkan Sesama.&quot; &lt;i&gt;(&lt;a href=&quot;http://bungacerita.blogspot.com/&quot; rel=&quot;nofollow&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;BungaCerita&lt;/a&gt;)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://insyoulife.blogspot.com/feeds/873935396901075082/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/2012/06/pelajaran-tersenyum.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default/873935396901075082'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default/873935396901075082'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/2012/06/pelajaran-tersenyum.html' title='Pelajaran Tersenyum'/><author><name>Michael Steven</name><uri>https://plus.google.com/115260137958022279596</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-X0xLbESfLfE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAFuw/CF68oedTLEg/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4296770913662180343.post-2411047873795528423</id><published>2012-06-28T02:33:00.001-07:00</published><updated>2012-07-04T09:32:41.954-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kisah Inspiratif"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Semua Index Cerpen"/><title type='text'>Kisah Karpet</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;Ada seorang ibu rumah tangga yang memiliki 4 anak laki-laki. Urusan belanja, cucian, makan, kebersihan &amp;amp; kerapihan rumah dapat ditanganinya dengan baik. Rumah tampak selalu rapih, bersih &amp;amp; teratur dan suami serta anak-anaknya sangat menghargai pengabdiannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma ada satu masalah, ibu yang pembersih ini sangat tidak suka kalau karpet di rumahnya kotor. Ia bisa meledak dan marah berkepanjangan hanya gara-gara melihat jejak sepatu di atas karpet, dan suasana tidak enak akan berlangsung seharian. Padahal, dengan 4 anak laki-laki di rumah, hal ini mudah sekali terjadi dan menyiksanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas saran keluarganya, ia pergi menemui seorang psikolog bernama Virginia Satir, dan menceritakan masalahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendengarkan cerita sang ibu dengan penuh perhatian, Virginia Satir tersenyum &amp;amp; berkata kepada sang ibu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Ibu harap tutup mata ibu dan bayangkan apa yang akan saya katakan&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu itu kemudian menutup matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Bayangkan rumah ibu yang rapih dan karpet ibu yang bersih mengembang, tak ternoda, tanpa kotoran, tanpa jejak sepatu, bagaimana perasaan ibu?&quot;&lt;br /&gt;Sambil tetap menutup mata, senyum ibu itu merekah, mukanya yang murung berubah cerah. Ia tampak senang dengan bayangan yang dilihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Virginia Satir melanjutkan; &quot;Itu artinya tidak ada seorangpun di rumah ibu. Tak ada suami, tak ada anak-anak, tak terdengar gurau canda dan tawa ceria mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rumah ibu sepi dan kosong tanpa orang-orang yang ibu kasihi&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika muka ibu itu berubah keruh, senyumnya langsung menghilang, nafasnya mengandung isak. Perasaannya terguncang. Pikirannya langsung cemas membayangkan apa yang tengah terjadi pada suami dan anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Sekarang lihat kembali karpet itu, ibu melihat jejak sepatu &amp;amp; kotoran di sana, artinya suami dan anak-anak ibu ada di rumah, orang-orang yang ibu cintai ada bersama ibu dan kehadiran mereka menghangatkan hati ibu&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu itu mulai tersenyum kembali, ia merasa nyaman dengan visualisasi tsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Sekarang bukalah mata ibu&quot; Ibu itu membuka matanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Bagaimana, apakah karpet kotor masih menjadi masalah buat ibu?&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&quot;Aku tahu maksud anda&quot; ujar sang ibu, &quot;Jika kita melihat dengan sudut yang tepat, maka hal yang tampak negatif dapat dilihat secara positif&quot;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu, sang ibu tak pernah lagi mengeluh soal karpetnya yang kotor, karena setiap melihat jejak sepatu disana, ia tahu, keluarga yang dikasihinya ada di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah di atas adalah kisah nyata. Virginia Satir adalah seorang psikolog terkenal yang mengilhami Richard Binder &amp;amp; John Adler untuk menciptakan NLP (Neurolinguistic Programming) . Dan teknik yang dipakainya di atas disebut Reframing, yaitu bagaimana kita &#39;membingkai ulang&#39; sudut&lt;br /&gt;pandang kita sehingga sesuatu yang tadinya negatif dapat menjadi positif,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;salah satu caranya dengan mengubah sudut pandangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlampir beberapa contoh pengubahan sudut pandang :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya BERSYUKUR;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Untuk istri yang mengatakan malam ini kita hanya makan mie instan,&lt;br /&gt;karena itu&lt;br /&gt;artinya ia bersamaku bukan dengan orang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Untuk suami yang hanya duduk malas di sofa menonton TV,&lt;br /&gt;karena itu&lt;br /&gt;artinya ia berada di rumah dan bukan di bar, kafe, atau di tempat mesum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Untuk anak-anak yang ribut mengeluh tentang banyak hal,&lt;br /&gt;karena itu&lt;br /&gt;artinya mereka di rumah dan tidak jadi anak jalanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Untuk Tagihan kartu kredit yang cukup besar,&lt;br /&gt;karena itu&lt;br /&gt;artinya saya harus bekerja untuk bayar cicilan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Untuk sampah dan kotoran bekas pesta yang harus saya bersihkan,&lt;br /&gt;karena itu&lt;br /&gt;artinya keluarga kami dikelilingi banyak teman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Untuk pakaian yang mulai kesempitan,&lt;br /&gt;karena itu&lt;br /&gt;artinya saya cukup makan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Untuk rasa lelah, capai dan penat di penghujung hari,&lt;br /&gt;karena itu&lt;br /&gt;artinya saya masih mampu bekerja keras&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Untuk semua kritik yang saya dengar tentang pemerintah,&lt;br /&gt;karena itu&lt;br /&gt;artinya masih ada kebebasan berpendapat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Untuk bunyi alarm keras jam 5 pagi yg membangunkan saya,&lt;br /&gt;karena itu&lt;br /&gt;artinya saya masih bisa terbangun, masih hidup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Untuk dst...&lt;br /&gt;&lt;i&gt;(&lt;a href=&quot;http://bungacerita.blogspot.com/&quot; rel=&quot;nofollow&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;BungaCerita&lt;/a&gt;)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://insyoulife.blogspot.com/feeds/2411047873795528423/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/2012/06/kisah-karpet.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default/2411047873795528423'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default/2411047873795528423'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/2012/06/kisah-karpet.html' title='Kisah Karpet'/><author><name>Michael Steven</name><uri>https://plus.google.com/115260137958022279596</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-X0xLbESfLfE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAFuw/CF68oedTLEg/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4296770913662180343.post-4867001588874710094</id><published>2012-06-28T02:12:00.002-07:00</published><updated>2012-07-04T09:33:02.835-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kisah Inspiratif"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Semua Index Cerpen"/><title type='text'>Rp10 Ribu Membuat Anda Mengerti Cara Bersyukur</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;img height=&quot;176&quot; src=&quot;http://1.bp.blogspot.com/-5f_jD_krIkg/Tp-w9iH7QsI/AAAAAAAAAgE/dhVlmOXuiC4/s400/10ribu.jpg&quot; width=&quot;400&quot; /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Ada seorang sahabat menuturkan kisahnya. Dia bernama Budiman. Sore itu ia menemani istri dan seorang putrinya berbelanja kebutuhan rumah tangga bulanan di sebuah toko swalayan. Usai membayar, tangan-tangan mereka sarat dengan tas plastik belanjaan.&lt;br /&gt;Baru saja mereka keluar dari toko swalayan, istri Budiman dihampiri seorang wanita pengemis yang saat itu bersama seorang putri kecilnya. Wanita pengemis itu berkata kepada istri Budiman, &quot;Beri kami sedekah, Bu!&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri Budiman kemudian membuka dompetnya lalu ia menyodorkan selembar uang kertas berjumlah 1000 rupiah. Wanita pengemis itu lalu menerimanya. Tatkala tahu jumlahnya tidak mencukupi kebutuhan, ia lalu menguncupkan jari-jarinya mengarah ke mulutnya. Kemudian pengemis itu memegang kepala anaknya dan sekali lagi ia mengarahkan jari-jari yang terkuncup itu ke mulutnya, seolah ia ingin berkata, &quot;Aku dan anakku ini sudah berhari-hari tidak makan, tolong beri kami&lt;br /&gt;tambahan sedekah untuk bisa membeli makanan!&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendapati isyarat pengemis wanita itu, istri Budiman pun membalas isyarat dengan gerak tangannya seolah berkata, &quot;Tidak... tidak, aku tidak akan menambahkan sedekah untukmu!&quot;&lt;br /&gt;Ironisnya meski tidak menambahkan sedekahnya, istri dan putrinya Budiman malah menuju ke sebuah gerobak gorengan untuk membeli cemilan. Pada kesempatan yang sama Budiman berjalan ke arah ATM center guna mengecek saldo rekeningnya. Saat itu memang tanggal gajian, karenanya Budiman ingin mengecek saldo rekening dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan ATM, Ia masukkan kartu ke dalam mesin. Ia tekan langsung tombol INFORMASI SALDO. Sesaat kemudian muncul beberapa digit angka yang membuat Budiman menyunggingkan senyum kecil dari mulutnya. Ya, uang gajiannya sudah masuk ke dalam rekening.&lt;br /&gt;Budiman menarik sejumlah uang dalam bilangan jutaan rupiah dari ATM. Pecahan ratusan ribu berwarna merah kini sudah menyesaki dompetnya. Lalu ada satu lembar uang berwarna merah juga, namun kali ini bernilai 10 ribu yang ia tarik dari dompet. Uang itu Kemudian ia lipat kecil untuk berbagi dengan wanita pengemis yang tadi meminta tambahan sedekah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat sang wanita pengemis melihat nilai uang yang diterima, betapa girangnya dia. Ia pun berucap syukur kepada Allah dan berterima kasih kepada Budiman dengan kalimat-kalimat penuh kesungguhan: &quot;Alhamdulillah... Alhamdulillah... Alhamdulillah... Terima kasih tuan! Semoga Allah memberikan rezeki berlipat untuk tuan dan keluarga. Semoga Allah memberi kebahagiaan lahir dan batin untuk tuan dan keluarga. Diberikan karunia keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. Rumah tangga harmonis dan anak-anak yang shaleh dan shalehah. Semoga tuan dan keluarga juga diberi kedudukan yang terhormat kelak nanti di surga...!&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budiman tidak menyangka ia akan mendengar respon yang begitu mengharukan. Budiman mengira bahwa pengemis tadi hanya akan berucap terima kasih saja. Namun, apa yang diucapkan oleh wanita pengemis tadi sungguh membuat Budiman terpukau dan membisu. Apalagi tatkala sekali lagi ia dengar wanita itu berkata kepada putri kecilnya, &quot;Dik, Alhamdulillah akhirnya kita bisa makan juga....!&quot;&lt;br /&gt;Deggg...!!! Hati Budiman tergedor dengan begitu kencang. Rupanya wanita tadi sungguh berharap tambahan sedekah agar ia dan putrinya bisa makan. Sejurus kemudian mata Budiman membuntuti kepergian mereka berdua yang berlari menyeberang jalan, lalu masuk ke sebuah warung tegal untuk makan di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budiman masih terdiam dan terpana di tempat itu. Hingga istri dan putrinya kembali lagi dan keduanya menyapa Budiman. Mata Budiman kini mulai berkaca-kaca dan istrinya pun mengetahui itu. &quot;Ada apa Pak?&quot; Istrinya bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan suara yang agak berat dan terbata Budiman menjelaskan: &quot;Aku baru saja menambahkan sedekah kepada wanita tadi sebanyak 10 ribu rupiah!&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya istri Budiman hampir tidak setuju tatkala Budiman mengatakan bahwa ia memberi tambahan sedekah kepada wanita pengemis. Namun Budiman kemudian melanjutkan kalimatnya:&lt;br /&gt;&quot;Bu..., aku memberi sedekah kepadanya sebanyak itu. Saat menerimanya, ia berucap hamdalah berkali-kali seraya bersyukur kepada Allah. Tidak itu saja, ia mendoakan aku, mendoakan dirimu, anak-anak dan keluarga kita. Panjaaaang sekali ia berdoa!&lt;br /&gt;Dia hanya menerima karunia dari Allah Swt sebesar 10 ribu saja sudah sedemikian hebatnya bersyukur. Padahal aku sebelumnya melihat di ATM saat aku mengecek saldo dan ternyata di sana ada jumlah yang mungkin ratusan bahkan ribuan kali lipat dari 10 ribu rupiah. Saat melihat saldo itu, aku hanya mengangguk-angguk dan tersenyum. Aku terlupa bersyukur, dan aku lupa berucap hamdalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bu..., aku malu kepada Allah! Dia terima hanya 10 ribu begitu bersyukurnya dia kepada Allah dan berterimakasih kepadaku. Kalau memang demikian, siapakah yang pantas masuk ke dalam surga Allah, apakah dia yang menerima 10 ribu dengan syukur yang luar biasa, ataukah aku yang menerima jumlah lebih banyak dari itu namun sedikitpun aku tak berucap hamdalah.&quot;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budiman mengakhiri kalimatnya dengan suara yang terbata-bata dan beberapa bulir air mata yang menetes. Istrinya pun menjadi lemas setelah menyadari betapa selama ini kurang bersyukur sebagai hamba. Ya Allah, ampunilah kami para hamba-Mu yang kerap lalai atas segala nikmat-Mu!&amp;nbsp;&lt;i&gt;(&lt;a href=&quot;http://bungacerita.blogspot.com/&quot; rel=&quot;nofollow&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;BungaCerita&lt;/a&gt;)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://insyoulife.blogspot.com/feeds/4867001588874710094/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/2012/06/10-ribu-rupiah-membuat-anda-mengerti.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default/4867001588874710094'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default/4867001588874710094'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/2012/06/10-ribu-rupiah-membuat-anda-mengerti.html' title='Rp10 Ribu Membuat Anda Mengerti Cara Bersyukur'/><author><name>Michael Steven</name><uri>https://plus.google.com/115260137958022279596</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-X0xLbESfLfE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAFuw/CF68oedTLEg/s512-c/photo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" url="http://1.bp.blogspot.com/-5f_jD_krIkg/Tp-w9iH7QsI/AAAAAAAAAgE/dhVlmOXuiC4/s72-c/10ribu.jpg" height="72" width="72"/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4296770913662180343.post-8709310440609775512</id><published>2012-06-27T12:49:00.001-07:00</published><updated>2012-07-04T09:33:14.602-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kisah Inspiratif"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Semua Index Cerpen"/><title type='text'>Belajar Bersyukur</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;Nurul menyodorkan selembar Surat perintah kerja, “Hari ini mas Danu setim dengan Mba Nisa.” Katanya sambil melemparkan senyumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun senang melihat senyum manis Nurul, gadis resepsionis itu tapi tetap saja aku merasa kecewa. Untuk pertama kali aku bertugas di luar bersama seorang gadis. Apalagi semua orang tahu, gadis bernama Annisa itu sedikit aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas, Mba Nisa sudah nunggu di bawah.” Nurul menegurku lagi. Ia meletakkan telepon yang baru saja dijawabnya. Mungkin tadi Annisa yang meneleponnya memberitahu. Aku hanya mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Annisa, atau Nisa sedang duduk di atas kap mobilku. Sepasang headset menghiasi kedua telinganya dan kepalanya tertunduk. Dengan tergesa-gesa aku mendekatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo!” kataku sambil menepuk kap. Nisa tak menjawab, ia hanya tersenyum sembari mencopot headsetnya, turun lalu masuk ke dalam mobil yang kuncinya telah kubuka. Ia sibuk memakai safety belt sementara aku sibuk menstarter mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ke mana kita, Mas?” tanya Nisa. Aku menyebutkan nama sebuah gedung ternama di daerah Bekasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waah, jalan-jalan dong! Hmmm..” ujar Nisa tersenyum kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Uh, yang benar saja. Paling tidak kita butuh sekitar satu jam untuk sampai ke tempat itu, itu kalau tidak macet. Jakarta bagian mana sih yang gak macet? Apalagi jam-jam begini.” Keluhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nisa terkekeh, “Macet itu jangan dikeluhkan Mas, tapi disyukurin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini aku yang tertawa kecut, “Yang bener aja kamu, Nis. Macet kok syukur.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lah iya, macet itu kalau kita pandang secara positif pasti ada manfaatnya. Coba sekarang tuh kita pasti setop di depan karena ada lampu merah. Macet nih ceritanya. Ayo, mas!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya mengangguk kecil, sedikit bingung tapi kami memang terjebak di lampu merah, “Sudah. Terus?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lihat, sekarang kita setel musik pasti lebih menyenangkan.” Gadis itu mencari-cari lagu di pemutar radio di dashbord dan ketika sebuah lagu pop dangdut mengalun, kami tertawa berbarengan. “Ini aja ya, kan cocok buat mas.” Aku hanya tertawa kecil tapi tak urung kepalaku ikut bergoyang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita ini macet yang enak mas, gak kepanasan, bisa sambil dengerin musik. Kalau gak karena macet, apa bisa mas nyantai dengerin musik gini?” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu bener, Nis. Aneh tapi emang bener. Pantas saja kamu disebut aneh sama teman-teman.” Kataku pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nisa kembali tertawa, “Aneh apa sih? Karena aku selalu memandang segalanya dengan bersyukur? Kok aneh?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begitukah? Mmm.. aku pernah dengar kamu dimarah-marahi oleh Pak Yunus karena terlambat, lalu pernah juga aku dengar katanya kamu gagal dilibatkan dalam proyek, trus waktu adik kembarmu meninggal. Kata teman-teman, kamu justru santai-santai saja menanggapinya. Bahkan menurut mereka lagi, seperti orang yang sedang bahagia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena begitulah hidup, Mas. Bersyukur. Aku menganggap teguran Pak Yunus karena dia peduli sama aku, walaupun dengan nada marah. Bagiku itu seperti orangtua yang sedang memarahi anaknya. Soal aku gagal ikut proyek, aaah… aku bersyukur karena mungkin kalau aku memaksakan ikut ada hal-hal yang aku lewatkan di jakarta, atau mungkin aku bisa membuat kesalahan. Aku selalu percaya ada rencana Allah yang jauh lebih baik untukku. “ kata Nisa, lalu matanya menatap keluar jendela mobil, “Kalau soal Alliya, mungkin itu pilihan terbaik Allah untuknya. Alliya itu seperti aku mas. Pasti dia sekarang bersyukur karena dengan kematian, ia tak lagi berbuat dosa.” Aku menangkap mata Nisa terlihat berkaca-kaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terdiam, ada perasaan tak enak karena membangkitkan kenangan yang pasti tak menyenangkan untuknya. Tapi baru saja mulutku ingin berucap, tiba-tiba Nisa berkata, “Coba tuh orang bersyukur, pasti dia gak marah-marah gitu hanya karena lecet diserempet.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melirik arah tempat Nisa baru saja menunjuk. Tampak dua orang sedang bertengkar mulut di trotoar, saling menyalahkan disaksikan kerumunan orang. Dua &amp;nbsp;mobil di dekat mereka tampak tergores cukup lebar di bagian samping. “Yang benar saja, bersyukur karena terserempet?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iyalah. Paling gak mereka masih hidup. Dengan terserempet, mereka pasti lebih berhati-hati menyetir sekarang. Harusnya bersyukur dan saling memaafkan, kalau perlu berterima kasih karena sama-sama diingatkan.” Ujar Nisa sambil mengeluarkan sebatang coklat dari tasnya. Dia membuka bungkusnya dan membaginya padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membuka mulut dan Nisa menyodorkannya tanpa canggung, “Nah ini juga bersyukur, sarapan pagi manis dari gadis manis.” Goda Nisa. Aku kembali tertawa kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sampai ke lokasi kerja kami &amp;nbsp;hampir dua jam kemudian. Berkendara bersama Nisa ternyata menyenangkan, dia selalu membuatku tertawa dan meskipun kami telat hampir empat puluh lima menit, aku tak merasa lelah atau cape. Mungkin karena sepanjang jalan Nisa mengajariku tentang cara bersyukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kami melewati jalan bergelombang karena ada perbaikan, dia bilang kita harus bersyukur karena jalan itu memakai uang yang kita bayarkan. Lalu ketika aku mendebatnya dengan berkata bahwa artinya ada orang yang akan korupsi, dia malah bilang orang korupsi itu gak ada hubungannya dengan syukur. Mereka akan dihukum dengan cara Allah sendiri, tapi sebagai manusia kita tetap harus berpikir positif dengan bersyukur karena masih bisa memberi kontribusi untuk negara yang fasilitasnya kita juga yang pakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika melihat anak jalanan, Nisa bilang kalau tanpa kehadiran mereka aku pasti takkan bisa minum air mineral setelah terlalu banyak makan coklat. Waktu melihat orang yang menyetop mobil untuk meminta sumbangan, Nisa bilang harusnya kita bersyukur karena diingatkan untuk berbagi dan bahkan ketika kami harus menggunakan ojek 3in1, Nisa bilang itu artinya kita harus bersyukur karena masih diberi kesempatan bersosialisasi dan berbagi dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ketika kami sedang bekerja, Nisa justru berbeda. Dia tampak serius dalam menyelesaikan perbaikan dan hanya berbicara kalau perlu. Keringat yang membasahi tubuhnya pun tak ia pedulikan meskipun membuatnya jadi kelihatan kusut. Baru kali ini aku melihat seorang gadis yang tak mempedulikan penampilan dan justru lebih mempedulikan pekerjaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku tanyakan soal itu, dia menatapku serius, “Karena pekerjaan kita ini beresiko, Mas. Listrik itu berhubungan dengan kepentingan orang banyak. Kita boleh bercanda, boleh bermain tapi kalau bekerja, kita harus serius. Pekerjaan yang dijalani tidak dengan serius berarti tidak bersyukur. Kita bersyukur bukan hanya karena mendapatkan sesuatu, tapi juga ketika menjalankan sesuatu dengan sukses.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nisa memang beda, tapi entah kenapa aku justru suka melihatnya. Kurasa aku jatuh cinta sama gadis itu, itulah dalam benakku setelah hampir seharian bersamanya. Kami menyelesaikan pekerjaan kami dan kembali ke kantor. Aku menawari Nisa pulang bersama setelah pulang kerja nanti dan gadis itu hanya mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gimana, Dan? Aneh kan tuh cewek!” kata Jacky ketika aku menghempaskan tubuh di kursi. Aku tak menjawab, hanya tersenyum-senyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah, dia ketularan aneh nih kayaknya!” sambung Sinaga, rekan kerjaku yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jacky tertawa, “Dia nyatain cinta sama lu, Dan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menegakkan punggung dan menatap Jacky berkerut, “Cinta? Maksud lo apa, Jack?’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, Dan. Nisa itu suka sama lu. Dia pernah bilang sama si Nurul.” Sergah Jacky sambil menepuk bahuku. Sinaga mengangguk-angguk setuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh ya, lu semua kok gak bilang sama gue?” sesalku sambil merengut pada Jacky. Jacky dan Sinaga sama-sama tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mana kita tahu kalau lu suka model dia. Biasanya kan pacar-pacar lu tipenya kayak si Nurul. Mana kita nyangka, yo Jack! Kami kira kamu lagi kejar si Nurul.” Sambung Sinaga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Jacky pun mengiyakan, “Ho oh! Jadi lu gak tahu? Ya ampun, Dan..” Ketika aku menggeleng bingung, mereka malah tertawa bersama-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu aku pulang bersama Nisa. Ternyata tadi di kantor ia berganti pakaian, jadi tak terlihat sedekil aku. Jadi menyesal juga aku karena tadi malah asyik mengobrol dengan Jacky dan Sinaga. Kalau tidak, aku pasti lebih pede bicara dengan cewek ini. Tapi bukankah semua hal harus disyukurin? Tapi apa yang harus disyukurin dari badan bau dan tampang dekil begini? Apa aku harus bersyukur karena berhasil menghemat sabun mandi dan baju bersih? Tanpa sadar aku tertawa kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yaah, dia ketawa sendiri. Ada apa sih Mas Danu?” tanya Nisa ingin tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sedang belajar bersyukur, tapi jadinya malah lucu.” Jawabku sambil berpikir mencari strategi yang tepat untuk mengajak Nisa berkencan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nisa hanya tersenyum, “Mas, aku setop di depan situ aja ya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hah! Kok cepat amat?” tanyaku. Duh, padahal aku belum sempat bicara apa-apa sama dia. Aku tak tahu kalau ternyata rumahnya dekat dari kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rumah kost saya masuk agak ke dalam, tapi saya pengen turun di sini aja Mas.” Jawab Nisa. Aku menepikan mobil di tepi jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya antar sampai ke dalam aja deh. Mobil bisa masuk kan?” tanyaku mencari kesempatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nisa tersenyum, “Bisa sih. Tapi saya lebih suka jalan dari sini. Bersyukur… karena punya dua kaki sempurna.” Kilahnya. Dia akan beranjak keluar ketika aku menggamit lengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Boleh saya belajar bersyukur juga, Nis?” tanyaku pelan. Nisa mengangguk bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya ingin bersyukur karena bertemu orang yang mengajariku tentang arti kata itu dengan mengajaknya makan malam bersama besok jam tujuh malam. Boleh?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nisa terdiam menatapku, senyumnya tetap mengembang dan ia pun menjawab, “Dan saya dengan penuh rasa syukur akan menjawab tentu saja. Mari kita bersyukur sama-sama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dia pun keluar dari mobilku, melambai-lambaikan tangan padaku dengan wajah bahagia sebelum menghilang di balik gang. Malam yang sungguh menyenangkan, bertemu gadis muda yang mengajariku tentang bersyukur dan terus terang aku rasa aku ingin segera menjadikannya istriku. Gadis yang selalu bersyukur adalah wanita yang paling tepat untuk menemani hidupku. &lt;i&gt;(&lt;a href=&quot;http://bundaiin.blogdetik.com/&quot; rel=&quot;nofollow&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Bundaiin&lt;/a&gt;)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://insyoulife.blogspot.com/feeds/8709310440609775512/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/2012/06/belajar-bersyukur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default/8709310440609775512'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default/8709310440609775512'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/2012/06/belajar-bersyukur.html' title='Belajar Bersyukur'/><author><name>Michael Steven</name><uri>https://plus.google.com/115260137958022279596</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-X0xLbESfLfE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAFuw/CF68oedTLEg/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4296770913662180343.post-6972670209530882707</id><published>2012-06-27T12:36:00.000-07:00</published><updated>2012-07-04T09:33:25.835-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerpen Cinta"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kisah Inspiratif"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Semua Index Cerpen"/><title type='text'>Mau Dibawa Ke mana?</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;“Aku ingin kepastian. Sebenarnya hubungan seperti apa yang sedang kita jalani, Ram?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rama mengusap rambutnya. Pertanyaan Ella tadi saat makan siang benar-benar tak bisa pergi dari pikirannya. Ia tak bisa menjawabnya. Ella pun meninggalkannya begitu saja, tanpa bicara lagi. Terlalu gadis itu. Bagaimana mungkin dia bisa begitu mudah menanyakannya lalu pergi begitu saja tanpa membiarkannya menjawab dulu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenangan tentang almarhum istrinya datang lagi. Rama dan Alia saling mengisi sejak mereka kuliah, namun pernikahan mereka tidaklah nyata meski mereka saling mencintai. Mereka tak harus melakukan banyak kompromi selama pernikahan karena Alia dan dirinya tinggal terpisah. Alia meninggal karena kecelakaan pesawat saat akan kembali padanya setelah menyelesaikan tugas belajar. Kehilangan Alia yang menyakitkan telah menjungkirbalikkan semuanya, impian mereka. Rama tak lagi yakin mampu bertahan jika sakit yang sama terjadi lagi. Dan itu menakutkannya. Mencintai berarti kehilangan. Menyakitkan saat ditinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, Ella membuat segalanya berbeda. Astaga, terlalu banyak yang telah dilewatinya bersama Ella. Bekerja bersamanya, berkompromi saat terjadi perbedaan pendapat dan saling memberi serta menerima melebihi daripada yang pernah dialaminya dulu bersama Alia. Ia dan Ella telah berpacaran lebih lama dari masa pernikahannya yang singkat bersama Alia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rama mungkin terlalu takut untuk berkomitmen lagi. Tapi ada yang lebih membuatnya takut. Rama tak berhasil menjaga hatinya, hatinya telah dipenuhi oleh Ella. Jika ia merasakan sakit itu lagi, itu bukan salah Ella tapi dirinya sendirinya yang terlanjur mencintai Ella.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaring pengaman yang menyelubungi hati Rama telah lama musnah. Kehadiran Ella telah mengoyaknya, dan selama mereka bersama, Ella telah berhasil menghancurkannya. Ia baru menyadarinya sekarang. Ia membutuhkan Ella dan ia akan melakukan kesalahan kalau membiarkan gadis itu pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah berapa Ella merutuki kebodohannya. Kenapa ia harus bertanya pada Rama sekarang? Emosi Ella membuncah tak tertahan, airmata jatuh satu-satu menetes di pipinya. Hatinya patah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya ia tahu, cinta Alia masih terlalu kuat mengikat hati Rama. Seharusnya ia tahu bahwa cinta mereka selama ini hanyalah cinta biasa. Tak ada yang seistimewa kenangan Alia dan itu tidak termasuk dirinya. Seharusnya Ella tahu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun paling tidak Ella mendapatkan keinginannya. Tujuan hidup menjadi jelas setelah sekian lama berada dalam ketidakpastian. Sekarang walaupun dengan hati berkeping-keping, ia bisa melangkah dengan bahu tegak. Menghadapi dunia lagi, sendirian dan mencari cinta lagi. Mungkin lebih baik begini, memutuskan hubungan mereka yang tanpa ujung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau belum mendengar jawabanku,” Ella menoleh, menatap Rama yang berdiri di ambang pintu kantornya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ella mengalihkan pandang pada tumpukan map di depannya. “Kurasa aku sudah tahu jawabannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh ya? Menurutmu apa?” tanya Rama sambil mendekati Ella.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sibuk, Ram. Sudah saatnya aku kerja. Sekarang bukan saat yang tepat,” kilah Ella.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau lupa kalau aku direkturnya?” ucap Rama sambil duduk di kursi depan meja kerja Ella. “Tak mudah memahami hati sendiri, apalagi setelah bertahun-tahun hati itu telah tersegel oleh rasa ragu dan kehilangan. Aku mengira cukup dengan segala yang telah terjadi dan semuanya akan baik-baik saja. Tak ada lagi rasa sakit itu. Aku membelenggu diriku sendiri dengan cinta masa laluku bersama Alia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tenggorokan Ella tercekat. Rama kembali berkata, “aku tahu, kita belum lama saling mengenal, tapi aku mencintaimu. Aku mencoba menyangkal beberapa kali. Aku memilih menjalani hubungan ini denganmu, agar suatu saat kalau kau pergi dariku maka aku takkan merasa kehilangan seperti saat kehilangan Alia. Pacaran yang save tanpa komitmen, tanpa janji. Buatku itu adil.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rama menatap mata Ella yang berkaca-kaca. “Lalu kusadari jika aku tidak menunjukkan komitmen yang jelas padamu, jika aku membiarkanmu memutuskan semuanya begitu saja maka aku akan merasakan kehilangan lagi dan aku baru sadar kali ini membayangkannya saja sudah terasa lebih menyakitkan. Aku minta maaf, Ella. Aku mencintaimu dan aku ingin melanjutkan hubungan kita.” Lalu dengan suara pelan dan tegas, Rama menyambung ucapannya. “Maukah kau menikahiku, Ella?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rama tak bisa melepaskan pandangan dari wajah pengantinnya yang sedang tertawa di antara tamu-tamunya. Wajah Ella yang merona bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rama tak pernah melihat pengantin yang lebih memesona sepanjang hidupnya. Bukan hanya gaun berenda, kerudung dan mahkota bunga yang luar biasa indah yang dikenakannya. Tapi juga apa yang memancarkan dari diri Ella, senyumnya, cahaya matanya, rona di pipinya. Hidup tak pernah terasa seindah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah cinta, inilah komitmen seumur hidup yang telah dipilihnya. Mencintai dan dicintai, dengan janji terukir dalam hati. Komitmen harus ada, agar cinta tetap tumbuh, tetap berkembang dengan baik dan memberi kebahagiaan bukan hanya untuk sekejap, dalam waktu terbatas tapi juga untuk di masa yang akan datang. Bagai memulai sebuah perjalanan, selalu ada tempat untuk dituju. Seperti semua keinginan di muka bumi ini, selalu ada tujuan terakhir. Dan cinta yang dibawa oleh Ella, telah menemukan persinggahan terakhirnya, di hati Rama. &lt;i&gt;(&lt;a href=&quot;http://bundaiin.blogdetik.com/&quot; rel=&quot;nofollow&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Bundaiin&lt;/a&gt;)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://insyoulife.blogspot.com/feeds/6972670209530882707/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/2012/06/mau-dibawa-ke-mana.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default/6972670209530882707'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default/6972670209530882707'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/2012/06/mau-dibawa-ke-mana.html' title='Mau Dibawa Ke mana?'/><author><name>Michael Steven</name><uri>https://plus.google.com/115260137958022279596</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-X0xLbESfLfE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAFuw/CF68oedTLEg/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4296770913662180343.post-6312713264637686514</id><published>2012-06-27T12:19:00.000-07:00</published><updated>2012-07-04T09:33:40.075-07:00</updated><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Cerpen Cinta"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Kisah Inspiratif"/><category scheme="http://www.blogger.com/atom/ns#" term="Semua Index Cerpen"/><title type='text'>Belenggu Cinta Suamiku</title><content type='html'>&lt;div dir=&quot;ltr&quot; style=&quot;text-align: left;&quot; trbidi=&quot;on&quot;&gt;&lt;div style=&quot;text-align: center;&quot;&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, &amp;nbsp;ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saat &amp;nbsp;pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya &amp;nbsp;dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Istriku Liliana tersayang,&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus. (&lt;a href=&quot;http://bundaiin.blogdetik.com/&quot; rel=&quot;nofollow&quot; target=&quot;_blank&quot;&gt;Bundaiin&lt;/a&gt;)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://insyoulife.blogspot.com/feeds/6312713264637686514/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/2012/06/belenggu-cinta-suamiku-kisah-inspirasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default/6312713264637686514'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4296770913662180343/posts/default/6312713264637686514'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://insyoulife.blogspot.com/2012/06/belenggu-cinta-suamiku-kisah-inspirasi.html' title='Belenggu Cinta Suamiku'/><author><name>Michael Steven</name><uri>https://plus.google.com/115260137958022279596</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='//lh6.googleusercontent.com/-X0xLbESfLfE/AAAAAAAAAAI/AAAAAAAAFuw/CF68oedTLEg/s512-c/photo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>